Eps 20 Bangau Sakti - Chin Tung
Baca online Bangau Sakti - Chin Tung
Cersil Bangau Sakti - Chin Tung.
Sie Bun Yun mana punya tenaga untuk menangkis serangan itu?
Namun pada saat bersamaan, Pek Yun Hui pun membentak.
"Jangan bergerak!"
Tu Wee Seng berhenti menyerang Sie Bun Yun, lalu membalikkan badannya memandang Pek Yun Hui "Bocah, engkau telah ingkar janji, masih mau omong apalagi?"
Bentak Tu Wee Seng.
Pek Yun Hui memang telah berjanji, apabila Tu Wee Seng berhasil menyelamatkan Sie Bun Yun, ia akan menyuruh pemuda tersebut memperlihatkan Cong Cin To itu pada Tu Wee Seng.
Kenapa Pek Yun Hui berani berjanji begitu, sebab ia tahu bahwa Cong Cin To itu sama sekali tiada gunanya, karena
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
kitab pusaka Kui Goan Pit Cek telah berada di tangan Na Hai Peng, gurunya.
Dibentak begitu, Pek Yun Hui membungkam, sedangkan Tu Wee Seng mulai menyerang Sie Bun Yun lagi.
Pek Yun Hui dan Ling Hung saling memandang, kemudian mereka berdua melesat ke arah Sie Bun Yun, Pek Yun Hui tidak membuang waktu, langsung menyerang Tu Wee Seng dengan gerakan Hui Pok Liu Cua (Air Terjun Kembali Ke Suraber), lalu disusul lagi dengan gerakan Kim Liong Sam Hiang (Naga Emas Muncul Tiga Kali), Kedua gerakan itu berasal dari Kui Goan Pit Cek, maka sangat aneh dan dahsyat Ling Hung yang berdiri di samping Sie Bun Yun, terus mengawasi Thu It Kang.
Tiba-tiba orang itu membentak dan sekaligus menyerang punggung Pek Yun Hui, tentunya tidak terlepas dari mata Ling Hung.
Gadis itu segera menyerangnya dengan trisulanya mengeluarkan jurus Cun Thauw Coh Hoat (Rerumput Mulai Tumbuh Di Musim Semi).
sementara Tu Wee Seng tahu ilmu pedang Pek Yun Hui sangat aneh dan lihay, maka ia pun berhati-hati menghadapinya, Akan tetapi, ruangan dalam perahu itu tidak begitu luas, sehingga membuat Tu Wee Seng agak kurang leluasa berkelit Karena itu, Tu Wee Seng segera mengeluarkan ilmu andalannya, yaitu jurus yang amat dahsyat dan aneh pula, Tahu-tahu toya bambu Tu Wee Seng telah menekan pedang Pek Yun Hui.
Ternyata Tu Wee Seng melancarkan jurus Hui Hong Soh Liu (Angin Puyuh Menyapu Pohon), bahkan juga disertai Lweekang, maka seketika Pek Yun Hui merasa pedangnya menjadi berat sekali.
"Ha ha!"
Tu Wee Seng tertawa gelak sambil maju selangkah Pek Yun Hui ingin mengangkat pedangnya, tapi tidak bisa dan malah terdesak mundur
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Di saat itu pula Tu Wee Seng menyerang lagi dengan jurus Sin Liong Sam Hiang (Naga Sakti Muncul Tiga Kali), mengarah pada dada Pek Yun Hui.
Sungguh aneh jurus tersebut sehingga Pek Yun Hui tidak bisa berkelit, dan terpaksalah menangkis dengan pedangnya, Walau Pek Yun Hui menangkisnya, namun ujung toya bambu itu tetap meluncur ke arah dada Pek Yun Hui.
Tu Wee Seng yakin, dada Pek Yun Hui pasti ber-lubang, karena itu ia pun tertawa gelak, Di saat begitu kritis, mendadak Pek Yun Hui mengerahkan Ngo Heng Mie Cong Pu (llmu Langkah Ajaib).
Pada waktu bersamaan terdengarlah suara ledakan.
"Bummm!"
Perahu itu pun bergoyang-goyang. Di saat itulah Pek Yun Hui berhasil berkelit menyelamatkan diri dari serangan Tu Wee Seng, Namun sesaat kemudian terdengar lagi suara ledakan.
"Bummm! Bummmm!"
Tak lama air pun menerobos masuk, Kini sadarlah mereka bahwa orang-orang yang berenang tadi mulai melubangi dasar perahu, Pek Yun Hui dan Tu Wee Seng langsung berhenti bertarung.
Namun dalam waktu se-kejap, air sudah mulai menggenang di dalam perahu dan perahu itu pun mulai miring.
Tu Wee Seng bersiul panjang, lalu melesat ke luar Thu It Kang pun melesat ke luar mengikuti kakak seperguruannya itu.
"Adik Hung, cepat ke luar!"
Seru Pek Yun Hui dan berkata pada Sie Bun Yunyang berdiri seperti kehilangan sukma.
"Saudara Bun Yun, kapal sudah hampir teng-gelam, cepatlah keluar!"
"Saudara kecil!"
Sahut Sie Bun Yun sambil tertawa getir.
"Lukaku belum sembuh, lebih baik engkau menjaga adik Hung saja!"
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
"Saudara Bun Yun, kalau engkau mati, aku pun tidak mau hidup lagi,"
Ucap Pek Yun Hui tanpa sadar.
Sie Bun Yun tertegun mendengar ucapan itu, Namun belum juga ia sempat berpikir, air sudah menggenang setinggi lutut.
Pek Yun Hui bergerak cepat menarik lengan Sie Bun Yun dan lengan Ling Hung lalu melesat keluar Sampai di luar, Pek Yun Hui melihat Tu Wee Seng melempar sebuah papan ke sungai, lalu secepat kilat melompat ke papan itu diikuti Thu It Kang.
Pada waktu bersamaan, tampak beberapa orang berenang mendekati papan itu, tapi terpukul mundur oleh senjata Tu Wee Seng.
"Orang yang penting itu masih berada di perahu, kita lepaskan saja ke dua orang itu!"
Terdengar suara seruan.
Seketika juga belasan orang yang sedang berenang itu berbalik menuju perahu, sementara perahu itu terus tenggelam.
Pek Yun Hui, Ling Hung dan Sie Bun Yun walau sudah berada di atas perahu, namun tak lama air pun mulai menggenang di situ.
sedangkan belasan orang itu cuma diam di permukaan air, mungkin menunggu perahu itu tenggelam, barulah turun tangan menangkap mereka bertiga.
Pek Yun Hui, Ling Hung dan Sie Bun Yun memang tidak bisa berenang, maka wajah Pek Yun Hui pun tampak cemas.
sebaliknya Ling Hung malah bersandar pada badannya, sama sekali tidak tampak cemas, gugup maupun panik.
Pek Yun Hui menarik nafas panjang, ia terus memandang sungai itu dan tampak putus asa.
Di saat itulah mendadak terdengar suara seruan.
"Kalian bertiga jangan khawatir aku datang!"
Me-nyusul tampak pula sebuah perahu kecil melaju mendekati perahu yang hampir tenggelam itu. Sungguh luar biasa, sebab perahu kecil itu mampu melawan arus yang begitu deras, Setelah agak mendekat,
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
barulah tampak seseorang berdiri di atas perahu kecil itu, Orang itu masih muda dan sepasang tangannya memegang sepasang pengayuh.
Melihat perahu kecil itu mendekati perahu yang hampir tenggelam, belasan orang yang ada di permukaan air pun berenang ke arah perahu kecil itu, Orang yang berdiri di atas perahu kecil langsung memukul mereka dengan sepasang pengayuhnya.
"Ha ha! Pereuma kalian ingin coba melubangi perahuku ini, sebab perahuku ini dilapisi baja! Hei, kalian bertiga cepatlah melompat ke mari!"
Betapa girangnya Pek Yun Hui.
ia langsung melempar Sie Bun Yun ke perahu kecil itu, Orang yang di atas perahu kecil terebut segera menyambutnya, dan cepat-cepat menaruhnya ke bawah.
Setelah itu, barulah Pek Yun Hui dan Ling Hung meloncat ke perahu kecil tersebut Akan tetapi, tiba-tiba tampak beberapa buah benda melayang ke arah mereka berdua, Ternyata belasan orang itu menyambitnya dengan senjata.
Pek Yun Hui dan Ling Hung tidak bisa berkelit, karena badan mereka sedang melayang ke arah perahu kecil itu.
Orang yang di atas perahu itu menggeram, lalu mengayunkan sepasang pengayuhnya memukul jatuh bendabenda itu, Maka Pek Yun Hui dan Ling Hung dapat mencapai perahu kecil tersebut dengan selamat Setelah kaki mereka menginjak perahu kecil itu, orang tersebut pun langsung mengayuh, dan seketika perahu kecil itu meluncur dengan cepat "Hei!"
Teriak salah seorang yang masih berenang.
"Siapa engkau berani menentang partai Thian Liong? Cepat tinggalkan namamu!"
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
"Ha ha!"
Orang yang di atas perahu tertawa gelak.
"Namaku Sim Beng Cong, julukanku Hek Sat Ciu (Si Hitam Tangan Algojo). Hek Sat Ciu-Sim Beng Cong terus mengayuh perahunya, Tak lama belasan orang yang berenang itu sudah tidak kelihatan lagi, Pek Yun Hui menarik nafas lega, ia memandang Hek Sat Ciu-Sim Beng Cong seraya berkata.
"Sim Hiapsu (Pendekar Sim), terimakasih atas pertolonganmu !"
Hek Sat Ciu-Sim Beng Cong diam saja, ia terus mengayuh sehingga perahu kecil itu terus melaju.
Karena orang itu diam saja, maka Pek Yun Hui, Ling Hung dan Sie Bun Yun mulai memperhatikannya, Orang tersebut berusia tiga pu!uhan, wajahnya agak kehitam-hitaman, tapi tampak gagah, Akan tetapi, keningnya justru terus berkerut, seakan sedang memikirkan suatu urusan penting.
Orang itu tetap diam dan mereka bertiga pun tidak membuka suara, Berselang beberapa saat kemudian, Hek Sat Ciu-Sim Beng Cong menghentikan perahunya ke tepi, lalu berkata "Kalian bertiga naik dulu, aku ingin bicara dengan kalian."
Pek Yun Hui segera memapah Sie Bun Yun ke darat, menyusul Ling Hung dan kemudian barulah Sim Beng Cong, Mereka berempat berjalan memasuki sebuah Iem-bah, kemudian mereka pun duduk di atas sebuah batu besar sementara Hek Sat Ciu-Sim Beng Cong tetap tidak bersuara, namun mendadak berlutut di hadapan mereka bertiga.
Pek Yun Hui, Sie Bun Yun serta Ling Hung terkejut dan heran, lalu bangkit berdiri.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
"Kenapa Sim hiapsu berlaku demikian?"
Tanya Pek Yun Hui dan menambahkan "Engkau adalah tuan penolong kami, tapi kenapa sebaliknya engkau malah bersikap demikian pada kami?"
"Maaf!"
Ucap Hek Sat Ciu-Sim Beng Cong.
"Yang mana yang bernama Sie Bun Yun?"
"Aku,"
Sahut Sie Bun Yun cepat. seketika juga Hek Sat Ciu-Sim Beng Cong berlutut ke hadapannya. Sie Bun Yun ingin mengangkatnya ba-ngun, tapi tidak bertenaga.
"Saudara Sim, ada petunjuk apa?"
Tanya Sie Bun Yun.
"Aaakh...."
Sim Beng Cong menarik nafas panjang.
"Sebenarnya aku bernama Sim Cong, hanya kutambah "Beng"
Di tengah, Aku adalah murid Kun Lun, guruku bernama Hian Ceng Totiang."
Hian Ceng Totiang adalah kakak seperguruan ketua partai Kun Lun, yang namanya amat terkenal di rimba persilatan, namun Pek Yun Hui sama sekali tidak me-ngetahuinya.
"Oooh!"
Sie Bun Yun dan Ling Hung mengeluarkan suara ini.
"Sebulan lalu...."
Sim Cong memberitahukan "Tanpa sengaja aku melukai beberapa murid partai Siauw Lim, karena itu aku diusir dari pintu perguruan."
Sie Bun Yun dan Ling Hung terbelalak karena murid dari partai mana pun, kalau diusir dari perguruan, itu akan dianggap sampah dalam rimba persilatan "Aaakh...."
Sim Cong menarik nafas lagi dan melanjutkan "Guru akan menerimaku lagi, namun... itu harus atas bantuan Saudara Sie Bun Yun."
"Kok begitu?"
Sie Bun Yun bingung.
"Aku tidak kenal dan tidak pernah bertemu gurumu, bahkan guruku pun tiada
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
hubungan dengan gurumu, bagaimana mungkin aku dapat membantumu?"
"Selain Saudara Sie Bun Yun, tiada orang lain yang bisa membantuku diterima kembali ke partai Kun Lun."
"ltu pasti ada sebabnya,"
Sela Pek Yun Hui.
"Beritahukanlah! Kalau Saudara Bun Yun bisa membantu, dia pasti membantumu."
"Guruku bilang, setelah aku memperoleh Cong Cin To, barulah guruku akan menerima diriku lagi,"
Ujar Sim Cong memberitahukan.
Setelah mendengar itu, wajah Sie Bun Yun langsung tampak berubah, dan keningnya pun berkerut-kerut "Setelah meninggalkan gunung Kun Lun, aku pun mulai mencari kabar berita tentang Cong Cin To itu."
Sim Cong memberitahukan "Belum lama ini, aku justru mendengar kabar bahwa Saudara Sie Bun Yun yang memperoleh Cong Cin To tersebut Aku tahu, tidak semestinya aku bermohon, tapi harap Saudara Sie Bun Yun sudi membantuku dalam hal ini!"
Pek Yun Hui pereaya apa yang dikatakan Sim Cong, lagi pula dia tadi telah menolong mereka bertiga, kalau tidak, mungkin sekarang mereka bertiga sudah terjatuh ke tangan ekspedisi Thian Liong, Oleh karena itu, ia berharap Sie Bun Yun sudi membantunya, itu pun karena ia tahu jelas gurunya yang telah mendapatkan kitab pusaka Kui Goan Pit Cek, jadi Cong Cin To tersebut sudah tiada gunanya.
"Saudara Sim!"
Sie Bun Yun menggeleng-gelengkan kepala.
"ltu cuma kabar burung saja."
"Kalau begitu...."
Sim Cong tampak kecewa.
"Saudara Sie belum memperoleh Cong Cin To itu?"
"Benar."
Sie Bun Yun memandang ke tempat lain.
"ltu cuma isyu dalam rimba persilatan saja."
"Kalau begitu, Kim Coa Suseng-Wang Han Siang dan Yap Yong Ceng terkena isyu itu sehingga membumi hanguskan
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Cui Cuk San Cung?"
Tanya Sim Cong, yang kelihatannya kurang pereaya akan apa yang dikatakan Sie Bun Yun.
"Saudara Sim!"
Sie Bun Yun tersenyum hambar "Alangkah baiknya engkau cari di tempat lain saja, sebab Cong Cin To sungguh tidak berada di tanganku!"
"Aaakh.-"
Keluh Sim Cong.
"Mudah-mudahan Saudara Sie tidak membohongiku sebab ada orang mengatakan bahwa Saudara Sie tidak sudi membantuku?"
"Saudara Sim!"
Wajah Sie Bun Yun berubah.
"Mak-sudmu aku telah membohongimu kan?"
Sim Cong tertawa sedih, lalu memandang Sie Bun Yun seraya berkata.
"Berita itu tidak mungkin cuma merupakan isyu belaka...."
"Saudara Bun Yun!"
Sela Pek Yun Hui mendadak "Kalau tidak memperoleh Cong Cin To itu, Saudara Sim tidak bisa diterima kembali sebagai murid partai Kun Lun, Kalau benar...."
"Saudara kecil, engkau pun tidak mempereayaiku?"
Sie Bun Yun menatapnya dengan kening berkerut Pek Yun Hui membungkam seketika, sedangkan Sim Cong malah tertawa.
"Kalian berdua tidak usah berdebat, aku pun tidak akan memaksa orang, Kalau Saudara Sie tidak sudi membahtuku, yah! Sudahlah! Aku akan menerima nasib,"
Katanya.
"Saudara Sim, harap dengar baik-baik!"
Ujar Sie Bun Yun serius.
"Aku sungguh tidak pernah melihat apa yang disebut Cong Cin To...."
"Kalau begitu, siapa yang pernah melihat barangitu?"
Terdengar suara sahutan di dalam lembah ilu.
"Siapa?"
Pek Yun Hui tertegun
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
"Aku adalah aku!"
Suara sahutan yang agak menyeramkan.
"Siapa engkau?"
Tanya Ling Hung gusar "He he!"
Terdengar suara tawa aneh.
"Kalian segera akan mengetahuinya!"
Pek Yun Hui baru mulai berkecimpung di rimba persilatan Ling Hung cuma bergerak di sekitar Cui Cuk San Cung, sama sekali tidak pernah mengembara ke mana-mana, sedangkan Sie Bun Yun baru pulang dari seberang laut Oleh karena itu mereka bertiga tidak dapat menduga siapa orang itu.
Bagian ke tiga puluh tiga Kena Racun ular Yang tampak serius sekali adalah Sim Cong, Keningnya berkerut-kerut dan wajahnya tampak tegang.
"Kita semua harus berhati-hati!"
Pesan nya.
"He he he!"
Suara tawa aneh itu terdengar lagi dan disusul oleh suara mendesis-desis.
Mereka berempat segera menundukkan kepala, tampak dua ekor ular beracun sedang merayap ke luar.
Sungguh aneh ular beracun itu.
Badannya panjang agak gepeng, dari kepala sampai ke ujung ekor terdapat garis yang memancarkan cahaya kekuning-kuningan.
"Haaah..."
Teriak Ling Hung ketika melihat ular-ular itu.
"Jangan takut dan jangan bergerak sembarangan!"
Ujar Pek Yun Hili dengan suara rendah.
Walau berkata demikian, namun dalam hati Pek Yun Hui juga merasa takut dan jijik, sementara ke dua ekor ular itu terus merayap ke arah mereka, dan sesekali mendongakkan kepalanya.
Yang paling mengejutkan adalah rerumputan yang dilalui ke dua ekor ular tersebut Rumput-rumput itu langsung
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
berubah kuning layu, itu dapat diketahui betapa beracunnya ular-ular tersebut Setelah berada beberapa depa di hadapan mereka, ke dua ekor ular itu berhenti merayap, lalu melingkar dengan kepala mendongak ke atas.
"He he he!"
Terdengar lagi suara tawa aneh, Tak lama muncullah seorang tua berjubah abu-abu.
Badan orang tua itu kurus kering, tetapi sepasang matanya menyorotkan sinar ganas, Tangannya membawa sebatang tongkat pipa besi.
Begitu muncul, orang tua aneh itu pun mengeluarkan siulan panjang yang melengking-lengking, dan seketika juga ke dua ekor ular itu merayap ke arahnya.
"Sssst! Ssssst!"
Kedua ekor ular itu mendesis-desis, Salah seekor langsung masuk ke pipa besi, dan yang seekor lagi melilit di pipa besi itu.
Sementara Pek Yun Hui, Sie Bun Yun, Ling Hung dan Sim Cong diam saja, sedangkan orang tua aneh itu mengamati mereka berempat, lalu menuding Sim Cong dengan pipa besinya seraya membentak.
"Murid Kun Lun yang telah diusir dari perguruan, tentunya tahu nama besarku! Kenapa masih belum menyingkir ?"
Hek Sat Ciu-Sim Cong tertawa dingin, namun tidak mengucapkan sepatah kata pun. Wajah orang tua aneh itu langsung berubah.
"Engkau mau menyingkir tidak?"
Bentak orang tua aneh itu lagi.
"lngin cari penyakit?"
Usai membentak, dia langsung menyerang Sim Cong dengan pipa besinya dengan jurus Cang Coa Thuh Sing (Ular Menyemburkan Racun), sedangkan ular yang melilit di pipa besi itu juga menjulurkan lidahnya ke arah Sim Cong.
Sim Cong cepat-cepat berkelit menghindari serangan itu.
Pek Yun Hui yang berdiri di sisinya tampak gusar sekali, dan menghardik keras.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
"Engkau sudah tua kok tidak tahu aturan? Dia teman kami, kenapa engkau begitu muncul langsung menyuruhnya menyingkir?"
"He he he!"
Orang tua aneh itu tertawa terkekeh-kekeh.
"Bocah! Mungkin engkau sudah bosan hidup!"
"Siapa engkau?"
Tanya Pek Yun Hui membentak.
"He he he!"
Orang tua aneh itu tertawa terkekeh lagi.
"Namaku Tan Piauw, julukanku Coa Siu (Si Kakek Ular)!"
Begitu mendengar nama dan julukan tersebut, terkejutlah Sie Bun Yun, Ling Yun dan Sim Cong, Namun Pek Yun Hui sama sekali tidak merasa terkejut, karena tidak pernah mendengar nama maupun julukan itu.
"Hm!"
Dengus Pek Yun Hui.
"Dari julukannya sudah dapat diketahui bahwa engkau bukan orang baik baik! Mau apa engkau muncul di sini?"
"Kalau kalian berempat masih ingin hidup, cepatlah serahkan Cong Cin To itu padaku!"
Sahut Tan Piauw, Si Kakek Ular.
"Cong Cin To itu tidak berada pada saudara Sie Bun Yun, engkau telah salah cari orang!"
Ujar Pek Yun Hui dan menambahkan "ltu cuma isyu dalam rimba persilatan!"
"Sekarang memang tidak ada padanya, tapi setelah ular beracunku menggigitnya, dia pasti menyerahkan barang itu padaku!"
Tan Piauw, Si Kakek Ular tertawa dingin.
"Berdasarkan apa engkau akan menyuruh ular beracun itu menggigitnya?"
Tanya Pek Yun Hui dengan kening berkerut.
"Berdasarkan dia memiliki Cong Cin To, lagi pula dia pun tidak mampu melawanku!"
Sahut Tan Piauw, Si Kakek Ular sambil tertawa melengking.
"Oh?"
Pek Yun Hui sudah tidak dapat bersabar lagi. ia segera menghunus pedangnya, dan sekaligus menyerang Si
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Kakek Ular itu dengan jurus Sin Liong Tiau Bwe (Naga Sakti Melepaskan Ekor).
Ketika melihat Pek Yun Hui menyerang Si Kakek Ular, Ling Hung tidak tinggal diam.
ia langsung menggerakkan senjatanya ikut menyerang Si Kakek Ular dengan gerakan Cui Cuk Yauw Ih (Bambu Hijau Menggoyang).
"Hati-hati kalian berdua!"
Seru Sim Cong memperingatkan mereka.
"He he!"
Si Kakek Ular tertawa dan secepat kilat menggerakkan pipa besinya untuk menangkis dan menyerang.
Setelah lewat tiga jurus, Ling Hung sudah terdesak Pek Yun Hui memang memiliki ilmu pedang aneh dan lihay, tapi Lweekangnya masih dangkal, sehingga sulit baginya untuk mendesak Si Kakek Ular.
Sim Cong mengerutkan kening menyaksikan pertarungan itu.
ia mengayunkan pengayuhnya, dan dikeluarkannya jurus Heng Tiau Tuh Kang (Melintang Menycberang Sungai) untuk menyerang Si Kakek Ular.
"Bagus!"
Teriak Si Kakek Ular sambil tertawa ter-kekeh-kekeh, lalu menggetarkan pipa besinya, seketika juga ular beracun yang melilit di ujung pipa besi itu menjulur menggigit lengan Sim Cong.
Betapa terkejutnya Sim Cong, ia cepat-cepat meloncat mundur, namun ular beracun itu masih tetap mengarah pada lengannya.
Untung Ling Hung berdiri di samping Sim Cong, Gadis itu segera memukul pipa besi itu dengan senjata-nya, sehingga pipa besi itu terpukul agak miring, dan ular beracun itu pun tidak berhasil menggigit lengan Sim Cong.
Namun ular beracun itu sungguh lihay, ia tetap menjulurkan kepalanya dan menggigit.
Karena pipa besi itu agak miring, gigitan ular beracun itu meleset, hanya lengan baju Sim Cong yang tergigit robek.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Sim Cong bergerak cepat mencabut belatinya dan secepat kilat menyabet lengan bajunya.
"Serrrt!"
Lengan bajunya kutung jatuh ke bawah berikut ular beracun itu.
Cukup lama Sim Cong berkecimpung dalam rimba persilatan, maka tahu kalau ular itu amat beracun, siapa tergigit pasti mati dalam beberapa saat saja.
Barusan ia boleh dikatakan lolos dari kematian Sim Cong segera meloncat mundur dengan wajah pucat pias, namun Ling Hung masih berdiri di tempat Ketika melihat ular beracun itu jatuh di tanah, ia maju selangkah sambil mengayunkan senjatanya ke arah ular beracun itu.
sementara Pek Yun Hui dan Si Kakek Ular masih bertarung dengan seru, tetapi belum ketahuan siapa yang akan kalah dan menang.
Senjata Ling Hung yang diayunkan itu terus mengarah pada ular beracun yang melingkar di permukaan tanah.
"Jangan!"
Seru Sim Cong dan Sie Bun Yun serentak Akan tetapi, Ling Hung sudah tidak keburu menarik kembali senjatanya, maka trisulanya menghantam badan ular beracun tersebut Pada waktu bersamaan, tampak seseorang menerjang ke arah Ling Hung, dan sekaligus mendorongnya sekuat tenaga.
Ling Hung tidak melihat jelas siapa yang mendorongnya, hanya melihat ular itu mendadak melesat ke arahnya laksana kilat Kini gadis itu baru tahu akan kelihayan ular beracun tersebut seketika juga ia menggunakan tenaga dorongan itu meloncat ke samping, Barulah ia tahu bahwa yang mendorongnya itu adalah Sie Bun Yun dengan maksud menolongnya.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Karena Ling Hung meloncat pergi, Sie Bun Yunlah yang menjadi sasaran ular beracun itu. Ternyata ular beracun itu telah melesat ke arahnya.
"Hati-hati kakak misan!"
Seru Ling Hung. Sie Bun Yun mundur selangkah, lalu menggerakkan bambu yang di tangannya dengan jurus Man Thian Sing Hui (Bintang Berkerlap-Kerlip Di Langit).
"Kieekl"
Bambu yang di tangan Sie Bun Yun tergigit ular beracun itu.
Sie Bun Yun bergerak cepat Diayunkannya bambu itu pada batu, maksudnya ingin membunuh ular beracun itu dengan bambunya, Akan tetapi, ular beracun itu sama sekali tidak terluka.
"Saudara Sie, biar aku saja!"
Seru Sim Cong.
Sie Bun Yun tahu maksud Sim Cong.
ia menekan ular beracun itu di atas batu, sedangkan Sim Cong mengangkat pengayuhnya yang amat berat itu, lalu menghantam kepala ular beracun tersebut "Braaak!"
Kepala ular beracun itu remuk dan batu itu pun hancur Bagaimana mungkin ular beracun itu bernyawa lagi?
Tan Piauw, Si Kakek Ular memang berkepandaian tinggi, Namun Pek Yun Hui memiliki ilmu pedang aneh, sehingga membuat Si Kakek Ular itu tiada kesempatan untuk menolong ularnya, Begitu melihat ularnya terbunuh gusarlah Si Kakek Ular, ia memekik keras dan langsung menyerang Pek Yun Hui bertubi-tubi.
Pek Yun Hui tidak berani menyambut serangan-serangan itu, melainkan mengerahkan Ngo Heng Mie Cong Pu untuk menghindar, sehingga pukulan Si Kakek Ular membentur tempat kosong.
Si Kakek Ular tampak tertegun sedangkan Pek Yun Hui sudah berada di belakangnya, dan pedangnya pun bergerak menyerang punggung Si Kakek Ular.
Pek Yun Hui
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
mengeluarkan jurus Jit Goat Cih Seng (Matahari Bulan Muncul Bersama).
Ketika Si Kakek Ular baru mau membalikkan badannya untuk menangkis serangan itu, Sim Cong dan Ling Hung sudah menyerangnya dengan senjata masing-ma-sing.
Betapa pun tingginya kepandaian Si Kakek Ular, namun sulit juga berkelit ia memekik keras dan badannya melambung ke atas, bahkan sekaligus menyerang Sim Cong dengan jurus Tok Coa Cut Tong (Ular Beracun Keluar Gua).
Sim Cong secepat kilat mengayunkan pengayuhnya menangkis serangan itu, dan pada waktu bersamaan, trisula Ling Hung pun telah menghantam kaki Si Kakek Ular.
"Aaakh!"
Jerit Tan Piauw, Si Kakek Ular, Tubuhnya terpental beberapa depa.
Sepasang matanya menyorot ganas, mulutnya mengeluarkan suara aneh, dan wajah tampak menyeramkan Pada saat bersamaan, terdengarlah suara tawa di dalam rimba.
"Ha ha hal Coa Siu, engkau terhitung tokoh tua dalam Bu Lim, tetapi masih mau bertarung dengan kaum muda! Akhirnya engkau pula yang rugi, salah seekor ular beracun itu sudah mampus, bahkan kakimu pun terhan-tam senjata! Apakah engkau masih ingin bertarung lagi?"
"Siapa?"
Bentak Tan Piauw, Si Kakek Ular gusar, Serrt!
Serrrt!
Tampak dua orang melesat ke luar dari dalam rimba.
Kedua orang itu berusia lima puluhan Begitu melihat ke dua orang itu, terkejutlah Pek Yun Hui, Sie Bun Yun, Sim Cong dan Ling Hung.
Ternyata ke dua orang itu bertampang aneh.
Salah seorang berwajah segi empat, matanya berbentuk segi tiga dan yang paling menyeramkan adalah wajahnya punya dua warna, sebelah kiri hitam, sebelah kanan putih, Yang satu lagi berwajah pucat pias, seakan tak berdarah sama sekali, mirip orang yang telah mati beberapa tahun Ke dua orang itu memakai jubah putih dengan kaki te!anjang.
Sungguh
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
menyeramkan ke dua orang itu, Pek Yun Hui melihat orangorang aneh bermunculan Kalau terus berada di tempat itu, pasti akan muncul orang lagi, sedangkan Sie Bun Yun dalam keadaan luka, masih belum sempat beristirahat Pikirnya.
Oleh karena itu, hatinya semakin cemas, Kemudian ia memandang Ling Hung sambil memberi isyarat, dan Ling Hung manggut-manggut Mereka berdua mendekati Sie Bun Yun, lalu menariknya pergi.
Akan tetapi, di saat itu pula ke dua orang aneh itu secepat kilat melesat ke hadapan mereka.
"Hm! Hm!"
Orang yang bermuka hitam putih itu tertawa dingin "Kalian tidak boleh kabur!"
"Setelah kami menghajar Si Kakek Ular itu, kami ingin mengajukan beberapa pertanyaan pada kalian!"
Sambung orang aneh berwajah pucat Pek Yun Hui tahu, mereka berdua pasti ingin menanyakan tentang Cong Cin To, maka seketika juga keningnya berkerut sedangkan Ling Hung malah ter-senyum, sepertinya teringat sesuatu yang menggelikan Tentunya membuat Pek Yun Hui tereengang, Ketika ia baru mau membuka mulut bertanya, Ling Hung justru telah mendahuluinya bertanya pada ke dua orang aneh itu.
"Bukankah kalian ingin bertanya tentang semacam gambar?"
"Betul."
Wajah ke dua orang aneh itu tampak berseru "Gambar itu disebut Cong Cin To kan?"
Tanya Ling Hung lagi.
"Tidak salah,"
Sahut ke dua orang aneh itu serentak sambil tertawa gembira.
"Bocah perempuan! Tahukah engkau berada di mana Cong Cin To itu?"
"Tahu."
Ling Hung mengangguk, Pek Yun Hui yang tersentak
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
"Di mana barang itu?"
Tanya orang aneh yang berwajah putih hitam.
"Cong Cin To...."
Ling Hung menunjuk Tan Piauw, Si Kakek Ular."... pada orang tua jelek itu, tanyakan saja padanya!"
"Omong kosong!"
Bentak Tan Piauw, Si Kakek Ular Kini Pek Yun Hui baru tahu, ternyata Ling Hung ingin menimpakan bahaya pada Si Kakek UIar. Maka ia pun menyambung sambil tertawa.
"Tidak salah, Dia telah merebut Cong Cin To itu."
Kedua orang aneh itu tertegun, Dengan serentak mereka memandang pada Si Kakek Ular, dan seketika Si Kakek Ular tertawa dingin.
"Kang Lam Siang Koai (Sepasang Orang Aneh Kang Lam)! Kalian bukan anak kecil, pereaya itu?"
Kedua orang aneh itu saling memandang, Yang berwajah hitam putih mendadak menggerakkan tangannya, seperti main sulap, tahu-tahu tangannya telah memegang sebatang Pan Koan Pit (Pensil kuno Cina).
Setelah Pan Koat Pit itu berada di tangannya, ia langsung membentak keras sambil menyerang Si Kakek Ular dengan j urus Ciauw Meng Hu Kip (Burung Berkicau Rase Kabur), Ujung Pan Koan Pit mengarah Ih Bun Hiat di tubuh Si Kakek Ular.
Si Kakek Ular berteriak-teriak aneh dan secepat kilat berkelit, lalu membentak keras.
"lm Yang Pan Koan (Hakim Banci) Cih Tay Hui! Apakah engkau mau cari gara-gara denganku?"
"He he he!"
Im Yang Pan Koan-Cih Tay Hui tertawa terkekeh-kekeh.
"Tidak salah!"
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
ia langsung menyerang, kali ini ia mengeluarkan jurus Im Khi Sim Sim (Hawa Dingin Meremang).
Si Kakek Ular tidak diam, ia menangkis lalu batas menyerang dan terjadilah pertarungan seru, Begitu cepat pertarungan itu, sehingga tak terasa sudah melewati delapan jurus, sedangkan Kou Hun Bu Siang (Setan Pembetot Arwah)Hu Teng Hai, teman Im Yang Pan Koan menghampiri Pek Yun Hui dan lainnya sambil tersenyum-senyum.
Keempat orang itu tahu bahwa Hu Teng Hai berniat tak baik, maka mereka segera mundur.
"Kalian bertiga cepat mundur!"
Kata Sim Cong yang berdiri di paling depan.
"Saudara Sim!"
Sahut Pek Yun Hui.
"Bagaimana mungkin membiarkan engkau seorang diri menghadapi-nya?"
Pek Yun Hui langsung menyerang dengan pedang-nya.
Begitu melihat Pek Yun Hui mulai menyerang, Ling Hung pun menggerakkan senjatanya, begitu pula Sim Cong dengan pengayuhnya.
Boleh dikatakan mereka bertiga menyerang dalam waktu bersamaan, Walau Hu Teng Hai berkepandaian tinggi, namun kewalahan juga menghadapi serangan-serangan itu, Segeralah ia meloncat mundur, tapi Sie Bun Yun justru telah menyerang di belakangnya dengan bambu, mengeluarkan jurus Swat Hoa Phiau Phiau (Bunga Salju Beterbangan) mengarah Hun Bun dan Ik Bun Hiat di punggungnya.
Kou Hun Bu Siang-Hu Teng Hai berkelit, namun tidak keburu sehingga Ik Bun Hiat di punggung tertotok ujung bambu Sie Bun Yun, dan seketika juga ia merasa punggungnya sakit dan ngilu lalu tidak bisa bergerak sebetulnya Kou Hun Bu Siang-Hu Teng Hai berkepandaian tinggi, tetapi karena diserang mendadak oleh empat orang dari empat arah, maka tiada waktu baginya untuk mengembangkan kepandaiannya.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
jalan darah Ik Bun Hiat di punggungnya telah ter-totok, sedangkan Cih Tay Hui masih bertarung dengan Si Kakek Ular.
Mereka berempat tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, langsung melesat ke dalam rimba.
Tak seberapa lama kemudian, mereka berempat sudah keluar dari rimba tersebut, namun masih tetap melesat ke depan.
Setelah beberapa li, barulah mereka berhenti Sim Cong memandang Sie Bun Yun beberapa saat lamanya, kemudian menarik nafas panjang dan mendadak melesat pergi.
"Dia sungguh solider terhadap orang,"
Ujar Pek Yun Hui sambil memandang punggung Sim Cong.
"Tidak salah,"
Sambung Ling Hung.
"Kakak misan, apakah benar Cong Cin To itu tidak berada padamu? Lantaran Cong Cin To itu, ayahku mati dan Cui Cuk San Cung pun terbakar musnah...."
Berkata sampai di sini, air mata Ling Hung mulai meleleh, Sie Bun Yun cuma menatapnya, sama sekali tidak menyahut Pek Yun Hui sangat cerdas, maka ketika menyaksikan sikap Sie Bun Yun, ia pun segera berkata dengan suara dalam "Saudara Bun Yun, Cong Cin To itu berada padamu kan?"
"Saudara keciL,."
Sie Bun Yun terkejut "Diam! Kalau terdengar orang, kita pasti celakai"
"Kakak misan, di sini tidak ada orang lain, Bagaimana mungkin akan didengar oleh orang lain?"
"Aaaakh...."
Sie Bun Yun menarik nafas panjang dan memberitahukan "Dalam perjalanan, aku sangat berhati-hati menjaga jejak, tapi rahasia itu akhirnya bocor juga, sehingga menimbulkan bencana dalam Bu Lim."
"Saudara Sie, kalau tahu Cong Cin To itu berada padamu, aku pasti menganjurkan agar engkau memberikannya pada
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Sim Cong saja,"
Ujar Pek Yun Hui sambil menggelenggelengkan kepala.
"Kenapa?"
Tanya Sie Bun Yun heran.
"Setahuku...."
Pek Yun Hui tersenyum "Kui Goan Pit Cek telah diambil orang."
Mendengar itu, Sie Bun Yun tampak kecewa dan putus asa, tapi kemudian menggeleng-gelengkan kepala seraya berkata.
"ltu tidak mungkin, Kalau benar Kui Goan Pit Cek itu telah diambil orang, kenapa tiada seorang Bu Lim pun yang tahu?"
"Saudara Bun Yun!"
Pek Yun Hui tersenyum.
"Eng-kau harus mempereayaiku aku tidak membohongimu."
"Kakak misan!"
Sela Ling Hung.
"Disimpan di mana Cong Cin To itu? Bolehkah aku melihatnya?"
Sie Bun Yun tampak serba salah, lama sekali barulah ia berkata dengan suara rendah.
"Adik Hung, Cong Cin To itu kusimpan di suatu tempat yang amat rahasia, sesungguhnya aku menunggu seusai ayahmu merayakan ulang tahunnya, aku akan pergi ke Kwat Cong San bersama ayahmu mencari Kui Goan Pil Cek. Namun...."
"Kakak misan, sebetulnya Cong Cin To itu kau simpan di mana?"
Desak Ling Hung ingin mengetahuinya.
"Aku simpan di...."
Sebelum usai ucapannya, mendadak wajahnya berubah merah padam, sekujur badannya menggigil kemudian wajahnya berubah lagi menjadi pucat pias, dan keringatnya pun mengucur "Saudara Bun Yun!"
Pek Yun Hui terkejut "Kenapa engkau?"
"Aaakh..."
Keluh Sie Bun Yun dengan bibir ber-gemetar.
"Aku... aku kena racun ular itu, Adik Hung...."
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Pek Yun Hui tereengang, Bagaimana mungkin di saat ini Sie Bun Yun tergigit ular berbisa? Pikirnya.
"Saudara Bun Yun...."
Pek Yun Hui menatapnya.
"Kalian lihatlah!"
Sie Bun Yun memperlihatkan telapak tangannya. Pek Yun Hui dan Ling Hung segera memandang telapak tangan Sie Bun Yun, yang tampak kehitanv hitaman.
"Kakak misan,..."
Ling Hung kebingungan "Tak diduga begitu hebat racun ular itu!"
Sie Bun Yun menarik nafas.
"Kakak misan, bagaimana engkau bisa kena racun ular itu?"
Tanya Ling Hung heran.
"Ular beracun itu menggigit bambu yang di tanganku, Ketika ular itu mau mati, mungkin menyemburkan racunnya. Aku tidak tahu dan tetap menggenggam bambu itu, maka... aku kena racun ular itu."
Sie Bun Yun memberitahukan "Saudara Bun Yun, akan bagaimana setelah kena racun ular itu?"
Tanya Pek Yun Hui cemas.
"Tiada obatnya,"
Sahut Sie Bun Yun singkat. Pek Yun Hui tertegun karena sahutan Sie Bun Yun itu bagaikan geledek menyambar hatinya.
"Tidak mungkin! Tidak mungkin..."
Gumam Pek Yun Hui dengan air mata berlinang-Iinang.
"Adik Hung!"
Panggil Sie Bun Yun lemah dan wajahnya semakin pucat pias.
"Aku akan memberitahukan padamu, kusimpan di mana Cong Cin To itu."
"Kakak misan...."
Air mata Ling Hung juga sudah meleleh.
"Cong Cin To itu merupakan benda pembawa bencana, Ka!au bukan karena itu, bagaimana mungkin engkau kena racun ular?"
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Sie Bun Yun menarik nafas panjang, sedangkan Pek Yun Hui terus berpikir, harus dengan cara bagaimana menyelamatkan nyawa pujaan hatinya itu?
ia tidak menghendaki Sie Bun Yun mati karena racun ular itu, Akhirnya terpikir juga satu jalan, yakni membawa Sie Bun Yun ke gua Thian Kie Cinjin di Kwat Cong San, sebab ia yakin gurunya mampu menolong pemuda itu.
"Saudara Bun Yun, guruku berkepandaian amat tinggi, tinggal di Kwat Cong San, Aku akan membawamu menemui beliau untuk mengobatimu,"
Ujar Pek Yun Hui memberitahukan.
"Siapa gurumu?"
Tanya Sie Bun Yun.
"Guruku bernama...."
Pek Yun Hui terpaksa memberitahukan sebab menyangkut nyawanya.
"Guruku bernama Na Hai Peng."
Kening Sie Bun Yun berkerut karena sama sekali tidak pernah mendengar nama tersebut Na Hai Peng adalah pengawal istana, maka jarang bergerak dalam rimba persilatan Lagi pula beberapa tahun belakangan ini, Na Hai Peng cuma tenggelam dalam ilmu silat Kui Goan Pit Cek sehingga tiada seorang Bu Lim pun yang mengetahuinya.
"Belum tentu gurumu dapat menolongku."
Sie Bun Yun menggeleng-gelengkan kepala.
"Biar bagaimana pun, aku harus membawamu ke sana,"
Desak Pek Yun Hui.
"Yaah...."
Sie Bun Yun menarik nafas panjang.
"Mungkin sebelum tiba di gunung Kwat Cong San, aku sudah mati."
Ucapan Sie Bun Yun itu bagaikan sembilu menyayat hati Pek Yun Hui, Tiba-tiba Pek Yun Hui teringat sesuatu, yakni di dalam kitab Kui Goan Pit Cek tereantum juga semacam ilmu pengobatan darurat.
ilmu itu disebut Hong Kwat Hu Khi Hoat (Menutup jalan darah dengan hawa murni), Yaitu dengan Lweekang menutup
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
tujuh puluh dua jalan darah di tubuh orang yang kena racun, agar racun tidak menyerang ke jantung orang tersebut untuk sementara.
Akan tetapi, orang yang menyalurkan Lweekang itu, akan kehilangan hawa murninya sehingga membuatnya menderita.
Pada waktu itu Lweekang Pek Yun Hui masih dang-kal, maka tidak bisa melakukannya, Namun Sie Bun Yun adalah orang yang amat dicintainya, jadi ia pun bersedia berkorban "Saudara Bun Yun!"
Ujarnya setelah mengambil keputusan "Aku punya cara agar racun ular itu tidak menjalar atau menyerang jantungmu dalam beberapa hari ini."
"Aku pun pernah dengar cara tersebut, tapi Lwee-kangmu masih dangkal Kalau engkau melakukan cara itu, mungkin engkau akan mati kehabisan hawa mur-nimu,"
Sahut Sie Bun Yun. Ling Hung yang berdiri di situ, tertegun mendengarnya.
"Kakak Yun, betulkah begitu?"
Tanyanya dengan cemas.
"Mungkin,"
Jawab Pek Yun Hui sambil tersenyum getir "Kalau begitu...."
Air mata Ling Hung berderal "Menolong orang lebih penting, engkau boleh melakukannya.
"Adik Hung!"
Pek Yun Hui merasa girang.
"Engkau tidak akan berduka?"
"Tentunya aku berduka dalam hati, namun itu demi menolong kakak misanku, Bagaimana mungkin aku mencegahmu yang ingin menolongnya? Kalau benar engkau akan mati kehabisan hawa murni, aku pun pasti membawa kakak misan ke Kwat Cong San, setelah itu aku pasti mati bersamamu,"
Ujar Ling Hung sungguh-sungguh.
Mati bersama sang kekasih, itu memang sangat ba-hagia, Pikir Ling Hung sehingga mengambil keputusan tersebut.
Pek Yun Hui tertegun ia memandang Ling Hung seraya berpikir seandainya dirinya lelaki betapa bahagianya
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
mendapat cinta Ling Hung yang sedemikian dalam dan tuIus. Akan tetapi, dirinya justru seorang gadis juga, itu membuat pikirannya bertambah kacau, akhirnya tidak mau memikirkan itu lagi.
"Saudara kecil, engkau tidak perlu melakukan itu,"
Ujar Sie Bun Yun sambil tersenyum "Kenapa?"
Tanya Pek Yun Hui heran "Aku cuma seorang diri lagi pula apa yang dikatakan adik Hung pasti dilaksanakannya, jangan karena diriku, kalian berdua yang jadi korban,"
Jawab Sie Bun Yun memberitahukan "Saudara Bun Yun, legakanlah hatimu!"
Sahut Pek Yun Hui.
"Aku punya akal, maka Adik Hung tak akan mati bersamaku."
Ternyata Pek Yun Hui telah mengambil suatu keputusan apabila ia akan mati kehabisan hawa murni, di saat itu pula ia akan membeberkan mengenai dirinya.
"Saudara kecil!"
Sie Bun Yun tertawa gagah.
"Engkau jangan memandang rendah diriku, Adik Hung berani berkorban demi cintanya, maka aku pun tidak akan membiarkan nyawamu menukar dengan nyawaku."
Ucapan Sie Bun Yun membuat Pek Yun Hui membatin Adik Hung berani berkorban apakah aku tidak?
Aku justru sudah tidak memikirkan nyawaku sendiri Usai membatin, Pek Yun Hui menghimpun Lwee-kangnya, lalu menggerakkan jari telunjuknya yang penuh mengandung hawa murninya mengarah pada Thian Tu Hiat di tenggorokan Sie Bun Yun.
Setelah racun itu bereaksi tubuh Sie Bun Yun tidak bisa bergerak lagi, Ketika jari telunjuk mengarah pada tenggorokan nya, iapun berseru.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
"Saudara Ke...."
Sie Bun Yun tidak bisa melanjutkan ucapannya, karena Thian Tu Hiat di tenggorokannya telah tertotok Menyusul adalah Yu Kut Hiat, Dalam waktu sekejap, Pek Yun Hui sudah menotok dua puluh satu jalan darah di tubuh Sie Bun Yun, namun nafasnya sudah mulai memburu.
Mukanya memerah dan tampak susah ber-nafas, sebab setiap kali menolok, ia pun harus menyalurkan hawa murninya ke dalam tubuh Sie Bun Yun, itu membuatnya mulai kehabisan hawa murni.
Pek Yun Hui tahu, apabila ia berhenti sekarang, mereka berdua pasti celaka, maka ia terus melanjutkan menotok jalan darah Sie Bun Yun.
Setelah menotok Jin Tiok dan Yauw Ih Hi'at, Pek Yun Hui sudah merasa berkunang-kunang, wajahnya bertambah merah seperti api.
Akan tetapi, setelah mulai menotok jalan darah di tubuh Sie Bun Yun lagi, wajahnya yang semula memerah seperti api, berangsur-angsur berubah pucat pias, keringat dingin pun mengucur membasahi bajunya.
Pek Yun Hui melirik ke arah Ling Hung, yang duduk tenang di atas sebuah batu besar Namun Pek Yun Hui tahu, hati gadis itu amat berduka dan menderita sekali, hanya saja gadis itu tidak berani bersuara sama sekali.
"Kakak Yun!"
Ujar Ling Hung karena melihat Pek Yun Hui meliriknya.
"Jangan memikirkan diriku! Kalau hawa murnimu buyar, sulit dihimpun kembali lagi."
Pek Yun Hui mengangguk dan mulai menotok jalan darah di tubuh Sie Bun Yun, sehingga kini tinggal dua belas jalan darah, maka menurutnya akan berhasil Akan tetapi, di saat ini hawa dan tenaga murni Pek Yun Hui telah hilang separuh.
sesungguhnya dengan Lweekangnya yang masih dangkal itu, ia sama sekali tidak boleh melakukan Hong Kwat Hu Khi pada Sie Bun Yun, sebab akan merusak hawa dan tenaga murninya sendiri Karena itu,
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
saat ini wajahnya telah berubah kelabu dan keringat dinginnya terus mengucur, bahkan badannya pun mulai sempoyongan seakan mau jatuh.
Pek Yun Hui berkertak gigi, dan jari telunjuknya mulai bergerak lagi, Biar bagaimana pun ia akan menyelesaikannya.
ia sendiri tidak tahu, kekuatan apa yang mendorongnya melakukan itu, Mungkin tatapan mata Sie Bun Yun yang sejuk itu, mungkin juga cintanya yang menggebu-gebu memberi kekuatan padanya.
"Saudara keciL."
Panggil Sie Bun Yun.
Kini Pek Yun Hui telah menotok tujuh puluh dua jalan darah di tubuh Sie Bun Yun, Ketika Sie Bun Yun memanggilnya, ia tersenyum manis, kemudian jatuh du-duk.
Ling Hung bangkit berdiri, lalu mendekati Pek Yun Hui dengan air mata berderai-derai sambil memanggilnya "Kakak Yun!
Kakak Yun,.,."
Wajah Pek Yun Hui pucat pias, telinganya sama sekali tak mendengar suara panggilan itu, Ling Hung menengadahkan kepala memandang langit, mulutnya bergumam.
"Kakak Yun! Kakak Yun...."
"Adik Hung!"
Sie Bun Yun memanggilnya. Ling Hung menundukkan kepala dan menyahut "Kakak Yun sudah mati, aku akan mengantarmu ke gunung Kwat Cong San!"
"Adik Hung, saudara keciI... tidak mati,"
Ujar Sie Bun Yun sambil tersenyum getir "Kakak misan, jangan membohongiku!"
Ling Hung terisakisak.
"Kalau Kakak Yun tidak mati, kenapa wajahnya begitu pucat pias? Aku memanggilnya, kenapa dia tidak mendengar?"
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
"Adik Hung! Untuk apa aku membohongimu?"
Sie Bun Yun menarik nafas panjang sekali Entah bagaimana rasanya ketika melihat Ling Hung bersikap demikian terhadap Pek Yun Hui, padahal ia amat mencintai Ling Hung.
"Dia memang benar belum mati, cuma pingsan."
Ling Hung memandang Pek Yun Hui, kemudian membungkukkan badannya, dan sekaligus meraba keningnya.
"Kakak misan, dia memang pingsan. Ka!au pun sadar, dia pasti tidak bisa hidup lama."
Sie Bun Yun memandang ke langit, lalu menarik nafas panjang.
padahal ia sangat membenci Pek Yun Hui, tapi saat ini, ia merasa amat berterimakasih padanya, Berselang beberapa saat kemudian, Pek Yun Hui membuka matanya perlahan-lahan, sadar dari pingsannya.
"Saudara Bun Yun!"
Ujar Pek Yun Hui begitu membuka matanya.
"Engkau merasa hawa racun ular itu ditahan?"
"Ya."
Sie Bun Yun mengangguk "Kalau begitu...."
Pek Yun Hui tersenyum.
"Mari kita berangkat ke gunung Kwat Cong San!"
Ling Hung ingin memapahnya bangun, namun Pek Yun Hui menggelengkan kepala seraya berkata.
"Adik Hung, lebih baik engkau menjaga saudara Bun Yun dulu!"
Ling Hung tertegun mendengar itu, hatinya seperti tersayat pisau, Tapi ia tetap menurut pada Pek Yun Hui, dan segeralah memapah Sie Bun Yun.
Mereka mulai berjalan, Pek Yun Hui menggunakan pedangnya sebagai tongkat, namun sepuluh depa kemudian, nafasnya sudah memburu.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
"Kakak Yun!"
Ujar Ling Hung sambil menurunkan Sie Bun Yun dari punggungnya.
"Kalau kita berangkat dengan cara demikian, tidak akan bisa mencapai gunung Kwat Cong San."
"Benar."
Pek Yun Hui mengangguk "Biar kami di sini, engkau pergi cari sebuah kereta kuda, barulah kita bisa mencapai Kwat Cong San."
"Kakak Yun!"
Ling Hung menatapnya dalam-dalam.
"Engkau bilang gurumu itu berkepandaian amat tinggi, apakah beliau juga mampu memulihkan Lweekangmu?"
"Yang penting kita harus sampai di Kwat Cong San, guruku pasti punya akal untuk memulihkan Lweekang-ku,"
Sahut Pek Yun Hui.
"Kalau begitu...."
Ling Hung tersenyum.
"Syukurlah!"
Gadis itu memandang Pek Yun Hui sejenak, kemudian pergi mencari kereta kuda. Pada saat ini, Sie Bun Yun dan Pek Yun Hui dalam kondisi lemah, mereka duduk di bawah pohon rindang.
"Saudara keciI...."
Sie Bun Yun mulai membuka mulut.
"Kenapa engkau menyusahkan diri sendiri?"
"Saudara Bun Yun!"
Pek Yun Hui tersenyum.
"Kini hatiku malah merasa gembira sekali."
"Saudara keciL."
Sie Bun Yun menarik nafas pan-jang.
"Di atas perahu itu, aku sudah melihat dengan jelas, yang Ling Hung cintai adalah dirimu bukan diriku, Ka-rena itu, hatiku berduka sekali, Maka.,, aku pun menyalahkan dan sekaligus membencimu."
"Saudara Bun Yun! Engkau...."
Mata Pek Yun Hui bersimbah air.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
"Saudara kecil, dengarlah! Kini aku sudah tahu perlakuanmu terhadap orang, Saudara kecil, apakah engkau akan membuat adik Hung hidup bahagia selama-lamanya?"
Pek Yun Hui diam saja.
"Saudara kecil! Engkau tidak tahu bahwa aku tetap mencintai adik Hung walau dia tidak mencintaiku Asal engkau bisa membahagiakannya, aku pun turut gembira."
"Saudara Bun Yun.. Pek Yun Hui menarik nafas panjang.
"Semua itu gara-gara kesalahanku."
"Siapa pun tidak bersalah dalam hal ini,"
Sahut Sie Bun Yun.
"Saudra Bun Yun...."
Pek Yun Hui memberanikan diri untuk menyatakan sesuatu.
"Engkau tidak tahu, bahwa sesungguhnya aku tidak bisa mencintai adik Hung."
Begitu mendengar apa yang dikatakan Pek Yuri Hui, seketika juga wajah Sie Bun Yun berubah, lama sekali barulah membuka mulut "Saudara kecil!
Walau engkau telah berbudi padaku, tapi kalau engkau mempermainkan adik Hung, aku tetap akan memandangmu sebagai musuh."
"Sebetulnya bukan aku tidak mencintainya, hanya saja...."
Pek Yun Hui menarik nafas panjang.
"Kenapa?"
Tanya Sie Bun Yun dingin.
"Aku... aku tidak bisa mencintainya, harap engkau dapat memaklumi kesulitanku!"
Pek Yun Hui menundukkan kepala.
"Saudara kecil!"
Tegas Sie Bun Yun.
"Kalau engkau berniat mempermainkan adik Hung, aku tidak akan melepaskanmu!"
"Saudara Bun Yun, aku...."
"Apakah engkau sudah punya tunangan?"
"Sesungguhnya aku...."
Pek Yun Hui berhenti mendadak
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Bagian ke tiga puluh empat Menghadapi Musuh Dalam kondisi Lemah Kenapa Pek Yun Hui tidak melanjutkan ucapannya?
Karena ketika ia baru mau memberitahukan tentang dirinya, tiba-tiba terdengar suara orang.
"Heran, seharusnya mereka berada di sini!"
Bukan main terkejutnya Pek Yun Hui, sebab di saat ini ia dan Sie Bun Yun dalam kondisi lemah, tiba-tiba terdengar suara yang mencurigakan "Apakah Si Kakek Ular sengaja menjebak kita?"
Terdengar lagi suara sahutan.
Ketika mendengar suara itu, Pek Yun Hui semakin terkejut Karena ia mengenali suara itu, yang tidak lain suara Pat Pie Sin Ong-Tu Wee Seng, ketua partai Hwa San dan To Pie Kim Kong-Thu It Kang.
Pek Yun Hui dan Sie Bun Yun saling memandang, mereka berdua tampak tegang karena suara itu semakin dekat Berselang sesaat suara itu mulai menjauh dan Pek Yun Hui pun menarik nafas lega, justru pada waktu bersamaan, terdengarlah suara derap kuda yang menarik kereta.
"Suheng!"
Terdengar suara seruan Thu It Kang.
"Ada orang ke mari!"
"Kita bersembunyi dulu, lihat siapa yang datang,"
Sahut Tu Wee Seng.
Pek Yun Hui memandang ke depan, tampak sebuah kereta kuda berhenti di situ, kemudian melompat turun seseorang, yang tidak lain adalah Ling Hung, Kelihatannya gadis itu sama sekali tidak tahu keberadan Tu Wee Seng dan Thu It Kang di tempat itu.
"Kakak Yun! Kakak Yun!"
Seru Ling Hung gembira.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Pek Yun Hui serba salah, menyahut salah, tidak menyahut pun salah, Di saat ia merasa serba salah, mendadak tampak dua sosok bayangan melesat ke arah Ling Hung secepat kilat Ling Hung terkejut dan cepat-cepat mengayunkan senjatanya, Kemudian terdengar suara tawa dingin, senjata Ling Hung telah tertangkis oleh toya bambu.
Betapa kagetnya Ling Hung, namun kemudian malah tertawa dan memandang ke dua orang itu seraya berkata.
"Ternyata kalian berdua lagi!"
"Tidak salah!"
Sahut Tu Wee Seng sambil tertawa gelak.
"Engkau mau ke mana?"
"Lho?"
Ling Hung tersenyum.
"Aku mau ke mana adalah urusanku, kenapa engkau turut campur?"
Sebetulnya Ling Hung cemas bukan main, namun ia tetap berlaku tenang dan berusaha mengalihkan perhatian ke dua orang itu.
"Hm!"
Dengus Tu Wee Seng.
"Apakah mereka berdua telah terluka, maka menyuruhmu pergi mencari kereta kuda?"
"Ha ha!"
Ling Hung tertawa.
"Mereka berdua ter-luka?"
"Apakah tidak?"
Tu Wee Seng tertawa licik.
"Dugaanmu salah, Bagaimana mungkin mereka ter-luka?"
Sahut Ling Hung setenang mungkin.
"Suheng!"
Sela Thu It Kang.
"Tidak perlu terlalu banyak bicara dengannya! ia pasti tahu berada di mana ke dua orang itu. Suruh saja dia mengajak kita ke sana!"
"Hei!"
Bentak Tu Wee Seng pada Ling Hung.
"Engkau dengar tidak?"
"Kalau ingin menyuruhku untuk mengajak kalian ke sana, itu memang gampang! Tapi kalian berdua jangan begitu galak!"
Ling Hung tersenyum.
"Ayoh, mari ikut aku!"
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Mendengar sampai di sini, Pek Yun Hui dan Sie Bun Yun sudah tahu maksud tujuan gadis itu.
Ternyata Ling Hung akan mengajak ke dua orang itu ke tempat lain, ia bermaksud agar Pek Yun Hui dan Sie Bun Yun dapat meloloskan diri, namun bagaimana dirinya setelah itu?"
"Tunggu!"
Seru Tu Wee Seng.
"Engkau mau ke mana?"
"Lho?"
Ling Hung pura-pura heran.
"Bukankah kalian menyuruhku untuk mengajak kalian ke tempat mereka ?"
"Engkau tidak perlu macam-macam, mereka berdua pasti berada di dalam rimba ini!"
Tu Wee Seng tertawa.
"Ketika turun dari kereta itu, engkau berseru memanggil siapa?"
"Wuah!"
Ling Hung tertawa.
"Engkau sudah tua, tapi masih cerdas, Kami memang sudah berjanji bertemu di sini, namun kalau mereka berdua tidak ada di sini, kami akan bertemu di depan sana."
"Oh?"
Tu Wee Seng tertegun "Kalau begitu, ajaklah kami ke sana!"
"Ohya!"
Ling Hung teringat sesuatu.
"Apakah kalian tidak akan tenang aku meninggalkan kereta kuda di sini?"
Pek Yun Hui dan Sie Bun Yun terharu sekali, sebab ucapannya itu justru ditujukan pada mereka berdua.
sementara Ling Hung telah mengajak Tu Wee Seng dan Thu It Kang pergi, Pek Yun Hui menarik nafas panjang.
"Walau adik Hung telah meninggalkan kereta kuda itu untuk kita, namun kita tetap tidak bisa meninggalkan tempat ini. Aaakh... sia-sialah maksud baiknya!"
"Saudara kecil!"
Sie Bun Yun menatapnya tajam.
"Kalau engkau mempermainkan dirinya, engkau betul-betul bukan manusia!"
"Kalau aku berniat mempermainkannya, biar aku mati mengenaskan!"
Sahut Pek Yun Hui.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
"Kalau begitu...."
Sie Bun Yun mengerutkan kening.
"Kenapa engkau tadi bilang tidak bisa mencintainya? "Karena...."
Pek Yun Hui menarik nafas dalam-dalam lalu memberitahukan.
"Tahukah engkau, bahwa sesungguhnya aku seorang gadis?"
Pek Yun Hui memberanikan diri untuk memberitahukan tentang itu, sebab ia mengira bahwa setelah itu, semua urusan akan beres.
Akan tetapi, justru tidak segampang apa yang dibayangkan nya.
Ketika mendengar itu, Sie Bun Yun tampak tertegun Namun kemudian mendadak ia tertawa keras, kelihatannya ia amat gusar "Saudara Bun Yun, kenapa engkau tertawa?"
Tanya Pek Yun Hui.
"Saudara kecil!"
Sie Bun Yun menatapnya dengan penuh kegusaran "Caramu berbohong, masih kurang tepat!"
"Oh?"
Pek Yun Hui tertegun "Maksudmu?"
"Engkau ingin menggunakan alasan ini untuk menolak cinta adik Hung!"
Sahut Sie Bun Yun dan menegaskan "Kalau adik Hung terjadi apa-apa, aku tidak akan begitu gampang melepaskanmu!"
Padahal Pek Yun Hui memberitahukan secara jujur, tapi sebaliknya Sie Bun Yun malah mengiranya berbohong dan tidak pereaya sama sekali.
"Saudara Bun Yun...."
"Ssst!"
Sie Bun Yun memberi isyarat sekaligus berbisik "Ada orang menuju ke mari!"
Pek Yun Hui mengintip ke depan, tampak Hek Sat Ciu-Sim Cong sedang berjalan dengan wajah murung, Begitu melihat orang itu, giranglah Pek Yun Hui.
"Saudara Sim!"
Panggilnya.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Sim Cong langsung berhenti ia tampak tertegun dan menengok ke sana ke mari mencari arah suara tadi "Saudara Sim, kami berada di balik pohon."
Pek Yun Hui memberitahukan Sim Cong segera mendekati pohon itu, Begitu melihat Pek Yun Hui dan Sie Bun Yun, ia pun berteriak kaget "Haaah? Kalian berdua terluka?"
"Panjang sekali kalau dituturkan,"
Sahut Pek Yun Hui.
"Saudara Sim, sudikah engkau menolong kami satu kali lagi?"
"Tentu."
Sim Cong mengangguk Pek Yun Hui menunjuk ke dapan ke arah kereta kuda itu, kemudian ujarnya dengan suara rendah.
"Sebetu!nya Ling Hung yang membawa kereta kuda itu ke mari. Kami ingin berangkat ke gunung Kwat Cong San dengan kereta kuda itu. Saudara Sim, tolong bawa kereta kuda itu ke mari!"
"Saudara Pek!"
Sahut Sim Cong mengusulkan "ltu agak repot, lebih baik aku memapah saudara Sie dan menuntunmu ke sana, itu akan menghemat waktu.
"Betul"
Pek Yun Hui mengangguk Sim Cong segera memapah Sie Bun Yun, dan sekaligus menuntun Pek Yun Hui, lalu berjalan menuju kereta kuda itu.
Tak lama mereka sudah sampai di situ, Sim Cong memapah Sie Bun Yun ke dalam kereta diikuti Pek Yun Hui, Sim Cong duduk di depan kemudian menyentakkan tali kendali Kuda itu meringkik keras, kemudian berlari kencang meninggalkan rimba itu.
"Saudara kecil!"
Sie Bun Yun menatap Pek Yun Hui.
"Bagaimana adik Hung"."
Kenapa engkau sama sekali tidak memperdulikannya?"
"Saudara Bun Yun!"
Sahut Pek Yun Hui.
"Aku bukan orang semacam itu. Kalau pun kita ingin mempedu!i-kannya
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
sekarang, tenaga kita tidak mengizinkan. Lagi pula sebelum menemukan kita, Tu Wee Seng dan Thu It Kang pasti tidak akan berbuat jahat terhadapnya."
Sie Bun Yun menarik nafas panjang, sementara kereta itu terus melaju.
Hening suasana di dalam kereta, Pek Yun Hui dan Sie Bun Yun membungkam.
sesungguhnya saat ini Pek Yun Hui sudah mati, sebab ia telah banyak kehilangan hawa dan tenaga mur-ninya, Namun ia justru tidak mati, bukankah sangat mengherankan?
Tidak perlu heran, karena sejak kecil Pek Yun Hui mempelajari Toa Pan Yok Hian Kang (llmu Gaib Mem-bikin Diri Menjadi Kebal), ilmu tersebut yang me!in-dunginya, maka setelah beristirahat satu hari satu malam.
hawa dan tenaga murni Pek Yun Hui suda pulih tiga bagian.
Pek Yun Hui memandang ke luar, Legalah hatinya karena matanya telah melihat gunung Kwat Cong San.
sementara kereta kuda itu terus melaju menuju gunung tersebut, namun Sie Bun Yun masih tetap membungkam.
Ketika petang hari, kereta kuda itu sudah mulai memasuki kawasan gunung Kwat Cong San.
Akhirnya mereka sampailah di jalan setapak, dan kereta kuda itu terpaksa berhenti "Sudah tiba di Kwat Cong San,"
Ujar Sim Cong sambil meloncat turun.
Pek Yun Hui juga turun, Di saat itulah terdengar suara pekikan di atas kepala mereka.
Ternyata tampak seekor burung bangau besar terbang di angkat "Saudara Sim, terimakasih atas bantuanmu!"
Ucap Pek Yun Hui.
"Sama-sama,"
Sahut Hek Sat Ciu-Sim Cong.
"Saudara Sim!"
Pek Yun Hui menatapnya.
"Apa yang engkau pikirkan itu, aku pasti tidak akan membuatmu kecewa."
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
"Oh?"
Wajah Sim Cong berseri.
"Sungguhkah itu?"
"Sudah dua kali engkau menyelamatkan kami, tentunya aku tidak akan membohongimu,"
Jawab Pek Yun Hui.
"Ohya! Apakah kalian masih membutuhkan bantuan-ku?"
Tanya Sim Cong yang melihat burung bangau itu terbang semakin rendah.
"Terimakasih!"
Sahut Pek Yun Hui.
"Kita pasti berjumpa lagi."
"Kalau begitu, aku mohon diri."
Sim Cong meloncat ke tempat duduk kereta kuda itu, kemudian menyen-takkan tali kuda seraya berseru.
"Sampai jumpa!"
Kereta kuda itu mulai melaju meninggalkan gunung Kwat Cong San.
Burung bangau itu memekik keras lagi, lalu melayang turun.
Pek Yun Hui segera memeluk leher burung itu, ia meninggalkan gua Thian Kie Cinjin cuma satu bu!an, Namun dalam sebulan ini, ia telah mengalami berbagai kejadian.
Si Bangau Sakti yang amat cerdas itu cepat-cepat menekuk kaki nya.
Pek Yun Hui segera memapah Sie Bun Yun ke punggung Bangau Sakti, lalu ia pun meloncat ke atas, dan sekaligus menepuk leher Bangau Sakti.
Seketika juga Bangau Sakti mengembangkan sayapnya terbang ke atas, Sie Bun Yun terkejut dan bertanya.
"Saudara kecil, ini burung piaraanmu?"
"Betul."
Pek Yun Hui mengangguk Bangau Sakti itu terus terbang. Berselang beberapa saat kemudian, Bangau Sakti itu pun terbang turun di depan gua Thian Kie Cinjin.
"Guru! Guru! Aku sudah pu!ang!"
Seru Pek Yun Hui.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Akan tetapi, pintu gua itu tetap tertutup rapat Pek Yun Hui segera meloncat turun dari punggung Bangau Sakti, lalu berlari ke pintu gua.
Ketika baru mau mendorong pintu gua itu, ia melihat secarik kertas di atas sebuah batu di depan itu, Pek Yun Hui mengambil kertas itu, dan sekaligus membacanya.
Aku meninggalkan gua, kapan pulang tidak dapat dipastikan, harap engkau baik-baik menjaga diri itu adalah tulisan Na Hai Peng.
Begitu membaca tulisan tersebut, sekujur badan Pek Yun Hui menjadi dingin seketika.
Cepat-cepat ia berlari menghampiri Bangau Sakti, Ketika melihat wajah Pek Yun Hui yang kacau balau itu, Sie Bun Yun bertanya.
"Saudara kecil, apa yang terjadi?"
"Guruku tidak berada di dalam gua,"
Sahut Pek Yun Hui memberitahukan Sie Bun Yun tertegun, kemudian meloncat turun dari punggung Bangau Sakti.
"Saudara kecil, tidak usah berduka! kalau pun gurumu ada, belum tentu juga dapat mengobatiku."
Ujarnya sambil menggeleng-gelengkan kepala. Pek Yun Hui diam. Berselang sesaat ia memandang Bangau Sakti seraya bertanya.
"Hian Giok! Guru ke mana? Tahukah engkau dan dapatkah pergi mencarinya segera?"
Bangau Sakti mengeluarkan suara, kemudian langsung terbang ke atas dan berputar ke sana ke mari, lalu turun lagi.
Pek Yun Hui tahu, bahwa burung itu tidak tahu gurunya pergi ke mana, maka seketika wajah Pek Yun Hui berubah murung sekali.
"Saudara Bun Yun, Hong Kwat Hu Khi itu bisa bertahan sampai tujuh hari. Kini masih ada waktu satu hari, aku akan pergi mencari guru bersama Hian Giok. Kalau tidak
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
menemukan guru, aku pun pasti pulang ke mari,"
Ujar Pek Yun Hui.
"Tenaga murnimu masih belum pulih, bagaimana mungkin engkau akan pergi mencari gurumu? Lebih baik beristirahatlah! Setelah pulih carilah adik Hung, tidak usah menghiraukan diriku!"
Sahut Sie Bun Yun.
"Saudara Bun Yun, lebih baik aku papah engkau ke dalam gua dulu,"
Suara Pek Yun Hui terisak. Pek Yun Hui segera memapah Sie Bun Yun ke dalam gua Thian Kie Cinjin, kemudian membaringkannya di atas sebuah batu.
"Saudara Bun Yun, kalau engkau masih tidak per-caya, aku akan memperlihatkan diriku yang sebenarnya,"
Ujar Pek Yun Hui setelah membaringkannya Sie Bun Yun tampak mulai bereuriga, sebab sikap Pek Yun Hui saat ini persis seperti sikap seorang gadis.
"Benarkah engkau seorang gadis?"
Tanyanya masih kurang pereaya.
"Kalau engkau masih kurang pereaya, sebentar lagi engkau akan tahu."
Pek Yun Hui melangkah ke dalam.
Di saat Pek Yun Hui melangkah ke dalam, di saat itu pula berkelebat sosok bayangan memasuki Goan Thian Kie ini.
Pek Yun Hui tersentak, karena ia mendengar suara pekikan Bangau Sakti, pertanda ada orang memasuki gua.
Pek Yun Hui yang belum menyalin pakaian wanila, segera menghunus pedangnya dan langsung melesat ke luar Tidak tampak Sie Bun Yun terbaring di atas batu, Betapa terkejutnya Pek Yun Hui, sehingga merasa matanya berkunang-kunang dan nyaris pingsan seketika.
Mendadak ia mendengar lagi suara pekikan burung-nya.
Laksana kilat Pek Yun Hui melesat ke luar meninggalkan gua itu.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Ia melihat burungnya terbang ke atas, dan rontok pula tiga helai bulunya, Menyaksikan itu, Pek Yun Hui bertambah terkejut Sebab Bangau Sakti adalah burung piaraan Thian Kie Cinjin, usianya sudah ratusan tahun dan memiliki tenaga yang amat dahsyat Akan tetapi, kini burung itu malah terpukul hingga bulunya rontok tiga heiai, Dapat dibayangkan, betapa hebatnya kepandaian pendatang itu.
Walau kondisi badan Pek Yun Hui masih lemah, namun ia tetap memaksakan dirinya untuk mengejar pendatang itu.
Pek Yun Hui melihat orang itu memakai jubah kuning, dalam sekejap sudah hilang di sebuah tikungan, Dalam keadaan gugup, Pek Yun Hui masih sempat bersiul panjang memanggil Bangau Sakti.
Begitu mendengar suara siulan Pek Yun Hui, Bangau Sakti langsung terbang ke arahnya dan sekaligus menukik ke bawah.
Pek Yun Hui segera meloncat ke atas punggung Bangau Sakti, Ditepuknya leher burung itu, dan burung tersebut pun segera terbang ke arah orang itu.
Setelah tiba di tempat itu, Bangau Sakti terbang turun.
Pada waktu bersamaan, tampak beberapa benda meluncur ke arah Bangau SaktL Pek Yun Hui tahu bahwa itu semacam senjata rahasia, Walau ia memegang pedang, tapi tidak bisa menangkis senjata-senjata rahasia itu.
Bangau Sakti itu segera mengibaskan sepasang sayapnya.
Senjata-senjata rahasia itu terpukul jatuh, tapi Bangau Sakti sendiri kehilangan beberapa helai bulunya.
"Siapa itu?"
Bentak Pek Yun Hui.
"Harap tinggalkan namamu!"
Tiada sahutan, Pek Yun Hui segera meloncat turun dari punggung Bangau Sakti, ia pun terbelalak karena melihat
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
senjata rahasia yang jatuh itu cuma berupa bambu kecil sebesar dan sepanjang jari kelingking. Pek Yun Hui tertegun, tapi mendadak ia teringat sesuatu.
"Ku Ciok" (Bambu kering)! Apakah orang berjubah kuning itu musuh Sie Bun Yun? Tanya Pek Yun Hui dalam hati, Tapi bukankah Sie Bun Yun juga memakai bambu kering sebagai senjata, ada hubungan apa di antara mereka? Berpikir sampai di sini, ia pun mulai mengejar lagi. Akan tetapi, orang berjubah kuning itu sudah tiada jejaknya, Pek Yun Hui berhenti, lalu menarik nafas panjang sambit menggeleng-gelengkan kepala, Tiba-tiba ia terbelalak ternyata ia melihat ada tulisan di permukaan tanah. Guru membawaku pergi, harap saudara kecil tidak perlu cemas, Seusai membaca itu, Pek Yun Hui berdiri termangumangu di tempat, lalu memandang jauh ke depan sambil berkeluh.
"Saudara Bun Yun, engkau pergi begitu saja?"
Kini Pek Yun Hui merasa hatinya hampa, lagi pula Sie Bun Yun masih tidak mempereayai dirinya adalah seorang gadis, Entah berapa lama kemudian, barulah Pek Yun Hui kembali ke gua Thian Kie.
Sehari lewat sehari, tak terasa sepuluh hari telah berialu, Dalam sepuluh hari ini, Pek Yun Hui selalu berdiri di atas sebuah batu yang tinggi besar sambil memandang ke depan.
Ia berharap, Sie Bun Yun akan muncul mendadak di situ, Akan tetapi, hingga kini sudah sepuluh hari, pemuda pujaan hatinya itu sama sekali tidak muncul Keesokan hari nya, ia berpesan pada Bangau Sakti agar hati-hati menjaga gua Thian Kie.
Setelah itu, Pek Yun Hui segera meninggalkan gua itu dan tetap mengenakan pakaian lelaki
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Kini Pek Yun Hui telah meninggalkan gunung Kwat Cong San.
ia berdiri di pinggir jalan di mana ketika itu ia melihat gerobak-gerobak ekspedisi Thian Liong melalui jalan tersebut Pek Yun Hui menarik nafas panjang, lalu melanjutkan perjalanannya.
Kini ia sudah tiba di sebuah kota yang pernah dihampirinya sebulan yang Iatu.
Sesudah tersenyum getir, diayun kan nya kakinya lagi meninggalkan kota itu, Tak lama ia sudah sampai di tempat ia pernah bertarung dengan dua orang piauwsu ekspedisi Thian Liong, kemudian muncul Sie Bun Yun yang selalu tertawa riang gembira, Akan tetapi kini....
Pek Yun Hui menghela nafas dan berpikir, apakah guru Sie Bun Yun akan berhasil memunahkan racun ular yang mengidap di dalam tubuh Sie Bun Yun?
seandainya tidak berhasil itu berartl...
Pek Yun Hui tidak berani berpikir lagi, lalu duduk di bawah sebuah pohon rindang sambil memejamkan matanya.
"Saudara Bun Yun, kenapa engkau tidak mempercayaiku?"
Gumamnya. Lama sekali Pek Yun Hui memejamkan matanya, berselang sesaat mendadak ia mendengar suara bentakan dingin.
"Sudah boleh engkau membuka mata!"
Pek Yun Hui terkejut bukan main, karena suara bentakan itu begitu dekat Segeralah ia membuka matanya dan melihat seorang berdandan seperti pelajar berdiri di hadapannya.
Siapa orang itu?
Ternyata Kim Coa Suseng-Wang Han Siang, kepala piauwsu bendera kuning markas cabang ekspedisi Thian Liong.
Pek Yun Hui ingin menghindar, namun sudah tidak keburu, karena merasa ada tenaga yang amat dahsyat menerjang dadanya.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
"jangan bergerak!"
Bentak Wang Han Siang dingin.
"Kalau berani bergerak, aku tidak akan berlaku sungkan terhadapmu!"
Ternyata ujung kipas Wang Han Siang telah menyentuh Hua Kai Hiat di dada Pek Yun Hui. Apabila Wang Han Siang mengerahkan Lweekangnya, Pek Yun Hui pasti terluka dalam seketika.
"Engkau mau apa?"
Tanya Pek Yun Hui sambil mengernyitkan kening.
"Ha ha!"
Wang Han Siang tertawa.
"Aku kira setelah kaitan lolos, tidak akan berjumpa lagi! Siapa tahu, kita justru bertemu di sini!"
Perlu diketahui, selama sepuluh hari itu, Pek Yun Hui pun memperdalam ilmu silatnya di gua Thian Kie, terutama ilmu Ngo Heng Mie Cong Pu, boleh dikatakan sudah mahir sekali Karena itu, timbullah suatu akal dan ia pun tertawa.
"Setelah bertemu denganku, engkau mau bagai-mana?"
Tanyanya.
"Aku...."
Sebelum Wang Han Siang menyelesaikan sahutannya, mendadak badan Pek Yun Hui sudah bergeser ke samping sejauh tiga depa.
Seketika juga Wang Han Siang terbelalak menyaksikannya, begitu pula Pek Yun Hui, ia sendiri pun tidak menyangka bisa begitu.
Akan tetapi, tiba-tiba Wang Han Siang menyerangnya dengan kipas menggunakan jurus yang mematikan Dapat dibayangkan betapa lihay dan dahsyatnya serangan itu.
Namun ilmu Ngo Heng Mie Cong Pu jauh lebih hebat, Karena mendadak Pek Yun Hui telah hilang sehingga kipas itu menghantam sebuah pohon.
"Braaak!"
Pohon itu roboh terpukul kipas Wang Han Siang. Begitu Pek Yun Hui hilang dari hadapannya, Wang Han Siang semakin terkejut, dan cepat-cepat membalikkan badannya.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Tampak Pek Yun Hui berdiri tersenyum-senyum di situ, Wang Han Siang tertawa dingin dan langsung menyerang, Pek Yun Hui mengerahkan Ngo Heng Mie Cong Pu untuk menghindar, sebab ia tahu dirinya masih bukan tandingan Wang Han Siang, Setelah menghindar, ia melesat pergi.
Bagaimana mungkin Wang Han Siang membiarkan-nya?
ia pun melesat mengejar Pek Yun Hui, Karena kian lama kian mendekat, maka Pek Yun Hui terpaksa harus melawannya.
Tiba-tiba ia membalikkan badannya, lalu secepat kilat menyerang Wang Han Siang dengan tiga jurus beruntun Yakni jurus Hui Liong Sam Sek (Tiga Gerakan Naga Sakti).
Serangan-serangan itu amat dahsyat dan aneh, sehingga Wang Han Siang terpaksa mengerahkan ginkang Pat Pu Teng Khong (Delapan Langkah Meloncat Ke Angkasa) untuk menghindari serangan-serangan itu.
"Kenapa engkau masih mengejarku?"
Bentak Pek Yun Hui.
Wang Han Siang tidak menyahut, melainkan langsung menggerakkan kipasnya menyerang Pek Yun Hui.
itu adalah jurus Wua Ti Fan Yun (Membalikkan Awan Di Bawah Pergelangan).
Karena amat membenci Pek Yun Hui, maka tangan kirinya juga ikut menyerang dengan jurus Ling Coa Thuh Sing (Ular Sakti Menyemburkan Racun), Wang Han Siang menyerang dengan sepenuh tenaga, maka betapa dahsyatnya ke dua serangan itu.
Pek Yun Hui tahu akan kedahsyatan ke dua serangan itu, maka ia tidak menangkis melainkan mengerahkan Ngo Heng Mie Cong Pu untuk menghindar "Hm!"
Dengus Wang Han Siang dingin ketika melihat Pek Yun Hui mengerahkan ilmu itu lagi. Laksana kilat ia menyerang lagi dengan jurus Hwee Yam Sung Thian (Api Berkobar Membakar Langit).
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Pek Yun Hui tertawa, lalu menghindar lagi dengan ilmu Ngo Heng Mie Cong Pu.
Ketika badan Pek Yun Hui bergerak, Wang Han Siang melancarkan sebuah pukulan ke arah Pek Yun Hui.
itu adalah jurus Hui Coa Pik Khong (Ular Terbang Menembus Angkasa), yakni jurus andalan Wang Han Siang, Akan tetapi, Pek Yun Hui tetap bisa menghindar dengan ilmu Ngo Heng Mie Cong Pu.
Perlu diketahui, ilmu tersebut ciptaan Sam Im Sin Ni bersama Thian Kie Cinjin ratusan tahun lalu, Betapa hebat dan aneh ilmu tersebut, tentunya dapat dibayangkan Setelah menghindar, mendadak Pek Yun Hui balas menyerang dengan jurus Ih Ong Soh Kang (Nelayan Menyebarkan Jala), pedangnya mengarah pada pergelangan tangan Wang Han Siang.
Wang Han Siang cepat-cepat berkelit, namun ujung pedang Pek Yun Hui berhasil menggores pergelangan tangannya, ia telah malang melintang sekian tahun dalam rimba persilatan dan selama itu tidak pernah mengalami hal seperti ini.
Bahkan Souw Peng Hai, yakni ketua partai Thian Liong yang memiliki ilmu Kan Goan Cih pun masih merasa kagum akan kepandaiannya.
Akan tetapi, ia malah terjungkal dua kali di tangan Pek Yun Hui, bahkan pergelangan tangannya pun ter-gores, Betapa gusarnya Wang Han Siang, wajahnya langsung menghijau.
Mendadak Wang Han Siang memeluk keras, lalu laksana kilat menyerang Pek Yun Hui.
sementara Pek Yun Hui justru berdiri tertegun, karena tidak menyangka bahwa dirinya akan berhasil melukai lengan Wang Han Siang.
Ketika mendengar suara pekikan itu, tersentaklah Pek Yun Hui.
Begitu melihat Wang Han Siang menyerangnya begitu nekad, tanpa banyak pikir lagi ia pun meluruskan pedangnya melesat ke arah Wang Han Siang, Tampak berkelebat sinar
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
putih mengarah pada Wang Han Siang yang sedang menyerang, Ternyata Pek Yun Hui telah mengeluarkan ilmu Sen Kiam Hap (Badan Menyatu Dengan Pedang).
Wang Han Siang yang sedang menyerang itu terkejut bukan main, sebab ia pernah merasakan kedahsyatan ilmu pedang itu.
seketika juga ia ingin mundur, tapi hawa dingin pedang itu telah mengarah padanya.
Apa boleh buat Wang Han Siang terpaksa merubah jurusnya untuk menangkis serangan Pek Yun Hui.
Akan tetapi, jurusnya itu sama sekali tidak dapat membendung.
Secepat kilat Wang Han Siang menggeserkan badannya, namun pedang lawan telah menusuk bahu-nya.
Wang Han Siang segera meloncat mundur, bahkan segera kabur dari tempat itu.
"Ha ha!"
Pek Yun Hui tertawa gembira, karena telah berhasil menusuk bahu Wang Han Siang, dan orang itu pun kabur terbirit-birit.
Setelah suara tawanya lenyap, mendadak Pek Yun Hui mendengar suara seorang gadis yang amat dikenalnya.
Pek Yun Hui segera melesat ke belakang pohon, kemudian memandang ke arah suara itu.
seketika itu juga ia tertegun, ternyata ia melihat Ling Hung yang terus tertawa cekikikan Di hadapan gadis itu berdiri dua orang yaitu Pat Pie Sin Ong-Tu Wee Seng dan To Pie Kim Kong-Thu It Kang yang ke duanya tampak bengis.
"Bocah perempuan!"
Bentak Tu Wee Seng sambil menjulurkan tangannya mengarah Leng Tay Hiat di kepala Ling Hung.
"Sudah cukup apa belum engkau tertawa?"
Ling Hung tetap tidak menyahut, malah masih ter-tawa, sehingga membuat wajah Tu Wee Seng menghijau saking mendongkolnya.
"Kalau aku mengerahkan sedikit tenaga, nyawamu pasti melayang!"
Bentaknya.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Pek Yun Hui yang mengintip itu terkejut bukan main, Kalau ia melesat ke luar menolong gadis itu, pasti tidak keburu dan sebaliknya akan kesulitan bagi dirinya sendiri sedangkan Ling Hung menarik nafas panjang, dan memandang Tu Wee Seng.
"Cepatlah turun tangan!"
Ujarnya.
"Bocah perempuan!"Tu Wee Seng tertawa terkekeh-kekeh.
"Benarkah engkau tidak takut mati?"
"Mungkin Kakak Yunku telah mati, maka aku ingin segera menyusulnya!"
Ling Hung menarik nafas panjang lagi.
"Apabila engkau turun tangan membunuhku, itu memang yang kukehcndaki! Kalau tidak, aku tetap akan cari mati!"
Pek Yun Hui tersentak ia tidak menyangka Ling Hung akan sungguh-sungguh mati demi dirinya, itu karena cinta, lantaran dirinya mengenakan pakaian lelaki, Biar bagaimanapun aku harus menolongnya, Pek Yun Hui membatin Namun ia pun yakin, Tu Wee Seng tidak akan membunuhnya, itu cuma menakuti gadis tersebut saja.
"Hm!"
Dengus Tu Wee Seng dingin.
"Kalau engkau tidak bilang Cong Cin To itu disimpan di mana, jangan harap engkau bisa mati!"
"Kalau begitu, Kakak Yunku terpaksa harus menungguku beberapa hari lagi di perjalanan alam baka!"
Ujar Ling Hung sambil menarik nafas. Walau Pek Yun Hui seorang gadis, namun mengucurkan air mata juga ketika mendengar Ling Hung mengucapkan begitu, dan hatinya amat tersentuh "Hm!"
Dengus Tu Wee Seng lagi "Engkau harus diberi sedikit pelajaran! Kalau tidak, engkau terlampau keras kepala! Sutee, cepat gantung dia!"
Ujarnya dingin.
"Ya,"
Sahut Thu It Kang dan selangkah demi selangkah mendekati Ling Hung, lalu menjulurkan tangannya mencengkeram urat nadi gadis itu.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Ling Hung memang tidak bisa melawan, namun tangannya masih bisa bergerak, dan langsung mengayun ke arah muka Thu It Kang.
Plaaak!
Tamparan itu keras sekali, sehingga membuat pipi Thu It Kang berbekas telapak tangan Ling Hung.
"Aduuuh!"
Jerit Thu ItKang kesakitan dan tertegun, kemudian mendadak mengayunkan tangannya ke arah dada gadis itu sekuat tenaga.
Kalau dada Ling Hung terpuku!, tidak mati pun pasti terluka parah, Dapat dibayangkan, betapa terkejutnya Pek Yun Hui yang mengintip itu.
ia harus menolongnya, namun ketika baru mau melesat ke luar, di saat itu pula terdengar suara "Serrrt", menyusul suara jeritan Thu U Kang seperti babi dipotong.
Pek Yun Hui terbelalak dan memandang dengan penuh perhatian seketika juga wajahnya tampak berseri dan hatinya girang bukan main.
Tangan kiri Thu It Kang memegang lengan kanan-nya.
wajahnya pucat pias, keringatnya mengucur deras dan tampak menderita sekali.
sedangkan Tu Wee Seng menggenggam toya bam-bunya erat-erat, berdiri di sisi Thu It Kang dengan wajah gusar, Di hadapannya berdiri seorang tua dan seorang pemuda, Begitu melihat pemuda itu, Ling Hung memanfaatkan kesempatan Ketika Thu It Kang menjerit kesakitan, dan Tu Wee Seng menatap orang tua tersebut, ia langsung berlari mendekati pemuda itu.
Siapa pemuda tersebut?
Tidak lain adalah Sie Bun Yun yang amat dirindukan Pek Yun Hui.
Ketika menyaksikan wajah Sie Bun Yun yang bersemangat itu, legalah hati Pek Yun Hui, itu pertanda racun ular yang mengidap di tubuhnya telah punah sama sekali.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Rasanya ingin sekali keluar dari tempat persembunyiannya untuk menemui Sie Bun Yun, namun muncul pula suatu rencana, maka ia harus menahan diri, dan terus mengintip ke arah mereka.
"Adik Hung!"
Sie Bun Yun tertawa gelak.
"Tam-paranmu tepat sekali mengenai pipinya, cuma sayang masih kurang keras!"
"Kakak misan!"
Tanya Ling Hung cepat "Di mana Kakak Yunku? Apakah dia masih hidup?"
Pertanyaan tersebut membuat wajah Sie Bun Yun berubah agak kelabu, Lagi pula Ling Hung tidak merasa gembira akan kemunculannya, begitu membuka mulut langsung menanyakan tentang Pek Yun Hui.
Ketika melihat Sie Bun Yun diam, Ling Hung justru mengira telah terjadi sesuatu atas diri Pek Yun Hui, maka seketika juga air matanya berderai dan bibirnya ber-gemetar.
"Kakak misan! Bagaimana keadaan Kakak Yun, beritahukanlah padaku!"
Desak Ling Hung sambil menatapnya.
"Adik Hung, ketika aku meninggalkannya, dia tidak apaapa,"
Jawab Sie Bun Yun memberi tahukan.
"Tapi hawa dan tenaga murninya masih belum pu!ih."
"Kalau begitu...."
Ling Hung tampak cemas sekali.
"Adik Hung!"
Sie Bun Yun tersenyum "Aku akan memberitahukan sebuah lelucon padamu."
"Kakak misan, aku...."
Ling Hung sangat mencemaskan keadaan Pek Yun Hui, sebaliknya Sie Bun Yun malah ingin memberitahukannya suatu lelucon, itu membuat gadis tersebut tidak habis berpikir "Lelucon apa?"
"Pek Yun Hui bilang, dia adalah seorang gadis juga."
Sie Bun Yun memberitahukan
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
"Apa?"
Ling Hung tertegun, kemudian tertawa ge!i.
"Omong kosong! Tak mungkin dia seorang gadis! Bagaimana keadaannya?"
"Entahlah!"
Sie Bun Yun menggelengkan kepala.
"Adik Hung, lebih baik engkau segera memberi hormat pada guruku!"
Ling Hung segera memberi hormat pada orang tua jubah kuning, lalu memanggilnya "Locianpwee", setelah itu ia berkata pada Sie Bun Yun.
"Kakak misan, Kakak Yun tinggal di mana, ajak aku ke sana menengoknya!"
Pek Yun Hui tertegun, karena Ling Hung ingin menemuinya, Padahal tadi gadis itu mengiranya telah mati, tapi kini sudah tahu dirinya belum mati dan sama sekali tidak pereaya kalau dirinya seorang gadis.
Harus bagaimana menyelesaikan urusan ini?
Pek Yun Hui mengernyitkan kening sambil berpikir ia yakin Sie Bun Yun pasti membawa Ling Hung ke gua Thian Kie tempat tinggalnya, maka timbullah suatu rencana dalam hatinya.
sementara Thu It Kang masih menjerit-jerit kesakitan Ternyata ketika ia mengayunkan tangannya memukul dada Ling Hung, mendadak meluncur sepotong bambu kecil menghantam tangannya, seketika itu juga dua jari tangannya putus, darahnya mengucur dan merasa sakit sekali Betapa gusarnya Tu Wee Seng, namun ketika melihat pendatang itu, ia pun terheran-heran.
ia ketua partai Hwa San yang terkemuka di rimba persilatan, kaum pesilat yang tiada partai boleh dikatakan dikenalnya semua, Akan tetapi, ia tidak kenal orang tua jubah kuning itu.
Walau dalam keadaan gusar, Tu Wee Seng tidak berani bertindak sembarangan ia hanya berdiri diam sambil mendengarkan pembicaraan ke dua muda-mudi itu.
Berselang beberapa saat kemudian, ia memandang orang tua jubah kuning itu seraya berkata.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
"Maaf, bolehkah aku tahu siapa engkau?"
"Hm!"
Dengus orang tua berjubah kuning.
"Partai Hwa San tiada permusuhan denganmu, kenapa engkau langsung melukai tangan adik seper-guruanku?"
"Siapa engkau?"
Tanya orang tua berjubah kuning membentak "Guru!"
Sahut Sie Bun Yun memberitahukan.
"Dia adalah Pat Pie Sin Ong-Tu Wee Seng, ketua partai Hwa San-"
"Orang semacam dia berderajat jadi ketua partai? Apakah kaum Bu Lim di Tionggoan telah begitu merosot ?"
Ujar orang tua berjubah kuning sambil tertawa dingin. Sungguh menghina ucapan orang tua jubah kuning itu, bahkan memandang rendah pada Tu Wee Seng selaku ketua partai Hwa San.
"Bagus!"
Ling Hung bertepuk tangan sambil tertawa gembira, Selama belasan hari ini ia terus menyimpan rasa kesalnya terhadap ke dua orang itu dalam hati, kini dilampiaskannya.
"Ucapan Cianpwee memang tidak sa-lah!"
"Hei!"
Bentak Tu Wee Seng pada orang tua berjubah kuning, Kelihatannya ia sudah tidak bisa bersabar dan menahan diri lagi.
"Cepat beritahukan, siapa engkau?"
"Phui!"
Orang tua berjubah kuning meludah.
"Apa-kah engkau berderajat untuk mengetahui namaku?"
Kedudukan Tu Wee Seng amat tinggi dalam rimba persilatan, tapi kini justru dihina habis-habisan oleh orang tua berjubah kuning.
Oleh karena itu kegusarannya me-muncak, dan tanpa banyak pikir lagi langsung menyerangnya dengan toya bambu, Bayangan toya bambu berkelebatan mengarah pada orang tua berjubah kuning, Ternyata Tu Wee Seng mengeluarkan jurus Taysan To Liu (Air Mengalir di Gunung Taysan), yakni jurus andalannya.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
"Ha ha!"
Orang berjubah kuning tertawa gelak, dan mendadak badannya bergerak laksana kilat menerobos bayangan-bayangan toya bambu itu.
Terkejutlah Tu Wee Seng, dan secepat kilat meloncat mundur beberapa depa.
Ternyata ia khawatir orang tua berjubah kuning akan menyerangnya mendadak Akan tetapi, orang tua berjubah kuning itu tidak menyerang Tu Wee Seng, melainkan memandang Sie Bun Yun seraya bertanya.
"Anak Yun, orang itu ketua partai Hwa San?"
Kelihatannya orang tua berjubah kuning itu kurang pereaya, lantaran menganggap kepandaian Tu Wee Seng masih rendah, Walau orang tua berjubah kuning itu amat meremehkannya, Tu Wee Seng tidak berani menyerang lagi, hanya melintangkan toya bambunya, sebab gerakan orang berjubah kuning itu sangat aneh.
Padahal Tu Wee Seng juga berkepandaian tinggi Kalau tidak, bagaimana mungkin ia bisa menjabat sebagai ketua partai Hwa San?
Namun ketika ia melancarkan jurus Taysan To Liu (Air Mengalir Di Gunung Taysan), yakni jurus andalannya yang amat ampuh itu, orang jubah kuning itu mampu menerobos serangannya, maka ia terkejut bukan kepalang.
"Tidak salah,"
Sahut Sie Bun Yun.
"Dia memang ketua partai Hwa San yang amat tersohor itu."
Ucapan "Amat tersohor itu", diucapkan Sie Bun Yun dengan nada menyindir, maka seketika juga wajah Tu Wee Seng memerah saking gusarnya, Namun ia memang licik, tidak melampiaskan kegusarannya malah tertawa panjang.
"Dia masih berani tertawa,"
Ujar orang berjubah kuning sambil tertawa dingin.
"Semula aku mengira dia orang tak bernama."
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Tu Wee Seng sudah tak dapat mengendalikan diri lagi, sebab orang berjubah kuning itu terus-menerus menghinanya.
"Engkau punya kepandaian apa, sehingga berani bermulut besar?"
Ujarnya dingin.
"Beranikah engkau bermulut besar?"
Orang berjubah kuning balik bertanya sambil menatapnya tajam.
"Aku berani mohon petunjuk!"
Sahut Pat Pie Sin Ong-Tu Wee Seng.
"Cianpwee!"
Sela Ling Hung mendadak "Orang itu jahat sekali, harap Cianpwee jangan melepaskannya!"
"Nona kecil!"
Orang berjubah kuning itu memandang Ling Hung sambil tersenyum.
"Walau jarang membunuh, namun aku bukan orang baik-baik. Memang ada baiknya aku memberi sedikit pelajaran pada orang itu."
"Bagus!"
Ling Hung tertawa gembira.
"Dia harus diberi pelajaran, agar tidak sok. Dia cuma berani berhadapan dengan anak kecil."
Mereka berdua bereakap-cakap seakan tidak memandang sebelah mata pada Tu Wee Seng, itu membuat nafas Tu Wee Seng memburu saking gusarnya.
"Engkau boleh mulai!"
Ujar Tu Wee Seng dingin. Orang berjubah kuning memandang toya bambu di tangan Tu Wee Seng, lalu manggut-manggut.
"Sunguh kebetu!an, senjatamu berupa toya bambu, senjataku pun berupa sebatang tongkat bambu kering!"
Katanya. Tergerak hati Tu Wee Seng mendengar ucapan orang itu. sepertinya ia pernah mendengar tentang seseorang yang menggunakan bambu kering sebagai senjata, namun ia justru lupa di saat ini.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
"Bambu bertemu bambu memang adil!"
Ujarnya sambil tersenyum, sebab ia yakin tongkat bambu kering orang berjubah kuning itu tidak akan selihay toya bambunya.
Tangan orang berjubah kuning bergerak, tahu-tahu sudah menggenggam sebalang bambu kering tapi masih berwarna hijau.
Begitu melihat bambu kering itu, Tu Wee Seng tampak bersemangat karena toya bambunya lebih panjang dan lebih besar dari bambu kering di tangan orang berjubah kuning.
Memang bambu kering di tangan orang berjubah kuning itu agak pendek dan kecil, mirip mainan anak-anak, itu yang membesarkan hati Tu Wee Seng.
"Hm!"
Dengus orang berjubah kuning.
"Hati-hatilah!"
Tangan orang berjubah kuning bergerak, ternyata ia Sudah mulai menyerang dengan jurus Kim Kong Coh Kiam (Kim Kong Menciptakan Pedang).
seketika juga bambu kering itu berkelebatan mengarah pada Tu Wee Seng.
Secepat kilat Tu Wee Seng berkelit, dan sekaligus balas menyerang dada orang berjubah kuning mengarah pada Sien Kie Hiat.
Sungguh mengherankan orang tua berjubah kuning itu cuma diam, Namun ketika ujung toya bambu itu mendekat pada dadanya, barulah ia menggerakkan bambu keringnya menangkis toya bambu itu.
Bambu kering kecil itu tampak tiada tenaga sama sekali, itu membuat Tu Wee Seng berpikir bahwa mereka berdua tiada permusuhan, dan lagi pula cuma sekedar bertanding, jadi cukup saling menyentuh dengan ujung bambu saja, tidak perlu mengadu nyawa, Karena berpikir begitu, maka ia cuma ingin mematahkan bambu kering di tangan orang tua berjubah kuning itu.
Segeralah digerakkannya toya bambunya dengan jurus Han Goat Can Poh (BuIan Dingin Ombak Menderu).
jurus ini
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
penuh mengandung tenaga, maksudnya ingin memukul patah bambu kering itu.
Akan tetapi, orang tua berjubah kuning itu tetap menangkis dengan bambu keringnya sehingga Tu Wee Seng bergirang dalam hati, dan yakin bambu kering itu pasti patah terpukul toya bambunya.
"Plaaak!"
Kedua bambu itu berada Sungguh di luar dugaan, bambu kering itu tidak patah, malah mengeluarkan tenaga lunak yang amat dahsyat Begitu merasa adanya tenaga itu, Tu Wee Seng menyadari adanya gelagat tidak beres, Cepat-cepat ditariknya toya bambunya, namun terlambat "Ha ha!"
Orang tua berjubah kuning tertawa, Lengan kanannya tampak bergerak sedikit Tu Wee Seng merasa tenaga lunak itu bertambah dahsyat menerjang ke arah-nya, maka agar tidak diterjang tenaga itu, ia mengangkat toya bambunya dan sekaligus menggeserkan badannya.
justru pada waktu bersamaan, ujung bambu kering itu mengarah pada dadanya, itu membuat Tu Wee Seng terkejut bukan main, Maka demi menyelamatkan diri dari serangan tersebut ia terpaksa menggunakan senjata ra-hasianya, dan seketika juga ia mengayunkan tangan kirinya.
Tampak tiga buah senjata rahasia meluncur ke arah orang tua berjubah kuning, akan tetapi, terdengarlah suara "Plak!
Plak!
Plak!"
Ternyata tiga buah senjata rahasia itu telah terpukul oleh bambu kering, dan terpental laksana kilat berbalik mengarah pada Tu Wee Seng.
Betapa terkejutnya Tu Wee Seng, sebab bisa jadi senjata makan tuan.
Tu Wee Seng langsung meloncat pergi menghindari senjata rahasianya sendiri Namun sungguh di luar dugaan, orang tua berjubah kuning itu pun bergerak, Sungguh aneh, cepat dan lincah gerakan itu, Sebelum Tu Wee Seng menaruh kakinya di bawah, ujung
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
bambu kering itu telah mendahuluinya menotok Noh Hu Hiat di ubun-ubunnya.
itu adalah jalan darah yang amat penting, kalau tertotok Tu Wee Seng pasti akan mengalami gegar otak.
Maka dapat dibayangkan, betapa terperanjatnya Tu Wee Seng.
Secepat kilat ia mengayunkan toya bambu nya ke atas untuk menangkis bambu kering itu, dengan menggunakan jurus Hui Hong Soh Liu (Angin puyuh Menyapu Pohon).
Akan tetapi, toya bambu Tu Wee Seng justru menangkis tempat kosong, Ternyata orang tua berjubah kuning tadi cuma mengeluarkan jurus tipuan, dan ketika Tu Wee Seng menggerakkan toya bambunya menangkis, bambu kering itu pun bergerak cepat menotok Siauw Yauw Hiat seketika juga Tu Wee Seng merasa Siauw Yauw Hiatnya tergetar, dan terus-menerus tertawa ge!ak.
Setelah berhasil menotok jalan darah itu, orang tua berjubah kuning tidak menyerang lagi, melainkan meloncat mundur sedangkan Tu Wee Seng terus tertawa dengan wajah kehijau-hijauan, dan keringatnya terus mengucur di keningnya.
"Aku telah menotok Siauw Yauw Hiatmu!"
Ujar orang tua berjubah kuning dingin.
"Engkau akan terus tertawa, satu jam kemudian baru bisa berhenti! Asal engkau mau merawat diri selama beberapa hari, tentunya tidak akan terjadi apa-apa! Tapi kalau engkau masih bertempur dengan orang lain, berarti engkau cari celaka!"
Ketika melihat kakak seperguruan dipecundang orang tua berjubah kuning, Thu It Kang ingin menyc-rangnya, tapi Tu Wee Seng segera memberi isyarat padanya agar dia membawanya pergi dari tempat itu.
Thu It Kang langsung melesat ke arah Tu Wee Seng, lalu memapahnya dan langsung membawanya pergi.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
"Hi hi!"
Ling Hung tertawa gembira.
"Bagus! Bagus! Biar dia tertawa terus sampai mampus! Siapa suruh dia begitu jahat!"
Orang tua berjubah kuning selalu serius, tapi ketika mendengar suara tawa dan ucapan Ling Hung, ia pun ikut tersenyum".
"Nona kecil! Orang itu berkepandaian tinggi, lain kali kalau bertemu dengannya, engkau harus berhati-hati!"
Pesan orang tua berjubah kuning.
"Cianpwee!"
Mendadak Ling Hung mengucurkan air maia.
"Dia pembunuh ayahku, kalau aku tidak bisa me-lawannya, bagaimana mungkin menuntut bal.as dendam ayahku? Cianpwee, bolehkah aku jadi muridmu?"
Setelah berkata demikian, Ling Hung menjatuhkan diri berlutut di hadapan orang tua berjubah kuning itu.
Namun orang tua berjubah kuning itu mengibaskan lengan bajunya, dan seketika juga Ling Hung terangkat bangun.
"Aku tidak gampang menerima murid, Engkau berbakat dan bertulang bagus, tidak sulit berguru pada orang yang berkepandaian tinggi,"
Ujarnya.
"Engkau tidak perlu bermohon padaku."
"Cianpwee...."
Ling Hung masih ingin bermohon, namun Sie Bun Yun cepat-cepat berkata.
"Adik Hung, guruku telah menolak, maka engkau tidak perlu bermohon lagi,"
Karena Sie Bun Yun mengatakan begitu, berarti oiang tua berjubah kuning itu bersilat aneh, pereuma ia bermohon lagi, maka ia pun diam.
"Tak terduga sama sekali, mendadak aku memasuki Tionggoan, justru malah menyelamatkan nyawamu,"
Ujar orang tua berjubah kuning pada Sie Bun Yun.
"Sekarang aku mau pulang, sesudah beres urusanmu di Tionggoan, lebih
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
baik engkau kembali ke pulau saja! jangan terus di Tionggoan, itu akan menimbulkan banyak urusan."
Setelah berkata demikian, orang tua berjubah kuning melesat pergi, dan dalam waktu sekejap sudah lenyap dari pandangan Ling Hung.
"Kakakmisan!"
Gadis itu kagum dan tertegun "Guru-mu berkepandaian begitu tinggi, tapi justru tidak mau menerimaku sebagai muridnya, sedangkan kini aku sudah tidak punya famili.."
Berkata sampai di sini, air mata Ling Hung meleleh Iagi. Sie Bun Yun menarik nafas panjang, lalu mendekatinya dan sekaligus membelai-belai rambutnya.
"Adik Hung, guru sudah bilang tadi, kelak engkau akan bertemu guru yang berkepandaian tinggi, tenanglah!"
Ujar Sie Bun Yun lembut.
"Ya."
Ling Hung mengangguk "Ohya, Kakak misan, cepatlah temani aku pergi ke Kwat Cong San!"
"Baik."
Sie Bun Yun tidak menolak, namun ia sangat berduka dalam hati, sebab Ling Hung cuma memikirkan Pek Yun Hui, sama sekali tidak memikirkannya, Walau demikian, ia tetap bersikap sewajar mungkin.
****** Bab ke 35 -Makam Palsu Menimbulkan Masalah Lain Dalam perjalanan menuju gunung Kwat Cong San, Sie Bun Yun terus membungkam dengan wajah murung, ia amat mencintai Ling Hung, tapi adik misannya ini justru mencintai Pek Yun Hui, justru mereka berdua masih tidak pereaya, sebetulnya Pek Yun Hui seorang gadis.
"Kakak misan!"
Ling Hung meliriknya.
"Apakah engkau sangat membenciku dalam hati?"
Tidak."
Sie Bun Yun menggelengkan kepala.
"Aku sama sekali tidak membencimu, sungguh!"
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
"Kakak misan...."
Ling Hung menarik nafas panjang.
"Aku tahu, engkau selama ini sangat merindukanku, Tapi aku justru rindu pada Kakak Yun, tentunya engkau mengerti kan?"
Sie Bun Yun segera memandang ke tempat lain, sepasang matanya telah basah, kemudian sahutnya agak terisak.
"Adik Hung, jangan kau ungkit masalah itu lagi! Asal engkau bisa hidup bahagia bersama Pek Yun Hui selamanya, aku pun merasa gembira sekali!"
"Kakak misan!"
Ling Hung tersenyum.
"Engkau baik sekali."
Ling Hung mencetuskan dengan setulus hati.
Sie Bun Yun pun tahu, maka ia manggutfmanggut dan merasa dirinya tidak punya jodoh dengan adik misannya ini, Kemudian ia menyeka air matanya yang meleleh tanpa terasa itu seraya berkata.
"Adik Hung, kita adalah saudara misan, boleh dikatakan seperti saudara kandung...."
"BetuL"
Ling Hung mengangguk "Oh ya! Kakak misan, aku punya suatu permintaan, mohon engkau sudi mengabulkannya!"
"Apa permintaanmu, beritahukanlah!"
Sie Bun Yun tersenyum.
"Kakak misan, aku mohon agar engkau jangan membenci Kakak Yun!"
Ujar Ling Hung memberitahukan permintaannya. Sie Bun Yun tertegun beberapa saat lamanya, setelah itu barulah menyahut dengan suara rendah.
"Adik Hung, asal Pek Yun Hui baik terhadapmu, aku pasti tidak akan membencinya....,"
Sie Bun Yun berhenti berkata, berselang sesaat barulah melanjutkan "Asal-usul orang itu tidak jelas, lagi pula... kelihatannya sedang mencari kesempatan untuk menghindarimu..."
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
"Engkau salah, Kakak misan!"
Sahut Ling Hung cepat "Menurutku, Kakak Yun bukanlah orang yang tak berperasaan.
"Alangkah baiknya kalau pandanganku salah, Tapi asal dia berlaku sedikit tidak baik terhadapmu, aku pun tidak gampang me lepas kan nya. Adik misan, dia bilang dirinya adalah seorang gadis, bukankah itu lucu sekali?"
"Memang lucu."
Ling Hung tertawa.
"Dia cuma bereanda dengan Kakak misan, apakah engkau menganggap serius?"
Sie Bun Yun berpikirsejenak, kemudian tertawa geli, dan yakin Pek Yun Hui cuma bereanda.
Kini mereka telah memasuki kawasan gunung Kwat Cong San.
Ketika mendekati gua Thian Kie, tempat tinggal Pek Yun Hui, Sie Bun Yun menghentikan langkahnya.
"Adik Yun, dia tinggal di dalam gua itu. Aku... aku tidak mau ke sana."
Setelah mengetahui Pek Yun Hui tinggal di dalam gua itu, Ling Hung pun bersorak girang dalam hati, Apa yang diucapkan Sie Bun Yun barusan, ia sama sekali tidak memperhatikan nya.
"Ng!"
Sahutnya dan langsung melesat ke arah gua tersebut Menyaksikan itu, Sie Bun Yun berduka dalam hati lagi dan berdiri termangu-mangu di situ, Berselang beberapa saat kemudian, ketika ia baru mau meninggalkan tempat itu, mendadak ia mendengar suara jeritan Ling Hung yang sangat memilukan hati.
"Duuuk!"
Suara seakan orang jatuh mendadak.
"Adik Hung! Adik Hung!"
Seru Sie Bun Yun tertegun "Kenapa engkau?"
Sie Bun Yun segera melesat ke tempat itu, Barusan Ling Hung menjerit, itu pertanda gadis tersebut telah mengalami
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
sesuatu, maka betapa cemasnya Sie Bun Yun, Walau Ling Hung tidak mencintainya, ia tetap mencintainya dengan sepenuh jiwa raganya.
Setelah sampai di tempat itu, Sie Bun Yun melihat Ling Hung menggeletak di hadapan sebuah makam Gadis itu tidak bergerak sama sekali, ternyata telah pingsan Sie Bun Yun segera mengangkat Ling Hung.
ia sama sekali tidak membaca tulisan yang ada di batu nisan, sebab ia amat mengkhawat irkan Ling Hung yang wajahnya telah pucat pias, Cepat-cepat Sie Bun Yun mengurut beberapa jalan darahnya, Tak lama gadis itu mulai siuman, dan sekaligus mengeluarkan suara keluhan "Aaaakh...."
"Adik Hung, siapa yang melancarkan serangan gelap terhadapmu?"
Tanya Sie Bun Yun cepat Begitu siuman, air mata Ling Hung meleleh dan sekujur badannya bergemetar.
"Adik Hung! Beritahukanlah! Siapa yang memukul-mu?"
Tanya Sie Bun Yun dan merasa sakit menyaksikan Ling Hung.
"Kakak Yun! Kakak Yun, dia... dia..."
Sahut Ling Hung sambil menangis sedih.
"Dia?"
Sie Bun Yun terkejut "Dia apakan dirimu?"
Ling Hung terus menangis sedih, kemudian dengan tangan bergemetar ia menunjuk makam itu seraya berkata dengan air mata berderai-derai.
"Kakak Yun... dia... dia sudah mati."
"Apa?"
Sie Bun Yun tertegun.
"ltu bagaimana mung kin?"
"Lihatlah sendiri!"
Ling Hung menunjuk nisan tersebut suaranya telah berubah serak lantaran terlalu menahan rasa sedihnya.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Sie Bun Yun menoleh memandang nisan makam itu, seketika juga ia terbelalak ternyata nisan itu bertulisan demikian.
MAKAM PEK YUN HUI.
Sesudah membaca tulisan itu, Sie Bun Yun tertegun entah berapa saat lamanya, kemudian menarik nafas seraya bergumam.
"Heran, ketika membawaku ke mari, dia tampak semakin sehat Bagaimana mungkin bisa mati menda-dak?"
"Demi engkau!"
Ling Hung menatap Sie Bun Yun.
"ltu gara-gara demi engkau, akhirnya dia pula yang mati!"
Sie Bun Yun termangu-mangu. Kematian Pek Yun Hui juga membuat duka hatinya, Kini ucapan Ling Hung itu, bagaikan sebuah pisau menusuk ke dalam hatinya.
"Ha ha ha!"
Mendadak Sie Bun Yun tertawa seperti orang gila, Tidak salah! Memang demi diriku, kalau bukan karena demi menyelamatkan diriku, bagaimana mungkin dia akan mati? Aku,., akulah penyebab kematiannya!"
Setelah menyaksikan makam dan tulisan yang ada di nisan tersebut, Ling Hung dan Sie Bun Yun menganggap Pek Yun Hui telah mati.
Padahal sesungguhnya, di saat itu Pek Yun Hui justru bersembunyi di sebuah gua lain yang tak jauh dari situ.
Di depan gua itu ditumbuhi rerumputan liar, sehingga Sie Bun Yun dan Ling Hung tidak melihat gua tersebut.
Ketika menyaksikan keadaan mereka berdua, sedihlah hati Pek Yun Hui dan rasanya ingin sekali keluar menemui mereka, Namun ia tahu, apabila ia keluar menemui mereka, urusannya dengan Ling Hung pasti tidak akan beres.
Oleh karena itu, Pek Yun Hui mengeraskan hatinya untuk tetap bersembunyi di dalam gua itu.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
sementara Ling Hung terus memandang Sie Bun Yun, lalu mendadak melompat bangun seraya berseru-seru.
"Kakak Yun! Kakak Yun, tunggulah aku! Aku akan menyusulmu...."
Tiba-tiba Ling Hung menubruk batu nisan itu.
Pek Yun Hui sama sekali tidak menyangka Ling Hung akan berbuat senekad itu, Padahal sebelumnya, Ling Hung sering mengatakan, apabila Pek Yun Hui mati, ia pun tidak akan hidup lagi.
Pek Yun Hui mengira itu cuma omongan di mulut saja, tidak tahunya Ling Hung sungguh-sungguh me-lakukannya.
Saat ini kalau Pek Yun Hui melesat ke luar, tetap juga tidak keburu menolong gadis tersebut.
sedangkan Sie Bun Yun, sejak kecil sudah bersama Ling Hung, maka ia tahu jelas gerak-gerik maupun tingkah lakunya.
Ketika Ling Hung memandang batu nisan itu, hatinya sudah tersentak dan di saat Ling Hung menggerakkan badannya, ia pun langsung berseru.
"Jangan, Adik Hung!"
Akan tetapi, Ling Hungsudah meloncat ke arah batu nisan itu, Sie Bun Yun cepat-cepat menyambarnya, tapi cuma berhasil menyambar ujung bajunya.
Serrt!
Ujung baju Ling Hung tersobek.
Terkejutlah Sie Bun Yun, kemudian laksana kilat melesat ke batu nisan itu mendahului Ling Hung, ia melesat dengan mengerahkan ginkangnya, Begitu sepasang kakinya menginjak tanah, badan Ling Hung sudah sampai di situ.
Kalau kepala Ling Hung terbentur batu nisan itu, niseaya gadis itu akan mati seketika, Namun saat ini Sie Bun Yun sudah berdiri di situ, maka kepala Ling Hung cuma menubruk dadanya.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
"Duuuk!"
Dada Sie Bun Yun terbentur kepala Ling Hung, sehingga tergetar keras, tak lama mulutnya mengalir darah segar Setelah menubruk dada Sie Bun Yun, Ling Hung berdiri sambil memandangnya sambil berkata.
"Kenapa engkau berbuat demikian?"
"Adik Hung!"
Sie Bun Yun tersenyum getir "Engkau tidak boleh mati."
Pek Yun Hui yang bersembunyi di dalam gua tampak berduka sekali, apalagi ketika melihat Sie Bun Yun terluka dalam "Kakak misan!"
Ling Hung terisak-isak.
"Aku sudah bilang, kalau tiada Kakak Yun, aku pun tidak bisa hidup lagi."
Sie Bun Yun menarik nafas panjang, matanya menatap Ling Hung dalam-dalam seraya berkata.
"Adik Hung, dendam ayahmu belum terbalas, bagaimana mungkin engkau mati? Engkau mati karena cinta, sehingga tidak membalas dendam ayahmu, bukankah akan ditertawakan orang?"
"Kakak misan, engkau telah salah omong."
"Kok aku salah omong?"
"Kepandaianku masih rendah, maka kalau mau balas dendam haruslah belajar ilmu silat lagi. Namun Kakak Yun sudah mati, jadi bagaimana mungkin aku bisa belajar ilmu silat tingkat tinggi? Kakak misan, aku sungguh tidak mau hidup lagi."
"Aaakh...."
Sie Bun Yun menarik nafas panjang.
"Adik Hung, engkau pun pernah menasihatiku agar tidak berduka kan?"
"Ya."
Ling Hung mengangguk
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
"Adik Hung, aku seperti dirimu kehilangan kekasih, tapi aku masih tetap hidup, kenapa engkau tidak?"
"Kakak misan, Kakak Yun telah mati...."
Ling Hung tampak sempoyongan mau jatuh. Sie Bun Yun segera menahannya agar tidak jatuh, tapi ia sendiri telah terluka dalam, maka tidak kuat menahannya, dan akhirnya mereka jatuh bersama.
"Adik Hung!"
Ujar Sie Bun Yun sambil menggenggam tangannya.
"Biar bagaimana pun engkau tidak boleh mati."
Ling Hung tak menyahut, hanya menangis sedih dengan air mata berderai-derai, Air mata Sie Bun Yun pun sudah meleleh.
Begitu pula Pek Yun Hui yang bersembunyi di dalam gua, ia terisak-isak sedih.
Entah berapa lama kemudian, hari pun sudah mulai geiap, Ling Hung tetap duduk di samping batu nisan itu, sedangkan Sie Bun Yun berdiri tak bergerak di samping Ling Hung.
Di bawah sinar rembulan, Pek Yun Hui melihat mereka berdua diam saja, ia yakin Sie Bun Yun berhasil membujuk Ling Hung, agar tidak membunuh diri Mulai sekarang hati Ling Hung akan terus berduka, tapi Pek Yun Hui pereaya, lama kelamaan hati Ling Hung yang berduka itu pasti akan terobati oleh cinta kasih Sie Bun Yun yang teramat dalam ilu.
Memang agak tak berperasaan Pek Yun Hui membuat makam palsu itu, tapi tiada cara lain untuk menyelesaikan urusan tersebut, lalu bagaimana dengan dirinya sendiri ?
Perlahan-lahan Pek Yun Hui meninggalkan gua itu, kemudian memasuki gua Thian Kie.
ia menyalin pakaiannya dengan pakaian hitam, dan kepalanya pun ditutupi dengan kain hitam pula, sehingga dirinya mirip seorang ninja.
Diambilnya beberapa butir obat, dan sekaligus menjinjing sebuah keranjang yang berisi makanan menuju makam palsu itu.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Karena masih tereekam rasa duka, maka Sie Bun Yun dan Ling Hung tidak mengetahui kehadiran Pek Yun Hui.
Setelah dekat, barulah mereka berdua terperanjat sambil menoleh.
Melihat sosok bayangan hitam itu, Sie Bun Yun langsung membentak "Siapa?"
Setelah mendekati ke dua orang itu, hati Pek Yun Hui menjadi kacau balau, ingin rasanya ia memeluk Sie Bun Yun dan menangis sepuas-puasnya.
Akan tetapi, ia tidak berbuat begitu, melainkan menahan dukanya dalam hati, ia menaruh keranjang itu ke bawah, lalu memberi isyarat dengan tangan seakan dirinya bisu.
"Akh! Aaakh!"
Melihat orang itu tidak berniat jahat, Sie Bun Yun merasa lega.
"Apakah engkau orang dari gua Thian Kie?"
Tanya-nya. Pek Yun Hui diam saja seakan tidak mendengar pertanyaan Sie Bun Yun.
"Bagaimana Kakak Yun mati?"
Tanya Ling Hung. Pek Yun Hui tetap diam. ia mengeluarkan obat yang dibawanya, dan diserahkannya pada Sie Bun Yun.
"Adik Hung!"
Ujar Sie Bun Yun pada Ling Hung.
"Pereuma engkau bertanya padanya, Dia orang gagu dan tuIi, tidak mendengar pertanyaan kita,"
"Aku harus bertanya padanya,"
Tandas Ling Hung, Gadis itu mengambil sebatang ranting, kemudian menulis di tanah.
"Kenapa Kakak Yun bisa mati?"
Pek Yun Hui mengge!eng-gelengkan kepala, sedangkan Ling Hung menarik nafas panjang sambil membuang ranting itu.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Sie Bun Yun membagi obat itu pada Ling Hung, tapi gadis itu tidak mau meminumnya, Sie Bun Yun terus membujuknya, akhirnya Ling Hung mau juga meminum obat itu, itu adalah obat buatan Na Hai Peng yang sangat manjur Setelah minum obat itu, tak lama mereka berdua pun tampak bersemangat dan segan Pek Yun Hui berdiri termangu-mangu sambil memandang mereka, berselang sesaat barulah ia meninggalkan mereka, Tiba-tiba Ling Hung mengerutkan kening, ternyata ia merasa kenal orang berpakaian hitam itu.
"Kakak Yun!"
Serunya. Pek Yun Hui tersentak dan nyaris menghentikan langkahnya, namun ia mengeraskan hatinya, dan terus melangkah.
"Aaaakh...."
Keluh Ling Hung.
"Kakak Yun telah mati, biar aku memanggilnya, tidak mungkin dia akan menyahut."
"Adik Hung!"
Ujar Sie Bun Yun cepat.
"Engkau sudah tahu dia tidak akan menyahut, kenapa barusan engkau masih memanggilnya?"
"Orang berpakaian hitam itu.,,."
Ling Hung menarik nafas panjang.
"Bentuk badannya mirip Kakak Yun, maka aku memanggilnya."
Setelah mendengar itu, Sie Bun Yun diam sambil berpikir keras.
ia masih ingat, ketika Pek Yun Hui membawanya ke gunung Kwat Cong San, kesehatan Pek Yun Hui pun mulai pulih.
Seandainya dia amat berduka lantaran kehilangan jejak Sie Bun Yun, tidak mungkin akan membuatnya mati secara mendadak Apabila dia bunuh diri, tentunya meninggalkan pesan, Tetapi kematiannya....
Sie Bun Yun menengok makam itu, sama sekali tidak bisa menemukan sebab musabab kematian Pek Yun Hui.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
"Adik Hung!"
Ujarnya kemudian.
"Hari sudah malam, mari kita ke dalam gua Thian Kie saja!"
"Ya."
Ling Hung mengangguk "Kakak misan, engkau tadi mengatakan bahwa dendam ayahku belum terbalas Kalau kelak aku sudah berhasil membalas dendam ayah-ku, engkau jangan mencegahku lagi ya!"
"Kita bicarakan saja kelak,"
Sahut Sie Bun Yun.
"Aku sudah mengambil keputusan itu, maka sampai waktu itu engkau jangan menasihatiku lagi!"
Tegas Ling Hung.
Sie Bun Yun diam, Mereka berdua lalu menuju gua Thian Kie, sementara Pek Yun Hui tetap berpakaian hitam dan kepalanya pun tetap ditutup dengan kain hitam, ia menyambut mereka dengan tingkah seperti orang gagu dan tuli.
Akan tetapi, Sie Bun Yun terus memperhatikannya.
Pek Yun Hui adalah gadis yang sangat cerdas, ia tahu kalau Sie Bun Yun sudah mulai bereuriga terhadap dirinya, maka ia lalu bergerak-gerik seperti orang tolol puIa.
Betapa dukanya hati Pek Yun Hui, namun tetap ingin mencurahkan isi hatinya kepada orang yang amat di-cintainya.
Berselang beberapa saat kemudian, Pek Yun Hui meninggalkan gua Thian Kie.
Tak lama Sie Bun Yun pun ke luar, itu setelah Ling Hung tidur Ternyata ia menuju ke makam Pek Yun Hui.
Sie Bun Yun berdiri termangu-mangu di depan makam itu, rupanya memikirkan penyebab kematian Pek Yun Hui.
Tiba-tiba terdengarlah suara helaan nafas ringan di tempat yang tak jauh dari situ, Walau sangat ringan, namun Sie Bun Yun mendengar dengan jelas dan merinding seketika, ia yakin itu adalah suara helaan nafas Pek Yun Hui.
otomatis membuat otak Sie Bun Yun terus berputar akhirnya ia yakin Pek Yun Hui tidak mati.
Dengan adanya
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
keyakinan itu, timbul pula rasa bencinya terhadap Pek Yun Hui, karena ia menganggap Pek Yun Hui mempermainkan Ling Hung, ia ingin membentak, tapi kemudian dibatalkannya.
Berendap-endap ia menuju tempat suara helaan nafas itu, dan setelah menikung ia melihat sosok bayangan hitam berdiri di situ.
Orang itu sedang memandang rembuIan, punggungnya menghadap Sie Bun Yun dan masih mengeluarkan suara helaan nafas.
sepasang mata Sie Bun Yun membara, pertanda kegusarannya telah memuncak ia langsung melesat ke arah Pek Yun Hui sambil membentak keras.
"Saudara kecil, bagus sekali perbuatanmu!"
Betapa terkejutnya Pek Yun Hui, ia sama sekali tidak menyangka Sie Bun Yun akan muncul di tempat ini, sehingga membuatnya tertegun.
sedangkan Sie Bun Yun mendekatinya selangkah demi selangkah Wajah kehijauan-hijauan dan menatap Pek Yun Hui dengan mata berapi-api.
"Bagus!"
Ujar Sie Bun Yun sambil berhenti "Bagus sekali perbuatanmu!"
Pek Yun Hui menyesal dalam hati, kenapa ia tidak mau cepat-cepat meninggalkan gua Thian Kie, sebaliknya malah berdiri di tempat itu sambil menghela nafas pan-jang, akhirnya Sie Bun Yun memunculkan diri di situ.
Ketika menyaksikan sikap Sie Bun Yun yang begitu emosi, tanpa sadar ia mengucurkan air mata.
Padahal sesungguhnya ia bermaksud baik, Kalau Ling Hung menganggapnya telah mati, otomatis cinta kasihnya akan dialihkan pada Sie Bun Yun.
Akan tetapi justru di luar dugaannya makam palsu itu akan menimbulkan kejadian lain.
"Engkau masih merasa malu sehingga mengucurkan air mata?"
Bentak Sie Bun Yun tertawa dingin.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
"Engkau tahu aku merasa malu?"
Tanya Pek Yun Hui tenang.
"Hm!"
Dengus Sie Bun Yun dingin.
"Engkau membuat makam palsu, itu menyebabkan adik Hung nyaris membunuh diri! Kini dia sangat berduka karena mengira engkau telah mati! Engkau,., engkau sungguh bukan manusia!"
Sie Bun Yun terus mencacinya, sedangkan air mata Pek Yun Hui terus mengucur "Phui!"
Sie Bun Yun meludahi Pek Yun Hui.
"Aku memang telah salah memandang dirimu, bahkan menganggapmu sebagai teman baik,"
"Saudara Bun Yun...."
Suara Pek Yun Hui terisak-isak dan mundur selangkah pula.
"Engkau... engkau...."
"Siapa yang menyuruhmu memanggilku saudara? Engkau adalah binatang!"
Sie Bun Yun menudingnya dengan tangan bergemetar.
"Uaaakh...."
Pek Yun Hui menangis keras, lalu melesat pergi.
Hati Pek Yun Hui berduka sekali, bahkan merasa sakit karena dirinya telah diludahi Sie Bun Yun yang amat dicintainya itu, Karena itu, ia terus berlari dan berlari meninggalkan tempat itu sejauh mungkin.
Walau ia sudah berlari pergi, semua cacian Sie Bun Yun masih mengiang di dalam telinganya, akhirnya ia menutup telinganya sambil berlari dan menangis tersedu-sedu.
****** Ketika Pek Yun Hui melesat pergi, Sie Bun Yun justru berdiri termangu-mangu di tempat itu.
Setelah itu, di saat ia baru mau mengejar Pek Yun Hui, mendadak ia mendengar suara Ling Hung di belakangnya.
"Kakak misan! Barusan engkau bicara dengan siapa?"
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Sie Bun Yun segera membalikkan badannya, ia melihat Ling Hung sedang berjalan mendekatinya, seketika juga kacau hatinya, ia tidak tahu harus berterus terang pada Ling Hung atau harus merahasiakan itu.
Kalau ia merahasiakan tentang itu, walau hati Ling Hung berduka, tapi masih tetap menyimpan kenangan manis.
Ketika Sie Bun Yun tidak tahu harus mengambil keputusan apa, Ling Hung sudah berdiri di sisinya, wajahnya menengadah memandang rembulan yang remang-remang.
"Kakak misan, aku tadi seperti mendengar engkau bicara dengan seseorang, siapa orang itu?"
Tanya Ling Hung.
Sie Bun Yun bukanlah pemuda yang pandai ber-bohong, karena itu ia jadi tertegun ditanya demikian oleh Ling Hung, Sesaat kemudian, mendadak ia menggenggam tangan Ling Hung erat-erat seraya berkata.
"Adik Hung, kalau aku beritahukan engkau... engkau jangan berduka ya!"
"Kakak misan!"
Ling Hung tersenyum sedih dan matanya bersimbah air.
"Apalagi yang dapat membuat hatiku duka?"
"Adik Hung, aku tadi berbicara dengan.... Pek Yun Hui."
Sie Bun Yun memberitahukan.
"Apa?"
Ling Hung terbelalak "Aku tadi berbicara dengan Pek Yun Hui,"
Ujar Sie Bun Yun mengulanginya.
"Kakak misan.,.,"
Air muka Ling Hung berubah.
"Apakah itu adalah arwahnya?"
"Bukan."
Sie Bun Yun menggelengkan kepala.
"Adik Hung, dia.,, dia sesungguhnya tidak mati."
"Kakak misan jangan membohongiku!"
Air mata Ling Hung mulai meleleh.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
"Orang yang membohongi dirimu itu adalah dia!"
Sahut Sie Bun Yun dengan suara mengguntur "Dia ingin menghindarimu maka membuat sebuah makam palsu, agar engkau tidak memikirkannya lagi!"
Setelah mendengar itu, sekujur badan Ling Hung bergemetar, kemudian mengibaskan tangannya agar tidak digenggam Sie Bun Yun.
ia mundur beberapa langkah dengan wajah pucat pias, dan bibirnya terus bergemetar.
"Dia... dia ke mana sekarang?"
Tanyanya.
"Aku mencaci makinya, maka ia merasa malu dan langsung pergi,"
Sahut Sie Bun Yun.
"Kakak misan, katakan padaku, dia pergi ke mana?"
Ujar Ling Hung mendesak "Adik Hung...."
Sie Bun Yun menarik nafas panjang sambil menunjuk ke depan.
"Dia lari ke arah sana."
Begitu mendengar jawaban itu, Ling Hung langsung melesat ke sana. Sie Bun Yun terkejut lalu berteriak.
"Adik Hung, engkau mau ke mana?"
"Aku mau bertanya padanya,"
Sahut Ling Hung, Sie Bun Yun menyesal sekali karena berterus terang.
ia tahu hati Ling Hung bertambah berduka mengetahui hal itu.
Kini ia pergi menyusul Pek Yun Hui, bertemu Pek Yun Hui atau tidak, pasti akan terjadi sesuatu atas dirinya.
Oleh karena itu, Sie Bun Yun segera melesat pergi mengikuti Ling Hung.
Mereka berdua terus berlari, dan kirakira setengah jam kemudian, ke duanya sudah sampai di sebuah puncak gunung.
Mereka tidak lagi bisa melanjutkan perjalanan, karena di hadapan mereka menganga lebar sebuah jurang.
Sie Bun Yun baru mau berteriak menyuruh Ling Hung berhenti, gadis itu justru telah berhenti di tepi jurang tersebut
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Di saat itu, Sie Bun Yun melihat Pek Yun Hui duduk dan sedang menangis sedih di atas sebuah pohon di pinggir jurang itu.
"Kakak Yun! Kakak Yun!"
Panggil Ling Hung lembut Akan tetapi, Pek Yun Hui tampak seakan tidak mendengar, dan masih terus menangis sedih.
"Kakak Yun! Aku sudah datang, engkau tidak dengar?"
Suara Ling Hung bertambah lembut "Adik Hung sudah datang!"
Bentak Sie Bun Yun.
"Engkau masih berpura-pura dan macam-macam?"
Pek Yun Hui meloncat turun dari pohon itu, lalu berdiri di pinggir jurang sambil memandang mereka berdua.
"Kenapa kalian masih ke mari mencariku?"
Tanya Pek Yun Hui dengan air mata berderai.
"Kakak Yun.."
Ling Hung tertegun "Jangan panggil aku Kakak Yun lagi!"
Potong Pek Yun Hui cepat "Aku orang rendah, tidak pantas saling menyebut saudara dengan kalian!
sebetulnya kalian berdua merupakan pasangan yang serasi!
Sudahlah, kalian jangan mendekatiku lagi, anggaplah aku sudah mati!"
Ling Hung termundur beberapa langkah sambil memandang Pek Yun Hui dengan mata terbelalak, kemudian ujarnya dengan suara rendah.
"Kakak Yun! Aku... aku cuma mencintaimu...."
"Aku justru tidak bisa menerima cintamu!"
Sahut Pek Yun Hui.
"Kenapa kalian tidak mempereayaiku?"
"Pek Yun Hui! Tutup mulutmu!"
Bentak Sie Bun Yun mendadak sambil mendekatinya.
"Engkau adalah orang yang paling bodoh di kolong langit!"
Pek Yun Hui menudingnya.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
"Tidak salah!"
Sahut Sie Bun Yun.
"Engkau adalah binatang, tapi aku masih menganggapmu sebagai teman baikku, aku memang bodoh sekali!"
Usai berkata begitu, tiba-tiba Sie Bun Yun menyerangnya dengan sebuah pukulan.
Pek Yun Hui melihat pujaan hatinya menyerangnya dengan tidak berperasaan sekali, seketika juga hatinya terasa remuk.
Maka ia tidak mau mengelak pukulan itu.
"Duuuk!"
Dada Pek Yun Hui terpukul membuat badannya agak sempoyongan "Ayoh! Pukul lagi!"
Teriak Pek Yun Hui.
"Pukul aku sampai mati, agar kegusaranmu terlampiaskan!"
Sie Bun Yun maju selangkah, lalu memukul Pek Yun Hui lagi dengan jurus Cok Lang Thauw Thian (Ombak Menderu Ke Langit).
sedangkan Pek Yun Hui tetap berdiri dengan tangan di bawah, sama sekali tidak berniat menangkis maupun mengelak pukulan itu.
Ketika pukulan itu hampir me ngenai tubuh Pek Yun Hui, tiba-tiba Sie Bun Yun menarik kembali pukulannya seraya membentak "Kenapa engkau tidak mau menangkis pukulanku?"
"Ha ha!"
Pek Yun Hui tertawa.
"Kenapa aku harus menangkis?"
"Plak! Plak!"
Sie Bun Yun menamparnya dan menghardik "Menamparmu pun telah mengotori tanganku!"
Pek Yun Hui adalah Lan Tay Kong Cu, putri kaisar yang diagungkan, Sejak kecil ia amat dihormati siapa pun, dan tiada seorang pun berani bicara keras dengan dirinya, apalagi mencacinya.
Namun kini, dirinya justru dicaci maki habis-habisan oleh pujaan hatinya, bahkan ditamparnya pula, Maka dapat dibayangkan, betapa terpukulnya batin Pek Yun Hui, wajahnya pucat pias, ia mundur beberapa langkah seraya berkata.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
"Bagus! Tidak salah engkau memukul dan menamparku pula! Ha ha! Ha ha ha...."
Pek Yun Hui tertawa gelak dengan air mata berderai-derai.
Tertegunlah Sie Bun Yun menyaksikan sikap Pek Yun Hui.
sedangkan gadis itu memang sudah mengambil keputusan untuk menyudahi urusan tersebut "Memang tidak salah!"
Ujarnya kemudian dengan tegas.
"Aku tidak mencintai Ling Hung, apakah itu tidak boleh?"
"Kakak Yun...."
Wajah Ling Hung langsung berubah.
"Kalian tidak perlu mencariku lagi, sampai di sini kita berpisah!"
Lanjut Pek Yun Hui.
"Ha ha! Bukankah baik sekali?"
Pek Yun Hui tertawa gelak, lalu mendadak melesat pergi. Ling Hung ingin mengejarnya, tapi malah jatuh duduk, Namun Sie Bun Yun segera memapahnya bangun.
"Adik Hung, dia begitu macam, kenapa engkau masih ingin mengejarnya?"
Sie Bun Yun menggeleng-gelengkan kepala.
Wajah Ling Hung pucat pias, Bibirnya bergemetar tak mampu mengeluarkan suara sedikit pun dan sepasang matanya telah berubah redup.
Sie Bun Yun terkejut bukan main.
Cepat-cepat ia memeriksa nadinya, ternyata denyut nadinya tidak teratur sama sekali Kalau terus begitu, Ling Hung pasti akan mati mendadak "Adik Hung!"
Sie Bun Yun amat cemas, gugup dan panik.
"Jangan begini, ingatlah masih ada dendam ayahmu yang belum terbalas!"
Wajah Ling Hung yang pucat pias itu berubah merah padam, kemudian berubah kehijau-hijauan dan badannya mulai menggigil seperti kedinginan
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Sie Bun Yun segera memegang Leng Tay Hiat di tubuh Ling Hung, lalu mengerahkan Lweekangnya, agar keadaan gadis itu bisa kembali normal.
Akan tetapi, wajah Ling Hung yang kehijau-hijauan itu berubah merah padam lagi.
Sie Bun Yun tahu, apabila wajah Ling Hung yang merah padam itu berubah pucat pias, maka nyawa gadis itu sulit tertolong lagi.
Betapa cemasnya Sie Bun Yun, ia terus mengerahkan Lweekangnya untuk melindungi diri Ling Hung.
Kemudian mendadak ia mendongakkan kepalanya memandang ke atas sambil berteriak-teriak.
"Pek Yun Hui! Pek Yun Hui! Kalau Ling Hung terjadi sesuatu, itu berarti kita telah terikat oleh suatu dendam yang amat dalam!"
"Kakak... Kakak misan!"
Sekujur badan Ling Hung bergemetaran.
"Engkau... engkau jangan-jangan menyusahkannya...!"
"Krek! Krek!"
Sie Bun Yun berkertak gigi.
"Engkau sedemikian mencintainya, sebaliknya dia malah tidak punya perasaan terhadapmu "Engkau... engkau masih membelanya?"
"Dia... dia tidak mencintaiku, tapi... aku tetap mencintainya,"
Sahut Ling Hung dengan suara Iemah.
Usai menyahut begitu, wajah Ling Hung mulai berubah pucat dan sekujur badannya mulai menggigil lagi.
Wajah Sie Bun Yun pun telah berubah amat tak sedap dipandang, sebab saat ini menyangkut rrnti hidupnya Ling Hung.
justru pada saat yang sangat genting itu, tiba-tiba terdengar suara orang.
"Sedang berbuat apa kalian berdua di situ?"
Sie Bun Yun menoleh, tampak seorang wanita berusia empat puluhan mendekati mereka tanpa mengeluarkan sedikit suara pun. Wanita itu kelihatan anggun sekali, Walau berjalan santai, tapi
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
dalam waktu sekejap sudah di hadapan mereka, Tertegunlah Sie Bun Yun, ia yakin bahwa wanita itu berkepandaian amat tinggi, karena itu timbullah suatu harapan dalam hatinya.
"Mohon Cianpwee sudi memberi pertolongan!"
Ujar Sie Bun Yun.
Wanita itu memandang Ling Hung, kemudian melototi Sie Bun Yun, dan mendadak menjulurkan tangannya mendorong Sie Bun Yun.
Tangan wanita itu tidak menyentuh badan Sie Bun Yun, Namun pemuda itu telah merasa ada tenaga yang amat dahsyat menerjang ke arahnya, dan seketika juga ia terpental jatuh duduk di tanah.
Sie Bun Yun terkejut bukan main, namun wanita itu justru sudah mulai memberi pertolongan pada Ling Hung, itu membuat Sie Bun Yun tidak habis berpikir, sebetulnya wanita itu bermaksud baik atau jahat "Cianpwee!"
Sie Bun Yun mendekatinya.
"Cepat enyah!"
Bentak wanita itu dingin.
"Cianpwee.,,."
Sie Bun Yun kebingungan "Aku menyuruhmu cepat enyah!"
Bentak wanita itu sambil mengibaskan tangannya, dan seketika juga Sie Bun Yun terpental beberapa depa jauh.
Begitu jatuh duduk lagi, Sie Bun Yun bertambah tidak mengerti, karena ia melihat wanita itu sedang menolong Ling Hung, tapi kenapa dia begitu galak terhadapnya ?
ia pun melihat wajah Ling Hung mulai berubah kemerahmerahan dan nafasnya tidak memburu seperti tadi lagi Berdasarkan itu, dapat diketahui betapa dalamnya Lweekang wanita itu.
"Cianpwee, bagaimana keadaan adik misanku?"
Tanya Sie Bun Yun, namun ia tidak berani mendekati wanita itu lagi.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
"Batinnya terpukul hebat, sehingga merusak hawa murninya, bahkan juga telah menggetarkan nadi dan menyumbat peredaran darah di jantungnya, Kalau engkau tidak segera enyah, aku tidak akan mengampunimu,"
Sahut wanita itu dingin. Setelah mendengar wanita itu mengucapkan demikian tahulah Sie Bun Yun bahwa wanita itu telah salah paham terhadap dirinya.
"Cianpwee...."
Sie Bun Yun tertawa getir.
"Dia berduka sampai begitu bukan karena diriku!"
"Oh, ya?"
Kening wanita itu berkerut "Benar, Cianpwee."
Sie Bun Yun mengangguk "Dia adalah adik misanku, Dia mencintai pemuda lain, tapi pemuda itu justru tidak mencintainya, maka hatinya berduka sampai begitu macam."
"Hm!"
Dengus wanita itu.
"Kaum lelaki di kolong langit, tiada satu pun yang baik!"
"Cianpwee...."
Sie Bun Yun terbelalak, sebab ucapan wanita itu bernada membenci kaum lelaki, Tentunya hati wanita itu pernah dilukai kaum lelaki pula, kalau tidak, bagaimana mungkin ia mengucapkan begitu?
"Lukanya amat parah, namun aku cuma mampu menyalurkan Lweekangku, agar nyawanya dapat dipertahankan tidak bisa menyembuhkannya, Kelihatannya...
engkau sangat mencintainya, bukan?"
"Ya,"
Jawab Sie Bun Yun hormat "Jangan cuma menjawab di mulut saja!"
Wanita itu menatapnya dingin.
"Cianpwee!"
Ujar Sie Bun Yun sungguh-sungguh.
"Cianpwee telah salah menilai diriku."
Mendadak wanita itu melesat ke arah Sie Bun Yun, dan tahu-tahu telah mencengkeram urat nadinya, Betapa
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
terkejutnya Sie Bun Yun, namun sebelum ia membuka mulut, wanita itu sudah berkata.
"Seandainya engkau memperoleh kitab pusaka Kui Goan Pit Cek yang diidamkan setiap kaum Bu Lim, apakah engkau akan meninggalkan nona kecil ini karena kitab pusaka itu?"
Pertanyaan tersebut membuat Sie Bun Yun ter-heranheran.
Mungkinkah wanita itu sudah tahu Cong Cin To berada pada dirinya?
Pikirnya.
Tentunya Sie Bun Yun tidak tahu, bahwa Kui Goan Pit Cek itu telah diambil orang, bahkan sudah ada empat orang mempelajari ilmu silat yang tereantum di dalam kitab pusaka tersebut, yang salah satunya adalah wanita itu.
Semua kaum Bu Lim amat mengidamkan kitab pusaka Kui Goan Pit Cek tersebut, namun wanita itu justru sangat membenci kitab pusaka itu.
Gara-gara Kui Goan Pit Cek itu, suaminya pun seperti mabuk terhadap kitab pusaka tersebut, sehingga melupakan isterinya.
Siapa wanita itu?
Tidak lain adalah isteri Na Hai Peng bernama Cui Tiap karena suaminya terus tenggelam dalam Kui Goan Pit Cek, maka wanita itu mencuri kitab pusaka tersebut lalu kabur Na Hai Peng terus mencari isterinya, tapi tidak pernah berhasil dan sama sekali tiada kabar berita tentang isterinya lagi.
Karena penasaran suaminya begitu menggilai Kui Goan Pit Cek, wanita itu pun ingin tahu, sebetulnya kitab pusaka itu memiliki kekuatan apa, sehingga suaminya bisa berubah jadi begitu, Karena itu, setelah meninggalkan gunung Kwat Cong San, wanita itu pun mulai mempelajari isi kitab pusaka tersebut padahal ia cuma merupakan wanita biasa, namun setelah mempelajari isi Kui Goan Pit Cek, ia pun berubah menjadi wanita yang berkepandaian amat tinggi.
Pada waktu itu, putrinya bernama Na Siao Tiap sudah berumur empat belas tahun, Wanita itu amat membenci Na
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Hai Peng, maka berangkat ke gunung Kwat Cong San dengan maksud ingin membunuhnya, namun justru tidak bertemu.
Ketika wanita itu melihat Sie Bun Yun diam saja, maka mengiranya seperti suaminya pula.
Asal memperoleh Kui Goan Pit Cek, sudah tidak menghiraukan cinta kasih lagi.
"Hm!"
Dengusnya dingin sambil mengibaskan tangan bajunya. itu membuat Sie Bun Yun terpental beberapa langkah.
"Majikan gua Thian Kie berada di mana?"
Sie Bun Yun tidak tahu siapa guru Pek Yun Hui, iagi pula wanita itu bertanya mendadak, maka Sie Bun Yun mengiranya menanyakan Pek Yun Hui.
"Dia merasa malu karena tidak punya perasaan terhadap adik misanku, maka dia kabur."
Jawab Sie Bun Yun memberitahukan namun wanita itu justru mengira orang yang dimaksudkan adalah Na Hai Peng, suaminya, Oleh karena itu tidak heran wajahnya langsung berubah "Engkau bilang dia...
dia mencintai adik misanmu?"
Tanya Cui Tiap dan bertambah benci pada suaminya.
"Dia memang pernah bersikap seakan mencintai adik misanku, tapi kemudian bilang tidak bisa mencintainya."
"He he he!"
Cui Tiap tertawa terkekeh-kekeh.
"Ten-tunya dia tidak bisa mencintai adik misanmu, sebab dia sudah punya anak isteri."
Mereka berbicara tanpa menjelaskan Sie Bun Yun mengatakan Pek Yun Hui, sedangkan Cui Tiap mengatakan Na Hai Peng, suaminya, Karena itu kesalah-pahaman pun bertambah dalam Ling Hung yang mendengar itu, nyaris pingsan se-ketika, Gadis itu menganggap Pek Yun Hui telah menipu cinta kasihnya.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Cui Tiap menatap mereka yang tampak tertegun, lama sekali barulah membuka mulut memberitahukan "Bocah!
Kalau luka adik misanmu tidak diobati dengan Swat Ing (Rerumput Obat) yang tumbuh di puncak gunung Thian San Utara, mungkin adik misanmu tidak bisa hidup lama."
"Mohon petunjuk Cianpwee,"
Ucap Sie Bun Yun cepat "Swat Ing merupakan rumput pusaka partai Swat San, cuma tumbuh di tepi telaga di puncak gunung Thian San Utara, Kalau engkau mencintai adik misanmu itu, haruslah engkau menempuh bahaya demi adik misanmu itu!"
"Cianpwee, aku akan melakukan itu,"
Sahut Sie Bun Yun sungguh-sungguh.
"Hm!"
Dengus Cui Tiap dingin, lalu melesat meninggalkan tempat itu.
Sie Bun Yun terperanjat menyaksikan itu, karena wanita itu memiliki ginkang yang begitu tinggi Setelah wanita itu lenyap dari pandangannya, barulah ia mendekati Ling Hung.
"Adik Hung! Bagaimana rasamu sekarang?"
Tanyanya lembut.
"Agak membaik,"
Ling Hung menarik nafas panjang.
"Tapi masih merasa tak bertenaga sama sekali."
"Adik Hung, Cianpwee tadi bilang, hanya Swat Ing yang dapat menyembuhkan lukamu...."
"Kakak misan!"
Potong Ling Hung.
"Engkau tidak perlu menempuh bahaya ke puncak gunung Thian San Utara demi diriku, Terus terang, aku sudah tiada gairah hidup, Apa artinya aku hidup di dunia...."
"Adik Hung!"
Ujar Sie Bun Yun serius.
"Bagaimana dengan dendam ayahmu?"
"Kakak misan!"
Ling Hung menarik nafas.
"Aku pernah mendengar dari almarhum, bahwa ketua partai Swat San
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
bernama Sen Lui, julukannya adalah Pek Ih Sin Kun (Si Sakti Baju Putih) berkepandaian tinggi sekali, lagi pula bersifat aneh.
sedangkan Swat Ing merupakan rumput pusaka partai Swat San, bagaimana mungkin engkau akan mendapatkannya?"
"Adik Hung, demi dirimu, aku bersedia menempuh bahaya apa pun,"
Sahut Sie Bun Yun dengan tekad yang bulat.
"Kakak misan, apa gunanya engkau menempuh bahaya demi seorang gadis yang tidak mencintaimu?"
Tanya Ling Hung sambil tersenyum getir.
"Ha ha!"
Sie Bun Yun tertawa.
"Adik Hung, jangan lupa, aku tetap mencintaimu."
"Kakak misan...."
Ling Hung memejam matanya.
Sie Bun Yun segera memapahnya kembali ke dalam gua Thian Kie.
Ketika tidur, Ling Hung masih mengigau memanggil-manggil Kakak Yun....
****** Bab ke 36 -Bertarung di Puncak Swat San Demi Kekasih Setelah menyamar, Sie Bun Yun dan Ling Hung segera meninggalkan gua Thian Kie.
Begitu sampai di jalan, Sie Bun Yun membeli sebuah kereta kuda, Mereka berdua lalu berangkat ke Swat San, Sie Bun Yun dan Ling Hung menyamar, itu demi menghindari hal-hal yang tak diinginkan, sebab Sie Bun Yun menyimpan Cong Cin To yang diincar setiap kaum Bu Lim.
Dalam perjalanan menuju gunung Salju, memang tidak pernah terjadi suatu apa pun.
Namun mereka sama sekali tidak tahu, sejak mereka meninggalkan gunung Kwat Cong San, Pek Yun Hui pun terus mengikuti mereka.
Banyak kaum Bu Lim yang mengetahui jejak Sie Bun Yun, tapi dipukul mundur oleh Pek Yun Hui.
itu di luar sepengetahuan Sie Bun Yun maupun Ling Hung.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Dari gunung Kwat Cong San menuju gunung Thian San Ulara, jaraknya boleh dikatakan puluhan ribu mil, maka harus memakan waktu dua bulanan, Setelah ke luar ditri kawasan Giok Bun Koan, barulah tiba di Kota Si Shia.
Hari itu Sie Bun Yun memandang ke depan, sudah tampak gunung Thian San menjulang tinggi di depan mata.
Akhirnya mereka tiba juga di kaki gunung tersebut Akan tetapi begitu melihat ke atas, kaki mereka langsung merasa ngilu, Ternyata di gunung itu cuma terdapat salju yang memutih, pantas disebut gunung salju, Mau mendaki ke atas sudah sulit, apalagi harus bertarung dengan Pek Ih Sin KunSen Lui dan jago lainnya.
Kereta kuda terus mendaki, Sehari kemudian baru tiba di pinggang gunung itu, sedangkan puncaknya masih tertutup awan.
Ling Hung menarik nafas panjang setelah memandang ke atas.
"Kakak misan, lebih baik kita pulang saja, tidak usah ke atas gunung!"
Ujarnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Adik Hung!"
Sahut Sie Bun Yun.
"Biar bagaimanapun, kesehatanmu harus pulih seperti semula."
"Tapi...."
Ling Hung menggeleng-gelengkan kepala Belum seberapa lama mereka melakukan perjalanan ke atas, hari sudah gelap dan rembulan pun mulai bersinar remang-remang.
Berselang beberapa saat kemudian, mendadak muncul dua orang menghadang mereka.
"Aku punya urusan penting!"
Ujar Sie Bun Vui hormat "lngin menemui ketua kalian!"
Akan tetapi, ke dua orang itu tidak menyahut sama sekali, melainkan berdiri mematung di tempat.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Sie Bun Yun mengerutkan kening, sebab cara mereka berdiri agak aneh, kelihatan mengambil posisi M akan rnenyerang, Sie Bun Yun meloncat turun dari kerei kuda, lalu mendekati ke dua orang itu.
Ternyata jalar darah mereka berdua telah ditotok orang.
"Adik Hung!"
Sie Bun Yun memberitahukan "Munt kin partai Swat San telah terjadi sesuatu, Kalau ku membantu mereka, urusan kita akan lebih lancar Ling Hung mengangguk Sie Bun Yun segera membuka jalan darah mereka yang tertotok itu, dan seketika uga ke dua orang itu sudah bisa bergerak "Bocah!"
Bentak salah seorang.
"Kalian datang di Swat San mau cari gara-gara ya?"
Kedua orang itu langsung melancarkan pukulan ke arah Sie Bun Yun.
"Ka!ian berdua jangan salah paham!"
Ujar Sie Bun v un sambil meloncat mundur "Hm!"
Dengus ke dua orang itu dan menyerang lagi.
Sie Bun Yun terus mundur, namun ke dua orang itu terus menyerangnya, itu membuat Sie Bun Yun mulai naik darah.
ia batas menyerang dengan jurus Siang Lang Thauw Thian (Sepasang Gelombang Menembus Langit).
Kedua orang itu berkepandaian biasa, lagi pula tadi dan tertotok jalan darahnya, maka gerakan mereka sudah tidak begitu lincah, seketika juga mereka berdua tertotok oleh Sie Bun Yun.
Setelah berhasil menotok ke dua orang itu, Sie Bun v un segera mendekati kereta kudanya.
"Adik Hung, kita tidak mungkin ke atas dengan kereta kuda, Mari kita berjalan kaki saja!"
Ujar Sie Bun "v'un dan sekaligus memapah Ling Hung turun, lalu melanjutkan perjalanan sambil memapah Ling Hung.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
justru sungguh mengherankan, sepanjang menuju ke mncak, Sie Bun Yun dan Ling Hung melihat banyak "rang telah tertotok jalan darahnya, Oleh karena itu nereka berdua tidak mendapat halangan apa pun.
"Adik Hung!"
Sie Bun Yun menunjuk ke atas.
"Tidak ima lagi kita akan sampai ke puncak gunung itu."
Ling Hung tidak menyahut, cuma tersenyum getir, karena ia tahu Sie Bun Yun sudah capek sekali, namun masih menghiburnya, Sie Bun Yun tetap memapah gadis itu.
tetapi mulai sulit mendaki, sebab harus melalui salju yang sudah membeku.
Kalau tidak memapah Ling Hung, mungkin tiada kesulitan bagi Sie Bun Yun untuk mendaki Ketika mereka mendaki dengan susah payah, sayup-sayup terdengar bentakan dan suara beradunya senjata tajam.
Sejenak kemudian, suara itu sudah tidak terdengar lagi Sie Bun Yun terus mendaki sambil memapah Ling Hung.
Padahal udara di tempat itu dingin sekali, tapi kening Sie Bun Yun malah mengucurkan keringat Dapat diketahui, betapa beratnya mendaki gunung salju itu sambil memapah Ling Hung.
Tak seberapa lama kemudian, mereka melihat puluhan orang berdiri mematung.
Ternyata jalan darah mereka telah tertotok.
Rupanya ada orang yang merintis duluan untuk mereka, itu membuat Sie Bun Yun tidak habis berpikir, siapa yang menempuh bahaya membantunya?
Mungkinkah kebetulan ada orang lain mendatangi partai Swat San untuk menuntut balas, sehingga secara tidak langsung telah membantunya?
Sie Bun Yun berpikir sambil mendaki, kemudian mendongakkan kepala, dan seketika juga ia tampak tertegun Ternyata di atas tampak tebing salju yang membeku, amat licin sehingga sulit sekali untuk didaki, sepanjang jalan ia terus menghibur Ling Hung, namun sekarang ia yang kelihatan putus asa, karena tidak mungkin bagi mereka mendaki tebing salju beku itu.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Sie Bun Yun duduk, tak henti-hentinya ia menarik nafas panjang dan menggeleng-gelengkan kepala, Ling Hung memandangnya, kemudian tersenyum getir seraya bertanya.
"Kakak misan, aku tahu engkau telah berupaya semaksimal mungkin demi diriku, Seumur hidup aku sangat berterimakasih padamu, kini,., engkau tidak perlu cemas karena diriku."
"Adik Hung...."
Sie Bun Yun memandang tebing salju beku itu.
"Engkau tunggu di sini, aku seorang diri akan naik ke atas!"
"Kakak misan, saat ini aku sama sekali tidak bertenaga, Kalau ada musuh ke mari, bukankah kita akan lebih celaka?"
"Adik Hung!"
Sie Bun Yun menarik nafas.
"Biar bagaimanapun aku harus memperoleh Swat Ing itu untukmu."
"Kakak misan!"
Ling Hung tersenyum.
"Aku tahu sifatmu, apa yang kau pikir pasti kau laksanakan Namun sekarang.,, aku sudah hampir mati."
"Adik Hung!"
Sie Bun Yun menatapnya.
"Apakah engkau masih memikirkan bocah keparat itu?"
Ling Hung menundukkan kepala, lama sekali barulah menyahut dengan suara rendah.
"Tidak salah apa yang engkau katakan, sebab aku... sungguh mencintainya."
Sie Bun Yun langsung diam.
Di saat itulah terdengar suara pertarungan di atas tebing salju beku itu.
Sie Bun Yun tereengang dan segera memandang ke atas, ia melihat tiga orang sedang bertempur dengan seru sekali di atas tebing salju beku itu.
Dua orang mengenakan pakaian putih seperti yang dilihatnya sepanjang jalan, sedangkan seorang lagi memakai mantel bulu rase dan memakai topi bulu rase pula yang hampir menutupi mukanya.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Orang tersebut bersenjata sebilah pedang panjang.
Walau melawan dua orang itu, namun ia masih berada di atas angin.
Sie Bun Yun tahu, orang itulah yang merobohkan orangorang di sepanjang jalan, Tiba-tiba orang itu membentak keras sambil mengeluarkan jurus ilmu pedang yang amat aneh, sehingga ke dua orang lawannya tertotok jalan darah masingmasing.
Setelah menotok jalan darah ke dua orang itu, orang tersebut melesat pergi, Sie Bun Yun tertegun menyaksikannya, mendadak terdengar suara Ling Hung.
"Kakak misan, cepat ke mari!"
"Ada apa?"
Tanya Sie Bun Yun sambil mendekati Ling Hung.
"Lihallah!"
Ling Hung menunjuk ke arah tebing salju beku.
"Apa itu?"
Sie Bun Yun langsung memandang ke arah yang ditunjuk Ling Hung. ia tampak tertegun tapi kemudian tampak girang sekali.
"Terimakasih atas bantuan Anda!"
Serunya lantang.
Ternyata dari atas tebing salju beku merosot turun seutas tali, itulah yang amat menggembirakan Sie Bun Yun.
Dengan adanya tali tersebut, tidak sulit bagi Sie Bun Yun mendaki tebing salju beku itu walau harus menggendong Ling Hung.
Sie Bun Yun pun yakin, bahwa orang bermantel bulu rase yang memberi bantuan padanya, maka ia sangat berterimakasih pada orang itu.
Akan tetapi, di atas tebing itu tiada sahutan sama sekali, Sie Bun Yun segera menggendong Ling Hung dengan punggungnya, lalu mendekati tali itu, Setelah memegang tali tersebut, Sie Bun Yun beipesan.
"Adik Hung, rangkuI leherku erat-erat!"
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
"Ya,"
Sahut Ling Hung lalu merangkul leher Sie Bun Yun erat-erat.
Dengan menggendong Ling Hung, Sie Bun Yun memanjat dengan bantuan tali Sie Bun Yun mulai memanjat ke atas dengan bantuan tali itu.
Tak seberapa lama kemudian, berhasil lah ia mencapai di atas tebing salju beku itu.
Kemudian ia menarik nafas lega seraya berkata dengan gembira.
"Adik Hung! Kalau bisa memperoleh Swat Ing itu, kita harus berterimakasih pada orang itu Iho!"
"Siapa orang itu? Apakah Kakak misan melihat je-las?"
Tanya Ling Hung.
"Tidak."
Sie Bun Yun menggelengkan kepala, Mereka duduk beristirahat sambil mengisi perut dengan makanan kering yang dibawanya, Tak jauh dari tempat mereka duduk, tampak dua orang yang berpakaian putih berdiri seperti patung, Ternyata jalan darah ke dua orang itu telah tertotok oleh orang yang memberi bantuan pada Sie Bun Yun.
Di saat Sie Bun Yun dan Ling Hung sedang mengisi perut, mendadak ke dua orang berpakaian putih itu bergerak dan saling memandang memberi isyarat, namun kemudian ke duanya kembali mematung lagi.
Kalau Sie Bun Yun melihat, tentu akan tahu bahwa ke dua orang berpakaian putih itu memiliki Lweekang yang cukup dalam, karena mampu mengerahkan Lweekang untuk membebaskan totokan pada tubuhnya.
Akan tetapi, Sie Bun Yun dan Ling Hung justru duduk membelakangi mereka, maka tidak mengetahuinya.
Berselang beberapa saat, ke dua orang berpakaian putih mulai bergerak mendekati Sie Bun Yun dan Ling Hung.
Mereka sudah bergeser tiga langkah, namun Sie Bun Yun dan Ling Hung sama sekali tidak mengetahuinya.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Kedua orang berpakaian putih saling memandang lagi, kemudian mengangguk dan siap melancarkan serangan, Namun karena Ling Hung menoleh ke belakang, maka seketika juga orang berpakaian putih langsung berdiri mematung lagi.
"Eeeh?"
Ling Hung tereengang.
"Kakak misan, apakah jalan darah ke dua orang itu tidak tertotok?"
Sie Bun Yun segera menoleh ke belakang, Begitu melihat ke dua orang itu berdiri mematung, ia tertawa seraya berkata.
"Kalau jalan darah mereka tidak tertotok, bagaimana mungkin mereka berdiri seperti patung di situ?"
"TapL.,"
Ling Hung mengerutkan kening,"... tadi ke dua orang itu berdiri agak jauh, sekarang kok begitu dekat?"
"Mungkin engkau salah ingat,"
Ujar Sie Bun Yun sambil tersenyum.
Meskipun bereuriga, namun karena Sie Bun Yun mengatakan begitu, maka Ling Hung tidak banyak bicara lagi, dan mereka mulai mengisi perut lagi.
Pada waktu bersamaan, ke dua orang berpakaian putih bergerak melancarkan pukulan ke arah Sie Bun Yun dan Ling Hung, Begitu mendengar suara desiran angin di belakang, Sie Bun Yun sudah tahu ada sesuatu yang tidak beres, Terkejutlah ia karena Ling Hung tidak bertenaga untuk melawan, tentunya akan terluka parah oleh pukulan itu, Tanpa banyak berpikir lagi Sie Bun Yun langsung mendorong gadis itu tanpa menghiraukan diri senilirL Ling Hung terdorong beberapa depa, namun tidak mengalami cidera apa pun.
Di saat itulah terdengar suara "Plak!", bahu Sie Bun Yun lelah terhantam oleh pukulan.
Badan Sie Bun Yun tampak sempoyongan, tapi masih sempat balas menyerang dengan jurus Siang Lang Thauw Thian (Sepasang Gelombang Menembus Langit).
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Jurus tersebut amat istimewa dan aneh, bahkan ke dua jari tangan Sie Bun Yun berhasil menotok dada lawan, Kedua orang berpakaian putih itu sama sekali tidak menyangka Sie Bun Yun akan melancarkan serangan balasan.
Kedua orang berpakaian putih terkejut bukan main, lalu bergerak cepat meloncat mundur beberapa depa.
"Aku dengan kalian tiada permusuhan!"
Bentak Sie Bun Yun.
"Kenapa kalian melancarkan serangan gelap terhadap kami?"
"He he he!"
Kedua orang berpakaian putih tertawa terkekeh.
"Kalian berani mendatangi tempat larangan Swat San, masih banyak bacot?"
"Kami...."
"Hm!"
Dengus orang berpakaian putih yang berbadan pendek.
"Kenapa kalian tidak secara terang-terangan mengunjungi Swat San?"
"Kami memang secara terang-terangan!"
Sahut Sit Bun Yun.
"Hanya saja sepanjang jalan, orang-orang dan pihak kalian telah tertotok semua!"
"Jangan omong kosong di hadapan kami!"
Bentak orang berpakaian putih yang berbadan jangkung.
"Aku punya urusan ingin menemui ketua kalian, kenapa kalian malah menghadang di sini?"
Air muka Sie Bun Yun mulai berubah.
"Ha ha!"
Kedua orang berpakaian putih tertawa.
"Kalian ingin bertemu ketua kami?"
"Ya!"
Sie Bun Yun mengangguk "Baik, kami akan membawa kalian pergi menemui-nya!"
Ujar orang berpakaian putih yang berbadan pendek sambil terkekeh-kekeh.
"Kalau begitu...."
Sie Bun Yun ingin mengucapkan terimakasih.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
22 BANGAU SAKTI BAGIAN DUA Jitid 7 Akan tetapi, ke dua orang itu justru melancarkan serangan mendadak Betapa gusarnya Sie Bun Yun.
ia membentak keras dan langsung balas menyerang secepat kilat, Dalam waktu sekejap, mereka sudah bertarung tiga jurus.
Pada jurus ke empat, Sie Bun Yun mengeluarkan jurus andalannya, sehingga membuat ke dua orang lawannya terdesak mundur beberapa langkah.
Di saat bersamaan, Sie Bun Yun mengeluarkan bambu keringnya, dan sekaligus digerakkannya dengan jurus Lang Hoa Tiam Tiam (Bunga Ombak Bertaburan).
Tampak berkelebatan bayangan bambu kering mengarah kepala ke dua orang berpakaian putih, namun secepat kilat ke dua orang berpakaian itu meloncat mundur "Bocah, jurus-jurus ilmu silatmu sangat aneh, tentu kalian teman orang itu!"
Bentak salah seorang.
Partai Swat San tergolong salah satu partai besar dalam rimba persilatan, namun kenapa para murid tersebut sedemikian tak tahu aturan?
Sie Bun Yun justru tidak tahu, partai Swat San memang angkuh, lagipula ke dua orang itu telah dipecundang duluan, sehingga kegusaran mereka dilampiaskan pada Sie Bun Yun.
"Kakak misan! Kakak misan...."
Terdengar suara panggilan Ling Hung yang bergemetaran.
Sie Bun Yun segera berpaling dan terkejutlah se-ketika, ternyata ia melihat ke dua orang aneh berdiri di dekat Ling Hung.
Kedua orang aneh itu berbadan tinggi kurus bagaikan mayat hidup, memakai jubah putih dan kelihaian sudah siap menyergap Ling Hung.
"Ada urusan apa, bicaralah denganku!"
Bentak Sie Bun Yun sambil melesat ke arah mereka, sekaligus mengeluarkan
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
jurus Heng Soh Thian Lam (Menyapu Thian Lam Cara Melintang).
Serangan itu mengarah pada jalan darah di tubuh ke dua orang aneh tersebut, dan cepat bukan main, Namun Sie Bun Yun mana tahu, kalau ke dua orang aneh itu adalah orang kepereayaan Pek Ih Sin Kun-Sen Lui.
Tentunya ke dua orang aneh itu pun berkepandaian tinggi.
Salah seorang aneh itu mengibaskan lengan jubah-nya.
seketika juga bambu kering itu tertangkis oleh tenaga yang amat kuat Kalau Sie Bun Yun tidak memiliki Lweekang yang lumayan bambu kering itu pasti sudah terlepas dari tangannya.
"Sert! Sert.,."
Sie Bun Yun cepat-cepat menggerakkan bambu keringnya membentuk beberapa lingkaran dan langsung menyerang ke dua orang aneh itu.
Pada waktu bersamaan, terdengar pula suara desiran senjata di belakangnya, Tiada waktu bagi Sie Bun Yun untuk membalikkan badannya menangkis senjata itu, maka ia mempereepat gerakannya mengarah ke depan "Plak!"
Senjata yang di belakangnya menghantam salju beku.
Sedangkan Sie Bun Yun terus meluncur ke arah ke dua orang aneh itu, Kedua orang aneh itu berteriak, ternyata salah seorang dari mereka telah tertotok oleh ujung bambu kering Sie Bun Yun.
sedangkan yang satu lagi justru melesat ke arah Ling Hung, Gadis itu sama sekali tidak mampu mengadakan perlawanan ia tertangkap dan dibawa pergi oleh orang aneh itu.
Sie Bun Yun cemas.
ia membentak keras sambil melesat mengejar orang aneh itu.
Tapi pada waktu bersamaan, para murid partai Swat San bermunculan me-ngepungnya.
"Adik Hung!"
Teriak Sie Bun Yun.
"Adik Hung...."
"Kakak misan!"
Sayup-sayup terdengar suara sahutan Ling Hung.
"Kakak misan cepat ke mari.,.!"
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Sie Bun Yun bersiul panjang, ia memutar bambu keringnya, lalu menerjang ke depan dan lolos dari kepungan Ketika sepasang kakinya baru menginjak tanah muncullah empat orang menghadang di depannya.
"Hm!"
Dengus Sie Bun Yun sambil menggerakkan bambu keringnya menghalau mereka, kemudian mendadak melesat ke depan mengejar orang aneh itu yang ^ membawa Ling Hung.
sementara orang aneh yang tertotok itu sudah bisa bergerak, Ternyata ia mengerahkan Lweekangnya untuk membebaskan totokan itu, ia berleriak aneh, lalu mengerahkan ginkang mengejar Sie Bun Yun.
sedangkan Sie Bun Yun yang mengejar orang aneh yang membawa Ling Hung sudah semakin dekat Akan tetapi, mendadak orang aneh itu melesat dengan cepat Ternyata ia mengerahkan ginkangnya, maka dalam sekejap Sie Bun Yun sudah tertinggal jauh.
Betapa cemasnya Sie Bun Yun.
ia pun mengerahkan ginkangnya untuk mengejar orang aneh itu.
Namun mendadak terdengar suara bentakan di belakangnya, ternyata orang aneh yang tadi tertotok sudah mendekat pada Sie Bun Yun.
"Kami ke mari tanpa berniat jahat, kenapa kalian menyambut tamu dengan cara demikian?"
Tanya Sie Bun Yun menghardik Orang aneh yang di belakang Sie Bun Yun tidak menyahut melainkan langsung menyerangnya dengan sebuah pukulan Sie Bun Yun gusar sekali, Mendadak ia membalikkan badannya, dan sekaligus menggerakkan bambu keringnya, Tangan kirinya pun diayunkan untuk menyambut pukulan tersebut "Bumm!"
Terdengar suara benturan.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Sie Bun Yun terdorong ke belakang beberapa langkah, sedangkan orang aneh itu pun terpental beberapa depa.
itu berarti Lweekang Sie Bun Yun masih di atas orang aneh itu.
Sebelum orang aneh itu berdiri tegak, Sie Bun Yun langsung menyerangnya dengan tiga jurus beruntun, yakni jurus Yun Ing Si San (Awan Dan Asap Berhamburan), Can Cui Put Fuk (Hancur Remuk Tak Tersusun) dan Lian Cu Sam Huat (Mutiara Bergemerlapan Tiga Kali).
Orang aneh itu tidak dapat berkelit ia tertotok jatuh ke tanah di jurus ke tiga, Sie Bun Yun tidak membuang waktu, ia langsung mengejar orang aneh yang membawa Ling Hung.
Akan tetapi, orang aneh itu sudah semakin jauh, sulit dikejarnya lagi.
Sie Bun Yun tidak putus asa.
ia terus mengerahkan ginkangnya untuk mengejar orang aneh itu.
Ketika hampir di puncak gunung, Sie Bun Yun melihat seseorang muncul di sisi orang aneh itu.
Orang yang baru muncul itu memegang sebilah pedang panjang, dan langsung menusuk orang aneh itu.
Karena jaraknya agak jauh, Sie Bun Yun tidak dapat melihat jelas wajah orang itu.
Yang jelas orang itu memakai mantel dan topi bulu rase Sie Bun Yun tahu, orang itu yang memberi bantuan padanya dengan seutas tali di tebing salju beku.
Orang aneh itu terhadang.
Sie Bun Yun mengerahkan ginkangnya lagi melesat ke tempat itu.
Tlak!"
Punggung orang aneh itu terpukul oleh orang bermantel bulu rase, dan seketika juga orang aneh itu jatuh duduk.
Pada waktu bersamaan, Sie Bun Yun sudah melesat sampai di situ.
ia tidak menyia-nyiakan kesempatan, bambu kering itu langsung diayunkannya ke punggung orang aneh itu dengan jurus Lang Hoa Tiam Tiam (Bunga Ombak Bertaburan).
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
"Tak!"
Punggung orang aneh itu telah tertotok ujung bambu kering itu, sehingga tidak mampu bangun lagi.
Sie Bun Yun cepat-cepat mendekati Ling Hung yang sudah terlepas dari tangan orang aneh itu, Ling Hung cuma mengalami ketakutan saja, tidak mengalami luka sedikit pun.
Setelah mengetahui Ling Hung tidak terluka, Sie Bun Yun lalu menoleh ke arah orang yang telah berka!i-kali membanlunya.
Tapi orang itu sudah tidak tampak lagi.
"Terimakasih atas bantuan Anda, tapi kenapa Anda tidak mau memperlihatkan diri bertemu denganku?"
Ujar Sie Bun Yun. Tiada sahutan, Sie Bun Yun tidak habis berpikir, kemudian memandang Ling Hung seraya bertanya.
"Adik Hung, engkau melihat jelas orang itu?"
"Aku tidak melihat jelas wajahnya,"
Jawab Ling Hung.
"Orang itu sangat misterius, muncul dan pergi begitu mendadak."
Sie Bun Yun menarik nafas, Di saat itu terdengar pula suara langkah mendekati mereka.
"Kakak misan, kita harus bagaimana?"
Tanya Ling Hung cemas.
"Tentunya kita harus maju terus!"
Sahut Sie Bun Yun dan menambahkan "Aku pantang mundur dan menye-rah!"
Sie Bun Yun memapah Ling Hung melanjutkan perjalanan Namun sungguh mengherankan sepanjang alan tiada halangan apa pun.
Tak seberapa lama kemudian, mereka sudah mencapai puncak gunung salju tersebut Di puncak itu memang terdapat sebuah telaga yang airnya amat jernih bagaikan permukaan kaca.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Di pinggir telaga itu terdapat sebuah rumah batu.
Sie Bun Yun memapah Ling Hung menuju ke rumah batu itu.
Ketika mereka sampai di depan rumah batu itu, terdengar suara-suara bentakan di belakang mereka, dan tak lama kemudian muncullah puluhan orang.
Sie Bun Yun menyadari, bahwa ia seorang diri tidak mungkin mampu melawan mereka yang berjumlah puluhan orang, maka ia segera berseru.
"Pek Ih Sin Kun Sen Locianpwee! Apakah Locian-pwee berada di dalam rumah batu ini?"
Sementara puluhan orang itu sudah semakin mendekap wajah mereka penuh diliputi kegusaran "Kalian semua jangan bergerak!"
Terdengar suara mengalun keluar dari rumah batu itu.
Puluhan orang langsung berdiri diam di tempat, bahkan tidak berani mengeluarkan suara lagi.
Pintu rumah batu itu terbuka, tampak seorang tua berpakaian putih dan berbadan pendek berdiri di situ, sepasang matanya menyorot tajam menatap Sie Bun Yun.
"Apakah Cianpwce adalah Pek Ih Sin Kun, ketua partai Swal San?"
Tanya Sie Bun Yun sambil memberi hormat "Tidak salah."
Orang tua itu manggut-manggut "Aku datang ke mari punya suatu permohonan, entah Cianpwee sudi mengabulkan entah tidak?"
Ujar Sie Bun Yun.
"Hm!"
Dengus orang tua itu.
"Engkau ingin bermohon apa padaku, anak muda?"
Tanyanya.
"Adik misanku luka parah, maka aku bermohon...."
Sebelum Sie Bun Yun menyelesaikan ucapannya, orang tua itu sudah tertawa gelak.
"Engkau ingin minta Swat Ing kan?"
Tanyanya kemudian "Betul, Mohon Cianpwee mengabulkan!"
Sahut Sie Bun Yun.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
"Siapa pun yang ingin minta Swat Ing, harus berlutut setiap tiga langkah dari kaki gunung menuju ke mari, barulah aku memberikannya. Tapi engkau tidak berbuat begilu, bahkan telah melukai murid-muridku! Bukankah engkau sedang mengimpikan Swat Ing itu?"
Bentak Pek Ih Sin Kun.
"Cianpwee!"
Sie Bun Yun memberitahukan "Kalau aku tidak memperoleh Swat Ing itu, nyawa adik misanku tak akan tertolong iagi."
"Ha ha!"
Pek Ih Sin Kun tertawa gelak.
"ltu ada urusan apa dengan diriku?"
"Cianpwee!"
Sie Bun Yun tetap bersabar, itu demi Ling Hung.
"Aku mohon maaf telah melukai murid-murid Cianpwee!"
"He he!"
Pek Ih Sin Kun tertawa terkekeh-kekeh.
"Bocah, beritahukan namamu!"
"Namaku Sie Bun Yun,"
Sahutnya jujur.
"Oooh!"
Pek Ih Sin Kun menatapnya tajam "Belum lama ini, tersiar kabar berita bahwa Cong Cin To berada di tangan Sie Bun Yun, Apakah engkau Sie Bun Yun vang dikabarkan itu?"
Sie Bun Yun terkejut ia tidak menyangka kabar berita itu juga sudah sampai di telinga Pek Ih Sin Kun. Karena Pek Ih Sin Kun menanyakan itu, maka Sie Bun Yun jadi serba salah dan diam seketika.
"Kalau benar, aku mau menukarnya dengan Swat Ing,"
Ujar Pek Ih Sin Kun.
"Bagaimana? Engkau setuju?"
"Setuju,"
Sahut Sie Bun Yun. Betapa terharunya hati Ling Hung, sebab Sie Bun Yun menyahut tanpa berpikir lagi.
"Kakak misan, Cong Cin To...."
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
"Ha ha ha!"
Sie Bun Yun tertawa.
"Yang penting lukamu sembuh, karena nyawamu lebih berharga dari pada Cong Cin To itu."
"Kakak misan...."
Ling Hung menarik nafas.
"Cianpwee!"
Ujar Sie Bun Yun pada Pek Ih Sin Kun.
"Harap Cianpwee mengeluarkan Swat Ing itu untuk mengobati adik misanku!"
"Gampang!"
Pek Ih Sin Kun tertawa terbahak-bahak.
"Tapi... di mana Cong Cin To itu?"
"Bagaimana mungkin aku membawa Cong Cin To itu di badan? Apakah Cianpwee tidak mempereayaiku?"
Sie Bun Yun mengerutkan kening.
"Emmh!"
Pek Ih Sin Kun manggut-mangguL "ltu sulit dikatakan, lebih baik adik misanmu ditinggal di sini, engkau pergi mengambil Cong Cin To itu, tentu aku akan mengobatinya dengan Swat Ing."
"Cianpwee!"
Sie Bun Yun tampak gusar "Aku pergi dan kembali lagi harus memakan waktu berbulan-bulan, bagaimana mungkin adik misanku dapat bertahan begitu lama?"
"Bocah!"
Wajah Pek Ih Sin Kun berubah.
"Engkau kok tidak tahu aturan?"
"Cianpwee mengobati adik misanku du!u!"
Ujar Sie Bun Yun.
"Aku pasti membawa Cong Cin To ke mari, Tidak mungkin aku membohongi Cianpwee."
Pek Ih Sin Kun memberi isyarat pada dua orang muridnya, kemudian memberi perintah "Tangkap gadis itu!"
Kedua orang itu langsung menyergap Ling Hung, Sie Bun Yun bergerak cepat mengayunkan bambu keringnya ke arah ke dua orang itu.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Akan tetapi, pada waktu bersamaan Pek Ih Sin Kun mengibaskan lengan bajunya ke arah Sie Bun Yun.
seketika juga Sie Bun Yun terdorong mundur beberapa langkah.
Kedua orang itu berhasil menangkap Ling Hung, dan langsung membawanya ke dalam rumah batu itu.
Sie Bun Yun segera melesat, namun Pek Ih Sin Kun sudah berdiri menghadang di hadapannya, pemuda itu menyadari bahwa dirinya bukan lawan Pek Ih Sin Kun.
Namun ia sudah nekad, Tanpa menghiraukan keselamatan diri sendiri, ia langsung menyerang Pek Ih Sin Kun.
"He he!"
Pek Ih Sin Kun tertawa terkekeh-kekeh.
"Dengan kepandaian yang belum seberapa itu engkau ingin melawanku?"
Pek Ih Sin Kun mengibaskan lengan bajunya, Sie Bun Yun merasa ada segulung tenaga yang amat dahsyat menerjang ke arahnya, Ketika ia baru mau meloncat mundur, dirinya telah tersambar oleh lengan baju Pek Ih Sin Kun.
Bahkan tangan kiri Pek Ih Sin Kun pun sudah mengarah bahunya.
Pada saat bahu Sie Bun Yun hampir tereengkeram oleh tangan Pek Ih Sin Kun, di saat itu pula terdengar dua kali suara jeritan di dalam rumah batu, Tak lama tampak dua orang berlari ke luar dengan bahu berlumuran darah, Mereka berdua yang menangkap Ling Hung tadi.
Menyaksikan itu, terkejutlah Pek Ih Sin Kun.
sedangkan ke dua orang itu terkulai dihadapannya seraya memberitahukan "Ketua, Swat Ing telah hilang."
Ujarnya. Pek Ih Sin Kun langsung mengibaskan lengan bajunya ke arah Sie Bun Yun, membuat pemuda itu terpental beberapa depa.
"Siapa pencuri itu?"
Tanya Pek Ih Sin Kun.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Kedua orang itu menunjuk ke arah rumah batu, Namun ketika baru mau membuka mulut, tiba-tiba terdengarlah suara "Bum!
Bum!", tampak dua buah benda melayang ke luar dari dalam rumah batu itu mengarah pada Pek Ih Sin Kun.
Pek Ih Sin Kun membentak keras sambil melancarkan pukulan ke arah benda-benda itu.
"Braak! Braaak!"
Kedua benda itu hancur, ternyata dua buah kursi.
Pek Ih Sin-Kun tertegun ia yakin, bahwa pencuri itu masih berada di dalam rumah batu.
Swat Ing merupakan rumput pusaka partai Swan San, bagaimana mungkin Pek Ih Sin Kun membiarkan pencuri itu kabur?
Maka ia segera melancarkan dua buah pukulan ke dalam rumah batu itu.
Terdengar suara hiruk pikuk di dalam rumah batu, ternyata pukulan itu menghancurkan barang-barang yang ada di dalam rumah batu, tapi justru tidak terdengar suara orang.
Pek Ih Sin Kun tertegun, kemudian membentak "Siapa engkau?
Kenapa tidak berani memunculkan diri"?"
Tiada sahutan di dalam rumah batu itu, Pek Ih Sin Kun mendengus dingin dan tetap berdiri di situ.
Iayakin pencuri itu juga membawa kabur Ling Hung, Sebab ia melihat ada sebuah lubang di dinding rumah batu, sedangkan Ling Hung tidak tampak di situ, Dapat dibayangkan betapa gusarnya Pek Ih Sin Kun.
ia mendadak bersiul panjang lalu melesat ke dalam, sedangkan para muridnya segera berlari ke belakang rumah batu.
Ternyata siulan panjang itu merupakan isyarat, agar mereka berlari ke belakang rumah batu, Pek Ih Sin Kun memang cerdik, ia tidak mau terpancing pergi meninggalkan rumah batu itu, sebaliknya malah melesat ke dalam, dan sekaligus menyuruh para muridnya mengepung ke belakang rumah batu itu.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Ketika melihat Pek Ih Sin Kun melesat ke dalam rumah itu, Sie Bun Yun pun mengkhawatirkan si pencuri itu.
Akan tetapi, terdengarlah suara teriakan anch, dan tak lama kemudian muncullah Pek Ih Sin Kun dengan wajah menghijau.
Sie Bun Yun bergirang dalam hati, karena yakin si pencuri itu adalah orang yang membantunya secara diam-diam, dan tentu sudah membawa pergi Ling Hung, Ka-rena itu, ia segera melesat pergi.
"Mau kabur ke mana, bocah?"
Bentak Pek Ih Sin Kun dan langsung melesat ke arah Sie Bun Yun.
Sie Bun Yun tahu akan kelihayan Pek Ih Sin Kun, Secepat kilat ia menangkap salah seorang yang ada di situ, lalu dilemparkannya ke arah Pek Ih Sin Kun.
Terpaksalah Pek Ih Sin Kun berkelit, karena tidak mau melukai muridnya sendiri, Di saat itulah Sie Bun Yun mengerahkan ginkangnya melesat pergi laksana kilat.
Akan tetapi, Pek Ih Sin Kun sudah melesat ke arahnya, bahkan sekaligus melancarkan pukulan.
Sie Bun Yun berkelit, dan pukulan itu menghantam tempat kosong, itu membuat Pek Ih Sin Kun bertambah gusar.
pada waktu bersamaan, puluhan orang yang mengejar di belakang tampak kacau balau, Ternyata mendadak muncul seseorang yang memakai mantel dan topi bulu rase menyerang mereka, Setiap pedang orang itu berkelebat, pasti ada orang roboh tertotok Untung orang itu tidak turun tangan jahat, maka mereka cuma tertotok saja.
Pek Ih Sin Kun yang sedang mengejar Sie Bun Yun langsung menoleh ke belakang, Betapa gusarnya ketika melihat para muridnya telah roboh.
Kini ia tidak menghiraukan Sie Bun Yun iagi, melainkan melesat ke arah orang itu.
"Siapa engkau?"
Bentak Pek Ih Sin Kun.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Orang itu tidak menyahut, melainkan langsung menyerangnya dengan pedang, Pek Ih Sin Kun adalah seorang ketua partai yang berkepandaian tinggi Namun tampak terkejut sekali ketika melihat serangan itu.
Sebab pedang itu kelihatan bergerak perlahan, tapi justru amat aneh gerakannya Pek Ih Sin Kun tidak menyambut serangan itu, melainkan meloncat mundur dan mendadak menyentilkan jari tengahnya, itu adalah ilmu Tan Ci Kong Im (Jari Sakti Hawa Dingin).
Sudah puluhan tahun Pek Ih Sin Kun melatih ilmu tersebut Maka dapat dibayangkan betapa lihay dan dahsyatnya sentilan jari tengahnya itu, Kalau pedang itu tersentil pasti palah, Oleh karena itu Pek Ih Sin Kun yakin, bahwa serangannya pasti berhasil Akan tetapi, setelah menyentilkan jari tengahnya, ia terbelalak karena orang itu telah hilang dari hadapannya.
"Haah?"Sie Bun Yun juga terkejut "Kawan! Engkau adalah...."
Orang itu segera memberi isyarat agar Sie Bun Yun pergi Tepat di saat itu Pek Ih Sin Kun juga memutarkan badannya.
"Ya."
Sie Bun Yun langsung melesat pergi Hanya saja ia tidak melihat jelas wajah orang itu, karena tertutup oleh topi bulu rase.
Bukan main gusarnya Pek Ih Sin Kun.
Sepasang matanya memancarkan sinar yang berapi-api.
"Cepat ambilkan toya penakluk iblisku!"
Serunya.
Segera ada orang menyahut "Ya".
sedangkan orang itu tidak memberi kesempatan pada Pek Ih Sih Kun, dan langsung menyerangnya dengan tiga jurus beruntun.
pedang orang itu berkelebatan mengarahnya, Pek Ih Sin Kun tidak mampu mematahkan jurus-jurus tersebut sehingga terpaksa meloncat mundur Walau berhasil meloncat mundur,
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
lengan baju tetap tersabet putus oleh pedang itu, Betapa terkejutnya Pek Ih Sin Kun, lalu tanpa sadar ia pun berseru.
"Sungguh lihay ilmu pedang itu!"
Siapa orang bermantel dan bertopi bulu rase itu?
Tidak lain adalah Lan Tay Kong Cu-Pek Yun Hui.
Sepanjang jalan ia terus-menerus melindungi Sie Bun Yun dan Ling Hung, namun ke dua orang itu sama sekali tidak mengetahuinya.
Pek Yun Hui sudah menduga, sampai di puncak gunung salju itu, pasti akan terjadi pertarungan hebat sebab Pek Ih Sin Kun memiliki kepandaian tinggi, Karena itu, dalam perjalanan ia terus melatih diri, meskipun di saat itu hatinya masih berduka.
Pek Yun Hui memang cerdas, Setelah melatih diri ia dapat memahami keistimewaan semua ilmu silat yang ada di dalam Kui Goan Pit Cek, maka dalam waktu dua bulan ini, kepandaiannya terus meningkat Tiga jurus beruntun yang dilancarkannya tadi adalah ilmu pedang Hui Liong Sam Sek yang dipelajarinya dari Kui Goan Pit Cek.
Sudah tahunan ia mempelajari ilmu pedang tersebut namun kini baru dapat memahami keistimewaannya.
Pek Ih Sin Kun yang berkepandaian tinggi masih tidak mampu mematahkan jurus-jurus ilmu pedang itu.
ia terpaksa meloncat mundur tapi lengan bajunya tetap tersabet kutung oleh pedang Pek Yun Hui.
Setelah meloncat mundur, tampak dua orang menggotong sebuah toya baja yang disebut toya penakluk iblis mendekatinya.
Pek Ih Sin Kun menyambar toyanya itu, lalu diputarputarkan dan kemudian membentak keras sambil menyerang dengan jurus Kim Kong Nuh Muk (Mata Kim Kong Memancarkan Kemarahan).
Toya itu mengeluarkan suara menderu-deru mengarah Pek Yun Hui.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Pek Yun Hui sama sekali tidak berniat bertarung, maka ia mengerahkan Ngo Heng Mie Cong Pu untuk menghindar, tahu-tahu sudah berada di belakang Pek Ih Sin Kun.
Pek Ih Sin Kun terbelalak, sebab mendadak Pek Yun Hui menghilang dari hadapannya ilmu apa itu?
Tanyanya dalam hati, Di saat itu, ia mendengar suara para muridnya di belakangnya, ia segera membalikkan badannya, melihat para muridnya yang berjumlah puluhan sedang mengurung Pek Yun Hui.
Walau sudah terkurung, Pek Yun Hui masih bisa loIos, Pek Ih Sin Kun gusar bukan main, ia segera melesat laksana kilat mengejar Pek Yun Hui.
Akan tetapi, Pek Yun Hui telah melesat pergi dengan mengerahkan ginkangnya, Pek Ih Sin Kun penasaran sekali, ia pun mengerahkan ginkangnya mengejar Pek Yun Hui.
Berselang beberapa saat kemudian, Pek Yun Hui sudah sampai di tepi tebing salju beku.
Kalau ia masih mau kabur, haruslah meloncat ke bawah.
Setelah mengejar sampai di situ, Pek Ih Sin Kun tampak gembira sekali, sebab Pek Yun Hui sudah tidak bisa kabur lagi.
"Pencuri sialan!"
Bentak Pek Ih Sin Kun.
"Engkau mau kabur ke mana? Ayoh, cepat kembalikan Swat Ing itu! Aku akan mengampuni nyawamu!"
Pek Yun Hui membalikkan badan, Pek Ih Sin Kun sudah siap menyerangnya dengan toya penakluk iblis, namun mendadak, terdengar suara seruan merdu di be-lakangnya.
"Aku telah memakan habis Swat Ing itu, bagaimana mungkin bisa kau minta kembali?"
Pek Ih Sin Kun tertegun dan segera menoleh. Tam-pak Ling Hung bersama Sie Bun Yun. Wajah gadis itu tampak kemerah-merahan, itu pertanda ia memang telah memakan Swat Ing tersebut
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Kegusaran Pek Ih Sin Kun memuncak, wajahnya tampak kehijau-hijauan dan membentak keras.
"Aku akan mengadu nyawa dengan kalian!"
Pek Ih Sin Kun mengayunkan toyanya sehingga menimbulkan suara yang menderu-deru, dan dengan jurus Peng Hun Ciu Sek (Meratakan Musim Salju) menyerang mereka berdua.
Sie Bun Yun dan Ling Hung sudah siap sejak tadi, Sebelum toya itu mendekat, mereka berdua menyingkir ke samping, Toya Pek Ih Sin Kun menghantam salju beku, sehingga salju itu hancur berkeping-keping.
Pada waktu bersamaan, Pek Yun Hui pun menyerang Pek Ih Sin Kun dengan pedangnya, sekaligus memberi isyarat pada Sie Bun Yun dan Ling Hung agar mereka mundur.
Tadi ketika Pek Yun Hui mengerahkan Ngo Heng Mie Cong Pu, Sie Bun Yun mengenali ilmu tersebut Namun ia sama sekali tidak menduga, kalau orang yang membantunya secara diam-diam itu Pek Yun Hui yang amat dibencinya.
Sie Bun Yun dan Ling Hung segera mundur ke tepi tebing, Ternyata tali itu masih berada di situ.
Akan tetapi, mereka berdua tidak segera turun, malah tetap berdiri di situ,"
"Kawan, kami bisa pergi dengan aman, tapi bagaimana denganmu?"
Tanya Sie Bun Yun. Ketika melihat mereka berdua masih belum mau pergi, cemaslah hati Pek Yun Hui. Tidak perlu kau hiraukan diriku!"
Sahutnya cepat.
ia menekan suaranya sehingga terdengar serak, Ilu agar mereka berdua tidak mengenalinya.
Sie Bun Yun dan Ling Hung saling memandang, kemudian Sie Bun Yun memandang Pek Yun Hui seraya berkata.
"Baiklah! Terimakasih atas bantuan Anda! selamanya kami tidak akan melupakan!"
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Pek Yun Hui berduka mendengar ucapan itu dan tak terasa air matanya pun telah meleleh.
sementara Sie Bun Yun dan Ling Hung sudah merosot ke bawah dengan tali itu, dan tak lama mereka berdua sudah sampai di bawah.
Pek Yun Hui menarik nafas lega dan mulai mundur ke situ, Namun Pek Ih Sin Kun tidak membiarkannya.
ia segera menyerang gadis itu dengan toya nya.
Segeralah Pek Yun Hui berkelit, dan sekaligus balas menyerang dengan tiga jurus beruntun, Serangan itu membuat Pek Ih Sin Kun terpaksa meloncat mundur beberapa depa.
Di saat itu pula Pek Yun Hui memegang tali itu, lalu segera merosot ke bawah.
Akan tetapi, Pek Ih Sin Kun membentak dan sekaligus melesat ke arah tali itu sambil tertawa gelak.
"Ha ha!"
Mendadak ia mengayunkan toya menghantam tali itu.
Betapa kagetnya Sie Bun Yun dan Ling Hung menyaksikannya, sebab Pek Yun Hui masih bergantung di tali itu, sedangkan jarak ke bawah masih belasan depa.
Mendadak kaki Pek Yun Hui menendang pinggiran tebing, seketika juga badannya melambung ke atas sekaligus menggerakkan pedangnya ke arah Pek Ih Sin Kun.
sementara Pek Ih Sin Kun cuma mencurahkan perhatiannya pada tali itu, maka tidak menduga kalau badan Pek Yun Hui akan melambung ke atas sekaligus menyerangnya, Begilu mengetahui serangan itu, Pek Ih Sin Kun sudah tidak keburu menangkis maupun berkelit, sebah toyanya diarahkan pada tali itu.
"Blammm!"
Toya Pek Ih Sin Kun menghantam tali.
"Cess!"
Bahunya tertusuk pedang dan darahnya langsung mengucur Tapi Pek Ih Sin Kun masih sempat mengibaskan tangannya, itu membuat sepasang kaki Pek Yun Hui
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
menginjak tempat kosong, sehingga badannya langsung merosot ke bawah.
Perlu diketahui, pada waktu itu Lweekang Pek Yun Hui masih belum begitu dalam, maka ketika merosot ke bawah ia sama sekali tidak mampu mengerahkan ginkangnya.
"Haah...?"
Sie Bun Yun dan Ling Hung menjerit kaget.
"Buuuuk!"
Pek Yun Hui jatuh duduk di dasar tebing, Kakinya terasa sakit bukan main, ternyata tulangnya telah patah.
Sie Bun Yun dan Ling Hung segera mendekatinya, tapi mendadak Pek Yun Hui membentak serak sambil mengangkat pedangnya.
"Pergi!"
Sie Bun Yun dan Ling Hung terpaksa berhenti Sie Bun Yun tampak tereengang.
"Bagaimana lukamu, kawan?"
Tanya Sie Bun Yun. Pek Yun Hui ingin bangkit berdiri, namun kaki kirinya terasa sakit sekali, terpaksa duduk kembafi.
"Kawan!"
Ujar Sie Bun Yun cemas.
"Mungkin kakimu telah patah, Anda sudah berkali-kali menolong kami, biarlah kami menolong Anda sekali!"
Pek Yun Hui tidak menyahut hanya menuding mereka dengan pedang, Sie Bun Yun dan Ling Hung saling memandang, Ling Hung segera memberi isyarat lalu berkata pada Pek Yun Hui.
"Kawan, engkau menghendaki kami pergi? Baiklah, kami akan segera pergi!"
Sie Bun Yun dan Ling Hung melangkah pergi. Na-mun beberapa depa kemudian, mereka berdua bersembunyi di balik sebuah batu besar
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
"Kakak misan!"
Bisik Ling Hung.
"Orang itu aneh sekali."
"Ya."
Sie Bun Yun mengangguk "Memang dia aneh sekali, Kakinya sudah terluka, tapi tidak mau kita tolong."
"Pek Ih Sin Kun tidak mungkin berhenti sampai di situ. Dia pasti mengejar orang itu, maka lebih baik kita menunggu di sini saja."
"Ng!"
Sie Bun Yun mengangguk lagi.
"Adik Hung, bagaimana cara orang itu menolongmu?"
"Ketika aku dibawa ke dalam rumah batu itu, ternyata dia sudah berada di dalam, dan langsung menyerang ke dua orang yang membawaku Kedua orang itu terluka dan segera berlari ke Iuar. Orang itu pun menyambitkan dua buah kursi ke luar, lalu mendadak memasukkan sesuatu yang dingin ke dalam mulutku, Dia pun berpesan padaku agar bersembunyi di sudut, setelah itu dia menghantam dinding rumah batu itu sampai berlubang, ia langsung menerobos ke luar, dan tak lama engkau masuk dan kita berdua mengikuti Pek Ih Sin Kun itu sampai di tebing salju."
"Adik Hung!"
Sie Bun Yun tertawa.
"Kalau begitu, engkau sama sekali tidak melihat bagaimana raut wajah-nya?"
"Aku bertanya beberapa kali padanya, dia tidak menyahul."
Ling Hung memberitahukan "Aku ingin melihat wajahnya, tapi dia selalu memalingkan kepalanya, agar aku tidak bisa melihat wajahnya,"
"Heran!"
Sie Bun Yun mengerutkan kening.
"Gc-rakannya tadi justru mirip.,."
Sebetulnya Sie Bun Yun ingin mengatakan mirip Pek Yun Hui, tapi karena khawatir Ling Hung akan berduka lagi, maka ia tidak melanjutkan "Kakak misan!"
Ling Hung menatapnya heran.
"Kok tidak dilanjutkan?"
"Aku... aku...."
Wajah Sie Bun Yun memerah.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
"Katakanlah!"
Desak Ling Hung.
"Orang itu mirip siapa?"
"Gorakan orang itu mirip gerakan.,., Pek Yun Hui."
Sie Bun Yun terpaksa memberitahukan Begitu mendengar nama tersebul, wajah Ling Hung berubah seketika.
Pada waktu itu, Sie Bun Yun mendengar suara di atas tebing, ia cepat-cepat menengok, tampak seutas tali merosot ke bawah.
"Adik Hung, lihatlah!"
Ling Hung mendongakkan kepala, Tampak Pek Ih Sin Kun sedang menuruni tebing itu dengan tali, Bahunya yang terluka telah dibalut, tampak pula dua orang aneh yang berbadan tinggi kurus mengikutinya.
"Celaka!"
Bisik Ling Hung.
"Orang itu sudah terluka kakinya dan tidak bisa berjalan, Pasti dia akan celaka di tangan Pek Ih Sin Kun!"
Mendadak Sie Bun Yun tertawa gelak, kemudian meloncat ke atas batu itu sambil berseru.
"Sobat! Walau engkau tidak menghendaki bantuan kami, tapi kami telah menerima budi pertolonganmu Bagaimana mungkin kami pergi begitu saja?"
Ketika melihat Pek Ih Sin Kun merosot turun, Pek Yun Hui sudah terkejut Lebih-lebih ketika mendengar suara seruan Sie Bun Yun.
ia amat kagum akan kegagahan dan rasa so!ider Sie Bun Yun, hanya saja pemuda itu telah salah paham terhadap Pek Yun Hui.
Timbul lagi rasa duka dalam hati Pek Yun Hui.
ia tidak tahu harus bagaimana menjernihkan kesa!ah-pahaman itu.
sementara Sie Bun Yun yang berdiri di atas batu besar itu, tiba-tiba membungkukkan badannya mengambil sebuah batu kecil, lalu disambitkannya ke arah tali itu.
"Taak!"
Tali putus tersambit batu tersebut
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Pek Ih Sin Kun berteriak kaget, sedangkan badannya sudah meluncur ke bawah dengan cepat sekali.
Akan telapi, ia sama sekali tidak mengalami cidera sedikit pun, Begitu sampai di bawah, ia langsung menyerang Pek Yun Hui dengan toyanya menggunakan jurus Tak Hai Peng Mo (Menginjak Laut Membasmi Iblis).
Kaki kiri Pek Yun Hui telah patah, itu membuatnya tidak bisa bergerak, sedangkan toya Pek Ih Sin Kun sudah mengarah pada dirinya.
Cepat-cepal tangannya menekan tanah, dan seketika juga badannya melesat pergi.
"Braaak!"
Toya Pek Ih Sin Kun menghantam tanah sehingga berlubang Sie Bun Yun terkejut bukan main melihat itu, ia membentak keras sambil menggerakkan bambu kering-nya menyerang Pek Ih Sin Kun.
Ling Hung pun tak tinggal diam.
ia pun menyerang Pek Ih Sin Kun dengan trisulanya.
Pek Ih Sin Kun tertawa terkekeh-kekeh menyambut serangan-serangan itu, lalu juga balas menyerang, Ter-jadilah pertarungan seru diantara mereka bertiga, Walau dua lawan satu, namun lama kelamaan Sie Bun Yun dan Ling Hung berada di bawah angin.
Pada saat itu, mendadak berkelebat sosok bayangan, ternyata seorang wanita berusia empat puluhan yang tampak anggun, Cara bagaimana wanita itu muncul, Pek Ih Sin Kun pun tidak melihat jelas.
Pek Yun Hui mengenali wanita itu, tidak lain adalah Cui Tiap dan ia pun hampir memanggilnya.
"Hei, bocah!"
Seru Cui Tiap nyaring.
"Engkau sudah ke mari! Bagaimana? Sudah mendapatkan Swat Ing itu apa belum?"
"Sudah,"
Sahut Sie Bun Yun sambil menangkis serangan Pek Ih Sin Kun.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
"Berhenti!"
Bentak Cui Tiap mendadak "Hm!"
Dengus Pek Ih Sin Kun.
padahal ia sudah tahu bahwa wanita itu berkepandaian tinggi, Namun karena kebenciannya terhadap ke tiga orang itu sudah dalam, maka ia masih terus menyerang.
Sie Bun Yun dan Ling Hung terdesak mundur, sedangkan wajah Cui Tiap sudah berubah dingin sekali.
"Aku sudah menyuruh berhenti, kenapa engkau masih menyerang mereka?"
Tanya Cui Tiap seakan tidak menganggap Pek Ih Sin Kun sebagai ketua partai Swat San.
"Hei!"
Bentak Pek Ih Sin Kun gusar.
"Perempuan sialan! Engkau tuh apa?"
Pek Ih Sin Kun langsung menyerangnya dengan jurus Kim Kong Nuh Muk (Mata Kim Kong Memancarkan Kemarahan).
Cui Tiap tertawa dingin, ia tetap berdiri di situ tak bergeming sama sekali, Namun mendadak ia mendorongkan sepasang telapak tangannya ke depan, Pek Ih Sin Kun merasa ada tenaga yang amat dahsyat menerjangnya, sehingga membuat dirinya terpental Pek Ih Sin Kun tergolong orang yang berkepandaian linggi, namun masih terpental oleh tenaga itu.
Tidak heran, Pek Ih Sin Kun tampak begitu terkejut Yang paling gembira adalah Sie Bun Yun dan Ling Hung.
Selelah bisa berdiri tegak, barulah Pek Ih Sin Kun bertanya.
"Siapa engkau?"
"Tidak boleh tahu aku siapa! sahut Cui Tiap sambil tertawa dingin. Pek Ih Sin Kun tahu bahwa wanita itu berkepandaian amat tinggi, maka ia terpaksa berlaku sabar sambil menekan hawa kegusarannya.
"Hmm!"
Dengus Cui Tiap dan membentak "Kalian berdua masih belum mau meninggalkan tempat ini, mau tunggu apalagi?"
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
"Cianpwec!"
Sie Bun Yun segera memberi hormat.
"Orang itu telah berkali-kali membantu kami, Kini kakinya telah terluka, bagaimana mungkin kami meninggalkan nya ?"
"Oh?"
Cui Tiap segera melesat ke arah Pek Yun Hui. Pek Yun Hui mendongakkan kepala, lalu berkata dengan suara rendah, agar Sie Bun Yun dan Ling Hung tidak mendengarnya.
"Cui Ie (Bibi Cui), aku! jangan bersuara!"
"Eh? Kong...."
Cui Tiap ingin memanggil Pek Yun Hui Kong Cu (Putri kaisar, namun keburu dipotong Pek Yun Hui).
"Jangan bersuara, cepat suruh ke dua orang itu pergi!"
Cui Tiap mengangguk dan membalikkan badannya memandang Sie Bun Yun dan Ling Hung seraya berkata.
"Kalian berdua boleh pergi! Orangilu adalah urusan-ku!"
Sie Bun Yun dan Ling Hung saling memandang, kemudian Sie Bun Yun menjura pada Pek Yun Hui.
"Terimakasih atas bantuan Anda! selamanya aku Sie Bun Yun tidak akan melupakannya."
Pek Yun Hui diam saja. Sie Bun Yun langsung mengajak Ling Hung pergi. Setelah mereka berdua pergi, Cui Tiap langsung menatap Pek Ih Sin Kun dengan tajam dan dingin.
"Engkau masih belum mau kembali ke atas gunung, ingin cari penyakit di sini ya?"
Pek Ih Sin Kun adalah seorang ketua partai Swat Sa"n yang amat tersohor Bagaimana mungkin ia menerima penghinaan ini? wajahnya telah berubah hijau, kemudian melangkah maju.
"Hmm!"
Dengus Cui Tiap dingin, lalu mendadak badannya melesat ke depan sambil menjulurkan tangan-nya.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
"PIak! Plak!"
Pipi Pek Ih Sin Kun sudah ditampar dua kali.
Sungguh mengherankan!
Pek Ih Sin Kun sama sekali tidak dapat berkelit.
Tamparan itu membuat Pek Ih Sin Kun tersadar, bahwa dirinya bukan lawan wanita itu, maka ia pun buru-buru meninggalkan tempat itu.
Bagian ke tiga puluh tujuh Hati Remuk Mengambil jalan Pendek Setelah Pek Ih Sin Kun pergi, tak tertahan lagi Pek Yun Hui memanggil Cui Tiap sambil menangis sedih dengan air mata berderai-derai.
"Bibi Cui...."
"Kong Cu!"
Cui Tiap mendekati Pek Yun Hui. Ditepuknya bahu Pek Yun Hui, dan tak lama Pek Yun Hui pun berhenti menangis, Cui Tiap menyeka air mata gadis itu seraya berkata.
"Engkau menyamar anak lelaki memang mirip sekali, tapi kok menangis sedih begitu, tidak merasa malu ya?"
"Bibi Cui!"
Wajah Pek Yun Hui memerah "Aku sangat berduka dalam hati."
"Kong Cu!"
Cui Tiap menarik nafas panjang.
"Siapa yang telah menghinamu, beritahukanlah."
Pek Yun Hui diam saja, sebab tidak tahu apa yang harus diceritakannya.
"Bibi Cui, tidak ada orang menghinaku,"
Sahutnya sambil menggelengkan kepala.
"Kong Cu...."
Cui Tiap manggut-manggut "Aku mengerti, engkau pasti telah jatuh cinta pada seseorang kan?"
Pek Yun Hui diam lagi, Namun wajahnya sudah memerah dan menundukkan kepala, Cui Tiap menatapnya, lalu menarik nafas panjang.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
"Kong Cu, di kolong langit ini tiada lelaki yang baik. Aku sudah beritahukan pada adik Siao Tiapmu setiap hari."
"Bibi Cui, di mana adik Siao Tiap?"
Tanya Pek Yun Hui cepat "Dia berada di tempat yang jauh sekali,"
Jawab Cui Tiap.
"Bibi Cui! sebetulnya kalian tinggal di mana? Sudah lama guru mencari kalian, tapi tidak pernah menemukan kalian."
"Hm!"
Dengus Cui Tiap dingin.
"Apakah dia masih ingat pada kami ibu dan anak?"
"Bibi Cui..."
Pek Yun Hui tertegun.
"Kong Cu!"
Ujar Cui Tiap mendadak "Kalau engkau mencintai seseorang dalam halimu, jalan yang paling baik ialah membunuhnya."
"Ti... tidak!"
Pek Yun Hui tersentak "... aku tidak jatuh cinta pada siapa pun."
"Kong Cu!"
Cui Tiap menggeleng-gelengkan kepala.
"Engkau tidak perlu membohongiku apakah aku tidak bisa melihatnya?"
Pek Yun Hui diam lagi.
"Kong Cu! Bagaimana dia terhadapmu?"
Tanya Cui Tiap.
"Aaaakh..."
Keluh Pek Yun Hui.
"Dia... dia pasti membenciku sampai ke tulang sumsum."
"Oh?"
Cui Tiap tereengang.
"Dia... dia telah menamparku dua kali."
Pek Yun Hui memberitahukan dengan air mata meleleh.
"Kurang ajar!"
Air muka Cui Tiap langsung berubah.
"Aku harus membunuhnya! Cepat beritahukan siapa dia?"
"Dia...."
Pek Yun Hui menarik nafas panjang.
"Dia... dia sudah mati."
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Pek Yun Hui tahu sifat Cui Tiap, apa yang diucapkannya pasti dilakukannya pu!a, Ketika Sie Bun Yun pergi bersama Ling Hung, ia pun menganggap pemuda pujaan hatinya itu telah mati.
Cui Tiap tertegun Namun ketika melihat air muka Pek Yun Hui, ia tahu Pek Yun Hui tidak berkata sesungguhnya.
"Kong Cu!"
Ujarnya mengalihkan pembicaraan "Kaki kirimu telah patah, biar aku menyambungkannya du!u."
"Baik."
Pek Yun Hui mengangguk ia memang sudah tidak dapat menahan rasa sakitnya.
Cui Tiap menotok beberapa jalan darah di kaki kiri Pek Yun Hui, lalu mulai menyambung tulangnya yang patah.
Setelah itu ia menyobek baju luarnya kemudian dibalutnya kaki Pek Yun Hui dengan kain sobekan itu.
Setelah tulang kaki yang patah itu tersambung, rasa sakitnya pun sudah berkurang, sehingga Pek Yun Hui tampak agak bersemangaL "Bibi Cui!
Bagaimana Bibi Cui ke mari?"
Tanya Pek YunHui.
"Aku ke mari demi pemuda dan anak gadis itu,"
Jawab Cui Tiap memberitahukan "Oh?"
Pek Yun Hui terkejut "Bibi Cui kenal mereka berdua?"
"Tidak kenal."
Cui Tiap menggelengkan kepala, Pek Yun Hui menarik nafas lega.
Walau ia seorang putri kaisar, namun ia sangat menghormati Cui Tiap, Kalau Cui Tiap tahu dirinya punya hubungan dengan Sie Bun Yun dan Ling Hung, mungkin Cui Tiap akan mempersalahkannya, itulah yang membuatnya tidak berani menceritakan tentang hubungan tersebut itu justru kesalahan Pek Yun Hui, seandainya ia menceritakan kemungkinan besar Cui Tiap dapat membantunya menyelesaikan urusan itu.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
"Oh ya!"
Pek Yun Hui tampak tereengang.
"Bibi Cui tidak kenal mereka, tapi kok demi mereka?"
"Yaaah!"
Cui Tiap menarik nafas panjang.
"Aku lihat pemuda itu punya cinta kasih yang suci murni, maka aku ke mari melihat-!ihat apakah dia bersungguh hati terhadap gadis itu? Mereka ke mari atas petunjukku."
"Oooh!"
Pek Yun Hui manggut-manggut.
"Pemuda itu memang punya cinta kasih yang amat dalam terhadap gadis itu, tapi... gadis itu justru tiada cinta kasih terhadap-nya."
"Oh?"
Cui Tiap tertegun "Urusan di kolong langit, memang begitulah!"
Pek Yun Hui diam, namun menarik nafas panjang karena ingat akan dirinya sendiri.
"Kong Cu!"
Cui Tiap memberitahukan "Engkau cukup beristirahat beberapa hari saja, kakimu pasti sembuh!"
"Bibi Cui...."
Pek Yun Hui melihat Cui Tiap sudah mau pergi.
"Jangan pergi dulu!"
"Kong Cu! Aku harus pergi!"
Ujar Cui Tiap.
"Bibi Cui! Ajaklah aku pergi menemui adik Siao Tiap!"
"Tidak!"
Cui Tiap menggelengkan kepala.
"Kelak engkau pasti punya kesempatan untuk menemuinya, Kong Cu, kepandaianmu memang tinggi, namun di dalam rimba persilatan banyak kelicikan Terutama kaum lelaki, tiada satu pun boleh dicintai."
"Bibi Cui mengatakan demikian, apakah benar?"
Tanya Pek Yun Hui sambil bangkit berdiri.
"Tidak salah! Memang begitu!"
Sahut Cui Tiap.
"Tiada satu pun kaum lelaki, yang baik."
Pek Yun Hui diam. Sejak kecil ia selalu bersama Cui Tiap, maka apa yang dikatakannya, Pek Yun Hui pasti menurut
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Akan tetapi, Cui Tiap mengatakan bahwa tiada satu pun kaum lelaki yang baik, ia justru tidak sependapat.
Sebab ia tahu jelas, Sie Bun Yun adalah lelaki baik, penuh perasaan dan cinta kasih, bahkan juga begitu lembut terhadap Ling Hung.
Karena itu, ia yakin Sie Bun Yun adalah lelaki baik, maka tidak salah ia mencintainya.
"Kong Cu! Aku mau pergi, baik-baiklah engkau menjaga diri!"
Pesan Cui Tiap dan badannya pun berkelebat pergi.
"Bibi Cui! Bibi CuL."
Seru Pek Yun Hui memanggilnya, Namun Cui Tiap sudah lenyap dari pandangannya, Sungguh tinggi ginkang wanita itu.
Pek Yun Hui berdiri termangu-mangu.
Mendadak timbullah perasaan hampa dalam hatinya, Saat ini cuma tinggal Pek Yun Hui seorang diri, Sie Bun Yun pergi bersama Ling Hung, sedangkan Cui Tiap pun sudah pergi, Kini ia seorang diri sehingga hatinya merasa hampa.
"Bibi Cui! Bibi Cui."
Teriak Pek Yun Hui sekeras-kerasnya sehingga suaranya bergema di pegunungan iiu.
Tiada sahutan Pek Yun Hui menganggap tiada seorang pun mendengar suara teriakanmu Padahal sesungguhnya, ada dua orang mendengar suara teriakannya, yaitu Sie Bun Yun dan Ling Mung.
"Kakak misan!"
Ling Hung tampak tertegun.
"Dengarlah suara teriakan itu, sepertinya suara siapa?"
Sie Bun Yun segera mendengar dengan penuh perhatian seketika juga keningnya berkerut, ia tahu itu adalah suara Pek Yun Hui.
"Entahlah!"
Sie Bun Yun justru pura-pura tidak tahu, karena khawatir kalau memberitahukan, hati Ling Hung pasti berduka lagu "Suara itu amat asing bagiku, lagi pula sangat jauh."
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Ling Hung berdiri mematung.
Ternyata ia sedang mendengarkan suara itu dengan penuh perhatian Ber-selang sesaat wajahnya tampak berseru "Kakak misan, itu adalah suara Kakak Yun.
Aku mengenali suaranya itu,"
Ujarnya gembira.
"Oh, ya?"
Wajah Sie Bun Yun agak memerah, karena ia tidak pernah berbohong, tapi barusan telah berbohong pada Ling Hung.
"Kakak misan!"
Ling Hung menggenggam tangan Sie Bun Yun erat-erat.
"Kini aku sudah tahu, orang yang membantu kita secara diam-diam pasti Kakak Yun."
"Dia?"
Sie Bun Yun tertegun ia memang sudah bereuriga karena ilmu silat orang yang membantunya mirip ilmu silat Pek Yun Hui.
"Dia membuat makam palsu menghindarimu, tapi kenapa dia masih membantu kita?"
"Kakak misan, engkau pasti sudah salah paham akan perlakuannya terhadap orang, Aku harus menemuinya, mari kita pergi mencarinya!"
Ujar Ling Hung dan langsung menarik Sie Bun Yun pergi mencari Pek Yun Hui.
****** Ling Hung dan Sie Bun Yun kembali ke tempat dekat tebing salju beku.
Mereka berdua tahu bahwa kaki Pek Yun Hui sudah patah, tidak mungkin akan pergi jauh dari tempat itu.
Wajah Ling Hung cerah ceria tampak gembira sekali, sebab sebentar lagi akan bertemu Pek Yun Hui.
Sie Bun Yun tetap mengikutinya dari belakang, dan tak lama mereka sudah sampai di tempat tersebut Dari jauh Ling Hung sudah melihat Pek Yun Hui duduk di situ, Hatinya mulai berdebar-debar tegang, karena khawatir orang itu bukan Pek Yun Hui yang dirindukannya.
otomatis langkah kakinya jadi lamban.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
sebaliknya Sie Bun Yun malah mempereepat langkahnya, ia berjalan di samping Ling Hung, sementara Ling Hung sudah tidak tahu bagaimana perasaannya sendiri, Entah gembira atau berduka, yang jelas air matanya sudah meleleh Setelah kira-kira tiga depa di hadapan Pek Yun Hui, Ling Hung memanggil dengan suara terisak.
"Kakak Yun! Engkau Kakak Yun kan?"
Padahal Pek Yun Hui ingin pergi, tapi kakinya masih belum sembuh, maka tidak bisa meninggalkan tempat itu.
Betapa kacaunya perasaan Pek Yun Hui, ia memandang ke tempat lain dengan mulut membungkam.
Karena Pek Yun Hui tidak menyahut, Ling Hung maju beberapa langkah seraya bertanya dengan lembut "Kakak Yun!
Engkau...
Kakak Yun kan?"
"Cepat enyah!"
Sahut Pek Yun Hui membentak kasar Ling Hung tertegun, karena suara Pek Yun Hui bernada serak.
padahal suara teriakan yang didengarnya tadi suara Pek Yun Hui, namun kenapa sekarang berubah serak?
"Kalau begitu, engkau siapa?"
Tanya Ling Hung penasaran "Masih belum mau enyah?"
Bentak Pek Yun Hui dan tetap bernada serak.
ia tahu apabila mereka berdua tahu dirinya adalah Pek Yun Hui, urusan pun akan bertambah kacau dan kusut, karena itu ia mengeraskan hati untuk tidak mau mengaku.
Mendadak Pek Yun Hui memungut dua buah batu kecil, lalu disambitkannya ke arah Ling Hung dan Sie Bun Yun.
Ling Hung sedang merindukan Pek Yun Hui, maka tidak tahu kalau batu itu menyambar ke arahnya.
Untung Sie Bun Yun bergerak cepat mengibaskan tangannya memukul jatuh ke dua buah batu kecil itu.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
"Adik Hung, sudahlah! Tidak usah banyak bertanya padanya lagi!"
Ujar Sie Bun Yun.
"Kakak misan! Kalau belum tahu jelas dia Kakak Yun atau bukan, aku tidak akan meninggalkan tempat ini,"
Sahut Ling Hung.
"Tentunya kita harus tahu jelas tentang itu,"
Ujar Sie Bun Yun.
"Tapi...."
Ling Hung menggeleng-gelengkan kepala.
"Dia tidak mau bertatap muka dengan kita, kita harus bagaimana?"
Sie Bun Yun memang sudah bereuriga, sebab Pek Yun Hui selalu menghadap mereka dengan punggung-nya. pemuda itu memberi isyarat pada Ling Hung, lalu berkata pada Pek Yun Hui.
"Kawan! Aku tidak perduli engkau Pek Yun Hui atau bukan, tetapi aku hanya ingin mengatakan padamu, bahwa orang yang rendah dan tak berperasaan di kolong langit adalah orang yang tidak kenal cinta kasih."
Mendengar ucapan Sie Bun Yun, hati Pek Yun Hui merasa sakit sekali, bagaikan tersayat sembilu.
"Aku adalah penolong kaiian. Aku menyuruh kalian pergi kok kalian tidak mau dengar?"
Bentak Pek Yun Hui dengan suara serak. Sie Bun Yun dan Ling Hung saling memandang, Wajah Ling Hung tampak murung sekali, kemudian ujarnya putus harapan.
"Kakak misan, mungkin kita telah salah mengenali orang."
"Tidak,"
Sahut Sie Bun Yun.
"Kakak misan...."
Ling Hung kebingungan Sie Bun Yun mengayunkan kakinya ke depan.
Pek Yun Hui tersentak karena langkah Sie Bun Yun mendekatinya, ia ingin segera kabur, namun kakinya masih terasa sakit, membuatnya tidak bisa beranjak dari situ.
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
"Aduuh!"
Jeritnya tanpa sadar sebab kakinya yang patah itu terasa sakit seka!i.
"Kakak Yun!"
Panggil Ling Hung cepat sambil melesat ke arahnya, ia mengenali itu adalah suara Pek Yun Hui.
Pek Yun Hui terperanjat ketika melihat Ling Hung melesat ke arahnya, ia segera membalikkan badannya sambil memukul, itu adalah gerakan refleknya, maka dapat dibayangkan betapa dahsyat pukulan itu.
Ketika ia sadar bahwa yang melesat ke arahnya adalah Ling Hung, namun sudah tidak keburu menarik kembali pukulannya.
"Jangan begitu kejam!"
Sie Bun Yun membentak keras dan secepat kilat melancarkan sebuah pukulan ke arah Pek Yun Hui.
"Bummm!"
Suara pukulan beradu.
"Aaakh...."
Pek Yun Hui menjerit dan terdorong mundur beberapa langkah, itu disebabkan kakinya patah, maka tidak kuat menahan pukulan Sie Bun Yun.
"Hmm!"
Dengus Sie Bun Yun. Ternyata benar eng-kau!"
"Kenapa kalau aku?"
Sahut Pek Yun Hui sambil berkertak gigi.
"Adik Hung terluka dalam gara-gara engkau, kenapa kemudian engkau pula yang berpura-pura jadi orang baik?"
Bentak Sie Bun Yun.
"Jadi engkau mau apa?"
Tanya Pek Yun Hui dengan wajah kehijau-hijauan Ternyata ia tersinggung oleh ucapan Sie Bun Yun "Aku tahu engkau cuma mau mempermainkan adik Hung, maka biar bagaimana pun aku tidak akan me!e-paskanmu!"
Sahut Sie Bun Yun melotot Pek Yun Hui langsung duduk, lalu memejamkan sepasang matanya seraya berkata.
"Kalau begitu, bunuhlah aku dengan sekali pukul!"
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
Sie Bun Yun tertegun ia sama sekali tidak menyangka Pek Yun Hui akan berkata begitu.
"Kakak misan, jangan!"
Seru Ling Hung cepat "Hm!"
Dengus Sie Bun Yun.
"Kakak Yun!"
Ling Hung menatapnya.
"Apakah engkau tidak mencintaiku?"
Sie Bun Yun berdiri dengan tangan di dada, kelihatannya sudah siap melancarkan pukulan "Dia berani mengatakan tidak cinta?"
Sahutnya. Padahal Pek Yun Hui ingin menjelaskan pada Ling Hung, Namun ketika melihat sikap dan sahutan Sie Bun Yun, hatinya merasa tertusuk sekali.
"Tidak cinta!"
Katanya.
Suara itu tidak begitu keras, namun Ling Hung yang mendengarnya, bagaikan sebuah martil besar menghantam hatinya hingga remuk, Gadis itu termundur-mundur beberapa langkah, Wajah pucat pias dan air matanya berderai-derai, lalu mendadak membuka mulutnya sambil tertawa gelak.
Suara tawanya itu begitu memilukan bahkan terdengar amat sedih, sehingga membuat merinding siapa yang mendengarnya.
"Adik Hung...."
Cepat-cepat Sie Bun Yun mendekati-nya.
"Kenapa engkau? janganlah engkau berduka, pemuda yang begitu macam...."
"Jangan perdulikan aku!"
Bentak Ling Hung.
Tiba-tiba ia membalikkan badannya dan melesat pergi sambil tertawa menyeramkan Sie Bun Yun tertegun, kemudian ia pun melesat pergi mengejar gadis itu.
Pek Yun Hui duduk termangu-mangu, Hatinya menyesal sekali telah mencetuskan perkataan itu.
ia ingin menarik kembali perkataan itu, tapi sudah tidak keburu lagi, ia
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
menengadahkan kepalanya memandang langit, sama sekali tidak tahu harus berbuat apa?
Berselang beberapa saat kemudian, hari pun mulai gelap, Perlahan-lahan Pek Yun Hui bangkit berdiri, ternyata kakinya yang patah itu sudah tidak begitu sakit lagi, Gadis itu mulai mengayunkan kakinya selangkah demi selangkah ke depan.
Walau agak terpincang-pincang, ia terus berjalan, dan tak terasa ia sudah berjalan hampir empat li.
Pek Yun Hui sama sekali tidak beristirahat, terus berjalan sambil memikirkan kembali semua kejadian yang telah dialaminya Tak terasa hari sudah mulai terang.
Ketika sampai di sebuah tikungan, ia melihat Sie Bun Yun sedang berdiri mematung di pinggir jurang.
selangkah demi selangkah Pek Yun Hui mendekati-nya, Setelah berjarak beberapa depa, barulah Pek Yun Hui berhenti.
ia berdiri di situ tanpa bergerak sama sekali.
Sie Bun Yun berdiri membelakangi Pek Yun Hui.
ia tidak membalikkan badannya, sedangkan Pek Yun Hui pun berdiri tak bergerak Entah berapa lama kemudian, matahari sudah berada di atas kepala mereka, Akan tetapi, mereka berdua tetap berdiri mematung, tidak pernah ada yang bergerak sama sekali.
Tiba-tiba Pek Yun Hui mengernyitkan kening, ternyata matanya melihat ada sesuatu di tangan Sie Bun Yun yang melambai-lambai terhembus angin.
Pek Yun Hui tereengang, karena setelah diperhatikannya dengan seksama, barang yang ada di tangan Sie Bun Yun itu ternyata sobekan lengan baju Ling Hung.
Sie Bun Yun berdiri mematung dan tertegun di tepi jurang, apakah Ling Hung jatuh ke dalam jurang itu?
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
"Saudara Bun Yun!"
Panggil Pek Yun Hui sambil maju beberapa langkah. Badan Sie Bun Yun tergetar sedikit, kemudian gumamnya dengan suara rendah dan bergemetar.
"Dia jatuh ke bawah, tidak! Dia terjun ke bawah!"
Mendengar itu, air mata Pek Yun Hui langsung me!eleh.
ia mendekati tepi jurang, lalu memandang ke dalam, Apa yang dilihatnya?
Ternyata hanya kabut tebal menyelimuti jurang yang amat dalam ilu.
Kalau Ling Hung terjun ke bawah, jangankan bisa hidup, mungkin mayatnya pun sulit diketemukan, sebab jurang itu ribuan depa dalamnya.
Sie Bun Yun tampak tidak mengetahui akan ke-beradaan Pek Yun Hui di situ, itu karena kedukaannya telah memuncak ia menggenggam sobekan lengan baju Ling Hung, berdiri mematung sehari semalam di pinggir jurang tidak bergerak sama sekali.
"Dia sudah terjun ke bawah! Dia sudah terjun ke bawah!"
Gumamnya Iagi. Pek Yun Hui memandangnya. Tampak sepasang mata pemuda itu telah berubah redup. Kemudian Pek Yun Hui mendekatinya, tapi Sie Bun Yun tetap tidak tahu akan kehadiran gadis itu.
"Saudara Bun Yun!"
Panggil Pek Yun Hui dengan suara rendah. Sie Bun Yun tetap tidak bergerak sepasang matanya terus memandang ke bawah jurang, dan bibirnya ber-gerak-gerak.
"Dia sudah terjun ke bawah! Dia sudah terjun ke bawah!"
"Saudara Bun Yun!"
Pek Yun Hui menarik nafas.
"Dia sudah terjun ke bawah, tapi engkau harus jaga diri baik-baik!"
KANG ZUSI
http.//cerita-silat.co.ce/
"Betul."
Sahut Sie Bun Yun mendadak sambil manggutmanggut.
"Secara tidak langsung dia dibunuh orang, maka aku harus membalaskan dendamnya!"
Pek Yun Hui merinding mendengar ucapan itu.
Nada suara Sie Bun Yun memang penuh mengandung dendam yang teramat dalam, ia mundur selangkah Tanpa sengaja kakinya menendang sebuah batu, dan batu itu menggelinding ke bawah jurang.
Sie Bun Yun memandang batu yang menggelinding ke bawah, dan setelah batu itu tidak kelihatan lagi, barulah ia menoleh memandang Pek Yun Hui.
Begitu melihat Pek Yun Hui, sekujur badan Sie Bun Yun bergetar, seakan melihat ular yang paling beracun.
"Engkau! Engkau yang membunuhnya!"
Teriaknya aneh.
"Saudara Bun Yun...."
"Ha ha ha!"
Sie Bun Yun tertawa gelak.
"Engkau telah membunuhnya! Adik Hung, engkau bilang engkau tidak membencinya, tapi aku membencinya sampai ke-tulang sumsum! Aku akan merobek dadanya untuk melihat hatinya!"
Sie Bun Yun mendekati Pek Yun Hui selangkah demi selangkah dengan wajah diliputi hawa membunuh.
itu sungguh mengejutkan Pek Yun Hui.
Akan tetapi, Pek Yun Hui sama sekali tidak mundur, ia tetap berdiri di tempat tak bergerak sedikit pun.
Baca Juga: Seruling Gading 1
Baca Juga: Pendekar Cengeng 3