Eps 3 Pendekar Cengeng - Kho Ping Hoo
Baca online Pendekar Cengeng - Kho Ping Hoo
Cersil Pendekar Cengeng - Kho Ping Hoo.
Teringatlah ia kembali, ia telah roboh di dalam ruangan silat oleh asap beracun dan totokan-totokan suling ditangan Hek-siauw Kui-bo yang lihai, ia menahan diri untuk tidak mengeluh ketika terasa seluruh tubuhnya sakit sakit dan kedua lengannya tak dapat ia gerakkan.
Keiika berusaha menyalurkan tenaga ke arah kedua tangan dan menggerakkan tangannya ternyata kedua pergelangan tangannya itu terbelenggu dan berada di belakang tubuh, tertindih tubuhnya yang telentang, ia membuka mata.
Ternyata ia masih berada di ruangan bundar itu terbaring telentang di atas lantai dengan pergelangan kedua tangan terbelenggu.
Dengan susah payah Yu Lee menggulingkan diri menekuk kedua lututnya dan bangkit duduk.
Untung bahwa kedua kakinya tidak terbelenggu.
Ia memandang ke sekelilingnya.
Sunyi tiada manusia.
Pintu satu-satunya itu masih tertutup rapat.
Ruangan sudah bersih dari pada asap beracun, namun bau harum aneh masih dapat tercium.
Ia segera mengumpulkan napas, mengerahkan tenaga untuk mematahkan belenggu.
Akan tetapi ia meringis kesakitan karena ternyata bahwa belenggu besi itu agaknya dipasangi gigi-gigi tajam sehingga begitu ia mengerahkan tenaga, gigi-gigi tajam itu masuk ke dalam kulit dagingnya!
Pedang dan tongkatnya lenyap, ia terbelenggu amat kuat dan penuh dengan pemasangan gigi baja pada belenggu itu, ia tak mungkin, dapat mematahkan belenggu tanpa mengakibatkan pergelangan kedua tangannya.
Yu Lee menarik napas panjang, ia maklum bahwa ia telah terjatuh ke tangan musuh besarnya.
Mengapa ia tak dibunuh?
Mengapa ia dijadikan tawanan?
ia tidak mau memusingkan kepala memikirkan hal ini.
Lalu ia duduk bersila dan bersamadhi mengumpulkan napas dan tenaga, memulihkan hawa murni di tubuhnya.
Tak lama kemudian jawaban tiba, jawaban tentang keheranannya mengapa ia tidak dibunuh.
Jawaban itu berupa terbukanya pintu dan masuknya Empat Buaya Yang-ce, kepala-kepala bajak sungai yang terkenal kejam.
Mereka masuk dan menutupkan pintu kembali lalu terdengar mereka tertawa-tawa.
Sejenak Yu Lee membuka mata kemudian menutupkan matanya kembali.
"Ha, ha, ha kiranya hanya sebagini saja kepandaianmu!"
Song Kai tertawa mengejek dan kakinya terayun keras menendang.
Yu Lee maklum akan datangnya tendangan ini.
Ia berusaha mengelak akan tetapi sebuah pukulan tangan tepat mengenai leher kanannya, membuat tubuhnya roboh bergulingan.
Ia bangkit kembali dengan pandangan mata berkunang.
Ketika itu, Song Kai yang tadi merasa penasaran karena tendangannya dapat dielakkan lawan yang sudah luka-luka terbelenggu, datang memukul ke arah dadanya, pukulan yang amat keras!
Yu Lee maklum bahwa ia terancam bahaya maut, akan tetapi ia tidak menjadi gentar dan mengambil keputusan bahwa sebelum tewas ia akan melawan sebisanya.
Cepat ia miringkan tubuh membiarkan pukulan itu menyerempet dadanya akan tetapi berbareng kakinya menendang ke depan tepat mengenai sambugan lutut Song Kai.
"Aduhh"!"
Tubuh Song Kai tergelimpang dan sabungan lututnya terlepas!
Untung baginya bahwa keadaan Yu Lee demikian lemahnya, kalau tidak, tentu akan remuk tulang lututnya.
Marahlah mereka.
Berbareng mereka menyerbu dan karena Yu Lee memang sudah terluka dan amat lemah tentu saja pemuda ini menjadi korban pemukulan-pemukulan mereka.
Tubuh Yu Lee sampai terlempar ke sana ke mari bergulingan ke atas lantai.
Perutnya kena tendang dan pemuda ini berusaha bangkit, akan tetapi pukulan keras pada tengkuknya membuat ia rebah kembali.
Akhirnya ia tak dapat berkutik pula karena pukulan-pukulan dan tendangan-tendangan datang bertubi-tubi.
Mukanya penuh darah yang keluar dari mulut dan hidung.
"Sudah".."
Sudah twako, jangan sampai terbunuh dia!"
Seorang di antara buaya buaya Yang-ce mencegah Song Kai yang terengah-engah dan terpincang-pincang memukuli pemuda itu dengan marah.
"Toanio pesan agar kita jangan membunuhnya. Kalau dia mati kita celaka!"
Hal ini menyelamatkan Yu Lee Biarpun tubuhnya penuh luka-luka bekas pukulan dan tendangan, namun keempat orang itu tidak membunuhnya, sehingga pukulan-pukulan dan tendangan tadi pun hanya merupakan hantaman yang melukai kulit daging dan paling hebat mematahkan tulang, tidak mendatangkan luka dalam yang membahayakan nyawanya.
Namun siksaan mereka itu cukup hebat membuat Yu Lee pingsan selama sehari semalam.
Dengan gerakan laksana seekor kucing.
Dewi Suling berloncatan di atas genteng rumah rumah yang berjajar rapat.
Kedua kakinya bergerak cepat tanpa mengeluarkan suara dan sebentar saja ia sudah di atas genteng rumah toko obat yaog terletak di sebelah barat simpang empat.
Seperti biasa, setelah tiba di atas rumah calon korbannya.
Dewi Suling lalu meniup suling merahnya.
Melengkinglah suara yang merdu, namun menyeramkan, memecah kesunyian malam.
Tiba-tiba suara suling itu terhenti dan Dewi Suling mengeluarkan seruan tertahan ketika genteng rumah yang diinjaknya itu tiba-tiba bergerak dan kakinya terpeleset.
Sebagai seoraog ahli "jalan malam"
Maklumlah ia bahwa ada orang pandai berlaku usil.
Siapakah yang memiliki kepandaian di dalam rumah penjual obat ini?
Tiba-tiba terdengar suara angin menyambar ke arahnya.
Dewi Suling cepat miringkan tubuh dan berloncatan mengelak karena dari bawah menyambar senjata-senjata rahasia.
"Siiuut-siuuut-siuuut""!"
Tiga batang hui-to (pisau terbang) menyambar secepat kilat ke arahnya dan ketika Dewi Suling mengelaknya, tiga batang hui-to itu jatuh ke atas genteng, suaranya nyaring.
"Cui-siauw-kwi, mau apa engkau mengacau di sini?"
Terdengar bentakan nyaring dan halus.
Dewi Suling cepat menengok dan melihat bayangan hitam berkelebat di bawah.
Dengan ujung kakinya ia mencongkel genteng dan tampaklah bayangan hitam tadi kini berada di ruangan belakang rumah obat itu.
Wajahnya berseri, matanya bersinar-sinar ketika melihat seorang pemuda tampan sekali berdiri di bawah genteng dengan sepasang pedang di tangan.
Kalau siang tadi ia melihat pemuda putera penjual obat sebagai seorang pemuda remaja yang tampan sekali, bermuka bundar dengan kulit putih, mata jeli dan bibir merah seperti buah tomat masak, kini pemuda tampan itu tidak hanya kelihatan ganteng juga kelihatan gagah perkasa!
Hal ini sama sekali tak disangka-sangkanya.
Pemuda tampan yang disangka lemah lembut itu ternyata seorang yang berkepandaian dan melihat lemparan tiga batang hui-to tadi membuktikan bahwa pemuda remaja itu kepandaiannya boleh juga.
Makin gembiralah hati Dewi Suling melihat kenyataan ini dan seperti sehelai bulu saja tubuhnya melayang turun melalui lubang yang dibuat di atas dengan membongkar beberapa buah genteng.
Lalu ia meloncat turun melalui lubang yang dibuatnya itu sambil memutar sulingnya dan tubuhnya melayang ringan ke bawah ke arah pemuda yang berdiri dengan sepasang pedang di tangan.
Sepasang kaki Dewi Suling seperti kaki burung saja ketika hinggap di atas lantai sehingga pemuda itu diam-diam menjadi kaget sekali.
"Kongcu, maafkan kalau aku membikin kaget padamu. Kedatanganku ini sesungguhnya karena tertarik kepadamu dan ingin belajar kenal denganmu. Siapakah namamu dan kenapa begitu bertemu kau menyerang Cui-siauw Sianli Ma Ji Nio? Ah, tidak kasihankah engkau kalau sampai hui-to mu tadi itu membikin lecet kulitku?"
Dengan lagak genit Dewi Suling mengerling serta tersenyum.
Sepasang mata yang lebar dan bersinar tajam itu terbelalak, kemudian bibir yang merah sehat itu tersenyum.
Tampak deretan gigi putih rapi yang membuat hati Dewi Suling menjadi semakin berdebar.
Selama ini belum pernah ia mendapatkan seorang kekasih yang begini tampan!
Kalau saja pemuda ini memiliki ilmu silat yang tinggi, sedikitnya seperti tingkat kepandaian dua orang murid Hap Tojin yang telah menghinanya dan menolak cinta kasihnya, hatinya akan puas serta tak kecewa untuk seterusnya berteman dengan pemuda ini.
"Ohh, begitukah? Jadi engkau datang untuk berkenalan? Cui-siauw-kwi, namaku adalah Tan Li Ceng dan soal seranganku tadi yang sayang tidak mengenai sasarannya adalah karena begitu mendengar suara sulingmu aku sudah dapat menduga siapa yang akan muncul. Baru sekarang aku bertemu denganmu. Engkau memang seorang gadis yang cantik jelita, akan tetapi sayang engkau jahat seperti iblis betina. Disebabkan kejahatanmu itu lah maka aku tadi menyerangmu dan sekarangpun aku mau membunuhmu. Lihat pedang!"
Cepat sekali gerakan pemuda itu. Sepasang pedangnya berkelebat menjadi dua gulung sinar perak yang "menggunting"
Dari kanan kiri.
"Singg......! singg......!"
Dewi Suling cepat mengelak dan guntingan sepasang pedang itu lewat di dekat tubuhnya.
"Eh...... Tan-kongcu (tuan muda Tan), nanti dulu......"
"Mau bicara apa lagi?"
Si pemuda bertanya, sepasang alisnya yang hitam hergerak-gerak. Sepasang pedangnya disilangkan di depan dada. Sikapnya gagah sekali sehingga mata Dewi Suling terpesona melihatnya.
"Tan-kongcu, engkau mengapa begini kejam dan sampai hati menuduh aku jahat? Kejahatan apakah gerangan yang telah kuperbuat maka kongcu menuduhku demikian?"
Tan Li Ceng mengeluarkan suara menghina dari hidangnya yang kecil mancung.
"Hemm! Masih berpura-pura suci? Entah sudah berapa banyak pemuda-pemuda yang menjadi korban mu, kau...... kau perkosa dan kau bunuh! Masih beranikah menyangkalnya?"
Dewi Suling menarik napas panjang, lalu berkata, suaranya halus.
"Tan-kongcu, sudah bertahun-tahun aku mencari jodoh. Banyak sudah pemuda kupilih, akan tetapi mereka itu hanyalah laki-laki tidak berguna. Mereka itu tiada bedanya dengan kelinci-kelinci gemuk yang hidupnya untuk disembelih atau burung-burung indah yang hidupnya ditakdirkan buat tontonan serta hiburan. Dan kalau telah bosan, bagian mereka ialah kematian. Aku mau mencari seorang suami yang cocok, lalu melihat engkau ini......, hatiku rupanya merasa puas bila bisa berkawan baik denganmu. Maukah engkau mencoba serta melihat apakah diantara kita berdua ada kecocokan hati kongcu? Marilah ikut bersamaku dan kita mencoba serta rasakan bersama, tentu kau tidak akan kecewa"""
Kemudian dengan sikap genit memikat Dewi Suling melirik tajam penuh arti.
Akan tetapi agaknya Tan Li Ceng yang usianya paling banyak delapanbelas tahun itu masih hijau, justeru masih hijau dan kurang pengalaman itulah yang membuat Dewi Suling lebih mengilar lagi.
Pemuda tampan itu membanting kakinya dan berkata, suaranya membentak.
"Perempuan tak tahu malu! Bersiaplah untuk mampus!"
Kembali pemuda ini menerjang dan sepasang pedangnya berkelebat cepat bagaikan kilat menyambar.
Dimaki demikian oleh bibir yang penuh merah menggairahkan itu.
Dewi Suling tidak menjadi marah, bahkan tertawa dan berkata.
"Baik sekali, memang aku ingin menguji kepandaianmu apakah tidak mengecewakan!"
Sulingnya berkelebat berubah menjadi segulung sinar merah yang panjang.
"Trang-trang......!"
Pemuda itu meloncat ke belakang sambil menarik kedua pedangnya.
Benturan dengan suling ketika lawan menangkis siang-kiam (sepasang pedang) tadi membuat kedua tangannya terasa panas dan tergetar hebat!
"Hi, hi, hik.
coba kau sambut ini!"
Dewi Saling berkata sambil tertawa dan sulingnya kini membentuk gulungan sinar merah yang melingkar-lingkar panjang mengurung tubuh Tan Li Ceng.
Pemuda itu kaget sekali mengeluarkan seluruh kepandaiannya.
Sepasang pedangnya membentuk benteng sinar pedang yang amat kuat sehingga berkali-kali terdengar bentrokan-bentrokan nyaring antara sepasang pedang dengan suling merah.
"Ah, hi, hik!"
Bagus sekali! Ilmu pedangmu hebat, tidak kalah oleh mereka. Bagus, kau tampan dan gagah, aku tidak kecewa, hik hik!"
Dewi Suling girang sekali mendapat kenyataan bahwa pemuda remaja ini benar-benar gagah perkasa, tidak kalah oleh Ouwyang Tek maupun Gui Siong, dua orang murid Hap Tojin yang tadinya ia kagumi.
Makin besar rasa cinta kasihnya terhadap pemuda ini.
Di dunia ini jarang dapat ia temukan seorang pemuda seperti ini, memiliki ketampanan yang sukar dicari bandingannya dan memiliki ilmu silat yang cukup tinggi.
Tentu saja belum cukup tinggi untuk mengatasinya.
Ah, di mana bisa bertemu dengan seorang pemuda yang dapat mengalahkannya?
Kecuali""
Kecuali pemuda baju putih yang ajaib itu.
Akan tetapi pemuda baju putih itu gerak geriknya bukan seperti manusia seolah-olah pandai menghilang.
Kalau bukan dewa tentu Setan!
Lebih baik mencurahkan perhatiannya kepada Tan Li Ceng pemuda remaja yang tampan ini.
Setelah menguji kepandaian pemuda itu sampai limapuluh jurus lebih, hati Dewi Suling menjadi puas.
Kalau ia mau, dengan bermacam akalnya yang keji tentu sejak tadi ia sudah mampu merobohkan pemuda ini.
Akan tetapi timbul rasa sayang yang amat besar di hatinya sehingga ia tidak ingin melukai pemuda ini.
Juga kalau dalam waktu terlalu singkat ia mengalahkannya ia khawatir kalau kalau pemuda ini menjadi malu dan merasa terhina.
Maka ia melayani sampai puluhan jurus.
"Wah kau hebat, kongcu! Aku terima kalah......! Perlukah pertandingan ini dilanjutkan? Lebih baik kita bercinta daripada bermusuhan......!"
Tan Li Ceng tidak menjawab, melainkan menggeram dan pedangnya berkelebat semakin ganas. Kelihatan bahwa pemuda ini marah sekali.
"Ih, terpaksa kuhentikan kenakalanmu!"
Tiba-tiba tangan kiri Dewi Suling mengebutkan sehelai saputangan merah ke arah muka Tan Li Ceng yang cepat mengelak dengan jalan miringkan kepalanya.
Akan tetapi kiranya serangan ini bukan serangan senjata, melainkan serangan hawa beracun sebab tahu-tahu hidung Tan Li Ceng mencium bau harum luar biasa yang membuat napasnya sesak serta matanya berkunang-kunang.
Waktu itu dipergunakan oleh Dewi Suling buat melakukan totokan secepat kilat yang mengenai kedua buah lengannya.
Tanpa bisa dicegah lagi kedua pedang itu jatuh berkerontangan di atas lantai.
Di lain saat, tubuh Tan Li Ceng yang terhuyung itu telah didekap oleh Dewi Suling.
Karena sewaktu diserang oleh kebutan saputangan merah tadi Tan Li Ceng telah membuang muka, maka obat bubuk harum yang mengandang obat bius itu hanya sedikit saja memasuki hidungnya dan karena itu hanya membuat ia pusing dan mabok tidak sampai pingsan terlalu lama.
Setelah lenyap pusingnya dan kesadarannya pulih kembali pemuda ini membuka mata.
Alangkah kagetnya ia ketika mendapatkan dirinya dirangkul serta didekap Dewi Suling dan mulutnya tersumbat oleh bibir wanita itu yang menciumnya mesra penuh nafsu!
Rasa mual naik dari perut pemuda ini.
Ia berusaha meronta, tapi sia-sia sebab rangkulan Dewi Suling itu membuat kedua lengannya menempel di badan.
Demikian kuat serta ketat rangkulan Dewi Suling yang seperti orang gila atau mabok mencium mulutnya.
Saking marah, muak dan gugupnya, pemuda ini lalu membuka mulut tetapi bukan buat membalas ciuman mesra itu, melainkan buat menggigit bibirnya Dewi Suling.
"Ihh"!"
Dewi Suling kesakitan dan terpaksa melepaskan rangkulannya sambil meloncat mundur.
Dirabanya bibir yang berdarah itu, matanya melotot, akan tetapi ia tersenyum.
Mukanya merah serta pandangan matanya bersinar-sinar.
"Aihh kongcu kau....... kau nakal sekali. Betapa kejamnya melukai bibirku""!"
Akan tetapi Tan Li Ceng sudah meloncat bangun terus menyambar sepasang pedangnya yang tergeletak di lantai kemudian menerjang kalang kabut kepada Dewi Suling dengan kemarahan meluap-luap.
Akan tetapi begitu Dewi Suling memutar suling merahnya itu, semua terjangan pemuda itu dapat dibendung dan kembali Tan Li Ceng terdesak serta terkurung oleh sinar merah yang bergulung-gulung dan melingkar-lingkar.
Juga saputangan merah yang harum sudah siap di tangan kirinya.
Tan Li Ceng berlaku hati-hati, bersilat dengan cepat serta mengerahkan semua ilmu silat dan tenaganya, juga waspada menjaga diri dari serangan saputangun merah itu yang sewaktu-waktu bisa dikebutkan ke mukanya Betapapun juga, suling di tangan musuhnya itu benar-benar amat lihai, sepasang pedangnya tak bisa balas menyerang lagi hanya di pergunakan buat melindungi tubuhnya.
"Omitohud"!"
Tiba-tiba terdengar seruan dan dari pintu belakang muncul seorang hwesio tua yang perutnya gendut sekali.
Sebagian perutnya yang di atas terbuka sebab bwesio ini memang tidak berbaju sehingga dada serta separoh perutnya itu telanjang.
Wajahnya muram dan alisnya sudah putih.
Di lengan kanannya hwesio ini mencekal sebuah tongkat berkepala naga.
Kalau hwesio ini muncul sambil mengeluarkan seruan memuja Budha, tetapi orang kedua yang tiba bersamanya sudah mencabut pedang terus menyerbu ke depan.
Orang ini ialah seorang gadis manis berpakaian serba hijau berusia sekitar duapuluh tahun, bertubuh langsing.
Pedang tunggalnya bergerak cepat sekali dan begitu menyerbu, pedangnya berkelebat menusuk ke arah lambung kanan Dewi Suling.
"Trang..!!"
Pedang di tangan gadis baju hijau itu membalik lalu ia berseru kaget, sama sekali tidak mengira bahwa Dewi Suling demikian kuat tangkisanya.
Di lain pihak Dewi Suling mendapat kenyataan bahwa gadis baju hijau yang baru tiba ini memiliki sinkang sedikitnya tak kalah oleh pemuda tampan itu, maka ia berlaku hati-hati lalu meloncat mundur.
"Suci...... suhu...... harap bantu aku membasmi iblis betina ini!"
Tan Li Ceng berseru girang melihat munculnya dua orang itu.
"Sumoi, jangan khawatir lblis ini takkan bisa lolos,"
Jawab gadis baju hijau sambil menerjang lagi. Lalu disusul oleh Tan Li Ceng yang berbesar hati melihat munculnya guru serta kakak seperguruannya.
"Trang trang trang""!"
Tangkisan suling merah kali ini amat kerasnya sehingga baik Tan Li Ceng maupun gadis baju hijau itu terhuyung-huyung mundur.
Dewi Suling berdiri dengan suling melintang di depan dada, mukanya pucat dan matanya terbelalak ketika memandang Tan Li Ceng, telunjuk tangan kirinya menunjuk ke arah muka bekas lawannya.
"Engkau...... Engkau....... wanita......?"
Tadi ketika Dewi Suling mendengar pemuda tampan itu menyebut suci kemudian oleh si kakak seperguruannya disebut sumoi (adik perempuan seperguruan) ia kaget seperti di sambar halilintar.
Saking kaget dan herannya ia masih penasaran dan setelah menangkis, kini ia meyakinkan hatinya dengan pertanyaan itu.
"Cih, perempuan tak tahu malu dan gila! Hatimu sudah begitu kotor sehingga matamu buta tak dapat melihat mana wanita mana laki-laki!"
Bentak Tan Li Ceng yang sesungguhnya adalah seorang gadis cantik jelita berusia delapanbelas tahun.
Sebagai anak tunggal, Tan Li Ceng amat dimanja dan karena sudah lajimnya pada jaman itu orang-orang tua ingin sekali mempunyai anak laki-laki.
Li Ceng diberi pakaian laki-laki untuk mengurangi kecewa ayah ibunya.
Mendengar ini muka yang pucat dari Dewi Suling berubah marah sekali, sepasang matanya menjadi muram dan hatinya diliputi kekecewaan besar.
Harus ia akui bahwa ia tadi jatuh cinta sungguh-sungguh kepada "pemuda"
Ini dan kalau ia berhasil, ia akan menghentikan petualangan dengan pemuda-pemuda lainnya dan ingin hidup selamanya di samping "pemuda"
Yang dicintainya ini. Sekarang semua harapan itu buyar seperti asap tertiup angin dan selain rasa kecewa, ia juga merasa malu sekali dan marah.
"Mampuslah!"
Bentaknya dengan kemarahan meluap-luap. Rasa cinta kasihnya yang mendalam terhadap "pemuda"
Itu kini berubah menjadi kebencian yang amat sangat, yang dapat dipuaskan hanya dengan pembunuhan.
Serangannya hebat bukan main sehingga enci adik seperguruan itu cepat memutar senjata untuk menangkis.
"Omitohud...... pinceng mana dapat mendiamkan iblis betina mengganas?"
Hwesio tua guru kedua orang gadis itu berseru dan tongkatnya melayang.
Dewi suling kaget bukan main.
Ia sedang sibuk dengan serangannya, dan kini enci adik seperguruan itu juga balas menyerang.
Secara tiba-tiba ia mendengar desir angin yang demikian dahsyat yang ditimbulkan oleh tongkat panjang, maka cepat ia meloncat sambil memutar sulingnya.
Namun, karena ia harus melindungi terjangan pedang kedua gadis lawannya, dan karena hwesio itu menerjang pada saat ia dalam kedudukan kurang kuat elakannya tidak sepenuhnya berhasil.
"Bukk!"
Ujung tongkat menggebuk punggungnya.
Untung Dewi Suling secepat kilat sudah miringkan tubuh sambil mengerahkan sinkang ke punggung untuk melawan gebukan ini, kalau tidak tentu tulang punggungnya bisa patah-patah!
Betapapun juga ia masih terlempar dan jatuh bergulingan, ia terus menggulingkan tubuh mendekati pintu, kemudian meloncat bangun sambil memutar suling.
"Gundul keparat! Siapa kau?"
Bentaknya.
"Hemm, pinceng Liong Losu, selamanya anti kejahatan!"
"Tho-tee-kong......"!"
Dewi Suling berseru keras dengan kaget.
Gurunya sudah berpesan agar hati-hati kalau bertemu dua orang, yaitu pertama adalah Tho-tee-kong Liong Losu si Malaikat Bumi ini, dan kedua adalah Siauw-bin-mo Hap Tojin si Setan Tertawa yang menjadi guru kedua orang muda yang pernah digodanya.
Kini mendengar hwesio guru kedua orang ini adalah Tho-tee-kong ia tahu bahwa keadaannya amat berbahaya kalau ia melanjutkan pertandingan.
Apalagi punggungnya sudah terluka, sungguhpun hanya merupakan luka di luar saja.
Sambil meloncat ia mengeluarkan lengking mengerikan dan pada saat itu tubuhnya sudah melayang keluar dari pintu.
"Iblis betina hendak lari ke mana?"
Tan Li Ceng dan encinya yang bernama Lauw Ci Sian berbareng membentak marah dan berlumba untuk mengejar.
"Awas......!"
Bentak guru mereka yang sudah melompat maju dan memutar tongkat.
Dua orang gadis itu terkejut dan merebahkan diri.
Sinar hijau menyambar di atas tubuh mereka dan lenyap memasuki dinding.
Itulah jarum-jarum hijau yang beracun.
Beberapa jarum runtuh oleh putaran tongkat Liong Losu.
"Kejar""!"
Tan Li Ceng yang masih gemas terhadap Dewi Suling, meloncat keluar disusul kakak seperguruannya.
Hwesio tua dan dua orang muridnya itu mengerahkan ginkang dan melakukan pengejaran dengan ilmu lari cepat.
Akan tetapi Dewi Suling sudah lari jauh sekali, kemudian iblis betina itu meloncat ke dalam sebuah perahu dan meluncurlah perahunya bagaikan anak panah terlepas dari busurnya.
Guru dan dua orang muridnya itupun mencari perahu dan terus melakukan pengejaran.
Tho-tee-kong Liong Losu adalah seorang pendeta yang selain berwatak aneh dan berjiwa pendekar juga seorang yang berhati-hati memilih murid.
Ia tidak pernah mempunyai murid, hanya limabelas tahun yang lalu ketika ia dan Siauw-bin-mo Hap Tojin gagal membela keluarga Yu-kiam-sian dan melihat betapa pendekar sakti Sin-kong-ciang Han In Kong mengambil Yu Lee sebagai murid, maka ia mengambil keputusan buat mencari murid berbakat.
Sebagai seorang pendeta Budha yang menempuh hidup suci, Tho-tee-kong Liong Losu mempunyai perangai yang halus, maka sesuai dengan sifatnya ini ialah murid-murid wanita.
Maka ia lalu memilih dua orang anak perempuan sebagai muridnya.
Murid pertama ialah Lauw Ci Sian, seorang anak perempuan yatim piatu berusia delapan tahun.
Murid kedua adalah Tan Li Ceng anak perempuan tunggal Tan Kiat pemilik toko obat.
Sesuai pula dengan bakat masing-masing, ia memberikan ilmu pedang tunggal untuk Lauw Ci Sian serta siang-kiam (pedang berganda) buat Tan Li Ceng.
Selama duabelas tahun ia mendidik kedua orang muridnya itu sehingga mereka memperoleh ilmu silat yang tinggi serta jarang menemui tandingannya di antara orang-orang muda jagoan di jaman itu.
Setelah belajar selama duabelas tahun.
Tan Li Ceng yang mempunyai kebiasaan berpakaian seperti pria itu lalu kembali ke An-keng tempat tinggal ayahnya.
Oleh sebab itulah di An-keng ia merupakan seorang "pemuda"
Baru saja terlihat oleh Dewi Suling waktu itu.
Dan kebetulan pula malam itu Tho-tee-kong Liong Losu berserta murid pertamanya datang berkunjung serta terus malam itu juga mendatangi rumah Tan Li Ceng.
Kenapa begitu kebetulan?
Tidak lain setelah begitu hwesio tua itu tiba An-keng sore tadi lalu pergi ke kuil yang dihuni oleh lima orang nikouw serta mendengar akan sepak terjang Dewi Suling.
Maka itu buru-buru hwesio ini bersama muridnya mendatangi rumah muridnya yang kedua untuk nanti diajak bersama-sama mencari serta membasmi Dewi Suling.
Tak disangka iblis betina yang dicari-carinya itu justeru berada di rumah Tan Li Ceng yang disangkanya pria!
Sementara itu, dengan hati gemas Dewi Suling cepat-cepat mendayung perahunya pulang ke tempat tinggal gurunya di Istana Air.
Ia telah terluka, biarpun tidak berat, akan tetapi buat melawan Tho-tee-kong serta kedua orang muridnya sendirian, ia merasa tidak kuat.
Ia harus melaporkan kepada gurunya soal munculnya musuh besar itu.
Dan kekecewaan karena ternyata Tan Li Ceng adalah seorang gadis membuat ia kehilangan semangat buat bersenang-senang dan bermain-main di An-keng.
Malam telah berganti fajar ketika Dewi suling naik ke darat dan menarik perahu kecilnya ke darat pula.
Ia heran melihat betapa sepinya daerah Istana Air.
Akan tetapi baru saja ia lari beberapa meter jauhnya, dari kanan kiri berlompatan keluar penjaga yang bersenjata lengkap, bahkan seorang penjaga membentaknya.
"Siapa......!"
"Goblok, buka matamu lebar-lebar! Minta mampus?"
Dewi Suling balas membentak dengan perasaan mendongkol.
"Ahhh""
Ampun Siocia!
Ampunkan hamba......
di dalam gelap ini mana hamba bisa mengenali Siocia?
Toanio memerintahkan agar penjagaan diperketat sebab dikhawatirkan datangnya musuh yang akan menolong tawanan.
Maka kami melakukan penjagaan ketat sambil bersembunyi."
Lenyap kemarahan Dewi Suling segera ia tertarik sekali.
"Tahanan siapakah orangnya? Berani betul masuk ke sini sampai tertawan?"
"Seorang pemuda luar biasa, Siocia. Yang-ce Su-go maupun Ngo-tayhiap (pendekar Ngo Cun Sam) tak bisa mengalahkannya. Baru Setelah Toanio sendiri turun tangan, dia bisa ditawan di ruangan berlatih silat."
"Pemuda? Siapa""?"
Dewi Suling bertanya heran.
Kalau sampai pemuda itu harus dikalahkan gurunya di dalam lian-bu-thia ( Ruangan silat), berarti gurunya tak kuat melawan dan perlu dengan bantuan alat-alat rahasia di lian-bu-thia.
Alangkah hebatnya kepandaian pemuda itu!
"Entahlah, Siocia.
Hamba tidak tahu namanya.
Hanya mendengar bahwa dia itu masih muda dan amat tampan serta pakaiannya serba putih.
Ha-ha agaknya hamba kira dia telah mampus karena tadi menurut kawan-kawan Yang-ce Su-go keluar dari ruangan itu dengan penuh keringat, bahkan Song-twako sampai terlepas sambungan lututnya.
Tentu mereka itu berempat melampiaskan kemarahan karena kekalahan yang memalukan di depan Toanio."
"Sudah, jangan banyak cerewet. Lakukan penjagaan yang baik!"
Setelah berkata demikian, Dewi Suling berkelebat cepat lari menuju ke Istana Air.
Jantungnya berdebar-debar.
Tak salah lagi, pemuda yang kini tertawan gurunya itu sudah pasti si Pemuda Pakaian Putih, pemuda yang pernah menolongnya, pemuda yang tampan gagah dan ilmu kepandaiannya seperti setan!
Dan sekarang tertawan di dalam ruang silat yang banyak dipasangi perangkap rahasia.
Siapa lagi kalau bukan pemuda baju putih yng sanggup melawan gurunya, yang terpaksa menjebaknya?
Dengan cepat Dewi Suling lari menuju langsung ke ruangan silat itu.
Para penjaga yang mengenalnya tentu saja tidak ada yang berani melarang, bahkan bertanya pun tidak ada yang berani, sebab dalam hal kegalakan serta kekejaman, si murid ini tidak kalah oleh gurunya.
Ketika akhirnya Dewi Suling berkelebat masuk ke dalam ruangan silat dan melihat Yu Lee tergeletak di atas lantai dalam keadaan terbelenggu kedua tangannya serta seluruh mukanya bengkak-bengkak berdarah, ia mengeluarkan seruan tertahan lalu menghampiri dan berjongkok.
Benaknya membayangkan betapa ia akan menghajar sampai mampus keempat Yang-ce Su-go yang telah menyiksa pemuda ini, akan tetapi kemarahannya mereda dan hatinya lega ketika ia meraba dada dan pergelangan tangan pemuda baju putih penolongnya ini.
Ternyata masih hidup dan tidak mengalami luka dalam yang parah.
Semenjak ia melihat bayangan pemuda ini, memang ia telah tergila-gila dan sangat berterima kasih.
Kalau tidak ada pertolongan pemuda ini, ia sudah tewas dikeroyok semua musuh di depan tempat judi Lok-nam di Ho-pak.
Pemuda ini selain tampan juga memiliki ilmu kepandaian yang amat luar biasa, jauh lebih tinggi dari semua pemuda yang pernah dijumpainya.
Kekecewaannya oleh Tan Li Ceng kini telah lenyap dan seluruh perhatiannya tertuju kepada Yu Lee.
Aku harus menolongnya.
Aku harus mendapatkannya.
Aku harus memilikinya!
Tanpa ragu-ragu bahwa perbuatannya itu mungkin berarti pengkhianatan kepada gurunya karena dorongan rasa sayang, Dewi Suling memondong tubuh Yu Lee dan sekali berkelebat ia telah keluar dari lian-bu-thia menghilang ke dalam gelap.
Sementara itu, Tho-tee-kong Liong Losu bersama dua orang muridnya Lauw Ci Sian serta Tan Li Ceng dengan perahu mereka sudah tiba pula di daerah Istana Air.
Melihat perahu kecil Dewi Suling di darat serta melihat pula tembok bangunan yang besar mereka lalu mendaratkan perahu dan berlompatan memasuki hutan.
"Kita harus berhati-hati dan membagi tugas,"
Kata Liong Losu.
"Dinding itu tebal dan kuat, tentu penjagaannya juga""
Awas!!"
Pada waktu itu dari belakang berhamburan senjata rahasia banyak sekali.
Dua orang gadis itu sudah sejak tadi memegang pedangnya masing-masing lalu cepat mambalikkan tubuh memutar senjata mereka sehingga terdengar bunyi "trang, trang"
Ketika senjata-senjata rahasia itu tersampok berjatuhan.
Liong Losu tahu bahwa senjata-senjata rahasia itu dilepaskan oleh orang-orang berkepandaian biasa saja, ia cuma menggerakkan tangan kirinya menangkap lalu melemparkannya kembali ke arah dari mana datangnya tadi.
"Aduh......! Aug.."! Ahhh""!"
Terdengar jeritan-jeritan dari dalam gelap sebab termakan senjata rahasia sendiri.
Kemudian bermunculan keluar belasan orang tinggi besar, mereka adalah anggauta anggauta bajak sungai yang ditugaskan menjaga di situ.
Tadi mereka melihat pendaratan tiga orang ini akan tetapi mereka sengaja membiarkan mereka memasuki daerah dekat dinding Istana Air, baru mereka turun tangan dan menghujankan senjata rahasia.
Alangkah kaget dan marah hati mereka ketika serangan gelap itu gagal, bahkan sebaliknya tiga orang teman mereka roboh.
Obor dinyalakan dan berkilauanlah senjata mereka ketika menyerbu tiga orang tersebut.
Namun, sial nasib para pembajak sungai itu.
Mereka ini seperti segerombolan nyamuk menerjang api.
Begitu Liong Losu menggerakkan tongkatnya dan kedua orang muridnya menggerakkan pedang dalam waktu beberapa menit saja mereka sudah roboh tak dapat bangun kembali.
"Terang di sini sarang Dewi suling dan kaki tangannya. Kita bagi tugas, kalian berdua menyerbu dari kanan sana, pinceng dari kiri. Dengan demikian kita memotong jalan keluar mencegah dia melarikan diri. Dia sudah terluka, tentu kalian cukup kuat mengatasinya."
Bagaikan tiga ekor burung malam, guru dan murid ini melayang naik ke atas dinding dan memasuki daerah bangunan Istana Air.
Liong Losu melompat ke atas genteng sebelah kiri dan dua orang gadis itu lari ke kanan yang menjadi bagian belakang bangunan itu, kemudian melompat pula ke atas genteng.
Sayang sekali bahwa Liong Losu tidak tahu akan kejadian sebenarnya dari Istana Air, tidak tahu bahwa Dewi Suling adalah murid terkasih Hek-siauw Kui-bo dan lebih lebih tidak tahu bahwa di dalam Istana Air yang megah itu berdiam nenek iblis yang sakti ini!
Kalau ia tahu, tidak nanti ia membiarkan dua orang muridnya berpisah dari sampingnya di sarang nenek iblis yang amat lihai itu.
Dengan ketabahan yang timbul dari percaya kepada kepandaian sendiri, dua orang pendekar wanita remaja itu berlompatan di atas genteng dan langsung menyelidik di bagian belakang ruangan gedung yang besar dan indah itu.
Kemudian melihat sebuah taman di belakang gedung, mereka melayang turun dan menyelinap di dalam bayangan pohon, kemudian berindap-indap memasuki ruangan belakang yang diterangi remang-remang.
Dengan sigap mereka berlari ke ruangan ini, pedang di tangan dan mata memandang ke sekeliling mencari-cari pintu mana yang akan mereka serbu untuk mencari Dewi Suling atau menghadapi kaki tangannya.
Tiba-tiba terdengar suara ketawa terbahak dan muncullah empat orang laki-laki tinggi besar memegang golok berat dan seorang kakek berjenggot putih panjang.
"Ji-te (adik kedua), matamu tajam sekali, dalam gelap begini mengenal gadis cantik jelita. Mereka ini benar-benar muda serta jelita, ha ha ha!"
Song Kai berkata sambil melihat tubuh kedua orang gadis remaja itu dengan mata melotot. Lalu empat orang Yang-ce Su-go itu tertawa-tawa cengar cengir kurang ajar.
"Su-wi (tuan berempat) harap jangan sembrono. Gadis-gadis itu bukan orang sembarangan"
Kata Ngo Cun Sam.
"Benar-benar Ji te bermata tajam! Kalau bukan kau yang berkata dua orang gadis cantik, aku tentu tidak akan mengenal dia ini sebagai seorang gadis. Pantas saja tampan bukan main!"
Kata pula Song Kai tanpa memperdulikan peringatan Ngo Cun Sam terus menuding telunjuk kirinya ke arah Tan Li Ceng.
"Ha, ha, ha, twako, aku seorang ahli perempuan, mana bisa tidak dapat membedakan pinggul laki-laki dan pinggul perempuan? Lihat saja pundak dan dadanya, kemudian lihat tangannya."
Ternyata kalau Dewi Suling yang telah gila laki-laki tidak mengenal Tan Li Ceng, sekarang keempat Yang-ce Su-go yang gila perempuan itu sudah bisa mengenalinya sebagai seorang gadis.
Tan Li Ceng yang telah menjadi bahan percakapan kurang ajar itu sudah tak bisa menahan kemarahannya pula.
Sambil berseru keras ia memutar sepasang pedangnya, terus menyerang Song Kai serta adiknya, yang bermata tajam tadi.
Melihat gerakan adik seperguruannya, Lauw Ci Sian juga menyerang dua orang auggauta Yang-ce Su-go lainnya.
"Trang trang......! Aihh""
Lihay juga......"!"
Song Kai berseru kaget sebab ketika ia dan adiknya menangkis sepasang pedang Tan Li Ceng, dengan kecepatan yang sukar diduga pedang itu mental ke bawah dan membabat ke arah perut mereka dari kanan kiri seperti kilat menyambar.
Untung Song Kai cepat mengelak mundur bersama adiknya tetapi baju mereka tetap terobek ujung pedang.
Nyaris kulit perut mereka robek!
Kini mereka tidak berani main-main dan harus mengakui kebenaran yang diterangkan kakek jenggot putih Ngo Cun Sam tadi.
Juga dua orang Yang-ce Su-go lainnya telah sibuk memutar serta memainkan senjata karena terkurung oleh sinar pedang yang bergulung-gulung di tangan Lauw Ci Sian, gadis baju hijau.
Pertempuran berlangsung seru dan mati-matian karena sambaran pedang dan golok yang berdesingan serta bersiuran bunyinya itu merupakan bayangan-bayangan tangan elmaut yang mengerikan.
Yang-ce Su-go boleh menjagoi di Sungai Yang-ce tetapi kini berhadapan dengan dua orang murid Tho-tee-kong, mereka terdesak dan gerakan golok mereka terkurung serta tertindih sinar-sinar pedang kedua gadis itu.
Tiba-tiba Lauw Ci Sian terkejut sekali karena merasa ada hawa pukulan yang amat kuat menerjangnya dari belakang, ia bisa menduga tentu kakek jenggot putih itu yang menyerangnya karena sudah sejak tadi ia melihat bahwa kakek inilah yang terlihay di antara musuh-musuhnya.
Cepat gadis lihai ini miringkan bahunya mengangkat sebelah kaki meloncat terus menendang sementara pedangnya berkelebat te kiri melindangi tubuhnya dari serangan kedua golok.
Akan tetapi alangkah kagetnya ketika tiba-tiba kakinya yang menendang itu kena ditangkap oleh kakek jenggot putih!
Sebagai seorang ahli pedang yang lihai biarpun kaki kirinya tertangkap, namun ia dapat mencenderungkan tubuhnya ke depan sambil membebatkan pedang ke arah pergelangan tangan Ngo Cun Sam.
"Uhhh"!"
Kakek itu berseru kaget dan kagum sekali.
Terpaksa ia menarik pulang tangannya sambil melepaskan pegangan.
Yang-ce Su-go sudah menerjang dengan sambaran golok mereka.
Golok itu datangnya dari kanan kiri, ketika ditangkis pedang, dua batang golok itu membuat gerakan menggunting sehingga pedang Lauw Ci Sian terjepit.
Gadis itu tidak menjadi gugup, cepat tangan kirinya mendorong sambil kaki kirinya melangkah maju.
"Dukkk""! Aduh""!"
Seorang di antara kedua Yang-ce Su-go terjengkang roboh karena dadanya terkena pukulan tangan yang halus namun mengandung tenaga sinkang hebat itu.
Akan tetapi pada detik pukulan Lauw Ci Sian mengenai sasaran, gadis ini terkejut sekali karena tiba-tiba pinggangnya dipeluk orang dari belakang!
Sebelum ia sempat bergerak, golok lawan kedua sudah menyambar dari depan.
Terpaksa ia menangkis dengan pedang dan pada saat itu Ngo Cun Sam yang memeluk pinggangnya telah menangkap tangan kirinya dan terus ditelikung ke belakang, ilmu gulat kakek ini hebat, maka berada dalam cengkeraman kakek ini Lauw Ci Sian sama sekali tak dapat berkutik lagi dan tangan kanannya yang memegang pedang dapat ditendang lawan sehingga pedangnya terlepas dan ia tertangkap!
Sebelum gadis itu dapat meronta.
Ngo Cun Sam sudah mengeluarkan tali kulit yang amat kuat dan membelenggu tangan Lauw Ci Sian kemudian menendang belakang lututnya sehingga Lauw Ci Sian roboh terguling.
Tan Li Ceng yang melihat robohnya sucinya dia menjadi marah sekali.
Namun ia tidak dapat menolong karena pada saat itu orang ketiga Yang-ce Su-go juga sudah maju menerjang sehingga ia kini dikeroyok tiga.
Orang keempat masih duduk dan meringis kesakitan sambil mengurut-urut dadanya yang tertonjok tadi.
Tan Li Ceng mengamuk nekad.
Sepasang pedangnya berkelebatan seperti dua ekor naga sakti mengamuk.
Namun tiga orang lawannya juga bukan orang lemah.
Tadi ketika menghadapi dua orang lawan ia masih dapat mendesak, akan tetapi sekarang ditambah seorang lawan dan melihat kakak seperguruannya roboh, ia menjadi gelisah dan berbalik terdesak hebat.
Lebih celaka lagi baginya, Ngo Cun Sam kembali menubruknya dari belakang selagi kedua pedangnya sibuk menangkis tiga batang golok, dan sekali kena diterkam ia dapat ditelikung dan pedangnya dirampas, lalu iapun dibelenggu dan ditendang roboh.
Dua orang gadis perkasa itu kini rebah di atas lantai dengan mata melotot penuh kebencian.
Tan Li Ceng malah segera mengeluarkan suaranya memaki-maki!
"Hemm, dua orang gadis ini lihai.
Aku harus cepat melapor kepada Toanio,"
Kata Ngo Cun Sam.
"Harap su-wi suka menjaga agar mereka jangan melarikan diri atau tertolong teman-temannya. Siapa tahu masih ada kawan-kawannya."
Setelah Ngo Cun Sam lari untuk melapor kepada Hek-siauw Kui-bo, Song Bau orang termuda Yang-ce Su-go yang terpukul roboh tadi, kini sudah dapat bangkit dan ia mengambil goloknya lalu melangkah maju.
Dengan gemas ia mengangkat golok untuk dibacokkan ke leher Lauw Ci Sian.
Lauw Ci Sian yang menghadapi ancaman maut dengan mata terbelalak, sedikitpun tidak takut, berkedip pun tidak.
Akan tetapi Song Kai memegang lengan adiknya.
"Eh goblok! Apakah engkau sebodoh Ngo Cun Sam? Dia boleh jadi sudah pikun dan kehilangan semangat, akan tetapi bagi kita, dua orang cantik jelita seperti ini masa harus diserahkan kepada Toanio untuk dibunuh atau kau bunuh begitu saja? Sebelum dibunuh, kita akan bersenang-senang sampai puas lebih dulu. Ha, ha, ha! Hayo lekas bawa mereka ke tempat kita."
Song Kai lalu menyambar tubuh Lauw Ci Sian dan memondongnya.
"Bagaimana kalau Toanio marah?"
Seorang adiknya meragu.
"Bodoh! Kenapa marah? Kita tidak akan membebaskan mereka!"
Orang kedua Yang-ce Su-go mengerti akan maksud kakaknya maka sambil tertawa iapun lalu memondong tubuh Tan Li Ceng yang berusaha meronta dan menendangkan kakinya.
Akan tetapi karena kedua tangannya terbelenggu dan laki-laki itu amat kuat, ia tidak berdaya dan dapat di pondong sambil memaki-maki.
"Ha, ha, ha, kuda betina ini liar dan ganas sekali. Biar aku yang menjinakkanya, ha, ha""!"
Kata orang kedua yang memondongnya.
Empat orang Yang-ce Su-go itu lalu melarikan dua orang gadis tadi ke dalam kamar mereka yang berada disebelah belakang Istana Air.
Terdengar suara empat orang Yang-ce Su-go itu tertawa-tawa dan juga terdengar makian-makian dua orang gadis yang tertawan, menggema di dalam gelap.
Yu Lee mengeluarkan keluhan perlahan dan bulu matanya bergerak-gerak, tiba-tiba ia menekan urat-urat syarafnya yang akan bergerak, menahan dirinya yang hendak meloncat.
Ia merasa ada tangan halus membelai rambutnya, bahkan kemudian hidungnya mencium bau harum.
Ketika terasa olehnya sebuah bibir yang basah melekat di pipinya, ia terkejut lalu membuka sedikit matanya.
Dari balik bulu matanya ia melihat bahwa yang sedang mencium dan membelai rambutnya penuh kasih sayang itu adalah Dewi Suling.
Yu Lee biarpun masih muda namun ia amal cerdik serta berpikiran luas.
Karena ia merasa bebas dan tubuhnya segar ia bisa menduga tentulah Dewi Suling yang menolongnya, selain ia siapa lagi yang berani melakukannya?
Pikiran inilah yang membuat Yu Lee tidak berontak secara kasar serta di dalam hatinya ia merasa bersyukur dan amat berterima kasih.
"Aku cinta padamu,...... oh, betapa cintaku kepadamu""!"
Bisikan dari mulut Dewi Suling ini hampir membuat Yu Lee pingsan lagi!
Ia menggunakan kepandaiannya untuk menekan perasaan sehingga jalan darahnya normal dan pernapasannya halus seperti tadi ketika ia berada dalam keadaan pulas atau pingsan!
Pada saat itu, daun pintu kamar yang terkunci dari dalam diketuk.
Dewi Suling mengangkat mukanya dari pipi Yu Lee, menengok lalu menghardik.
Kalau tadi bisikannya halus merayu, kini hardikan nya galak dan keras.
"Setan mana berani menggodaku? Siapa kau? "
"Ampun, Siocia"""
Terdengar suara laki-laki dari luar.
"Hamba diutus Toanio untuk memanggil Siocia. Malam ini Istana Air di serbu oleb musuh kuat. Bantuan Siocia diperlukan!"
"Ahhh""!"
Dewi Suling berseru kecewa lalu membungkuk lagi mencium bibir Yu Lee sambil berkata.
"Tidurlah yang tenang dulu, kekasihku!"
Kemudian ia menyambar pedangnya dan keluar dari kamar menutup kembali serta mengunci dari luar.
Seolah-olah sebuah batu besar yang terlepas dari menindih perasaan jantung Yu Lee.
Lalu segera menggerakkan kaki tangannya.
Hanya terasa sedikit perih dan sakit di beberapa bagian luka di mukanya dan tubuhnya, namun untung lukanya sudah kering dan sembuh.
Masih tampak olehnya obat bubuk putih si atas luka-luka itu maka ia makin berterima kasih kepada Dewi Suling.
Akan tetapi mendengar laporan tadi bahwa Istana Air diserbu musuh ia menduga-duga siapa yang menyerbu ini.
Cepat ia menyambar pakaiannya yang tertumpuk di sudut pembaringan, memakainya dengan cepat sekali lalu ia menuju ke arah daun pintu.
Mudah saja baginya buat mendorong daun pintu secara paksa sehingga terbuka, kemudian ia meloncat keluar.
Teringat bahwa ia tidak bersenjata, ia lalu meloncat keluar, ke dalam taman lalu mematahkan sebatang ranting dari sebuah pohon.
Kemudian ia melompat ke atas genteng melakukan pengintaian.
Suara ketawa-tawa dan jerit makian wanita yang terdengar dari bangunan di sebelah belakang Istana Air, menarik perhatiannya, lalu seperti seekor burung garuda ia berlari secepatnya bagaikan terbang, kemudian ia meloncat ke atas genteng, dan melihat ke bawah.
Apa yang dilihatnya di dalam kamar di bawah itu membuat darahnya mendadak menjadi panas sekali.
Dua orang gadis muda remaja yang terikat kedua tangannya sedang meronta-ronta serta memaki-maki, sedangkan enpat orang laki-laki yang ia ketahui sebagai Yang-ce Su-go sambil tertawa-tawa merenggut dan merobek-robek pakaian dua orang gadis itu sehingga mereka berdua kini menjadi telanjang bulat!
"Iblis keji bunuhlah kami!"
Teriak gadis yang memaki-maki tadi sambil meramkan mata.
"Ya, bunuhlah kami""
Bunuh saja kami""!"
Teriak gadis kedua dengan air mata bercucuran.
Dua orang gadis itu memaki-maki dan tidak takut melawan maut, akan tetapi ancaman yang mereka hadapi ini jauh lebih mengerikan daripada maut sendiri!
Akan tetapi empat orang itu cuma tertawa-tawa dan laksana singa kelaparan sedang memperebutkan dua ekor domba gemuk, lalu berbareng mereka maju menubruk dengan nafsu seekor binatang meluap-luap.
"Manusia binatang.......!!"
Seruan ini disusul menyambarnya tubuh Yu Lee ke bawah melalui genteng serta sebelum satupun diantara tangan empat orang Yang-ce Su-go itu dapat menyentuh tubuh dua orang gadis itu yang telanjang bulat, Yu Lee sudah menghantamkan tangan kiri yang terbuka jari-jarinya ke arah mereka, membuat mereka bagaikan disambar petir dan terlempar kesana kemari!
Kepala mereka terasa pening dan pandang mata berputar-putar dan sampai beberapa lama mereka tak dapat bangun.
Masih untung bagi mereka bahwa pemuda itu hanya menghantam mereka dengan hawa pukulannya saja karena kalau tersentuh tangan yang penuh dengan ilmu Sin-kong-ciang (Tangan Sinar Saki) itu tentu tubuh mereka tak bernyawa lagi!
Yu Lee cepat mengambil pakaian luar dua orang gadis itu yang tadi hanya dilepaskan dan tidak dirobek-robek seperti pakaian dalam mereka, melemparkan dua perangkat pakaian itu kepada mereka sehingga menutup dua orang gadis itu, kemudian dua kali tangannya bergerak, tali kulit yang membelenggu tangan Lauw Ci Sian dan Tan Li Ceng putus-putus semua!
Lauw Ci Sian dan Tan Li Ceng yang melihat pemuda pakaian putih itu sengaja membalikan tubuh (Lanjut ke
Jilid 08) Pendekar Cengeng (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 08 membelakangi mereka, dengan muka merah sekali cepat-cepat mengenakan pakaian luar mereka kemudian sambil berseru bagaikan seekor harimau Tan Li Ceng meloncat ke depan Song Kai dan kakinya terayun.
"Dess......!"
Tubuh Song Kai terlempar seperti bola membentur dinding di mana ia roboh dan mengaduh-aduh.
"Bukk!"
Lauw Ci Sian juga menendang bergantian dua orang Yang-ce Su-go yang menelanjanginya.
Bagaikan dua ekor harimau betina yang marah mereka menghantam dan menendangi empat orang Yang-ce Su-go.
Empat orang kepala bajak sungai itu biarpun sekarang telah sadar, namun begitu melihat Yu Lee berdiri disitu dengan tegak dan gagah, semangat mereka telah melayang dan keberanian mereka lenyap seperti diterbangkan angin.
Bahkan kini mereka merintih-rintih, mengaduh-aduh karena hajaran dua orang gadis itu, kemudian tanpa malu-malu lagi mereka berempat berlutut mengangguk-anggukkan kepala seperti ayam makan padi sambil minta minta ampun!
Adapun Yu Lee bengong terlongong ketika melihat bahwa dua orang gadis itu ternyata pandai ilmu silat!
Bukan hanya pandai, malah ahli benar dan jelas bahwa tingkat kepandaian mereka jauh di atas tingkat empat orang bajak itu!
Saking herannya, ia hanya bengong saja dan tak dapar dicegah ketika dengan tiba-tiba Tan Li Ceng menyambar sebatang golok empat orang itu yang tercecer karena dihajar, kemudian sambil memaki-maki disamping terisak menangis, gadis ini empat kali menggerakkan golok dan""
Empat buah kepala manusia menggelinding di atas lantai dan empat batang tubuh menyemburkan darah dari leher yang buntung! "Ahhh"!"
Mendengar suara ini, Tan Li Ceng yang beringas dan Lauw Ci Sian yang biarpun marah tidak seganas adik seperguruannya, cepat membalikkan tubuh dan......
mereka berdua kini yang menjadi bengong melihat betapa pemuda gagah perkasa yang telah menolong mereka itu kin"
Berdiri sambil menangis mengusap-usap mata dengan ujung lengan baju.
"Ihhh! Kau kenapa"""
Tan Li Ceng saking herannya melangkah maju memegang tangan Yu Lee dan mengguncang-guncangkannya.
"In-kong (tuan penolong) apakah artinya ini""?"
Lauw Ci Sian yang lebih mengenal aturan jasa bertanya saking herannya.
"Ahhhh tidak apa-apa...... ah, mengapa manusia dibunuh seperti itu.......! Akan tetapi...... ehhh, mereka memang jahat""
Dan aku tidak tahu......!"
Kembali ia menangis!
Memang luar biasa pemuda ini.
Agaknya peristiwa hebat yang terjadi limabelas tahun lalu, malapetaka yang menimpa keluarganya dan yang merenggut nyawa semua keluarganya, telah mengguncang perasaan pemuda ini sehingga perasaannya menjadi amat halus dan mudah tergetar mudah terharu dan tidak tega melihat manusia terbunuh walaupun ia yakin benar bahwa empat orang Yang-ce Su-go ini memang sudah sepatutnya kalau dihukum mati.
Akan tetapi karena sama sekali tidak tahu akan keadaaan dirinya, maka ia menjawab dengan gagap dan bingung.
"Ah, lekas kita cari suhu!"
Tiba-tiba Tan Li Ceng berkata teringat akan gurunya yang memasuki Istana Air itu dari depan.
Sambil bertkata demikian gadis ini menggerakkan tubuh meloncat keluar dari dalam kamar melalui lubang atap yang dibuat oleh Yu Lee tadi.
Lauw Ci Sian mengerling ke arah Yu Lee dan kebetulan pemuda inipun memandangnya.
Gadis ini tersipu menunduk dengan sepasang pipi merah, kemudian menghela napas panjang untuk menekan perasaan yang tidak karuan, jantungnya yang berdebar-debar dan meronta-ronta lalu sekali menggenjotkan kedua kakinya, tubuhnya sudah melayang mengikuti adik seperguruannya.
Yu Lee sejenak tercengang menyaksikan gerakan dua orang gadis itu yang cukup lincah, lalu ia pun melayang naik ke atas genteng dan berkelebat menembus kegelapan malam hendak mencari musuh besarnya, Hek-siauw Kui-bo.
Kalau teringat betapa ia dirawat Dewi Suling selama sehari semalam, karena malam kemarin ia roboh, hatinya merasa amat tidak enak.
Dewi Suling adalah murid Hek-siauw Kui-bo.
Hek-siauw Kui-bo boleh jadi adalah musuh besarnya pembasmi keluarganya yang harus ia lenyapkan dari muka bumi.
Akan tetapi muridnya Dewi Suling biarpun ia tahu betul juga bukan seorang baik-baik akan tetapi harus ia akui telah menjadi penolongnya, bahkan telah menyelamatkan nyawanya!
Kenyataan ini membuat ia menjadi bingung ketika ia berlompatan di atas genteng mengikuti dua bayangan gadis cantik yang baru saja dibantunya itu.
"Suci""
Dia...... dia hebat sekali......"
Bisik Tan Li Ceng ketika melihat bayangan kakak seperguruannya berkelebat di sampingnya.
Lauw Ci Sian yang lari seperti orang kehilangan semangat atau seperti dalam keadaan melamun itu terkejut dan menjawab gagap "......
eh, apa""?
Ya......
betul."
Kemudian mengatupkan bibir rapat dan menarik napas panjang dari hidungnya yang mancung.
"Kenapa tidak tanyakan namanya?"
Kembali Tan Li Ceng berkata.
"Soal itu""
Hemm...... eh, dengar itu sumoi?"
Keduanya berhenti sebentar dan mendengar suara riuh di sebelah depan Istana Air.
Malam telah mulai menjelang pagi dan di antara keremangan cuaca fajar, mereka melihat berkelebatnya banyak orang di depan bangunan megah itu, juga banyak orang memegang obor.
Menduga bahwa suhunya tentu berada di situ mereka lalu meloncat dan berlari cepat sekali ke arah depan bangunan.
Dari atas genteng mengintai dan alangkah kaget hati mereka melihat betapa guru mereka dibantu seorang tosu bermuka hijau yang bersenjata pedang butut, sedang mengeroyok seorang nenek yang amat lihai.
Biarpun guru mereka sudah mengamuk dengan tongkatnya dan tosu itupun ilmu pedangnya amat aneh serta cepat, tetapi ternyata masih terdesak oleh suling hitam di tangan nenek itu, suling hitam yang bergulung-gulung menjadi sinar hitam satu mengeluarkan suara melengking lengking yang menyayat hati.
"Hek-siauw Kui-bo""!"
Bisik Lauw Ci Sian.
Sebagai murid Tho-tee-kong Liong Losu, tentu saja mereka sudah diceritakan oleh guru mereka perihal nenek iblis yng amat jahat dan sakti ini.
Mereka tak menduga sama sekali bahwa mereka bisa bertemu dengan nenek sakti ini disarang Dewi Suling.
Meeka cerdik sekali dan kini melihat betapa Dewi Suling yang cantik jelita itu dikeroyok kedua orang pemuda tampan bersenjata pedang mereka bisa menduga bahwa tentulah Dewi Suling ini yang lihai tetapi cabul adalah murid Hek-siauw Kui-bo si iblis wanita itu.
Lalu mereka melayang turun sambil mencabut pedang mereka yang tadi mereka temukan di dalam kamar, kemudian menerjang Hek-siauw Kui-bo membantu guru mereka serta si tosu yang kewalahan.
"Ci Sian! Li Ceng! Kau bantulah dua orang murid Siauw-bin-mo itu merobohkan Cui-siauw Sianli si kuntilanak!"
Teriak Liong Losu karena selain ia tahu bahwa bisa berbahaya kalau membantunya sebab saking lihainya Hek-siauw Kui-bo juga ia tadi telah melihat bahwa dua orang pemuda murid sahabatnya itupun terdesak hebat oleh Dewi Suling yang melawan sambil tertawa-tawa mengejek.
Kembali dua orang gadis itu terkejut.
Kiranya tosu yang lihai itu adalah Siauw-bin-mo Hap Tojin yang suka disebut-sebut oleh guru mereka sebagai seorang sahabat baik.
Dan kedua orang pemuda itu yang tengah bertempur mati-matian melawan Dewi Suling adalah dua orang murid Siauw-bin-mo Hap Tojin.
Mereka cepat menengok dan memang betul dua orarg pemuda itu terdesak hebat serta terancam bahaya karena dikeroyok pula oleh puluhan orang anak buah Dewi Suling yang telah mengepungnya dan sebagian bersorak-sorak melihat betapa empat orang musuh itu terdesak hebat oleh Toanio (nyonya besar) dan Siocia (nona) mereka!
Sambil berseru keras sebab masih marah dan teringat akan penghinaan yang mereka tadi alami, Tan Li Ceng lalu memutar tubuhnya dan terus menerjang Dewi Suling yang tengah melawan Ouwyang Tek dan Gui Siong dua orang murid Siauw-bin-mo yang dulu pernah dipermainkan oleh Dewi Suling.
Melihat adik seperguruannya mengeroyok, Lauw Ci Sian juga terus ikut mengeroyok Dewi Suling.
"Hi, hi, hi! Dua orang bagus, kalian mendapat bantuan dua orang budak budak cilik ini? Hi, hi, mereka tidak cukup berharga buat melawanku!"
Dewi Suling menyambut kedua pengeroyok baru ini dengan kibasan sulingnya yang membuat sinar panjang sehingga dua orang gadis itu kaget sekali lalu melompat mundur memutar pedang melindungi diri masing-masing.
Dewi Suling mengeluarkan suara melengking keras disusul suara ketawanya lalu berkata.
"Kawan-kawan semua, hayo kalian sambut dua orang budak ini dan kalau tertawan, kuserahkan kepada kalian untuk bersenang-senang!"
Mendengar ini, para pimpinan bajak-bajak sungai menjadi girang sekali.
Mereka terus bersorak dan menyerbu ke depan dengan senjata mereka sehingga dalam waktu singkat saja Tan Li Ceng dan Lauw Ci Sian telah terkurung dan dikeroyok oleh duapuluh orang lebih bajak sungai yang sudah mengilar melihat kecantikan dua orang gadis yang dijanjikan mau diserahkan kepada mereka oleh Dewi Suling.
Pertempuran kini terpecah menjadi tiga bagian.
Siauw-bin-mo Hap Tojin dan Tho-tee-kong Liong Losu sibuk melawan Hek-siauw Kui-bo.
Ouwyang Tek dan Gui Siong terdesak dan repot melayani suling merah Dewi Suling, sedangkan Tan Li Ceng dan Lauw Ci Sian dikeroyok puluhan bajak yang biarpun kepandaian mereka tidak tinggi tetapi jumlah mereka amat banyak sehingga dua orang gadis itu menjadi repot juga.
Di luar kepungan itu masih terdengar banyak bajak yang memegang obor sambil mengepung serta bersorak-sorak memberi "hati"
Kepada kawan-kawan mereka.
"Hemm, Hap Tojin dan Liong Losu, dua orang pendeta menjemukan! Kalian ini sudah tua bangka mengapa tidak mau menantikan mati baik-baik saja di tempat pertapaan, sebaliknya datang ke sini untuk mati konyol. Menjemukan sekali!"
Kata Hek-siauw Kui-bo sambil menahan tongkat dan pedang musuh di dalam waktu cuma beberapa detik saja dengan suling hitamnya.
Hebat tenaga sakti wanita tua ini karena tongkat dan pedang dari kedua orang lawannya seperti melekat dan tak dapat ditarik kembali.
"Ha, ha, ha! Hek-siauw Kui-bo jangan tekebur. Pinto (aku) tidak ingin mati lebih dulu, karena pinto ingin tertawa gembira melihat engkau kelak tersiksa di dalam neraka. Bukankah begitu, hwesio gendut? Nenek macam Hek-siauw Kui-bo ini bukankah kelak dipanggang dalam api neraka?"
Jawab Siauw-bin-mo Hap Tojin yang selalu terwatak riang gembira. Wajah Liong Losu yang serius itu mengerutkan kening.
"Memang dia ini jahat dan tentu akan di hukum, semoga saja dia insaf dan menyesali dosa sendiri lalu bertobat. Omitohud......!"
Hek-siauw Kui-bo marah bukan main.
Dua orang lawannya itu terang tidak akan mampu menang melawannya, namun masih mengeluarkan kata-kata yang ia anggap menghinanya.
Maka ia lalu melangkah mundur dan menarik sulingnya, kemudian terdengar ia melengking nyaring seperti lolong serigala kelaparan dan sulingnya bergerak lebih cepat dari tadi mengeluarkan suara melengking tinggi.
Dua orang pendeta tua itu tidak bermain-main lagi dan cepat menggerakkan senjata melindungi diri dan balas menyerang hebat.
Dewi Suling juga tertawa-tawa mengejek.
"Kalau kalian berjanji mau menakluk, melempar pedang dan berlutut, mencium ujung jariku tujuh kali, aku mau mengampuni kalian dan selanjutnya menjadikan kalian pelayan-pelayan pribadiku. Enak dan senang bukan? Eh, kalau boleh setiap hari melayani aku hi, hi, hi hik!"
Saking marah dan jemunya, Ouwyang Tek dan Gui Siong tak dapat menjawab, hanya berseru marah dan menerjang makin hebat.
Namun wanita cantik baju merah itu hanya tertawa-tawa, bahkan dengan gerakan yang aneh sekali menyelinap diantara sambaran sinar pedang lawan dan tahu-tahu ujung sulingnya telah menotok ke arah pergelangan tangan dua orang lawannya secara bertubi-tubi.
Dua orang pemuda itu kaget sekali dan cepat menarik kembali serangan mereka akan tetapi tangan kiri Dewi Suling sempat mengelus dan mencubit dagu Gui Siong yang halus dan putih sambil tertawa terkekeh genit.
Kesembronoannya ini hampir mencelakakannya, karena dengan nekad Gui Siong lalu menusukkan pedangnya tanpa melindangi diri lagi untuk mengadu nyawa dengan si wanita yang dibencinya itu.
"Aihhh"!"
Dewi Suling menangkis keras sehingga pedang itu terpental akan tetapi tangan kiri Gui Siong menghantam dan walaupun ia sudah cepat mencelat, pundaknya masih terpukul, membuatnya terhuyung ke belakang.
Seperti bernyala sepasang sinar mata Dewi Suling.
"Keparat, kalian sudah bosan hidup. Nah mampuslah!"
Kini ia menerjang maju dan sulingnya, mengeluarkan bunyi melengking seperti yang keluar dari suling hitam gurunya.
Sementara itu Tan Li Ceng dan Lauw Ci Sian juga repot sekali.
Tadinya mereka mengamuk ganas dan merobohkan beberapa orang bajak, akan tetapi empat orang roboh, delapan orang maju menggantikan dan karena mereka itu menyerang sambil mengurung, kedua orang tadi ini akhirnya hanya mampu melindungi tubuh dari hujan senjata, sukar mencari kesempatan untuk balas menyerang.
"Hua, ha, ha, nona cantik. Lebih baik menyerah dan melayani kami sampai puas, ha ha!"
Suara yang kurang ajar terdengar disela-sela sorak-sorak menjemukan, membuat dua orang gadis itu makin marah dan mengambil keputusan untuk melawan sampai titik darah penghabisan.
Pagi telah tiba dan suara yang terdengar di tepi Sungai Yang-ce di saat itu amat riuh gemuruh, seolah-olah semua iblis dan setan penghuni sungai itu muncul dan berpesta pora ditempat itu.
Semua orang gagah yang menyerbu Istana Air kini berada dalam keadaan terdesak karena pihak lawan lebih unggul.
Tiba-tiba terdengar suara yang menyayat hati, suara lengking tangis yang amat keras, orang terisak-isak seperti yang menangis akan tetapi suara ini mengatasi semua suara hiruk pikuk bahkan mengatasi suara suling dari suling hitam Hek-siauw Kui-bo dan suling merah Dewi Suling!
Hebat sekali suara yang tinggi nyaring ini sehingga belasan orang bajak yang tidak memiliki ilmu lwekang sudah roboh terguling!
Hek-siauw Kui-bo dan Dewi Suling terkejut bukan main dan hati mereka menjadi gentar.
Sesosok bayangan putih berkelebat dari atas serta sebatang tongkat kecil menahan suling hitam Hek-siauw Kui-bo, digetarkan dan......
tubuh Hek-siauw Kui-bo terhuyung mundur dengan wajah pucat!
Pemuda baju putih murid Sin-kong-ciang Han It Kong yang ia takuti dan tadinya telah tertawan di ruangan silat itu kini telah berdiri di depannya.
Yu Lee dengan tenang menjura di depan kedua orang pendeta itu sambil berkata "Hap Totiang serta Liong Losu harap sudi berlaku murah dan menyerahkan Hek-siauw Kui-bo kepada teecu (murid), sebab teeculah yang berhak melawannya."
Dua orang pendeta itu tadi merasa kaget, heran serta kagum, betapa seorang pemuda berpakaian putih ini hanya memakai sebatang tongkat mampu membikin mundur Hek-siauw Kui-bo, membuat mereka teringat kepada Sin-kong-ciang Han It Kong serta otomatis mereka juga teringat akan bocah cengeng cucu Yu Tiang Sin yang diambil murid oleh pendekar sakti itu.
"Omitohud.......! Kiranya Yu-kongcu yang sudah datang......!"
Kata Liong Losu.
"Ha ha ha! Cucu Yu Tiang Sin"
Eh, namamu Yu Lee, bukan?
Ha ha ha, si bocah cengeng!
Hei, dengar baik-baik Hek-siauw Kui-bo kini ajalmu tiba di tangan Pendekar Cengeng buat menebus dosamu terhadap keluarga Yu Tiang Sin sahabatku, ha, ha, ha!"
Hek-siauw Kui-bo marah sekali.
Biarpun ia maklum akan kelihaian Yu Lee, tetapi ia bukan seorang penakut.
Hek-siauw Kui-bo terlalu percaya kepada kepandaian sendiri dan kini ia harus nekad bertempur mati-matian.
Cepat ia meniup sulingnya dan serangkum sinar hitam menyambar ke arah tujuh belas jalan darah di bagian depan tubuh Yu Lee.
Tetapi pemuda itu dengan kalemnya membuka tangan kiri serta jari-jarinya yang terbuka itu mendorong dan......
sinar hitam itu runtuh lalu lenyap membawa jarum-jarum halus amblas ke dalam tanah.
Kembali dua orang pendeta itu kaget serta kagum.
Kali ini mereka merasa yakin betul akan kesaktian pemuda murid Han It Kong ini yang pasti bisa menandingi Hek-siauw Kui-bo, dua orang pendeta ini lalu berpaling dan menyerbu Dewi Suling yang tengah bikin repot dua orang pemuda itu.
"Ouwyang Tek! Gui Siong! Kalian lekas bantu dua orang nona itu, hajar semua penjahat!"
Kata Siauw-bin-mo Hap Tojin kepada dua orang muridnya itu.
Ouwyang Tek dan Gui Siong girang melihat guru mereka yang tadi melawan nenek sakti, kini tiba bersama hwesio Liong Losu menghadapi Dewi Suling.
Mereka segera melompat mundur lalu menyerbu puluhan bajak yang mengeroyok kedua orang gadis yang melawan mati-matian itu.
Cerai berailah para pengeroyok dan kini empat orang muda itu menjadi berbesar hati, terus mengamuk seperti empat ekor burung garuda menyambar-nyambar tikus-tikus yang berlari serabutan, di dalam serbuan mereka mengeroyok empat orang muda itu.
Begitu dua orang pendeta itu datang menyerbunya, Dewi Suling terkejut sekali.
Ia sudah mendengar dari gurunya perihal dua orang musuh lama gurunya ini.
Siauw-bin-mo Hap Tojin dan Tho-tee-kong Liong Losu.
Dan ternyata ilmu mereka betul-betul hebat, serta memiliki tenaga sakti yang kuat.
Tetapi ia tidak menjadi gentar lalu menyambut serangan mereka dengan ilmu silatnya yang ganas sekali.
"Omitohud, nona ini tidak kalah ganas oleh gurunya!"
Liong Losu menarik napas panjang penuh penyesalan ketika menangkis suling itu dengan tongkatnya.
Ia merasa menyesal mengapa seorang nona begini muda cantik, yang sepatutnya menjadi seorang isteri dan ibu muda yang tercinta penuh kasih sayang dari suami dan anak-anaknya, tetapi justeru menjadi seorang wanita seperti iblis ganasnya.
"Ha, ha, ha, hwesio tua bangka, kau masih merasa sayang, ya? Ha, ha! Aku berani bertaruh potong kepala dengan tongkatmu, bahwa iblis betina ini tentu tidak kalah jahat oleh gurunya, mungkin lebih jahat serta lebih cabul. Hina sekali. Ha, ha, ha!"
Dewi Suling marah seperti dibakar hatinya.
Ia mengeluarkan pekik keras lalu menerjang mati-matian, tetapi kedua musuhnya adalah pendeta-pendeta yang lihai ilmu silatnya dan pertahanan mereka seperti batu karang yang kokoh kuat serta tidak takut diterjang ombak membadai.
Yang paling hebat adalah pertandingan antara Yu Lee dan Hek-siauw Kui-bo.
Dua orang musuh besar itu kini berhadapan serta bertempur dalam dalam keadaan yang menentukan, kalah atau menang, mati atau hidup.
Maklum akan kesaktian lawan, Yu Lee terus saja memakai ilmu dari gurunya, yaitu Ta-kwi Tung-hoat (Ilmu Tongkat Penakluk Iblis) yang hebat.
Dan tangannya kini memegang sebatang ranting yang biarpun terdengar aneh, namun sesungguhnyalah bahwa yang dipegangnya ini merupakan satu-satunya senjata yang paling tepat untuk permainan ilmu silat Ta-kwi Tung-hoat.
Dengan rantingnya ini, Yu Lee jauh lebih hebat dan berbahaya dari pada ketika ia melayani Hek-siauw Kui-bo dengan pedang di tangan kemarin dulu.
Pedang adalah sebatang benda baja yang keras, dan biarpun ia sudah menggunakan ilmu pedang berdasarkan ilmu Tongkat Pemukul iblis, namun masih tetap tidak sesuai.
Ilmu ini adalah ilmu tongkat, maka tentu saja lebih tepat dan enak dimainkan kalau ia memegang tongkat.
Dan tongkat yang dipegangnya, sebatang benda lemas, lebih perasa dan dapat menerima penyaluran tenaga dari hawa saktinya sehingga dalam "menempel"
Dan "menggetar"
Ranting ini jauh lebih kuat daripada sebatang pedang.
Hek-siauw Kui-bo melawan dengan hati nekad.
Wanita tua ini memang sakti sekali, sulingnya yang sudah membinasakan lebih dari seribu orang itu kini bergerak cepat, lenyap berubah menjadi kilatan sinar yang bergulung-gulung hitam.
Ia bernafsu sekali buat merobohkan pemuda ini, sebab maklum bahwa pemuda ini merupakan batu perintang yang berbahaya baginya.
Sekali ia dapat merobohkan pemuda ini, yang lain-lain bisa mudah dibereskannya.
Sambil menerjang, ia mengeluarkan suara melengking yang merupakan ilmu tersendiri buat melemahkankan semangat lawan.
Tetapi Yu Lee dengan tenang melayani, tongkatnya telah mempunyai gerakan mantap serta setiap jurus serangan musuh dapat ia punahkan, mulailah ia mengerahkan semua tenaga serta perhatian buat memainkan jurus-jurus yang mengurung dan memikat.
Jurus-jurus inilah yang ditakuti Hek-siauw Kui-bo serta membuatnya kewalahan, karena dulu ketika melawan Han It Kong, ia pun repot oleh jurus ini, jurus yang membuat tongkat pemuda itu kadang-kadang tanpa ia ketahui telah mengancam tubuhnya bagian belakang walaupun pemuda ini menyerang dari depan!
Hek-siauw Kui-bo yang menjadi repot sekali karena tekanan-tekanan jurus yang aneh ini serta beberapa kali hampir saja jalan darah di punggungnya terkena totokan ujung ranting, ia lalu mendapat akal.
Ia berseru keras serta segera merobah gerakan, kini memainkan yang ia sebut Naga Siluman Membelit Pohon.
Gerakan jurus ini betul-betul hebat sekali.
Sulingnya berubah menjadi gulungan sinar hitam membuat lingkaran-lingkaran seperti angka delapan berputaran melingkari seluruh tubuhnya sehingga tidak saja bagian depan yang terlindung, tetapi di bagian belakang juga terlindung oleh sinar suling itu!
Benar saja cara bertahan seperti ini membuat jurus yang dimainkan Yu Lee mulai dapat terbendung bahayanya.
"Bagus......! Hebat kau, Hek-siauw Kui-bo!"
Mau tidak mau Yu Lee memuji karena merasa baru sekali ini selama hidupnya ia bertemu musuh yang begini lihai serta kosen.
"Mampuslah setan cilik!"
Hek-siauw Kui-bo memekik keras dan kalau sulingnya kini telah melindungi tubuhnya menjadi tameng baja, lalu tangan kirinya bergerak-gerak memukul ke arah dada Yu Lee dengan sebuah pukulan tenaga dalam beracun!
Inilah pukulan Siauw-bin-hiat-ciang (Tangan Membakar Darah), semacam ilmu pukulan yang amat keji, sebab hawa beracun yang disalurkan dalam pukulan ini bisa membuat orang yang terpukul roboh dengan darah menjadi kering seperti terbakar.
Hawa panas yang keluar dari telapak tangan kiri nenek itu menyambar serta terasa panas oleh diri Yu Lee.
Pemuda ini terkejut, tetapi dengan tenang ia lalu menahan napas menyalurkan hawa saktinya, membiarkan dadanya terpukul akan tetapi dengan cepat sekali tangan kirinya mengetok siku musuh yang kiri.
"Dess...... takkk!"
Hek-siauw Kui-bo menjerit kesakitan karena biarpun pukulannya tepat mengenai dada lawannya, tetapi tulang sikunya juga patah oleh ketukan jari tangan pemuda itu.
Yu Lee terlempar sampai empat meter lalu terjatuh roboh, tetapi ia sudah melompat bangkit lagi dengan muka agak pucat.
Sementara itu Hek-siauw Kui-bo meringis kesakitan, sejenak termangu, terus sambil memekik keras tubuhnya melayang naik ke atas genteng.
Tangan kirinya lumpuh dan tangan kanan masih tetap mencekal suling hitamnya.
"Kui-bo hendak lari ke mana kau? "
Yu Lee juga melompat untuk mengejar ke atas genteng.
Pada saat tubuh pemuda ini melayang Hek-siauw Kui-bo membalikkan tubuhnya dan dari suling yang ditiupnya menyambar sinar hitam kehijauan yang amat berbahaya itu.
Jarum-jarum beracun!
Yu Lee memutar rantingnya menangkis dan begitu kedua kakinya hinggap di atas genteng, nenek itu telah menerjangnya.
Mereka melanjutkan pertandingan di atas genteng Istana Air.
Sinar matahari telah menerangi tempat itu dan kini pertandingan antara kedua musuh besar itu terjadi di atas genteng disinari cahaya matahari pagi.
Dalam keadaan sehat saja Hek-siauw Kui-bo sudah terdesak hebat oleh Yu Lee, apalagi sekarang dalam keadaan tulang lengan kirinya patah, biarpun ia bermain suling dengan tangan kanan namun ia membutuhkan tangan kirinya sebagai imbangan gerakan dan juga sebagai pancingan, ancaman, tangkisan atau serangan.
Dengan lumpuhnya lengan kirinya, ia kehilangan hampir setengah kesaktiannya dan sebentar saja ia sudah mandi keringat dingin dan menjadi pucat sekali.
"Yu Tiang Sin"..! Kenapa bukan engkau sendiri yang datang membunuhku?"
Tiba-tiba nenek itu menjerit dengan suara menyayat hati.
Mendengar ini teringatlah Yu Lee akan kakeknya, akan ayah bundanya, paman bibinya, dan saudara-saudaranya yang terbunuh iblis ini dan tak tertahankan lagi ia menangis terisak-isak.
Air matanya membanjir ke atas pipinya dan tentu saja menghalangi pandang matanya.
Dalam keadaan seperti itu, Hek-siauw Kui-bo tidak menyia-nyiakan waktu.
Sulingnya berkelebat menusuk leher Yu Lee dengan kecepatan yang tak mungkin dapat dihindarkan lagi.
Yu Lee terkejut, cepat membuang diri kesamping sambil tongkatnya bergerak dari bawah.
Namun patukan suling hitam itu masih mengenai pundaknya dan darah muncrat dari daging di atas pundak kirinya.
Akan tetapi Hek-siauw Kui-bo roboh terguling sambil menjerit ngeri.
Ternyata pada detik yang bersamaan, ujung ranting di tangan Yu Lee telah berhasil menotok jalan darah di ulu hatinya membuat tubuhnya seketika menjadi lemas dan ia tidak kuat berdiri lagi!
Yu Lee dengan tangan kiri memegangi pundak dan tangan kanan memegang ranting dengan air mata bercucuran, melangkah maju di atas genteng menghampiri lawannya yang masih memegang suling hitamnya akan tetapi sudah tak berdaya, rebah miring dan mendekam di atas ganteng.
Dua pasang mata bertemu pandang, yang sepasang penuh kebencian bercampur ketakutan, yang sepasang lagi penuh kebencian bercampur keharuan.
Tangan yang memegang ranting menggigil.
Tiba-tiba terjadi perubahan pada Wajah Hek-siauw Kui-bo.
Kini sinar kebenciannya lenyap yang tinggal hanya ketakutan.
Tubuhnya menggigil mukanya pucat sekali dan bibirnya bergerak-gerak.
"Jangan ......! Jangan siksa aku......! ah jangan siksa aku......!"
Ketika Yu Lee melangkah maju setindak lagi, Hek-siauw Kui-bo menggerakkan sulingnya dengan sisa tenaga terakhir ia mengetuk kepalanya sendiri. Terdengar suara "krakk!"
Dan kepala nenek iblis ini pecah!
darah dan otaknya berhamburan, nyawanya melayang entah ke mana!
Yu Lee berdiri dengan muka pucat memandang mayat musuhnya, kemudian dengan air mata berlinang ia berdongak ke atas dan memandang angkasa yang amat indah, dimana awan putih berarak disinari cahaya kemerahan matahari pagi.
Dalam pandangan mata yang dibikin suram oleh air matanya, ia melihat seolah-olah awan awan putih itu membentuk wajah kakeknya, Si Dewa Pedang, wajah ayahnya, wajah ibunya, wajah paman dan bibi serta saudara-saudaranya.
Mereka itu seolah-olah tersenyum kepadanya.
Ketika cahaya matahari melenyapkan bayangan wajah-wajah itu, ia menunduk dan terngiang kata gurunya.
"Orang yang suka melakukan perbuatan keji yang suka menyiksa dan membunuh orang, pada hakekatnya adalah orang-orang pengecut yang melakukan perbuatan keji itu terdorong oleh rasa takutnya."
Dahulu ia tidak mengerti akan maksud ucapan ini, akan tetapi sekarang melihat mayat Hek-siauw Kui-bo dan mengenang betapa nenek iblis ini amat ketakutan menghadapi pembalasan baru ia mengerti.
Hek-siauw Kui-bo yang terkenal keji, suka menyiksa dan membunuh manusia lain ini pada hakekatnya hanya seorang pengecut besar!
Ia lalu menoleh ke bawah dan apa yang dilihatnya membuat ia menahan napas.
Mayat-mayat bergelimpangan dan bertumpuk.
Darah mengalir membuat halaman depan itu menjadi genangan air merah.
Dua orang gadis dan dua orang pemuda masih mengamuk.
Sisa anak buah bajak tinggal paling banyak duapuluh orang lagi.
Mereka ini hanya berani melawan karena terpaksa, karena melarikan diri berarti mati oleh senjata empat orang muda yang gagah perkasa itu.
Maka mereka melawan mati-matian.
Melihat ini Yu Lee menggerakkan tubuhnya, melayang turun dan menggerakkan rantingnya.
"Trang-trang-trang!"
Semua pedang di tangan empat orang muda terlempar dan terlepas dari pegangan, Yu Lee menjura kepada mereka berempat.
"Maaf, saya rasa cukup banyak penyembelihan."
Kemudian ia membalik dan berkata, suaranya tetap halus akan tetapi penuh wibawa.
"Kalian tidak lekas berlutut minta ampun kepada empat orang pendekar ini dan berjanji merobah watak jahat?"
Duapuluh orang bajak itu lalu melempar senjata masing-masing dan menjatuhkan diri berlutut mengangguk-anggukkan kepala minta minta ampun.
Yu Lee lalu meninggalkan empat orang muda yang terlongong, sekali melompat ia sudah berada di tengah-tengah pertempuran antara Dewi Suling dan dua orang pendeta.
Memang patut dikagumi kelihaian Dewi Suling.
Biarpun dikeroyok dua orang pendeta berilmu tinggi serta sudah sejak tadi ia terdesak dan terus dihimpit, namun dua orang lawannya belum juga berhasil merobohkannya.
Hanya dua kali ia terkena senjata lawan, sebuah gebukan tongkat Liong Losu mengenai pinggir pinggulnya, serta pedang Siauw-bin-mo menyerempet pundaknya.
Akan tetapi ia masih terus bisa bertahan, keringatnya telah membasahi seluruh tubuh, membuat pakaian merah yang tipis halus serta ketat itu melekat di tubuh, membuat ia seperti dalam keadaan telanjang bulat berkulit merah!
"Ji-wi cianpwe, harap tahan......!
Seru Yu Lee yang tiba-tiba sudah berada di tengah mereka.
Kedua pendeta itu melangkah mundur serta menatap aneh, sedangkan Dewi Suling terhuyung-huyung karena lelahnya, lalu menjatuhkan diri duduk di atas tanah, sulingnya melintang di atas pangkuan.
"Harap ji-wi cianpwe (dua orang gagah) sudi memaafkan kelancangan teecu, akan tetapi teecu mintakan ampun untuk dia."
Ia menuding ke arah Dewi Suling yang melihat ke arahnya dengan mata terbelalak heran, tercengang serta juga kagum.
"Omitohud......! Yu-kongcu (tuan muda Yu) apakah tidak tahu betapa jahatnya wanita ini dan betapa berbahayanya membiarkan dia hidup serta menggoda pemuda-pemuda tak berdosa?"
"Yu Lee, dia ini adalah Cui-siauw Sianli Ma Ji Nio atau juga disebut Dewi Suling, murid Hek-siauw Kui-bo yang amat cabul dan ganas. Dua orang murid pinto hampir saja menjadi korbannya. Dia jahat sekali patut dibunuh. Mengapa kau menghalangi kami? Ha-ha-ha, orang muda, apakah kau mau mengecewakan gurumu dan kami dengan kenyataan bahwa kau tergila-gila oleh kecantikannya?"
Yu Lee tidak memperlihatkan kemarahan, akan tetapi matanya yang merah mengeluarkan sinar berkilat yang membuat Hap Tojin membungkam mulutnya.
"Ji-wi cianpwe, kalau teecu membiarkan dia ini tewas di depan mata teecu, hal ini bahkan akan membikin malu hati guru teecu yang tercinta, seorang gagah harus mengenal budi, membalas kebaikan dengan kebaikan pula berlipat ganda, membalas kejahatan dengan keadilan tanpa dibutakan perasaan dendam. Teecu pernah ditolong wanita ini, kalau tidak ada wanita ini, tentu teecu sudah tewas di tangan Hek-siauw Kui-bo. Oleh sebab itu, mana bisa teecu membiarkan saja dia terbunuh di depan mata teecu. Harap ji-wi locianpwe sudi memaklumi hal ini serta memaafkan teecu. Kalau ji-wi berkeras mau membunuhnya sedangkan di sini sudah begini banyak manusia terbunuh biarlah teecu menebusnya serta menerima kematian di tangan ji-wi."
"Omitohud......!"
Liong Losu berdoa dengan penuh takjub.
"Siancai...... kau hebat. Ha-ha-ha! Kakek Han It Kong, dahulu kau mengalahkan kami, sekarang muridmu. Ha, ha, ha!"
Dua orang pendeta itu lalu melangkah mundur sampai tiga tindak, pertanda mereka tidak akan menyerang Dewi Suling. Yu Lee membalikkan tubuh ke arah Dewi Suling. Lalu ia berkata.
"Nona, kau telah menyelamatkan jiwaku dari tangan Hek-siauw Kui-bo sekarang aku telah menebus jiwamu dari tangan kedua locianpwe maka sudah tidak ada budi apa-apa lagi di antara kita. Kita berselisih jalan. Hanya aku memberi nasihat kepadamu, tinggalkanlah jalan gelap, carilah jalan terang. Engkau masih muda cantik serta berilmu tinggi, masih belum terlambat bagimu buat bertobat dan merubah jalan hidup. Kalau kelak kita saling berjumpa serta engkau masih tetap terbuat jahat, terpaksa aku harus menempurmu?"
Dewi Suling bangkit sendiri perlahan, sejenak ia melihat ke wajah pemuda baju putih itu, penuh harap, penuh rindu serta penuh kasih.
Tetapi ia melihat sinar mata Yu Lee tetap diam seperti air di telaga barat, ia menunduk serta terisak.
Lalu ia mengangguk, kemudian dengan sedu sedan naik dari dadanya, ia memutar tubuhnya lalu lari pergi dari tempat itu.
Kali ini tidak ada suara melengking yang menjadi tanda setiap kali Dewi Suling pergi!
Dua orang pendeta itu lalu memerintahkan sisa sisa anggauta bajak yang takluk buat merawat temannya yang terluka serta mengurus mayat-mayat yang bergelimpangan, kemudian Tho-tee-kong, Liong Losu membawa dua orang murid wanitanya ke tempat terpisah.
"Ci Sian dan Li Ceng, secara kebetulan sekali kita dapat bertemu dengan sahabatku Hap Tojin dan dua orang muridnya. Pinceng lihat dua orang muridnya itu baik dan gagah, dan pinceng akan menjadi bahagia sekali andaikata kalian dapat berjodoh dengan dua orang murid sahabatku Hap Tojin itu. Bagaimana pendapat kalian? Kalau cocok, akan pinceng bicarakan dengan Hap Tojin. Tentu saja kau akan kumintakan ijin orang tuamu Li Ceng. Dan engkau boleh memutuskannya sendiri, Ci Sian."
Tiba-tiba Ci Sian menubruk kaki gurunya yang bersila itu sambil menangis tersedu-sedu.
"Suhu...... ampunkan teecu...... teecu tidak....... tidak sanggup memenuhi perintah suhu...... lebih baik suhu bunuh saja teecu murid yang murtad ini!"
"Omitohud! Apa artinya ini? Mengapa kau bersikap begini? Apakah yang terjadi? Li Ceng mengapa sucimu bersikap begini?"
Betapa kaget dan heran pendeta gundul itu ketika Li Ceng yang biasanya keras hati dan tabah itu juga menjatuhkan diri berlutut dan menangis di samping sucinya!
"Eh, eh......
bagaimana ini?
Ci Sian!
Li Ceng!
Di mana kagagahan kalian!
Hayo bangkit dan ceritakan yang jelas!"
Ia membentak, agak marah, berbeda dengan sikapnya yang biasanya lemah lembut.
"Suhu, ampunkan teecu,"
Akhirnya Ci Sian berkata.
"Teecu sudah berjanji dalam hati, hanya ada dua pilihan bagi laki-laki yang telah melihat teecu dalam keadaan...... telanjang bulat......! Pilihan ini ialah...... dia harus teecu bunuh dan kedua dia harus menjadi jodoh teecu."
Sepasang mata yang lebar itu terbelalak, kedua tangan mengelus perut yang telanjang dan gendut sedangkan mulutnya berkata.
"Omitohud! Telanjang bulat...... bunuh...... jodoh? Apa artinya semua ini, Ci Sian muridku?"
Namun Lauw Ci Sian hanya terguguk menangis.
Li Ceng tidaklah selemah kakak seperguruannya, maka setelah menghapus air matanya, gadis inilah yang kemudian menceritakan kepada gurunya tentang peristiwa penghinaan yang mereka alami malam tadi.
Betapa mereka tertawan, kemudian ditelanjangkan dan hampir saja dinodai empat orang kepala bajak kalau tidak muncul Yu Lee yang menolong mereka.
"Suhu tentu dapat memahami perasaan suci dan juga perasaan teecu sendiri. Teecu semalam dengan suci sependeritaan. Setelah tubuh kami terlihat seperti dalam keadaan itu bagaimana kami dapat menjadi isteri orang lain? Yang-ce Su-go yang melihat keadaan kami telah kami bunuh. Adapun...... dia...... dia penolong kami mana mungkin kami membunuhnya? Karena inilah, usul perjodohan suhu tidak mungkin dapat teecu berdua memenuhinya......"
Tho-tee-kong Liong Losu mengerutkan kening dan menganguk-angguk.
"Omitohud...... semoga manusia terbebas dari pada nafsunya sendiri. Pinceng hanya mengusulkan, akan tetapi...... yah, keputusannya ada pada kalian sendiri. Pinceng akan kembali ke pertapaan, soal ini terserah kalian. Kalian sudah cukup dewasa, sudah cukup belajar ilmu, pinceng memberi ijin kepada kalian berdua untuk menempuh hidup sendiri. Li Ceng, engkau yang masih mempunyai keluarga, berlakulah murah kepada sucimu."
"Baik, suhu. Suci tentu saja ikut bersama teecu,"
Kata Tan Li Ceng yang merangkul sucinya yang menangis terisak-isak.
Hwesio itu menarik napas panjang lalu keluar dari tempat itu, menyeret tongkatnya.
Setibanya di luar ia disambut Siauw-bin-mo Hap Tojin yang tertawa-tawa.
"Eh, Tho-tee-kong, kenapa kelihatan muram wajahmu?"
Hwesio itu menghela napas.
"Ahh, toyu, alangkah inginnya hatiku bisa segembira engkau ini. Di dunia banyak hal-hal yang menyusahkan hati Di manakah adanya Yu-kongcu?"
"Dia tidak berpamit. Telah pergi begitu saja. Dengar suaranya!"
Tosu itu menuding ke arah utara. Hwesio tua itu berhenti dan mengarahkan pandang matanya. Sayup sampai terdengar lengking tinggi menyayat hati seperti orang menangis.
"Diakah itu ......? Pergi sambil menangis?"
"Ha-ha-ha! Pendekar Cengeng! Entah menangis entah tertawa dia sekarang, akan tetapi tadi kulihat dia menangis ketika dia melihat para bajak mengurus mayat-mayat yang amat banyak itu. Kemudian ia pergi tanpa pamit."
"Ke mana?"
"Ke mana? Entah ke mana dia siapa tahu?"
Ya, tidak ada yang tahu ke mana perginya Yu Lee Si Pendekar Cengeng setelah ia berhasil membinasakan Hek-siauw Kui-bo, menyelamatkan nyawa Dewi Suling, dan sekaligus merusak hati dua orang gadis tanpa ia sengaja dan ia ketahui.
Dua orang nona yang kini sudah keluar dari tempat terpisah tadi pun bengong mendengar suara lengking meninggi dan makin menjauh itu.
Juga Ouwyang Tek dan Gui Siong yang merasa amat kagum terhadap Yu Lee, hanya saling pandang dan berjanji dalam hati untuk mencontoh sepak terjang Si Pendekar Cengeng dan memperdalam ilmu silat mereka.
"Tho-tee-kong, aku telah membebaskan murid-muridku untuk memasuki dunia ramai dan mendarmabaktikan kepandaian mereka guna masyarakat. Aku telah bebas, Ha-ha-ha!"
Ia memegang lengan hwesio itu.
"Dan bagaimana dengan engkau?"
"Omitohud, pinceng juga melepas pergi kedua orang murid pinceng, Ci Sian akan ikut adik seperguruannya yang mempunyai orang tua di An-keng, pinceng akan pergi ke gunung"".."
"Bagus! Mari ikut bersamaku, Tho-tee-kong. Mari kita lupakan segala kedukaan hidup. Di sana kita dapat main catur, kita salurkan semua nafsu-nafsu duniawi melalui papan catur! Kalau perlu kita boleh membunuh Raja di papan catur, boleh bertaruh tanpa merugikan orang lain. Ha-ha-ha!"
"Baiklah To-yu (sahabat). Pinceng akan belajar gembira dari Siauw-bin-mo Hap Tojin."
Dua orang pendeta tua itu sambil bergandeng tangan lalu meninggalkan tempat itu pula, tanpa menoleh lagi kepada murid mereka Ouwyang Tek dan dan Gui Siong kini berhadapan dengan Lauw Ci Sian dan Tan Li Ceng yang masih merah matanya bekas menangis.
Dua orang pemuda itu dengan sikap sopan lalu memberi hormat dengan merangkap kedua tangan di depan dada yang dibalas oleh dua orang gadis itu dengan sopan pula.
"Soal mengurus bekas-bekas bajak itu harap ji-wi siocia (nona berdua) serahkan saja kepada kami. Tentu ji-wi sudah mendengar bahwa kami adalah murid-murid Siauw-bin-mo Hap Tojin, nama saya Ouwyang Tek dan ini adalah sute Gui Siong."
Tan Li Ceng yang lebih tabah dari pada sucinya setelah membalas penghormatan itu lalu menjawab.
"Terima kasih atas kebaikan ji-wi twako (kakak berdua), karena guru kita bersahabat tidak akan keliru kiranya apabila kita melanjutkan persahabatan itu. Aku bernama Tan Li Ceng tinggal bersama orang tuaku di toko obat dalam kota An-keng. Dan ini suciku Lauw Ci Sian. Sekarang kami hendak ke An-keng dan apabila ji-wi lewat di An-keng, kami persilakan ji-wi untuk singgah di rumah kami."
"Banyak terima kasih atas kemurahan ji-wi siocia,"
Jawab pula Ouwyang Tek.
Sekali lagi mereka saling memberi hormat kemudian sambil menggandeng tangan sucinya Li Ceng mengajak Ci Sian pergi meninggalkan tempat itu diikuti pandangan mata dua orang pemuda perkasa dengan penuh kekaguman.
Untung bahwa kedua orang pemuda itu tidak dapat menjenguk isi hati dua orang gadis itu, juga tidak mendengar pengakuan mereka.
Pengakuan yarg menyatakan bahwa mereka berdua itu mau dijodohkan kalau dengan Si Pendekar Cengeng!
Dunia persilatan gempar, para tokoh Liok-lim dan kang-ouw, datuk-datuk serta cabang-cabang atas, baik dari aliran putih (bersih) maupun hitam (sesat) menjadi geger dengan munculnya seorang pendekar muda yang terkenal dengan sebutan Pendekar Cengeng!
Dunia persilatan menyebutnya Pendekar Cengeng karena pendekar muda yang perkasa ini sering kali menangis.
Tangannya amat ampuh, tongkat maupun pedangnya amat lihai merobohkan lawan-lawan yang kuat, akan tetapi kedua matanya selalu bercucuran air mata dan ia menangis sedih menyaksikan mayat-mayat lawan yang roboh di tangannya.
Juga ia selalu tidak dapat menahan air matanya kalau mendengar penuturan yang menyedihkan dari mereka yng mohon pertolongannya.
Di dalam waktu kurang dari setahun saja Pendekar Cengeng ini telah membasmi tujuh buah sarang bajak sungai di sepanjang Sungai Yang-ce-kiang serta belasan buah sarang perampok di hutan-hutan.
Semua perbuatan ini dilakukan karena ada sebabnya bukan sekali-kali ia mencari sarang penjahat-penjahat itu.
Kalau tidak dia sendiri yang kebetulan dihadang perampok tentu ada orang-orang lain yang menjadi korban kejahatan dan ia kebetulan melihatnya.
Yu Lee, Si Pendekar Cengeng ini tidak pernah lupa kata-kata gurunya, serta tidak mau mencari permusuhan bahkan tidak mengusik para penjahat kalau saja ia tidak melihat kejahatan dilakukan orang.
Kalau ia kebetulan melihatnya, barulah ia turun tangan dan sekali ia membasminya celakalah gerombolan penjahat itu.
Para tokoh kang-ouw kaum sesat merasa sakit hati kepadanya sebab kematian kawan-kawan mereka serta saudara-saudara seperguruan mereka dan mereka selalu mencari kesempatan buat membalas dendam serta membunuh Pendekar Cengeng.
Sebaliknya, para tokoh kang-ouw kaum pendekar merasa iri hati dan penasaran kepadanya serta merekapun mau bertemu dengan pendekar muda ini buat ditantang berpibu (Mengadu kepandaian silat).
Yu Lee bukan tidak tahu akan hal ini.
Ia tahu bahwa banyak orang pandai marah kepadanya, tetapi ia pura-pura tidak tahu dan sebab sikapnya selalu sederhana tidak suka menonjolkan diri, maka tidak ada orang yang mengira bahwa pemuda baju putih yaug kelihatan lemah, pakaian serta sikapnya sederhana seperti seorang perantau miskin itu adalah Pendekar Cengeng yang menggemparkan dunia persilatan.
Pada suatu hari, pagi-pagi sekali Yn Lee telah memasuki dusun Ki-bun.
Walaupun hatinya sudah digembleng oleh si manusia sakti Han It Kong, tetapi hatinya berdebar penuh keharuan ketika ia memasuki dusun yang sunyi serta tenteram ini, dusun yang tidak pernah dilupakannya selama hidupnya yaitu dusun tempat tumpah darahnya, di mana darah ibunya tertumpah di waktu melahirkan.
Dusun tempat kelahirannya!
Enambelas tahun ia telah pergi dari dusun ini.
Limabelas tahun digembleng suhunya di puncak Ta-pie-san kemudian setahun merantau setelah turun gunung.
Dusun itu sendiri tak pernah berubah tetapi cuma penduduknya yang berubah.
Ia kini tidak kenal akan wajah seorangpun serta tidak ada seorangpun di dusun itu mengenalnya.
Tentu saja bisa demikian halnya!
Karena dahulu ia baru berusia delapan tahun, kini telah menjadi seorang pemuda tinggi tegap berusia duapuluh empat tahun.
Perih hati Yu Lee melihat betapa rumah-rumah di dusun ini masih seperti enambelas tahun yang lalu, rumah penghuni dusun masih merupakan pondok buruk.
Demkianlah keadaan hampir di seluruh dusun, tidak ada kemajuan, rakyatnya miskin dan hidup serba kekurangan.
Kekayaan bertumpuk-tumpuk di kota di mana orang-orang hidup bergelimang kemewahan.
Anehnya di kota-kota inilah bertumpuk bahan makanan memenuhi gudang-gudang besar, bahkan sampai membusuk karena terlampau banyak dan berlebihan.
Sedangkan di dusun-dusun di mana bahan makanan itu ditanam orang, yang menjadi sumber bahan makanan, malah kekurangan makanan.
Memang kalau direnungkan amatlah aneh dan janggal, namun nyata demikian, tempat sumber bahan makanan malah kekurangan makanan, petani malah kekurangan makan di tengah sawah!
Keadaan seperti ini tidaklah aneh kalau diketahui bahwa seluruh sawah ladang itu kesemuanya hanya dikuasai olah beberapa orang saja, dan para petani yang bekerja di sawah hanyalah merupakan buruh-buruh tani yang menerima upah amat sedikit, hanya cukup buat dimakan seorang saja.
Sudah pasti para petani ini mempunyai keluarga maka timbullah kelaparan sebab jatah makanan buat seorang dimakan kadang-kadang empat atau lima orang.
Akibat hal ini pula menimbulkan pemerasan tenaga, sampai anak-anak kecil terpaksa bekerja di sawah untuk sekedar mencari isi perut pencegah kelaparan.
Bagi para penduduk dusun yang miskin, hidup mereka lebih rendah serta lebih sengsara dari pada kerbau.
Pekerjaan berat di sawah ladang, makan tidak kenyang.
Binatang kerbau masih dapat mengenyangkan perut serta tidak kelaparan sebab binatang ini dapat makan rumput yang tidak usah dibeli oleh majikannya.
Para pemilik tanah yang membutuhkan kemewahan dan sebab kemewahan hanya dapat ditemukan di kota tentu saja mengirim seluruh hasil tanah ke kota untuk ditukar dengan harta benda.
Hal inilah yang menyebahkan akibat bahwa di kota sampai berlebihan makanan, sebaliknya di dusun sebagai sumber makanan malah sampil banyak orang mati kelaparan.
Tanah kuburan di luar dusun Ki-bun amat luas.
Kuburan ini sudah tua sekali, sudah ratusan tahun dipakai sebagai tanah kuburan sehingga setelah beberapa kali dipakai masih tetap digali lagi buat dipakai yang baru.
Di tanah kuburan inilah enambelas tahun yang lalu semua jenazah keluarga Yu dikubur oleh penduduk dusun Ki-bun.
Dikubur menjadi satu, merupakan gundukan tanah yang tinggi.
Ayah bundanya, dua orang pamannya dan dua orang bibinya, dan kakak kandungnya, tujuh orang kakak misan, empat orang pelayan semua berjumlah sembilan belas orang anggauta keluarga kakeknya, ditambah mayat dua orang penjahat suami isteri Kim-to Cia Koan Hok dan Bi-kiam Souw Kwat Si maka di dalam gundukan tanah kuburan ini terdapat duapuluh satu orang mayat yang dahulu binasa dalam tangan Hek-siauw Kui-bo!
Teringat akan ini, tak dapat ditahan lagi, air mata Yu Lee bercucuran ketika ia berdiri di depan gundukan tanah kuburan.
Ia lalu menjatuhkan diri berlutut.
Biarpun ia sudah berhasil membalas dendam, berhasil membunuh Hek-siauw Kui-bo, akan tetapi ia masih merasa menyesal dan berduka karena ia sama sekali tidak diberi kesempatan untuk membalas budi orang tuanya tidak diberi ke sempatan untuk berbakti.
Setelah berlutut dan pay-kui sampai delapan kali di depan gundukan tanah kuburan itu, barulah Yu Lee bangkit.
Dengan muka pucat dan mata basah dimana ia memandang ke sekelilingnya.
Kiranya tanah kuburan itu kini telah dikurung oleh delapan orang yang tidak diketahui kedatangannya.
Tahu-tahu mereka telah berada di tanah kuburan itu, berdiri mengurung gundukan tanah kuburan berikut Yu Lee dengan wajah beringas mengancam seperti iblis-iblis sendiri yang datang hendak mengeroyoknya.
Dalam kesedihannya Yu Lee tadi sampai tidak memperhatikan sekelilingnya dan baru sekarang ia tahu bahwa delapan orang itu datang dan sikap mereka jelas membayangkan permusuhan.
Ia tenang-tenang saja mempermainkan tongkat bambunya dengan kedua tangan, matanya memandang penuh selidik dan bergantian kepada delapan orang itu.
Mereka itu berusia antara tigapuluh dan empatpuluh tahun dan sikap mereka jelas menunjukkan bahwa mereka adalah ahli-ahli silat yang pandai.
Yu Lee memang tidak suka mencari permusuhan dan sikap serta pakaiannya memang amat (Lanjut ke
Jilid 09) Pendekar Cengeng (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 09 sederhana, sama sekali tidak menunjukkan bahwa dia adalah seorang ahli silat, apa lagi seorang pendekar yang ternama, kini menyaksikan sikap delapan orang itu iapun ingin menghindari mereka dan pura-pura tidak mengerti bahwa mereka itu mengurungnya.
Kembali ia mengangguk kearah gundukan tanah kuburan sebagai penghormatan terakhir atau berpamit, kemudian ia membalikkan tubuhnya untuk pergi dari situ.
"Hei, berhenti kau!"
Seorang di antara mereka yang matanya merah menghardik. Yu Lee memutar tubuh menghadapinya dan berpura-pura terheran lalu bertanya.
"Apakah tuan menegur saya?"
"Siapakah namamu dan mengapa kau bersembahyang di depan kuburan ini?"
Tanpa memperdulikan pertanyaannya, si mata merah itu kembali bertanya.
Sekilas pandang saja Yu Lee dapat menduga bahwa delapan orang ini adalah orang kasar, golongan kaum sesat di dunia kang-ouw.
Tidak mungkin mendiang kakek dan keluarganya bersahabat dengan orang-orang seperti ini, akan tetapi karena ia tahu bahwa kakeknya dahulu adalah seorang pendekar pedang yang amat terkenal dan mempunyai banyak sekali musuh di dunia kang-ouw maka ia dapat menduga bahwa tentu mereka ini musuh-musuh kakeknya.
Kalau orang-orang ini memusuhi sebagai akibat dari sepak terjangnya selama ini, tentu mereka mengenalnya maka ia lalu menjawab sederhana dan berusaha mengelakkan pertempuran.
"Saya adalah bekas pelayan keluarga Yu dan karena tidak ada lain orang lagi yang mengurus kuburan maka mengingat akan budi dahulu saya datang untuk memberi hormat."
"Ha, ha, ha! Siapa kira Hek-siauw Kui-bo dapat tertipu oleh seorang bocah pelayan sehingga terluput dari pada pembasmian!"
Kata si mata merah yang agaknya menjadi pemimpin di antara delapan orang itu.
"Hee, budak hina! Belasan tahun yang lalu kau terluput dari kebinasaan, dan kami telah didahului Hek-siauw Kui-bo membasmi keluarga Yu Tiang Sin. Biarlah sekarang kami menyempurnakan pembasmian itu sebelum kami berhasil mencari keturunannya terakhir yang kabarnya telah lolos."
Yu Lee mendongkol sekali. Tidak salah dugaannya. Delapan orang ini adalah musuh-musuh dari mendiang kakeknya. Ia sengaja memperlihatkan sikap takut dan bertanya.
"Cuwi (tuan sekalian) siapakah dan mengapa hendak mengganggu saya yang tidak berdosa?"
"Ha, ha, ha, perlu kau ketahui agar nyawamu kelak cepat melapor kepada arwah Yu Tiang Sin. Kami adalah delapan orang dari Timur yang terkenal dengan julukan Tung-hai Pat-ong (Delapan Raja Laut Timur), dahulu belum sempat membasmi keluarga Yu Thian Sin dan kedatangan kami untuk membongkar kuburannya, untuk menghancur leburkan tulang-tulang keluarganya, kebetulan kau datang dan karena kau adalah pelayan Keluarga Yu kau tidak terluput dari pada pembalasan kami, bersiaplah untuk mampus budak cilik!"
Sambaran tangan si mata merah ke arah kepala Yu Lee amat kuatnya.
Yu Lee yang tahu bahwa tak mungkin ia mengelakkan pertempuran diam-diam sudah mengambil keputusan untuk menghajar mereka ini, malah tidak berkelebihan kiranya kalau ia membunuh mereka ini.
Mereka ini adalah orang-orang jahat, tidak mempunyai pribudi dan prikemanusiaan buktinya mereka ini mempunyai niat yang amat keji, hendak membongkar kuburan dan merusakkan tulang keluarga Yu.
Melihat datangnya pukulan yang dimaksudkan untuk merenggut nyawanya, Yu Lee tetap bersikap tenang.
Ia menanti saja karena dari gerakan si mata merah itu ia maklum bahwa tingkat kepandaian mereka ini biasa saja, walaupun si mata merah ini memiliki tenaga lweekang yang cukup kuat.
Akan tetapi pada detik itu Yu Lee terkejut dan terheran-heran melihat berkelebatnya sinar putih yang kecil sekali yang meluncur dari arah kanannya serta menimpa lengan si mata merah, tepat pada jalan darah di pergelangan tangan.
"Takk! Aduuhh!"
Si mata merah berseru kesakitan, tangannya lumpuh dan ia meloncat ke belakang sambil meringis, ia memijat lengan kanannya, lalu dengan memakai jari-jari tangan kirinya ia cabut keluar sebatang jarum kecil yang menancap di pergelangan lengan itu.
Yu Lee menahan senyum karena maklum bahwa ada orang membantunya, biarlah ia akan berpura-pura bodoh supaya tidak mengecewakan hati si penolongnya, akan tetapi ketika ia menoleh dan melihat berkelebatnya bayangan orang yang menolongnya tadi ia melongo dan memandang kagum.
Ternyata dari balik pohon itu meloncat keluar seorang gadis remaja yang cantik molek, agaknya sukarlah dipercaya bahwa gadis ini yang tadi melepas jarum menolongnya.
Gadis itu usianya paling banyak delapanbelas tahun, wajahnya berkulit halus dengan sepasang pipi kemerahan matanya bersinar-sinar penuh semangat dan mulutnya yang kecil tersenyum-senyum serta dari pandangan mata dan mulut ini terbayang sifat jenaka dan riang juga nakal penuh ketabahan.
Kecantikannya itu tersendiri, seperti kecantikan setangkai bunga liar di dalam hutan.
Sedikitpun tidak ada tanda-tanda bekas alat rias pada mukanya yang cantik, kehalusan kulit mukanya warna putih kuning, warna merah di pipi dan terutama di bibirnya semua adalah warna-warna yang wajar, membuktikan kebersihan dan kesehatan tubuhnya.
Rambutnya hitam sekali juga amat lebat dan panjang sehingga rambut yang digulung semuanya itu menjadi mahkota hitam yang besar di atas kepala, kalau terurai, agaknya rambut yang halus itu ujungnya akan mencapai paha.
Dengan lebat rambutnya sampai anak rambutnya merumbai di dahi dan tengkuk, juga anak rambut yang tumbuh subur di pelipis menjuntai serta menjungat ujungnya di pipi, hampir menyentuh hidung menimbulkan kejelitaan yang lucu pada wajah itu.
Matanya seperti sepasang bintang pagi yang cemerlang, bersih dan bening sekali, sinarnya tajam namun selalu berseri gembira serta nakal, bentuk tubuhnya padat ramping, lincah gesit gerakannya dan pakaiaanya sederhana pula seperti cara ia berhias.
Terbuat dari sutera warna hijau puput dengan warna sabuk berwarna emas, sepatunya dari kulit berwarna hitam.
Gadis ini melangkah keluar dari balik pohon sambil tersenyum-senyum tangan kiri bertolak pinggang, tangan kanan memegang sebatang rumput yang ujung tangkainya ia gigit-gigit dengan giginya, sehingga tampak giginya yang berderet putih dan rapih, matanya mengerling dan melihat bergantian kepada delapan orang itu yang kini semua melihatnya dengan pandang mata merah.
"Tung-hai Pat-ong kalian ini, ya? Wah betul-betul gagah perkasa, delapan orang raja menghadapi seorang pelayan yang tidak tahu apa-apa! Sejak tadi pagi aku sudah curiga dan membayangi kalian, kukira kalian ini akan merampok dusun ini, kiranya malah lebih hina daripada perampok sebab ternyata kalian bukan lain adalah tikus-tikus kuburan yang tak tahu malu!"
Makian "tikus kuburan"
Adalah makian yang paling menghina, karena yang dimaksudkan dengan tikus kuburan adalah pencuri-pencuri yang suka membongkar kuburan untuk mengambil benda berharga yang menempel pada tubuh mayat.
Dan diantara maling-maling, tikus kuburan inilah maling yang paling rendah serta dianggap hina dan rendah oleh kaum sesat sendiri sebab merendahkan "derajat"
Bangsa maling! "Bocah bermulut lancang!"
Bentak si mata merah yang kini telah biasa lagi. Tangan kanannya tidak sakit lagi dan hatinya lega sebab ini berarti bahwa jarum itu tidak beracun.
"Engkau tidak mengenal betul siapa kami maka berani main gila. Apakah kau sudah bosan hidup? Hayo lekas katakan siapa kau dan siapa gurumu, mengapa kau berani mencampuri urusan kami!"
Gadis itu melirik serta senyumnya makin melebar.
Cantik jelita seperti bidadari, belum pernah Yu Lee bertemu dengan gadis secantik ini.
Entah mengapa, segala gerak gerik gadis ini menarik hatinya, membuat jantungnya berdebar-debar serta membuat ia seperti berubah menjadi sebuah arca, tidak mampu bergerak atau bersuara, hanya memandang dengan mata terbelalak kagum.
"Hemmmm, kalian ini delapan anak kecil berani menyombongkan diri terhadap nyonya besarmu. Sungguh menjemukan! Siapa tidak mengenal kalian bangsat-bangsat kecil ini? Kalian adalah bajak-bajak di laut Tung-hai, sombong-sombongan memakai julukan Delapan Raja, padahal tidak becus apa-apa. Belasan tahun yang lalu kalian membajak sebuah kapal, hendak merampas harta dan menghina puteri-puteri pembesar Kwan di kapal itu. Kemudian kalian dihajar habis-habisan sampai terkencing-kencing dan terkentut-kentut oleh mendiang Yu-kiam-sian Si Dewa Pedang. Huh, kalian seperti delapan ekor anjing ketakutan melingkarkan buntut dan lari bersembunyi. Setelah kini Yu-kiam-sian sekarang menjadi gundukan tanah pura-pura mau gagah-gagahan mau bongkar kuburan. Mencari gigi emas? Atau bekas sepatu? Tak tahu malu!"
Yu Lee makin terbelalak.
Bagaimana nona yang masih muda sekali ini tahu akan peristiwa itu?
Dia sendiri yang menjadi cucu Si Dewa Pedang tidak tahu dan tidak mendengar dari kakeknya atau ayahnya!
Dan sikap gadis ini benar-benar terlalu berani dan betapapun juga amat jenaka dan lucu.
Masa gadis berusia kurang dari duapuluh tahun bersikap seolah-olah delapan orang yang empatpuluh tahun lebih umurnya seperti anak-anak saja?
Kalau Yu Lee terheran-heran dan kagum adalah Tung-hai Pat-ong itu yang menjadi kaget sekali, kaget, malu-malu dan marah bercampur aduk menjadi satu, namun rasa kaget dan heran lebih besar sehingga si mata merah bertanya.
"Budak cilik! Siapa kau?"
Dara kecil itu kembali bertolak pinggang, kini dengan kedua tangannya sepuluh jari-jari yang kecil panjang itu seolah-olah dapat melingkari pinggangnya, begitu ramping pinggangnya, kemudian dengan gerakan lucu jenaka nona ini menuding hidungnya sendiri, hidung yang kecil dan mancung.
"Kau mau tahu siapa nonamu ini? Buka telinga lebar-lebar untuk mendengar, buka mata baik-baik untuk melihat, akan tetapi teguhkan hati agar kalian tidak akan roboh pingsan karena kaget dan mati ketakutan. Di depan kalian inilah pendekar wanita muda yang mewarisi ilmu kesaktian dari Kun-lun-pai. Akulah yang berjuluk Sian-li Eng-cu (Si Bayangan Bidadari). Setelah kalian berhadapan dengan Sian-li Eng-cu, tidak lekas berlutut? Hayo berlutut dan minta ampun, pay-kui sampai tigabelas kali, baru Sian-li Eng-cu memberi ampun dan hanya minta sebuah saja daripada daun telinga kalian masing-masing satu, kalau tidak kepala kelinci yang akan putus lehernya!"
Yu Lee hampir tak dapat menahan ketawa, bukan main nona ini ucapannya itu hebat dan sombong, akan tetapi lucunya, sikapnya sama sekali tidak membayangkan kesombongan bahkan mata dan mulutnya itu membayangkan kenakalan, jelas tampak oleh Yu Lee bahwa ucapannya yang keluar dari mulut nona itu adalah ucapan yang disengaja, bukan untuk menyombong melainkan untuk mempermainkan delapan orang bajak itu.
Yu Lee makin tertarik dan ingin melihat sampai di mana keahlian nona ini, apakah ilmu silatnya selihai mulutnya?
Melihat cara nona ini tadi menyambitkan jarum, ia tidak perlu mengkhawatirkan keselamatannya tetapi karena delapan orang ini adalah orang-orang kasar yang kejam, diam-diam ia bersiap melindungi nona yang menarik hatinya itu.
Delapan orang itu tentu saja menjadi marah sekali.
Mereka belum pernah mendengar nama julukan Sian-li Eng-cu pendekar wanita tokoh Kun-lun-pai.
Tentu saja memandang rendah.
Nona yang masih begitu muda mana mungkin memiliki kepandaian lihai?
Diantara delapan orang itu, terdapat seorang yang mata kirinya buta.
Dia inilah amat terkenal mata keranjang serta dahulunya ia pernah mengganas, secara keji menculik dan memperkosa banyak sekali wanita.
Asal wanita muda dan cantik, tak perduli wanita itu isteri orang, ia tak mau berhenti kalau belum dapat menculiknya.
Mata kirinya juga menjadi buta karena kesukaannya mempermainkan isteri orang karena dahulu ia pernah tertangkap basah, dikeroyok orang sedusun.
Biarpun ia berhasil melarikan diri mengandalkan kepandaiannya, namun mata kirinya tertusuk pedang dan menjadi buta sebelah.
Namun mata yang tinggal sebelah itu tidak mengurangi sifatnya yang buruk, bahkan ia menjadi makin gila karena merasa sakit hati melihat betapa wanita-wanita merasa jijik kepadanya karena matanya.
Ia makin mengganas dan baru ia bersama tujuh orang saudara tidak berani mengganas lagi dan terpaksa menyembunyikan diri setelah muncul Si Dewa Pedang Yu Tiang Sin yang melabrak mereka di atas perahu pembesar.
Kini melihat dara remaja yang cantik jelita dan mengaku berjuluk Bayangan Bidadari ini, seketika kambuh penyakitnya dan matanya yang tinggal sebelah itu berkedip-kedip serta bersinar penuh nafsu.
Ia sudah meloncat maju dan berkata kepada si mata merah.
"Twako, serahkan anak ayam ini kepadaku!"
"Memang dia lebih pantas untukmu. Terkamlah!"
Kata si mata merah menyeringai dan mundur, ia masih memandang rendah gadis itu serta merasa yakin bahwa adiknya yang telah ahli menghadapi wanita itu bisa menundukkan gadis ini.
Si mata satu maju sampai dekat di depan gadis itu, Sian-li Eng-cu, dara remaja yang cantik dan jenaka itu menggerak-gerakkan cuping hidungnya yang mancung, lalu berkata.
"Ihhh, bau busuk! Kau ini si mata buta, keringatmu bau bangkai, tanda bahwa sebentar lagi engkau akan menjadi bangkai!"
Si mata satu menyeringai, memperlihatkan deretan gigi yang besar-besar dan berwarna kuning di balik bibir membiru.
"Heh-heh, nona muda yang manis! Mau kulihat apa yang kau akan lakukan dan katakan kalau engkau sudah berada di dalam pelukanku, heh-heh!"
Belum habis ucapannya, tiba-tiba si mata satu ini sudah menubruk maju, gerakannya cepat sekali, kedua lengannya dikembangkan, sepuluh jari tangannya juga terbuka dan dengan gerakan gesit ia merangkul leher dan pinggang.
Sesungguhnya gerakannya itu adalah jurus ilmu silat yang bernama Go-houw-po-touw (Macan Lapar Menubruk Kelinci) semacam jurus serangan dengan pukulan bertubi-tubi dari kedua tangan, akan tetapi oleh si mata satu ini dirobah menjadi tubrukan buat menerkam tubuh gadis yang menggairahkan itu.
"Menjijikkan!"
Dara ita berseru marah dan ia hanya menggeser kaki miringkan tubuh saja, gerakan ini cukup membuat si mata satu menubruk tempat kosong.
Dan sebelum si mata satu dapat memperbaiki posisi tubuhnya yang terhuyung ke depan, secara tiba-tiba saja tubuh dara itu berkelebat, meloncat ke atas serta dengan gerakan indah sekali kakinya telah menendang dari atas, ujung sepatunya membuat gerakan menotok yang tepat sekali mengenai jalan darah di tengkuk si mata satu.
"Klokkk!"
Tubuh orang yang gerakannya gesit dan ringan sekali itu sudah melayang turun kembali ke atas tanah dan berdiri sambil bertolak pinggang.
Celaka adalah si mata satu.
Tiba-tiba saja ia meringis lalu......
menangis.
Tak dapat menahan lagi ia, air matanya bercucuran, dan matanya yang masih baik, sedangkan matanya yang sudah rusak hanya bergerak-gerak, demikian mengguguk ia menangis sampai hidungnya pun mengeluarkan air!
Pemandangan ini aneh dan lucu sekali akan tetapi Yu Lee yang tahu diam-diam menjadi kagum.
Gadis itu ternyata memiliki ginkang yang mengagumkan dan tingkat kepandaiannya agaknya tidak di sebelah bawah tingkat kepandaian dua orang murid perempuan Tho-tee-kong Liong Losu!
Akan tetapi gadis ini memiliki ginkang tinggi dan sifat ugal-ugalan, nakal sekali dan suka mempermainkan orang!
Buktinya menghadapi si mata satu yang tentu akan mudah ia robohkan itu tadi ia bersusah payah meloncat hanya untuk dapat menotok jalan darah di tengkuk yang mengakibatkan si mata satu itu menangis di luar kehendaknya, dan itupun ia lakukan dengan meloncat karena agaknya gadis itu tidak sudi melakukan totokan dengan tangan melainkan dengan ujung sepatu!
Biarpun serentak tidak dapat menahan akibat dari pada totokan itu, namun karena tubuh si Mata Satu sudah memiliki kekebalan, sebentar saja ia sudah dapat memulihkan diri, ia menjadi marah sekali dan sambil mendengus ia sudah menerjang maju dengan golok di tangan.
Lenyaplah kegairahannya untuk memeluk dan mempermainkan gadis itu, berganti kemarahan yang mendatangkan nafsu membunuh.
Goloknya menyambar dengan cepat, menjadi sinar yang memanjang dengan sabetan ke arah leher gadis itu yang hendak dibikin buntung dengan sekali bacokan!
Namun gadis itu tersenyum mengejek, ujung kakinya menotol tanah dan tubuhnya melejit ke belakang sehingga golok itu menyambar angin kosong sampai menimbulkan suara berdesing!
"Hi-hi golokmu penyembelih ayam itu perlu apa dipamer-pamerkan ke sini?
Tidak akan mampu menyentuh leherku.
Nah, kupasang leherku, sembelilah kalau mampu!"
Sambil berkata demikian gadis itu mengulurkan lehernya yang memang panjang sehingga tampak kulit leher yang putih kuning ketika ia menggerakkan kepala menyingkapkan rambut hitamnya.
Tampak dara ini sembrono sekali dengan memasang tubuh seperti itu, akan tetapi Yu Lee yang bermata tajam dapat melihat betapa tangan gadis itu merogoh saku.
Hemm, pikirnya.
Gadis ini nakal, lincah dan juga bertangan ganas.
Ia hanya menonton saja dan kini hatinya lebih lega karena merasa yakin bahwa tidaklah perlu baginya untuk melindungi gadis yang kelihatan semberono namun amat lihai ini.
Si Mata Satu menggereng saking marahnya.
Memang tadi serangan goloknya tidak mengenai sasaran akan tetapi kalau gadis itu memasang diri seperti itu dengan tubuh membungkuk, leher diulurkan alangkah akan mudahnya memenggal leher itu dan tanpa memberi kesempatan gadis itu mengelak.
Sinar buas memancar dari sebelah matanya dan dengan geraman seperti seekor harimau kelaparan si Mata Satu itu menubruk maju, mengayun golok dengan gerakan yang kuat dan cepat sekali, memenggal ke arah leher yang putih kuning.
"Mampus kau""!"
"Werrr""
Wessss""
Crotttt!"
"Aduh mati aku""!"
Jeritan ini bukan keluar dari mulut si Dara Jelita, sebaliknya keluar dari mulut si Mata Satu yang goloknya sudah terlepas, tubuhnya terhuyung ke belakang, kedua tangannya mendekap mata kanannya yang bercucuran darah.
Kiranya dalam detik terakhir tadi ketika golok menyambar, dara itu meloncat ke depan lalu membalikkan tubuh, tangannya bergerak melepas sebatang jarum yang dengan tepat menancap mata kanan lawan bahkan terus masuk dalam sekali, kakinya menendang ke arah pergelangan tangan sehingga golok lawan terpental.
Gadis itu berdiri sambil bertolak pinggang tersenyum mengejek kepada si Mata Satu yang kini mengaduh-aduh dan merintih-rintih dan cepat ditolong oleh saudara-saudaranya.
Akan tetapi jarum itu menancap terlalu dalam, tidak tampak lagi dan sukarlah menolong nyawa orang itu karena jarum menyelinap memasuki otak dalam kepala.
"Perempuan jahanam, kau harus mengganti nyawa!"
Bentak si mata merah ketika melihat saudaranya itu berkelojotan seperti ayam disembelih.
Tujuh orang itu kini sudah merebahkan tubuh si mata satu ke atas tanah masing-masing mencabut golok dan pedang dan mengurung gadis yang masih tersenyum-senyum.
"Ahaa, baru sekarang kalian tidak memandang rendah dan hendak maju mengeroyokku? Bagus, bagus, baik begitu agar aku tidak perlu membuang banyak waktu. Majulah bersama dan matilah bersama. Dunia akan menjadi lebih bersih dan lebih tenteram kalau kalian mampus!"
Yu Lee kembali memandang penuh perhatian.
Boleh jadi tingkat kepandaian tujuh orang itu lebih rendah akan tetapi kalau mereka maju mengeroyok dan kalau gadis itu masih bersikap sembrono seperti tadi, ada bahayanya juga.
Maka kini ia lalu duduk di atas tanah, dekat gundukan tanah kuburan keluarganya, menonton dan tangannya mempermainkan tanah tanah kering.
Ia melihat betapa tujuh orang laki-laki kasar itu mengurung si gadis, senjata mereka berkilauan saking tajamnya.
Gadis itu masih berdiri enak-enak di tengah, senyumnya mengejek, matanya mengerling ke kanan ke kiri mengikuti gerakan mereka, tangan kiri mendekati saku baju di mana tersimpan jarum-jarumnya, tangan kanan meraba pedang yang tergantung di pinggang.
Cantik jelita dan gagah perkasa tampaknya, dan hati Yu Lee makin terpikat dan kagum.
Banyak sudah ia bertemu dengan wanita-wanita cantik jelita, bahkan pernah dirayu seorang wanita cantik sekali seperti Dewi Suling, pernah pula melihat dua orang dara jelita, murid Tho-tee-kong Liong Losu, yang selain gagah perkasa juga muda remaja dan cantik jelita, bahkan melihat mereka dalam keadaan telanjang bulat ketika menolong mereka.
Namun, belum pernah ia merasa hatinya terbetot seperti saat ini oleh gadis yang lincah jenaka dan ugal-ugalan yang mengaku berjuluk Sian-li Eng-cu itu.
Si mata merah berseru keras dan ini merupakan aba-aba agaknya bagi saudara-saudaranya, karena serentak mereka bertujuh itu maju menerjang dengan senjata mereka mengeroyok gadis itu, kembali Yu Lee kagum dalam hatinya.
Gadis itu benar-benar memiliki ginkang yang hebat.
Tubuhnya yang ramping itu bergerak cepat sekali, melebihi daripada kecepatan gerakan senjata lawan berkelebatan ke kanan kiri.
Seolah-olah gerakan seekor burung walet, menyelinap diantara sambaran senjata, mengelak ke kanan kiri, menyepak pergelangan tangan lawan.
Dan di lain saat tangan kanannya indah memegang sebatang pedang yang berkilauan putih dan ternyata pedangnya itu adalah pedang perak seperti juga jarum-jarumnya.
Pedang itu putih mulus dan bersih sehingga waktu dimainkan, berubahlah menjadi gundukan sinar putih menyilaukan mata.
Yu Lee menyaksikan ilmu pedang Kun-lun-kiam-hoat yang amat indah dan cepat.
Ia mengenal ilmu pedang ini dan diam-diam ia harus mengakui bahwa gadis ini telah mendapat latihan serta didikan seorang tokoh Kun-lun-pai yang pandai.
Gerakannya indah seperti orang menari, cepat seperti kilat menyambar.
Hatinya kembali lega sebab jangankan baru dikeroyok tujuh orang itu, biar ditambah tujuh orang lagi, ia tidak perlu mengkhawatirkan keadaan gadis itu.
Betul saja dugaannya, terdengar suara berkerontangan serta teriakan mengaduh ketika gadis itu memutar pedang dan membalas serangan.
Kemana saja pedangnya berkelebat, pasti senjata lain terpental serta darah muncrat.
Juga tangan kirinya bergerak dan sinar-sinar putih jarumnya meluncur ke sana sini.
Teriakan mengaduh makin riuh disusul robohnya tujuh orang itu yang mengaduh-aduh.
Pedang di tangan gadis itu lalu berkelebat menyambar ke arah delapan orang yang sudah roboh.
Yu Lee kaget sekali dan mencela di dalam hatinya ketika melihat betapa pedang itu telah menyambar serta dalam sekejap mata telah membuntungi delapan buah telinga para bajak itu!
"Masih tidak lekas pergi dari sini?
Menanti Sian-li Eng-cu memenggal leher kalian?"
Gadis itu mengancam sambil memutar-mutar pedangnya.
Walaupun pedang itu telah membuntungi delapan buah daun telinga serta melukai pundak, lengan dan paha, tetapi sedikit pun tidak terkena darah!
Keadaan delapan orang itu amat menyedihkan.
Semua terluka serta si mata satu tadi masih berkelojotan dalam sekarat.
Tiga orang lagi menderita luka berat dan juga berkelojotan.
Empat orang yang juga terluka, masih bisa bergerak.
Mereka ini sambil merintih-rintih lalu membantu saudara-saudaranya yang tak bisa berjalan sendiri, masing-masing memondong seorang kawan kemudian tanpa pamit mereka pergi dari tempat itu setelah memungut delapan buah daun telinga yang buntung.
Karena mereka itu takut kalau kalau si nona ganas mengejar, empat orang itu menahan sakit serta terus lari sehingga dalam waktu cepat mereka sudah tidak tampak lagi.
"Kau ganas sekali, nona......!"
Gadis yang baru saja memasukkan pedangnya ambil tersenyum puas itu membalikkan tubuhnya melihat kepada Yu Lee yang masih duduk dengan mata terbelalak, mulutnya lalu cemberut serta pipinya merah.
Telunjuk kirinya menuding ke arah Yu Lee ketika ia memaki dengan kata-kata ketus.
"Engkau ini bekas pelayan macam apa? Tadi bersikap seperti seorang pelayan setia, sekarang ada orang membela nama baik dari kuburan keluarga majikanmu malah kau mencela! Hayo jawab apa itu pringas pringis kaya monyet? Kenapa kau sebut aku ganas?"
Yu Lee menjadi merah mukanya, merah sampai ke telinganya.
Baru sekali inilah ia dimaki-maki oleh seorang gadis, akan tetapi tidak menimbulkan marah di hatinya, hanya menimbulkan rasa malu.
Akan tetapi, di lubuk hatinya ia memang tidak puas melihat keganasan gadis itu, maka ia menjawab.
"Aku...... aku merasa ngeri melihat kau membuntungi daun telinga mereka tadi. Setelah mereka kalah, apakah masih perlu dibuntungi daun telinga mereka?"
"Huhh, kau bujang tahu apa? Baru dibuntungi daun telinganya mereka itu masih untung besar! Coba kalau bertemu pendekar lain, umpamanya Pendekar Cengeng, tentu mereka itu bukan hanya daun telinganya yang buntung, melainkan lehernya!"
Yu Lee terbelalak saking herannya, mendengar disebutnya nama Pendekar Cengeng. Karena nama itu adalah dia sendiri.
"Pendekar Cengeng......? Kenalkah nona kepadanya?"
Gadis itu menggeleng kepala serta bibirnya dilebarkan menghina.
"Perlu apa mengenal seorang suka menangis? Biar dia seorang pendekar, kalau cengeng sungguh tidak patut. Tetapi aku memang mencari dia! Eh, kau ini pelayan keluarga Yu, tentu tahu dia. Bukankah Pendekar Cengeng yang suka membantu orang yang tertindas itu cucu mendiang Yu-locianpwe (orang tua gagah she Yu) satu-satunya keluarga yang terbebas daripada maut ketika Hek-siauw Kui-bo membasmi keluarga Yu-locianpwe?"
Yu Lee makin heran. Gadis ini, semuda itu sudah banyak pengetahuannya, bahkan tahu pula akan keluarganya. Ia mengangguk.
"Memang betul nona. Akan tetapi mengapa nona mencari, Yu-kongcu (tuan muda Yu)?"
"Bocah cengeng itu sombong sekali, malang melintang di dunia kang-ouw tidak memandang mata kepada orang lain, aku hendak mencarinya dan menantangnya bertanding!"
"Kenapa? Apa kesalahannya?"
"Ihh, kau ini cerewet benar! Dan tidak tahu terima kasih, tahukah kau bahwa kalau tidak ada aku tadi, kau sudah mampus di tangannya Tung-hai Pat-ong. Dan kuburan majikanmu ini sudah dibongkar, tulangnya dihancurkan? Dan kau sepatah katapun tidak pernah berterima kasih kepadaku!"
Yu Lee cepat-cepat bangkit lalu menjura ke arah gadis itu.
"Ah, maafkan aku nona. Aku menghaturkan banyak terima kasih atas pertolonganmu tadi sehingga sampai detik ini, aku masih hidup dan kuburan ini tidak dibongkar orang."
"Cih! Beginikah sopan santun seorang bekas pelayan, keluarga Yu? Hemm, Yu-locianpwe masih hidup dan melihat sikapmu ini, tentu kau akan digampar dan nantinya dipecat dengan tidak hormat tanpa mendapat pesangon!"
Yu Lee teringat bahwa kini sedang bermain sebagai pelayan, maka untuk menyesuaikan diri ia berlutut, mengangguk-angguk dan minta maaf serta menghaturkan terima kasih.
Heran sekali dia.
Biarpun ini hanya merupakan permainan sandiwara baginya, namun hatinya merasa tulus iklas biarpun ia harus berlutut seperti itu!
"Nah, begitu baru tahu peraturan dan sopan santun namanya.
Eh, pelayan, kau ketahuilah bahwa antara majikanmu yang tua Yu-locianpwe dan kakekku terdapat persahabatan maka engkau harus menganggap aku sebagai seorang nona majikan pula.
Akupun menganggap kau sebagai pelayan keluargaku sendiri, maka aku tadi tidak ragu-ragu untuk menolongmu.
Dan sekarang, aku berbalik ingin minta pertolongan darimu."
"Tentu saja saya bersedia melakukan perintah nona, akan tetapi saya hanya seorang pelayan biasa, dapat menolong apakah?"
Gadis itu lalu duduk di atas sebuah batu di depan gundukan tanah kuburan. Sikapnya bebas duduknya juga bebas seperti seorang laki-laki saja.
"Kau duduklah dan dengarkan aku!"
Ia memandang wajah Yu Lee penuh perhatian kemudian ia mengerutkan alisnya yang kecil panjang dan hitam sekali.
"Kau tentu masih kecil ketika keluarga Yo dibasmi musuhnya. Selama belasan tahun itu, kau menjadi apa dan berada di mana?"
Pertanyaan yang tiba-tiba itu membuat Yu Lee gugup juga sehingga sejenak ia tidak mampu menjawab, hanya memandang wajah yang semakin lama makin cantik baginya itu.
"Eh, kau memandang apa?"
Bentak nona itu.
"Anu...... eh, anu...... memandang nona."
"Kau mau kurang ajar, ya?"
"Eh, tidak sama sekali. Bagaimana saya berani? Dan kalau tidak memandang kepada nona, bagaimana saya dapat diajak bicara?"
Gadis itu menggerak-gerakkan alisnya, menimbang-nimbang lalu tersenyum.
"Betul juga kau. Kukira tadi pandang matamu kurang ajar seperti pandangan mata si Mata Satu tadi. Nah, kau belum menjawab pertanyaanku."
Semenjak itu, Yu Lee sudah dapat menenangkan hatinya dan sudah dapat mencari akal untuk menjawab.
"Selama ini saya menjadi petani di dusun, nona. Hari ini kebetulan hari ulang tahun kematian keluarga majikan saya, maka karena teringat akan budi mereka terhadap orang tua saya dan saya, maka saya datang untuk sekedar memberi hormat."
"Hemm, bagus. Kau mengenal budi. Apakah kau bisa membaca? Ataukah buta huruf?"
Pertanyaan aneh-aneh, pikir Yu Lee yang mengangguk.
"Sedikit-sedikit saya bisa nona."
"Baik, aku tidak senang kalau kau buta huruf, akan menambah kebodohanmu dan tentu akan menjengkelkan saja. Kau bilang tadi bahwa kau tahu akan Pendekar Cengeng. Betulkah?"
Yu Lee mengangguk.
"Dan akan mengenalnya kalau bertemu dengannya?"
Kembali Yu Lee mengangguk sambil menelan ludah. Ia tidak biasa membohong, maka ia pilih lebih baik tidak berkata apa-apa. Kalau hanya membohong dengan kata mengangguk itu mudah.
"Bagus, mulai sekarang biarlah kau menjadi pelayanku. Kau bisa mengurus kuda, kan? Nah, baik, kau kuberi gaji secukupnya, makan dan pakaian akan kuberi jangan takut kekurangan. Aku perlu bantuanmu mencari Pendekar Cengeng, kalau sudah bertemu dengannya, kau berhenti menjadi pelayanku. Bagaimana, maukah kau membantu sebagai balasan pertolonganku tadi?"
Hebat!
Bocah ini benar-benar pintar sekali, banyak akalnya serta bisa mempengaruhi hati orang, pikir Yu Lee.
Entah puteri siapa dia ini.
Heran dia mengapa ayah bunda anak ini membiarkannya terlepas seorang diri.
Dia mirip seekor kuda betina liar yang sekali terlepas lalu menjadi binal dan ugal-ugalan.
Akan tetapi seekor kuda betina yang hebat.
Tak mungkin ia menolak.
Menjadi pelayan pun jadilah asalkan bisa berdekatan dan dapat melihat sinar mata serta senyumnya setiap hari.
Ah, aku sudah menjadi gila, pikir Yu Lee.
"Heee! Hayo jawab! Melamun apa lagi!"
Tangan gadis itu menyambar dan......
"plak!"
Pundaknya telah ditampar.
Yu Lee marasa betapa tangan gadis itu mengandung tenaga sinkang, maka ia tahu gadis itu tidak hanya sembarang menegur, tetapi juga mengujinya.
Mungkin gadis itu ragu-ragu serta curiga, karena sebagai bekas pelayan keluarga jagoan, mungkin dia sendiripun mempelajari ilmu silat.
"Aduh......! Nona, kenapa nona memukul saya......?"
Yu Lee membuat gerakan wajar, terjengkang lalu roboh, serta mengaduh-aduh memegangi pundaknya yang tertampar tadi. Gadis itu tersenyum. Lega hatinya bahwa pelayan ini tidak mengerti ilmu silat.
"Kalau lain kali kau tidak cepat menurut perintahku, baru akan kupukul betul-betul. Tadi cuma tamparan pelan saja. Nah lekas jawab, mau atau tidak engkau menjadi pelayanku dan membantuku mencari Pendekar Cengeng!"
Yu Lee cemberut.
"Mau sih mau akan tetapi nona jangan bersikap terlalu galak terhadap saya."
"Aku tidak biasa bersikap galak terhadap pelayan, akan tetapi aku belum pernah mempunyai pelayan setolol engkau ini. Eh, siapa namamu?"
Ditanya namanya, Yu Lee bingung.
Ia tidak biasa membohong dan kalau saja nona ini tidak lagi mencari Pendekar Cengeng untuk diajak bertanding tentu ia pun mengakui terus terang bahwa dialah si Pendekar Cengeng.
Akan tetapi untuk pergi begitu saja meninggalkan nona ini, tak mungkin dapat ia lakukan karena seluruh perasaan hatinya memaksa untuk selalu berdekatan dengan nona ini.
Terpaksa ia harus mencari nama dan teringatlah ia akan nama seorang pelayan cilik keluarganya yang dahulu juga ikut terbunuh, yaitu A-liok.
Maka cepat berkata menjawab.
"Nama saya A-liok, nona."
"Hemm, itu nama singkatan, nama lengkapmu siapa, A-liok?"
"Saya tidak tahu nona. Dahulu semua keluarga majikan saya menyebut saya, A-liok. Dan siapakah nama siocia (nona)?"
Nona itu menggerakkan alisnya, matanya mengerling tajam bibirnya cemberut.
Mati aku, pikir Yu Lee yang merasa seakan-akan jantungnya tertusuk.
Begitu cantik menariknya nona ini kalau sudah marah-marah seperti itu.
"Eh, mau apa kau tanya tanya namaku segala?"
Nona itu membentak. Sambil memandang wajah nona itu penuh kagum Yu Lee menjawab.
"Setelah menjadi pelayan nona, saya harus mengetahui nama nona. Bagaimana kalau ada orang bertanya siapa nona. Bagaimana kalau ada orang bertanya siapa nama nona majikan saya? Apakah saya harus menjawab tidak tahu?"
"Hemm, kau betul juga A-liok. Namaku Siok Lan, she Liem. Akan tetapi aku lebih terkenal dengan Sian-li Eng-cu."
Liem Siok Lan!
Sebuah nama yang indah bagi Yu Lee serta sekaligus nama ini terukir di dalam hatinya.
Dia tersenyum di dalam hati, nona ini begitu bangga akan nama julukannya, bangga akan ilmu silatnya sehingga menganggap seolah-olah diri sendiri terpandai di dunia kang-ouw.
Hemm, seorang bocah dengan kepala kosong seperti ini dibiarkan saja berkelana seorang diri, sungguh berbahaya!
Tidak mengenal tingginya langit dalamnya lautan.
Perlu sekali dilindungi dan dijaga, kalau tidak tentu akan terjerumus dalam bahaya dalam waktu dekat.
"Kalau begitu marilah kita berangkat siocia."
"Kau ambilkan dulu kudaku, tadi kuikat di sebuah pohon di sana!"
Siok Lan menunjuk ke selatan di mana terdapat segerombolan pohon dan Yu Lee berjalan ke arah yang ditunjuk melaksanakan perintah.
Dari belakangnya, Siok Lan memandang.
Memang hebat keluarga Yu, pikirnya, seorang bujang saja begini tampan dan bagus gerak geriknya, dengan bentuk tubuh yang jantan.
Sayang ia bodoh, pikirnya lagi.
Akan tetapi tentu saja bodoh, kalau pintar masa menjadi pelayan?
Lamunannya buyar ketika pelayannya itu datang, sambil menuntun kudanya.
Dengan gerakan ringan dia melompat naik ke punggung kudanya, lalu berkata.
"Hayo kita berangkat."
"Ke mana nona?"
"Ke mana lagi kalau tidak mencari Pendekar Cengeng? Kau tahu dimana ia sekarang ini?"
Aku harus mengarang cerita, pikir Yu Lee, agar dia percaya dan mereka dapat terus berkumpul dan melakukan perjalanan bersama.
"Saya pernah bertemu dengan Yu-kongcu dan dia pernah bilang bahwa dia ingin merantau ke kota raja. Sebaiknya kita menyusul ke kota raja dan karena namanya sudah terkenal tentu kita dapat bertanya-tanya sepanjang jalan!"
"Hemm benar juga pendapatmu itu. Akan tetapi kota raja amatlah jauh!"
"Nona menunggang kuda, tentu tidak akan lelah."
"Hemm""
Marilah!"
Nona itu tentu saja tidak menyatakan isi hatinya yang membuatnya meragu.
Biarpun orang muda ini menjadi pelayannya namun keadaan orang muda ini terlalu tampan untuk menjadi pelayan!
Siapa tahu, jangan-jangan orang-orang di jalan mengira bahwa pemuda ini bukan pelayannya, tetapi sahabatnya atau lebih celaka lagi, sebagai suaminya atau tunangannya!
Inilah yang membuat ia tadi ragu-ragu karena kalau harus melakukan perjalanan ke kota raja yang jauh tentu makan waktu yang cakup lama.
"Eh, nona......? Jangan cepat-cepat...... nona, mana mungkin saya dapat menyusul larinya kuda?"
Yu Lee berteriak-teriak ketika nona itu mempercepat kudanya.
Siok Lan menoleh dan menghela napas panjang.
Wah, berabe juga mempunyai pelayan, pikirnya.
Kalau dia harus melakukan perjalanan yang lambat hanya demi untuk mencegah pelayannya ketinggalan ini berarti dialah yang harus melayani si pelayan!
Ah apa perlunya ini?
Dan diapun hanya membutuhkan A-liok untuk mengenal dan mencari Pendekar Cengeng.
Dia sudah bertanya-tanya dan orang-orang kang-ouw sudah pula mendengar nama Pendekar Cengeng sebagai seorang pendekar muda yang baru muncul, akan tetapi tidak seorang pun tahu di mana adanya si pendekar itu, dan ia mendengar pula bahwa sukar untuk mengenal si pendekar muda karena pendekar itu tidak pernah menonjolkan diri bahkan lalu bersembunyi dari dunia kang-ouw.
Maka ia mengambil A-liok sebagai pelayan untuk membantunya, akan tetapi siapa duga bahwa risikonya malah berat.
Baru dalam perjalanan saja ia harus menjalankan kudanya perlahan-lahan agar si pelayan tidak ketinggalan.
"Aku akan jalan dulu ke dusun depan. Biar kutunggu engkau di sana, kau jalanlah lebih cepat!"
Teriaknya sambil menoleh lalu membalapkan kudanya ke depan.
Ia akan menjadi kesal setengah mati kalau harus menjalankan kudanya perlahan-lahan, mengimbangi si pelayan yang berjalan kaki begitu lambat!
Akan tetapi, sejam kemudian Siok Lan menghentikan kudanya termangu-mangu di atas kuda.
Ah, ia telah bersikap keterlaluan.
Pelayan itu harus berjalan menyusulnya dan tentu saja tertinggal jauh.
Entah mengapa, membayangkan wajah pelayan itu timbul rasa kasihan di hatinya, padahal kalau berhadapan ia ingin memperlihatkan kekuasaan dan kegalakannya!
Biar kutunggu dia di sini, pikirnya dan iapun melompat turun dan duduk di bawah pohon yang teduh.
Akan tetapi, alangkah herannya ketika ia menengok, ia melihat bayangan si pelayan itu melenggang!
Keheranan hati Siok Lan tidak melawan kekagetan Yu Lee, ketika di tikungan itu ia melihat si nona duduk menantinya!
Hal ini sama sekali tidak pernah disangkanya.
Ia mengira bahwa gadis itu benar-benar meninggalkannya sampai ke dusun di depan, maka tadi karena tidak ingin tertinggal jauh dan ingin mengamat-amati sang nona itu dari dekat, maka ia telah mempergunakan ilmu lari cepat mengejar.
Siapa kira gadis itu kini berhenti di situ dan menantinya!
Sebab tidak menduga maka ia terlihat di tikungan dan sudah kepergok.
Tetapi lalu ia mencari akal, ia berpura-pura lari terhuyung-huyung napasnya terengah-engah serta begitu tiba di depan nona itu, ia lalu menjatuhkan diri kelelahan.
"Waduh....... siocia...... bisa putus napas ku kalau begini......."
Ia terengah engah.
"A-liok, kenapa kau berlari-lari?"
"Habis, nona membalapkan kuda. Saya tidak mau tertinggal jauh. Namanya saja pelayan, tentu harus selalu mengiringkan majikannya. Masa harus melakukan perjalanan terpisah?"
"Salahmu sendiri!"
Yu Lee mengangkat sepasang alisnya yang hitam tebal, memandang heran.
"Lho! Salah aku sendiri bagaimana nona?"
"Kau tidak seperti pelayan ...... eh, ku maksud...... tidak patut menjadi pelayanku."
Yu Lee melirik ke arah pakaiannya. Pakaiannya memang sudah sederhana, cukup patut menjadi pelayan.
"Mengapa tidak patut, nona? Memang saya pelayan."
"Tidak, engkau lebih pantas menjadi seorang perantau, malah""
Hemm...... kau membawa tongkat bambu, seperti pengemis muda!"
"Ahhh ini? Sesungguhnya saya...... amat takut terhadap anjing, nona. Apalagi anjing kelaparan dan anjing gila. Kabarnya orang bisa gila kalau terkena gigit anjing gila, bisa gila seperti anjing. Mengerikan sekali, sebab itu saya bawa tongkat ini buat menjaga diri untuk mengusir kalau kalau ada anjing mau menggigit."
"Huh, setelah menjadi pelayanku, masa terhadap anjing saja takut? Memalukan majikan itu namanya merendahkan nama besar Sian-li Eng-cu!"
Gadis itu cemberut, agaknya tidak puas mendengar betapa pelayannya ini amat penakut. Yu Lee diam-diam tersenyum.
"Kalau dekat dengan nona yang saya tahu amat lihai tentu saya tidak takut. Biarlah say"
Menuntun kuda nona jadi saya selalu dapat berdekatan serta tidak takut lagi digigit anjing, juga lebih patut kalau terlihat orang!"
"Akan tetapi perjalanan menjadi lambat sekali."
Memang itu yang dikehendaki Yu Lee.
"Mengapa nona tergesa-gesa? Bukankah kita mencari orang? Kalau tergesa-gesa, siapa tahu orang itu justeru berada di tempat yang telah kita lewati?"
Siok Lan mengerutkan keningnya lalu bangkit berdiri.
"Hemm, betul juga. Marilah kita berangkat lagi."
Girang hati Yu Lee.
Sudah tiga kali nona itu membenarkan pendapatnya serta menurut.
Biarpun galak kelihatannya, tetapi sebetulnya nona ini punya pendirian yang adil, suka mendengar kata dan tidak membawa maunya sendiri.
Sifat seperti ini adalah sifat yang baik sekali, sebab memperlihatkan watak yang bijaksana mau menurut kata-kata orang lain biarpun orang itu cuma pelayan atau bujangnya.
Berangkatlah mereka.
Siok Lan duduk di atas kudanya.
Yu Lee berjalan di depan kuda, menuntun kuda itu.
Mula-mula Siok Lan yang keisengan mengajaknya bercakap-cakap bertanya soal keluarga Yu.
Bahkan bertanya tentang nama Pendekar Cengeng.
"Kau tentu tahu, siapakah nama cucu Yu-locianpwe yang kini menjadi Pendekar Cengeng itu, A-liok?"
Sambil tetap menuntun kuda tanpa menoleh agar nona itu tidak melihat perubahan pada wajahnya. Yu Lee menjawab.
"Yu-kongcu itu namanya Lee."
"Bagaimana dia dahulu bisa terbebas dari tangan Hek-siauw Kui-bo. Dan engkau sendiri bagaimana bisa bebas? Bukankah Hek-siauw Kui-bo membasmi seluruh keluarga itu berikut semua binatang peliharaan yang berada di situ?"
"Waktu itu, kebetulan sekali saya pulang ke kampung, nona. Dan ketika keesokan harinya saya kembali ke Ki-bun mereka telah tewas semua, kecuali Yu-kongcu yang entah pergi ke mana tak seorangpun mengetahuinya. Saya sendiri juga tidak tahu serta tidak bisa menduga, lalu saya hidup sebagai petani di kampung dan setahun sekali saya mendatangi Ki-bun buat bersembahyang di kuburan. Tahun lalu saya bertemu dengan Yu-kongcu di kuburan......."
"Bagaimana dia? Betul-betul lihaikah? Mana lebih lihai antara dia dan aku?"
"Bagaimana saya bisa tahu nona? Akan tetapi, melihat betapa nona tadi memukul delapan orang penjahat, pasti nona lebih lihai dari dia."
Girang hati Siok Lan mendengar ini, tersenyum-senyum wajahnya berseri-seri sehingga geli hati Yu Lee ketika menengok dan mengerling ke arah wajah yang manis itu.
"Nona yang amat lihai benar-benar membuat saya heran. Seorang nona masih begini muda sudah memiliki kepandaian yang mengalahkan delapan orang kepala bajak, kalau tidak menyaksikan sendiri, mana bisa saya percaya? Tentu nona ini murid seorang yang sakti seperti dewa dan yang kepandaiannya agaknya lebih tinggi dari pada mendiang Yu-kiam-sian sendiri!"
Pancingan Yu Lee ini berhasil baik sekali. Dengan penuh semangat, tanpa ia sadari bahwa ia telah menceritakan riwayatnya kepada pelayannya, Siok Lan lalu berkata.
"Guruku adalah kakekku sendiri yang bernama Liem Kwat Ek dan yang terkenal dengan julukan Thian-te Sin-kiam (Pedang Sakti Bumi Langit)."
"Wah, seorang jago pedang seperti mendiang Yu-kiam-sian!"
Seru Yu Lee diluar kesadarannya. Untung ia masih ingat untuk menyebut Yu Tiang Sin dengan julukannya, kalau lupa menyebut kakek tentu akan terbuka rahasianya.
"Memang! Kakekku seorang jago pedang yang amat ternama sekali di San-si. Kakekku di San-si dan majikanmu di Ki-bun seperti sepasang bintang di utara dan di selatan sama cemerlang dan kalau mau diadakan pertandingan sungguh susah dikatakan. Ditimbang sama beratnya, diukur sama besarnya! Akan tetapi di antara mereka tidak pernah terjadi permusuhan maka sukar diketahui siapa yang lebih lihai. Bahkan mereka menjadi sahabat baik, sahabat seperjuangan menentang pemerintah penjajah Goan. Sejak kecil aku dilatih ayah sendiri yang bernama Liem Swie dan kini masih tinggal di San-si akan tetapi selama lima tahun terakhir ini aku dilatih sendiri oleh kakekku yang menurunkan ilmu simpanannya kepadaku seorang."
"Wah, pantas saja nona begini lihai!"
Siok Lan semakin berseri wajahnya.
Biarpun yang memujinya hanyalah seorang pelayan namun bukanlah sembarang pelayan, melainkan bekas pelayan Yu-kiam-sian!
"Kalau tidak lihai, masa dunia kang-ouw menyebutku Sian-li Eng-cu?
Sebaliknya bekas majikanmu itu, biarpun menjadi pendekar, disebut Pendekar Cengeng?
Uh memalukan sekali!
Ingin kucoba sampai di mana sih kepandaiannya maka ia begitu sombong!"
Diam-diam Yu Lee merasa penasaran sekali.
Nona iai sudah dua kali mengatakan bahwa Pendekar Cengeng sombong.
Apa sih sombongnya dan mengapa?
Bukankah menurut nona ini sendiri tadi bahwa terdapat persahabatan erat, bahkan sahabat seperjuangan antara pendekar Yu-kiam-sian dan kakek nona ini?
Mengapa nona ini mencari Pendekar Cengeng dan hendak menantangnya dengan sikap kelihatan marah dan membenci?
"Nona, maafkan pertanyaanku.
Mengapa nona membenci Pendekar Cengeng?
Apakah kesalahannya terhadap nona, padahal diantara Yu-kongcu dan nona tidak pernah ada hubungan, bahkan tak pernah saling jumpa!"
"Apa? Engkau hendak berpihak kepadanya?"
"Wah...... tidak sama sekali nona. Hanya ingin tahu belaka......" (Lanjut ke
Jilid 10) Pendekar Cengeng (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 10
"Hemm, kau pelayan tahu apa? Dia telah menghina keluargaku tidak memandang sebelah mata. Ia sombong."
Baca Juga: Bu Kek Siansu 1
Baca Juga: Asmara Berdarah 2