Ceritasilat Novel Online

Pendekar Cengeng 2

Eps 2 Pendekar Cengeng - Kho Ping Hoo

Baca online Pendekar Cengeng - Kho Ping Hoo

Cersil Pendekar Cengeng - Kho Ping Hoo.

Di lain saat pengantin pria yang hendak bergerak tiba-tiba menjadi lemas dan tak dapat bergerak ketika tubuhnya direnggut kemudian dipanggul di atas pundak.

Dewi Suling sekali meloncat sudah malayang naik dan ke luar melalui langit-langit kamar yang sudah bobol itu.

Tak lama kemudian pemuda belia she Bhok yang tadi masih jadi pengantin, kini telah menjadi seorang tawanan yang dibawa berlari-lari cepat sekali dalam malam gelap.

Malam itu pemuda remaja she Bhok memang masih jadi pengantin pria, akan tetapi ia bukan berpengantin dengan isterinya di dalam kamar pengantin melainkan berpengantinan dengan Dewi Suling seorang wanita yang penuh nafsu dan pengalaman dan bertempat di pinggir sebuah sungai kecil dalam hutan di luar kota Ho-pak.

Bukan di ranjang pengantin yang berhiasan sutera berwarna, melainkan di atas tanah bertilamkan rumput hijau tebal dihias bunga yang tumbuh di sekitar tempat itu.

Muda belia she Bhok ini bukanlah seorang mata keranjang, bukan pula seorang hamba nafsu dan betapa cantik menggairahkan sekali pun Dewi Suling itu, ia tidak akan tunduk dan menuruti hasrat kotor dari hina si iblis betina, kalau saja ia tidak dipaksa menelan dua butir obat yang membuat pemuda she Bhok menjadi seperti mabok dan gila karena pengaruh obat itu, dia berubah menjadi seperti setan kelaparan dan melayani hasrat Dewi Suling dengan nafsu yang sama besarnya.

Akan tetapi pada keesokan harinya, menjelang siang pengantin pria she Bhok ini sudah terkapar mati di tepi sungai dengan tubuh utuh, tanpa pakaian, sama sekali tidak terluka dan mukanya pucat tak berdarah lagi itu membayangkan kepuasan dengan mulut tersenyum.

Akan tetapi dari semua lubang di tubuh menetes-netes keluar darah!

Siapakah wanita sekeji iblis yang disebut Dewi Suling itu?

Dia ini bernama Ma Ji Nio dan orang-orang kang-ouw yang membenci sepak terjangnya memberi julukan Cui-siauw-kwi (Setan Peniup Suling) sedangkan orang-orang yang takut menyebut Cui-siauw Sianli (Dewi Peniup Suling).

Dia ini seorang wanita muda yang cantik jelita dan sekiranya wataknya tidak seganas itu, tentu banyak laki-laki yang akan jatuh hati kepadanya dan akan suka sekali menjadi suaminya.

Akan tetapi Cui-siauw Sianli ini memandang pria sebagai barang permainannya, buat memuaskan nafsu binatang yang telah menguasai dirinya.

Dewi Suling ini murid tunggal Hek-siauw Kui-bo (Biang lblis Hitam) yang terkenal sebagai seorang tokoh dunia hitam yang amat ganas serta kejam.

Dalam permulaan cerita ini kita sudah berkenalan dengan Hek-siauw Kui-bo yang amat kejam lagi ganas dan telah membasmi seluruh keluarga Yu Tiang Sin berjuluk Si Dewa Pedang tanpa berkedip di dusun Ki-bun, hanya berkat pertolongan seorang sakti bernama Sin-kong-ciang Han It Kong maka seorang cucu Yu-kiam-sian dapat diselamatkan serta iblis betina itu dapat diusir.

Semenjak kekalahannya melawan Han It Kong si pengemis bertopi lebar, Hek-siauw Kui-bo tidak pernah muncul lagi di arena kang-ouw, ia lalu memperdalam ilmunya dan mendidik hanya seorang murid yaitu Ma Ji Nio.

Murid ini ia pelihara semenjak masih kecil serta ia didik sejak umur lima tahun, seorang anak yatim piatu yang kehilangan ayah bundanya sewaktu penyakit menular mengamuk di dusun tempat tinggalnya.

Ma Ji Nio mempunyai bakat yang amat baik sehingga ia telah dapat mewarisi semua kepandaian gurunya, bukan hanya kepandaian bahkan watak gurunya telah diwarisinya pula, malah dalam mengumbar hawa nafsu birahi ia telah melampaui gurunya!

Di waktu ia berusia enambelas tahun saja ia sudah mulai bercinta-cintaan dengan pemuda-pemuda tampan yang dilihatnya namun masih ia lakukan secara bersembunyi karena ia masih takut terhadap gurunya itu.

Setelah Ma Ji Nio berusia duapuluh tiga tahun lalu diperbolehkan merantau sendiri berpisah dari gurunya yang sudah merasa tua dan bosan merantau lagi maka keadaan Ma Ji Nio seperti seekor kuda terlepas dari kendali.

Ia menjadi binal serta liar mengumbar nafsu sesuka hati tanpa ada yang melarangnya lagi.

Serta berkat ilmu kepandaiannya yang amat luar biasa, seben-tar saja dalam waktu dua tahun, ia telah mendapat nama setinggi langit sehingga pada saat itu, tak ada orang yang berani jika mendengar nama Dewi Suling disebut-sebut!

Entah sudah berapa banyak orang-orang menjadi korban di tangannya yang amat ganas, baik orang-orang itu bersalah kepadanya ataupun orang-orang yang sama sekali tidak bersalah, dan mudah diperkirakan berapa banyak pria yang tampan menjadi korbannya kalau diketahui bahwa ia tak pernah dapat melewatkan semalam pun tanpa ada pria tampan yang memeluk dan menemaninya tidur!

Yang mengerikan, pria-pria tampan itu setelah melayani secara sukarela atau secara tak sadar karena pengaruh obat dalam waktu satu, dua atau paling lama tiga hari tiga malam tentu akan ditinggalkannya dalam keadaan tak bernyawa lagi!

Sekali tusuk dengan jarinya yang tepat mengenai jalan darah maut, pria itu akan terbinasa tanpa terluka serta dalam keadaan dibuai kenikmatan karena ia mati tanpa merasakan nyeri dan bahwa sama sekali tidak menduganya.

Mengapa Dewi Suling begini kejam?

Mengapa pula membunuh pria-pria yang sudah melayani hasrat serta sudah mendatangkan kesenangan dan kepuasan kepadanya?

Inilah keistimewaan serta kebiasaannya yang telah melampaui gurunya sendiri.

Hek-siauw Kui-bo dahulu di masa mudanya juga gila laki-laki, akan tetapi tidak tega membunuh pria yang menjadi kekasihnya.

Sebaliknya Dewi Suling ini selalu membunuh pria yang sebelumnya masih terbuai dalam pelukannya selama satu, dua atau tiga malam!

Dia tidak mau membiarkan pria-pria itu hidup setelah menjadi kekasihnya, karena selain ia tidak rela membagi pria-pria itu dengan wanita lain yang tentu akan digauli pria-pria itu setelah ia pergi, juga ia tidak mau dijadikan bahan percakapan oleh pria-pria itu yang tentu akan membanggakan pengalaman nikmat bersamanya itu.

Gegerlah dunia persilatan setelah Dewi Suling itu yang sukar dicari lawan merajalela di dunia kang-ouw selama dua tahun.

Dan sekarang seperti biasa terjadi di mana saja yang dilaluinya, Dewi Suling membikin kacau di Ho-pak.

"Sekali lagi saya mohon dengan segala kerendahan hati agar Locianpwe (Orang Sakti) sudi mengulurkan tangan membantu penderitaan kami penduduk Ho-pak, buat kesekian kalinya Lauw Bu si muka hitam itu memohon sambil berlutut.

"Siapa lagi kalau bukan Locianpwe yang dapat menghadapi iblis betina Cui-siauw-kwi itu?"

Kakek yang duduk di atas bangku dalam pondok bambu itu mengerutkan keningnya, akan tetapi mulutnya tersenyum lebar, bahkan ia lalu tertawa bergelak mendengar ucapan It-gan Hek-hauw Lauw Bu pemilik rumah makan dan rumah judi Lok-nam di Ho-pak itu.

Kakek itu seorang tosu yang sudah tua sekali, rambutnya dan jenggotnya sudah putih semua, mukanya yang penuh keriput berwarna agak kehijauan.

Matanya sipit dan mulutnya selalu tersenyum, kakek ini usianya sudah de-lapanpuluh tahun kurang sedikit.

Di atas meja di depannya terdapat seguci arak dan di belakangnya terselip di dinding bambu tampak sebatang pedang yang bergagang dan bersarung tua sekali.

Inilah Hap Tojin, atau yang di dunia kang-ouw terkenal dengan julukan Siauw-bin-mo (Setan Tertawa) karena mukanya memang selalu berseri dan tertawa.

Lima belas tahun yang lalu kita pernah berjumpa dengan tosu ini sebagai seorang tosu kosen yang melayat kematian Yu Tiang Sin dan kemudian bersama Tho-tee-kong Liong Losu gagal dalam menghadapi Hek-siauw Kui-bo dan hampir saja tewas di tangan iblis betina itu kalau tidak tertolong oleh Han It Kong.

Selama lima belas tahun ini Siauw-bin-mo Hap Tojin mengasingkan diri di dalam hutan sambil melatih dua orang muridnya.

Beberapa lama ia sudah mencari-cari murid sampai akhirnya ia mendapatkan dua orang murid berbakat serta bertulang baik.

Setelah itu ia setiap hari memberi didikan kepada dua orang muridnya, serta tidak lagi mencampuri dunia ramai.

Betapapun juga ketika beberapa tahun telah lewat, It-gan Hek-hauw Lauw Bu bersama keluarganya yang mau pindah ke Ho-pak lewat di hutan itu lalu menjadi korban perampok-perampok yang amat lihai.

Siauw-bin-mo tak dapat tinggal diam lalu memberi bantuan serta mengusir para perampok itu.

Itulah sebabnya mengapa sekarang It-gan Hek-hauw Lauw Bu meminta waktu tiga hari setelah diancam oleh Dewi Suling lalu waktu ini ia pergunakan buat pergi ke tempat Siauw-bin-mo Hap Tojin yang pernah menolongnya.

Hap Tojin mengelus-elus jenggotnya yang putih serta panjang.

Ia menoleh kepada dua orang muridnya itu yang duduk di sebelah belakangnya.

"Bagaimana pendapat kalian, murid-muridku?"

Tanya Si Tosu kepada mereka yang sejak tadi cuma mendengarkan dengan mulut tertutup.

Dua orang muda itu betul-betul patut dibanggakan sebagai murid oleh guru yang manapun juga, yang seorang bernama Ouwyang Tek, berusia duapuluh dua tahun, berpakaian serba kuning serta sebuah pedang tergantung di pinggang.

Pemuda ini gagah perkasa, tubuhnya tinggi besar serta kuat, dadanya lebar dan tebal, pundaknya rata, pinggangnya kecil, kaki tangannya besar serta menonjolkan urat yang bergerak-gerak hidup.

Wajahnya seratus persen laki-laki, bersikap keren serta pipi bagian atas mulai tampak rambut, begitu pula di atas bibir dan di bawah dagunya, sehingga betul-betul tampak gagah seperti seekor kuda jantan.

Murid kedua adalah seorang pemuda berusia duapuluh tahun, bernama Gui Siong, berbeda dengan suhengnya (kakak seperguruan) Gui Siong ini tubuhnya sedang saja, wajahnya tampan dengan kulit muka halus licin tak ditumbuhi rambut kasar, berwarna kemerah-merahan seperti wanita cantik.

Tetapi di dalam kehalusan gerak geriknya, tersembunyi kekuatan yang jelas terlihat dalam pandang matanya, berpakaian warna biru serta membawa pula sebatang pedang.

Dua orang murid ini berbeda dengan suhu mereka, berpakaian indah serta bersih sehingga bagi mereka yang tidak tahu mengira tentulah mereka putera-putera bangsawan atau setidak-tidaknya putera hartawan, hal ini adalah kehendak Hap Tojin yang merasa bangga terhadap murid-muridnya dan dianggap pula sebagai putera sendiri.

Selama limabelas tahun ini ia sudah menurunkan hampir seluruh ilmunya kepada dua orang murid itu serta memberikan ilmu pedang yang gerakannya disesuaikan pada tubuh mereka masing-masing.

Kakek sakti ini mengambil semua intisari ilmu pedangnya lalu menciptakan dua macam ilmu pedang sesuai keadaan tubuh mereka sendiri-sendiri.

Ouwyang Tek diberi ilmu pedang Pek-lui-kiam-hoat (ilmu Pedang Kilat), Gui Siong yang halus gerak-geriknya itu diberi ilmu pedang Bi-ciong-kiam-hoat (ilmu Pedang Indah Menyesatkan).

Ketika mendengar pertanyaan gurunya Ouwyang Tek segera berdiri lalu menja-wab.

"Mendengarkan cerita Lauw Bu tadi teecu (murid) berpendapat bahwa iblis betina itu amat jahat patut dienyahkan. Akan tetapi tidak semestinya kalau Suhu yang sudah lanjut usia pergi sendiri menghadapi seorang penjahat wanita yang masih muda belia, kiranya cukup kalau teecu yang pergi mewakili Suhu memberi hajaran kepadanya!"

Gui Siong juga berdiri dan berkata.

"Suhu pernah mengatakan bahwa di dalam dunia persilatan, ada tiga orang golongan yang harus dihadapi dengan hati-hati, yaitu pendeta tua, orang tapa-daksa dan wanita. Mereka bertiga ini pada umumnya termasuk orang-orang lemah, maka sekali mereka berani merajalela sudah pasti kepandaian mereka tinggi. Karena itu jika Suhu menghendaki, biarlah teecu menemani Suheng untuk menghadapi penjahat wanita itu!"

Siauw-bin-mo Hap Tojin tertawa bergelak, jawaban-jawaban kedua muridnya ini sudah jelas membayangkan watak masing-masing.

Ouwyang Tek orangnya jujur dan wataknya gagah perkasa, sedangkan Gui Siong orangnya lebih hati-hati dan teliti, ia lalu menengok kepada It-gan Hek-hauw Lauw Bu dan berkata.

"Orang she Lauw! Terus terang saja kedua muridku yang akan menghadapi Cui-siauw-kwi itu bukan sekali-kali karena hendak membantumu. Pinto tahu orang apa engkau ini, It-gan Hek-hauw! Karena itu kami sama sekali tidak akan mencampuri urusanmu dan kalau murid-muridku hendak menghadapi Cui-siauw-kwi adalah semata-mata untuk menumpas kejahatan. Nah, kau pergilah!"

Muka yang hitam dari Lauw Bu itu sebentar pucat sebentar makin hitam.

"Tapi...... tapi......."

Ia menggagap, sama sekali tidak mengira bahwa penolongnya itu ternyata dapat mengenal julukannya dan agaknya tahu bahwa dia dahulu bu-kanlah orang baik-baik.

"Guruku sudah bicara, engkau masih hendak bilang apalagi? Pergilah!"

Ouwyang Tek berkata sambil mendorong ke arah Si Muka Hitam.

It-gan Hek-houw bukanlah orang lemah.

Tidak, ia bahkan seorang tokoh yang memiliki kepandaian tinggi sehingga tidak mudah dirobohkan orang.

Kini menghadapi penghinaan dan melihat betapa pemuda tinggi besar itu me-mandang rendah kepadanya diam-diam ia mengerahkan tenaga dalam ke arah pundaknya yang hendak didorong, untuk membikin pemuda itu kecelik malu.

Biarpun murid Hap Tojin yang ia tahu amat lihai, namun pemuda yang baru berusia duapuluh tahun lebih itu, mana mampu melawan lweekangnya?

"Aduuuh""!"

Lauw Bu yang menerima dorongan itu dengan tenaga dalamnya, merasa betapa pundaknya seperti dicambuk besi panas dan betapa pun ia melawan dengan tenaga dalam tetap saja ia terlempar keluar pintu pondok dan roboh bergulingan.

Dari dalam pondok terdengar suara ketawa Hap Tojin terkekeh-kekeh sehingga cepat-cepat Si Muka Hitam ini lari menghampiri kudanya melompat ke punggung kuda dan melarikan kuda itu kembali ke Ho-pak.

Ouwyang Tek dan Gui Siong setelah menerima nasihat-nasihat gurunya agar supaya berhati-hati, lalu bersiap-siap berangkat.

Mereka belum pernah menggunakan kepandaian mereka untuk bertanding, maka biarpun mereka itu sama sekali tidak merasa takut, namun hati mereka tetap saja tegang.

"Satu hal yang perlu kalian perhatikan adalah sikap harus waspada dan sama sekali jangan memandang rendah lawan. Kurasa seorang wanita yang sudah berani terjun ke dunia kang-ouw dan dengan ganas membunuhi banyak orang tanpa berkedip seperti Cui-siauw-kwi itu, adalah seorang lawan yang tangguh sekali. Pinto sendiri tidak tahu siapa dia, dari aliran mana, namun jelas bahwa dia itu seorang penjahat ganas yang lihai, harap kalian berhati-hati dan jangan mengecewakan hati pinto."

Berangkatlah dua orang pemuda itu.

Mereka berjalan kaki, namun karena mereka menggunakan ilmu lari cepat Hui-hong-sut (Berlari Terbang), pada malam hari itu mereka tiba di Ho-pak.

Begitu memasuki kota ini, mereka sudah mendengar sepak terjang Cui-siauw-kwi yang mendirikan bulu roma mereka!

Bukan hanya berita pengamukan iblis betina itu di rumah judi Lok-nam sehingga menewaskan belasan orang anak buah It-gan Hek-houw Lauw Bu, juga peristiwa-peristiwa berikutnya yang membuat kedua pemuda itu membelalakkan mata dan menjadi merah mukanya saking marah.

Mereka mendengar betapa iblis betina itu telah membunuh pengantin wanita dan menculik pengantin pria yang kemudian ditemukan orang mati di tepi sungai dalam hutan.

Kemudian mereka mendengar pula beberapa hari berikutnya putera Gak-taijin (Pembesar Gak) di kota itu yang tersohor tampan serta pandai, lenyap pula.

Melihat cara lenyapnya pemuda ini dari dalam kamarnya dan betapa orang-orang di rumah pembesar itu mendengar suara lengking suling, jelas dapat diketahui atau diduga siapa penculiknya.

Dan pembesar she Gak itu sudah menggerakkan pasukan untuk mencari, tetap saja tak dapat diketemukan di mana adanya Gak-kongcu!

Mendengar berita ini, setelah mandi serta makan malam, Ouwyang Tek serta Gui Siong lalu melakukan penyelidikan, meronda sepanjang malam di kota Ho-pak serta kadang-kadang mereka mempergunakan kepandaian buat melompat ke atas genteng dan berlari-lari di atas wuwungan rumah-rumah yang berdempetan di kota itu.

Menjelang pagi, dua orang pendekar muda itu melihat bayangan dua orang di dekat kandang kuda di sebuah rumah gedung.

Mereka menjadi heran sebab seluruh penduduk pada saat itu sedang tidur pulas, mengapa dua orang itu, se-orang pria dan seorang wanita, berada di luar rumah dan berada dekat kandang kuda?

Apakah mereka itu pengemis-pengemis yang berlindung di tempat itu?

Ataukah pencuri?

Ataukah......

iblis wanita itu bersama Gak-kongcu yang kabarnya hilang diculik?

Ouwyang Tek memberi isyarat kepada sutenya (adik seperguruan) dan kedua orang ini lalu melayang turun dengan gerakan ringan kemudian mereka menye-linap dan mendekati tempat itu lalu mengintai.

Alangkah heran mereka ketika tahu bahwa dua orang itu pasti bukan pengemis karena pakaian mereka menandakan bahwa mereka itu orang-orang kaya, juga bukan Si Iblis Betina dan Gak-kongcu karena mereka berusia empatpuluh tahun.

Dua orang itu sedang bercakap-cakap perlahan dan berkali-kali mereka mengeluh.

"Ah, asal saja pagi nanti mereka lekas pergi lagi dan tidak terjadi sesuatu di kamar kita,"

Keluh yang laki-laki.

"Suamiku""

Aku...... aku takut......."

Kata yang wanita.

Ouwyang Tek bersama adik seperguruannya lalu meloncat keluar dari tempat sembunyi mereka, suami isteri itu.

terkejut sekali, akan tetapi sang suami sudah berdiri menghadang di depan isterinya sambil menatap tajam dan membentak.

"Siapa kalian dan ada perlu apa masuk di waktu yang tidak semestinya di tempat orang?"

Ouwyang Tek menjadi marah, akan tetapi Gui Siong sudah mendahului suhengnya menegur halus.

"Paman serta Bibi berdua kenapakah Paman berdua sepagi ini berada di tempat ini? Kami sampai kemari sebab merasa curiga melihat Paman berdua."

"Hm, kami pemilik gedung serta kandang ini, sewaktu-waktu kami datang kemari siapa yang akan melarang?"

Ouwyang Tek mendengar bahwa orang itu adalah pemilik rumah gedung itu sen-diri, lalu lenyap kemarahannya serta ia bertanya suaranya memang keras dan jelas.

"Paman, perbuatan ini tentu tidak sewajarnya serta mencurigakan. Kalau Paman pemilik gedung ini kenapa Paman tidak tidur di dalam sebaliknya malah berada di tempat ini? Mengapa pula Bibi tadi bilang takut serta Paman mengharapkan mereka lekas pergi. Siapakah mereka? Harap Paman berdua jangan curiga, sebab kami bukan orang jahat. Sebaliknya, kami meronda untuk mencari orang-orang jahat yang mengganggu penduduk kota ini."

"Kami mencari Cui-siauw-kwi,"

Kata pula Gui Siong. Tetapi tiba-tiba tubuh suami isteri itu menggigil.

"Jangan...... jangan keras-keras...... dia...... dialah yang berada di gedung kami dan sudah dua hari ini memaksa kami meninggalkan gedung."

Dua orang pemuda gagah itu menjadi kaget dan cepat-cepat mereka mendesak suami isteri itu menceritakan keadaan mereka.

Ternyata mereka itu adalah suami isteri yang cukup kaya, memiliki gedung indah serta pelayan banyak.

Tetapi mereka tidak punya anak dan hidup hanya berdua di gedung itu.

Malam hari itu sewaktu mereka tidur pulas dalam kamar yang mewah, tiba-tiba mereka terbangun dan melihat seorang gadis cantik sudah berdiri di situ sambil mengancam.

Gadis itu bukan lain adalah Cui-siauw-kwi yang datang sambil memanggul tubuh Gak-kongcu yang pingsan.

Kemudian dengan kekerasan iblis betina itu mengusir suami isteri ini keluar disertai pula ancaman.

"Aku hanya pinjam rumahmu ini buat dua hari dua malam. Kalian keluar dulu dari dalam gedung ini, tetapi awas kalau sampai kalian memberitahukan pada orang lain perihal kehadiranku di sini, kalian akan mampus! Juga semua pelayan harus melayani aku sebagai tamu terhormat serta tak boleh bicara di luaran mengenai kami."

Begitulah suami isteri itu dengan ketakutan bersembunyi saja di dekat kandang kuda dan disebabkan malam itu adalah malam kedua, mereka tidak bisa tidur di dalam kandang, cuma menanti tibanya pagi untuk mendapatkan kembali rumah mereka yang buat sementara ditempati oleh Cui-siauw-kwi.

"Bagus!"

Kata Ouwyang Tek.

"Harap Paman serta Bibi tak usah khawatir. Kami berdua memang sengaja datang ke Ho-pak buat mencari Cui-siauw-kwi serta membasminya. Kalau dia berada di dalam kamar Paman saat ini, biarlah sekarang juga kami serbu dan menangkapnya."

Tanpa mempedulikan keluhan-keluhan penuh rasa takut dari kedua suami isteri itu, Ouwyang Tek serta Gui Siong lalu berlari-lari memasuki gedung itu dari pintu belakang.

Gedung itu sepi-sepi saja, semua pelayan berkumpul di kamar belakang, ketakutan serta berdesak-desakan.

Mereka melayani hanya di waktu siang saja terhadap "tamu agung"

Itu yang selalu mereka lihat bermesra-mesraan di dalam kamar tanpa malu-malu lagi.

Dengan hati-hati sekali Ouwyang Tek dan Gui Siong menuju ke kamar suami isteri itu seperti tadi setelah diberitahukan.

Mereka mencabut pedang dan dengan hati-hati sekali menghampiri kamar, lalu perlahan-lahan mereka menolak daun pintu yang ternyata tidak terkunci dari dalam.

Pintu bergerak perlahan terbuka sedikit.

Tangan Ouwyang Tek yang menolak pintu itu berhenti bergerak, sebab pada saat itu terdengar suara orang dari dalam kamar, suara seorang laki-laki menggumam lirih.

"Ma-kouwnio (Nona Ma)......, mau ke manakah kau.......? Jantung hatiku...... kekasihku jangan tinggalkan aku...... ahh, betapa cintaku padamu......."

Pada saat itu terdengar suara wanita tertawa genit.

Ouwyang Tek dan Gui Siong, dua orang muda yang sopan dan gagah, menjadi merah sekali wajahnya mendengar semua itu, mereka menjadi marah dan cepat mereka mendorong daun pintu sambil memaki.

"Iblis betina. Menyerahlah!"

"Sute, awas!"

Ouwyang Tek tiba-tiba berseru keras dan bersama sutenya ia melompat mundur lagi dan cepat membanting diri ke samping, beberapa batang jarum merah yang beracun menyambar lewat, diikuti suara ketawa cekikikan seperti ketawa siluman yang mengerikan.

Dan pada saat itu terdengar jerit mengerikan dari dalam kamar, kemudian disusul suara, melengking nyaring dan tinggi, lengking suling.

Sambil memutar pedang di depan dada, kedua orang muda perkasa itu melompat masuk ke dalam kamar, sebuah kamar yang mewah dan indah, kamar seorang hartawan.

Bau harum semerbak menyambut hidung mereka dan ketika mereka memandang isi kamar yang diterangi lampu minyak yang dikerobong oleh kertas hijau, mereka melihat tubuh seorang pemuda yang telentang telanjang di atas pembaringan dalam keadaan tak bernyawa lagi.

Ouwyang Tek meraba dada pemuda tampan itu dan mendapat kenyataan bahwa mayat itu masih hangat, baru saja tewas.

Tentu pemuda inilah yang tadi berkata-kata kemudian menjerit.

Tapi di dalam kamar itu tidak ada lain orang lagi di situ dan suara suling yang melengking pun kini hanya terdengar lapat-lapat jauh dari situ.

"Suheng, dia lolos dari situ!"

Gui Siong berkata dan menunjuk ke atas.

Kiranya langit-langit kamar itu sudah bobol dan berlubang besar, jelas bahwa Dewi Suling telah melarikan diri dari situ ketika serangan jarumnya gagal setelah lebih dulu membunuh korban nafsu iblisnya.

"Kejar!"

Ouwyang Tek berseru dan bagaikan dua ekor burung garuda tubuh mereka sudah meluncur ke atas melalui lubang langit-langit dan tak lama ke-mudian mereka sudah berlari cepat melakukan pengejaran di dalam gelap.

Namun hasilnya sia-sia, orang yang dikejarnya telah lenyap tak berbekas lagi, juga suara lengking suling sudah lenyap.

Sampai gelap terusir sinar matahari pagi dua orang pendekar muda ini mencari-cari, namun tetap tanpa hasil.

Kemudian mereka melihat betapa para petugas pembesar setempat sibuk mengurus putera Gak-taijin yang sudah tewas di rumah hartawan itu.

Penduduk Ho-pak makin panik.

"Dia licin sekali!"

Kata Gui Siong kepada suhengnya ketika mereka makan siang di sebuah kedai makanan.

"Juga amat berbahaya, jarum-jarum merah itu mengandung racun yang mematikan."

Suhengnya mengangguk-angguk.

"Betapapun juga dia harus mati di tangan kita, sukar mencari tempat sembunyinya, tidak ada jalan lain kecuali menanti sampai malam nanti, bukankah malam nanti saat perjanjiannya dengan It-gan Hek-hauw untuk mengambil uang seribu tail emas? Nah, menanti sampai dia muncul di Lok-nam Po-koan."

"Setidaknya orang she Lauw itu tentu akan melakukan perlawanan,"

Kata Gui Siong setelah berpikir sejenak.

"Orang seperti dia mana mungkin mau menerima saja kehilangan uang sebanyak itu? Selain itu, juga Gak-taijin juga tidak mungkin mendiamkan saja puteranya ditewaskan siluman itu, apakah kita harus menggabungkan diri dengan mereka?"

Ouwyang Tek menggelengkan kepala.

"Tak mungkin, Sute. Kalau memang mereka itu hendak menghadapi Dewi Suling, biarkanlah. Tidak semestinya kalau kita menggabungkan diri dengan mereka apalagi Suhu sendiri sudah menyatakan bahwa orang she Lauw itu dahulunya juga bukan orang baik-baik sehingga kalau kita bersekutu dengan dia berarti kita membantu bekas penjahat. Kalau mereka memang hendak melawan Dewi Suling, biarkanlah, kita menonton saja dan syukur-syukur kalau mereka berhasil merobohkan Dewi Suling dengan pengeroyokan mereka karena memang sebenarnya kita pribadi tidak mempunyai permusuhan dengan Dewi Suling."

"Benar sekali, Suheng. Memang aku pun berpendapat demikian. Andaikata Dewi Suling mengganggu orang baik-baik, tentu kita akan turun tangan tanpa me-nanti apa-apa lagi. Akan tetapi sekarang ini, Dewi Suling bermusuhan dengan It-gan Hek-hauw Lauw Bu seorang penjahat yang mendapatkan kekayaan mungkin dengan jalan jahat pula. Kita menonton saja dan kalau mereka itu gagal barulah kita turun tangan."

Setelah bermufakat dan membuat rencana, dua orang pendekar muda itu lalu bersembunyi dan mengintai rumah makan dan rumah judi Lok-nam dari tempat yang tidak seberapa jauh.

Mereka mendapat kenyataan bahwa dugaan mereka tadi benar karena melihat sibuknya para jagoan yang dikirim oleh Gak-taijin untuk menangkap atau membunuh Dewi Suling.

Sedikitnya ada duapuluh orang jagoan yang membawa-bawa senjata tajam dan berkeliaran di sekitar dua tempat itu, yaitu rumah makan dan rumah judi.

Di samping itu It-gan Hek-hauw sendiri agaknya juga sudah berhasil mengundang lima orang sahabat baiknya yang datang dari utara.

Mereka itu bukan lain adalah Ngo-tok-hai-liong (Lima Naga Laut Beracun).

Mereka terkenal sebagai bajak-bajak laut yang kini sudah "pensiun", sudah mengundurkan diri dari dunia perbajakan dan tinggal di Sin-yang sebagai orang-orang yang hidup serba cukup, dan mempunyai sawah ladang luas.

Mengingat akan persahabatannya yang sudah lama serta akan hadiah seratus tail emas yang dijanjikan oleh It-gan Hek-hauw kepada mereka, lalu kelima orang naga tua itu tiba di Ho-pak dan menanti saat munculnya perempuan iblis yang berani mengganggu kawan mereka Si Harimau Muka Hitam.

Lima orang bekas bajak laut ini bukanlah orang sembarangan, ilmu silat mereka lihai, tidak kalah oleh tingkat kepandaian It-gan Hek-hauw dan mereka berlima dapat bekerja sama dengan baik dalam menghadapi musuh.

Mereka adalah lima orang kakak beradik she Teng berusia antara limapuluh sampai enampuluh tahun.

Setelah senja berganti malam, di sekitar tempat itu menjadi sunyi.

Tidak tampak seorang jagoan pun yang menjaga rumah judi, mereka semuanya telah ber-sembunyi sesuai menurut rencana.

Diam-diam mereka telah mengurung rumah judi itu dan yang tampak di dalam po-koan itu cuma It-gan Hek-hauw beserta lima orang anak buahnya.

Sebuah peti besar terisi seribu tail emas terletak di atas meja di tengah ruangan.

Suasana sunyi sekali, pada wajah It-gan Hek-hauw dan lima orang anak buahnya terlihat jelas ketegangan hebat.

Berbeda dengan tiga hari yang lalu, kini It-gan Hek-hauw berpakaian ringkas, tidak seperti seorang majikan po-koan lagi, tetapi seperti seorang jago silat dan sebuah golok besar terselip di pinggangnya.

Juga lima orang anak buahnya semua membawa senjata tajam.

Biarpun It-gan Hek-hauw tahu bahwa Ngo-tok-hai-liong lima orang sahabat yang ia andalkan berada di balik pintu dalam, dalam keadaan siap melindunginya serta di luar po-koan bersembunyi duapuluh orang lebih jagoan dari Gak-taijin namun tetap saja jantungnya berdebar-debar dan tenggorokan serta bibirnya selalu terasa kering.

Hari telah jauh malam ketika semua orang yang menanti-nanti dengan hati tegang itu tiba-tiba mendengar suara lengking suling memecah kesunyian malam.

Semua orang terkejut.

Lebih-lebih lagi It-gan Hek-hauw Lauw Bu, ia meloncat dari tempat duduknya, lalu tangannya sudah meraba gagang senjata.

Suara suling itu makin nyaring lalu berhenti.

Dari pekarangan depan masuklah Dewi Suling, pakaiannya yang serba merah itu tipis berkibar-kibar ketika ia melangkah masuk dengan bibir tersenyum manis.

Kini di tangan kanannya tampak sebuah suling merah dan mengkilap, entah terbuat dari logam apa.

Panjang suling itu seperti sebatang pedang.

Tanpa curiga serta ragu-ragu Dewi Suling melangkah masuk ke dalam ruangan judi dan ketika melihat It-gan Hek-hauw bersama lima orang anak buahnya di situ, ia memperlebar senyumnya serta matanya lalu melirik peti di atas meja.

"Hem, kulihat kau menepati janjimu, It-gan Hek-hauw!"

Kata Dewi Suling yang melangkah maju ke arah meja dan sekali tangan kirinya bergerak ia sudah mem-buka tutup peti dan melihat isinya, lalu tersenyum puas, tiba-tiba ia meniup su-lingnya lalu terdengarlah lengking yang amat tinggi sehingga It-gan Hek-hauw cepat mengerahkan lweekangnya untuk menahan serangan suara yang amat hebat itu.

Lima orang anak buahnya sudah terjungkal serta merintih kesakitan sambil menutupi kedua telinganya masing-masing, untung bagi mereka bahwa tiupan suling itu hanya sebentar saja dan agaknya merupakan sebuah isyarat karena di luar rumah terdengar derap kaki kuda dan roda kereta.

Ketika suling ditiup, lima orang jago tua Ngo-tok-hai-liong terkejut dan sudah muncul keluar dari tempat persembunyiannya sambil mencabut pedangnya ma-sing-masing, juga Lauw Bu mencabut goloknya setelah Dewi Suling menghentikan tiupan sulingnya, lima orang anak buahnya juga merayap bangun dengan muka yang sangat pucat.

"Hi, hi, hik! It-gan Hek-hauw! Aku tahu bahwa kau menyerahkan kepala menahan ekornya, kau menyerahkan emas namun diam-diam memasang jebakan! Lima ekor cacing laut menjaga di dalam, sedangkan tikus-tikus Gak-taijin menjaga di luar! Hi, hi, hik! Memang kau sialan, kehilangan uang masih akan kehilangan nyawa pula!"

Dewi Suling sama sekali tidak memberi kesempatan lawannya menjawab, begitu bicaranya habis, tubuhnya berkelebat ke depan.

Hanya tampak bayangan merah menyambar dan tahu-tahu lima orang anak buah It-gan Hek-hauw menjerit dan mereka ini yang baru saja bangun sudah harus roboh kembali dan kali ini roboh tanpa nyawa!

It-gan Hek-hauw Lauw Bu dan lima orang kawannya menjadi marah sekali, mereka sudah bergerak menerjang dan mengurung yang dilayani oleh Dewi Suling sambil tertawa mengejek.

Pada saat itu empat orang tinggi besar berlari-lari masuk ke dalam ruangan judi, mereka sama sekali tak mempedulikan Dewi Suling yang sedang dikeroyok enam orang, melainkan langsung menghampiri meja dan mengangkat peti hitam berisi seribu tail emas!

Akan tetapi seorang di antara mereka melirik dan melihat Dewi Suling dikeroyok enam orang lihai, ia mencabut pedangnya.

"Goblok! Jangan bantu aku, hayo cepat bawa peti itu pergi!"

Tiba-tiba Dewi Suling berseru keras dan orang itu cepat-cepat menyarungkan kembali pedangnya.

Mereka berempat lalu mengangkat peti keluar.

Ketika empat orang ini mengangkat peti dimasukkan di dalam kereta yang sengaja mereka bawa, duapuluh orang lebih jagoan Gak-taijin hanya mengintai saja, perintah yang mereka terima sudah jelas, yaitu berusaha menangkap hidup-hidup atau mati Dewi Suling yang tadi memasuki rumah judi.

Karena ia melihat empat orang laki-laki tinggi besar yang tidak mereka kenal itu datang dengan kereta yang ditarik oleh empat ekor kuda, kemudian memasuki Po-koan dan keluar lagi membawa peti hitam yang mereka masukkan ke dalam kereta lalu membalapkan kereta dari situ, para jagoan ini hanya memandang saja dan tidak turun tangan.

Akan tetapi It-gan Hek-hauw menjadi bingung dan marah sekali ketika melihat betapa peti hitamnya yang terisi seribu tail emas itu telah dibawa pergi oleh empat orang yang agaknya adalah anak buah Dewi Suling.

"Tahan mereka!"

Teriaknya pada lima orang kawannya sedangkan ia sendiri melompat hendak mengejar, akan tetapi sinar merah yang menyambarnya dari samping membuatnya terkejut sekali dan terpaksa melompat mundur sehingga suling yang menyerangnya itu mengenai tempat kosong.

Akan tetapi Dewi Suling sudah menerjang dengan gerakan-gerakan seperti halilintar menyambar ke arah enam orang pengeroyoknya sehingga mereka itu sama sekali tidak ada kesempatan untuk melakukan pengejaran terhadap empat orang yang sudah melarikan peti emas itu.

Apalagi kini Dewi Suling berdiri menghadang di pintu dan sinar sulingnya bergulung-gulung berwarna merah menyilaukan mata.

Ngo-tok-hai-liong biarpun sudah tua namun masih memiliki ilmu kepandaian yang hebat.

Pedang mereka panjang dan berat, dan selain ilmu pedang mereka lihai, juga mereka dapat bekerja sama sehingga membentuk sebuah kiam-tin (barisan pedang) yang tak boleh dipandang ringan.

Kini mereka mengurung Dewi Suling dari lima penjuru dan menyerang secara teratur rapi berganti-ganti dan bertubi-tubi, dengan gerak penjagaan saling melindungi.

Menghadapi Ngo-tok-hai-liong ini saja Dewi Suling tidak berani memandang rendah, wanita iblis ini cukup berpengalaman dan cerdik.

Tahulah ia bahwa untuk dapat keluar dari kepungan kiam-tin yang digerakkan oleh lima orang jagoan tua berpengalaman, ia harus berhati-hati sekali.

Maka ia menghadapi mereka dengan tenang, memutar sulingnya menangkis sana-sini sambil mengerahkan perhatian untuk mempelajari gerakan kiam-tin untuk memecahkannya.

Akan tetapi perhatiannya terganggu oleh terjangan bertubi-tubi dari It-gan Hek-hauw Lauw Bu yang marah sekali yang melihat banyak hartanya dibawa pergi teman-teman Dewi Suling.

Golok besar di tangan Si Harimau Hitam Mata Satu ini berkelebatan seperti naga mengamuk sehingga menimbulkan angin bersuitan mengerikan.

"Dewi Suling! Kembalikan emasku, baru aku ampuni jiwamu!"

It-gan Hek-hauw Lauw Bu membentak sambil memutar goloknya karena dia serta lima orang kawannya mengurung, tampaknya wanita cantik itu akan bisa ditaklukkan.

Ia tidak ingin melihat wanita itu roboh di bawah tikaman senjata sehingga tewas, sehingga dengan begitu akan sukarlah buatnya untuk mendapatkan emasnya kembali yang ia tidak tahu dibawa pergi ke mana.

"Hi, hi, hik! Anjing buta, kaulah yang bakal mampus!"

Lauw Bu marah sekali, sambil berseru keras ia sudah menyerang dengan jurus mematikan, jurus simpanan, itulah jurus yang berasal dari jurus ilmu golok Bu-tong-pai yang disebut Tiong-sin-hiang-in (Menteri Setia Mempersembahkan Kebesaran).

Golok yang semula berputar-putar cepat di depan dada itu tahu-tahu meluncur ke arah perut Dewi Suling, disusul dengan tangan kirinya dengan jari-jari terbuka mencengkeram ke arah dada, karena gerakan ini susul-menyusul, maka andaikata lawan dapat menghindarkan diri tusukan golok yang hendak merobek perut, sukar buat menghindarkan cengkeraman ke arah dada.

Dan pada detik-detik berikutnya, lima orang bekas bajak itu sudah menggerakkan pedang masing-masing menutup semua jalan keluar serta siap pula menyerang dari semua penjuru!

Diam-diam Dewi Suling terkejut.

Sebagai seorang terkenal di dunia kang-ouw yang sudah mengetahui ilmu-ilmu tinggi, ia maklum betapa bahayanya serangan enam orang itu.

Ia tahu kalau ia mengelakkan serangan Lauw Bu, berarti ia akan terjeblos ke dalam perangkap di mana senjata-senjata enam orang itu akan tiba seperti hujan serta sukar baginya untuk meloloskan diri lagi.

Tiba-tiba dalam benaknya berkelebat satu pikiran yang-cerdik serta keji, akal yang hanya dapat dilakukan oleh seorang yang sudah berilmu seperti dia.

Tenang-tenang ia menggerakkan suling merahnya itu menangkis golok Lauw Bu sambil mengerahkan lweekangnya yang ia tahu masih lebih tinggi dari lawannya.

Ia mengerahkan tenaga "melekat"

Sehingga begitu suling merah bertemu golok, senjata ini saling menempel dan tak bisa dilepaskan lagi oleh It-gan Hek-hauw.

Di lain saat tangan kiri Lauw Bu ia biarkan saja mencengkeram ke arah dadanya, tanpa ditangkis maupun dielakkan!

Hal ini amatlah aneh.

Seperti diketahui, buah dada bagi seorang wanita merupakan bagian tubuh yang selain pantangan disentuh laki-laki asing dan juga merupakan bagian yang terlemah dan bisa mematikan.

Akan tetapi mengapa Dewi Suling membiarkan saja dadanya dicengkeram?

Begitu jari-jari tangan kiri Lauw Bu mencengkeram buah dada, ia mengeluarkan seruan kaget.

Bagian tubuh ini menjadi keras dan licin seperti bola baja diminyaki, ia tahu lawan menggunakan lweekang yang hebat sekali dan maklum betapa dirinya berada di dalam bahaya.

Tetapi sudah terlambat, karena tiba-tiba tangan kiri Dewi Suling telah men-cengkeram bajunya di bagian dada dan tahu-tahu tubuhnya sudah terangkat ke atas lalu diputar-putar tanpa ia dapat berdaya lagi karena tubuhnya sudah tertotok kaku.

Lima orang kepala bajak itu menjadi kaget sekali melihat sinar merah menyambar seperti halilintar ke arah mereka.

Cepat-cepat mereka menangkis dengan pedang, dan......

terdengar suara jeritan keras sekali disusul darah bercucuran keluar karena tangkisan mereka tadi bertemu dengan tubuh It-gan Hek-hauw yang tewas seketika itu juga.

"Hi, hi, hik,"

Dewi Suling tertawa mengejek, terus menggunakan kesempatan selagi lima orang lawannya itu melompat mundur saking kaget dan menyerang mereka dengan jarum-jarum merah halus yang sama sekali tidak bersuara.

"Celaka......"

"Awas jarum......"

Hanya dua orang di antara Ngo-tok-hai-liong selamat, mereka membuang diri ke belakang dan terhindar dari sambaran jarum-jarum merah itu.

Akan tetapi tiga orang saudaranya roboh bergulingan di atas lantai sambil merintih-rintih seperti tiga ekor kucing dikeroyok semut.

Waktu mereka melihat ke depan Dewi Suling telah lenyap dari situ dan terdengar suara hiruk-pikuk di luar rumah judi.

Mereka tahu bahwa para jagoan Gak-taijin sudah turun tangan maka mereka mementingkan dulu menolong tiga orang saudara mereka yang kena jarum beracun itu.

Dewi Suling yang sudah tahu bahwa di luar rumah judi itu terdapat duapuluh orang lebih jagoan Gak-taijin, tidak menjadi terperanjat ketika setibanya di luar pintu ia segera dikepung dan dikeroyok, ia dikepung rapat sehingga tidak sempat lagi menggunakan jarum-jarumnya, namun ia sama sekali tidak menjadi gentar.

Dengan gerakan lincah tubuhnya berkelebat ke sana ke mari laksana seekor burung walet menyambar lalat, sulingnya yang berwarna merah itu berubah menjadi gulungan sinar yang bersatu dengan bayangannya yang merah, hujan senjata itu sama sekali tidak dapat menyentuhnya.

Namun diam-diam ia mengeluh juga karena ternyata bahwa jagoan-jagoan ini memiliki kepandaian yang tak boleh dipandang ringan.

Kalau mereka itu maju satu-satu, atau jumlah mereka itu paling banyak sepuluh orang, tentu ia masih mampu merobohkan mereka semua dengan waktu singkat.

Akan tetapi jumlah mereka ternyata duapuluh empat orang dan mereka mengurung dengan rapat sekali, senjata mereka bermacam-macam dan datang bagaikan hujan, sehingga tidak mungkin lagi bagi Dewi Suling untuk mempertahankan gerakan mereka hanya mengandalkan kecepatan geraknya dan ketajaman pendengarannya untuk mengelak membuang diri meloncat menangkis dan seringkali ia harus memutar-mutarkan sulingnya di sekeliling tubuhnya, merubah gulungan sinar suling menjadi semacam benteng baja yang amat kokoh dan kuat.

Ouwyang Tek dan Gui Siong yang semenjak sore tadi bersembunyi dan mengintai, kini melihat Dewi Suling dikeroyok seperti itu mereka memandang dengan penuh kekaguman.

"Wah, dia hebat betul......"

Kata Ouwyang Tek perlahan. Gui Siong mengangguk.

"Memang ilmunya tinggi sekali. Kita harus berhati-hati menghadapinya. Sejenak keduanya tak berkata-kata, hanya memandang ke depan, selain kagum dan kaget juga mereka terheran-heran, karena sama sekali tidak pernah mengira bahwa yang disebut iblis betina bersuling itu adalah seorang gadis yang berpakaian merah tipis berwajah cantik jelita seperti itu! Tadinya mereka membayangkan bahwa tentu iblis betina itu seorang wanita yang sudah setengah tua dan amat menakutkan.

"Sute, kulihat ia terkurung rapat, kalau kita berdua turun tangan dengan mudah dapat merobohkannya,"

Kata Ouwyang Tek. Akan tetapi Gui Siong menggeleng kepala.

"Ah, Suheng. Mana mungkin kita bersikap securang itu? Kalau kita bersekutu dengan mereka bukankah berarti kita berlaku curang dan merendahkan nama Suhu?"

Ouwyang Tek menghela napas.

"Kau benar, Sute. Biarlah kita menonton saja, syukur kalau-kalau ia dapat ditangkap atau dirobohkan mereka, kalau tidak, kita akan membayanginya dan mencari kesempatan menerjangnya."

Kepungan yang ketat itu benar-benar membuat Dewi Suling terdesak dan tak dapat balas menyerang.

Ia menjadi marah sekali dan tiba-tiba tubuhnya mencelat tinggi di udara dan pada saat tubuhnya melayang itu, terdengar lengking sulingnya memekakkan telinga.

Para pengeroyok menjadi kaget dan ada yang terhuyung-huyung dan sebelum tubuh Dewi Suling melayang turun ia sudah menghamburkan segenggam jarum merah ke bawah.

"Awas senjata rahasia......"

Para jagoan itu cepat memutar senjata menangkis atau loncat mengelak, namun masih ada dua di antara mereka yang roboh terkena jarum dan begitu Dewi Suling turun, sulingnya sudah menyambar ke depan dan robohlah seorang pengeroyok lain dengan kepala pecah.

Keganasan Dewi Suling ini membuat para pengeroyok kaget sekali.

Mereka segera maju mengeroyok lagi dengan lebih ketat.

Dan pada saat itu dari dalam rumah judi melayang keluar dua orang laki-laki dengan pedang di tangan yang berseru keras.

"Iblis betina, rasakan pembalasan kami!"

Kiranya mereka itu adalah dua di antara Ngo-tok-hai-liong yang menerjang keluar setelah menolong tiga orang saudara mereka.

Dengan kemarahan yang meluap-luap mereka maju dan menerjang dengan pe-dang, memperkuat barisan mengepung.

Kalau Dewi Suling tidak lekas-lekas dapat keluar dari kepungan, akan celakalah ia sekali ini.

Diam-diam ia mulai menyesal mengapa ia berbuat iseng dengan Gak-kongcu lalu membunuhnya, kalau tidak, tentu ia tidak akan dikepung jagoan-jagoan yang dikerahkan Gak-taijin seperti sekarang ini.

Seratus jurus lebih telah lewat dan ia baru bisa merobohkan dua orang pengeroyok lagi.

Akan tetapi ia sudah mulai lelah.

Pertandingan ini bukan pertandingan biasa, karena dikeroyok begitu banyak, ia boleh dibilang sama sekali tidak mendapat kesempatan mengumpulkan napas, harus bergerak terus dan memecah perhatian ke segala penjuru.

Hal ini amatlah melelahkan dan wajah Dewi Suling mulai berkeringat.

Pada saat itu tiba-tiba terdengar suara orang berkata.

"Ahhh, mengapa begini haus darah manusia?"

Anehnya suara itu terdengar perlahan sekali, akan tetapi dapat mengatasi semua suara bentakan dan teriakan-teriakan mereka yang sedang mengurung Dewi Suling.

Kemudian mendadak terdengar suara berkerosakan pada pohon besar yang tumbuh di luar rumah itu, disusul jatuhnya ribuan lembar daun pohon, seolah-olah ada angin taufan yang mengamuk.

Anehnya, hanya pohon itu saja yang menjadi korban dan lebih aneh lagi, semua daun pohon itu melayang turun ke arena pertempuran.

(Lanjut ke

Jilid 05) Pendekar Cengeng (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 05 Tentu saja keadaan menjadi kacau.

Biarpun hanya daun, akan tetapi karena amat banyaknya jadi membikin gelap keadaan di situ yang hanya diterangi oleh beberapa buah obor saja.

Kekacauan dan kegelapan itu menguntungkan bagi Dewi Suling.

Dengan kepandaiannya, ia lalu membobol ke kiri terus menyelinap di antara pengeroyoknya yang untuk sementara dikacaukan oleh ribuan daun-daun yang melayang turun ke depan mata dan sekitar tubuh.

Sesudah daun itu semua jatuh ke tanah serta mereka dapat melihat lagi dengan jelas, ternyata di situ sudah tidak lagi terlihat Dewi Suling.

Dan dari jauh terdengar lengking suling sayup-sayup semakin jauh.

"Kejar!"

Akan tetapi mana mereka mampu mengejar?

Suara suling itu makin lemah dan akhirnya lenyap!

Tanda bahwa wanita itu sudah terlalu jauh pergi meninggalkan para pengejarnya.

Hanya Dewi Suling dan dua orang murid Siauw-bin-mo Hap Tojin yang melihat adanya seorang pemuda pakaian putih di bawah pohon tadi.

Biarpun keadaan gelap dan mereka tak dapat melihat dengan jelas wajah orang itu, namun mereka dapat menduga tentu orang berpakaian putih itulah yang tadi mengeluarkan suara dan mengguncangkan pohon menolong Dewi Suling.

Akan tetapi baik Dewi Suling maupun Ouwyang Tek dan Gui Siong, tentu saja tidak sempat memperhatikan orang berpakaian putih karena Dewi Suling sudah cepat-cepat melarikan diri dan dua orang pemuda itu cepat-cepat melakukan pengejaran.

Ternyata Dewi Suling mempunyai ginkang yang luar biasa hebatnya.

Biarpun Ouwyang Tek dan Gui Siong telah mengerahkan seluruh tenaga ginkang mereka, setelah mengejar satu jam masih juga mereka belum dapat menyusul.

Akan tetapi untung bagi mereka bahwa Dewi Suling berlari sambil membunyikan sulingnya, sehingga mereka dapat menduga ke arah mana larinya wanita itu.

Ini memang menjadi ciri khas Dewi Suling yang timbul dari kesombongannya.

Ia selalu datang dan pergi dengan tanda suara sulingnya.

Hal ini berarti bahwa ia datang dengan berterang dan pergi meninggalkan jejak karena ia maklum bahwa tidak seorang pun akan bisa menyusul larinya!

Ouwyang Tek dan Gui Siong bukanlah orang-orang yang ceroboh.

Setelah Dewi Suling berhenti berlari dan hanya berjalan kaki, mereka pun lalu berjalan pula membayangi dari jauh.

Di waktu malam gelap, tidak baik menyerang musuh yang belum dikenal betul kelihaiannya.

Malah jangan-jangan mereka akan mengalami kegagalan.

Maka mereka hanya mengikuti secara diam-diam dan berhenti kalau Dewi Suling duduk mengaso di bawah pohon terus bersila mengatur napas dan memulihkan tenaga.

Kemudian dua orang pemuda itu pun duduk bersila serta mengumpulkan tenaga, siap untuk bertanding melawan wanita perkasa itu apabila malam berganti pagi.

Tak lama kemudian kokok ayam hutan terdengar ramai, disusul kicauan burung yang menyambut datangnya pagi.

Kegelapan malam mulai terusir dan berganti warna kekuning-kuningan menjelang pagi.

Dewi Suling bangkit berdiri lalu berjalan pergi dengan langkah perlahan.

Dua orang pemuda itu pun bangkit dan mengikuti dari jauh.

Dewi Suling lalu memasuki hutan dan berhenti di tepi sungai kecil yang airnya sangat jernih.

Mereka khawatir kalau-kalau iblis betina itu melarikan diri dengan menyeberang sehingga sukar dikejar lagi.

Ouwyang Tek dan Gui Siong lalu memberi isyarat dan keduanya segera melompat ke depan.

Ouwyang Tek membentak dengan suaranya yang nyaring.

"Jalan perlahan-lahan kami hendak bicara!"

Dewi Suling membalikkan tubuhnya dengan cepat.

Kekagetan pada wajahnya segera berubah menjadi sinar yang berseri-seri.

Senyumnya manis sekali serta sepasang matanya melihat berganti-ganti kepada dua orang muda itu, menjelajahi seluruh tubuh mereka dari kepala sampai ke kaki.

Keduanya adalah pemuda-pemuda yang tampan dan gagah, muda belia dan sukarlah dikatakan mana yang lebih ganteng.

Ouwyang Tek bertubuh tinggi besar dan kekar tegap seperti seekor harimau jantan, wajahnya membayangkan kegagahan dan kekuatan.

Adapun Gui Siong berwajah tampan serta bersikap halus, mirip Gak-kongcu yang telah dibunuhnya.

Dewi Suling tersenyum semakin lebar lalu menjura dengan gerakan lemah-gemulai serta berkata dengan suara halus merdu.

"Siapakah Jiwi-enghiong (Kedua Tuan Pendekar) yang gagah perkasa? Dan ada keperluan apakah menyusul serta hendak bicara dengan siauw-moi (adik)?"

Dua orang muda itu saling pandang sekilas.

Kalau saja tadi mereka tidak menyaksikan dengan mata sendiri betapa wanita ini dikeroyok tentu mereka tidak bisa percaya bahwa gadis cantik jelita inilah yang disebut Setan Suling.

Wanita ini sama sekali bukan seperti iblis betina, melainkan lebih patut disebut bidadari.

Cantik dan manis, juga sikapnya amat halus, sopan serta menyenangkan.

Akan tetapi, sebagai dua orang muda berwatak pendekar, mereka dapat menekan perasaan hati lalu Ouwyang Tek membentak.

"Tidak perlu banyak omong lagi! Kami tahu bahwa engkau adalah Cui-siauw Sianli!"

"Hi-hi-hik!"

Wanita itu tertawa genit dan sikapnya memikat sekali.

"Aku disebut Sianli (Dewi) oleh orang-orang kasar itu sangat menyebalkan, tetapi kalau Ji-wi yang menyebut Sianli, ah, Jiwi-enghiong, benarkah ucapan Ji-wi Kongcu, benarkah Ji-wi menganggap aku patut disebut dewi?"

Dua orang muda itu baru saja keluar dari perguruan dan menghadapi musuh seperti ini, dirayu dengan omongan halus dan sikap manis begini, mereka menjadi bingung, bulu tengkuk mereka meremang berdiri sehingga mereka saling pandang serta buat sejenak mereka tak bisa berkata-kata.

"Hi-hi-hik! Kebetulan sekali Ji-wi datang, kalau terlambat sedikit lagi tentu Siauw-moi sudah turun mandi...... ah, memalukan sekali kalau begitu. Akan tetapi, setelah Ji-wi datang ke sini dan air demikian jernih, bagaimana kalau Ji-wi menemani siauw-moi untuk mandi bersama?"

"Hm, perempuan jahat! Kami datang bukan untuk bercumbu denganmu! Kami sudah tahu akan sepak terjangmu mengacau kota Ho-pak dan malam tadi melakukan pembunuhan besar-besaran di Lok-nam Po-koan!"

Bentak Gui Siong memecahkan keadaan yang amat tidak enak bagi mereka itu.

Andaikata mereka berdua disambut oleh serangan, maka itu tidak membingungkan.

Akan tetapi kini disambut oleh senyum, kerling dan kata-kata manis merayu, ini benar-benar membuat mereka bingung serta tak tahu harus berbuat apa, sesungguhnya di dalam hati mereka sama sekali tidak tunduk oleh rayuan ini.

Dewi Suling menggerakkan kedua alisnya yang panjang dan hitam, bibirnya yang merah dan tersenyum-senyum itu mengejek.

"Aha, kiranya kalian ini adalah sekutu dari It-gan Hek-hauw, si keparat yang curang? Sayang...... sayang sekali, semuda ini sudah menjadi kaki tangan manusia macam It-gan......"

"Cukup!"

Bentak Ouwyang Tek dengan marah.

"Aku Ouwyang Tek dan suteku ini Gui Siong bukanlah orang-orang macam itu! Kami sengaja datang diutus oleh Suhu untuk menangkapmu dan mengakhiri kejahatanmu. Kami sama sekali bukan sekutu siapapun juga. Kalau hanya perbuatanmu di Lok-nam Po-koan, belum tentu kami sudi turun tangan. Akan tetapi kami sudah mendengar tentang perbuatanmu yang keji terhadap pengantin laki-laki she Bhok, kemudian Gak-kongcu! Kau patut dibasmi dan lebih baik kau menyerah untuk kami bawa ke Ho-pak!"

Dewi Suling kembali tersenyum mengejek, sambil menatap wajah Ouwyang Tek yang gagah itu.

"Hm...... hm...... Ouwyang Tek dan Gui Siong. Nama yang bagus sesuai dengan orangnya. Eh, siapa guru kalian yang begitu kejam menyuruh kalian membunuh seorang gadis yang tak berdaya seperti aku ini?"

"Guru kami adalah Siauw-bin-mo Hap Tojin!"

Kata Gui Siong yang tentu saja bermaksud mengecilkan hati lawan dengan nama gurunya.

"Hap Tojin?"

Dewi Suling nampak kaget.

"Kalau begitu mampuslah kalian!"

Belum habis kata-katanya, sulingnya sudah datang menotok ke arah dada Ouwyang Tek yang berdiri paling dekat.

"Trangggg""!"

Bunga api berpijar ketika pedang Ouwyang Tek menangkis suling itu.

Dewi Suling terkejut.

Begitu cepatnya pemuda tinggi besar ini mencabut pedang dan menangkis sulingnya dan ketika dua senjata bertemu, ia merasa betapa telapak tangannya panas.

Maka tahulah ia bahwa ia bertemu lawan yang berat, jauh sekali bedanya dengan para pengeroyok di rumah judi tadi malam.

Di lain pihak, Ouwyang Tek terkejut bukan main karena biarpun tadi ia menangkis dengan pengerahan tenaga dalamnya, tapi tangkisan ini malah membuat tangannya tergetar hebat, tanda bahwa tenaga nona itu hebat sekali.

"Sute, mari kita tangkap dia!"

Teriak Ouwyang Tek yang menerjang dengan pedangnya.

Gui Siong memang sudah menduga bahwa kepandaian wanita ini hebat sekali, maka tanpa ragu-ragu lagi ia lalu mencabut pedangnya dan menyerang dengan gerakan yang amat cepat sehingga Dewi Suling harus memutar sulingnya menangkis serangan dua batang pedang yang sama kuat dan cepatnya itu.

Pertandingan di pinggir sungai dalam hutan yang sunyi sepi di pagi hari itu hebat sekali.

Segera Dewi Suling mendapat kenyataan bahwa dua orang muda itu benar-benar tangguh sekali.

Terpaksa ia mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan semua kepandaian untuk melayani pengeroyokan mereka.

Sulingnya menjadi sinar bergulung-gulung berwarna merah yang bermain-main dan berkelebatan di antara dua sinar putih yaitu sinar pedang dua orang pemuda lawannya itu.

Dewi Suling maklum bahwa melawan seorang saja di antara mereka ini pasti akan menang.

Juga dikeroyok dua oleh orang-orang muda ini ia sama sekali tidak takut dan masih akan mencapai kemenangan kalau saja hatinya tidak terganggu seperti itu.

Ia merasa tidak tega untuk membunuh mereka begitu saja!

Ada sesuatu dalam kepribadian dua orang pemuda ini yang membuat ia lebih ingin membelai mereka dengan kasih mesra daripada menyerang mereka dengan sulingnya.

Kalau ia tidak dipengaruhi oleh rasa ini, tentu saja ia dapat mengeluarkan tipu-tipunya yang mematikan, atau menggunakan jarum-jarum merahnya.

Pendeknya dari gurunya ia mengenal banyak tipu dan siasat untuk merobohkan lawan kuat.

Mulailah iblis betina ini memutar otaknya mencari akal.

Tiba-tiba ia tersenyum girang.

Beberapa kali ia sengaja memperlambat gerakan sulingnya dan ketika pedang di tangan Gui Siong sudah hampir mengenai tubuhnya, pemuda tampan halus itu menahan pedang!

Ah, jelas bahwa pemuda tampan halus ini tidak tega melukainya!

Mungkin juga jatuh cinta dan tergila-gila kepadanya.

Hatinya senang sekali, bukan hanya karena pemuda itu cinta kepadanya, juga karena perasaan pemuda ini mendatangkan akal baginya.

Tentu saja ia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan baik ini dan ketika pedang Ouwyang Tek mengancam ke arah lehernya, ia menangkis sambil mengerahkan seluruh tenaganya.

"Trangggg""!"

Pedang itu terpental dan Ouwyang Tek terhuyung mundur dua langkah.

Pada saat itu pedang Gui Siong sudah menusuk ke arah dada Dewi Suling.

Wanita ini sengaja memperlambat gerakannya dan seperti tak berdaya lagi menghadapi tusukan ini yang diterimanya dengan dadanya.

"Aiii......!"

Gui Siong berseru kaget dan berusaha secepatnya untuk menahan senjatanya atau menyelewengkannya.

Pantangan bagi ahli silat adalah keraguan dalam pertandingan.

Kesempatan inilah yang memang sengaja dipancing oleh Dewi Suling.

Keraguan dan kebingungan Gui Siong yang hanya beberapa detik ini telah ia pergunakan dengan baik.

Tubuhnya mendoyong ke kiri sehingga pedang itu menusuk di pinggir kanan dadanya sedangkan sulingnya bagaikan kilat cepatnya sudah menotok pundak Gui Siong.

Pemuda itu roboh tak berkutik lagi karena jalan darah kin-ceng-hiat telah tertotok secara tepat dan keras.

Ouwyang Tek marah sekali.

Sambil berseru keras ia menerjang maju, pedangnya berkelebatan bagaikan seekor naga mengamuk.

Namun Dewi Suling melayaninya dengan tertawa-tawa dan menggoda.

"Eh, orang gagah, mengapa kau segalak ini? Apakah kau benar-benar hendak membikin lecet kulitku yang tipis dan halus? Atau...... kau hendak menusuk bagian yang ini?"

Dengan tangan kirinya Dewi Suling sengaja merenggut pakaiannya sendiri di bagian depan sehingga tampak kulit dadanya yang putih kuning tertutup pakaian dalam warna merah muda.

Bagian yang membusung penuh lekuk-lengkung menggairahkan.

"Swing!"

Pedang Ouwyang Tek menyambar ke arah leher dengan kemarahan yang meluap.

"Trang!"

Suling merah itu sudah menangkisnya.

Pertandingan terus dilanjutkan dengan amat serunya.

Betapapun juga, sebagai murid seorang yang berilmu tinggi, ilmu pedang Ouwyang Tek betul-betul hebat.

Tadi pun kalau saja tidak menggunakan akal, tidak mungkin Dewi Suling begitu mudahnya merobohkan Gui Siong.

Memang harus diakui bahwa tingkat kepandaian Dewi Suling lebih tinggi, di samping itu iblis betina itu mempunyai banyak akal busuk.

Akan tetapi melihat sutenya roboh, Ouwyang Tek kini tidak ragu-ragu lagi untuk merobohkan serta membunuh Dewi Suling kalau perlu, tentu saja gerakan-gerakannya berbeda dengan tadi ketika ia mau menangkap hidup-hidup iblis betina ini.

Namun, makin lama makin kacaulah permainan pedang Ouwyang Tek.

Musuh yang tidak tahu malu itu terus menggodanya, bukan hanya dengan kata-kata mesra dan cabul saja, tetapi juga makin lama pakaian Dewi Suling semakin terbuka lebar.

Hal ini tentu saja membuat Ouwyang Tek menjadi semakin marah dan disamping itu pun mendatangkan rasa malu serta gugup.

Dia bukan seorang yang mata keranjang atau gila kecantikan, bahkan ia seorang pemuda yang belum pernah mengalami pendekatan dengan wanita.

Ia tidak tertarik oleh semua itu, hanya rasa malu karena diharuskan melihat adegan yang luar biasa ini membuat ia gugup sekali.

"Ouwyang Tek...... kau orang gagah...... betul-betulkah hatimu sekeji itu? Kau mau membunuhku? Hi, hi, hik! Kaulihat ini...... apakah kau tega menembusi dadaku dengan pedangmu itu?"

Sambil berkata demikian, tangan kiri Dewi Suling merobek......

dan terlepaslah pakaian dalam warna merah muda di bagian atas lalu tampaklah tubuhnya bagian atas telanjang.

Ouwyang Tek yang mukanya sudah merah seperti kepiting rebus itu, tak dapat menahan malu lagi dan untuk sedetik saja ia meramkan matanya.

Namun waktu sedetik ini sudahlah cukup bagi Dewi Suling.

Karena tiba-tiba pemuda perkasa ini merasa betapa seluruh tubuhnya menjadi lemas lalu ia pun roboh terkulai, tak mampu bergerak lagi.

"Hi, hi, hik!"

Wanita itu terkekeh-kekeh genit.

"Betul, tidak berkelebihan kata-kata guruku itu, bahwa harus berhati-hati kalau bertemu dengan Siauw-bin-mo Hap Tojin. Karena dua orang muridnya saja sudah begitu lihai! Sebagai murid Siauw-bin-mo Hap Tojin, kalian seharusnya kubunuh. Akan tetapi sayang, kalian begini cakap...... aku tidak tega...... hi, hi, hi!"

Dewi Suling lalu membungkuk kemudian dengan kedua tangan ia lalu menyeret tubuh dua orang pemuda itu ke dekat sungai, mendudukkan tubuh mereka yang telah lemas serta menyandarkannya pada batu sungai menghadap ke air.

"Sudah aku katakan tadi bahwa aku mau mandi ketika kalian tiba. Nah, aku mau mandi dulu, kalian menanti di sini saja, ya? Baik-baiklah di sini, anak-anak manis!"

Lalu dengan genit ia mencubit pipi Gui Siong dan terus di depan dua pemuda itu ia melepaskan pakaiannya.

Dan sengaja ia bergaya dengan gerakan-gerakan memikat, sedikit pun tidak malu-malu lagi.

Ouwyang Tek dan Gui Siong tentu saja merasa tersiksa hebat.

Mereka adalah pendekar-pendekar muda berpikiran bersih.

Kalau saja mereka bisa bergerak, maka mereka sudah menerjang mati-matian atau melarikan diri pergi dari situ.

Tetapi mereka tidak berdaya, sebab kaki tangan mereka sudah dibuat lumpuh oleh totokan yang sangat lihai.

Mereka cuma meramkan kedua mata saja supaya tidak melihat gadis itu membuka semua pakaiannya di depan mata mereka.

Setelah mereka bisa menekan perasaan serta menjernihkan hati, barulah mereka berani membuka mata serta melihat.

Kini Dewi Suling telah berdiri di depan mereka dengan telanjang.

Tetapi kini mereka bisa melihatnya dengan bibir tersenyum menghina.

Dewi Suling lalu turun ke dalam air, mandi di air yang jernih dan sejuk.

Tetapi melihat betapa dua orang pemuda itu sama sekali tidak tertarik, ia menjadi penasaran, dan sekali tubuhnya bergerak, ia sudah meloncat dan berlutut dalam keadaan telanjang bulat serta badan basah semua di depan mereka.

"Kalian temani aku mandi, ya? Kalau mau menyahut. Lihat, aku tidak membunuh kalian! Tidak menyakiti pula. Aku mau bersahabat dengan kalian, mau kan?"

Kedua orang pemuda itu memang masih mampu menggerakkan kepala biarpun lemah, serta masih bisa bicara.

"Siluman betina terkutuk, mampuslah kau jangan goda aku!"

Ouwyang Tek membentak dengan marah sekali. Dewi Suling tersenyum, lalu menghampiri Gui Siong"

"Kau saja, ya? Temani aku?"

Lalu tubuh itu merapat, lengan yang halus seperti ular itu merayap merangkul leher.

Muka yang cantik dan halus itu makin dekat dan akhirnya mencium pipi dan bibir Gui Siong.

Pemuda itu hampir pingsan.

Jantungnya berdebar keras.

Ia meramkan kedua matanya dan menggeleng kepala keras-keras.

"Tidak...... tidak""! Pergilah...... pergilah......"

"Hi-hi-hik! Ha-ha-ha!"

Dewi Suling tertawa bergelak dan terkekeh-kekeh seperti siluman, menciumi dan menciumi terus. Kemudian ia berpindah kepada Ouwyang Tek, memeluk pemuda ini, juga menciumi sepuas hati.

"Perempuan hina! Siluman kotor! Kau bunuh saja kami!"

Ouwyang Tek berseru marah sekali.

Dewi Suling menjadi makin gila.

Belum pernah selama ia gila laki-laki, ada seorang pria tidak roboh di bawah pengaruhnya, tidak terpesona oleh kecantikannya dan tidak mabok oleh cumbu rayu dan belaiannya.

Sikap dua orang pendekar muda ini tidak menimbulkan kemarahan bahkan sebaliknya menambah gelora nafsunya, dan makin ditolak, ia menjadi makin tergila-gila dan ingin mendapatkan kasih sayang kedua orang pemuda perkasa itu.

Makin mengilar ia seperti melihat buah ranum yang menimbulkan selera namun sukar dipetik.

Berganti-ganti ia membelai dua orang pemuda itu, membujuk rayu, bahkan memohon dengan suara merintih-rintih tersiksa nafsu yang bergejolak.

Namun Ouwyang Tek dan Gui Siong adalah pendekar-pendekar lahir batin.

Tidak sia-sia gemblengan belasan tahun yang diberikan oleh Siauw-bin-mo Hap Tojin kepada mereka berdua.

Harus diakui bahwa sebagai manusia biasa, mereka pun tidak buta dan dapat melihat betapa Dewi Suling benar-benar amat cantik molek dengan wajah manis dan menggairahkan.

Namun di balik semua keindahan ini, mata batin mereka dapat pula melihat sifat yang kotor dan keji jahat seperti iblis sendiri.

Inilah yang membuat mereka kuat bertahan membalas belaian, pelukan dan ciuman Dewi Suling dengan makian-makian!

"Kalian tidak mau menemani aku mandi?

Baiklah, kalau kupaksa apakah kalian juga dapat menolak?"

Dewi Suling sudah mulai marah. Sambil merangkul leher Ouwyang Tek, ia mulai menanggalkan pakaian orang muda itu.

"Heh, perempuan tak tahu malu! Sungguh menyebalkan sekali! Kami adalah laki-laki sejati, lebih baik mati daripada menuruti kehendakmu yang tidak senonoh, yang hina-dina!"

Ouwyang Tek membentak-bentak.

Muka yang cantik jelita itu mulai menjadi merah padam.

Sepasang mata yang bening itu mulai menjadi merah pula dengan sinar berapi-api.

Namun Dewi Suling masih berusaha membujuk Gui Siong dan menanggalkan pakaian pemuda halus itu.

"Iblis betina! Kenapa kau tidak bunuh saja kami? Melihat mukamu saja sudah muak perut kami, apalagi menuruti kehendakmu yang menjijikkan. Phuhh!"

Gui Siong memaki pula.

Dewi Suling kini meloncat bangun.

Tubuhnya kini menggigil, bibir merah yang tadi tersenyum-senyum dan menjadi makin merah karena tadi mencumbu rayu kedua orang muda belia itu kini digigitnya.

Suling merah sudah berada di tangan kanannya.

Ia berdiri tegak, telanjang bulat, cantik dan indah bagaikan sebuah arca batu pualam, namun sinar matanya mengeluarkan cahaya maut.

"Kalian lebih suka mampus? Baiklah, memang akhirnya kalian pun harus mampus di tanganku! Kalian murid Siauw-bin-mo Hap Tojin, bukan? Ha, ha, ha! Memang musuh lama! Di antara gurumu dan guruku terdapat permusuhan yang hanya dapat dihabiskan dengan darah dan nyawa. Kalian tahu guruku? Guruku adalah Hek-siauw Kui-bo! Ha, ha, ha!"

Dewi Suling tertawa terbahak-bahak dan terkekeh-kekeh sedangkan dua orang muda itu saling pandang dengan muka pucat.

Mengertilah mereka sekarang bahwa mereka akan mati di tangan wanita ini dan diam-diam mereka bersyukur di dalam hati bahwa mereka berdua dapat menahan bujuk rayu Dewi Suling.

Mereka tahu, bahwa andaikata mereka kena bujuk dan menuruti kehendak siluman ini mereka pun akhirnya akan terbunuh juga.

Seribu kali lebih baik mati dalam keadaan bersih daripada mati bergelimang perbuatan hina dan kotor.

"Iblis betina, mau bunuh lekas bunuh, perlu apa banyak cerewet lagi?"

Kata lagi Ouwyang Tek.

"Gurunya seorang setan betina, tentu saja muridnya sangat keji melebihi iblis,"

Gui Siong memaki.

"Lelaki keparat, mampuslah."

Sinar merah berkelebat menyambar, kedua orang muda itu dengan hati tabah serta sedikit pun tidak merasa takut melihat saja dengan mata melotot, menanti datangnya maut sebagai seorang laki-laki sejati.

"Tak""! Aduuuuh......"

Dewi Suling menjerit lirih ketika tiba-tiba suling merahnya terlepas dari cekalannya karena dibentur oleh benda yang kecil tak kelihatan dengan kekuatan luar biasa.

Ia cepat melompat terus menyambar pula sulingnya yang terjatuh di atas tanah.

Lalu ia memutar pula tubuhnya melihat ke arah datangnya batu kerikil yang meruntuhkan sulingnya tadi.

Tapi tak tampak sesuatu.

Ia merasa heran.

Setankah yang telah menjatuhkan sulingnya tadi?

Ia melompat lagi ke muka.

"Aduuuh""!"

Kali ini kedua kakinya menjadi lumpuh seketika sehingga ia terjatuh berlutut, ternyata dua buah kerikil telah menyambar belakang lututnya.

Tetapi timpukan ini hanya menjatuhkan saja, tidak melumpuhkan.

Dengan cepat ia segera bangun lagi dan maklum bahwa ia berhadapan dengan seorang musuh lihai.

Dewi Suling cepat menyambar pakaiannya lalu dipakainya dengan tergesa-gesa.

Kemudian ia melompat ke arah datangnya batu-batu kerikil tadi, yaitu ke arah sekelompok pohon yang tumbuh tidak jauh dari sungai.

Namun ia tidak melihat sesuatu, bayangannya pun tidak nampak.

"Hai keparat pengecut! Keluarlah kalau kau gagah berani!"

Teriaknya.

Namun hanya gema suaranya sendiri yang menjawab.

Dewi Suling mengerutkan kening.

Jelas bahwa lawan itu pandai, tetapi kenapa tidak berani menampakkan diri?

Kemudian wanita cerdik ini mendapatkan akal untuk memaksa lawannya keluar, ia lalu balik ke tempat semula dan terus menggerakkan sulingnya untuk membunuh Ouwyang Tek serta Gui Siong.

Suling merahnya menusuk ke arah dada Ouwyang Tek sedangkan tangan kirinya memukul ke arah pelipis Gui Siong.

Tetapi sambil melakukan serangan maut ini, mukanya menoleh dan matanya melihat tajam ke belakang.

"Aduuuh""! Sekali lagi Dewi Suling menjerit keras karena kedua pergelangan tangannya sudah kena disambar kerikil-kerikil kecil hingga menjadi lumpuh untuk beberapa detik. Akibatnya kedua buah serangan maut itu menjadi gagal. Akan tetapi kini ia bisa melihat bayangan putih berkelebat di antara pohon-pohon dan terlihat wajah seorang laki-laki muda yang tampan serta gagah dan sepasang matanya amat tajam. Tetapi hanya sekelebatan saja pemuda baju putih tampak, sebab telah menghilang lagi menyelinap di antara pohon-pohon yang lebat.

"Kau mau lari ke mana!"

Bentak Dewi Suling terus mengerahkan ginkangnya mengejar.

"Wer-wer-wer-wer""!"

Banyak sekali batu beterbangan menyambar dari depan.

Wanita iblis ini cepat menggerakkan sulingnya menangkis, akan tetapi hanya beberapa kerikil saja yang berhasil ditangkisnya, selebihnya tepat mengenai jalan-jalan darah di pundak, siku, lambung, lutut dan mata kaki.

Untung timpukan itu perlahan sehingga ia hanya merasa lumpuh untuk beberapa detik saja.

Sedangkan tangannya yang menangkis dengan suling itu terasa panas dan sakit.

Dewi Suling melongo dan berdirilah bulu tengkuknya.

Lawan ini luar biasa lihainya.

Terang ia tidak berniat jahat, sebab kalau betul mau membunuhnya, dengan batu-batu kerikil itu saja ia sudah dapat merobohkannya.

Dan disamping itu teringatlah ia akan pemuda baju putih yang pernah menolongnya sewaktu ia dikeroyok di depan rumah judi.

Pemuda baju putih itu telah merontokkan daun-daun pohon untuk mengacaukan kepungan para pengeroyoknya itu.

Tetapi mengapa sekarang memusuhinya?

Ah, betul-betulkah memusuhinya?

Agaknya tidak demikian, hanya pemuda ini tidak suka melihat ia membunuh orang.

Dan......

dan......

agaknya pemuda itu telah melihat pula semua perbuatannya dengan kedua pemuda tawanannya ini tadi.

Tiba-tiba muka Dewi Suling berubah menjadi merah sekali dan ia segera melompat seperti terbang pergi dari tempat itu.

Hanya sayup-sayup terdengar suara sulingnya melengking panjang semakin lama semakin pelan dan akhirnya lenyap sama sekali.

Ouwyang Tek dan Gui Siong yang juga melihat berkelebatnya bayangan putih, tiba-tiba mereka merasa sesuatu melanggar pundak mereka dan seketika mereka terbebas daripada totokan!

Keduanya meloncat bangun dan pertama-tama yang mereka lakukan adalah menyambar pakaian mereka dan memakainya.

Kemudian mereka memandang sekeliling yang sunyi senyap.

Hanya suara burung-burung yang terdengar seperti nyanyian-nyanyian merdu diiringi bunyi air sungai gemercik.

"Sungguh berbahaya""!"

Akhirnya Gui Siong berkata lirih.

"Untung ada seorang sakti yang menolong kita. Entah siapa dia."

Ouwyang Tek memandang sutenya.

"Siapa pun dia yang telah menyelamatkan kita, Sute, peristiwa ini membuka mata kita bahwa kita masih harus belajar lagi dengan tekun sebelum terjun ke dunia persilatan. Marilah kita melapor kepada Suhu."

Dua orang pemuda perkasa itu dengan prihatin lalu pulang ke tempat guru mereka bertapa untuk memperdalam ilmu, karena apa yang mereka alami tadi amatlah pahit, menjadi bukti bahwa ilmu kepandaian mereka masih jauh daripada memuaskan.

Hanya sebentar saja Dewi Suling merasa gentar serta takut.

Setelah berlari jauh ketenangannya pulih kembali.

Ia memang mengetahui bahwa bayangan putih itu hebat luar biasa kepandaiannya, tetapi jelas terbukti siapa pun adanya, bayangan putih itu tidak bermaksud membunuhnya.

Hanya ia merasa menyesal tidak bisa membunuh dua orang murid Hap Tojin.

Akan tetapi kini ia telah tahu bahwa Hap Tojin tinggal tidak jauh dari kota Ho-pak dan mudahlah baginya kelak menyelidiki di mana tinggalnya musuh besarnya itu lalu turun tangan terhadap kakek itu bersama kedua muridnya.

Kalau ia teringat kepada Ouwyang Tek dan Gui Siong, ia menjadi gemas.

Gemas sekali.

Gurunya memberi tahu bahwa ada tiga orang musuh besar dari gurunya yaitu, pertama Hap Tojin, kedua Tho-tee-kong Liong Losu seorang hwesio.

Kalau bertemu dua orang itu ia harus hati-hati tetapi tidak perlu takut sebab menurut gurunya itu, ilmu silatnya tidak kalah oleh kedua kakek itu.

Akan tetapi, demikian pesan gurunya.

Ia harus berhati-hati betul kalau bertemu dengan seorang kakek aneh yang bernama Han It Kong berjuluk Sin-kong-ciang.

"Kalau bertemu orang ini,"

Demikian papar gurunya.

"jangan kau sembarangan turun tangan. Dia ini musuh besarku, tetapi ilmu silatnya hebat bukan main. Kau bukan tandingannya muridku. Kalau kau tahu di mana Han It Kong itu berada, lekas beritahukan padaku dan kita lalu bersama sama mengerubuti. Dengan cara ini kita bisa berharap mampu mengalahkan serta membunuhnya."

Dan tidak diduga-duganya ia telah bertemu dengan dua orang murid Hap Tojin.

Betul saja, dengan ilmu silatnya ia dapat mengatasi kedua orang itu.

Tetapi bayangan putih itu, siapakah dia?

Kepandaiannya seperti setan.

Dewi Suling telah melupakan bayangan putih itu yang betul-betul ditakutinya ketika tiga hari kemudian ia tiba di kota Ang keng.

Kota ini amat besar serta ramai sebab letaknya di tepi lembah Sungai Yang-ce.

Ramai didatangi kaum pedagang karena sungai besar ini merupakan alat penghubung air yang lancar serta murah.

Begitu memasuki kota ini, empat orang tinggi besar telah menyambutnya di pintu gerbang serta terus langsung menuju ke pelabuhan di mana terdapat sebuah perahu bercat Hitam yang besar.

Mereka memasuki perahu ini dan duduk mengelilingi meja.

Empat orang ini adalah pembantu-pembantu Dewi Suling yang berhasil membawa lari seribu tail emas dari kota Ho-pak tiga hari yang lalu.

Peti hitam berisi emas itu dapat mereka selamatkan sampai ke An-keng dan kini mereka simpan dalam perahu.

Mereka ini bukanlah orang orang biasa karena sebelum menjadi kaki tangan Hek-siauw Kui-bo guru Dewi Suling, mereka dahulu terkenal sebagai bajak sungai Yang-ce Su-go (Empat Buaya Sungai Yang-ce).

Beberapa tahun yang lalu, mereka kesalahan tangan membajak Dewi Suling dan gurunya.

Tentu saja dengan mudah mereka ditundukkan dan semenjak itu mereka berempat menjadi kaki tangan Dewi Suling dan gurunya yang bersembunyi di dalam bukit bukit guha-guha sepanjang Sungai Yang-ce, tak jauh di sebelah timur An-keng.

"Nona, mengapa agak lambat sehingga kami berempat merasa bimbang dan tak enak kami menanti di sini?"

Tanya seorang diantara Yang-ce Su-go yaug paling tua, bernama Song Kai.

Dewi Suling tersenyum dan memainkan kerling matanya.

Empat orang tinggi besar itu adalah orang orang kasar berusia empatpuluh tahun lebih dan sudah banyak mereka mempermainkan wanita.

Akan tetapi menghadapi Dewi Suling mereka berempat ini merasa kagum dan tergila gila tentu saja hanya di dalam hati karena mereka sama sekali tidak berani bersikap kurang ajar.

Setiap kali Dewi Suling tersenyum manis dan mengerling genit seperti itu, hati mereka seperti dikutik kutik dan mereka hanya memandang dan menelan ludah.

Sebagai seorang wanita yang hampir setiap malam mempermainkan pria, tentu saja Dewi Suling maklum apa makna pendang mata mereka itu.

Akan tetapi mereka itu orang-orang kasar dan buruk lagi pula sudah setengah tua.

Mana dia mau memperdulikan mereka?

"Paman Song Kai, mengapa merasa tak enak hati?

Apakah tidak percaya kepadaku?"

"Eh...... ah"", bukan begitu. Tidak sekali kali nona. Akan tetapi, emas ini""

Begini banyak sehingga kami merasa tidak aman di jalan. Bagaimana kalau ada yang mengetahuinya? Tentu akan banyak gangguan dan keributan."

"Hemm! Kalau ada yang tahu, katakan ini milik Dewi Suling. Siapa berani ganggu?"

Song Kai menundukkan mukanya.

"Nona benar, hanya kami ingin lekas-lekas membawa emas ini ke istana air sehingga selesailah tugas kami."

Dewi Suling melirik kearah peti hitam di sudut ruangan perahu.

"Kenapa kalian menantiku? Kenapa tidak langsung saja membawa emas itu ke sana?"

"Kami menanti nona, karena dari pada nona susah susah mencari perahu dan berlayar sendiri"""

"Sudahlah, sekarang kalian lekas pergi, bawa emas itu pulang dan serahkan kepada guruku dan stttt......!"

Tiba tiba Dewi Suling memberi tanda dengan telunjuk di depan mulut karena mendadak perahu besar itu agak bergoyang sedikit.

Dengan cepat ia melompat keluar dari pintu ruangan perahu.

Tidak ada apa-apa di luar kamar perahu hanya jauh di seberang ia melihat bayangan berkelebat lenyap menyelinap diantara perahu perahu lain.

Seketika muka Dewi Suling menjadi pucat.

Ketika empat orang pembantunya itu menyusul keluar dari dalam bilik ia cepat berkata.

"Lekas, lekas kalian berangkat sekarang juga! Aku akan pergi lebih dulu!"

"Nona...... tidak ikut bersama kami? Nona hendak ke mana pula......?"

Dewi Suling melotot.

"Perlu apa kau bertanya tanya ke mana aku hendak pergi?"

"Eh""

Bukan apa apa, nona. Hanya menjaga kalau kalau Toanio (Nyonya Besar) menanyakan nona."

"Tak usah cerewet, pergilah dan jaga baik-baik peti itu."

Setelah berkata demikian, Dewi Suling meninggalkan perahu hitam dengan tergesa-gesa. Empat orang itu saling pandang dan mengangkat pundak. Seorang diantara mereka mengomel.

"Mana dia mau menghargai jasa-jasa kita? Yang dicarinya tentu orang-orang muda yang tampan, Hemm, tak tahu.."."

"Ssttt, sam-te (adik ketiga), jangan mengomel."

Song Kai menegur adiknya dan mereka berempat lalu sibuk bersiap siap, lalu berangkat berlayar menurutkan aliran sungai menuju ke timur.

Apa yang diomelkan Yang-ce Su-go paling muda tadi memang tidak meleset daripada kenyataan.

Terhadap empat orang pembantunya itu, biarpun ia tahu akan perasaan dan kekaguman mereka, tentu Dewi Suling sama sekali tidak mau perduli.

Yang dibutuhkan hanya pria-pria muda belia yang tampan, bukan laki-laki setengah tua dan kasar seperti bekas empat orang bajak sungai itu!

Setelah keluar dari perahu, Dewi Suling lalu memasuki kota, berkeliling sambil memasang mata.

Sudah tiga hari tiga malam ia tak pernah ditemani seorang pria tampan.

Kota An-keng yang besar itu tidak kurang pria-pria tampan, tinggal memilih saja.

Setelah berputar-putar setengah harian sudah ada sepuluh orang pemuda jang diam-diam dipilihnya.

Malam ini ia akan mulai dengan seorang pemuda putera pemilik toko obat di sebelah barat jalan simpang empat.

Ia adalah seorang pemuda berusia tujuhbelas tahun, bermata lebar serta muka bundar putih bibirnya berwarna merah tanda berbadan sehat sekali, ia akan besenang-senang dengan kesepuluh pemuda pilihannya itu, lalu setelah puas, barulah ia menyusul empat orang pembantunya dan juga menemui gurunya.

Tempat untuk bersenang senang itu sudah dipilihnya yaitu sebuah Kuil yang hanya dihuni oleh lima orang nikouw (pendeta wanita).

Setelah hari berganti malam, sebelum menemui putera pemilik toko obat, lebih dahulu Dewi Suling hendak mempersiapkan tempatnya, maka ia terus mendatangi kuil itu.

Lima orang nikouw yang mengira bahwa tamu ini adalah seorang gadis yang akan bersembahyang, menyambutnya dengan ramah serta penuh rasa sayang.

"Omitohud". malam malam begini siocia (nona) mau sembahyang? Ah, tentu banyak kesusahan yang siocia derita......."

Nikouw kepala yang sudah tua itu tiba tiba berdiam diri serta terkejut sewaktu tamu wanita itu yang dikiranya mau bersembahyang menolong berkah dari Sang Buddha itu tiba-tiba membentak.

"Siapa mau sembahyang? Aku akan memakai kuil kalian ini selama lima sampai sepuluh hari! Aku membutuhkan kamar yang terbesar serta terbaik, dan nanti kubayar mahal. Tetapi asalkan tak ada seorangpun yang boleh tahu bahwa kami berada di tempat ini!"

Nikouw tua itu membelalakkan matanya, merasa amat heran. Akan tetapi ia masih menjura serta berkata ramah.

"Nona, pinni (aku) berlima akan merasa gembira sekali kalau dapat menolongmu. Kalau nona membutuhkan tempat beristirahat, kami persilakan memakai tempat kami. Tapi kenapa bicara soal pembayaran? Pinni berlima tidak mau menerima uang sewa, pakai sajalah kamar kami, boleh nona pilih."

"Dan kalian bersumpah tidak akan bicara kepada orang lain bahwa aku berada di sini?"

"Kalau nona berpesan begitu, tentu saja pinni berlima tidak akan berkata kepada siapapun juga mengenai diri nona."

"Baik, kalau begitu sebentar aku kembali lagi bersama....... eh, bersama...... suamiku."

Lima orang nikoaw itu serentak mengeluarkan seruan kaget dan muka mereka pucat.

"Omitohud.......!"

Nikouw tertua mengeluh.

"Hal itu sama sekali tidak bisa......! Nona tentu mengerti sendiri, kuil ini adalah tempat para pendeta wanita. Seorang laki-laki tidak diperkenankan, apalagi bermalam disini!"

Tiba-tiba kelima orang nikouw itu mengeluarkan jeritan tertahan ketika berkelebat sinar merah dan tahu tahu tubuh mereka telan menjadi kaku di tempat mereka masing-masing tadi berdiri, sama sekali tak dapat digerakkan lagi.

Dan wanita cantik berpakaian merah itu kini telah mencekal sebatang suling warna merah pula yang tadi dengan kecepatan kilat telah menyambar dan menotok jalan darah mereka berlima.

"Kalian mau membantah lagi?"

Dewi Suling bertanya, dengan tersenyum dingin mengejek.

Nikouw yang telah tua itu bersama keempat temannya terkejut tetapi karena mereka masih bisa bicara, maka mereka hanya bisa membaca doa saja.

Kini nikouw tua itu berkata.

"Sebetulnya tidak boleh....... akan tetapi pinni berlima mengenal Cui-siauw Sian li...... pinni tak berdaya, terserah nona......"

Lalu sinar merah berkelebat pula dan kini kelima nikouw itu sudah terbebas dari totokan.

"Nah, kau telah mengenalku itu bagus. Aku tidak mau membunuh nikouw-nikouw, juga tidak mau merampok kuil butut ini. Aku cuma mau beristirahat satu dua pekan di sini tanpa godaan. Kalian boleh berkerja seperti biasa lalu melayani aku dan""

Suamiku, tetapi ingat jangan sampai seorangpun tahu aku berada di sini, mengerti?"

Lima orang nikouw itu mengangguk angguk dengan muka pucat serta kedua tangan terangkap di depan dada mereka.

"Omitohud"

Semoga dosa kami diampuni."

Nikouw tua itu berdoa dengan penuh kedukaan.

Nama Dewi Suling sudah terkenal di kota An-keng bahkan telah menerobos dinding kuil serta terdengar oleh para nikouw ini.

Sebab mereka sudah tahu akan halnya sepak terjang iblis betina itu, maka kini para nikouw itu telah tahu pula bahwa kuil ini mau dijadikan tempat "penyembelihan"

Bagi pemuda-pemuda tampan.

Tentu saja mereka merasa ngeri sekali serta ketakutan sebab mereka maklum bahwa sekali saja mereka cerita di luaran, jiwa mereka pasti melayang!

Perahu hitam besar itu berlayar cepat di sepanjang Sungai Yang-ce-kiang.

Empat orang bekas kepala bajak Yang-ce Su-go (Empat Buaya Sungai Yang-ce) duduk di dalam perahu, membiarkan anak buah mereka yang mengurus pelayanan perahu, sambil bercakap-cakap dan makan minum serta membicarakan keadaan Dewi Suling dengan wajah bersungut-sungut.

Mereka itu tidak tahu dan tidak menduga sama sekali bahwa tak jauh dari mereka, sebuah perahu kecil didayung seorang pemuda mengikuti perahu besar mereka.

Biarpun hanya satu orang yang mendayung, namun perahu kecil ini meluncur cepat sekali, tidak pernah ketinggalan oleh perahu hitam besar yang berlayar cepat.

Pemuda ini bertubuh tinggi besar, berwajah tampan sekali dengan bentuk muka bundar, sepasang matanya bersinar tajam, namun tarikan mulut dan bentuk matanya membayangkan penderitaan hidup yang membuat wajahnya tidak bergembira.

Terselip di pingang, tertutup jubahnya tampak menyembul gagang pedang, dan menggeletak didekatnya dalam perahu terdapat sebatang tongkat rotan sebesar ibu jari kaki sepanjang satu meter.

Pemuda ini pakaiannya serba putih, kepalanya memakai topi bambu lebar sehingga mukanya selalu tertutup sebagian.

Siapakah dia ini?

Pemuda inilah yang merupakan bayangan putih, yang beberapa kali muncul secara diam-diam dan yang telah membikin serem dan takut dari Dewi Suling yang biasanya tak megenal takut itu.

Dan pemuda ini bukan lain adalah Yu Lee!

Seperti telah kita ketahui, Yu Lee merupakan satu-satunya anggauta keluarga Dewa Pedang Yu atau Yu Tiang Sin yang terbasmi habis oleh musuh besarnya, Hek-siauw Kui-bo si iblis betina yang amat kejam dan ganas.

Telah diceritakan di bagian depan Yu Lee dibawa oleh kakek sakti Han It Kong dan diambil sebagai muridnya.

Limabelas tahun lamanya semenjak ia berusia delapan tahun ia digembleng oleh kakek yang berjuluk Sin-kong-ciang (Tiga Sinar Sakti), dan karena anak ini memang keturunan pendekar dan bertulang baik berdarah bersih bakatnya luar biasa sekali sehingga setelah berlatih siang malam selama belasan tahun, ia telah mewarisi semua ilmu kesaktian gurunya, bahkan telah berhasil pula menguasai dari ilmu simpanan gurunya yang membuat nama kakek ini menjulang tinggi diantara nama tokoh tokoh dunia persilatan yaitu ilmu pukulan Sin-kong-ciang-hoat (Ilmu Pukulan Sinar Sakti) dan ilmu tongkat Ta-kui-tung (Ilmu Tongkat Pemukul Setan).

"Dengan Sin-kong-ciang kau tak perlu gentar menghadapi lawan bertangan kosong yang bagaimanapun juga, muridku. Juga dengan Ta-kui-tung-hoat setiap potong ranting kayu dapat kau pergunakan menghadapi senjata lawan yang bagaimanapun juga. Akan tetapi karena kau adalah cucu tunggal Dewa Pedang Yu Tiang Sin, sudah sepatutnya kalau kau dapat bermain pedang untuk menjunjung nama baik kakekmu. Pedangku ini sudah tua dan berkarat kau pakailah dan kau harus dapat melatih diri, menyesuaikan pedang dengan Ta-kui-tung-hoat. Terserah kepadamu dan tergantung dari pada ketekunan serta bakatmu apakah kau akan berhasil ataukah tidak."

Demikian kata kakek sakti itu.

Yu Lee adalah orang yang semenjak kecil sudah memiliki kekerasan hati yang luar biasa berkerasnya, sehingga apa yang ada dihatinya, ia akan berusaha dengan taruhan nyawa.

Mendengar kata gurunya ini ia lalu siang malam mencipta dan berlatih sehingga akhirnya ia berhasil menciptakan ilmu pedang dari ilmu tongkat Ta-kui-tung-hoat.

Lima belas tahun telah lewat dan kini Han It Kong telah berusia seratus tahun lebih!

Ia sudah tua tetapi masih sehat dan masih kuat belum pikun, namun hatinya sudah tawar terhadap urusan dunia.

Karena ia maklum bahwa muridnya harus pergi mencari Hek-siauw Kui-bo, bukan hanya menuntut balas atas kematian seluruh keluarga, tapi terutama sekali untuk membasmi Iblis ganas itu agar tidak melakukan kejahatan lagi di dunia, maka pada hari itu ia memanggil muridnya.

Yu Lee yang dapat melihat sikap gurunya bersungguh-sungguh tidak seperti biasa, lalu berlutut di depan suhunya, siap mendengar hal-hal yang paling tidak menyenangkan.

"Yu Lee muridku, kini sudah tiba saatnya kau pergi meninggalkan aku. Kau harus turun gunung dan melaksanakan tugasmu. Tak perlu lagi kujelaskan karena sudah sering kau mendengar tentang tugas seorang manusia hidup harus berusaha dan mengerjakan sesuatu demi kebaikan sesama hidup berdasarkan kebenaran. Dan sesuatu yang dikerjakan itu harus sesuai dengan kepandaian. Seorang petani takkan dapat mengemudikan perahu dengan baik dan perahu itu akan tenggelam, sebaliknya seorang nelayan takkan dapat mengayunkan cangkul dengan baik dan sawah ladang tak mendapatkan tanaman subur. Engkau sejak kecil tekun belajar ilmu silat maka sudah menjadi kewajibanmu untuk menyesuaikan kepandaianmu guna kebaikan masyarakat. Engkau harus selalu mempergunakan kepandaianmu untuk menentang si jahat dan melindungi si lemah. Tentang Hek-siauw Kui-bo, engkau sudah cukup mengerti bagaimana harus menghadapinya. Ingat yang membasmi keluargamu hanya Hek-siauw Kui-bo seorang kalau dia punya murid atau kawan-kawan mereka tidak ikut-ikut dan kau tidak boleh turun tangan membunuh secara serampangan saja. Kewajibanmu menentang kejahatan, bukan membunuh orang seperti algojo! Mengertikah?!"

"Teecu mengerti, dan bersumpah akan mentaati semua pesan suhu."

"Nah, baiklah kalau begitu. Kau pergilah, dan aku melarangmu naik ke puncak ini mencariku lagi karena aku tidak mau lagi bertemu dengan manusia."

"Tapi, suhu......!"

Yu Lee memprotes dan tanpa disengaja kedua matanya mengucurkan air mata yang menitik nitik turun melalui kedua pipinya.

Han It Kong yang duduk bersila di atas batu itu jadi menarik napas panjang dan memejamkan matanya.

"Aaahhh kau masih saja cengeng tak pernah lenyap sejak kecil. Yu Lee, kehalusan perasaanmu yang membuatmu cengeng inilah agaknya yang kelak akan mengombang ambingkan engkau antara suka dan duka. Baiklah, kau boleh naik ke puncak ini menghadapku pada saat engkau sudah bosan hidup, boleh kau datang ke sini. Pergilah!"

Yu Lee masih bercucuran air mata ketika ia berlutut dan mengangguk-anggukkan kepala sampai delapan kali di depan kaki gurunya.

Kemudian sambil menyusuti air matanya, pemuda ini meninggalkan guha di puncak Ta-pie-san di mana ia hidup selama limabelas tahun itu.

Tangan kanannya memegang sebatang rotan yang biasa ia pakai berlatih, pedang pemberian gurunya terselip di pinggang dan buntalan pakaiannya menempel di punggung.

Pada waktu ia turun gunung dan sampai di kota Ho-pak, secara kebetulan sekali ia menyaksikan Dewi Suling yang dikeroyok oleh jagoan-jagoan anak buah Gak Taijin.

Yu Lee tidak tahu apa yang menyebabkan gadis cantik pakaian merah itu dikeroyok banyak orang akan tetapi diam-diam ia merasa kagum akan kepandaian wanita muda itu.

Juga ia merasa ngeri menyaksikan sepak terjang wanita itu yang merobohkan banyak orang.

Ia dapat memperhitungkan dengan melihat jalannya pertandingan bahwa kalau pengeroyokan itu dilanjutkan akan lebih banyak lagi jatuh korban di antara para pengeroyok sungguhpun wanita itu belum tentu akan dapat menyelamatkan diri.

Karena inilah maka untuk mencegah agar jangan sampai jatuh lebih banyak korban lagi, Yu Lee lalu menggunakan tenaga sinkang di tangannya, mendorong ke arah pohon besar di dekat situ sehingga daun-daun itu rontok menggelapkan gelanggang pertandingan dan karena ini maka Dewi Suling mendapat kesempatan melarikan diri bebas daripada kepungan yang ketat.

Yu Lee adalah seorang yang amat berhati-hati dan selalu ia teringat akan nasihat gurunya agar ia jangan terlalu sembrono dalam segala tindakannya.

Kalau tadi ia lancang turun tangan, tidak lain maksudnya hanya untuk membubarkan pertandingan itu, sama sekali hatinya tidak berpihak siapapun juga karena ia tidak tahu akan urusannya!

Akan (Lanjut ke

Jilid 06) Pendekar Cengeng (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 06 tetapi setelah ia berhasil menghentikan pertandingan matanya yang tajam dapat melihat berkelebatnya dua bayangan orang muda yang diam-diam membayangi gadis muda pakaian merah itu.

Timbul kecurigaannya dan diam-diam iapun membayangi mereka!

Dapat dibayangkan betapa kaget hati Yu Lee ketika ia menyaksikan adegan antara Dewi Suling dan dua orang muda murid Hap Tojin yang gagah perkasa.

Ia merasa kecelik dan merasa menyesal sekali telah membantu wanita yang amat cabul dan jahat itu, dan berbareng ia merasa kagum sekali kepada Ouwyang Tek dan Gui Siong.

Ia pernah mendengar dari suhunya bahwa sekarang amat sukar dicari orang-orang yang semulut sehati membela kebenaran dan keadilan, yang benar-benar berjiwa pendekar dan kesatria.

Aku tetapi kini ia benar-benar menyaksikan sikap yang amat mengagumkan dari dua orang pemuda perkasa itu.

Terbayanglah dalam ingatannya wajah Siauw-bin-mo Hap Tojin, tosu yang selalu tertawa-tawa, Siauw-bin-mo Hap Tojin adalah sahabat baik mendiang kakeknya, bahkan Siauw-bin-mo Hap Tojin bersama Tho-tee-kong Liong Losu telah membantu keluarganya ketika muncul Hek-siauw Kui-bo.

Sungguhpun kedua orang Kakek itu akhirnya kalah namun ia tidak dapat melup"kan budi mereka yang amat besar terhadap keluarganya.

Tentu saja ia tidak dapat membiarkan Dewi Suling membunuh dua orang muda perkasa itu maka ia pun cepat turun tangan mempergunakan kerikil untuk memukul mundur Dewi Suling dan untuk membebaskan Ouwyang Tek dan Gui Siong dari pada totokan.

Ia terus membayangi Dewi Suling dari jauh dan ia melihat pula betapa Dewi Suling menghubungi Yang-ce Su-go.

Sementara itu di kota An-keng ia segera melakukan penyelidikan tentang Dewi Suling.

Tidak mudah bagi pemuda ini untuk mencari keterangan perihal Dewi Suling karena semua orang takut belaka untuk menyebut nama ini.

Akan tetapi akhirnya ada pula yang bercerita kepadanya.

Bukan main kaget hanya mendengar berita tentang diri Dewi Suling yang cabul dan jahat, pembunuh pemuda-pemuda tampan yang telah dipermainkannya.

Lebih kaget lagi dan juga girang hatinya ketika mendengar gadis cabul itu adalah murid dari Hek-siauw Kui-bo!

Karena tidak seorangpun dapat menerangkan di mana adanya Hek-siauw Kui-bo, maka Yu Lee lalu mengambil keputusan untuk membayangi pelayaran, Yang-ce Su-go, pembantu-pembantu Dewi Suling yang pergi membawa peti hitam berisi uang kemenangan berjudi di Ho-pak.

Ia tak memperdulikan lagi Dewi Suling karena bukan gadis cabul itulah yang dicarinya.

Ia hanya akan mencari Hek-siauw Kui-bo, musuh besar, iblis betina yang telah membunuh sekeluarganya secara keji sekali.

Teringat akan peristiwa limabelas tahun yang lalu.

Yu Lee menangis tersedu-sedu di atas perahunya ketika malam hari itu ia mengikuti pelayaran perahu besar hitam yang ditumpangi oleh Yang-ce Su-go dan anak buahnya.

Menjelang pagi, ketika cahaya matahari yang kemerahan telah muncul mendahului sang surya, menerangi udara di sebelah timur, perahu hitam itu berhenti di tepi sungai sebelah kanan.

Tempat itu adalah sebuah hutan yang tanahnya amat subur.

Dari jauh saja sudah tampak gerombolan pohon-pohon raksasa memenuhi lembah sungai, dan tampak pula pohon-pohon kembang beraneka warna.

Sungai di bagian ini amat lebar dan agaknya amat dalam, terbukti dari adanya pusaran air di pinggir sebelah selatan atau sebelah kanan ada banyak bunga teratai.

Di bagian ini sungai mengalir perlahan sekali hampir tidak terlihat alirannya, seperti air telaga.

Dan di antara pohon-pohon raksasa itu, samar-samar tampak tembok genteng sebuah bangunan besar dan indah seperti istana!

Bangunan itulah yang disebut Istana Air, sebuah bangunan besar mewah semacam istana.

Di tempat inilah selama belasan tahun Hek-siauw Kui-bo mengundurkan diri lalu mendidik Cui-siauw Sianli Ma Ji Nio dengan ilmu-ilmu silat yang tinggi.

Agaknya karena cita-citanya di waktu muda untuk menjadi seorang berpengaruh serta berkedudukan tinggi disamping suami pangeran tidak tercapai, kini Hek-siauw Kui-bo ingin bermimpi menjadi "ratu"

Di dalam istana itu, dilayani oleh banyak pelayan wanita-wanita cantik dan pemuda-pemuda tampan.

Bagi seorang berilmu tinggi seperti Hek-siauw Kui-bo, bukanlah hal yang sulit untuk membiayai semua kehidupan royal ini, karena dengan kepandaiannya itu mudah baginya untuk mengangkuti harta benda orang-orang kaya sebagai pencuri atau merampok barang kiriman.

Tidak ada perbuatan maksiat yang diharamkan oleh iblis betina ini.

Yu Lee yang membayangi perahu hitam dari jauh melihat betapa perahu hitam itu berhenti di tepi sungai sebelah selatan, iapun cepat minggirkan perahu kecilnya, kemudian meloncat ke darat dan mengikat perahu kecil pada sebatang pohon di tepi sungai.

Ia sudah melihat samar-samar bangunan besar indah di tengah hutan di tepi sungai itu, dan dapat menduga bahwa musuh besar yang membasmi keluarganya tentu berada di tempat itu.

Dengan cepat namun hati-hati ia lalu menyelinap di antara pohon-pohon menghampiri Istana Air.

Gerakan pemuda ini amat cepat sehingga andaikata ada orang melihatnya pada saat itu yang tampak hanya berkelebat bayang-bayang putih saja.

Apalagi pada saat itu matahari belum menampakkan diri, baru cahaya kemerahan sebagai utusan atau pelapor sang raja siang, sehingga keadaan di dalam hutan yang terlindung daun-daun lebat itu masih gelap.

Sementara itu keempat Yang-ce Su-go sudah mendarat dan mengangkut peti hitam terisi emas masuk ke dalam gedung istana.

Para penjaga pintu depan dan tengah yang sudah mengenal baik empat orang kepala bajak ini, memberi hormat dan mempersilakan mereka masuk.

"Toanio masih tidur silakan cuwi menanti di ruang tengah,"

Kata pelayan kepala, seorang laki-laki tua berjenggot putih.

Empat orang kepala bajak itu mengenal pula kepala pelayan ini yang bukan orang sembarangan, melainkan seorang bekas tokoh kangouw yang berilmu tinggi dan dipercaya menjadi pelayan kepala oleh Hek-siauw Kui-bo.

Mereka mengucapkan terima kasih lalu menanti di ruang tamu dimana keadaannya amat menyenangkan, ruangannya lebar, terdapat bangku-bangku bertilam kasur, terhias lukisan-lukisan indah dan bau kembang semerbak harum memasuki ruangan itu dari jendela-jendela besar berbentuk bulan purnama.

Setelah menanti agak lama dan cukup beristirahat di ruang tamu itu, akhirnya Yang-ce Su-go bangkit dan cepat-cepat duduk dengan sopan ketika didengar pelayan kepala memberitahu bahwa Toanio (nyonya besar) sudah siap menerima mereka.

Dua diantara mereka menggotong peti hitam dan yang dua orang lagi berjalan di belakang mereka, lalu berempat memasuki ruangan dalam.

Seorang wanita berpakaian serba hitam duduk di ruangan dalam yang keadaannya lebih mewah daripada ruangan tamu.

Kursi yang diduduki wanita itu terbuat daripada perak sehingga pakaiannya yang terbuat dari sutera hitam itu kelihatan menyolok sekali.

Wanita ini sukar ditaksir usianya.

Rambutnya sudah berwarna dua, namun di gelung rapih dan bagus, berkilat karena minyak.

Wajahnya tidak setua rambutnya, masih kemerahan dan halus kulitnya, dan amat cantik.

Matanya tajam dan bengis, hidungnya mancung dan mulutnya membayangkan pengabdi nafsu birahi.

Pakaian sutera itu tipis sekali, membayangkan bentuk tubuh yang masih padat berisi.

Kalau orang mengerti bahwa Hek-siauw Kui-bo ini sudah berusia enampuluh tahun, tentu ia akan terheran-heran karena wanita yang menurut usianya sudah harus nenek-nenek ini masih memiliki daya tarik dan daya rangsang yang cukup kuat untuk merobohkan hati seorang pria muda!

Yang-ce Su-go serta merta menjatuhkan diri berlutut di depan wanita itu.

Seorang diantara mereka yang tertua berkata.

"Kami empat saudara Song memenuhi perintah Ma-siocia (nona Ma) untuk mengantarkan emas ini dan menghaturkannya kepada Toanio."

Setelah berkata demikian, Song Kai, orang tertua dari Yang-ce Su-go lalu membuka peti hitam.

Tampaklah uang emas berkilauan tertimpa sinar lampu yang menerangi ruangan itu.

Melihat peti hitam yang berisi penuh uang emas itu, bibir Hek-siauw Kui-bo terbuka sedikit tersenyum dan tampillah giginya yang putih dan masih utuh, berderet rata.

Benar-benar mengherankan sekali keadaan jasmani wanita ini, sudah tua masih cantik dan gigi, mata, telinganya masih dalam keadaan baik dan kuat.

"Eh darimana Ji Nio bisa mendapatkan semua ini? Tentu tidak kurang dari seribu tail......"

"Tepat seribu tail tidak kurang sedikitpun, Toanio,"

Kata Song Kai yang lalu menceritakan kemenangan Ma Ji Nio atau Dewi Suling dalam perjudian di Ho-pak melawan It-gan Hek houw, kemudian betapa Dewi Suling dikeroyok dan selain berhasil menewaskan It-gan Hek houw dan banyak orang, juga berhasil lolos.

"Ma-siocia sudah menyusul kami di An-keng akan tetapi menyuruh kami menghadap Toanio lebih dulu membawa peti ini, sedangkan siocia sendiri katanya hendak berpesiar di An-keng beberapa hari."

Kembali Hek-siauw Kui-bo tertawa.

"Ah, muridku itu benar-benar terlalu berani dan gegabah. Untung ia tidak mengalami cedera dalam keributan itu dan hasilnya lumayan. Dan ia terlalu mengejar kesenangan"""

Ia berhenti sebentar kemudian menarik napas panjang dan menyambung.

"""ah, begitulah kalau masih muda......!"

Ia termenung dan teringat akan masa mudanya.

Seperti juga muridnya, ia selalu menuruti dorongan nafsunya, tiada yang menghalangi tiada yang merintangi, berenang dalam lautan kesenangan.

Sekarang ia masih tak dapat menghentikan kesenangan yang sudah mencandu di darah dagingnya, namun semangatnya sudah berkurang tidak sepenuh di masa mudanya.

Kembali ia menarik napas panjang dan diam-diam ia mengiri kepada muridnya yang muda dan cantik sehingga tidak sukar mendapatkan pria-pria tampan dan gagah yang akan datang dengan sukarela dan cinta kasih.

Diapun dapat menaklukan pria muda yang bagaimanapun, namun untuk mendapatkan cinta kasih mereka tidak akan semudah ketika ia masih muda dahulu.

"He, Cun Sam"...! Cun Sam......!!"

Wanita itu bertepuk tangan dan memanggil pelayan kepala.

Muncullah pelayan kepala yang jenggotnya panjang putih itu.

Agak janggal dan aneh melihat wanita yang masih cantik dan muda itu memanggil seorang kakek berjenggot panjang putih seperti itu.

Akan tetapi sesungguhnya Hek-siauw Kui-bo tidaklah lebih muda dari pada pelayan kepala itu.

Dia ini bernama Ngo Cun Sam, seorang ahli ilmu silat dan gulat dari barat.

Di masa mudanya Ngo Cun Sam ini adalah seorang yang tampan dan gagah juga, maka pernah ia mendapat kehormatan dipilih oleh Hek-siauw Kui-bo sebagai kekasih untuk beberapa malam.

Dan agaknya mengingat akan hubungan yang pernah ada ini, juga mengingat bahwa ilmu kepandaian Ngo Cun Sam boleh diandalkan maka ketika Hek-siauw Kui-bo menjadi "ratu"

Di Istana Air, ia memanggil bekas kekasih ini untuk menjadi pelayan kepala merangkap pengawal pribadi.

"Cun Sam, kau bawa dan simpan peti hitam ini ke dalam kamar!"

Kata pula Hek-siauw Kui-bo.

Ngo Cun Sam mengangguk dan melangkah lebar menghampiri peti hitam, kemudian sekali kakinya bergerak, peti hitam itu sudah mencelat ke atas dan tangan kirinya menerima peti itu dengan telapak tangan di atas, menyangga dengan sikap ringan sekali.

Diam-diam keempat Yang-ce Su-go kagum bukan main.

Memang setiap orang diantara mereka berempat akan sanggup mengangkat peti hitam itu akan tetapi tidak secara yang dilakukan Ngo Cun Sam.

Jelas bahwa lweekang yang dimiliki Ngo Cun Sam jauh lebih kuat daripada mereka.

Pada saat Ngo Cun Sam hendak melangkah keluar dari ruangan itu, tiba-tiba berkelebat bayangan putih telah berdiri di ambang pintu sikapnya keren dan gagah.

Sepasang matanya menatap wajah Hek-siauw Kui-bo dengan sinar berapi.

"Hek-siauw Kui-bo! Masih ingatkah engkau kepadaku?"

Suara pemuda yang bukan lain orang adalah Yu Lee itu halus dan tergetar penuh keharuan melihat musuh besarnya ternyata masih hidup dan saat pembalasan yang diidam-idamkan selama limabelas tahun itu sudah berada di depan mata.

Ngo Cun Sam dan Yang-ce Su-go terkejut dan marah sekali menganggap betapa sikap pemuda ini kurang ajar dan tidak hormat kepada junjungan mereka.

Akan tetapi Hek-siauw Kui-bo sendiri tidak menjadi marah, melainkan tersenyum dan wajahnya menjadi makin muda kalau ia tersenyum lebar seperti itu.

Sinar matanya lembut dan keningnya berkerut ketika ia mengingat-ingat.

Sebagai seorang tokoh besar yang sudah banyak pengalaman dan berpandangan tajam, Hek-siauw Kui-bo dapat mengenal orang pandai.

Pemuda tampan ini biarpun masih muda, namun memiliki sinar mata yang tajam, dan sikap yang begitu tenang seperti air telaga dalam.

Pemuda macam ini bukanlah pemuda sembarangan.

"Orang muda, terlalu banyak pemuda tampan dan orang gagah yang kukenal dalam hidupku, maka maafkan kalau aku lupa lagi siapa engkau ini?"

Yu Lee tersenyum pahit.

"Jawabanmu tepat sekali dengan dugaanku, Hek-siauw Kui-bo. Belasan tahun lewat dan kau tidak berubah! Hanya rambutmu yang sudah berubah putih akan tetapi hatimu makin hitam iblis betina, kau rabalah tengkukmu dan engkau akan teringat kepadaku."

"Jahanam muda, lancang mulutmu!"

Bentakan ini keluar dari mulut Ngo Cun Sam yang sudah tak dapat menahan kemarahannya lagi.

Hek-siauw Kui-bo adalah bekas kekasihnya yang masih dicintainya, juga majikan dan junjungannya yang dihormati dan dikagumi kepandaiannya.

Sekarang bocah ini datang datang mengeluarkan ucapan dan makian yang sangat menghina!

Setelah mengeluarkan bentakan itu, peti hitam yang masih tersimpan di tangan kirinya, ia lontarkan dengan tenaga sekuatnya ke arah tubuh Yu Lee!

"Wuuuutttt!!"

Peti hitam itu meluncur cepat ke arah kepala Yu Lee.

Isi peti itu beratnya seratus duapuluh lima kati ditambah berat peti itu sendiri tentu tidak kurang dari seratus limapuluh kati.

Kini dilontarkan dengan seorang ahli lweekeh seperti Ngo Cun Sam, benar-benar merupakan serangan dahsyat dan berbahaya.

Dinding bata sekalipun akan ambruk dihantam lontaran peti ini, apalagi kepala dan tubuh manusia biasa!

Yu Lee juga maklum akan bahayanya serangan ini namun dengan amat tenang ia menggerakkan tongkat rotan di tangan kanannya, menyambut datangnya peti yang sudah menjadi bayangan hitam menyambarnya itu.

Begitu ujung rotan menyentuh tengah peti, ia mengerahkan ginkang dengan tiba-tiba menyentakkan tongkatnya berjungkir ke atas dan.......

peti hitam itu terbawa melayang ke atas dan kini berputaran cepat di atas ujung rotan!

Rotan yang hanya sebesar ibu jari kaki itu membal-membal seperti mau patah, namun ternyata tidak patah dan gerakan pergelangan tangau Yu Lee itulah yang penuh tenaga sinkang menyebabkan peti itu seperti permainan seorang akrobat.

Kemudian ia berseru halus.

"Terimalah kembali!"

Ia menggerakkan tangan dan peti hitam itu melayang ke arah Ngo Cun Sam dalam keadaan masih berputaran!

"Cun Sam jangan terima ......!

Hek-siauw Kui-bo berseru kaget karena maklum akan bahayanya menerima lontaran peti hitam yang berputar seperti itu.

Namun terlambat karena dalam kemarahannya Ngo Cun Sam kurang perhitungan dan sambil mengarahkan lweekang, ia menyambut peti hitam yang melayang ke arahnya itu.

Begitu peti berada di kedua tangannya ia kaget sekali karena tubuhnya ikut terseret berputaran!

Ia tentu bisa roboh dan terancam bahaya tertimpa peti.

Tetapi untung baginya sewaktu ia berputaran tubuhnya lewat di dekat Yang-ce Su-go.

Melihat tubuh pelayan kepala itu berputaran, Song Kai serta Song Leng pun maju menahan dengan memegangi lengan Ngo Cun Sam dari kanan kiri.

Akibatnya, tubuh tiga orang itu terhuyung dan hampir roboh, tetapi tenaga putaran yang tadi menyeret tubuh Ngo Cun Sam bisa tertahan.

Keringat dingin mengucur di tubuh Ngo Cun Sam ketika ia menaruh peti hitam ke atas lantai.

Yang-ce Su-go yang tidak mau kalah dalam hal mencari muka di depan Hek-siauw Kui-bo, telah mencabut golok masing-masing terus meloncat maju mengurung Yu Lee.

Melihat gerakan empat orang anak buahnya ini, Hek-siauw Kui-bo tidak mencegah.

Tadi ketika ia mendengar ucapan Yu Lee, tanpa disadari lagi tangannya meraba-raba tengkuknya dan kebetulan jari-jarinya itu yang berkulit halus meraba bekas luka kecil di tengkuk itu.

Mukanya seketika itu berubah pucat.

Sebab luka kecil ini mengingatkan ia kepada semua peristiwa yang terjadi limabelas tahun yang lalu.

Kini teringatlah ia wajah seorang anak laki-laki berusia delapan tahun yang dulu pernah merangkul leher serta menggigit tengkuknya, yaitu cucu Dewa Pedang Yu Tiang Sin!

Satu-satunya keturunan Yu Tiang Sin yang lolos dari tangan mautnya!

Anak yang ditolong oleh Sin-kong-ciang Han It Kong.

Dan ternyata anak ini setelah menjadi seorang pemuda perkasa, datang mencarinya.

Mudah di duga apa kehendaknya, tentu mau membalas dendam, Hek-siauw Kui-bo jadi bengong, biarpun ia tidak merasa takut, namun teringat kepada Han It Kong ia merasa ngeri juga.

Itulah sebabnya mengapa Hek-siauw Kui-bo yang biasanya tidak suka mengandalkan bantuan anak buahnya dalam menghadapi musuh, kini membiarkan saja Yang-ce Su-go mewakilinya melawan pemuda itu karena mau mengukur sampai di mana ilmu silat cucu Yu Tiang Sin yang ia tahu pasti tak akan mau hidup bersama dia di atas bumi ini.

Yang-ce Su-go juga bukan orang-orang sembarangan.

Mereka adalah bekas kepala-kepala bajak sungai yang sudah mempunyai pengalaman bertempur puluhan tahun.

Golok yang mereka pegang seolah-olah sudah mendarah daging di tangan mereka serta telah minum darah beberapa ratus musuh.

Mereka telah dapat menduga bahwa pemuda berpakaian putih itu bukan orang sembarangan dan tentu murid orang pandai, namun tentu saja mereka tidak takut, bahkan dapat memastikan kalau mereka berempat maju berbareng sudah sudah pasti akan dapat merobohkan pemuda ini.

Mereka bukan orang bodoh dan tanpa adanya keyakinan ini, mereka pun tidak akan mau mengorbankan diri.

Betapapun juga, Song Kai yang dapat menduga bahwa lawannya yang muda itu cukup lihai, segera memberi tanda rahasia kepada adik-adiknya dan serentak mereka melakukan serangan secara berbareng, atau setidaknya, serangan mereka itu sambung menyambung secara otomatis sehingga andaikata lawan mengelak dari serangan golok pertama tentu ia akan disambut golok kedua dan seterusnya.

Betapapun pandai dan gesit gerakan lawan, menghadapi sambaran golok dari empat jurusan yang sambung menyambung dan menutup "pintu"

Di empat penjuru ini, kiranya tidak akan mudah membebaskan diri.

Namun Yu Lee sama sekali tidak mengelak ketika menghadapi serangan ganda yang serentak datangnya ini.

Hanya nampak tangannya yang memegang tongkat rotan bergerak cepat sekali sehingga sukar diikuti pandangan mata, begitu cepatnya sehingga mata keempat orang pengeroyoknya menjadi silau tertutup sinar kuning yang bergulung-gulung.

"Trang-trang-trang!"

Tahu tahu empat batang golok itu telah terlepas dari tangan, lalu mencelat dan jatuh berkerontangan di atas lantai.

Keempat orang Yang-ce Su-go yang selama hidupnya belum pernah mengalami hal seperti ini, mencekali tangan kanannya yang tertotok lumpuh, lalu sebelum mereka tahu apa yang terjadi, mereka berteriak susul menyusul terus jatuh berlutut karena tahu tahu lutut merekapun lumpuh!

Hek-siauw Kui-bo terkejut bukan main.

Memang ia tahu bahwa ilmu silat Yang-ce Su-go tidaklah bisa diandalkan, namun mereka itu adalah jago jago tua berpengalaman luas.

Dengan cara bagaimana bisa dirobohkan begitu mudahnya oleh pemuda itu?

Ia bisa melihat gerakan tongkat rotan yang bergetar menjadi banyak sekali, lalu secara berturut-turut telah menyambar secepat kilat mendahului gerakan Yang-ce Su-go, menotok pergelangan tangan keempat orang itu yang memegang golok sehingga terlepas.

Kemudian memakai kesempatan selagi keempat orang itu kaget memegangi tangan kanan, ujung rotan sudah menotok jalan darah di dekat lutut sehingga tak dapat dicegah Yang-ce Su-go jatuh berlutut di depan si pemuda sakti!

Akan tetapi ternyata totokan-totokan itu hanya membuat empat orang jago bajak sungai itu lumpuh buat beberapa detik saja.

Mereka kini sadar akan situasi dan cepat melompat bangun dengan muka merah saking malu dan marahnya.

"Setan cilik, kau sudah bosan hidup.......!"

Bentak Song Kai yang sudah maju lagi siap bertempur.

"Cuwi harap mundur, biarkan aku menghadapi bocah ini!"

Suara ini keluar dari mulut Ngo Cun Sam dan karena maklum akan kelihaian si pelayan kepala, serta takut kepada Hek-siauw Kui-bo yang rupanya membenarkan permintaan Ngo Cun Sam sebab diam saja, lalu empat orang bekas kepala bajak itu mundur dan berdiri di pinggir dengan muka keruh.

Kali ini mereka benar-benar kehilangan muka di depan majikan mereka, ini membuktikan bahwa mereka kurang bisa diandalkan.

Ngo Cun Sam memiliki ilmu silat yang melebihi Yang-ce Su-go tingkatnya.

Biarpun pertandingan tadi cuma segebrakan saja, namun dia mengerti bahwa pemuda itu memiliki ilmu tongkat yang amat luar biasa serta sukar dilawan.

Sebab itu, dengan licik ia lalu berkata sambil tersenyum mengejek.

"Anak muda, kepandaianmu boleh juga Akan tetapi rupanya masih belum pantas untuk dilayani oleh majikanku, sebelum engkau bisa mengalahkan aku, pelayan kepala dalam istana ini. Di dalam pertempuran aku tidak biasa memakai senjata, aku Ngo Cun Sam kemana-mana cukup mengandalkan kedua tangan serta kedua kaki. Engkau telah menantang toanio, beranikah melawan aku tanpa senjata?"

Sambil berkata demikian Ngo Cun Sam melangkah maju.

Waktu mendekati Yu Lee, Ngo Cun Sam melalui empat batang golok yang tergeletak di atas lantai.

Lalu sengaja ia menginjak golok-golok itu dan terdengarlah suara "tak tak tak!"

Ketika empat batang golok itu terinjak, ternyata empat batang golok itu telah patah-patah oleh injakan kedua kakinya!

Ngo Cun Sam memang cerdik.

Ia sengaja mendemonstrasikan tenaga lweekangnya yang hebat.

Jika orang muda itu menjadi gentar bertanding melawannya dengan tangan kosong setelah menyaksikan demonstrasinya, maka hal itu tentu akan merendahkan dan memalukan pemuda itu dan dengan demikian berarti satu kemenangan bagi pihaknya.

Sebaliknya kalau pemuda itu menerima tantangannya, ia yakin bahwa biarpun dalam ilmu silat belum tentu ia dapat menangkan si pemuda lihai, namun ia dapat mengandalkan ilmu gulatnya yang hebat untuk mengalahkan lawannya.

Biarpun belum berpengalaman, namun sebagai murid seorang sakti yang berpandangan luas seperti Sin-kong-ciang Han It Kong yang tidak hanya mendidik Yu Lee dengan ilmu silat, melainkan juga dengan nasehat-nasehat dan kebatinan.

Yu Lee dapat menduga bahwa lawannya sengaja memancingnya mengadakan pertandingan tanpa senjata.

Ia menduga bahwa lawannya yang berjenggot putih ini tahu akan kelihaian ilmu tongkatnya dan menjadi gentar, maka sengaja menantang bertanding dengan tangan kosong.

Melihat cara kakek ini tadi melontarkan peti hitam, kemudian sekarang sekali injak mematahkan golok di lantai jelas menunjukan bahwa orang ini memiliki lweekang yang amat kuat.

Sambil tersenyum Yu Lee mengangkat rotannya dengan menerjang depan.

Ia menoleh ke arah Hek-siauw Kui-bo lalu berkata.

"Hek-siauw Kui-bo engkau tahu bahwa kedatanganku ini. Aku bukanlah iblis macam engkau yang dalam urusan dendam terhadap kakekku lalu membasmi semua keluargaku. Tidak, aku tidak bermaksud memusuhi lain orang, baik anak buahmu, murid-muridmu maupun keluargamu. Aku hanya datang untuk menandingimu seorang. Akan tetapi kalau engkau begini pengecut untuk mengajukan orang-orangmu, jangan mengira aku akan mundur dan takut. Ngo Cun Sam aku tidak mengenalmu, tidak punya urusan denganmu akan tetapi karena engkau hendak maju mewakili nyonya besarmu, silakan. Lihat, akupun bertangan kosong!"

Sikap pemuda itu yang tenang membuat Ngo Cun Sam gentar juga.

Kalau tidak memiliki ilmu kepandaian amat tinggi tak mungkin pemuda itu dapat bersikap begitu tenang menghadapinya setelah ia mendemonstrasikan tenaganya, ia menjadi hati-hati dan berkata.

"Orang muda, kau sebagai tamu dan lebih muda, kau buka seranganmu!"

Yu Lee juga maklum bahwa jika dua orang ahli silat tinggi sudah saling berhadapan dan siap sedia, maka dia yang menyerang duluan menjadi lemah kedudukannya.

Namun ia tak perduli karena dari lontaran peti hitam tadi, sedikit banyak ia sudah bisa mengukur tenaga lawan serta tidak perlu khawatir.

Lalu ia berseru.

"Kau sambutlah!"

Ia melangkah maju lalu memukul dada dengan tinju kanannya.

Jurus yang ia pergunakan biasa saja, pukulannya tidak terlalu keras namun mengandung hawa pukulan yang antep.

Ia hanya mengisi lengannya dengan sinkang untuk menjaga tangkisan lawan.

Benar saja seperti dugaannya, kakek itu menangkis dan Yu Lee telah memusatkan tenaga agar dalam benturan dua tenaga raksasa ini tak akan merugikannya.

Tetapi alangkah kagetnya ketika tiba-tiba lengan kakek itu setelah bertemu dengan lengannya, menjadi licin dan tahu tahu berbalik cepat menangkap lengannya.

Sewaktu Yu Lee mau menarik pulang tangannya, tiba-tiba tubuh kakek itu membalik dan membungkuk lalu sebuah tenaga besar yang tak tertahankan lagi membuat tubuh Yu Lee mencelat keatas seperti dilontarkan.

Tubuh pemuda itu melayang ke atas dan tentu akan terbanting pada langit-langit ruangan itu kalau saja ia tidak sudah bersikap hati-hati sekali dan cepat membalikkan tubuh sehingga ia menumbuk langit-langit dengan kaki tangan di depan.

Ia menggunakan sinkangnya menempelkan tangan kaki pada langit-langit seperti seekor cecak, kemudian mendorong langit-langit sambil berjungkir balik ke bawah, ginkang atau ilmu meringankan tubuh yang ia perlihatkan ini amat indah dan hebat sehingga Ngo Cun Sam yang tadinya girang kini menjadi kecewa.

Mereka sudah berhadapan lagi.

Yu Lee mengerutkan kening.

Kakek ini mempunyai ilmu yang aneh.

Ilmu menangkap itu adalah semacam Eng-jiauw-kang (Ilmu Cakar Garuda), akan tetapi ilmu melontarkan itu benar-benar hebat dan aneh.

Belum pernah ia mendengar ilmu seperti itu.

Saking herannya Yu Lee menjadi tertarik sekali.

Dalam gebrakan pertama tadi, hampir saja ia celaka.

Kalau tidak memiliki ginkang tinggi tentu tubuhnya tadi sudah terluka.

Ia kagum akan ilmu tangkap dan lontar yang aneh ini, semacam ilmu gulat yang belum pernah dilihat maka ia ingin mencoba lagi.

Betapapun juga ia sudah yakin bahwa dalam hal tenaga dan ginkang, ia masih menang, maka kalaupun ia mencoba lagi dan tertangkap terlempar, hal itu takkan membahayakan keselamatannya.

"Kakek she Ngo, kepandaianmu hebat!"

Ia memuji dan kembali ia menyerang dengan pukulan tangan kiri.

Kembali kakek itu menangkis dan dalam sekejap mata tanpa dapat dicegah lagi oleh Yu Lee lengannya tertangkap dan tak mungkin terlepas karena sambil menangkap kakek itu membalikkan tubuh dan kembali kaki Yu Lee terangkat dan kini tubuhnya tidak terlempar ke atas seperti yang disangkanya melainkan terbanting ke atas lantai!

inilah berbahaya sekali.

Secepat kilat, ketika merasa betapa tubuhnya terbanting.

Yu Lee mengerahkan tenaga terkumpul di pinggang dan ia membuat gerakan Kucing Sakti Memutar Pinggang.

Keadaan tubuhnya yang terbanting keras itu tiada ubahnya seperti tubuh seekor kucing yang ketika terbanting jatuh menggerakkan pinggangnya sedemikian rupa sehingga kalau tadinya Yu Lee terbanting dengan kepala di bawah, kini tubuhnya jungkir balik dan ketika tubuh itu terbanting, bukan kepalanya yang di bawah melainkan kedua kakinya.

"Bress"."

Hebat sekali bantingan itu dan betapapun lihainya Yu Lee kalau saja ia tadi tidak cepat-cepat membalikan tubuh dan kepalanya yang lebih dulu terbanting tentu ia akan terancam bahaya.

Sekarang pun kedua kakinya sampai amblas ke dalam lantai sampai di mata kakinya.

Hal ini membuktikan betapa kuat tenaga kakek jenggot putih itu.

Kalau Yu Lee merasa kaget dan kagum adalah Ngo Cun Sam yang terkejut dan gentar sekali hatinya.

Ia memang berhasil dengan ilmu gulatnya sehingga dua kali ia berhasil melontarkan dan membanting lawan.

Akan tetapi hasilnya benar-benar mentakjubkan dan jelaslah kini bahwa lawannya yang masih muda ini benar-benar hebat bukan main.

Maka ia segera mengambil keputusan untuk melakukan serangan terakhir dan mematikan, ia maklum bahwa pemuda ini memiliki ginkang yang amat mahir sehingga setiap kali terancam maut, dapat menyelamatkan diri.

Kalau saja bantingannya itu dilakukan dengan kedua tangannya masih memegangi lawan, agaknya pemuda itu takkan mungkin membebaskan diri daripada maut tadi.

Di waktu membanting tadi, kalau ia tidak melepaskan tangan si pemuda, biarpun dengan cara demikian bantingannya kurang keras, tentu pemuda itu sukar membalikkan tubuh.

Yu Lee yang merasa kagum kini telah mengetahui gerakan inti lawan.

Kiranya kakek jenggot putih itu menggunakan gerakan-gerakan mendadak dengan meminjam tenaga lawan serta juga ganjalan tubuhnya, yaitu secara membalikkan tubuh sehingra posisi lawan menjadi lemah, kemudian dengan ganjalan kaki yang memasang kuda-kuda kuat dan gentakan tangan yang penuh tenaga lweekang, melemparkan atau membanting tubuh lawan sebelum lawan tahu apa yang akan terjadi.

Ia segera maju lagi menyerang, sengaja ia melakukan gerakan memukul seperti tadi sambil berseru.

"Hendak kulihat apakah kau masih mampu membantingku?"

Ngo Cun Sam secepat kilat menangkap tangan kanan Yu Lee yang memukulnya itu, kini menangkap dengan kedua tangannya, memutar tubuh dan mengerahkan semua tenaga lweekangnya mengangkat tubuh pemuda itu dari belakang tubuhnya.

Namun alangkah kaget dan herannya ketika tubuh itu sama sekali tak dapat ia angkat.

Ia mengerahkan tenaga lagi.

Tidak mungkin ia tidak kuat mengangkat pemuda itu.

Dengan gerakan seperti ini, ia akan mampu menarik jebol sebatang pohon berikut akar-akarnya.

Masa pemuda ini tak mampu ia rubuhkan!

Mulutnya mengeluarkan suara ah-ah uh-uh ketika ia menahan napas mengerahkan semua tenaganya.

Ia bersitegang dan berkutetan, dan baru saja ia berhenti untuk melepas tenaga dan bernapas, tiba-tiba Ngo Cun Sam berteriak keras karena tubuhnya yang kini terangkat ke atas, kemudian tanpa ia dapat mencegahnya, tubuhnya itu melayang ke arah Hek-siauw Kui-bo.

Kiranya menggunakan kesempatan selagi si kakek itu melepaskan tenaga untuk bernapas, Yu Lee yang tadi menggunakan ilmu memberatkan tubuh segera menyerang kakek itu dan melemparkannya ke arah iblis betina Hek-siauw Kui-bo yang menonton jalannya pertandingan dengan hati gentar.

Melihat datangnya tubuh pelayan kepala ke arahnya, Hek-siauw Kui-bo menggerakkan tangan kiri dengan jari-jari tangan terbuka ia mendorong ke depan dan"...

sebelum jari-jari tangannya menyentuh tubuh yang melayang itu hawa pukulannya saja sudah cukup membuat lontaran Yu Lee kehilangan tenaga dan tubuh Ngo Cun Sam terdorong ke samping, jatuh berdiri dan agak terhuyung.

Keringat dingin membasahi tubuh kakek itu, ia bukan orang-orang kasar macam Yang-ce Su-go, maka mengertilah ia bahwa pemuda baju putih yang amai lihai itu telah membuktikan kata-katanya ketika tadi menyatakan bahwa ia datang hanya untuk membalas dendam kepada Hek-siauw Kui-bo dan ia tidak ingin mencelakakan orang lain.

Buktinya, kalau pemuda itu menghendaki, bukan hanya Yang-ce Su-go yang tadi dengan mudah dapat dirobohkannya itu akan dapat dibunuhnya, juga ia ia sendiri kalau pemuda itu menghendaki, tentu sekarang sudah roboh tak bernyawa lagi.

Maka kakek ini tahu diri dan tanpa berkata sesuatu melangkah mundur, merasa bahwa ilmu kepandaiannya masih jauh untuk dapat menandingi pemuda itu.

Hek-siauw Kui-bo kini bangkit dari tempat duduknya.

Sejenak keadaan sunyi senyap.

Yang-ce Su-go yang berdiri di sudut memandang dengan jantung berdebar, juga Ngo Cun Sam berdiri dengan pandang mata penuh ketegangan.

Sepasang mata wanita iblis itu seperti mengeluarkan cahaya berapi-api akan tetapi mulutnya tersenyum manis.

Kini ia mengerti bahwa ia tak dapat lagi menghindari pertandingan maut melawan pemuda ini.

Pemuda yang pernah menggigit tengkuknya sampai terluka.

Satu-satunya keturunan Yu Tiang Sin yang terlepas dari tangan mautnya.

Ia tahu bahwa sekali ini ia harus bertanding mengadu nyawa dengan pemuda ini, pemuda yang tampan dan gagah.

"Orang muda, engkau cucu Yu Tiang Sin, bukan?"

Tanyanya, suara melengking, mengandung kemarahan, namun hanya matanya yang membayangkan kemarahan disamping suaranya, mulutnya masih tersenyum manis dan wajahnya berseri, sikapnya tenang.

"Bagus sekali, engkau masih ingat kepadaku, Hek-siauw Kui-bo!"

Jawab Yu Lee sambil melangkah maju dan mencabut tongkat rotannya.

"Hmm, siapakah namamu?"

"Namaku Yu Lee. Kau dengar baik-baik, Lee artinya aturan dan aku selain menjunjung tinggi arti namaku ini. Aku tidak akan menyimpang daripada aturan dan keadilan. Engkau telah membasmi semua keluargaku, sungguhpun yang bermusuhan denganmu hanyalah mendiang kakekku. Karena itu aku datang untuk menghukummu atau kalau aku tidak mampu, biarlah aku sempurnakan kejahatanmu dahulu dengan membunuh pula aku, satu-satunya warga yang lolos dari kekejamanmu. Aku tidak mau menyangkutkan lain orang, hanya engkau yang harus binasa di tanganku, atau aku yang akan mati di tanganmu. Bersiaplah, Hek-siauw Kui-bo!"

Dengan gerakan perlahan Hek-siauw Kui-bo meraba pinggangnya dan dirasakan sebatang suling berada di pinggangnya, ia mengangkat suling itu kemudian terdengar suaranya yang begitu nyaring.

"Yu Lee, kau bocah"".! Lihat semenjak dahulu sampai sekarang, senjataku masih tetap suling hitam. Akan tetapi kulihat Yu Tiang Sin yang mengaku sebagai Dewa Pedang ternyata mempunyai cucu yang rendah sekali, senjatanya bukan pedang kebanggaan kakeknya melainkan sebatang tongkat pengemis!"

Ucapan ini saja membuktikan kecerdikan Hek-siauw Kui-bo.

Ia mengarti bahwa cucu Yu Tiang Sin ini dahulu ditolong oleh Sin-kong-ciang Han It Kong dan mungkin menjadi muridnya.

Ia gentar melawan Han It Kong karena ilmu tongkat kakek itu luar biasa sekali.

Ia pernah menderita kekalahan pahit oleh ilmu tongkat kakek itu, maka sampai sekarangpun ia takut justeru kalau pemuda ini yang menjadi musuh besarnya menggunakan tongkat pula untuk memainkan ilmu tongkat Han It Kong yang ia takuti itu.

Sungguhpun ia tidak percaya apakah seorang pemuda seperti ini bisa mainkan ilmu tongkat sehebat permainan Han It Kong, namun hatinya akan lebih tenteram kalau pemuda itu tidak mempergunakan tongkat.

Yu Lee tersenyum lalu menyimpan tongkatnya kembali di pinggang, kemudian ia membuka bajunya sehingga gagang pedang yang tertutup baju itu nampak lalu ia berkata.

"Hek-siauw Kui-bo, kau tak usah khawatir. Kalau kau masih menantang mendiang kakekku Si Dewa Pedang yang belum pernah bisa kau kalahkan, akulah sekarang menjadi wakilnya. Dan aku sebagai cucunya akan menghadapimu memakai pedang untuk membuktikan bahwa kalau kakeknya Dewa Pedang tentu cucunya tidak asing bermain pedang pula."

"Hem, hendak kulihat kepandaianmu!"

Setelah berkata demikian, Hek-siauw Kui-bo mendekatkan ujung suling hitam ke mulutnya dan meniupnya.

Sinar hitam kehijauan menyambar keluar dari suling, itulah jarum-jarum yang amat berbahaya.

Dahulu limabelas tahun yang lalu ia hampir binasa karena serangan jarum-jarum hijau ini kalau saja ia tidak ditolong olah suhunya, Han It Kong.

Kini melihat sinar kehijauan itu, ia cepat mengerahkan tenaga dan menggerakkan kedua tangannya, digerakkan seperti orang digerakkan seperti orang mengebut-ngebut lalat dan......

jarum-jarum itu semua runtuh di atas lantai, menancap di lantai dan ada yang menancap di tembok.

Itulah gerakan dari ilmu pukulan Sin-kong-ciang yang amat hebat.

Hawa pukulannya saja sudah cukup membuat jarum-jarum itu terpukul runtuh.

Hek-siauw Kui-bo kaget.

Tak salah apa yang ia khawatirkan bahwa pemuda ini telah mewarisi kepandaian Han It Kong.

Andaikata Dewa Pedang masih hidup kiranya masih tidak sehebat pemuda cucunya ini dan Hek-siauw Kui-bo tentu akan memilih Dewa Pedang sebagai lawan daripada murid Han It Kong ini.

Akan tetapi hanya sebentar ia meragu, kemudian ia mengambil cawan berisi arak yang terletak di atas meja di depannya lalu tertawa dan berkata.

"Hai, kiranya cucu Yu Tiang Sin bukan orang sembarangan. Orang muda, saat ini engkau menjadi tamu agung, biarpun tamu yang hendak menantang bertanding, selayaknya disambut dengan arak. Terimalah ini!"

Sambil mengerahkan sinkang di tangannya, Hek-siauw Kui-bo melontarkan cawan arak itu ke arah Yu Lee.

Cawan berisi arak itn terputar-putar seperti gasing di udara.

Hebatnya araknya sama sekali tidak tumpah.

Dan terdengarlah suara berdesing, menandakan bahwa cawan itu terputar amat cepatnya.

Seperti dipegang tangan yang tak tampak cawan itu bergerak-gerak dan selama berputar cepat, juga membuat gerak lingkaran di udara seperti ragu-ragu hendak turun.

Luar biasa sekali tenaga tak tampak yang mengusai cawan ini, padahal Hek-siauw Kui-bo hanya mengulurkan tangan kanan ke arah cawan.

Seakan-akan dari jari-jari tangannya yang terbuka itu keluar hawa yang mengusai cawan arak.

Yu Lee diam-diam menjadi kagum pula.

Sinkang yang didemonstrasikan lawannya itu benar-benar membuktikan betapa tinggi tingkat kepandaian Hek-siauw Kui-bo.

Akan tetapi sebagai murid tunggal terkasih dari kakek sakti Han It Kong, ia tidak menjadi gentar karena mengenal ilmu-ilmu apa yang dipergunakan Hek-siauw Kui-bo itu.

Ia tahu benar bahwa pada akhirnya lawan akan membuat cawan itu meluncur menyerangnya dan kalan hal ini terjadi ia akan dapat menangkap cawan, menangkis atau mengelak.

Akan tetapi kalau secara demikian ia menyambutnya, tentu ia mendapat malu, apalagi kalau araknya sampai tumpah dari dalam cawan berarti ia tidak menerima penghormatan nyonya rumah!

Maka iapun mengeluarkan seruan nyaring, tangan kanannya didorongkan ke depan dan cawan arak itu seketika berhenti bergerak di tengah udara seakan-akan terhimpit oleh dua tenaga raksasa yang tak terlihat.

"Hek-siauw Kui-bo, jarum-jarummu beracun, arakmu tentu beracun pula seperti hatimu. Aku tak sudi menerima penghormatanmu, terimalah kembali!"

Setelah berkata Yu Lee menambah tenaga dalam dorongannya.

Hek-siauw Kui-bo terkejut bukan main.

Kenyataan bahwa pemuda itu masih bisa mempergunakan seluruh tenaganya, saat ini mulai terasalah olehnya betapa tenaga dorongannya membalik, cawan itu terdorong mundur sampai beberapa jengkal.

Ia menjadi marah dan penasaran, lalu mengerahkan semua tenaganya buat mendorong kembali cawan itu.

Tetapi sia-sia, cawan itu tak bergeming, bahkan makin lama makin doyong kepadanya.

Harus diakui bahwa seorang tokoh seperti Hek-siauw Kui-bo yang sudah malang melintang di dunia kangouw selama puluhan tahun, tentu saja selain lebih berpengalaman, juga memiliki latihan yang lebih matang daripada Yu Lee, seorang pemuda berusia duapuluh tiga tahun.

Akan tetapi kenyataan lain yang menguntungkan buat Yu Lee adalah bahwa dia seorang pemuda yang masih bersih, belum diperhamba nafsu-nafsunya sehingga darahnya masih bersih, hawa murni di badannya masih amat kuat.

Sebaliknya, Hek-siauw Kui-bo sampai sekarangpun menjadi hamba nafsu-nafsunya, telah terlalu mengumbar nafsu sehingga tanpa ia sadari, hawa murni di tubuhnya menipis dan melemah.

Inilah sebabnya mengapa dalam pertandingan adu tenaga sinkang ini segera tampak betapa Hek-siauw Kui-bo tak dapat bertahan lama.

Kekuatannya memang masih hebat, namun ia tak dapat bertahan lama, napasnya mulai memburu, wajahnya pucat dan dahinya penuh keringat.

Ia tahu bahwa kalau dilanjutkan ia akan celaka maka untuk penghabisan kali ia mengerahkan tenaga lalu menyusul tangan kirinya bergerak mendorong atau memukul dari samping ke arah cawan arak yang terhimpit di udara.

"Braakk......!"

Cawan itu pecah dan araknya berhamburan seperti air hujan, membasahi lantai.

Karena benda yang menjadi pegangan kini telah tiada, otomatis pertandingan adu tenaga itupun terhenti dan masing-masing menurunkan lengan yang tadi memanjang dilonjorkan lurus ke depan.

Walaupun Yu Lee biasa saja, hanya di dahinya nampak sedikit peluh, akan tetapi wajah Hek-siauw Kui-bo pucat, napasnya agak terengah-engah dan ia nampak lemas.

"Yu Lee bocah sombong! Ternyata engkau menerima penghormatan dengan penghinaan. Kalau begitu aku pun tidak akan dapat mengampuni engkau lagi".. dan kita harus bertanding sampai mati. Engkau bukan musuh biasa, melainkan musuh besar, maka pertandingan inipun harus diadakan di tempat yang sesuai. Marilah, cabut pedangmu dan turuti caraku dengan bermain silat agar darahmu nanti tidak mengotori ruangan tamu ini!"

Setelah berkata demikian dengan gerakan gesit wanita tua yang cantik itu meloncat, memasuki sebuah pintu yang berada di sudut sebelah kiri.

Yu Lee maklum bahwa di sana bukan tidak ada bahaya menanti untuk menjebaknya.

Namun ia bersikap waspada dan dengan hati-hati iapun meloncat ke depan, sengaja ia meloncat dan selalu ia menginjak lantai di mana tadi Hek-siauw Kui-bo lewat, ia tidak mau terperosok ke dalam perangkap karena sangat boleh jadi wanita iblis itu menggunakan akal muslihat.

Juga ia waspada terhadap sekelilingnya kalau kalau anak buah wanita itu bergerak.

Akan tetapi ia melihat Yang-ce Su-go dan Ngo Cun Sam tidak bergerak dari tempatnya, juga bayangan para penjaga di luar ruangan itu tidak ada yang bergerak.

Ruangan silat yang dimasuki Hek-siauw Kui-bo ini merupakan ruangan yang bentuknya bundar, luasnya cukup untuk bertanding silat dengan garis tengah tidak kurang dari lima meter, begitu Yu Lee memasuki ruangan ini tepat di belakang Hek-siauw Kui-bo pintu dari mana ia masuk itu tertutup.

Hek-siauw Kui-bo tertawa dan berdiri di sebelah kiri.

Yu Lee berdiri menghadapinya.

Pemuda ini memandang ke sekelilingnya.

Ruangan ini enak benar untuk berlatih silat atau untuk samedhi, amat bersih dan tak tampak sebuah pun perabot yang dapat menjadi penghalang.

Anehnya ruangan yang bundar ini tidak mempunyai jendela bahkan pintunyapun hanya sebuah, yaitu pintu yang mereka masuki tadi dan yang kini sudah tertutup rapat.

Yu Lee menjadi curiga, menduga bahwa dia memasuki ruangan yang penuh perangkap.

Akan tetapi karena ia melihat lawannya juga berada di situ di depannya, maka ia tidak menjadi khawatir dan mengikuti setiap gerak gerik iblis betina itu penuh perhatian.

"Hi, hi, hi Yu Lee, sekarang kita saling berhadapan, tidak ada seorangpun menjadi penghalang. Hanya dinding putih menjadi saksi akan kematianmu. Hi, hi, sayang kau pemuda yang tampan!"

Berbareng dengan ucapan ini, Hek-siauw Kui-bo menggerakkan sulingnya, menerjang sampai mengeluarkan suara melengking yang mengerihkan.

Lengking ini seperti tangis, menusuk telinga dan perasaan.

Mendengar lengking ini terbayanglah di pelupuk mata Yu Lee peristiwa limabelas tahun yang lalu.

Teringatlah ia akan ayah bundanya, paman pamannya, saudara-saudara misannya yang semua terbunuh oleh wanita iblis ini.

Suara lengking itu makin menusuk perasaannya dan tak tertahankan lagi air mata bercucuran keluar dari kedua mata Yu Lee.

"Heii"...! Kau...... menangis?"

Hek-siauw Kui-bo menghentikan suara melengking dan menghentikan pula serangannya, memandang heran. Namun Yu Lee kini sudah maju menerjang dengan pedangnya. Hek-siauw Kui-bo cepat menangkis.

"Trangg"."

Keduanya melompat mundur karena merasa betapa lengan mereka tergetar.

Akan tetapi Yu Lee yang masih terisak menangis itu sudah menerjang lagi dan kini ia mainkan ilmu pedang yang ia ciptakan sendiri berdasarkan ilmu sakti Ta-kui-tung-hoat.

Pedangnya bergerak cepat dan berubah menjadi sinar terang bergulung-gulung dan melingkar-lingkar mengelilingi tubuh lawan.

Hek-siauw Kui-bo terkejut, cepat ia memutar sulingnya dan meloncat ke kanan.

Kaki kanannya menendang sebuah tombol kecil di dinding, kemudian membalikkan tubuhnya sambil memutar suling menangkis dan balas menyerang.

Pertandingan sudah dimulai dengan hebatnya.

Gerakan iblis betina itu memang cepat dan ganas sekali, dasar gerakannya adalah ilmu silat yang amat tinggi yang diambil dari pelbagai ilmu silat, dipilih dan disatukan, diambil sarinya, ilmu silatnya menjadi amat ganas dan sukar dilawan.

Namun sekali ini Hek-siauw Kui-bo terkejut.

Bertahun tahun ia mempelajari ilmu, mencari dan mencipta ilmu untuk menandingi ilmu pedang Yu Tiang Sin yang lihai sebagai Dewa Pedang.

Namun sebelum ia sempat menandingi Dewa Pedang itu, kakek Yu Tiang Sin keburu mati tua.

Kini ia menghadapi cucunya dengan pandangan rendah karena betapapun juga, kalau pemuda ini bersenjata pedang takkan mungkin lebih hebat dari pada Yu Tiang Sin.

Siapa kira, kini ternyata ilmu pedang yang dinginkan pemuda ini luar biasa sekali.

Aneh sekali dan sama sekali bukan ilmu pedang biasa, melainkan ilmu pedang yang mirip ilmu tongkat.

Hebatnya, gerakan pemuda ini mempunyai persamaan dengan ilmu tongkat Han It Kong yang ia takuti, yaitu tanpa ia ketahui sudah beberapa kali tahu-tahu ujung pedang pemuda itu telah mengancam belakang tubuhnya!

Kalau dahulu tongkat Han It Kong cuma memukul pantatnya, kini ujung pedang itu mengancam dengan tusukan maut.

Hanya dengan kelincahannya yang luar biasa saja, sambil menggulingkan tubuh menyabetkan suling ke belakang, Hek-siauw Kui-bo bisa membebaskan diri dari pedang yang seperti dapat melengkung lalu menyerangnya dari belakang biarpun musuhnya itu berada di depan!

Sementara itu Yu Lee merasa gembira karena ia merasa yakin bisa merobohkan musuh, berarti akan bisa membalas kematian keluarganya di samping membasmi seorang manusia yang berwatak iblis.

Ia semakin mempercepat gerakannya dan mendesak terus.

Akan tetapi ia tidak tahu sama sekali bahwa tendangan Hek-siauw Kui-bo pada dinding tadi menekan tombol dan kini dari beberapa lubang yang tersembunyi di dalam ruangan itu masuklah asap yang bening warnanya, hampir tak terlihat.

Asap ini makin lama semakin memenuhi kamar.

Tiba-tiba Yu Lee mencium bau yang harum luar biasa lalu seketika itu lehernya seperti tercekik!

"Celaka".!"

Serunya dan ia cepat menahan napas, lalu menyerang dengan tusukan maut sambil terus melompat ke belakang.

Ketika ia sudah menjadi jauh dari lawan, ia melihat Hek-siauw Kui-bo tertawa dan di mulut iblis betina itu sudah tersumpal sehelai saputangan.

Ia mulai melihat pula betapa asap yang halus mulai bergulung-gulung memenuhi kamar itu.

Pada saat itu kembali Hek-siauw Kui-bo sudah menerjangnya.

Terpaksa ia menggerakkan pedang menangkis, akan tetapi begitu ia bernapas, lehernya serasa tercekik serta dadanya panas, kepalanya pening sekali.

"Plakk""!"

Paha kirinya terpukul suling.

Nyeri sekali rasanya sampai menembus ke ulu hati.

Dalam keadaan pening tadi ia tak sempat mengelak sehingga pahanya terpukul juga kini pandangan matanya tidak terang lagi karena asap mulai memenuhi ruangan dan bau harum yang menyesakkan napas mulai meracuninya.

Ia maklum bahwa itu adalah asap beracun yang entah dari mana telah memasuki ruangan silat.

Dan biarpun kepalanya pening, Yu Lee sudah tahu pula bahwa saputangan yang disumpalkan ke mulut lawan berfungsi sebagai penyaring, sehingga lawannya dapat bernapas melalui mulut yang telah dilindungi saputangan.

Kalau ia tidak cepat-cepat bisa keluar dari kamar itu, ia akan celaka, pikirnya.

Kembali ia memutar pedang sedemikian rupa memakai jurus pilihan dari ilmu pedangnya sehingga Hek-siauw Kui-bo tidak berani mendekat.

Mempergunakan kesempatan ini, Yu Lee melompat ke pintu dan pedangnya menerjang daun pintu.

"Cringg......!!"

Ia kaget sekali. Pintu itu ternyata terbuat dari pada baja yang tebal sekali! Ia lalu mengerahkan tenaga dan menubruk pintu dengan bahunya "Bengg "..!"

Pintu itu bergetar, bahkan seluruh ruangan itu ikut tergetar, akan tetapi ia tidak berhasil mendobrak pintu yang ternyata amat kuat itu. Kembali ia harus melindungi tubuhnya yang sudah (Lanjut ke

Jilid 07) Pendekar Cengeng (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 07 diserang oleh Hek-siauw Kui-bo.

Dengan nekad Yu Lee mempertahankan diri sambil berusaha meloloskan diri dari dalam kamar yang berbahaya ini.

Tetapi kakinya terasa sakit, kepalanya makin pening, pandangan matanya berkunang sedangkan dadanya serasa mau meledak karena terlalu lama ia menahan napas.

Beberapa kali ia menggunakan ginkangnya, melesat ke atas dan menggunakan pedangnya membabat langit-langit akan tetapi pedangnya bertemu dengan baja yang keras dan tebal.

Tidak ada jalan keluar lagi baginya.

Jalan satu-satunya untuk menyelamatkan diri hanya merobohkan lawan.

Dan hal ini tidak mungkin karena kakinya sudah terluka dan ia hampir tak dapat bertahan untuk tidak menyedot napas padahal udara di dalam ruangan sudah penuh asap beracun.

"Ayah".ibu"

Ampun anak tak dapat menuntut balas......!"

Akhirnya Yu Lee berseru keras ketika kembali pundaknya tertotok suling.

Ia sudah tak dapat lagi melihat lawannya, tertutup asap dan pandangannya sudah gelap, kepalanya sudah berpusingan, kemudian ia roboh, pingsan.

Ketika Yu Lee sadar kembali dari pingsannya dan membuka mata, pertama-tama yang terasa olehnya adalah rasa nyeri yang amat hebat di dadanya.

ia meramkan matanya kembali mengumpulkan napas dan tenaga, membersihkan ingatannya.

Baca Juga: Raja Pedang 8

Baca Juga: Mutiara Hitam 1

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert