Eps 1 Pendekar Cengeng - Kho Ping Hoo
Baca online Pendekar Cengeng - Kho Ping Hoo
Cersil Pendekar Cengeng - Kho Ping Hoo.
Pendekar Cengeng (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 01 Dari dalam rumah tembok model kuno terdengar suara tangis mengguguk, diselingi rintihan memanggil-manggil nama orang yang sudah sudah menjadi mayat.
Sampai seakan suara orang yang menangis itu tak terdengar lagi karena sudah sehari semalam ia terus, menerus menangis, tanpa memperdulikan orang yang melayat.
Semenjak jaman dulu, rakyat sudah mengenal kesadaran bergotong-royong sehingga ada pepatah.
"Tangis dan tawa lebih cepat terdengar oleh tetangga dekat daripada keluarga jauh."
Rumah itu tempat tinggal keluarga Yu dan yang meninggal dunia adalah kakek Yu.
Bukan orang biasa melainkan pendekar tua Yu Tiang Sin yang selama puluhan tahun telah, terkenal di dunia silat, jagoan atau penjahat manakah tidak mengenal nama julukan Yu-kiam-sian Dewa Pedang Yu?
Bukan hanya terkenal sebagai seorang pendekar pedang yang selalu membela kebenaran dan keadilan, tetapi juga Yu Tiang Sin terkenal sebagai seorang yang anti kepada pemerintah penjajah.
Pada masa itu seluruh Tiongkok dikuasai bangsa Goan, yaitu kerajaan bangsa Mongol yang dipelopori Jenghis Khan yang terkenal sampai di Eropa.
Akan tetapi setelah bangsa Mongol dipimpin Kaisar Kubilai Khan cucu Jenghis Khan.
Barulah dinasti Goan berdiri dan seluruh Tiongkok dikuasai.
Rakyat yang menderita akibat penyerbuan tentara Mongol, sampai puluhan tahun tertindas, menaruh dendam dan membenci kaum penjajah ini.
Akan tetapi disamping orang-orang berjiwa pahlawan seperti pendekar tua Yu, banyak pula bermunculan penjahat pengkhianat bangsa yang tak segan-segan menjual negara dan tanah air demi kedudukan, kemuliaan dan kekayaan.
Puluhan tahun lamanya pendekar Yu tiada hentinya berusaha untuk membela rakyat tertindas dengan caranya sendiri, yaitu memusuhi para pembesar penjajah atau boneka-boneka penjajah, juga raja muda yang bermunculan di dusun-dusun.
Entah berapa banyaknya pengkhianat-pengkhianat yang setelah menjadi pembesar lalu menghina dan menindas bangsa sendiri dibunuh oleh Yu-kiam-sian.
Banyak pula hartawan-hartawan yang kikir dan jahat tewas di ujung pedang pendekar ini.
Hartawan-hartawan yang menjadi raja muda di dusun-dusun memang banyak sekali yang jahat.
Mereka mengandalkan kekayaannya, menindas si miskin dan si lemah, merampas anak bini orang, dan di samping mereka memelihara tukang tukang pukul, juga dengan jalan menyogok pembesar-pembesar setempat, mereka dapat memperalat para pembesar itu.
Sepak terjang Yu Tiang Sin ini tentu saja membuat ia dicintai rakyat yang tertindas dan disegani serta dihormati orang-orang gagah, akan tetapi ditakuti dan dibenci orang-orang dari golongan hitam.
Setelah berusia tujuhpuluh tahun kakek Yu mengundurkan diri dan hidup tenang serta damai di dusun Ki-bun di lembah Sungai Huai.
Di sini ia hidup bersama tiga orang anak dan tujuh orang cucunya, karena semua mantu dan cucunya mempelajari ilmu silat, maka keluarga Yu ini terkenal sebagai keluarga yang kuat dan disegani.
Ketika Dewa Pedang itu meninggal karena usia tua, semua keluarganya berkabung dan berduka.
Akan tetapi yang paling berduka dan tak hentinya menangis dan memanggil-manggil adalah cucunya yang paling bungsu.
Cucu ini bernama Yu Lee dan sejak kecil memang menjadi cucu kesayangan kakeknya.
Karena menumpahkan kasih sayang ini, anak itupun membalas cinta kasih yang melebihi ayah bundanya sendiri.
Di saat kakeknya meninggal, Yu Lee baru berusia delapan tahun tahun dan biarpun semua orang menghiburnya, ia tidak mau berhenti menangisi mayat kakeknya.
Rumah itu sudah diberi tanda berkabung dengan kertas dan kain putih.
Jenazah kakek Yu telah dimasukkan peti mati dan ditaruh di ruangan depan.
Di meja sembahyang yang berdiri di depan peti mati, di samping lilin dan asap dupa serta hio mengebul memenuhi ruangan.
Tiga orang putera dan dua orang cucunya yang sudah berusia belasan tahun, menjaga peti mati untuk mewakili kakek Yu dalam membalas penghormatan pengunjung yang berlayat.
Keluarga perempuan setelah menjalankan "upacara berkabung"
Dengan jerit tangis sedih depan peti mati, lalu masuk ke dalam untuk membantu di dapur mengeluarkan hidangan bagi mereka yang berlayat.
Yang amat mengharukan adalah Yu Lee.
Ia tetap saja menjaga peti mati, biarpun ia dihardik ayahnya sehingga tak bisa menangis keras, tetapi masih bercucuran air mata dan terisak-isak.
Matanya merah memandang peti mati, tangannya mengelus-elus peti dan bibirnya bergerak-gerak, seakan-akan berbicara dengan kakeknya yang berada di dalam peti!
Sebagai seorang bekas pendekar terkenal tentu saja banyak sahabat yang datang untuk mamberikan penghormatan terakhir pada jenazah kakek Yu.
Hilir mudik orang yang datang dan yang pergi, sehingga putera-putera dan cucu menjadi sibuk sekali membalas penghormatan para tetamu.
Pada hari ketiga, pagi-pagi sekali telah datang seorang tetamu.
Sepagi itu hanya Yu Lee yang sudah mendekam di dekat peti mati itu.
Ayah dan saudara-saudaranya segera keluar menyambut tamu itu.
Akan tetapi tamu yang datang kali ini sikapnya luar biasa dan tidak seperti tamu-tamu yang lain.
Dia sudah tua, sedikitnya enampuluh tahun usianya.
Pakaiannya kasar dan sederhana, di punggungnya terdapat sebuah guci arak berbentuk bulat dengan leher panjang dan mulut tersumbat kain kuning, di pinggang kiri tergantung sebatang pedang yang gagang dan sarungnya sudah tua dan buruk.
Melihat pakaian pendeta dan rambutnya yang digelung dan diikat pita kuning, tentu dia seorang tosu (pendeta Agama To) pengembara.
Tubuhnya kurus kering, mukanya pucat kehijauan dan berbentuk panjang, matanya sipit sekali seakan selalu terpejam.
Keadaannya sesungguhnya sangat menyedihkan, tidak sedikitpun membayangkan semangat dan keriangan hidup.
Akan tetapi anehnya mulut kecil yang ompong itu selalu tersenyum dan karena bagian lain dari mukanya tidak memancarkan keriangan maka senyumnya ini tidak seperti senyum lagi, lebih patut kalau dikatakan menyeringai dan mengejek.
Begitu masuk pekarangan rumah keluarga Yu yang sedang berkabung terdengar ia bernyanyi-nyanyi diseling suara terkekeh-kekeh.
Lain tamu, setelah berhadapan dengan meja sembahyang dan peti mati lantas menyalakan hio dan bersembahyang sebagai penghormatan terakhir, namun tosu ini malah berdiri memandang peti mati dengan matanya yang sipit berkedip-kedip.
Kemudian terdengar suara tertawanya bergelak.
"Ha-ha-ha, Yu-loheng (kakak tua Yu). Kau benar-benar enak sekali pergi menuju kebebasan derita hidup. Tinggalkan julukan yang kosong melompong, terbebas urusan dunia yang serba palsu. Yu-loheng di waktu hidup berjuluk Dewa Pedang, Ha, ha, ha, bukankah itu nama kosong belaka? Kalau dewa tentunya tidak mengenal mati hidup, dan pedangmu ".. ha-ha-ha, mana pedangmu? Biarpun masih ada, tak ada gunanya lagi. Kau senang Yu-loheng sayangnya sebelum pergi tidak pamit lebih dahulu kepadaku."
Anak cucu kakek Yu memandang tosu itu dengan muka membayangkan kemarahan.
Kakek yang mereka hormati telah meninggal, jenazahnya masih berada di dalam.
Bagaimana sekarang tosu ini berani terang-terangan menghina dengan kata-kata aneh?
Hanya Yu Lee yang tidak merasa heran bahkan tangisnya makin menjadi.
Ia seolah-olah membayangkan bahwa tosu itu bercakap-cakap dengan kakeknya, seolah-olah mendengar suara dan ketawa kakeknya.
Akan tetapi, kalau ia memandang peti mati, teringatlah ia bahwa kakeknya yang tercinta telah meninggalkannya.
"Hai bocah! Kau tentunya cucu Yu-loheng. Kenapa menangis? Bocah cengeng kau! Masa dengan terbebas dari hukuman kau sambut dengan tangis? Bodoh! Cengeng!"
Tosu itu mendelik memarahi Yu Lee kemudian memukul-mukulkan tongkat di atas lantai dan bersenandung.
Yang ia nyanyikan sama sekali bukan doa untuk yang mati, dan lagunya malah bernada gembira.
Manusia hidup lunak dan lemas, kalau mati menjadi kaku dan keras.
Segala mahluk dan tanaman hidup lunak dan lemas, kalau mati menjadi kering dan getas (mudah patah) Kaku dan keras adalah kematian, lunak dan lemas adalah teman kehidupan.
Tosu itu berhenti menyanyi dan tertawa lagi terbahak-bahak, menurunkan guci araknya, berkata nyaring.
"Yu-loheng, silakan minum arak!"
Dia menggerakkan guci araknya dan dari dalam guci yang mulutnya sudah terbuka itu memercik arak yang berbau harum.
Kemudian tosu itu mendekatkan mulut guci itu ke mulutnya dan terdengar suara menggelogok ketika arak yang berwarna merah masuk ke mulutnya.
Kemudian ia menyimpan kembali guci araknya dan tanpa dipersilakan ia telah duduk di atas sebuah bangku.
Tiga orang putera kakek Yu ini memiliki kepandaian silat yang tinggi namun mereka belum pernah bertemu dengan tosu ini.
Dalam hati mereka marah sekali, namun karena sikap tosu ini tidak memusuhi jenazah ayah mereka, bahkan kata-katanyapun membayangkan bahwa ia adalah sahabat kakek Yu.
Mereka tidak mengutarakan isi hatinya.
Hanya mereka tidak tahu bagaimana harus menyebut tamu aneh ini.
Orang lain berlayat untuk berbelasungkawa, akan terapi tosu ini datang seolah-olah hendak memberi selamat atas kematian kakek Yu bahkan mengajak si peti untuk minum arak.
Di dunia ini mana ada aturan macam ini.
Namun tiba-tiba Yu Lee bangkit dari bawah peti mati di mana tadi ia berlutut, kemudian menghampiri tosu itu dan sambil terisak-isak.
"Orang tua, kakekku sudah tidak dapat menyambutmu"". ia sudah mati."
Sampai di sini tak tahan lagi ia menangis terisak-isak.
"He, bocah menyebalkan! Bocah cengeng! Siapa bilang Yu-loheng mati? Apa kau tahu benar?"
Yu Lee lupa akan kedukaannya, lupa akan tangisnya.
Ia menengadah memandang wajah tosu yang duduk di kursi itu.
Si tosu terkejut.
Anak ini wajahnya simpatik, berbentuk bulat seperti bulan purnama, putih bersih.
Sepasang matanya yang kini merah karena terlalu banyak menangis itu lebar dan bening.
Sinarnya tajam penuh kejujuran dan kemurnian.
"Orang tua, kakekku sudah mati. Benar-benar mati. Ia tak menjawab pertanyaanku dan, tidak bernapas lagi. Kalau tidak mati masa dimasukkan peti mati?"
Saking herannya terhadap sikap dan ucapan tosu itu Yu Lee sampai lupa akan kesedihannya.
"Ha-ha-ha bocah cengeng! Kau seperti yang tahu saja! Apa itu mati? Apa itu hidup? Sebelum hidup dari mana? Sesudah mati ke mana?"
Sudah tentu bocah berusia delapan tahun itu akan terlongo kebingungan mendengar pertanyaan yang tidak mungkin terjawab oleh orang pandai sekalipun.
"Locianpwe, harap maafkan puteraku yang bodoh ini berani bersikap kurang ajar. Mohon tanya, siapakah locianpwe yang terhormat?"
Yu Kai, ayah Yu Lee dan sambil menarik tangan puteranya ia menjura penuh hormat kepada tosu itu.
Yu Kai adalah putera sulung kakek Yu, seorang berusia empatpuluh lima tahun yang pendiam.
Tosu itu sejenak memandang Yu Kai, tiba-tiba tangannya bergerak ke depan, jari telunjuknya menotok ke arah jalan darah di dada Yu Kai.
Gerakan ini biarpun dilakukan sambil duduk, namun cepatnya bukan main dan sebelum jari itu menyentuh dada, angin pukulannya sudah menyambar dan Yu Kai merasakan dadanya dingin sekali.
Sebagai putera pendekar, tentu saja Yu Kai berkepandaian cukup tinggi.
Karena ia maklum bahwa totokan ini mematikan dan tidak dapat ditangkis, ia cepat menekuk tubuh ke belakang tanpa merobah kedudukan kedua kakinya.
Kalau meloncat ia takkan dapat menghindarkan totokan itu.
Dengan menggerakkan tubuh melengkung ke belakang, barulah ia dapat menghindarkan bahaya.
Setelah tubuh atasnya terhindar dari serangan, baru kedua kakinya menekan lantai dan tubuhnya mencelat ke belakang berjungkir balik membuat salto dua kali dan kakinya menginjak lantai lagi dengan ringan.
"Ha, ha, ha, tua bangka Yu, alangkah kikirnya. Mempunyai kepandaian kalau tidak ditinggalkan kepada anak cucu atau murid, untuk apa kau bawa pergi ke lubang kubur? Kau terkenal sebagai Dewa Pedang, namun puteramu hanya begini saja kepandaiannya, sungguh memalukan....... memalukan!"
Sementara itu Yu Kai marah bukan main mendengar ejekan ini namun ia maklum bahwa tosu ini mengejek bukan untuk menyombong.
Dalam segebrakan tadi, kalau tosu ini menghendaki, nyawanya pasti sudah menyusul ayahnya.
Biarpun ia sudah mengelak dengan gerak Siluman Naga Berjungkir Balik, sebuah gerakan yang sukar dari hebat, namun masih kalah cepat oleh si tosu aneh.
Buktinya baju bagian dadanya, tepat di jalan darah yan-goat-hiat telah berlubang sebesar ujung jari.
Jelas bahwa tosu itu hanya mengujinya.
Namun sungguh keterlaluan tosu itu, menguji sambil menghina.
Sesabar-sabarnya Yu Kai, karena baru berduka dan berkabung, kini dihina orang, darahnya mendidih dan memberi tanda dengan matanya pada dua orang adiknya untuk mengusir tosu ini.
Para tetangga yang sudah berdatangan melihat pula kejadian tadi.
Mereka menjadi gelisah dan makin banyaklah tetangga yang berdatangan sambil berbisik-bisik.
"Hei, kakek tua!"
Tiba tiba Yu Lee sebelum dapat dicegah ayahnya sudah meloncat maju dan membusungkan dada di depan tosu ini.
"Kau berani menghina ayahku? Orang gagah macam apa kau ini? Setelah kakekku tak ada, baru kau berani bikin ribut. Kalau kakekku masih hidup, sekali bergerak kau tentu roboh......"
Tiba tiba anak itu menangis, karena kalimatnya yang terakhir ini mengingatkan ia kembali bahwa kakeknya sudah mati! Tosu itu sejenak memandang kagum, lalu tertawa.
"Ha-ha-ha, engkau mewarisi kegagahan kakekmu, sayang kau cengeng! Yu-kiam-sian mana mau bertanding denganku? Siauw-bin-mo (Setan Tertawa) Hap Tojin adalah sahabat baiknya, ha-ha-ha!"
Mendengar disebutnya nama Hap Tojin yang berjuluk Siauw-bin-mo, Yu Kai dan adik-adiknya terkejut sekali.
Nama ini adalah nama seorang tokoh di dunia kangouw.
Ayah mereka pernah bercerita bahwa Siauw-bin-mo Hap Tojin adalah teman seperjuangannya.
Seorang pendekar yang lihai.
Dan karena sepak terjangnya membasmi orang-orang jahat selalu dilakukan dengan tertawa-tawa kaum penjahat memberinya julukan Siauw-bin-mo atau Setan Tertawa.
Pada saat itu terdengar suara ketukan keras.
Ketukan berirama yang datang dari luar pekarangan.
Keras sekali ketukan itu seperti ketukan sebuah martil besar pada besi landasan.
Semua orang menengok keluar dan tampaklah seorang hwesio (pendeta Buddha) bertubuh pendek gemuk, perutnya bulat seperti gentong, kepalanya yang bundar itu gundul kelimis.
Tubuh atasnya telanjang hingga tampak sebagian perutnya yang besar dan buah dadanya yang bergantung.
Tubuh bawahnya terbungkus kain yang berwarna kuning.
Hwesio ini memegang sebatang tongkat dan suara ketukan nyaring itu adalah suara tongkat yang memukul tanah berbatu.
Begitu masuk pekarangan hwesio itu menggerutu tetapi suaranya nyaring dan parau.
"Mengapa ada suara gelak tawa, mengapa orang dapat bergembira sedangkan dunia ini selalu terbakar? Kenapa kau tidak cari pelita, wahai engkau yang berselubung kegelapan?"
Apa yang ia ucapkan dengan nada nyanyian itu adalah sebuah ayat dari kitab suci "Dhamma Padha"
Kitab Agama Buddha.
"Ha-ha-ha, Tho-tee-kong (Malaikat Bumi)! Kalau semua manusia ini pemurung seperti engkau, matahari dan bulan menjadi gelap sinarnya! Ha-ha-ha!"
Si tosu mengejek.
Kembali Yu Kai dan adik-adiknya terkejut memandang hwesio gundul itu.
Namun julukan Tho-tee-kong sudah lama mereka dengar dan baru kali ini melihat orangnya.
Menurut penuturan mendiang ayahnya.
Tho-tee-kong ini bernama Liong Losu, hwesio perantau yang berilmu tinggi.
Karena bentuk tubuh dan kelihaiannya maka dunia persilatan memberi julukan Malaikat Bumi.
Seperti juga Siauw-bin-mo, Hap Tojin hwesio ini adalah bekas teman seperjuangannya ayah mereka.
Hwesio itu memandang kepada si tosu lalu menggeleng-gelengkan kepala dan keningnya berkerut.
Kemudian ia berkata.
"Omitohud! Hap-toyu (sahabat Hap) sejak dahulu masih juga belum mendapatkan jalan teraug!"
Setelah berkata hwesio ini lalu menghampiri meja sembahyang dan menjura dengan hormat ke arah peti mati.
Perbuatan ini segera, dibalas oleh Yu Kai dan adik-adiknya.
Dengan suara nyaring tapi parau hwesto ini berkata.
"Yu-sicu (orang gagah Yu), sungguh menyedihkan sekali orang gagah dan baik seperti sicu meninggalkan dunia yang masih sangat membutuhkannya. Terlalu banyak orang jahat di dunia ini sampai penuh berdesak-desakan. Alangkah sukarnya mencari orang baik seperti sicu. Dunia amat kehilangan dengan meninggalnya sicu...... omitohud!"
Mendengar ucapan hwesio ini Yu Lee kembali menangis mengguguk sambil memeluk peti mati kong-kongnya.
"Kong-kong! Kenapa kong-kong mati sebelum aku kuat menggantikan kong-kong menjadi orang yang berguna?"
Demikian anak ini berkata sambil menangis. Liong Losu mengangkat muka memandang. Matanya bersinar kagum memandang kepada Yu Lee. Ia mengangguk.
"Siauw-kongcu (tuan kecil) ini betulkah cucu Yu-sicu?"
Yu Kai maju memberi hormat.
"Betul dugaan losuhu, Lee-ji (anak Lee) ini adalah cucu yang bungsu. Dan putera tecu (saya murid) yang bungsu."
Liong Losu mengangguk-angguk.
"Siauw-kongcu anak baik, kecil-kecil sudah mengenal kebaktian dan kegagahan."
"Gagah berbakti apa?"
Tiba-tiba Siauw-bin-mo Hap Tojin tertawa mengejek.
"Dia bocah cengeng, dengan yang tua bangka Tho-tee-kong Liong Losu bocah ini benar-besar cocok. Keduanya tukang mengeluh dan menangis, menjemukan benar? Di dunia ini mana ada orang jahat? Semua orang baik, hanya karena bodoh maka menyeleweng dari kebenaran. Kalau sudah sadar tentu kembali ke jalan yang benar. Yang jahat bukan orangnya tetapi penggodanya. Lempar semua penggodanya maka manusia takkan tergoda, takkan ada kejahatan. Buang semua emas, takkan ada lagi maling emas. Setelah hidup, mengapa banyak mengeluh? Kalau dengan menangis atau tertawa keadaan tidak bisa berubah, mengapa tidak memilih tertawa. Dengan tertawa menyambut yang baik tentu akan terasa lebih nikmat. Dan dengan tertawa menyambut yang jelek, tentu akan berkurang penderitaannya. Bagi seorang laki-laki air mata lebih mahal daripada darah. Kau mau apa lagi Tho-tee-kong tua bangka gundul? Ha-ha-ha!"
"Omitohud! To-yu (sahabat) tersesat jauh sekali. Sayang, sungguh sayang. Siapa bilang hidup adalah kesenangan? Hidup adalah sengsara, karena siapa terlahir, tentu akan mengalami segala macam penderitaan, kepahitan hidup, kekecewaan, kedukaan, sakit dan mati. Yang dapat mengatasi kematian dan kelahiran barulah bahagia. To-yu tertawa, hal itu hanyalah palsu belaka sebagai kedok untuk menyembunyikan penderitaan yang sebenarnya. Mengapa berpura-pura tertawa kalau bathin menangis?"
Perdebatan antara dua orang aneh ini makin menjadi.
Karena yang mereka bicarakan adalah urusan kematian dan amat mendalam maka Yu Kai dan adik adiknya tak berani mencampuri percakapan mereka.
Karena itu mereka membiarkan saja dua orang tua itu berbantahan.
Dan mereka sibuk menyambut tamu-tamu lain yang berdatangan untuk memberi penghormatan terakhir kepada jenazah Yu Tiang Sin.
Ketika melihat datangnya seorang pengemis tua di antara para tamu, Yu Kai segera menyambutnya sebab mengira pengemis ini seorang tokoh besar persilatan yang mengenal ayahnya.
Akan tetapi kakek pengemis ini tidak menghampiri meja sembahyang melainkan segera duduk di atas tanah dan menundukkan muka sambil menggaruk-garuk punggungnya.
Kepala pengemis itu tertutup sebuah topi lebar yang butut sehingga mukanya tersembunyi di baik topi lebar itu.
Rambutnya sudah putih semua, tubuhnya kurus kering dan pakaiannya penuh tambalan sobekan di sana-sini memperlihatkan kulit yang keriput dan tulang yang menonjol.
Sepatu rumput yang menutupi kedua kakinya juga sudah butut.
Sewaktu berjalan masuk tadi ia dibantu oleh tongkatnya yang terbuat dari bambu dan kini tongkatnya melintang di pangkuannya.
Keadaannya jelas membayangkan bahwa ia seorang pengemis yang hidupnya sangat sengsara dan agaknya sering menderita kelaparan.
Tak ada hal yang aneh dan mencurigakan pada diri kakek ini hingga para tamu tidak ada yang memperhatikannya.
Melihat sikap pengemis itu Yu Kai pun akhirnya menganggap dia bukan tamu melainkan seorang pengemis biasa, maka dia tak memperhatikannya lagi.
Tidak demikian dengan Siauw-bin-mo Hap Tojin dan Liong Losu.
Karena pengemis itu berjongkok di dekat meja mereka, keduanya memandangnya dan menghentikan perbantahan mereka lalu Hap Tojin menegurnya.
"Eh, lokai (pengemis tua), orang mengemis sepatutnya mendatangi orang yang sedang merayakan perkawinan dan bukan orang yang berkabung! Di tempat kematian ini mana ada makanan lebih?"
Tosu itu tertawa-tawa sehingga banyak tamu yang mungerutkan kening.
Tertawa-tawa di waktu melayat benar-benar merupakan perbuatan yang tak sopan.
Sebaliknya Liong Losu melihat pengemis ini seraya berkata.
"Nah kau lihatlah baik-baik, to-yu. Seperti pengemis ini, bukankah ia menderita dalam hidup? Sudah tua bangka dan berpenyakitan, masih menderita kelaparan dan hidup terhina sebagai pengemis. Tidak kasihankah kau melihat penderitaan manusia ini?"
"Menderita apa? Dia senang! Lebih senang dari orang lain. Dia tua, apa kau kira orang muda lebih senang dari pada orang tua. Dia miskin, apa kau kira orang kaya lebih senang dari pada orang miskin? Dia kurus, apa kau kira orang gemuk seperti kau ini lebih senang dari pada orang kurus?"
Kembali dua orang ini berbantahan, tanpa menghiraukan lagi kepada si pengemis tua itu.Tiba-tiba pengemis itu menarik napas panjang dan berkata.
"Apakah itu baik? Apakah itu jahat? Manusia tidak baik, juga tidak jahat. Kebaikan yang dipuji orang bukan kebaikan lagi. Kejahatan yang dicela orang belum tentu kejahatan. Siapa menciptakan baik dan jahat? Orang! Siapa menciptakan susah dan senang? Orang. Semua itu sebetulnya tidak ada. Adanya karena dipaksakan orang, oleh orang yang memang suka mengada-ada! Semua kosong kelihatannya berisi akan tetapi kosong. Yang kosong sebetulnya penuh isi. Aneh tapi tidak aneh. Benar tapi salah juga! Heh......"
Pengemis itu menghela napas lagi.
Lalu bangkit dan jalan perlahan dibantu tongkatnya.
Setelah berdiri baru tampak mukanya.
Muka tua yang keriputan, muka yang terlalu tua untuk hidup.
Usianya sudah seratus tahun lebih.
Tosu dan hwesio itu saling pandang.
Sebagai dua orang ahli kebatinan, mereka mendengar ucapan pengemis tadi seperti halilintar menggelegar di angkasa.
Mereka sekaligus tunduk, takluk merasa terkalahkan.
Keduanya segera berdiri hendak menyusul, akan tetapi ketika memandang keluar kakek itu sudah lenyap, seakan-akan ditelan bumi.
Keduanya menghela napas.
Siauw-bin-mo yang sadar lebih dahulu berkata sambil tertawa.
"Dalam segebrakan kita runtuh, ha-ha-ha! Dapatkah kau menduga, siapa dia?"
Hwesio gendut itu menggelengkan kepala.
"Pinceng (aku) tidak tahu. Akan tetapi sinar matanya...... hebat!"
Makin siang makin banyak tamu yang datang berlayat kepada jenazah kakek Yu.
Akan tetapi setelah lewat tengah hari tamu-tamu mulai meninggalkan tempat itu dan setelah senja rumah itu menjadi sepi.
Anehnya tosu dan hwesio itu masih saja bercakap-cakap.
Diam-diam para pelayan merasa mendongkol.
Sudah dua kali mereka menyuguhkan hidangan pada dua pendeta ini.
Yang paling menjemukan adalah si hwesio yang tidak pantang makan daging dan arak.
Tetapi Yu Kai dan adik-adiknya maklum bahwa kedua pendeta ini adalah orang yang berilmu, mereka tetap bersikap hormat sambil menduga-duga mengapa kedua orang ini tetap berada di situ?
Mereka mulai gelisah dan menduga pasti akan terjadi sesuatu, maka mereka bersiap-siap untuk menghadapi segala kemungkinan.
Orang-orang mulai menyalakan lampu, malam itu malam terakhir menjaga peti mati, karena besok pagi peti mati itu akan diberangkatkan ke kubur.
Setelah melakukan upacara sembahyang Yu Kai dan adik-adiknya menjaga peti mati.
Karena khawatir kalau anak anak mereka sakit, Yu Kai memaksa anak-anak masuk dan mengaso di dalam rumah.
Yu Lee yang takut kepada ayahnya terpaksa juga meninggalkan peti mati sambil menengok peti mati itu beberapa kali.
Kini yang menjaga peti mati hanya Yu Kai dan adik-adiknya serta tosu dan hwesio yang duduk menghadapi meja hidangan dan arak.
Tak lama kemudian berkelebat bayangan hitam dan tahu-tahu di depan peti mati telah berdiri dua orang.
Yang seorang berumur limapuluhan, bermuka kuning bertubuh tinggi besar.
Di punggungnya tampak sebatang golok besar, Orang kedua seorang wanita, usianya empatpuluh tahun, dimukanya yang putih dan cantik itu tampak goresan pedang, dari pipi kanan sampai ke dagu sehingga muka yang cantik itu tampak menyeramkan.
Wanita cantik ini membawa sebatang pedang di pinggang kirinya.
Begitu tiba di depan peti, kedua orang ini memandang peti mati dengan mata beringas.
Yang lelaki berkata, suaranya menyeramkan.
"Yu Tiang Sin, kami berjanji sepuluh tahun akan mengadakan perhitungan. Malam ini tepat sepuluh tahun. Siapa kira kau tidak menepati janji dan telah mati. Hendak kulihat apakah kau benar-benar mampus ataukah hanya berpura-pura mati karena takut akan pembalasan kami?"
Setelah berkata demikian laki-laki muka kuning ini melangkah maju.
Tangan kanannya bergerak hendak memegang peti mati.
Yu Kai dan adik-adiknya yang menjaga peti mati dan tadinya sudah bersiap-siap hendak membalas penghormatan orang mendadak menjadi terkejut mendengar ucapan itu.
Yu Kai segera melompat berdiri diikuti kedua orang adiknya dan berkata.
"Tahan dulu! Siapapun tidak boleh mengganggu peti ayahku!"
Laki laki muka kuning ini menahan tangannya lalu memandang kepada Yu Kai dan adik-adiknya.
Dua orang adik Yo Kai bernama Yu Liang berusia empatpuluh tahun dan Yu Goan tigapuluh tahun.
Seperti Yu Kai mereka juga telah menerima gemblengan ilmu silat tinggi dari ayahnya.
Akan tetapi, karena kurang berbakat, maka ilmu silatnya tidak sebaik Yu Kai yang berwatak pendiam.
"Hemm, kalian ini tentunya putera si tua Yu bukan? Bagus, ayah harimau anaknya harimau pula. Tetapi kami bukan orang yang suka mengganggu harimau, kecuali harimau yang pernah mencakar kami. Aku mau melihat muka Yu Tiang Sin tidak perduli kau membolehkan atau tidak!"
Setelah berkata si muka kuning melanjutkan gerakan tangannya ke arah peti mati.
"Manusia jahat jangan kurang ajar!"
Tiba-tiba Yu Goan tidak dapat menahan sabarnya lagi.
Ia menerjang ke arah lambung kiri si muka kuning itu.
Hebat sekali pukulan ini dilakukan dengan pengerahan tenaga dalam yang dahsyat.
Mengarah bagian lemah tubuh lawan.
"Bagus Yu Tiang Sin, bukan aku yang menghina orang muda, tapi anakmu yang menyerangku!"
Si muka kuning berkata sambil menangkis dengan tangan kirinya, sedang tangan kanannya tergerak terus ke arah peti mati.
Terdengar suara keras, dan berbareng dengan terbongkarnya tutup peti mati, tubuh Yu Goan terlempar sampai tiga meter dan roboh di atas lantai.
Yu Kai terkejut.
Kemarahannya meluap.
Orang telah menghina ayahnya.
Jenazah yang sudah tiga hari tiga malam itu tercium bau tidak sedap.
Dia maklum betapa lihai lawan ketika menangkis serangan Yu Goan, dengan gerakan sedikit membetot, Yu Goan sudah terlempar jauh, dan berbareng dengan itu tangan kanan si muka kuning itu sekali memukul dengan jari terbuka sudah dapat membongkar tutup peti mati yang rapat dan amat kokoh kuat itu.
Dapat dibayangkan berapa hebat tenaga dalam si muka kuning ini.
Namun Yu Kai tidak sembrono seperti adiknya.
Ia cepat melangkah maju dan bertanya.
"Siapakah tuan berdua yang tidak berpribudi ini? Dan apa dosa mendiang ayah kami sehingga setelah meninggal dunia masih mengalami penghinaan tuan?"
Si muka kuning mendengus. Sikap Yu Kai membuat ia tidak berani memandang rendah. Setetah memandang dengan penuh selidik, lalu berkata.
"Aku adalah Kim-to (Golok Emas) Cia Koan Hok, dan dia isteriku Bi-kiam (Pedang Cantik) Souw Kwat Si. Sepuluh tahun yang lalu ayahmu telah mencampari urusan kami yang tidak ada sangkut pautnya dengan dia, sehingga melukai kami berdua. Sayang. kiranya ayahmu telah benarbenar mampus dan menyiarkan bau busuk!"
"Keparat! Tutup mulutmu bentak Yu Liang yang marah sekali. Tetapi tiba-tiba terdengar desir angin menyambar, Yu Liang cepat mengelak. Dan sebatang piauw (pisau rahasia) menyambar di atas kepalanya.
"Perempuan keparat!"
Ia memaki sambil menerjang penyerangnya tadi.
Bi-kiam Souw Kwat Si tersenyum mengejek dan menangkis.
Begitu kedua tangan bertemu secara aneh jari tangan nyonya itu sudah menotok jalan darah di pergelangan tangan.
Yu Liang terkejut, ia berusaha mengelak dan menarik kembali lengannya.
Untung ia bisa bergerak cepat sehingga lengannya tidak tertotok secara tepat, hanya kesemutan saja.
Terlambat sedikit saja tentu tangannya akan lumpuh.
"Hi-hi-hi, kau terkejut?"
Tanya si nyonya sambil tersenyum lebar.
Kalau saja tidak ada guratan bekas luka dari pipi ke dagu tentu senyum itu akan kelihatan manis.
Pandangannya tajam penuh arti, mata seorang perempuan genit!
Memang diantara saudara-saudaranya, Yu Liang adalah yang paling tampan.
Mukanya bundar, alisnya tebal, hidungnya mancung.
Jauh lebih tampan dibanding dengan si muka kuning.
"Sayang ayah dulu tidak menggurat lehermu sampai putus!"
Bentak Yu Liang marah.
Ia mulai dapat menduga mengapa wanita ini bermusuhan dengan ayahnya.
Jelas wanita ini bukan orang baik-baik.
Sambil membentak ia menerjang dengan pukulan bertubi-tubi, namun sambil tertawa perempuan ini mengelak dengan gerakan lincah sekali.
Melihat adiknya sudah bertanding melawan musuh, Yu Kai juga tidak tinggal diam dan berseru.
"Ayah sudah meninggal tetapi masih ada puteranya yang tidak akan mundur melawan penjahat!"
"Bagus!"
Kim-to Cia Koan Hok miringkan tubuh menghindarkan pukulan Yu Kai yang meluncur ke arah dadanya dan pada detik berikutnya ia balas menusuk ke arah iga lawan.
Yu Kai terkejut, sodokan jari itu bukan main-main, karena itu adalah jurus (Dewa Menunjuk Jalan) yaitu menggunakan dua buah jari menutuk jalan darah yan-goat-hiat di bawah ketiaknya.
Cepat-cepat dia menurunkan pangkal lengannya, menggunakan siku memapaki tangan lawan sambil memukulkan tangan kiri ke pelipis kanan lawan.
"Eh, kau boleh juga!"
Si muka kuning berseru merendahkan tubuh lalu mengirim tendangan secara tiba-tiba.
Diserang seperti ini, Yu Kai meloncat mundur, namun lawannya mendesak terus dengan gerakan Lian-hoan-twi yaitu ilmu tendangan bertubi-tubi dengan kedua kaki bergantian.
Ia segera mundur dengan langkah Tui-po-lian-hoan (Mengundurkan Kaki Bcrantai ) sambil menungkis dan berusaha menangkap kaki lawan.
Dengan demikian keadaan menjadi berbalik.
Biarpun kelihatannya menyerang namun bahaya berada di pihak si penyerang.
Karena sekali saja kakinya tertangkap, celakalah ia.
Si Golok Emas ternyata lihai sekali karena ia segera merobah gerakan kakinya dengan serangan pukulan sehingga Yu Kai repot untuk menangkisnya.
Setiap kali lengannya menangkis, ia merasa tubuhnya tergetar dan lengannya nyeri, pertanda bahwa ia masih kalah tenaga.
Sementara Yu Liang yang melawan nyonya itu segera terdesak setelah wanita itu melakukan penyerangan cepat.
Gerakannya benar-benar cepat seperti burung walet menyambar-nyambar.
Baru belasan jurus saja Yu Liang sudah kena terpukul membuat ia terhuyung-huyung.
Namun Yu Liang tidak gentar.
Ia lalu menyerang lagi penuh kemarahan.
Yu Goan yang tadi terbanting roboh, kini bangun dan menerjang membantu adiknya.
Namun biar dikeroyok dua, Souw Kwat Si masih tertawa-tawa mengejek dan tubuhnya berkelebatan menyerang kepada kakak beradik itu.
Keributan di ruang depan ini agaknya menimbulkan panik di dalam rumah.
Semua pelayan dan anak isteri tiga saudara Yu bersembunyi di dalam kamar.
Biarpun mereka ini keluarga pendekar, namun mereka ini hidup tenteram dan baru kali ini mereka melawan musuh yang datang menyerang.
Tetapi Yu Lee menyelinap keluar dan berlari ke ruangan depan.
Melihat peti mati terbuka ia lari mendekati dan menjenguk ke dalam peti mati.
"Kong-kong, ah, kong-kong...... ada orang...... yang mengganggu tempat tidurmu, kenapa kau tidak pukul mereka? Kong-kong, kau...... sudah..... kau sudah mati......"
Anak itu menangis keras.
Kemudian ia menengok ke arah mereka yang berkelahi.
Ia baru mempelajari dasar-dasar ilmu silat maka tidak tahu bagaimana keadaan ayah dan kedua pamannya.
Hatinya ingin membantu namun ia dimarahi ayahnya.
Kemudian ia berlari masuk dan tak lama kemudian kembali sambil membawa tiga batang pedang.
"Ayah,Paman! Mari gunakan pedang memukul penjahat!"
Teriaknya.
Memang Yu Kai dan kedua adiknya sudah terdesak, maka teriakan ini mengingatkan mereka.
Juga teriakan anak itu menarik perhatian kedua orang lawan sehingga ketiganya mendapat kesempatan mundur.
"Lee-ji masuklah!"
Seru Yu Kai setelah menerima pedangnya.
Kemudian bersama adik-adiknya ia sudah meloncat maju lagi menghadapi lawan.
Kim-to Cia Koan Hok tertawa lalu menghunus goloknya yang mengeluarkan sinar menyilaukan.
Itulah Kim-to golok emas yang membuat namanya terkenal.
Sepuluh tahun yang lalu Kim-to Cia Koan Hok terkenal sebagai seorang perampok yang ganas, disamping isterinya Bi-kiam Souw Kwat Si yang memiliki ilmu kepandaian setingkat dengan suaminya.
Akan tetapi semenjak suami isteri ini roboh di tangan Yu-kiam-sian, mereka menghilang dari dunia kangouw tidak mendengar lagi nama mereka.
Melihat suaminya menghunus golok emasnya, Bi-kiam Souw Kwat Si tertawa.
Suara ketawanya merdu.
"Eh-eh, untuk menghajar anak-anak anjing ini perlukah menggunakan senjata?"
Akan tetapi tiba-tiba wanita ini meloncat ke samping, menghindarkan diri dari serangan pedang yang gerakannya cepat dan kuat.
Ia terkejut melihat serangan Yu Kai ini dan ia tahu bahwa menghadapi pedang lawan ini, ia tidak boleh main main, cepat tangan kanannya tergerak dan "sring!"
Sebatang pedang sudah berada di tangannya.
Mendiang Yu Tiang Sin terkenal karena ilmu pedangnya sehingga ia mendapat julukan Dewa Pedang.
Sayang bahwa ketiga puteranya kurang berbakat hingga belum dapat mewarisi seluruh kepandaiannya.
Apa lagi ilmu pedangnya yang luar biasa amat sukar dipelajari, putera-puteranya belum dapat menguasai sepersepuluh bagian ilmu ini.
Ilmu pedang yang mengangkat nama Yu Tiang Sin ini disebut Ngo-heng-lian-hoan-kiam.
Ilmu pedang ini berdasarkan Ngo-heng yaitu lima unsur yang saling menghidupkan dan saling mematikan (api-air-kayu-logam-tanah) maka di dalamnya mengandung perobahan-perobahan yang tidak terduga, dan penggunaan tenagapun berselang-saling tenaga Yang-kang (tenaga kasar) dan Im-kang (tenaga lemas).
Sifat inilah yang membuat Ngo-heng-lian-hoan-kiam sukar dipelajari, dan hanya dapat dipelajari oleh orang yang sudah tinggi tenaga lweekangnya, semua terdiri dari seratus tujuhpuluh dua jurus, dibagi dalam tiga tingkat.
Tiga orang putera Dewa Pedang itu hanya menguasai duapuluh jurus saja, tingkat pertama pun belum habis.
Namun setelah mereka memegang pedang ternyata keampuhan ilmu pedang Ngo-heng-lian-hoan-kiam mengagumkan.
Tiga batang pedang itu mengeluarkan angin yang keras dan begitu menerjang maju, suami isteri itu terhuyung ke belakang!
Sayang sekali ketiga saudara yang mempunyai ilmu pedang hebat itu belum mempunyai tingkat selanjutnya, hingga mereka hanya mampu mendesak tanpa mampu memperoleh kemenangan.
Karena pada dasarnya mereka memang kalah tenaga dan kalah pangalaman.
Setelah suami itu bertahan puluhan jurus, mereka bertiga mulai terdesak!
"Ha ha ha!
Begitu sajakah ilmu pedang anak-anaknya si Dewa Pedang?
Kalau sungguh tak tahu malu si tua bangka she Yu berani menggunakan juIukan Dewa Pedang!"
Seru Kim-to Cia Koan Hok yang telah menyelami tingkat kepandaian lawan. Iapun lalu menggerakkan kim-to sambil mengerahkan tenaga, membabat pedang Yu Liang.
"Trang!"
Pedang Yu Liang terlempar dan berbareng dengan itu pedang Yu Goan pun terlempar oleh pedang Bi-kiam Souw Kwat Si.
Tidak hanya di situ gerakan suami isteri ini.
Golok dan pedang berkelebat dan Yu Liang bersama adiknya roboh dengan pundak dan paha terluka.
Untung mereka masih bisa berkelit, kalau tidak tentu binasa.
Lukanya tidak berat namun cukup membuat mereka tidak bisa melawan lagi.
Yu Kai menggigit bibir dan memutar pedang cepat sekali.
Sedikitpun ia tidak mundur meskipun suami isteri itu bukan tandingannya.
Ketika pedangnya meluncur dengan lingkaran besar, dari kanan kini golok emas dan pedang lawannya mengurung kemudian menjepit.
Ia masih berusaha mengerahkan tenaga ke tangannya lalu menggetarkan pedang supaya ter]epas, namun sia-sia bahkan terdengar suara "krek!"
Dan tahu tahu pedangnya patah menjadi dua, ia hendak meloncat mundur namun terlambat, karena pedang wanita itu telah menyambarnya, sehingga pakaian dan kulit di pangkal lengan kirinya terbabat sedikit.
Darah keluar dan tubuh Yu Kai terhuyung-huyung ke belakang.
"Ayah!"
Sesosok bayangan kecil berkelebat dan tahu-tahu Yu Lee sudah berdiri di depan orang tuanya melindungi ayahnya dan menantang suami isteri itu dengan air mata bercucuran, tetapi muka dan dadanya diangkat, sedikitpun tidak takut.
"Jangan bunuh ayahku! Hayo, kalau kau betul-betul gagah, boleh bunuh aku!"
Teriaknya dengan nyaring.
"Huh!"
Kim-to Cia Koan Hok mendengus.
"Aku tak butuh kepala kecilmu, yang aku butuhkan kepala Yu Tiang Sin."
Ia tidak memperdulikan Yu Lee dan melangkah ke arah peti mati dengan golok di tangan. Ia agaknya hendak memenggal kepala jenazah Yu Tiang Sin dan hendak membawanya pergi.
"Tidak boleh ganggu kong-kong!"
Yu Lee berteriak sambil maju, lalu memukul perut Kim-to Cia Koan Hok.
"Lee-jie mundur!"
Teriak Yu Kai kaget.
Namun terlambat, karena tahu-tahu kaki bekas perampok ini menendang.
Tubuh Yu Lee terlempar ke atas dan masih bagus baginya, karena Kim-to Cia Koan Hok yang merasa kagum melihat keberanian bocah ini tidak mau menendang untuk membunuhnya, melainkan hanya melontarkan tubuh anak itu dengan kaki.
"Omitohud!"
Tiba-tiba terdengar suara menyebut nama Buddha dan sebatang tongkat bergerak menerima tubuh Yu Lee, menahannya hingga tidak sampai terbanting keras di tanah.
Ternyata Tho-tee-kong Liong Losu yang menolongnya itu.
Adapun si Golok Emas dengan beringas terus membacokkan goloknya ke arah leher jenazah Yu Tiang Sin.
"Trang!"
Si Golok Emas terkejut sekali karena goloknya tertahan dan hampir saja terlepas dari pegangannya.
Ketika melihat bahwa yang menangkis goloknya adalah seorang tosu yang memegang pedang buruk, ia cepat mundur sambit menjura dengan hormat dan berkata.
"Mohon tanya, siapakah totiang dan mengapa mencegah aku membalas sakit hati yang sudah terpendam sepuluh tahun lamanya?"
Penangkis golok itu ternyata Siauw-bin-mo Hap Tojin. Mendengar pertanyaan itu ia tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha, bocah sombong sungguh tidak tahu diri. Dengan kepandaianmu yang cetek ini bagaimana kau berani menghina jenazah Yu Tiang Sin? Sedangkan pedang bututku inipun belum dapat menandingi Dewa Pedang. Apa lagi golokmu pemotong babi itu! Aku Siauw-bin-mo paling tidak suka melihat bocah sombong!"
Kim-to Cia Koan Hok tentu saja pernah mendengar nama ini, diam diam ia terkejut.
Tapi ia tidak takut.
Karena tahu bahwa tosu ini membela musuh besarnya.
Ia lalu memutar goloknya, menyerang dengan dahsyat.
"Ha-ha-ha....... manusia tidak tahu diri!"
Hap Tojin tertawa, pedangnya berkelebat dan sekali lagi terdengar suara beradunya senjata, disusul seruan kaget Kim-to Cia Koan Hok karena goloknya terlepas dari tangannya.
Dengan muka merah saking geram dan malunya ia mengambil goloknya.
Dan tanpa perdulikan lawan yang mentertawakan ia kemudian menerjang lagi dengan hati-hati.
Melihat lihainya tosu yang bertanding melawan suaminya.
Souw Kwat Si segera meloncat maju hendak membantu.
Akan tetapi tiba-tiba sebatang tongkat telah meluncur ke depan kakinya.
Bi-kiam Souw Kwat Si memiliki ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang tinggi, namun karena tidak menyangka sama sekali, kakinya terjegal dan ia terhuyung-huyung hampir jatuh.
Baiknya ia cepat mematahkan dorongan ini dengan meloncat ke atas hingga dapat menguasai kembali keeimbangan tubuhnya.
Cepat ia memutar tubuh sambil menyabetkan pedang.
Kiranya di belakangnya berdiri seorang hwesio gendut yang tengah memandangnya.
Hwesio ini menggeleng-gelengkan kepala, menarik napas panjang dan berkata.
"Orang sudah mati masih dicari hendak diganggu. Sungguh merupakan dosa besar. Sebelum terlambat mengapa tidak insaf dan pergi agar tidak menumpuk dosa?"
Bi-kiam Souw Kwat Si tahu bahwa hwesio gundul inipun yang tadi menghalanginya dengan tongkat panjang itu. Ia marah sekali.
"Hwesio gundul! Tugasmu hanya menyembahyangkan si mati agar rohnya dapat pengampunan di akherat. Sekarang mengapa engkau ikut campur urusan kami?"
"Omitohud! Pinceng tidak mencampuri urusan kalian, hanya memberi nasehat kepada toanio (nyonya) agar jangan tersesat. Orang berdosa yang insyaf akan dosanya kemudian bertobat, itulah jalan yang baik. Akan tetapi apa bila orang berdosa itu seakan-akan tidak tahu dosanya dan melanjutkan kesalahannya yang dikiranya benar, aduh sangat kasihan sekali orang semacam itu."
"Ha-ha-ha Tho-tee-kong, apa kau mau berkhothah?"
Tiba tiba Hap Tojin yang masih melawan si Golok Emas tertawa seenaknya.
Mendengar disebutnya julukan hwesio ini nyonya itu kaget dan tahu bahwa hwesio itu bukan orang sembarangan dan menjadi musuh para penjahat.
Maka tanpa banyak cakap lagi pedangnya berkelebat menusuk ke arah tenggorokan hwesio itu.
Tho-tee-kong tidak mengelak, dan begitu pedang sudah dekat dengan lehernya, tongkatnya menotok ke depan dengan gerakan cepat sekali.
Bi-kiam Souw Kwat Si terkejut.
Kalau ia meneruskan serangannya, tongkat lawan tentu akan lebih dulu menghantam pangkal lengannya yang memegang pedang.
Terpaksa ia mengelak sambil menarik lengannya dan dari samping ia membabatkan pedangnya ke arah pinggang lawan.
Gerakan ini selain indah juga dahsyat dan berbahaya.
Inilah yang disebut jurus Sin-liong-tiauw-wi (Naga Sakti Menyabetkan Ekor) cepat dan kuat gerakannya.
"Omitohud...... pedangmu ganas sekali!"
Seru si hwesio kagum.
Dari gerakan ini terbukti bahwa nyonya ini benar-benar memiliki kepandaian yang tinggi.
Tidak heran kalau putera-putera kakek Yu bukan lawan suami isteri ini.
Karena sambaran pedang itu berbahaya.
Tho-tee-kong lalu menekan tongkat ke lantai dan tubuhnya loncat ke atas, di belakang tongkat.
"Trang!"
Pedangnya itu menghantam tongkat dan membalik.
Nyonya itu kaget, telapak tangannya serasa diiris pisau.
Celakanya pada saat itu, tongkat lawan menyambar ke arah kepalanya.
Tongkat itu mempunyai hiasan kepala naga yang kini akan menyambar batok kepala.
Nyonya muda itu mengeluarkan keringat dingin, terpaksa ia membuang diri ke atas lantai terus bergulingan.
Celaka baginya, tongkat itu terus membayangi kepalanya, hanya terpisah satu kaki jauhnya.
Bi-kiam Souw Kwat Si menggigit bibir mengerahkan tenaga lain membabatkan pedang ke kepala tongkat.
Terdengar suara keras dan tubuhnya mencelat ke belakang.
Kiranya pedangnya telah patah dua, dan bersamaan pula pada saat itu terdengar suara Siauw-bin-mo Hap Tojin tertawa bergelak dan berkata.
"Pergilah!"
Tahu-tahu tubuh Kim-to Cia Koan Hok melayang dan hampir saja menimpa tubuh isterinya yang baru saja dapat menguasai keseimbangan badannya.
Seperti isterinya, si golok emas tak berdaya menghadapi lawan.
Goloknya dibikin terpental oleh Siauw-bin-mo dan lenyap entah ke mana.
Kini suami isteri itu berdiri dengan pucat.
Rasa marah, malu dan duka bercampur aduk menjadi satu.
Sepuluh tahun lebih mereka melatih diri dengan tekun sehingga memperoleh kemajuan pesat.
Rasa dendam disimpan di dalam hati selama sepuluh tahun.
Kini mereka hanya bertemu dengan peti mati musuh besarnya, kekecewaan ini saja sudah hebat.
Sekarang ditambah lagi kenyataan bahwa jerih payah mereka ini sia-sia belaka.
Menghadapi dua orang sahabat musuh besarnya, mereka tidak mampu berkutik!
Hati siapa takkan menjadi malu, penasaran dan berduka?
"Sudahlah!"
Kim-to Cia Koan Hok membanting kakinya, lalu mengajak pergi isterinya.
Mereka meloncat dan lenyap dalam kegelapan malam.
Setelah mengobati luka-lukanya.
Yu Kai dan adik-adiknya lalu membetulkan penutup peti mati memasang paku baru.
Isteri dan anak anak mereka baru berani keluar setelah musuh terusir pergi.
Kemudian dipimpin oleh Yu Kai mereka berlutut di depan tosu dan hwesio itu untuk menghaturkan terima kasih.
"Maafkan bahwa teecu menyambut jiwi locianpwe (dua orang gagah) kurang hormat kiranya jiwi adalah dua orang penolong besar yang tidak saja sudah melindungi kehormatan keluarga teecu sekalian juga menolong keselamatan teecu bertiga."
"Omitohud...... tidak ada urusan tolong menolong. Yu-sicu yang sudah meninggal dunia adalah (Lanjut ke
Jilid 02) Pendekar Cengeng (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 02 sahabat baik pinceng, sehingga keluarganya sama dengan keluarga pinceng sendiri. Disamping itu perbuatan jahat memang harus dicegah. Pinceng hanya memenuhi kewajiban belaka,"
Jawab Tho-tee kong Liong Losu yang segera mengangkat bangun tubuh Yu Kai.
"Ha-ha-ha...... dua ekor anjing itu apa artinya? Dikhawatirkan datangnya srigala yang lebih berbahaya. Siapa tahu? Yu Loheng dahulu di waktu hidupnya terkenal seorang yang usil tangannya, suka sekali mencampuri urusan orang lain, sehingga musuh-musuhnya tidak terhitung berapa orang banyaknya. Betapapun juga karena pinto (saya) yakin dan percaya dia berada di pihak yang benar, maka pinto tidak akan tinggal diam kalau ada orang yang berani mengganggu jenazahnya."
Yu Kai kembali menghaturkan terima kasih. Setelah peti mati ditutup rapat, kembali mereka menjaga peti mati. Yu Lee menambah dupa di perapian lalu terdengar suaranya berkata perlahan.
"Kong-kong, sayang orang-orang jahat dapat datang setelah kau pergi! Kalau kau masih hidup dan menghajar mereka, alangkah akan senangnya aku menonton."
Bicara sampai di situ Yu Lee teringat lagi kepada kakeknya yang setiap hari mengajaknya jalan di waktu fajar menyingsing, kakek yang amat sayang kepadanya dan yang menjadi teman bermain-main baginya.
Tidak tertahankan lagi iapun lalu menangis.
"Heh-heh, cengeeeeng!"
Hap Tojin mengejek.
"Bocah cengeng, kau sepatutnya menjadi murid Tho-tee kong. Sama-sama cengengnya, cocok benar!"
"Siauw-kongcu ini berbakti dan mengenal kasih sayang. Mengapa kau mencela to-yu?"
Kata si hwesio yang sudah duduk kembali menghadapi meja, menyandarkan tongkatnya yang berat di pundaknya.
"Lee-jie diamlah! Kau menangis saja tiada hentinya!"
Bentak Yu Kai kepada puteranya. Yu Lee memandang ayahnya dengan sinar mata sedih.
"Ayah, kalau kong-kong hidup lagi aku tidak akan menangis......."
Pada saat itu, terdengar suara melengking di udara, suara yang bernada tinggi.
Seakan-akan ada sesuatu terbang di angkasa lalu perlahan-lahan turun dan mengitari tempat itu.
Suara melengking makin nyaring seperti rintihan, Yu Lee menangis makin mengguguk seakan-akan terdorong oleh suara lengking yang menyeramkan itu.
Yu Kai dan kedua adiknya saling pandang, kemudian bulu tengkuk mereka meremang karena lengkingan nyaring itu mengguncang jantungnya.
Ketika mereka melirik ke arah berdirinya dua orang pendeta, keduanya sudah berhenti bercakap-cakap, bahkan kini sudah duduk diam dan mengatur pernapasannya seperti orang sedang mengerahkan lweekang.
"Celaka! Bawa masuk anak-anak!"
Teriak Yu Kai.
Dan saat itu anak anak mereka telah roboh terguling, setelah tadi menutup telinga yang terasa ditusuk mendengar bunyi yang melengking itu.
Yu Liang dan Yu Goan sudah tidak kuat lagi mengangkat anak-anaknya yang roboh terguling karena dirinya sendiri sudah menggigil.
Cepat-cepat mereka meniru perbuatan Yu Kai, duduk bersila sambil mengatur napas dan mengerahkan tenaga lweekangnva untuk menahan serangan hebat yang timbul dari getaran suara itu.
Namun, hampir saja mereka tidak kuat menahan dan kini mata mereka sudah bercucuran air mata, terbawa oleh lengking yang mengerikan itu.
Tubuh mereka sudah bergoyang-goyang dan hampir roboh.
"Omitohud!"
Tho tee-kong Liong Losu memuji nama Buddha dan kakek inipun sudah bersila sambil memeramkan mata dan mulutnya berkemak-kemik membaca doa.
"Siancai!"
Sauw-bin-mo Hap Tojin juga sudah bersila dan mengatur pernapasan, kemudian ia mengetuk-ngetukkan guci araknya untuk menimbulkan suara nyaring melawan lengking tangis itu.
Tapi yang mengherankan adalah Yu Lee.
Bocah ini masih saja menangis dan tangisnya amat hebat tersedu-sedu dan sesenggukan.
Akan tetapi ia tidak segera roboh pingsan seperti saudara saudaranya yang lain.
Apa sebabnya bisa demikian?
Seperti diketahui, Yu Lee tiada hentinya menangis setelah kakek yang disayangnya itu wafat.
Dia merasakan hatinya sedih bukan main dan tangisnya itu memang sudah sewajarnya.
Adapun lengkingan tangis yang terdengar itu mengandung pengaruh luar biasa dan menyedihkan sekali.
Bagi mereka yang mendengarkan suara lengkingan ini, langsung terserang perasaannya hingga jantungnya terasa ditusuk-tusuk.
Akan tetapi kesedihan Yu Lee juga merupakan kesedihan luar biasa, tidak sama dengan kesedihan manusia yang hanya lumrah.
Kesedihannya ini membuat anak itu lupa akan segala-galanya.
Seluruh perasaannya tercurah di dalam kedukaan sehingga hal-hal yang lain tidaklah begitu dirasakannya.
Inilah sebabnya mengapa lengkingan tangis itu tidak mempeagaruhi dirinya secara hebat, makin sedih hatinya serta keras tangisnya makin membuat dia terbebas dari pada pengaruh suara lengkingan yang sangat mengerikan itu.
Tiga orang saudara Yu sudah hampir tak kuat bertahan lagi.
Wajah mereka sudah pucat dan berkeringat.
Tiba-tiba suara lengkingan itu berhenti, suasana di tempat itu menjadi sunyi sekali.
Hanya terdengar tangis Yu Lee yang mengguguk.
Sewaktu Yu Kai mau menegur puteranya tiba-tiba terdengar suara gedubrakan ketika dua tubuh manusia dilempar dari luar menimpa meja sembahyang.
Ketika semua orang melihat, ternyata itu adalah si golok emas Kim-to Cia Koan Hok dan isterinya, tubuhnya kini telah menjadi mayat!
Kemudian terdengar sebuah suara dari kegelapan.
"Yu Tiang Sin, aku datang akan menagih hutang! Seluruh keluarga Yu harus aku tumpas habis, Semua anjing dan kucingnya, semua pelayan dan tamu-tamunya tak satupun boleh lolos!"
Itulah suara seorang wanita yang sangat merdu namun membuat bulu tengkuk berdiri.
Yu Kai dan kedua adiknya sudah melompat bangun menyambar pedang dan mencelat, ke depan pintu untuk menyambut musuh yang mengerikan ini.
Musuh yang datang kali ini benar-benar luar biasa dan agaknya hendak membuktikan ancamannya, yaitu menumpas habis seluruh isi rumah keluarga Yu.
Sebagai bukti Kim-to Cia Koan Hok dan Bi-kiam Souw Kwat Si yang baru saja keluar telah terbunuh dan mayatnya dilemparkan kembali masuk ke rumah keluarga Yu!
Dapat membunuh suami isteri bekas perampok itu dalam sekejap dan tanpa menimbulkan suara benar-benar membuktikan kehebatan tamu aneh itu.
Namun untuk melindungi keluarganya, Yu Kai dan adik-adiknya tidak merasa takut dan bersiap-siap untuk melawan dengan taruhan nyawa.
"Sicu, hati-hatilah!"
Tampak dua bayangan berkelebat, ternyata kedua orang hwesio itu telah berdiri di samping tiga orang she Yu itu untuk membantu mereka.
Dua orang tokoh tua itu adalah orang-orang sakti akan tetapi kali ini wajah mereka diliputi ketegangan karena mereka maklum bahwa yang datang kali ini benar-benar merupakan lawan yang berat!
Tiba-tiba terdengar jeritan-jeritan ngeri dari dalam rumah.
Tiga saudara Yu menjadi pucat.
Cepat mereka menengok dan saat itu dari pintu dalam muncul pelayan wanita yang tubuhnya berlumuran darah.
Pelayan itu terhuyung-huyung ke depan, lalu serunya.
"Toaya (tuan)...... celaka, semua..... semua dibunuh......"
Sampai di situ ia terguling dan putus nyawanya.
"Celaka! Musuh menggunakan memancing harimau keluar dari sarang!"
Teriak Tho-tee-kong Liong Losu.
Yang disebut siasat memancing harimau keluar dari sarang adalah siasat perang yang maksudnya memancing keluar penghuni atau pun penjaga kota, sehingga kotanya sendiri menjadi tidak terjaga dan mudah diserang dari lain jurusan.
Agaknya tamu aneh yang datangnya ditandai dengan lengking tangis ini sengaja memancing perhatian mereka dari depan, lalu diam-diam mengambil jalan memutar terus masuk ke belakang rumah dan begitu masuk terus melakukan pembunuhan-pembunuhan terhadap wanita, anak-anak dan semua pelayan yang berada di bagian belakang dalam rumah itu.
Tidak hanya keluarga dan pelayan, tetapi bahkan segala macam binatang peliharaan seperti ayam, burung, anjing dan kucing yang berada di belakang rumah ini, semuanya dibunuh tanpa ampun lagi.
Mendengar teriakan Tho-tee-kong Liong Losu, tiga orang saudara Yu seperti berlomba lari ke dalam.
Akan tetapi, mereka berhenti dan terbeliak memandang orang yang keluar dari pintu dalam.
Dia seorang wanita.
Usianya kurang lebih empatpuluh tahun.
Wajahnya masih cantik dan kulit mukanya putih sekali sampai seperti tidak ada darahnya.
Pakaiannya serba hitam dari sutera tipis sehingga tersorot lampu tampak membayang pakaian dalamnya yang serba putih.
Tangan kirinya memegang sebatang suling hitam.
Wanita ini berjalan keluar dari dalam rumah dengan langkahnya perlahan, namun langkah dan lenggang-lenggoknya seperti seorang wanita, yang genit sekali.
Melihat tiga orang saudara yang datang dengan membawa pedang di tangan, wanita itu segera tertawa, akan tetapi betapa aneh suara ketawanya seperti anak menangis!
"Huh-huh-huh, tua bangka, Yu Tiang Sin!
Biarpun sudah menjadi mayat tetapi tentu arwahmu dapat melihat betapa malam ini aku berhasil membasmi seluruh isi rumahmu termasuk juga para tamu-tamumu, hik-hik, hu-hu-hu!"
Tadinya ketika melihat munculnya wanita ini, Yu Kai dan adik-adiknya masih ragu apakah benar wanita ini yang muncul dengan lengking tangis yang mengerikan dan kemudian membunuhi seluruh isi rumah dari belakang.
Akan tetapi setelah mendengar kata-kata wanita ini, mereka membentak marah dan seperti orang-orang gila, saking marahnya mereka menerjang dan menyerang dengan senjatanya masing-masing.
"Jangan sembrono!"
Seru Tho-tee-tong Liong Losu.
"Awas mundur kalian!"
Berteriak pula Hap Tojin.
Namun teriakan dua orang ini terlambat.
Yang nampak hanyalah gulungan sinar hitam yang mengeluarkan bunyi melengking nyaring.
Dan.......
tubuh tiga orang saudara Yu itu terlempar ke belakang lalu terbanting dalam keadaan tak bernyawa.
"Omitohud...... kejam sekali!"
Berseru Liong Losu.
"Celaka!"
Teriak Hap Tojin.
"Hi-hi hik! Memang kalian akan celaka. Salah kalian sendiri berada di dalam rumah celaka ini, yang sudah terkutuk akan kematian semua penghuninya!"
Dengan genit wanita itu berkata.
"Ah, wanita sesat! Betapapun besarnya dendam yang kau kandung, tidak semestinya kau melakukan pembunuhan-pembunuhan yang keji seperti ini. Apakah kau tidak takut dosa?"
Tho-tee-kong Liong Losu dengan suara keren menegur, tongkatnya sudah melintang di dada.
"Tho-tee-kong, kalau iblis ini betul seperti yang aku duga, kau percuma saja bicara tentang dosa dengan dia. Eh, iblis betina yang keji dan ganas! Betulkah engkau ini berjuluk Hek-siauw Kui-bo (Iblis Betina Suling Hitam)?"
Wanita yang mengerikan ini memang benar Hek-siauw Kui-bo.
Duapuluh tahun yang lalu sebagai seorang kang-ouw yang berilmu tinggi, cantik dan berwatak cabul, dia berhasil memikat hati seorang pangeran kerajaan Goan-tiauw yang menjadi tergila-gila kepadanya dan terjalin hubungan gelap di antara mereka berdua.
Dalam memikat hati pangeran ini, dia mempunyai cita-cita, yaitu hendak membantu kekasihnya mencapai kekuasaan sebesar-besarnya kelak kalau kekasihnya mencapai tingkat tertinggi, ia sendiri akan terangkat dalam kedudukan mulia dan tinggi!
Dia mencita-citakan agar supaya pangeran kekasihnya itu kelak menjadi kaisar dan dia sendiri menjadi seorang permaisuri.
Akan tetapi semua mimpi muluk ini menjadi buyar dan hancur ketika pada suatu malam sang pangeran penindas rakyat jelata ini tahu tahu telah tewas dengan leher putus di dalam kamarnya.
Seperti biasa terjadi di waktu itu pembunuhnya adalah Si Dewa Pedang Yu Tiang Sin yang pada waktu itu masih sangat aktif dan bersemangat dalam membasmi pembesar-pembesar Mongol yang berbuat sewenang-wenang terhadap rakyat.
Hek-siauw Kui-bo menjadi marah sekali.
Berkali-kali ia berusaha membalas dendam dan melawan si Dewa Pedang, namun selalu mengalami kegagalan.
Pedang di tangan Yu-kiam-sian benar-benar hebat dan tak terlawan oleh suling hitamnya.
Belasan kali ia kalah dan ia tidak sampai tewas oleh karena selalu Si Dewa Pedang melepaskannya dan menganggapnya hanya seorang perempuan cabul yang merasa kecewa karena kekasihnya terbunuh.
Sama sekali Yu Tiang Sin tak pernah bermimpi bahwa bukan hanya itu saja yang menjadi sebab, melainkan lebih dalam lagi.
Ia telah menghancurkan cita-cita muluk si iblis betina!
Hek-siauw Kui-bo lebih memperdalam ilmunya dan di dunia persilatan namanya terkenal sebagat iblis betina yang kejam sekali dan amat ganas.
Namun sudah bertahun-tahun iblis betina ini tidak menantang Yu-kiam-sian.
Ia menjadi lebih hati-hati dan menggembleng diri untuk pembalasan-pembalasan dendam.
Dan akhirnya ia mendengar kematian musuh besarnya.
Dapat dibayangkan betapa kecewa hatinya mendengar hal itu.
Ia segera mengunjungi dusun Ki-bun dan mengambil keputusan untuk membasmi semua keluarga musuh besarnya untuk melampiaskan dendam hatinya.
Ketika iblis wanita ini mendengar kata-kata dua orang tamu musuh besarnya dan mendengar Siauw-bin-mo Hap Tojin menyebut namanya, dia memandang lebih tajam dan penuh perhatian.
Tadi ketika ia datang, ia sudah menyaksikan betapa suami isteri yang agaknya juga hendak membalas dendam dikalahkan oleh dua orang pendeta ini.
Untuk mamenuhi keputusan hatinya, karena suami-isteri itu jaga pada saat ia datang telah menjadi tamu pula, maka untuk menambah keangkerannya.
dia menyambut mereka di luar, dan hanya dengan sekali menggerakkan sulingnya saja ia telah berhasil membunuh suami-isteri yang bernasib sial itu, kemudian melemparkan mayat-mayat itu ke pekarangan depan.
"Hemm, tosu bau! Tahu dari manakah kau telah mengenal nyonya besarmu?"
Bentak wanita itu.
"Ha-ha-ha-ha, nama buruk dan kotor itu siapakah yang tidak pernah mendengarnya? Hek-siauw Kui-bo! Boleh jadi dunia kang-ouw menggigil mendengar namamu, akan tetapi pinto, Siauw-bin-mo Hap Tojin selamanya paling benci kepada wanita kejam! Kau telah membunuh orang-orang yang tidak berdosa, hanya karena kau merasa penasaran dahulu berkali-kali dihajar setengah mampus oleh Yu Tiang Sin. Hayo sekarang kau coba bunuh kami berdua Tho-tee-kong Liong Losu dan Siauw-bin-mo Hap Tojin, dua orang sahabat baik Yu Tiang Sin!"
"Hu-hu-hu-hu! Kiranya kalian dua orang keledai yang sedikit terkenal namanya. Tidak usah kau minta, memang nyonya besarmu bermaksud akan membunuh kalian berdua!"
Baru saja habis ucapan ini, sudah tampak gulungan sinar hitam menyambar ke depan, langsung menyerang ke arah ulu hati si hwesio dan tenggorokan si tosu.
Dua orang pendeta yang berilmu tinggi ini terkejut sekali.
Biasanya, betapapun ringan senjata lawan, kalau dipergunakan untuk menyerang, tentu menimbulkan kesiuran angin.
Akan tetapi serangan wanita ini sama sekali tidak menimbulkan angin, juga tidak mengeluarkan suara dan hal ini hanya dapat dilakukan oleh orang yang telah mencapai ilmu lweekang yang luar biasa tingginya.
Namun mereka bukan orang lemah, diserang sehebat dan secepat itu mereka masih dapat menggerakkan senjata masing-masing untuk melindungi tubuh.
Hebatnya, suling itu tidak jadi menyerang ke sasaran semula, melainkan menyeleweng dan kini secara langsung tanpa gerakan memutar telah menotok ke arah pusar si tosu dan ke lambung si hwesio!
Kembali dua orang ini terkejut setengah mati, ia lalu melompat ke belakang untuk mengelak sambil memutar senjata.
Sementara itu Yu Lee yang tadinya menangis menggerung-gerung dan makin mengguguk oleh pengaruh suara suling melengking seperti tangis, begitu suara lengking berhenti tadi, tangisnyapun berkurang dan mulailah ia memperhatikan keadaan sekeliling.
Ketika ayahnya dan kedua orang pamannya menyerbu iblis betina itu, ia sudah menyelinap dan lari ke dalam rumah karena ia melihat si pelayan yang mengatakan sebelum roboh bahwa semua telah dibunuh iblis.
Yu Lee mengkhawatirkan nasib ibunya maka ia lari ke dalam.
Dapat dibayangkan betapa ngeri dan seperti disayat-sayat pisau rasa hatinya ketika ia melihat keadaan di dalam dan di belakang rumah orang tuanya, ibunya, para bibinya, saudara-saudara misannya, para pelayan, ayam, burung, kucing, dan anjing semuanya mati.
Semua mati dalam keadaan menyeramkan, mandi darah yang bercucuran dari mulut dan muka mereka semua berubah menjadi hitam.
Yu Lee menubruk ibunya, menjerit-jerit menangis, lari sana lari sini, menubruk sana menubruk sini, menangisi semua yang mati, tidak sadar bahwa muka dan bajunya sudah mandi darah mereka.
Mengerikan sekali keadaan di dalam rumah maut itu.
Ayah bundanya, dua orang sandaranya, dua orang pamannya, dua orang bibinya, tujuh orang saudara misannya, empat orang pelayan berikut semua kucing, anjing, ayam, burung, semua mati!
Yu Lee setelah memeluk mayat ibunya lalu bangkit berdiri dan dengan langkah terhuyung-huyung ia berjalan keluar sambil menangis.
"Iblis jahat""
Iblis jahat, kau harus mengganti nyawa...... uhuu...... uhu......!"
Yu Lee berjalan terus sampai di ruangan depan.
Pada saat itu pertandingan masih berjalan dengan seru dan tegang Tho-tee-kong Liong Losu memutar tongkatnya sampai terdengar angin menderu-deru, sedangkan Siauw-bin-mo Hap Tojin pedangnya berkelebatan seperti halilintar menyambar.
Namun, mereka berdua yang memiliki ilmu kepandaian yang tinggi ini ternyata tidak mampu menahan desakan dan tindasan segulung sinar hitam yang melayang-layang bergulung-gulung membuat lingkaran-lingkaran aneh sambil mengeluarkan bunyi melengking nyaring.
Suara inilah yang amat mengganggu kedua orang pendeta itu dan mengacaukan permainan senjata mereka.
Maklum bahwa iblis itu bertanding dengan maksud membunuh, Liong Losu dan Hap Tojin mengerahkan seluruh tenaga mengeluarkan seluruh kepandaian mereka.
Setelah keduanya bergabung dan membentuk benteng pertahanan barulah sinar hitam dapat dibendung bahkan kini mereka mendapat kesempatan untuk menggunakan waktu membalas satu dua kali serangan.
Kiranya letak rahasia kelihaian ilmu silat iblis betina itu adalah jika ia diserang, karena ia menghadapi setiap serangan lawan dengan balasan serangan yang lebih cepat sehingga ia mendahului lawan yang sudah terlanjur menyerang sehingga pertahanannya lemah.
Setelah kini kedua lawannya mempertahankan diri, iblis betina itu sukar untuk menembus benteng pertahanan lawan, malah ia menjadi agak repot karena kedua orang panderi itu kini menghadapinya dengan bekerja sama.
Jika Liong Losu, menyerang dengan tongkatnya, Hap Tojin yang melakukan pertahanan dan sebaliknya.
Jika iblis betina itu terlalu hebat serangannya mereka berdua melakukan pertahanan bersama.
Pada saat yang tak terduga-duga, terdengar jerit kemarahan dan tahu-tahu Yu Lee sudah meloncat dan menubruk iblis betina itu dari belakang merangkul leher dan tengkuknya.
"Aduh......! Eh, monyet kau minta mampus??"
Hek-siauw Kui-bo berteriak dan semua bulu di tubuhnya berdiri saking geli dan jengah.
Akan tetapi ketika ia hendak menggunakan suling atau tangan kiri untuk menghantam anak yang menggemblok di punggung merangkul leher dan menggigit tengkuknya dua orang pendeta itu sudah mendesaknya dengan hebat.
Liong Losu dan Hap Tojin yang melihat kenekatan Yu Lee, menjadi khawatir sekali setelah seluruh keluarga sahabat mereka dibasmi habis dan kebetulan sekali Yu Lee terlewat dan masih hidup, mereka berdua harus berusaha sedapat mungkin untuk menolong.
Keturunan Yu Tiang Sin yang tinggal seorang ini harus diselamatkan.
Mereka tahu bahwa sekali anak itu terkena hantaman tangan kiri atau suling iblis betina itu, tentu nyawanya takkan dapat ditolong lagi.
Oleh karena inilah, tanpa mempedulikan keselamatan sendiri, kedua orang pendeta itu melupakan pertahanan bersama, kini melakukan serangan bersama dengan dahsyat sekali.
Iblis betina itu benar-benar hebat.
Selain ilmunya amat tinggi, juga ia cerdik luar biasa.
Perhatianuya tadi telah terpecah kepada anak yang menggigit tengkuknya sehingga serangan dua orang lawannya itu kini benar-benar amat berbahaya.
Secepat kilat ia lalu membalikkan tubuhnya sehingga tubuh itu kini terlindung oleh tubuh Yu Lee yang menggemblok di punggung!
Tentu saja Hap Tojin dan Liong Losu kaget sekali dan menarik senjata masing-masing agar jangan mencelakakan Yu Lee.
Kesempatan ini dipergunakan oleh Hek-siauw Kui-bo untuk mengerahkan tenaga menggerakkan pinggulnya keras-keras dan......
tubuh Yu Lee mental terlempar cepat ke arah dinding dekat pintu depan.
Dapat dibayangkan betapa tubuh itu tentu akan hancur dan setidak-tidaknya remuk tulang-tulangnya terbentur begitu kerasnya pada dinding.
"Celaka......!"
Seru Hap Tojin yang tak keburu menangkis lagi.
Ia merendahkan diri mengelak.
Juga Liong Losu berusaha menyelamatkan diri dengan sebuah loncatan ke samping.
Namun gerakan mereka tak dapat mengatasi kecepatan sambaran suling hitam.
Hap Tojin yang merendahkan tubuh, terkena totokan pada pundaknya, sedangkan pada detik berikutnya, Liong Losu yang meloncat ke samping telah tertotok pinggiran pinggulnya.
Memang totokan itu tidak mengenai sasaran yang tepat, namun kehebatannya cukup membuat dua orang jago tua itu roboh pingsan!
Tubuh Yu Lee melayang dan tentu kepalanya bisa pecah karena ia meluncur dengan kepala di depan menuju ke pintu.
Akan tetapi pada saat anak ini sudah memejamkan mata menanti maut tiba-tiba sebuah lengan kurus terulur dan di lain saat tubuh Yu Lee telah diturunkan dengan selamat ke atas lantai.
"Kau duduklah di sini dan lihat aku menghajar iblis itu!"
Kata seseorang yang bukan lain adalah si kakek pengemis bertopi lebar yang sore harinya baru saja datang berkunjung sebentar bukan untuk berkabung atau mengemis, kemudian mencela perdebatan antara Hap Tojin dan Liong Losu lalu pergi lagi.
Dari bawah topi lebar itu Yu Lee melihat sepasang mata yang memandangnya dengan tajam, penuh pengaruh luar biasa sehingga sebelum ia tahu apa yang harus ia lakukan, tubuhnya sudah mendeprok ke bawah dan duduk di atas lantai seakan-akan tubuhnya itu tidak dapat ia kuasai lagi, melainkan tunduk akan perintah kakek pengemis ini.
Kini kakek pengemis itu dibantu tongkatnya yang butut terseok-seok maju menghampiri iblis betina yang sibuk menggosok-golok tengkuknya.
Tengkuk yang berkulit putih halus itu robek dan berdarah oleh gigitan Yu Lee.
Begitu banyak darahnya mengucur keluar sampai membasahi baju hitam di bagian leher dan punggung.
Melihat ini Hek-siauw Kui-bo menjadi marah sekali.
"Hemmm, masih terlewat seorang cucu tua bangka Yu yang ganas seperti monyet? Tua bangka Yu agaknya arwahmu yang menuntun cucumu itu untuk melawan dan menghinaku. Akan tetapi, dia ini akan mampus dalam keadaan lebih mengerikan dari pada yang lain-lain!"
Setelah berkata demikian, perlahan-lahan Hek-siauw Kui-bo memasukkan belasan batang jarum yang halus sekali ke dalam suling hitamnya mendekatkan suling ke mulut lalu meniupnya ke arah Yu Lee yang masih duduk bersila di sudut ruangan itu.
"Siuuttt!"
Dari lubang suling itu tampak sinar hijau berkelebat ke arah Yu-Lee.
Akan tetapi sebelum mengenai Yu Lee, sinar itu tiba-tiba menyeleweng ke kiri dan semua jarum menancap lenyap masuk ke dalam dinding sebelah kiri!
Hek-Siauw Kui-bo marah sekali, ia mengalihkan pandang kepada kakek pengemis yang dengan dorongan tangan berhasil menyelewengkan jarum-jarumnya.
Hek-siauw Kui-bo adalah seorang tokoh kang-ouw kenamaan ditakuti semua orang, karena kelihaiannya maka ia menjadi sombong sekali.
Tadi ia tentu saja sudah melihat betapa anak yang sudah menggigit itu ditolong oleh si kakek pengemis ketika akan terbanting ke dinding.
Akan tetapi, ia sama sekali tidak memandang mata kepada kakek itu dan bersikap seolah-olah kakek pengemis itu tidak berada di situ.
Tadinya ia mengira bahwa kakek itu menolong Yu Lee karena kasihan, bukan bermaksud memusuhinya.
Akan tetapi setelah jarum-jarumnya dipunahkan, baru ia maklum bahwa kembali ada orang berani berlancang tangan dan mencari mampus!
"Hemmm jembel tua bangka yang busuk!
Untuk menyambung hidupmu, engkau rela mengemis ke mana-mana.
Setelah hidupmu tersambung mengapa sekarang menjadi bosan hidup dan mencari mampus?
Tidak tahukah, engkau dengan siapa engkau berhadapan?"
Sikap wanita berwatak iblis ini angkuh sekali dan ia tidak segera turun tangan membunuh karena ia merasa terlalu rendah dan memalukan kalau harus membunuh seorang kakek yang saking tuanya sudah mau mati ini.
Kakek pengemis itu memandang dari bawah topinya yang lebar dan Hek-siauw Kui-bo bergidik menyaksikan sinar mata yang begitu tajam dan yang seakan-akan dapat menembusi mataya dan menjenguk isi hatinya.
Untuk mengusir rasa seram ini ia segera menghardik.
"Tua bangka! Lekas mengaku siapa engkau dan apa hubunganmu sama tua bangka she Yu, agar aku dapat mengambil keputusan dahulu, setelah mempertimbangkan apakah engkau layak dibunuh atau tidak!"
Benar-benar sombong kata-kata ini. Akan tetapi kakek itu sama sekali tidak menjawab, bahkan segera mendekat dan menoleh kepada Yu Lee sambil berkata.
"Bocah tahukah kau siapa dia yang membasmi semua keluargamu ini?"
Yu Lee mengangkat muka memandang kepada si iblis betina dengan sinar mata menyala-nyala penuh kebencian.
"Siapa lagi kalau bukan iblis betina yang tadi namanya disebut Hek-siauw Kui-bo ini, locianpwe (orang tua gagah)?"
"Engkau betul. Dia ini si iblis betina yang ganas dan keji lagi pula pengecut dan hanya berani membunuh orang-orang yang bukan lawannya. Kebetulan sekali aku si tua bangka paling benci segala macam iblis, maka telah menciptakan ilmu tongkat Ta-kui-tung-hwat (Ilmu Tongkat Pemukul Iblis). Sejak tadi, dada Hak-siauw Kui-bo serasa dibakar saking panas dan marah. Ia tidak mamandang sabelah mata kepada kakek jembel itu, sekarang siapa kira, mendengar namanya kakek ini bukannya takut, bahkan lebih-lebih tidak memandang mata kepadanya, malah berani menghina dan memakinya iblis cilik segala! Ia seorang yang sombong dan angkuh, siapa kira di tempat ini bertemu batunya. Kakek pengemis itu agaknya lebih angkuh dan lebih sombong darinya! "Jembel tua bangka buruk! Engkau membuka mulut lebar-lebar? Engkau tidak melihat Siauw-bin-mo Hap Tojin dan Tho-tee-kong Liong Losu itu. Mereka adalah tokoh besar, akan tetapi karena berani menentang kau lihat buktinya. Engkau ini tua bangka jembel lekas sebutkan nama agar aku tahu siapa yang kubunuh kali ini!"
Namun si kakek ini sama sekali tidak meladeninya melainkan terus berkata pula kepada Yu Lee dengan sikap sama sekali tak menghiraukan si iblis yang kini sudah makin dekat.
"Eh, bocah baik, siapakah namamu?"
"Locianpwe, boanpwe (saya yang rendah) bernama Yu Lee."
"Engkau masih kecil sudah tahu aturan, itu bagus. Tidak seperti iblis cilik ini yang kurang ajar, terhadap seorang kakek seperti aku Han It Kong masih banyak lagak!"
Kakek itu lalu membuang ludah ke bawah, akan tetapi menuju ke arah Hek-siauw Kui-bo dan tepat jatuh ke atas lantai di depan kakinya.
Hampir meledak rasa dada iblis betina itu saking marahnya.
Baru kali ini selamanya ia merasa dihina dan tidak dipandang sebelah mata secara keterlaluan sekali.
Ia mengingat-ingat namun tidak merasa kenal dengan nama Han It Kong.
"Jembel busuk, aku akan membuat kau mati dengan tubuh hancur!"
Bentaknya dan sambil berteriak yang menyerupai bunyi lengking atau lolong srigala.
Hek-siauw Kui-bo menerjang maju.
Sulingnya berkelebat menjadi sinar hitam, mengeluarkan bunyi mengerikan sebagai imbangan teriakannya tadi.
Saking marahnya, ia telah mengeluarkan pukulan maut yang paling berbahaya terhadap diri kakek tadi.
Namun kakek yang mengaku bernama Han It Kong itu dengan sikap tenang sekali menyambut terjangan dahsyat itu.
Tubuhnya tak tampak berkisar dari tempatnya, juga kedua kakinya tetap berdiri tegak.
Hanya tangan kanannya yang memegang tongkat itu bergerak membuat lingkaran-lingkaran beberapa kali di depan tubuhnya dan......
suling hitam Hek-siauw Kui-bo tidak dapat maju lagi.
Iblis betina ini berseru keras karena merasa seakan-akan suling hitamnya terbetot dan dikuasai gerakan lawan karena di luar kehendaknya, tangannya yang memegang suling itu sudah ikut membuat lingkaran-lingkaran meniru gerakan kakek itu.
Hek-siauw Kui-bo mengeluarkan pekik kaget sambil mengerahkan tenaga membetot sulingnya.
Kali ini ia berhasil menghendaki gerakannya yang otomatis itu akan tetapi sebelum ia sempat melompat mundur, terdengar suara.
"plak"
Dan pinggulnya yang besar telah kena dihajar oleh tongkar si kakek itu sampai terasa pedas dan panas! "Yu Lee, kau lihat iblis kecil telah kena dihajar satu kali oleh Ilmu tongkat pemukul iblis!"
"Bagus! Harap hajar lagi sampai mampus locianpwe!"
Yu Lee bersorak lupa akan kedukaannya dan bergembira menyaksikan musuh besar ini pantatnya dipukul sampai mengeluarkan bunyi nyaring.
Hek-siauw Kui-bo memuncak kemarahannya, namun ia berhati-hati.
Tongkat itu menghantam dari depan bagaimana bisa mengenai pantatnya yang berada di belakangnya?
Benar-benar ilmu tongkat yang luar biasa sekali.
Akan tetapi karena sedikitpun ia tidak terluka oleh pukulan itu, hatinya menjadi besar dan menganggap bahwa kakek aneh ini hanya memiliki ilmu silat yang lihai, akan tetapi tidak memiliki tenaga yang besar.
Sambil berteriak menyeramkan ia menerjang lagi, kini sulingnya membuat gerakan aneh dan cepat sekali sehingga dalam sekali serangan itu ia telah melakukan totokan terhadap semua jalan darah di tubuh lawan.
Bukan sembarang totokan, melainkan totokan maut.
Satu saja di antara totokan bertubi ini mengenai sasaran, berarti nyawa lawan tercabut.
"Ilmu yang keji dan rendah!"
Kakek itu berseru akan tetapi tidak bergerak dari tempatnya. Hanya tongkat bambunya yang kini menyambar-nyamhar ke depan dan terdengar suara....
"tak, tok, tak, tok,"
Tujuhbelas kali dan semua totokan Hek-siauw Kui-bo yang amat lihai itu dapat ditangkis.
Pada totokan terakhir, samhil menangkis, tongkat itu mendadak melanjutkan dengan gerakan mengait dan.....
suling itu telah kena terkait dan terlepas dari tangan Hek-siauw Kui-bo karena ketika mengait ujung tongkat menotok telapak tangan yang memegang suling sehingga iblis betina itu terpaksa melepaskan sulingnya.
Hek-siauw Kui-bo mengeluarkan jerit keras dan tiba-tiba tangan kirinya bergerak menyambar dan mencengkeram ke arah anggauta kemaluan kakek itu.
"Manusia rendah tak tahu malu!"
Kakek itu terkejut juga dan cepat menangkis dengan tangan kiri.
Kiranya Hek-siauw Kui-bo melakukan serangan ganas dan rendah ini dengan maksud mengalihkan perhatian karena di detik berikutnya, tangan kanannya sudah dapat merampas kembali, sulingnya yang tadi menempel pada ujung tongkat lawan.
"Pintar juga kau!"
Kata si kakek, akan tetapi sambil berkata demikian, tongkatnya bergerak aneh dan.
"plokk!"
Sekali lagi pantat yang besar itu sudah dihajar tongkat lagi. Padahal si iblis betina sudah melompat cepat untuk menghindar, namun sia-sia, tetap saja ia mengalami penghinaan ini.
"Huah, ha, ha, ha! Pantatnya tidak kalah tebal dengan mukanya! Gaplok yang keras lokai (jembel tua)!"
Tiba-tiba terdengar suara tertawa-tawa dan ternyata itu adalah suara Siauw-bin-mo Hap Tojin yang sudah sadar dari pingsannya dan kini masih rebah sambil menonton pertandingan yang aneh itu.
Dapat dibayangkan betapa marahnya Hek-siauw Kui-bo.
Akan tetapi disamping rasa marah dan penasaran iapun terheran-heran akan kesaktian kakek ini.
Mendengar ejekan si tosu, kemarahannya meluap-luap dan diam-diam ia memasukkan jarum-jarum beracun ke dalam sulingnya, lalu untuk ketiga kalinya ia menyerang lagi dengan gerakan sulingaya yang melenggak-lenggok seperti ular, sukar sekali diduga ke mana suling itu hendak menyerang.
Mendadak terdengar suara mendesis halus dan sinar hijau menyambar dari lubang suling meluncur ke arah sembilan jalan darah terpenting dari tubuh Han It Kong sedangkan suling hitam itu sendiri berperak-gerak menutup jalan keluar di sekitar tempat kakek itu berdiri.
Dengan demikian maka kakek ini diserang oleh jarum-jarum berbisa tanpa dapat mengelak karena tak ada lubang lagi untuk jalan keluar.
Akan tetapi Han It Kong memang tidak mau mengelak, bahkan kini tongkatnya bergerak secara aneh mengejar bayangan suling dan ia sama sekali tidak perduli akan sinar hijau yang menyerbu ke arah sembilan pusat jalan darah di tubuh depan.
"Tua bangka sombong, mampus kau?"
Teriak si iblis betina kegirangan ketika ia melihat betapa semua jarum rahasianya mengenai sasaran secara tepat sekali.
"Praakkk"". Plookkk!"
Suara ini adalah suara pecahnya suling hitam disusul pukulan ketiga kalinya pada pinggul yang penuh daging, sehingga saking kaget dan nyeri si wanita iblis menjerit dan loncat jauh ke belakang.
Dengan mata terbelalak dan muka pucat ia memandang.
Kakek itu sama sekali tidak apa apa dan sembilan batang jarumnya semua runtuh ke tanah begitu mengenai tubuh Han It Kong.
Sebaliknya suling hitamnya kena dipukul pecah berantakan dan pinggulnya kembali kena dihajar.
"Tua bangka busuk, engkau telah menghina orang! Biar aku mengadu nyawa denganmu hari ini!"
Setelah mengeluarkan seruan bercampur isak ini Hek-siauw Kui-bo menubruk ke depan, mengembangkan kedua tangannya seperti harimau menerkam.
"Perempuan keji. Engkau masih berani bertingkah di depan Ong-ya?"
Suara kakek itu menjadi keren dan galak, tangan kirinya bergerak ke depan dan .....
tubuh iblis betina itu seperti terbanting oleh tenaga dahsyat ke kiri, jatuh bergulingan di atas tanah!
Ketika ia bangun sambil mengeluarkan rintihan perlahan.
Wanita itu memandang dengan mata terbelalak.
"Apa...... apakah saya berhadapan dengan".. Siauw-ong-ya (Raja Muda) Han It Kong yang berjuluk Sin-kong-ciang (Tangan Sinar Sakti)?"
"Tidak ada raja muda, yang ada sekarang hanya si jembel Han It Kong,"
Jawab kakek itu.
"Engkau tidak lekas pergi dari sini?"
Hek-siauw Kui-bo menjura dan berkata.
"Kali ini aku mengaku kalah, kelak masih ada waktu untuk mengadakan perhitungan lagi."
Setelah berkata demikian, iblis betina itu melompat dan terus menghilang ke dalam kesuraman fajar yang mulai menyingsing.
Dari kejauhan terdengar lengking tangis yang makin lama makin menjauh dan akhirnya menghilang.
Siauw-bin-mo Hap Tojin dan Tho-tee-kong Liong Losu yang telah sadar pula dari pingsannya, kini melangkah maju dan memberi hormat kepada kakek jembel itu.
"Sudah sejak muda pinto mendengar nama besar Sin-kong-ciang Han-siauw-ongya, baru sekarang dapat melihat orangnya dan menyaksikan kesaktiannya. Sungguh pinto merasa takluk dan terimalah hormat dari Siauw-bin-mo Hap Tojin, Ong-ya!"
Kata si tosu.
"Omitohud! Sebelum mati. dapat bertemu muka dengan patriot besar Han tayhiap, sungguh merupakan kebahagiaan hidup!"
Tho-tee-kong Liong Losu juga berseru memberi hormat. Kakek jembel itu menghela napas panjang, mukanya tersembunyi di bawah topi yang lebar itu. Kemudian terdengar suaranya bernada sedih.
"Biarpun baru sekarang bertemu jiwi (tuan berdua) namun sepak terjang jiwi disamping Yu-sicu sudah lama saya dengar, perjuangan kita boleh gagal seperti sudah ditakdirkan Tuhan, namun selama semangat kita masih hidup menurun kepada anak cucu dan murid, pada suatu hari akan tiba saatnya kaum penjajah Mongol dapat terusir dari tanah air!"
Ia menghela napas lagi dan memandang ke arah peti mati Yu Tiang Sin.
"Yu-sicu banyak jasanya terhadap rakyat dan negara, sayang ia terlampau banyak menanam permusuhan pribadi. Jiwi sudah berusaha sekuat tenaga menyelamatkan keluarganya, tidak percuma Yu-sicu bersahabat dengan jiwi. Sayang sekali kedatangan saya terlambat sehingga tidak dapat mencegah terjadinya pembunuhan-pembunuhan ini. Sungguh saya merasa tidak enak terhadap arwah Yu-sicu. Untuk menebus kelalaian, biarlah saya menghabiskan sisa usia yang tak seberapa lama lagi ini untuk memberi bimbingan cucunya yang tinggal seorang ini. Yu Lee hayo ikut bersamaku!"
Kakek ini mengulurkan tangan kiri dan entah bagaimana, tubuh Yu Lee tahu-tahu sudah melayang dan berada dalam pondongannya.
Kemudian, sekali kakek itu menggerakkan kakinya tubuhnya sudah lenyap dari depan Siauw-bin-mo Hap Tojin dan Tho-tee-kong Liong Losu!
"Ha, ha, ha!
Tua bangka Yu Tiang Sin biarpun kehilangan semua keluarganya namun benar-benar masih bernasib baik.
Seorang cucunya, yang tinggal satu-satunya telah menjadi murid Sin-kong-ciang!"
"To-yu (sabahat), bagaimana kau masih bisa mengatakan sahabat kita Yu Tiang Sin bernasib baik kalau semua anak cucunya dibasmi seperti ini?"
Tho-tee-kong Liong Losu mencela sambil mengeluarkan obat untuk ditelan dan memunahkan hawa beracun akibat totokan suling hitam itu, juga kepada si tosu ia memberi sebutir obat pulung yang diterima oleh temannya tanpa berterima kasih lagi.
"Liong Losu betapa dia tidak bahagia? Bandingkan saja dengan kau atau pinto. Secuil daging setetes darahpun diluar tubuh kita tidak punya. Sedangkan tua bangka Yu masih mempunyai saorang cucu yang biarpun cengeng akan tetapi menjadi murid Sin-kong-ciang! "Ha, ha, ha, belasan tahun lagi kalau kita tidak sudah mampus, tentu akan terbuka mata kita menyaksikan sepak terjang seorang pendekar muda yang sakti akan tetapi".. cengeng!"
"Omitohud! To-yu, engkau terlalu memandang rendah anak itu. Tidakkah jelas nampak sifat-sifat baik kepadanya? Sinar matanya tajam berpengaruh, nyalinya lebih besar dari pada kita, berani dia menyerang Hek-siauw Kui-bo! Kelak tentu Hek-siauw Kui-bo takkan dapat banyak tingkah lagi di depannya."
"Ah, dasar Sin-kong-ciang Han It Kong yang bekerja kepalang tanggung. Iblis macam itu. kenapa tidak dibunuh saja?"
"To-yu, hal begitu saja mengapa kau masih mengherankan? Han taihiap adalah seorang cianpwe yang tingkatnya sudah amat tinggi. Mana dia sudi mengotorkan tangan dengan pembunuhan, apalagi membunuh seorang yang dia anggap hanya seorang iblis cilik seperti Hek-siauw Kui-bo? Disamping Han It Kong taihiap terkenal sebagai patriot sejati dan hanya terhadap kaum penjajah ia mau membunuh tanpa perhitungan lagi. Sedangkan Hek-siauw Kui-bo adalah bangsa sendiri, biarpun jahat akan tetapi urusannya dengan Yu-kiam-sian adalah urusan prihadi. Tentu saja akan dianggap tidak adil kalau Han It Kong taihiap mencampuri dan menurunkan tangan maut."
"Ha, ha, ha, ha! Engkau dan dia terlalu banyak pakai aturan, Liong Losu. Hari ini kita berdua mendapat kenyataan bahwa kepandaian kita sama sekali tidak ada harga. Akan tetapi kalau seorang berilmu seperti Han It Kong masih ingin meninggalkan kepandaiannya kepada seorang murid apakah kita harus bersikap kikir dan membawa kepandaian kita yang tidak seberapa ini bersama ke dalam neraka?"
"Omitohud! Harap To-yu jangan bicara tentang neraka. Mengerikan! Akan tetapi pendapatmu itu benar. Pinceng juga pikir lebih baik mengundurkan diri dan memilih murid-murid yang baik."
Dua orang pandeta itu lalu pergi dari situ menjelang pagi.
Sunyi sepi di rumah keluarga Yu itu.
Sunyi yang mengerikan.
Mayat-mayat orang berserakan dari ruangan depan sampai tengah dan belakang, darah berceceran.
Ngeri menyeramkan.
Peristiwa yang akan menggegerkan dusun Ki-bun, akan tetapi yang akan membuat para penduduk Ki-bun selalu berada dalam keheranan dan dugaan-dugaan yang tak pernah akan dapat dibuktikan kehenarannya.
Akan tetapi mereka semua tahu bahwa ada seorang cucu kakek Yu yang tidak diketemukan mayatnya bersama anggauta keluarga lain, yaitu Yu Lee.
Namun tak seorangpun di antara mereka dapat menduga ke mana perginya anak berusia delapan tahun itu, seperti juga mereka tak dapat menduga siapa yang melakukan pembunuhan dan pembasmian keji terhadap seisi rumah keluarga Yu.
Lima belas tahun kemudian!
Pagi hari itu amat ramai di dalam rumah makan "Lok-nam"
Di kota Ho-pak yang besar dan banyak dikunjungi pedagang dari luar kota.
Lok-nam adalah rumah makan terbesar di kota Ho-pak, terkenal dengan masakan-masakannya yang lezat dan beraneka macam.
Banyak masakan yang tak ada di rumah makan lain, dapat dipesan di Lok-nam, diantaranya sop buntut menjangan, kuwah daging ular goreng, kodok gulai, yang besarnya seperti ayam.
Tidak lupa tim cakar bebek yang lezat, gurih dan kenyil-kenyil.
Semua itu kalau dimakan dengan dorongan arak Hang-ciu yang harum dan keras, dapat membuat orang jadi lupa segala.
Bahkan ada yang bergurau mengatakan bahwa walaupun ada mertua lewat lupa untuk ditawari!
Baru setelah perut jadi gendut, orang akan menjadi "sakit gigi"
Karena rekening yang bisa menguras isi kantung, ditambah lagi oleh bahaya sakit perut!
Memang biasanya rumah makan Lok-nam selalu ramai, karena pemiliknya pandai berusaha.
Di sebelah rumah makan ini pemiliknya membuka sebuah po-koan (rumah judi) dan inilah yang membuat rumah makan itu selalu jadi ramai.
Mereka yang menang berjudi biasanya amat royal menghamburkan uang.
Di pagi hari itu sudah banyak orang makan di dalam restoran Lok-nam.
Karena belasan orang yang menjadi tamu restoran itu kesemuanya adalah laki-laki juga para pelayan dan pengurus semuanya laki-laki, riuh rendah suara orang bergurau di situ.
Omongan-omongan kotor dan cabul diselingi gelak tawa mengotori hawa bersih yang masuk dari luar.
Apalagi pada saat itu terdapat lima orang jagoan atau tukang pukul rumah judi yang sedang dijamu oleh seorang tamu yang malam tadi berhasil mendapat kemenangan besar dalam perjudiaan.
Mereka berlima ini bicara riuh rendah tentang pelacur-pelacur di kota Ho-pak seperti orang membicarakan kelezatan bermacam-macam masakan saja.
Tanpa ditutup-tutupi blak-blakan dan tidak ada rahasia sehingga para tamu lain yang mendengarkannya ikut-ikutan tersenyum.
Telinga laki-laki memang paling suka mendengarkan percakapan semacam itu.
Derap kaki kuda yang berhenti di depan rumah makan tidak menarik perhatian mereka yang tengah bergurau.
Akan tetapi ketika penunggangnya melompat turun dari atas kuda, menyerahkan kuda kepada penjaga di luar kemudian melangkah masuk ke dalam restoran, serentak semua percakapan berhenti dan semua mata, termasuk mata pelayan dan pengurus restoran, memandang ke arah orang yang baru masuk itu dengan pandang mata kagum dan penuh gairah.
Wanita itu masih muda, kiranya tidak lebih dari duapuluh lima tahun usianya.
Pakaiannya serba merah, merah muda.
Dan tali rambutnya sampai pakaiannya dari sutera tipis sehingga terbayang pakaian dalam merah tua, dan sepatunya yang kecil, semuanya berwarna merah muda.
Hanya pakaiannya karena membayangkan pakaian dalam merah itu, tampak lebih terang warnanya.
Rambutnya hitam panjang, wajahnya berbentuk bulat telur dengan kulit muka yang sudah halus putih itu menjadi lebih menarik karena bedak dan gincu (pemerah) tipis-tipis.
Sepasang matanya lebar amat tajam pandang matanya, hidung kecil mancung dan mulut yang berbentuk indah dan selalu mengulum senyum.
Dari sudut mata yang meruncing disertai kerling tajam dan sudut bibir yang mengulum senyum penuh daya tariknya inilah terbayang sifat wanita yang berdarah panas, bernafsu dan romantis.
Pendeknya seorang wanita yang muda belia yang cantik jelita dan manis dengan bentuk tubuh yang menggairahkan.
Scorang pelayan muda agaknya lebih cepat sadar daripada teman-temannya yang masih terlongong.
Ia cepat lari menghampiri wanita ini dan sambil membungkuk-bungkuk berkata.
"Selamat pagi, nona. Silakan duduk, di sebelah kiri itu masih banyak meja kosong, silakan....!"
Gadis cantik itu mengangkat muka, menyapu ruangan restoran dengan pandang matanya yang tajam kemudian mengebut-ngebut pakaiannya di bagian paha dan pinggang untuk membersihkan debu, dan mengikuti pelayan itu ke sudut ruangan sebelah kiri di mana terdapat beberapa meja yang masih kosong.
Sapuan pandang matanya tadi membuat ia tahu bahwa dirinya menjadi pusat perhatian semua orang, akan tetapi ia tidak mengacuhkan hal ini dan bersikap seolah-olah di tempat itu tidak ada orang yang memandangnya.
Ia berkata kepada pelayan yang sambil tersenyum-senyum membersihkan meja di depan nona itu dengan sehelai kain yang selalu tersampir di pandaknya.
"Keluarkan arak hangat yang paling baik lebih dulu."
Suaranya nyaring namun merdu, dan bening.
Si pelayan cepat pergi untuk melayani permintaannya.
Ketika pelayan datang membawa arak hangat, nona itu memesan beberapa masakan kemudian setelah pelayan pergi mulai minum arak dari guci arak.
Berturut-turut ia minum tiga cawan arak penuh dan caranya minum jelas membuktikan bahwa nona ini kuat minum dan sudah biasa.
Hal ini tentu saja membuat semua orang menjadi heran.
Nona itu kelihatannya bukan seorang nona kang-ouw (dunia persilatan) yang biasa merantau dan biasa pula hidup menghadapi kekerasan dan kesukaran, biasa pula minum arak.
Pakaiannya begitu mewah, tak tampak membawa senjata.
Satu-satunya hal yang membayangkan bahwa dia seorang nona perantau adalah kedatangannya yang menunggang kuda dan kenyataan bahwa ia seorang nona yang asing suaranya, bicara seperti orang utara.
Melihat nona cantik jelita memasuki restoran seorang diri, kumatlah perangai gila-gilaan lima orang jagoan dari Lok-nam po-koan (rumah judi Lok-nam) yang sudah setengah mabok itu.
Kalau tadi mereka bercakap-cakap tentang pelacur-pelacur tanpa memperdulikan tata susila, (Lanjut ke
Jilid 03) Pendekar Cengeng (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 03 sekarang malah mereka sengaja memperkuat suara mereka.
bicara tentang hal-hal yang cabul dan mesum!
Para tamu lainnya yang masih mengenal kesopanan, merasa tidak enak hati dan malu kepada wanita muda itu.
Diam-diam mereka memikir dan memperhatikan.
Akan tetapi aneh sekali, si nona pakaian merah itu enak-enak saja minum dan makan masakan yang dihidangkan.
Seakan-akan semua percakapan cabul itu tidak terdengar olehnya atau seperti terdengar sebagai percakapan lumrah saja.
Sudah lajimnya laki-laki yang berwatak kasar, ketika lima orang jagoan melihat nona itu masih makan minum sambil berseri wajahnya seakan-akan tidak terjadi apa-apa, mereka menjadi makin berani dalam usaha mereka membangkitkan reaksi pada wanita muda belia yang cantik itu.
"Ah, A-cong,"
Terdengar seorang di antara mereka yang mukanya berlubang-lubang bekas penyakit cacar mencela kawannya yang bermuka kuning.
"Semua ceritamu tentang pelacur-pelacur itu tidak ada gunanya. Betapapun cantik manis wajah mereka, namun mereka itu tiada lain hanyalah bunga-bunga layu yang tak menarik lagi, bunga-bunga yang sudah dipetik dari tangkainya. Berilah aku setangkai bunga segar yang masih berada di pohonnya, hemmm....... bunga merah yang masih mekar di hutan bermandikan embun pagi"".. ambooii, akan kucampakkan bunga-bunga layu yang tak berharga itu!"
"Ha-ha-ha, Lui-heng (kakak Lui), pagi ini tiba-tiba kau menjadi pintar bicara yang muluk-muluk! Awas, Lui-heng, mawar merah banyak durinya!"
Lima orang itu tertawa-tawa sambil memandang ke arah nona itu secara terang-terangan. Si muka bopeng she Lui itu lalu bangkit berdiri, mengebut-ngebutkan jubahnya dan tertawa.
"Ha-ha-ha-ha, oleh sebab berduri itu maka semakin menarik. Tiada bunga yang tak merindukan kumbang! Makin banyak kumbang mendekatinya, makin bangga hatinya. Aku rasa bunga merah ini tak terkecuali. Biarlah aku menjadi kumbang pertama menghampirinya, kalau perlu boleh tertusuk duri asal kemudian mendapatkan hadiah madu. Ha-ha-ha!"
Dengan langkah, tidak tetap karena terlalu banyak minum arak, si muka bopeng ini menghampiri meja nona itu, kemudian dengan sikap dibuat-buat ia menjura dan berkata.
"Nona yang cantik seperti dewi, bolehkah saya menemani nona minum arak?"
Para tamu mulai merasa khawatir dan sebagian dari pada mereka sudah cepat-cepat membayar dan meninggalkan tempat itu.
Namun ada pula yang sengaja hendak menonton keributan dengan hati berdebar tegang.
Pada masa itu, teguran yang dilakukan seperti si muka bopeng itu adalah pelanggaran tata susila yang besar dan setiap orang wanita yang ditegur laki-laki asing seperti itu, tentu akan menjadi marah.
Kalau tidak memaki tentu segera meninggalkan penegur itu tanpa mengacuhkannya.
Dan mereka ingin sekali melihat sikap bagaimana yang akan diambil nona yang cantik itu.
Akan tetapi mereka kecelik.
Nona itu memoleh dan tersenyum lebar.
"Mau menemani aku minum? Boleh, duduklah asal engkau sanggup menghabiskan seguci arak wangi sekali minum!"
Sikap dan sambutan kata-kata nona tidak hanya mengherankan semua tamu, bahkan si muka bopeng sendiri melongo keheranan.
Tadinya ia mengira kalau wanita itu akan marah-marah serta memakinya dan ia akan menggodanya.
Siapa kira, nona ini menerimanya baik-baik bahkan menyuruhnya duduk dengan syarat supaya ia menghabiskan seguci arak sekali minum!
Ia menoleh ke arah kawan-kawannya yang menyeringai lebar lalu tertawa.
"Ha-ha-ha-ha, nona manis. Seguci arak bagi aku orang she Lui bukan apa-apa dan sanggup menghahiskannya sekali minum asal""". Nona menemani aku minum dan menghabiskan seguci juga. Jadi sama-sama itu namanya rukun dan serasi. Bukankah begitu?"
Sambil tertawa si muka bopeng ini mengira bahwa ia telah mengalahkan si nona dengan tantangannya.
Tentu sekarang nona itu akan menolak dan marah-marah, baru ia akan menggodanya.
Akan tetapi kembali ia melongo.
Dengan sikap tenang nona itu menggapai memanggil pelayan.
"Pelayan bawa ke sini dua guci penuh arak yang paling tua dan harum serta paling keras. Biar mahal asal keras dan awas, jangan membohongi aku, aku mengenal arak baik!"
Pelayan itu yang menganggap semua ini sebagai lelucon yang menguntungkan restoran, segera lari menuju ke gudang dan mengambil dua guci arak simpanan.
"Duduklah, bopeng. Aku terima tantanganmu, kita masing-masing minum seguci arak!"
Kata nona itu. Ucapannya begitu wajar sehingga orang she Lui yang dipanggil "bopeng"
Ini tidak menjadi tersinggung, apalagi ia sudah mulai terheran-heran. Sementara itu, empat orang jagoan lainnya menjadi gembira menyaksikan perkembangan ini.
"Wah, Lui-heng benar-benar-bernasib baik sekali pagi hari ini!"
Teriak seorang.
"Tentu malam tadi bermimpi memangku bulan purnama!"
Teriak yang lain.
Juga para tamu, para pelayan lain bahkan para pengurus restoran kini semua menonton dua orang yang duduk berhadapan dan hendak mengadu kekuatan minum arak, seorang nona muda belia yang cantik jelita dan seorang laki-laki yang terkenal jagoan, tukang pukul dan penjaga keamanan di Lok-nam Po-koan, sungguh lawan yang sama sekali tak seimbang!
Dan tantangan nona itu benar luar biasa sekali.
Meminum seguci arak sekali tenggak bukanlah hal yang mudah dilakukan setiap orang biasa.
Bahkan si muka hopeng sendiri tidak sanggup malakukan hal ini.
Dikarenakan saja si nona juga mau menemani minum seguci, maka ia menjadi malu untuk mundur dan menduga bahwa nona ini tak bakal dapat menghabiskan seguci arak sekali minum!
Ketika dua guci arak datang dan dibuka, baunya keras menyerang hidung.
Arak tua yang keras bukan main!
Nona itu mengembang-kempiskan hidungnya dan berkata sambil tersenyum lebar sehingga tampaklah deretan gigi putih hersih seperti mutiara.
"Arak baik sekali! Nah, kau bilang hendak menemani aku minum, bukan? Hayo kita minum!"
Sambil berkata begitu si nona terus mengambil seguci arak dan membawa ke mulutnya sambil melirik si muka bopeng.
Orang she Lui itu mulai kaget.
Iapun mengambil arak di depannya, akan tetapi tidak segera membawa ke mulutnya.
"Nona, betulkah kau bisa menghabiskan arak seguci itu sekali minum?"
"Mengapa tidak?"
"Ah, mana bisa aku percaya.......?"
"Hemmm, kau mau menemaniku atau tidak? Kalau tidak sanggup, bilang saja dan lekas pergi dari sini!"
Tentu saja si muka bopeng tidak mau menjadi bahan ejekan orang. Ia membusungkan dada dan berkata.
"Siapa bilang aku tidak sanggup, hanya aku tak percaya engkau mampu melakukannya. Kalau engkau sekali minum dapat menghabiskan seguci arak itu, barulan aku percaya dan arak itu pun akan kuminum habis sekali tengggak."
Wanita itu tersenyum dingin.
"Biarlah, betapapun juga kau takkan mampu menarik kembali janjimu."
Setelah berkata demikian, nona baju merah itu lalu mulai minum araknya.
Lehernya panjang dan berkulit putih halus.
Kini leher itu bergerak-gerak naik turun ketika terdengar suara menggelogok-gelogok dan arak dari dalam guci tertuang masuk melalui kerongkongannya, semua orang memandang dengan mata terbelalak.
Tak seorangpun di antara semua laki-laki yang hadir sanggup melakukan hal itu.
Seguci arak itu paling sedikit ada duapuluh cawan, cukup untuk diminum lima orang.
Biarpun banyak orang mampu menghabiskan seguci arak akan tetapi diminum secawan demi secawan bukannya langsung menenggak dari guci sampai habis tanpa berhenti.
"Hayo minumlah arakmu!"
Kata nona itu setelah menaruh guci kosong di atas meja dan menggunakan sehelai saputangan sutera merah menghapus bibirnya.
Mukanya tetap tenang, tetap kemerahan kedua pipinya, sama sekali tidak memperlihatkan pengaruh arak yang sekian banyaknya itu.
Si muka bopeng mulai menoleh kanan kiri.
Melihat wajah-wajah orang tersenyum memandang ke arahnya.
Ia merasa malu kalau sama sekali tidak meminum araknya.
Biarlah ia minum sekuatnya, seperempat atau sepertiga guci kemudian berbenti dan melayani tuntutan nona ini dengan godaan, demikian pikirnya, dengan lagak dibuat-buat si muka bopeng itu lalu mengangkat guci araknya dan mulailah ia menggelogok.
Nampak lehernya bergerak-gerak.
Akan tetapi ini cuma sebentar.
Belum ada seperempat, guci memasuki perutnya ia sudah merasa tidak kuat lagi.
Lehernya serasa tercekik, kepalanya pening dan tubuhnya gemetar.
Si muka bopeng maklum kalau dipaksakan terus ia akan roboh terguling.
Akan tetapi alangkah kagetnya dia ketika hendak menurunkan guci itu dari mulutnya, ia tidak mampu menggerakkan tangan yang memegang guci.
Lengan itu kini menjadi kaku sehingga guci itu tetap menempel dan isinya tertuang terus.
Ketika ia mau menggerakkan tubuh serta melepaskan tahu-tahu tubuhnya tak bisa pula ia gerakkan.
Sementara itu arak mengalir terus, si muka bopeng hendak menutup kerongkongannya serta membiarkan lagi arak mengalir keluar dari mulut, akan tetapi tiba-tiba ia merasa lehernya nyeri sekali, membuat ia jadi megap-megap dan arak terus turun memasuki perutnya melewati kerongkongan.
Si muka bopeng terkejut sekali dan menjadi ketakutan.
Akan tetapi karena ia tidak mampu bergerak terpaksa semua arak memasuki perutnya dan ia tersedak-sedak dan terbatuk-batuk.
Begitu guci itu habis isinya, si muka bopeng tiba-tiba merasa dapat bergerak lagi.
Ia terhuyung-huyung dan jatuh ke bawah seperti sehelai kain basah, tiada tenaga sama sekali dan rebah tertelungkup mengeluarkan suara mengorok seperti seekor babi disembelih.
Dari mulutnya menetes-netes keluar arak bercampur buih.
Riuh-rendah empat orang teman si muka bopeng dan para tamu lain tertawa-tawa mentertawakan si muka bopeng yang demikian mabuknya sampai tidak ingat orang lagi.
Juga nona baju merah itu tertawa sedikit pun tidak tampak mabuk.
Malah ia memanggil pelayan untuk membayar harga makanan dan arak.
Ketika ia mengeluarkan sebuah kantung dari bungkusan di pundaknya dan membuka kantung itu semua orang melongo.
Kantung itu penuh dengan emas dan perak.
Secara royal sekali ia membayar pelayan dan memberi persen.
Kemudian nona itu bertanya kepada empat orang jagoan yang sambil tertawa-tawa berusaha membangunkan si muka bopeng yang masih ngorok.
"Aku mendengar di sini ada sebuah po-koan yang besar, betulkah itu dan di manakah tempatnya?"
Para tukang pukul itu bukanlah orang baik-baik.
Tadinya mereka hendak mempermainkan nona itu karena cantik jelitanya akan tetapi setelah menyaksikan kekuatannya minum arak tadi, lalu menduga bahwa si nona bukan orang sembarangan.
Kemudian mereka melihat adanya kantong uang terisi penuh emas dan perak, maka timbul niat buruk di hati mereka.
"Betul sekali, nona. Bahkan kami berlima adalah penjaga-penjaga po-koan. Apakah nona suka berjudi? Marilah, kami antarkan. Kebetulan sekali tidak begitu ramai keadaan di po-koan sepagi ini."
Dengan langkah tenang nona itu lalu mengikuti mereka menuju ke rumah judi yang letaknya di sebelah restoran itu.
Si muka bopeng terpaksa digotong ke rumah judi karena tak dapat disadarkan.
Ruangan judi itu cukup lebar, di dalamnya terdapat lima buah meja judi yang masing-masing dijaga oleh seorang pengawal.
Memang sepagi itu belum banyak tamu, hanya ada belasan orang.
Semua orang memandang dengan heran ketika melihat nona itu masuk bersama empat orang tukang pukul dan seorang jagoan yang mabuk keras.
Setelah para tukang pukul itu menyatakan bahwa nona itu hendak berjudi, makin besar keheranan mereka semua.
Akan tetapi karena tukang pukulnya memberi tahu dalam bahasa rahasia mereka, bahwa nona itu adalah seorang yang membawa uang emas dan perak banyak sekali, bandit-bandit judi itu jadi kegirangan.
"Silakan, nona,"
Kata seorang yang bertubuh gemuk dan menjadi bandar kepala di situ.
"Nona hendak bermain apakah?"
Nona itu menyapu ruangan dengan pandang matanya yang tajam, kemudian menghampiri sebuah meja judi yang di atasnya terdapat sebuah mangkok dan dadu.
"Aku suka main dadu."
Katanya. Semua tamu mendekati meja itu. Bahkan para tamu ikut pula menonton, karena baru pertama kali ini melihat seorang nona cantik hendak main judi dalam sebuah po-koan.
"Baiklah nona. Biar saya sendiri yang melayani nona,"
Kata si bandar gemuk sambil memberi isyarat agar pegawai di belakang meja itu mundur.
Setelah berkata, lalu si gendut itu mengambil dadu terus memasukannya ke dalam mangkok dan dengan gerakan seorang ahli ia memutar-mutar dadu di dalam mangkok itu secara cepat sekali.
Suara nyaring terdengar ketika dadu itu berputaran di dalam mangkok kemudian secepat kilat bandar itu menumpahkan mangkok ke atas meja dengan biji dadu terdapat di dalamnya.
Ketika menutupkan mangkok tadi kedua tangannya bergerak cepat sekali sehingga dadu itu tidak tampak sama sekali ketika mangkok dibalikkan.
Ini semua membuktikan keahlian bandar judi yang sudah masak.
"Silakan, nona"""
Si bandar judi yang gemuk itu berkata sambil tersenyum lebar, memperlihatkan deretan gigi yang kecil-kecil serta renggang.
Nona itupun tersenyum manis sambil melihat ke seputarnya.
Semua muka menatapnya dengan pandang mata heran, kagum serta tegang.
Ia lalu mengeluarkan kantungnya dan membuka tali kantung.
Dengan tenang sekali ia mengeluarkan sepuluh tail perak, menaruhnya di atas gambar tulisan "ganjil"
Di atas meja.
Dadu itu segi empat dan pada enam permukaan diberi angka satu sampai dengan angka enam.
Angka ganjil adalah satu tiga lima.
Sedangkan angka dua empat enam adalah angka genap.
Apabila memasang ganjil atau genap, jika kena menerima jumlah pasangan.
Tetapi apabila memasang pada sebuah angka tertentu apabila menang akan menerima jumlah empat kali lipat pasangan.
Melihat nona itu sudah memasang, sekali pasang sepuluh tail perak.
Para tamu ramai-ramai mulai pasang pula.
Ada yang pasang ganjil, pasang genap, ada pula yang memasang nomer-nomer tertentu.
Setelah semua orang menaruh pasangan di atas meja, si bandar gemuk yang tadi terseyum dengan gerakan kilat dan sambil mengeluarkan seruan nyaring, membuka mangkok itu.
Dan jelas tampak dadu itu menggeletak di atas meja dengan nomor empat di atasnya.
Bandar menggaruk semua uang pasangan, kecuali pasangan pada angka genap dan pasangan pada angka empat yang mendapat hadiah sebagaimana mestinya.
Nona yang kehilangan pasangannya itu masih tenang saja, bahkan memperbesar pasangannya lagi sampai menjadi limapuluh tail perak sekali pasang.
Semua melongo.
Inilah main judi besar-besaran.
Sekali dua kali gadis itu menarik kemenangan.
akan tetapi setelah ia mulai memasang dengan taruhan besar sampai seratus tail perak sekali pasang, ia selalu kalah sampai akhirnya habislah semua peraknya.
Namun dengan sikap tenang nona itu masih terus memasang kini malah mulai menggunakan uang emas!
Para tamu menjadi tegang.
Ada yang merasa kasihan kepada gadis cantik ini.
Ada yang diam-diam memakinya bodoh.
Akan tetapi yang lebih tegang adalah si bandar judi yang gemuk, juga para bandar lain yang menonton.
Bayangkan saja!
Nona itu sekarang memasangkan semua sisa uangnya pada nomor lima.
Taruhan yang dipasangkan adalah duapuluh lima tail emas!
Kalau menang, berarti bandar harus membayar empat kali jadi seratus tail emas dan hal ini berarti pula bahwa semua kekalahan nona itu akan dapat ditebus.
Melihat bahwa para tamu lain kehilangan nafsunya memasang melainkan lebih suka menonton gadis yang luar biasa itu berjudi dengan tambah gila-gilaan, bandar menjadi makin gelisah.
Kalau hanya melayani nona ini, sekali bintang nona ini menjadi terang dengan taruhan sebesar itu bandar akan menjadi bangkrut!
Dengan teriakan nyaring ia membuka mangkok penutup dan......
dadu meperlihatkan angka lima!
Di antara para tamu ada yang bersorak, dan ributlah mereka membicarakan kemenangan ini.
Bandar gendut menghapus peluh dengan saputangannya dan para pembantunya menghitung uang pembayaran kepada nona yang menang.
Nona itu tetap tersenyum tenang, kemudian memasang lagi dengan taruhan yang membuat semua orang membelalakkan mata.
Berapakah yang ia pasangkan?
Seluruh uang dan kemenangannya, berjumlah seratus duapuluh lima tail emas!
"Gila ......!"
"Sekali kalah, habis dia......!"
"Masa sebegitu banyak dipasangkan semua?"
Bermacam-macam komentar orang, akan tetapi gadis itu tersenyum lebar dan menoleh ke belakang ke arah para tamu yang menonton sambil berkata suaranya halus serta merdu menarik.
"Namanya juga berjudi. Akibatnya hanya dua macam. Menang atau kalah. Kecil besar sama!"
Bandar gendut itu menatap jumlah uang yang dipertaruhkan pada tulisan "ganjil"
Dengan mata melotot dan ia tidak segera memutar dadunya. Agaknya ia merasa jerih dan ragu-ragu.
"Hayo lekas putar. Mengapa ragu-ragu! Apakah bandar takut kalah?"
Tanya si nona dengan suara mengejek dan semua tamu tertawa karena memang lucu kalau ada bandar jadi takut kalah.
"Eh, Agong gendut. Kau kenapa? Kalau ragu-ragu jangan main, biar aku melayani nona ini!"
Terdengar suara parau.
Semua arang menengok.
Kiranya dia seorang laki-laki usia limapuluh tahun bertubuh tinggi besar bermuka hitam, pakaiannya mewah dan matanya buta yang sebelah kiri.
Melihat orang ini, si gendut cepat-cepat mengundurkan diri dan berkata kepada nona itu.
"Maafkan, nona. Karena taruhanmu luar biasa besar, maka saya menjadi ragu-ragu dan gugup. Majikan kami datang, biarlah majikan kami sendiri yang menjadi bandar!"
Nona itu memandang tajam dan kini semua tamu juga mengenal si muka hitam yang buta sebelah matanya itu.
Dia seorang she Lauw yang dijuluki It-gan Hek-hauw (Macan Hitam Bermata Satu), seorang tokoh besar dunia pejahat di kota Ho-pak, bahkan terkenal di seluruh Propinsi An-hwa dan kini setelah banyak mengumpulkan harta lalu hidup sebagai orang kaya-raya di kota Ho-pak.
Losmen serta rumah judi Lok-nam adalah miliknya.
Tadi memang ada pegawai secara diam-diam memberi laporan perihal nona yang berjudi dengan taruhan luar biasa itu, maka ia lalu datang sendiri buat melihatnya khawatir kalau-kalau yang datang itu adalah seorang musuh serta sengaja mau mencari gara-gara.
Hatinya lega ketika melihat seorang nona yang tidak ia kenal juga sikapnya tidak seperti seorang nona kang-ouw, akan tetapi melihat caranya bertaruh, timbul kekhawatirannya kalau-kalau rumah judinya akan bangkrut maka cepat-cepat menyuruh si gendut mundur dan maju sendiri sebagai bandar.
"Nona memasang ganjil dengan taruhan semua uang nona? Ingat, kalau nona kalah berarti nona takkan dapat melanjutkan perjudian ini lagi,"
Kata orang she Lauw itu dengan suaranya yang parau, akan tetapi dengan sikap tenang. Nona itu tersenyum mengejek.
"Kalau aku kalah, ambil semua uang ini, mengapa banyak komentar lagi? Uangku boleh habis, tetapi apakah perhiasan-perhiasanku ini tidak laku untuk dipasangkan?"
Ia membuka buntalan dan terdengar orang berseru kagum ketika terlihat perhiasan-perhiasan emas permata yang indah-indah dalam sebuah bungkusan.
"Ha-ha-ha, nona benar-benar seorang penjudi ulung yang tabah. Bagus hari ini kami menerima kunjungan seorang tamu terhormat. He, pelayan, lekas bawa ke sini arak yang paling baik untuk nona!"
Setelah menuangkan arak dan mempersilakan nona itu minum, It-gan Hek-hauw lalu berkata.
"Sekarang kita mulai, nona memasangkan semua uang itu untuk angka ganjil?"
"Betul dan harap lekas putar dadunya!"
Jawab nona itu sambil tersenyum dan memandang tenang.
Ia melihat betapa orang tinggi besar yang bermuka hitam itu menggulung lengan bajunya ke atas, kemudian tangan kanannya memegang mangkok, memasukkan dadu dengan tangan kiri ke dalam mangkok itu dan matanya yang tinggal satu memandang tajam ke arah dadu yang mulai ia putar-putar di dalam mangkok.
Makin lama makin cepat dadu terputar dan dengan telapak tangan kirinya dia menutupi mulut mangkok sambil memutar terus.
Gerakan kedua tangannya sedemikian cepat sehingga bagi mata para tamu, kedua lengan yang besar dan berotot itu telah berubah menjadi banyak demikian pula mangkoknya membuat para penonton menjadi pening kepala.
Namun nona itu memandang dengan mulut masih tersenyum, namun kini senyumnya seperti orang mengejek.
Bagaikan kilat cepatnya.
It-gan Hek-hauw kini membentak keras dan mangkoknya sudah tertelungkup di atas meja dengan biji dadu di dalamnya.
Ia mengangkat mukanya memandang gadis itu dengan peluh dikeningnya.
"Nona, menurut aturan, baru setelah dadu diputar, orang mulai memasang taruhannya. Apakah nona tetap memasang angka ganjil? tidak dirabah lagi?"
Nona itu menggelengkan kepala sambil menatap tajam wajah orang pemilik rumah judi itu yang mengangkat muka memandang para tamu lainnya.
"Karena nona ini memasang angka ganjil berarti bertaruh langsung dengan aku, maka harap cuwi (tuan sekalian) untuk kali ini berhenti dulu dengan pasangan cuwi."
Kemudian tanpa menanti jawaban orang-orang itu ia telah mendekati mangkok, kedua tangannya dipentang dan kini tangan itu menggetar.
Melihat ini nona itupun bangkit berdiri, kedua tangannya terletak di atas meja.
"Awas, lihat baik-baik! Mangkok dibuka dua...... tiga......!!"
Dengan tangan kanannya It-gan Hek-houw mengangkat mangkok dan tangan kirinya menekan meja.
Semua mata melibat ke atas meja dan......
mereka semua melongo.
Jelas tampak betapa biji dadu itu memperlihatkan angka tiga, jadi angka ganjil.
Akan tetapi secara aneh sekali biji dadu itu bergerak dan menggelimpang ke samping sehingga kini angka empat yang berada di atas.
Namun hanya sebentar saja karena kembali biji dadu menggelimpang ke angka tiga, lalu bergerak-gerak sedikit, hampir terbalik ke angka empat tetapi seolah-olah tidak kuat dan miring lagi kembali ke angka tiga terus tidak bergerak-gerak lagi.
Nona itu beradu pandang dengan bandar yang kini sudah menaruh kedua tangan di atas meja pula.
Mukanya yang hitam menjadi makin hitam, matanya yang tinggal satu melotot serta muka itu kini penuh keringat.
"Hemm, angka tiga adalah angka ganjil, bukan? Aku menang lagi!"
Kata si nona, suaranya nyaring.
Kini para tukang pukul yang jumlahnya belasan orang saling pandang dan semua memandang kepada It-gan Hek houw sambil meraba gagang golok, menanti perintah.
Namun It-gan-hek-houw tidak memberi isyarat apa-apa, hanya menghapus peluhnya kemudian tertawa bergelak dan berkata.
"Ha-ha-ha, nona benar hebat! Hayo bayar seratus duapuluh lima tail emas kepada nona ini!"
Para pembantunya tersipu-sipu mengambil uang dari dalam karena persediaan di depan tidak cukup untuk membayar kekalahan yang begitu banyak.
Para tamu menjadi berisik membicarakan pertaruhan yang besar-besaran dan keadaan biji dadu yang amat aneh tadi.
Mereka sama sekali tidak tahu bahwa tadi telah terjadi adu tenaga lwee-kang (tenaga dalam) yang seru antara It-gan Hek-houw dan nona baju merah itu melalui tekanan tangan mereka pada permukaan meja.
Setelah uang pembayaran selesai dihitung dan ditumpuk di atas meja di depan nona itu, It-gan Hek-houw berkata.
"Apakah nona masih berani untuk melanjutkan perjudian ini?"
Kembali senyum mengejek itu membayang di mulut yang amat indah bentuknya dan berbibir merah.
"Mengapa tidak berani? "Awas, kali ini kau bisa kalah, nona."
"Kalau tidak menang, tentu kalah. Apa bedanya? Lekas putar, aku akan mempetaruhkan semua uangku ini, duaratus limapuluh tail emas!"
Diantara para tamu ada yang menjadi pucat mukanya.
Ini sudah gila, pikirnya.
Mana ada taruhan sekali pasang duaratus limapuluh tail emas?
Kekayaan ini cukup untuk dipakai modal berdagang besar.
Ini tentu tidak sewajarnya dan ada apa-apa di balik taruhan ini.
Ia menjadi tegang dan takut.
Akan tetapi karena hatinya tertarik ingin melihat perkembangan selanjutnya, ia berdiri seperti terpaku pada lantai dan melihat sambil menahan napas.
Kini It-gan Hek-hauw menggerakkan kedua lengannya secara aneh sekali, seperti orang bersilat.
Kedua tangan itu bergerak ke sana ke mari dengan amat cepatnya sehingga orang-orang tidak bisa melihatnya lagi sewaktu ia mengambil mangkok dan kemudian dengan cara bagaimana pula ia menaruh dadu ke dalamnya, tahu-tahu sudah diputarnya mangkok itu dengan gerakan-gerakan cepat dan aneh.
Nona itu hanya memandang dengan senyum tetap mengejek dan senyumannya melebar ketika tiba-tiba It-gan Hek-hauw menurunkan mangkok di atas meja dengan mulut di bawah.
Ketika mangkok menyentuh meja, meja itu sampai tergetar dan mengeluarkan suara nyaring.
Dengan mata berkilat kilat dia mandang nona itu dan berkata nyaring.
"Nona, kau pasanglah!"
Nona itu dengan gerakan sembarangan mendorong semua uangnya ke angka enam sambil berkata.
"Aku mempertaruhkan semua ini atas angka enam!"
Kembali para tamu menjadi berisik.
Bukan main beraninya nona itu mempertaruhkan atas angka enam, tentu saja kesempatan menang jauh lebih kecil dari pada kalau memasang angka ganjil atau genap.
Akan tetapi kalau ia menang bandar harus membayar empat kali lipat, berarti akan membayarnya seribu tail emas!
Bisa bangkrut kali ini rumah judi Lok-nam kalau pasangan itu kena.
Wajah yang hitam itu kini menjadi agak hijau, mata yang tinggal satu menjadi agak merah.
"Memasang atas angka enam? Bagus! Sekali ini engkau kalah, nona. Lihatlah!"
Ia menggerakkan tangannya cepat sekali membuka mangkok itu.
"Ah, terlalu banyak engkau mengerahkan tenaga sampai dadunya terbawa ke atas!"
Nona itu berseru berbareng dengan diangkatnya mangkok.
Semua orang memandang dan.......
berseru heran karena di bawah mangkok itu tidak ada apa-apanya!
Akan tetapi si muka hitam yang kini mengeluarkan gerengan hebat dan nona itu yang tersenyum-senyum keduanya berdongak memandang ke atas.
Semua orang juga ikut memandang ke atas dan.......
di langit-langit ruangan itu, tepat di atas meja judi, dadu itu telah menempel di langit-langit dan memperlihatkan angka......
enam.
"Aneh......!"
"Angka enam.....!"
"Ilmu siluman......!"
Nona itu tidak memperdulikan teriakan-teriakan ini lalu berkata, suaranya tegas dan nyaring.
"It-gan Hek-hauw, lekas bayar kekalahanmu seribu tail emas!"
Diam-diam lt-gan Hek-hauw terkejut sekali dan maklum bahwa nona ini meskipun kelihatannya lemah, agaknya memiliki kepandaian hebat.
Dan ia sangat kagum kepada nona itu karena ilmunya, meskipun ia sendiri pernah bertempur dengan orang-orang sakti.
Tadi ia sudah mengadu lweekang dengan menekan meja dan ternyata kalah.
Sekali ini dengan kecepatannya ia sudah mengantongi dadu pertama dan ketika hendak membuka mangkok, ia sengaja menaruh dadu lain dengan angka satu di atas.
Siapa kira, dengan kepandaian yang luar biasa, entah secara bagaimana ia tidak tahu, dadu itu telah diterbangkan oleh nona itu ke atas, menempel langit-langit dan memperlihatkan angka enam yang dipasangnya!
Pada saat itu, seorang tukang pukulnya berlari-lari ke dalam dari luar dengan muka pucat serta berteriak di depan It-gan Hek-hauw.
"Celaka, Lauw taiya ....... , dia sekarang mati...... seluruh tubuh dan mukanya menjadi hitam......! Nona itu pasti yang melukainya!"
Nona baju merah itu yang sejak tadi sudah berdiri, kini bertolak pinggang dan tersenyum lebar lalu berkata.
"Anjing muka bopeng itu dibunuh sepuluh kalipun masih belum dapat menebus kekurang-ajarannya kepadaku. Lalu kalian ribut-ribut mau apa? Hayo lekas bayar uangku!"
"Tangkap perempuan pengacau ini!"
It-gan Hek-hauw berteriak marah.
Limabelas jagoan yang menjadi tukang tukang pukul dan pegawainya segera mencabut golok serta mengurungnya.
Akan tetapi gadis ini tersenyum sabar, berbeda dengan para tamu yang kini berlarian keluar serta ada pula yang mepet di sudut dengan muka pucat dan tubuh menggigil.
"Eh, apakah kalian semua ini sudah tidak mau hidup lagi?"
Ia menegur dan menyindir.
Belasan orang jagoan itu sudah biasa melakukan pertempuran serta melawan musuh lihai, mendengar ancaman nona itu, mana mereka takut, apa lagi ia tak bersenjata!
Sambil berseru keras, mereka menyerang maju seolah-olah berebut dan berlomba.
Akan tetapi, tampak tiba-tiba benda merah berkelebat disusul suara melengking tinggi tubuh nona itu bergerak lalu sinar merah menyambar-nyambar dan......
terdengar suara nyaring di susul golok-golok terbang semua dan jerit mengerikan ketika tubuh belasan jagoan itu roboh susul menyusul dalam keadaan tidak bernyawa lagi.
Nona baju merah itu kini berdiri tegak, tangan kiri bertolak pinggang serta tangan kanan memegang sebuah suling merah yang kecil mungil entah sejak kapan dikeluarkan.
Sepasang mata yang bening seperti burung Hong itu lalu menatap kepada It-gan Hek-houw, bibirnya yang merah basah tersenyum dan deretan gigi yang putih bersih seperti mutiara berkilat ketika ia bertanya.
"Bagaimana sekarang? Masih hendak coba-coba lagi atau lekas bayar uang kemenanganku?"
Tangan kanan itu menggerak-gerakkan suling seperti gerakan seorang penari.
Biarpun digerakkan perlahan, namun suling itu dapat mengeluarkan suara melengking lirih seperti suara kucing atau bayi menangis.
Kemudian tanpa memperdulikan orang di sekitarnya seakan-akan di situ tidak ada orang lain, bibirnya diruncingkan dan terdengarlah tiupan suling mengalun merdu!
"Cui-siauw-kwi""!"
Teriak seorang diantara para pembantu It-gan Hek-hauw ketika melihat sikap nona baju merah itu, semua orang terkejut dan teringat.
Tak salah lagi, inilah Cui-siauw-kwi (Setan Peniup Suling) yang pada waktu dua tahun ini amat menggemparkan dengan perbuatan-perbuatannya yang mengerikan.
Seorang iblis betina yang cantik jelita, namun amat kejam sepak terjangnya.
Entah berapa banyak jumlahnya orang yang telah dibunuhnya dan yang terbanyak adalah laki-laki muda belia yang tampan.
Sudah terkenal betapa Cui-siauw-kwi gila laki-laki tampan.
Setiap kali ia melihat laki-laki tampan dan muda lalu dipikat dan dibujuk menggunakan kecantikannya atau kalau bujukan ini tidak berhasil lalu memakai kepandaian untuk menculik laki-laki itu dipaksa menjadi kekasihnya.
Celakanya laki-laki muda itu setelah jadi kekasihnya tidak akan lebih umurnya dari lima hari.
Mendengar ada orang mengetahui julukannya itu, ia lalu melirik ke kiri dan melihat bahwa yang menyebut nama poyokannya tadi adalah seorang laki-laki setengah tua yang menjadi pelayan rumah judi.
Tangan kanannya masih memegang suling sambil meniup menyanyikan lagu asmara yang merdu, akan tetapi tiba-tiba tangan kirinya bergerak ke depan, dan......
orang yang tadi menyebut nama poyokannya itu menjerit terus roboh terguling, lalu putus napasnya.
Nona itu menghentikan tiupan sulingnya, melihat ke sekeliling lalu bertanya, suaranya masih halus merdu senyumnya masih mengembang di bibirnya.
"Siapa lagi yang berani menyebutku setan?"
Para tamu dan pegawai Lok-nam Po-koan menjadi pucat dan mundur ketakutan.
"It-gan Hek-hauw, kau tidak lekas membayar uangku? Apakah aku harus memaksamu?"
It-gan Hek-hauw adalah seorang bekas penjahat kawakan, akan tetapi semenjak lama mengundurkan diri dari dunia kejahatan karena sudah menjadi seorang kaya raya.
Kini karena terancam kerugian besar sekali ia memutar otak.
Ia maklum bahwa kalau melawan dengan kekerasan ia akan kalah dan tentu nona yang seperti iblis ini takkan segan-segan membunuhnya, maka ia cepat-cepat tersenyum lebar dan maju selangkah, memberi hormat dengan menjura dan membungkuk.
"Ah, kiranya Cui-siauw Sianli ( Dewi Peniup Suling) Ma-kouwnio (nona Ma) yang datang berkunjung. Maaf...... maaf...... karena belum pernah jumpa biarpun sudah bertahun-tahun mendengar nama besar Kouwnio yang menjulang tinggi di angkasa, maka kami menyambut Kouwnio kurang hormat. Kalau tahu bahwa Kouwnio adalah Cui-siauw Sianli, tentu tidak akan sampai terjadi kesalah-pahaman ini"..."
Senyum manis itu makin melebar akan tetapi pandang mata nona itu berobah dingin dan penuh ancaman.
"It-gan Hek hauw, tak perlu engkau memulas bibir dengan madu. Akupun tidak sudi berkenalan dan berhubungan dengan kau dan orang-orangmu, maka tak perlu banyak cakap lagi. Lekas bayar kemenanganku seribu tail emas!"
Muka yang hitam itu menjadi pucat sekali dan cepat-cepat It-gan Hek-hauw menjura sampai jidatnya hampir menyentuh tanah, semua anak buahnya terheran-heran.
Biasanya, majikan mereka ini amat galak, setanpun takkan ditakutinya, mengapa kini bersikap demikian merendah terhadap nona baju merah itu.
Sedangkan mereka itu tahu bahwa majikan mereka adalah seorang berkepandaian tinggi.
"Tentu, tentu akan saya bayar lunas, Kouw-nio. Akan tetapi, seribu tail emas bukan jumlah sedikit. Tak mungkin saya dapat membayar sekarang karena tidak ada uang tunai sebanyak itu. Harap kouw-nio sudi memberi waktu tiga hari, saya akan kumpul-kumpulkan dan tukar-tukarkan perak menjadi emas, setelah tiga hari, seribu tail emas itu akan tersedia di sini harap saja kouw-nio mempertimbangkan."
Nona itu menyipitkan kedua matanya.
"Hemm, kalau menurut patut, setelah kalah berjudi tidak mampu bayar, seharusnya aku turun tangan membunuhmu! Akan tetapi, biarlah kuberi waktu tiga hari, kau takkan dapat lari dariku setelah tiga hari, malamnya aku akan datang untuk mengambil uang atau kepalamu!"
Setelah berkata demikian, nona baju merah ini dengan tenang mengambil uangnya duaratus limapuluh tail emas dari atas meja, memasukkannya dalam buntalan, menggendong buntalannya, kemudian dengan langkah lemah gemulai sehingga sepasang pinggulnya menari-nari di belakangnya ia keluar dari rumah judi itu sambil meniup sulingnya perlahan-lahan.
Semua orang mengikutinya dengan pandang mata terbelalak dan napas tertahan, dan belum berani bergerak sebelum suara suling yang makin lama makin lirih itu lenyap.
Barulah tampak kesibukan luar biasa, para tamu-tamu cepat pergi meninggalkan ruangan dan para pelayan sibuk merawat teman-temannya yang tewas.
Adapun It-gan Hek-hauw sendiri cepat menyuruh sediakan seekor kuda dan tak lama kemudian tampak pemilik rumah jadi ini sudah menunggang kuda, membalapkan kudanya keluar dari kota Ho-pak menuju ke selatan.
Biarpun hampir semua penduduk Ho-pak menjadi.
gelisah mendengar bahwa kota mereka kedatangan seorang tokoh mengerikan seperti Cui-siauw-kwi, namun sama sekali tidak mengganggu kegembiraan besar yang terdapat di rumah dua keluarga, yaitu keluarga Bhok dan keluarga Souw yang sedang merayakan hari perniikahan putera dan pateri mereka.
Pemuda she Bhok seorang sasterawan muda yang tampan, pada hari itu dinikahkan dengan gadis she Souw yang cantik rupawan dan kaya raya.
Pemuda Bhok yang tidak kaya dipilih mantu oleh hartawan Souw dan pada malam hari itu para tamu memenuhi ruangan tamu rumah gedung keluarga hartawan Souw, serombongan pemain musik meramaikan suasana dengan bunyi-bunyian merdu dan mengiringi nyanyian wanita-wanita cantik.
Banjir arak dan masakan lezat membuat para tamu menjadi makin gembira sehingga makin jauh malam, suara ketawa para tamu makin bebas terlempar.
Biarpun siang hari tadi terjadi pembunuhan belasan orang dan kekacauan di rumah judi Loknam, namun malam hari itu tak seorangpun diantara auggauta keluarga hartawan Soaw mengingat akan hal itu.
Hanya para tamu yang kadang-kadang terdengar membicarakan si nona baju merah yang cantik seperti bidadari, namun kejam seperti iblis.
Mereka bicara sambil tidak berani bicara keras-keras, apalagi menyebut nama Dewi Suling dengan nama poyokan, sama sekali mereka tidak berani!
Kalau terpaksa menyebut, juga mereka menyebut Cui-siauw-sianli.
Setelah mendengar betapa seorang yang menyebutnya Setan Suling dibunuh, semua bibir menyebut wanita aneh itu Dewi Suling!
Menjelang tengah malam, sebagian besar para tamu sudah mulai mabok dan permain musik yang juga tidak sedikit minum arak, kini mainkan musik makin ramai penuh gairah.
Suara suling mengalun merdu diseling suara yang-kim dan gitar, saling susul dalam paduan suara yang harmonis.
Tiba-tiba terdengar suara melengking yang merdu, juga tinggi mengalahkan paduan suara itu.
Suara melengking tinggi itu terdengar jelas seperti suara suling tetapi bukan keluar dari suara pemain musik.
Suara melengking tinggi ini datangnya dari atas!"
"Dewi Suling......!!!"
Entah siapa orangnya yang berteriak menyebut nama itu.
Agaknya ia tadi terpengaruh oleh percakapan mengenai tokoh itu, maka begitu mendengar lengking ini tanpa disadarinya ia menyebut nama Dewi Suling.
Akan tetapi akibatnya luar biasa sekali.
Para tamu menjadi pucat mukanya dan ada pula satu dua orang yang menyelinap turun bersembunyi di bawah meja, semua tamu menjadi panik, ada yang cepat-cepat menyelinap keluar dari ruangan itu terus melarikan diri.
Dalam keadaan panik itu suara melengking terus terdengar tetapi kian menurun ke bawah tetapi tiba-tiba terdengar jerit mengerikan, jerit seorang wanita yang keluar dari dalam kamar pengantin menembus kegelapan malam di luar rumah.
Mendengar jeritan ini, para tamu yang sembunyi di bawah meja menggigil seluruh tubuhnya, bahkan yang terlalu penakut sampai terkencing-kencing, membasahi celananya dan lantai.
Yang sudah berlari keluar terus mempercepat larinya sampai ada yang tersandung jatuh bangun mengaduh-aduh.
Keluarga Souw tadinya juga panik, akan tetapi begitu mendengar jerit mengerikan dari kamar pengantin, hartawan Souw menjadi gelisah sekali.
Teringat nasib puterinya, ia memberanikan diri serta mengajak beberapa orang pengawal, lalu menggedor pintu kamar pengantin.
Kamar ini semenjak tadi menjadi bahan senda gurau para tamu muda setiap kali mereka memandang pintu kamar yang dicat merah, mereka tersenyum-senyum dan memandang dengan mata penuh arti.
Kini pintu itu digedor-gedor oleh Souw wangwe (hartawan Souw) yang memanggil-manggil puterinya.
Namun suara saja tidak ada jawaban.
Hanya terdengar suara suling melengking itu kini makin lama makin lirih dan akhirnya lenyap.
Hartawan Souw tak dapat menahan kegelisahannya lebih lama lagi.
Ia lalu menyuruh para pengawal untuk membongkar saja pintu kamar itu.
Begitu daun pintu dibuka, hartawan Souw dan isterinya lari memasuki kamar pengantin yang dihias indah dan berbau harum sekali.
Tadi para tamu muda yang bersenda gurau saling bicara tentang sikap sepasang pengantin itu dengan bermacam-macam dugaan yang lucu-lucu.
Ada yang bilang betapa pengantin wanita dengan malu-malu menolak pendekatan pengantin pria, ada yang bilang pengantin wanita mengajak bergelut lebih dulu sebelum menyerah, dan masih banyak macam lagi.
Sepantasnya pada saat seperti itu sepasang pengantin tentu setidaknya sedang berpelukan mesra.
Akan tetapi ketika mereka memandang ke atas pemharingan tampak darah berlepotan dan tubuh pengantin wanita dengan pakaian masih lengkap rebah terlentang tak bernyawa.
Pengantin wanita yang cantik dan muda belia itu mati di atas ranjang pengantin, menggeletak di atas gelimangan darahnya sendiri, sedangkan pengantin pria tidak nampak bayangannya lagi di dalam kamar itu.
Jendela kamar masih tertutup rapat, akan tetapi langit-langit kamar itu robek lebar berikut gentengnya yang terbuka.
Jerit tangis terdengar memenuhi malam sunyi, tawa gembira seketika berubah menjadi tangis duka.
Perayaan pesta pora berubah menjadi perkabungan yang menyedihkan.
Para tamu segera pulang tanpa pamit, nama Dewi Suling dibisikkan oleh bibir dan hati penuh rasa takut.
Apakah yang sebenarnya telah terjadi di dalam kamar pengantin itu?
Kedua orang muda yang baru sekali itu mengalami tidur sekamar dengan seorang lawan jenis menjadi jengah dan malu.
Ketika para sanak dan kerabat, seperti sudah menjadi kebiasaan, mengantar pengantin pria memasuki kamar pengantin sambil menggoda dengan berbagai kata-kata kemudian menutup pintu kamar pengantin, suara ketawa mereka itu masih bergema dan terdengar dari dalam kamar pengantin.
Pengantin pria, pemuda she Bhok itu semenjak kecil hanya tekun membaca kitab mempelajari sastera.
Mimpipun belum pernah berdekatan dengan seorang wanita apalagi berduaan sekamar.
Kini ia melangkah maju, langkah-langkah kecil dengan kedua kaki menggigil dan jantung berdebar seperti hampir pecah rasanya, pengantin wanita duduk di atas pembaringan sambil menundukkan mukanya.
Mengerlingpun ia tidak berani sungguhpun ia tahu bahwa ia kini sudah berduaan sekamar dengan calon suaminya.
Ia tahu betapa suaminya seorang pemuda yang halus dan tampan sekali dan sebetulnya ia merasa bahagia di dalam hati akan menjadi isteri pemuda itu.
Akan tetapi rasa malu membuat ia tidak berani berkutik.
Hanya kedua telinganya saja yang pada saat itu hidup, mendengarkan penuh perhatian ke arah suaminya bergerak.
Sampai suaminya itu duduk di atas pembaringan di sebelahnya, ia tidak berani mengerling apalagi menengok.
Mungkin ada satu jam lebih kedua orang muda remaja yang usianya baru antara enambelas sampai delapanbelas tahun ini sudah duduk bersanding tak bergerak-gerak seperti dua buah arca yang amat bagus buatannya.
Si wanita duduk menunduk sampai punggungnya melengkung dan dagunya menyentuh dada, mata setengah terpejam dan mukanya tertutup untaian mutiara yang semacam kerudung.
Yang pria, masih dalam pakaian pengantin yang indah, mukanya yang tampan itu kemerahan, sepasang pipinya yang putih halus menjadi merah karena tadi ia dipaksa minum arak pengantin oleh para handai taulan yang memberinya selamat, sepasang mata yang lebar bening itu berkilauan akan tetapi mulutnya tersenyum-senyum malu.
Beberapa kali ia mengerling ke kanan, beberapa kali ia menengok, beberapa kali bibirnya bergerak-gerak hendak mengeluarkan suara, Namun, semua itu sia-sia belaka, tak dapat ia mengeluarkan suara karena setiap kali jantungnya melonjak-lonjak seperti mau meloncat keluar dari mulut melalui kerongkongannya.
Ia sudah berusaha untuk menggerakkan tangan kanan buat menyentuh jari-jari tangan halus isterinya yang berada di atas pangkuan, namun tangannya gemetaran dan hilang tenaganya.
Tiba-tiba pengantin wanita menarik napas panjang dan terdengar isak tertahan satu kali.
Ia sudah lelah menanti, hampir tak kuat menahan getaran jantungnya saking tegang, namun suaminya tetap diam saja.
Hal ini benar-benar menjadi godaan yang tak dapat ditahan lagi hampir ia menangis.
Ingin ia menjatuhkan diri terlungkup di atas pembaringan sambil menangis tersedu-sedu.
"Moi-moi"....!"
Akhirnya suara yang dinanti-nantinya itu terdengar juga, suara suaminya yang menggetar-getar.
Suara yang menembus dadanya, terus menyentuh jantungnya, membuat ia sesak bernapas lalu menoleh sedikit, melirik kemudian tersenyum malu-malu membuang muka lagi melihat ke bawah.
Tangan pengantin pria itu tiba-tiba berada di tangan pengantin wanita, sentuhan perlahan namun merupakan sentuhan pertama yang terasa sampai ke tulang sumsum membuat tangan pengantin wanita yang kecil itu menggigil seperti seekor burung kecil digenggam orang.
"Kenapa tanganmu dingin sekali, moi-moi?"
"Tidak"". apa-apa."
Kalimat pertama ini membuka pintu kecanggungan yang tadi memisahkan mereka tetapi tak lama kemudian, ketika dengan jari gemetar si pengantin pria membuka kerudung penutup muka pengantin wanita lalu terpesona oleh kecantikan wajah isterinya, wanita muda belia itu dengan malu-malu menahan ketawa lalu menyandarkan kepala di dada suaminya.
Dalam keadaan mesra itu, keduanya lalu saling menuturkan keadaan diri masing-masing.
Pada saat itulah mereka terkejut oleh suara lengkingan yang terdengar di atas rumah, suara yang makin lama makin nyaring dan dekat, setelah itu terdengar suara genteng terbuka bersamaan (Lanjut ke
Jilid 04) Pendekar Cengeng (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 04 pecahnya langit-langit kamar pengantin melayang turun sesosok tubuh manusia ke dalam kamar itu lalu seperti seekor burung bayangan itu telah berdiri di atas lantai tersenyum-senyum.
Sepasang pengantin itu terkejut bukan main.
Akan tetapi hati mereka agak lega ketika melihat bahwa orang yang melayang turun dari atas ini ternyata adalah seorang wanita muda yang cantik sekali berpakaian serba merah dari sutera tipis.
Seorang wanita cantik yang tersenyum-senyum dan sama sekali tidak menakutkan.
Tentu saja sepasang pengantin ini belum mendengar tentang Dewi Suling yang telah menyebar maut siang tadi di rumah judi Lok-nam.
Pengantin pria yang masih merangkul pinggang isterinya, segera menegur.
"Kau siapakah dan apa perlumu memasuki kamar kami seperti ini......?"
Dewi Suling tersenyum, manis sekali dan sepasang matanya menatap wajah pengantin pria terus ke bawah seperti orang menaksir serta memeriksa.
Agaknya ia merasa puas dengan hasil pemeriksaannya itu, lalu tertawa sehingga bibir yang merah itu terbuka memperlihatkan rongga mulut yang lebih merah lagi di balik deretan gigi putih.
"Ah, benar-benar tampan pengantin pria! Sayang jejaka setampan ini ditemani seorang wanita yang lemah!"
Ia melangkah maju dan jari-jari tangannya mengusap dagu dan pipi si pengantin pria dengan gerakan mesra.
Saking kaget dan herannya, pengantin pria itu membelalakkan mata tak mampu mengeluarkan suara dan mukanya yang putih menjadi amat merah.
Akan tetapi pengantin wanita yang melihat bahwa pengunjungnya, itupun hanya seorang wanita sudah dapat menguasai kekagetannya dan membentak.
"Dari mana datangnya perempuan rendah dan gila ini? Hayo pergi.......!"
Akan tetapi kata-katanya ini segera disusul jeritannya yang mengerikan karena Dewi Suling sudah menggerakkan tangan kiri dengan jari-jari terbuka menusuk ke depan dan......
jari-jari yang kecil halus itu bagaikan ujung lima batang pedang yang telah amblas memasuki ulu hati si pengantin wanita, menembus pakaian kulit dan daging.
Si pengantin wanita roboh di atas pembaringan dan darah mengucur keluar dari dadanya.
Baca Juga: Pedang Penakluk Iblis 7
Baca Juga: Petualang Asmara 15