Eps 6 Antara Dendam Dan Asmara - Kho Ping Hoo
Baca online Antara Dendam Dan Asmara - Kho Ping Hoo
Cersil Antara Dendam Dan Asmara - Kho Ping Hoo.
Karena inilah maka biarpun dia tinggal di Hang-Chouw, tak seorang pun menduga bahwa Leng Sui atau lebih dikenal sebagai Leng-Kongcu, sebetulnya adalah seorang Pangeran Kerajaan Cin yang bertugas sebagai pusat jaringan mata-mata di selatan.
Penduduk Kotaraja itu hanya mengenal Leng-Kongcu sebagai seorang sastrawan yang kaya raya, dermawan dan tampan.
Padahal seluruh mata-mata dari Kerajaan Cin yang bertugas di selatan merupakan anak buahnya!
Leng-Kongcu telah tiga tahun lamanya menikah dengan Li Sian Hwa, puteri tunggal Jaksa Li.
Mereka mempunyai seorang anak laki-laki yang pada waktu itu berusia satu tahun.
Tampaknya saja Li Sian Hwa hidup berbahagia dengan suaminya yang muda, tampan dan kaya raya itu.
Akan tetapi bagaimanakah kenyataannya?
Benarkah Li Sian Hwa hidup berbahagia sebagai isteri Leng Sui?
Pada tahun pertama, Sian Hwa berusaha keras untuk melupakan kekasihnya, Lui Hong, dan untuk menerima kenyataan yang tidak dapat diubahnya, bahkan ia belajar untuk dapat membalas cinta suaminya yang tampaknya amat sayang kepadanya.
Akan tetapi hal ini teramat sukar ia lakukan ketika ia mendapat kenyataan bahwa suaminya sama sekali bukan pemuda sastrawan kaya raya seperti yang ia dan keluarganya mengenalnya, melainkan seorang Pangeran Kerajaan Cin yang bertugas sebagai pimpinan jaringan mata-mata Kerajaan Cin!
Akan tetapi semua sudah terlanjur.
ia telah menjadi isteri Leng Sui dan suaminya itu mengancam akan membunuhnya kalau ia berani membuka rahasianya itu!
Mulailah Li Sian Hwa hidup menderita batin yang hebat.
Lebih lagi setelah setahun lebih menikah ia mengandung.
Mulailah Leng Sui memperlihatkan wataknya yang sesungguhnya.
Leng Sui mulai mengabaikannya, bahkan setelah ia melahirkan seorang anak laki-laki, Leng Sui sama sekali tidak mempedulikannya.
Pangeran Cin itu mengambil selir sampai lima orang banyaknya dan ini pun masih belum memuaskannya.
Dia ternyata seorang laki-laki mata keranjang yang selalu mengejar wanita cantik.
Karena memang di lubuk hatinya Sian Hwa belum pernah merasakan cinta kasih yang mendalam terhadap suaminya, maka ketidakpedulian Leng Sui kepadanya bahkan melegakan hatinya.
Sejak semula ia melayani suaminya itu sebagai isteri dengan hati yang terpaksa.
Kini suaminya tidak lagi mempedulikannya, bahkan mengabaikannya, menganggap ia tiada bedanya dengan seorang pelayan biasa, atau bahkan ia seperti tidak ada.
Hal ini sebetulnya malah menghIburnya.
Akan tetapi terkadang sikap suaminya terhadapnya amat menghina.
Pernah ia disuruh membantu para pelayan untuk melayani Leng Sui yang sedang pesta makan minum bersama seorang wanita cantik yang baru dia bawa masuk ke dalam gedungnya.
Sian Hwa diperlakukan sebagai seorang pelayan dan hal ini tentu saja merupakan penghinaan yang amat menyakitkan hatinya.
Karena tidak tahan menghadapi penghinaan ini, Sian Hwa melaporkan kepada Ayahnya.
Jaksa Li Koan sudah lama mendengar akan keadaan puterinya dan diam-diam dia sudah merasa kecewa dan menyesal sekali telah menjodohkan puteri tunggalnya dengan seorang laki-laki seperti Leng Sui.
Dia masih belum tahu bahwa mantunya itu seorang Pangeran Cin dan pemimpin jaringan mata-mata karena Sian Hwa tidak berani membuka rahasia itu.
Maka ketika puterinya melaporkan tentang penghinaan yang di-terimanya, Jaksa Li menjadi marah dan langsung saja dia mengunjungi gedung mantunya.
Ketika bertemu dia memarahi dan memaki mantunya yang telah menghina Sian Hwa.
Akan tetapi mendapat teguran keras dari mertuanya itu Leng Sui berbalik menjadi marah sekali.
"Sian Hwa adalah isteriku dan sebagai suaminya akulah yang berhak atas dirinya. Apa pun yang kulakukan terhadap isteriku, tidak ada orang lain yang berhak mencampuri, termasuk engkau! Kalau aku menyuruh ia melayani makan minum dan kau anggap sebagai penghinaan, habis engkau mau apa?"
Demikian Leng Sui membentak dengan sikap menantang.
Bukan main marahnya Jaksa Li.
Baru sekarang mantunya itu berani bersikap dan bicara sekasar itu terhadap dirinya.
Dahulu biasanya dla bersikap sopan dan halus.
Saking marahnya Jaksa Li bangkit dari kursinya dan menghampiri Leng Sui sambil menggerakkan tangan menampar.
Akan tetapi Leng Sui menangkis dan berbalik memukul dada Jaksa Li sehingga pembesar ini jatuh terpelanting.
"Bodoh! Berani engkau hendak memukul aku? Apa kau sudah bosan hidup? Cepat pergi dari sini, atau aku akan minta sahabatku Perdana Menteri Chin Kui untuk memecat dan menghukummu!"
Bentak Leng Sui.
Jaksa Li terkejut, juga kesakitan dan dengan muka pucat saking malunya dia lalu keluar dari gedung itu.
Jaksa Li pulang dengan hati penuh penyesalan.
Dia tidak berdaya terhadap mantunya karena dia tahu bahwa mantunya bukan hanya mengeluarkan ancaman kosong belaka.
Gertakan tadi dapat dia laksanakan karena dia sudah mendengar bahwa mantunya memiliki hubungan dekat dengan para pembesar tinggi termasuk Perdana Menteri Chin Kui!
Sejak mengalami penghinaan itu, Jaksa Li menjadi sedih dan kesehatannya terganggu.
Dia sering sakit dan bersama isterinya hanya dapat menderita kepahitan duka dalam hati mereka.
Li Sian Hwa yang mendengar akan peristiwa yang dialami Ayahnya dari para pelayan, hanya dapat menangis dengan sedih.
Satu-satunya hIburan baginya, yang membuat ia mampu bertahan dalam kesengsaraan batinnya, hanyalah puteranya yang kini berusia satu tahun.
Leng Hok Bun, anak laki-laki itu, memiliki wajah mirip Ibunya dan anak inilah yang membuat Sian Hwa masih mampu bertahan untuk hidup, bagaikan secercah sinar dalam gelap gulita.
Leng Sui telah melakukan tugasnya sebagai pimpinan jaringan mata-mata Kerajaan Cin dengan berhasil baik.
Bukan saja dia telah dapat berhubungan dekat dengan para pembesar, terutama dengan Perdana Menteri Chin Kui, dia juga mengadakan kontak dan hubungan dengan Pangeran Baduchir yang merupakan tokoh pimpinan jaringan mata-mata dari Bangsa Mongol.
Memang diam-diam dua orang tokoh dari Kerajaan Cin dan dari Bangsa Mongol ini saling menaruh curiga dan ada perasaan tidak senang.
Hal ini disebabkan tindakan Bangsa Mongol yang telah merampas kedudukan Bangsa Yuchen di sebelah utara Tembok Besar.
Akan tetapi karena kedua wakil Bangsa Mongol dan Bangsa Yuchen atau Kerajaan Cin ini berhubungan dekat dengan Perdana Menteri Chin Kui, maka keduanya terpaksa juga bersikap balk dan bersahabat.
Gadis itu duduk di atas sebuah batu besar.
Usianya tampak masih muda sekali, sekitar dua puluh tahun.
Padahal sesungguhnya ia sudah berusia dua puluh dua tahun.
Ia tampak cantik dan wajahnya berwibawa dan anggun, gagah.
Mukanya bulat telur, manis sekali dengan kulit muka putih kemerahan.
Mata dan mulutnya amat indah, memiliki daya tarik yang amat kuat merangsang.
Sepasang mata itu jeli dan bentuknya indah, sinarnya tajam.
Mulutnya kecil dengan sepasang bibir yang selalu basah kemerahan dan selalu mengembangkan senyum setengah mengejek dan menantang.
Pakaiannya dari sutera mahal membungkus tubuhnya yang padat langsing.
Rambutnya digelung model rambut para puteri Bangsawan dan ada setangkai bunga merah menghias sanggul rambutnya yang hitam dan subur.
Gadis itu duduk dan memandang seorang Kakek yang juga duduk bersila di depannya.
Akan tetapi anehnya, Kakek itu tidak duduk di atas sebuah batu besar seperti gadis itu, melainkan dia duduk bersila di atas tumpukan tengkorak manusia!
Dia duduk bersila di atas sebuah tengkorak yang terletak paling atas.
Melihat betapa puluhan buah tengkorak itu ditumpuk seperti itu dan dia duduk di atas tengkorak yang berada paling atas, maka bagi orang biasa hal itu kiranya tidak mungkin clilakukan karena tengkorak-tengkorak itu tentu akan runtuh berserakan ke bawah dan yang duduk di atas tentu akan terbawa jatuh.
Akan tetapi Kakek itu duduk seenaknya seolah dirinya itu hanya seringan sehelai daun kering sehingga tumpukan tengkorak itu tidak runtuh.
Jangankan runtuh, bergoyang pun tidak!
Keadaan Kakek itupun membuat orang yang melihatnya akan merasa heran dan juga ngeri.
Sukar ditaksir usianya, mungkin sudah seratus tahun lebih.
Tubuhnya hanya tulang-tulang terbungkus kulit, seperti jerangkong (tulang kerangka manusia) hidup, kepalanya juga tinggal tempurung, gundul gersang dan hanya ada belasan helai rambut putih bergantungan panjang sampai ke pundak.
Sepasang matanya cekung dengan biji mata mengintai dari dalam.
Hebatnya, mulutnya masih memiliki deretan gigi yang lengkap!
Kulit pipi yang menempel pada tempurung kepala itu berwarna pucat keabu-abuan.
Kakek ini mengenakan pakaian dari kain serba hitam lengan panjang.
Kedua tangan yang tersembul keluar Lengan baju itu berkuku panjang sehingga menambah keseraman penampilannya.
Kalau orang bertemu dia pada malam hari di tempat sepi pasti mengira bertemu dengan setan.
Gadis yang cantik itu adalah Siangkoan Ceng atau biasa disebut Ceng Ceng, puteri dari Siangkoan Hok Ketua Beng-Kauw.
Seperti telah diceritakan di bagian depan, Ceng Ceng yang di dunia kang-ouw dijuluki Ang-Hwa Niocu (Nona Bunga Merah) pergi meninggalkan Beng-Kauw untuk mencari pemuda yang dikenalnya sebagai Bu Beng (Tanpa nama).
Pemuda itu yang nyaris dIbunuh orang-orang Beng-Kauw, ditolong dan dibawa pergi seorang Kakek aneh yang sakti.
Akan tetapi dalam perjalanan mencari Bu Beng yang sebetulnya membangkitkan perasaan cinta dalam hati Ceng Ceng, gadis ini berpikir bahwa sesungguhnya ia tidak berdaya terhadap pemuda yang kehilangan ingatan itu.
la tahu benar bahwa Bu Beng amat lihai dan ia tidak akan mampu mengalahkannya.
Apalagi pemuda itu dibawa pergi seorang Kakek yang amat sakti.
Andaikata ia dapat menemukan Bu Beng, apa yang dapat ia lakukan?
Pikiran ini yang membuat Ceng Ceng lalu mengubah tujuan perjalanannya.
ia harus memperdalam ilmu-ilmunya sehingga ia akan mampu mengalahkan Bu Beng dan Kakek sakti yang melarikannya!
ia teringat akan Tong Tong Lokwi, Susiok (Paman Guru) dari Ayahnya, seorang Pertapa sakti yang mengasingkan diri di Bukit Tengkorak.
Ayahnya pernah menceritakan tentang Tong Tong Lokwi yang memiliki kesaktian luar biasa dan juga seorang yang amat aneh, juga menurut Ayahnya, Tong Tong Lokwi tidak pernah memiliki seorang murid.
Dengan nekat Ceng Ceng mendaki Bukit Tengkorak sampai ke puncak, padahal dari bawah mulai di pedesaan sekitar kaki bukit, ia sudah mendengar bahwa Bukit Tengkorak merupakan tempat keramat yang menurut, mereka menjadi sarang mahluk-mahluk halus atau setan jahat.
Tidak ada seorang pun berani mendaki bukit itu setelah beberapa kali orang yang berani mencobanya, baru di lereng pertama saja mereka telah mati dan mayat mereka dilempar kembali ke bawah bukit dalam keadaan mengerikan karena ada yang kepalanya hancur, ada pula yang tubuhnya masih utuh akan tetapi kulitnya berubah hijau kehitaman!
Setelah tiba di puncak ia bertemu dengan Kakek tua renta seperti jerangkong hidup itu dan ia segera menjatuhkan diri berlutut dan memperkenalkan diri sebagai Siangkoan Ceng, puteri dari Siangkoan Hok Ketua Beng-Kauw.
"He-eh, aku tahu. Kalau tidak, mana mungkin engkau dapat sampai di sini dalam keadaan hidup?"
Kakek itu ber-kata.
"Nah, katakan, apa maumu datang mencariku di sini?"
"Susiok-Kong (Paman Kakek Guru), saya datang untuk mohon menjadi muridmu."
Sejenak Kakek tua renta itu tidak menjawab, hanya sepasang matanya yang cekung itu mengamati gadis itu dengan penuh perhatian, kemudian dia berkata dengan suaranya yang parau dan berema seolah suara itu keluar dari dalam sebuah gua yang jauh.
"Heh-heh, boleh-boleh. Aku akan mengajarkan ilmu-ilmuku kepadamu selama tiga tahun. Akan tetapi setelah selesai dalam waktu 3 tahun, engkau harus membayarnya."
"Membayarnya? Membayar dengan apa dan bagaimana, Susiok-Kong?"
Membayarku dengan menyerahkan dirimu. Engkau harus melayani aku sebagai seorang isteri melayani suaminya."
Siangkoan Ceng terbelalak dengan muka pucat.
Ia harus melayani Kakek yang seperti tengkorak mukanya, badannya seperti jerangkong hidup ini?
Ia yang masih perawan, yang belum pernah bergaul seperti itu dengan seorang pria?
"Bagaimana?
Engkau tidak mau?
Kalau begitu, engkau harus dihukum karena berani naik kesini.
Engkau akan turun lagi sebagai mayat seperti yang lain!"
Ceng Ceng teringat akan cerita para penduduk dusun di sekitar kaki bukit dan ia bergidik.
Kalau ia menolak, ia akan dIbunuh dan percuma saja ia melawan.
Kalau ia mau...
ah, hal itu baru akan terjadi setelah ia tamat belajar selama tiga tahun, berarti masih ada waktu tiga tahun baginya untuk mencari akal menghadapi ancaman yang baginya amat mengerikan itu!
"Susiok-Kong, mana berani saya tidak mentaati perintahmu?
Tentu saja saya bersedia membayarnya, yaitu, seperti katamu tadi, setelah saya selesai belajar selama tiga tahun.
Saya akan membayarnya dengan senang hati, akan tetapi harap engkau mengajarkan semua ilmu simpananmu yang paling tinggi karena saya harus mengalahkan musuh yang amat tangguh."
"Huh, siapa musuhmu itu?"
Tanya Tong Tong Lokwi dengan suara memandang ringan.
"Musuhku itu adalah Khong-Sim Sin-Kai."
Kata Ceng Ceng, teringat akan Kakek yang menolong dan membawa lari Bu Beng. Mendengar disebutnya nama ini, Tong Tong Lokwi terdiam sejenak, Ialu dia menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Eh, apa kau gila? Engkau memusuhi pengemis sakti itu? Apakah dia masih hidup?"
"Masih, Susiok-Kong, akan tetapi dia sudah tua sekali."
"Hemm, masih ada harapan untuk menang. Mungkin ketuaannya itu yang akan membantumu mengalahkan dia. Nah, engkau sudah sanggup membayarku setelah tamat belajar selama tiga Tahun. Mulai hari ini engkau menjadi muridku dan engkau harus menyediakan makan setiap hari untukku, juga mencucikan pakaian dan membersihkan pondok ini."
"Baik, Suhu!"
Kini Ceng Ceng menyebut Suhu dan mulai hari itu ia dibimbing mempelajari ilmu-ilmu yang amat langka dan tinggi dari Paman Kakek Gurunya.
Tentu saja kepandaian Ceng Ceng meningkat dengan cepatnya.
Demikianlah, pada sore hari itu Ceng Ceng duduk di atas batu menghadap Tong Tong Lokwi yang duduk atas tumpukan tengkorak manusia.
Ceng Ceng tidak merasa heran menyaksikan ilmu meringankan tubuh yang hebat dari Kakek itu yang membuat dia mampu duduk di atas tumpukan tengkorak karena ia sendiri sudah mempelajari ginkang seperti itu dan mampu pula melakukannya.
Selama tiga tahun gadis itu tekun belajar dan tidak pernah meninggalkan puncak Bukit Tengkorak sehingga tentu saja ilmu kepandaiannya telah meningkat dengan hebat.
Akan tetapi sore hari ini, Ceng Ceng tampak pendiam dan alisnya berkerut, jantungnya berdebar penuh ketegangan.
Sejak kemarin Gurunya itu sudah tidak mengajarkan ilmu lagi karena semua ilmu telah diajarkan kepadanya dan berarti ia telah tamat belajar.
Dan agaknya akan tiba saatnya ia harus membayar Gurunya itu dengan menyerahkan dirinya!
Tong Tong Lokwi yang duduk sambil memejamkan kedua matanya itu tiba-tiba berkata.
"Ceng Ceng, hari ini telah genap tiga tahun engkau belajar di sini dan semua ilmuku telah kuajarkan kepadamu. Pelajaranmu telah selesai."
"Teecu (murid) menghaturkan terima kasih atas semua petunjuk Suhu. Sekarang ijinkanlah Teecu turun bukit untuk mencari musuh Teecu."
"Ceng Ceng, engkau tidak boleh lupa untuk membayarku sesuai dengan janji kita dulu. Mulai malam ini, engkau harus melayani aku seperti seorang isteri melayani suaminya. Engkau baru boleh pergi meninggalkan tempat ini kalau aku sudah merasa bahwa engkau sudah cukup membayarku."
Ceng Ceng tidak mampu menjawab.
Melayani satu kali saja rasanya tidak mungkin ia dapat melakukannya, apalagi harus melayani beberapa lamanya sampai Kakek itu merasa cukup!
Akan tetapi, untuk melarikan diri ia belum berani.
Siapa tahu Kakek aneh ini masih menyimpan ilmu rahasia sehingga akan dapat mengejar dan membunuhnya kalau ia ingkar janji?
Seperti kebiasaan para Guru silat di waktu itu, tidak ada Guru silat yang mau menguras semua ilmunya untuk diberikan kepada muridnya kecuali kepada anak sendiri.
Kalau ia tidak melarikan diri, ia harus menyerahkan diri, harus melayani Kakek itu untuk waktu yang entah berapa lamanya dan rasanya ia tidak akan mampu menghadapi pengalaman yang akan merupakan siksaan lahir batin itu.
"Mengapa engkau diam saja, Ceng Ceng? Katakanlah, apakah engkau hendak mengingkari janjimu kepadaku?"
Pertanyaan ini keluar dari mulut Kakek itu dengan nada marah dan ketika Ceng Ceng mengangkat muka memandang, ia bertemu dengan pandang mata Tong Tong Lokwi dan ia bergidik.
Sinar mata yang cekung itu mencorong seperti berapi.
Itu bukan mata manusia lagi, lebih pantas mata iblis.
Ceng Ceng mengangguk dan berkata lirih.
"Teecu tidak akan mengingkari janji, Suhu."
"Bagus, engkau memang anak baik dan tidak percuma aku bersusah payah mengajarkan ilmu-ilmu padamu selama tiga tahun ini. Ceng Ceng, menurut perhitunganku sesuai dengan kedudukan bintang-bintang di langit, akan muncul Bangsa besar yang kelak akan menguasai seluruh negeri. Kerajaan-Kerajaan lain yang kini berkuasa akan jatuh satu demi satu."
"Suhu maksudkan Kerajaan Sung Kerajaan Cin akan jatuh dikalahkan Bangsa itu?"
"Ya, dua Kerajaan besar itu akan jatuh dan semua penguasa daerah yang kecil-kecil juga akan runtuh satu demi satu, dilanda kekuasaan baru yang datang bagaikan badai dari utara."
"Dari utara, Suhu? Hemm, Teecu dapat menduganya. Bukankah Kerajaan Cin juga harus meninggalkan kampung halamannya di utara karena direbut oleh Bangsa Mongol? Suhu tentu maksudkan Bangsa Mongol yang menjadi badai dari utara itu, bukan?"
"Terserah kalau engkau menduganya demikian. Hal yang belum terjadi tidak boleh diberitahukan, itu merupakan rahasia alam. Akan tetapi kalau engkau sudah mengetahui tanda-tandanya, engkau akan dapat menyesuaikan langkahmu di masa depan."
Malam itu Kakek yang usianya sudah seratus tahun lebih dan yang sudah puluhan tahun tidak pernah berdekatan apalagi berhubungan dengan wanita itu seolah berubah menjadi binatang buas atau seperti iblis, bukan manusia lagi.
Ceng Ceng tidak berani menolak atau melawan karena ia masih meragukan apakah ia mampu mengalahkan Kakek yang menjadi Gurunya itu.
Kalau ia menolak dan menyerang akan tetapi tidak mampu merobohkan Tong Tong Lokwi, bukan mustahil ia sendiri yang akan terbunuh karena Kakek itu mempunyai watak aneh dan dapat berlaku kejam luar biasa.
Maka Ceng Ceng mencoba untuk mematikan perasaan tubuhnya, akan tetapi ia tidak mampu mematikan perasaan hatinya yang menjerit-jerit seperti seekor domba tersiksa dalam cengkeraman harimau kelaparan.
Akhirnya, menjelang tengah malam, penyiksaan lahir batin bagi Ceng Ceng itu berhenti.
Tong Tong Lokwi tergolek kelelahan dan tertidur di atas pembaringan, mendengkur dengan keras sehingga pondok itu tergetar oleh suara dengkurnya.
Ceng Ceng bangkit duduk, membereskan pakaiannya dan ketika ia memandang ke arah Tong Tong Lokwi yang tertidur dl dekatnya, telentang dengan mulut terbuka, kebencian yang mendalam membuat sepasang mata gadis ltu mencorong.
Akan tetapi Ceng Ceng masih dapat menahan suara tangisnya.
ia menangis, air matanya berderai, akan tetapi tidak ada suara keluar dari mulutnya.
ia bersikap hati-hati sekali, dengan perlahan tanpa menimbulkan suara sedikit pun ia turun dari atas pembaringan, melangkahi tubuh Kakek itu.
Dengan jantung berdebar karena hatinya masih ragu-ragu dan tegang, Ceng Ceng mengambi!
Pek-Coa-Kiam (Pedang Ular Putih) yaitu pedangnya yang tipis dan biasanya ia pakai sebagai sabuk, dari atas meja dan menghunusnya dari sarung pedang yang terbuat dari kulit ular.
Juga ia menggantung kantung Ang-Tok-Ciam (Jarum Racun Merah) di pinggangnya.
la menghampiri pembaringan dengan hati-hati Tong Tong Lokwi masih tidur mendengkur.
Ceng Ceng, melupakan sakit badan dan batinnya, untuk sesaat perasaannya dipenuhi kebencian yang berkobar.
Bagi seorang gadis seperti Siangkoan Cen yang sejak kecil hidup di lingkungan orang-orang sesat, ia tidak peduli tentang kesusilaan dan baginya, kehilangar keperawanannya bukan merupakan hal penting.
Akan tetapi yang menyakitkan hatinya dan menimbulkan kebencian adalah karena ia harus melakukan itu dengan terpaksa.
ia merasa seperti diperkosa oleh Kakek yang memiliki rupa mengerikan dan menjijikkan ini.
Setelah ia mengerahkan seluruh tenaganya, ia lalu mengayun Pek-Coa-Kiam ke arah leher Tong Tong Lokwi, sedangkan tangan kirinya sudah menyiapkan segenggam Ang-Tok-Ciam.
Sinar pulih berkelebat menyambar arah Leher Kakek itu ketika Ceng Ceng membacokkan pedangnya.
"Singgg... tukkk!!"
Ceng Ceng terkejut bukan main ketika melihat betapa pedangnya yang amat tajam dan digerakkan oleh tenaga yang ia kerahkan sekuatnya, ketika bertemu dengan leher yang tulangnya membayang di balik kulit itu seolah bertemu dengan baja yang amat kuat!
Pedangnya terpental dan tangannya tergetar hebat.
Ternyata dalam keadaan tidur Tong Tong Lokwi telah melindungi lehernya dengan kekebalan yang luar biasa.
Ceng Ceng cepat menggerakkan tangan kirinya dan belasan batang jarum merah menyambar ke arah muka Kakek itu.
"Tik-tik-tik... crepp...!"
Kakek itu mengeluarkan gerengan seperti binatang buas terluka.
Jarum-jarum yang mengenai mukanya runtuh terpental, akan tetapi ada sebatang jarum menancap di mata kirinya.
Agaknya ketika itu dia terbangun dan mata kirinya terbuka sehingga sebatang jarum tepat memasuki rongga mata dan menancap pada biji matanya yang tidak kebal.
Tentu saja dia meraung kesakitan.
Ceng Ceng yang cerdik maklum bahwa saat itulah yang terbailk baginya.
Dalam keadaan terkejut dan kesakitan itu, mungkin Kakek yang amat sakti itu menjadi lengah dan kekebalannya membuyar, Maka dengan gerakan yang cepat sekali, disertai pengerahan tenaga sakti ia segera menusukkan pedangnya ke arah ulu hati Tong Tong Lokwi yang sedang menggunakan kedua tangannya untuk mencabut jarum yang memasuki mata kirinya.
"Singgg.. cappp...!!"
Benar saja perhitungan Ceng Ceng, sekali ini pedangnya menusuk dan masuk ke dalam dada Tong Tong Lokwi.
Cepat ia mencabutnya kembali dan Kakek itu tampak terkejut.
Dia mengeluarkan gerengan yang amat dahsyat.
"Aaggghhh...!"
Kini tangan kirinya masih menutupi mata kiri dan tangan kanannya mendekap ulu hati yang tela dimasuki pedang tadi.
Ceng Ceng merasa ngeri akan tetapi dendam kebenciannya membuat ia nekat dan sekali lagi Pek-Coa-Kiam meluncur cepat menjadi sinar putih dan sekali ini pedang itu menusuk lambung kiri Kakek itu.
"Blesss...!"
Ketika dengan cepat Ceng Ceng mencabut pedang yang telah menembus lambung itu, tubuh Tong Tong Lokwi jatuh terguling ke atas lantai dalam keadaan menelungkup!
Dia tidak bergerak maupun bersuara lagi.
Hati Ceng Ceng merasa lega.
Ia berhasil membunuh Kakek sakti yang selama tiga tahun menjadi Gurunya, akan tetapi yang juga malam itu membuat ia merasa ternoda dan terhina yang amat menyakitkan hatinya.
Teringat akan apa yang telah menimpa dirinya, Ceng Ceng tak dapat menahan isak tangisnya dan ia lalu melompat dan lari keluar dari pondok menuju ke sebuah telaga kecil yang berada tidak jauh dari pondok Itu.
Air telaga ini jernlh dan selama ini ia mempergunakan airnya untuk segala keperluan.
Begitu tiba di tepi telaga, Ceng Ceng lalu meloncat ke dalam air tanpa membuka dan menanggalkan pakaiannya.
Memang ia biasa mandi di telaga akan tetapi tentu saja belum pernah ia mandi di waktu tengah malam begini.
Setelah berada dalam air, agaknya ia baru ingot bahwa ia maslh mengenakan pakaian, maka ditanggalkanlah semua pakaiannya dan ia mandi membersihkan badannya karena pada saat itu ia merasa demikian kotor dan jijiknya sehingga ia muntah-muntah sambil menangis tersedu-sedu.
Ceng Ceng seperti lupa diri dan lupa waktu.
ia berendam dalam air, terkadang termenung diam lalu terkadang menangis lagi.
Bermacam perasaan teraduk dalam hati dan pikirannya.
Ada rasa senang dan puas kalau ia mengingat bahwa ia telah menguasai ilmu-ilmu yang tinggi sehingga kini ia telah menjadi Iihai sekali.
Akan tetapi kalau ia teringat akan apa yang ia alami semalam dalam cengkeraman Tong Tong Lokwi yang berubah seperti binatang buas atau iblis ia bergidik dan merasa ngeri den jijik sekali.
Akan tetapi mengingat bahwa ia telah membunuh Kakek Itu, ia merasa puas dan senang sekali.
Bukan kehilangan kegadisannya yang membuat Ceng Ceng menangis.
Sebagai seorang gadis liar yang tumbuh dewasa di lingkungan Beng-Kauw, hal Itu tidak dihiraukan benar.
Akan tetapi ia harus menyerahkan diri kepada seorang laki-laki yang tidak dicintanya, tidak disukainya, bahkan yang menjijikkan seperti jerangkong hidup.
Inilah yang menyakitkan hatinya.
Kalau saja laki-laki kepada siapa ia harus menyerahkan diri itu seorang laki-laki yang dicintainya, seperti Bu Beng, tentu saja ia tidak merasa menyesal dan marah, bahkan akan merasa senang sekali!
Bu Beng, pemuda yang kehilangan ingatannya itu!
Begitu teringat kepada Bu Beng, jantungnya berdebar dan sebuah senyuman muncul di bibirnya yang tadinya cemberut dan menangis.
Membayangkan wajah Bu Beng, ia merasa rindu sekali.
Pada saat seperti itu barulah ia menyadari bahwa sesungguhnya ia sejak dulu telah jatuh cinta kepada pemuda yang kehilangan ingatannya itu.
Ia akan mencarinya!
Dan sekarang pemuda yang dicintanya itu tidak akan mampu menolaknya.
Bu Beng harus menjadi miliknya, menjadi suaminya atau setidaknya menjadi kekasihnya!
Pikiran ini seolah memberi semangat baru kepadanya.
ia akan menggunakan kepandaiannya untuk mencapai apa yang diinginkannya, yaitu hidup mulia dan mendapatkan laki-laki yang dicinta dan di rindukannya.
Tong Tong Lokwi sudah meramalkan kejayaan Bangsa Mongol maka ia mengetahui ke arah mana ia harus melangkahkan kaki untuk membonceng kejayaan itu dan menjadi orang yang berkedudukan tinggi sehingga menjadi terhormat dan mulia.
Tanpa terasa kegelapan malam mulai terusir oleh cahaya fajar.
Pagi telah menjelang dan baru teringat oleh Ceng Ceng bahwa ia berendam di telaga itu sejak lewat tengah malam tadi!
Ia lalu keluar dari dalam air, mengenakan pakaiannya yang basah, kemudian sambil membawa pedangnya untuk berjaga-jaga ia kembali ke pondok.
Cuaca tidak segelap tadi, sudah remang-remang.
Agak ngeri juga hati Ceng Ceng yang tidak pernah mengenal takut ia ketika memasuki pondok.
ia melewati depan kamar Tong Tong Lokwi dan mengerling ke dalam.
Mayat Kakek itu masih menelungkup di lantai kamar itu.
ia bernapas lega lalu memasuki kamarnya sendiri.
Cepat ia bertukar pakaian kering, lalu mengumpulkan semua pakaiannya dalam sebuah buntalan kain.
Setelah itu ia melangkah keluar, kali ini tidak lagi menengok ke dalam kamar Gurunya.
Begitu tiba di luar dan memandang ke arah pondok itu, bagaikan tampak di depan matanya, terbayang kembali peristiwa semalam yang amat menyiksa batinnya.
Dengan gemas Ceng Ceng lalu mengumpulkan kayu-kayu dan daun-daun kering, ditumpuknya di dalam pondok lalu dibakarnya.
ia menjauhkan diri sekitar sepuluh tombak, berdiri dengan buntalan pakaiannya di punggung, memandang ke arah api yang bernyala-nyala dan yang mulai menelan pondok itu dalam kobaran api.
Biarpun Tong Tong Lokwi pernah menggemblengnya dengan sungguh-sungguh selama tiga tahun dan menurunkan semua ilmu simpanannya, namun semua kebaikan Itu terhapus oleh perbuatan Kakek itu semalam terhadap dirinya, bahkan mendatangkan kebencian yang hebat.
Kini, melihat pondok itu terbakar dan ia tahu bahwa mayat Tong Tong Lokwi yang berada di dalam pondok itu tentu juga terbakar habis menjadi abu, hati Ceng Ceng merasa lega dan puas.
Membayangkan tubuh Kakek itu dimakan api, ada perasaan gembira yang membuat Ceng Ceng tiba-tiba tertawa!
"Hi-hi-ha-ha-ha...!"
Gadis itu tertawa-tawa sambil memandang ke arah pondok yang berkobar dimakan api.
Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara gerengan dari dalam kobaran api dan suara tawa Ceng Ceng berhenti.
Gadis itu kini terbelalak memandang ke arah pondok.
Dari pintu pondok yang bernyala itu muncul Tong Tong Lokwi!
Akan tetapi keadaannya sungguh amat mengerikan.
Pakaiannya terbakar dan masih terbakar sehingga tubuhnya telanjang dan tubuh itu, demikian pula mukanya, hitam hangus seperti arang!
Akan tetapi dia lebih menyerupai iblis daripada manusia, melangkah dan menghampiri Ceng Ceng dengan kedua lengan dikembangkan membentuk cakar hendak menerkam!
"ihhh...!"
Ceng Ceng bergidik ngeri.
Bagaimana mungkin orang yang tubuhnya bagian dada dan lambung sudah ditembusi Pek-Coa-Kiam, matanya sudah dimasuki jarum Ang-Tok-Ciam, kemudian tubuh yang sudah mati itu terbakar, kini dapat hidup kembali?
Akan tetapi hanya sekejap saja Ceng Ceng merasa ngeri dan takut.
ia sudah dapat menenangkan hatinya lagi dan cepat meloloskan pedangnya yang melibat pinggang.
Ia sudah siap menghadapi Tong Tong Lokwi yang telah berubah menjadi iblis itu.
Sambil mengeluarkan gerengan dahsyat, Tong Tong Lokwi menerkam ke arah Ceng Ceng.
Gadis yang sudah siap siaga ini menyambutnya dengan tusukan pedang Pek-Coa-Kiam ke arah dadanya.
"Srokkk...!!"
Ceng Ceng merasa betapa pedangnya bukan seperti menusuk daging, melainkan menusuk arang!
Akan tetapi pedangnya memasuki dada iblis itu sampai ke gagangnya.
Tong Tong Lokwi bukannya roboh malah masih terus maju menerkamnya!
Ceng Ceng terkejut dan merasa ngeri akan tetapi ia dapat melompat ke atas melewati kepala Tong Tong Lokwi dan terpaksa melepaskan pedangnya.
Kemudian dari atas ia membalik dan turun di belakang iblis itu, lalu dengan pengerahan tenaga saktinya ia menghantamkan telapak tangan kanannya ke arah belakang kepala Tong Tong Lokwi yang hangus seperti arang itu.
"Blarrr...!"
Kepala itu pecah berantakan dan tubuh Tong Tong Lokwi roboh terpelanting.
Sekali ini agaknya dia benar-benar tewas dengan kepala pecah terkena ilmu pukulan yang dia ajarkan sendiri kepada Ceng Ceng, yaitu yang disebut Toat-Beng Tian-Ciang (Tangan Halilintar Pencabut Nyawa).
Dengan wajah masih pucat dan jantung berdebar tegang, Ceng Ceng menghampiri tubuh hangus itu dan mencabut Pek-Coa-Kiam yang menembus dada, kemudian cepat-cepat ia lari meninggalkan tempat yang menyeramkan itu.
Diam-diam ia harus mengakui bahwa Tong Tong Lokwi memang memiliki kesaktian yang tidak wajar seperti iblis.
Akan tetapi ia tidak mau mengingat Kakek itu lagi.
Dendam kebenciannya karena perbuatan Kakek terhadap dirinya semalam telah impas.
Kakek itu telah dIbunuhnya dan ia telah bebas.
ia memikirkan masa depannya dan teringat akan ramalan Tong Tong Lokwi.
Maka ia mengambil keputusan untuk tidak kembali ke Beng-Kauw, melainkan mengejar cita-citanya dan untuk itu tempat yang tepat adalah Kotaraja.
Maka ia lalu melakukan perjalanan cepat menuju Hang-Chouw, Kotaraja Kerajaan Sung.
Perahu itu kecil saja akan tetapi terapung dengan tenang di atas air sungai yang mengalir deras itu.
Kalau ada orang melihat keadaan itu, dia tentu akan terheran-heran.
Perahu kecil itu dapat menahan seretan air yang mengalir kuat, hanya tertahan oleh dayung yang dipegang seorang Kakek.
Tampaknya Kakek itu memegang dayung sembarangan saja, hampir tidak bergerak, akan tetapi anehnya, perahu itu tertahan dan sama sekali tidak bergerak.
Padahal tidak ada lagi yang menahannya kecuali dayung kayu yang dipegang Kakek itu.
Ada lagi keanehan terjadi di perahu kecil itu.
Di ujung yang lain duduk seorang gadis yang menghadap ke air.
ia duduk diam bagaikan patung, sepasang matanya jarang berkedip memandang ke arah air dan kadang-kadang secara tiba-tiba tangan kirinya bergerak dengan telapak tangan terbuka ia memukul ke arah air.
Tangan itu tidak sampai menyentuh permukaan air, akan tetapi tiba-tiba air muncrat dan seekor ikan sebesar lengan terloncat ke atas, lalu disambar dan ditangkapnya dengan tangan kanannya dan dimasukkan ke dalam keranjang ikan yang sudah setengahnya terisi ikan bersisik kuning.
Ada sepuluh ekor ikan yang berkelepakan di dalam keranjang itu.
"Suhu, sudah cukupkah?"
Gadis itu bertanya, memandang Kakek pemegang dayung.
"Sudah mendapatkan berapa ekor?"
"Ada sepuluh ekor."
"Masih kurang, tangkap lagi, pilih yang gemuk."
Gadis itu tersenyum.
"Wah, Suhu memang senang sekali makan daging ikan sisik kuning."
"Memang lezat, apalagi kalau engkau yang masak."
Kata Kakek itu sambil tertawa.
Mereka melanjutkan kesIbukan mereka.
Si Kakek menahan perahu dengan dayungnya sedangkan si gadis menangkap ikan secara aneh itu.
Gadis itu cantik jelita.
Usianya sekitar dua puluh tahun.
Pakaiannya sutera serba hijau dan kulitnya putih.
Bentuk wajahnya bulat telur dengan mata hidung dan mulut yang indah bentuknya, terutama sekali sepasang matanya yang bersinar seperti bintang.
Tubuhnya padat ramping.
Kepalanya dilindungi caping lebar sehingga tidak tersengat panas matahari siang itu.
Kakek itu bertubuh sedang, usianya sekitar enam puluh delapan lahun, akan tetapi biarpun rambutnya sudah putih semua, wajahnya tampak jauh lebih muda daripada usianya.
Dia mengenakan pakaian yang serba putih bersih, bentuknya sederhana terbuat dari kain kasar.
Seperti juga gadis itu, rambut putih Kakek ini pun tertutup caping lebar.
Melihat cara Kakek itu menahan perahu dengan dayung dan cara gadis itu menangkap ikan dengan cara aneh, mudah diduga bahwa mereka bukan orang-orang sembarangan, melainkan orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi.
Dan ini memang benar karena Kakek itu bukan lain adalah Song Bun Lojin (Orang-tua Berkabung), julukan ini karena dia selalu mengenakan pakaian putih seperti orang berkabung.
Song Bun Lojin adalah seorang tokoh besar dunia persilatan atau seorang Datuk besar yang amat sakti dan dahulu amat terkenal di dunia kang-ouw, hanya sekarang lebih banyak mengasingkan diri dan tinggal di Lembah Sungai Yang-Ce (Yang-Ce-Kiang), di tepi sungai yang berhutan dan sunyi, jauh dari perkampungan nelayan.
Adapun gadis itu adalah Can Pek Giok yang menjadi muridnya selama sekitar tiga tahun.
Seperti telah diceritakan di bagian depan, tiga tahun yang lalu keluarga Can Gi Sun, Ayah Pek Giok, mendapat serangan dari Pek-Bin Giam-Lo, seorang Datuk besar golongan sesat Bangsa Turki.
yang ingin membalas dendam karena muridnya Bu-Eng-Kwi Tok Liong Thaisu telah tewas di tangan Pek Giok dan Han Bun.
Nyaris saja keluarga Can terancam maut di tangan Pek-Bin Giam-Lo yang amat lihai.
Bahkan Can Pek Giok sendiri terluka parah oleh Datuk sesat itu.
Akan tetapi untung bagi keluarga Can bahwa pada saat itu muncul Song Bun Lojin.
Kakek sakti ini menolong keluarga Can dan dapat mengalahkan Pek-Bin Giam-Lo sehingga Datuk sesat ini melarikan diri.
Melihat keadaan Pek Giok yang terluka parah dan membahayalcan keselamatannya, Song Bun Lojin mengajak gadis itu pergi untuk diobati dan digembleng ilmu yang lebih tinggi.
Gadis itu dibawa pergi Song Bun Lojin atas persetujuan orang-tuanya.
Demikianlah, selama tiga tahun Pek Giok digembleng oleh Song Bun Lojin dan tentu saja gadis yang memiliki bakatnya, demikian cepat sehingga terkadang seperti terapung dan meluncur di atas permukaan air seperti terbang saja.
Setelah tiba di tempat tinggal Song Bun Lojin, perahu berhenti di tepi sungai dan ditarik ke darat.
Pondok itu tidak besar, memiliki dua buah kamar dan sebuah dapur.
Song Bun Lojin lalu sIbuk bersama Pek Giok mempersiapkan makan, rmenanak nasi dan memasak ikan dengan menjadikannya beberapa macam masakan.
Diam-diam Pek Giok merasa heran.
Baru sekali ini Gurunya mengajaknya memasak lima belas ekor ikan yang cukup besar.
Biasanya hanya tiga atau paling banyak lima ekor untuk mereka berdua.
Sekarang lima belas ekor ditambah dua ekor ayam hutan yang ditangkap Gurunya.
Seolah Gurunya mengajaknya mengadakan pesta besar!
Guru dan murid itu setelah semua masakan siap lalu makan bersama.
Pek Giok senang sekali melihat Gurunya makan dengan lahapnya karena hal itu menandakan bahwa seperti biasa, masakannya amat disukai Gurunya.
Ia pun menjadi lahap karena selera makannya meningkat ditunjang rasa gembira.
Benar apa yang sering dikatakan Gurunya.
Memang masakan yang lezat menjadi penunjang kuat bagi selera makan, akan tetapi yang lebih mutlak adalah badan sehat perut lapar dan hati senang.
Tiga keadaan inilah yang membuat orang dapat menikmati makanan apa saja, harus lengkap ketiganya karena kurang satu saja selera makan menjadi hilang.
Badan sehat perut lapar akan tetapi hati tak senang membuat makanan tidak enak.
Demikian pula badan sehat hati senang akan tetapi perut tidak lapar, atau hati senang perut lapar akan tetapi badan tidak sehat, sama saja membuat selera makan hilang.
Karena melihat Gurunya makan lahap dan nampak senang, Pek Giok berani mengajukan pertanyaan yang selama ini ia tahan saja dalam hati karena ia khawatir kalau Gurunya tersinggung.
"Suhu, Teecu (murid) ingin mengajukan pertanyaan, akan tetapi karena ini mengenai urusan pribadi Suhu, Teecu khawatir Suhu akan tersinggung."
Song Bun Lojin minum araknya yang terakhir, lalu tersenyum lebar dan menjawab.
"Hari ini engkau boleh bertanya apa saja dan aku tidak akan merasa tersinggung, Pek Giok. Engkau bertanyalah."
"Terima kasih, Suhu. Ada beberapa pertanyaan yang sudah lama ingin Teecu dengar jawabannya. Pertama, mengapa Suhu memakai julukan Song Bun Lojin (Orang-tua Berkabung) dan selalu mengenakan pakaian putih?"
Kakek itu masih tersenyum.
"Orang-orang lain yang menyebut aku Song Bun Lojin dan aku menerimanya karena aku memang sejak dulu berkabung."
"Berkabung untuk kematian siapakah, Suhu?"
"Untuk kematian sebagian besar manusia. Jiwa mereka seolah sudah mati, yang hidup hanya nafsu-nafsu mereka belaka. Maka dunia ini lebih banyak kejahatan daripada kebaikan karena sebagaian besar manusia memiliki prilaku yang tidak lagi dibimbing jiwa yang sehat, melainkan dibimbing nafsu mereka. Untuk mereka yang kematian jiwanya itulah aku berkabung."
Pek Giok tercengang mendengar ini. Akan tetapi ia tidak berani mengomentari Kakek itu.
"Suhu mengasingkan diri tidak mencampuri urusan dunia selama puluhan tahun, hidup seperti seorang Pertapa dan Pendeta. Akan tetapi, maafkan Teecu atas pertanyaan ini, Suhu. Mengapa Suhu masih makan makanan bernyawa dan minum arak?"
"Ha-ha, tidak perlu minta maaf. Engkau boleh bertanya apa saja. Aku memang makan makanan bernyawa seperti ikan dan daging binatang. Apa salahnya? Makanan daging itu perlu bagi kehidupan manusia di dunia ini, memperkuat tenaga dan semangat hidup. Apakah kau kira mereka yang Cia-Jai (vegetarian, pemakan tumbuh-tumbuhan dan pantang daging) itu tidak makan hewan? Mungkin hewan besar tidak dimakannya, akan tetapi hewan-hewan kecil yang terdapat dalam air, terdapat pada sayur-sayuran, rIbuan banyaknya, setiap hari masuk ke perut mereka juga."
"Akan tetapi, Suhu, hewan-hewan kecil itu kan tidak sengaja dimakan, dan hanya kecil-kecil sekali, tidak tampak..."
"Ho-ho, apa bedanya hewan kecil atau besar? Apa bedanya makan daging seekor udang kecil atau ikan besar? Apa bedanya makan seekor semut atau seekor gajah? Keduanya bernyawa, bukan? Yang beda hanya badannya, besar dan kecil. RIbuan hewan dalam air atau pada sayuran itupun bernyawa. Manusia tidak mungkin bisa mengliindarkan diri dari makan makanan bernyawa, baik disengaja maupun tidak disengaja. Sesunguhnya tidak ada yang makan tidak disengaja karena semua orang juga tahu bahwa dalam air secawan dan dalam seikat sayur-sayuran terdapat rIbuan hewan kecil. Sudah tahu tetap diminum dan dimakan, berarti juga disengaja. tentang minum arak, apa pula salahnya? Yang penting dapat menyadari ukuran kekuatan diri sendiri, jangan berlebihan. Yang tidak baik tentang minum arak adalah kalau sampai melewati takaran sehingga mabok-mabokan akan tetapi kalau sekadarnya atau tidak melebihi takaran kekuatan sendiri dapat menjadi obat penguat badan. Nah, sekarang engkau mengerti mengapa aku makan makanan berjiwa dan minum arak? Lanjutkan kalau engkau ingin bertanya lagi karena ini merupakan kesempatan terakhir bagimu untuk bertanya kepadaku."
"Kalau begitu, bagaimana pendapat Suhu mengenai para Pendeta dan mereka yang pantang makan makanan berjiwa dan selama hidupnya Cia-Jai (makan tumbuh-tumbuhan)?"
"Ah, segala perbuatan manusia yang menjadi ukuran baik buruknya atau benar salahnya hanyalah pamrihnya. Kalau pamrih yang mendorong perbuatan itu baik dan benar, maka perbuatan itupun baik dan benar. Kalau orang pantang makanan berjiwa itu merupakan usahanya untuk mengurangi pengaruh nafsunya, entah hal itu akan berhasil ataupun tidak, namun pamrihnya adalah baik dan benar."
"Suhu tadi mengatakan bahwa ini merupakan kesempatan terakhir bagi Teecu untuk bertanya kepada Suhu, apa yang Suhu maksudkan?"
"Pek Giok, hari ini merupakan hari terakhir kita berkumpul. Aku sudah terlalu lama berdiam di satu tempat dan aku ingin menjelajahi tanah air kita ini sebelum mati. Engkau pun sudah tiga tahun belajar ilmu dan sudah tiba saatnya engkau kembali ke dunia ramai dan pulang ke rumah orang-tuamu."
"Akan tetapi, Suhu. Teecu merasa masih jauh daripada cukup belajar ilmu dari Suhu!"
"Ha-ha-ha, itu namanya kemurkaan, muridku! Ketahuilah bahwa kemurkaan membuat seseorang selalu merasa tidak pernah cukup. Cukup itu yang bagaimana? Seperti bertanya, ujung langit itu berada di mana? Kalau menuruti nafsu kemurkaan, selama hidupmu engkau tidak akan pernah merasa cukup! Ilmu itu tidak ada batasnya, Pek Giok. Engkau baru akan terbebas dari perasaan tidak cukup itu kalau engkau sudah melebur diri menjadi satu dengan Sumber segala ilmu itu."
"Apakah Sumber itu, Suhu?"
"Sumber itu adalah Sang Maha Pencipta, TUHAN Yang Maha Esa. Karena itu, jangan menginginkan yang lebih daripada apa yang kau miliki, akan tetapi pergunakanlah apa yang kau miliki itu untuk bertindak sesuai dengan kemampuanmu. Ilmu silat yang kau pelajari itu dapat dipergunakan untuk dua macam perbuatan, yaitu dapat kau pergunakan untuk perbuatan jahat yang mementingkan diri menuruti dorongan nafsu mengejar kesenangan tanpa mempedulikan orang lain, atau kau pergunakan untuk kepentingan orang lain, menolong mereka yang tertindas menentang mereka yang jahat, menegakkan kebenaran dan keadilan. Ilmu hanyalah alat, balk buruknya tergantung dari manusia yang mempergunakan alat itu. Dan aku yakin engkau akan memilih jalan mana, memilih jalan yang disediakan setan menjadi alat setan atau memilih jalan menurut kehendak TUHAN."
"Teecu mengerti apa yang Suhu maksudkan. Semoga TUHAN selalu memberi petunjuk dan membimbing Teecu untuk menjadi seorang yang selalu membela kebenaran dan keadilan, menentang kejahatan dan membela yang lemah tertindas."
"Bagus, aku yakin bahwa aku tidak salah memilih murid, Pek Giok."
"Sekarang Teecu baru mengerti mengapa hari ini Suhu mengajak Teecu berpesta! Kiranya hari ini kita akan saling berpisah."
Kata Pek Giok dan ada sedikit keharuan terkandung dalam suaranya.
"Pek Giok, pertemuan harus disambut dengan pesta kegembiraan, dan perpisahan sepatutnya juga harus diantar dengan pesta kegembiraan pula. Dalam segala keadaan, manusia senantiasa patut bergembira, karena bergembira merupakan pertanda bahwa kita mensyukuri hidup ini, mensyukuri semua berkah TUHAN yang berlimpah ruah. Bermuram durja, mengeluh dan kecewa hanya berarti bahwa kita melupakan berkah itu. Senang susah hanyalah penilaian nafsu yang selalu menginginkan yang serba enak dan serba menyenangkan sehingga kita lupa bahwa kalau kita ingin mengenal enak harus merasakan dulu yang tidak enak, kalau kita ingin senang harus merasakan dulu yang tidak senang. Akan tetapi dalam keadaan yang bagaimanapun, dalam alunan antara Im dan Yang (Positive & Negative), enak atau tidak enak, senang atau susah, kita dapat selalu bersyukur dan berbahagia karena yang tidak enak sekalipun merupakan berkah yang menyembunyikan hikmah yang amat berguna bagi kita."
"Semua petunjuk dan nasihat Suhu akan selalu Teecu ingat."
Pek Giok berjanji karena selama tiga tahun ini, ia bukan hanya menerima gemblengan ilmu-ilmu silat tingkat tinggi, akan tetapi juga petuah-petuah dan nasihat-nasihat tentang hidup dari Song Bun Lojin.
Setelah berkemas dan berlutut memberi hormat terakhir kepada Gurunya, Pek Giok ialu meningalkan lembah Sungai Yang-Ce melalui jalan darat menuju ke selatan.
Sambil berjalan santai gadis itu melamun, mengenang segala pengalamannya sebelum menjadi murid Song Bun Lojin.
Ia teringat akan permusuhan antara keluarga Ayahnya, yaltu keluarga Can dengan keluarga Song.
ia teringat akan pertalian perjodohannya dengan Lui Hong yang diputus oleh pemuda itu, dan terIngat akan Song Han Bun, pemuda yang sejak semula dicintanya dan mencintainya, akan tetapi yang pinangan orang-tuanya terpaksa ditolak oleh Ayahnya karena ia telah dipertunangkan dengan Lui Hong.
Semua peristiwa itu dahulu mendatangkan perasaan sakit dalam hatinya.
Sakit karena pemutusan pertunangan secara sepihak oleh Lui Hong merupakan penghinaan bagi keluarganya, dan sakit karena pertalian kasihnya dengan Song Han Bun terpaksa putus.
Dendam sakit hati yang menimbulkan permusuhan antara keluarga Can dan keluarga Song mengacaukan dan merusak hubungan cinta antara ia dan Han Bun.
Ia mengerti bahwa Han Bun tentu merasa kecewa dan juga terhina karena pinangan Ayahnya ditolak.
Pemuda itu tentu merasa sakit hati dan bukan mustahil penolakan pinangan itu membuat cinta pemuda itu berubah menjadi benci!
Ketika ia ikut Song Bun Lojin, pada bulan-bulan pertama ia masih selalu berduka kalau teringat akan pengalaman itu, teringat kepada Lui Hong dan Han Bun.
Akan tetapi sekarang, biarpun ia mengenang kembali semua itu, hatinya tidak lagi merasa berduka.
Tidak, menyedihi sesuatu yang telah lewat merupakan kebodohan, demikian kata Gurunya dan ia menyadari akan hal itu.
Kalau ia bertemu dengan Lui Hong, ia akan menegurnya dan kalau perlu menghajarnya karena ia berani memutuskan pertunangan secara sepihak sehingga hal itu tentu saja merupakan penghinaan terhadap keluarga Can.
Bagaimana kalau ia bertemu dengan Han Bun?
ia pun akan menegurnya karena pemuda yang mengaku cinta padanya itu ia anggap juga kurang bertanggung jawab.
Yang melamar dan ditolak adalah Ayah pemuda itu, yang menolak pun Ayahnya, jadi urusan meminang dan menolak itu adalah urusan orang-tua mereka.
Mengapa pemuda itu tidak menemuinya dan membicarakan hal itu dengannya?
Padahal urusan perjodohan adalah urusan mereka berdua, dan kedua orang-tua mereka hanya akan mengesahkan saja.
Kalau Han Bun menemuinya.
dan membicarakan urusan itu dengannya, mungkin mereka berdua akan dapat mengatasinya sehingga berakhir dengan balk.
Tidak seperti sekarang ini, ada perasaan tidak enak dalam hatinya terhadap Lui Hong maupun Han Bun.
(Lanjut ke
Jilid 16) Antara Dendam & Asmara (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 16 Akan tetapi ia tidak akan sengaja mencari dua orang pemuda itu.
la hanya akan melaksanakan apa yang dipikirkan tadi kalau kebetulan bertemu mereka.
Sekarang yang terpenting baginya adalah mencari musuh besar yang pernah menyerang keluarga Can dan yang hampir saja membunuh keluarga Ayahnya.
Kalau tidak muncul Song-Bun Lojin yang menolongnya, ia sendiri tentu sudah tewas oleh musuh besar itu dan seluruh keluarga Ayahnya tentu akan dibinasakan.
Musuh besar itu adalah Pek-Bin Giam-Lo (Raja Maut Muka Putih).
Datuk sesat keturunan Turki yang sakti itu datang menyerang keluarganya untuk membalas dendam kepadanya karena keponakan muridnya yang bernama Bu-Eng-Kwi Tok Liong Taisu dulu tewas oleh ia dan Han Bun.
Akan tetapi Bu-Eng-Kwi Tok Liong Taisu adalah seorang tokoh sesat yang membela murid-muridnya yang jahat, yaitu mendiang Lee Kim Lun dan Lee Kim Lan.
Bu-Eng-Kwi Tok Liong Taisu membantu dua orang muridnya itu dan telah rnenculik ia dan Han Bun dengan menggunakan bubuk racun.
Akhirnya ia dan Han Bun dapat membunuh tokoh sesat itu dan dua orang muridnya.
Maka kalau Pek-Bin Giam-Lo muncul hendak membinasakan keluarga Can membalas dendam kematian Bu-Eng-Kwi, maka dia adalah seorang Datuk yang jahat pula.
Song-Bun Lojin pernah memberitahu kepadanya bahwa Pek-Bin Giam-Lo adalah seorang Datuk keturunan Bangsa Turki dan kabarnya dia mendukung dan membantu Kerajaan Cin (Kin) di daerah utara Sungai Yang-Ce.
Suhunya pernah mendengar bahwa Pek-Bin Giam-Lo membantu pertahanan pasukan Cin yang menjaga perbatasan di daerah An-Keng di pantai utara Sungai Yang-Ce.
la akan mencari musuh besarnya itu ke sana, akan tetapi lebih dulu ia akan pulang ke Sung-Kian melihat keadaan orang-tuanya yang telah ia tinggalkan selama tiga tahun.
Bukit Kera merupakan sebuah di antara banyak bukit yang berada di Pegunungan Thai-San.
Dinamakan Bukit Kera karena bukit itu penuh dengan pohon-pohon yang mengeluarkan buah-buahan sehingga di situ menjadi sarang banyak kera berbagai jenis.
Di puncak bukit yang datar itu terdapat sebuah pondok sederhana dari kayu dan pada pagi hari itu, di depan pondok tampak duduk seorang Kakek yang sudah tua sekali.
Dia tampak tua karena kepalanya hanya diturnbuhi sedikit rambut yang sudah putih semua, demikian pula jenggot dan kumisnya sudah putih.
Biarpun wajahnya masih cerah dan kulit mukanya kemerahan tanda sehat, namun garis-garis pada mukanya menunjukkan bahwa Kakek itu sudah amat tua.
Tubuhnya tinggi kurus dan dia duduk di atas sebuah bangku kayu, tangan kanannya bertopang pada sebatang tongkat berwarna putih.
Usia Kakek itu tentu sudah ada seratus tahun!
Di depannya tampak seorang pemuda berlutut menghadapnya dengan sikap hormat.
Pemuda ini berusia dua puluh satu tahun, wajahnya tampan dan selalu terbayang senyum di mulutnya.
Tubuhnya sedang namun tegap dan pemuda itu mengenakan pakaian serba putih.
Berbeda sekali dengan pakaian yang dikenakan Kakek itu.
Pakaian Kakek itu penuh tambalan seperti biasa dipakai para pengemis!
Akan tetapi pakaian itu cukup bersih, sama bersihnya dengan pakaian pemuda yang serba putih dan terbuat dari kain kasar itu.
Kakek itu adalah Khong-Sim Sin-Kai (Pengemis Sakti Hata Kosong) dan pemuda itu bukan lain adalah Song Han Bun.
Seperti kita ketahui, Song Han Bun pada tiga tahun yang lalu kehilangan ingatan dan di luar kesadarannya dia diperalat oleh Beng-Kauw.
Ketika dia dengan nalurinya walaupun di luar kesadarannya, menentang Beng-Kauw, dikeroyok dan terluka.
Untung baginya muncul Khong-Sim Sin-Kai yang menolongnya dan Kakek sakti ini rnembawanya pergi ke Thai-San.
Di tempat sepi ini, di bukit Kera, Khong-Sim Sin-Kai rnerawatnya dan dalam beberapa bulan saja Han Bun mendapatkan kembali ingatannya yang hilang.
Selain berterima icasih kepada Khong-Sim Sin-Kai, dia juga mohon agar Kakek itu suka menerimanya sebagai murid.
Permintaan ini dikabulkan dan Han Bun lalu mendapatkan bimbingan dari Kakek sakti itu, Bukan hanya bimbingan untuk memperdalam ilmu silatnya yang sudah tinggi tingkatnya, melainkan terutama sekali bimbingan tentang kerohanian dan untuk melawan ilmu-ilmu hitam dan sihir yang menggunakan kekuatan setan dan iblis.
Dari Khong-Sim Sin-Kai dia mendapatkan petunjuk untuk dapat berserah diri lahir batin dan seutuhnya kepada TUHAN sehingga bukan lagi nafsu hati akal pikiran yang membimbingnya, melainkan kekuasaan TUHAN.
Setelah menerima petunjuk Han Bun merasa betapa dia kini dekat sekali dengan kekuasaan TUHAN, bukan seperti dahulu pengetahuan dan kepercayaannya akan TUHAN hanya merupakan kulit dan teori saja.
Kini dia benar-benar dapat merasakan betapa daya hidup yang membangkitkan jiwanya sehingga dia dapat merasakan, dapat mengalaminya betapa kekuasaan TUHAN itu bekerja dalam dirinya, membangkitkan jiwanya.
"Han Bun, saat berpisah antara kita telah tiba. Engkau telah menceritakan semua pengalaman hidupmu sampai engkau kehilangan ingatan kepadaku. Aku tahu bahwa banyak masalah telah menimpa dirimu. Sebelum kita berpisah, ingin sekali aku mengetahui akan isi hatimu. Engkau mempunyai banyak pengalaman yang menyakitkan hatimu sehingga banyak orang yang kau anggap sebagai rnusuhmu yang sepatutnya kau balas. Bukankah begitu?"
"Maafkan kalau Teecu terpaksa menyangkal, Suhu, karena sesungguhnya, saat sekarang ini Teecu sama sekali tidak mempunyai perasaan memusuhi orang lain."
Khong-Sim Sin-Kai tersenyum dan wajah tua renta itu tampak cerah dan jauh Iebih muda ketika dia tersenyum.
Ternyata Kakek yang usianya sudah seratus tahun Iebih itu masih rnempunyai deretan gigi yang lengkap!
"Benarkah engkau tidak menarun dendam sakit hati kepada orang-orang yang telah berbuat jahat kepadamu?
Bahkan tidak mendendam kepada Pek-Bin Giam-Lo yang nyaris membunuhmu dan melukaimu sehingga engkau kehilangan ingatan?"
Tanya Kakek itu sambil menatap tajam wajah pemuda itu. Han Bun tersenyum dan menggelengkan kepalanya, lalu berkata dengan nada serius.
"Selama ini Suhu telah memberi petunjuk sehingga hati dan pikiran Teecu terbuka dan menyadari sepenuhnya bahwa segala hal yang terjadi telah dikehendaki oleh TUHAN. Teecu akan selalu berusaha dalam hidup ini sekuat tenaga, namun semua itu dilandasi penyerahan kepada kekuasaan TUHAN yang telah menentukan segalanya. Yang terjadi kepada diri Teecu, enak atau tidak enak sudah di kehendaki TUHAN. Kalau Teecu mendendam, berarti Teecu tidak dapat menerima kehendak TUHAN. Teecu menyadari bahwa tidak ada manusia di dunia ini yang sempurna, setiap orang mempunyai kesalahan dan dosa. Teecu sendiri seorang manusia, tidak luput dari salah dan dosa. Bagaimana Teecu berani mendendam dan membenci. orang lain yang melakukan dosa terhadap diri Teecu yang juga bergelimang dosa? Tidak, Teecu tidak akan membiarkan hati ini diracuni dendam. Teecu akan selalu menentang kejahatan, akan menghalangi orang-orang yang melakukan kejahatan mengganggu orang lain, akan tetapi semua itu akan Teecu lakukan tanpa perasaan benci kepada pelakunya. Bukan hak Teecu untuk menghakimi dan menghukum orang, karena itu adalah hak TUHAN sendiri. Dia yang akan menilai, menghakimi dan menghukum orang berdosa termasuk diri Teecu."
Kakek itu mengangguk-anggukkan kepalanya dan tampak senang sekali.
"Bagus, kiranya tidak sia-sia aku menghabiskan sisa waktu hidupku untuk membimbingmu, Han Bun. Sekarang tiba saatnya aku akan meningalkanmu, meninggalkan tempat ini. Aku akan menghadiri pertemuan besar antara para pimpinan Kaipang (Perkumpulan Pengemis) seluruh negeri. lni merupakan kesempatan terakhir bagiku. Nah, selamat berpisah, Han Bun."
"Suhu sudah tua, sebaiknya kalau Teecu ikut dan menemani Suhu agar ada yang melayani Suhu dalam perjalanan."
Kata Han Bun. Akan tetapi Kakek itu menggelengkan kepala sambil tersenyum.
"Han Bun, sebelum engkau berada di sini tiga tahun yang lalu, selama puluhan tahun aku hidup rnenyendiri. Selama engkau berada di sini aku merasa tubuhku ini. terlalu dimanja karena engkau selalu melayani semua kebuTUHANku. Sekarang aku ingin bebas dan sendiri lagi. Engkau harus rnemanfaatkan semua yang telah kau pelajari dengan sudah payah. Nah, aku pergi."
Khong-Sim Sin-Kai lalu melangkah pergi dibantu tongkat putihnya yang panjang.
"Selamat berpisah dan selamat jalan, Suhu. Terirna kasih atas segala budi kebaikan Suhu kepada Teecu!"
Kata Han Bun sambil berlutut dan memberi horrnat ke arah Gurunya itu.
Akan tetapi Kakek Itu tidak menjawab dan melanjutkan langkahnya, santai saja menuruni puncak Bukit Kera.
Han Bun mengangkat muka memandang.
Keharuan menyelimuti perasaannya melihat Gurunya yang sudah tua renta itu berjalan dibantu tongkatnya, tampak demikian lemah walaupun dia tahu bahwa Gurunya sama sekali bukan orang lemah.
Setelah bayangan Gurunya lenyap di balik pepohonan, Han Bun menghela napas panjang.
Dia menyadari bahwa segala yang diperolehnya dalam pelajaran merupakan berkat dari TUHAN, melalui diri Khong-Sim Sin-Kai yang hanya menjadi penyalur berkat TUHAN.
Berkat yang benlimpah-limpah itu sudah sepatutnya kalau dia balas dengan menyalurkan berkat itu kepada orang-orang lain yang membutuhkannya.
Sudah pasti demikianlah kehendak TUHAN ketika memberi berkat kepada manusia, yaitu untuk menyalurkan berkat itu kepada orang lain yang memerlukannya.
Orang yang diberkati pengertian, seyogianya rnembagi pengertian itu kepada yang tidak atau kurang mengerti.
Yang diberkati kekuatan menyalurkannya dengan mempergunakan kekuatan itu untuk menolong yang lemah.
Yang diberkati kekayaan menyalurkannya dengan menolong mereka yang miskin.
Pendeknya, mereka yang diberkati dengan kelebihan sesuatu menyalurkannya dengan membantu mereka yang kekurangan sesuatu itu.
Ini berarti membantu TUHAN dalam penyaluran berkat-Nya sehingga rnanusia patut disebut hamba atau pelayan TUHAN.
Han Bun melihat ke sekeliling.
Bukan main indahnya pemandangan alam di sebelah bawah, di sekeliling bukit itu.
Han Bun bangkit berdiri dan memandangI semua keindahan itu, seperti setiap kali ia lakukan, sadarlah dia akan bukti kebesaran TUHAN yang menciptakan semua ini.
Inilah ciptaan TUHAN.
Ciptaan, tahu-tahu ada, tahu-tahu jadI.
Hanya TUHAN lah Sang Maha Pencipta, Pencipta Tunggal.
Manusia dan mahluk lain tidak ada yang dapat menciptakan sesuatu.
Manusia hanya dapat membuat sesuatu dengan karyanya, dIbuat dan dibentuknya sedikit demi sedikit dan akhirnya barulah jadi hasil karyanya itu.
Hasil karya itupun jauh daripada sempurna.
Namun ciptaan TUHAN yang tahu-tahu ada dan tahu-tahu jadi itu serba sempurna!
Kalau sudah dalam keadaan demikian, tanpa disengaja, Han Bun menghela napas panjang sebagai puji syukur kepada TUHAN.
Demikian besar kasih sayang TUHAN kepada manusia sehingga segala sesuatu yang diadakan atau diciptakan itu dapat dimanfaatkan manusia untuk kesejahteraan hidupnya di dunia.
Tak lama kemudian Han Bun sudah menuruni Bukit Kera, menggendong buntalan pakaian.
Dia berjalan dengan santai, tidak tergesa-gesa dan mulailah dia memikirkan apa yang akan dilakukan sekarang.
Selama tiga tahun ini, setelah diobati Khong-Sim Sin-Kai dan sembuh dari kehilangan ingatan, kemudian menerima bimbingan kerohanian dari Kakek itu, perasaan hatinya seolah air yang dalam dan tenang, tidak mudah diguncang suka duka dan lain emosi yang tirnbul karena ke akuan.
Dia pun jarang mengenang peristiwa masa lalu yang hanya menimbulkan perasaan sedih, kecewa, marah dan sebagainya.
Kini, setelah meninggalkan Bukit Kera, dia mulai membayangkan wajah orang-orang yang terdekat dengan hatinya.
Wajah Ayah dan Ibunya terutama.
Membayangkan wajah kedua orang-tuanya ini, Han Bun tersenyurn.
Dia merasa berbahagia akan bertemu kembali dengan dua orang yang dikasihinya itu.
Dia membayangkan betapa girang Ayah dan Ibunya menyambut kepulangannya, terutama sekali Ibunya yang amat menyayangnya.
Setelah puas membayangkan Ayah-Ibunya, Han Bun teringat akan encinya Song Bwee Eng yang menjadi isteri Lee Kim Lun yang jahat sehingga encinya itu tewas di tangan Lee Kim Lun dan adiknya, Lee Kim Lan.
Akan tetapi dia dan Pek Giok berhasil membunuh Kakak-beradik yang jahat itu.
Teringat akan semua ini, sepasang alis Han Bun berkerut.
Akan tetapi dia dapat menenangkan gejolak hatinya dan terbayanglah wajah Can Pek Giok!
Begitu wajah gadis yang dicintanya itu terbayang, kembali Han Bun tersenyum, akan tetapi senyumnya mernbayangkan kepahitan karena sekaligus dia teringat bahwa pinangan Ayahnya kepada Can-Kauwsu untuk rnenjodohkan dia dengan Pek Giok ditolak oleh Ayah gadis itu!
Bukan itu saja, melainkan lebih menyakitkan lagi mendengar betapa gadis yang dicintanya itu telah bertunangan dengan pemuda lain.
Bertunangan dengan Lui Hong, putera murid kepala perguruan Can-Kauwsu!
Akan tetapi dia tidak rnerasa sakit hati, bahkan dia merasa kasIhan kepada Can Pek Giok.
Dia merasa yakin bahwa gadis itu juga mencinta dia seperti dia mencintanya.
Kalau gadis itu bertunangan dengan Lui Hong, hal ini pasti terjadi atas kehendak Ayah-Ibunya!
Dan hal ini tidaklah mengherankan kalau dlingat bahwa Lui Hong tentu dekat dengan Pek Giok karena satu perguruan.
Sudah pantas kalau orang-tua Pek Giok menjodohkan puteri mereka itu dengan Lui Hong yang dia tahu rnerupakan seorang pemuda yang berkepandaian tinggi, seorang Bun-Bu Coan-Jai (ahli sastra dan ahli silat) selain itu juga masih muda dan berwajah tampan.
"Sudahlah,"
Dia mencela dirinya sendiri.
"Tidak perlu memikirkan Pek Giok. Kalau ia hidup berbahagia sebagai isteri Lui Hong, aku juga ikut rnerasa bahagla. Mungkin rnereka kini telah rnempunyai anak, untuk apa dipikirkan lagi?"
Han Bun menghapus ingatan tentang Pek Giok ini dan dia kini teringat akan Pek-Bin Giam-Lo.
Dia tidak menyesal bahwa dia pernah terpukul pukulan beracun Datuk sesat itu sehingga kehilangan ingatan.
Akan tetapi dia terkejut ketika mengingat bahwa Pek-Bin Giam-Lo menyerangnya untuk membalas dendam atas kematian keponakan muridnya, yaitu Bu-Eng-Kwi Tok Hong Taisu yang tewas di tangan dia dan Pek Giok.
"Ahh, jangan-jangan Datuk sesat itu juga mendatangi rumah keluarga Can untuk membalas dendam kepada Pek Giok"
Dia begitu kaget memikirkan ini sampal berhenti melangkah.
Datuk sesat itu berbahaya sekali dan berhati kejam.
Orang yang sesat seperti itu dapat berbuat kejahatan apa saja dan amat berbahaya, terutarna bagi Pek Giok yang bersama dia telah membunuh Bu-Eng-Kwi Tok Liong Taisu, keponakan murid Datuk sesat itu!
Teringat akan kemungkinan ini, Han Bun lalu mulai menggunakan ilmunya berlari cepat dan tubuhnya berkelebat seperti bayangan terbang.
Dia harus cepat tiba di Sung-Kian untuk rnelihat keadaan orang-tuanya dan keluarga Can.
Can Pek Giok memasuki kota Sung-Kian dengan jantung berdebar karena tegang dan juga gembira karena ia akan berjumpa dengan Ayah-Ibunya dan dengan para murid Ayahnya.
Juga ia merasa bangga bahwa sekarang ia bukanlah Pek Giok seperti tiga tahun yang lalu.
Kini la telah menguasai ilmu-ilmu yang tinggl, bukan saja ilmu silatnya, melainkan juga ilmu kesaktian untuk menghadapi ilmu hitam dan ilmu sihir yang banyak dipergunakan oleh para Datuk kang-ouw.
Kini ia tidak takut lagi menghadapi ilmu sihir Datuk macam Pek-Bin Giam-Lo yang pernah mengalahkannya dengan ilmu hitamnya itu.
la merasa amat rindu kepada Ibunya, maka begitu memasuki kota Sung-Kian, ia langsung saja menuju ke rumah orang-tuanya.
Ketika tiba di pekarangan rumah itu, Pek Giok merasa heran rnelihat keadaan yang sepi.
Biasanya di pekarangan itu terdapat beberapa orang murid Ayahnya.
Yang lebih aneh lagi, papan nama perguruan silat Ayahnya tidak tampak lagi terpasang di depan bangunan seperti biasanya.
Apa yang telah terjadi?
Mengapa terdapat perubahan ini, tidak ada papan nama dan keadaan depan bangunan demikian sepi?
Dengan hati berdebar tegang Pek Giok berlari menuju pintu depan dan begitu rnemasuki beranda di depan, seorang wanita setengah tua menyambutnya.
"Siocia..., ahh, Siocia (Nona) mengapa baru sekarang pulang...??"
Wanita itu segera menangis tersedu-sedu.
"Bibi Lai, engkau kenapa menangis?"
Pek Glok bertanya, hatinya merasa semakin heran dan tegang.
"Nona..., Nyonya telah menunggumu..."
Wanita itu lalu lari ke dalam dan berteriak.
"Nyonya...! Nona Pek Giok pulang...!"
Pek Giok mengejar masuk dan terdengar jeritan dari dalam. la melihat Ibunya lari terhuyung-huyung keluar dan begitu bertemu dengannya, Ibunya lalu menubruk, merangkulnya sambil menangis sesenggukan.
"Ibu..., ada apakah?"
Pek Giok balas merangkul Ibunya dan hatinya merasa khawatir sekali.
Akan tetapi Ibunya terus menangis, bahkan lalu terkulai lemas dan jatuh pingsan dalam rangkulan Pek Giok.
Tentu saja gadis ini terkejut dan cepat ia memondong tubuh Ibunya, dibawa masuk ke kamar Ibunya dan merebahkannya di atas pembaringan.
la menotok beberapa jalan darah dan mengurut bagian tengkuknya.
Nyonya Can Gi Sun siuman dan begitu sadar dan melihat Pek Giok duduk di tepi pembaringan, la lalu menangis lagi dengan sedih.
Biarpun bingung dan khawatir, namun Pek Giok maklum bahwa sebaiknya la membiarkan Ibunya rnencurahkan semua kesedihannya itu melalui air mata sehingga suasana hatinya dapat menjadi lega dan tenang kembali.
Setelah tangis Ibunya agak lernah dan mereda, barulah la merangkul Ibunya dan bertanya dengan suara lembut.
"Ibu, harap Ibu tenangkan hati. aku sudah pulang, Ibu. Katakanlah, apa yang membuat Ibu menjadi begini sedih?"
Nyonya Can merangkul puterinya dan sambil terisak-isak Ia berkata.
"Pek Glok... Ayahmu... Ayahmu... ahh... hu-hu-huhh..."
Pek Giok terkejut.
"Ayah? Ada apa dengan Ayah? Di mana Ayah?"
"...Ayahmu... dia... dia terbunuh..."
Tentu saja Pek Giok terkejut bukan main. la melepaskan Ibunya, melompat turun dart bangkit berdiri.
"Ayah terbunuh? Siapa yang mernbunuhnya...??"
Ia berteriak, matanya mencorong dan kedua tangannya dikepal. Nyonya Can menangis dan sejenak tidak mampu bicara.
"Ibu, katakan apa yang telah terjadi dengan Ayah!"
Pek Giok mendesak Ibunya. Nyonya itu menggelengkan kepalanya.
"...Kau tanyalah kepada... Liu Siong..."
Pek Giok memandang kepada Bibi Lai, pelayan setengah tua yang telah menjadi pelayan keluarga Can sejak Pek Giok masih kecil, lalu berkata.
"Bibi Lai, cepat undang Paman Lui Siong ke sini!"
"Baik, Nona."
Pelayan itu pergi sambil mengusap air matanya.
Pek Giok duduk kembali dan biarpun ia penasaran dan marah sekali mendengar Ayahnya terbunuh orang, namun ia pun merasa sedih dan ketika ia merangkul dan hendak menghibur Ibunya, ia sendiri tidak dapat menahan tangisnya.
Nyonya Can saking sedihnya, tidak mampu banyak bicara dan hanya menangis.
Pek Giok tidak mau mengganggunya dengan pertanyaan karena hal itu akan membuat Ibunya semakin sedih.
la harus bersabar rnenanti datangnya Lui Siong, murid pertama Ayahnya.
Agaknya Lui Siong lebih mengerti akan sebab kernatian Ayahnya.
Akan tetapi ada perasaan tidak enak dalam hatinya terhadap Lui Siong karena ia mengingat bahwa Lui Siong tadinya telah menjadi calon Ayah mertuanya dan kemudian Lui Hong memutuskan hubungan pertunangan dengannya.
Akan tetapi karena ia ingin sekali tahu apa yang telah terjadi dengan Ayahnya, maka ia menyuruh pelayan mengundang Ayah Lui Hong itu.
Kalau tidak ada urusan itu, tentu ia tidak mau bertemu dengan keluarga Lui!
Tak lama kemudian Bibi Lai memasuki kamar itu dan memberitahu bahwa Lui Siong telah datang memenuhi panggilan dan menanti dalam ruangan tamu.
Karena Nyonya Can sudah menganggap Lui Siong seperti keluarga sendiri, maka ia menyuruh Bibi Lai agar mempersilakan murid pertama mendiang suaminya itu untuk memasuki kamarnya.
Pelayan itu keluar lag dan tak lama kemudian Lui Siong memasuki kamar itu.
Dia tampak terkejut ketika melihat Pek Giok.
Bibi Lai sebagai seorang pelayan yang patuh dan setia ketika mengundangnya tadi sama sekal tidak bercerita tentang kedatangan Pek Giok, hanya mengatakan bahwa Nyonya Can mengundangnya.
Lui Siong memberi hormat kepada Nyonya Can dan mengangguk kepada Pek Giok yang memandangnya.
Tentu saja dia merasa tidak enak sekali bertemu gadis itu karena dia teringat akan puteranya Lui Hong, yang secara sepihak memutuskan pertunangannya dengan gadis itu.
"Paman Lui Siong, silakan duduk,"
Kata Pek Giok yang tidak menaruh dendarn atau marah kepada murid pertama Ayahnya itu karena ia sudah mendengar bahwa putusnya pertunangannya dengan Lui Hong itu bukan kehendak Lui Siong melainkan kehendak Lui Hong sendiri sehingga Lui Siong rnarah kepada puteranya.
Lui Siong mengambil ternpat duduk di sebuah kursi dan Nyonya Can lalu berkata.
"Lui Siong, Pek Giok pulang dan ia ingin sekali mengetahui apa yang terjadi sehingga Ayahnya terbunuh. Aku tidak kuasa menceritakannya dan karena engkau yang lebih mengetahui akan peristiwa itu, maka kuharap engkau yang menceritakan kepadanya."
"Peristiwa yang terjadi sebulan yang lalu itu memang aneh sekali, Sumoi (Adik Seperguruan),"
Kata Lui Siong.
Karena dia murid Ayah Pek Giok, maka dia menyebut gadis itu adik seperguruan.
Kalau gadis itu menjadi mantunya, tentu sebutannya akan berubah.
Akan tetapi pertalian jodoh itu telah putus, maka dia menyebut Pek Giok sebagai Sumoinya walaupun gadis itu menyebutnya paman.
"Ceritakanlah, Paman, ceritakan selengkapnya karena aku ingin sekali mengetahui siapa yang rnembunuh Ayahku dan mengapa dia dibunuh."
Lui Siong lalu menceritakan semua yang terjadi sebulan yang lalu.
Pada suatu siang, karena Can Gi Sun atau Can-Kauwsu tidak berada di rumah karena Guru silat Ini sedang pergi mengunjungi kenalan di kota Sin-Coan yang jauhnya sekitar lima puluh li (mil) dari Sung-Kian sehingga Lui Siong setelah mengurus perusahaan ekspedisinya lalu pergi ke rumah Gurunya untuk mewakili Gurunya mengawasi latihan para murid, datanglah belasan orang ke perguruan Can-Kauwsu.
Mereka adalah murid-murid Song Swi Kai atau Song-Kauwsu yang dipimpin oleh Tan Siang dan adiknya, Tan Kui Hok.
Mereka berdua itu merupakan murid tingkat pertama dari perguruan Song-Kauwsu.
Tan Siang berjuluk Ui-Bin-Liong (Naga Muka Kuning), berusia sekitar tiga puluh tiga tahun, tinggi kurus dan mukanya pucat.
Adapun Tan Kui Hok berjuluk Hek-Bin-Liong (Naga Muka Hitam), berusia sekitar dua puluh delapan tahun, tinggi tegap dengan kulit muka kehitaman.
Mereka berdua dan tiga belas orang saudara seperguruan mereka tampak marah dan ketika datang sudah jelas menunjukkan sikap permusuhan!
"Mana Can-Kauwsu?
Hayo keluar menemui kami kalau memang jagoanl"
Terdengar Tan Kui Hok berteriak dengan sikap menantang. Lui Siong yang dilkuti belasan orang murid Can-Kauwsu keluar menyambut mereka. Dengan tenang dan sabar Lui Siong berkata.
"Kalian semua datang hendak bertemu dengan Suhu Can Gi Sun, ada keperluan apakah?"
"Kami hendak mengadu nyawa dengan dia! Kami akan membunuhnya atau dia harus membunuh kami semua!"
Kata Tan Siong sambil mencabut sepasang goloknya dengan sikap menantang dan mengancam.
Lui Siong mengerutkan alisnya akan tetapi dia masih bersikap tenang dan menahan kesabarannya.
Tentu saja dia tidak takut kepada Kakak-beradik she Tan ini karena dahulu, beberapa tahun yang lalu, dalam pertandingan antara pihak Can-Kauwsu melawan pihak Song-Kauwsu, dia pernah mengalahkan Tan Siang dengan mudah.
"Hemm, ucapanmu terlalu gegabah dan sombong! Kalian hendak membunuh Suhu kami? Mengapa kalian begini marah seperti kesetanan? Bukankah di antara Suhu dan Suhu kalian sudah tidak ada lagi permusuhan?"
"Memang tidak ada permusuhan, akan tetapi ternyata diam-diam Can-Kauwsu, bertindak curang dan licik. Suhu Song Swi Kai dibunuh orang semalam. Siapa lagi pembunuhnya kalau bukan pihak Can-Kauwsu? Maka kami harus menuntut balas, kalau perlu dengan taruhan nyawa kami!"
Bentak Tan Siang dengan marah sekali.
Kini Lui Siong terbelalak, hampir dia berseru keras.
Tentu saja dia tidak percaya sama sekali kalau Gurunya membunuh Song-Kauwsu.
Bukankah di antara mereka sudah tidak ada permusuhan lagi, bahkan selama ini Can-Kauwsu lebih banyak rnengalah kepada Song-Kauwsu yang berperangai keras?
"Apa?
Song-Kauwsu terbunuh...?"
"Tidak perlu berpura-pura lagi! mungkin engkau tidak tahu. Sekaranp panggil Can-Kauwsu keluar untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya yang kejil"
"Suhu tidak berada di rumah. Sejak pagi tadi beliau pergi berkunjung ke rumah kenalannya dan mungkin besok pagi baru pulang."
"Jangan bohong!"
"Siapa bohong? Suhu pagi tadi pergi ke kota Sin-Coan."
"Hemm, itu tandanya dia telah membunuh Suhu kami yang sedang tidur dalam kamarnya. Setelah membunuh, pagi tadi dia kabur melarikan diri"
Bental, Tan Kui Hok si rnuka hitarn.
"Bohong!"
Tiba-tiba Gu Ma Ek, murid ke dua Can-Kauwsu yang baru saja keluar dan mendengarkan pertengkaran itu membentak.
Pemuda berusia dua puluh tiga tahun yang bertubuh tinggi besar dan berwatak keras ini, yang sejak kecil yatim piatu dan dianggap anak angkat oleh Can-Kauwsu, marah mendengar Gurunya dituduh membunuh lalu melarikan diri.
"Suhu tidak mungkin membunuh dengan curang, kalaupun dalam perkelahian sampai lawannya terbunuh juga, Suhu tidak mungkin melarikan diri! Kalian menuduh orang asal membuka mulut seenaknya saja!"
"Keparat!"
Tan Kui Hok memaki sambil mencabut sepasang goloknya. Kakak-beradik Tan itu selama ini melatih ilmu sepasang golok yang menjadi andalan mereka.
"Gurumu rnembunuh Guru karni dan engkau hendak membelanya? Kalau begitu, biar kubalas dendam kepadarnu dulu!"
Tan Kui Hok lalu menerjang dan menyerang Ma Ek.
Gu Ma Ek juga telah meningkatkan ilmu silatnya dengan permainan Siang-Kiam (sepasang pedang).
Melihat dia diserang, cepat dia melompat ke belakang sambil mencabut sepasang pedangnya dan dua orang itu mulai saling serang dengan sengit!
Lui Siong mengerutkan alisnya.
Dia tahu bahwa Gurunya pasti tidak suka dan akan rnarah kepada mereka kalau mereka berkelahi dengan para murid Song-Kauwsu yang dikabarkan mati terbunuh orang.
Dia tahu bahwa Sutenya (adik seperguru-annya) Gu Ma Ek berwatak keras, maka dia cepat berseru.
"Gu Sute, awas, jangan sampai membunuh orang,"
Akan tetapi seruan ini oleh Tan Sian dianggap sebagai sikap memandang rendah adiknya, maka dia pun segera bergerak menyerang Lui Siong sambil membentak.
"Adikku benar, kami akan membasrni rnurid-muridnya, baru akan membinasakan Gurunya!"
Dia menyerang dengan hebat sehingga terpaksa Lui Siong mencabut pedang untuk membela diri.
Melihat ini para murid Song-Kauwsu yang berjumlah tiga belas orang juga maju menyerang disambut oleh para murid Can-Kauwsu Terjadilah perkelahian hiruk-pikuk dan seru di halaman rumah Can-Kauwsu.
Akan tetapi, setelah bertanding selama belasan jurus saja, Tan Siang dan Tai Kui Hok, dua Kakak-beradik murid utama Song-Kauwsu itu terdesak hebat oleh Lu Siong dan Gu Ma Ek.
Akan tetapi karena tadi Lui Siong sudah rnemperingatkan Ma Ek agar jangan membunuh lawan maka murid ke dua dari Can-Kauwsu inipun membatasi serangannya.
Tiba-tiba seorang wanita setengah tua, berusia sekitar empat puluh tiga tahun, cantik dan anggun, keluar dalam rumah dan melihat pertempuran itu, ia berseru dengan suara nyaring.
"Tahan semua senjata! Jangan berkelahi, mundur semua!"
Seruannya itu lembut namun lantang dan berwibawa.
Tiga belas orang murid Can-Kauwsu dan dua orang murid utama itu segera berloncatan ke belakang, menghentikan perkelahian mereka.
Biarpun murid Can-Kauwsu jumlahnya banyak, namun yang maju melayani para murid Song-Kauwsu yang menyerbu hanya tiga belas orang bersama Lui Siong dan Gu Ma Ek.
Mereka memegang teguh kesopanan dalam adu kepandaian, yaitu satu lawan satu, tidak mengandalkan jumlah yang lebih banyak.
Karena tadinya mereka memang terdesak, maka melihat pihak Can-Kauwsu menghentikan perkelahiani kedua Kakak-beradik Tan itupun berhenti dan Tan Siang memberi isarat kepada param Song-Kauwsu untuk berhenti.
Tan Siang kini melangkah menghampiri Nyonya Can.
Menghadapi isteri Can-Kauwsu, dia bersikap hormat dan berkata.
"Maafkan kami, Can-Hujin. Kami datang untuk minta pertanggungan jawab kepada Can-Kauwsu atas kematian Guru kami, Suhu Song Swi Kai!"
Nyonya Can Gi Sun terkejut. la tadi keluar mendengar kerIbutan dan cepat ia melerai perkelahian rombongan itu. Baru sekarang ia mendengar bahwa Song-Kauwsu telah mati, maka ia berseru kaget.
"Song-Kauwsu telah mati...??"
"Benar, Guru kami terbunuh dalam kamarnya sernalam!"
Kata Tan Siang sambil menatap tajam wajah nyonya itu.
"Eh, Gurumu mati terbunuh mengapa kalian datang mengamuk di sini? Apa maksud kalian?"
Nyonya Can rnenegur sambil mengerutkan alisnya.
"Hemm, tadinya kami hendak menemui Can-Kauwsu, akan tetapi murid-muridnya ini membela dan menentang kami. Kalau Guru kami terbunuh, siapa lagi pembunuhnya kalau bukan Can-Kauwsu? Dialah satu-satunya musuh besar mendiang Suhu. Karena itu, kami minta Can-Kauwsu keluar untuk mempertanggung-jawabkan perbuatannya!"
"lh, kalian ngawur! Mana mungkin suamiku membunuh Song-Kauwsu. Tidak ada lagi permusuhan di antara keluarga Can dengan keluarga Song. Akan tetapi boleh saja kalian menuduh suamiku, hanya saja suamiku sejak pagi tadi telah pergi ke Sin-Coan. Tidak boleh kalian menuduh secara membabi buta lalu menyerbu ke sini. Tunggulah sampai besok, setelah suamiku pulang dia pasti akan datang ke rumah keluarga Song untuk memberi penjelasan. Nah. sekarang kalian pergilah, tunggu saja sampai besok, setelah suamiku pulang sernua perkara pasti akan dapat dijelaskan."
Agaknya Kakak-beradik Tan itu dapat rnempertimbangkan kebenaran ucapan Nyonya Can.
Pula, mereka tahu bahwa menggunakan kekerasan tidak akan menguntungkan mereka karena selain para murid Can-Kauwsu memang tangguh dan jumlah mereka Iebih banyak, juga tanpa adanya Can-Kauwsu di situ maka urusan tidak akan dapat diselesaikan.
"Baik, kami akan menunggu dan Can-Kauwsu harus datang dan menjelaskan kepada keluarga Song. Kalau tidak, kalian tunggu saja, kalau Song-Kongcu (Tuan Muda Song) pulang, dia pasti akan membalas dendam atas kematian Ayahnya dan kalian semua pasti akan dibinasakan seluruhnya!"
Setelah berkata dengan nada mengancarn Tan Siang dan Tan Kui meninggalkan halaman rumah keluarga Can, diikuti para murid Song-Kauwsu.
Sampai di sini kisah yang diceritakan Lui Siong, membuat Pek Giok merasa tidak sabar lagi.
"Akan tetapi, Paman Lui Siong, sejak tadi Paman hanya menceritakan tentang kematian Song-Kauwsu. Bukan itu yang ingin kuketahui, akan tetapi tentang kematian Ayahku. Siapa pembunuhnya dan mengapa Ayahku dibunuh?"
"Biar aku yang melanjutkan ceritanya, Pek Giok,"
Kata Nyonya Can yang kini sudah dapat menguasai perasaannya.
Sebetulnya Nyonya Can yang dahulu bernama Bun Cui Lan ini memiliki hati yang keras dan tabah.
la adalah puteri seorang Bangsawan yang kawin Iari bersama Can Gi Sun.
"Ceritakanlah, Ibu, aku sudah tidak sabar lagi untuk mendengarnya."
Kata gadis itu yang kedua matanya masih basah.
"Tidak banyak yang dapat kuceritakan. Cerita Lui Siong tentang penyerbuan murid-rnuricl mendiang Song-Kauwsu mungkin ada hubungannya dengan kematian Ayahmu. Setelah terjadi peristiwa yang diceritakan Lui Siong tadi, tentu saja kami menunggu kedatangan Ayahmu, dengan tidak sabar. Akan tetapi pada keesokan harinya, ada beberapa orang penduduk dusun luar kota datang mendorong sebuah kereta yang terisi... jenazah Ayahrnu."
Sampai di sini Nyonya Can berhenti seolah lehernya tercekik karena kembali kesedihan menyelubungi dirinya.
"Siapa yang mernbunuhnya dan kenapa, Ibu?"
Pek Giok mendesak.
"Biarlah saya yang melanjutkan, Nona,"
Kata Lui Siong.
"Menurut orang-orang dusun itu, ketika pagi itu mereka rnemasuki hutan dekat jalan raya untuk mencari rumput makanan ternak dan kayu kering, mereka menemukan Suhu sudah rebah di atas tanah dalam hutan dalam keadaan sudah tewas. Saya mengikuti mereka untuk melihat tempat di mana mereka menemukan jenazah Suhu, akan tetapi saya tidak dapat menemukan tanda-tanda yang dapat saya pergunakan untuk menyelidiki siapa yang membunuh Suhu. Saya lalu pulang dan saya memeriksa jenazah Suhu. Tidak terdapat luka, akan tetapi pada dada Suhu terdapat tanda tapak jari merah dan pukulan itulah agaknya yang menewaskan Suhu."
"Hemm, Ang-Tok-Ciang (Tangan Racun Merah)?"
Gumam Pek Giok.
"Lalu, apakah selama satu bulan ini engkau tidak dapat, menemukan titik terang siapa yang sekiranya membunuh Ayah, Paman Lui Siong?"
Lui Siong menghela napas dan menggelengkan kepalanya.
"Alangkah rnenyesal hati saya, Nona. Agaknya kemampuan saya masih terlalu rendah untuk dapat membuka tabir rahasia kematian Suhu. Melihat tanda tapak tangan rnerah itu, dan melihat kenyataan bahwa Suhu tewas tanpa terluka senjata tajam, sudah pasti bahwa pembunuhnya itu memiliki kepandaian tinggi. Saya masih terlalu bodoh untuk dapat..."
"Sudahlah, Paman Lui Siong. Aku tidak mencela Paman yang belum dapat menangkap pembunuhnya. Akan tetapi menurut pendapatku, hanya di satu tempat keadaan pembunuh itu dapat diselidiki."
"Di mana itu, Pek Giok?"
Tanya Nyonya Can.
"Di mana lagi, Ibu, kalau bukan di perguruan Song-Kauwsu? Bukankah mereka yang menuduh bahwa Song-Kauwsu terbunuh oleh Ayah dan mereka mengancam akan membunuh Ayah untuk membalas dendam? Tak salah lagi, pembunuhnya sudah pasti mereka!"
"Nona Pek Giok, tadinya saya juga menyangka dernikian akan tetapi Subo melarang saya untuk menanyakan dan menuntut mereka."
Kata Lui Siong.
"Ingat, Pek Giok. Mereka baru saja tertimpa musibah. Song-Kauwsu baru saja mati terbunuh orang dan mereka sendiri sedang berduka cita. Seperti juga kita, mereka belum mengetahui siapa pembunuh Song-Kauwsu. Mereka menduga Ayahmu yang membunuhnya dan kita sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk mengetahui apakah dugaan itu benar ataukah tidak."
"Aih, Ibu menduga bahwa Ayah membunuh Song Kauwsu?"
"Hush, jangan mengambil kesimpulan ngawur begitu, Pek Glok. Aku hanya ingin mengatakan bahwa kalau mereka menduga bahwa Ayahmu yang membunuh Song-Kauwsu. hal itu tidaklah terlalu mengada-ada. Aku bahkan hampir yakin bahwa Ayahmu tidak membunuh Song-Kauwsu. akan tetapi kemungkinan itu selalu ada, karena mungkin saja dendam kebencian masa lalu masih membekas di hati."
"Ibu, aku yakin bahwa yang membunuh Ayah pasti ada hubungan dengan keluarga Song-Kauwsu!"
"Tadinya aku juga berpikir demikian, karena pihak keluarga Song menduga Ayahmu pembunuh Song-Kauwsu dari mereka menaruh dendam. Akan tetapi setelah kupertimbangkan, rasanya tidak mungkin mereka yang melakukan pembunuhan. Song-Kauwsu sendiri belum tentu dapat membunuh Ayahmu, apalagi membunuh tanpa melukai. Apalagi para muridnya, mana mungkin dapat mengalahkan Ayahmu? Karena itu aku melarang Lui Siong yang akan enuduh mereka."
"Akan tetapi apakah Ibu telah lupa bahwa mungkin sekali pihak Song-Kauwsu mencari orang lain yang berilmu tinggi untuk membunuh Ayah? Kita tidak dapat melupakan bahwa dahulupun, ketika bersaing dan bermusuhan dengan Ayah, pihak Song-Kauwsu tidak segan minta bantuan Kakak-beradik Lee Kim Lun dan Lee Kim Lian yang jahat itu!"
Pek Giok bangkit berdiri.
"Pendeknya, sekarang juga aku akan mengunjungi keluarga Song dan aku akan paksa mereka menunjukkan siapa yang telah membunuh Ayahkul"
"Pek Giok...!"
Nyonya Can memanggil. akan tetapi gadis itu seolah tidak mendengar dan ia sudah berlari keluar. Lui Siong mengejarnya dan ketika tiba di halaman dia berkata.
"Nona Pek Giok, biarkan kami ikut denganmu!"
Dia memberi isarat kepada para murid dan lebih dari dua puluh orang murid sudah siap untuk menemani Pek Giok.
Akan tetapi Pek Giok membalikkan tubuh menghadapi mereka dan berkata dengan suara tegas kepada Lui Siong.
"Paman Lui Siong, jangan ikuti aku dan jangan mencampuri urusan ini. Ini adalah urusan keluargaku, urusan pribadi. Kalian semua, jangan ikuti aku!!"
Setelah berkata demikian, tiba-tiba saja gadis itu lenyap dari pandang mata Lui Siong dan para murid perguruan Can-Kauwsu!
Tentu saja mereka semua menjadi terkejut dan heran, bahkan Lui Siong yang tingkat kepandaiannya lebih tinggi daripada mereka, bengong dan diam-diam merasa ngeri melihat gadis itu lenyap begitu saja!
Itulah satu di antara ilmu yang didapatkan gadis itu dari gemblengan Song-Bun Lo-Jin selama tiga tahun.
Dengan ilmunya yang hebat, sebentar saja Pek Giok telah tiba di halaman rumah Song-Kauwsu.
Di halaman rumah itu terdapat Tan Siang dan Tan Kui Hok, mereka berdua sedang memberi petunjuk kepada tujuh orang murid yang sedang latihan silat.
Setelah Song-Kauwsu tewas, tentu saja para murid banyak yang meninggalkan perguruan itu.
Hanya ada tujuh orang murid selain Kakak-beradik Tan yang masih tinggal.
Mereka adalah murid-murid yang dekat dengan mendiang Song-Kauwsu, yang mempertahankan perguruan itu dan juga yang menaruh iba kepada Nyonya Song yang selalu bersikap lembut kepada mereka.
Sembilan orang murid ini merasa tidak tega untuk meninggalkan Nyonya Song seorang diri.
Selain itu, mereka masih mengharapkan kembalinya Song Han Bun yang mereka tahu memiliki kepandaian amat tinggi.
Song Han Bun tentu suka mengajarkan ilmu kepada mereka kalau pulang ke rumah.
Tiba-tiba mereka semua menghentikan kesibukan berlatih silat karena tahu-tahu seorang gadis cantik telah berdiri di situ, memandang ke arah mereka dengan sikap marah.
Tan Siang dan Tan Kui Hok terkejut ketika mengenal gadis itu, demikian pula para murid lain.
Tentu saja mereka mengenal Can Pek Giok, puteri Can-Kauwsu yang arnat sakti itu dan diam-diam mereka merasa gentar.
Para murid Song-Kauwsu yang tadinya menduga bahwa Can-Kauwsu yang membunuh Guru mereka semula marah dan mendendam kepada Can-Kauwsu, akan tetapi setelah mereka mendengar bahwa Can-Kauwsu juga mati terbunuh dalam hutan, kemarahan mereka mereda.
Mereka bahkan mulai meragu apakah benar Can-Kauwsu yang membunuh Guru mereka, Song-Kauwsu.
Mereka hanya mengharapkan pulangnya Song Han Bun agar pemuda yang sakti itu dapat menyelidiki siapa yang telah membunuh Song-Kauwsu.
Kini melihat munculnya Can Pek Giok, mereka menjadi terkejut dan juga gelisah.
Tan Siang segera menyambut dan memberi hormat dengan mengangkat kedua tangan ke depan dada.
"Can-Siocia (Nona Can), selamat datang. Apa yang dapat kami bantu kepadamu? Keperluan apakah yang memawa Siocia datang ke sini?"
Biarpun Tan Siang bersikap hormat dan bicara dengan halus, tetap saja Pek Giok memandang dengan sinar mata berapi.
"Jangan banyak cakap, cepat kalian katakan siapa yang telah membunuh Ayahku!!"
Suaranya tajam seperti mengiris jantung para murid Song Kauwsu. Tan Siang menjawab.
"Can Siocia, kami sama sekali tidak tahu siapa yang telah membunuh Can-Kauwsu. Sungguh, kami sama sekali tidak tahu."
"Hemm, enak saja berputar lidah menyangkal. Bukankah kalian yang datang ke rumah keluarga kami dan mengancam hendak membunuh Ayahku? Setelah kalian mengancam hendak membunuh Ayahku, esoknya Ayahku mati terbunuh! Sudah pasti kalian yang melakukannya!"
"Aduh, sungguh mati, Can-Siocia. Memang tadinya kami menduga bahwa Can-Kauwsu yang membunuh Guru kami Song-Kauwsu, maka kami hendak menuntut balas. Akan tetapi kemudian kami mendengar bahwa Can-Kauwsu juga terbunuh tanpa diketahui siapa pembunhnya."
"Herm, kalian dahulu menuduh Ayahku membunuh Song-Kauwsu, padahal tidak ada alasannya sama sekali. Sekarang, Ayahku terbunuh dan aku menuduh kalian yang melakukannya dengan alasan bahwa kalian pernah menyerbu kesana dan mengancam hendak membunuh Ayahku!"
"Ah, Can-Siocia, bagaimana mungkin kami sanggup membunuh Can-Kauwsu. Baru melawan para muridnya saja tidak mudah bagi kami untuk dapat menang. Tidak mungkin kami dapat membunuh Can-Kauwsu yang tingkat ilmu silatnya jauh tinggi daripada kami."
"Aku juga tidak percaya kalian mampu membunuh Ayahku, akan tetapi tentu kalian mendapatkan bantuan orang yang pandai. Sekarang kalian harus mengaku siapa yang telah membunuh Ayahku."
"Kami sungguh tidak tahu..."
"Aku akan memaksa kalian untuk mengaku!"
Setelah berkata demikian, tubuh gadis itu berkelebatan menyambar-nyambar.
Terdengar teriakan mengaduh susul menyusul dan tubuh para rnurid Song-Kauwsu itu terpelanting roboh satu demi satu.
Mereka merintih-rintih, karena semua menderita luka patah tulang.
Ada yang tulang pundaknya patah, ada lengannya atau kakinya.
Tidak ada seorang pun yang dilewatkan dan sernbilan orang murid Song-Kauwsu itu roboh semua.
Sambil bertolak pinggang Pek Giok berkata kepada mereka.
"Aku hanya memberi peringatan kepada kalian. Kalau dalam waktu lima hari ini kalian belum juga mau mengatakan siapa yang telah membunuh Ayahku, aku akan datang lagi dan akan kubunuh kalian semua!"
Setelah berkata demikian, gadis itu berkelebat dan lenyap dari depan mereka.
Ketika Nyonya Song yang rnasih berkabung mendengar akan peristiwa itu, ia merasa menyesal sekali dan menegur Tan Siang dan Tan Kui Hok.
Setelah menghela napas panjang berulang kali, ia berkata.
"Semua ini adalah akibat dari permusuhan antara keluarga Can dan keluarga Song. Tidak perlu dibicarakan lagi urusan itu karena keduanya sudah meninggal dunia. Akan tetapi kemarahan Can Pek Giok itu disebabkan karena kesalahan kalian berdua. Tentu kalian tidak lupa bahwa dahulu ketika kalian menuduh Can-Kauwsu sebagai pembunuh dan hendak menyerbu ke sana aku sudah melarang dan memperingatkan bahwa menuduh tanpa bukti itu rnerupakan fitnah. Akan tetapi kalian nekat dan akhirnya menjadi begini. Ah, mengapa malapetaka menimpa keluargaku secara bertubi-tubi begini? Dahulu dua saudara Lee mengacau sehingga anakku Song Bwee Eng menjadi korban, dan sekarang...!"
Wanita itu menangis dan para murid hanya saling pandang dan merasa menyesal akan penyerbuan mereka ke rumah Can-Kauwsu sebulan yang lalu.
Mereka kini menyddari bahwa dahulu itu mereka tertalu menuruti nafsu amarah karena kematian Guru mereka.
Dengan memberanikan diri Tan Siang yang merasa bersalah itu bertanya kepada Nyonya Song setelah tangis wanita itu mereda.
"Subo (Ibu Guru), Nona Can memberi waktu lima hari kepada kami untuk memberi tahu siapa yang membunuh Can-Kauwsu. Kalau sampai lima hari kami belum dapat memberi keterangan, ia akan datang dan membunuh kami semua. Apa yang harus kami lakukan, Subo?"
Dengan tenang dan lembut Nyonya Song menjawab.
"Kalau kalian sembilan orang takut dibunuh, pergilah, dari sini. Kalau nanti Nona Can datang, biar aku yang akan menjawab dan menghadapinya, kalau ia mau membunuh, biar ia membunuh aku!"
Sembilan orang murid itu lalu berlutut menghadap Nyonya Song, dengan suara riuh rendah mereka menyatakan akan mempertanggungjawabkan perbuatan mereka dan tidak mau melarikan diri, kalau perlu siap mati bersama Nyonya Song.
Akan tetapi, pada keesokan harinya kedukaan yang dirasakan seluruh penghuni rumah keluarga Song terhibur dengan munculnya Song Han Bun!
Han Bun terharu akan tetapi juga heran ketika kedatangannya disambut ratap tangis Ibunya yang merangkulnya sambil menangis tersedu-sedu.
"Ibu, apakah yang terjadi? Mengapa Ibu menangis sedih menyambut kepulanganku? Di mana Ayah?"
Nyonya Song akhirnya dapat menenangkan hatinya dan setelah melepaskan rangkulannya dan menghentikan tangisnya, ia berkata dengan lembut.
"Han Bun, duduklah dan tenangkanlah hatimu. Ada peristiwa buruk menimpa keluarga kita. Sekitar sebulan yang lalu, Ayahmu... Ayahmu pada suatu malam kedapatan tewas dalam kamarnya..."
Han Bun terbelalak.
"Ayah tewas...? Akan tetapi kenapa, Ibu? Sakitkah dia?"
Nyonya Song rnenggelengkan kepalanya dengan sedih.
"Sama sekali dia tidak sakit, Han Bun. Dia... dia mati terbunuh dalam kamarnya..."
"Terbunuh? Siapa yang membunuh Ayah dan mengapa, Ibu?"
"Sampai sekarang pun aku dan para murid tidak tahu siapa yang membunuh dan mengapa. Malam itu Ayahmu tidur seorang diri dalam kamar samadhinya. Tidak terdengar suara aneh malam itu, aku tidak mendengar sesuatu, demikian pula Tan Siang dan Tan Kui Hok yang tidur di kamar sebelah. Akan tetapi pagi itu kami mendapatkan Ayahmu telah tewas. Tidak ada jejak pembunuh, hanya jendela kamar itu terbuka."
Nyonya itu menangis lagi akan tetapi ia menahan suara tangisnya, hanya terisak dengan air mata bercucuran.
"Tapi... setidaknya tentu ada bekasnya kalau memang Ayah dibunuh orang. Bagaimana... bagaimana keadaannya ketika dia ditemukan, Ibu? Apakah kamar itu tidak tampak ada bekas perkelahian? Karena kalau memang dia mati terbunuh, Ayah tentu rnengadakan perlawanan."
Ibunya menghapus air matanya.
"Kalaupun Ayahmu melakukan perlawanan, agaknya tidak terjadi perkelahian seru dalam kamar itu. Kamar tidak tampak kacau dan kami menemukan Ayahmu telah rebah telentang di lantai kamar, dalam keadaan sudah tewas..."
"Luka-lukanya...?"
"Tidak ada luka sama sekali. Akan tetapi kulit dadanya menghitam seperti hangus..."
"Ahh..., Hek-Tok-Ciang (Tangan Racun Hitam), itu agaknya pukulan Hek-Tok-Ciang!"
Seru Han Bun.
"Akan tetapi, urusan yang merupakan malapetaka bagi kita ini masih berekor, bahkan ekornya lebih hebat dan amat menyedihkan hatiku. Untung engkau pulang, Han Bun, clan mudah-mudahan engkau yang akan dapat menyelesaikan urusan ini dengan damai dan baik."
"Eh, apakah yang lbu maksudkan?"
Setelah rnenghela napas panjang beberapa kali untuk menenangkan hatinya yang diliputi kedukaan dan kekhawatiran, Nyonya Song berkata.
"Ketika menemukan jenazah Ayahmu, Tan Siang dan Tan Kui Hok bersama tujuh orang murid lain menduga keras bahwa pembunuh Ayahmu tentu Can-Kauwsu. Mereka hendak nuntut balas dan nekat pergi ke runah keluarga Can biarpun sudah kucoba untuk mencegah mereka. Terjadilah keributan dan bahkan perkelahian antara para murid kita dan para murid Can-Kauwsu. Untung tidak berlanjut karena dilerai Nyonya Can yang mengatakan bahwa Can-Kauwsu sedang keluar kota dan kalau sudah pulang, Can-Kauwsu akan menjawab tuduhan keluarga Song itu. Akan tetapi, ahh..."
Nyonya Song menghentikan ceritanya dan menangis lagi. Han Bun membiarkan Ibunya menangis sejenak, setelah reda dia bertanya.
"Kuatkanlah hatimu, Ibu. Selanjutnya bagaimana? Apa yang terjadi maka lbu tampak demikian khawatir?"
"Begini, Han Bun. Setelah para murid mendatangi keluarga Can itu, pada keesokan harinya kami semua terkejut mendengar berita bahwa Can-Kauwsu juga terbunuh orang dalam sebuah hutan di luar kota. Agaknya Can-Kauwsu hendak pulang dari Sin-Coan dan di tengah jalan dia dibunuh orang."
"Ahh...!!"
Han Bun terkejut bukan main.
Sungguh peristiwa yang amat hebat.
Ayahnya mati terbunuh dalam kamar tanpa ada yang tahu siapa pembunuhnya, dan pada hari berikutnya Can-Kauwsu juga dibunuh orang dalam hutan!
"Siapa yang membunuhnya, Ibu?"
"Tidak ada yang tahu, Han Bun. Akan tetapi akibatnya sungguh hebat. Agaknya Can Pek Giok, puteri Can-Kauwsu itu pulang dan mendengar Akan semua peristiwa itu, dua hari yang lalu ia datang ke sini. la marah karena dulu murid-murid kita menuduh Ayahnya membunuh Ayahmu dan Tan Siang pernah mengatakan hendak membalas dendam dengan membunuh Ayahnya. Kini ia berbalik menuduh bahwa yang membunuh Ayahnya adalah pihak kita. la menghajar sembilan orang murid kita sehingga murid-murid itu mengalami luka patah tulang. Lalu mengancam bahwa ia memberi waktu lima hari agar kita memberi tahu siapa yang telah membunuh Can-Kauwsu dan mengancarn kalau kita tidak mau memberi tahu, Ia akan membunuh kita semua. Ah, Han Bun..., aku khawatir sekali...!, Aku menganjurkan agar Para murid pergi melarikan diri dan aku yang akan menghadapi Pek Giok, akan tetapi sembilan orang murid itu tidak mau dan siap menerima kematian di tangan Pek Giok. Ahh, semua Ini akibat permusuhan antara keluarga Song dan keluarga Can yang dulu dimulal oleh Ayahmu..."
"Sudahlah, Ibu. Tidak baik mengungkit perkara lama dan menyalahkan orang yang sudah rneninggal dunia. Agaknya, keluarga Can dan keluarga kita mengalami cobaan hidup yang sama, dan kalau tidak hati-hati menanganinya memang dapat saja menimbulkan permusuhan dan bentrokan antara keluarga Can dan keluarga kita. Biarlah, kalau tiga hari lagi Nona Can Pek Giok datang, aku yang akan rnemberi penjelasan kepadanya. Sekarang aku hendak mengunjungi makam Ayah."
Han Bun meninggalkan Ibunya lalu menemui sembilan orang murid Ayahnya yang berkumpul di ruangan belakang yang luas karena ruangan Ini biasanya dipergunakan untuk berlatih silat.
Mereka sudah tahu akan datangnya Han Bun dan mereka merasa lega, gembira dan juga takut.
Lega karena pemuda itu tentu akan mampu menghadapi ancaman Can Pek Giok, gembira karena keberadaan Han Bun memperkuat pihak mereka, akan tetapi juga takut akan mendapat teguran pemuda itu.
Maka begitu melihat Han Bun memasuki ruangan, Tan Siang yang diikuti delapan orang murid lain menyambut dan memberi horrnat, lalu Tan Siang berkata.
"Song-Sute (Adik Seperguruan Song),"
Tan Siang menyebut Han Bun Sute karena dia adalah murid pertama Ayah Han Bun.
"Kami semua minta maaf atas kesalahan kami telah terburu nafsu menuduh Can-Kauwsu dan membikin ribut di sana."
"Sudahlah, biar yang sudah terjadi merupakan pengalaman yang mengandung pelajaran bagi kalian. Terburu nafsu menuruti amarah ternyata merugikan diri sendiri. Biar kuperiksa luka-luka kalian."
Han Bun memeriksa dan ternyata mereka tidak menderita luka yang parah dan berbahaya, hanya luka patah tulang.
Dan para murid itu telah mengobatkan luka mereka pada seorang tabib yang telah memberi obat minum dan param untuk mempercepat pulihnya tulang yang patah atau retak.
Kemudian, setelah mendapat keterangan bahwa jenazah Ayahnya dikubur di pemakaman umum, Han Bun meninggalkan rumah menuju ke taman pemakaman di pinggir kota Sung-Kian.
Taman pemakaman itu letaknya di tepi kota Sung-Kian yang sepi, jauh dari rumah penduduk.
Sudah lajim di mana-mana bahwa tanah pekuburan itu selalu dijauhi orang karena dianggap angker dan menyeramkan.
Tanah kuburan dianggap sebagai tempat setan kuburan, yaitu orang-orang yang mati penasaran, yang arwahnya rnasih gentayangan belum mendapatkan tempat yang layak.
Apalagi di waktu malam hari, jarang orang berani berada di situ, bahkan lewat pun orang lebih suka mengambil jalan memutar asalkan jauh dari tanah kuburan.
Bahkan di waktu siang pun, kalau tidak ada keperluan penting, orang segan memasuki taman pemakaman itu.
Kecuali tentu saja pada hari Ceng-Beng, yaitu hari pada waktu mana keluarga mengunjungi makam orang-tua atau keluarga mereka, bersembahyang dan ada yang memakai upacara memberi hidangan masakan dan buah-buahan yang menjadi kesukaan si mati di kala masih hidup.
Semua ini tentu saja berdasarkan rasa bakti dan sayang para keluarga pada si mati sehingga sembahyangan itu selain mendoakan kebahagiaan bagi si mati juga untuk memperlihatkan bahwa mereka tidak melupakan si mati sehingga keluarga atau orang-tua yang mati akan merasa senang bahwa keluarganya atau anak-cucunya berbakti kepada mereka walaupun sudah mati.
Semua kebiasaan bersumber dari pelajaran Para bijaksana jaman dahulu seperti Khong-cu dan yang lain-lain bahwa kewajiban utama bagi seorang manusia adalah berbakti.
Berbakti kepada TUHAN dan berbakti kepada orang-tua atau Ayah-Ibu.
Maka muncullah unjuk rasa kebaktian berupa persembahyangan dengan segala macam masakan dan buah-buahan kesukaan si mati yang dianggap sebagai bukti kebaktian mereka.
Tentu saja banyak yang melakukan semua itu hanya agar dipandang sebagai anak berbakti saja, bahkan pada dasarnya mengandung pamrih agar arwah si mati akan merasa senang dan memberkati mereka!
Padahal, disembahyangi dengan korban masakan dan buah-buahan yang bagaimana mahal dan lezat sekalipun, tetap saja yang mati tidak dapat menikmatinya.
Yang makan juga mereka-mereka yang mengadakan sembahyangan itu sendiri!
Yang lebih lucu dan menyedihkan lagi, sewaktu orang-tuanya masih hidup, tidak pernah anaknya itu memberi makanan yang enak, akan tetapi setelah mati, disembahyangi dengan korban makanan mahal dan lezat!
Sungguh membentuk munafik-munafik besar!
Padahal, yang dimaksudkan dengan Hauw (Berbakti) kepada leluhur itu bukan menyuguhkan makanan kepada si mati, melainkan menyuguhkan perbuatan-perbuatan yang baik dan benar.
Perbuatan atau perilaku kehidupan yang baik dan benar dari anak cucu inilah yang akan mengangkat dan membersihkan nama leluhur yang sudah mati.
Sebaliknya, perilaku yang buruk dan jahat dari anak cucu akan mencemarkan nama dan kehormatan leluhur yang mati.
Orang-tua mana, baik dia masih hidup atau sudah mati, yang akan senang melihat anak-cucunya biarpun kaya-raya akan tetapi dicaci-maki orang karena perilaku mereka jahat?
Sebaliknya, orang-tua atau leluhur, baik masih hidup atau sudah mati, pasti akan merasa berbahagia melihat anak cucunya biarpun hidup miskin akan tetapi disayang dan dihormati orang karena perilakunya yang baik.
Pagi hari itu, karena hari biasa, bukan hari Ceng-Beng, di pekuburan itupun sepi.
Dengan langkah lebar Han Bun memasuki tanah kuburan melalui pintu gerbangnya.
Dia sudah mendapat petunjuk dari Tan Siang di mana letak makam Ayahnya.
Dengan hati terharu Han Bun langsung menuju ke makam Ayahnya.
Dia mendengar kesibukan beberapa orang di ujung lain tanah pekuburan itu, agaknya ada keluarga yang sedang melakukan sembahyangan di makarn leluhur mereka.
Akan tetapi Han Bun tidak menaruh perhatian, apalagi makam Ayahnya terpisah semak-semak dari tempat keluarga itu bersembahyang.
Setelah menemukan makam Ayahnya yang masih baru, gundukan tanah kemerahan yang belum ditumbuhi rumput, dia lalu melakukan sembahyangan dengan sederhana.
Dia hanya membawa Hio-Swa (dupa lidi) dan setelah membakar ujung dupa, dia bersembahyang, menancapkan Hio-Swa di depan makam, lalu dia berlutut memberi hormat kepada bayangan Ayahnya dalam benaknya.
Teringat akan Ayahnya, tanpa dirasakannya, beberapa butir air mata mengalir keluar dari sepasang matanya.
"Ayah, harap Ayah tenang di alam baka, dan jangan membawa rasa penasaran karena anakmu ini pasti akan rnencari orang yang telah membunuhmu dan menuntut pertanggungan jawab atas perbuatannya."
Setelah itu, dia duduk bersila di depan makam itu dan bersamadhi untuk mengenang Ayahnya dan untuk menenteramkan hatinya yang nyaris digoda oleh nafsu amarah dan penasaran karena Ayahnya dibunuh orang tanpa ada yang mengetahui siapa pembunuhnya.
Juga dia ingin menenangkan hatinya yang agak terguncang karena dia merasa betapa kejamnya Can Pek Giok.
Memang sembilan orang murid Ayahnya itu bersalah melakukan tuduhan secara ngawur tanpa bukti apalagi mengeluarkan ancaman akan membunuh Can-Kauwsu.
Akan tetapi sembilan orang saudara seperguruannya itu tidak melukai orang, sedangkan Pek Giok bukan hanya mematahkan tulang sembilan orang itu, bahkan juga mengancam akan membunuh mereka semua kalau tiga hari lagi tidak mengaku siapa yang membunuh Can-Kauwsu.
Bagaimana para murid Ayahnya itu dapat mengaku kalau memang mereka itu sama sekali tidak tahu, bahkan menduga saja tidak dapat?
(Lanjut ke
Jilid 17) Antara Dendam & Asmara (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 17 Han Bun sama sekali tidak pernah menduga bahwa rombongan keluarga yang didengar suaranya tadi adalah rombongan dari keluarga Can Pek Giok dan Iibunya ditemani Gu Ma Ek dan belasan orang murid Can-Kauwsu, sedang melakukan upacara sembahyang di makam mendiang Can-Kauwsu.
Lui Siong tidak ikut karena selain mengurus pekerjaannya sebagai perusahaan pengawal kiriman barang, dia juga merasa agak rikuh bertemu dengan Can Pek Giok, teringat akan perbuatan puteranya yang memutuskan hubungan tali pertunangannya dengan gadis itu.
Seorang murid secara kebetulan berjalan-jalan setelah ikut bersembahyang dan dia melihat adanya Han Bun di depan makam Song-Kauwsu.
Memang murid ini ingin menjenguk dan mengetahui dimana adanya makam Song-Kauwsu.
Dia terkejut sekali mengenal Song Han Bun yang duduk bersila dengan kedua mata terpejam di depan makam itu.
Tergesa dia mendekati Gu Ma Ek dan bisikkan bahwa Song Han Bun berada di depan makam Song-Kauwsu.
Tentu Gu Ma Ek terkejut sekali dan cepat melaporkan hal ini kepada Pek Giok.
Begitu mendengar bahwa Song Han Bun berada di tanah kuburan itu, seketika wajah Pek Giok menjadi merah, matanya mencorong dan tanpa berkata sesuatu ia lalu berjalan cepat menuju ke tempat yang ditunjuk oleh Gu Ma Ek.
la melihat Han Bun duduk bersila menghadap sebuah makam yang seperti juga makam Ayahnya, masih baru.
Beberapa batang hio masih mengepulkan asap, tertancap di depan makam.
Seketika nafsu amarah Pek Giok berkobar, teringat akan Ayahnya yang dibunuh orang, yang pembunuhnya ia duga tentu berpihak kepada keluarga Song, dan teringat pula akan semua permusuhan yang lalu antara Ayahnya dan Song-Kauwsu.
"Bagus, engkau berada di sini, Han Bun"
Bentak Pek Giok sambil berdiri tegak di belakang pemuda itu.
Han Bun terkejut mendengar bentakan yang tiba-tiba ini karena tadi dia sedang bersemadhi.
Dia segera bangkit dan setelah memutar tubuh dan mengenal siapa yang membentaknya, dia mengerutkan alisnya dan menatap wajah gadis itu dengan tajam.
Kesan pertama yang memasuki benaknya ketika melihat Pek Giok adalah bahwa wanita di depannya ini telah menjadi isteri orang lain dan bahwa wanita telah bertindak kejam terhadap sembilan orang murid mendiang Ayahnya.
Hatinya juga merasa penasaran akan tetapi dia teringat bahwa Pek Giok juga kematian Ayahnya, maka dia lalu mengangkat kedua tangan depan dada lalu berkata.
"Ah, kiranya engkau..., Nona Can. Aku ikut berduka cita mendengar akan kematian Ayahmu."
"Huh, tidak perlu berpura-pura! siapa percaya omongan palsu itu? Aku yakin bahwa engkau pasti merasa senang sekali karena kematian Ayahku. Bahkan pihak keluargamu yang mengusahakan pembunuhan terhadap Ayahku! Mungkin juga, tanganmu sendiri yang membunuhnya!"
"Can Pek Giok!"
Han Bun berseru marah.
"Menuduh orang sembarangan tanpa bukti adalah fitnah! Kami tidak membunuh Can-Kauwsu!"
Pek Giok tersenyum mengejek Han Bun yang marah itu sejenak merasa jantungnya terguncang melihat senyuman yang pernah membuat dia tergila-gila dan jatuh cinta itu.
"Bagus, memang mudah membuka mulut menggoyang lidah asal bicara!"
Kata gadis itu dengan suara mengejek.
"Kalau aku kau anggap menuduh sembarangan dan mengucapkan fitnah, lalu apa yang dilakukan sembilan orang murid perguruan Ayahmu itu benar? Mereka datang menyerbu perguruan kami, menuduh kami yang membunuh Song-Kauwsu, bahkan mengeluarkan ancaman hendak menuntut balas dan membunuh Ayahku! Kemudian ternyata pada keesokan harinya Ayahku benar-benar dibunuh orang, siapa lagi kalau bukan kalian yang membunuh Ayahku? Hayo jawab!!"
Han Bun merasa terpukul dan serba salah, akan tetapi dia teringat akan perbuatan Pek Giok melukai sembilan orang saudara seperguruannya dan dia jawab lantang.
"Memang aku mengakui bahwa tindakan murid-murid perguruan kami itu salah karena mereka terlalu dibakar nafsu amarah dan dendam karena duka kematian Guru merelca. Akan tetapi tindakan mereka itu tidak sampai melukai atau mencelakakan orang. Sebaliknya, engkau bertindak demikian kejamnya melukai sembilan orang saudara seperguruanku sampai mereka mengalami patah tulang, bahkan engkau mengancam akan membunuh mereka semua. Ini sudah keterlatuan!"
"Pecluli amat! Aku memang mengancam mereka bahwa dalam lima hari mereka harus memberi tahu siapa yang membunuh Ayahku. kalau sampai lewat lima hari, jadi tinggal tiga hari lagi mereka tidak mau memberi htahu akan membunuh mereka semua!"
"Gila! Mereka sama sekali tidak tahu siapa yang membunuh Can-Kauwsu, bagaimana mereka dapat memberi tahu kepadamu?"
"Masa bodoh! Aku tidak percaya. Pasti ada orang di pihak mereka yang melakukan pembunuhan itu. Mereka pasti minta bantuan seorang yang tinggi ilmu silatnya untuk membunuh Ayahku. Mungkin engkau sendiri yang melakukan pembunuhan itu karena pinangan Ayahmu ditolak Ayahku!"
"Can Pek Giok, bicaramu ngawur! Kalau engkau menuduh kami yang membunuh Ayahmu, aku juga bisa menuduh engkau yang membunuh Ayahku!"
"Baik! Memang sejak dulu keluarga kita sudah saling bermusuhan, dimulai oleh pihakmu yang brengsek dan jahat. Daripada saling menuduh, sebaiknya kita selesaikan. Mari kita lanjutkan dan selesaikan dendam di antara keluarga Can dan keluarga Song. Cabut pedangmu!"
Pek Giok menantang dan ia sudah meraba gagang pedang di punggungnya dan tiba-tiba tampak sinar hijau berkelebat.
Tahu-tahu tangan kanannya sudah memegang Ceng-Liong-Kiam.
Han Bun menghela napas panjang.
Dia juga penasaran dan marah, akan tetapi mana dia tega untuk berkelahi melawan wanita yang pernah dicintanya dan masih dicintanya itu?
Dia menjadi serba salah.
menolak tantangan, tentu dikira takut.
Menerima, dia tidak tega.
Juga dia merasa bahwa kini gadis ini bukan lawannya lagi setelah dia mendapatkan gemblengan dari Khong-Sim Sin-Kai.
Dulu memang tingkat kepandaian mereka tidak berselisih jauh, akan tetapi sekarang, tentu Pek Giok bukan lawannya lagi.
Maka dia menghela napas panjang beberapa kali, baru menjawab sambil memandang kepada rombongan keluarga Can yang kini sudah datang mendekat, bahkan dia melihat pula Nyonya Can yang memandang dengan mata bersinar mengandung kemarahan.
"Can Pek Giok, mengapa kita harus berkelahi? Apakah tidak ada jalan lain untuk menyelesaikan urusan ini?"
"Hemm, kalau engkau takut, katakan sajal Aku tidak akan membunuhmu, akan tetapi kalau sembilan orang yang dulu menyerbu tempat kami dan mengancam hendak membunuh Ayah itu tidak mau memberi tahu siapa yang melakukan pembunuhan terhadap Ayahku, dalam waktu tiga hari lagi aku akan datang ke sana dan membunuh mereka semua!"
Tentu saja Han Bun menjadi penasaran dan marah juga.
"Can Pek Giok, engkau sungguh keterlaluan. Baiklah, kalau engkau hendak membunuh sembilan orang murid mendiang Ayahku itu, nah, biar aku mewakili mereka. Bunuhlah aku!"
"Enak saja! Aku membunuhmu lalu semua orang di dunia kang-ouw memaki aku sebagai seorang pengecut yang membunuh seorang yang tidak berani melawanku? Aku tidak sudi membunuh pengecut yang tidak berani melawan. Kalau engkau ingin mewakili sembilan orang itu untuk mati di tanganku, nah, lawanlah aku dan cabut senjatamu!"
Tantang Pek Giok.
Wajah Han Bun menjadi pucat, lalu merah kembali bahkan semakin merah karena bagaimanapun juga, tantangan yang sekaIigus penghinaan itu memanaskan perasaan hatinya.
Akan tetapi dia tersenyum.
"Can Pek Giok, untuk melawanmu aku tidak perlu menggunakan pedang, cukup kulayani dengan kedua tanganku saja!"
Pek Giok mengerutkan alisnya, mukanya juga berubah merah dan ia cepat menyarungkan kembali pedangnya.
"Song Han Bun, untuk membunuhmu aku juga tidak perlu menggunakan pedang, cukup dengan tanganku saja! Nah, bersiaplah untuk mati!"
Setelah berkata demikian, Pek Giok diam-diam mengerahkan tenaga saktinya, lalu menerjang sambil membentak nyaring.
"Hyaaaattt...!!"
Tubuhnya berkelebat seolah berubah menjadi bayangan dan begitu ia mendorongkan tangan kanan memukul dengan telapak tangan terbuka ke arah dada Han Bun, terdengar bunyi angin menderu.
Han Bun terkejut buka main melihat ginkang (ilmu meringankan tubuh) dan sinkang (tenaga sakti) yang demikian hebat dari Pek Giok.
Sama sekali tidak pernah disangkanya gadis itu memiliki gerakan secepat itu sehingga tubuhnya berubah menjadi bayangan dan pukulannya sedahsyat itu sehingga mendatangkan angin menyambar kuat dan ada hawa panas menyambar dengan sangat dahsyat!
Sekejap saja maklumlah Han Bun bahwa ternyata Pek Giok kini tidak dapat disamakan dengan Pek Giok tiga tahun yang lalu!
Agaknya gadis itu telah memperdalam ilmu-ilmunya sehingga dia harus hati-hati.
Cepat dia pun mengerahkan tenaga saktinya, miringkan tubuh dan dari samping dia menangkis dengan dorongan tangan kiri.
"Wussss...!!"
Kini Pek Giok yang terkejut bukan main.
Tadinya ia memandang rendah kepada Han Bun karena ia merasa bahwa setelah menerima gemblengan selama tiga tahun dari Song-Bun Lojin, kepandaiannya sudah meningkat tinggi dan Han Bun pasti bukan merupakan lawannya lagi.
Akan tetapi ketika pemuda itu menangkis dengan dorongan hawa sakti dari samping, tubuhnya terguncang!
Ini membuktikan bahwa Han Bun kini jauh lebih kuat daripada tiga tahun yang lalu!
Ia menjadi penasaran dan sambil mengeluarkan seruan nyaring ia menyerang lagi dengan lebih hebat, mengerahkan seluruh tenaganya.
Akan tetapi Han Bun yang kini maklum akan ketangguhan Pek Giok, juga mengerahkan tenaga dan mengimbangi gerak gadis itu.
Terjadilah pertandingan yang seru dan dahsyat.
Yang menonton pertandingan itu hanyalah Nyonya Can, GU Ma Ek, dan belasan orang murid.
Mereka berdiri agak jauh dari tempat pertandingan dan kini mereka semua memandang dengan mata terbelalak, mulut ternganga dan hati tegang karena mereka tidak mampu membedakan lagi mana Pek Giok dan mana Han Bun yang menjadi lawannya.
Mereka hanya melihat bayangan orang, bukan hanya dua orang melainkan banyak saking cepatnya dua orang itu bergerak.
Juga para penonton itu sama sekali tidak dapat menilai siapa yang mendesak dan siapa yang terdesak.
Hebatnya, pohon-pohon di sekitar tempat perkelahian itu bergoyang-goyang seperti diterjang angin dan banyak daun yang rontok.
Bahkan mereka yang berdiri cukup jauh, terkadang merasa ada angin menyambar, terasa kadang-kadang panas dan kadang-kadang dingin ketika menerpa kulit mereka dan membuat pakaian mereka berkibar!
Setelah bertanding dengan seru, saling serang dengan kecepatan kilat dan tenaga dahsyat, baik Pek Giok maupun Han Bun diam-diam merasa terkejut, heran dan juga kagum sekali.
Keduanya sama sekali tidak pernah menyangka bahwa lawan yang telah dikenal tingkat kepandaiannya tiga tahun yang lalu itu kini telah menjadi seorang yang memiliki kesaktian hebat!
Mereka telah mempergunakan jurus-jurus terampuh, akan tetapi selalu serangan mereka masing-masing dapat disambut dan digagalkan lawan.
Pek Giok yang lebih dulu merasa penasaran.
Ia melompat ke belakang sambil mencabut Ceng-Liong-Kiam.
"Mari kita Ianjutkan dengan pedang!' tantangnya. Kini Han Bun maklum bahwa melawan gadis itu yang bersenjata pedang dengan tangan kosong saja, pasti dia akan kalah. Dia memang sama sekali tidak ingin melukai apalagi membunuh Pek Giok, akan tetapi dia pun tentu saja tidak mau dibunuh karena dia tidak merasa bersalah. Maka dia pun mencabut Thian-Hong-Kiam dari punggungnya dan tampak sinar putih berkelebat.
"Engkau masih penasaran dan menantang bertanding pedang? Baik, aku hanya melayanimu, jangan dikira aku takut,"
Jawab Han Bun.
"Bagus, nah, sambutlah ini!"
Benta Pek Giok clan ia lalu menyerang dengan pedangnya.
Gerakannya cepat sekali dan begitu Han Bun mengimbangi gerakannya dan menangkis, mereka lalu saling serang.
Kini mereka yang menjadi penonton menahan napas saking tegangnya.
Dua orang itu kini tidak tampak lagi, hanya kadang-kadang saja bayangan mereka tampak, akan tetapi bayangan itu dibungkus gulungan sinar pedang hijau dan putih.
Amat indah tampaknya, seperti permainan kembang api, akan tetapi mereka semua tahu bahwa keindahan itu mengandung bahaya maut dan tidak aneh kalau sewaktu-waktu mereka melihat seorang di antara mereka akan roboh mandi darah dan tewas!
Maka, mereka merasa tegang bukan main, terutama sekali Nyonya Can yang tentu saja mengkhawatirkan keselamatan puterinya.
Akan tetapi ia seorang wanita yang tabah dan keras hati, maka ia menggigit bibir dan mengepal kedua tangan, diam-diam seperti berdoa agar puterinya memperoleh kemenangan.
Tiba-tiba tampak gulungan sinar lain menyambar clan masuk ke dalam pergumulan antara sinar putih dan sinar hijau itu.
Sinar pedang ini warnanya biru langit dan gerakannya cepat seperti kilat menyambar-nyambar.
Terdengar bunyi berdencing nyaring beberapa kali dan tiga gulung sinar pedang itu terpencar lalu tampak tiga orang berlompatan ke belakang dan kini mereka berdiri saling pandang.
Baik Pek Giok maupun Han Bun memandang kepada orang ke tiga yang tadi datang melerai dengan menggunakan pedangnya yang bersinar biru.
Mereka berdua tentu saja mengenal orang ke tiga ini, seorang pemuda yang bukan lain adalah Lui Hong!
Melihat pemuda ini, wajah Han Bun berubah keras dan matanya mengeluarkan sinar mencorong.
"Bagus, Lui Hong! Engkau datang hendak mengeroyok aku bersama isterimu? Majulah, aku tidak takut menghadapi pengeroyokan kalian berdua!"
"Lui Hong, engkau keparat! Dulu sudah menghinaku clan sekarang engkau berani mencampuri urusanku? Apakah ini berarti engkau menantangku?"
"Nona Can, harap jangan salah mengerti, aku... aku..."
Kata Lui Hong gugup.
"Tak usah banyak cakap. Sambutlah seranganku ini!"
Pek Giok yang memang sedang marah karena merasa penasaran sekali bahwa ia tidak mampu mengalahkan Han Bun, kini menumpahkan kemarahannya kepada Lui Hong dan menyerangnya dengan hebat.
"Tranggg...!!"
Bunga api berpijar ketika dua batang pedang bertemu dan keduanya terkejut.
Lui Hong terkejut ketika merasa betapa tangannya tergetar menandakan bahwa tenaga sakti gadis itu kini luar biasa kuatnya.
Di lain pihak Pek Giok juga terkejut karena tak disangkanya kini Lui Hong demikian kuatnya.
la menyerang lagi dengan bertubi-tubi, akan tetapi perlu diketahui bahwa kini Lui Hong telah menguasai ilmu pedang yang amat luar biasa, yaitu Thian-To Kiam-Sut.
Selain itu, memang Lu Hong memiliki keunggulan dalam ilmu pedang, mengingat betapa Gurunya yang pertama adalah Sin-Kiam Kai-Ong (Raja Pengemis Pedang Sakti) kemudian Gurunya yang kedua adalah Thai Kek Lojin Maka, ketika Pek Giok menyerangnya secara cepat dan bertubi-tubi, dia dapat melindungi dirinya dengan baik.
Sementara itu, Han Bun masih berdiri tertegun.
Pek Giok memaki dan menyerang Lui Hong dan pemuda itu menyebutnya Nona Can!
lni berarti bahwa mereka berdua bukan suami-isteri!
Disamping keheranannya, ada rasa gembira dalam hatinya lalu disusul rasa khawatir melihat betapa sinar pedang hijau dari Pek Giok kini saling libat dengan gulungan sinar pedang biru yang tidak kalah lihainya.
Cepat dia menggerakkan pedangnya dan melompat ke tengah diantara mereka, melerai seperti yang dilakukan Lui Hong ketika melerai pertandingan antara dia dan Pek Giok tadi.
"Trang-cringg...!"
Bunga api berpijar dan terdengar seruan Han Bun.
"Harap kalian menahan senjata dulu!"
Lui Hong melompat ke belakang dan Pek Giok tidak mengejarnya.
"Maafkan aku, Nona Can, sungguh aku tidak ingin bertanding denganmu. Kalau aku tadi melerai perkelahian Nona melawan Saudara Song Han Bun, karena aku melihat bahwa hal itu sama sekali tidak benar dan tentang kematian Can-Kauwsu dan Song-Kauwsu perlu kita bicarakan dengan tenang untuk dicari siapa pembunuhnya."
Han Bun menganggukkan kepalanya dan berkata.
"Saudara Lui Hong, engkau benar, bicaralah dan kemukakan pendapatmu."
Setelah mereka bertiga menyimpan dan menyarungkan kembali pedang mereka, Lui Hong menghadap ke arah Nyonya Can dan menjura dengan hormat.
"Harap Subo sudi memaafkan saya yang lancang mencampuri urusan ini."
Nyonya Can tidak menjawab, hanya mengangguk karena hatinya masih terguncang karena ketegangan ketika menyaksikan perkelahian mati-matian antara puterinya dan Song Han Bun tadi.
Lui Hong lalu berkata kepada Pek Giok dan Han Bun.
"Nona Can Pek Giok dan Saudara Song Han Bun, aku baru saja pulang ke rumah orang-tuaku dan mendengar akan kematian Suhu Can Gi Sun dan juga kematian Song-Kauwsu. Aku telah mendengar tentang permusuhan yang kembali timbul antara keluarga Can dan keluarga Song akibat dari peristiwa terbunuhnya Can-Kauwsu dan Song-Kauwsu. Mendengar bahwa keluarga Can-Kauwsu melakukan upacara sembahyang di sini, maka aku segera menyusul untuk ikut bersembahyang. Dan melihat kalian berdua bertanding, terpaksa aku melerai karena apa yang kalian lakukan itu sungguh keliru sama sekali."
Dahulu, Han Bun mempunyai perasaan tidak suka kepada Lui Hong yang menjadi sebab kegagalan perjodohannya dengan Pek Giok yang sudah ditunangkan dengan pemuda itu.
Akan tetapi melihat sikap Lui Hong yang jelas membuktikan bahwa dia sama sekali tidak menjadi suami Pek Giok, sudah menghapus rasa tidak sukanya itu.
Mendengar ucapan Lui Hong, dia lalu bertanya.
"Saudara Lui Hong, apa alasannya engkau mengatakan bahwa kami keliru?"
Pek Giok yang masih mendendam karena ia anggap Lui Hong menolaknya dan memutuskan perjodohan sepihak itu ia anggap menghina keluarganya, membentak.
"Lui Hong, kalau engkau lupa bahwa mendiang Ayahku adalah Guru Ayahmu dan engkau tidak mau membela kematian Ayahku, pergilah dan jangan banyak cakap, atau kau boleh saja memihak keluarga Song dan mengeroyok aku!"
Lui Hong memandang dengan muka pucat, lalu berubah merah dan dia menjura kepada Pek Giok.
"Maaf, Nona Can, sama sekali aku tidak memihak. Sejak dulu aku sudah merasa senang sekali melihat bahwa permusuhan antara keluarga Can dan keluarga Song telah dihentikan. Dari Ayah aku telah mendengar akan penyerangan yang dilakukan Pek-Bin Giam-Lo tiga tahun yang lalu terhadap keluarga Can dan keluarga Song. Maka, mendengar bahwa Can-Kauwsu dan Song-Kauwsu tewas terbunuh orang sebulan yang lalu, kukira kalian berdua terlalu terburu nafsu dan keliru kalau saling menuduh. Aku mengenal baik watak Can-Kauwsu sebagai seorang pendekar gagah perkasa. Saudara Song Han Bun, aku yakin bahwa bukan Can-Kauwsu yang membunuh Song-Kauwsu. Can-Kauwsu bukan orang yang sudi melakukan penyerangan secara curang. Kalau dia ingin bertanding, tentu dia akan melakukan tantangan dan bertanding dengan adil dan gagah, bukan malam-malam datang membunuh orang dalam kamarnya lalu pergi tanpa meninggalkan bekas! Jelas, bukan Can-Kauwsu yang membunuh Song-Kauwsu. Kemudian, pada keesokan harinya, Can-Kauwsu terbunuh orang di dalam hutan. Nona Can, aku pikir bahwa bukan pihak Song-Kauwsu yang membunuh Ayahmu, karena para muridnya tidak mungkin dapat menandingi Can-Kauwsu. Maka, menurut pendapatku, pembunuhnya sudah pasti Pek-Bin Giam-Lo atau temannya. Aku mendengar bahwa dulu nyaris Pek-Bin Giam-Lo membunuh kalian berdua untuk membalas kematian Bu-Eng-Kwi Tok Liong Taisu. Bagaimana menurut pendapat kalian berdua?"
Sejak tadi, Pek Giok dan Han Bun mendengarkan ucapan Lui Hong yang panjang lebar itu dan diam-diam mereka baru teringat akan kemungkinan besar seperti yang diucapkan Lui Hong itu.
Pek-Bin Giam-Lo itulah satu-satunya orang yang patut dicurigai!
Dulu, Datuk sesat itu juga menyerang kedua keluarga namun gagal.
Sangat boleh jadi dia kini mengulangi lagi balas dendamnya dan kegagalannya tiga tahun yang lalu.
Karena tidak menemukan Pek Giok dan Han Bun, maka dia membalas dendam dengan membunuh Ayah dua orang muda yang membunuh muridnya itu.
Pek Giok memandang Han Bun dan kebetulan pemuda itu juga sedang memandang.
Dua pasang mata bertemu pandang dan sejenak saling melekat.
Pek Giok mengalihkan pandang matanya lebih dulu dan ia berkata geram.
"Si jahanam busuk Pek-Bin Giam-Lo! Engkau benar, Lui Hong. Pasti dia yang melakukan pembunuhan terhadap Ayahku! Aku tahu di mana Datuk sesat jahanam itu dan aku akan memaksanya mengaku lalu membunuhnya untuk membalas kematian Ayahku!"
Setelah berkata demikian, tanpa menoleh lagi kepada Han Bun, Pek Giok mengajak Ibunya kembali ke makam Ayahnya, melanjutkan persembahyangan yang tadi terganggu.
Para murid mengikutinya dan Lui Hong berdiri berhadapan dengan Han Bun.
Han Bun tak dapat lagi menahati keinginan tahunya, maka dia lalu berkata.
"Saudara Lui Hong, aku merasa heran sekali. Bukankah dahulu, tiga tahun yang lalu, engkau adalah tunangan Pek Giok? Bagaimana sampai sekarang kalian belum menikah dan tampak asing satu sama lain?"
Lui Hong tersenyum dan menjawab.
"Memang benar, Ayahku dan mendiang Can-Kauwsu bersepakat untuk menjodohkan aku dan Nona Can Pek Giok. Akan tetapi, ketika aku mengetahui bahwa ada hubungan batin penuh cinta kasih antara Nona Can dan engkau, aku tahu bahwa kalau aku melanjutkan perjodohan itu, kelak aku dan Nona Can tidak, akan dapat hidup berbahagia. Maka, aku lalu menyatakan putus tali perjodohan tiga tahun yang lalu. Keluarga Can dan juga orang-tuaku marah, maka aku terpaksa meninggalkan Sung-Kian dan pergi merantau. Baru tadi aku pulang ke rumah orang-tuaku."
Han Bun merasa terkejut dan terharu. Dia menjulurkan tangannya dan disambut Lui Hong. Mereka berjabatan tangan.
"Aih, maafkan aku saudara Lui Hong. Ketika lantaran Ayahku untuk menjodohkan aku dan Pek Giok ditolak Can-Kauwsu karena ia telah ditunangkan denganmu, terus terang saja aku merasa tidak suka padamu. Kuanggap engkau telah merebut gadis yang kukasihi. Akan tetapi ternyata dugaanku keliru. Engkau adalah seorang yang bijaksana, bahkan mengalah kepadaku dengan mengorbankan diri sehingga mendapatkan kemarahan dari orang-tuamu dan dari keluarga Can. Maafkan aku dan terima kasih atas kebaikanmu itu."
"Ah, engkau terlalu memujiku, Saudara Song Han Bun. Aku memutuskan tali perjodohan itu demi kebahagiaan Nona Can dan kebahagiaanku sendiri. Kami ditunangkan atas kehendak orang-tua dan walaupun antara kami baik namun tidak terdapat rasa cinta. Nona Can Pek Giok mencintamu, Saudara Han Bun, dan aku sendiri telah jatuh cinta kepada seorang gadis lain."
Sampai di sini Lui Hong teringat kepada Li Sian Hwa dan hatinya terasa nyeri seperti disayat teringat bahwa Sian Hwa telah ditunangkan dengan Leng Sui yang ternyata adalah seorang Pangeran Kerajaan Cin.
Tentu saja dia merasa sedih sekali, membayangkan bahwa kekasihnya itu kini tentu telah menjadi isteri Pangeran itu.
Melihat betapa wajah Lui Hong tampak muram, Han Bun lalu mengalihkan percakapan.
"Saudara Lui Hong, ketika tadi engkau melerai kami, kulihat gerakan dan tenagamu dahsyat sekali. Dibandingkan tiga tahun lalu, ilmu kepandaianmu telah meningkat dengan hebat!"
Lui Hong tersenyum.
"Pertanyaan yang sama sebetulnya ingin kutanyakan kepadamu dan kepada Nona Can, Saudara Song. Kulihat ketika engkau bertanding melawan Nona Can, kepadaian kalian berdua juga dahsyat dan jauh lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat kepandaian kalian berdua tiga tahun yang lalu. Terus terang saja, selama tiga tahun ini aku menerima petunjuk dari Suhu Thai Kek Lojin."
"Aih, pantas engkau menjadi demikian hebat. Aku sudah mendengar tentang Lo-Cianpwe Thai Kek Lojin yang sakti seperti dewa. Engkau bahagla sekali menjadi murid orang sakti itu, Saudara Lui Hong."
"Dan engkau sendiri, dari mana engkau memperoleh kemajuan pesat dalam ilmu silat itu, Saudara Han Bun?"
Melihat Lui Hong bersikap terbuka kepadanya, Han Bun lalu mengaku terus terang.
"Akupun selama tiga tahun ini mendapatkan bimbingan dari Suhu Khong-Sim Sin-Kai."
Kini Lui Hong yang terkejut dan dia menatap Han Bun dengan penuh kagum.
"Wah, engkau sungguh beruntung sekali, Saudara Han Bun! Suhu Thai Kek Lojin pernah menyebut nama Locianpwe Khong-Sim Sin-Kai sebagai seorang suci yang selain arif bijaksana juga menguasai ilmu yang tak dapat diukur tingginya! Yang masih belum kuketahui, dari mana Nona Can kini dapat memiliki ilmu yang amat hebat itu?"
"Entahlah, aku sendiri juga belum tahu. Bagaimana aku dapat bicara dengannya kalau begitu bertemu ia menyerangku mati-matian?"
Han Bun menghela napas panjang.
Biarpun dia merasa lega dan girang bahwa ternyata Pek GioI tidak menikah dan masih belum terikat dengan orang lain, namun dia merasa sedih karena gadis itu tetap saja memusuhinya, bahkan tadi berniat sungguh-sungguh untuk membunuhnya!
Agaknya Lui Hong dapat membaca pikiran Han Bun ketika pemuda itu menghela napas panjang dan nampak bersedih.
"Ah, Saudara Han Bun, harap jangan putus asa dan bersedih. Kalau tadi Nona Can menyerangmu mati-matian adalah karena dikuasai kedukaan dan dendam atas kematian Ayahnya. Akan tetapi sekarang setelah ia insaf, kuyakin ia tidak lagi marah kepadamu. Biar aku yang nanti menemuinya dan meyakinkan hatinya bahwa engkau tidak memusuhi keluarganya dan sama sekali tidak membunuh Ayahnya."
"Sudahlah, Saudara Lui Hong, engkau sudah berbuat terlalu banyak untuk kami sehingga engkau dimarahi orang-tuamu_ dan keluarga Can. Tadi pun aku melihat engkau diserang oleh Pek Giok yang marah kepadamu."
"Tidak mengapa, Saudara Han Bun. Aku akan menjelaskan kepadanya tentang pemutusan hubungan dariku pula, tahu bahwa ia mencintamu dan aku hanya ingin melihat kalian rukun kembali dan melanjutkan atau menyambung kembali tali percintaan kalian yang terputus karena aku."
Han Bun merasa senang akan tetapi juga tidak enak mendengar ucapan Lui Hong itu, maka dia mengalihkan percakapan.
"Saudara Lui Hong, setelah kau ingatkan, aku pun setuju bahwa besar kemungkinannya bahwa yang membunuh Ayahku dan Ayah Pek Giok adalah Pek-Bin Giam-Lo atau teman-temannya karena memang hanya dialah yang mempunyai dendam terhadap aku dan Pek Giok. Pek Giok tadi mengatakan bahwa ia mengetahui di mana adanya Datuk sesat itu. Aku yakin bahwa Pek Giok tentu akan segera pergi mencarinya dan Datuk sesat itu berbahaya sekali karena dia menguasai banyak macam ilmu hitam dan sihir. Tahukah engkau di mana Datuk sesat itu berada?"
Lui Hong menjawab.
"Pek-Bin Giam-Lo adalah seorang Datuk sesat yang datangdari barat. Aku pernah mendengar bahwa dia seorang keturunan Bangsa Turki dan ahli ilmu hitam dan sihir, akan tetapi tidak tahu dia tinggal di mana karena dia jarang muncul di dunia persilatan. Akan tetapi pernah aku mendengar bahwa dia mendukung Kerajaan Cin. untuk mendapatkan keterangan lebih jelas dapat dicari di Kotaraja Hang-Chouw."
"Kenapa di sana dan bukan langsung dicari di utara, di Kotaraja Kerajaan Cin?"
"Kerajaan Sung di Hang-Chouw kini dipengaruhi Perdana Menteri Chin Kui yang mengadakan hubungan baik dengan Kerajaan Cin, maka di Hang-Chouw kita pasti akan dapat memperoleh keterangan tentang Pek-Bin Giam-Lo."
"Hemm, begitukah? Kalau begitu, aku akan mencari keterangan di sana. Nah, sekali lagi terima kasih, Lui Hong, aku merasa senang sekali dapat bicara denganmu. Selamat berpisah, aku akar segera berangkat ke Hang-Chouw."
Han Bun memberi hormat dan Lui Hong segera membalas penghormatan.
"Selamat jalan, Han Bun, semoga engkau berhasil."
Dua prang pemuda itu lalu berpisah.
Biarpun perasaan hatinya tegang karena khawatir diterima dengan kemarahan oleh keluarga Can, Lui Hong nekat berkunjung ke rumah Can Pek Giok.
Hatinya merasa semakin gentar ketika kebetulan Nyonya Can yang berada dl ruangan depan.
Wanita yang masih cantik, anggun dan tampak keBangsawanannya itu mengerutkan alis dan menyambut Lui Hong dengan suara tajam.
"Mau apa engkau datang ke sini? Apakah hendak menghina kami lagi?"
Dengan sedih Lui Hong cepat memberi hormat, merangkapkan kedua tangan di depan dada dan membungkuk sampai dalam, lalu berkata.
"Mohnn maaf atas kelancangan saya datang berkunjung. Saya sama sekali tidak bermaksud buruk, saya hanya ingin bertemu dengan Nona Can Pek Glok untuk menjelaskan sesuatu yang amat pentIng."
"Kaml sekeluarga tIdak ada urusan denganmu. Pergilah!"
Nyonya Can berseru marah. Pada saat itu Pek Giok muncul dan la segera bertanya.
"Ibu, ada apakah?"
Lalu ia melihat Lui Hong dan dengan alis berkerut menegurnya.
"Hemm, engkau? Mau apa engkau datang ke situ?"
"Maaf, Nona, saya datang dengan niat baik, untuk menjelaskan semua kesalah pahaman antara kita. Saya hanya mohon agar Nona sudi mendengarkan penjelasan ku Ini."
"Tidak ada yang perlu dijeluakan lagi, Pergilah!"
Kata Nyonya Can dengan marah.
Ia merasa sakit hati karena pertunangan puterinya dengan pemuda yang ia dan mendiang suaminya pilih itu diputuskan secara sepihak oleh Lui Hong dan hal ini ia terima sebagai penghinaan.
"Biarlah, Ibu. Biar dia mengatakan apa yang hendak dljelaskan. Nah, Lui Hong. Kau hendak bicara tentang apa? Awas kalau kata-katamu mendatangkan kemarahan Ibu, engkau terpaksa akan kami usir dengan kasar!"
Lui Hong memandang kepada Nyonya Can, lau bertanya perlahan.
"Bolehkah saya bicara berdua saja denganmu, Nona Pek Giok?"
Dia khawatir kalau Nyonya Can marah bila mendengar apa yang hendak dia katakan karena hal itu menyangkut urusan dia, Pek Giok dan Han Bun.
"Kau bicaralah, Ibu bahkan harus ikut mendengarkan!"
Kata Pek Giok. Lui Hong menghela napas panjang.
"Baiklah kalau begitu, akan tetapi sebelumnya harap dimaafkan kalau keterangan saya yang sebenarnya ini akan menimbulkan ketidaksenangan."
"Bicaralah!"
Pek Giok menjadi tidak sabar karena kini ia ingin sekali mendengar apa yang akan diceritakan pemuda itu. Setelah mengumpulkan ketenangan Lui Hong berkata.
"Dahulu, tiga tahun yang lalu, saya memutuskan tali perjodohan antara kita, Nona dan saya tahu bahwa hal itu mendatangkan kemarahan besar, bukan hanya pada orang-tua saya, melainkan juga kepada keluarga Can. Saya lakukan hal itu dengan sengaja demi kebaikan kita berdua. Nona juga mengetahui bahwa perjodohan antara kita itu atas kehendak orang-tua kita. Saya menurut saja ketika itu karena saya tidak berani menolak. Padahal, terus terang saja, ketika itu saya telah mempunyai hubungan cinta kasih dengan seorang gadis lain. Kemudian, setelah saya ketahui bahwa terdapat perasaan cinta antara Nona dan Saudara Song Han Bu saya tahu bahwa kalau perjodohan antara kita dilanjutkan, hal itu tidak akan membahagiakan kita berdua. Maka, saya lalu nekat mengambil keputusan untuk mengundurkan diri. Jadi, saya memutuskan tali perjodohan itu bukan karena saya menolak dan menghina, melainkan semata-mata demi kebahagiaan kita berdua. Saya tahu benar bahwa Saudara Song Han Bun satu-satunya pemuda yang pantas untuk menjadi suamimu, Nona Can Pek Giok. Nah, saya sudah mangeluarkan semua suara hati saya, terserah. kepada Nona menerima dan menanggapinya."
Lui Hong menghentikan kata-katanya dan ketika dia memandang gadis itu, dia menjadi terharu karena kedua mata Pek Giok menjadi basah! Melihat ini, dia segera menjura dan berkata lirih.
"Maafkan saya, Nona..."
Pek Giok menggigit bibirnya, berkata lirih pula.
"Kau tidak bersalah..."
Melihat keadaan itu, setelah dengar pengakuan Lui Hong tadi, Nyonya Can sudah tanggap. la lalu memberi isarat kepada Lui Hong untuk pergi.
"Tinggalkan kami..."
Katanya.
Lui Hong memberi hormat lagi lalu dia keluar dari ruangan itu dan langsung balik ke rumah Lui Siong, Ayahnya.
Kepada Ayah dan Ibunya dia sudah ceritakan akan semua itu dan Ayah-Ibunya tidak marah lagi kepadanya, bahkan diam-diam mereka merasa bangga bahwa putera mereka telah mengambil tindakan bijaksana itu.
Tidak lama kemudian, baik Pek Giok maupun Lui Hong sudah meninggalkan Sung-Kian.
Lui Hong pergi ke Hang-Chouw untuk melihat keadaan wanita yang dicintanya, yaitu Li Sian Hwa yang mungkin kini telah menjadi isteri Leng Sui, Pangeran Bangsa Cin itu.
Adapun Pek Giok tentu saja ingin mencari Pek-Bin Giam-Lo yang telah ia ketahui tempat tinggalnya, seperti yang dikatakan Gurunya, yaitu di An-keng sebelah utara Sungai Yang-Ce.
Dara itu mencari Pek-Bin Giam-Lo bukan semata untuk menyelidiki siapa pembunuh Ayahnya, akan tetapi juga untuk membalas dendam karena ia pernah dilukai dan nyaris tewas oleh Raja Maut Muka Putih itu.
Karena Kaisar Kerajaan Sung selalu menuruti politik Perdana Menteri Chin Kui yang amat dipercayainya, maka segala keputusan yang menyangkut politik pemerintahannya dikendalikan oleh Menteri Chin Kui.
Dengan alasan untuk mengamankan Negara, Chin Kui melakukan hubungan persahabatan, bukan hanya dengan Kerajaan Cin yang menguasai Cina bagian utara dengan sungai Yang-Ce sebagai tapal batas dengan Kerajaan Sung yang berada di sebelah selatan sungai, akan tetapi mulai mengadakan hubungan dengan Bangsa Mongol, walaupun tidak secara resmi.
Kaisar Kerajaan Sung hanya menyetujui saja, bahkan tidak keberatan ketika Menteri Chin Kui minta persetujuan masuknya seorang Pangeran Bangsa Mongol ke Kotaraja sebagai wakil Kerajaan Mongol.
Tokoh Mongol yang mengaku sebagai Pangeran itu bernama Baduchin, seorang laki-laki bertubuh tinggi besar bermuka merah.
Muka yang bentuknya segi empat itu, dengan sepasang mata yang sipit dan sinarnya tajam, tampak gagah dan jantan.
Pangeran Baduchin ini resminya saja sebagai wakil Pemerintah Mongol di sebelah utara Tembok Besar, namun sesungguhnya diam-diam dia menjadi pimpinan jaringan mata-mata yan disebar oleh Pemerintah Mongol ke wilayah Kerajaan Cin dan Kerajaan Sung.
Baduchin tinggal di sebuah rumah gedung di pinggir Kotaraja Hang-Chouw dan dia memiliki dua belas orang yang disebut pembantu-pembantunya mengurus rumah tangga, padahal sebetulnya mereka adalah pengawal-pengawalnya.
Selain dua belas orang pembantu pria, dia juga mempunyai tiga orang pembantu wanita.
Semua pembantunya ini tinggal di dalam gedung itu.
Pada suatu pagi, Pangeran Baduchin menunggang kuda, diiringkan lima orang pengawalnya yang juga menunggang kuda.
Mereka keluar dari pintu gerbang Kotaraja sebelah barat lalu menuju ke sebuah hutan yang letaknya sekitar lima belas li (mil) dari Kotaraja.
Hutan ini merupakan hutan lindung tempat para kerabat Istana melakukan perburuan dan Pangeran Baduchin mendapat ijin khusus untuk berburu di sana.
Rakyat biasa jangan harap dapat berburu di hutan itu karena mereka terancam hukuman berat.
Karena Pangeran Baduchin memegang surat ijin khusus dari Perdana Menteri Chin Kui, maka para penjaga gerbang itu tidak ada yang berani mengganggunya.
Rombongan berkuda sebanyak enam orang itu lalu membalapkan kuda menuju ke hutan lindung milik Istana itu.
Sebetulnya Baduchin yang membawa perlengkapan berburu binatang seperti panah, tali, dan pedang itu mempunyai maksud lain.
Seperti biasa dia menggunakan hutan itu untuk mengadakan pertemuan dengan para anak buahnya yang bertugas sebagai mata-mata di Kotaraja Sung.
Kalau dia mengadakan pertemuan di gedungnya, dia khawatir akan menimbulkan kecurigaan karena walaupun Chin Kui merupakan jaminan bagi keamanannya di Hang-Chouw sehingga pemerintah tidak memusuhinya, dia tahu bahwa golongan pendekar patriot tidak suka akan kehadiran wakil pemerintah Bangsa Mongol di situ.
Bahkan sudah beberapa kali ada seorang pendekar hendak membunuhnya, namun dia yang memiliki ilmu silat lumayan dan selalu dikawaI para jagoannya, dapat menyelamatkan diri.
Para pendekar patriot itu tidak berani menyerangnya di tempat umum, karena perbuatan mereka itu pasti ditentang pemerintah dan dia akan ditangkap sebagai seorang penjahat.
Hutan itu sepi.
Karena merupakan hutan lindung, maka jarang sekali ada orang berani memasukinya karena khawatir disangka berburu binatang dan dihukum berat karena hutan itu milik Istana.
Apalagi hari itu masih pagi.
Ketika enam orang berkuda itu mulai memasuki hutan, binatang-binatang hutan itu seperti kijang, kelinci, dan lain-lain yang memang banyak terdapat di hutan itu karena sengaja diisi oleh para petugas, berlarian menyembunyikan diri.
Sebetulnya mereka merupakan sasaran yang mudah, akan tetapi Baduchin dan lima orang pengawalnya tidak berusalia menyerang karena memang mereka tidak ingin berburu.
Mereka menuju ke tengah hutan di mana terdapat sebuah lapangan rumput dan di situ terdapat sebuah bangunan tanpa dinding yang biasanya dipakai untuk beristirahat rombongan Bangsawan Istana yang melakukan perburuan di hutan itu.
Pagi itu Baduchin mempunyai acara penting, yaitu menyambut dan berbincang dengan dua orang mata-mata yang penting karena mereka berdua adalah utusan Pemerintah Mongol yang hendak membicarakan urusan penting dengannya.
Setelah tiba di depan bangunan mungil itu, mereka berloncatan turun dari atas kuda mereka.
Baduchin mendahului mereka memasuki bangunan itu, akan tetapi melihat di situ sepi saja tidak tampak seorang pun manusia, dia merasa heran dan penasaran.
Mengapa dua orang utusan Mongol itu belum berada di situ?
Seharusnya mereka datang lebih dulu, bahkan menurut berita yang dia terima, dua orang itu melewatkan malam tadi di tempat itu.
"Kalian berpencar, cari mereka, mungkin bersemburiyi tak jauh dari sini"
Perintahnya.
Pangeran Baduchin itu lalu duduk di atas bangku panjang yang banyak terdapat di dalam bangunan terbuku tanpa dinding itu.
Lima orang pembantunya berpencar mencari dua orang utusan dari Pemerintah Mongol itu.
"Hei!! Mereka di sini!!"
Seorang di antara mereka berteriak ketika dia tiba di tepi lapangan rumput yang tebal.
Empat orang temannya lalu berlari cepat menghampirinya dan mereka berlima melihat dengan mata terbelalak, lalu mereka berjongkok untuk memeriksa dua orang Mongol tinggi besar yang menggeletak di situ, tertutup rumput tebal dan mereka berdua sudah tewas dengan mandi darah!
Agaknya belum lama mereka itu mati terbunuh.
Tiba-tiba terdengar gerakan orang dan lima orang pengawal Mongol itu cepat berloncatan bangkit pada saat tiga orang yang tiba-tiba muncul sudah menyerang mereka dengan hebat!
Tiga orang itu bukan lain adalah Beng-Kauw Sam-Liong (Tiga Naga Beng-Kauw), Bhe Kun yang berusia lima puluh satu tahun, tinggi besar dan mukanya penuh brewok, memegang siang-to (sepasang golok) sebagai orang pertama.
Kedua adalah Cu Kok berusia empat puluh delapan tahun bertubuh sedang dan mukanya bopeng (bekas cacar), memegang Siang-Kiam (Sepasang pedang).
Orang ketiga adalah Cu Lok berusia empat puluh tiga tahun wajahnya tampan dan tubuhnya sedang dengan senjata Siang-Kiam pula.
Mereka adalah tokoh-tokoh Beng-Kauw dan merupakan murid-murid kelas satu dari Siangkoan Hok ketua Beng-Kauw.
Tentu saja tingkat kepandaian mereka sudah cukup tinggi.
Akan tetapi serangan mendadak mereka itu dapat dihindarkan oleh lima orang pengawal Mongol yang memiliki gerakan cukup gesit.
Mereka bahkan marah sekali karena tanpa bertanya un mereka maklum bahwa tiga orang inilah yang telah membunuh dua orang utusanMongol.
"Mata-mata Mongol busuk, kalian harus dibasmi habis!"
Bentak Bhe Kun yang bersama dua orang adik seperguruannya sudah menyerang lagi.
Akan tetapi kini lima orang Mongol itu sudah siap dan mereka sudah memegang senjata pedang Mongol yang bentuknya agak bengkok dan lebih lebar daripada pedang biasa.
Mereka berlima tidak perlu banyak cakap karena mereka tahu bahwa mereka tentu berhadapan dengan tiga orang pendekar yang mengaku sebagai patriot dan yang membenci orang-orang suku lain yang dianggap pengacau dan penjajah.
Terjadilah perkelahian yang seru antara lima orang pengawal Mongol ini dan tiga orang tokoh Beng-Kauw.
Akan tetapi, biarpun lima orang Mongol itu cukup tangkas, menghadapi tiga orang Bang-Kauw Sam-Liong, mereka terdesak.
Terutama sekali Bhe Kun yang memainkan sepasang goloknya dengan amat ganas, cepat dan kuat, membuat dua orang yang mengeroyoknya kewalahan.
Pada saat itu muncullah Pangeran Baduchin.
Tadi dia mendengar suara senjata beradu dan ketika dia keluar dari pondok dan mencari-cari, dia melihat betapa lima orang pengawalnya sedang berkelahi dengan seru melawan tiga orang yang gerakannya dahsyat Baduchin menjadi marah dan cepat dia mencabut pedangnya lalu lari menghampiri dan tanpa banyak cakap lagi dia menyerang Bhe Kun yang dillhatnya merupakan Iawan yang paling tangguh.
Melihat Baduchin yang bertubuh tinggi besar itu menyerang dengan pedang yang besar dan agak melengkung, BheKun menangkis dengan golok kirinya.
"Singg... tranggg...!!"
Baduchin terdorong saking kuatnya golok itu menangkis pedangnya.
Bhe Kun balas menyerang dan Baduchin juga menangkis.
Dua orang yang sama tinggi besar itu saling serang dengan dahsyat.
Kini Cu Kok don Cu Lok harus menghadapi pengeroyokan lima orang jagoan Mongol itu dan mereka segera terdesak hebat.
Akan tetapi mereka melawan mati-matian sehingga terjadl pertempuran yang amat ramai dan seru.
Cu Kok dan Cu Lok adalah tokoh-tokoh Beng-Kauw dan sebagai orang Beng-Kauw yang sudah memiliki tingkat cukup tinggi, tentu saja mereka juga mahir menggunakan senjata beracun.
Melihat betapa lima orang Mongol itu amat tangguh, keduanya lalu saling memberi isarat.
Pada saat itu mereka berdua dalam kepungan lima orang Mongol yang membentuk barisan segi lima dan menyerang sambil mengubah kedudukan.
Gerakan ini mirip dengan ilmu barisan Ngo-Heng-Tin (Barisan Lima Unsur) yang sifatnya saling menunjang.
Pada saat itu, tiba-tiba kedua saudara Cu dari Beng-Kauw itu menjatuhkan diri bergulingan dan dari tangan kiri mereka meluncur sinar-sinar hitam yang menuju ke arah tubuh lima orang Mongol.
Itulah Hek-Tok-Ting (Paku Racun Hitam), senjata rahasia mereka yang amat berbahaya bagi lawan.
"Auhh... auughh...!"
Terdengar jeritan dua kali dan dua orang dari lima pengawal Mongol itu roboh dengan muka berubah hitam dan tewas seketika karena masing-masing terkena paku hitam yang menancap dalam-dalam di leher mereka!
Akan tetapi pada saat yang hampir bersamaan, tiga orang pengawal Mongol yang lain sudah mengirim serangan yang dahsyat kepada dua orang tokoh Beng-Kauw.
Pada saat itu memang perhatian dua orang bersaudara ini terpecah ketika menyerang dengan paku hitam mereka, maka mereka tidak mampu menghindar atau menangkis dengan baik.
Sebuah bacokan mengenai pundak kiri Cu Kok dan sebuah tusukan pedang mengenai paha kanan Cu Lok!
Dua orang tokoh Beng-Kauw itu menggigit bibir, melompat bangkit dan mereka tidak mempedulikan luka-luka di tubuh mereka, lalu mengamuk menghadapi pengeroyokan tiga orang, pengawal Mongol!
Akan tetapi tentu saja mereka berdua terdesak hebat karena luka mereka membuat mereka tidak leluasa bergerak.
Melihat bahwa melawan mengandalkan sepasang pedangnya tidak menguntungkan dan membahayakan, Cu Lok bertindak nekat.
Dia melontarkan sepasang pedangnya kepada dua orang pengeroyok, dan ketika seorang pengeroyok roboh dan pengeroyok ke dua menyarangkan pedangnya di dada Cu Lok, tokoh Beng-Kauw atau orang termuda dari Beng-Kauw Sam-Liong ini yang tangan kirinya sudah menggenggam beberapa batang paku lalu melontarkannya kepada penyerangnya dari jarak dekat.
Maka robohlah mereka berdua dan tewas seketika!
Kini tinggal Cu Kok seorang yang masih melawan mati-matian seorang pengawal Mongol.
Sebetulnya, tingkat kepandaian silat Cu Kok masih lebih unggul.
Dia masih menang dalam hal kecepatan gerakan atau kekuatan tenaga.
Akan tetapi ka-rena pundak kirinya sudah luka terbacok, bahkan tulang pundaknya retak, tangan kiri lumpuh dan dia hanya menggunakan sebatang pedang kanan, maka tentu saja keadaan menjadi terbalik dan dia malah yang terdesak oleh jago Mongol yang menggunakan pedangnya yang besar dan berat.
Tiba-tiba kaki yang besar dan panjang dari orang Mongol itu mencuat dan sebuah tendangan mengenai paha Cu Kok sehingga dia roboh terjengkang!
Pada saat itu, pengawal Mongol yang merasa gembira telah merobohkan lawan segtera menubruk dan membacokkan pedangnya ke arah leher Cu Kok.
Akan tetapi Cu Kok dengan sisa tenaganya masih sempat menusukkan pedangnya ke arah dada Iawan yang menubruknya!
"Crakk...
Cepp...!"
Dua batang pedang itu dengan berbareng menemui sasarannya.
Leher Cu Kok terbacok hampir putus, akan tetapi pedang tokoh BDeng-Kauw ini pun memasuki dada tokoh Mongol itu sampai tembus ke punggungnya!
Mayat orang Mongol itupun roboh dan menindih mayat Cu Kok, keduanya tewas dengan berlepotan darah mereka berdua!
Melihat dua orang Sutenya (adik seperguruannya) tewas, Bhe Kun terkejut, sedih, dan marah sekali.
Dia memperhebat serangannya sehingga Pangeran Baduchin terdesak hebat.
"Jahanam kau orang Mongol, bersiaplah untuk mampus! Akan kucincang tubuhmu sampai hancur untuk membalas kematian dua Suteku!"
Kata Bhe Kun yang memperhebat serangannya.
"Tranggg...!"
Ketika Baduchin menangkis dengan pedangnya yang besar, pertemuan pedang dengan golok kanan Bhe Kun membuat tangan Baduchin tergetar dan pada saat itu golok kiri Bhe Kun menyambar ke arah tangan orang Mongol Itu yang memegang pedangnya.
"Aughhh...!"
Baduchin terpakca melepaskan pedangnya dan pergelangan tangannya terluka sehingga terasa pedih dan panas.
Pada saat itu, sepasang golok Bhe Kun menyambar dan Baduchin sudah merasa tidak berdaya, mencoba untuk mengelak ke sana-sini.
Pada saat yang amat berbahaya bagi keselamatan Pangeran Mongol itu, tiba-tiba berkelebat bayangan dan sinar putih bagaikan kilat menyambar ke arah Bhe Kun.
Robohlah orang pertama dari Beng-Kauw Sam-Liong ini dengan dada terluka tusukan pedang bersinar putih.
Dia roboh telentang, sepasang goloknya terlepas dan tangannya mendekap Luka di dadanya.
Matanya terbelalak memandang bayangan itu dan dia sempat berseru.
"Tapi... tapi kenapa...?"
Bayangan itu menggerakkan tangan kirinya seperti mendorong dengan telapak tangan.
Tampak sinar seperti kilat dan tubuh Bhe Kun terkulai dan tewas seketika.
Bagian lehernya yang disambar sinar berkilat itu hangus seperti disambar petir!
Pangeran Baduchin memandang dengan bengong saking kagumnya.
Dia tahu bahwa gadis cantik jelita yang berdiri di depannya itu telah menyelamatkan nyawanya, maka tentu saja dia merasa girang dan juga kagum.
Dia segera maju menghampiri dan mengamati wanita cantik itu dengan penuh perhatian.
Gadis yang bertubuh tinggi ramping dan padat itu memang amat cantik.
Rambutnya hitam subur dan digelung ke atas, dihias setangkai bunga merah.
Mukanya bulat telur, putih kemerahan, matanya yang tidak terlalu sipit, sinarnya tajam dan jernih, kerlingnya memikat.
Hidungnya kecil mancung agak ke atas bagian ujungnya seperti menantang, mulutnya memiliki daya tarik yang menggairahkan seperti matanya, dengan sepasang bibir yang kulitnya tipis lembut dan merah lagi penuh seolah akan berdarah kalau tergores sedikit saja, saat itu ia tersenyum dan tampak kilatan gigi putih rapi sehingga Pangeran Baduchin terpesona.
Gadis itu tampak masih muda sekali namun pandang matanya penuh pengertian dan tampak cerdik.
Tadi ia menyerang lawannya dengan pedang bersinar putih berkilat akan tetapi sekarang pedang itu tidak tampak.
Baduchin diam-diam mencari dan merasa heran karena dia tidak tahu bahwa pedang yang amat tipis itu kini telah kembali dipakai sebagai sabuk oleh wanita itu!
Siangkoan Ceng, gadis itu tersenyum.
"Pangeran, mengapa paduka hanya memandang saja? Apakah bantuanku tadi tidak ada artinya bagi Paduka?"
Baduchin semakin heran sehingga dia membelalakkan matanya yang sipit, lalu tertawa, membungkuk sebagai penghormatan dan dia berkata dengan suara heran.
"Nona yang cantik jelita dan gagah perkasa, tentu saja aku merasa berterima kasih sekali atas bantuanmu sehingga nyawaku yang nyaris tewas ini tertolong. Akan tetapi, bagaimana engkau tahu bahwa aku adalah Pangeran Baduchin? Siapakah engkau, Nona, dan kita tidak saling mengenal, mengapa engkau menolongku dan membunuh lawanku?"
Siangkoan Ceng, atau Ceng Ceng, memperlebar senyumnya sehingga tampak manis sekali.
"Pangeran Baduchin, apa sih sukarnya untuk mengetahui bahwa Paduka adalah Pangeran Baduchin, wakil Pemerintah Mongol yang jaya? Saya bernama Siangkoan Ceng atau biasa disebut Ceng Ceng saja. Melihat Paduka terancam bahaya, maka tentu saja saya tidak bisa tinggal diam."
"Ah, sekali lagi terima kasih, Nona Ceng Ceng. Siapakah tiga orang lihai yang menyerang kami dan bahkan telah membunuh lima orang pengawalku itu?"
Dia menunjuk ke arah mayat tiga Beng-Kauw Sam-Liong. Dengan sinar mata tak pedulian Ceng Ceng memandang mayat tiga orang Beng-Kauw itu dan menggelengkan kepalanya.
"Saya tidak mengenal mereka, Pangeran. Sekarang banyak tokoh sesat dunia kang-ouw dan banyak di antara mereka memiliki ilmu silat yang tinggi tingkatnya. Maka, kalau Paduka tidak memiliki seorang pengawal yang betul-betul sakti, maka keselamatan Paduka sewaktu-waktu pasti terancam seperti peristiwa tadi."
"Ah, engkau benar, Nona Ceng Ceng. Lima orang pengawalku itu sesungguhnya sudah memiliki tingkat yang cukup tinggi akan tetapi ternyata menghadapi dua orang pembunuh tadi, mereka semua tewas walaupun mereka dapat pula membunuh dua orang pengacau. Dan yang satu orang tadi sungguh aku merasa kewalahan melawannya. Dia sakti sehingga nyaris aku tewas pula."
"Ah, mereka itu belum seberapa, Pangeran. Masih banyak pengacau yang lebih sakti lagi yang berkeliaran di dunia ini."
"Ih, mengerikan sekali. Biarpun aku tidak merasa takut, namun lebih bijaksana kiranya kalau aku mempunyai seorang pengawal yang dapat diandalkan menjaga keselamatanku. Kalau engkau... eh, Nona Ceng, kenapa engkau membela seorang Mongol seperti aku? Bukankah engkau seorang gadis pribumi Han?"
"Kalau saya gadis pribumi Han, mengapa, Pangeran? Saya bukan gadis bodoh dan saya dapat melihat masa depan. Saya tahu benar bahwa Bangsa Mongol sedang menuju kejayaannya, akan berkembang dan menjadi sebuah Kerajaan besar. Karena Itu, tentu saja saya mendukung mereka yang pada akhirnya akan mendapatkan kemenangan dan memegang kekuasaan."
Bukan main senangnya hati Baduchin mendengar inl.
"Kalau begitu, bagaimana kalau aku menawarkan pekerjaan sebagai pengawal pribadiku, Nona Ceng?"
"Menjadi pengawal pribadi Paduka? Hal itu mudah saja, akan tetapi apa upahnya? Apa yang akan saya peroleh?"
"Engkau tinggal di dalam gedungku dan memiliki kekuasaan di bawah kekuasaanku, para pembantuku akan tunduk dan taat kepadamu. Engkau boleh menentukan sendiri berapa gajimu dan engkau boleh memilih pakaian dan makanan kesukaanmu. Pendeknya, engkau akan hidup serba kecukupan, mewah, clan terhormat sebagai pengawal pribadiku."
"Belum cukup, Pangeran. Aku mau menjadi pengawalmu dan bertanggung jawab atas keselamatanmu, akan tetapi hanya dengan janji bahwa kelak kalau Pemerintah Mongol sudah berkuasa, aku harus mendapatkan kedudukan yang tinggi."
"Ha-ha-ha, mudah diatur, Nona Ceng Ceng. Aku sendiri yang akan minta kepada Raja agar engkau diberl kedudukan tinggi."
Setelah memperoleh janji ini, Ceng Ceng merasa lega dan puas.
la telah mengorbankan Beng-Kauw Sam-Liong untuk dapat mendekati dan memperoleh , kepercayaan Pangeran Baduchin.
Seperti kita ketahui, Ceng Ceng pergi ke Hang-Chouw untuk mencari tahu tentang gerakan Bangsa Mongol yang menurut mendiang Tong Tong Lokwi, kelak akan menguasai seluruh Cina.
Sebelum ke Hang-Chouw ia singgah di Beng-Kauw dan minta agar Beng-Kauw Sam-Liong juga pergi ke Hang-Chouw membantu ia melakukan penyelidikan.
Akhirnya ia mendengar bahwa benar saja di Hang-Chouw terdapat wakil Pemerintah Mongol, yaitu Pangeran Baduchin.
la lalu mendengar bahwa pagi itu Pangeran Baduchin hendak berburu.
Bersama Beng-Kauw Sam-Liong ia mendahului pergi ke hutan itu dan di sana ia mendapatkan dua orang Mongol sedang duduk di dalam pondok tanpa dinding itu.
Ceng Ceng menangkap mereka dan setelah mereka mengaku bahwa mereka utusan Pemerintah Mongol yang akan menemui Pangeran Baduchin ia lalu membunuh mereka dan menyuruh Beng-Kauw Sam-Liong membuang mayat dua orang Mongol itu.
Kemudian mereka menunggu dan Ceng Ceng memerintahkan Sam-Liong untuk menyerang Pangeran Baduchin bersama lima orang pengawalnya.
Setelah dua orang dari Sam-Liong tewas dan lima orang pengawal Mongol juga tewas, tinggal Baduchin sendiri yang melawan Bhe Kun, Ceng Ceng melihat saatnya tepat untuk turun tangan dan ia membunuh Bhe Kun tanpa memberi kesempatan orang pertama dari Beng-Kauw Sam-Liong ini untuk membuka rahasianya.
Demikianlah, dengan siasat ini, mengorbankan tiga orang pembantu Ayahnya sendiri, Ceng Ceng berhasil memikat simpati Pangeran Baduchin yang tentu saja selain berterima kasih juga amat percaya kepadanya.
Pangeran Baduchin lalu mengajak Ceng Ceng keluar dari hutan menunggang kuda dan di luar Kotaraja mereka menyuruh penduduk perkampungan luar Kotaraja untuk mengubur delapan jenazah itu dengan diberi hadiah delapan ekor kuda tunggangan mereka yang tewas.
Di Kotaraja Pangeran Baduchin melaporkan kepada Chin Kui bahwa di dalam perjalanan berburu binatang di hutan, dia dan lima orang pengawalnya diserang gerombolan perampok.
Lima orang pengawalnya tewas akan tetapi dia pun dapat membunuh tiga orang penjahat itu.
Semua jenazah telah dikubur olehnya, menyuruh penduduk di luar Kotaraja.
Pangeran Baduchin sama sekali tidak menceritakan tentang Ceng Ceng yang telah menolongnya.
Akan tetapi setelah Ceng Ceng menjadi pengawal pribadinya, ke mana pun dia pergi Ceng Ceng tentu ikut mengawalnya.
Maka dia memperkenalkan Ceng Ceng kepada para pembesar Kerajaan Sung, dari Perdana Menteri Chin Kui sampai para pembantunya.
Karena Pangeran Baduchin sebagai sekutu Chin Kui dipercaya, maka dia pun sudah berkenalan dengan Pangeran Leng Sui dari Kerajaan Cin dan dalam kesempatan di mana keduanya sedang mengadakan pembicaraan dengan Perdana Menteri Chin Kui, Pangeran Mongol dan Pangeran Yuchen (Cin) ini saling bertemu.
Dengan sendirinya Ceng Ceng sebagai pengawal pribadi Pangeran Baduchin juga diperkenalkan kepada Pangeran Leng Sui.
Sebetulnya Ceng Ceng telah jatuh cinta kepada Bu Beng, yaitu nama Song Han Bun ketika kehilangan ingatannya dan bertemu dengan gadis itu.
Akan tetapi begitu bertemu dengan Pangeran Leng Sui yang masih muda, berpakaian indah, tampan dan sikapnya lembut menarik, usianya juga masih muda, baru dua puluh tujuh tahun, ia merasa tertarik sekali.
Apalagi dalam pertemuan pertama saja Pangeran Leng Sui sudah memandangnya dengan sepasang mata penuh gairah berahi!
Lebih-lebih lagi ketika mendengar bahwa pemuda tampan gagah itu juga seorang Pangeran, Pangeran Bangsa Yuchen yang mendirikan Kerajaan Cin di utara!
Setelah menjadi pengawal dari Pangeran Baduchin selama beberapa buIan, Pangeran Mongol itu mulai memperlihatkan keinginannya untuk mempersunting Ceng Ceng!
"Dalam beberapa bulan ini engkau telah berjasa besar, bukan hanya telah menyelamatkan aku dari ancaman maut, akan tetapi juga menjadi pengawal pribadiku yang setia dan dapat diandalkan Ceng Ceng, aku merasa bahwa hubungan antara kita amat dekat dan terus terang saja, aku telah jatuh cinta padamu.
Aku masih belum memiliki seorang isteri maka kalau sekiranya engkau setuju, aku ingin mengangkatmu menjadi isteri.
Mungkin dengan bantuanmu, kelak aku dapat menjadi Raja dari Bangsa Mongol dan engkau menjadi permaisurinya."
Sebetulnya penawaran itu menarik hati Ceng Ceng.
Bukankah dulu Tong Tong Lokwi telah meramalkan bahwa Bangsa Mongol akan menguasai seluruh negeri dan menjadi Kerajaan yang jaya?
Akan tetapi ramalan itu tidak menyebutkan bahwa yang akan menjadi Rajanya adalah Baduchin!
Bagaimana kalau bukan dia?
Pula, dia tidak tertarik kepada Pangeran ini.
Usianya emang juga belum tua, baru sekitar tiga puluh tahun, akan tetapi tubuhnya yang tinggi besar dan wajahnya yang segi empat itu sama sekali tidak menarik dan tidak dapat disebut tampan.
Kalah jauh kalau dibandingkan dengan Pangeran Leng Sui atau dengan Bu Beng!
Pangeran Leng Sui memang sudah mempunyai isteri dan beberapa orang selir, akan tetapi apa sukarnya mengenyahkan mereka semua dan merebut kedudukan sebagai isteri pertama?
(Lanjut ke
Jilid 18) Antara Dendam & Asmara (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 18 Maka, dengan senyum mengikat dan kerling mata seolah ia merasa malu-malu mendengar pinangan Pangeran Baduchin, Ceng Ceng menjawab dengan lembut.
"Pangeran, saya telah membuat jasa dan akan membantu Paduka, tentu saja dengan harapan kelak akan mendapatkan imbalan yang sesuai dengan jasa saya. Akan tetapi, saya tidak mau mengorbankan diriku untuk sesuatu yang belum pasti. Kalau cita-cita Paduka menjadi Raja itu kelak terkabul, barulah saya akan mau menerima pinangan Paduka. Akan tetapi sekarang, saya ingin melihat dulu apakah Paduka akan berhasil. Kalau tidak, berarti pengorbanan saya sia-sia belaka. Karena itu, sebelum Paduka berhasil menjadi Raja, harap jangan bicarakan tentang pinangan itu dulu."
Ucapan gadis cantik jelita dan sakti itu lembut, namun Pangeran Baduchin dapat menangkap kepastian sikap gadis itu.
Tidak akan menguntungkan kalau dia terlalu mendesak seolah memaksa, maka dia menghela napas panjang dan mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Baiklah, Ceng Ceng, aku akan sabar menanti sampai cita-citaku terkabul kelak."
Demikianlah, hubungan antara Pangeran Baduchin dan Ceng Ceng berjalan biasa.
Ceng Ceng selalu waspada menjaga keselamatan Pangeran Baduchin.
Kamarnya dalam gedung itupun bersebelahan dengan kamar Baduchin sehingga kalau terjadi sesuatu, ia akan mendengarnya dan melindunginya.
Tentu saja untuk melengkapi regu pengawalnya yang mati lima orang itu, Baduchin mendatangkan lagi sepuluh orang jagoan dari Mongol.
Selama Para pengawal yang kini jumlahnya tujuh belas orang itu, Baduchin juga mempunyai tiga orang pembantu wanita yang masih muda dan wajahnya cantik karena para pembantu wanita ini pun bertugas melayaninya sebagai selir.
Mereka semua adalah Bangsa Mongol dan selain mereka, ada pula seorang pembantu pria setengah tua berBangsa pribumi Han yang bekerja sebagai tukang kebun, mengurus dan membersihkan bagian di luar gedung.
Tukang kebun yang dipanggil A Sam ini juga tidak bermalam di gedung itu, melainkan kalau senja pulang ke rumahnya sendiri di perkampungan belakang gedung Baduchin dan setiap pagi sekali dia sudah datang bekerja di luar gedung.
Beberapa pekan kemudian sejak Pangeran Leng Sui bertemu untuk ke tiga kalinya dengan Ceng Ceng yang mengawal Baduchin, pada suatu pagi ketika A Sam memasuki halaman gedung tempat Pangeran Baduchin sambil memanggul cangkul, dia melihat Ceng Ceng pagi itu sudah bangun dan bahkan sudah mandi, sedang duduk di taman kiri bangunan.
Agaknya memang gadis sedang menunggu kedatangan A Sam karena begitu melihat tukang kebun setengah tua itu, ia melambaikan tangan memanggil.
A Sam menghampiri dan Ceng Ceng segera bertanya lirih.
"Ada kabar dari Pangeran Leng Sui?"
Kiranya dalam pertemuan terakhir, Pangeran Leng Sui mendapat kesempatan bicara dengan Ceng Ceng dan mengatakan bahwa dia akan menghubungi gadis itu melalui tukang kebun A Sam yang bekerja pada Pangeran Baduchin.
Baca Juga: Sepasang Pedang Iblis 11
Baca Juga: Si Pedang Tumpul 5