Ceritasilat Novel Online

Antara Dendam Dan Asmara 7

Eps 7 Antara Dendam Dan Asmara - Kho Ping Hoo

Baca online Antara Dendam Dan Asmara - Kho Ping Hoo

Cersil Antara Dendam Dan Asmara - Kho Ping Hoo.

Tentu saja Pangeran Leng Sui sudah menyogok A Sam dengan banyak uang sehingga A Sam menjadi semacam penyelidik di rumah Pangeran Mongol itu untuk kepentingan Pangeran Kin!

A Sam mengangguk dan dia lalu mengeluarkan sebuah bungkusan kain merah dari saku bajunya dan menyerahkannya kepada Ceng Ceng tanpa bicara apa pun.

Setelah menyerahkan bungkusan kain merah kecil, dia pun bergegas pergi dan segera bekerja membersihkan halaman seperti biasa.

Dengan hati berdebar tegang Ceng Ceng membawa bungkusan itu ke dalam kamarnya.

Ketika bungkusan kain merah, dibuka, ia tersenyum dan sepasang matanya bersinar-sinar.

Bungkusan itu berisi sebuah hiasan rambut berbentuk burung Hong yang terbuat dari emas dengan ukirannya indah sekali, matanya dari batu intan.

la segera memasang hiasan rambut itu di sanggulnya, lalu membuka lipatan surat yang berada pula dalam bungkusan.

Nona Siangkoan Ceng yang secant bidadari!

Bagaimana kalau saya mengundang Nona untuk pesiar bersamaku dalam perahuku di Telaga Barat?

Kalau setuju katakanlah kepada A Sam dan besok pagi setelah matahari terbit saya menunggumu di tepi telaga.

Yang memujamu, Pangeran Leng Sui.

Ceng Ceng merasa girang sekali Agar tidak ada yang mengetahui ia menggenggam surat itu, diremasnya sehingga hancur menjadi tepung dan membuangnya keluar jendela kamarnya.

Kemudian ia segera pergi menghadap Pangeran Baduchin yang berada di ruangan dalam gedung itu.

Pangeran Baduchin sedang menghadapi sarapan pagi dan melihat Ceng Ceng dia segera menyambut dengan gembira.

"Ah, kau Ceng Ceng, mari duduk dan sarapan bersamaku!"

Ceng Ceng duduk dan berkata manis.

"Terima kasih, Pangeran, saya sudah sarapan tadi. Saya ingin minta ijin kepada Paduka, Pangeran."

"Ijin? Ijin apakah?"

Dan ia melihat hiasan rambut itu.

Biasanya, Ceng Ceng hanya memakai hiasan rambut setangkai bunga merah di kepala bagian kiri, kini di bagian kanan rambut kepala yang hitam subur itu terdapat sebuah hiasan rambut burung Hong t-mas yang indah sekali.

"Eh, dari mana kau dapatkan hiasan rambutmu yang indah itu, Ceng Ceng?"

Ceng Ceng menyentuh hiasan itu dengan jari tangan kanannya lalu menjawab.

"Ah, ini adalah hiasan rambut lama yang selalu kusimpan, pemberian mendiang Ibu saya, Pangeran."

"O, begitu? Kenapa tidak pernah kau pakai?"

"Sekarang saya pakai, Pangeran."

"Bagus sekali, serasi untukmu. Nah, sekarang apa yang kau maksud ijin dariku itu?"

"Pangeran, saya sudah mendengar akan keindahan Telaga Barat di luar Kotaraja. Saya ingin minta waktu sehari besok untuk pesiar di telaga itu."

"Aha, aku sampai lupa membawamu pesiar ke telaga! Baiklah, besok kau akan kuantar ke sana, kita pesiar naik perahu!"

"Terima kasih, Pangeran. Akan tetapi saya ingin sekali pergi sendiri. Saya ingin bebas tugas untuk sehari saja. Saya ingin pergi sendiri, harap Paduka suka mengijinkan. Paduka di rumah saja, terjaga oleh para pengawal."

Pangeran Baduchin mengangguk-angguk, akan tetapi dia mengerutkan alisnya, tanda hatinya tak senang.

Memang dia selalu merasa kecewa karena Ceng Ceng tidak pernah mau berdekatan dengannya, tidak pernah mau bersenang-senang dengannya.

Sikap gadis itu kaku, hanya siap sebagai pengawal dan pelindung saja.

"Baiklah, besok engkau boleh bebas sehari."

"Terima kasih, Pangeran!"

Ceng Ceng memberi senyuman manis sekali sehingga perasaan kecewa Pangeran Mongol itu mereda.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Ceng Ceng sudah keluar dari halaman gedung tempat tinggal Pangeran Baduchin.

Ia mengenakan pakaian baru dari sutera tipis dan halus berwarna biru dan kuning, rambutnya digelung ke atas, di sebelah kiri terhias setangkai bunga merah dan di sebelah kanan terhias burung Hong emas bermata intan.

Sabuknya yang putih itu hanya tampak biasa saja, akan tetapi sesungguhnya itu adalah sabuk yang terisi Pek-Coa-Kiam, pedang pusakanya yang ampuh itu.

Setelah tiba di tepi telaga, dari jauh ia sudah melihat Pangeran Leng Sui dengan pakaian yang mewah dan indah, tampan dan gagah, melambaikan tangan sambil tersenyum kepadanya.

Dengan langkah gontai, seperti langkah seekor kuda, pinggulnya yang bulat penuh itu bergoyang-goyang seperti menari, pinggangnya yang ramping itu seperti ombak terayun ke kanan kiri, wajahnya yang cantik berseri-seri, sepasang bibir merah basah itu sedikit terbuka memperlihatkan deretan gigi putih rapi seperti mutiara, anak rambut di dahi dan pelipis melingkar dan bergerak tertiup angin, Ceng Ceng menghampiri Pangeran Kin itu.

Setelah dekat, tidak seperti biasanya kalau mereka bertemu dengan resmi mereka saling memberi salam hormat dengan mengangkat kedua tangan, dirangkap di depan dada, kini Pangeran Leng Sul menjulurkan kedua tangannya, menangkap kedua tangan Ceng Ceng.

Bukan main girang rasa hati Pangeran itu ketika dia merasa betapa kedua tangan yang halus dan hangat itu menyerah saja, sama sekali tidak menarik lepas dari genggamannya!

"Marilah, Nona, kapal kita sudah menunggu!"

Pangeran Leng Sui menudingkan telunjuknya ke sebuah perahu besar yang berlabuh di pinggir telaga.

Perahu yang indah sekali, catnya masih baru, berwarna kuning dan layarnya berwarna merah mencolok.

Di atas dek, berjajar belasan orang yang menjadi anak buah perahu, berpakaian seragam, berdiri dengan hormat ketika Pangeran Leng Sui dan Ceng Ceng naik tangga memasuki perahu.

Langsung saja Pangeran Leng Sui mengajak Ceng Ceng masuk ke sebuah ruangan di tengah perahu dan di sana sudah terdapat sebuah meja yang bundar, Dua buah kursi diletakkan berdampingan setelah mereka duduk berjajar, beberapa orang pelayan segera datang membawa masakan dalam mangkok-mangkok besar.

Masakan yang masih panas, mengepulkan asap yang amat sedap sehingga Ceng Ceng yang memang pagi itu belum sarapan, merasa betapa perutnya tiba-tiba menjadi lapar sekal!l Tanpa banyak basa-basi lagi, mereka lalu makan minum dan karena pandainya Pangeran Leng Sui merayu, juga karena memang hati Ceng Ceng sedang gembira dan ia juga tertarik sekali kepada Pangeran Bangsa Yuchen yang tampan dan pandai merayu itu, Ceng Ceng minum arak lebih banyak dari biasanya.

Mukanya mulai menjadi merah sehingga dalam penglihatan Pangeran Leng Sui, ia tampak luar biasa cantik dan menggairahkan!

Sebetulnya, Ceng Ceng tidak mungkin dapat menjadi mabok hanya oleh minum arak saja.

Sinkang (tenaga sakti) dalam tubuhnya sudah terlalu kuat dan ia mampu menyalurkan hawa arak itu keluar melalui pori-pori tubuhnya dengan desakan sinkangnya.

Akan tetapi karena hatinya gembira sekali, mukanya menjadi merah dan ia membiarkan dirinya terseret kegembiraannya sehingga sikapnya terlepas seperti orang setengah mabok.

Karena mengira bahwa Ceng Ceng berada dalam keadaan setengah mabok, Pangeran Leng Sui tentu saja lebih berani.

Setelah mereka makan minum dengan sikap mesra, terkadang Pangeran itu menyuguhkan sepotong daging dengan sumpitnya yang langsung didekatkan ke mulut Ceng Ceng dan gadis itu menggigit daging lalu mengunyahnya, dan sebaliknya Ceng Ceng juga berani menyuguhkan arak dengan cawannya sendiri untuk diminum Pangeran itu, Pangeran Leng Sui memegang tangan Ceng Ceng dan berkata.

"Nona..."

"Aih, Pangeran, rasanya janggal kalau menyebut saya nona. Nama saya biasa disebut Ceng Ceng."

"Ha-ha-ha, bagus. Sekarang aku akan menyebutmu Ceng-moi (Dinda Ceng), akan tetapi engkau juga jangan menyebut aku Pangeran."

"Habis bagaimana?"

"Karena aku menyebutmu Adinda engkau juga harus menyebut aku Kakanda!"

"Baiklah, Kakanda Pangeran."

Kata Ceng Ceng sambil mengerling tajam dan sepasang bibir merah itu berkembang menjadi senyuman manis yang menimbulkan lesung manis di pipi kirinya, membuat Leng Sui menjadi semakin terpesona.

Setelah meja dibersihkan, mereka mengobrol dengan asyiknya.

"Ceng-moi, engkau she Siangkoan. Aku pernah mendengar akan nama besar Siangkoan Hok, Ketua Beng-Kauw. Apakah hubungannya denganmu?"

Ceng Ceng tersenyum menggoda.

"Paduka ingin mengetahui, Kakanda Pangeran? Lebih dulu saya ingin mengetahui bagaimana kesanmu terhadap Beng-Kauw?"

"Beng-Kauw? Ah, baik, Beng-Kauw adalah perkumpulan orang gagah yang tidak mau tunduk begitu saja kepada penguasa yang lalim, maka Pemerintah Kerajaan Sung menganggapnya sebagai perkumpulan pemberontak."

"Kalau begitu pendapat Paduka, saya akan membuat pengakuan. Siangkoan Hok itu adalah Ayah kandung saya."

"Ah, bagus sekali. Pantas engkau diberi tugas sebagai pengawal pribadi Pangeran Baduchin dari Mongol itu! Tentu ilmu silatmu tinggi sekali!"

"Hemm, dibandingkan dengan ilmu silat Paduka, agaknya saya masih harus banyak belajar."

Senang hati Pangeran Leng Sui mendengar ini.

"Akan tetapi aku merasa heran sekali, Ceng-moi. Mengapa seorang puteri Ketua Beng-Kauw yang cantik jelita dan lihai seperti engkau ini dapat menjadi pengawal pribadi Baduchin Itu?"

"Betum lama ini kebetulan saya melihat Pangeran Baduchin terancam bahaya maut di tangan penjahat yang mungkin hendak merampoknya. Melihat ini saya lalu membantunya dan berhasil membunuh penjahat itu. Pangeran Baduchin berterima kasih dan mengangkat saya menjadi pengawal pribadinya."

"Dan engkau mau menerimanya. Mengapa? Bukankah sebagai puteri Beng-Kauw derajatmu sudah tInggi dan engkau tentu tidak membutuhkan pekerjaan dan upah?"

"Ah, saya hanya ingin mencari pengalaman, Kakanda Pangeran. Karena saya pikir hubungan Pangeran Baduchin tentu luas sekali, maka saya menerima pekerjaan itu. Dan buktinya saya mengenal banyak pembesar dan Bangsawan tinggi, termasuk Paduka!"

Pangeran Leng Sui termenung sejenak, agaknya merasa ragu untuk mengajukan pertanyaan berikutnya, hanya menatap wajah Ceng Ceng dengan sinar mata tidak menyembunyikan rasa kagum dan gairahnya.

"Kakanda Pangeran, mengapa engkau memandang saya seperti Ini? Apa yang hendak Paduka katakan?"

Tanya Ceng Ceng sambil menjebikan bibirnya, menantang.

"Kau... kau cantik jelita sekali, Ceng-moi. Apakah Pangeran Baduchin bermata buta tidak melihat kecantikanmu dan apakah dia tidak mencoba untuk merayumu?"

Wajah Ceng Ceng berubah kemerahan dan hal ini memang sengaja ia Iakukan. Muduh saja baginya untuk mengalirkan darah Iebih banyak ke mukanya. Ia tersenyum malu-malu buatan dan berkata.

"Ah, sebenarnya dia pernah mencoba untuk merayu saya, bahkan meminang saya untuk menjadi isterinya."

"Hemm,"

Pangeran Leng Sui menatap tajam wajah gadis itu.

"Dan engkau tentu menerimanya?"

"Aih, tidak sama sekali, Kakanda Pangeran! Saya menolaknya dan saya katakan kalau dia berani bicara tentang itu lagi, saya akan meninggalkannya dan keluar dari pekerjaan saya!"

"Luar biasa sekali! Akan tetapi kenapa engkau menolaknya, Ceng-moi? Bukankah dia itu seorang Pangeran Bangsa Mongol yang masih muda dan gagah perkasa? Kenapa engkau menolaknya?"

"Ah, saya tidak suka padanya, Kakanda Pangeran. Orangnya kasar dan mukanya bengis, jelek dan... pendeknya saya tidak suka."

Leng Sui tertawa.

"Begitukah engkau menilainya? Bagaimana kalau aku, Ceng-moi? Bagaimana engkau menilai diriku?"

Ceng Ceng mengamati muka Pangeran Itu, lalu dengan sikap manja ia menjawab.

"Kalau Paduka... orangnyakan lembut, sopan, dan tampan."

"Dan engkau suka?"

Ceng Ceng mengangguk malu-malu.

"Tentu saja saya suka..."

"Ha, kalau begitu, bagaimana kalau aku yang meminangmu untuk menjadi isteriku?"

"Aih, Kakanda Pangeran Leng Sui, jangan main-main, ah!"

"Siapa yang main-main, Adinda Siangkoan Ceng? Aku sungguh-sungguh, aku... aku telah jatuh cinta padamu! Bagaimana tanggapanmu terhadap pinanganku Ceng-moi?"

Ceng Ceng dengan gaya manja menggelengkan kepalanya sambil tersenyum simpul.

"Sekali lagi saya harap Paduka jangan main-main, Kakanda Pangeran!"

"Apa maksudmu dengan menganggap aku main-main?"

"Habis, Paduka sudah mempunyai isteri dan selir-selir, bagaimana akan meminang saya menjadi isteri Paduka? Saya malu bertemu dengan isteri dan selir-selir Paduka, dan saya sudah bertekad untuk menolak menjadi selir orang, biar dia itu Kaisar sekalipun!"

"isteriku? huh, aku benci perempuan itu. la tidak mencintaku, la mencinta laki-laki lain. Kalau engkau mau menjadi isteriku dan tinggal di gedungku, aku akan memulangkan isteriku itu bersama anaknya ke rumah orang-tuanya! Aku sudah muak dengannya, dan kalau engkau tidak mau di madu, aku akan pulangkan semua selirku. Bagaimana, engkau mau menerima pinanganku? Ceng-moi, engkau jadilah isteriku dan aku berjanji akan menyayangmu selamanya dan siapa tahu, kelak aku dapat menjadi Kaisar Kerajaan Cin dan engkau menjadi permaisuriku!"

Tentu saja girang sekali hati Ceng Ceng mendengar ucapan ini.

Akan tetapi ia bukan gadis bodoh.

Hubungan yang akan dilakukannya dengan Pangeran Leng Sui, walaupun ia juga tertarik dan terangsang nafsunya akan ketampanan dan kepandaian merayunya, namun ia anggap sebagai jual-beli yangtentu berpamrih agar ia mendapatkan keuntungan.

Ia akan membeli dengan penyerahan dirinya, akan tetapi mendapatkan kemuliaan sebagai isteri sah seorang Pangeran yang kelak mungkin menjadi Kaisar!

Dalam jual-beli ini, ia tidak akan menyerahkan pembayarannya sebelum mendapatkan apa yang dibelinya.

"Saya... saya menerimanya dengan senang hati dan berbahagia sekali, Kakanda Pangeran!"

Dengan gembira Leng Sui menjulurkan kedua lengannya merangkul Ceng Ceng, akan tetapi ketika dia hendak menciumnya, Ceng Ceng menolak dan sekali renggut, ia sudah melepaskan diri dari pelukan itu, lalu bangkit dan mundur menjauhkan diri.

Akan tetapi wajahnya berseri dan senyumnya amat manis.

Pangeran Leng Sui juga bangkit berdiri dan memandang heran.

"Kenapa engkau menolak, sedangkan ucapanmu menerima, Ceng-moi? Sebetulnya engkau mau menerima pinanganku ataukah tidak?"

"Aku terima dengan hati bahagia sekali, Kakanda Pangeran. Akan tetapi harap jangan tergesa-gesa. Saya bukan seorang wanita murahan yang menyerahkan diri begitu saja, walaupun hati saya amat menginginkannya. Saya adalah seorang gadis yang dapat menjaga kehormatan. Harap Paduka buktikan dulu janji Paduka, yaitu menyingkirkan isteri dan semua selir Paduka. Kalau sudah terbukti, barulah saya akan menerima pinangan itu dan Paduka merayakan pernikahan kita sebagaimana mestinya."

Leng Sui tertawa dan dia merasa senang dan bangga.

Calon isterinya ini masih perawan dan selain cantik jelita, dia percaya tentu memiliki kepandaian silat tinggi sehingga dipercaya Pangeran Baduchin sebagai pengawal pribadi.

Kalau Ceng Ceng tidak lihai sekali, tidak mungkin Baduchin mengambilnya sebagai, pengawal pribadi karena dia tahu banyak jagoan Mongol yang tinggi ilmunya.

"Baiklah, Ceng-moi. Aku akan menahan diri, tidak akan menggaulimu sebelum kita menikah. Akan tetapi pernikahan itu tidak mungkin dilakukan di sini, harus dilakukan di wilayah Kerajaan Cin di utara."

"Begitupun baik, Kakanda Pangeran."

"Kita tidak akan berhubungan sebagai suami-isteri sebelum menikah, akan tetapi kuharap engkau tidak akan menolak kalau sekadar bercumbuan, bukankah kita saling mencinta dan kita anggap saja telah bertunangan?"

Ceng Ceng tersenyum dan mengerling genit.

Melihat senyum dan kerling mata ini, Leng Sui menghampiri dan memeluknya.

Kini Ceng Ceng tidak menolak dan membalas ketika laki-laki itu mencium dan mencumbunya.

Demikianlah, kedua orang ini tenggelam ke dalam buaian nafsu mereka, namun Ceng Ceng yang cerdik itu tetap menjaga diri.

Mereka bahkan pindah ke dalam kamar satu-satunya di perahu itu.

Ketika Leng Sui hampir tidak tahan, Ceng Ceng lalu meronta lepas dan menggoda.

"Kalau Kakanda Pangeran mampu menangkap saya, barulah saya akan menyerah!"

Tentu saja Leng Sui menjadi girang sekali dan dia berusaha mengejar dan menubruk.

Namun, biarpun dia telah mengeluarkan semua kepandaiannya, dia tidak mampu menyentuh ujung baju Ceng Ceng satu kalipun!

Bahkan semakin dikejar, gerakan Ceng Ceng semakin cepat, bahkan terkadang gadis itu hilang dari pandangannya!

Ceng Ceng memang hendak membuktikan kesaktiannya kepada Pangeran itu, agar dapat ia tundukkan dan kelak akan menuruti segala kehendaknya.

Maka ia mengeluarkan ilmu kesaktiannya yang ia pelajari dari med-iang Tong Tong Lokwi.

Leng Sui terkejut bukan main dan terpaksa menghentikan pengejarannya dengan terengah-engah, bukan hanya terengah karena lelah namun juga karena tubuhnya seperti terbakar oleh nafsu berahi yang tak tersalurkan.

Dia memandang Ceng Ceng yang juga sudah tidak bergerak, dan melihat betapa gadis itu sama sekali tidak tampak letih, masih segar dan tersenyum menggoda.

"Ceng-moi, bukan main cepatnya gerakanmu! Dan tadi engkau hilang..., apakah engkau memiliki ilmu menghilang?"

"Saya menguasai beberapa ilmu, cukup untuk menjaga diri dan menjaga keselamatan Paduka,"

Leng Sui memandang penuh kagum.

Baru sekarang dia melihat bukti kehebatan gadis yang membuatnya tergila-gila ini.

Dia merasa berutung sekali, mendapatkan calon isteri yang tingkat kepandaiannya bahkan jauh melampainya!

Akan tetapi dia masih belum puas.

Dia masih ingin mengujinya, apakah benar-benar Ceng Ceng sakti dan tangguh.

"Ceng Ceng, mari kita ke ruangan dalam yang lebih luas. Aku ingin sekali mellhat kemampuanmu bertanding silat. Aku sendiri yang akan mengujimu!"

Ceng Ceng memang ingin memamerkan kepandaiannya.

Hal ini penting untuk membuat hati Pangeran ini benar-benar tunduk kepadanya sehingga kelak mudah ia kuasai.

Maka ia mengangguk dan mereka keluar dari kamar, memasuki ruangan dalam perahu Itu dan menutupkan pintunya, setelah menyuruh anak buahnya menyingkirkan dan membawa keluar meja dan kursi dari ruangan itu.

Kini ruangan itu cukup lega untuk dipakai bertanding silat.

"Awas Ceng-moi, ilmu silatku cukup tangguh, engkau harus dapat menjaga diri dengan baik,"

Kata Leng Sui sambil memasang kuda-kuda dengan kedua lutut di tekuk dan kedua tangan di kanan kiri pinggang.

Sikapnya gagah sekali karena dia pun hendak memamerkan kepandaian silatnya kepada gadls itu.

"Kakanda Pangeran, saya memberi kesempatan kepadamu untuk menyerang saya sebanyak dua puluh jurus. Kalau saya sampai tersentuh sekali saja, saya mengaku kalah. Kalau dalam dua puluh jurus Paduka belum berhasil menyentuh saya, saya akan membalas serangan dengan satu jurus saja. Bagaimana?"

Leng Sui terkejut dan mengerutkan alisnya.

"Ceng-moi, bukankah ucapanmu itu terlalu sombong? ingat, bahkan para pengawal Istana Kerajaan Cin saja tidak akan mudah mengalahkan aku!"

"Kita lihat saja buktinya, Kakanda!"

Leng Sui merasa penasaran, akan tetapi juga ingin sekali melihat buktinya.

Kalau benar terjadi seperti apa yang dikatakan Ceng Ceng, maka berarti gadis itu memiliki ilmu kepandaian yang amat hebat!

"Bersiaplah, Ceng-moi, aku mulai menyerangmu!"

Katanya dan dengan cepat sekali dia menubruk.

Sekali ini Ceng Ceng tidak mau menggunakan kecepatan gerakannya yang disertai ilmu sihir sehingga tubuhnya dapat lenyap lagi, melainkan ia menggunakan elakan cepat dan terkadang menangkis dari samping.

Jurus demi jurus lewat dan benar saja, kedua tangan Leng Sui tidak pernah dapat mengenai sasaran.

Bahkan Leng Sui juga menggunakan beberapa kali tendangan untuk membuyarkan pertahanan Ceng Ceng, namun semuanya itu sia-sia sampai akhirnya Ceng Ceng menghitung jurus terakhir yang ke dua puluh.

"Sekarang sambut satu jurus balasanku, Kakanda!"

Seru gadis itu.

Leng Sui yang sudah kagum bukan main cepat mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaian untuk berjaga diri agar mampu menolak satu jurus serangan balasan Ceng Ceng.

Akan tetapi dia hanya melihat sinar kilat menyambar ke arah pundaknya dan tahu-tahu seluruh tubuhnya menjadi kaku tak dapat dia gerakkan!

Selagi dia terkejut dia mendengar suara Ceng Ceng.

"Maaf, Kakanda Pangeran!"

Dan jari tangan gadis itu menotok pundaknya sehingga totokan pertama yang menggunakan Tian-Ciang (Tangan Halilintar) tadi buyar dan dia dapat bergerak kembali!

Kini Leng Sui berdiri bengong, seolah tidak percaya apa yang baru saja terjadi.

"Ceng-moi, kau... kau... hebat sekali!"

Dia berseru gembira dan takjub.

"Agar Paduka dapat percaya benar, sekarang harap Paduka menguji saya dengan pedang Paduka itu, Kakanda!"

Ceng Ceng mulai menyombongkan diri untuk memancing kekaguman yang lebih besar dan tentu saja agar pangecan itu kelak benar-benar tunduk dan tidak berani menyia-nyiakan dirinya.

"Apa?"

Leng Sui berseru.

"Pedangku ini adalah pedang pusaka Hek-Iiong-Kiam (Pedang Naga Hitam) yang amat ampuh. Tergores sedikit saja oleh pedangku sudah cukup membunuh orang!"

"Cabutlah dan coba serang saya, Kakanda. Saya tidak akan merusak pedang pusaka Paduka. Mari kita bermain pedang, dan seperti tadi, Paduka boleh menyerang saya selama dua puluh jurus dan saya lalu membalas serangan satu jurus saja. Serang dengan sungguh-sungguh, pedangmu tidak akan dapat melukai saya, Kakanda!"

Karena ia mulai percaya akan kesaktian gadis itu, Leng Sui tidak ragu lagi.

Dengan gembira dia mencabut pedangnya dan tampak sinar hitam mengerikan ketika Pedang Naga Hitam tercabut.

Ceng Ceng sambil tersenyum lalu melolos Pek-Coa-Kiam (Pedang Ular Putih) yang melilit Pinggangnya dalam sabuk kulit putih dan ketika ia memegang gagang pedang itu dengan tangan kanan, tampak pedang putih itu tergetar seperti hidup di tangannya.

"Saya sudah siap, Kakanda Pangeran"

Leng Sui memandang ragu.

"Adinda Siangkoan Ceng, pedangmu begitu tipis dan ringan, bagaimana kalau sampai rusak atau patah oleh pedangku ini?"

"Pedangku tidak akan rusak, juga pedang Paduka tidak akan saya rusak, Kakanda. Mulailah!"

"Awas serangan!"

Leng Sui yang menjadi gembira menyerang dan dia tidak membatasi serangannya karena dia yakin akan kemampuan tunangannya itu.

Dia mengeluarkan jurus-jurus yang paling ampuh dan berbahaya.

Akan tetapi gulungan sinar hitam pedangnya itu tertahan oleh gulungan sinar putih yang gerakannya gesit bukan main.

Pedang Naga Hitam itu sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk mendesak, bahkan sebelum pedang bertemu pedang, ada hawa yang kuat membuat pedang hitam tergetar atau terkadang bahkan terpental.

Kalau kedua pedang sempat bertemu, terdengar suara nyaring, bunga api berpijar menyilaukan mata dan Leng Sui merasa betapa lengan kanannya tergetar hebat!

Akan tetapi dia melanjutkan serangannya secara bertubi dan susul menyusul, dahsyat sekali.

Ceng Ceng dengan tenang menghindarkan diri dari semua serangan itu sambil menghitung jumlah serangan.

Setelah genap dua puluh, ia berseru.

"Sekarang sambut balasan saya satu kali serangan, Kakanda!"

Leng Sui mengerahkan tenaga untuk bertahan.

Ketika ada sinar putih menyambar dari samping, cepat seperti sinar, dia tidak keburu mengelak dan dengan pengerahan tenaga sekuatnya dia menangkis sambaran sinar putih itu.

"Plakk!"

Pedang hitam itu menempel pada pedang tipis putih dan sebelum Leng Sui sempat hilang kagetnya, tiba-tiba saja pedang hitamnya seperti terbang dengan kekuatan dahsyat sehingga terlepas dari genggamannya!

Ternyata pedang itu terbawa menempel pedang putih dan kini telah berada di tangan kiri Ceng Ceng.

Sambil tersenyum Ceng Ceng menyerahkan kembali Hek-Liong-Kiam itu kepada Pangeran Leng Sui.

Dengan mata terbelalak penuh kagum Leng Sui menerima pedangnya dan menyarungkannya kembali, sedangkan Ceng Ceng juga mengenakan pedang itu sebagai sabuk di ikat pinggangnya.

"Bukan main! Engkau sakti seperti Dewi! Guruku sendiri belum tentu dapat menandingimu, Ceng-moi!"

Kata Leng Sui `Ialu dia merangkul Ceng Ceng.

"Sungguh berbahagia dan bangga sekali hatiku, dapat memperoleh seorang tunangan sepertimu! Mahkota Permaisuri Kaisar memang pantas sekali bagimu!"

Akan tetapi Ceng Ceng melepaskan rangkulan Leng Sui. Ia memang ingin mulai menundukkan Pangeran itu agar menghormatinya dan menganggap ia sebagai atasannya yang patut ditaati.

"Jangan lupa, Kakanda Pangeran. Sebelum engkau memenuhi janji-janji Paduka kepada saya untuk memulangkan semua isteri dan selirmu, selanjut menikahi saya dengan resmi, kita tetap hanya sebagai calon jodoh yang tidak boleh melakukan pelanggaran susila karena saya adalah seorang gadis yang dapat mempertahankan dan menjaga kehormatan saya!"

Leng Sui melangkah mundur dan mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Jangan khawatir, Ceng-moi, aku pasti tidak akan melanggar janjiku!"

Mereka bersenang-senang di perahu sampai siang.

Kemudian setelah mereka berpisah, Ceng Ceng langsung pulang ke gedung Pangeran Baduchin, sedangkan Pangeran Leng Sui pulang ke gedungnya.

Pada hari itu juga dia menyuruh isterinya, Li Sian Hwa, pulang ke rumah Jaksa Li Koan bersama Leng Bu San, puteranya yang baru berusia satu tahun.

"Karena antara kita sudah tidak ada kecocokan lagi, engkau selalu bermuka muram sehingga aku merasa bosan melihatnya, juga Ayahmu sudah tidak suka mempunyai mantu seperti aku, maka sebaiknya engkau pulang ke rumah orang-tuamu dan jangan kembali lagi ke rumahku."

Sebetulnya Li Sian Hwa merasa girang akan dapat terlepas dari suami yang brengsek ini, akan tetapi ia mengingat betapa pada masa itu seorang janda yang dicerai merupakan wanita yang dianggap hina.

Maka ia ingin mempertahankan kedudukannya yang lebih terhormat.

"Akan tetapi, bukankah aku ini isterimu, Ibu anakmu?"

La membantah.

"Mulai sekarang hubungan kita putus. Engkau tidak berhak mengaku sebagai istreriku lagi. Pergilah, kereta sudah menunggu di luar. Semua pakaian dan perhiasanmu bawa!"

Setelah berkata demikian Leng Sui lalu mendatangi lima orang selirnya dan dia pun menyuruh mereka semua pulang ke rumah orang-tua mereka.

Demikianlah, karena dia senang sekali mendapatkan Ceng Ceng sebagai calon pengganti isteri, seorang gadis yang selain cantik jelita juga amat sakti sehingga mampu menjamin keselamatannya dan juga kelak akan dapat membantu dia mencapai kedudukan tertinggi, pada sore hari itu juga Leng Sui mengusir isteri dan lima orang selirnya.

Li Sian Hwa membawa pakaian dan puteranya, keluar dari gedung, memasuki kereta dan pulang ke rumah Jaksa Li Koan.

Ayah-Ibunya menyambutnya dengan terharu.

Orang-tua ini tidak memarahi anaknya walaupun diceraikannya puteri mereka itu merupakan penghinaan bagi mereka.

Mereka merasa kasihan kepada puteri mereka dan mereka pun tidak berani memprotes kepada Leng Sui yang memiliki hubungan dekat dengan para pembesar, terutama dengan Perdana Menteri Chin Kui.

Diam-diam Jaksa Li Koan mulai menyesali dirinya sendiri mengapa dulu dia mengusir Lui Hong dan memisahkannya dari puterinya padahal Lui Hong adalah penolongnya dan dia tahu bahwa di antara Lui Hong dan puterinya terdapat hubungan cinta.

Akan tetapi semua itu telah terjadi dan terlanjur.

Dia tidak dapat berbuat apa-apa selain menghibur Li Sian Hwa dan menghibur diri dengan adanya Leng Bu San, cucunya.

Biarpun Ceng Ceng belum mau pindah ke rumah Pangeran Leng Sul akan tetapi sepekan sekali ia pamit dari Pangeran Baduchin untuk libur sehari dan ia pergi berkunjung ke rumah Leng Sui.

Pergaulan mereka semakin akrab akan tetapi Ceng Ceng masih bertahan, tidak mau menyerahkan diri kepada Pangeran Kin itu.

Bagi Ceng Ceng memang bukan masalah untuk menyerahkan diri kepada seorang pria walaupun belum menikah, akan tetapi itu hanya mau ia lakukan kalau ia jatuh cinta, misalnya seperti cintanya kepada Bu Beng.

Terhadap Pangeran Leng Sui, yang mendorongnya mau bergaul dengan laki-laki itu dasarnya adalah pamrih untuk memperoleh kedudukan, maka ia tidak mau mudah tunduk.

la akan menanti sampai dirinya dinikah resmi.

Hal ini ia lakukan sebagai jaminan masa depannya.

Pada suatu malam Ceng Ceng merasa curiga karena Pangeran Baduchin mengadakan pertemuan dengan para pengawalnya tanpa setahu ia.

Ia tidak dipanggil untuk ikut mengadakan rapat.

Hal ini tentu saja membuat hatinya menaruh, curiga.

la lalu menempelkan telinganya pada dinding karena kamarnya memang terpisah dinding dengan kamar Baduchin di mana malam itu diadakan rapat antara Baduchin dan tiga orang perwira pengawalnya yang belum lama ini datang dari Mongol.

Agaknya Ceng Ceng sudah agak terlambat mengetahui akan rapat tanpa ia itu, karena ia hanya mendengar ucapan Baduchin yang terakhir dan agaknya merupakan perintah penentuan.

"Ulan Bouw, besok malam engkau ajaklah dua orang rekanmu dan bunuh Pangeran Leng Sui. Dia jelas mempunyai niat tidak baik terhadap kita karena dia berusaha mendekati Nona Siangkoan Ceng. Kita tahu bahwa dia adalah kepala jaringan mata-mata Kerajaan Cin, maka dia amat berbahaya kalau tidak dibunuh. Laksanakan dengan baik dan jangan sampai gagal!"

"Baik, Pangeran!"

Setelah itu sunyi dan Ceng Ceng mendengar Iangkah kaki tiga orang pengawal baru itu meninggalkan kamar Pangeran Baduchin.

Jantungnya berdebar tegang.

Ia tahu bahwa seorang di antara tiga perwira pengawal tadi adalah Ulan Bouw, seorang jagoan Mongol berusia sekitar empat puluh tiga tahun, berkepala botak gundul, jubahnya merah dengan senjata sabuk rantai baja dan kabarnya memiliki tenaga gajah dan ilmu silatnya cukup lihai.

Dua orang pengawal lain kabarnya juga lihai maka nyawa Pangeran Leng Sui terancam pada besok malam.

Sebetulnya, membandingkan kedua Pangeran itu, dalam hatinya Ceng, Ceng merasa sama beratnya.

Kalau menuruti hatinya yang membandingkan daya tarik mereka, tentu saja Ceng Ceng condong memilih Leng Sui yang lebih tampan dan lembut.

Akan tetapi kalau mengingat akan ramalan mendiang Tong Tong Lokwi, Ia menjadi ragu karena bukankah bekas Guru yang ia bunuh sendiri itu meramalkan bahwa kelak Bangsa Mongol yang akan berjaya?

Siang tadi ia sudah libur sehari, tidak enak kalau besok siang harus minta libur lagi.

Maka ia lalu mengambil keputusan untuk besok malam diam-diam membayangi tiga orang pembunuh itu dan kalau perlu ia akan mencegah terbunuhnya Pangeran Leng Sui dan memusuhi Baduchin karena keduanya membayangkan harapan baik bagi masa depannya, mengingat bahwa Kerajaan Sung yang lemah, tidak dapat menjanjikan apa-apa kepadanya.

Pada keesokan harinya, setelah malam tiba dan melihat tiga orang jagoan Mongol sudah meninggalkan gedung Pangeran Baduchin, diam-diam Ceng Ceng mempergunakan kepandaiannya untuk meninggalkan kamarnya dan terus membayangi tiga orang itu tanpa diketahui siapa pun.

Hal ini dengan mudah dilakukan gadis yang kini telah menguasai, ilmu-ilmu yang hebat, di antaranya ilmu sihir dan ilmu kesaktian yang membuat dirinya pandai berkelebat seperti bayang-bayang sehingga seperti orang menghilang.

Tiga orang jagoan Mongol itu adalal Ulan Bouw, tokoh Mongol yang sudah kita kenal tiga empat tahun yang lalu.

Dia adalah tokoh Mongol yang dulu berhubungan dengan Pangeran Hang Tek Ong, Pangeran Kerajaan Sung yang hanya pura-pura saja mengadakan hubungan dengan orang Mongol, padahal dia adalah mata-mata Kerajaan Sung yang bertugas melakukan penyelidikan dan pemantauan terhadap Pemerintah Cin dan Pemerintah Mongol yang mengirim para utusannya ke Hang-Chouw.

Ulan Bouw ini pernah bentrok dengan Pek Giok dan Han Bun sebelum kedua orang muda itu memperdalam ilmu-ilmu mereka selama tiga tahun.

Tiga orang jagoan Mongol yang memang cukup lihai ini dengan cepat menuju ke gedung tempat tinggal Pangeran Leng Sui.

Malam itu sudah cukup larut.

Hawanya dingin sekali dan suasananya sepi.

Dengan mudah mereka bertiga melompati pagar bagian belakang gedung melalui taman bunga yang luas.

Mereka memasuki taman, lalu berindap-indap mendekati gedung, sama sekali tidak tahu bahwa mereka dibayangi sesosok bayangan yang gerakannya gesit dan tidak menimbulkan suara.

Bayangan itu adalah Ceng Ceng yang berniat mencegah pembunuhan atas diri Pangeran Leng Sui.

Setelah tiba di dekat gedung, tiga orang Mongol itu dengan gerakan ringan berlompatan ke atas genteng dan tak lama kemudian mereka telah dapat memasuki gedung itu dan berada di ruangan dalam yang luas.

Mereka sudah memperoleh gambaran tentang keadaan dalam gedung itu dan sudah mendapat keterangan dari Pangeran Baduchin di mana letak kamar Pangeran Leng Sui.

Pangeran Mongol itu memang mempunyai banyak kaki tangan dan dia sudah dapat mengetahui keadaan gedung tempat tinggal saingannya.

Setelah tiga orang calon pembunuh Itu tiba di dalam ruangan, mereka memandang ke arah kamar Pangeran Leg Sui.

Akan tetapi tiba-tiba pintu kamar yang bersebelahan dengan kamar Pangeran itu terbuka dan muncullah seorang Kakek yang keadaannya mengerikan.

Kakek ini usianya sudah sekitar tujuh puluh delapan tahun, bertubuh tinggi kurus sehingga mukanya seperti tengkorak dengan kulit putih.

Kepalanya yang botak Itu mengenakan sorban seperti orang berBangsa Turki.

Tangan kanannya memegang sebatang tongkat ular kobra yang sudah kering.

"Heh-heh, kalian sudah bosan hidupl"

Kata Kakek itu sambil menyeringai sehingga wajahnya amat menyeramkan.

Melihat bahwa yang muncul dan mengancam mereka hanya seorang Kakek tua, Ulan Bouw dan dua orang temannya sudah mengeluarkan senjata mereka.

Ulan Bouw melolos rantai bajanya yang besar dan berat, sedangkan dua orang temannya mencabut golok besar.

Mereka harus segera membunuh Kakek itu sebelum dia berteriak dan akan menggagalkan niat mereka membunuh Pangeran Leng Sui.

Maka, tanpa banyak cakap lagi mereka bertiga sudah menerjang dengan dahsyatnya, menyerang Kakek itu dengan senjata mereka.

Akan tetapi Kakek tua bermuka tengkorak itu dengan amat tenang memutar tongkat ular kobranya dengan gerakan perlahan saja.

Biarpun tampaknya per lahan, ternyata tongkat itu sekaligus dapat menangkis sambaran tiga senjata penyerangnya.

"Trang-trang-trang...!!"

Tiga orang Mongol itu terkejut bukan main karena mereka merasa betapa serangan mereka tertangkis oleh sebuah benda yang amat keras dan digerakkan dengan tenaga kuat sekali sehingga telapak tangan mereka yang memegang senjata terasa panas dan pedih!

Mereka merasa penasaran dan juga marah, tidak dapat menerima kenyataan yang dianggapnya tak masuk akal ini.

Mereka adalah jagoan-jagoan Mongol yang sudah terkenal kuat, bagaimana mungkin menghadapi seorang Kakek kurus yang kelihatan lemah ini mereka kalah tenaga?

Kini mereka menyerang lagi dengan dahsyat, mengerahkan seluruh tenaga untuk membunuh Kakek itu.

Akan tetapi Kakek itu adalah Pek-Bin Giam-Lo (Raja Maut Muka Putih), Datuk sesat yang sudah kita kenal, yang selain memiliki ilmu silat tinggi, juga seorang ahli ilmu hitam dan sihir!

Begitu tiga orang lawannya menyerang dengan dahsyat, dia terkekeh dan tiba-tiba Ulan Bouw dan dua orang temannya menjadi bingung karena mereka kehilangan lawan mereka yang hilang entah ke mana.

Sebelum mereka menyadari apa yang terjadi, tiba-tiba dada mereka dilanggar angin kencang dan ketiganya jatuh terjengkang!

Mendadak mereka melihat lagi Kakek itu yang sambil menyeringai kini menggerakkan tongkat ular kobra untuk membunuh mereka.

Tiga orang Mongol itu hanya terbelalak, tak percaya apa yang menimpa diri mereka dan merasa tidak berdaya dan tidak mungkin dapat menghindarkan diri dari maut yang sudah menjulurkan tangan lewat tongkat ular kobra itu!

"Tranggg...!!"

Tampak sinar halilintar menyambar.

Sinar putih itu menangkis tongkat ular kobra dan Pek-Bin Giam-Lo terkejut sampai melompat jauh ke belakang.

Kiranya Ceng Ceng yang menangkis tongkatnya dengan Pek-Coa-Kiam (Pedang Ular Putih) sehingga nyawa tiga orang Mongol itu dapat dihindarkan dari maut.

Kini Ceng Ceng memandang ke arah tiga orang itu, kakinya menendang pinggang mereka sambil membentak.

"Kalau masih ingin hidup, pergilah cepat!"

Mendapatkan tendangan itu, Ulan Bouw dan dua orang temannya merasa betapa dada mereka yang sesak oleh sambaran angin tadi kini sembuh.

Mereka maklum akan kelihaian lawan, maka tanpa banyak cakap lagi mereka menaati perintah Ceng Ceng dan berloncatan keluar dari gedung itu, terus pulang ke gedung Pangeran Baduchin.

Sementara itu, Pek-Bin Giam-Lo kini berhadapan dengan Ceng Ceng dan sejenak mereka berdua berdiri berhadapan dan saling pandang dengan penuh perhatian.

Pek-Bin Giam-Lo sungguh terkejut dan heran melihat seorang gadis muda cantik jelita mampu menangkis tongkatnya, bahkan membuat tongkatnya terpental.

Dia tidak tahu siapa gadis ini hanya maklum bahwa gadis ini tentulah berpihak kepada tiga orang Mongol tadi.

Sementara Ceng Ceng sendiri pun merasa heran bagaimana tiba-tiba ada Kakek ini muncul di gedung Pangeran Leng Sui, padahal kemarin Kakek itu belum ada di situ.

Pek-Bin Giam-Lo yang menganggap Ceng Ceng seorang lawan yang berbahaya, tanpa banyak tanya lagi sudah menggerakkan tongkat ular kobranya dan menyerang.

Gerakannya tampak le!mah dan lambat saja, namun serangan itu mendatangkan angin yang amat kuat.

Ceng Ceng maklum bahwa ia berhadapan dengan lawan yang sakti, maka ia pun mengerahkan tenaga saktinya menangkis serangan itu dan balas menyerang karena walaupun Kakek ini membela Pangeran Leng Sui, akan tetapi kini tanpa tanya lagi telah menyerangnya dan serangannya amat berbahaya.

Maka dua orang itu lalu bertanding dengan hebat, saling serang dan saling adu sakti.

Tiba-tiba Pek-Bin Giam-Lo menggunakan ilmu sihirnya dan tubuhnya lenyap.

Akan tetapi alangkah terkejut dan herannya ketika dia mendengar Cent Ceng tertawa mengejek dan masih dapat menyerangnya.

Ternyata ilmunya menghilang Itu tidak mempengaruhi gadis muda ini.

Pek-Bin Giam-Lo lalu mengerahkan ilmu hitam.

Tongkatnya dia lontarkan ke atas dan berubahlah tongkat itu menjadi seekor ular kobra yang melayang-layang, mengangkat kepala ke atas, mendesis-desis dan mengembangkan lehernya.

Mengerikan sekali!

Akan tetapi Ceng Ceng tidak mau kalah.

la juga melontarkan pedangnya ke atas dan pedang itu berubah menjadi seekor ular putih yang gerakannya amat gesit, menyambar-nyambar ke arah ular kobra.

Terjadi pertandingan aneh di ruangan itu.

Seekor ular kobra dan seekor ular putih melayang-layang dan saling terjang, saling gigit!

Daun pintu kamar Pangeran Leng Sui terbuka dan Pangeran itu muncul dan terbelalak dengan muka pucat memandang perkelahian aneh itu.

"Tahan...! Suhu, gadis ini bukan musuh!"

Teriak Pangeran Leng Sui kepada Pek-Bin Giam-Lo. Dia pernah digembleng ilmu silat oleh Si Muka Tengkorak, maka dia menyebut suhu.

"Ceng-moi, dia ini Guruku, harap hentikan perkelahian!"

Balk Pek-Bin Giam-Lo maupun Ceng Ceng menarik kembali senjata mereka.

"Pangeran, bagaimana Paduka dapat mengatakan bahwa gadis ini bukan musuh? Tadi ada tiga orang Mongol masuk ke ruangan ini, tentu dengan niat buruk terhadap Paduka. Saya sudah menjatuhkan mereka dan hendak membunuh mereka, akan tetapi gadis ini membela mereka sehingga mereka dapat melarikan diri!"

Pek-Bin Giam-Lo melapor dengan suara penasaran. Pangeran Leng Sui kini menghadapi Ceng Ceng dan memandang dengan heran.

"Benarkah itu, Ceng-moi? Engkau membela tiga orang Mongol yang hendak membunuhku?"

Dengan tenang Ceng Ceng berkata.

"Mari kita duduk dulu, nanti saya ceritakan apa yang terjadi, Kakanda Pangeran. Pek-Bin Giam-Lo, mari kita duduk."

"Hemm, engkau sudah mengenalku? Pangeran, siapakah sebetulnya gadis luar biasa ini?"

Tanya Pek-Bin Giam-Lo dengan heran dan juga kagum karena gadis itu tadi mampu menandinginya dalam segala ilmunya, balk ilmu silat, tenaga sakti, bahkan mampu menghadapi ilmu hitam dan sihirnya.

"Suhu, Nona ini adalah Siangkoan Ceng, puteri dari Ketua Beng-Kauw Siangkoan Hok. Sudah lama kami berkenalan, bahkan ia telah menjadi... sahabat baikku."

Pek-Bin Giam-Lo menggelengkan kepalanya.

"Ah, bagaimana mungkin Siangkoan Hok dapat memiliki puteri yang demikian lihainya? Saya mengenal tingkat ilmu kepandaian Ketua Beng-Kauw, Pangeran. Tingkat kepandaian gadis ini jauh lebih tinggi!"

"Pek-Bin Giam-Lo, memang aku telah mendapatkan gemblengan ilmu-ilmu dari mendiang Suhu Tong Tong Lokwil"

Pek-Bin Giam-Lo terkejut dan mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Aih, pantas kalau begitu."

Dan dia tidak menaruh curiga lagi.

Setelah mereka bertiga duduk, Ceng Ceng lalu menceritakan apa yang terjadi.

Bahwa kemarin ia mendengar percakapan antara Pangeran Baduchin dengan tiga orang pengawalnya yang baru beberapa hari tiba di Hang-Chouw dan Pangeran Mongol itu memerintahkan mereka untuk membunuh Pangeran Leng Sui pada malam hari ini.

"Maka tadi saya lalu membayangi mereka untuk mencegah mereka melakukan pembunuhan terhadap Paduka, Kakanda Pangeran. Tanpa saya sangka, muncul Pek-Bin Giam-Lo yang menjatuhkan mereka. Ketika dia hendak membunuh mereka, saya, cepat mencegahnya dan membiarkan mereka lari sehingga timbul kesalah-pahaman antara Pek-Bin Giam-Lo dan saya."

"Akan tetapi, Adinda Siangkoan Ceng, tiga orang Mongol itu adalah pembunuh-pembunuh yang hendak membunuhku. Mereka itu sudah sepatutnya dibasmi dan dibunuh!"

Protes Pangeran Leng Sui. Ceng Ceng menggelengkan kepalanya dan tersenyum.

"Kakanda Pangeran, Paduka terburu nafsu dan tidak membayangkan akibat yang lebih buruk kalau sampai mereka bertiga itu terbunuh di sini. Pemerintah Mongol melalui Pangeran Baduchin berhasil mengadakan hubungan baik dengan Pemerintah Sung, maka kalau terjadi ada orang Mongol terbunuh oleh Paduka, bukankah hal itu akan menimbulkan keadaan yang tidak menguntungkan dalam hubungan antara Pemerintah Cin dan Pemerintah Sung? Juga akan memancing permusuhan terbuka karena dendam antara Cin dan Mongol. Kalau terjadi demikian, maka Paduka tidak akan leluasa lagi melaksanakan tugas di sini. Karena itulah maka saya tadi mencegah Pek-Bin Giam-Lo membunuh mereka dan membiarkan mereka lari dan kembali melapor kepada Pangeran Baduchin. Dengan demlkian, Pangeran Baduchin pasti akan mengetahui bahwa usahanya itu sia-sia belaka."

"Akan tetapi bagaimana kalau dia mengulang kemball usaha pembunuhan ini?"

"Paduka tidak perlu khawatir. Dia pasti tidak berani, maklum bahwa Paduka nemiliki pelindung yang kuat. Apalagi karena saya tidak mendukung niatnya itu. Saya akan membujuk dia agar dia tidak begitu bodoh melakukan percobaan pembunuhan lagi, bahkan akan saya bujuk agar dia meninggalkan Hang-Chouw."

"Pangeran,"

Kata Pek-Bin Giam-Lo.

"Apa yang dikatakan Nona Siangkoan Ceng ini memang tepat. la cerdik sekali!"

"Kalau begitu, kukira sudah tiba saatnya engkau pindah saja ke sini, Ceng-moi."

"Memang itulah maksud saya. Kalau Pangeran Baduchin dapat saya bujuk meninggalkan Hang-Chouw karena urusan usaha pembunuhan tadi, saya akan membantu Paduka dan pindah ke sini."

Pangeran Leng Sui merasa gembira sekali dan Ceng Ceng lalu kembali ke gedung Pangeran Baduchin.

Di situ ia disambut oleh Pangeran Baduchin dan tiga orang jagoan yang tadi melarikan diri.

Pangeran Baduchin telah mendapat pelaporan tiga orang jagoannya akan kegagalan mereka membunuh Pangeran Leng Sui dan betapa mereka tentu sudah tewas di tangan seorang Kakek sakti kalau tidak ditolong oleh Nona Siangkoan Ceng.

Melihat Ceng Ceng pulang dalam keadaan selamat, Pangeran Baduchin menyambut dengan gembira.

"Ah, engkau pulang dengan selamat, Nona Siangkoan! Mereka ini telah melaporkan betapa engkau telah menyelamatkan mereka dari maut."

Dengan sikap dingin Ceng Ceng berkata kepada Pangeran Mongol itu.

"Pangeran, saya ingin bicara berdua dengan Paduka!"

Pangeran Baduchin memberi isarat kepada tiga orang pengawalnya agar keluar dari kamar. Setelah mereka duduk berhadapan Ceng Ceng menegur Pangeran itu.

"Pangeran Baduchin, Paduka telah mengangkat saya menjadi pengawal pribadi, mengapa bertindak di luar pengetahuan saya? Paduka mengutus mereka membunuh Pangeran Leng Sui dan merahasiakannya kepada saya. Mengapa, apakah Paduka tidak percaya lagi kepada saya?"

Ditegur demikian, wajah Pangeran Baduchin berubah kemerahan.

"Bukan tidak percaya kepadamu, Nona. Akan tetapi tugasmu adalah menjaga keselamatanku, sedangkan tugas itu adalah untuk membunuh saingan. Aku tidak ingin engkau terlibat. Akan tetapi sukurlah tidak terjadi sesuatu dan engkau telah menyelamatkan tiga orang pembantuku."

"Hemm, Paduka kira urusan ini akan habis di sini saja? Ketahuilah, yang melindungi Pangeran Leng Sui adalah Pek-Bin Giam-Lo, seorang Datuk yang amat sakti. Pangeran Leng Sui pasti tidak akan tinggal diam saja oleh usaha pembunuhan atas dirinya itu. Kalau dia hanya ingin membalas dendam, biar dia mengutus Pek-Bin Giam-Lo untuk membunuh Paduka, masih ada saya di sini yang sanggup melindungi Paduka. Akan tetapi kalau dia melapor kepada Perdana Menteri Chin Kui, tentu Pemerintah Kerajaan Sung akan menganggap Paduka hendak mendatangkan kekacauan. Dan kalau sudah begitu, bagaimana saya dapat melindungi Paduka. Tak mungkin saya dapat menentang pemerintah."

Pangeran Baduchin mengerutkan alisnya dan memandang khawatir.

"Ah, tak kusangka akan begini akibatnya. Lalu bagaimana baiknya, Nona Siangkoan Ceng?"

"Tidak ada cara lain yang lebih baik, Pangeran. Paduka sebaiknya meninggalkan Hang-Chouw dan kembali ke utara. Kelak kalau keadaan sudah membaik, dapat saja Paduka kembali ke sini."

"Kalau begitu, mari engkau ikut bersama kami ke utara, Nona. Di sana engkau dapat membantuku!"

Akan tetapi Ceng Ceng menggelengkan kepala.

"Tidak, Pangeran. Saya akan tetap tinggal di sini dan melihat perkembangannya di sini. Kelak kalau saatnya tiba seperti yang telah kita sepakat bersama, saya pasti akan membantu Paduka. Sementara ini agar suasana menjadi dingin dan aman, sebaiknya Paduka lebih dulu menyingkir untuk sementara waktu."

Deniikianlah, pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Pangeran Baduchin dan para pembantunya meninggalkan Hang-Chouw dan kembali ke utara.

Pangeran Mongol hanya mengirim surat kepada Perdana Menteri Chin Kui untuk pamit dan mohon maaf bahwa dia tidak dapat pamit dengan lisan karena mendapat panggilan secara tiba-tiba dari pemerintahnya.

Setelah Pangeran Baduchin pergi, Ceng Ceng segera tinggal di gedung Pangeran Leng Sui di mana ia disambut dengan gembira dan dihormati.

Bahkan Pek-Bin Giam-Lo yang kagum kepadanya menghormatinya apalagi setelah dia mengetahui bahwa Ceng Ceng adalah murid mendiang Tong Tong Lokwi.

Kota An-keng merupakan kota yang berada di sebelah utara Sungai Yang-Ce dan termasuk wilayah kekuasaan Kerajaan Cin yang batasnya dengan Kerajaan Sung adalah sungai itu.

Karena merupakan kota perbatasan, maka An-keng merupakan kota penting bagi Kerajaan Cin dan di situ terdapat sebuah benteng yang kuat untuk mempertahankan bahaya serangan dari selatan.

Akan tetapi pada waktu itu, politik yang dianut Kerajaan Sung adalah lunak dan Kerajaan Sung mengambil sikap mengalah dan bersahabat dengan Kerajaan Cin yang dianggap merupakan ancaman besar.

Semua ini diatur oleh Chin Kui yang sejak semula memang telah bersekutu dengan Bangsa Yuchen yang mendirikan Kerajaan Cin.

Biarpun Bangsa Yuchen telah menguasai daratan Cina bagian utara dan mendirikan Kerajaan Cin, namun suku Bangsa minoritas yang datang dari sebelah utara Tembok Besar itu ternyata malah membaur dengan penduduk pribumi Han yang mereka jajah.

Hal ini terjadi karena selain Bangsa pribumi jauh lebih besar jumlahnya, juga sesungguhnya pribumi Han memiliki kebudayaan yang jauh lebih tinggi dan maju.

Para pimpinan Kerajaan Cin bertindak bijaksana dan cerdik.

Mereka membaurkan diri dengan rakyat pribumi, mengenakan pakaian pribumi, mempelajari kebudayaan dan kesusastraan mereka, bahkan mulai menggunakan bahasa mereka!

Dengan politik seperti ini, rakyat pribumi tidak merasa dijajah Bangsa lain, merasa seolah para penguasa Kerajaan Cin adalah Bangsa sendiri yang mendapat wahyu TUHAN untuk memimpin rakyat jelata!

Keadaan ini memperlemah semangat para patriot yang anti dan menentang Pemerintah Kerajaan Cin.

Karena sikap para penguasa Kerajaan Cin seperti ini, maka kota-kota yang menjadi wilayah kekuasaan Cin tiada bedanya dengan kota-kota di selatan yang menjadi daerah kekuasaan Kerajaan Sung.

Sekolah-sekolah di daerah utara ini pun dengan giat mengajarkan kesusastraan yang bersumber kepada pelalaran Guru Besar Khong Hu Cu.

Bahkan mereka yang mengikuti ujian untuk menjadi pengawai negeri, harus hafal akan isi kltab-kitab kesusastraan seperti Su-Si Ngo-Keng.

Juga filsafat yang diajarkat Lo Cu dalam Agama To (Taoism) dan Agama Budha dipelajari.

Kota An-keng yang merupakan kota perbatasan dan menjadi wilayah kekuasaan Kerajaan Cin juga tampak seperti kota-kota lain di selatan.

Memang masih ada pembesar Bangsa Yuchen yang mengenakan pakaian tradisionil Yuchen, akan tetapi jumlahnya hanya sedikit dan itupun hanya mereka yang sudah tua saja yang memiliki kebanggaan akan keBangsaannya.

Akan tetapi pada umumnya, mereka sudah berpakaian dan bersikap seperti pribumi Han sehingga sukar membedakan mana yang pribumi Han mana yang berBangsa Yuchen.

Karena An-keng merupakan kota benteng, maka ada beberapa orang prajurit Cin berpakaian seragam yang sedang tidak bertugas berkeliaran di dalam kota.

Bukan jarang para perajurit yang keliaran ini mendatangi toko-toko milik pribumi Han dan minta ini itu.

Akan tetapi karena yang mereka minta itu hanya makanan atau sedikit uang dan mereka tidak menggunakan paksaan, maka tidak pernah terjadi keributan.

Para pemilik toko maklum sendiri dan selalu menuruti permintaan mereka itu asalkan tidak terlalu banyak tuntutan mereka.

Banyak di antara para perajurit itu melakukan hal itu sekadar memperlihatkan kekuasaan orang yang berada di atas.

Dahulu sebelum Pemerintah Cin memiliki kekuasaan penuh, banyak terjadi perampokan atau perkosaan dilakukan para perajurit terhadap penduduk pribumi sehingga memancing kemarahan para pendekar.

Mereka melakukan aksi gerilya, membunuh para perajurit atau pembesar Cin yang sewenang-wenang.

Para penguasa Cin menyadari bahwa kelakuan para pembesar dan perajurit itu kalau dilanjutkan, hanya memancing permusuhan dari rakyat dan tentu akan merepotkan, bahkan membahayakan Kerajaan Cin.

Maka para penguasa lalu mengambil tindakan tegas, menghukum berat para pelanggar kesusilaan maupun para perampok sehingga akhirnya kini keadaan menjadi aman dan kalaupun ada gangguan hanya kecil tidak berarti.

Pada suatu pagi yang cerah, seorang gadis meninggalkan kamarnya di sebuah rumah penginapan dan ia memasuki rumah makan yang berada di depan rumah penginapan.

Melihat wajahnya yang segar, sisiran rambutnya yang rapi dan pakaiannya yang bersih, mudah diketahui bahwa gadis itu tentu telah mandi, berganti pakaian lalu kini ingin sarapan di rumah makan itu.

Karena masih pagi, rumah makan itupun masih sepi.

Beberapa orang yang berpakaian pelayan dengan kain lap tergantung di pundak, sedang membersihkan meja kursi di ruangan yang cukup luas dengan belasan buah meja itu.

Karena sepagi itu belum ada tamu lain, maka lima orang pelayan itu menengok dan mereka terpesona memandang gadis yang memasuki rumah makan dan duduk menghadapi meja di sudut.

Mata laki-laki mana yang tidak akan kagum terpesona melihat gadis ini!

Usianya sekitar dua puluh tahun.

Pakaiannya dari sutera halus berwarna hijau.

Tubuhnya padat ramping dengan lekuk Iengkung sempurna seorang gadis yang sedang mekar dewasa.

Kulitnya putih.

Rambutnya yang hitam itu digelung rapi bagaikan mahkota hitam di atas kepalanya.

Wajahnya bulat telur dan yang amat kuat daya tariknya adalah sepasang matanya yang seperti bintang dan mulutnya yang mengembangkan senyum.

Akan tetapi gadis jelita ini membawa sebatang pedang yang tergantung di punggungnya sehingga para pelayan tidak berani bersikap kurang ajar.

Seorang pelayan setengah tua menghampirinya dan Can Pek Giok, gadis itu, memesan bubur ayam.

(Lanjut ke

Jilid 19) Antara Dendam & Asmara (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 19 Seperti kita ketahui, Can Pek Giok pergi mencari Pek-Bin Giam-Lo, Datuk sesat yang diduga telah membunuh Ayahnya.

Ia memang belum yakin bahwa Datuk itu pembunuhnya karena memang tidak ada bukti maupun petunjuk.

Akan tetapi mengingat akan dendam sakit hati Datuk sesat itu kepadanya dan kepada Song Han Bun, sangat boleh jadi Datuk itu yang diam-diam telah membunuh Ayahnya dan Ayah Song Han Bun.

Kalau ia teringat betapa pembunuhan atas diri Ayahnya dan Ayah Song Han Bun membuat ia dan pemuda itu kembali bentrok, hatinya terasa pedih.

Untung muncul Lui Hong yang melerai, bahkan Lui Hong telah menceritakan mengapa pemuda itu memutuskan tali perjodohannya dengannya.

Juga Lui Hong yang mengingatkannya bahwa besar sekali kemungkinannya bahwa yang membunuh Ayahnya, Can-Kauwsu, dan Ayah Song Han Bun, adalah Pek-Bin Giam-Lo.

la pernah mendapat petunjuk dari Song-Bun Lojin bahwa Pek-Bin Giam-Lo menjadi pembantu Kerajaan Cin dan berada di kota An-keng di seberang utara Sungai Yang-Ce.

Maka ia lalu meninggalkan rumah orang-tuanya dan sekarang berada di An-keng.

Baru semalam ia tiba dan ia menyewa sebuah kamar di rumah penginapan merangkap rumah makan itu.

Terdengar langkah kaki beberapa orang memasuki rumah makan dan terdengar mereka bercakap-cakap sambil tertawa.

Kiranya mereka adalah empat orang berpakaian seragam perajurit yang memasuki rumah makan sambil bersendau-gurau.

Seorang dari mereka melihat Pek Giok, dan setelah dia memberi tahu kepada tiga orang kawannya, empat orang itu berhenti bicara dan semua memandang ke arah Pek Giok dengan mata terbelalak kagum.

"Wih, cantiknya...?"

Seorang di antara mereka berseru.

"Lihat tubuhnya hayaaa!"

Kata yang ke dua.

"Aduh, ingin aku menjadi bubur Bibirnya... bibirnya manis sekali!"

"Dan ia membawa pedang, selain cantik jelita juga gagah! Mau aku menjadi suaminya!"

Kata orang ke empat dan tanpa bersepakat lagi otomatis mereka memilih meja yang berada dekat Pek Giok.

Tentu saja Pek Glok mendengar semua ucapan itu.

Akan tetapi ia tidak mengacuhkan mereka.

Ketika pelayan datang mengantarkan hidangan bubur ayam yarg masih mengepul panas, Pek Giok segera mulai makan.

Ia sudah terbiasa melihat kekurangajaran kaum pria.

Kalau saja empat perajurit itu mengganggunya tiga tahun yang lalu, pasti ia telah menghajar mereka.

Akan tetapi kini Pek Giok telah mendapatkan gemblengan dari Song Bun Lojin, bukan saja gemblengan ilmu melainkan juga gemblengan batin sehingsa ia bersikap tenang, tidak dipengaruhi nafsu amarah.

Kalau para laki-laki itu tidak keterlaluan sikapnya.

Ia menganggap mereka itu seperti sekumpulan lalat saja yang tidak perlu ditanggapi.

Akan tetapi empat orang perajurit itu, agaknya sebelum masuk ke rumah makan itu sudah minum arak cukup banyak sehingga mereka sudah dipengaruhi hawa minuman keras.

Orang yang setengah mabok kehilangan pertimbangannya dan kenekatan serta keberaniannya meningkat.

Apalagi mereka berempat.

Biasanya, seorang laki-laki kalau berada seorang diri menghadapi wanita cantik, agak segan untuk bersikap kurang ajar.

Akan tetapi kalau mereka sudah bergerombol, mereka berani bersikap di luar kesusilaan.

Melihat gadis cantik itu tetap makan buburnya tanpa mempedulikan mereka, empat orang perajurit itu menjadi semakin berani.

Siapa tahu gadis ini merupakan makanan empuk alias mau menanggapi godaan mereka.

Setelah saling pandang dan tersenyum-senyum sepakat, mereka lalu menghampiri Pek Giok, membuat setengah lingkaran menghadapi gadis itu, terhalang meja.

Pek Giok berlagak tidak tahu dan sama sekali tidak memandang mereka.

la melanjutkan makan bubur ayam yang masih panas itu.

Empat orang perajurit itu cengar-cengir semakin berani karena gadis itu tidak kelihatan marah.

"Nona, kami belum pernah melihatmu, tentu engkau datang dari luar kota, bukan?"

Tanya orang pertama..

"Engkau cantik seperti Dewi, siapakah namamu, Nona?"

Tanya orang, ke dua.

"Mari kita berkenalan!"

Kata yang ke tiga.

"Bagaimana kalau kita makan bersama, satu meja, Nona manis?"

Kata yang ke empat. Kini Pek Giok merasa terganggu. Tiba-tiba ia menyemburkan bubur yang berada dalam mulutnya ke arah muka empat orang perajurit itu.

"Phuhhh...!!"

Empat orang perajurit itu mengaduh-aduh karena merasa betapa muka mereka seperti tertusuk banyak jarum.

Terasa nyeri, pedih dan panas sehingga mereka menggunakan kedua tangan untuk menutupi dan menggosok-gdsok muka mereka.

Setelah rasa terutama pada mata mereka mereda, empat orims perajurit Itu menjadi marah bukan main.

"Perempuan rendah! Berani engkau menghina tentara Kerajaan Cin?"

Bentak yang tertua.

"Engkau sudah bosan hidup!"

Bentak perajurit ke dua dan empat orang perajurit itu sudah mencabut golok mereka dan berbareng mereka menyerang ke arah Pek Giok dengan bacokan golok mereka.

Para pelayan rumah makan itu adalah orang-orang pribumi Han.

Mereka tidak berani mencampuri dan hanya memandang dengan muka pucat, membayangkan betapa gadis cantik jelita itu akan roboh berlumuran darah dan mati seketika menjadi bulan-bulanan empat batang golok yang mengkilap saking tajamnya.

Empat batang golok itu secara berbareng menyambar dari depan dan tampaknya tidak ada kesempatan lagi bagi Pek Giok untuk menghindarkan diri dari sambaran golok-golok itu!

"Wuut-wuut-wuut-wuut...

tranggg!"

Tampak bunga api berpijar ketik empat batang golok itu saling bertemu dan beradu sendiri sedangkan Pek Giok telah melayang bersama kursinya, masih duduk di atas kursi dan masih makan buburnya.

la kini duduk sekitar dua tombak dari empat orang dengan tenang masih enak-enak mendorong bubur dengan sumpitnya ke mulut!

Empat orang perajurit itu terkejut dan semakin marah sedangkan para pelayan rumah makan berdiri dengan mata terbelalak dan mulut ternganga, terheran-heran melihat betapa gadis jelita itu tadi "terbang"

Bersama kursinya. Diam-diam mereka merasa kagum dan hati mereka lega. Akan tetapi empat orang perajurit itu kini bergerak hendak menyerang lagi.

"Menyebalkan anjing-anjing ini!"

Kata Pek Giok dan kini ia menggerakkan kedua kakinya bergantian, menendang dua buah kursi dan sebuah meja yang beterbangan menghantam empat orang perajurit itu.

Hiruk pikuk suaranya dan empat orang perajurit itu sama sekali tidak mampu menghindarkan diri karena meja kursi itu melayang dengan cepat sekali.

Mereka mengaduh dan roboh tak bergerak lagi.

Saking kerasnya meja kursi itu menghantam mereka, tiga orang perajurit pingsan seketika dan yang seorang lagi merintih kesakitan karena tulang pundak kirinya patah!

Pek Giok sudah selesai makan.

Ia menggapai pelayan setengah tua lalu membayar harga bubur ayam dan air teh.

Kemudian ia bangkit berdiri dan menghampiri perajurit yang masih duduk sambil memegangi pundaknya yang terasa nyeri.

Tiga orang kawannya masih tak bergerak, pingsan.

Melihat gadis itu menghampirinya perajurit itu menjadi ketakutan.

"Maafkan kelancangan kami...'"

Dia memohon.

"Kalau aku tidak memaafkan, tentu kalian berempat sekarang sudah mati."

Kata Pek Glok.

"Sekarang katakan, dimana tempat tinggal Datuk Pek-Bin Giam-Lo"

Mendengar disebutrya Datuk itu, perajurit yang patah tulang pundaknya menjadi pucat dan semakin ketakutan.

Celaka, pikirnya, kiranya gadis ini mengenal Pek-Bin Giam-Lo.

Kalau ia melaporkan, tentu Pek-Bin Giam-Lo yang mereka takuti itu akan menghukum mereka berempat!

Dia lalu berlutut dan menyembah-nyembah.

"Lihiap (Pendekar Wanita), ampunkan kami... kami sungguh buta, tidak mengenal Lihiap yang menjadi sahabat Lo-Cianpwe Pek-Bin Giam-Lo!"

Sialan, pikir Pek Giok. Ia disangka sahabat Pek-Bin Giam-Lo! "Jangan banyak cakap, katakan di mana rumah Datuk itu!"

"Di sebelah timur, di ujung jalan raya depan itu, Lihiap. Rumahnya gedung besar dan di depannya terdapat sebuah arca singa."

Mendengar ini, Pek Giok lalu pergi.

Yang tampak hanya bayangannya berkelebat dan tahu-tahu mereka yang berada di dalam ruangan rumah makan itu tidak melihatnya lagi.

Tentu saja semua orang merasa kagum bukan main.

Dibantu para pelayan, perajurit yang patah tulang pundaknya itu lalu menolong tiga orang kawannya yang ternyata juga mengalami patah tulang dan tadi pingsan saking kuatnya meja kursi itu menghantam mereka.

Sementara itu, Pek Giok dengan cepat menuju ke rumah gedung tempat tinggal Pek-Bin Giam-Lo.

Ia memang belum yakin bahwa pembunuh Ayahnya adalah Pek-Bin Giam-Lo, akan tetapi membunuh Ayahnya atau tidak, Datuk sesat itu adalah musuh besarnya yang pernah menyerang dan nyaris membunuhnya.

Ia harus dapat menemukan Datuk itu dan membalas dendam, bukan hanya dendam pribadinya akan tetapi juga dendam banyak sekali orang yang pernah menderita karena kejahatan Datuk itu.

Setelah menemukan rumah gedung yang dihuni Pek-Bin Giam-Lo, ternyata rumah besar itu, dijaga oleh belasan orang perajurit Cin yang berada dalam sebuah gardu penjagaan di pintu gerbang rumah gedung itu.

Melihat seorang gadis cantik jelita memasuki pintu gerbang, lima belas orang perajurit penjaga itu segera menyambutnya dengan heran, akan tetapi juga gembira.

Gedung itu merupakan tempat tinggal para perwira tinggi yang menjadi pimpinan pasukan Cin yang bertugas menjaga benteng di kota perbatasan itu.

Para perwira bawahan tinggal cli dalam benteng bersama pasukan.

Tak seorang pun dari lima orang perwira tinggi yang tinggal di situ membawa keluarga mereka, maka tentu saja munculnya Pek Giok di pintu gerbang itu mengherankan para penjaga.

Mereka menghadang di depan Pek Giok.

Pek Giok sudah terbiasa menghadapi pandang mata para pria itu.

Di mana-mana ia bertemu dengan pandang mata pria seperti itu.

Pandang mata kagum dan penuh gairah!

"Nona, siapakah engkau dan apa yang kau kehendaki datang ke tempat ini?"

Seorang perajurit tinggi besar menegur dan agaknya dia merupakan komandan regu penjaga itu.

"Aku ingin bertemu dengan Pek-Bin Giam-Lo,"

Jawab Pek Giok dengan singkat.

Lima helas orang perajurit itu saling pandang dengan semakin heran, kemudian terdengar beberapa orang di antara mereka tertawa kecil.

Seorang yang termuda.

berkata mengejek.

"Nona begini cantik jelita mengapa mencari seorang Kakek? Yang muda-muda masih banyak, dan aku sendiri masih perjaka tulen, belum menikah."

"Cukup!"

Pek Giok membentak.

"Cepat beritahu Pek-Bin Giam-Lo agar keluar menemuiku. Kalau ada yang mengeluarkan kata-kata lancang dan tidak sopan, akan kurobek mulutnya!"

Mendengar ancaman itu, para perajurit terdiam, terkejut, heran dan juga marah. Yang tertua lalu melangkah maju.

"Katakan dulu siapa namamu dan ada keperluan apa engkau hendak bertemu dengan Lo-Cianpwe Pek-Bin Giam-Lo."

"Kalian tidak perlu tahu namaku. Katakan saja kepadanya bahwa aku orang dari Sung-Kian datang untuk menagih hutang padanya!"

"Aih, mana mungkin Lo-Cianpwe Pek-Bin Giam-Lo mempunyai hutang kepada seorang gadis muda cantik jelita sepertimu, Nona?"

Seorang perajurit berseru.

"Berapa banyak uang yang dihutangnya?"

Tanya yang lain.

"Dia berhutang darah dan nyawa, harus dibayar dengan darah dan nyawanya!"

Mendengar ini, lima belas orang itu menjadi terkejut sekali dan karena mereka sedang bertugas menjaga keamanan, tentu saja mereka merasa berkewajiban untuk menentang gadis yang mengancam untuk membunuh pimpinan mereka itu.

"Tangkap gadis mata-mata musuh yang hendak mengacau ini!"

Bentak komandan mereka dan lima belas orang itu bersikap mengancam, maju dengan muka bengis.

Pek Giok tidak ingin memancing keributan dengan mereka karena ia sengaja datang untuk membuat perhitungan dengan Pek-Bin Giam-Lo.

Melihat mereka semua maju, ia lalu mendorongkan kedua telapak tangannya ke arah mereka beberapa kali.

Angin yang kuat menerpa lima belas orang itu, membuat mereka seperti sekumpulan daun kering tertiup angin dan menabrak dinding gardu penjagaan sehingga jebol dan ambruk!

Tentu saja lima belas orang perajurit tu terkejut setengah mati.

Mereka tidak terluka berat, namun diterbangkan angin sampai menabrak gardu sehingga roboh, tentu saja membuat mereka babak belur dan lecet-lecet.

Tiba-tiba tampak tiga orang berpakaian perwira berlari cepat dari pintu depan gedung itu.

Mereka berloncatan dengan gesit sehingga Pek Giok menduga bahwa mereka adalah orang-orang yang tangguh, tidak seperti belasan orang perajurit itu.

Usia mereka sekitar empat puluh tahun, dan seorang di antara mereka yang tinggi besar bermuka hitam, setelah memandang ke arah gardu yang ambruk dan lima belas orang perajurit yang mengeluh kesakitan, lalu memandang Pek Giok dan berseru.

"Apa yang terjadi di sini?"

Seorang perajurit, kepala regu itu, sudah bangkit dan melapor dengan suara tegas.

Ciangkun (Perwira), gadis ini mata-mata musuh dan telah menyerang kami dan merobohkan gardu penjagaan.` Perwira itu mengerutkan alisnya dan bersama dua orang perwira lain kini menghadapi Pek Giok dan bertanya.

"Nona, siapakah engkau dan kenapa engkau menyerang anak buah kami dan merobohkan gardu penjagaan. Pek Giok dengan sikap tenang menghadapi tiga orang itu dan menjawab.

"Aku bukan mata-mata musuh Pemerintah Cin, juga tidak bermaksud melakukan pengacauan di sini. Aku datang hanya ingin bertemu dengan Pek-Bin Giam-Lo, akan tetapi para perajurit ini menyerangku. Terpaksa aku membela diri dan yang merobohkan gardu adalah mereka sendiri karena gardu itu tertabrak oleh mereka. Aku tidak mempunyai urusan dengan kalian semua. Urusanku hanya dengan Pek-Bin Giam-Lo, maka beritahu agar dia keluar menemuiku!"

Perwira muka hitam itu bertanya.

"Siapakah engkau, Nona, dan ada urusan apakah engkau dengan Lo-Cianpwe Pek-Bin Giam-Lo?"

"Siapa aku tidak perlu kalian ketahui, adapun urusaku dengan Pek-Bin Giam-Lo adalah urusan pribadi yang hanya dapat diselesaikan oleh kami berdua. Sekarang, Iebih baik minta Pek-Bin Giam-Lo keluar menemuiku. Karena aku tidak ada urusan dengan kalian atau lain orang kecuali Pek-Bin Giam-Lo."

"Ciangkun. gadis ini tadi mengancam akan membunuh Lo-Cianpwe Pek-Bin Giam-Lo!"

Kepala regu itu berseru. Perwira muda muka hitam mengerutkan alisnya yang tebal.

"Kurang ajar! Benarkah engkau mengancam hendak membunuh Pek-Bin Giam-Lo?"

"Benar, dia berhutang darah dan nyawa kepadaku. Cepat panggil dia keluar, ataukah dia begitu pengecut tidak berani keluar?"

"Ha-ha-ha!"

Si muka hitam itu tertawa.

"Engkau ini anak kecil berani menghina Pek-Bin Giam-Lo? Dia takut padamu? Sungguh gila dan menggelikan. Dia tidak takut siapa pun, akan tetapi saat ini dia tidak berada di sini."

"Bohong! Dia tinggal di gedung ini. Kalau kalian tidak mau memanggilnya keluar, aku yang akan menyerbu ke dalam!"

"Agaknya engkau memang sudah gila!"

Si Muka Hitam berseru marah.

"Kami tidak bohong. Memang Pek-Bin Giam-Lo tidak berada di sini. Sudah beberapa hari lamanya beliau pergi ke Hang-Chouw, berkunjung ke tempat tinggal Pangeran Leng Sui di sana."

"Bohong!"

Pek Giok tidak mau percaya begitu saja dan hendak memasuki halaman itu untuk mencari sendiri musuh besarnya.

Akan tetapi tiga orang perwira itu dengan marah lalu mencabut golok mereka, dan dengan dahsyat mereka menyerang.

Pek Giok berkelebat dan tiga orang itu terkejut karena tahu-tahu gadis itu telah lenyap.

Kemudian tiba-tiba saja ada tangan kecil lembut menghantam tengkuk mereka dari belakang.

Berturut-turut tiga orang perwira itu roboh pingsan!

Setelah tiga orang perwira itu roboh pingsan, Pek Giok lalu berlari cepat sehingga hanya tampak bayangan saja berkelebat dan ia sudah memasuki gedung.

Rumah besar itu adalah tempat tinggal Pek-Bin Giam-Lo bersama beberapa orang perwira Pemerintah Cin.

Para perwira yang melihat betapa tiga orang perwira dan lima belas orang perajurit dirobohkan dengan mudah oleh gadis cantik itu, tidak ada yang berani menghalangi, bahkan mereka menyingkir, takut akan menjadi korban amukan gadis itu.

Pek Giok mencari musuh besarnya dan memeriksa semua kamar, akan tetapi ia tidak dapat menemukan musuh yang dicarinya.

Akhirnya ia menangkap seorang pelayan wanita setengah tua, menempelkan pedangnya di leher wanita itu dan membentaknya dengan suara mengancam.

"Hayo cepat katakan di mana Pek-Bin Giam-Lo, kalau berbohong pedangku ini akan memenggal lehermu!"

Tentu saja apa yang dilakukan Pek Giok ini hanya gertakan belaka karena itu jelas tidak akan mau membunuh orang yang tidak bersalah.

Tadipun sudah ternyata betapa ia merobohkan para perajurit dan perwira tanpa membunuh atau melukai mereka dengan parah.

Wanita pelayan itu menggigil ketakutan.

"Ampuni saya..., saya... tidak tahu ke mana beliau pergi, karena sudah beberapa hari ini beliau pergi meninggalkan rumah ini."

"Katakan ke mana perginya!"

Pek Giok menghardik.

"Kabarnya beliau pergi ke Hang-Chouw..."

Kini Pek Giok percaya bahwa musuh besarnya itu benar-benar telah pergi ke Hang-Chouw seperti yang dikatakan perwira muka hitam tadi.

Ke Hang-Chouw berkunjung ke tempat tinggal Pangeran Leng Sui.

la lalu melompat dan berkelebat keluar, meninggalkan gedung itu.

Song Han Bun tiba di Kotaraja Hang-Chouw pada suatu siang yang cerah.

Seperti kita ketahui dia bentrok dengan Can Pek Giok, bahkan berkelahi mati-matian di tanah kuburan kota Sung-Kian karena saling curiga tentang kematian Ayah mereka yang dibunuh orang.

Akan tetapi untung sebelum seorang dari mereka tertuka, muncul Lui Hong yang melerai dan menurut Lui Hong, besar kemungkinan yang membunuh Can-Kauwsu dan Song-Kauwsu adalah Pek-Bin Giam-Lo.

Untuk mencari musuh besar ini, Han Bun pergi ke Hang-Chouw, juga atas petunjuk Lui Hong yang memberi tahu bahwa Pek-Bin Giam-Lo membantu Kerajaan Cin dan mengingat bahwa Perdana Menteri Chin Kui bersekutu dengan Kerajaan itu, maka besar kemungkinan Pek-Bin Giam-Lo berada di sana.

Begitu memasuki Kotaraja Hang-Chouw, Han Bun tahu kepada siapa dia harus mencari keterangan tentang musuh besar itu.

Dia mempunyai kenalan yang baik dan dapat dipercaya, yaitu Pangeran Liang Tek Ong!

Pangeran itu adalah seorang kepercayaan Istana Kaisar Kerajaan Sung yang bertugas sebagai penyelidik, bahkan yang pura-pura bersekutu dengar orang Mongol untuk dapat menyelidiki gerak-gerik mereka.

Han Bun langsung saja mengunjungi gedung Pangeran Liang Tek Ong.

Pangeran Liang yang berusia sekitar empat puluh tiga tahun itu menyambut kedatangan Han Bun dengan gembira.

Dia mengenal Han Bun sebagai seorang pemuda sakti yang berjiwa patriot, setia kepada Kerajaan Sung.

Setelah mereka duduk berdua di dalam ruangan tertutup di gedung tempat tinggal Pangeran itu, Han Bun mendengarkan keterangan Pangeran Liang tentang keadaan di Kotaraja.

Pangeran itu bercerita dengan wajah muram.

"Aih, melihat keadaan politik yang dijalankan Perdana Menteri Chin Kui, kita patut merasa prihatin dan khawatir, Song Taihiap (Pendekar Besar Song). Chin Kui bersekutu dengan Kerajaan Cin dan juga Kerajaan Mongol. Hal ini amat berbahaya, sama seperti memelihara harimau dan buaya. Padahal, Kerajaan Sung sampai harus melarikan diri ke selatan dan kehilangan setengah wilayahnya, yaitu bagian utara karena ulah orang-orang Yuchen yang mendirikan Kerajaan Cin. Jelas mereka itu musuh besar kita. Juga Kerajaan Mongol kabarnya sedang memperkuat diri dan Bangsa Mongol ini juga merupakan ancaman bagi negeri kita. Akan tetapi mengapa Chin Kui malah bersekutu dengan mereka? Jelaslah bahwa politik yang dilakukannya ini amat membahayakan Kerajaan Sung sendiri."

"Maaf, Pangeran. Kalau memang demikian halnya, kenapa Paduka tidak menegur dan menentangnya?"

Pangeran Liang menghela napas panjang lalu menggelengkan kepalanya.

"Tidak ada gunanya sama sekali kalau aku menegur atau menentangnya, Taihiap. Pada waktu ini, Chin Kui merupakan orang nomor satu dalam pemerintahan. Yang berani menentangnya pasti akan celaka."

"Akan tetapi, kiranya Paduka dapat melaporkan kepada Sri Baginda Kaisar!"

Kata Han Bun.

"Sudah sering aku melapor dan memperingatkan, akan tetapi Kaisar malah marah kepadaku, mengatakan bahwa aku masih muda kurang pengalaman. Kaisar bahkan membenarkan politik damai Chin Kui, maka aku dan para pejabat tinggi lainnya yang tidak setuju kepada Chin Kui, tidak dapat berbuat apa-apa. Aih, kalau mengingat semua itu, sungguh membuat aku sedih dan khawatir sekali akan nasib Kerajaan Sung, Song Taihiap."

Suasana menjadi hening karena untuk beberapa lamanya, kedua orang itu hanya duduk seperti orang melamun.

Hanya terkadang terdengar helaan napas panjang Pangeran Liang.

Han Bun juga merasa prihatin, akan tetapi dia sama sekali tidak tahu apa yang sepatutnya dilakukan seorang pendekar yang mencintai negara dan Bangsanya, dalam keadaan seperti itu.

Setelah berpikir sejenak, dia berkata dengan hati-hati.

"Pangeran, Paduka tentu lebih me-ngerti tentang politik pemerintahan. Menurut pendapat saya, kalau memang politik yang dilaksanakan pemerintah itu membahayakan negara dan rakyat, mengapa kita tinggal diam saja? Bukankah masih banyak orang yang berjiwa patriot yang siap untuk menentang Perdana Menteri Chin Kui?"

"Tidak mungkin, Taihiap. Menentang Chin Kui dapat diartikan memberontak terhadap Kerajaan karena Kaisar mendukungnya. Menentang kebijaksanaan Chin Kui dapat dianggap menentang kebijaksanaan Sri Baginda Kaisar. Dan usaha itu sama saja dengan bunuh diri, seperti yang dulu dialami dan dilakukan Panglima Besar Gak Hui. Dia dahulu berani menentang kebijaksanaan Chin Kui, akan tetapi akibatnya, Kaisar malah menghukumnya dengan hukuman mati sehingga Jenderal Gak Hui bunuh diri dengan minum racun."

Han Bun mengerutkan alisnya.

Dia tahu bahwa rakyat, termasuk para pendekar, menganggap bahwa Kaisar adalah orang yang telah mendapat wahyu dari TUHAN, sehingga kedudukannya sebagai Kaisar tidak ada yang berani mengganggu gugat!

Setia kepada Negara berarti harus setia kepada KKaisar.

Mencintai tanah air dan Bangsa berarti harus mencintai Kaisar!

Karena umum menganggap Kaisar sebagai wakil TUHAN di dunia, maka segala tindakan dan keputusannya harus dianggap benar.

Gurunya yang terakhir, Khong-Sim Sin-Kai, pernah mengatakan bahwa sejak dahulu kala, mati-matian orang memperebutkan kedudukan tertinggi.

Yang menang dalam perebutan itu lalu memegang kekuasaan tertinggi, dan yang kuasa pasti atau harus dianggap benar dalam segala keputusannya!

Bahkan segala macam peraturan dan hukum diadakan dengan alasan untuk melindungi rakyat jelata.

Akan tetapi pada kenyataannya, peraturan dan hukum itu hanya diadakan untuk melindungi dan memperkuat kedudukan mereka yang berada di atas dan yang berkuasa.

"Sunggult tidak adil!"

Tiba-tiba Han Bun berseru sehingga mengejutkan Pangeran Liang Tek Ong.

"Memang, di mana terdapat kekuasaan, selalu timbul ketidak-adilan. Ada yang terinjak tentu ada yang menginjak. Dan yang menginjak itu pasti yang berada di atas."

"Kalau demikian halnya, apakah rakyat harus mandah saja hidup sengsara sedangkan para penguasa hidup bergelimang dengan kekayaan dan kemuliaan?"

"Memang kenyataannya demikian, Taihiap. Apa yang dapat dilakukan rakyat jelata? Mereka itu walaupun jumlahnya jauh lebih banyak, namun mereka miskin dan Protes sedikit saja dapat dianggap pemberontakan dan dihukum berat. Yang berkuasa itu memiliki pasukan. Kaisar dikuasai Perdana Menteri Chin Kui yang lalim dan korup, tidak mengherankan para pembantunya, yaitu para pejabat tinggi juga korup. Akibatnya, para pejabat rendahan tentu saja tidak ada bedanya, mencontoh para atasannya. Maka rakyatlah yang menderita dan diperas habis-habisan. Mereka yang berada di atas berlumba menumpuk harta kekayaan. Makin banyak mereka peroleh dengan cara korup, makin besarlah keserakahan mereka untuk menumpuk yang lebih banyak lagi. Mereka sama sekali lupa atau sengaja menutup mata agar tidak melihat kenyataan bahwa harta benda Negara yang mereka perebutkan Itu sesungguhnya milik rakyat jelata. Sesungguhnya yang memiliki tanah air adalah rakyat jelata. Apa sih artinya seorang penguasa kalau t idak ada rakyatnya? Para pembesar itu berkhianat kepada rakyat, lupa akan asalnya karena mereka pun merupakan sebagian dari rakyat."

Pangeran Liang Tek Ong bicara dengan semangat "Bukankah dahulu, tiga empat tahun yang lalu, Paduka sebagai wakil pemerintah berpura-pura mengadakan hubungan dengan orang Mongol dengan tujuan untuk menyelidiki mereka?"

"Memang benar, dan tugasku itu telah disetujui oleh Sri Baginda Kaisar sendiri. Para pejabat yang setIa kepada Kerajaan Sung melihat adanya ancaman dari Kerajaan Cin dan Kerajaan Mongol. Keduanya kini menyusun kekuatan dan sewaktu-waktu dapat saja mereka itu merupakan bahaya dari Kerajaan Sung, Akan tetapi, Pefdana Menteri Chin Kui lagi-lagi mempengaruhi Sri Baginda dan kegiatan kami dihentikan. Bahkan Chin Kui memberi kehebasan kepada Cin dan Mongol untuk menaruh wakil mereka di sini. Aku khawatir sekali, Taihiap. Kerajaan Cin dan Kerajaan Mongol menyusun kekuatan, sebaliknya Kerajaan Sung dipimpin pembesar-pembesar yang korup, berlumba menumpuk harta benda dan tenggelam ke dalam kesenangan dan kemewahan."

Han Bun merasa penasaran sekali. Akan tetapi apa yang dapat dia lakukan? Dia teringat akan urusannya sendiri, maka dia lalu mengalihkan pembicaraan.

"Pangeran, sesungguhnya kedatangan saya ke Kotaraja ini untuk menyelidiki dan mencari pembunuh Ayah saya."

Pangeran Liang Tek Ong terkejut.

"Ayahmu dibunuh orang, Taihiap? Siapa yang berani melakukan kejahatan itu?"

"Saya sendiri belum yakin siapa pembunuhnya. Hanya ada seorang yang saya curigai sebagai pembunuhnya karena orang itu sejak dahulu memusuhi keluarga saya. Saya mendengar bahwa dia adalah seorang yang membantu Kerajaan Cin, maka saya mencari keterangan di sini. Siapa tahu Paduka mungkin mengetahuinya. Dia seorang Datuk bernama Pek-Bin Giam-Lo."

"Pek-Bin Giam-Lo?"

Kata Pangeran itu sambil menggelengkan kepalanya.

"Kami tidak pernah mendengar akan nama itu. Akan tetapi di sini memang ada perwakilan Kerajaan Cin yang dipimpin seorang yang di sini dikenal sebagai Leng-Kongcu, akan tetapi biarpun penampilannya seperti seorang sastrawan pribumi dan dia bahkan menikah dengan puteri seorang pejabat, namun aku mendengar dari para penyelidikku bahwa sesungguhnya dia seorang Pangeran Bangsa Yuchen dan bernama Pangeran Leng Sui. Nah, agaknya kalau engkau mencari keterangan di gedungnya, engkau akan dapat memperoleh keterangan lebih jelas tentang Datuk Kin yang kau cari itu."

Setelah mendapat petunjuk di mana letak gedung tempat tinggal Pangeran Leng Sui, Han Bun lalu mencari sebuah rumah penginapan dan menyewa sebuah kamar.

Sore hari itu dia berjalan-jalan dan lewat di depan gedung Pangeran Leng Sui.

Dia melihat betapa di dekat pintu gerbang terdapat belasan orang penjaga.

Setelah melakukan penyelidikan dan berjalan mengitari gedung dengan taman dan pekarangannya yang cukup luas itu, dia kembali ke rumah penginapan dan mengambil keputusan untuk malam nanti mengunjungi gedung itu dan menyelidiki tentang Pek-Bin Giam-Lo.

Malam itu, setelah keadaan Kotaraja sunyi, Han Bun meninggalkan rumah penginapan.

Dengan gerakan yang amat gesit tubuhnya berkelebat dan sebentar saja dia sudah tiba di belakang gedung tempat tinggal Pangeran Leng Sui.

Ketika lewat di depan gedung tadi, dari jalan raya dia dapat melihat bahwa di gardu penjagaan dekat pintu gerbang masih terjaga belasan orang.

Dia tidak ingin membikin ribut, tidak ingin bermusuhan dengan orang-orang Cin yang berada di situ.

Dia hanya ingin mencari dan menemukan Pek-Bin Giam-Lo yang dia duga sebagai pembunuh Ayahnya dan Ayah Pek Giok.

Dengan mudah dia melompat dan tubuhnya melayang ke atas pagar tembok.

Dari atas pagar tembok dia melihat sebuah taman bunga yang luas dan di sana-sini digantungi lampu warna-warni.

sehingga taman itu tampak indah.

Dengan mudah dia pun melompat turun dan berjalan menuju ke bangunan gedung itu dari belakang.

Han Bun menyelinap di antara pohon dan semak dalam taman itu dengan hati-hati.

Dia tidak ingin ketahuan penjaga.

sehingga usaha penyelidikannya gagal.

Setelah tiba di dekat bangunan dia merasa bingung sendiri.

Bagaimana dia dapat menemukan Kakek muka tengkorak dalam gedung yang demikian besar?

Pula, dia belum tahu dengan pasti apakah Pek-Bin Giam-Lo berada di situ atau tidak.

Akan sia-sia saja dia mencari kalau Datuk sesat itu tidak berada di situ.

Sebaiknya kalau dla dapat menangkap seorang penjaga atau seorang pelayan dan dari orang ltu dia akan dapat memperoleh keterangcn apakah Pek-Bin Giam-Lo berada di geaung itu ataukah tidak.

Benar, pikirnya, dia harus menangkap seseorang yang menjadi penghuni gedung itu dan memaksanya memberi keterangan itu.

Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring.

"Keparat, engkau sudah bosan hidup berani masuk ke sini tanpa ijin!"

Han Bun terkejut dan lebih lagi ketika dia merasa ada sambaran angin yang amat dahsyat menyerangnya dari samping.

Cepat dia mengelak dengan lompatan ke kiri.

Akan tetapi orang yang tadi membentak dan menyerangnya itu sudah menyerang lagi dengan tamparan tangan.

Gerakannya cepat sekali dan juga mengandung tenaga dahsyat.

Han Bun yang melihat bahwa penyerangnya seorang wanita, merasa terkeiut dan kagum.

Wanita ini ternyata memiliki kepandaian yang amat hebat.

Dia segera menangkis dengan tangan kiri, menyambut serangan tangan kanan wanita itu.

"Wuuutt... dukk!!"

Han Bun terdorong ke belakang, juga penyerangnya terdorong ke belakang. Keduanya merasa terkejut dan kini mereka berdiri saling pandang di bawah sinar lampu hijau. Keduanya terbelalak dan berseru.

"Ceng Ceng...!!"

"Bu Beng...! Ah, benar engkau ini, Bu Beng? Betapa rindu aku padamu...!"

Penyerang itu adalah Siangkoan Ceng atau Ceng Ceng.

Seperti kita ketahui, Ceng Ceng kini tinggal di gedung Pangeran Leng Sui sebagai pengawal pribadi setelah Pangeran Baduchin kembali ke Mongol.

Malam itu secara kebetulan saja ia bersantai di dalam taman dan melihat bayangan berkelebat.

Maka cepat ia mendekati dan menyerang bayangan itu.

Ketika melihat bahwa bayangan itu bukan lain adalah Bu Beng, tentu saja ia merasa girang bukan main.

la tidak pernah dapat melupakan Bu Beng, satu-satunya pria yang pernah menggetarkan hatinya dan membuatnya jatuh cinta.

Dengan perasaan gembira yang meluap-luap, Ceng Ceng maju dan merangkul pemuda itu.

Tentu saja Bu Beng menjadi bingung ketika gadis itu memeluknya dengan ketat.

Dia dapat merasakan tubuh yang lunak dan hangat itu mendekapnya.

Cepat ia melepaskan rangkulan Ceng Ceng dan mundur dua langkah.

"Ceng Ceng, Jangan begini..."

Katanya lirih. Ceng Ceng menatap tajam. Dalam penglihatannya, kini Bu Beng bahkan lebih tampan dan gagah daripada ketika bertemu dengannya beberapa tahun yang lalu.

"Bu Beng, ke mana saja engkau selama ini? Mari, mari kita bicara di sana."

Ia menuding ke arah sebuah bangunan serambi kecil mungil di tengah taman itu.

Ketika Ceng Ceng menggandeng tangannya dan diajak berjalan menuju ke serambi itu, Han Bun yang dikenal Ceng Ceng sebagai Bu Beng (Tanpa Nama) tidak membantah.

Dia malah merasa mendapat jalan untuk mengetahui di mana adanya Pek-Bin Giam-Lo.

Di dalam serambi itu terdapat bangku bangku panjang dan mereka duduk bersanding di atas bangku.

Di situ tergantung empat buah lampu sehingga cukup terang untuk dapat saling pandang.

Han Bun harus mengakui bahwa Ceng Ceng tampak cantik Jelita dan lebih matang dibandingkan tiga tahun yang lalu.

Setelah duduk bersanding, Ceng Ceng merapatkan duduknya dan kembali la memegang tangan Han Bun.

"Bu Beng, aku sungguh rindu kepadamu dan selama ini aku ingin sekali mencarimu akan tetapi tidak tahu ke mana engkau pergi. Selama ini ke mana saja kah engkau, Bu Beng? Ceritakanlah dan bagaimana pula malam ini engkau masuk ke sini? Ada keperluan apakah engkau memasuki tempat tinggal Leng-Kongcu?"

Han Bun meragu untuk bercerita lebih dulu. Bagaimana kalau gadis ini berpihak kepada Pek-Bin Giam-Lo? Dia harus mengetahui keadaan Ceng Ceng lebih dulu.

"Ceng Ceng, sebelum aku menceritakan keadaanku, lebih baik engkau menceritakan dulu bagaimana engkau berada di sini? Mengapa engkau meninggalkan Beng-Kauw dan agaknya menjadi penghuni gedung ini? Bukankah gedung ini merupakan tempat tinggal Pangeran Cin?"

Han Bun merasa heran sekali karena kini tentu saja dia sudah tahu bahwa Beng-Kauw adalah sebuah perkumpulan yang terkenal tidak tunduk kepada Kerajaan mana pun, bahkan juga terkadang dikenal sebagai penentang kebijaksanaan Kerajaan Sung.

Selain itu, juga terkenal sebagai golongan sesat yang ditakuti dan ditentang para pendekar.

Mendengar ucapan Han Bun, Ceng Ceng tersenyum dan menjawab manja.

"Aih, Bu Beng, apakah engkau lupa bahwa aku adalah gadis yang sejak pertama bertemu denganmu telah jatuh cinta kepadamu? Bukankah sejak pertama kali bertemu kita sudah bersahabat dengan baik? Mengapa sekarang agaknya engkau tidak percaya kepadaku?"

Akan tetapi melihat pemuda itu mengerutkan alisnya, Ceng Ceng melanjutkan.

"Baiklah, dengarkan ceritaku. Setelah engkau pergi meninggalkan Beng-Kauw, aku lalu pergi juga untuk mencarimu. Akan tetapi usahaku sia-sia saja dan akhirnya aku memperdalam ilmuku kepada Susiok-Couw (Kakek Paman Guru) Tong Tong Lokwi."

"Hemm, pantas sekarang ilmu kepandaianmu amat hebat."

Han Bun memuji.

"Kulihat engkau kini juga bertambah lihai. Nah, setelah aku selesai belajar, aku lalu melanjutkan usahaku mencarimu dan akhirnya aku tiba di Kotaraja ini. Karena ingin meluaskan pengalaman, ketika aku bertemu Leng-Kongcu dan dia minta aku menjadi pengawal pribadinya, aku menerima tugas itu. Aku berada di sini baru sekitar satu bulan. Nah, begitulah keadaanku. Sekarang giliranmu, Bu Beng. Bagaimana engkau dapat datang ke sini malam-malam dan apa yang hendak kau lakukan?"

Han Bun merasa tidak enak sekali.

Ceng Ceng menjadi pengawal seorang Pangeran Bangsa Yuchen, berarti membantu Kerajaan Cin.

Kalau begitu, besar kemungkinan Ceng Ceng akan membela Pek-Bin Giam-Lo yang kabarnya juga seorang pendukung Kerajaan Cin.

"Ceritanya panjang, Ceng Ceng. Akan tetapi yang pertama kali kau perlu ketahui adalah bahwa namaku bukan Bu Beng seperti ketika aku kehilangan ingatan. Aku bernama Song Han Bun berasal dari kota Sung-Kian."

"Song Han Bun? Hemm, nama yang bagus. Tentu Kakek sakti Khong-Sim Sin-Kai itu yang telah memulihkan ingatanmu, bukan?"

"Benar, dan selama tiga tahun aku ikut Suhu Khong-Sim Sin-Kai memperdalam ilmu."

"Hemm, setelah engkau sembuh dan ingatanmu pulih kembali, tentu engkau ingat bagaimana sampai engkau kehilangan ingatanmu dahulu itu, Bu Beng... eh, Han Bun?"

"Tentu saja aku ingat. Bagaimana aku dapat melupakan si jahat yang keji itu.? Dia adalah Pek-Bin Giam-Lo"

"Pek-Bin Giam-Lo?"

Ceng Ceng bertanya heran.

"Ya, dialah yang ketika itu menggunakan ilmu hitam menyerangku dan melukaiku sehingga aku kehilangan ingatan."

"Hemm, dan engkau sekarang datang ke Kotaraja dengan niat hendak mencarinya dan membalas dendam? Akan tetapi mengapa malam-malam datang kesini, Han Bun?"

Han Bun menggelengkan kepalanya.

"Aku bukan seorang pendendam, Ceng Ceng, karena aku tahu benar bahwa dendam merupakan racun bagi diri sendiri. Akan tetapi telah terjadi malapetaka menimpa keluarga orang-tuaku. Ayahku terbunuh orang tanpa sebab dan aku kesini untuk melakukan penyelidikan mencari pembunuh Ayahku."

"Dan siapakah yang engkau sangka melakukan pembunuhan itu?"

"Aku belum yakin benar, akan tetapi besar kemungkinan yang melakukan adalah Pek-Bin Giam-Lo. Dia mendendam kepadaku karena dahulu aku telah membunuh muridnya, yaitu Bu-Eng-Kwi Tok Liong Taisu. Mungkin karena tiga tahun lalu dia gagal membunuhku karena aku dapat melarikan diri dan hanya menderita luka beracun sehingga kehilangan ingatan, dia lalu datang ke Sung-Kian dan membunuh Ayahku. Kalau benar dia yang membunuh Ayahku, dia itu jahat sekali dan membahayakan kehidupan orang yang tidak bersalah, maka aku mencarinya dan minta pertanggungan jawabnya. Aku lalu mencari ke Kotaraja ini dan aku mendengar bahwa Pek-Bin Giam-Lo adalah Datuk sesat yang membantu Pemerintah Cin. Maka, ketika aku mendengar bahwa di sini tempat tinggal seorang Pangeran Kerajaan Cin, aku datang untuk menyelidiki agar tahu di mana adanya Pek-Bin Giam-Lo. Kebetulan engkau muncul, Ceng Ceng, maka kuharap engkau suka memberi tahu kepadaku, di mana aku dapat bertemu dengan datuk sesat itu?"

Tentu saja Ceng Ceng mengetahui siapa Pek-Bin Giam-Lo dan di mana adanya Kakek sakti itu.

Baru tiga hari yang lalu Datuk itu datang berkunjung ke gedung Pangeran Leng Sui dan ini juga sedang berada di dalam gedung itu!

Akan tetapi tentu saja ia tidak mau memberi tahu hal ini kepada Han Bun.

Ia berada dalam keadaan serba salah.

Untuk berpihak kepada Pek-Bin Giam-Lo dan Leng Sui, ia merasa berat untuk bermusuhan dengan Han Bun yang kini ia yakin amat dicintanya.

Sebaliknya, kalau ia berpihak kepada Han Bun, tentu saja ia akan kehilangan kedudukannya dan kehilangan pula cita-cita besarnya untuk kelak menjadi seorang permaisuri atau setidaknya menjadi seorang yang memiliki kedudukan dan kekuasaan tinggi dalam sebuah Kerajaan, tidak peduli dalam Kerajaan Sung, Cin, atau kalau mungkin dalam Kerajaan Mongol yang menurut ramalan mendiang Tong Tong Lokwi akan menguasai seluruh daratan Cina.

"Pek-Bin Giam-Lo? Hemm, aku pernah mendengar nama itu, Han Bun. Baiklah, aku akan melakukan penyelidikan untukmu. Berbahaya kalau engkau menyelidiki sendiri. Pula saat ini ia tidak berada di sini. Besok pagi, tunggulah aku di tepi Telaga Barat, aku akan menemuimu dan aku akan mencari keterangan dari orang-orang Kerajaan Cin di sini. Besok aku akan menceritakan padamu hasil penyelidikanku itu."

Han Bun mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Baik, Ceng Ceng, dan terima kasih atas bantuanmu."

Dia bangkit berdiri dan hendak meninggalkan taman itu. Akan tetapi Ceng Ceng segera menarik tangannya sehingga Han Bun terduduk kembali.

"Kenapa tergesa-gesa, Han Bun?"

Ia merangkul dan menyandarkan kepalanya di bahu pemuda itu.

"Ber-tahun-tahun aku merindukan dirimu dan setelah kini kita bertemu, jangan engkau tinggalkan aku sebelum aku melepaskan rinduku padamu. Han Bun, sejak pertemuan pertama sampai sekarang aku tetap mencintamu. Aku tahu bahwa engkau pun mencintaku. Tidak senangkah hatimu bertemu denganku?"

"Tentu saja aku senang bertemu denganmu, Ceng Ceng,"

Kata Han Bun dengan jujur karena memang dia merasa senang dan dia mengharapkan akan memperoleh keterangan tentang Pek-Bin Giam-Lo.

Benar juga ucapan Ceng Ceng tadi.

Kalau dia melakukan penyelidikan sendiri di gedung Pangeran Leng Sui dan selain gagal menemukan Pek-Bin Giam-Lo juga ketahuan, berarti dia akan dianggap mengadakan kekacauan di gedung Pangeran itu.

Dia tidak ingin bermusuhan dengan orang-orang.

Apalagi kini ternyata Ceng Ceng menjadi pengawal disitu.

Juga, biarpun dia tidak mempunyai perasaan cinta kepada Ceng Ceng, bagaimanapun juga, Ceng Ceng bersikap baik kepadanya dan ia tahu dan merasa benar bahwa Ceng Ceng, gadis yang condong memiliki watak sesat itu, memang amat mencintanya.

"Nah, kalau begitu, jangan cepat-cepat pergi, Han Bun. Aku masih kangen padamu."

Kini Ceng Ceng kembali merangkul dengan sikap mesra.

Akan tetapi dengan lembut Han Bun melepaskan rangkulan itu.

Biarpun tampaknya mereka itu bergerak lembut, namun sesungguhnya mereka mengadu tenaga sakti mereka.

Ceng Ceng hendak mempertahankan rangkulannya dan Han Bun hendak melepaskannya.

Tiba-tiba Ceng Ceng merasa betapa rangkulannya itu meleset dan terlepas, seolah kulit tubuh Han Bun tiba-tiba menjadi licin seperti kulit belut dan lengannya yang merangkul terasa dingin sekali.

Setelah terlepas dari rangkulan itu, tubuh Han Bun berkelebat dan lenyap dari situ.

Hanya suaranya saja yang terdengar, lirih namun jelas.

"Maaf, Ceng Ceng. Aku harus pergi sekarang. Besok pagi aku menantimu di tepi Telaga Barat."

Ceng Ceng berdiri, termenung sampai lama setelah Han Bun pergl.

"Aih, dia semakin hebat..."

Bisiknya dan hatinya semakin tertarik kepada pemuda ltu.

Sekarang ia menyadari bahwa baru kepada Song Han Bun itulah ia merasakan betapa hatinya benar-benar telah jatuh cinta.

Akan tetapi setelah ia sadar dari lamunnnya dan kembali kedalam kamarnya.

la rebah dengan gelisah di atas pembaringannya.

Apa yang harus ia lakukan?

Tiga hari yang lalu Pek-Bin Giam-Lo datang berkunjung dan kini masih berada dalam gedung itu.

Agaknya Pangeran Leng Sui hendak menahan Datuk itu agar memperkuat pengawalan dirinya.

Ketika diperkenalkan kepada Datuk yang berwajah menyeramkan itu, Pek-Bin Giam-Lo yang tadinya memandang rendah kepadanya, berbalik menjadi hormat si kapnya setelah mendengar bahwa ia adalah murid Tong Tong Lokwi, dan juga puteri Ketua Beng-Kauw.

"Wah, kalau begitu, Nona Siangkoan Ceng tentu memiliki ilmu silat yang tinggi sekali,"

Pek-Bin Giam-Lo memuji ketika Leng Sui memperkenalkan dalam perjamuan makan bertiga.

"Maaf, aku bersikap kurang hormat. Engkau pantas kuberi penghormatan dengan tiga cawan arak, Nona Siangkoan!"

Setelah berkata demikian, Pek-Bin Giam-Lo mengambil cawan yang penuh arak lalu melontarkannya ke atas.

Anehnya setelah tiba di atas cawan itu berubah menjadi tiga dan melayang ke atas Ceng Ceng.

Kalau tiga cawan itu menumpahkan araknya berbareng dari atas, tentu akan menyiram kepala Ceng Ceng!

Pangeran Leng Sui memandang dengan khawatir dan menganggap ujian yang dilakukan Pek-Bin Giam-Lo itu keterlaluan.

Akan tetapi Ceng Ceng tampak tenang saja.

Mendiang Tong Tong Lokwi adalah Datuknya ilmu sihir dan ilmu hitam, maka Ceng Ceng tidak merasa gentar menghadapi ujian dengan ilmu sihir ini.

la menggerakkan tangan kirinya ke atas dan tiga buah cawan terisi arak itu berhenti melayang tepat di atasnya.

Tangan kanannya menyambar sebuah cawan kosong dan memegangi di depannya.

Kemudian ia menggerakkan tangan kirinya dan satu demi satu tiga cawan arak itu menuangkan araknya ke bawah, akan tetapi sedikit demi sedikit sehingga merupakan pancuran kecil dan ditampung tepat ke dalam cawan kosong di tangan Ceng Ceng.

Setelah tiga cawan arak itu menuangkan semua isinya, ternyata hanya memenuhi cawan di tangan Ceng Ceng.

Gadis itu lalu meniup ke atas dan tiga buah cawan yang sudah kosong itu terbang kembali ke arah Pek-Bin Giam-Lo!

Kakek itu menerima tiga cawannya yang kembali berubah menjadi satu, dan dia mengangguk-angguk kagum.

"Aku yang muda tidak berani menerima penghormatan Pek-Bin Giam-Lo yang jauh lebih tua, maka arak ini kukembalikan kepadamu, Pek-Bin Giam-Lo!"

Ceng Ceng menyodorkan secawan arak itu dan... Pangeran Leng Sui terkejut dan terheran karena tiba-tiba saja arak dalam cawan itu menyala berkobar-kobar! Akan tetapi Pek-Bin Giam-Lo tertawa.

"Heh-heh, ini namanya senjata makan tuan! Baik, aku harus menerima pemberian hormatmu, Nona Siangkoan Ceng. Ternyata engkau tidak mengecewakan menjadi murid Tong Tong Lokwi."

Pek-Bin Giam-Lo menerima cawan itu dan begitu dia menerimanya, kobaran api itupun padam dan dengan enak dia minum secawan arak itu sampai habis.

Setelah peristiwa uji kesaktian itu, baik Ceng Ceng maupun Pek-Bin Giam-Lo maklum akan ketangguhan masing-masing dan mereka saling menghormat karena keduanya adalah pembantu Pangeran Leng Sui.

Yang merasa gembira adalah Leng Sui karena dia merasa betapa kedudukannya aman dengan adanya dua orang sakti itu di gedungnya.

Demikianlah, ketika berada dalam kamarnya dan merenungkan pertemuannya dengan Han Bun yang dulu ia kenal sebagai Bu Beng, pemuda yang sejak itu dicintanya, ia merasa bingung juga.

Kedatangan Han Bun adalah untuk mencari Pek-Bin Giam-Lo yang diduga telah membunuh Ayah Han Bun!

Kalau Han Bun mengetahui bahwa Pek-Bin Giam-Lo berada di situ lalu menyerangnya, apa yang akan ia lakukan?

Tentu saja Pangeran Leng Sui dan Pek-Bin Giam-Lo mengharapkan ia untuk membantu Pek-Bin Giam-Lo, hal ini tentu saja sudah wajar dan semestinya.

Akan tetapi mana mungkin ia melakukan hal itu, menentang Han Bun yang dicintanya?

Kalau ia membantu Bu Beng atau Han Bun, tentu ia akan mendapat kemarahan Pangeran Leng Sui dan ini berarti hubungannya dengan Kerajaan Cin putus.

Lalu bagaimana dengan cita-citanya?

Baru saja ia meninggalkan Pangeran Mongol dan kalau kini ia meninggalkan Pangeran Cin, berarti semua cita-citanya yang muluk akan gagal sama sekali!

"Aih, bagaimana nanti sajalahl"

Ceng Ceng akhirnya dapat menenangkan hatinya dan tertidur.

See Ouw (Telaga Barat) yang berada di luar kota Hang-Chouw memang indah sekali.

Banyak sudah para sastrawan dan penyair menuliskan sajak-sajak indah untuk memuji Telaga Barat ini.

Bukan saja telaga itu menarik perhatian para pelancong dan menjadi tempat pesiar dan bersenang-senang naik perahu, akan tetapi juga telaga itu terkenal sekali dengan ikannya sirip kuning yang amat lezat dagingnya.

Pada pagi hari itu, ketika Han Bun berjalan santai menuju ke telaga, dari jauh dia sudah melihat Ceng Ceng menunggunya.

Ia mengenakan pakaian biru muda yang indah, dan seperti biasa, rambutnya dihias setangkai bunga merah.

Ia tampak cantik jelita sehingga semua mata pria yang berada di tepi telaga tiada puas-puasnya menghirup kecantikan itu.

Namun Ceng Ceng tidak peduli akan semua pandang mata kagum itu.

Ketika ia melihat Han Bun datang, ia lalu menyongsongnya dengan senyumnya yang manis.

Setelah bertemu, tanpa ragu lagi Ceng Ceng memegang tangan pemuda itu.

Han Bun merasa sungkan mendapatkan perlakuan mesra di tempat umum, akan tetapi untuk melepaskan pegangan tangan gadis itu dia pun merasa tidak enak.

Memang sejak dulu sikap Ceng Ceng selalu mesra.

Gadis ini memang lain dari gadis pada umumnya yang selalu merasa malu-malu dan menjaga kesopanan.

Gadis ini agaknya tidak peduli akan tata susila umum.

Ia akan melakukan apa saja yang ia suka dan yang ia rasa benar.

Maka Han Bun juga membiarkan saja ketika gadis itu menggandengnya dan berjalan ke arah telaga.

"Aku girang sekali engkau datang, Han Bun. Engkau memang seorang pria yang suka memenuhi janji!"

"Tentu saja aku datang, Ceng Ceng. Bukankah engkau akan menceritakan hasil penyelidikanmu tentang orang yang kucari?"

"Nanti klta bicarakan hal itu. Lihat, bukankah indah sekali telaga ini?"

Ceng Ceng menudingkan telunjuknya ke depan, ke arah telaga. Han Bun memandang dan mengangguk. Tentu saja dia pernah melihat Telaga Barat.

"Ya, memang indah sekali."

"Mari kita menyewa sebuah dan kita pesiar di telaga, Han Bun,"

Kata Ceng Ceng girang dan tanpa menanti jawaban ia lalu menggandeng Han Bun menghampiri seorang tukang perahu di pantai.

Sebelum Han Bun muncul, gadis itu telah memilih sebuah perahu kecil yang terbaik di tempat itu dan menyewanya.

Kini mereka berdua memasuki perahu dan mendayung sendiri karena Ceng Ceng tidak ingin tukang perahu ikut dengan mereka.

Ia ingin bersenang-senang berdua saja dengan pemuda yang dikagumi dan dicintanya Han Bun tidak merasa heran melihat sebuah keranjang besar berisi makanan roti dan daging kering serta seguci arak telah tersedia di dalam perahu.

Gadis seperti Ceng Ceng tentu pandai menyiapkan semua itu.

Bagaimanapun juga, biarpun gadis itu puteri Ketua Beng-Kauw yang terkenal ganas, gadis ini selalu bersikap baik sekali kepadanya.

Dan dia pun ingin mendapatkan keterangan tentang Pek-Bin Giam-Lo, maka dia merasa senang dapat berperahu di telaga indah itu dengan Ceng Ceng.

Mereka berperahu, berputar-putar di sepanjang pantai telaga, terkadang ke tengah dan Ceng Ceng mengalami kegembiraan yang luar biasa.

Jauh bedanya dengan ketika dara ini berperahu dengan Pangeran Leng Sui dalam perahu besar dahulu.

Mewah dan berpesta pora, namun kebahagiaan seperti sekarang ini tidak ia rasakan.

Kini, dalam perahu kecil berdua dengan Han Bun, makan roti dan ikan kering, minum arak bersama sungguh mendatangkan perasaan bahagia yang amat mendalam.

Setelah puas berpesiar, akhirnya Han Bun bertanya.

"Nah, sekarang ceritakanlah bagaimana hasil penyelidikanmu, Ceng Ceng. Tahukah engkau di mana adanya Pek-Bin Giam-Lo?"

"Han Bun, engkau mencari dia karena menduga bahwa dia yang membunuh Ayahmu. Bagaimana kalau bukan dia yang membunuhnya?"

"Aku memang menduga bahwa dia pelakunya, karena itu aku akan bertemu dengan dia dan akan kutanya dia. Kalau dia yang membunuh, dia harus mengatakan mengapa dia membunuh Ayahku. Kalau dia mendendam atas terbunuhnya muridnya, seharusnya dia mencari aku, bukan Ayahku. Akan tetapi kalau memang dia tidak melakukannya, aku juga akan menantangnya untuk melanjutkan pertandingan antara kami tiga tahun lalu ketika dia melukai aku dengan ilmu hitamnya. Akan tetapi kalau dia tidak mau melanjutkan pertandingan itu, aku pun tidak akan memaksanya. Sekarang katakan, Ceng Ceng, di mana aku dapat menemuinya?"

"Tidak mudah untuk menemuinya sekarang, Han Bun. Pek-Bin Giam-Lo memang membantu Pemerintah Cin dan dia seringkali berada di kota An-keng di seberang Sungai Yang-Ce bagian utara. Akan tetapi dia sering pergi mengunjungi benteng-benteng penjagaan pasukan Cin di sepanjang sungai sehingga sukar untuk mencarinya. Akan tetapi aku mendengar bahwa dia akan berkunjung ke sini untuk mengadakan pertemuan dengan Pangeran Leng Sui. Oleh karena itu engkau bersabarlah dan tinggallah di Hang-Chouw ini beberapa lamanya. Kalau sewaktu-waktu dia datang, aku pasti akan segera mengabarkannya kepadamu."

Han Bun merasa agak kecewa.

Akan tetapi dia percaya akan keterangan Ceng Ceng dan memang paling baik kalau dia menunggu pemberian tahu dari Ceng Ceng dan untuk sementara waktu dia akan tinggal di Hang-Chouw.

Dalam kesempatan itu dia dapat berkunjung lagi ke Istana Pangeran Liang Tek Ong.

Pangeran itu merupakan pimpinan jaringan mata-mata Pemerintah Sung, tentu dia akan dapat memberi penjelasan karena dia pasti akan lebih banyak mengetahui akan gerakan para mata-mata pihak Kerajaan lain.

Dalam kunjungannya yang pertama, Pangeran itu menjanjikan akan menyelidiki lebih teliti tentang musuh yang dicarinya.

Ceng Ceng bersikap mesra kepadanya, akan tetapi Han Bun tetap menjaga jarak tidak mau melayani gadis itu untuk bermesraan seperti sepasang kekasih.

Dia menolak dengan lembut dan menasihati Ceng Ceng agar mereka tetap menjadi sahabat baik.

"Mengapa, Han Bun? Aku cinta padamu, apakah engkau tidak mau menerima cintaku?"

Hemm, gadis ini sungguh tidak mempedulikan tata-susila, prikir Han Bun.

Mengatakan cintanya secara sepihak demikian terbuka, seolah hal itu bukan merupakan sikap yang tidak patut bagi seorang gadis.

Dia harus menjawab dengan terus terang agar gadis itu tidak semakin nekat, pikirnya.

Akan tetapi juga agar tidak menjadi sakit hatinya dan marah.

"Ceng Ceng, terus terang saja, saat aku sama sekali tidak pernah berfikir tentang cinta dan Perjodohan. Aku memang suka kepadamu karena engkau baik terhadap diriku. Aku suka bersahabat denganmu, akan tetapi tentang cinta.? Aku tidak dapat memastikan hal itu karena aku belum pernah merasakan hal itu dalam persahabatan kita."

Ceng Ceng mengerutkan alisnya.

Akan tetapi ia tidak marah, hanya agak kecewa.

Bagaimanapun juga, pernyataan pemuda ini bahwa dia suka kepadanya, sudah cukup menyenangkan dan menimbulkan harapan.

Bukankah rasa suka itu dengan mudah akan mendatangkan perasaan cinta?

Setelah puas berpesiar dengan perahu di mana Ceng Ceng tampak bersikap mesra sekali kepada Han Bun, pemuda itu lalu mengajak ia mendarat dan kembali.

Ceng Ceng kembali ke gedung Pangeran Leng Sui, sedangkan Han Bun kembali ke rumah penginapan.

Mereka berjanji akan bertemu tiga hari di tepi telaga.

Dua orang ini sama sekali tidak menyadarl bahwa ada beberapa pasang mata yang sejak tadi mengintai mereka dan melihat betapa mereka berperahu dengan sikap akrab, bahkan mesra.

Sepasang dari beberapa pasang mata itu nadalah mata Lui Hong yang memandang dengan alis berkerut dan sinar mata marah dan penasaran!

Hatinya merasa seperti dibakar menyaksikan Han Bun berperahu dan bersikap demikian mesra dengan seorang gadis cantik!

Padahal dia tahu benar bahwa Pek Giok mencinta Han Bun, dan dia tadinya yakin bahwa Han Bun juga mencinta Pek Giok.

Mengapa kini Han Bun bersikap demikian mesra dengan seorang gadis yang tampak genit itu?

Apakah Han Bun tergolong seorang pemuda mata keranjang yang mudah berganti pacar?

Dia yang di dalam hatinya menghormati dan membela Pek Giok, tentu saja merasa marah sekali.

Dia yang dulu oleh orang-tua mereka ditunangkan dengan Pek Giok, sengaja memutuskan pertunangan itu, bukan saja karena dia telah mencinta gadis lain, akan tetapi terutama karena dia ingin agar Pek Giok berjodoh dengan Han Bun, pemuda yang dicinta gadis itu.

Bagaimana Lui Hong dapat berada di telaga itu?

Seperti kita ketahui, Lui Hong pergi ke Hang-Chouw untuk melihat keadaan gadis yang dicintanya, yaitu Li Sian Hwa, puteri Jaksa Li Koan.

Dia dan Li Sian Hwa saling mencinta, akan tetapi Jaksa Li melarang Lui Hong bergaul dengan puterinya.

Akhirnya, ketika Lui Hong berkunjung ke rumah Sian Hwa lagi, dia mendengar bahwa gadis pujaannya itu telah ditunangkan dengan Leng-Kongcu yang ternyata kemudian adalah seorang Pangeran Kerajaan Cin bernama Leng Sui.

Bahkan dia nyaris tewas oleh anak buah Leng Sui kalau saja tidak ditolong Thai Kek Lojin yang kemudian menjadi Gurunya selama tiga tahun.

Setelah melerai Pek Giok dan Han Bun yang berkelahi karena saling menyangka sebagai pembunuh Ayah masing-masing, Lui Hong berhasil mengingatkan gadis dan pemuda itu bahwa kemungkinan besar pembunuh Can-Kauwsu dan Song-Kauwsu adalah musuh lama mereka, yaitu Pek-Bin Giam-Lo.

Kemudian, seperti kita ketahui, Pek Giok dan Han Bun meninggalkan Sung-Kian untuk mencari musuh besar itu dengan mengambil jalan sendiri-sendiri.

Lui Hong juga meninggalkan Sung-Kian untuk pergi ke Hang-Chouw karena dia ingin melihat bagaimana keadaan Sian Hwa yang dia duga kini tentu telah menjadi Nyonya Leng Sui.

Baru kemarin Lui Hong tiba di Hang-Chouw dan dia segera melakukan penyelidikan.

Dia tidak mau mengunjungi gedung Pangeran Leng Sui karena tentu dia akan disambut dengan serangan dan pengeroyokan.

Dia hanya ingin mendengar bagaimana keadaan wanita yang masih dicintanya itu.

Alangkah kagetnya ketika dia mendengar cerita seorang tetangga yang mengetahui bahwa Li Sian Hwa atau Nyonya Leng Sui itu kini telah di pulangkan ke rumah orang-tuanya, padahal telah mempunyai seorang anak laki-laki berusia satu tahun!

Tetangganya itu tidak dapat merangkan mengapa Li Sian Hwa kini dipulangkan ke rumah orang-tuanya, yaitu Jaksa Li Koan.

Mendengar ini, malamnya Lui Hong nekat mengunjungi gedung keluarga Jaksa Li.

Dia hanya ingin mengetahui mengapa Sian Hwa dipulangkan ke rumah orang-tuanya, tidak mempunyai niat lain.

Maka, dengan nekat dia berkunjung secara terang-terangan, mengambil resiko dimarahi dan diusir Jaksa Li.

Akan tetapi mengingat bahwa kunjungannya tidak bermaksud buruk, pula mengingat bahwa dia pernah menyelamatkan pembesar itu dan puterinya ketika dahulu diserang penjahat, dia memberanikan diri.

Kepada para penjaga di depan gedung, dia memperkenalkan diri sebagai Lui Hong dan ingin bertemu dan menghadap Jaksa Li Koan.

Ketika penjaga melaporkan kepada Li-Taijin akan kunjungan Lui Hong, sekali ini pembesar itu segera mempersilakan pemuda itu memasuki kamar tamu dan dia mau menyambutnya.

(Lanjut ke

Jilid 20) Antara Dendam & Asmara (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 20 Begitu bertemu, Lui Hong lalu memberi homat dan berkata dengan sopan.

"Mohon maaf, kalau saya mengganggu dengan kunjungan saya malam ini."

Jaksa Li Koan menggerakkan tangan mempersilakan dia duduk, dan mereka duduk berhadapan.

"Tidak mengapa, Lui Taihiap. Engkau pernah menolong dan menyelamatkan kami. Hal itu tidak pernah kami lupakan dan tentu saja aku senang menyambut kedatanganmu. Katakanlah, apa maksud kunjunganmu ini?"

"Maafkan saya, Taijin. Sesungguhnya saya datang ke Ibukota ini hanya ingin mendengar tentang keselamatan Taijin sekeluarga. Akan tetapi setelah saya mendengar berita yang tidak rrenyenangkan hati, saya memberanikan diri untuk menghadap Taijin dan menanyakan kebenaran berita itu."

"Hamm, berita apakah yang kau maksudkan, Taihiap?"

"Saya mendengar bahwa Li Siocia telah menikah dengan Leng-Kongcu dan sudah mempunyai seorang putera. Saya ikut berbahagia mendengar berita baik itu, Taijin. Akan tetapi ada berita kelanjutannya yang amat membuat saya heran dan penasaran. Berita itu mengatakan bahwa puteri Taijin kini dipulangkan kepada Taijin. Benarkah berita ini, Taijin, dan kalau benar, mengapa demikian? Apa yang telah terjadi dengan Li Siocia, Taijin?"

Diam-diam Jaksa Li Koan merasa terharu.

Biarpun tidak dapat berjodoh dengan puterinya walaupun mereka saling mencinta, agaknya Lui Hong ini masih memperhatikan keadaan puterinya itu.

Pemuda ini benar-benar amat mencinta Sian Hwa, pikirnya.

Kembali dia merasa menyesal mengapa dahulu dia memisahkan mereka yang kalau dijodohkan kini tentu menjadi sepasang suami-isteri yang berbabagia.

SeteIah menghela napas panjang berulang-ulang dengan wajah sedih, Jaksa Li lalu berkata.

"Ahh, Taihiap, keluarga kami memang mengalami penghinaan dan kami tidak berdaya. Kalau engkau ingin mengetahui sebab-sebabnya, biarlah kau dengar sendiri dari Sian Hwa"

Setelah berkata demikian, Jaksa Li minta Lui Hong menunggu sebentar dan dia melangkah masuk.

Lui Hong menanti dengan jantung berdebar.

Sian Hwa akan menyambut kedatangannya dan menceritakan apa yang terjadi?

Mukanya sebentar merah sebentar pucat karena dia merasa tegang dan juga girang akan dapat berhadapan dan bicara dengan wanita yang tidak pernah meninggalkan lubuk hatinya itu.

Tak lama kemudian terdengar langkah-langkah kaki lembut.

Lui Hong memandang dan muncullah Li Sian Hwa, diikuti pelayan wanita setengah tua yang dulu menyerahkan titipan Sian Hwa berupa surat dan hiasan rambut kepada Lui Hong.

Pelayan yang setia itu kini diajak menemui Lui Hong, tentu untuk menjaga kesopanan karena memang tidak semestinya kalau Sian Hwa yang sudah menjadi isteri orang lain mengadakan pertemuan berdua saja dengan Lui Hong.

Wanita pelayan itu duduk di atas bangku di sudut, agak jauh dalam ruangan tamu itu.

"Leng-Hujin...."

Lui Hong mengangkat kedua tangan ke depan dada memberi hormat. Wajah Sian Hwa agak pucat dan tubuhnya kurus.

"Aih, Lui-ko, kenapa engkau menyebut aku Nyonya Leng? Aku masih Sian Hwa yang dulu, walau sekarang menjadi seorang Sian Hwa yang menderita dan terhina. Duduklah, Ayah bilang bahwa engkau Ingin bertemu dan bicara dengan aku."

Mereka duduk dan Lui Hong berkata.

"Seperti yang telah kukatakan kepada Ayahmu, Hwa-moi, aku datang ke Hang-Chouw dan ingin mendengar tentang berita keadaanmu. Ketika mendengar bahwa engkau telah menikah dengan Leng-Kongcu dan dikurniai seorang putera, aku merasa ikut berbahagia. Akan tetapi kemudian aku mendengar berita bahwa engkau dipulangkan ke rumah orang-tuamu. Nah, aku menjadi penasaran sekali dan aku menghadap Li-Taijin untuk minta penjelasan. Beliau menyuruh aku mendengar sendiri darimu, Hwa-moi. Sesungguhnya, apakah yang terjadi sehingga engkau dipulangkan ke sini?"

Sebelum menjawab, keharuan dan kesedihan memenuhi hati Sian Hwa dan tanpa dapat ditahan lagi ia pun terisak perlahan, menangis.

Lui Hong menanti dengan sabar, membiarkan wanita itu melampiaskan tekanan batinnya melalui air matanya.

Setelah dapat menenangkan hatinya, Sian Hwa dengan suara lirih namun tenang mulai bicara.

"Engkau mengetahui, Lui-ko, aku terpaksa menikah dengan Leng-Kongcu walaupun hatiku tidak suka. Setelah aku menjadi isterinya, mula-mula memang dia bersikap baik. Akan tetapi setelah aku melahirkan puteraku, mulai tampaklah watak aselinya. Dia seorang suami yang amat jahat, Lui-ko, Dia pandai menyakiti hatiku dengan mendatangkan banyak wanita ke rumah dan bersenang-senang dengan mereka tanpa mempedulikan aku. Sesungguhnya, hal itu malah menyenangkan hatiku karena aku memang tidak pernah dapat mencintanya. Akan tetapi setelah sikapnya semakin buruk dan bahkan kejam kepadaku, aku melaporkan kepada Ayah. Tentu saja Ayah menegurnya, akan tetapi apa yang dia lakukan? Engkau mungkin tidak percaya, Lui-ko, dia... dia bahkan berani memaki dan menampar Ayahku!"

"Keparat!"

Lui Hong memaki marah.

"Akan tetapi Ayahmu adalah seorang jaksa, beliau mempunyai kuasa yang cukup besar. Mengapa tidak menyuruh pasukan menangkapnya lalu menuntutnya?"

Sian Hwa menggelengkan kepalanya dengan sedih.

"Ayahku tidak berdaya, Lui-ko. Pangeran Leng Sui memiliki hubungan erat dengan para pejabat tinggi di Istana, bahkan dia bersahabat baik dengan Perdana Menteri Chin Kui yang amat besar kekuasaannya."

"Hemm, lalu mengapa engkau dipulangkan ke rumah orang-tuamu, Hwa-moi?"

"Bukan hanya aku yang disuruh pulang ke rumah orang-tuaku dan tidak boleh kembali ke sana, akan tetapi juga semua selirnya dipulangkan. Baru kemudian aku mendengar bahwa dia telah berhubungan dengan seorang gadis cantik yang memiliki kesaktian dan yang akan menjadi pengawal pribadinya. Menurut keterangan yang sudah kudapatkan dari pelayan di sana, gadis cantik itu kini telah tinggal di rumah Pangeran Leng Sui sebagai pengawal pribadi dan wanita itu yang menuntut agar isteri dan semua selir Pangeran Leng Sui diusir dari rumah, baru ia mau menjadi pengawal pribadinya."

"Ah, jahanam benar mereka itu! Siapa nama gadis itu?"

"Entahlah, menurut keterangan yang kudapatkan, Pangeran Leng Sui menyebut namanya Ceng Ceng. la memang cantik jelita dan tentang kepandaiannya, kabarnya ia sakti seperti iblis. Akan tetapi sesungguhnya, Lui-ko, aku sama sekali tidak berduka dikembalikan ke rumah orang-tuaku karena memang aku hanya menderita sengsara hidup di sana. Akan tetapi tentu saja diusirnya aku dari rumah suami merupakan penghinaan besar bagi keluarga orang-tuaku."

Setelah menceritakan semua ini, Sian Hwa tidak dapat menahan air matanya yang kembali berlinang dan jatuh ke atas kedua pipinya yang pucat. Hati Lui Hong merasa panas sekali.

"Hwa-moi, jangan bersedih. Tenangkan hatimu karena aku pasti akan membalas sakit hatimu terhadap Pangeran Bangsa Yuchen yang brengsek itu!"

"Jangan, Lui-ko...!"

Lui Hong memandang dengan alis berkerut.

"Kau tidak ingin aku memberi hajaran kepada jahanam itu, Hwa-moi? Apakah... apakah engkau masih mencintanya?"

"Aih, Lui-ko, kenapa engkau bertanya begitu? Aku tidak pernah mencinta laki-laki itu! Akan tetapi aku khawatir sekali kalau engkau nanti celaka di tangannya. Dahulu, ketika engkau ditangkap oleh Pangeran Leng, aku masih dapat minta agar engkau dibebaskan. Akan tetapi sekarang dia pasti tidak akan peduli dan kalau engkau berani datang ke sana, engkau pasti akan dikeroyok dan celaka. Aku sama sekali tidak menghendaki hal itu terjadi, Lui-ko. Jangan engkau pergi ke sana...!"

"Jangan khawatir, Hwa-moi, aku dapat menjaga diri. Nah, aku pergi dulu. Sampaikan maaf dan hormatku kepada Ayah-Ibumu."

Lui Hong lalu meninggalkan rumah keluarga Jaksa Li.

Dia segera langsung saja menuju ke gedung tempat tinggal Pangeran Leng Sui yang sudah diketahuinya.

Tiga tahun yang lalu pernah dia mengejar dua orang penjahat yang mencoba membunuhnya sampai ke gedung itu di mana dia dikeroyok dan kemudian ditangkap oleh Pangeran Leng Sui.

Ketika itu, Li Sian Hwa yang minta kepada Pangeran Leng Sui untuk membebaskannya.

Akan tetapi sekarang dia memasuki gedung itu dalam keadaan yang lain daripada dahulu.

Kini dia telah memiliki ilmu yang jauh lebih tinggi.

Setelah menerima gemblengan selama tiga tahun oleh Thai Kek Lojin, kepandaian Lui Hong meningkat dengan hebat.

Dia telah mewarisi Thian-To Kiam-Sut, ilmu pedang yang jarang keduanya pada waktu itu.

Pedangnya kalau dia mainkan dengan ilmu pedang tersebut menjadi seolah halilintar yang bersinar biru dan luar biasa kuatnya.

Selain itu, juga dia kini memiliki ginkang (ilmu meringankan tubuh) dan sinkang (tenaga sakti) yang amat kuat.

Dengan mudah saja tubuhnya berkelebat melompati pagar tembok yang mengelilingi gedung itu tanpa diketahui para penjaga.

Langsung saja dia melayang ke atas wuwungan gedung dan dari sana dia melakukan pengintaian ke bawah.

Akhirnya dengan girang dia melihat Pangeran Leng Sui sedang duduk seorang diri membaca kitab di dalam sebuah ruangan baca yang luas.

Melihat laki-laki yang menyia-nyiakan dan menyengsarakan hidup Li Sian Hwa, satu-satunya wanita yang pernah dikasihinya, hati Lui Hong menjadi panas.

Tidak, dia tidak mau membunuh orang secara sembarangan saja, hal ini akan ditentang oleh Thai Kek Lojin yang menggemblengnya lahir batin.

Akan tetapi dia akan minta pertanggungan jawab Pangeran itu dan kalau perlu memberi hajaran keras atas perbuatannya yang jahat sebagai seorang suami dan Ayah yang menyia-nyiakan isteri dan anak tanpa sebab.

Pangeran Leng Sui sedang membaca kitab dan tentu saja dia terkejut bukan main ketika melihat bayangan berkelebat dan tahu-tahu Lui Hong sudah berdiri tak jauh di depannya!

Dia melompat bangun dan memandang pemuda yang berpakaian sebagai seorang sastrawan itu.

Dia segera mengenal Lui Hong, pemuda yang dia tahu dahulu adalah orang yang mengasihi Li Sian Hwa dan yang pernah ditangkapnya namun dimintakan ampun oleh Li Sian Hwa yang ketika itu baru menjadi tunangannya.

Tentu saja dia marah sekali melihat pemuda lancang ini.

"Hei! Mau apa engkau masuk ke sini seperti pencuri? Apakah kau sudah bosan hidup?"

Bentak Leng Sui sambil mencabut Hek-Liong-Kiam (Pedang Naga Hitam) yang tadinya terletak di atas meja.

Dia sama sekali tidak merasa takut karena selama ini dia telah memperdalam ilmu pedangnya di bawah petunjuk Gurunya, yaitu Pek-Bin Giam-Lo yang seringkali datang berkunjung ke Hang-Chouw, atau dia yang berkunjung ke An-keng di mana Pek-Bin Giam-Lo bertugas.

Lui Hong menudingkan telunjuknya ke arah muka Pangeran Leng Sui.

"Leng Sui, engkau seorang laki-laki yang jahanam dan jahat, seorang suami yang bertindak kejam, menyia-nyiakan isteri yang tak berdosa, seorang Ayah yang jahat, menelantarkan puteranya. Aku datang untuk menuntut pertanggungan jawabmu terhadap Li Sian Hwa dan puteranya yang menjadi tanggunganmu, akan tetapi yang kau sia-siakan dan kau usir dengan kejam! Engkau telah menghina keluarga Li dan untuk itu engkau harus bertanggung jawab!"

"Ha-ha-ha, engkau ini laki-laki tak tahu malu. Masih juga mengejar Li Sian Hwa yang sudah memilih orang lain untuk menjadi suaminya? Li Sian Hwa adalah isteriku, aku mau berbuat apa pun terhadap ia dan anaknya, adalah urusan pribadiku. Engkau ini orang luar mau apa ikut campur? Tak tahu malu!"

"Leng Sui, engkau boleh jadi seorang Pangeran, akan tetapi watakmu rendah seperti seorang jahanam keparat! Aku menuntut pertanggungan jawabmu. Engkau harus segera datang menghadap keluarga Li dan minta maaf atas penghinaanmu. Engkau mengajak kembali isteri dan anakmu dengan terhormat ke rumahmu, atau engkau ceraikan dia dengan hormat pula."

"Huh, sombong! Kalau aku tidak mau, engkau bisa berbuat apa?"

"Terpaksa aku akan menghajarmu agar engkau tidak akan mengulang perbuatanmu yang jahat!"

"Setan, mampuslah!"

Leng Sui lalu menerjang dengan Hek-Liong-Kiam, gerakannya ganas dan mematikan.

Akan tetapi dengan tenang namun lincah Lui Hong mengelak dan mencabut pedangnya.

Tampak sinar biru langit menyambar bagaikan kilat ketika dia menggerakkan pedangnya.

"Tranggg....!"

Leng Sui terkejut karena pedangnya terpental dan tangannya terasa tergetar hebat sampai terasa panas telapak tangannya.

Namun dia menyerang lagi dan terjadilah pertandingan pedang di ruangan yang luas itu.

Akan tetapi, baru belasan jurus saja, sinar biru langit menyambar dekat kepala Leng Sui dan Pangeran itu menjerit, lalu tangan kirinya mendekap kepala bagian kiri menutupi luka karena daun telinga kirinya telah putus dan terlempar entah ke mana.

Darah mengucur deras dari bekas tempat daun telinga itu menempel.

Lui Hong sudah mengambil keputusan untuk tidak membunuh melainkan memotong kedua daun telinga Pangeran itu.

Pedangnya kembali menyambar, kini menuju ke arah telinga kanan.

Akan tetapi tiba-tiba ada benda menyambar dari atas dan ternyata itu adalah seekor ular kobra yang menyambar ke arah leher Lui Hong!

Tentu saja Lui Hong terkejut dan menarik pedangnya yang menyerang telinga kanan Leng Sui, lalu menangkis ke arah ular yang terbang itu.

"Tranggg !"

Lui Hong merasa betapa ular itu keras seperti baja dan pertemuan itu mendatangkan bunga api berpijar.

Jelas itu bukan seekor ular biasa, melainkan sebatang tongkat ular kobra yang sudah menjadi senjata amat kuat.

Dia melihat munculnya seorang Kakek yang mukanya putih seperti tengkorak, bersorban, tinggi kurus berkepala botak.

Dia pernah mendengar bahwa tokoh seperti itu adalah Pek-Bin Giam-Lo, orang yang dicari-cari Han Bun dan Pek Giok dan yang menjadi tersangka pembunuhan atas diri Can-Kauwsu dan Song-Kauwsu.

Kini, Kakek itu menggerak-gerakkan kedua tangannya ke arah ular kobra yang melayang-layang di atas sehingga senjata itu terus menyerang Lui Hong secara bertubi-tubi.

Pangeran Leng Sui kini terduduk di kursi sambil memegangi kepala sebelah kiri.

Lui Hong maklum bahwa Kakek itu mempergunakan ilmu hitam untuk menyerangnya dengan tongkat ular kobra yang seperti hidup dan terbang melayang-layang, menyerangnya dengan sambaran-sambaran yang amat dahsyat dan kuat.

Akan tetapi dia tidak merasa takut karena sesungguhnya dia telah dibekali tenaga sakti dari Gurunya untuk menolak pengaruh ilmu hitam.

Juga permainan pedangnya mendatangkan gulungan sinar biru langit yang menghadang semua serangan tongkat ular kobra itu.

Dia masih ingin melanjutkan hukumannya kepada Leng Sui dengan membuntungi daun telinga kanannya, maka Lui Hong terus mendesak dan melawan tongkat ular kobra itu.

Tiba-tiba tampak ada sinar putih melayang dan menyerang Lui Hong!

Sinar putih ini tidak kalah cepat dan kuatnya dibandingkan tongkat ular kobra.

Bagaikan kilat sinar putih itu menyambar ke arah kepala Lui Hong.

Pemuda itu menangkisnya sambil mengerahkan tenaga.

"Tranggg !!"

Lui Hong terkejut karena merasa tangannya tergetar hebat. Dia memandang dan ternyata sinar putih itu adalah sebatang pedang yang dipegang oleh seorang gadis yang cantik jelita, berpakaian mewah.

"Ceng Ceng, tangkap jahanam ini hidup-hidup!"

Terdengar Pangeran Leng Sui berseru kepada gadis itu.

Mendengar ini, Ceng Ceng lalu berkemak-kemik membaca mantra dan tampak asap hitam mengepul dan bergerak ke arah Lui Hong.

Pemuda itu tiba-tiba mencium bau yang amat harum dan kepalanya menjadi pening.

Dia terkejut karena maklum bahwa gadis yang ternyata Ceng Ceng seperti yang dia tadi dengar dari Sian Hwa, yang katanya merupakan penyebab Sian Hwa dan para selir diusir dan juga kabarnya memiliki ilmu kepandaian tinggi, ternyata menguasai ilmu hitam.

Cepat ia mengerahkan tenaga saktinya untuk bertahan dan maklum bahwa dia menghadapi dua orang lawan yang amat tangguh, Lui Hong lalu menggunakan sinar pedangnya yang biru langit untuk melompat keluar dari ruangan itu.

"Jangan lari!"

Bentak Pek-Bin Giam-Lo dan bersama Ceng Ceng dia melakukan pengejaran.

Setibanya di wuwungan, Lui Hong terpaksa berhenti dan memutar tubuh untuk menangkis serangan dua orang lawan itu.

Untungnya malam itu gelap sekali dan sinar pedangnya yang biru langit itu kini membentuk gulungan sinar yang amat lebar.

Dia telah menggunakan ilmu pedang Thian-To Kiam-Sut dan dengan permainan pedang ini, serangan tongkat kobra dan pedang Pek-Coa-Kiam (Pedang Ular Putih) dari dua orang lawannya itu tidak mampu terlalu mendesaknya.

Ketika mendapatkan kesempatan, Lui Hong lalu melompat jauh dan menghilang dalam lindungan kegelapan malam.

Terpaksa Pek-Bin Giam-Lo dan Ceng Ceng tidak dapat mengejar karena gelap sekali.

Mereka pun maklum akan kelihaian ilmu pedang lawan, maka mengejar lawan yang demikian lihai dalam malam gelap sungguh berbahaya bagi mereka sendiri.

Maka keduanya lalu kembali ke dalam gedung dan mengobati telinga kiri Leng Sui yang buntung!

Biarpun dia hanya dapat membuntungi telinga kiri Leng Sui, namun hati Lui Hong sudah agak puas dapat memberi pelajaran dan peringatan kepada Pangeran Leng Sui.

Setidaknya penghinaan atas diri Sian Hwa dan keluarganya sudah agak dapat terbalas.

Dia lalu mencari tempat penginapan.

Karena dia tahu bahwa Leng Sui pasti akan menyebarkan orang-orangnya untuk mencarinya, maka Lui Hong tidak mau menyewa kamar di rumah penginapan.

Dia lalu memasuki sebuah Kuil di mana dahulu ketika dia mempelajari sastra di Kotaraja telah dikenalnya dan dia bermalam di Kuil itu, diterima dengan senang oleh Hwesio kepala.

Baru besok lusanya, pagi-pagi sekali dia keluar dari Kuil dan membaur dengan banyak orang dalam kesibukan pagi itu, lewat di depan gedung Pangeran Leng Sui.

Kebetulan sekali pagi itu dia melihat Ceng Ceng keluar seorang diri dari gedung itu.

Dia segera mengenalnya sebagai gadis cantik yang menyerangnya dengan pedang sinar putih kemarin malam, maka dia segera membayangi gadis yang dia tahu adalah gadis pengawal pribadi Pangeran Leng Sui yang namanya Ceng Ceng dan yang menurut cerita Sian Hwa menjadi penyebab diusirnya Sian Hwa dari gedung suaminya.

Gadis itu ternyata pergi ke Telaga Barat.

Sambil bersembunyi Lui Hong mengintai, melihat gadis itu membeli makanan dan minuman, menaruhnya dalam sebuah perahu kecil yang disewanya dari pemilik perahu.

Kemudian, dengan terheran-heran dan terkejut, dia melihat gadis itu menyongsong kedatangan Song Han Bun dan menyambut pemuda itu dengan mesra!

Dapat dibayangkan betapa marah dan panas hati Lui Hong.

Bukan hanya marah karena Han Bun bermesraan dan pesiar dalam perahu bersama Ceng Ceng, gadis kaki tangan Pangeran Leng Sui yang menjadi penyebab sengsaranya Sian Hwa, melainkan karena Han Bun dianggapnya tidak setia cintanya terhadap Pek Giok.

Dengan gadis mana pun Han Bun tampak bermesraan, dia pasti akan tidak merasa senang dan merasa kasihan kepada Pek Giok.

Demikianlah, diam-diam Lui Hong mencatat dalam hatinya bahwa Han Bun adalah seorang pemuda yang tidak setia kepada kekasihnya, Pek Giok.

Dia lalu kembali ke Kuil dan mengambil keputusan untuk malam nanti berkunjung kepada Sian Hwa.

Dia tidak berani berkunjung pada siang hari, khawatir ada yang melihatnya dan akan berakibat tidak baik bagi keluarga Li.

Diam-diam Han Bun menaruh curiga kepada Ceng Ceng.

Memang harus dia akui bahwa Ceng Ceng bersikap baik sekali kepadanya dan dia tahu pula bahwa gadis puteri Ketua Beng-Kauw itu jatuh cinta kepadanya, dan kiranya tidak mungkin berbohong kepadanya.

Akan tetapi mengingat akan watak gadis itu sebagai tokoh Beng-Kauw, bukan hal mustahil pula kalau ia memiliki watak aneh dan terkadang sesat.

Maka dia tetap berhati-hati dan ingin menyelidiki tentang Pek-Bin Giam-Lo melalui sumber lain, yaitu melalui Pangeran Liang Tek Ong yang sudah dikenalnya dengan baik.

Pada keesokan harinya dia berkunjung ke Istana Pangeran Liang Tek Ong.

Pangeran Liang Tek Ong berusia sekitar empat puluh tiga tahun dan dia merupakan adik sepupu dari Kaisar Sung Kao Cu.

Karena Pangeran Liang Tek Ong sejak mudanya memang telah berjasa besar, menjadi pejabat yang menduduki pangkat cukup tinggi dan pengaruhnya juga lumayan besar saking terbukti setia kepada Kerajaan, maka Kaisar Sung Kao Cu percaya penuh kepadanya.

Dia merupakan seorang di antara para kerabat istana yang memiliki kedudukan tinggi dan yang sukar dipengaruhi Perdana Menteri Chin Kui.

Kalau para pejabat tinggi lainnya sebagian besar menjadi bawahan dan tunduk kepada Perdana Menteri Chin Kui, Pangeran Liang Tek Ong tidak pernah demikian.

Bahkan dia seringkali menyatakan ketidak-setujuannya kepada Sri Baginda Kaisar kalau Perdana Menteri Chin Kui mengambil keputusan yang dianggapnya merugikan Kerajaan Sung.

Oleh karena itu, diam-diam di antara mereka terdapat suatu perasaan tidak senang, namun karena keduanya memiliki pengaruh besar terhadap Sri Baginda Kaisar, maka mereka tidak memperlihatkan pertentangan secara terbuka.

Ketika Song Han Bun diperkenankan masuk menjumpai Pangeran Liang Tek Ong di ruangan tamu, Pangeran itu menyambutnya dengan gembira.

Pangeran itu sedang bermain-main dengan dua orang anak-anak, seorang anak laki-laki berusia sekitar tiga tahun dan seorang anak perempuan yang usianya baru setengah tahun.

"Song Tai-hiap, selamat datang!"

Seru Pangeran Liang Tek Ong dengan gembira.

"Bagaimana hasil penyelidikanmu? Sudah kau temukankah Datuk yang kau kira membunuh Ayahmu itu?"

Han Bun merasa tidak enak karena sudah dua kali dia berkunjung dan khawatir kalau-kalau mengganggu Pangeran yang sedang bersantai dengan dua orang anak kecil itu.

"Terimalah hormat saya, Pangeran, dan harap Paduka maafkan kalau kedatangan saya mengganggu Pa-duka."

"Ah, tidak sama sekali. Kau duduklah dan lihat mereka ini. Sehat dan manis-manis, bukan? Ini adalah cucuku, yang pertama ini laki-laki bernama Liang Sin Cu, dan yang masih kecil ini perempuan bernama Liang Hong Cu. Mereka ini anak dari putera tunggalku Liang Sun."

Pangeran itu lalu menyerahkan dua orang bocah itu kepada dua orang pengasuh yang berada di situ. Mereka membawa dua orang anak itu keluar ruangan tamu atas isarat Pangeran Liang Tek Ong.

"Nah, mari kita bicara, Song Taihiap. Apa yang dapat kami bantu sekarang?"

"Pangeran, saya sudah melakukan penyelidikan ke rumah Pangeran Leng Sui, akan tetapi saya tidak menemukan Pek-Bin Giam-Lo. Saya sebaliknya bertemu dengan seorang wanita yang agaknya juga bekerja kepada Pangeran Leng Sui itu dan saya mengenal baik gadis itu. la berjanji kepada saya untuk memberi kabar kalau Pek-Bin Giam-Lo datang ke rumah Pangeran Leng Sui."

"Hemm, siapakah nama gadis itu, Taihiap?"

"Namanya Siangkoan Ceng, seorang gadis lihai puteri Ketua Beng-Kauw, Pangeran. Apakah Paduka mengenalnya?"

Pangeran Liang Tek Ong mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Kami pernah mendengar bahwa ada gadis kang-ouw yang tadinya bekerja kepada wakil Bangsa Mongol lalu ia pindah bekerja kepada Pangeran Leng Sui. Hemm, orang-orang asing, terutama Cin itu semakin kurang ajar! Semua ini salahnya Perdana Menteri yang terlalu memberi hati kepada mereka! Makin lama mereka semakin kurang ajar dan tidak menghormati Bangsa kita sebagai tuan rumah. Bahkan baru-baru ini telah terjadi hal yang amat menyakitkan hatiku, Song Taihiap. Di Kotaraja ini tinggal seorang Pangeran Bangsa Cin yang lagaknya seperti seorang sastrawan kaya pribumi. Dia telah menarik hati dan berhasil menikahi puteri seorang pejabat Kerajaan. Akan tetapi baru beberapa pekan ini aku mendengar betapa dia menyia-nyiakan isterinya itu dan mengusirnya dari rumahnya tanpa sebab. lni merupakan penghinaan besar, apalagi kabarnya dia menghina pejabat itu dan memukulnya. Aku tidak akan tinggal diam, aku sedang memikirkan cara untuk bertindak dan menghukumnya, kalau perlu mengusirnya dari Kotaraja!"

"Maaf, Pangeran, apakah Paduka mengetahui tentang Pek-Bin Giam-Lo yang sedang saya cari itu?"

Pangeran itu menganggukkan kepalanya.

"Aku mendengar tentang nama itu. Menurut pelaporan penyelidikku, memang belum lama ini datang seorang Kakek bersorban yang tampangnya menyeramkan, seperti tengkorak hidup dan dia menjadi tamu Pangeran Leng Sui Bangsa Yuchen itu."

"Terima kasih, Pangeran. Kalau begitu, saya tidak akan ragu lagi untuk mencarinya di gedung Pangeran itu."

"Hati-hati, Song Taihiap. Aku mendengar bahwa Pangeran Leng Sui memiliki jagoan-jagoan yang sakti dan berbahaya sekali. Kalau engkau pergi ke sana seorang diri, bukan mustahil engkau akan menghadapi pengeroyokan banyak orang yang berilmu tinggi. Sedangkan Kakek muka tengkorak itu saja menurut penyelidikan orang-orangku memiliki ilmu seperti iblis. Belum para pengawal lainnya."

Han Bun teringat akan Ceng Ceng.

Gadis itu juga menjadi pengawal Pangeran Leng Sui dan dia tahu bahwa kini Ceng Ceng tidak dapat dipandang ringan.

Bukan Ceng Ceng tiga tahun yang lalu, melainkan seorang gadis yang sudah matang ilmunya dan tentu jauh lebih lihai daripada dahulu.

Akan tetapi dia tidak khawatirkan Ceng Ceng.

Gadis itu mencintanya, pasti tidak akan memusuhinya, bahkan mungkin bisa diharapkan bantuannya kalau dia sampai mengalami pengeroyokan bila hendak minta pertanggungan jawab Pek-Bin Giam-Lo.

"Jangan khawatir, Pangeran. Saya tidak bermaksud memusuhi orang-orang Yuchen dari Kerajaan Cin, melainkan hanya ingin menemui Pek-Bin Giam-Lo dan minta pertanggungan jawabnya."

Setelah Song Han Bun meninggalkan Istana Pangeran Liang Tek Ong, Pangeran itu tetap saja merasa tidak enak dan khawatir.

Maka dia lalu mengumpulkan para perwiranya dan memerintahkan mereka memantau dengan waspada dan mempersiapkan seregu pasukan yang tangguh untuk sewaktu-waktu membantu kalau Han Bun mengalami ancaman di gedung Pangeran Leng Sui.

Benar seperti yang dikhawatirkan Lui Hong, Pangeran Leng Sui tidak mau menerima begitu saja penghinaan pemuda itu yang telah membuntungi telinga kirinya.

Dia marah sekali dan dia mengerah-kan para tukang pukul dan pengawalnya untuk mencari Lui Hong.

Akan tetapi tidak ada yang dapat menemukan Lui Hong yang bersembunyi di dalam Kuil.

Ketika Ceng Ceng mendengar apa yang terjadi atas diri Pangeran Leng Sui yang kehilangan daun telinga kirinya, ia terkejut dan bertanya langsung kepada Pangeran itu.

"Pemuda jahanam itu adalah kekasih Li Sian Hwa sebelum ia menjadi isteriku. Dulu, tiga tahun yang lalu dia juga pernah mengacau ke sini dan berhasil kami tangkap, akan tetapi Li Sian Hwa yang ketika itu baru menjadi tunanganku, minta agar dia dibebaskan. Sekarang dia datang lagi, agaknya hendak membalaskan sakit hati Sian Hwa yang kuusir dari rumah ini."

"Akan tetapi, Pangeran, saya lihat penyerang itu memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali sehingga Pek-Bin Giam-Lo dan saya gagal mengejar dan menangkapnya!"

Seru Ceng Ceng heran.

"Hemm, memang benar. Agaknya selama ini dia telah memperdalam ilmunya. Sungguh aku merasa penasaran sekali kalau belum dapat membalas dendam dengan memotong lehernya!"

Katanya sambil meraba bekas tempat daun telinga kirinya yang kini buntung itu. Dia menjadi semakin penasaran ketika orang-orangnya tidak berhasil menemukan Lui Hong.

"Pangeran, harap jangan penasaran dan khawatir. Apa sih sukarnya menangkap pemuda itu? Saya kira tidak akan sukar!"

"Hemm, benarkah itu, Ceng Ceng? Bagaimana engkau akan dapat menemukannya? Orang-orangku tidak berhasil menemukannya! Padahal engkau belum pernah mengenalnya, baru bertanding sekejap dan engkau juga tidak tahu namanya?"

"Siapakah namanya, Pangeran? Percayalah, saya akan mampu menangkapnya."

"Namanya Lui Hong. Sekarang cepat katakan, di mana dia dan bagaimana engkau akan mencari dan menemukan dia!"

"Tidak perlu kita cari, Pangeran. Biarlah dia yang akan datang sendiri ke sini menyerahkan diri!"

"Ceng Ceng, apa maksudmu? Jangan main-main!"

Kata Pangeran Leng Sui. Tiba-tiba terdengar suara parau.

"Siapa berani main-main terhadap Pangeran Leng?"

Dan muncullah si empunya suara, yaitu Pek-Bin Giam-Lo.

"Paman,"

Kata Pangeran Leng Sui yang menyebut Paman kepada Kakek yang kini selain menjadi pembantu, juga menjadi Gurunya itu.

"Nona Siangkoan Ceng ini mengatakan bahwa dia dengan mudah akan dapat membuat si jahanam Lui Hong yang menghinaku itu datang ke sini dan menyerahkan diri kepada kita!"

Sepasang mata yang cekung bersembunyi dalam kepala itu bersinar penuh selidik ketika memandang ke arah wajah Ceng Ceng.

"Hemm, Nona muda, kami tahu akan kelihaianmu, akan tetapi harap jangan membual seperti itu. Pemuda she Lui itu bukan seorang musuh yang lemah. Aku sendiri belum berhasil menemukannya, bagaimana engkau dapat menjanjikan bahwa dia akan datang dan menyerahkar diri?"

"Pek-Bin Giam-Lo, ilmu silat tinggi saja terkadang tidak ada gunanya kalau tidak disertai kecerdikan. Apa yang tidak dapat tercapai oleh tenaga, dapat dicapai oleh kecerdikan. Aku yakin bahwa kalau menggunakan kecerdikanku, dalam satu dua hari saja kita akan dapat meringkus Lui Hong yang akan datang menyerahkan dirinya ke sini!"

"Aih, Ceng-moi, cepat katakan, siasat apa yang akan kau pergunakan itu?"

Tanya Pangeran Leng Sui penuh harapan akan segera dapat membalas dendam kepada Lui Hong.

"Paduka adalah suami dari Li Sian Hwa dan Ayah dari puteranya, tentu dengan mudah dapat minta kepada Ayah mertua Paduka agar isteri dan anak itu dapat kembali ke sini."

Pangeran itu mengerutkan alisnya.

Dia tidak mengerti.

Yang minta agar semua isteri dan selirnya diusir dari gedungnya adalah Ceng Ceng, bagaimana sekarang gadis ini malah menganjurkan dia agar menerima Sian Hwa dan puteranya kembali?

"Ah, Ceng-moi!

Ucapanmu itu sungguh tidak.

kumengerti dan membingungkan.

Apa sih maksudmu?"

Tanya Pangeran itu ragu.

"Heh-heh-heh!"

Pek-Bin Giam-Lo memperdengarkan suara tawanya yang menyeramkan.

"Nona Siangkoan Ceng memang cerdik sekali! Siasat yang amat bagus! Pemuda yang mati-matian mencinta wanita itu sehingga berani menyerang Paduka Pangeran, pasti akan membelanya kalau ia ditahan di sini."

"Hemm, kiranya Pek-Bin Giam-Lo masih memiliki kecerdikan juga!"

Puji Ceng Ceng.

"Pangeran, setelah isteri dan putera Paduka berada di sini, lalu Paduka umumkan bahwa kalau Lui Hong tidak mau datang menyerahkan diri, maka wanita dan anaknya itu akan dihukum mati. Saya tanggung bahwa Lui Hong pasti akan datang menyerahkan diri!"

Mendengar ini, wajah Pangeran Leng Sui berseri-seri.

Akan terlaksana keinginannya membalas dendam kepada Lui Hong!

Saking girangnya hampir dia lupa diri dan kalau tidak ingat bahwa di situ terdapat Pek-Bin Giam-Lo dia tentu sudah merangkul Ceng Ceng.

Akan tetapi hal ini pun belum tentu dia berani melakukannya karena selama ini gadis itu tidak mau dia perlakukan sesuka hatinya.

Begitu menerima usul Ceng Ceng, saat itu juga Pangeran Leng Sui segera pergi mengunjungi rumah Jaksa Li.

Keluarga Li menyambutnya dengan kaget.

Akan tetapi dengan sikap sopan dan wajar Pangeran Leng Sui minta maaf kepada Ayah mertuanya bahwa dalam keadaan jengkel dan mabok dia pernah menyuruh isterinya pulang ke rumah orang-tuanya.

Dia menyatakan penyesalannya dan mohon maaf lalu mengajak anak isterinya pulang ke gedungnya.

Sebetulnya, Li Sian Hwa dan Ayah-Ibunya tidak setuju, akan tetapi bagaimana mereka mampu menolaknya?

Pangeran Leng Sui masih menjadi suami Li Sian Hwa yang sah.

Mereka tidak pernah bercerai dan laki-laki itu berhak sepenuhnya atas diri isteri dan anaknya.

Terpaksa Sian Hwa menurut saja diboyong kembali ke gedung Pangeran Leng Sui, walaupun di dalam hatinya ia merasa sedih dan khawatir.

Setelah menahan Li Sian Hwa dan Leng Bu San, anak laki-laki berusia setahun itu dalam gedungnya, mulailah Pangeran Leng Sui mengeluarkan ancaman yang didengar oleh keluarga Li bahwa kalau Lui Hong tidak mau datang menyerahkan diri kepada Pangeran itu, keselamatan Li Sian Hwa tidak dijamin!

Mendengar ini tentu saja Jaksa Li dan keluarganya menjadi gelisah sekali.

Baru Jaksa Li maklum bahwa puterinya diambil hanya untuk memaksa Lui Hong datang menyerahkan diri.

Bagaimana kalau pendekar itu tidak mau datang?

Dia mengkhawatirkan keselamatan puteri dan cucunya!

Malam itu Lui Hong datang berkunjung ke gedung Jaksa Li dan alangkah kaget dan marahnya ketika dia mendengar betapa Li Sian Hwa dan puteranya ditarik kembali oleh Pangeran Leng Sui, semacam disandera untuk memaksa dia menyerahkan diri kepada Pangeran itu.

Saking marahnya, dia malam itu juga hendak mengamuk ke gedung Pangeran Leng Sui untuk membebaskan Li Sian Hwa, akan tetapi Ayah Sian Hwa melarangnya, dan Ibunya juga menangis dan mencegahnya.

"Lui Tai-hiap, kalau engkau memaksa, anak kami pasti akan menjadi korban,"

Demikian kata suami-isteri itu.

"Habis bagaimana, Li Taijin? Apakah kita harus diam saja?"

Bantah Lui Hong penasaran.

"Tunggu sampai besok pagi, Taihiap. Aku sendiri akan minta tolong kepada Pangeran Liang Tek Ong. Hanya beliau yang akan berani menentang Leng Sui yang bersahabat dengan Perdana Menteri Chin Kui. Beliau pasti mau menolongku."

Mendengar ini, Lui Hong menyetujui karena dia pun maklum kalau dia turun tangan, belum tentu dia dapat mengalahkan Pek-Bin Giam-Lo dan wanita lihai bernama Ceng Ceng itu dan sementara itu, bisa saja untuk memaksanya menyerah, Pangeran Leng Sui akan mengancam untuk membunuh Li Sian Hwa di depannya.

Maka dia pun bersabar sampai besok dan kembali ke tempat persembunyiannya di Kuil.

Pangeran Liang Tek Ong cepat menanggapi laporan dan permohonan pertolongan Jaksa Li kepadanya tentang puterinya yang seolah disandera Pangeran Leng Sui.

Dia segera menghadap Kaisar melalui jalur keluarga Istana dan berhasil mendapatkan ijin dari Sri Baginda Kaisar untuk kalau perlu menindak Pangeran Kerajaan Cin yang jelas melakukan tindakan kejahatan itu.

Kalau bukan Pangeran Liang Tek Ong, belum tentu Kaisar dapat memberikan ijin tertulis itu, Pangeran Liang Tek Ong bergegas pulang membuat persiapan dengan seregu pasukan khusus.

Akan tetapi sebelum ada yang melakukan gerakan, pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali, di halaman gedung tempat tinggal Pangeran Leng Sui telah terjadi keributan.

Seorang gadis cantik jelita berusia sekitar dua puluh tahun berpakaian serba hijau, berkulit putih mulus, wajahnya bulat telur dengan sepasang mata indah seperti bintang, tubuhnya ramping padat, menggendong pedang, dengan sikap gagah melangkah masuk pintu gerbang yang dijaga lima orang pengawal Bangsa Yuchen.

Lima orang perajurit itu segera menghadangnya dengan sikap garang, akan tetapi tentu saja mereka tertarik sekali melihat gadis yang demikian cantik jelita.

"Hei, Nona, berhenti! Siapa engkau dan siapa mengijinkan engkau memasuki halaman ini?"

Bentak seorang di antara mereka.

Can Pek Giok, gadis itu, memandang galak.

Senyumnya melebar dan hanya orang yang mengenalnya dengan baik saja yang akan merasa tegang menyaksikan berkembangnya senyum ini karena itu menandakan adanya bahaya bagi orang yang menentangnya!

"Kalian tidak perlu tahu aku siapa.

Cepat kalian panggil keluar Kakek muka tengkorak Pek-Bin Giam-Lo untuk menemui aku atau aku akan masuk sendiri dan menyeretnya keluar!"

Lima orang pengawal itu saling Pandang dan melongo dengan mata terbelalak dan mulut ternganga, terheran-heran mendengar ada seorang gadis muda berani mengeluarkan ucapan yang demikian menghina dan merendahkan Pek-Bin Giam-Lo yang membuat mereka merasa ngeri kalau berhadapan.

"Hei, Nona muda, apakah engkau sudah gila? Ataukah engkau sudah bosan hidup?"

Bentak pemimpin regu penjaga ini sambil mencabut goloknya, diturut oleh empat orang kawannya karena sejak terjadi penyerangan atas diri Pangeran Leng Sui, mereka selalu waspada dan mencurigai gadis yang tak salah lagi bersikap menantang dan mengacau ini.

Dengan sigap, mereka berlima yang bukan merupakan pengawal-pengawal biasa yang lemah telah berloncatan mengepung Pek Giok.

Tanpa bergerak sedikit pun, seolah sama sekali tidak peduli bahwa ia dikepung dari depan belakang dan kanan kiri, Pek Giok berkata.

"Kalian berlima yang gila dan kalianlah yang sudah bosan hidup kalau tidak segera kalian turuti perintahku. Hayo cepat panggil ke sini Pek-Bin Giam-Lo!"

Marahlah lima orang itu. Mereka adalah perajurit Cin pilihan dan sekarang dipandang rendah oleh seorang gadis yang masih muda sekali, masih remaja, tentu saja mereka merasa terhina dan malu.

"Tangkap gadis ini hidup-hidup dan seret ke depan Pangeran!"

Bentak pemimpin regu.

Mereka agaknya masih memandang ringan dan mendengar aba-aba ini, mereka menyarungkan kembali golok mereka dan seolah hendak berlumba meringkus tubuh gadis yang padat semampai itu.

Sepuluh buah tangan dijulurkan dari segala penjuru hendak menangkap Pek Giok.

Tiba-tiba tubuh gadis itu lenyap bentuknya, berubah menjadi bayangan berpusing cepat dan tahu-tahu ada angin yang amat kuat ikut berpusing dan menyambar serta mendorong lima orang pengawal itu sehingga mereka terpelanting keras ke atas tanah bagaikan sekumpulan daun kering tertiup angin kencang!

Tentu saja mereka berteriak kaget dan kesakitan karena tubuh mereka terbanting.

Akan tetapi mereka tidak terluka dan biarpun mereka terkejut, namun kemarahan membuat mereka seolah tidak menyadari bahwa mereka berhadapan dengan seorang gadis yang sakti!

Kemarahan membuat mereka kembali mencabut golok dan kini serentak mereka mengepung lalu menyerang dengan ganas, membacokkan golok mereka dari semua jurusan ke arah tubuh Pek Giok!

Tadinya, melihat lima orang pengeroyoknya sudah roboh terpelanting, Pek Giok sudah menghentikan pusingan tubuhnya.

Kini, melihat mereka malah nekat menyerangnya dengan golok telanjang, ia menjadi marah.

Tubuhnya bergerak cepat, bagaikan seekor burung yang lincah, tubuh itu berkelebatan ke kanan kiri, muka belakang, kaki tangannya bergerak cepat dan kembali lima orang perajurit itu berteriak kesakitan, golok mereka beterbangan dan tubuh mereka berpelantingan lebih keras daripada tadi sehingga kini mereka tidak mudah untuk segera bangkit karena tubuh mereka terasa nyeri semua, ada yang lecet-lecet kulitnya, ada yang memar bengkak, bahkan ada yang patah tulang lengan atau kakinya!

Golok mereka terbang entah ke mana dan kini mereka mengeluh dan mengerang, mencoba untuk merangkak dan menjauhi gadis yang kini membuat mereka merasa ketakutan itu.

Pada saat itu, dari dalam gedung tempat tinggal Pangeran Leng Sui muncul seorang gadis cantik lain.

Ia adalah Siangkoan Ceng!

Ketika ia pagi itu sudah siap untuk pergi mencari Song Han Bun dan sudah mandi dan berpakaian rapi, ia mendengar suara teriakan para penjaga di pintu gerbang.

Maka cepat ia keluar dan melihat para penjaga itu merangkak-rangkak sambil menjauhi seorang gadis berpakaian serba hijau yang berdiri tegak bertolak pinggang, tahulah ia bahwa ada musuh datang mengacau.

Sekali ia menggerakkan tubuhnya, Ceng Ceng sudah berkelebat cepat menuju ke pintu gerbang.

Pek Giok yang sudah masuk melihat berkelebatnya bayangan orang dan tiba-tiba saja muncul seorang gadis cantik berpakaian mewah dan rambut kepalanya dihias setangkai kembang merah.

Gadis cantik itu selain berpakaian sutera serba baru dan mewah, juga munculnya membawa bau harum yang menyengat hidung.

Agaknya ia menggunakan minyak wangi yang terlalu banyak sehingga keharumannya berlebihan, menyengat dan bagi Pek Giok menimbulkan rasa muak!

Ia tidak tahu siapa wanita ini, akan tetapi melihat kemunculannya, ia dapat menduga bahwa gadis muda ini bukan merupakan lawan yang lunak.

Maka Pek Giok siap dan waspada menatap wajah Ceng Ceng.

Dua orang wanita muda yang sama-sama cantik jelita ini berdiri berhadapan dalam jarak tiga tombak, saling bertukar pandang penuh selidik.

"Siapakah engkau?"

Ceng Ceng membentak.

"Kalau engkau kawan Pangeran Leng Sui, bicaralah baik-baik dan mengapa engkau menyerang para penjaga? Sebaliknya, kalau engkau lawan Pangeran, bersiaplah untuk mampus di tanganku!"

Pek Giok tersenyum, manis sekali ketika bibirnya yang penuh dan merah itu bergerak sinis, mengejek.

"Kiranya perempuan macam engkau ini yang dikenal orang dengan sebutan siluman rase yang kalau menyamar menjadi seorang perempuan amat genit dan mewah, memakai minyak wangi berlebihan sehingga baunya menjijikkan! Aku datang tidak mempunyai urusan dengan seekor iblis betina kuntilanak macam engkau, maka enyahlah sebelum kukirim engkau kembali ke neraka tempat asalmu!"

Sepasang mata Ceng Ceng bagaikan mengeluarkan api!

Ia marah akan tetapi juga terkejut dan heran.

Beraninya gadis ini!

Wajahnya juga berubah merah sekali mendengar penghinaan yang belum pernah selama hidup ia alami itu.

la tidak mengenal gadis itu dan tidak dapat menduga siapa ia, akan tetapi ia dapat menduga bahwa gadis itu pasti bukan orang sembarangan dan cukup lihai untuk berani bersikap seperti itu.

Maka, diam-diam ia mengerahkan tenaga ke arah kedua telapak tangannya, tenaga sakti yang mengandung kekuatan sihir, lalu ia mendorongkan kedua telapak tangannya itu bergantian ke arah Pek Giok sambil mengeluarkan bentakan yang mengandung penuh wibawa.

"Roboh kau ...!!!"

Jarak antara mereka sejauh tiga tombak akan tetapi hawa pukulan yang terbawa oleh dorongan dua telapak tangan itu sangat kuat, bahkan mengeluarkan bunyi menderu, menerpa ke arah Pek Giok!

Akan tetapi gadis ini memang sudah sejak tadi waspada, maka ia sama sekali tidak menjadi gugup menghadapi serangan yang amat dahsyat itu.

Pek Giok juga dapat merasakan adanya kekuatan sihir terkandung baik dalam serangan tenaga maupun serangan suara itu.

Ia mengerahkan tenaga sakti yang meluncur keluar dari Tan-Tian (pusat bawah pusar) berikut kekuatan batin yang memancar keluar dari lubuk hati, yang pertama untuk melawan serangan tenaga pukulan lawan dan yang ke dua untuk membuyarkan pengaruh kekuatan sihir lawan dengan mengeluarkan seruan pendek.

"Haiiiihhhh...!!"

"Wuuuttt... blahhh...!"

Dua kekuatan yang berupa angin kuat itu bertemu di udara, terasa oleh lima orang perajurit yang merangkak dan hendak menjauhkan diri.

Terkena pecahan dua tenaga yang membuyar ini saja cukup membuat mereka ber lima terlempar dan terguling-guling sampai jauh!

Ceng Ceng merasa terkejut bukan main.

Gadis itu bukan hanya mampu menandingi kekuatan tenaga saktinya, bahkan mampu membuyarkan serangan dengan sihirnya!

Rasa kaget dan heran membuat Ceng Ceng penasaran dan membangkitkan kemarahannya.

Kini ia merogoh segenggam Ang-Tok-Ciam (Jarum Racun Merah), senjata rahasia kecil-kecil yang amat berbahaya karena mengandung racun merah yang mematikan.

Gerakan tangan kiri Ceng Ceng tidak luput dari pengamatan Pek Giok.

la tahu apa yang dilakukan lawan, maka cepat ia mengambil beberapa buah Touw-Sim-Teng (Paku Penembus Jantung), senjata rahasianya berbentuk paku-paku kecil yang juga amat berbahaya dan mematikan walaupun tidak beracun.

Berbareng tangan kedua orang gadis cantik itu bergerak menyambitkan senjata rahasia mereka.

Tampak sinar merah meluncur dari tangan Ceng Ceng, disambut sinar putih dari tangan Pek Giok.

Terdengar suara berkentringan dibarengi muncratnya bunga api ketika dua macam senjata rahasia itu bertemu di udara dan runtuh semua ke atas tanah!

Lagi-lagi Ceng Ceng penasaran.

Senjata rahasianya juga dapat ditangkis oleh lawan.

Pek Giok tersenyum.

"Masih ada permainan apa lagi, Siluman Rase?"

Dengan kemarahan memuncak Ceng Ceng lalu menerjang maju, tangan kini melancarkan pukulan Toat-Beng Tian-Ciang (Tangan Kilat Pencabut Nyawa), sedangkan tangan kanan sudah meloloskan Pek-Coa-Kiam (Pedang Ular Putih) yang melilit pinggang.

Dengan gerakan cepat, kuat dan ganas sekali Ceng Ceng sudah menyerang secara bertubi-tubi dengan pukulan tangan kirinya dan sambaran pedang di tangan kanannya.

Akan tetapi sekali ini Ceng Ceng benar-benar bertemu tandingnya.

Di bawah gemblengan terakhir selama tiga tahun oleh Kakek sakti Song-Bun Lojin, Pek Giok telah memiliki tenaga sakti yang benar-benar amat kuat.

Maka tangan kirinya dapat selalu menangkis dan balas menyerang sehingga dua tangan yang sama mungil, berkulit putih halus itu seringkali bertemu dan kalau bertemu seperti dua potong baja murni bertemu!

Dalam hal adu ilmu pedang, Pek Giok memperlihatkan kelebihannya.

Gadis ini mendapatkan dasar ilmu pedang Kun-Lun Kiam-Sut oleh gemblengan Kun-Lun Sam-Sian (Tiga Dewa Kun-Lun-Pai), kemudian ilmu pedangnya menjadi amat hebat setelah ia digembleng oleh Beng Tek Sian-jin.

Begitu bertanding lewat lima puluh jurus, Ceng Ceng menjadi semakin penasaran.

Ia sama sekali merasa tidak mampu mendesak lawannya.

Padahal ia sudah mengeluarkan semua jurus permainan pedang dan pukulan tangan kosong yang paling ampuh dan sudah mengerahkan seluruh tenaganya.

Namun tetap saja semua serangannya terbentur pertahanan yang amat kuat dan sebaliknya kalau lawan balas menyerang, la menjadi agak kerepotan saking hebatnya serangan lawan!

Bagi lima orang penjaga yang kini menonton sambil berjongkok di tempat yang cukup jauh dan aman, pertandingan antara dua orang wanita cantik itu membuat mereka tertegun dan terbelalak.

Mereka tidak dapat mengikuti gerakan kedua orang gadis itu, bahkan tubuh yang semampai dari keduanya menghilang, yang tampak hanya dua bayangan yang berkelebatan, itupun masih terselubung sinar hijau pedang Ceng-Liong-Kiam di tangan Pek Giok dan sinar putih pedang Pek-Coa-Kiam di tangan Ceng Ceng.

Tiba-tiba terdengar Ceng Ceng mengeluarkan suara tawa berkepanjangan dan sambung menyambung, akan tetapi suara tawa itu membuat lima orang perajurit Cin yang menonton pertandingan itu cepat menutupi daun telinga dengan kedua tangan mereka karena suara tawa itu seperti benda-benda tajam menusuk-nusuk ke dalam pendengaran mereka.

Pek Giok maklum bahwa lawan menggunakan sihir ilmu hitam, maka untuk menolak suara tawa itu ia pun lalu mengeluarkan suara melengking panjang yang akibatnya membuat lima orang itu tidak tahan lagi dan larilah mereka pontang-panting menuju gedung sambil menutupi kedua telinga mereka yang mulai mengeluarkan darah!

Ceng Ceng semakin marah.

Ia lalu mengeluarkan ilmu hitamnya dan tubuhnya lenyap dari penglihatan orang biasa.

Inilah semacam ilmu "menghilang", sebetulnya bukanlah sungguh-sungguh menghilang, melainkan mempengaruhi orang lain sehingga menurut pemikiran dan penglihatan orang itu ia tiba-tiba dapat menghilang.

Dalam keadaan tak tampak itu tentu dengan mudah ia akan dapat menyerang lawan sehingga amat berbahaya bagi lawan.

Akan tetapi alangkah kagetnya ketika Pek Giok tertawa dan mengejek.

"Segala ilmu siluman busuk boleh kau keluarkan!"

Pek Giok tak dapat dikelabuhi dan ia masih tetap dapat melihat lawan dengan jelas, dan kemarahan yang terus menerus dan semakin meningkat ini amat merugikan Ceng Ceng.

Memang perasaan amarah yang berlebihan membuat orang menjadi lengah dan kewaspadaannya berkurang karena dikacaukan oleh nafsu amarahnya sendiri.

Inilah sebabnya maka Pek Giok mulai mendesaknya dengan hebat, membuat Ceng Ceng hanya mampu melindungi diri sambil terus mundur.

"Hyaaaaatttt...!!"

Tiba-tiba sebelah kaki Pek Giok mencuat bagaikan kilat menyambar dan Ceng Ceng yang sudah terdesak itu kurang cepat mengelak sehingga ujung sepatu kaki Pek Giok masih mengenai sebelah kanan pinggulnya dan ia pun terpelanting roboh!

Pek Giok yang maklum bahwa lawannya ini terlalu berbahaya kalau dibiarkan hidup, sudah menerjang ke depan, pedang Ceng-Liong-Kiam di tangan kanannya berkilat membacok ke arah kepala Ceng Ceng.

"Singgg... wuuttt...!"

Pek Giok terkejut sekali karena pedangnya yang sudah nyaris mengenai sasaran itu tiba-tiba terdorong hawa kuat dari kiri sehingga menyimpang dan tubuh lawannya disambar orang sehingga terbebas dari bacokan pedangnya.

Ketika ia berdiri memandang, matanya terbelalak, mulutnya ternganga dan kulit mukanya merah sekali, sepasang matanya seperti menyinarkan api dengan kemarahan yang menyala-nyala!

Ia melihat bahwa yang menyelamatkan lawannya itu bukan lain adalah Song Han Bun!

Kini pemuda itu malah melepaskan tubuh Ceng Ceng yang tadi disambarnya dan Ceng Ceng dengan sikap manja dan manis bergayut pada leher pemuda itu!

Dengan suara gemetar, sambil menudingkan telunjuknya ke arah muka Han Bun, Pek Giok berseru.

"Kau...? Kau malah... melindungi dan membelanya...??"

Han Bun yang baru saja tiba dan tadi melihat Ceng Ceng terancam maut tanpa melihat jelas siapa yang hendak membunuhnya, kini terbelalak dengan muka pucat ketika mengenal bahwa lawan Ceng Ceng adalah Pek Giok!

Dia menggeleng-gelengkan kepadanya.

Baginya wajar saja kalau dia menyelamatkan Ceng Ceng karena puteri Ketua Beng-Kauw ini bukan musuhnya, bahkan dia tahu gadis itu mencintanya dan amat baik kepadanya.

"Tidak..., ia... ia bukan musuh, Pek Giok..."

"Jahanam busuk, engkau boleh membelanya dan mengeroyok aku. Aku tidak takut!"

Setelah berkata demikian, ia sudah menerjang lagi ke arah Ceng Ceng.

Gadis ini sudah siap dan tentu saja melawan dengan gigih.

Ilmu kepandaian mereka tidak jauh selisihnya, kalau tadi ia terdesak adalah karena ia lengah dipengaruhi amarah yang amat hebat.

Kini di situ ada Song Han Bun yang tadi jelas melindunginya, maka ia tidak takut dan dapat menangkis dengan baik lalu balas menyerang.

Dua orang gadis itu sudah saling serang lagi dan Han Bun kini menonton dengan bingung, tidak tahu harus berbuat apa.

Tentu saja di dalam hatinya dia berpihak kepada Pek Giok, satu-satunya wanita dalam dunia ini yang dikasihinya dan dipilihnya sebagai calon jodohnya.

Akan tetapi dia tidak menghendaki Ceng Ceng terbunuh dalam perkelahian mati-matian itu.

Gadis itu memang puteri Ketua Beng-Kauw yang dikenal di dunia persilatan sebagai golongan hitam atau jahat, akan tetapi dalam pertimbangan pendapatnya, Siangkoan Ceng tidaklah begitu jahat.

Tiba-tiba terdengar suara gerengan yang seolah-olah menggetarkan tanah pekarangan itu dan mengguncang pohon-pohon yang tumbuh di sekitarnya.

Han Bun memandang penuh perhatian ketika berbareng dengan suara dahsyat itu muncul sesosok bayangan orang.

Kemunculannya seperti iblis saja, hanya merupakan bayangan, akan tetapi dalam pandangan Han Bun yang sudah memiliki kewaspadaan sehingga penglihatannya mampu menembus selubung hawa hitam yang menyamarkan tubuh itu, dia melihat jelas bahwa yang muncul adalah Kakek bermuka tengkorak putih, yaitu Pek-Bin Giam-Lo yang dia cari-cari!

Dengan gerakan dahsyat, Pek-Bin Giam-Lo yang baru muncul dan melihat betapa Ceng Ceng bertanding melawan seorang gadis lihai sekali yang dia segera kenali sebagai puteri Can-Kauwsu dari Sung-Kian, dia segera menggerakkan tongkat ular kobranya menyerang Pek Giok!

Akan tetapi dengan gagah Pek Giok melawan pengeroyokan dua orang lawan sakti itu.

Pedang Naga Hijau di tangannya seperti hidup, berubah menjadi sinar kilat hijau berputar dan menangkis serangan tongkat ular kobra.

"Trang-cringg...!!"

Dua kali kedua senjata ampuh itu bertemu di udara, menimbulkan bunga api dan Pek-Bin Giam-Lo terkejut bukan main.

Ini bukan gadis puteri Can-Kauwsu yang pernah diserangnya tiga tahun yang lalu dan dengan mudah dia robohkan, bahkan nyaris dia binasakan.

Dia teringat bahwa ketika itu muncul Song-Bun Lojin, Kakek sakti seperti Dewa yang membuatnya terpaksa melarikan diri.

Ah, tentu gadis ini sudah menerima pelajaran ilmu-ilmu tinggi dari Song-Bun LoJin!

Tahu bahwa lawannya ini tidak boleh dipandang ringan maka dia segera bergerak menerjang, membantu Ceng Ceng mengeroyok Pek Giok.

Puteri mendiang Can-Kauwsu ini sama sekali tidak merasa gentar.

Bahkan kini ia mainkan Ceng-Liong-Kiam sedemikian rupa sehingga pedangnya berubah menjadi gulungan sinar hijau yang memancarkan kilatan ke sekitarnya, menangkis serangan Pek-Coa-Kiam dari Ceng Ceng dan tongkat ular kobra dari Pek-Bin Giam-Lo.

Melihat ini, Song Han Bun menjadi penasaran dan tak dapat membiarkannya saja.

Dia melompat dan mencabut pedangnya, lalu dengan jurus ilmu pedang Bu-Tong Kiam-Sut dia menangkis sinar tongkat ular kobra yang dimainkan Pek-Bin Giam-Lo untuk mengeroyok Pek Giok.

"Tranggg...!!"

Tangan Pek-Bin Giam-Lo tergetar dan dia cepat melompat ke belakang lalu memandang penuh perhatian.

Ketika melihat bahwa yang menangkis tongkatnya adalah pemuda yang dikenalnya sebagai putera mendiang Song-Kauwsu, dia semakin kaget.

Pemuda ini pernah dia serang dan lukai pada tiga tahun yang lalu, dan dapat melarikan diri.

Padahal serangannya dahulu itu merupakan serangan maut, dia berhasil menotok tengkuk pemuda itu.

Totokan yang disertai ilmu sihir dan mengandung hawa beracun.

Pantasnya pemuda itu tentu tewas.

Akan tetapi kini muncul dengan kepandaian semakin hebat sehingga tangkisan pedangnya mampu menggetarkan tangannya!

Setelah Pek-Bin Giam-Lo meninggalkan Pek Giok, maka kini perkelahian mati-matian masih terjadi antara dua orang gadis itu.

Han Bun tidak khawatir lagi akan keadaan Pek Giok dan dia menghadapi Pek-Bin Giam-Lo, lalu berkata dengan suara lantang.

"Pek-Bin Giam-Lo, kuharap engkau tidak terlalu pengecut untuk mengakui apakah engkau yang telah membunuh Ayahku Song Swi Kai dan Guru Silat Can Gi Sun di Sung-Kian?"

Pek-Bin Giam-Lo adalah seorang Datuk sesat yang berwatak tinggi hati dan merasa paling hebat, maka mendengar pertanyaan itu dia menyeringai.

"Benar, aku yang membunuh mereka karena engkau, Song Han Bun, dan Can Pek Giok yang telah membunuh muridku Bu-Eng-Kwi Tok Liong Taisu tidak berada di rumah. Aku bunuh mereka, lalu engkau mau apa? Aku hanya membalas dendam, nyawa ditukar nyawa!"

Baca Juga: Harta Karun Kerajaan Sung 4

Baca Juga: Naga Beracun 13

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert