Ceritasilat Novel Online

Antara Dendam Dan Asmara 8

Eps 8 Antara Dendam Dan Asmara - Kho Ping Hoo

Baca online Antara Dendam Dan Asmara - Kho Ping Hoo

Cersil Antara Dendam Dan Asmara - Kho Ping Hoo.

"Pek-Bin Giam-Lo, muridmu itu seorang yang amat jahat, dia membela dua orang muridnya yang kejam, menggunakan akal busuk untuk menculik aku dan Pek Giok. Dalam perkelahian dia terbunuh karena kesalahan dan kejahatannya sendiri. Sebaliknya, Ayah-Ayah kami tidak bersalah apa-apa dan engkau telah membunuhnya. Engkau harus mempertanggung-jawabkan perbuatanmu yang sesat itu."

Tegur Han Bun.

"Huh, aku akan mengantar engkau menyusul Ayahmu!"

Bentak Pek-Bin Giam-Lo dan dia pun tiba-tiba menghilang dan yang tampak hanya tongkat ular kobranya saja yang melayang-layang dan menyambar-nyambar, menyerang Han Bun!

Akan tetapi Han Bun dapat melihatnya, melawan dengan pedangnya.

Bagi orang lain, tentu tampak lucu karena pemuda itu bersilat dan seperti bertanding melawan sebatang tongkat yang bergerak sendiri tanpa ada yang memegang atau memainkannya!

(Lanjut ke

Jilid 21) Antara Dendam & Asmara (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 21 Terjadilah dua pertandingan yang bagi orang biasa tentu amat aneh dan mengagumkan.

Dua orang gadis cantik itu, Siangkoan Ceng dan Can Pek Giok, bertanding mati-matian dan tubuh mereka sudah lenyap menjadi bayang-bayang terbungkus gulungan sinar pedang hijau dan putih yang mengeluarkan sinar kilat ke sekitarnya dan terdengar bunyi berdentang-dentingnya pedang beradu menimbulkan bunga api berpijar.

Tak jauh dari situ tampak Han Bun bersilat pedang melawan sebatang tongkat ular kobra yang melayang-layang bergerak seperti hidup, menyambar-nyambar dengan dahsyat.

Juga pertemuan tongkat dengan pedang di tangan pemuda itu selain mengeluarkan bunyi nyaring berdenting juga mengeluarkan kembang api yang menyilaukan mata.

Ternyata dua pertandingan dilakukan oleh empat orang yang memiliki tingkat kepandaian yang tidak banyak selisihnya.

Perkelahian itu seru dan saling serang dengan dahsyat, masing-masing mengeluarkan segala kemampuan mereka.

Kalau dibuat perbandingan antara Song Han Bun dan Pek-Bin Giam-Lo, pemuda itu memiliki dasar yang lebih kuat karena memang dasarnya itu mendapatkan aliran yang bersih ditambah pribudi yang tinggi.

Akan tetapi lawannya adalah seorang Kakek yang telah matang dalam pengalaman berkelahi dan menguasai banyak ilmu hitam dan ilmu sihir.

Maka, bagaimanapun juga Han Bun lebih tegar dan lebih mantap gerakannya, Bagaikan seekor naga yang tenang waspada menghadapi lawan seekor binatang buas yang ganas dan curang licik dengan gerakan yang ribut.

Adapun Ceng Ceng yang melawan Pek Giok juga merasa repot.

Can Pek Giok kini tidaklah seperti dulu, hanya mengandalkan kelincahan, kecepatan dan tenaga sakti.

Kini gadis itu lebih tenang dan matang gerakannya, tidak mudah dipengaruhi emosi sehingga ia mampu bertanding dengan tenang dan waspada.

Biarpun Siangkoan Ceng amat ganas dan memiliki banyak tipu muslihat, namun menghadapi Pek Giok ia merasa seolah bertemu dengan benteng baja yang amat kuat dan sulit diterobos.

Sambil berkelahi, baik Han Bun maupun Pek Giok tidak saling menegur.

Bahkan kalau teringat betapa tadi Han Bun melindungi lawannya, hati Pek Giok masih panas dan marah kepada Han Bun, kemarahan yang tanpa ia sadari timbul dari perasaan cemburu!

Akan tetapi keduanya juga diam-diam merasa heran mengapa dari dalam gedung besar Pangeran Leng Sui itu tidak ada reaksi apa pun terhadap keributan yang terjadi di pekarangan depan, seolah gedung itu kosong!

Akan tetapi mereka tidak berani terlalu memecah perhatian karena lawan mereka bukanlah orang yang boleh dipandang ringan.

Sesungguhnya, tidak yang seperti mereka sangka, di dalam gedung itupun terjadi peristiwa yang menggemparkan.

Yang menyebabkan kekacauan itu bukan lain adalah Lui Hong!

Ketika malam tadi Lui Hong berkunjung ke rumah Jaksa Li, dia mendengar bahwa Li Sian Hwa dan puteranya telah diambil kembali oleh Pangeran Leng Sui, kemudian terdengar ancaman Pangeran itu bahwa kalau Lui Hong tidak menyerahkan diri kepada Pangeran Leng Sui, keselamatan Li Sian Hwa dan puteranya tidak dijamin!

Tadinya dia ingin mengamuk dan menolong Sian Hwa malam itu juga, akan tetapi Jaksa Li mencegahnya demi keselamatan Sian Hwa.

Jaksa Li hendak minta tolong kepada Pangeran Liang Tek Ong dan terpaksa Lui Hong menahan diri dan Baru pada keesokan harinya dia nekat mengunjungi gedung Pangeran Leng Sui.

Dengan ilmunya yang tinggi tidak sukar bagi Lui Hong untuk memasuki gedung itu melalui pagar tembok di belakang gedung.

Dia masuk ke taman belakang lalu menyusup ke dalam gedung.

Tentu saja dia tidak begitu bodoh untuk mentaati keinginan Pangeran Leng Sui agar dia menyerahkan diri.

Dia tahu bahwa Pangeran Bangsa Yuchen itu mendendam kepadanya dan sekali dia menyerah, Pangeran itu pasti akan membunuhnya.

Bukan dia takut mati karena untuk menyelamatkan Li Sian Hwa, kalau perlu dia rela berkorban nyawa untuk keselamatan wanita yang dicintanya itu.

Akan tetapi dia pun maklum bahwa pengorbanannya itu tidak yakin akan menyelamatkan Li Sian Hwa dari tangan Pangeran kejam itu.

Apa gunanya dia menyerah dan berkorban nyawa kalau Sian Hwa tetap ditahan dan dibikin sengsara?

Tidak, dia tidak akan menyerah, melainkan dia akan berusaha sekuat tenaga untuk membebaskan Sian Hwa dari tempat itu!

Dengan ringan tubuhnya melayang ke atas wuwungan dan akhirnya dari atas dia melihat betapa di dalam gedung itu terdapat kesibukan.

Dia melihat sedikitnya ada lima puluh orang berpakaian perajurit dan perwira Cin berkumpul di ruangan tengah yang luas dan di sana dia melihat Pangeran Leng Sui bersama Li Sian Hwa yang tampak pucat ketakutan.

Agaknya mereka itu sudah menanti kedatangannya dengan seregu pasukan!

Tiba-tiba dia melihat Sian Hwa yang ketakutan itu menjerit.

"Di mana Bu San anakku...!! Lepaskan aku, aku akan mencari anakku...!!"

Akan tetapi Pangeran Leng Sui sudah meringkusnya dan memegangi kedua pergelangan tangannya.

"Diam kau, perempuan busuk!!"

Bentaknya. Akan tetapi Sian Hwa meronta-ronta dan menangis.

"Kau yang jahat! Kau gunakan aku dan anakku untuk menjebak orang baik-baik. Lepaskan aku, lepaskan...!"

Akan tetapi melihat isterinya itu meronta, mencakar, memukul dan menggigit dengan nekat, Pangeran Leng Sui lalu menamparnya.

Melihat ini, Lui Hong tak dapat menahan diri lagi.

Dari atas dia menerjang atap meluncur ke bawah.

"Braaakkkk...!!"

Atap itu jebol dan tubuhnya menyambar ke bawah bagaikan seekor garuda menyambar dahsyat.

Semua orang terkejut, terutama Pangeran Leng Sui karena bayangan Lui Hong itu menyambar ke arahnya!

Tahu bahwa dia diserang dari atas, Pangeran Leng Sui menyambut serangan Lui Hong dengan Hek-Liong-Kiam (Pedang Naga Hitam).

Sinar hitam mencuat menyambut tubuh Lui Hong yang menyambar dari atas.

"Plakk...!"

Pedang itu terpental dan tubuh Leng Sui tetap saja terdorong angin pukulan sehingga dia terpelanting.

"Tangkap dia! Bunuh!!"

Mulutnya sibuk memerintah dan para perajurit dan perwira Cin sudah bergerak mengepung Lui Hong dengan rapat dan menghujankan senjata mereka ke arah tubuh pemuda itu.

Akan tetapi Lui Hong sudah memegang pedangnya dan tampak sinar biru langit bergulung-gulung dan menyemburkan kilat ke sana-sini ketika dia mainkan Thian-To Kiam-Sut yang amat dahsyat itu.

Biarpun dikepung rapat, perhatian Lui Hong masih ditujukan kepada Li Sian Hwa.

Melihat betapa Sian Hwa kini ditarik tangannya oleh Pangeran Leng Sui dan hendak dilarikan keluar dari ruangan melalui sebuah pintu, dia mengeluarkan teriakan melengking panjang yang membuat para pengepungnya terkejut dan berlompatan ke belakang.

Kesempatan itu dipergunakan Lui Hong untuk melayang dan mengejar ke arah Pangeran Leng Sui.

Melihat ini, Pangeran Leng Sui yang sudah ketakutan itu melepaskan tangan isterinya dan dia melompat bersembunyi di balik beberapa orang perwira yang cepat mengangkat senjata mereka melindunginya.

Akan tetapi Lui Hong tidak menyerang siapa-siapa, dia malah cepat menyambar tangan Sian Hwa dan ditariknya wanita itu untuk melarikan diri!

Karena jalan menuju keluar terhalang puluhan orang perwira dan perajurit, Lui Hong menarik Sian Hwa lari melalui pintu ruangan samping kiri.

Para perajurit dan perwira cepat melakukan pengejaran.

Mulailah Lui Hong mengamuk, akan tetapi gerakannya itu hanya untuk melindungi dirinya dan terutama melindungi Sian Hwa.

Kalau pedangnya yang menyebarkan kilat membuat para pengeroyok mundur dengan gentar, kesempatan itu dia pergunakan untuk menarik tangan Sian Hwa dan lari ke bagian tempat yang lebih aman.

Akan tetapi terdengar teriakan Pangeran Leng Sui yang memberi perintah dengan marah kepada pasukannya untuk menangkap atau membunuh pemuda itu, maka para perajurit dan perwira tetap melakukan pengejaran ke manapun dia lari.

Lui Hong mulai merobohkan mereka dengan tendangan dan dorongan tangan kiri, akan tetapi dia tidak bermaksud membunuh para pengeroyok itu.

Karena melihat betapa ruangan bergerak semakin menyempit, Lui Hong lalu mengajak Sian Hwa lari menuju ke luar!

Dia mengamuk lebih hebat, kini menggunakan sinar pedangnya untuk mematahkan dan menerbangkan banyak senjata para pengeroyok sehingga akhirnya dia berhasil lobos dan keluar dari gedung, masuk ke pekarangan di mana Pek Giok masih bertanding melawan Siangkoan Ceng dan Han Bun masih bertanding melawan Pek-Bin Giam-Lo!

Pengeroyokan kini pindah ke pekarangan yang luas.

Puluhan orang perajurit dan perwira itu mengepung dan pertempuran menjadi semakin ramai, terutama ramai oleh teriakan Pangeran Leng Sui dan Para perwiranya yang memberi semangat kepada pasukan itu.

Setelah kini tempatnya leluasa, Lui Hong dikepung belasan orang perwira yang ternyata memiliki ilmu silat cukup tinggi dengan gerakan cukup gesit dan kuat!

Dia mulai khawatir kalau-kalau tidak dapat melindungi Li Sian Hwa dengan balk.

Perkelahian yang tadinya hanya dilakukan empat orang itu kini menjadi pertempuran yang seru dan ramai.

Di atas jalan raya depan pekarangan rumah Pangeran Leng Sui mulailah orang-orang yang lewat menjadi tertarik dan menonton dari jarak cukup aman karena tentu saja mereka tidak ingin terlibat dalam pertempuran berbahaya.

Selagi Lui Hong agak kebingungan karena dikeroyok puluhan perajurit dan perwira, tiba-tiba terdengar suara tambur dan dari jalan raya datang menyerbu pasukan Pemerintah Sung dalam jumlah yang banyak, tidak kurang dari seratus orang!

Lui Hong melihat bahwa pasukan itu bahkan dipimpin sendiri oleh Panglima Kerajaan Sung dan di antara mereka tampak pula Jaksa Li Koan, Ayah Li Sian Hwa!

Hati Lui Hong merasa girang dan cepat dia menarik tangan Sian Hwa, diajak lari mendekati Jaksa Li dan dia menyerahkan wanita itu dalam perlindungan Jaksa Li.

Kemudian dia mengamuk lagi membantu pasukan Sung yang mulai bertempur melawan para perajurit Cin.

Akan tetapi, tiba-tiba terdengar seruan nyaring dari seorang panglima yang memimpin pasukan Istana.

"Hentikan semua pertempuran!!"

Melihat bahwa yang berseru ini adalah panglima yang tinggi kedudukannya, maka pasukan Sung yang melawan pasukan Cin menghentikan serangan mereka dan mundur.

Juga pasukan Cin tidak berani membantah dan masing-masing menarik mundur pasukannya.

Seketika suasana menjadi sunyi.

Kemudian terdengar lagi suara panglima yang memimpin pasukan Istana.

"Dengan perintah Perdana Menteri Chin Kui, atas nama Sri Baginda Kaisar, pertempuran ini tidak boleh dilanjutkan!"

Sementara itu, melihat keadaan yang tidak menguntungkan, Siangkoan Ceng dan Pek-Bin Giam-Lo segera berlompatan dan menghilang ke dalam gedung Pangeran Leng Sui.

Pek Giok dan Han Bun juga tidak berani mengejar karena selain hal itu berbahaya, mereka berdua juga harus mentaati perintah Sang Panglima kalau tidak ingin dianggap membuat kekacauan di Kotaraja.

Urusan mereka dengan Pek-Bin Giam-Lo adalah urusan pribadi dan sama sekali tidak ada kaitannya dengan urusan pemerintahan atau dengan Kerajaan Cin.

Pada saat itu, muncul Pangeran Liang Tek Ong dari dalam pasukan Kerajaan yang diam-diam dia kerahkan untuk menyerbu tempat tinggal Pangeran Leng Sui.

Pangeran ini langsung menghadapi panglima komandan pasukan Istana dan berseru dengan lantang.

"Kwa Tai-Ciangkun (Panglima Kwa), kami terpaksa menyerbu kesini karena ternyata Pangeran Leng Sui telah melakukan kejahatan. Dia memelihara para pembunuh dan dia bahkan berani menghina keluarga Jaksa Li Koan dengan menyandera puteri Jaksa Li yang telah dia peristeri! Demi keadilan dan kehormatan pejabat pemerintah Kerajaan Sung, engkau semestinya membiarkan kami melakukan penangkapan terhadap Pangeran Leng Sui dan kaki tangannya!"

"Maaf, Pangeran! Kami menerima perintah dari Perdana Menteri Chin Kui yang bertindak atas nama Sri Baginda Kaisar agar mencegah terjadinya pertempuran. Pangeran Leng Sui adalah utusan dan wakil dari negara sahabat Cin dan menjadi tamu di sini, maka amat tidak semestinya kalau persahabatan kedua Kerajaan itu berubah menjadi permusuhan,"

Kata Panglima Kwa dengan suaranya yang parau dan lantang.

"Kami sudah mendapat persetujuan tertulis Sri Baginda Kaisar sendiri!"

Kata Pangeran Liang Tek Ong sambil melambaikan surat persetujuan itu.

"Kami juga membawa surat kuasa dari Perdana Menteri yang ditanda tangani Sri Baginda Kaisar!"

Kata Kwa Tai-Ciangkun.

"Pangeran, kita tentu sepakat bahwa dua surat persetujuan itu tidak perlu dipertentangkan."

Pangeran Liang Tek Ong menarik napas panjang.

Dia maklum bahwa tentu saja Panglima Kwa memiliki kekuasaan yang lebih besar dan dia lebih berani karena mendapat dukungan Perdana Menteri Chin Kui.

Tidak baik kalau memaksa lalu terjadi bentrok antara mereka.

"Baiklah, Panglima Kwa!"

Katanya.

"Akan tetapi sikap Pangeran Leng Sui terhadap keluarga Jaksa Li haruslah dia pertanggung-jawabkan. Dia tidak bisa bersikap dan bertindak seenaknya saja di kota raja ini."

Tiba-tiba muncul Pangeran Leng Sui di depan pintu dan sikapnya angkuh sekali. Dia tersenyum mengejek lalu berkata dengan suara lantang.

"Pangeran Liang Tek Ong! Apakah para Bangsawan Kerajaan Sung begitu tidak tahu aturan sehingga suka mencampuri urusan pribadi antara suami-isteri? Li Sian Hwa adalah isteriku, bagaimana orang lain boleh mencampuri urusanku dengan isteriku?"

Ucapan lantang ini disusul keheningan karena semua orang terkejut mendengar ucapan yang merupakan protes dan tantangan ini.

Bagaimanapun juga, semua orang menganggapnya tidak semestinya dan tidak sopan kalau ada orang lain mencampuri urusan yang terjadi antara suami-isteri!

Semua orang ingin sekali mendengar bagaimana Pangeran Liang Tek Ong akan menanggapi serangan ini.

Pangeran Liang Tek Ong adalah seorang Bangsawan yang tentu saja tahu akan peraturan itu, dan dengan tenang namun dengan suara tegas dia menjawab.

"Leng Sui, kalau engkau berurusan pribadi dengan isterimu, sudah pasti aku tidak akan mencampuri urusan busukmu itu! Akan tetapi ingat! Aku dilapori dann dimintai tolong oleh Jaksa Li Koan, seorang pejabat pemerintah Kerajaan Sung, bahwa engkau telah memulangkan Li Sian Hwa ke rumah orang-tuanya. Hal itu berarti bahwa engkau telah menceraikan wanita itu dan Li Sian Hwa sudah bukan isterimu lagi! Akan tetapi engkau berani menghina Jaksa Li yang pernah menjadi Ayah mertuamu dan dengan paksa engkau membawa kembali Li Sian Hwa yang telah kau ceraikan itu sebagai sandera ke rumahmu! Ini merupakan tindak kejahatan dan kami tidak dapat mendiamkannya saja. Mengerti?"

Mendengar suara lantang tegas itu, Wajah Leng Sui menjadi merah sekali dan dia merasa kalah dalam perdebatan itu, maka dia lalu dengan sikap congkaknya berdiri tegak bertolak pinggang dan menyeringai, memandang kepada Li Sian Hwa yang berdiri di dekat Jaksa Li.

"Hemm, kalau begitu, aku pun tidak peduli apakah Li Sian Hwa mau kembali kepadaku atau tidak! la boleh pergi meninggalkan aku kalau memang itu yang dikehendakinya karena banyak sudah gadis-gadis cantik berdiri dalam antrian slap untuk menggantikannya!"

Dia lalu tertawa, suara tawa yang amat menyakitkan hati, terutama bagi Li Sian Hwa.

"Leng Sui keparat jahanam!"

Tiba-tiba Sian Hwa menjerit.

"Kembalikan anakku! Dia telah menculik dan menyembunyikan anakku!"

Mendengar ini, Pangeran Liang Tek Ong berseru kepada Panglima Kwa.

"Nah, engkau mendengar sendiri, Kwa Tai-Ciangkun, betapa jahatnya Leng Sui itu! Perintahkan agar dia mengembalikan putera dari Li Sian Hwa, Ciangkun!"

Panglima Kwa kini memandang kepada Pangeran Leng Sui, lalu dia bertanya.

"Benarkah itu, Pangeran Leng Sui? Benarkah engkau menculik dan menyembunyikan anak itu?"

Tiba-tiba Pangeran Leng Sui tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha-ha! Agaknya para Bangsawan Kerajaan Sung memang tidak tahu sopan santun, tidak tahu aturan! Di mana ada seorang Ayah menculik puteranya sendiri? Kalian dengar baik-baik! Anak itu bernama Leng Bu San, marga Leng, putera dari aku Leng Sui! Seorang anak, terutama anak laki-laki adalah menjadi hak Ayah kandungnya! Tidak ada seorang Ibu yang dapat merampas seorang putera dari Ayahnya! Ataukah di Kerajaan Sung ini orang menggunakan tata peraturan Bangsa liar? Hayo jawab, Panglima Kwa, tidak benarkah ucapanku bahwa puteraku adalah menjadi hak dan tanggung jawabku?"

Mendengar ini, Panglima Kwa memandang kepada Pangeran Liang Tek Ong dan dia mengembangkan kedua lengannya sambil menggelengkan kepalanya.

Pangeran Liang Tek Ong juga mengerti bahwa kali ini dia tidak mungkin dapat membantah karena apa yang dikatakan Leng Sui itu benar adanya!

Tidak ada peraturan yang mengharuskan Leng Sui sebagai Ayah kandung seorang putera menyerahkan puteranya kepada orang lain dan seorang Ibu memang tidak pernah berhak sepenuhnya atas diri seorang puteranya.

Bahkan kalau sang suami sudah meninggal dunia, anak itupun menjadi hak dari Kakek yang semarga, atau Ayah dari Ayah si anak itu!

Melihat betapa tidak ada yang dapat membantah ucapannya tadi, kembali Pangeran Leng Sui tertawa bergelak dan dia lalu berkata kepada Panglima Kwa.

"Panglima Kwa, tolong sampaikan kepada Perdana Menteri Chin Kui bahwa kami akan kembali ke utara, melapor kepada Kaisar kami yang tentu akan mengajukan protes atas peristiwa ini!"

Setelah berkata demikian, dengan gerakan angkuh dia lalu memasuki gedungnya, diikuti pasukan pengawalnya dan menutupkan pintu gerbang.

Tidak ada pilihan lain bagi Pangeran Liang Tek Ong kecuali menarik mundur pasukannya dan kembali ke Istananya sendiri.

Sambil menangis Li Sian Hwa naik kereta bersama Ayahnya dan semua orang pun meninggalkan tempat itu.

Tadi Lui Hong sempat melihat berkelebatnya dua bayangan orang dan tahulah dia bahwa baik Can Pek Giok, maupun Song Han Bun, telah lebih dulu meninggalkan tempat itu menuju ke luar Kotaraja.

Dia merasa khawatir akan kedua orang itu yang mungkin masih bermusuhan, maka dia pun segera berkelebat pergi mencari mereka.

Mula-mula Pek Giok yang lebih dulu berkelebat pergi dari pekarangan gedung Pangeran Leng Sul dengan marah.

Gadis ini merasa penasaran dan kecewa sekali karena ia tidak mendapatkan kesempatan untuk membalas dendam kepada Pek-Bin Giam-Lo dan terutama tidak mendapat kesempatan untuk membunuh gadis cantik yang menjadi lawannya, gadis yang tentu sudah dapat ia binasakan kalau saja Song Han Bun tidak menolong dan menyelamatkannya.

Juga ia merasa penasaran sekali karena tidak mendapat kesempatan untuk memaki-maki Han Bun dan menyerangnya.

Pada saat itu ia merasa benci sekali kepada Song Han Bun, apalagi kalau ia mengenangkan permusuhan besar antara keluarga Ayahnya dan keluarga Song.

Saking marah dan bencinya, ketika dia melarikan diri, air matanya menetes-netes dan napasnya agak terganggu oleh isak tangisnya.

la merasa tidak berdaya, tidak dapal bebas menyerang musuh besarnya, Pek-Bin Giam-Lo karena terhalang semua pasukan itu.

la merasa yakin bahwa pembunuh Ayahnya adalah Pek-Bin Giam-Lo dan ia mengambil keputusan untuk melakukan pengejaran dan pencarian terhadap Pek-Bin Giam-Lo sampai akhirnya ia berhasil membalas dendam.

Akan tetapi, biarpun ia membayangkan musuh besar itu dengan penuh dendam, anehnya yang tampak di depan matanya adalah bayangan Song Han Bun yang membuat ia menjadi semakin marah.

Juga sambil berlari secepat terbang, mulutnya tiada hentinya menyebut nama pemuda itu sambil memaki-maki.

"Keparat Song Han Bun, busuk, aku benci kau, aku benci...!!"

Ia dapat menduga bahwa Pek-Bin Giam-Lo pasti akan kembali ke seberang Yang-Ce bagian utara, kembali ke kota perbentengan Kerajaan Cin di An-keng.

Maka ia pun segera keluar dari Hang-Chouw dan menuju ke Telaga Barat yang berada di luar kota.

Setelah tiba di tepi telaga, Pek Giok tetap saja berlari seperti terbang.

Ia mendaki perbukitan di sebelah telaga dan akhirnya ia tiba di puncak sebuah bukit yang datar dan sepi.

Hari telah menjelang siang dan tempat itu amat sepi, tak tampak seorang pun manusia.

Permukaan puncak yang datar itu penuh dengan lapangan rumput hijau segar dan di sana-sini tumbuh pohon yang cabang dan rantingnya melingkar-lingkar amat indahnya.

Agaknya kesunyian tempat itu menambah kesedihannya dan akhirnya Pek Giok berhenti berlari, duduk menjatuhkan diri di atas rumput, di bawah sebatang pohon dan ia menangis.

Ia sendiri tidak menyadari berapa lamanya ia menangis, bahkan tidak jelas baginya mengapa pula ia menangis.

Karena hati yang gundah tanpa ia ketahui sebabnya itu membuat ia kurang waspada sehingga ia tidak tahu bahwa sejak tadi Han Bun telah mengejarnya ke situ dan kini pemuda itu bersembunyi di balik sebatang pohon dan memandangnya dengan hati sedih.

Melihat gadis itu menangis seperti itu, Han Bun menjadi terharu.

Ingin dia menghibur gadis itu, akan tetapi hatinya tidak berani, khawatir kalau-kalau Can Pek Giok menjadi semakin marah.

"Aku harus menjelaskannya agar ia tidak salah sangka dan marah kepadaku,"

Akhirnya Han Bun mengambil keputusan dan dia keluar dari balik batang pohon lalu menghampiri Pek Giok yang masih duduk di bawah pohon besar.

"Nona Can Pek Giok, maafkan aku... akan tetapi mengapa engkau menangis dengan sedih...?"

Akhirnya Han Bun dapat menegur dengan lembut.

Pek Giok terkejut, mengangkat muka dan begitu melihat siapa yang menegurnya, seketika ia melompat berdiri, mukanya merah sekali dan sepasang matanya mencorong.

la menudingkan telunjuk kirinya ke arah muka Han Bun dan membentak marah.

"Kau...? Jahanam busuk, manusia berhati palsu! Kau pengkhianat...!!"

Pek Giok tak dapat melanjutkan kata-katanya saking marahnya dan ia sudah siap untuk menerjang.

"Tahan...!"

Han Bun berseru.

"Dengar dulu, Nona Can. Aku ingin memberi penjelasan karena agaknya engkau salah duga!"

"Bohong! Penipu tak tahu malu...!"

Pada saat itu tampak bayangan berkelebat dan Lui Hong telah berdiri tak jauh dari mereka.

Pemuda ini mengerutkan alisnya dan sinar matanya memandang kepada Han Bun dengan marah pula.."Song Han Bun, apa pula perlunya untuk berbohong?

Sudah jelas bahwa keluarga Song merupakan orang-orang yang lemah dan mudah terpengaruh rupa cantik.

Buktinya keluarga Song pernah dibantu orang-orang jahat seperti mendiang Kakak-beradik Lee Kim Lun dan Lee Kim Lian.

Dan sekarang, beranikah engkau menyangkal bahwa engkau melindungi Siangkoan Ceng yang membuat engkau tergila-gila?

Aku sendiri sudah melihat sikapmu yang tidak tahu malu bersama gadis sesat itu di dalam perahu ketika kalian berpesiar di telaga!"

Han Bun terkejut dan wajahnya berubah kemerahan.

"Saudara Lui Hong, engkau salah sangka...! Aku sama sekali bukan seperti yang kalian duga!"

Bantahnya, akan tetapi justeru bantahan ini membuat Pek Giok menjadi semakin marah.

"Dasar pengecut, berani berbuat tidak berani bertanggung jawab! Mampuslah!"

Pek Giok memaki dan pedangnya telah menjadi gulungan sinar hijau yang menyambar dan menyerang Han Bun dengan dahsyat sekali.

"Tranggg...!!"

Han Bun terpaksa menangkis karena serangan gadis itu sungguh tidak boleh dipandang ringan.

Akan tetapi Lui Hong yang juga merasa penasaran dan kasihan kepada Pek Giok yang dia anggap tentu merasa sakit hati sekali melihat sikap dan ulah Han Bun, sudah menyerang pula dengan pedangnya yang gerakannya amat berbahaya.

Han Bun tahu bahwa percuma saja untuk menyangkal atau membela diri dengan kata-kata.

Terpaksa dia melawan dan melindungi dirinya.

Maka terjadilah pertandingan ilmu pedang yang amat hebat di puncak bukit yang sunyi di siang hari itu.

Tiga sinar pedang saling sambar, saling belit dan sinar hijau pedang Ceng-Liong-Kiam bermain dengan lincah dibantu sinar pedang biru langit, mengeroyok sinar pedang yang seperti halilintar yang dimainkan Han Bun!

Tiga orang muda yang telah memiliki tingkat ilmu pedang amat tinggi kini bertanding, dua melawan satu dan kalau ada orang berada di lereng bukit itu dan memandang ke arah puncak dia tentu akan terheran-heran melihat tiga gulungan sinar pedang yang melayang-layang bagaikan tiga ekor naga sedang bermain-main di angkasa!

Tentu saja yang paling menderita batin adalah Song Han Bun!

Dia bukan saja dianggap palsu dan berkhianat oleh Can Pek Giok yang memusuhinya dan yang berupaya sekuat tenaga untuk merobohkannya, akan tetapi juga Lui Hong yang mulai mengenalnya sebagai seorang sahabat kini juga menganggap dia lemah dan mata keranjang.

Dia menyadari bahwa mereka berdua itu salah sangka.

Dia sama sekali tidak tergila-gila atau jatuh cinta kepada Siangkoan Ceng.

Akan tetapi dia tidak sempat menyangkal dan membela diri karena mereka berdua sudah tidak percaya dan tidak mau mendengarkannya lagi.

Dia merasa serba salah menghadapi pengeroyokan dua orang muda yang sakti itu.

Masih untung baginya bahwa sesungguhnya, Song Han Bun memiliki dasar ilmu silat yang lebih kuat dibandingkan Pek Giok dan Lui Hong.

Dengan gerakan dasar dari ilmu silat Khong-Sim Sin-Kun (Silat Sakti Hati Kosong), Han Bun bergerak menurutkan naluri yang datang dari binbingan TUHAN.

Selagi hati akal pikirannya kosong dan tidak mengendalikan semua gerakannya, maka gerakannya menjadi otomatis, terbimbing Kekuasaan Yang Maha Sakti sehingga membentuk perlindungan dan pertahanan yang amat rapat dan kuat.

Agaknya, diserang oleh apapun juga tubuh Han Bun terlindung dan tidak mungkin dapat dilukai.

Inilah inti ilmu yang telah didapatkan Han Bun dan Khong-Sim Sin-Kai, yaitu ilmu Hati Kosong clan penyerahan diri secara lengkap dan seutuhnya kepada Kekuasaan TUHAN!

Setelah pertandingan aneh itu berlangsung hampir seratus jurus, tiba-tiba tampak tiga bayangan seperti awan putih meluncur dan dalam saat bersamaan, baik Han Bun, Pek Giok maupun Lui Hong mendengar suara yang amat mereka kenal.

"Hentikan gerakanniu dan duduklah bersila di sampingku!"

Suara itu hanya seperti bisikan saja, akan tetapi seolah dibisikkan di dekat telinga mereka.

Pek Giok segera duduk bersila di sebelah kiri Song-Bun Lo-jin.

Song Han Bun duduk bersila di dekat Khong-Sim Sin-Kai, dan Lui Hong juga sudah duduk bersila dekat Gurunya, Thai Kek Lojin!

"Suhu...!!"

Tiga orang murid itu segera memberi hormat kepada Guru masing-masing yang muncul berbareng secara aneh itu.

Mereka bertiga tentu saja merasa terkejut bukan main ketika tadi mereka asyik saling serang dan mengerahkan semua tenaga dan kemampuan, tiba-tiba saja sinar pedang mereka yang melayang-layang dan menyambar-nyambar itu seolah "macet"

Dan kehilangan daya serangnya setelah bertemu awan putih yang datang menghalang.

Setelah mendengar suara bisikan, baru mereka menyadari bahwa yang datang melerai atau menghalangi mereka bertanding adalah Guru mereka masing-masing!

Kini tiga orang muda itu duduk tenang dan memandang ke arah depan, saling pandang dengan hati terasa tegang karena mereka seolah merasa bahwa mereka masing-masing telah bertindak keliru.

Terutama sekali Pek Giok dan Lui Hong.

Mereka kini baru menyadari bahwa sesungguhnya mereka berdua menyerang Han Bun tadi sama sekali bukan karena hendak menegakkan kebenaran dan keadilan seperti yang diajarkan selama ini oleh Guru masing-masing, melainkan lebih banyak terdorong oleh nafsu amarah.

Karena mereka hanya pernah mendengar akan nama besar tiga orang Kakek sakti itu, kecuali Guru masing-masing dan belum pernah bertemu dengan Kakek yang lain, maka kini mereka memandang dengan sikap hormat dan kagum.

Tiga orang Kakek itu duduk bersila membentuk titik segi tiga.

Khong-Sim Sin-Kai, yang tertua di antara ketiganya, berusia seratus tahun lebih, dengan tubuh tinggi kurus terbalut kain berwarna putih dihias tambalan, rambut, alis, kumis, jenggot sudah putih seperti salju, tangannya yang kurus memegang sebatang tongkat bambu putih.

Tampak biasa saja, sama sekali tidak membayangkan keanehan atau tanda bahwa dia adalah seorang manusia aneh yang memiliki kepandaian dan kesaktian hebat.

Kakek ini duduk bersila dengan tenang, kedua matanya terpejam dan bibir yang tertutup kumis putih itu mengembangkan senyum lembut.

Dia duduk di bagian timur, menghadap ke barat dan jauh di belakangnya tampak batu gunung yang besar yang biarpun jauh seolah menjadi tempat sandarannya.

Di bagian utara duduk Song-Bun Lojin.

Di sebelah kirinya duduk Can Pek Giok yang diam-diam terkadang mencuri pandang ke arah Song Han Bun yang duduk di sebelah kiri Khong-Sim Sin-Kai.

Song-Bun Lojin berusia sekitar enam puluh delapan tahun.

Rambutnya yang panjang dan berwarna putih diikat kain putih dengan sederhana.

Pakaiannya juga serba putih sederhana seperti yang biasa dikenakan orang yang sedang berkabung.

Karena keadaannya itulah maka di dunia kang-ouw dia dikenal dengan sebutan Song-Bun Lojin (Orang-tua Berkabung).

Tubuhnya sedang dan Kakek ini pun memegang sebatang tongkat bambu, hanya tongkat itu terbuat dari bambu kuning.

Wajah Song-Bun Lojin amat berlawanan dengan nama sebutannya.

Nama julukannya berkabung akan tetapi wajahnya selalu cerah dan riang gembiral Kakek yang ke tiga adalah Guru Lui Hong.

Kakek ini duduk di bagian selatan dan karena bagian barat merupakan jurang yang dalam dari puncak bukit itu, maka tiga orang Kakek itu duduk bersila saling berhadapan dalam titik segi tiga yang jaraknya terpisah sekitar lima tombak.

Guru Lui Hong ini adalah Thai Kek Lojin, usianya sekitar enam puluh lima tahun, tubuhnya tinggi besar dan berpakaian seperti seorang petani sederhana.

Padahal, Kakek ini adalah seorang bekas panglima perang kenamaan, gagah perkasa berwibawa seperti tokoh pahlawan Kwan Kong dalam kisah Sam Kok (Tiga Kerajaan).

Dia juga memiliki kesaktian luar biasa dan Datuk ini masih merupakan susiok (Paman Guru) dari mendiang Jenderal Gak Hui, panglima yang terkenal sebagai seorang pahlawan yang patriotik.

Kakek ini selama bertapa di Bukit Hong-San telah berhasil merangkai ilmu pedang Thian-To Kiam-Sut yang membuat dia terkenal dan disegani.

Tiga orang Kakek itu duduk bersila dan mereka memejamkan mata.

Adapun tiga orang murid itu duduk dengan tenang dan mereka merasa suatu keanehan menyelinap dalam hati dan pikiran mereka.

Suasana yang hening sekali, keheningan yang meresap ke dalam kalbu masing-masing dan mendatangkan kedamaian.

Udara siang hari itu cerah, akan tetapi hawanya tidak panas karena sinar matahari dihembus angin pegunungan, mendatangkan hawa udara yang hangat menyegarkan.

Segala sesuatu yang tampak penuh kecerahan dan semangat hidup.

Jutaan pucuk rumput di permukaan puncak bukit itupun berseri penuh kehidupan.

Daun-daun pohon di sekitar tempat itu pun menari-nari dan mengangguk-angguk dengan riangnya, mengeluarkan suara bisik-bisik seolah-olah para remaja puteri sedang bersendau-gurau dengan malu-malu.

Burung-burung yang terbang melintas tempat itu pun tampak anggun dan beberapa ekor kupu-kupu yang beterbangan di atas bunga-bunga pohon bagaikan serombongan penari yang bergerak dengan lincah penuh pesona.

Kini tiga orang Kakek itu membuka mata mereka dan yang pertama bicara adalah Khong-Sim Sin-Kai.

Suaranya lembut dan halus, namun mengandung wibawa bagi Song Han Bun yang membuat dia siap untuk menjawab sejujurnya tanpa menyembunyikan sesuatu karena dia maklum benar akan kebijaksanaan dan kewaspadaan Gurunya.

Tak mungkin menyembunyikan sesuatu dari Kakek ini.

"Han Bun, melihat engkau bertanding melawan pemuda dan gadis itu tadi, sungguh janggal rasanya. Mereka berdua itu bukan musuhmu, mengapa kalian berkelahi?"

Han Bun sambil duduk bersila merangkap kedua tangan depan dada, menghormat Gurunya dan menjawab dengan tenang pula, tanpa emosi.

"Maafkan Teecu (murid), Suhu. Sesungguhnya Teecu sama sekali tidak ingin berkelahi melawan mereka. Mereka menyerang Teecu dan terpaksa Teecu membela diri agar jangan sampai terluka oleh mereka berdua,"

Jawaban Han Bun ini dengan nada suara yang lembut dan sama sekali tidak mengandung penyesalan atau teguran kepada Lui Hong maupun Pek Giok yang tadi mengeroyoknya.

Entah mengapa, kehadiran tiga orang Kakek itu mendatangkan suasana kedamaian yang seolah menenggelamkan semua emosi yang timbul karena nafsu.

Kini Song-Bun Lojin yang bicara sambil tersenyum dan dia memandang muridnya.

"Pek Giok, benarkah apa yang aku dengar tadi? Engkau menyerang murid Khong-Sim Sin-Kai yang bukan musuh dan juga tidak memusuhimu? Kalau benar, mengapa?"

Sesaat lamanya Pek Giok tak menjawab karena ia harus mencari alasan dan mengatur jawabannya.

Ia merasa heran sendiri mengapa saat mendengar pertanyaan Gurunya, seketika ia merasa telah melakukan kesalahan!

Memang Han Bun bersikap yang tidak semestinya dan menyakitkan hatinya, akan tetapi pantaskah pemuda yang hanya mencegah ia membunuh gadis itu harus ia serang mati-matian dengan serangan maut?

Pantaskah dia dihukum dengan cara membunuhnya?

Ia benar-benar merasa telah bertindak keterlaluan, sama sekali tidak sejalan dengan apa yang ia pelajari dari Song-Bun Lojin selama tiga tahun ini.

"Benar, Suhu. Teecu tadi menyerangnya dan menganggap dia musuh karena dia ternyata telah berpihak kepada musuh bahkan melindungi musuh sehingga Teecu menganggap dia berkhianat dan palsu. Maafkan kalau Teecu bertindak keliru dalam hal ini."

Kini Song-Bun Lojin hanya tertawa dan tidak bertanya lagi. Kini Thai Kek Lojin yang juga merasa bertanggung jawab atas perbuatan muridnya tadi, bertanya.

"Kini giliranmu, Lui Hong. Mengapa engkau tadi ikut mengeroyok pemuda murid Khong-Sim Sin-Kai?"

Lui Hong menundukkan mukanya dengan perasaan malu. Kemudian dia memberi hormat kepada Gurunya dan menjawab.

"Maafkan Teecu kalau bersalah, Suhu. Sesungguhnya, Teecu sudah merasa bahwa diri Teecu merupakan anggauta keluarga dari keluarga Can di Sung-Kian. Karena itu, Teecu juga menganggap Nona Can Pek Giok sebagai saudara atau adik Teecu yang sepantasnya Teecu lindungi dan bela. Teecu merasa gembira dan ikut mengharapkan Nona Can akan hidup berbahagia sebagai jodoh Saudara Song Han Bun, seperti yang dikehendaki orang-tua masing-masing. Teecu percaya bahwa antara keduanya terdapat jalinan cinta yang murni. Akan tetapi Teecu kecewa sekali melihat betapa Saudara Song Han Bun ternyata tertarik kepada seorang gadis lain dan melindunginya, padahal gadis itu adalah seorang tokoh Beng-Kauw yang terkenal sesat. Karena itu, melihat Nona Can berkelahi melawan Saudara Song, Teecu langsung saja membantu Nona Can dan mengeroyok Saudara Song."

Sunyi setelah Lui Hong menghentikan laporannya.

Agaknya di antara tiga orang Kakek itu terdapat hubungan tanpa kata yang aneh.

Seolah mereka itu dapat merasakan isi hati masing-masing sehingga mereka itu tahu apabila dirinya mendapat giliran bicara!

Setelah hening sejenak, kembali Khong-Sim Sin-Kai bicara dengan suaranya yang lembut dan lirih.

"Han Bun, benarkah engkau yang mereka gambarkan itu? Engkau tertarik kepada seorang gadis Beng-Kauw dan membela serta melindunginya?"

"Memang sesungguhnya benar, Suhu. Teecu membelanya, akan tetapi hanya dugaan yang berdasar kesalahpahaman belaka kalau dikatakan bahwa Teecu tertarik atau jatuh cinta kepadanya. Teecu membelanya dan mencegah agar jangan sampai Nona Can membunuhnya karena ia bukanlah musuh yang dicari. Kiranya Suhu masih ingat peristiwa tiga tahun yang lalu. Teecu terluka oleh Pek-Bin Giam-Lo sehingga kehilangan ingatan. Dalam keadaan hilang ingatan itulah Teecu bertemu dengan Nona Siangkoan Ceng yang menerima Teecu dengan sikap baik, bahkan memberi pekerjaan kepada Teecu. la bersikap baik sebagai seorang sahabat. Kalau ia merasa suka kepada Teecu, hal itu bukan salah Teecu, akan tetapi yang sudah pasti, Teecu sama sekali tidak merasa telah tertarik atau jatuh cinta kepada Nona Siangkoan Ceng."

Song-Bun Lojin tertawa.

"Heh-heh-heh, engkau masih saja belum dapat sepenuhnya mengendalikan perasaanmu yang berkobar penuh semangat, Pek Giok. Setelah semua pihak bicara secara terbuka, kukira sudah tidak ada persoalan lagi di. antara kalian orang-orang muda!"

Thai Kek Lojin yang bertubuh tinggi besar itu berkata dengan suaranya yang lantang.

"Menarik sekali, tiga orang muda perkasa berkumpul di tempat hening indah ini dan sempat menarik kami tiga orang Kakek hadir di sini. Khong-Sim Sin-Kai, engkau yang lebih tua dan berpengalaman daripada kami, yang lebih bijaksana, katakan, bukankah ini yang namanya jodoh dan kesempatan baik ini sekali-kali sayang kalau dilewatkan begitu saja?"

Khong-Sim Sin-Kai tersenyum dan mengangguk-angguk.

"Siancai, siancai, siancai (damai, damai, damai)! Engkau benar sekali, Thai Kek Lojin. Anak-anak, sekarang kalian mendapatkan kesempatan yang amat Iangka, jangan sia-siakan dan hayo ajukanlah semua keinginan tahumu dalam pertanyaan-pertanyaan. Kami tiga orang-tua merasa berkewajiban untuk menjawab semampu kami!"

"Teecu mohon petunjuk tentang keadaan Kerajaan Sung yang semakin mundur dan lemah sehingga sebagian besar rakyat hidup dalam kesengsaraan dan kekurangan,"

Kata Lui Hong.

"Teecu mohon penjelasan tentang kehidupan duniawi dan apa yang harus dilakukan orang-orang yang merasa berkewajiban untuk membela kebenaran dan keadilan,"

Kata Can Pek Giok.

"Teecu mohon petunjuk tentang kehidupan rohani dan apa yang harus kita lakukan untuk meningkatkan kemajuan jiwa kita,"

Kata Song Han Bun.

"Siancai, pertanyaan kalian bertiga sudah mencakup seluruh masalah kehidupan!"

Kata Khong-Sim Sin-Kai.

"Masalah ketatanegaraan sudah semestinya diurai dan diterangkan oleh ahlinya, yaitu Thai Kek Lojin yang selama puluhan tahun pernah berkecimpung dalam pemerintahan. Karena itu, pertanyaan pertama tentang keadaan pemerintah Kerajaan Sung yang semakin mundur sehingga menyengsarakan rakyatnya, harap Thai Kek Lojin yang memberi penjelasan secara terbuka."

Hening sejenak dan kini semua pandangan mata, pendengaran telinga dan seluruh perhatian mereka tertuju kepada Thai Kek Lojin.

Kemudian, terdengar suara yang mantap dan tegas dari mantan pejabat tinggi pemerintah Kerajaan Sung itu yang bicara dengan lancar, diiringi desau angin dan gemersik daun-daun pohon yang saling gesek oleh tiupan angin lembut.

"Segala sesuatu yang terjadi di dalam alam mayapada tidak terlepas dari Kekuasaan dan Kehendak Yang Maha Esa yang mengatur segalanya itu,"

Suara Thai Kek Lojin mulai bicara.

Selanjutnya ia berkata dengan tegas.

Apa pun yang terjadi menimpa diri manusia merupakan bukti Kekuasaan dan Keadilan TUHAN, karena baik maupun buruknya kejadian itu merupakan akibat dari sebab yang diperbuat sebelumnya oleh si manusia sendiri.

Sebuah Kerajaan yang menyusun pemerintahan yang mengatur Tanah Air, Negara dan Bangsa merupakan anugerah kasih sayang TUHAN kepada manusia.

Balk buruknya keadaan sebuah pemerintahan merupakan akibat pula dari sebab yang berada di tangan manusia sendiri, yaitu si Bangsa, dan terutama tergantung kepada para manusia yang bertugas mengatur pemerintahan itu, ialah para penguasa, atau juga disebut pembesar, atau pejabat, juga disebut pemimpin Bangsa.

Rakyat jelata memandang para penguasa seperti anak-anak memandang orang-tuanya.

Oleh karena itu, sebuah pemerintahan yang baik terdiri dari para pejabat yang bijaksana, putera-putera Bangsa yang pilihan dan yang terbaik, yang lebih mementingkan dan mengutamakan sempurnanya pelaksanaan kewajibannya daripada pemenuhan haknya.

Para pejabat atau penguasa pemerintahan seyogianya menjadi orang-tua yang mengasihi anak-anaknya, berusaha sekuat kemampuan mereka untuk mengatur agar kehidupan rakyat menjadi sejahtera.

Tidak mengobral janji dan nasihat, melainkan lebih membuktikan dan menjadi tauladan yang baik daripada sekadar nasihat-nasihat yang mereka sendiri tidak mau melakukannya.

Misalnya menasihatkan rakyat agar hidup berhemat dan sederhana prihatin, sedangkan mereka sendiri berfoya-foya dalam gelimang kemewahan dan kesenangan duniawi.

Telah terbukti dalam sejarah sejak jaman dahulu kala, sebuah pemerintahan akan berhasil dengan baik ataukah gagal tergantung sepenuhnya kepada kebijaksanaan para pemimpinnya.

Terutarna sekali berada di dalam tangan penguasa tertinggi, yaitu Kaisar atau Rajanya.

Kaisar merupakan penentu utama bagi keberhasilan atau kegagalan pemerintah yang dipimpinnya, bagaikan akar yang menentukan hidup dan matinya, sehat atau sakitnya sebatang pohon dengan semua batang, cabang, ranting, daun, bunga maupun buahnya.

Kalau Kaisarnya lalim, maka para pembantu Kaisar sulit diharapkan untuk berwatak setia dan bijak.

Kalau Kaisarnya tukang korup, sewenang-wenang mengandalkan kekuasaannya, hanya memikirkan untuk menumpuk harta benda dan mengejar kesenangan duniawi bagi dirinya dan semua keluarganya, maka semua pembantunya, yaitu para pejabat dan pembesar, tentu akan berlumba untuk juga mengejar kesenangan, menumpuk harta, gila kekuasaan dan sewenang-wenang.

Kaisar bagaikan seorang Ayah dalam keluarga, bagaikan seorang Guru dalam sekolah, menjadi sari tauladan bagi keluarga atau murid-muridnya.

Kalau Gurunya kencing berdiri, murid-muridnya tentu kencing berlari.

Kalau Ayahnya brengsek, sanak keluarga yang muda-muda tentu lebih brengsek lagi.

Oleh karena itu, seorang pemimpin, sebelum dia dapat memimpin Bangsanya, haruslah lebih dulu dapat memimpin masyarakatnya, sebelum dapat memimpin masyarakatnya, haruslah dapat memimpin keluarganya, dan sebelum dapat memimpin keluarganya, haruslah lebih dulu dapat memimpin diri pribadinya sendiri!

Di jaman apa pun, sebetulnya rakyat sudah bosan dengan adanya sekadar nasihat-nasihat yang diucapkan para pembesar.

Hal ini terjadi karena nasihat-nasihat itu ternyata hanya merupakan bujukan dan hiburan kosong belaka, sedangkan para penguasa yang mengeluarkan nasihat itulah yang justeru menjadi pelanggar utamanya!

Hukum-hukum diadakan para penguasa seolah hanya untuk melindungi kepentingan sang penguasa dan membelenggu kebebasan gerakan rakyat jelata.

Pengadilan yang diadakan pada kenyataannya berubah menjadi penekanan, membenarkan yang salah dan menyalahkan yang benar.

Yang benar sudah dapat diduga mereka yang memiliki kedudukan atau yang memiliki harta karena kedudukan atau harta itulah yang melindungi mereka dan memungkinkan mereka menang dalam perkara peradilan.

Ketika Thai Kek Lojin yang bicara penuh semangat itu berhenti sebentar untuk mengatur pernapasan dan meredakan semangatnya yang berkobar, Lui Hong yang sejak tadi sudah menahan pertanyaannya di ujung lidah, berkata.

"Mohon maaf, Suhu. Apa yang Suhu ceritakan itu memang Teecu lihat sedang terjadi dalam Kerajaan Sung kita. Akan tetapi mengapa Teecu selalu mendengar dari para penguasa, baik dari mereka yang mendukung Sri Baginda dan juga mereka yang menjadi pengikut Perdana Menteri Chin Kui, bahwa para penguasa itu menganjurkan agar rakyat membangun dan pemerintahan bertujuan untuk melakukan pembangunan besar-besaran. Di mana letak kesalahannya sehingga apa yang dinamakan pembangunan ini seolah tidak dirasakan manfaat dan hasilnya oleh rakyat kecil?"

Pembangunan memang merupakan usaha terbaik bagi manusia, demikian Thai Kek Lojin menerangkan dengan tegas.

Akan tetapi pembangunan yang utama dan terpenting adalah PEMBANGUNAN AHLAK karena ini merupakan kunci dari semua pembangunan duniawi.

Dasar pembangunan terletak kepada pelaksanaan yang dilakukan manusianya, maka kalau si manusia belum dibangunkan ahlaknya sehingga bersih, jangan harap pembangunan duniawi akan dapat terlaksana dengan baik.

Manusia pelaksana pembangunan yang ahlaknya masih kotor bahkan akan merusak dan menjegal usaha pembangunan dengan cara melakukan korupsi bagi keuntungan diri sendiri, bertindak curang, korup dan condong untuk mencuri.

Oleh karena itu, pembangunan ahlak haruslah di nomor-satukan, terutama bagi para pucuk pimpinan atau para pejabat penguasa.

Penguasa sejati yang baik lebih bersikap sebagai pamong yang siap melayani rakyatnya, bukan minta dilayani, siap menyejahterakan kehidupan rakyat jelata, bukan memperkaya diri sampai tak ternilai besar kekayaannya, mengumbar keangkara-murkaan, mempermainkan dan mencuri harta yang sesungguhnya adalah milik Tanah Air dan Bangsa.

Yang ditauladani selalu adalah mereka yang duduk paling atas, dalam hal ini, yang pertama adalah Kaisar.

Kalau Sang Kaisar bertangan bersih, maka para pembesar tinggi yang menjadi pembantu-pembantunya sudah pasti bertangan bersih pula.

Karena kalau mereka bertangan kotor, Sang Kaisar Bertangan Bersih pasti berani dan tidak segan untuk menghukum mereka.

Sebaliknya kalau Sang Kaisar bertangan kotor, para pembantunya, yaitu para penguasa kelas satu itu, tentu berani pula bertangan kotor dan Sang Kaisar atau atasan mereka tidak berani atau malu untuk menegur karena sama-sama kotor tangan mereka.

Kalau penguasa kelas satu bertangan bersih semua, mereka juga tentu akan menjaga agar para pembantu mereka yang kelas dua semua bertangan bersih!

Demikianlah, sang atasan terus menjaga agar bawahan mereka bertangan bersih seperti mereka sampai ke pejabat yang paling rendah kedudukannya.

Nah, kalau semua pejabat, dari yang paling tinggi sampai yang paling rendah, bertangan bersih karena yang bertangan kotor pasti tidak akan terbebas dari ancaman hukuman berat, maka pemerintah menjadi sehat dan bersih.

Pemerintah yang sehat bersih, adil dan bijaksana sudah pasti akan dihormati dan dicintai rakyat karena segala yang dilakukan pemerintah semata-mata demi kepentingan dan kesejahteraan rakyat.

Rakyat tentu akan mematuhi semua peraturan yang ditentukan pemerintah, membantu pemerintah dan kehidupan rakyat yang teratur, tertib, akan mendatangkan keadilan dan kemakmuran yang merata.

Keadaan yang demikian itu barulah tepat dikatakan bahwa para penguasa adalah pemimpin, pelindung, bahkan abdi rakyat yang pantas disebut manusia-manusia yang telah menerima Thian Beng (Wahyu TUHAN) untuk memimpin Bangsanya.

Tidak demikian dengan keadaan Kerajaan Sung pada waktu itu.

Kaisarnya lemah, hanya mementingkan kesenangan hidup keluarganya, menumpuk harta dan gila kekuasaan.

Demikian lemahnya sehingga sesungguhnya kekuasaan di istana berada di tangan para pembesar tinggi, terutama sekali Perdana Menteri Chin Kui.

Para pembesar itu merupakan penjilat-penjilat yang senantiasa berusaha untuk mencari muka dan menyenangkan hati Kaisar dan keluarganya.

"Demikianlah keadaan Kerajaan Sung sehingga rakyat menderita sengsara, tidak ada keadilan, kejahatan merajalela dan yang berkuasa adalah hukum rimba,"

Kata Thai Kek Lojin dengan suara tegas dan berat.

Tiga orang muda itu mendengarkan dengan penuh perhatian dan keterangan Thai Kek Lojin itu meresap ke dalam hati dan pikiran mereka, membuat mereka menyadari benar apa yang terjadi dan mengapa Kerajaan Sung mengalami kemunduran sehingga kehilangan kejayaannya dan rakyat hidup sengsara.

Mereka dapat menangkap kebenaran mutlak yang terkandung dalam semua ucapan Kakek itu, ialah bahwa yang terutama sekali dilaksanakan pada waktu itu, yang mungkin merupakan satu-satunya obat hanyalah pembangunan ahlak bagi para penguasa yang mengatur pemerintahan Kerajaan Sung sehingga terjadi perubahan total dalam sikap dan tindakan mereka mengatur pemerintahan.

Akan tetapi mereka maklum bahwa hal itu rasanya tidak mungkin dapat dilaksanakan karena manusia manakah yang dapat dan berani menyadari bahwa langkah hidupnya menyimpang dari kebenaran?

Kaisar sendiri pasti tidak merasa bahwa dia bertindak sesat, demikian pula Perdana Menteri Chin Kui dan para pembesar korup lainnya.

Mereka akan merasa diri mereka benar dan akan mempertahankan "kebenaran"

Masing-masing, kalau perlu dengan kekerasan dan dengan mempertaruhkan nyawa mereka!

Lui Hong yang tadi mengajukan pertanyaan tentang keadaan pemerintah Kerajaan Sung, setelah mendengar penjelasan panjang lebar itu, kini mengajukan pertanyaan.

"Maaf, Suhu. Kalau keadaan pemerintahan Sung demikian buruknya dan agaknya amat sukar untuk diperbaiki lagi, lalu apa yang harus dilakukan oleh orang-orang yang mempelajari ilmu dan yang telah memutuskan dalam hidupnya untuk membela kebenaran dan keadilan seperti yang Suhu sekalian ajarkan kepada kami para murid?"

"Tugas hidup seorang pendekar tidak berubah dengan adanya keadaan Negara di mana dia hidup. Tugasnya tetap sama, yaitu membela kebenaran dan keadilan, menentang kejahatan dan membela rakyat yang lemah dan tertindas yang menjadi korban kesewenang-wenangan kekuasaan orang-orang jahat. Setidaknya para pendekar merupakan penentang golongan penjahat dan kegiatannya dapat mengurangi terjadinya ketidak-adilan dan kejahatan. Menentang kejahatan bukan berarti balas dendam atau kebencian kepada manusianya, melainkan terdorong oleh rasa keadilan dan sayang kepada mereka yang. tidak berdaya dan mengalami penindasan."

Thai Kek Lojin mengakhiri penjelasannya, lalu memandang kepada Khong-Sim Sin-Kai dan berkata.

"Kalau keteranganku tadi masih kurang jelas, harap Khong-Sim Sin-Kai sudi memberi keterangan tambahan."

Khong-Sim Sin-Kai tersenyum.

"Siapa yang dapat memberi keterangan tentang ketata-negaraan lebih jelas daripada yang diberikan mantan pejabat dan pemimpin seperti Thai Kek Lojin tadi? Keteranganmu sudah lebih diripada cukup! Sekarang tiba saatnya menjawab pertanyaan Nona Can tentang kehidupan di dunia dan tugas manusia ketika masih hidup di dunia. Mengenai hal ini, rasanya Song-Bun Lojin yang wajib memberi jawaban terhadap pertanyaan muridnya."

Song-Bun Lojin tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepalanya, memandang kepada muridnya.

Can Pek Giok juga menatap wajah Gurunya dengan penuh perhatian.

Demikian pula Song Han Bun dan Lui Hong siap mendengarkan keterangan dari Kakek berpakaian seperti orang berkabung akan tetapi yang wajahnya selalu penuh senyum itu.

"Tentang kewajiban seorang pendekar tadi telah dijelaskan oleh Thai Kek Lojin. Pertanyaan Pek Giok tadi memang penting diketahui semua manusia. Semua manusia diciptakan hidup di dunia ini, seperti semua mahluk ciptaan TUHAN, memang bukan sia-sia dan tentu ada maksud TUHAN menciptakan semua itu dan dihidupkan di dunia. Manusia hidup di dunia dengan perlengkapan, yaitu jasmani dan rohani atau raga dan jiwa. Keduanya amat penting dan memiliki tugas masing-masing. Biarlah aku mencoba untuk menggambarkan tugas manusia hidup di dunia dengan mengerjakan jasmaninya. Adapun tentang jiwa atau rohani, kiraku hanya Khong-Sim Sin-Kai yang paling tepat untuk memberi penjelasan nanti."

Setelah berkata demikian Song-Bun Lojin memejamkan kedua matanya sejenak, kemudian mulailah dia bicara.

Bicaranya lancar tak pernah ragu, seolah mengalirnya air yang tiada hentinya, didengarkan dengan penuh perhatian oleh Can Pek Giok, Song Han Bun, dan Lui Hong.

Manusia, seperti juga semua mahluk lainnya yang hidup di alam mayapada ini, baik dalam alam yang bagaimanapun, diciptakan dan dihidupkan di bawah kekuasaan TUHAN sudah pasti bukan asal hidup, melainkan disertai maksud dan manfaat yang menjadi arti dari kehidupan masing-masing.

Mengenal apa yang menjadi tugas dalam keadaan hidup ini barulah anugerah kehidupan ini benar-benar ada artinya bagi manusia.

Sesungguhnyalah bahwa manusia hidup di dunia ini karena dihidupkan, karena diatur oleh Yang Maha Pengatur, bukan karena kehendak masing-masing.

Dan sudah semestinyalah bahwa sesuatu yang diadakan atau diciptakan itu ada manfaat atau kegunaannya.

Ada empat macam mahluk TUHAN yang memiliki raga atau badan kasar sehingga tampak oleh mata yang hidup di dunia ini.

Yang pertama adalah benda yang tidak bergerak tidak bersuara dan tampaknya seperti mati namun sesungguhnya hidup, seperti tanah, pasir, batu, logam, air, api, hawa udara.

Benda itu juga mempunyai kehidupan karena merupakan ciptaan TUHAN dan karenanya diliputi zat kekuasaan TUHAN, maka benda memiliki daya kekuasaan yang tidak kalah kuatnya dengan mahluk ciptaan lainnya.

Daya hidup benda bahkan amat kuat mempengaruhi manusia.

Mahluk ke dua adalah tumbuh-tumbuhan.

Biarpun tidak memiliki gerakan yang dapat diikuti dengan jelas, juga tidak mampu mengeluarkan suara, namun lebih jelas daripada benda, tumbuh-tumbuhan itu hidup dan tumbuh, akarnya dapat mencari makanan yaitu air dan batang, ranting, daun, bunga dan buahnya tumbuh dan hidup.

Yang ke tiga adalah hewan atau binatang.

Mahluk ini lebih lengkap daripada benda atau tumbuh-tumbuhan, dapat bergerak bebas, bersuara, memiliki alat penglihatan, pendengaran, penciuman, juga perasa.

Jelas bahwa hewan itu me-miliki kehidupan dan memiliki daya hidup yang juga amat bermanfaat seperti halnya benda dan tumbuh-tumbuhan.

Adapun mahluk ke empat adalah manusia yang serba lengkap dan jauh lebih sempurna dibandingkan mahluk lainnya, terutama sekali karena dilengkapi dengan hati akal pikiran yang membuat manusia, biarpun raganya terhitung paling lemah di antara semua mahluk, namun dengan penggunaan hati akal pikirannya manusia menjadi yang paling kuat dan berkuasa.

Saking pandainya manusia sebagai mahluk yang paling dikasihi Sang Pencipta, hampir dapat dikatakan bahwa segala ciptaan lain yang berada di dunia ini dapat dimanfaatkan oleh manusia untuk mendatangkan kesejahteraan hidup manusia.

Semua itu mungkin dilakukan karena adanya hati dan akal pikiran.

Walaupun tidak dapat diketahui dengan panca indera, namun bukan hal mustahil kalau masih ada mahluk-mahluk lain kecuali yang empat itu, yang menjadi penghuni alam lain.

"Akan tetapi seyogianya kita batasi dan bicarakan yang empat itu saja. Hal-hal yang lebih rahasia itu biarlah nanti diterangkan oleh Khong-Sim Sin-Kai. Yang terpenting kita sadari adalah apa yang sepatutnya dilakukan kita manusia yang telah diciptakan hidup di dunia ini sebagai mahluk yang paling sempurna,"

Kata Song-Bun Lojin dan dia melanjutkan dengan suaranya yang ramah.

"Semua mahluk itu, dari benda, tumbuh-tumbuhan, hewan, sampai manusia, diciptakan dan dihidupkan di dunia mempunyai kegunaan atau manfaat, bukan hanya bagi dirinya sendiri, akan tetapi juga bagi dunia dan isinya. Segala macam benda mempunyai manfaat masing-masing, terutama sekali bagi manusia karena dengan akalnya manusia dapat membuat segala macam barang dari benda-benda itu, barang-barang yang diperlukan demi kesejahteraan hidupnya. Bahkan benda yang paling rendah nilainya pun, seperti pasir dan batu, ternyata amat berguna bagi manusia untuk membuat rumah. Apalagi benda-benda yang dinamakan logam dan batu mulia yang mahal. Jelaslah bahwa yang dinamakan benda, mahluk terendah yang tampaknya tak berdaya itu, ternyata amat besar manfaat dan kegunaannya. Bahkan jenis benda yang dianggap paling rendah dan kotor bahkan menjijikkan dan dijauhi manusia, yaitu kotoran dan sampah, ternyata amat besar manfaatnya sebagai pupuk yang menyuburkan tanah dan tanaman! Tumbuh-tumbuhan juga tidak kalah pentingnya, bahkan merupakan syarat mutlak bagi kehidupan manusia dan banyak hewan karena tumbuh-tumbuhan merupakan makanan yang menumbuhkan, menyehatkan, dan menghidupkan. Yang mengharukan, tumbuh-tumbuhan menyerahkan dirinya, mengorbankan dirinya untuk menghidupi mahluk lain! Bagaimana dengan hewan? Sama saja, setiap ekor hewan pasti ada manfaatnya bagi dunia dan isinya. Terutama sekali bagi manusia karena di samping tumbuh-tumbuhan sebagai makanan pokoknya, manusia juga membutuhkan hewan untuk makanannya. Manusia bisa saja memantang dirinya makan daging hewan yang besar dan kelihatan, akan tetapi tidak mungkin mencegah dirinya makan hewan-hewan kecil yang tak tampak yang berada dalam air atau sayur-sayuran. Terutarna sekali hewan ternak yang dipelihara manusia seperti lembu dan sejenisnya. Bukan hanya air, susunya dimanfaatkan sebagai makanan manusia, bahkan juga dagingnya, kulitnya, bahkan tulangnya dapat diambil manfaatnya bagi keperluan hidup manusia. Demikianlah, mahluk-mahluk yang tingkatnya lebih rendah itu semua diciptakan di dunia dengan mengandung manfaat bagi mahluk lain sehingga hidupnya tidak sia-sia dan ini tentu saja sudah sesuai dengan kehendak yang menciptakan, yaitu TUHAN Yang Maha Esa. (Lanjut ke

Jilid 22) Antara Dendam & Asmara (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 22 Sekarang tinggal manusia.

Manusia menganggap bahwa dirinya merupakan mahluk yang paling sempurna, paling mulia, paling pandai, yang terbaik, yang terpilih dan yang terhebat.

Tentu saja sepantasnya manusia memiliki kelebihan daripada mahluk lain, memiliki manfaat yang lebih besar lagi.

Akan tetapi kenyataannya menyedihkan.

Sebagian banyak manusia sama sekali tidak mempedulikan orang lain, tidak mempedulikan lingkungan di mana dia berada.

Seluruh perhatiannya ditujukan semata-mata untuk kepentingan dan kesenangan dirinya sendiri.

Bukannya mendatangkan manfaat bagi pihak lain, sebaliknya malah mendatangkan kerusakan dan kesengsaraan bagi pihak lain.

Bukannya membangun malah merusak dan semua itu dilakukan untuk mencari kesenangan bagi dirinya sendiri.

Kalau ada manusia yang seperti itu sikap hidupnya, pantaskah dia disebut sebagai mahluk termulia?

Harga dirinya bahkan lebih rendah daripada sampah, daripada rumput, atau binatang yang masih mempunyai nilai manfaat dalam hidup mereka!

"Lihatlah di sekelilingmu,"

Song-Bun Lojin berkata sambil mengembangkan kedua lengannya.

"Kekuasaan Sang Maha Pencipta meliputi segala sesuatu yang diciptakan-Nya! Rumput, lumut, semut tidak akan hidup kalau tidak ada Kuasa TUHAN yang bekerja, di luar maupun di dalam segala sesuatunya itu! Itulah Hidup dan karena hidup maka bergerak, bekerja! Kekuasaan TUHAN bekerja setiap saat tiada hentinya. Sebentar saja Dia berhenti bekerja, akan binasalah semuanya. Rabalah dadamu, siapa yang menggerakkan jantung dalam dada itu sehingga hidup setiap saat? Bukan kita yang menggerakkannya. Kalau Kuasa TUHAN tidak bekerja, jantung kita akan berhenti dan kita tidak dapat hidup."

Hidup itu bekerja, Kakek itu melanjutkan.

Manusia telah diciptakan dengan alat yang lengkap untuk dipergunakan, untuk bekerja agar manusia dapat hidup sejahtera di dunia ini.

Agar manusia dapat mengatur sehingga dunia menjadi tempat tinggal manusia hidup yang baik, agar semua manusia dapat hidup serba kecukupan kebuTUHANnya.

TUHAN Maha Pengasih dan Maha Penyayang, terutama kepada manusia.

Berkah-Nya berlimpahan, tak pernah kurang.

Namun sudah menjadi kehendak TUHAN bahwa manusia harus bekerja, tidak cukup hanya menanti berkah-Nya saja.

TUHAN sejak dahulu kala telah memberi tanah, air, hawa udara, sinar matahari, dan benih tanaman.

Lima benda ini diciptakan TUHAN, sudah ada dengan segala sifatnya, dan manusia tidak dapat membuat kelimanya itu.

Akan tetapi sudah cukup begitu sajakah manusia menerima semua itu?

Tidak, dan belum sempurna!

Semua itu masih harus disatu-padukan dengan usaha manusia, yaitu bekerja!

Manusia harus mengerjakannya, mengolah tanah, mengairinya, membiarkannya terkena hawa udara dan sinar matahari, kemudian masih harus menanam benih padi yang sudah diciptakan TUHAN.

Nah, perpaduan inilah baru akan menghasilkan padi yang cukup bagi manusia.

Ini berarti bahwa manusia memiliki kewajiban dalam hidupnya, yaitu membantu pekerjaan TUHAN, menjadi alat TUHAN.

Ini semua masih belum cukup.

Untuk dapat membuat hasil tanaman padi menjadi makanan yang menumbuhkan jasmani dan menyehatkan, juga menghidupkan, padi itu masih harus dijadikan beras, kemudian dimasak.

Bahkan kalau sudah matang, harus dimakan, dikunyah dan ditelan.

Ini pun masih dilanjutkan dengan pekerjaan tubuh bagian dalam, yaitu pencernaan, pernapasan, darah dan sebagainya.

Berarti, badan luar dan badan bagian dalam juga tiada hentinya bekerja dan bekerja!

Jelas bahwa hidup adalah gerak dan gerak adalah bekerja!

Bekerja bukan hanya demi kehidupan diri sendiri, bukan hanya demi kesejahteraan diri sendiri, melainkan untuk kesejahteraan dunia seisinya.

Barulah hidup manusia ada artinya, ada manfaatnya dan dia pantas disebut sebagai mahluk paling mulia.

Semua orang diam, tenggelam ke dalam lamunan masing-masing karena terkesan oleh apa yang diucapkan Song-Bun Lojin tadi.

"Demikianlah tugas manusia di dunia dalam kehidupan jasmaninya sehingga hidupnya ada artinya sebagai alat pembantu pekerjaan TUHAN mendatangkan kesejahteraan bagi dunia seisinya. Penjelasan Iebih lanjut yang ada hubungan dengan kehidupan rohani merupakan yang teramat penting dan penuh rahasia, maka sebaiknya kalau bagian ini kita serahkan kepada Khong-Sim Sin-Kai untuk menjelas-kannya."

Setelah menutup uraiannya, Song-Bun Lojin memejamkan math dan tak bergerak seperti dalam samadhi.

Kini tiga orang muda itu menujukan perhatian dan pandang mata mereka kepada Khong-Sim Sin-Kai yang duduk hrrsila sambil tersenyum.

"Siancai...!"

Dia berkata lembut.

"Semua keterangan yang diberikan Thai Kek Lojin dan Song-Bun Lojin tadi benar dan patut dimengerti oleh kalian bertiga orang muda. Sudah menjadi watak manusia di waktu muda hanya mementingkan soal jasmani yang ada hubungannya dengan kehidupan di dunia, dan setelah tua hanya mementingkan soal rohani yang ada hubungannya dengan kehidupan akhirat atau sesudah mati. Padahal dunia akhirat tidaklah terpisah, kematian adalah kelanjutan dari kehidupan. Guru Besar Khong pernah berkata. Apabila orang tidak paham akan kehidupan, bagaimana mungkin dia dapat memahami akan kematian? Ini berarti bahwa baik kehidupan jasmani di dunia maupun kehidupan rohani sesudah mati, sama pentingnya karena keduanya itu saling berkaitan. Masalah kehidupan terlalu luas untuk diuraikan, oleh karena itu dalam kesempatan yang langka dan baik ini, sebaiknya kalau kalian bertiga mengajukan pertanyaan tentang apa yang ingin kalian ketahui, kemudian aku akan mencoba untuk memberi jawaban. Semoga TUHAN berkenan membinbingku dalam memberikan jawaban-jawabannya."

Han Bun yang pertama kali mengajukan pertanyaan kepada Kakek yang selama tiga tahun menjadi Gurunya itu.

"Suhu, menurut keterangan Lo-Cianpwe Thai Kek Lojin tadi, yang terpenting adalah pembangunan ahlak manusia dan setahu Teecu, pembangunan ahlak sejak jaman dahulu telah dilaksanakan manusia melalui pelajaran agama. Sekarang pun di negeri kita terdapat beberapa macam agama. Agama Khong Hu Cu, Agama To, dan Agama Buddha telah berbaur dalam kehidupan rakyat, belum lagi agama-agama yang datangnya dari Barat seperti Agama Nasrani dan Agama Islam. Akan tetapi Teecu melihat kenyataan dan juga membaca catatan-catatan sejarah bahwa justeru agama-agama itu menimbulkan perpecahan dan permusuhan. Dapatkah Suhu memberi penjelasan akan kenyataan ini?"

Kakek itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Munculnya agama-agama itu membuktikan betapa besarnya kasih sayang TUHAN kepada manusia. Melihat kenyataan betapa manusia dengan kelebihan hati akal pikirannya terjerumus ke dalam dosa, menyimpang dari Jalan Kebenaran seperti yang dikehendaki TUHAN, tersesat karena dorongan nafsu-nafsunya, TUHAN menurunkan wahyu yang diberikan melalui manusia-manusia pilihan pada waktu-waktu tertentu di bagian dunia yang dipilih-Nya. Wahyu-wahyu itu merupakan pelajaran tentang kehidupan dunia akhirat, merupakan petunjuk-petunjuk agar manusia kembali ke jalan benar sehingga selamat dunia akhirat. Agama-agama itu jelas baik dan benar karena datang dari Yang Maha Benar. Akan tetapi dasar manusia itu amat lemah terhadap daya-daya rendah yang bersarang dalam hati pikiran menjadi nafsu yang amat kuat, maka agama pun mereka tarik menjadi alat untuk memperbenar akunya. Kalau agama itu sudah menjadi agama-ku, maka yang penting bukan agamanya, melainkan si-aku yang bercokol di balik agama itu sehingga muncul perasaan baik sendiri, benar sendiri, suci sendiri, dan dengan sendirinya lalu timbul konflik memperebutkan kebenaran melalui agama masing-masing. Demikian jauh manusia menyimpang dari ajaran agamanya sendiri, karena api kebencian yang sesungguhnya dilarang dalam agama masing-masing berkobar dengan ganasnya dalam hati mereka. Bahkan demikian sesatnya mereka yang mengakui TUHAN sebagai TUHANnya sendiri. TUHAN yang semua agama mengakui sebagai Yang Maha Esa, Maha Tunggal, Yang Tiada Duanya, diperebutkan oleh mereka, diakui sebagai hak milik mereka masing-masing, sehingga ada yang menyatakan bahwa TUHAN-ku bukan TUHAN-mu, bukan TUHAN mereka maka kaburlah pengertian TUHAN Yang Maha Esa, seolah TUHAN menjadi banyak! Masing-masing mengakui diri mereka sebagai pilihan TUHAN, sedangkan orang lain yang tidak seagama dengan mereka dianggap sebagai orang-orang terkutuk dan mereka mengajak TUHAN pula untuk mengutuk dan memusuhi mereka! Agaknya mereka lupa, atau sengaja melupakan, akan pengakuan mereka sendiri bahwa TUHAN Maha Pencipta, tidak ada pencipta lain di dunia maupun di akhirat kecuali TUHAN Yang Maha Esa. Mereka seperti menutup mata, tidak mau melihat kenyataan bahwa orang-orang lain itu, yang tidak seagama, adalah juga manusia, mahluk ciptaan TUHAN! Mereka juga sama mendapatkan berkah dari TUHAN, menerima segala kelengkapan hidup, tiada bedanya dengan semua orang yang menganut agama apapun juga."

Khong-Sim Sin-Kai berhenti sebentar lalu melanjutkan.

Jelaslah bahwa semua agama itu baik, karena merupakan wahyu dari TUHAN.

Bukti kebaikannya, semua agama mengajarkan prilaku hidup yang baik dan benar, menentang kejahatan.

Kalau ada orang beragama yang tersesat, hal itu terjadi karena orangnya yang menyimpang dari ajaran agamanya, bukan agamanya yang tidak baik.

Kalau seorang yang mengaku beragama A melakukan pencurian, Maka sesungguhnya dia hanyalah seorang pencuri yang mengaku sebagai umat Agama A, karena kalau dia benar umat Agama A, dia tidak akan melakukan pencurian yang dilarang oleh agama itu!

Demikian pula kalau ada seseorang yang mengaku beragama B melakukan kejahatan apa pun, maka sesungguhnya dia hanyalah seorang penjahat yang mengaku sebagai umat Agama B, karena kalau dia benar umat Agama B, dia tidak akan melakukan kejahatan yang dilarang oleh agamanya itu!

Orang-orang seperti itu hanya mendapatkan asap dan abunya saja, akan tetapi luput mendapatkan api dari agamanya itu.

Mereka itu hanya mementingkan upacara-upacaranya, tidak merasakan atau mengalami apa yang menjadi hakekat dari agamanya, yaitu senTUHAN Jiwa Besar (Kekuasaan TUHAN) dengan jiwanya yang amat tebal diselubungi nafsu dirinya.

Perlu kita menyadari kenyataan bahwa pada hakekatnya, jiwa manusia itu ketika diturunkan ke dunia dalam jasmani manusia, tidak beragama!

Hal ini dapat dibuktikan dengan melihat keadaan anak-anak yang dilahirkan dalam kelompok atau masyarakat Bangsa yang tinggal di tempat terpencil dan apa yang disebut masih liar dan belum mengenal peradaban.

Mereka itu pun adalah manusia yang memiliki anggauta jasmani lengkap, akan tetapi belum mengenal apa yang dinamakan agama.

Maka, anak yang dilahirkan dalam kelompok itu dengan sendirinya juga tidak beragama!

Hal ini adalah bukti bahwa agama sebagai wahyu yang diberikan TUHAN kepada manusia merupakan sebuah pelajaran tentang kehidupan, Pelajaran mengenai baik dan buruk dan pelajaran keagamaan, seperti juga ilmu-ilmu yang lain, diterima dan dipelajari oleh otak.

Tentu saja merupakan kebodohan kalau kita yang beragama ini mengatakan bahwa orang yang tidak beragama seperti itu adalah orang yang kotor dan berdosa.

Patut kita sadari bahwa kita ini ada karena diciptakan, kita hidup karena dihidupkan, kita menjadi seorang seperti keadaan kita ini karena ada yang mengatur, bukan atas kehendak atau permintaan kita.

Kita ini hanya tinggal menerima keadaan ini.

Seperti juga dengan adanya segala macam benda yang dapat dipergunakan manusia, agama juga dianugerahkan TUHAN kepada manusia dan tinggal terserah kepada manusia akan dipergunakan untuk kebaikan dan kesejahteraan hidup manusia ataukah sebaliknya untuk mencari permusuhan dan pertentangan.

"Akan tetapi, Suhu. Kalau agama merupakan anugerah atau wahyu dari TUHAN untuk manusia, semestinya dapat menjadikan manusia baik. Mengapa kenyataannya sebagian besar manusia di dunia ini penuh dengan permusuhan dan pertentangan? Bahkan banyak terjadi agama yang satu bertentangan dengan agama yang lain?"

"Memang amat menyedihkan kalau terjadi hal seperti itu. Akan tetapi sekali lagi harus disadari bahwa bukan agamanya yang saling bertentangan, melainkan umatnya atau manusianya. Tidaklah mungkin sama sekali kalau wahyu dari TUHAN berupa ajaran agama yang diturunkan kepada manusia mengajarkan kebencian dan permusuhan di antara manusia sendiri! Sedangkan semua manusia di dunia ini, Bangsa apa pun, adalah ciptaan-Nya yang amat dikasihi-Nya."

"Maafkan pertanyaan saya, Lo-Cianpwe,"

Kata Lui Hong.

"Sejak dulu saya mendengar disebut-sebutnya dalam kitab-kitab lama tentang TUHAN Yang Maha Esa, namun keterangannya tidak jelas dan serba rahasia. Sebetulnya apa dan siapakah TUHAN Yang Maha Esa itu?"

Mendengar pertanyaan ini, Khong-Sim Sin-Kai tersenyum dan Song-Bun Lo-Jin bahkan tertawa kecil, akan tetapi Pek Giok dan Han Bun ikut mendengarkan dengan hati tertarik sekali karena pertanyaan yang diajukan Lui Hong itu juga selalu menjadi pertanyaan dalam mereka.

"Anak-anak, pertanyaan ini gawat sekali! Bagaimana mungkin hati akal pikiran yang hanya menjadi alat dari kita manusia dapat mengukur yang TIADA TERUKUR? Akal pikiran kita amatlah terbatas jangkauannya. Hanya jiwa yang sudah bersih saja yang mungkin dapat mengenal TUHAN yang merupakan Sumber dari mana jiwa berasal. Akan tetapi untuk sekadar menambah pengertian, dapat dikatakan bahwa TUHAN itu tidak dapat dibayangkan atau digambarkan, karena kalau dapat digambarkan itu jelas bukan TUHAN adanya! TUHAN Maha Esa atau Maha Tunggal, bukan berarti satu, seperti dalam hitungan. Aku dengan jasmani ini memang satu, saat ini aku berada di puncak ini dan aku tidak ada di bawah bukit sana. Akan tetapi tidak demikian dengan Maha Keesaan TUHAN. Maha Keesaan TUHAN berarti bahwa tidak ada duanya, tidak ada bandingannya, TUHAN mengawali dari segala yang paling awal dan mengakhiri segala yang paling akhir. Setiap saat TUHAN berada di mana-mana, di dunia, di bintang-bintang, di mana saja. Kekuasaan-Nya bekerja setiap saat, berada dalam setiap mahluk dari yang paling besar sampai yang paling kecil dan tak dapat dilihat mata, berada dalam setiap tumbuh-tumbuhan, dalam setiap benda. Tak dapat diukur, tak dapat digambarkan, tak dapat dibayangkan, karena hati akal pikiran manusia tidak mungkin dapat menjangkaunya. TUHAN Maha Esa, Maha Kuasa, Maha Pencipta, Maha Benar, Maha Baik, Maha Adil, Maha Pengampun, Maha Penyayang, Maha Pembimbing. Hanya itulah yang dapat dikira-kirakan oleh akal pikiran kita. Kalau dibilang Maha Besar, nyatanya berada dalam setiap sesuatu yang paling kecil sekalipun. Kalau dibilang Maha Kecil, nyatanya alam mayapada dengan segala isinya tercakup di dalam-Nya!"

Khong-Sim Sin-Kai memejamkan kedua matanya dan tubuhnya bergoyang -goyang sedikit ke kiri kanan berirama. Han Bun berkata dengan suara penuh hormat.

"Maafkan Teecu, Suhu. Teecu ingin mengulang pertanyaan Teecu tadi. TUHAN Yang Maha Kuasa telah menurunkan banyak wahyu berbentuk pelajaran agama kepada manusia di dunia agar manusia dapat menjadi mahluk utama yang baik dan mulia sesuai dengan firman-firman-Nya yang tertuang dalam wahyu agama itu, akan tetapi mengapa kehidupan manusia masih seperti ini, penuh dengan kekacauan, dengki, iri, benci dan permusuhan. Mengapa kejahatan masih merajalela dalam kehidupan manusia?"

Mendengar pertanyaan ini, sebelum Khong-Sim Sin-Kai menjawab, tiba-tiba Pek Giok sudah berkata lantang.

"Setanlah yang menjadi gara-gara itu semua! Setan itu jahat sekali dan setan yang menggoda manusia sehingga manusia condong untuk melakukan kejahatan!"

Setelah berkata demikian, agaknya baru gadis itu teringat akan kelancangannya, maka cepat ia memberi hormat kepada Khong-Sim Sin-Kai dan berkata.

"Lo-Cianpwe Khong-Sim Sin-Kai, harap maafkan kelancangan saya."

Kakek itu tersenyum.

"Baik sekali pendapatmu itu, karena agaknya sudah menjadi pendapat umum untuk menimpakan kesalahan kepada yang mereka namakan setan. Padahal, kalau kita mengakui bahwa TUHAN itu Maha Pencipta, tidak ada kekuasaan kecuali kekuasaan TUHAN yang mencipta segala sesuatu, maka jelas bahwa adanya setan pun tentu merupakan satu di antara ciptaan TUHAN. Mengapa kita menyalahkan setan yang menggoda manusia, menggoda kita membawa kita ke dalam perbuatan jahat atau dosa? Setan tidak dapat disalahkan karena memang itulah tugasnya! Kalau tidak menggoda manusia, jelas bukan setan lagi namanya, mungkin dia yang dinamakan malaikat atau para pembantu TUHAN yang membawa kebaikan! Sekadar contoh, di dunia ini terdapat binatang nyamuk yang kerjanya hanya mengganggu dan menghisap darah manusia! Dan sudah pasti bahwa nyamuk, seperti hewan dan mahluk lain, juga hasil ciptaan TUHAN! Jadi adanya setan dan nyamuk itu hampir sama, keduanya mengganggu manusia. Kalau sampai kita digigit nyamuk, apakah kita harus menyalahkan nyamuk? Ini bodoh sekali dan mau menang sendiri. Kita semestinya menghindarkan diri jangan sampai digigit nyamuk dan tidak menyalahkan nyamuk karena memang dia dikodratkan demikian, yaitu hidup dari darah manusia! Demikian pula dengan setan. Kalau kita sampai tersesat dan melakukan kejahatan, hal itu bukan salah si setan yang menggoda, melainkan salah kita sendiri mengapa kita sampai dapat tergoda! Kalau iman kita kepada TUHAN teguh dan murni, biar ada seribu setan datang menggoda, kita tidak akan terseret dan menyimpang dari jalan kebenaran seperti yang dikehendaki TUHAN!"

Mendengar ini, Pek Giok mengangguk-anggukkan kepalanya dan ada pengertian baru memasuki nuraninya.

Akan tetapi dasar ia berwatak keras dan belum puas kalau keinginan tahunya belum terjawab, maka ia lalu bertanya.

"Tapi Lo-Cianpwe belum memberi keterangan tentang mengapa manusia yang sudah mempelajari ajaran agama yang merupakan wahyu dari TUHAN itu masih saja melakukan kejahatan? Saya sendiri selama ini lebih banyak menjumpai orang-orang jahat daripada yang baik. Bukankah mereka semua, terutama orang-orang berpangkat yang terpelajar, sudah mengetahui bahwa kejahatan itu tidak boleh mereka lakukan?"

Pertanyaan Pek Giok ini disambut anggukan kepala oleh Han Bun dan Lui Hong yang merasa setuju dengan pertanyaan itu.

"Baik, biarpun yang kalian tanyakan rrierupakan masalah gawat, aku akan mencoba memberi penjelasan dan semoga TUHAN membimbingku sehingga penjelasan ini sesuai dengan kebenaran dan kenyataan hidup. Nah, harap dengarkan dengan hati dan pikiran yang hening."

Suara Kakek itu terdengar lembut, namun agaknya pada saat itu keheningan yang mendalam menyelimuti suasana di puncak bukit sehingga suaranya terdengar jelas oleh mereka yang berada di situ.

"Seperti kita telah mendengar tadi, manusia diciptakan di dunia sudah pasti ada artinya, ada manfaatnya seperti semua ciptaan TUHAN yang lain. Bahkan hawa udara yang tak tampak mutlak diperlukan dan besar manfaatnya untuk kehidupan semua mahluk. Sinar matahari dan bulan, bahkan semua bintang yang tampak ada manfaatnya bagi alam semesta. TUHAN sudah sedemikian besar dan melimpah-limpah berkah kasih-Nya kepada mahluk hidup, terutama kepada manusia dan kenyataan inilah yang membuat manusia merasa yakin bahwa manusia merupakan mahluk paling utama dalam kasih sayang TUHAN. Lalu, apa yang pantas dilakukan manusia untuk menyatakan terima kasihnya kepada TUHAN? Apa buktinya kalau kita mengaku bahwa kita juga mengasihi dan cinta kepada-Nya? Apa yang dapat kita berikan kepada-Nya sebagai balasan kasih-Nya, sebagai tanda bahwa kita benar-benar berterima kasih dan membalas kasih-Nya yang teramat besar itu? TUHAN Maha Memiliki, tiada kekurangan apa pun, oleh karena itu yang dapat kita lakukan adalah menjadi pembantu-Nya, menjadi pembantu-Nya menyejahterakan dunia seisinya, menjadi PENYALUR berkat-Nya yang berkelebihan dan tidak berkesudahan! Menerima kasih-Nya sehingga Kasih itu bersemi dan tumbuh dalam diri kita lahir batin sehingga pohon Kasih itu berbuah sebagai sikap dan perbuatan kita yang bermanfaat bagi dunia seisinya. Kalau berkah TUHAN itu berupa kepandaian dan pengertian dapat kita salurkan berkah itu dengan memberikan bimbingan pengertian kepada mereka yang belum mengerti, menyadarkan mereka yang belum mengerti dari sikap dan perbuatan mereka yang salah dan bodoh. Kalau berkah itu berupa tenaga yang kuat, dapat kita salurkan dengan membantu dan membela melindungi mereka yang lemah tak berdaya. Kalau berkah itu berupa harta benda yang berlimpah dan berlebihan dapat kita salurkan dengan membantu mereka yang miskin dan membutuhkan harta benda. Kalau berkah itu tidak merupakan yang ketiganya itu, berkah Kasih yang bersinar dalam diri kita dapat kita salurkan dengan sikap, ucapan, dan prilaku yang baik, ramah dan penuh kasih kepada sesama kita. Bahkan penyaluran kasih yang terakhir ini tidak kalah nilainya dengan penyaluran kasih melalui harta benda dan sebagainya. Kasih sayang yang merupakan berkah TUHAN itu kita salurkan pertama-tama kepada sanak keluarga kita yang terdekat, kemudian setelah untuk keluarga dan rumah tangga, meluas kita salurkan kepada masyarakat dan lingkungan, kemudian meluas kepada Bangsa, Negara dan Tanah Air, setelah itu makin berkembang ditujukan kepada manusia dan dunia!"

"Maaf, Suhu, kalau begitu, sudah menjadi mahluk termuliakah kita kalau kita sudah melakukan semua kebaikan itu, menolong sesama manusia dengan segala kelebihan yang ada pada kita?"

Tanya Han Bun dengan hati-hati. Kakek itu menggelengkan kepalanya.

"Sama sekali tidak benar begitu, karena segala macam perbuatan baik itu sesungguhnya bukan merupakan kebaikan sejati kalau dilakukan dengan pamrih mendapatkan imbalan dari perbuatannya itu. Patut diketahui bahwa semua kebaikan yang berpamrih bukanlah kebaikan lagi, melainkan hanya merupakan jual beli belaka. Kita beli dengan perbuatan yang kita sebut kebaikan itu agar mendapatkan sesuatu yang nilainya lebih atau menyenangkan bagi kita."

"Akan tetapi, Lo-Cianpwe,"

Pek Giok membantah.

"Kalau perbuatan itu terdorong oleh rasa cinta kita kepada yang kita tolong, bukankah itu kebaikan namanya?"

Kembali Kakek itu menggelengkan kepalanya.

"Ada dua macam cinta kasih. Yang pertama adalah cinta kasih Illahi, cinta kasih TUHAN Yang Maha Kasih. Cinta kasih TUHAN tidak memilih-milih, tidak pandang bulu, tanpa pamrih sama sekali. Lihat sinar matahari itu, menghangatkan dan menghidupkan segala sesuatu tanpa pandang bulu, semua manusia mendapatkannya, dari Raja sampai hamba yang paling rendah kedudukannya, dari si kaya raya sampai si miskin, dari si cerdik pandai sampai si sederhana tak terpelajar, dari Pendeta sampai orang yang paling sesat. Lihat keharuman bunga, dicium siapa saja dari orang berkedudukan paling tinggi sampai yang paling rendah, dari yang merasa dirinya paling suci sampai yang paling jahat, tetap sama harumnya. Itulah cinta kasih TUHAN dan cinta kasih itulah yang dapat kita salurkan, merupakan perbuatan yang muncul dari jiwa, bukan dari akal pikiran. Kalau cinta kasih itu muncul dari akal pikiran kita, maka yang timbul adalah perbuatan yang sudah pasti berpamrih, memakai perhitungan sehingga sebelum memberikan bantuan, pikiran menimbang lebih dulu. Siapa yang pantas ditolong dan siapa yang tidak. Apa untungnya kalau menolong dia dan apa ruginya! Karena cinta kasih seperti itu dituntun oleh nafsu maka sudah pasti berpamrih karena demikianlah sifat nafsu, selalu mengejar kenikmatan dan kesenangan bagi diri sendiri."

"Maafkan pertanyaan saya, Lo-Cianpwe. Bukankah terdapat cinta kasih yang murni tanpa pamrih di antara manusia? Maksud saya cinta kasih antara suami-isteri, antara orang-tua dan anak, antara Guru dan murid, dan sebaliknya. Bukankah mereka itu terikat oleh cinta kasih yang tulus dan murni tanpa pamrih untuk keuntungan diri sendiri?"

Tanya Lui Hong dan pertanyaan ini pun disetujui oleh Pek Giok dan Han Bun dengan anggukan kepala. Kembali Khong-Sim Sin-Kai menggelengkan kepala sejenak dan menghela napas panjang.

"Sayang sekali, hanya sedikit saja manusia yang memiliki cinta kasih yang didasari cinta kasih murni yang dianugerahkan TUHAN kepada manusia. Sebagian besar manusia, baik dia itu suami atau isteri, orang-tua atau anak, Guru atau murid dan antara sahabat, memiliki cinta kasih yang sudah dikendalikan nafsu. Memang tampaknya cinta kasih antara mereka itu murni, akan tetapi mari kita selidiki. Biarpun lebih halus tampaknya, namun pada dasarnya cinta kasih antara mereka itu masih mengandung pamrih untuk kesenangan diri pribadi, seperti jual-beli tadi, dibeli dengan cintanya untuk mendapatkan sesuatu yang menguntungkan dan menyenangkan diri sendiri. Seorang suami atau isteri berkata kepada pasangannya. Aku cinta padamu, akan tetapi itu belum titik, masih ada lanjutannya walaupun mungkin hanya dalam hatinya, yaitu aku cinta padamu, akan tetapi engkau harus juga cinta padaku, engkau harus melayaniku, menyenangkan aku, jangan mencinta orang lain dan sebagainya. Andaikata itu dilanggar, maka yang kita lihat, cinta itu berubah menjadi benci! Demikian pula cinta orang-tua terhadap anak, berpamrih agar anak itu berbakti, menurut dan tidak membuat marah orang-tua, tidak murtad. Kalau hal itu terjadi, cintanya pun dapat berubah menjadi benci. Si anak pun cintanya berpamrih agar orang-tuanya memanjakan dan menyayangnya, kalau tidak dia akan berontak dan membenci orang-tuanya. Walaupun tidak semua pasangan ini sampai retak dan pecah, namun kalau mereka mau jujur, tentu mereka pernah mengalami gangguan-gangguan dalam cinta mereka, apalagi kalau cinta itu sepenuhnya dikuasai nafsu dan tidak disinari kasih sayang yang datang dari TUHAN. Gangguan berupa cemburu, curiga, bosan, marah, iri, dan sebagainya. Nafsu daya rendah yang berada dalam diri setiap orang manusia itulah yang selalu menyeret manusia melakukan perbuatan jahat dan dosa."

"Kalau begitu, mengapa kita tidak mematikan saja nafsu-nafsu kita agar kita tidak melakukan dosa?"

Pek Giok membantah.

"Para Pendeta dan sastrawan selalu menganjurkan agar kita mengendalikan nafsu, Lo-Cianpwe,"

Kata Lui Hong.

"Manusia dengan kemauan sendiri tidak mungkin mengendalikan nafsu-nafsunya, apalagi membunuh nafsu karena membunuh nafsu berarti mati. Nafsu daya rendah sesungguhnya merupakan peserta yang diberikan TUHAN kepada kita agar melayani hidup kita, agar kita dapat menikmati hidup kita di dunia. Setiap nafsu itu pada ujungnya mendatangkan kenikmatan bagi badan dan ini memang sudah menjadi sifatnya dan bukan tidak ada gunanya. Misalnya nafsu makan, pada ujungnya mendatangkan kenikmatan, hal ini perlu sekali agar manusia karena adanya kenikmatan itu mau makan. Andai kata tidak ada kenikmatan sehingga manusia tidak mau makan, lalu apa jadinya? Manusia akan mati kelaparan! Daya-daya rendah mempengaruhi hati akal pikiran melahirkan nafsu-nafsu dan dengan adanya nafsu ini maka manusia dapat menyejahterakan hidupnya. Tanpa adanya nafsu manusia tidak akan dapat membuat segala macam benda yang dia perlukan untuk menikmati kehidupan ini, dapat membuat rumah, pakaian, makanan yang enak-enak, dan sebagainya, yang kesemuanya itu untuk menyejahterakan badannya selagi hidup di dunia. Jelas nafsu tidak mungkin dapat dibunuh selama manusia masih hidup karena manusia memerlukan nafsu untuk dapat hidup layak dan sejahtera, untuk dapat menikmati hidup ini dengan jasmaninya."

"Akan tetapi, Lo-Cianpwe, bukankah banyak Pendeta dan Pertapa, termasuk Sam-wi Locianpwe (Tiga Orang-tua Gagah) yang sengaja mengasingkan diri, bertapa dengan maksud melakukan samadhi dan menjauhkan diri dari kesenangan dunia sehingga tidak terpengaruh oleh nafsu-nafsu sendiri? Bukankah itu berarti pengendalian nafsu?"

Pek Giok mengejar. Khong-Sim Sin-Kai mengangguk-anggukkan kepala tiga kali.

"Memang benar itulah yang dimaksudkan dan dikehendaki, akan tetapi hanya berapa orang sajakah yang berhasil? Keberhasilan itupun tidak sempurna, kebanyakan hanya perasaannya sendiri saja yang mengira bahwa mereka berhasil menundukkan nafsunya sendiri. Padahal, dalam samadhinya itu mereka memupuk segala macam kepandaian dan kesaktian, dan itupun hasil dari dorongan nafsu."

Dengan nada suara serius Khong-Sim Sin-Kai lalu berkata melanjutkan keterangannya.

"Manusia tidak mungkin berhasil sepenuhnya mengendalikan nafsu-nafsunya sendiri melalui kemauan dan akal pikirannya. Mengapa demikian? Karena justeru nafsu itu bersarang di dalam hati akal pikirannya. Daya-daya rendah yang menjadi peserta manusia berusaha menguasai manusia dan menjadi nafsu yang semula memang bertugas menjadi hamba manusia. Namun karena nafsu itu mengandung kenikmatan dan manusia yang jiwanya sudah tertutup oleh daya nafsu, maka menjadi lemah dan keinginannya hanya mengejar kesenangan dan kenikmatan itu. Dengan demikian, maka bukan lagi jiwa yang murni yang memimpin segala prilakunya, melainkan digantikan oleh nafsu. Nafsu yang semestinya menjadi hamba manusia, berbalik menjadi majikan dan si manusia menjadi budaknya. Bahkan hati akal pikiran yang sudah bergelimang nafsu itu seringkali menjadi pembela yang membenarkan tindakan yang dibimbing nafsu itu. Setiap pelaku kejahatan seperti maling, perampok, koruptor dan penjahat Iainnya selalu saja melalui pikirannya mencari alasan untuk membenarkan tindakan mereka yang tidak benar. Hati akal pikiran mereka itu mengerti sekali bahwa perbuatan mereka jahat dan tidak benar karena melalui pikiran mereka telah mempelajari semua ajaran melalui agama masing-masing bahwa perbuatan mereka itu jahat dan dosa. Akan tetapi justeru pikiran mereka sendiri yang dipengaruhi nafsu berusaha keras untuk membela dan membenarkan tindakan itu!"

"Wah, kalau begitu sungguh sukar dan berbahaya adanya nafsu-nafsu itu, Lo-Cianpwe,"

Kembali Pek Giok berkata, menyadari bahwa kemarahannya yang menjurus kepada kebenciannya terhadap Song Han Bun yang sebetulnya ia cinta itu juga merupakan nafsu yang membentuk cemburu!

"Lalu bagaimana caranya manusia dapat mengendalikan nafsu kalau nafsu tidak dapat dibunuh?"

"Tidak ada cara bagaimana harus mengendalikan nafsu karena keinginari mengendalikan nafsu itupun merupakan ulah nafsu itu sendiri yang melihat bahayanya nafsu lalu ingin terbebas dari nafsu sehingga dapat hidup senang. Hanya TUHAN dengan kekuasaan-Nya yang dapat menundukkan nafsu karena nafsu adalah ciptaan-Nya. Kekuasaan TUHAN saja yang dapat menundukkan nafsu sehingga nafsu kembali ke tugasnya semula, yaitu menjadi pelayan manusia selagi manusia hidup di dunia."

"Maaf, Suhu,"

Kata Han Bun yang mendukung pertanyaan Pek Giok tadi.

"Lalu apa usaha kita agar kekuasaan TUHAN dapat berkarya menolong kita menundukkan nafsu yang menguasai kita itu?"

"Kekuasaan TUHAN akan bekerja dan sejak dulu sudah bekerja, baik di luar maupun di dalam diri kita, bekerja di mana saja, mengatur semua ciptaan-Nya. Kalau hati akal pikiran kita bekerja, padahal sudah bergelimang nafsu, TUHAN juga tidak melarang. TUHAN Maha Kasih, demikian mengasihi kita sehingga kita manusia diberi kebebasan seluas-luasnya. TUHAN Maha Kasih dan Maha Adil, maka keadilan-Nya yang membuat kita harus memetik buah dari hasil tanaman kita sendiri. Kekuasaan TUHAN akan bekerja, seperti bekerja-Nya ketika membuat jantung kita berdetik sepanjang masa hidup kita, seperti bekerja-Nya ketika tubuh kita, rambut dan kuku, tumbuh, ketika kita dapat melihat, mendengar, mencium, merasakan dengan lidah atau senTUHAN, kekuasaan-Nya selalu bekerja kalau hati akal pikiran kita berhenti. Kalau kita berserah diri sepenuhnya, pasrah lahir batin selengkapnya dengan sabar dan ikhlas, kalau kita pasrah tanpa mencampuri dengan hati akal pikiran kita, maka kekuasaan TUHAN pasti akan bekerja dan kekuasaan-Nya yang penuh cinta kasih itu akan sedikit demi sedikit membebaskan kita dari gelimang dan pencemaran nafsu daya rendah. Kalau jiwa kita sudah tersentuh kekuasaan TUHAN, jiwa kita tersentuh Jiwa Besar, roh kita tersentuh Roh Suci, maka jiwa kita yang dibersihkan akan sepenuhnya mengendalikan seluruh alat tubuh Kalau sudah begitu, nafsu daya rendah kita kembali menjadi alat atau pelayan kita, bukan lagi memperhamba kita. Kalau sudah begitu, seluruh badan kita dibersihkan, gerakan menurut jiwa kita yang sudah terbimbing oleh kekuasaan TUHAN sehingga jiwa itu dalam keadaan badan bagaimana pun, sehat atau sakit, senang atau susah selalu berserah diri dalam bimbingan-Nya."

"Suhu pernah menjelaskan semua itu kepada Teecu,"

Kata Han Bun.

"Mohon penjelasan apakah lalu dalam kehidupan ini kita hanya menyerahkan segalanya kepada TUHAN, pasrah bongkokan begitu kepada-Nya?"

Khong-Sim Sin-Kai tersenyum.

"Banyak Pendeta atau Pertapa melakukan itu, dan Ini jelas menyalahi kodrat TUHAN. Kita Ini jiwa-jiwa yang diberi badan dan diciptakan di dunia oleh TUHAN tentu bermaksud agar kita hidup di dunia dan mengatur hidup kita. Kalau TUHAN tidak menghendaki demikian, kalau tidak menganggap penting kehidupan manusia di dunia, mengapa kita diciptakan hidup di sini? Buktinya, semua mahluk yang di-ciptakan hidup di dunia ini diberi perlengkapan sempurna untuk dapat hidup. Tumbuh-tumbuhan dengan akarnya untuk mencari makan, binatang-binatang dengan perlengkapannya masing-masing sehingga dapat mencari makan yang telah dikodratkan menjadi makanannya. Apalagi manusia, diberi perlengkapan badan yang sempurna dari rambut sampai ke telapak kaki, ditambah lagi dengan hati akal pikiran dan nafsu-nafsunya. Maka, tidak menggunakan perlengkapan itu untuk hidup di dunia, mendatangkan kesejahteraan bagi dunia seisinya selain untuk diri sendiri dan keluarga, merupakan dosa! Dosa terhadap Sang Maha Pencipta yang telah menganugerahkan semua ini kepada kita. Kita harus memanfaatkannya, harus bekerja, harus berusaha untuk kepentingan hidup ini! Jadi, untuk kesejahteraan hidup di dunia ini, kita harus menggunakan segala kemampuan alat tubuh kita termasuk hati akal pikiran. Adapun untuk kedamaian abadi setelah kita meninggalkan dunia ini, kita serahkan sepenuhnya kepada TUHAN."

Kini Song-Bun Lojin, setelah keheningan yang amat mendalam berlangsung beberapa saat mengikuti terhentinya bicara Khong-Sim Sin-Kai, berkata dengan suara gembira.

"Nah, anak-anak, kukira kalian sudah mengerti sekarang. Dalam kehidupan di dunia ini, kita wajib bekerja, berusaha, berikhtiar semampu kita untuk mendatangkan kesejahteraan kepada diri sendiri dan sesama kita, kepada manusia dan lingkungan, menggunakan semua alat tubuh ini agar dapat menjadi penyalur berkat TUHAN dan membantu pekerjaan-Nya. Namun di dasar semua ikhtiar kita itu, kita landasi dengan penyerahan total, pasrah jiwa raga dengan sabar dan ikhlas kepada TUHAN Yang Maha Esa. Karena sesungguhnya, segala macam ikhtiar kita itu amatlah terbatas dan sama sekali tidak menjamin keberhasilan mutlak. Berhasil atau tidaknya usaha dan ikhtiar kita, seluruhnya tergantung kepada penentuan TUHAN belaka. Dan patut diingat keterangan Khong-Sim Sin-Kai tadi bahwa penyerahan diri secara total, penyerahan jiwa tanpa dibantu keinginan hati akal pikiran yang bergelimang nafsu, akan menundukkan nafsu dan membersihkan jiwa sehingga kekuasaan TUHAN dengan Roh Suci-Nya akan bekerja dan membimbing kita."

Kemudian, hening di puncak bukit itu.

Keheningan yang menghanyutkan dan tiga orang muda itu merasa seolah mereka melayang-layang seperti awan-awan putih yang bergerak perlahan di angkasa, tampak seperti sekelompok domba-domba putih beriringan pulang ke kandang mereka.

Tiga orang Kakek sakti itu meninggalkan puncak bukit, mengambil jalan mereka masing-masing, diantar ucapan terima kasih dan selamat jalan oleh murid masing-masing yang berlutut memberi hormat.

Setelah mereka pergi, Song Han Bun, Can Pek Giok, dan Lui Hong saling menghampiri dan mereka bertiga duduk saling berhadapan di atas batu.

Dengan sejujurnya Song Han Bun yang menatap wajah Can Pek Giok berkata kepada gadis itu dan juga kepada Lui Hong.

"Nona Can Pek Giok dan Saudara Lui Hong, maafkan kesalahpahaman tadi. Aku memang seorang yang lemah dan aku mengaku salah."

Mendengar pengakuan salah yang diucapkan dengan jujur ini, baik Pek Giok maupun Lui Hong merasa malu dan menyesal kepada sikap mereka sendiri.

Memang sesungguhnya demikianlah watak hampir semua manusia, tidak mau kalah kalau dijahati maupun dibaiki.

Kalau dicubit ingin balas memukul, sebaliknya kalau diberi sepuluh ingin membalas dua puluh!

Karena itu, tepatlah nasihat para bijaksana bahwa apa pun sikap kita kepada orang lain pasti akan berbalik kepada diri kita sendiri.

Kalau kita ingin orang lain menyayangi kita, kita haruslah menyayangi orang lain, kalau kita ingin orang lain menghormati kita, kita harus menghormati orang lain.

Senyum tulus kita akan dibalas tawa ramah, cemberut kita akan dibalas sumpah serapah!

"Ah, sama sekali tidak, Saudara Song Han Bun.

Akulah yang terburu nafsu menyangka yang bukan-bukan terhadap dirimu, maafkan kebodohanku tadi!"

Kata Lui Hong.

"Ah..., aku... aku pun minta maaf. Aku yang menuduhmu yang kulakukan dengan ngawur karena... karena... aku..."

Pek Giok berkata tersendat-sendat.

"Karena engkau cemburu, Nona Can?"

Lui Hong melanjutkan dan Pek Giok melotot kepadanya, akan tetapi mukanya berubah kemerahan dan ia tidak membantah.

"Ah, tidak apa-apa, Nona Can Pek Giok. Memang, harus kuakui bahwa bibit permusuhan itu dulu yang menanamnya adalah mendiang Ayahku. Harus kuakui bahwa mendiang Ayahku adalah seorang yang berhati keras dan tidak mau kalah, maka wataknya itu mula-mula menimbulkan permusuhan antara keluarga Song dan keluarga Can. Kemudian di tambah lagi dengan datangnya Kakak-beradik Lee yang merusak keluargaku sehingga permusuhan keluarga Song dengan keluarga Can menjadi semakin berkembang. Sungguh menyesal sekali aku pulang terlambat sehingga tidak dapat mencegah semua kejadian itu. Akan tetapi Ibuku telah menjelaskannya semua dan aku harap engkau dapat memaafkan semua kesalahan keluargaku, Nona Can Pek Giok."

"Hei! setelah semua persoalan dapat dibikin terang dan semua pihak sudah saling minta dan memberi maaf, kenapa engkau masih bersikap sungkan, Saudara Han Bun? Perlukah engkau menyebut Nona kepada Can Siocia dan apakah ia harus menyebut engkau Tuan?"

Lui Hong mencela sambil tertawa.

"Hemm, Saudara Lui Hong, habis aku harus menyebut apa?"

Tanya Han Bun yang sebetulnya sudah dapat menduga ke mana arah pembicaraan pemuda itu.

"Ah, hal itu tentu saja terserah kepada kalian berdua. Sekarang aku mohon pamit karena ada urusan penting yang harus kuselesaikan,"

Kata Lui Hong.

"Hong-ko (Kakak Hong), engkau tentu tidak akan membiarkan puteri Jaksa Li itu hidup menderita, bukan?"

Tanya Pek Giok untuk membalas godaan Lui Hong tentang sebutan antara ia dan Han Bun tadi. Kini wajah Lui Hong menjadi kemerahan dan dia cepat menjawab.

"Tentu saja, Giok-moi."

Dia juga senang disebut Hong-Ko oleh gadis itu maka dia menyebut Giok-moi (Adik Giok) karena bagaimanapun juga mereka berdua pernah menjadi tunangan resmi!

"Adalah kewajibanku untuk menjaga dan melindunginya."

Setelah berkata demikian, dia bangkit, memberi hormat kepada Pek Giok dan Han Bun, kemudian dengan cepat tubuhnya berkelebat menuruni puncak bukit.

"Pemuda yang baik dan ilmu kepandaiannya juga amat hebat,"

Kata Han Bun memuji Lui Hong.

"Ya, dia amat baik dan setia membela keluarga kami,"

Kata Pek Giok, kini tidak lagi merasa benci kepada Lui Hong karena ia tahu bahwa Lui Hong memutuskan pertunangan mereka bukan karena semata menolaknya, melainkan karena pemuda itu selain telah mencinta seorang wanita lain, yaitu puteri Jaksa Li, juga Lui Hong tahu benar bahwa ada pertalian cinta kasih antara ia dan Han Bun.

"Dan sekarang... eh, Bun-Ko, bagaimana dengan kita...?"

Biarpun pertanyaan ini dilakukan dengan nada suara datar lirih dan agak ragu, namun sempat membuat jantung Han Bun tergetar, apalagi mendengar gadis itu menyebutnya Bun-Ko (Kakak Bun).

"Giok-moi...,"

Katanya dan suaranya mengandung getaran haru.

"Engkau tentu mengetahui bahwa sejak pertama kali kita saling berjumpa, aku jatuh cinta kepadamu. Sampai sekarang aku tetap mencintamu dan sampai selamanya, semoga TUHAN memperkenankan, aku akan tetap mencintamu. Aku tahu pula dari Ibuku bahwa orang-tuamu dan orang-tuaku juga sebetulnya setuju kalau kita dijodohkan, akan tetapi Ayahmu dulu menolak karena hal itu memang tidak mungkin terjadi karena engkau sudah ditunangkan dengan Lui Hong. Sekarang, Lui Hong telah memilih sendiri jodohnya, kita berdua sudah bebas, oleh karena itu, apabila engkau tidak keberatan, Giok-moi, aku akan minta kepada Ibuku agar menemui Ibumu dan membicarakan tentang perjodohan antara kita. Bagaimana pendapatmu?"

Wajah Pek Giok kini berseri dan berwarna kemerahan, mulutnya tersenyum akan tetapi pandang matanya hanya sejenak menatap wajah Han Bun lalu ia menundukkan pandang matanya.

"Sesukamulah, Bun-Ko, aku sih setuju saja. Hanya... rasanya aku belum siap sebelum aku dapat membunuh si jahanam Pek-Bin Giam-Lo, membalas dendam atas pembunuhan yang dia lakukan kepada Ayahku dan Ayahmu."

"Nanti dulu, Giok-moi. Apakah kita sudah lupa akan semua keterangan dan nasihat yang kita terima dari ketiga Lo-Cianpwe yang bijaksana tadi? Kita harus menyadari bahwa segala sesuatu yang terjadi pada diri kita dan pada semua mahluk tidaklah menyimpang dari garis yang telah ditentukan oleh TUHAN, melalui hukum karma, hukum sebab akibat yang mendasari kebijaksanaan dan keadilan-Nya. Apa pun yang terjadi dengan diri kita dan segala mahluk, seperti yang telah terjadi menimpa Ayah kita, sudah menjadi garis mereka pula dan tidak mungkin dapat diubah oleh siapapun juga. Kalau kita mendendam, berarti kita membiarkan racun tumbuh dalam hati kita dan kita membiarkan karma mengikat kita sehingga akan terjadi dendam-mendendam yang tiada berkesudahan. Jangan membiarkan kita menjadi sebab, karena kelak kita akan memetik akibatnya. Biarlah TUHAN sendiri yang akan menghukum siapa yang semestinya dihukum dan memberi anugerah kepada siapa yang sepatutnya diberi anugerah. bagaimana pendapatmu, Giok-moi?"

Sejenak Pek Giok termenung dan perlahan-lahan beberapa tetes air mata menjatuhi pipinya.

Ia teringat akan Ayahnya yang dibunuh orang, juga menyadari bahwa ia tidak boleh menjadi hakim sendiri menjatuhkan hukuman kepada orang yang telah membunuh Ayahnya.

Ia menyadari bahwa Pek-Bin Giam-Lo yang sudah tua itu membunuh Ayahnya dan Ayah Han Bun untuk membalas dendam atas kematian muridnya, Bu-Eng-Kwi Tok Liong Taisu yang tewas di tangannya dan di tangan Han Bun.

Kalau sekarang ia lalu membalas dendam dan membunuhnya, lalu apa bedanya ia dengan Pek-Bin Giam-Lo?

Sama-sama terlibat dalam karma dendam-mendendam dan balas-membalas.

Ia harus merelakan kematian Ayahnya dan menyerahkan hukuman kepada Pek-Bin Giam-Lo sebagai akibat kejahatannya itu kepada TUHAN.

"Engkau benar, Bun-Ko. Aku setuju dan marilah kita pulang."

Han Bun merasa girang sekali.

Terutama karena kini Pek Giok agaknya sudah banyak berubah setelah selama tiga tahun menerima gemblengan dari Song-Bun Lojin yang sakti dan bijaksana.

Pek Giok bukan lagi gadis yang dulu galak dan keras hati.

Sungguhpun masih lincah dan pemberani, namun ia memiliki pertimbangan yang bijaksana dan memiliki pengertian.

Mereka berjalan santai dan entah siapa yang bergerak lebih dulu, mereka, berjalan perlahan menuruni puncak itu sambil bergandeng tangan!

Lui Hong langsung menuju ke rumah Jaksa Li, disambut oleh Jaksa Li, isterinya dan Li Sian Hwa yang menangis tersedu-sedu ketika Lui Hong datang.

Mereka duduk di ruangan tamu dan Sian Hwa berkata di antara isaknya.

"Hong-Ko, tolonglah, Hong-Ko. Tolong kau selamatkan anakku Bu San dari tangan Si Kejam itu...!"

Lui Hong menghela napas panjang, dengan sikap tak berdaya dia memandang kepada Jaksa Li dan Nyonya Li yang juga menangis sedih.

Jaksa Li agaknya mengerti akan kebingungan Lui Hong, maka dia pun hanya menghela napas panjang dan menggelengkan kepalanya.

"Hwa-moi, dengarkan aku baik-baik dan hentikan tangismu, tenangkan hati dan pikiranmu dan mari kita pertimbangkan dengan baik-baik apa yang harus kita lakukan menghadapi peristiwa ini. Sama sekali bukan karena aku tidak mau membantumu atau karena aku takut melakukan dan memenuhi permintaanmu itu, akan tetapi kita harus menyadari bahwa hal itu sungguh tidak mungkin dilaksanakan."

Mendengar ini, Sian Hwa menghentikan tangisnya, mengusap mukanya dengan saputangan dan menatap wajah Lui Hong dengan heran.

"Apa apa maksudmu, Hong-Ko? Mengapa tidak mungkin? Bu San itu anakku! Aku yang mengandungnya, aku yang melahirkannya. Dia milikku, harus kudapatkan kembali!"

Lui Hong menghela napas panjang dan menggelengkan kepalanya.

"Sayang sekali peraturan pemerintah maupun kebiasaan rakyat tidak menganggapnya begitu, Hwa-moi. Sejak dahulu, semua orang dan juga pemerintah sudah menentukan bahwa yang berhak terhadap seorang anak, apalagi seorang anak laki-laki, adalah Ayah kandungnya. Pengadilan negeri akan membenarkan si Ayah kandung kalau terjadi perebutan dengan Ibu kandung si anak. Juga pendapat umum akan menyalahkan si Ibu. Andaikata aku dapat merebut anak itu dari tangan Leng Sui, maka akibatnya, engkau, aku dan anak itu akan menjadi buronan, mungkin dikejar oleh Pemerintah Cin dan juga Pemerintah Sung, bahkan ditentang oleh umum. Apa engkau menghendaki hal itu terjadi?"

Mendengar ini, Sian Hwa tidak mampu menjawab, hanya terisak perlahan. Terdengar Jaksa Li berkata dengan tegas.

"Sian Hwa, apa yang dikatakan Lui Hong itu benar sekali. Anakmu, Leng Bu San adalah hak dari Ayahnya, hal ini tidak bisa diganggu-gugat. Kalau engkau memaksa Lui Hong menggunakan kekerasan merampas Bu San padahal anak itu kini sudah dibawa ke Kotaraja Yen-Ching (Peking di jaman Kerajaan Cin), selain amat sukar dan berbahaya, juga andaikata berhasil, tentu Pangeran Leng Sui akan mengerahkan pasukan untuk melakukan pengejaran dan perampasan kembali. Dan patut diingat bahwa kalau Perdana Menteri Chin Kui mendengar, dia tentu akan membantu Pangeran Leng Sui dan ikut mengerahkan pasukan melakukan pencarian. Kalau sudah begitu, apa daya kita?"

Mendengar ini, Li Sian Hwa hanya dapat menangis sedih.

Lui Hong menjadi bingung dan tidak tega melihat wanita yang dikasihinya menderita demikian hebat.

Sudah merasa sengsara menjadi isteri Leng Sui, kini harus berpisah dari putera kandungnya!

"Hwa-moi, percayalah kepadaku.

Sejahat-jahatnya seorang manusia, tidak mungkin seorang Ayah kandung akan menyengsarakan putera kandungnya.

Aku merasa yakin bahwa Leng Sui tentu akan memelihara Bu San dengan baik dan penuh kasih sayang.

Kelak, kalau anakmu itu sudah besar dan mengerti, pasti dia akan mencari Ibu kandungnya.

Akulah yang kelak akan menerangkan kepadanya, apa yang telah dilakukan Leng Sui kepadamu, Ibu kandungnya."

Akhirnya, setelah dihibur oleh Lui Hong, Jaksa Li dan Nyonya Li, Sian Hwa dapat menenangkan hatinya.

Dalam kesempatan itu dengan terus terang Jaksa Li menyatakan penyesalannya akan sikapnya dahulu yang menolak Lui Hong berhubungan dengan puterinya.

Dan dengan terus terang Lui Hong mengakui bahwa bagaimanapun juga, dia masih mencintai Li Sian Hwa yang kini telah menjadi janda.

Dia sanggup untuk membela dan melindungi janda muda itu sebagai isterinya, kalau Sian Hwa mau menerimanya dan kalau Ayah-Ibunya menyetujuinya.

Sian Hwa yang memang sejak dulu kagum dan jatuh cinta kepada Lui Hong, tentu saja menyambut dengan senang dan penuh harapan akan mengalami keadaan hidup yang lebih baik daripada yang sudah ia alami ketika menjadi isteri Leng Sui selama sekitar dua tahun lebih.

Sementara itu, bagi Jaksa Li dan isterinya merupakan suatu penghormatan dan hiburan besar karena tentu saja amat memalukan dan mencemarkan nama dan kehormatan keluarganya kalau puteri tunggalnya menjadi seorang janda yang bukan hanya ditinggalkan suami, bahkan dipisahkan dari puteranya.

Kini ia akan menjadi isteri Lui Hong, berarti puteri mereka mendapatkan kehormatan baru sebagai Nyonya Lui.

Dan keadaan Lui Hong juga tidak mengecewakan.

Dia seorang pemuda terpelajar dan selain itu juga seorang pendekar besar yang namanya disegani dan dihormati banyak orang.

Demikianlah, setelah disetujui kedua pihak, juga orang tua Lui Hong, yaitu Lui Siong dan isterinya menyetujui, pernikahan antara Lui Hong dan Li Sian Hwa dilangsungkan dengan perayaan sederhana namun cukup meriah.

Sederhana karena pengantin wanitanya seorang janda sehingga perayaannya berbeda dengan pernikahan seorang gadis.

Namun perayaan itu dilaksanakan cukup khidmat dan terhormat karena bagaimanapun juga, Li Koan adalah seorang jaksa di Kotaraja yang dihormati karena keadilan dan kebersihannya dalam ruangan pengadilan, seorang pejabat pengadilan yang sama sekali tidak dapat disogok, tidak dipengaruhi uang dan tidak takut menghadapi pengaruh siapa pun demi menegakkan keadilan.

Tentu saja dalam perayaan pernikahan itu hadir pula Nyonya Can sebagai tamu kehormatan, dan juga Can Pek Giok dan Song Han Bun yang secara resmi telah bertunangan atas persetujuan Ibu masing-masing.

Setelah menikah, Lui Hong memenuhi permintaan mertuanya untuk tinggal di Kotaraja, di mana dia dengan mudah dapat membantu sang mertua dalam kantor pengadilan karena memang Lui Hong memiliki pendidikan yang cukup tinggi dalam hal kesusastraan.

Karena Li Sian Hwa merupakan anak tunggal, maka orang tuanya merasa berat untuk berpisah dan kini tinggallah Lui Hong di rumah gedung Jaksa Li yang cukup besar.

Kurang lebih tiga bulan setelah Lui Hong menikah dengan Li Sian Hwa, pernikahan dilangsungkan antara Can Pek Giok dan Song Han Bun.

Karena kedua mempelai ini sudah tidak mempunyai Ayah lagi, maka Nyonya Song dan Nyonya Can bersepakat untuk merayakan pernikahan itu bersama-sama sehingga pesta pernikahan dirayakan cukup meriah.

Bukan hanya para sahabat dan kenalan di kota Sung-Kian yang hadir, bahkan banyak pula tamu dari Kotaraja, di antaranya bahkan Pangeran Liang Tek Ong sendiri berkenan hadir!

Juga beberapa orang tokoh dari Bu-Tong-Pai di mana Han Bun pernah menjadi murid tersayang, dan beberapa prang tokoh Kun-Lun-Pai di mama Can Pek Giok pernah menjadi murid Kun-Lun Sam-Sian (Tiga Dewa Kun-Lun) datang memenuhi undangan murid-murid mereka.

Setelah Pek Giok dan Han Bun menikah, terjadi semacam perebutan antara Nyonya Can dan Nyonya Song.

Karena masing-masing hanya mempunyai seorang anak, maka keduanya tentu saja menghendaki agar anak dan mantu mereka yang hanya satu-satunya itu tinggal bersama mereka di rumah masing-masing.

Dengan bijaksana Pek Giok dan Han Bun lalu melerai dan terpaksa mereka tidak berpihak dan mereka tinggal bergiliran di kedua rumah orang tua mereka itu.

Sebulan tinggal di rumah Nyonya Can dan sebulan kemudian tinggal di rumah Nyonya Song.

Demikian setelah beberapa bulan, akhirnya dua orang Ibu yang cukup bijaksana itu mengambil jalan tengah, yaitu mereka membiarkan kedua orang anak mereka yang telah menjadi suami-isteri itu membeli dan memiliki sebuah rumah sendiri.

Dengan demikian mereka dapat saling mengunjungi dan sementara itu memberi kesempatan kepada suami-isteri itu untuk membangun sebuah rumah tangga sendiri dan hidup berbahagia.

Sementara itu, dengan hati panas namun juga tidak berdaya, Pangeran Leng Sui kembali ke utara, ke kota raja Yen-Ching dan melaporkan apa yang terjadi di Hang-Chouw.

Akan tetapi sebelum Kaisar Kerajaan Cin marah, dengan cepat telah datang utusan dari Perdana Menteri Chin Kui yang mengatas-namakan Kaisar Sung Kao Cu minta maaf atas sikap Pangeran Liang Tek Ong terhadap Pangeran Leng Sui.

Bagaimanapun juga, Leng Sui cukup puas bahwa dia dapat membawa pulang Leng Bu San karena selain hal itu dapat menyakitkan hati Li Sian Hwa yang dibencinya, juga dia dapat mendidik puteranya itu agar kelak memusuhi Lui Hong dan Li Sian Hwa.

Sementara itu, Ang-Hwa Niocu Siang-koan Ceng, akhirnya menerima pinangan Pangeran Leng Sui dan menjadi isterinya.

Terkabul harapannya untuk menjadi isteri Pangeran dengan harapan kelak menjadi permaisuri kalau Pangeran Leng Sui dapat menjadi Kaisar Kerajaan Cin!

Wanita yang amat cerdik ini benar-benar telah menguasai Pangeran Leng Sui sehingga suami itu selalu menuruti kemauan Ceng Ceng, bahkan tidak berani mengambil seorang pun selir!

Perdana Menteri Chin Kui mendapat teguran keras dari sekutunya, yaitu Kaisar Kerajaan Cin tentang penghinaan yang dilakukan Pangeran Liang Tek Ong kepada Pangeran Leng Sui.

Karena itu, Perdana Menteri Chin Kui tidak tinggal diam dan berusaha keras untuk membalas dengan melenyapkan Pangeran Liang Tek Ong yang memang sejak dahulu paling berani menentangnya.

Untuk terang-terangan memusuhi Pangeran Liang Tek Ong dia masih ragu dan khawatir karena dia tahu bahwa Kaisar Sung Kao Cu sayang dan percaya kepada adiknya itu.

Akhirnya, setahun kemudian dia berhasil melenyapkan Pangeran Liang Tek Ong dengan cara mengirim orang-orang yang sakti untuk membunuh Pangeran Liang Tek Ong dalam Istananya.

Kotaraja menjadi gempar ketika semua orang mendengar berita bahwa Pangeran Liang Tek Ong kedapatan tewas dengan dada tertembus pedang, terbunuh tanpa si pembunuh meninggalkan jejak sama sekali.

Tentu saja para pendekar yang berjiwa patriot dan yang kagum dan menghormati Pangeran Liang Tek Ong menjadi penasaran dan berduka.

Mereka berusaha keras untuk menyelidiki dan membalas dendam, akan tetapi jejak si pembunuh tidak diketahui.

Banyak yang menduga bahwa ini tentu perbuatan yang didalangi oleh pemerintah Kerajaan Cin atau mungkin juga dari Bangsa Mongol yang mulai bangkit.

Biarpun ada pula yang menduga tangan kotor Perdana Menteri Chin Kui yang bertanggung jawab, namun karena memang tidak ada buktinya, tidak ada yang dapat menuduhnya.

Bahkan Kaisar Sung Kao Cu sendiri, biarpun berduka atas kematian Pangeran Liang Tek Ong, tidak dapat menuduhnya, bahkan Kaisar tidak percaya kalau Perdana Menterinya itu yang menjadi dalang.

Terutama sekali Song Han Bun dan Can Pek Giok yang ketika itu telah mempunyai seorang anak puteri berusia satu bulan, menjadi penasaran.

Song Han Bun ikut pula melakukan penyelidikan dan dia hanya dapat mengetahui bahwa pembunuh itu memiliki ilmu pedang yang amat hebat.

Pedang itu menembus dada dan jantung dan saking tajamnya, ketika melalui tulang-tulang iga, tulang itu terbabat putus dengan rapi seolah tulang iga itu lunak saja, sayatannya tak meninggalkan bekas!

Akan tetapi dia pun tidak menemukan jejak si pembunuh.

Yang mula-mula melakukan penyelidikan tentu saja Lui Hong karena dia tinggal di Kotaraja dan dia pula yang memberi kabar kepada Song Han Bun.

Mereka berdua melakukan penyelidikan namun sia-sia belaka.

Beberapa bulan kemudian, Li Sian Hwa setelah satu setengah tahun menikah dengan Lui Hong, juga melahirkan seorang anak laki-laki.

Tentu saja hal ini amat membahagiakan hati Sian Hwa dan kedua orang tuanya, menghibur mereka, dari kedukaan kehilangan Leng Bu San.

Putera Lui Hong diberi nama Lui Tiong Lee, sedangkan puteri Song Han Bun diberi nama Song Bwe Cin.

Biarpun kematian Pangeran Liang Tek Ong merupakan kehilangan besar bagi Kerajaan Sung yang semakin lemah, namun harus diakui bahwa politik yang dijalankan Perdana Menteri Chin Kul yang selalu mendekati Kerajaan Cin dan juga Kerajaan-kerajaan lain seperti Shi-Sia dan Mongol membuat Kerajaan Sung masih bertahan.

Namun pemerintahannya semakin lemah, para pejabatnya semakin angkara murka, saling berlumba menumpuk kekayaan dan mereka tidak segan-segan membebani rakyat dengan pajak-pajak yang berat.

Masih beruntung bahwa Kaisar Sung Kao Cu (1127-1162) yang lemah itu menghormati kaum beragama sehingga pada jaman itu Sam Kauw (Tiga Agama .

Buddhism, Confucianism, dan Taoism) berkembang dengan baik.

Para Tosu (Pendeta Agama To) yang terkenal tekun mempelajari rahasia-rahasia alam dapat menemukan alat kompas yang semula dipergunakan untuk menentukan letak Hong-Sui (Angin dan Air) untuk memilih letak yang baik bagi bangunan rumah tinggal, makam, jembatan dan sebagainya.

Setelah kompas ditemukan, mulailah alat itu dipergunakan untuk keperluan pelayaran, menentukan arah bagi perahu yang berada di tengah samudera.

Mulailah Kerajaan Sung, dibantu oleh para Pendeta To, mengembangkan pelayaran sehingga dapat memiliki armada yang selain dapat memperkuat pertahanan di sungai dan lautan, juga dapat mengembangkan perdagangan lewat lautan.

Sampai beberapa tahun lamanya tidak terjadi bentrokan atau pertempuran antara Kerajaan Sung dan Kerajaan Cin yang juga dikenal sebagai Bangsa Kathal.

Bangsa ini merupakan perkembangan dari suku Cin yang dahulunya juga merupakan Bangsa Nomad yang suka berpindah-pindah.

Setelah jumlah mereka mencapai banyak dan menjadi kuat, mereka berhasi mengusir Kerajaan Sung ke selatan dan menduduki Cina bagian utara, mendirikan Kerajaan On (Kerajaan Emas) yang cukup kuat dengan wilayah dari Sungai Yang-Ce ke utara sampai melewati Tembok Besar.

Bahkan Kerajaan Cin sudah merasa demikian besar dan kuat sehingga pemerintahannya memaksa para kepala suku yang banyak terdapat di Gurun Gobi dan di sebelah utara Tembok Besar untuk membayar upeti kepada Kerajaan Cin.

Karena takut menghadapi bala tentara Cin yang amat besar jumlahnya, hampir sejuta orang, para pimpinan suku Bangsa di utara dan barat-laut tidak berani membantah.

Namun demi menjaga kehormatan mereka, para kepala suku ini mengirimkan upeti itu dengan sebutan "hadiah".

(Lanjut ke

Jilid 23) Antara Dendam & Asmara (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 23 Diantara suku-suku Bangsa di utara itu, kiranya hanya suku Mongol saja yang lebih kuat daripada yang lain, terkadang menolak atau kalau mengirimi "hadiah"

Juga tidak begitu banyak.

Bukan hanya kepala suku, bahkan para kepala gerombolan penjahat juga terpaksa mengirim upeti kepada Kerajaan Cin karena kalau tidal, pasukan Cin tentu akan menyerang dan membasmi mereka.

Biarpun pada jaman itu terdapat banyak penguasa daerah yang kecil-kecil, namun yang patut dicatat dan yang terbesar hanyalah tiga, yaitu paling utara di luar bahkan jauh dari Tembok Besar adalah Bangsa Mongol, kemudian di luar Tembok Besar sampai ke sebelah dalam terus ke selatan dengan perbatasan Sungai Yang-Ce adalah Kerajaan Cin, kemudian paling selatan yang kini menguasai armada yang cukup kuat adalah Kerajaan Sung.

Dan agaknya tiga kekuatan besar itu tidak ingin melibatkan diri dalam perang terbuka.

Agaknya masing-masing lebih memusatkan perhatian mereka untuk menghimpun kekuatan.

Maka yang terjadi hanyalah semacam "perang dingin"

Dan semua ini merupakan hasil siasat politik Perdana Menteri Chin Kui yang mengulurkan tangan damai dengan Kerajaan Cin maupun dengan Bangsa Mongol yang ketika itu diwakili oleh Pangeran Baduchin.

Kerajaan Cin yang beribu kota Yen-Ching tampaknya makmur juga.

Biarpun sebagian besar rakyatnya adalah petani dan peternak domba, juga ada budak belian dan pengemis.

Akan tetapi banyak juga terdapat kaum terpelajar, perajurit, pegawai pemerintah dan para Bangsawan.

Akan tetapi karena mereka itu keturunan suku Bangsa petualang, mereka yang dahulunya tinggal di daerah yang sulit dan keras, mereka adalah orang-orang yang kuat, pandai menunggang kuda, pemanah-pemanah ulung, dan pandai berperang.

Kerajaan Cin diperintah seorang Kaisar yang didewa-dewakan rakyatnya karena seorang Kaisar bergelar Thian-Cu (Putera TUHAN) dan keluarga Istana dinamakan Keluarga Sorga!

Mengenai filsafat kehidupan Bangsa Cin pada umumnya tidak banyak bedanya dengan Bangsa pribumi dan suku-suku lain di Cina Selatan.

Bangsa Cin juga menghargai pelajaran Tiga Agama yang besar pengaruhnya dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Terutama sekali tata-susila menurut yang diajarkan Khong-Cu.

Mereka memuja leluhur mereka, bersembahyang di depan keping-keping kayu yang diatur dan yang melambangkan jiwa Nenek-Moyang mereka yang telah meninggal.

Mereka yang tidak miskin mengenakan pakaian dari sutera yang beraneka warna, sedangkan para budak berpakaian dari kapas dan tidak boleh memakai sepatu.

Para pejabat tinggi diiringi budak-budak yang memayungi tuan mereka.

Untuk menjaga keselamatan keluarga dan agar jangan ada setan yang "tersesat jalan"

Memasuki rumah, mereka memasang Hu (Surat Jimat) di depan pintu.

Mendengar akan kemakmuran Kerajaan Cin atau Kathai, banyak sekali suku-suku Bangsa liar yang tidak tinggi peradabannya, memasuki daerah Cin.

Begitu berbaur, mereka itu seolah lenyap diisap oleh masyarakat dan mereka meniru adat istiadat, berpakaian, bahkan beragama seperti rakyat Kerajaan Cin.

Sikap mereka dalam pergaulan sehari-hari adalah sikap yang telah menjadi tradisi sejak jaman dahulu, yaitu hormat kepada para dewa, hormat kepada Raja, dan hormat kepada orang-tua atau orang lebih tua.

Akan tetapi di antara para terpelajar ada pula yang melancarkan kritik-kritik dalam bentuk sajak kepada Raja atau pejabat tinggi yang lalim dan korup.

Pemerintah Cin cukup kuat, memiliki persenjataan yang memadai dan di antaranya yang terkenal adalah senjata alat pelontar batu dengan busur yang talinya harus direntangkan belasan orang perajurit.

Ada pula sejenis katapel yang tali-talinya harus direntangkan puluhan orang perajurit.

Ada pula yang dinamakan api terbang, yaitu katapel yang menerbangkan bahan yang sudah dibakar.

Ada pula semacam "meriam"

Atau ranjau yang diledakkan dalam bumbung bambu besar, melontarkan peluru batu atau besi.

Siangkoan Ceng, puteri Ketua Beng-Kauw yang kini telah menjadi isteri Pangeran Leng Sui, hidup dengan mulia dan terhormat.

Diantara para puteri keluarga Istana Kerajaan Cin, tidak ada wanita yang memiliki pengaruh dan kekuasaan sebesar yang dimiliki Siangkoan Ceng.

Bukan hanya Pangeran Leng Sui, suaminya, yang takut dan tunduk kepadanya sehingga Pangeran ini mengusir semua selirnya atas permintaan Siangkoan Ceng, bahkan para pejahat tinggi pun menghormati Nyonya Leng Sui ini.

Juga Kaisar Kerajaan Cin yang mendengar akan kelihaian wanita itu, juga kagum dan segan kepadanya.

Sebetulnya Siangkoan Ceng sepatutnya bersyukur karena ia telah mendapatkan kedudukan yang cukup mulia.

Akan tetapi ada satu hal yang membuat ia seringkali termenung dengan hati kesal dan jengkel, yaitu, setelah menjadi isteri Leng Sui selama sepuluh tahun, ia tidak juga mempunyai anak.

Hal ini tidaklah terlalu menjengkelkan karena ia pun tidak terlalu mendambakan anak, akan tetapi yang membuat ia jengkel adalah bahwa ia harus membiarkan Leng Bu San menganggap ia sebagai Ibu!

Padahal anak itu sama sekali bukan anaknya, melainkan anak dari Leng Sui dan Li Sian Hwa dan sama sekali tidak ada rasa sayang sedikit pun dalam hatinya terhadap Leng Bu San yang kini telah berusia sebelas tahun.

Selama sepuluh tahun ia terpaksa memperlakukan anak itu seperti anaknya sendiri walaupun sikapnya yang baik itu hanya secara lahiriah saja.

Akhirnya setelah Leng Bu San semakin manja dan kolokan, ia tidak tahan lagi dan mencari akal untuk mengenyahkan anak itu dari kehidupannya.

Pada suatu malam sehabis bermesraan dengan suaminya, Siangkoan Ceng berkata kepada Leng Sui dengan lembut, lebih seperti orang mengeluh daripada mengadu.

"Pangeran, akhir-akhir ini aku merasa khawatir melihat sikap anak kita Bu San."

Pangeran Leng Sui menatap wajah isterinya dan alisnya berkerut.

"Hemm, apa yang dilakukan anak nakal itu? Apa dia bersikap kurang ajar kepadamu?"

"Tidak, akan tetapi dia pernah mengatakan bahwa dia mendapat mimpi dan dalam mimpi itu dia bukan anak kandungku, bahkan dia mengatakan bahwa dalam mimpinya aku mengancam hendak mem-bunuhnya. Ah, aku merasa khawatir sekali. Aku sayang anak kita itu..."

"Ah, bagaimana dia dapat mengetahui bahwa dia bukan anak kandungmu?"

"Dia tidak tahu, dia hanya mimpi,"

Kata Siangkoan Ceng.

"Siapa tahu, mungkin berita itu ada yang membocorkan kepadanya."

"Tapi siapa berani demikian lancang? Panggil Bu San ke sini sekarang juga, aku akan menanyainya!"

"Tidak tepat kalau begitu, mungkin kalau ditanya dia akan takut mengaku. Sebaiknya menanti sampai dia cerita sendiri, seperti yang dilakukannya padaku."

Mendengar ini, Pangeran Leng Sui menurut.

Pada keesokan malamnya ketika Bu San tidur pulas dalam kamarnya, diam-diam Siangkoan Ceng dengan menggunakan kepandaiannya memasuki kamar itu tanpa ada yang mengetahuinya.

la duduk di tepi pembaringan, memandang anak laki-laki yang berusia sebelas tahun dan yang sedang tidur pulas itu.

Leng Bu San adalah seorang anak laki-laki yang tampan, mirip Ayahnya.

Akan tetapi bentuk bibirnya mirip bibir Li Sian Hwa, Ibu kandungnya.

Tubuhnya termasuk tinggi, tegap, kulitnya agak gelap dan rambutnya agak berombak.

Seorang anak laki-laki yang ganteng.

Akan tetapi justeru hal ini, terutama bentuk mulut yang mirip Ibunya itu, yang membuat Siang-koan Ceng kini memandang penuh kebencian.

Alangkah mudah baginya untuk membunuh anak itu saat ini juga, pikirnya.

Akan tetapi ia tidak bodoh, tidak mau melakukan hal yang tidak akan menguntungkan dirinya itu.

Mulailah Siangkoan Ceng mengerahkan ilmu hitam seperti yang dahulu ia pelajari dari mendiang Tong Tong Lokwi.

Ia meletakkan tangan kirinya menempel dahi anak itu, diam sambil membaca mantra dan memejamkan mata sejenak, lalu ia membuka mata menatap Bu San dan berbisik lirih.

"Anak brengsek, engkau bukan anakku, engkau kularang menyebut Ibu padaku. Aku bukan Ibu kandungmu dan suatu saat aku akan membunuhmu!"

Lalu ia mengulang-ulang kalimat terakhir itu.

"Aku akan membunuhmu, akan membunuhmu, akan membunuhmu!"

Dalam tidurnya, kini Bu San gelisah, bergerak-gerak seperti ketakutan.

Setelah merasa cukup Siangkoan Ceng meninggalkan kamar itu.

Pada keesokan harinya, Bu San menghadap Ayahnya.

Dengan sikap penasaran dia bercerita kepada Ayahnya tentang mimpinya semalam.

"Ayah, aku mimpi aneh sekali. Ibu kelihatan amat membenciku, memaki-maki dan mengatakan bahwa aku bukan anak kandungnya, bahkan ia mengancam akan membunuhku!"

Leng Sui menatap wajah puteranya sambil mengerutkan alisnya.

"Bu San, apa yang kau katakan ini? Engkau tahu betapa Ibumu amat menyayangmu."

"Tapi dalam mimpi itu Ibu mengatakan bahwa aku bukan anak kandungnya!"

"Hemm, dari siapa engkau mendengar akan hal itu?"

Bu San memandang Ayahnya dengan mata terbelalak.

"Jadi benar, Ayah? Aku bukan anak kandung Ibu? Kalau begitu, siapa Ibu kandungku?"

Pangeran Leng Sui menghela napas panjang.

"Engkau sekarang sudah besar dan akhirnya engkau tentu akan mengetahuinya juga. Baiklah, aku akan menceritakan terus terang. Dahulu aku tinggal di selatan, di kota Hang-Chouw, Ibu kota Kerajaan Sung sebagai wakil dari Kerajaan Cin kita. Aku jatuh cinta kepada Li Sian Hwa, puteri Jaksa Li Koan dan menikahinya. Akan tetapi setelah engkau lahir, sikap Li Sian Hwa itu berubah. Bahkan ketika engkau berusia satu tahun, Li Sian Hwa bersekongkol dengan seorang penjahat bernama Lui Hong dan mereka berusaha untuk membunuhku! Untunglah, pada saat aku terancam bahaya maut itu, muncul Ibumu Siangkoan Ceng yang menyelamatkanku. Maka terpaksa kita lalu melarikan diri dan pindah ke sini. Ibumu Siangkoan Ceng amat menyayangmu, justeru Li Sian Hwa itu yang jahat!"

"Ayah, kalau begitu, antarkan aku ke Hang-Chouw, aku ingin melihat dan bertemu Ibu kandungku!"

Kata Bu San.

"Dan membiarkan mereka membunuhmu? Ah, Bu San, ketika kau berusia satu tahun saja, Ibumu dan penjahat Lui Hong itu sudah berusaha untuk membunuh kita berdua! Kalau engkau datang ke sana, sana saja artinya dengan menyerahkan diri untuk dibunuh!"

"Akan tetapi kenapa, Ayah? Bagaimana mungkin Ibu kandungku sendiri ingin membunuhku?"

"Karena kita ini Bangsa Cin, Anakku! Dan Li Sian Hwa itu seorang pribumi Han dan seperti semua orang Han, ia pun amat membenci kita orang Cin!"

"Kalau ia membenci Bangsa Cin, mengapa ia menikah dengan Ayah?"

Pangeran Leng Sui menghela napas panjang.

"Semula ia memang mencintaku, akan tetapi setelah ia bertemu dengan jahanam Lui Hong itu, ia berbalik membenciku, ingin membunuhku dan juga membunuhmu."

Tiba-tiba Leng Bu San menangis! Ayahnya sampai terkejut karena sejak kecil anak itu jarang sekali menangis. Setelah dapat meredakan tangisnya, Bu San berkata.

"Ibu kandungku jahat!"

"Ia kini malah menikah dengan jahanam Lui Hong,"

Kata Pangeran Leng Sui yang telah mendengar akan hal itu.

"Jahat! Kelak aku akan membalas dendam ini. Akan kubunuh mereka berdua!"

Tentu saja mendengar ini, Leng Sui merasa girang karena menyuruh Bu San membunuh Lui Hong dan Li Sian Hwa merupakan satu di antara cita-citanya.

"Tentu saja, Bu San. Kita kelak akan membalas dendam kepada mereka."

"Ibu kandungku jahat! Ibu Siangkoan Ceng juga jahat!"

Bu San berseru seperti orang kebingungan.

"Hushh, Bu San. Kejahatan Ibumu di sini hanya dalam mimpimu. Ia sayang sekali padamu!"

Bantah Leng Sui.

"Tidak, tidak! Ia juga jahat, semua Ibu jahat...!"

Anak itu lalu lari keluar.

Sejak peristiwa itu, terjadi perubahan hebat pada diri Leng Bu San.

Dia jarang berada di gedung Ayahnya, lebih banyak berkeliaran di luar dan seringkali dia mengamuk.

Siapa saja yang berani menentangnya akan dihajarnya dan biarpun usianya baru sebelas tahun, namun Bu San memiliki tenaga besar dan sudah pandai ilmu silat karena sejak berusia enam tahun dia telah digembleng ilmu silat oleh Ayahnya sendiri.

Banyak orang dewasa yang babak belur dihajar Bu San dan mulailah penduduk Ibu kota menganggap anak itu mulai tidak beres pikirannya alias gila!

Terkadang orang melihat dia tertawa-tawa lalu menangis, tanda-tanda seorang yang berotak miring!

Tentu saja perubahan pada diri anak ini ada sebabnya.

Bukan hanya karena berita tentang Ibu kandungnya itu mengguncang batinnya, akan tetapi yang lebih daripada itu, Siangkoan Ceng tidak mau bekerja setengah-setengah.

Dengan ilmu hitamnya, ia mempengaruhi dan mengacaukan pikiran anak itu.

la tidak mau membunuh Bu San karena hal itu tentu akan menggegerkan dan mungkin membuat suaminya curiga.

Ia hanya ingin membuat anak itu menjadi gila dan minggat dari Yen-Cing.

Keadaan Bu San memang payah.

Dia berkeliaran di dalam kota, jarang makan sehingga tubuhnya kurus bahkan pakaiannya jarang ganti sampai lusuh dan kotor.

Akan tetapi tidak ada orang berani menegurnya karena mereka mengenal putera Pangeran Leng Sui ini dan anak itu tentu mengamuk kalau ditegur.

Selagi dia berjalan di jalan yang sepi pada sore hari itu, dekat pintu gerbang sebelah utara, tiba-tiba saja dia melihat Siangkoan Ceng berdiri di depannya.

Wanita itu tersenyum mengejek dan tawanya terkekeh menyakitkan hati.

"Hi-hik, anak brengsek, anak setan, engkau jahat seperti Ibu kandungmu. Aku akan membunuhmu, mencekikmu, mencabik-cabik kulit dagingmu!"

"Iblis betina! Kau bukan Ibuku!"

Bu San marah sekali dan dengan kedua mata berubah merah dia dengan nekat menubruk ke arah perempuan itu.

Dia maklum bahwa wanita yang selama ini dia anggap sebagai Ibunya itu adalah seorang yang amat lihai, bahkan jauh lebih lihai daripada Ayahnya.

Akan tetapi dia yang sudah marah dan nekat itu tidak takut dan menubruk seperti seekor harimau!

"Brakk!"

Muka Bu San menabrak batu besar karena tiba-tiba saja bayangan Siangkoan Ceng lenyap dan yang dIserangnya hanya sebuah batu sehingga hidungnya yang menghantam batu itu mengeluarkan darah!

Ketika dia mencari-cari, memutar tubuhnya, dia tidak melihat Siangkoan Ceng.

Tempat itu sepi dan tiba-tiba muncul seorang Kakek dan Kakek itu meletakkan tangannya di atas ubun-ubun kepala Bu San.

"Kau bukan Ibuku!"

Bu San marah dan menggunakan kedua tangannya untuk memukul tubuh Kakek itu. Akan tetapi dia terbelalak ketika tangannya seolah memukul bayangan! "Sadar... sadar... bersih, bersih, bersih...!"

Terdengar Kakek itu berkata lirih.

Tiba-tiba semua bayangan Ibu tirinya yang selama ini selalu mengganggunya dan pikirannya yang bingung menjadi terang.

Bu San menyadari akan keadaan dirinya, pakaiannya yang kusut dan teringatlah ia akan cerita Ayahnya tentang Ibu kandungnya yang hendak membunuhnya.

Tiba-tiba dia menangis!

Pada saat itu, tampak bayangan berkelebat dan tahu-tahu Siangkoan Ceng telah berdiri tak jauh dari mereka.

"Jembel gila! Kau apakan anakku! Hayo pergi, tinggalkan dia!"

Mendengar ini, Bu San memandang dan melihat Siangkoan Ceng, dia berseru marah.

"Engkau bukan Ibuku! Aku bukan anakmu!"

"Ho-ho-ha-ha-ha! Mengaku-aku Ibunya, akan tetapi anaknya menyangkal!. Permainan apa ini?"

Kata Kakek itu. Siangkoan Ceng menjadi marah dan ia menghardik.

"Jembel gila, engkau sudah bosan hidup! Hyaaaaattt!!"

Wanita itu menerjang dan ketika tangannya menyambar, tampak dari telapak tangannya itu menyambar sinar kilat ke arah kepala Kakek itu.

Itulah Toat-Beng Tian-Ciang (Tangan Kilat Pencabut Nyawa) yang amat dahsyat, pukulan tangan yang merupakan serangan maut yang sulit untuk dapat dihindarkan lawan.

"Eiiittt... ganas sekali...!"

Kakek itu berseru dan dia menangkis dengan kedua tangannya.

"Blaaar...!"

Tubuh Kakek itu terhuyung ke belakang, akan tetapi pukulan Siangkoan Ceng juga tertolak sehingga tangan wanita itu terpental!

Siangkoan Ceng terkejut sekali.

Pada masa itu, jarang ada tokoh kang-ouw yang mampu menangkis pukulannya itu!

Akan tetapi pada saat itu, Kakek berpakaian jembel Itu telah berkelebat dan dia sudah menyambar tubuh Bu San dan dibawa meloncat lalu melarikan diri.

Siangkoan Ceng mengejarnya, akan tetapi Kakek itu dapat berlari cepat seperti terbang dan saat itu, senja mulal terganti malam dan cuaca mulai gelap.

Dengan gemas Siangkoan Ceng lalu menyerang dengan Ang-Tok-Ciam (Jarum Racun Merah).

Tiga batang jarum merah meluncur dan tepat mengenai punggung Kakek itu, Akan tetapi agaknya Kakek itu tidak merasakannya dan terus berlari sambil memondong tubuh Bu San, menghilang dalam cuaca yang mulai gelap.

Siangkoan Ceng terus mengejar, akan tetapi setelah Kakek itu keluar dari pIntu gerbang utara, ia menghentikan pengejarannya.

Biarlah, pikirnya, biar Bu San dibawa pergi jembel gila itu!

Memang itulah yang ia inginkan, membiarkan Bu San pergi meninggalkan Yen-Cing.

Ia lalu kembali ke gedungnya dan sambil menangis melaporkan kepada Pangeran Leng Sui.

"Celaka, Pangeran..."

Ia terisak-isak.

"Anak kita Bu San diculik seorang jembel yang gila dan dibawa lari keluar kota!"

"Aihhh, mengapa tidak kau cegah?"

Pangeran Leng Sui terkejut sekali. Dia memang sudah merasa gelisah melihat ulah Bu San selama beberapa hari ini, jarang di rumah, berkeliaran dan kelihatan bingung dan aneh.

"Aku sudah berusaha mencegahnya, akan tetapi jembel gila itu ternyata memiliki kepandaian yang tinggi. Dia dapat meloloskan diri dari pengejaranku!"

Mendengar ini, Pangeran Leng Sui lalu memanggil panglima pasukan keamanan lalu mengerahkan pasukan melakukan pencarian dan pengejaran.

Akan tetapi semalam suntuk dia sendiri ikut mencari tanpa hasil.

Pada keesokan harinya Pangeran Leng Sui memerintahkan para perwira untuk melanjutkan pencarian mereka.

Akan tetapi sampai belasan hari mereka melakukan pengejaran, tetap saja tidak membawa hasil.

Kakek jembel yang melarikan Bu San itu sama sekali tidak meninggalkan jejak!

Bu San duduk di atas batu, memandang Kakek yang juga duduk di atas batu di depannya.

Baru sekarang dia memandang penuh perhatian.

Kakek itu berusia sekitar lima puluh tahun.

Sebetulnya dia memiliki wajah yang tidak buruk, bahkan garis-garis mukanya masih ada bekas ketampanan dan kegagahan.

Akan tetapi muka itu kotor, rambutnya yang masih hitam panjang itu terurai sampai ke bahu, kumis dan jenggotnya juga awut-awutan.

Tubuhnya sedang namun kurus walaupun tampak kokoh kuat.

Pakaiannya juga tidak karuan seperti pakaian seorang jembel, bahkan kedua kakinya telanjang.

Kakek itu selalu kelihatan seperti orang yang sedang merasa geli, setelah terbuka mulutnya seperti orang menertawakan segala sesuatu yang dilihatnya.

Bahkan sekarang ketika dia sedang duduk melenggut dengan mata terpejam, mulutnya juga setengah terbuka seperti orang tertawa.

Sikap seperti inilah yang membuat Bu San, juga semua orang yang melihatnya, menganggap Kakek itu seorang yang tidak waras atau gila.

Setelah agak lama Bu San mengamati Kakek itu, yang diamati agaknya dapat merasakan.

Dia masih memejamkan matanya, akan tetapi dia bertanya.

"Hei, bocah nakal! Kenapa sejak tadi engkau mengamati aku? Apakah engkau belum pernah melihat orang seperti aku?"

Bu San merasa heran bagaimana orang yang memejamkan mata sejak tadi dapat mengetahui bahwa dia diamati orang.

"Kakek, kenapa engkau membawa aku ke sini?"

"Mengapa? Apa kau ingin kutinggalkan di Kotaraja dan menjadi korban keganasan iblis betina dari Beng-Kauw itu?"

Kini Kakek itu membuka kedua matanya yang lebar, tidak sipit dan cahaya mencorong seperti mata harimau. Bu San mengerutkan alisnya dan bertanya.

"Siapa itu iblis betina dari Beng-Kauw?"

"Ho-ho, engkau tidak tahu? Siapa lagi kalau bukan Siangkoan Ceng yang berjuluk Ang Hwa Niocu, Ibu tirimu itu? Ia adalah puteri tunggal Ketua Beng-Kauw yang bernama Siangkoan Hok."

"Tahukah engkau siapa Ibu kandungku?"

Kakek itu menggelengkan kepalanya sehingga rambutnya yang riap-riapan sebahu panjangnya bergerak-gerak menyapu wajahnya.

Dia lalu menggulung rambut itu dan mengikatnya menjadi gelungan di atas kepala, lalu ditusuknya gelungan rambut dengan sepotong ranting kayu.

"Kata Ayahku, Ibu kandungku bernama Li Sian Hwa dan amat jahat, hendak membunuh aku dan Ayahku."

"Aku tidak tahu dan tidak mengenalnya."

"Akan tetapi, kenapa engkau melindungiku dan membawa aku pergi?"

"Kenapa? Karena aku tidak ingin melihat engkau menjadi gila dan mati. Ang Hwa Niocu ingin membuat engkau menjadi gila dan melihat engkau memiliki bakat balk, aku ingin engkau menjadi muridku."

"Huh, jadi muridmu? Akan kau ajari apa? Kau ajari mengemis dan menjadi orang gila?"

"Ha-ha-ha, engkau menganggap aku orang gila dan pengemis?"

"Tentu saja! Pakaianmu seperti jembel dan engkau pantas disebut orang gila."

"Engkau menilai orang dari keadaan luarnya. Kau tidak akan mengatakan aku jembel gila kalau aku berpakaian mewah dan menghadapi makanan mahal?"

"Tentu saja tidak!"

Jawab Bu San.

"Akan tetapi apa gunanya semua itu? Apa yang akan kau ajarkan padaku?"

"Tentu saja ilmu kesaktian,"

Jawab Kakek itu seenaknya.

"Hemm, kesaktian apa?"

"Hei, kau tidak tahu kesaktian? Ilmu silat dan lain-lain!"

"Oh, kalau ilmu silat, sejak kecil aku sudah mempelajarinya dari Ayahku."

"Uhu, ilmu silat apa itu? Tidak ada gunanya sama sekali."

"Kau menghina, Kek! Biarpun usiaku baru sebelas tahun, orang dewasa jarang ada yang mampu mengalahkan aku!"

Bu San lalu teringat betapa Kakek ini mampu membawanya lari tanpa dapat dikejar Ibu tirinva.

Dia dapat menduga bahwa Kakek ini tentu seorang yang lihai, akan tetapi sampai berapa hebat kelihaiannya dan apakah sudah pantas menjadi Gurunya?

"Tentu saja kalau orang dewasa itu lemah.

Kalau engkau bertemu orang kuat, engkau pasti tidak akan menang."

"Siapa namamu, Kek? Apakah engkau orang terkenal, tokoh dunia kang-ouw yang sakti?"

"Kenapa kau ingin mengetahui namaku, sedangkan namamu aku belum mengetahui? Aku hanya tahu engkau putera Pangeran Leng Sui."

"Tentu saja! Untuk menjadi muridmu, aku harus tahu lebih dulu siapa engkau dan orang macam apa engkau ini. Namaku Leng Bu San."

"Orang-orang di utara dan barat menyebut aku Koai-Tong Mo-Kai (Pengemis Setan Bocah Aneh)."

"Hemm, namamu cukup aneh. Tapi aku belum percaya dan tidak sudi menjadi muridmu sebelum engkau membuktikan kelihaianmu."

"Heh-heh-heh, tadi engkau menyebut aku jembel gila karena keadaan lahiriah. Kau ingin pakaian bagus dan makanan mewah? Coba pejamkan kedua matamu sebentar!"

Bu San ingin membantah dan tidak mau memejamkan matanya akan tetapi alangkah kagetnya ketika kedua matanya terpejam dengan sendirinya dan dia tidak berhasil untuk membukanya!

Akan tetapi tidak lama kemudian terdengar suara Kakek itu, suaranya lantang dan berpengaruh.

"Bu San, sekarang kita telah berpakaian bagus dan menghadapi makanan mewah, bukalah matamu!"

Bu San membuka matanya dan sekali ini dengan mudah kedua matanya terbuka dan...

dia terbelalak keheranan.

Bukan saja Kakek itu kini berubah menjadi gagah dengan pakaian sutera indah, juga dia sendiri kini telah berganti pakaian yang indah dan baru.

Bukan hanya itu, di depan mereka terbentang sehelai permadani dan di atasnya terdapat belasan mangkuk piring terisi makanan yang masih mengepulkan uap berbau sedap!

Dia merasa seperti dalam mimpi!

Dia memandang Kakek itu dan berkata gagap.

"Ini... bagaimana, apa artinya semua ini...?"

"Tak usah banyak cakap Bu San. Bukankah engkau lapar, ingin makan enak dan memakai pakaian yang indah? Nah, mari kita nikmati dulu makanan ini, baru nanti kita bicara."

Kakek itu lalu menggunakan sepasang sumpit gading untuk makan dengan lahapnya.

Karena memang perutnya lapar, Bu San juga segera makan dengan lahap.

Setelah selesai makan, Koai-Tong Mo-Kai tertawa bergelak dan berkata.

"Engkau tadi ingin melihat bukti kelihaianku, bukan? Nab, semua ini adalah satu bukti dari banyak kemampuanku yang dapat kuajarkan padamu!"

Setelah berkata demikian dia menggerakkan tangan ke arah permadani dan sisa-sisa makanan di atasnya itu dan...

tiba-tiba saja semua itu lenyap.

Bu San terkejut, apalagi ketika melihat betapa kini pakaian indah yang tadi menempel di tubuhnya telah lenyap pula dan terganti pakaiannya yang tadi, pakaian yang terbuat dari bahan mahal akan tetapi karena sudah dua hari dia tidak berganti pakaian maka tampak kotor dan lusuh!

Dan dia pun merasakan betapa perutnya masih amat lapar, padahal seingatnya dia tadi makan banyak sekali dengan lahapnya!

"Jadi...

jadi...

semua pakaian baru...

dan semua makanan mewah tadi...

sesungguhnya tidak pernah ada?"

Dia mulai dapat menduga.

"Heh-heh-heh, itu namanya Hoat-Sut (Ilmu Sihir)! Engkau dapat mempelajarinya dariku."

Bu San cemberut.

"Huh, untuk apa? Apa artinya pakaian indah dan makanan mewah kalau hanya bayangan saja? Tidak mengenyangkan perut dan hanya akal-akalan saja!"

Koai-Tong Mo-Kai tidak menjadi marah malah dia tertawa senang.

"Bagus, memang bukan hanya itu ilmu yang akan kuajarkan kepada muridku. Engkau ingin aku membuktikan ketangguhanku dalam ilmu silat? Coba katakan, dalam keadaan perut lapar seperti sekarang ini, daging hewan apa yang ingin kau makan? Ketahuilah, di daerah ini terdapat beberapa macam binatang buas, di antaranya srigala, harimau dan biruang. Nah, kau ingin aku menangkap yang mana akan kutangkapkan untukmu dan kita panggang dagingnya!"

Bu San merasa ngeri juga.

Dia sudah mendengar bahwa di daerah luar Tembok Besar terdapat biruang yang besar dan ganas, juga harimau.

Akan tetapi yang berbahaya bagi manusia adalah srigala yang biasanya maju bergerombol dan main keroyokan.

Memang baik sekali untuk menguji kepandaian Kakek yang ingin menjadi Gurunya itu.

Maka dia lalu berkata dengan suara menantang.

"Aku baru percaya dan mau menjadi muridmu kalau engkau dapat menangkap seekor biruang, seekor harimau, dan seekor srigala!"

Kakek itu tersenyum lebar.

"Bagus, engkau memang seorang anak yang keras hati dan tidak mudah percaya. Sifat itu baik sekali, tidak membuat engkau mudah tertipu. Baik, mari ikut aku, aku tahu di mana terdapat guha harimau. Aku pernah melihatnya dua bulan yang lalu."

Bu San mengikuti Kakek itu.

Melihat anak itu agak pucat karena lapar, Koai-Tong Mo-Kai menggali akar beberapa macam tanaman yang ternyata cukup sedap untuk dimakan dan lumayan untuk mencegah kelaparan.

Matahari mulai condong ke barat daya ketika Koai-Tong Mo-Kai berhenti di depan sebuah guha di perbukitan gersang.

Di depan mulut guha terdapat tulang-tulang berserakan dan diam-diam Bu San bergidik.

Biarpun tidak tampak ada tengkorak manusia di situ, akan tetapi siapa tahu di antara tulang-tulang berserakan itu terdapat tulang manusia yang menjadi mangsa binatang buas yang berada di dalam guha!

Koai-Tong Mo-Kai melangkah maju ke mulut guha dan hidungnya kembang kempis mencium-cium.

Dia lalu menoleh, memandang kepada Bu San dan berkata.

"Bu San, kau bersembunyilah di balik batu itu. Harimaunya berada di dalam guha, kekenyangan dan tidak akan mau keluar kalau tidak kuganggu. Kalau dia marah dan keluar, dia bisa berbahaya."

Mendengar ini, Bu San merasa ngeri juga dan dia segera berlari dan sembunyi di balik batu besar sambil mengintai ke arah mulut guha.

Kini Koai-Tong Mo-Kai mengambil sepotong batu sebesar kepalan tangan, lalu mendekati mulut guha dan dia mengeluarkan suara gerengan seperti seekor harimau marah!

Dia tahu bahwa seekor harimau yang sudah kenyang tidak akan menyerang, akan tetapi kalau ditantang dan diganggu akan marah dan semakin ganas.

Sampai beberapa kali dia menggereng dan mengaum.

Barulah akhirnya ada sambutan dari dalam guha.

Terdengar gerengan dahsyat dan muncullah seekor harimau yang besar.

Harimau itu hanya berdiri, memandang Koai-Tong Mo-Kai dengan matanya yang mencorong kehijauan, menggereng memperIihatkan taring, agaknya mengancam untuk mengusir orang yang mengganggunya, belum ada tanda-tanda akan menyerang.

Dari tempat persembunyiannya, Bu San mengintai dengan hati tegang.

Namun ada perasaan gembira karena kini akan terpenuhi keinginan hatinya, yaitu melihat bukti kelihaian Kakek itu sebelum dia mau menjadi muridnya.

Koai-Tong Mo-Kai maklum bahwa dia harus mulai mengusik harimau itu.

Maka dia lalu melontarkan batu di tangannya dengan tenaga dibatasi.

"Bukk!"

Batu itu mengenai kepala harimau dan menjadi marah dan mengeluarkan gerengan dahsyat, lalu tubuhnya lari meluncur keluar.

Dengan lompatan yang dahsyat harimau itu menerjang dan menerkam ke arah tubuh Koai-Tong Mo-Kai, cakar kedua kaki depannya terjulur keluar dan taring-taring runcing tajam di moncongnya siap untuk menggigit.

Bu San menonton dengan mata tak berkedip.

Dia melihat betapa Kakek itu dengan santai menanti harimau itu menubruknya, kemudian tiba-tiba dia merendahkan tubuhnya sehingga tubrukan harimau itu luput dan tubuh harimau itu lewat di atas kepalanya.

Pada saat itu Bu San memandang kagum.

Kakek Itu dengan santai namun gerakannya cepat sekali telah membalikkan tubuhnya dan kedua tangannya menyambar bagaikan dua ekor ular dan tahu-tahu dia telah menangkap ekor harimau yang panjang itu dengan kedua tangannya.

Padahal, menangkap ekor harimau merupakan perbuatan yang amat berbahaya.

Kalau harimau itu meronta, berbalik, dan mencakar kedua tangan yang memegangi ekornya, akan celakalah Kakek itu!

Akan tetapi, sebelum harimau itu tahu apa yang terjadi, Koai-Tong Mo-Kai telah menggunakan tenaganya untuk memutar-mutar harimau itu di atas kepalanya.

Demikian kuat tenaganya memutar sehingga tubuh harimau itu terputar seperti kitiran dan tentu saja binatang buas Itu tidak mampu meronta, bahkan menjadi pusing dan mengeluarkan gerengan bukan tanda marah lagi melainkan ketakutan!

Koai-Tong Mo-Kai mengeluarkan suara tawa bergelak dan tiba-tiba dia melompat ke dekat batu besar di mana Bu San bersembunyi di belakangnya.

Kemudian Kakek itu membanting harimau ke atas batu.

"Prakk!"

Harimau itu tewas seketika dengan kepala pecah! Setelah melempar bangkai harimau ke atas tanah Koai-Tong Mo-Kai berkata kepada Bu San yang sudah keluar dari balik batu besar.

"Nah, kita sudah mendapatkan seekor harimau seperti yang kau kehendaki. Hayo bantu aku menguliti dan menyayat dagingnya. Kita butuhkan itu untuk bekal dalam perjalanan."

Kakek itu lalu mengeluarkan dua buah pisau yang runcing dan tajam, menyerahkan sebuah kepada Bu San.

Mereka lalu bekerja.

Yang menguliti adalah Kakek itu sendiri, dilakukan dengan hati-hati agar tidak terobek.

Bu San memotong dan mengerat daging harimau itu dan mengumpulkannya di atas daun-daun lebar yang dibentangkan berjajar di atas batu.

Setelah selesai, Koai-Tong Mo-Kai mengambil garam dan bumbu lain dari perbekalan dalam buntalannya, membumbui beberapa potong daging harimau lalu memanggangnya.

Setelah matang, mereka makan dan sekali ini, biarpun tidak semewah makanan yang muncul akibat sihir Kakek itu, namun benar-benar lezat dan mengenyangkan.

Koai-Tong Mo-Kai lalu mencari beberapa macam daun dan akar yang dia hancurkan, dicampur dengan garam lalu diremas-remas ke dalam sisa daging harimau, membuat daging itu menjadi daging kering yang tahan lama.

"Nah, sekarang tinggal mencari dua macam binatang yang kau kehendaki, yaitu biruang dan srigala. Sekarang sudah mulai senja, lebih baik kita berhenti dan bermalam dalam guha harimau ini karena kalau aku tidak keliru menghitung, pada waktu ini di waktu malam seringkali terdapat angin taufan di daerah ini."

Mereka memasuki guha itu dan membuat api unggun di depan guha untuk mengusir binatang buas dan nyamuk, juga untuk mendatangkan kehangatan karena malam itu hawanya amat dingin.

Pada keesokan harinya, mereka melanjutkan perjalanan dan agaknya Koai-Tong Mo-Kai hafal akan daerah itu.

Dia mengajak Bu San pergi menuruni bukit-bukit dan mulai memasuki daerah Gurun Gobi yang amat luas.

Beberapa hari kemudian, tibalah mereka di daerah di mana Kakek itu sering melihat adanya biruang.

Setelah menjelajahi daerah itu selama tiga hari, pada suatu pagi barulah mereka bertemu dengan seekor biruang betina besar dengan seekor anak biruang.

"Aku akan tangkap induknya, kau coba tangkap anaknya. Jangan khawatir, anak biruang itu masih muda sekali dan dia belum ganas, juga belum besar tenaganya. Kau pasti dapat mengatasinya."

Biarpun jantungnya berdebar tegang karena selama hidupnya belum pernah dia berhadapan dengan biruang, Bu San mengangguk.

Begitu Koai-Tong Mo-Kai dan Bu San muncul, biruang itu menggereng dan melindungi anaknya.

Biruang betina yang mempunyai anak yang masih kecil memang amat galak dan ia akan melawan siapa saja demi keselamatan anaknya.

Koai-Tong Mo-Kai yang memang ingin memamerkan kepandaiannya agar anak itu mau menjadi muridnya, dengan berani menghampiri biruang betina itu dari depan.

Bu San dengan hati-hati mengikuti dari belakang, menjaga jarak agar tidak terlau dekat.

Setelah tiba di depan binatang itu, Koai-Tong Mo-Kai tertawa.

Biruang itu menjadi marah lalu berdiri dan siap menyerang.

Tubuhnya yang besar dan tingginya satu setengah kali tinggi manusia itu sungguh mengerikan.

Kedua kaki depan yang besar dengan kuku-kuku panjang itu pasti memiliki tenaga dahsyat.

Kiranya tidak mungkin dapat dilawan seorang Kakek seperti Koai-Tong Mo-Kai yang tampak kecil ringkih ketika berhadapan dengan biruang itu.

Koai-Tong Mo-Kai mendapat julukan Anak Aneh atau Anak Nakal karena terkadang wataknya seperti kanak-kanak.

Sekarang menghadapi biruang itu, muncul watak kanak-kanaknya yang hendak mempermainkan binatang buas itu, juga dia ingin memamerkan kepandaiannya kepada Bu San yang agaknya belum percaya akan kelihaiannya.

"Hai, engkau seperti anjing berkaki dua!"

Dia mengejek biruang itu. Lalu dia meludah.

"Cuh-cuh!"

Air ludahnya meluncur dan tepat mengenai kedua mata biruang itu!

Biruang itu menggerengdan menggunakan kedua kaki depan untuk menggosok kedua matanya yang terasa nyeri.

Pada saat itu, Koai-Tong Mo-Kai bergerak maju dan sengaja memukul perut binatang itu dengan tangan kanannya.

Akan tetapi dia membatasi tenaganya, hanya untuk membuat binatang itu kesakitan.

Kini biruang itu benar-benar marah sekali.

Ia menggeram berulang-ulang lalu menubruk ke depan, menyerang bertubi-tubi secara membabi buta.

Namun gerakannya amat kuat sehingga tanah menjadi bergetar.

Ke mana pun Kakek itu mengelak, biruang itu membuat gerakan mengejar sehingga ia menyerang susul-menyusul.

Kalau yang diserang itu orang biasa atau bahkan seekor binatang buas seperti harimau misalnya, Begitu terpegang kedua tangan yang besar dan amat kuat itu, pasti akan dicabik-cabik kulit dagingnya dan dipatah-patahkan semua tulangnya!

Akan tetapi betapa pun dahsyat dan cepatnya gerakan serangan biruang itu, Koai-Tong Mo-Kai lebih cepat lagi.

Tubuhnya seolah berubah menjadi bayang-bayang yang tidak mungkin dapat ditangkap, berkelebatan dan selalu dapat menghindar dari sambaran kedua tangan biruang itu.

Sambil berkelebatan mengelak, Kakek itu tertawa-tawa mengejek dan terkadang mencolek sana menampar sini, sengaja menggoda biruang itu.

Sementara itu, melihat induk biruang itu sudah berkelahi dengan Koai-Tung Mo-Kai, Bu San segera mendekati anak biruang yang kini terpisah dari induknya.

Anak biruang itu tampak kebingungan, mengeluarkan suara lirih dan ketika Bu San mendekatinya, dia melarikan diri.

Akan tetapi Bu San cepat melompat mengejarnya dan menubruk, meringkusnya dari belakang.

Anak biruang itu meronta dan ternyata tenaganya cukup besar sehingga rangkulan Bu San terlepas.

Biruang itu membalik dan dengan kedua kaki depannya dia menyerang dan berusaha menggigit Bu San.

Akan tetapi anak itu cepat menangkap kedua kaki depan itu dan mengerahkan tenaga, memutarnya.

Anak biruang itu kalah kuat dan roboh terbanting, lalu diringkus dan ditelikung Bu San sehingga tidak mampu bergerak, hanya menguik-nguik seperti menjerit dan menangis.

Mendengar ini, induk biruang yang mulai pening dipermainkan Koai-Tong Mo-Kai, membalikkan tubuhnya dan lari hendak menolong anaknya.

Akan tetapi Kakek itu melompat dari belakangnya, kemudian tangannya menampar ke arah kepala biruang itu.

"Plakk!!"

Kuat sekali tamparan itu, membuat induk biruang roboh terpelanting.

Ketika ia hendak bangun, Kakek itu memukul lagi dua kali, tepat mengenai kepala dan induk biruang itu roboh dan tewas dengan kepala retak!

Bukan main kuatnya pukulan Koai-Tong Mo-Kai.

Bu San yang masih meringkus anak biruang dapat melihat peristiwa ini dan diam-diam dia merasa kagum dan juga girang.

Kakek yang dengan demikian mudahnya membunuh harimau dan biruang itu memang pantas untuk menjadi Gurunya!

"Hai, Bu San, kenapa engkau meringkus anak biruang itu?

Hayo cepat bunuh!

Dagingnya akan jauh lebih enak daripada daging induknya yang sudah keras dan liat!"

Koai-Tong Mo-Kai menegur ketika melihat anak itu masih menelikung anak biruang yang masih menjerit-jerit.

Akan tetapi ketika dia meringkus anak biruang itu, Bu San merasakan kehangatan tubuh binatang itu, merasa betapa lembut bulunya dan betapa mengharukan tangisnya.

Timbul rasa kasihan dan suka kepada anak binatang itu, apa-lagi melihat induknya sudah mati.

Anak biruang itu kini hidup sendiri, sebatang kara.

Seperti dia!

Dia pun tidak mempunyai Ibu, maka dia mengambil keputusan untuk bukan saja membiarkan anak biruang itu hidup, bahkan ingin memilikinya sebagai teman!

"Aku tidak akan membunuhnya, aku akan menjadikan dia temanku,"

Kata Bu San. Kakek itu tertawa.

"Heh-heh, dasar anak-anak. Kalau ingin menjadikan dia teman, harus membuat dia jinak lebih dulu agar jangan sampai dia melarikan diri dengan liar."

Dia lalu menghampiri dan dua kali dia menotok punggung dan tengkuk anak biruang itu.

"Nah, sekarang boleh lepaskan dia."

Bu San melepaskan biruang kecil itu dan benar saja, binatang itu kini diam saja seperti lemas, tidak meronta, tidak ganas dan tidak juga melarikan diri.

"Hayo bantu aku. Aku yang menguliti kulit biruang itu, kita kelak membutuhkan untuk melawan hawa dingin. Engkau yang mengambil dagingnya. Akan tetapi bagian empat buah kakinya buang saja karena dagingnya sudah terlalu keras dan fiat. Ambil saja daging bagian dada dan perut."

Mereka lalu bekerja dan anak biruang itu hanya duduk dan menonton tanpa memperlihatkan perasaan apa pun. Setelah selesai dan slap melanjutkan perjalanan, Koai-Tong Mo-Kai bertanya.

"Bagaimana sekarang, Bu San, engkau sudah menyaksikan sendiri ketika aku membunuh harimau dan biruang memenuhi permintaanmu. Apakah engkau menganggap aku memenuhi syarat untuk menjadi Gurumu ataukah aku harus membunuh seekor srigala?"

Bu San bukan anak bodoh.

Dia tahu bahwa betapa liar dan ganas pun seekor srigala, tentu saja tidak seganas dan sekuat harimau apalagi biruang yang demikian besar.

Kakek itu tentu saja akan mampu membunuh seekor atau bahkan banyak srigala dengan mudah.

Maka dia lalu menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Kakek itu dan berkata lantang.

"Suhu, Teecu (murid) Leng Bu San siap untuk mentaati Suhu sebagai murid."

Koai-Tong Mo-Kai tertawa terkekeh-kekeh dengan girang sekali.

"Heh-heh, bagus! Sebagai seorang murid, engkau berjanji akan mentaati semua perintah dan petunjukku?"

"Teecu berjanji!"

"Bagus, engkau tahu bahwa seorang laki-laki pantang untuk melanggar janjinya?"

"Teecu tahu, Suhu."

"Baik, mulai saat ini, engkau ikut denganku menjelajahi Gurun Gobi yang luas."

Diam-diam Bu San terkejut sekali.

Gobi?

Dia pernah mendengar dari Ayahnya bahwa Gurun Gobi seolah tidak ada batasnya atau sampai ke ujung dunia!

Juga amat berbahaya, selain iklimnya keras dan penuh ancaman maut, juga daerah Gurun itu dihuni banyak suku Bangsa liar yang amat kejam.

Akan tetapi dia sudah berjanji untuk taat dan dia menghargai kejantanan dan kegagahan.

Tak mungkin dia mengingkari janjinya.

"Balk, Suhu. Akan tetapi mengapa ke Gurun Gobi? Mengapa tidak kembali ke selatan di mana kita dapat hidup lebih menyenangkan?"

"Tidak, aku harus mencarinya di Gurun Gobi. Ketahuilah, Bu San, sekitar dua tahun yang lalu, pada suatu malam aku melihat bintang besar turun di atas daerah Gurun Gobi. Peristiwa itu menandakan bahwa di sana lahir seorang calon pemimpin besar yang kelak akan menjadi Raja besar yang menguasai seluruh dunia! Nah, aku merasa berkewajiban untuk mendidik calon pemimpin besar itu. Kalau aku dapat menemukannya dan menjadikan dia muridku, barulah aku kelak akan dapat mati dengan damai dan bangga. Karena itulah, aku akan menjelajahi Gurun Gobi mencari calon pemimpin besar itu."

"Hemm, kalau dia lahir dua tahun yang lalu berarti dia sekarang masih anak kecil. Bagaimana dapat menjadi murid Suhu? Pula, bukankah Suhu telah mempunyai Teecu sebagai murid? Apakah Teecu kurang memuaskan hati Suhu? Apakah Teecu kelak tidak mampu menjadi seorang Raja besar penguasa dunia?"

"Engkau murid yang baik, Bu San. Akan tetapi untuk menjadi seorang pemimpin besar, dia harus merupakan manusia pilihan sejak lahir, bahkan kelahirannya pun ditandai turunnya bintang besar. Kelak, kuharapkan engkau yang akan menjadi pendamping dan pendukung calon Raja besar penguasa dunia itu. Menjadi pendampingnya saja sudah merupakan suatu kehormatan besar sekali bagimu."

Bu San tidak membantah, akan tetapi diam-diam di dalam hatinya dia merasa penasaran.

Kalau memang akan ada calon Raja besar penguasa dunia, mengapa bukan dia?

Dia adalah putera Pangeran, keturunan Bangsawan tinggi!

Dia pantas menjadi Raja besar!

Mereka lalu melanjutkan perjalanan ke utara.

Bu San mengalungkan tali ke leher anak biruang yang kini menjadi jinak dan menurut saja diajak pergi.

Bu San sayang sekali kepada binatang itu dan di sepanjang jalan dia bergaul dengan akrab sehingga binatang itu pun semakin jinak dan taat kepadanya.

Song Han Bun dan isterinya, Can Pek Giok, hidup tenteram di Sung-Kian bersama anak tunggalnya, seorang anak perempuan bernama Song Bwee Cin.

Sang waktu berlangsung amat cepatnya sehingga tanpa terasa lagi tahu-tahu Song Bwee Cin telah menjadi seorang anak perempuan berusia tujuh tahun yang lincah sekali.

Bwee Cin atau yang biasa oleh Ayah-Ibu atau para kenalannya, juga kedua Neneknya, disebut Cin Cin memang sejak kecil mempunyai pembawaan yang lincah.

Wajahnya mirip Ibunya, berbentuk bulat telur dan kulitnya putih mulus, kemerah-merahan di bagian tertentu.

Juga sepasang matanya seperti mata Can Pek Giok, sepasang mata yang jeli dan bersinar seperti sepasang bintang.

Juga ia memiliki kecerdikan dan keberanian, agak keras kepala seperti Ibunya sebelum menjadi isteri Ayahnya.

Yang berbeda dari Ibunya hanya selera warna.

Kalau Can Pek Giok suka mengenakan pakaian berwarna hijau, sejak kecil Cin Cin suka sekali mengenakan pakaian yang serba merah!

Ia memiliki perasaan yang amat peka, mudah terharu dan menangis kasihan melihat penderitaan orang, mudah pula tertawa gembira.

Akan tetapi juga mudah sekali marah kalau melihat ketidak-adilan.

Bahkan untuk membela kebenaran, ia berani menantang orang dewasa.

Ia membantah keras Ayah-Ibunya sendiri kalau ia merasa bahwa mereka tidak benar!

Hal ini mungkin disebabkan karena ia terlalu dimanja oleh kedua orang Neneknya, yaitu Nyonya Can Gi Sun dan Nyonya Song Swi Kai.

Dua orang wanita janda ini memang hanya memiliki seorang cucu itu, maka tidaklah mengherankan kalau mereka amat menyayang dan memanjakan Cin Cin.

Bahkan kalau Cin Cin mendapat teguran dan kemarahan Ayah atau Ibunya, Cin Cin lalu mengadu kepada kedua orang Neneknya yang pada gilirannya menegur anak dan mantu mereka!

Merasa mendapat "pembela dan pelindung"

Yang kuat, yang ditakuti Ayah-Ibunya, Cin Cin menjadi manja.

Akan tetapi karena pada dasarnya anak ini telah menerima pendidikan yang baik dari Ayah-Ibunya tentang kebenaran, juga kedua orang Neneknya selalu memberi nasihat agar ia tidak menjadi anak yang brengsek, Cin Cin tetap saja memiliki pertimbangan yang adil.

Kalau ia merasa benar, ia akan mempertahankan mati-matian.

Sebaliknya kalau ia menyadari bahwa ia bersalah, ia pun berani mengaku salah dan minta maaf.

Sebagai puteri sepasang suami-isteri pendekar yang memiliki ilmu tingkat tinggi, tentu saja sejak kecil Cin Cin sudah mendapatkan gemblengan dasar ilmu silat dari Ayah dan Ibunya.

Juga Ayahnya yang maklum bahwa Ibu mertuanya, Nyonya Can, adalah seorang puteri Bangsawan yang terpelajar, menyerahkan pendidikan baca tulis bagi puterinya kepada Nyonya Can.

Dan ternyata Cin Cin adalah anak yang cerdik sehingga ia dapat mempelajari Bun (Sastra) dan Bu (Silat) dengan mudah.

Pada suatu pagi yang cerah, ketika Cin Cin bermain-main seorang diri di depan rumah tempat tinggal Nyonya Can, dalan) pekarangan yang luas itu, iseng-iseng anak itu yang tadinya membuat gerakan menari, menghafal gerakan tari seperti yang diajarkan Nyonya Can, setelah gerakan tari selesai, tanpa disadarinya ia melanjutkan dengan gerakan silat seperti yang diajarkan Ayahnya!

Biarpun ia hanya seorang gadis kecil berusia tujuh tahun, namun gerakannya gesit dan pukulan kedua tangannya sudah memperdengarkan angin pukulan yang lumayan.

Lucu dan mungil anak itu bermain silat dan ia melakukannya dengan serius penuh perhatian sehingga ia tidak menyadari bahwa sejak tadi ada seorang laki-laki memasuki pekarangan rumah Neneknya dan menonton ia bermain silat.

Laki-laki itu berusia sekitar tujuh belas tahun, wajahnya tampan dan sikapnya lembut seperti seorang terpelajar.

Dia tersenyum dan memandang kagum, mengangguk-anggukkan kepalanya dan setelah Cin Cin berhenti bersilat laki-laki muda itu bertepuk tangan memuji.

Mendengar ini, Cin Cin memutar tubuhnya dan memandang pemuda itu dengan alis berkerut.

"Siapa kau? Kenapa engkau bertepuk tangan?"

Pemuda itu tersenyum sabar lalu mengangkat kedua tangan depan dada sebagai penghormatan dan menjawab lembut.

"Namaku Liu Chu Cai dan aku bertepuk tangan karena kagum melihat gerakanmu yang indah sehingga tak tahan untuk tidak bertepuk tangan memuji."

Mendengar jawaban dan melihat sikap sopan itu, Cin Cin tidak jadi marah.

Sejak ia masih kecil pun, tiap wanita tentu akan merasa senang sekali kalau dipuji, tidak terkecuali Cin Cin.

Maka ia pun tersenyum dan mengamati pendatang itu dengan penuh perhatian.

"Ada keperluan apakah engkau memasuki pekarangan rumah Nenekku ini?"

Tanyanya, ramah.

"Aku telah mencari keterangan dan mendengar bahwa ini adalah rumah tinggal Pendekar Can Gi Sun. Benarkah itu, adik kecil yang manis?"

"Can Gi Sun? Dia adalah almarhum Kakekku."

"Almarhum? Maksudmu... Paman Can Gi Sun sudah... sudah meninggal dunia?"

"Kakek sudah lama meninggal dunia, sebelum aku lahir, sebelum Ayah-Ibuku menikah."

"Aahh..., dan Nenekmu, maksudku isteri mendiang Paman Can Gi Sun?"

"Nenekku yang tinggal di rumah ini. Kenapa engkau menanyakan Nenekku?"

"Adik kecil, tolong tanya, apakah Nenekmu, Nyonya Can Gi Sun itu, nama kecilnya adalah Bun Cui Lian?"

"Hei, mau apa engkau menanyakan nama kecil Nenekku? Aku sendiri pun tidak tahu!"

Cin Cin mulai tidak sabar karena orang asing ini menanyakan hal-hal yang aneh.

Nama kecil Neneknya ditanyakan!

Apa sih maunya?

Akan tetapi pada saat itu terdengar suara lembut seorang wanita dari pintu depan.

"Siapa yang menanyakan nama kecilku?"

Cin Cin dan pemuda yang mengaku bernama Liu Chu Cai itu memandang dan ternyata yang bertanya itu adalah Nyonya Can Gi Sun yang melangkah lembut keluar dari pintu depan rumahnya.

Pemuda itu memandang kepada Nyonya Can dan sepasang matanya terbelalak penuh keheranan dan kagum.

Dia seperti melihat Ibunya sendiri, demikian mirip wajah Ibunya dengan wanita itu, hanya tentu saja Ibunya lebih muda beberapa tahun!

Kemudian dia ingat akar sopan santun, maka cepat dia melangkah maju dan memberi hormat kepada Nyonya Can.

"Mohon maaf sebanyaknya kalau kedatangan saya ini mengganggu, akan tetapi saya datang berkunjung untuk menghadap Bibi Bun Cui Lian."

Nyonya Can tertegun dan dia mengamati pemuda itu dengan penuh perhatian.

"Akulah Bun Cui Lian...."

Tiba-tiba pemuda itu menjatuhkan diri berlutut di depan wanita itu dan berkata "Bibi Bun Cui Lian, saya keponakanmu. Liu Chu Cai menghaturkan hormat."

Nyonya Can menyentuh pundak pemuda itu dan menyuruhnya bangun.

"Bangkitlah, orang muda. Aku tidak mengenalmu, juga tidak mengenal namamu."

"Tentu saja, Bibi karena Bibi meninggalkan rumah Kakek Bun ketika saya belum terlahir dan bahkan Ibu saya masih remaja. Bibi, kalau Bibi tidak mengenal saya, Bibi pasti mengenal lbu saya. Ibu kandung saya adalah Bun Kui Lian."

"Apa...?"

Nyonya Can terkejut dan membelalakkan matanya.

"Kau... kau... anak Kui Lian? Aih, Kui Lian Si Cengeng itu sudah mempunyai anak sebesar ini'?"

Baca Juga: Siluman Gua Tengkorak 4

Baca Juga: Pendekar Buta 9

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert