Antara Dendam Dan Asmara 9

Eps 9 Antara Dendam Dan Asmara - Kho Ping Hoo

Baca online Antara Dendam Dan Asmara - Kho Ping Hoo

Cersil Antara Dendam Dan Asmara - Kho Ping Hoo.

Tak terasa lagi kedua mata Nyonya Can menjadi basah air mata dan ia segera memegang kedua tangan pemuda itu.

"Ahh... tak kusangka, anak baik, mari... mari kita masuk dan bicara di dalam!"

La menggandeng tangan pemuda Itu dan diajaknya memasuki rumah.

"Nek, apa aku tidak boleh ikut masuk?"

Tiba-tiba Cin Cin berteriak, suaranya terdengar kering penuh iri! "Aih, anak nakal! Tentu saja engkau pun harus masuk. Mari!"

Nyonya Can berhenti dan menanti sampai Cin Cin berlari menghampiri dan menggandeng sebelah tangan Neneknya. Mereka bertiga memasuki ruangan dalam dan duduk menghadapi meja.

"Nah, Liu Chu Cai, sekarang ceritakan tentang Ibumu, Ayahmu, dan bagaimana pula keadaan Kakek dan Nenekmu?"

Kata Nyonya Can dengan suara terharu.

Tentu saja hatinya di liputi keharuan.

Dahulu ketika masih gadis, Nyonya Can bernama Bun Cui Lian.

la puteri sulung seorang Bangsawan bernama Bun Kiang dan keluarga Bun itu tinggal di Peking, Kotaraja Kerajaan Sung yang ketika itu belum pindah mengungsi ke selatan.

Bun Cui Lian mempunyai seorang adik perempuan bernama Bun Kui Lian yang ketika ia berusia sembilan belas tahun adiknya itu baru berusia sebelas tahun.

Ketika itu, Bun Cui Lian berkenalan dan saling jatuh cinta dengan seorang pendekar yang menjadi Guru silat muda bernama Can Gi Sun.

Akan tetapi Ayahnya, Bangsawan Bun tidak setuju puterinya berjodoh dengan seorang Guru silat dan melarang puterinya bergaul dengan Can Gi Sun.

Akan tetapi gadis yang sudah terlanjur jatuh cinta itu nekat dan ia rela meninggalkan rumah orang tuanya, minggat dan kawin lari dengan kekasihnya.

Mereka menjadi suami-isteri dan, tinggal di Sung-Kian.

Sejak itu, ia putus hubungan sama sekali dengan keluarga Bun.

Maka, dapat dibayangkan betapa terguncang dan terharu hatinya ketika pagi hari itu, sama sekali tak disangkanya, muncul seorang pemuda yang mengaku sebagai putera adiknya yang ketika ia tinggalkan baru berusia sebelas tahun!

"Maafkan saya kalau saya membawa berita yang tidak menyenangkan.

Kakek Bun telah meninggal dunia dua tahun yang lalu dan Nenek Bun sekarang juga sakit-sakitan."

"Ahhh..."

Tak dapat ditahannya lagi, Nyonya Can atau Bun Cui Lian menangis tersedu-sedu. Melihat ini, Cin Cin segera mendekat dan merangkul Neneknya.

"Jangan menangis, Nek. Bukankah Nenek sendiri yang menasihati agar kita tidak cengeng, harus tabah?"

Mendengar ini, Nyonya Can segera menghentikan isak tangisnya, mengusap air mata dengan saputangannya dan setelah hatinya tenang, ia mencoba tersenyum kepada cucunya.

"Kau benar, Cin Cin. Yang mati tidak ada gunanya ditangisi, dan yang sakit bukan ditangisi, melainkan diusahakan pengobatannya. Apakah penyakit Nenekmu sudah diobati, Chu Cai?"

"Sudah, Bibi. Bahkan Guru saya sendiri, ahli pengobatan terbaik di Yen-Cing, yang menanganinya. Karena keadaan Nenek inilah maka Ibu memerintahkan saya untuk mencari Bibi di sini dan mengabari Bibi tentang keadaan keluarga di sana."

"Aku harus ke sana! Aku harus menjenguk Ibu..."

Kata Nyonya Can, kemudian ia dapat menenangkan hatinya dan berkata.

"Sekarang ceritakan keadaan Ibumu. Dengan siapa Ibumu menikah? Namamu Liu Chu Cai, kalau begitu Ayahmu bermarga Liu?"

"Benar, Bibi. Ayah saya bernama Liu Coan, akan tetapi karena ia diterima menjadi pejabat pemerintah Kerajaan Cin sebagai seorang pengurus perpustakaan Istana, maka Ayah saya mengubah marga Liu itu menjadi Yeliu. Di sana saya disebut Yeliu Chu Cai dan Ayah menjadi YeLiu Coan. Saya adalah anak tunggal Ayah-Ibu."

"Aih, kalau begitu, engkau ini masih pamanku, Paman Yeliu Chu Cai! Nenek Can hanya mempunyai seorang anak perempuan, namanya...."

"Can Pek Giok dan menikah dengan Paman Song Han Bun!"

Chu Cai memotong dan menyambung.

"Aih, engkau sudah mengenal Ayah-Ibuku?"

Cin Cin bertanya heran.

"Sebelum ke sini, aku sudah mencari banyak keterangan tentang keluarga Bibi Bun Cui Lian, akan tetapi aku belum mengenal namamu, keponakanku yang manis."

"Namaku Song Bwee Cin, Paman."

"Nama yang indah, engkau cantik, pandai dan gerakan tarian silatmu tadi indah sekali. Aku bangga mempunyai seorang keponakan sepertimu, Bwee Cin."

"Ayah-Ibu dan Nenek memanggilku Cin Cin, Paman."

"Aku pun akan memanggilmu Cin Cin. Aku ingin sekali bertemu dengan Kakak misan dan Kakak iparku."

"Mari kita bersama pergi mengunjungi, mereka, Chu Cai. Aku ingin membicarakan niatku berkunjung ke Ibu dan adikku dengan mereka."

Mereka bertiga lalu naik kereta menuju ke rumah Song Han Bun.

Han Bun dan Pek Giok merasa heran melihat Cin Cin pulang naik kereta bersama Neneknya, hal ini jarang terjadi.

Anak mereka memang sering bermalam di rumah Nyonya Can atau terkadang juga di rumah Nyonya Song.

Akan tetapi ia lebih dekat dengan Nenek luarnya karena Nyonya Can yang ahli seni dan sastra itu mengajarinya sastra dan juga kesenian seperti tari-tarian dan lain-lain.

Keheranan mereka bertambah ketika mereka melihat seorang pemuda bersama Nyonya Can dan Cin Cin.

Akan tetapi setelah diperkenalkan dan Nyonya Can menceritakan akan keadaan keluarganya di Yen-Cing, Pek Giok menjadi girang.

"Ah, Piauw-Te (Adik Misan), sungguh tidak kusangka aku mempunyai seorang adik misan sepertimu. Aku girang sekali!"

"Piauw-Ci (Kakak Misan) Can Pek Giok, sayalah yang merasa amat berbahagia dan bangga mempunyai seorang Kakak misan seperti Piauw-Ci dan Kakak ipar seperti Cihu (Kakak Ipar) Song Han Bun yang terkenal sebagai sepasang suami-isteri pendekar besar kenamaan di Sung-Kian!" (Lanjut ke

Jilid 24) Antara Dendam & Asmara (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 24 Song Han Bun memandang penuh perhatian dan diam-diam dia kagum.

Yeliu Chu Cai sungguh mendatangkan kesan yang amat baik bagi keluarga itu.

Han Bun dapat menduga bahwa pemuda berusia tujuh betas tahun itu bukanlah seorang pemuda biasa, melainkan seorang pemuda remaja yang telah memiliki wawasan dan pandangan hidup yang luas sekali.

Apalagi setelah mereka lama bercakap-cakap, ia mengetahui bahwa Yeliu Chu Cai telah menguasai ilmu pengobatan yang luas, juga sastra, filsafat, dan ketatanegaraan.

Diam-diam dia merasa kagum terhadap adik misan isterinya itu.

Setelah memperkenalkan keponakannya, Nyonya Can lalu berkata kepada puterinya.

"Pek Giok, Chu Cai membawa kabar yang kurang menyenangkan, yaitu bahwa dua tahun yang lalu Kakekmu Bun, yaitu Ayahku telah meninggal dunia dan sekarang Ibuku, Nenekmu Bun sedang sakit-sakitan. Chu Cai disuruh oleh Ib-nya, yaitu adikku Bun Kui Lian untuk mencari aku di sini dan mengabarkan hal ini. Karena itu aku mengambil keputusan untuk ikut dengan dia, pergi ke Yen-Cing menengok Ibuku yang sakit-sakitan."

Pek Giok mengerutkan alisnya.

"Memang sudah semestinya kalau Ibu menengok keadaan Nenek Bun. Akan tetapi Ibu, keluarga Bun berada di Yen-Cing, Ibukota Kerajaan Cin!"

La menoleh kepada suaminya.

"Bun-Ko, apakah hal ini tidak akan berbahaya sekali?"

Sebelum Han Bun yang juga harus memikirkan dan mempertimbangkan baik-baik sempat menjawab, Yeliu Chu Cai bertanya heran.

"Maaf, Bibi Cui Lian, kalau di Yen-Cing, ada apakah? Apa yang Bibi khawatirkan di sana?"

Cin Cin menjawab cepat.

"Paman Chu Cai, kami mempunyai banyak musuh yang jahat di sana! Terutama pembunuh Kakek Can dan Kakek Song!"

"Cin Cin...!"

Pek Giok menghardik, akan tetapi ucapan itu sudah dikeluarkan dan Yeliu Chu Cai sudah mendengarnya.

"Akan tetapi..., siapa yang telah membunuh mendiang Paman Can dan Paman Song?"

Tanya Yeliu Chu Cai dengan heran.

"Ceritanya panjang, Chu Cai,"

Kata Han Bun.

Dengan singkat namun jelas Han Bun lalu menceritakan apa yang telah terjadi di Sung-Kian dan di Hang-Chouw, tentang Pangeran Leng Sui dari Kerajaan Cin dan tentang Pek-Bin Giam-Lo yang telah membunuh Can-Kauwsu dan Song-Kauwsu, tentang pertempuran dengan Pangeran Leng Sui yang dibantu oleh Pek-Bin Giam-Lo sehingga mengakibatkan Pangeran Leng Sui dan semua pengikutnya meninggalkan Hang-Chouw dan kembali ke Yen-Cing.

"Nah, dengan adanya permusuhan dengan mereka itu, maka Piauw-Ci mu khawatir akan keselamatan Ibunya kalau berkunjung ke sana."

Han Bun menutup penjelasannya. Mendengar cerita itu, Yeliu Chu Cai termenung. Kemudian dia menghela napas panjang dan berkata.

"Hemm, kiranya Pangeran Leng Sui yang memusuhi Bibi sekalian. Tidak mengherankan karena memang dia seorang yang licik dan jahat. Saya tahu bahwa kini dia juga telah mampu meraih kekuasaan besar di Istana karena mempengaruhi Sri Baginda. Bahkan agaknya, menurut Ayah, dia berambisi untuk kelak menggantikan kedudukan Kaisar Kerajaan Cin. Akan tetapi harap Piauw-cCi Can Pek Giok dan Cihu Song Han Bun tidak khawatir. Saya dan Ayah yang akan menjaga keselamatan Bibi Bun Cui Lian."

"Pangeran Leng Sui mungkin tidak akan mau mengganggu Ibu, akan tetapi Pek-Bin Giam-Lo, Iblis Tua itu, dia mendendam kepada aku dan suamiku sehingga dia membunuh kedua Ayah kami. Mungkin dia akan merupakan ancaman bahaya kalau dia tahu bahwa Ibuku berkunjung ke Yen-Cing,"

Kata Pek Giok.

"Saya kira Piauw-Ci tidak perlu mengkhawatirkan Pek-Bin Giam-Lo. Saya mendengar bahwa Pek-Bin Giam-Lo kini telah tua sekali dan sejak beberapa tahun yang lalu Pangeran Leng Sui membuatkan sebuah pondok mungil di luar pintu gerbang utara, di atas sebuah bukit kecil. Kabarnya dia tidak pernah keluar dari pondoknya, mengasingkan diri dilayani beberapa orang pelayan. Sudah beberapa tahun tidak ada orang melihatnya memasuki Kotaraja."

"Bagaimanapun juga, kita harus menjaga keselamatan Ibu,"

Kata Song Han Bun.

"Sebaiknya kalau kita berdua menemani Ibu berkunjung ke Yen-Cing."

"Ayah, aku ikut! Aku tidak mau ditinggal sendiri di sini!"

Tiba-tiba Cin Cin berseru lantang.

"Baiklah, kita pergi bersama. Akan tetapi kita membuat persiapan dulu dan sementara itu, temani pamanmu Yeliu Chu Cai melihat-lihat kota kita,"

Jawab Han Bun dan Cin Cin bersorak gembira.

"Mari, Paman Yeliu, kuantar engkau berjalan-jalan melihat-lihat kota kami yang indah,"

Ajak Cin Cin sambil memegang tangan pemuda itu.

"Baik, Cin Cin. Akan tetapi lebih dulu engkau harus mengantar aku ke rumah Bibi Song, Ibu Ayahmu karena aku harus memperkenalkan diri kepada beliau."

Hati Han Bun senang mendengar ini dan setelah Cin Cin dan pemuda itu pergi, dia memuji adik misan isterinya itu.

"Adik kita itu akan menjadi seorang yang bijaksana dan pandai. Sekarang pun dia sudah tampak jauh melebihi para pemuda lain."

"Aku pun pikir begitu, Han Bun,"

Kata Nyonya Can.

"Ibunya, adikku Bun Kui Lian memang memiliki kecerdikan dan juga perasaannya peka sekali."

Sementara itu, Cin Cin juga merasa suka sekali kepada paman kecilnya ini.

Sikapnya demikian lembut, ramah dan sopan, juga ucapannya membayangkan pengetahuan luas.

Sambil menggandeng tangan Chu Cai, ia mengajak pemuda itu mengunjungi Nyonya Song.

Janda Song ini menerima kunjungan Cin Cin dengan gembira dan ia ikut merasa gembira ketika diperkenalkan kepada Yeliu Chu Cai, keponakan besannya, Nyonya Can.

Sikap lembut dan sopan pemuda itu menyenangkan hatinya.

Setelah bercakap-cakap dengan Nyonya Song yang berwatak sabar dan halus budi itu, Cin Cin lalu mengajak Chu Cai untuk berjalan-jalan putar kota.

Ketika mereka tiba di dekat pasar, mereka melihat puluhan orang bergerombol di depan sebuah toko hasil bumi yang memiliki sebuah bangunan gudang besar di sebelahnya.

Toko dan gudang itu terbuka lebar pintunya dan di situ berdiri seorang laki-laki berusia sekitar enam puluh tahun dan di belakangnya terdapat belasan orang yang berpakaian ringkas membawa golok dan bersikap seperti rombongan tukang pukul.

Sedikitnya tiga puluh orang yang berdiri berhadapan dengan laki-laki bersama para tukang pukul itu, tampak marah dan mereka agaknya juga siap berkelahi dan membawa senjata seadanya.

Ada yang membawa linggis, pentungan dari kayu dan bambu, ada yang membawa pisau, sabit, dan lain-lain.

Agaknya akan terjadi perkelahian antara mereka yang rata-rata masih muda dan berpakaian sebagai pekerja kasar dengan para tukang pukul.

Cin Cin dan Chu Cai ikut menonton di antara banyak orang yang menonton dari jarak yang aman.

"Adik Cin, apakah yang terjadi? Siapakah laki-laki tua itu?"

Bisik Chu Cai kepada Cin Cin.

"Dia pemilik toko dan gudang itu, saudagar hasil bumi paling kaya di Sung-Kian. Namanya Ciang Lun dan sebutannya Hartawan Ciang. Entah apa yang terjadi. Belasan orang di belakangnya itu agaknya merupakan pengawal-pengawal yang menjaga keselamatannya. Dan puluhan orang yang marah itu melihat pakaiannya, tentu para pekerja kasar yang bekerja pada Ciang Wangwe (Hartawan Ciang)."

"Mereka kelihatan marah-marah dan mengancam. Apakah yang terjadi?"

"Entah, Paman. Kita dengarkan saja percakapan mereka."

Pada saat itu, Ciang Wangwe dengan suara lantang berkata kepada para pekerja yang marah itu.

"Kalian ini mau apakah? Setiap hari kalian bekerja membongkar muatan hasil bumi dan menumpuknya dalam gudang, kemudian kalau ada kiriman keluar, kalian mengeluarkan tumpukan hasil bumi dan memuatnya di atas kereta. Untuk pekerjaan itu, kami sudah membayar tunai setiap hari. Kenapa kalian masih banyak tuntutan dan apa lagi yang kalian kehendaki?"

Seorang yang agaknya mewakili tiga puluh orang pekerja kasar itu maju dan menjawab dengan nyaring pula.

"Ciang Wangwe, sudah bertahun-tahun kami bekerja membanting tulang membantumu, akan tetapi engkau tidak mengacuhkan nasib kami. Entah sudah berapa banyak engkau meraih keuntungan besar dari perusahaanmu ini, bahkan baru saja kami mendengar bahwa harga beras naik tinggi. Padahal engkau memiliki simpanan beribu-ribu kati! Akan tetapi kami tetap saja berpenghasilan kecil dan tidak cukup untuk makan sekeluarga kami. Kami tidak menuntut macam-macam, hanya minta kebijaksanaanmu untuk menaikkan gaji kami dan untuk memberi ransum makanan kepada kami yang secukupnya di waktu siang dan memberi kami waktu istirahat untuk makan siang itu."

"Hemm, gaji kalian sudah cukup besar, lebih besar daripada para kuli pasar pada umumnya. Dan kalian juga sudah kami beri makan pagi. Masih kurang apa lagi?"

"Ciang Wangwe, kami hanya mendapatkan bubur cair yang habis dimakan sebanyak lima sendok! Mana cukup untuk menahan lapar sehari? Ciang Wangwe, kuda dan kerbau pun kalau disuruh bekerja, harus diberi makan secukupnya, apalagi kami manusia. Kami hanya menuntut kenaikan upah untuk memberi makan cukup bagi anak-isteri kami dan waktu istirahat siang dan diberi makan secukupnya."

"Tidak mungkin! Apa kalian hendak memeras? Perampok-perampok busuk! Kalau aku menuruti permintaanmu yang tak masuk akal itu, aku akan menjadi bangkrut! Mulai sekarang, kalian semua kupecat! Aku masih mampu mendapatkan lebih banyak kuli angkut dengan gaji lebih rendah dari kalian. Kalian kupecat, pergilah!"

Akan tetapi pemimpin pekerja kasar yang bertubuh tinggi besar itu mengamangkan tinjunya ke atas dan berteriak lantang.

"Kawan-kawan, kita dipecat tanpa alasan, tanpa kesalahan! Karena itu, mari kita bawa pulang beras sekuat kemampuan kita untuk menghidupi keluarga kita sebelum memperoleh pekerjaan baru!"

"Yaaaa...!!"

Tiga puluh orang itu bersorak dan mereka bergerak hendak menyerbu ke dalam gudang.

"Serang perampok-perampok itu!!"

Teriak Ciang Wangwe dan belasan orang tukang pukulnya maju dengan golok di tangan dengan wajah bengis dan sikap mengancam. Melihat ini, Yeliu Chu Cai berseru.

"Tidak boleh, tidak. boleh berkelahi!"

Entah mengapa, seruan pamannya ini seperti perintah yang membuat Cin Cin tiba-tiba melompat.

Lompatannya lincah dan ia telah melompati kepala para pekerja yang hendak mengamuk itu dan tahu-tahu ia telah berdiri di antara kedua kelompok yang siap bertarung!

"Berhenti!

Pamanku bilang, kalian tidak boleh berkelahi!"

Katanya sambil bertolak pinggang dengan sikap garang dan gagah.

Pemimpin para pekerja yang tinggi besar itu adalah seorang penduduk baru, agaknya dia belum mengenal Cin Cin.

Demikian pula seorang di antara para tukang pukul Ciang Wangwe, seorang penduduk baru di Sung-Kian yang agaknya belum mengenal anak perempuan itu.

Maka, kedua orang itu menjadi marah melihat ada seorang anak perempuan berani menengahi mereka dan melarang mereka berkelahi.

"Anak nakal, kau cari penyakit!"

Bentak Si Pekerja.

"Bocah perempuan, pergilah!"

Si Pekerja menjulurkan tangan kirinya yang besar hendak menangkap pundak Cin Cin sedangkan tukang pukul itu pun menjulurkan tangan untuk menangkap lengan anak itu.

Akan tetapi dengan gerakan yang amat lincah, Cin Cin mengelak dengan merendahkan diri, menangkap lengan tukang pukul yang luput memegang lengannya dan menarik lengan itu dengan kuat.

Karena tukang pukul itu menggunakan tenaganya ketika menubruk maju maka ketika ditarik, tubuhnya tersungkur dan menabrak tubuh Si Pekerja yang juga luput menangkap pundak Cin Cin.

Kini anak perempuan itu dengan gerakan cepat menendang dua kali.

"Buk-bukk!!"

Tubuh dua orang penyerangnya itu terpelanting!

Pada saat itu, teman-teman Si Pekerja dan teman-teman tukang pukul menjadi marah.

Mereka bergerak hendak menangkap Cin Cin, akan tetapi tiba-tiba Yeliu Chu Cai lari menghampiri dan menggandeng tangan anak perempuan itu, langsung dia ajak naik ke tumpukan peti yang terdapat di depan gedung.

Dengan berdiri di tumpukan peti, dua orang anak itu dapat tampak jelas, bahkan para penonton yang agak jauh pun dapat melihat mereka berdua.

Setelah berdiri di atas peti, sambil menggandeng tangan Cin Cin, Yeliu Chu Cai berkata dengan suaranya yang halus akan tetapi mengandung wibawa.

"Ciang Wangwe dan para saudara pekerja! Harap dengarkan baik-baik. Kalian adalah dua pihak yang sepatutnya bekerja sama mencari nafkah untuk menyejahterakan kehidupan kedua pihak. Kalau ada masalah timbul, bicarakan dengan baik dan mencari pemecahannya yang menguntungkan kedua pihak. Berkelahi tidak membereskan masalah, malah mengeruhkan. Bersabarlah kalian!"

Akan tetapi Ciang Wangwe yang sudah marah sekali karena menganggap para pekerja itu keterlaluan, hendak memeras dan merampoknya, menudingkan telunjuknya ke arah mereka dan berseru memerintahkan kepada para pengawalnya.

"Bunuh perampok-perampok itu!"

Para pekerja juga sudah marah.

Walau pun tadinya mereka ada yang mengenal Cin Cin dan mulai mendengarkan ucapan Chu Cai, akan tetapi melihat Ciang Wangwe mengerahkan anak buahnya untuk menyerang, mereka pun berteriak marah dan siap melawan.

"Jangan berkelahi!"

Yeliu Chu Cal berteriak.

"Heil! Kalian tuli? Pamanku bilang jangan berkelahi!"

Cin Cin berteriak-teriak marah.

Akan tetapi kedua kelompok itu sudah saling serang dengan marah.

Pada saat itu sesosok bayangan hijau berkelebat ke tengah pertempuran.

Terdengar mereka yang berkelahi berseru kesakitan dan ternyata mereka yang berada paling depan, lima orang pekerja dan lima orang pengawal Ciang Wangwe, sudah terpelanting roboh dan mengaduh-aduh terkena tamparan dan tendangan Nyonya Song Han Bun atau Can Pek Giok yang datang sebagai bayangan hijau tadi!

Tentu saja semua orang merasa terkejut, apalagi ketika mereka mengenal siapa wanita yang sekali bergerak telah merobohkan sepuluh orang itu!

"Can Li-hiap (Pendekar Wanita Can)!"

Mereka berseru. Biarpun Pek Giok telah menjadi isteri Han Bun, namun mereka sudah mengenalnya sejak masih gadis sebagai seorang pendekar wanita di Sung-Kian.

"Hayo, siapa lagi yang ingin berkelahi?"

Can Pek Giok menantang sambil menoleh ke arah kedua pihak yang bersengketa.

Karena pemimpin pekerja dan seorang pengawal yang tidak mengenal keluarga pendekar itu telah dirobohkan, maka kini tidak ada yang berani membantah.

Melihat Pek Giok, Hartawan Ciang lalu berkata.

"Can Li-hiap, tolonglah saya. Mereka itulah yang bersalah, para pekerja itu hendak memeras dan merampok saya!"

"Tidak ada yang bersalah atau benar!"

Yeliu Chu Cai berkata lantang.

"Kalau mau bicara tentang siapa yang bersalah, maka kedua pihak bersalah. Jalan kekerasan yang kalian tempuh itu sudah salah!"

Kini Cin Cin yang menjadi besar hati melihat munculnya Ibunya, berdiri di dekat Yeliu Chu Cai dan berseru dengan suaranya yang bening dan lantang.

"Hayo kalian semua, kedua pihak duduk di atas tanah dengan tertib dan dengarkan kata-kata pamanku ini yang akan memecahkan persoalan kalian dengan adil tanpa menggunakan kekerasan. Hayo duduk semua, atau Ibuku akan memaksa kalian duduk!"

Mendengar ini, semua orang benar-benar mentaati dan mereka duduk di atas tanah dengan tertib.

Ciang Wangwe menghela napas panjang dan dia pun terpaksa duduk di atas bangku depan pintu gudang dan ikut mendengarkan.

Melihat ulah puterinya, Pek Giok tersenyum dan ia kini ikut mendengarkan apa yang akan dikatakan Yeliu Chu Cai kepada kedua pihak yang berkelahi itu.

Pemuda remaja itu berdiri di atas tumpukan peti, penampilannya begitu sederhana dan lembut, namun wajahnya yang membayangkan keramahan dan kebijaksanaan itu menarik perhatian semua orang.

Yeliu Chu Cai menghadapi para pekerja yang bergerombol duduk di sebelah kiri.

"Saudara-saudara para pekerja, kita semua tahu bahwa kalian menuntut perbaikan penghasilan agar mencukupi kebuTUHAN hidup kalian sekeluarga. Tuntutan itu sudah sewajarnya dan baik-balk saja, akan tetapi cara yang kalian pergunakan untuk menuntut dengan kekerasan itulah yang tidak benar. Apalagi kalau kalian hendak memaksa membawa beras milik Ciang Wangwe, tentu kalian akan dituduh perampok jahat dan kalian akan ditentang pemerintah, juga akan ditentang para pendekar."

"Akan tetapi kami sudah mengajukan tuntutan secara baik-baik dan semua tuntutan kami ditolak oleh Hartawan Ciang, bahkan kami dipecat tanpa alasan dan tanpa kesalahan!"

Teriak seorang pekerja.

"Sekarang harap Ciang Wangwe suka mendengarkan dan memikirkan dengan mendalam karena hal ini menyangkut kepentingan bersama. Tentu engkau tidak menghendaki kalau para pekerjamu memberontak dan menuntut kenaikan upah dengan kekerasan."

"Mereka tidak mengenal budi, tidak tahu diri!"

Hartawan Ciang berseru.

"Mereka memang bekerja padaku, mengeluarkan tenaga. Akan tetapi untuk itu aku telah membayar mereka sesuai dengan pekerjaan mereka. Mereka tidak pernah mengenal puas, selalu minta naik gaji, minta diberi waktu istirahat, minta diberi makan siang dan segala macam! Apakah dikira kami tidak mampu mencari pekerja-pekerja baru?"

"Ciang Wangwe, biar engkau seratus kali mengganti pekerja baru, akhirnya mereka yang baru itu pun akan menuntut perbaikan kesejahteraan yang sama! Coba renungkan sejenak, Ciang Wangwe. Tanpa adanya para pekerja, apakah engkau dapat memperoleh keuntungan? Tanpa mereka, dapatkah engkau seorang diri mengangkuti hasil bumi daganganmu itu? Jelaslah bahwa mereka yang membantumu memperoleh keuntungan, maka sesungguhnya karena keuntungan itu juga hasil keringat mereka, para pekerja itu berhak atas sebagian keuntungan itu. Ciang Wangwe, bukan hanya tenaga mereka yang harus kau hargai dan kau beri imbalan, akan tetapi juga rejeki mereka."

"Hamm, rejeki mereka? Apa maksudmu, orang muda?"

Tanya Hartawan Ciang penasaran.

"Ciang Wangwe, sesungguhnya bukan hanya tenaga dan pikiran yang mereka berikan kepadamu. Setiap orang menerima berkah rejeki dari TUHAN. Akan tetapi karena para pekerja itu bekerja untukmu, maka betapa pun besar rejeki mereka yang dianugerahkan-Nya kepada mereka, tetap saja semua rejeki itu engkau yang menerimanya melalui keuntungan perusahaanmu. Nah, kalau segalanya itu mereka berikan kepadamu, waktu, tenaga, pikiran, juga rejeki, tidakkah sudah sepantasnya kalau engkau membalas mereka dengan imbalan uang untuk mencukupi kebuTUHAN hidup keluarga mereka?"

Mendengar ucapan yang mereka anggap membela mereka itu, para pekerja bersorak dan berteriak-teriak.

"Benar sekali! Kami menuntut keadilan! Hartawan Ciang jangan mau enaknya sendiri!"

Demikian mereka berteriak dan bersorak.

Yeliu Chu Cai mengangkat kedua tangannya tinggi ke atas memberi isarat agar mereka berhenti bersorak dan berteriak.

Setelah mereka berhenti membuat gaduh, Yeliu Chu Cai berkata.

"Seperti kukatakan tadi, tidak ada yang salah dan tidak ada yang benar. Kalau kalian kedua pihak menggunakan kekerasan, maka kedua pihak bersalah! Sesungguhnya tidak ada bedanya di antara Hartawan Ciang dan para pekerja. Hartawan Ciang tidak dapat berdagang tanpa bantuan para pekerja, sebaliknya para pekerja juga tidak dapat bekerja tanpa adanya pemilik modal seperti Hartawan Ciang. Karena itu, pemilik modal dan pemilik tenaga haruslah bekerja sama! Kedua pihak merupakan partner, merupakan pasangan dan dengan kerja sama kedua pihak yang baik, maka dapat dihasilkan keuntungan yang dapat menyejahterakan kehidupan si pekerja dengan keluarganya dan dapat membuat perusahaan menjadi tambah maju dan bertambah besar. Kedua pihak haruslah tahu benar akan kewajiban masing-masing. Pemilik modal harus membagi keuntungan perusahaannya kepada pekerja sehingga mereka dapat hidup sejahtera bersama keluarganya, dan sebaliknya kalau hidupnya sejahtera dan kebuTUHAN hidupnya terjamin, si pekerja pasti akan bekerja dengan penuh semangat dan juga dengan jujur dan setia. Dengan demikian perusahaan akan berjalan lancar dan akhirnya akan mendatangkan keuntungan yang lebih besar. Kalau perusahaan semakin maju dan untungnya bertambah besar, berarti si majikan dapat memberi bagian keuntungan atau upah lebih besar lagi. Bukankah hal itu menguntungkan kedua pihak? Coba bandingkan dengan keadaan yang sebaliknya. Kalau majikan dan pekerja tidak dapat bekerja sama sebagai partner, majikan merasa rugi kalau membayar upah tinggi, si pekerja juga bekerja tanpa semangat karena penghasilannya tidak mencukupi kebuTUHAN keluarganya. Karena terpaksa, maka si pekerja kehilangan kejujuran dan kesetiaannya kepada majikan yang dia anggap pelit dan mau untung sendiri. Bahkan ada yang mata gelap lalu mencuri isi gudang. Bukankah kalau terjadi hal seperti itu, keduanya akan menderita rugi dan kehancuran?"

Sepi sekali setelah Yeliu Chu Cai berhenti bicara.

Agaknya ucapannya itu mendatangkan kesan mendalam sekali datam hati kedua pihak.

Mereka seolah baru menyadari bahwa hubungan antara majikan dan pekerjanya selama ini seperti orang-orang yang saling curiga, saling benci dan bermusuhan.

Kini mereka saling pandang.

Semua pekerja memandang ke arah Ciang Wangwe yang masih duduk termenung di atas bangku, lalu Hartawan Ciang itu menyapukan pandangan matanya ke arah para pekerja yang duduk di atas tanah.

Tiba-tiba Cin Cin yang berdiri di dekat pamannya, berseru nyaring.

"Bagus! Bagus! ini pamanku Yeliu Chu Cai telah bicara dan menemukan jalan keluar yang baik untuk mengakhiri sengketa ini! Mulai sekarang, kami harap Ciang Wangwe dapat memperhatikan kebuTUHAN para pekerjanya dan para pekerja juga mau bekerja giat, jujur dan setia. Kalau tidak menurut, maka aku akan menganjurkan semua penduduk Sung-Kian untuk tidak menyebut Hartawan Ciang, melainkan Si Pelit Ciang dan kalau para pekerja tidak bersemangat, jujur, dan setia, mereka bukan lagi pekerja yang baik, melainkan gerombolan pengacau atau perampok!"

Melihat ulah dan mendengar apa yang diucapkan Yeliu Chu Cai dan Cin Cin, Pek Giok tersenyum dan merasa bangga, juga amat kagum kepada adik misannya itu.

Maka dengan gerakan lompatan yang indah sekali ia melayang ke atas tumpukan peti di sebelah Yeliu Chu Cai dan Cin Cinn lalu berseru dengan suara nyaring.

"Kalian semua dengar baik-baik! Apa yang dikatakan adik misanku Yeliu Chu Cai tadi adalah benar. Karena itu, kami harap pihak majikan dan pihak pekerja agar dapat melaksanakan dengan iktikad baik sehingga kedua pihak dapat menikmati hasilnya. Kalau ada pihak yang tidak mau melaksanakan kerja sama yang baik itu dan tetap menggunakan kekerasan terpaksa kami akan menentangnya!"

Mendengar ucapan pendekar wanita yang amat dikenal dan disegani di Sung-Kian itu, semua pihak merasa gentar dan Hartawan Ciang segera berkata "Mulai hari ini kami akan memenuhi tuntutan kenaikan upah dan waktu istirahat dan makan siang dengan harapan agar para pekerja juga mengimbangi dengan bekerja penuh semangat, jujur dan setia.

Biarlah Lihiap Can Pek Giok menjadi saksinya!"

Ucapan Hartawan Ciang ini disambut sorak sorai para pekerja dan terdengar suara Pek Giok melengking mengatasi gemuruh sorak sorai mereka.

"Aku belum mendengar kesanggupan dan janji para pekerja!"

Segera atas pimpinan seorang pekerja tertua, tiga puluh orang pekerja itu serentak berseru.

"Kami berjanji akan bekerja penuh semangat, jujur dan setia!"

Terjadilah perdamaian antara Hartawan Ciang dan para pekerjanya dalam suasana gembira karena kedua pihak mengharapkan akan mendapat perbaikan dalam hubungan yang baru itu.

Beberapa hari kemudian, dengan menggunakan kereta, Bun Cui Lian atau Nyonya Can bersama Yeliu Chu Cai, ditemani Song Han Bun, Can Pek Giok dan Song Bwee Cin, berangkat menuju kotaraja Yen-Cing dari Kerajaan Cin.

"Jangan, Cin Cin. Berbahaya sekali kalau kita berkunjung ke sana!"

Yeliu Chu Cai mencela ketika Cin Cin mengajak dia mendaki bukit itu.

Mereka berdua berada di Yen-Cing dan tentu saja pertemuan antara Bun Cui Lian dengan Ibu kandung dan adik kandungnya, yaitu Ibu dari Yeliu Chu Cai, amat mengharukan, juga menggembirakan.

Terutama sekali bagi Bun Cui Lan atau Nyonya Can Ibu Cin Cin, pertemuan dengan Ibunya yang sakit-sakitan, dan adiknya, sungguh merupakan kebahagiaan besar sekali.

Apalagi mendengar bahwa sudah lama Ibu kandungnya memaafkannya yang kawin lari dengan mendiang suaminya, Can Gi Sun.

Setelah melepaskan rindu selama dua hari, pada hari ke Cin Cin minta kepada Yeliu Chu Cai agar menemaninya berjalan-jalan melihat keadaan Kotaraja Yen-Cing.

Tentu saja Yeliu Chu Cai senang menjadi penunjuk jalan dan dia membawa Cin Cin keliling kota.

Setelah matahari condong ke barat dan sudah mengelilingi bagian kota yang ramai, Cin Cin mengajak Yeliu Chu Cai keluar dari pintu gerbang utara di mana terdapat daerah pegunungan yang berjajar dan berlapis.

"Paman Yeliu, dulu engkau menceritakan bahwa Pek-Bin Giam-Lo kini bertapa di sebuah bukit. Bukit yang manakah yang menjadi pertapaannya?"

"Itu, yang terdekat,"

Yeliu Chu Cai menunjuk.

"Mari kita ke sana, Paman."

"Eh, mau apa ke sana?"

"Aku mau melihat dari dekat."

Yeliu Chu Cai tidak dapat menolak dan mereka menghampiri bukit itu. Akan tetapi setelah tiba di kaki bukit, Cin Cin mengajaknya mendaki ke puncak. Tentu saja Yeliu Chu Cai terkejut dan menolak.

"Jangan, Cin Cin, berbahaya sekali kalau kita mendaki puncak!"

Cegahnya. Akan tetapi Cin Cin memiliki kekerasan hati. Kalau ia menghendaki sesuatu, sukarlah untuk mencegahnya.

"Aku hanya ingin melihat-lihat keadaan di puncak, Paman. Kalau engkau takut, biarlah engkau menunggu di sini dan aku akan mendaki sendiri."

Melihat anak perempuan itu nekat bahkan sudah mulai mendaki bukit melalui jalan kecil, Yeliu Chu Cai yang tak berdaya menggeleng-gelengkan kepalanya dan terpaksa dia pun mengikuti Cin Cin mendaki ke atas.

Bukit itu tidak berapa tinggi.

Tak lama kemudian mereka sudah tiba di puncak yang datar dan tidak berapa luas.

Di situ terdapat sebuah bangunan kecil mungil dan indah.

Jalan menuju ke bawah hanyalah yang dilalui Cin Cinn dan Yeliu Chu Cai karena puncak itu dikelilingi tebing yang curam.

Setelah tiba di puncak, Cin Cinn mengelilingi pondok itu dan memperhatikan keadaan sekelilingnya, maklum bahwa tempat yang pemandangannya dari atas amat indah itu sangat berbahaya.

Agaknya tidak mungkin menuruni puncak melalui jalan lain kecuali melalui jalan kecil yang ia lalui tadi.

Tebing-tebing yang mengelilingi puncak sangat curam.

Yeliu Chu Cai merasa heran melihat Cin Cin agaknya senang berada di situ.

Dia hanya mengikuti saja gadis cilik yang kini berada di bagian belakang pondok di mana tebingnya paling curam.

Bahkan Cin Cin berdiri di tepi tebing, menjenguk ke bawah sehingga Yeliu Chu Cai merasa ngeri karena sekali terpeleset ke bawah, kiranya tidak mungkin dapat terbebas dari maut.

Tiba-tiba terdengar orang berseru.

"Hei, siapa kalian? Kalian tidak boleh berada di sini!"

Cin Cin dan Yeliu Chu Cai memutar badan dan mereka melihat dua orang wanita setengah tua dan seorang laki-laki setengah tua berpakaian sebagai pelayan telah berdiri di depan pintu belakang pondok itu.

Yang menegur tadi adalah pelayan laki-laki itu.

Yeliu Chu Cai yang merasa rikuh sekali karena merasa telah melanggar peraturan, cepat menjura dan berkata dengan sikap hormat.

"Harap maafkan kami. Kami hanya ingin menikmati pemandangan dari puncak bukit ini."

"Tidak boleh,"

Kata pelayan pria itu.

"Ini tempat larangan bagi umum, siapa pun tidak boleh berada di puncak ini kecuali mendapat ijin!"

"Aih, galak amat!"

Tiba-tiba Cin Cin berseru.

"Memangnya pondok ini tempat tinggal Kaisar?"

"Cin Cin...!"

Yeliu Chu Cai menegur halus.

"Biarlah, Paman. Lihat, di daerah Ini terus ke utara terdapat ribuan bukit, apakah bukit-bukit itu ada yang memiliki? Siapa pun boleh mendaki dan menikmati pemandangan dari puncak bukit. Kenapa kita dilarang? Siapa hendak melarang?"

Pelayan pria itu mengerutkan alisnya dan menghampiri Cin Cin lalu berkata.

"Nona, engkau masih kanak-kanak, harap kalau bicara yang betul. Aku menyayangkan kalau sampai Tuan Besar mendengar lalu marah, engkau pasti akan celaka. Pergilah, Nona, pergilah sebelum terlambat!"

Agaknya Cin Cin memang hendak mencari perkara. Diperingatkan demikian, ia malah menantang.

"Siapa takut kepada Tuan Besarmu? Panggil dia keluar, hendak kulihat apakah dia berani melarang aku berada di puncak bukit ini!"

Pelayan itu terkejut dan cepat berbisik dengan maksud agar anak perempuan itu menjadi takut dan segera pergi.

"Hushh, Nona. Pondok ini milik Tuan Besar Pek-Bin Giam-Lo!"

"Raja Maut Muka Putih? Jangankan Raja Maut, biar Raja Setan aku tidak takut!"

Cin Cin sengaja menantang. Yeliu Chu Cai menjadi khawatir juga.

"Cin Cin...!"

Dia menegur.

Pelayan pria itu pun terkejut bukan main.

Karena khawatir bahwa Pek-Bin Giam-Lo akan marah, dia menjadi kehilangan kesabarannya.

Dia menghampiri Cin Cin dan berkata dengan suara membentak.

"Anak nakal! Cepat pergi dari sini. Cepat...!!"

Karena jengkel melihat ulah Cin Cin, dia memegang pergelangan tangan anak perempuan itu dan menariknya, hendak memaksanya pergi dari situ.

Akan tetapi sekali memutar lengannya, pelayan itu terpelanting dan kaki Cin Cin menendang sehingga tubuh pelayan itu terpental dan bergulingan.

"Engkau yang harus pergi!"

Cin Cin membentak marah.

"Panggil Setan Tua Muka Putih ke sini!"

Pelayan itu terkejut sekali, juga ketakutan.

Dia lalu bangkit, berlari memasuki pintu belakang diikuti oleh dua orang pelayan wanita yang juga ketakutan.

Tiba-tiba dari pintu belakang itu menyambar angin yang membuat tanaman di situ terayun-ayun, kemudian muncul seorang Kakek yang penampilannya menyeramkan.

Kakek itu tinggi dan kurus sekali, mukanya hanya tengkorak terbungkus kulit putih, kepalanya memakai sorban dan tangan kanannya memegang sebuah tongkat ular kobra.

Dia bukan lain adalah Pek-Bin Giam-Lo dan kini dia sudah tua sekali, hampir sembilan puluh tahun usianya.

"Hemm, di mana bocah-bocah kurang ajar itu?"

Tanyanya dan di ambang pintu belakang, kepala pelayan pria tadi muncul dan dia berseru.

"Itu mereka di sana, Taiya, di depanmu...!"

Pek-Bin Giam-Lo menatap ke depan akan tetapi agaknya dia tidak melihat Cin Cin dan Yeliu Chu Cai. Pemuda itu berbisik kepada Cin Cin.

"Dia itu Pek-Bin Giam-Lo..."

"Engkau menyingkirlah yang jauh, Paman. Aku akan mempermainkan dia!"

"Jangan, Cin Cin, mari kita lari!"

"Jangan khawatir, Paman. Lihat, dia agaknya telah buta."

Benar saja, biarpun Pek-Bin Giam-Lo menghadap ke arah mereka, dia tetap menengok ke kanan kiri seperti orang mencari-cari.

"Hei, Pek-Bin Giam-Lo, matamu sudah buta, ya? Itulah hukuman dosa-dosamu yang bertumpuk-tumpukl"

Teriak Cin Cin dan anak yang cerdik itu sudah cepat melompat meninggalkan tempat ia berdiri tadi.

Benar saja, begitu telinganya mendengar ucapan anak itu tangannya yang memegang tongkat ular kobra bergerak dan terdengar suara berdesing ketika dua sinar hitam meluncur dari mulut ular kobra kering, menyambar ke arah di mana tadi Cin Cin berdiri.

Anak itu tersenyum, padahal bagi anak lain tentu akan merasa ngeri karena kalau ia tidak memperhitungkan lebih dulu dan tidak cepat menyingkir, kiranya mustahil ia akan mampu menghindarkan diri dari ancaman maut dua paku beracun yang menyerangnya tadi.

Akan tetapi Cin Cin adalah puteri sepasang pendekar sakti.

Selain telah menerima gemblengan ilmu silat, ia pun memiliki kecerdikan yang lebih dari anak-anak biasa.

Ia mulai mempermainkan Pek-Bin Giam-Lo.

"Hei, Pek-Bin Giam-Lo..."

Ia cepat meloncat ke kiri dan kembali ada sinar hitam menyambar.

"Tua bangka yang sudah mau mampus! Jangan curang, kalau berani..."

Ia melompat lagi ke kanan dan kembali ada dua sinar hitam menyambar.

"Kalau berani, hayo lawan aku, bukan menggunakan senjata rahasia secara curang!"

Tentu saja sebagai seorang datuk besar yang tinggi ilmunya, Pek-Bin Giam-Lo merasa tersinggung dan juga malu.

Apalagi yang menantang dan menghina itu, mendengar suaranya, hanya seorang kanak-kanak, perempuan lagi!

"Bocah setan, hayo katakan siapa engkau dan mengapa engkau mengacau di sini?"

Cin Cin menjawab dan setiap empat atau lima buah kata ia segera berpindah tempat beberapa langkah jauhnya.

Akan tetapi agaknya Pek-Bin Giam-Lo menyadari bahwa beberapa kali serangannya tadi dapat dihindarkan anak itu.

Diam-diam dia merasa heran bagaimana seorang anak kecil mampu mengelak dari serangan-serangannya tadi.

Padahal biarpun dia tidak dapat melihat jelas, pendengarannya masih baik dan dari pendengarannya, dia dapat menyerang anak itu dengan tepat dan cepat.

Orang dewasa sekalipun, kalau bukan yang memiliki kesaktian tinggi, kiranya akan sukar untuk dapat terhindar dari serangan paku-paku hitamnya yang beracun.

"Mau tahu aku siapa?"

Kata Cin Cin sambil berloncatan ke sana sini untuk menjaga diri.

"Aku adalah cucu Malaikat Pencabut Nyawa yang mendapat tugas untuk mencabut nyawamu karena dosa-dosamu terutama engkau telah membunuh Can-Kauwsu dan Song-Kauwsu di kota Sung-Kian!"

Pek-Bin Giam-Lo terkejut dan mengerutkan alisnya. Mendengar ini, biarpun yang bicara hanya anak kecil, dia tidak berani main-main.

"Apa hubunganmu dengan Song Han Bun dan Can Pek Giok?"

Tanyanya, agak gentar mengingat dua orang musuh besarnya yang dia tahu amat tangguh itu. Apalagi sekarang setelah dia semakin tua, tidak sekuat dulu dan penglihatannya telah rabun, bahkan hampir buta.

"Hi-hik, mereka adalah Ayah dan Ibuku! Akan tetapi tidak perlu mereka yang turun tangan, cukup aku, Song Bwee Cin, akan menandingimu asalkan engkau tidak curang. Hayo maju kalau engkau berani, Kakek tua bangkal"

Tentu saja Pek-Bin Giam-Lo marah sekali.

Kemarahan yang sebetulnya muncul karena perasaan takut.

Bagaimanapun juga, dia gentar mengingat bahwa mungkin sekali dua orang musuh besarnya itu, Song Han Bun dan Can Pek Giok, pada saat itu berada pula di situ.

"Biar kuantar engkau menyusul dua orang Kakekmu lebih dulu!"

Bentaknya dan sambil memutar tongkat ular kobra sehingga tampak sinar hitam bergulung-gulung dan mengeluarkan suara berdengung mengerikan, Pek-Bin Giam-Lo menerjang ke arah dari mana suara anak itu terdengar.

Akan tetapi tentu saja Cin Cin sudah berada jauh dari situ.

Anak itu mengejek dengan suara nyaring sambil terus menuju ke tebing di belakang pondok.

"Wah, luput, Pek-Bin Giam-Lo! Lihat, kedua Kongkong (Kakek) telah menanti untuk menyeretmu ke tempat hukuman. Aku di sini, tua bangka buta! Hayo kejar aku kalau berani!"

Cin Cin mengejek sambil berloncatan ke sana sini.

Pek-Bin Giam-Lo semakin marah dan penasaran.

Dia tidak mau mengeluarkan kata-kata lagi karena merasa kalah bicara.

Dia hanya menggunakan pendengarannya untuk mengetahui di mana anak itu.

Dia merasa penasaran sekali karena begitu mendengar suara anak itu, dia langsung menyerang dengan tongkatnya, akan tetapi serangannya selalu mengenai udara kosong belaka.

Entah bagaimana caranya anak itu dapat mengelak sedemikian cepatnya.

Sementara itu, dari tempat yang aman, Yeliu Chu Cai menonton dengan alis berkerut dan jantung berdebar penuh Ketegangan dan kekhawatiran.

Dia merasa menyesal sekali telah mengajak Cin Cin ke puncak bukit tempat tinggal Pek-Bin Giam-Lo.

Anak itu terlalu berani dan nekat!

Kini Pek-Bin Giam-Lo sudah muncul dan marah besar.

Apa yang harus dipertanggung-jawabkan kepada Ayah-Ibu Cin Cin kalau sampai anak itu terbunuh oleh Pek-Bin Giam-Lo?

Dia sendiri tidak mampu mencegah atau menolong.

"Cin Cin, larilah!"

Dia tak dapat menahan kekhawatirannya dan berteriak.

mendengar teriakan ini, Pek-Bin Giam-Lo memutar tubuh menghadap ke arah di mana pemuda itu berada.

Akan tetapi karena menurut suara tadi jaraknya masih terlalu jauh, Pek-Bin Giam-Lo masih belum melakukan serangan melainkan melangkah menghampiri Yeliu Chu Cai dan menggunakan tongkatnya untuk meraba-raba tanah di depannya seperti kelakuan orang buta.

Melihat ini, Cin Cin merasa khawatir sekali.

ia memberi isarat dengan tangannya agar Yeliu Chu Cai berjongkok bersembunyi di balik batu besar itu.

Tiba-tiba Pek-Bin Giam-Lo menggerakkan kakinya, tubuhnya melayang ke depan, tongkatnya menghantam ke arah pemuda itu.

Akan tetapi Yeliu Chu Cai sudah berjongkok mentaati isarat dari Cin Cin tadi.

"Blarrr...!!"

Batu besar itu pecah berantakan di bagian yang terkena pukulan.

Akan tetapi Yeliu Chu Cai yang sudah berlindung di belakang batu, tidak terluka, hanya terkejut sehingga tidak berani bergerak.

Cin Cin mengambil beberapa buah batu sebesar kepalan tangannya dan menyambitkan batu-batu itu ke arah kepala dan tubuh belakang Pek-Bin Giam-Lo!

Akan tetapi, pendengaran Kakek itu masih peka sekali.

Dia memutar tubuh dan memutar tongkatnya.

Semua batu itu dapat tertangkis dan kini dengan langkah lebar ia menghampiri Cin Cin!

"Kakek bau!

Beraninya hanya kepada batu yang tidak bersalah kau hancurkan.

Hayo lawan aku kalau engkau memang ada keberanian!"

Cin Cin menantang dengan suara merendahkan sekali, akan tetapi sambil cepat berloncatan menghindar waiaupun Kakek itu tidak atau belum menyerangnya.

Pek-Bin Giam-Lo terus menghampiri maju, tongkatnya meraba-raba tanah.

Cin Cin terus mundur sampai akhirnya ia berhenti karena kedua kakinya sudah tiba di tepi tebing yang amat curam!

Melihat ini, Yeliu Chu Cai memandang dengan wajah pucat!

Agaknya Cin Cin tidak akan dapat menghindarkan diri lagi!

Akan tetapi anak perempuan itu agaknya memang sudah nekat.

la yang tadi sudah mengumpulkan batu kini menyambitkan batu-batu itu secara bertubi-tubi sambil tiada hentinya memaki-maki.

"Kakek tua bangka bau buruk! Mampuslah kau! Hayo pukul aku dengan tongkat bututmu itu kalau engkau mampu dan berani! Akan kuhancurkan mukamu yang buruk itu!!"

Sekali ini, Cin Cin tidak berpindah tempat dan suaranya ia buat lantang sehingga Kakek itu dengan pendengarannya tahu betul di mana ia berada.

Pek-Bin Giam-Lo sudah marah sekali, tongkatnya diputar dan semua batu dapat ditangkisnya sambil terus melangkah maju.

Setelah cukup dekat, dia berseru nyaring.

"Anak setan, mampuslah!!"

Dia melompat, tongkatnya menyambar dari kanan ke kiri ke arah tubuh Cin Cin seperti halilintar menyambar.

Tubuh Pek-Bin Giam-Lo melambung dan berkelebat ke depan, tongkatnya menjadi sinar hitam menyambar dan agaknya tak mungkin lagi Cin Cin dapat menghindarkan diri dari serangan maut yang dilakukan penuh nafsu amarah yang berkobar itu!

Melihat ini, Yeliu Chu Cai menjerit.

''Awas, Cin Cin...!!"

Muka pemuda itu pucat sekali, sepasang matanya terbelalak penuh kengerian ketika dia melihat tiba-tiba tubuh Cin Cin terjengkang atau melompat ke belakang, ke bawah tebing!

Juga tubuh Pek-Bin Giam-Lo yang melompat dan menyerang tadi kini melewati tepi tebing dan dengan sendirinya tubuh Kakek itu pun terjatuh ke bawah tebing yang tak tampak dasarnya saking curamnya!

Yeliu Chu Cai menjadi panik, tubuhnya menggigil ketika dia mendengar jeritan memanjang dari bawah tebing.

"Cin Cin...!!"

Tanpa peduli akan ancaman bahaya apa pun dia lari ke tepi tebing, menjenguk ke bawah dan...

wajah Cin Cin muncul dari tepi tebing sambil menyeringai lucu!

Anak perempuan itu ternyata bukan jatuh ke bawah tebing melainkan bergantung kepada akar pohon yang menonjoi di bawah permukaan tebing!

Dan semua ini memang sudah direncanakan otak Cin Cin yang cerdik.

Ketika tadi ia memeriksa tebing dan melihat-lihat, ia melihat adanya akar yang menonjol ini.

Ia pikir, kalau ia mampu memancing Pek-Bin Giam-Lo menyerangnya di tepi tebing dan membuatnya marah sehingga lengah, ia akan dapat menyelamatkan diri dengan menjatuhkan diri dari tepi tebing dan mungkin ia akan dapat menjebak Pek-Bin Giam-Lo yang setengah buta itu sehingga terjerumus ke bawah tebing.

Dan ternyata usahanya berhasil baik sekali!

Setelah ia melompat dan berdiri di tepi tebing, Yeliu Chu Cai dan Cin Cin menjenguk ke bawah tebing dan mereka melihat tubuh Pek-Bin Giam-Lo masih terus jatuh ke bawah, menghantam dinding tebing, terus meluncur dan bergulingan.

"Hemm, dia pasti tewas..."

Kata Ye-liu Chu Cai ngeri lalu menghela napas panjang. Akan tetapi wajah Cin Cin berseri gembIra.

"Heh-heh, Paman Yeliu Chu Cal! Aku dapat membayangkan betapa gembiranya Kakek Song dan Kakek Can melihat betapa cucunya mampu membalaskan dendam kematian mereka kepada pembunuh mereka, si jahat Pek-Bin Giam-Lo!"

Yeliu Chu Cai bergidik.

"Cin Cin, ini merupakan pembunuhan..."

Cin Cin mengerutkan alisnya dan menatap wajah Yeliu Chu Cai dengan kepala dimiringkan.

"Paman yang baik, apakah engkau akan lebih senang kalau tadi aku yang dipukul jatuh ke bawah tebing oleh Pek-Bin Giam-Lo?"

Yeliu Chu Cai membelalakkan kedua matanya.

"Ah, tentu saja tidak, Cin Cin! Bagaimana engkau bisa menyangka aku sekejam itu?"

"Akan tetapi engkau keliru kalau mengatakan kematian Pek-Bin Giam-Lo karena pembunuhan. Engkau melihat sendiri tadi bahwa aku hanya membela dan melindungi diriku sendiri. Dia terjatuh ketika luput menyerangku. Bukan aku yang membunuhnya."

Yeliu Chu Cai diam saja tidak membantah, namun di dalam hatinya dia dapat menduga dengan hati kagum bahwa semua itu telah diperhitungkan oleh Cin Cin.

Betapa cerdik dan terutama sekali betapa beraninya!

Gadis cilik itu benar-benar nekat sekali.

Sedikit saja meleset perhitungannya, taruhannya adalah nyawanya!

Karena khawatir bahwa kematian Pek-Bin Giam-Lo itu akan berekor panjang, maka Yeliu Chu Cai segera mengajak Cin Cin pulang.

Anak itu pun tidak membantah karena ia segera ingin bertemu Ayah-Ibunya untuk membanggakan keberhasilannya membalas dendam kematian kedua orang Kakeknya dengan menyebabkan kematian Pek-Bin Giam-Lo!

Akan tetapi dapat dibayangkan betapa kaget rasa hati Song Han Bun dan Can Pek Giok ketika dengan wajah gembira Cin Cin bercerita.

"Ayah, Ibu, sekarang Kakek Song dan Kakek Can dapat tenang berada di alam baka karena Pek-Bin Giam-Lo telah tewas!"

"Apa? Pek-Bin Giam-Lo tewas?"

Tanya Pek Giok.

"Tewas bagaimana? Apa maksudmu, Cin? Bagaimana engkau bisa tahu bahwa dia telah tewas?"

Tanya pula Han Bun.

"Tentu saja aku tahu, Ayah, karena akulah yang menyebabkan kematiannya!"

"Heee, jangan main-main, Cin Cin!"

Bentak Han Bun, tentu saja tidak percaya dan marah karena mengira Cin Cin bicara sembarangan dan bohong.

"Eh, Ayah tidak percaya kepadaku? Kapan aku pernah bohong, Ayah? Aku dan Paman Yeliu Chu Cai pergi mendaki bukit di mana Pek-Bin Giam-Lo tinggal. Pek-Bin Giam-Lo muncul dan dia menyerangku, Ayah. Aku pancing dia sampai ke tepi tebing dan ketika dia mengamuk dan menyerangku, aku turun dari tepi tebing bergantung pada akar pohon dan dia... he-he, dia luput menyerangku lalu melayang turun ke bawah tebing yang amat curam. Pasti tubuhnya sudah hancur lebur!"

"Cin Cin, jangan membohongi Ayah dan Ibumu! Mana mungkin begitu mudahnya Pek-Bin Giam-Lo tewas?"

Kata Pek Giok, tentu saja tidak percaya karena ia tahu benar akan kesaktian Pek-Bin Giam-Lo sedangkan puterinya yang baru berusia tujuh tahun itu mampu berbuat apa?

Sebelum Cin Cin menjawab Han Bun segera bertanya kepada Yeliu Chu Cai.

"Adik Yeliu Chu Cai, benarkah apa yang diceritakan Cin Cin tadi bahwa Pek-Bin Giam-Lo tewas karena terjerumus ke dalam tebing curam?"

"Memang benar, Cihu (Kakak Ipar). Pek-Bin Giam-Lo tewas terjerumus ke dalam tebing yang amat curam. Kami tidak melihat dia tewas, hanya terjatuh ke tebing yang demikian curamnya, tidak mungkin seorang manusia dapat tinggal hidup."

"Akan tetapi mana mungkin?"

Kata Pek Giok, sukar untuk percaya bahwa puterinya yang menjadi penyebab tewasnya musuh besar yang amat sakti itu.

"Sesungguhnya tidak begitu aneh, Piauw-ci (Kakak Misan). Saya lihat Pek-Bin Giam-Lo sudah hampir buta. Dia tidak dapat melihat kami dan dia menyerang Cin Cin dengan ngawur. Adik Cin Cin dengan cerdik terus berlompatan menghindar dan lari ke tebing sambil mengejek sehingga Pek-Bin Giam-Lo yang tak dapat melihat menjadi semakin marah dan mengamuk. Karena marah dan tidak dapat melihat, mungkin dia lupa bahwa dia telah berada dekat tebing. Ketika dia menyerang sambil melompat, Adik Cin Cin melompat ke bawah tepi tebing dan bergantung kepada akar pohon. Pek-Bin Giam-Lo terlalu jauh melompat dan terjerumus ke bawah tebing. Demikianlah apa yang terjadi."

Kini baru Han Bun dan Pek Giok percaya. Mereka diam-diam bangga sekali kepada puteri mereka, akan tetapi juga khawatir.

"Cin Cin, apakah ada yang melihat kejadian itu?"

Tanya Han Bun kepada puterinya.

"Yang mengetahui adalah seorang pelayan laki-laki setengah tua dan dua orang pelayan wanita setengah tua. Akan tetapi aku sudah hajar pelayan laki-laki itu sehingga dia tidak akan berani berbuat apa-apa, Ayah,"

Kata Cin Cin.

"Hemm, kita harus cepat pergi meninggalkan Ibukota ini."

Han Bun berkata kepada isterinya.

"Para pelayan itu sudah pasti akan mengadu kepada Pangeran Leng Sui dan mereka tentu akan mengerahkan pasukan untuk mencari Cin Cin."

Pek Giok tanggap akan maksud suaminya, maka ia cepat menemui Ibunya, Nyonya Can yang berada di ruangan dalam dan dengan singkat menceritakan akan kematian Pek-Bin Giam-Lo yang disebabkan oleh ulah Cin Cin.

Mendengar ini, Nyonya Can menangis.

"Ah, siapa sangka..., cucuku perempuan yang masih kanak-kanak yang dapat membalaskan kematian suamiku..."

Katanya dan ia lalu terpaksa pamit kepada Ibunya yang sudah sembuh dan adiknya, juga adik iparnya, Yeliu Coan.

Yeliu Coan dan isterinya, juga Nyonya Janda Tua Can Nenek Pek Giok, memaklumi keadaan, maka mereka terpaksa melepaskan kepergian para tamu mereka.

Bergegas Song Han Bun, Can Pek Giok, dan Cin Cin meninggalkan Kotaraja Yen-Cing untuk kembali ke selatan, menyeberangi Sungai Yang-Ce menuju ke Hang-Chouw.

Perjalanan ini amat jauh, akan tetapi karena suami-isteri itu merupakan pasangan pendekar sakti, segala halangan dan rintangan para gerombolan jahat dapat mereka atasi.

Kalau ada gerombolan perampok berani menghadang, hal itu berarti hancurnya gerombolan itu, diobrak-abrik oleh suami-isteri itu.

Juga Cin Cin memperoleh pengalaman yang amat hebat dan baik sehingga hal itu menambah kecerdikannya, juga keberaniannya.

Di tepi See-Ouw (Telaga Barat) di luar kota Hang-Chouw pada pagi hari itu sudah ramai dengan para pengunjung.

Musim semi membuat banyak pelancong datang berpesiar ke telaga yang indah itu yang pada musim semi menjadi bertambah indah karena tanam-tanaman di sekeliling telaga tumbuh dengan subur dan banyak bunga mekar beraneka macam dan warna.

Akan tetapi agak jauh dari tepi sebelah timur telaga itu, di lapangan rumput yang sunyi pada saat itu tampak berkelebat dua bayangan.

Mula-mula bayangan biru berkelebat dan seorang laki-laki berusia sekitar lima puluh tahun berhenti di lapangan rumput itu dan memutar tubuh menanti bayangan putih yang sejak tadi melakukan pengejaran.

Tak lama kemudian bayangan putih itu tiba di situ dan ternyata ia seorang wanita berusia sekitar empat puluh delapan tahun.

Keduanya berdiri berhadapan dalam jarak sekitar tiga tombak, saling pandang dan seolah saling menyelidiki.

Laki-laki itu biarpun usianya sudah lima puluh tahun, namun tampak masih gagah dan tampan.

Pakaiannya berwarna biru dan potongannya ringkas seperti yang biasa dipakai para perantau atau tokoh persilatan.

Apalagi di punggungnya tampak gagang pedang yang terukir kepala naga.

Juga sarung pedangnya terukir seekor naga.

Wajahnya yang tampan dan gagah itu tampak lebih muda daripada usianya.

Jenggot dan kumisnya yang pendek juga masih hitam.

Adapun wanita itu juga tampak jauh lebih muda daripada usianya.

Pantasnya ia baru berusia tiga puluhan tahun.

Pakaiannya dari sutera serba putih dengan garis kecil biru di tepinya.

Di punggungnya juga tergantung sebatang pedang dan di ikat pinggangnya terselip sebatang kebutan berbulu merah.

Wajahnya bulat dan kulitnya putih mulus, rambutnya panjang dan hitam digelung ke atas dan dihias tusuk sanggul berbentuk burung Hong kecil dari emas dengan sepasang mata batu intan biru.

Sejenak kedua orang itu saling pandang.

Pandang mata pria itu mengandung kekaguman, akan tetapi pandang mata wanita yang cantik itu mengandung kebencian!

"Ah, kiranya engkau yang mengejarku dari Kotaraja sampai di sini, Eng-moi (Adik Eng),"

Kata laki-laki itu sambil tersenyum.

"Tidak perlu menyebut-nyebut Eng-moi kepadaku! Bagimu aku adalah Pek I Sianli (Dewi Baju Putih) dan bagiku engkau adalah Thian-Te Kiam-Sian (Dewa Pedang Langit Bumi) dan kita adalah musuh bebuyutan!"

"Aih, Pek I Sianli, kenapakah engkau selalu mencariku dan menantangku? Sudah lima kali selama hampir tiga puluh tahun kita saling bertanding. Apakah itu masih belum cukup bagimu?"

"Baru cukup kalau seorang dari kita sudah menggeletak di atas tanah tanpa nyawa, Thian-Te Kiam-Sian!"

Jawab wanita itu dengan ketus dan tangan kanannya meraba pundak, tangan kirinya meraba kebutan di pinggang.

Di lain saat kedua tangannya sudah memegang sebatang pedang yang mengkilap tajam dan kebutan bulu merah.

"Aih, Pek I Sianli, mengapa engkau begini berkeras hendak mengadu nyawa denganku? Lupakah engkau betapa tiga puluh tahun yang lalu kita saling mencinta?"

"Tutup mulutmu! Cinta yang putih bersih itu telah kau nodai dengan lumpur ketidak-setiaan dan hanya darah seorang dari kita saja yang akan dapat membersihkannya! Cabut pedangmu, Thian-Te Kiam-Sian!"

"Sadarlah, Pek I Sianli, peristiwa itu sudah terjadi tiga puluh tahun yang lalu! Dalam keadaan mabok aku lupa diri sehingga terpaksa aku harus bertanggung jawab dan menikahi gadis itu. Engkau datang hendak membunuhku dan isteriku melindungi aku sehingga ialah yang termakan pedangmu dan tewas. Namun aku tidak mendendam kepadamu. Hal itu saja sudah membuktikan bahwa aku tetap mencintamu."

"Cukup! Engkau membuat aku membunuh wanita yang tidak berdosa itu karena ia menjadi perisaimu. Engkaulah yang berdosa dan kalau belum dapat membunuhmu, aku akan tetap selalu dikejar dosa. Bersiaplah!"

"Nanti dulu, Pek I Sianli. Ketika pertama kali engkau menantangku, terpaksa kulayani. Aku berhasil mengalahkanmu akan tetapi sejak itu engkau selalu memperdalam ilmumu lalu mencari aku, menantangku kembali. Sampai lima kali engkau memperdalam ilmu dan menantangku. Lima kali pula aku terpaksa mengalahkanmu dan setiap kali aku pun terpaksa memperdalam ilmuku untuk mengimbangimu. Apa engkau tidak bosan'?"

"Sudah kukatakan tadi, aku baru merasa cukup dan bosan kalau seorang dari kita, mudah-mudahan engkau, sudah menggeletak tak bernyawa di depan kakiku. Cabut pedangmu, hendak kulihat apakah engkau masih pantas berjuluk Dewa Pedang!"

Tidak seperti pada tahun-tahun yang lalu, selama lima kali ditantang wanita itu untuk bertanding, Thian-Te Kiam-Sian menyambut dengan gembira karena dia memang selalu sudah siap siaga dan memperdalam ilmu pedangnya yang pada waktu itu sulit dicari bandingnya.

Thian-Te Kiam-Sian bernama Su Kong Pin, tadinya merupakan seorang tokoh dari partai Bu-Tong-Pai, akan tetapi saking sukanya bersilat pedang, dia mempelajari ilmu pedang dari semua aliran.

Hal ini dilarang di Bu-Tong-Pai sehingga dia dianggap murtad dan keluar dari Bu-Tong-Pai.

Bahkan di waktu dia berusia dua puluh tahun, dia saling jatuh cinta dengan Thio Eng yang kini berjuluk Pek I Sianli.

Akan tetapi saking kegilaan memperdalam ilmu pedang, dia belum mau menikah dan dalam perantauannya mencari ilmu pedang yang lebih tinggi, dia bertemu dengan gadis lain dan dalam keadaan mabok dia berhubungan dengan gadis itu sehingga terpaksa harus dinikahinya.

Mendengar bahwa kekasihnya tidak setia dan menikah dengan gadis lain, Thio Eng marah dan mencari Su Kong Pin.

Ia bermaksud membunuh kekasihnya itu, akan tetapi ketika ia menyerang pria itu dengan pedangnya, isteri Su Kong Pin menubruk dan menghadang sehingga isteri itulah yang terkena tusukan pedang dan tewas.

Nah, sejak itu Thio Eng mendendam kepada bekas kekasihnya.

Ia belajar ilmu silat yang lebih tinggi dan setelah merasa cukup, ia mencari bekas kekasihnya untuk ditantang bertanding pedang.

Lima kali ia bertanding dan selalu kalah.

Sekarang, Thian-Te Kiam-Sian, Su Kong Pin yang merasa ragu.

Semenjak terakhir kali dia mengalahkan Thio Eng, dia tidak memperdalam ilmu pedangnya.

Kini dia melihat Thio Eng atau Pek Sian!

selain memegang pedang di tangan kanan juga memegang sebuah kebutan di tangan kiri, diam-diam dia merasa khawatir.

Dia dapat menduga bahwa tentu ilmu silat wanita itu sudah meningkat tinggi dan dia sendiri masih tetap seperti pada pertandingan terakhir beberapa tahun yang lalu.

Mungkin kali ini dia akan kalah dan itu berarti kematian karena Pek I Sianli pasti tidak akan membiarkan dia hidup untuk menebus sakit hatinya.

Dengan malas-malasan dia lalu mencabut pedang dari punggungnya.

Sekali lagi dia memandang ke arah telaga dan melihat beberapa buah perahu meluncur tak jauh dari tepi itu.

"Thian-Te Kiam-Sian, bersiaplah dan sambut seranganku ini!"

Seru Pek I Sianli yang sudah menerjang maju dengan gerakan yang selain cepat juga mengandung tenaga sakti yang kuat! "Tranggg...!!"

Bunga api berpi jar ketika dua pedang bertemu dan Thian-Te Kiam-Sian merasa betapa tangannya tergetar ini membuktikan bahwa benar saja, sinkang dari wanita itu jauh lebih kuat daripada ketika bertanding dengannya beberapa tahun yang lalu.

Dan pada saat kedua pedang bertemu dan terpental, sinar merah menyambar ke arah kepala Thian-Te Kiam-Sian.

Cepat pendekar ini bergerak ke belakang untuk menghindarkan diri dari serangan kebutan merah yang amat berbahaya itu.

Maklum bahwa kini tingkat kepandaian bekas kekasihnya itu sudah mencapai tingkat yang tinggi, Thian-Te Kiam-Sian Su Kong Pin bergerak dengan hati-hati sekali dan mengerahkan seluruh tenaga, mengeluarkan jurus-jurus sakti terampuh dari ilmu pedangnya.

Pek I Sianli menggerakkan pedang dan kebutan dengan dahsyat dan ternyata wanita itu kini memang lihai bukan main sehingga terjadi pertandingan yang amat seru dan mati-matian.

Tubuh mereka lenyap menjadi bayangan yang bergerak dan berkelebatan terbungkus gulungan sinar dua pedang yang saling serang, diseling sinar merah kebutan yang mengeroyok sinar pedang Pek-Liong-Kiam (Pedang Naga Putih) yang menjadi sinar putih.

Seratus jurus lewat tanpa ada yang terdesak.

Keduanya saling serang dan keadaan mereka seimbang.

Diam-diam Su Kong Pin terkejut dan kagum bukan main.

Pedangnya yang bersinar putih ini selama dua puluh tahun lebih belum pernah bertemu tanding yang setimpal, dan baru sekarang dia benar-benar menemukan lawan yang amat tangguh dan sukar dikalahkan.

Memang dia sendiri tidak pernah terdesak, namun sekali ini dia tahu benar bahwa biarpun Pek I Sianli tidak akan mudah mengalahkannya, namun dia sendiri juga belum yakin akan dapat mengalahkan wanita itu.

"Sing-sing-wuuuttt...!!"

Pedang di tangan Pek I Sianli menyerang bertubi-tubi diseling sambaran kebutan merah yang tidak kalah hebatnya.

Tubuh Thian-Te Kiam-Sian melayang ke atas untuk menghindarkan diri.

Ketika tubuhnya berada di atas dan kebetulan dia melihat ke arah telaga, dia terkejut melihat sebuah perahu kecil cat merah tertabrak sebuah perahu besar dan dua orang anak bersama seorang laki-laki setengah tua terlempar ketika perahu kecil itu diterjang dan pecah!

Karena tubuhnya berada di udara, Thian-Te Kiam-Sian Su Kong Pin membuat pok-sai (salto) di udara lalu melompat jauh kemudian lari meninggalkan Pek I Sianli menuju ke tepi telaga.

(Lanjut ke

Jilid 25) Antara Dendam & Asmara (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 25

"Pengecut, jangan lari!"

Pek I Sianli Thio Eng mengejar dengan marah dan heran karena ia tidak melihat lawannya terdesak mengapa kini melarikan diri.

"Eng-moi, aku harus menolong anak-anak itu lebih dulu!"

Su Kong Pin berseru dan mempercepat larinya.

Thio Eng juga mempercepat larinya.

Ketika melihat Su Kong Pin melompat ke air telaga dan berenang dengan cepat ke arah perahu merah yang pecah dan mulai tenggelarn, Thio Eng juga menyimpan senjatanya dan ikut terjun ke air.

Ternyata yang berada di perahu kecil merah itu adalah dua orang anak laki-laki dan perempuan yang ditemani seorang pelayan laki-laki setengah tua.

Mereka berdua, Kakak-beradik yang masih berdarah Bangsawan karena mereka adalah cucu-cucu dari mendiang Pangeran Liang Tek Ong yang tewas terbunuh orang beberapa tahun yang lalu.

Pangeran Liang Tek Ong hanya mempunyai seorang putera yang bernama Liang Sun.

Biarpun Ayahnya masih keluarga Kaisar, namun Liang Sun tidak suka menjadi pejabat, terutama sekali karena adanya Perdana Menteri Chin Kui dan dia pun curiga bahwa Ayahnya tewas terbunuh itu pun tentu didalangi oleh Perdana Menteri Chin Kui.

Karena mendiang Pangeran Liang Tek Ong terkenal sebagai seorang pejabat yang paling berani menentang kebijaksanaan-kebijaksanaan yang diambil oleh Perdana Menteri yang dia anggap tidak adil.

Karena itu, Liang Sun tidak memegang pangkat dan menjadi penduduk biasa yang berdagang rempa-rempa.

Liang Sun yang menikah dengan seorang gadis biasa, bukan Bangsawan, mempunyai dua orang anak.

Pertama anak laki-laki yang kini telah berusia tiga belas tahun, sedangkan anak kedua berusia sepuluh tahun lebih.

Anak laki-laki itu bernama Liang Sin Cu, adapun adiknya bernama Liang Hong Cu.

Pada hari itu, Liang Sin Cu dan Liang Hong Cu minta kepada Ayah-Ibu mereka agar diperbolehkan bermain-main di See-Ouw (Telaga Barat) yang memang menjadi pusat pesiar penduduk Hang-Chouw dan sekitarnya.

Liang Sun memperbolehkannya dan menyuruh seorang pelayan setengah tua untuk menemani kedua orang anak-nya.

Demikianlah, dua orang anak itu ditemani pelayan menyewa sebuah perahu kecil cat merah dan perahu didayung si pelayan berputar-putar di telaga.

Mereka merasa gembira bukan main karena memang jarang mereka diperbolehkan bermain-main di luar rumah.

Bagaimanapun juga, setelah Ayahnya tewas terbunuh, Liang Sun bersikap waspada dan hati-hati, jangan sampai dia sekeluarga ikut dimusuhi orang yang jahat.

Akan tetapi ketika perahu mereka berada bagian setelah timur telaga itu, di bagian yang sunyi, tiba-tiba ada sebuah perahu besar meluncur dengan cepat dan menabrak perahu kecil itu.

Demikian hebatnya tabrakan itu sehingga perahu kecil itu pecah terpotong dua dan tentu saja penumpangnya, Yaitu Liang Sin Cu, Liang Hong Cu, dan pelayan mereka yang mendayung perahu, terlempar keluar dan terjatuh ke dalam air telaga yang di bagian itu airnya amat dalam!

Celakanya baik si pelayan maupun dua orang anak itu sama sekali tidak pandai berenang!

Tentu saja mereka gelagapan.

Untung pada saat mereka meronta dan hampir teriggelam, datang pertolongan.

Thian-Te Kiam-Sian Su Kong Pin yang terjun lebih dulu telah dapat merangku!

Liang Sin Cu.

Kemudian Pek I Sianli Thio Eng yang terjun di belakangnya berhasil menyelamatkan Liang Hong Cu.

Ketika keduanya berenang ke pinggir, tiba-tiba Su Kong Pin dan Thio Eng mendengar desir angin menyambar dari perahu besar.

Mereka adalah dua orang yang memiliki ilmu tinggi, maka mereka segera dapat mengetahui bahwa ada bahaya mengancam.

Mereka melihat beberapa batang anak panah menyambar ke arah mereka.

Dua orang itu menjadi marah sekali, tangan kiri mengempit anak yang ternyata telah pingsan, tangan kanan menangkap dua batang anak panah dan menyampok runtuh sebatang yang lain, kemudian keduanya, seperti berlumba, menyambitkan anak panah yang ditangkap itu ke arah dua orang di atas perahu yang memegang gendewa.

Terdengar teriakan dan dua orang pemanah yang berada di atas perahu besar itu terkulai roboh, yang seorang lehernya ditembusi anak panah, yang kedua pelipisnya ditembusi anak panah lain!

Su Kong Pin melihat betapa ada anak panah yang mengenai tubuh pelayan setengah tua yang dengan susah payah mencoba untuk berenang sebisanya.

Dia tewas seketika dan mayatnya terapung di permukaan air, setengah tenggelam.

"Eng-moi, cepat menyingkir, berbahaya!"

Su Kong Pin berseru dan keduanya cepat berenang ke pinggir, kemudian dengan cepat mereka melarikan diri menjauhi telaga.

Dari atas perahu besar diturunkan dua perahu kecil dan delapan orang segera mendayung perahu kecil ke tepi.

Mereka berpakaian seperti perwira-perwira dan mereka mencoba melakukan pengejaran.

Akan tetapi agaknya mereka juga merasa jerih menyaksikan kelihaian laki-laki clan wanita yang menolong dua orang anak tadi, maka mereka tidak mengejar jauh, lalu kembali ke perahu besar.

Di dalam perahu, para perwira memberi laporan kepada seorang panglima tua berjenggot panjang putih, bahwa mereka gagal mengejar dua orang tadi.

"Sudahlah, bagaimanapun juga, aku dapat menduga siapa wanita berpakaian serba putih itu. Kalau aku tidak salah, ia adalah Pek I Sianli!"

Kata Panglima itu.

Panglima itu bernama Gu Mo Ki, berusia sekitar lima puluh tahun, jenggotnya panjang berwarna putih.

Dia merupakan seorang panglima kepercayaan Perdana Menteri Chin Kui, bahkan menjadi tangan kanannya dan Gu-Ciangkun (Panglima Gu) ini terkenal sebagai seorang ahli pedang yang amat lihai.

Pada hari itu, Gu Mo Ki berpesiar dengan perahu besar dan ketika seorang perajurit anak buahnya melihat perahu kecil yang ditumpangi Liang Hong Cu dan Liang Sin Cu bersama seorang pendayung perahu, perajurit itu lalu melapor kepada Gu-Ciangkun bahwa dua orang anak itu adalah putera Liang Sun atau cucu mendiang Pangeran Liang Tek Ong!

Mendengar ini, berkerut alis tebal Gu-Ciangkun dan timbul niatnya untuk membinasakan dua orang cucu mendiang Pangeran Liang Tek Ong.

Dua orang anak itu tidak urung kelak akan mendatangkan banyak urusan dan ancaman, mengingat bahwa dialah yang dulu mendapat tugas rahasia dari Perdana Menteri Chin Kui untuk membunuh Pangeran Liang Tek Ong!

Demikianlah, dia memerintahkan anak buahnya untuk menabrak perahu kecil itu sehingga pecah dan tenggelam, dan mempersiapkan beberapa orang pemanah untuk membunuh dua orang anak itu kalau sekiranya belum tewas.

Akan tetapi, tanpa diduganya sama sekali, muncul Thian-Te Kiam-Sian Su Kong Pin dan Pek I Sianli Thio Eng yang menyelamatkan dua orang anak itu dan para pemanahnya hanya dapat membunuh si tukang dayung perahu.

Pengejaran yang dilakukan anak buah Gu-Ciangkun terhadap sepasang pendekar itu gagal, akan tetapi Gu Mo Ki sudah mengenal seorang di antara para penolong anak itu, yaitu Pek I Sianli yang dia kenal dari pakaiannya yang serba putih.

Dengan matinya si tukang dayung, maka tidak ada lagi saksi yang melihat penyerangan terhadap dua orang cucu dari mendiang Pangeran Liang Tek Ong.

Berkat ilmu kepandaian mereka yang tinggi, Su Kong Pin dan Thio Eng dapat menyelamatkan dua orang anak itu dan membawa mereka ke sebuah bukit yang agak jauh dari Telaga Barat.

Di puncak bukit yang sunyi, Su Kong Pin dan Thio Eng berhenti dan menurunkan dua orang anak itu.

Su Kong Pin yang menolong Liang Sin Cu memandang anak laki-laki berusia tiga belas tahun itu dengan penuh perhatian dan dia merasa kagum dan suka karena bocah itu selain tampan, juga membayangkan wibawa darah Bangsawan, juga sinar matanya tajam penuh keberanian.

Sementara itu, Thio Eng juga kagum melihat anak perempuan yang ditolongnya.

Anak perempuan itu Liang Hong Cu, berusia sekitar sebelas tahun yang tampak memiliki kelincahan dan keberanian, sudah tampak cantik jelita dan sinar matanya cemerlang penuh wibawa.

Liang Sin Cu dan Liang Hong Cu adalah cucu Pangeran, tentu saja mereka mengenal tata susila.

Mereka maklum bahwa tanpa pertolongan dua orang ini, mereka tentu telah tewas.

Maka didahului oleh Sin Cu, mereka berdua lalu menjatuhkan diri berlutut di depan dua orang itu dan Liang Sin Cu berkata dengan penuh hormat.

"Kami berdua Kakak-beradik mengucapkan terima kasih kepada Paman dan Bibi yang sudah menyelamatkan kami dari usaha pembunuhan orang jahat."

Laki-laki dan wanita perkasa itu saling pandang.

Anehnya, pada saat itu semua permusuhan dan persaingan di antara mereka seperti telah mereka lupakan.

Mereka merasa tertarik dan kagum sekali kepada dua orang anak kecil itu yang bukan saja sama sekali tidak memperlihatkan rasa takut walaupun baru saja lolos dari maut, dan kini ternyata mereka memiliki kesusilaan tinggi, bukan seperti anak biasa dan bahkan ada sifat-sifat keBangsawanan yang anggun pada wajah dan sikap mereka.

"Hemm, sebetulnya siapakah kalian ini dan mengapa pula mereka yang berada di perahu besar itu berusaha membunuh kalian berdua?"

Tanya Pek I Sianli Thio Eng. Karena yang bertanya itu Thio Eng, maka Hong Cu mendahului kakaknya menjawab dengan sikapnya yang lincah.

"Bibi yang baik, aku bernama Liang Hong Cu dan dia ini Kakak kandungku bernama Liang Sin Cu. Ayah kami adalah Liang Sun, dan Kakek kami adalah mendiang Pangeran Liang Tek Ong..."

"Moi-moi (Adik perempuan)...!"

Tiba-tiba Sin Cu menegur adiknya. Ayah mereka, Liang Sun selalu memperingatkan mereka agar jangan memberitahukan siapa pun bahwa mereka adalah cucu mendiang Pangeran Liang Tek Ong.

"Aih, Koko (Kakak laki-laki), kenapa? Mereka ini bukan orang jahat, bukan musuh, bahkan mereka adalah penolong dan penyelamat kita. Tidak ada salahnya mengaku siapa kita sebenarnya."

Mendengar bantahan adiknya, Sin Cu tidak dapat berkata apa-apa lagi.

Sementara itu, Thian-Te Kiam-Sian Su Kong Pin dan Pek I Sianli Thio Eng terkejut ketika mendengar pengakuan Hong Cu.

Tentu saja mereka sudah mendengar akan mendiang Pangeran Liang Tek Ong yang terkenal setia dan patriotik, bahkan dapat dikenal sebagai satu-satunya pejabat dan Bangsawan tinggi yang berani menentang Perdana Menteri Chin Kui dan mempertahankan kebenaran, kebijaksanaan, dan keadilan.

Akan tetapi Pangeran yang dikagumi semua pendekar itu tewas terbunuh orang tanpa ada yang mengetahui siapa pembunuhnya, walaupun sebagian besar orang berani menduga bahwa dalang pembunuhan itu sudah pasti Perdana Menteri Chin Kui.

Timbul perasaan tertarik dan kasihan di dalam hati Su Kong Pin dan Thio Eng terhadap Kakak-beradik itu.

Lalu tiba-tiba Su Kong Pin mendapat pikiran yang balk sekali.

"Pek I Sianli, dengarlah baik-baik usulku. Kalau kita berdua melanjutkan permusuhan dan seorang di antara kita mati, hal itu tidak ada gunanya dan tidak menguntungkan siapapun juga. Juga semua ilmu yang kita pelajari akan hilang dengan sia-sia tanpa ada manfaatnya bagi manusia dan dunia. Sekarang, dengan munculnya dua orang anak ini, bagaimana kalau persaingan di antara kita itu kini diubah, yaitu kita bersaing menurunkan semua ilmu kita kepada dua orang anak ini dan kita berlumba siapa kelak yang lebih berhasil dan unggul! Aku akan mengambil Liang Sin Cu ini sebagai muricl dan engkau mengambil Liang Hong Cu sebagai murid, bagaimana? Beranikah engkau menerima tantanganku ini?"

Su Kong Pin memang cerdik.

Kalau dia tidak menggunakan kata "berani", mungkin Thio Eng masih ragu menyetujuinya.

Akan tetapi ditantang seperti itu, wanita yang keras hati itu menjadi penasaran.

Pula, ia tadi juga sudah merasakan betapa walaupun kini tingkatnya sudah seimbang dengan tingkat Si Dewa Pedang, namun tetap saja harus ia akui bahwa tidak mudah untuk dapat mengalahkan bekas kekasihnya itu!

"Balk, aku terima tantanganmu itu!"

Kata Thio Eng.

"Aih, nanti dulu, Paman dan Bibi!"

Tiba-tiba Liang Hong Cu berseru kepada dua orang itu dan bangkit berdiri.

"Paman dan Bibi hendak mengambil kami sebagai murid tanpa lebih dulu bertanya apakah kami mau menjadi murid Paman dan Bibi."

"Benar apa yang dikatakan adikku itu,"

Liang Sin Cu juga berkata penuh semangat.

"Kalau kami menjadi murid Paman dan Bibi, lalu apakah Paman dan Bibi mau tinggal di rumah orang tua kami?"

"Ah, tidak! Hong Cu akan ikut denganku, dan engkau Sin Cu akan ikut Thian-Te Kiam-Sian,"

Kata Thio Eng.

"Wah, berat kalau begitu!"

Kata Liang Hong Cu.

"Berat bagi kami kalau harus meninggalkan rumah orang tua kami!"

"Hemm, anak bodoh!"

Thio Eng berseru.

"Kalian tahu bahwa orang-orang di perahu besar itu hendak membunuh kalian. Kalau kalian pulang ke rumah, apakah mereka tidak dengan mudah saja mencari dan membunuh kalian? Apakah kalian sudah bosan hidup?"

"Sin Cu, apakah engkau mengenal mereka yang berada di perahu besar yang menabrak perahu kecilmu tadi? Siapakah mereka dan mengapa mereka hendak membunuh kalian berdua?"

Su Kong Pin bertanya kepada Sin Cu.

"Paman, kami mengenal bendera dari perahu besar itu. Tidak salah lagi, perahu itu, melihat benderanya, pasti milik Perdana Menteri Chin Kui. Dan ketika aku terjatuh ke air aku melihat seorang panglima berjenggot putih panjang menjenguk dari perahu besar. Aku pernah melihat Panglima itu, kalau tidak salah dia bernama Gu Mo Ki,"

Kata Sin Cu.

"Benar, dia pasti Gu Mo Ki. Ayah dulu pernah bercerita bahwa Perdana Menteri Chin Kui mempunyai seorang panglima bernama Gu Mo Ki yang kabarnya seorang ahli pedang yang amat lihai dan berjuluk... berjuluk...."

Agaknya Hong Cu lupa lagi akan julukan panglima itu.

"Hemm, aku ingat manusia she Gu itu! Pernah dahulu aku bertemu dan bentrok dengan dia. Julukannya sudah pasti Cui-Beng Kiam-Mo (Iblis Pedang Pengejar Roh)!"

Kata Pek I Sianli.

"Benar! Sekarang aku ingat, dia berjuluk Cui-Beng Kiam-Mo dan menurut Ayah di dunia persilatan tidak ada orang yang mampu mengalahkan pedangnyal"

Seru Hong Cu.

"Huhh...!"

Baik Su Kong Pin maupun Thio Eng mendengus merendahkan.

"Akan tetapi mengapa dia hendak membunuh kalian berdua?"

Tanya Pek I Sianli penasaran. Kembali Hong Cu yang menjawab.

"Aku tidak percaya kalau dia yang ingin membunuh kami. Dia itu hanya orangnya Perdana Menteri Chin Kui. Kalau ada yang ingin membunuh kami, sudah pasti Chin Kui itulah dalangnya, seperti ketika Kakek kami Pangeran Liang Tek Ong dibunuh secara rahasia. Ayah kami sampai terpaksa tidak mau memangku jabatan dan menjadi rakyat biasa, semua itu dia lakukan agar keluarga kami aman. Akan tetapi agaknya Chin Kui belum puas kalau belum membasmi semua keluarga Liang kami. Aku yakin Si Jenggot Putih tadi juga ingin membunuh kami karena disuruh oleh Chin Kui!"

"Adikku benar! Karena itu, Paman dan Bibi, kami berjanji akan suka ikut Paman dan Bibi menjadi murid, akan tetapi dengan satu syarat!"

Setelah berkata demikian, kakak ini memandang adiknya dan Hong Cu menganggukkan kepalanya perlahan.

Biarpun tanpa bicara agaknya anak perempuan itu dapat mengetahui isi pikiran Kakaknya.

Memang kedua Kakak-beradik ini memiliki hubungan batin yang amat dekat.

Pek I Sianli dan Thian-Te Kiam-Sian juga saling pandang.

Selama ini kedua orang itu hanya sibuk memperdalam ilmu mereka untuk saling mengalahkan dan tidak pernah menerima murid.

Maka sekarang untuk pertama kalinya hendak menerima murid, bukan mereka yang mengajukan syarat, bahkan si murid yang mengajukan syarat!

Tentu saja mereka merasa heran, bingung, dan juga men-dongkol!

"Apa satu syarat itu?"

Tanya sepasang pendekar itu dengan suara berbareng. Jawaban dua orang anak itu pun berbareng walaupun tidak mereka atur atau sengaja.

"Binasakan mereka dalam perahu yang tadi hendak membunuh kami!"

Pek I Sianli dan Thian-Te Kiam-Sian saling pandang dan mereka tersenyum.

Tugas yang dijadikan syarat murid mereka itu mereka anggap ringan saja!

Cepat Su Kong Pin mencabut pedangnya dan dua kali pedangnya menyambar, dia telah mengupas kulit batang kayu besar.

Kulit terkelupas empat potong sepanjang dua kaki selebar satu kaki dengan ujung meruncing, lalu pedangnya menyambar lagi, dia mengupas kulit batang kayu memanjang kecil seperti tali.

Kemudian dia menyerahkan dua potong kepada Thio Eng bersama dua helai tali, kemudian mereka berdua tanpa banyak cakap lagi mengikatkan kaki mereka di atas dua potong kulit kayu, Kemudian keduanya melompat ke atas air, menggunakan kedua tangan digerakkan dan dengan amat cepat tubuh mereka meluncur di atas air menggunakan dua papan kulit kayu sebagai alat peluncur!

Sebentar saja mereka berdua sudah melakukan pengejaran terhadap perahu besar yang menuju ke tengah telaga itu.

Sin Cu dan Hong Cu adalah cucu Pangeran Liang Tek Ong.

Biarpun Kakek dan juga Ayahnya bukan ahli silat, namun sebagai anak-anak keturunan Bangsawan tentu saja mereka sudah sering melihat orang-orang yang pandai bermain silat.

Akan tetapi selama hidup mereka bahkan membayangkan pun belum bahwa ada orang meluncur seperti terbang di atas air telaga hanya mempergunakan dua potong kulit kayu sebagai injakan kedua kaki!

Hal ini mereka anggap seperti permainan sulap atau sihir saja, membuat mereka melongo dengan takjub.

Tentu saja Thian-Te Kiam-Sian dan Pek I Sianli sama sekali tidak mempergunakan sulap atau sihir.

Akan tetapi adalah ahli-ahli ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang amat mahir dan telah memiliki tepaga sakti yang kuat sehingga gerakan kedua tangan mereka diikuti dorongan badan membuat mereka dapat meluncur seperti terbang cepatnya!

Dalam waktu yang tidak terlalu lama akhirnya Su Kong Pin dan Thio Eng sudah dapat menyusul perahu besar itu.

Dua orang perajurit yang berdiri di buritan melihat mereka dan segera mengenal bahwa mereka adalah dua orang yang tadi menolong dua orang cucu Pangeran maka biarpun hati mereka gentar, keduanya ingin mencari jasa, maka cepat mereka memasang anak panah pada gendewa mereka dan melepaskan anak panah itu ke arah Su Kong Pin dan Thio Eng.

Akan tetapi perbuatan ini merupakan bunuh diri karena ketika dua batang anak panah itu meluncur dua orang pendekar itu menangkap dari samping lalu melontarkan anak panah itu ke arah penyerangnya.

Dua orang pemanah itu.

roboh tanpa dapat berteriak karena anak panah mereka menembus tenggorokan mereka sampai ke tengkuk!

Bagaikan dua ekor burung garuda, Su Kong Pin dan Thio Eng lalu melayang dan melompat ke atas perahu.

Gegerlah di atas perahu itu.

Tidak kurang dari dua puluh lima orang perajurit mencabut senjata dan mengeroyok, dipimpin oleh Gu Mo Ki yang berjuluk Cui-Beng Kiam-Mo (Pedang Iblis Pengejar Arwah).

Dia mengeluarkan dua batang pedang dan segera menyerang Su Kong Pin dan sambiI tersenyum mengejek Su Kong Pin menyambut dengan pedangnya.

"Trang-cringgg...!!"

Bukan main kagetnya hati Cui-Beng Kiam-Mo Gu Mo Ki ketika bukan saja sepasang pedangnya tertangkis, bahkan kedua telapak tangannya terasa tergetar hebat dan panas seperti dibakar.

Dua puluh lebih perajurit itu pun kini mengeroyok Thio Eng, akan tetapi wanita itu tertawa cekikikan dan pedangnya berubah menjadi sinar kilat bergulung-gulung dan banyak pengeroyok roboh bergelimpangan dengan tubuh koyak dan tewas seketika!

Gu-Ciangkun yang semakin terkejut melompat ke belakang dan memandang Su Kong Pin dengan penuh perhatian lalu membentak marah.

"Pemberontak dari mana berani melawan Panglima Kerajaan Sung?"

"Hemm, bukankah engkau ini anjing peliharaan Perdana Menteri Chin Kui yang berjuluk Cui-Beng Kiam-Mo yang dulu membunuh Pangeran Liang Tek Ong atas perintah Perdana Menteri yang lalim itu?"

"Hemm, pemberontak! Jangan mati tanpa meninggalkan nama! Hayo katakan siapa kalian berdua!"

"Mau kenal aku? Aku adalah Thian-Te Kiam-Sian Su Kong Pin dan ia adalah Pek I Sianli Thio Eng. Kedatangan kami untuk membinasakan seluruh isi perahu besar ini!"

Setelah berkata demikian, Su Kong Pin menyerang dengan dahsyat dan Gu-Ciangkun terkejut seperti disambar petir.

Tentu saja dia sudah pernah mendengar nama besar Dewa Pedang Langit Bumi itu yang kabarnya belum pernah bertemu tandingannya dalam hal kemahiran bersilat pedang!

Dan dia juga sudah mengenal Pek I Sianli yang juga merupakan seorang pendekar wanita yang amat lihai!

Maka, dia maklum bahwa dia dan anak buahnya berada dalam keadaan yang amat gawat dan berbahaya.

Dia menjadi nekat dan melawan mati-matian.

Memang harus diakui bahwa tidak percuma Gu Mo Ki mendapat julukan Pedang Iblis Pemburu Arwah karena dia memang memiliki ilmu pedang yang amat tangguh.

Namun sekali ini dia menemui lawan yang berjuluk Dewa Pedang.

Maka, biarpun dia masih mampu bertahan dan membela diri, namun jelas dia lebih banyak bertahan daripada menyerang.

Sementara itu, pedang di tangan Thio Eng bagaikan orang sedang menebang pohon yang lunak saja.

Dua puluh orang lebih itu berpelantingan mandi darah dan mereka tewas seketika, berserakan di atas lantai perahu, tak ada seorang pun yang masih hidup!

Ketika ia melihat Su Kong Pin belum juga dapat merobohkan Gu Mo Ki, hanya mendesaknya saja, ia tertawa.

"Hi-hik, Thian-Te Kiam-Sian, kiranya selama ini engkau tidak memperoleh kemajuan sedikitpun juga. Membunuh anjing ini belum juga berhasil!"

Setelah berkata demikian, Thio Eng menerjang Gu-Ciangkun dengan dahsyat.

"Cringgg...!"

Gu Mo Ki terkejut, menangkis dan pedangnya terpental.

Sebelum dia dapat melindungi dirinya, sinar kilat pedang Su Kong Pin menyambar dan dia pun roboh dengan leher terbabat putus!

Banjir darah di perahu besar itu.

Mereka semua mati dan perahu tanpa kemudi itu berputar-putar di tengah telaga.

Thio Eng dan Su Kong Pin lalu memasang lagi penampung kulit kayu dan meluncur ke atas air, kembali ke tepi telaga di mana dua orang cucu mendiang Pangeran Liang itu masih duduk menanti.

"Bagaimana hasilnya, Paman dan Bibi?"

Tanya Hong Cu.

"Beres! Cui-Beng Kiam-Mo Gu Mo Ki dan hampir tiga puluh orang perajuritnya telah kami bunuh semua!"

Mendengar ini, dua orang anak itu lalu menjatuhkan diri berlutut di depan dua orang itu dan Liang Sin Cu berkata dengan sikap hormat.

"Ji-wi Suhu dan Subo, Teecu (murid) Liang Sin Cu dan Liang Hong Cu siap untuk mengikuti Ji-wi Suhu dan Subo untuk menjadi murid dan mempelajari ilmu."

"Teecu juga, Suhu dan Subo!"

Kata Hong Cu penuh semangat.

"Aih, tidak, Hong Cu,"

Kata Thio Eng.

"Engkau menjadi muridku, bukan murid Thian-Te Kiam-Sian Su Kong Pin ini dan kelak engkau harus menjadi lebih lihai daripada Kakakmu!"

Kata-kata ini keluar dari mulut Thio Eng dengan nada bersungguh-sungguh. Su Kong Pin berkata dengan suara mendongkol.

"Benar, Liang Sin Cu. Engkau bukan murid Pek I Sianli Thio Eng, melainkan muridku, dan engkau kelak akan lebih lihai daripada adikmu!"

"Huh, kita lihat saja nanti, Thian-Te Kiam-Sian!"

Tantang Thio Eng sengit.

"Bagus! Mulai sekarang persaingan kita harus kita alihkan kepada murid-murid kita. Siapa yang muridnya lebih lihai, berarti ia yang menang! Mari, Sin Cu, kita pergi!"

Su Kong Pin yang marah melihat sikap bekas kekasihnya yang masih keras dan bermusuhan dengannya itu.

Dia memegang lengan Sin Cu dan sekali meloncat dia telah pergi jauh tanpa Sin Cu dapat menahannya karena anak itu merasa seperti dibawa terbang.

"Koko...!"

Seru Hong Cu.

"Moi-moi...!"

Sin Cu hanya mampu memanggil adiknya tanpa dapat menahan larinya Su Kong Pin.

"Sudah, jangan cengeng! Mari kita pergi!"

Kini Pek I Sianli Thio Eng juga memegang tangan anak perempuan itu dan diajaknya berlari secepat terbang yang arahnya berlawanan dengan arah larinya Su Kong Pin.

Demikianlah, mulai saat itu Liang Sin Cu mau tidak mau harus ikut Su Kong Pin dan menjadi muridnya, sedangkan Liang Hong Cu menjadi murid Thio Eng dan mengikuti ke mana pendekar wanita itu pergi.

Sementara itu, melihat perahu besar terputar-putar di tengah telaga, para nelayan maklum bahwa perahu itu kehilangan kemudi dan mereka pun mengenal bahwa perahu besar itu milik pejabat tinggi, maka belasan orang segera mendayung perahu mereka mendekat.

Mereka lalu naik ke perahu besar dan alangkah terkejut hati mereka melihat betapa di atas perahu itu penuh dengan mayat dan darah membanjir di mana-mana.

Juga mereka melihat seorang berpakaian panglima telah menjadi mayat yang lehernya terpenggal.

Tentu saja mereka menjadi gempar.

Beberapa orang segera mengemudikan perahu, mendayung dan membawa perahu besar itu ke tepi.

Semua pesiar dan nelayan di tempat itu menjadi geger, apalagi setelah ada yang mengenal bahwa perahu itu milik Perdana Menteri Chin Kui dan panglima yang mati terpenggal kepalanya itu adalah Gu-Ciangkun, panglima kepercayaan Perdana Menteri Chin Kui.

Segera ada yang melapor ke Istana Perdana Menteri Chin Kui.

Pembesar tinggi ini terkejut mendengar laporan itu dan segera mengutus orang-orangnya untuk memeriksa dan mengurus mereka yang tewas.

Tentu saja peristiwa itu membuat Chin Kui merasa ngeri.

Gu Mo Ki adalah panglimanya nomor satu, orang kepercayaannya yang biasa dia perintahkan melakukan hal-hal yang rahasia seperti membunuh para lawannya dalam politik.

Bahkan ketika Pangeran Liang Tek Ong dibunuh secara rahasia, dialah yang menyuruh Gu Mo Ki melakukan pembunuhan itu.

Kini Gu Mo Ki terbunuh bersama sekitar tiga puluh orang perajuritnya dalam keadaan mengerikan sekali.

Maka, cepat Perdana Menteri Chin Kui yang tidak dapat menduga siapa gerangan pembunuh panglimanya, lalu memilih panglima-panglima yang paling tangguh untuk menjadi pengawalnya yang menjaga keselamatannya siang malam secara bergiliran.

Mulai saat itu hati Chin Kui sudah tak pernah dapat tenang, setiap hari hanya dibayangi rasa takut seolah-olah malaikat maut selalu dekat dan mengancam untuk mencabut nyawanya.

Biarpun Kerajaan Sung semakin lemah dan Kaisar Sung Kao Cu juga semakin tua, namun Kerajaan Cin (Kin) yang berada di utara tidak pernah berniat untuk menyerbu dan merampas Kerajaan Sung.

Pertama karena politik yang dijalankan Perdana Menteri Chin Kui adalah politik yang mengalah dan berdamai walaupun setiap tahun harus menyerahkan upeti besar-besaran, namun juga karena Bangsa Cin yang semula merupakan Bangsa Nomad (Pengembara) tidak tertarik akan daerah pertanian di sebelah selatan Sungai Yang-Ce.

Menerima upeti dianggap jauh lebih menguntungkan.

Apalagi memang masih banyak terdapat perkumpulan para pendekar patriot yang membela Kerajaan Sung.

Sementara itu, di luar Tembok Besar, di utara sekali daerah Gurun Gobi, Bangsa liar atau Bangsa Nomad semakin kuat.

Bahkan daerah Kerajaan Cin di luar Tembok Besar sudah diduduki Bangsa Mongol sehingga terpaksa Bangsa Cin boyongan ke selatan dan berpusat di Yen-Cing sebagai lbukota Kerajaan Cin.

Namun, untuk menyerang ke selatan melewati Tembok Besar Bangsa-Bangsa di utara itu masih belum berani karena pertahanan di Tembok Besar teramat kuat dan sukar sekali untuk dapat menerobos Tembok Besar yang amat kokoh itu.

Sang Waktu melesat cepat melebihi apa saja kalau tidak diperhatikan.

Tanpa memperhatikan jalannya waktu, orang akan merasa bahwa setahun sama dengan sehari.

Kalau seorang dewasa mengingat masa kanak-kanaknya yang sudah lewat selama dua puluh tahun, rasanya baru beberapa hari saja.

Akan tetapi kalau kita memperhatikan waktu, seperti kalau menanti datangnya seseorang yang sudah berjanji, satu jam saja rasanya seperti sehari dan sehari rasanya seperti setahun!

Tanpa terasa, tujuh tahun telah lewat sejak Liang Sin Cu ikut Gurunya, yaitu Thian-Te Kiam-Sian, yang membawa muridnya itu ke Hong-San (Bukit Burung Hong) sebuah di antara banyak bukit di Pegunungan Luliang-San.

Adapun Liang Hong Cu ikut Gurunya, Pek I Sianli ke puncak Gin-San (Bukit Perak), juga sebuah bukit yang dari jauh tampak keputih-putihan di Pegunungan Luliang-San.

Kedua bukit itu tidak terpisah terlalu jauh.

Selama tujuh tahun Kakak-beradik cucu mendiang Pangeran Liang Tek Ong ini dengan rajin dan tekun sekali menerima gemblengan ilmu silat dari Guru-Guru mereka, terutama sekali ilmu pedang, kecepatan gerak berdasarkan ginkang (ilmu meringankan tubuh), sinkang (tenaga sakti) dan khikang (tenaga murni) juga Tweekang (tenaga dalam).

Kini Liang Sin Cu telah menjadi seorang pemuda berusia dua puluh tahun, dan Liam Hong Cu menjadi seorang gadis berusia delapan belas tahun.

Sin Cu menjadi seorang pemuda bertubuh tinggi tegap wajahnya tampan dan sikapnya berwibawa, tampak jelas keanggunannya sebagai seorang keturunan Bangsawan tinggi.

Adapun Hong Cu amat cantik jelita seperti puteri, kulitnya putih kemerahan, mulus dan lembut, wajahnya cantik sekali dan senyumnya manis, matanya memiliki kerling tajam dan kelihatannya ramah.

Namun gadis ini lincah dan galaknya bukan main kalau hatinya merasa tidak senang!

Kedua orang Guru mereka yang dahulunya merupakan kekasih, yaitu Su Kong Pin dan Thio Eng, lalu menjadi saingan dan bermusuhan, akan tetapi setelah mempunyai murid tidak lagi bermusuhan secara terbuka hanya ingin bersaing mendidik murid, tidak pernah mengadu murid mereka yang masih Kakak-beradik itu.

Akan tetapi pada suatu hari, Thio Eng menyuruh seorang penduduk bukit untuk menyampaikan surat undangan kepada Su Kong Pin dan muridnya.

Tentu saja mereka datang dan Kakak-beradik yang sudah tujuh tahun tak pernah jumpa itu, tentu saja merasa gembira sekali.

Mereka melepas rindu dengan saling mengobrol menceritakan pengalaman masing-masing ketika belajar silat dengan tekun.

"Wahai, Moi-moi, engkau kini menjadi seorang gadis yang cantik jelita!"

Seru Sin Cu gembira.

"Hemm, dan kau sendiri? Aku sampai tidak mengenalmu lagi! Engkau, menjadi seorang pemuda yang tampan dan gagah perkasa!"

Kata gadis itu sambil memegang kedua tangan Kakaknya dengan sikap manja.

Akan tetapi pada saat itu, Su Kong Pin dan Thio Eng memanggil mereka.

Keduanya masuk dan melihat Guru-Guru mereka duduk berhadapan, akan tetapi wajah keduanya sama sekali tidak tampak cerah, bahkan seperti orang tak senang hati.

"Hong Cu, engkau memang adik kandung Sin Cu, akan tetapi apakah engkau tidak ingin membela nama baik Gurumu?"

Tanya Thio Eng.

"Sin Cu, apakah engkau tidak malu, kalau sampai engkau kalah lihai dari adikmu? Kalau begitu engkau berarti akan meremehkan segala yang telah kuajarkan kepadamu selama bertahun-tahun ini!"

Kata Su Kong Pin.

Kakak-beradik itu saling pandang.

Mereka memang sudah mendengar dari cerita Guru masing-masing betapa Guru mereka itu dahulunya saling mencinta, kemudian mereka bermusuhan dan bersaing.

Persaingan terakhir mereka lakukan dengan berlumba mendidik mereka agar kelak diketahui siapa yang !ebih pandai dan lebih berhasiI mendidik murid atau kasarnya, mereka akan menguji murid siapa yang lebih hebat!

"Akan tetapi, tidak mungkin Subo menyuruh aku bertanding melawan Kakakku sendiri!"

Hong Cu memprotes.

"Benar, Suhu. Kalau aku harus bertanding melawan adikku, biarlah aku mengaku kalah saja. Aku tidak tega melukainya, apalagi membunuhnya. Biar Suhu membunuhku, aku tetap tidak mau berkelahi melawan adikku tersayang,"

Kata Sin Cu.

"Anak bodoh, bukan begitu maksudku!"

Thio Eng menegur muridnya.

"Aku tidak ingin kalian saling melukai, hanya ingin kalian menunjukkan siapa di antara kalian yang lebih lihai, siapa di antara kalian yang lebih dulu dapat merampungkan tugas berat yang akan kami serahkan kepada kalian!"

"Benar!"

Kata Su Kong Pin.

"Kami mempunyai tugas yang harus kalian lakukan dan siapa di antara kalian yang dapat lebih dulu menyelesaikan tugas itu dengan baik, kami anggap sebagai pemenang dan berarti Gurunya lebih berhasil mendidik muridnya!"

"Tugas apakah itu, Subo? Harap cepat katakan dan Teecu (murid) tentu akan segera melaksanakan dan akan mendahului Koko!"

Kata Hong Cu dengan gembira.

"Ho-ho, nanti dulu, Moi-moi Belum tentu engkau akan dapat mendahului aku!"

Kata Sin Cu sambil tertawa untuk menggoda adiknya.

"Cepat katakan, Subo. Apakah tugas itu?"

Tanya Hong Cu penuh semangat perlombaan.

"Begini, Hong Cu. Di antara keturun keluarga Kaisar Sung, kiranya hanya kalian berdua yang dapat diharapkan untuk membangun kembali Kerajaan Sung yang semakin surut dan lemah. Semua ini karena Kaisar yang masih merupakan Kakek kalian amat lemah dan terutama sekali berada di bawah pengaruh Perdana Menteri Chin Kui yang lalim. Nah, sekarang kami berdua mempunyai tugas untuk kalian berdua. Kalian harus dapat ti menemui Kaisar Sung Kao Cu yang sudah tua dan lemah itu, membujuknya agar dia menghentikan atau memecat Chin Kui yang lalim. Nah, siapa berhasil membujuk Kaisar dan melenyapkan Chin Kui lebih dulu, dialah yang menang!"

Kata Thio Eng.

"Sin Cu, engkau tentu tidak akan membikin malu Gurumu!"

Hanya itu pesan Thian-Te Kiam-Sian Su Kong Pin.

"Kapan kita harus mengerjakannya?"

Pertanyaan ini diucapkan kedua orang Kakak-beradik itu.

"Kapan lagi kalau tidak sekarang!"

Jawab Thio Eng dan Su Kong Pin.

Mendengar ini, Kakak-beradik itu berkelebat lenyap memasuki hutan menuju ke pondok masing-masing di bukit tempat tinggal mereka untuk berkemas, membawa buntalan pakaian dan tak lama kemudian mereka sudah berlari cepat menuruni Pegunungan Luliang-San untuk pergi ke Kotaraja Hang-Chouw!

Karena kedua orang Kakak-beradik itu memiliki tingkat yang dapat dibilang seimbang, maka ketika mereka menuruni bukit tempat tinggal masing-masing, akhirnya mereka dapat juga bertemu di persimpangan jalan.

Keduanya tersenyum karena dalam lubuk hati mereka, keduanya tidak mempunyai keinginan untuk saling mengalahkan!

"Moi-moi, kalau tugas yang harus kita laksanakan itu hanya serupa dan sama, untuk apa kita bersaing dan berlumba?

Bukankah lebih mudah, lebih cepat dan lebih baik kalau kita bekerja sama saling bantu sehingga tugas itu dapat diselesaikan dengan lebih cepat dan mudah?"

"Setuju, Koko! Guru-Guru kita boleh bodoh dan saling bersaing dan saling berlumba, akan tetapi kita Kakak-beradik untuk apa harus bersaing? Lebih baik bekerja sama. Mari kita pergi ke Istana Kakek Sri Baginda Kaisar dan menjumpainya!"

"Hemm, apakah Beliau akan dapat mengenal kita?"

Tanya Hong Cu tersenyum lucu.

"Mungkin tidak, akan tetapi kalau kita bercerita tentang Kakek Pangeran Liang Tek Ong almarhum, mustahil Beliau tidak mengenalnya."

Mereka lalu melanjutkan perjalanan dan menggunakan ilmu berlari cepat seperti terbang.

Benar saja, karena Kakak-beradik ini meninggalkan Kotaraja pada tujuh tahun yang lalu ketika usia mereka baru tiga belas tahun dan sebelas tahun, tentu saja kini mereka muncul sebagai seorang pemuda dan gadis dewasa, tidak ada orang yang dapat mengenal mereka.

Dapat dibayangkan betapa gembira hati dua orang Kakak-beradik itu ketika mereka memasuki pintu gerbang Kotaraja, kota kelahiran yang amat mereka kenal.

Bagaikan bertemu dengan sahabat-sahabat lama, keduanya melihat-lihat setiap bangunan dan pohon yang mereka lewati ketika mereka menuju ke tempat tinggal Liang Sun, yaitu Ayah mereka, putera mendiang Pangeran Liang Tek Ong yang sejak kematian Ayahnya lalu hidup sebagai penduduk biasa dan berdagang kecil-kecilan.

Dari jauh saja Kakak-beradik itu sudah melihat kesibukan yang terjadi di depan toko Ayah mereka.

Ada beberapa orang pembeli berkumpul di sana dan dua orang pelayan Ayah mereka sedang melayani pembeli.

Karena mereka tidak ingin kedatangan mereka diketahui orang dan akan tersiar kabar bahwa mereka yang hendak melaksanakan tugas rahasia itu berada di Kotaraja, Sin Cu dan Hong Cu terpaksa berhenti dan menanti sampai para pembeli itu pergi dan di depan toko kini tidak tampak ada orang lain.

Barulah mereka menghampiri toko.

Dua orang pelayan yang melihat mereka menyambut, mengira bahwa Kakak-beradik itu hendak membeli sesuatu.

Akan tetapi Sin Cu segera berkata dengan lirih.

"Paman Ji dan Paman Giam, lupakah kepada kami?"

Dua orang pelayan itu terbelalak memandang pemuda dan gadis itu.

"Haya...! Kongcu dan Siocia..."

"Sssttt, rahasiakan kedatangan kami!"

Hong Cu menegur dan mereka berdua segera berlari memasuki rumah.

Liang Sun dan isterinya sedang duduk menghadapi meja di mana terdapat minuman air teh dan kue.

Mereka terkejut ketika tiba-tiba ada seorang gadis cantik dan seorang pemuda tampan memasuki ruangan itu dan dua orang itu langsung saja menjatuhkan diri berlutut di depan mereka.

Akan tetapi kekagetan mereka segera berubah menjadi kebahagiaan yang luar biasa ketika mereka mengenal putera dan puteri mereka.

Nyonya Liang merangkul Hong Cu sambil menangis dan Liang Sun sendiri merangkul Sin Cu.

Mereka bertangis-tangisan, penuh keharuan dan kebahagiaan.

Suami isteri ini sudah tahu bahwa anak-anak mereka diambil murid orang-orang sakti karena baik Su Kong Pin maupun Thio Eng telah mengirim surat kepada mereka melalui seorang penduduk dusun, menceritakan bahwa dua orang anak itu mereka ambil murid.

Setelah tujuh tahun berpisah, tentu saja pertemuan itu mendatangkan kebahagiaan yang luar biasa bagi orang tua dan anak.

Sin Cu dan Hong Cu segera sibuk menceritakan pengalaman mereka ketika mereka berdua hendak dibunuh oleh Panglima Gu Mo Ki dan diselamatkan oleh Guru-Guru mereka lalu diambil murid.

"Hemm, tak salah lagi. Gu Mo Ki adalah tangan kanan Perdana Menteri Chin Kui, maka jelaslah bahwa pembesar jahanam itu yang menyuruh Gu-Ciangkun membunuhmu. Bahkan aku sudah mendengar dugaan orang bahwa yang membunuh Kakek kalian, yaitu mendiang Ayah Pangeran Liang Tek Ong, juga Gu Mo Ki atas perintah Chin Kui!"

Kata Liang Sun dengan marah.

"Memang dugaan Guru-Guru kami juga demikian, Ayah,"

Kata Sin Cu.

"Oleh karena itu, sekarang kami berdua menerima tugas rahasia yang penting dari Guru-Guru kami."

"Tugas? Kukira kalian datang untuk pulang, akan tetapi melaksanakan tugas penting? Tugas apakah itu?"

Tanya Liang Sun.

"Kami harus menemui Kakek Sri Baginda Kaisar, memperingatkan Beliau agar memecat Chin Kui, yang lalim dan jahat, atau kalau hal itu tidak berhasil, kami harus membinasakan pembesar jahanam itu,"

Jawab Sin Cu. Suami-isteri itu terbelalak dengan muka pucat, bahkan Nyonya Liang Sun langsung menubruk puterinya dan menangis.

"Jangan, Hong Cu..., jangan lakukan itu! Ah, apakah kalian ingin bunuh diri? Bagaimana kalian dapat melakukan hal itu? Tidak mungkin...! Tidak mungkin kalian dapat membunuh Chin Kui...!!"

"Sin Cu, apa-apaan ini? Masa Guru-Guru kalian memberi tugas gila itu? Bagaimana mungkin kalian berdua yang masih remaja akan dapat melakukan tugas yang amat berbahaya itu? Kalian tentu akan gagal, ditangkap bahkan terbunuh!"

Kata pula Liang Sun.

"Ibu dan Ayah, harap tenang dan jangan khawatir!"

Kata Hong Cu dengan tersenyum.

"Tidak percuma kami berdua digembleng ilmu oleh kedua orang Guru kami. Ketahuilah, Guruku adalah Subo Pek I Sianli Thio Eng, seorang pendekar wanita yang jarang dapat bertemu bandingannya di jaman ini! pasti akan mampu membunuh anjing keparat Chin Kui!"

"Benar, Ayah dan Ibu,"

Kata pula Sin Cu.

"Guruku adalah Thian-Te Kiam-Sian Su Kong Pin, pendekar besar tanpa tanding. Aku sanggup membunuh Chin Kui untuk membalaskan kematian mendiang Kakek Pangeran Liang Tek Ong,"

Suami-isteri itu mengerutkan alisnya dan Liang Sun duduk tegak di atas kursi, memandang dua orang anaknya yang sudah mengambil tempat duduk di depannya.

Kalau bersikap seperti itu, Liang Sun tampak darah keBangsawanannya, tampak anggun berwibawa.

"Sin Cu dan Hong Cu, sejak kecil kalian pernah mempelajari tentang peraturan manusia dalam keluarganya. Kalian masih ingat pelajaran tentang Hauw (Berbakti)? Coba katakan bagaimana tingkat-tingkatan Kebaktian itu!"

Tanya putera Pangeran itu.

"Aku masih ingat, Ayah!"

Kata Hong Cu gembira.

"Bakti pertama adalah kepada TUHAN karena Dia yang menentukan kelahiran dan kehidupan, juga kematian kita di dunia ini. Bakti ke dua adalah kepada Ayah-Ibu, karena merekalah yang semenjak kelahiran kita di dunia menjaga, memelihara, membesarkan dan memperhatikan kita. Bakti yang ke tiga adalah kepada Guru, karena Gurulah yang mendidik dan mengajarkan segala macam ilmu dan kepandaian kepada kita dan bakti ke empat adalah kepada Bangsa karena kita adalah sebagian yang tak terpisahkan dari Bangsa. Adapun bakti yang ke lima atau terakhir adalah kepada Negara karena negara yang mengatur tata tertib kehidupan kita dan yang mengatur agar kita hidup sejahtera. Bukankah begitu, Ibu?"

"Bagus! Engkau memang anakku yang manis dan cantik, masih ingat dengan baik pelajaran itu,"

Puji Ibunya dan hidung Hong Cu yang lucu itu mekar saking senang dan bangganya.

"Nah, Sin Cu, adikmu saja masih ingat bahwa kebaktian yang paling utama adalah kepada TUHAN, kemudian kepada orang tua. Karena itu, kalian berdua sebagai anak-anak yang berbakti harus berbakti dan mencinta orang-tua, membuat senang hati orang-tua dengan jalan mentaati perintah orang-tua. Kini kami melarang kalian untuk melakukan tugas berbahaya perintah Guru kalian itu. Dan karena bakti kepada orang-tua lebih penting daripada bakti kepada Guru, maka kalian harus mentaati orang-tua lebih dulu."

Mendengar ini, Liang Sin Cu yang sudah mendapat banyak pengertian dari Thian-Te Kiam-Sian Su Kong Pin, mengerutkan alisnya dan berkata dengan sikap hormat namun tegas kepada Ayah dan Ibunya.

"Harap Ayah dan Ibu memaafkanku. Semua pengertian tentang kebaktian yang pernah Ayah ajarkan itu masih kuingat semua. Akan tetapi, Ayah, sesungguhnya bakti tidak dapat dipisahkan dari rasa cinta. Rasa cinta membuat seseorang berani berkorban dan berbakti untuk orang yang dicinta. Bakti bukan berarti menyenangkan hati orang yang dicinta. Menyenangkan dan hanya taat saja bukanlah cinta, dan bukan pula berbakti namanya."

"Eh-eh, Sin Cu, apa yang kau katakan ini? Kalau berbakti itu bukan bermaksud menyenangkan hati orang-tua, apakah berarti engkau tidak mau menyenangkan hati kami, tidak mau menuruti keinginan kami?"

Tegur Nyonya Liang dengan muka penasaran.

"Ibu, harap Ibu jangan marah kepada Koko. Maksudnya benar,"

Kata Hong Cu.

"Hemm, kau juga, Hong Cu?"

Tegur wanita itu.

"Begini, Ibu. Mentaati perintah TUHAN memang mutlak karena TUHAN adalah Maha Sempurna dan Maha Benar. Akan tetapi manusia, Guru, ataupun Negara yang dipimpin manusia, belum tentu selalu benar. Dan kalau kita mentaati perintah yang tidak benar, bukankah akan merugikan yang memerintah, juga merugikan kita yang mentaati perintah yang keliru itu? Jadi, seorang yang berbakti melakukan perintah demi kebaikan orang yang dia bakti, bukan untuk menyenangkan saja walaupun akan merugikan."

"Aih, kau bikin aku bingung, Hong Cu. Sin Cu, coba jelaskan!"

Kata Liang Sun.

"Begini, Ayah. Yang dikatakan Moi-moi itu benar. Misalnya begini. Seorang anak yang berbakti melihat Ayahnya tergila-gila permainan judi sampai uangnya habis, lalu minta kepada anaknya agar si anak menjual semua barang miliknya dan menyerahkannya kepada si Ayah untuk bermain judi. Nah, kalau anak itu menuruti permintaan sang Ayah untuk nyenangkan hatinya, apakah itu berbakti namanya? Apakah perbuatannya itu bukan berarti dia malah mendorong Ayahnya jatuh ke jurang kesengsaraan dan dia sendiri pun turut jatuh?"

Kata Sin Cu.

"Masih ada lagi, Ibu,"

Kini Hong Cu yang bicara.

"Misalnya seorang anak melihat Ibunya menjadi pecandu arak dan suka minum berlebihan dan mabok-mabokan sampai ia sakit parah. Kalau terus minum maka besar kemungkinan ia akan mati lalu ia menangis minta agar anaknya memberinya arak untuk diminum. Nah, si anak itu menuruti permintaannya untuk menyenangkan hatinya dan memberinya arak, apakah itu berbakti dan cinta namanya? Bukankah perbuatan anak itu malah akan membunuh Ibunya?"

Mendengar ini, Liang Sun dan isterinya saling pandang dan mulai mengerti. Sin Cu melanjutkan.

"Begitulah, Ayah dan Ibu. Bakti berarti Cinta, dan Cinta itu tentu bermaksud untuk kebaikan bagi yang dicinta. Kalau ada orang-tua, Guru, atau bahkan pemimpin Negara melakukan perbuatan yang tidak benar, yang pada akhirnya akan mencelakakan mereka sendiri, maka kewajiban kita yang berbakti untuk mencegah perbuatan itu, demi keselamatan orang yang kita cinta. Kalau orang-tua atau Gurunya menjadi penjahat, seorang anak atau murid yang berbakti dan baik haruslah memperingatkannya dan mencegahnya, bukan malah membantunya merampok atau berbuat jahat. Sekarang, kita melihat betapa Kerajaan Sung semakin brengsek dan lemah karena Kaisarnya dikuasai oleh Chin Kui yang jahat. Maka, kami berdua yang mencinta Bangsa dan Negara, sudah sepatutnya bertindak untuk mengubah keadaan, demi kemakmuran rakyat dan majunya pemerintahan Negara. Kami mohon Ayah dan Ibu dapat mengerti."

"Ah, kami mengerti apa yang kalian maksudkan dan kami dapat melihat kebenarannya,"

Kata Liang Sun.

"Akan tetapi, Sin Cu dan Hong Cu, niat kalian memasuki Istana, apalagi menentang Chin Kui merupakan perbuatan nekat yang berbahaya sekali. Bagaimana mungkin kalian anak-anak remaja hendak melawan ratusan perajurit pengawal Perdana Menteri?"

Hong Cu tertawa.

"Hi-hik, Ayah-Ibu. Aku bukan lagi Hong Cu yang dulu cengeng dan lemah, Ketahuilah, sebelum kami berdua meninggalkan perguruan, Guru kami telah mengajarkan ilmu silat tinggi kepada kami dan kami percaya, dengan ilmu kepandaian kami, kami akan mampu melawan para pengawal Chin Kui. Koko, mari kita perlihatkan ilmu pedang kita kepada Ayah dan Ibu agar hati mereka dapat merasa tenteram."

Sin Cu mengangguk.

Kakak-beradik itu tiba-tiba bergerak dan Liang Sun bersama isterinya tidak melihat kapan dua orang anak mereka mencabut pedang karena tahu-tahu bayangan mereka lenyap terbungkus gulungan dua sinar yang menyilaukan mata.

Sinar itu bergulung-gulung, menyambar-nyambar sehingga ruangan itu menjadi lebih terang.

Mereka seperti melihat dua bola api besar berputar-putar dan melayang-layang dalam ruangan yang cukup luas itu.

Memang pada waktu itu, tingkat ilmu pedang yang dimiliki Kakak-beradik ini sudah mencapai tingkat yang tinggi sekali.

Sin Cu adalah murid tunggal dari Dewa Pedang, sedangkan Hong Cu murid Pek Sianli yang selama puluhan tahun memperdalam ilmu pedangnya untuk menandingi Dewa Pedang, maka tentu saja tingkat ilmu pedang mereka luar biasa sekali.

Liang Sun adalah putera Pangeran Liang Tek Ong, tentu saja walaupun dia sendiri bukan ahli silat, dia sudah sering melihat orang bersilat.

Namun belum pernah selamanya dia melihat permainan ilmu pedang seperti yang dimainkan kedua orang anaknya itu.

Maka dia menjadi takjub bukan main, juga merasa heran bagaimana anak-anak mereka yang masih begitu muda, hanya dalam waktu tujuh tahun telah memiliki tingkat ilmu pedang sehebat itu.

Tiba-tiba gulungan dua sinar pedang itu lenyap dan terdengar seruan Hong Cu.

"Ibu, di mana kami?"

Ayah dan Ibu itu mencari-cari, memandang ke sekeliling namun tidak melihat di mana adanya Sin Cu dan Hong Cu. Tentu saja mereka heran dan Nyonya Liang berseru.

"Hong Cu, di mana engkau?"

Suara tawa Hong Cu menjawab dan suami-isteri itu memandang ke atas dan... kiranya dua orang anak mereka itu "menempel"

Di langit-langit ruangan itu! Benar-benar menempel, karena punggung mereka menempel seperti melekat di langit-langit dan keduanya tersenyum.

"Ih, anak-anak nakal! Turunlah!"

Kata Nyonya Liang dan Kakak-beradik itu segera melayang turun. Kini hati Ayah-Ibu itu mulai tenang. Mereka sudah menyaksikan bahwa ilmu pedang dua orang anak mereka memang hebat sekali.

"Sin Cu dan Hong Cu, kalau kalian hendak membinasakan Chin Kui, hal itu memang sudah sepatutnya karena selain dia yang mendalangi kematian Kakekmu, juga Chin Kui sudah terlalu banyak dosanya. Dia telah menyingkirkan dan membunuh banyak patriot yang setia kepada Kerajaan Sung. Bahkan seluruh rakyat tidak mungkin melupakan apa yang telah dia lakukan kepada Patriot Besar Jenderal Gak Hui yang terpaksa membunuh diri karena difitnah dan dijatuhi hukuman mati oleh Sri Baginda Kaisar. Akan tetapi anak-anakku, kalian harus ingat bahwa Sri Baginda Kaisar Sung Kao Cu adalah masih Paman Tuaku, Paman Kakek kalian. Maka tidak baik kalau kalian mengganggu apalagi mencelakai dia."

"Kami mengerti, Ayah. Kami hanya akan menyadarkannya akan kejahatan Chin Kui yang Beliau percaya mati-matian, dan bagaimanapun juga, kita harus mengakui bahwa Beliau bukanlah seorang Kaisar yang baik. Alangkah akan baiknya bagi Bangsa dan Negara kita kalau Paman Kakek Kaisar yang sudah terlalu tua itu diganti oleh Kaisar yang lebih muda dan kuat, lebih bijaksana dan memperhatikan nasib rakyat, bukan hanya mencari kesenangan diri pribadi dan mengumpulkan harta sebanyaknya untuk anak isterinya sendiri. Akan tetapi menurut Ayah, siapakah kiranya sekarang ini ada calon Kaisar baru yang memenuhi syarat, adil, bijaksana dan tidak gila kuasa dan harta?"

Liang Sun mengerutkan alisnya.

"Memang tidak mudah mencari calon Kaisar yang adil dan bijaksana. Akan tetapi menurut hampir semua keluarga Istana dan juga para pejabat yang setia kepada Kerajaan Sung, hanya ada seorang saja Pangeran yang agaknya merupakan orang yang paling tepat pada waktu ini kalau menggantikan kedudukan Kaisar Sung Kao Cu yang sudah tua."

"Siapakah dia, Ayah?"

Tanya Hong Cu ingin tahu.

"Kalian masih ingat paman kalian Liang Jin? Dialah orang itu,"

Kata Liang Sun. Sin Cu dan Hong Cu memandang Ayah mereka dengan wajah berseri.

"Ah, Paman Liang Jin? Tentu saja aku masih ingat. Dia ahli sastra yang pandai dan orangnya ramah. Dia memang orang baik!"

Kata Hong Cu, ingat kepada seorang di antara keponakan Kaisar itu.

"Benar, dia memang cukup baik dan usianya sekarang juga sudah hampir empat puluh tahun, sudah cukup masak dan dapat diandalkan. Hanya sayang..."

Liang Sun menghela napas panjang.

"Kenapa, Ayah? Mengapa Ayah kelihatan bersedih?"

Tanya Sin Cu. Kembali Liang Sun menghela napas panjang.

"Aih, lagi-lagi jahanam Chin Kui yang menimbulkan masalah. Dia tahu benar bahwa para keluarga Istana dan juga para pejabat tinggi yang setia kepada Kerajaan condong memilih Pangeran Liang Jin. Akan tetapi semua orang tahu bahwa dia mempunyai seorang calon lain yang kelak pasti akan dia paksakan untuk menjadi pengganti Kaisar."

"Hemm, siapakah orang yang dipilihnya itu, Ayah?"

"Dia adalah Ciang Lun, Pangeran Ciang Lun,"

Jawab Liang Sun.

"Pangeran Ciang Lun? Ah, bagaimana mungkin? Dia itu bukan darah keluarga Kerajaan! Dia hanyalah seorang anak angkat, diangkat anak oleh keponakan permaisuri, berasal dari rakyat biasa!"

Kata Liang Sin Cu penasaran.

"Begitulah kenyataannya. Akan tetapi, dia itu menjadi antek Chin Kui dan oleh Perdana Menteri Chin Kui bahkan telah diangkat menjadi seorang pejabat tinggi di bagian Bendahara atau Menteri Keuangan Kerajaan Sung."

"Hayaaa...!"

Sin Cu menghela napas panjang.

"Kalau begitu, tidak urung pengganti Kakek Kaisar nanti juga hanya akan menjadi Kaisar Boneka dan yang berkuasa tetap Si Jahanam Chin Kui!' "Sudah pasti akan terjadi seperti itu,"

Kata Liang Sun.

"Kalau begitu, Koko, kita harus segera bertindak untuk menyelamatkan Kerajaan Sung!"

Kata Hong Cu galak.

"Benar, malam ini kita harus dapat menghadap Kakek Kaisar!"

Kata Sin Cu.

Malam itu udara gelap.

Bulan memang belum tiba gilirannya muncul di malam itu.

Hawanya dingin sekali, demikian dinginnya sehingga di dalam rumah sekalipun orang harus mengenakan baju yang tebal.

Kecuali tentu saja mereka yang kaya karena di rumah hartawan tersedia perapian yang membakar kayu sehingga terdapat kehangatan api yang bernyala.

Di Istana juga malam itu sunyi.

Biarpun malam belum larut benar, Sri Baginda Kaisar Sung Kao Cu sejak tadi sudah rebah di tempat tidur.

Kaisar itu telah berusia enam puluh lima tahun, akan tetapi dia tampak jauh lebih tua daripada usianya, tampak loyo, kurus dan pucat.

Hal ini adalah karena Kaisar ini setiap harinya hanya menuruti dorongan nafsu-nafsunya untuk bersenang-senang.

Makan makanan yang serba mahal dan lezat, berpesiar, mendengarkan dan melihat para penari muda dan cantik bernyanyi dan menari, mengumbar dan memuaskan nafsu berahinya tanpa mengenal batas, pendeknya tiada hari tanpa menuruti nafsunya untuk bersenang-senang, Tak pernah mempergunakan pikirannya untuk memikirkan atau bekerja, apalagi mempergunakan tenaganya untuk berolah raga, tak pernah mempedulikan usaha untuk menyehatkan badan maupun batinnya, menjadi hamba clari nafsu-nafsunya sendiri.

Dua orang selir muda yang sejak dia mulai merebahkan diri di atas pembaringan tadi memijati tubuhnya kini telah pergi meninggalkannya karena Kaisar telah tidur pulas.

Lampu di atas meja dikecilkan oleh dua orang selir muda sebelum mereka meninggalkan kamar itu.

Kaisar memang tidak suka ditemani tidur seorang selir kecuali kalau dia yang memilih dan memerintahkan seorang atau lebih meladeninya.

Agaknya malam itu dia kelelahan dan ingin tidur seorang diri tanpa diganggu.

Tiga orang perwira pengawal secara bergiliran melakukan penjagaan di luar pintu kamar tidur itu.

Mereka bukan perwira sembarangan, melainkan perwira yang memiliki ilmu silat yang cukup tangguh karena mereka, seperti juga seluruh pasukan pengawal istana dan pengawal pribadi Kaisar, adalah anak buah Perdana Menteri Chin Kui.

Bagaikan dua sosok bayangan yang hanya tampak berkelebat tanpa dapat terlihat jelas, Liang Sin Cu dan Liang Hong Cu sudah tiba dekat kamar Kaisar.

Mereka tentu saja sudah mendapat gambaran jelas tentang letak kamar-kamar di Istana maka dengan mudah mereka dapat menemukan kamar tidur Kaisar.

Dengan ginkang mereka yang sudah mencapai tingkat tinggi, dengan mudah Kakak-beradik ini melewati tembok Istana dan masuk ke dalam.

Melihat ada tiga orang perwira yang duduk di atas bangku depan kamar tidur, mereka berdua bersikap hati-hati.

"Koko, mari kita robohkan mereka..."

Bisik Hong Cu.

"Ssst, lupakah kau? Ayah memberi tahu bahwa setiap tiga jam, tiga orang pengawal itu digantikan orang lain. Kalau kita robohkan mereka sekarang lalu tak lama kemudian datang penggantinya, tentu akan ketahuan. Sebaiknya tunggu sampai pengganti yang baru datang sehingga kita mempunyai waktu selama tiga jam."

Hong Cu mengangguk setuju.

Kebetulan sekali, belum setengah jam mereka menanti, datang tiga orang pengganti yang bergiliran menjaga.

Mereka terdiri dari tiga orang perwira lain yang rata-rata bertubuh tinggi besar dan tampak kuat.

Setelah saling memberi salam, tiga orang pengawal yang digantikan lalu berbaris pergi, dan tiga petugas baru duduk di atas bangku dengan santai.

Mereka memang selalu bersikap santai karena siapa sih yang akan berani mengganggu Kaisar?

Baru memasuki Istana saja sudah merupakan hal yang tidak mungkin, apalagi melewati pasukan pengawal dan tiba di tempat itu.

Penjahat yang berani memasuki istana sama dengan membunuh diri karena di situ terdapat sedikitnya seratus orang perajurit pengawal yang tersebar di mana-mana!

Setelah tiga orang perwira yang digantikan pergi jauh, Sin Cu dan Hong Cu membuat perhitungan lalu memutuskan bahwa Sin Cu dan adiknya akan memancing agar tiga orang penjaga itu menaruh curiga dan berpencar memeriksa keadaan.

Hal ini perlu karena kalau mereka menyerang di tempat itu, dikhawatirkan ada seorang di antara mereka yang sempat berteriak.

Tak lama kemudian, tiga orang penjaga itu terkejut dan heran mendengar jejak langkah kaki yang cukup berat terdengar di sebelah kanan dan kiri kamar.

Dua orang dari mereka lalu bangkit dan memberi tahu orang ke tiga agar tetap berjaga di situ dengan waspada karena mereka herdua akan menyelidiki suara apa yang terdengar oleh mereka itu.

Pengawal ke tiga bangkit berdiri dan berjaga dengan waspada, bahkan tangan kanannya sudah menempel di gagang pedang, siap mencabutnya kalau terjadi sesuatu yang mencurigakan.

Dua orang perwira pengawal lainnya lalu berpencar, seorang ke kiri dan seorang lagi ke kanan.

Mereka hendak memutari kamar Kaisar untuk melakukan pemeriksaan dengan teliti, akan tetapi begitu mereka membelok dan berada di kanan kiri kamar, tidak tampak oleh penjaga ke tiga, tiba-tiba saja mereka terkulai lemas, tak mampu bergerak dan tidak mampu bersuara karena mereka telah tertotok pingsan!

Tubuh mereka tidak sampai roboh karena diterima tangan Hong Cu dan Sin Cu yang segera merebahkan mereka tanpa mengeluarkan suara.

Setelah merobohkan dua orang itu, hal yang tidak sukar bagi mereka karena tingkat kepandaian dua orang perwira itu jauh selisihnya dengan tingkat mereka, Sin Cu dan Hong Cu segera menghampiri penjaga ke tiga.

Sang penjaga melihat dua bayangan mendatangi dari kanan kiri, mengira bahwa mereka itu kawan-kawannya.

Akan tetapi sebelum dia mengeluarkan suara bertanya, Sin Cu sudah bergerak dan penjaga ini pun terkulai roboh dan pingsan!

(Lanjut ke

Jilid 26) Antara Dendam & Asmara (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 26 Setelah membuat tiga orang penjaga itu pingsan, Sin Cu dan Hong Cu membuka pintu kamar Kaisar yang memang tidak pernah terkunci dari dalam.

Sin Cu lalu menghampiri meja dan agak membesarkan nyala lampu sehingga keadaan di dalam kamar itu menjadi cukup terang.

Setelah itu, dia menyingkap dan membuka kelambu tempat tidur, mengaitkan kedua ujungnya sehingga tempat tidur itu terbuka dan Kaisar yang sedang tidur mendengkur itu tampak jelas.

Bagaimanapun juga, hati Sin Cu yang lembut merasa iba kepada Kaisar yang masih terhitung paman Kakeknya sendiri.

Agar Kaisar itu tidak kaget, Sin Cu memijat perlahan Ibu jari kaki Kaisar itu sambil memanggil Iirih namun dengan pengerahan khikang sehingga suaranya dapat terdengar dekat telinga Kaisar itu.

"Sri Baginda, silakan bangun, Sri Baginda!"

Karena pijatan tangan Sin Cu itu memang menekan urat sehingga menyadarkan, dan suaranya juga terdengar jelas, maka Kaisar Sung Kao Cu seketika terbangun.

Begitu dia membuka mata dan meIihat seorang pemuda dan seorang gadis cantik berdiri tak jauh dari pembaringannya, dia merasa heran akan tetapi mata keranjangnya melekat pada wajah Hong Cu yang jelita sehingga gadis itu merasa rikuh sekali.

Sepasang mata itu seolah membelai wajah dan tubuhnya.

"Sri Baginda, mohon ampun kalau hamba berdua mengganggu istirahat. Paduka!"

Sin Cu berlutut, di ikuti oleh Hong Cu. Kini Kaisar Sung Kao Cu bangkit duduk di tepi pembaringan, kedua kakinya tergantung ke bawah, mengamati dua orang itu.

"Siapakah kalian? Dan bagaimana kalian dapat berada di kamarku? Apa yang kalian lakukan?"

Tanyanya, masih heran dan bingung.

"Sri Baginda, hamba berdua adalah Liang Sin Cu dan Liang Hong Cu, masih cucu paduka sendiri. Hamba berdua bukan penjahat dan tidak berniat jahat, hanya mohon dapat menghadap dan bicara dengan Paduka."

"Hemm, cucu-cucu kami? Kami tidak mengenal nama-nama itu. Siapa sesungguhnya kalian berdua?"

"Sri Baginda mungkin tidak mengenal nama hamba berdua,"

Kini Hong Cu berkata.

"Akan tetapi hamba yakin Paduka masih ingat akan nama Kakek hamba, yaitu mendiang Pangeran Liang Tek Ong."

"Aihh..., tentu saja kami ingat Adinda Pangeran Liang Tek Ong. Sayang... dia terbunuh penjahat..."

"Bukan terbunuh penjahat, Sri Baginda, melainkan terbunuh oleh Panglima Gu Mo Ki, atas perintah Perdana Menteri Chin Kul!"

Kata Sin Cu dengan tegas.

"Ah, tidak mungkin Chin Kui berbuat sekejam itu!"

Kaisar yang amat percaya kepada perdana menterinya membantah.

"Hemm, Sri Baginda telah dipengaruhi dan dikuasai, tentu percaya sepenuhnya kepada jahanam itu. Tahukah Paduka bahwa tujuh tahun yang lalu hamba berdua nyaris dibunuh Gu Mo Ki juga atas perintah Jahanam Chin Kui? Untung ada orang sakti menolong hamba berdua dan jahanam Gu Mo Ki itu bersama semua perajuritnya di perahu dibunuh!"

Kaisar tampak terkejut.

"Ah, jadi pembunuhan besar-besaran itu dilakukan oleh orang-orang yang kalian kenal?"

"Bukan hanya kenal. Mereka menjadi Guru-Guru hamba. Sri Baginda, kalau hamba sekarang datang menghadap, hamba berdua mohon kebijaksanaan Paduka agar menyadari keadaan. Chin Kui itu pengkhianat Bangsa, dialah yang mencelakakan dan membuat Kerajaan Sung menjadi lemah. Karena itu, hamba berdua mohon Paduka memerintahkan agar dia ditangkap dan dihukum berat!"

Kata Sin Cu.

"Tidak, tidak mungkin! Dia pembantuku yang paling baik. Kalau tidak ada dia, bisa kacau semua dan aku tidak sanggup membereskan semua urusan!"

"Sri Baginda, dia jahat dan patut dihukum mati. Pula, semua pejabat setia mengharapkan agar Paduka mengangkat Pangeran Liang Jin menjadi calon Kaisar yang kelak menggantikan Paduka."

"Keponakanku Liang Jin? Tidak, menurut Chin Kui, yang paling tepat menjadi calon penggantiku adalah Pangeran Ciang Lun!"

"Akan tetapi dia tidak berdarah keluarga Kerajaan, Sri Baginda!"

"Ya, akan tetapi Chin Kui...."

"Sri Baginda!"

Kini Hong Cu berkata agak ketus.

"Kenapa selalu Chin Kui yang mengambil keputusan? Dia bukan Kaisar, dia itu hanya pejabat, pegawai, atau pembantu Paduka. Dia harus mentaati perintah Paduka, bukan Paduka yang harus selalu taat kepadanya!"

"Tapi... tapi...."

Kaisar yang lemah itu berkata dengan suara gemetar seperti orang ketakutan.

"Kalau Paduka tidak memenuhi permohonan hamba berdua dan tetap tunduk kepada Jahanam Chin Kui, malam ini juga hamba berdua akan membunuh dia! Dia itu pengkhianat dan penjual Bangsa, dia sudah layak mampus puluhan tahun yang lalu!"

Kata Sin Cu yang juga sudah habis kesabarannya.

Mendengar ini, Kaisar bangkit dan membuat gerakan untuk berteriak, akan tetapi sekali menggerakkan tangannya Sin Cu telah menotoknya sehingga Kaisar rebah kembali dalam keadaan pingsan!

Dengan cepat Kakak-beradik itu lalu keluar dari Istana dan berkat ginkang mereka yang hebat, dibantu malam itu yang gelap dan udara dingin yang membuat semua orang lebih suka tidur atau kalau menjaga pun melenggut penuh kantuk, dengan mudah mereka keluar dari Istana.

Tengah malam telah tiba dan Kakak-beradik itu langsung saja menuju ke gedung tempat tinggal Perdana Menteri Chin Kui.

Gedung ini juga amat mewah, tak banyak selisihnya dalam hal kemewahannya dengan istana Kaisar.

Dari keadaan ini saja sudah dapat diduga dengan mudah bahwa pembesar ini memang seorang pejabat korup dan banyak mencuri uang Negara dan Bangsa demi kepentingan diri dan keluarganya sendiri.

Dan ternyata oleh Kakak-beradik itu bahwa pasukan pengawal yang melakukan penjagaan keamanan di gedung Perdana Menteri bahkan jauh lebih ketat dan kuat dibandingkan pasukan pengawal di Istana Kaisar!

Hal ini juga dapat dimengerti karena Perdana Menteri Chin Kui mengerti betul bahwa dirinya dibenci banyak orang, terutama sekali para patriot yang setia kepada Kerajaan Sung dan para tokoh di dunia persilatan.

Ketika Sin Cu dan Hong Cu bagaikan dua ekor burung rajawali melayang ke atas pagar tembok lalu ke atas atap dan menuju ke bangunan induk, mereka berdua terkejut bukan main mendengar suara ribut dan gaduh bertemunya banyak senjata tajam dibarengi teriakan-teriakan.

Jelas di sebelah dalam sedang terjadi pertempuran antara banyak orang!

Maka, Sin Cu dan Hong Cu cepat berkelebat turun dan memasuki istana Perdana Menteri Chin Kui.

Benar saja, di mana-mana terjadi pertempuran hebat antara banyak perwira dan perajurit pengawal melawan sekitar dua puluh orang yang berpakaian ringkas.

Dari pakaian dan keadaan mereka, ada yang berpakaian seperti pendekar silat, ada yang berpakaian seperti Pendeta To, ada pula yang berpakaian seperti Hwesio (Pendeta Buddha), dan melihat pula betapa mereka masing-masing amat lihai, dikeroyok banyak sekali perajurit, mudah diketahui bahwa mereka tentulah segolongan tokoh kang-ouw (dunia persilatan) yang agaknya menyerbu dan menyerang Istana Perdana Menteri Chin Kui.

Hong Cu sudah merasa gembira dan ia ingin segera terjun membantu para pendekar, akan tetapi Sin Cu menggelengkan kepala mencegahnya.

"Kita datang untuk membinasakan Chin Kui, bukan untuk bertempur dengan pasukan pengawalnya. Yang terpenting, mari kita cari di mama adanya jahanam itu."

Mendengar ini, baru Hong Cu teringat akan tugasnya.

la mengangguk dan mereka lalu berkelebat ke sebelah dalam, meninggalkan mereka yang sedang bertempur dan mulai mencari ke bagian dalam.

Ternyata di bagian dalam juga terjadi pertempuran dan Kakak-beradik itu kagum karena mereka mendapat kenyataan bahwa yang bertempur di bagian dalam hanya beberapa orang pendekar tua yang dikeroyok banyak sekali perajurit namun gerakan mereka amat hebat sehingga di bagian dalam Istana itu terjadi banjir darah dan mayat berserakan di mana-mana, yaitu mayat para perajurit dan perwira!

Sin Cu dan Hong Cu terus mencari ke sebelah yang lebih dalam lagi.

Akhirnya, di sebuah ruangan yang luas, mereka melihat Perdana Menteri Chin Kui berdiri dengan mata terbelalak, muka pucat dan tubuh menggigil.

Perdana Menteri yang sudah tua dan bertubuh genclut itu dikurung dan dilindungi lima orang perwira yang memegang golok dan mereka ini memiliki gerakan yang amat cepat dan kuat.

Golok mereka membuat Ta-To-Tin (Barisan Golok Besar) segi lima yang melindungi sang pembesar, menghadapi serangan dua orang Kakek yang memainkan pedang.

Akan tetapi dua orang Kakek itu agaknya tidak mampu menembus barisan golok besar yang amat kokoh itu sehingga Chin Kui masih terlindung dan sama sekali tidak terancam bahaya.

Agaknya ruangan itu merupakan ruangan rahasia di mana Chin Kui bersembunyi dan lima orang jagoan itu adalah pengawal pribadinya yang dia andalkan.

Agaknya mereka itu dapat ditemukan dua orang Kakek pendekar yang kini berusaha membunuh Chin Kui namun terhalang oleh lima orang pengawal itu.

Buktinya di situ tidak terdapat pengawal lain, juga tidak terdapat penyerbu lain kecuali dua orang Kakek itu.

Sin Cu dan Hong Cu tahu apa yang harus mereka lakukan.

Hanya dengan saling pandang Kakak-beradik ini tahu apa yang harus mereka lakukan.

Mereka mencabut pedang dan bagaikan dua ekor burung rajawali mereka melayang dan menerjang ke arah lima orang pengawal itu.

Serangan mereka sedemikian hebatnya, sehingga bagaikan dua sinar halilintar menyambar dan lima orang perwira pengawal itu terkejut bukan main.

Mereka maklum bahwa ada dua orang yang amat lihai ilmu pedangnya menyerang mereka.

Dengan cepat mereka lalu memasang barisan golok besar untuk melawan dan melindungi majikan mereka.

Akan tetapi gerakan dua gulungan sinar pedang itu demikian cepat dan kuatnya sehingga To-Tin (barisan golok) lima orang itu menjadi kacau dan terpecah.

Sin Cu dan Hong Cu menyerang terus dan belum sampai dua puluh jurus lima orang perwira itu telah roboh terkena pedang mereka.

Kakak-beradik itu lalu cepat mencari Perdana Menteri Chin Kui, akan tetapi mereka melihat pembesar lalim itu telah roboh terkulai di sudut ruangan dengan leher terbabat putus!

Sin Cu dan Hong Cu tidak tahu siapa yang telah berhasil membunuh pembesar itu karena dua orang Kakek pendekar tadipun tidak tampak lagi di situ.

Mungkin mereka yang membunuh Chin Kui atau ada lain pendekar lagi karena saat itu memang banyak pendekar yang menyerbu Istana Chin Kui.

Mereka tidak ingin tahu siapa yang membunuh.

Yang penting, musuh rakyat itu telah tewas.

Kakak-beradik ini segera berkelebat keluar dari situ dan ternyata pertempuran juga sudah terhenti dan para pendekar sudah meninggalkan Istana itu.

Agaknya tujuan mereka juga hanya untuk membunuh Chin Kui maka setelah pembesar itu tewas, mereka juga meninggalkan Istana itu.

Sedikitnya ada lima orang pendekar yang tewas dalam pertempuran itu, akan tetapi selain Chin Kui, ada puluhan perwira dan perajurit pengawal anak buah Perdana Menteri itu yang juga tewas.

Ketika akhirnya Sin Cu dan Hong Cu memasuki rumah orang-tua mereka, ternyata Liang Sun dan isterinya masih belum tidur.

Suami isteri ini duduk termenung dengan wajah pucat dan hati penuh kekhawatiran menanti pulangnya kedua orang anak mereka.

Begitu Sin Cu dan Hong Cu muncul dalam keadaan selamat, Nyonya Liang segera bergantian merangkul mereka sambil menangis saking lega hatinya.

Dengan suara lirih Sin Cu dan Hong Cu lalu menceritakan pengalaman mereka menghadap Kaisar dalam kamar tidurnya, lalu menceritakan tentang penyerbuan mereka ke Istana Perdana Menteri Chin Kui di mana ternyata banyak pendekar juga sedang menyerang sehingga akhirnya perdana menteri itu tewas.

"Akan tetapi bukan kalian yang membunuhnya?"

Tanya Nyonya Liang.

"Bukan, Ibu. Koko dan aku hanya menyerang lima orang pengawalnya yang cukup tangguh dan setelah kami dapat merobohkan mereka, tahu-tahu Perdana Menteri Chin Kui kami lihat sudah roboh dan tewas. Kami juga tidak tahu siapa yang membunuhnya, akan tetapi tidak salah lagi tentu seorang di antara para pendekar yang menyerbu itu,"

Kata Hong Cu.

"Begitulah,"

Kata Liang Sun.

"Orang jahat akhirnya pasti menerima hukumannya juga."

Tentu saja peristiwa penyerbuan di rumah Perdana Menteri Chin Kui dengan pembunuhan besar-besaran sehingga Chin Kui sendiri juga menjadi korban di samping puluhan anak buahnya itu menggegerkan Kotaraja.

Akan tetapi diam-diam banyak penduduk dan para pejabat yang setia kepada Kerajaan merayakan peristiwa hu dengan gembira.

Sebaliknya para pengikut dan anak buah Chin Kui menjadi ketakutan karena merasa betapa mereka kehilangan pelindung dan bukan tidak mungkin akan datang giliran mereka mengalami nasib seperti Chin Kui!

Yang paling terkejut dan terpukul hatinya adalah Kaisar Sung Kao Cu.

Mendengar akan pembunuhan besar-besaran yang mengorbankan nyawa Chin Kui yang dipercayanya itu, seketika dia jatuh sakit!

Kemudian, untuk menghormati pembantu utama yang amat dipercayanya Kaisar Sung Kao Cu memerintahkan agar dilakukan upacara pemakaman besar-besaran dengan membangun makam yang besar dan amat indah seperti makam para Kaisar.

Selain itu, juga Kaisar memerintahkan agar semua pejabat juga rakyat melakukan perkabungan sampai tiga bulan lamanya!

Biarpun tidak ada yang berani membantah atau menentang perintah Kaisar, namun banyak orang mencibir mendengar perintah ini dan sebaliknya dari perkabungan yang hanya dilakukan di bagian luar saja, di dalam rumah diam-diam mereka merayakan kematian Chin Kui.

Memang benar apa yang dikatakan orang-orang bijaksana jaman dahulu bahwa nama dan kehormatan seseorang itu jauh lebih penting daripada harta dunia atau kedudukan tinggi.

Harta dan kedudukan akan berakhir setelah orangnya mati, akan tetapi nama akan terbawa sampai jauh setelah orangnya mati.

Contohnya adalah dua tokoh dalam jaman Kerajaan Sung, yaitu Jenderal Gak Hui, patriot yang bijaksana dan setia, pembela Negara dan Bangsa.

Dan ke dua adalah Chin Kui, pembesar lalim pengkhianat penjual Bangsa dan Negara.

Setelah keduanya mati, sampai ratusan tahun kemudian, rakyat masih ingat kepada mereka sehingga setiap orang yang kebetulan lewat di depan makam Jenderal Gak Hui, tentu memberi hormat dengan hati kagum.

Sebaliknya mereka yang lewat di depan makam Chin Kui, selalu mencibir, memaki, bahkan banyak yang meludahi makam itu sehingga makam Chin Kui tampak kotor menjijikkan.

Sebaliknya makam Gak Hui selalu ada yang membersihkannya setiap kali ada sedikit saja daun kering menutupinya.

Bahkan kedua tokoh ini menjadi semacam dongeng dan lambang dari dua sifat yang berlawanan, yaitu makam Gak Hui menjadi lambang kebijaksanaan dan kepatriotan, sebaliknya makam Chin Kui menjadi lambang kelaliman dan pengkhianatan!

Sejak kematian Chin Kui, Kaisar Sung Kao Cu sakit-sakitan dan pemerintahan menjadi kacau.

Banyak pejabat berlumba untuk memperebutkan kekuasaan yang ditinggalkan Chin Kui sehingga terjadi persaingan dan mereka saling mengirim pembunuh untuk saling bunuh!

Dalam waktu beberapa bulan saja sudah ada puluhan pejabat tinggi yang terbunuh dalam perebutan itu!

Mereka adalah para pejahat bekas antek Chin Kui yang memang kesemuanya merupakan pembesar yang berambisi untuk memperoleh kedudukan tertinggi!

Manusia memang pandai menyemhunyikan niat yang sebenarnya, ditutupi oleh segala macam alasan yang tampaknya lebih gagah dan mulia.

Seperti para pejabat itu, mereka menganggap bahwa mereka saling memperebutkan kedudukan tinggi dan kemuliaan, padahal yang tersembunyi di balik kedudukan dan kemuliaan itu adalah harta benda!

Manusia merasa malu dan rendah kalau mengaku berebutan harta benda, maka dibedakilah harta benda itu dengan kedudukan, kehormatan, kemuliaan dan sebagainya lagi, bahkan ada yang "dicat"

Dengan warna putih sebagai perjuangan untuk mengabdi Nusa dan Bangsa!

Padahal, yang mereka perebutkan itu, pangkat tinggi atau kedudukan, bukan lain adalah merupakan sumber harta benda!

Mana ada manusia mau memperebutkan kedudukan kalau di sana tidak ada harta benda yang akan mudah dia dapatkan setelah dia berkuasa?

Berebut kekuasaan itu sesungguhnya berebut harta benda.

Perang juga demikian.

Yang menang mendapatkan harta, yang kalah kehilangan harta!

Mana ada dua Bangsa berperang memperebutkan tanah tandus dan gersang?

Tidak mungkin ada!

Yang diperebutkan tentu tanah yang subur dan banyak hasilnya, berarti harta!

Kalau ada pemilihan pemimpin tanpa ada hartanya, orang saling berebut untuk MENOLAKNYA, sebaliknya kalau ada pemilihan pemimpin yang menjanjikan harta berlimpah, orang sating berebut kalau perlu saling bunuh!

Melihat keadaan di Kotaraja, Sin Cu dan Hong Cu merasa muak dan mereka bersukur bahwa Ayah mereka tidak mau ikut mencari pangkat dan lebih suka berdagang kecil-kecilan, asalkan cukup untuk memenuhi kebuTUHAN hidup sehari-hari.

Kakak-beradik ini lalu berpamit kepada Ayah-Ibunya untuk kembali kepada Guru-Guru mereka di Luliang-San karena menurut dua orang Guru itu mereka memang belum tamat belajar.

Liang Sun dan isterinya, walaupun merasa berat, meluluskan karena mereka pun khawatir kalau-kalau kedua orang anaknya itu akan dipanggil Kaisar yang pernah mereka datangi pada malam hari.

Setelah kematian Perdana Menteri Chin Kui, keadaan di Kotaraja Kerajaan Sung sungguh kacau-balau tidak menentu.

Kaisar Sung Kao Cu hanya tinggal di dalam kamarnya karena keadaan kesehatannya amat buruk dan lemah.

Apalagi ketika dia mendengar betapa di antara para pejabat tinggi terjadi perebutan sampai saling bunuh, dia merasa semakin sedih.

Pada waktu yang amat gawat itu, Pangeran Ciang Lun tidak menyia-nyiakan kesempatan.

Pangeran Ciang Lun adalah keponakan dari Permaisuri yang berdarah rakyat biasa, namun karena bibinya menjadi permaisuri, dia pun "diangkat"

Dan mendapat kedudukan tinggi.

Apalagi dia merupakan orang kepercayaan mendiang Perdana Menteri Chin Kui dan bahkan diangkat menjadi Menteri Keuangan.

Dapat dibayangkan betapa mudahnya Pangeran Ciang Lun mengumpulkan harta benda.

Orang yang berdekatan dengan air tentu selalu basah, yang berdekatan dengan uang tentu juga tidak pernah kekurangan uang!

Apa sih sukarnya mendapatkan uang baginya?

Semua catatan dia yang pegang, pemasukan dan pengeluaran uang melalui tangannya dan dia sudah dipercaya penuh oleh Chin Kui dan otomatis oleh Kaisar.

Mudah saja baginya untuk memperkecil catatan pemasukan dan memperbesar catatan pengeluaran uang, dan selisihnya yang amat besar masuk ke dalam gudang hartanya sendiri!

Dengan modal harta benda yang amat banyak, Pangeran Ciang Lun segera beraksi.

Setelah melihat para Bangsawan dan pejabat tinggi berebutan kekuasaan sampai saling bunuh, dia tahu bahwa kalau hal itu berlarut-larut, dia akan kehilangan banyak orang yang dapat menjadi pendukungnya karena mereka adalah para pendukung mendiang Chin Kui.

Dia lalu mengumpulkan mereka, membagi-bagikan hadiah dan mengadakan rapat rahasia.

Di dalam rapat itu diambil keputusan bahwa Pangeran Ciang Lun, ditemani belasan orang pejabat tertinggi akan mendatangi Kaisar dan membujuk agar Kaisar suka menandatangani surat pengangkatan Pangeran Ciang Lun sebagai Putera Mahkota atau calon pengganti Kaisar.

Banyak kemungkinan Kaisar tua itu akan mau menandatangani, mengingat bahwa sejak dulu Perdana Menteri Chin Kui memang memilih Pangeran Ciang Lun sebagai calon Kaisar dan Kaisar Sung Kao Cu juga telah menyetujuinya.

Akan tetapi kalau ternyata Kaisar tua itu tidak mau menandatangani, mereka sudah mengambil keputusan untuk mengancam dan menggunakan kekerasan, memaksa Kaisar menandatangani dan mereka akan mengambil cap kebesaran Kaisar untuk mengesahkan surat persetujuan itu!

Pada hari yang telah ditentukan, Pangeran Ciang Lun sudah membuat persiapan.

Dia mengumpulkan pasukan untuk menjaga agar usahanya bersama para sekutunya tidak akan ada yang mengganggu.

Akan tetapi, Pangeran Ciang Lun terlalu memandang rendah para pejabat tinggi dan pendukung mereka, yaitu para pendekar patriot.

Seorang diantara para perajurit pengawal yang melakukan penjagaan ketika persidangan rahasia itu diadakan, adalah seorang mata-mata penyelidik dari Pangeran Liang Jin.

Pangeran Liang Jin yang berusia tiga puluh delapan tahun adalah keturunan langsung dari keluarga Kaisar, masih keponakan Kaisar Sung Kao Cu dan dialah yang oleh para pejabat tinggi yang setia dipilih sebagai calon Kaisar.

Ketika terjadi kegemparan karena Perdana Menteri Chin Kui terbunuh, Pangeran Liang Jin bersikap waspada.

Dia bukanlah seorang yang ambisius, bukan murka akan kekuasaan.

Akan tetapi dia seorang yang setia kepada Kerajaan dan dia tahu benar bahwa mendiang Perdana Menteri Chin Kui menentukan pilihannya pada Pangeran Ciang Lun untuk kelak menggantikan kedudukan Kaisar.

Hal ini membuat dia khawatir sekali karena dia mengenal benar watak Pangeran Ciang Lun yang korup, lalim dan kejam.

Pangeran Liang Jin segera mengadakan perundingan dengan para pejabat sepaham yang setia kepada Kerajaan Sung dan yang tidak ingin melihat Kerajaan Sung semakin rusak di bawah perintah seorang Kaisar lalim.

Karena itu, semua gerak-gerik Pangeran Ciang Lun sebagai pengikut Chin Kui diawasi sehingga ketika Ciang Lun mengadakan persidangan rahasia untuk memaksa Kaisar Tua Sung Kao Cu menandatangani surat kekuasaan dan mengangkatnya menjadi calon Kaisar, seorang mata-mata telah mengetahui semuanya dan melaporkan kepada Pangeran Liang Jin.

Di antara para pejabat yang setia kepada Kerajaan dan menjadi pendukung Pangeran Liang Jin termasuk pula Jaksa Li Koan, Ayah Li Sian Hwa yang kini menjadi isteri pendekar Lui Hong.

Jaksa Li memang terkenal karena kejujurannya.

Dalam melaksanakan tugasnya sebagai jaksa, dia bersikap keras dan tegas.

Dia menuntut siapa saja yang memang bersalah, tidak peduli Bangsawan tinggi atau hartawan besar, kalau memang orang itu bersalah, dia tuntut sampai orang itu menerima hukuman yang setimpal dalam pengadilan.

Dia tidak takut diancam, tidak bergeming pula kalau dipameri harta atau disogok, sehingga ketika Chin Kui masih berkuasa, dia termasuk pejabat yang dimusuhi dan dibenci oleh para koruptor clan para penjilat atasan.

Oleh karena itu, ketika Pangeran Liang Sin mengadakan perundingan dengan mereka yang setia kepada negara, Jaksa Li Koan tentu saja juga hadir dan dengan sendirinya Lui Hong juga menghadiri perundingan itu karena dia dikenal sebagai seorang pendekar yang memiIiki ilmu kepandaian tinggi.

Pada waktu itu, Lui Hong memang tinggal di rumah Ayah mertuanya setelah dia menikah dengan Li Sian Hwa.

Dia tidak mau menerima pemberian pangkat, melainkan hanya membantu pekerjaan Jaksa Li yang amat berat karena terkadang jaksa itu menerima ancaman dari para penjahat yang dituntutnya.

Kalau terjadi hal seperti itu, maka Lui Hong yang turun tangan dan pendekar murid Thai Kek Lojin ini dengan mudah dapat menundukkan para penjahat yang mengancam Jaksa Li sehingga mereka terpaksa menerima saja hukuman yang di jatuhkan tanpa berani membangkang.

Setelah Pangeran Liang Sin mengetahui rencana rahasia Pangeran Ciang Lun, bersama para pejabat tinggi dan para pendekar patriot dia mengadakan persiapan untuk menentang rencana busuk itu dan untuk melindungi Kaisar Sung Kao Cu yang sudah tua.

Tentu saja Lui Hong juga menerima tugas, bahkan sebagai seorang pendekar yang dapat di-andalkan, dia mendapat bagian tugas yang paling penting, yaitu bersama beberapa orang pendekar lain menjaga dan melindungi keselamatan Kaisar.

Sebelum bersama para pendekar lainnya diselundupkan ke dalam Istana, Lui Hong berbincang-bincang dengan Li Sian Hwa, isterinya, di ruangan dalam.

Tak seorang pun pelayan diperbolehkan masuk ruangan itu karena yang mereka bicarakan adalah urusan penting mengenai rahasia Istana.

Seorang anak laki-laki yang bertubuh sedang, berwajah tampan dan lembut, berusia sekitar empat belas tahun, duduk pula mendengarkan suami-isteri itu bercakap-cakap.

Anak itu adalah Lui Tiong Le, anak tunggal Lui Hong dan Li Sian Hwa.

Anak itu memiliki wajah tampan dan lembut, namun matanya bersinar terang dan tajam tanda bahwa dia memiliki kecerdikan.

Lui Hong telah berusia sekitar tiga puluh tujuh tahun, masih tampak tampan halus dan kumis serta jenggotnya yang pendek terpelihara rapi membuat dia tampak gagah berwibawa.

Bicaranya masih lembut dan ramah seperti ketika mudanya dahulu.

Biarpun dia kini sudah menjadi mantu Jaksa Li dan namanya terkenal dan ditakuti para pelanggar hukum dan para penjahat, namun sikap Lui Hong masih tetap sederhana seperti biasa, sama sekali tidak membayangkan ketinggian hati.

Li Sian Hwa yang kini berusia tiga puluh enam tahun, masih lembut dan jelita, juga darah Bangsawannya masih tampak pada wajahnya yang anggun dan sikapnya yang agung.

Namun ia juga sederhana dan ramah, apalagi setelah menjadi isteri Lui Hong yang menjadi suami bijaksana yang membimbingnya.

ia kini baru benar-benar dapat menikmati hidup sebagai isteri dan Ibu tercinta.

"Hong-Ko,"

Kata Li Sian Hwa kepada suaminya. Mereka duduk mengelilingi meja, bersama Lui Tiong Le.

"Apakah tugasmu itu tidak amat berbahaya? Kalau benar Pangeran Ciang Lun mempunyai rencana yang busuk dan jahat itu, pasti akan terjadi pertempuran hebat di Istana. Karena engkau mendapatkan tugas penting untuk meIindungi Sri Baginda Kaisar, maka bagaimanapun juga aku merasa khawatir, Hong-Ko."

"Aih, Ibu, mengapa mengkhawatirkan keselamatan Ayah? Kita harus percaya kepada Ayah. Aku yakin bahwa Ayah dan para pendekar pasti akan mampu meIindungi Sri Baginda Kaisar dan menghancurkan para pemberontak jahat!"

Kata Lui Tiong Le dengan sikap gagah dan dia memandang kepada Ayahnya dengan bangga Anak ini memang sejak berusia enam tahun sudah menerima gemblengan ilmu silat dari Ayahnya dan juga menerima pelajaran sastra dan seni dari Ibunya.

Dalam usianya yang empat belas tahun, Lui Tiong Le telah menjadi seorang remaja yang tangguh dan kiranya tidak mudah mencari seorang laki-laki dewasa yang akan mampu mengalahkannya!

Mendengar ucapan puteranya, walaupun di dalam hatinya Lui Hong merasa senang akan kepercayaan puteranya pada dirinya, namun dia membela isterinya dan berkata kepada puteranya dengan suara yang bersungguh-sungguh.

"Tiong Le, Ibumu benar. Ucapannya itu sama sekali bukan karena ia tidak percaya kepadaku, melainkan agar aku berhati-hati. Bukan hal yang aneh kalau Ibumu merasa khawatir karena engkau harus mengetahui bahwa Pangeran Ciang Lun didukung banyak pejabat korup yang memelihara banyak penjahat Iihai yang menjadi tukang pukul mereka. Lebih baik berhati-hati dan waspada karena sikap itu Iebih memperkuat diri kita daripada memandang rendah pihak lawan."

Mendengar ini Tiong Le mengangguk dan berkata lembut.

"Aku mengerti, Ayah. Ibu, maafkan aku."

"Anakku, engkau tidak perlu minta maaf karena memang Ibumu yang lemah,"

Kata Li Sian Hwa sambil tersenyum. Hubungan antara tiga orang keluarga ini memang akrab sekali, penuh dengan perasaan saling menghormati dan saling mencinta.

"Ayah, bagaimana kalau aku ikut membantu Ayah dalam tugas ini?"

Lui Tiong Le bertanya dan memandang Ayahnya dengan sinar mata penuh harapan. Lui Hong tersenyum dan menggelengkan kepa lanya.

"Tiong Le, kalau aku menghadapi pertempuran biasa, tentu engkau akan kuajak agar engkau dapat menambah pengalaman. Akan tetapi sekali ini aku bukan hanya menghadapi pertempuran biasa, melainkan menghadapi urusan yang amat penting untuk melindungi Sri Baginda Kaisar. Aku membutuhkan seluruh perhatianku untuk menghadapi urusan ini dan tidak mungkin perhatianku kubagi dengan memperhatikan keadaanmu. Tidak, Anakku. Biar lain kali saja aku akan mengajakmu pergi mengunjungi Kakek Gurumu di Hong-San. Mudah-mudahan saja Kakek Gurumu itu masih sehat sehingga dapat memberi petunjuk dan bimbingan kepadamu. Usianya sekarang tentu sudah lebih dari delapan puluh tahun."

Mendengar janji ini, Tiong Le merasa girang bukan main.

Dia sudah sering mendengar Ayahnya bercerita tentang Kakek Gurunya yang berjuluk Thai Kek Lojin, akan tetapi belum pernah dia melihatnya.

Dari cerita Ayahnya, dia mendengar bahwa Thai Kek Lojin merupakan seorang di antara tidak banyak manusia yang memiliki kesaktian tidak seperti manusia biasa dan tentu saja dia ingin sekali menerima petunjuk langsung dari Kakek Gurunya itu.

Pada hari yang ditentukan, dengan bantuan Pangeran Liang Jin yang masih keponakan Kaisar sehingga dapat leluasa memasuki Istana tanpa ada yang berani melarangnya, para pendekar termasuk Lui Hong, diselundupkan ke dalam Istana berpakaian sebagai perajurit pengawal Pangeran Liang Jin.

Jumlah mereka ada dua lusin orang dan pasukan kecil ini tentu saja tidak mencolok dan tidak dianggap berbahaya oleh pasukan pengawal Istana yang sudah menjadi anak buah Pangeran Ciang Lun karena mereka itu adalah bekas anak buah mendiang Perdana Menteri Chin Kui.

Pangeran Liang Jin didukung oleh banyak pejabat tinggi termasuk para panglima tua yang setia kepada Kerajaan Sung dan tidak ingin melihat Kerajaan Sung menjadi semakin lemah maka kalau urusan dalam Istana, menjaga keselamatan Kaisar Sung Kao Cu diserahkan kepada para pendekar yang berilmu tinggi, diam-diam para penglima yang setia mempersiapkan pasukan besar untuk menyerbu Istana dan melawan pasukan para pemberontak.

Pada senja hari yang telah direncanakan oleh Pangeran Ciang Lun itu, Pangeran Ciang Lun, ditemani oleh tujuh orang pejabat tinggi memasuki ruangan luas di mana Kaisar Sung Kao Cu sedang menghadapi hidangan minum teh dan makan hidangan ringan seperti yang setiap sore dia nikmati.

Tentu saja dia merasa heran ketika melihat Pangeran Ciang Lun memasuki ruangan itu tanpa dipanggil, dan bahkan diikuti tujuh orang pejabat tinggi.

Memang Pangeran Liang Jin tidak memberi tahu sesuatu kepada Kaisar tua itu, apalagi mengatakan bahwa akan ada pemberontakan karena dia khawatir Pamannya yang sudah tua itu akan terkejut dan jatuh sakit.

Biarpun delapan orang itu memasuki ruangan dan memberi penghormatan seperti biasa, Kaisar Sung Kao Cu tidak merasa terlalu heran karena orang-orang ini memang merupakan para pejabat yang dia percaya karena mereka adalah orang-orang yang dulu dekat dengan Perdana Menteri Chin Kui.

Setelah meneguk air teh panas dari cawannya, Kaisar Sung Kao Cu baru menegur Pangeran Ciang Lun.

"Pangeran Ciang Lun, sore-sore begini engkau datang menghadap bersama para pejabat int tanpa kami panggil, ada urusan apakah yang akan kalian laporkan?"

Sambil berlutut, Pangeran Ciang Lun lalu maju dan dengan kedua tangannya dia menyodorkan gulungan kain yang biasa dipergunakan untuk membuat surat keputusan dari Kaisar sambil berkata.

"Sribaginda, hamba sekalian mohon maaf telah berani datang menghadap mengganggu waktu istirahat Paduka. Hamba hanya mohon agar Paduka suka mengesahkan dan menandatangani Surat Persetujuan ini."

Mendengar ini, Kaisar Sung Kao Cu menjulurkan tangannya untuk menerima gulungan kain bersurat itu.

Tangannya gemetar karena Kaisar ini biarpun belum tua benar namun sudah loyo dan kedua tangannya selalu gemetar.

Kaisar lalu menoleh ke belakang dan mengguncang sebuah alat pemanggil dari emas yang kecil akan tetapi setelah diguncang kelenengan kecil itu mengeluarkan bunyi nyaring.

Dari sebuah pintu di belakang muncul seorang Kakek berusia sekitar tujuh puluh tahun, berpakaian sebagai seorang sastrawan dan dengan hormat dia menghampiri Kaisar dan membungkuk dengan sikap lembut.

"Baca ini!"

Perintah Kaisar Sung Kao Cu sambil menyerahkan gulungan kain itu tanpa membukanya.

Kakek itu membuka gulungan kain lalu membaca dengan suaranya yang lembut dan jelas.

SURAT KEPUTUSAN Dengan surat keputusan ini, kami Sribaginda Kaisar Sung Kao Cu, pada hari ini memutuskan bahwa kami mengangkat Pangeran Ciang Lun menjadi Pangeran Mahkota yang kelak berhak menggantikan kami sebagai Kaisar.

Kerajaan Sung setelah kami mengundurkan diri atau wafat.

Tertanda dan Cap KeKaisaran, Kaisar SUNG KAO CU Setelah membaca habis, Kakek itu menggulung lagi kain bersurat itu dan menyelipkannya di saku jubahnya yang besar, lalu berdiri di belakang Kaisar, tak bergerak dan tak bicara.

Sementara itu, Kaisar Sung Kao Cu yang mendengar bunyi surat itu, mengerutkan alisnya dan memandang kepada Pangeran Ciang Lun, lalu berkata dengan nada menegur.

"Pangeran Ciang Lun, siapa yang membuat surat keputusan itu dan apa maksudnya?"

"Sribaginda, yang membuat adalah hamba dan para pejabat yang semua setia kepada Paduka. Hamba sekalian merasa iba kepada Paduka yang sering berada dalam keadaan tidak sehat, apa-lagi setelah Paman Perdana Menteri Chin Kui tidak ada, Paduka repot sendiri dan pemerintahan tidak terurus. Oleh karena dahulu Paduka dan mendiang Paman Chin Kui sudah setuju untuk mengangkat hamba menjadi Pangeran Mahkota, maka hamba pikir sekaranglah saatnya untuk mengesahkan keputusan itu agar hamba dapat mulai membantu dan mengatur lancarnya roda pemerintahan Kerajaan Sung."

Kaisar Sung Kao Cu menggelengkan kepalanya berulang-ulang.

"Engkau lancang, Pangeran Ciang Lun! Sungguhpun dulu aku tidak menentang usul Perdana Menteri yang memilihmu, namun aku belum memberikan persetujuanku. Untuk menentukan seorang calon Kaisar aku harus meneliti lebih dulu apakah dia cukup memenuhi syarat dan bijaksana. Sikapmu saat ini yang lancang ini sudah tidak memenuhi syarat dan tidak bijaksana!"

Pangeran Ciang Lun yang sudah menduga akan penolakan ini dan sudah merencanakan tindak lanjutnya kalau tak berhasil membujuk, lalu memberi isarat dengan bertepuk tangan tiga kali.

Segera belasan orang perajurit pengawal yang sudah siap di luar ruangan menyerbu masuk.

"Sri Baginda, apakah hamba terpaksa harus memaksa Paduka dengan kekerasan?"

Kemudian dia menoleh kepada para perajurit pengawal yang dipimpin tiga orang panglima.

"Cepat lari dan ambil cap keKaisaran!"

Dia sendiri bersama tujuh orang pejabat tinggi sudah menghampiri Kaisar Sung Kao Cu.

Akan tetapi pada saat itu Kakek berpakaian seperti sasterawan yang tadi membaca surat keputusan buatan Pangeran Ciang Lun sudah menyambar tubuh Kaisar dan sekali berkelebat dia telah melarikan Kaisar Sung Kao Cu melalui pintu sebelah dalam.

"Kejar! Tangkap!!"

Pangeran Ciang Lun berteriak dengan marah.

Akan tetapi pada saat itu, dua lusin pendekar yang berpakaian perajurit pengawal dengan tanda kain putih diikatkan di kepala sudah menyerbu memasuki ruangan dan menyambut pasukan pengawal anak buah Pangeran Ciang Lun.

Terjadilah pertempuran hebat dalam ruangan itu.

Bukan hanya di dalam ruangan persidangan Kaisar dalam Istana itu terjadi pertempuran hebat.

Bahkan diluar Istana juga terjadi pertempuran lebih besar dan lebih hebat lagi.

Kiranya pasukan pendukung Pangeran Ciang Lun yang memang sudah dipersiapkan mulai menyerbu Istana, akan tetapi pasukan besar yang telah dipersiapkan Pangeran Liang Jin dan para pengawal yang setia kepada Kaisar, menyambut dengan hebat.

Tentu saja Pangeran Ciang Lun terkejut sekali, sama sekali tidak mengira bahwa semua rencananya telah diketahui lawan dan pihak lawan telah merencanakan penyambutan yang demikian hebat.

Dia sendiri mencabut pedang dan melawan mati-matian bersama para panglima sekutunya dan belasan orang pengawal pilihannya.

Pertempuran mati-matian terjadi dalam ruangan Istana itu.

Akan tetapi lawannya adalah dua lusin pendekar-pendekar lihai termasuk Lui Hong yang memiliki ilmu kepandaian tinggi.

Kaisar Sung Kao Cu telah diselamatkan dan kini para pendekar mengamuk.

Belasan orang pengawal pemberontak berikut tujuh orang pejabat tinggi termasuk Pangeran Ciang Lun akhirnya tidak dapat menghindarkan diri dan mereka semua tewas dalam ruangan itu.

Di antara para pendekar hanya ada tiga orang yang tewas dan dua orang yang terluka.

Sementara itu, perang di luar Istana juga terjadi dengan hebatnya.

Akan tetapi, datang bala bantuan dari pasukan yang masih setia kepada Kaisar sehingga setelah bertempur selama setengah hari, pasukan pemberontak dapat dikalahkan.

Sebagian tewas dan banyak yang menyerah, akan tetapi ada pula yang melarikan diri ke Kerajaan Cin dan mengabdi kepada Kerajaan itu.

Pemberontakan Pangeran Ciang Lun itu gagal sama sekali.

Para pengikutnya, yang dulu merupakan pendukung anak buah Perdana Menteri Chin Kui, banyak yang melarikan diri dan selebihnya ditangkap dan dijatuhi hukuman.

Ketenangan Kotaraja mulai pulih, akan tetapi peristiwa itu membuat Kaisar yang sudah tua menjadi semakin sakit-sakitan.

Atas persetujuan Kaisar yang mendengarkan nasihat para pejabat tinggi yang setia, akhirnya Kaisar mengangkat Pangeran Lian Jin menjadi calon Kaisar.

Pangeran ini mulai memegang kemudi pemerintahan dibantu para pejabat tinggi dan pemerintah Kerajaan Sung mulai normal kembali.

Akan tetapi, Pangeran Liang Jin, juga Kaisar Sung Kao Cu, dan para pejabat yang setia, merasa gelisah karena setelah mereka semua mencari, ternyata bahwa cap tanda kekuasaan Kaisar telah lenyap!

Tidak mungkin para pemberontak yang mencurinya karena ketika Pangeran Ciang Lun dan sekutunya menyerbu dan mencari cap itu mereka juga tidak menemukannya dan akhirnya mereka semua terbunuh.

Atas persetujuan Kaisar Sung Kao Cu, Pangeran Liang Jin lalu memberi pengumuman, terutama kepada para pendekar bahwa siapa yang menemukan dan mengembalikan cap tanda kekuasaan Kaisar itu, selain akan menerima hadiah harta benda besar, juga akan menerima kedudukan tinggi di Kerajaan.

Sementara itu, Lui Hong memenuhi janjinya kepada puteranya.

Dia mengajak Lui Tiong Le ke Pegunungan Hong-San.

Mereka mengunjungi Thai Kek Lojin, Kakek sakti bekas panglima yang menjadi Guru Lui Hong itu.

Kepada Gurunya, Lui Hong mohon agar Kakek itu suka menggembleng cucu muridnya, yaitu Lui Tiong Le.

Melihat bahwa pemuda remaja itu memiliki bakat yang baik, juga watak yang bersih, maka Thai Kek Lojin yang usianya sudah hampir sembilan puluh tahun itu menerimanya karena sebelum meninggalkan dunia ini dia ingin meninggalkan semua ilmu yang pernah dia pelajari kepada murid yang baik.

Lui Hong memberi banyak pesan dan nasihat kepada puteranya lalu meninggalkan Lui Tiong Le di Hong-San.

Baduchin yang mengangkat dirinya sendiri menjadi Pangeran kini setelah kembali ke daerah Gurun Gobi, menguasai suku Bangsanya, yaitu suku Taijut, yang sesungguhnya bukan merupakan Bangsa Mongol, bahkan sejak dulu bermusuhan dengan Bangsa Mongol.

Baduchin tadinya menjadi seorang panglima dari suku Mongol bahkan diberi kuasa untuk mengadakan hubungan dengan Kerajaan Sung dan Kerajaan Cin.

Dia tinggal di Hang-Chouw sampai beberapa Iamanya.

Akan tetapi setelah Baduchin bentrok dengan Pangeran Leng Sui dari Kerajaan Cin, dia terpaksa menurut bujukan Siangkoan Ceng untuk meninggalkan Hang-Chouw dan kembali ke Mongol.

Sekembalinya di Mongol, dia mendapat marah Kepala Suku dan Baduchin lalu meninggalkan Mongol dan dia bahkan berhasil menjadi kepala dari suku Taijut, mengangkat diri sendiri menjadi Pangeran atau Raja Kecil.

Pada suatu pagi, Baduchin yang kini berusia hampir lima puluh tahun itu menyambut datangnya seorang sahabat dan pembantunya yang setia, yang telah membantu dia menguasai suku Taijut, yaitu Ulan Bouw.

Baduchin masih tampak gagah, tinggi besar dengan muka persegi empat dan kemerahan.

Adapun Ulan Bouw yang baru datang, berusia sekitar enam puluh tahun, juga tinggi besar berkepala gundul berjubah merah.

Dia berasal dan sebuah suku Bangsa liar di Hu-He-Hot, Mongolia.

Dia baru saja datang dari selatan sebagai orang kepercayaan Baduchin untuk menyelidiki keadaan di daerah Cin dan Sung.

Banyak hal yang amat menarik hati Baduchin dari laporan Ulan Bouw itu.

Terutama sekali gagalnya pemberontakan Pangeran Ciang Lun menyusul mati terbunuhnya Perdana Menteri Chin Kui.

Akan tetapi yang membuat dia terkejut dan marah besar adalah ketika mendengar akan kematian Pek-Bin Giam-Lo, Datuk besar peranakan Turki yang dulu pernah membantu Kerajaan Cin.

Apalagi ketika Ulan Bouw yang berhasil menyelidiki melaporkan bahwa yang membuat Pek-Bin Giam-Lo terbunuh adalah seorang anak perempuan, yaitu puteri dari Pendekar Song Han Bun dan Pendekar Wanita Can Pek Giok.

Dan semakin penasaran rasa hatinya mendengar kini Kerajaan Sung mulai bangkit di bawah pimpinan Pangeran Liang Jin yang didukung para pendekar!

"Hemm, sungguh tidak menyenangkan mendengar Sung menjadi kuat kembali.

Kita harus mengatur siasat agar Sung dan Cin dapat saling bermusuhan kembali agar mereka berdua menjadi lemah sementara kita menyusun kekuatan.

Yang menggemaskan adalah para pendekar yang mendukung Sung dan memusuhi Perdana Menteri Chin Kui sehingga dia tewas.

Terutama sekali suami-isteri Song Han Bun dan isterinya Can Pek Giok.

Aku sungguh benci mereka, apalagi mendengar bahwa anak mereka telah membunuh Pek-Bin Giam-Lo!"

"Akan tetapi bukankah Pek-Bin Giam-Lo itu Guru dan pembantu Leng Sui Pangeran Kerajaan Cin? Apa urusan kita dengan dia?"

Tanya Ulan Bouw.

"Benar, akan tetapi sejak dulu Pek-Bin Giam-Lo adalah sahabatku dan diam-diam dia pun bersikap baik kepada Bangsa kita. Pendeknya, kalau aku belum menumpas suami-isteri itu beserta puteri mereka, hatiku belum puas. Dan kematian mereka berarti juga melemahkan pendukung Kerajaan Sung!"

Kata Baduchin marah.

"Akan tetapi siapa di antara kita mampu menandingi mereka?"

Ulan Bouw membantah, karena dia memang merasa jerih terhadap suami-isteri itu.

"Siapa lagi kalau bukan Gobi Lo-Mo (Setan Tua Gurun Gobi)? Bukankah dia pula yang dengan mudah sudah mendapatkan cap kebesaran Kaisar Sung untukku?"

Kata Baduchin bangga, kemudian dia memerintahkan kepada Ulan Bouw.

"Ulan Bouw, cepat kau kunjungi tempat dia bertapa dan minta dia datang ke sini!"

Akan tetapi sebelum Ulan Bouw bangkit, dari luar tenda besar itu terdengar suara tawa.

"He-he-heh, Pangeran Baduchin sungguh terlampau tinggi jangkauannya! Apalagi yang harus dilakukan seorang tua seperti aku ini?"

Dan tiba-tiba muncul seorang Kakek kurus kering bertubuh tinggi, usianya tentu sudah lebih dari delapan puluh tahun dan dia segera duduk di atas lantai yang beralaskan permadani itu, menghadapi Baduchin dan Ulan Bouw.

Ulan Bouw segera memberi hormat.

"Salam hormat saya kepada Yang Mulia Guru Besar Gobi Lo-Mo!"

Akan tetapi Kakek tua renta tinggi kurus itu hanya mengangguk kepada Ulan Bouw, lalu menghadapi Baduchin.

"Pangeran Baduchin, aku sudah mendengar tadi bahwa engkau ingin minta bantuanku akan sesuatu hal. Katakan, tugas yang bagaimana lagi itu? Bukankah cap tanda kekuasaan Kaisar Sung sudah kuserahkan kepadamu?"

"Paman Gobi Lo-Mo, aku menghadapi penasaran yang menyakitkan hati namun aku tidak berdaya karena musuh itu terlalu kuat bagiku. Satu-satunya harapanku untuk dapat membalas sakit hatiku hanya Paman, karena seperti Paman ketahui, Ayahku sudah meninggal. Siapa lagi yang kumintai bantuan selain Paman Gobi Lo-Mo.?"

Si Kakek tua renta kurus kering itu cemberut.

"Hemm, Pangeran Baduchin, engkau selalu menyebut-nyebut Ayahmu yang telah meninggal. Aku tahu engkau ingin mengingatkan aku bahwa dulu aku pernah berhutang nyawa kepada Ayahmu. Untuk membalas budinya, aku telah mencuri cap kebesaran Kaisar Sung untukmu, sekarang bantuan apalagi yang harus kulakukan?"

Baca Juga: Kisah Sepasang Rajawali 12

Baca Juga: Sepasang Pedang Iblis 15

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger