Ceritasilat Novel Online

Antara Dendam Dan Asmara 10

Eps 10 Antara Dendam Dan Asmara - Kho Ping Hoo

Baca online Antara Dendam Dan Asmara - Kho Ping Hoo

Cersil Antara Dendam Dan Asmara - Kho Ping Hoo.

"Paman, aku hanya ingin engkau menculik anak kecil, puteri Song Han Bun dan Can Pek Giok di kota Sung-Kian. Tugas ini tidak berat bagi Paman, bukan?"

"Heh-heh, kalau engkau dan Ulan Bouw bersama semua pengikutmu tidak mampu melakukannya, hal itu pasti berarti bahwa tugas itu amat berat,"

Kata Kakek itu menyeringai.

"Terus terang saja, Paman. Song Han Bun dan Can Pek Giok memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali. Kuyakin hanya Paman yang akan mampu menculik anak perempuan mereka itu. Ketahuilah, anak perempuan itu telah membunuh Pek-Bin Giam-Lo."

Kini Kakek itu tampak terkejut.

"Apa? Berapa usia anak perempuan itu?"

"Sekitar tiga belas tahun...."

"Tiga belas tahun dan mampu membunuh Pek-Bin Giam-Lo? Tak masuk akal!"

Gobi Lo-Mo berseru heran.

"Paman, Pek-Bin Giam-Lo sudah hampir buta dan menurut para pelayan yang menyaksikannya, anak perempuan itu menjebaknya sehingga Pek-Bin Giam-Lo terjatuh ke dalam tebing yang amat curam."

"Hemm, begitukah?"

Kata Kakek itu.

"Lalu sekarang engkau ingin aku menculik anak perempuan itu dan menyerahkannya kepadamu?"

"Untuk membalaskan dendam, aku ingin membuat suami-isteri itu menderita sengsara kehilangan anak mereka dan aku akan mendidik anak itu agar kelak ia memusuhi orang tuanya sendiri!"

Sampai lama Kakek itu termenung, kemudian dia berkata dengan suara Iantang.

"Pangeran Baduchin, sudah lama aku bersumpah tidak akan melakukan hal-hal yang akan menambah besar dosa-dosaku. Akan tetapi engkau mengingatkan aku akan hutang nyawa dan budiku kepada mendiang Ayahmu, maka aku telah mencurikan cap Kaisar Sung untukmu. Sekarang engkau ingin aku menculik anak itu. Baiklah, akan tetapi dengan syarat, bahwa bantuanku yang terakhir ini ber arti aku telah membayar lunas hutangku kepada mendiang Ayahmu dan kalau lain waktu engkau masih berani mencariku dan membicarakan tentang budi Ayahmu dan memaksa aku melakukan sesuatu untukmu, aku akan menganggap engkau ingkar janji dan aku akan membunuhmu! Bagaimana?"

"Baiklah, Paman. Bantuan menculik anak perempuan itu merupakan pelunasan hutang budi Paman kepada mendiang Ayahku dan selanjutnya aku tidak akan mengganggumu lagi. Aku bersumpah untuk itu!"

"Bagus, sebaiknya kau pegang teguh sumpah itu!"

Setelah berkata demikian, Kakek itu berkelebat dan lenyap dari situ.

"Pangeran Baduchin, kenapa anak itu tidak kau suruh bunuh saja? Untuk apa dibawa ke sini? Bukankah hal ini malah akan membahayakan dan mendatangkan kesulitan saja?"

"Aih, engkau masih bodoh, Ulan Bouw. Aku mendengar bahwa puteri Song Han Bun itu cantik sekali. Tiga empat tahun lagi saja ia akan menjadi seorang gadis cantik. Kalau ia kuambil menjadi isteriku, bukankah ia akan dapat kuarahkan untuk memusuhi orang-tuanya sendiri?"

"Akan tetapi, Pangeran. Bukankah yang Pangeran inginkan sebagai isteri adalah Siangkoan Ceng yang memiliki pedang pusaka Pek-Coa-Kiam dan yang ilmu silatnya amat tinggi itu? Kalau ia menjadi isteri Pangeran, tentu akan sangat membantu."

"Huh, perempuan rendah itu! la melanggar janji dan kini bahkan menjadi isteri Pangeran Leng Sui!"

Sebetulnya Baduchin bercita-cita menjadi Raja dari seluruh suku Bangsa Mongol dan Gurun Gobi, akan tetapi pengaruh dan kekuasaannya tidak begitu besar.

Banyak suku yang tidak suka padanya sehingga kini dia hanya menjadi pemimpin dari suku Taijut yang tidak begitu besar.

Dia mendengar akan niat Pangeran Ciang Lun merebut kekuasaan Kaisar Sung setelah Perdana Menteri Chin Kui mati, maka dia minta bantuan Gobi Lo-Mo untuk mencuri cap kebesaran Kaisar sehingga kalau kelak Pangeran Ciang Lun menjadi Kaisar, dia dapat menekannya dengan adanya cap di tangannya itu.

Akan tetapi ternyata usaha pemberontakan Pangeran Ciang Lun gagal bahkan Pangeran pemberontakan itu tewas.

Kini tidak ada lagi orang yang dapat dijadikan sekutunya di Kerajaan Sung, maka dengan nekat dia ingin menculik puteri Song Han Bun dengan rencana siasat yang lain lagi.

Gobi Lo-Mo adalah seorang Datuk yang sudah puluhan tahun tidak mau muncul di dunia ramai.

Dia dahulu terkenal sebagai seorang tokoh sesat di dunia kang-ouw bagian berat.

Di Gurun Gobi, sampai di Pegunungan Himalaya, bahkan sampai ke Kerajaan Nepal dan Bhutan!

Dia merajalela sebagai Setan berkeliaran di Gurun Gobi sehingga setelah agak tua dia mendapat julukan Gobi Lo-Mo (Setan Tua Gurun Gobi).

Baru setelah para Pendeta Lama dari Tibet beramai-ramai menentangnya, dalam sebuah pertempuran keroyokan Gobi Lo-Mo terdesak, terluka berat dan terpaksa melarikan diri.

Dalam keadaan luka dan menjadi buruan antara para Pendeta Lama di Tibet, para jagoan Kerajaan Bhutan dan Nepal itu, dia ditolong, dirawat dan disembunyikan oleh Ayah Baduchin yang ketika itu menjadi seorang kepada suku yang kecil.

Andaikata tidak ditolong Ayah Baduchin, tentu Gobi Lo-Mo telah tewas.

Karena itulah dia merasa berhutang nyawa dan budi kepada Ayah Baduchin.

Sejak itu, dia menghilang.

Dia tidak mau lagi mencampuri urusan dunia ramai.

Dia bertapa dan memperdalam ilmunya, bukan untuk mencari permusuhan, bahkan dia ingin menebus atau mengurangi dosa-dosanya.

Dia menjadi Iihai bukan main, terutama sekali ilmu kebatinan dan sihir.

Akan tetapi kehendaknya untuk menebus dosa itu agaknya tidak tercapai, TUHAN menghendaki lain.

Dia ditemukan oleh Baduchin yang membutuhkan bantuannya untuk mencuri cap kebesaran Kaisar Sung.

Karena ingin membalas budi kebaikan Ayah Baduchin, Gobi Lo-Mo mau membantunya dan pencurian itu dia lakukan tanpa membunuh siapa pun.

Di luar dugaannya, kini kembali Baduchin minta bantuan yang merupakan bantuan terakhir sebagai pelunasan hutang budinya kepada Ayah Baduchin, yaitu menculik seorang anak perempuan!

Biarpun dengan perasaan tidak enak dan tidak senang, namun terpaksa Gobi Lo-Mo meninggalkan tempat pertapaannya dan pergi ke kota Sung-Kian untuk melaksanakan tugasnya.

Semenjak pulang dari Yen-Cing mengunjungi keluarga Nyonya Can, pulang dengan terburu-buru karena Song Bwee Cin telah menyebabkan tewasnya Pek-Bin Giam-Lo, perasaan hati Song Han Bun dan isterinya Can Pek Giok, merasa tidak tenang.

Mereka berdua maklum bahwa tewasnya Pek-Bin Giam-Lo karena ulah puteri mereka, sudah pasti akan berekor panjang.

Selain Pek-Bin Giam-Lo merupakan seorang Datuk sesat yang cukup berpengaruh dan banyak sahabatnya di dunia sesat, juga dia merupakan orang kepercayaan bahkan Guru dari Pangeran Leng Sui.

Pangeran Kerajaan Cin itu pasti tidak mau menerimanya begitu saja dan akan berusaha keras untuk membalas dendam atas kematian Pek-Bin Giam-Lo.

Karena itu, semenjak mereka kembali dari Yen-Cing, suami-isteri pendekar ini selalu waspada menjaga puteri mereka dan bahkan memesan kepada Song Bwee Cin agar jangan meninggalkan rumah kalau tidak bersama Ayah atau Ibunya.

Akan tetapi dasar Cin Cin seorang gadis remaja yang bandel dan pemberani, ia membantah.

"Ayah dan Ibu, mengapa aku harus selalu bersembunyi seperti orang ketakutan. Aku tidak suka menjadi pengecut, dan kalau ada ancaman, aku Iebih suka menghadapinya dengan mata terbuka, bukan harus bersembunyi sambil memejamkan mata karena ketakutan! Bukankah Ayah dan Ibu selalu mengatakan bahwa seorang manusia lebih baik mati seperti seekor naga daripada hidup seperti seekor cacing? Lebih terhormat mati melawan seperti seekor harimau daripada mati tanpa melawan berkuik-kuik menjerit ketakutan seperti seekor babi?"

"Cin Cin!"

Kata Ayahnya dengan suara tegas.

"Memang benar ucapanmu tadi dan nasihat itu sampai sekarang dan selamanya masih berlaku. Akan tetapi kita ini manusia, bukan binatang yang tidak memiliki kecerdasan. Kalau kita menghadapi marabahaya yang lebih kuat daripada kita dan kita mampu menghindarkan diri, kita harus menghindar karena nekat melawan sampai mati tanpa usaha menghindar itu hal yang bodoh dan sama dengan bunuh diri. Kalau memang tidak ada jalan lain untuk menghindar, nah, kita harus mengambil sikap seperti harimau yang tersudut dan tidak ada jalan menyelamatkan diri kecuali dengan melawan mati-matian. Bela diri berarti cara menyelamatkan diri dari ancaman maut dan lari menghindar kalau tidak kuat melawan berarti juga bela diri atau usaha menyelamatkan diri, sama sekali bukan pengecut. Jangan kau membanggakan keberanianmu yang berlebihan karena hal itu dapat mendatangkan kenekatan yang bodoh dan membuat orang dapat mati konyol atau mati sia-sia."

"Ayahmu benar, Cin Cin, kegagahan bukan berarti berani mati secara nekat. Kalau kita tidak kuat melawan seekor harimau dan nekat melawan sampai kita mati, padahal di situ terdapat sebatang pohon di mana kita dapat memanjat dan menyelamatkan diri, kita tidak akan disebut orang gagah melainkan orang bodoh! Kalau di musim hujan kilat menyambar-nyambar dan kita tidak lari berlindung melainkan berdiri tegak di tempat terbuka lalu kita disambar petir sampai mati, kita tidak akan disebut pemberani melainkan bodoh dan konyol. Yang disebut gagah berani itu ada ukuran dan sifatnya juga,"

Kata Can Pek Giok.

"Ibumu benar, Cin Cin. Kami minta agar engkau lebih banyak tinggal di rumah clan kita semua bersikap waspada dan hati-hati adalah karena kami mengkhawatirkan keselamatanmu yang pasti terancam sebagai akibat dari kematian Pek-Bin Giam-Lo. Dia adalah seorang penting di Kerajaan Cin, maka kematiannya tentu akan membuat para pemhesar di sana, terutama Pangeran Leng Sui yang menjadi muridnya, akan mengerahkan orang-orangnya untuk mencarimu dan membalas kematian Pek-Bin Giam-Lo. Maka, engkau harus selalu dekat kami agar kalau ada bahaya mengancammu, kami dapat melindungimu."

Akan tetapi dasar Cin Cin memiliki watak yang bandel dan memang keberaniannya luar biasa, bukan karena merasa dirinya kuat dan menjadi sombong, hanya ia tidak begitu khawatir akan apa yang belum terjadi dan merasa yakin akan dirinya sendiri, maka setiap kali ia melihat Ayah-Ibunya agak lengah dan tidak memperhatikan dirinya, ia pun lolos keluar rumah dan bermain dengan anak-anak lain yang menjadi tetangganya.

Karena dalam beberapa hari tidak terjadi sesuatu, maka Song Han Bun dan Can Pek Giok juga menjadi lengah dan mereka mengira bahwa Pangeran Leng Sui tidak akan berani datang ke Sung-Kian untuk mencari dan membunuh puteri mereka.

Beberapa hari kemudian, pada suatu siang, Cin Cin kembali berada dengan beberapa orang teman perempuannya, bermain di halaman rumah orang-tuanya.

Teman-teman Cin Cin berpamit kepada Cin Cin karena waktu makan siang telah tiba.

Mereka meninggalkan Cin Cin seorang diri di halaman itu.

Cin Cin yang berada seorang diri di halaman itu mulai merasa bosan dan perutnya juga mulai lapar.

Akan tetapi ketika ia hendak kembali ke dalam rumah, tiba-tiba muncul seorang Kakek tinggi kurus yang tahu-tahu telah berada di depannya.

"He, Kakek tinggi kurus! Engkau siapakah dan apa keperluanmu memasuki halaman rumah kami?"

Kakek itu bukan lain adalah Gobi Lo-Mo dan dia memandang Cin Cin penuh perhatian dari kepala sampai ke kaki.

Sebagai seorang yang berilmu tinggi, dia dapat melihat betapa anak perempuan ini memiliki bakat yang luar biasa dan akan dapat menjadi seorang murid yang sulit dicari keduanya.

"Anak kecil, menurut tata-susila sepatutnya engkau yang masih kecil memperkenalkan namamu lebih dulu kepadaku."

"Mana ada aturan begitu?"

Cin Cin membantah.

"Kalau kita bertemu di jalan dan saling berkenalan, memang seharusnya aku yang lebih dulu memperkenalkan namaku. Akan tetapi aku berada di halaman rumahku dan engkau adalah seorang pendatang, berarti aku nona rumahnya dan engkau tamunya. Bukankah seorang tamu harus memperkenalkan dirinya lebih dulu?" (Lanjut ke

Jilid 27) Antara Dendam & Asmara (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 27 Gobi Lo-Mo membelalakkan matanya dengan heran dan kagum.

"Orang menyebut aku Gobi Lo-Mo, dan siapa namamu, anak baik?"

"Namaku Song Bwee Cin. Mendengar namamu Setan Tua Gobi, engkau tentu seorang tokoh kang-ouw, dan engkau tentu mengenal nama Ayahku Song Han Bun."

Girang sekali hati Kakek itu.

Ternyata inilah bocah yang harus diculiknya dan dia merasa senang sekali kalau dapat memiliki anak perempuan luar biasa ini sebagai muridnya.

kebetulan sekali, Song Bwee Cin.

Memang aku datang untuk mengambil engkau sebagai muridku!"

"Aku tidak mau! Ayah-Ibuku sudah mengajarku, aku tidak sudi menjadi muridmu!"

"Mau atau tidak mau, engkau harus menjadi muridku dan ikut bersamaku!"

Kata Kakek itu sambil melangkah maju menghampiri Cin Cin.

Anak ini sama sekali tidak merasa takut, bahkan ia lalu menerjang maju dan menyerang ke arah perut dan dada Kakek itu dengan gerakan yang cepat dan cukup kuat.

"Plak-plak!!"

Dua tangan anak itu tepat mengenai sasaran, akan tetapi Cin Cin terkejut bukan main karena selain Kakek itu seolah tidak merasakan apa-apa, bahkan kedua tangannya kini melekat pada perut dan dada Kakek itu, tidak dapat ia tarik kembali!

"Ha-ha, engkau harus ikut denganku, anak baik!"

Kata Gobi Lo-Mo dan sambil memanggul tubuh Cin Cin, dia melangkah pergi.

"Ayah! Ibu...!"

Cin Cin menjerit.

Dua bayangan berkelebat dari dalam gedung.

Mereka adalah Song Han Bun dan Can Pek Giok.

Mereka berdua tadi mendengar seruan Cin Cin dan cepat memburu keluar.

Akan tetapi setetah tiba di luar, yang mereka lihat hanya angin puting beliung atau angin lesus, yaitu angin yang berpusing cepat sehingga daun-daun kering dan debu ikut terbawa angin yang berpusing itu.

Dan dari dalam pusingan angin itu terdengar seruan Cin Cin.

"Lepaskan aku...!!"

Mengertilah suami isteri lihai ini bahwa yang berpusing itu bukanlah angin puting beliung biasa, melainkan seorang manusia yang berilmu tinggi yang mungkin menggunakan ilmu hitam atau ilmu setan.

Mereka berdua cepat meloncat dan menyerang angin berpusing itu dengan cengkeraman tangan mereka yang dipenuhi tenaga sakti.

Mereka tidak berani memukul karena khawatir kalau mengenai diri Cin Cin.

"Wuuut... wuuuttt... Desss...!!"

Suami-isteri itu terpental ke belakang, akan tetapi "angin puting beliung"

Itupun terpental, dan secara luar biasa berpusing semakin kencang lalu melayang ke atas dan lenyap!

Akan tetapi suami isteri pendekar yang terpental ke belakang itu =========================================== masih mendengar suara puteri mereka.

"Gobi Lo-Mo...!"

Mereka melakukan pengejaran, akan tetapi angin berpusing yang melarikan puteri mereka itu tidak tampak lagi dan tidak meninggalkan jejak.

Mereka tidak tahu ke mana puteri mereka dibawa pergi dan tidak tahu pula siapa yang membawanya.

"Cin Cin...!!"

Song Han Bun mengerahkan tenaga dari pusar dan memanggil puterinya dengan suara yang melengking tinggi dan terdengar dari jauh.

Akan tetapi tidak ada jawaban dan tiba-tiba terasa oleh mereka ada angin bertiup dan di depan mereka telah berdiri seorang Kakek tua renta yang bukan lain adalah Khong-Sim Sin-Kai!

Han Bun dan Pek Giok segera menjatuhkan diri berlutut dan Han Bun ber-kata.

"Suhu, mohon pertolongan Suhu agar anak Teecu (mur id) yang terculik dapat kembali kepada Teecu."

"Hemm, aku datang karena ada perasaan tidak enak yang mendorongku datang berkunjung dan kebetulan aku berada tak jauh dari sini. Apakah yang terjadi dengan anakmu?"

"Suhu, baru saja anak Teecu Song Bwee Cin diculik orang... atau setan..."

Kata Han Bun.

"Yang menculiknya berupa angin puting beliung yang berpusing dan ketika kami menyerangnya, kami berdua terpental. Akan tetapi kami mendengar suara anak kami menyebut nama Gobi Lo-Mo,"

Kata Pek Giok.

"Hemm, Gobi Lo-Mo? Jangan kalian khawatir, aku akan mengejarnya!"

Kata Kakek itu dan sekali berkelebat Khong-Sim Sin-Kai sudah lenyap dari situ.

Song Han Bun dan Can Pek Giok tak dapat berbuat lain kecuali menunggu.

Mereka percaya bahwa Kakek sakti Guru Han Bun itu pasti akan dapat menolong Cin Cin.

Setelah merasa sudah jauh meninggalkan Sung-Kian, Gobi Lo-Mo memperlihatkan dirinya lagi dan dia membawa pergi Cin Cin dengan memanggulnya dan menotok punggung anak itu sehingga tak mampu bergerak maupun berteriak, seperti tertidur saja.

Akan tetapi menjelang sore, ketika Gobi Lo-Mo tiba di sebuah lapangan rumput, baru saja keluar dari sebuah hutan, ada bayangan berkelebat dan tahu-tahu di depannya sudah berdiri Khong-Sim Sin-Kai.

Melihat Kakek yang sudah amat tua ini, bahkan jauh lebih tua daripada dia sendiri yang sudah delapan puluh lima tahun usianya, Gobi Lo-Mo mengamatinya dengan penuh perhatian.

Khong-Sim Sin-Kai memandang ke arah Cin Cin yang dipanggul Gobi Lo-Mo.

Hatinya lega karena anak itu dalam keadaan selamat clan tidak terluka, hanya tertotok pingsan.

"Gobi Lo-Mo, setelah puluhan tahun engkau mengasingkan diri dan tidak pernah muncul di dunia ramai, semua orang, termasuk aku, mengira bahwa engkau tentu bertapa untuk menebus semua perbuatanmu di masa lalu yang penuh penyelewengan. Akan tetapi, hari ini engkau kembali muncul di dunia ramai dan begitu muncul, engkau telah melakukan kejahatan lagi. Bagaimana aku orang tua dapat membiarkan saja terjadi kesesatan di depan mataku yang tua ini?"

Gobi Lo-Mo mengerutkan alisnya.

Dahulu dia memang terkenal di dunia kang-ouw, akan tetapi lebih dikenal di bagian barat dan dia kurang mengenal tokoh-tokoh kang-ouw dari timur, walaupun nama mereka banyak yang sudah didengarnya.

"Saudara tua, aku merasa belum pernah mengenalmu, apalagi bermusuhan denganmu. Mengapa sekarang begitu bertemu engkau sudah menuduhku yang bukan-bukan? Siapakah engkau dan katakan dengan jelas, kejahatan apa yang kulakukan hari ini?"

"Aku hanya seorang pengemis tua yang berhati kosong..."

"Hemm, engkau Khong-Sim Sin-Kai? Bukan main! Dahulu aku pernah mendengar bahwa usiamu sedikitnya empat puluh tahun lebih tua dariku dan sekarang engkau masih hidup! Sin-Kai, sekarang katakan mengapa engkau begitu tega menjatuhkan fitnah dan mengatakan bahwa aku melakukan kejahatan?"

Khong-Sim Sin-Kai menudingkan telunjuk kirinya ke arah Cin Cin dan dia berkata.

"Engkau menculik seorang anak perempuan, bukankah itu merupakan perbuatan keji, sesat, dan jahat?"

"Ah, maksudmu anak ini, Sin-Kai? Ketahuilah, setiap perbuatan merupakan akibat dari sebab-sebab tertentu. Dan aku membawa anak ini sama sekali bukan karena niat jahat, melainkan berkaitan dengan dua sebab yang memaksa aku melarikannya."

"Hemm, kasihan anak itu tertotok dan kau panggul seperti itu. Turunkanlah dulu, biarkan dia beristirahat dan kita bicara. Ingin sekali aku mendengar sebab-sebab engkau membawa anak itu. Kalau memang engkau tidak bersalah, aku orang tua juga tidak akan mencampuri urusanmu."

Gobi Lo-Mo lalu menurunkan tubuh Cin Cin, direbahkan dengan hati-hati di atas rumput.

Kemudian dia berdiri meng-hadapi Khong-Sim Sin-Kai dan berkata dengan suara tegas karena dia memang tidak merasa bersalah.

"Khong-Sim Sin-Kai, pertama aku mengambil anak perempuan ini untuk membalas budi kepada seseorang. Puluhan tahun yang lalu, ketika aku menjadi buruan para Pendeta Lama dan terancam bahaya maut, juga luka-luka, aku ditolong dan diselamatkan seseorang. Aku berhutang nyawa dan budi kepada orang itu. Kennudian, pada suatu hari puteranya minta kepadaku agar aku mengambil anak ini karena anak ini adalah anak dari musuh besarnya. Nah, alasan pertama aku mengambil anak perempuan ini adalah untuk membalas budi mendiang Ayahnya kepadaku. Bukankah sudah sepatutnya orang membalas budi orang lain yang telah menolongnya?"

Dia berhenti dan memandang penuh selidik kepada Khong-Sim Sin-Kai. Kakek itu tersenyum.

"Lanjutkan ceritamu, apa alasanmu yang ke dua?"

"Alasanku yang ke dua, ketika aku melihat anak itu, aku suka sekali padanya dan aku ingin mengambilnya sebagai murid aku ingin mewariskan semua ilmuku kepadanya sebelum aku mati."

Setelah berhenti sebentar dia lalu bertanya menantang.

"Nah, katakan, apakah aku melakukan suatu kejahatan?"

"Gobi Lo-Mo, alasanmu ada dua dan andaikata engkau tidak menganggap dua alasan itu sebagai kejahatan, namun setidaknya kedua alasan itu adalah keliru dan salah!"

"Hemm, Khong-Sim Sin-Kai. Coba jelaskan di mana letak kesalahannya?"

"Yang pertama, engkau hendak membalas budi. Itu baik saja akan tetapi harus diteliti dulu budi yang bagaimana itu? Penolongmu menyelamatkan engkau dan itu memang dapat dikatakan budi pertolongan yang besar. Akan tetapi, kalau engkau membalas dengan pertolongan yang sama, membebaskan dia atau puteranya dari ancaman bahaya maut, itu baru benar namanya. Akan tetapi engkau membalas budi dengan cara menculik puteri musuh besarnya! Perbuatan menculik itu jelas tidak benar dan keliru, termasuk perbuatan jahat. Jadi alasanmu yang pertama untuk membalas budi orang dengan jalan melaksanakan permintaannya menculik anak orang adalah keliru! Dan alasan ke dua, engkau suka kepada anak yang kau culik itu dan ingin mengambilnya sebagai murid. Benarkah itu? Apakah benar kalau seseorang mengambil murid secara paksa? Coba, aku bertanya apakah anak itu memang suka menjadi muridmu!"

Setelah berkata demikian, Khong-Sim Sin-Kai menggerakkan tangannya ke arah tubuh Cin Cin yang rebah pingsan di atas tanah.

Ada angin menyambar dari tangannya dan seketika Cin Cin tersadar dan ia segera bangkit duduk.

"Eh, anak perempuan, jawablah dengan jujur. Apakah engkau mau diambil murid Kakek yang menculikmu ini?"

Sejenak Cin Cin memandang kepada Khong-Sim Sin-Kai, lalu ia menoleh dan memandang kepada Gobi Lo-Mo dan dengan mata melotot ia menjawab.

"Tidak! Aku tidak sudi menjadi murid Gobi Lo-Mo!"

Khong-Sim Sin-Kai tersenyum.

"Nah, Gobi Lo-Mo. Mengertikah engkau sekarang? Dua alasanmu menculik anak ini semua salah belaka sehingga perbuatanmu ini termasuk kejahatan."

"Tidak, coba aku yang bertanya padanya."

Gobi Lo-Mo menghadapi Cin Cin lalu bertanya.

"Anak baik, engkau mau bukan menjadi muridku?"

Cin Cin tentu saja ingin mengatakan tidak mau dan tidak sudi, akan tetapi entah bagaimana, pikirannya berubah dan ia menjawab tegas.

"Tentu saja aku mau menjadi muridmu!"

"Heh-heh-heh, Gobi Lo-Mo. Ini merupakan kejahatanmu yang ke tiga. Aku tidak mengatakan bahwa ilmu I-Hun To-Hoat (sejenis Hypnotism) itu jahat, akan tetapi seperti juga ilmu apa pun, kalau dipergunakan untuk tujuan yang jahat, ilmu menjadi jahat. Engkau menggunakan I-Hun To-Hoat untuk memaksa anak itu mengakui hal yang berlawanan dengan kehendaknya, demi keuntunganmu sendiri. Engkau ternyata membuang waktu puluhan tahun bukan untuk membersihkan diri melainkan untuk memperkuat nafsu-nafsumu sendiri."

Marahlah Gobi Lo-Mo mendengar ucapan Kakek itu.

Sepasang matanya seperti mengeluarkan sinar berapi ketika dia memandang kepada Khong-Sim Sin-Kai.

Melihat sinar berapi dari sepasang mata Kakek Gobi itu, Khong-Sim Sin-Kai berkata lembut.

"Gobi Lo-Mo, jangan biarkan nafsu amarahmu meracuni hati akal pikiranmu!"

"Khong-Sim Sin-Kai! Apa pedulimu dengan urusan pribadiku? Mengapa engkau mencampuri urusanku? Sekarang, apa yang hendak kau lakukan terhadap aku dan anak itu?"

Tanya Gobi Lo-Mo.

"Gobi Lo-Mo, andaikata yang kau culik itu anak lain, terpaksa aku pun tentu akan mengingatkanmu dan menyadarkan kesalahanmu. Apalagi anak perempuan ini adalah puteri dari muridku yang minta agar aku membawanya pulang ke rumah muridku. Maka, sudahilah niatmu yang keliru itu, pergilah dan biarkan aku membawa cucu muridku ini pulang ke rumahnya."

"Khong-Sim Sin-Kai, puluhan tahun aku tidak pernah bermusuhan, sekarang pun aku tidak pernah membunuh orang. Akan tetapi kalau niat terakhirku ini ada yang menghalangi, biar orang setua engkau pun akan kulawan!"

"Aku pun tidak mencari permusuhan, Gobi Lo-Mo. Akan tetapi kalau engkau hendak memaksa cucu muridku dan membawanya pergi, tentu saja akan kucegah."

"Bagus! Marilah kita main-main sebentar. Sudah lama mendengar akan kehebatan Khong-Sim Sin-Kai, kebetulan sekarang ada alasan dan kesempatan untuk menguji siapa di antara kita yang lebih kuat!"

Kata Gobi Lo-Mo.

"Heh-heh, kau seperti anak kecil saja. Akan tetapi kalau engkau ingin bertanding, tentu saja aku tidak dapat menolak,"

Kata Kakek tua yang dianggap sebagai Raja oleh semua Kaipang (perkumpulan pengemis) di seluruh negeri.

"Sambutlah ini!"

Gobi Lo-Mo mendorongkan dua tangannya ke arah Khong-Sim Sin-Kai yang berdiri di depannya dalam jarak sekitar tiga tombak.

Suara angin dahsyat menyambar dan Khong-Sim Sin-Kai yang sejak tadi sudah siap, juga segera mendorongkan kedua tangannya ke depan untuk menyambut serangan pukulan jarak jauh yang amat hebat itu.

"Wuuuttt... plakk!!"

Seolah ada dua angin dari dua jurusan bertemu, menggetarkan sehingga rumput-rumput di sekitarnya ikut bergoyang-goyang ke kanan kiri.

Kedua orang Kakek itu masih berdiri dengan kedua tangan didorongkan.

Sampai lama mereka mengadu tenaga sakti yang meluncur keluar dari kedua telapak tangan mereka, akan tetapi keduanya mendapat kenyataan betapa tenaga mereka seimbang, tidak mendorong lawan mundur, juga tidak terdorong mundur.

Karena merasa percuma, akhirnya keduanya menarik kembali kedua tangan mereka dan berdiri saling pandang.

"Gobi Lo-Mo, tidak ada gunanya kita bertanding ilmu. Kuharap engkau mengalah dan biarkan aku membawa cucu muridku itu pulang."

"Aku baru akan menyerahkannya kepadamu kalau aku kalah olehmu dan aku belum kalah, Khong-Sim Sin-Kai!"

Khong-Sim Sin-Kai menggerakkan tongkat putihnya.

"Kalau begitu, keluarkan tongkatmu dan mari kita mengadu kemampuan kita melalui tongkat, Gobi Lo-Mo!"

"Hemm, Khong-Sim Sin-Kai. Kita bukan orang-orang muda yang suka berkelahi menggunakan kekerasan. Tubuh kita sudah terlalu tua untuk itu. Mari kita buktikan, semangat siapa yang lebih kuat!"

Setelah berkata demikian, Gobi Lo-Mo duduk bersila dan meletakkan tongkat hitamnya di atas tanah lalu dia bersedakap, melipat kedua lengan bersilang depan dadanya dan memejamkan matanya.

Melihat ini, Khong-sim Sin-kai mengerutkan alisnya dan berseru, suaranya sungguh-sungguh.

"Gobi Lo-Mo, jangan lakukan itu!"

Akan tetapi, Cin Cin yang kini sudah duduk menonton pertandingan aneh kedua orang Kakek itu, melihat betapa dari tubuh Gobi Lo-Mo yang diam tak bergerak itu muncul uap putih yang semakin tebal membubung dari ubun-ubun kepalanya ke atas dan uap itu membentuk sesosok manusia kecil yang bukan lain adalah Gobi Lo-Mo sendiri dalam bentuk seperti seorang anak yang berusia sekitar sepuluh tahun, memegang sebatang tongkat hitam!

Khong-Sim Sin-Kai menghela napas panjang tiga kali, lalu dia pun duduk bersila dan bersedakap.

Dari ubun-ubun kepalanya membubung pula uap dan terbentuklah seorang Khong-Sim Sin-Kai kecil yang besarnya sama dengan Gobi Lo-Mo kecil!

Dua bayangan uap yang membentuk manusia itu kini tanpa suara melayang ke depan lalu bertanding menggunakan tongkat mereka!

Bukan main serunya pertandingan di udara, di tengah-tengah antara kedua orang Kakek itu duduk bersila.

Anehnya, betapapun serunya mereka bertanding, betapa sering pun tongkat mereka saling bertemu, namun tidak terdengar suara sedikit pun.

Cin Cin terbelalak heran, seolah mimpi melihat dua bayangan bertempur!

Akan tetapi Cin Cin bukanlah anak biasa.

la segera dapat menghentikan rasa kaget dan ngerinya, lalu ia teringat akan cerita Ayahnya bahwa di dunia kang-ouw terdapat orang yang memiliki kesaktian sehingga dapat memisahkan sukma dengan raganya.

Agaknya dua orang Kakek itu kini menggunakan ilmu aneh seperti itu dan yang bertanding itu adalah sukma mereka, meninggalkan raga mereka yang duduk bersila, tak bergerak seperti arca!

la mengikuti perkelahian aneh antara dua bayangan anak atau dua orang Kakek dalam bentuk kecil itu penuh perhatian.

Setelah pertandingan itu berlangsung cukup lama, Cin Cin melihat betapa bayangan Khong-Sim Sin-Kai mulai terdesak dan lebih banyak mengelak atau menangkis daripada menyerang dengan tongkat putihnya.

Adapun tongkat hitam Gobi Lo-Mo mengamuk bagaikan seekor naga hitam.

Bahkan Cin Cin melihat sudah dua kali tubuh bayangan Khong-Sim Sin-Kai terkena pukulan tongkat lawan.

Kenyataan ini membuat Cin Cin menjadi marah.

Kalau Kakek penolongnya itu, yang kini ia ketahui adalah Guru Ayahnya setelah tadi mendengar pengakuan Khong-Sim Sin-Kai, sampai kalah, ia tentu akan dibawa pergi Gobi Lo-Mo.

Maka, cepat ia bangkit menghampiri tubuh Gobi Lo-Mo yang masih duduk bersila, menyambar tongkat hitam yang terletak di dekatnya, lalu dengan pengerahan sekuat tenaganya ia menghantamkan tongkat hitam ke arah kepala Gobi Lo-Mo dari belakang.

"Wuutt... prakkk...!!"

Tubuh Gobi Lo-Mo yang tadinya bersila itu roboh terpelanting dengan kepala retak dan dari luka di kepala itu mengalir darah dan otak!

Semangat Gobi Lo-Mo yang sedang mendesak Khong-Sim Sin-Kai terkejut dan cepat melayang ke arah raganya, akan tetapi melihat raga itu telah rusak bagian kepalanya dan sudah tidak mungkin hidup lagi, sukmanya itu melayang berputaran kemudian lenyap!

Semangat Khong-Sim Sin-Kai kembali ke badannya dan dia segera bangkit dan menghampiri Cin Cin yang sudah melepaskan tongkat hitam dan kini memandang ke arah mayat Gobi Lo-Mo dengan mata terbelalak.

"Hemm, anak perempuan, engkau membunuh Gobi Lo-Mo,"

Kata Khong-Sim Sin-Kai, suaranya agak mengandung teguran halus.

"Aku tidak bermaksud membunuhnya, hanya tadi melihat engkau terdesak, aku hanya ingin membantumu karena dia jahat,"

Jawab Cin Cin.

"Engkau puteri Song Han Bun, siapa namamu?"

Tiba-tiba Cin Cin menjatuhkan dirinya berlutut di depan kaki Khong-Sim Sin-Kai dan berkata.

"Harap Su-Kong (Kakek Guru) maafkan perbuatan saya. Nama saya adalah Song Bwee Cin."

Kakek itu tersenyum.

"Hemm, aku masih ingat akan watak Ibumu Can Pek Giok di waktu ia masih muda. Agaknya engkau mewarisi wataknya. Sekarang ceritakan bagaimana engkau sampai terculik Gobi Lo-Mo."

Cin Cin lalu menceritakan betapa Kakek itu datang dan membawanya pergi, tidak dapat dicegah atau disusul Ayah-Ibunya sampai tiba di tempat itu dan muncul Kakek Gurunya yang menolongnya.

Setelah dengan sejujurnya Cin Cin menceritakan betapa ia telah membuat Pek-Bin Giam-Lo tewas terjerumus ke dalam tebing, barulah Khong-Sim Sin-Kai mengangguk-angguk mengerti.

"Ah, kalau begitu tidak salah lagi. Kematian Pek-Bin Giam-Lo itu tentu ada hubungannya dengan perbuatan Gobi Lo-Mo tadi. Seingatku, seorang kepala suku di Gobi, Ayah dari Baduchin yang dulu menyelamatkannya. Kuyakin sekarang bahwa tentu dia diminta oleh Baduchin untuk menculikmu karena Baduchin tentu pernah bermusuhan dengan Ayah-Ibumu. Sekarang, karena engkau yang menyebabkan kematiannya, engkau pula yang harus menguburkan jenazahnya, Bwee Cin. Buatkan lubang kuburan yang cukup besar baginya!"

Cin Cin tidak membantah.

Akan tetapi karena di situ tidak terdapat senjata atau alat untuk menggali lubang, sedapat mungkin ia menggunakan tongkat hitam milik Gobi Lo-Mo tadi untuk menggali lubang.

Melihat ini, Khong-Sim Sin-Kai mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu dia pun turun tangan membantu, menggunakan tongkat putihnya.

Dan sungguh luar biasa, sebentar saja sebuah lubang kuburan telah dapat tergali.

Jenazah Gobi Lo-Mo itu oleh Khong-Sim Sin-Kai lalu dikubur dengan baik-baik.

"Bwee Cin, agaknya engkau memang perlu mendapat gemblengan sendiri dariku agar kelak engkau mampu menguasai gejolak liarnya nafsumu sendiri. Biarlah engkau belajar beberapa tahun baru kembali ke Sung-Kian. Bagaimana, maukah engkau ikut dan memperdalam ilmu?"

Cin Cin berpikir sejenak. Kalau ia pulang dan Ayahnya mendengar ia membunuh Gobi Lo-Mo, pasti Ayahnya akan marah sekali. Lebih baik memperdalam ilmunya dari Kakek Gurunya.

"Akan tetapi, Su-Kong, apakah Ayah dan Ibu tidak akan gelisah kalau saya tidak lekas pulang?"

"Itu mudah saja. Aku akan menyuruh seorang penduduk dusun untuk mengantarkan suratku kepada Ayah-Ibumu."

Demikianlah, mulai hari itu Cin Cin ikut Kakek Gurunya merantau dan setiap hari menerima petunjuk Kakek Gurunya tentang ilmu silat dan terutama sekali mendorong anak itu mendekati TUHAN dengan penyerahan diri sehingga Kekuasaan TUHAN mulai membimbingnya, mengendalikan nafsu-nafsunya sendiri yang mendorong manusia menyeleweng dari jalan kehidupan yang baik dan benar seperti yang dikehendaki TUHAN Sang Maha Pencipta.

Sang Waktu meluncur dengan amat cepatnya.

Setelah keadaan kesehatan tubuhnya amat memburuk, Sung Kao Cu (1127-1162) meninggal dunia dalam tahun 1162 dan tentu saja yang diangkat menjadi Kaisar menggantikannya adalah Pangeran Liang Jin yang menjadi Pangeran Mahkota.

Di bawah pemerintahan Kaisar Liang Jin, keamanan dalam negeri menjadi lebih balk.

Para pengikut mendiang Perdana Menteri Chin Kui telah dihentikan, bahkan banyak yang dihukum karena korupsi, mencuri uang negara dan mengeluarkan peraturan-peraturan sendiri untuk menindas rakyat jelata.

Kehidupan rakyat mulai teratur walaupun belum sembuh benar dari keadaan yang kacau-balau selama puluhan tahun yang lalu.

Agaknya Kerajaan Cin juga menjaga diri, menghimpun kekuatan dan tidak pernah mengadakan gangguan ke selatan karena mereka kini merasa menghadapi ancaman dari utara, yaitu Bangsa Mongol dan banyak suku Bangsa daerah Gurun Gobi yang agaknya kini mengincar daerah selatan Tembok Besar yang tanahnya subur untuk ditumbuhi makanan ternak mereka!

Daerah Gurun Gobi, terutama di bagian utara, merupakan daerah yang paling sulit bagi kehidupan manusia di dunia.

Daerah Gobi penuh dengan dataran-dataran yang menjulang tinggi sekali.

Banyak pula danau-danau, akan tetapi yang terkenal adalah Danau Hulun di timur dan terutama sekali Danau Baikal di utara.

Danau ini besar dan luas sekali, dianggap danau keramat yang menjadi tempat tinggal para siluman dan iblis.

Pada malam hari di musim dingin tampaklah cahaya aneh dari Kutub Utara naik turun seolah para malaikat atau siluman sedang bermain-main naik turun dari langit!

Pada waktu itu, tahun 1167 telah tiba dan daerah di sekitar Gurun Gobi telah mengalami perubahan besar.

Hal ini terjadi karena banyaknya orang daerah Gurun Gobi yang melakukan perjalanan ke selatan, melalui Tembok Besar untuk berdagang.

Mereka sering membawa kulit biruang, terutama biruang es dalam jumlah banyak.

Para pedagang inilah yang membeli barang-barang dari Kerajaan Cin, bahkan lebih ke selatan lagi dari Kerajaan Sung.

Mereka juga membawa banyak ilmu yang bagi Bangsa Nomad (Pengembara) di daerah Gurun Gobi sebagai ilmu yang aneh dan langka.

Juga para pedagang membeli permadani, sutera dan lain-lain, bukan hanya dari Cina.

Para pedagang itu bahkan ada yang sampai ke Bokkhara atau Kabul.

Akan tetapi kehidupan mereka tetap sederhana.

Hal ini adalah karena keadaan iklimnya yang amat dingin.

Karena hidup mereka tergantung dari hasil memburu binatang dan memelihara ternak, maka mereka selalu berpindah-pindah, selain untuk mencari daerah yang masih banyak binatang buruannya, juga daerah yang tanahnya subur dan menumbuhkan banyak tanaman untuk makan ternak mereka.

Di antara banyak suku di Gurun Gobi, terdapat sebuah suku yang disebut suku Yakka.

Suku Yakka termasuk kuat karena memiliki lebih dari empat puluh ribu kemah atau keluarga sehingga jumlah mereka sekitar seratus ribu orang.

Yang menjadi Kepala Suku atau dalam bahasa mereka disebut Khan (semacam Raja) bernama Yesukai, seorang laki-laki yang tinggi besar dan gagah perkasa.

Dia ahli menunggang kuda, ahli memanah, dan ahli berkelahi dengan ilmu gulat, juga bersemangat tinggi tahan derita dan sikapnya berwibawa, pandai memimpin sukunya dan selalu bertindak adil.

Sekitar dua belas tahun yang lalu, dalam sebuah perang antar suku melawan suku Thalun yang dipimpin oleh kepala sukunya bernama Temuchin, Yesukai yang bertanding melawan Temuchin mendapatkan perlawanan yang amat gagah.

Kepala suku musuh itu tidak mau takluk dan melawan sampai titik darah terakhir bersama seluruh keluarganya.

Yesukai berhasil membunuhnya dan dia merasa kagum bukan main terhadap kepala suku itu.

Setelah dia membawa pasukannya pulang, tentu saja sambil merampas semua milik barang berharga, juga wanita-wanitanya yang muda, dia mendapatkan bahwa isterinya baru saja melahirkan seorang anak laki-laki.

Saking kagumnya kepada kepala suku Bangsa Thalun, maka Yesukai lalu memberi nama anaknya yang baru lahir itu, Temuchin!

Sebagai seorang kepala suku, Yesukai mempunyai beberapa orang isteri.

Mereka tinggal dalam sebuah kemah terbuat dari kempa (bulu domba), ditangkupkan pada rangka dari kayu.

Di bagian atasnya terdapat lubang agar asap dari dalam kemah dapat keluar.

Dinding kemah itu dikapur dan dihiasi dengan lukisan-lukisan.

Kemah ini didirikan di atas sebuah kereta besar yang kalau berpindah ditarik oleh belasan ekor sapi.

Dalam bahasa mereka kemah yang dapat berjalan dan berpindah-pindah ini disebut Yurt.

Para isteri Yesukai tinggal bersama anak-anaknya di sebuah Yurt.

Beberapa orang isteri itu biasanya hidup rukun karena mereka semua patuh kepada suami mereka.

Perkemahan mereka mudah diubah atau dibongkar-pindahkan, dan bentuk kemah yang bundar itu tidak dapat diterbangkan angin.

Mereka yang biasa berdagang, pergi berdagang dan menukar barang dagangan mereka sampai ke Negara Turki.

Mereka menukar bulu-bulu binatang yang amat berharga itu dengan berbagai macam senjata seperti pedang Turki, lembing, perisai, busur gading dan anak panah.

Sejak kecil Temuchin dikenal sebagai anak yang pandai, cekatan dan pemberani.

Juga tubuhnya kuat sekali menerima gemblengan alam yang keras seperti anak-anak lain.

Temuchin pandai mencari ikan, pandai berburu dan dia ahli menunggang kuda.

Seringkali dia berlumba naik kuda bersama teman-temannya sejauh tiga puluh kilometer.

Atau mereka mempraktekkan latihan bergumul (bergulat).

Biarpun Temuchin termasuk ahli memanah, namun dia tidak dapat mengalahkan saudaranya yang bernama Kassar, yang sejak muda disebut Raja Panah oleh semua orang.

Namun, Kassar amat sayang, bahkan takut dan patuh kepada Temuchin karena dalam hal lain, dia kalah jauh.

Akhirnya kelak mereka berdua menjadi sepasang saudara yang setia dan saling bantu.

Kehidupan suku Bangsa Mongol memang keras.

Membunuh seorang yang bersalah merupakan hal biasa.

Temuchin dan Kassar bersatu untuk menghadapi dan menentang saudara-saudara tirinya yang banyak dan lebih besar.

Bahkan dalam usianya yang baru dua belas tahun, Temuchin sudah melakukan pembunuhan terhadap seorang saudara tirinya!

Hal itu terjadi ketika Temuchin sedang mencari ikan.

Hari itu sulit mendapatkan ikan dan setelah bekerja sehari penuh, dia baru memperoleh lima ekor ikan yang cukup besar.

Dia merasa lelah, kedua tangannya kotor dan sebelum pulang membawa lima ekor ikan, dia turun ke air untuk membersihkan kaki tangannya.

Akan tetapi dia mendengar sesuatu dan ketika dia menengok, dia melihat seorang telah melarikan diri membawa lima ekor ikan yang didapatkannya selama sehari itu.

Temuchin menjadi marah.

Dia mengenal pencuri itu sebagai Albagu, seorang saudara tirinya yang memang nakal dan suka mencuri.

Biarpun Albagu lebih tua dua tahun daripada dia, Temuchin tidak takut dan cepat dia melakukan pengejaran.

Agaknya Albagu mengetahui bahwa dirmya dikejar.

Ketika dia menoleh dan melihat siapa yang mengejarnya, dia berhenti.

Daripada ribut-ribut terdengar banyak orang bahwa dia telah mencuri ikan milik Temuchin, lebih baik menyelesaikan urusan itu di sini saja, di tempat sunyi tanpa ada yang melihat mereka.

Melihat Albagu berdiri di atas gundukan pasir yang seperti bukit, bertolak pinggang dan jelas bersikap menantang, Temuchin segera mempercepat larinya mendaki bukit kecil itu.

Setelah mereka saling berhadapan, dengan lagak angkuh Albagu menegur.

"Temuchin, mau apa kau mengejarku?"

Sepasang mata Temuchin memandang marah. Biarpun dia kalah tua dengan selisih dua tahun, namun tubuhnya tegap dan kokoh.

"Albagu, engkau harus malu! Apakah engkau ingin menjadi pencuri? Engkau telah mencuri ikan hasil tangkapanku. Kembalikan ikan-ikan itu!"

Albagu melepaskan lima ekor ikan yang terikat di pinggangnya, meletakkan di atas pasir lalu berkata dengan suara menantang.

"Ambillah kalau engkau bisa!"

Karena lima ekor ikan itu memang miliknya, Temuchin lalu hendak mengambilnya dari atas pasir. Akan tetapi Albagu menggerakkan kakinya menendang.

"Bukk!"

Perut Temuchin tertendang dan tubuhnya terjengkang.

"Pencuri busuk!"

Temuchin memaki dan dia segera bangkit berdiri lalu me-nubruk Albagu.

Mereka lalu berkelahi, bergulat dan seperti anak-anak Mongol pada umumnya, mereka mempelajari ilmu bergumul.

Mereka dorong mendorong, saling tangkap dan banting membanting.

Temuchin lebih cekatan dan ketika dia dapat menangkap dan memuntir lengan lawan, dia membanting Albagu melalui atas pundaknya.

Tubuh Albagu terlempar dan terbanting di tepi gundukan pasir.

Tanpa dapat dicegahnya, tubuhnya terguling-guling ke bawah bukit kecil itu!

Temuchin cepat mengambil ikannya lalu menuruni bukit.

Akan tetapi ketika melihat tubuh Albagu menelungkup di bawah bukit, tidak bergerak, dia merasa heran dan khawatir.

Cepat dia menuruni bukit dan setelah berada di dekat Albagu, dia berjongkok dan membalikkan tubuh saudaranya itu.

Alangkah kagetnya melihat betapa dahi anak itu berdarah.

Kiranya ketika dia terguling-guiing jatuh tadi, dahinya terbentur sebuah batu sehingga luka cukup parah.

Temuchin melupakan kemarahannya.

Bangsanya memang sudah terbiasa dengan hidup keras dan tidak mudah memaafkan kesalahan orang, apalagi kalau orang itu mencuri, kejahatan yang paling mereka benci.

Akan tetapi, mereka terkenal pula memiliki kesetiaan terhadap saudara atau sukunya.

Dengan ikan-ikan tergantung di pinggangnya, Temuchin lalu memanggul tubuh Albagu dan membawanya pulang.

Tak jauh dari situ, sekitar tiga atau empat kilometer, tampak seorang laki-laki berusia sekitar enam puluh tahun berjalan di atas Gurun pasir bersama seorang pemuda berusia sekitar dua puluh satu tahun.

Kakek itu bertubuh sedang, wajahnya cukup tampan dan tampak lebih muda daripada usianya, akan tetapi penampilannya dan sikapnya tampak aneh.

Rambutnya dibiarkan terurai sampai ke bahu dan tidak terpelihara rapi sehingga walaupun pakaiannya cukup bersih, dia tampak seperti seorang jembel atau pengemis.

Namun wajahnya riang dan mulutnya selalu terbuka seperti orang tersenyum-senyum geli dan terkadang dia bahkan tertawa-tawa!

Tingkahnya seperti seorang yang tidak normal.

Biarpun dia kelihatan seperti seorang Kakek gila, namun kalau ada tokoh dunia persilatan melihatnya, tokoh itu tentu terkejut dan mengenalnya sebagai seorang datuk yang dijuluki Koai-Tong Mo-Kai (Pengemis Setan Anak Aneh), julukan ini mungkin karena penampilannya seperti pengemis namun wataknya seperti seorang anak-anak yang aneh.

Adapun pemuda yang berjalan di sampingnya itu bukan lain adalah Leng Bu San!

Seperti kita ketahui, sekitar sepuluh tahun yang lalu, Dalam keadaan bingung dan kacau pikirannya karena pengaruh sihir yang dilakukan Ibu tirinya, Ang-Hwa Niocu alias Siangkoan Ceng, Leng Bu San bertemu dengan Koai-Tong Mo-Kai dan dibawa pergi, lalu dijadikan muridnya dan dibawa merantau jauh ke utara.

Selama sepuluh tahun, Bu San dilatih ilmu silat dan ilmu sihir oleh Koai-Tong Mo-Kai sehingga kini dia menjadi seorang pemuda berusia dua puluh satu tahun yang amat tinggi ilmu kepandaiannya.

Tubuh Bu San tinggi besar, wajahnya tampan gagah, wataknya agak pendiam seperti angkuh.

Namun dia kini telah mendengar dari Koai-Tong Mo-Kai akan riwayat Ibu kandungnya.

Dia mengerti bahwa Ayahnya yang menyia-nyiakan Ibu kandungnya dan Ibu tirinya, Siangkoan Ceng adalah seorang wanita jahat yang berhasil memikat Ayahnya, Pangeran Leng Sui dan menjadi isteri Ayahnya.

Dia mendengar pula bahwa Ibu kandungnya kini telah menjadi isteri seorang pendekar bernama Lui Hong dan tinggal di Hang-Chouw, Kotaraja Kerajaan Sung.

Bagaimanapun juga, ada perasaan tidak senang dalam hatinya kalau mengingat bahwa Ibu kandungnya kini menikah dengan laki-laki yang kini menjadi Ayah tirinya.

Kalau Ibu tirinya demikian jahat, tentu Ayah tirinya juga bukan orang baik-baik, demikian pikirnya sehingga diam-diam Bu San merasa tidak senang, bahkan membenci dua orang, yaitu Siangkoan Ceng Ibu tirinya dan Lui Hong yang menjadi Ayah tirinya!

Sudah beberapa kali Bu San minta ijin kepada Gurunya untuk kembali ke selatan, mencari Ibunya.

Akan tetapi Koai-Tong Mo-Kai selalu mencegahnya dan berkata dengan suara sungguh-sungguh.

"Muridku yang baik, belum waktunya engkau kembali ke selatan. Seperti yang kuceritakan kepadamu dahulu, dengan jelas aku melihat bintang kekuasaan jatuh di utara sini. Hal ini berarti bahwa ada lahir seseorang yang kelak akan menjadi Raja besar. Aku harus menemukan dia dan aku ingin agar engkau membantu dia, karena dialah yang akan dapat memberi kedudukan mulia kepadamu."

Demikianlah, dengan sabar Bu San mengikuti Gurunya menjelajahi Gurun Gobi sampai ke daerah utara dan pada slang hari itu mereka tiba di daerah Gurun di mana seringkali terjadi badai yang amat hebat.

Ketika dua orang itu berjalan sampai di bagian di mana terdapat beberapa buah bukit kecil, tiba-tiba Koai-Tong Mo-Kai berhenti melangkah.

Ketika Bu San menoleh, dia melihat Gurunya memandang ke atas dengan alis berkerut.

"Aha, agaknya kita akan disambut badai pertama yang hebat,"

Katanya sambil menuding ke arah utara.

Bu San melihat bahwa di atas tampak gumpalan-gumpalan awan hitam melayang menuju ke selatan.

Dia tidak tahu apa maksud Gurunya karena selama ini mereka lebih banyak berada di daerah selatan di mana jarang sekali terjadi serangan badai yang hebat.

Biarpun tampak agak khawatir, namun wajah Kakek itu masih seperti orang tertawa gembira ketika dia berkata kepada muridnya.

"Bu San, cepat, kita harus dapat tiba di bukit depan itu, sebelum badai menyerang kita!"

Setelah berkata demikian, Kakek itu lalu menggunakan ilmunya berlari secepat terbang ke arah bukit yang tampak agak jauh di depan.

Tiba-tiba Bu San terkejut sekali k-rena ada halilintar menyambar-nyambar dari atas, di bagian utara di mana awan hitam itu berarak.

Dia maklum bahwa itu adalah halilintar alami yang amat berbahaya.

"Cepat, kita harus dapat tiba di bukit itu yang menjadi pelindung satu-satunya bagi kita!"

Kata Koai-Tong Mo-Kai sambil mempercepat larinya.

Bu San merasa heran karena baru sekali ini dia melihat Gurunya seperti orang ketakutan walaupun wajahnya masih berseri!

Akan tetapi baru saja mereka tiba di kaki bukit, badai itu telah datang menyerang.

Ada tiupan angin yang luar biasa kuatnya datang dari depan, disertai debu dan pasir.

"Tiarap, cepat!"

Teriak Koai-Tong Mo-Kai dan otomatis Bu San meniru perbuatan Gurunya, bertiarap dan menelungkup di atas pasir.

Mereka menyembunyikan muka mereka dengan menelungkup dan merasa betapa debu dan pasir yang mengenai kepala, leher dan lengan mereka seperti jarum-jarum yang menusuk-nusuk.

Untung bahwa mereka berdua memiliki tenaga dalam yang kuat sehingga pasir-pasir itu tidak sampai melukai atau menembus kulit mereka!

Ketika kekuatan badai agak berkurang, Koai-Tong Mo-Kai berkata.

"Mari merangkak maju, cari tempat berlindung pada bukit itu!"

Mereka mencoba untuk merangkak maju, akan tetapi kembali ada geloambang angin membawa pasir dan debu mendorong mereka sedemikian kuatnya sehingga biarpun mereka mengerahkan tenaga, mereka terbawa dan terguling-guling.

Baru setelah mereka bertiarap lagi dan menyembunyikan muka dengan menelungkup, mereka dapat bertahan.

Daerah Gurun Gobi di utara ini memang merupakan daerah yang amat sulit bagi manusia, terutama manusia dari lain daerah untuk bertahan hidup.

Mereka, orang-orang dari Bangsa Mongol ini dapat dibilang setiap hari menghadapi keadaan yang amat sulit.

Mereka adalah Bangsa kelana yang menunggang kuda sambil menggembalakan ternak, di antaranya ternak rusa kutub, kuda dan sebagainya.

Mereka mengenakan pakaian dari kulit binatang dan makanan mereka yang lajim setiap harinya adalah daging dan susu binatang.

Mereka menggosok tubuh mereka dengan gemuk atau gajih agar dapat menahan hawa di musim dingin dan dari kelembaban.

Kematian bagi Bangsa ini bukan hal aneh, karena seringkali orang mati kelaparan, kedinginan, atau dibunuh orang lain.

Tidak tampak adanya kota atau dusun.

Yang ada hanyalah perkemahan apabila serombongan suku Bangsa Mongol menemukan tempat di mana mereka bisa mendapatkan makanan dan air bagi mereka dan ternak mereka, untuk kemudian setelah hasil makanan berkurang, mereka pindah lagi mencari tempat yang lebih enak.

Hampir seluruh bagian tandus.

Bagian yang tanahnya subur, yaitu yang dialiri sungai, sedikit sekali.

Dalam perkemahan mereka selalu ada api yang bernyala dari bahan bakar kotoran sapi atau kuda.

Iklimnya tidak menentu.

Di tengah musim panas datang badai mengamuk disertai petir.

Terkadang datang badai salju yang amat kuat sehingga orang tidak akan dapat menahan hujan salju disertai angin itu apabila dia sedang berkuda.

Hawa panas sekali dan hawa dingin yang amat hebat terjadi di situ, seling menyeling.

Gurun Gobi merupakan neraka bagi orang-orang yang datang dari luar daerah itu.

Setelah kekuatan badai berkurang, kembali mereka merangkak ke arah bukit kecil di depan dan akhirnya mereka dapat berlindung di balik sebuah batu besar di dekat bukit.

Badai mengamuk sampai sore baru berhenti.

Dengan rambut dan pakaian penuh pasir dan debu, Koai-Tong Mo-Kai dan Leng Bu San keluar dari balik batu besar.

Tiba-tiba mereka berdua melihat seorang pemuda remaja memanggul tubuh seorang pemuda lain berlari keluar dari sebuah guha.

Anak itu adalah Temuchin yang biarpun usianya baru dua belas tahun namun tubuhnya sudah tampak kokoh dan kini dia lari sambil memanggul tubuh Albagu yang sudah siuman dari pingsannya namun masih terlalu lemah untuk berjalan sendiri.

Ketika ada badai mengamuk tadi, Temuchin membawa Albagu berlindung dalam sebuah guha di bukit itu.

Dia tidak melihat adanya Koai-Tong Mo-Kai dan Leng Bu San dan berlari terus untuk membawa pulang Albagu ke perkemahan mereka.

"Agaknya mereka memerlukan pertolongan, Suhu,"

Kata Bu San kepada Gurunya.

"Mari kita kejar dan kita lihat apa yang terjadi dengan orang yang dipanggul itu. Agaknya dia terluka berat dan membutuhkan pertolongan kita."

Sampai agak lama Koai-Tong Mo-Kai tidak menjawab, bahkan dia berhenti melangkah dan menengadah ke langit yang kini jernih, seperti termenung. Akhirnya dia menghela napas panjang dan berkata.

"Tidak, Bu San. Perasaanku mengatakan lain. Mari kita bayangi saja remaja itu. Lihat, betapa kuatnya anak itu memanggul pemuda yang lebih besar sambil berlari."

Bagi Bu San, memanggul tubuh seseorang sambil berlari tentu saja bukan hal aneh atau sukar, akan tetapi dia menyadari bahwa anak yang berpakaian kulit binatang itu tentu tidak pernah belajar silat dan tidak memiliki tenaga dalam, maka memang cukup mengherankan.

Mereka berdua lalu membayangi dari jarak agak jauh.

Temuchin dapat berlari cepat walaupun dia memanggul tubuh Albagu.

Dia harus menolong dan menyelamatkan Kakaknya itu.

Kalau dia tidak terlambat, Dukun atau Tabib kelompok suku mereka pasti akan dapat mengobati Albagu.

Sayang tadi terjadi badai besar sehingga tidak mungkin baginya untuk melanjutkan perjalanan, terpaksa nnembawa Albagu berlindung di sebuah guha.

Dia tahu bahwa pada waktu itu, walaupun mataharinya tidak tampak, namun sinarnya akan bertahan cukup lama sehingga dia akan tiba di perkemahan sebelum gelap.

Tiba-tiba dia mendengar gerengan dari arah kiri dan dia terkejut sekali karena mengenal gerengan itu sebagai suara seekor biruang putih.

Dia berhenti dan ketika menoleh ke kiri benar saja perkiraannya karena seekor biruang es besar keluar dari balik batu besar.

Temuchin cepat menurunkan tubuh Albagu ke atas pasir.

Dia tahu benar bahwa agaknya tidak mungkin dia dapat mengalahkan biruang yang begitu besar dan kuat.

Akan tetapi dia pun maklum bahwa melarikan diri tidak ada gunanya.

Biruang itu akan mengejarnya dan pasti dapat menyusulnya.

Maka dia lalu men-cabut sebatang golok.

Ayahnya menyita banyak senjata para suku yang telah dikalahkan dan takluk.

Dia menyukai golok bengkok itu dan Ayahnya memberikannya kepadanya.

Lalu dia melangkah mundur perlahan-lahan, ingin tahu apakah biruang itu akan mengejarnya.

Dari tempat persembunyian mereka, Leng Bu San melihat kejadian itu.

"Suhu, anak itu terancam bahaya besar. Apakah kita tidak perlu keluar dan menolongnya?"

Koai-Tong Mo-Kai menggelengkan kepalanya dan tersenyum.

"Kita lihat saja dulu, kalau dia itu benar orang yang kumaksudkan dan selama ini kucari, pasti dia tidak akan mati oleh binatang itu. Para Dewa pasti akan melindunginya."

"Suhu maksudkan, calon Raja yang besar kekuasaannya itu?"

Kakek itu mengangguk.

"Mari kita lihat saja, kalau memang perlu baru kita akan bantu dia."

Keduanya menonton dengan hati tegang karena mana mungkin seorang Pemuda remaja, bahkan masih dapat disebut kanak-kanak, mampu melawan seekor biruang putih yang besar dan amat kuat itu?

Empat orang laki-laki dewasa pun belum tentu akan mampu mengalahkan binatang itu!

Agaknya setelah beradu pandang dengan Temuchin, biruang itu mengalihkan perhatiannya kepada tubuh Albagu yang rebah telentang di atas pasir.

Dan tiba-tiba dia pun tidak mempedulikan Temuchin lagi, melainkan kini menghampiri Albagu.

Anak muda remaja ini sudah sadar.

Walaupun tubuhnya lemah, namun melihat biruang itu menghampirinya, dia berteriak ketakutan.

"Tolong...! Jauhkan dia dariku...!"

Melihat biruang itu agaknya mengancam Albagu, tiba-tiba Temuchin lari menghampiri dan pada saat biruang siap menerjang tubuh Albagu,Temuchin melompat dan hinggap di punggung biruang itu, lengan kirinya melingkari dan menjepit leher binatang yang tebal itu dan tangan kanannya sudah menghunjamkan goloknya berulang-ulang ke arah kepala biruang itu.

Terjadilah perkelahian yang hebat.

Biruang itu memekik-mekik dan menggereng dengan suara yang dahsyat, berusaha untuk melemparkan tubuh Temuchin yang menempel di punggungnya, merasakan kesakitan hebat ketika golok itu menembus tengkoraknya dan dari luka-luka di kepalanya mengucur darah yang banyak dan membuat bulunya yang putih menjadi merah.

Akan tetapi Temuchin tetap menempel di punggungnya seperti seekor lintah.

Biruang itu tiba-tiba menjatuhkan diri ke belakang.

Ini amat berbahaya bagi Temuchin karena sekali saja tubuhnya tertindih tubuh biruang yang beratnya tentu lebih dari setengah ton itu, pasti tubuhnya akan remuk dan dia akan tewas seketika.

Akan tetapi Temuchin adalah anak yang amat cerdik.

Biruang itu terjengkang jatuh karena lukanya atau disengaja, dia harus menghindarkan himpitan badan yang besar itu.

Cepat dia menekan pundak biruang itu dan tubuhnya melompat ke belakang pada saat tubuh biruang itu roboh telentang.

Akan tetapi agaknya tubuh binatang yang amat kuat itu masih belum kehilangan tenaga karena luka-luka di kepalanya.

Dia cepat bangkit berdiri dan tampak mengerikan ketika dia berdiri di atas kedua kaki belakangnya.

Mukanya yang berbulu putih itu dinodai banyak darah.

Matanya yang kemerahan seperti mencorong dan moncongnya yang panjang ke depan itu terbuka, memperlihatkan gigi bertaring runcing.

Biruang itu menerjang ke depan, tangan kiri atau lebih tepat kaki depan kirinya yang berkuku runcing itu menyambar ke arah kepala Temuchin.

Masih cepat dan kuat sekali gerakan itu.

Temuchin maklum bahwa menghindarkan diri dengan mengelak amat berbahaya karena binatang itu dapat melanjutkan serangan dengan menerkam atau menubruknya.

Maka dia menggerakkan goloknya, disabetkan dengan pengerahan tenaga sekuatnya untuk menangkis atau membacok lengan atau kaki depan kiri yang menyambar itu.

"Crakk!!"

Cakar kaki depan kiri biruang itu terbacok putus setengahnya, akan tetapi saking kuatnya pertemuan golok dengan kaki itu, golok di tangan Temuchin terlepas dan terlempar jauh sekali.

Biruang yang kesakitan itu kini menampar dengan kaki depan kanan.

Temuchin mengangkat kedua lengannya melindungi kepala dan menangkis.

"Breesss...!!"

Tubuh Temuchin terpental sampai empat meter, terbanting jatuh dan terguling-guling!

Biruang itu sambil menggereng lalu mengejarnya.

Temuchin yang merasa tubuhnya sakit-sakit dan kepalanya pening cepat bangkit duduk dan dia memandang ke arah biruang yang menghampirinya dengan cepat.

Dia tahu bahwa tidak ada harapan lagi baginya untuk melawan, akan tetapi dia sama sekali tidak merasa ngeri atau takut, melainkan menatap muka biruang itu dengan sepasang matanya yang seperti mata burung elang.

Biruang terluka yang marah itu agaknya seperti terpesona ketika bertemu pandang dengan sepasang mata Temuchin, dan sejenak dia menahan gerakannya.

Akan tetapi agaknya rasa nyeri dan kemarahannya membuat dia nekat dan dia menerkam ke arah Temuchin!

"Syuuuttt...!!"

Tiba-tiba berkelebat dua bayangan.

Bayangan pertama menyambar tubuh Temuchin dan membawanya pergi sebelum tersentuh kaki dan cakar biruang, dan bayangan ke dua menghantam ke arah dada biruang itu dengan tangan kanan yang terbuka.

"Bukkk...!!"

Tubuh biruang yang besar dan berat itu terjengkang dan berkelojotan sejenak lalu tak bergerak lagi.

Dia mati karena luka-luka di kepalanya yang mengeluarkan banyak darah ditambah lagi pukulan yang mengandung tenaga sakti dari Leng Bu San!

Temuchin sudah diturunkan di atas pasir.

Dia melihat semua yang terjadi itu.

Dia melihat bayangan pertama yang membawa dia melayang dan terhindar dari terkaman biruang adalah seorang Kakek aneh yang tersenyum-senyum.

Sedangkan bayangan ke dua yang memukul roboh biruang itu adalah seorang pemuda gagah perkasa dan tampan.

Dia merasa heran dan juga kagum.

Dia tahu bahwa mereka bukanlah tergolong suku Bangsa Mongol dan melihat kulit mereka yang kekuningan, mata mereka yang sipit dan pakaian mereka, dia menduga bahwa dua orang itu tentulah dua orang pandai yang datang dari Kerajaan Cin di sebelah selatan Tembok Besar atau dari Kerajaan Sung yang berada di jauh sebelah selatan lagi menurut dongeng orang-orang tua.

Setelah merobohkan biruang, Leng Bu San kini berdiri di samping Gurunya dan memandang kepada pemuda remaja Mongol itu dengan perasaan penuh heran dan kagum.

Dia hampir tak dapat percaya melihat anak tadi demikian gagah berani melawan seekor biruang yang demikian besar dan kuatnya.

Sedikit pun anak itu tidak tampak gentar, bahkan pada saat terakhir ketika nyawanya terancam.

Jelas bukan anak sembarangan!

Melihat betapa dua orang asing itu tadi telah menolongnya clan menyelamatkannya, Temuchin tidak mengucapkan terima kasih karena sudah menjadi kebiasaan sukunya, yaitu suku Yakka bahwa membantu atau menolong merupakan suatu kewajiban bagi setiap orang.

Maka kalau dia ditolong, hal itu merupakan sesuatu yang wajar.

Rasa sukurnya hanya diperlihatkan dari sikapnya yang bersahabat karena seorang penolong adalah seorang saudara atau sahabat baik.

"Paman dan Saudara Tua yang gagah perkasa. Siapakah kalian berdua dan apa pula sebabnya kalian yang jelas merupakan orang asing di daerah ini bersusah payah menolongku?"

Ucapan Temuchin ini Raja membuat kedua orang itu menjadi semakin kagum.

Agaknya ucapan itu lebih pantas keluar dari mulut seorang dewasa yang memiliki harga diri dan mengandung kewibawaan.

Leng Bu San tidak tahu artinya karena dia tidak mengerti bahasa Mongol, akan tetapi dia dapat merasakan keagungan sikap anak itu.

Akan tetapi Koai-Tong Mo-Kai yang sudah banyak merantau ke utara dapat bicara bahasa itu dengan baik.

Dialah yang menjawab pertanyaan Temuchin itu.

"Anak yang baik, orang menyebut aku Koai-Tong Mo-Kai (Pengemis Iblis Anak Aneh). Dan ini adalah muridku bernama Leng Bu San. Aku sendiri seorang perantau, entah berasal dari mana dan Bangsa apa, pendeknya aku sebangsa manusia, ha-ha-ha! Dan muridku ini adalah seorang dari Kerajaan Cin. Nah, kami telah memperkenalkan diri dan mengapa kami tadi menolongmu? Karena melihat engkau demikian gagah melindungi orang terluka yang kau panggul itu, dan melihat engkau terancam bahaya maut kami tertarik dan kagum, lalu membantumu. Sekarang giliranmu untuk memperkenalkan diri. Engkau siapakah dan apa yang terjadi sehingga orang itu terluka?"

Koai-Tong Mo-Kai menudingkan telunjuknya ke arah Albagu yang masih menggeletak di atas pasir. Temuchin memperkenalkan diri.

"Aku bernama Temuchin..."

"Aihhh...!"

Temuchin terpaksa berhenti karena Kakek aneh itu berseru girang dan wajahnya berseri, mulutnya tersenyum lebar.

"Namamu Thie-Mou-Jin?"

Dalam bahasa Cina di selatan, nama itu berarti "Manusia Berkekuasaan Besar".

"Ah, kiranya engkaulah orang yang selama ini kucari-cari!"

"Hemm, apa maksudmu, Koai-Tong Mo-Kai?"

Tanya Temuchin heran.

"Sudah lama aku mencari orang yang kelak akan menjadi penguasa yang amat besar di dunia. Kiranya engkau orangnya! Ah, hatiku girang sekali dan terimalah hormatku, Temuchin!"

Dan Kakek itu benar-benar menjura dengan hormat kepada anak itu! "Suhu, apa artinya semua ini?"

Tanya Bu San yang tidak mengerti percakapan mereka kepada gurunya.

"Bu San, inilah orangnya yang kelak akan menjadi Raja Besar dengan kekuasaan yang hebat di dunia seperti yang pernah kuceritakan padamu! Anak inilah yang patut kau bela dan kau bantu agar kelak engkau juga memperoleh kedudukan mulia!"

Kata Kakek itu lalu dia kembali menghadapi Temuchin yang masih berdiri memandangnya dengan heran.

"Temuchin, harap engkau lanjutkan keteranganmu. Siapakah orang yang kau panggul itu dan mengapa dia terluka?"

"Mo-Kai,"

Kata Temuchin tanpa ragu.

"dia adalah Kakak tiriku, se Ayah berlainan Ibu. Namanya Albagu. Ketika tadi aku mencari ikan, dia mencuri ikan yang kudapatkan. Kami berkelahi dan dia terjatuh ke bawah bukit, kepalanya terbentur batu sehingga terluka. Aku memanggulnya untuk membawa pulang agar dia diobati Tabib suku kami. Akan tetapi kami terhalang badai besar dan Berlindung dalam guha. Selepas badai, aku melanjutkan perjalanan dan memanggul tubuh Albagu, akan tetapi dihadang biruang itu!"

Dia menunjuk ke arah biruang yang telah mati dan menggeletak telentang di atas pasir.

"Aku juga mengerti akan pengobatan, biar kuperiksa saudaramu,"

Kata Koai-Tong Mo-Kai yang lalu berjongkok memeriksa keadaan Albagu.

Dia melihat betapa pemuda remaja itu telah kehabisan banyak darah.

Cepat ditotoknya beberapa jalan darah dan dia membubuhi obat bubuk putih pada luka di kepala.

"Bagaimana keadaannya, Mo-Kai?"

Tanya Temuchin. Kakek itu menghela napas panjang.

"Lukanya cukup berat dan dia kehilangan banyak darah. Sebaiknya kita cepat bawa dia kepada keluargamu. Masih jauhkah tempat tinggalmu, Temuchin?"

"Perkemahan kami berada di balik bukit kecil di sana itu. Ayah kami adalah Kepala Suku Yakka, bernama Yesukai yang memimpin atas penghuni dari empat puluh ribu kemah!"

"Kalau begitu, sungguh tepat dan bagus sekali!"

Kaoi-Tong Mo-Kai berkata sambil tertawa senang karena sungguh cocok sekali kalau Temuchin adalah putera seorang kepala suku!

Pantas kalau dia kelak menjadi Raja besar yang berkuasa!

"Mari kita cepat bawa saudaramu pulang!"

Temuchin mengangguk dan menghampiri Albagu, akan tetapi Kakek itu cepat berkata.

"Temuchin, engkau baru saja mengeluarkan banyak tenaga ketika melawan biruang. Biar muridku yang akan memanggul saudaramu."

Mo-Kai lalu berkata kepada Bu San.

"Bu San, kita bantu dia. Kau panggullah pemuda remaja yang terluka itu karena Temuchin ini sudah mengeluarkan banyak tenaga ketika melawan biruang."

Bu San mengangguk dan dia lalu memanggul tubuh Albagu yang lemas. Temuchin tampak termangu sambil menoleh ke arah biruang.

"Sayang sekali kalau biruang itu ditinggalkan. Semua orang di perkemahan tentu akan menyambutnya dengan gembira kalau aku dapat membawanya pulang. Akan tetapi... ah, dia berat sekali, tidak mungkin membawanya..."

Kata Temuchin.

"Mengapa tidak mungkin? Aku dapat membawakannya untukmu, Temuchin. Mulai sekarang, aku akan membantumu, juga muridku Leng Bu San akan membantumu kalau engkau suka menjadi muridku dan menerima pelajaran kesaktian."

Wajah Temuchin berseri, matanya bersinar.

"Tentu saja aku suka menjadi muridmu untuk mempelajari ilmu yang dapat membuat aku sekuat dirimu, Mo-Kai!"

"Kalau begitu, mari kita berangkat!"

Kata Kakek itu dan dia lalu memegang kaki belakang kanan dari biruang itu lalu menyeretnya, dan tampaknya ringan sekali.

Temuchin terbelalak keheranan, juga kegirangan karena ternyata Kakek itu memang sakti seperti yang telah dia duga tadi.

Mereka bertiga tiba di perkemahan suku Yakka sebelum gelap dan Yesukai sendiri dan para isterinya menyambut kedatangan Temuchin dengan heran melihat ada dua orang asing datang bersama Temuchin dan mereka berdua memanggul tubuh Albagu dan terutama yang tua menyeret bangkai biruang putih yang besar dan amat berat itu!

Padahal mereka tahu bahwa enam orang dewasa belum tentu akan kuat menyeret bangkai binatang itu.

Temuchin sibuk bercerita, menceritakan perbuatan Albagu mencuri ikannya sehingga mereka berkelahi dan Albagu terguling ke bawah bukit dan kepalanya membentur batu sehingga terluka.

Juga dia menceritakan tentang badai dan biruang putih yang menyerangnya sehingga dia terancam bahaya lalu ditolong oleh Pengemis Iblis dan muridnya yang bernama Leng Bu San.

Tentu saja hanya Koai-Tong Mo-Kai yang dapat mengerti percakapan itu dan dia berbisik menterjemahkannya kepada muridnya sehingga Bu San juga mengerti.

Dalam perjalanan tadi Mo-Kai sudah menceritakan kepada Bu San tentang diri Temuchin dan pemuda itu merasa kagum sekali.

Mendengar cerita Temuchin, Yesukai yang dalam usianya yang hampir lima puluh tahun masih tampak tinggi besar dan gagah perkasa itu, segera memerintahkan pembantunya memanggil Tabib untuk memeriksa dan mengobati Albagu.

Akan tetapi Tabib itu pun menggelengkan kepalanya melihat keadaan Albagu yang pucat itu.

Yesukai membenarkan tindakan Temuchin.

Mencuri merupakan perbuatan yang dianggap hina dan rendah, maka patutlah kalau Albagu menerima hukuman itu.

Juga Yesukai dan para pimpinan suku yang menjadi pembantunya, merasa kagum ketika Mo-Kai menegaskan bahwa biruang itu yang membunuh adalah Temuchin.

Dia berkata demikian karena Temuchin bercerita bahwa biruang itu dibunuh oleh pukulan Leng Bu San.

(Lanjut ke

Jilid 28) Antara Dendam & Asmara (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 28

"Temuchin yang membunuhnya. Lihat luka-luka di kepala biruang itu yang terkena tikaman golok Temuchin, juga kaki depan kiri yang terluka parah oleh goloknya. Muridku Leng Bu San hanya mendorong biruang itu saja. Pembunuhnya adalah Sang Anak Perkasa Temuchin!"

Segera nama Temuchin makin terkenal sebagai anak pembunuh biruang putih yang besar dan semua orang semakin kagum kepadanya.

Ketika Temuchin bercerita kepada Yesukai bahwa dia kini menjadi murid Koai-Tong Mo-Kai dan Leng Bu San hendak membantu suku Yakka, kepala suku itu menerima dengan girang.

Dia tahu bahwa dua orang asing itu memiliki ilmu kepandaian tinggi dan hal ini menguntungkan pihaknya kalau mereka mau membantu.

Sejak hari itu, Koai-Tong Mo-Kai dan Leng Bu San tinggal di perkampungan suku Yakka.

Untuk mereka didirikan sebuah kemah untuk tempat tinggal atau lebih tepat tempat melewatkan malam.

"Su-Kong (Kakek Guru), jangan Su-Kong, jangan mati dulu, berilah kesempatan kepadaku untuk membalas budi kebaikan Su-Kong!"

Kata Song Bwee Cin atau Cin Cin sambil berlutut dan terisak menangis lirih.

Di depannya duduk Kakek tua renta Khong-Sim Sin-Kai yang bersila sambil tersenyum.

Dia telah menggembleng cucu muridnya itu selama hampir sepuluh tahun, bukan hanya menggembleng ilmu silat dan kesaktian, akan tetapi iuga ilmu batin dan terutama sekali penyerahan diri lahir batin kepada TUHAN Yang Maha Kasih.

Dia tahu bahwa Cin Cin yang pada dasarnya amat pemberani dan berwatak adil dan gagah itu amat keras hati pula, akan tetapi kini anak yang kini telah menjadi seorang gadis berusia delapan belas tahun sudah mampu mengendalikan gejolak perasaannya dan tidak terlalu dipengaruhi nafsu-nafsunya.

Akan tetapi bagaimanapun juga, Cin Cin adalah seorang wanita yang perasaannya tentu saja amat peka dan mudah terharu sehingga ketika tadi dia mengatakan bahwa sudah tiba saatnya bagi gadis itu untuk pulang ke rumah orang tuanya karena dia pun tahu bahwa sudah tiba saatnya untuk kembali ke asalnya meninggalkan dunia dalam usianya yang sudah dua kali lipat usia orang tua pada masa itu, gadis itu langsung menangis.

Kata-kata yang keluar dari mulutnya itu menunjukkan betapa ia merasa amat sedih mendengar pengakuan Kakek Gurunya tadi.

"Hemm, Cin Cin, renungkan sejenak. Siapakah sebenarnya yang kau tangisi sekarang ini? Engkau menangisi aku yang sudah akan menamatkan riwayat hidupku di dunia ini, ataukah engkau menangisi dirimu sendiri?"

Cin Cin menggunakan ujung lengan bajunya untuk menghapus air matanya dan dengan mata basah ia memandang wajah Kakek itu.

"Aku menyadari sepenuhnya, Su-Kong, bahwa dalam menghadapi kematian seseorang yang dihormati dan dicintai, sl penangis itu menangisi dirinya sendiri karena harus berpisah dari orang yang dihormati atau dicintainya itu. la menangis karena iba diri, karena dirinya yang kehilangan. Ia sama sekali tidak menangisi yang mati. Akan tetapi, Su-Kong, saya menangis bukan hanya karena harus berpisah dan Su-Kong hendak meninggalkanku, akan tetapi terutama sekali karena tiada kesempatan bagiku untuk berbakti kepada Su-Kong dan membalas segala kebaikan Su-Kong kepadaku."

"Cin Cin, engkau berarti sudah berbakti dan sudah melimpahkan segala kebaikan kepadaku kalau engkau selalu berbakti dalam hidupmu kepada TUHAN! Kalau mulai sekarang dan selanjutnya selama hidupmu engkau membiarkan dirimu dibimbing oleh TUHAN, hal ini berarti bahwa selama ini tidak sia-sia aku memberi pelajaran kepadamu. Ingatlah selalu bahwa di dalam dirimu terdapat dua kekuatan yang memperebutkan dirimu untuk diperalat, yaitu Kekuasaan TUHAN dan kekuasaan setan. Dengan akal pikiranmu sendiri, engkau tidak akan mampu melawan kekuasaan setan. Hanya kalau engkau pasrah sepenuh jiwa ragamu kepada TUHAN, maka Kekuasaan TUHAN yang akan membimbingmu dan yang akan menundukkan kekuasaan setan sehingga engkau tidak akan menjadi alat setan, melainkan menjadi alat TUHAN!"

Sampai lama Cin Cin menundukkan kepalanya.

la sudah menerima pelajaran tentang semua itu dan kini inti pelajaran itu semakin meresap dalam hatinya.

la menyadari sepenuhnya bahwa keinginannya untuk "menahan"

Kematian Kakek Gurunya agar ia memperoleh kesempatan membalas budi adalah juga semacam keinginan untuk dirinya sendiri!

Agar dirinya dapat membalas budi dan karenanya keinginannya itu tidak akan terkabul kalau Kakek Gurunya mati, maka keharuannya yang membuat ia menangis tadi hanyalah kenyataan dari rasa kecewa dan penyesalannya!

"Aku mengerti dan menyadari, Su-Kong.

Maafkan kelemahanku,"

Katanya lirih. Kakek itu tersenyum.

"Wajarlah kalau perasaanmu peka dan lemah, Cin Cin, karena engkau seorang wanita. Sekarang dengarkan baik-baik, Cin Cin. Hari ini, aku ingin menikmati masakanmu yang paling lezat dan kusuka, yaitu masakan rebung bambu naga yang manis rasanya itu. Kemudian, biarkan aku sendiri dalam kamarku dan engkau boleh tidur beristirahat karena besok pagi-pagi engkau harus turun Bukit Kera ini dan kembali kepada orang tuamu."

"Baik, Su-Kong!"

Jawab Cin Cin yang kini memperoleh kembali kelincahan dan kegembiraannya setelah menyadari akan kekeliruan sikapnya tadi dan ia bergembira untuk dapat membuatkan masakan kesukaan Kakek Gurunya.

Cepat ia pergi mencari rebung Bambu Naga yang dikehendaki Kakek Gurunya itu.

Bambu Naga ini bentuknya seperti tubuh seekor ular atau naga, melengkung-lengkung dan ruasnya seperti membentuk sisik naga.

Rebungnya tampak biasa saja seperti rebung bambu lain, akan tetapi memang kalau dimasak rasanya lain, lebih manis dan sedap baunya.

Cin Cin merasa bangga bahwa ia mempunyai bakat memasak dan masakannya, walaupun terbuat dari bahan yang biasa saja, sayur-sayuran dan terkadang ikan yang didapatinya di sungai kecil di lereng bawah atau daging kijang atau kelinci.

Kakek Gurunya selalu menikmati masakannya dan memujinya, akan tetapi masakan rebung Bambu Naga itulah yang paling disukai.

Malam itu dengan gembira Cin Cin melayani Kakek Gurunya makan nasi dengan masakan Bambu Naga dan beberapa macam lauk pauk lagi.

Ia gembira melihat betapa Kakek yang telah amat lanjut usianya itu makan dengan nikmat sambil minum arak yang ia sediakan di atas meja.

Ia pun menemani Kakek Gurunya makan minum.

Biarpun ia menyadari bahwa itulah makan bersama yang terakhlr kalinya, ia.

tidak merasa sedih lagi karena hal itu adalah wajar-wajar saja.

Selesai makan, Kakek itu memandang Cin Cinn dan senyumnya makin melebar.

"Wah, sungguh badan ini menikmati masakanmu, Cin Cin. Lihatlah tongkatku ini. Biarpun tampak sebagai tongkat bambu biasa, akan tetapi sesungguhnya tongkat ini adalah sebuah benda pusaka yang ampuh. Pusaka ini terbuat dari Bambu Dewa Putih, sejenis bambu berwarna putih, tidak beruas dan tidak berlubang dalamnya, yang hanya terdapat serumpun saja di bagian utara Pegunungan Himalaya. Untuk mendatangi puncak di mana terdapat serumpun Bambu Dewa Putih itu pun bukan pekerjaan mudah, penuh bahaya dan tidak dapat dilakukan sembarang orang. Tempat itu terjaga oleh makhluk-makhluk halus sebangsa jin yang berbahaya. Tongkat ini kuberikan padamu, Cin Cin, dapat membantumu untuk melindungi dirimu dari bahaya. Akan tetapi besok saja kau bawa kalau engkau akan meninggalkan pondok ini. Sekarang, pergilah beristirahat di kamarmu sendiri, aku merasa lelah dan mengantuk."

Cin Cin mengangguk dan membawa alat-alat untuk makan ke belakang untuk dicuci. Akan tetapi baru saja tiba di pintu Kakek itu memanggilnya.

"Cin Cin...!"

Gadis itu berhenti melangkah dan memutar tubuhnya. Ia melihat Kakek itu juga sudah bangkit dan sejenak mereka bertemu pandang.

"Ada apa, Su-Kong?"

"Cin Cin, besok pagi-pagi setelah burung-burung mulai berkicau dan kera-kera mulai bercowetan, bangun dan berkemaslah. Kemudian, kau temui aku di kamarku. Kalau engkau melihat aku ternyata sudah pergi meninggalkan raga ini, taati perintahku terakhir, bakarlah pondok ini lalu pergilah. Jangan lupa untuk membawa tongkatku ini bersamamu."

"Su-Kong...!"

Cin Cin menahan perasaannya yang merasa tertusuk karena ia teringat akan kekeliruannya yang tadi.

"Hemm, apa yang hendak kau katakan?"

Kakek itu bertanya, suaranya sudah mengandung teguran.

"Begini, Su-Kong. Aku jadi ingin sekali mengetahui perbedaan antara cara orang mengurus jenazah. Ada yang menguburnya dalam tanah, ada pula kudengar ada yang yang melemparkannya ke lautan, dan Su-Kong tadi mengatakan, ada yang harus dibakar. Mana yang benar dan apa perbedaan antara semua cara itu?"

Khong-Sim Sin-Kai tersenyum dan mengangguk-angguk.

"Tidak ada bedanya dan semua itu benar saja, Cin Cin. Tubuh manusia berasal dari unsur tanah, api, air, dan hawa dan kalau Jiwa sudah meninggalkan raga, maka raga atau tubuh itu kembali kepada asalnya. Maka dikembalikan melalui tanah, air, atau api itu tidak ada salahnya dan benar saja. Nah, mau bertanya apa lagi?"

Cin Cin menggelengkan kepalanya.

"Tidak, tidak ada lagi, Su-Kong, aku... aku mau mencuci mangkok-mangkok ini..."

Ia lalu pergi ke dapur untuk melakukan pekerjaannya.

Kakek itu mengikutinya dengan pandang matanya, tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu melangkah memasuki kamarnya tanpa menutupkan daun pintunya.

Setelah tiba di dapur, Cin Cin tidak mencuci mangkok melainkan duduk menangis!

Ia menangis seperti anak kecil, akan tetapi menahan suaranya sehingga ia menangis tanpa suara, hanya menahan sesenggukan sambil menutup mulutnya dan air matanya jatuh berderai-derai.

Ia tahu benar bahwa kesedihan dan keharuan hatinya itu tidak benar, akan tetapi ia tidak peduli.

Ia merasa sedih dan harus menangis, mengapa ditahan?

Maka menangislah ia menjadi-jadi, bahkan ia lalu meninggalkan dapur dan merebahkan diri di atas pembaringan di kamarnya sambil terus menangis sampai akhirnya ia tertidur.

Kesedihan memang membuat orang menjadi lemah dan lelah.

Bukit Kera itu merupakan sebuah di antara banyak bukit di Pegunungan Thai-San.

Bukit itu memang dihuni banyak kera dan di situlah Khong-Sim Sin-Kai mengajak Cin Cin tinggal untuk mempelajari ilmu selama hampir sepuluh tahun.

Gadis itu biarpun hanya tinggal berdua dengan Kakek Gurunya di bukit yang sunyi itu, namun ia terkadang turun bukit mengunjungi dusun-dusun di kaki bukit untuk membeli keperluan bumbu masak, pakaian dan sebagainya.

Ia cukup menukar semua kebuTUHANnya itu dengan kulit binatang atau tanduk rusa, juga beberapa rempa-rempa yang dibutuhkan penduduk dusun untuk bahan obat yang mereka jual ke kota yang jauh letaknya dari situ.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali terdengar kicau burung-burung di belakang pondok sederhana itu di mana terdapat banyak pohon besar.

Kemudian, agaknya kicau burung itu membangunkan kera-kera yang juga banyak terdapat di pohon-pohon besar sehingga mereka pun mulai sibuk cecowetan riuh.

Cin Cin terbangun dari tidurnya.

la bangkit duduk dan segera teringat akan pesan Kakek Gurunya.

la duduk bersila, memejamkan kedua matanya dan menenteramkan hatinya.

Dengan kepasrahan yang bulat manusia dapat menerima apa saja yang menimpa dirinya sendiri atau segala sesuatu di sekelilingnya.

Di luar kekuasaan daya upaya dan usaha manusia, ada kekuasaan tertinggi yang bekerja, Kekuasaan TUHAN bekerja tanpa dapat ditolak oleh siapapun juga yang sudah berikhtiar sekuat tenaga.

Ikhtiar merupakan tugas kewajiban setiap orang manusia untuk menyelamatkan dan menyejahterakan hidupnya.

Namun keadaan tidak dapat digantungkan kepada ikhtiar semata.

Kalau TUHAN menghendaki lain, segala macam usaha dan ikhtiar akan menemui kegagalan juga.

Kalau sudah pasrah dengan sebulatnya, sepenuh jiwa raga, maka seorang manusia mampu menghadapi apa pun yang terjadi dengannya karena merasa yakin bahwa kejadian itu adalah kehendak TUHAN semata dan harus diterima dengan hati rela dan ikhlas karena segala sesuatu berada dalam kekuasaan TUHAN.

Setelah merasa tenang, ia tidak segera berkemas.

la harus lebih dulu menengok keadaan Kakek Gurunya.

Dengan tenang ia keluar dari kamarnya dan menuju ke kamar Gurunya yang daun pintunya terbuka.

Bahkan ketika in melangkahi ambang pintu, ia melihat daun jendela kamar itu pun terbuka dan cahaya matahari fajar yang merah cukup menerangi kamar itu.

Ia melihat Kakek Gurunya duduk bersila di atas pembaringan.

"Su-Kong...."

Katanya Iirih. Akan tetapi Kakek itu tidak menjawab.

"Su-Kong, bolehkah aku masuk?"

Tanya Cin Cin, kini ia memperkuat suaranya.

Akan tetapi Kakek itu tetap diam tidak menjawab.

Cin Cin lalu melangkah masuk.

la sudah dapat menduga bahwa keadaan Kakek Gurunya itu tentu ada hubungannya dengan kata-katanya semalam.

Setelah berada di depan pembaringan, ia berlutut dan menyentuh tangan Khong-Sim Sin-Kai.

Tangan itu sudah dingin.

Cin Cin memegang pergelangan tangan Kakek Gurunya.

Tidak ada lagi detik urat nadinya.

la bangkit berdiri dan menaruh telapak tangannya di depan hidung dan mulut Kakek Gurunya.

Tidak ada pernapasan, sedikit pun.

Yakinlah Cin Cin bahwa Kakek itu sudah tidak bernapas lagi, detik jantungnya sudah berhenti, Kakek Gurunya telah wafat, jiwanya telah meninggalkan raganya!

Akan tetapi ia dapat menerima kenyataan itu dengan tenang, sepenuhnya maklum bahwa itu merupakan kehendak TUHAN, bahkan yang sudah dinanti oleh Kakek Gurunya, maka kematian Khong-Sim Sin-Kai adalah sesuatu yang wajar, seperti timbul dan tenggelamnya matahari di waktu pagi dan sore.

Cin Cin menjatuhkan diri berlutut di depan Kakek Gurunya, berkata lirih.

"Su-Kong, selamat jalan dan semoga TUHAN menerima dalam kebahagiaan abadi."

La memberi hormat sambil berlutut dan menyentuhkan dahinya di atas lantai sampai tiga kali, lalu bangkit berdiri dan mengamati Kakek Gurunya dari rambut kepala yang sudah putih semua itu sampai ke kaki yang kurus dan duduk bersila itu.

Ia merasa kagum sekali.

Kakek Gurunya meninggal dunia dalam keadaan bersila dan bersamadhi yang merupakan latihan "mati dalam hidup", yaitu sewaktu bersamadhi itu, raganya masih hidup akan tetapi hati akal pikirannya seolah mati, karena sama sekali tidak bekerja.

"Su-Kong, ijinkanlah aku melaksanakan perintah Su-Kong yang terakhir,"

Bisiknya dan melihat tongkat bambu putih bersandar di pembaringan itu, ia lalu mengambilnya dan menyelipkan tongkat itu di balik ikat pinggangnya.

Ia tahu bahwa Kakek Gurunya tidak memiliki apa-apa, bahkan selama hidup bertahun-tahun dengannya di pondok itu, Kakek itu selalu mengatakan bahwa sesungguhnya manusia itu tidak memiliki apa-apa.

Manusia boleh mengatakan dia mempunyai keluarga, harta benda, ilmu, dan sebagainya.

Namun sesunggUhnya, segala sesuatu itu adalah milik TUHAN dan berada pada manusia hanya sebagai pelengkap semasa hidup di dunia ini, hanya sementara saja.

Setelah memberi hormat lagi, Cin Cin lalu menutupkan daun jendela dan pintu kamar itu, keluar dari kamar dan barulah ia pergi ke pancuran air yang berada di belakang pondok dan mandi.

Setelah berganti pakaian dan mengumpulkan semua pakaiannya lalu dibungkus menjadi buntalan kain yang digendongnya di punggung, ia lalu keluar dari pondok, mengumpulkan kayu dan daun kering, menumpuknya di dalam dan di luar pondok, terutama ia menumpuk banyak kayu kering di dekat kamar Kakek Gurunya.

Setelah semua siap, ia menjatuhkan diri berlutut menghadap pondok dan berbisik.

"Su-Kong, saya akan membakar pondok sesuai dengan pesan Su-Kong."

Setelah berkata demikian, ia lalu membakar rumput-rumput kering yang ia tumpuk bersama kayu-kayu kering di sekeliling pondok.

Api mulai bernyala di sekeliling pondok dan tak lama kemudian pondok ltu pun terbakar.

Muncul keharuan dalam hatinya melihat pondok di mana selama bertahun-tahun ia tinggal, dan juga jenazah Kakek Gurunya yang dihormati dan disayanginya, terbakar dalam api yang berkobar itu.

Akan tetapi kesadarannya menghapus keharuan itu.

Pondok itu, Kakek Gurunya, semua itu hanya masa lalu!

Masa lalu itu hanya "hidup"

Dalam ingatan, dalam kenangan dan membongkar tumpukan masa lalu hanya akan mendatangkan kekecewaan, kehilangan, dendam, dan duka.

Demikianlah yang sering ia dengar dari Kakek Gurunya.

Hidup adalah saat ini, saat demi saat, demikian ucapan Kakek Gurunya.

Masa lalu sudah lewat, sudah mati, dan masa depan hanyalah bayangan harapan yang bukan lain hanya keinginan untuk mendapatkan yang serba menyenangkan.

Hidup adalah saat ini.

Hati akal pikiran seyogianya dipergunakan untuk menghadapi saat demi saat, menjadi sebuah kewaspadaan, waspada terhadap ulah dan tingkah laku sendiri.

Ingatan seharusnya selalu ditujukan kepada kekuasaan TUHAN sehingga akan selalu mendapatkan bimbingan dan dengan demikian, maka semua tindakan yang mendapat bimbingan TUHAN sudah pasti benar, sesuai dengan kehendak-Nya yang dituangkan dalam pelajaran semua wahyu agama di dunia ini.

Kebaikan yang sejati, yang menjadi buah dari pohon yang disiram oleh bimbingan TUHAN, didasari cinta kasih dan selalu mendatangkan kebahagiaan lahir batin.

Bukan kebahagiaan semu yang sesungguhnya bukan kebahagiaan melainkan kesenangan badani yang terkadang menjerumuskan kita ke dalam prilaku yang salah.

Menjelang siang, api yang membakar pondok itu pun padam.

Cin Cin lalu mencari abu jenazah Kakek Gurunya.

Dengan mudah ia menemukan abu jenazah yang berwarna putih setumpuk, di antara abu-abu dari bakaran pondok yang warnanya lebih hitam.

Karena ia telah mempersiapkannya lebih dulu, ia lalu mengambil kain kuning dari buntalan pakaiannya dan membungkus abu jenazah itu dan memasukkannya ke dalam gendongan buntalan pakaian.

la ingin membawa abu jenazah Kakek Gurunya itu pulang dan menyerahkan abu itu kepada Ayahnya, yang tentu akan senang mendapat kesempatan mengurus abu jenazah Gurunya.

Setelah itu Cin Cin lalu menuruni Bukit Kera dan merasa seolah-olah memasuki kehidupan baru.

Memang, seorang manusia seyogianya menyongsong kehidupan sehari-hari sebagai sesuatu yang baru, sesuai dengan nasihat Kakek Gurunya bahwa hidup adalah sekarang, saat ini, saat demi saat, itulah hidup!

Sesuai pula dengan anjuran Khong-Cu bahwa sehari-hari haruslah baru.

Akan tetapi pada umumnya manusia hidup masih terpengaruh masa lalu sehingga hidupnya seperti hanya ulangan belaka, setiap hari hanya mengulang yang kemarin, yang lalu.

Atau terkadang juga terbius masa depan, penuh cita-cita dan harapan, seperti hidup dalam khayalan mimpi, lupa bahwa kematian selalu menghadang kehidupan, di mana saja dan kapan saja.

Terkadang, sebelum mulai mendekati cita-cita yang selalu dikejar-kejarnya, kematian telah mendahuluinya sehingga seluruh masa hidupnya menjadi sia-sia, hanya untuk mengulang masa lalu atau bermimpikan masa depan.

Hidup adalah sekarang ini, saat ini, saat demi saat.

Kita menghadapi hidup seperti apa adanya, yakin bahwa di atas segala usaha dan ikhtiar kita, ada kekuasaan yang jauh lebih hebat, lebih besar dan yang menentukan akhir atau hasil segala sesuatu.

Karena itu, apa pun yang terjadi menimpa diri kita, terjadi di luar kemampuan kita untuk mengubahnya, Kita terima dengan mata terbuka, dengan penuh kewaspadaan, tanpa menyalahkan siapapun juga, tetap berikhtiar sekuat kemampuan kita namun didasari kepasrahan kepada Kekuasaan Tertinggi, yaitu Kekuasaan TUHAN yang mutlak menjadi penentu terakhir dan tidak dapat diubah oleh apa dan siapa pun juga!

Setiap kejadian yang menimpa diri kita merupakan buah dari pohon yang benihnya kita sendiri yang menanamnya.

Kalau benihnya buruk, mana mungkin buahnya dapat baik?

Nilai buah tidak terlepas dari nilai benih pohonnya, yaitu perbuatan dan prilaku kita sendiri.

Kalau berbuah buruk kesalahannya terletak kepada benih pohon atau kepada prilaku kita sendiri.

Jadi, kalau terjadi sesuatu yang buruk menimpa kita, carilah kesalahannya kepada diri sendiri karena hal itu merupakan rangkaian dari sebab akibat yang sudah selayaknya dan sudah seadilnya.

Cin Cin melanjutkan perjalanannya menuju Sung-Kian di mana orang tuanya tinggal.

Akan tetapi belasan hari kemudian ketika ia tiba di luar sebuah hutan, di tempat yang sunyi, ia melihat seorang pemuda dan seorang gadis sedang berkelahi dengan serunya.

Ia terkejut sekali melihat betapa dua orang itu amat lihai.

Pemuda itu menggunakan Siang-Kiam (sepasang pedang) dan gadis itu menggunakan pedang di tangan kanan dan sehelai sabuk merah di tangan kiri.

Gerakan mereka selain ringan dan cepat sekali, juga mengandung tenaga sakti yang kuat sehingga senjata yang mereka gerakkan mengeluarkan bunyi yang mengejutkan.

Cin Cin dapat menilai bahwa tingkat ilmu silat dua orang itu agaknya tidak jauh selisihnya dengan ilmu-ilmu yang pernah ia pelajari, dan kedua orang itu pun seimbang.

Akan tetapi ia dapat menilai bahwa keduanya masih membatasi diri sehingga pertandingan itu hanya seperti menguji kepandaian masing-masing, tidak seperti orang yang bersungguh-sungguh berkelahi.

Akan tetapi Kakek dan Nenek yang berdiri di luar kalangan pertandingan, saling berhadapan, menonton dengan sikap tidak puas, ails mereka berkerut, dan terutama Nenek itu kini bahkan berkata dengan suara ketus.

"Hong Cu, serang dia dengan sungguh-sungguh dan kau kalahkan dia! Tidak untuk percuma saja aku nnenggemblengnnu selama hampir sepuluh tahun!"

Agaknya ia berkata kepada Si Gadis.

"Ha-ha-ha, Sin Cu,"

Kata Kakek itu kepada pemuda yang masih bertanding.

"Masa engkau harus kalah? Jangan bikin malu Gurumu, hayo serang ia dengan Siang-Kiammu!"

Cin Cin yang menonton sambil menyembunyikan dirinya di balik batang pohon, kini terbelalak.

Dua nama itu!

Dua nama yang amat dikenalnya karena Ayahnya telah banyak bercerita tentang orang-orang yang mengkhianati Kerajaan Sung, dan mereka yang berjiwa patriot.

Di antara para patriot itu, Ayahnya suka menceritakan tentang mendiang Pangeran Liang Tek Ong yang dibunuh orang sakti dalam kamarnya.

Ia tahu bahwa Pangeran Liang Tek Ong mempunyai seorang putera bernama Liang Sun dan mempunyai dua orang cucu bernama Liang Sin Cu dan Liang Hong Cu!

Dan pemuda yang bertanding melawan gadis itu bernama Sin Cu dan gadis itu Hong Cu!

Apakah mereka itu Kakak-beradik cucu mendiang Pangeran Liang Tek Ong?

Akan tetapi kenapa kini mereka saling bertanding?

Cin Cin mengamati pemuda itu.

Usianya sekitar dua puluh tiga tahun, tinggi tegap berwibawa, wajahnya tampan dan anggun.

Dan gadis itu pun cantik manis, usianya sekitar dua puluh satu tahun.

Lalu ia memandang kepada Kakek itu.

Seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun, tubuhnya sedang dan wajahnya masih tampan gagah.

Nenek itu berusia sekitar lima puluh delapan tahun, tubuhnya masih padat Iangsing dan wajahnya juga masih cantik, pakaiannya dari sutera serba putih.

Lalu ia melihat sikap dua orang tua itu, mereka tampak kesal dan tidak puas.

Ia mulai dapat menduga apa yang terjadi.

Agaknya dua orang Kakak-beradik itu menjadi murid Kakek dan Nenek itu dan kini agaknya kKakek dan Nenek itu bermusuhan dan mengajukan murid masing-masing untuk mengadu ilmu dan agaknya Kakak-beradik itu tentu saja tidak mau saling melukai apalagi membunuh.

Dan Kakek dan Nenek itulah yang agaknya mendesak murid masing-masing untuk memaksakan kemenangan dan hal ini kiranya baru akan terjadi kalau kedua muda-mudi itu bertanding dengan sungguh-sungguh dan mungkin saja dapat saling melukai karena agaknya tingkat mereka sebanding.

Ini tidak boleh terjadi, pikir Cin Cin dan ia lalu melompat keluar ketika melihat dua orang yang ia duga Kakak-beradik itu makin mempercepat gerakan dan memperhebat serangan mereka.

"Trang-tranggg I!"

Bunga api bepercikan ketika tongkat putih di tangan Cin Cin bertemu dengan pedang di tangan pemuda dan gadis itu.

Ia telah menerjang di tengah, di antara mereka dan menangkis pedang mereka dengan tongkat putih pemberian Kakek Gurunya.

Dugaan Cin Cin memang benar.

Kakek Itu adalah Thian-Te Kiam-Sian (Dewa Pedang Langit Bumi) Su Kong Pin, sedangkan Nenek itu adalah Pek I Sianli (Dewi Baju Putih) Thio Eng.

Pemuda itu Liang Sin Cu yang menjadi murid Thian-Te Kiam-Sian, sedangkan gadis itu adalah Liang Hong Cu yang menjadi murid Pek I Sianli.

Selama hampir sepuluh tahun kedua orang Kakak-beradik ini menjadi murid mereka.

Kedua orang Kakek dan Nenek yang bersaing sejak muda itu tinggal di daerah pegunungan Luliang-San.

Thian-Te Kiam-Sian tinggal di Bukit Hong, dan Pek I Sianli tinggal di Bukit Perak.

Seperti telah diceritakan di bagian depan, sekitar tiga tahun yang lalu kedua orang Kakak-beradik ini bertemu dan setelah mendapat ijin Guru masing-masing, mereka pergi ke Kotaraja membantu para pendekar menyerang Perdana Menteri Chin Kui sehingga menteri lalim dan khianat itu tewas.

Setelah pamit kepada Ayahnya, Liang Sun, yang tidak mau memegang jabatan dan hidup sebagai rakyat biasa, Kakak-beradik yang belum tamat belajar itu kembali ke Luliang-San dan melanjutkan belajar ilmu silat tingkat tinggi selama sekitar tiga tahun lagi.

DI luar pengetahuan mereka, Pek I Sianli menemui Thian-Te Kiam-Sian dan mengajukan tantangan untuk mengadu murid mereka agar diketahui siapa di antara mereka yang lebih unggul dalam menggembleng murid!

Tantangan yang dilakukan dengan nada marah ini mengesalkan hati Thian-Te Kiam-Sian yang menerima tantangan itu.

Demikianlah, pada hari itu mereka memerintahkan murid masing-masing untuk bertanding mengadu ilmu silat untuk membela nama Guru masing-masing.

Tentu saja Sin Cu dan Hong Cu tidak bisa saling melukai sehingga Guru mereka menegur dan mendesak dan ketika mereka bergerak lebih cepat, tiba-tiba Cin Cin datang dan melerai mereka.

Kedua Kakak-beradik ini terkejut karena tangkisan tongkat bambu putih itu membuat senjata mereka terpental dan mereka masing-masing melompat ke belakang.

Kakak-beradik itu memandang heran kepada gadis berpakaian merah yang cantIk dan lincah itu dan mereka tidak mengenal siapa gadis yang melerai mereka itu.

Pek I Sianli memandang marah kepada Cin Cin.

Ia menudingkan telunjuk kirinya ke arah muka Cin Cin dan berkata dengan suara garang.

"Bocah lancang, siapakah engkau yang lancang berani mencampuri urusan orang lain?"

Cin Cin tersenyum.

Gadis ini sungguh berbeda dengan dulu sebelum ia digembleng oleh mendiang Kakek Gurunya.

Ia tidak mudah diusik hati akal pikirannya sehingga tidak mudah marah.

la tersenyum manis memandang kepada Pek I Sianli, demikian wajar senyum dan Pandang matanya sehingga Pek I Sianli me-rasa rikuh sendiri.

"Bibi yang baik,"

Kata Cin Cin dengan suara wajar penuh kejujuran.

"Tadi aku mendengar disebutnya nama Sin Cu dan Hong Cu. Aku pernah mendengar dua nama itu diceritakan Ayahku, yaitu bahwa mendiang Pangeran Liang Tek Ong yang berjiwa pahlawan memiliki dua orang cucu bernama Liang Sin Cu dan Liang Hong Cu. Melihat mereka tadi bertanding tanpa menyerang dengan sungguh-sungguh, maka aku semakin yakin bahwa mereka tentulah Kakak-beradik cucu mendiang Pangeran Liang Tek Ong itu. Aku merasa heran sekali, akan tetapi melihat sikap kalian Paman dan Bibi yang seperti saling bermusuhan dan membujuk murid masing-masing untuk mencapai kemenangan, aku dapat menduga bahwa tentu Paman dan Bibi saling bermusuhan. Kukira amat licik dan tidak baik menyuruh Kakak dan adiknya bertanding hanya untuk mencari kemenangan bagi sang Guru yang kejam dengan kemungkinan Kakak dan adiknya saling melukai atau membunuh. Karena itulah maka aku lalu datang melerai."

Pek I Sianli menjadi semakin marah.

"Engkau anak kecil lancang tahu apa? Aku, Pek I Sianli, sudah puluhan tahun bermusuhan dengan Thian-Te Kiam-Sian ini, bahkan sebelum engkau lahir di dunia kami berdua sudah saling bermusuhan. Sekarang kami mengadu murid kami untuk menentukan siapa di antara kami lebih pandai. Ada hak apakah engkau hendak melarang dan mencampuri urusan kami?"

Cin Cin memperlebar senyumnya.

"Aih, kiranya Paman dan Bibi adalah tokoh-tokoh kang-ouw yang sakti? Dan tentu kalian berdua adalah orang-orang bijaksana sehingga dapat menjadi Guru dua orang cucu mendiang Pangeran Liang! Bibi adalah Dewi Berbaju Putih dan Paman adalah Dewa Pedang Langit dan Bumi! Para Dewa dan Dewi adalah lambang perdamaian dan ketenteraman, bagaimana mungkin seorang Dewi bermusuhan dengan seorang Dewa? Pantasnya yang suka bermusuhan adalah setan dan iblis! Tentu kalian tidak suka kalau julukan Paman diubah menjadi Setan dan julukan Bibi diubah menjadi Iblis, bukan?"

"Kurang ajar!"

Pek I Sianli membentak dan sekali ia bergerak, sinar pedangnya berkelehat menyambar ke arah Cin Cin. Gadis itu segera mengangkat tongkat bambunya menangkis.

"Tranggg...!!"

Pek I Sianli terkejut bukan main.

Pedangnya bukan pedang biasa melainkan sebatang pedang pusaka ampuh dan ia menggerakkannya dengan pengerahan tenaga sakti yang kuat.

Akan tetapi gadis muda itu menangkisnya dengan sepotong bambu dah pedangnya terpental, juga ia merasakan tenaga yang amat kuat dari tangan gadis itu.

Sebelum ia bergerak menyerang lagi, tiba-tiba Thian-Te Kiam-Sian melompat maju berhadapan dengan Cin Cin, memandang ke arah tongkat putih itu dan dia berkata heran.

"Bukankah itu tongkat putih milik Locianpwe Khong-Sim Sin-Kai? Bagaimana bisa berada di tanganmu, Nona?"

"Memang benar tongkat bambu putih ini tadinya milik Su-Kong (Kakek Guru) Khong-Sim Sin-Kai dan sekarang menjadi punyaku."

"Bagaimana bisa menjadi milikmu?"

Su Kong Pin Si Dewa Pedang itu bertanya.

"Karena memang diberikan kepadaku oleh mendiang Su-Kong!"

"Mendiang...?"

Pertanyaan ini keluar dari mulut Su Kong Pin dan Thio Eng hampir berbareng.

"Apakah... Locianpwe Khong-Sim Sin-Kai sudah meninggal dunia...?"

Tanya Kiam-Sian. Cin Cin menganggukkan kepalanya, menghela napas dan menurunkan buntalan pakaiannya, mengambil buntalan kain kuning berisi abu jenazah Kakek Gurunya lalu meletakkannya di atas tanah.

"Benar, dan ini abu jenazahnya, akan kuserahkan kepada Ayahku yang menjadi muridnya."

Tiba-tiba Thian-Te Kiam-Sian Su Kong Pin dan Pek I Sianli Thio Eng menjatuhkan diri berlutut menghadap buntalan kain kuning itu dengan sikap hormat.

Diam-diam Cin Cin merasa terharu dan juga girang melihat betapa dua orang yang saling bermusuhan itu memberi hormat kepada abu jenazah Kakek Gurunya.

Setelah dua orang itu bangkit berdiri lagi, Cin Cin berkata.

"Nah, seharusnya demikian. Paman dan Bibi damai dan rukun. Tadi Paman dan Bibi berlutut memberi hormat kepada abu jenazah Su-Kong, dan Su-Kong menyaksikan Paman dan Bibi berlutut bersama, sungguh serasi. Mengapa tidak hidup dengan rukun dan damai, sebaliknya malah membawa-bawa permusuhan kepada murid?"

Mendengar ucapan Cin Cin, wajah Thio Eng menjadi merah sekali dan Thian-Te Kiam-Sian Su Kong Pin terbelalak dan berseru heran.

"Ya, Tuhan, aku seolah-olah mendengar ucapan mendiang Locianpwe Khong-Sim Sin-Kai sendiri melalui mulutmu, Nona!"

Tentu saja kedua orang yang saling bermusuhan itu merasa heran bukan main karena mereka teringat akan peristiwa sekitar dua puluh tahun yang lalu.

Ketika itu mereka juga saling serang, bahkan dengan hebat sekali sehingga agaknya seorang dari mereka akan roboh dan tewas.

Tiba-tiba muncul Khong-Sim Sin-Kai dan Kakek itu yang melerai, bahkan membuat senjata di tangan mereka terpental oleh tongkat putih itu.

Mereka berdua marah dan berbalik malah mereka berdua menyerang Khong-Sim Sin-Kai yang dengan mudah mengalahkan mereka.

Akhirnya mereka berdua terpaksa mengakui bahwa mereka berhadapan dengan orang sakti dan ketika keduanya mendengar bahwa Kakek itu adalah Khong-Sim Sin-Kai, mereka berdua berlutut dan minta maaf.

Nah, pada waktu itu, mendengar bahwa mereka saling bermusuhan, Khong-Sim Sin-Kai mengeluarkan ucapan yang sama dengan apa yang diucapkan gadis itu, menganjurkan mereka berdua hidup rukun, bahkan mengusulkan agar mereka berdua melupakan permusuhan dan menjalin kembali cinta kasih di antara mereka yang dulu tumbuh di waktu mereka masih muda!

"Aih, benarkah begitu?

Nah, kalau begitu, aku juga ingin sekali menasihatkan Paman dan Bibi agar melupakan permusuhan dan hidup berdua sebagai suami-isteri.

Bukankah itu jauh lebih baik dan menyenangkan daripada bermusuhan dan berkelahi?"

Mendengar ucapan Cin Cin yang bersikap penuh keberanian itu, Liang Sin Cu yang sejak tadi terpesona dan merasa kagum sekali kepada Cin Cin, segera menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Thian-Te Kiam-Sian Su Kong Pin dan berkata.

"Maaf, Suhu. Sesungguhnya sudah lama Teecu (murid) juga memiliki harapan yang sama, yaitu alangkah akan bahagia hati Teecu dan adik Teecu kalau Suhu dapat berdamai dengan Guru Adik Hong Cu."

Melihat ulah Kakaknya, Liang Hong Cu juga berlutut di depan kaki Gurunya dan berkata.

"Subo (Ibu Guru), Teecu juga akan girang sekali kalau Subo dapat menjadi jodoh Guru Kakak Sin Cu."

Kalau di masa lalu atau pada saat lain murid mereka mengajukan usul seperti itu, tentu Su Kong Pin dan terutama sekali Thio Eng akan marah sekali.

Akan tetapi aneh, sekali ini mereka berdua tidak marah, melainkan malu dan salah tingkah!

Apalagi di situ hadir Cin Cin yang tersenyum-senyum.

Melihat dua orang Kakak-beradik itu membujuk Guru masing-masing, Cin Cin menjadi semakin girang.

Saking girangnya, Cin Cin bertepuk tangan dan memang gadis lincah lni tidak pernah menyembunyikan perasaannya.

"Bagus sekali, Paman dan Bibi mempunyai murid yang amat balk. Usul mereka itu amat tepat dan kukira Paman dan Bibi sebagai tokoh-tokoh besar tentu akan menyambutnya dengan bijaksana. Bagaimana pendapat Paman Thian-Te Kiam-Sian tentang usul kami bertiga tadi?"

Su Kong Pin menghela napas panjang dan karena merasa malu, dia mengalihkan percakapan dan sebaliknya malah bertanya.

"Nona, engkau yang semuda ini telah dapat mewarisi ilmu dan tongkat putih mendiang Lo-Cianpwe Khong-Sim Sin-Kai. Siapakah engkau, Nona?"

"Namaku Song Bwee Cin dan biasa dipanggil Cin Cin."

Akan tetapi ia tidak melupakan pertanyaannya tadi, maka segera ia melanjutkan.

"Paman belum menjawab pertanyaanku tadi. Bagaimana, Paman, dapatkah memenuhi harapan kami bertiga untuk berdamai dan... berjodoh dengan Bibi Pek I Sianli?"

"Hemmm, hal itu... akan kupikirkan dulu..."

Jawabnya agak canggung sambil matanya mengerling kepada Thio Eng. Kini Cin Cin memandang Thio Eng dan bertanya.

"Bagaimana dengan pendapat Bibi Pek I Sianli? Tentu Bibi juga cukup bijaksana untuk mengubah permusuhan yang tidak menguntungkan itu dan berdamai, bahkan dapat hidup dengan rukun bersama Paman Thian-Te Kiam-Sian?"

Thio Eng cemberut dan mukanya menjadi semakin merah ketika ia mengerling ke arah Su Kong Pin dan melihat pria yang dulu menjadi kekasihnya itu tersenyum kepadanya.

"Hemm, urusan perjodohanku, siapa yang berhak mencampuri?"

Mendengar ini, Su Kong Pin yang tidak ingin bekas kekasihnya itu marah lagi, segera berkata.

"Nona Song, benar apa yang dikatakan Thio Eng tadi. Urusan perjodohan adalah urusan kami berdua dan akan kami bicarakan saja sendiri. Orang lain tidak berhak mencampuri."

Cin Cin tersenyum.

"Siapa yang ingin mencampuri? Aku tadi hanya mengusulkan agar permusuhan yang tidak menguntungkan kedua pihak itu dihentikan dan diubah menjadi kerukunan. Biarpun Paman dan Bibi belum mengatakan setuju untuk menjadi suami-isteri, akan tetapi keputusan kalian untuk membicarakan urusan perjodohan itu antara kalian sendiri, hal itu sudah merupakan kemajuan. Permusuhan hilang diganti kerukunan, dan aku percaya Paman dan Bibi akan bersikap bijaksana. Kedua orang murid Paman dan Bibi yang akan menjadi saksi. Sekarang, aku pamit, hendak melanjutkan perjalananku."

Setelah berkata demikian, Cin Cin melangkah dan hendak pergi dari situ.

"Berhenti dulu, Nona!"

Terdengar seruan Liang Sin Cu dan Cin Cin menahan langkahnya lalu membalikkan tubuh menghadapi pemuda yang sudah menghampirinya dan kini berdiri di depannya.

Sejenak keduanya saling pandang dan Cin Cin merasa betapa tengkuknya dingin ketika dilihatnya sinar mata pemuda itu yang ditujukan kepadanya.

Demikian jelasnya tampak kekaguman terbayang pada mata itu!

Bukan kekaguman yang mengandung nafsu yang kurang ajar sepertl yang ia temukan dalam pandang mata kebanyakan pemuda yang bertemu dengannya, melainkan kekaguman yang mengandung kemesraan yang mendalam!

Pemuda ini bukan hanya kagum kepadanya, melainkan juga agaknya tertarik sekali dan mungkinkah dia jatuh cinta?

"Engkau yang menahanku?

Apa maksudmu?"

Tanya Cin Cin sambil mengamati pemuda itu.

Seorang pemuda yang bertubuh tinggi tegap dan wajahnya tampan gagah berwibawa.

Liang Sin Cu mengangkat kedua tangan depan dada untuk memberi hormat dan Cin Cin segera membalasnya.

"Maaf kalau aku berani lancang menahanmu, Nona Song Bwee Cin. Dugaan Nona tadi benar. Aku dan adikku itu memang cucu dari mendiang Kakek Pangeran Liang Tek Ong. Namaku Liang Sin Cu dan adikku itu bernama Liang Hong Cu. Tadi Nona mengatakan bahwa Nona mendengar tentang kami dari Ayah Nona. Bolehkah kami mengetahui siapa Ayah Nona?"

"Ayahku bernama Song Han Bun."

"Aih, sudah kuduga!"

Tiba-tiba Liang Hong Cu menghampiri.

"Adik Song Bwee Cin, kalau Ayahmu Song Han Bun, tentu Ibumu bernama Can Pek Giok dan mereka tinggal di Sung-Kian, bukan?"

Cin Cin mengangguk, memandang cucu Pangeran itu yang cantik jelita dan lincah.

"Benar, Enci Hong Cu, bagaimana engkau dapat mengetahui tentang Ayah-lbuku?"

"Ayah kami, Liang Sun, menceritakan kepada kami. Ayah-Ibumu adalah sepasang suami-isteri pendekar budiman yang gagah perkasa!"

"Terima kasih atas pujianmu, Enci Hong Cu. Akan tetapi jangan sebut aku Song Bwee Cin, cukup Cin Cin saja."

"Balk, Adik Cin Cin. Sekarang, engkau hendak pergi ke manakah?"

"Aku baru meninggalkan Su-Kong yang telah wafat dan hendak pulang ke Sung-Kian, menyerahkan abu jenazah Su-Kong kepada Ayahku."

Liang Hong Cu segera menghampiri Gurunya dan berkata dengan manja.

"Subo, bolehkah Teecu juga pulang? Teecu sudah merasa rindu kepada Ayah-Ibu dan Teecu ingin pergi bersama Adik Cin Cin."

"Teecu juga ingin kembali ke Kotaraja, Suhu,"

Kata pula Liang Sin Cu.

"Teecu ingin melihat perkembangan Kerajaan Sung setelah kini diperintah oleh Kaisar Liang Jin."

Thian-Te Kiam-Sian Su Kong Pin dan Pek I Sianli Thio Eng saling pandang dan keduanya lalu mengangguk, memberi ijin kepada murid-murid mereka yang ingin pulang.

Mereka berdua mempunyai urusan sendiri yang hanya dapat dibicarakan dan diselesaikan oleh mereka berdua saja.

Pula, sudah tidak ada lagi yang dapat mereka ajarkan kepada murid mereka yang sudah mewarisi boleh dibilang seluruh ilmu yang mereka kuasai.

Demikianlah, Sin Cu dan Hong Cu lalu pergi bersama Cin Cin dan di sepanjang perjalanan mereka bertiga menjadi semakin akrab.

Mereka saling menceritakan pengalaman masing-masing dan satu-satunya hal yang dirasakan agak mengganggu dan kurang leluasa bagi Cin Cin adalah semakin kentaranya sikap Sin Cu yang jelas menaruh hati kepadanya.

ia sendiri hanya merasa kagum kepada pemuda itu yang ternyata pendiam dan sopan, menjadi kebalikan dari sikap Hong Cu yang lincah, pemberani dan cerdik, juga banyak bicaranya, sikap yang tak banyak bedanya dengan sikapnya sendiri.

Setelah melakukan perjalanan selama belasan hari, akhirnya di persimpangan jaIan, mereka berpisah.

Cin Cin melanjutkan perjalanan menuju Sung-Kian, sedangkan Kakak-beradik itu langsung menuju ke Kotaraja.

Pendekar Lui Hong dan isterinya, Li Sian Hwa, yang tinggal di rumah Jaksa Li, di mana Lui-Hong membantu di kantor Ayah mertuanya, menerima kedatangan Lui Tiong Lee, putera mereka, dengan gembira.

Lima tahun yang lalu, Lui Hong mengantarkan puteranya yang ketika itu berusia empat belas tahun, kepada Gurunya, yaitu Thai Kek Lojin di Bukit Hong-San.

Selama lima tahun Lui Tiong Le digembleng oleh Kakek Gurunya itu dan kini dia berusia sembilan belas tahun setelah oleh Kakek Gurunya diperkenankan pulang ke rumah orang-tuanya.

Setelah menguji ilmu silat puteranya dengan mengajaknya latihan bersama, Lul Hong merasa bangga sekali karena ternyata tingkat kepandaian puteranya itu sudah hampir sebanding dengan tingkatnya sendiri, hanya sedikit selisihnya karena tentu saja Lui Tiong Lee kalah pengalaman dibandingkan Ayahnya.

Kurang lebih sebulan setelah Tiong Lee kembali ke rumah orang-tuanya, keluarga Jaksa Li kedatangan tamu.

Yang datang bertamu adalah Liang Sun, putera mendiang Pangeran Liang Tek Ong yang tentu saja dikenal baik oleh Jaksa Li maupun oleh Lui Hong.

Liang Sun, biarpun putera tunggal mendiang Pangeran Liang Tek Ong yang terkenal sebagai seorang keluarga dekat Istana yang berjasa besar, tidak mau memegang pangkat dan hidup sebagai rakyat biasa.

Bersama Liang Sun, ikut pula kedua orang anaknya, yaitu Liang Sin Cu dan Liang Hong Cu yang juga baru pulang setengah bulan lalu setelah menerima pendidikan ilmu silat dari guru masing-masing, yaitu Thian-Te Kiam-Sian dan Pek I Sianli.

Jaksa Li yang sudah tua, didampingi Lui Hong dan Lui Tiong Lee, setelah Nyonya Jaksa Li dan Nyonya Lui Hong ikut menyambut, mengajak tiga orang tamu itu duduk di ruangan pustaka yang luas karena Lui Hong maklum bahwa kunjungan itu pasti membawa urusan yang penting.

Benar saja, setelah saling memperkenalkan anak masing-masing yang baru pulang dari perguruan, Liang Sun dengan serius berkata.

"Paman Jaksa Li, dan terutama engkau, Lui Taihiap (Pendekar Lui), kunjungan kami ini membawa kabar yang amat penting dan kami ingin minta bantuan Lui Taihiap."

Lui Hong menatap wajah Liang Sun dengan tajam dan penuh selidik.

Dia menghormati putera Pangeran yang tidak ambisius ini, yang lebih suka hidup sebagai penduduk biasa, tidak menuntut kedudukan biarpun dia masih ada hubungan keluarga dengan Kaisar.

Juga dia sudah tahu bahwa putera dan puteri Liang Sun yang sekarang hadir pula di situ merupakan dua orang muda yang lihai, yang beberapa tahun lalu pernah ikut menentang Perdana Menteri Chin Kui.

"Liang-twako (Kakak Liang), bantuan apakah yang dapat kuberikan kepadamu?"

Tanya Lui Hong.

"Begini, Lui Taihiap, dan Paman Jaksa Li. Seperti telah kita ketahui, beberapa tahun yang lalu, cap kebesaran kaisar telah lenyap dan biarpun itu merupakan cap kebesaran Kaisar Sung Kao Cu almarhum dan Kaisar sekarang mempunyai cap kebesaran sendiri, namun tetap saja cap kebesaran yang hilang itu selain merupakan benda pusaka Istana, juga dapat berbahaya dan disalahgunkan kalau terjatuh ke tangan orang jahat atau pihak yang memusuhi Kerajaan Sung. Pencurinya tidak meninggalkan jejak dan tidak dapat diduga siapa yang melakukannya. Akan tetapi belum lama ini, sekitar setengah bulan, kedua orang anakku, Liang Sin Cu dan Liang Hong Cu pulang dan kebetulan saja mendapat kabar bahwa cap kaisar yang hilang itu berada di tangan Baduchin, wakil Mongol yang dulu pernah berada di sini. Maka, saya akan menyuruh kedua orang anakku ini untuk melakukan penyelidikan ke utara karena kabarnya Baduchin kini menjadi seorang kepala suku Bangsa Mongol di sana. Akan tetapi, mengingat bahwa dua orang anak saya masih muda, maka saya mohon bantuan Lui Taihiap untuk membantu mereka dalam usaha merebut kembali cap kaisar itu."

Lui Hong menjawab.

"Akan tetapi, Liang-Twako, saya percaya bahwa dua orang putera-puterimu cukup lihai untuk dapat merampas kembali cap itu."

Liang Sun menghela napas panjang.

"Sesungguhnya, Taihiap, anak-anakku telah mendapatkan pelajaran dari Guru-Guru mereka yang pandai. Sin Cu sudah tamat belajar dari Thian-Te Kiam-Sian sedangkan Hong Cu sudah belajar dari Pek l Sianli. Akan tetapi mereka masih muda dan tentu saja kurang pengalaman. Maka, saya harap Taihiap suka membantu mereka agar cap Kaisar itu dapat direbut kembali."

Lui Hong tersenyum.

"Baiklah kalau Twako mendesak dan memang cap itu amat penting untuk dirampas kembali. Akan tetapi saya akan mewakilkan kepada anak saya ini. Lui Tiong Lee juga baru sebulan pulang setelah berguru ke-pada Sukongnya (Kakek Gurunya) Thai Kek Lojin. Biarlah tiga orang muda ini yang diberi tugas untuk merampas kembali cap itu dari tangan Baduchin."

Liang Sun menyambut dengan gembira.

Dia percaya sepenuhnya kepada Lui Hong.

Kalau pendekar itu mengajukan puteranya untuk membantu, dia merasa yakin bahwa pemuda putera Pendekar Lui itu pasti lihai sekali.

Lui Tiong Lee mentaati perintah Ayahnya, juga dia sejak pertemuan tadi sudah merasa kagum kepada Sin Cu dan Hong Cu yang tampak gagah.

Apalagi mendengar bahwa mereka berdua itu murid Thian-Te Kiam-Sian dan Pek i Sianli, sudah tentu mereka itu lihai sekali.

Demikianlah, setelah mereka berunding dan mendapatkan petunjuk tentang daerah Mongol dan di mana kiranya Baduchin dan anak buahnya berada, tiga orang muda perkasa itu lalu meninggalkan Kotaraja dan mulai dengan perjalanan mereka yang cukup jauh dan sukar, yaitu ke daerah Gurun Gobi menuju ke pedalaman Mongol.

Telah dua tahun lamanya Leng Bu San dan Gurunya, Koai-Tung Mo-Kai, tinggal bersama kepala suku Yesukai, Ayah Temuchin.

Selama itu Koai-Tung Mo-Kai mendidik Temuchin dengan ilmu silat, dan anak itu lebih suka mempelajari ilmu pedang di samping mencampurkan gerakan silat itu dengan ilmu gulat yang dikenal oleh semua anak Mongol sejak kecil.

Dalam usianya yang empat belas tahun, Temuchin sudah kelihatan gagah dan tubuhnya kokoh kuat.

Bentuk tubuhnya tinggi dan kokoh, kulitnya agak kuning, tidak gelap seperti para remaja lainnya.

Sepasang matanya yang bersinar tajam seperti mata burung rajawali itu agak kelabu kehijauan dengan manik mata yang hitam dan mata itu tidak sipit seperti mata orang Mongol, melainkan agak lebar.

Rambutnya panjang dan tidak hitam benar, bahkan agak berwarna kecoklatan.

Temuchin agak pendiam walaupun kalau bicara dia selalu menyatakan hal-hal penting dan bicaranya serius.

Dia bergaul dengan akrab sekali dan amat menyukai Leng Bu San yang diakuinya sebagai kakak angkatnya.

Setelah dua tahun tinggal di dalam kelompok suku Yakka pimpinan Yesukai, kini Leng Bu San berusia dua puluh tiga tahun dan dia sudah pandai berbahasa Mongol.

Koai-Tung Mo-Kai yang semakin yakin bahwa Temuchin kelak akan menjadi besar seperti yang telah diduganya, tinggal di dalam kelompok suku Yakka dan dipandang sebagai Guru atau "Dukun"

Yang ampuh dan dihormati.

Karena selain mengajarkan ilmu silat kepada Temuchin, juga Kakek ini pandai mengobati.

Pada suatu pagi, Yesukai yang hendak melakukan perjalanan mengunjungi seorang kepala suku yang berada di luar lingkungan mereka, suku yang belum takluk clan tidak menjadi anak buah suku Yakka, mengajak Temuchin karena dianggapnya kini Temuchin yang berusia empat belas tahun itu telah dewasa.

Temuchin merasa girang sekali dan dia minta kepada Ayahnya agar Leng Bu San diperbolehkan ikut.

Yesukai memperbolehkannya dan berangkatlah mereka bertiga, diikuti oleh dua lusin pengawal Yesukai.

Sebagai kepala suku Yakka yang termasuk besar dan berpengaruh, juga yang telah menundukkan beberapa kelompok suku lain yang kini bergabung dengan kelompok suku Yakka, Di mana-mana Yesukai diterima sebagai tamu yang dihormati.

Pada suatu senja, rombongan ini tiba di perkemahan sebuah suku kecil.

Mereka diterima dengan ramah dan dijamu makan malam oleh kepala suku dan keluarganya.

Ketika Temuchin, Yesukai, dan Leng Bu San makan malam, yang melayani mereka adalah gadis-gadis suku itu.

Temuchin yang berusia empat belas tahun itu melihat seorang gadis di antara mereka yang melayaninya.

Gadis itu masih remaja, sekitar sembilan tahun usianya namun sudah tampak cantik jelita.

Tanpa malu-malu atau sungkan, seperti yang menjadi watak orang Mongol, Temuchin berbisik kepada Ayahnya yang duduk di sebelahnya.

"Ayah, aku senang sekali melihat gadis itu. Apakah aku boleh menikah dengannya?"

Mendengar ini, Yesukai mengamati gadis itu.

Usianya baru sembilan tahun, namun jelas membayangkan bahwa ia kelak akan menjadi seorang gadis yang amat cantik.

Yesukai lalu bertanya kepada anak perempuan itu.

"Siapakah namamu, anak manis?"

Anak perempuan itu menjawab.

"Nama saya Bourtai."

Bourtai berarti "bermata kelabu"

Dan hal ini mengingatkan Yesukai akan Nenek-Moyang suku Yakka yang menurut dongeng juga bermata kelabu.

"la masih kecil,"

Katanya berbisik kepada Temuchin. Temuchin menjawab.

"Kalau kelak ia sudah dewasa tentu akan cocok untuk menjadi isteriku."

Ketika dengan terus terang Yesukai menyatakan keinginan puteranya untuk mempersunting Bourtai, Ayah gadis itu menjawab.

"Akan tetapi anak saya masih kecil."

Biarpun dia berkata demikian, dalam hatinya dia merasa senang dan bangga karena yang melamar itu adalah kepala suku Yakka yang cukup besar kekuasaannya.

Dia juga merasa suka kepada pemuda yang hendak dijodohkan dengan puterinya karena Temuchin memang tampak gagah dan tampan.

Malam itu Yesukai dan Bokkha, Ayah gadis yang bernama Bourtai itu, merundingkan perjodohan antara Temuchin dan Bourtai.

Telah disepakati bahwa pernikahan akan dilangsungkan beberapa tahun lagi sampai Bourtai menjadi gadis dewasa.

Leng Bu San menjadi saksi dan pemuda ini merasa gembira dan juga merasa lucu bahwa Temuchin yang usianya baru sekitar empat belas tahun itu sudah memilih jodoh dan calon jodohnya seorang anak perempuan yang baru berusia sembilan tahun!

Akan tetapi selama dua tahun hidup dalam lingkungan Bangsa Mongol dia juga mengetahui bahwa menurut kebiasaan Bangsa Mongol, seorang anak perempuan yang berusia dua belas atau tiga belas tahun sudah dianggap dewasa dan diperbolehkan menikah.

Pada keesokan harinya, Yesukai melanjutkan perjalanan dan Temuchin bersama Leng Bu San ditinggalkan untuk memberi kesempatan kepada pemuda itu berkenalan lebih dekat dengan tunangan dan calon mertuanya.

Temuchin dan Leng Bu San tinggal di perkemahan kelompok yang dipimpin oleh Bokkha.

Dia merasa gembira sekali karena ternyata Bourtai biarpun baru berusia sembilan tahun, namun setelah berkenalan bersikap cukup ramah dan manis.

Beberapa hari kemudian, datanglah seorang pengawal Yesukai menunggang kuda dan dengan muka pucat dia menceritakan bahwa ketika Yesukai dan rombongannya kemalaman dan bermalam di perkemahan besar suku Bangsa Taijut dan dijamu makan oleh kepala suku yang bernama Baduchin, Yesukai menderita sakit perut yang hebat dan kini sudah diangkut pulang oleh pasukan pengawal.

"Setelah kami tiba di ordu (perkemahan), keadaan Ketua parah sekali dan beliau mengutus saya untuk cepat memberitahu hal ini kepadamu."

Pengawal itu menutup ceritanya.

Temuchin terkejut sekali mendengar ini dan segera dia pamit kepada tunangan dan orang tua Bourtai, lalu bersama Leng Bu San dia membalapkan kudanya menuju pulang.

Akan tetapi setelah tiba di perkemahannya, dia terlambat karena Yesukai, Ayahnya, telah meninggal.

Sambil menangis Temuchin menghadap gurunya dan menuntut.

"Bagaimana, Guru. Kenapa Guru tidak dapat menyembuhkan ayahku?"

Koai-Tong Mo-Kai menggelengkan kepalanya.

"Aku sudah berusaha sedapatku, juga para Dukun (Tabib) telah berusaha mengobatinya, akan tetapi usaha kami gagal. Isi perut Ayahmu sudah terlalu parah dan rusak oleh racun."

"Racun...??"

Temuchin berteriak heran.

"Suhu, apa yang telah terjadi dengan Paman Yesukai?"

Tanya Leng Bu San.

"Ketua Yesukai memang meninggal karena keracunan hebat. Dan setelah mendengar dari para pengawal bahwa dia dijamu makan oleh Baduchin ketua suku Taijut, aku tidak merasa heran dan yakin bahwa tentu Ketua Yesukai sengaja diracun oleh Baduchin."

"Keparat!!"

Tiba-tiba Temuchin berteriak marah.

"Sejak dahulu orang-orang Taijut memang bersikap bermusuhan terhadap golongan kita! Ayahku terbunuh di sana, aku harus membalas dendam kepada Baduchin!"

Houlun, ibu Temuchin yang cantik dan berwatak gagah, memegang tangan puteranya.

"Temuchin, jangan ceroboh. Berhati-hatilah karena Baduchin memiliki banyak anak buah dan kedudukannya kuat, apalagi dia dibantu Ulan Bouw, tokoh dari Hu-He-Hot yang terkenal jagoan."

"Harap Bibi jangan khawatir. Saya akan menemani Adik Temuchin untuk membalas dendam atas kematian Paman Yesukail"

Kata Leng Bu San yang juga marah mendengar bahwa kematian Yesukai disebabkan keracunan ketika dijamu makan oleh ketua kelompok suku Taijut yang bernama Baduchin.

Mendengar ini, legalah hati Houlun.

Ia percaya sepenuhnya akan ketangguhan Leng Bu San, dan puteranya sendiri walaupun belum dewasa dan masih remaja, namun juga telah memiliki ketangkasan dan kegagahan setelah selama dua tahun digembleng ilmu oleh Koai-Tong Mo-Kai.

Pada keesokan harinya, berangkatlah Temuchin dan Leng Bu San dikawal pasukan pengawal yang berjumlah seratus orang.

Mereka langsung saja menuju ke perkemahan suku Taijut yang besar dan terjaga kuat.

Ketika mereka tiba di dekat perkemahan suku Taijut, hari telah senja dan dalam keremangan cuaca itu Leng Bu San melihat tiga bayangan berkelebat cepat sekali mendahului mereka.

Dia memberi tahu kepada Temuchin.

"Mereka adalah tiga orang yang berilmu tinggi. Mudah-mudahan saja mereka bukan orang-orang yang memihak kepada suku Taijut karena kalau demikian kita akan menemui lawan yang amat kuat."

Akan tetapi Temuchin sama sekali tidak merasa gentar. Dia memberi isarat agar pasukannya berhenti, lalu dengan sikap seperti seorang pemimpin pasukan yang lihai, dia berkata.

"Kita berhenti dan bersembunyi dulu di sini sampai malam tiba. Dalam kegelapan malam kita menyerbu. Ingatlah kalian semua, kita datang bukan untuk memerangi suku Taijut karena kita jauh kalah banyak dan kalau terjadi perang, sukar bagi kita untuk menang. Kita datang untuk membalas dendam. Pembunuh Ayahku adalah Baduchin, ketua suku Taijut dan dialah yang harus bertanggung jawab. Kalau kita sudah berhasil membunuh Baduchin, kita harus cepat mundur dan kembali ke perkemahan kita."

Setelah berkata demikian, Temuchin mengumpulkan mereka semua duduk mengelilinginya dan dia mengatur siasat penyerangan.

Leng Bu San mendengarkan dengan kagum sekali.

Biarpun agaknya ramalan Gurunya tidak mungkin bahwa seorang putera kepala suku yang amat sederhana dan miskin ini kelak akan menjadi Raja besar yang menguasai dunia, akan tetapi melihat anak berusia empat belas tahun itu demikian pandai dan penuh wibawa mengatur siasat untuk menyerbu perkemahan Taijut yang besar dan kuat, dia merasa kagum.

Temuchin mendapatkan ilmu mengatur pasukan itu dari Ayahnya, ditambah kecerdikannya sendiri.

Dia membagi seratus orang pasukannya menjadi tiga kelompok.

Kelompok pertama menyerbu untuk mengacaukan musuh dan menarik perhatian pasukan musuh ke satu tempat.

Pasukan ke dua menyelinap dari belakang dan mengadakan aksi pembakaran dan kelompok ke tiga berkuda mengelilingi perkemahan untuk membantu dan melindungi dua kelompok yang lain.

Seperti telah disinggung di bagian depan, kini suku Taijut dipimpin oleh Baduchin, dibantu oleh Ulan Bouw.

Setelah dipimpin Baduchin, suku Taijut tampaknya amat kuat.

Akan tetapi sesungguhnya di sebelah dalam kelompok terdapat pertentangan yang membuat suku itu sesungguhnya lemah.

Baduchin mengambil alih pimpinan suku itu dengan cara yang kejam.

Dia bahkan membunuhi para pimpinan terdahulu, dengan maksud agar tidak ada yang mendendam atau memusuhinya.

Padahal, kekejamannya itu bahkan mendatangkan dendam yang disembunyikan, yaitu mereka yang tadinya dekat dengan para pimpinan yang dibunuh Baduchin.

Diam-diam mereka menghasut sebagian anak buah untuk berpihak kepada mereka dan mulai menghimpun kekuatan mempersiapkan pemberontakan kalau saatnya sudah tiba.

Pemimpin besar mereka yang diam-diam mendendam kepada Baduchin itu bernama Tagoutai.

Sesungguhnya suku Taijut telah memperbesar kekuatannya dengan menaklukkan suku-suku atau kelompok-kelompok kecil dan memaksa mereka untuk bergabung dengan suku Taijut.

Kekuatan mereka mencapai belasan ribu orang yang tinggal berkelompok-kelompok di suatu daerah.

Kelompok terbesar adalah yang menjadi tempat tinggal Baduchin, dengan anak buah tidak kurang dari lima ribu orang!

(Lanjut ke

Jilid 29) Antara Dendam & Asmara (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 29 Temuchin bukan tidak tahu akan kekuatan musuh ini.

Maka dia tadi memberi peringatan kepada anak buahnya agar tidak melakukan perang, melainkan hanya memberi kesempatan kepada Temuchin dan Leng Bu San untuk mencari dan membunuh Baduchin membalas kematian Yesukai.

Setelah malam tiba dan semua kelompok mengadakan persiapan matang, mulailah Temuchin memberi isarat.

Kelompok pertama, tanpa kuda, menghampiri perkemahan musuh, bersenjatakan busur dan anak panah, juga menggantungkan pedang bengkok di punggung, menyerbu dan melepaskan anak panah ke arah kemah terdekat.

Terdengar teriakan kesakitan dan perkemahan yang tadinya sunyi itu tiba-tiba menjadi gempar.

Orang-orang Taijut berlarian keluar kemah sambil membawa senjata dan semua lari ke arah datangnya penyerbuan.

Terjadi perang dan biarpun jumlah kedua pihak tidak seimbang, akan tetapi anak buah suku Yakka yang dipimpin Temuchin yang melakukan serangan gerilya lebih untung.

Mereka berada di tempat gelap, berlindung di balik pohon yang jarang dan batu-batu, menyerang dengan anak panah sedangkan musuh yang banyak.

jumlahnya berada di tempat terang karena di depan kemah-kemah itu digantungi lampu.

Tiba-tiba di arah belakang tampak cahaya terang dari api yang berkobar.

"Kebakaran! Kebakaran!!"

Orang-orang Taijut menjadi semakin panik.

Sebagian lari ke tempat yang terbakar untuk memadamkan api, akan tetapi mereka juga disambut serangan.

anak panah oleh kelompok ke dua yang menibuat kebakaran.

Di bagian ini pun terjadi perang.

Akan tetapi kelompok ke tiga yang berkuda, membalapkan kuda mengelilingi perkemahan untuk membantu kelompok pertama dan ke dua dengan melancarkan serangan anak panah berapi, yaitu ujung anak panah menyala.

Selagi keadaan kacau-balau, Temuchin dan Leng Bu San menyelinap masuk dan dalam keadaan panik itu, mereka dapat bergerak leluasa menghampiri kemah terbesar yang berada di tengah.

Sebagai seorang berbangsa Mongol, tentu saja Temuchin tahu bahwa ketua suku tinggal di kemah terbesar dan di lindungi anak buah yang membangun perkemahan mengelilingi kemah ketua suku.

Baru saja tiba di depan kemah besar, mereka disambut bentakan dan muncul lima orang yang bertubuh tinggi besar di depan mereka.

Lima orang pengawal itu setelah melihat dengan jelas bahwa dua orang yang datang itu bukan anggauta Taijut yang kini sedang diserbu musuh, tanpa banyak cakap lagi lalu menyerang Temuchin clan Leng Bu San.

Melihat Temuchin masih remaja, maka yang menyerangnya hanya seorang pengawal, sedangkan empat orang menyerang.

Leng Bu San.

Melihat seorang Taijut tinggi besar yang kokoh kuat menyerangnya dengan sebatang golok besar yang dibacokan ke arah Iehernya, dengan gesit Temuchin melompat ke belakang sambil mencabut golok atau pedang bengkoknya, sebatang pedang pemberian Ayahnya.

Lawannya merasa penasaran melihat betapa serangan pertamanya dapat dielakkan dengan mudah oleh anak itu.

Dia melompat ke depan dan menyerang lagi, kini golok besarnya membacok kepala Temuchin dari atas.

Bacokan ini mengeluarkan suara berdesing, akan tetapi Temuchin mengelak ke kiri lalu memutar tubuh ke kanan sambil menusukkan pedangnya ke arah dada kanan lawan yang terbuka.

Tusukan itu cepat sekali, akan tetapi ternyata lawannya juga bukan orang lemah.

Dia merupakan seorang di antara para pengawal pribadi Baduchin dan menghadapi serangan balasan itu dia melompat ke belakang dan terhindar dari tusukan.

PengawaI Taijut itu semakin penasaran.

Bagaimana mungkin dia tidak mampu merobohkan seorang anak-anak?

Dengan marah sekali dia menyerang lagi dan terjadilah pertandingan yang aneh, seorang laki-laki dewasa tinggi besar melawan seorang anak remaja.

Baru senjata mereka saja sudah berbeda banyak.

Pedang bengkok yang dipegang Temuchin hanya setengah besarnya dibandingkan golok besar itu.

Sementara itu, Leng Bu San yang dikeroyok empat orang pengawal Taijut mengamuk dengan hebat.

Murid Koai-Tong Mo-Kai ini sebelum menerima hadiah sebatang pedang bengkok dari mendiang Yesukai, tidak pernah menggunakan senjata.

Cukup dengan sepasang tangan dan kakinya dia sanggup mengalahkan lawan yang bersenjata, dibantu ilmu sihirnya.

Kini, menghadapi empat orang pengeroyok, dia bergerak dengan cepat sekali.

Tanpa menggunakan ilmu sihir dan tanpa mencabut senjatanya, dia merobohkan empat orang itu dengan tamparan dan tendangan kakinya.

Dalam belasan jurus saja empat orang pengeroyok itu dapat dia rohohkan dan mereka tewas semuanya.

Temuchin juga berhasiI membabat perut lawannya dengan pedangnya.

Pengawal Taijut itu roboh dengan kulit perut pecah!

"Mari kita masuk!"

Kata Leng Bu San dan dia melompat ke dalam kemah yang besar itu, diikuti Temuchin.

Setelah tiba di dalam kemah yang luas itu, mereka mendengar suara orang bertempur di bagian belakang.

Mereka lalu mengejar ke sana dan ternyata yang bertempur adalah dua orang Kakek melawan dua orang pemuda.

Pertempuran yang amat hebat karena keempatnya memiliki tingkat ilmu silat yang tinggi.

Pada saat mereka datang, Leng Bu San melihat seorang gadis cantik melompat keluar dari ruangan pertempuran itu dan menyelinap ke dalam kamar besar di kemah yang luas itu.

Temuchin memperhatikan mereka yang bertanding dengan pandang mata kagum.

Dari pakaiannya, dia dapat menduga bahwa Kakek tinggi besar bermuka merah, bermata sipit, berusia sekitar lima puluh tahun dan bersenjata sebatang pedang lebar bengkok, tentu yang bernama Baduchin, kepala suku Taijut.

Sedangkan Kakek ke dua yang lebih tua berusia sekitar enam puluh lima tahun, berkepala gundul dengan jubah merah, bersenjata rantai baja, tentu yang bernama Ulan Bouw, pembantu Baduchin.

Adapun dua orang pemuda itu tidak dikenalnya, akan tetapi melihat pakaian mereka, dia tahu bahwa mereka adalah dua orang pemuda pribumi Han dari selatan.

Ilmu silat dua orang pemuda itu amat hebat sehingga mampu menandingi kelihaian Baduchin dan Ulan Bouw dan Temuchin yang maklum bahwa kemampuannya masih jauh lebih rendah daripada tingkat mereka, hanya menonton dan tidak mau turun tangan.

Dua orang pemuda itu bukan lain adalah Liang Sin Cu dan Lui Tiong Lee.

Adapun gadis cantik yang tadi meninggalkan ruangan itu adalah Liang Hong Cu.

Seperti kita ketahui, tiga orang muda perkasa ini mendapat tugas dari Liang Sun dan Lui Hong untuk merampas kembali cap Kaisar yang dicuri oleh mendiang Gobi Lo-Mo atas suruhan Baduchin.

Ketika mereka tiba di perkemahan suku Taijut yang dipimpin.

oleh Baduchin, kebetulan sekali malam itu Temuchin datang menyerang dengan pasukannya.

Melihat kekacauan itu, tiga orang muda itu mendapatkan kesempatan baik.

Mereka berhasil memasuki kemah Baduchin yang luas dan bertemu dengan Baduchin dan Ulan Bouw sehingga terjadi perkelahian.

Melihat Kakaknya dan Lui Tiong Lee mampu mengatasi dua orang lawannya, Liang Hong Cu lalu meninggalkan mereka dan memasuki kamar Baduchin untuk mencari cap kebesaran Kaisar Sung yang dicuri Baduchin itu.

Ketika Liang Hong Cu memasuki kamar besar yang berisi perabotan mewah itu, ia melihat tiga orang wanita cantik, yaitu para selir Baduchin, berada di situ dengan sikap tenang namun wajah mereka yang cantik itu tampak agak pucat.

"Jangan takut! Aku tidak akan mengganggu kalian bertiga, asalkan kalian memberitahu kepadaku di mana Baduchin menyimpan cap kebesaran Kaisar Sung yang dicurinya. Kalau kalian berbohong dan tidak mau mengaku, terpaksa aku akan bunuh kalian!"

Dengan suara gemetar, seorang diantara mereka berkata.

"Kami tidak tahu apa-apa tentang cap kebesaran Kaisar, akan tetapi semua barang berharga disimpan dalam almari itu."

Ia menunjuk ke arah sebuah almari besar yang berdiri di sudut kamar.

Mendengar ini, Liang Hong Cu yang maklum bahwa ia harus bekerja secepatnya karena berada dalam perkampungan Taijut itu amatlah berbahaya, lalu cepat menghampiri almari itu dan membuka pintu almari.

Memang banyak barang berharga dan senjata pusaka di situ.

Akan tetapi ia melihat cap kebesaran Kaisar Sung itu berada di atas sebuah baki emas!

Segera diambilnya cap kebesaran itu, akan tetapi agaknya melekat pada baki.

Ia mengerahkan tenaganya dan berhasil melepaskan cap itu dari baki.

Akan tetapi pada saat cap itu terlepas dari baki, terdengar bunyi menjepret dan ada sinar hitam meluncur cepat dari dalam almari ke arah dadanya!

Karena tangan kanannya memegang cap kebesaran, dan tidak ada kesempatan untuk mengelak, Liang Hong Cu menggunakan tangan kiri menangkap sinar hitam itu dari samping.

Ternyata yang ditangkapnya itu adalah sebatang paku besar berwarna hitam yang tadi meluncur dari alat rahasia dalam almari yang bekerja setelah ia memaksa dan mengambil cap kaisar itu dari atas baki.

Agaknya untuk menjaga agar jangan ada yang dapat mengambil cap itu, Baduchin telah memasang paku hitam itu untuk membunuh siapa saja yang berani mengambil cap Kaisar!

Tiba-tiba Hong Cu berseru kaget ketika merasa betapa telapak tangannya yang menggenggam paku hitam itu gatal dan panas.

Tahulah ia bahwa paku itu diolesi racun!

Pada saat itu ia melihat gerakan dan tiga orang yang berpakaian sebagai perwira pengawal muncul dari balik almari besar.

Mereka memegang sebatang golok besar dan Hong Cu cepat menyambitkan paku yang digenggam tangan kirinya ke arah seorang di antara tiga musuh itu.

"Syuuuttt... capp... aughhh...!"

Paku itu menancap di leher perwira pengawal itu yang roboh dan berkelojotan sebentar lalu terdiam, tewas.

Akan tetapi Hong Cu menggosok-gosok telapak tangan kirinya yang warnanya berubah hitam kehijauan dan terasa panas sekali.

Pada saat itu, dua orang perwira pengawal yang melihat tewasnya kawan mereka, lalu menerjang dan menyerang Hong Cu dengan marah.

Gadis itu melompat ke belakang, cepat menyimpan cap kebesaran ke balik ikat pinggangnya dan kini tangan kirinya sudah mencabut sebatang kebutan dan tangan kanannya mencabut pedang.

Akan tetapi kini lengan kirinya terasa panas sehingga ketika dua orang lawan itu menyerangnya, gerakannya terganggu dan tidak leluasa.

Bahkan lewat sepuluh jurus, kepalanya terasa pening.

la dapat menduga bahwa racun itu dari telapak tangan kirinya telah menjalar dan membuat ia merasa pusing dan tubuhnya mulai terasa panas.

la masih melawan sekuatnya, akan tetapi kepeningan kepalanya dan rasa panas yang menjalar ke seluruh tubuhnya membuat gerakannya kacau.

Dua orang pengawal itu dengan dahsyatnya menyerang dari kanan kiri.

Golok besar mereka menyambar dan Hong Cu menggunakan pedang dan kebutannva untuk menangkis.

"Tranggg... trakkk!!"

Kebutan di tangan kirinya terlepas karena telapak tangannya nyeri dan panas, juga kehilangan tenaga. Kaki pengawal itu terayun dan tepat mengenai pinggang kiri Hong Cu.

"Bukk...!"

Hong Cu terpelanting roboh. Dua batang golok besar itu menyambar ke arah tubuh gadis itu. Sinar putih meluncur bagaikan kilat menangkis dua batang golok itu.

"Trang-cringgg...!!"

Dua orang pengawal itu terkejut karena golok mereka terpental.

Akan tetapi Leng Bu San yang tadi menyelamatkan Hong Cu dengan tangkisan pedang bengkoknya kini menyerang dengan cepat sekali.

Dua orang pengawal itu berusaha menghindar, akan tetapi hanya dua tiga kali saja mereka dapat mengelak karena pedang bengkok di tangan Leng Bu San menyambar dahsyat dan mereka berdua roboh dan tewas seketika.

Hong Cu yang masih pening itu sudah bangkit berdiri dan memandang Leng Bu San dengan kagum, heran dan berterima kasih.

Ia tahu benar bahwa tanpa adanya pertolongan pemuda tinggi besar dan tampan itu, ia pasti sudah tewas tercincang dua batang golok lawan.

Maka ia lalu menjura penuh hormat dan berkata.

"Saudara yang gagah perkasa, aku Liang Hong Cu berterima kasih sekali atas pertolonganmu."

Ia melihat betapa pemuda itu memandangnya dengan bengong.

Ia tidak tahu apakah pemuda itu mengerti kata-katanya atau tidak.

Kalau melihat pakaian yang dipakainya, jelas dia memakai pakaian pemuda Mongol, akan tetapi melihat bentuk wajahnya dia lebih pantas seorang pemuda dari sebelah selatan Tembok Besar, Bangsa Kerajaan Cin atau lebih selatan lagi, seorang pribumi Han.

Melihat pemuda itu seperti bengong, Hong Cu lalu membungkuk untuk mengambil kebutannya yang tadi terlepas dari tangannya.

Akan tetapi ketika ia membungkuk hendak mengambil senjata itu, tiba-tiba kepalanya pusing sekali dan ia terhuyung dan tentu jatuh kalau saja pemuda itu tidak memegang lengannya.

"Nona, engkau keracunan! Cepat duduk bersila, aku akan mengobatimu!"

Kata Leng Bu San ketika melihat telapak tangan kiri gadis itu menghitam dan tubuhnya ada tanda-tanda warna hitam, tanda keracunan.

Hong Cu yang memejamkan matanya karena pusing itu percaya kepada pemuda yang menolongnya, maka ia lalu menjatuhkan diri duduk bersila sambil memejamkan kedua matanya.

Leng Bu San mengambil sebutir pel dari bungkusan dalam sakunya dan memberikannya ke tangan Hong Cu.

"Telanlah pel ini, Nona."

Hong Cu menurut dan menelan pel kecil itu.

Kemudian Leng Bu San duduk di belakang Hong Cu, menempelkan kedua tangannya ke punggung gadis itu dan mengerahkan tenaga saktinya, membantu Hong Cu mendorong keluar hawa beracun yang menjalar di tubuhnya.

Hong Cu dapat merasakan betapa ada hawa yang amat kuat membantunya, maka ia pun mengerahkan tenaga saktinya dan dalam waktu singkat saja hawa beracun itu keluar dari tubuhnya sehingga warna hitam itu menghilang.

Bahkan telapak tangannya juga pulih menjadi putih kemerahan kembali.

Leng Bu San melepaskan tempelan kedua tangannya dari punggung gadis itu dan Hong Cu bangkit berdiri.

Ia pulih kembali dan sekali lagi ia menjura sambil mengucapkan terirna kasih.

"Sudahlah, jangan sungkan, Nona. Lebih baik kita bantu dua orang teman Nona yang bertanding di bagian depan,"

Kata Leng Bu San yang teringat akan Temuchin yang juga berada di ruangan depan menonton perkelahian itu.

Hong Cu segera teringat kepada Kakaknya, Liang Sin Cu dan Lui Tiong Lee, maka ia mengangguk dan cepat melompat keluar diikuti oleh Leng Bu San.

Mereka tiba di ruangan di mana Sin Cu dan Tiong Lee bertanding melawan Baduchin dan Ulan Bouw, sedangkan Temuchin berdiri di sudut ruangan, menonton dengan kagum.

Temuchin belum menguasai ilmu silat secara mendalam dan matang namun dia dapat mengetahui dengan jelas bahwa baik Baduchin maupun Ulan Bouw terdesak hebat oleh dua orang pemuda yang amat lihai itu.

Pada saat Hong Cu dan Bu San memasuki ruangan itu, Lui Tiong Lee berhasil melukai pundak kanan Baduchin dengan pedangnya.

Mereka telah bertanding puluhan jurus dengan seru dan akhirnya Tiong Lee dapat melukai pundak lawan.

Baduchin terpaksa melepaskan pedangnya yang lebar dan bengkok.

Pada saat itu dia terkena sambaran kaki Tiong Lee sehingga roboh terpelanting.

Melihat pembunuh Ayahnya roboh, Temuchin cepat melompat ke dekat tubuh Baduchin dan sekali dia menggerakkan pedang bengkoknya sehingga tampak sinar berkelebat, leher Baduchin terpenggal dan Temuchin menjambak rambut kepala Baduchin yang tergantung dengan leher masih meneteskan darah!

Pada saat berikutnya, hampir berbareng dengan robohnya Baduchin, Ulan Bouw juga roboh setelah pedang kiri di tangan Liang Sin Cu membacok pundak kanan dan pedang kanannya memasuki dada kiri.

Wan Bouw menjerit, dan roboh tewas seketika.

Melihat betapa kakaknya dan Tiong Lee sudah merobohkan dua orang lawannya, dan cap Kaisar telah berada di balik ikat pinggangnya, biarpun dia merasa heran melihat seorang pemuda remaja Mongol membawa kepala Baduchin, Hong Cu berseru.

"Cepat kita pergi sebelum ribuan perajurit mengepung kita!"

Mereka semua termasuk Temuchin, berlari keluar.

Pertempuran masih terjadi dengan kacau-balau di luar dan lima orang itu, Liang Hong Cu, Liang Sin Cu, Lui Tiong Lee, Leng Bu San, dan Temuchin segera menerobos keluar dari kampung perkemahan suku Taijut.

Setelah mereka tiba di luar, Temuchin segera memberi isarat kepada para pembantunya untuk mundur sambil melepaskan dan menghujankan anak panah berapi ke perkampungan lawan.

Temuchin sudah membawa kepala pembunuh Ayahnya dan hal ini sudah cukup baginya.

Semua orang menunggang kuda meninggalkan daerah itu.

Ketika Liang Hong Cu, Liang Sin Cu, dan Lui Tiong Lee mendengar dari Bu San bahwa Temuchin adalah putera kepala suku Yakka yang membalas dendam atas kematian Ayahnya dan yang kini memimpin pasukan Yakka, mereka merasa kagum sekali.

Bagaimana seorang pemuda remaja mampu menjadi pemimpin Bangsa Mongol yang terkenal keras dan setengah liar itu?

Sin Cu, Hong Cu dan Tiong Lee segera memisahkan diri, mengambil jalan sendiri, pulang ke selatan.

Temuchin, Bu San dan sisa pasukannya kembali menuju perkemahan mereka.

Akan tetapi, tanpa diketahui orang lain, telah terjadi sesuatu yang luar biasa dalam hati dua orang, yaitu hati Liang Hong Cu dan terutama sekali hati Leng Bu San.

Pertemuan antara gadis dan pemuda itu mendatangkan kesan yang amat mendalam.

Hati Hong Cu tertarik, kagum dan merasa berhutang budi, bahkan berhutang nyawa kepada Bu San.

Sebaliknya, dalam hati Bu San timbul perasaan cinta yang mendalam, yang belum pernah dia rasakan selama ini.

Sayang dia tidak mendapatkan banyak kesempatan untuk mengenal gadis itu lebih dekat.

Dalam perjumpaan sebentar itu dia hanya mendapatkan pengakuan bahwa gadis itu bernama Liang Hong Cu, datang bersama Kakaknya yang bernama Liang Sin Cu.

Dan satunya lagi yang masih muda, dia tidak begitu memperhatikan, kalau tidak salah ingat namanya Tiong Lee, nama marganya dia lupa lagi, kalau tidak Li entah Lu atau lain lagi.

Dia tidak mau mengingatnya lagi, yang dia ingat dan kenang adalah ketika dia mengobati Hong Cu.

Masih terasa olehnya kelembutan dan kehangatan punggung gadis di balik sutera tipis itu, seolah kedua telapak tangannya melekat dengan kulit punggung dan dia merasakan ada getaran aneh yang membangkitkan seluruh hasrat berahinya.

Sebuah keputusan yang tetap dan teguh tumbuh dalam hatinya.

Dia harus mendapatkan Hong Cu sebagai isterinya atau setidaknya sebagai kekasihnya.

Selama dua tahun hidup di antara Bangsa Mongol dengan banyak sukunya yang memiliki kebiasaan aneh, dia mengenal sebuah suku yang tidak terikat kuat dengan pernikahan.

Pria wanita boleh saja hidup bersama asalkan sama sukanya.

Ketika tiba di perkemahan suku Yakka, Leng Bu San lalu menghadap Gurunya dan menyatakan keinginan hatinya untuk kembali ke selatan dengan alasan bahwa dia rindu kepada Ayah dan Ibunya.

Koai-Tong Mo-Kai setuju setelah Bu San berjanji kelak akan kembali ke utara dan membantu Temuchin.

Temuchin juga setuju dengan adanya janji itu.

Berangkatlah Leng Bu San ke selatan, tentu saja bukan untuk melepaskan rindu kepada Ayahnya, melainkan untuk menyusul dan mencari Hong Cu!

Bagaimana mungkin dia merindukan Ibu tirinya, Siangkoan Ceng, yang hendak membunuhnya?

Dia bahkan mendendam kepada Ceng Ceng, juga marah kepada Pangeran Leng Sui, ayah kandungnya.

Dia juga sudah makan fitnah Leng Sui bahwa Ibu kandungnya, Li Sian Hwa, telah meninggalkan Ayah kandungnya, menikah dengan pacar lama.

Dia juga membenci Ibu kandung dan Ayah tirinya itu.

Dalam dada dan kepalanya hanya dipenuhi dendam kebencian, kecuali kepada Hong Cu yang amat dicintanya.

Kedatangan Temuchin yang membawa kepala Baduchin disambut dengan gembira oleh suku Yakka.

Mereka merasa bangga sekali dan kepala musuh besar itu lalu menjadi pelengkap upacara sembahyang kepada arwah Yesukai yang diharapkan dapat menjadi tenang di alam sana melihat dendamnya telah impas!

Akan tetapi dalam setiap peristiwa, pasti ada yang setuju dan yang menentang.

Banyak di antara kelompok yang bergabung dalam suku Yakka merasa khawatir akan datangnya pembalasan dari suku Taijut dengan adanya penyerbuan Temuchin dan terbunuhnya Baduchin dan Ulan Bouw.

Terutama sekali kelompok-kelompok kecil yang dulu ditaklukkan oleh Yesukai.

Sebagian besar dari mereka tidak percaya bahwa Temuchin yang usianya baru lima betas tahun itu, bahkan belum genap lima belas tahun, akan mampu memimpin dan melindungi mereka sebagai pengganti Yesukai.

Diam-diam lebih dari separuh jumlah kelompok yang takluk kepada suku Yakka mengadakan pertemuan dan perundingan rahasia dan akhirnya mereka mogok tidak mau lagi memberi upeti sebagai tanda takluk kepada suku Yakka yang kini dipimpin Temuchin.

Mereka tidak percaya akan kemampuan Temuchin yang masih muda remaja itu untuk memimpin mereka dan mereka hendak mencari pemimpin baru yang akan dapat melindungi keluarga dan ternak mereka.

Mereka mengundurkan diri dan menjauhkan diri dari kelompok Yakka yang tadinya menjadi pusat.

Melihat keadaan yang amat buruk dan membahayakan persatuan suku Yakka, ibu Temuchin, yaitu Houlun yang gagah berani, membuang semua kedukaan atas kematian suaminya, lalu ia berusaha sekuat tenaga untuk mencegah perpecahan kelompok yang dipimpin suku Yakka.

la membawa panji suku Yakka yang terdiri dari sembilan utas ekor binatang yak (semacam lembu berambut panjang), menunggang kuda dan dikejarnya kelompok-kelompok yang tidak setia dan yang hendak melepaskan diri dari kelompok induk Yakka.

Wanita gagah ini berunding dengan mereka, membujuk beberapa keluarga agar mereka membawa kembali ternak dan kendaraan perkemahan mereka kembali ke kelompok Yakka.

"Mengapa kalian tiba-tiba kehilangan nyali dan keberanian? Di manakah kegagahan kalian yang selama ini diajarkan oleh mendiang suamiku, Ketua Yesukai yang gagah perkasa? Apakah kalian tidak melihat betapa anakku, Temuchin, yang baru berusia lima belas tahun, telah mampu membalas dendam kematian Ayahnya dan membawa kepala musuh besarnya? Betapa gagahnya Temuchin dan dia pasti bisa menggantikan kedudukan Ayahnya untuk memimpin suku Yakka yang gagah perkasa. Kalau kita bersatu, di bawah pimpinan Temuchin, kelak kita pasti akan menjadi Bangsa yang besar dan mulia!"

Sikap dan ucapan Houlun yang penuh semangat kegagahan itu sedikit banyak.

mempengaruhi beberapa keluarga.

Beberapa kelompok keluarga menurut dan mau kembali, bergabung kembali dengan kelompok induk.

Akan tetapi tidak terlalu banyak yang kembali bergabung.

Biarpun kemudian oleh para anggauta kelompok itu Temuchin dinyatakan menggantikan kedudukan Ayahnya, menjadi Khan (Ketua atau Kepala), akan tetapi pengikutnya tidaklah terlalu banyak.

Sebagian besar para pimpinan kelompok kecil yang dulu ditaklukan Yesukai, tidak percaya kepada Temuchin yang masih remaja, bahkan banyak di antara mereka bermaksud untuk membalas dendam kepada putera Yesukai, yaitu Temuchin.

Suku Yakka sejak dahulu, sejak di-pimpin oleh Yesukai bahkan oleh para pendahulunya, menguasai bagian utara Gurun Gobi.

Mereka memilih bagian-bagian terbaik dari tanah yang terbentang luas antara Danau Baikal dan pegunungan sebelah timur yang disebut Pegunungan Khing-An di perbatasan Mancuria dan yang merupakan tanah yang subur, dapat ditumbuhi rumput dan tanaman.

Memang tanah bagian ini terletak di antara dua buah sungai, yaitu Sungai Kerulon dan Sungai Onon.

Dua buah sungai itu mengalir melalui lembah-lembah yang subur tanahnya.

Bukit-bukit di sekitarnya ditumbuhi hutan lebat, penuh binatang buruan.

Air yang berasal dari salju tebal di puncak-puncak gunung berlimpah ruah.

Keadaan yang amat baik dan menguntungkan ini diketahui benar oleh para pimpinan kelompok yang dulu tunduk kepada Yesukai.

Kini setelah Yesukai tidak ada, timbul keinginan hati mereka untuk merebut daerah yang amat menguntungkan ini dan merampas segala milik Temuchin yang masih muda.

Mulailah terjadi pemberontakan kecil-kecilan terhadap Temuchin, dilakukan oleh para pimpinan kelompok yang melepaskan diri dari kelompok induk Yakka.

Mereka itu sesungguhnya merasa masih jerih menghadapi Temuchin, karena biarpun kini Leng Bu San tidak berada lagi di situ menemani Temuchin, namun di sana masih ada Koai-Tong Mo-Kai yang amat lihai dan ditakuti orang.

Mereka itu menjadi berani karena mereka telah mengadakan hubungan dengan suku Taijut yang setelah kematian Baduchin dan Ulan Bouw kini dipimpin oleh Targoutai, seorang kepala suku Taijut yang dulu dikalahkan dan dipaksa menaluk kepada Baduchin yang mengambil alih pimpinan.

Targoutai ini amat membenci Temuchin karena dahulu, ketika masih muda dalam sebuah pertandingan kegagahan dia pernah dikalahkan oleh Yesukai.

Kini, dengan bekerja sama dibantu para kepala kelompok kecil bekas taklukan Yesukai, dia mulal mengerahkan kelompoknya untuk melakukan pengejaran terhadap Temuchin yang dia anggap sombong dan berani membunuh Baduchin.

Dengan para pengikutnya yang tidak berapa banyak, tentu saja Temuchin menjadi repot menghadapi gangguan dan serangan mereka.

Akan tetapi dengan adanya bantuan dan perindungan dari Koai-Tong Mo-Kai, sampai sedemikian lamanya Temuchin masih dapat bertahan.

Sesungguhnya, Bangsa Mongol, sungguhpun oleh Bangsa yang tinggal di selatan dianggap sebagai Bangsa liar dan bahkan biadab, sejak belasan abad telah menjadi Bangsa yang besar dan kuat karena memang kehidupan mereka memaksa mereka untuk memperkokoh dan memperkuat diri menghadapi kehidupan yang sulit dan keras.

Sungai Ergun yang besar dan indah merupakan sebuah buaian atau ayunan bagi Bangsa Mongol.

Terdapat sebuah dongeng yang menyebut tentang gunung-gunung yang melebur dan mencair di daerah itu, yang menggambarkan bahwa Bangsa Mongol adalah rakyat gagah perkasa yang berjalan keluar dari gunung-gunung yang besar.

Bahkan sejak abad ke tujuh Sebelum Masehi Bangsa Mongol telah mulai bergerak menuju ke padang rumput Mongol bagian barat.

Pada masa remajanya Temuchin itu, suku-suku Mongol telah menyebar dan memenuhi batas-batas Ernen, Sungai Kelulun dan Sungai Tula, dan bagian timur dari Pegunungan Kent.

Suku-suku pun bermunculan, diantaranya suku Shi-Yan, Shadalan, dan Taichi-Wu.

Selain Bangsa Mongol di daerah itu terdapat pula Bangsa Tartar, Wonji-Ci, Miarshi, Huyi-Ci, Keli, Naiman dan Wang-Gu, yang tinggal di sekitar padang rumput Mongol dan tanah berhutan di sekeliling Telaga Baikal.

Bangsa-bangsa ini saling berbeda, baik mengenai kemajuan ekonomi maupun kebudayaan mereka.

Pada mulanya memang Bangsa Tartar yang seolah paling kuat dan berkuasa, namun hal ini lambat laun berubah karena Bangsa Mongol merupakan Bangsa yang tidak mau tunduk dan memiliki keangkuhan tinggi, menganggap diri mereka tidak kalah oleh Bangsa lain.

Memang harus diakui bahwa selama berabad-abad Bangsa Mongol seolah tidak pernah memperoleh kemajuan dalam kehidupan mereka.

Masih saja berkelompok sebagai Bangsa Nomad (pengembara), tidak memiliki rumah tetap, hanya tinggal dalam perkemahan kelompok, dan selalu berpindah-pindah mencari tempat baru di mana rumput dan tanaman lain masih subur, meninggalkan padang rumput yang telah gundul karena setiap hari dimakan ternak mereka.

Setiap tahun, hanya dalam bulan Juli dan Agustus saja padang rumput ditumbuhi rumput subur dan di mana-mana terdapat bunga dan daun-daun hijau segar.

Bangsa Mongol merupakan Bangsa yang suka kekerasan.

Menunggang kuda, memanah, bergumul dan berkelahi merupakan kesibukan mereka sehari-hari.

Juga mereka gemar menari dan bernyanyi, dan kebanyakan orang Mongol dapat dipercaya karena mereka selalu memegang janji dan siapa yang tidak jujur dan suka mengkhianati pasti mendapat hukuman berat dan dibenci semua orang.

Karena pada jaman itu, abad ke dua belas, agama-agama Buddha, Kristen, dan Islam sudah mulai tersebar sampai ke daerah Gobi, maka bangsa Mongol juga sudah mulai mendengar dan percaya akan adanya Yang Maha Kuasa, yang mereka anggap sebagai Raja Langit yang tak terbatas, di mana terdapat Dewa-Dewa langit yang dapat membantu manusia.

Memang apa yang dimiliki Temuchin yang masih remaja itu amat didambakan dan merupakan barang-barang yang tidak ternilai harganya dari Bangsa Nomad (kelana) itu.

Padang rumput yang subur dan karenanya ternak mereka makin menjadi banyak dan ini merupakan sumber kehidupan mereka.

Hewan ternak itu menghasilkan banyak bulu yang baik untuk membuat bulu kempa dan tali untuk mengikat kemah-kemah, Juga tulang untuk membuat mata panah, kulit untuk membuat pelana kuda, pakaian kuda dan kantong-kantong untuk menyimpan makanan yang amat penting bagi mereka, yaitu kumiss (susu yang telah meragi).

Juga iklim daerah itu baik sekali, dalam musim dingin suhu udara tidak demikian rendah sehingga dapat tertahan oleh mereka.

Inilah yang menyebabkan para ketua kelompok kecil yang dibesarkan nyalinya oleh Targoutai pemimpin suku Taijut yang baru selalu memusuhi dan mengejar-ngejar Temuchin untuk merampas semua miliknya.

Temuchin yang mendapat serangan dan gangguan dari sana-sini tentu saja merasa sedih.

Sesungguhnya dia dapat saja membawa kelompoknya melarikan diri dan mencari tempat yang lebih aman.

Akan tetapi dia memiliki watak yang keras dan pemberani, tidak mau mengakui kelemahan apalagi kekalahannya, Memang dia merasa sedih sekali melihat betapa bekas taklukan Ayahnya kini berkhianat dan memusuhinya.

Teringat betapa dia masih remaja harus menanggung semua beban yang berat, melindungi Ibu-Ibunya dan saudara-saudaranya, juga anak buahnya, terkadang dia merasa betapa berat tugas yang harus dipikulnya.

Pagi itu Temuchin sudah duduk termenung di dalani kemahnya.

Semalam suntuk dia tidak tidur karena pikirannya penuh dengan permasalahan yang dihadapinya.

Tiga hari berturut-turut dia harus menghadapi serangan dan gangguan mereka yang memberontak kepadanya.

Akan tetapi dengan gagah berani, dibantu para adiknya dan para anak buahnya suku Yakka yang gagah berani, terutama sekali dibantu Gurunya, Koai-Tong Mo-Kai, dia memukul para penyerangnya dan berhasil mengusir mereka.

Dalam pertempuran ini dia kehilangan beberapa orang anak buah, akan tetapi dia dan para pengikutnya juga telah menewaskan banyak musuh.

Mengingat akan kematian Ayahnya dan penderitaan Ibunya, tak dapat ditahannya lagi Temuchin menangis.

Akan tetapi dia pantang menangis mengeluarkan suara, hanya air matanya saja yang keluar dari pelupuk matanya dan mengalir turun di kedua pipinya.

Dia merasa sedih kalau-kalau dia tidak akan mampu melindungi Ibunya dan adik-adiknya, juga tidak mampu mempertahankan keutuhan suku Yakka.

Langkah kaki yang lembut memasuki kemah itu dan Temuchin yang sedang bersedih tidak mendengar langkah kaki ibunya.

Houlun yang anggun dan gagah, wanita berusia sekitar empat puluh tahun, masuk dan ia berdiri di belakang Temuchin dengan alis berkerut dan mata memandang penuh penasaran.

"Temuchin, apa yang kulihat ini? Ksatria gagah perkasa berhati singa, menangis seperti seorang anak perempuan yang cengeng?"

Temuchin terkejut mendengar teguran Ibunya. Dia cepat bangkit, memutar tubuhnya dan menghapus air matanya dengan ujung lengan bajunya.

"Ibu, aku penasaran dan sedih mengingat akan perbuatan para pengkhianat dan pengecut yang memberontak terhadap kita."

"Hemm, apakah anakku yang berhati singa itu kini telah berubah menjadi seekor anak domba yang lemah? Seekor singa akan menggeram dan meraung, mengaum menggetarkan seluruh padang rumput kalau marah, bukan mengembik dan menangis seperti anak domba yang lemah!"

"Ibu, apakah Ibu tidak bersedih ditinggal mati Ayah dan kini dimusuhi bekas anak buah?"

"Mengapa mesti sedih? Kalau aku menyedihi kematian Ayahmu maka sesungguhnya aku bersedih bukan karena Ayahmu, melainkan sedih karena iba diri, suatu tanda kelemahan. Ayahmu sudah senang, dapat melihat musuh besarnya terbalas. Dan aku seperti semua manusia lain di dunia, tidak mungkin terbebas dari susah senang. Menerima senangnya hidup saja tanpa siap menerima susahnya adalah sikap seorang pengecut. Baik susah maupun senang merupakan pelengkap hidup, anakku, dan yang terpenting adalah tetap bersikap gagah, baik di waktu susah maupun di waktu senang. Bangkitlah, anakku, dan meraunglah, mengaumlah menentang segala kesukaran ini bagaikan seekor singa yang gagah perkasa, agar aku Houlun, Ibumu, dapat merasa bangga mempunyai seorang putera sepertimu!"

Dibangkitkan semangatnya oleh sikap dan ucapan Houlun, tiba-tiba Temuchin yang bangkit berdiri itu lalu mengeluarkan raungan yang amat dahsyat, auman yang nienggetarkan seluruh perkemahan di tempat itu.

Pagi hari yang sunyi itu menjadi gempar, semua orang berlompatan mendengar auman itu dan keluar dari kemah masing-masing.

Ketika mereka mendengar bahwa suara itu adalah raungan Temuchin yang marah karena pengkhianatan sebagian anggauta kelompoknya, semua orang terdiam dan merasa kagum.

Mereka dapat merasakan bahwa raungan sedahsyat itu tidak mungkin keluar dari dada seorang pemuda remaja biasa saja!

Setelah tenang kembali, Temuchin memandang Ibunya dengan sinar mata kagum.

"Baiklah, Ibu. Sekarang aku menyadari kesalahan dan kelemahanku. Padahal Guruku, Koai-Tong Mo-Kai sudah seringkali memberi nasihat agar aku tidak pernah mau menyerah kepada keadaan. Akan tetapi, kebencian Targoutai kepadaku, ditambah lagi dengan para kepala kelompok kecil yang kini menakluk dan membantunya memusuhiku, sungguh membuat aku merasa penasaran sekali."

"Jangan khawatir, anakku. Bagaimanapun juga, Targoutai adalah seorang keturunan suku Bourchikoun pula, seketurunan dengan Ayahmu, yaitu termasuk suku Bangsa yang matanya berwarna abu-abu. Memang dia merasa penasaran dan ingin menguasai suku Yakka kita, akan tetapi bagaimanapun juga, engkau yang telah membunuh Baduchin setidaknya berjasa baginya. Dengan kematian Baduchin, dia kembali menjadi Ketua Taijut. Dia juga menaruh hormat kepadaku, maka andaikata dia dapat menangkapmu, aku yakin dia tidak akan membunuhmu, hanya ingin memaksa engkau takluk kepadanya."

"Ibu, aku tidak sudi takluk kepadanya!"

Kata Temuchin dengan gagah dan tegas.

"Ha-ha-ha, tidak semestinya calon Raja besar takluk kepada orang lain!"

Terdengar suara bercampur tawa dan mendengar suara ini, Ibu dan anak itu bangkit berdiri, memutar tubuh menghadapi pintu kemah dari mana muncul seorang Kakek berusia enam puluh tahun lebih.

Wajah kakek itu sebenarnya cukup tampan, akan tetapi jenggot, kumis dan rambutnya kotor acak-acakan, juga pakaiannya tambal-tambalan seperti seorang Jembel gila.

Dia tertawa-tawa aneh, tawa yang tidak normal seorang yang miring otaknya, karena suara tawanya terkadang bercampur suara keluhan atau tangis.

"Guru...!"

Temuchin maju dan menjura dengan hormat.

Biarpun pemuda remaja ini tahu benar bahwa Koai-Tong Mo-Kai adalah seorang yang otaknya tidak waras alias setengah gila, namun dia menghormatinya seperti setiap orang Mongol menghormati Gurunya yang dia tahu amat sakti.

Houlun juga menghormati Koai-Tong Mo-Kai yang telah terbukti selalu melindungi puteranya.

Setelah membungkuk tanda hormat, ia lalu bertanya.

"Koai-Tong,"

Kakek ini memang minta agar orang-orang, termasuk Houlun, menyebutnya Kaoi-tong (Anak Aneh), sebutan yang lucu akan tetapi bahkan menyenangkan hatinya.

"Sudah seringkali engkau menyebut puteraku Temuchin sebagai seorang calon Raja besar. Akan tetapi melihat betapa setelah Ayahnya meninggal, hidupnya selalu terancam, apakah engkau yakin akan kebenaran ramalanmu itu?"

"Ha-ha-ha-heh-heh!"

Koai-Tong Mo-Kai tertawa terkekeh-kekeh lalu menjatuhkan dirinya di atas permadani, bergulingan seperti seorang anak kecil tidak dapat menahan geli hatinya dan tertawa-tawa.

"Nyonya Houlun, apakah engkau masih meragukan kehebatan dan ketepatan ramalanku?"

Kembali dia tertawa terkekeh-kekeh.

"Sesungguhnya aku percaya sepenuhnya kepadamu, Koai-Tong. Akan tetapi melihat bahaya yang selalu mengancam puteraku, aku menjadi ragu. Kalau memimpin kelompok kita sendiri saja dia menemui rintangan yang amat besar, bagaimana mungkin dia akan dapat menjadi seorang Raja besar yang menurutmu akan menguasai seluruh dataran Gobi?"

"He-he-he, engkau masih ragu dan tidak percaya? Bagaimana, Temuchin, apakah engkau juga masih ragu dan tidak percaya kepadaku seperti ibumu?"

Temuchin memandang wajah gurunya.

"Aku percaya, Guru. Akan tetapi aku tidak menyalahkan keraguan Ibuku karena memang keadaanku seperti ini, rasanya sedikit saja harapan bagiku untuk dapat terkabul keinginanku seperti yang engkau ramalkan."

"Huh, kalian semua bodoh. Nah, sekarang, Nyonya Houlun dan engkau Temuchin, suruh semua orang keluar dari kemah ini dan tutupkan pintunya, jangan biarkan sinar matahari masuk. Aku akan memperlihatkan kepada kalian apa yang akan terjadi!"

Temuchin yang mentaati gurunya lalu menyuruh keluar semua orang dari dalam kemah sehingga kini tinggal mereka bertiga yang berada di dalam.

Ruangan kemah itu agak gelap karena sinar matahari pagi tidak dapat masuk setelah semua lubang ditutup.

"Sekarang kalian berdua duduklah bersila dan menghadap ke sudut yang gelap itu. Satukan perhatian dan Iihatlah apa yang akan tampak di sana!"

Kata Koai-Tong Mo-Kai dengan suaranya yang aneh dan agak gemetar, mengandung wibawa yang amat kuat.

Dia lalu duduk bersila dan mengangkat kedua tangan ke atas, mengerahkan kekuatan sihirnya diarahkan kepada bagian yang hitam gelap dari sudut ruangan itu.

Tiba-tiba saja Ibu dan anak itu terbelalak dan melihat bayangan yang tiba-tiba muncul di atas bagian kemah yang gelap itu.

Ibu dan anak itu dengan jelas sekali melihat seorang pemuda yang tak salah lagi adalah Temuchin, Duduk di atas sebuah singgasana mengenakan pakaian perang yang gagah, dengan topi baja yang atasnya meruncing, pakaian luarnya dilapis baja dan tangan kanan memegang sebatang pedang Mongol yang bengkok dan mengkilat saking tajamnya, dikelilingi pasukan berkuda yang amat besar jumlahnya!

Tak salah lagi, itulah Temuchin sebagai seorang panglima perang, atau seorang Raja besar, dengan sepasang mata mencorong tajam seperti mata seekor biruang kutub sedang marah!

Houlun mengeluarkan isak tertahan, lalu sujud menyembah ke arah gambar itu dan menangis.

Belum pernah wanita perkasa ini menangis sehingga tangisnya mengejutkan hati Temuchin yang segera merangkulnya dan menghiburnya.

Gambar itu hilang dan Koai-Tong Mo-Kai membuka kain penutup kemah sehingga ruangan kemah itu kini menjadi terang, dimasuki sinar matahari pagi.

"Koai-Tong, maafkan kami!"

Baca Juga: Pendekar Remaja 1

Baca Juga: Tangan Geledek 10

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert