Eps 11 Antara Dendam Dan Asmara - Kho Ping Hoo
Baca online Antara Dendam Dan Asmara - Kho Ping Hoo
Cersil Antara Dendam Dan Asmara - Kho Ping Hoo.
Houlun menghapus air matanya dan berseru kepada Guru puteranya itu.
"Sekarang kami percaya sepenuhnya kepada ramalanmu. Akan tetapi, Koai-Tong, apakah engkau berani menjamin bahwa puteraku akan selamat dari pengejaran Targoutai?"
"Ha-ha-ha, jangan khawatir. Semalam aku melihat bintang puteramu masih cemerlang. Memang, ada saja awan hitam yang lalu di bawahnya seolah menutupi sinarnya, akan tetapi bintang baru nampak kecermelangannya setelah berulang-kali terhalang awan gelap. Halangan dan hambatan justeru merupakan ujian dan menambah cemerlangnya bintang itu. Memang, aku juga melihat bahwa bencana akan datang bertubi-tubi menimpa puteramu, namun halangan-halangan itu bahkan akan semakin memperkuat dirinya sehingga kalau tiba saatnya kelak, dia akan menjadi seorang jantan yang sudah matang. Temuchin, engkau bersiap dan berhati-hatilah. Semalam aku melihat awan gelap berbentuk srigala mengancam bintangmu. Sekali ini engkau harus menghadapi semua bahaya itu seorang diri dan aku sendiri tidak boleh mencampurinya sebelum tiba saatnya. Engkau harus mengandalkan kecerdikan, kemampuan, dan juga nasib hidupmu sendiri. Nah, sekarang aku hendak pergi dan jangan engkau mencariku karena sebelum tiba saatnya aku tidak akan menemuimu."
Biarpun merasa khawatir sekali, Temuchin dan Houlun tidak berani membantah dan pagi hari itu Koai-Tong Mo-Kai menghilang dari perkemahan Temuchin.
Temuchin lalu mengumpulkan sisa anak buahnya yang masih setia kepadanya, yang jumlahnya hanya tinggal beberapa ribu orang saja!
Padahal ketika Yesukai, ayahnya, masih hidup dan berkuasa, jumlah anak buah suku Yakka dan taklukannya tidak kurang dari empat laksa orang.
"Kalian semua dengarlah baik-baik,"
Temuchin bicara dengan suara lantang.
"Targoutai kepala suku Taijut, berkeras untuk menangkap aku dan kalau terjadi penyerbuan, harap kalian semua meninggalkan tempat ini dan mencari selamat masing-masing, tidak perlu melawan karena kita kalah banyak. Aku akan menyelamatkan diriku sendiri, jangan hiraukan aku dan kelak, kalau keadaan membaik, aku akan kembali kepada kalian."
Bencana yang datang memang tidak dapat dihindarkan lagi.
Baru beberapa hari kemudian setelah Koai-Tong Mo-Kai pergi, pada suatu pagi datanglah suku Taijut, dipimpin sendiri oleh Targoutai menyerang perkemahan itu dan benar seperti yang dikatakan Houlun, Targoutai tidak mengganggu Houlun, karena yang diincar untuk ditangkap dan ditaklukkan hanyalah Temuchin.
Para pasukan Taijut menyerbu dan menggiring ternak bangsa Mongol untuk merampasnya, tidak melakukan pembunuhan semena-mena dan Targoutai langsung saja menuju perkemahan di mana berkibar panji kekuasaan Temuchin, yaitu terdiri dari sembilan utas ekor Yak.
Akan tetapi Targoutai tidak dapat menemukan Temuchin yang lebih dulu telah pergi menyelamatkan diri.
Dia hanya mengerahkan pasukannya untuk melakukan pencarian dan pengejaran, tidak tergesa-gesa karena Bangsa di daerah itu merupakan pencari-pencari jejak yang amat pandai.
Mereka dapat mencari dan menemukan seekor kuda yang hilang.
Mereka dapat mengikuti jejak sampai berhari-hari dan merasa yakin bahwa kalau yang diburu tidak mendapatkan tunggangan baru yang segar, maka yang diburu tidak akan dapat berlari jauh dan akhirnya akan tertangkap juga.
Temuchin mengajak saudara-saudaranya melarikan diri sebelum Targoutai menyerbu perkemahan mereka.
Yang merupakan pelindung utamanya adalah Kassar, saudara Temuchin yang merupakan seorang ahli panah yang pandai.
Dengan panahnya Kassar melindungi saudara-sau-daranya.
Terkadang dalam pelarian mereka yang dipimpin Temuchin, mereka turun dari kuda untuk menebang pohon-pohon agar merintangi pengejaran Targoutai dan pasukannya.
Setelah melarikan diri selama beberapa hari dan kuda-kuda mereka sudah kelelahan, Temuchin maklum bahwa mereka tentu akan sulit untuk membebaskan diri dari kejaran musuh.
Dia amat prihatin kalau mengingat keadaan adik-adiknya, terutama adik-adik perempuan.
Dia lalu mengajak mereka mendaki sebuah bukit di mana dia menemukan sebuah guha.
Temuchin memerintahkan adik-adiknya bersembunyi dalam sebuah guha besar.
Kemudian, untuk menyebar jejak agar membingungkan para pengejarnya, Temuchin berpisah dari adik-adiknya.
Kassar disuruh pergi ke jurusan lain dan kemudian mengambil jalan memutar untuk kembali ke perkemahan Ibu mereka karena Kassar diberi tugas melindungi Ibu mereka.
Temuchin sendiri lalu mengambil jalan lain, mendaki sebuah bukit berikutnya di mana dia bersembunyi sampai berhari-hari lamanya.
Akan tetapi bukit di mana dia bersembunyi itu tidak menyimpan sesuatu yang dapat dia makan sehingga setelah berhari-hari menahan lapar, terpaksa dia keluar dari tempat persembunyiannya dan menuruni bukit untuk pergi ke tempat lain di mana dia bisa mendapatkan makanan.
Akan tetapi, pasukan Taijut yang sudah dapat menduga bahwa Temuchin bersembunyi ke bukit itu, telah menanti dan begitu Temuchin tampak menuruni lereng bukit, dia segera dikepung!
Temuchin merasa terlalu lemah dan kelaparan untuk dapat melawan.
Karena melawan sama dengan bunuh diri, maka dia membiarkan dirinya ditangkap dan dihadapkan Targoutai.
Kepala suku Taijut ini girang melihat anak buahnya menangkap Temuchin.
Dia memang tidak membunuhnya karena dia masih merasa khawatir untuk membunuh putera Yesukai itu dan akan merasa cukup puas kalau Temuchin suka takluk kepadanya.
Akan tetapi untuk mencegah agar Temuchin tidak dapat melarikan diri, dia memerintahkan anak buahnya untuk memasangkan alat kang (belenggu pada leher dan kedua lengan) pada.
Temuchin.
Dibelenggu dengan kang, Temuchin sama sekali tidak berdaya dan dia digiring dengan hanya dikawal seorang perajurit karena dianggap tidak berbahaya dan tidak mungkin dapat melarikan diri.
Dia diberi makan minum secukupnya dan dengan muka tunduk pemuda ini dikawal seorang perajurit.
Ketika malam tiba dan cuaca amat gelap, Temuchin yang cerdik dan yang tubuhnya sudah kuat kembali tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.
Dalam kegelapan, dia menggerakkan belenggu kang dan memukulkannya ke arah kepala perajurit yang mengawalnya.
Perajurit itu roboh tersungkur dan pingsan!
Temuchin lalu melarikan diri, mengambil jalan yang tadi dilalui anak buah Targoutai.
Dia memasuki semak-semak di tepi sungai yang kemarin dilalui suku Taijut.
Ketika pada keesokan harinya beberapa kelompok pasukan Taijut melakukan pencarian ke tempat itu, Temuchin lalu bersembunyi ke dalam air, hanya kepalanya yang tersembul, tertutup tumbuh-tumbuhan di dekat tepi.
Temuchin mengintai dari dalam rumpun tumbuh-tumbuhan itu dan terkejut melihat bahwa seorang di antara para perajurit yang mencarinya, agaknya melihat dirinya!
Di samping kekagetannya, Temuchin juga merasa heran dan girang karena perajurit itu agaknya sengaja diam saja dan tidak menceritakan penemuannya kepada para perajurit lain.
Bagaimanapun juga, kalau belenggu kang itu belum terlepas dari lehernya, dia sama sekali tidak berdaya dan tentu saja tidak akan mampu lari jauh dan membebaskan diri dari pengejaran mereka itu.
Dengan kecerdikan luar biasa ditambah keberaniannya, diam-diam Temuchin keluar dari tempat persembunyiannya dan mengikuti pasukan itu yang menuju ke perkemahan mereka.
Setelah tiba di perkemahan mereka Temuchin lalu memasuki kemah di mana tinggal perajurit yang tadi melihatnya namun tidak melaporkannya.
Ketika Temuchin yang masih basah kuyup itu tiba-tiba muncul di depannya, perajurit itu terkejut bukan main dan merasa lebih ketakutan daripada Temuchin sendiri.
"Saudara yang baik, aku tidak ingin mengganggumu, aku datang untuk berterima kasih atas pembelaanmu,"
Kata Temuchin.
Ternyata kemudian bahwa perajurit itu bukanlah orang Taijut, melainkan seorang dari suku lain yang kebetulan saja ikut menjadi perajurit suku Taijut.
Dia merasa iba melihat Temuchin, apalagi dia memang seorang pengagum mendiang Yesukai sehingga timbul keinginannya untuk menolong Temuchin, pemuda remaja yang gagah berani itu.
Tanpa banyak cakap lagi perajurit itu lalu membelah kang yang mengalungi leher Temuchin, membakar kayu bekas kang itu lalu menyembunyikan Temuchin dalam sebuah gerobak di bawah tumpukan bulu domba.
Dapat dibayangkan betapa tersiksa dan sengsara Temuchin yang bersembunyi di bawah tumpukan bulu domba itu.
Apalagi setelah hari bertambah panas.
Tempat persembunyian itu panas bukan main dan ketika beberapa orang perajurit yang masih mencari Temuchin menggeledah kemah dan menusuk-nusukkan lembing mereka ke dalam tumpukan bulu domba, kaki Temuchin sempat tergores dan terluka.
Akan tetapi dia selamat dan setelah mendapatkan kesempatan laki-laki penolongnya itu mengeluarkannya dari dalam gerobak, memberinya makanan dan minuman susu, juga memberinya sebuah busur dengan dua batang anak panah, lalu berkata dengan suara sungguh-sungguh.
"Aku dan keluargaku akan mati seandainya mereka tadi menemukanmu. Sekarang pergilah ke tempat Ibumu dan saudara-saudaramu."
Temuchin merasa terharu dan dia mencatat nama perajurit itu.
Kelak, orang ini dapat dia temukan dan dia beri kedudukan yang tinggi dalam pasukannya.
Akhirnya Temuchin dapat menemukan perkemahannya.
Tempat itu telah porak poranda, ternaknya hilang dilarikan musuh, sedangkan Ibu dan adik-adiknya telah melarikan diri.
Dengan tekun dia mencari mereka dan akhirnya dia menemukan keluarganya.
Ibunya masih tegar dan gagah, selalu dikawal oleh Kassar yang pemberani dan Belgutai, adik se Ayah yang amat sayang kepadanya.
Keadaan mereka amat sengsara karena selama ini mereka harus menyembunyikan diri dan menderita kelaparan.
Setelah Temuchin kembali dalam keadaan selamat, hati Houlun dan para saudara Temuchin menjadi besar.
Bagi mereka kini mulai terasa bahwa kehadiran Temuchin benar-benar memberi semangat kepada mereka dan di dalam hati mereka terdapat keyakinan akan kebenaran ramalan Koai-Tong Mo-Kai bahwa kelak Temuchin akan menjadi seorang Raja besar dari Bangsa Mongol!
Hal ini terasa benar oleh mereka, bahkan Kassar yang gagah perkasa itu diam-diam menaruh hormat dan rasa takut yang berlebihan kepada Temuchin.
Penghidupan mereka sengsara sekali.
Keluarga itu hanya mempunyai delapan ekor kuda dan mereka hanya dapat melakukan perjalanan di malam hari menuju ke daerah di mana tinggal kelompok teman yang tidak memusuhi mereka.
Selama mengungsi ini mereka terpaksa harus makan daging hewan perburuan yang dalam pandangan mereka merupakan makanan yang hina seperti marmot, kelinci dan sebagainya.
Karena tidak ada daging domba, maka mereka harus puas dengan makan ikan saja.
Dengan pimpinan Temuchin yang cerdik, walaupun mereka dikejar-kejar dan dicari oleh Targoutai dan pasukannya, mereka mampu menghindarkan diri.
Sampai Hampir dua tahun lamanya Temuchin dan keluarganya menjadi buruan Targoutai.
Sesungguhnya, kalau dia mau, Temuchin dapat menyelamatkan diri dengan pergi meninggalkan tanah yang tadinya menjadi daerah kekuasaan sukunya.
Akan tetapi Temuchin tidak rela meninggalkan tanahnya.
Dia mengunjungi para kelompok yang dulu takluk kepada suku Yakka dan menuntut dari mereka upeti yang telah menjadi haknya, agar dia dapat menghidupi keluarga ibunya.
Juga Temuchin menahan diri untuk minta pertolongan pihak lain.
Bourtai yang telah menjadi tunangannya masih menunggunya.
Ayah Bourtai merupakan seorang kepala suku yang memiliki kekuasaan cukup besar, memiliki pasukan besar dan tentu saja dia akan mau menolong bakal menantunya.
Akan tetapi Temuchin memiliki harga diri dan keangkuhan, tidak mau minta tolong kepada calon Ayah mertuanya.
Selain Ayah Bourtai, terdapat pula Toghrul, kepala suku Karait yang telah lanjut usianya serta besar pula pengaruhnya.
Toghrul ini pernah bersumpah setia bersama Yesukai dan perjanjian semacam itu memberi hak kepada Temuchin, apabila dia mau, dia dapat minta pertolongan Toghrul karena kepala suku ini boleh dibilang telah menjadi Ayah angkatnya.
Sebetulnya hal ini amat mudah dilakukan karena untuk dapat mencapai tempat tinggal suku Karait, tinggal melalui padang rumput dan tak jauh dari sana terdapat kota-kota tempat tinggal suku Karait yang dikelilingi tembok-tembok tinggi.
Suku Karait termasuk suku yang kaya, memiliki harta benda yang indah-indah buatannya, bahkan kemah-kemah mereka ada yang dibuat dari kain bersulam emas.
Suku Karait ini mengakui kekuasaan seorang Pendeta Kristen dan banyak di antara mereka yang mencampurkan agama tradisionil mereka dengan paham keagamaan Kristen.
Akan tetapi Temuchin tidak mau minta bantuan kepala suku Karait yang menjadi Ayah angkatnya melalui sumpah bersama mendiang Yesukai.
"Kalau seseorang datang kepada orang lain dengan tangan hampa seperti orang minta-minta, dia akan dihina dan tidak akan disambut dengan rasa persaudaraan,"
Kata Temuchin yang sama sekali tidak mau dianggap atau dipandang rendah walaupun sesungguhnya keadaan keluarganya amat membutuhkan pertolongan orang lain.
Temuchin tetap dengan pendiriannya itu, bukan karena sungkan atau malu, melainkan karena memang demikianlah cara berpikir bangsa Yakka Mongol yang memiliki harga diri tinggi.
Kepala suku Karait itu terikat oleh sumpahnya dan berkewajiban untuk menolongnya, akan tetapi Temuchin tidak minta bantuannya, kalau dia tidak dapat datang berkunjung sebagai seorang sekutu yang terhormat.
Dia tidak sudi datang sebagai seorang pelarian yang mencari perlindungan!
Dalam kepribadian Temuchin tampak pula kebajikan dan kekejaman yang terkadang mengerikan bagi Bangsa lain.
Dia amat membenci orang-orang yang berwatak lemah dan dia selalu mencurigai segala sesuatu yang datang dari luar kelompok atau sukunya.
Dia belajar mempergunakan tipu muslihat terhadap musuh-musuhnya, akan tetapi janjinya kepada para pengikutnya selalu dipegang teguh dan dipenuhinya.
Temuchin memiliki pendirian bahwa .
"Mengingkari atau mengubah janji adalah sifat paling buruk yang dapat dimiliki seorang pemimpin! Pagi hari itu udara tampak gelap."
Matahari bersembunyi di balik awan hitam dan Temuchin yang berada di luar kemahnya memandang ke arah awan hitam itu dengan alis berkerut.
Dia tidak terlalu percaya akan tahyul, akan tetapi menurut kepercayaan suku Bangsanya sejak Nenek-Moyangnya, awan gelap yang menyembunyikan matahari itu membawa atau menunjukkan datangnya hal yang buruk atau tidak menguntungkan.
Kini dengan alis berkerut dia memandang ke arah awan hitam dan kerut alisnya semakin mendalam ketika dia melihat bahwa awan itu membentuk sebuah wajah besar yang amat menyeramkan, seperti wajah seorang raksasa atau iblis jahat yang mengangakan mulut, siap mencaplok siapa saja yang akan dijadikan korbannya.
Temuchin melihat seolah dia yang akan dijadikan korban awan hitam berbentuk kepala iblis itu.
Akan tetapi tiba-tiba rasa ngeri itu berubah menjadi kemarahan, seolah dia ditantang.
Dia mengangkat kedua tangannya ke atas, dikepal dan diacungkan ke arah awan itu dan berseru.
"Aku, Temuchin, tidak takut akan ancamanmu! Turunlah dan mari kita lihat siapa yang lebih kuat di antara kita!"
Pada saat itu, terdengar derap kaki kuda dan seorang laki-laki yang berwajah pucat melompat turun dari atas kudanya lalu menghampiri Temuchin.
"Celaka! Sekali ini mati kita semua...!"
Kata laki-laki itu dengan suara gemetar.
Temuchin memandang laki-laki berusia sekitar tiga puluh tahun itu dengan sinar mata tajam dan marah.
Melihat orang yang berpenampilan takut membuat dia merasa muak.
Orang ini adalah seorang di antara anak buah kelompok yang masih setia kepadanya.
"Mengapa engkau begitu ketakutan seperti seorang pengecut? Apa yang telah terjadi?"
Temuchin menegur marah.
"Celaka! Targoutai mengamuk, mulai membunuhi suku Yakka kita!"
Orang itu berseru. Temuchin menggelengkan kepalanya, tidak percaya.
"Targoutai hanya mengejar aku dan tidak pernah membunuhi anak buahku. Dia hanya membakar perkemahan dan merampas ternak!"
"Akan tetapi sekarang lain. Dia... dia membunuh dengan kejam, menganggap kita semua musuh besarnya. Agaknya karena selama ini Targoutai tidak berhasil menangkapmu, dia menjadi marah dan kini dia dibantu oleh Gobi Hek-Mo (Iblis Hitam Gobi) membantai semua orang yang dia anggap setia kepadamu."
Terkejut juga hati Temuchin mendengar bahwa Targoutai kini dibantu Gobi Hek-Mo, seorang Datuk yang terkenal sebagai Dukun atau manusia iblis yang amat sakti.
Pernah dikabarkan Gobi Hek-Mo yang menjadi adik seperguruan Gobi Lo-Mo (Iblis Tua Gobi) hilang atau sudah mati.
Kiranya sekarang muncul sebagai pembantu Targoutai dan membunuhi anak buah suku Yakka.
Dia teringat akan mendung hitam berbentuk kepala iblis itu dan dia lalu memandang ke arah awan itu dan kembali dia mengepal tinju dan menantang.
"Aku tidak takut Iblis Hitam Gobi! Turunlah dan aku akan menghancurkanmu!!"
Ucapan yang disertai geraman marah itu membuat pelapor itu menjadi semakin ketakutan.
Akan tetapi wajah Temuchin berseri ketika dia melihat betapa awan hitam itu mulai membuyar dan bentuk kepala iblis itu pun mulai menghilang!
Dia merasa menang dan menjadi gembira sekali.
(Lanjut ke
Jilid 30 -Tamat) Antara Dendam & Asmara (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 30 (Tamat) Tiba-tiba pada saat itu terdengar orang bersuara dengan nada naik turun seperti orang berdeklamasi atau membaca sajak.
"Siapakah remaja yang mampu mengalahkan Iblis Hitam Gobi yang sakti kecuali Si Calon Raja Gobi sejati?"
Temuchin cepat memutar tubuhnya dan di lain saat dia sudah memberi hormat kepada Koai-Tong Mo-Kai sambil berseru girang.
"Guru...!!"
Koai-Tong Mo-Kai yang sudah sekitar dua tahun nenghilang, kini muncul dan keadaannya masih aneh seperti dulu, hanya dia tampak lebih tua.
"Temuchin, aku merasa girang sekali melihat betapa selama dua tahun ini engkau mampu mempertahankan dirimu dari berbagai ancaman yang gawat. Hal ini membuktikan bahwa apa yang aku lihat melalui bintangmu ternyata tidak salah. Aku datang untuk membelamu yang terakhir kali karena sekali ini tanpa bantuanku engkau tidak mungkin akan dapat menghindarkan diri dari cengkeraman maut."
"Apakah Guru maksudkan ancaman dari manusia iblis yang bernama Iblis Hitam Gobi itu? Aku tidak takut, Guru, karena aku percaya penuh akan ucapan Ibu bahwa manusia hidup ada yang menghidupkan dan sewaktu-waktu akan mati karena ada yang mematikan. Kalau yang menghidupkan aku belum menghendaki aku mati, maka apapun juga di dunia ini, jangankan hanya Iblis Hitam Gobi, tidak akan mampu membunuhku."
"Ha-ha-ha-heh-heh!"
Koai-Tong Mo-Kai memperdengarkan suara tawanya yang khas.
"Ibumu benar, Temuchin, akan tetapi engkau harus menyadari bahwa untuk mematikan atau menghindarkan manusia dari kematian, Yang Maha Kuasa memerlukan bantuan yang akan menjadi sebab dari kehidupan ataupun kematian itu. Kematian bisa disebabkan oleh perbuatan manusia lain, atau oleh penyakit, musibah kecelakaan dan sebagainya. Untuk dapat terhindar dari kematian pun harus ada penyebabnya, dan mungkin Yang Maha Kuasa sudah menunjuk aku untuk menyebabkan engkau terhindar dari ancaman maut."
Pada saat itu, Houlun muncul dari kemah.
Wanita ini mengenal suara tawa Koai-Tong Mo-Kai dan ia segera keluar dan memberi hormat.
Agaknya wanita itu masih dapat mendengar sebagian ucapan kakek itu.
Ia menjura dan berkata dengan suara mengandung penuh harapan seorang Ibu.
"Koai-Tong, kami merasa berbahagia sekali melihat kedatanganmu. Kuharap engkau akan dapat melindungi puteraku Temuchin."
"Jangan khawatir, selembar nyawaku akan kupertaruhkan untuk melindunginya."
Setelah berkata demikian, Koai-Tong Mo-Kai lalu menganjurkan Temuchin membawa ibu dan saudara-saudaranya ke sebuah bukit tak jauh dart situ.
Anak buahnya yang tinggal sekitar lima ratus orang dan yang telah bersumpah setia kepadanya, juga oleh Koai-Tong Mo-Kai diatur agar menjadi pengawal keluarga itu.
Setelah mereka mendaki bukit kecil itu, atas petunjuk Koai-Tong Mo-Kai, mereka mendirikan perkemahan untuk Houlun sekeluarga.
Kemudian, lima ratus orang itu disuruh mengumpulkan batu-batu besar yang diletakkan sekeliling perkemahan, di puncak bukit itu.
Setelah semua pekerjaan selesai dilakukan menurut petunjuk Koai-Tong Mo-Kai, Kakek itu lalu berdiri di atas batu terbesar dan bicara kepada semua orang.
"Menurut perhitunganku, Targoutai dengan pasukannya akan mengejar sampai di sini dan mengepung puncak bukit ini. Dia membawa pasukan yang amat banyak jumlahnya, mungkin ada sepuluh kali jumlah pasukan kita. Selain itu, kalau tidak ada perubahan, mereka akan ditemani pula oleh seorang tokoh yang amat sakti, yaitu Gobi Hek-Mo. Oleh karena itu, apa pun yang terjadi, kalian sama sekali tidak boleh turun dari puncak untuk menyambut mereka dalam sebuah pertempuran karena hal itu hanya akan merupakan bunuh diri saja. Kekuatan kalian harus dibagi, ada bagian yang menggunakan anak panah untuk menyerang ke bawah, ada pula yang dapat menggunakan batu-batu untuk digulingkan ke bawah menerjang mereka. Jangan kalian takut, karena aku sendiri yang akan menemui dan menghalangi mereka. Gobi Hek-Mo akan kuhadapi sendiri dan yakinlah bahwa aku akan dapat mengatasi mereka."
Setelah berkata demikian Koai-Tong Mo-Kai lalu mengatur dan membagi tugas.
Temuchin sendiri ditugaskan untuk mengawasi semua kegiatan anak buahnya, terutama yang menggunakan batu untuk melawan atau menyerang musuh, sedangkan Kassar memimpin barisan anak panah.
Houlun, ibu yang gagah perkasa itu menjadi pusat untuk memperbesar semangat para anak buah.
la berdiri di atas batu sambil memegang lambang suku Yakka.
Tiga hari tiga malam lewat tanpa ada kejadian yang penting dan agaknya pihak musuh belum tiba di daerah itu.
Akan tetapi pada hari ke empat, pagi-pagi sekali mereka yang berjaga di atas puncak melihat gerakan banyak orang di bawah bukit.
Dari bendera dan lambang mereka, para anak buah Temuchin mengenal bahwa pasukan yang datang itu adalah orang-orang Taijut yang bergerak cepat dengan kuda mereka.
Seperti yang dikatakan oleh Koai-Tong Mo-Kai, pasukan yang besar jumlahnya itu kini melakukan pengepungan di sekeliling bukit dan dengan demikian berarti keadaan para suku Yakka itu telah terkepung rapat dan agaknya tidak ada jalan keluar dari tempat itu dengan selamat.
Kemudian, terjadilah sesuatu yang amat hebat dan juga amat menghebohkan, baik bagi pihak anak buah Temuchin maupun bagi pihak musuh.
Dari puncak bukit itu secara tiba-tiba saja datang awan hitam yang menyelubungi seluruh puncak sehingga dari bawah, para pengepung hanya melihat puncak bukit yang hitam tertutup semacam kabut atau awan!
Mereka menjadi ragu-ragu dan tidak tahu apakah mereka telah mengepung tempat yang benar.
Akan tetapi, semua anak buah Temuchin maklum bahwa semua ini disebabkan oleh sihir dari Koai-Tong Mo-Kai karena mereka melihat kakek itu duduk bersila di atas batu besar dan duduknya seperti orang sedang bersamadhi.
Pasukan Targoutai yang mengepung puncak bukit itu menjadi bingung karena puncak itu menjadi gelap dan mereka tidak tahu benar apakah Temuchin dan para pengikutnya berada di puncak.
Selagi mereka kebingungan, tiba-tiba terdengar bentakan suara menggelegar dan suara itu seolah mengandung kekuatan gaib yang mendorong pergi awan atau kabut gelap yang menyelimuti puncak!
Melihat ini, pasukan Taijut bersorak gembira dan timbul keberanian mereka setelah Gobi Hek-Mo menggunakan kekuatan sihir mengusir awan atau kabut yang menggelapi puncak bukit.
Mereka kini mulai mendaki lereng bukit, hendak naik ke puncak mencari Temuchin dan keluarganya.
Ketika pasukan Targoutai mulai mendaki sampai di lereng ke tiga, tiba-tiba saja dari atas datang hujan anak panah dan batu-batu bergulingan ke bawah!
Tentu saja pasukan Targoutai menjadi panik.
Mereka tidak menyangka akan mendapat serangan mendadak dan banyak di antara mereka yang roboh dan tewas tertusuk anak panah atau tertimpa batU besar.
Akan tetapi dari dalam rombongan pasukan Taijut yang kacau-balau dan di antara mereka banyak yang roboh itu, tampak bayangan berkelebat dan bayangan ini mendaki bukit dengan gerakan yang cepat dan dia dapat menghindarkan diri dari hujan anak panah dan batu.
Dari puncak, Koai-Tong Mo-Kai memandang ke bawah dan dia melihat bayangan itu.
Maka dia memesan kepada Temuchin untuk tetap waspada dan kalau pasukan musuh berani mendaki lagi, agar disambut hujan anak panah dan batu.
Dalam keadaan terlindung seperti itu di puncak, pasukan Yakka yang hanya berjumlah lima ratus orang itu akan mampu bertahan dan mengalahkan musuh yang ribuan orang jumlahnya.
Setelah meninggalkan pesan itu, Koai-Tong Mo-Kai lalu berlari menuruni puncak, menyambut bayangan yang dengan lihainya mendaki ke atas dan kini sudah sampai di lereng bawah puncak.
Orang yang amat lihai ini bukan lain adalah Gobi Hek-Mo.
Sesuai dengan julukannya, Iblis Hitam Gobi ini adalah seorang Kakek yang berkulit hitam arang dan wajahnya tampak bengis sekali.
Usianya sekitar tujuh puluh tahun dan Kakek ini adalah Sute (adik seperguruan) dari Gobi Lo-Mo.
Dua orang Datuk itu memang berasal dari daratan Gobi dan mereka memperoleh ilmu dan kesaktian mereka dari Tibet.
Karena Nenek-Moyang mereka memang berasal dari suku Taijut, maka dahulu Gobi Lo-Mo membantu Baduchin.
dan kini Gobi Hek-Mo juga membantu Targoutai kepala suku Taijut.
Nasihat dari Gobi Hek-Mo inilah yang membuat Targoutai mengganti siasatnya, tidak lagi mencari Temuchin untuk memaksanya takluk, kini dia ubah dengan niat membunuh dan membasmi semua suku Yakka.
Ketika Gobi Hek-Mo melihat betapa puncak bukit itu diliputi awan atau kabut yang tidak wajar, tahulah dia bahwa ada orang menggunakan sihir untuk melindungi puncak itu.
Dia lalu mengeluarkan kekuatan sihirnya untuk melenyapkan kabut buatan Kaoi-Tong Mo-Kai.
Akan tetapi melihat betapa banyak korban jatuh binasa dari pasukan Ta jut, Gobi Hek-Mo menjadi marah dan dia lalu mendaki bukit untuk melihat keadaan di puncak.
Ketika dia tiba di lereng bawah puncak, tiba-tiba dari atas berkelebat bayangan orang dan tahu-tahu dua orang kakek itu sudah saling berhadapan!
Gobi Hek-Mo berdiri tegak menantikan Koai-Tong Mo-Kai yang berdiri di depannya dan dia dapat menduga bahwa tentu orang ini yang tadi menggelapkan puncak dengan kabut buatannya.
Gobi Hek-Mo sudah mendengar bahwa Temuchin dilindungi seorang sakti, yaitu Koai-Tong Mo-Kai yang sudah lama dia dengar namanya walaupun belum pernah bertemu muka.
"Hemm, agaknya engkau yang berjuluk Koai-Tong Mo-Kai!"
Kata Gobi Hek-Mo dengan sikap memandang rendah.
"Ha-ha-heh-heh, dan engkau ini siapa lagi kalau bukan Gobi Hek-Mo! Sungguh tidak kusangka nama besar Gobi Hek-Mo ternyata hanya omong kosong saja. karena buktinya sekarang engkau membantu pihak yang kuat dan banyak untuk menghina yang lemah dan sedikit. Kalau engkau mempunyai rasa malu, Gobi Hek-Mo, turunlah dan pergilah dari sini agar nama besarmu tidak menjadi kotor ternoda."
Wajah yang sudah hitam arang itu menjadi semakin hitam karena dengan cepat darah Gobi Hek-Mo naik ke atas saking marahnya mendengar ucapan Koai-Tong Mo-Kai itu.
"Jahanam busuk!"
Dia memaki.
"Aku seorang Mongol dan sudah sepatutnya aku membela Bangsaku. Akan tetapi engkau, seorang Han gila mengapa datang mengacau di daerah ini? Kau yang harus pergi dari sini!"
"Aku tidak membela bangsa, melainkan membela yang benar!"
"Mampuslah!"
Gobi Hek-Mo membentak dan ketika dia mendorongkan kedua tangannya ke arah Koai-Tong Mo-Kai, hawa yang amat panas meluncur dan menyerang Kakek berpakaian jembel itu bagaikan api yang menyambar ganas.
Koai-Tong Mo-Kai dengan tenang juga mendorongkan kedua tangannya menyambut dan dari kedua telapak tangannya meluncur hawa sedingin air beku.
Dua macam hawa yang berlawanan itu bertemu di udara dan terdengar seperti bara api dimasukkan air, dan tampaklah uap putih mengepul.
Kedua orang Kakek itu seperti terdorong kekuatan yang dahsyat, membuat mereka terhuyung ke belakang.
Hal ini menunjukkan bahwa mereka memiliki tenaga sakti yang berimbang kekuatannya.
Agaknya Gobi Hek-Mo tidak dapat menerima kenyataan ini.
Dia tidak percaya bahwa lawannya mampu mengimbangi kekuatannya.
Maka sambil mengeluarkan suara geraman seperti binatang buas marah, dia lalu menyerang dengan kaki tangannya.
Gerakannya tidaklah terlalu cepat, akan tetapi setiap gerakan tangan atau kakinya ketika menyerang, mengeluarkan suara bercuitan mengerikan dan hawa panas menyambar-nyambar dengan dahsyatnya.
Akan tetapi Koai-Tong Mo-Kai yang maklum akan kelihaian lawannya, menyambut serangan itu dengan tenang sambil mengerahkan sinkang (tenaga sakti).
Mereka berdua berkelahi dengan tangan kosong dan tampaknya mereka bergerak lambat saja.
Namun jelas tampak betapa di sekeliling mereka terdapat angin menyambar-nyambar, membuat pohon-pohon di sekitar tempat itu bergoyang-goyang dan hawa yang amat panas dan dingin saling berganti menyambar dengan dahsyat.
Biarpun gerakan dasar ilmu silat tangan kosong mereka berbeda, Namun ternyata kedua orang kakek ini memiliki tingkat yang seimbang sehingga perkelahian itu seru dan mereka sating serang tanpa ada yang terdesak.
Sementara itu, di bawah pimpinan Temuchin dan Kassar, para anak buah suku Yakka melanjutkan serangan anak panah dan batu ke arah bawah puncak dan serangan yang tidak dapat dibalas ini menjatuhkan korban yang banyak sekali di antara anak buah pasukan Targoutai.
Perkelahian tangan kosong antara Koai-Tong Mo-Kai dan Gobi Hek-Mo berlangsung sampai lima puluh jurus tanpa ada yang terdesak.
Hal ini membuat Gobi Hek-Mo menjadi semakin penasaran dan marah.
Belum pernah dia menemukan lawan yang begini tangguh dan dia merasa kecelik karena tadinya dia memandang rendah lawan yang keadaannya seperti kanak-kanak atau seperti orang yang miring otaknya itu.
"Jahanam, engkau layak mampus!"
Teriak Gobi Hek-Mo dan sekali kedua tangannya bergerak, dia telah mencabut sebatang ruyung berwarna hitam, terbuat dari ekor semacam ikan yang langka.
Tangan kirinya juga mencabut sebuah kebutan yang bulunya berwarna merah dan begitu senjata ini dicabut, tercium bau amis sekali, amis dan agak memuakkan seperti bau ikan yang telah membusuk.
Karena maklum bahwa lawannya mengeluarkan senjata yang amat berbahaya dan mengandung racun, maka Koai-Tong Mo-Kai juga cepat mengeluarkan sepasang senjatanya yang tampaknya amat sederhana.
Di tangan kanannya tampak sebatang tongkat bambu kuning, sedangkan tangan kirinya memegang sehelai kain biru yang tebal.
Begitu dia mengelebatkan kain biru itu, ada angin menyambar dahsyat dan hal ini saja menunjukkan bahwa senjata sederhana itu amat hebat!
Tanpa ada yang mengeluarkan kata-kata, dua orang kakek itu sudah saling serang dengan hebatnya.
Sekali ini keduanya telah mengambil keputusan untuk bertanding mati-matian dan mereka sama-sama mengetahui bahwa untuk mencapai kemenangan, satu-satunya jalan adalah membunuh lawan karena kalau hal ini tidak berhasil dilakukan, maka dia sendiri yang akan terbunuh oleh lawan yang amat lihai itu.
Setelah dua orang sakti itu berkelahi mati-matian selama hampir seratus jurus, akhirnya usia yang menentukan.
Gobi Hek-Mo lebih tua belasan tahun dibandingkan Koai-Tong Mo-Kai, maka kalau tingkat kepandaian mereka berimbang, kini tinggal tenaga dan daya tahan tubuh saja yang menentukan.
Usianya yang jauh lebih tua membuat Gobi Hek-Mo kehabisan tenaga, napasnya mulai terengah-engah dan gerakannya semakin lamban.
Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Koai-Tong Begitu mendapat kesempatan baik dan lawannya agak terhuyung ketika tongkat dan ruyung bertemu dengan amat kuatnya, Koai-Tong Mo-Kai menggerakkan tongkat bambunya, bukan hanya menusuk, melainkan meluncurkan dan melepaskan tongkat itu yang berkelebat bagaikan anak panah dan menancap dada Gobi Hek-Mo sehingga menembus ke punggungnya!
Kakek itu terbelalak, seperti tidak percaya dan tangan kirinya melepaskan kebutan lalu memegang tongkat yang menembus dadanya.
Kemudian dia membanting ruyung ke atas batu yang berada di depannya.
Tampak cahaya api ketika terdengar ledakan itu dan ruyung itu pecah berkeping-keping dan kepingannya menyambar kemana-mana.
Koai-Tong Mo-Kai cepat berusaha menghindar dengan lompatan jauh, namun tetap saja beberapa keping pecahan ruyung itu mengenai punggung dan pahanya.
Dia memandang ke arah tubuh Gobi Hek-Mo yang hancur dan dia menghela napas panjang, merasa betapa pecahan ruyung yang mengenai tubuhnya itu mendatangkan rasa panas dan nyeri bukan main.
Tahulah dia bahwa dia telah terluka parah, luka yang mengandung racun.
Dan peristiwa ini tidak mengejutkannya karena menurut perhitungannya, dia memang sudah ditentukan menjadi korban dalam perkelahian itu.
Tiba-tiba dia mendengar sorak-sorai yang datangnya dari bawah.
Teringatlah dia bahwa bukit itu masih dikepung pasukan Taijut, maka Koai-Tong Mo-Kai lalu cepat mengerahkan sisa tenaganya untuk berlari menuruni bukit.
Ketika tiba di lereng bawah, pasukan yang dipimpin Targoutai menyambutnya dengan keroyokan.
Akan tetapi mereka itu bagaikan sekelompok nyamuk menyerang api.
Begitu Koai-Tong Mo-Kai menggerakkan tongkat bambu yang tadi sempat dia cabut dari tubuh Gobi Hek-Mo, dan mengayun kain biru di tangan kiri, para perajurit Taijut itu jatuh berpelantingan dan tidak mampu bangkit kembali.
Dia terus mengamuk dengan hebat.
Pada saat itu, dari puncak hujan pula anak panah dan batu-batu sehingga korban yang jatuh di pihak pasukan suku Taijut menjadi semakin banyak.
Mayat mereka malang melintang dan bertumpukan.
Setelah lewat tengah hari, jumlah korban yang roboh dan tewas tidak kurang dari dua ribu orang!
Hal ini membuat Targoutai merasa jerih juga, apalagi setelah dia mengetahui bahwa Gobi Hek-Mo yang dia andalkan juga sudah tewas!
Akhirnya dia terpaksa menarik mundur sisa pasukannva dan melarikan diri meninggalkan tempat yang berbahava Itu.
Sekali ini dia harus mengakui kekalahannya terhadap Temuchin!
Dari puncak bukit, Temuchin dan para pengikutnya melihat betapa banyak musuh mereka tewas dan sisanya melarikan diri.
Mereka merasa gembira sekali dan sambiI bersorak-sorai mereka menuruni puncak bukit.
Dengan gembira Temuchin yang memimpin pasukannya berloncatan dan membunuh perajurit musuh yang terIuka dan belum tewas, di ikuti anak buahnya.
Akan tetapi tiba-tiba dia berseru.
"Guru..!!"
Dan Temuchin lari ke arah Kaoi-Tong Mo-Kai yang duduk bersila di antara mayat-mayat orang Taijut yang berserakan di sekelilingnya.
Tubuh kakek itu tampak menghitam karena keracunan dan napasnya sudah tinggal satu-satu.
Melihat Temuchin berlutut di depannya, Koai-Tong Mo-Kai tersenyum.
"Temuchin, mulai sekarang bentuklah pasukan Mongol yang besar, persatukan mereka dan engkau yang menjadi Raja Besar memimpin mereka. Kelak nama mu akan mengguncang dunia dan keturunanmu akan menjadi Raja-Raja besar. Akan tetapi untuk dapat mempertahankan kekuasaanmu, engkau harus selaIu mendekati dan menyejahterakan rakyat. Jangan sampai rakyat kecil memberontak menentangmu, karena hal itu akan menjatuhkan engkau atau keturunanmu."
Setelah meninggalkan pesan ini, Koai-Tong Mo-Kai berhenti bernapas dan meninggal dunia.
Kelak akan ternyata bahwa semua ramalannya terhadap Temuchin itu terbukti.
Sesuai dengan pesan Gurunya, Temuchin memperabukan jenazah Kakek itu.
Dia lalu memenggal leher Gobi Hek-Mo dan menggantungkan kepala bermuka hitam menyeramkan itu di depan kampung perkemahannya sehingga hal ini mendatangkan rasa kagum dan tunduk kepada para kepala kelompok-kelompok kecil.
Kini para kepala suku dan kelompok mulai berdatangan dan menggabungkan diri.
Semua suku di daerah Gobi membicarakan kegagahan Temuchin dan kebijaksanaannya memimpin suku Yakka yang kini menjadi besar dan semakin kuat.
Setelah memiliki pengikut yang banyak, bahkan jumlahnya hampir menyamai jumlah pasukan yang dahulu dipimpin Ayahnya, Temuchin yang kini berusia tujuh belas tahun itu berkunjung ke perkemahan Bourtai, kemudian memboyong gadis itu ke perkemahannya sendiri sebagai isteri pertama.
Kita tinggalkan Temuchin yang mulai menyusun kekuatan dan memulihkan kebesaran suku Yakka dengan lambangnya sembilan untai ekor binatang yak, dan marl kita melihat keadaan para pendekar muda yang berada di selatan.
Seperti telah diceritakan di bagian depan, Pangeran Leng Sui yang kini telah berusia sekitar empat puluh tujuh tahun hidup makmur di Yen-Cing, Ibukota Kerajaan Cin yang wilayahnya pada masa itu juga disebut negara Kathai.
Yang membangun Kerajaan Cin berasal dari suku Karait dan rajanya bernama Toghrul.
Ada pula yang menyebutnya sebagai Raja Pendeta Johannes karena Bangsa Karait ini memeluk Agama Nasrani yang bercampur dengan agama tradisional Syamanisme.
Setelah Kerajaan Cin berdiri di daratan Cina bagian utara dan mengusir Kerajaan Sung ke selatan, Kerajaan ini dapat dibilang hidup cukup makmur, walaupun sesungguhnya Kerajaan Cin terjepit antara Bangsa-Bangsa Mongol di utara dan Kerajaan Sung di selatan.
Pangeran Leng Sui, dengan bantuan isterinya yang cerdik yaitu Siangkoan Ceng, mendapatkan kepercayaan dari Ayahnya, yaitu Raja Cin yang bergelar Wang Khan (Raja Segala Raja).
Pangeran Leng Sui memimpin pasukan keamanan Kerajaan dan dia mendapat ijin untuk keluar masuk Istana Ayahnya setiap saat.
Hal ini tentu saja mendatangkan perasaan iri dalam hati para Pangeran lainnya, terutama para Pangeran yang menjadi putera permaisuri.
Bahkan Pangeran Leng Gun yang menjadi putera mahkota, amat membencinya walaupun perasaan itu tidak dia perlihatkan karena Pangeran Leng Gun maklum akan kelihaian Pangeran Leng Sui, apalagi kelihaian isterinya, Siangkoan Ceng.
Selain itu, juga bukan rahasia lagi bahwa Wang Khan, raja Dinasti Cin, diam-diam tergila-gila kepada Siangkoan Ceng yang memang mencari perhatian raja ini demi membantu agar suaminya semakin berkuasa.
Leng Sui, Pangeran yang memang tidak sepenuh hati mencinta Siangkoan Ceng, bahkan menyetujui hubungan isterinya dengan Ayahnya!
Kemudian, terjadilah peristiwa yang mengejutkan dan menyedihkan keluarga Istana Kerajaan Cin ketika secara ber-turut-turut, Pangeran Mahkota Leng Cun jatuh sakit berat sampai meninggal dunia karena tidak ada Tabib yang mampu menyembuhkannya.
Dan kematian putera mahkota ini disusul dua orang Pangeran lain yang sedianya menjadi pengganti kedudukan putera mahkota Leng Cun.
Setelah secara berturut-turut dalam beberapa bulan saja tiga orang Pangeran itu mati karena penyakit aneh, dengan sendirinya hanya tinggal Pangeran Leng Sui yang berhak menggantikan kedudukan Raja di Kerajaan Cin!
Tidak ada yang mencurigainya dengan kematian tiga orang saudaranya itu, padahal tentu saja kematian itu disebabkan oleh perbuatan Siangkoan Ceng!
Pada suatu malam, seperti biasa kalau Raja Wang Khan memanggilnya, Siangkoan Ceng mengunjungi Raja itu untuk melayaninya.
Wanita ini sama sekali tidak tahu bahwa sejak semula meninggalkan bangunan di kompleks Istana yang menjadi tempat tinggal Pangeran Leng Sui, sampai ia memasuki kamar Raja Wang Khan, ada bayangan yang memiliki gerakan ringan dan cepat sekali membayanginya.
Bayangan ini bukan lain adalah Leng Bu San!
Seperti kita ketahui, Leng Bu San meninggalkan Temuchin dengan alasan rindu kepada orang-tuanya, padahal sesungguhnya dia hendak mencari Liang Hong Cu, gadis yang membuat dia jatuh cinta, bahkan tergila-gila.
Akan tetapi ketika dia yang melakukan perjalanan ke selatan tiba di Yen-Cing, Kotaraja Kerajaan Cin, dia teringat kepada ibu tirinya, Siangkoan Ceng yang dulu hendak membunuhnya.
Tak mungkin dia membiarkan wanita itu berbuat jahat terhadap dirinya tanpa dia balas!
Kini dia telah mewarisi ilmu kesaktian dari Koai-Tong Mo-Kai dan dia merasa cukup kuat untuk menandingi ibu tirinya itu.
Dia lalu melakukan penyelidikan dan ketika dia mengetahui bahwa ibu tirinya itu mempunyai hubungan rahasia dengan Raja Wang Khan, yaitu Kakeknya, dia marah sekali dan semakin membenci Siangkoan Ceng.
Dia melihat kenyataan pahit betapa Ayahnya kini telah mempunyai beberapa orang selir dan sudah mempunyai beberapa orang putera dan puteri.
Yang menyakitkan hatinya adalah ketika dia mengetahui bahwa Ayahnya tidak keberatan melihat Siangkoan Ceng mempunyai hubungan rahasia dengan Raja Wang Khan.
Sungguh merupakan keluarga yang brengsek dan tidak tahu malu, pikirnya.
Dia juga merasa semakin tidak suka kepada Ayahnya.
Demikianlah, dia bersembunyi dan malam itu dia membayangi Siangkoan Ceng yang meninggalkan rumah menuju ke kamar Raja Wang Khan memenuhi panggilan Raja tua yang menjadi kekasih gelapnya itu.
Setelah tiba di dalam kamar tidur Raja Wang Khan yang luas dan mewah, Siangkoan Ceng dan Wang Khan segera menikmati hidangan makan malam yang sudah disediakan dan masih mengebulkan uap panas.
Selagi mereka makan minum dan dengan gaya manja dan merayu Siangkoan Ceng menyuapi Sang Raja dengan daging pilihan, dan keduanya tertawa-tawa senang, tiba-tiba daun pintu kamar itu terbuka dari luar.
Seperti biasa, di luar kamar raja itu selalu ada lima orang pengawal yang berjaga.
Kini begitu daun pintu terbuka, tubuh lima orang pengawal itu terpelanting ke dalam kamar dan mereka ternyata telah pingsan semua!
Kemudian muncullah Leng Bu San memasuki kamar dan pemuda itu memandang kepada Siangkoan Ceng dengan sinar mata penuh kebencian dan kemarahan.
Melihat masuknya pemuda yang tak dikenalnya ini dengan Iebih dulu merobohkan lima orang pengawal, tahulah Siangkoan Ceng bahwa pemuda ini pasti datang dengan niat buruk.
Cepat ia menghadang di depan Raja Wang Khan dan mencabut Pek-Coa-Kiam, lalu membentak.
"Manusia kurang ajar, siapa engkau dan mau apa engkau?"
Melihat Raja tampak ketakutan, Leng Bu San berkata kepadanya.
"Sri Baginda Raja, harap tenang dan jangan takut. Hamba tidak akan mengganggu Paduka. Hamba cucu Paduka, nama hamba Leng Bu San, putera dari Ayahanda Pangeran Leng Sui. Paduka agaknya tidak mengenal siapa iblis betina ini! Ia adalah puteri Ketua Beng-Kauw, perkumpulan sesat itu. Iblis betina ini telah merayu Ayahanda Pangeran Leng Sui, dan dua belas tahun yang lalu hendak membunuh hamba. Kini ia merayu Paduka sehingga Paduka jatuh ke dalam kekuasaannya. Apakah Paduka tidak tahu siapa yang membunuh tiga orang putera Paduka, tiga orang paman Pangeran yang tewas karena sakit itu? Iblis inilah yang membunuh mereka, membuat mereka sakit dan tewas. Dan suatu saat tentu Paduka yang akan dibunuhnya!"
"Bu San, bocah setan kau!"
Kini Siangkoan Ceng menjerit marah setelah tahu bahwa anak itu adalah Leng Bu San.
"Sri Baginda, jangan percaya fitnah bocah setan ini. Sejak kecil dia telah menjadi anak puthouw (durhaka), melarikan diri minggat tanpa pamit. Bu San, engkau anak durhaka yang layak mampus!"
"Sri Baginda, Kerajaan Paduka pasti akan runtuh kalau Paduka percaya kepada iblis betina Beng-Kauw ini. Apakah paduka lebih percaya padanya daripada kepada hamba cucu Paduka?"
Saking marahnya Siangkoan Ceng sudah melompat ke depan dan menyerang dengan Pek-Coa-Kiam.
Sinar putih menyambar ke arah leher Bu San.
Pemuda itu sudah mencabut pedang bengkoknya, dan cepat menangkis sambil mengerahkan tenaga saktinya.
"Cringgg... tranggg...!"
Dua kali Pedang Ular Putih dan pedang Mongol bengkok bertemu dan akibatnya amat mengejutkan hati Siangkoan Ceng karena ia merasa betapa tangannya yang memegang gagang pedang tergetar hebat!
Tahulah ia bahwa anak tirinya ini telah menjadi seorang pemuda yang amat kuat.
Melihat Raja Wang Khan diam saja seperti orang kebingungan, Bu San menjadi penasaran.
"Sri Baginda, kalau Paduka tidak menangkap iblis betina ini, hamba akan menyiarkan rahasia busuk ini!"
Raja Wang Khan terkejut.
Kalau dikabarkan keluar bahwa dia telah berhubungan gelap dengan mantunya sendiri, namanya tentu akan tercemar.
Maka dia cepat berseru dan berteriak memanggil pasukan pengawal.
Setelah para pengawal yang kebingungan muncul, Raja Wang Khan berseru.
"Tangkap perempuan itu!"
Dia menudingkan telunjuknya ke arah Siangkoan Ceng. Tentu saja wanita itu terkejut dan ia lalu melompat dengan cepat keluar dari kamar.
"Iblis betina, hendak lari ke mana kau?"
Bu San mengejar.
Akan tetapi Siangkoan Ceng berlari terus dengan cepat.
Bu San tetap mengejar dan ternyata wanita itu lari ke rumahnya sendiri yang masih berada dalam kompleks Istana.
Bu San tidak peduli dan mengejar terus memasuki rumah Ayahnya.
Setelah tiba di ruangan tengah yang dipasangi lampu besar sehingga terang sekali, Bu San berhenti dan berhadapan dengan Siangkoan Ceng yang berdiri di samping Pangeran Leng Sui!
Pangeran Leng Sui yang sudah mendengar dari Siangkoan Ceng akan serangan Bu San, dengan marah menudingkan telunjuk tangan kirinya ke arah muka puteranya.
"Bu San, anak durhaka! Kiranya engkau yang dulu minggat kini kembali menjadi seorang jahanam yang berani hendak mengacau dalam Istana dan mengancam Ibumu!"
Bu San tersenyum mengejek dan rasa tidak sukanya kepada Ayahnya semakin membesar.
"Pangeran Leng Sui, engkau tidak pantas menjadi Ayahku! Engkau telah menyia-nyiakan Ibu kandungku dan jatuh ke dalam rayuan iblis betina Beng-Kauw ini. Engkau tidak tahu atau pura-pura tidak tahu betapa belasan tahun lalu iblis betina Siangkoan Ceng ini berusaha untuk membunuhku. Dan sekarang, engkau juga membiarkan iblis betina ini berjina dengan Sri Baginda Raja, Ayahmu sendiri! Kalau engkau tidak segera mengusir iblis betina ini dari sini, aku akan membuka rahasia kotor ini kepada semua orang dan hendak kulihat, hendak kau taruh di mana mukamu?"
Wajah Pangeran Leng Sui menjadi pucat, karena khawatir dan juga marah. Dia dapat membayangkan betapa namanya akan tercemar kalau puteranya benar-benar melaksanakan ancamannya.
"Anak durhaka!"
Bentaknya marah.
"Engkau yang patut disebut anak durhaka karena engkau menyuruh iblis betina ini membunuh tiga orang Pangeran adik-adikmu sendiri. Hal ini pun akan kuceritakan kepada semua orang kalau engkau tidak mengusir iblis betina ini, atau ia akan kubunuh sekarang juga."
"Keparat!!"
Pangeran Leng Sui tak dapat menahan kemarahannya dan dia sudah menyerang dengan pedangnya.
Akan tetapi dengan mudah Bu San miringkan tubuhnva dan kaki kanannya mencuat dengan tendangan kilat yang mengenai pergelangan tangan Ayahnya.
"Krekk!"
Pangeran Leng Sui berseru kesakitan, pedangnya terlempar dan tulang lengannya retak disambar tendangan kilat itu.
Siangkoan Ceng hendak bergerak menyerang dan ia mengerahkan ilmu sihirnya.
Tangan kirinya mendorong ke depan dan keluarlah asap hitam yang berbau amis, mengebul dan menyerbu ke arah Bu San.
Akan tetapi murid Koai-Tong Mo-Kai ini mengebutkan tangannya dan asap hitam itu membuyar, bahkan membalik ke arah Siangkoan Ceng yang menjadi terkejut sekali.
Sebelum ia menyerang dengan pedangnya, tiba-tiba dari luar terdengar suara nyaring.
"Siangkoan Ceng, atas nama Sri Baginda Raja Wang Khan, kami diperintahkan untuk menangkapmu. Keluar dan menyerahlah atau kami akan menyerbu!!"
Mendengar suara ini wajah Pangeran Leng Sui menjadi pucat sekali.
Kalau Ayahnya, Kaisar Kerajaan Cin sudah memusuhi Siangkoan Ceng, tentu saja dia tidak berani melindunginya.
Seorang pengawal dengan muka pucat dan suara gemetar datang melapor.
"Pangeran, di luar datang puluhan orang perajurit mengepung istana!"
"Ceng Ceng, pergilah dan jangan kembali ke sini!"
Kata Pangeran Leng Sui, bukan untuk menyelamatkan wanita itu, melainkan untuk menyelamatkan dirinya sendiri.
Mendengar ini dan melihat bahwa keadaannya kini amat berbahaya, dimusuhi oleh Kaisar dan juga ia harus berhadapan dengan Leng Bu San yang kini menjadi Iihai sekali, Siangkoan Ceng lalu melompat keluar dari gedung tempat tinggal Pangeran Leng Sui.
Pasukan pengawal Istana menyambutnya dengan serangan.
Akan tetapi dengan mudah Siangkoan Ceng merobohkan empat orang yang berada paling depan, lalu ia melompat jauh dan melarikan diri.
Pasukan itu mengejarnya, akan tetapi setelah tiba di luar Kotaraja, wanita itu menghilang dan mereka tidak dapat menemukan jejaknya.
Terpaksa mereka kembali dan membuat laporan kepada Kaisar.
Dengan cerdik Pangeran Leng Sui lalu menghadap Ayahnya dan mohon maaf atas kejahatan Siangkoan Ceng yang menjadi isterinya.
Dia mengatakan tidak tahu bahwa isterinya mempunyai watak yang jahat.
Kaisar Wang Khan yang tua memaklumi dan tidak memperpanjang urusan yang menyangkut Siangkoan Ceng, mengingat bahwa selama ini dia sendiri menjadikan mantunya itu sebagai kekasihnya dan tidak ingin peristiwa itu tersiar keluar Istana.
Leng Bu San tidak mau lama-lama tinggal di rumah Ayahnya.
Dia.
membenci Ayah kandungnya karena dia yakin bahwa Ayahnya itu sama sekali tidak mencinta dirinya, tidak mempedulikannya, dan bahkan membela ibu tirinya yang dulu hendak membunuhnya.
Maka, setelah Siangkoan Ceng melarikan diri, dia pun melompat pergi dengan niat mengejar dan membunuh wanita itu.
Akan tetapi wanita itu telah menghilang dalam kegelapan malam dan dia tidak tahu ke mana perginya.
Maka dia pun meninggalkan kota Yen-Cing dan melanjutkan perjalanannya ke selatan karena dia ingin mencari Liang Hong Cu, gadis yang membuat dia tergila-gila itu.
Bayangan gadis itu tak pernah meninggalkannya, selalu tampak di depan matanya dan selalu hadir dalam kenangan hati dan pikirannya.
Dia tidak tahu siapa sesungguhnya gadis itu.
Yang dia ketahui hanya namanya dan karena dia mendengar bahwa kedatangan orang-orang muda perkasa itu ada hubungannya dengan cap kebesaran Kaisar Sung yang dicuri mendiang Pangeran Baduchin, maka dia merasa yakin bahwa dia pasti dapat menemukan Liang Hong Cu kalau dia mencarinya ke ibu kota Kerajaan Sung di selatan.
Lereng Lawu, medio Juli 1994.
TAMAT Penerbit .
CV GEMA SOLO -1994 Pelukis .
Yohanes H.
Sumber Image .
Awie Dermawan Kontributor .
Yon Setiono Convert Image to text .
Cersil KPH Di Edit ke DOC, PDF, TXT oleh .
Cersil KPH
Baca Juga: Jodoh Rajawali 11
Baca Juga: Pedang Ular Merah 4