Eps 5 Antara Dendam Dan Asmara - Kho Ping Hoo
Baca online Antara Dendam Dan Asmara - Kho Ping Hoo
Cersil Antara Dendam Dan Asmara - Kho Ping Hoo.
Bunga api berpijar dan hampir saja Pedang Ular Putih itu terepas dari genggaman tangan Ang-Hwa Niocu atau Ceng Ceng.
Pertemuan pedang itu sungguh hebat dan agaknya Bu Beng ingin menyudahi perkelahian itu tanpa melukai lawan.
Ceng Ceng melompat ke belakang.
"Tahan...!"
Serunya sambil melibatkan lagi pedang itu ke pinggangnya. Han Bun atau Bu Beng menghela napas lega dan dia pun menyimpan pedang di sarung pedang yang tergantung di punggungnya, lalu dia tersenyum.
"Sukurlah engkau menghentikan seranganmu, Nona. Aku pun ingin sekali berhenti dan bicara. Sekarang kuharap engkau suka memberi penjelasan kepadaku. Di antara kita tidak ada permusuhan apa pun, tidak saling mengenal, akan tetapi kenapa engkau menyerangku mati-matian dan berkeras hendak membunuhku? Apa salahku kepadamu, Nona?"
Ceng Ceng juga tersenyum manis. ia tertarik sekali kepada pemuda itu dan dengan lembut ia berkata.
"Kita memang tidak saling bermusuhan, akan tetapi kalau bicara tentang kesalahan, engkau telah melanggar wilayah kami. Akan tetapi aku tadi juga hanya ingin mengujimu dan aku ingin berkenalan denganmu. Benarkah namamu Bu Beng? Tidak bohongkah engkau bahwa engkau tidak mengenal dirimu sendiri? Tadi kukira engkau hanya hendak mempermainkan aku."
Bu Beng menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak berani mempermainkan orang, Nona. Apalagi engkau seorang wanita terhormat. Aku bicara sebenarnya. Aku sama sekali tidak ingat siapa diriku dan! tidak ingat riwayatku."
"Tapi engkau pandai ilmu silat!"
"Entahlah, hal itu pun aku tidak tahu. Aku hanya bergerak untuk melindungi diriku."
Ceng Ceng mengangguk-angguk.!
"Hemm, engkau tentu telah mengalami sesuatu yang membuat ingatanmu hilang.
Bu Beng.
Baiklah, mari kita berkenalan.
Engkau Bu Beng, seorang yang telah kehilangan ingatan dan aku bernama Siangkoan Ceng atau lebih sering disebut, Ceng Ceng dan julukanku adalah Ang-Hwa Niocu.
Aku puteri Ketua Beng-Kauw yang menguasai wilayah ini."
Bu Beng memberi hormat, lalu berkata.
"Kalau begitu maafkanlah aku, Nona. Aku tidak sengaja melanggar wilayahmu karena aku memang tidak tahu sama sekali. Aku sampai di tempat ini hanya menurut saja ke mana kakiku membawaku. Aku sendiri tidak tahu harus pergi ke mana."
Ceng Ceng kini merasa yakin bahwa pemuda ini memang benar telah kehilangan ingatannya. Dengan ilmunya yang tinggi itu, pemuda ini tentu akan dapat menjadi pembantu yang boleh diandalkan pikirnya.
"Bu Beng, kalau engkau tidak punyai tujuan tertentu, setelah kita berkenalan, marilah engkau ikut bersama dan engkau bantulah kami."
Bu Beng menjadi girang mendapatkan tawaran itu.
Dia memang sedang bingung, tidak tahu harus berbuat apa.
Kalau kini dia ditawari pekerjaan, dia akan mempunyai kesIbukan dan perlahan-lahan dia akan dapat mengingat kembali siapa dirinya dan apa yang harus dilakukannya.
"Baiklah dan terima kasih Niocu (Nona)."
Katanya gembira.
Mereka lalu berjalan dan Ceng Ceng tidak melanjutkan perantauannya karena ia ingin memperkenalkan Bu Beng kepada Ayahnya.
Akan tetapi baru saja mereka melangkah, tiba-tiba terdengar derap kaki kuda dari arah belakang mereka.
Mereka cepat memutar tubuh dan melihat tiga orang penunggang kuda datang dengan cepat dan setelah tiba dekat mereka, tiga orang itu berlompatan turun dari atas punggung kuda mereka.
Melihat gerakan mereka yang tangkas ketika melompat turun dan melihat penampilan mereka, mudah diketahui bahwa mereka adalah orang-orang yang kuat.
Usia mereka sekitar tiga puluh dan empat puluh tahun.
Ceng Ceng tersenyum mengejek ketika mengenal mereka.
ia tahu bahwa mereka adalah tiga pendekar dari Lam-Jiu yang terkenal dengan sebutan Coa-Sam Heng-Te (Tiga Saudara Coa), Kakak-beradik she Coa yang dikenal sebagai pendekar-pendekar gagah perkasa.
Bu Beng tidak mengenal mereka, tetapi dia juga dapat melihat bahwa mereka adalah laki-laki yang tampak gagah.
Memang Coa-Sam Heng-Te terkenal sebagai pendekar-pendekar gagah yang selalu menentang kejahatan dan membela kebenaran dan keadilan.
Yang tertua bernama Coa Seng, berusia empat puluh tahun, bertubuh tinggi besar dengan muka gagah berwibawa, berkumis dan berjenggot pendek.
Yang ke dua bernama Coa Kiu, berusia tiga puluh lima tahun, tubuhnya tinggi kurus namun tampak kuat.
Dan yang ke tiga bernama Coa Bin, berusia tiga puluh tahun dan perawakannya sedang.
Mereka bertiga memiliki sebatang pedang yang tergantung di punggung mereka.
Begitu mereka melompat turun dari atas kuda, mereka bertiga langsung saja berloncatan dengan gerakan lincah dan berada di depan Ceng Ceng.
"Ang-Hwa Niocu, kini tiba saatnya engkau menebus dosa dan menyerahkan nyawamu untuk membalas kematian Kiu Sute (Adik Seperguruan Kiu)!"
Coa Seng membentak sambil mencabut pedangnya.
Kedua adiknya, Coa Kiu dan Coa Bin, juga mencabut pedang mereka dan tiga orang itu siap untuk menyerang Ceng Ceng.
Ceng Ceng menoleh kepada Bu Beng yang berdiri diam dengan pandang mata bingung dan heran, lalu berkata.
"Bu Beng, sebagai sahabatku, maukah engkau melindungi aku dari ancaman tiga orang kasar yang hendak membunuhku ini?"
Biarpun dia telah kehilangan ingatannya akan masa lalunya, namun watak dasar Bu Beng tidak berubah.
Dia akan selalu menentang kejahatan dan kekerasan, maka kini dia melangkah maju menghadapi tiga orang itu.
"Sobat bertiga, sungguh aneh kalau tiga orang laki-laki gagah seperti Sam-wi (Kalian Bertiga) hendak membunuh dan mengeroyok seorang wanita seperti Ang-Hwa Niocu ini. Harap Sam-wi menyadari bahwa hal itu amat tidak patut clan jangan mengganggunya."
"Twako, dia ini tentu seorang antek Beng-Kauw, maka membelanya!"
Kata Coa Bin marah.
"He, orang muda! Kalau engkau hanya seorang murid rendahan saja dari Beng-Kauw, engkau mundurlah agar kami tidak perlu membunuhmu. Kami hanya ingin membunuh Ang-Hwa Niocu dan tidak ada sangkut-pautnya dengan Beng-Kauw!"
Bentak Coa Seng.
"Sobat, segala urusan pasti dapat diselesaikan dengan cara damai, maka kuharap engkau tidak menggunakan kekerasan."
Kata Bu Beng, coba menyabarkan.
"Twako, mengapa berbantahan dengan antek ini? Bunuh saja mereka berdua!"
Kata Coa Kiu yang tinggi kurus dan dia pun segera menggerakkan pedangnya menyerang Ceng Ceng.
Akan tetapi gadis ini sengaja melompat ke belakang karena ia ingin melihat apakah Bu Beng mau membelanya.
Hal ini pun merupakan ujian bagi pemuda itu, sampai di mama kesetiaannya kalau ia menarik pemuda itu menjadi pembantu di Beng-Kauw.
Melihat Coa Kiu menggerakkan pedang menyerang Ceng Ceng yang melompat ke belakang, Bu Beng cepat mencabut pedangnya dan dia lalu melompat clan menghadang Coa Kiu yang hendak mengejar Ceng Ceng.
"Bocah lancang, mampus kau!"
Bentak Coa Kiu sambil menyerang Bu Beng dengan pedangnya.
Serangan itu dahsyat sekali dan Si Tinggi Kurus itu mempergunakan jurus ilmu pedang Kun-Lun Kiam-Sut yang cepat dan kuat.
Bu Beng otomatis mainkan jurus Kong-Ciak Kai-Peng (Burung Merak Membuka Sayap) dari Bu-Tong-Pai untuk menangkis serangan itu.
Pedangnya bergerak ke samping untuk menangkis dan dalam gerakan ini, pedangnya digetarkan tenaga sakti yang secara otomatis mendasari jurus itu.
"Trangggg...!!"
Coa Kiu terkejut karena hampir saja pedangnya yang terpental keras itu lepas dari pegangannya.
Melihat Coa Kiu berseru kaget dan terhuyung, Coa Seng dan Coa Bin segera membantu dan mereka berdua langsung menyerang Bu Beng.
Pemuda ini telah slap siaga dan memutar pedang menghadapi pengeroyokan tiga orang Kakak-beradik she Coa itu.
Bu Beng yang menggerakkan pedangnya secara otomatis itu kini mempercepat gerakannya.
Belasan jurus kemudian terdengar suara berdenting nyaring berturut-turut dan tiga batang pedang di tangan Kakak-beradik she Coa itu patah-patah bertemu dengan pedang Bu Beng.
Tiga orang itu terkejut dan baru menyadari bahwa pemuda itu ternyata lihai bukan main, bahkan mungkin lebih lihai daripada Ang-Hwa Niocu sendiri!
Maka, maklum bahwa kalau melawan terus sama saja dengan bunuh diri, mereka segera berloncatan naik ke atas punggung kuda masing-masing dan membalapkan kuda mereka kabur dari tempat itu.
Ang-Hwa Niocu mengambil segenggam Ang-Tok-Ciam dan begitu tangan kirinya bergerak, belasan batang jarum halus meluncur seperti sinar merah ke arah tiga orang yang melarikan diri itu.
Akan tetapi melihat ini, dengan khawatir Bu Beng menggerakkan kedua tangan seperti hendak menangkap jarum-jarum itu.
Tanpa dia sengaja tenaga sakti meluncur dari kedua tangannya itu, membentuk angin menyambar dan sinar merah itu terpental ke samping, membuat jarum-jarum tidak mengenai sasaran.
Baru Bu Beng menyadari bahwa gerakan kedua tangannya yang tidak disengaja tadi mendatangkan angin yang memukul runtuh senjata rahasia berbahaya itu.
Tiga orang itu membalapkan kuda mereka dan sebentar saja lenyap di antara pohon-pohon besar.
"Ihh, Bu Beng! Mengapa engkau menggagalkan serangan jarum-jarumku kepada tiga orang jahanam itu? Mereka sepatutnya dihukum mati!"
Ang-Hwa Niocu menegur.
Bu Beng menggelengkan kepalanya "Tidak, Niocu.
Aku tidak mau membunuh orang tanpa alasan yang kuat.
Mereka telah kalah dan melarikan diri, tidak semestinya kalau engkau membunuh mereka, apalagi dengan cara menyerang dari belakang menggunakan senjata gelap Itu curang namanya!"
Dia lalu menyimpan kembali pedangnya.
"Akan tetapi mereka tadi ingin membunuhku dan juga membunuhmu!"
"Hemm, kukira mereka itu mempunyai alasan yang kuat. Mengapa mereka hendak membalaskan kematian Sute mereka, Niocu. Apa yang terjadi dengan Sute mereka she Kiu itu?"
"Huh, engkau tidak tahu! Jahanam she Kiu itu memang layak mampus. Dia berani kurang ajar kepadaku, bersikap tidak sopan dan memandang rendah padaku. Kami berkelahi dan dia tewas. Sudahlah, Bu Beng, aku senang dan berterima kasih padamu bahwa engkau tadi telah mau membelaku. Mari kita ke perkampungan Beng-Kauw, akan kuperkenalkan engkau kepada Ayahku."
Bu Beng menurut saja dan menjelang sore mereka tiba di perkampungan Beng-Kauw.
Mereka disambut oleh Beng-Kauw Sam-Liong dan Ceng Ceng menceritakan tentang kelihaian Bu Beng kepada tiga orang Susioknya itu.
"Aku melihat Bu Beng ini dapat menjadi pembantu yang amat baik untuk kita, Sam-wi Susiok (Paman Guru Bertiga) maka aku ingin menghadapkan dia kepada Ayah."
Kata gadis itu kepada tiga orang Paman Gurunya di ruangan dalam sedangkan Bu Beng disuruh menanti di ruangan depan.
Tiga orang Beng-Kauw Sam-Liong itu mengerutkan alisnya dan mereka agaknya tidak senang mendengar pemuda tampan yang bukan murid Beng-Kauw itu hendak dijadikan pembantu utama.
Akan tetapi di depan Ceng Ceng yang galak mereka tidak berani mencari kerIbutan.
Maka dibawalah Bu Beng ke dalam menghadap Siangkoan Hok, diikuti oleh Ceng Ceng dan tiga orang Paman Gurunya.
"Ayah, ini adalah Bu Beng. Aku bertemu dengan dia di kaki pegunungan dan dia adalah seorang pemuda yang telah kehilangan ingatan masa lalu sehingga dia tidak mengenal dirinya sendiri, maka menggunakan nama Bu Beng (Tanpa Nama). Dia tidak ingat akan riwayatnya, juga perguruannya. Akan tetapi dia memiliki ilmu silat tinggi, Ayah. Dia bahkan telah membelaku ketika muncul tiga orang murid Kun-Lun-Pai, yaitu Coa-Sam Heng-Te dari kota Lam-Jiu yang hendak membunuhku. Ayah, aku membawa Bu Beng ke sini agar Ayah mau menerima dia sebagai seorang pembantu kita. Aku jamin, Ayah, ilmunya sungguh tinggi dan boleh diandalkan. Bu Beng, ini adalah Ayahku, namanya Siangkoan Hok, Ketua Beng-Kauw."
Bu Beng yang tadinya sudah dipersilakan duduk, bangkit berdiri dan menjura dengan hormat.
"Saya Bu Beng merasa senang dan terhormat sekali dapat berkenalan dengan Pangcu (Ketua Perkumpulan)."
Karena tadi Ceng Ceng ketika memperkenalkan menyebut Ayahnya Pangcu (Ketua Per-kumpulan) bukan Kauwcu (Ketua Agama), maka Bu Beng juga menyebut Pangcu.
Memang pada waktu itu, sebutan Kauwcu sudah tidak ada lagi setelah perkumpulan Beng-Kauw lebih menyerupai perkumpulan urusan duniawi daripada perkumpulan kerohanian atau agama.
"Hemm, orang muda, engkau masih begini muda dan engkau telah kehilangan ingatanmu akan masa lalumu. Bagaimana mungkin engkau masih dapat menguasai ilmu silat tinggi?"
Tanya Ketua Beng-Kauw itu penuh keraguan.
"Ayah, aku sendiri tadinya juga meragukan hal itu. Akan tetapi aku melihat buktinya ketika dia dengan mudahnya, mengalahkan Coa Sam Heng-Te, juga aku sendiri sudah pernah menguji Dan dia benar-benar menguasai ilmu yang tinggi, Ayah!"
"Dan engkau tidak tahu dari aliran mana ilmunya itu?"
"Memang aneh, Ayah. Aku melihat ada dasar-dasar ilmu pedang Bu-Tong-Pai, akan tetapi bercampur dengan gerakan aliran lain yang tidak kukenal."
Jawab Ceng Ceng.
"Hemm, aku belum yakin kalau belum mengujinya sendiri."
Kata Siangkoan Hok yang segera berkata kepada, Beng-Kauw Sam-Liong.
"Kalian bersiaplah dan Sute, majulah kalian satu demi satu dan cobalah sampai di mana tingginya ilmu dari Bu Beng ini. Serang dengan sungguh sungguh, jangan main-main!"
"Baik, Pangcu!"
Kata Bhe Kun yang menyebut Kakak seperguruannya dengan, sebutan Ketua untuk menghormatinya.
"Sute Cu Lok, kau majulah dulu dan uji kepandaian pemuda ini!"
"Aku kira sebaiknya kalau Susiok (Paman Guru) bertiga maju bersama agar lebih dapat dinilai kehebatan Bu Beng!"
Kata Ceng Ceng.
Dara ini sudah pernah berlatih dikeroyok tiga oleh para Paman Gurunya, maka ia sudah dapat mengukur dan yakin bahwa ilmu yang dikuasai Bu Beng akan dapat mengalahkan mereka.
ia sendiri pun dapat mengimbangi pengeroyokan mereka bertiga, maka Bu Beng yang lebih lihai daripadanya tentu akan mampu mengalahkan mereka.
Mendengar ucapan Ceng Ceng itu, wajah tiga orang Beng-Kauw Itu berubah merah.
Mereka merasa tak senang clan mendongkol sekali karena ucapan gadis itu jelas merendahkan mereka.
Masa mereka bertiga dianjurkan mengeroyok seorang pemuda?
Akan tetapi, Siangkoan Hok menjadi gembira mendengar ucapan puterinya.
Dia tahu akan kemampuan puterinya dan kalau puterinya mengusulkan agar Beng-Kauw Sam-Itong maju bertiga mengeroyok Bu Beng, tentu ilmu kepandaian pemuda itu benar-benar hebat!
"Baik sekali kalau begitu!
Sam-wi Sute, kalian bertiga majulah bersama dan coba uji kepandaian Bu Beng ini!"
Katanya gembira. Mendengar perintah Suheng mereka, Beng-Kauw Sam-Liong tidak berani membantah.
"Orang muda, cabut pedangmu dan sambut serangan kami bertiga!"
Kata Bhe Kun dan dia lalu bergerak bersama dua orang Sutenya mengepung, membuat kedudukan segitiga.
Seorang berada di depan Bu Beng dan dua orang berdiri di kanan kirinya agak ke arah belakang.
Bu Beng maklum bahwa dia harus melawan tiga orang yang tentu lihai sekali karena Ceng Ceng menyebut mereka sebagai Paman Gurunya.
Apalag mereka maju bersama.
Dikeroyok tiga orang yang berilmu tinggi!
Akan tetapi dia percaya kepada Ceng Ceng.
Tidak mungkin gadis yang sudah mengaku sebagai sahabat itu akan mencelakakannya.
Kalau gadis itu mengusulkan agar dia dikeroyok tiga, tentu ia sudah dapat memperhitungkan bahwa dia akan mampu menandingi mereka.
Maka dia pun mencabut pedang dari punggungnya dan siap melindungi dirinya.
Melihat pemuda itu sudah siap, Bhe Kun memberi isarat kepada dua orang adik seperguruannya lalu membentak.
"Orang muda, lihat seranganku!"
Dia menyerang dari depan dengan senjata siang-to (sepasang golok) yang menyambar-nyambar dahsyat.
Bu Beng bergerak otomatis, mengelak dan pada saat itu dua pasang pedang dari Cu Kok dan Cu Lok menyambar dari kanan Bu Beng memutar pedangnya sehingga pedang itu lenyap bentuknya, berubah menjadi gulungan sinar yang bercahaya terang dan menyelimuti seluruh tubuhnya.
Terdengar suara berkerontangan ketika sepasang golok dan dua pasang pedang bertemu dengan sinar pedang bergulung-gulung itu dan tiga orang Beng-Kauw Sam-Bong berseru kaget karena tangan mereka tergetar hebat dan senjata mereka terpental!
Tentu saja mereka merasa penasaran sekali, sekaligus memaklumi bahwa pemuda itu benar-benar memiliki tenaga Sakti yang amat kuat.
Mereka lalu maju menyerang lagi, mengerahkan tenaga dan kecepatan mereka.
Akan tetapi, kembali mereka terkejut karena pemuda itu ternyata dapat bergerak lebih cepat daripada mereka sehingga tubuhnya lenyap.
Yang tampak hanya bayangannya yang dilindungi sinar pedang bergulung-gulung.
Kalau Ceng Ceng menonton sambil tersenyum girang, adalah Ayahnya, Siangkoan Hok Ketua Beng-Kauw, memandang dengan tertegun heran.
Berulang-ulang mulutnya mengeluarkan pujian menyaksikan pemuda itu menandingi tiga orang Sutenya yang mengeroyoknya.
Dia memandang penuh perhatian, ingin mengenal ilmu pedang yang dimainkan Bu Beng.
Akan tetapi dia harus membenarkan pendapat puterinya tadi.
Dia mengenal jurus-jurus Bu-Tong Kiam-Sut yang amat kuat pertahanannya, akan tetapi kalau pemuda itu membalas serangan tiga orang pengeroyokan, dia tidak mengenal jurus serangan yang dimainkan Bu Beng!
Belum sampai tiga puluh jurus, sinar pedang di tangan Bu Beng semakin cepat gerakannya, Sinarnya yang bergulung-gulung itu semakin lebar sehingga gulungan sinar dua pasang pedang dan sepasang golok dari Beng-Kauw Sam-Liong semakin menyempit.
Tiba-tiba terdengar bentakan Bu Beng, diikuti berdentang pertemuan senjata dan disusul teriak kaget tiga orang pengeroyok itu.
Gulungan sinar pedang Bu Beng berhenti dan pemuda itu sudah berdiri tegak lalu menyimpan kembali pedangnya.
Tiga orang Beng-Kauw Sam-Liong berdiri terbelatak memandang sepasang senjata mereka yang sudah terlepas dari tangan mereka dan jatuh berserakan di atas lantai.
Kini mereka merasa malu yang cepat berubah menjadi kemarahan.
Mereka segera mengambil senjata mereka dan dari sikap mereka, jelas bahwa mereka belum mau menerima kekalahan mereka dan hendak menyerang lagi.
Akan tetapi Singkoan Hok berseru dengan nada memerintah.
"Cukup Bu Beng, engkau lulus ujian dan kami menerimamu mejadi pembantu kami!"
Bu Beng merasa girang karena dia sedang kebingungan.
Kehilangan ingatannya membuat dia bingung, tidak tahu harus pergi ke mana dan berbuat apa.
Kini dia berkenalan dengan Ang-Hwa Niocu Siangkoan Ceng yang bersikap baik kepadanva dan dia bahkan sekarang diterima sebagai pembantu oleh Ketua Beng-Kauw.
Dia juga tidak tahu, perkumpulan apakah Beng-Kauw itu.
Akan tetapi melihat sikap Siangkoan Ceng, tentu perkumpulan itu baik dan setelah dia mendapatkan pekerjaan di situ, setidaknya dia mempunyai tempat tinggal tertentu dan pekerjaan tertentu.
Kehidupannya yang tadinya kosong membingungkan itu kini telah ada isinya.
"Terima kasih, Pangcu!"
Katanya gembira.
"Bu Beng, mulai sekarang engkau kami angkat menjadi pembantu kami. Kalau engkau ternyata setia dan dapat membuat jasa untuk Beng-Kauw, engkau akan menjadi seorang yang hidup mulia dan serba kecukupan. Apapun yang kau butuhkan tentu akan terpenuhi. Mari, kita harus rayakan ini dengan perjamuan makan!"
Kata Siangkoan Hok gembira karena dengan mempunyai seorang pembantu seperti Bu Beng, kedudukannya akan menjadi semakin kuat dan Beng-Kauw akan semakin disegani dan ditakuti lawan.
"Nanti dulu, Ayah. Selagi para pelayan mempersiapkan jamuan makan, biar kusuruh Bu Beng mandi membersihkan dirinya dan kuberi pakaian baru. Lihat, keadaannya demikian kusut dan kotor. Mari, Bu Beng, kau ikut aku!"
Kata Ceng Ceng dengan gembira dan Bu Beng hanya dapat mengikutinya saja.
Setelah mandi dan mengenakan pakaian baru dari Sutera, Bu Beng tampak tampan dan gagah.
Atas permintaannya, Ceng Ceng menyediakan pakaian baru dari Sutera putih.
Biarpun Bu Beng lupa akan riwayat dan keadaan dirinya di masa lalu, namun dia dapat merasakan dan tahu bahwa dia suka mengenakan pakaian yang berwarna putih.
Beberapa hari kemudian, pada suatu malam Bu Beng duduk dalam kamarnya.
Dia duduk bersila dan mengerahkan segala kemampuannya untuk mengingat masa lalu yang telah hilang dari ingatannya.
Akan tetapi usahanya itu bukan hanya gagal, bahkan lambat laun dia merasa kepalanya pening dan nyeri bukan main.
Terpaksa dia menghentikan usahanya itu dan mengeluh.
"Tok-tok-tok...!"
Pintu kamarnya diketuk dari luar dan Bu Beng yang mengenal dari langkah kaki tadi bahwa yang datang itu adalah Ang-Hwa Niocu, segera berkata.
"Masuklah, pintunya tidak terkunci."
Daun pintu dIbuka dari luar dan tercium bau harum.
Ang-Hwa Niocu Siangkoan Ceng melangkah masuk, menutupkan daun pintu kembali.
Melihat Bu Beng duduk bersila sambil memegangi kepala dengan kedua tangannya dan tampak kesakitan, ia segera menghampiri dan duduk di tepi pembaringan.
"Bu Beng, ada apakah...?"
Tanyanya lembut penuh perhatian.
"Tidak apa-apa, Nona. Hanya kepalaku. terasa pening..."
"Hemm, tentu engkau mencoba untuk mengerahkan tenaga dan mengembalikan ingatanmu lagi. Sudah kuperingatkan agar engkau jangan meakukan itu."
Bu Beng turun dari atas pembaringan, lalu duduk di atas kursi.
"Memang aku yang salah, Nona. Akan tetapi aku ingin sekali mengetahui siapa diriku dan bagaimana riwayat hidupku."
"Tenanglah dan jangan terburu-buru. Menurut Ayahku, ingatanmu kelak akan kembali sendiri, akan tetapi jangan engkau memaksanya. Salah-salah dapat menimbulkan luka yang akibatnya akan lebih parah."
Bu Beng tersenyum. Kepalanya sudah tidak begitu pening lagi. Dia menatap wajah cantik itu dan berkata.
"Baiklah, Nona Siangkoan Ceng, aku tidak akan mencobanya lagi."
"Husss...!"
Ceng Ceng mencela dan ia lalu memandang kepada pemuda itu dengan sinar mata mencorong penuh gairah.
"Kenapa engkau masih menyebut Nona padaku? Sudah berulangkali kukatakan bahwa orang menyebut aku Ceng Ceng, maka engkau pun harus menyebutku demikian. Bukankah kita sudah menjadi sahabat, bahkan engkau sudah menjadi orang Beng-Kauw yang membantu kami? Apakah engkau tidak mau menjadi sahabat baikku, Bu Beng?"
"Ah, tentu saja aku merasa bahagia dan senang sekali menjadi sahabatmu, Nona... eh, Ceng Ceng, karena engkau adalah seorang yang amat baik."
"Benarkah, engkau menganggap aku baik? Bu Beng, duduklah di sini, aku ingin bercakap-cakap denganmu."
Setelah berkata demikian, Ceng Ceng menghampiri lalu menarik tangan Bu Beng, memaksa pemuda itu duduk di tepi pembaringan, berdampingan dengannya.
Bu Beng merasa tidak enak dan canggung, akan tetapi untuk menolak pun dia khawatir menyinggung perasaan gadis yang baik hati terhadapnya itu.
"Tentu, engkau gadis yang paling baik bagiku."
"Paling baik saja? Tidak paling cantik?"
Ceng Ceng bertanya dengan sikap manja. Wajah Bu Beng berubah merah, akan tetapi dia tersenyum dan berkata dengan suara sungguh-sungguh dan jujur.
"Engkau gadis paling baik, paling cantik dan juga paling lihai, Ceng Ceng."
Bukan main girangnya hati Ceng Ceng.
Gadis ini berperangai aneh dan terkadang dapat bersikap galak dan kejam.
Akan tetapi biarpun banyak pria kalau memandang kepadanya mata mereka menyinarkan gairah berahi, ia sendiri belum pernah merasa tertarik kepada seorang pria.
Memang, ia merasa senang kalau melihat laki-laki tergila-gila kepadanya.
Akan tetapi kalau ada yang berani bersikap kurang ajar, ia tidak segan-segan untuk turun tangan menghajarnya atau bahkan membunuhnya sekalipun!
Ia belum pernah jatuh cinta kepada seorang pemuda, walaupun merasa senang dan bangga kalau semua laki-laki memandangnya dengan kagum.
Akan tetapi ia sendiri tidak tahu mengapa kini ia merasa amat tertarik kepada Bu Beng!
Padahal pemuda ini sama sekali tidak ia ketahui asal-usulnya, bahkan tidak diketahui namanya karena pemuda itu sendiri sudah kehilangan ingatan dan tidak mengenal diri sendiri.
ia tertarik, mungkin karena memang Bu Beng seorang yang berwajah tampan dan bersikap gagah namun sederhana, dan terutama sekali karena pemuda Itu memiliki kelihaian yang melebihi dirinya sendiri.
ia tertarik dan jatuh cinta kepada Bu Beng dan baru sekali itu dalam hidupnya Ceng Ceng terangsang gairah berahi terhadap seorang laki-laki...
"Bu Beng, engkau pun bagiku merupakan laki-laki yang paling tampan, ganteng dan gagah perkasa di dunia ini!"
Wajah Bu Beng semakin kemerahan "Ah, engkau terlalu memujiku, Cen Ceng.
Aku hanya seorang yang bodoh kehilangan ingatan dan tidak memiliki apa-apa.
Aku hanya menumpang hidup di Beng-Kauw ini, berkat pertolonganmu."
"Aih, Bu Beng, jangan begitu merendahkan diri. Katakanlah, apa engkau suka padaku seperti aku suka sekali padamu.?"
Dengan jujur Bu Beng menjawab "Tentu saja, aku suka sekali padamu Ceng Ceng. Aku suka sekali."
Jawaban ini memang sejujurnya.
Bu Beng anggap Ceng Ceng seorang gadis yang selain cantik jelita dan Iihai, juga telah berlaku baik kepadanya.
Dia berhutang budi kepada gadis itu yang telah menampungnya sehingga dia kini tidak melayang-layang tanpa tempat yang tetap.
Kini dia mempunyai tempat tinggal, mempunyai pakaian, makan pun secukupnya dan setelah meninggalkan kehidupan lama yang telah dilupakannya mulai lembaran hidup baru dengan keadaan yang menyenangkan dan serba kecukupan.
Ini semua berkat pertolongan Ceng Ceng.
Tentu saja dia merasa suka kepada gadis itu.
Perasaan yang wajar dari setiap orang manusia, kalau disenangkan tentu merasa suka kepada menyenangkannya.
Apalagi gadis ini memang cantik jelita dan memiliki iImu yang tinggi.
Laki-laki mana yang tidak akan merasa suka?
Mendengar jawaban Bu Beng yang di ucapkan dengan nada serius itu, Ceng Ceng merasa senang sekali.
Jantungnya berdebar kencang karena belum pernah ia mengalami perasaan seperti saat itu.
Wajahnya berubah kemerahan, matanya setengah terpejam dan sinar matanya sayu penuh gairah dan cinta kasih.
"Bu Beng..."
Suaranya gemetar dan ia mendekatkan tubuhnya lalu menyandarkan pipinya di bahu pemuda itu.
Melihat ini, Bu Beng juga merasakan jantungnya berdebar tegang.
Dia merasa canggung sekali dan merasa betapa hal ini tidak semestinya, akan tetapi bagaimana mungkin menolaknya kalau gadis itu bersandar kepadanya?
"Ceng Ceng, kau kenapakah...?"
Dia bertanya lembut.
"Bu Beng..."
Suara gadis itu berbisik, gemetar akan tetapi seperti berlagu.
"... aku tahu... aku sudah merasakan sejak kita bertemu... bahwa engkau juga mencintaku seperti aku mencintamu, Bu Beng..."
Kini gadis itu merangkulkan kedua lengannya ke pinggang pemuda itu. Bu Beng semakin gelisah dan merasa canggung. Jantungnya berdebar tegap sekali dan keringatnya mulai membasah dahi dan lehernya.
"Tapi, Ceng Ceng..."
Bisiknya ragu.
"Bu Beng, diamlah dan peluklah aku. Peluklah aku dengan kasih sayangmu dan katakanlah bahwa engkau cinta padaku..."
Merasa betapa kedua lengan gadis itu merangkulnya dengan kuat, Bu Beng merasa kasihan dan dengan lembut kedua lengannya juga merangkul pundak Ceng Ceng.
Gadis itu kini membalikkan mukanya dan membenamkan mukanya di atas dada Bu Beng.
Sampai beberapa waktu lamanya keduanya duduk diam tanpa kata, dan masing-masing dapat merasakan detak jantung mereka yang berdebar-debar.
Bu Beng memejamkan matanya, jantungnya berdebar dan kepalanya terasa pening karena dia merasa bingung, canggung, dan malu.
Dia dapat merasakan betapa hati akal pikirannya menyatakan bahwa keadaannya bersama Ceng Ceng itu sama sekali tidak benar.
Akan tetapi bagaimana dia dapat menolak ketika muka dan kepala gadis itu seolah-olah membelai dadanya dengan penuh kemesraan?
Dia merasa tidak tega untuk menolak dan menjauhkan diri yang tentu akan membuat gadis itu merasa tersinggung.
Dia menundukkan mukanya dengan niat untuk menyadarkan gadis itu bahwa perbuatan mereka itu melanggar kesusilaan.
Ketika dia menunduk, hidungnya bertemu keharuman yang lembut dan yang meresap sampai ke dalam hatinya.
Kiranya keharuman itu keluar dari setangkai bunga merah yang selalu menghias rambut Siangkoan Ceng.
Karena rambutnya tidak pernah terlepas dari hiasan setangkai bunga merah, maka di dunia kang-ouw gadis ini dikenal dengan julukan Ang-Hwa Niocu (Gadis Bunga Merah).
Keharuman yang lembut itu membuat Bu Beng semakin terpesona dan seolah membuat semangatnya melayang-Iayang ke alam yang indah menghanyutkan.
Tak seorang pun manusia, kalau dia memiliki anggauta badan yang lengkap dan normal, dapat terbebas dari pengaruh nafsu, termasuk nafsu berahi yang ada pada diri manusia semenjak dia dewasa.
Nafsu berahi sudah menjadi peserta manusia, bahkan menjadi peserta segala mahluk di dunia ini karena nafsu yang satu inilah yang mendorong semua mahluk untuk dapat berkembang biak.
Seperti nafsu-nafsu daya rendah yang lain, nafsu berahi mutlak perlu bagi kehidupan manusia, khususnya bagi sarana perkembang-biakan manusia di dunia.
Nafsu daya rendah itu amat penting dan juga amat berguna bagi manusia selama nafsu-nafsu itu menjadi peserta pembantu, menjadi hamba yang melayani keperluan hidup manusia.
Akan tetapi karena dalam pelaksanaannya, nafsu-nafsu ini mendatangkan keenakan atau kenikmatan, maka nafsu dapat menjerat manusia dan memutarbalikkan keadaan.
Bukan manusia menjadi majikan dan nafsu menjadi hamba, melainkan terbalik dan manusia yang diperhamba oleh nafsunya sendiri.
Kalau sudah begini, manusia mengejar-ngejar kenikmatan itu dan untuk memuaskan nafsunya, pengejaran dapat menghalalkan segala cara.
Nafsu dapat membutakan mata hati dan kalau kita sudah diperhamba nafsu berahi, maka terjadilah perjinaan, pelacuran, perkosaan, dan segala macam perbuatan sesat lagi.
Akan tetapi bagi manusia yang selalu mendekatkan jiwanya dengan TUHAN dan selalu merasakan bimbingan-Nya, selalu waspada akan tindakan sendiri dan selalu dapat merasakan atau menyadari akan kesesatan itu sehingga dapat mencegah berlangsungnya tindakan sesat itu.
Demikian pula dengan Bu Beng.
Pemuda ini hanya kehilangan ingatannya akan masa lalunya, akan tetapi bukan berarti dia kehilangan tabiat baiknya.
Sebelum hilang ingatannya, dia adalah seorang pemuda yang selalu mengutamakan perbuatan baik, membela kebenaran dan keadilan, menentang kejahatan.
Maka, biarpun kini nafsu berahi juga mempengaruhinya sebagai seorang pemuda sehat dan normal, hati nuraninya masih waspada dan menyadari bahwa dia terseret ke dekat jurang perbuatan sesat yang berlawanan dengan nuraninya.
Karena itu, biarpun dia membiarkan saja Ceng Ceng merangkul pinggangnya dan merapatkan muka di dadanya, namun ketika Ceng Ceng terangsang gairah nafsunya dan mulai merangkul lehernya, mengeluarkan suara rintihan halus seperti seekor kucing manja, dan muka yang putih kemerahan berbau harum itu makin mendekati mukanya dan hidung kecil mancung yang ujungnya agak terjungkat lucu itu mulai bergeser menyentuh pipinya dan bibir mungil merah basah itu akan menempel pada bibirnya, tiba-tiba Bu Beng seperti tersentak kaget dan dia menarik kepalanya ke belakang.
Gerakannya itu demikian mendadak dan kuat sehingga rangkulan kedua lengan Ceng Ceng pada lehernya terlepas.
Cepat Bu Beng bangkit berdiri dan mundur tiga langkah.
Ceng Ceng juga bangkit berdiri dan menatap wajah Bu Beng dengan muka kemerahan sehingga ia tampak semakin cantik.
"Bu Beng, ada apakah? Kenapa engkau menghindar dariku? Bu Beng, aku cinta padamu dan engkau juga mencintaku bukan? Lalu mengapa engkau menjauhiku?"
"Maaf, Ceng Ceng..., aku... aku... perbuatan kita tadi sungguh tidak semestinya... melanggar kesusilaan..."
"Bu Beng, apakah engkau sudah mempunyai tunangan atau seorang kekasih? Apakah engkau mencinta seorang gadis lain?"
Suara Ceng Ceng mengeras, dilandasi cemburu. Bu Beng yang sama sekali tidak ingat akan masa lalunya, menggelengkan kepalanya.
"Tidak, aku tidak mempunyai tunangan atau kekasih..."
Mendengar ini, gairah Ceng Ceng memuncak kembali. ia segera maju menghampiri Bu Beng dan merangkul pinggangnya.
"Kalau begitu, tidak ada yang akan merintangi kita, Bu Beng. Mari kita bicara di dalam kamarku saja. Akupun belum pernah mempunyai kekasih, Bu Beng. ini pengalamanku yang pertama dengan seorang laki-laki. Aku mencintamu, aku ingin menjadi isterimu, Bu Beng...!"
Gadis itu lalu menarik Bu Beng diajak masuk ke dalam kamarnya. Akan tetapi Bu Beng menegakkan diri dan tidak membiarkan dirinya ditarik.
"Tidak, Ceng Ceng, kita tidak boleh begini. Kita bukan suami-isteri, kita belum menikah, tidak sepatutnya kita berdua dalam kamar. lni melanggar kesusilaan!"
"Kalau begitu, mari kita bicara di taman saja!"
Ceng Ceng lalu bangkit berdiri, menggandeng tangan pemuda itu dan menariknya keluar kamar, langsung memasuki taman yang sunyi.
Mereka duduk di atas bangku, di bawah penerangan lampu taman yang kemerahan.
Begitu mereka duduk berdampingan, Ceng Ceng kembali merangkulnya lagi, bahkan kini kedua lengannya seperti dua ekor ular bergayung di lengan Bu Beng dan ia mendekatkan mukanya pada muka Bu Beng.
"Jangan, Ceng Ceng, ini tidak baik!"
Bu Beng meronta ketika gadis itu hendak menciumnya.
"Aih, Bu Beng. Kalau kita saling mencinta, apa salahnya? Percayalah pernikahan bisa saja dilangsungkan kemudian. Marilah, kekasihku..."
"Tidak, Ceng Ceng. Aku tidak mau!"
Bu Beng bersikeras dan mengerahkan kekuatan sehingga Ceng Ceng tidak mampu menariknya.
"Bu Beng, aku cinta kamu! Bukankah engkau juga cinta padaku?"
Ceng Ceng mendesak.
"Ceng Ceng, maafkan aku. Memang aku kagum dan suka padamu, akan tetapi aku... eh, aku tidak bisa bilang bahwa aku cinta padamu, aku tidak tahu apakah aku ingin berjodoh denganmu. Tidak, aku tidak ingin menjadi suamimu, Ceng Ceng."
Bukan main marahnya hati gadis itu.
Ceng Ceng adalah seorang gadis yang belum pernah bergaul erat dengan pria, bahkan belum pernah jatuh cinta kepada seorang laki-laki.
Akan tetapi ia tumbuh sebagai seorang gadis yang liar, kurang pendidikan tata susila, Tidak dapat membedakan mana perbuatan yang baik dan boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan.
Baginya, kalau ia berhubungan sebagai suami-isteri dengan seorang laki-laki yang dicintanya, hal itu sudah benar dan tidak perlu menanti sampai ada pernikahan resmi!
Maka, tadi ia pun sama sekali tidak ragu untuk mengajak Bu Beng berkencan dan bermain cinta, mengajaknya memasuki kamarnya, tanpa rasa takut atau malu diketahui orang lain.
Kini, mendengar penolakan Bu Beng, timbullah kemarahan benar dalam hatinya.
Penolakan itu dianggapnya sebagai penghinaan!
Akan tetapi gadis ini terlalu cerdik untuk memperlihatkan kemarahannya.
ia tahu benar betapa lihainya Bu Beng dan kalau ia bertindak secara berterang, ia sangsi apakah ia akan mampu menandingi Bu Beng.
Maka ia tiba-tiba menangis terisak-isak sambil merangkul pinggang Bu Beng.
"Bu Beng... hu-hu-huuuh... kau kejam sekali... kau hancurkan hatikum kau sia-siakan cintaku..."
Melihat gadis itu menangis, Bu Beng tidak tega untuk melepaskan rangkulan lengan gadis itu pada pinggangnya.
"Ceng Ceng... tenanglah, aku... aku hanya bicara terus terang, bukan ingin menyusahkanmu aku memang suka padamu akan tetapi cinta...? Aku belum berpikir tentang hal itu... auhhh""
Tiba-tiba tubuh Bu Beng terkulai dan ketika Ceng Ceng melepaskan rangkulannya, Bu Beng terguling roboh dalam keadaan pingsan.
Kiranya ketika Ceng Ceng beraksi dengan tangisnya tadi dan membuat Bu Beng Iengah, diam-diam gadis itu menusuk punggungnya dengan seba-tang Ang-Tok-Ciam (Jarum Racun Merah) sehingga racunnya memasuki tubuh pemuda itu dan membuatnya pingsan!
Ceng Ceng memandang pemuda yang rebah telentang dengan muka pucat itu dan tersenyum mengejek.
"Engkau berani menolak cintaku? Huh, kau kira engkau ini orang apa sih berani menolak cintaku? Engkau menghina dan memandang rendah padaku, ya?"
Tangan kanannya meraba pinggang dan ia sudah melepaskan pedang Pek-Coa-Kiam (Pedang Ular Putih) yang tipis dan ia pergunakan sebagai ikat pinggang.
Kini sepasang mata yang indah dan bening itu memandang ke arah wajah Bu beng dengan sinar marah.
Genggaman tangan pada gagang pedangnya menguat dan ia sudah mengangkat pedang ke atas, hendak dibacokkan ke arah leher Bu Beng.
Akan tetapi ketika pandang matanya melihat wajah pemuda itu yang begitu tenang penuh damai seperti orang tidur, dengan mulut yang tersenyum dan mata terpejam, tampak anggun dan tampan sekali, tiba-tiba sinar mata yang marah itu menjadi redup dan tangan yang mengangkat pedang itu gemetar lalu kehilangan tenaga, menjadi lemas terkulai!
Hati Ceng Ceng tidak tega membunuh Bu Beng dan ia merasa benar-benar telah jatuh cinta kepada pemuda itu.
Bagaimana mungkin ia dapat membunuh laki-laki yang dicintanya?
Baru pertama kali ini sepanjang hidupnya ia merasa jatuh cinta kepada seorang laki-laki!
Tangan yang lemas itu kini turun dan dengan gemetar tangan itu memasang lagi Pek-Coa-Kiam sebagai ikat pinggangnya.
"Bu Beng... aku... aku amat mencintamu..."
Ia berbisik dan menghela napas panjang berulang-ulang.
Akan tetapi kemudian ia teringat betapa pemuda yang dicintanya ini telah mengecewakannya dan menghinanya dengan menolak cintanya, pandang matanya kembali bersinar marah.
"Aku juga amat membencimu!"
Dengusnya dan terjadilah perang antara rasa cinta dan benci itu di dalam hati dan pikirannya.
Ada dua macam cinta dalam perasaan hati seorang manusia.
Namun pada umumnya, hanya satu macam saja yang selalu terasa oleh kita manusia, yaitu cinta yang sebetulnya hanya terdorong oleh nafsu kita.
Cinta seperti ini datang dan terasa dalam hati melalui panca indera dan pikiran.
Indera matalah yang mula-mula mengusik pikiran.
Mata melihat seorang lawan jenis yang tampan atau cantik, yang sesuai dengan selera kita sehingga tampak indah menyenangkan.
Lalu pikiran mengambil alih, mengolah dan membayangkan betapa akan senangnya kalau kita dapat memiliki lawan jenis yang indah menarik itu!
Pikiran yang mengolah dan membayangkan segala kenikmatan dan kesenangan kalau kita dapat memiliki lawan jenis yang menarik itu menimbulkan rasa cinta dalam hati dan ini yang menyebabkan seseorang tergila-gila kepada lawan jenis yang dianggap paling tampan atau paling cantik.
Akan tetapi, watak nafsu daya rendah selalu sama, yaitu membuat kita tergila-gila dan ingin mendapatkan dan memiliki yang menarik hati itu sebelum kita mendapatkannya, akan tetapi mendatangkan pula kebosanan setelah kita memilikinya.
Dan ciri atau watak yang kedua adalah, selama yang dicinta itu menyenangkan hati kita, maka kita tetap mencintanya, akan tetapi begitu yang kita cinta itu tidak menyenangkan hati kita, maka cinta kita ini sudah berubah menjadi benci!
Inilah ciri ulah atau watak nafsu kita.
Nafsu mengaku-aku sebagai "aku"
Dalam hati akal pikiran kita dan segala sesuatu yang dilakukan manusia, selalu menggunakan perhitungan apakah "aku"
Diuntungkan atau dirugikan, disenangkan atau dikecewakan. Si "aku"
Dalam diri setiap manusia inilah yang menimbulkan pertentangan, permusuhan, bahkan perang! Perebutan kepentingan antara "aku"ku.
"aku"mu, dan "aku"nya! Maka timbullah suka dan tidak suka, cinta dan benci, pementingan dia atau "aku"
Menjadikan kita manusia egois yang selalu mementingkan diri sendiri. Si "aku"
Ini dapat berkembang menjadi milikku, hartaku, anakku, isteriku, kekasihku, keluargaku, bahkan berkembang menjadi kelompokku, golonganku, lalu meningkat menjadi Bangsaku, agamaku dan sebagainya.
Maka timbullah pertikaian dan permusuhan berdasarkan diuntungkan atau dirugikan tadi antara kelompok, Bangsa, bahkan agama.
Masalahnya itu tadi, Bangsaku melawan Bangsamu, agamaku melawan agamamu.
Bukan Bangsanya yang bermusuhan, bukan agamanya, melainkan "aku"ku melawan "aku"mu.
Berbahagialah manusia yang menyadari sepenuhnya akan bahayanya Si "aku"
Atau nafsu daya rendah yang menguasai atau memperhamba hati akal pikiran kita, menutupi dan menggelapkan jiwa kita sehingga jiwa kita tidak dapat memiliki hubungan atau persatuan yang kuat dengan jiwa Besar atau sumber Hidup atau Sang Maha Pencipta, iyalah TUHAN Yang Maha Kasih!
Ada cinta lain yang suci, murni, tanpa pamrih, tulus ikhlas, ialah cinta Illahi!
Cinta dari TUHAN Yang Maha Kasih!
Demikian suci murni kasih TUHAN kepada kita manusia sehingga segala ciptaan-Nya yang ada ini dapat dimanfaatkan oleh manusia untuk kesejahteraan hidup manusia di dunia.
Kasih TUHAN merata, tanpa pilih-pilih.
Setangkai bunga mawar, dicium oleh seorang penjahat atau seorang Pendeta, oleh seorang pengemis maupun seorang raja, akan sama harumnya!
Sinar matahari, hawa udara, menghidupkan dan dapat dinikmati siapa saja, oleh si jahat tau si baik, si miskin atau si kaya.
(Lanjut ke
Jilid 13) Antara Dendam & Asmara (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 13 Cinta manusia seyogianya mengandung dua macam cinta tersebut.
Tak mungkin terbebas dari cinta nafsu berahi dan cinta seperti itu tidaklah buruk kalau saja mengandung pula cinta suci itu.
Cinta yang murni ini membuahkan kebijaksanaan, kesabaran, kesetiaan, pengorbanan, toleransi, mengalah dan siap memaafkan, tidak mementingkan diri sendiri.
Cinta seperti ini meniadakan kebencian, iri, dendam, marah.
Yang ada hanyalah kesabaran, niat baik dan keramahan.
Kasih murni menimbulkan hati yang penuh belas kasih, mudah merasa kasihan sehingga mendorong kita untuk mengasih atau memberi, rela berkorban.
Cinta yang berkembang dalam perasaan hati Ceng Ceng terhadap Bu Beng sepenuhnya merupakan kasih yang terdorong nafsu berahi semata.
Karena itu maka begitu Bu Beng tidak membalas cintanya, berarti tidak menyenangkan hatinya, cintanya berubah sembilan puluh derajat menjadi benci!
Kalau ia tidak tega membunuh Bu Beng, hal itu pun masih terdorong oleh rasa sayang seperti sayangnya seseorang akan benda yang menarik dan dianggap indah, merasa tidak tega dan sayang untuk merusaknya...
Pada saat itu terdengar gerakan orang dan muncullah Beng-Kauw Sam-Liong.
Mereka menghampiri Ceng Ceng dan melihat Bu Beng menggeletak telentang, di depan gadis itu, mereka bertiga memandang heran.
"Niocu (Nona), apakah yang telah terjadi? Kenapa dia menggeletak di situ?"
Tanya Bhe Kun sambil menudingkan telunjuknya ke arah Bu Beng. Dengan sikap tak acuh Ceng Ceng berkata.
"Paman, kalian bertiga bawalah dia ini keluar dari perkampungan kita dan bunuh dia!"
Beng-Kauw Sam-Liong terkejut mendengar ini.
Mereka sendiri merasa tidak suka kepada Bu Beng yang telah mengalahkan mereka dan kini pemuda itu terpakai oleh Ketua Beng-Kauw.
Akan tetapi membunuhnya?
Apalagi ini hanya perintah Ang-Hwa Niocu, bukan Ketua Beng-Kauw Ayah gadis itu!
"Tapi...
tapi..., Niocu !"
Kata Cu Kok, orang ke dua dari Beng-Kauw Sam-Liong dengan ragu.
"Jangan banyak membantah, Paman. Apakah kalian bertiga takut padanya? Jangan takut, dia telah terluka oleh Ang-Tok-Ciam! Cepat bawa dia pergi!"
Mendengar ini, Beng-Kauw Sam-Liong tidak membantah lagi.
Bahkan diam-diam mereka merasa girang karena terbunuhnya pemuda ini berarti mereka kehilangan saingan dalam kedudukan dan pengaruh mereka di Beng-Kauw.
Bhe Kun memberi isarat kepada Cu Lok, orang ke tiga dari mereka dan Cu Lok segera memanggul tubuh Bu Beng yang lemas dan pingsan itu di pundaknya lalu mereka bertiga berlari cepat keluar dari taman itu.
Setelah keluar dari taman, tiga orang itu berunding.
Cu Lok yang memanggul tubuh Bu Beng berkata tak sabar.
"Kenapa susah-susah membawa mayat ini keluar kampung. Bukankah lebih mudah dIbunuh di sini saja dan kita kubur di pemakaman umum?"
"Aku pun setuju. Kita bunuh saja di sini dan kita suruh anak buah menguburkan mayatnya!"
Kata Cu Kok, orang ke dua atau Kakak dari Cu Lok.
"Hemm, kalian jangan gegabah!"
Bhe Kun mencela kedua orang Sute (adik seperguruan) itu.
"Yang menyuruh bunuh orang ini adalah Siangkoan Niocu, akan tetapi kalian harus ingat bahwa Bu Beng ini diterima dengan baik oleh Ketua Beng-Kauw! Kalau kita membunuhnya, bagaimana kita akan berani berhadapan dengan Pangcu (Ketua)? Tentu kita akan dianggap lancang dan kalau Pangcu merasa menyesal dan marah, bukan tidak mungkin kita akan dihukum berat!"
"Wah, pendapat Toa-Suheng (Kakak Seperguruan Pertama) itu benar sekali! Habis, lalu apa yang akan kita lakukan terhadap orang ini?"
Kata Cu Lok yang memanggul tubuh Bu Beng dengan cemas membayangkan kemarahan ketua mereka.
"Toa-Suheng, apa yang harus kita lakukan?"
Cu Kok juga bertanya sambil memandang Suhengnya.
"Kita bawa dia keluar perkampungan dan kita buang saja dia di dalam jurang di hutan. Kalau sampai Pangcu tahu dan mendapat kenyataan bahwa Bu Beng tewas karena terluka oleh Ang-Tok-Ciam, tentu dia tidak memarahi kita. Sebaiknya jangan ada bekas tangan kita yang mengantar kematiannya sehingga kita aman."
Kata Bhe Kun dan kedua orang Sutenya setuju.
Mereka lalu membawa tubuh Bu Beng keluar perkampungan.
Akan tetapi ada seorang anak buah Beng-Kauw yang melihat mereka.
Anak buah Beng-Kauw ini pernah mendapat hukuman dari Cu Lok ketika dia menegur Cu Lok yang hendak merayu isterinya.
Maka melihat Cu Lok dan dua orang Suhengnya itu keluar perkampungan dan Cu Lok memanggul tubuh Bu Beng, dia cepat lari dan melapor kepada Siangkoan Hok, Ketua Beng-Kauw.
Mendengar laporan itu, Siangkoan Hok terkejut dan dia cepat melakukan pengejaran.
Sebentar saja dia dapat menyusul dan tiga orang tokoh Beng-Kauw itu terkejut ketika melihat bayangan berkelebat mendahului mereka dan tiba-tiba ketua mereka telah berdiri menghadang di depan mereka sambil bertolak pinggang dan matanya mencorong.
"Sam-Liong, apa yang kalian lakukan kepada Bu Beng?"
Terdengar suaranya menegur, suara yang terdengar dingin mengerikan bagi tiga orang itu.
Mereka segera menjatuhkan diri berlutut di depan ketua mereka dan Cu Lok menurunkan tubuh Bu Beng, digeletakkan begitu saja di atas tanah.
"Ampunkan kami bertiga, Pangcu..."
Kata Bhe Kun dengan suara mohon belas kasihan.
"Kami bertiga sama sekali tidak mengganggu Bu Beng. Kami diperintah oleh Siangkoan Niocu untuk membawa tubuh Bu Beng yang terluka oleh Ang-Tok-Ciam keluar dari perkampungan. Kami sama sekali tidak mengganggunya, hanya memenuhi perintah Niocu."
Siangkoan Hok lalu berjongkok dan memeriksa keadaan Bu Beng.
Dia mengangguk, percaya akan keterangan tiga orang pembantunya karena dia mendapat kenyataan bahwa Bu Beng memang keracunan Jarum Racun Merah, dan tidak mengalami luka lainnya.
"Bawa dia kembali dan langsung ke ruangan tamu, ke dalam kamarnya."
Perintahnya.
Tiga orang tokoh Beng-Kauw itu bernapas lega karena ketua mereka tidak marah kepada mereka.
Kedua orang saudara Cu Kok dan Cu Lok merasa beruntung sekali bahwa mereka tadi menuruti pendapat Suheng mereka Bhe Khun sehingga kini mereka selamat dari hukuman ketua mereka.
Karena Ang-Tok-Ciam merupakan senjata rahasia buatan Siangkoan Hok yang selain ahli silat, ahli sihir dan ahli racun, maka tentu saja dia dapat membuat obat penawar Racun Merah itu.
Cepat dia merawat dan mengobati Bu Beng sehingga akhirnya pemuda itu selamat dari ancaman maut racun merah jarum itu.
Siangkoan Hok mendatangi puterinya dan menegurnya dengan marah.
"Ceng Ceng, kebodohan apa yang kau lakukan sekali ini? Kenapa engkau melukai Bu Beng dan mengutus Sam-Liong membuangnya? Engkau nyaris membunuhnya dan ini merupakan suatu kebodohan yang besar sekali!"
Dimarahi Ayahnya, Ceng Ceng cemberut dan merengek manja.
"Huh, Ayah malah marah kepadaku, bukan membelaku! Bu Beng membuat aku kesal, kecewa dan marah. Dia telah menghinaku, Ayah!"
"Menghina? Dia berani menghinamu? Menghina bagaimana, maksudmu?"
Siang-koan Hok mengerutkan alisnya.
Lain lagi persoalannya kalau puterinya dihina orang.
Biar orang itu Bu Beng yang amat dia butuhkan bantuannya, dia tetap tidak akan tinggal diam kalau puterinya di hina!
"Dia berani memandang rendah padaku, tidak menghargaiku, membikin malu aku!"
"Yo-yo, akan tetapi apa yang telah dilakukannya kepadamu?"
"Dia telah berani menolak cintaku, Ayah! Coba pikir, sejak beberapa lama yang lalu Ayah selalu membujuk aku agar aku menentukan pilihan jodohku, akan tetapi selama ini belum pernah aku menemukan seorang calon jodoh yang cocok dalam hatiku. Setelah aku bertemu dengan Bu Beng, hatiku jatuh cinta, yah. Dialah yang kupilih dan kutentukan menjadi jodohku. Akan tetapi dia menolak! Dia tidak mau menjadi jodohku, dia menolak cintaku. Bukankah itu merupakan penghinaan bagiku? Lebih baik dia mati kalau menolak cintaku dan tidak mau menjadi jodohku, Ayah!"
Siangkoan Hok tertawa.
"Ha-ha, anak bodoh! Engkau tahu, Bu Beng itu seorang yang kehilangan ingatannya, menjadi linglung atau bingung, akan tetapi dia memiliki ilmu kepandaian silat yang amat kuat dan hebat! Kalau kita membunuhnya, apa untungnya? Kita membutuhkan bantuannya untuk memperkuat Beng-Kauw! Adapun tentang cinta itu, anak bodoh, perlahan-lahan nanti kita cari jalan. Kalau perlu aku akan menggunakan daya sihir dan obat-obatan agar dia jatuh cinta padamu. Apa sih sukarnya jatuh cinta padamu? Engkau cantik jelita. Jangan khawatirkan itu."
Mendengar ini, Ceng Ceng menyadari kesalahannya.
"Aih, engkau benar, Ayah. Untung dia belum mati. Aku akan merawat dan menyembuhkannya, lalu minta maaf padanya."
Demikianlah, dengan penuh ketekunan Ceng Ceng merawat Bu Beng dan dalam waktu lima hari saja Bu Beng telah sembuh sama sekali.
Ketika dia telah sadar, Ceng Ceng yang duduk di tepi pembaringan berkata dengan manis.
"Bu Beng, aku merasa girang sekali engkau kini telah sembuh. Ah, aku merasa senang sekali!"
Bu Beng duduk dan teringatlah dia akan peristiwa yang terjadi di kamarnya lalu berlanjut di dalam taman.
Dia teringat betapa gadis itu membujuknya untuk bercinta dan ketika dia menolak, mendadak gadis itu menusuk punggungnya dan dia tak ingat apa-apa lagi.
"Berapa lama aku berada di kamar?"
Tanyanya.
"Lima hari engkau pingsan dan setiap hari aku menjaga clan merawatmu, Bu Beng."
"Hemm, kalau engkau begini baik kepadaku, mengapa ketika di taman engkau menyerangku dengan serangan maut?"
"Untuk itu aku minta maaf yang sebesarnya, Bu Beng. Aku memang bersalah, terlalu menuruti hati yang panas dan marah karena engkau menolak cintaku. Sekarang aku mengerti, hubungan kita belum lama dan aku tergesa-gesa seperti memaksamu. Kalau engkau mendendam, nah, kau boleh membalas pukullah aku, aku tidak akan menangkis atau mengelak."
Bu Beng tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak mendendam, Ceng Ceng. Perawatanmu padaku ini saja sudah menebus kesalahanmu karena amarah dan mata gelap. Kita sekarang menjadi sahabat kembali, bukan?"
Demikianlah, hubungan mereka tetap baik.
Keduanya tidak pemah menyinggung lagi soal cinta.
Bu Beng diperlakukan dengan baik sehingga dia pun bekerja dengan sungguh-sungguh, dan menganggap bahwa Beng-Kauw merupakan sebuah perkumpulan yang baik, dipimpin oleh Siangkoan Hok yang bijaksana!
Pada suatu hari, para anak buah Beng-Kauw yang melakukan penjagaan di luar perkampungan tergopoh-gopoh datang melapor bahwa telah datang serombongan orang sebanyak kurang lebih dua puluh dan berada di luar pintu gerbang perkampungan Beng-Kauw.
Menurut pengakuan mereka, orang-orang itu datang dari Pek-Tung Kai-Pang (Perkumpulan Pengemis Tongkat Putih), sebuah perkumpulan pengemis yang cukup besar dan terkenal, mempunyai banyak cabang di kota-kota besar dan pusatnya malah di luar Kotaraja, yaitu Hang-Couw yang menjadi Kotaraja Kerajaan Sung Selatan.
Mendengar ini, Siangkoan Hok memanggil Bu Beng dan berkata.
"Bu Beng, orang-orang Pek-Tung Kai-Pang memusuhi kita, engkau keluarlah dan sambut mereka. Karena seorang dari mereka pernah bentrok dengan seorang tokoh kami dan mereka kalah, mungkin kini mereka hendak membalas dendam. Kau basmi saja mereka, Bu Beng!"
Bu Beng mengangguk dan ketika dia keluar lalu kelihatan Beng-Kauw Sam-Liong ikut keluar bersama Ceng Ceng dan beberapa belas anak buah Beng-Kauw, dia berkata kepada Ceng Ceng.
"Ceng Ceng, aku yang ditugaskan menyambut dan menghadapi mereka, maka aku minta agar kalian semua jangan turun tangan sebelum aku minta bantuan."
Ceng Ceng tersenyum dan mengangguk, menganggap bahwa Bu Beng tentu akan memamerkan kepandalannya dan agak menyombongkan diri bahwa dia seorang diri berani dan mampu membinasakan dua puluh orang lebih yang datang itu.
Akan tetapi sesungguhnya Bu Beng berkata demikian sama sekali bukan untuk menyombongkan diri.
Ada naluri yang tak terlupakan oleh Bu Beng yang kehilangan ingatan masa lalu itu, yakni bahwa dia tidak akan mau membunuh sembarangan saja!
Biarpun Ceng Ceng tersenyum mengangguk, namun ia tetap mengikuti Bu Beng, demikian pula Beng-Kauw Sam-Liong.
Adapun lima belas orang murid Beng-Kauw tingkat atas mengikuti dari belakang, agak menjaga jarak.
Setelah mereka tiba di luar pintu gerbang Beng-Kauw, Bu Beng melihat dua orang yang memimpin sekitar dua puluh lima orang yang berdiri berbaris di belakang dua orang itu.
Dia memperhatikan dua orang itu yang dia duga tentu pemimpin Pek-Tung Kai-Pang.
Hal ini mudah diketahui karena keduanya memegang masing-masing sebatang tongkat bercat putih.
Juga dua puluh lima orang anak buah mereka semua membawa tongkat bercat putih.
"Mana Siangkoan Hok, Ketua Beng-Kauw? Suruh dia keluar karena kami pimpinan Pek-Tung Kai-Pang hanya mau berurusan dan bicara dengan Ketua Beng-Kauw!"
Kata pengemis tinggi kurus bermuka pucat yang memegang sebatang tongkat putih kecil panjang dan tampak Ientur, Pakaiannya penuh tambalan seperti yang lain, hanya bedanya, kalau para anak buah itu berpakaian tambal-tambal dari kain kasar, dua orang pimpinan ini pakaiannya penuh tambalan, namun masih baru dan dari kain sutera!
"Tenanglah, sobat!"
Kata Bu Beng sambil tersenyum dan membungkuk sedikit sebagai penghormatan.
"Ketua Beng-Kauw telah mengutus aku untuk menyambut kedatangan kalian. Sebagai tuan rumah, kami ingin mengetahui siapakah kalian ini dan ada keperluan apa datang berkunjung ke sini?"
Pemimpin pengemis yang tinggi kurus, berusia sekitar empat puluh lima tahun. berwajah pucat itu, tersenyum mengejek.
"Hai, orang muda, ketahuilah, aku adalah Ji-Pangcu (Ketua Ke Dua) dari Pek-Tung Kai-Pang yang datang dari pusat perkumpulan kami di Hang-Couw! Ini adalah Sam-Pangcu (Ketua Ke tiga)."
Dia me nunjuk ke temannya yang berdiri di sebelahnya, seorang laki-laki tinggi besar muka brewok yang membawa sebatang tongkat putih panjang besar dan tampak berat sekali.
"Kami datang untuk bicara dengan Ketua Beng-Kauw karena seorang pembantu kami pernah dihina oleh seorang tokoh Beng-Kauw sehingga terluka parah. Kami minta pertanggungan jawab Ketua Beng-Kauw, bukan sembarang murid kecil sepertimu!"
"Akulah yang melukai orang Pek-Tung Kai-Pang, maka aku yang bertanggung jawab!"
Tiba-tiba Cu Lok, orang ke tiga dari Beng-Kauw Sam-Liong berseru dan melompat ke depan sambil mencabut Siang-Kiam (sepasang pedang) dari sarung pedang di punggungnya!
Sam-Pangcu, ketua ke tiga yang tinggi besar dan mukanya penuh brewok itu melangkah maju dan menudingkan telunjuk kirinya ke arah muka Cu Lok.
"Engkau anjing kecil jangan banyak lagak, merasa sombong setelah dapat melukai seorang anak buah kami. Anjing kecil perlu dipukul tongkat!"
Setelah berkata demikian dia menggerakkan tongkat putih yang besar dan panjang itu ke arah Cu Lok.
Cu Lok adalah seorang tokoh Beng-Kauw yang cukup tangguh, maka melihat tongkat putih menyambar dari depan, dia cepat menggunakan sepasang pedangnya untuk menangkis.
"Tranggg...!!"
Tampak bunga api berpijar menyilaukan mata dan tubuh Cu Lok terdorong ke belakang sehingga dia terhuyung-huyung.
"Paman Cu Lok, harap engkau mundur!"
Kata Bu Beng.
Cu Lok agaknya masih penasaran walaupun dia merasa betapa kuatnya tenaga yang menggerakkan tongkat putih itu.
Kedua telapak tangannya masih terasa nyeri dan sepasang pedangnya hampir saja terlepas dari pegangannya.
Akan tetapi tentu saja dia merasa malu kalau harus mengaku kalah setelah senjata mereka baru satu kali saling bertemu.
Dia seperti tidak mau mempedulikan seruan Bu Beng dan hendak maju lagi, akan tetapi kini Ceng Ceng yang membentaknya.
"Paman Cu Lok, mundur engkau!!"
Sekali ini Cu Lok menurut. Dia berdiri tegak dan menyimpan kembali sepasang pedangnya. Melihat ini, Ji-Pangcu yang tinggi kurus bermuka pucat tertawa.
"He-heh, agaknya engkau yang mempunyai kedudukan paling tinggi di sini, Nona. Siapakah engkau?"
"Aku Siangkoan Ceng, puteri Ketua Beng-Kauw!"
Jawab Ceng Ceng dengan sikap angkuh.
"Ha-ha, bagus sekali kalau begitu! Agaknya Ketua Beng-Kauw tidak berani menghadapi kami dan menyuruh gadisnya yang keluar!"
"Manusia sombong, pengemis busuk, siapa bilang Ayahku takut menghadapi segala macam manusia macam kalian? Ayahku telah mewakilkan kepada pemuda ini."
"Benar sekali, Ji-Pangcu dari Pek-Tung Kai-Pang! Akulah yang ditugaskan Beng-Kauw Pangcu untuk menghadapi kalian, dan aku yang bertanggung jawab. Siangkoan Niocu dan yang lain-lain ini hanya menemaniku saja, akan tetapi aku seoranglah yang bertanggung jawab, maka kalau ada urusan bicaralah kepadaku!"
Kata Bu Beng dengan sopan sekali. Sam-Pangcu yang berangasan itu memandang kepada Bu Beng dengan matanya yang lebar itu dipelototkan.
"Hei, Bocah! Siapa namamu dan apa kedudukanmu di Beng-Kauw?"
"Aku bukan anggauta Beng-Kauw, aku seorang tamu yang sudah siap membantu Beng-Kauw menghadapi musuh-musuh yang hendak mengganggunya. Namaku Bu Beng."
"Bocah kurang ajar!"
Sam-Pangcu yang brewok itu memaki.
"Jangan main-main dengan kami! Siapa namamu?"
"Bu Beng (Tanpa Nama)."
"Mana ada manusia tidak mempunyai nama?"
"Terserah, mau percaya atau tidak. Namaku memang Bu Beng dan katakanlah, Ji-Pangcu dan Sam-Pangcu dari Pek-Tung Kai-Pang. Kalian membawa anak buah kalian datang berkunjung mempunyai niat apakah?"
"Kami hendak menuntut balas kepada Ketua Beng-Kauw untuk penghinaan yang clilakukan anak buahnya terhadap anak buah kami. Kami tidak ingin melayani segala murid rendahan. Kami ingin mengajak Ketua Beng-Kauw mengadu kepandaian dan siapa yang kalah harus minta maaf atas kelalaian mendidik murid masing-masing."
"Ji-Pangcu."
Kata Bu Beng kepada ketua pengemis kurus yang bicara kepadanya itu.
"Kalah menang dalam sebuah pertandingan adalah biasa, mengapa dibikin rIbut-rIbut? Kalau engkau mengajak pIbu (adu silat) kepada ketua kami, itu pun baik-baik saja. Sekarang karena Beng-Kauw mewakilkan kepadaku, maka aku menggantikan Pangcu kami untuk maju melawan siapa saja dari pihakmu yang ingin maju mengadu ilmu."
Dua orang pimpinan pengemis itu saling pandang.
Mereka merasa ragu.
Mereka adalah pimpinan Pek-Tung Kai-Pang dari pusat, walaupun hanya Ketua Dua dan Ketua Tiga, namun mereka adalah orang-orang yang telah meniiliki kedudukan tinggi dan terkenal lihai.
Bagaimana mungkin sekarang harus dihadapi oleh seorang pemuda bawahan saja dan bahkan hanya seorang tamu dari Beng-Kauw?
"Hemm, bocah sombong!
Engkau berani mewakili Beng-Kauw?
Bagaimana kalau engkau kalah?"
"Seperti janjimu tadi, kalau aku kalah kami siap untuk minta maaf kepada Pek-Tung Kai-Pang."
Kata Bu Beng.
"Ji-Suheng (Kakak Seperguruan Ke Dua), biar kuhajar dulu bocah ini, baru kemudian kita tantang Ketua Beng-Kauw!"
Tiba-tiba Sam-Pangcu yang berangasan itu berseru dan dia sudah melompat ke depan melintangkan tongkat putihnya yang besar dan panjang di depan dada.
"Bocah sombong, keluarkan senjata dan lawan tongkatku ini!"
Bu Beng tadi sudah melihat betapa kuatnya tongkat putih besar panjang dan berat dari Ketua Ke Dua Pek-Tung Kai-Pang itu, maka untuk membela diri dia pun menghunus pedangnya, sebatang pedang pemberian Guru pertamanya, Bu Tek Thaisu dari Bu-Tong-Pai.
Pedang itu cukup ampuh, terbuat dari baja yang baik dan merupakan sebuah di antara senjata-senjata pusaka Bu-Tong-Pai yang diberikan kepada murid yang menonjol kemampuan dan kependekarannya.
"Sam-Pangcu, aku sudah siap!"
Kata Bu Beng.
"Engkau sudah siap untuk mampus!"
Bentak Sam-Pangcu dan dia sudah menggerakkan tongkat putihnya yang panjang besar dan berat.
"Wuuuttt !!"
Angin yang kuat menyambar dahsyat, membuktikan betapa, berat tongkat itu dan betapa kuatnya tenaga yang mendorong dan menggerakkannya.
Bu Beng tidak mau menangkis melainkan melompat ke belakang untuk menghindarkan diri dari sambaran tongkat itu.
Pada saat itu, Ceng Ceng sudah melompat ke depan dan berseru lantang.
"Tahan dulu...!!"
Bu Beng meloncat dan Sam-Pangcu juga menahan susulan serangannya sambil memandang gadis itu.
"Aku adalah puteri Ketua Beng-Kauw dan aku berhak pula mencampuri urusan ini. Kulihat yang datang adalah dua orang pimpinan Pek-Tung Kai-Pang dan..., yang sekarang maju adalah Sam-Pangcu, sedangkan Ji-Pangcu yang tentu lebih lihai lagi belum maju. Apakah pIbu ini hanya satu kali antara Bu Beng dan Sam Pangcu, ataukah akan disusul yang lain?"
Ceng Ceng memang cerdik.
ia tahu bahwa di pihaknya Bu Beng yang paling lihai.
Kalau sekarang Bu Beng melawan Sam-Pangcu, lalu kemudian Ji-Pangcu maju, siapa pula lawannya?
Apakah Bu Beng harus maju melawan mereka?, Ji-Pangcu menjawab.
"Heh-heh, ini bukan pIbu perorangan, melainkan pIbu antara tokoh-tokoh Pek-Tung Kai-Pang dan Beng-Kauw. Karena Ketua Beng-Kauw tidak mau keluar, terpaksa kami melawan para wakilnya dan dari pihak kami yang akan maju dua orang, Sam-Pangcu dan aku sendiri. Kalian juga boleh mengajukan dua orang, wakil untuk menghadapi kami!"
"Kenapa tidak memberitahu sejak tadi? Kalian mau bertindak licik, ya? Harus diadakan perjanjian peraturan yang adil. Kalau kita masing-masing mengajukan dua orang jago, lalu kedudukan satu-satu, lalu siapa kalah siapa menang. Sebaiknya diatur agar jagonya dalam hitungan ganjil, satu, atau tiga atau lima. Nah, siapa yang pihaknya lebih banyak yang menang, pihak itulah yang menang dan pihak yang kalah harus minta ampun!"
"Bagus, kami setuju!"
Kata Ji-Pangcu.
"Kami mengajukan tiga jago, pertama adalah Theng Gu ini."
Dia menunjuk kepada seorang laki-laki berusia sekitar tiga puluh lima tahun yang juga memegang sebatang tongkat putih, bertubuh tegap dan wajah serta sikapnya gagah.
"Ke dua adalah Sam-Pangcu dan ke tiga adalah aku sendiri. Jago yang pertama maju adalah Theng Gu ini, kemudian Sam Pangcu dan yang terakhir aku sendiri. Nah, sekarang perkenalkan siapa jago yang akan mewakili Beng-Kauw!"
Ceng Ceng memandang wajah Bu Beng dan berkata.
"Bu Beng, bolehkah aku yang memilihkan jago-jago kita?"
Bu Beng mengerutkan alisnya.
"Tadinya aku berniat hendak merampungkan sendiri urusan ini, akan tetapi kalau diadakan pIbu seperti itu, aku setuju saja. Hanya pintaku, pIbu ini bukan perkelahian untuk saling melukai parah atau saling bunuh, cukup untuk mengetahui siapa yang lebih unggul."
Ceng Ceng tersenyum.
"Ji-Pangcu, dengar baik-baik, untuk melawan jago-jagomu, jagomu Theng Gu itu akan dilawan Paman Bhe Kun, seorang dari Beng-Kauw Sam-Liong, kemudian Sam-Pangcu akan kulawan sendiri, dan terakhir kalau engkau maju, Bu Beng yang akan menghadapimu."
"Baik, marl kita mulai! Theng Sute (Adik Seperguruan Theng), majulah dan jangan mengecewakan dan membikin malu nama kita!"
Kata Ji-Pangcu. Laki-laki yang tegap dan gagah itu melompat ke depan dan memasang kuda-kuda yang gagah.
"Aku telah siap, yang hendak melawanku silakan maju!"
Bhe Kun yang sudah diberi tugas untuk menjadi jago pertama, segera mencabut siang-to (sepasang golok) yang besar dan berat, lalu maju menghadapi Theng Gu.
Bhe Kun bertubuh tinggi besar dan mukanya penuh brewok, sedangkan Iawannya juga tegap dan gagah.
Keduanya tampak gagah perkasa dan kokoh kuat sehingga para anak buah kedua pihak memandang dengan hati tegang karena pasti akan terjadi pertandingan yang amat seru.
Theng Gu yang sudah memasang kuda-kuda dan melintangkan tongkat putih di depan dada, tiba-tiba menggerakkan tongkat dan membawa lengan kanan ke belakang sehingga kini tongkatnya itu berdiri di belakang tubuhnya, tangan kiri membuat gerakan melingkar dan miring di depan dada, sikapnya gagah sekali.
"Saudara Bhe Kim, silakan, aku telah siap melawanmu!"
Sikap tokoh Pek-Tung Kai-Pang cukup gagah dan Bu Beng mendapatkan kesan bahwa dia itu bukan seorang yang berwatak sombong atau jahat.
Bhe Kim adalah orang pertama dari Beng-Kauw Sam-Liong dan dia memiliki watak keras dan pemarah, juga terlalu menilai tinggi diri sendiri.
Maka sikap ini mendatangkan watak memandang rendah lawan.
Dia tersenyum menyeringai dan berkata sambil menyilangkan sepasang golok besarnya di depan dada.
"Theng Gu, berhati-hatilah engkau agar tongkat bututmu itu saja yang patah-patah oleh sepasang golokku, bukan leher dan badanmu! Haiiiittt...!"
Dua batang goloknya menyambar bagaikan kilat, mendatangkan dua gulungan sinar yang menyerang dengan dahsyat ke arah tubuh Theng Gu dari kanan kiri dan atas bawah.
Namun, dengan sigap Theng Gu menangkis golok kiri lalu memantulkan tubuhnya ke belakang sambil menarik tubuh atas ke bawah sehingga sambaran golok kanan ke arah lehernya luput.
Sebelum lawan dapat memutar kembali sepasang goloknya, dia sudah membabatkan tongkat putihnya ke arah pinggang Bhe Kun.
"Wuuuuttt...!"
Sambaran tongkat itu cepat dan kuat sekali. Bhe Kun terkejut dan menggunakan sepasang goloknya untuk melindungi tubuh menangkis dari samping.
"Tranggg...!"
Tampak bunga api berpijar dan keduanya melompat ke belakang, memeriksa senjata masing-masing yang ternyata masih utuh.
Keduanya merasa betapa tangan mereka tergetar ketika senjata mereka bertemu tadi.
Dengan penasaran Bhe Kun lalu memainkan sepasang goloknya dengan jurus Siang-Houw Lo-Lim (Sepasang Harimau Kacau Hutan).
Jurus ini amat dahsyat, sepasang golok itu menyambar-nyambar ke segala jurusan dan mengamuk sehingga amat sukar bagi lawan untuk menghindarkan diri dari sambaran sepasang golok yang besar dan berat itu.
Sambaran sepasang golok itu saja sudah mendatangkan angin yang dingin.
Diam-diam Theng Gu terkejut dan memuji kehebatan ilmu golok tokoh Beng-Kauw ini.
Dia pun cepat mengubah gerakan tongkatnya dan memainkan jurus yang ampuh dari perguruannya, yaitu jurus Sin-Liong Tong-In (Naga Sakti Menggetarkan Awan).
Tongkatnya bergerak dengan cepat bagaikan seekor naga menyusup-nyusup di antara sambaran dua sinar golok itu.
Terjadilah perkelahian yang amat seru sehingga para anak buah kedua pihak menahan napas saking tegangnya.
Di antara sinar putih panjang dan dua sinar golok yang saling belit dan saling sambar itu, terkadang terdengar suara berdencingnya senjata mereka yang beradu dan tampak bunga api berpijar seolah-olah naga putih menyemburkan api!
Memang amat seru namun juga indah sekaligus menegangkan.
Akan tetapi, Bu Beng dan Ceng Ceng mengerutkan alis mereka karena mereka dapat melihat betapa lihainya Theng Gu dengan tongkat putihnya.
Kalau diingat bahwa dia adalah Sute (adik seperguruan) dari Ji-Pangcu, ketua ke dua dari Pek-Tung Kai-Pang, tidak mengherankan kalau tingkat kepandaiannya sudah tinggi.
Terutama Bu Beng tahu benar bahwa akhirnya jago Beng-Kauw, Bhe Kun orang pertama dari Beng-Kauw Sam-Liong itu, akan kalah.
Dua orang gagah itu saling serang, mengerahkan seluruh tenaga dan menggunakan jurus-jurus simpanan terampuh masing-masing.
Akan tetapi setelah lewat tiga puluh jurus, benar seperti yang dikhawatirkan Bu Beng dan Ceng Ceng, Bhe Kun mulai terdesak dan kini dia hanya dapat menggunakan sepasang goloknya untuk melindungi dirinya.
Tongkat putih itu begaikan berubah menjadi seekor naga yang melayang dan menyambar-nyambar di sekeliling tubuh orang pertama Beng-Kauw Sam-Liong itu sehingga Bhe Kun hanya dapat dengan sIbuk menangkis dengan sepasang goloknya.
Tiba-tiba Bhe Kun menggunakan goloknya menangkis sekaligus menggunting tongkat lawan yang menyambar dari depan.
"Trakkk!"
Tongkat terjepit akan tetapi dengan pengerahan tenaganya Theng Gu dapat mencabut tongkatnya lobos dan secepat kilat tongkatnya bergerak dengan jurus Sin-Liong Tiauw-Si (Naga Sakti Menyabetkan Ekornya) tahu-tahu ujung tongkat yang di belakang berputar dan menghantam ke arah leher Bhe Kun dari samping.
"Celaka...!"
Ceng Ceng berseru dan ia hendak bergerak menolong.
Akan tetapi tangan Bu Beng menangkap pergelangan tangannya dan pada saat tongkat itu sudah hampir mengenai leher yang akibatnya tentu akan parah sekali, mungkin maut bagi Bhe Kun.
Tiba-tiba tongkat itu melenceng kebawah.
"Bukk!"
Tongkat itu tidak menghantam leher melainkan menghantam pangkal lengan kanan Bhe Kun.
Bhe Kun terpelanting dan walaupun dia masih memegang kedua goloknya, akan tetapi dia terjatuh dan ketika dia melompat berdiri lagi, dia merasa betapa pangkal lengan kanannya nyeri.
Akan tetapi dasar bandel, dia hendak menyerang lagi.
Bu Beng sudah melompat ke depan dan mencegahnya sambil Menjura kepada Ji-Pangcu.
"Jago pertama kami telah kalah. Kini jago ke dua dari kedua pihak harap maju!"
Terpaksa Bhe Kun mundur dengan muka merah.
Ceng Ceng sudah melompat ke depan.
ia tersenyum kepada Sam-Pangcu dan dengan gerakan tenang ia melolos pedang tipis yang melilit pinggangnya yang ramping.
Sinar mencorong ketika pedang Pek-Coa-Kiam berada di tangannya.
Gadis itu tampak cantik sekali dengan bibir tersenyuni mengejek, bibirnya merekah merah seperti bunga sedang mengembang, tampak kilatan gigi putih berderet.
Sepasang matanya yang jeli indah itu mengerling ke arah Sam-Pangcu yang tinggi besar dan mukanya penuh brewok.
"Sam-Pangcu, kalau engkau sudah bosan hidup, majulah dan coba tandingi aku!"
Katanya, memandang rendah walaupun ia dapat menduga bahwa Ketua Ke tiga dari Pek-Tung Kai-Pang ini memiliki tenaga yang amat kuat.
Namun, ia pun dapat menduga bahwa gerakan lawan tinggi besar itu agak kaku dan lamban dan ia dapat memperoleh keuntungan dari kelambanan itu karena ia sendiri memiliki ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang membuat ia dapat bergerak dengan amat cepat.
Sam-Pangcu yang tinggi besar bermuka brewok dengan langkah lebar menghampiri Ceng Ceng sambil menyeret tombak putihnya yang besar panjang dan berat.
Mulutnya menyeringai lebar, hatinya besar karena Theng Gu tadi telah memperoleh kemenangan.
Tentu saja tugasnya menjadi lebih ringan.
Sukur kalau dia dapat menambah kemenangan, andaikata dia kalah sekalipun, bukan berarti pihaknya kalah, melainkan hanya seri satu-satu.
Kalah satu menang satu dan Ji-Pangcu yang akan menjadi jago yang menentukan.
Apalagi lawannya hanya seorang gadis remaja yang cantik jelita dan bertubuh kecil mungil, tampaknya lemah gemulai, lawan yang teramat ringan.
Akan tetapi dia tidak berani memandang rendah karena tadi Ji-Pangcu juga membisikinya harus berhati-hati menghadapi gadis cantik ini karena ia adalah puteri Beng-Kauw Pangcu!
Setelah mereka berhadapan, Sam-Pangcu berkata dengan suaranya yang parau besar.
"Nona, sebaiknya engkau mundur saja. Aku merasa tidak tega untuk melawan seorang gadis remaja sepertimu ini. Malu rasanya bertanding melawan seorang gadis yang masih begini muda. Mengapa tidak Ayahmu saja yang maju?"
"Sam-Pangcu, jangan banyak mulut lagi. Coba buktikan lagak sombongmu itu, apakah benar egkau mampu mengalahkan Ang-Hwa Niocu dari Beng-Kauw!"
"Hemmm, bersiaplah engkau mengaku kalah dan minta ampun kepada kami!"
Seru Sam-Pangcu, lalu dia menggerakkan tongkat putihnya.
"Syuuuuuttt...!"
Tongkat putih itu menyambar dahsyat.
Ceng Ceng tidak begitu bodoh untuk melayani adu tenaga, dengan lawan yang ia tahu memiIiki tenaga gajah itu.
Dengan ringan tubuhnya bergerak mengelak dan ketika tongkat itu menyambar lewat, secepat kilat pedangnya yang tipis menyambar ke arah pergelangan tangan kanan lawan yang memegang tongkat!
"Singgg...!"
Sam-Pangcu terbelalak ngeri karena nyaris pergelangan tangannya terbacok.
Untung dia masih cepat menarik tangannya dan kini tongkatnya diputar, membuat gerakan melingkar dan ujung tongkat itu menyerampang kedua kaki lawan.
Kembali Ceng Ceng memperlihatkan kegesitannya, tubuhnya melompat ke atas depan lalu dari atas tubuhnya berjungkir balik, tahu-tahu ia telah menyerang dari atas dengan pedangnya yang ditusukkan ke arah ubun-ubun kepala lawan!
Kembali Sam-Pangcu terkejut.
Dia cepat membuang tubuh ke atas tanah dan bergulingan sehingga serangan dari atas itu luput.
Setelah melompat bangun, tongkatnya dia putar dan kembali dia menyerang bagaikan badai bergelombang hendak menggulung lawannya.
Namun, gerakan Sam-Pangcu terlalu lamban bagi Ceng Ceng.
ia dapat mengikuti gerakan itu dengan mudah dan menggunakan kelebihannya dalam kecepatan gerakan, ia selalu dapat menghindarkan diri dengan kelitan yang gesit dan tidak pernah mau mengadu tenaga lewat senjata seperti yang dikehendaki lawan.
Kalau ia nekat mengadu tenaga, ia terancam bahaya.
Mungkin pedangnya akan patah atau terlepas dari tangannya.
Pertandingan ini tidak kalah seru dan menegangkan daripada pertandingan pertama tadi.
Kalau tadi dua orang itu seolah bertanding silat dan tenaga, kini tampak Sam-Pangcu hendak memanfaatkan tenaganya dan sebaliknya Ang-Hwa Niocu atau Ceng Ceng memanfaatkan kegesitannya.
Bu Beng yang mengikuti jalannya pertandingan tidak merasa khawatir karena dengan ginkangnya yang hebat Ceng Ceng mampu menjaga diri dan tidak akan mudah terkena serangan lawan.
Juga kecepatan serangan balasannya terkadang membuat Sam Pangcu terkejut dan nyaris terluka.
Akan tetapi karena Ceng Ceng maklum akan besarnya bahaya kalau sampai sedikit saja tubuhnya terkena hantaman tongkat yang berat dengan tenaga gajah itu, ia bersilat dengan hati-hati sekali sehingga pertandingan berjalan seru sampai lima puluh jurus.
Belum ada yang tampak terdesak biarpun Ceng Ceng lebih banyak mengirim serangan saking cepatnya ia bergerak.
"Haiiiittt...!"
Tiba-tiba Ceng Ceng menyerang dengan ganas. Tubuhnya mendoyong ke depan dan pedangnya meluncur cepat menuju dada lawan.
"Ahh...!"
Sam-Pangcu berseru dan tubuhnya dimiringkan sehingga tusukan itu luput.
Akan tetapi tiba-tiba Ceng Ceng menggerakkan kedua kakinya secara beruntun dan bertubi-tubi ia menyerang dengan ilmu tendangan Soan-Hong-Twi (Tendangan Berantai).
Sam-Pangcu berusaha mengelak akan tetapi karena di susuli tendangan terus akhirnya lutut kirinya terclum ujung sepatu kaki kanan Ceng Ceng.
Seketika lututnya seperti lumpuh dan dia jatuh berlutut dengan kaki kirinya.
Dengan girang Ceng Ceng lalu menusukkan pedangnya ke arah leher lawannya.
"Singgg... tranggg...!!"
Pedang di tangan Ceng Ceng terpental keras.
ia terkejut dan melompat ke belakang, dan terbelalak memandang Bu Beng yang sudah berdiri di dekatnya dan kiranya pemuda itu yang tadi menangkis pedangnya yang ditusukkan ke arah dada Sam-Pangcu yang berlutut dan tidak berdaya.
"Bu Beng, kenapa kau...?"
"Ceng Ceng, tadi dalam pertandingan pertama, Then Gu juga telah bermurah hati tidak membunuh Paman Cu Lok, sekarang tiba giliranmu untuk tidak membunuh Sam-Pangcu!"
Mendengar nada suara Bu Beng yang tegas dan pandang matanya yang mencorong, Ceng Ceng tidak mau membantah lagi dan ia lalu mundur sambil memandang Sam-Pangcu dengan senyum mengejek.
Sam-Pangcu bangkit dan menyeringai kesakitan karena sambungan lutut kirinya telah tertendang pecah oleh Ceng Ceng.
Dia memandang kepada Bu Beng dan berkata lirih.
"Terima kasih, aku mengaku kalah."
Bu Beng lalu berhadapan dengan Ji-Pangcu yang tinggi kurus. Sejenak mereka saling pandang dan Ji-Pangcu berkata dengan suara heran dan penasaran.
"Orang muda tanpa nama, kulihat engkau bukan golongan sesat. Kenapa engkau membela Beng-Kauw?"
"Ji-Pangcu dari Pek-Tung Kai-Pang, aku berpihak atau membantu siapa saja itu merupakan urusan pribadiku dan tidak ada sangkut pautnya dengan orang lain. Sekarang aku berada di pihak Beng-Kauw dan kalau engkau memusuhinya, sudah menjadi kewajibanku untuk membela Beng-Kauw dan menentangmu. Sekarang, seperti kau lihat tadi, pihak kami kalah sekali menang sekali. Kita masih seri dan pertandingan terakhir akan menentukan pemenangnya. Akan tetapi, bukanlah lebih baik kalau engkau bawa semua temanmu pergi dari sini dan tidak melanjutkan pertandingan bodoh ini?"
"Pertandingan bodoh? Huh, kami adalah perkumpulan yang menjaga nama dan kehormatan. Walaupun perkumpulan pengemis, namun kami adalah golongan bersih yang selalu menentang kejahatan. Kami membela kehormatan kami karena ada anggauta kami yang dihina oleh orang Beng-Kauw. Kau suruh aku mundur? Berarti kami harus mengaku kalah?"
"Aih, Kakek kurus kering tak tahu diri!"
Tiba-tiba Ceng Ceng berseru sambil tertawa mengejek.
"Sudah saja engkau mengaku kalah. Bu Beng sudah memberi muka dan memberi kesempatan kepadamu, kenapa masih banyak cerewet lagi. Pergilah atau kalian semua akan mampus di sini!"
Ji-Pangcu menjadi marah sekali.
"Bu Beng, engkau sebagai wakil Ketua Beng-Kauw, mari kita selesaikan pertandingan ini!"
Dia lalu melangkah maju menghampiri Bu Beng sambil memanggul tongkatnya.
Melihat langkah Ketua Ke Dua dari Pek-Tung Kai-Pang ini, langkahnya seperti seekor monyet dan memanggul tongkatnya, diam-diam Bu Beng merasa heran dan terkejut.
Orang ini aneh sekali dan mudah diduga bahwa dia tentu memiliki kepandaian yang amat Iihai.
Namun dia tidak merasa gentar.
Memang Bu Beng sudah lupa sama sekali akan semua teori ilmu silat yang pernah dia pelajari dari Guru-Gurunya, yaitu pertama ilmu silat Bu-Tong-Pai dari Bu Tek Thaisu dan Kwan Tek Losu.
Kemudian dia menjadi murid Cin Po Yangcu dan mendapatkan ilmu pedang Thian-Hong Kiam-Sut, sedangkan dari Bu-Tong-Pai dia mendapatkan ilmu pedang Bu-Tong Kiam-Hoat.
Di bawah bimbingan Cin Po Yangcu dia telah dapat menggabungkan kedua ilmu pedang itu menjadi ilmu pedang yang amat hebat.
Bu-Tong Kiam-Hoat terkenal daya pertahanannya yang kokoh kuat sedangkan Thian-Hong Kiam-Sut memiliki daya serangan yang amat dahsyat.
Biarpun dia sudah tidak ingat lagi akan teorinya, namun ilmu-ilmu yang telah dikuasainya itu telah mendarah daging dalam dirinya sehingga dapat dia mainkan secara otomatis menurut kebuTUHAN pembelaan dirinya.
Ji-Pangcu kini sudah berhadapan dengan Bu Beng dan dia memasang kuda-kuda yang aneh, mirip gerakan seekor monyet sehingga banyak anak buah Beng-Kauw yang tersenyum geli karena gerakan itu lucu.
Akan tetapi Ceng Ceng berkata lirih, penuh kekhawatiran.
"Wah, dia bergerak seperti monyet. Apakah itu yang disohorkan orang sebagai Kun-Kauw Tung-Hoat (Ilmu Tongkat Monyet Emas) yang katanya merupakan ilmu keturunan dari Sun Go Kong si Raja Monyet?"
Kekhawatiran Ceog Ceng memang ada benarnya.
Ji-Pangcu ini memang pernah mempelajari sebuah ilmu tongkat dengan gerakan seperti monyet dan Pertapa yang mengajarkan ilmu tongkat itu menyebutnya ilmu tongkat monyet yang katanya merupakan ilmu keturunan dari Sun Go Kong atau Kauw Ce Thian, tokoh besar dalam dongeng See Yu Ki dari penyebaran Agama Buddha!
Ji-Pangcu mulai menyerang dan beberapa orang anggauta Beng-Kauw tidak dapat menahan tawa mereka.
Ji-Pangcu benar-benar meniru monyet, bukan hanya gerakannya ketika menyerang, akan tetapi juga mulutnya mengeluarkan bunyi seperti seekor kera.
Namun gerakannya cepat dan kuat sekali.
Sebentar saja tongkat putihnya telah berubah menjadi gulungan putih yang panjang, menyambar-nyambar dengan ganasnya ke arah tubuh Bu Beng.
Akan tetapi pemuda ini telah mencabut pedangnya dan dia tampak tenang saja menghadapi serbuan yang hebat itu.
Dia bergerak dengan ilmu pedang Bu-Tong Kiam-Hoat yang tangguh dalam pertahanan sehingga semua sambaran ujung tongkat yang tampak berubah menjadi banyak itu selalu dapat dielakkan atau ditangkisnya.
Bertubi-tubi terdengar suara nyaring ketika tongkat bertemu pedang dan bunga api berpijar menyilaukan mata.
Setelah mulai dapat terbiasa dengan cara serangan lawan sampai selama tiga puluh jurus, Bu Beng mulai melakukan gerakan serangan balasan dengan Thian-Hong Kiam-Sut dan kini Ji-Pangcu mulai terdesak hebat karena datangnya serangan pedang itu benar-benar amat dahsyat dan seperti air bah yang sulit dibendung.
Ji-Pangcu merasa terkejut bukan main.
Tadi pun dia sudah merasa penasaran sekali karena semua serangannya yang dia lakukan dengan pengerahan semua tenaganya, bertubi-tubi sampai tiga puluh jurus, sama sekali tidak ada hasilnya.
Kini, setelah pemuda itu mengubah permainan pedangnya dan membalasnya, dia merasakan betapa daya serangan pedang itu demikian hebat.
Bukan saja cepat dan kuat penuh tenaga sakti, akan tetapi juga gerakan pedang itu aneh dan sukar diikuti atau diduga perkembangannya.
SIbuklah dia memutar tongkat untuk melindungi tubuhnya, namun karena gerakan tongkatnya masih tidak mampu menandingi kecepatan gerakan pedang lawan, beberapa kali ada sinar pedang mencuat dan nyaris melukainya sehingga mau tidak mau dia terpaksa mundur terus menjauhkan diri.
"Cringgg... trangggg...!"
Serangan hebat dari Bu Beng ditangkis oleh Ji-Pangcu, akan tetapi akibatnya, lengan Ji-Pangcu tergores pedang sehingga terpaksa lengan kanan itu melepaskan tongkat.
Tangan kirinya masih mempertahankan tongkat, namun kaki Bu Beng menendang ke arah tangan kiri itu sehingga kini terpaksa Ji-Pangcu melepaskan pegangan tongkatnya sehingga tongkat itu jatuh ke atas tanah.
Akan tetapi melihat lawan sudah kehilangan senjatanya, Bu Beng segera melompat ke belakang.
Akan tetapi pada saat itu, puluhan orang anak buah Beng-Kauw berlarian keluar dari dalam pintu gerbang perkampungan Beng-Kauw sambil berteriak-teriak dan dipimpin sendiri oleh Siangkoan Hok, ketua Beng-Kauw yang tinggi kurus.
Ketua Beng-Kauw ini tidak ikut menyerbu, akan tetapi suaranya terdengar lantang.
"Para jahanam Pek-Tung Kai-Pang berani menantang dan mereka sudah kalah, serbu dan binasakan mereka semua!!"
Mendengar ini, Siangkoan Ceng, Beng-Kauw Sam-Liong dan lima belas orang murid Beng-Kauw segera menyerbu ke arah musuh.
Tentu saja Ji-Pangcu, Sam-Pangcu, dan Theng Gu bersama anak buah mereka terpaksa melawan.
Akan tetapi mereka kalah kuat dan sebentar saja beberapa prang anak buah mereka sudah roboth terluka.
Tiga orang pimpinan itu sendiri juga melawan mati-matian dan terdesak mundur.
Tiba-tiba terasa ada angin bertiup kuat sekali, menggoyang pohon yang berada di situ, debu berhamburan dan cuaca mendadak menjadi gelap sehingga orang-orang Beng-Kauw menjadi kebingungan karena tidak dapat melihat kawan atau lawan dengan jelas!
Lalu terdengar suara lembut namun bagi mereka yang berada di situ seolah suara Itu dibisikkan di deket telinga mereka.
"Hemm, Beng-Kauw selalu licik, megandalkan kekuatan banyak orang untuk menekan kilemahan sedikit orang. Hentikan semua pertempuran!"
Akan tetapi Siangkoan berseru keras.
"Warga Beng-Kauw! Maju terus, basmi oreng-orang Pek-tung Kai-Pang, jangan takut suara setan Itu!"
Bu Beng berteriak nyaring.
"Beng-Kauw Pangcu, jangan begitu! Kami sudah berjanji mengadakan pIbu, mereka sudah kalah dan cukup kalau mereka minta maaf!"
Kata Bu Beng dan melihat pihak Beng-Kauw masih terus menyerang musuh, tiba-tiba saja dia melompat dan dengan pedangnya dia menghadapi Beng-Kauw Sam-Liong dan Ceng Ceng yang mengamuk!
Terdengar suara nyaring dan Beng-Kauw Sam-Liong terpelanting mundur, juga Ceng Ceng terdorong ke belakang.
"Bu Beng kau hendak menghianati kami?"
Ceng Ceng berseru marah.
"Kalianlah yang mengkhianati perjanjian, memalukan!"
Bu Beng balas membentak.
"Kalau Bu Beng memihak musuh, kita bunuh saja sekalian!"
Siangkoan Hok berteriak marah dan dia menggunakan goloknya untuk menyerang. Akan tetapi tiba-tiba suara lembut itu terdengar lagi.
"Beng-Kauw, kalau kalian tidak mau mundur, terpaksa aku melanggar pantanganku sendiri utnuk melakukan kekerasan."
Siangkoan Hok melihat sesosok bayangan putih di dalam kegelapan cuaca itu, maka dia menudingkan goloknya dan berseru nyaring dan marah.
"Siapa takut ilmu setanmu?"
Sebagai seorang ahli sihir Ketua Beng-Kauw ini tidak takut.
Begitu dia mendorongkan tangan kirinya, tampak ada cahaya merah menyambar ke arah bayangan putih itu, disusul gerakannya melompat menyusul cahaya merah itu menyerang si bayangan putih.
"Dessss...!"
Entah apa yang terjadi, akan tetapi tahu-tahu tubuh Ketua Beng-Kauw itu terpental dan terbanting jatuh terjengkang.
"Semua orang Beng-Kauw, mundurlah kalian dan kembali ke perkampungan kalian!"
Terdengar bayangan putih itu berseru lagi.
Melihat orang-orang Beng-Kauw masih ingin melanjutkan serangan, bayangan itu mendorongkan kedua tangannya ke depan dan angin seperti badai menerjang dan semua orang di pihak Beng-Kauw, kecuali Bu Beng, tersapu seperti daun-daun kering terlanda angin badai.
Bahkan Siangkoan Hok yang baru saja bangkit, juga terhuyung-huyung ke belakang.
Agaknya dia mengenal bahaaya dan tahu bahwa dia berhadapan dengar seorang yang sakti luar biasa, yang kalau dilawan akan mendatangkan malapetaka bagi Beng-Kauw, maka dia segera berseru memberi aba-aba agar semua warga Beng-Kauw mundur, masuk ke perkampungan dan menutupkan pintu gerbang kuat-kuat.
Sementara itu, Bu Beng yang tadinya membela orang-orang Pek-Tung Kai-Pang yang diserbu banyak orang Beng-Kauw, kini melihat betapa ada seorarg Kakek berpakaian putih menggunakan angin menyerang warga Beng-Kauw, diapun berbalik membantu Beng-Kauw.
Dia merendahkan tubuhnya dan otomatis mengerahkan seluruh tenaga saktinya, mendorongkan kedua tangan ke depan untuk melawan kekuatan hebat yang melanda dari kedua tangar Kakek itu.
"Dessss!"
Tubuh Bu Beng terpental dan terjengkang.
Akan tetapi kembali dia melompat dan siap melawan.
Kakek baju putih itu kini tampak jelas karena cuaca menjadi terang kembali.
Dia seorang Kakek yang usianya sukar ditaksir, tentu sudah tua sekali.
Bu Beng melihat Ji-Pangcu, Sam-Pangcu dan Theng Gu tiga orang pimpinan Pek-Tung Kai-Pang itu berlutut menghadap Kakek itu dan berseru sambil memberi hormat.
"Susiok-Couw (Paman Kakek Guru)..."
Bu Beng terkejut.
Kalau para tokoh Pek-Tung Kai-Pang itu menyebut Paman Kakek Guru kepada orang-tua itu, tentu dia sudah amat tua dan tentu saja memiliki kepandaian yang amat hebat.
Pantas tadi telah mendemonstrasikan kekuatan yang demikian dahsyatnya.
Kakek itu memandang kepada tiga orang tokoh Pek-Tung Kai-Pang itu.
"Hemm, apakah Guru kalian tidak pernah mengajarkan kesabaran kepada kalian sehingga untuk urusan kecil saja kalian mendatangkan akibat yang besar, memancing akibat lain yang lebih besar lagi? Hayo pulang dan mohon maaf kepada Guru kalian!"
"Baik, ampunkan kami, Susiok-Couw!"
Kata Ji-Pangcu dan dia lalu mengajak teman-temannya untuk segera pergi meninggalkan tempat itu, membawa teman-teman yang terluka.
Kini Kakek baju putih itu menghadapi Bu Beng yang masih berdiri di situ dengan sikap ragu karena perubahan keadaan tadi yang membuat dia bingung menentukan sikap masih membuat dia termenung.
"Orang muda, engkau tadi membela Beng-Kauw, kemudian berbalik membela Pek-Tung Kai-Pang dan terakhir melawan aku membela Beng-Kauw lagi, mengapa?"
Bu Beng yang memang selalu bersikap hormat kepada orang yang lebih tua menunduk dan menjawab.
"Lo-Cianpwe saya selalu membela yang terancam bahaya. Semula, Pek-Tung Kai-Pang datang menantang Beng-Kauw maka saya yang menjadi tamu Beng-Kauw membela Beng-Kauw mengadakan pIbu. Kemudian, Beng-Kauw dalam jumlah banyak menyerang Pek-Tung Kai-Pang, maka saya berbalik membela Pek-Tung Kai-Pang. Ketika Lo-Cianpwe muncul dan menyerang Beng-Kauw, saya terpaksa membela Beng-Kauw dan menantang Lo-Cianpwe."
"Ho-ho, engkau orang muda aneh, belum pernah aku bertemu seorang pemuda yang begitu setia dengan pendiriannya membela yang lemah terancam! Akan tetapi bagaimana seorang pemuda seperti engkau mau membela perkumpulan sesat seperti Beng-Kauw?"
"Saya adalah tamu dari Beng-Kauw, saya tidak tahu apakah Beng-Kauw sesat atau tidak. Ketika Beng-Kauw diserbu Pek-Tung Kai-Pang, sudah menjadi kewajibanku sebagai tamu untuk membantu tuan rumah yang baik kepadaku."
"Hemm, engkau dari golongan apakah, orang muda? Bukankah engkau murid Bu-Tong-Pai?"
"Saya tidak tahu, Lo-Cianpwe, saya tidak ingat lagi."
"Siapa namamu?"
"Nama saya Bu Beng."
"Tanpa Nama? Bagaimana ini? Siapa nama aselimu! Harap engkau tidak mempermainkan aku orang-tua."
"Saya tidak main-main, Lo-Cianpwe. Ketika saya bertemu orang Beng-Kauw, saya telah kehilangan semua ingatan masa laluku. Saya bahkan tidak ingat siapa saya, dan karena Beng-Kauw menerima saya dengan baik, saya mau menjadi tamu dan bekerja membantu mereka."
Kakek itu mengangguk-angguk dan tiba-tiba pada saat Itu terdengar suara gemuruh dan pintu gerbang perkampungan Beng-Kauw terbuka lebar, Asap hitam tampak mengepul keluar dari dalam dan melayang ke arah Bu Beng dan Kakek itu.
Setelah asap hitam itu datang menyelimuti mereka, terdengar suara berdesingan dan banyak senjata rahasia berupa jarum, paku, dan anak panah kecil menyambar bagaikan hujan lebat ke arah mereka!
Bu Beng cepat menggerakkan pedangnya, diputar untuk dijadikan perisai melindungi dirinya.
Adapun Kakek itu berdiri tegak dan hanya mendorongkan kedua tangan ke depan.
Asap hitam itu mem-buyar dan terdorong balik seperti diterpa angin.
Semua senjata rahasia yang menuju ke arah tubuh Kakek itupun jatuh runtuh ke atas tanah, tidak ada satupun yang mengenai tubuhnya.
Akan tetapi tiba-tiba Bu Beng mengeluh karena ada sebatang jarum mengenai lengannya.
Dia terhuyung dan tentu sudah roboh kalau saja Kakek itu tidak cepat menangkap.
memanggul tubuhnya dan membawanya lari pergi meninggalkan tempat itu.
Siongkoan Hok, diikuti Ceng Ceng dan para pembantunya mengejar keluar.
Akan tetapi Kakek dan Bu Beng sudah tidak tampak lagi.
Siangkoan Hok menghela napas berulang-ulang.
"Ayah, siapakah Kakek yang berujud bayangan putih tadi? Manusiakah dial"
Tanya Ceng Ceng dengan heran dan kagum sekali. Kembali Siangkoan Hok menghela napas panjang, lalu menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak mengira bahwa orang itu masih hidup! Dia bukan manusia biasa, bukan pula dewa, akan tetapi dia sudah amat terkenal sejak jaman Kakek Guruku. Dia merupakan Datuk utama para tokoh perkumpulan pengemis yang amat ditakuti clan disegani di dunia kang-ouw. Akan tetapi sudah puluhan tahun tidak pernah lagi terdengar sepak terjangnya di dunia kang-ouw. Dia dikenal sebagai seorang yang tidak tentu tempat tinggalnya dan dunia kang-ouw menyebutnya Khong Sim Sin-Kal (Pengemis Sakti Hati Kosong). Untung dia tidak membenci kita dan tidak menurunkan tangan maut, kalau hal itu dia lakukan, hari ini Beng-Kauw tentu sudah hancur binasa."
Ceng Ceng cemberut.
"Akan tetapi Kakek itu membawa pergi Bu Beng, Ayah!"
Dara itu merengek.
"Hemm, biar saja. Kebetulan karena kita tahu bahwa andaikata pemuda itu tidak kehilangan ingatannya, belum tentu dia mau membantu kita. Buktinya, ketika menghadapi Pek-Tung Kai-Pang, dia tidak mau membunuh mereka, bahkan ketika aku membawa anak buah menyerbu, dia menghalangi dan membela mereka! Untuk apa bocah seperti itu di sini?"
"Akan tetapi, Ayah. Aku cinta pada Bu Beng! Dan aku sudah mengambil keputusan tidak akan menikah dengan pria lain kecuali Bu Beng!"
"Huh, dasar anak keras kepala!"
Siang-koan Hok membentak lalu meninggalkan puterinya memasuki kamarnya sendiri.
Pada keesokan harinya Siangkoan Hok tidak menemukan puterinya, agaknya Siangkoan Ceng atau Ceng Ceng telah minggat dari rumahnya untuk pergi mencari Bu Beng!
Siangkoan Hok marah akan tetapi membiarkan saja anaknya pergi karena dia maklum bahwa tak seorang pun mampu mencegah kehendak puterinya yang keras hati dan manja itu.
Peristiwa permusuhan antara keluarga-Kauwsu (Guru Silat) Can Gi Sun dan keluarga-Kauwsu Song Swi Kai telah menghancurkan perasaan tiga orang muda karena dalam permusuhan antara dua keluarga Guru silat di kota Sung-Kian itu terlibat pula hubungan asmara antara anak-anak mereka.
Permusuhan yang diawali dengan persaingan memperebutkan murid bagi perguruan mereka berlarut-larut sampai menurun kepada anak-anak mereka.
Padahal puteri Can-Kauwsu yang bernama Can Pek Giok telah saling berkenalan akrab dengan putera Song-Kauwsu yang bernama Song Han Bun.
Akhirnya, dua orang muda yang sesungguhnya saling mencinta ini berhadapan sebagai lawan dan saling bermusuhan!
Kemudian, kedua orang Ayah mereka mulai berbaikan dan ketika Song-Kauwsu melamar Pek Giok untuk dijodohkan dengan Han Bun, terpaksa Can-Kauwsu menolaknya karena Pek Giok telah ditunangkan dengan Lui Hong, pemuda gagah perkasa putera muridnya sendiri!
Lui Hong sebetulnya mencinta gadis lain, gadis Bangsawan Kotaraja dan mendengar bahwa Can-Kauwsu terpaksa me-nolak pinangan Song-Kauwsu karena Pek Giok telah ditunangkan dengan dirinya, padahal dia tahu bahwa Pek Giok dan Han Bun saling mencinta, dia lalu menyatakan kepada orang-tuanya bahwa dia minta pertalian jodohnya dengan Pek Giok dibatalkan!
Peristiwa ini tentu saja membuat Ayahnya, Lui Siong dan isterinya marah, juga Can-Kauwsu dan isterinya merasa terhina dan marah.
Demikianlah, tiga orang muda mengalami patah hati dan sedih.
Lui Hong, pergi meninggalkan kota Sung-Kian seperti yang dilakukan Pek Giok dan Han Bun.
Dia mengambil keputusan untuk pergi ke Kotaraja, mencari Li-Siocia (Nona Li) puteri Jaksa Li yang tinggal di Kotaraja.
Dia tidak dapat mengharapkan untuk dapat berjodoh dengan Li Sian Hwa, gadis Bangsawan puteri Jaksa Li itu.
Bagaikan seekor domba merindukan pucuk daun di puncak pohon Liu (Cemara)!
Akan tetapi, kesedihannya mengingat akan kemarahan Ayah-Bundanya dan juga kemarahan Can-Kauwsu dan isterinya, membuat dia merasa rindu sekali kepada Li Sian Hwa, gadis yang telah membuatnya jatuh cinta itu.
Selama sebulan dia melakukan perjalanan dan dalam waktu sebulan saja Lui Hong menjadi kurus dan agak pucat.
Dia jarang makan dan selalu termenung membayangkan betapa Can-Kauwsu dan isterinya pasti merasa terhina dengan pemutusan ikatan jodoh secara sepihak itu.
Tentu dianggapnya bahwa Lui Hong menolak Pek Giok!
Teringat akan semua itu, Lui Hong merasa tubuhnya lemas dan siang hari yang panas itu membuat dia merasa lelah sekali.
Hutan di mana dia berada itu cukup lebat dan dia lalu duduk mengaso di bawah sebatang pohon.
Karena kelelahan dan duduk di bawah pohon itu sejuk dan angin semilir mengipasinya membuat Lui Hong mengantuk.
Dalam keadaan layap-layap setengah tidur itu terbayanglah wajah Li Sian Hwa yang jelita, dengan senyumnya yang ramah, wajahnya yang anggun dan jelas menunjukkan keagungan seorang gadis Bangsawan.
Akan tetapi senyum itu lambat laun berubah menjadi senyum duka, dan sepasang mata bintang itu memandang kepadanya dengan muram.
Tiba-tiba telinganya menangkap suara berdentangnya senjata tajam beradu, berulang kali dan terdengar tak jauh dari situ.
Dia segera terbangun dan ternyata suara perkelahian dengan senjata tajam itu bukan mimpi.
Dia kini telah terjaga dan masih mendengarnya, bahkan bercampur dengan teriakan-teriakan orang banyak.
Terjadi perkelahian di sana, pikirnya.
Cepat Lui Hong melompat bangun dan berlari ke arah datangnya suara perkelahian.
Tak lama kemudian dia melihat seorang pemuda berpakaian mentereng dan indah sedang dikeroyok belasan orang.
Pemuda itu dengan sebatang pedang hitam mengamuk dengan amat hebat dan dia lihai sekali.
Sepuluh orang pengeroyoknya sudah roboh mandi darah dan kini hanya tinggal lima orang lagi yang masih mengeroyoknya.
Ketika Lui Hong tiba di situ, pemuda berusia sekitar dua puluh empat tahun yang berpakaian seperti seorang sastrawan kaya-raya dan wajahnya halus dan tampan, berseru nyaring.
"Hyaaaattt...!!"
Pedangnya berubah menjadi sinar hitam menyambar dan tiga orang roboh lagi, darah muncrat dari leher mereka.
Dua orang pengeroyok menjadi ketakutan dan mencoba untuk melarikan diri.
Namun dengan gerakan seperti seekor burung, pemuda tampan itu melompat dan begitu pedang hitamnya menyambar, dua orang itupun roboh!
Lima belas orang pengeroyok itu telah terbunuh semua oleh pemuda itu!
(Lanjut ke
Jilid 14) Antara Dendam & Asmara (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 14 Lui Hong bergidik dan tanpa disengaja, terdorong oleh perasaan ngerinya, dia berseru.
"Alangkah kejamnya...!"
Mendengar seruan ini, pemuda itu memutar tubuhnya dan melihat Lui.
Hong berdiri di sana dia mengira bahwa pemuda itu tentu seorang di antara para gerombolan yang tadi menyerangnya.
Maka dia lalu mengeluarkan teriakan panjang dan berlari menerjang ke arah Lui Hong!
"Haaaiiiiikkk...!
Pedang hitamnya menyambar dengan cepat dan kuat sekali.
Akan tetapi pemuda tampan pesolek itu merasa heran ketika pedangnya hanya menemui udara kosong saja karena Lui Hong dengan tenang telah mengelak dengan merendahkan tubuh sehingga pedang yang tadinya menyambar ke arah lehernya itu luput dan lewat di atas kepalanya.
"Tahan...!"
Lui Hong berseru karena dia maklum bahwa pemuda tampan pesolek itu tentu salah duga.
Akan tetapi agaknya pemuda itu sudah menjadi buas karena telah membunuh lima belas orang.
Dia tidak menghiraukan seruan Lui Hong melainkan melanjutkan serangannya dengan ganas sekali.
Lui Hong mengerutkan alisnya dan cepat mempergunakan kelincahan gerakan tubuhnya, sampai lima jurus dia mengelak terus dari sambaran pedang hitam.
"Tahan senjata, aku bukan musuhmu!"
Lui Hong kembali berseru, akan tetapi pemuda itu agaknya dari heran menjadi penasaran sekali karena selama lima jurus dia menyerang dengan sungguh-sungguh selalu dapat dielakkan dengan mudah oleh pemuda sederhana itu.
Padahal tadi ketika dikeroyok lima belas orang, setiap kali pedangnya berkelebat pasti merobohkan seorang pengeroyok!
Mendengar seruan Lui Hong, dia bukan berhenti malah makin memperhebat serangannya!
Terpaksa Lui Hong mencabut pedangnya dan mulai melakukan perlawanan.
Dia adalah murid tersayang dari Sin-Kiam Kai-Ong (Raja Pengemis Pedang Sakti), maka tentu saja dia seorang ahli kiamsut (ilmu pedang).
Dia dapat menilai ilmu pedang pemuda pesolek itu dan tahu bahwa pedang hitam itu kuat, ampuh dan berbahaya.
Akan tetapi ilmu pedang pemuda itu hanya tampaknya saja dahsyat karena gerakannya kasar dan mempergunakan tenaga gwakang (tenaga luar), namun tidak begitu sukar menghadapinya.
Dia pun mulai merasa gembira dan muncul keinginannya yang juga menjadi keinginan para ahli silat yang mendorong mereka setiap kali bertemu orang lain yang juga ahli silat untuk menguji kepandaian lawan dan kepandaian sendiri!
Kiranya perasaan ini, yaitu ingin menguji kepandaian lawan dan diri sendiri, terdapat dalam hati dan pikiran setiap olah ragawan.
Mulailah Lui Hong memainkan pedangnya dan mereka bertanding dengan seru karena biarpun Lui Hong hanya ingin menguji kepandaian silat pedang, sebaliknya lawannya menyerang dengan sungguh-sungguh untuk membunuh!
Lui Hong diam-diam harus mengakui bahwa ilmu pedang lawannya cukup tangguh dan juga aneh karena dia tidak dapat mengenal ilmu pedang itu.
Agaknya mengandung sedikit aliran Kun-Lun Kiam-Hoat dan Kong-Thong Kiam-Hoat dalam dasar permainan pedang itu, terutama gerakan kakinya jelas dari Kun-Lun-Pai dan gerakan pedang itu mirip ilmu dari Kong-Thong-Pai.
Ilmu pedang itu lebih pantas kalau dimainkan seorang tokoh asing dari suku asing.
Akan tetapi pemuda tampan ini penampilannya seperti seorang pelajar yang memiliki ilmu tinggi, seperti juga dia sendiri.
"Tahan pedang!!"
Tiba-tiba Lui inembentak dan menangkis dari samping sambil mengerahkan tenaganya.
"Tranggg...!"
Bunga api berpijar dan pemuda pesolek itu terhuyung. Dia terkejut bukan main dan maklum bahwa kalau lawannya, pemuda sederhana itu, bersungguh-sungguh, dia pasti akan kalah.
"Sobat, kuIihat engkau berpakaian seperti seorang sastrawan, akan tetapi mengapa watakmu begini kasar dan kejam? Engkau memiliki ilmu pedang yang tangguh pula, pantasnya engkau seorang pendekar yang terpelajar, akan tetaipi mengapa menyerangku dengan membabi buta padahal sudah kuserukan bahwa aku bukan musuhmu?"
"Hemm, siapa tahu bahwa engkau bukan anggauta gerombolan tadi yang telah kubasmi itu?"
Pemuda itu balik bertanya.
"Siapakah engkau?"
"Namaku Lui Hong, dan engkau siapakah, mengapa engkau membunuh mereka semua ini tanpa mengenal ampun?"
"Huh, gerombolan penjahat yang berani mencoba merampok aku sudah sepatutnya dibasmi dan namaku tidak ada sangkut pautnya denganmu. Aku tidak mengenalmu!"
Setelah berkata demikian, dengan wajahnya yang lembut itu mengandung penasaran karena dia dikalahkan Lui Hong, pemuda itu segera melompat ke atas seekor kuda yang tinggi dan besar lalu membalapkan kudanya pergi meninggalkan tempat itu.
Lui Hong berdiri termenung memandang ke arah lima belas mayat yang berserakan dan mandi darah itu.
Dia menghela napas panjang dan merasa ngeri.
Mereka itu memang bersalah, menjadi perampok yang suka merampas barang milik orang lain, bahkan terkadang membunuh mereka yang mempertahankan barang mereka.
Akan tetapi, pantaskah mereka itu dibantai, dIbunuhi begitu saja?
Gurunya, Sin-Kiam Kai-Ong dahulu pernah menasihatkan kepadanya bahwa orang yang melakukan kejahatan adalah orang yang sedang menderita sakit.
Bukan badannya yang sakit, melainkan batinnya.
Seperti juga orang yang sedang sakit badannya, ada kemungkinan sembuh, demikian pula orang yang sakit batinnya, bisa saja sembuh.
Jauh lebih baik berusaha menyembuhkan mereka yang sakit batinnya, menyadarkannya agar kembali ke jalan benar, daripada membunuhnya.
Orang sakit dapat sembuh, sebaliknya orang sehat sekali waktu dapat saja sakit.
Manusia manakah yang dapat terbebas sepenuhnya dari sakit, baik itu sakit badan maupun sakit batin?
Semua manusia pasti pernah melakukan dosa, melakukan kesalahan dalam hidupnya.
Apakah mereka itu juga harus dIbunuh karena kesalahannya?
Lui Hong menghela napas lagi.
Kemudian, terdorong oleh rasa ngeri dan juga kasihan, dia lalu menggali lubang-lubang untuk mengubur lima belas buah mayat itu.
Karena dia hanya menggunakan golok-golok para perampok itu untuk menggali lubang, maka pekerjaan itu dia lakukan sampai sore hari baru selesai.
Dia lain melanjutkan perjalanannya menuju Kotaraja.
Pada waktu itu, sekitar tahun 1145, Cina terpecah menjadi dua.
Perbatasannya adalah Sungai Yang-Ce.
Di seberang selatan Sungai Yang-Ce dikuasai oleh Kerajaan Sung Selatan, yaitu sisa Kerajaan Sung telah dikalahkan oleh Kerajaan Kin yang kini menguasai seberang utara atau sebelah utara Sungai Yang-Ce.
Mula-mula Kerajaan Sung yang nguasai seluruh Cina diserang oleh Bangsa Nuchen yang mendirikan Kerajaan Kin (Emas) dan Kaisar Sung Kao Cu dipaksa melarikan diri ke selatan dan mendirik Kerajaan Sung yang disebut Sung Selatan.
Di selatan, Kerajaan Sung mendirikan Kotaraja baru yaitu Hang-Chouw.
Semula pasukan Kin terus menyerang ke seberang selatan Yang-Ce dan Kerajaan Sun mati-matian mempertahankan diri.
Sebetulnya, pada tahun 1131, lima tahun sejak Kaisar Sung Kao Cu melarikan diri mengungsi ke selatan, ada seorang panglima besar Kerajaan Sung yang setia dan gagah perkasa, yang mengerahkan balatentara yang dipimpinnya menghantam pasukan Kin sedemikian hebatnya sehingga pasukan terus mundur.
Pasukan panglima yang bernama Gak Hui ini amat kuat karena mendapat dukunga dari rakyat jelata.
Jumlah pasukannya terus bertambah dengan adanya para sukarelawan, bahkan banyak pendekar-pendekar gagah perkasa yang membantunya.
Pasukan Kin tidak kuat menahan gelombang serangan yang dilakukan Jenderal Gak Hui dan mereka terus mundur sampai ke seberang sungai Yang-Ce dan bagian selatan sungai Itu sepenuhnya dikuasai Jenderal Gak Hui.
Kalau saja Kaisar Sung Kao Cu (1127-1162) pada waktu itu menyetujui niat Jenderal Gak Hui untuk terus melakukan pengejaran ke utara, bukan mustahil seluruh wilayah Sung bagian utara akan dapat direbut kembali dan kekuasaan Kerajaan Sung kembali sepenuhnya.
Namun Kaisar Sung Kao Cu tidak memberi ijin, bahkan memerintahkan Jenderal Gak Hui untuk menghentikan pengejaran sampai di Sungai Yang-Ce yang menjadi tapal batas antara Kerajaan Kin dan Kerajaan Sung.
Jenderal Gak Hui merasa menyesal sekali, akan tetapi sebagai seorang panglima besar yang setia kepada Kaisar, dia tidak berani membantah sungguhpun dia mengirim protes keras.
Kaisar Sung Kao Cu dipengaruhi oleh para pembesar lstana, terutama sekali perdana menterinya yang bernama Chin Kui yang membujuk Kaisar agar menghentikan permusuhan dengan Kerajaan Kin karena hal itu tidak menguntungkan bahkan dapat menghancurkannya.
Tentu saja hal ini merupakan siasat Chin Kui yang diam-diam mempunyai hubungan rahasia dengan Kerajaan Kin.
Karena menganggap Jenderal Gak Hui yang keras hati itu berbahaya bagi dirinya, Perdana Menteri Chin Kui bahka menjatuhkan fitnah kepada Jenderal Gak Hui sehingga akhirnya panglima besar, yang gagah perkasa itu menerima hukuman mati minum racun yang diperintahkan Kaisar Sung Kao Cu atas bujukan Chin Kui yang licik!
Demikianlah apa yang terjadi sekitar lima tahun yang lalu dan kini Cina terpecah menjadi dua, yang utara menjadi wilayah Kerajaan Kin dan yang selatan wilayah Kerajaan Sung.
Pembagian wilayah ini pun jelas membuktikan betapa lemahnya Kerajaan Sung yang terpaksi membiarkan Kerajaan Kin mengambil alih tujuh Propinsi dan semua daerah di sebelah utara sungai Huai, daerah Pegunungan bagian Honan selatan, dan jajaran perbukitan yang menjadi sumber mata air dari Sungai Han dan sungai Kuning di Shensi sebelah selatan.
Pendeknya, dengan bujukani pengkhianat Chin Kui, Kaisar Sung Kao Cu mengalah.
Demikianlah keadaan Kerajaan Sung yang Kotarajanya di Hang-Chouw.
Ketika kisah ini terjadi, para pendekar yang setia kepada Kerajaan Sung, banyak yang merasa marah kepada Chin Kui atas kematian Gak Hui dan semua orang tahu belaka akan kelemahan Kaisar Sung Kao Cu yang ketika itu berusia sekitar lima puluh tahun.
Semua urusan Negara berada di dalam kekuasaan Perdana Menteri Chin Kui dan para pembantunya.
Kaisar Sung Kao Cu lebih banyak bersenang-senang dalam Istananya, dihIbur selir dan dayang muda yang cantik, berpesta dan mabok-mabokan.
Malam itu cuaca gelap sekali karena selain tanggal muda dan bulan tidak muncul, juga bintang-bintang terhalang mendung tipis yang bergerak di angkasa.
Hawa udara malam itu dingin sekali, membuat orang di Kotaraja Hang-Chouw malas keluar rumah.
Memang lebih hangat berada di rumah bercengkerama dengan keluarga.
Jalan raya di Kotaraja juga sunyi dan toko-toko sudah tutup sebelum malam semakin larut.
Hanya ada beberapa orang muda yang memang mempunyai kebiasaan berkeliaran di waktu malam saja yang tampak di jalan-jalan.
Akan tetapi di taman bunga belakang rumah gedung yang cukup besar di kota itu, di dekat ujung barat, duduk seorang gadis di atas bangku menghadapi kolam ikan.
Di dekat kolam terdapat sebuah tiang dan sebatang tongkat melintang digantungi sebuah lampu merah menerangi permukaan kolam.
Kolam itu penuh dengan ikan emas yang berenang hilir mudik di antara bunga teratai.
Hening.
sekali di tempat itu.
Hening dan sejuk bahkan agak dingin.
Kalau tidak ia terkadang menghela napas panjang, orang yang melihat gadis itu tentu mengira ia sebuah patung yang indah sekali karena tidak pernah bergerak.
Seolah seluruh perhatiannya ditujukan kepada ikan-ikan yang berenang hilir mudik itu.
ia seorang gadis berusia sekitar delapan belas tahun, cantik apalagi ia mengenakan pakaian yang terbuat dari sutera halus, rambutnya di sanggul model rambut puteri Bangsawan.
Dari belakang gedung itu datang seorang wanita berpakaian sebagai seorang pelayan.
Wanita setengah tua ini adalah pelayan dan pengasuh gadis Itu.
Dengan sopan ia berdehem ketika tiba di belakang gadis Bangsawan itu dan gadis itu menoleh.
"Siocia (Nona), maafkan, saya diutus Thai-Thai (Nyona Besar) untuk mengajak Nona masuk karena sudah malam udaranya di sini dingin sekali. Kami khawatir Nona akan masuk angin."
"Aku belum ingin masuk, masih ingin menikmati keindahan kolam dan ikan-ikan emasku. Engkau tinggalkan aku, jangan ganggu aku."
Kata gadis Itu.
Pelayan itu mengangguk dan membungkuk dengan hormat meninggalkan gadis itu, kembali ke dalam gedung melalui pintu belakang.
Gadis itu melanjutkan renungannya sambil melihat ikan.
Kemudian ia bicara seorang diri dengan suara seperti orang merengek.
"Aih, ikan, engkau jauh lebih berbahagia daripada aku! Engkau berenang-renang dengan gembira dan bebas, sesuka hatimu, tidak ada yang menekan dan memaksamu. Ah, mau rasanya aku bertukar tempat denganmu..."
Ia menghela napas panjang beberapa kali.
Tiba-tiba ia mendengar orang lain menghela napas panjang di belakangnya.
ia bangkit berdiri, memutar tubuhnya dan terbelalak memandang kepada Lui Hong yang telah berdiri di depannya.
"Nona Li Sian Hwa..."
Lui Hong memanggil lirih.
"Ah, kau... Pendekar Lui Hong...??"
Gadis itu berseru lirih dengan suara gemetar dan wajahnya berubah merah.
Jantungnya berdebar tegang akan tetapi juga bercampur dengan rasa girang dan khawatir.
Sejak tadi ia membayangkan wajah pemuda yang mendatangkan kesan mendalam di hatinya.
Pemuda ini pernah menolongnya, pernah membebaskannya dari ancaman yang lebih mengerikan daripada maut ketika ia nyaris diperkosa oleh seorang kepala perampok.
Kemudian setelah penolongnya itu mengantar keluarga Ayahnya sampai ke Kotaraja, Ayahnya, Jaksa Li, dengan halus mengusir Lui Hong dan tidak memberi kesempatan kepada mereka untuk saling berjumpa!
Untung ia masih sempat menyuruh pelayannya untuk menyerahkan sebuah hiasan rambut kepada pemuda itu dengan surat yang menyatakan bahwa ia akan menanti sampai pemuda itu datang kembali kepadanya!
Akan tetapi, kemudian ia ditunangkan dengan seorang pemuda lain, dan ia tidak dapat membantahnya karena Ayah-Ibunya sudah menentukannya.
Inilah yang membuat ia bersedih dalam taman dekat kolam ikan seperti tadi, yang ia lakukan hampir setiap sore.
"Li-Siocia (Nona Li), mengapa engkau tadi tampak begitu berduka sehingga mau bertukar tempat dengan ikan emas? Bukankah engkau masih menantiku dan sekarang aku telah datang, apakah engkau, tidak merasa gembira melihat aku?"
Mendengar pertanyaan itu, tiba-tiba saja Li Sian Hwa menangis terisak-isak, duduk kembali di atas bangku dan menutupi mukanya dengan kedua tangannya.
Melihat ini, Lui Hong segera menghampiri, duduk di atas bangku di samping gadis itu, menyentuh pundaknya dengan lembut dan bertanya.
"Siocia, mengapa engkau menangis? Katakanlah, apa yang mengganggu pikiranmu? Aku siap berkorban apa saja untuk menolongmu, Nona."
Li Sian Hwa merasa terharu, melepaskan tangan kanannya dari depan mukanya dan menggenggam tangan kiri pemuda itu, digenggamnya erat-erat seperti orang mencari pegangan yang kuat agar ia tidak jatuh.
"Taihiap (Pendekar Besar)..., kedatanganmu terlambat..."
Ia berhenti bicara dan terisak menangis.
"Terlambat? Apa maksudmu, Nona...?"
"Aku... aku telah ditunangkan dengan pemuda lain..."
Mendengar ini, Lui Hong melepaskan genggamani tangannya dengan tangan gadis itu seolah-olah tangan gadis itu menjadi panas sekali.
Sian Hwa telah bertunangan dengan pemuda lain!
Kalimat ini memasuki kepala dan dadanya bagaikan halilintar dan sejenak dia merasa pening, terduduk diam seperti patung dan mukanya berubah pucat sekali.
Tubuhnya gemetar dan dia merasa seolah semua urat di tubuhnya dilolosi, membuat dia merasa lemah dan lemas sekali.
Dia berusaha bangkit berdiri untuk menjauhi gadis itu, akan tetapi dia terkulai dan kembali jatuh terduduk di atas bangku.
Melihat keadaan Lui Hong ini, Li Sian Hwa yang sejak diselamatkan dulu sudah jatuh cinta kepadanya, menjerit lirih dan menubruk merangkul dan menangis sesunggukan sambil merapatkan mukanya di dada pemuda itu.
Air mata membanjir keluar dan merembes melalui baju membasahi dada Lui Hong yang hanya dapat erangkulnya dengan perasaan hancur.
"Lui Taihiap... kau maafkan aku. Ayah-lbu memaksaku, aku tidak bisa menolaknya... aku tidak berdaya, Taihiap... aduh, apa yang harus kulakukan...?"
Gadis itu meratap dalam pelukan Lui Hong.
Lui Hong merasa sedih dan terharu sekali.
lngin rasanya dia ikut menangis, akan tetapi dia menguatkan hatinya dan setelah dia mampu menenangkan hatinya, dengan lembut dia melepaskan rangkulannya.
"Duduklah yang baik, Siocia, dan marl kita bicara."
Katanya, suaranya halus namun tegas dan menenangkan perasaan kekasihnya yang hancur.
Li Sian Hwa menyadari keadaan mereka yang tidak selayaknya karena saling rangkul itu dan ia pun lalu duduk dengan tegak di samping Lui Hong, menguatkan hatinya agar tangisnya terhenti.
Keduanya saling pandang dan Lui Hong bertanya.
"Li-Siocia, kalau boleh aku mengetahui, dengan siapakah engkau ditunangkan?"
"Dengan seorang pemuda sastrawan yang kaya raya bernama Leng Sui dan menurut Ayahku, dia telah lulus sastrawan dan juga memiliki ilmu silat yang tinggi, selain itu dia kaya raya. Baru setengah tahun dia tinggal di Kotaraja dan kabarnya keluarganya dari utara."
Lui Hong menghela napas panjang dan termenung sejenak.
"Taihiap, maafkan aku..., aku hanya seorang anak yang tidak berdaya menentang kehendak orang-tua..."
"Li-Siocia, engkau tidak bersalah, tidak perlu minta maaf padaku. Orang-tuamu juga tidak bersalah kalau menjodohkan engkau dengan seorang pemuda sastrawan yang kaya raya. Sesungguhnya yang salah besar adalah aku sendiri. Aku tidak mau bercermin, tidak menyadari siapa diriku, seorang pemuda yang bodoh dan miskin, bagaimana mungkin dapat mengharapkan untuk berjodoh dengan seorang puteri Bangsawan seperti engkau? Aku yang tidak tahu malu..."
"Lui-Koko... (Kanda Lui)!!"
Li Sian Hwa kembali menubruk dan menangis di dada pemuda itu, lebih sedih lagi dan tiba-tiba ia menjadi lemas clan pingsan dalam rangkulan Lui Hong!
Melihat gadis itu jatuh pingsan, Lui Hong merasa kasihan sekali.
Dengan kedua mata basah dia lalu merebahkan gadis itu telentang di atas bangku panjang dan dia mengurut jalan darah di tengkuk dan punggungnya, memijat pusat unit syaraf di antara telunjuk dan Ibu jari tangan kirinya.
Tak lama kemudian Sian Hwa mengeluh dan siuman dari pingsannya.
Lui Hong membantunya duduk kembali.
"Li-moi (Dinda Li),"
Kini Lui Hong berkata, menyebut gadis itu moi-moi (dinda atau adik perempuan) karena gadis itu tadi juga menyebutnya Koko (Kanda atau Kakak laki-laki).
"Kau tenangkanlah hatimu. Aku mencintamu dengan seluruh jiwa ragaku, dan tidak akan berhenti mencintamu sampai datang ajalku. Akan tetapi, Moi-moi, cinta belum tentu berakhir dengan perjodohan karena perjodohan melibatkan keluarga, dalam haI ini orang-tuamu. Kita tidak mungkin dapat memaksakan. Kita saling mencinta, akan tetapi anggaplah bahwa aku bukan jodohmu, TUHAN tidak menghendaki kita menjadi suami-isteri. Maka, terimalah kembali benda tanda mata darimu ini, Dinda Li Sian Hwa."
Lui Hong mengeluarkan hiasan rambut berupa kupu-kupu emas yang dulu ia terima dari Sian Hwa melalui pelayan gadis itu dan menyerahkannya kepada Sian Hwa.
Dengan kedua tangan gemetar gadis itu menolak pemberian itu.
"Tidak! Tidak, jangan kembalikan itu kepadaku, Koko! Benda ini kuserahkan padamu sebagai wakil dari hatiku. Simpanlah atau buanglah kalau engkau sudah tidak menyukainya, akan tetapi jangan kembalikan kepadaku! Aku bersumpah, bahwa badanku ini boleh dipaksa menjadi milik laki-laki lain, akan tetapi hatiku tetap hanya untukmu seorang, Kanda Lui Hong!"
Dan kembali gadis itu menangis sesenggukan.
Tiba-tiba terdengar suara wanita batuk-batuk.
Saking tegangnya hati mereka tadi, mereka tidak tahu bahwa wanita pelayan pribadi Sian Hwa telah berdiri di situ.
Juga Lui Hong yang memiliki pendengaran terlatih tidak mengetahuinya.
Mereka terkejut dan ketika Sian Hwa melihat bahwa yang datang adalah pelayannya, ia lalu berkata.
"Bibi, engkau tentu masih ingat kepada Lui Taihiap ini, bukan?"
Wanita itu memandang dan di bawah sinar lampu merah ia mengenali wajah Lui Hong. ia segera memberi hormat dan berkata.
"Tentu saja, Nona. Dulu saya Nona utus menyerahkan surat dan hiasan rambut kepada Kongcu (Tuan Muda) ini."
"Kalau begitu pergilah, Bibi, aku masih ingin bicara dengan Lui Taihiap."
Kata lagi Sian Hwa sambil mengusap air matanya.
"Tapi, Nona. Taijin dan Thai-Thai minta dengan sangat agar Nona segera kembali ke dalam karena malam mulai larut. Kalau saya tidak dapat mengajak Nona masuk, mungkin mereka sendiri yang akan datang ke sini."
Mendengar ini, Lui Hong bangkit berdiri.
"Moi-moi, engkau masuklah, tidak baik bagimu kalau kehadiranku disini diketahui orang. Hiasan rambut ini kusimpan selamanya dan benda ini akan menjadi saksi bahwa aku tidak akan nikah dengan gadis lain selama hidup "Lui Koko...!"
"Masuklah, Dinda Li Sian Hwa."
"Mari, Nona, kita masuk, sudah di nanti-nanti Thai-Thai!"
Pelayan itu membujuk lalu setengah menarik dan menyeret tangan gadis itu meninggalkan taman.
Sian Hwa terpaksa ikut sambil berulang-ulang menoleh kepada Lui Hong dan isaknya masih terdengar sampai akhirnya dua orang wanita itu menghilang ke dalam pintu bagian belakang gedung.
Lui Hong masih berdiri termenung, matanya menatap ke arah daun pintu bercat kuning yang sudah tertutup itu.
Hatinya terasa kosong dan sunyi, dia merasa kehilangan, kehilangan segala-galanya dan tangan kanannya masih memegang tusuk sanggul atau hiasan rambut kupu-kupu emas itu.
Tiba-tiba dia menggerakkan tubuhnya, cepat sekali dia membuang tubuh ke belakang lalu berjungkir balik membuat salto tiga kali.
Sinar-sinar hitam dari senjata rahasia piauw dan paku meluncur lewat dari samping.
Ketika dia berhenti dan berdiri, masih ada sebuah paku menyambar.
Cepat dia menjepit paku itu dengan dua jari tangan kiri, lalu melihat berkelebatnya dua bayangan hitam, dia menyambitkan paku itu ke arah bayangan terdekat.
"Auuhhh...!"
Terdengar teriakan kesakitan dan dua sosok bayangan itu berkelebat melarikan diri melalui pagar tembok taman itu.
Lui Hong cepat melakukan pengejaran.
Kalau dia menghendaki, Lui Hong tentu akan dapat menyusul dan menangkap mereka karena dia memiliki kelebihan daripada mereka dalam hal kecepatan lari.
Akan tetapi dia tidak mau melakukan hal ini karena dia ingin tahu mereka dan ke mana mereka pergi.
Dua orang itu pasti hanya anak buah dan dia ingin mengetahui siapa orangnya yang mengirim dua penjahat untuk membunuhnya itu.
Tak lama kemudian dua bayangan hitam itu menghilang ke dalam belakang pagar tembok sebuah gedung besar.
Lui Hong membayangi mereka dan melihat bahwa di belakang pagar tembok itu terdapat sebuah taman yang cukup luas, seperti taman milik Li Sian Hwa tadi.
Dia masih dapat melihat mereka berdua itu menyelinap masuk melalui sebuah pintu kecil di samping gedung.
Lui Hong cepat melompat ke atas wuwungan rumah dan setelah memeriksa keadaan di bawah, dia melihat dua orang yang berpakaian serba hitam tadi telah berada di sebuah ruangan yang luas dan terang, bersama beberapa orang.
Dia segera mendekam dan melakukan pengintaian.
Dalam ruangan itu terdapat seorang pemuda tampan yang duduk di kursi terukir indah.
Melihat wajah pemuda ini, Lui Hong terkejut karena dia mengenal wajah itu yang bukan lain adalah pemuda sang pernah dia jumpai di hutan, pemuda yang dengan kejam dan lihai membantai lima belas orang perampok, bahkan yang pernah bertanding dengannya!
Duduk di kanan kiri pemuda itu terdapat enam orang laki-laki yang usianya sekitar empat puluh sampai lima puluh tahun.
Dari pakaian mereka, Lui Hong dapat mengetahui bahwa Lima orang di antara mereka adalah orang-orang dari Bangsa Kin.
Adapun yang seorang lagi berkepala gundul, berjubah merah, jelas merupakan seorang berdarah Mangol.
Usianya sekitar empat puluh tahun.
Mereka itu biarpun sedang duduk di atas kursi, tampak berwibawa dan dari sikap mereka yang gagah, Lui Hong dapat menduga.
bahwa mereka tentulah orang-orang yang memiliki ilmu silat yang tangguh.
Pada saat itu, pemuda tampan berpakaian mewah dan pesolek itu duduk di atas kursi memandang kepada dua orang berpakaian serba hitam yang tadi dibayangi Lui Hong.
Seorang di antara mereka memegangi pundak kirinya yang terluka senjata rahasia paku yang di tangkap lalu disambitkan Lui Hong tadi.
"Ceritakan, apa yang terjadi!"
Pemuda tampan itu bertanya dan suaranya terdengar keren berwibawa.
Orang berpakaian hitam-hitam yang tidak terluka, yang duduk di atas lantai bersama kawannya, berkata dengan suara yang terdengar ketakutan.
"Maaf, Pangeran..."
"Husshh! Jangan sebut Pangeran di sini!"
Pemuda itu membentak dan diam-diam Lui Hong terkejut.
Pangeran?
Pemuda ini seorang Pangeran?
Pangeran Bangsa apakah?
Bangsa Han, seorang Pangeran dari Kerajaan Sung Selatan ataukah Pangeran Bangsa Kin, atau Mongol?
"Maafkan hamba,...
Kongcu (Tuan muda).
Hamba berdua yang bertugas melakukan pengintaian di rumah Jaksa Li.
tadi melihat seorang pemuda yang mengadakan pertemuan dengan Li-Siocia (Nona Li).
Hamba berdua menyerangnya dengan Hek-Ting (Paku Hitam), akan tetapi dia mampu menghindar bahkan mengembalikan sebatang paku yang mengenai pundak rekan hamba ini.
Terpaksa hamba melarikan diri ke sini."
"Orang-orang tolol!"
Pemuda itu membentak marah.
"Mestinya kalian tidak menyerangnya melainkan membayangi dan menyelidiki, mencari tahu siapa dia apa hubungannya dengan Li-Siocia. Sebaliknya kalian gagal menyerangnya, malah kalian datang ke sini sama dengan membawa dia ke sini.!"
"Akan tetapi hamba tidak..."
"Bodoh, tentu saja dia membayangi kalian!"
Bentak pemuda itu dan Lui Hang terkejut sekali.
Pemuda itu sungguh cerdik dan dapat menduga bahwa dia membayangi dan mengikuti dua orang penyerangnya itu.
Dia tahu bahwa kehadirannya dapat segera diketahui, dan selagi dia hendak meninggalkan tempat itu tiba-tiba terdengar bentakan-bentakan dibawah dan dia mendapatkan dirinya terkepung oleh sedikitnya dua puluh orang yang memegang obor dan senjata di tangan.
Kemudian terdengar aba-aba dan dari bawah meluncur banyak anak panah menghambur ke arah dirinya.
Lui Hong maklum akan bahaya ini.
Dia mencabut pedangnya, memutar pedang itu sehingga membentuk sinar bergulung-gulung yang menjadi perisai lalu dia melayang turun dari atas wuwungan.
Semua anak panah yang menyambar ke arahnya runtuh oleh perisai sinar pedangnya.
Akan tetapi begitu di turun ke atas tanah, dia telah dikepung oleh puluhan orang itu dan tiba-tiba muncullah mereka yang tadi dia lihat duduk di dalam ruangan.
Pemuda itu segera mengenalnya dan dengan marah dia membentak, dengan suara keren memerintahkan enam orang setengah tua yang tadi menemaninya untuk menangkap Lui Hong.
Lima orang yang berpakaian sebagai perwira Bangsa Kin dan seorang berkepala gundul Bangsa Mongol itu segera maju menaati perintah pemuda tampan itu.
"Tangkap dia atau bunuh!"
Demikian pemuda itu berseru.
Mendengar perintah ini, enam orang itu lalu mencabut senjata mereka.
Lima orang perwira Kin itu mencabut pedang mereka yang bentuknya bengkok, sedangkan orang Mongol itu meloloskan sehelai rantai baja.
Perwira Mongol ini bukan lain adalah Ulan Bouw, tokoh Mongol yang pernah berhubungan dengan Pangeran Liang Tek Ong sebagai utusan dari Mongol.
Kini dia melakukan pendekatan dengan pemuda tampan yang ternyata adalah seorang Pangeran Bangsa Kin.
Lui Hong tidak mendapatkan kesempatan untuk melarikan diri karena dia sudah diterjang enam orang yang mengepungnya.
Ternyata mereka berenam merupakan lawan yang cukup berat bagi Lui Hong.
Dia sudah mencoba untuk mengamuk dan memainkan pedangnya secara hebat.
Pemuda ini adalah murid Sin-Kiam Kai-Ong (Raja Pengemis Pedang Sakti), maka tentu saja ilmu pedangnya dahsyat.
Akan tetapi kini dia menghadapi pengeroyokan enam orang jagoan yang lihai.
Apalagi pemuda tampan itu mengeluarkan aba-aba dan kini dua puluh orang lebih perajurit dan pengawalnya maju pula melakukan pengeroyokan sehingga banyak sekali senjata yang menyerang Lui Hong bagaikan hujan derasnya.
Pemuda itu memutar pedangnya dan mengerahkan tenaga.
Karena ada pengeroyokan para perajurit, maka gerakan enam orang jagoan itu malah terhambat sehingga Lui Hong dapat merobohkan enam orang perajurit yang mengeroyoknya.
Melihat ini, pemuda itu berseru pula memerintahkan para perajurit untuk mundur.
Kemudian dia sendiri maju membantu enam orang jagoannya dan kembali Lui Hong terdesak hebat.
Biarpun Lui Hong sudah mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaian silat pedangnya, tetap saja dia terdesak dan akhirnya dia terkena beberapa kali serangan senjata lawan.
Biarpun dia masih mampu menangkis atau mengelak, namun tetap saja dia terluka ujung senjata para pengeroyok sehingga kedua pundak, paha, dan dada terluka berdarah.
Pakaiannya sudah merah oleh darahnya yang mengucur deras.
Namun, pemuda ini tidak pernah mau menyerah dan masih terus membela diri sekuat tenaga.
"Bukkk...!"
Sebuah tendangan kaki pemuda tampan itu mengenai pinggangnya dan Lui Hong terpelanting roboh miring. Dua batang pedang menyambar ke arahnya.
"Trang-trangg...!"
Biarpun dalam posisi yang amat lemah Lui Hong yang masih memegang pedangnya mampu menangkis.
Akan tetapi ujung sebatang pedang kembali merobek baju di bagian dada dan kulitnya ikut terobek.
Makin banyak darah membasahi pakaiannya dan Lui Hong mulai merasa betapa tenaganya berkurang dan tubuhnya lemas, kepalanya mulai pening karena dia kehilangan banyak darah.
Namun, pemuda yang sudah menyadari bahwa nyawanya terancam maut ini tidak pernah kehilangan semangat untuk melawan.
Akan tetapi ketika dia melompat berdiri lagi, kakinya lemas dan dia terhuyung sehingga kembali tendangan kaki pemuda tampan itu mengenai dadanya, membuat Lui Hong jatuh terjengkang.
"Tangkap dia hidup-hidup!"
Pemuda itu berseru melihat para pembantunya sudah siap untuk menghujankan senjata kepada Lui Hong.
"Aku ingin tahu siapa dia dan apa maunya?"
Mendengar perintah ini, enam orang itu lalu menubruk dan menelikung Lui Hong yang sudah lemas.
Dengan kedua tangan diikat kebelakang tubuh dia lalu diseret ke dalam ruangan dan didorong jatuh terduduk diatas lantai.
Pemuda tampan itu duduk diatas sebuah kursi memandang Lui Hong dengan sinar mata penuh selidik.
"Hemm, kiranya engkau adalah pemuda dusun kurang ajar yang mencampuri urusanku ketika aku membasmi gerombolan perampok itu"
Kata pemuda itu yang merasa heran mengapa Lui Hong diketahui orang-orangnya berkunjung ke taman gedung Jaksa Li dan mengadakan pertemuan dengan Li Sian Hwa.
Hatinya dipenuhi rasa cemburu.
Pemuda ini adalah laki-laki kepada siapa Li Sian Hwa dijodohkan dan sekarang telah menjadi tunangannya.
Dia bernama Leng Sui dan Jaksa Li mengenalnya sebagai seorang pemuda sastrawan yang kaya raya.
Leng Sui yang di Kotaraja di mana baru sekitar satu tahun dia tinggal, terkenal di kalangan para Bangsawan karena hubungannya memang luas, terkenal royal dengan hartanya.
Dia lebih dikenal dengan sebutan Leng-Kongcu (Tuan muda Leng).
Sesungguhnya, seperti dibocorkan oleh anak buahnya tadi yang kelepasan menyebutnya "Pangeran,"
Leng Sui adalah seorang Pangeran Kerajaan Kin.
Pada waktu itu Bangsa Yuchen yang berhasil menguasai daratan Cina bagian utara dan mendirikan Kerajaan Kin, telah dapat mengembangkan Kerajaannya.
Mungkin karena Bangsa prIbumi Han merupakan mayoritas dengan jumlah yang ratusan kali lebih besar jumlahnya, maka biarpun sudah menguasai Cina bagian utara, Bangsa Yuchen terseret ke dalam kebudayaan prIbumi Han.
Merekalah yang menjajah, akan tetapi justeru mereka yang membaur dan mengoper kebudayaan Han.
Terutama sekali para Bangsawannya, yaitu para pejabat pemerintah Kerajaan, mereka mempelajari kebudayaan, kesusasteraan dan ilmu-ilmu Bangsa prIbumi.
Maka tidak mengherankan kalau Leng Sui, seorang di antara banyak Pangeran Kerajaan Cin, juga berubah menjadi seorang Bangsawan muda yang segala-galanya meniru Bangsa Han.
Bukan hanya pakaiannya, juga pendidikannya.
Pangeran Leng Sui atau lebih banyak dikenal sebagai Leng-Kongcu, dalam pergaulannya yang luas, berkenalan pula dengan jaksa Li Koan, Ayah Li Sian Hwa.
Begitu bertemu Sian Hwa, Iangsung saja Leng-Kongcu jatuh cinta.
Dia mengajukan lamaran dengan menyerahkan hadiah yang berlimpahan dan Jaksa Li segera menerima pinangan ini setelah melalui orang-orangnya mendapat keterangan betapa Leng-Kongcu selain kaya raya dan terpelajar tinggi, juga memiliki hubungan dekat dengan para Bangsawan tinggi, bahkan kabarnya dekat pula dengan para pejabat di Istana!
Lui Hong yang tubuhnya terasa lemas namun pikirannya masih terang itu mengangkat muka memandang pemuda itu.
"Dan engkau adalah pemuda yang tadinya kusangka seorang pendekar berhati kejam, ternyata seorang kepala penjahat yang mengirim dua orang untuk membunuhku tanpa sebab."
"Pemuda sombong! Katakan namamu dan apa maksudmu menyelinap ke rumahku ini?"
"Namaku Lui Hong, dan aku datang ke sini membayangi dua orang yang hendak membunuhku. Engkau yang sepatutnya mengaku siapa engkau dan mengapa engkau menyuruh orang membunuhku"' "Engkau menyusup ke taman gedung Jaksa Li, tentu mempunyai niat buruk. Orang-orangku melihatmu maka menyerangmu. Mau apa engkau berkeliaran di taman rumah Jaksa Li? Tentu bermaksud jahat!"
"Aku bukan seorang penjahat. Aku berkunjung karena aku mengenal Jaksa Li."
Kata Lui Hong.
"Huh, orang kasar rendah macam engkau mengenal Jaksa Li? Kalau berkunjung, kenapa malam-malam dan ada di taman? Tentu engkau jahat, hendak mencuri!"
Lui Hong menjadi marah sekali. Orang ini terlalu menghinanya dan memandang rendah.
"Aku tidak mengunjungi Jaksa Li, melainkan mengunjungi Nona Li Sian Hwa."
Leng Sui melotot dan mukanya menjadi merah.
"Apa? Engkau mengunjungi Nona Li? Ada urusan apa engkau dengan Nona Li?"
Lui Hong tersenyum, teringat akan kekasihnya dan dia merasa bangga bahwa dia bukan hanya mengenal dan bersahabat, bahkan saling mencinta dengan gadis itu!
"Aku dan Nona Li Sian Hwa sudah lama saling mengenal dan menjadi sahabat balk."
"Keparat!"
Leng-Kongcu bangkit berdiri dan mengepal tinju.
"Orang macam engkau mengaku menjadi sahabat Nona Li Sian Hwa, tunanganku? Kurang ajar kau!!"
Kini Lui Hong yang terkejut.
Ah, jadi pemuda inikah laki-laki yang dijodohkan dengan Sian Hwa?
Akan tetapi pada saat itu Leng-Kongcu sudah meloncat dekat dan sekali kakinya terayun, tubuh Lui Hong menjadi sasaran tendangannya sehingga pemuda itu terlempar dan menabrak dinding.
"Bunuh jahanam itu!"
Leng-Kongcu berteriak dan seorang di antara pembantunya, perwira Kerajaan Cin, sudah mencabut pedang dan menghampiri Lui Hong yang sudah tidak dapat melawan karena tubuhnya luka-luka dan lemas.
Akan tetapi sebelum pedang itu digerakkan, Leng-Kongcu kembali berteriak.
"Jangan, jangan bunuh dulu! Jebloskan dia dalam tahanan dan jaga yang ketat agar jangan sampai lolos. Aku hendak membuktikan dulu pengakuannya itu dan mengundang Jaksa Li dan Nona Li datang ke sini besok pagi. Setelah itu baru kita bunuh dia!"
Dua orang pembantu Leng-Kongcu memegang dan menyeret Lui Hong ke bagian belakang gedung itu, memasuki bangunan yang dijadikan tempat tahanan dengan beberapa buah kamar bertrali besi.
Mereka mendorong Lui Hong ke dalam sebuah kamar lalu menutup dan mengunci pintu besinya, dan menyuruh lima anak buah berjaga di situ.
Lui Hong duduk bersila, menghimpun hawa murni untuk memperkuat tubuhnya.
Dia mulai merasa menyesal bahwa dia tadi menyebutkan nama Li Sian Hwa.
Kalau dia tahu bahwa pemuda itu adalah tunangan Sian Hwa, tentu dia tidak akan mengaku sebagai sahabat gadis itu.
Pengakuannya itu mungkin akan berakibat buruk atas diri kekasihnya dan dia amat mengkhawatirkan hal itu.
Bagaimanapun juga, dia harus menjaga agar Sian Hwa jangan sampai celaka.
Dan dia harus mengakui bahwa pilihan Jaksa Li tidaklah dapat disalahkan.
Pemuda itu tampan dan memiliki ilmu silat yang cukup tangguh, dan agaknya memiliki kekuasaan.
Apalagi kalau dia seorang Pangeran.
Tentu saja bagi Sian Hwa jauh lebih baik dan menguntungkan menjadi isteri seorang Pangeran daripada menjadi isteri seorang pemuda miskin seperti dia!
Pada keesokan harinya, pagi-pagi Jaksa Li Koan dan puterinya, Li Sian Hwa telah datang berkunjung ke gedung Leng-Kongcu yang mengirim kereta dan mengundang mereka dengan alasan ada keperluan yang amat penting.
Tentu saja pembesar ini merasa heran, akan tetapi dia merasa tidak enak kalau menolak, apalagi calon mantunya telah mengirim kereta untuk menjemputnya.
Hanya Sian Hwa yang diam-diam mengomel.
Tunangannya itu sungguh tidak menghormati Ayahnya.
Kalau ada keperluan penting, sepatutnya dia yang datang menghadap Ayah, pikirnya.
Akan tetapi karena ia tahu betapa Ayahnya amat kagum dan suka kepada calon mantunya itu, ia pun diam saja dan hanya menurut diajak Ayahnya berkunjung ke gedung Leng-Kongcu.
Namun di sepanjang perjalanan itu Sian Hwa duduk melamun dalam kereta.
ia masih membayangkan pertemuannya semalam dengan kekasihnya, Lui Hong.
Bukan hanya membayangkan, bahkan suara pemuda itu masih terngiang di telinganya, dan senTUHAN pemuda itupun masih hangat terasa olehnya.
Tak tertahankan lagi kedua matanya menjadi basah dan beberapa tetes air mata keluar dari pelupuk matanya.
Sian Hwa menahan isaknya dan cepat menggunakan tangannya untuk mengusap air mata dari pipinya.
Akan tetapi Ayahnya melihat hal ini.
"Eh, kenapa engkau menangis?"
"Ah, tidak, Ayah. Mataku pedas, mungkin terkena debu..."
"Jangan bohong, aku tahu bahwa engkau menahan tangismu. Hayo katakan, kenapa engkau menangis?"
Karena Ayahnya sudah mengetahui, Sian Hwa lalu berkata lirih.
"Ayah, terus terang saja aku merasa tersinggung. Kalau Leng-Kongcu mempunyai urusan, sepatutnya dia yang datang menghadap Ayah, bukan memanggil kita seperti ini."
Jaksa Li menghela napas panjang.
"Hemm, biarlah, Sian Hwa. Tentu ada urusan yang penting sekali maka dia mengirim kereta menjemput kita. Kita lihat saja apa yang hendak dia bicarakan dengan kita."
Akan tetapi ketika mereka tiba di gedung tempat tinggal Leng-Kongcu, pemuda ini menyambut mereka dengan alis berkerut dan pandang matanya terhadap Sian Hwa mengandung kemarahan.
Setelah memberi salam dan mempersilakan calon Ayah mertua dan calon isterinya duduk di ruangan tamu, Leng-Kongcu berkata dengan suara yang tidak seramah biasanya.
"Gakhu (Ayah Mertua), harap dimaafkan bahwa sebelum kita bicara, saya ingin memperlihatkan sesuatu kepada dinda Li Sian Hwa. Harap Gakhu menunggu di sini sejenak."
Biarpun merasa heran, Jaksa Li mengangguk, dan Leng-Kongcu lalu mengajak Sian Hwa mengikutinya menuju ke bagian belakang, ke bangunan yang dipergunakan untuk tempat tahanan.
Sian Hwa merasa heran akan tetapi tanpa banyak bicara ia mengikuti tunangannya dan setelah tiba di depan kamar di mana Lui Hong dikeram, Leng-Kongcu memberi isarat kepada para penjaga untuk membuka pintu kamar tahanan itu.
Pintu kamar itu dIbuka dan...
Sian Hwa menjadi pucat ketika ia melihat Lui Hong duduk bersila dengan kedua tangan terikat ke belakang Lui Hong juga melihatnya akan tetap pemuda itu mampu menahan debar jantungnya dan segera menundukkan pandang matanya.
"Dinda Sian Hwa, katakan sejujurnya, apakah engkau mengenal pemuda itu?"
Tanya Leng-Kongcu sambil memandang tajam penuh selidik wajah tunangannya.
Sian Hwa bukan seorang gadis bodoh.
Sekarang ia tahu mengapa Leng-Kongcu mengundang ia dan Ayahnya.
Agaknya Leng-Kongcu sudah tahu akan hubungannya dengan Lui Hong, maka dengan sikap dan suara tenang ia menjawab sambil menganggukkan kepalanya.
"Aku mengenalnya, Kanda. Dia bernama Lui Hong dan dia pernah menyelamatkan Ayah dari tangan gerombolan perampok."
"Hemm, dan engkau menjadi sahabat baiknya? Benarkah itu?"
"Aku mengenalnya dengan balk, karena ketika aku diculik perampok dan Ayah terancam keselamatannya, dia yang menolong aku dan Ayah. Akan tetapi, mengapa dia berada di sini menjadi tawananmu? Kesalahan apa yang dia lakukan, Kanda Leng?"
"Semalam dia menyelundup kesini seperti pencuri. Benarkah engkau tidak mempunyai hubungan lain kecuali sebagai seorang yang pernah ditolongnya? Lalu mengapa malam-malam dia mengadakan pertemuan denganmu di taman rumahmu?"
Diam-diam Sian Hwa terkejut sekali. Akan tetapi ia bersikap tenang dan ia berkata.
"Dia datang hanya untuk menanyakan keselamatan kami karena kebetulan dia lewat malam-malam. Tidak ada hubungan apa selain persahabatan. Kanda Leng, aku minta dengan sangat agar engkau membebaskan dia. Dia adalah penolong kami, maka kalau engkau mencelakakan dia, sungguh membuat hatiku dan hati Ayahku menjadi tidak enak sekali. Anggaplah ini sebagai jasa kami kepadanya, Kanda, dan bebaskan dia."
Suara gadis itu mengandung permohonan sehingga diam-diam Lui Hong merasa terharu.
"Baik, akan kupertimbangkan. Mari kita kembali ke ruangan tamu."
Leng-Kongcu mengajalt Sian Hwa meninggalkan tempat itu dan Sian Hwa hanya sempat mengerling ke arah Lui Hong yang juga memandang kepadanya.
Gadis itu merasa jantungnya seperti ditusuk pedang, akan tetapi ia cepat menundukkan mukanya dan mengikuti Leng Sui kembali ke kamar tamu di mana Ayahnya masih duduk menunggu.
Ternyata Leng Sui tidak mau percaya begitu saja dengan pengakuan Sian Hwa.
Dia ingin mencocokkan dengan keterangan Jaksa Li, maka setelah dia mempersilakan tunangannya duduk, dia kini mengajak Jaksa Li melihat Lui Hong.
Begitu melihat Lui Hong, Jaksa Li segera mengenalnya.
"Lui Taihiap, engkau berada di sini? Dan... mengapa engkau menjadi tahanan...?"
"Gakhu, apakah Gakhu mengenal pemuda ini?"
"Tentu saja, dia Pendekar Lui Hong dan dia yang dulu menolong aku dan Sian Hwa dari tangan perampok."
Lui Hong yang duduk bersila diam saja.
Akan tetapi sebaliknya Leng-Kongcu merasa girang karena ternyata keterangan Sian Hwa tidak bohong.
Maka sikapnya kini ketika dia mengajai Jaksa Li kembali ke kamar tamu menjadi biasa dan ramah kembali.
Setelah duduk di kamar tamu, dia menjelaskan kepada Ayah dan anak.
"Maafkan saya, Gakhu, dan engkau, Hwa-moi (Dinda Hwa). Saya terpaksa mengundang kalian berdua datang ke sini untuk mengenali pemuda yang bernama Lui Hong itu. Dia datang malam tadi menyelundup ke sini dan kami berhasil menangkapnya. Karena dia mengaku sebagai sahabat kalian, maka untuk membuktikan kebenaran keterangannya, saya mengundang kalian datang melihatnya."
"Dia memang benar telah menolong kami ketika kami diganggu gerombolan perampok."
Kata Jaksa Li.
"Kongcu, dia itu orang baik-baik, maka kuharap engkau suka membebaskannya."
Kata pula Sian Hwa.
"Hemm, baiklah. Sekarang juga aku akan menyuruh orang-orangku membebaskannya."
Leng-Kongcu lalu keluar dari kamar tamu dan dia segera menemui dua orang pembantunya.
"Bawa tawanan itu keluar kota dan bunuh dia di hutan."
Perintahnya.
Setelah itu, dia kembali ke kamar tamu dan mempersiapkan makan minum untuk tunangan dan calon mertuanya.
Dalam kesempatan itu, Leng-Kongcu juga mendesak agar pernikahannya dengan Li Sian Hwa dilaksanakan secepat mungkin.
Se-telah berunding, mereka menentukan tanggalnya dan kurang lebih sebulan lagi pernikahan itu akan dilangsungkan.
Baik Leng Sui maupun Jaksa Li sama sekali tidak tahu betapa Sian Hwa menerima kenyataan ini dengan hati pedih dan sakit.
Akan tetapi ia tidak berani mengeluh dan dalam hatinya ada semacam hIburan bahwa kekasihnya telah diselamatkan dan dibebaskan.
Biarlah ia berkorban asalkan Lui Hong bebas dan selamat, pikirnya.
Setelah makan minum bertiga, Jaksa Li dan puterinya lalu kembali ke rumahnya, sama sekali tidak menyangka bahwa Lui Hong bukannya dibebaskan, malah disuruh bunuh oleh Leng-Kongcu yang masih merasa cemburu.
Dengan kedua tangan masih terikat dan tubuh masih lemas kepala pening karena kehilangan banyak darah, Lui Hong dibawa keluar kota dalam sebuah kereta sehingga tidak nampak dari luar.
Dua orang laki-laki tinggi besar dan berwajah bengis mengawalnya, seorang duduk sebagai kusir dan orang ke dua duduk dalam kereta dan menodongkan sebatang golok ke arah leher Lui Hong.
Pemuda itu diam saja, tidak bertanya karena dia maklum bahwa percuma saja bertanya kepada dua orang yang agaknya menjadi tukang pukul pemuda yang ternyata tunangan Li Sian Hwa itu.
Tubuhnya memang lemah dan sakit, akan tetapi tidak sesakit hatinya yang tidak dapat melupakan kenyataan pahit bahwa Sian Hwa telah bertunangan dengan seorang Pangeran yang baru saja telah menangkapnya!
Akan tetapi diam-diam Lui Hong merasa curiga.
Dia dibawa dalam kereta keluar dari kota, apa yang dikehendaki tunangan Sian Hwa itu darinya?
Mudah diduga, pasti tidak mempunyai niat baik.
Maka dia selalu waspada dan sudah beberapa kali dia berusaha untuk membikin putus ikatan kedua pergelangan tangannya.
Akan tetapi selain dia kekurangan tenaga dan tubuhnya lemas, juga tali itu kuat sekali.
Andaikata dia tidak kehilangan banyak darah, kiranya dengan pengerahan sinkang dia akan mampu membebaskan kedua tangannya dari ikatan.
Dia sudah siap siaga, akan melawan semampunya, kalau perlu hanya menggunakan kedua kakinya, kalau ternyata dugaannya benar, yaitu kalau dua orang pengawalnya itu berniat untuk membunuhnya.
Setelah kereta itu tiba di luar kota, di jalan umum yang sunyi karena melewati hutan dan hari masih pagi, kusir kereta menghentikan keretanya.
Dua orang itu lalu turun dari kereta dan dengan suara kasar berseru agar Lui Hong turun dari kereta.
Pemuda itu turun dan bersikap waspada.
Dia menoleh ke kanan kiri.
Jalan itu masih sepi, tak tampak seorang pun lewat di situ.
Tiba-tiba dua orang itu menyerangnya dengan golok mereka.
Lui Hong memang sudah menaruh curiga dan waspada, siap menghadapi bahaya serangan.
Maka begitu melihat golok mereka menyambar dari kanan kiri, dia melempar tubuh ke belakang, terus bergulingan di atas tanah.
Ketika mereka berdua mengejar, tiba-tiba dia menggunakan kekuatan kakinya untuk melompat bangun dan segera menggunakan jurus tendangan Soan-Hong-Twi, yaitu tendangan berantai dengan kedua kaki bergantian, dia mendahului menyerang mereka.
Gerakan Lui Hong cukup cepat dan biarpun dua orang itu mencoba menghindar, tetap saja seorang dari mereka terkena tendangan pada perutnya sehingga dia roboh terjengkang.
Akan tetapi, karena tenaga Lui Hong hanya tinggal sebagian kecil saja, maka orang yang tertendang itu tidak mengalami luka dan dia segera dapat bangkit kembali, lalu keduanya menyerang dengan marah.
Golok mereka menyambar-nyambar sehingga Lui Hong harus mengelak dengan loncatan-loncatan ke belakang.
Karena kedua tangannya terikat ke belakang maka Lui Hong tak mungkin dapat bergerak dengan leluasa dan kelemahan tenaganya membuat keadaannya terancam sekali.
Tiba-tiba sebuah sabetan golok yang menyambar ke arah lehernya masih mengenai pangkal lengan kanannya sehingga terluka dan mengeluarkan darah.
Tubuh Lui Hong terguling dan dua batang golok menyambar dengan cepat.
Lui Hong maklum bahwa dia tidak mungkin dapat menghindarkan dirt lagi, maka dia hanya menanti datangnya maut.
"Trang-tranggg...!!"
Dua batang golok itu terpental dan terlepas dari tangan dua orang itu dan tubuh mereka pun terpelanting roboh dan tak bergerak lagi karena mereka berdua telah roboh pingsan!
Lui Hong terbelalak heran, akan tetapi pada saat itu, pandang matanya berkunang dan dia pun tidak ingat apa-apa lagi.
Lui Hong pingsan karena Iuka-lukanya dan karena terlalu banyak kehilangan darah.
Dia tidak tahu bahwa di situ muncul seorang Kakek berusia sekitar enam puluh lima tahun.
Kakek yang mengenakan pakaian kasar seperti pakaian petani biasa, tubuhnya tinggi besar dan kekar, mukanya penuh brewok yang membuat dia tampak angker.
Kakek yang tadi telah membuat dua orang pembunuh itu terpelanting dan pingsan kini memanggul tubuh Lui Hong yang pingsan dan membawanya pergi dari situ dengan langkah yang ringan dan cepat sekali, memasuki hutan.
Ketika Lui Hong siuman kembali dari pingsannya, dia mendapatkan dirinya rebah di atas dipan bambu dalam sebuah gubuk yang berada di puncak sebuah bukit terpencil di pegunungan Hong-San.
Dia mengeluh dan membuka matanya, melihat seorang Kakek tinggi besar duduk bersila di atas sebuah dipan lain.
"Hemm, engkau sudah sadar? Bagus, bagaimana rasanya badamu?"
Tanya Kakek itu dengan suaranya yang besar.
Lui Hong bangkit duduk dan melihat betapa luka-lukanya telah dibaluri obat bubuk dan rasa nyeri luka-luka itu hilang.
Hanya tubuhnya masih terasa lemah sekali.
"Tidak ada yang terasa nyeri, hanya lemah dan agak pening. Engkau siapakah? Di mana aku berada?"
Kemudian dia teringat akan dua orang yang menyerangnya ketika dia sudah sama sekali tidak berdaya untuk menghindarkan diri, lalu cepat disambungnya.
"Apakah aku sudah mati dan berada di alam baka?"
"Tidak, engkau belum mati."
Kata Kakek itu singkat.
"Tapi... tapi... aku ingat betapa dalam keadaan kedua tangan terikat dan tubuh lemah sekali, dua orang itu menyerangku dan tak mungkin aku dapat menghindarkan kematian..., ah, di mana dua orang, pembunuh itu?"
"Orang muda, agaknya TUHAN belum menghendaki engkau mati. Kebetulan aku lewat dan kucegah mereka membunuhmu, lalu kubawa engkau ke sini."
Kini Lui Hong menyadari bahwa Kakek ini telah menyelamatkannya dari ancaman maut.
Tentu seorang Kakek yang berilmu tinggi.
Maka dia segera turun dari dipan dan menjatuhkan diri berlutut di depan Kakek itu.
"Ah, kiranya Lo-Cianpwe yang telah menolong dan menyelamatkan saya. Terima kasih, Lo-Cianpwe."
"Sudahlah, bangkit dan ambil obat semangkok yang berada di atas meja itu. Engkau banyak kehilangan darah. Minumlah obat itu sampai habis lalu tidurlah. Nanti ada waktunya kita bicara kalau engkau sudah sehat kembali."
Lui Hong tidak berani membantah.
Diambilnya mangkok berisi obat itu dan dia meminumnya.
Rasanya pahit akan tetapi dia minum sampai habis.
Setelah itu ia rebah lagi dan tertidur.
Selama dua hari dia menerima pengobatan Kakek itu dan pada hari ke tiga dia sudah sehat benar.
Kakek itu lalu menyuruh dia memasuki bagian belakang pondok sederhana itu untuk memasak bubur.
Setelah mereka berdua sarapan bubur dan minum air teh, barulah Kakek itu mengajak Lui Hong duduk di depan pondok.
Pagi itu cerah dan indah sekali.
Mereka duduk di atas bangku-bangku kayu yang berada di depan pondok.
"Nah, sekarang ceritakan siapa engkau dan bagaimana engkau sampai di hutan dan hendak dIbunuh oleh dua orang itu."
Dengan sikap hormat Lui Hong lalu menceritakan pengalamannya di Kotaraja sampai dia dikeroyok dan ditangkap oleh pemuda tampan itu.
Tentu saja dia tidak mau mengaku bahwa ada hubungan cinta antara dia dan Li Sian Hwa.
Dia hanya menceritakan bahwa dia pernah menolong Jaksa Li dan puterinya dari tangan perampok dan dia mengunjungi keluarga Li yang sudah dikenalnya.
"Pemuda itu adalah calon mantu Jaksa Li dan dia mencurigai saya. Dua orang anak buahnya menyerang saya dalam taman rumah Jaksa Li. Saya mengejar mereka sampai ke gedung pemuda itu dan di sana saya dikeroyok dan ditangkap. Kemudian pada keesokan harinya dia mengundang Jaksa Li dan puteri nya, untuk membuktikan kebenaran pengakuan saya. Setelah itu, dia menyuruh dua orang anak buahnya membawa keluar kota dan mereka berniat membunuh saya. Kalau tidak ada Lo-Cianpwe yang datang menolong, tentu saya sudah tewas mereka bunuh."
"Lui Hong, kulihat ketika engkau diserang dalam keadaan kedua tangan terikat, gerakanmu cukup baik. Kalau engkau tidak lemah kehabisan darah, tentu dengan mudah engkau dapat mengalahkan mereka walaupun kedua tanganmu terikat. Engkau juga memiliki tubuh yang kuat sekali sehingga kehabisan darah engkau masih mampu bertahan. Engkau tentu telah mempelajari ilmu silat yang lumayan. Siapakah Gurumu?"
"Lo-Cianpwe, saya adalah seorang yang lemah dan bodoh, masih membutuhkan banyak petunjuk dari Lo-Cianpwe. Saya pernah menerima sedikit pelajaran silat dari Suhu Sin-Kiam Kai-Ong."
"Aha! Pantas kalau begitu! Aku mengenal baik Raja Pengemis Pedang Sakti Mo Cin, bahkan aku pernah menerima petunjuk dari Gurunya, yaitu Leng Hwat Couwsu. Aih, senang sekali bahwa yang kubantu adalah muridnya. Lui Hong, ketahuilah bahwa aku adalah Thai Kek Lojin, mungkin Gurumu pernah menyebut tentang namaku!!"
Lui Hong terkejut dan cepat menjatuhkan diri berlutut.
"Ah, harap Lo-Cianpwe suka memaafkan kalau saya berlaku kurang hormat. Suhu pernah bercerita tentang Lo-Cianpwe Thai Kek Liojin. Akan tetapi dahulu Suhu mengabarkan Lo-Cianpwe sebagai seorang bekas panglima besar yang berjasa terhadap Negara dan Bangsa. Karena itu melihat Lo-Cianpwe berpakaian sebagai seorang petani dan hidup di puncak bukit ini, saya tidak mengenal Lo-Cianpwe."
Kakek yang berjuluk Thai Kek Lojin itu menghela napas panjang.
"Ahhh, kesalahan yang banyak dilakukan para patriot adalah bahwa mereka tidak setia dan berbakti kepada Nusa dan Bangsa, melainkan kepada Kaisar. Padahal, menjadi kenyataan sejarah jarang ada Kaisar yang benar-benar bijaksana, lebih banyak yang lalim dan mementingkan diri sendiri, mabok akan kekuasaan dan harta benda."
"Akan tetapi Suhu juga bercerita bahwa Lo-Cianpwe ikut memberi petunjuk kepada mendiang Jenderal Gak Hui, patriot yang amat gagah perkasa!"
"Itulah yang membuat aku menjadi menyesal bukan main. Gak Hui adalah keponakan muridku yang membuat kami Para pendidik dan Gurunya bangga, akan tetapi lihat bagaimana nasibnya. Semua kesetiaan dan kebaktiannya yang ditujukan kepada Kaisar ternyata bahkan membuat dia terpaksa membunuh diri! Kaisar lebih percaya kepada pengkhianat macam Chin Kui dan menghukum seorang patriot seperti Gak Hui. Sungguh penasaran! Seyogianya para patriot seperti Gak Hui tidak perlu setia kepada Kaisar Sung Kao Cu, melainkan setia kepada Nusa dan Bangsa. Kaisar yang korup dan lalim bukan merupakan pimpinan rakyat, melainkan menjadi pemeras yang menyengsarakan rakyat dan patut ditentang!"
Lui Hong menundukkan mukanya, ikut bersedih mengingat akan nasib Jenderal Gak Hui yang terpaksa menerima hukuman mati dan menelan racun karena Kaisar Sung Kao Cu percaya akan fitnah yang dilakukan Perdana Menteri Chin Kui terhadap Jenderal Gak Hui.
"Kalau begitu, itukah sebabnya maka Lo-Cianpwe sekarang mengundurkan diri menyepi di sini sebagai seorang petani?"
Kakek itu mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Begitulah, Lui Hong. Sekarang kita bicarakan tentang peristiwa yang kau alami. Tahukah engkau siapa pemuda yang telah menangkap dan berniat membunuhmu itu?"
"Saya hanya tahu bahwa dia adalah tunangan Nona Li Sian Hwa, puteri Jaksa Li."
"Hemm, kukira dia bukan sekedar itu. Ketahuilah, dia adalah seorang Pangeran dari Kerajaan Cin. Suku Bangsa Yuchen yang mendirikan Kerajaan Cin itu banyak Pangeran dan Leng Komgcu itu adalah seorang Pangeran yang cerdik dan pandai. Dia merupakan tokoh Kerajaan Cin yang menjadi pemimpin dari jaringan mata-mata yang disebar pemerintah Kerajaan Cin. Aku merasa yakin bahwa secara rahasia dia mempunyai hubungan erat dengan Perdana Menteri Chin Kui."
"Ah, kalau begitu dia itu orang berbahaya sekali bagi pemerintah, Lo-Cianpwe! Mengapa Lo-Cianpwe membiarkannya saja? Orang seperti itu sudah sepantasnya dibasmi!" (Lanjut ke
Jilid 15) Antara Dendam & Asmara (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 15 Kakek itu tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Lui Hong, bahaya terbesar bagi sebuah Negara bukanlah musuh dari luar, melainkan musuh dari dalam sendiri. Terutama Kaisarnya. Kalau Kaisarnya bijaksana, para pembesar yang membantunya tentu akan dipilih dan ditertibkan sehingga merupakan pejabat-pejabat yang bijaksana. Dan kalau sudah begitu, kalau pemerintah dipegang oleh orang-orang bijaksana yang mementingkan kesejahteraan rakyatnya, sudah pasti rakyat akan membelanya. Pemerintah yang didukung dan dibela rakyatnya merupakan pemerintah yang amat kuat dan gangguan musuh dari luar akan mudah ditanggulangi. Contohnya Kaisar Kerajaan Sung yang lemah dan dibantu orang-orang yang korup dan brengsek. Dengan mudah Kerajaan Sung menyerahkan separuh wilayah Negaranya kepada Bangsa Yuchen yang kini mendirikan Kerajaan Cin. Apalagl Kaisar yang lemah ini dibantu manusia-manusia korup penjual Bangsa dan Negara seperti Chin Kui dan kawan-kawannyat! Untuk apa aku membantu pemerintah yang memeras rakyat? Aku tidak sudi membantu para pembesar lalim! Tidak perlu kita menjadi seperti keponakan muridku Gak Hui, membantu Kaisar malah dihukum mati sebagai pengkhianat!"
Lui Hong termenung memikirkan keadaan dirinya.
Dia kini bagaikan sebuah layang-layang tanpa tali, melayang terbawa angin tanpa tujuan, tanpa pegangan.
Dia sudah mendapat kemarahan Ayah-Ibunya, juga membikin sakit hati keluarga Can.
Tidak mungkin baginya untuk pulung ke Sung-Kian.
Dan kini, setelah bertemu dengan Li Sian Hwa, ternyata kekasihnya itu telah ditunangkan dengan orang lain!
Tidak ada harapan sama sekali baginya.
Dia telah kehilangan keluarganya, kehilangan kekasihnya, kehilangan harapan.
Dia mengangkat muka memandang wajah Kakek Itu dan kebetulan pada saat itu Thai Kek Lojin menatap wajahnya dengan sinar mata penuh perhatian.
"Maaf, Lo-Cianpwe. Kalau kita tidak melakukan sesuatu bagi pemerintah, lalu apa gunanya kita mempelajari berbagai ilmu. Bertahun-tahun saya mempelajari Bun dan Bu (Sastra dan Silat), lalu untuk apa semua jerih payah itu kalau tidak dimanfaatkan dan digunakan?"
"Gurumu tentu pernah menasihatkan tentang tugas seorang pendekar, Lui Hong. Seorang pendekar bersusah payah mempelajari ilmu agar dapat dia pergunakan untuk menegakkan kebenaran dan keadilan, membela rakyat yang lemah tertindas dan menentang kejahatan. Tugas itu memang dapat dlsalurkan dengan cara membantu dan memperkuat pemerintah, akan tetapi kalau pemerintah dipimpin oleh para pembesar yang bukan melayani melainkan minta dilayani, bukan menyejahterakan rakyat melainkan memeras menyengsarakan rakyat, bukan menumpuk jasa kebijaksanaan melainkan menumpuk harta benda, maka kalau engkau membela dan membantu pemerintah yang dipimpin oleh orang-orang seperti mereka, berarti engkau bukan seorang pendekar melainkan seorang yang sesat."
"Lalu apa yang harus saya lakukan, Lo-Cianpwe?"
"Menolong rakyat miskin tertindas, menegakkan keadilan dan menentang kejahatan dapat kau lakukan langsung dengan terjun ke dunia ramai."
"Akan tetapi untuk itu saya membutuhkan ilmu kepandaian yang tinggi, Lo-Cianpwe."
"Hemm, sebagai murid Sin-Kiam Kai-Ong Mo Cin, ilmu silatmu sudah cukup kuat."
"Saya kira belum dapat diandalkan, Lo-Cianpwe, buktinya ketika menghadapi pengeroyokan di rumah Leng-Kongcu, saya kalah dan tertawan. Mungkin saja saya akan dapat melakukan tugas sebagai seorang pembela kebenaran dan keadilan secara lebih baik kalau Lo-Cianpwe sudi menerima saya sebagai murid."
Kakek itu termenung sejenak, lalu menghela napas panjang.
"Sebetulnya, sejak kematian Gak Hui yang amat menyedihkan, aku sudah mengambil keputusan untuk mengundurkan diri, bertapa di sini sampai akhir hidupku. Aku belum pernah menerima murid. Akan tetapi mengingat engkau murid Sin-Kiam Kai-Ong, aku yakin dia tidak akan marah kalau engkau berguru kepadaku. Pula, aku masih hutang ilmu kepada Kakek Gurumu Leng Hwat Couwsu. Biarlah kubayar hutangku itu dengan menurunkan ilmu yang kuperoleh darinya kepadamu. Di antara ilmu-ilmu itu, adalah ilmu pedang Thian-To Kiam-Sut ciptaan Leng Hwat Couwsu yang amat dirahasiakan. Bahkan Gurumu sendiri belum sempat mempelajari ilmu pedang itu dengan lengkap, hanya mendapatkan dasar-dasarnya saja. Nah, ilmu-ilmu yang kudapatkan dari Leng Hwat Couwsu itu akan kuberikan kepadamu, Lui Hong."
Pemuda itu girang sekali dan sambil berlutut dia member i hormat.
"Terima kasih, Suhu. Teecu Lui Hong akan mentaati semua petunjuk Suhu."
Demikianlah, mulai hari itu Lui Hong tinggal di puncak bukit di Pegunungan Hong-San itu, melayani keperluan hidup Thai Kek Lojin setiap harinya dan belajar ilmu silat yang amat tinggi tingkatnya dengan rajin.
Karena kesIbukan ini, dia mulai melupakan penderitaan batinnya dan tekun mempelajari ilmu silat, Terutama ilmu pedang Thian-To Kiam-Sut yang amat hebat.
Waktu berjalan cepat sekali sehingga tahun-tahun melesat tanpa disadari.
Tahu-tahu tiga tahun telah lewat sejak terjadinya semua peristiwa yang telah diceritakan di bagian depan kisah ini.
Pada waktu ini, sekitar tahun 1147, terjadi perubahan besar di Cina bagian utara.
Bangsa Yuchen adalah terhitung saudara sepupu dari suku Khitan, keduanya merupakan suku dari Bangsa Tungus dan sebagai suku Nomad (pengembara) yang suka berpindah-pindah, mereka adalah suku Bangsa yang ulet dan sudah biasa akan kehidupan yang keras, maka setelah membentuk pasukan mereka juga merupakan pasukan berkuda yang kuat.
Bangsa yang jumlahnya sedikit apabila dibandingkan dengan Bangsa prIbumi Han itu telah memperoleh seorang pemimpin besar yang hebat, Yaitu Akuta yang kemudian memimpin Bangsanya menyerang ke selatan sehingga berhasil menduduki Cina bagian utara sampai ke Sungai Yang-Ce sebagai perbatasan dengan Kerajaan Sung yang terdesak ke Selatan.
Akan tetapi setelah Akuta meninggal, kejayaan Bangsa Yuchen yang mendirikan Kerajaan Cin (Kin) mulai menurun.
Bahkan dalam tahun 1147 itu, ada suku Bangsa lain yang mulai menonjol, yaitu suku Nomad dari daerah yang paling utara.
Suku ini adalah suku Mongol.
Dari utara Bangsa Mongol ini menyerang ke wilayah Yuchen dan Bangsa Yuchen yang lebih memusatkan kekuatannya dalam Kerajaan baru mereka, yaitu Kerajaan Cin, terpaksa melepaskan kampung halaman mereka yang berasal dari Lembah Kerulen.
Kerajaan Cin memusatkan kekuatan mereka di sebelah selatan Tembok Besar dan Kotaraja mereka adalah Yen-Ching (Peking).
Demikianlah, dengan mulai bangkitnya Bangsa Mongol yang sudah berhasiI mengusir Bangsa Yuchen ke selatan Tembok Besar, kini terdapat tiga kekuatan yang menguasai daratan Cina.
Pertama adalah Bangsa Mongol yang mulai melebarkan sayapnya di sebelah utara Tembok Besar, kemudian Bangsa Yuchen dengan Kerajaan Cin menguasai Cina bagian utara, dari Tembok Besar sampai Sungai Yang-Ce, kemudian dari Sungai Yang-Ce ke selatan dikuasai oleh Kerajaan Sung.
Biarpun belum ada bentrokan perang secara terbuka antara tiga kekuatan ini, namun ada semacam perang dingin dan ketiganya memiliki jaringan mata-mata untuk saling menyelidiki.
Akan tetapi yang paling lemah adalah Kerajaan Sung di selatan.
Kelemahan Sung semakin tampak karena politik yang dijalankan oleh perdana menterinya, yaitu Chin Kui yang selalu mengajak damai dan selalu mengalah terhadap Kerajaan Cin.
Seperti telah diceritakan di bagian depan, biarpun dalam perang Kerajaan Sung dikalahkan dan diusir dari utara, terpaksa melarikan diri dan bertahan di sebelah selatan Sungai Yang-Ce, namun kebudayaan Bangsa prIbumi Han amat kuat sehingga Bangsa Yuchen yang mendirikan Kerajaan Cin dalam belasan tahun saja sudah membaur dengan Bangsa prIbumi.
Bangsa Yuchen adalah Bangsa Nomad yang tadinya besar, liar dan sederhana.
Mereka hanya pandai berkelahi, akan tetapi setelah mereka menguasai Cina utara, mereka mulai melihat kebesaran kebudayaan prIbumi Han yang ratusan tahun sudah jauh lebih maju dibandingkan pengertian tentang kebudayaan mereka yang masih amat sederhana.
Mulailah Bangsa Yuchen berubah menjadi Bangsa Han!
Bukan hanya bahasanya, juga pakaiannya dan kebiasaan hidupnya, mereka dalam satu keturunan saja sudah tiada bedanya dengan prIbumi Han yang mereka jajah!
Baca Juga: Rajawali Hitam 2
Baca Juga: Dewi Ular 4