Ceritasilat Novel Online

Antara Dendam Dan Asmara 4

Eps 4 Antara Dendam Dan Asmara - Kho Ping Hoo

Baca online Antara Dendam Dan Asmara - Kho Ping Hoo

Cersil Antara Dendam Dan Asmara - Kho Ping Hoo.

Demikianlah, setelah mereka bersiap-siap dan menerima pesan dari nyonya Song agar mereka berdua jangan sampai memperdalam permusuhan, kedua Ayah dan anak ini berangkat menuju ke rumah Can-Kauwsu.

Kedatangan Song-Kauwsu dan Song Han Bun disambut oleh Gu Ma Ek dan pemuda ini dengan sopan lalu memberi hormat kepada mereka lalu berkata.

"Selamat datang, Song-Kauwsu. Kedatangan Jiwi (Tuan Berdua) telah ditunggu oleh Suhu dan Jiwi dipersilakan langsung saja menuju ke Lian-Bu-Thia."

Song-Kauwsu heran sekali melihat Gu Ma Ek telah berada di situ pula, dan Han Bun merasa terpukul oleh sikap yang sopan dari pemuda ini.

Dia melangkahkan kaki melalui ambang pintu rumah Can-Kauwsu dengan hati tidak enak, karena merasa seakan-akan dia dan Ayahnya datang untuk mencari kerIbutan.

Akan tetapi dia menekan perasaannya dengan pikiran bahwa mereka datang secara laki-laki yang hendak menjunjung tinggi nama dan kehormatan mereka sebagai seorang, gagah.

Can-Kauwsu telah berkumpul dengan Pek Giok, Lui Hong, Lui Siong dan murid-muridnya yang lain ketika mereka mendengar akan kedatangan lawan.

Semua murid di bawah pimpinan Lui Siong telah mendapat pesan keras sekali agar supaya jangan ikut campur dalam pertandingan pIbu, jangan mengeluarkan suara-suara mengejek dan diharuskan duduk dengan anteng dan sopan.

Bahkan Lui Hong telah dipesan agar jangan ikut campur seandainya nanti Can-Kauwsu dan Pek Giok terdesak atau kalah.

Mereka akan menghadapi musuh besar ini dengan cara yang gagah pula.

Can-Kauwsu dan Pek Giok bangkit dari tempat duduk mereka dan maju menyambut kedatangan Song-Kauwsu.

Can-Kauwsu dan Song-Kauwsu saling menjura memberi hormat setelah mereka saling berhadapan, akan tetapi bukan main heran mereka ketika mereka melihat betapa Han Bun dan Pek Giok sama sekali tidak saling menjura melainkan hanya berdiri bagaikan patung.

Ketika kedua orang Guru silat itu memandang kepada anak masing-masing mereka hampir berseru kaget karena mereka melihat betapa dua orang muda itu berdiri saling pandang dengan mata terbelalak, mulut ternganga, dan muka pucat.

"Kau...??"

"Kau...???"

Dua kali ucapan ini keluar hampir berbareng dari mulut Pek Giok dan Han Bun.

"Kau... Ikan Emas Bermata Bintang... engkaukah puteri Can-Kauwsu...?"

"Kau... kau putera Song-Kauwsu...??"

Tentu saja semua orang juga merasa terheran-heran mendengar ucapan-ucapan yang sama sekali tidak mereka mengerti ini, bahkan Song-Kauwsu dan Can-Kauwsu saling pandang dengan bingung.

Akan tetapi biarpun pertemuan dengan pemuda yang selama ini selalu diingatnya itu merupakan pukulan yang hebat dan menggetarkan hatinya, Pek Giok yang keras hati dapat segera menenangkan hatinya lebih dulu daripada Han Bun yang hanya berdiri pucat dengan bibir gemetar.

Gadis itu tiba-tiba memandang dengan sinar mata berapi dan sekali tangannya bergerak, ia telah mencabut keluar pedangnya yang bersinar hijau, yaitu Cheng-liong-kiam.

"Bagus! Marilah kita selesaikan permusuhan ini dengan cara gagah. Cabutlah pedangmu!"

Ia menantang. Akan tetapi Han Bu masih saja berdiri pucat dan tidak bergerak sama sekali.

"Han Bu, engkau kenapakah? Sudah kenalkah engkau dengan Nona ini?"

Tanya Song Swi Kai kepada puteranya yang masih berdiri tak bergerak bagaikan patung. Pek Giok melompat ke tengah ruangan Lian-Bu-Thia itu dan menantang.

"Engkau datang hendak membalaskan Kim Lun manusia jahanam yang kupotong tangannya? Hendak membalaskan sakit hati Kim Lian Si Perempuan Pelacur yang telah kulukai mukanya? Boleh, boleh! Majulah dan mari kita menentukan siapa yang Iebih unggul! Cabutlah pedangmu kalau engkau memang laki-laki gagah!"

Han Bun masih belum dapat menjawab atau bergerak.

Dia merasa mulutnya kering dan napasnya memburu.

Tak pernah disangkanya bahwa puteri musuh Ayahnya adalah gadis baju hijau yang selama ini telah menjatuhkan hatinya, gadis yang telah menawan hatinya dan yang tak pernah dilupakannya sesaat pun.

Dia menjadi bingung, terharu, dan sedih.

"Han Bun!"

Tiba-tiba dia mendengar Ayahnya membentak nyaring.

"Tulikah telingamu? Tidak dengarkah engkau ditantang orang? Majulah dan cabutlah pedangmu!"

Bagaimana dia dapat mencabut pedang dan melawan Pek Giok sebagai musuh? Han Bun mengeluh. Dia memang ingin sekali mencoba ilmu pedang gadis itu, akan tetapi tidak sebagai musuh.

"Ayah..."

Katanya lambat dan lirih.

"Mengapa aku harus bermusuhan dengannya...? Ayah, marilah kita pulang saja dan habiskan urusan ini... aku... aku tidak dapat mencabut pedangku terhadap Ikan Emas"

"Kau gila...???"

Song-Kauwsu memotong.

"Takutkah engkau? Baik, kalau engkau takut, biar aku sendiri yang mengadu nyawa!"

Guru silat tua ini lalu mencabut sepasang tombak cagak dari pinggangnya dan melompat ke tengah lapangan untuk menghadapi Pek Giok.

"Ayah, jangan...!"

Han Bun cepat bergerak memegang kedua tangan Ayahnya.

Ketika pemuda itu bertemu pandang dengan Ayahnya, dia terkejut sekali melihat betapa air mata menitik keluar dari mata Ayahnya.

Tiba-tiba dia sadar dan ingat betapa hebatnya dia telah melukai perasaan Ayahnya.

Ayahnya sengaja menantang Can-Kauwsu dan mengandalkan bantuannya, dan kini ternyata dia yang dibanggakan Ayahnya itu seolah merasa takut kepada lawan!

"Pengecut!

Kalau kau takut, pulanglah kepada Ibumu, biar aku sendiri yang menentukan, menang atau menjadi mayat di sini!"

"Ayah, ampunkan aku! Baik, aku akan melawannya, Ayah."

Sambil berkata demikian, Han Bun mencabut pedangnya dan dia melompat menghadapi Pek Giok.

"Seng-Gan Kim-Hi (Ikan Emas Bermata Bintang), kalau engkau memang tega, biarlah aku mati di dalam tanganmu!"

Katanya lirih dan tiba-tiba Pek Giok merasa betapa dari dalam dadanya naik sedu-sedan yang membuat kedua matanya panas dan hampir meruntuhkan air mata.

Untuk mencegah hal ini terjadi, gadis yang keras hati ini lalu berseru nyaring.

"Jangan banyak cakap lagi, lihat pedang!"

Ia lalu menyerang dengan pedangnya yang segera ditangkis oleh Han Bun.

Keduanya segera bertanding dengan hebatnya sehingga sinar pedang mereka menyilaukan mata semua orang yang menonton.

Baik Song-Kauwsu maupun Can-Kauwsu sendiri tak bergerak melihat pertandingan yang hebat sekali itu.

Diam-diam mereka merasa gelisah sekali karena ternyata bahwa lawan anaknya adalah seorang yang berilmu tinggi.

Kedua pedang Pek Giok dan Han Bun lenyap menjadi dua gulung sinar yang saling membelit dan menyambar.

Bahkan Lui Hong sendiri yang memiliki ilmu pedang tingkat tinggi, memandang dengan bengong dan kagum bukan main.

Dalam kesempatan ini, baik Pek Giok maupun Han Bun berusaha untuk menguji sampai di mana kehebatan lawannya.

Pek Giok memainkan ilmu pedang Cheng-Liong Kiam-Sut, sedangkan Han Bun memainkan Thian-Hong Kiam-Sut.

Gerakan mereka sama Iincah dan sama gesitnya, pedang mereka sama-sama pedang pusaka yang ampuh, tajam dan kuat.

Keduanya mendapat kesan yang sama dalam pertandingan ini, yaitu kekaguman yang mendebarkan jantung terhadap lawannya.

Melihat kelihaian Pek Giok, Han Bun merasa semakin sayang, sebaliknya, Pek Giok merasa penasaran dan sedih.

Penasaran karena ia tidak dapat mengalahkan pemuda ini dan sedih karena ternyata, bahwa pemuda yang dikaguminya itu kini menjadi musuh yang harus ia lukai dan robohkan!

Puluhan jurus berlangsung dalam pertandingan hebat itu, bahkan kini mendekati seratus jurus tanpa ada yang mau mengalah.

Tiba-tiba terdengar suara pedang beradu nyaring dan bunga api berpijar menyilaukan mata.

Gulungan sinar kedua pedang menjadi buyar dan bayangan kedua orang muda itu masing-masing terdorong ke belakang beberapa kaki jauhnya.

Semua orang memandang penuh kekhawatiran, akan tetapi ternyata baik Han Bun maupun Pek Giok tidak menderita luka, hanya wajah mereka agak pucat dan pernapasan mereka tampak terengah-engah.

Ternyata bahwa tadi mereka telah mengerahkan tenaga dan ketika pedang mereka bertemu dengan dahsyatnya, kedua terdorong ke belakang saking hebatnya tenaga lawan.

Han Bun memandang dengan wajah sedih dan mata sayu, sedangkan mata Pek Giok yang berapi-api itu menitikkan dua butir air mata.

"Hayo, majulah lagi! Maju sampai seorang di antara kita menggeletak tak bernyawa!"

Kata Pek Giok sambil menggigit bibirnya.

ia merasa gemas sekali oleh karena sesungguhnya dalam pertandingan tadi, pemuda itu selalu mengalah dan lebih banyak mempertahankan diri daripada menyerang.

Akan tetapi Han Bun menghela napas panjang dan tidak bergerak maju, bahkan lalu menyimpan pedangnya dan menggelengkan kepalanya.

"Tidak mungkin... tidak mungkin sampai hatiku mengalahkan engkau! Kalau kau masih penasaran dan kalau engkau tega... seranglah aku. Aku rela binasa di ujung pedangmu daripada harus mengalahkan dan melukaimu...!"

Ucapan ini dikeluarkan dengan suara yang amat menyedihkan sehingga tak terasa pula air mata bercucuran dari kedua mata Pek Giok.

"Pengecut!"

Pek Giok mengeraskan hatinya dan memaki.

"Kau sudah menantang dan kau telah datang hendak membalaskan sakit hati kedua Kakak-beradik she Lee yang jahanam itu! Majulah, jangan kau kira bahwa kami keluarga Can takut padamu!"

"Siapa membela mereka?"

Han Bun membantah.

"Aku bahkan telah mengusir kedua jahanam itu dari rumah Ayahku!"

Tertegunlah Pek Giok mendengar ucapan ini, bahkan Can-Kauwsu juga memandang dengan mata terbelalak kepada Han Bun. Akan tetapi sambil mengeraskan hatinya Pek Giok berseru.

"Kalau begitu, majulah agar kita dapat menentukan siapa yang lebih kuat, keluarga Song atau keluarga Can! Kita bertempur untuk mempertahankan nama dan kehormatan!"

Han Bun menghela napas dan berkata kepada Pek Giok seolah di situ tidak ada orang lain yang mendengarnya.

"Kau memang berkepala batu! aku bersikap yang berlawanan dengan keadaan hati dan perasaanmu. Kalau kau memang tega membunuhku, tusukkanlah pedangmu, aku tidak akan melawan!"

"Pengecut!"

Pek Giok berseru lagi, akan tetapi ia tidak maju menyerang, sebaliknya lalu menjatuhkan pedangnya di atas lantai lalu...

ia menutupi mukanya dengan kedua tangan, menangis!

Song-Kauwsu dan Can-Kauwsu tadinya memandang pertempuran antara kedua orang anak mereka dengan hati gelisah dan khawatir.

Sungguhpun mereka merasa bangga kepada anak masing-masing, namun melihat betapa hebat kekuatan lawan, mereka merasa amat gelisah dan takut kalau-kalau anak mereka terluka atau tewas dalam pertempuran yang amat seru tadi.

Kini, mendengar percakapan antara Pek Giok dan Han Bun serta melihat sikap kedua orang muda itu, mereka menjadi bengong dan ikut merasa terharu.

Akan tetapi Song-Kauwsu yang berwatak keras itu dapat menekan perasaannya, bahkan kini dia merasa penasaran kali.

Sikap Han Bun amat tidak memuaskan hatinya dan dia menganggapnya bagai sikap yang merendahkan nama sendiri.

"Han Bun, benar-benarkah engkau begini lemah? Benarkah engkau hendak mengecewakan hati Ayahmu?"

"Ayah, Ayah boleh menghadapkan aku kepada rIbuan orang musuh dan aku akan menaati perintahmu biar aku harus menerjang lautan api sekalipun, akan tetapi jangan... jangan Ayah menyuruh aku mengangkat senjata terhadap ia...! Ayah, apakah tidak ada jalan lain untuk mengakhiri permusuhan ini...?"

"Pengecut! Benar makian lawanmu tadi, engkau pengecut! He, Can-Kauwsu biarlah sekarang kita saja yang membereskan perhitungan ini. Cabutlah senjatamu!"

Sambil berkata demikian, dia menggerakkan senjata siangkek yang sejak tadi telah dipegangnya, lalu maju menghampiri Can-Kauwsu.

Can-Kauwsu tidak mempunyai nafsu untuk bertanding lagi setelah melihat sikap anaknya dan mendengar ucapan Han Bun.

Dia memang berwatak halus dan kata-kata Song Han Bun tadi amat mengharukan hatinya.

Akan tetapi dia juga seorang gagah yang menjunjung tinggi nama dan kehormatannya, maka tentu dia tidak dapat menolak tantangan Song-Kauwsu itu.

Sambil menghela napas panjang dia mencabut keluar sepasang Poan-Koan-Pit (alat tulis) yang terselip di pinggangnya dan siap menghadapi serangan lawan.

"Tahan! Jangan dilanjutkan perkelahian gila ini!"

Tiba-tiba terdengar terdengar jerit seorang wanita yang datang dari luar. Song-Kauwsu terkejut sekali ketika melihat bahwa wanita itu bukan lain adalah isterinya sendiri.

"Kau...?"

Katanya sambil maju menghampiri.

Nyonya Song tidak mempedulikannya, bahkan ketika ia melihat Han Bun masih berdiri dengan muka sedih, ia lalu berlari dan memeluk puteranya itu sambil menangis tersedu-sedu!

Ternyata Nyonya Song menyusul dan tadinya ia menanti di dalam rumah dengan hati gelisah.

Kemudian ia teringat akan pertandingan pIbu yang dulu, pada waktu mana ia menderita kegelisahan setengah mati melihat suaminya terluka, Kim Lun terpotong tangannya dan Kim Lian tergores mukanya.

ia membayangkan dengan hati penuh kengerian bagaimana kalau puteranya pulang dalam keadaan terluka, bagaimana kalau wajah puteranya sampai menjadi cacad, atau kalau sampai tangan atau kakinya terbacok pedang sehingga putus?

Akhirnya ia tidak dapat menahan kegelisahan hatinya lalu ia minta kepada pelayannya untuk mengantarkan secepat mungkin ke rumah Can-Kauwsu.

Setelah melihat puteranya selamat dan tidak terluka sebagaimana yang ia khawatirkan, dan mendengar perkataan Han Bun tadi, ia menjadi demikian terharu dan girang.

Untung bahwa ia masih dapat mencegah suaminya yang sudah siap untuk bertanding dengan Can-Kauwsu.

"Benar ucapan anak kita."

Katanya kepada suaminya.

"Untuk apa melanjutkan permusuhan yang gila-gilaan ini, mari kita pulang, biar orang lain melanjutkan kegilaannya dan memusuhi kita untuk apa kita harus melayani mereka. Aku tidak sudi melihat hal ini! Biarlah yang gila tinggal dalam gilanya, apakah kita juga harus ikut menjadi gila pula?"

Setelah berkata demikian Nyonya Son memegang tangan suami dan anaknya lalu menyeret mereka keluar dari situ.

Song-Kauwsu yang amat mencinta isterinya, melihat wajah isterinya yang pucat dan merasa betapa tangan isterinya dingin sekali, tidak tega untuk membantah, maka pergilah dia mengikuti isteri dan anaknya.

Can-Kauwsu memandang semua itu dengan mata terbelalak dan tubuh diam tak bergerak bagaikan patung.

Setelah Song-Kauwsu dan anak isterinya pergi, barulah dia bergerak karena mendengar isak tangis Pek Giok yang telah dipeluk oleh Ibunya.

"Pek Giok, ternyata engkau sudah mengenal putera Song-Kauwsu! Mengapa engkau tidak memberitahu kepadaku sebelumnya?"

Pek Giok memandang kepada Ayahnya dengan muka kemerahan.

"Baru sekarang aku tahu bahwa dia adalah putera Song-Kauwsu, Ayah,"

Jawabnya.

"Aku pernah bertemu dengan dia ketika memperebutkan peti surat Pangeran Liang Tek Ong."

Kemudian dengan singkat ia menceritakan pertemuannya dengan pemuda itu, akan tetapi tentu saja ia tidak menyinggung soal peristiwa masakan di perahu dan sama sekali tidak berani menceritakan bahwa sejak pertemuan itu ia dan Han Bun diam-diam saling tertarik.

Can-Kauwsu menarik napas panjang.

"Memang permusuhan ini amat tidak baik. Aku pun tahu bahwa Song-Kauwsu bukan seorang jahat, apalagi isteri dan puteranya. Sungguh aku merasa menyesal sekali telah timbul permusuhan antara kita dengan mereka. Akan tetapi, ini semua timbul karena kekerasan hati Song-Kauwsu sendiri. Aku menyesal, sungguh menyesal...!"

Can-Kauwsu tentu saja tidak dapat melenyapkan sekaligus perasaan dendamnya akan kematian Suhengnya yang terbawa-bawa dalam permusuhan itu.

"Bagaimanapun juga, bukan kita yang memulai lebih dulu!"

Kata isterinya.

"Boleh diadakan perdamaian, akan tetapi harus dari mereka. Kita hanya mempertahankan nama sendiri, adalah mereka yang mencari perkara!"

Lui Siong ikut bicara.

"Kalau Teecu (murid) pikir, semua ini gara-gara kedua saudara Lee itu. Kalau dalam pIbu pertama kedua orang itu tidak muncul, tentu sudah bereslah pertikaian ini, dan dalam pIbu itu dapat ditentukan siapa yang lebih kuat."

Sementara itu, Lui Hong diam saja, tidak berkata apa-apa.

Diam-diam dia merasa amat kagum kepada Pek Giok dan juga kepada Han Bun yang ternyata memiliki kepandaian tinggi itu.

Pemuda ini diam-diam dapat menduga bahwa tentu ada pertalian batin erat antara gadis itu dengan Han Bun, maka dia menjadi bingung sekali.

Ayahnya telah menjodohkannya dengan Pek Giok, yang biarpun harus dia akui sebagai seorang gadis yang amat cantik jelita dan gagah perkasa, namun masih saja, menurut penglihatannya, belum dapat mengalahkan kecantikan puteri Bangsawan di Kotaraja yang telah berhasil menawan hatinya itu.

Juga Pek Giok diam saja.

Pikirannya bingung dan masih terbayang sikap Han Bun tadi yang selalu mengalah, bahkan rela dIbunuh.

Hal ini mempertebal keyakinannya bahwa pemuda itu benar-benar mencintanya!

Dan bagaimana dengan perasaan hatinya sendiri?

Ah..., ia tidak tahu!

ia telah dipertunangkan dengan Lui Hong!

Makin bingunglah hati Pek Giok teringat akan hal ini dan ia lalu berlari memasuki kamarnya sendiri di mana ia menjatuhkan diri di atas pembaringan dan menangis tanpa suara!

"Han Bun...!"

Kata Song-Kauwsu dengan suara marah kepada puteranya yang duduk di depannya sambil menundukkan muka.

"Apakah artinya sikapmu terhadap keluarga Can tadi? Mengapa engkau bersikap demikian lemah terhadap gadis she Can itu?"

Setelah lama tidak menjawab, Ibunya berkata.

"Anakku, aku pun merasa heran mendengar akan sikapmu terhadap gadis puteri Can-Kauwsu itu. Sesungguhnya, sampai seberapa jauhkah perkenalan dengan gadis itu? Katakan saja teru-terang, Nak."

Dengan suara berat Han Bun lalu berkata.

"Sesungguhnya, semenjak pertemuanku pertama kali dengan Pek Giok yang semula belum kuketahui namanya dan tidak kuketahui pula siapa sebenarnya gadis itu, aku... aku telah jatuh cinta kepadanya..."

Hening sesaat, dan tiba-tiba Nyonya Song berkata dengan suara girang.

"Suamiku, kalau begitu, alangkah baiknya kalau kita mengakhiri permusuhan itu dengan menjodohkan anak kita dengan puteri Can-Kauwsu!"

"Tidak mungkin!"

Song-Kauwsu membentak.

"Siapa sudi berbesan dengar dia?"

"Engkau terlalu mementingkan perasaanmu sendiri yang diracuni kebencian dan dendam!"

Nyonya Song menegur. Song-Kauwsu tersenyum mengejek.

"Engkau tahu apa? Bukan aku saja yang menaruh dendam. akan tetapi juga pihak mereka. Apa kau kira mereka mau memberikan anak mereka kepada kita? Ah, siapa berani mengajukan pinangan hanya untuk menderita malu dan terhina karena pasti akan ditolak keras oleh mereka?"

"Belum tentu."

Kata isterinya.

"Boleh kita mencoba dulu untuk meminangnya."

"Tidak, aku tidak sudi merendahkan diri sampai sedemikian rupa."

Kata Song-Kauwsu yang segera bangkit dan dengan marah meninggalkan anak dan isterinya.

Demikianlah, keadaan rumah tangga keluarga Song kembali menjadi tegang.

Hampir setiap hari terdengar percekcokan antara Song-Kauwsu dan isterinya sehingga Han Bun merasa berduka sekali.

Pemuda ini menGurung diri dalam kamar saja dan jarang keluar.

Tubuhnya menjadi kurus dan mukanya pucat.

Dia tidak mempedulikan lagi kesehatan badannya, jarang makan dan jarang tidur.

Song Han Bun menderita penyakit rindu yang hebat!

Pada suatu malam, beberapa hart kemudian, di atas genteng gedung keluarga Song berkelebat bayangan orang dalam kegelapan.

Gerakan orang ini sedemikian cepat dan ringannya sehingga tidak terdengar sedikit pun suara kakinya menginjak genteng.

Akan tetapi karena bayangan itu tidak datang sendiri, melainkan ada dua orang kawannya yang langkah kakinya tidak begitu ringan, telah membuat Han Bun terbangun dari tidurnya.

Pemuda ini merasa terkejut dan heran mendengar suara di atas genteng dan menurut perhitungannya, sedikitnya tentu ada dua orang di atas genteng yang dapat dia dengar gerakan kakinya.

Dia cepat mengambil pedangnya dan agar jangan mengagetkan Ayah-Ibunya, dia lalu keluar dari jendela dan terus melompat naik ke atas genteng.

Begitu sampai di atas genteng, sebatang pedang yang cepat sekali gerakannya menyambar dari samping.

Penyerangnya itu ternyata seorang Kakek berjubah kuning yang memelihara rambut panjang.

Biarpun sudah tua gerakan Kakek itu sungguh hebat sekali.

Han Bun cepat menangkis dan pada saat itu dia melihat dua orang lain yang bukan lain adalah Kim Lun dan Kim Lian!

Kim Lun melompat ke bawah dengan cepatnya dan tak lama kemudian dia sudah naik ke atas kembali sambil memondong Bwee Eng.

Laki-laki jahanam itu telah menculik isterinya sendiri, satu hal yang benar-benar aneh dan luar biasa.

Han Bun menjadi marah sekali dan dia memutar pedangnya dengan cepat untuk merobohkan Kakek berjubah Pendeta yang lihai itu.

Akan tetapi tiba-tiba tangan kiri Pendeta itu bergerak dan mengibarkan sehelai saputangan hitam.

Asap atau debu hitam mengebul keluar dari sapu-tangan itu dan tiba-tiba Han Bun merasa kepalanya pening dan tubuhnya terhuyung.

Dia cepat menahan napas dan mengumpulkan tenaga sakti untuk menolak pengaruh debu beracun itu, Akan tetapi terlambat.

Pendeta itu menyerangnya dengan sebuah totokan kilat sehingga Han Bun roboh di atas genteng tanpa dapat bergerak lagi.

Kim Lian berseru girang dan cepat ia menyambar tubuh Han Bun dan memungut pedangnya yang terlepas dari tangan, lalu memondong tubuh pemuda itu dibawa melompat turun dari atas genteng.

Tiga orang itu lalu menghilang dalam kegelapan malam sambil membawa tubuh Bwee Eng dan Han Bun!

Menjelang fajar, Song-Kauwsu terjaga dari tidurnya dengan hati merasa tak enak.

Dia menggerakkan tubuhnya dan ketika dia menghadap keluar, dia melihat betapa jendela dalam kamarnya terbuka dan inilah yang membuatnya tidak enak tidur karena angin malam amat dingin dan karena selimutnya terbuka maka dia kedinginan sekali.

Ketika dia memandang lebih jelas, ternyata bahwa jendela kamarnya itu terbuka dengan paksa sehingga palangnya patah.

Kemudian dia melihat sesuatu di atas meja yang membuatnya berseru keras dan melompat turun.

Ternyata di atas meja itu terdapat sehelai surat yang ditusuk pisau yang menancap di atas meja.

Cepat surat itu dibacanya.

Song-Kauwsu!

Untuk memberi hukuman kepadamu, kami sengaja membawa pergi kedua orang anakmu.

Sekarang engkau baru mengetahui kelihaian keluarga Can!

Surat itu tidak ditandatangani, akan tetapi cukup membuat dia merasa terkejut sekali.

Dengan cepat dia lalu berlari keluar dari kamarnya dan menerjang pintu kamar Han Bun.

Benar saja, Han Bun dan pedangnya tidak berada dalam kamar itu.

Pemuda itu telah keluar dari jendela kamar yang terbuka, entah ke mana!

Seperti gila saking gelisah dan marahnya, Song-Kauwsu cepat berlari menuju ke kamar Bwee Eng, dan di sini pun dia tidak dapat menemukan anak perempuannya itu.

Bwee Eng juga lenyap secara aneh!

"Keparat jahanam engkau, orang she Can!

Sekarang aku harus mengadu nyawa denganmu!"

Sambil berkata demikian, Song-Kauwsu lalu mengambil senjatanya dan berlari keluar dari rumah.

Isterinya kaget melihat kelakuan suaminya ini, akan tetapi tidak sempat bertanya karena suaminya telah berlari keluar.

la cepat memanggil Han Bun dan Bwee Eng, akan tetapi alangkah kagetnya ketika mendapat kenyataan bahwa kedua orang anaknya itu tidak berada dalam rumah.

Ketika nyonya Song menemukan surat di atas meja dalam kamar suaminya, ia menjerit dan roboh pingsan!

Dalam keadaan marah sekali Song-Kauwsu berlari cepat di pagi buta itu menuju ke rumah Can-Kauwsu.

Akan tetapi, sebelum tiba di rumah Can-Kauwsu, dia melihat bayangan orang berlari-lari dari arah depan.

Ketika telah dekat, ternyata bahwa bayangan itu adalah Can-Kauwsu sendiri yang memegang kedua senjatanya!

Bukan main marahnya Song-Kauwsu melihat musuh besar ini dan tanpa mengeluarkan kata-kata lagi, dia segera menyerang dengan hebat!

Can-Kauwsu juga menangkis dan balas menyerang, maka sebentar saja kedua orang Guru silat itu sudah saling serang di pagi hari dan di atas jalan raya yang masih sunyi.

"Orang she Song! Kembalikan anakku kalau kau tidak ingin melihat darahmu berceceran di jalan ini!"

Can-Kauwsu membentak dan menyerang dengan hebat. Tertegun juga Song-Kauwsu mendengar ini, akan tetapi kemudian dia menjadi semakin marah.

"Bangsat tua she Can! Kau manusia tak tahu malu. Mengapa menggunakan cara pengecut menculik kedua orang anakku? Kembalikan mereka kalau kau tidak ingin kepalamu menggelinding di atas jalan ini!"

"Apa katamu?"

Tiba-tiba Can-Kauwsu melompat ke belakang.

"Gilakah engkau? Engkau yang menculik anakku Pek Giok, sekarang kau menuduh aku menculik anak-anakmu. Apakah engkau benar-benar sudah menjadi gila?"

"Bangsat tua jangan berpura-pura! Suratmu masih berada di atas mejaku. Setelah berani berbuat apakah engkau begitu pengecut sehingga tidak berani mengakui perbuatanmu?"

"Eh-eh, nanti dulu!"

Kata Can-Kauwsu sambil merogoh sakunya dan mengeluarkan sehelai kertas putih.

"Kau lihat dan bacalah ini! Mengapa ada urusan begini aneh?"

Song-Kauwsu menahan kemarahannya dan membaca surat itu.

Tiba-tiba wajahnya menjadi pucat, karena surat itu bentuk dan potongannya serupa benar dengan surat yang terdapat di kamarnya.

Bahkan tulisannya pun sama.

Setelah dibacanya, dia mendapat kenyataan bahwa kata-kata dalam tulisan itu pun tiada bedanya dengan isi surat yang diterimanya.

Surat itu berbunyi demikian .

Can-Kauwsu!

Untuk memberi hukuman kepadamu, kami sengaja membawa pergi puterimu.

Sekarang engkau baru mengetahui kelihaian keluarga Song!

Begitu membaca surat itu, Song-Kauwsu melihat dengan jelas bahwa surat itu ditulis oleh satu tangan, sama benar dengan surat yang diterimanya.

"Celaka...!"

Kata Song-Kauwsu dengan muka pucat.

"Kita berdua telah menjadi korban orang jahat yang sengaja hendak mengadu domba antara kita!"

"Apa maksudmu?"

Tanya Can-Kauwsu.

"Anak-anakku, Han Bun dan Bwee Eng, juga lenyap dan di atas mejaku terdapat surat yang sama dengan ini! Hanya namanya saja terbalik, yang menculik mengaku dari keluarga Can!"

Can-Kauwsu tercengang dan kedua orang Guru silat itu berdiri berhadapan seperti patung dengan bingung dan wajah mereka pucat, tubuh mereka menggigil karena menahan kemarahan yang meluap.

"Siapakah yang melakukan perbuatan ini?"

Akhirnya Can-Kauwsu dapat bicara.

"Siapa tahu? Tentu orang jahat yang memusuhi kita!"

"Jangan-jangan kedua orang saudara Lee itu!"

Kata Can-Kauwsu. Berat bagi Song-Kauwsu untuk men-duga demikian.

"Tidak mungkin. Kepandaian mereka tidak cukup tinggi untuk dapat menculik Han Bun dan puterimu. Pula, agaknya tidak mungkin Kim Lun menculik isterinya sendiri."

"Hemm, apa kau tidak ingat kepada Guru mereka, Bu-Eng-Kwi Tok Liong Thaisu?"

Kata Can-Kauwsu.

"Celaka!! Bisa jadi... ah, hayo kita kejar mereka! Engkau betul, kalau ada orang yang memusuhi kita berdua, hanya dua orang bedebah itulah!"

"Ke mana kita harus mengejar?"

"Ke mana saja! Biar ke neraka sekali pun, aku harus dapat mencari jahanam-jahanam itu!"

Demikianlah, dua orang musuh besar itu di pagi hari berlari-lari keluar kota untuk mencari jejak orang-orang yang menculik anak-anak mereka!

Memang tepat dugaan Can-Kauwsu.

Penculik-penculik itu adalah Kim Lun, Kim Lian, dan Guru mereka yang yaitu Bu-Eng-Kwi (lblis Tanpa Bayangan) Tok Liong Thaisu sendiri.

Datuk ini mendengar cerita kedua orang muridnya dan karena maklum bahwa dua orang muda, yaitu Han Bun dan Pek Giok merupakan lawan-lawan yang tangguh, maka Datuk itu mempergunakan bubuk Hek-Tok-San (bubuk racun hitam) untuk merobohkan mereka.

Seperti halnya Han Bun, Pek Giok mendengar kedatangan mereka dan ketika ia menyerbu, ia dirobohkan dengan bubuk racun hitam dan di tawan oleh mereka.

Kini tiga orang penculik itu lari menuju ke utara, masuk ke dalam sebuah hutan liar.

Kim Lun memondong tubuh Bwee Eng, Kim Lian memondong tubuh Han Bun, sedangkan Bu-Eng-Kwi sendiri memondong tubuh Pek Giok.

Pek Giok dan Han Bun berada dalam keadaan pingsan karena pengaruh obat bius, sedangkan Bwee Eng biarpun masih sadar, akan tetapi tidak mampu bergerak karena tertotok.

Setelah tiba di dalam sebuah Kuil tua yang rusak dan yang berada di lereng bukit kecil dalam hutan itu, tiga orang jahat itu masuk ke dalam Kuil dan menurunkan tubuh tiga orang tawanan mereka ke atas lantai Kuil.

Kim Lun dan Kim Lian lalu mengikat kaki tangan Pek Giok dan Han Bun, akan tetapi Bwee Eng tidak diikat karena mereka menganggap wanita itu tidak berbahaya.

Mereka hendak menanti sampai para korban siuman dari pingsannya untuk kemudian dipermainkan dan dIbunuh untuk memuaskan dendam hati mereka.

"Aku akan merusak mukanya dengan ujung pedang!"

Kata Kim Lian sambil mencabut pedangnya dan memandang kepada Pek Giok penuh kebencian.

"Nanti dulu!"

Kim Lun mencegah karena dia mempunyai niat lain yang lebih keji lagi.

"Kalau aku sudah cukup membalas dendam dan menghinanya, baru kau boleh turun tangan."

"Kau pun jangan membunuh Han Bun dulu sebelum aku cukup menghina dan mempermainkannya."

Kata Kim Lian sambil memandang wajah Han Bun yang tampak amat elok dalam pingsannya itu. Sementara itu Bu-Eng-Kwi hanya tertawa-tawa saja bagaikan seorang yang miring otaknya.

"Nah, puaskanlah hatimu, biar aku menjaga di depan Kuil!"

Katanya lalu keluar sambil bernyanyi. Memang, Pendeta ini telah terlalu banyak membuat dosa sehingga makin tua dia menjadi semakin berubah ingatannya, menjadi seperti orang gila.

"Kenapa mereka belum siuman?"

Tanya Kim Lian kepada Kakaknya.

"Aku sudah ingin sekali menyiksa mereka. Kurang asyik kalau menyiksa mereka dalam keadaan pingsan."

"Ambil saja air dan siram kepala mereka, tentu akan lekas siuman."

Kata Kim Lun tertawa. Kim Lian lalu. keluar dari ruangan Kuil tua itu untuk mencari air. Bwee Eng terisak menangis.

"Kenapa kau begini kejam? Mengapa hendak menyiksa Adikku? Ah, mungkinkah hatimu begini kejam dan sama sekali tidak ingat akan budi kebaikan keluargaku padamu?"

Kim Lun tertawa bergelak.

"Budi? Budi apakah? Apa kau kira aku tidak tahu bahwa Ayah-Ibumu membenciku? Hanya kau seorang yang baik kepadaku, karenanya aku membawamu dan tidak membunuhmu. Sudahlah, jangan kau banyak cerewet. Kau isteriku, dan harus menurut segala kehendakku."

Kim Lian datang membawa guci penuh air yang lalu disiramkan ke atas kepala Han Bun dan Pek Giok.

Sebetulnya kedua orang muda yang bertubuh kuat terlatih itu, telah siuman sejak, tadi.

Akan tetapi karena kaki tangan mereka terikat kuat dan biarpun mereka diam-diam telah mengerahkan tenaga untuk membebaskan diri, mereka tidak dapat melepaskan tali pengikat yang terbuat dari bahan istimewa itu.

Mereka berpura-pura masih pingsan dan tidak bergerak.

Ketika Kim Lun bicara dengan Bwee Eng tadi, Han Bun membuka matanya akan tetapi segera menutupnya kembali dengan hati berdebar.

Dia marah sekali mendengar ucapan Kim Lun, akan tetapi dia tidak berdaya.

Ikatan kaki tangannya itu kuat sekali.

Dia masih belum tahu bahwa Pek Giok juga tertawan, karena gadis itu rebah di sebelah belakangnya dan dia tidak mau menggerakkan tubuhnya agar disangka masih pingsan.

Diam-diam dia memutar otak mencari jalan keluar.

Ketika kepalanya disiram air, dia masih saja diam tak bergerak.

Demikian pula dengan Pek Giok.

Gadis ini pun sebenarnya telah sadar, akan tetapi berpura-pura masih pingsan.

Kalau Han Bun tidak dapat melihatnya, sebaliknya Pek Giok dapat melihat pemuda itu karena kebetulan sekali ketika tubuhnya dilepaskan di atas Iantai, ia rebah miring menghadapi punggung Han Bun.

"Mengapa mereka masih juga belum siuman?"

Kata pula Kim Lian dengan hati penasaran. Kim Lun lalu meloloskan sabuk kulitnya.

"Biar kucoba membikin dia siuman!"

Katanya mengejek dan tak lama kemudian terdengar suara ledakan keras ketika cambuknya menimpa tubuh Han Bun.

Pemuda ini maklum bahwa apabila dia memperlihatkan tanda bahwa dia telah siuman, pasti siksaan akan lebih hebat lagi.

Maka dia lalu menutup jalan darah, menahan napas dan mengumpulkan tenaga agar supaya rasa sakitnya tidak terlalu hebat.

Akan tetapi tentu saja dia tidak berani mengeraskan kulitnya karena kalau kulitnya tidak terluka oleh cambukan itu, tentu Kim Lun akan curiga.

Maka setelah dicambuk beberapa kali, baju pada punggungnya robek dan kulit punggungnya pecah mengeluarkan darah.

Hampir saja Pek Giok tidak kuat menahan melihat betapa punggung pemuda yang berada di depannya itu pecah-pecah dan beberapa titik darah memercik mengenai pipinya!

"Aku pun hendak menyadarkan setan perempuan ini!"

Kim Lian tertawa.

Dengan lagak yang amat menyebaikan, wanita ini lalu membungkuk dan "Brettt!!!", ia telah merobek baju Pek Giok sehingga baju itu pecah bagian punggung dan pundak kanan.

Tampaklah kulit punggung dan pundak yang putih mulus itu.

(Lanjut ke

Jilid 10) Antara Dendam & Asmara (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 10

"Perempuan keparat, kau bangunlah!"

Kata Kim Lian dan terdengarlah suara keras ketika ia menggunakan sebatang ranting yang tadi dipungutnya ketika ia mengambil air, mencabuki kulit punggung Pek Giok, juga pundak dan lambungnya.

Seperti halnya Han Bun gadis ini juga mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya untuk menahan rasa nyeri dan sama sekali tidak bergerak.

Biarpun kulit punggung dan pundaknya pecah-pecah dan mengalirkan darah.

Bwee Eng menutupi mukanya dengan kedua tangan dan menangis terisak-isak.

Kemudian ia tidak dapat menahan diri lagi, lalu melompat dan menubruk suaminya, hendak merampas cambuk kulit itu.

Akan tetapi Kim Lun menyambut dengan tendangan sehingga isterinya terhuyung ke depan.

Baiknya Bwee Eng juga memiliki kepandaian lumayan maka ia dapat menjaga keseimbangan tubuhnya dan tidak jatuh.

ia menjadi nekat karena tidak tega menyaksikan adiknya tersiksa, maka ia menerjang kembali untuk merampas cambuk dari tangan suaminya.

"Jahanam kejam! Kalau kau hendak membunuh Adikku, bunuhlah saja, tidak usah menyiksanya. Kemudian kau bunuh aku juga, apa kau kira kami keluarga Song takut mati?"

Akan tetapi sebagai jawaban, kembali Kim Lun menyambutnya dengan sebuah tendangan.

Biarpun Bwee Eng sudah berusaha mengelak, akan tetapi masih saja ia tidak dapat rnenghindarkan diri dan ia terkena tendangan sehingga bergulingan di atas lantai.

Akan tetapi, ucapan Bwee Eng tadi mengingatkan kepada Kim Lun dan Kim Lian bahwa kedua orang tawanan mereka itu masih belum sadar.

"Apa mereka telah mampus?"

Kim Lun kecewa.

Dia mendekati Pek Giok dan menempelkan telinganya pada dada gadis itu.

Pek Giok hampir saja tidak dapat menahan diri.

Perbuatan ini dianggapnya lebih hebat daripada cambukan tadi, akan tetapi ia menahan napas dan menguatkan hatinya.

"Masih hidup...!"

Kata Kim Lun sambil meraba pipi Pek Giok dengan mesra.

"Mari kita tanyakan kepada Suhu bagaimana cara membikin mereka siuman."

"Suhu sedang bersarnadhi di ruangan depan."

Kata Kim Lian.

"Biarlah, kita tanya sebentar saja, takkan mengganggunya."

Mereka berdua keluar dari situ, akan tetapi Kim Lun berhenti lagi karena teringat akan sesuatu.

Dia menghampiri Bwee Eng yang masih rebah merintih-rintih dan menangis, lalu berkata dengan suara mengancam keras.

"Awas, jangan kau pergi ke mana-mana. Kalau kau pergi dari sini, kau akan kubunuh!"

Kemudian dia keluar menyusul adiknya. Begitu kedua orang itu keluar, Han Bun segera berkata kepada Encinya.

"Enci Bwee Eng, cepat kau buka ikatan ini!"

Dan pada saat itu ketika dia menggerakkan kepalanya Han Bun melihat Pek Giok yang rebah dengan baju koyak-koyak dan punggung serta pundaknya berlumuran darah! "Pek Giok...!"

Bisiknya dan tak terasa pula dua titik air mata melompat keluar dari pelupuk matanya.

Pek Giok mengangkat muka dan melihat keadaan pakaiannya ia lalu melotot kepada Han Bun dan menegur dengan bisikan mendesis.

"Jangan kau memandang ke sini!"

Mukanya menjadi merah sekali! Han Bun cepat memalingkan mukanya dan berkata lagi kepada Bwee Eng yang dengan jari-jari gemetar rnencoba untuk membuka ikatan tangan adiknya.

"Cepat Enci Bwee Eng, sebelum mereka datang kernbali!"

Karena cemas dan takut-takut, serta tubuhnya juga sakit-sakit bekas tendangan suaminya yang jahanam itu, jari-jari tangan Bwee Eng gemetar dan sukar sekali baginya untuk melepaskan ikatan tali yang amat kuat itu.

"Cepat..., mereka akan segera datang !"

Seru Han Bun dengan khawatir.

"Enci, di dalam bajuku tersembunyi senjata rahasiaku Touw-Sim-Ting (Paku Menembus Jantung). Gunakan itu untuk memutuskan ikatan."

Tiba-tiba terdengar Pek Giok berkata.

Bwee Eng segera menghampiri gadis itu dan tangannya mencari saku di sebelah dalam baju gadis itu.

Benar saja, Pek Giok selalu menyimpan senjata rahasia yang dulu menjadi senjata rahasia dari Ayah angkatnya, mendiang Siok Kong.

Cepat Bwee Eng mengambil paku-paku runcing itu lalu mempergunakannya untuk memutuskan, tali pengikat tangan Pek Giok lebih dulu.

Kernudian ia memutuskan tali pengikat kakinya.

Setelah itu, barulah ia memutuskan tali pengikat tangan Han Bun.

Belum juga tali pengikat kaki Han Bun sempat dIbuka, terdengar langkah kaki dan suara Kim Lun dan Kim Lian yang tertawa-tawa di luar pintu!

"Pura-pura pingsan!"

Bisik Han Bun.

kepada Pek Giok yang segera rnerebahkan diri kembali sambil menyembunyikan tangan di belakang tubuh.

Bwee Eng hendak melompat mundur, akan tetapi terlambat karena Kim Lun dan Kim Lian telah melangkah masuk dan mereka berdua dengan marah melihat betapa Bwee Eng sedang memegang-megang tali pengikat kaki Han Bun.

"Pengkhianat hina!"

Seru Kim Lun.

Kedua orang Kakak-beradik ini lalu mencabut pedang dan begitu tubuh mereka bergerak, dua batang pedang menembus dada Bwee Eng dari dada ke punggung dan wanita itu tewas seketika tanpa dapat berteriak lagi.

Han Bun biarpun tidak membuka matanya dan tidak melihat peristiwa mengerikan itu, telinganya cukup tajam maka alangkah marah dan sedihnya mengetahui bahwa Encinya telah dIbunuh dua orang jahanam itu.

Akan tetapi dia mengeraskan hati dan masih berpura-pura pingsan.

Kim Lun lalu mendekatinya dan memeriksa ikatan tangannya sedangkan Kim Lian mendekati Pek Giok.

Pada saat itu, Kim Lun dan Kim Lian menjerit ngeri, mata mereka terbelalak, mulut ternganga dan muka mereka sepucat mayat, tubuh mereka menggigil!

seperti orang kedinginan karena mereka melihat betapa pada saat itu tiba-tiba Pek Giok dan Han Bun sudah bangkit berdiri di depan mereka!

"Celaka...!!"

Kim Lun berseru dengan suara gemetar.

"Aduh... mati aku..."

Kim Lian juga menjerit ketakutan.

Akan tetapi dua orang Kakak-beradik itu tidak sempat berpikir karena pada saat itu Pek Giok sudah menyerang dengan pukulan yang menampar ke arah kepala Kim Lian.

Kim Lian berusaha mengelak akan tetapi kurang cepat sehingga tepi tangan Pek Giok masih menyerempet rahangnya.

Terdengar suara tulang patah karena tulang rahang itu retak terlanggar tangan Pek Giok.

Tubuh Kim Lian terputar dan pada saat itu, kaki Pek Giok rnencuat dan mengirim tendangan kilat yang amat dahsyat ke arah dada Kim Lian.

"Krakkk...!"

Masih terdengar jerit mengerikan keluar dari mulut Kim Lian ketika tulang-tulang dadanya remuk dan tubuhnya terlempar membentur dinding lalu roboh bagaikan kain lapuk, tak bergerak lagi karena nyawanya telah meninggalkan badan!

Kim Lun yang baru sekali ini merasakan ketakutan yang amat hebat, tak sempat mengelak ketika Han Bun menggunakan kedua tangannya, menyarnbar bagaikan seekor garuda rnenyambar tikus, tahu-tahu kedua tangannya telah menangkap dan mencekik leher Kim Lun.

Laki-laki jahanam ini berusaha memukul dada Han Bun, akan tetapi pemuda ini membanting diri ke kiri dan mengayun kaki ke atas sehingga dengan demikian dia dapat berdiri di belakang tubuh Kim Lun.

Cekikan pada leher musuh besar itu seperti jepitan baja yang amat kuat.

Urat-uratnya yang bagaikan benang baja menggembung dan tak lama kernudian terdengar suara keras karena tulang leher Kim Lun patah!

Ketika Han Bun melepaskan tangannya, tubuh Kim Lun yang sudah menjadi mayat itu jatuh berdebuk di atas lantai.

Pek Giok cepat memungut pedangnya yang dibawa Kim Lun dan menggunakan pedang itu untuk memutuskan tali pengikat kaki Han Bun.

Juga Han Bun mengambil pedangnya yang tadi dirampas Kim Lian.

Mereka berdiri saling berhadapan, dua pasang mata bertemu dan bertaut tak dapat lepas.

Pek Giok demikian terpesona sehingga ia lupa bahwa punggung dan pundaknya telanjang.

Mereka berdiri dekat, saling pandang dengan sinar mata mesra dan lembut akan tetapi juga basah air mata!

"Pek Giok..."

Bisik Han Bun.

"Masih adakah perasaan bermusuhan denganku dalam dadamu...?"

Pek Giok menggigit bibirnya.

"Han Bun...!"

Ia rnengeluh dan tak dapat melanjutkan kata-katanya, hanya menundukkan mukanya yang sebentar pucat sebentar merah. Han Bun maju melangkah dan sesaat kemudian dia telah memeluk Pek Giok.

"Pek Giok... Ikan Emas Bermata Bintang... kekasihku... marilah kita lenyapkan permusuhan orang-tua kita..."

Pada saat mereka tenggelam dalam perasaan masing-masing, tiba-tiba pintu terbuka dari luar dan Bu-Eng-Kwi Tok Liong Thaisu berdiri di ambang pintu dengan pedang di tangan!

Pek Giok dan Han Bun terkejut.

Akan tetapi mereka segera menghadapi Datuk yang telah menangkap mereka dengan curang itu, dengan hati marah sekali.

"Bangsat tua bangka, kini datanglah saatnya kami membalas dendam!"

Seru Han Bun sambil melompat dan menyerang Kakek itu.

"Han Bun, hati-hatilah terhadap bubuk racun hitamnya!"

Kata Pek Giok yang juga menerjang dengan pedangnya.

Bu-Eng-Kwi Tok Liong Thaisu terkejut melihat dua orang muda lihai ini bebas dan dua orang muridnya tewas.

Dia merasa gentar karena dia tahu bahwa pemuda ini murid Cin-Po Yang-Cu dan gadis itu murid Kun-Lun Sam-Sian.

Nama-nama yang disegani dan ditakuti.

Maka dia mencoba untuk melarikan diri dan melompat keluar dari Kuil.

Dia hendak menggunakan ginkangnya yang hebat dan yang membuat dia dijuluki lblis Tanpa Bayangan, untuk meloloskan diri.

Akan tetapi, ternyata dua orang muda itu tidak kalah gesit.

Dengan beberapa kali lompatan saja mereka telah dapat menyusulnya sehingga terpaksa Datuk itu melawan mereka mati-matian.

Kini fajar telah berganti pagi sehingga dia tidak mungkin menghilang dalam kegelapan.

Setelah mereka bertempur, diam-diam Tok Liong Thaisu mengeluh.

Ilmu pedang dua orang itu benar-benar tangguh sekali.

Jangankan dikeroyok dua, biarpun hanya maju seorang dari mereka saja, belum tentu dia akan mengalahkannya.

Dua kali Tok Liong Thaisu mencoba untuk menggunakan bubuk racun hitamnya, akan tetapi kini Han Bun dan Pek Giok selalu waspada dan tentu saja mereka tidak begitu bodoh untuk dapat ditipu dan menjadi korban seperti semalam.

Sambil mempergunakan kegesitan tubuh untuk menghindarkan diri dari debu beracun yang amat berbahaya itu, mereka mendesak terus sehingga Tok Liong Thaisu mengeluarkan keringat pada waktu pagi hari yang dingin itu dan hatinya menjadi gelisah dan takut sekali.

Akan tetapi dia tidak menderita kegelisahan dan ketakutan terlalu lama karena beberapa belas jurus kemudian, pada saat Datuk sesat itu terdesak hebat, Pedang di tangan Pek Giok dan Han Bun hampir berbareng mengirim serangan dahsyat sehingga merupakan dua sinar kilat menyambar menyilaukan mata.

Pedang Han Bun menembus leher dan pedang Pek Giok menembus jantung Tok Liong Thaisu yang tak sempat menga-duh, langsung jatuh terkulai dan nyawanya telah lepas dari tubuh sebelum tubuh itu menyentuh tanah.

Setelah berhasil membunuh Tosu palsu itu, kembali Han Bun dan Pek Giok saling berpegang tangan dan saling pandang dengan mesra tanpa rnengucapkan sepatah pun kata.

Dan dalam keadaan inilah Can-Kauwsu dan Song-Kauwsu mendapatkan mereka!

Kedua orang Guru silat itu mengejar sampai ke dalarn hutan dan di depan Kuil tua itu mereka melihat betapa Pek Giok dan Han Bun berdiri dekat saling berpegang tangan dan di atas tanah menggeletak tubuh seorang Kakek berjubah Pendeta.

"Han Bun...!"

Teriak Song-Kauwsu sambil berlari menghampiri puteranya.

"Pek Giok...!"

Can-Kauwsu juga menghampiri puterinya.

Dua orang muda itu lalu bercerita dan mendengar bahwa Bwee Eng tewas, Song-Kauwsu lari memasuki Kuil dan dia berdiri bagaikan patung memandang mayat Bwee Eng, Kim Lun dan Kim Lian.

Can-Kauwsu dan Pek Giok ikut masuk dan mereka berdiri dengan hati terharu melihat kesedihan Song-Kauwsu.

Setelah dapat menenangkan hatinya yang rasanya seperti ditusuk-tusuk melihat mayat puterinya, Song-Kauwsu lalu menghampiri Can-Kauwsu dan kedua orang laki-laki setengah tua ini saling pandang dengan sinar mata muram.

Song-Kauwsu berulang kali menggelengkan kepalanya dan menghela napas panjang.

"Inilah hasil permusuhan antara kita! Inilah akibatnya kalau aku menuruti nafsu kesombonganku! Ah, sungguh aku merasa rnenyesal sekali! Can-Kauwsu, marilah kita ubah permusuhan ini menjadi kekeluargaan. Kalau engkau setuju, aku... kami akan suka sekali... kalau anakku yang tunggal dijodohkan dengan puterimu..."

Can-Kauwsu tidak merasa heran mendengar pinangan dalam keadaan yang luar biasa itu, akan tetapi dia menggelengkan kepalanya dan menghela napas panjang pula.

"Sayang sekali engkau sudah terlambat, Song-Kauwsu. Puteri kami Can Pek Giok sudah kami tunangkan dengan Lui Hong putera Lui Song!"

Song-Kauwsu terbelalak, lalu wajahnya berubah pucat dan lesu, hatinya terpukul dan dia merasa kecewa sekali. Tubuhnya menjadi lemas dan dia menjatuhkan diri di atas lantai kelenteng sambil mengeluh.

"Dasar aku yang sial, aku yang bersalah... ah, makin tua aku semakin sial...!!"

Yang lebih terkejut lagi adalah Han Bun.

Ucapan Can-Kauwsu yang memberi-tahu tentang Pek Giok yang sudah ditunangkan dengan pemuda lain itu bagaikan halilintar menyambar kepadanya.

Tubuhnya berkelebat cepat dan dia telah meninggalkan tempat itu!

Can-Kauwsu merasa tidak enak hati dan dia lalu mengajak puterinya untuk segera pulang.

Lui Hong duduk seorang diri dalam rumah orang-tuanya, melamun.

Dari Lui Siong, Ayahnya, dia sudah mendengar tentang peristiwa hebat yang menimpa keluarga Can-Kauwsu dan Song-Kauwsu.

Betapa Can Pek Giok dan Song Han Bun diculik oleh Kakak-beradik Lee Kim Lun dan Lee Kim Lian yang dibantu oleh Datuk sesat Bu-Eng-Kwi Tok Liong Thaisu dan nyaris mereka berdua celaka.

Akan tetapi akhirnya, Pek Giok dan Han Bun yang gagah perkasa itu berhasil menewaskan Lee Kim Lun dan Lee Kim Lian, juga menewaskan Bu-Eng-Kwi Tok Liong Thaisu, Sungguhpun puteri Song-Kauwsu, Kakak Han Bun yang bernama Song Bwee Eng dan diperisteri Lee Kim Lun juga tewas oleh Kakak-beradik jahat dan cabul itu.

Akan tetapi bukan itu yang meresahkan hatinya, bahkan kini kedua Guru silat itu telah akur kembali, hal ini membuat dia merasa senang pula.

Akan tetapi kemudian dia mendengar pula betapa Song-Kauwsu secara langsung di tempat terjadinya kerIbutan itu, di sebuah kelenteng, mengajukan pinangan kepada Can-Kauwsu untuk menjodohkan Pek Giok dengan Han Bun dan pinangan itu ditolak oleh Can-Kauwsu dengan alasan bahwa Pek Giok telah ditunangkan kepadanya!

Inilah yang membuat Lui Hong melamun dengan hati gelisah seorang diri dalam karnarnya.

Sejak Ayahnya dan Can-Kauwsu sepakat untuk menjodohkan dia dengan Can Pek Giok, hati Lui Hong merasa tidak enak sekali.

Memang harus dia akui bahwa Can Pek Giok merupakan seorang gadis yang selain cantik jelita, gagah perkasa, juga pantas disebut seorang pendekar wanita.

Gadis itu dapat menjadi seorang isteri yang patut dibanggakan dan kalau dia sampai dijodohkan dengan gadis itu, sebetulnya dia sudah merasa terangkat derajatnya dan merasa terhormat sekali.

Sudah sepatutnya dia berbahagia menjadi tunangan dan calon suami seorang gadis seperti Can Pek Giok.

Akan tetapi, semua pertimbangan ini tetap saja tidak mampu menerangi hatinya yang gelap.

Masalahnya adalah bahwa betapapun cantik dan lihainya Can Pek Giok, dia tidak mempunyai perasaan cinta kepada gadis itu!

Cinta bukan tumbuh karena kecantikan belaka.

Yang tumbuh oleh kecantikan atau keadaan lahiriah yang menarik bukanlah cinta, melainkan nafsu berahi.

Dia telah jatuh cinta kepada seorang gadis lain!

Bukan ini saja yang mendatangkan perasaan gundah di dalam hatinya, akan tetapi terutama sekali karena dia tidak merasakan ada cinta dalam hati Pek Giok kepadanya.

Hal ini dapat dia ketahui dari sikap, sinar mata dan suara Pek Giok kalau berhadapan dengan dia.

Dia tidak menemukan getaran cinta dalam semua itu.

Dan ketika terjadi pIbu (adu silat) antara Pek Giok dan Han Bun, dia melihat tanda-tanda bahwa gadis dan pemuda yang orang-tuanya saling bermusuhan itu saling jatuh cinta, inilah yang membuat Lui Hong kini menjadi gelisah.

Dia ditunangkan dengan Pek Giok, padahal hatinya sudah jatuh cinta kepada seorang gadis lain yang juga mencintanya.

Sedangkan Pek Giok, dia yakin juga tidak mencintanya, melainkan mencinta Song Han Bun seperti yang dia duga.

Kini, Han Bun yang hendak dijodohkan dengan Pek Giok, tidak mungkin terjadi karena Pek Giok sudah ditunangkan dengan dia!

Sungguh merupakan liku-liku cinta yang salah alamat dan kalau dilanjutkan akan mendatangkan derita sengsara dalam hati empat orang!

Dalam keadaan hati gelisah dan tertekan itu, Lui Hong merasa semakin rindu kepada gadis yang telah mencuri hatinya.

Terbayanglah wajah Li Sian Hwa, puteri tunggal Jaksa Li yang tinggal di Kotaraja.

Kemudian terkenang pula dia akan peristiwa yang mempertemukan dia dengan gadis itu.

Peristiwa itu terjadi ketika Lui berpisah dari Gurunya yang mengajarkan ilmu silat kepadanya, yaitu Sin-Kiam Kai-Ong.

Setelah berpisah dari Sin-Kiam Kai-Ong (Raja Pengemis Pedang Sakti), Lui Hong lalu melakukan perjalanan dari Kotaraja menuju pulang ke rumah orang-tuanya di Sung-Kian.

Baru setengah hari lamanya dia meninggalkan Kotaraja, ketika melewati sebuah hutan, dia melihat sebuah kereta berhenti di jalan raya dalam hutan itu dan belasan orang perajurit pengawal sedang bertempur melawan sekitar dua puluh orang yang melihat pakaian dan sikap mereka mudah diketahui bahwa mereka adalah gerombolan penjahat, agaknya sedang menghadang dan merampok kereta itu.

Melihat ini, tanpa diminta lagi Lui Hong segera turun tangan membantu para pengawal dan begitu dia turun tangan, gerornbolan itu menjadi kocar-kacir.

Dalam beberapa gebrakan saja enam orang penjahat dapat dirobohkan Lui Hong.

Melihat ini, semangat para pengawal membesar sedangkan para penjahat itu menjadi gentar.

"Taihiap (Pendekar Besar), tolonglah anakku...!"

Tiba-tiba terdengar seruan dari dalam kereta.

Mendengar ini, Lui long melompat dan menyingkap tirai di pintu kereta.

Di dalam kereta itu duduk seorang laki-laki berpakaian Bangsawan bersama isterinya.

Mereka tarnpak ketakutan dan sepasang suarni isteri setengah tua ini yang melihat sepak terjang Lui Hong, lalu berseru minta tolong.

"Taihiap, anak perempuan kami dilarikan kepala penjahat, dibawa ke sana. Tolonglah..."

Kata Bangsawan itu sambil menudingkan telunjuknya ke arah kiri.

Tanpa banyak cakap lagi Lui Hong lalu melompat dan memasuki hutan yang berada di sisi jalan raya.

Dengan ilmu meringankan tubuh yang sudah mencapai tingkat tinggi, tidak lama kemudian dia dapat menemukan sebuah gubuk di tengah hutan dan dia mendengar jerit tangis seorang wanita di samping suara tawa kejam seorang pria.

"Braaakkk...!!"

Daun pintu gubuk itu jebol ditendang Lui Hong dan melihat adegan di dalam gubuk itu, muka Lui Hong menjadi merah saking jengah dan juga marahnya.

Dia melihat seorang laki-laki tinggi besar bermuka hitam sedang menggumuli seorang gadis yang mati-matian mempertahankan kehormatannya.

Pakaian gadis itu sudah robek sehingga tampak kulit tubuhnya yang putih mulus.

Agaknya gadis itu nekat mempertahankan kehormatannya dan mungkin ditampar oleh kepala penjahat itu karena dari ujung bibirnya tampak berdarah.

Bagaikan seekor harimau menerkam domba, Lui Hong menerjang ke depan.

Kepala penjahat yang tadi terkejut mendengar jebolnya daun pintu dan membalik, melihat seorang pemuda menerjangnya, lalu melepaskan gadis itu dan dia menyambut Lui Hong dengan tendangan kakinya yang besar dan panjang.

Lui Hong sedang dilanda nafsu amarah yang berkobar-kobar rnenyaksikan adegan tadi, maka melihat kaki besar panjang itu menyarnbutnya dengan tendangan, dia menyambut dengan pukulan tangan kanan yang dimiringkan sambil mengerahkan tenaganya.

"Wuuuuttt... krakkk...! Aduh...!"

Kepala perampok itu terpelanting dan tulang kakinya patah.

Dalam kemarahannya, Lui Hong masih menyusulkan tiga kali pukulan dan laki-laki tinggi besar muka hitam itu meraung-raung dan berkelojotan dengan kedua lengan dan kedua kakinya mengalami patah-patah tulangnya!

Rasa nyeri membuat raungannya hanya terdengar sebentar karena dia lalu jatuh pingsan, menggeletak di Iantai gubuk itu.

Lui Hong melihat gadis itu sudah bangkit duduk dalam keadaan setengah telanjang.

Sambil berusaha menutupi badan dengan pakalan yang sudah koyak-koyak, ia memandang kepada Lui Hong dengan sepasang mata terbelalak penuh rasa ngeri dan takut, seperti rnata seekor kelinci yang baru saja terlepas dari cengkeraman harimau!

Lui Hong cepat rnenyambar sehelai selimut yang berada di dekat pembaringan dan menyelimuti tubuh setengah telanjang Itu sambil berkata.

"Jangan takut, Nona. Jahanam itu tidak akan dapat mengganggumu lagi. Mari kuantar engkau kembali kepada Ayah-lbumu."

Agaknya baru sekarang gadis itu menyadari bahwa ia telah terbebas dari bahaya yang lebih mengerlikan daripada maut.

Dengan tubuh gemetaran ia lalu turun dari pembaringer itu dan tiba-tiba menjatuhkan dirinya berlutut di depan kaki Lui Hong.

"Terima kasih... Taihiap telah menyelamatkan saya... terima kasih... aahhh..."

Gadis itu lalu menelungkup dan menangis tersedu-sedu.

Tubuhnya makin gemetar karena membayangkan kengerian yang membuatnya ketakutan.

Melihat ini, Lui Hong menjadi bingung juga.

Gadis itu menangkap kedua kakinya dan menangis seperti anak kecil.

Selama hidupnya belum pernah dia menghadapi hal seperti ini.

Maka dia lalu membungkuk, memegang kedua pundak gadis itu dan diangkatnya, dipaksanya gadis itu untuk bangkit.

Akan tetapi ketika gadis bangkit berdiri, tubuhnya terkulai lemas dan ia tentu sudah jatuh kalau tidak dengan cepat Lui Hong merangkulnya.

Ternyata gadis itu tak sadarkan diri, pingsan dalam rangkulan Lui Hong!

Pemuda yang sebelumnya belum pernah bergaul dengan wanita itu, kini merangkul seorang gadis yang pingsan, tentu saja menjadi panik.

Jantungnya berdebar tegang.

Dia tidak khawatir karena tahu bahwa gadis itu tidak mengalami cidera, tidak ternoda dan jatuh pingsan hanya karena tegang dan ketakutan.

Teringat akan suami-isteri Bangsawan dalam kereta tadi, dia lalu memondong tubuh gadis itu, rnembawanya keluar gubuk dan berjalan menuju ke arah dari mana dia tadi datang, yaitu ke jalan besar tempat terjadinya pertempuran tadi.

Akan tetapi baru belasan langkah dia berjalan, terdengar gadis itu mengeluh.

ia telah siuman dari pingsannya dan melihat dirinya dipondong Lui Hong, gadis itu berkata lemah.

"Taihap... Jangan pondong aku, harap turunkan..."

Tentu saja Lui Hong segera menurunkannya.

Mereka saling berhadapan dan sejenak rnereka saling pandang.

Gadis itu ternyata amat cantik dalam pandangan Lui Hong, juga lucu karena berkerudung selimut rnerah sampai ke lutut.

Sepasang mata yang rnasih kernerahan karena tangis itu kini memandang kepadanya "Sekali lagi, aku amat berterima kasih kepadamu, Taihiap.

Engkau telah menyelamatkan diriku dari ancaman yang lebih mengerikan daripada maut.

Selama hidupku, aku tidak akan pernah dapat melupakan budi pertolonganmu ini."

"Sudahlah, Nona. Jangan disebut-sebut lagi soal pertolongan karena apa yang aku lakukan ini, hanya merupakan kewajiban yang sudah semestinya kulakukan."

"Taihiap, namaku adalah Li Sian Hwa, aku tadi berkendaraan dengan Ayah-Ibuku. Ayahku adalah Jaksa Li Koan dari Kotaraja..."

"Aku sudah bertemu dengan Ayah-Ibumu, Li-Siocia (Nona Li). Mereka dalam keadaan selamat dan menanti kedatanganmu. Mari kita temui mereka."

Gadis itu mengangguk dan mereka berdua melangkah maju perlahan-lahan karena mereka harus melalui tempat yang penuh dengan pohon-pohon dan semak belukar, juga jalannya tidak rata.

Terkadang Li Sian Hwa terhuyung dan terpaksa harus memegang tangan Lui Hong agar tidak jatuh.

Lui Hong merasa kasihan sekali, akan tetapi tentu saja tidak berani menawarkan agar gadis itu mau dipondongnya.

Hal itu dapat dianggap sebagai suatu sikap tidak sopan atau kurang ajar.

"Taihiap, engkau telah menyelamatkan aku dan telah mengetahui namaku. Akan tetapi aku belum mengenal siapa namamu dan di mana tempat tinggalmu."

Gadis yang sopan sekali, pikir Lui Hong. Menanyakan tidak, secara langsung.

"Nona, namaku Lui Hong dan aku tinggal di kota Sung-Kian. Nona, sungguh tidak enak mendengar engkau menyebut aku Taihiap, karena aku hanyalah seorang biasa saja, sama sekali bukan pendekar besar."

"Akan tetapi bagiku engkau seorang pendekar dan penolong! Kalau tidak ingin disebut Taihiap, lalu aku harus menyebut apa?"

Gadis itu mengerling dan tersenyum sambil merapatkan selimut yang menutupi tubuhnya.

"Engkau sudah tahu namaku sekarang, sebut saja namaku."

Kata Lui Hong.

"Aih, aku tidak mau bersikap tidak sopan terhadap penolongku. Baiklah, aku akan menyebutmu Hong-ko (Kakak Hong) saja, dan engkau menyebut aku Hwa-moi (Adik Hwa). Bagaimana, Hong-ko?"

Wajah Lui Hong menjadi kemerahan.

Tentu saja dia merasa girang sekali, akan tetapi dia juga merasa bahwa tidak pantas dia menyebut gadis Bangsawan puteri seorang jaksa itu dengan sebutan adik!

"Baiklah, Nona."

"Eh, mengapa masih menyebut Nona?"

"Aku... aku tidak berani, Nona. Aku merasa tidak pantas menyebutmu Adik. Aku hanya seorang pemuda biasa yang miskin, sedangkan engkau seorang puteri Bangsawan yang kaya-raya..."

"Hong-ko, jangan bicara seperti itu. Aku tidak suka mendengarnya...!"

Li Sian Hwa berkata sambil mengerutkan alisnya.

Agaknya gadis itu merasa benar-benar tidak suka dan marah mendengar ucapan Lui Hong dan ia mempercepat langkahnya.

Akan tetapi kakinya terpeleset di atas batu yang menonjol dan tertutup rumput sehingga tubuhnya terpelanting!

Lui Hong cepat menyambar tubuh gadis itu dan Sian Hwa merangkul pinggang pemuda itu dengan kedua tangannya agar tidak sarnpai jatuh.

Sejenak mereka diam dalam keadaan saling rangkul.

Keduanya seperti terpesona oleh keadaan mereka itu dan Sian Hwa menyandarkan mukanya ke dada Lui Hong.

"Hong-ko..."

Bisiknya.

"Hwa-moi..., kau... kau tidak apa-apa...?"

Tanya Lui Hong dan dia merangkul semakin kuat ketika mendengar isak tangis gadis itu.

Akhirnya keduanya rnenyadari akan keadaan mereka yang tidak wajar itu.

Sian Hwa Iebih dulu melepaskan rangkulannya dan ia berdiri agak mundur dua langkah dan mukanya menjadi merah padam.

Wajah Lui Hong juga merah sekali dan jantungnya berdebar penuh ketegangan yang amat membahagiakan.

Biarpun mereka tidak mengeluarkan kata-kata sedikitpun, namun keduanya merasa betapa hati mereka telah jatuh cinta!

"Nona...

eh, Hwa-moi...

aku tidak tega melihat engkau berjalan melalui jalan liar yang penuh semak belukar dan batu-batu ini."

"Bagaimana, Hong-ko? Memang jalannya buruk, tidak apa-apa, asal engkau menjaga agar aku jangan sampai jatuh."

"Hwa-moi, maafkan aku. Bukan maksudku hendak bersikap tidak sopan atau kurang ajar. Akan tetapi kalau engkau membiarkan aku memondongmu, tentu perjalanan akan lebih cepat, lancar dan engkau tidak perlu menderita lagi."

Wajah gadis itu menjadi semakin merah dan bibirnya tersenyum.

"Ih, jangan, Hong-ko. Aku malu, bagaimana kalau nanti dilihat orang? Biarlah aku berjalan kaki saja, kalau engkau memegangi tanganku, tentu aku tidak akan jatuh."

Lui Hong menggandeng tangan gadis itu.

Ketika tangan mereka saling genggam, rnereka merasakan telapak tangan mereka tergetar yang membuat jantung mereka berdebar.

Ketika rnereka berdua tiba di tempat di mana kereta Jaksa Li dihadang gerombolan perampok, ternyata gerombolan perampok sudah melarikan diri dan suami-isteri Bangsawan yang berada dalam kereta itu dijaga para pengawal yang mengepung kereta.

Melihat puteri mereka datang bersama pemuda penolong sambil berjalar bergandeng tangan, Li-Taijin (Pembesar Li) turun dari kereta dan menyambut kedatangan puteri mereka dengan alis berkerut.

Sian Hwa cepat melepaskan tangannya dan ia lari ke kereta, lalu ia berangkulan dengan Ibunya sambil menangis.

Dua orang wanita ini menangis karena bahagia melihat semua keluarga dalam keadaan selamat.

Jaksa Li tadi merasa tidak senang melihat puterinya bergandengan tangan dengan pemuda itu.

Akan tetapi karena maklum bahwa pemuda itu telah menolong mereka, bahkan lalu berkata.

"Tai-hiap, terima kasih atas pertolonganmu. Kalau Taihiap tidak keberatan, harap Taihiap suka rnenemani karni sampai ke Kotaraja karena kami khawatir kalau-kalau gerombolan itu akan datang menghadang dan mengganggu lagi."

Lui Hong yang sudah jatuh cinta kepada Li Sian Hwa, perasaan mesra yang belum pernah dia rasakan selama hidupnya, tentu saja merasa girang karena memang dia ingin sekali selalu berdekatan dengan gadis yang dia yakin juga menaruh hati kepadanya.

Maka dia lalu menyanggupi dan demiklanlah, Lui Hong ikut mengawal perjalanan Bangsawan Li dan anak isterinya sampal Kotaraja.

Karena Lui Hong memang berjasa besar, maka Jaksa Li setelah tiba di gedungnya di Kotaraja, mengundang Lu Hong memasuki kamar kerjanya.

Setelah mereka duduk berdua dalam kamar itu Jaksa Li berkata kepada pemuda itu.

"Lui-sicu (Orang Gagah Lui), kami sekeluarga mengucapkan banyak terima kasih atas bantuanmu. Kami telah tiba di rumah dengan selamat dan kalau engkau hendak melanjutkan perjalananmu, kami akan rnenghadiahkan seekor kuda kepada mu."

Akan tetapi Lui Hong tidak memperhatikan janji hadiah kuda ini. Dia melirik ke arah pintu tembusan ke dalam rumah lalu dia berkata.

"Terima kasih, Taijin. Saya akan meIanjutkan perjalanan, akan tetapi saya mohon dapat pamit lebih dulu kepada Li Hujin (Nyonya Li) dan Li-Siocia (Nona Li)."

Tentu saja yang amat dia inginkan adalah bertemu dan berpamit kepada L Sian Hwa! Pembesar itu mengerutkan alis dan menggelengkan kepalanya.

"Tidak perlu, Sicu. Biar aku yang nanti memberitahu kepada mereka. Tidak pantaslah kalau mereka, apalagi Li-Siocia, bertemu denganmu, akan mendatangkan kesan tidak patut kalau diketahui orang lain. Kami harap engkau dapat mengerti bahwa puteri kami tidak semestinya bergaul secara bebas dengan seorang pemuda. Tentu Sicu memaklumi hal ini. Dan selain seekor kuda yang sudah disediakan oleh seorang perajurit pengawal di luar gedung untukmu, terimalah bingkisan ini sebagai upah dan balas jasamu."

Muka Lui Hong rnenjadi kemerahan.

Dia merasa makin kecewa dan marah sekali mendengar ucapan pembesar itu.

Jelas pembesar itu melarang dia bertemu dengan Li Sian Hwa, walaupun kata-katanya halus namun tetap saja menyinggung perasaannya.

Apalagi mengharapkan berjodoh dengan Li Sian Hwa, baru bertemu saja dilarang Ayahnya yang pembesar tinggi!

"Terima kasih, Taijin, saga tidak rnengharapkan upah atau balas jasa!

Selamat tinggal!"

Dia lalu bergegas keluar dari dalam gedung tanpa mau menerima sekantung uang emas yang diberikan oleh Jaksa Li.

Setelah tiba diluar gedung, benar saja ada seorang prajurit memegangi kendali kuda dan menyambut nya.

"Taihiap, Li-Taijin mengutus saya untuk menyerahkan kuda ini kepadamu."

Kata perajurit itu yang merupakan seorang di antara para pengawal Jaksa Li dan sudah mengenal Lui Hong.

"Kembalikan saja kepadanya. Aku tidak membutuhkan kuda!"

Kata Lui Hong dan dia melanjutkan langkah meninggalkan gedung menuju ke pintu gerbang Kotaraja. Belum jauh dia pergi, seorang wanita setengah tua memanggilnya dari samping.

"Sstt... Lui Taihiap...!"

Lui Hong menoleh dan wanita setengah tua itu berdiri di balik sebatang pohon di tepi jalan. Pemuda itu merasa heran dan menghampiri.

"Taihiap, saya adalah pengasuh Li-Siocia dan ia mengutusku rnenyerahkan ini kepadamu."

Diambilnya sesuatu dari balik ikat pinggangnya dan Lui Hong menerima sebuah bungkusan kecil berwarna merah.

Setelah menyerahkan barang itu, si wanita lalu pergi dengan cepat seolah khawatir ketahuan orang.

Lui Hong membuka bungkusan kain merah itu.

Jantungnya berdebar tidak karuan ketika dia melihat bahwa isi kain itu adalah sebuah hiasan rambut berbentuk kupu-kupu dari emas dan ia teringat bahwa dahulu Sian Hwa mengenakan hiasan rambut itu.

Juga terdapat lipatan surat yang cepat dibacanya.

Lui Hong-ko.

Aku selamanya akan nenanti sampai engkau datang padaku.

LI Sian Hwa.

Bermacam perasaan teraduk dalam dada Lui Hong.

Perasaan bahagia karena pemberian hiasan rambut dan surat itu jelas membuktikan kasih sayang gadis itu kepadanya.

Juga terdapat perasaan sedih sekali mengingat akan sikap Jaksa Li yang jelas tidak membolehkan dia berdekatan dengan Sian Hwa!

Dengan hati mengandung kepedihan, Lui Hong lalu melanjutkan perjalanan, pulang ke Sung-Kian di mana dia terlibat dalam permusuhan antara Can-Kauwsu dan Song-Kauwsu sampai akhirnya dia ditunangkan dengan Can Pek Giok!

Tentu saja dia tidak berani rnenolak keinginan Ayahnya dan Can-Kauwsu!

Can Pek Giok adalah seorang gadis yang amat baik, cantik dan lihai sekali, cukup baik untuk menjadi seorang isteri.

Bahkan terlalu baik untuk dia!

Akan tetapi, bagaimanapun juga, tidak ada perasaan cinta kasih di antara mereka.

Dia mencinta Li Sian Hwa, dan agaknya tidak mungkin mencinta wanita lain.

Dan Sian Hwa juga mencintanya!

Sedangkan Pek Giok?

Sudah jelas, walaupun belum ada pengakuan, bahwa gadis itu saling mencinta dengan Song Han Bun!

Semua pengalamannya dengan Li Sian Hwa terbayang dalam ingatannya ketika Lui Hong merebahkan diri di atas pembaringan dalam kamarnya dengan hati gelisah.

Ayahnya mendengar dari Can-Kauwsu sendiri betapa Song-Kauwsu meminang Pek Giok untuk Han Bun, akan tetapi pinangan itu ditolak karena Pek Giok sudah ditunangkan dengan dia!

Hal inilah yang membuat dia kini merasa gelisah dan bingung.

"Tidak, aku harus menolak!"

Tiba-tiba Lui Hong bangkit duduk.

"Kalau aku menerirna, berarti aku dan Can Pek Giok akan hidup menderita. Mungkin hati Ayah-Ibu dan Can-Kauwsu berdua isterinya akan senang, akan tetapi kelak kalau melihat anak-anak mereka menderita, mereka pun akan ikut menderita. Bukan dua keluarga saja yang akan menderita, akan tetapi juga Li Sian Hwa dan Song Han Bun ikut menderita. Tidak, perjodohan ini harus kubatalkan!"

Dengan tekad bulat pemuda itu keluar dari kamarnya lalu menuju ke ruangan depan.

Kiranya Can-Kauwsu dan isterinya berada di ruangan depan, agaknya mereka datang berkunjung ke rumah keluarga Lui.

Lui Song dan isterinya menyambut kunjungan Gurunya itu dengan hormat dan kini mereka bercakap-cakap dengan Can-Kauwsu berdua.

Kunjungan Can-Kauwsu bersama isterinya itu membicarakan urusan mereka dengan Song-Kauwsu, terutama sekali tentang pinangan dari Song-Kauwsu.

Melihat bahwa Ayah-Ibunya duduk bersama Can-Kauwsu dan isterinya, Lui Hong merasa jantungnya berdebar keras, dan tubuhnya agak gemetar karena tegang.

Keberaniannya seketika kuncup dan keraguan memenuhi hatinya.

Bagaimana mungkin dia menyatakan keinginannya untuk membatalkan perjodohannya dengar Pek Giok di depan Ayah-Ibu gadis itu?

Akan tetapi karena dia sudah tiba ambang pintu ruangan itu dan sepasan tamu itu telah melihatnya, maka dia tidak dapat mundur lagi.

Dia melangkah masuk dan memberi hormat kepada Can-Kauwsu dan isterinya.

Melihat Lui Hong, Can-Kauwsu tampak gembira dan berkata dengan wajah berseri.

"Ah, kebetulan sekali engkau datang, Lui Hong. Kami berempat memang sedang membicarakan tentang dirimu!"

"Membicarakan tentang diri saya, Sukong? Bicara tentang apa?"

Tanya Lui Hong.

"Ihh, engkau ini bagaimana, Lui Hong?"

Tegur nyonya Can.

"Kenapa menyebut calon Ayah mertuamu dengan sebutan Sukong (Kakek Guru)? Biarpun dia memang Guru dari Ayahmu, akan tetapi engkau menjadi calon mantunya, maka engkau seharusnya menyebutnya Gakhu (Ayah Mertua)!"

"Biarlah."

Kata Can-Kauwsu.

"Mungkin dia masih malu karena belum biasa. Nanti kalau sudah dilaksanakan pernikahannya, tentu dengan sendirinya dia akan menyebut aku Gakhu. Lui Hong, ketahuilah bahwa tadi Ayah-Ibumu dan kami membicarakan tentang pernikahanmu dengan Pek Giok. Kami bermaksud untuk merayakan hari pernikahan itu secepatnya, dalam bulan ini juga."

Lui Hong terkejut sekali dan dia memandang kepada Ayah dan Ibunya. Mereka tersenyum dan mengangguk, membenarkan ucapan Can-Kauwsu.

"Mengapa... mengapa begitu tergesa-gesa...?"

Lui Hong bertanya sambil memandang Ayahnya.

Lui Siong tidak menjawab dan memandang wajah Can-Kauwsu, seolah memberi kesempatan kepada Gurunya itu untuk memberi penjelasan, dan menjawab pertanyaan Lui Hong.

Agaknya Can-Kauwsu maklum akan apa yang terkandung dalam pandang mata Lui Siong itu, maka dia lalu berkata kepada calon mantunya.

"Begini, Lui Hong. Sesungguhnya, mengingat bahwa usiamu baru sembilan belas tahun, dan Pek Giok baru tujuh belas tahun, kami berdua dan orang-tuamu juga tidak tergesa-gesa ingin segera di langsungkan pernikahan antara engkau dan Pek Giok. Akan tetapi terjadi hal yang tidak disangka-sangka. Setelah Pek Giok dan Song Han Bun selamat dari penculikan, Song-Kauwsu ingin mengubah permusuhan menjadi ikatan kekeluargaan dan dia mengusulkan, bahkan secara Iangsung meminang Pek Giok untuk di-jodohkan dengan Song Han Bun. Tentu saja kami menolaknya dan karena muncul urusan itu maka kami berpendapat agar perjodohan antara engkau dan Pek Giok segera dilangsungkan dengan pernikahan."

"Ah, usul Song-Kauwsu itu bagus sekali!"

Kata Lui Hong.

"Hong-ji (Anak Hong)!"

Lui Song membentak puteranya.

"Apa yang kau katakan ini? Can Pek Giok telah bertunangan denganmu, mana mungkin menerima pinangan orang lain?"

Lui Siong tentu saja merasa takut kepada Gurunya karena ucapan puteranya itu sungguh tidak pada tempatnya.

"Ayah, menurut pendapatku, pinangan Song-Kauwsu itu baik sekali karena hal itu kalau dilaksanakan, akan menghapus semua permusuhan lama berbalik menjadi ikatan keluarga. Tentang pertunangan dengan diriku, ikatan itu baru pertunangan, belum terlambat kalau dibatalkan dan menerima pinangan Song-Kauwsu itu."

"Orang muda, jaga mulutmu!"

Nyonya Can membentak dan wanita yang keras hati ini marah sekali.

"Ucapanmu itu berarti bahwa engkau menolak anakku. Kalau engkau tidak suka kepada Pek Giok, kenapa dulu engkau mau ketika di jodohkan dengannya? Dan sekarang engkau hendak membatalkan ikatan jodoh itu, apakah berarti engkau hendak menghina kami keluarga Can?"

"Lui Hong, anak keparat kau!"

Lui Siong membentak dengan marah sekali karena tentu saja dia merasa sangat tidak enak hati terhadap gurirnya.

"Anak durhaka! Lebih baik melihat engkau mati daripada melihat engkau menghina kami semua!"

Lui Song mencabut Siang-Kiam (sepasang pedang) dari punggungnya dan segera menyerang puteranya.

Melihat dirinya diserang Ayahnya sendiri, Lui Hong tidak mengelak, agaknya dia sudah pasrah dan siap mati di tangan Ayahnya!

"Tring-tranggg...!"

Bunga api berpijar dan sepasang pedang di tangan Lui Siong itu terpental karena di tangkis sepasang siang-pit yang digunakan Can-Kauwsu untuk menangkis serangan itu.

"Sabar dulu, Lui Siong!"

Kata Can-Kauwsu.

"Biarkan aku bicara dengan puteramu."

Setelah menyimpan siang-pit itu, Can-Kauwsu menghadapi Lui Hong dengan muka merah karena bagaimanapun juga dia merasa tersinggung dengan ucapan Lui Hong yang mengusulkan dibatalkannya ikatan jodohnya dengan Pek Giok dan menerima pinangan Song-Kauwsu.

"Lui Hong, coba jelaskan usulmu yang aneh itu! Benarkah engkau hendak mengandalkan kepandaianmu dan berani menghina kami dan orang-tuamu sendiri, ataukah engkau mempunyai alasan lain?"

Lui Hong menjura dengan hormat kepada Can-Kauwsu, lalu menjawab dengan suara yang tegas karena memang tadi dia sudah mengambil keputusan untuk berterus terang, demi kebahagiaan Can Pek Giok, Song Han Bun, Li Sian Hwa, dan dia sendiri.

"Sungguh sama sekali saya tidak berani dan tidak berniat untuk menyinggung hati apalagi menghina Sukong berdua dan Ayah-Ibu, akan tetapi saya merasa yakin bahwa kalau perjodohan ini dilanjutkan, akibatnya hanya akan mendatangkan kesengsaraan dan penderitaan batin. Saya yakin bahwa ikatan perjodohan Nona Can dengan saya terjadi karena keinginan hati orang-tua kedua plhak, akan tetapi sama sekali bukan kehendak kami. Tidak ada hubungan cinta kasih di antara kami walaupun saya amat menghormati dan mengagumi Nona Can. Saya yakin bahwa Nona Can mencinta pemuda lain dan kalau saya tidak salah, ia mencinta Song Han Bun. Adapun saya sendiri, terus terang saja perasaan cinta dalam hati saya telah dimiliki seorang gadis lain. Karena itulah maka saya melihat bahwa ikatan perjodohan antara Nona Can dan Song Han Bun baik sekali dan akan membahagiakan hati mereka berdua."

"Lui Hong, engkau anak durhaka, membikin malu orang-tua!"

Bentak Lui Song marah.

"Engkau membatalkan perjodohan? Sungguh penghinaan besar bagi kami!"

Kata nyonya Can dengan muka berubah marah.

Nyonya Lui Siong menangis sambil memandang wajah puteranya.

Wanita itu ikut merasa sedih dan malu, akan tetapi ia tidak berani mengeluarkan kata-kata, hanya dapat menangis karena ia merasa iba kepada puteranya yang duduk dengan muka pucat.

Melihat isterinya marah dan mulai menitikkan air mata pula, Can-Kauwsu menghela napas panjang.

Dia teringat akan perjodohannya dengan isterinya.

Dahulu, isterinya juga seorang gadis Bangsawan, puteri seorang pembesar di Kotaraja.

Orang-tua isterinya itu, Bun Taijin (Pembesar Bun) tidak rela kalau anaknya, Bun Cui Lian berjodoh dengan seorang pemuda biasa, bukan Bangsawan bukan hartawan.

Akan tetapi karena dia sudah saling mencinta dengan Bun Cui Lian, maka mereka berdua lalu melarikan diri dan menikah tanpa restu orang-tua Bun Cui Lian.

Maka, mendengar ucapan Lui Hong, dia dapat merasakan kebenarannya.

Dia pun teringat akan sikap puterinya terhadap Song Han Bun dan memang dia sudah menduga bahwa ada sesuatu dalam hubungan batin antara Pek Giok dan Han Bun.

"Sudahlah...!"

Can-Kauwsu berkata, lebih ditujukan kepada isterinya.

"Kalau memang bukan jodoh, siapa pun tidak dapat memaksanya. Sebaliknya kalau memang sudah jodohnya, apa pun halangannya akhirnya akan bersatu juga..."

Ucapan Gurunya ini seperti pedang menikam hati Lui Siong.

Dia merasa bersalah.

Dia merasa bahwa puteranya telah menghancurkan perasaan hati Can-Kauwsu dan isterinya, dan sebagai Ayah, dia merasa bertanggung jawab.

"Anak durhaka! Kalau engkau memutuskan ikatan perjodohan ini, pergilah dan jangan mengaku Ayah lagi kepadaku!!"

Telunjuk tangan kirinya menuding ke arah pintu.

Untuk membela Gurunya, Lui Siong mengusir putera yang menjadi anak tunggalnya!

Wajah Lui Hong menjadi pucat sekali dan sekali melompat dia berkelebat keluar dari pintu rumah dan pergi meninggalkan rumah tanpa membawa apa pun!

Hatinya hancur.

Dia telah diusir Ayahnya, tidak diakui sebagai anak!

Padahal dia amat menghormati dan mengasihi Ayah-Ibunya.

Kalau saja Ayahnya dan Ibunya membujuk dengan halus, tentu akhirnya dia mau berkorban, memenuhi kehendak orang-tuanya menikah dengan Pek Giok.

Akan tetapi dia diusir!

Dengan hati seperti disayat-sayat dan tubuh lunglai dia lari meninggalkan kota Sung-Kian!

Nyonya Lui Siong menangis tersedu-sedu melihat puteranya diusir dan melarikan diri.

Can-Kauwsu menghela napas panjang dan berkata kepada Lui Siong.

"Lui Siong, engkau terlalu dibakar nafsu amarahmu sehingga mengusir puteramu sendiri. Sebetulnya, apa yang dikemukakan Lui Hong itu patut dipertimbangkan. Kami sendiri agaknya tidak akan memaksa kalau seandainya Pek Giok tidak ingin berjodoh dengan Lui Hong dan mencinta pemuda lain."

Can-Kauwsu dan isterinya lalu berpamit dan pulang dengan hati merasa tidak enak sekali.

Tadi mereka datang dengan gembira, dengan harapan akan segera dapat melangsungkan pernikahan puteri mereka.

Tidak tahunya akibatnya sungguh amat menyedihkan!

Song Han Bun berlari pulang dengan hati remuk-redam.

Mimpinya yang muluk-muluk dan mesra ketika Pek Giok berada dalam pelukannya tadi, kini berubah menjadi mimpi yang menyerarnkan.

Pek Giok sudah bertunangan dengan pemuda lain!

Kenyataan ini merupakan setan menakutkan yang mengejar-ngejarnya kemana saja dia melarikan diri.

Dia tidak ingat lagi bagaimana dia dapat tiba di rumahnya dan terus dia membaringkan diri di dalam kamarnya.

Dia mendengar suara tangisan Ibunya yang menangisi jenazah Bwee Eng, mendengar pula kesIbukan-kesIbukan di ruangan depan ketika keluarganya menGurus empat jenazah Song Bwee Eng, Lee Kim Lun, Lee Kim Lian, dan juga jenazah Tok Liong Thaisu.

Akan tetapi dia tidak mau keluar, tidak mempedulikan semua itu, tenggelam ke dalam kesedihannya sendiri yang terasa amat menekan perasaan hatinya.

Enci Bwee Eng jauh lebih beruntung daripada aku, demikian pikirnya dengan kedua mata ditekankan pada bantal karena air matanya menetes keluar.

Setelah meninggal dunia, Encinya itu tidak perlu merasakan penderitaan yang hebat seperti ketika ia masih hidup dan terlanjur menjadi isteri seorang suami yang jahat dan keji seperti Lee Kim Lun.

Ah, kalau saja dia mati seperti Encinya, tentu dia pun tidak akan seberat ini menanggung duka!

Dia yakin bahwa dia dan Pek Giok saling menyayang, saling mencinta.

Akan tetapi, mereka tidak mungkin berjodoh karena Pek Giok telah bertunangan dengan Lui Hong, akan menjadi isteri pemuda itu!

Dia telah terlambat.

Dan semua ini dikarenakan adanya permusuhan antara Ayahnya dan Can-Kauwsu.

Dia kini menjadi korbannya.

Tiba-tiba dia terkejut sekali mendengar suara gerengan seperti gerengan seekor binatang buas.

Akan tetapi gerengan ini mengandung daya yang menggetarkan seluruh rumah keluarga Song.

Han Bun segera keluar dari kamarnya dan menuju ke ruangan depan karena suara gerengan dahsyat itu datangnya dari ruangan depan.

Setelah tiba di ruangan depan dimana, ditaruh empat buah peti mati berjajar, dia melihat Ayahnya, Song Swi Kai atau Song-Kauwsu (Gurut silat Song), berdiri memandang seorang Kakek yang berdiri di depan peti mati yang berisi jenazah Bu-Eng-Kwi Tok Liong Thaisu.

Han Bun berhenti di pintu dan memanadang Kakek ltu penuh perhatian dan dia terkejut bukan main.

Kakek itu berusia tua sekali, tentu hampir delapan puluh tahun usianya.

Tubuhnya tinggi kurus dan mukanya putih, hanya tengkorak terbungkus kulit, mengerikan.

Kepalanya yang botak tertutup sorban putih dan melihat hidungnya yang seperti hidung burung kakatua, kulitnya yang coklat kehitaman, mudah diduga bahwa dia tentu berBangsa Turki.

Pakaiannya seperti jubah Pendeta, dan yang mengerikan adalah sepasang matanya yang cekung akan tetapi mengeluarkan sinar mata mencorong seperti mata kucing dalam kegelapan.

Tangan kirinya memegang sebatang tongkat ular kobra.

Tiba-tiba Kakek itu menggerakkan tangan kirinya yang terbuka rnenampar kearah tutup peti mati Bu-Eng-Kwi Tok Liong Thaisu.

"Braakkk...!"

Tutup peti mati itu terbuka dan terlempar ke bawah sehingga tampak Jenazah Bu-Eng-Kwi Tok Liong Thaisu.

Kakek itu mendekatkan mukanya mengamati jenazah itu.

Melihat Ieher dan dada jenazah itu terbuka, tiba-tiba Kakek bermuka tengkorak itu menangis!

"Hu-hu-huuuh...

Bu-Eng-Kwi...

kenapa nasibmu begini?"

Kemudian dengan slkap beringas dia memandang kepada Song-Kauwsu.

"Orang she Song, engkau sudah berbaik hati menGurus jenazah murid keponakanku. Akan tetapi tetap saja engkau akan kubunuh kalau tidak cepat rnemberitahu kepadaku siapa yang telah membunuh Bu-Eng-Kwi!"

Dengan hati masih marah dan sakit karena lamarannya ditolak Can-Kauwsu, Song-Kauwsu menjawab.

"Siapa lagi yang membunuh mereka ini kalau bukan keluarga Can-Kauwsu?"

Baru saja mendengar ini, tubuh Kakek bermuka tengkorak putih itu berkelebat lenyap dari situ.

Diam-diam Song-Kauwsu terkejut bukan main karena dia maklum bahwa Kakek itu benar-benar rnemiliki kepandaian yang hebat sekali.

Diam-diam dia merasa khawatir.

Dia bukan orang yang memiliki watak kejam dan jahat.

Biarpun dia merasa sakit hati kepada Can-Kauwsu karena pinangannya ditolak, namun kini melihat kelihaian Kakek itu dan membayangkan betapa keluarga Can-Kauwsu akan terancam bahaya besar, dia menjadi gelisah sekali.

Ketika dia melihat puteranya berdiri di ambang pintu, Song-Kauwsu cepat berkata kepada Song Han Bun.

"Han Bun, cepat pergilah ke rumah Can-Kauwsu dan bantulah mereka yang terancam Kakek tadi!"

Tanpa diperintah dua kali, Han Bun sudah berkelebat lenyap dan mengejar Kakek itu.

Karena dia juga memiliki ilmu berlari cepat yang hebat, dan karena Kakek itu agaknya belum mengetahui di mana rumah Can-Kauwsu sehingga harus bertanya-tanya orang, tak lama kemudian Han Bun berhasil menyusulnya dan dia cepat menghadang Kakek itu.

"Lo-Cianpwe (Orang-tua Terhormat), harap berhenti dulu!"

Kata Han Bun. Kakek itu berdiri dan menatap tajam dengan sepasang matanya yang mencorong seperti berapi. Lalu dia bertanya dengan suaranya yang seperti mengandung gerengan.

"Heh, orang muda, engkau siapakah berani menghadang perjalananku?"

"Aku Song Han Bun, putera Song-Kauwsu yang baru saja kau kunjungi."

"Hemm, Song-Kauwsu telah berbaik hati merawat jenazah murid keponakanku dan memberitahu kepadaku siapa pembunuh Bu-Eng-Kwi. Maka dia tidak ku ganggu dan mau apa engkau datang menghadangku? Awas, bicara yang benar atau aku akan membunuhmu karena kelancanganmu ini!"

Melihat sikap dan mendengar kata-kata yang diucapkan Kakek itu, Han Bun mendapat kesan bahwa Kakek itu tentu seorang Datuk sesat yang biasa bertindak kejam.

"Lo-Cianpwe, aku hanya ingin memberitahu kepadamu bahwa engkau salah besar kalau marah dan hendak membalas dendam alas kematian murid keponakanmu Bu-Eng-Kwi kepada keluarga Can."

Si Muka Tengkorak itu melebarkan matanya yang sipit.

"Eh, bocah lancang kenapa kau berkata begitu? Mereka mernbunuh murid keponakanku, maka tentu saja aku marah dan akan membalas dendam kepada mereka!"

"Lo-Cianpwe, apakah engkau tidak mengenal murid keponakanmu yang bernama Bu-Eng-Kwi Tok Liong Thaisu itu? Dia itu membela murid-muridnya, Lee Kim Lun dan Lee Kim Lian yang jahat dan kejam. Bu-Eng-Kwi itu pun jahat dan amat kejam, maka kalau dia terbunuh, bukan kesalahan yang membunuhnya, melainkan dia mati karena ulah kejahatannya sendiri!"

"Blarrr...!"

Tongkat ular itu dipukulkan ke bawah, mengenai batu yang menjadi hancur lebur.

Beberapa orang yang kebetulan lewat di situ, terkejut dan cepat menjauhkan diri, agaknya ngeri melihat Kakek bermuka tengkorak itu.

"Bocah keparat! Kalau engkau berani mengatakan murid keponakanku itu jahat dan layak mati, maka apakah kau anggap aku, Paman Gurunya yang terkenal dengan sebutan Pek-Bin Giam-Lo (Raja Maut Muka Putih) ini juga jahat?"

"Hemm, hal itu tergantung dari sikap dan perbuatanmu sendiri, Pek-Bin Giam-Lo. Kalau engkau hendak membela Bu-Eng-Kwi yang jahat, maka tentu saja engkau juga tersesat. Kalau engkau berkeras hendak membalas kematian Bu-Eng-Kwi, tidak perlu engkau mencari jauh-jauh karena yang membunuhnya adalah aku sendiri!"

Sepasang mata itu mencorong seperti menyemburkan api, akan tetapi Han Bun yang tidak ingin berkelahi di dalam kota dan akan menggegerkan penduduk, cepat berkata.

"Kalau engkau hendak membalas dendam kepadaku, bukan di sini tempatnya, mari kita pergi ke luar kota, di tempat yang sepi!"

Tanpa menanti jawaban, Han Bun segera melompat dan mempergunakan ilmu berlari cepat keluar dari kota itu.

Dia memang sengaja hendak menguji sampai di mana kepandaian Kakek yang berjuluk Pek-Bin Giam-Lo itu, maka dia mengerahkan ilmunya berlari cepat keluar dari kota.

Kakek yang kini menjadi marah sekali segera melakukan pengejaran.

Biarpun Kakek itu dapat berlari cepat pula, namun dengan lega Han Bun melihat bahwa dalam hal ilmu berlari cepat, Kakek itu masih belum mampu menandinginya.

Setelah tiba di tempat sepi, jauh di luar kota Sung-Kian, Han Bun berhenti berlari dan dia melihat Kakek itu datang.

Ketika Pek-Bin Giam-Lo berhenti di depannya, dia melihat pernapasan Kakek itu agak memburu.

Hal ini juga menandakan bahwa daya tahan Kakek yang usianya sudah mendekati delapan puluh tahun ini tidak begitu kuat lagi.

"Hei, bocah she Song! Benarkah pengakuanmu tadi bahwa engkau yang membunuh Bu-Eng-Kwi?"

"Benar, juga dua orang muridnya. Aku yang membunuh mereka dan akulah yang bertanggung jawab!"

"Mampuslah!"

Kakek itu mengeluarkan bentakan nyaring dan tongkat ularnya menyambar dahsyat.

Han Bun yang sudah siap sejak tadi sudah mencabut pedangnya dan sengaja dia menggunakan pedangnya untuk menangkis.

Dia mengerahkan tenaganya dan menggunakan jurus pedang Hun-In Toan-San (Awan Melintang Memotong Gunung), dari ilmu pedang Bu-Tong Kiam-Hoat yang amat kuat dalam pertahanan, untuk menangkis tongkat ular itu.

"Cringg...!!"

Bunga api berpijar dan Han Bun merasa betapa tangannya yang memegang pedang tergetar hebat.

Tahulah dia bahwa biarpun dalam hal ginkang (ilmu meringankan tubuh) Kakek itu masih belum mampu menandinginya, namun ternyata dia memiliki sinkang (tenaga sakti) yang kuat sekali.

Dia harus berhati-hati kalau mengadu tenaga karena sinkang dari Pek-Bin Giam-Lo itu diperkuat dengan kekuatan sihir atau ilmu hitam.

Han Bun segera menggerakkan pedangnya memainkan Thian-Hong Kiam-Sut.

Ilmu pedang yang dia dapatkan dari Cin-Po Yan-Cu ini memiliki daya serang yang amat hebat, sedangkan untuk membela diri dia menggunakan ilmu pedang dari Bu-Tong-Pai yang kuat daya pertahanannya.

Pek-Bin Giam-Lo yang marah sekali dan amat bernafsu untuk membunuh Han Bun, merasa kecelik.

Tak disangkanya bahwa pemuda yang tampaknya masih remaja itu demikian lihainya.

Dengan semua pengalamannya yang amat banyak dia mengenal pula ilmu pedang Bu-Tong-Pai, akan tetapi dia tidak mengenal Thian-hong Kiam-Sut.

Kepandatannya yang tinggi dan ilmu silatnya yang bermacam-macam ternyata hanya mampu mengimbangi gerakan Han Bun yang cepat.

Pertandingan itu berlangsung seru bukan main dan diam-dilam Han Bun harus mengakui bahwa selama dia meninggalkan perguruan, baru sekarang, dia bertemu dengan seorang lawan yang benar-benar tangguh sekali.

Tidak mudah baginya untuk merobohkan Kakek itu, akan tetapi dia masih memiliki harapan besar.

Dilihatnya pernapasan Kakek itu makin terengah.

Dia merasa yakin bahwa akhirnya dia akan mampu merobohkan Kakek itu kalau lawannya yang tua itu sudah kehabisan napas dan tenaga.

Perhitungan Han Bun memang benar.

Setelah lewat seratus jurus, Pek-Bin Giam-Lo mulai kelelahan.

Kakek ini merasa penasaran sekali.

Kalau sejak tadi dia hanya mengandalkan ilmu silatnya saja, hal itu karena dia merasa yakin akan mampu merobohkan lawannya yang muda hanya dengan tenaga sakti dan ilmu tongkat ularnya.

Selama ini belum pernah dia dikalahkan lawan, apalagi lawan yang masih begini muda.

(Lanjut ke

Jilid 11) Antara Dendam & Asmara (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 11 Akan tetapi setelah seratus jurus, dia benar-benar terkejut dan penasaran karena tenaganya mulai berkurang saking lelahnya dan dia sama sekali belum mampu merobohkan lawannya.

Jangankan merobohkan, mendesak pun dia tidak mampu.

Keadaan mereka seimbang dan sebentar lagi dia akan kehabisan napas dan tenaga dan kalau sudah begitu, tentu dia yang akan roboh!

Mulailah Kakek ahli sihir ini mempersiapkan kepandaian sihirnya.

Dia mengerahkan kekuatan sihirnya dan mulutnya berkemak-kemik membaca mantera dalam bahasa asing.

Tiba-tiba dari dalam perutnya keluar gerengan seperti suara binatang buas.

Gerengan itu amat dahsyat dan menggetarkan.

Bahkar Han Bun yang memiliki tenaga sakti kuat, tetap saja tergetar dan jantungnya terguncang hebat karena dia menerima serangan langsung oleh getaran suara itu.

Cepat Han Bun mengerahkan sinkang untuk melindungi isi dadanya dan pada saat itu Pek-Bin Giam-Lo melemparkan tongkat ularnya ke atas dan...

tongkat itu berubah menjadi seekor ular yang besarnya sepaha manusia dewasa!

Dan ular itu terbang di udara, menyemburkan uap hitam tebal yang menyerang Han Bun.

Pemuda ini terkejut sekali, berusaha untuk menyerang ular itu dengan pedangnya.

Akan tetapi selain ular itu dapat bergerak cepat menghindarkan diri dari bacokan pedang, juga uap hitam itu membuat pandang mata menjadi gelap.

Ular itu seolah seekor naga yang bermain-main di antara awan hitam.

Han Bun merasa betapa kepalanya pening ketika napasnya memaksa dia menyedot uap hitam.

Bau yang amat keras menyengat hidung menyesakkan pernapasannya dan pada saat itu, terdengar suara Pek-Bin Giam-Lo membaca mantera lebih nyaring.

Ular terbang itu meluncur dengan moncongnya terbuka menyerang kepala Han Bun.

Pemuda yang sudah pening ini dan pandang matanya gelap masih dapat miringkan kepala untuk mengelak, akan tetapi pada saat itu, tangan Pek-Bin Giam-Lo menotok mengenai tengkuknya!

"Tukkk...!"

Tubuh Han Bun terpelanting.

Akan tetapi dia masih memegang pedangnya dan melihat Kakek itu mendekatinya, dia memutar pedang melindungi dirinya.

Dia merasa kepalanya nyeri bukan main, rasanya seperti ratusan jarum menusuk-nusuk isi kepalanya.

Dia melompat bangkit lalu melarikan diri secepatnya karena dia tidak dapat menahan lagi rasa nyeri dalam kepalanya.

Pek-Bin Giam-Lo terkekeh.

Dia tidak mengejar karena dia maklum bahwa dalam hal berlari cepat, dia kalah jauh, apalagi kini dia juga merasa lelah sekali.

Selain itu, dia yakin bahwa setelah menerima totokannya tadi, pemuda itu tidak mungkin dapat hidup lama.

Maka, setelah menyimpan kembali ilmu sihirnya dan memegang kembali tongkat ularnya, dia melangkah kembali ke kota Sung-Kian untuk mencari keluarga Can-Kauwsu.

Dengan berjalan santai, Pek-Bin Giam-Lo dapat memulihkan tenaganya yang terkuras ketika dia melawan Han Bun sampai seratus jurus tadi.

Kini dia bersikap hati-hati.

Ternyata terdapat orang muda yang amat lihai di Sung-Kian.

Tidak heran kalau Bu-Eng-Kwi, murid keponakannya yang dia tahu cukup lihai itu sampai tewas.

Dia harus berhati-hati.

Siapa tahu keluarga Can-Kauwsu juga memiliki orang yang lihai seperti pemuda she Song tadi.

Karena usia, maka tenaganya sudah banyak berkurang dan kini dia tidak lagi dapat mengandalkan ilmu silat dan daya tahan tubuhnya.

Dia lebih mengandalkan ilmu sihirnya.

Tadi pun kalau dia tidak memiliki ilmu sihir yang hebat, kiranya belum tentu dia mampu mengalahkan Song Han Bun.

Karena dia merasa bahwa dia harus beristirahat cukup lama, maka Pek-Bin Giam-Lo tidak mau langsung mencari keluarga Can-Kauwsu.

Dia menyewa sebuah kamar di rumah penginapan dan duduk bersila dalam kamarnya untuk memulihkan semua tenaganya sehingga segera kembali.

Dia tidak ingin menarik perhatian banyak orang di kota itu, maka dia mengambil keputusan untuk bergerak malam nanti.

Sore hari itu, Pek-Bin Giam-Lo memasuki rumah makan di bagian depan rumah penginapan itu dan dengan royal dia memesan masakan yang mewah dan mahal.

Para pelayan rumah makan sempat terheran-heran betapa satu orang memesan masakan yang pantasnya untuk makan lima orang!

Pek-Bin Giam-Lo makan dengan lahapnya dan minum banyak arak sampai habis lima guci besar arak.

Memang luar biasa sekali orang ini.

Baru cara dia minum arak sampai sebanyak itu saja sudah membuat banyak orang melongo, dan hebatnya, dia sama sekali tidak pernah tampak mabok.

Di antara para tamu yang makan di rumah makan itu, terdapat seorang Kakek berusia sekitar enam puluh lima tahun Kakek ini amat sederhana, pakaiannya serba putih dan rambutnya yang suda putih itu diikat dengan kain yang berwarna putih pula.

Dia hanya sekali memandang ke arah Pek-Bin Giam-Lo, lalu, dia makan nasi dan sayur sederhana tanpa daging, juga minumnya hanya air teh biasa.

Akan tetapi, walaupun pelayan rumah makan yang melayani tamu yang pesanan makanannya sederhana dan serba murah itu memperlihatkan sikap kurang hormat kepadanya, ketika selesai makan dan membayar harga makanan, Kakek berpakaian serba putih itu memberinya sekeping uang emas dan mengatakan bahwa kembalinya atau sisa uangnya di berikan sebagai hadiah melayani kepada si Pelayan.

Tentu saja pelayan itu melongo.

Belum pernah selamanya dia menerima hadiah yang demikian besarnya dari langganan kaya raya maupun Bangsawan sekalipun.

Bagaikan seekor ayam makan beras dia mengangguk-anggukkan kepalanya sambil mengucapkan terima kasih dan mengantar kepergian Kakek itu sampai ke pintu luar!

Kakek melangkah perlahan sambil tersenyum dan berbisik kepada diri sendiri.

"Manusia lebih menghormati emas daripada manusia lain."

Sementara itu, Pek-Bin Giam-Lo tanpa mempedulikan pandangan orang-orang yang berada di situ yang merasa heran melihat dia makan minum demikian gembulnya, menghabiskan makanan dan arak dalam cawan Terakhir, kemudian dia bangkit berdiri sambil mengusap minyak yang berlepotan di bibirnya dengan ujung lengan jubahnya yang lebar.

Seorang pelayan cepat menghampirinya dan memperlihatkan catatan harga makanan dan minuman yang dipesan dan yang sudah dihabiskannya itu.

Pek-Bin Giam-Lo membaca angka harga makanan itu lalu bertanya.

"Apakah aku harus membayarnya?"

"Tentu saja, semua makanan dan minuman harus dibayar, tidak ada yang diberikan dengan gratis!"

Kata pelayan itu dengan agak kasar karena pertanyaan Kakek itu dianggapnya aneh dan mengada-ada. Mana ada makanan dan minuman, apalagi sebanyak itu yang tidak harus dibayar? "Berapa aku harus hayar?"

Pelayan itu kembali menyodorkan catatannya. Pek-Bin Giam-Lo menggelengkan kepalanya.

"Aku tidak bisa baca. Katakan, berapa aku mesti bayar?"

Pelayan yang tadi telah menerima hadiah dari Kakek baju putih, tersenyum dan dia melihat kesempatan baik sekali untuk mendapatkan keuntungan, maka mendengar bahwa Kakek yang mukanya mengerikan seperti tengkorak itu tidak bisa membaca, dia cepat menjawab.

"Semua sepuluh tail perak."

Tentu saja yang ditulis oleh bagian keuangan pada nota itu hanya setengahnya! Pek-Bin Giam-Lo terkekeh dan tangan kirinya menyambar ke depan.

"Aduhh...!"

Pelayan itu berteriak karena segenggam rambutnya telah jebol dicabut oleh Kakek itu.

Akan tetapi dia tidak jadi marah karena Kakek itu telah menyodorkan beberapa potong uang perak yang berkilauan yang beratnya sekitar sepuluh tail!

Dia cepat menerima uang itu dan biarpun kepalanya masih berdenyut-denyut nyeri, mulutnya tersenyum.

Dia telah memperoleh "Rejeki"

Lagi sebanyak lima tail perak, walaupun sekali ini rejekinya merupakan hasil korupsi!

Akan tetapi setelah Pek-Bin Giam-Lo pergi jauh meninggalkan rumah makan itu dan Si Pelayan hendak menyetorkan uang sebanyak lima tail perak kepada bagian keuangan, dia menjerit sehingga semua orang terkejut.

Ketika mereka menghampiri, pelayan itu berdiri dengan muka pucat memandang kedua tangannya yang tengadah dan di kedua telapak tangannya itu tampak segumpal rambut!

Kiranya.

uang atau potongan perak yang diberikan Pek-Bin Giam-Lo kepada pelayan itu adalah rambut Si Pelayan itu sendiri yang tadi dicabut oleh Pek-Bin Giam-Lo.

Perak itu hanya merupakan hasil ilmu sihir Kakek itu!

Yang kebingungan dan menyesal adalah Si Pelayan karena kini dia bukan untung lima tail, bahkan harus mengeluarkan uang lima tail perak untuk membayar harga makanan dan minuman Kakek muka tengkorak!

Hadiah dari Kakek baju putih itu kini habis untuk membayar harga makanan itu!

Pada sore hari itu, Pek Giok berada di dalam kamarnya.

ia merasakan derita batin yang serupa dengan yang dirasakan Song Han Bun.

Kini ia merasakan benar bahwa ia sejak semula telah jatuh cinta kepada Han Bun.

Hanya perasaan cintanya itu agak terselubung oleh keadaan mereka berdua sebagai putera-puteri dua keluarga yang bermusuhan.

Ketika melihat kenyataan bahwa Han Bun adalah putera Song-Kauwsu yang menjadi musuh besar Ayahnya, maka tentu saja ia menjadi marah dan ia tidak merasakan adanya cinta itu dalam hatinya.

Akan tetapi nasib mempertemukan mereka sebagai tawanan Lee Kim Lun dan Lee Kim Lian yang dibantu Bu-Eng-Kwi Tok Liong Thai-Su.

Mereka berdua nyaris terhina dan terbunuh dan setelah mereka terbebas dari cengkeraman bahaya maut, berhasiI membunuh orang-orang jahat itu, ketika Han Bun merangkulnya, barulah ia melihat kenyataan bahwa sejak semula, dalam pertemuan pertama kali dengan pemuda itu, ia sudah jatuh cinta!

Dapat dibayangkan betapa hancur rasa hatinya ketika dalam keadaan baru terbebas dari bahaya maut, mendadak Song-Kauwsu mengajukan pinangan kepada Ayahnya, untuk menjodohkan ia dengan Han Bun!

Akan tetapi Ayahnya terpaksa menolak pinangan itu karena ia telah dipertunangkan dengan Lui Hong!

Tadinya, ketika ia ditunangkan dengan Lui Hong, ia pun sama sekali tidak mempunyai perasaan cinta kepada Lui Hong.

Akan tetapi ia juga merasa kagum dan suka kepada pemuda yang berkepandaian tinggi dan bersikap sopan dan halus itu, apalagi ia juga tidak tega menolak keinginan orang-tuanya.

Maka ia tidak menolak dan menerima ikatan perjodohan itu.

Pada waktu itu ia belum yakin akan perasaan cintanya kepada pemuda yang dijumpainya dan yang ternyata kemudian adalah Song Han Bun putera musuh besar Ayahnya.

Akan tetapi, kini cintanya kepada Han Bun telah berkembang, maka tenu saja ia merasa berduka sekali karena tidak mungkin ia berjodoh dengan pemuda itu.

Walaupun kini tidak ada lagi permusuhan antara Ayahnya dan Song-Kauwsu, bahkan Song-Kauwsu telah melamarnya untuk Han Bun, namun ia telah terikat tali perjodohan dengan Lui Hong.

Pukulan batin berikutnya ia terima ketika ia mendengar Ayah-Ibunya pulang dengan marah-marah dan menceritakan bahwa Lui Hong membatalkan ikatan perjodohan itu!

Pemuda yang ditunangkan dengannya itu membatalkan perjodohan dengan alasan bahwa dia telah mencinta seorang gadis lain!

Sebetulnya, berita ini sama sekali tidak mendatangkan rasa kecewa atau duka dalam hatinya, bahkan ia merasa lega terbebas dari ikatan yang sebenarnya tidak ia kehendaki itu.

Akan tetapi bagaimanapun juga, perbuatan Lui Hong yang membatalkan perjodohan itu merupakan penghinaan, seolah pemuda itu menolaknya!

Ayahnya marah-marah, juga Ibunya, dan mendengar bahwa Lui Siong mengusir puteranya itu sehingga Lui Hong minggat meninggalkan rumah, Pek Giok merasa terpukul dan berduka sekali.

ia tidak menangis, akan tetapi hati akal pikirannya menjadi keruh dan gelap.

"Ih, kenapa aku begini lemah?"

Demikian pikirnya dan tiba-tiba ia bangkit duduk.

"Aku akan temui Han Bun dan Lui Hong, akan kutanya mereka berdua itu dengan terus terang!"

Demikian ia mencela kelemahannya sendiri lalu ia pergi mandi.

Siraman air yang sejuk menyegarkannya, baik tubuh maupun pikirannya, dan ia sudah dapat mengatasi perasaannya dan wajahnya tampak cerah kembali.

Selagi ia berganti pakaian dan membereskan sanggul rambutnya, tiba-tiba terdengar Ayahnya berseru nyaring.

"Keparat jahanam! Siapa berani kurang ajar begini?"

Pek Giok cepat keluar dari dalam kamarnya dan ketika ia tiba di ruangan depan, ia melihat Ayahnya memegang sehelai kertas bersurat.

"Ayah, ada apakah?"

"Lihat dan bacalah ini!"

Kata Ayahnya dengan suara masih rnengandung kemarahan.

Pek Giok menerima surat itu dan membacanya.

lsi surat itu singkat saja, namun cukup membuat wajah gadis itu berubah merah karena marahnya.

Tulisan itu merupakan corat-coret huruf yang kasar dan jelek sekali, namun cukup jelas bunyi dan maksudnya.

"Keluarga Can, malam ini seluruh mahluk hidup dalam rumah kalian akan kubinasakan!"

Surat itu tidak di tandatangani dan isinya jelas merupakan ancaman dari pihak yang membenci mereka.

Padahal, selama ini yang bermusuhan dengan mereka adalah keluarga Song yang kemudian melibatkan Kakak-beradik she Lee dan Bu-Eng-Kwi Tok Liong Thaisu yang telah tewas.

"Jangan khawatir, Ayah. Ini tentu perbuatan kerabat kedua saudara Lee atau mendiang Bu-Eng-Kwi. Biar aku yang akan menghadapi mereka kalau malam nanti mereka berani muncul!"

"Engkau betul, atau ada kemungkinan juga Song-Kauwsu yang masih mendendam kepadaku."

"Tapi... bukankah permusuhan itu telah selesai, Ayah?"

"Benar, akan tetapi lupakah engkau bahwa aku telah menolak pinangannya? Hal ini tentu akan mendatangkan perasaan dendam sakit hati yang baru. Mungkin saja dia yang mengirim ancaman ini."

Pek Giok menggelengkan kepalanya dan mengerutkan alisnya.

"Tidak mungkin, Ayah. Andaikata benar begitu, sudah pasti Song Han Bun akan menentangnya. Pula, ancaman tertulis ini menggambarkan dendam kebencian yang mendalam sehingga dia mengancam akan membunuh semua yang hidup dalam rumah ini. Aku akan siap menyambut dia atau mereka yang berani datang ke sini!"

"Biar aku akan mengerahkan semua murid untuk berjaga-jaga. Sayang Lui Hong... ah, tak mungkin aku minta Lui Siong dan puteranya untuk membantu melakukan penjagaan. Biar Ma Ek yang mengaturnya."

Gu Ma Ek, murid yang sudah dianggap seperti anak angkat itu segera dipanggil.

Pemuda tinggi besar yang gagah itu pun cepat menghadap dan ketika surat itu diperlihatkan kepadanya, mukanya berubah merah dan dia mengepal tinju.

"Suhu, Teecu akan mengerahkan semua murid untuk mengepung dan kalau jahanam ini berani muncul kami akan meringkusnya atau membunuhnya!"

Kata Ma Ek.

"Tidak, jangan sembrono, Gu Suheng (Kakak Seperguruan Gu)."

Kata Pek Giok.

"Kukira yang akan datang adalah orang-orang yang lihai sekali. Kalau tidak, tentu mereka tidak akan berani datang dengan lebih dulu mengirim surat ancaman. Engkau dan para murid boleh saja berjaga sambil bersembunyi, akan tetapi jangan sekali-kali turun tangan. Aku sendiri yang akan menghadapi mereka."

"Pek Giok benar. Ma Ek, kerahkan saja saudara-saudaramu untuk berjaga-jaga sambil bersembunyi. Aku sendiri pun akan ikut berjaga, akan tetapi aku hanya akan menanti sampai ada tanda dari Pek Giok, baru akan turun tangan. Kita harus berhati-hati, jangan sampai jatuh banyak korban."

Demikianlah, setelah makan, pada malam hari itu semua anggauta perguruan Can-Kauwsu melakukan penjagaan sambil bersembunyi.

Can-Kauwsu dan Gu Ma Ek memimpin penjagaan ini, dan Can Pek Giok siap siaga dalam kamarnya, duduk bersamadhi di atas pembaringannya.

Malam itu bulan bersinar terang karena di langit tidak ada awan sedangkan bulan hampir penuh.

Hawa udaranya dingin sekali sehingga orang-orang yang tadinya bersenang-senang menikmati cuaca terang bulan yang indah, tidak dapat bertahan lama-lama di luar rumah dan lebih senang berada dalam kamar mereka yang hangat.

Sebelum tengah malam suasana sudah sepi sekali.

Di rumah Can-Kauwsu, tidak ada yang tertidur.

Sedikitnya tiga puluh orang murid yang ilmu silatnya sudah lumayan mengepung rumah itu berjaga-jaga sambil bersembunyi, dipimpin oleh Can-Kauwsu sendiri dan Gu Ma Ek.

Bahkan nyonya Can juga tidak tidur, melainkan duduk di kamar puterinya.

Pek Giok duduk bersila di atas pembaringan dan Ibunya rebah telentang di dekatnya.

Ibu ini merasa tidak aman kalau tidak dekat dengan puterinya.

Menjelang tengah malam, dalam suasana yang amat sunyi, tiba-tiba terdengar anjing menggonggong marah.

"Guk-huk-huk... kainggg...!"

Lalu sunyi kembali.

Semua orang mendengarnya, akan tetapi mereka tidak berani bergerak karena menaati larangan Pek Giok.

Sementara itu, Nyonya Can bangkit duduk dan ia memandang puterinya yang sudah membuka matanya.

"Itu suara si Putih."

Kata Nyonya Can.

"Ssstt..."

Pek Giok menaruh telunjuk di depan bibir sebagai tanda agar Ibunya diam.

ia mendengarkan dengan penuh perhatian.

Jantungnya berdebar karena ia menduga bahwa agaknya si Putih, anjing piaraan mereka yang tadinya menggonggong itu, menjerit dan terdiam.

Mungkin telah terbunuh!

Tiba-tiba terdengar suara banyak ayam berkeyok-keyok.

"Ayam-ayam kita...!"

Nyonya Can berbisik, wajahnya pucat. Keluarga itu memang memelihara banyak ayam, tidak kurang dari dua puluh ekor banyaknya, berada di kandang sebelah belakang rumah.

"Ibu jangan pergi dari kamar ini, aku akan memeriksa ke sana!"

Kata Pek Giok dan tubuhnya berkelebat lenyap, melalui jendela kamarnya dan langsung saja ia mempergunakan keringanan tubuhnya, seperti terbang lari ke belakang rumah melalui pintu belakang.

Setelah tiba di bagian belakang rumah ia masih mendengar suara teriakan kematian ayam terakhir, disusul suara ringkik kuda dari istal.

ia terkejut sekali dan cepat menghampiri istal yang berada dekat kandang ayam.

Sepasang mata gadis itu terbelalak melihat betapa dua puluh ekor ayam, seekor anjing, dan seekor kuda yang merupakan binatang peliharaan Ayahnya, telah tewas semua!

Bangkai mereka berserakan di depan kandang.

Di bawah sinar bulan, tampaknya semua binatang itu sama sekali tidak terluka, akan tetapi jelas bahwa mereka telah mati!

Gerakan lirih di belakangnya membuat Pek Giok cepat memutar tubuhnya dan ia melihat seorang Kakek tua renta, bertubuh kurus kering dengan muka putih hanya kulit membungkus tulang seperti tengkorak hidup, berdiri di depannya.

Sepasang mata Kakek itu mencorong mengerikan, pakaiannya jubah panjang, kepalanya bersorban dan tangan kanannya memegang sebatang tongkat ular kobra.

Pek Giok menahan kemarahannya karena ia ingin sekali mengetahui siapa adanya Kakek ini dan mengapa dia begitu kejam membunuhi semua binatang peliharaan keluarganya dan mengapa pula Kakek itu demikian mendendam kepada keluarga Can.

"Orang-tua, siapakah engkau? Engkaukah yang memburuhi semua peIiharaan kami ini? Apa maksudmu dengan perbuatanmu yang keji ini?"

Pek-Bin Giam-Lo, Kakek itu, mengeluarkan suara gerengan perlahan dari kerongkongannya, lalu dia menyeringat dan terdengar suaranya yang parau dengan logat yang asing.

"Aku datang untuk membasmi keluarga Can! Apakah engkau keluarga Can dan tinggal di rumah ini? Kalau benar demikian, engkau akan menjadi orang pertama yang kubinasakan!"

"Nanti dulu. Jawab dulu siapa engkau dan mengapa engkau mendendam kepada keluarga Can!"

Tanya Pek Giok dengan berani.

"Heh-heh, keluarga Can telah membunuh murid keponakanku Bu-Eng-Kwi Tok Liong Thaisu dan dua orang muridnya she Lee. Aku, Pek-Bin Giam-Lo tidak dapat membiarkan mereka mati tanpa membalas dendam! Karena itu, seluruh mahluk hidup yang tinggal dengan keluarga Can harus mati malam ini juga!"

"Hemm, membunuhi mereka yang tidak bersalah, binatang-binatang yang tidak berdaya dan orang-orang lemah, hanya patut dilakukan seorang pengecut! Kalau engkau hendak membalas dendam atas kematian Bu-Eng-Kwi Tok Liong Thaisu, Lee Kim Lun dan Lee Kim Lian, mestinya engkau mencari orang yang membunuh mereka karena hanya ia yang bertanggung jawab. Apakah engkau belum tahu bahwa pembunuh tiga orang manusia hina dina dan busuk itu adalah puteri keluarga Can? Kepadanyalah seharusnya engkau berhadapan kalau hendak membalas dendam!"

Pek-Bin Giam-Lo sudah marah sekali.

"Bocah perempuan lancang dan bosan hidup! Katakan siapa puteri keluarga Can agar aku Iangsung membunuhnya! Kalau engkau tidak mau mengaku, aku akan menyiksamu lebih dulu sebelum membunuhnya!"

"Singgg...!"

Tampak sinar kehijauan berkelebat ketika gadis itu mencabut Cheng-Liong-Kiam dari punggungnya. ia menudingkan pedangnya ke arah muka Kakek itu sambil berkata dengan garang.

"Pek-Bin Giam-Lo! Akulah Can Pek Giok, puteri keluarga Can, Engkau datang ingin menyusul tiga orang jahanam busuk itu ke neraka? Majulah, pedangku akan mengantar nyawamu kepada mereka!"

"Mampuslah kaul"

Pek-Bin Giam-Lo membentak lalu dia mengeluarkan suara gerengan yang amat dahsyat.

Suara itu menggetarkan sekeliling tempat itu dan Pek Giok yang Iangsung menerima serangan suara itu cepat mengerahkan tenaga dalam untuk melindungi isi dadanya yang terguncang hebat.

ia pun tidak membuang waktu lagi, tubuhnya berkelebat ke depan dan pedangnya menjadi segulung sinar hijau yang menyambar-nyambar ke arah muka dan dada Kakek itu.

"Trang-trang-cringgg...!"

Tiga kali Kakek itu menangkis pedang yang menyerangnya bertubi-tubi itu.

Pertemuan senjata pedang dan tongkat ular itu membuat tangan Pek Giok tergetar, akan tetapi juga Kakek itu mengeluarkan seruan heran karena dia pun merasa betapa kuatnya tenaga sakti dari gadis remaja itu!

ia pun segera membalas dan menyerang dengan dahsyat.

Akan tetapi segera Kakek itu mendapat kenyataan bahwa untuk kedua kalinya dia bertemu lawan yang amat lihai.

Pertama ketika dia melawan putera keluarga Song itu.

Walaupun akhirnya dia mampu melukai pemuda itu namun dia harus mengerahkan seluruh tenaga dan kekuatan sihirnya.

Kini, kembali dia bertemu lawan amat tangguh, padahal lawannya seorang gadis remaja!

Tentu dia merasa penasaran sekali.

Setelah lewat lima puluh jurus dan dia belum juga mampu mendesak Pek Giok, Pek-Bin Giam-Lo tidak mau mengalami kehabisan tenaga untuk kedua kalinya seperti ketika dia melawan Song Han Bun.

Diam-diam dia mengerahkan tenaga sihirnya, mulutnya berkemak menbaca mantera dengan bahasa asing, lalu dia menggerakkan tangan kirinya ke arah bangkai-bangkai ayam, anjing dan kuda yang berserakan di situ dan...

satu demi satu bangkai-bangkai binatang itu bangkit, bergerak dan menerjang kepada Pek Giok.

Bukan main kagetnya hati Pek Giok melihat hal ini.

Kaget dan juga merasa ngeri.

Bagaimana mungkin bangkai-bangkai itu kini menyerangnya?

Kuda itu meringkik dan menerjangnya, anjing putih itu pun menyalak-nyalak dan hendak menggigitnya, sedangkan dua puluh ekor ayam itu dengan suara hiruk-pikuk juga menyerangnya.!

Pek Giok menggunakan tangan dan kakinya untuk menendang dan menampar.

Bagaimana juga, binatang-binatang itu dahulu menjadi kesayangannya maka ia tidak tega untuk membacok mereka dengan pedang.

Akan tetapi, selagi ia sIbuk menghadapi pengeroyokan bangkai-bangkai itu, Pek-Bin Giam-Lo juga menyerangnya dengan tongkat ularnya yang amat dahsyat itu.

Sekali ini Pek Giok benar-benar sIbuk dan terdesak hebat.

ia membela diri mati-matian, akan tetapi tetap saja ia merasa kewalahan, apalagi dari lawannya ada daya yang amat kuat, yang membuat jantungnya tergetar.

Mendadak terdengar bentakan Can-Kauwsu yang muncul bersama Gu Ma Ek dan puluhan orang murid perguruan itu.

Melihat betapa Pek Giok terdesak, Can-Kauwsu tentu saja tidak dapat berdiam diri.

Dia lalu memberi aba-aba dan segera maju mengepung Kakek itu, membantu Pek Giok.

"Ayah, jangan maju...!"

Pek Giok memperingatkan karena tahu betapa lihainya Kakek muka tengkorak itu.

Benar saja, begitu melihat banyak orang maju, Kakek itu mengeluarkan suara tawa melengking dan banyak murid roboh terserang suara tawa yang pengaruhnya menghunjam jantung.

Bahkan kini bangkai-bangkai ayam itu mengamuk menerjang para murid yang menjadi semakin kalang-kabut.

Murid-murid merasa ngeri dan terpaksa Can-Kauwsu memerintahkan mereka mundur.

Dia sendiri bersama Ma Ek lalu maju membantu Pek Giok, akan tetapi keduanya sIbuk menghadapi mayat-mayat binatang itu.

Tiba-tiba Pek-Bin Giam-Lo mengeluarkan suara gerengan dan tampak uap hitam mengepul tebal.

Pek Giok semakin panik, apalagi melihat Ayahnya dan Ma Ek ber turut-turut terpelanting roboh.

Dalam keadaan gugup dan lengah ini, tongkat ular di tangan Pek-Bin Giam-Lo menyambar...

"Dess...!"

Pinggang gadis itu terkena hantaman tongkat.

Biarpun Pek Giok sudah mengerahkan tenaga dalam untuk memperkuat dan melindungi bagian tubuh yang terpukul, namun tetap saja ia ter-pelanting roboh.

Pada saat itu terdengar seruan lembut.

"Siancai, siancai!"

Aneh sekali, begitu terdengar suara itu, semua bangkai itu rebah kembali, mati seperti tadi dan uap hitam pun membuyar dan lenyap.

Pek-Bin Giam-Lo terkejut dan melihat bahwa dia berhadapan dengan seorang Kakek yang usianya sekitar enam puluh lima tahun, bertubuh sedang, sikapnya sederhana dan biasa, pakaiannya serba putih, rambutnya yang sudah putih itu pun diikat dengan kain putih.

Kakek itu memegang sebatang tongkat bambu kuning dan dia memandang Pek-Bin Giam-Lo dengan mulut tersenyum namun sinar matanya mencorong penuh teguran.

"Siancai (Damai)...! Sepatutnya, yang banyak hartanya menolong mereka yang miskin, yang banyak tenaganya menolong mereka yang lemah, yang banyak kepintarannya menolong mereka yang bodoh. Akan tetapi engkau ini menggunakan kelebihan kepandaianmu bukan untuk menolong orang lain, melainkan untuk mencelakakan, sungguh tidak pantas dilakukan seorang-tua sepertimu, sobat!"

Pek-Bin Giam-Lo bukan orang bodoh.

Melihat betapa sihirnya telah dapat dIbuyarkan orang berpakaian putih ini, dia pun maklum bahwa dia berhadapan dengan orang pandai.

Maka dia lalu berkata dengan nada angkuh.

"Siapakah engkau, berani mencampuri urusanku? Hayo katakan siapa namamu. Aku, Pek-Bin Giam-Lo tidak suka membunuh orang yang tidak mempunyai nama!"

Kakek baju putih itu tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Ah, kiranya engkau yang berjuluk Pek-Bin Giam-Lo? Engkau datang jauh dari barat ke sini hanya untuk menyebar kejahatan? Engkau ingin mengetahui namaku sebelum kau bunuh? Nah, namaku tidak ada, akan tetapi orang menyebutku Song-Bun Lo-Jin (Orang-tua Berkabung)."

"Bagus, engkau selalu berkabung, sekarang engkau akan berkabung untuk dirimu sendiri karena engkau akan mati di tanganku!"

"Pek-Bin Giam-Lo, aku berkabung bukan untuk manusia mati. Manusia mati tidak perlu disesalkan, tidak perlu berkabung. Aku berkabung bukan untuk manusia mati, melainkan melihat betapa banyaknya jiwa-jiwa yang mati, seperti jiwamu itu, Pek-Bin Giam-Lo."

Pek-Bin Giam-Lo menjadi marah sekali.

"Manusia sombong, mampuslah kau!"

Setelah berkata demikian, mulutnya berkemak-kemik dan dia melontarkan tongkat ularnya ke atas.

Tongkat itu berubah menjadi ular besar yang melayang-layang dan hendak menyambar ke arah Kakek yang bernama Song-Bun Lo-Jin...

"Siancai...!"

Song-Bun Lo-Jin berkata lembut dan dia pun melemparkan tongkat bambu kuningnya ke atas.

Tongkat itu berubah menjadi seekor burung bangau besar yang terbang menyambut ular itu dan berkelahilah dua ekor binatang itu di udara.

Akan tetapi akhirnya burung itu mematuk tubuh ular sehingga tubuh ular itu terpotong menjadi dua.

Setelah tiba di atas tanah, ular itu kembali menjadi tongkat ular yang telah patah menjadi dua potong!

Burung bangau itu pun kembali ke tangan Song-Bun Lo-Jin dan berubah menjadi tongkat bambu kuning.

Pek-Bin Giam-Lo menjadi penasarar sekali.

Melihat tongkat ularnya patah menjadi dua, dia lalu merangkapkan kedua tangan di depan dahinya, mulutnya berkemak-kemik membaca doa, kemudian dia membuka kedua lenganriya, mendorongkan kedua telapak tangannya ke alas dan...

api berkobar-kobar menyerbu ke arah Song-Bun Lo-Jin!

Kakek baju putih ini dengan tenang lalu mengangkat kedua tangannya ke atas dan tiba-tiba dari atas turun air seperti hujan deras yang menyiram api berkobar itu sehingga sebentar saja menjadi padam!

Kembali Pek-Bin Giam-Lo terkejut.

Dia belum pernah mendengar nama Song-Bun Lo-Jin walaupun agaknya Kakek baju putih itu sudah mengenal nama julukannya.

Hal ini tidaklah aneh karena memang Pek-Bin Giam-Lo lebih banyak berada di barat sehingga dia tidak begitu kenal dengan nama tokoh-tokoh di dunia persilatan.

Dia merasa penasaran sekali.

Kalau ada tokoh atau Datuk dunia kang-ouw yang mampu menandingi ilmu silatnya, hal itu tidak aneh baginya karena Tionggoan (Cina) merupakan gudangnya, para ahli silat tingkat tinggi.

Akan tetapi, kalau ada yang mampu menandingi ilmu sihirnya, hal ini membuat dia merasa penasaran sekali!

Dia sendiri adalah seorang yang pernah belajar yoga dan ilmu sihir di India selama belasan tahun.

Maka, begitu tongkatnya patah dan beberapa ilmu sihirnya dapat dikalahkan, tiba-tiba Pek-Bin Giam-Lo duduk bersila di atas tanah!

Song-Bun Lo-Jin berdiri memandang saja, tidak bergerak, padahal kalau dia mau menyerang selagi Kakek muka tengkorak itu duduk bersila, tentu dia akan dapat merobohkannya.

Agaknya Kakek baju putih itu tidak mau bertindak curang dan menghargai tata-susila dalam dunia persilatan, yaitu tidak mau menyerang orang yang tidak siap melawan.

Tiba-tiba tubuh Pek-Bin Giam-Lo yang duduk bersila itu terangkat naik seperti melayang setinggi satu tombak dari tanah!

Ketika Song-Bun Lo-Jin yang ternyata adalah Kakek yang tadi makan di rumah makan dan memberi hadiah kepada pelayan rumah makan, tiba di situ dan menyelamatkan Pek Giok lalu melawan Pek-Bin Giam-Lo, Pek Giok mampu bangkit duduk.

Gadis ini lalu duduk bersila dan menyalurkan sinkang karena ia merasa bahwa ia menderita luka dalam yang cukup parah.

Sementara itu, Can-Kauwsu memberi isarat kepada para muridnya agar tidak bergerak mencampuri pertandingan antara Kakek baju putih dan Kakek muka tengkorak.

Mereka semua menonton dengan mata terbelalak dan mulut ternganga, menyaksikan adu kesaktian yang amat hebat dan aneh itu.

Ketika Can-Kauwsu menghamplri puterinya, Pek Giok memberi isarat tanpa kata kepada Ayahnya agar jangan mengganggunya.

Guru silat Can itu maklum bahwa puterinya terluka dan sedang mengerahkan sinkang untuk mengobati diri sendiri, maka dia pun tidak berani mengganggu, hanya menjaga puterinya sambil menonton pertandingan antara dua orang Kakek sakti itu.

Pertandingan itu memang aneh dan dahsyat, terutama dalam penglihatan Can-Kauwsu dan semua muridnya.

Melihat Pek-Bin Giam-Lo tadi menghidupkan bangkai-bangkai binatang yang dapat menyerang mereka saja sudah mengerikan, kini ruenyaksikan pertandingan selanjutnya membuat mereka merasa diri mereka kecil tak berdaya.

Semua ilmu silat yang mereka pelajari itu agaknya menjadi alat bela diri yang tidak ada artinya jika menghadapi serangan ilmu sihir yang menngerikan itu.

Bahkan Can Pek Giok, yang mereka tahu memiliki kepandaian ilmu silat tinggi, memiIiki tenaga dalam dan tenaga sakti yang amat kuat, akhirnya kalah juga menghadapi ilmu sihir yang aneh dari Pek-Bin Giam-Lo.

Tiba-tiba dari sorban di kepala Pek-Bin Giam-Lo tampak uap putih mengepul dan lama-lama uap itu mempunyai bentuk dan menjadi seekor naga merah!

Naga itu melayang di udara, matanya mengeluarkan kilat dan mulutnya mengeluarkan api bernyala-nyala!

Akan tetapi Song-Bun Lo-Jin yang berdiri diam melipat kedua lengannya depan dada dan tiba-tiba dari ubun-ubun kepalanya keluar uap putih yang berubah menjadi seekor naga putih!

Dua ekor naga jadi-jadian itu segera saling terjang di udara, ditonton oleh semua orang yang terkejut dan merasa ngeri.

Dengan muka pucat mereka menonton perkelahian antara dua ekor naga itu dengan mata terbelalak dan mulut ternganga!

Tak lama kemudian tampaklah betapa naga merah terdesak mundur oleh naga putih dan melihat ini, saking girangnya para murid Can-Kauwsu bersorak.

Agaknya naga merah yang sudah terdesak itu kaget mendengar sorakan atau memang semangat Pek-Bin Giam-Lo mengendur karena dia kalah kuat.

Naga merah itu melayang ke arah sorban Pek-Bin Giam-Lo dan menghilang.

Song-Bun Lo-Jin juga menarik kembali naga putih dan siap menghadapi serangan lawan selanjutnya.

Kini tubuh Pek-Bin Giam-Lo juga sudah turun dan dia berdiri berhadapan dengan Song-Bun Lo-Jin.

Kedua matanya mencorong penuh kemarahan.

Kemudian dia merendahkan tubuhnya dengan sedikit menekuk kedua Iututnya, mengeluarkan gerengan dahsyat dan mendorongkan kedua tangan terbuka ke arah Song-Bun Lo-Jin.

"Auurrggghhhhh...!!"

Bukan main dahsyatnya serangan ini karena tenaga dalam yang dikerahkan Pek-Bin Giam-Lo diperkuat tenaga sakti dari ilmu sihirnya.

Hawa pukulan yang amat dahsyat menyambar ke arah Song-Bun Lo-Jin.

Akan tetapi Kakek baju putih ini pun tidak tinggal diam.

Begitu lawannya menyerang, dia pun segera mendorongkan kedua tangannya menyambut serangan itu.

"Blaaarrrr...!!"

Dua kekuatan raksasa bertemu, menggetarkan sekeliling tempat Itu.

Semua murid Can-Kauwsu tergetar hebat, bahkan ada yang terpelanting roboh.

Untung mereka itu tidak terluka.

Ketika semua mata memandang, tubuh Pek-Bin Giam-Lo terjengkang lalu roboh bergulingan sampai beberapa tombak jauhnya.

Dia lalu melompat mengeluarkan gerengan hebat dan tubuhnya tiba-tiba lenyap!

Semua orang mencari-cari dengan pandang mata mereka, tidak melihat bayangan Kakek muka tengkorak itu.

Akan tetapi mereka melihat betapa kini Song-Bun Lo-Jin bersilat seorang diri seolah melawan setan!

Baru mereka menduga bahwa agaknya Pek-Bin Giam-Lo menggunakan ilmunya menghilang dari penglihatan mereka, menyerang Song-Bun Lo-Jin.

Akan tetapi Song-Bun Lo-Jin dapat melihat lawan yang menggunakan ilmu "menghilang"

Itu, maka terjadilah perkelahian yang aneh karena bagi orang lain, seolah-olah Kakek baju putih itu berkelahi melawan angin! "Siancai...!"

Song-Bun Lo-Jin berseru dan tongkat bambu kuning di tangannya menyambar.

Segera terdengar teriakan mengaduh, lalu Song-Bun Lo-Jin berhenti bergerak, hanya memandang ke depan seolah mengikuti larinya lawan dengan pandang matanya.

Biarpun mereka tidak dapat melihat pertandingan itu, namun semua orang dapat Menduga bahwa Kakek baju putih ini sudah berhasil mengalahkan Kakek muka tengkorak dan Kakek jahat itu agaknya sudah melarikan diri, maka semua orang merasa lega.

Pek Giok bangkit dan menghampiri Song-Bun Lo-Jin dengan Iangkah agak terhuyung.

ia lalu menjatuhkan diri berIutut di depan kaki orang-tua Itu.

"Lo-Cianpwe, saya menghaturkan terima kasih bahwa Lo-Cianpwe telah menyelamatkan kami seluruh keluarga Can dari bahaya maut."

"Siancai..., anak baik, kulihat tali ilmu silatmu cukup dan aku mengenal ilmu silat aliran Kun-Lun-Pai tingkat tinggi. Siapakah Gurumu?"

"Saya dllatih oleh tiga orang Suhu Kun-Lun Sam-Sian, Lo-Cianpwe."

"Ahh, pantas sekali ilmu silatmu tadi amat hebat. Engkau mampu menandingi Pek-Bin Giam-Lo dalam ilmu silat, hanya ilmu sihirnya yang mengalahkanmu. Engkau terluka cukup parah, akan tetapi kalau engkau suka ikut denganku, mungkin aku akan dapat menyembuhkanmu."

Pada saat itu, Can-Kauwsu juga sudah berada di situ dan Guru silat itu menjura dengan hormat kepada Song-Bun Lo-Jin.

"Lo-Cianpwe, kami seluruh keluarga, menghaturkan terima kasih kepadamu."

Lalu Can-Kauwsu memandang puterinya dan berkata.

"Pek Giok, engkau agaknya terluka, mari masuk dan biar malam ini juga kupanggilkan Tabib."

"Can-Kauwsu, tidak ada tabib dan obat yang dapat menyembuhkan luka yang diderita putrimu. Luka dalam akibat pukulan Pek-Bin Giam-Lo amatlah berbahaya karena mengandung racun akibat ilmu hitamnya yang keji."

"Ah, kalau begitu... bagaimana baik-ya...?"

Can-Kauwsu berkata gelisah.

"Ayah, aku ingin ikut Lo-Cianpwe Song-Bun Lo-Jin untuk berobat."

Pada saat itu, nyonya Can keluar dari dalam rumah setelah mendengar laporan murid suaminya bahwa penjahat yang membunuhi semua binatang peliharaan keluarga itu telah berhasil diusir dan bahwa semua selamat kecuali puterinya yang menderita luka.

"Pek Giok...!"

Nyonya itu berlari menghampiri dan merangkul puterinya.

"Katanya engkau... terluka...?"

"Benar, Ibu. Luka dalam yang parah akan tetapi aku akan ikut berobat kepada Lo-Cianpwe ini karena hanya dia yang akan mampu menyembuhkanku."

Ibunya terkejut dan menoleh, memandang kepada Kakek baju putih itu.

"Siapakah Lo-Cianpwe ini...?"

Tanyanya ragu. Suaminya yang menjawab.

"Lo-Cianpwe ini adalah Song-Bun Lo-Jin dan dia yang telah menyelamatkan kita sekeluarga dan mengusir penjahat. Kita harus merelakan Pek Giok pergi bersamanya karena hanya dialah yang akan mampu mengobatinya sampai sembuh."

Karena Song-Bun Lo-Jin berkeras bahwa dia akan melanjutkan perjalanan malam itu juga, maka dia memberi kesempatan kepada Pek Giok untuk berkemas membawa bekal pakaian dan lain-lain.

Sementara itu dia tidak menolak ketika Can-Kauwsu mempersilakan dia duduk menanti dalam rumah dan menerima suguhan minuman teh.

Dalam kesempatan ini Can-Kauwsu ingin mengenal lebih dekat orang sakti yang telah menyelamatkan keluarganya itu.

Akan tetapi Song-Bun Lo-Jin agaknya tidak mau bercerita banyak tentang dirinya.

Dia hanya mengaku bahwa dia seorang yang hidup sebatang kara dan seorang pengembara yang tidak mempunyai tempat tertentu.

Seperti orang berkelakar dia berkata.

"Can-Kauwsu, keluarga yang sedarah aku tidak punya, akan tetapi seluruh manusia di dunia ini adalah saudara bagiku. Tempat tinggal berbentuk rumah aku tidak punya, akan tetapi dunia ini adalah tempat tinggalku, langit itu atapku, dan tanah ini lantaiku."

Mendengar ucapan ini, tentu saja hati nyonya Can sebagai seorang Ibu menjadi khawatir.

"Maaf, Lo-Cianpwe, kalau engkau tidak mempunyai tempat tinggal, lalu di mana anakku Pek Giok akan tinggal kalau ia ikut denganmu?"

"Harap engkau tidak khawatir, nyonya Can. Di mana aku berada, di situlah tempat tinggalku. Anakmu adalah murid yang sudah menerima gemblengan Kun-Lun Sam-Sian, maka ia tentu akan dapat maklum dan mengerti, juga dapat menerima keadaan kami berdua kelak."

Pek Giok muncul dari dalam, menggendong buntalan pakaiannya.

"Lo-Cianpwe berkata benar, Ibu. Jangan khawatir tentang diriku. Dengan mengikuti Lo-Cianpwe Song-Bun Lo-Jin, selain lukaku akan sembuh, juga akan mendapat tambahan pelajaran dan pengalaman. Ibu, setelah segala hal yang terjadi mengenai diriku, aku memang sudah mempunyai pikiran untuk merantau dan menghilangkan segala ingatan tentang semua peristiwa yang tidak menyenangkan."

Ayah dan Ibunya maklum.

Memang, puterinya tentu saja menderita tekanan batin yang berat setelah terjadinya peristiwa pembatalan perjodohan yang dilakukan Lui Hong, juga mereka dapat menduga bahwa ada hubungan batin antara puterinya dan Song Han Bun, akan tetapi terpaksa mereka menolak pinangan putera Song-Kauwsu itu karena Pek Giok sudah bertunangan dengan Lui Hong.

Puterinya gagal berjodoh dengan Song Han Bun, juga gagal berjodoh dengan Lui Hong!

Maka, Can-Kauwsu dan isterinya merelakan puterinya pergi ikut Kakek sakti itu, untuk berobat dan juga untuk menghIbur hatinya yang dilanda kemelut.

Song Han Bun berlari secepatnya sambil memegangi kepala dengan kedua tangannya.

Kepalanya terasa pening sekali, bahkan nyeri seperti ditusuk-tusuk puluhan batang jarum di sebelah dalam.

Akhirnya, setelah lari tanpa arah atau tujuan tertentu, hanya terdorong rasa nyeri di kepalanya dan dia sama sekali tidak dapat memikirkan apa pun, Song Han Bun terguling dalam sebuah hutan dalam keadaan pingsan.

Pemuda itu sama sekali tidak menyadari bahwa dia rebah pingsan di tempat itu sampai semalam dan sehari.

Pada keesokan harinya, menjelang sore, barulah dia siuman dari pingsannya!

Dia bangkit duduk dan merasa tubuhnya lemas.

Kepalanya tidak terasa sakit, akan tetapi Han Bun duduk sambil memegangi kepala dengan kedua tangannya.

Bukan karena terasa nyeri melainkan karena dia tidak ingat apa-apa lagi!

Dia berusaha untuk berpikir dan mengingat-ingat, namun sia-sia saja karena dia sama sekali tidak ingat apa-apa lagi.

"Siapa aku... di mana aku... siapa namaku...?"

Berulang-ulang dia bertanya namun sama sekali dia tidak ingat siapa dirinya, apa yang dialaminya, baltkan namanya sendiri pun dia tidak ingat! "Siapa aku...? Mengapa aku di sini...?"

Dia lalu bangkit berdiri dan merasa bingung sekali.

Dia tidak tahu dari mana dia datang dan ke mana dia hendak pergi.

Perutnya terasa lapar sekali dan tiba-tiba dia mendengar suara dari arah belakangnya.

Cepat dia memutar tubuh dan dia melihat seekor kelinci menyusup masuk ke dalam semak-semak.

Han Bun tersenyum gembira.

Perutnya terasa semakin lapar melihat kelinci yang gemuk itu.

Biarpun dia merasa tubuhnya lemas, namun ketika dia memungut sebuah batu, terasa gerakannya ringan.

Tentu saja dia pun sama sekali tidak ingat bahwa dia pernah mempelajari ilmu silat tinggi.

Namun tenaga sakti dan kekuatan tubuhnya sudah menyatu dengan dirinya, tanpa perlu diingat lagi, maka dia dapat bergerak dengan ringan walaupun tubuhnya lemas karena hampir dua hari tidak makan atau minum.

Dengan kakinya dia menendang sebuah batu ke arah semak-semak.

Kelinci itu terkejut dan melarikan diri.

Akan tetapi begitu dia tampak keluar dari semak-semak, Han Bun menyambitkan batu itu, tepat mengenai kepala kelinci itu yang jatuh dan mati seketika karena kepalanya pecah dihantam batu sebesar kepaIan tangan.

Han Bun mencabut pedangnya yang dibawanya selalu ketika dia melarikan diri dari Pek-Bin Giam-Lo.

Tak lama kemudian dia telah menguliti kelinci itu dan memanggang dagingnya di atas api.

Biarpun daging kelinci itu dipanggang begitu saja tanpa bumbu, namun kelaparan perutnya membuat daging panggang itu enak pula dimakan.

Baru saja dia makan, dia mendengar langkah kaki orang.

Ketika dia menoleh, dia melihat seorang Hwesio berjalan santai.

Hwesio itu berjubah kuning dan kepalanya yang tadinya gundul sudah mulai ditumbuhi rambut pendek.

Dia menggendong sebuah buntalan, dan usianya belum tua benar, baru sekitar empat puluh tahun.

Wajahnya lembut dan cerah, murah senyum.

Yang dilupakan sama sekali oleh Han Bun adalah semua pengalaman hidupnya sehingga namanya sendiri pun dia lupa.

Akan tetapi melihat orang itu, dia tahu bahwa yang datang seorang Pendeta Buddhis.

Maka sambil duduk ia mengangguk hormat.

"Selamat sore, Suhu (sebutan Pendeta),"

Katanya ramah.

"Silakan duduk dan makan bersama saya. Daging kelinci ini terlalu banyak untuk saya sendiri."

"Omitohud, Sicu (Orang Gagah) baik sekali."

Kata Hwesio itu sambil duduk di atas sebuah batu dengan lega karena agaknya dia memang sudah lelah sekali.

Dia menurunkan buntalan dari punggungnya dan meletakkannya di depannya, lalu melanjutkan kata-katanya.

"Silakan Sicu makan saja karena Pinceng (saya) telah membawa makanan Pinceng sendiri."

Han Bun melihat Hwesio itu membuka buntalannya yang berisi beberapa potong jubah kuning dan dalam sebuah bungkusan setelah dIbuka ternyata berisi roti gandum dan sayur asin, juga seguci air jernih.

"Sicu, kalau Sicu suka, boleh Pinceng bagi makanan ini denganmu."

Hwesio itu menawarkan.

"Terima kasih, Suhu. Daging ini cukup banyak dan cukup mengenyangkan."

Dua orang itu makan tanpa bicara, makan makanan masing-masing dan biarpun mereka tidak bicara namun dalam hati mereka melihat benar perbedaan makanan mereka.

Setelah keduanya selesai makan, Hwesio itu menawarkan air minum.

Han Bun tidak menolaknya, dan menuangkan air dari guci dari atas, diterima mulutnya yang ternganga.

Terasa sejuk dan segar air jernih itu.

Setelah makan dan minum, keduanya duduk bercakap-cakap.

"Sicu, kita berdua secara kebetulan saja saling bertemu di tempat sepi ini, bahkan makan bersama. Agaknya di antara kita memang sudah jodoh untuk berkenalan. Pinceng bernama Tiong Gi Hosiang dan bolehkah Pinceng mengetahui nama Sicu?"

Han Bun menjadi bingung ditanya namanya karena dia sendiri tidak ingat dan tidak tahu siapa namanya.

Namun kehilangan ingatan masa lalu tidak membuat dia kehilangan kecerdikannya, maka dia lalu menjawab.

"Tiong Gi Suhu, nama saya Bu Beng (Tanpa Nama)."

"Bu Beng? Omitohud, sungguh nama yang baik sekali, nama memang kosong, tidak menunjukkan yang diberi nama seperti yang sebenarnya. Akan tetapi sayang, Sicu masih makan daging binatang."

Han Bun tersenyum.

"Saya juga dapat mengatakan yang sebaliknya, Suhu, yaitu sayang bahwa Suhu hanya makan sayur-sayuran."

"Omitohud, Sicu pandai berdebat."

"Bukan berdebat, Suhu, melainkan saya mengatakan apa yang sebenarnya menurut penglihatan saya."

"Bagus, kalau begitu, mari kita bicarakan kebenaran mengenai makanan. Menurut pendapat Pinceng..."

"Maksud Suhu, menurut pendapat Suhu yang sejalan dengan apa yang diajarkan agama dan kepercayaan Suhu."

"Benar, akan tetapi telah menjadi keyakinan Pinceng. Makan daging hewan itu merupakan perbuatan yang kejam, membunuh sesama mahluk hidup. Bukankah di dunia ini sudah banyak macam tanaman yang daunnya, batangnya, bunga dan buahnya, dapat dimakan untuk mempertahankan kehidupan manusia? Mengapa untuk mengenyangkan perut saja harus membunuh mahluk lain? Bukankah itu merupakan perbuatan yang kejam sekali? Buktinya, Pinceng sejak kecil tidak pernah makan daging, tak pernah membunuh untuk makan, dan tetap saja sampai sekarang Pinceng dapat hidup dan sehat. Nah, Sicu, bukankah makan daging merupakan pembunuhan yang amat kejam dan tidak selayaknya dilakukan oleh manusia?"

"Apa yang Suhu katakan itu memang benar. Akan tetapi saya mempunyai pendapat lain, coba Suhu dengarkan dan pertimbangkan kebenarannya. Suhu, ada banyak mahluk hidup yang hanya dapat hidup kalau dia makan daging mahluk lain. Misalnya harimau, singa, ular, buaya, burung pemakan ikan, juga ikan-ikan besar yang makan ikan kecil. Apakah mereka itu juga dapat dinamakan kejam karena untuk makan mereka harus membunuh?"

"Mereka itu binatang buas, kita manusia tidak semestinya meniru mereka."

"Tidak, Suhu. Mereka itu sama sekali tidak buas. Mereka makan daging hewan lain karena memang itu makanan mereka! Sudah ditentukan sejak lahir, biasa disebut sudah kodratnya. Coba sediakan makanan rumput atau buah-buahan kepada harimau dan lain binatang pemakan daging itu, mereka pasti tidak mau makan dan akan mati kelaparan. Jelas bahwa mereka itu bukan buas atau kejam. Bagaimana pendapatmu, Tiong Gi Suhu?"

"Omitohud, kalau direnungkan, memang ucapan Sicu itu benar. Akan tetapi manusia..."

"Nanti dulu, harap jangan mengambil kesimpulan dulu. Coba dengarkan pendapat saya. Saya tadi merasa lapar sekali, sudah dua hari tidak makan. Di sini tidak ada makanan lain, semua daun pohon yang berada di sini tidak dapat saya makan. Lalu saya melihat kelinci dan saya membunuhnya untuk saya makan dagingnya. Dengan demikian maka saya terhindar dari kelaparan. Saya membunuh kelinci itu bukan sekedar membunuh, melainkan saya butuhkan dagingnya untuk penyambung hidup, seperti halnya seekor harimau menerkam kelinci untuk dimakan dagingnya. Kalau saya sebagai manusia tidak dikodratkan makan daging, seperti halnya kerbau, pasti saya tidak akan suka makan daging. Jadi, membunuh untuk dimakan dagingnya guna menyambung hidup saya kira bukanlah kekejaman, Suhu, melainkan kebuTUHAN hidup. Ada lagi satu hal yang patut diperhatikan, Suhu. Menurut Suhu, yang dianggap kejam adalah membunuh untuk dimakan, bukan? Nah, sekarang mohon Suhu menjawab, apa bedanya membunuh seekor ayam dan membunuh seekor sapi yang besar untuk dimakan dagingnya. Apakah ada perbedaan antara membunuh yang kecil dengan membunuh yang besar?"

"Omitohud, pertanyaan aneh. Tentu saja sama, Sicu. Membunuh ayam untuk dimakan, atau membunuh sapi untuk dimakan, sama saja kejamnya dan pinceng tidak akan melakukannya."

"Jadi yang jelas adalah membunuh yang hidup itu yang dianggap kejam?"

"Benar sekali, Sicu."

"Maaf, Suhu, menurut Suhu, apakah tanam-tanaman itu bukan sesuatu yang hidup? Bukankah tanaman itu bisa mati pula dan karenanya tanaman itu hidup sehingga kalau kita makan tanam-tanaman, sama saja dengan membunuh mereka? Masih ada lagi, Suhu. Kita tahu bahwa banyak sekali binatang-binatang kecil yang hidup di daun-daun dan di buah-buahan, demikian kecilnya mereka itu sehingga sukar dapat tampak oleh mata. Namun kenyataannya mereka itu ada dan hidup, bergerak. Nah, kalau kita masak sayuran makan sayuran dan buah-buahan, saya yakin ada ratusan bahkan mungkin rIbuan binatang kecil-kecil yang terbunuh dan ikut kita makan. Kalau membunuh binatang kecil dan besar itu sama kejamnya, bukankah kita yang hanya makan sayur dan buah itupun kejam telah membunuh banyak sekali binatang kecil?"

Sampai lama keduanya diam. Akhirnya Tiong Gi Hosiang menghela napas panjang.

"Omitohud, walaupun pinceng dapat mengatakan bahwa pembunuhan binatang kecil-kecil tak tampak itu dilakukan tanpa sengaja, akan tetapi harus pinceng akui kebenaran ucapan Sicu itu."

"Terima kasih, Suhu. Tadi saya membenarkan pendapat Suhu dan sekarang Suhu membenarkan pendapat saya. Kalau begitu, pendapat kita berdua yang berlawanan itu, sama benarnya ataukah... sama salahnya?"

"Ha-ha-ha, Omitohud..., ucapan Sicu inilah yang merupakan kebenaran, yaitu bahwa setiap sesuatu itu, ada benarnya dan ada pula salahnya! Masalahnya hanyalah dari mana kita memandangnya."

"Saya kira pendapat Suhu ini tepat sekali. Oleh karena itu, apa pun latar belakang kepercayaan kita, marilah kita sama melihat bahwa sesungguhnya kita semua ini tak mungkin lepas daripada kesalahan. Karena itu sebaiknya tidak perlu lagi saling menyalahkan. Biarlah yang makan sayur dan pantang makan daging melanjutkan keyakinannya, dan biarlah yang makan daging juga memegang keyakinannya tanpa keduanya saling mencela atau menyalahkan. Bukankah begitu sebaiknya, Tiong Gi Suhu?"

"Omitohud, Sicu benar sekali. Pinceng setuju sekali. Selamat berpisah, Sicu, dan terima kasih, pinceng senang sekali dapat berkenalan dan berbincang-bincang denganmu."

"Selamat berpisah, Suhu!"

Biarpun sore telah larut dan cuaca mulai remang, Hwesio itu melanjutkan perjalanannya.

Han Bun juga pergi tanpa tujuan tertentu, hanya mengikuti ke mana kedua kakinya melangkah membawa dirinya.

Di sebuah puncak di antara banyak puncak bukit di Pegunungan Beng-San, terdapat perkumpulan Beng-Kauw yang amat terkenal di dunia persilatan sebagai sebuah perkumputan rahasia yang aneh namun yang memiliki banyak orang sakti.

Semula, Beng-Kauw merupakan sebuah perkumpulan agama.

Beng-Kauw artinya Agama Terang dan pada waktu kisah ini terjadi, yaitu pada pertengahan abad ke tiga belas, Beng-Kauw telah berubah sama sekali dari asal mulanya.

Ratusan tahun yang lalu, Agama Terang atau Beng-Kauw ini berasal dari Agama Mani atau Manichaeism.

Pendirinya bernama Mani (lahir tahun 216), putera seorang Bangsawan, penduduk Ecbatana di Persia (sekarang Iran).

Mani seorang terpelajar dalam lingkungan sekte Mandaeans.

Sebagai seorang terpelajar, Mani tertarik oleh soal kerohanian dan filsafat.

Pada masa itu terdapat dua agama besar, yaitu Agama Kristen dan Mithraism.

Mani mempelajari keduanya, juga dia mempelajari Agama Magism dad Persia sendiri.

Kemudian dari berbagai agama ini Mani lalu mengambil pelajaran dan digabungkannya, maka lahirlah apa yang dinamakan Agama Mani (Mani-chaeism) atau yang lebih dikenal sebagai Agama Terang.

Sistim yang dianut oleh Mani adalah sistim dualisme (rangkap dua).

Menurut Mani, terang ialah baik dan gelap ialah jahat.

Pengetahuan tentang agama berarti pengetahuan tentang alam dan unsur-unsurnya dan penyelamatannya adalah proses membebaskan unsur terang dari kegelapan.

Mani menerangkan bahwa dalam alam semesta terdapat dua Kerajaan, yaitu Kerajaan Terang dan Kerajaan Gelap yang selalu bertentangan.

Setan terlahir di Kerajaan Gelap.

Manusia dikuasai unsur Setan, akan tetapi dalam diri manusia juga terdapat unsur Terang dari TUHAN.

Setan berusaha untuk mengikat manusia dengan kejahatan, dan roh-roh Terang berusaha untuk membebaskannya.

Mani sendiri menamakan dirinya "Duta Terang."

Hanya dengan bantuannya dan bantuan para muridnya yang terpilih, barulah Terang dapat dipisahkan dari Gelap.

Murid atau penganut pilihan ini setingkat dengan para Pendeta dalam agama-agama lain.

Mani berkelana di berbagai negeri untuk menyebarkan agamanya.

Antara lain dia berkunjung ke Transoxiana, ke India dan sampai ke Cina bagian barat.

Setelah dia kembali ke Persia, di negerinya sendiri agamanya itu berkembang pesat, bahkan memasuki Istana Raja sendiri.

Pada masa pemerintahan Raja Shapur I, lalu Raja Hormizd, penggantinya, Manichaeism berkembang pesat karena kedua orang Raja itu menaruh minat kepada agama itu.

Akan tetapi setelah Raja Hormizd diganti oleh Raja Barham I yang condong menganut Agama Magism, Mani yang dimusuhi oleh kasta Magians lalu ditangkap oleh Raja Barham I dan diserahkan kepada kasta itu.

Mani lalu dIbunuh.

Kerajaan Persia berusaha untuk membasmi Agama Mani namun gagal.

Di luar Persia, agama ini berkembang pesat.

Hal ini terjadi karena Manichaeism mempersatukan mythology kuna dan dualisme materialistis dan dengan cara bersembahyang yang sederhana.

Juga organisasi sosialnya amat sederhana, baik yang pintar maupun yang bodoh, yang serius ataupun yang hanya iseng, semua boleh masuk menjadi penganut Agama Mani.

Di Cina, Agama Mani menjadi Beng-Kauw yang semula memang merupakan perkumpulan agama yang masih taat akan ajaran Mani.

Akan tetapi kini telah berubah sama sekali.

Beng-Kauw sekarang menjadi perkumpulan yang mengutamakan ilmu silat dan ilmu sihir, mengutamakan kesaktian dan menjadi perkumpulan yang disegani kawan ditakuti lawan.

Kekuatan mendatangkan kekuasaan dan kekuasaan seringkali mendatangkan kejumawaan, kesombongan dan memandang rendah orang lain.

Maka tidak mengherankan kalau Beng-Kauw terkenal sebagai perkumpulan orang-orang yang suka bertindak sewenang-wenang dan dianggap sebagai sebuah perkumpulan sesat yang suka melakukan kejahatan.

Pada waktu itu, Kerajaan Song yang berdiri sejak tahun 960 telah mengalami kehancuran.

Hal ini terjadi dalam tahun 1127 ketika Bangsa Yuchen dari utara merebut kekuasaan Bangsa Khitan di utara dan mendirikan Kerajaan Cin.

Kerajaan baru ini lalu terus menyerang ke selatan dan mengalahkan pasukan Kerajaan Sung yang terus mundur ke selatan.

Kaisar Sung Kao Cung terpaksa melarikan diri mengungsi ke selatan.

Dengan sisa kekuatan yang ada, dibantu oleh rakyat di selatan akhirnya Kerajaan Sung dapat mempertahankan diri di selatan dan serangan Kerajaan Cin yang baru itu berhenti sampai di Sungai Yang-Ce.

Sungai itu menjadi tapal Batas dua Kerajaan.

Di sebelah utara Sungai Yang-Ce menjadi wilayah kekuasaan Kerajaan Cin, sedangkan Kerajaan Sung memiliki wilayah dari Sungai Yang-Ce ke selatan.

Kerajaan Sung yang sejak tahun 1127 dinamakan Kerajaan Sung Selatan itu tampak kelemahannya karena setiap tahun Kaisar terpaksa harus mengirim upeti kepada Kaisar Kerajaan Cin.

Dalam keadaan yang amat lemah inilah para golongan sesat, gerombolan maupun perorangan yang biasa melakukan kejahatan, semakin merajalela.

Apabila pemerintahnya lemah, para pejabatnya hanya mementingkan diri berlumba menumpuk kekayaan dengan korupsi, kepentingan rakyat diabaikan, maka sudah pasti keamanan menjadi terganggu.

Tidak ada jaminan keselamatan bagi rakyat, bahkan para penguasa yang semestinya menjadi pelindung rakyat berbalik menjadi pemeras rakyat.

(Lanjut ke

Jilid 12) Antara Dendam & Asmara (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 12 Beng-Kauw juga semakin berani dan perkumpulan ini bersikap seolah menjadi sebuah Kerajaan kecil sendiri.

Beng-San dan sekitarnya dianggap sebagai daerah kekuasaan mereka.

Namun, Beng-Kauw pada waktu itu banyak ditentang oleh para pendekar.

Selain menguasai rumah-rumah pelacuran, perjudian dan tempat kemaksiatan lainnya, baik di kota besar maupun di Kotaraja Hang-Couw, yaitu Kotaraja Sung Selatan, juga Beng-Kauw seenaknya sendiri menentukan pajak bagi para petani dan nelayan.

Beng-Kauw tidak pernah diganggu pemerintah karena hampir semua pembesar telah menjadi sekutunya dengan "bagi hasil."

Pada waktu itu yang menjadi Ketua Beng-Kauw adalah Siangkoan Hok, seorang laki-laki berusia lima puluh tahun bertubuh tinggi kurus berwajah tampan.

Ketua Beng-Kauw ini terkenal memiliki ilmu silat tinggi, juga ahli sihir dan ahli racun yang amat berbahaya.

Permainan golok tunggalnya amat ditakuti orang.

Siangkoan Hok ini dibantu oleh tiga orang Sutenya (adik seperguruannya) yang di dunia kang-ouw dikenal sebagai Beng-Kauw Sam-Liong (Tiga Naga Beng-Kauw).

Mereka terdiri dari Bhe Kun, berusia empat puluh delapan tahun, tinggi besar bermuka brewok dan terkenal dengan senjatanya siang-to (sepasang golok).

Orang ke dua dan ke tiga adalah Kakak-beradik, Cu Kok berusia empat puluh lima tahun, bertubuh sedang, wajahnya yang sebetulnya tampan itu menjadi cacat karena bopeng (bekas cacar), dan adiknya Cu Lok berusia empat puluh tahun tubuhnya sedang dan wajahnya tampan, senjatanya sama dengan Kakaknya, yaitu Siang-Kiam (sepasang pedang).

Selain dibantu Beng-Kauw Sam-Liong, Beng-Kauw juga diperkuat oleh puteri ketuanya yang bernama Siangkoan Ceng Gadis berusia sembilan belas tahun yang cantik jelita ini bahkan lebih terkenal daripada Beng-Kauw Sam-Liong karena sesungguhnya gadis ini memang lihai bukan main.

Sejak kecil ia suka mempelajari ilmu silat dan setelah mewarisi ilmu dari Ayahnya, selama tiga tahun ia digembleng oleh mendiang Tong Tong Losu, Paman Guru Ayahnya yang dulu merupakan seorang Datuk aneh yang tidak mempunyai murid.

Ilmu-ilmu rahasianya dia turunkan kepada Siangkoan Ceng sehingga gadis itu luar biasa lihainya, bahkan tidak kalah lihai dari Ayahnya sendiri!

Akan tetapi, gadis muda ini sudah malang melintang di dunia kang-ouw dan dalam waktu kurang dari setahun saja ia telah dikenal di dunia kang-ouw dengan julukan Ang-Hwa Niocu (Nona Bunga Merah).

Hal ini adalah karena ia suka memakai bunga merah sebagai penghias rambutnya.

Ang-Hwa Niocu terkenal amat lihai, cantik jelita, berwatak aneh dan juga lincah, galak dan angkuh!

Akan tetapi biarpun anak buah Beng-Kauw banyak yang nyeleweng dan melakukan kejahatan, Siangkoan Hok, Beng-Kauw Sam-Hong, dan Siangkoan Ceng tidak pernah mau melakukan perbuatan jahat.

Watak mereka memang aneh, tidak mau kalah, memandang rendah orang lain dan sombong, namun mereka pantang melakukan perbuatan jahat seperti mencuri, merampok dan sebagainya.

Mereka menjaga nama dan kehormatan mereka.

Bahkan kalau kejahatan anak buah mereka diketahui orang, untuk menjaga nama besar mereka, pimpinan Beng-Kauw tidak segan-segan menghukum berat anggauta yang dianggap telah mencemarkan nama Beng-Kauw di depan umum.

Ang-Hwa Niocu Siangkoan Ceng atau yang suka disebut Ceng Ceng memang memiliki watak yang aneh dan keras seperti seekor kuda betina liar yang tidak dapat dikendalikan.

Bahkan Siangko Hok sendiri kewalahan menghadapi puterinya yang selalu ingin menang dan membawa kemauannya sendiri, tidak mau tunduk kepada siapapun juga termasuk Ayah-Ibunya!

Pada suatu pagi Ceng Ceng meninggalkan perkampungan Beng-Kauw.

Perkampungan itu berada di dekat puncak Bukit Menjangan, sebuah di antara banyak bukit di Pegunungan Beng-San, di situ tinggal anak buah Beng-Kauw yang bersama keluarga mereka berjumlah lebih dari dua ratus orang.

Gadis ini memang suka berkelana meninggalkan Beng-Kauw.

Bahkan oran tuanya sendiri tidak dipamiti sehingga mereka tidak tahu kemana Ceng Ceng pergi dan berapa lamanya dara itu meninggalkan rumah.

Melihat gadis itu berjalan seorang diri menuruni Bukit Menjangan, Orang tidak akan mengira bahwa ia adalah seoran tokoh kang-ouw yang disegani dan di takuti karena kelihaiannya.

Memang Ceng Ceng tidak suka memperlihatkan diri sebagai gadis kang-ouw.

Penampilannya membuat ia tampak seperti seorang puteri yang terpelajar dan lembut.

Rambutnya yang hitam panjang digelung ke atas seperti kebiasaan puteri Bangsawan.

Selain dihias sanggul dari emas berbentuk burung Hong dengan mata dari batu mulia berwarna merah, sanggul itu dihias dengan setangkai bunga merah sehingga tampak mencolok, anggun dan indah.

Wajahnya bulat telur dengan sepasang mata bintang yang jeli dan lebar, dilindungi sepasang alis yang hitam melengkung bagaikan dilukis.

Hidungnya kecil mancung clan mulutnya yang kecil memiliki sepasang bibir merah basah aseli, bentuknya penuh, lembut dan menggairahkan.

Tampak lesung pipi menghias sebelah kiri mulutnya.

Kulitnya putih mulus dan mukanya kemerahan.

Bukan hanya wajahnya yang indah menggairahkan, juga bentuk tubuhnya amat indah menarik.

Semampai dengan pinggang kecil dan dengan lekuk-lengkung tubuh yang sempurna.

Pendeknya, laki-laki mana pun kalau berpapasan dengan gadis ini, pasti dia akan menoleh beberapa kali dengan pandang mata terkagum-kagum!

Bahkan tidak tampak gadis itu membawa senjata padahal Ceng Ceng terkenal sekali kehebatan ilmu pedangnya.

Jangan dikira bahwa ia meninggalkan pedangnya!

Pek-Coa-Kiam (Pedang Ular Putih) miliknya tak pernah berpisah dari badannya karena pedang itu merupakan sebatang pedang pusaka yang tipis sekali dan hebatnya, pedang itu dapat dipakai sebagai sabuk yang melilit di pinggangnya yang kecil.

Juga di ikat pinggangnya terdapat sebuah kantung kecil penuh dengan jarum merah.

Itulah senjata rahasianya yang amat, mengerikan saking ampuhnya, disebut Ang-Tok-Ciam (Jarum Racun Merah).

Setelah menuruni Bukit Menjangan, Ceng Ceng lalu turun lagi sampai ke kaki Beng-San.

Sekali ini ia ingin berpesiar ke See-Ouw (Telaga Barat) di daerah Kotaraja Hang-Couw.

Kotaraja Sung Selatan, yaitu Hang-Couw, memang berada di dekat Telaga Barat yang amat terkenal keindahannya itu, di wilayah Cekiang.

Matahari telah naik tinggi ketika gadis yang kini melakukan perjalanan cepat sekali seperti terbang itu meninggalkan kaki pegunungan Beng-San.

Karena wilayah sekitar Beng-San dianggap sebagai wilayah kekuasaan Beng-Kauw, maka para penduduk dusun di sekitar situ telah lama pindah ke lain tempat karena merasa takut.

Keadaan di sekitar kaki pegunungan itu kini sunyi, bahkan para pedagang yang lewat di situ kini mengambil jalan mentutar agar tidak memasuki wilayah kekuasaan Beng-Kauw.

Ceng Ceng merasa gerah.

Keringat membasahi lehernya.

Siang hari itu memang panas dan ia melakukan perjalanan cepat sejak pagi.

Kini ia telah tiba di hutan terakhir di kaki Beng-San.

ia berhenti dan duduk di bawah sebatang pohon, menyeka keringatnya dari leher dengan sehelai saputangan merah muda.

Nyaman duduk di bawah pohon yang teduh itu, ditiup angin semilir sehingga ia merasa mengantuk.

ia duduk bersandar batang pohon, melepaskan lelah dan menghilangkan rasa gerah yang membuat ia berkeringat.

Dalam keadaan layap-layap hampir pulas, mendadak telinganya menangkap suara orang.

Suara laki-laki seperti bernyanyi atau membaca sajak, namun kata-katanya aneh.

"Siapakah namaku, Bagaimana riwayatku? Aku tidak tahu! Yang aku sudah pasti Bu Beng bukanlah namaku! Dari manakah aku, ke mana hendak pergi? Aku pun tidak tahu! Orang pertama yang kukenal namanya Hanyalah Tiong Gi Hosiang!"

Mendengar suara ini, Ceng Ceng membuka matanya lalu meloncat bangun berdiri.

Cepat ia berkelebat ke arah suara itu.

Akan tetapi suara itu sudah berhenti dan ia melihat sesosok bayangan putih berkelebat cepat sekali menuju ke timur.

ia merasa tertarik sekali karena hanya orang yang berilmu tinggi saja dapat bergerak secepat itu.

la pun lalu mengerahkan ginkang (ilmu meringankan tubuh) dan melakukan pengejaran.

Ceng Ceng merasa kagum bukan main.

Ternyata laki-laki muda itu dapat berlari cepat sehingga biarpun sudah mengerahkan seluruh kekuatan ginkang, tetap saja ia tidak mampu menyusulnya dan tetap berada di belakang pemuda itu dalam jarak belasan tombak jauhnya!

Tentu saja hal ini membuat Ceng Ceng merasa heran dan juga penasaran.

Padahal dalam hal ginkang, ia boleh dibilang nomor satu di Beng-Kauw.

Ayahnya sendiri atau ketiga orang Paman Gurunya jelas tidak mampu menandingi kecepatannya.

Akan tetapi kini pemuda baju putih yang bernyanyi aneh itu memiliki ginkang yang tidak kalah olehnya!

Ceng Ceng mengerahkan khikang dan berteriak dengan suara melengking nyaring.

"Sobat laki-laki baju putih yang di depan, perlahan dulu aku ingin bertemu dan bicara!"

Pemuda baju putih itu adalah Song Han Bun yang saat itu mengenal diri sendiri sebagai Bu Beng, nama yang di-pakainya untuk memperkenalkan diri kepada Tiong Gi Hosiang.

Karena itu agar tidak membingungkan sebaiknya kita mulai sekarang menyebut Han Bun dengan nama barunya, yaitu Bu Beng.

Mendengar teriakan melengking dari belakangnya itu, Bun Beng menahan langkahnya, berhenti dan memutar tubuhnya.

Gadis itu melangkah menghampirinya dengan langkah lembut dan gemulai.

Bu Beng memandang dengan mata terbelalak heran.

Siapa yang tidak akan merasa heran melihat seorang gadis jelita seperti puteri Bangsawan, berpakaian mewah, berada seorang diri di dalam hutan dan tadi berseru agar dia berhenti berlari.

Dia, mengamati penuh perhatian.

Melihat penampilannya, jelas ia seorang gadis Bangsawan yang lemah.

Akan tetapi melihat kenyataannya bahwa ia berani melakukan perjalanan seorang diri dalam hutan itu, dapat diduga bahwa tentu gadis ini bukan orang sembarangan.

Kini mereka berdiri berhadapan dan kalau Bu Beng memandang dengan wajah keheranan, Ceng Ceng mengamati wajah dan bentuk tubuh Bu Beng dengan heran pula dan kagum.

Tak disangkanya ia akan berhadapan dengan seorang pemuda yang tampan dan yang tadi menunjukkan bahwa dia memiliki ilmu berlari cepat yang hebat.

Akan tetapi pemuda itu tampak lesu dan pakaiannya kusut, wajahnya menunjukkan keresahan.

"Sobat, berani benar engkau memasuki wilayah ini. Tidak tahukah engkau bahwa di sini termasuk wilayah kekuasaan Beng-Kauw dan tidak ada yang boleh lewat di sini tanpa perkenan kami?"

"Beng-Kauw? Apa sih Beng-Kauw itu? Dan tempat ini di mana pun aku tidak tahu, maka aku tidak tahu pula apakah ini wilayah Beng-Kauw atau wilayah siapa."

Ceng Ceng tercengang.

Orang ini benar-benar aneh.

Agaknya belum mengenal Beng-Kauw!

Mustahil, semua orang di dunia kang-ouw pasti mengenal Beng-Kauw dan pemuda yang dapat berlari secepat itu tentu seorang dari dunia persilatan pula.

Bahkan tempat di mana dia berada pun katanya dia tidak tahu.

"Sobat, siapakah namamu, engkau dari aliran persilatan mana dan mengapa engkau berada di sini?"

Bu Beng tersenyum aneh, dia seperti diingatkan bahwa dia berada dalam keadaan bingung, tidak lagi mengenal nama sendiri, lupa akan semua masa lalu yang dialaminya.

"Aku sendiri tidak tahu siapa namaku, maka sebut saja aku Bu Beng (Tanpa nama) karena aku memang tidak punya nama. Dari aliran persilatan mana? Aku pun tidak tahu, bahkan aku tidak tahu apakah aku bisa silat atau tidak. Dan mengapa aku berada di sini juga aku tidak tahu, aku hanya menurut saja ke mana kakiku membawaku selama belasan hari ini."

Ceng Ceng mengerutkan alisnya yang hitam dan kecil panjang melengkung indah.

ia merasa dipermainkan mendengar, jawaban itu.

Maka ia ingin menguji pemuda itu.

Kalau ia menyerang dan pemuda itu membela diri, tentu terpaksa pemuda itu memperlihatkan ilmu silatnya clan ia akan mengetahui dari gerakannya ilmu silat aliran mana yang dimiliki pemuda yang mengaku bernama Bu Beng (Tanpa Nama) itu.

"Heiiiittt...!"

Tiba-tiba saja Ceng Ceng menggerakkan tangan kirinya dan ia sudah menampar ke arah pipi kanan Bu Beng.

Pemuda Ini terkejut bukan main.

Dia tidak berbohong ketika mengatakan bahwa dia sendiri tidak tahu apakah dia bisa silat atau tidak.

Akan tetapi ilmu silat yang dilatilinya sejak dia masih kecil itu telah mendarah daging atau telah bersatu dengan dirinya.

Maka tanpa mempergunakan ingatan pikirannya lagi, begitu melihat datangnya serangan yang mendatangkan sambaran angin dahsyat itu, secara otomatis dia mengelak dengan menarik tubuh bagian atas ke belakang.

Tamparan itu luput dan Ceng Ceng yang ingin sekali melihat dan mengenal ilmu silat pemuda itu, cepat menyusulkan serangan lain yang lebih hebat.

Akan tetapi secara otomatis tubuh Bu beng bergerak, mengelak atau menangkis dan gerakannya cepat bukan main sehingga secara berturut-turut delapan jurus serangan Ceng Ceng dapat dihindarkan dengan baik.

"Nona, apakah engkau sudah gila? Apa kesalahanku maka engkau menyerangku membabi-buta begini?"

Bu Beng berseru sambil melompat ke belakang.

"Hemm, engkau tentu murid Bu-Tong-Pai!"

Kata Ceng Ceng yang mengenal akan Bu Beng ketika mengelak atau menangkis tadi. Memang secara otomatis buh Bu Beng menggunakan gerakan ilmu silat Bu-Tong-Pai yang amat kuat dalam pertahanan.

"Bu-Tong-Pai? Aku tidak tahu!"

Kata Beng. Ceng Ceng masih menganggap pemuda itu mempemainkannya.

"Singgg...!"

Tiba-tiba tampak sinar putih berkelebat dan ternyata gadis itu lah meloloskan pedang Pek-Coa-Kiam dari pinggangnya.

Pedang tipis berwarna putih itu mengkilap dan pada batangnya terdapat ukiran seekor ular.

"Coba kau lawan pedangku ini!"

Gadis membentak dan ia lalu menyerang dengan hebat.

Pedangnya berubah menjadi sinar putih yang bergulung menyambar-nyambar.

Bu Beng semakin terkejut dan khawatir.

Gadis ini benar-benar setengah gila, pikirnya.

Tiada hujan tiada angin hendak membunuhnya!

Secara otomatis dia pun mencabut pedangnya dan tangannya sudah menggerakkan pedang itu untuk membela diri dan secara otomatis pula dia membalas dengan serangan yang tidak kalah lihainya dibandingkan serangan Ceng Ceng.

Setelah lewat dua puluh jurus, Ceng Ceng menjadi semakin penasaran.

Belum pernah dara ini menghadapi lawan sehebat itu.

Semua serangannya seperti bertemu benteng baja, terkadang seolah ia menyerang angin saja.

Dan serangan balik pemuda bernama Bu Beng itu ternyata hebat sekali.

ia juga merasa bahwa pemuda itu mengalah, karena setiap kali serangan pemuda itu sukar dihindarkan dan nyaris ia terluka, pemuda itu menahan serangannya!

ia juga mengenal pertahanan gaya ilmu pedang Bu-Tong-Pai, yaitu Bu-Tong Kiam-Sut, akan tetapi kalau pemuda itu menyerangnya, ia sama sekali tidak mengenal jurus itu.

Pemuda itu agaknya menggunakan ilmu pedang Bu-Tong-Pai dicampur dengan ilmu pedang lain, entah berapa macam!

Selain penasaran, Ceng Ceng juga merasa kagum dan diam-diam ia merasa senang.

Pemuda itu mengalah dan jelas tidak ingin melukainva dan ini hanya berarti bahwa pemuda itu tertarik dan jatuh cinta padanya!

Sudah terlalu sering ia merasa dicinta para pemuda yang tergila-gila kepadanya.

Namun belum pernah ia tertarik kepada mereka dan belum pernah ia membalas cinta laki-laki.

Akan tetapi entah mengapa, sekali ini ia merasa senang sekali melihat pemuda ini mengalah kepadanya!

ia amat tertarik, bukan hanya oleh ketampanan Bu Beng, terutama sekali melihat betapa lihainya pemuda itu.

Kalau pemuda itu berniat merobohkannya, kiranya sejak tadi ia sudah kalah dan roboh!

ia tidak ingin menggunakan Ang-Tok-Ciam karena ia tidak ingin membunuh pemuda yang mulai menarik hatinya itu.

"Cringgg...!!"

Baca Juga: Harta Karun Kerajaan Sung 5

Baca Juga: Tangan Geledek 2

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert