Ceritasilat Novel Online

Antara Dendam Dan Asmara 3

Eps 3 Antara Dendam Dan Asmara - Kho Ping Hoo

Baca online Antara Dendam Dan Asmara - Kho Ping Hoo

Cersil Antara Dendam Dan Asmara - Kho Ping Hoo.

Tadi sebelum mengambil keputusan untuk melarikan diri, ia telah memperhatikan gerakan para musuhnya dan mendapat kenyataan bahwa sungguhpun dalam ilmu lweekang dan ilmu silat, mereka itu cukup tinggi tingkatnya, Akan tetapi gerakan kaki mereka masih bersuara, tanda bahwa ginkang mereka masih belum tinggi.

Maka kini setelah para perwira itu bersama ketiga jago Mongol mengejar, tentu saja mereka tidak dapat menyusul Han Bun dan Pek Giok yang memiliki ilmu lari cepat luar biasa hebatnya.

Sebentar saja bayangan Han Bun dan Pek Giok sudah lenyap dari pandangan mata mereka.

Han Bun memasuki kota sambil berlari cepat dan ketika ia tiba di tempat yang ramai, ia lalu menahan kakinya dan berjalan seperti biasa.

Oleh karena itu, dengan cepat Pek Giok dapat mengejarnya, akan tetapi gadis ini juga tidak berani rIbut-rIbut di tempat ramai itu karena malu.

ia hanya memandang kepada Han Bun yang hanya menengok sambil tersenyum-senyum.

"Kau tentu mengira aku akan lari sungguh-sungguh, bukan?"

Pek Giok cemberut dan menjawab.

"Laripun aku tidak khawatir, karena aku akan dapat mengejarmu!"

Akan tetapi, tiba-tiba matanya melihat betapa baju pemuda itu yang berwarna putih, di bagian punggungnya kembali menjadi merah, tanda bahwa lukanya yang belum sembuh betul itu ketika dipakai bertempur tadi, telah berdarah pula.

"Kau... kau belum sembuh, lukamu berdarah lagi..."

Katanya penuh kecemasan, dan suaranya yang terdengar penuh khawatir dan amat memperhatikan itu sungguh-sungguh keluar tanpa disadarinya.

"Tidak apa, hanya sakit sedikit,"

Jawab Han Bun, akan tetapi Pek Giok tidak percaya keterangan ini karena wajah pemuda itu nampak pucat sekali.

"Kita harus bermalam di kota ini,"

Katanya dan kembali ucapannya ini tidak disadarinya, tidak ingat bahwa ia sama sekali tidak ingin bersama-sama pemuda itu.

"Kau harus beristirahat dan mendapatkan. obat yang tepat. Kalau tidak, lukamu itu menjadi berbahaya."

"Tidak apa,"

Jawab pula Han Bun.

"bukankah kau mengajak berlomba lari?"

"Mengapakah kau menghendaki peti itu?"

Tanya Pek Giok perlahan.

"Belum waktunya kuberitahukan kepadamu, di sini banyak orang yang tak boleh mendengar keterangan itu,"

Jawab Han Bun.

"Kau harus beristirahat dan besok baru melanjutkan perjalanan."

"Dan kau membiarkan aku membawa lari ini?"

Pek Giok menggeleng kepalanya.

"Tak mungkin! Kau takkan mau pergi melarikan diri."

"Bukankah aku maling katamu tadi?"

"Pergilah kalau kau suka, aku tidak perduli. Aku mau beristirahat dan bermalam di rumah penginapan dalam kota ini,"

Kata pula Pek Giok dan karena mereka telah tiba di tengah kota di mana banyak terdapat rumah penginapan, gadis itu lalu masuk ke dalam sebuah rumah penginapan yang besar.

Pek Giok sebenarnya tidak lelah, akan tetapi ia berpura-pura ingin beristirahat untuk memberi kesempatan kepada pemuda agar dapat beristirahat pula!

Han Bun bukanlah orang bodoh dan ia maklum akan hal ini, maka diam-diam ia merasa girang sekali.

Apalagi memang ia merasa amat lelah dan pundaknya seperti mati sebelah karena sakit yang menjalar dari luka di punggungnya.

Akan tetapi ia.

tidak mau memperlihatkan kelemahan di depan Pek Giok dan berpura-pura tidak merasa sakit.

Melihat Pek Giok telah mendapatkan sebuah kamar, iapun lalu minta sebuah kamar kepada pelayan dan setelah masuk ke dalam kamarnya, ia lalu membaringkan tubuhnya dan sebentar saja ia tertidur tanpa menutup pintunya.

ia benar-benar merasa lelah dan sakit.

Baru saja ia tertidur, ia mendengar pintu kamarnya diketuk orang dan ketika ia membuka matanya, ternyata Pek Giok telah berdiri di ambang pintu.

ia hendak bangun, akan tetapi Pek Giok berkata perlahan.

"Kau sembrono sekali, tidur tanpa menutup daun pintu! Aku hendak pergi, kau tutuplah pintu kamarmu baik-baik. Bagaimana kalau ada orang masuk dan mengambil barang itu?"

Baru Han Bun teringat bahwa dialah yang membawa peti kecil itu maka ia merasa malu akan kesembronoannya.

Ia lalu berbangkit dan menutupkan daun pintu, setelah gadis itu pergi lagi.

Peti kecil itu ia masukkan ke bawah bantal, kemudian pemuda itu lalu merebahkan dirinya kembali.

Haripun telah menjadi gelap karena senja telah menghilang, terganti malam gelap karena bulan belum juga muncul.

Tak lama kemudian, Han Bun terjaga kembali dari tidurnya dan ia merasa betapa seluruh tubuhnya panas dan punggungnya yang terluka terasa sakit sekali.

ia terjaga karena merasa ada sesuatu menimpa dadanya ketika ia tertidur telentang tadi.

Sebagai seorang ahli silat yang pandai, setiap gerakan atau suara yang sedikit saja cukup untuk membangunkan dari tidurnya.

Ketika ia membuka matanya, ia melihat sebuah bungkusan kertas kuning terletak di atas dadanya dan dari luar ia mendengar suara Pek Giok.

"Mereka yang mengejar telah sampai di kota, akan tetapi mereka tidak mengira bahwa kita berada di tempat ini. Mereka melanjutkan pengejaran terus ke tirnur. Pakailah obat itu agar lukamu sembuh!"

Lalu terdengar langkah kaki gadis itu memasuki kamarnya sendiri yang berada di seberang kamarnya.

Han Bun diam-diam merasa berterima kasih sekali kepada gadis yang belum diketahui namanya itu.

ia teringat betapa dulu gadis itu mencabut anak panah yang menancap di punggungnya, kemudian mengobatinya dan membalutnya.

Kini ternyata gadis itu telah mencarikan obat untuknya.

Diam-diam ada perasaan yang amat berbahagia di dalam dadanya.

ia menyinta gadis itu, menyinta dengan aneh dan dengan sepenuh hatinya, dan ia yakin bahwa perasaannya ini tidak sia-sia, karena betapapun gadis itu bersikap kasar terhadapnya, Namun ia dapat menduga bahwa gadis itupun cinta, atau sedikitnya suka kepadanya!

Memang benar dugaan Han Bun.

Pek Giok sengaja berhenti dan bermalam di kota itu untuk memberi kesempatan kepada Han Bun beristirahat, bahkan ia lalu keluar dari hotel dan membeli obat di rumah obat yang banyak terdapat di kota itu.

Ketika ia sedang mencarikan obat untuk Han Bun, ia melihat rombongan perwira yang tadi bertempur dengan dia.

Cepat ia bersembunyi dan menyelidiki gerak-gerik mereka.

Ternyata bahwa rombongan perwira itu terus melakukan pengejaran ke timur, karena mereka mengira bahwa tak mungkin kedua orang muda yang merampas peti itu akan berani bermalam di kota itu.

Mereka tidak mau membuang waktu untuk mencari di kota dan andaikata mereka mendahului perjalanan kedua orang muda itu, Mereka masih dapat menghadang perjalanan mereka, karena rombongan perwira itu dapat menduga bahwa kedua orang muda itu tentu akan membawa surat-surat rahasia itu kepada Kaisar!

Hanya satu hal saja yang dapat membuat kedudukan Pangeran Liang Tek Ong berada dalam bahaya, yakni kalau surat-surat itu terbaca oleh Kaisar.

Oleh karena itu, mereka hendak menghadang perjalanan kedua orang muda itu dan menghalanginya agar jangan sampai dapat memberikan surat-surat itu kepada Kaisar.

Akan tetapi mereka tetap singgah di rumah pembesar setempat dan memesan agar supaya pembesar itu menyelidiki apakah ada dua orang muda berada di kota Lancouw, dan kalau ada, agar supaya berusaha merampas kembali sebuah peti kecil yang dicuri oleh kedua orang muda itu.

Han Bun cepat rnenggunakan obat itu untuk ditempelkan pada luka di punggungnya, dan ia merasa girang sekali ketika merasa betapa rasa sakit di punggungnya banyak mengurang setelah obat itu ia pergunakan.

Benar-benar manjur sekali obat itu dan ia makin merasa berterima kasih kepada gadis yang disebutnya Ikan Emas Bermata Bintang itu!

Malam hari itu tidak terjadi sesuatu, akan tetapi pada keesokan harinya, ketika Pek Giok keluar dari kamarnya, ia melihat bayangan dua orang berkelebat di depan kamar Han Bun dan sikap orang itu amat mencurigakan.

Kedua orang itu ketika melihat Pek Giok hendak melarikan diri, akan tetapi sekali melompat saja, Pek Giok telah berhasil membekuk mereka dan dengan dua kali mengirim serangan ia berhasil menotok pundak mereka sehingga kedua orang itu roboh dengan lemas!

"Apa yang kau perbuat di sini?

Mengakulah kalau tak ingin kupatahkan batang lehermu!"

Gadis itu mengancam dengan suara perlahan. Terdengar pintu terbuka dan Han Bun telah berdiri di situ dan ia nampak banyak lebih sehat daripada kemarin.

"Mereka semenjak pagi tadi telah mengintai kamarku,"

Katanya.

Kedua orang itu merasa ketakutan dan biarpun mereka telah tertotok tak berdaya, namun mereka masih dapat bicara.

Seorang diantara mereka diam saja, dan ketika kawannya hendak membuka mulut, ia memandang dengan melotot sehingga kawannya itu tidak berani dan tidak jadi membuka mulutnya.

Pek Giok menjadi marah sekali.

ia menggerakkan tangan dan menepuk perlahan di punggung orang yang menutup mulutnya itu sehingga orang itu terkena pukul jalan darahnya.

Bukan main hebatnya tepukan perlahan ini karena orang itu lalu meringis-ringis kesakitan.

Untuk mengeluarkan suara ia tak dapat dan ia hanya menggigit-gigit bibir menahan sakit sampai bibirnya berdarah dan luka-luka tergigit oleh giginya sendiri!

ia menggulingkan tubuh di lantai dan bergulingan bagaikan seekor babi disembelih!

Han Bun tidak tega melihat siksaan ini dan ia lalu melangkah maju lalu menendang punggung orang itu yang segera terbebas dari penderitaan yang luar biasa.

"Nah, kau tentu sadar bahwa tak guna kau menutup mulut terus,"

Kata pemuda itu.

"Katakan apakah maksudmu mengintai kami dan siapa yang menyuruhmu?"

Terpaksa orang itu tidak berani menutup mulutnya terus.

"Ampun, jiwi Taihiap, hamba berdua hanya pesuruh saja. Malam tadi datang serombongan perwira dari Kotaraja yang memberi perintah kepada Taijin di kota ini agar supaya menyelidiki keadaan jiwi Taihiap. Hamba berdua kebetulan sekali mendapatkan jiwi di hotel ini dan... harap sudi memberi ampun, karena hamba hanya menjalankan tugas belaka."

"Usaha apa lagi yang dikerjakan oleh majikanmu untuk memenuhi perintah perwira-perwira itu?"

"Pasukan besar telah disiapkan untuk menangkap jiwi apabila seorang diantara para penyelidik dapat mengetahui tempat bermalam jiwi Taihiap,"

Kata orang itu. Han Bun dan Pek Giok saling pandang dan pada saat itu, para pelayan hotel yang mendengar rIbut-rIbut telah datang bersama beberapa orang tamu.

"Kita pergi!"

Kata Pek Giok kepada Han Bun yang mengangguk.

Mereka lalu mengambil pakaian dan buntalan masing-masing, dan ketika mereka keluar dari kamar, ternyata dua orang penyelidik itu telah dirubung banyak orang yang bertanya-tanya.

"Ini uang sewa kamar!"

Kata Pek Giok sambil memberi beberapa potong uang kepada pelayan.

Ketika pelayan itu menerima uang tadi, ia berseru kaget karena uang itu telah hancur dalam genggaman tangan Pek Giok!

Dengan wajah pucat pelayan itu melangkah mundur, dan Pek Giok lalu berkata kepada semua orang yang melihat hal itu dengan mata terbelalak.

"Siapa berani membuka mulut membikin rIbut sebelum kami berdua pergi, akan kuhancurkan kepalanya seperti uang ini!"

Pek Giok dan Han Bun lalu keluar dari hotel itu dengan cepat dan semua orang masih saja berdiri melongo dan tak berani bergerak!

Ketika mereka telah berlari sampai jauh dan kini berada di tepi Sungai Wei-Ho, matahari telah naik tinggi.

Pek Giok lalu berkata kepada Han Bun.

"Sekarang kembalikan peti itu dan kita harus berpisah, melanjutkan perjalanan masing-masing."

Han Bun benar-benar nampak terkejut.

ia memang sudah menduga bahwa mereka takkan dapat berjalan terus bersama-sama, akan tetapi setelah hal ini diucapkan oleh gadis itu, ia merasa amat terkejut dan kecewa.

Akan tetapi ia menetapkan hatinya dan menindas perasaannya.

Tak mau ia memperlihatkan kelemahan hatinya.

"Apakah yang hendak kau lakukan dengan peti ini?"

Tanyanya tiba-tiba sambil memandang tajam.

"Hendak kubawa ke Kotaraja dan kuserahkan kepada Kaisar agar supaya pengkhianat Liang Tek Ong itu terhukum!"

Han Bun menggelengkan kepalanya.

"Dengarlah, Sing-Gan Kim-Hi! Kau tidak mengerti sedalam-dalamnya tentang hal ini, dan kau hanya melanjutkan usaha patriot she Tan itu. Sungguhpun hal ini kupuji dan menimbulkan kagumku, akan tetapi kalau kau lanjutkan usahamu ini, kau takkan dapat membereskan hal ini dengan baik, bahkan akan mendatangkan kerIbutan belaka."

Han Bun lalu menceritakan betapa ia telah mendapat tugas dari Suhunya untuk menyelidiki hal ini dan untuk merampas peti kecil itu.

Betapa telah berbulan-bulan ia mengikuti perjalanan Pangeran Liang Tek Ong sehingga akhirnya ia berhasil merampas peti itu.

"Kebetulan sekali kaupun datang menyerbu, kalau tidak mendapat bantuanmu, belum tentu aku akan berhasil,"

Kata pemuda itu.

"Ketahuilah, peti dengan isinya yang amat berharga ini sekali-kali tidak boleh diberikan kepada Kaisar oleh kita sendiri, karena selain amat sukar untuk menghadap Kaisar, juga kaki tangan Pangeran Liang amat banyaknya tersebar di Kotaraja. Karena itu, kita yang sudah mereka kenal, agaknya takkan mungkin menghadap Kaisar, karena mereka pasti akan mengerahkan seluruh tenaga dan pengaruh untuk menghalangi kita. Dan lagi, tidak ada perlunya benda ini diberikan kepada Kaisar, karena hal itu hanya akan menimbulkan perpecahan dan kerIbutan di Kotaraja. Kalau Pangeran Liang sampai tertangkap dan dihukum, pengikut-pengikutnya tentu akan memberontak dan hal ini akan melemahkan keadaan Kotaraja sehingga orang-orang Mongol itu akan lebih mudah datang menyerang selagi Negara terpecah belah dan kacau-balau."

Pek Giok yang sama sekali tidak mengerti tentang keadaan Negara, tentu saja menjadi bingung sekali. ia memandang kepada pemuda itu dengan mata bodoh, lalu bertanya.

"Kalau begitu, mengapa kau merampas peti itu? Untuk apakah?"

Han Bun tersenyurn.

"Pangeran Liang Tek Ong bermaksud memberontak dan mengadakan persekutuan dengan orang-orang Mongol. Kalau surat-surat ini tidak berada di tangannya, maka ia selalu akan menjadi gelisah dan takut kalau-kalau rahasianya ini diketahui oleh Kaisar. Hal ini akan melemahkan semangatnya dan akan mencegahnya bertindak terlebih jauh. Aku akan memberi surat ancaman kepadanya dan surat-surat ini akan kujadikan kendali untuk mengikat hidungnya agar ia jangan dapat bergerak dan biarlah ia selalu berada dalam kegelisahan. Sementara itu, aku akan mencari seorang pembesar di Kotaraja yang benar-benar merupakan seorang Tiongsin (menteri setia) agar dapat menyampaikan surat-surat ini kepada Kaisar. Karena kalau surat-surat ini sampai terjatuh ke tangan seorang Kansin (menteri durna), maka segala jerih payah kita akan sia-sia belaka."

Pek Giok benar-benar menjadi pening memikirkan hal yang amat ruwet baginya itu. ia menghela napas dan berkata.

"Hm, bagianmulah pekerjaan Itu! Aku tidak tahu bagaimana harus berbuat kalau surat-surat itu berada di tanganku. Biarlah, kau boleh bawa barang celaka itu. Hanya sedikit kusayangkan..."

"Apakah itu?"

"Dengan adanya penuturanmu ini, aku tidak mempunyai alasan untuk berkeras, dan kau terlalu enak, dapat menerima peti itu begitu saja!"

"Nona, urusan ini adalah sebuah urusan yang besar dan amat penting sekali. Aku tahu bahwa kau tidak suka mengalah begitu saja dan ingin... mencoba kepandaianku lebih dulu sebelum memberikan peti ini kepadaku, bukan?"

Merahlah muka Pek Giok mendengar dugaan yang tepat ini.

ia sudah terlalu sering mendengar pemuda ini mengeluarkan dugaan-dugaan yang tepat tentang apa yang sedang terkandung dalam hati-nya!

Maka ia lalu membalikkan tubuh dan berkata.

"Sudahlah! Kau bawa pergi benda itu dan kita berpisah di sini!"

"Nona tunggu dulu!"

Pek Giok menengok dan ia melihat betapa pemuda itu memandangnya dengan muka sedih.

"Benar-benarkah kau hendak meninggalkan aku?"

Tanya pemuda itu.

"Tentu saja! Kita tidak mempunyai hubungan sesuatu, tidak ada kepentingan apa-apa, mengapa tidak berpisah?"

"Nona, demikian kerasnya hatimu? Kita sudah melakukan perjalanan bersama, sudah menghadapi bahaya bersama, menghadapi lawan-lawan tangguh berdua dan kau... kau belum juga memberitahukan kepadaku siapakah namamu, darimana kau datang dan di mana tempat tinggalmu!"

Kini Pek Giok tersenyum dan berdebarlah jantung Han Bun melihat betapa cantik jelita dan manisnya kalau gadis itu tersenyum.

"Bukankah kau sudah mengetahui namaku? Kau selalu menyebutku Ikan Emas Bermata Bintang. Nah, itulah namaku! Perlu apa kau ingin mengetahui tempat tinggalku dan lain-lain? Aku... aku seorang perantau, tak bertempat tinggal. Kita hanya kebetulan saja bertemu, biarlah kuanggap sebagai pertemuan dalam mimpi. Selamat tinggal!"

Gadis itu lalu menggerakkan kakinya dan melompat jauh. Akan tetapi Han Bun mengejarnya.

"Nanti dulu, nona... Pertemuan kita tidak seremeh itu! Kau telah berkali-kali menolongku, tak mungkin hubungan kita akan terputus sedemikian saja. Bagiku bukan merupakan sebuah mimpi, aku... aku takkan dapat melupakan kau, nona. Beritahukanlah sebelum kau pergi, ke mana aku harus menyusulmu kelak, di mana kita dapat bertemu lagi..."

"Di... alam mimpi juga! Sudahlah, Han Bun, tak patut seorang pemuda bersikap lemah dan berlaku ceriwis! Kalau... kalau ada jodoh kita tentu akan bertemu kembali!"

Setelah berkata demikian, dengan muka merah karena jengah, Pek Giok lalu mempercepat gerakan kakinya dan berlari sepanjang Sungai Wei-Ho menuju ke utara!

Han Bun tak jadi mengejar dan hanya berdiri memandang sampai bayangan gadis yang telah menawan hatinya itu lenyap di balik pohon.

Kata-kata terakhir dari Pek Giok mendatangkan debar aneh dalam hatinya.

Kalau berjodoh...

Ah, ia tahu bahwa gadis itu juga mengandung perasaan suka kepadanya, dan kini tinggal terserah dalam tangan gadis itu apakah kelak mereka akan bertemu kembali atau tidak!

Kalau ada jodoh...

Han Bun menarik napas panjang berkali-kali, kemudian ia juga melanjutkan perjalanannya.

Pek Giok berlari cepat, melanjutkan perjalanannya dengan hati girang.

ia takkan dapat melupakan, ah, alangkah merdunya kata-kata ini!

Sesungguhnya, ia akan merasa gembira sekali apabila dapat berada di dekat pemuda itu, dapat melakukan perjalanan bersama.

Alangkah senangnya dapat berada disampingnya untuk selamanya!

Tiba-tiba mukanya terasa panas ketika ia berpikir demikian.

Ah, ia tidak boleh begitu lemah.

ia bukan seorang gadis yang mudah tunduk begitu saja, tak mudah menyerahkan hatinya kepada seorang yang baru saja ditemuinya begitu saja!

Ketika Han Bun bertanya tentang nama dan asal usulnya, hatinya ingin sekali mengaku terus terang, akan tetapi ia teringat akan keadaan Ayahnya.

Alangkah akan malunya kalau pemuda itu mengetahui bahwa Ayahnya adalah Sam-Thouw-Coa Siok Kong, kepala perampok yang terkenal kasar dan kejam!

Tentu saja ia tidak dapat mengaku bahwa Ayahnya adalah seorang perampok besar dan bahwa tempat tinggalnya adalah di tengah hutan yang dijadikan sarang oleh Ayahnya dan anak buah perampok!

Perjalanan yang ditempuh Pek Giok amat jauh, menyusur sepanjang Sungai Wei-Ho yang menjadi anak Sungai Huang-Ho, melalui dusun-dusun dan kota-kota besar seperti Sian, Loyang di Propinsi Sensi dan Honan.

ia melakukan perjalanan dengan amat cepatnya, kadang-kadang menyewa perahu mengambil jalan air, kemudian setelah bosan ia lalu berjalan cepat melalui daratan.

Akhirnya, pada suatu pagi sampailah ia di hutan sebelah barat kota Sung-Kian, di mana Ayahnya tinggal bersama kawan-kawan perampok!

Hatinya berdebar girang dan ia telah mernbayangkan betapa Ayahnya akan menyambut kedatangannya dengan girang.

Telah hampir tujuh tahun ia meninggalkan Ayahnya dan wajah Ayahnya masih diingatnya benar.

ia masih ingat bahwa Ayahnya membangun sebuah pondok kayu di dalam hutan itu sebelah utara, dekat anak sungai yang mengalirkan air jernih.

Setelah memasuki hutan dan melihat pohon-pohon liar, bunga-bunga dan burung-burung yang berkicau di pagi hari itu, hatinya menjadi gembira sekali.

Teringatlah ia betapa senang hidupnya di dalam hutan ini tujuh tahun yang lalu.

Setelah memasuki hutan, maka ia teringat kembali akan keadaan di dalam hutan yang tidak banyak berubah, maka dipercepatlah tindakan kakinya menuju ke bagian utara, untuk mencari pondok Ayahnya.

Tiba-tiba dari sebelah kiri menyambar tiga batang anak panah yang menancap di batang pohon yang berada di depannya.

Kemudian terdengar orang bersorak dan kaki berlari-lari mendatang.

Pek Giok merasa heran sekali.

Cara perampokan macam ini tidak biasa dilakukan oleh Ayahnya.

Kalau hendak merampok, Ayahnya keluar begitu saja tanpa menyerang orang dengan anak panah...

Tak lama kemudian, dari belakang pohon-pohon keluarlah belasan orang perampok yang dipimpin oleh seorang perampok muda yang bermuka hitam dan bermata liar.

Pek Giok masih dapat mengenal beberapa muka anak buah perampok, akan tetapi ia tidak melihat Ayahnya.

Juga pemimpin perampok yang masih muda ini belum pernah dilihatnya.

dahulu.

Ternyata bahwa perampok-perampok yang dulu ikut Ayahnya, tidak mengenalnya lagi dan Pek Giok juga tidak mau mernperkenalkan diri, hendak dilihatnya apakah yang mereka akan perbuat terhadap dirinya dan pula, ia merasa terheran karena tidak melihat Ayahnya.

"Kalian mau apakah?"

Tanyanya dengan suara keren. Pemimpin perampok muda itu tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan nona muda yang cantik ini. Lagak dan ketawanya tidak menyedapkan hati Pek Giok.

"Lihatlah, ha, ha, ha!"

Pemimpin perampok itu berkata kepada kawan-kawannya.

"Tidakkah nona manis ini pantas sekali menjadi isteriku? Nona, kau manis dan cantik sekali, telah lama kurindukan seorang seperti kau!"

Bukan main marahnya Pek Giok mendengar ucapan ini. ia bertolak pinggang dan membentak.

"Bangsat kurang ajar! Dari manakah datangnya anjing seperti kau di tempat ini? Dahulu, kawanan liok-lim di tempat ini adalah orang-orang gagah yang tidak mau menghina wanita, akan tetapi sekarang mengapa pemimpinnya seorang hina-dina macam kau? Hayo cepat katakan, di mana adanya Siok-Tai-Ong yang dulu!"

"Ha, ha, ha! Kau sudah kenal Siok-Tai-Ong? Ah, bukankah aku lebih gagah daripadanya? Ada yang muda dan kuat, mengapa kau mencari yang tua dan lemah?"

Pek Giok tak dapat menahan sabarnya lagi. Tangan kanannya bergerak maju dan "Plak!"

Muka yang hitam itu kena ditamparnya keras sekali.

"Aduh...!"

Pemimpin perampok muka hitam itu terhuyung ke belakang dan memegang pipinya yang menjadi bengkak.

Dari mulutnya keluar darah karena dua buah giginya telah copot!

ia menjadi marah dan dari sepasang matanya yang liar seakan-akan keluar api.

"Babi betina! Kau berani menghinaku?"

Kepala rampok ini lalu mencabut goloknya dan menyerang dengan hebat.

"Anjing hina-dina! Binatang macam kau tak perlu menjual lagak di depan nonamu!"

Seru Pek Giok dan cepat ia mengelak ke kanan dan ketika kaki kirinya mengirim tendangan kilat yang tepat menyambar pergelangan kepala rampok itu sehingga goloknya terlempar, si muka hitam itu berteriak kesakitan dan Pek Giok menyusul dengan sebuah tamparan pula yang mengenai telinganya dan membuat tubuhnya terlempar dan bergulingan di atas rumput tak dapat bangun lagi!

Kepala rampok itu merasa kepalanya seakan-akan hendak pecah saking sakitnya.

"Kurang ajar! Hayo lekas katakan di mana adanya Ayahku, Siok Kong?"

Mendengar bahwa nona ini adalah Pek Giok, nona kecil yang menjadi anak kepala rampok Siok Kong, terkejutlah beberapa orang perampok tua bekas anak buah Siok Kong, akan tetapi perampok-perampok baru yang menjadi anak buah si muka hitam tadi, lalu maju menyerbu.

Akan tetapi beberapa kali menggerakkan kaki tangannya, Pek Giok telah menyapu mereka sehingga terdengar pekik kesakitan dan mereka itu roboh seorang demi seorang!

Tiba-tiba seorang perampok tua yang masih dikenal oleh Pek Giok sebagai seorang bekas anak buah Ayahnya, melompat maju dengan pedang di tangan dan sebelum dapat dicegah, perampok ini membacok kepala rampok muda bermuka hitam itu sehingga lehernya menjadi putus!

Kemudian perampok itu menjatuhkan diri berlutut di depan Pek Giok dan...

menangis!

Perampok-perampok lainnya juga berlutut di samping perampok tua itu.

"Bukankah kau Teng-Pekhu?"

Tanya Pek Giok. Perampok itu mengangguk-angguk sambil menahan tangisnya.

"Siocia, kau telah menjadi seorang yang berkepandaian tinggi! Ah, alangkah akan senangnya hati Ayahmu kalau ia masih hidup..." (Lanjut ke

Jilid 07) Antara Dendam & Asmara (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 07 Pucatlah muka Pek Giok mendengar ini.

"Apa katamu...??? di mana Ayahku? Mengapa dia...??"

Perampok she Teng itu lalu bangun berdiri, memberi perintah kepada kawan-kawannya untuk mengurus mayat kepala rampok muka hitam itu dan mengobati lain perampok yang terluka, lalu ia mengajak Pek Giok menuju ke pondok Ayahnya dahulu.

Setelah mereka masuk ke dalam pondok dan Pek Giok telah mengambil tempat duduk, perampok itu lalu menceritakan peristiwa yang terjadi kurang lebih setahun yang lalu.

"Si muka hitam itu tadinya adalah seorang perampok tunggal, akan tetapi karena ia terkenal kejam dan suka mengganggu anak bini orang maka Ayahmu tidak suka kepadanya sehingga diantara mereka terdapat permusuhan. Pada suatu hari, ia datang menantang Ayahmu dan dalam sebuah pertempuran hebat, Ayahmu telah dibinasakan olehnya! Kami tidak berdaya karena si muka hitam itu benar-benar tangguh sehingga terpaksa kami dengan hati dendam menjadi anak buahnya dan sudah setahun ini ia mengepalai kawan-kawan di hutan ini, bahkan ia lalu mendatangkan anggota-anggota baru yang sama jahatnya. Telah lama kami mengandung niatan untuk melarikan diri atau memberontak, akan tetapi seperti kukatakan tadi, kami tidak kuat menghadapinya. Dan hari ini, secara tak tersangka-sangka, kau datang, nona, dan dapat membalaskan sakit hati Ayah angkatmu."

Pek Giok tadinya merasa marah sekali mendengar bahwa Ayahnya terbunuh oleh si muka hitam tadi, akan tetapi mendengar ucapan terakhir ia membelalakkan matanya dan bertanya setengah membentak.

"Apa maksudmu dengan Ayah angkatku???? Siapa Ayah angkatku?"

Perampok tua itu menghela napas panjang dan berkata lagi.

"Sesungguhnya aku takkan berani mengeluarkan ucapan itu kalau tidak mendapat pesan dari mendiang Siok-Tai-Ong. Ketika ia telah terluka hebat oleh si muka hitam dan kurawat, ia meninggalkan pesan yang harus kusampaikan kepada Siocia apabila aku dapat bertemu denganmu."

"Bagaimana pesannya? Lekas katakan!"

Tanya Pek Giok dengan hati berdebar.

"Dia meninggalkan pesan yang singkat dan maksudnya hanya memberitahu bahwa sesungguhnya nona bukanlah anaknya. Mendiang Ayah angkatmu ini merampasmu dari tangan seorang jahat yang menculikmu dari kedua orang-tuamu yang asli."

Maka perampok tua itu lalu menceritakan riwayat Pek Giok yang terbawa oleh penculik Liu Bo Cin.

Betapa Liu Bo Cin lewat di dalam hutan ini dan kemudian dapat terbunuh oleh Siok Kong yang selanjutnya mengaku anak kepada Pek Giok.

"Ketika hal itu terjadi, kau masih amat kecil dan ketakutan serta telah mengalami banyak penderitaan, maka mungkin sekali hal itu tak teringat lagi olehmu, nona. Akan tetapi karena aku sendiri ketika itu berada pula di sini, maka dapat aku menceritakan semua hal ini kepadamu. Adapun pesan Ayahmu itu adalah pesan yang amat penting, karena sebelum menghembuskan napas terakhir, ia memberitahukan siapa adanya orang-tuamu yang sesungguhnya!"

Semenjak mendengar penuturan tadi, wajah Pek Giok menjadi muram, ia mengerutkan kening dan dari kedua matanya tak terasa lagi mengalir turun air mata.

Kini mendengar ucapan terakhir ini, ia mengangkat mukanya dan memandang dengan mata terbelalak kepada perampok tua itu.

"Teng-Pekhu, lekas katakan, siapakah mereka itu? Siapakah orang-tuaku yang sesungguhnya? Kini aku teringat sedikit tentang peristiwa penculikan itu setelah kau menceritakannya kepadaku. Memang, aku kini teringat bahwa aku bukanlah anak Ayah Siok Kong. Aku teringat bahwa aku dibawa lari dan diikat kaki tanganku oleh seorang laki-laki yang bermuka kuning dan bermata liar. Akan tetapi, aku tidak ingat lagi siapakah adanya Ayah-Bundaku. Lekas kau sebutkan nama mereka, Teng-Pekhu!"

"Menurut pesan Ayah angkatmu, orang-tuamu itu adalah seorang Guru silat bernama Can Gi Sun yang tinggal di kota Sung-Kian, tak jauh dari hutan ini, di sebelah timur."

Pek Giok meramkan kedua matanya dan wajahnya menjadi pucat.

ia duduk sambil memejamkan mata, kedua tangannya diangkat dan meraba jidatnya.

ia mengerahkan ingatannya dan kini terbayanglah kembali peristiwa di waktu ia masih kecil.

ia melihat wajah seorang wanita yang cantik jelita, yang menimang-nimangnya dengan penuh kasih sayang, terbayang pula wajah seorang laki-laki yang tinggi kurus dan yang amat baik terhadapnya.

Terbayang pula sebuah bangunan rumah di kota Sung-Kian, rumah yang mempunyai pekarangan lebar.

Teringat olehnya betapa laki-laki tinggi kurus itu seringkali pergi meninggalkan rumah, pergi jauh mengirimkan gerobak terisi barang-barang sambil menunggang kuda dengan gagahnya, meninggalkan ia dalam pangkuan wanita cantik jelita itu.

"Aku teringat... aku teringat..."

Bisik Pek Giok, sedangkan perampok tua itu memandang dengan terharu.

Pek Giok membuka matanya dan ternyata bahwa matanya telah menjadi basah.

Butiran-butiran air mata mengalir turun di sepanjang pipinya.

"Teng-Pekhu kini teringatlah olehku. Memang benar, Ayah-Ibuku masih hidup... mereka tinggal di Sung-Kian, dalam sebuah rumah sederhana yang lebar pekarangannya. Dan Ayah angkatku itu... ah, sungguh kasihan dia! Belum ada kesempatan bagiku untuk membalas budinya, ia telah menolongku, telah melepaskan aku dari bahaya maut ketika aku diculik Bangsat itu. Ah, Teng-Pekhu, antarkan aku ke makamnya!"

Pek Giok lalu diantar oleh perampok itu ke makam Siok Kong, sebuah makam sederhana yang merupakan segunduk tanah saja. Pek Giok menjatuhkan diri berlutut dan memeluk gundukan tanah itu.

"Ayah..."

Bisiknya dengan air mata bercucuran.

"betapapun juga... kau kuanggap seperti Ayahku sendiri kau seorang mulia... semoga arwahmu mendapat tempat yang baik, Ayah..."

Pek Giok lalu memasang hio dan bersembahyang, berdiam di tempat itu, membersihkan rumput dan berpesan kepada perampok she Teng itu untuk merawat rnakam ini, memberinya uang guna membeli batu nisan dan memperbaiki kuburan itu.

Sampai setengah hari ia berada di situ, kemudian ia meninggalkan hutan, menuju ke timur, ke kota Sung-Kian, di mana orang-tuanya, yakni Can Gi Sun dengan isterinya, tinggal!

Telah lama sekali kita meninggalkan Can-Kauwsu dan Song-Kauwsu, dua Guru silat yang saling bermusuhan itu.

Marilah kita menengok keadaan mereka dan melihat apakah yang terjadi selama ini, karena sesungguhnya selama kita mengikuti pengalaman-pengalarnan Pek Giok dan Han Bun, banyak hal telah terjadi antara kedua orang Guru silat yang saling mendendam itu.

Sebagaimana telah kita ketahui di bagian pertarna, semenjak Suheng dari Can Gi Sun yang bernama Link Si Seng dalam usahanya membalas sakit hati Sutenya itu tewas dalam tangan Lee Kim Lun, Can-Kauwsu menjadi putus harapan untuk dapat membalas dendam.

ia lalu membawa isterinya pindah ke sebuah dusun kecil tak jauh dari Sung-Kian dan hidup menanggung penasaran hati di dusun itu.

Yang menjadi hIburan satu-satunya adalah Lui Siong, murid kepala yang amat setia itu.

Lui Siong yang bekerja sebagai Piauwsu, seringkali mengunjungi Suhunya, membawa oleh-oleh dari perjalanannya, menghIbur hati Suhunya dengan cerita-cerita pengalamannya di waktu melakukan perjalanan mengantar barang-barang ke kota dan daerah lain.

Pada suatu hari Lui Siong datang mengunjungi Suhunya dengan wajah berseri.

Begitu bertemu dengan Suhunya, ia berkata.

"Suhu, benar-benar Thian amat adil. Orang jahat walaupun amat kuat dan berkuasa, akhirnya dapat juga pembalasannya dari Thian!"

"Lui Siong, apakah maksud kata-katamu"

"Musuh kita, Song Swi Kai itu, kini baru merasa betapa sengsaranya dIbuat sakit hati!"

Murid yang usianya sudah empat puluh tahun lebih ini tertawa bergelak.

"la telah mengandalkan bantuan Kakak-beradik she Lee untuk menindas kita, tidak tahunya ia telah memasukkan dua ekor srigala di dalam rumahnya. Ha, ha, ha!"

Can-Kauwsu makin tertarik mendengar ini dan mendesaknya agar supaya segera menceritakan hal itu.

"Seperti Suhu ketahui pula,"

Lui Siong mulai bercerita.

"si sombong Lee Kim Lun itu diambil mantu oleh Song-Kauwsu, juga perempuan cabul Lee Kim Lian tinggal pula di rumahnya. Dan sekarang terlihatlah benar-benar sifat-sifat buruk mereka. Lee Kim Lun hanya menikah dengan puteri Song-Kauwsu karena terpikat oleh kecantikan dan kekayaannya. Kini Bangsat muda itu selain menghamburkan uang mertuanya, juga menyakiti hati isterinya. Jarang sekali berada di rumah dan pekerjaannya hanya pelesir membuang-buang uang belaka, mengunjungi perempuan-perempuan lacur, bahkan kabarnya memelihara banyak bini muda di luar! Song-Kauwsu tentu saja merasa sakit hati, akan tetapi ia tidak berdaya menghadapi mantunya yang tinggi ilmu kepandaiannya itu! Ha, ha, ha! Kekayaan keluarga Song sekerat demi sekerat habis digerogoti oleh bajingan itu!"

Lui Siong tertawa senang mengenangkan keadaan musuh besarnya yang menyedihkan itu.

"Dan apa pula yang dilakukan oleh perempuan jahat Lee Kim Lian itu?"

Bertanya Nyonya Can yang ikut merasa gembira mendengar keadaan keluarga Song yang dibencinya.

"Perempuan cabul itu merupakan penggoda kedua yang merusak hati Song-Kauwsu. Tidak hanya menyakiti dan merusak hatinya, akan tetapi merusak nama dan kehormatannya pula! Semenjak dahulu sudah kita ketahui bahwa perempuan itu berwatak buruk dan cabul serta tak tahu malu. Kini ia lebih berani lagi. ia bermain gila dengan semua anak murid Song-Kauwsu, menghamburkan uang dan membuat rumah Song-Kauwsu seperti sebuah rumah pelacuran! Ha, ha, ha! Dan Song-Kauwsu si tua bangka yang sornbong itu hanya dapat rnenghela napas menyesali nasibnya! Itulah pembalasan Thian atas dosa-dosanya terhadap Suhu!"

"Lui Siong, jangan kau berkata demikian,"

Tiba-tiba Can-Kauwsu berkata dengan suara sungguh-sungguh hingga membuat isteri dan muridnya memandang heran.

"Sepatutnya kita ikut merasa menyesal mendengar keadaan Song-Kauwsu sedemikian itu! Sesungguhnya, aku merasa kasihan kepadanya mendengar keadaannya seburuk itu."

"Akan tetapi, Suhu! Bukankah ia musuh besar kita dan ia pula yang telah mendatangkan malapetaka kepada Suhu?"

"Benar, akan tetapi kekalahanku dalam pIbu mendatangkan sakit hati yang lain lagi sifatnya. Sakit hatiku baru dapat terbalas kalau kita menangkan pihaknya dengan kepandaian silat pula. Terus terang saja, aku tidak membenci Song-Kauwsu, hanya penasaran karena tidak dapat mengalahkannya, atau rnengalahkan orang-orang yang membantunya. Malapetaka yang menimpa keluarganya bagiku bukanlah merupakan pembalasan yang memuaskan hatiku, bahkan mendatangkan rasa kasihan kepadanya."

"Ah, kau memang berhati lemah,"

Mencela isterinya.

"Bagiku, orang macam dia yang sombong dan jahat memang sudah sepatutnya mendapatkan hukuman dari Thian. ia telah menghancurkan kehidupan kita, bahkan telah menewaskan Liok-Twako, sungguhpun yang menewaskan itu adalah mantunya. Percayalah, sekarang Song-Kauwsu mendapatkan hukuman dari Thian, dan mantunya serta perempuan cabul itu kalau tidak mendapat pembalasan dari orang gagah lain, pasti akan menerima kutukan dari Thian Yang Maha Adil pula."

Can-Kauwsu menghela napas panjang dan berkata perlahan.

"Isteriku, kau tidak tahu tentang kegagahan..."

Beberapa hari kemudian, Lui Siong datang lagi dan kali ini ia datang dengan muka girang luar biasa.

ia datang bersama seorang pemuda yang bermuka putih dan tampan, seorang pemuda yang berpakaian seperti seorang pelajar dari Kotaraja, sikapnya halus, tutur sapanya sopan-santun, sehingga bertemu sekali saja dengannya orang akan merasa suka dan tertarik.

"Suhu, ini adalah anakku Lui Hong yang baru datang dari Kotaraja!"

Lui Hong lalu memberi hormat sambil berlutut kepada Guru Ayahnya, sehingga Can-Kauwsu cepat membangunkan pemuda itu.

ia melihat betapa sepasang mata pemuda itu amat tajam sehingga diam-diam ia merasa heran karena ia pernah mendengar dari Lui Siong bahwa anak muridnya ini adalah seorang pelajar.

Mengapa sepasang matanya seperti seorang ahli lweekeh?

"Suhu, sekarang kita dapat membalas dendam kepada Song-Kauwsu dan semua kaki tangannya!"

Lui Siong berkata dengan muka girang sekali.

"Apa maksudmu?"

Tanya Gurunya dengan tenang.

"Kita telah mempunyai seorang jago yang akan sanggup menghadapi mereka, Suhu!"

"Siapakah yang kau maksudkan?"

Gurunya mernandang tajam dengan ragu-ragu.

"Bukan lain orang ialah anakku ini sendiri. Lui Hong sanggup untuk menghadapi mereka semua, sanggup untuk mengalahkan seorang demi seorang!"

Terkejutlah Can-Kauwsu mendengar ini.

ia memandang kepada pemuda itu, dan ia merasa ragu-ragu.

Pemuda itu paling banyak baru berumur sembilan belas tahun dan sikapnya demikian lemah-lembut.

Andaikata pernah mempelajari ilmu silat, akan tetapi mungkinkah akan dapat menghadapi Kim Lian dan Kim Lun kedua saudara Lee yang lihai itu?

"Benarkah apa yang dikatakan oleh Ayahmu itu, Lui Hong?"

Tanyanya kepada pemuda itu. Lui Hong yang kini sudah cluduk di atas sebuah kursi, merangkapkan kedua tangannya yang tertutup lengan baju yang lebar itu lalu berkata halus sambil tersenyum.

"Can Lo-Enghiong, sesungguhnya Ayah terlalu melebih-lebihkan, karena belum tentu aku akan dapat rnengalahkan mereka. Akan tetapi, memang Ayah berkata benar bahwa aku sanggup untuk membalas dendam Lo-Enghiong dan Ayah, aku sanggup untuk mengadakan pIbu dengan pihak Song-Kauwsu dan semua keluarganya. Ayah telah menceritakan semua penasaran Lo-Enghiong kepadaku, dan memang mereka itu harus dibalas dengan cara yang terang pula, yakni dengan mendirikan sebuah panggung Luitai untuk menantang mereka mengadakan pIbu!"

"Akan tetapi mereka itu, terutama kedua saudara Lee, amat gagah perkasa dan tangguh!"

Kata Can-Kauwsu dengan ragu-ragu.

"Lo-Enghiong, untuk membela nama, kehormatan, dan kebenaran, seorang gagah tidak takut mati dan pantang mundur."

Ucapan yang amat gagah ini mendatangkan rasa kagum kepada Can-Kauwsu dan isterinya.

Terutama nyonya Can merasa kagum dan suka sekali kepada pemuda yang halus dan bersikap gagah ini.

Akan tetapi Can Gi Sun masih merasa ragu-ragu untuk mempercayakan pembalasan dendam itu kepada seorang pemuda yang nampaknya lemah dan belum berpengalaman itu.

Suhengnya sendiri, Liok Si Seng yang gagah perkasa, masih kalah bahkan tewas di tangan Lee Kim Lun.

Apakah pemuda anak Lui Siong ini memiliki kepandaian yang melebihi kepandaian Suhengnya itu?

"Lui Hong, ucapanmu ini benar-benar telah membangunkan hatiku, karena kau betul-betul telah mengangkat tinggi nama Ayahmu.

Ayahmu adalah muridku yang paling setia dan baik, maka sudah sepatutnya kalau aku bergembira pula melihat muridku mempunyai putera seperti kau.

Berapa lamakah kau mempelajari ilmu silat?

Dan siapakah Suhumu?"

"Semenjak datang ke Kotaraja, disamping pelajaran Bun (Sastera), Suhuku Sin-Kiam Kai-Ong Ma Cin telah membimbingku selama kurang lebih dua belas tahun, Lo-Enghiong,"

Jawab pemuda itu dengan suara sederhana, sarna sekali tidak menyombongkan diri.

Kemudian, atas desakan Can-Kauwsu yang ingin sekali mengetahui riwayatnya, ia lalu menceritakan pengalamannya.

Semenjak berusia enam tahun, Lui Hong telah dibawa ke Kotaraja oleh Ayahnya.

ia tinggal di rumah Kakak misan Ayahnya yang menjadi seorang saudagar hasil bumi dan keadaannya cukup kaya.

Sesuai dengan keinginan Ayahnya, Lui Hong mempelajari ilmu kesusasteraan dari seorang Guru sastera di Kotaraja dan ternyata anak ini mempunyai kerajinan dan kecerdikan sehingga ia mendapat kemajuan pesat.

Karena ini, ia amat disayang oleh Gurunya dan seringkali apabila lain-lain murid tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh Guru itu, selalu nama Lui Hong dipergunakan oleh Guru itu untuk menegur murid-muridnya yang lain.

"Lihatlah Lui Hong itu!"

Katanya dengan marah kepada murid-murid yang bodoh.

"Ia paling kecil diantara kamu sekalian, akan tetapi ia rajin dan pandai. Tidak malukah kalian? Lui Hong datang dari luar Kotaraja, berasal dari kota kecil saja, akan tetapi kecerdikannya melebihi kalian anak-anak Kotaraja yang bodoh!"

Karena itu, maka Lui Hong dibenci oleh kawan-kawannya.

Pada suatu hari, ketika Lui Hong pulang dari tempat belajar menuju ke rumah Pekhunya (Uwanya), ia dihadang oleh tiga orang teman sekolahnya yang usianya sudah jauh lebih tua daripadanya.

Kawan-kawannya inilah yang paling membenci dan menaruh dendam kepadanya.

"Anak manja!"

Teman-temannya itu memaki.

"Sekarang hendak kami lihat apakah kau dapat menggunakan kepintaranmu yang sering disebut-sebut oleh Sianseng (Bapak Guru) itu untuk membela diri!"

Setelah berkata demikian, tiga orang anak itu lalu menyerbu dan mernukul kepala Lui Hong.

Lui Hong mencoba membela diri, akan tetapi selain kalah besar, iapun dikeroyok tiga sehingga ia harus menerima pukulan dan tendangan bertubi-tubi.

Karena merasa sakit, Lui Hong menangis!

Pada saat itu, datanglah seorang pengemis tua yang pakaiannya penuh tambalan, akan tetapi anehnya tambal-tambalannya terbuat daripada kain halus dan baru.

Juga di punggung pengemis ini terdapat sebatang pedang.

ia segera menghampiri empat orang anak yang sedang berkelahi itu dan mencegah tiga orang anak yang rnengeroyok Lui Hong.

"Kau seorang anak laki-laki, mengapa menangis dalam perkelahian?"

Pengemis itu menegur Lui Hong. Anak kecil itu mengangkat muka dan berkata dengan sengit.

"Kalau satu lawan satu, tak nanti aku akan menangis!"

Pengemis itu memandang kepada tiga orang anak yang tertawa-tawa dan memaki Lui Hong sebagai seorang anak pengecut.

"Apakah kalian berani melawannya seorang demi seorang, tidak mengeroyok?"

"Tentu saja berani!"

Kata seorang diantara mereka yang terbesar. Usianya empat tahun lebih tua daripada Lui Hong.

"Kau berani melawan dia?"

Pengemis itu bertanya pula kepada Lui Hong.

"Kalau tidak main keroyokan, mengapa aku harus takut?"

Lui Hong yang bertubuh kecil kurus itu menjawab sambil menyusut air matanya.

Baru saja ia berkata demikian, temannya yang lebih besar itu sudah menubruk dan memukulnya, membuat Lui Hong terhuyung ke belakang dengan bibir berdarah.

ia menjadi mata gelap dan marah sekali, lalu membalas dan berkelahilah kedua orang anak itu dengan hebatnya.

Tentu saja Lui Hong yang harus menerima pukulan-pukulan, akan tetapi anak ini benar-benar tabah.

Biarpun pukulan-pukulan lawannya telah membuat mukanya bengkak-bengkak, akan tetapi dengan nekad ia melawan, memukul, menendang, bahkan menggigit, sehingga akhirnya lawannya itu kena digigit telinganya sampai hampir putus!

Anak itu menangis keras lalu berlari pergi dari situ, diikuti oleh dua orang kawannya!

Pengemis tua itu tertawa bergelak-gelak dan mengusap-usap kepala Lui Hong.

"Anak baik, kau cukup memiliki kegagahan! Akan tetapi bukan cara laki-laki untuk menggigit telinga lawan dalam perkelahian. Apakah kau suka belajar ilmu berkelahi sehingga lain kali kalau menghadapi serangan orang kau dapat membela diri dengan baik? Bahkan biarpun dikeroyok banyak lawan, janganlah baru tiga, meskipun tiga puluh orang sekalipun, kau akan dapat melawan dengan baik?"

"Tentu saja, Lopek. Tentu saja aku suka sekali belajar ilmu berkelahi!"

Jawab Lui Hong.

"Untuk apa? Apakah kau gemar berkelahi?"

"Tidak! Hanya untuk membela diri. Aku takkan berkelahi dengan siapapun juga kalau tidak diserang lebih dulu."

"Bagus, kalau begitu, aku akan memberi pelajaran kepadamu akan tetapi hal ini harus dirahasiakan dan jangan diketahui orang lain."

Demikianlah mulai hari itu Lui Hong menjadi murid pengemis tua yang bukan lain adalah Kai-Ong (Raja Pengemis Pedang Dewa) Ma Cin yang namanya telah terkenal di dunia persilatan.

Lui Hong belajar silat dengan diam-diam dan Suhunya mengajarnya di waktu malam dengan mendatangi rumah di mana Lui Hong tinggal, atau kadang-kadang Lui Hong menemui Suhunya pada waktu pulang dari sekolah.

Dengan demikian tak seorangpun mengetahui bahwa anak sekolah yang kelihatan lemah lembut itu telah menerima didikan langsung dari Sin-Kiam Kai-Ong yang lihai!

Seperti juga dalam pelajaran sastera, dalam pelajaran ilmu silat, Lui Hong ternyata memiliki bakat dan kecerdikan luar biasa sehingga ia mendapat kemajuan pesat dan amat disuka oleh Suhunya.

Karena Sin-Kiam Kai-Ong Ma Cin adalah seorang Hiapkek (Pendekar) perantau yang tidak tentu tempat tinggalnya, maka seringkali pengemis aneh ini meninggalkan Kotaraja sampai dua tiga bulan sehingga dalam waktu itu Lui Hong hanya melatih silat seorang diri dan menyempurnakan ilmu-ilmu yang telah dipelajarinya dari Suhunya itu.

Sebelum mempelajari ilrnu silat, Lui Hong bercita-cita untuk menempuh ujian kesusasteraan dan mencari kedudukan sebagaimana yang dicita-citakan Ayahnya pula.

Akan tetapi, setelah ia menjadi murid Sin-Kiam Kai-Ong Ma Cin, yang selain melatih silat juga memberi wejangan-wejangan dan menceritakan tentang keadaan Negara yang kacau dan banyaknya penjahat-penjahat yang muncul untuk mengganggu rakyat jelata, serta menceritakan pula betapa pendekar-pendekar gagah keluar dari tempat tinggal atau turun dari gunung untuk membasmi penjahat-penjahat dan menolong rakyat, maka hati Lui Hong tergerak dan lenyaplah cita-cita untuk menjadi seorang pembesar negeri!

Cerita Suhunya yang menyatakan betapa sebagian besar pembesar negeri bahkan menindas rakyat, membuat ia merasa benci akan kedudukan pembesar negeri dan kini cita-citanya berubah.

ia ingin merijadi seperti pendekar-pendekar perkasa pelindung rakyat itu!

Demikianlah, setelah ia tamat belajar ilmu kesusasteraan, ia tidak ikut menempuh ujian seperti halnya kawan-kawan lain, Akan tetapi lalu berpamit kepada Uwanya untuk pulang ke Sung-Kian, ke rumah orang-tuanya.

Akan tetapi sebenarnya, ia tidak langsung pulang ke rumah orang-tuanya, melainkan ikut dengan Suhunya merantau.

ia ingin meluaskan pengalaman dan menambah pengetahuan, melihat keadaan dunia di luar Kotaraja.

Dan dalam perantauannya dengan Sin-Kiam Kai-Ong inilah matanya terbuka lebar dan ia mendapat kenyataan akan kebenaran cerita Suhunya dulu.

Setahun lamanya ia merantau bersama Suhunya dan selama itu banyak perbuatan gagah telah ia lakukan bersama Gurunya.

Membela orang-orang lemah yang tertindas, membasmi penjahat-penjahat yang mengacau kehidupan rakyat.

Akhirnya, karena merasa rindu kepada orang-tuanya, ia berpisah dengan Suhunya dan pulang ke Sung-Kian, di mana ia disambut dengan girang oleh Ayah-Ibunya.

Secara singkat Lui Hong menceritakan riwayatnya kepada Can-Kauwsu seperti yang telah ia ceritakan kepada orang-tuanya pula.

Tentu saja ia tidak menceritakan betapa dalam perantauannya itu ia telah menolong keluarga Bangsawan dari Kotaraja yang terserang oleh perampok dalam perjalanan, dan tidak pula ia menceritakan betapa hatinya telah tercuri oleh puteri Bangsawan itu!

Hanya Suhunya seorang yang dapat mengetahui rahasia hatinya ini, tahu betapa anak muda ini menderita karena betapapun ia rnenyinta puteri Bangsawan itu, seujung-rambutpun ia tidak mempunyai harapan untuk dapat memetik bunga yang tumbuh dalam pot emas dalam gedung besar Bangsawan itu!

Mendengar penuturan Lui Hong, Can Gi Sun mengangguk-angguk kagum dan berkata.

"Aku pernah mendengar nama Sin-Kiam Kai-Ong Ma Cin, dan sesungguhnya aku belum pernah bertemu dengan orangnya, namun namanya cukup mengesankan dan aku percaya bahwa Suhumu itu tentulah seorang yang berkepandaian tinggi. Akan tetapi, musuh-musuh kita bukanlah lawan yang ringan, terutama kedua saudara she Lee itu, karena mereka itu adalah murid-murid dari Bu-Eng-Kwi Tok Liong Taisu, tokoh besar dan ahli Ngo-Heng Kam-Hoat yang amat terkenal karena kekejamannya di waktu masih muda!"

"Ayah telah menceritakan hal itu kepadaku, akan tetapi demi menjaga nama Ayah dan Lo-Enghiong, aku tidak merasa gentar untuk menghadapi mereka!"

Kata Lui Hong dengan gagah. Can-Kauwsu mengangguk-angguk.

"Kau memang patut dikagumi, Lui Hong. Bukan sekali-kali aku kurang percaya kepadamu, akan tetapi, karena telah berkali-kali kita menderita kekalahan, maka ada baiknya kita berlaku hati-hati. Kau tentu maklum akan kekhawatiranku ini, maka tentu kau takkan keberatan pula apabila kuuji dulu kepandaianmu sebelum kau mewakili kami mengajukan tantangan pIbu kepada mereka."

Lui Hong tersenyum dan mengangguk sopan sedangkan Lui Siong yang ingin membanggakan kepandaian puteranya kepada Can-Kauwsu berkata girang.

"Memang itu sebaiknya! Suhu berhak menguji calon jago kita agar kali ini tidak mengecewakan dan jangan sampai gagal, karena kegagalan sekali ini benar-benar akan menghancurkan nama kita!"

Mereka lalu pergi ke pekarangan belakang rumah itu, juga Nyonya Can ikut pula bangun dan hendak menyaksikan kelihaian putera dari Lui Siong yang setia itu.

"Lui Hong, kau cabutlah pedangmu dan mainkan ilmu pedangmu untuk kulihat,"

Kata Can-Kauwsu.

Lui Hong lalu mencabut pedangnya yang mengeluarkan Cahaya kuning, kemudian setelah memberi hormat kepada Can-Kauwsu dan isterinya, juga kepada Ayahnya, ia mulai bersilat pedang.

Mula-mula gerakannya lambat dan indah seperti orang menari sehingga Nyonya Can yang tidak mengerti ilmu silat menjadi kagum karena gerakan-gerakan itu memang lincah dan indah dipandang.

Akan tetapi lambat laun gerakan pemuda itu makin cepat dan sebentar kemudian gerakan pedangnya menjadi demikian cepatnya sehingga sinar pedang merupakan gulungan cahaya kuning yang menyelimuti tubuh pemuda itu sehingga tubuhnya tak nampak lagi!

Tidak percuma Lui Hong menjadi murid Ma Cin yang bergelar Raja Pengemis Berpedang Dewa, karena ilmu pedangnya ini benar-benar hebat.

Can-Kauwsu yang berdiri paling dekat merasakan angin pedang berkesiur dingin menyambar-nyambar sehingga ia diam-diam merasa amat kagum dan juga terkejut karena sungguh-sungguh tak disangkanya pemuda ini demikian hebat ilmu pedangnya!

ia lalu mengeluarkan sepasang Poan-Koan-Pit, senjatanya yang istimewa itu, kemudian ia melompat dan menyerbu sinar pedang itu sambil berseru.

"Lui Hong, awas, aku datang menyerang!"

Lui Hong maklum bahwa Guru silat tua ini hendak mengujinya, maka ia tidak berlaku seeji (sungkan) lagi dan mengeluarkan ilmu kepandaiannya yang tinggi.

Dengan ginkangnya yang hebat dan gerakan pedangnya yang cepat, ia menjaga diri dan sepasang Poan-Koan-Pit dan Can-Kauwsu tak dapat berdaya sama sekali.

Pemuda itu sengaja tidak mau membalas menyerang, karena ia hendak memperlihatkan kepandaian ginkangnya yang benar-benar hebat.

Bagaikan seekor burung kecil yang lincah ia berlompatan ke sana ke mari sambil saban-saban menggerakkan pedangnya menangkis Poan-Koan-Pit yang menyerangnya sehingga setelah empat puluh jurus lebih, Can-Kauwsu bukan saja sama sekali tak dapat mendesak, bahkan sebaliknya ia menjadi pening karena gerakan pemuda itu benar-benar cepat sekali.

"Kau balaslah dengan seranganmu!"

Seru Can-Kauwsu yang sudah tersengal napasnya.

"Maaf, Lo-Enghiong!"

Lui Hong berseru dan tiba-tiba gerakan pedangnya berubah menjadi ganas dan cepat mengirim serangan-serangan hebat!

Empat lima kali Can-Kauwsu masih sanggup menangkis, akan tetapi selanjutnya ia terdesak sedemikian rupa sehingga dalam jurus ke sepuluh terdengar suara keras dan sebuah Poan-Koan-Pitnya terlempar ke udara karena pukulan pedang yang gerakannya memutar!

Can-Kauwsu melompat mundur, juga Lui Hong melompat mundur, menyimpan pedangnya dan menjura dengan hormat.

Wajah pemuda ini hanya berubah sedikit merah, akan tetapi ia sama sekali tidak kelihatan lelah, bahkan napasnya masih biasa saja.

Sedangkan Can-Kauwsu telah berpeluh di jidatnya dan napasnya memburu.

"Bagus, bagus!"

Guru silat itu memuji.

"Ilmu pedangmu lihai sekali!"

Sebagai seorang ahli silat yang berpengalaman, sungguhpun kepandaiannya kalah tinggi, namun ia dapat mengukur bahwa kepandaian pedang pemuda ini tidak kalah lihainya oleh ilmu pedang Lee Kim Lian yang pernah mengalahkannya.

Namun dalam hatinya masih terdapat keraguan apakah pemuda ini akan dapat menandingi Lee Kim Lun yang memiliki ilmu silat lebih tinggi daripada Kim Lian.

Sementara itu, Nyonya Can merasa girang sekali.

ia memandang dengan kagum kepada pemuda itu dan tiba-tiba nyonya ini menangis tersedu-sedu!

Tentu saja Can-Kauwsu, Lui Siong, dan juga Lui Hong menjadi terheran-heran melihat nyonya itu menangis dengan amat sedihnya.

"Eh, eh, kau kenapakah? Kami tadi hanya main-main saja dan biarpun aku dikalahkan, namun aku tidak luka. Mengapa kau menangis?"

Setelah dapat meredakan tangisnya, nyonya itu sambil menyusuti air matanya lalu berkata dengan suara terputus-putus.

"Lui Hong demikian gagah. ia putera dari Lui Siong dan... ia mau membela nama dan kehormatan keluarga kita... ah... kalau saja Pek Giok masih ada... alangkah baiknya kalau Lui Hong menjadi mantu kita... ah, Pek Giok... Pek Giok...!"

Nyonya Can menangis lagi.

Diingatkan kepada anaknya yang hilang terculik itu, tiba-tiba wajah Can Gi Sun menjadi pucat dan iapun menjadi sedih sekali.

ia lalu duduk di atas sebuah bangku dan diam tak bergerak bagaikan patung.

Memang kata-kata isterinya itu amat baik.

Alangkah akan senangnya kalau Pek Giok masih berada di dekat mereka dan kini dijodohkan dengan pemuda yang pandai dan berbudi ini!

Sementara itu, Lui Siong juga berdiri diam bagaikan patung.

Pikirannya ruwet dan hatinya terharu.

Iapun akan merasa beruntung sekali dapat berbesan dengan Gurunya yang bijaksana dan mulia ini.

la masih teringat kepada Pek Giok, yang ketika kecilnya saja sudah menjadi seorang anak yang mungil dan cantik, akan kecewa hatinya apabila ia mendapat mantu seperti nona itu.

Adapun Lui Hong juga menjadi termenung mendengar ucapan nyonya Can itu.

Kata-kata ini mengingatkan ia akan pengalamannya di waktu ia merantau dengan Gurunya.

Kalau ketiga orang-tua itu terkenang kepada Pek Giok, adalah pemuda ini pikirannya melayang dan di depan matanya terbayang wajah manis dari seorang puteri Bangsawan di Kotaraja!

Puteri jelita yang telah menjatuhkan hatinya, akan tetapi yang mendatangkan rasa duka pula karena kenyataan bahwa tak mungkin seorang pemuda miskin dan "orang biasa"

Seperti dia akan dapat menjadi jodoh seorang puteri Bangsawan agung! Akhirnya Can-Kauwsu jualah yang dapat menundukkan gelora kesedihan di dalam hatinya. ia menghela napas dan berkata.

"Sudahlah, isteriku. Tak perlu kita bersedih untuk perkara yang sudah terjadi. Agaknya memang sudah menjadi kehendak Thian Yang Maha Kuasa, dan kita sebagai manusia hanya dapat menjalani saja."

Kemudian ia berkata kepada Lui Hong.

"Lui Hong, tak dapat kusangsikan lagi bahwa ilmu pedangmu benar-benar lihai dan kiranya kau takkan kalah menghadapi Lee Kim Lian, ataupun Lee Kim Lun sekali. Akan tetapi, kau tidak boleh bertindak secara sembrono, karena kalau kau menyerbu ke rumah mereka secara begitu saja sehingga kau merupakan seorang pendatang yang mengacaukan rumah orang, maka kau akan dikeroyok, dan amat beratlah kalau kau sampai dikeroyok dua oleh kedua saudara she Lee itu. Juga harus diingat bahwa di sana terdapat pula Song-Kauwsu yang kepandaiannya tidak lemah. Oleh karena itu, urusan balas dendam ini harus diatur merupakan tantangan resmi di atas panggung sehingga mereka tidak mempunyai kesempatan untuk berlaku curang dan mengeroyok. Panggung Luitai akan kita dirikan atas namaku, dan kita mengajukan dua orang jago, yakni kau dan aku sendiri, dan kita tantang Song-Kauwsu sendiri maju untuk melawanku dan kau boleh menghadapi seorang diantara kedua saudara Lee itu."

Mereka lalu mengadakan perundingan untuk pelaksanaan mendirikan panggung Luitai itu.

Karena Can-Kauwsu tidak mengajar lagi, maka mereka mengambil keputusan untuk pergi bertiga saja menghadapi pihak Song-Kauwsu.

Can-Kauwsu bersama Lui Siong lalu pergi ke kota Sung-Kian menemui Jin Hwat Hosiang ketua Kuil Ban-Hok-Si, karena tidak ada tempat yang lebih balk daripada pekarangan Kuil itu untuk mendirikan panggung Luitai.

Tadinya Jin Hwat Hosiang hendak menolak, akan tetapi setelah Lui Siong mengeluarkan uang sumbangan yang tidak kecil, terpaksa ketua itu menerimanya juga dengan syarat asalkan dalam pertandingan-pertandingan yang hendak diadakan itu tidak akan ada nyawa manusia menjadi korban.

Can-Kauwsu lalu menyerahkan pekerjaan pendirian panggung kepada Lui Siong, kemudian Guru silat ini pulang untuk membuat surat tantangan pIbu kepada Song-Kauwsu.

Ia sengaja tidak menyebut-nyebut nama kedua saudara Lee, karena tantangan pIbu ini hanya sebagai balasan dari tantangan yang diadakan oleh Song-Kauwsu kira-kira setahun yang lalu.

ia maklum bahwa sungguhpun ia tidak menyebut nama kedua saudara Lee, namun tentu kedua Kakak-beradik itu akan hadir juga, karena kalau tidak mereka berdua, siapakah lagi yang dapat diandalkan oleh Song-Kauwsu?

Memang benar sebagaimana pernah dituturkan oleh Lui Siong kepada Can-Kauwsu, keluarga Song Swi Kai sedang menderita tekanan batin yang hebat karena perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh Lee Kim Lun dan Lee Kim Lian, dua orang muda yang baru sekarang terbuka kedoknya dan ternyata adalah dua orang yang tidak tahu malu!

Pada hari-hari pertama, Lee Kim Lun memang kelihatan sebagai seorang suami dan anak mantu yang baik, akan tetapi beberapa bulan kemudian, nampaklah wajah aslinya!

ia menjadi acuh tak acuh kepada isterinya, bahkan seringkali berlaku sewenang-wenang terhadap Song Bwee Eng isterinya itu, sering membentak-bentak dan marah-marah kalau isterinya menegurnya mengapa sampai dua hari dua malam suami ini tidak pulang.

Bahkan ia mulai menghamburkan uang mertuanya melalui tangan isterinya yang hanya dapat menangis pada malam hari di waktu suaminya tidak pulang.

Akan tetapi, baik Bwee Eng maupun Song Swi Kai sendiri, tidak berdaya menghadapi Kim Lun dan tidak berani menegur atau mencegahnya, Karena makin lama sikap orang muda ini makin berani terhadap mertuanya sendiri!

Keadaan Lee Kim Lian lebih-lebih memanaskan perut Song Swi Kai suami-isteri lagi, karena gadis yang berbatin rendah dan hina itu kini dengan secara terang-terangan berani bermain gila dengan pemuda-pemuda murid Song-Kauwsu!

Bukan menjadi rahasia lagi bagi penduduk kota Sung-Kian bahwa gadis ini mempunyai tabiat cabul, dan di mana-mana, biarpun tidak berani secara berterang, orang-orang membicarakan gadis ini dengan mulut tersenyum menghina.

Bukan main sakit hatinya Song Swi Kai, akan tetapi apakah yang dapat ia lakukan?

Di dalam hatinya ingin ia mengusir gadis itu dan mencaci-maki mantunya, akan tetapi ia maklum bahwa kalau ia berani berbuat demikian, mereka akan melawan dan ia akan mendapat malu yang lebih besar lagi!

Dan pada hari itu datanglah surat tantangan dari Can-Kauwsu!

Song-Kauwsu terkejut menerima surat tantangan ini dan ia segera menyuruh seorang muridnya menyelidiki ke Kuil Ban-Hok-Si.

Betul saja, panggung Luitai telah dipasang dan di dalam suratnya, Can-Kauwsu memberi waktu tiga hari lagi untuk mengadakan pIbu!

Sebetulnya Song-Kauwsu merasa segan untuk minta bantuan mantunya dan Kim Lian, akan tetapi ia maklum bahwa biarpun untuk menghadapi Can-Kauwsu belum tentu ia akan kalah, akan tetapi kalau Can-Kauwsu sudah berani menantang pIbu, tentu Guru silat tua itu telah mempunyai seorang jago yang berkepandaian tinggi.

ia teringat kepada Liok Si Seng dan ia bergidik.

Kalau dulu tidak ada Kim Lun, tentu ia sudah tewas dalam tangan Suheng dari Can-Kauwsu yang galak itu.

Terpaksa ia menemui mantunya dan berkata.

"Hiansai (anak mantu), Can-Kauwsu telah mengirim surat tantangan kepada kita untuk mengadakan pIbu tiga hari lagi di atas panggung Luitai yang telah didirikan di halaman Kuil Ban-Hok-Si. Dalam suratnya, ia menantang untuk mengadakan dua kali pertandingan, yakni dia sendiri dan seorang jagonya. Oleh karena itu, biarlah aku sendiri yang menghadapi Can-Kauwsu dan kuharap kau suka menghadapi jago yang membantu Can-Kauwsu itu!"

Dengan tersenyum sindir Kim Lun menerima surat itu dan membacanya sendiri, kemudian ia berkata dengan sombong.

"Gakhu (Ayah mertua), hal yang begini remeh mengapa harus dibikin pusing? Can-Kauwsu telah berkali-kali mengalami kekalahan, dia sekarang boleh diumpamakan seperti seekor harimau tak berkuku lagi. Mengapa mesti takut kepadanya? Biarlah aku sendiri maju menghadapi dan menghancurkan mereka. Kali ini aku tidak akan bekerja setengah-setengah dan hendak kutewaskan saja Guru silat yang banyak lagak itu."

"Jangan, Hiansai. lni adalah sebuah pIbu dan sudah cukuplah kalau kita memperlihatkan kepada mereka bahwa kita lebih unggul! Aku sendiri yang akan menghadapi Can-Kauwsu."

"Gakhu, dahulupun kalau tidak aku dan adikku naik ke panggung, tentu Gakhu sudah kalah terhadap Can-Kauwsu. Apakah aku bisa melihat begitu saja mertuaku dikalahkan orang? Tidak, lebih baik aku sendiri menghadapi mereka berdua, atau kalau memang mereka menghendaki satu lawan satu, biar Kim Lian yang menghadapi Can-Kauwsu dan membikin mampus tikus tua itu!"

"Hiansai, ingat! Yang ditantang pIbu adalah aku, bukan kau!"

Kim Lun tertawa bergelak.

"Baiklah, kita lihat saja nanti. Sebelum pertandingan dimulai, hendak kuajukan usul, kita lihat saja bagaimana sikap mereka!"

Semenjak mendapat pukulan batin oleh sikap dan tabiat kedua saudara Kakak-beradik yang kini telah menjadi keluarganya itu, Song-Kauwsu telah banyak berubah.

Adatnya masih keras dan berani, akan tetapi kesombongannya banyak berkurang.

ia amat tidak suka melihat kesombongan Kim Lun dan Kim Lian, maka dengan sendirinya ia menjadi insaf bahwa kesombongan akan kepandaian sendiri sebenarnya amatlah buruk.

Buktinya kini ia tidak berdaya sama sekali menghadapi kedua orang muda itu.

Dimanakah kesombongannya yang dulu-dulu?

Pada hari yang telah ditetapkan, Song-Kauwsu bermaksud pergi bertiga dengan Kim Lun dan Kim Lian yang memaksa hendak ikut, dan berbeda dengan pIbu yang terdahulu, Song-Kauwsu tidak memperbolehkan murid-muridnya ikut.

Akan tetapi, ketika murid-muridnya merasa kecewa mendengar larangan ini, tiba-tiba Kim Lian maju dan membantah.

"Mengapa mereka tidak boleh ikut?"

Katanya dengan berani dan penasaran.

"Setidaknya mereka itu akan menambah keangkeran pihak kita! Menurut pendapatku, lebih banyak yang ikut lebih baik, sungguhpun mereka itu diharuskan tinggal diam dan tidak boleh ikut dalam pertandingan!"

Song-Kauwsu memandang marah dan hendak membantah, akan tetapi murid-muridnya telah bersorak girang mendengar ucapan Kim Lian ini, dan melihat Pandang mata Kim Lian dan Kim Lun yang kali ini diharapkan bantuannya, Song-Kauwsu hanya menahan rnarahnya dan diam saja.

Bwee Eng lalu menghIbur Ayahnya dan berkata.

"Biarlah, Ayah. Mengapa Ayah melarang mereka ikut? Murid-murid Ayah tentu saja ingin sekali menyaksikan Ayah bertanding pIbu, dan pula, patut diingat bahwa permusuhan kita dengan Can-Kauwsu dimulai dengan anak-anak muridnya!"

"Sukamulah! Sukamulah!"

Hanya demikian Song-Kauwsu berkata dan makin gembiralah sorak-sorai anak-anak muridnya.

Bahkan dalam hal pengaruh terhadap murid-muridnyapun Song-Kauwsu telah terdesak oleh Kim Lian yang menjadi "sahabat baik"

Para pemuda itu.

Maka berangkatlah rombongan Song-Kauwsu diikuti oleh banyak muridnya.

Mereka ini, termasuk Kim Lun, Bwee Eng, dan Kim Lian, berjalan dengan gagah dan gembira, berbeda dengan Song-Kauwsu yang berjalan di depan dan kelihatan tidak gembira.

Pakaiannya sederhana, tidak semewah dulu, dan jalannyapun tidak segagah dulu, seakan-akan ada sesuatu yang mengikat kedua kakinya dan yang membuat langkahnya tidaK leluasa.

Sebagaimana ketika diadakan pIbu oleh Song-Kauwsu setahun yang lalu, kini penonton telah memenuhi tempat itu, bahkan lebih banyak daripada dulu, Karena mereka telah mendapat kabar bahwa Can-Kauwsu telah mendapatkan seorang "jago"

Untuk menghadapi Lee Kim Lun atau Lee Kim Lian yang diam-diam mereka benci!

Tidak mengherankan apabila kini lebih banyak penonton yang berpihak kepada Can-Kauwsu!

Hal ini bukan disebabkan oleh karena mereka membenci Song-Kauwsu yang terkenal sebagai seorang hartawan yang dermawan juga, akan tetapi karena mereka merasa sebal dan benci kepada Kakak-beradik she Lee yang telah mengacau kota Sung-Kian itu.

Ketika rombongan Song-Kauwsu datang di tempat itu, Can-Kauwsu bersama Lui Siong dan Lui Hong telah berada di ruang depan Kuil Ban-Hok-Si.

Kedatangan rombongan Song-Kauwsu yang terdiri dari dua puluh orang lebih ini membuat keadaan menjadi tegang dan para penonton saling bicara membuat suasana di situ menjadi ramai.

Akan tetapi Can-Kauwsu tenang-tenang saja, Lui Siong kelihatan gelisah dan Lui Hong tersenyum-senyum manis!

Song-Kauwsu menjura kepada ketua Kuil Ban-Hok-Si, dan mengangguk ke arah Can-Kauwsu.

Kedua orang jago tua ini ketika saling bertemu, lalu menukar Pandang yang penuh kemarahan.

Can-Kauwsu lalu berdiri dari tempat duduknya dan naik ke atas panggung.

Karena ia sengaja tidak membuat anak tangga untuk menaiki panggung, maka dengan gerakan Burung Walet Menyambar Kupu, tubuhnya melayang ke atas panggung.

Jago silat tua ini ternyata masih memiliki kegesitan yang mengagumkan sehingga para penonton menyambut gerakannya dengan tepuk tangan riuh.

Can-Kauwsu mengangkat kedua tangannya dan menjura ke empat penjuru.

Para penonton diam, mendengarkan apa yang hendak dikatakan oleh Guru silat yang telah pindah ke dusun itu.

"Cuwi sekalian,"

Kata Can-Kauwsu dengan suaranya yang nyaring.

"Tentu cuwi masih ingat kepadaku, dan masih ingat pula akan pIbu yang diadakan oleh Song-Kauwsu di tempat ini untuk menantang kepadaku. Setahun yang lalu, aku sedang berpIbu dengan Song-Kauwsu akan tetapi sayang sekali datang dua orang luar yang membuat pIbu itu berhenti setengah jaIan, sehingga sampai kinipun belum dapat dipastikan siapakah sebetulnya yang lebih tinggi ilmu kepandaiannya antara Song-Kauwsu dan aku. Sebagai seorang-tua yang sudah banyak hidup di dunia persilatan, tentu saja hal ini mendatangkan rasa penasaran, baik dalam hatiku maupun dalam hati Song-Kauwsu. Sayang selama ini pIbu tak dapat diteruskan, karena terus terang saja, pihakku tidak berdaya menghadapi Song-Kauwsu yang mengandalkan bantuan orang-orang pandai yang menjadi keluarganya. Akan tetapi, sekarang aku mengadakan panggung Luitai dan menantang kepada Song-Kauwsu untuk melanjutkan pIbu setahun yang lalu itu. Aku mengajukan dua orang, yakni aku sendiri dan seorang sahabat baikku yang masih muda bernama Lui Hong. Dia ini sebetulnya bukan orang lain, karena masih putera dari muridku sendiri! Dan kuharap pihak Song-Kauwsu mengeluarkan pula dua orang jago, dia sendiri untuk menghadapi aku, dan seorang pilihannya untuk menghadapi sahabatku. Bukankah ini sudah adil?"

Ucapannya ini disambut dengan tepuk tangan oleh para penonton.

"Sudah adil!"

Terdengar seruan orang.

"Cukup adil!"

Terdengar suara lain.

Berbareng dengan suara sambutan dari para penonton itu, terlihat berkelebatnya bayangan yang melompat naik ke atas panggung.

Ternyata orang ini adalah Song-Kauwsu sendiri yang melompat naik dan menjura di depan Can-Kauwsu yang membalas pula sebagaimana mestinya.

"Can-Kauwsu, kata-katamu tadi memang benar. Aku sendiripun merasa penasaran dan marilah kita memutuskan sekarang juga. Adapun tentang pembantumu itu, biarlah ia dihadapi nanti oleh mantuku, Lee Kim Lun!"

Can-Kauwsu tersenyum puas.

"Baik, ternyata kau masih memiliki kegagahan, Song-Kauwsu. Marilah kita mulai!"

Can-Kauwsu dengan tenang lalu membuka jubah luarnya dan melemparkannya ke arah Lui Siong yang menerimanya dan menyimpannya.

Juga Song-Kauwsu hendak membuka jubahnya, akan tetapi pada saat itu, nampak berkelebat bayangan yang gesit dan ringan sekali dan tahu-tahu Lee Kim Lian telah berdiri di dekat Song-Kauwsu dan berseru.

"Tidak bisa!"

Gadis ini memandang kepada Can-Kauwsu dengan tajam dan mulutnya tersenyum manis mengejek.

"Can-Kauwsu, ada anak muda di sini, mengapa yang tua-tua harus maju? Untuk menghadapimu, cukup ada aku! Song-Kauwsu tak perlu turun tangan. Kalau kau merasa penasaran dan hendak membalas kekalahanmu dariku dulu, nah, sekaranglah kesempatan itu! Atau, barangkali kau takut kepadaku?"

"Perempuan rendah!"

Can-Kauwsu tak dapat menahan sabarnya lagi dan bersiap hendak menyerang.

"Siapa takut kepadamu? Biarlah kita mengadu jiwa di panggung ini!"

"Song-Lo-Enghiong, silakan mundur, biar aku yang memberi hajaran kepada tikus tua ini!"

Kim Lian berkata kepada Song-Kauwsu sambil tersenyum.

Song-Kauwsu hendak membantah, akan tetapi pandang mata Kim Lian begitu menentukan sehingga ia menjadi ragu-ragu.

Pada saat itu, berkelebat bayangan orang pula yang cepat sekali gerakannya dan tahu-tahu seorang pemuda yang tampan, berpakaian seperti seorang pelajar, telah berdiri di samping Can-Kauwsu.

ia menjura kepada Song-Kauwsu dan berkata.

"Memang betul sebagaimana yang kudengar. Pihak Song-Kauwsu memang curang selalu! Kalian hanya ingin mencari kemenangan dengan jalan tidak sewajarnya. Kalian sudah tahu tingkat kepandaian Can Lo-Enghiong, maka kini dengan curang hendak menggantikan tempat Song-Kauwsu! Pantaskah yang muda hendak menang dari yang tua mengandalkan tenaga yang lebih kuat dan mempergunakan kesempatan karena lawan telah lemah dan berusia tua? Pendeknya, kalau kalian memang orang-orang gagah yang tahu aturan kang-ouw, biarlah Can Lo-Enghiong melawan Song-Kauwsu. Adapun kalian orang-orang muda, tidak perduli berapa jumlahnya, satu, dua, atau dua puluh, akulah lawannya! Muda sama muda!"

Keadaan menjadi makin tegang dan para penonton setelah tahu bahwa pemuda itu adalah jago dari Can-Kauwsu, memuji keberanian dan kegagahannya, maka terdengar tepuk sorak ramai menyambut kata-kata itu.

Tiba-tiba Kim Lun melompat pula ke atas panggung sehingga kini keadaan menjadi lebih tegang dan ramai, karena sekaligus lima orang berada di atas panggung.

"Hai, jangan main keroyokan! Tidak adil! Tidak adil!!"

Orang-orang mulai bersorak-sorak karena mengira bahwa tiga orang dari pihak Song-Kauwsu itu hendak mengeroyok Can-Kauwsu dan pemuda simpatik itu.

Akan tetapi Kim Lun mengangkat kedua tangan kanannya ke atas kepala dan menyuruh diam semua penonton.

Setelah semua diam, Kim Lun berkata dengan suara keras.

"Cuwi sekalian! Agaknya Can-Kauwsu mengandalkan kelihaian kutu-buku ini maka berani menantang pIbu kepada kami! Baiklah, sekarang diatur seadil-adilnya. Karena sudah selayaknya kalau yang muda harus melawan yang muda terlebih dahulu, maka biarlah sekarang jago dari Can-Kauwsu ini memilih lawannya. Aku atau adikku! Setelah pertandingan ini, barulah dilangsungkan pertandingan antara Can-Kauwsu dan seorang dari pihak kami!"

"Masih tidak adil!"

Terdengar seruan para penonton.

"Song-Kauwsu sendiri yang harus menghadapi Can-Kauwsu, itu baru adil!"

Merahlah wajah Kim Lun mendengar ini. Kembali ia mengangkat kedua tangan-nya ke atas kepala.

"Baik, mertuaku akan menghadapi Can-Kauwsu di babak terakhir. Akan tetapi, pihak kami ada tiga orang, maka pihak Can-Kauwsu harus ada tiga orang pula! Kalau hanya dua orang, bagaimana kalau nanti seorang menang seorang kalah? Bukankah itu berarti masih belum ada keputusan pihak mana yang lebih unggul?"

Lui Hong tersenyum dan menjawab pertanyaan ini.

"Mudah saja, sobat! Biarlah pihakmu yang dua orang itu, yakni kau dan adik perempuanmu, kulawan seorang diri saja! Baik kalian mau maju seorang demi seorang, ataupun mau maju bersama, aku bersedia melayani kalian berdua!"

Ucapan yang agak sombong ini disambut oleh teriakan dan sorak gembira oleh para penonton.

Mereka merasa girang sekali bahwa kini ada orang yang berani menantang kedua saudara Lee itu, bukan menantang saja, bahkan berani menghadapi mereka berdua sekaligus!

Makin merah wajah Lee Kim Lun.

ia memandang kepada Lui Hong dengan mata merah dan kegemasannya membuat ia ingin sekali memukul hancur kepada pemuda terpelajar itu!

"Baik!"

Katanya keras-keras.

"Kau harus mengalahkan kami berdua lebih dulu, barulah mertuaku akan berhadapan dengan Can-Kauwsu. Akan tetapi jangan kau menyombong dulu, kawan. Tak usah kami berdua maju bersama, seorang saja diantara kami akan sanggup membuat kau menggelinding ke bawah panggung tanpa nyawa pula! Aku sendiri yang akan menghadapimu!"

Sementara itu, Can-Kauwsu dan Song-Kauwsu lalu melompat turun dari panggung ke tempat duduk masing-masing.

Nyata sekali bahwa bukan mereka yang memimpin pertandingan pIbu ini, akan tetapi Lee Kim Lun dan Lui Hong!

Akan tetapi Lee Kim Lian masih belum mau turun dan ia berkata kepada Kakaknya.

"Engko Lun, biarkan aku turun tangan lebih dulu. Kau turunlah dan kau lihat saja betapa aku akan mempermainkan pemuda lemah-lembut ini. Ingat, yang muda maju lebih dulu, bukan?"

Kim Lun terpaksa menahan marahnya dan diam-diam ia merasa mendongkol kepada adiknya.

"Mata keranjang!"

Bisiknya marah, akan tetapi ia mengalah dan melompat turun dari panggung.

Kim Lian memang semenjak tadi memandang kepada Lui Hong dengan hati tertarik.

Belum pernah ia melihat seorang pemuda sehebat ini.

Tidak saja tampan dan halus lemah lembut, akan tetapi juga amat gagah berani dan melihat cara ia melompat ke atas panggung, teranglah sudah bahwa pemuda ini memiliki kepandaian tinggi.

Maka diam-diam ia jatuh cinta kepada pemuda ini.

Memang beginilah watak Kim Lian yang genit dan cabul.

Tidak boleh melihat muka tampan!

"Sobat, kau agaknya memiliki kepandaian tinggi dan ternyata kau berani sekali,"

Katanya perlahan sehingga hanya pemuda itu saja yang dapat mendengarnya.

"sayang sekali kalau kita sampai bertempur. Sebenarnya, siapakah kau dan pernah apakah kau dengan Can-Kauwsu, maka kau membelanya mati-matian? Bukankah lebih baik kita bersahabat daripada bermusuhan?"

Ia tersenyum dan lirikan matanya memikat hati.

Bukan main muak dan sebelnya rasa hati Lui Hong mendengar ucapan ini dan melihat lagak gadis itu.

Akan tetapi Lui Hong adalah seorang pemuda terpelajar dan selalu dididik untuk bersikap sopan santun, maka ia menjawab dengan halus dan menyembunyikan kemarahan hatinya.

"Nona, aku bernama Lui Hong dan Can-Kauwsu masih terhitung Kakek Guruku sendiri, karena Ayahku adalah muridnya! Sudahlah, mari kita mulai pIbu ini agar segera terdapat ketentuan siapa yang lebih unggul!"

Akan tetapi kembali Kim Lian mengerling genit.

"Tidak kasihan dan sayangkah kau kalau sampai aku kena pukul olehmu? Aku sendiri merasa amat sayang kalau kau sampai kena kutendang atau kupukul. Benar-benarkah kau tidak menghendaki persahabatan dengan aku?"

Sementara itu, para penonton yang melihat betapa gadis cabul itu beraksi, melirik-lirik dan tersenyum-senyum, mengeluarkan ucapan-ucapan bisikan yang tak dapat mereka dengar, mulai berteriak-teriak tak puas, bahkan ada yang mentertawakan.

Karena itu, Lui Hong lalu berkata keras.

"Marilah nona, kita mulai pIbu ini!"

Sambil berkata demikian, Lui Hong mencabut keluar pedangnya yang berkilau kekuning-kuningan.

Lee Kim Lian juga menjadi mendongkol mendengar teriakan-teriakan penonton itu, dan ia merasa malu ketika melihat betapa pemuda itu sama sekali tidak melayaninya, maka iapun lalu mencabut keluar pedangnya yang sepasang itu.

Di dalam sarung pedang, kelihatannya seperti hanya sebatang, akan tetapi setelah dicabut, ternyata itu adalah dua batang pedang atau Siang-Kiam yang tipis dan berkilauan tertimpa sinar matahari!

"Bagus, lekas perlihatkan Ngo-Heng Kiam-Hoat, hendak kulihat bagaimana lihainya!"

Kata Lui Hong yang sudah bersiap dengan pasangan kuda-kuda Raja Kera Menerima Tugas! Mendengar betapa pemuda itu telah mengetahui nama ilmu pedangnya, Kim Lian lalu membentak.

"Sebelum mampus di ujung pedangku, beritahukan dulu dari perguruan rnanakah kau!"

Lui Hong tersenyum.

"Dengarlah baik-baik! Suhuku yang mulia adalah Sin-Kiam Kai-Ong Ma Cin."

Bukan hanya Kim Lian yang terkejut mendengar nama ini, juga Kim Lun yang berada di bawah panggung merasa terkejut pula.

Song-Kauwsu juga menjadi berubah air mukanya mendengar nama tokoh besar yang pernah menggemparkan dunia persilatan ini dan diam-diam ia mengeluh.

Tak disangkanya bahwa permusuhannya dengan Can-Kauwsu ini menjadi berkepanjangan dan membuat ia menghadapi murid orang gagah yang amat terkenal.

Akan tetapi Kim Lian memiliki ketabahan dan kesombongan besar, ia hanya terkekeh mengejek, kemudian sambil berseru keras ia menyerang.

Kini lenyaplah sama sekali perasaan suka di dalam hatinya terhadap Lui Hong, karena ia maklum bahwa menghadapi seorang murid dari Sin-Kiam Kai-Ong, ia tidak boleh main-main!

Lui Hong lalu menangkis serangan lawannya itu dan membalas dengan serangan yang tak kalah hebatnya.

Ilmu pedang yang diajarkan oleh Sin-Kiam Kai-Ong kepadanya adalah ilmu pedang ciptaan tokoh besar itu sendiri berdasarkan ilmu pedang Im-Yang Kiam-Hoat dan sesungguhnya dasar-dasar daripada ilmu silat pedang Ngo-Heng Kam-Hoat yang dimainkan oleh Kim Lian dan ilmu pedang Im-Yang Kiam-Hoat ini berasal dari satu sumber.

Sumber aslinya adalah Thian-To Kiam-Sut ciptaan Leng Hwat Couwsu, seorang Pertapa sakti di puncak bukit Kui-San di Pegunungan Gobi.

Leng Hwat Couwsu menurunkan kepandaiannya yang luar biasa ini kepada lima orang muridnya, dan seorang diantara muridnya ini ternyata murtad dan tersesat pada jalan hidup orang jahat.

Murid tersesat inilah yang akhirnya mencipta Ngo-Heng Kam-Hoat dan mewariskan kepandaian ini kepada Bu-Eng-Kwi Tok Liong Taisu, Guru dari Kim Lun dan Kim Lian (Kisah tentang Leng Hwat Couwsu dan lima orang muridnya ini dapat dinikmati dalam cerita terpisah yang berjudul Kui-San Ngo-Sin-Kiam).

Oleh karena ilmu pedang yang dimiliki oleh Kim Lian berasal dari satu sumber dengan ilmu pedang yang dimainkan oleh Lui Hong, maka pertempuran itu hebat bukan main.

Pedang mereka berkelebatan dan berubah menjadi sinar bergulung-gulung dan saling membelit sehingga tubuh kedua orang muda itu lenyap ditelan gulungan sinar pedang!

Hanya Kim Lun, Song-Kauwsu, dan Can-Kauwsu bertigalah yang masih dapat mengikuti gerakan-gerakan kedua orang muda itu dengan mata mereka, karena penonton yang lain menjadi pening dan pandang mata mereka silau dan suram!

Seratus jurus telah lewat dengan hebat dan tegang, dan diam-diam Can-Kauwsu mengeluh di dalam hati.

Baru menghadapi Kim Lian yang lihai saja, Lui Hong masih belum dapat merobohkan dengan cepat-cepat, apalagi kalau menghadapi Kim Lun yang ia tahu lebih pandai dari Kim Lian!

Sebaliknya, Kim Lun sendiri maklum bahwa betapapun juga, adiknya takkan dapat menang menghadapi pemuda sasterawan yang lihai itu, dan kalau pertempuran itu tidak segera dihentikan, maka adiknya tentu akan terluka oleh pedang lawannya yang lihai.

Memang benar, setelah bertempur seratus jurus lebih, kini Kim Lian mulai terdesak hebat dan kedua tangannya yang memegang pedang mulai tergetar tiap kali pedangnya bertemu dengan pedang Lui Hong yang makin lama makin kuat itu!

Setelah Kim Lian terdesak benar-benar dan tiap saat tentu akan roboh oleh pedang lawannya yang tidak memberi kelonggaran sedikitpun.

Kim Lun tidak tahan lagi dan sekali tubuhnya bergerak, ia telah melayang ke atas panggung.

Dengan pedangnya ia menahan pedang Lui Hong sehingga terdengar suara "Traang!"

Yang nyaring sekali ketika dua pedang bertemu dan muncratlah bunga api menyilaukan mata.

Lui Hong terkejut dan melompat mundur dengan marah, karena mengira bahwa orang akan mengeroyoknya, sedangkan diam-diam ia merasa kaget melihat kehebatan tenaga tangkisan itu!

"Adikku sudah kalah, biarlah pertandingan babak pertama ini dianggap pihakmu yang menang!

Dan sekarang, kita teruskan dengan babak kedua!

Kim Lian, kau turunlah, biar aku yang menghadapi kutu buku ini!"

Kim Lian yang sudah merasa betapa lihainya Lui Hong dan tahu bahwa ia memang takkan dapat menang, terpaksa melompat turun dari panggung dengan malu dan gemas.

Sementara itu, Kim Lun dengan marah sekali lalu menggerakkan sepasang pedangnya menyerang Lui Hong.

Pemuda sasterawan ini terkejut karena melihat betapa gerakan pedang Kim Lun benar-benar hebat dan jauh lebih kuat daripada ilmu pedang Kim Lian.

Akan tetapi, murid Sin-Kiam Kai-Ong ini tidak menjadi gentar dan segera melawan dengan sengit.

Kembali pertempuran hebat terjadi di atas panggung itu.

Kini Can-Kauwsu memandang dengan peluh memenuhi jidatnya, karena ia maklum bahwa kali ini sukarlah bagi jagonya itu untuk memperoleh kemenangan!

Akan tetapi Lui Siong yang merasa bangga akan kemenangan puteranya tadi, memandang dengan wajah berseri-seri.

ia yakin bahwa kali ini puteranya tentu akan menang pula, bahwa puteranya pasti akan berhasil menjunjung tinggi namanya dan membersihkan namanya dan nama Gurunya dari penghinaan yang lampau.

Ada baiknya juga bahwa ilmu silat Lui Siong belum mencapai tingkat yang tinggi sehingga ia tidak tahu bahwa dalan jurus-jurus pertama saja sudah dapat dilihat bahwa puteranya itu kalah tenaga dan kalah gesit!

Hal ini diketahui dengan baik oleh Song-Kauwsu dan Can-Kauwsu, juga oleh Kim Lian.

(Lanjut ke

Jilid 08) Antara Dendam & Asmara (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 08 Lui Hong sendiri yang maklum akan kelihaian Kim Lun, bertempur dengan amat hati-hati dan memusatkan perhatiannya ke arah pertahanan saja agar jangan sampai roboh di tangan Iawannya.

ia maklum pula bahwa Iawannya ini berhati kejam dan ganas dan bahwa kecerobohannya akan berarti kematiannya!

Pertempuran sedang berjalan sengit-sengitnya, ketika tiba-tiba berkelebat bayangan hijau ke atas panggung, dibarengi bentakan merdu dan nyaring.

"Tahan!!"

Sambil berkata demikian, bayangan itu menggerakkan pedang di tangannya dengan cara yang luar biasa dan "Trang! trang!!"

Pedang di tangan Kim Lun yang dua batang itu dan pedang di tangan Lui Hong terpental hampir terlepas dari pegangan!

Kedua orang muda itu terkejut sekali dan cepat melompat mundur.

Dengan mata terbelalak heran mereka melihat bahwa yang memisah tadi adalah seorang gadis berpakaian hijau yang cantik jelita dan gagah, yang kini memandang kepada mereka dengan mata mengeluarkan cahaya berapi-api!

"Siapa kau??"

Pertanyaan ini hampir berbareng keluar dari mulut Kim Lun dan Lui Hong.

Akan tetapi, dara yang gagah perkasa itu tidak memperdulikan pertanyaan ini, bahkan lalu memandang kepada Lui Hong dan berkata ketus.

"Turunlah kau!"

Lui Hong merasa penasaran sekali. Sungguhpun ia merasa berat menghadapi Kim Lun, akan tetapi ia masih mempunyai cukup kegagahan untuk pergi begitu saja, diusir oleh seorang gadis yang tak dikenalnya.

"Mengapa aku mesti turun? Aku mewakili Can Lo-Enghiong untuk..."

"Turun!"

Bentak gadis itu dan sepasang matanya memancarkan sinar yang amat mengejutkan, karena penuh amarah.

"Kau tak berhak mewakilinya! Hanya aku seorang di dunia ini yang berhak mewakilinya. Turunlah kau!"

Lui Hong menjadi terkejut dan penasaran, ia menganggap gadis ini mungkin miring otaknya, sungguhpun ia akui bahwa tangkisan pedang tadi membuat ia terkejut karena luar biasa dan hebatnya.

"Siapakah kau?"

Tanyanya lagi sambil memandang dengan mata tajam. Gadis itu mengarahkan pandangnya kepada Kim Lun dan ke arah rombongan Song-Kauwsu, lalu berkata sambil mengangkat dada.

"Aku adalah Can Pek Giok, anak dari Can Gi Sun!"

Ucapan ini terdengar bagaikan guntur di tengah hari. Semua orang memandang terkejut dan terheran-heran, dan terdengarlah suara lemah keluar dari mulut Can-Kauwsu.

"Pek Giok... anakku..."

Akan tetapi Guru silat ini hanya duduk saja dengan muka pucat dan mata terbelalak.

ia tahu betul bahwa gadis ini adalah Pek Giok anaknya, karena seperti itulah bentuk tubuh dan wajahnya ketika isterinya masih muda!

Saking terkejut dan girangnya, ia hanya duduk bagaikan patung batu, tak bergerak sedikitpun dari kursinya.

Bahkan ia tidak melihat ketika seorang pemuda menjatuhkan diri berlutut di depannya dan berkata.

''Suhu...!"

Pemuda ini bukan lain adalah Gu Ma Ek, muridnya kedua yang dulu telah melarikan diri setelah mendatangkan aib kepadanya karena hubungannya dengan Kim Lian!

Pemuda ini datang bersama Pek Giok.

Lui Hong menjadi terkejut dan mukanya tiba-tiba berubah merah.

ia merasa bingung dan ragu-ragu dan ketika menengok ke arah Can-Kauwsu, ia melihat Guru silat tua itu memberi tanda kepadanya untuk turun, maka ia lalu melompat turun panggung dengan gerakan ringan.

Sementara itu, Pek Giok lalu menghadapi rombongan Song-Kauwsu dan berkata dengan keras.

"Song-Kauwsu dan kaki tangannya sekalian, dengarlah! Hari ini aku telah datang untuk membalaskan sakit hati Ayahku. Kalian majulah semua, boleh maju seorang demi seorang atau mengeroyok, biar lebih cepat kupatahkan batang lehermu seorang demi seorang!"

"Perempuan setan dari manakah berani menyombongkan diri?"

Tiba-tiba terdengar seruan Kim Lian yang melayang naik ke atas panggung dan kini ia berdiri di dekat Kakaknya.

Semenjak tadi Kim Lun hanya berdiri bengong karena hatinya seakan-akan melompat keluar dari dadanya ketika si hidung belang ini menyaksikan kecantikan Pek Giok!

Pek Giok melirik ke arah Kim Lian, lirikan yang mengandung kebencian besar.

"Dengarlah, perempuan sornbong! Aku adalah Lee Kim Lian, dan untuk merobohkan seorang rendah seperti kau, sudah cukup pedangku menghadapimu!"

Tiba-tiba Pek Giok tertawa bergelak, suara ketawa yang merdu, akan tetapi menyeramkan sehingga para penonton yang tadinya berbisik karena menyaksikan peristiwa yang tak tersangka-sangka ini, ketika mendengar Pek Giok tertawa, lalu diam dan memperhatikan.

"Tidak tahunya kaulah perempuan hina-dina, perempuan cabul yang menjadi biang-keladi segala pertikaian! Dan tentu pesolek murah ini adalah Kakakmu Lee Kim Lun yang jahat, bukan? Bagus, rasakanlah tanganku!"

Sambil berkata demikian, secepat kilat tangan kiri Pek Giok bergerak. Kim Lun dan Kim Lian hendak mengelak, akan tetapi gerakan Pek Giok lebih cepat lagi dan...

"Plak! plak!"

Pipi kedua saudara Lee itu telah kena ditampar sehingga terasa pedas, dan jari-jari tangan Pek Giok membekas kemerah-merahan di atas kulit pipi mereka!

Kalau saja keduanya tidak memiliki kepandaian tinggi, tentu kulit muka mereka sudah pecah-pecah dan gigi mereka akan rontok!

Bukan main hebatnya tamparan ini sehingga tidak saja Kim Lun dan Kim Lian yang menjadi marah dan juga terkejut, akan tetapi Song-Kauwsu, Can-Kauwsu, Lui Hong dan yang lain-lain memandang dengan mata terbelalak.

Bagaimana gadis itu dapat menampar pipi kedua Kakak-beradik yang lihai itu demikian mudahnya?

Pihak penonton menjadi tegang dan tak seorangpun bergerak atau mengeluarkan suara, karena mereka dapat menduga bahwa kini pasti akan terjadi pertempuran yang luar biasa hebatnya!

Kembali Pek Giok menperdengarkan suara ketawa nyaring.

"Sepasang anjing she Lee!"

Katanya dengan mata tetap memancarkan sinar berapi-api.

"Aku sudah mendengar jelas tentang segala keburukan kalian, yang tidak saja menjadi pengganggu ketentraman kota Sung-Kian, akan tetapi juga menjadi sebab kejaTUHAN nama Ayahku! Bersiaplah untuk menerima hukumanku hari ini!"

Sambil berkata demikian, Pek Giok menggerak-gerakkan pedang di tangan kanannya.

"Anjing betina!"

Kim Lian berseru marah dan sepasang pedangnya menyerang hebat, diikuti oleh serangan pedang di kedua tangan Kim Lun yang saking marah dan malunya tak kuasa mengeluarkan ucapan sesuatu.

"Bagus!"

Pek Giok menyindir sambil memutar pedangnya sedemikian rupa sehingga sekaligus kedua serangan itu dapat ditangkisnya dan kembali bunga api memancar tinggi.

"Perempuan cabul, kau pernah merobohkan Ayah dan memberi malu! Dan kau, laki-laki Bangsat, kau telah membunuh Suheng dari Ayahku. Rasakanlah pembalasanku!"

Sambil berkata demikian, pedang di tangan Pek Giok berkelebat dengan luar biasa cepatnya, mendesak kedua lawannya yang menjadi sIbuk karena mereka benar-benar belum pernah menyaksikan ilmu pedang sehebat ini!

Sinar pedang dari Pek Giok bersinar kehijau-hijauan dan benar-benar merupakan ilmu pedang yang amat ganas dan sukar dilawan.

Baru angin pedangnya saja sudah cukup membuat tergetar hati Kim Lian dan Kim Lun.

Demikianlah hebatnya Cheng-Liong Kiam-Sut yang dipelajari oleh gadis itu dari Beng Tek Sianjin.

Oleh karena kepandaian Pek Giok memang jauh lebih tinggi tingkatnya daripada kepandaian kedua saudara Lee itu, maka biarpun Kim Lun dan Kim Lian mengerahkan tenaga dan kepandaian, tetap saja mereka terdesak hebat dan terkurung rapat-rapat oleh sinar pedang yang tajam dan dahsyat itu.

Can-Kauwsu hampir tak dapat mempercayai pandangan matanya sendiri.

Diam-diam ia mencubit kulit lengannya untuk mendapat kepastian bahwa ia tidak sedang mimpi.

Benar-benarkah itu Pek Giok, puterinya yang dulu lenyap terculik oleh Bangsat Liu Bo Cin?

Bagaimana puterinya bisa sepandai itu?

Benar-benarkah dia puterinya?

Melihat bentuk tubuh, raut muka, dan adatnya yang tinggi dan keras seperti batu karang itu, tak salah lagi bahwa gadis itu memang benar anaknya!

Seperti itu benarlah keadaan isterinya di waktu muda.

Cantik jelita, keras hati dan kepala batu pula, sifat-sifat yang menjatuhkan hatinya!

Hanya bedanya, kalau isterinya ahli dalam hal sastera dan kerajinan tangan, adalah gadis ini ahli dalam permainan pedang.

Bukan main!

Ilmu pedang seperti yang dimainkan oleh anaknya itu, selama hidupnya Can Gi Sun belum pernah melihatnya!

Bahkan Lui Hong sendiripun memandang dengan bengong.

Luar biasa sekali ilmu pedang itu dan diam-diam setelah menyaksikan permainan pedang Kim Lun, ia maklum bahwa kalau dia yang menghadapi Kim Lun, ia takkan dapat rnenang!

Maka bukan main kagumnya kepada Pek Giok, gadis cantik jelita yang keras dan galak itu.

Kim Lun dan Kim Lian yang terdesak hebat itu lalu mengerahkan semua kepandaian mereka, mainkan Ngo-Heng Kam-Hoat dan mempergunakan jurus-jurus yang paling berbahaya.

Mereka sengaja memencar dan mengurung Pek Giok dari depan dan belakang, akan tetapi gerakan Pek Giok terlalu lincah dan gerakan pedangnya terlalu cepat dan kuat sehingga tetap saja mereka berdualah yang terdesak hebat.

Setelah merasa cukup mencoba kepandaian kedua orang lawannya itu, tiba-tiba Pek Giok lalu rnerubah gerakannya.

Dengan tangan kirinya ia menyerang Kim Lian dengan pukulan Angin Puyuh Menumbangkan Pohon sambil berseru keras dan dengan tangan kanannya ia menyerang Kim Lun dengan pedangnya.

Kim Lian terkejut sekali karena angin pukulan yang penuh dengan tenaga khikang itu membuatnya terhuyung mundur, sedangkan Kim Lun ketika melihat sinar hijau menyambar ke arah dadanya, cepat berusaha untuk menangkis dengan kedua pedangnya.

Akan tetapi tanpa dapat diduga lebih dulu, pedang bersinar hijau itu merobah gerakannya dan sebelum ia sempat mengelak, pedang itu telah membabat cepat ke arah tangan kanannya.

Kim Lun menjerit ngeri dan darah menyembur keluar membasahi lantai panggung.

Ternyata bahwa pergelangan tangan kanannya telah terbabat putus dan tangan itu berikut pedangnya jatuh ke atas papan panggung!

Pek Giok tertawa nyaring dan berkata.

"Kau telah membunuh Suheng Ayahku, dan aku hanya memotong tangan kananmu, sungguh masih ringan hukuman bagimu ini. Nah, pergilah!"

Kakinya menendang dan tubuh Kim Lun yang tadi meringis-ringis kesakitan itu terlempar ke arah tempat duduk Song-Kauwsu! "Anjing betina, aku akan mengadu jiwa!"

Teriak Kim Lian marah dan menyerang dari belakang.

Akan tetapi Pek Giok mengeluarkan suara mengejek dan sekali pedangnya menangkis, pedang di tangan kanan Kim Lian terlempar dan gadis itu terhuyung mundur karena tangannya kena ujung pedang sehingga berdarah!

Pek Giok mendesak terus sambil berkata.

"Kau perempuan cabul, hina-dina tak tahu malu! Seharusnya aku membikin mampus orang macam ini. Kau telah menjatuhkan Ayahku dan membikin malu Ayah di depan umum. Nah, kau rasakanlah betapa sakitnya hati dibikin malu di depan umum!"

Pedang Pek Giok bergerak-gerak bagaikan seekor naga menyambar-nyambar.

Terdengar pekik ngeri dan kain robek.

Ternyata ujung pedang Pek Giok telah mengorek muka Kim Lian melintang dari telinga kiri ke telinga kanan, tidak terlalu dalam sehingga tidak membahayakan jiwa, Akan tetapi cukup untuk memecahkan kulit muka yang putih halus itu dan membuat muka Kim Lian mengalirkan darah merah mengerikan.

Tidak hanya itu saja, pedang itu terus rneluncur ke bawah dan robeklah pakaian yang menempel di tubuh Kim Lian sehingga gadis cabul itu berdiri di atas panggung dengan kedua tangan menutupi mukanya yang berdarah dan tubuh yang hampir telanjang.

Kemudian Pek Giok tertawa lagi dan menendang tubuh itu sehingga terlempar kebawah panggung!

Melihat kejadian ini, para penonton merasa ngeri dan sungguhpun mereka merasa senang melihat kedua saudara Lee itu kini menerima hajaran hebat, namun mereka merasa terkejut dan ngeri juga melihat kehebatan hukuman yang dijatuhkan oleh Pek Giok.

Can-Kauwsu sendiri mengerutkan keningnya dan hatinya diliputi kekhawatiran besar.

"Song-Kauwsu, hayo keluarkan semua jago-jagomu! Atau kau sendiri boieh maju! Biarlah penduduk Sung-Kian menjadi saksi siapakah yang lebih kuat antara keluarga Song dengan keluarga Can! Hayo, majulah, dan kerahkan murid-muridmu! Mana dia dua orang bajingan yang bernama Tan Siang dan Tan Kui Hok, si Naga Kuning dan Naga Muka Hitam? Mereka telah berani menghina Ayah, hendak kupotong kedua telinga mereka!"

Pek Giok menantang-nantang di atas panggung.

Song-Kauwsu menjadi marah sekali.

Sungguhpun ia maklum bahwa ia bukan lawan gadis yang lihai itu, akan tetapi sebagai seorang gagah, ia tidak tahan melihat namanya dihancur-leburkan oleh puteri musuhnya dan kehormatannya di-injak-injak!

ia berseru keras dan tubuhnya melompat naik ke atas panggung.

"Ha, haa, kau maju sendiri? Baik, rasakan tajamnya pedangku!"

Pek Giok membentak dan siap untuk menyerang. Akan tetapi pada saat itu, Can-Kauwsu melompat pula ke atas panggung dan membentak anaknya.

"Pek Giok, jangan menjatuhkan tangan kejam kepadanya. Akulah lawannya!"

Mendengar suara ini, lemah dan lemaslah seluruh tubuh Pek Giok!

ia menoleh, memandang kepada Ayahnya dan kini teringatlah ia.

Inilah benar-benar Ayahnya sejati, wajah yang tadinya seringkali timbul secara samar-samar di alam mimpi.

ia menubruk Ayahnya dan berkata.

"Ayah..."

Bukan main terharunya hati Can-Kauwsu ketika ia dirangkul anaknya.

"Pek Giok... Pek Giok... seakan-akan aku melihat kau bangkit dari kuburan... Turunlah kau, nak, biarlah Ayahmu menyelesaikan perkara dengan Song-Kauwsu secara laki-laki. Kau sudah berhasil menumpas orang-orang jahat yang membela Song-Kauwsu, hatiku puas benar. Akan tetapi, urusanku dengan Song-Kauwsu harus diselesaikan oleh kami berdua. Tua sama tua!"

Pek Giok maklum akan maksud Ayahnya dan ia tidak mau menyinggung perasaan dan kehormatan Ayahnya.

Maka ia lalu melompat turun dan duduk di kursi Ayahnya, diikuti sorak-sorai para penonton yang baru sekarang sempat menyatakan kekaguman mereka.

Pek Giok sama sekali tidak mau menengok kepada Lui Hong dan Lui Siong yang duduk di situ.

Can-Kauwsu menjura kepada Song-Kauwsu dan berkata.

"Song-Kauwsu harap kau maafkan anakku tadi. Akan tetapi sesungguhnya kaulah yang mulai lebih dulu membawa-bawa orang luar dalam pIbu kita. Sekarang, kalau kau kehendaki, marilah kita mengambil keputusan terakhir. Atau, kau lebih suka menghabiskan perkara ini sampai di sini saja?"

Song-Kauwsu mempunyai adat yang keras.

Kehormatannya telah diinjak-injak orang, ia telah mendapat malu besar dengan peristiwa yang menghina Kim Lun dan Kim Lian.

Sungguhpun ia tidak suka kepada dua orang muda itu, namun mereka itu adalah pembantu-pembantunya, bahkan Kim Lun adalah mantunya sendiri.

"Orang she Can! Telah lama kita bermusuhan dan selama itu belum juga ada ketentuan. Benar katamu tadi bahwa kita harus mencari penyelesaian dengan kepalan. Marilah kau robohkan aku kalau kau dapat!"

Maka bertempurlah kedua orang-tua itu dengan serunya.

Mereka tak mempergunakan senjata dan berkelahi mengandalkan kaki tangan saja.

Mereka sama kuat, sama tangkas, dan kedua-duanya telah memiliki pengalaman bertempur.

Bagaikan dua ekor singa kelaparan mereka bertanding mati-matian.

Puluhan jurus telah lewat, bahkan sampai seratus jurus mereka bertanding, namun belum ada yang menang ataupun kalah.

Sesungguhnya Can-Kauwsu lebih tinggi kepandaiannya dan lebih tenang, akan tetapi oleh karena selama ini ia tidak melatih diri dan kesehatannya seringkali terganggu, maka hal ini membuat ia hanya dapat mengimbangi kepandaian lawannya saja tanpa dapat merobohkan.

Para penonton memandang ke atas panggung dengan mata terbelalak dan menahan napas.

Mereka maklum bahwa dua orang Guru silat itu sedang bertanding mati-matian.

Can-Kauwsu mainkan Sin-Wan Kun-Hwat atau Ilmu Silat Kera Sakti yang amat cepat gerakan tangannya dan amat ringan kakinya.

Sedangkan Song-Kauwsu mengerahkan tenaganya yang besar dan mainkan ilmu silat Bu-Tong-Pai yang kuat.

ia adalah murid dari Kwan Tek Losu, tokoh besar cabang persilatan Bu-Tong-Pai, maka tentu saja ilmu silatnya sudah matang dan kuat.

Pek Giok melihat jalannya pertandingan dengan hati gelisah.

ia tak berani membantu, karena dengan perbuatan demikian, selain ia akan merendahkan diri sendiri, juga Ayahnya akan tersinggung dan terhina.

Terpaksa ia menonton sambil kadang-kadang menahan napas kalau melihat Ayahnya sudah mulai berpeluh dan napasnya terengah-engah.

Can-Kauwsu maklum bahwa ia kalah napas, maka ia lalu mengambil keputusan untuk menjalankan serangannya dengan ilmu pukulan Sin-Wan Twi-San (Kera Sakti Mendorong Gunung).

Gerakan ini sebenarnya tidak pernah ia lakukan dalam menghadapi lawan, karena amat berbahaya.

Kedua tangan yang dipukulkan ke depan selain dilakukan dengan tenaga lweekang sepenuhnya, juga banyak sekali perubahannya menurut tangkisan atau kelitan lawan.

Pendeknya, ilmu pukulan ini takkan dapat dihindarkan oleh lawan dan takkan dihentikan sebelum mengenai sasaran!

Song-Kauwsu terkejut sekali melihat hebatnya serangan ini dan karena ia sudah tidak mempunyai tempat untuk mengelak lagi, akhirnya dada kanannya terkena pukulan itu dengan hebatnya.

Akan tetapi, benar-benar tubuhnya kuat sekali, karena begitu terkena pukulan, ia masih sanggup melayangkan kakinya yang tepat mengenai lambung Can-Kauwsu!

"Celaka!"

Pek Giok berseru dan berbareng dengan seruannya itu, tubuh Can Gi Sun terhuyung-huyung ke belakang, tangannya menekan lambung dan wajahnya pucat sekali.

Akan tetapi keadaan Song Swi Kai lebih hebat lagi.

Guru silat ini roboh dan dari mulutnya menyembur darah segar!

Dengan susah-payah Song Swi Kai merangkak bangun.

"Aku menerima kalah... katanya sambil terengah-engah menahan sakit.

"Aku akan menutup Bukoanku (rumah perguruan silat)..."

Lalu ia berjalan ke pinggir panggung dan melompat turun, akan tetapi terguling di atas tanah dan roboh tak sadarkan diri!

Murid-muridnya segera maju menggotongnya, sedangkan Lee Kim Lun dan Lee Kim Lian telah diangkat terlebih dulu, diikuti oleh Bwee Eng yang menangis sepanjang jalan.

Demikianlah, rombongan Song-Kauwsu yang datangnya gagah tadi, kini pulang dalam keadaan menyedihkan sekali!

Pek Giok cepat melompat ke atas panggung dan dengan cekatan sekali ia memondong tubuh Ayahnya, dibawa melompat ke bawah panggung.

Tanpa membuang waktu lagi, gadis ini memeriksa luka Ayahnya.

Ternyata Ayahnya menderita luka di sebelah dalam karena tendangan itu, akan tetapi untungnya tidak membahayakan jiwanya.

Pek Giok lalu membawa pulang Ayahnya, mengikuti Lui Siong dan Lui Hong.

Tak dapat dilukiskan betapa girang dan terharu hati nyonya.

Can Gi Sun ketika melihat Pek Giok.

Dirangkulnya anaknya itu, diciuminya sambil menangis tersedu-sedu.

Kemudian ia menjadi bangga sekali ketika mendengar dari Lui Siong tentang kegagahan Pek Giok yang akhirnya dapat mengalahkan semua rnusuh dan membalas sakit hati keluarga Can.

Can-Kauwsu dirawat dan diberi obat, kemudian Pek Giok menceritakan riwayatnya kepada Ayah-Bundanya yang mendengarkan dengan hati terharu dan penuh kebahagiaan.

Riwayat ini telah kita ketahui dan telah dituturkan di bagian depan, akan tetapi bagaimanakah Pek Giok dapat muncul dalam keadaan tiba-tiba dan kebetulan sekali itu?

Dan dari mana pula datangnya Gu Ma Ek yang kini duduk di ruang depan rumah bekas Suhunya dengan muka duka?

Baiklah kita mundur sebentar.

Sebagaimana telah diketahui, setelah mendengar dari perampok tua bahwa ia adalah anak dari Can Gi Sun, Guru silat di kota Sung-Kian, Pek Giok lalu cepat menuju ke kota ini.

Ketika ia akan keluar dari sebuah hutan di luar kota Sung-Kian, ia melihat seorang pemuda sedang berusaha menggantung diri pada cabang sebatang pohon.

Pek Giok menjadi terkejut dan segera melompat dan menyabet putus tali gantungan itu.

"Pengecut!"

Ia memaki pemuda itu yang bukan lain adalah Gu Ma Ek.

Pemuda ini setelah pergi dengan hati hancur karena terhina oleh Kim Lian dan karenanya membuat malu kepada Suhunya, setelah merana dan tak berdaya untuk membalas dendam, lalu mengambil keputusan pendek untuk membunuh diri di dalam hutan itu!

"Laki-laki pengecut!"

Pek Giok berseru lagi.

Gu Ma Ek membuka matanya dan ketika melihat seorang gadis jelita berdiri di depannya, tiba-tiba timbul rasa bencinya.

ia teringat kepada Kim Lian yang juga cantik jelita, gadis cabul yang berhati palsu itu, maka ia segera melompat bangun dan menerjang Pek Giok dengan serangan kilat!

Akan tetapi, baru sekali saja Pek Giok menggerakkan tangannya, ia roboh lagi.

Ma Ek menjadi nekad dan bangun menyerang lagi, kembali ia roboh dan kali ini ia tak dapat bangun karena jalan darah Thian-Hu-Hiat telah kena ditotok oleh jari tangan Pek Giok yang kuat.

"Eh, eh, tidak saja kau pengecut, akan tetapi juga gila! Kau pemuda otak miring, kenapa datang-datang menyerangku membabi buta?"

Biarpun tak dapat bergerak lagi, akan tetapi Ma Ek memandang dengan mata penuh kebencian dan ia memaki.

"Perempuan busuk! Semua perempuan cantik berhati busuk!"

Pek Giok tersenyum.

"Hm, tidak tahunya kau adalah seorang pemuda yang patah hati! Akan tetapi kau bodoh dan tolol! Bukan sifat seorang jantan yang gagah untuk berputus harapan dan membunuh diri sendiri! Tahukah kau? Kegagalan adalah pangkal kesempurnaan!"

Gadis itu memberi wejangan seperti yang pernah didengarnya dari seorang diantara Guru-gurunya, yakni Kiok Sin Sianli!

Mendengar ucapan-ucapan gagah ini, tiba-tiba Ma Ek menangis tersedu-sedu!

Tadinya ia benci kepada gadis cantik ini karena mengingatkan ia kepada Kim Lian, akan tetapi ketika menyaksikan gerakan gadis ini yang dalam segebrakan saja telah membuatnya roboh berturut-turut, bahkan dalam serangan selanjutnya ia kena tertotok secara lihai sekali, ia maklum bahwa ini tentu seorang pendekar yang tinggi kepandaiannya.

Maka ia merasa malu sekali, malu, menyesal dan sedih.

"Aku telah berdosa... aku telah membikin malu dan merendahkan nama Suhuku yang tercinta, Suhuku yang menganggap aku seperti anak sendiri. Aku seorang murid yang murtad, tidak berbakti, ah... untuk apa seorang tiada guna seperti aku ini hidup lebih lama lagi?"

Pek Giok paling suka kepada sifat yang gagah.

Gurunya, Kiok Sin Sianli pernah berkata bahwa keinsyafan akan kesalahan diri sendiri dan berani mengakui kesalahan itu termasuk sifat gagah yang patut dihargai.

Maka tirnbullah pikirannya hendak menolong pemuda ini.

"Siapakah Gurumu? Dan kesalahan apakah yang kau lakukan?"

"Suhuku adalah Can-Kauwsu yang dulu amat terkenal namanya di Sung-Kian, dan aku... kesalahanku..."

Ma Ek merasa malu untuk menceritakan pengalamannya, akan tetapi ia merasa heran ketika melihat betapa wajah dara itu berubah hebat dan Pek Giok cepat menotoknya kembali sehingga pulih kembali jalan darahnya.

"Ah, Gurumu bernama Can-Kauwsu? Apakah Can Gi Sun?"

"Benar,"

Kata Ma Ek sambil bangun berdiri.

"Bagaimana keadaannya? Ceritakanlah dan cepat!"

Dengan penuh keheranan Ma Ek lalu menceritakan semua pengalaman Gurunya, semenjak terjadi permusuhan dengan Song-Kauwsu sehingga sekarang ini.

Dengan amat malu diceritakannya pula betapa ia telah tergoda oleh Kim Lian dan bagaimana Kim Lian telah mengalahkan Can-Kauwsu sehingga nama Gurunya itu menjadi rusak dan kehormatannya runtuh.

"Keparat jahanam betul! Aku akan menghancurkan Song-Kauwsu dan kaki tangannya! Dengarlah, aku adalah Can Pek Giok, puteri Can-Kauwsu! Akulah yang akan membalaskan dendam hati Ayah!"

Gu Ma Ek pernah mendengar nama Pek Giok sebagai puteri tunggal Suhunya yang hilang terculik, maka tentu saja ia menjadi girang dan terkejut.

"Hayo, antarkan aku ke tempat mereka. Hendak kulihat sampai di manakah jahatnya Song-Kauwsu dan keluarganya!"

Kata Pek Giok dan mereka berdua lalu keluar dari hutan menuju ke Sung-Kian.

Dan di dalam kota mereka mendengar tentang diadakannya pIbu di halaman depan Kuil Ban-Hok-Si itu, maka mereka langsung menuju ke tempat itu.

Demikianlah, Pek Giok menceritakan semua pengalamannya yang didengarkan oleh Ayah-Bundanya dengan hati penuh kebahagiaan.

Terutama sekali nyonya Can.

Bagaikan pohon kembang yang sudah hampir mengering karena kepanasan tiba-tiba mendapat siraman air sejuk, ia menjadi segar kembali, wajahnya berseri-seri dan mulutnya tersenyum-senyum penuh kebahagiaan dan kebanggaan.

"Pek Giok, kita harus berterima kasih kepada Lui Siong, terutama puteranya yang gagah perkasa itu, yakni Lui Hong."

"Pemuda yang mewakili Ayah dan yang mengalahkan Kim Lian itu?"

Tanya Pek Giok.

"Benar, Pek Giok. Pemuda itu adalah putera dari murid kepala yang mewakili aku mengajar. ia adalah murid dari Sin-Kiam Kai-Ong Ma Cin dan selain kepandaiannya cukup tinggi, iapun seorang yang memiliki kegagahan dan prIbudi Kita benar-benar harus berterima kasih kepadanya."

Pek Giok mengenangkan sebentar wajah pemuda yang cukup tampan dan gagah itu, akan tetapi ia segera melupakannya kembali dan berkata.

"Ayah, marilah kita pindah kembali ke rumah lama di kota. Aku tidak kerasan tinggal di dusun yang sepi ini. Pula, untuk menjaga nama perguruanmu, sebaiknya Ayah membuka kembali Bukoan yang telah ditutup itu. Apalagi menurut ucapan Song-Kauwsu, ia hendak menutup Bukoannya."

"Aku sudah tua dan sudah malas mengajar,"

Kata Can-Kauwsu.

"Tak perlu Ayah mengajar sendiri. Kurasa Ma Ek cukup untuk memberi pelajaran kepada murid-murid Ayah, dan dengan sedikit tambahan latihan silat dariku, Ma Ek akan menjadi tenaga pengajar yang cukup baik."

Can-Kauwsu menghela napas.

"Baru aku teringat kepadanya. Manakah dia?"

"Dia menanti di luar, Ayah,"

Kata Pek Giok.

"Ma Ek...! Kau masuklah!"

Can-Kauwsu berseru dari dalam.

Memang Ma Ek masih menanti di luar sambil melamun.

ia sedang menyesali penyelewengannya yang dulu.

Kalau saja ia dulu tidak nyeleweng, tentu ia akan ikut pula merasakan kegembiraan hari ini berhubung dengan kemenangan Gurunya.

Ketika mendengar Suhunya memanggil, dengan hati berdebar ia lalu masuk dengan tindakan kaki perlahan.

Kemudian, ia berlutut di depan Suhunya dengan kepala tunduk.

Can-Kauwsu dan isterinya telah mendengar dari penuturan Pek Giok, betapa Ma Ek hendak menggantung diri di dalam hutan, maka melihat keadaan pemuda yang pucat dan kurus itu, mereka menjadi terharu dan lenyaplah semua perasaan marah yang dulu-dulu.

Pemuda ini semenjak kecil telah mereka pelihara, bahkan boleh dibilang mereka perlakukan sebagai anak sendiri, sebagai pengganti Pek Giok yang dulu disangka hilang.

"Ma Ek, sudah insyaf benar-benarkah kau akan kesalahanmu?"

Tegur Can-Kauwsu. Ma Ek menundukkan mukanya makin dalam dan berkata perlahan.

"Teecu telah bertobat, Suhu, dan untuk menebus dosa, Teecu hanya menanti perintah Suhu. Disuruh matipun pada saat ini juga akan Teecu jalankan!"

"Tak perlu nelangsa sampai demikian jauh, Ma Ek. Setiap orang manusia memang takkan terluput daripada kesalahan. Sewaktu-waktu di dalam hidupnya ia pasti akan tersesat dan nyeleweng daripada jalan benar. Akan tetapi, asal saja ia cepat sadar akan penyelewengannya itu, ia akan dapat kembali ke jalan benar yang ditinggalkannya dan penyelewengan itu tidak merugikan, bahkan akan menjadi pengalaman pahit yang dapat mencegahnya membuat penyelewengan macam itu lagi! Kau kembalilah kepada kami dan mulai sekarang, aku akan membuka Bukoan kita di Sung-Kian lagi. Kaulah yang kini akan mewakili aku mengajar anak-anak, karena Lui Siong makin sIbuk dengan pekerjaannya dengan Piauwsu."

Bukan main girangnya hati Ma Ek mendengar ucapan Suhunya itu.

Tidak saja ia diampuni, bahkan ia boleh kembali dan boleh mewakili Suhunya mengajar!

ia mengangguk-anggukkan kepala beberapa kali penuh rasa terima kasih, akan tetapi kemudian ia berkata.

"BerIbu terima kasih atas pengampunan dan kemurahan hati Suhu terhadap Teecu yang berdosa. Akan tetapi, kepandaian Teecu masih amat dangkal, maka bagaimanakah Teecu berani memberi pelajaran kepada murid-murid lain?"

"Di samping mengajar, kaupun harus memperdalam kepandaianmu sendiri. Aku sendiri dan anakku Pek Giok akan memberi petunjuk-petunjuk kepadamu."

Makin besarlah hati Ma Ek.

"Kalau Lihiap sudi memberi petunjuk Teecu tidak ragu-ragu lagi bahwa Teecu pasti akan mendapat kemajuan pesat. Kepandaian yang dimiliki oleh Lihiap sungguh-sungguh luar biasa dan belum pernah Teecu bermimpi bahwa ada kepandaian silat yang demikian hebatnya!"

Demikianlah, semua orang bergembira dan Lui Siong yang teringat akan pernyataan Nyonya Can yang ingin mengambil pemindahan Suhunya kembali ke kota Sung-Kian itu.

Lui Hong juga tidak ketinggalan dan ikut pula membantu.

Pemuda ini merasa likat dan malu-malu untuk bertemu pandang dengan Pek Giok.

Sesungguhnya ia bukan seorang pemalu, akan tetapi ia teringat akan pernyataan Nyonya Can yang ingin mengambil mantu padanya.

Kini Pek Giok telah kembali dan tentu saja teringat akan ucapan itu, pemuda ini menjadi tak enak hati dan malu-malu.

Akan tetapi, Pek Giok yang tidak mengetahui soal itu, bersikap biasa dan hanya menganggap bahwa Lui Hong yang gagah itu memang seorang pemuda pemalu!

Perpindahan Can-Kauwsu dan pembukaan kembali Bukoannya itu disambut dengan girang oleh banyak penduduk kota Sung-Kian.

Membanjirlah datangnya pemuda-pemuda yang hendak beJajar silat, karena dengan kemenangan di atas panggung Luitai itu, sekaligus naiklah nama Can-Kauwsu, apalagi karena Can-Kauwsu mempunyai seorang anak perempuan yang kepandaiannya mereka sohorkan sebagai seorang dewi dari kahyangan!

Ma Ek sIbuk sekali menerima pendaftaran para murid-murid baru ini dan hatinya amat gembira, juga pekerjaan Lui Siong sekaligus mengalami perubahan hebat.

Kalau dulu para saudagar besar masih ragu-ragu untuk memberi kepercayaan kepadanya mengantar barang-barang berharga ke daerah lain, Kini mereka mulai percaya ketika mengetahui bahwa Lui Siong adalah murid kepala dari Can-Kauwsu!

Kemenangan di panggung Luitai itu merupakan sebuah propaganda yang baik sekali bagi perusahaannya!

Untuk dapat memperluas pekerjaannya, Lui Siong lalu mencari pembantu-pembantu yang terdiri dari bekas murid-murid Can-Kauwsu.

Dengan adanya Lui Hong disampingnya, selain pekerjaan pembukuan beres di tangan pemuda terpelajar ini, juga pengiriman barang-barang dapat dilakukan dengan Iancar dan tidak diliputi kekhawatiran akan gangguan di jalan.

Kalau toh akan ada gangguan perampok, Lui Siong masih dapat mengandalkan kepandaian Lui Hong untuk merarnpasnya kembali!

Beberapa hari kemudian, Can-Kauwsu dan isterinya memanggil Pek Giok dan Can-Kauwsu berkata dengan suara halus kepada puterinya.

"Pek Giok, anakku. Kau tahu betapa bahagia hati Ayah-Bundamu karena kau yang kami sangka telah lenyap takkan kembali pula sekarang datang dalam keadaan yang amat menggembirakan dan membanggakan hati Ayah-Bundamu. Kau sudah dewasa, berkepandaian tinggi dan menjadi murid Kun-Lun Sam-Sian! Hati siapakah yang takkan menjadi bahagia dan bangga?"

"Kebahagiaan anak lebih besar lagi, Ayah. Tadinya kusangka bahwa aku adalah anak seorang kepala rampok, sungguhpun mendiang Ayah angkatku itu bukan sembarang perampok, akan tetapi ia memiliki jiwa gagah dan berwatak jujur pula. Akupun merasa amat berbahagia, Ayah."

Sambil berkata demikian, dengan sikap manja Pek Giok memeluk Ibunya yang mengelus-elus rambutnya.

"Anakku Pek Giok,"

Berkata Ibunya.

"Ada satu hal lagi yang akan memperlengkap kebahagiaan kita bersama, yakni... pernikahanmu, nak."

Pek Giok terkejut dan melepaskan diri dari pelukan Ibunya untuk dapat memandang wajah Ibunya dengan mata terbuka lebar-lebar.

Ibunya tersenyum melihat anaknya terkejut, karena ia maklum bahwa semua dara akan terkejut mendengar pembicaraan tentang pernikahan.

"Pek Giok,"

Katanya sambil menatap wajah anaknya yang menjadi kemerah-merahan itu.

"Kau sudah cukup dewasa. Usiamu telah delapan belas tahun. Tengoklah, Ayah dan Ibumu sudah tua dan tidak ada lain kebahagiaan yang akan membuat Ayah-Bundamu meninggalkan dunia dengan senyum di bibir melainkan menyaksikan kau telah berumah tangga dan hidup berbahagia dengan suamimu."

"Dan kedua tanganku sudah gatal-gatal untuk dapat menimang-nimang seorang cucu!"

Kata pula Can-Kauwsu sambil tertawa-tawa gembira. Makin merahlah wajah Pek Giok mendengar ucapan ini dan ia hanya dapat menundukkan mukanya.

"Pek Giok,"

Kata pula nyonya Can.

"Aku percaya bahwa kau tentu memiliki jiwa berbakti kepada orang-tuamu dan kau akan merasa suka dapat membahagiakan hati Ayah-Ibumu. Kamipun selalu berusaha untuk memilihkan seorang jodoh yang tepat dan cocok, anakku, dan kau takkan merasa kecewa dengan jodoh yang kami pilihkan untukmu."

Pek Giok tetap diam saja, tak berani bergerak sedikitpun.

"Sebelum kau pulang, Ayahmu dan aku telah merindukan perjodohan ini, anakku. Kami sudah membicarakannya dengan Lui Siong, dan kami akan merasa berbahagia sekali apabila kau menjadi isteri dari Lui Hong!"

Berdebarlah hati Pek Giok mendengar nama ini dan ia mengangkat muka untuk menatap wajah Ibunya, akan tetapi ia menundukkan mukanya kembali.

"Pek Giok,"

Kata Ayahnya.

"Kau percayalah kepada Ayah-Ibumu. Aku sudah tua dan sudah banyak makan asam garam di dunia ini. Telah kupertimbangkan masak-masak dan telah kuselidiki baik-baik tentang diri Lui Hong itu. ia adalah putera tunggal dari Lui Siong dan tentang Lui Siong itu, aku tidak akan ragu-ragu menyatakan bahwa ia adalah seorang yang gagah dan berbudi. Belasan tahun aku selalu dekat dengan dia, dan sudah kenal sampai matang betul keadaan hatinya. Ketika Ayahmu berada dalam keadaan sengsara, hanya Lui Siong seoranglah yang masih setia, dan kukira tanpa adanya hIburan-hIburan dari Lui Siong, mungkin aku tak kuat menahan penderitaan batin ketika itu. Lui Siong benar-benar seorang mulia dan aku tidak malu berbesan dengan dia. Adapun anaknya, Lui Hong itu, adalah seorang pemuda yang pilihan! Ilmu sasteranya cukup tinggi, dan tentang keadaan batinnya dapat diukur dalam kenyataan bahwa ia tidak mau mengikuti ujian untuk mendapatkan pangkat, karena ia menganggap bahwa orang-orang berpangkat pada masa ini hanya merupakan pemeras-pemeras rakyat jelata belaka. Alangkah murninya pendapat dan pikiran ini. Kemudian, iapun murid seorang tokoh besar di kalangan kang-ouw. Nama Sin-Kiam Kai-Ong bukanlah nama yang rendah dan semua orang gagah dunia maklum belaka siapa adanya Kakek sakti ini. ia seorang pendekar besar yang telah banyak melakukan kebajikan. Pula, watak Lui Hong dapat dilihat dari pembelaannya ketika ia menghadapi rombongan Song-Kauwsu. ia benar-benar membelaku dan hendak menjunjung kembali nama dan kehormatanku yang telah runtuh, disamping meninggikan nama Ayahnya sendiri. Ingat, bahwa ketika ia melakukan hal itu, kau belum datang dan kau masih dianggap tidak ada, anakku. Dengan demikian, maka perbuatannya yang gagah itu benar-benar dilakukan karena kemuliaan hatinya dan sama sekali tanpa rnaksud dan pamrih yang lainnya!"

"Kata-kata Ayahmu benar belaka, anakku. Kurasa sukarlah mencari keduanya pemuda seperti Lui Hong itu,"

Kata Nyo-nya Can.

"Pula, Lui Siong sendiri sudah menyatakan setuju dan ia bahkan merasa gembira sekali kalau dapat menjodohkan puteranya dengan kau!"

Ini Semua pujian terhadap diri Lui Hong hanya terdengar oleh Pek Giok dengan sebelah telinganya saja.

Karena telinganya yang satu lagi pada saat itu penuh dengan gema suara Han Bun!

Kedua matanya yang memandang lantai itu melihat bayangan pemuda yang gagah perkasa itu, dan telinganya mendengar gema suara nyanyian pemuda itu ketika perahu mereka dahulu berhenti pada suatu malam terang bulan.

Lidahnya masih merasai kelezatan masakan pemuda itu dan teringatlah ia akan semua peristiwa yang dialaminya dengan pemuda itu.

Terkenanglah ia betapa pemuda itu dengan beraninya rnenggoda dan menyebutnya dengan nama Sing-Gan Kim-Hi atau Ikan Emas Bermata Bintang dan terngianglah dalam telinganya ucapan Han Bun yang halus dan lemah-lembut ketika pemuda itu berkata di dalam perpisahan mereka bahwa pemuda itu takkan melupakannya selama hidupnya!

"Bagaimana, Pek Giok?"

Tiba-tiba suara Ibunya memecahkan dan membuyarkan semua kenangan indah itu.

Pek Giok mengangkat mukanya dan ia sendiri tidak merasa bahwa kini kedua matanya telah menjadi basah dengan air mata.

Melihat ini, Ibunya menjadi terharu dan memeluk anak tunggalnya itu dengan penuh kasih sayang.

"Pek Giok, anakku sayang, kau jangan khawatir, nak. Ayah-Ibumu tidak akan menjerumuskan kesayangannya ke dalam Lumpur kesengsaraan. Kami menanggung dengan nyawa kami bahwa pilihan ini takkan salah!"

"Betapapun juga,"

Kata Ayahnya.

"kami takkan memaksamu, Pek Giok. Kaulah yang menentukan hal ini. Kami belum memberi keputusan kepada Lui Siong tentang perjodohan ini. Akan tetapi, ingatlah bahwa kau akan mendatangkan kebahagiaan yang tak terbatas besarnya apabila kau setuju dengan pilihan kedua orang-tuamu ini!"

Makin bingunglah hati dan pikiran gadis itu.

Ia merasa amat terdesak di sudut dan tak berdaya menghadapi bujukan-bujukan kedua orang-tuanya.

Kalau saja Ayah-Ibunya menggunakan paksaan, tentu hatinya yang keras akan memberontak.

Akan tetapi, Ayah-Ibunya mengeluarkan kata-kata lembut yang membuat hatinya menjadi luluh, membuat tubuhnya menjadi lemas seakan-akan seluruh tulang dan uratnya lolos dari tubuhnya.

ia percaya bahwa Lui Hong tentu seorang pemuda yang baik sebagaimana yang dinyatakan oleh Ayah-Ibunya.

Akan tetapi, entah bagaimana, hatinya telah condong kepada Han Bun, pemuda yang pandai masak itu!

Kalau sekiranya Han Bun yang menjadi pilihan Ayah-Ibunya, agaknya ia takkan sangsi-sangsi lagi menyatakan persetujuannya!

Ada satu hal yang masih mengecewakan hatinya terhadap Lui Hong, yakni bahwa kepandaian silat pemuda itu masih belum dapat menandingi kepandaiannya sendiri!

"Ayah,"

Akhirnya ia terpaksa menjawab juga.

"Semenjak dahulu aku bercita-cita..."

Ia merasa sungkan dan malu-malu untuk melanjutkan.

"Ya...?"

Ayahnya mendesak.

"Cita-citaku ialah... aku hanya suka menjadi... jodoh seorang yang ilmu kepandaiannya lebih tinggi dariku!"

Ayahnya memandang sejenak lalu tertawa bergelak sambil mendongakkan kepalanya.

"Ha, ha, ha! Kau keras hati seperti Iburnu! Kepandaianmu dalam hal ilmu silat begitu tinggi, pemuda manakah yang dapat menandingimu? lngatlah, Pek Giok, kepandaian itu tidak ada batasnya. Orang yang merasa dirinya sudah pandai, pasti ada orang lain yang lebih pandai lagi! Memang, dalam hal ilmu silat mungkin kau lebih pandai daripada Lui Hong, akan tetapi kau harus ingat bahwa pemuda itu meniiliki kepandaian dalam bidang lain yang jauh lebih tinggi daripadamu! Misalnya dalam hal ilmu sastera, tentu kau takkan dapat menang dari dia!"

"Pek Giok, aku dulupun berpikiran seperti kau!"

Kata Ibunya.

"Aku bercita-cita untuk menjadi jodoh seorang yang ilmu sasteranya rnelebihi pengetahuanku. Akan tetapi akhirnya aku toh menikah dengan Ayahmu karena tertarik oleh kegagahan dan ilmu silatnya yang aku sendiri tidak mengerti sama sekali. Kalau memang kau sudah menjadi isteri Lui Hong, apa salahnya kalau kau membimbing suamimu dalam ilmu silat sehingga kepandaiannya akan dapat menyusulrnu dan sebaliknya kau mendapat bimbingan dalam ilmu sastera darinya? Bukankah hal itu akan baik sekali?"

Pek Giok menundukkan kepalanya.

Tentu saja ia tidak dapat membongkar isi hatinya, tidak dapat rnenceritakan kepada Ayah-Bundanya bahwa ia telah jatuh hati kepada Han Bun, pemuda ahli masak itu.

Maka ia menjadi serba salah dan bingung.

Untuk menolak, ia merasa tidak tega kepada Ayah-Ibunya.

"Ayah dan Ibu, biarlah hal perjodohan ini ditunda dulu saja, kurasa tidak perlu terlalu buru-buru."

"Akan tetapi kau tidak keberatan? Kau setujukah?"

Tanya Ibunya.

"Aku... aku hanya menyerahkan hal ini kepada Ayah dan Ibu saja, hanya satu permintaanku, yakni janganlah hal ini diselenggarakan secara buru-buru. Aku baru saja kembali ke rumah Ayah dan Ibu, dan tidak ingin aku meninggalkan Ayah-Ibu dalam rumah tangga sendiri."

"Akan tetapi, tidak perlu kita berpisah!"

Kata Ayahnya mendesak.

"Kalau kau sudah menikah, kau dan suamimu boleh tinggal bersama kami di rumah ini."

Pek Giok merasa terdesak sekali.

"Asal jangan terburu-buru, Ayah. Aku minta waktu."

Ayah dan Ibunya tertawa girang dan saling pandang dengan mata berseri.

"Tidak perlu terburu-buru,"

Kata Ayahnya.

"Tiga atau empat bulan lagi kurasa sudah cukup lama."

Ibunya membenarkan dan Pek Giok hanya dapat menundukkan kepala dengan muka merah.

ia menjadi bingung sekali.

Untuk menerima permintaan ini, hatinya masih amat berat kepada Han Bun yang tidak diketahui di mana adanya itu.

Untuk menolak, ia tidak ingin melukai hati orang-tuanya.

Kalau keadaan keluarga Can-Kauwsu diliputi kegembiraan dan kebahagiaan karena selain mendapat kemenangan dalam pIbu yang sekaligus mengangkat nama dan kehormatan mereka, adalah sebaliknya dengan keadaan Song-Kauwsu.

Kim Lun berbaring di kamarnya dan merintih-rintih.

Sungguhpun luka pada pergelangan tangannya yang putus itu sudah diobati dan dirawat oleh seorang tabib dan kini telah dibalut sehingga tidak terasa amat sakit lagi, namun ia masih merintih-rintih yang membuat isterinya duduk menangis dengan sedih di pinggir pembaringan.

Rintihan Kim Lun ini tidak hanya disebabkan oleh rasa sakit pada lukanya, akan tetapi sebagian besar disebabkan oleh rasa sakit di lubuk hatinya.

ia merasa sedih, penasaran, malu sekali dan terhina.

Serasa hendak pecah dadanya kalau ia mengenangkan kembali betapa ia mendapat hinaan besar dari puteri Can-Kauwsu itu.

Beberapa hari ia menggigit-gigit bibirnya dengan hati penuh dendam.

ia mengambil keputusan, apabila lukanya telah sembuh, ia akan pergi bersama adiknya, mencari Suhunya, yakni Bu-Eng-Kwi Tok Liong Taisu agar Suhu ini mau membalaskan sakit hatinya terhadap Can-Kauwsu dan anaknya!

Akan tetapi ia tidak ingat bahwa keadaan hati seseorang amat dipengaruhi tubuh dan karena ia selalu bersedih, marah dan penuh dendam, maka lukanya sukar sekali sembuh dan sampai lama belum juga mau mengering.

Dari lain kamar di dalam rumah gedung itu terdengar suara isak tangis Kim Lian.

Gadis ini juga mendapat perawatan tabib dan sambil menangis ia berbaring di atas tempat tidurnya.

Sehelai kain putih melintang di mukanya karena pedang Pek Giok telah menggurat muka itu dari telinga kiri ke telinga kanan melalui hidungnya yang mancung.

"Luka ini akan mudah sembuh,"

Kata tabib yang mengobatinya.

"Akan tetapi bekasnya masih akan merupakan garis hitam yang tak dapat hilang."

Tentu saja Kim Lian, gadis yang genit dan pesolek itu merasa amat sedih dan sakit hati.

Dengan adanya cacat dimukanya, ia kehilangan daya penariknya, sungguhpun ia dapat menutupi cacat itu dengan bedak tebal.

Hatinya amat sakit terhadap Pek Giok.

"Hati-hati kau, perempuan durjana, akan datang saatnya aku membalas dendam ini dan akan kurusakkan mukamu sampai menjadi seorang iblis yang menakutkan!"

Gerutunya berkali-kali dengan hati penuh dendam.

Seperti juga Kim Lun, pengharapannya untuk membalas sakit hati ini disandarkan kepada bantuan Gurunya.

Kalau Kakaknya sudah sembuh, ia akan pergi dengan Kakaknya ke Sungai Liao-Ho, mencari Suhunya.

Sementara itu, di dalam kamarnya sendiri, Song-Kauwsu menanggung penderitaan lukanya dengan diam-diam.

Wataknya yang keras membuat ia tak pernah mengeluarkan keluhan sedikitpun.

ia masih merasa penasaran, karena biarpun terluka, namun ia dapat pula melukai Can-Kauwsu, dengan dernikian berarti bahwa mereka masih sama kuat!

ia tidak berduka melihat betapa mantunya dan Kim Lian menderita hinaan dan luka hebat, hanya ia merasa penasaran dan marah karena kini namanya jatuh!

Pada hari itu juga, ia mencabut papan nama perguruannya dan menutup pintu Bukoan, sesuai dengan janjinya kepada Can-Kauwsu ketika hendak meninggalkan panggung.

Isterinya duduk menyusut air matanya.

"Memang sudah kuduga akan terjadi yang hebat,"

Kata isterinya yang lemah lembut dan penyabar itu.

"Untuk apakah segala macam permusuhan kosong ini? Sejak dulu aku amat tidak setuju dengan permusuhan ini. Apakah orang belajar silat hanya untuk saling pukul?"

Song-Kauwsu terpaksa tersenyum mendengar ucapan isterinya ini.

"Kau mana tahu tentang nama dan kehormatan seorang ahli silat."

Isterinya yang biasanya sabar dan tidak banyak bicara itu kini memandangnya dengan penuh penyesalan.

"Nama dan kehormatan? Apakah hubungannya nama kehormatan dengan ilmu silat? Apakah orang yang tidak tahu ilmu kasar itu berarti tidak mempunyai nama dan kehormatan? Para pujangga yang bijak pernah menyatakan bahwa serIbu orang sahabat masih terlalu sedikit, akan tetapi seorang saja musuh sudah terlampau banyak! Akan tetapi orang-orang yang menyebut dirinya ahli silat ternyata hanya pandai mengumpulkan musuh sebanyak-banyaknya saja. Dan ini yang kau sebut menjaga nama dan kehorrnatan?"

Song-Kauwsu menghela napas.

ia amat sayang kepada isterinya dan kalau isterinya yang biasanya pendiam itu sampai dernikian marah, maka tentu isterinya merasa berduka sekali berhubung dengan peristiwa ini.

Dulupun isterinya tidak setuju ia mengambil mantu Kim Lun dan ternyata dalam hal ini isterinya yang benar.

Ternyata Kim Lun merupakan seorang mantu yang buruk dan memalukan.

"Sudahlah, jangan kau marah,"

Ia menghIbur.

"Tunggu saja kalau anak kita datang, akan kubalas penghinaan Can-Kauwsu itu."

"Apa? Kau hendak membawa-bawa anak kita pula ke dalam permusuhan ini? Apakah anak itu kau kirim jauh-jauh sampai bertahun-tahun hanya untuk dijadikan alat penggempur musuh?"

Song-Kauwsu diam saja dan isterinya yang tidak mendapat lawan lalu menangis terisak-isak.

Benar-benar jauh perbedaannya dengan keadaan keluarga Can.

Keadaan keluarga Song-Kauwsu ini diliputi awan kesedihan dan dendam.

Beberapa hari kemudian setelah peristiwa itu terjadi, seorang pemuda yang berpakaian serba putih memasuki halaman rumah gedung Song-Kauwsu.

Seorang pelayan tua menyambutnya dan pelayan ini rnerasa kagum melihat pemuda yang elok dan gagah itu, yang datang dengan wajah berseri dan mulut tersenyum girang.

"Kongcu hendak mencari siapakah?"

Tanya pelayan itu.

"Kau pelayan di sini?"

Tanya pemuda itu dengan gembira.

"Siapakah namarnu, Lopek?"

"Orang-orang menyebutku Akwi-Pek, dan sudah enam tahun aku menjadi pelayan dari Song-Kauwsu."

"Bagus sekali, Akwi-Pek, lekas antarkan aku kepada Ayahku!"

Pelayan itu memandang dengan mata terbelalak.

"Jadi kongcu ini... putera Song-Kauwsu... yang bernama Han Bun...?"

Pemuda itu yang bukan lain memang Han Bun sendiri adanya, mengangguk dan tersenyum.

"Benar, Akwi-Pek, aku Han Bun dan lekaslah bawa aku kepada Ayah dan Ibu, aku sudah rindu sekali kepada mereka!"

Pelayan itu lalu memegang tangan Han Bun dan sarnbil berlari-lari ia membawa Han Bun memasuki gedung.

"Kongcu datang...! Kongcu datang...!!"

Teriaknya dengan suara keras.

Song Swi Kai dan isterinya yang sedang bicara di dalam kamar, ketika mendengar suara ini lalu memburu keluar dan...

keduanya berdiri memandang dengan air mata berlinang kepada Han Bun yang telah tiba di situ.

"Han Bun...!"

Nyonya Song berseru girang.

"Han Bun...!"

Song-Kauwsu juga berseru.

Han Bun lalu berlutut di depan Ayah-Bundanya.

Ibunya memeluknya dan menariknya bangun, sedangkan Ayahnya lalu memegang kedua pundaknya.

Suami-isteri itu mengamat-amati putera tunggal mereka dengan penuh kebanggaan dalam hati.

"Ayah, kau kenapakah?"

Tanya Han Bun ketika melihat Ayahnya yang pucat.

"Tidak apa-apa, tidak apa-apa..."

Jawab Song-Kauwsu sambil memandang kepada isterinya yang mengerling tajam kepadanya.

Han Bun menjadi curiga, akan tetapi saat itu muncullah Bwee Eng yang telah mendengar tentang kedatangan adiknya.

Melihat adiknya demikian tampan dan gagah, Bwee Eng memeluknya sambil menangis tersedu-sedu.

"Han Bun..., adikku... kau harus membalaskan sakit hati kita ini..."

"Bwee Eng!"

Ibunya menegur.

"Tak pantas kau menyambut adikmu dengan kata-kata itu!"

"Sakit hati? Membalasnya? Apakah artinya semua ini?"

Han Bun memandang Encinya yang telah merah kedua matanya saking terlalu banyak menangis itu.

"Han Bun, cihumu sampai putus pergelangan tangannya, Ayah terluka dan... dan..."

"Bwee Eng, diam! Pergilah kembali ke kamarrnu!"

Song-Kauwsu membentak marah dan Bwee Eng tidak berani membantah Ayahnya. Sambil menutupi mukanya dan menangis tersedu-sedu ia pergi dari situ.

"Ayah, apakah artinya semua ini?"

Tanya Han Bun, akan tetapi Ibunya lalu menggandeng tangannya dan mengajaknya masuk ke dalam.

"Kau baru tiba, tak perlu memusingkan kepala dengan segala macam urusan itu. Paling perlu lekas kau ceritakan semua pengalamanmu semenjak kau meninggalkan orang-tuamu."

Demikianlah, dengan duduk di tengah-tengah antara Ayah dan Ibunya yang mendengarkan dengan penuh perhatian, Han Bun menceritakan riwayatnya semenjak ia dibawa pergi ke puncak Gunung Bu-Tong-San berguru kepada Koan Tek Losu dan Bun Tek Thaisu, kedua tokoh Bu-Tong-Pai itu sehingga kemudian ia menjadi murid dari It-Ci-Sian Cin Po Yangcu yang lihai.

Kemudian ia juga menceritakan tentang tugasnya menyelidiki Pangeran Liang Tek Ong, akan tetapi ia tidak menceritakan kepada Ayah-Bundanya tentang gadis manis yang menawan hatinya, dara perkasa yang dikenalnya sebagai Ikan Emas Bermata Bintang itu!

Agar kita dapat mengetahui lebih jelas tentang peti kecil berisi rahasia Pangeran Liang Tek Ong yang dibawa oleh Han Bun ketika pemuda ini berpisah dari Pek Giok, baiklah kita mengikuti perjalanannya secara singkat.

Sebagaimana telah diketahui, Han Bun berpisah dari Pek Giok tanpa mengetahui nama gadis yang telah menawan hatinya itu.

Pemuda ini lalu pergi ke Kotaraja untuk menemui pembesar tinggi yang bernama Kam Lok Sun.

ia memang mendapat pesan dari Suhunya bahwa di Kotaraja ia dapat menghubungi Kam-Taijin ini yang mempunyai kedudukan tinggi dan dapat dipercaya sebagai seorang yang jujur dan berjiwa patriot.

Kepada Kam-Taijin ini ia boleh mempercayakan segala macam rahasia.

Setelah berhasil menghadap Kam Lok Sun, Han Bun lalu menceritakan segala pengalamannya dan memperlihatkan pula peti kecil berisi surat-surat persekutuan Pangeran Liang Tek Ong dengan Raja Mongol dan minta kepada pembesar itu untuk dapat mengatur sebaiknya agar Pangeran Liang Tek Ong tidak melanjutkan penghinaannya yang membahayakan Negara.

"Menurut Suhu, hamba sendiri tidak boleh mernbongkar rahasia Pangeran Liang Tek Ong kepada Baginda Kaisar, maka hamba sengaja datang menghadap kepada Taijin untuk dapat menyelesaikan urusan ini selanjutnya. Bagian hamba hanyalah rnerampasnya dari Pangeran Liang Tek Ong saja."

Tadinya Han Bun mengira bahwa pembesar itu tentu akan merasa sangat terkejut mendengar tentang maksud Pangeran Liang Tek Ong yang hendak memberontak itu.

Akan tetapi alangkah herannya ketika ia melihat betapa pembesar itu tiba-tiba tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya yang gendut, seakan-akan cerita yang dituturkan oleh Han Bun itu adalah sebuah lelucon yang menggelikan hati!

Tentu saja pemuda itu menjadi heran sekali dan diam-diam ia merasa ragu-ragu apakah Suhunya tidak salah pilih dengan menunjuk pembesar ini sebagai seorang pembesar bijaksana yang jujur dan patut dipercaya.

"Ha, ha, ha!"

Kiam-Taijin mengakhiri ketawanya.

"Song-Enghiong, kau gagah perkasa dan patut menjadi murid Cin Po Yang-cu yang menjadi sahabat baikku. Akan tetapi orang-tua itu agaknya masih saja mencurigai segala pembesar negeri! Ma, kau telah membikin Pangeran Liang Tek Ong selama ini pusing kepala dan tidak enak makan tak nyenyak tidur. Ha, ha, ha!"

"Taijin, apakah artinya ini? Ucapan Taijin benar-benar membikin hamba menjadi bingung sekali,"

Kata Han Bun dengan hati tidak enak.

"Tunggulah saja, Song-Enghiong dan kau akan mengetahui sendiri. Kalau aku yang bicara kepadamu, mungkin sekali kau takkan percaya kepadaku dan jiwa patriotmu akan tersinggung sehingga kau akan mengira bahwa akupun seorang pengkhianat Negara pula!"

Pembesar itu lalu memanggil seorang pengawal dan membuat surat dengan cepat.

"Antarkan surat ini cepat-cepat kepada Pangeran Liang Tek Ong!"

Pengawal itu memberi hormat dan membawa surat itu cepat-cepat keluar.

"Nah, biarlah kita menanti sebentar, Song-Enghiong dan janganlah kau ragu-ragu atau bercuriga kepadaku. Kau akan mendengar hal yang tak pernah kau sangka sama sekali dan yang akan membuat kau terbuka mata dan mengetahui keadaan Negara kita."

Pembesar ini lalu memerintahkan untuk rnenyediakan hidangan di ruang tamu, sementara itu ia sendiri lalu menjamu Han Bun dengan arak yang baik dan makanan yang lezat.

Tak lama kemudian, pengawal memberi laporan bahwa para tamu telah tiba.

"Marilah kita sambut mereka, Song-Enghiong,"

Pembesar itu mengajak Han Bun yang masih berada dalam kebingungan besar.

Alangkah terkejutnya hati Han Bun ketika melihat bahwa yang datang adalah tamu-tamu agung.

Diantaranya terdapat Pangeran Liang Tek Ong sendiri yang berseri-seri wajahnya, dan juga terdapat pembesar-pembesar lain yang berkuasa besar di istana Kaisar!

ia cepat memberi hormat dan sebagai seorang pendekar gagah yang tidak mau terikat dengan segala upacara, ia memberi hormat dengan menjura saja.

Semua orang lalu pergi ke ruang tamu dan jumlah mereka semua dengan Han Bun dan tuan rumah, tidak kurang dari lima belas orang.

Mereka dipersilakan duduk mengelilingi meja makan yang besar oleh Kam-Taijin.

Di dalam pertemuan inilah Han Bun mendengar hal yang benar-benar mengejutkan hatinya.

Pangeran Liang Tek Ong dengan disaksikan oleh para pembesar itu menuturkan kepada Han Bun bahwa persekutuan yang ia adakan dengan pemerintah Mongol itu hanya siasat belaka dari Kaisar.

Telah diketahui bahwa balatentara Mongol mempunyai niat untuk memukul dan menyerang Kerajaan, dan karena diketahui pula akan kekuatan tentara Mongol, maka ditugaskan kepada Pangeran Liang Tek Ong untuk berpura-pura mengadakan persekutuan dengan mereka.

Dengan jalan ini maka gerak-gerik dan siasat musuh akan dapat diketahui sebelum mereka benar-benar mengadakan serangan besar-besaran!

Bukan main kagetnya hati Han Bun mendengar ini dan sukar baginya untuk dapat mempercaya.

"Akan tetapi..., kalau benar-benar hanya tipu dan pura-pura belaka, mengapa Tan Koan, patriot itu, dilukai oleh para perwira sehingga tewas?"

Tanyanya. Pangeran Liang Tek Ong menghela napas.

"Hal ini amat kusesalkan. Memang rahasia ini dipegang teguh dan tidak diketahui oleh siapapun juga kecuali para pembesar yang setia kepada Kaisar. Bahkan para perwira tidak ada yang mengetahuinya. Rahasia ini dijaga rapat-rapat agar jangan sampai membocor ke pihak musuh. Oleh karena itu, tidak ada lain jalan kecuali menghalau Tan Koan yang karena terdorong oleh kepatriotannya dan oleh ketidak-tahuannya menyerangku di dekat Telaga Koko Nor itu. Dengan jalan ini pula, maka pemerintah dengan mudah dapat mengetahui siapakah diantara para pejabat yang menyetujui "pemberontakanku"

Dan siapa yang tidak setuju. Dari sinipun dapat dilihat siapa pembesar yang setia dan siapa pula yang tidak setia."

Bukan main kecewa hati Han Bun mendengar penuturan ini. ia mengerutkan keningnya dan berkata perlahan.

"Kalau demikian, maksud hamba dan Suhu yang baik itu ternyata hanya mengacaukan rencana Negara belaka?"

"Tidak demikian, Song-Enghiong,"

MenghIbur Pangeran Liang Tek Ong.

"Betapapun juga, kau telah memperlihatkan bahwa kau dan Suhumu benar-benar rakyat yang berjiwa patriot dan setia. Kami takkan melupakan dan seandainya kau ada keperluan sesuatu, kami akan merasa senang sekali untuk membantumu. Adapun tentang peti kecil itu, hal itu tak usah dikhawatirkan, karena pihak Mongol masih belum tahu akan rahasia kita ini. Dengan perbuatanmu yang merampasnya, maka mereka bahkan lebih percaya kepadaku. Dengan demikian, perbuatanmu itu sama sekali tidak mengacaukan rencana kami, bahkan membantu kami sehingga rencana ini nampak sungguh-sungguh!"

Demikianlah, setelah mendapat penjelasan yang amat mengherankan akan tetapi juga memuaskan hatinya itu, serta menerima pujian-pujian dari para pembesar tinggi, Han Bun lalu meninggalkan Kotaraja dan langsung menuju ke Sung-Kian, tempat tinggal Ayahnya.

ia telah pergi ke Santung dan di sana mendapat keterangan bahwa Ayahnya telah pindah ke Sung-Kian dan menjadi Guru silat di kota itu.

Semua pengalamannya ini ia tuturkan kepada Ayah-Ibunya setelah pemuda ini bertemu dengan Ayah-Ibunya sebagaimana sudah dituturkan di bagian depan.

Setelah menuturkan riwayatnya kepada Song Swi Kai dan nyonya, Han Bun lalu bertanya kepada Ayahnya.

"Akan tetapi sekarang aku ingin sekali mengetahui mengapa Ayah menderita luka dan apa maksud kata-kata Enci Bwee Eng tadi."

Song-Kauwsu menghela napas.

"Memang benar kata-kata Encimu tadi. Kami sekeluarga telah menerima hinaan hebat dari seorang Guru silat lain di kota ini."

Song Swi Kai lalu menceritakan kepada anaknya tentang perrnusuhannya dengan Can-Kauwsu dan kemudian menceritakan pula tentang pertempuran yang baru terjadi beberapa hari yang lalu, betapa mereka semua mendapat penghinaan dari puteri Can-Kauwsu.

(Lanjut ke

Jilid 09) Antara Dendam & Asmara (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 09 Bukan main marahnya hati Han Bun mendengar ini.

Sungguhpun ia memiliki tabiat yang halus seperti Ibunya dan penyabar pula, akan tetapi mendengar betapa Ayahnya, Cihunya (Kakak ipar) dan rombongan Ayahnya mendapat hinaan dan dikalahkan oleh seorang gadis puteri musuh atau saingan Ayahnya, ia menjadi marah sekali.

"Ayah, jangan khawatir! Aku pasti akan dapat membalaskan sakit hati ini dan memberi hajaran kepada gadis sombong dan jahat itu!"

"Inilah yang kuharapkan, Han Bun. Kalau bukan kau, siapa lagi yang akan dapat membalaskannya? Gadis puteri Can-Kauwsu itu benar-benar berkepandaian tinggi sekali. Baiknya kau telah mendapat latihan dari It-Ci-Sian Cin Po Yang, karena kalau hanya menerima pelajaran dari Suhu (Kwan Tek Losu dari Bu-Tong-Pai) saja, agaknya sukar bagimu untuk dapat menangkan dia!"

Nyonya Song mencela.

"Suamiku, mengapa kau membawa-bawa Han Bun ke dalam permusuhan ini? Anakku, memang akupun merasa sakit hati melihat Ayahmu dilukai. Akan tetapi, harus diingat bahwa Ayahmupun berhasil melukai Can-Kauwsu. Kalau kau berlaku sembrono dan menyerang mereka, bukankah ini berarti bahwa permusuhan terhadap mereka akan menjadi lebih hebat dan besar? Perlu betulkah hal ini dilanjut-lanjutkan sampai menyeret anak cucu kita?"

Kata-kata akhir ini ia tujukan kepada suaminya yang diam saja tidak menjawab, sedangkan Han Bun juga tertegun mendengar ucapan Ibunya ini. Akan tetapi ia teringat akan sesuatu dan berkata.

"Ibu, Ayah terluka oleh Can-kauw dan sebaliknya Guru silat itu terluka pula oleh Ayah. Hal ini tidak mendatangkan rasa penasaran. Akan tetapi, Cihu telah terpotong tangannya dan tadi aku mendengar bahwa adik perempuan Cihu juga dihina dengan guratan pedang pada mukanya. Hal ini benar-benar keji dan harus dibalas! Tidak selayaknya anak Can-Kauwsu itu mengandalkan kepandaian sendiri untuk menghina Cihu dan adiknya! Cihu adalah suami Enciku, karena ia menerima hinaan orang lain, sudah sepatutnya kalau aku yang membalaskannya!"

Ibunya menunduk dan tidak dapat menjawab.

Bagaimana ia harus menjawab?

Tak mungkin ia menceritakan kepada puteranya bahwa ia tidak suka kepada mantu itu, bahwa mantu itu adalah seorang jahat yang berwatak rendah dan buruk!

Juga Song-Kauwsu sendiri tidak dapat menceritakan hal yang memalukan ini, akan tetapi diam-diam Guru silat ini ingin memperlihatkan kepada Can-Kauwsu bahwa iapun mempunyai seorang putera yang gagah perkasa.

Maka katanya.

"Han Bun, memang ucapanmu ada benarnya. Akan tetapi benar pula kata Ibumu bahwa kau tidak boleh berlaku secara sembrono. Betapapun juga, kekalahan kami terjadi di atas panggung Luitai, jadi berarti kekalahan yang sah! Kalau kita hendak membalas, maka akan kuajukan tantangan kepada Can-Kauwsu. Aku sendiri masih merasa penasaran karena belum kalah dalam tangan Can-Kauwsu dalam arti yang mutlak. Aku akan tantang dia bersama puterinya untuk menghadapi aku dan kau! Bukankah ini sudah adil sekali namanya? Anak dan Ayah sendiri yang maju berpIbu, orang lain atau keluarga lain tidak boleh ikut campur!"

"Bagus, Ayah, baiknya diatur demikian saja. Jangan Ayah khawatir, sebelum bertanding, Ayah dapat mempelajari beberapa macam ilmu pukulan Bu-Tong-Pai yang baru. Karena dalam pertempuran Ayah yang lalu menghadapi Can-Kauwsu, Ayah biarpun terluka akan tetapi dapat membalas dan melukainya, itu berarti bahwa kepandaian Ayah tidak berbeda jauh dengan Can-Kauwsu. Kalau Ayah mempelajari beberapa macam tipu pukulan baru, kurasa Ayah pasti akan dapat mengalahkannya!"

Song-Kauwsu merasa girang sekali mendengar ini.

Kemudian Han Bun lalu diantar ke kamar Kim Lun untuk berkenalan dengan Cihunya ini.

Kim Lun sudah mendengar dari Bwee Eng tentang kedatangan Han Bun dan ketika ia melihat iparnya yang tampan dan gagah itu, diam-diam ia merasa girang karena ia dapat mengharapkan adik iparnya ini untuk membalaskan dendamnya kepada puteri Can-Kauwsu.

"Gadis itu bernama Can Pek Giok dan ilmu silatnya benar-benar lihai. Bun-te (adik ipar) harus berhati-hati menghadapinya. Ilmu pedangnya benar-benar hebat dan sukar dilawan. Aku akan merasa berterima kasih sekali kalau kau dapat membalaskan sakit hatiku dan membabat putus tangan kanannya pula!"

Diam-diam Han Bun merasa tidak suka melihat Cihumya yang pesolek bemata liar itu.

ia mendapat kesan buruk terhadap Cihunya ini, karena gerak-gerik Kim Lun amat menyebaikan hatinya.

Akan tetapi, tentu saja ia tidak memperlihatkan perasaannya ini dan menjawab.

"Cihu jangan khawatir. Aku tentu akan berusaha sedapat mungkin untuk mengalahkan gadis itu dalam pIbu yang hendak kami adakan."

Pada saat itu, Kim Lian keluar pula dari kamarnya.

Lukanya sudah sembuh, akan tetapi untuk menutupi cacat menghitam pada mukanya, ia harus memakai bedak yang amat tebal dan yanci yang kemerah-merahan sehingga diam-diam Han Bun merasa heran sekali melihat bagaimana perempuan seperti ini dapat menjadi keluarga Ayahnya.

Kesannya terhadap Kakak-beradik she Lee itu makin buruk.

Terutama ketika ia mendengar bahwa mereka adalah murid dari Bu-Eng-Kwi Tok Liong Taisu, ia menjadi terkejut sekali.

ia sudah mendengar nama Bu-Eng-Kwi Tok Liong Taisu sebagai seorang yang amat jahat dan keji.

ia benar-benar merasa heran mengapa Ayahnya suka menjodohkan Encinya kepada Kim Lun ini, akan tetapi kembali ia harus menutup mulut dan menyimpan perasaan kecewa ini di dalam hatinya.

Karena tak mungkin baginya untuk menyalahkan atau menegur Ayahnya.

Apalagi bagaimana juga Encinya telah menjadi isteri Kim Lun!

Kim Lian ketika melihat Han Bun untuk beberapa lama menjadi bengong bagaikan seorang yang kehilangan semangatnya.

Tak pernah disangkanya bahwa adik Bwee Eng yang dikabarkan berGuru di Puncak Bu-Tong-Pai itu adalah seorang pemuda yang demikian eloknya!

Sekaligus hatinya yang penuh nafsu dan bersifat cabul itu melonjak-lonjak di dalam dadanya!

"Selamat datang, Adik Han Bun!"

Katanya sambil menjura dengan gaya yang menarik dan senyum menghias bibirnya yang masih merah itu.

"Aku tidak tahu siapakah yang lebih tua di antara kita, akan tetapi biarlah aku menyebut adik saja. Sungguh beruntung bahwa kau datang pada saat keluarga kita tertimpa bencana, dan aku sudah mendengar tentang kepandaianmu yang tinggi. Akan tetapi... untuk menghadapi lawan kita yang amat tangguh dan lihai itu, apakah tidak baik kalau kami sekalian menyaksikan dulu tingkat kepandaianmu? Dengan demikian, maka Song Lo-Enghiong akan berhati lega dan tenteram sebelum membiarkan kau menghadapi perempuan iblis yang betul-betul berbahaya itu!"

Han Bun merasa muak dan sebal sekali melihat sikap dan gaya gadis genit itu, akan tetapi Song Swi Kai tiba-tiba berkata.

"Benar juga kata-kata itu. Han Bun, biarlah kau memperlihatkan kepandaianmu agar kami dapat merasa puas!"

Mereka semua lalu pergi ke Lian-Bu-Thia (tempat bermain silat) di sebelah kanan gedung itu, dan Kim Lun sendiri yang sudah hampir sembuh luka di tangannya juga ikut karena ia ingin menyaksikan kepandaian pemuda yang kelihatan lemah ini.

Setelah mereka tiba di Lian-Bu-Thia, Kim Lian berkata.

"Bermain silat seorang diri saja masih belum dapat menunjukkan kelihaianmu. Gadis she Can itu benar-benar lihai, bahkan aku dan Kakakku sendiri pun tidak dapat melawannya. Maka baiknya untuk menguji kepandaianmu, biarlah aku melayanimu bermain silat pedang sebentar, dari perlawanan ini akan dapat diukur apakah kepandaianmu lebih tinggi daripada kepandaian gadis setan itu"

Sambil berkata demikian, Kim Lian lalu mencabut keluar pedangnya. Han Bun merasa ragu-ragu, akan tetapi Ayahnya mengangguk dan berkata.

"Usul ini boleh dijalankan. Ketahuilah, Han Bun. Nona Kim Lian ini memiliki kepandaian yang lebih tinggi daripada aku, dan pihak Can-Kauwcu terdapat seorang pemuda she Lui yang kepandaiannya bahkan lebih tinggi daripada Nona Kim Lian, maka agar hatiku dapat percaya dan tenteram, kau lawanlah pedangnya dan berlakulah sungguh-sungguh sehingga kami dapat menilai kepandaianmu apakah engkau cukup kuat untuk menghadapi musuh-musuh kita."

Han Bun terpaksa menurut, karena betapapun juga dia hendak memperlihatkan kepandaiannya kepada Ayahnya dan kepada yang lain-lain itu.

"Baik, kau maju dan seranglah, Nona!"

Atanya tanpa membuka jubah luarnya dan hanya berdiri biasa dengan tangan kosong.

"Mana senjatamu, Adik Han Bun?"

Tanya Kim Lian sambil tersenyum mengerling tajam.

"Bagaimana aku menyerang kalau engkau tidak bersenjata?"

"Mengandalkan ketajaman senjata menunjukkan bahwa ilmu silat orang itu belum cukup tinggi."

Kata Han Bun yang sengaja menyombong.

"Biarlah aku melayani dengan tangan kosong saja, karena kalau engkau tidak hati-hati, senjatamu itu bisa berubah menjadi senjataku!"

Kim Lian dapat menduga bahwa kata-kata ini bermaksud bahwa pemuda itu.

merampas senjatanya dengan tangan kosong.

ia menjadi semakin kagum karena, keberanian pemuda itu dan tanpa ragu lagi ia lalu berseru.

"Awas, senjata, Adikku yang perkasa!"

Lalu ia bergerak menyerang dengan hebat.

Untuk beberapa jurus, Han Bun hanya mengelak dengan lambat saja, akan tetapi cukup untuk menghindarkan diri dari sambaran pedang di tangan Kim Lian.

Akan tetapi, pada jurus-jurus selanjutnya, Kim Lian terkejut sekali karena tiba-tiba pemuda itu menggerakkan kedua tangannya yang mengeluarkan angin pukulan hebat dan yang membuat gerakan pedangnya menjadi kacau-balau!

lnilah ilmu pukulan yang disebut Kong-Jiu-Jip Pek-Kiam (Dengan Tangan Kosong Memasuki Ratusan Pedang)!

Belum sampai lima belas jurus, tiba-tiba saja Kim Lian berteriak kaget bukan main dan pedangnya terlepas dari tangan lalu tahu-tahu telah pindah ke dalam tangan Han Bun yang berdiri sambil tersenyum!

Bukan main kagum dan terkejutnya Kim Lian dan juga Kim Lun melihat kelihaian pemuda itu, sedangkan Song-Kauwsu merasa amat girang dan bangga.

Sambil mengelus dagunya dia berkata.

"Bagus! Engkau pasti akan dapat mengaIahkan gadis itu, Han Bun!"

Akan tetapi, diam-diam Han Bun merasa gelisah.

Dia tadi telah menyaksikan kehebatan ilmu pedang yang dimainkan Kim Lian.

Kalau Kim Lun memiliki ilmu pedang yang lebih lihai daripada gadis itu dan kedua Kakak-beradik itu dengan pedang mereka masih kalah menghadapi pedang gadis she Can, dapat dibayangkan betapa hebatnya ilmu kepandaian gadis musuhnya itu!

Dia sendiri kalau tidak menggunakan ilmu Kong-Jiu-Jip Pek-Kiam dan kalau Kim Lian tidak bergerak dengan ragu-ragu dan sungkan, Agaknya belum tentu dia akan dapat merampas pedang itu sedemikian mudahnya.

Sebaliknya, Kim Lian semakin jatuh hati kepada pemuda ini.

Belum pernah ia bertemu dengan pentuda segagah ini selama hidupnya dan diam-diam ia berpikir bahwa kalau ia dapat menjadi isteri Song Han Bun, ia akan merasa bahagia dan puas, tidak akan peduli lagi kepada laki-laki lain!

Maka ia berdiri sambil menundukkan mukanya dan kerling mata serta senyumnya yang ditujukan kepada Han Bun mengandung penuh arti.

Akan tetapi Han Bun tidak mengacuhkannya dan hanya mengembalikan pedang itu dengan sikap sopan.

Kim Lun menyembunyikan perasaan gembiranya.

Dia hampir merasa yakin bahwa pemuda ini pasti akan mengalahkan Pek Giok, sungguhpun pikiran ini membuat dia merasa iri hati.

Ingin sekali dia dapat membalas gadis itu dengan memotong tangannya dengan pedang di tangannya sendiri Iri hati membuat dia menjadi murung dan dengan alasan bahwa tangannya masih merasa nyeri, dia kembali ke dalam kamarnya bersama Bwee Eng.

Ketika Song-Kauwsu menemui ketua dari Kuil Ban-Hok-Si untuk minta persetujuannya mendirikan panggung Luitai untuk yang ke tiga kalinya di pekarangan depan Kuil itu, Jin Hwat Hosiang yang menjadi ketua Kuil itu dengan sedih memberitahukan bahwa terpaksa dia menolak karena dia telah mendapat ancaman dan peringatan dari pihak pemerintah bahwa kini dilarang untuk mengadakan panggung Luitai di tempat terbuka!

Terpaksa Song-Kauwsu lalu menulis surat kepada Can-Kauwsu, menantang Guru silat she Can itu bersama puterinya untuk mengadakan pertandingan pIbu terakhir melawan dia dan puteranya yang baru datang.

Tempat boleh diadakan di mana saja.

Sambil menanti surat balasan, Song-Kauwsu melatih diri dengan ilmu pukulan yang dipelajarinya dari puteranya sendiri.

Sampai malam Guru silat yang keras hati ini melatih diri dengan rajinnya di Lian-Bu-Thia (ruangan berlatih silat).

Sementara itu, setelah memberi petunjuk kepada Ayahnya dan melihat bahwa gerakan Ayahnya sudah sempurna, Han Bun lalu beristirahat dan masuk ke dalam kamarnya yang sudah dibereskan dengan rapi oleh Ibunya.

Ketika dia masuk ke dalam kamar, Ibunya masih berada di situ dan membereskan tempat tidurnya dengan tangannya sendiri.

Melihat tidak ada orang lain di situ, dengan terus terang Han Bun mengutarakan isi hatinya kepada Ibunya.

"Ibu, aku melihat sikap Cihu (Kakak ipar) dan Nona Kim Lian itu sungguh tidak menyenangkan hati."

"Ssstt...!"

Kata Ibunya sambil menaruhkan jari telunjuknya di depan mulut.

"Jangan keras-keras, Han Bun. Kalau terdengar oleh Ayahmu, dia akan merasa semakin sedih."

Han Bun mendekati Ibunya dan memegang tangan Ibunya dengan kasih sayang.

"Ada apakah sebetulnya, Ibu? Seolah-olah Ayah dan Ibu menyembunyikan sesuatu kepadaku. Dan kulihat betapa Enci Bwee Eng tampak berduka dan tidak bahagia dalam hidupnya."

Tiba-tiba Ibunya menutup muka dengan kedua tangan dan menangis sambil menjatuhkan diri duduk di atas tempat tidur.

"Ibu, ada apakah?"

Tanya Han Bun sambil duduk dekat Ibunya dan merangkul pundak wanita itu.

"Aah, semua ini kesalahan Ayahmu"

Kata Ibunya.

"Dia terlalu ingln mendapatkan kemenangan dari Can-Kauwsu sehingga terpaksa pula dia memungut mantu kepada orang muda durhaka itu...!"

Kemudian dengan air mata bercucuran karena hatinya hancur apabila teringat akan nasib puterinya yang telah dinikahkan dengan seorang tak berharga seperti Kim Lun, Nyonya Song menceritakan tentang semua kelakuan Kim Lun dan Kim Lian yang tidak tahu malu dan yang mencemarkan nama keluarga Song.

Alangkah marahnya Han Bun ketika mendengar semua ini.

"Bedebah!"

Dia memaki.

"Akan kuusir mereka itu dari sini!"

"Jangan begitu, Han Bun. Ingatlah kepada Encimu Bwee Eng!"

Han Bun duduk termenung dengan hati kesal sekali.

Benar juga, kalau dia memberi hajaran atau mengusir Kim Lun, lalu bagaimana dengan nasib Encinya.

Sampai jauh malam sesudah Ibunya meninggalkannya, Han Bun rebah telentang, berbaring dan melamun dengan hati sedih.

Tak pernah disangkanya bahwa Ayah-Bundanya akan mengalami nasib seburuk itu, dan semua ini disebabkan oleh Kakak-beradik she Lee yang jahat itu!

Menjelang tengah malam, ketika dia telah mulai jatuh pulas, tiba-tiba sesosok bayangan yang ramping memasuki kamarnya dan membuka daun pintu yang hanya ditutup tanpa dikunci.

Bayangan ini ternyata adalah Kim Lian yang mengenakan pakaian yang tipis dan tidak sopan.

Melihat sikap Han Bun yang ramah tamah dan sinar mata yang selalu berseri itu, gadis cabul ini menjadi salah duga dan mengira bahwa Han Bun si pemuda elok itu "ada hati"

Kepadanya.

Maka dengan amat berani, terdorong oleh hatinya yang bernafsu dan cabul, ia sengaja datang ke dalam kamar Han Bun dengan niat yang benar-benar tak tahu malu!

Kim Lian sama sekali tidak mengira bahwa gerakan-gerakannya itu diam-diam dilihat oleh dua pasang mata.

Yang pertama adalah sepasang mata Han Bun sendiri yang mengintai dari balik kelambu, karena biarpun tadi dia telah pulas, namun sedikit suara kaki gadis itu membuat dia terbangun dan diam-diam memandang dengan mata terbelalak heran.

Adapun mata ke dua adalah sepasang mata dari Song-Kauwsu yang baru selesai berlatih silat dan kini hendak kembali ke kamarnya.

Ketika melihat gadis itu memasuki kamar Han Bun, Song-Kauwsu menjadi begitu marah sehingga Guru silat ini tidak mampu bergerak, hanya berdiri diam bagaikan telah berubah menjadi patung!

Akhirnya Song-Kauwsu dapat menekan perasaannya yang terguncang dan dengan cepat dia menghampiri pintu kamar puteranya.

Akan tetapi pada saat itu, terdengar jerit mengerikan, disusul oleh terlemparnya tubuh Kim Lian keluar pintu kamar!

"Perempuan rendah!

Kau tidak pantas berada di dalam rumah ini!"

Terdengar Han Bun memaki dan ketika pemuda itu keluar, dia melihat Ayahnya sedang mencekik leher Kim Lian yang telah lemas tubuhnya terkena tendangannya tadi!

Pada saat itu, Nyonya Song juga berlari keluar dari kamarnya karena nyonya ini pun belum tidur.

Melihat suaminya sedang mencekik leher Kim Lian, ia cepat menghampiri dan menarik tangan suaminya.

"Lepaskan! Apa kau sudah gila?"

Song-Kauwsu menjadi sadar lagi dari nafsu amarahnya dan dia melepaskan leher Kim Lian sehingga tubuh gadis itu yang sudah menjadi lemas jatuh ke atas lantai dan terdengar ia merintih-rintih.

Nyonya Song lalu membimbing gadis itu masuk kembali ke dalam kamarnya dimana Kim Lian membanting diri di atas pembaringan sambil menangis.

"Perempuan tidak tahu malu! Perempuan rendah hina berbatin kotor!"

Terdengar Song-Kauwsu memaki.

Song-Kauwsu mengumbar hawa nafsu amarahnya.

Telah berbulan-bulan dia menahan nafsu amarahnya karena selama itu dia tidak berani menghalang-halangi segala perbuatan Kim Lian, bahkan tidak berani memaki gadis yang amat dibencinya itu.

Nyonya Song Swi Kai keluar dari kamar Kim Lian dan mencoba untuk menghIbur suaminya dengan kata-kata halus, akan tetapi suaminya bertambah marah dan niembentak.

"Cukup! Aku sudah cukup sabar sehingga terasa hendak muntah darah melihat lagak mereka, lagak perempuan rendah itu dan Kakaknya yang keparat!"

"Hihh, dia kan mantumu sendiri."

Kata isterinya.

"Tidak peduli! Mereka semua harus pergi dari sini! Pergi dari rumahku!"

Saking marahnya Song-Kauwsu tidak dapat melanjutkan kata-katanya dan dia menjatuhkan diri di atas kursi dan tidak bergerak, hanya berdiam bagaikan patung sambil terengah-engah, dadanya turun naik.

Bwee Eng tampak berlari-lari keluar dari kamarnya dan sambil menangis tersedu-sedu, wanita muda yang bernasib malang ini lalu menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Ayahnya.

Terharulah hati Song-Kauwsu melihat puterinya.

Dia hanya dapat mengelus rambut kepala puterinya itu dan berbisik perlahan.

"Bwee Eng... Anakku kasihan kau..."

Nyonya Song juga memeluk anaknya dan menangis tersedu-sedu, sedangkan Han Bun hanya berdiri memandang sambil menghela napas panjang berkali-kali.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali ternyata Kim Lun dan Kim Lian telah pergi dari gedung itu dengan diam-diam.

Kedua Kakak-beradik ini merasa malu sekali dan kini mereka hendak mencari Guru mereka untuk membalas dendam kepada orang-orang yang telah menghina mereka.

Membalas dendam kepada Pek Giok, kepada Can-Kauwsu, kepada Han Bun dan kepada Song-Kauwsu!

Song-Kauwsu, isterinya dan Han Bun terpaksa menghIbur hati Bwee Eng yang menangis terisak-isak di dalam kamarnya sendiri.

Tak lama kemudian datanglah surat balasan dari Can-Kauwsu yang menerima tantangan Song Swi Kai, dan mengundang Guru silat she Song itu dan puteranya untuk datang ke rumahnya dan mengadu kepandaian di sana!

Ketika Can Gi Sun menerima surat tantangan Song Kwi Kai, dia merasa terkejut dan heran.

Tadinya dia mengira bahwa dengan pertempuran terakhir di tas panggung Luitai itu, semua permusuhan telah dibikin habis dengan pihaknya memperoleh kemenangan.

Akan tetapi, tak tersangka olehnya bahwa hal itu masih akan berekor.

Bahkan kini Song-Kauwsu dalam suratnya menantangnva untuk bertanding kembali karena yang dulu Itu dianggapnya masih sama kuatnya, sedangkan untuk menghadapi Pek Giok, Song-Kauwsu mengajukan puteranya sendiri!

"Sekarang baiklah kita memutuskan dengan tenaga sendiri dan tenaga anak kita, jangan menggunakan tenaga rang luar!"

Demikian kalimat penutup surat tantangan Song-Kauwsu. Tantangan ini diterima oleh Can-Kauwsu dengan hati murung dan tidak gembira, Akan tetapi ketika Pek Giok membaca surat itu ia tersenyum.

"Biarlah mereka datang, Ayah. Dan kali ini kita benar-benar akan menundukkan mereka agar lain kali jangan mereka berani berlagak lagi dan mencari kerIbutan!"

Maka dIbuatnyalah surat balasan oleh Can-Kauwsu yang menetapkan hari itu juga agar pertandingan dilangsungkan di Lian-Bu-Thia dalam rumahnya!

Setelah Kim Lun dan Kim Lian pergi.

Han Bun lalu bertanya secara terus terang kepada Ayahnya tentang permusuhannya dengan Can-Kauwsu.

Ayahnya juga bicara terus terang, menceritakan tentang semua peristiwa yang terjadi dengan sejelasnya, sama sekali tidak menutupi kesalahan-kesalahan Kim Lian.

Dia menceritakan betapa permusuhan ini menjadi semakin besar dan hebat ketika Kim Lian mengadakan hubungan!

yang tidak tahu malu dengan Ma Ek, murid Can-Kauwsu dan betapa kemudian Kim Lian bertempur dan mengalahkan Can-Kauwsu.

Mendengar cerita ini, kemarahan Han Bun terhadap Can-Kauwsu dan puterinya berkurang.

"Pantas saja mereka merasa sakit hati sekali!"

Katanya.

"Siapa orangnya yang tidak merasa sakit hati kalau dihina seperti Itu oleh Kim Lian? Terus terang saja, Ayah, tindakan puteri Can-Kauwsu telah menghukum Kim Lun dan Kim Lian tanpa membunuh mereka itu tak dapat dianggap terlalu kejam."

Ayahnya menghela napas panjang.

"Memang, Kim Lun dan Kim Lian sudah pantas diberi hajaran. Akan tetapi kalau tidak mengingat bahwa Kim Lun telah menjadi mantuku, dan tidak mengingat bahwa kepandaian mereka lebih tinggi daripada kepandaianku, ingin sekali memberi hajaran kepada mereka, bahkan mungkin lebih hebat daripada yang dilakukan oleh puteri Can-Kauwsu itu. Akan tetapi harus kau ingat bahwa mereka berdua itu pada waktu diadakan pIbu merupakan pembela-pembelaku, maka jatuhnya kedua orang itu juga mendatangkan malu dan menjatuhkan namaku. Akan tetapi sudahlah, sekarang kita jangan memikirkan mereka lagi. Kita menghadapi Can-Kauwsu dengan sikap sebagai seorang gagah yang mempertahankan nama dan kehormatan. Kalau kita menang, maka kemenangan ini adalah sah, dan kalau kita kalah, sudahlah, aku akan mengundurkan diri saja dan pindah ke kota lain."

Han Bun tidak dapat membantah kata-kata Ayahnya ini.

Baca Juga: Jodoh Rajawali 9

Baca Juga: Jodoh Rajawali 8

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert