Ceritasilat Novel Online

Antara Dendam Dan Asmara 2

Eps 2 Antara Dendam Dan Asmara - Kho Ping Hoo

Baca online Antara Dendam Dan Asmara - Kho Ping Hoo

Cersil Antara Dendam Dan Asmara - Kho Ping Hoo.

ia menangisi mayat Suhengnya dan menjambak-jambak rambutnya, karena merasa menyesal sekali telah menarik Suhengnya dalam permusuhannya dengan keluarga Song sehingga Suhengnya itu menemui kematiannya.

Setelah penguburan dilakukan sebagaimana mestinya, Can-Kauwsu lalu mengajak isterinya pindah ke luar kota, tinggal di sebuah kampung di sebelah barat kota.

ia mengambil keputusan untuk menjadi petani saja di tempat itu, sungguhpun sakit hatinya terhadap Song-Kauwsu dan kedua saudara Lee itu masih saja berkobar di dalam dadanya dan membikin ia sekarang seringkali diserang penyakit.

Akan tetapi, harapannya untuk dapat membalas dendam amat tipis.

"Aku terpaksa harus membawa rasa penasaran dan dendam ini sampai ke dunia baka."

Demikian ia sering menghela napas dan berkata perlahan kepada isterinya yang hanya dapat menggigit bibir dengan gemas.

Bekas-bekas muridnya sebagian besar pindah belajar ke perguruan Song-Kauwsu sehingga perguruan itu makin menjadi besar.

Song-Kauwsu sendiri bernapas lega ketika mendengar bahwa Can-Kauwsu telah meninggalkan Sung-Kian dan menganggap bahwa permusuhan itu telah habis.

Kita tinggalkan dulu keadaan Can Gi Sun yang merana karena tak berdaya membalas dendam, dan keadaan Song Swi Kai yang makin membesar perguruan silatnya itu.

Marilah kita mengikuti pengalaman seorang dara yang akan merupakan tokoh terpenting dalam cerita ini.

Dara ini ialah Can Pek Giok, anak perempuan yang semenjak berusia lima tahun telah diculik dan dibawa pergi oleh seorang penjahat bernama Liu Bo Cin itu.

Semenjak kecil, Pek Giok telah merupakan seorang anak yang mungil dan potongan wajahnya yang menyerupai Ibunya itu menunjukkan bahwa kelak ia akan menjadi seorang dara yang cantik sekali.

Tidak hanya dalam hal kecantikan, bahkan wataknyapun sama dengan Ibunya, yakni tabah dan keras hati.

Ketika ia diculik oleh Liu Bo Cin, ia berteriak-teriak dan meronta-ronta, melawan dengan pukulan dan gigitan sehingga penculik itu terpaksa menggunakan sehelai ikat pinggang Sutera untuk diikatkan di depan mulut anak itu dan mengikat pula kaki tangannya sehingga Pek Giok sama sekali tak dapat berdaya, bahkan tak dapat berteriak karena suara yang ia keluarkan hanya sampai di tenggorokan saja.

Demikianlah, penculik yang sesungguhnya memang sengaja mencari kesempatan pada waktu Can Gi Sun tidak ada di rumah ini, membawanya pergi jauh dari rumah orang-tuanya.

Liu Bo Cin memiliki kepandaian silat yang lumayan, akan tetapi ia seorang yang berwatak pengecut.

Agaknya ia maklum bahwa ia takkan dapat menangkan Can Gi Sun yang gagah perkasa, maka untuk membalas dendamnya karena Kakaknya yang bernama Liu Lang terbunuh oleh Can Gi Sun, ia sengaja mencari ketika dan setelah mendapat tahu bahwa orang she Can itu sedang melakukan pekerjaannya sebagai Piauwsu dan pergi ke luar kota, ia lalu datang untuk membalas dendamnya kepada keluarga Can!

Tadinya ia hendak membunuh anak isteri musuhnya, akan tetapi ketika ia melihat Pek Giok yang cantik dan mungil bagaikan kuncup bunga botan, ia tidak tega untuk membunuhnya.

Timbul pada pikirannya bahwa dengan jalan menculik anak ini, ia berhasil membalas dendam dengan lebih hebat pula karena ia dapat mendatangkan kesedihan besar pada musuhnya itu!

Oleh karena itu, Liu Bok Cin lalu membuat surat untuk Can Gi Sun, kemudian pada malam harinya datang dan berhasil menculik Pek Giok dan meninggalkan surat untuk musuhnya.

Penjahat yang berhati curang dan keji ini memang berhasil baik dalam usahanya menghancurkan hati keluarga Can, akan tetapi ia harus membayar mahal untuk kecurangannya ini.

Beberapa hari kemudian, ketika ia membawa lari Pek Giok yang selalu melawan itu melalui sebuah hutan, tiba-tiba ia dikepung oleh segerombolan perampok yang dikepalai oleh seorang kepala rampok tinggi besar bercambang-bauk bernama Siok Kong dan bergelar Sam-Thouw-Coa atau Ular Kepala Tiga.

"Sahabat, tahan dulu!"

Seru Siok Kong dengan bengisnya.

"Tinggalkan dulu buntalan dan semua barang, baru boleh melanjutkan perjalanan!"

Sambil berkata demikian Siok Kong mencabut goloknya dan memandang kepada Pek Giok yang pucat dan yang masih terikat kaki tangannya dan digendong oleh Liu Bo Cin.

Liu Bo Cin sendiri adalah keluarga perampok di daerah lain, maka ia lalu tertawa dan berkata.

"Tai-Ong, kau salah sangka! Kita sama-sama orang liok-lim (rimba hijau) dan aku berusaha di hutan-hutan sebelah utara. Harap kau jangan mengganggu, mengingat akan hubungan kawan segolongan!"

"Ha, ha, ha!"

Siok Kong tertawa bergelak.

"Sungguh Tee-Tauw-Coa (Ular setempat) berlaku kurang hormat, tidak tahu akan kedatangan Kiang-Liong (Naga tangguh) karena Kiang-Liong tidak mengeluarkan Liong-Cu (Mustika Naga)?"

Ucapan ini penuh dengan kata-kata rahasia yang biasa dipergunakan oleh para berandal dan perampok. Yang dimaksudkan dengan "ular setempat"

Adalah sebutan merendah terhadap diri sendiri yakni tuan rumah, dan Kiang-Liong atau Naga Tangguh adalah sebutan untuk tamu yang dihormati.

Mustika Naga merupakan lambang kekuasaan Naga atau dalam hal ini adalah bendera rombongan perampok atau setidak-tidaknya Tek-Pai (surat bambu tanda pengaruh) yang biasa dimiliki oleh para kepala rampok yang besar kekuasaan dan pengaruhnya.

Liu Bo Cin tentu saja mengerti akan maksud kata-kata itu, akan tetapi ia adalah seorang perampok tunggal yang tidak mempunyai tanda-tanda seperti yang ditanyakan oleh Siok Kong itu, maka terpaksa ia menjawab.

"Tai-Ong, ketahuilah bahwa aku hanya seorang perampok tunggal belaka, dan sama sekali bukan seorang besar yang patut disebut Kiang-Liong (Naga Tangguh) atau Sin-Liong (Naga Sakti). Kuharap saja Tai-Ong suka percaya kepadaku agar jangan sampai orang segolongan mencabut senjata!"

Ucapan ini biarpun terdengar merendah, akan tetapi sebenarnya mengandung ancaman dan tantangan.

Siok Kong merasa ragu-ragu.

ia mau mempercaya omongan Liu Bo Cin, akan tetapi perhatiannya semenjak tadi tertarik oleh Pek Giok, maka ia bertanya.

"Sahabat, biarlah kami anggap saja ucapanmu itu benar dan tidak bohong. Akan tetapi, siapakah anak ini dan mengapa pula kau ikat kaki tangannya?"

Liu Bo Cin merasa gelisah, akan tetapi ia menetapkan hatinya dan menjawab.

"Tai-Ong, dia ini adalah setangkai bunga yang indah dan harum, kiranya Tai-Ong tentu maklum apakah maksudku mengambilnya dari pohon!"

Inipun termasuk ucapan rahasia, karena yang dimaksudkan bunga adalah seorang dara dan sudah menjadi kebiasaan para penjahat untuk menculik anak-bini orang, dan penjahat macam ini biasanya disebut Jai-Hwa-Cat (penjahat pemetik bunga).

Akan tetapi, Liu Bo Cin sama sekali tidak tahu bahwa biarpun Siok Kong seorang kepala perampok, namun ia adalah seorang gagah yang amat benci akan pekerjaan terkutuk ini!

"Jadi kau seorang Jai-Hwa-Cat yang rendah?"

Liu Bo Cin terkejut mendengar ini.

Belum pernah ada perampok yang memaki seorang Jai-Hwa-Cat dan mengatakan rendah!

Akan tetapi, ia tidak mau mencari urusan dan hanya mengangguk.

Tiba-tiba Siok Kong tertawa bergelak sehingga Liu Bo Cin merasa makin tidak enak, karena suara ketawa kepala rampok ini mengandung ejekan.

"Kawan, jangan kau membohongi aku! Yang kau bawa itu belum menjadi bunga, baru merupakan kuntum, dan belum pernah aku mendengar seorang Jai-Hwa-Cat memetik kuntum bunga!"

"Akan tetapi beberapa tahun lagi ia akan menjadi bunga yang indah dan harum!"

Liu Bo Cin membantah.

"Lagi-lagi bohong! Belum pernah selama hidupku, aku mendengar tentang seorang Jai-Hwa-Cat yang begitu sabar menanti seorang kurbannya sampai bertahun-tahun! Lagi pula kau kejam, anak kecil kau ikat kaki tangannya. Katakan saja terus terang!"

Liu Bo Cin menghela napas. Kepala rampok ini terlalu cerdik.

"Baiklah, kalau kau mendesak, Tai-Ong. Sebetulnya hal ini bukan urusanmu, akan tetapi agar kau puas, baiklah kuceritakan terus terang. Memang sesungguhnya aku bukanlah seorang Jai-Hwa-Cat dan anak ini kuculik, karena dia adalah anak seorang musuh besarku, yakni seorang Piauwsu she Can!"

Mendengar disebutnya Piauwsu, semua liauwlo (anak buah perampok) yang berada di situ mengeluarkan suara seruan karena semua perampok amat membenci golongan Piauwsu yang menjadi musuh besar mereka.

Pekerjaan Piauwsu adalah melindungi barang-barang kiriman, sedangkan pekerjaan perampok adalah merampok barang-barang itu, tentu saja kedua golongan ini selalu bermusuhan.

Akan tetapi Siok Kong mengangkat tangan memberi tanda kepada anak buahnya agar supaya berdiam.

"Mengapa kau menculik anaknya kalau kau bermusuhan dengan Ayahnya?"

Tanyanya sambil memandang tajam.

"Ayahnya sedang pergi dan... terus terang saja... Can-Piauwsu terlalu kuat hingga aku tidak berani melawannya secara berterang. Maka aku menculik anaknya agar ia menderita."

"Pengecut!"

Tiba Siok Kong memaki. Kepala rampok yang kasar ini memang amat benci kepada semua orang yang berhati pengecut dan curang.

"Lepaskan anak itu, baru aku mau memberi ampun kepadamu."

Liu Bo Cin adalah seorang yang memiliki ilmu silat tinggi, tentu saja ia tak dapat menahan kesabarannya lebih lama lagi menerima hinaan-hinaan ini dari seorang kepala rampok lain.

ia menurunkan Pek Giok dengan kasar sehingga anak itu terguling di atas tanah, kemudian ia mencabut pedangnya.

"Kau sombong sekali!"

Serunya marah.

"Kau kira aku takut kepadamu?"

Akan tetapi, Siok Kong tidak menanti sampai ia banyak mengeluarkan makian dan terus menyerang dengan goloknya.

Kepala rampok ini memiliki kepandaian tinggi juga dan ilmu goloknya adalah ilmu golok dari cabang pantai sungai Huang-Ho.

Liu Bo Cin menangkis dan mereka lalu bertempur hebat.

Kepandaian mereka ternyata setingkat dan pertempuran itu berjalan sampai puluhan jurus dengan amat sengitnya.

Selain lihai ilmu goloknya, Siok Kong juga terkenal dengan kepandaiannya mempergunakan senjata rahasia yang disebut Touw-Sim-Teng (Paku Penembus Jantung) yang berbentuk paku hitam kira-kira satu jari panjangnya.

Melihat bahwa lawannya cukup lihai, kepala rampok ini lalu mengeluarkan senjata rahasianya dan membentak.

"Terimalah senjata rahasiaku!"

Tangan kirinya bergerak dan beberapa batang paku meluncur ke arah Liu Bo Cin.

Penjahat ini cepat mengelak dan menyampok dengan pedangnya, akan tetapi sebuah diantara paku-paku itu dengan tepat sekali menancap di dadanya dan menyerang jantung sehingga ia berteriak ngeri dan roboh, berkelojotan sebentar kemudian tewas di saat itu juga!

Siok Kong lalu menghampiri Pek Giok yang masih rebah dalam keadaan terikat kaki tangannya, dan dengan goloknya kepala rampok ini membacok putus tali-tali pengikat kaki tangan anak itu.

Pek Giok merangkak berdiri, kemudian tiba-tiba anak kecil ini ketika melihat tubuh Liu Bo Cin rebah tak berkutik, lalu menghampiri dan menendang tubuh itu beberapa kali dengan mata memancarkan kebencian besar!

Siok Kong tertawa terbahak-bahak melihat hal ini.

ia lalu mengelus-elus rambut anak itu dan berkata kepada anak buahnya.

"Anak ini mulai sekarang menjadi anakku dan siapa saja yang berani mengganggunya, boleh melihat bangkai binatang ini!"

Ia menuding ke arah mayat Liu Bo Cin.

"Aku mau pulang!"

Tiba-tiba dengan suaranya yang nyaring Pek Giok berkata kepada Siok Kong tanpa merasa takut sedikitpun juga.

"Antarkan aku pulang ke rumah Ayahku!"

Siok Kong tersenyum dan menggelengkan kepada.

"Tidak, anak manis! Ayahmu adalah aku dan kau tidak boleh pergi kemana-mana!"

"Kalau tidak mau mengantar, aku akan pulang sendiri!"

Kata Pek Giok dengan berani sungguhpun ia tidak tahu harus ke mana kalau pulang, karena ia telah berada jauh sekali dari rumah orang-tuanya. (Lanjut ke

Jilid 04) Antara Dendam & Asmara (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 04

"Ha, Ha, Ha! Alangkah beraninya anak ini. Patut menjadi anakku! Kau mau pergi sendiri? Bagaimana kalau bertemu dengan penjahat seperti orang tadi? Kau akan diculiknya!"

Mendengar ini, Pek Giok menjadi ragu, memandang kepada Siok Kong dengan sepasang matanya yang lebar dan bagus, kemudian ia memeluk kepala rampok itu dan menangis! "Anak baik... anak baik""

Siok Kong memondongnya dan memandang dengan penuh kasih sayang.

Kepala rampok ini pernah mempunyai isteri, akan tetapi isterinya itu meninggal dunia bersama bayi pertama yang dilahirkannya.

Semenjak itu, Siok Kong tidak mau mengambil isteri lagi dan tentu saja dalam usianya yang sudah empat puluh tahun lebih itu, ingin sekali mempunyai anak.

Melihat Pek Giok, sekaligus hatinya penuh cinta kasih seorang Ayah terhadap anaknya.

"Anak baik,"

Katanya lagi.

"Siapakah namamu?"

"Namaku Can Pek Giok,"

Jawab anak itu yang tahu bahwa kepala rampok inilah yang telah menolongnya.

"Nama yang baik sekali, akan tetapi mulai sekarang nama keluargamu bukan Can lagi, akan tetapi Siok!"

Demikianlah, semenjak hari itu, Pek Giok dirawat dan dididik oleh Siok Kong.

Mula-mula Pek Giok masih sering menangis minta pulang, akan tetapi oleh karena Ayah angkatnya pandai menghIbur, akhirnya ia tidak rewel lagi dan beberapa tahun kemudian, Pek Giok telah lupa sama sekali akan orang-tuanya yang sejati.

Para liauwlo berlaku hormat dan manis terhadapnya dan ia mendapat didikan ilmu silat dari Siok Kong dan anak buahnya terdiri dari orang-orang kasar yang buta huruf, maka Pek Giok yang memang pada dasarnya berwatak keras kini menjadi lebih keras dan kasar lagi!

Lima tahun ia berada dalam rawatan dan didikan Siok Kong dan anak yang baru berusia sepuluh tahun ini telah pandai mainkan golok dan pandai pula melepas senjata rahasia Touw-Sim-Teng!

Bahkan kini ia mulai ikut dengan Ayahnya melakukan perampokan pada para pelancong atau rombongan yang melewati daerah itu!

Betapapun juga, masih ada sifat baik pada diri Siok Kong, karena biarpun ia kasar dan keras, akan tetapi ia jujur dan tidak mau melakukan sesuatu yang sifatnya curang.

Bahkan ia sama sekali melarang anak buahnya untuk membunuh para korban yang dirampok, terutama mereka yang lemah.

Siok Kong hanya mau membunuh orang yang dihadapinya dalam sebuah pertempuran yang adil dan jujur!

Sifat inipun ia tekankan dalam jiwa Pek Giok sehingga anak itu tidak menjadi seorang anak yang kejam, sungguhpun kekerasan hatinya melebihi batu karang!

Pada suatu hari, gerombolan perampok yang dipimpin oleh Siok Kong menahan serombongan orang yang lewat di dekat hutan itu.

Ternyata bahwa rombongan itu adalah sekeluarga kaya yang pindah dari kampung ke kota dan mereka dikawal oleh lima orang Piauwsu.

Pertempuran hebat terjadi antara kelima orang Piauwsu itu dengan Siok Kong dan kawan-kawannya, sedangkan Pek Giok yang berpakaian seperti seorang anak laki-laki itu, tidak mau tinggal diam dan membagi-bagikan Paku Penembus Jantung ke arah kelima orang Piauwsu yang dikeroyok itu.

Lima orang Piauwsu itu tidak tahan menghadapi Siok Kong dan kawan-kawannya, maka mereka lalu melarikan diri meninggalkan keluarga itu!

Keluarga itu terdiri dari dua orang laki-laki setengah tua dan empat orang wanita, diantaranya seorang wanita yang remaja puteri dan cantik.

Empat orang wanita ini duduk di dalam sebuah kendaraan yang ditarik oleh empat orang.

Tentu saja girang sekali hati Siok Kong dan kawan-kawannya ketika mendapat kenyataan bahwa rombongan itu benar-benar merupakan hasil yang besar karena mereka membawa barang-barang berharga yang cukup banyak.

Saking girangnya memeriksa dan mengambil barang-barang, Siok Kong kurang memperhatikan sepak terjang anak buahnya yang mengurung rombongan itu.

Tangis terdengar riuh rendah ketika empat orang wanita itu melihat dengan ketakutan betapa barang-barang mereka dirampas.

Seorang anggota perampok melihat kecantikan gadis di dalam kereta dan timbul hati busuknya.

ia mengulurkan tangan hendak memeluk dan membawa pergi gadis yang ketakutan itu, akan tetapi tiba-tiba liauwlo itu menjerit kesakitan karena tangannya yang hendak memeluk tadi telah tertembus oleh sebatang paku!

ia menengok dan melihat Pek Giok berdiri sambil bertolak pinggang dan memandangnya dengan marah, lalu terdengar bentakan anak itu.

"Jangan mengganggu dial"

Pada saat para perampok sedang mengumpulkan barang-barang berharga itu, dan perampok yang dilukai tangannya oleh Pek Giok segera pergi dan dengan muka merah, tiba-tiba muncullah seorang Kakek Pendeta yang berjubah panjang warna kuning, ternyata dia adalah seorang Tosu yang kebetulan lewat di tempat itu dan mendengar suara tangis sehingga cepat ia mengeluarkan kepandaiannya dan menghampiri tempat itu.

Tosu ini bukanlah orang sembarangan, karena dia adalah seorang diantara Kun-Lun Sam-Sian (Tiga Orang Dewa di Kun-Lun), yakni orang kedua yang bernama Beng Tek Sianjin!

Sebagaimana telah dituturkan di depan Pek Giok yang baru berusia sepuluh tahun ikut dengan Ayah angkatnya yang memimpin para anggota perampok untuk merampok serombongan keluarga hartawan yang lewat di hutan.

Dalam kekacauan itu, Pek Giok berhasil melukai tangan seorang anggota perampok yang hendak berbuat kurang ajar terhadap seorang wanita muda dalam rombongan yang dirampok.

Dan pada saat itu, muncul seorang Tosu yang amat terkenal karena saktinya dan karena ia adalah orang kedua dari Kun-Lun Sam-Sian (Tiga Orang Dewa di Kun-Lun) yang pada waktu itu merupakan tokoh-tokoh persilatan yang amat tinggi kedudukannya.

Beng Tek Sianjin, Tosu itu, dapat melihat perbuatan Pek Giok yang menolong nona muda tadi, maka ia menjadi terheran-heran.

Bagaimana dalam rombongan perampok terdapat seorang anak perempuan seperti itu?

Para perampok melihat kedatangan Tosu ini, maka semua mata memandangnya dengan penuh kecurigaan.

Siok Kong sendiri dengan golok di tangan lalu menghampiri Tosu ini dengan langkah lebar.

"Siancai, siancai!"

Beng Tek Sianjin berkata perlahan.

"Kalau Negara sedang kacau, maling dan rampok muncul di mana-mana!"

Siok Kong yang sudah berhadapan dengan Tosu itu, lalu membentak.

"Totiang, kau seorang Pertapa jangan mencampuri urusan dunia! Kami memang perampok dan sedang melakukan pekerjaan, Totiang pergilah dari sini dengan aman. Kami tidak biasa mengganggu Pendeta dan Pertapa!"

"Aneh, orang kasar dan kejam masih memperdengarkan suara dari hati nurani."

Tanpa memperdulikan Siok Kong, Tosu itu lalu melangkah lebar ke arah barang-barang yang sudah ditumpuk di atas tanah oleh para perampok, dan tanpa banyak cakap kedua tangan Tosu itu bergerak mengambil kembali barang-barang itu ditaruh kembali ke dalam kereta, lalu katanya kepada penarik-penarik kereta.

"Jalankan kereta dan lanjutkan perjalananmu!"

Iapun memberi tanda kepada anggota-anggota keluarga laki-laki untuk melanjutkan perjalanan.

Tentu saja para perampok yang tadinya memandang heran itu menjadi marah sekali.

Mereka maju mengancam tukang kereta, akan tetapi sebelum mereka dapat mendekati penarik-penarik kereta rombongan itu, Beng Tek Sianjin telah menghadang di depan mereka dan berkata.

"Jangan ganggu orang!"

Para perampok itu masih merasa segan kepada kepala mereka untuk menyerang Pertapa ini dengan senjata tajam, maka mereka lalu menggunakan tangan mendorong Tosu itu ke samping.

Akan tetapi, alangkah heran dan kaget hati mereka ketika dorongan-dorongan itu tidak membuat si Tosu berguling bahkan mereka sendiri yang tertolak ke belakang oleh tenaga mendorong yang membalik ketika tangan mereka menyentuh tubuh Tosu itu!

Sementara itu, Siok Kong merasa heran dan juga marah sekali melihat betapa anak buahnya kini hanya berdiri memandang kepada Tosu itu dengan muka bengong.

ia maju dan membentak.

"Tosu siluman, jangan kau mengganggu kami!"

Lapun mendorong dengan tangan kanannya.

Dorongan Siok Kong ini kuat sekali, melebihi tenaga dorongan lima orang biasa, akan tetapi kembali terjadi keanehan karena para perampok itu melihat betapa Siok Kong terpental ke belakang, terhuyung-huyung hampir roboh!

Adapun kepala rampok itu menjadi terkejut sekali karena ketika tadi ia mendorong, tiba-tiba tangannya terasa kaku dan dari tubuh Tosu yang mendorongnya itu keluar tenaga yang bukan main hebatnya sehingga tenaga dorongannya sendiri terpental kembali dan membuatnya terhuyung-huyung ke belakang.

ia maklum bahwa Tosu ini adalah seorang yang lihai, maka ia lalu menggerakkan goloknya dan berkata.

"Tosu siluman, kau agaknya sengaja mencari perkara!"

"Kalau kalian mengganggu orang, Pinto tak dapat membiarkan begitu saja"

Kata Tosu itu sambil memandang tajam.

"Bagus, agaknya kau mengandalkan kepandaianmu. Boleh kau rasakan tajamnya golokku!"

Sambil berkata demikian, Siok Kong menyerang dengan goloknya ke arah leher Tosu itu!

Beng Tek Sianjin miringkan tubuhnya dan ketika golok itu menyambar cepat dekat tubuhnya, ia menggerakkan tangannya dan...

tahu-tahu jari-jari tangannya telah menjepit belakang golok itu.

Siok Kong mengerahkan tenaga untuk membetot goloknya dan.

"Krek!"

Golok itu patah di bagian yang terjepit oleh jari tangan Tosu itu!

Siok Kong menjadi bengong saking terkejut dan herannya, akan tetapi kekerasan hatinya membuat ia tidak mau menyerah begitu saja.

ia memukul dengan kepalan tangannya ke arah dada Tosu itu.

Si Tosu yang lihai ini sama sekali tidak mengelak atau menangkis, hanya memandang senyum dikulum seakan-akan seorang-tua menghadapi seorang kanak-kanak yang nakal!

"Buk!"

Dan lagi-lagi terjadi hal yang amat aneh karena Siok Kong mengaduh-aduh kesakitan sambil memegangi kepalan tangan kanannya yang menjadi bengkak dan merah!

ia adalah seorang ahli silat yang pandai dan tenaga lweekangnya cukup tinggi, maka bukan main kagetnya ketika pukulannya pada dada Tosu itu diterima seenaknya dan kemudian ternyata tangannya sendiri yang menjadi bengkak!

Maklumlah ia bahwa Tosu ini benar-benar seorang-tua yang amat sakti dan luar biasa tinggi tingkat kepandaiannya.

Pada saat itu, Pek Giok yang melihat betapa Ayah angkatnya mengaduh-aduh kesakitan, menjadi marah sekali.

ia mengambil beberapa buah pakunya, lalu berseru keras.

"Kakek siluman jangan kau berani menyakiti Ayahku!"

Kedua tangannya bergerak dan lima batang paku melayang ke arah tubuh Kakek itu. Beng Tek Sianjin membalikkan tubuh dan sekali ia mengebutkan lengan bajunya, semua paku itu terpukul runtuh.

"Pek Giok, jangan berani kurang ajar!"

Tiba-tiba Siok Kong menegur anaknya dan cepat ia menjatuhkan diri berlutut di depan Tosu itu sambil menggendong tangannya yang bengkak di depan dada.

"Totiang, mohon dimaafkan kedua mataku yang seakan-akan buta tidak melihat seorang Lo-Cianpwe lewat di sini."

Melihat kelakuan Ayahnya ini, Pek Giok menjadi terheran-heran dan ia lalu melompat ke dekat Ayahnya.

"Ayah, mengapa kau bersikap begini penakut? Biarpun kalah, tak perlu merendahkan diri sampai demikian rupa. Mari kita lawan lagi, masa dengan berdua kita takkan dapat merobohkan Kakek tua ini?"

Setelah berkata demikian, Pek Giok memandang kepada Beng Tek Sianjin dengan kedua tangan terkepal dan mata memancarkan api kemarahan hebat.

Ketika baru datang tadi, Beng Tek Sianjin telah dibikin kagum oleh sikap Pek Giok yang menolong dara muda yang diganggu oleh seorang anggota perampok, kini Pendeta itu merasa makin heran dan kagum.

"Anak ini memiliki kegagahan dan bertulang pendekar,"

Pikirnya sambil memandang kagum, karena anak perempuan yang berwajah demikian cantik jelita ini tidak pantas menjadi anak kepala perampok yang demikian kasar.

Mungkin Ibunya yang cantik jelita, pikir Beng Tek Sianjin.

"Berdirilah,"

Kata Pendeta itu kepada Siok Kong.

"Biar aku menyembuhkan tanganmu."

Siok Kong bangun berdiri dan mengulurkan tangannya dengan muka penuh peluh karena ia menahan rasa sakit yang luar biasa.

Beng Tek Sianjin lalu memegang nadi lengan kepala rampok itu, dan beberapa kali urut dan ketok saja bengkak pada tangan itu lenyap dan rasa sakitpun hilang.

Siok Kong menjura dan berkata.

"Bolehkah kiranya Teecu mengetahui nama Totiang yang mulia?"

Beng Tek Sianjin tersenyum dan kini pandangannya kepada kepala rampok itu berubah.

"Pinto bernama Beng Tek Sianjin."

Siok Kong memandang kepada Tosu itu dengan pandang mata kurang percaya ketika ia mendengar nama Beng Tek Sianjin ini.

"Teecu pernah mendengar nama Beng Tek Sianjin sebagai seorang diantara ketiga Kun-Lun Sam-Sian... apakah... apakah Totiang ini..."

Beng Tek Sianjin mengangguk sambil tersenyum.

Siong Kong lalu memegang tangan Pek Giok dan mengajak anaknya itu berlutut di depan Beng Tek Sianjin dan mengangguk-anggukkan kepalanya dengan penuh penghormatan.

"Ah, Teecu harus mampus! Mohon berIbu kali ampun atas kekurangajaran Teecu. Lo-Cianpwe, memang betul pertanyaan Lo-Cianpwe tadi. Anak ini adalah Pek Giok dan dia adalah anak Teecu, mohon diampunkan anak kecil yang tidak tahu apa-apa ini, Lo-Cianpwe."

Beng Tek Sianjin mengangguk-angguk dan nampaknya senang mendengar ucapan dan melihat sikap kepala rampok itu.

ia pun melihat tadi bahwa Siok Kong hanya merampok saja dan tidak mau mengganggu orang-orang yang dirampoknya, berbeda dengan sikap dan kekejaman perampok-perampok lain, bahkan melihat perbuatan Pek Giok yang menolong wanita tadi, ia menduga bahwa Ayah anak ini tentu mempunyai pula sifat kegagahan.

"Siapakah namamu, Tai-Ong?"

"Teecu bernama Siok Kong."

"Apakah kau menyinta anakmu ini?"

"Tentu saja, Lo-Cianpwe. Teecu rela berkurban nyawa untuk anak Teecu ini."

Beng Tek Sianjin mengangguk-angguk lagi.

"Kau bilang sayang kepada anakmu, akan tetapi mengapa kau membiarkannya hidup di tengah hutan, diantara gerombolan perampok? Apakah kau tidak ingin melihat anakmu menjadi seorang yang berguna, seorang yang gagah dan bijaksana?"

"Itulah satu-satunya cita-cita yang terkandung di dalam hati Teecu, hanya saja Teecu tidak tahu jalannya. Mohon petunjuk dari Lo-Cianpwe."

"Kalau betul demikian cita-citamu, anakmu ini akan Pinto bawa ke Kun-Lun-San untuk mempelajari ilmu silat dan kesusasteraan. Bagaimana pendapatmu?"

Bukan main girang hati Siok Kong, akan tetapi di samping kegirangan ini, iapun merasa bingung, karena sesungguhnya amat beratlah hatinya untuk berpisah dengan anak angkat yang amat disayanginya ini.

"Bagaimana?"

Tanya pula Pendeta itu. Sampai lama baru Siok Kong dapat menjawab.

"Teecu merasa bahagia sekali, akan tetapi... Teecu harus berpisah dengan dia... dan..."

Ia memandang kepada Pek Giok, memang kepala rampok ini amat sayang kepada Pek Giok, kesayangan yang murni dan tidak ada keinginan lain dalam hatinya kecuali melihat gadis kecil ini kelak menjadi seorang yang gagah perkasa dan mulia, tidak seperti dia, seorang perampok hina!

Maka ia menguatkan hatinya dan berkata dengan tetap.

"Baiklah, Lo-Cianpwe, Teecu menyerahkan anak ini dalam pendidikan dan pengawasan Lo-Cianpwe!"

"Tidak, tidak! Aku tidak mau!"

Tiba-tiba Pek Giok melompat bangun dan berkata marah.

"Aku tidak mau berpisah dari Ayah dan tidak mau ikut pergi dengan Tosu ini!"

Siok Kong memandang kepada Pek Giok dengan senyum girang karena ucapan anak itu yang menyatakan betapa besar kasih sayang itu kepadanya amat menyenangkan hatinya, akan tetapi ia berkata.

"Anakku yang manis, anakku yang cantik! Kau harus ikut dengan Lo-Cianpwe ini untuk belajar ilmu silat tinggi. Apakah kau tidak ingin menjadi seorang dara pendekar yang pandai kelak?"

"Di sini aku dapat belajar silat dari Ayah!"

Jawab Pek Giok.

"Ayah cukup pandai dan di daerah ini tidak ada yang dapat menandingi Ayah!"

Siok Kong tertawa.

"Anak manis, kalau dibandingkan dengan Lo-Cianpwe ini, Ayahmu sama dengan orang yang lemah dan tidak mengerti apa-apa. Lo-Cianpwe ini adalah tokoh besar yang kepandaiannya telah menggemparkan seluruh dunia persilatan! Kau akan menjadi seorang yang benar-benar disebut pandai silat kalau menjadi muridnya."

"Aku tidak percaya!"

Pek Giok menjawab pula.

"Dia tadi hanya mempergunakan ilmu sihir, aku belum melihat ia bersilat! Aku tidak ingin belajar ilmu sihir!"

Pek Giok memang cerdik dan biarpun hatinya ingin sekali mempelajari ilmu silat tinggi, akan tetapi oleh karena tadi ia belum melihat kepandaian Tosu ini, maka ia masih ragu-ragu dan ingin membuktikan dengan mata sendiri dan mendapatkan kepastian.

Beng Tek Sianjin tertawa bergelak.

"Ha, ha, kau benar-benar cerdik dan teliti!"

Ia memuji Pek Giok.

"Sungguh lucu, belum pernah Pinto mendengar seorang calon murid menguji kepandaian calon Guru! Benar-benar keadaan dunia sudah berbalik! Nah, kau lihat baik-baik, Pek Giok. Lihatkah kau dua ekor burung yang terbang itu?"

Pek Giok dan juga semua perampok memandang ke atas dan memang benar, di puncak sebuah pohon beterbangan dua ekor burung kecil, berkejaran sambil bercicit-cicit dengan gembira.

Pek Giok mengangguk dan masih belum mengerti apakah hubungan kedua burung itu dengan pertunjukan ilmu silat.

"Dapatkah kau menangkap kedua burung kecil itu?"

"Tentu saja dapat!"

Jawab Pek Giok dengan suara tegas.

Semua orang terheran, demikian pula Beng Tek Sianjin.

Bahkan Siok Kong sendiri menjadi amat heran dan kepala rampok ini yang memang tidak suka akan kesombongan kosong, lalu menegur anaknya.

"Pek Giok, bagaimana kau berani menyombong? Benar-benarkah kau dapat menangkap burung yang beterbangan di tempat tinggi itu?"

Pek Giok tersenyum.

"Mengapa tidak, Ayah? Lihatlah saja!"

Cepat sekali anak itu mengeluarkan dua batang paku Touw-Sim-Teng dari sakunya dan ketika dua tangannya bergerak, maka melayanglah dua batang paku itu ke arah kedua burung yang sedang asik beterbangan.

"Salah...!"

Teriak Tosu itu dan tahu-tahu tubuhnya telah bergerak dan lenyap, berubah menjadi bayangan yang cepat sekali melayang mengejar dua batang paku itu!

Sebelum paku-paku itu mengenai burung yang sedang beterbangan, Tosu itu telah dapat menyambar dan menangkapnya, lalu dilemparkan ke tanah.

Semua orang menjadi bengong menyaksikan ginkang yang luar biasa ini.

Bagaimana seorang Kakek tua dapat melompat sedemikian cepatnya sehingga dapat mengejar melesatnya dua batang paku?

"Nah, itulah yang mendorong Pinto makin keras untuk membawamu ke puncak Kun-Lun-San!"

Katanya kepada Pek Giok sambil memandang dengan mata mencela.

"Kau terlalu ganas sehingga tak segan-segan untuk membunuh dua ekor burung yang sedang terbang tanpa dosa."

"Bukankah kau sendiri yang menyuruh aku menangkapnya?"

Pek Giok membela diri dengan berani.

"Memang Pinto menyuruh kau menangkapnya, bukan membunuhnya, bedanya sejauh langit dari bumi. Maksud Pinto dapatkah kau menangkapnya hidup-hidup dengan kedua tanganmu?"

Pek Giok yang masih kecil itu kelihatan berpikir-pikir. ia tadi telah menyaksikan kecepatan gerak lompat Tosu itu maka ia lalu menjawab.

"Kalau aku mempunyai kecepatan seperti kau tadi, apa susahnya menangkap burung itu?"

Beng Tek Sianjin dapat menangkap maksud anak itu yang mengira bahwa ia hendak mengandalkan ginkangnya untuk menangkap burung-burung itu, maka ia menggelengkan kepala dan berkata.

"Bukan demikian akan tetapi menangkap burung-burung itu dari sini tanpa mengangkat kaki."

Kini tidak saja Pek Giok yang memandangnya dengan heran, akan tetapi para perampok itu saling pandang dan tak mengerti bagaimana orang dapat menangkap burung-burung yang beterbangan di tempat tinggi tanpa menggerakkan kedua kaki untuk melompat atau memanjat pohon itu?

"Nah, kau lihatlah!"

Kata Beng Tek Sianjin.

Tosu tua ini lalu menggerakkan kedua tangannya dan begitu kedua tangannya dipukulkan ke arah burung yang sedang beterbangan, heran sekali!

Burung-burung itu seperti kena jerat kaki dan sayap-sayapnya, karena tiba-tiba lalu jatuh ke bawah bagaikan dua buah batu!

Beng Tek Sianjin mengangkat kedua tangannya dan menerima dua ekor burung itu di atas kedua telapak tangan, burung menggerak-gerakkan sayap hendak terbang, akan tetapi tetap saja tak dapat terbang, seakan-akan kedua kaki mereka melengket pada kulit tangan itu.

Sambil tersenyum-senyum Beng Tek Sianjin beberapa kali melepas burung itu dan menangkapnya kembali sesuka hatinya.

Semua orang melongo menyaksikan kepandaian yang luar biasa ini.

Akan tetapi Pek Giok masih belum puas!

"Apakah gunanya kepandaian seperti itu dalam pertempuran melawan lawan tangguh?"

Katanya mencela.

"Pek Giok!"

Siok Kong menegur anak-nya yang terlalu bandel dan keras kepala itu, akan tetapi Beng Tek Sianjin hanya tersenyum dan tiba-tiba Tosu tua itu mengeluarkan sebatang pedang yang disembunyikan di bawah jubahnya.

Melihat pedang yang berkilau kehijau-hijauan itu, semua orang menjadi kagum sekali.

"Anak baik, kau lihatlah ilmu pedang ini!"

Kata Beng Tek Sianjin dan tiba-tiba saja pedangnya diputar sedemikian hebat sehingga lenyaplah tubuh si Tosu, terbungkus sinar pedang yang hijau dan yang makin lama makin besar dan kelihatan indah sekali.

"Pek Giok, kau boleh menyambit dengan paku-pakumu kalau bisa!"

Terdengar suara dari dalam gulungan sinar pedang itu yang menyatakan bahwa si Tosu itu memang masih ada di situ!

Pek Giok segera mengeluarkan paku-pakunya dan menyabit sekerasnya.

Terdengar suara trang-tring-trong yang nyaring dan ternyata semua paku-pakunya telah kena terbabat putus tepat di bawah kepala dan semua runtuh kebawah.

Yang hebat sekali adalah kejituan tebasan itu karena bisa rata semua dan tak sebuahpun paku yang tidak tertebas putus!

Kini barulah Pek Giok mau percaya dan ia menjatuhkan diri berlutut di depan sinar pedang yang masih terputar-putar itu dan menyebut nama si Tosu ini dengan nyaring.

"Suhu, Teecu sekarang percaya!"

Beng Tek Sianjin menyimpan pedangnya dan tertawa senang.

"Mungkin Pinto adalah Guru pertama yang pernah diuji oleh calon muridnya!"

Kemudian ia berpaling kepada Siok Kong dan berkata.

"Nah, sekarang Pinto akan pergi membawa anakmu. Lima atau enam tahun lagi tentu kau akan bertemu kembali dengan anakmu!"

Sebelum Siok Kong dapat menjawab, Beng Tek Sianjin memegang pergelangan tangan Pek Giok dan sekali tubuhnya berkelebat, maka Guru dan murid itu telah lenyap dari pandangan mata Siok Kong dan anak buahnya!

Kepala rampok ini menghela napas karena kagum dan juga perasaan duka dan sunyi mengganggu hatinya setelah Pek Giok pergi dari situ.

Karena perasaan sedih ditinggal oleh anak angkatnya ini makin mengganggu hatinya, maka Siok Kong lalu teringat akan orang-tua yang aseli dari Pek Giok.

Kalau dia yang hanya menjadi Ayah angkat telah merasa sedemikian sedih ditinggalkan oleh anak itu, apalagi Ayah dan Ibunya yang sejati!

Timbul perasaan kasihan yang aneh menyelinap dalam hati kepada rampok itu.

ia teringat kepada ucapan Liu Bo Cin yang telah dIbunuhnya dulu bahwa anak itu adalah puteri seorang Piauwsu yang menjadi musuh Liu Bo Cin, maka kini Siok Kong ingin sekali tahu siapa sebetulnya orang-tua Pek Giok.

Pada keesokan harinya, ia meninggalkan anak buahnya untuk beberapa hari dan pergi mencari orang-tua Pek Giok untuk dapat mengetahui asal-usul anak angkatnya yang tercinta itu.

Mudah baginya untuk mencari, oleh karena ia tahu bahwa orang-tua Pek Giok she Can dan menjadi Piauwsu di Sung-Kian.

Ketika ia menyelidik di Sung-Kian, maka tahulah ia bahwa Ayah Pek Giok adalah Can Gi Sun yang sekarang telah menjadi Guru silat di kota itu.

Karena ia hanya ingin mengetahui orang-tua Pek Giok saja, maka ia tidak menemui Can Gi Sun dan segera kembali ke dalam hutan setelah tahu bahwa Ayah-bunda Pek Giok masih hidup, yakni Can Gi Sun yang menjadi Guru silat di Sung-Kian.

Pek Giok boleh dikatakan bernasib amat baik karena pertemuannya dengan Beng Tek Sianjin, karena setelah ia dibawa oleh Kakek Pertapa itu ke puncak bukit Kun-Lun-San, ia jatuh ke dalam tangan tiga orang ahli yang sekaligus menjadi Guru-gurunya!

Tiga orang ahli itu adalah Kun-Lun Sam-Sian atau Tiga Dewa di Kun-Lun yang merupakan tiga tokoh besar dalam dunia persilatan, terutama sekali karena orang pertama dari Kun-Lun Sam-Sian ini adalah seorang Tokouw (Pendeta To wanita) yang amat ramah-tamah dan baik terhadapnya.

Orang pertama dari Kun-Lun Sam-Sian ini adalah Kiok Sin Sianli, yang menjadi Suci (kakak perempuan seperguruan) dari Beng Tek Sianjin, dan orang ketiga adalah Beng Le Sianjin, seorang Tosu juga yang memiliki kepandaian tinggi.

Dari Kiok Sin Sianli, Pek Giok menerima latihan lweekang, ginkang, khikang, dan ilmu batin yang meliputi hal-hal dan pelajaran tentang prikemanusiaan, tata susila, budi pekerti dan lain-lain.

Dari Beng Tek Sianjin ia menerima pelajaran Cheng-Liong Kiam-Sut dan diberi pedang Cheng-Liong-Kiam (Pedang Naga Hijau) yang mempunyai sinar kehijauan itu.

Adapun dari Beng Le Sianjin, ia menerima pelajaran ilmu-ilmu silat tangan kosong, dasar-dasar gerakan kaki dan tangan, dan juga pelajaran...

membaca dan menulis!

Oleh karena itu, maka dapat dikatakan bahwa Pek Giok memang bernasib baik sekali ketika bertemu dengan Beng Tek Sianjin.

Kalau ia berada di rumah Ayahnya sendiri, tak mungkin ia akan dapat mewarisi kepandaian yang luar biasa tingginya.

Apalagi kalau ia terus bertempat tinggal di dalam hutan bersama Ayah angkatnya!

Enam tahun lewat dengan amat cepatnya.

Pek Giok telah menjadi seorang gadis yang benar-benar amat cantik bagaikan setangkai bunga botan yang baru mekar.

Ketiga orang Gurunya amat sayang kepadanya sehingga biarpun dara ini tinggal di puncak gunung, namun ia selalu mendapat pakaian yang indah dari sutera halus.

Entah karena terpengaruh oleh pedang Cheng-Liong-Kiam yang selalu tergantung di pinggangnya, atau karena warna-warna hijau dari rumput dan daun-daun di atas bukit, dara ini amat suka warna hijau sehingga pakaiannya selalu berwarna hijau.

Baik dia sendiri, maupun ketiga Gurunya, tidak tahu bahwa Pek Giok sebenarnya bukan she Siok, dan bukan anak dari kepala rampok Siok Kong, akan tetapi adalah she Can dan anak tunggal dari Guru silat Can Gi Sun.

Karena itu, seringkali Pek Giok mengenangkan Ayahnya dengan hati sedih.

ia telah mendapat gemblengan dari Kiok Sin Sianli sehingga kini terbukalah matanya bahwa sesungguhnya pekerjaan Ayahnya adalah pekerjaan yang buruk dan jahat.

Pada suatu hari, ketiga orang Gurunya memanggilnya menghadap dan ketika Pek Giok sudah berhadapan dengan ketiga orang Gurunya, Kiok Sin Sianli lalu berkata dengan suara halus.

"Muridku, telah genap enam tahun kau belajar di sini dan sekarang tibalah waktunya bagimu untuk turun gunung karena masa janji yang diberikan oleh Suhumu Beng Tek Sianjin kepada Ayahmu telah habis. Pelajaranmu telah tamat dan kau harus dapat mempergunakan semua kepandaian yang kau pelajari di tempat ini sebagai seorang pendekar budiman sebagaimana yang kami harapkan."

"Ingat, muridku,"

Kata Beng Tek Sianjin.

"kau harus dapat menguasai hatimu dan dapat mengendalikan kekerasanmu. Ingatlah selalu bahwa di dunia ini banyak sekali terdapat orang pandai dan bahwa kepandaian itu tidak ada batasnya. Kau akan merasa kecewa kalau kau membiarkan dirimu dikuasai kesombongan dan menganggap diri sendiri yang terpandai, karena sepandai-pandainya orang, akan ada orang lain yang melebihinya dalam sesuatu hal. Pedang Cheng-Liong-Kiam yang kuberikan kepadamu adalah pedang suci yang semenjak dulu hanya suka minum darah orang-orang yang benar-benar keji dan jahat, dan hendaknya pedang itu kau jaga baik-baik dan jangan sekali-kali kau pergunakan untuk mengalirkan darah orang-orang tak berdosa."

"Pek Giok,"

Beng Lee Sianjin ikut pula memberi wejangan.

"Kau telah mempelajari tata susila dan kesopanan. Sebagai seorang wanita, kau harus dapat menjaga dirimu baik-baik dan jangan sampai kau tergoda oleh nafsu-nafsu jahat. Ingatlah bahwa bagi setiap orang yang berhati mulia, menjaga nama dan kehormatan adalah hal yang lebih penting daripada menjaga nyawa! Dan penjagaan nama dan kehormatan agar dipandang tinggi oleh umum, hanya dapat dilakukan dengan satu jalan, yakni kelakuan yang baik!"

Berganti-ganti ketiga orang Gurunya itu memberi nasihat-nasihat dan wejangan yang didengar oleh Pek Giok dengan penuh perhatian dan di jadikan bekal dan pegangan dalam perjalanan hidupnya yang akan ditempuhnya.

"Muridku,"

Kata Kiok Sin Sianli kemudian.

"Kalau kau turun dari Kun-Lun-San, hal apakah yang akan kau lakukan pertama-tama?"

Tanpa ragu-ragu lagi Pek Giok menjawab.

"Teecu (murid) hendak mencari Ayah dan mencegahnya melanjutkan pekerjaan merampok, agar Ayah suka cuci tangan dan selanjutnya hidup sebagai seorang baik-baik!"

Ketiga orang Suhunya mengangguk-angguk dengan girang.

"Baik sekali, Pek Giok,"

Kata Beng Tek Sianjin.

"Kau kiranya akan dapat menemukan Ayahmu itu di dalam hutan sebelah barat kota Sung-Kian. Kau tentu masih ingat akan wajah Ayahmu itu, bukan?"

Pek Giok mengangguk.

"Teecu belum pernah melupakan wajah Ayah."

Setelah menerima banyak nasihat dari ketiga orang Suhunya dan membungkus semua pakaian pemberian Guru-gurunya berikut beberapa potong uang perak ke dalam bungkusan warna merah dan mengikatkan bungkusan itu di punggungnya, Pek Giok lalu berlutut dan memberi hormat sekali lagi kepada ketiga Gurunya sambil menghaturkan terima kasih.

Kemudian ia pergi dari tempat itu dan turun gunung untuk melakukan perjalanannya mencari Ayahnya.

Kun-Lun-San adalah sebuah pegunungan besar dan luas sekali di daratan Tiongkok sebelah barat, membujur dari barat ke timur amat megah dan luasnya.

Perjalanan yang akan ditempuh oleh Pek Giok ini adalah perjalanan yang amat jauh dan rIbuan li jaraknya.

Tempat tinggal orang-tuanya berada di Propinsi Honan, maka untuk dapat sampai di tempat itu, ia harus melakukan perjalanan melalui propinsi-propinsi yang amat luas dan besar, yakni Propinsi Cing-Hai, Kansu, dan Sen-Si.

Akan tetapi Pek Giok sama sekali tidak merasa khawatir menghadapi perjalanan yang amat jauh itu, karena ia memang seorang gadis yang bersemangat besar dan berhati tabah.

Apalagi ia telah memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi sehingga ia percaya penuh kepada diri sendiri, dan perjalanan itupun dapat ia lakukan dengan cepat berkat ilmunya berlari cepat.

ia sama sekali tidak pernah mengimpi bahwa Ayahnya yang sesungguhnya, yakni Can Gi Sun atau Can-Kauwsu di Sung-Kian, pada saat itu mulai terancam bahaya dan awan gelap dengan kedatangan seorang Guru silat lain dari Santung, yakni Song Swi Kai atau Song-Kauwsu!

Pada suatu hari ketika ia sedang berjalan melalui Propinsi Cing-Hai yang amat luas dan indah, ia mendengar tentang keindahan dan kehebatan Telaga Cing-Hai atau yang disebut juga Telaga Koko Nor di sebelah barat kota besar Sining.

ia merasa amat tertarik, apalagi ketika mendengar bahwa di daerah itu terdapat banyak sekali orang-orang gagah dan sasterawan yang menghIbur diri di sekitar telaga.

Pek Giok lalu menunda perjalanannya menuju ke timur dan membelok ke utara untuk singgah di Telaga Koko Nor itu.

Semenjak ia memasuki dunia ramai, apalagi kalau ia tiba di kota-kota yang banyak penduduknya, ia mulai mengalami hal-hal yang amat menjemukan hatinya, akan tetapi yang diam-diam mendatangkan rasa bangga dan senang juga kepadanya.

Hal ini adalah pandangan mata orang-orang di sepanjang jalan apalagi mereka bersua dan memandangnya.

Pandangan mata itu selalu menyatakan kekaguman dan keheranan, apalagi mata laki-laki yang selalu memandangnya dengan kagum dan juga kurang ajar.

Akan tetapi lambat-laun hal ini tidak mendatangkan pengaruh sesuatu kepada hatinya dan ia menjadi biasa.

Sesungguhnya, tak boleh terlalu dipersalahkan mata yang memandang kagum itu, karena siapakah orangnya yang tidak memandang kagum kalau melihat seorang gadis cantik-molek yang luar biasa itu?

Hawa pegunungan yang sejuk membuat kulit muka Pek Giok menjadi putih bersih dan kemerah-merahan.

Sungguhpun ia tak pernah menggunakan bedak dan yanci, namun kedua pipinya selalu kemerah-merahan dan bibirnya merah segar.

Matanya lebar dan jernih, bersinar tajam sehingga mata laki-laki selalu menjadi gentar dan cepat ditundukkan apabila bertemu pandang dengannya.

Pakaiannya selalu berwarna hijau dengan kembang-kembang kuning atau merah.

Hanya pandang mata dan pedangnya yang tergantung di pinggang itulah yang menolong Pek Giok hingga ia tidak pernah terganggu oleh orang-orang di tengah perjalanan.

Memang pernah terjadi niat-niat dari beberapa orang laki-laki untuk mengganggunya, akan tetapi mereka telah mundur teratur dengan muka pucat sebelum melaksanakan niat kurang ajar itu.

Pertama kali ketika Pek Giok tengah berjalan di dalam sebuah hutan yang sunyi, ia dihadang oleh lima orang laki-laki tinggi-tinggi besar yang telah cengar-cengir dan menyeringai ketika dari jauh ia jalan mendatang.

Pek Giok tidak ingin banyak bercakap dengan orang-orang kurang ajar itu, maka ketika ia tiba di depan mereka, sebelum kelima orang itu membuka mulut, ia lalu menghampiri sebatang pohon besar di pinggir jalan.

Sambil berpura-pura gatal tangan, Ia menggosok-gosokkan kedua tangannya pada batang pohon yang besar itu dan...

kelima laki-laki itu memandang dengan bengong dan mata terbelalak ketika menyaksikan betapa kulit pohon yang keras itu hancur dan terkupas oleh gosokan tangan Pek Giok yang kelihatannya halus dan lunak itu, sedangkan pohon itu bergoyang-goyang dan daunnya banyak yang rontok ke bawah seakan-akan digoyang-goyang oleh tenaga yang amat besar!

Lima orang itu saling pandang dengan muka pucat, kemudian berlari pergi bagaikan dikejar setan di tengah hari!

Gangguan kedua terjadi ketika ia berada dalam sebuah rumah makan yang besar di kota An-Tung.

ia duduk menghadapi meja seorang diri dan di meja lain yang tak jauh dari tempat duduknya, duduk tiga orang laki-laki muda yang tiada hentinya memandang kepadanya dengan kagum dan sebentar-sebentar mereka saling berbisik dan tertawa-tawa!

Melihat sikap ketiga orang itu, maklumlah Pek Giok bahwa mereka adalah orang-orang yang mengerti ilmu silat, maka sikap mereka agak berani agaknya mereka tidak takut kepada pedangnya!

Ketika hidangan yang dipesan oleh Pek Giok dikeluarkan oleh pelayan, gadis itu kehilangan nafsu makannya karena ketiga orang itu selalu memandangnya.

ia menjadi marah dan setelah pelayan pergi, Pek Giok mengambil sebatang sumpit kayu dari atas mejanya.

Ketiga orang muda itu terus memandangnya dan alangkah heran dan kaget mereka ketika melihat betapa gadis itu membawa sumpit tadi ke mulutnya dan menggigit putus sumpit itu sampai tiga kali!

Benar-benarkah gadis cantik itu makan sumpit, demikian pikir mereka dengan terheran-heran.

Pek Giok lalu berkata seperti bicara kepada diri sendiri.

"Alangkah menjemukan tiga ekor lalat itu! Kalian harus mampus!"

Setelah berkata demikian, gadis itu membuka sedikit mulutnya, meniup dengan tenaga khikang dan satu demi satu potongan kayu sumpit itu meluncur keluar dan menancap pada tiang yang berada di sebelah kanannya dan dekat dengan meja ketiga orang itu!

Bukan main terkejutnya hati ketiga orang itu ketika menyaksikan betapa potongan-potongan sumpit itu amblas dan lenyap ke dalam tiang, membuat tiga lobang kecil pada kayu tiang yang keras itu.

Tanpa banyak membuang waktu lagi mereka lalu bangkit berdiri dan meninggalkan tempat itu, lupa untuk membayar makanan sehingga seorang pelayan lalu mengejar mereka dan memaksa mereka membayar dulu makanan yang mereka telah makan habis!

Ketiga orang itu cepat-cepat membayar dan segera pergi sambil sebentar-sebentar menoleh ke arah gadis yang hebat itu.

Gangguan ketiga yang dihadapi Pek Giok terjadi di tengah perjalanannya menuju ke Telaga Koko Nor.

Beberapa orang laki-laki yang berada di pinggir jalan ketika melihhatnya segera menjadi rIbut, Ada yang tertawa-tawa, tersenyum-senyum melagak, ada pula yang cengar-cengir seperti monyet mencium terasi.

Hal ini membuat hati Pek Giok menjadi mendongkol, akan tetapi apakah yang harus ia lakukan terhadap orang banyak yang tidak melakukan sesuatu terhadapnya dan hanya berlagak menjemukan itu?

ia lalu mengerahkan lweekangnya dan tak lama kemudian semua orang itu tidak memandang dengan kagum lagi, akan tetapi dengan mata terbelalak dan mulut celangap, karena mereka melihat betapa tanah yang diinjak oleh kedua kaki dara itu melesek ke dalam seakan-akan gadis itu berjalan di atas tanah lumpur yang lembek, bukan di atas tanah yang keras!

Dan sebentar saja bayangan gadis itu lenyap dari pandangan mata mereka ketika Pek Giok mengerahkan ginkangnya dan mengeluarkan ilmu jalan cepat Liok-Te Hui-Teng!

Demikianlah, gangguan-gangguan kecil itu masih dapat dihadapi oleh Pek Giok yang keras hati dengan menakut-nakuti mereka dan ia masih ingat akan pesan Guru-gurunya agar jangan mencari permusuhan dan kerIbutan untuk perkara yang kecil-kecil.

Telaga Koko Nor merupakan telaga benar-benar luar biasa besarnya sehingga telaga ini merupakan sebuah lautan kecil.

Juga air telaga ini seperti air laut, mengandung garam.

Pada hari itu banyak orang berada di pinggir telaga dan keadaan ramai sekali seakan-akan sedang diadakan pesta.

Penduduk kota Sining banyak yang sengaja datang dan pembesar-pembesar kota itupun nampak dengan kendaraan masing-masing.

Memang sedang diadakan pesta penghormatari pada seorang pembesar tinggi yang datang dari Kotaraja, yakni seorang Pangeran bernama Liang Tek Ong.

Pangeran ini amat berkuasa dan di Kotaraja ia merupakan saudara Kaisar yang masih terhitung saudara lain Ibu dengan dia dan Pangeran Liang Tek Ong ini mempunyai pengikut yang besar jumlahnya.

Diantara para perwira-perwira Kerajaan banyak yang tunduk kepadanya, sehingga Kaisar sendiri amat menghormatinya sebagai saudara tua.

Pada waktu itu, Pangeran Liang sedang mengadakan ekspedisi ke barat untuk memeriksa para pejabat tinggi yang berada di kota-kota sekitar Propinsi Cing-Hai dan Kansu.

Dalam kesempatan ini, ia tertarik oleh nama Telaga Koko Nor yang terkenal dan pergi mengunjunginya sehingga para pembesar sIbuk untuk menyambutnya secara besar-besaran dan berebut untuk menonjolkan jasa-jasa baik agar Pangeran itu merasa senang dan membuat "laporan baik"

Ke Istana Kaisar!

Ketika Pek Giok tiba di pinggir telaga, Pangeran Liang Tek Ong masih belum datang di tempat itu, akan tetapi para pembesar telah mendahului dan membuat persiapan di tepi telaga.

Sungguhpun pada waktu itu banyak terdapat wanita-wanita, puteri-puteri para pembesar yang ikut mengadakan penyambutan sehingga tempat itu penuh dengan wanita-wanita cantik, namun Pek Giok tetap saja merupakan daya penarik yang kuat bagi banyak mata laki-laki, karena tidak saja dara ini berpakaian lain daripada semua wanita yang berada di situ, akan tetapi juga nampak gagah perkasa dan amat cantik jelita.

Pek Giok tidak memperdulikan itu semua, akan tetapi karena tertarik melihat persiapan dan banyak orang itu, ia bertanya kepada seorang nelayan tua, pesta apakah yang akan diadakan orang di tempat itu.

"Siocia,"

Jawab nelayan itu sambil memandang kagum dengan sepasang matanya yang sipit dan keriputan.

"Agaknya kau seorang Li-Enghiong (wanita gagah) perantau dari tempat jauh sehingga tidak tahu apa yang terjadi di sini. Ketahuilah, Pangeran Liang Tek Ong dari Kotaraja pada hari ini akan datang berkunjung dan berpesiar di telaga ini, sungguh merupakan kehormatan besar dan luar biasa bagi Telaga Koko Nor!"

Keterangan ini tidak berarti banyak bagi Pek Giok oleh karena ia memang tidak tahu siapa adanya Pangeran Liang Tek Ong itu.

Maka ia lalu menyewa perahu nelayan tua itu untuk mengantarkan berpesiar di atas telaga.

Nelayan itu menjadi girang sekali karena pada waktu itu semua orang yang datang belum ada niat untuk naik perahu, Semua ingin menyambut dan melihat Pangeran Liang Tek Ong yang belum datang.

Pangeran ini akan datang Iangsung dari kota Sining.

Pek Giok duduk di atas perahu kecil yang didayung oleh nelayan tua itu, menyusur sepanjang tepi telaga.

Pemandangan sungguh indah dan dara itu yang selama ini hanya melihat gunung-gunung dan hutan, merasa seakan-akan ia di dunia lain.

Belum pernah ia melihat air sedemikian banyaknya.

ia merasa heran dan berpikir apakah mungkin laut yang sering ia mendengar didongengkan oleh Beng Le Sianjin yang banyak merantau itu lebih lebar daripada Telaga Koko Nor ini.

Perahu-perahu yang hilir-mudik di atas telaga itu tidak banyak, hanya ada beberapa buah saja, karena sebagian besar belum mendapatkan penyewa yang berkumpul di pinggir telaga menanti kedatangan tamu agung.

Kini Pek Giok telah berada jauh di tengah telaga dan orang-orang yang berkumpul di pinggir telaga itu nampak kecil dilihat dari atas perahunya yang terapung-apung di atas ombak kecil.

Tiba-tiba dari tengah telaga meluncur sebuah perahu kecil yang ditumpangi seorang Kakek gagah.

Kakek itu bertopi pandan yang lebar, pakaiannya seperti biasa dipakai oleh ahli silat, tubuhnya tegap dan jenggotnya panjang.

Dari pantai terdengar sorak-sorai yang menggema sampai ke tengah telaga, tanda bahwa orang-orang yang menanti semenjak pagi telah menyambut kedatangan tamu agung.

Kakek bertopi lebar itu lalu berdiri di atas perahu dan mencabut pedangnya yang berkilau ditimpa sinar matahari.

Kemudian ia mengucapkan syair dengan suara keras sambil memegang pedang itu lurus-lurus bagaikan bersumpah.

"Rakyat miskin, kelaparan merajalela Pedangku tak berdaya menolong mereka Akan tetapi, sekali muncul pembesar durna Mengantar pengkhianat ke neraka! Koko Nor, kaulah saksi utama Bahwa pedang tak kumiliki untuk sia-sia"

Setelah mengucapkan syair ini, Kakek itu lalu duduk kembali dan mendayung perahunya dengan cepat menuju ke tepi telaga di mana pembesar itu sedang disambut oleh orang banyak.

Pek Giok melihat dan mendengar semua ini, hatinya amat tertarik dan tergerak.

"Lopek,"

Katanya kepada nelayan perahunya.

"Cepat dayung perahu ke tepi. Aku hendak melihat Pangeran itu!"

Akan tetapi nelayan ini tak dapat menyusul perahu Kakek gagah yang meluncur dengan amat cepatnya sehingga tertinggal jauh di belakang.

"Cepat, cepat!"

Pek Giok mendesak nelayan itu sambil berdiri di kepada perahu.

ia melihat betapa Kakek gagah yang bertopi lebar itu telah melompat ke pantai dan tiba-tiba rIbutlah keadaan di sana seakan-akan terjadi pertempuran hebat.

"Cepat, Lopek, ada kerIbutan di sana. Cepat!"

Akan tetapi nelayan itu menjadi ketakutan melihat kerIbutan di pantai, sehingga kedua tangannya menggigil dan ia tak dapat mendayung dengan kuat.

Pek Giok tak dapat bersabar lagi, lalu dimintanya dayung itu dan ia mendayung dengan cepatnya sehingga perahu itu meluncur seperti sebatang anak panah terlepas dari busurnya.

Tentu saja Kakek nelayan itu merasa terheran-heran karena bagaimana kedua lengan tangan seorang dara muda jelita ini dapat mempunyai tenaga sedemikian hebatnya?

Ketika Pek Giok telah tiba di pinggir telaga, ia melihat betapa semua orang yang tadi menyambut Pangeran Liang Tek Ong telah lari cerai-berai dan hanya menonton dari jauh, sedangkan di tempat itu terjadi pertempuran hebat antara Kakek bertopi lebar yang mengucapkan syair di atas perahu tadi dengan pasukan-pasukan pengawal yang bersenjata golok.

Pasukan itu terdiri dari dua puluh orang lebih, akan tetapi yang mengeroyok Kakek itu hanya lima orang perwira yang ternyata amat lihai ilmu goloknya.

Jelas sekali kelihatan oleh Pek Giok betapa Kakek gagah itu terdesak hebat dan bahkan telah terluka parah karena bajunya yang putih itu telah penuh dengan darah merah.

Akan tetapi, di atas tanah juga telah menggeletak tiga tubuh perwira yang tewas oleh pedang Kakek itu.

Ketika Pek Giok memperhatikan Kakek itu, ia mendapat kenyataan bahwa ilmu pedang Kakek itu cukup lihai, akan tetapi kini gerakannya makin lemah dan dapat dipastikan bahwa sebentar lagi tentu Kakek itu takkan dapat mempertahankan diri lagi dan akan roboh di bawah tikaman lima batang golok yang bergerak ganas.

Entah apa yang mendorongnya, akan tetapi di dalam hatinya, Pek Giok bersimpati kepada Kakek bertopi lebar itu dan merasa kasihan melihat ia terkurung dan terdesak sedemikian rupa.

Mungkin hatinya tidak suka melihat pertempuran yang main keroyok itu, maka sekali melompat saja ia telah berada di tempat pertempuran.

"Pengecut, jangan main keroyok!"

Serunya dan sekali ia putar pedangnya, sekaligus ia menangkis lima golok itu dan dua diantaranya telah terbabat putus oleh pedang di tangan Pek Giok!

Tentu saja kelima orang perwira itu menjadi terkejut sekali melihat kehebatan gadis muda ini sehingga mereka melompat mundur.

Kesempatan itu dipergunakan oleh Pek Giok untuk menarik tangan Kakek gagah itu sambil berkata.

"Mari, Lo-Enghiong (orang-tua gagah), mari kita tinggalkan tempat ini."

"Tidak!"

Jawab Kakek itu dengan suara penuh semangat.

"Biar aku melawan sampai mati!"

Lima orang perwira itu maju lagi, kini dibantu pula oleh beberapa orang perwira baru, akan tetapi kembali Pek Giok menggerakkan pedangnya dan kembali ada empat golok lawan terlepas dari pegangan.

"Mundur! Kalian mundur kalau tidak ingin mati!"

Serunya dengan suara nyaring.

Benar-benar para perwira itu tercengang melihat kehebatan dara itu dan melihat betapa dalam sekali gerakan saja gadis itu berhasil meruntuhkan empat golok, mereka menjadi gentar juga.

Sementara itu, Kakek bertopi lebar itu telah mulai lemas karena luka-lukanya dan ia berdiri terhuyung-huyung.

"Hayo kita pergi!"

Pek Giok kembali membujuk dan menarik tangan Kakek gagah itu.

Kali ini Kakek itu tidak membantah dan mereka berdua lalu berlari cepat meninggalkan tempat itu.

Para perwira tidak ada yang berani mengejar, karena nona pendekar itu benar-benar telah membuat mereka merasa jerih.

Ketika mereka berdua berlari sampai di dalam hutan tak jauh dari telaga itu, tiba-tiba Kakek itu mengeluh dan ia roboh di atas rumput.

Pek Giok cepat berlutut dan memeriksanya.

Alangkah kagetnya ketika mendapat kenyataan bahwa luka yang diderita oleh Kakek itu benar-benar hebat dan berbahaya sekali!

Tubuhnya mendapat sekali tusukan dan tiga kali bacokan golok yang semuanya parah, terutama sekali tusukan itu yang mengenai dadanya.

Sungguh mengherankan bahwa Kakek itu tadi masih kuat melawan dan masih kuat pula berlari sejauh itu.

ia telah kehilangan banyak darah yang membuatnya pening dan lemas.

"Bagaimana, Lo-Enghiong...?"

Pek Giok bertanya dengan khawatir. Kakek itu menggelengkan kepalanya.

"Lihiap... kau gagah perkasa dan membuat aku kagum... kau telah menolongku, maukah kau melanjutkan usahaku demi Negara dan Bangsa kita..."

"Apa maksudmu, Lo-Enghiong? Ceritakanlah, kalau memang aku sanggup dan demi kebenaran, tentu saja akan kulakukan permintaanmu itu."

Dengan napas terengah-engah dan menahan sakit, Kakek itu lalu menuturkan keadaannya secara singkat.

ia bernama Tan Koan, seorang Hiapkek (Pendekar) pengembara yang berjiwa partiot dan ia menuturkan kepada Pek Giok bahwa Pangeran Liang Tek Ong itu datang di Koko Nor bukan semata-mata hendak berpesiar, akan tetapi mempunyai maksud tertentu, yakni mengadakan pertemuan dengan utusannya raja asing dari Mongol untuk membuat persiapan memberontak dan menggulingkan kedudukan Kaisar!

"Telah lama pengkhianat she Liang itu bersekutu dengan orang-orang Mongol dan ia menyimpan dokumen persekutuan itu.

Bahkan kini ia mengadakan rencana bersama untuk mengadakan pemberontakan karena ia mempunyai kaki tangan yang banyak jumlahnya dan pengaruh serta kekuasaannya besar sekali.

Sudah lama pula aku mengikutinya dan hendak merampas dokumen itu sebagai bukti daripada pengkhianatannya.

Akan tetapi ia terjaga kuat dan mempunyai perwira-perwira pengawal yang tangguh.

Hari ini karena ia hendak mengadakan pertemuan dengan utusan Mongol, maka aku menjadi nekad dan berusaha membunuhnya, akan tetapi, aku dikalahkan..."

Dengan amat susah-payah Kakek itu menuturkan keadaannya, kemudian ia mengerahkan tenaga terakhir dan berkata.

"Lihiap, kulihat kau gagah perkasa, lihai dan kepandaianmu jauh melebihi aku. Demi tanah air dan Bangsa... kau usahakanlah untuk merampas dokumen itu, dan bawa surat-surat penting itu kepada Kaisar agar Kaisar yang hanya mementingkan pribadi itu terbuka matanya dan dapat bertindak sebelum terlambat! Kau tentu takkan suka menyaksikan tanah air kita terjajah oleh Bangsa Mongol..."

Ia berhenti sebentar untuk mengumpulkan tenaga, wajahnya sudah pucat kebiruan dan napasnya tinggal satu-satu.

"Cari dan rampaslah surat-surat itu... dalam peti kecil hitam terukir lukisan sepasang naga... jangan sampai terjatuh ke dalam tangan siapapun juga..."

Setelah mengucapkan kata-kata ini, maka Tan Koan, pendekar patriot itu menghembuskan napas terakhir di dalam hutan itu!

Semua penuturan ini merupakan hal baru yang sama sekali asing bagi pengertian Pek Giok, akan tetapi hati gadis ini amat tergerak dan tertarik oleh kegagahan Tan Koan, dan di dalam hatinya ia merasa yakin bahwa Kakek ini adalah seorang gagah perkasa, yang tentu takkan melakukan sesuatu perbuatan yang keliru dan jahat.

Maka ia mengambil keputusan untuk memenuhi permintaan Kakek ini dan ia sendiripun ingin sekali mengetahui kelanjutan perkara ini.

la tidak mengerti sama sekali tentang Negara dan politiknya, sama sekali tidak tahu tentang keadaan pemerintahan, akan tetapi sebagai seorang yang berjiwa gagah, ia membenci sekali segala perbuatan yang sifatnya pengkhianatan.

Dengan khidmat Pek Giok lalu menggali lubang di bawah pohon dan mengubur jenazah pendekar tua itu bersama pedang orang-tua itu yang tadi dipergunakan untuk menggali tanah.

Kemudian ia pergi keluar dari hutan dan menuju ke Telaga Koko Nor kembali.

Ketika ia tiba di situ, ternyata bahwa Pangeran Liang Tek Ong telah membatalkan niatnya berpesiar karena adanya gangguan Tan Koan tadi dan kini rombongan Pangeran Liang itu telah kembali ke kota Sining.

Menurut keterangan nelayan tua yang tadi disewa perahunya, datang pula dua orang Mongol menemui Pangeran itu dan kedua orang itu kini bahkan ikut pula ke Sining.

Diam-diam Pek Giok membenarkan keterangan mendiang Tan Koan dan ia dapat menduga bahwa dua orang Mongol itu tentulah utusan dari Raja Mongol yang hendak mengadakan perundingan tentang rencana pemberontakan dengan Pangeran pengkhianat itu.

Maka iapun cepat menyusul ke Sining.

Sining adalah Ibu kota Propinsi Cing-Hai dan kota ini cukup besar dan ramai.

Di kota ini terdapat sebuah benteng besar dan yang menduduki benteng besar ini adalah pasukan-pasukan yang dipimpin oleh perwira-perwira kaki tangan Pangeran Liang Tek Ong!

Maka setibanya dari Telaga Koko Nor, Pangeran itu Iangsung masuk ke dalam benteng dengan para pengiringnya berikut dua orang tamu Bangsa Mongol itu.

ia merasa lebih aman untuk bermalam di situ dan membicarakan segala urusan rahasia bersama dua orang utusan Mongol itu di dalam benteng yang terjaga kuat, Karena ia maklum bahwa selain Tan Koan yang telah digagalkan penyerangnya tadi, masih banyak orang-orang yang memusuhinya secara diam-diam dan orang-orang itu adalah orang-orang kang-ouw yang memiliki ilmu kepandaian tinggi dan amat berbahaya.

Oleh karena ini pulalah, maka kemana saja Pangeran Liang Tek Ong pergi, ia selalu dikawal oleh pasukan tentara pengawal Istana yang dikepalai oleh sedikitnya sepuluh orang perwira-perwira berkepandaian tinggi dari Istana.

Ketika ditanyakan kepada seorang petani di Sining dan mendapat keterangan bahwa rombongan Pangeran itu memasuki benteng besar, Pek Giok terpaksa menunda niatnya untuk menyerbu, karena ia merasa kurang leluasa dan berbahaya untuk bergerak di siang hari.

ia mengambil keputusan untuk menyelidiki malam nanti, maka ia lalu mencari sebuah rumah penginapan terbesar di kota itu.

Ketika ia memasuki hotel Lok-Hwa yang amat besar dan mewah, tiga pasang mata memandangnya dengan kagum dan heran, akan tetapi dengan tiga macam cara pula.

Yang sepasang adalah mata pelayan hotel yang menyambutnya, dan pelayan ini tidak berani terlalu lama menyatakan kekaguman dan keheranannya melihat seorang dara cantik jelita melakukan perjalanan seorang diri.

Begitu pandangan matanya bertemu dengan sinar mata Pek Giok, pelayan ini menjadi bergidik dan gentar karena ia maklum bahwa ia sedang berhadapan dengan seorang gadis pendekar yang tinggi ilmu silatnya.

Siapa tahu kalau-kalau orang ini adalah seorang begal wanita, pikirnya dengan ketakutan.

Mata kedua adalah sepasang mata dari seorang tamu yang kebetulan keluar dari kamar dan hendak ke depan.

Tamu ini tinggi besar dan bermuka hitam, sepasang matanya memandang dengan kagum dan mengeluarkan cahaya liar bagaikan seekor anjing kelaparan melihat tulang penuh sumsum!

Akan tetapi iapun hanya memandang sekilas dan melanjutkan perjalanannya keluar dari hotel itu.

Mata ketiga adalah sepasang mata dari seorang pemuda kurus tinggi yang duduk di ruang depan.

Jelas sekali bahwa pemuda ini amat memperhatikan Pek Giok, akan tetapi begitu ia membalikkan tubuh, pemuda itu pura-pura tidak melihatnya dan melempar pandang ke lain jurusan.

Akan tetapi sudut matanya mengerling dan ia terus mengikuti gerakan gadis itu ketika Pek Giok diantar oleh pelayan menuju ke kamarnya.

Setelah Pek Giok memasuki kamarnya dan pelayan itu berjalan keluar, pemuda kurus tinggi itu menghampiri pelayan dan berbisik.

"Kamar yang mana?"

Pelayan itupun menjawab dengan bisikan pula.

"Nomor tujuh, Siauwya (tuan muda)!"

Pemuda itu lalu pergi dari hotel itu.

Baik pemuda tinggi kurus maupun pelayan itu sama sekali tidak mengira bahwa perbuatan mereka itu diawasi oleh seorang pemuda lain dari balik kamarnya.

Pemuda ini berpakaian serba putih, berwajah cakap sekali dan mukanya berkulit halus seperti muka wanita.

Sungguhpun demikian, namun gerak-geriknya gesit sekali dan pipinya kemerah-merahan tanda bahwa tubuhnya sehat.

ia mengintai gerak-gerik pemuda kurus tinggi itu dan setelah pemuda kurus dan pelayan itu pergi, pemuda baju putih yang mengintai dari balik jendela kamarnya ini lalu duduk di atas bangku dalam kamarnya dan bibirnya yang berbentuk indah dan merah itu tersenyum-senyum seorang diri.

Sepasang matanya yang tajam bersinar-sinar dan wajahnya berseri.

"Ah,"

Ia berbisik kepada diri sendiri.

"Akan ramailah malam ini..."

Ia lalu duduk termenung dan seluruh pikirannya melayang dan membayangkan wajah yang cantik jelita dari Pek Giok, dara muda yang mendatangkan rasa kagum dan menarik hatinya semenjak ia melihat dara perkasa itu di dalam hutan bersama Tan Koan yang terluka.

ia melihat dan mendengar semua percakapan antara kedua orang itu dari balik pohon, lalu ia melihat pula betapa gadis itu mengubur jenazah Tan Koan sehingga hatinya makin kagum.

Kemudian ia mengikuti Pek Giok ke Telaga Koko Nor dan mendahului gadis itu ke kota Sining, bahkan mendahuluinya mendapatkan kamar di hotel Lok-Hwa!

Dan semua gerakannya ini tidak diketahui sama sekali oleh Pek Giok.

Kalau sampai ketajaman mata Pek Giok yang lihai itu tidak dapat melihat gerak-geriknya, maka dapat diduga betapa lihainya pemuda baju putih ini!

Sebaliknya, Pek Giok tidak melihat dan mencurigai gerak-gerik pemuda tinggi kurus itu, akan tetapi ia merasa curiga kepada orang tinggi besar muka hitam yang dijumpainya di ruang depan hotel tadi, dan ia menduga bahwa si muka hitam itu tentulah bukan orang baik-baik.

Oleh karena itu, ia tidak mau keluar dari kamarnya, dan hanya memesan makanan kepada pelayan dan makan di dalam kamar.

Malam harinya, ia telah bersiap sedia menanti sampai sunyi untuk pergi melakukan usahanya menyelidiki keadaan Pangeran Liang Tek Ong di dalam benteng.

Akan tetapi, tiba-tiba ia mendengar suara kaki di atas genteng dan sungguhpun suara kaki itu amat perlahan, tanda bahwa orangnya telah memiliki ginkang yang tinggi, namun telinga Pek Giok yang mempunyai pendengaran tajam itu dapat juga menangkapnya.

Pek Giok tersenyum dan hatinya berbisik.

"Heran sekali, belum aku pergi, sudah ada anjing yang datang minta dipukul!"

Dengan perlahan ia menghampiri jendela kamar dan membuka daun jendelanya.

Jendela kamar di seberang kamarnya masih terbuka dan ia melihat seorang pemuda pakaian putih yang tampan duduk menghadapi sebuah kitab di atas meja.

Agaknya pemuda itu amat asyiknya membaca sehingga tidak mendengar dan tidak menengoknya.

"Ah, kutu buku itu agaknya tidak tahu apa-apa yang terjadi di sekitarnya, kecuali buku dan rIbuan huruf yang menari di depan matanya."

Pek Giok berpikir sambil tersenyum.

Kemudian dengan gerakan yang amat ringan ia keluar dari jendela itu, lari ke belakang dan melompat ke atas genteng.

Benar saja, ia melihat bayangan seorang laki-laki tinggi besar tengah berlutut di atas genteng dan mengintai ke dalam kamarnya.

Pek Giok tersenyum geli dan dengan gerakan lincah dan ringan ia melompat ke belakang orang itu dan membentak.

"Anjing muka hitam kau sedang mencari apakah?"

Bukan main kagetnya orang itu karena bagaimana ada orang datang sampai ke belakangnya tanpa diketahuinya sedikitpun?

ia cepat menengok dan kekagetannya bertambah ketika mendapat kenyataan bahwa yang datang dan membentaknya ini bukan lain adalah dara jelita yang kamarnya sedang diintai!

(Lanjut ke

Jilid 05) Antara Dendam & Asmara (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 05 Laki-laki tinggi besar bermuka hitam ini sebetulnya adalah seorang penjahat cabul yang tertarik oleh kecantikan Pek Giok dan mencoba untuk mengganggu gadis itu.

Akan tetapi Pek Giok tidak mempunyai dugaan sampai di situ dan ia hanya mengira bahwa si muka hitam ini tentulah seorang pencuri biasa saja.

Kalau ia tahu bahwa ia sedang berhadapan dengan seorang Jai-Hwa-Cat yang keji, tentu gadis ini takkan mau memberi ampun dan membunuhnya di tempat dan di saat itu juga.

"Maling rendah, kau datang hendak mencuri?"

Sekali lagi Pek Giok memaki.

Laki-laki itu saking gugup dan herannya tak dapat menjawab, dan karena ia mendapat kenyataan bahwa calon korbannya ini ternyata seorang gadis gagah perkasa, niatnya untuk mengganggu lenyap dan ia menjadi malu dan marah.

Dicabutnya senjatanya, yakni sebuah ruyung berduri yang tergantung pada pinggangnya dan tanpa berkata sesuatu ia menubruk dengan pukulan ruyungnya.

"Bangsat, kau perlu dihajar!"

Seru Pek Giok melihat serangan dahsyat ini.

Cepat ia mengelak ke kiri dan ketika ia mengulurkan tangan menyampok, si muka hitam itu memekik keras dan ruyungnya terlepas dari tangannya, jatuh menerbitkan suara nyaring di atas genteng.

ia menggunakan kedua tangannya memegangi telinga kanannya yang terkena sampokan jari tangan Pek Giok dan ternyata bahwa daun telinganya telah pecah-pecah dan hanya tinggal sedikit saja yang menempel di kepalanya!

Bukan main hebatnya sampokan jari tangan Pek Giok tadi.

"Hm, aku masih mengampuni jiwamu agar kau mendapat kesempatan untuk merubah cara hidupmu!"

Kata Pek Giok yang tidak tega untuk membunuh atau membuatnya tercacat tangan kakinya, mengingat bahwa Ayahnya sendiripun seorang perampok!

Pada saat itu, di bawah genteng terdengar suara rIbut-rIbut dan arahnya dari dalam kamarnya, maka Pek Giok cepat melompat turun dan berlari ke kamarnya.

ia melihat dua bayangan orang berkelebat keluar dengan cepat sekali sehingga tak terlihat nyata siapa orangnya.

Karena heran dan tidak tahu mereka itu siapa, Pek Giok cepat memasuki kamarnya dan alangkah herannya ketika ia melihat bahwa buntalan pakaian dan pedangnya telah dicuri orang!

Tadi ketika ia menemui penjahat muka hitam memang tidak membawa pedangnya karena untuk menghadapi seorang lawan yang suara kakinya masih terdengar dari bawah, tak perlu mempergunakan senjata!

Dari perasaan heran dan kaget, Pek Giok menjadi marah sekali.

"Kurang ajar!"

Serunya dan ia cepat melompat lagi ke atas genteng karena mengira bahwa yang mencuri barang-barangnya tentulah kawan-kawan dari si muka hitam tadi.

Akan tetapi ketika tiba di atas genteng, bayangan si muka hitam sudah lenyap, bahkan ruyung yang jatuh di atas genteng tadipun sudah dibawa pergi oleh Jai-Hwa-Cat yang sebelah telinganya telah putus!

Bukan main marahnya hati Pek Giok.

ia teringat bahwa dua bayangan orang yang berkelebat keluar dari kamarnya tadi menuju ke barat, maka ia lalu melakukan pengejaran ke arah itu dengan cepat, melewati rumah-rumah penduduk Sining.

Akan tetapi ia tidak melihat sesuatu di atas genteng-genteng itu, maka dengan hati gemas sekali ia lalu melanjutkan perjalanannya dan langsung menuju ke benteng di mana Pangeran Liang Tek Ong bermalam.

Gadis ini memang tabah dan keberaniannya luar biasa di samping kekerasan hatinya.

Sekali ia mempunyai niat hendak menyelidik dan kalau mungkin merampas peti hitam terisi surat-surat rahasia dari Pangeran itu, biarpun kini ia tidak berpedang lagi, ia tidak takut sama sekali!

ia mempergunakan ilmu lari cepat dan tubuhnya melompat-lompat dari wuwungan demikian gesitnya bagaikan seekor burung besar melayang-layang.

Pakaiannya yang berwarna hijau itu, di dalam gelap malam nampak kehitam-hitaman.

Rambut dan ikat pinggangnya melambai-lambai tertiup angin ketika ia bergerak maju dengan cepatnya.

Setelah ia tiba di dekat benteng sehingga tembok benteng itu telah kelihatan remang-remang, tiba-tiba ia melihat bayangan putih berkelebat di depan, melompat turun dari atas genteng dan berlari menuju ke tembok benteng itu!

ia menjadi marah karena mengira bahwa itulah orang yang mencuri buntalan dan pedangnya, maka ia percepat larinya mengejar ke depan.

Terdengar teriakan para penjaga yang menyerang si baju putih itu, akan tetapi dengan kecepatan luar biasa si baju putih itu melompat ke atas tembok yang amat tinggi itu dan lenyap!

Para penjaga masih rIbut-rIbut ketika Pek Giok tiba di pinggir tembok.

Pek Giok tidak memperdulikan mereka dan langsung ia menghampiri tembok benteng itu.

Para penjaga dapat melihatnya dan segera mereka maju dengan tombak dan pedang di tangan!

Akan tetapi, begitu Pek Giok bergerak dan kedua tangan dan kakinya menyerang, robohlah empat orang penjaga yang menyerang paling depan.

Dara pendekar itu lalu lari menjauhi penjaga-penjaga yang mengeroyoknya dan cepat melompat ke atas tembok benteng menyusul bayangan putih tadi.

Terdengar angin senjata menyambar dari bawah dan ternyata para penjaga itu telah melepaskan anak panah kepadanya.

Akan tetapi, Pek Giok telah tiba di atas tembok dan dengan mudah sekali ia menggunakan kaki kirinya menendang anak panah yang menyambar ketubuhnya bagian bawah, sedangkan yang menyambar di bagian atas ia sampok dengan tangannya!

Para penjaga di bawah dapat melihat gerakan ini dengan tegas karena pada saat itu bulan telah muncul dari balik awan yang tadi menutupinya.

Tentu saja mereka berdiri bengong dan terheran-heran menyaksikan kelihaian gadis muda itu yang dengan tangan serta kakinya dapat menangkis serangan anak-anak panah sedemikian mudahnya.

Pek Giok cepat melompat dari atas tembok itu ke bawah dan tiba di atas genteng bangunan yang terdekat dengan tembok.

ia tidak melihat lagi si bayangan putih tadi, maka ia teringat kembali akan niatnya menyelidiki Pangeran Liang Tek Ong.

Dengan berani ia lalu melompat ke atas wuwungan dari bangunan yang paling besar dan tinggi, mendekam di atas wuwungan sebentar untuk memandang ke kanan kiri bagaikan seekor burung garuda yang besar.

Dari atas ia dapat melihat kesIbukan para penjaga yang sudah memberi laporan ke dalam dan ia bahkan melihat beberapa orang perwira bersiap untuk mencarinya.

Cepat ia membuka genteng dan mengintai ke dalam bangunan terbesar.

Ternyata ia telah membuka genteng yang tepat karena di bawah ia melihat seorang yang berpakaian sebagai pembesar tinggi sedang duduk menghadapi dua orang perwira Mongol yang memakai topi besi berujung runcing dan di kanan kiri pembesar itu terdapat pula lima orang perwira Kerajaan yang berdiri dengan pedang tajam di tangan!

Seorang perwira masuk dari luar dan pembesar itu memandangnya dengan mata marah karena merasa terganggu perundingannya.

Perwira itu memberi hormat dan berkata.

"Maafkan hamba, Taijin. Hamba sekali-kali tak berani datang mengganggu kalau tidak ada peristiwa penting. Baru saja benteng kita telah dimasuki dua orang jahat yang berkepandaian tinggi, maka hamba datang membuat laporan agar supaya Taijin berjaga-jaga."

Pek Giok dapat menduga bahwa pembesar itu tentulah Pangeran Liang Tek Ong sendiri, maka hatinya menjadi berdebar girang.

Pangeran Liang Tek Ong menjadi terkejut mendengar ini dan tak terasa pula tangannya meraba ke atas sebuah bungkusan kain merah yang terletak di hadapannya.

Bungkusan itu berbentuk segi empat.

"Mengapa kalian tidak menangkap mereka? Apakah kalian tidak becus menghadapi dua orang bajingan kecil saja?"

"Baik, Taijin. Kami pasti akan membekuk mereka. Kami sedang berusaha mencari mereka!"

Perwira itu memberi hormat lagi lalu keluar dari ruangan itu karena ia tidak ingin mendapat kemarahan makian lebih lanjut. Pangeran itu memandang kepada kedua orang tamunya.

"Bagaimana baiknya? Apakah perundingan kita, dilanjutkan saja besok pagi setelah keadaan menjadi aman?"

Terdengar dua orang perwira Mongol itu tertawa.

"Taijin, mengapa merIbutkan gangguan dua orang penjahat kecil? Ha, ha, ha! Biarlah mereka masuk ke sini kalau mampu, kami berdua masih sanggup membekuk batang leher dua orang penjahat itu, yakni kalau kiranya perwira-perwira pengawal Taijin tidak sanggup melakukannya."

Ucapan ini terdengar sombong dan memandang rendah kepada para perwira pengawal, maka kelima orang pengawal yang berdiri dengan pedang di tangan itu lalu berkata.

"Taijin, lanjutkanlah saja perundingan. Hamba berlima takkan membiarkan penjahat-penjahat kecil masuk ke ruangan ini!"

Akan tetapi, tiba-tiba di atas genteng ruangan itu terdengar suara orang menjerit.

Ternyata bahwa seorang perwira telah melihat Pek Giok mendekam di atas wuwungan.

ia berseru keras memberi tanda kepada kawan-kawannya, sedangkan ia sendiri dengan golok di tangan menubruk Pek Giok yang sedang berlutut mengintai ke dalam.

Gadis itu membiarkan dirinya ditusuk golok, dan ketika golok telah dekat dengan punggungnya, tiba-tiba ia menggulingkan tubuhnya dan sekali kakinya bergerak, maka kakinya telah masuk ke dalam perut perwira itu yang menjerit ngeri dan tubuhnya terpental sampai ke bawah genteng!

Pek Giok tidak mau bersembunyi lagi, lalu dengan kakinya ia menghancurkan beberapa buah genteng sehingga pecahan genteng itu jatuh ke dalam ruangan sidang, lalu disusul oleh tubuhnya yang melompat turun!

Kedatangannya mengejutkan Pangeran Liang Tek Ong yang cepat memondong bungkusan kain merah itu, sedangkan lima orang pengawal tadi lalu maju mengurung dengan pedang mereka.

Adapun dua perwira Mongol itu hanya enak-enak duduk saja sambil minum arak mereka, seakan-akan yang dihadapinya adalah sebuah lelucon belaka!

Lima orang perwira pengawal itu merasa terkejut sekali karena tak pernah mereka sangka bahwa yang datang adalah seorang dara muda yang cantik dan gagah.

Akan tetapi seorang diantara mereka ikut menyerang Tan Koan slang tadi, maka ia mengenal gadis ini sebagai penolong Tan Koan.

ia lalu berseru.

"Dia adalah gadis kawan pemberontak di telaga tadi! Tangkap!"

"Tidak, jangan tangkap hidup-hidup!"

Seru Pangeran Liang dengan amat marah.

"Bunuh dia! Bunuh perempuan durjana ini!"

Akan tetapi Pek Giok sama sekali tidak merasa takut, bahkan ia tersenyum mengejek dan berkata kepada Pangeran Liang Tek Ong.

"Beginikah macamnya seorang pengkhianat? Memang benar berhati kejam! Liang Tek Ong, aku datang untuk mengambil barang yang kau bawa-bawa itu!"

Sambil berkata demikian tiba-tiba tubuhnya mencelat maju ke arah Pangeran itu, akan tetapi lima orang perwira pengawal itu cepat menyerangnya dari kanan kiri sehingga Pek Giok terpaksa harus mengelak dan hanya dapat mengirim pukulan ke arah dada Pangeran Liang Tek Ong dari jarak jauh.

Namun ia telah mempergunakan ilmu pukulan Soan-Hong-Jiu atau Pukulan Angin yang mengandung tenaga khikang luar biasa sehingga biarpun ia berada di tempat jauh kira-kira dua tombak, namun angin pukulannya cukup kuat menghantam sasarannya!

Pangeran Liang Tek Ong dengan ketakutan memeluk bungkusan kain merah itu dan tiba-tiba ia merasa ada tenaga yang keluar dari pukulan gadis itu mendorongnya sehingga benda yang dipegangnya itu terlepas dari tangannya.

Kain merah terbuka dan ternyata benar dugaan Pek Giok, karena benda yang terbungkus itu ternyata adalah sebuah peti kecil hitam yang berukir dua ekor naga!

Inilah peti yang dimaksudkan oleh mendiang Tan Koan, yakni peti yang berisi dokumen-dokumen atau surat-surat rahasia yang dapat membongkar pengkhianatan Pangeran itu.

Sementara itu, kelima orang pengawal tadi dengan marah lalu menyerang dengan pedang mereka.

Pengawal-pengawal ini memiliki kepandaian yang cukup tinggi, karena mereka ini adalah pengawal-pengawal yang tingkat kepandaiannya menduduki kelas dua dari para jago-jago Istana.

Akan tetapi menghadapi Pek Giok yang bertangan kosong, mereka dipermainkan bagaikan tikus gesit mempermainkan lima ekor kucing tua ompong dan tak berkuku!

Tubuh gadis itu berkelebatan di antara sambaran pedang sehingga lenyap dari pandangan para pengeroyoknya dan membuat mereka merasa pening.

Baru belasan jurus saja mereka mengeroyok, dua orang pengawal telah terkena pukulan tangan Pek Giok yang ampuh dan mereka roboh tak dapat bangun lagi!

Sekarang barulah kedua orang perwira Mongol itu berdiri dari tempat duduknya dan dengan tenang mereka lalu mencabut senjata mereka, yakni sebatang cambuk besi yang ujungnya dipasangi bola berduri.

"Cuwi-Ciangkun (perwira-perwira sekalian), silakan mundur dan biarkan kami menangkap si cantik ini!"

Setelah berkata seorang diantara mereka yang bertubuh pendek mengayun cambuknya ke arah Pek Giok.

Terdengar suara melengking kecil ketika senjata itu menyambar dan Pek Giok menjadi kaget bukan main karena sambaran senjata itu mendatangkan angin pukulan yang hebat!

ia cepat mengelak dan maklum bahwa ia sedang menghadapi lawan tangguh.

Benar saja, karena cambuk itu tiba-tiba terputar-putar dan mengurungnya dengan rapat sehingga biarpun ia telah mempergunakan ginkangnya untuk mengelak, namun ia tak mendapat kesempatan sama sekali untuk balas menyerang!

Baru ia merasa menyesal karena telah kehilangan pedangnya, karena kalau ia memegang senjatanya, tak mungkin ia didesak sedemikian rupa sehingga tak dapat balas menyerang sama sekali.

ia mulai menjadi gelisah, apalagi ketika melihat belasan orang perwira mulai masuk seorang demi seorang dari segenap penjuru dan ia menjadi terkurung rapat!

Tidak ada jalan keluar baginya, dan untuk mengalahkan perwira Mongol yang pendek ini bukanlah hal yang mudah!

Apalagi kalau yang seorang lagi ikut menyerang, habislah riwayatnya!

Tiba-tiba sesosok bayangan putih melayang turun dari atas genteng dan bagaikan seekor burung yang gesit, bayangan itu menyambar ke arah Pangeran Liang Tek Ong!

Melihat gerakan ini, perwira Mongol yang kedua, yang bertubuh tinggi besar, berseru marah dalam bahasa Mongol dan menyabet dengan senjatanya yang panjang ke arah bayangan yang ternyata adalah seorang pemuda berpakaian putih yang tampan itu.

Akan tetapi pemuda itu benar-benar lihai sekali, karena secepat kilat ia telah mencabut pedangnya dan menangkis sabetan itu, sementara tangan kirinya masih sempat untuk diulur dan merampas peti kecil yang dipegang oleh Pangeran Liang Tek Ong!

"Celaka!

Tangkap...

bunuh..."

Seru Pangeran itu dengan wajah pucat dan saking kaget dan gugupnya ia hanya dapat berteriak-teriak tidak karuan. Pemuda itu mundur sambil tersenyum dan berkata.

"Pangeran Liang Tek Ong! Kalau kau tidak mengakhiri pengkhianatanmu, seluruh keluargamu akan ditangkap dan dihukum gantung!"

La lalu tertawa bergelak dan ketika kembali perwira Mongol tinggi besar itu mengeroyok dengan cambuknya yang mengerikan, pemuda itu hanya menangkis dengan amat mudahnya.

Kemudian pemuda itu melemparkan pedang yang tadi dipakai untuk menangkis ke arah Pek Giok yang diserang oleh perwira Mongol bertubuh pendek itu.

Pek Giok cepat mengulur tangannya dan ketika ia memegang gagang pedang itu, hampir berteriak keras karena marah, terkejut dan heran.

Pedang itu adalah pedangnya Cheng-Liong-Kiam!

ia cepat menengok dan melihat bahwa bayangan putih itu adalah pemuda tampan yang tadi ia lihat membaca kitab dalam kamar di seberang kamarnya, pemuda yang disangkanya kutu buku itu!

Dan yang lebih menggemaskan hatinya lagi adalah ketika ia melihat buntalan pakaiannya kini digendong di atas punggung pemuda itu!

"Maling!"

Seru Pek Giok marah.

"Nanti akan datang saatnya aku memberi hajaran kepadamu!"

Sambil berkata demikian Pek Giok menangkis datangnya sambaran cambuk lawannya.

"Ha, ha, ha! Malingnya ada di sana!"

Seru pemuda itu dan ketika Pek Giok menengok, ternyata pemuda itu mengelak dari serangan perwira Mongol dan tiba-tiba tubuhnya melayang ke samping kiri di mana berdiri seorang pemuda yang bukan lain adalah pemuda kurus tinggi yang ia lihat berada di ruang depan hotel ketika ia mula-mula masuk ke dalam rumah penginapan itu!

Pemuda tinggi kurus itu cepat menangkis serangan pemuda baju putih dengan goloknya, akan tetapi alangkah kagetnya ketika goloknya mengeluarkan suara keras dan terpotong menjadi dua oleh pedang si baju putih.!

Para perwira tidak mau tinggal diam dan maju mengeroyok pemuda baju putih yang lihai itu sehingga ruangan itu penuh dengan orang-orang yang kini mengeroyok Pek Giok dan si pemuda baju putih itu.

"Mari kita pergi!"

Pemuda baju putih itu berseru kepada Pek Giok.

"Tidak sudi!"

Jawab Pek Giok merengut.

"Aku harus robohkan dulu sekalian anjing ini!"

"Ha, ha, bocah nakal! Kau takkan sanggup, mereka terlalu banyak dan kuat!"

Kata pemuda itu sambil memutar pedangnya sedemikian rupa sehingga para pengeroyoknya terpaksa melangkah mundur.

"Tutup mulutmu!"

Pek Giok membentak marah.

"Kalau kau takut, pergilah sendiri, pengecut!"

Kembali pemuda itu tertawa dan suara tawanya yang penuh kesabaran dan merdu itu seakan-akan menusuk hati Pek Giok karena terdengar olehnya seperti mengejeknya.

"Baiklah, kalau berkepala batu, aku pergi membawa peti rahasia dan sekalian pakaian-pakaianmu!"

Sambil berkata demikian, pemuda baju putih itu memutar pedang membuka jalan keluar, akan tetapi benar-benar pengeroyoknya berusaha keras untuk mencegahnya keluar, terutama cambuk perwira Mongol itu amat lihai dan merupakan penghalang yang paling kuat sekali.

Sementara itu, mendengar pemuda itu menyebut-nyebut peti rahasia, teringatlah Pek Giok bahwa kedatangannya ialah bukan lain hanya dengan maksud merampas peti itu.

Kini peti itu telah berada di tangan pemuda baju putih yang kurang ajar, dan pakaian-pakaiannyapun akan dibawa pergi pula!

ia teringat akan pesan mendiang Tan Koan bahwa ia harus menjaga agar peti itu jangan sampai dirampas orang lain.

Maka ia berseru keras.

"Kau hendak lari ke mana? Tinggalkan dulu peti dan buntalan!"

"Ha, ha, ha! Kalau sanggup, kejarlah!"

Demikianlah, sambil bercekcok mulut, Pek Giok memaki-maki dan pemuda itu memperolok-oloknya, kedua orang muda yang amat lihai itu memutar pedang mereka dengan hebat.

Pedang Pek Giok berubah menjadi segulung sinar kehijauan, bagaikan seekor naga hijau yang benar-benar hidup dan menyambar-nyambar sehingga beberapa orang perwira telah terluka dan mengundurkan diri.

Sedangkan pedang di tangan pemuda baju putih itu menjadi segulung sinar keputihan bagaikan perak, juga tidak kalah hebat dan ganasnya sehingga ia berhasil merobohkan beberapa orang dan bahkan cambuk besi di tangan perwira Mongol tinggi besar itu telah terbabat putus!

Sepak-terjang Pek Giok dan pemuda itu benar-benar membuat hati para pengeroyok menjadi gentar sekali dan mereka merasa lebih takut ketika melihat betapa Pek Giok berhasil merobohkan perwira Mongol yang pendek dengan sebuah pukulan tangan kiri yang disertai tenaga lweekang, sedangkan pemuda baju putih itu setelah membuat putus cambuk perwira Mongol tinggi besar yang lihai, telah merobohkan dua orang perwira pengawal yang paling tangguh pula!

Para pengeroyok mundur dan kepungan mengendur.

"Aku pergi dulu!"

Seru pemuda baju putih itu dan tubuhnya digenjot naik ke atas dan tepat sekali memasuki lobang di genteng yang dIbuat oleh Pek Giok tadi!

Pek Giok ikut melompat dan ketika beberapa orang perwira maju hendak menghalanginya tiba-tiba dari atas genteng menyambar turun potongan-potongan genteng bagaikan hujan lebat.

Potongan-potongan genteng itu menyambar dengan cepat sekali ke arah para perwira yang hendak menghalangi Pek Giok sehingga terpaksa mereka menjaga diri dan mengurungkan niatnya hendak menyerbu dan menghalangi gadis itu, karena biarpun hanya pecahan genteng, namun karena disambitkan dengan tenaga yang luar biasa, kalau mengenai kepala maka kepala bisa pecah atau sedikitnya bocor karenanya!

Pek Giok berhasil melarikan diri dengan selamat dan ketika ia menerobos lobang di atas itu, ia membentak.

"Aku tidak membutuhkan pertolonganmu!"

Akan tetapi pemuda baju putih itu hanya tertawa bergelak dan cepat mendahului Pek Giok melompat ke arah wuwungan bangunan dekat tembok.

Pek Giok menyusul dan mencoba mengejar pemuda itu yang ternyata memiliki ilmu ginkang yang luar biasa sekali.

Ketika mereka tiba di atas wuwungan itu, tiba-tiba dari belakang menyambar puluhan batang anak panah dan senjata rahasia lain yang dilepaskan oleh para pengejar.

Mereka berdua lalu menggunakan pedang untuk menangkis semua senjata yang terbang menyambar.

"Ambil jalan ini!"

Seru pemuda baju putih itu kepada Pek Giok sambil melompat ke atas tembok benteng.

Bukan main cepatnya gerakan pemuda itu, akan tetapi Pek Giok tidak mau kalah cepat, ia mengejar dan dengan sekali lompatan saja ia telah tiba pula di atas tembok.

Pada saat itu, dari depan dan kanan kiri menyambar puluhan batang anak panah ke arah Pek Giok!

Ternyata bahwa pemuda itu melompat di atas tembok yang terhalang oleh bangunan, sedangkan Pek Giok melompat di atas tembok yang terbuka, maka dialah yang dijadikan sasaran anak panah.

Gadis itu terkejut sekali karena tembok benteng itu atasnya dibikin tajam dan kecil sekali sehingga sukarlah untuk melakukan gerakan mengelak.

Untuk menangkis sambaran senjata yang datang dari depan, kanan kiri, dan juga dari belakang karena para pengejar masih menghujankan senjata rahasia, amatlah sukarnya.

ia memutar pedangnya sedemikian rupa, dan berhasil menangkis semua senjata, akan tetapi gerakan yang cepat dan bertenaga ini membuat ia kehilangan keseimbangan tubuh dan ia terguling ke bawah dari tempat yang amat tinggi.

Pada saat itu, tiba-tiba tangannya terpegang dengan kuatnya oleh pemuda baju putih yang sudah melompat ke atas tembok di mana tadi ia berdiri dan sekali tarik saja Pek Giok sudah berdiri lagi di atas tembok.

Saat itu, kembali ratusan anak panah dari empat penjuru menyambar.

"Lompat ke sana!"

Seru pemuda itu sambil menunjuk ke arah wuwungan yang berada di bawah tembok, yakni wuwungan penjaga di luar benteng.

Akan tetapi, karena gerakannya menolong Pek Giok tadi, ia kurang cepat melompat dan sebatang anak panah masih mengenai punggungnya sebelah atas.

Harus diketahui bahwa tembok yang mereka lalui untuk melarikan diri ini berbeda dengan tembok dari mana mereka tadi masuk.

Ketika mereka tadi memasuki benteng, mereka masuk dari depan yang temboknya tidak tinggi karena di depan penuh dengan penjaga.

Akan tetapi sekarang, karena tidak ingin bertemu dengan banyak penjaga, pemuda itu mengambil jalan dari belakang yang temboknya luar biasa tingginya dan tak mungkin melompat turun dari tempat setinggi itu tanpa membahayakan keselamatan diri.

Pemuda baju putih itu menggigit bibirnya menahan rasa sakit dan bersama Pek Giok dapat melompat ke wuwungan rumah penjaga itu dengan Baik.

Kemudian dari situ mereka melompat ke bawah.

Puluhan orang penjaga sudah siap menanti kedatangan mereka, akan tetapi penjaga ini hanyalah orang-orang biasa saja dan sekali putar pedang mereka, Pek Giok dan pemuda itu telah merobohkan empat orang penyerbu!

Kemudian keduanya berlari cepat dan menghilang di dalam bayangan pohon.

Pek Giok yang masih mendongkol kepada "maling"

Ini, hendak cepat-cepat sampai di tempat sunyi untuk menyerangnya, akan tetapi ketika bulan menyinarkan cahayanya, ia melihat betapa di punggung pemuda baju putih itu menancap sebatang anak panah.

"Ah, kau terluka!"

Teriak Pek Giok terkejut sekali dan pada saat itu lenyaplah semua kegemasannya, terganti oleh rasa kekhawatiran besar.

Akan tetapi pemuda itu berlari terus dan tidak menjawab kata-katanya, sehingga Pek Giok hanya memandangnya saja sambil berlari cepat, menurut saja kemana si baju putih itu menuju.

Setelah malam berganti fajar dan mereka tiba di dalam sebuah hutan, barulah pemuda baju putih itu berhenti.

ia mengeluh, melemparkan peti kecil yang dirampasnya dari Pangeran Liang Tek Ong ke atas tanah, melepaskan pula sarung pedang dan buntalan pakaian dari punggungnya, Kemudian ia duduk di atas rumput dengan tubuh kelihatan lemah dan muka meringis kesakitan.

Tanpa bicara sesuatu kedua tangannya meraba anak panah yang masih menancap di punggung dan mencoba untuk mencabutnya.

Akan tetapi karena anak panah itu menancap di tubuh belakang, agak sukarlah untuk mencabutnya.

Tadinya Pek Giok hanya memandang terheran-heran melihat pemuda itu melemparkan peti rahasia, pedang dan buntalan begitu saja ke atas tanah tanpa khawatir kalau-kalau ia akan merampasnya.

Kemudian melihat pemuda itu bersusah-payah hendak mencabut anak panah, timbul perasaan kasihan dalam hatinya.

ia melangkah maju, berlutut di belakang pemuda yang duduk di atas tanah itu dan berkata.

"Diam dan jangan bergerak! Biar aku cabutkan anak panah ini!"

Pemuda itu diam saja dan duduk tak bergerak, kedua tangannya menekan kedua pundak sendiri dan mengerahkan tenaga untuk menjaga aliran darah agar jangan terganggu oleh luka itu.

Pek Giok lalu menggulung kedua lengan baju sehingga lengannya yang berkulit putih halus itu tampak.

ia pergunakan tangan kanan memegang anak panah, sedangkan tangan kirinya digunakan untuk menahan punggung orang.

"Tahankan, hendak kucabut!"

Katanya dan dengan gerakan cepat mencabut.

"Aduh...!"

Pemuda itu berseru perlahan, akan tetapi anak panah telah tercabut oleh Pek Giok.

Cara mencabut anak panah membutuhkan tenaga yang ahli, karena kalau dicabut begitu saja mengandalkan tenaga kasar, banyak sekali bahayanya kepala anak panah yang meruncing ke belakang di kanan kiri itu akan mengait dan tertinggal di dalam daging.

Pek Giok telah mempelajari cara mencabut anak panah dan senjata rahasia lain dari Kiok Sin Sianli, maka sekali cabut saja ia dapat menarik keluar anak panah itu dengan Baik.

Setelah anak panah dicabut, rasa sakit lebih hebat lagi maka pemuda itu menggigit bibirnya untuk menahan rasa sakit.

"Tolong balutkan luka itu,"

Katanya kepada Pek Giok dengan suara seakan-akan mereka telah menjadi sahabat karib semenjak waktu lama.

"Nanti dulu, harus diberi obat dulu."

Kata Pek Giok sambil bangun berdiri.

"Di mana ada obat dalam hutan seperti ini?"

"Tunggulah saja!"

Pek Giok lalu pergi dari tempat itu dan tak lama kemudian ia membawa segenggam bunga rumput warna merah yang kecil-kecil.

"Bunga rumput merah merupakan obat darurat yang baik untuk mencegah bengkak, membersihkan luka dan menghilangkan rasa sakit,"

Katanya dan tanpa menanti jawaban pemuda itu, ia meremas-remas bunga kecil-kecil itu sampai hancur dan berair.

Kemudian ia balutkan obat itu kepada luka di punggung setelah merobek baju pemuda itu di bagian punggung.

ia menekan dengan Ibu jarinya sehingga sebagian, obat itu masuk ke dalam luka tadi, kemudian ia bertanya.

"Mana kain pembalutnya?"

"Aku tidak membawa pakaian untuk dipakai sebagai kain pembalut, biar pakai ini saja!"

Pemuda itu lalu memegang bajunya yang sudah terobek bagian punggung untuk dirobeknya lagi dan digunakan sebagai kain pembalut.

"Bodoh!"

Kata Pek Giok mencegahnya, lalu gadis ini mengambil buntalan pakaiannya yang tadi dibawa oleh pemuda itu, membukanya dan mengeluarkan sehelai kain ikat pinggangnya dari sutera kuning.

"Buka bajumu itu!"

Katanya memerintah seperti kepada seorang anak kecil.

Pemuda itu menurut, akan tetapi ketika ia menggerakkan kedua lengannya, urat-urat di sekitar lukanya ikut bergerak dan ia mengaduh karena bukan main sakitnya.

"Aku... aku tak dapat membukanya."

Katanya dan peluh berkumpul di jidatnya karena menahan sakit.

"Hm..."

Hanya demikian suara yang keluar dari mulut Pek Giok, akan tetapi kedua tangannya lalu bekerja dan dengan cekatan jari-jari tangannya membuka baju pemuda itu sehingga tubuh bagian atas telanjang.

Kemudian, tanpa berkata sesuatu, Pek Giok lalu membalutkan ikat pinggangnya, menutup luka punggung terus dibelitnya ke dada dan diikat erat-erat.

Tadinya, setelah membalut luka itu, ia tidak mempunyai niat untuk memakaikan kembali baju pemuda itu yang sudah robek, akan tetapi melihat betapa pemuda itu kedinginan karena tubuh bagian atasnya tidak terlindung sama sekali, kembali ia menggumam.

"Hm...!"

Dan tanpa bicara sesuatu ia lalu mengambil baju itu dan mengenakannya kembali di tempat asal.

Bagian punggung yang robek kini terganti oleh balut dari ikat pinggang itu sehingga kelihatan seperti tambalan dari dalam!

"Bagaimana rasanya sekarang?

Masih sakitkah?"

Tanyanya kemudian acuh tak acuh.

Pemuda itu tersenyum.

Agaknya obat darurat itu telah mulai menunjukkan kasiatnya, karena lukanya tidak terasa sakit lagi, bahkan terasa dingin dan enak.

ia menggeleng kepala.

"Sungguh tak terasa sakit lagi. Terima kasih, kau baik sekali!"

"Hm... siapa yang baik? Aku melakukan ini bukan karena baik hati kepadamu, akan tetapi karena kau terluka dalam usahamu membantuku, sungguhpun aku sama sekali tidak membutuhkan bantuanmu!"

"Kau... nona cantik jelita yang kasar! Kasar dan berkepala batu!"

Kata pemuda itu, akan tetapi mulutnya masih tersenyum dan sepasang matanya memandang kagum dan berseri. Marahlah Pek Giok.

"Dan kau... kau maling!"

"Kepala batu!"

Pemuda itu balas memaki dengan hati geli karena ia merasa betapa lucunya gadis cantik yang menarik hatinya semenjak ia melihatnya di hotel itu.

"Maling!"

Pek Giok balas memaki, kemudian tiba-tiba ia berdiri dan menyambar buntalannya dan peti kecil itu.

"Hei...! Jangan kau ambil peti itu!"

"Aku menyerbu benteng untuk mengambil peti itu!"

Bantah Pek Giok sambil memandang tajam dan menantang.

"Aku telah melakukan perjalanan rIbuan li untuk peti itu!"

Pemuda baju putih membantah.

"Tapi aku yang masuk dalam ruang itu lebih dulu."

Kata Pek Giok.

"Benar, tapi aku yang merampas peti itu!"

"Kalau kau tidak datang mengganggu, tentu aku yang akan dapat merampasnya!"

Kembali Pek Giok membantah.

"Kau... kau tak berhak! Hayo kembalikan, jangan kau main-main!"

"Siapa yang main-main? Yang lebih pandai berhak atas peti ini, kalau kau mampu, coba rampas dariku!"

Pek Giok menantang.

"Kepala batu!"

"Maling!"

Dan Pek Giok lalu melompat pergi dan berlari cepat meninggalkan pemuda yang menjadi marah itu.

Si baju putih juga cepat mengambil sarung pedangnya, menggantungkannya di pinggang dengan tangan kaku karena pergerakannya masih amat terganggu oleh lukanya, kemudian ia lalu lari mengejar.

Pek Giok berlari cepat sambil mengerahkan ilmu lari cepat Keng-Sin-Sut, dan kalau ia terus berlari seperti itu, tak mungkin pemuda itu akan dapat mengejarnya, karena pemuda itu masih belum sembuh dari lukanya sehingga gerakannya masih amat terhalang.

Akan tetapi, sungguh aneh, tiba-tiba gadis itu menengok ke belakang dan ketika ia melihat si baju putih itu mengejarnya dengan susah-payah, timbul perasaan yang amat aneh dalam hatinya dan ia tak sengaja telah mengendurkan tindakan kakinya!

Entah apa yang terjadi di dalam dadanya, akan tetapi ia benar-benar merasa tidak tega untuk meninggalkan pemuda yang mengejarnya itu, bahkan wajah pemuda itu selalu terbayang di depan matanya.

Pandangan mata yang berseri, mulut yang tersenyum-senyum, dan suara makian "kepala batu"

Itu selalu terbayang dan terdengar, membuat hatinya berdebar aneh dan menimbulkan perasaan"

Girang!

Oleh karena itu, maka si baju putih itu selalu masih dapat melihat bayangan orang yang dikejarnya, sungguhpun ia tak sanggup untuk menyusulnya.

Kalau saja lukanya tidak mengganggu, mungkin akan dapat menyusul, karena ilmunya berlari cepat juga sudah mencapai tingkat tinggi.

Pemuda ini sambil berlari mengejar, tidak habisnya mengagumi dara itu, dan juga timbul keinginan hatinya untuk menguji ilmu pedang gadis itu yang amat lihai.

Ia menduga-duga siapakah dara jelita itu dan murid siapa gerangan dara muda yang luar biasa ini.

Pek Giok yang berlari ke depan dan biarpun tidak berlari cepat namun selalu menjaga agar jangan sampai tersusul, juga mempunyai pikiran yang serupa.

ia ingin pula mencoba kepandaian pemuda itu.

Sayang pemuda itu terluka, kalau tidak, tentu ia akan berhenti berlari dan menantang untuk mengadu kepandaian guna memperebutkan peti kecil yang dipegangnya itu!

Menjelang tengah hari, Pek Giok tiba di tepi sungai yang menjadi anak sungai Huang-Ho (Sungai Kuning).

Di tepi sungai melihat seorang nelayan sedang menjemur jala dan perahunya yang kecil diikat pada sebatang pohon.

Karena sungai itu mengalir menuju ke timur, maka Pek Giok lalu menghampiri nelayan itu dan bertanya.

"Lopek (Paman tua), sungai ini terus mengalir kemanakah?"

Nelayan itu menunda pekerjaannya dan memandang dengan kagum kepada nona muda yang bertanya kepadanya.

Akan tetapi melihat pedang yang tergantung di pinggang Pek Giok, sikapnya berubah menjadi menghormat karena ia maklum nona ini tentulah seorang pendekar wanita yang berkepandaian silat tinggi.

"Li-Enghiong (Nona Pendekar), sungai ini terus mengalir ke timur dan masuk ke Sungai Huang-Ho, kemudian mengalir terus dengan sungai besar itu ke kota Lancouw!"

Pek Giok menjadi girang, oleh karena tujuan perjalanannyapun ke kota Lancouw untuk kemudian terus ke timur. Maka ia lalu bertanya.

"Lopek, aku telah. melakukan perjalanan jauh dan telah lelah. Maukah kau mengantarkan aku ke Lancouw? jangan khawatir, berapa saja biayanya akan kubayar."

Nelayan itu menjadi girang, karena memang pada waktu itu penghasilan menjala ikan tidak banyak dan ia sudah mulai putus harapan.

"Boleh, boleh, nona! Biayanya tidak banyak, biasanya hanya tiga tail perak, akan tetapi karena hanya kau sendiri, akan rugilah kalau aku mengantarkan nona dengan biaya sebanyak itu."

"Biarlah kubayar sepuluh tail, dan lekas antarkan aku."

Nelayan itu menjadi makin girang dan ia tak pernah mengimpi akan mendapat rejeki sebesar ini. Cepat ia menggulung jalanya dan melemparkannya ke dalam perahu, kemudian ia melepaskan ikatan perahunya.

"Marilah, nona. Akan tetapi..."

Ia merasa ragu-ragu dan memandang kepada Pek Giok dengan penuh perhatian, terutama kepada pedang yang tergantung di pinggang nona itu.

"Ada apa, Lopek?"

"Aku mendengar kabar bahwa di tapal batas Propinsi Kansu dan Cing-Hai, sering kali muncul bajak sungai. Aku sendiri sih tidak takut apa-apa, karena bajak-bajak sungai tak nanti mau menggangguku yang miskin dan tidak akan suka pula merampas perahu dan jalaku yang tidak berharga ini. Akan tetapi, kalau mereka mengganggu kau..."

Pek Giok tersenyum.

"Jangan takut, Lopek. Mereka takkan berani menggangguku, atau kalau mereka mengganggu juga, mereka itu hanya akan mencari mampus sendiri!"

"Li-Enghiong benar-benar tabah!"

Nelayan itu memuji.

"Dan bukannya aku tidak percaya akan kegagahanmu, akan tetapi kalau sampai nona dirampok habis-habisan... dan uang nona pun diambil semua... bagaimana dengan biaya itu...?"

Pek Giok menjadi mendongkol, akan tetapi geli juga.

"Apakah kau menghendaki agar aku membayar dulu uang sepuluh tail itu?"

Merahlah wajah si tukang perahu.

"Sekali lagi bukan aku tidak percaya kepadamu, nona... akan tetapi..."

"Sudahlah! Kau boleh terima uang itu lebih dulu. Akan tetapi, kalau uang itu kuberikan kepadamu dan kemudian kita diganggu bajak sungai, apa kau kira uang itu tidak akan dirampasnya pula darimu?"

Nelayan itu tertawa.

"Tidak mungkin, nona. Karena uang itu tidak akan ada bersamaku."

"Bagaimana maksudmu?"

"Uang itu akan kutinggalkan di rumah, kuberikan kepada isteriku untuk bekal hidup selama aku belum pulang, dan aku hanya akan membawa sedikit bekal saja. Rumahku tidak jauh, nona, itu di hilir, kira-kira dua li dari sini. Aku akan singgah sebentar untuk memberikan uang itu kepada isteriku, baru kita akan melanjutkan pelayaran."

Pek Giok mengangguk-angguk mengerti dan sambil tersenyum ia berkata.

"Baiklah, mari kita berangkat. Nanti kalau kau sampai di rumahmu, akan kuberikan uang itu."

Si nelayan menjadi girang dan pada saat ia hendak masuk ke dalam perahu, tiba-tiba ia melihat seorang baju putih berlari-lari ke arah mereka dan berteriak-teriak.

"Hei, tukang perahu! Tunggu dulu... Aku ikut..."

Pek Giok diam-diam tersenyum geli melihat bahwa yang datang itu adalah pemuda baju putih yang mengejarnya.

Tukang perahu itu ragu-ragu, akan tetapi ia masih belum mendayung perahunya dan memandang kepada pemuda yang datang itu dengan penuh perhatian.

"Kau mau apa, Kongcu?"

Tanyanya ketika pemuda baju putih itu telah berada di situ.

ia menyebut Kongcu karena memang pemuda itu pakaiannya seperti seorang terpelajar, sedangkan kini pedangnya tidak kelihatan, agaknya disembunyikan di bawah bajunya.

"Aku mau ikut!"

Katanya.

"Tidak bisa, Kongcu, perahuku telah disewa oleh nona ini. Kami hendak pergi berlayar jauh, sampai ke Lancouw."

"Memang akupun hendak pergi ke Lancouw!"

Kata pemuda itu dengan girang. Kembali si tukang perahu menggelengkan kepala.

"Tidak bisa, Kongcu. Perahuku ini telah diborong sepuluh tail perak oleh nona ini."

"Aku berani membayar sepuluh tail perak! Perahumu cukup besar, tidak akan terguling ditumpangi oleh tiga orang!"

Mendengar bahwa pemuda itu berani pula membayar sepuluh tail perak, tergeraklah hati tukang perahu itu.

Kalau saja ia dapat menerima tambahan sepuluh tail lagi, ah, alangkah akan senangnya.

bininya di rumah!

ia mengerling ke arah Pek Giok yang duduk sambil menundukkan muka seakan-akan tidak kenal dan tidak mendengar percakapan itu.

"Kongcu, seperti kukatakan tadi. Perahuku telah diborong oleh nona ini dan hanya nona inilah yang berhak untuk memutuskan apakah aku boleh menerima penumpang lain atau tidak. Tentang kekuatannya, jangankan baru tiga orang, biar ada sepuluh orangpun, perahuku ini akan kuat membawanya!"

"Kalau begitu, coba kau tanyakan kepada nona penumpangmu itu. Kurasa ia tidak begitu kejam hatinya untuk membiarkan seorang lain ditinggalkan di tempat sunyi ini, karena perahumu hanya satu-satunya yang berada di sini,"

Kata pemuda baju putih itu.

"Bagaimana, nona?"

Tanya tukang perahu kepada Pek Giok.

"Bolehkah Kongcu ini ikut naik ke dalam perahu?"

Karena Pek Giok telah duduk di dalam perahu yang tertutup bilik bambu, maka ia lalu menjenguk ke dalam dan menambahkan dengan suara perlahan.

"Nona, dia kelihatan orang baik-baik, muda, tampan, terpelajar dan sopan santun... dan..."

"Sukamulah!"

Jawab Pek Giok dengan suara keras.

"Aku tidak perduli siapa saja yang hendak ikut, asalkan kau jaga benar-benar bahwa ia bukan seorang laki-laki ceriwis dan kurang ajar!"

Tukang perahu itu menjadi girang sekali. ia berkata kepada si baju putih dengan mata berseri.

"Naiklah, Kongcu, akan tetapi kuharap Kongcu jangan mengganggu nona yang memborong perahu ini. Kalau Kongcu melanggar kesopanan, terpaksa aku akan mendorongmu keluar dari perahu!"

"Dan membiarkan aku terjungkal ke dalam air?"

Tanya si baju putih sambil naik ke dalam perahu.

"Ya,"

Jawab si tukang perahu.

"kalau kau berani kurang ajar terhadap nona di dalam perahu, kau akan kudorong keluar dengan dayungku ini!"

Pemuda itu tersenyum, karena biarpun mulut si tukang perahu itu berkata demikian, namun matanya dipejamkan sebelah dengan lucunya.

"Tidak, Lopek, aku takkan berani berbuat demikian. Aku akan duduk diam seperti patung batu!"

Perahu lalu didayung ke hilir dan karena air sungai itu mengalir cepat, maka ditambah dengan dorongan dayung, perahu itu meluncur dengan lajunya.

Kurang lebih dua li di sebelah hilir, tukang perahu minggirkan perahunya dan ternyata mereka tiba di sebuah dusun kecil di tepi sungai.

Di dalam dusun inilah tempat tinggal si tukang perahu bersama isteri dan tiga orang anaknya.

ia menerima uang sepuluh tail dari Pek Giok dan sepuluh tail pula dari pemuda itu.

Sambil berlari-lari girang tukang perahu meninggalkan mereka dan pulang untuk menyerahkan uang itu kepada isterinya.

Setelah berada berdua saja, barulah Pek Giok membuka mulut kepada si baju putih itu.

"Apakah kau sengaja hendak mengikuti perjalananku?"

Pemuda itu tersenyum.

"Aku sendiripun hendak ke Lancouw, siapa yang mengikuti perjalananmu? Betapapun juga, peti itu harus kau berikan kepadaku!"

"Sombong! Coba saja kalau kau bisa. Kau seorang maling, seorang ahli mencuri, coba saja kau curi barang ini dari tanganku kalau kau sanggup!"

"Hm, kaulah yang sombong. Kalau lukaku sudah sembuh sama sekali, apakah sukarnya merampas barang itu dari tanganmu?"

"Baik, aku tunggu sampai kau sembuh. Hendak kulihat kau dapat berbuat apa kepadaku!"

Pek Giok menantang dan pemuda itu hanya tersenyum saja, sungguhpun sepasang matanya merasa amat penasaran melihat kesombongan gadis yang memandang rendah kepadanya.

"Nona,"

Katanya kemudian dan suaranya benar-benar terdengar halus dan merdu.

"Mengapa kau seperti orang yang amat membenciku? Kita baru saja bertemu, tidak ada alasan bagimu untuk membenciku!"

"Kau maling! Kau mencuri pedang dan buntalanku. Mengapa aku tidak harus membencimu?"

Pemuda itu tersenyum mengejek.

"Begitulah kalau orang berhati keras dan berkepala batu! Belum tahu betul sudah menyangka yang bukan-bukan! Siapa yang mencuri? Dengarlah, nona manis, yang mencuri barang-barangmu adalah mata-mata yang dikirim oleh Pangeran Liang Tek Ong! Semenjak kau membantu Tan Koan di tepi telaga itu, kau selalu diikuti dan diamat-amati, kemudian mata-mata yang kurus tinggi itu menggunakan kesempatan selagi kau menghajar Jai-Hwa-Cat di atas genteng, memasuki kamarmu dan barang-barangmu digeledah. Akan tetapi aku melihatnya dan karena tidak sempat memeriksa, ia lalu membawa semua barang-barangmu, berikut pedangmu yang bagus itu. Aku mengejarnya terus sampai ke benteng dan di depan benteng aku berhasil merampas kembali buntalan dan pedangmu, akan tetapi sayang sekali ia keburu lari ke dalam benteng sebelum kuberi hadiah! Nah, aku yang mendapatkan kembali barang-barangmu, akan tetapi apa yang kudapat darimu? Julukan maling! Alangkah tidak adilnya dunia ini!"

Mendengar penuturan ini, merahlah wajah Pek Giok, akan tetapi diam-diam hatinya girang sekali karena ternyata pemuda yang "ceriwis"

Ini bukan seorang maling! "Hm, kalau begitu, kau telah melepas budi kepadaku,"

Katanya dengan suara mengejek.

"Akan tetapi jangan kau kira bahwa untuk membalas budi itu aku akan suka memberikan peti ini kepadamu!"

Sesungguhnya sikap Pek Giok memang keterlaluan, tidak saja karena terdorong oleh kekerasan hatinya, Akan tetapi juga gadis ini merasa penasaran karena seakan-akan pemuda itu memperlihatkan bahwa dialah yang lebih unggul daripadanya dan selalu menjadi pembantu, dan hatinya yang keras tidak mau kalah tidak mengijinkan ia mengakui bahwa ia "kalah muka"

Terhadap pemuda itu.

Akan tetapi, yang amat mengherankan adalah pemuda baju putih itu, karena biarpun sikap Pek Giok ini cukup untuk mendatangkan penasaran dan marah kepadanya, namun ia tetap tersenyum-senyum dan memandang wajah gadis itu dengan muka berseri.

"Nona, aku tahu bahwa kau bersikap keras kepadaku karena kita belum berkenalan. Kalau kau sudah mengenalku dan kuberi penjelasan tentang peti kecil itu, tanpa kuminta tentu akan kau berikan kepadaku. Nah, perkenalkanlah, aku bernama Han Bun dan sheku adalah..."

"Aku tidak ingin mengetahui namamu dan juga tidak ingin memperkenalkan namaku!"

Pek Giok memotong dengan ketus.

ia teringat akan pesan Gurunya, yakni Kok Sin Sianli untuk berlaku hati-hati terhadap pemuda-pemuda tampan yang bermulut manis, karena mereka itu merupakan penggoda-penggoda yang amat berbahaya!

Oleh karena itu, tidak mau Pek Giok berkenalan sebelum mengetahui betul-betul keadaan pemuda ini, terutama sekali mengetahui sampai di mana tingkat ilmu kepandaiannya!

"Ah, kau benar-benar kepala batu!"

Kata pemuda yang bernama Han Bun itu.

"Manusia sombong!"

Pek Giok balas memaki karena marah disebut kepala batu berkali-kali.

"Kalau aku kepala batu, kau sombong, sombong dan ceriwis!"

Pada saat itu tukang perahu tadi datang berlari-lari dengan muka girang dan tertawa-tawa.

"Ah, bukan main girangnya isteriku menerima uang dua puluh tail! Terima kasih, Lihiap, dan kau juga, Kongcu. Kalian berdua benar-benar sepasang orang muda yang berhati mulia!"

Akan tetapi tiba-tiba ia melihat muka Pek Giok yang cemberut dan muka pemuda baju putih itu yang mengandung penasaran, sungguhpun mulutnya masih tersenyum.

"He, ada apakah?"

Tukang perahu itu memandang ke arah Han Bun dengan penuh selidik.

"Kongcu, sudah kuperingatkan, jangan mengganggu nona ini. Apakah selagi aku pergi..."

"Siapakah yang sudi diganggu dan siapa pula yang mau mengganggu?"

Bentak Han Bun dengan hati mendongkol.

"Hayo kita melanjutkan pelayaran ke Lancouw!"

Tukang perahu lalu mendayung, sementara itu, Pek Giok diam-diam tersenyum geli.

Akhirnya dapat juga ia melihat pemuda itu marah-marah.

Tadinya ia telah merasa heran mengapa pemuda itu selalu tersenyum, dan menduga-duga apakah pemuda ini tak pernah marah?

ia ingin sekali melihat pemuda baju putih itu marah, dan kini setelah melihat ia marah-marah dan mendongkol, ia merasa geli!

Memang Pek Giok adalah seorang gadis yang aneh yang terlalu dimanja oleh Ayah angkatnya, yakni kepala rampok Sam-Thouw-Coa Siok Kong, kemudian dimanja pula oleh ketiga orang Gurunya!

Akan tetapi kemudian ternyata kepadanya bahwa Han Bun adalah seorang pemuda yang tidak dapat marah-marah untuk waktu lama, karena sebentar saja ia telah tertawa-tawa lagi dan mengobrol dengan tukang perahu, Membicarakan keindahan pemandangan di kanan kiri sungai, dan membicarakan pula tentang keindahan kota-kota besar, terutama Kotaraja yang pernah pula dikunjungi oleh tukang perahu itu.

Ketika hari telah menjadi malam, perahu mereka tiba di sebuah lereng pegunungan yang rendah di mana terdapat lapangan rumput yang indah menghijau.

Bulan keluar sepenuhnya dan pemandangan sungguh indah.

Tukang perahu minggirkan perahunya dan mereka mendarat, duduk di atas rumput.

Tukang perahu itu lalu mengeluarkan bekal yang sengaja diberikan oleh isterinya kepadanya, yakni tepung gandum, minyak dan garam.

ia lalu membuat api unggun dan mengeluarkan panci dan alat masak.

Han Bun nampaknya gembira sekali karena ia lalu menyombongkan kepandaiannya memasak.

"Biarkan aku membuat masakan yang lezat, Lopek!"

Katanya.

"Kongcu pandai masak?"

"Ah, tidak akan kalah kalau dibandingkan dengan kebanyakan wanita yang pandainya hanya makan saja!"

Jawabnya sombong dan Pek Giok diam-diam merasa tersindir karena sesungguhnya ia sendiri tak pandai masak sama sekali!

ia mengambil keputusan tidak mau makan masakan pemuda itu nanti kalau andainya ditawari.

"Tunggu dulu, aku pergi mencari bumbu!"

Kata Han Bun dan ia lalu berlari dan lenyap di balik lereng anak bukit itu.

Tak lama kemudian ia datang kembali sambil tertawa-tawa, di tangan kirinya membawa daun-daun yang biasanya dipergunakan untuk bumbu masakan sedangkan tangan kanannya memegangi sepasang telinga panjang seekor kelinci.

"Ha, Kongcu, dari mana kau mendapat kelinci itu?"

"Dasar perut kita bertiga sedang mendapat berkah dari dewa air!"

Kata pemuda itu sambil memandang muka Pek Giok yang segera melengos dan cemberut.

"Ketika aku sedang mencari bumbu, seekor kelinci yang gemuk ini sedang termenung seorang diri sambil memandang bulan. Agaknya ia teringat akan kekasihnya! Kasihan, sebentar lagi ia akan termenung di dalam perut kita!"

Tukang perahu itu tertawa bergelak mendengar kelakar ini dan kembali Pek Giok merasa tersinggung, karena pada saat pemuda itu mengucapkan kata-kata ini, kebetulan sekali ia sedang memandang kepada bulan!

"Nona,"

Kata tukang perahu itu kepada Pek Giok.

"Kau lihat, bukankah betul kata-kataku tadi? Kongcu ini orangnya baik, sopan, jenaka, dan pandai masak pula!"

Akan tetapi Pek Giok bahkan lalu masuk ke dalam bilik perahu dan tidak keluar lagi! "Eh, kenapa dia?"

Tanya tukang perahu kepada Han Bun. Pemuda itu hanya tersenyum da menggeleng kepala sambil memandang arah bilik perahu itu dengan kagum.

"Ah, ia gagah perkasa, dan amat keras hati"

Tanpa menjawab pertanyaan Kakek nelayan itu.

Setelah bubur gandum telah masak dan daging kelinci dipanggang matang sehingga baunya yang gurih dan sedap itu sampai juga menyerang hidung Pek Giok di dalam perahu, Han Bun lalu minta kepada tukang perahu untuk menawarkannya kepada Pek Giok.

Tukang perahu itu bergegas naik ke perahu dan berkata kepada Pek Giok yang masih duduk memandangi bulan purnama.

"Nona, masakan sudah matang. Silakan kau makan, nona."

"Aku tidak mau makan,"

Jawab Pek Giok singkat.

"Eh, mengapa begitu, nona? Kongcu itu sudah masak dan katanya ia berusaha keras untuk membuat masakan yang luar biasa enaknya untukmu!"

Ia membohong lalu melanjutkannya.

"Dan memang kelihatan enak sekali daging kelinci itu."

Perut Pek Giok memang lapar dan asap daging kelinci ketika dipanggang tadi membuat perutnya makin terasa lapar.

Kini mendengar pujian nelayan itu, tak terasa lagi ia menelan air ludahnya.

Akan tetapi ia tetap menggelengkan kepalanya.

"Aku tidak kepingin makan masakannya!"

Dengan kecewa tukang perahu itu lalu ke darat lagi dan Han Bun hanya tersenyum ketika mendengar tentang jawaban Pek Giok yang menolak tawarannya. Benar-benar kepala batu, pikirnya.

"Biar aku membawakan masakan untuknya."

Ia berkata dan ia telah memotong daging yang paling empuk, lalu membawa daging itu bersama semangkok bubur ke dalam perahu.

"Bu-beng Siocia (Nona Tak Bernama),"

Katanya jenaka.

"Hamba datang mengantarkan makan malam, silakan Siocia menikmatinya."

Ia menaruh makanan itu di depan Pek Giok dengan lagak seorang pelayan.

"Makanlah sendiri!"

Kata Pek Giok ke-tus.

"Aku tidak doyan makan masakanmu. Tentu rasanya tidak karuan!"

"Ha, ha, Bu-beng Siocia! Belum merasai sudah mencela. Coba saja kau makan, kalau tidak enak boleh kau buang ke dalam air!"

"Aku tidak sudi!"

Han Bun menghela napas.

"Kau benar-benar keras kepala, mengingatkan aku akan..."

"Akan siapa?"

Tiba-tiba gadis itu memandangnya dengan mata tajam.

Ketika mata mereka bertemu pandang, Han Bun tersenyum lagi.

Dari sinar mata dara itu, ia maklum bahwa sesungguhnya nona itu tidak marah atau membencinya, dan bahwa semua sikapnya itu hanya terdorong oleh keangkuhan belaka.

Maka ia lalu berkata.

"Aku pernah melihat patung Dewi Kwan Im yang besar, terbuat dari pada batu pualam di daerah selatan. Indah sekali, cantik jelita, raut wajahnya membayangkan pribadi yang tinggi dan welas-asih, akan tetapi angker dan gagah, seperti... seperti kau inilah! Sayang..."

"Ya...? Teruskan!"

"Sayang amat dingin dan berjiwa batu, seperti kau pula!"

Han Bun lalu meninggalkannya dan melompat ke darat untuk makan bersama tukang perahu.

Termenunglah Pek Giok seorang diri di dalam perahunya.

Kata-kata yang diucapkan oleh pemuda itu masih menggema di telinganya.

ia hendak marah, akan tetapi tidak bisa, karena bukankah di samping celaannya, pemuda itu telah memuji-mujinya?

Dipersamakan dengan Dewi Kwan Im adalah pujian yang tertinggi dan terindah bagi seorang wanita.

Heran sekali mengapa hatinya tidak karuan rasanya dan tidak dapat tentram lagi semenjak pertemuannya dengan pemuda yang bernama Han Bun ini?

Pek Giok memandang kepada daging yang terletak di atas piring itu.

Memang harum dan sedap baunya.

Keangkuhannya melarangnya untuk menjamah daging itu, bahkan kekerasan hatinya mendorongnya untuk membuang makanan itu keluar dari perahu.

Akan tetapi keinginan-tahuannya lebih besar.

ia menjenguk keluar dan melihat betapa pemuda itu sedang makan dengan enaknya bersama tukang perahu itu sambil bercakap-cakap.

Api unggun masih bernyala terang di dekat mereka.

Pek Giok mengulur jari telunjuknya dan meraba-raba daging itu.

Masih hangat dan benar-benar empuk.

Warnanya yang kekuning-kuningan karena terpanggang api itu mendatangkan selera.

ia menengok lagi dan setelah merasa pasti bahwa mereka tidak sedang memandang ke arahnya, ia lalu mengambil sedikit daging dan dimasukkan ke mulutnya.

Alangkah sedap, gurih dan manisnya!

Tak terasa tangannya diulur dan mengambil lagi, mengambil lagi sehingga daging itu sebentar saja hanya tinggal tulangnya saja.

Kelezatan daging itu menambah rasa laparnya, maka iapun lalu mengambil mangkok itu dan makan bubur gandum dengan lambat-lambat.

ia sengaja menggeser tempat duduknya ke dalam bilik agar jangan sampai terlihat dari luar!

Tiba-tiba Pek Giok mendengar pemuda itu bernyanyi.

Suaranya merdu dan pemuda itu bernyanyi memuji keindahan bulan, bernyanyi tentang kegagahan pahlawan-pahlawan kuno, dan terdengarlah suara tukang perahu memuji-muji pemuda itu setelah nyanyian berhenti.

Diam-diam Pek Giok juga merasa kagum dan ia merasa heran sekali bagaimana dalam nyanyiannya pemuda itu terdengar amat bergembira dan berbahagia.

Siapakah pemuda itu dan dari mana pula?

Murid siapakah dia?

Diam-diam ia makin mengenangkan pemuda itu dan dalam renungannya penuh dengan bayangan pemuda yang aneh dan menarik hatinya ini.

"Mengapa melamun saja, nona?"

Tiba-tiba suara pertanyaan ini membetotnya kembali ke dunia dari alam mimpi dan menung.

ia cepat memandang dan wajahnya menjadi kemerah-merahan ketika melihat bahwa yang menegurnya adalah orang yang tadi menjadi buah lamunannya.

"Ada perlu apakah kau datang lagi?"

Tanyanya ketus.

"Aku hendak tidur."

Kata-kata terakhir ini merupakan pengusiran halus.

"Tidak ada apa-apa, nona. Jangan khawatir, aku bukan datang hendak mencuri petimu dan pakaianmu. Aku pasti akan mendapatkan peti itu, bukan dengan jalan mencuri, akan tetapi karena kau memberikannya kepadaku secara suka rela, atau dengan mengalahkan pedangmu! Aku hanya hendak bertanya bagaimana rasanya masakanku tadi."

Pek Giok merasa mukanya menjadi panas karena jengah.

ia cepat melirik ke arah mangkok dan piringnya yang sudah kosong.

Baiknya sisa tulang kelinci tadi ia buang ke dalam air, maka ia mengira bahwa pemuda itu hanya menduga saja bahwa makanan telah masuk ke dalam perutnya.

Dengan gagah ia menjawab.

"Siapa sudi makan masakanmu yang tidak enak? Kulihat daging itu setengah matang dan bubur itu terlalu encer!"

"Betulkah? Akan tetapi mangkok dan piring itu kosong..."

"Tentu saja! Sudah kulempar ke dalam air. Melihatnya saja sudah menimbulkan muak dalam perutku!"

Tiba-tiba pemuda itu tertawa terbahak-bahak sehingga Pek Giok cepat menatap mukanya, khawatir kalau-kalau pemuda itu benar-benar melihat ia tadi makan bubur dan daging itu.

Akan tetapi tak mungkin karena ia tahu betul bahwa ketika ia makan, pemuda itu bersama tukang perahu sedang makan pula dan tempat duduknya terhalang oleh bilik, maka ia membentak marah.

"Mengapa kau mentertawakan aku?"

"Bukan, bukan kau yang menerbitkan geli di hatiku, akan tetapi ikan itu!"

"Ikan??"

Han Bun memandang ke arah air sungai dan berkata perlahan.

"Aku tahu siapa yang menghabiskan daging dan bubur masakanku."

"Siapa?"

"Seekor ikan! Ikan yang bagus dan indah sekali. Sisiknya daripada emas yang bercahaya, sepasang matanya daripada bintang kemilau, bibirnya manis dan merah. Ah, ikan bermata bintang... kau telah menghabiskan masakanku dan aku tahu bahwa kau menikmati masakan itu dan memuji kepandaianku memasak! Sayang kau tidak bisa menyatakan dengan kata-kata, atau... kau malu untuk menyatakan itu...?"

Sungguhpun kata-kata ini diucapkan sambil matanya memandang ke arah air, akan tetapi cukup membuat Pek Giok memerah muka sampai ke telinganya!

"Cukup, kau gila!

Pergilah dan jangan menggangguku, atau...

akan kuberitahukan kepada tukang perahu bahwa kau kurang ajar!"

Pemuda itu bangun dan melompat ke darat sambil tertawa-tawa. Kembali ia memandang ke arah air di bawah tempat duduk gadis itu dan berkata.

"Ikan bermata bintang, selamat tidur. Setelah kenyang, tentu kau akan tidur nyenyak dan kita akan bertemu dalam mimpi!"

Lalu ia melangkah menuju ke tukang perahu yang telah tidur mendengkur di bawah pohon dekat api unggun.

Pek Giok tetap duduk melamun.

Tak disengaja ia memandang ke air yang tadi dipandang oleh Han Bun ketika pemuda itu berkata-kata kepada ikan dan terkejutlah ia ketika melihat bahwa bayang-bayangnya berada di air itu!

Dengan demikian, maka pemuda tadi bicara yang ditujukan ke arah bayangannya!

Kembali ia merasa mukanya panas dan entah mengapa, tanpa disengaja lagi tangannya meraba ke buntalannya dan ia mengeluarkan sebuah cermin kecil untuk bercermin!

Apakah yang mendorongnya untuk bercermin dan memeriksa mukanya?

Entah, ia sendiripun tidak tahu.

Akan tetapi ketika ia melihat wajahnya dalam cermin yang diterangi oleh cahaya bulan, hampir ia menjerit kaget.

Di sudut bibirnya sebelah kiri terdapat sebutir bubur yang tadi dimakannya!

Celaka!

Kalau begitu, pemuda itu tentu telah tahu bahwa tadi ia telah makan habis bubur dan daging itu!

Tak terasa lagi Pek Giok melepaskan cerminnya hingga pecah di atas lantai perahu dan ia tidak perduli, terus menggunakan kedua tangannya menutupi mukanya, seakan-akan pemuda itu telah berada di situ dan memandangnya dengan senyum menggoda!

Sampai lama nona itu berada dalam keadaan seperti itu, kemudian sambil menghela napas berulang-ulang ia menjatuhkan diri di atas tikar yang dipasang di situ, akan tetapi ia tidak dapat tidur.

Cahaya bulan yang menembus celah-celah bilik itu baginya seakan-akan sinar mata pemuda itu yang memandangnya dengan senyum dan yang membuatnya merasa malu sekali.

Sementara itu, pemuda baju putih itupun tidak dapat tidur.

ia merasa amat tertarik kepada Pek Giok dan hal ini menggelisahkan dan membuatnya terheran dan berkhawatir.

Telah banyak ia bertemu dengan gadis-gadis cantik semenjak ia turun gunung, bahkan ketika ia mendapat tugas dari Suhunya dan membuat ia pergi ke Kotaraja, telah banyak ia melihat puteri-puteri Bangsawan yang selain cantik jelita bagai bunga botan, juga amat tinggi ilmu kepandaiannya dalam kesusasteraan dan kerajinan tangan.

Akan tetapi belum pernah hatinya begitu berdebar penuh bahagia seperti kalau ia memandang dan bertemu pandang mata dengan Pek Giok!

ia telah tergila-gila kepada gadis yang namanya saja belum ia ketahui itu.

ia tahu bahwa gadis itu berkepandaian tinggi, keras hati dan gampang marah, akan tetapi sungguh aneh sekali, bahkan sifat-sifat inilah yang amat menarik hatinya, yang membuatnya tiap kali terkenang kepada gadis itu merasa geli dan suka!

(Lanjut ke

Jilid 06) Antara Dendam & Asmara (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 06 Siapakah sesungguhnya pemuda baju putih yang tampan, sabar, lemah-lembut, jenaka dan berkepandaian tinggi ini?

Agar pembaca tidak selalu menduga-duga dan merasa penasaran, baiklah kita mengenal pemuda ini lebih dekat.

Mungkin juga sudah dapat diduga lebih dahulu bahwa pemuda ini sesungguhnya adalah anak kedua dari Song Swi Kai atau Song-Kauwsu yang bermusuh dengan Can Gi Sun atau Can-Kauwsu Ayah Pek Giok!

Sebagaimana pernah dituturkan di bagian depan, Song Swi Kai mempunyai dua orang anak, yang sulung adalah Song Bwee Eng, gadis cantik dan gagah yang kemudian menikah dengan Lee Kim Lun.

Adapun Song Han Bun atau pemuda baju putih itu, adalah putera kedua atau putera bungsu yang usianya lebih muda dua tahun dari Song Bwee Eng.

Semenjak kecil, oleh Ayahnya Han Bun dikirim ke puncak Pegunungan Bu-Tong-San untuk belajar silat.

Song Swi Kai sendiri adalah seorang murid Bu-Tong-Pai yang pandai dan Song-Kauwsu ini lalu mengirim puteranya itu kepada Gurunya sendiri di Bu-Tong-Pai, Yakni yang bernama Kwan Tek Losu, tokoh kedua dari Bu-Tong-Pai.

Kwan Tek Losu tinggal berdua dengan Suhengnya, yakni tokoh pertama dari Bu-Tong-Pai yang jarang sekali keluar dari kamar samadhinya, yakni yang bernama Bun Tek Thaisu, seorang berusia hampir seratus tahun yang berilmu tinggi.

Dengan amat tekun Han Bun mempelajari ilmu silat tinggi di puncak Bu-Tong-San, dilatih sendiri oleh Kwan Tek Losu dan kadang-kadang mendapat petunjuk dari Bun Tek Thaisu.

Karena Han Bun memang berbakat baik dan amat rajin, maka selain Kwan Tek Losu menjadi gembira untuk menurunkan kepandaiannya, juga Bun Tek Thaisu yang di waktu mudanya menjadi seorang terpelajar itu lalu berkenan turun tangan dan mengajar pemuda itu dalam ilmu kebatinan dan kesusasteraan, Sehingga pemuda itu selain menerima pendidikan ilmu silat tinggi, juga menjadi seorang yang pandai dalam ilmu kesusasteraan.

Sepuluh tahun lamanya ia digembleng di puncak Bu-Tong-San sehingga menjadi seorang pemuda berusia lima belas tahun yang amat pandai dan lihai.

Han Bun seringkali berkunjung ke dusun-dusun yang banyak terdapat di lereng Bu-Tong-San dan bergaul dengan penduduk dusun.

Dari mereka yang amat suka kepada pemuda yang lemah-lembut dan jenaka ini ia mempelajari banyak nyanyian-nyanyian karena ia memang suka sekali bernyanyi dan memiliki suara yang cukup merdu.

Pada suatu hari, ketika ia sedang berlatih seorang diri di atas lapangan rumput, memutar-mutar pedangnya dengan cepat sehingga tubuhnya tertutup oleh gundukan sinar pedang, tiba-tiba ia mendengar suara orang berkata.

"Bagus, bagus! Memang ilmu pedang Bu-Tong-Pai bagus dilihat dan pertahanannya amat kuat, akan tetapi sayang sekali kurang daya serang sehingga kalau menghadapi lawan tangguh, akan mengecewakan!"

Tentu saja Han Bun terkejut sekali mendengar ini, karena biasanya, biarpun ia sedang berlatih silat, apabila ada orang lain yang datang mendekatinya, tentu ia akan mengetahuinya.

Anehnya orang yang bicara ini tidak ia ketahui kedatangannya dan tahu-tahu sudah berada di situ, dan dari ucapannya tadi menyatakan bahwa orang itu sedikitnya mencela permainan ilmu pedangnya!

Ia cepat menghentikan permainannya dan menengok.

ia melihat seorang Tosu (Pendeta To) berdiri di belakangnya.

Pendeta itu usianya sepantar dengan Suhunya, kira-kira enam puluh tahun, bertubuh tinggi kurus dan jenggotnya panjang.

Pakaian Pendeta itu kuning bertambal-tambal putih di sana sini, di punggungnya nampak gagang pedang dan di pinggangnya tergantung sebuah Ciu-Ouw (tempat arak).

Pendeta itu berdiri dan tersenyum memandangnya.

Han Bun adalah seorang pemuda yang sabar dan sopan-santun, apalagi ia telah menerima banyak pendidikan batin dan tata susila dari Bun Tek Thaisu, maka ia maklum bahwa yang berhadapan dengan dia adalah seorang Pertapa yang sakti.

ia cepat menjura memberi hormat dan berkata.

"Maaf, Totiang, Teecu tidak melihat kedatangan Totiang sehingga masih enak-enak saja bermain pedang yang amat buruk dan salah. Teecu adalah Song Han Bun, murid dari Kwan Tek Losu. Bolehkah kiranya Teecu bertanya siapa Totiang yang pandai ini?"

Tosu itu agaknya tertegun melihat kesopanan pemuda itu, kemudian ia tertawa bergelak.

"Ha, ha, ha! Kwan Tek Losu Gurumu itu benar-benar beruntung dan dapat memilih murid yang tepat! Kau ternyata tidak mewarisi adatnya yang kaku, ataukah... barangkali Bun Tek Thaisu yang terhormat membimbingmu sendiri?"

"Sesungguhnya, Totiang Supek Bun Tek Thaisu berkenan mengajar Teecu pula."

"Bagus, bagus! Seperti kukatakan tadi, ilmu pedang hanya kuat dalam bertahan, akan tetapi kurang daya serang. Aku akan merasa puas kalau dapat menurunkan ilmu pedangku kepada seorang muda seperti kau!"

"Banyak terima kasih atas kemuliaan hati Totiang, akan tetapi, Teecu belum tahu siapakah Totiang ini dan sebelum Teecu menerima petunjuk dari Totiang, sudah sewajarnya kalau Teecu mendapat perkenan dari Suhu dan Supek lebih dulu."

"Anak bodoh,"

Tiba-tiba terdengar suara orang.

"Kau berhadapan dengan Cin Po Yang Cu, dewa pedang yang berjuluk It-Ci-Sian (Dewa Jari Satu), dan kau tidak lekas-lekas berlutut menghaturkan terima kasih?"

Tosu itu tertawa bergelak sambil memandang kepada Kwan Tek Losu yang tiba-tiba muncul keluar dari belakang pohon, sedangkan Han Bun amat terkejut mendengar nama Cin Po Yang Cu yang sudah seringkali disebut-sebut oleh Suhu dan Supeknya itu.

Mendengar suara Gurunya tadi, ia segera menjatuhkan diri berlutut di depan Tosu sakti itu.

"Kwan Tek Losu, benar-benarkah kau rela menyerahkan muridmu ini kepadaku? Sungguh hebat perubahan yang terjadi kepadamu. Agaknya hawa sejuk di pegunungan ini telah berhasil melembutkan hatimu yang dulu amat kaku itu!"

Kata Cin Po Yang Cu kepada Guru Han Bun yang juga tersenyum.

"Cin Po Yang Cu, manusia menjadi makin tua tidak percuma. Rambut yang hitam Iambat-laun menjadi putih, masa hati akhirnya takkan dapat menundukkan nafsu dan menjadi lemah pula? Muridku Han Bun memang sudah tamat belajar di sini dan aku tak mempunyai kepandaian apa-apa lagi untuk diberikan kepadanya. Kalau kau orang-tua sudi membimbingnya dan membawanya ke dunia ramai, aku dan Suheng tentu saja percaya sepenuhnya kepadamu."

Demikianlah, semenjak hari itu, Han Bun turun gunung dan ikut Suhunya yang baru ini.

Sambil membawa muridnya merantau sampai ke Kotaraja dan kemudian kembali ke daerah barat, Cin Po Yang Cu melatih ilmu pedang Thian-Hong Kiam-Sut kepada muridnya ini dan memang Thian-Hong Kiam-Sut adalah ilmu pedang yang lihai dan luar biasa sekali.

Sebaliknya daripada Bu-Tong Kiam-Hwat yang lebih mementingkan pertahanan daripada serangan, ilmu pedang Thian-Hong Kiam-Sut ini memusatkan gerakannya pada serangan sehingga merupakan ilmu pedang yang amat ganas.

Tiga tahun lamanya Cin Po Yang Cu melatih Han Bun sehingga pemuda itu mendapatkan kemajuan yang amat pesat dan dapat menguasai Thian-Hong Kiam-Sut seluruhnya.

Juga di dalam perantauan mereka inilah, Cin Po Yang Cu dapat mencium rahasia tentang Pangeran Liang Tek Ong yang mengandung maksud berkhianat dan memberontak terhadap Kerajaan.

Cin Po Yang Cu sendiri tidak suka mencampuri urusan Kerajaan ini, akan tetapi betapapun juga, hatinya tak mengijinkan Pangeran itu memberontak dan menjual Negara kepada Bangsa asing.

Maka ia lalu memanggil muridnya dan berkata.

"Han Bun, aku sudah tua dan hendak kembali ke tempat Pertapaanku di Bukit Thangla. Akan tetapi kau yang masih muda dan sudah menjadi kewajibanmu sebagai seorang gagah untuk membela kepentingan Negara, kau harus mewakili aku untuk menyelidiki keadaan Pangeran Liang Tek Ong itu. Pangeran Liang itu hendak mengadakan perjalanan ke barat, dan aku merasa pasti bahwa di samping tugas memeriksa para pembesar di daerah barat, tentu ia mempunyai maksud lain yang belum dapat kukatakan. Oleh karena itu, kau ikutilah perjalanannya dan selidiki keadaannya baik-Baik, akan tetapi ingat, jangan kau mengganggunya, karena Pangeran itu mempunyai banyak sekali pengikut dan kaki tangan. Kewajibanmu hanya menjaga jangan sampai Pangeran itu berhasil mengadakan persekutuan rahasia dengan orang-orang Mongol, dan juga jangan sampai terjadi perpecahan dan perang saudara di Kotaraja yang akibatnya hanya akan membuat rakyat menderita saja."

Demikianlah, Guru dan murid ini lalu berpisah.

Cin Po Yang Cu kembali ke Pegunungan Thangla, sedangkan mulai saat itu, Han Bun lalu mengikuti perjalanan Pangeran Liang Tek Ong dan mengadakan penyelidikan dan pengintaian tanpa diketahui oleh Pangeran Liang atau para perwira yang mengawalnya.

Akhirnya ia mengetahui bahwa Pangeran itu memang betul telah mengadakan persekutuan dengan Bangsa Mongol, bahkan kini hendak mengadakan pertemuan dengan para utusan Mongol di Telaga Koko Nor.

ia mendapat tahu pula bahwa Pangeran itu menyimpan surat-surat pernyataan bersekutu dan perjanjian dengan Raja Mongol, maka ia mengambil keputusan untuk merampas peti kecil berisi surat-surat penting itu dan untuk mempergunakan peti rahasia itu guna mencegah pengkhianatan Pangeran Liang Tek Ong.

Dan di dalam perjalanannya inilah ia bertemu dengan Pek Giok yang melanjutkan usaha mendiang Tan Koan patriot tua yang gagah dan yang tewas karena keroyokan para perwira pengawal itu.

Dan demikianlah riwayat singkat dari pemuda baju putih Song Han Bun yang secara aneh telah menarik hati Pek Giok dan membuat dara perkasa itu tak dapat tidur!

Pada keesokan harinya, ketika bertemu dengan Han Bun, Pek Giok tidak berani memandang muka pemuda itu dan tiap kali ia mencoba mengerling dari sudut matanya dan bertemu pandang sekejap dengan pemuda itu, tak terasa lagi seluruh wajahnya menjadi merah.

ia merasa khawatir kalau-kalau pemuda itu akan terus menggodanya tentang makanan malam tadi, akan tetapi ternyata Han Bun adalah seorang pemuda yang pandai melihat keadaan.

Kalau sekiranya gadis itu belum sadar bahwa ia mengerti tentang kenyataan bahwa gadis itu telah makan masakannya, tentu ia akan menggoda terus.

Akan tetapi, pagi hari itu ketika ia masuk ke dalam perahu, ia melihat pecahan cermin di lantai perahu, maka ia dapat menduga bahwa gadis itu tentu telah pula melihat sisa makanan yang berada di sudut bibirnya!

Dan oleh karena ini, Han Bun menutup mulut sama sekali tidak mau menyebut lagi tentang makanan.

Perahu didayung lagi dan pagi-pagi benar tukang perahu telah berangkat melanjutkan pelayaran menuju ke Lancouw.

Ketika perahu tiba di perbatasan Propinsi Kansu dan Cinghai, hari telah menjelang siang.

Tiba-tiba, pada sebuah tikungan dalam hutan, ketika perahu kecil itu memasuki hutan, di depan terlihat sebuah perahu kecil lain yang ditumpangi oleh seorang laki-laki tinggi besar.

Tukang perahu itu menjadi pucat dan berbisik.

"Kita telah memasuki daerah Kansu, jangan-jangan yang di depan itu adalah anggota bajak sungai!"

Pek Giok teringat bahwa tukang perahu itu pernah menceritakannya sebelum mereka berangkat kemarin, bahwa di perbatasan ini kabarnya seringkali muncul bajak sungai, maka ia lalu memandang penuh perhatian.

"Jangan takut, teruskan perahumu. Kalau ia berani mengganggu, serahkan saja kepadaku!"

Baru saja ucapan ini keluar dari mulutnya, terdengar orang di atas perahu itu bersuit keras dan tahu-tahu dari balik alang-alang yang banyak tumbuh di tepi sungai, keluar meluncur enam buah perahu, masing-masing ditumpangi oleh tiga orang!

Menggigillah tubuh tukang perahu melihat ini.

"Lopek, dayung perahumu ke darat!"

Tiba-tiba Han Bun berkata.

"Apakah kau takut?"

Pek Giok tersenyum mengejek, akan tetapi pemuda itu berkata dengan sungguh-sungguh.

"Kau tidak tahu akan kelihaian bajak sungai. Kalau mereka menggunakan siasat menggulingkan perahu, apakah kau dapat melawan mereka?"

Terkejutlah hati Pek Giok mendengar ini.

Memang tadi ia tidak memikir sejauh itu dan ia membayangkan bahwa kalau memang bajak sungai itu menggulingkan perahunya, ia takkan berdaya sama sekali.

Maka iapun lalu memberi perintah kepada tukang perahu.

"Benar, Lopek. Lekas dayung perahu ke pinggir!"

Tukang perahu yang sudah amat ketakutan itu lalu mendayung perahu secepatnya ke pinggir.

Pada saat itu, dari perahu bajak meluncur sebatang anak panah yang menuju ke tubuh tukang perahu itu!

Akan tetapi sebelum anak panah itu mengenai tukang perahu dan sebelum Pek Giok menangkis senjata itu, tiba-tiba meluncur sehelai tali jala yang menyampok anak panah itu.

Ternyata bahwa Han Bun dengan kecepatan luar biasa telah menggunakan tali jala yang berada di dalam perahu, dipergunakan sebagai cambuk dan memukul anak panah itu!

Diam-diam Pek Giok menjadi kagum melihat ketangkasan dan tenaga lweekang ini, akan tetapi tukang perahu yang amat ketakutan itu sama sekali tidak tahu bahwa nyawanya tadi telah berada di ujung rambut.

Tidak tahu bahwa anak panah datang menyambar dan tidak tahu pula bahwa pemuda yang dianggapnya lemah itu telah menolong nyawanya dari bahaya maut!

Sementara itu, para bajak sungai yang melihat betapa calon korban mereka lari ke pantai, sambil bersorak-sorak dan tertawa-tawa karena melihat bahwa perahu itu membawa seorang gadis muda yang cantik, segera mendayung perahu mereka mengejar, bahkan karena mereka dapat mendayung lebih cepat, telah mendahului perahu Pek Giok dan telah mendarat lebih dulu sebelum perahu itu sampai di tepi sungai!

Tentu saja tukang perahu menjadi makin ketakutan, akan tetapi dengan tenang dan tabah Pek Giok mendesaknya agar supaya perahu cepat dipinggirkan.

Ketika tukang perahu itu memandang kepada Han Bun, ia melihat dengan heran betapa pemuda itu tetap tersenyum-senyum dan kelihatannya "Ayem-ayem"

Saja! Setelah perahu tiba di tepi, Pek Giok berkata kepada tukang perahu.

"Lopek, jagalah barang-barangku, terutama peti kecil itu, jangan sampai diganggu orang!"

Kemudian ia melompat ke darat tanpa membawa pedangnya.

Bagaimanapun juga, dalam menghadapi golongan perampok atau bajak, Pek Giok selalu masih teringat akan Ayahnya.

yang juga seorang kepala rampok, maka ia belum tega untuk berlaku keras.

Melihat gadis muda yang cantik itu melompat seorang diri ke darat dengan gagahnya, sedangkan dua orang yang berada di dalam perahu tidak ikut mendarat, para bajak menjadi heran dan kepala bajak lalu menyambut gadis itu.

Kepala bajak ini berusia kurang lebih empat puluh tahun, bertubuh tegap bermuka kuning dan memegang sepasang senjata yang bentuknya seperti tongkat akan tetapi ujungnya bengkok dan runcing.

"Apakah kau kepala bajak di sungai ini?"

Tanya Pek Giok mendahului kepala bajak itu dengan suaranya yang nyaring.

"Benar, nona. Kau gagah dan berani sekali, benar-benar jarang terdapat seorang gadis seperti kau! Karenanya, kami takkan mengganggumu, dan kau boleh melanjutkan perjalanan asalkan kau meninggalkan semua barang-barangmu. Akan tetapi dua orang laki-laki itu, mereka lebih baik kami bunuh, karena tidak ada harganya untuk hidup! Mereka membiarkan nona seorang diri menyambut kami, sungguh memalukan!"

Pek Giok tersenyum dan ia merasa suka melihat kejujuran bajak ini yang ternyata tidak begitu jahat seperti yang disangkanya semula.

"Sahabat baik, jangan kau bicara sembarangan. Kawan-kawanku di perahu itu tidak mendarat bukan karena takut kepada kalian, akan tetapi karena mereka menganggap bahwa aku seorangpun sudah cukup untuk membereskan persoalan dan gangguan ini. Kalau kau menurut nasihatku, janganlah kau mengganggu orang-orang perantau seperti kami, karena selain kami tidak mempunyai banyak barang berharga, juga hal ini hanya akan merugikan kalian saja!"

Kepala bajak itu merasa penasaran dan itu, mendengar kesombongan gadis...

dan biarpun ia dapat menduga bahwa gadis ini tentu memiliki sedikit ilmu silat, akan tetapi tidak seharusnya bicara sesombong itu.

"Hm, agaknya kau pernah mempelajari beberapa ilmu pukulan! Akan tetapi, kau seorang diri saja mana bisa mampu untuk menghadapi kami? Nona, lebih baik kau kembali ke perahumu dan suruhlah dua orang itu menerima kematiannya di ujung senjataku!"

Kini Pek Giok tak dapat menahan sabar lagi.

"Kau kira kau ini siapakah? Apakah artinya senjata seperti yang kau pegang itu? Mungkin berguna untuk menangkap ikan di sungai, akan tetapi untuk bertempur... hm, kukira sedikitpun tiada gunanya!"

Merahlah kedua mata kepala bajak itu. Gadis ini telah berlebih-lebihan dan perlu dihajar, pikirnya.

"Tangkap bocah perempuan bermulut lancang ini!"

Serunya dan anak buahnya segera menubruk maju dengan kedua tangan terpentang, karena mereka berebut hendak menangkap dara jelita itu.

Akan tetapi, segera terdengar pekik kesakitan dan keheranan karena begitu Pek Giok menggerakkan kaki tangannya, enam orang bajak terpental jauh bagaikan rumput kering terhembus angin!

Kepala bajak itu memandang dengan mata terbelalak.

ia heran dan marah sekali.

"Ah, tidak tahunya kau memiliki sedikit kepandaian! Awas senjataku!"

Teriaknya sambil menyerang dengan pukulan berbareng dari kanan kiri ke arah kepala Pek Giok.

"Pergilah kau menangkap ikan!"

Seru Pek Giok dan secepat kilat tubuhnya melejit ke kiri dan sebelum kepala bajak itu dapat mencari di mana menghilangnya lawan di depannya, tiba-tiba ia merasa tubuhnya menjadi lemas dan lambungnya sakit.

Ternyata Pek Giok telah berhasil menggunakan jari tangan untuk mengirim totokan yang membuat tubuh kepala bajak itu menjadi lemas dan cepat pula tendangan kakinya menyusul sehingga bajak itu terlempar ke dalam sungai!

Kini terbukalah mata semua anggota bajak dan mereka tidak berani maju lagi, hanya cepat menolong kepala bajak yang terlempar ke dalam sungai itu.

"Biarlah kali ini aku memberi ampun kepada kalian!"

Kata Pek Giok.

"Dan lain kali janganlah sembarangan merampok dan menghina orang!"

Setelah berkata demikian, Pek Giok lalu melompat ke perahu kembali di mana tukang perahu menyambutnya dengan muka berseri dan mata penuh kekaguman.

"Kau hebat, Lihiap, kau hebat!"

Berkali-kali ia memuji sambil mengacung-acungkan Ibu jarinya, akan tetapi Pek Giok dengan wajah muram berkata.

"Lekas jalankan perahu!"

Semenjak itu, Han Bun yang semenjak tadi memandang pertempuran itu sambil tersenyum, berkata perlahan.

"Ikan mas bermata bintang masih merasa kasihan terhadap segala cacing sungai, sungguh mengagumkan!"

Pek Giok tidak menjawab, hanya duduk diam pura-pura membetulkan rambutnya yang terurai karena pertempuran tadi. Tukang perahu merasa heran mendengar ucapan Han Bun, maka ia bertanya.

"Kongcu, kau tadi berkata apakah? Ikan mas bermata bintang? Ah, Kongcu, coba saja lihat Lihiap ini! Seorang diri meninggalkan pedang menghadapi bajak-bajak laut yang liar itu dengan tangan kosong! Hebat sekali! Kalau tidak ada dia, kau dan aku mungkin telah menjadi makanan ikan di sungai! Bajak-bajak dan perampok-perampok memang amat liar, bukan merupakan manusia lagi dan..."

"Diam""

Tiba-tiba Pek Giok membentak. Tukang perahu cepat berpaling dan alangkah heran dan terkejut hatinya melihat gadis itu memandangnya dengan mata marah.

"Lihiap... mengapa... apa salahku...?"

"Diam!"

Kembali Pek Giok membentak.

"Dan jangan bicarakan lagi tentang bajak dan perampok!"

Tukang perahu itu kaget dan terdiam, bahkan Han Bun sendiri lalu termenung karena sikap gadis ini benar-benar tak pernah disangkanya.

Mengapa ia begitu lunak terhadap bajak-bajak jahat?

Dan mengapa pula wajahnya yang biasanya berseri riang itu menjadi muram, dan kini, mengapa pula ia marah-marah ketika tukang perahu menyebut-nyebut tentang bajak dan perampok?

Memang Pek Giok sedang merasa tak senang hati.

Entah mengapa, baru sekarang ia merasa tidak senang dengan kenyataan bahwa ia adalah seorang anak kepala rampok!

Diam-diam ia berpikir, alangkah akan malunya kalau pemuda itu mengetahui bahwa Ayahnya adalah seorang kepala rampok.

Karena itu, ketika tukang perahu memaki-maki bajak dan perampok, ia menjadi marah.

Matahari telah mulai turun ke barat ketika perahu mereka tiba di kota Lancouw.

Ketika tukang perahu minggirkan perahunya di tempat pemberhentian perahu yang pada waktu itu telah sunyi, Pek Giok dan Han Bun terkejut.

Ternyata di tepi sungai itu telah menanti belasan orang dan diantara mereka terdapat dua orang perwira Mongol yang mereka jumpai di dalam benteng di kota Sining dulu!

"Nona, bersiaplah!"

Kata Han Bun perlahan dan sepasang mata pemuda ini mengeluarkan cahaya yang berpengaruh dan tajam, beda sekali dengan biasanya.

Wajahnya yang selalu berseri itu kini menjadi tegang dan bersungguh-sungguh, amat gagah dalam pandangan Pek Giok.

Gadis inipun lalu mengikatkan buntalan pakaiannya ke punggung dan melihat gadis itu membawa peti kecil yang diperebutkan, Han Bun berkata.

"Kurang leluasa membawa peti itu sambil menghadapi lawan tangguh, biarlah untuk sementara aku yang membawa benda itu."

Sambil berkata demikian ia mengulurkan kedua tangan kepada Pek Giok. Aneh sekali, gadis itu memberikan peti dengan penuh kepercayaan, akan tetapi mulutnya berkata perlahan.

"Ingat, hanya untuk sementara waktu saja, kelak harus dikembalikan kepadaku."

Han Bun menjawab.

"Hal itu kita bicarakan kemudian."

Kemudian pemuda ini berpaling kepada tukang perahu.

"Lopek, aku dan nona ini sedang menghadapi musuh. Kau lihat perwira di pinggir sungai itu? Nah, lebih Baik kau segera memutar perahumu dan meninggalkan tempat ini secepatnya agar kau jangan terbawa-bawa dalam persoalan ini."

Setelah berkata demikian ia mendahului Pek Giok melompat ke atas darat yang masih terpisah kurang lebih tiga tombak dari perahu.

Pek Giok juga lalu melompat dengan ringan sekali, sedangkan tukang perahu yang ketakutan itu segera memutar kembali perahunya dan pergi mendayung perahu meninggalkan tempat berbahaya itu.

Rombongan yang menanti di pinggir sungai itu memang benar adalah rombongan para perwira yang diperintah oleh Liang Tek Ong untuk mengejar dan merampas kembali peti hitam yang terampas oleh Han Bun dan Pek Giok.

Para perwira ini dapat mengetahui bahwa kedua orang muda itu melarikan diri dengan mengambil jalan sungai, maka diam-diam mereka mengawasi dan membuat persiapan untuk menghadang mereka apabila perahu mereka meendarat.

Rombongan itu terdiri dari sepuluh orang perwira pilihan yang berkepandaian tinggi, ditambah pula dengan dua orang perwira Mongol yang kini datang bersama Susiok (Paman Guru) mereka, yakni seorang Pendeta Mongol berjubah merah dan berkepala gundul.

Pendeta ini berkepandaian tinggi, berasal dari kota Hu-Hehot di Mongol dan namanya Ulan Bauw.

"Sing-Gan Kim-Hi, (Ikan Emas Bermata Bintang),"

Kata Han Bun kepada Pek Giok ketika mereka telah berhadapan dengan para perwira itu.

"Kita mendapat penghormatan besar sekali. Lihat! Pangeran Liang Tek Ong telah mengirim perwira-perwiranya untuk menyambut kedatangan kita!"

Pek Giok merasa gemas dan juga geli sebutan Han Bun kepadanya Karena belum mengetahui namanya, pemuda itu memberi nama Ikan Emas Bermata Bintang kepadanya.

Alangkah jenakanya pemuda ini, akan tetapi mendengar nama itu, tak terasa lagi ia teringat akan peristiwa masakan yang ia makan di atas perahu sehingga mukanya menjadi merah dan ia mengerling ke arah pemuda itu depgan gemas, akan tetapi ia menjawab juga.

"Mereka menyambut dengan mulut tersenyum akan tetapi tangan meraba gagang pedang. Alangkah palsunya!"

Dua orang Mongol yang bertempur dengan mereka di dalam benteng lalu melangkah maju dan sambil tersenyum menjura dan berkatalah seorang diantaranya.

"Jiwi Enghiong (kedua orang gagah), kami sebagai wakil dari Negara Mongol, dan juga sebagai tamu-tamu terhormat dari Pangeran Liang Tek Ong, mengharap dengan hormat sukalah kiranya jiwi jangan mempermainkan kami. Ketahuilah, bahwa peti hitam yang jiwi ambil itu berisi surat-surat pribadi dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan orang lain, terutama kepada jiwi. Mengapa jiwi mengganggu kami dan mengambil peti itu? Kami masih memandang hubungan antara orang-orang gagah sedunia, maka kalau jiwi sudi mengembalikan peti itu, kami akan menganggap perkara ini habis sampai di sini saja. Akan tetapi kalau jiwi berkeras, terpaksa kami juga melakukan kekerasan pula."

Ucapan ini biarpun dikeluarkan dengan suara kaku, akan tetapi cukup halus, tanda bahwa perwira Mongol itu telah mempelajari bahasa Han dengan baik, dan biarpun ucapan itu terdengar seakan-akan merendah, namun jelas mengandung ancaman hebat.

Han Bun yang telah membungkus peti itu dengan saputangan dan kini telah mengikat benda itu di atas punggungnya, tersenyum ketika menjawab.

"Kalian ini orang-orang Mongol mempunyai keperluan apakah di negeri kami? Lebih baik kalian pulang ke negerimu sendiri dan jangan bikin rIbut di negeri orang lain. Jangan kira kami tidak tahu bahwa Rajamu mempunyai niat buruk atas Negara kami! Kalian adalah perwira-perwira, tentu saja cukup mengerti bahwa orang-orang gagah takkan membiarkan saja Negaranya hendak dijajah oleh Bangsa lain!"

Kedua orang perwira Mongol itu lalu bicara dalam bahasa mereka sendiri kepada Ulan Bauw.

Tiba-tiba Pendeta ini tertawa bergelak dan menjawab pula dalam bahasa Mongol.

Seorang diantara perwira Mongol yang pandai berbahasa Han lalu berkata kepada Han Bun.

"Pendeta ini adalah Susiok kami yang bernama Ulan Bauw. Untuk negeri kami, beliau adalah seorang yang terpandang dan terhormat sekali. Tadi Susiok kami menyatakan bahwa beliau mengharapkan pula kebijaksanaanmu untuk mengembalikan peti itu, karena Susiok kami paling tidak suka mengadu kepandaian dengan segolongan orang gagah dari Bangsa apapun juga. Jiwi berdua bukan perwira Kerajaan dan tidak ada hubungannya pula dengan urusan ini, oleh karenanya, tidak semestinya kalau jiwi hendak berkukuh dan mengganggu kami dan Pangeran Liang Tek Ong!"

Seorang perwira Kerajaan yang mengawal Pangeran Liang Tek Ong melangkah maju dan ikut bicara kepada Han Bun.

"Sahabat yang gagah, aku mendapat pesan dari Liang-Taijin bahwa apabila kau suka mengembalikan peti itu, Liang-Taijin akan membalas jasamu dengan serIbu tail perak."

Pek Giok yang semenjak tadi mendengarkan percakapan itu, tidak sesabar, Han Bun.

ia memandang kepada perwira itu dengan muka merah dan ketika perwira pengawal itu selesai bicara, ia melangkah maju dan membentak.

"Cih...! Pengkhianat, penjual Negara! Kau harus rnampus!"

Gadis itu lalu memukul dengan tangan kanannya, dibarengi dengan pengerahan tenaga khikangnya yang hebat.

Perwira itu terkejut dan ia cepat melompat ke belakang, akan tetapi biarpun pukulan Pek Giok tidak mengenai sasaran, namun angin pukulannya masih menyerang hebat dan tubuh perwira itu terlempar sampai dua tombak ke belakang!

Baiknya iapun bukan seorang lemah dan angin pukulan yang dahsyat itu tidak rnelukainya hingga ia dapat merangkak bangun dengan muka pucat.

Pendeta Mongol itu mengeluarkan seruan marah dalam bahasa Mongol dan tiba-tiba tangannya meraba ke punggungnya dan ketika tangan itu ditarik, ternyata ia telah memegang sehelai rantai baja warna hitam yang panjang.

ia pegang rantai itu di tengah-tengah sehingga senjata itu merupakan sepasang senjata di kedua tangan yang panjang dan lemas.

Han Bun maklum bahwa perdamaian tak mungkin diadakan dengan orang-orang ini, maka iapun lalu mencabut keluar pedangnya dari balik baju.

Pek Giok sudah tadi-tadi mencabut keluar Cheng-Liong-Kiam dan telah bersiap sedia.

"Serbu!"

Tiba-tiba perwira pengawal yang terpukul tadi berseru keras dan menyerbulah kawan-kawannya bagaikan segerombolan serigala yang kelaparan.

Han Bun maklum akan kelihaian Pendeta Mongol itu, maka ia lalu menyambut serbuan senjata rantai itu.

Benar dugaannya, Pendeta Mongol itu lihai sekali dan sambaran sepasang rantainya itu mengandung tenaga yang bukan main besarnya.

Lebih-lebih karena kedua perwira Mongol yang bersenjata cambuk panjang itu lalu membantu Susiok mereka karena merekapun sudah kenal akan kelihaian pemuda baju putih itu.

Han Bun terpaksa mengerahkan seluruh tenaganya dan mainkan ilmu pedang Thian-Hong Kiam-Sut dengan hebatnya untuk menyerang sedangkan apabila ketiga orang lawannya mendesak, Ia lalu mainkan ilmu pedang Bu-Tong-Pai untuk menjaga diri.

Di waktu menyerang dengan Thian-Bong Kiam-Sut, pedang pemuda itu menyambar-nyambar laksana petir di hari hujan, sedangkan kalau ia mainkan ilmu pedang Bu-Tong-Pai, maka pedangnya berputar-putar merupakan benteng baja yang amat kuatnya sehingga jangan kata senjata tajam, bahkan rIbuan anak panahpun sukar untuk menembus pertahanan dan mengenai tubuhnya!

Sementara itu, Pek Giok mengamuk bagaikan seekor naga betina.

Pedangnya benar-benar lihai dan ia mainkan Cheng-Liong Kiam-hoat dengan hebatnya sehingga sepuluh orang perwira pengawal yang menghadapinya merasa gentar!

Akan tetapi, karena mereka itu berjumlah banyak dan kepandaian mereka rata-rata juga tinggi, maka tentu saja Pek Giok menghadapi perlawanan yang sengit.

Senjata-senjata para perwira itu datang bagaikan hujan yang kesemuanya selalu dapat ditangkisnya dengan baik.

Akan tetapi, karena selalu harus menjaga diri, data pendekar itu tidak mendapat kesempatan banyak untuk mendesak seorang dua orang lawan.

Akhirnya gadis itu menjadi marah dan penasaran.

ia berseru keras dan pedangnya berkelebat merupakan gundukan sinar kehijauan dan menjeritlah seorang pengeroyok dan tubuhnya terguling roboh mandi darah karena pundaknya hampir terbabat putus oleh pedang Cheng-Liong-Kiam!

Namun, selain perasaan terkejut, dan jerih yang dirasai oleh sembilan orang perwira lain ketika melihat seorang kawan mereka roboh itu, juga mereka menjadi hati-hati sekali dan apabila gadis itu melakukan serangan, mereka lalu maju menangkis bersama, saling menjaga sehingga kedudukan mereka kuat sekali.

Akan tetapi, oleh karena itu, daya serang mereka banyak berkurang sehingga Pek Giok tak perlu terlalu bersusah payah menjaga diri.

Demikianlah, pertempuran itu berjalan dengan seru dan sengit.

Kalau dilihat dari jauh, pedang Han Bun berubah menjadi segunduk sinar putih yang menghadapi keroyokan ketiga jago Mongol itu sedangkan pedang di tangan Pek Giok merupakan seekor naga hijau yang berbelit-belit dan menyambar-nyambar.

Akan tetapi kedua pendekar muda ini diam-diam maklum bahwa pertempuran akan berlangsung lama karena sungguhpun mereka tidak terdesak, akan tetapi juga amat sukar bagi mereka untuk menjatuhkan pengeroyok mereka yang terdiri dari orang-orang gagah dan jagoan-jagoan pilihan.

Bagi Pek Giok yang keras hati dan luar biasa tabahnya itu, tidak ada pikiran lain kecuali bertempur terus sampai berhasil merobohkan semua lawannya.

la rela mengorbankan nyawa dalam setiap pertempuran untuk mencapai kemenangan!

Akan tetapi Han Bun adalah seorang pemuda yang berpemandangan jauh dan lebih suka mempergunakan pertimbangan dan kecerdikan.

ia maklum bahwa ia sendiripun sukar merobohkan tiga orang lawannya yang amat tangguh, apalagi Ulan Bauw, Pendeta Mongol yang benar-benar sakti dan yang memiliki kepandaian tinggi itu.

ia tidak mempunyai permusuhan langsung dengan orang-orang Mongol ataupun perwira-perwira itu, maka apa gunanya bertempur mati-matian?

Usahanya hanya berdasarkan merampas surat-surat penting itu untuk dipergunakan sebagai kendali dan mengekang kehendak Pangeran Liang Tek Ong yang akan berkhianat.

Sekarang peti kecil itu telah berada di tangannya, untuk apa mengadu nyawa di tempat itu?

"Sing-Gan Kim-Hi!

Mari kita tinggalkan tempat ini!"

Ajaknya kepada Pek Giok.

"Tidak!"

Jawab dara itu sambil putar-putar pedangnya.

"Kalau kau merasa takut, pergilah sendiri!"

Han Bun mendongkol juga. Gadis ini benar-benar berkepala batu, pikirnya. ia mendapat akal, lalu berkata lagi.

"Baik, aku akan pergi membawa peti ini!"

Setelah berkata demikian, ia mengirim serangan hebat kepada Ulan Bauw sehingga Pendeta Mongol itu merasa terkejut dan melompat ke belakang.

Kesempatan ini dipergunakan oleh Han Bun untuk mempergunakan ginkangnya dan melompat jauh, lalu berlari cepat!

Benar sebagaimana dugaan pemuda itu, ketika Pek Giok mendengar ucapannya yang terakhir itu, Pek Giok teringat akan peti kecil yang dititipkan kepada Han Bun, maka ia berseru keras.

"Maling! Kau hendak berlaku curang?"

Lalu iapun melompat jauh dan mengejar Han Bun yang sudah berlari cepat merupakan bayangan putih yang berkelebat bagaikan terbang! "Kejar!"

Perwira-perwira itu berseru, akan tetapi hal inipun sudah masuk dalam perhitungan Han Bun.

Baca Juga: Pedang Penakluk Iblis 1

Baca Juga: Pendekar Pedang Pelangi 2

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert