Eps 1 Antara Dendam Dan Asmara - Kho Ping Hoo
Baca online Antara Dendam Dan Asmara - Kho Ping Hoo
Cersil Antara Dendam Dan Asmara - Kho Ping Hoo.
Antara Dendam & Asmara (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 01
"Song-Kauwsu (Guru Silat Song) pasti menang!"
"Siapa bilang? Can-Kauwsu tak mungkin kalah. Dia mempunyai tenaga melebihi gajah! Pernah kusaksikan dengan mataku sendiri ketika ia berdemonstrasi dan dengan sekali pukul saja kepalan tangannya dapat menerobos dinding bata tebal! Can-Kauwsu pasti menang!"
"Song-Kauwsu lebih hebat! Aku juga pernah menyaksikan sendiri betapa dengan tangan dimiringkan ia dapat menumbangkan sebatang pohon yang besar! Dia pasti menang!"
"Tidak bisa, Can-Kauwsu lebih gagah!"
"Salah! Song-Kauwsu yang lebih gagah!"
"Hayo kita bertaruh!"
"Boleh, siapa takut bertaruh? Aku merasa pasti bahwa Song-Kauwsu yang akan menang."
"Kita bertaruh lima puluh tail perak!"
"Aku tidak punya uang sebanyak itu."
"Pertaruhkan sawahmu dengan uang lima puluh tail. Atau, kau ragu-ragu dan takut kalah?"
Diam sejenak.
"Bagaimana, berani tidak? Kalau ragu-ragu, tariklah kembali omonganmu tadi dan katakan bahwa Can-Kauwsu yang akan menang!"
Diam lagi sejenak.
"Jadilah! Aku pertaruhkan sawahku untuk lima puluh tail perak! Kalau Song-Kauwsu yang menang, kau memberi lima puluh tail perak kepadaku. Tak boleh di hutang, harus tunai!"
"Tentu saja, siapa mau menipumu? Akan tetapi kalau Can-Kauwsu yang menang, sawahmu menjadi hak milikku, tak boleh diganggu-gugat!"
"Baik."
Demikianlah terdengar percakapan di bawah panggung Lui-Tai, yakni panggung tempat mengadu kepandaian silat yang dibangun didepan Kuil Ban-Hok-Si (Kuil Selaksa Rezeki).
Tidak hanya dua orang itu saja yang mempercakapkan pertempuran antara Guru silat Can dan Guru silat Song, bahkan mempertaruhkan uang dan sawah mereka, sumber nafkah satu-satunya, akan tetapi masih banyak lagi orang bicara dan bertaruh, seakan-akan mereka semua itu sedang mengelilingi tempat adu ayam.
Memang, semenjak zaman purba, manusia telah mengenal permainan mengadu untung ini, mempertaruhkan uang, harta benda, barang-barang yang dicintanya, ya...
bahkan bukan omong kosong belaka cerita-cerita yang terdengar tentang orang mempertaruhkan...
anak bininya!
Bertaruh adalah sebuah kesenangan, sebuah permainan yang menegangkan urat saraf, mendebarkan jantung, mempermainkan perasaan sendiri, bahkan mempermainkan kekuasaan dan berkah TUHAN Yang Maha Tunggal!
Bertaruh bukan mengadu keahlian atau kepandaian, akan tetapi mengadu untung, mengadu nasib.
Dan karena nasib dianggap oleh manusia berada di tangan TUHAN, maka dalam bertaruh orang memanjatkan doa kepada TUHAN agar dapat menang!
Yang menang mengucap syukur dan memuji kemurahan dan keadilan TUHAN, yang kalah menyumpah-nyumpahi nasib dan tergoncanglah kepercayaannya akan kemurahan dan keadilan TUHAN!
Bukankah itu berarti mempermainkan kekuasaan dan berkah TUHAN Yang Maha Kuasa?
Ratusan orang berduyun-duyun datang memenuhi halaman Kuil Ban-Hok-Si, merupakan pagar manusia yang mengelilingi panggung Lui-Tai di tengah halaman Kuil.
Ada yang duduk di atas tanah, ada yang berjongkok, ada pula yang berdiri.
Akan tetapi semua orang bercakap-cakap, dan mereka itu kesemuanya hanya membicarakan satu macam hal, yakni tentang pertandingan pIbu (adu silat) yang akan dilakukan antara perguruan silat yang dipimpin oleh Song-Kauwsu dan Can-Kauwsu.
Panggung Lui-Tai itu tinggi, kira-kira satu setengah tinggi orang, dengan empat balok besar di tiap sudut sebagai penjaga.
Lantainya dari papan yang tebal dan kuat pula, dipasang berjajar membentuk segi empat.
Tepinya tanpa langkan sehingga para penonton yang berada di bawah panggung dapat melihat dengan lepas tak terganggu.
Di sudut terdekat dengan Kuil, terpancang sebuah tiang bendera dari bambu dan sehelai bendera kuning dengan huruf besar "SONG-Kauwsu"
Berkibar di atas tiang.
Ini merupakan tanda bahwa pembangun dan penyelenggara panggung Lui-Tai ini adalah Song-Kauwsu, atau dengan lain kata, penantang pertandingan pIbu ini adalah Guru silat she Song itu.
Para Hwesio (Pendeta Buddha) Kuil Ban-Hok-Si itu berdiri di ruang depan Kuil sambil memandang dengan muka gelisah ke arah panggung.
Mereka saling bicara dengan amat perlahan agar jangan sampai terdengar oleh lain orang, dan dari bisikan-bisikan mereka ini, mereka menyatakan kegelisahan hati karena adanya pIbu itu.
Mereka mengenal baiik kepada Song-Kauwsu yang menjadi seorang penderma besar dari Kuil Ban-Hok-Si, dan karena Guru silat ini mereka segani dan takuti karena kelihaiannya dan kedermawanannya, maka ketika Guru silat itu minta pinjam halaman Kuil yang luas untuk dibanguni panggung Lui-Tai, mereka tidak berani menolak.
"Omitohud..."
Seorang di antara Hwesio-Hwesio itu, yang sudah lanjut usianya, berbisik sambil merangkapkan kedua tangannya di depan dada.
"Apakah akan jadinya dengan Kuil kita? Orang-orang membangun panggung Lui-Tai, akan mengadakan pertempuran, saling serang dalam usaha mereka untuk saling melukai atau saling membunuh...! Ah, kesucian Kuil kita akan ternoda oleh mengalirnya darah dari tubuh manusia... semoga Sang Buddha mengampuni mereka yang sesat!"
Mendengar bisikan setengah doa dari Jin Hwat Hosiang ketua Kuil Ban-Hok-Si ini, semua Hwesio lalu merangkapkan kedua tangan di depan dada dan diam-diam ikut berdoa.
Alangkah jauhnya perbedaan perasaan yang memancar keluar dari wajah para Hwesio ini dengan perasaan para penonton di sekeliling panggung.
Kalau para Pendeta ini merasa cemas dan khawatir terliput kedukaan, adalah para penonton tersenyum-senyum, tertawa-tawa, dan bergembira sekali seakan-akan sedang menanti dimulainya sebuah pertunjukan yang amat menarik hati.
Mereka sudah menanti dengan hati tak sabar lagi.
Tiba-tiba terdengar gembreng dan tambur dipukul orang.
Semua penonton serentak bangun dan memandang dengan penuh perhatian, yang berada di belakang mendesak ke depan, yang pendek berdiri di atas ujung kakinya.
Setelah suara gembreng dan tambur makin mengeras memekakkan telinga, maka ternyata bahwa gembreng dan tambur itu dipukul oleh beberapa orang pemuda yang mengiringkan serombongan orang gagah.
Inilah rombongan Guru silat she Song itu!
Yang berjalan paling depan adalah Song Swi Kai atau Guru silat Song sendiri.
ia benar-benar gagah dan mengecilkan nyali orang yang dihadapinya.
Tubuhnya tinggi tegap, tegak lurus, dan dadanya bidang, nampaknya kuat sekali sungguhpun usianya tidak kurang dari empat puluh tahun.
Rambutnya hitam, alis matanya tebal menghitam, akan tetapi ia tidak memelihara kumis dan jenggot.
Karena mukanya dicukur licin, maka ia nampak muda dan ganteng.
Memang, Song Swi Kai nnempunyai wajah yang tampan dan sikap yang amat gagah.
Warna kulit mukanya yang kemerah-merahan membuat ia nampak lebih gagah lagi.
Pakaiannya sederhana, akan tetapi terbuat dari bahan sutera yang mahal.
Sepasang siangkek (senjata tombak pendek bercagak) terselip di dekat pinggang sebelah kiri.
Langkahnya tetap, ayunan tangannya gagah, membuat jalannya mengingatkan orang akan seekor harimau yang ganas!
Berdegaplah jantung mereka yang melihat Guru silat ini, degap jantung yang bangga dan gembira dari mereka yang bertaruh atas Song-Kauwsu dan debar jantung yang khawatir dan gelisah dari mereka yang "memegang"
Can-Kauwsu dalam taruhan mereka.
Di sebelah kiri Song Swi Kai berjalan seorang dara yang membuat penonton muda menahan napas saking kagumnya.
ia bertubuh tinggi ramping, cukup tinggi bagi seorang dara sungguhpun tidak melebihi dagu Song-Kauwsu.
Wajahnya cantik dan gagah, bibirnya yang merah dan manis itu ditarik mengarah senyum, sepasang matanya jeli dan tenang tidak mengerling ke kanan kiri, lurus memandang ke depan.
Kepalanya ditarik lurus dan dadanya yang penuh itu diangkat ke depan, menambah kegagahannya.
Rambutnya yang hitam panjang disanggul ke atas, diikat dengan pita biru.
Pakaiannya dari sutera warna merah berkembang, berkibar-kibar tertiup angin ketika ia berjalan, mencetak bentuk tubuhnya yang penuh.
Sungguhpun kedua kakinya tidak di ikat, namun kaki itu tidak terlalu besar, tertutup oleh sepasang sepatu biru berkembang.
Langkahnya gesit dan ringan seakan-akan hanya ujung sepatunya saja yang menyentuh tanah.
Pada pinggang kirinya tergantung Siang-Kiam (sepasang pedang) dalam sarung pedang yang berukir gambar burung Hong.
ia nampak lebih gagah dari pada cantik, mendatangkan rasa jerih kepada hati para pemuda yang mengaguminya, Membuat setiap laki-laki berpikir-pikir panjang dulu sebelum berani menyapanya atau berlaku kurang sopan terhadapnya.
Inilah Song Bwee Eng, puteri sulung dari Guru silat she Song itu, seorang dara berusia delapan belas tahun yang telah mewarisi kepandaian silat dari Ayahnya!
Di belakang Ayah dan anak ini berjalan dua orang laki-laki yang gagah sikapnya dan gagah pula pakaiannya, karena mereka berpakaian sebagai ahli-ahli silat.
Mereka itu adalah murid-murid kepala dari Song-Kauwsu, Kakak-beradik she Tan yang juga sudah mewarisi ilmu silat dari Song Swi Kai dan mendapat kepercayaan besar dari Guru silat ini untuk melatih murid-murid yang tingkatnya masih rendah.
Yang berjalan di sebelah kanan adalah seorang laki-laki muda berusia tiga puluh tahun, bertubuh tinggi kurus dan mukanya yang berwarna kuning itu membuat ia nampak pucat.
Inilah Tan Siang yang mendapat julukan Oei-Bin-Liong (Naga Muka Kuning)!
Di sebelah kirinya berjalan Tan Kui Hok, adiknya, yang menjadi murid kepala kedua.
Seperti juga Kakaknya, Tan Kui Hok ini bertubuh tinggi dan lebih tegap, akan tetapi kulit mukanya berwarna kehitaman, maka ia mendapat julukan Hek-Bin-Liong si Naga Muka Hitam!
Usianya kurang lebih dua puluh lima tahun dan tidak seperti Kakaknya, si Naga Muka Hitam ini masih belum kawin.
Kedua saudara she Tan ini menggantungkan pedang mereka di punggung dan sikap mereka gagah sekali.
Kemudian, di belakang kedua murid kepala ini, berbaris murid-murid lain yang jumlahnya lima belas orang.
Mereka ini adalah murid-murid yang dianggap sudah cukup tinggi kepandaiannya.
Murid-murid yang masih rendah kepandaiannya tidak diperbolehkan ikut dalam rombongan ini.
Kegagahan dan keangkeran rombongan Guru silat Song ini membuat orang yang tadi mempertaruhkan sawahnya atas Song-Kauwsu, menjadi bangga dan girang.
Bersama orang-orang lain ia bersorak dan bertepuk tangan, bahkan berjingkrak-jingkrak saking girangnya.
Di depan matanya telah terbayang tumpukan uang lima puluh tail perak hasil kemenangannya bertaruh dan diam-diam ia telah membuat rencana bagaimana ia akan menyenangkan hati anak-isterinya dengan uang sebanyak itu!
Sebaliknya, lawannya yang bertaruh atas kemenangan Can-Kauwsu, menjadi kecut hatinya dan ia hanya dapat memandang ke arah rombongan itu dengan muka pucat dan termenung!
Akan tetapi ia menghIbur hatinya dan berkata kepada lawannya.
"Jangan kau bergirang dulu, kegagahan mereka itu hanya nampak diluarnya saja. Tunggu nanti kalau Can-Kauwsu muncul!"
"Can-Kauwsu? Ha, ha, orang-tua kurus kecil yang lemah itu terkena pukulan Song-Kauwsu satu kali saja tentu akan terlempar keluar dari panggung!"
Marahlah orang itu.
"Hah! Mudah saja kau mengeluarkan hama busuk dari mulutmu! Lihat saja, Can-Kauwsu akan membuat dia berlutut minta-minta ampun di atas panggung!"
"Tutup mulutmu! Kutanggung Can-Kauwsu takkan dapat mengalahkan murid kepala dari Song-Kauwsu!"
"Sombong! Dengan tangan kiri saja Can-Kauwsu akan membuat dia melolong-lolong minta ampun!"
"Mulutmu bau busuk! Aku berani potong leher kalau Song-Kauwsu sampai kalah!"
"Aku berani gantung diri kalau Can-Kauwsu kalah!"
Lawannya tak mau kalah.
Makin ramai dan hebat kedua orang itu bersitegang, dan kalau saja tidak banyak orang datang melerai, tentu keduanya sudah akan main adu tinju atau bergulat di tempat ramai itu, mendahului pertandingan pIbu!
"Awas, akan kubunuh kau kalau nanti tidak membayar lima puluh tail perak apabila Can-Kauwsu kalah!"
Kata si pemilik sawah.
"Begitu? Dan lidahmu yang jahat akan kucabut keluar kalau kau tidak menyerahkan sawahmu kepadaku apabila Song-Kauwsu yang kalah!"
Kembali keduanya bersitegang, sehingga akhirnya maju tiga orang tetangga mereka yang bersukarela menjadi saksi-saksi dalam pertaruhan besar dan nekad ini!
Song Swi Kai membawa rombongannya masuk ke halaman Kuil dan langsung menuju ke ruang depan di mana berdiri para Hwesio itu.
Song-Kauwsu lalu menjura kepada Jin Hwat Hosiang ketua Ban-Hok-Si, yang membalas dengan ucapan selamat datang dan mempersilakan Guru silat itu mengambil tempat duduk di atas bangku-bangku yang sudah disediakan untuk mereka, di ruang sebelah kiri yang terdekat dengan panggung.
Song-Kauwsu, puterinya dan dua orang murid kepala mengambil tempat duduk, sedangkan murid-murid lain cukup berdiri saja di belakang mereka.
Sambil menanti datangnya pihak Can-Kauwsu, para penonton kini menjadikan rombongan Song-Kauwsu itu menjadi tontonan, terutama sekali pandangan mata mereka tertuju ke arah Song Bwee Eng, dara cantik yang duduk di dekat Ayahnya itu.
Sementara itu, semenjak pagi di rumah Can-Kauwsu telah diadakan persiapan.
Rumah Can-Kauwsu sederhana saja, akan tetapi mempunyai pekarangan yang amat lebar, karena selain untuk tempat tinggal, juga di situlah ia membuka Bukoan (Perguruan Silat) untuk melatih murid-muridnya.
Pekarangan ini dikelilingi oleh dinding tembok bata dan di depan pintu gerbangnya yang lebar terdapat sebuah papan nama besar yang ditulisi huruf-huruf gagah berbunyi.
PERGURUAN ILMU SILAT SIN WAN KUN HOAT (Ilmu Silat Kera Sakti), dan di bawah huruf-huruf ini terdapat tiga huruf yang menyatakan namanya, yakni Can Gin Sun.
Can Gi Sun atau yang biasa disebut Can-Kauwsu ini adalah seorang berusia lima puluh tahun lebih, bertubuh tinggi kurus dengan rambut dan jenggot yang sudah berwarna putih semua.
Sungguhpun usianya belum termasuk tua sekali, akan tetapi ia nampak sudah tua, agaknya karena terlalu banyak menderita kepahitan hidup.
Pakaiannya sederhana terbuat dari kain kasar, karena memang kehidupannya tak dapat dikatakan kaya.
ia adalah seorang ahli silat yang berkepandaian tinggi, ahli dari Sin-Wan Kun-Hoat, dan ia menjadi amat terkenal dengan sebutan Toat-Beng Siang-Pit atau Sepasang Senjata Pit Pencabut Nyawa!
Nama ini adalah karena permainannya dengan senjata sepasang pit benar-benar lihai sekali.
Pada saat itu, Can Gi Sun sedang duduk di ruang dalam berdua dengan isterinya, seorang nyonya yang dahulunya tentu amat cantiknya.
Memang benar, nyonya Can Gi Sun ini adalah puteri seorang Bangsawan tinggi di Kotaraja.
Mereka saling jatuh cinta dan karena orang-tua nyonya Can ini tidak suka puterinya berjodoh dengan seorang jago silat yang kasar, maka akhirnya kedua orang muda itu melarikan diri!
Mereka menjadi suami-isteri sudah dua puluh tahun lebih dan hidup dengan rukun dan saling mencinta.
Nyonya Can Gi Sun biarpun kepandaiannya hanya tentang sastra dan menyulam, akan tetapi semangatnya tak kalah besar, dan memiliki kekerasan dan ketabahan hati yang mengagumkan, oleh karena ia memang cocok sekali menjadi isteri seorang ahli silat yang kemudian menjadi seorang Guru silat yang kenamaan.
Pada hari diadakannya pIbu yang diajukan oleh Song-Kauwsu sebagai tantangan itu, Can-Hujin (nyonya Can) sama sekali tidak nampak gelisah.
ia tenang-tenang saja, bahkan ketika melihat suaminya duduk didepannya dengan kepala menunduk, ia lalu menegur.
"Suamiku, mengapa kau nampaknya kurang gembira? Apakah yang melemahkan semangatmu? Aku percaya penuh bahwa menghadapi Song-Kauwsu kau takkan kalah!"
Can Gi Sun tersenyum sambil memandang kepada isterinya yang sampai kini masih kelihatan cantik seperti bidadari dalam pandangan matanya itu.
Alangkah baiknya isterinya ini, selalu percaya penuh ini, Memandang wajah isterinya ini, menimbulkan kenang-kenangan penuh madu di masa ia masih muda.
Kemudian mereka menikah dan hidup penuh bahagia, saling mencinta dan rukun sekali.
Hanya satu hal membuat kebahagiaan mereka itu agak suram, yakni karena tidak adanya seorang keturunan.
Mereka setiap hari berdoa dan mohon kepada Thian agar dikaruniai seorang putera, dan akhirnya, setelah menikah belasan tahun lamanya, terlahirlah seorang anak, bukan seorang anak laki-laki, melainkan seorang anak perempuan.
Seorang anak perempuan yang amat mungil dan cantik jelita seperti Ibunya!
Teranglah kembali kebahagiaan mereka.
Akan tetapi, setelah berusia lima tahun, anak mereka yang tercinta itu...
Melihat kedukaan membayang kembali pada wajah suaminya, nyonya Can lalu berkata halus.
"Suamiku, kau terganggu pikiranmu, dan hal ini amat tidak baik pada saat kau menghadapi seorang lawan!"
"Aku teringat kepada... Giok-ji..."
Bagaikan tertikam pisau perasaan hati nyonya itu ketika mendengar nama ini.
Pek Giok, atau yang biasa mereka panggil Giok-ji adalah nama anak perempuan mereka, maka terkenanglah ia akan peristiwa yang terjadi pada kira-kira sebelas tahun yang lampau.
Pada waktu itu mereka telah tinggal di kota Sung-Kian, yakni kota yang mereka tinggali sekarang.
Akan tetapi Can Gi Sun belum menjadi Guru silat, masih bekerja sebagai seorang Piauwsu, yakni seorang pengawal yang mengirimkan dan mengawal barang-barang berharga milik para saudagar dan pembesar dari satu ke lain tempat.
Oleh karena kepandaiannya memang tinggi, maka setelah berkali-kali para perampok yang mengganggu di tengah perjalanan selalu roboh di tangannya, maka namanya menjadi terkenal dan tidak ada orang jahat yang berani mengganggu barang yang dikawal oleh Can Gi Sun.
Can Gi Sun adalah seorang pendekar yang berhati penuh welas asih.
Biarpun menghadapi seorang penjahat, hatinya tidak tega untuk membunuhnya demikian saja.
Maka sebagian besar dari para perampok yang mengganggunya di tengah perjalanan, sedapat mungkin ia robohkan dengan totokan siang-pitnya tanpa membunuhnya, kemudian memberi peringatan keras, bahkan tidak jarang ia memberi uang bekal pengobatan kepada penjahat yang dirobohkannya itu.
Akan tetapi, tentu saja hal ini tidak selalu dapat terjadi demikian.
Apabila ia menghadapi seorang penjahat yang tinggi ilmu silatnya, maka terpaksa ia menurunkan tangan maut, bukan dengan niat penuh untuk membunuhnya, akan tetapi karena terpaksa.
Menghadapi seorang lawan berat yang tidak banyak selisih tingkat kepandaiannya, amat sukar untuk mengalahkannya dengan hanya melukainya ringan saja.
Dalam hal ini, maka pertempuran sudah berubah sifatnya, sudah merupakan, adu nyawa, saling mendahului merobohkan lawan dengan pukulan atau serangan berbahaya yang secepat mungkin.
Kalau ia ragu-ragu untuk merobohkan lawannya, ia sendirilah yang akan dirobohkan.
Maka terpaksa ia harus menggunakan gerak pukulan yang dahsyat sehingga akibatnya, lawannya itu terpukul binasa.
Akan tetapi yang tewas dalam tangannya hanya sebagian kecil saja dari orang-orang yang pernah bertempur dengannya.
Dan di antara mereka ini, terdapat seorang perampok tunggal yang berkepandaian tinggi.
Dengan terpaksa ia merobohkan lawannya ini dengan pukulan berat yang mengakibatkan kematian perampok itu, karena kepandaian mereka sudah berimbang tingkatnya, dan dalam pertempuran ini, Can Gi Sun juga mendapat luka bacokan golok pada pundaknya.
Sama sekali tak pernah disangkanya bahwa perampok ini akan mendatangkan malapetaka kepadanya.
Tiga bulan kemudian setelah ia merobohkan perampok itu, datanglah pembalasan yang membuat ia dan isterinya merasa berduka selama ini.
Ketika itu ia sedang pergi melakukan pekerjaannya dan isterinya hanya berdiam di rumah bersama anaknya dan seorang pelayan.
Pada malam hari, dari atas genteng berkelebat bayangan yang gesit sekali dan tak lama kemudian terdengar jeritan nyonya Can Gi Sun dan tangis Pek Giok, karena anak perempuan yang baru berusia lima tahun itu telah diculik oleh penjahat itu!
Ketika Can Gi Sun pulang dari perjalanannya, ia hanya disambut dengan tangisan pilu oleh isterinya yang menceritakan terjadinya malapetaka itu sambil memperlihatkan sehelai surat.
Dengan muka pucat dan jari tangan gemetar, Can Gi Sun membaca surat itu yang berbunyi sebagai berikut .
Can Gi Sun!
Tadinya aku datang dengan maksud hendak membunuhmu untuk membalas kematian Kakakku Liu Lang.
Akan tetapi oleh karena kau tidak ada, maka sebagai gantinya, aku membawa anakmu agar kau dapat merasa betapa sedihnya hati disakiti orang!
Liu Bo Cin Sampai lama Can Gi Sun tak dapat berkata-kata dan yang terdengar hanya isak tangis isterinya saja.
Kemudian ia meremas-remas surat itu dan mengertakkan giginya, lalu berkata.
"Keparat jahanam Liu Bo Cin! Kalau aku dapat mencarimu, akan kupatahkan semua tulang yang terdapat dalam tubuhmu!"
Ia dapat menduga bahwa penculik anaknya ini tentulah adik dari perampok tunggal bernama Liu Lang yang terbunuh olehnya tiga bulan yang lalu itu.
Pada hari itu juga, berangkatlah Can Gi Sun mencari jejak Liu Bo Cin.
Sampai jauh ia merantau, mencari-cari, dan sampai hampir dua tahun ia meninggalkan isterinya dalam usahanya mencari anaknya yang terculik itu, namun usahanya sia-sia dan ia pulang kembali sebagai seorang yang patah hati.
Dalam waktu dua tahun itu ia telah berubah menjadi seorang pendiam yang kelihatan tua sekali.
Melihat keadaan suaminya ini, biarpun di dalam hatinya sendiri terasa hancur dan sedih mengenangkan anaknya, namun nyonya Can dengan amat bijaksana lalu menghIbur hati suaminya.
Can Gi Sun lalu berhenti menjadi Piauwsu dan kemudian membuka sebuah rumah perguruan di kota Sung-Kian itu.
Semenjak hilangnya Pek Giok, mereka berdua hidup dengan sunyi dan dengan hati kosong.
Sebelas tahun telah lalu dan hari ini, pada saat suaminya hendak pergi menghadapi seorang lawan, tiba-tiba suaminya teringat kepada anaknya!
Tentu saja nyonya Can merasa tertikam hatinya ketika diperingatkan kepada anaknya itu, namun ia tetap dapat menekan perasaannya dan menghIbur lagi sambil berkata penuh semangat.
"Suamiku, tak perlu lagi kita mengingat-ingat hal yang sudah lewat. Dari pada pandang matamu kau arahkan ke belakang, lebih balk kau arahkan ke depan, memandang dengan baik-baik orang yang berada di depanmu dan yang hendak menjadi lawanmu. Ini bukan waktunya untuk berlemah hati!"
Ucapan isterinya ini bagaikan air dingin disiramkan ke atas kepalanya yang tadinya pening dan membangunkan semangatnya yang melemahkan seluruh tubuhnya.
Memang isterinya ini mempunyai semangat yang jauh lebih hebat dan besar daripadanya.
Sayang bahwa isterinya itu tidak memiliki ilmu kepandaian silat!
Pada saat itu, Lui Song, murid kepala yang berusia hampir empat puluh tahun dan bekerja sebagai Piauwsu di kota itu, masuk dan memberi hormat kepada Suhu dan Subonya, lalu berkata.
"Suhu, seorang murid melaporkan bahwa Song-Kauwsu dan rombongannya telah datang di Ban-Hok-Si dan sedang menanti kita!"
"Baik, kita segera berangkat!"
Jawab Can Gi Sun.
"Dengan siapa saja Song Swi Kai datang?"
"Rombongannya terdiri dari sembilan belas orang, Suhu. Song-Kauwsu sendiri, puterinya, kedua murid kepala, dan murid-murid lain tingkat dua."
Guru silat Can itu berpikir sebentar sambil menundukkan kepalanya, lalu berkata dengan suara tetap.
"Lui Siong, kita akan pergi bertiga saja. Aku sendiri, kau dan Ma Ek. Bersiaplah kau dan sutemu Ma Ek, akan tetapi kau dan sutemu jangan membawa senjata!"
Sungguhpun hatinya merasa heran, namun Lui Siong tak berani membantah perintah Suhunya, lalu memberi hormat dan mengundurkan diri untuk menanti di luar.
"Suamiku, mengapa kau hanya akan pergi bertiga saja? Mereka datang sebanyak sembilan belas orang, mengapa kau tidak mau mengimbangi lagak mereka, bahkan hanya datang bertiga tanpa membekal senjata? Apakah dengan berbuat demikian kau tidak akan melemahkan semangat pihak sendiri?"
Can Gi Sun tersenyum memandang isterinya dan menggeleng kepalanya.
"Isteriku, untuk apa kita menghadapi kesombongan dengan kesombongan pula? Aku tahu, memang Song Swi Kai beradat keras sekali, akan tetapi aku masih ingat bahwa undangannya ini hanya untuk pIbu dan menetapkan siapa yang lebih tinggi tingkat kepandaiannya, sekali-kali bukan undangan untuk mengadakan perang! Dalam sebuah pertandingan pIbu, tak perlu mengajukan murid-murid yang masih rendah tingkat kepandaiannya dan kurasa Song Swi Kai juga takkan demikian bodoh untuk mengajukan murid-muridnya tingkat dua. ia membawa mereka hanya untuk menambah semangat dan menonjolkan keangkerannya belaka. Isteriku, kau tahu bahwa aku tidak suka akan permusuhan, dan kalau sampai terjadi permusuhan antara kita dan pihak Song-Kauwsu, maka hal itu baru terjadi karena pihak mereka yang mendesak!"
Isterinya tak dapat membantah, hanya di dalam hatinya ia merasa kurang puas serta menganggap bahwa suaminya terlampau lemah hati.
Ah, pikirnya, kalau saja aku berkepandaian silat, akan kubasmi mereka itu!
Memang, nyonya keturunan Bangsawan ini memiliki adat yang amat keras dan tidak mau kalah!
"Betapapun juga, aku merasa pasti bahwa kau akan menang, suamiku,"
Katanya penuh kepercayaan. Can Gi Sun menepuk-nepuk tangan isterinya dengan penuh kasih sayang.
"Kau hebat sekali, Cui Lian!"
Katanya dengan tersenyum.
"Akan tetapi, bagaimana kalau aku kalah dan tewas dalam pIbu ini?"
Nyonya Can Gi Sun yang bernama Bun Cui Lian ini mengedikkan kepalanya dan sepasang matanya bersinar-sinar ketika ia berkata.
"Kalau begitu, di samping berkabung, aku akan mempergunakan sisa hidupku untuk berusaha mengumpulkan orang-orang gagah dan membalas dendam!"
Can-Kauwsu hanya menggeleng-geleng kepalanya, kemudian ia berkemas.
Tak lupa ia membawa senjatanya sepasang Poan-Koan-Pit yang disembunyikan di saku bajunya.
Ketika ia hendak berangkat, isterinya memegang lengannya dan lenyaplah kekerasan dan ketenangannya tadi.
ia memandang dengan wajah agak pucat dan berkata perlahan.
"Suamiku, semoga Thian melindungimu..."
Can Gi Sun memandang wajah isterinya yang tercinta itu dan meraba dagunya dengan senTUHAN mesra.
"Jangan khawatir, Cui Lian, doamu akan merupakan jimat pelindung keselamatan bagiku!"
Ketika ia keluar dari ruang dalam, ternyata semua muridnya yang jumlahnya dua puluh orang lebih itu telah berkumpul di luar.
Mereka memandang kepada Can-Kauwsu dengan mata mengandung kekecewaan, karena tadinya mereka mengharap untuk dapat menyertai dan mengantar Suhu mereka pergi ke tempat pIbu itu.
Lui Siong dan Gu Ma Ek, kedua murid kepala, telah bersiap untuk pergi bersama Suhu mereka.
Can-Kauwsu dapat mengetahui perasaan para muridnya, maka ia lalu berkata.
"Murid-muridku, aku sengaja tidak membawa kalian, dan hanya pergi bersama Twa-Suheng dan Ji-Suheng kalian. Jangan kalian salah mengerti, murid-muridku. PIbu ini dimaksudkan untuk mengadu kepandaian dan mengambil keputusan terakhir siapa yang lebih tinggi kepandaiannya. Oleh karena itu, pIbu ini diusahakan untuk menghabiskan dan melenyapkan segala permusuhan yang ada, sekali-kali bukan dimaksudkan untuk mengadakan pertempuran keroyokan dan memperbesar permusuhan! Kalian masih muda-muda dan berdarah panas, juga murid-murid pihak Song-Kauwsu, maka apabila kalian ikut ke sana dalam rombonganku, bukankah hal itu hanya akan menambah panasnya suasana belaka? Kau tahu bahwa aku tidak suka akan permusuhan yang tidak ada artinya ini, karena kita belajar silat bukan sekali-kali untuk mengagulkan diri dan mencari permusuhan dengan siapapun juga. Kita boleh mempergunakan kepandaian untuk menumpas dan membasmi orang-orang jahat karena memang itulah kewajiban orang-orang gagah, akan tetapi menurut pandanganku, Song-Kauwsu hanya seorang yang sombong dan keras hati, dan orang yang sombong dan keras hati sekali-kali belum boleh disebut jahatl"
Semua muridnya diam saja menundukkan muka, dan akhirnya seorang murid yang tidak pemalu berkata.
"Akan tetapi, Suhu. Teecu semua ingin sekali menonton pertandingan pIbu itu untuk menambah pengalaman dan pengetahuan!"
Semua orang murid mengangguk-angguk dan memandang kepada Suhu mereka dengan penuh harapan.
"Betul juga kata-katamu itu,"
Jawab Can-Kauwsu.
"Biarlah, kalian kuperkenankan menonton pIbu, akan tetapi sebagai penonton biasa, dan sama sekali jangan ikut campur dan jangan berangkat bersamaku."
Maka berangkatlah Guru silat tua ini bersama dua orang murid kepalanya, Lui Siong dan Gu Ma Ek.
Sebagaimana telah dituturkan, Lui Song sudah berusia hampir empat puluh tahun dan bekerja menjadi Piauwsu (pengantar barang).
ia sudah berumah-tangga dan mempunyai seorang putera yang ia titipkan kepada Kakak misannya yang tinggal di Kotaraja.
Biarpun ia sendiri seorang ahli silat dan buta huruf, akan tetapi Lui Siong ingin melihat puteranya menjadi seorang terpelajar, maka semenjak berusia enam tahun ia mengantarkan puteranya itu ke Kotaraja untuk mempelajari kesusasteraan dan dapat memegang pangkat menjadi pembesar Negara.
Gu Ma Ek berusia dua puluh tahun, bertubuh tinggi besar dan kuat.
Pemuda ini amat jujur dan keras wataknya, akan tetapi mempunyai bakat yang baik dalam ilmu silat, maka tingkat kepandaiannya cepat maju dan hampir menyamai tingkat Lui Siong.
Oleh karena itu ia mendapat kepercayaan Can-Kauwsu yang merasa sayang dan suka kepadanya.
Gu Ma Ek adalah seorang anak yatim-piatu, maka ia belajar silat tanpa membayar biaya kepada Suhunya, hanya sebagai pengganti biaya, ia bekerja di rumah Suhunya dan tinggal pula di situ.
Mereka berjalan dengan cepat dan tak banyak bicara karena Can Gi Sun berjalan dengan kepala tunduk seperti orang melamun.
Memang, Guru silat tua ini sedang terkenang kembali kepada peristiwa beberapa bulan yang lalu yang menjadi sebab-sebab permusuhannya dengan Song-Kauwsu sehingga menimbulkan tantangan pIbu hari ini.
Untuk mengetahui sebab-sebab permusuhan dan mengapa sampai diadakan pIbu itu, baiklah kita menengok dulu keadaan dan peristiwa yang terjadi kira-kira lima bulan yang lalu.
Sebagaimana telah dituturkan dibagian depan, semenjak kehilangan puteri tunggalnya, yakni Can Pek Giok yang diculik oleh Lui Bo Cin, Can Gi Sun lalu mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai Piauwsu.
ia menganggap bahwa pekerjaan itu kurang cocok, karena ia harus seringkali meninggalakan rumah sampai kadang-kadang berbulan-bulan.
Kalau ia tidak bekerja sebagai Piauwsu dan selalu berada di rumah, tak mungkin puterinya dapat diculik orang, bahkan tak mungkin pula ia dimusuhi oleh Liu Bo Cin!
Maka ia lalu membuka Bukoan, yakni perguruan silat dan menerima murid-murid yang membayar biaya sekadarnya dan menurut kekuatan masing-masing sebagai nafkah hidupnya.
Hal ini berjalan dengan baik dan lancarnya sampai sepuluh tahun lebih lamanya.
Ternyata bahwa Can Gi Sun lebih berhasil dalam pekerjaannya sebagai Guru silat dari pada pekerjaannya yang dulu sebagai Piauwsu.
Sebagai Guru silat, hidupnya tentram dan tak pernah menghadapi pertempuran-pertempuran, tidak seperti dulu ketika masih menjadi pengawal dan pengantar barang-barang berharga, selalu ia diganggu oleh orang-orang jahat dan perampok yang ingin merampas barang-barang yang berada di bawah penjagaannya Para muda, bahkan ada juga yang sudah tua, datang belajar silat kepadanya, oleh karena selain Can-Kauwsu sikapnya baik dan ramah-tamah, di samping ilmu silatnya yang tinggi, juga Guru silat ini tidak memasang tarip tertentu bagi para muridnya.
Siapa saja, asal memiliki bakat, boleh belajar silat kepadanya dengan pembayaran sekuat isi saku murid itu sendiri.
Banyaklah sudah murid-muridnya yang setelah tamat belajar mendapat pekerjaan yang layak, seperti penjaga keamanan kota-kota lain, Piauwsu-Piauwsu, dan penjaga gudang para saudagar besar.
Namanya makin harum dan dipuji orang, terutama penduduk Sung-Kian di mana ia tinggal, amat membanggakan Guru silat ini.
Ketika pada suatu hari di perbatasan kota Sung-Kian terjadi perampokan, Can Gi Sun memimpin murid-muridnya yang sudah pandai untuk menyerbu perampok-perampok itu dan berhasil mengusirnya.
Hal ini makin meninggikan nama perguruannya, sehingga kepala kampung tak ragu-ragu lagi lalu membuat sebuah papan nama sebagai penghormatan.
Papan nama itu besar dan ditulisi.
SUNG KIAN TE IT-Kauwsu (Guru Silat Nomor Satu dari Sung-Kian), lalu dipasang di dekat papan merek yang sudah ada.
Pada suatu hari, datanglah keluarga Song Swi Kai ke kota itu.
Keluarga ini baru datang pindah dari kota Ki-Bun di Santung.
Song Swi Kai adalah seorang ahli silat cabang Bu-Tong-Pai yang tinggi ilmu silatnya.
ia berwatak jujur, akan tetapi agak sombong dan terlalu mengagulkan kepandaian sendiri, berbeda dengan isterinya yang berwatak halus dan pendiam.
Song Swi Kai ini mempunyai dua orang anak, yang sulung bernama Song Bwee Eng dan sudah remaja puteri.
Anak kedua adalah seorang anak laki-laki bernama Song Han Bun.
Semenjak berusia tujuh tahun, Song Han Bun ini oleh Ayahnya dikirim ke Bu-Tong-San untuk belajar ilmu silat di puncak bukit itu, dan langsung dilatih ilmu silat oleh Susiok (Paman Guru) dari Song Swi Kai sendiri.
ia ingin melihat puteranya menjadi seorang ahli silat yang pandai, lebih pandai dari dia sendiri.
Adapun Song Bwee Eng, puteri sulungnya, mendapat latihan dari dia sendiri dan ternyata bahwa dara inipun memiliki bakat ilmu silat yang tinggi sehingga ia menjadi seorang gadis yang gagah perkasa.
Keluarga Song ini pindah dari Ki-Bun karena di Propinsi Santung, terutama di sekitar Ki-Bun, berjangkit penyakit menular yang banyak mengambil kurban nyawa manusia, sedangkan bencana alam berupa musim panas dan kering yang terlalu lama membuat daerah itu mengalami penderitaan hebat.
Song Swi Kai adalah seorang kaya, karena mendiang Ayahnya dahulu adalah saudagar hasil bumi yang hartawan.
Oleh karena itu, dia pindah ke Sung-Kian sebagai seorang yang kaya raya.
Dibelinya sebuah rumah berikut pekarangan dan beberapa petak sawah.
ia memilih Sung-Kian sebagai tempat tinggalnya oleh, karena daerah ini amat subur.
Sebagai seorang ahli ilmu silat tinggi, tentu saja ia merasa tertarik mendengar nama Can Gi Sun yang dianggap sebagai Sung-Kian Te-It-Kauwsu itu.
Ketika masih tinggal di Ki-Bun, Song Swi Kai juga menjadi Guru silat, sungguhpun yang belajar silat padanya adalah putera-putera Bangsawan dan hartawan yang berani membayar tinggi.
Maka, terdorong oleh keinginan belajar kenal, pada suatu hari Song Swi Kai datang mengunjungi rumah perguruan Can-Kauwsu.
Hatinya merasa kurang senang melihat papan nama yang mentereng dan gagah itu, dan menganggap bahwa Can-Kauwsu terlalu menyombongkan diri dengan memasang tanda SUNG KIAN TE IT-Kauwsu demikian besarnya.
"Hm, dia menganggap diri sendiri nomor satu? Ingin aku mencoba kepandaiannya sampai di mana sehingga ia berani menyombongkannya!"
Akan tetapi sayang, ketika ia datang, kebetulan sekali Can Gi Sun sedang keluar pintu dan mengunjungi seorang kenalannya di kota lain. Yang menyambutnya adalah seorang murid.
"Suhu sedang pergi, kalau Sianseng (Tuan) ada keperluan dengan Suhu, harap datang lagi besok pagi, mungkin Suhu sudah pulang."
Akan tetapi, karena pada saat itu murid-murid Can Gi Sun sedang berlatih silat di pekarangan depan rumah itu, Song Swi Kai tidak mau pulang, bahkan lalu memasuki pintu gerbang dan menonton mereka berlatih silat.
Sebagai wakil Gurunya, yang memimpin adalah Gu Ma Ek, karena Lui Siong kebetulan juga berhalangan datang.
Song Swi Kai berdiri di dekat tempat latihan dan ia melihat betapa Gu Ma Ek memberi petunjuk-petunjuk kepada para sutenya (adik seperguruannya).
Dengan sengaja Song Swi Kai lalu mengeluarkan suara tertawa mengejek.
Gu Ma Ek adalah seorang pemuda yang baru berusia dua puluh tahun, wataknya kasar dan keras.
Mendengar suara tertawa mengejek dari tamu yang tak diundang itu, ia segera menghampiri dan bertanya dengan marah.
"Apa yang kau tertawakan?"
Tegurnya kasar. Tentu saja Song Swi Kai tidak senang melihat sikap Ma Ek ini, akan tetapi ia menjawab juga dengan memperlebar senyumnya yang mengejek.
"Aku tertawa karena melihat caramu melatih silat yang sama sekali salah! Macam inikah pelajaran silat dari Guru Silat Nomor Satu dari Sung-Kian? Menggelikan sekali!"
Biarpun Gu Ma Ek belum mendapat pelajaran ilmu silat tertinggi dari Suhunya, yakni ilmu silat Sin-Wan Kun-Hoat, akan tetapi ia telah menerima pelajaran dasar-dasar ilmu silat dan sudah mulai meningkat kepada pelajaran Ilmu Silat Kera Sakti itu, maka kepandaiannya sudah terhitung tinggi.
ia menjadi marah sekali mendengar celaan dan sindiran orang yang baru datang itu, maka tanyanya keras.
"Kalau kau bisa mencela, apakah kau bisa membuktikan kesalahannya?"
"Tentu saja bisa dan mudah sekali!"
Kata Song Swi Kai.
"Dengan ilmu silat seperti yang kau ajarkan kepada orang-orang ini, kalau mereka menghadapi aku dengan ilmu silat itu, dalam dua jurus saja kutanggung mereka akan roboh!"
"Sombong!"
Gu Ma Ek berseru marah, lalu ia memberi tanda kepada seorang sutenya yang dianggapnya sudah pandai.
Sutenya ini seorang pemuda berusia delapan belas tahun dan bertubuh tegap.
Ma Ek lalu menghadapi Song Swi Kai lagi dan berkata.
"Apakah kau mau bilang bahwa kau sanggup merobohkan suteku ini dalam dua jurus?"
Song Swi Kai tersenyum dan memandang pemuda itu dengan mata mengejek.
"Asal dia menggunakan ilmu silat yang kau pelajarkan tadi, tentu saja aku sanggup!"
Katanya.
"Boleh! Coba kau perlihatkan kepandaianmu dan buktikan omonganmu!"
Gu Ma Ek menantang dan menyuruh sutenya memasang kuda-kuda. Song Swi Kai dengan tenang menghampiri pemuda itu dan berdiri didepannya sambil bertolak pinggang.
"Kalian lihatlah baik-baik! Ilmu silat yang kalian pelajari ini adalah ilmu silat pasaran, mana dapat dibandingkan dengan ilmu silat Bu-Tong-Pai yang kumiliki? Nah, anak muda, hayo kau boleh menyerangku sekuatmu! Kalau dalam dua jurus kau tidak kalah, aku akan pergi dari sini tanpa banyak cakap lagi."
"Enak saja!"
Seru Gu Ma Ek marah.
"Kalau kau tidak bisa merobohkan suteku ini dalam dua jurus, kau harus menarik kembali omonganmu yang menghina nama baik perguruan Suhu ini!"
Song Swi Kai tertawa bergelak dan diam-diam ia memuji Gu Ma Ek yang dianggapnya setia dan gagah.
"Baik, baik! Nah, anak muda, kau seranglah aku!"
Tantangnya kepada pemuda di depannya itu.
Murid Can-Kauwsu yang menghadapi Song Swi Kai ini baru memiliki kepandaian dasar saja dan hanya menduduki tingkat kedua dalam susunan murid di perguruan itu, akan tetapi gerakan-gerakannya sudah cukup gesit dan kuda-kudanya cukup kuat.
ia segera menyerang dengan gerak tipu Go-Yang Pok-Sit (Kambing Lapar Tubruk Makanan), mengandalkan kekuatan pukulan kedua tangan untuk merobohkan orang-tua yang sombong itu.
Dasar pemuda yang belum berpengalaman dan belum tinggi ilmu silatnya!
Darah muda yang panas mendorongnya untuk mencari kemenangan dalam percobaan ini!
ia tidak dapat menduga bahwa orang yang sudah berani menyombong untuk merobohkannya dalam dua jurus, Tentu seorang yang berilmu tinggi, maka kalau ia cerdik dan berpengalaman, tentu ia tidak melancarkan demikian hebatnya.
Kalau ia cerdik, tentu ia menanti serangan lawan saja dan mempertahankan diri agar jangan sampai roboh dalam dua jurus, atau kalau ia menyerang juga, serangannya hanya akan merupakan serangan pancingan belaka dan tetap mengerahkan perhatian kepada pertahanan.
Karena harus diketahui bahwa makin hebat dan berbahaya serangan seseorang, makin lemahlah pertahanannya dan makin "terbuka"
Kedudukannya.
Oleh karena kekurangan pengalaman, pemuda itu datang-datang sudah menyerang dengan hebat dalam nafsunya untuk mengalahkan lawan!
Terdengar suara Song Swi Kai mengejek dan disusul oleh teriakan pemuda itu yang tahu-tahu sudah terlempar tubuhnya sampai dua tombak lebih!
Ia merangkak bangun sambil meringis kesakitan.
Ternyata ketika pemuda itu menyerang dengan kedua tangannya, secepat kilat tubuh Song Swi Kai melompat ke kiri dan dengan tangan kanannya ia berhasil menangkap tangan kiri pemuda itu lalu dibetot keras sehingga pemuda itu terhuyung ke depan karena tenaga betotan Song Swi Kai itu bukan main kuatnya.
Kemudian Song Swi Kai mengangkat kaki mendorong tubuh belakang pemuda itu sehingga terlempar dan jatuh sehingga menderita luka lecet-lecet pada pundaknya!
Gu Ma Ek terkejut sekali karena gerakan tamu ini benar-benar cepat dan kuat sekali!
Akan tetapi sebagai seorang pemuda yang berdarah panas sehingga tidak mengenal keadaan, ia menjadi makin marah dan menghampiri Song Swi Kai yang tertawa bergelak.
"Kau benar-benar lihai, akan tetapi apakah kau sanggup pula untuk merobohkan aku dalam dua jurus?"
Song Swi Kai memandang tajam dan ia tahu bahwa pemuda ini telah "berisi"
Maka dijawabnya.
"Untuk mengalahkan kau dalam dua jurus memang sukar, akan tetapi untuk merobohkan kau dalam sepuluh jurus kurasa mudah sekali!"
Belum pernah Gu Ma Ek merasa terhina seperti kali ini.
Suhengnya sendiri, Lui Siong, baru akan dapat mengalahkannya dalam pertandingan tidak kurang dari empat atau lima puluh jurus, akan tetapi orang sombong ini menyatakan bahwa dalam sepuluh jurus ia akan dirobohkan dengan mudah, dan hal ini dikatakan di depan sute-sutenya lagi!
Marahlah mukanya ketika ia menantang.
"Balk! coba kau robohkan aku dalam sepuluh jurus!"
"Hm, kau mencari penyakit sendiri!"
Kata Song Swi Kai.
"Maju dan menyeranglah!"
"Kau yang harus berusaha merobohkan aku dalam sepuluh jurus, maka kaulah yang menyerang!"
Seru Gu Ma Ek yang cerdik dan yang tidak mau mengulangi kesalahan sutenya tadi. ia memasang kuda-kuda yang teguh dan menjaga tubuhnya dengan rapat. Song Swi Kai tersenyum mengejek.
"Kalau begitu, jagalah baik-baik!"
Ia lalu maju menyerang dengan pukulan tangan kanan sambil majukan kaki selangkah. Pukulan ini keras dan cepat sekali, mengarah dada Ma Ek, dibarengi seruan.
"Jurus pertama!"
Ma Ek terkesiap juga melihat serangan yang amat cepat itu dan angin pukulan tangan itu telah menyambar sebelum pukulannya sendiri tiba.
Pemuda yang tabah ini sengaja tidak mau mengelak, dan menangkis dengan tangan kirinya untuk mencoba tenaga lawan dan juga agar kedudukannya tetap baik tidak berubah.
Akan tetapi begitu kedua tangan itu beradu, tubuhnya terhuyung ke belakang dan terpaksa ia melangkah sampai tiga tindak ke belakang.
Tangannya terasa ngilu dan sakit.
ia terkejut sekali, akan tetapi tidak menjadi gentar dan masih tetap memasang kuda-kuda yang kuat.
"Bagus, terimalah serangan jurus kedua!"
Kata Song Swi Kai dan dengan sebuah lompatan cepat ia menyerang lagi, kini dengan kedua tangannya, yang kanan memukul kepala sedangkan yang kiri dengan jari-jari terbuka menusuk lambung!
Ma Ek sudah mendapat pelajaran dalam jurus pertama tadi dan maklum bahwa tenaganya masih jauh lebih rendah, maka kini ia mengandalkan kegesitannya dan mengelak ke samping sambil miringkan tubuh dan untuk merusak posisi lawan ia membarengi dengan tendangan ke arah lutut lawannya.
Akan tetapi Song Swi Kai benar-benar cepat gerakannya karena begitu serangannya memukul angin, ia dapat menyabetkan tangannya ke bawah untuk memukul pergelangan kaki Ma Ek yang menendang.
Pukulan ini keras sekali dan kalau sampai mengenai kaki pemuda itu, mungkin tulang kaki itu akan patah!
Ma Ek berseru keras dan menahan tendangannya sambil membalikkan tubuh ke belakang.
"Jurus ketiga!"
Seru Song Swi Kai yang mengejar dan mengirim tendangan dari belakang.
Ma Ek kembali melompat ke kiri mengelak tendangan itu, akan tetapi sebelum ia dapat memutar tubuhnya kembali, Song Swi Kai sudah berseru keras.
"Jurus keempat!"
Seruan ini dibarengi dengan pukulan ke arah pinggang pemuda itu yang dilakukan dengan cepat dan keras.
Ma Ek makin terkejut, akan tetapi pemuda yang sudah memiliki dasar ilmu silat tinggi ini masih dapat mengelak, sungguhpun kedudukannya amat buruk.
ia menjatuhkan diri ke belakang lalu berjungkir-balik dan melompat sejauh satu setengah tombak dari lawannya.
Dengan cara ini ia berhasil melepaskan diri dari serangan jurus keempat!
Dengan bertubi-tubi dan amat cepatnya Song Swi Kai melakukan serangannya, akan tetapi biarpun amat terdesak, Ma Ek masih dapat mengelak sehingga tujuh jurus telah lewat dengan selamat!
Kawan-kawannya mulai bersorak girang dan memuji pemuda itu yang benar-benar telah memperlihatkan gerakan-gerakan dan perlawanan yang amat baik.
Hal ini amat memanaskan hati Song Swi Kai dan membuatnya menjadi penasaran dan marah.
Kalau ia tidak bisa merobohkan pemuda ini dalam sepuluh jurus, ia akan menderita malu sekali.
Maka ia lalu merubah caranya menyerang dan kini ia mempergunakan ilmu silat Kiauw-Ta Sin-Na, yakni ilmu silat gabungan Kim-na yang berasal dari cabang persilatan Bu-Tong-Pai dan Siauw-Lim-Pai.
Tangannya bergerak-gerak cepat sekali dan ilmu silat yang mempunyai seratus dua puluh jurus ini memang amat lihai dan sukar diduga perubahan gerakannya.
Pertama-tama ia melakukan serangan dengan kedua tangan.
Yang kanan merupakan cengkeraman ke arah leher, sedangkan tangan kiri mengirim totokan ke arah pundak.
Serangan ini merupakan jurus ke delapan dari serangan-serangannya terhadap Ma Ek.
Melihat serangan ini lebih hebat dari yang sudah-sudah.
Ma Ek tidak mau berlaku lambat dan cepat ia miringkan tubuh untuk mengelakkan totokan dan cengkeraman tangan kanan lawan itu terpaksa ditangkis karena ia tidak sempat mengelak lagi.
Akan tetapi, serangan berikutnya benar-benar hebat.
Tangan kiri yang tadi menotok iga, setelah mengenai tempat kosong, lalu dibalikkan dan dari samping menyerang lambung sedangkan tangan kanan yang ditangkis itu dapat merubah serangan menjadi totokan ke arah pundak!
Ma Ek tidak menduga bahwa lawannya akan menggunakan gerakan yang sedemikian cepatnya.
Serangan pada lambung masih dapat ditangkisnya, akan tetapi pundaknya kena ditotok bagian jalan darah Thian-Hu-Hiat, sehingga sambil menjerit keras ia roboh dalam keadaan lemas tak berdaya lagi!
Song Swi Kai tertawa bergelak.
"Ha, ha, ha, (-Jahn.) sembilan jurus saja kau sudah menyerah! Ilmu silat macam ini masih akan kau sebut baik?"
Ia lalu melangkah lebar ke arah pintu dan memandang papan yang bertuliskan huruf Sung-Kian Te-It-Kauwsu itu.
Tiba-tiba ia melompat ke atas dan menotok papan itu dengan dua jari tangannya sambil berkata.
"Sungguh tak pantas disebut Guru silat nomor satu!"
Terdengar suara keras pada papan itu, kemudian Song Swi Kai berjalan pulang dengan hati puas.
ia telah memperlihatkan bahwa mulai sekarang di kota Sung-Kian ada seorang ahli silat yang lebih tinggi ilmu silatnya dari pada Guru silat yang membuka Bukoan itu.
Semua murid lalu menolong dan membangunkan Gu Ma Ek, akan tetapi karena pemuda ini masih berada di dalam pengaruh totokan, maka ia tetap lemas tak berdaya dan terpaksa digotong ke dalam dan ditidurkan di atas pembaringan.
Nyonya Can Gi Sun menjadi marah sekali, akan tetapi ia tak dapat berdaya sesuatu, hanya berkata.
"Hinaan ini harus dibalas!"
Ketika semua murid pergi melihat papan nama yang berada di luar pintu, mereka terkejut sekali melihat bahwa huruf-huruf Te-It (nomor satu) telah rusak dan papan telah berlubang karena tusukan jari tangan tamu yang mengacau tadi!
Mereka saling pandang dan menjulurkan lidah karena hal ini kembali menjadi bukti bahwa pendatang tadi benar-benar amat lihai!
Papan nama itu dipasang tinggi dan papan itupun amat tebal, akan tetapi dengan sekali lompat dan sekali tusuk dengan jari tangan saja, papan itu telah menjadi berlobang!
"Ah, jangan-jangan orang itu lebih lihai daripada Suhu!"
Kata seorang murid dan semua terdiam dengan hati gelisah juga kagum.
Ketika Lui Siong datang, ia kaget sekali mendengar dari sute-sutenya tentang peristiwa itu.
Cepat ia memeriksa keadaan Gu Ma Ek, dan maklum bahwa sutenya ini kena ditotok oleh seorang ahli totok Coat-Meh-Hoat, yakni ilmu totok dari Bu-Tong-Pai.
Suhunya pernah menceritakan tentang perbedaan ilmu totok dari Bu-Tong-Pai dengan ilmu totok dari cabang lain, misalnya ilmu totok Tiam-Hwe-Louw dari cabang Siauw-Lim.
Kalau ilmu totok dari cabang persilatan lain dilakukan dengan memilih urat dan jalan darah tertentu, ilmu totok Coat-Meh-Hoat dari Bu-Tong-Pai ini tidak memilih urat, akan tetapi karena jari-jari tangan murid Bu-Tong-Pai telah dilatih sehingga menjadi keras, maka totokannya amat berbahaya.
ia hanya mengerti tentang teorinya, akan tetapi karena belum mempelajari prakteknya, maka ia tidak berdaya menyembuhkan sutenya.
"Lui Siong,"
Kata Nyonya Can Gi Sun dengan marah.
"Kau pergilah ke kota dan carilah keterangan tentang orang yang datang tadi. Akan tetapi jangan kau sembarangan turun tangan terhadap orang itu, karena melihat kelihaiannya, hanya Suhumu yang akan dapat membalaskan hinaan inil"
Lui Song mentaati perintah Subo (isteri Guru) ini dan pergi melakukan penyelidikan.
Ketika Can Gi Sun datang, bukan main kagetnya melihat papan nama yang berlubang itu dan makin terkejut ketika melihat keadaan Gu Ma Ek yang masih terbaring tak berdaya.
Cepat ia menggulung lengan baju dan mengurut serta menotok pundak muridnya itu dan sebentar saja sembuhlah Gu Ma Ek yang segera berlutut di depan Gurunya dan menceritakan seluruh peristiwa yang telah terjadi.
Can Gi Sun marah sekali, akan tetapi Guru silat tua yang berhati sabar dan berpemandangan luas ini menghela napas dan berkata.
"Ma Ek, untung bahwa kau hanya kena totok saja yang sama sekali tidak membahayakan nyawamu. Sudah pernah kukatakan bahwa kekerasan hatimu sewaktu-waktu pasti akan menjerumuskan kau ke dalam pertempuran orang lain. Hal ini harap kau ingat betul dan merupakan pelajaran yang baik sehingga lain kali kau dapat bertindak dengan bijaksana dan penuh kesabaran."
Gu Ma Ek hanya menundukkan kepalanya menerima teguran dari Suhunya itu, akan tetapi nyonya Can lalu mencela suaminya.
"Kenapa kau bahkan marah terhadap Ma Ek? Anak ini telah membela nama baik perguruanmu, dan kalau ia sampai kalah itu adalah salahmu juga yang tidak memberi pelajaran cukup tinggi!"
Nyonya yang keras hati ini marah betul.
"Orang telah mendatangi perguruanmu dan menghina muridmu, akan tetapi kau bahkan marah terhadap muridmu. Sungguh gagah!"
Can Gi Sun tersenyum dan memandang kepada isterinya. ia telah cukup maklum akan kekerasan hati isterinya ini, maka ia bertanya halus.
"Cui Lian, kalau menurut pendapatmu aku harus bagaimanakah?"
"Seharusnya sekarang juga kau mencari orang kurang ajar itu dan membalas hinaan ini! Ah kalau saja aku memiliki kepandaian, orang itu pasti takkan dapat pergi begitu saja!"
Can-Kauwsu menggeleng-geleng kepalanya dan kembali menghela napas.
"Sudah sepuluh tahun aku menjadi Guru silat dan menikmati hidup penuh ketentraman. Apakah aku harus menghancurkan ketentraman itu hanya karena peristiwa ini? Ma Ek, coba kau ceritakan lagi dari awal sampai akhir, ceritakan sejujurnya dan yang jelas agar aku dapat mempertimbangkan sebetulnya siapakah yang bersalah dalam persoalan ini."
Gu Ma Ek adalah seorang pemuda yang berhati jujur, maka ia lalu menuturkan dengan terus terang.
"Mula-mula orang itu datang hendak bertemu dengan Suhu, akan tetapi karena Suhu tidak ada di rumah, ia lalu masuk dan melihat Teecu mengajar sute-sute sekalian. Tiba-tiba ia mencela ilmu silat kami dan mengatakan bahwa gerakan itu semua salah. Teecu merasa penasaran dan minta bukti. Lalu ia menyatakan bahwa ia sanggup merobohkan seorang sute dalam dua jurus saja. Teecu makin penasaran melihat kesombongannya, maka lalu mengajukan sute In Liong untuk menghadapinya. Dan benar saja, sute In Liong dirobohkan, bukan dalam dua jurus, bahkan dalam sekali gebrakan saja. Teecu merasa makin penasaran dan bertanya apakah ia sanggup pula merobohkan Teecu dalam dua jurus, yang dijawabnya bahwa ia sanggup mengalahkan Teecu dalam sepuluh jurus! Demikianlah, Teecu melawan dan dalam jurus kesembilan Teecu terkena totokan yang lihai. Kemudian orang itu pergi dan merusak papan nama!"
Can Gi Sun menghela napas lagi dan berpaling kepada isterinya.
"Nah, kau pikirlah, bukankah fihak muridku juga bersalah dalam hal ini? Orang itu tentu tertarik oleh papan nama di depan yang menyatakan bahwa aku adalah Guru silat nomor satu di kota ini. ia tentu tidak tahu bahwa papan nama itu adalah pemberian kepala kampung yang menyatakan penghargaan dan terima kasih setelah kita dapat mengusir perampok-perampok itu, dan tentu ia mengira bahwa karena kesombonganku maka aku sengaja memasang papan nama itu. ia datang ingin belajar kenal, buktinya ia mencariku, kemudian ia sebagai seorang ahli melihat kesalahan-kesalahan dalam gerakan latihan murid-muridku. Kalau ia menegur, itu berarti bahwa ia memperhatikan dan seharusnya para muridku menghaturkan terima kasih dan minta petunjuk, bukannya minta dIbuktikan seakan-akan menantang!"
Isterinya masih tak puas, akan tetapi tak dapat membantah sedangkan Ma Ek minta maaf kepada Suhunya.
Pada saat itu, Lui Siong yang baru datang lalu memberi laporan bahwa menurut hasil penyelidikannya, orang yang tadi datang merobohkan Ma Ek adalah seorang yang baru pindah dari Santung, seorang kaya raya yang bernama Song Swi Kai, dan yang kabarnya hendak membuka perguruan silat pula di kota Sung-Kian.
"Sudahlah, peristiwa yang telah terjadi itu anggaplah saja sebagai pelajaran bagi kalian dan dapat merupakan dorongan agar kalian lebih rajin melatih diri agar jangan terlalu mudah dikalahkan orang."
Demikianlah, permusuhan dapat dicegah karena kebijaksanaan Can Gi Sun, karena Guru silat tua ini maklum bahwa segala macam permusuhan, baik dalam bentuk apapun juga, bukanlah hal yang mendatangkan kebahagiaan.
Sedangkan permusuhannya dengan seorang penjahat yang didasari alasan kuat, yakni karena penjahat itu mengganggu dan karena sudah menjadi kewajibannya untuk membasmi penjahat, telah berakibat amat hebat, yakni diculiknya anak tunggalnya sebagai pembalasan dendam penjahat itu!
Apalagi kalau ia menanam permusuhan dengan pendatang baru she Song ini, yang sama sekali tidak ada sebab-sebab yang kuat, melainkan sikap sombong dan keras hati kedua fihak!
Akan tetapi, yang dapat mengerti akan kesabaran dan sikap bijaksana dari Can-Kauwsu ini hanyalah Lui Siong, Gu Ma Ek dan kurang lebih dua puluh orang murid lain.
Sebagian besar murid-muridnya, terutama yang berdarah panas, diam-diam merasa kecewa dan menganggap sikap Suhu mereka ini sebagai sikap pengecut dan takut!
"Suhu adalah seorang Guru silat ter-nama di kota ini,"
Kata mereka.
"Kalau memang Suhu memiliki kepandaian tinggi, mengapa ia mendiamkan saja kekurang-ajaran dan hinaan orang she Song itu?"
Beberapa hari kemudian, Song Swi Kai mendatangkan beberapa orang muridnya dari Ki-Bun, diantaranya dua orang murid kepala yang bernama Tan Siang dan Tan Kui Hok Kakak-beradik itu yang dIbujuknya pindah ke kota Sung-Kian dan membantunya membuka sebuah perguruan silat!
Song Swi Kai adalah seorang kaya, Lian-Bu-Thia (ruang tempat belajar silat) di sebelah kiri gedungnya amat luas, mentereng dan indah, juga senjata-senjata yang dipergunakan dalam latihan-latihan itu bagus dan baru, terutama karena di situ terdapat puterinya yang cantik, yaitu Song Bwee Eng yang juga ikut melatih silat, maka hal ini tentu saja menarik hati banyak pemuda di kota itu untuk berguru dan belajar silat kepadanya, bahkan sebagian besar dari murid Can-Kauwsu yang telah merasa kurang puas dan kecewa terhadap Suhu mereka, lalu pindah keperguruan baru itu!
Song-Kauwsu memasang papan nama yang lebih gagah dan lebih mentereng daripada papan nama Can-Kauwsu, dan papan namanya itu dihiasi dengan huruf-huruf besar yang berbunyi.
MAHA Guru TERBAIK DISELURUH SUNG-KIAN.
Pada waktu pesta pembukaan, Song Swi Kai yang kaya raya itu mengundang semua hartawan dan pembesar, dan mengadakan pesta yang meriah sekali, akan tetapi Can-Kauwsu tidak mendapat undangan!
Karena ia hartawan dan memang suka menyumbangkan uangnya, maka dalam beberapa bulan saja ia amat terkenal di kota itu, sehingga namanya menjadi makin harum.
Perguruan makin besar dan mempunyai banyak murid sehingga nama Can-Kauwsu makin lama makin suram bagaikan sinar bulan yang menyuram dan lenyap dikalahkan oleh sinar matahari yang baru muncul!
Hal ini mendatangkan rasa sakit hati dalam dada murid-murid Can-Kauwsu, terutama kepada isterinya yang berwatak keras.
Akan tetapi Can Gi Sun tetap bersabar, bahkan sambil tersenyum berkata menghIbur isteri dan murid-muridnya.
"Orang mempunyai hak dan kemerdekaan untuk membuka perguruan silat di mana saja mengapa aku harus campur-tangan. Adapun murid-murid yang pindah belajar itu, merekapun merdeka dan aku tak berhak melarang. Hanya satu hal harus dIbuat menyesal, karena dengan berpindah-pindah perguruan itu, maka mereka memperlihatkan bahwa mereka adalah pemuda-pemuda yang tidak mempunyai kesetiaan hati dan karenanya tak dapat diharapkan orang-orang seperti itu akan memperoleh kemajuan dalam hidupnya."
Betapapun juga, tak lama kemudian, Can Gi Sun harus menelan kenyataan pahit bahwa kesabaran tidak selamanya mendatangkan ketentraman batin apabila ia mempergunakan kesabaran itu terhadap orang-orang yang tidak mengenal kebajikan, Karena kesabaran yang diperlihatkan kepada orang-orang kasar bahkan akan membuat ia merendahkan diri sedemikian rupa sehingga orang-orang itu akan makin sombong dan makin berani menghinanya.
Di dekat rumah Can Gi Sun, sebelah kiri, terdapat sebuah lapangan rumput yang kosong.
Pada suatu hari, ketika Can Gi Sun sedang memberi pelajaran teori kepada murid-muridnya, menerangkan sifat-sifat sesuatu ilmu pukulan, tiba-tiba terdengar suara gembreng dan tambur dipukul sekeras-kerasnya di dekat rumah itu.
Dari suara ini mereka dapat tahu bahwa di atas lapangan rumput sedang dimainkan tari Barongsai.
Tentu saja suara ini amat mengganggu pelajaran yang sedang diberikan oleh Can-Kauwsu karena para murid tak dapat memusatkan pikirannya.
Can-Kauwsu mengerutkan alisnya, lalu berkata kepada Lui Siong.
"Kau keluarlah dan lihat siapa yang berlatih Barongsai di lapangan rumput itu. Tegur mereka dengan baik dan minta agar supaya mereka jangan mengganggu kami. Akan tetapi berlakulah sabar dan jangan kau berkelahi!"
Lui Siong lalu keluar dan menuju ke lapangan rumput itu.
Alangkah mendongkol hatinya ketika melihat bahwa yang berada di situ adalah serombongan murid-murid Song-Kauwsu yang sebagian besar adalah bekas sute-sutenya sendiri!
Rombongan murid Song-Kauwsu itu sedang berlatih Barongsai di bawah pimpinan Hek-Bin-Liong Tan Kui Hok, murid kepala kedua dari Song-Kauwsu!
(Lanjut ke
Jilid 02) Antara Dendam & Asmara (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 02 Lui Siong maklum bahwa kalau ia sendiri yang menegur, biarpun ia sudah tua dan cukup memiliki kesabaran besar, namun tentu akan terjadi hal-hal yang tidak dihendaki Suhunya.
Maka, tanpa banyak cakap ia lalu membalikkan tubuh dan menghadap Suhunya lagi.
"Suhu, mereka itu adalah murid-murid dari Song-Kauwsu yang berlatih Barongsai, dipimpin oleh murid kepala kedua dari Song-Kauwsu. Teecu tidak mau menegur karena kalau mereka menjawab kasar, sukarlah bagi Teecu untuk menahan nafsu amarah!"
Tiba-tiba suara tambur dan gembreng makin keras dipukul orang, dibarengi suara sorakan dan tertawa.
Ternyata bahwa ketika tadi Lui Siong muncul, bekas-bekas sutenya memandang khawatir karena takut kalau-kalau bekas Twa-Suheng itu akan marah.
Akan tetapi ternyata Lui Siong sama sekali tidak menegur dan pergi lagi, maka hal ini mereka anggap bahwa Lui Siong takut kepada Tan Kui Hok.
Dugaan ini amat membesarkan hati pemuda-pemuda itu maka mereka lalu memukul tambur dan gembreng makin keras dan suasana menjadi makin gembira!
Kesabaran memang ada batas-batasnya.
Seekor semut yang demikian kecil dan lemah, kalau diinjak-injak tentu akan berdaya membalas dan menggigit.
Apalagi manusia!
Dengan tenang dan nampak masih tersenyum akan tetapi sebenarnya di dalam dadanya telah mulai terasa panas, Can Gi Sun berdiri dari tempat duduknya dan keluar dari rumahnya, menuju ke lapangan rumput itu.
Murid-muridnya diam-diam mengikuti dari belakang.
Tan Kui Hok yang bergelar Hek-Bin-Liong (Naga Muka Hitam) adalah murid kedua yang didatangkan oleh Suhunya dari Ki-bun.
ia adalah seorang muda berusia dua puluh enam tahun, bertubuh tinggi tegap dan kulit mukanya hitam dengan mata lebar dan bundar seperti mata panglima perang Thio Hwie yang amat terkenal dalam cerita Sam Kok itu!
Si Naga Muka Hitam ini adalah seorang ahli gwakang, yakni seorang ahli silat yang mengandalkan tenaga kasar, mengandalkan kekerasan kulit dan kekuatan urat dan tulang.
ia paling suka bermain Barongsai dan di kotanya sendiri ia terkenal sebagai pemain Barongsai yang terpandai.
Oleh karena itu, maka ia diminta oleh sute-sutenya yang baru untuk melatih Barongsai, yang diluluskannya dengan senang hati.
Akan tetapi, latihan Barongsai membutuhkan iringan tambur dan gembreng, sedangkan untuk latihan ini tak mungkin dapat dilakukan di Lian-Bu-Thia (ruang berlatih silat) dari Suhunya, karena akan mendatangkan suara gaduh.
Sute-sutenya itu lalu teringat akan lapangan rumput di sebelah kiri rumah Can-Kauwsu, maka mereka lalu memberitahukan hal ini kepada Tan Kui Hok.
Maka dengan gembira mereka lalu pergi ke lapangan rumput itu untuk berlatih Barongsai.
Ketika Can Gi Sun tiba di tempat itu, si Naga Muka Hitam sedang memperlihatkan kekuatannya kepada sute-sutenya yang memandang dengan kagum.
Tan Kui Hok sedang mengangkat sebuah batu besar yang terdapat di lapangan rumput itu.
Batu itu beratnya paling sedikit tiga ratus kati dan pemuda muka hitam itu mengangkatnya lalu melontarkannya ke atas, diterima dengan kedua tangan dan melontarkannya kembali berkali-kali!
Para sutenya bersorak dan bertepuk-tepuk tangan menyaksikan demonstrasi tenaga ini, apalagi bekas murid-murid Can-Kauwsu, karena selama mereka berguru pada Can-Kauwsu, mereka tak pernah menyaksikan demonstrasi seperti ini.
Can Gi Sun memang lebih mengutamakan lweekang (tenaga halus) daripada gwakang (tenaga kasar).
Dan memang sudah lazimnya, para pemuda lebih suka menyaksikan demonstrasi kekuatan yang lebih membanggakan hati ini.
Akan tetapi, tiba-tiba sorak-sorai itu berhenti seketika bagaikan kena sirep.
Juga suara gembreng dan tambur tiba-tiba berhenti sehingga keadaan di situ menjadi sunyi.
Ketika Hek-Bin-Liong melirik ke arah sute-sutenya dengan heran, ia melihat bahwa sute-sutenya itu berdiri diam memandang ke arah satu jurusan dan ketika ia menengok ke arah itu, ia melihat seorang-tua tinggi kurus yang bermata tajam sedang berjalan mendatangi tempat itu.
Tan Kui Hok belum pernah berkenalan dengan Can-Kauwsu, akan tetapi ia pernah melihatnya dan tahu bahwa orang-tua yang datang ini adalah Guru silat she Can yang terkenal.
Diantara murid-murid Song Swi Kai, Hek-Bin-Liong ini adalah seorang murid yang paling sombong dan kasar, juga mempunyai keberanian yang luar biasa.
Kini, dihadapan sute-sutenya, ia tidak mau kalah lagak, dan dengan seruan keras ia melontarkan batu yang masih diangkatnya itu ke atas dan dengan amat cepatnya batu itu meluncur turun ke arah kepala Can Gi Sun!
Tan Kui Hok tidak bermaksud hendak mencelakai atau menyerang Can-Kauwsu, karena ia maklum bahwa sebagai seorang ahli silat, tentu saja Can-Kauwsu dengan mudah akan dapat mengelak sehingga tidak sampai tertimpa batu itu, dan maksudnya tak lain hanya akan mempermainkan Guru silat itu dan akan memperlihatkan kepada para sute nya bahwa ia tidak takut kepada Guru silat yang kenamaan ini!
Akan tetapi, alangkah terkejutnya ketika ia melihat betapa Guru silat she Can itu sama sekali tidak mau mengelak, seakan-akan membiarkan saja batu yang besar dan berat itu datang menimpa dan menghancurkan kepalanya!
"Awas..."
Tak terasa lagi Tan Kui Hok berseru memperingatkan dengan hati ngeri.
Akan tetapi sebetulnya tak perlu ia memperingatkan, karena dengan amat mudahnya, Tanpa memandang ke arah batu yang turun meluncur ke arah kepalanya itu, Can Gi Sun mengulur tangan kanannya ke atas dan menerima batu itu dengan mudah dan ringan seakan-akan batu besar itu hanya sebuah benda yang amat ringan!
Kemudian, Guru silat tua ini melanjutkan gerakan tangan kanannya membanting batu besar itu ke atas tanah di depan kakinya dan"
Batu itu amblas ke dalam tanah!
Tadinya Can Gi Sun merasa marah sekali melihat betapa si muka hitam itu melontarkan batu ke arahnya dan menganggap bahwa perbuatan ini benar-benar keterlaluan dan amat menghinanya.
Akan tetapi ketika ia mendengar seruan si muka hitam yang memperingatkannya, lenyaplah sebagian besar nafsu amarahnya, karena ia maklum bahwa biarpun kasar dan kurang ajar, si muka hitam ini masih memiliki prIbudi dan tidak berhati kejam.
"Orang muda,"
Katanya dengan suara sabar dan mulut tersenyum.
"Pertunjukan tenaga gwakangmu memang mengagumkan, dan latihan main Barongsai inipun menggembirakan. Akan tetapi, janganlah berlatih di tempat ini dan harap mencari tempat lain yang lebih sunyi. Di luar kota sebelah barat terdapat sebuah lapangan rumput yang lebih luas dan di situ jauh dari rumah orang sehingga kalian dapat berlatih dengan leluasa tanpa mengganggu orang."
Hek-Bin-Liong Tan Kui Hok memandang tajam sambil bertolak pinggang, lalu katanya.
"Hm, orang-tua! Kau tentu yang disebut Guru silat nomor satu di Sung-Kian itu! Mengapa kau melarang kami bermain-main di tempat ini? Apakah lapangan rumput ini milikmu?"
"Bukan, lapangan rumput ini memang bukan milikku."
"Kalau begitu, kau mempunyai hak apakah untuk mengusir kami?"
Can Gi Sun mulai merasa tak senang. Anak muda ini benar-benar sombong dan tidak menghargai sikapnya yang halus dan mengalah.
"Anak muda, kau dengarlah! Biarpun lapangan rumput ini bukan milikku dan juga latihan-latihanmu di sini tiada sangkut-pautnya dengan aku, akan tetapi aku masih berhak sebagai penduduk tempat sekitar ini untuk menegur dan melarangmu membuat gaduh di tempat ini dan mengganggu ketentraman penduduk."
"Kalau kami tidak, mau bagaimana?"
Tantang Hek-Bin-Liong sambil mengangkat dada. Merahlah muka Can Gi Sun.
"Terpaksa aku akan menggunakan kekerasan. Sudah menjadi kewajibanku untuk menghalau setiap pengganggu penduduk sini, tak perduli siapapun orangnya!"
Hek-Bin-Liong Tan Kui Hok bukan tidak tahu bahwa Guru silat tua ini memiliki ilmu kepandaian yang tinggi, karena baru melihat caranya menyambut batu dan membantingnya sehingga amblas di tanah itu saja sudah menunjukkan bahwa Guru silat tua ini memiliki tenaga lweekang yang luar biasa.
ia maklum pula bahwa ia takkan dapat menang apabila bertanding melawan Can-Kauwsu, akan tetapi dasar ia masih muda dan pemberani, lagi pula ia terlalu mengandalkan pengaruh Suhunya, maka sambil melangkah maju ia membentak.
"Can-Kauwsu! Orang lain boleh merasa takut kepadamu, akan tetapi aku Hek-Bin-Liong dan kawan-kawanku semua ini, pendeknya kami adalah murid Bu-Tong-Pai tidak takut sama sekali kepadamu! Ingin kami lihat bagaimana kau hendak memaksa kami!"
Sepasang mata Can Gi Sun memancarkan cahaya kilat.
"Jangan kau membawa-bawa nama Bu-Tong-Pai di sini. Aku tidak memusuhi Bu-Tong-Pai, akan tetapi hendak menghajar kekurangajaranmu! Kau mau tahu bagaimana aku akan memaksa kau keluar dari sini? Nah, kau lihat dan jagalah!"
Sambil berkata demikian, Can Gi Sun menggeser maju kaki kirinya dan tangan kirinya lalu mendorong dada pemuda muka hitam itu.
Hek-Bin-Liong cepat menangkis dengan keras, akan tetapi ternyata Guru silat tua itu hanya melakukan gerakan palsu belaka, karena pukulan atau dorongannya itu ditarik kembali dan kini tangan kanannya yang maju mendorong pundak orang!
Hek-Bin-Liong cepat melangkah mundur, karena dorongan itu amat cepat dan sebelum tangan Guru silat tua itu sampai pada pundaknya, angin dorongannya telah terasa!
Ia tidak berani menangkis dan mengelak mundur.
Akan tetapi, Can-Kauwsu terus melangkah maju mengejar sambil kedua tangannya berganti-ganti mengirim dorongan-dorongan yang keras kepada dada atau pundak pemuda itu.
Hek-Bin-Liong menjadi marah dan kini ia mencoba untuk nnenangkis dengan tangan kanan sedangkan tangan kirinya membalas dengan pukulan dahsyat.
Namun, sebelum ia dapat memukul, tangan kanannya yang menangkis itu merasa didorong oleh tenaga yang amat besar sehingga ia terhuyung mundur beberapa langkah lagi.
Can-Kauwsu tetap mengejar terus dan mengirim dorongan-dorongan hingga dengan demikian tanpa terasa lagi Hek-Bin-Liong Tan Kui Hok telah mundur terus sampai di tepi lapangan rumput!
"Hayo mundur terus, keluarlah kau dari lapangan rumput ini!"
Kata Can Gi Sun yang sengaja hanya menggertak dengan mengirim berupa dorongan-dorongan karena ia tidak mau menyerang dengan sungguh-sungguh untuk merobohkan si muka hitam itu.
Mendengar ucapan ini, Hek-Bin-Liong Tan Kui Hok tiba-tiba sadar bahwa orang-tua itu telah mendesaknya sampai hampir keluar dari lapangan rumput, maka ia menjadi marah dan malu sekali.
Sambil berseru nyaring ia lalu mencabut goloknya yang tergantung di pinggang.
Si muka hitam ini biasanya mempergunakan pedang, akan tetapi karena ia sedang melatih ilmu golok kepada sute-sutenya, maka kali ini ia membawa golok dan meninggalkan pedangnya di rumah.
Melihat betapa pemuda itu mencabut golok, diam-diam Can Gi Sun merasa menyesal dan mengeluh.
"Apakah benar-benar kau hendak berusaha membunuh aku?"
Tanyanya.
"Setan tua! Jangan banyak cakap! Rasakan tajamnya golokku!"
Sambil berkata demikian, Tan Kui Hok mempergunakan kesempatan selagi Can-Kauwsu berdiri diam, menyerang dengan gerak tipu Hong-Cui Pai-Hio (Angin Meniup Daun Tua).
Serangannya dilakukan dengan sepenuh tenaga sehingga suara golok menyambar sampai mengeluarkan bunyi nyaring!
"Kau kejam!"
Seru Can-Kauwsu dan cepat orang-tua ini merendahkan tubuh mengelak dari sambaran golok yang mengarah lehernya itu.
Ketika golok itu menyambar di atas kepalanya, secepat kilat Can-Kauwsu mengulurkan jari tangannya menotok jalan darah Yan-Goat-Hiat yang berada di bawah pangkal lengan yang memegang golok dari pemuda muka hitam itu sehingga Tan Kui Hok menjerit keras, goloknya terlepas dan tangan kanannya menjadi kaku seperti sebatang kayu!
Tangan itu tidak dapat ditekuk, tak dapat digerakkan dan tidak ada rasanya seperti mati!
"Nah, biarlah pelajaran ini membuat kau menjadi kapok!"
Kata Can-Kauwsu, akan tetapi ia sudah merasa menyesal karena meladeni seorang muda yang kepala batu itu, maka sambil melangkah maju ia berkata.
"Mari kusembuhkan lenganmu!"
Akan tetapi sambil meringis-ringis Hek-Bin-Liong sudah melompat pergi dan lari pergi dari lapangan rumput itu, diikuti oleh kawan-kawannya yang semenjak tadi sudah mengumpulkan barang-barang permainannya.
Can-Kauwsu menghela napas dan ketika ia melihat betapa murid-muridnya berada di situ menyaksikan peristiwa ini dengan muka berseri gembira, ia berkata perlahan.
"Persoalan ini akan berekor panjang!"
Ia lalu pulang ke rumah dan duduk termenung, hanya mengharapkan agar bekas murid-muridnya yang kini telah menjadi murid Song-Kauwsu dan tadi menyaksikan pertempuran itu akan berhati cukup jujur dan menuturkan hal yang sebenarnya kepada Suhu mereka yang baru.
Benar sebagaimana yang diduga oleh Can-Kauwsu, ketika melihat Hek-Bin-Liong pulang dengan lengan tangan kaku seperti sebatang kayu kering itu dan mendengar bahwa yang melukainya adalah Can-Kauwsu, merahlah muka Song Swi Kai.
ia memulihkan jalan darah muridnya, lalu sekali lagi ia minta penjelasan dari murid-muridnya.
"Kami sedang berlatih Barongsai di dekat rumah Can-Kauwsu, yakni dilapangan rumput. Tiba-tiba ia muncul dan menegur kami, menyuruh kami pergi dari tempat itu dengan alasan kami amat mengganggu ketentraman penduduk di situ dengan suara tambur dan gembreng kami. Karena lapangan rumput itu bukan miliknya, maka Teecu menolak dan tidak mau pergi, dia memaksa dan kemudian kami berkelahi."
"Kurang ajar orang she Can itu!"
Song Swi Kai berseru keras sambil mengepal tinju.
"Ia benar-benar mengagulkan kepandaiannya! ia tidak memandang mukaku! Aku harus menebus hinaan inil"
Ketika Hek-Bin-Liong Tan Kui Hok menceritakan pengalaman ini nyonya Song juga berada di situ dan ikut mendengarkan.
Berbeda dengan suaminya, nyonya ini berwatak halus dan sabar.
Melihat kemarahan suaminya, ia lalu mencela dan menghIburnya.
"Urusan begitu saja mengapa harus dibesar-besarkan?"
Katanya.
"Kalau dipertimbangkan secara adil, memang muridmu bukannya tidak bersalah. Berlatih Barongsai dengan diiringi tambur dan gembreng memang amat gaduh dan mengganggu orang. Kalau sekiranya ada orang berlatih di dekat rumah kita, aku sendiripun akan menjadi pening kepala dan terganggu. Pantas saja kalau Can-Kauwsu merasa tidak senang dan berusaha mengusir orang-orang yang mengganggu dan menimbulkan gaduh. Mengapa harus rIbut-rIbut mencari permusuhan?"
Kalau dibicarakan memang sungguh amat sukar dipercaya, akan tetapi sudah menjadi kenyataan bahwa biarpun Song Swi Kai orangnya keras dan galak, akan tetapi menghadapi isterinya ia tak berdaya dan "mati kutunya"!
ia amat mencinta isterinya ini dan semenjak mereka menikah, ia selalu tunduk terhadap kehendak isterinya, apalagi oleh karena biarpun isterinya ini jarang sekali bicara, namun sekali mengeluarkan kata-kata, maka ucapannya itu amat beralasan dan penuh cengli (benar dan menurut aturan).
Oleh karena itu, begitu mendengar ucapan isterinya ini, ia menjadi sabar kembali, lalu menyuruh Hek-Bin-Liong mundur dan memanggil seorang murid yang tadi menyaksikan pertempuran itu.
Kepada murid inilah ia bertanya tentang jalannya pertempuran, yang diceritakan oleh murid itu dengan jelas dan sejujurnya.
Hati Song-Kauwsu yang sudah menjadi sabar dan tenang kembali itu dapat menimbang dengan bijaksana ketika ia mendengar penuturan ini.
ia mendengar betapa Can-Kauwsu hanya berusaha menyuruh Hek-Bin-Liong dan kawan-kawannya mencari tempat berlatih lain dan mengeluarkan kata-kata halus dan tidak menghina.
Kemudian ketika ia mendengar bahwa di dalam pertempuran itu Hek-Bin-Liong mencabut golok dan dilayani dengan tangan kosong oleh Can-Kauwsu, maka diam-diam ia mengaku bahwa untuk menghadapi lawan bergolok itu, Can-Kauwsu telah melakukan totokan dan hal ini bukannya keterlaluan.
Demikianlah, berkat kebijaksanaan Nyonya Song, maka pertempuran hebat dapat dicegah.
Song-Kauwsu dapat bersabar kembali dan tidak jadi mendatangi Can-Kauwsu untuk membalas penghinaan atas diri muridnya itu.
Betapapun juga, perdamaian ini masih belum sempurna, karena hanya terbatas pada pengekangan nafsu masing-masing dan saling bersabar.
Tidak ada usaha dari kedua fihak untuk saling mendatangi, saling minta maaf dan saling memperkenalkan diri.
Baik Song-Kauwsu maupun Can-Kauwsu tidak mau merendahkan diri untuk memperkenalkan diri terlebih dulu.
Bahkan mereka diam-diam seakan-akan mengadakan persaingan dalam usaha perguruan silat masing-masing.
Mereka berdua memang dapat bersabar dan menghindarkan segala kemungkinan untuk bertemu atau bentrok satu kepada yang lain, Akan tetapi mereka tidak ingat bahwa murid mereka berjumlah banyak dan murid-murid ini adalah orang muda yang berdarah panas.
Sudah menjadi lazim bahwa murid-murid mengandalkan kepandaian dan pengaruh Gurunya, dan bahwa murid-murid ini tentu saja mengagulkan perguruan sendiri.
Pada suatu hari, serombongan murid dari Can-Kauwsu bertemu dengan serombongan murid dari Song-Kauwsu.
Mereka ini mula-mula hanya saling lirik dan saling melontarkan senyum mengejek saja, kemudian mereka menyindir-nyindir dan akhirnya saling memaki!
Kedua fihak sama berani dan sama muda-muda, maka pertempuran akhirnya tak dapat dicegah lagi!
Tiga orang yang mendengar tentang pertempuran ini segera menuju ke tempat itu, mereka ini ialah Song-Kauwsu, Can-Kauwsu, dan kepala kampung sendiri!
Song-Kauwsu dan Can-Kauwsu hampir berbareng tiba di tempat perkelahian itu.
Melihat Suhu mereka datang, kedua fihak yang berkelahi menjadi ketakutan dan tanpa diperintah mereka menghentikan perkelahian itu.
Kini kedua Guru silat itu saling berhadapan, saling pandang, bagaikan dua ekor ayam jago hendak berkelahi dan lebih dulu berlagak, menaksir dan menduga-duga kekuatan lawan!
Baru kali ini kedua jago silat ini bertemu muka, dan dua pasang mata yang bertemu dan saling pandang itu memancarkan sinar yang tidak membayangkan perdamaian!
Biarpun ia sedang sangat marah, Song Swi Kai masih dapat melihat bahwa Can Gi Sun lebih tua daripadanya, maka ia tidak mau dianggap sebagai orang yang tidak tahu aturan.
Sambil tersenyum mengejek ia maju selangkah dan merangkapkan kedua tangan yang terkepal di depan dada untuk memberi hormat dan menjura.
"Apakah aku berhadapan dengan Can-Kauwsu yang menyebut dirinya Guru silat nomor satu di Sung-Kian?"
Akan tetapi, ia tidak menjura dengan sewajarnya, oleh karena berbareng dengan gerakan menghormat itu, ia mengerahkan tenaga khikang dan menyerang Can-Kauwsu dengan tenaga pukulan Pek-Kong-Jiu!
Pukulan ini tak perlu mengenai tubuh orang, karena memang dimaksudkan untuk memukul lawan dari jarak jauh.
Orang yang berdiri sejauh setombak lebih dapat terpukul oleh angin pukulan ini dan dirobohkan!
Inilah ilmu pukulan lweekang yang hanya dapat dilakukan oleh orang yang kepandaiannya sudah mencapai tingkat tinggi!
Akan tetapi Can Gi Sun berlaku waspada.
ia maklum akan serangan gelap ini, maka dengan tersenyum pula iapun lalu merangkapkan kedua tangannya, digerakkan dari bawah ke atas dengan jari-jari terbuka dan dirangkap seperti biasanya pemeluk Agama Buddha memberi hormat.
Inilah gerakan Heng-Pai Koan-Im (Memuja Koan Im Dengan Tangan Miring) dan tenaga gerakan dari bawah ke atas ini sekaligus dapat menangkis serangan angin pukulan yang mengarah dadanya!
"Song-Kauwsu sungguh gagah!
Sayang kau kurang dapat mendidik muridmu!"
Tegur Can-Kauwsu dengan suara halus.
"Hm, bagus! Memang meneliti kesalahan orang lebih mudah daripada mencari keburukan sendiri!"
Jawab Song-Kauwsu dengan marah.
"Perkelahian dilakukan oleh kedua fihak. Kalau murid-muridku bersalah, maka murid-muridmupun tidak benar! Apakah kau mau mengulangi lagi kesombonganmu dan memberi hadiah totokan pada murid-muridku?"
"Song-Kauwsu, memang benar aku telah merobohkan muridmu si muka hitam itu dengan totokan, akan tetapi lupakah kau bahwa kaupun pernah merobohkan muridku dengan Coat-Meh-Hoat? Totokan dibalas totokan lagi, ini berarti hanya melunaskan hutang, perlu apa dibicarakan lagi?"
"Kalau begitu kita harus mencari penyelesaian sekarang juga! Sudah lama aku ingin menyaksikan kelihaian Sin-Wan Kun-Hwat! Majulah kau, Can-Kauwsu!"
Tantang Song Swi Kai dengan penuh kemarahan.
"Boleh, boleh! Akan tetapi ingat bahwa kaulah yang menantang lebih dulu, bukan aku!"
"Jangan seperti anak kecil, kau majulah kalau memang gagah!"
Kedua orang jago silat itu sudah memasang kuda-kuda dan siap hendak saling gempur ketika tiba-tiba kepala kampung datang bersama para petugas dan pengikutnya.
"Tahan, jiwi-Kauwsu (Guru silat berdua)! Kami melarang orang-orang berkelahi dan membuat rIbut di sini. Siapa yang membangkang akan ditangkap dan dituntut!"
Kepala kampung ini sudah amat tua dan biarpun ia maklum akan kelihaian kedua orang Guru silat itu, akan tetapi ia adalah seorang yang patuh akan tugasnya dan tidak mau melihat siapapun juga melanggar peraturan Negara yang sudah ditetapkan.
Baik Song-Kauwsu, maupun Can-Kauwsu, merasa segan untuk melanggar larangan ini dihadapan kepala kampung, maka mereka lalu menahan nafsu amarah dan mengajak murid-murid masing-masing kembali dengan hati mendongkol.
Kesabaran Can-Kauwsu sudah sampai pada batasnya dan ia kini merasa penasaran sekali terhadap Song-Kauwsu.
Di dalam hatinya ia ingin memperlihatkan kepada lawannya itu bahwa ia adalah seorang yang tak boleh diperlakukan semaunya saja!
Sebaliknya, Song Swi Kai menaruh hati dendam yang besar dan akhirnya ia tidak kuat menahan marahnya lagi.
Untuk mendatangi rumah Can-Kauwsu dan mengamuk ia tidak berani, karena dengan demikian berarti bahwa ia melanggar larangan pemerintah dan tentu ia yang akan dipersalahkan.
Maka ia lalu mencari akal dan menghubungi pengurus-pengurus dari Kuil Ban-Hok-Si untuk meminjam tempat, lalu mendirikan panggung Lui-Tai dan mengirim surat tantangan kepada Can Gi Sun.
Demikianlah asal-mulanya permusuhan antara kedua Guru silat itu dan sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, kedua Guru silat itu telah berangkat menuju ke pekarangan Ban-Hok-Si di mana telah didirikan sebuah panggung Lui-Tai, tempat mereka mengadu kepandaian mencari keputusan siapa diantara mereka yang lebih lihai!
Akan tetapi, setelah berangkat meninggalkan rumahnya menuju ke tempat adu kepandaian itu, mulailah Can Gi Sun merasa menyesal bahwa kembali ia telah menanam bibit permusuhan dengan Song Swi Kai.
Ia tidak merasa takut, akan tetapi segala pengalaman yang sudah-sudah terbayang di depan matanya, sehingga ia berjalan sambil menundukkan muka dan tidak banyak bicara kepada kedua orang muridnya yang mengawaninya.
ia teringat betapa dengan permusuhan yang ada antara ia dengan penjahat-penjahat, telah membuat ia menderita dan kehilangan puteri tunggalnya.
Akibat buruk apalagikah gerangan yang akan timbul karena permusuhan dengan Song-Kauwsu ini?
Lui Siong yang usianya sudah lanjut pula dan hanya lebih muda kira-kira sepuluh tahun dari Suhunya, dapat memahami dan menduga apa yang menjadi bahan pikiran Suhunya, dapat meraba apa yang mendatangkan rusuh di hati Can-Kauwsu, maka ia lalu berkata sambil menghIbur.
"Suhu, percayalah bahwa Teecu sendiri tidak suka dengan adanya kerIbutan yang timbul antara kita dengan pihak Song-Kauwsu itu. Akan tetapi, sebagai orang-orang gagah yang menjunjung tinggi keadilan dan nama kehormatan, kita harus melawan dan Teecu bersiap mengorbankan nyawa akan pembelaan nama kehormatan perguruan kita! Bukankah orang-orang bijaksana di jaman dahulu seringkali menyatakan bahwa manusia tanpa kehormatan menurun tingkatnya seperti seekor binatang? Bukankah mereka para cerdik pandai menyatakan bahwa orang harus membela nama kehormatan Negara, nama kehormatan keluarga dan nama kehormatan sendiri yang jauh lebih berharga daripada nyawa? Dan ada pula ujar-ujar kuno yang menyatakan bahwa jauh lebih baik mati sebagai seekor harimau yang gagah daripada hidup sebagai seekor babi yang hanya menjadi bahan hinaan orang lain?"
Sambil berjalan terus, Can Gi Sun mengerling kepada murid kepala ini dan mulutnya tersenyum.
Keraguannya yang tadi hampir saja menenggelamkan sifat kegagahannya buyar tertiup oleh semangat kegagahan yang terkandung dalam ucapan muridnya, dan bangkit kembali semangatnya, membuat wajahnya berseri bagaikan seorang pemuda yang berangkat menuju ke pesta kawin untuk menyambut kekasihnya!
"Terima kasih, Lui Siong!
Kau pandai memilih saat untuk mengeluarkan ucapan yang tepat!
Akan tetapi jangan kau salah duga.
Aku sama sekali tidak takut atau gentar menghadapi pIbu ini, hanya aku teringat alangkah buruknya sifat-sifat yang dimiliki oleh orang-orang gagah di dunia ini, yang hendak menonjolkan kegagahannya dengan cara menjatuhkan orang lain mengandalkan tenaganya.
Sifat kegagahan macam ini kurasa hanya kosong belaka, muridku!
Kalau saja yang akan kita hadapi ini seorang penjahat keji pengganggu dan pengrusak keamanan dan ketentraman rakyat, tentu aku akan berangkat dengan penuh kegembiraan.
Akan tetapi, aku tahu bahwa Song-Kauwsu bukanlah seorang jahat, dan ia hanya menurutkan kata nafsu hatinya yang sombong, keras, dan tidak mau mengalah.
Inilah yang tadi mengesalkan hatiku.
Akan tetapi, betul juga kata-katamu tadi, kita bukan hendak merobohkan mereka untuk mencari nama, akan tetapi kita hanya menjadi tamu yang diundang, orang-orang yang ditantang dan yang berusaha membela nama dan kehormatan!"
Maka ketiga orang itu berjalan makin cepat sehingga sebentar saja mereka tiba di halaman Kuil Ban-Hok-Si yang sudah penuh dengan penonton itu!
Kembali terdengar suara riuh sebagai penyambutan kedatangan Guru silat tua yang ternama ini.
Melihat betapa Can-Kauwsu hanya datang bersama dua orang muridnya, dan sama sekali tidak mentereng dan gagah seperti kedatangan Song-Kauwsu tadi, maka makin lemahlah hati para orang-orang yang memihak Can-Kauwsu.
Akan tetapi, orang yang bertaruh lima puluh tail perak melawan orang yang mempertaruhkan sawahnya tadi, segera menyambut Can-Kauwsu dengan seruan keras.
"Hidup Can-Kauwsu yang gagah perkasa!"
Teriakannya ini membangkitkan semangat para penonton yang bersimpati kepada Can-Kauwsu sehingga merekapun lalu bersorak-sorak girang dan gembira.
Can-Kauwsu menggeleng-gelengkan kepalanya.
Orang-orang macam ini bahkan memperuncing perasaan hati yang panas dari kedua belah pihak dan iapun dapat maklum dari pengalamannya bahwa diantara mereka itu sebagian besar tentu orang-orang yang bertaruh!
ia hanya melambaikan tangan sebagai pembalasan hormat, kemudian dengan langkah tetap ia bersama dua orang muridnya menuju ke ruang muka Kuil itu dimana ia disambut oleh ketua Ban-Hok-Si, yakni Jin Hwat Hosiang.
"Lo-Suhu, kali ini Kuilmu benar-benar mendapat banyak pengunjung!"
Kata Can-Kauwsu kepada ketua kelenteng itu.
Jin Hwat Hosiang memberi hormat dengan muka berubah merah karena merasakan sindiran dalam ucapan ini.
ia sudah lama kenal Can-Kauwsu sebagai seorang yang baik budi, maka jawabnya dengan suara menyesal.
"Percayalah, Can-Kauwsu, telah berhati-hati Pinceng (aku) merasa berduka dan tak dapat tidur dengan nyenyak memikirkan hal ini. Silakan duduk!"
Can Gi Sun melayangkan pandang ke arah rombongan Song Swi Kai yang duduk di ujung ruang sebelah kiri dan ketika pandangan mata kedua orang itu bertemu, maka yang terpancar keluar dari dua pasang mata itu hanyalah sikap permusuhan!
Can-Kauwsu dan kedua orang muridnya menduduki ruang sebelah kanan di mana telah dipersiapkan tempat duduk untuk rombongannya.
Para penonton berdesakan maju dan keadaan menjadi riuh karena ratusan orang penonton itu saling bicara dalam waktu yang sama.
Akan tetapi ketika Song Swi Kai bangkit dari duduknya dan naik ke atas panggung, semua suara lenyap dan keadaan menjadi sunyi.
Semua mata ditujukan kepada Guru silat yang tinggi besar dan bermuka merah itu.
Melihat Guru silat yang berpakaian mewah dan gagah itu, mau tak mau semua orang mengakui kegagahan Guru silat ini, bahkan mereka yang tadinya mengharapkan kemenangan Can-Kauwsu, kini merasa amat ragu-ragu.
Song Swi Kai menjura ke empat penjuru, lalu berkata dengan suaranya yang lantang.
"Cuwi (saudara-saudara sekalian) yang terhormat! Sebagaimana cuwi sekalian tentu sudah mendengar bahwa hari ini aku, Song Swi Kai, Guru silat baru di kota ini yang mengajarkan ilmu silat dari cabang Bu-Tong-Pai, mendirikan Lui-Tai ini untuk mengundang kepada Can-Kauwsu mengadakan pIbu terbuka agar dapat disaksikan oleh umum ilmu silat perguruan manakah yang lebih tinggi tingkatnya dan lebih aseli! Tentu nama Can-Kauwsu untuk kota Sung-Kian ini sudah amat terkenal, karena Can-Kauwsu telah mengangkal diri sendiri menjadi Sung-Kian te-it-Kauwsu Aku tidak mempunyai persoalan atau permusuhan pribadi dengan Can-Kauwsu akan tetapi tentu cuwi sekalian telah tahu pula akan bentrokan-bentrokan yang terjadi antara perguruanku dan perguruan Can-Kauwsu yang pada hakekatnya disebabkan oleh karena rasa penasaran dar saling tidak mau mengalah dari para murid kami berdua. Hal ini harus diselesaikan, dan cara terbaik bagi orang-orang yang menjunjung tinggi kegagahan ialah cara pIbu di atas panggung. Yang kalah harus mengakui kebodohannya dan yang menang berhak untuk melanjutkan perguruannya dan dapat disebut Sung-Kian Te-It-Kauwsu! Kami persilakan Can-kauwsi mengajukan jawabannya!"
Pidato ini mendapat sambutan tepuk tangan riuh dari mereka yang pro dengan Song-Kauwsu, terutama mereka yang bertaruh memegang Guru silat ini.
Can Gi Sun berdiri dari tempat duduknya dan naik ke atas panggung dengan tindakan kaki tetap dan perlahan.
Sikapnya amat sabar dan tenang, sungguhpun di dalam hatinya ia telah merasa panas.
Kehadirannya di atas panggung mendapat sambutan yang meriah pula, oleh karena memang Guru silat tua ini telah dianggap sebagai pendekar oleh semua orang Sung-Kian semenjak ia membasmi gerombolan perampok beberapa tahun yang lalu.
Can Gi Sun merangkapkan kedua tangan dan memberi hormat kepada Song Swi Kai yang segera membalasnya.
Kemudian Can Gi Sun memberi hormat kepada semua penonton di empat penjuru, lalu berkata dengan suaranya yang nyaring akan tetapi tenang dan halus.
"Cuwi sekalian yang mulia! Cuwi sekalian tentu telah maklum bahwa aku orang-tua she Can semenjak mengundurkan diri dari pekerjaan sebagai Piauwsu dan mengajar beberapa orang murid untuk menurunkan sedikit kepandaian sekalian mencari nafkah hidup, selalu menjauhkan permusuhan dan pertempuran, kecuali untuk membasmi orang-orang jahat yang mengganggu keamanan umum. Sepuluh tahun sudah, aku hidup sebagai Guru silat dengan tentram dan tak pernah bertempur, bahkan semua murid-muridku dengan keras kupesan agar supaya jangan suka berkelahi dan mengandalkan kepandaian yang rendah! Tadi Song-Kauwsu yang terhormat menyatakan bahwa aku mengangkat diri sendiri sebagai Sung-Kian Te-It-Kauwsu, dan hal ini sebagaimana cuwi ketahui tidak benar adanya, karena papan itu adalah sebuah hadiah dari kepala kampung setelah aku dan kawan-kawan serta murid-muridku berhasil membasmi perampok yang mengganggu kampung. Semenjak Song-Kauwsu datang membuka perguruan di kota ini, barulah terjadi pertempuran-pertempuran dan kerIbutan diantara anak murid kami. Dengan adanya hal ini dapatlah kiranya cuwi mempertimbangkan sendiri di mana letak kesalahan!"
Sehabis mengucapkan kata-kata ini, Can Gi Sun lalu menjura lagi kepada penonton, lalu menghadapi Song Swi Kai dengan sikap tenang.
Song-Kauwsu memandang kepada Can-Kauwsu dengan senyum sindir dan berkata dengan suara keras agar terdengar pula oleh semua penonton.
"Can-Kauwsu pidatomu sungguh bagus dan agaknya kau hendak menimpakan semua kesalahan di atas pundakku! Aku tahu bahwa kau merasa iri dan tidak senang karena sebagian besar murid-muridmu lari dan berguru kepadaku. Hal ini seharusnya kau insyafi sebagai tanda bukti bahwa tingkat ilmu silat yang kuajarkan lebih baik daripada ilmu silatmu. Dan untuk membuktikan ini pula serta menyelesaikan segala perhitungan, maka aku sengaja mengundangmu untuk mengadakan pIbu ini. Kulihat kau membawa dua orang muridmu, tentu mereka itu murid-muridmu yang terbaik, maka biarlah kita sekarang menIbuktikan kepada umum, pelajaran siapa yang lebih baik dan murid siapakah yang lebih pandai. Aku akan mengeluarkan seorang murid untuk menghadapi seorang muridmu. Bagaimana, apakah kau berani menerima tantangan ini?"
Can-Kauwsu tersenyum.
"Kau adalah tuan rumah dan aku hanya seorang tamu tentu saja aku akan menyambut segala aturan dan permintaan yang kau ajukan."
Kedua Guru silat tu lalu turun dari panggung menuju ke tempat masing-masing.
Song-Kauwsu lalu menyuruh muridnya Hek-Bin-Liong Tan Kui Hok untuk naik ke atas panggung.
Si Muka Hitam ini sengaja naik ke atas panggung tidak melalui anak tangga, akan tetapi melompat dari ruang itu dengan gerak tipu Burung Walet Pulang ke Sarang.
Tubuhnya melayang cepat dan tiba di atas panggung dengan ringan bagaikan seekor burung hinggap di atas cabang pohon.
Penonton menyambut demonstrasi ini dengan tepuk tangan memuji.
"Murid-murid dari Can-Kauwsu yang mana hendak menghadapiku?"
Tanya Hek-Bin-Liong sambil memandang ke arah tempat duduk pihak Can-Kauwsu.
Guru silat ini lalu menyuruh Gu Ma Ek untuk menyambut tantangan si muka hitam setelah membisiki sesuatu ke telinga anak muda itu.
Gu Ma Ek juga melompat ke atas panggung dengan kedua lengan terpentang, kemudian setelah tiba di atas panggung, ia berjungkir-balik dua kali dan kakinya tiba di atas papan panggung dengan ringan.
Gerakannya ini indah sekali maka kembali para penonton memuji ketangkasan pemuda itu.
Begitu berhadapan dengan Tan Kui Hok, Ma Ek lalu menyampaikan pesanan Suhunya ketika ia hendak melompat ke atas panggung tadi dan berkata dengan suara nyaring.
"Menurut pesan Suhu, aku sengaja naik ke sini untuk menyambut tantangan murid Song-Kauwsu tanpa membawa senjata! PIbu ini diadakan untuk menguji kepandaian, bukan untuk berkelahi mengadu nyawa, oleh karena itu, aku hendak menerima tantangan ini dengan mengandalkan kedua kaki dan kedua tanganku. Harap fihak lawan dapat maklum akan hal ini!"
Mendengar ucapan ini, si Muka Hitam tertawa bergelak, lalu melepaskan sarung pedangnya dan melemparkannya ke arah Kakaknya. Tan Siang menerima sarung pedang itu, lalu duduk kembali di dekat Suhunya.
"Siauwko (engko cilik),"
Kata Tan Kui Hok kepada Ma Ek.
"Bukankah kau yang bernama Gu Ma Ek dan menjadi murid kepala kedua dari Can-Kauwsu?"
"Dugaanmu benar dan akupun sudah tahu bahwa kau adalah Hek-Bin-Liong Tan Kui Hok yang sombong! Karena kaupun menjadi murid kepala kedua, maka kedudukan kita boleh dibilang setingkat. Nah, tak perlu banyak cakap pula, kau majulah dan perlihatkan kelihaianmu!"
Hek-Bin-Liong memang mudah sekali marah, maka mendengar ucapan yang agaknya memandang ringan ini, ia menjadi marah sekali. Cepat ia memasang kuda-kuda, kemudian berseru.
"Awas serangan!"
Sambil menyerbu ke depan dengan pukulan Cim-Jip Houw-Hiat (Memasuki Gua Harimau).
Ma Ek cepat mengelak ke samping, akan tetapi dengan amat gesitnya, Kui Hok yang bernafsu keras suntuk dapat merobohkan lawan secepatnya itu telah melanjutkan serangannya dengan tiba-tiba merendahkan tubuh setengah berjongkok dan menyambar dengan tendangan kakinya kearah lutut.
Ma Ek tidak kalah gesit dan awasnya.
Menghadapi serangan tendangan yang amat cepat dan tak terduga datangnya itu, ia lalu melompat ke atas, kemudian membalas dengan serangannya sambil mempergunakan gerak tipu Pek-Ho Tok-Hi (Bangau Putih Mematuk Ikan).
Kui Hok cepat menarik kembali kakinya yang menendang dan menangkis serangan lawan ini dengan keras, kemudian melakukan serangan balasan yang tak kalah dahsyatnya.
Demikianlah, kedua orang muda itu mengeluarkan seluruh kepandaian dan mengerahkan semua tenaga untuk dapat mengalahkan lawannya.
Mereka ternyata mempunyai tingkat kepandaian yang tidak jauh bedanya, hanya kalau diadakan ukuran, si muka hitam memiliki tenaga yang lebih besar akan tetapi sebaliknya, Gu Ma Ek memiliki kegesitan yang lebih cepat.
Sampai hampir lima puluh jurus mereka berkelahi dengan seru sekali, dan keduanya telah menerima pukulan-pukulan dari lawan yang belum cukup kuat untuk merobohkannya, karena mereka keburu menangkis atau mengelak sehingga pukulan itu hanya mengenai kulit dan meleset saja.
Tiba-tiba Tan Kui Hok si Naga Muka Hitam itu yang menjadi amat penasaran, merubah pergerakannya dan kini ia mainkan ilmu silatnya yang paling diandalkan, yakni Kim-Ta Sin-Na yang amat lihai itu.
Ilmu silat ini tidak hanya dilakukan dengan memukul, akan tetapi lebih banyak menggunakan tangan secara mencengkeram atau memukul dengan jari-jari tangan terbuka dan mengarah urat-urat penting.
Tiap pukulan disertai ilmu Coat-Meh-Hoat, yakni ilmu totok cabang Bu-Tong-Pai yang terkenal itu.
Setelah Si muka hitam mempergunakan ilmu pukulan ini, maka benar saja Gu Ma Ek menjadi terdesak hebat dan menjadi bingung menghadapi serangan-serangan yang bertubi-tubi dan sambung-menyambung datangnya itu.
Setelah dapat mempertahankan diri sampai dua puluh jurus lagi, akhirnya pukulan tangan kiri dari Tan Kui Hok dapat "masuk"
Dan menghantam tulang pundak Ma Ek.
Pemuda itu berseru kesakitan dan terguling di atas lantai panggung.
Kui Hok yang sudah menjadi panas dan seperti orang mabok itu lupa bahwa pertandingan itu hanya pIbu belaka, dan di dalam pertempuran itu ia telah menganggap lawannya ini seorang musuh, maka ia lalu melangkah maju hendak memberi pukulan pula kepada lawan yang sudah roboh itu.
Hal ini sungguh melanggar peraturan pIbu, karena di dalam pIbu, orang yang sudah roboh dan tak dapat melawan lagi, sama sekali tak boleh diserang lagi.
"Kui Hok, tahan!"
Seru Song Swi Kai melihat gerakan muridnya itu, sedangkan dari bawah panggung berkelebat bayangan orang dan tahu-tahu Lui Siong, murid nomor satu dari Can-Kauwsu telah berada dihadapan Kui-Hok sambil memandang marah.
"Ha, ha! Kau hendak menggantikan sutemu?"
Kata Kui Hok yang masih panas dan tiba-tiba ia mengirim pukulan kepada Lui Siong.
Lui Siong miringkan tubuhnya dan tangannya tiba-tiba menyabet dari samping memukul lengan si muka hitam itu sehingga Kui Hok menjadi kaget dan terhuyung ke samping.
Lengannya yang terpukul tadi terasa sakit sekali.
Terkejutlah ia karena ternyata bahwa murid pertama dari Can-Kauwsu ini benar-benar lihai dan kuat.
"Kui Hok, turun kau!"
Terdengar Song-Kauwsu berseru keras dan marah sehingga si muka hitam yang sudah memperoleh kemenangan itu lalu melompat turun.
Lui Siong membimbing sutenya yang terluka itu ke bawah panggung dan beberapa orang murid Can-Kauwsu yang berada di bawah panggung dan berdiri diantara para penonton, lalu maju menolong dan menggotong Ma Ek pulang untuk diobati.
Lui Siong mendapat perkenan dari Gurunya untuk naik ke panggung.
Sementara itu, Song-Kauwsu sudah menyuruh murid kepalanya yang bernama Tan Siang dan bergelar Oei-Bin-Liong untuk naik ke panggung.
Berbeda dengan Naga Muka Hitam, Tan Siang lebih tenang dan sabar daripada adiknya, demikianpun Lui Siong lebih sabar daripada Ma Ek, maka kedua orang ini saling menjura dengan hormat.
"Adikmu sungguh gagah dan suteku memang telah kalah,"
Kata Lui Siong kepada Tan Siang.
"Marilah kita melanjutkan pIbu ini untuk menentukan keunggulan ilmu silat masing-masing."
Oei-Bin-Liong bertanya.
"Apakah kau juga merasa berkeberatan untuk mengadakan pIbu sambil mainkan senjata? Atau barangkali kau merasa ngeri melihat darah?"
Mendengar pertanyaan yang mengandung ejekan ini, Lui Siong merasa mendongkol juga.
Biarpun agak pendiam, ternyata si Naga Muka Kuning ini juga mempunyai kesombongan seperti adiknya.
Akan tetapi Lui Siong tidak berani mengambil keputusan sebelum mendapat ijin dari Suhunya, maka dari atas panggung ia memandang ke arah Suhunya dengan ragu-ragu.
Can-Kauwsu juga mendengar pertanyaan Oei-Bin-Liong Tan Siang tadi, maka karena muridnya memang tidak membawa senjata, ia segera mengeluarkan sepasang Poan-Koan-Pitnya dan melemparkan sepasang senjata pit itu ke atas panggung.
Biarpun ia melemparkannya dengan perlahan, namun sepasang pit itu meluncur bagaikan dua batang anak panah ke arah muridnya itu.
Inilah gerakan dari ilmu silat Sin-Wan Kun-Hwat yang disebut Lutung Sakti Menyambit Buah!
Hanya Lui Siong seorang diantara murid-murid Can-Kauwsu yang sudah mempelajari ilmu silat Poan-Koan-Pit yang lihai dari Suhunya ini, maka melihat sepasang senjata Suhunya itu meluncur ke arahnya, yakni yang sebatang menuju ke pundak kiri dan yang kedua ke pundak kanannya, ia segera merendahkan diri dan mengangkat kedua tangan ke atas untuk menyambar dan menangkap dua batang pit itu.
Inilah gerakan yang disebut Lutung Sakti Menyembah Dewa!
Tepuk tangan memuji terdengar riuh sekali menyambut gerakan Lui Siong menangkap sepasang Poan-Koan-Pit ini, dan dengan tenang Lui Siong lalu menghadapi Tan Siang dan berkata.
"Aku sudah mendapat ijin dari Suhu dan telah memegang senjata, maka persilakan kau mengeluarkan senjatamu!"
Tanpa banyak cakap lagi Tan Siang si Naga Muka Kuning itu lalu mencabut pedangnya yang tajam berkilau, lalu ia menggerakkan pedangnya sambil berseru keras.
"Awas pedang!"
Serangan pertama dari Tan Siang ini dilakukan dengan gerakan Dewa Sakti Menunjuk Jalan dan pedangnya meluncur dengan tusukan kilat ke arah ulu hati lawan!
Namun Lui Siong tak kalah cepatnya, kedua tangannya digerakkan ke atas dan sepasang Poan-Koan-Pitnya dipasang menyilang merupakan gunting dan dapat "menangkap"
Pedang itu.
Gerakan ini adalah semacam gerakan yang amat lihai dari ilmu silat Poan-Koan-Pit, karena sepasang senjata yang bentuknya seperti alat tulis ini terbuat daripada baja tulen dan keras sekali.
Kalau saja ujung pedang Tan Siang dapat tertangkap dan "digunting,"
Maka besar kemungkinan ujung pedang itu akan patah!
Akan tetapi, Tan Siang sudah memetik sari pelajaran ilmu silat Bu-Tong-Pai, maka tentu saja ia telah maklum akan bahaya ini.
Secepat kilat ia menarik kembali pedangnya dan terus digerakkan membabat tubuh bagian bawah lawannya.
Lui Siong melompat sehingga pedang lawan itu menyambar di bawah kakinya, lalu ia melakukan gerakan balasan dan menyerang dengan pitnya di tangan kanan ke arah mata lawan, sedangkan pit di tangan kiri ditusukkan ke arah jalan darah di dada kiri Tan Siang.
Si muka kuning ini menghindarkan diri dari serangan lawan dengan merendahkan tubuhnya dan menggunakan pedang untuk menangkis tusukan ke arah dada.
"Trang!!"
Bunga-bunga api memercik ke kanan kiri ketika kedua senjata itu beradu dan keduanya melangkah mundur untuk memeriksa senjata dan memperbaiki posisi.
Kemudian mereka melanjutkan serangannya dengan cepat sekali.
Pertempuran kali ini jauh lebih hebat kalau dibandingkan dengan pertempuran pertama tadi, karena tidak saja mereka kini mempergunakan senjata, akan tetapi kepandaian mereka juga lebih tinggi daripada murid-murid kepala kedua tadi, sehingga gerakan mereka lebih gesit dan kuat.
Tan Siang si Naga Muka Kuning adalah murid pertama dari Song Swi Kai dan telah mewarisi tujuh bagian kepandaian Suhunya, maka sudah tentu saja ilmu kepandaiannya cukup tinggi dan kuat.
Apalagi ia paling tekun melatih diri dengan latihan napas dan samadhi sehingga tenaga lweekangnya amat kuat yang membuatnya lihai sekali.
Sebaliknya, Lui Siong juga telah menerima ilmu silat terlihai dari Suhunya, yakni permainan Poan-Koan-Pit itu, dan ditambah pula dengan pengalaman-pengalamannya bertempur bertahun-tahun selama ia menjadi Piauwsu, maka ia merupakan lawan berat bagi Tan Siang.
Sementara itu, di bawah panggung terjadi hal yang menghebohkan pula.
Sebagaimana diketahui, terdapat dua orang yang bertaruh dalam pertandingan ini, yakni petani yang mempertaruhkan sawahnya dan memegang Song-Kauwsu, melawan orang yang bertaruh lima puluh tail perak dan memegang Can-Kauwsu.
Mereka menjadi rIbut-rIbut dan bertengkar lagi.
HaI ini terjadi semenjak Ma Ek dikalahkan oleh Tan Kui Hok tadi.
Si pemilik sawah menyatakan bahwa taruhan itu berlaku untuk semua pengikut pIbu, yakni dengan melihat jumlah yang menang.
"Can-Kauwsu datang bertiga, maka kita lihat saja siapa yang lebih banyak mendapat kemenangan dalam pertandingan ini! Pihak Song-Kauwsu telah menang seorang, maka kalau sekali lagi pihak Song-Kauwsu menang, biarpun Song-Kauwsu sendiri nanti kalah oleh Can-Kauwsu, tetap saja pihaknya menang dan kau harus memberikan uang taruhanmu itu kepadaku!"
"Tidak bisa!"
Bantah si pemilik uang yang tentu saja tidak mau menerima aturan ini karena dengan demikian, maka pihaknya telah menjadi lemah dan telah kalah sebagian!
"Yang kita pertaruhkan adalah pertandingan antara Can-Kauwsu melawan Song-Kauwsu, pertandingan-pertandingan lain tidak masuk hitungan!"
"Kau curang!"
Seru si pemilik sawah yang tadinya sudah merasa menang di atas angin.
"Tidak bisa, kau yang curang!"
Maka rIbutlah keduanya sehingga kalau saja jarak diantara mereka tidak penuh sesak dengan penonton-penonton lain, tentu mereka sudah berkelahi lagi!
"Sst!
Diam, lihatlah pertempuran yang sedang berjalan seru!"
Penonton yang berdiri diantara kedua orang itu mencela karena merasa terganggu.
Kedua telinganya sudah menjadi sakit karena serangan suara yang keluar dari kedua orang di kanan kirinya!
Benar saja, pertempuran antara Lui Siong dan Tan Siang yang telah berlangsung tiga puluh jurus lebih itu kini berjalan dengan amat serunya.
Dalam pandangan para penonton yang tidak tahu akan ilmu silat, memang nampaknya kedua orang itu bergerak-gerak saling serang dan menangkis, berlompatan ke kanan kiri, depan belakang, bagaikan dua ekor burung sedang bermain-main.
Akan tetapi, dalam pandangan ahli silat, terutama Can-Kauwsu dan Song-Kauwsu, jelas kelihatan betapa Lui Siang sedang mendesak dengan hebat dan Tan Siang hanya dapat bermain sambil mundur saja.
Ketika mendapat kesempatan, secepat kilat pit di tangan kanan Lui Siong menusuk ke arah perut dibarengi bentakan keras.
Tan Siang terkejut sekali dan cepat menggerakkan pedangnya yang tadinya di bawah digerakkan ke atas untuk menangkis.
Akan tetapi, tak terduga sama sekali bahwa serangan dengan pit kanan itu hanya tipuan belaka dan sebelum Tan Siang dapat menjaga diri, pit di tangan kiri dari Lui Siong telah menusuk ke arah pundak kanan Tan Siang.
"Aduh!"
Tan Siang memekik dan pedangnya terlepas dari pegangan, terus melayang ke atas, akan tetapi ia dapat menggulingkan tubuhnya menghindarkan serangan selanjutnya dan ketika ia melompat bangun, ia berhasil menangkap pedangnya yang meluncur turun!
Para penonton, terutama yang berpihak kepada Tan Siang, bertepuk tangan memuji.
Akan tetapi, ketika Tan Siang yang tadi menerima pedangnya dengan tangan kiri itu memindahkan pedang ke tangan kanan, ia menjadi terkejut sekali karena merasa betapa pundak kanannya sakit sekali dan tangan kanannya tak dapat digerakkan!
ia maklum bahwa jalan darahnya telah kena di "tiam" (ditotok) oleh pit dari lawan itu dan ia tak berdaya untuk melanjutkan pertempuran.
Maka ia lalu menjura kepada Lui Siong dan berkata perlahan.
"Kau lihai sekali, aku menyerah kalah!"
Setelah berkata demikian, Tan Siang lalu melompat turun dan menghampiri Suhunya yang segera mengurut pundaknya yang tertotok.
Bukan main girangnya petaruh yang memegang pihak Can-Kauwsu tadi.
ia menyeringai kepada si pemilik sawah dan berkata.
"Ha, lihat saja! Belum tentu pihakku kalah! Kini hasilnya sudah satu-satu, dan kedua Guru silat sendiri yang akan menentukan kemenangan!"
"Dasar hati curang!"
Memaki si pemilik sawah yang merasa kecewa.
"Tadi kau tidak mau mengakui kekalahan murid Can-Kauwsu, sekarang setelah yang kedua menang, kau bergirang! Cih, tak tahu malu!"
"Jangan rIbut!"
Kata si pemilik uang sambil tertawa mengejek.
"Lihat saja, pertandingan terakhir antara kedua Guru silat itu akan menentukan. Kalau Song-Kauwsu kalah, maka kau dan anak-binimu akan kehilangan sawah dan kalian akan kelaparan!"
Marahlah si pemilik sawah, akan tetapi banyak orang melerai dan mencela mereka yang membuat gaduh sehingga mereka hanya saling pandang dengan mata melotot.
"Kalian berdua ini lagaknya seperti jago saja! Kalau memang mau adu pIbu, bukan di sini tempatnya. Naiklah kalian berdua ke atas panggung untuk mengadu kepalan, biar kami yang menonton siapa yang akan menang!"
Terdengar seorang-tua mencela dan semua orang yang mendengar ini tertawa bergelak. Pada saat itu, Can Gi Sun telah naik ke atas panggung dan berkata dengan suara nyaring.
"Dua pertandingan telah berlangsung dan dalam kedua pertandingan itu para penonton sudah melihat sendiri bahwa ilmu silat pada dasarnya sama kuat dan sama lihai, tergantung dari mereka yang belajar. Ilmu silat yang kuajarkan ada baiknya dan ada juga cacadnya, demikian pula ilmu silat yang diajarkan oleh Song-Kauwsu! Maka, tak dapat disebutkan mana yang lebih tinggi dan mana yang rendah! Kalau hal ini diinsyafi oleh Song-Kauwsu dan suka menarik kembali tantangannya, maka aku orang-tua akan merasa girang dan pertentangan ini akan dibereskan secara damai. Akan tetapi, bukan sekali-kali aku merasa takut! Kalau pihak Song-Kauwsu masih merasa penasaran dan hendak melanjutkan pIbu ini, silakan, aku selalu menunggu!"
"Orang she Can jangan sombong!"
Tiba-tiba terdengar seruan merdu dan dari bawah panggung melayanglah tubuh Song Bwee Eng dengan amat cepat dan ringannya!
"Tua bangka she Can!
Keadaan kita baru satu-satu, lihat pedangku ini yang akan memutuskan kemenangan!"
"Bwee Eng... Jangan..."
Terdengar Song Swi Kai berseru, akan tetapi terlambat, gadis yang keras hati itu telah menggerakkan pedangnya menusuk ke arah perut Can Gi Sun dengan gerakan Daun Melayang Dari Cabang!
Kepandaian Bwee Eng ini tingkatnya sudah sejajar dengan kepandaian Tan Siang, maka kelihaiannya juga cukup hebat ditambah pula dengan ginkangnya yang memang baik sekali, maka serangan itu cepat sekali datangnya.
"Ah, kau ganas!"
Seru Can-Kauwsu perlahan, dan dengan tenang akan tetapi amat cepat, ia miringkan tubuhnya dan ketika tangan kirinya digerakkan, ia telah dapat menepuk pergelangan tangan gadis yang memegang pedang itu!
Bwee Eng merasa betapa tangannya menjadi kaku karena tepukan perlahan itu, maka maklumlah ia bahwa kalau Guru silat itu mau, maka dalam segebrakan itu saja pedangnya sudah akan dapat terampas!
ia melangkah mundur dengan kaget dan pada saat itu, tubuh Song Swi Kai sudah melayang ke atas dan ia membentak anaknya.
"Turun kau!"
Bwee Eng dengan muka merah lalu melompat turun.
Baiknya para penonton tidak melihat gerakan Can-Kauwsu yang amat cepat tadi sehingga mereka tidak tahu bahwa dalam segebrakan saja Bwee Eng telah dikalahkan!
Song-Kauwsu melihat gerakan Can-Kauwsu tadi, diam-diam memuji dan maklum bahwa lawannya ini bukanlah seorang yang boleh dipandang ringan, maka begitu berada di atas panggung, ia telah mencabut keluar senjatanya yang lihai, yakni sepasang siang-kek.
"Can-Kauwsu, harap kau maafkan kekerasan puteriku tadi."
"Tidak apa, kekerasan dan nafsu memang merupakan pakaian kedua dari anak-anak muda!"
Jawab Can-Kauwsu.
"Can-Kauwsu, mari kita tua sama tua mencari penentuan dari pIbu ini. Keluarkanlah senjatamu itu!"
Can Gi Sun menghela napas dan mengeluarkan sepasang Poan-Koan-Pit yang tadi dipinjamkannya kepada Lui Siong.
Kedua jago tua ini saling menjura, lalu berdiri memasang kuda-kuda dengan amat teguhnya.
Semua penonton menahan napas, semua mata ditujukan ke atas panggung, melihat dua orang jago silat yang hendak bertanding itu.
Semua orang maklum biarpun keduanya mempergunakan kata-kata halus, namun pertandingan yang menentukan ini pasti akan berjalan dengan hebat dan mati-matian!
Memang sikap kedua jago tua ini amat menegangkan kepada para penonton.
Mereka memasang kuda-kuda dengan teguh dan mereka saling pandang dengan mata tajam tanpa berkedip.
Jarak di antara mereka agak jauh dan agaknya mereka saling menanti serangan lawan.
Song-Kauwsu berdiri dengan kedua kaki bercabang ke kanan kiri, tubuhnya tegak lurus dan kedua lutut ditekuk rendah, sepasang siang-kek dipegang dengan tangan menempel pada pinggang di kanan kiri.
Sebaliknya, kuda-kuda yang dipasang oleh Can-Kauwsu adalah kuda-kuda miring, dengan kaki kanan di belakang ditekuk rendah, kaki kiri di depan berdiri lurus, tubuh tegak dan sepasang pitnya disilangkan di depan dada.
Untuk beberapa lamanya mereka berdiri tegak tak bergerak sedikitpun juga bagaikan dua buah patung batu.
Kemudian Can-Kauwsu merobah kedudukannya dan menggerakkan kaki kanannya ke depan, menjadi kuda-kuda bercabang, pit di tangan kanan diangkat sebatas alis, sedangkan pit di tangan kiri ditaruh di atas pinggang!
Melihat perubahan gerakan ini, Song-Kauwsu juga menggeser kakinya yang sebelah kiri, diangkat ke depan dan tergantung dengan paha lurus ke depan, siang-kek di kedua tangan juga dirubah, kini yang kanan dilonjorkan di depan dada, yang kiri masih tetap di pinggang!
Setelah merubah kuda-kuda yang membuat jarak mereka makin dekat itu, kembali keduanya tetap dalam kuda-kuda masing-masing dan tidak bergerak sama sekali, saling menantikan serangan lawan!
"Song-Kauwsu, kau majulah!"
Tantang Can-Kauwsu.
"Tidak, Can-Kauwsu, kaulah yang mulai menyerang dulu!"
Jawab Song Swi Kai tanpa bergerak.
Ini adalah sopan-santun dalam pIbu.
Memberi kesempatan kepada lawan untuk bergerak lebih dulu dianggap kelakuan sopan dan penghormatan, karena pada umumnya di kalangan persilatan, yang menyerang lebih dahulu dianggap telah "menang di atas angin"
Dan boleh juga disebut menang set.
Akan tetapi bagi seorang ahli silat yang sudah tinggi ilmu kepandaiannya, hal ini bahkan sebaliknya.
Mereka tahu bahwa sikap yang terbaik ialah menanti lawan bergerak lebih dahulu, oleh karena yang diserang dapat berlaku lebih waspada dan hati-hati, dapat melihat permulaan gerakan lawan lebih dulu dan sambil menangkis atau mengelak dapat melancarkan serangan yang tiba-tiba dan yang lebih berbahaya karena sukar terjaga oleh penyerang pertama itu.
Hal ini diketahui dengan baik oleh Can-Kauwsu dan Song-Kauwsu, maka mereka menjadi ragu-ragu untuk bergerak lebih dulu.
Keduanya maklum bahwa lawan yang dihadapi ini adalah orang yang berkepandaian tinggi, maka mereka saling "mengalah"
Dan mempersilakan lawan menyerang lebih dahulu.
"Song-Kauwsu, ingat! Kaulah penantangnya, bukan aku!"
Mendengar ucapan ini, Song Swi Kai lalu berseru keras.
"Baik! Awas serangan!"
La.
lalu menggerakkan kakinya dan menyerang dengan kedua siang-keknya dengan hebat sekali.
Kedua siang-kek itu bergerak dengan cara bersilang dan sukar sekali ditentukan bagian manakah yang hendak diserang oleh siang-kek kiri atau kanan.
Akan tetapi, ketika ia telah maju dekat dan menyerang, Can Gi Sun yang berkepandaian tinggi, tenang dan banyak pengalaman bertempur itu, dapat menangkis dengan amat baiknya.
"Trang! Trang!!"
Dua pasang senjata itu beradu dan mengeluarkan bunyi yang lebih nyaring daripada pertandingan kedua tadi.
Song Swi Kai yang cukup berhati-hati, begitu senjata kena ditangkis, cepat melompat ke belakang untuk menghindarkan serangan balasan.
Keduanya memeriksa senjata masing-masing dan menjadi lega melihat bahwa senjata mereka tidak rusak.
Pertempuran senjata tadi amat dahsyatnya sehingga mereka merasa betapa telapak kedua tangan mereka tergetar hebat!
Kini Can Gi Sun yang menyerang dan disambut dengan baik oleh Song Swi Kai.
Keduanya lalu menggerakkan sepasang senjata masing-masing dan pertempuran berjalan dengan luar biasa hebat dan sengitnya.
Song Swi Kai mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan ilmu silat cabang Bu-Tong-Pai, sedangkan Can Gi Sun mainkan Sin-Wan Kun-Hwat dan sepasang Poan-Koan-Pitnya bergerak-gerak dengan cepat sekali.
Tubuh kedua jago tua itu makin lama makin sukar diikuti pergerakannya oleh mata para penonton dan berkelebatnya senjata-senjata itu membuat silau mata.
Tak lama kemudian, dalam pandangan para penonton, lenyaplah tubuh kedua orang jago tua itu, terselimut oleh gulungan sinar senjata-senjata mereka sendiri.
Bukan main ramai dan hebatnya pertempuran ini, sehingga murid-murid kedua pihak sendiri sampai menjadi pening dan amat gelisah!
Belum pernah mereka saksikan kelihaian Suhu masing-masing dan kini mau tak mau mereka harus mengakui bahwa kedua orang Guru silat ini benar-benar memiliki kepandaian yang tinggi.
Terbukalah mata mereka, bahwa sebenarnya bukan kepandaian Guru mereka yang kurang tinggi, akan tetapi adalah mereka sendiri yang kurang tekun, kurang rajin, atau memang kurang berbakat!
(Lanjut ke
Jilid 03) Antara Dendam & Asmara (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 03 Kegelisahan ini tidak saja mengganggu hati para penonton dan murid-murid kedua pihak, akan tetapi juga dirasakan oleh kedua orang Guru silat yang sedang bertempur itu.
Setelah bertempur puluhan jurus, mereka maklum bahwa sukarlah merobohkan lawan tanpa memberi pukulan yang mematikan dan yang berbahaya.
Pertandingan pIbu itu kini bukan merupakan percobaan atau pengukuran tenaga masing-masing lagi, akan tetapi lebih tepat disebut pertempuran mati-matian yang dikendalikan oleh maksud ingin membunuh lawan!
Mereka sudah kepalang untuk mundur, karena siapa yang mundur berarti mengaku kalah dan hal ini sama sekali tidak dikehendaki oleh dua orang Guru silat yang sedang membela nama dan kehormatan masing-masing itu.
Penonton yang tadi bersorak-sorak ketika dua pasang murid kedua pihak bertempur, kini menonton dengan diam tak bergerak.
Keadaan terlampau menegangkan urat syaraf untuk dapat bergembira atau bersorak.
Bahkan si pemilik sawah dan si pemilik uang tadipun kini menonton dengan wajah pucat, sama sekali lupa akan taruhannya dan seluruh perhatian ditujukan ke arah dua bayangan orang yang bergerak-gerak diantara sinar senjata di atas panggung, sukar dibedakan mana Can-Kauwsu dan mana Song-Kauwsu!
Tiba-tiba dari tengah-tengah penonton melayang naik dua sosok bayangan orang yang cepat sekali gerakannya.
"Kim Lian, kau menahan Song-Kauwsu!"
Terdengar seorang diantara kedua bayangan itu berseru dan menyambarlah dua sinar pedang yang terpecah menjadi empat ketika dua orang itu menggerakkan sepasang Siangkiam (sepasang pedang) di tangan mereka!
Song-Kauwsu dan Can-Kauwsu merasa terkejut bukan main ketika tiba-tiba mereka melihat cahaya dari gerakan pedang yang amat cepat dan tahu-tahu sepasang pedang digerakkan dengan secara luar biasa menahan senjata mereka sehingga terpaksa mereka meloncat mundur.
Ketika mereka memandang, ternyata diantara mereka berdiri dua orang muda, seorang laki-laki dan seorang wanita, yang masing-masing memegang sepasang pedang yang berkilauan!
Juga para penonton memandang dengan heran dan kagum kepada dua orang yang telah berhasil memisahkan dua orang Guru silat yang sedang bertempur mati-matian itu, karena mereka ini adalah seorang pemuda yang tampan dan gagah serta seorang dara yang cantik.
Yang menahan senjata Song-Kauwsu dengan sepasang pedangnya adalah seorang gadis berusia kurang lebih delapan belas tahun, wajahnya cantik menarik, Sepasang matanya selalu bergerak lincah dan hidup, bibirnya selalu tersenyum manis dengan tarikan genit di ujungnya, rambutnya terhias oleh burung emas bermata batu merah, pakaiannya warna merah muda berkembang, ringkas dan mencetak potongan tubuhnya yang menggiurkan.
Adapun pemuda yang dengan sepasang pedangnya menahan senjata Can-Kauwsu adalah seorang teruna yang juga amat tampan.
Mata dan mulutnya sama bentuknya dengan gadis itu, juga pakaiannya mewah dan gagah sekali, usianya paling banyak dua puluh tahun.
Baik Song-Kauwsu, maupun Can-Kauwsu, maklum bahwa kedua orang muda ini memiliki ilmu kepandaian yang tinggi luar biasa, karena hanya dengan sekali gerakan pedang saja telah berhasil menahan senjata mereka sehingga mereka terpaksa melompat mundur.
"Jiwi-Kauwsu,"
Kata pemuda itu sambil tersenyum.
"Kalau dua ekor harimau berkelahi, pasti ada seekor yang akan tewas atau sedikitnya menderita luka hebat. Kami Kakak-beradik she Lee tidak sengaja lewat di kota ini dan mendengar tentang pIbu yang hendak jiwi adakan, maka karena gembira kami sengaja datang menonton. Akan tetapi, setelah melihat jalannya pertempuran, agaknya jiwi bukan sedang berpIbu, melainkan sedang bertempur mati-matian! Oleh karena itu, terpaksa kami melerai dan kami harap saja jiwi dapat menghabiskan pertempuran yang akan merugikan kedua pihak ini!"
Sebetulnya, sebelum kedua orang muda ini datang, keadaan pertempuran tadi sudah amat menguntungkan Can-Kauwsu dan diam-diam Song-Kauwsu sudah merasa gelisah sekali karena harus ia akui bahwa ilmu Poan-Koan-Pit dari Guru silat tua itu benar-benar hebat dan lihai sekali dan ia telah mulai terdesak.
Kalau dilanjutkan pertempuran itu, besar sekali kemungkinannya akan kalah, maka tentu saja kedatangan dua orang muda yang meleraikan pertempuran itu merupakan hal yang amat baik dan menolongnya dari kekalahan yang akan mendatangkan rasa malu.
Can Gi Sun juga maklum akan kelebihannya terhadap Song-Kauwsu tadi dan ia telah merasa puas dapat memperlihatkan kepada lawannya akan kelihaiannya dan karena ia memang tidak begitu bernafsu untuk mengadakan permusuhan, maka sambil memandang tajam kepada kedua orang muda itu, ia berkata.
"Jiwi yang masih muda ternyata memiliki kepandaian yang amat tinggi membuat aku yang tua merasa kagum, juga kata-kata yang diucapkan tadi memang ada benarnya. Lohu (aku orang-tua) berada di panggung ini sebagai tamu dan sebagai penyambut tantangan. Sekarang terserah kepada tuan rumah dan penantang, apakah akan menyudahi pIbu ini ataukah akan dilanjutkan, lohu hanya setuju saja!"
Kata-kata ini sungguhpun terdengar amat mengalah dan sabar, namun di dalamnya mengandung pernyataan yang menantang.
Sementara itu, Song-Kauwsu yang cerdik mempergunakan kesempatan baik ini untuk menolong mukanya, maka ia berkata terhadap semua penonton.
"Cuwi sekalian! Oleh karena memandang kepada kedua orang muda yang budiman dan berkepandaian tinggi ini, maka pIbu diakhiri sampai di sini saja!"
Terdengar seruan-seruan kecewa dari penonton, akan tetapi Song-Kauwsu tidak memperdulikan hal ini dan segera berpaling dan berkata kepada kedua orang muda itu dengan muka berseri.
"Jiwi yang begini lihai sungguh-sungguh telah membuat aku merasa amat kagum dan bersukur dapat bertemu dan berkenalan. Silakan jiwi mampir di rumah kami untuk mempererat perkenalan!"
Sementara itu, Song Bwee Eng sudah pula melompat ke atas panggung dan melihat nona yang cantik ini, pemuda she Lee itu memandang kagum dan menjawab undangan Song-Kauwsu dengan senyum ramah.
"Song-Kauwsu baik sekali, tentu saja kami Kakak-beradik tidak berani menolak undangan ini. Terima kasih!"
Adapun Can-Kauwsu ketika melihat betapa kedua orang muda yang lihai itu bercakap-cakap dengan ramah-tamah dengan Song-Kauwsu dan sama sekali tidak memperdulikannya, tidak mau berdiam di atas panggung lebih lama lagi, lalu melompat turun dan mengajak Lui Siong meninggalkan tempat itu untuk kembali ke rumahnya.
Song Swi Kai lalu mengajak kedua orang muda itu bersama-sama menuju ke rumahnya.
Guru silat yang cerdik ini tahu bahwa kepandaian Can-Kauwsu masih menang setingkat kalau dibandingkan dengan kepandaiannya sendiri, maka melihat dua orang muda yang lihai ini ia segera mengandung maksud untuk menarik mereka sebagai kawan!
Seperginya kedua rombongan Guru silat yang berpIbu, penonton masih belum bubar oleh karena di situ terjadi hal yang lucu dan menarik hati mereka, yakni kedua orang yang bertaruh sawah dan uang lima puluh tail perak tadi.
Mereka kini bersitegang lagi, saling tidak mau mengalah.
Si pemilik sawah berkukuh menyatakan bahwa dalam pertempuran yang tertunda tadi, Song-Kauwsu lebih unggul, sebaliknya si pemilik uang dengan nekad menyatakan bahwa Can-Kauwsu yang menang!
Keduanya tidak mengerti ilmu silat maka tentu saja pernyataan-pernyataan mereka ini hanya ngawur saja dan hanya berdasarkan ingin menang sendiri.
Karena kini tidak ada tontonan apa-apa, para penonton yang berkumpul di situ tidak mau melerai kedua orang itu, bahkan mereka sengaja hendak mengadukan kedua orang itu!
"Baiknya sekarang begini saja!"
Kata seorang yang berwajah riang.
"Karena pertempuran tadi tidak dilanjutkan sampai ada yang roboh, kalian berdua mewakili kedua Guru silat itu dan kalian berdua yang melanjutkan pIbu! Dengan demikian maka taruhan itu dapat diteruskan, siapa yang kalah harus membayar taruhannya!"
Kedua orang yang bertaruh itu sudah "panas", maka dengan marah mereka menyatakan setuju.
Maka naiklah kedua orang itu ke atas panggung diiringi oleh sorak-sorai dan tepuk tangan para penonton!
Maka tak lama kemudian di atas panggung itu terjadilah perkelahian antara si pemilik sawah dan si pemilik uang dengan amat serunya!
Perkelahian ini benar-benar lebih seru dan seram daripada pertempuran antara Can-Kauwsu dan Song-Kauwsu.
Mereka saling pukul, saling tendang, kemudian bergelut, cekik-mencekik, jambak-menjambak, cakar-mencakar!
Saling terkam, dorong-mendorong, terhuyung-huyung ke kanan kiri, kemudian keduanya terbanting ke atas lantai panggung, bergulingan, sebentar si pemilik sawah di bawah, sebentar pemilik uang yang ditunggangi!
Bukan main senangnya hati para penonton menyaksikan perkelahian seru dan hebat ini, mereka berteriak-teriak, bersorak-sorak, bertepuk tangan membesarkan hati "jago"
Masing-masing.
Akhirnya Jin Hwat Hosiang, ketua Ban-Hok-Si, naik ke atas panggung dan minta agar kedua orang itu segera menghentikan perkelahian dan turun dari panggung.
Akan tetapi kedua orang yang sudah mata gelap itu tidak mengindahkan permintaan ini dan masih terus melanjutkan perkelahian mereka.
Akhirnya datanglah para Hwesio membawa dua ember besar penuh air yang segera disiramkan ke atas kepala kedua orang yang masih "bantingan"
Di lantai itu.
Bagaikan dua ekor anjing yang sedang berkelahi berebut tulang kemudian disiram air panas, kedua orang itu setelah gelagapan tak dapat bernapas karena tuangan air itu, terpaksa melepaskan pegangan masing-masing kepada tubuh lawan dan dibawah gelak tawa dan sorak-sorai para penonton, keduanya dengan malu dan muka merah lalu turun dari panggung dan lari pergi!
Siapakah kedua orang muda yang amat lihai itu, yang dengan satu gerakan saja sudah berhasil memisahkan kedua Guru silat yang sedang bertempur mati-matian itu dan membuat mereka maklum bahwa kepandaian kedua orang muda itu amat lihai?
Mereka itu adalah Kakak-beradik yang bernama Lee Kim Lun dan Lee Kim Lian.
Tidak mengherankan apabila mereka itu amat lihai, karena mereka adalah murid-murid dari seorang Pertapa bekas bajak sungai Liao-Ho yang berjuluk Bu-Eng-Kwi Tok Liong Taisu (Iblis Tanpa Bayangan)!
Tok Liong Taisu ini amat terkenal pada jaman dua puluh tahun yang lalu sebagai seorang bajak sungai tunggal yang malang-melintang di sepanjang Sungai Liao-Ho dan kekejamannya membuat banyak orang gagah merasa ketakutan!
Setelah mengundurkan diri dari pekerjaan sebagai bajak sungai, ia lalu menjadi Pertapa dan seringkali orang melihatnya sebagai seorang-tua berjubah Pertapa berkeliaran di sepanjang pantai sungai itu.
Tok Liong Taisu terkenal sekali terutama karena keahliannya dalam ilmu pedang Ngo-Heng Kiam-Hwat.
Selama beberapa tahun akhir-akhir ini, ia tidak pernah muncul, tidak tahunya ia sedang menggembleng dua orang muridnya, yakni kedua saudara Lee itu.
Lee Kim Lun dan Lee Kim Lian ditemukan oleh Tok Liong Taisu dalam sebuah kampung yang diserang oleh semacam penyakit menular.
Kedua anak yang baru berusia enam dan delapan tahun ini dan yang telah menjadi yatim-piatu, lalu dibawa oleh Pertapa itu dan selama dua belas tahun diberi pelajaran ilmu silat tinggi sehingga mereka berdua dapat mewarisi seluruh kepandaian Tok Liong Taisu!
Banyak orang berpendapat bahwasannya watak seseorang itu memang sudah terbawa semenjak lahir, atau dengan lain kata, orang berwatak baik atau buruk karena sudah ada "dasar"nya semenjak lahir!
Tak perlu memusingkan kepada mencari bahan bantahan atau sanggahan terhadap pendapat umum ini, dan baiklah secara singkat pendapat ini diterima berdasarkan pertimbangan bahwa memang segala apa di dunia ini mempunyai dua sifat, ada yang baik tentu ada yang buruk, ada yang buruk tentu ada yang baik.
Tanpa adanya buruk tak mungkin akan ada yang baik dan sebaliknya.
Karena itu, kalau ada dasar yang baik tentu ada pula dasar yang buruk!
Biarlah andaikata benar bahwa watak yang buruk itu tergantung penuh kepada dasar yang telah dibawa semenjak lahir.
Akan tetapi, seperti halnya sehelai kertas tulis atau kertas lukis yang kasar dan buruk, biarpun bahannya murah dan pada dasarnya memang kasar dan buruk, kalau pandai si penulis menuliskan huruf di atasnya atau si pelukis melukiskan gambaran indah di atasnya, maka dasar yang buruk itu akan tertutup bahkan lenyap dan berubah menjadi baik dan indah!
Demikianpun dasar watak manusia, biarpun pada dasarnya buruk ketika dibawa lahir akan tetapi sudah pasti masih kosong bagaikan kertas tadi.
Kalau kemudian oleh penulis atau pelukisnya yang dalam hal ini tentu saja pendidik, ia diisi dengan pendidikan yang baik, sudah pasti pula ia akan menjadi seorang manusia yang berwatak baik!
Oleh karena pandangan inilah maka banyak orang-orang-tua yang menyatakan bahwa "dasar"
Itu kalah oleh "ajar", atau tegasnya, pembentukan watak seseorang tergantung sepenuhnya daripada pendidikan, tidak saja pendidikan dari orang-tua, Guru, akan tetapi juga, bahkan yang amat mendalam dan mengesan, pendidikan yang diterima secara langsung dari pergaulan dan dari keadaan di sekitarnya!
Hal ini pulalah yang membuat orang-orang-tua di Tiongkok selalu berusaha untuk membuat anak-anak mereka menjadi orang-orang berbakti, karena jika seseorang melakukan kejahatan itu berarti bahwa mereka melanggar kebaktian dan menjadi seorang yang puthauw (tak berbakti atau durhaka).
Mengapa demikian?
Karena menurut pandangan umum, apabila seorang muda berbuat jahat, maka orang-tuanyalah yang ditunjuk-tunjuk dan dipersalahkan karena tak dapat meng "ajar"
Anak! Nah, dengan demikian, secara tak langsung orang itu mengakui bahwa "ajar"
Lebih berkuasa terhadap perangai seseorang daripada "dasar"!
Kim Lun dan Kim Lian semenjak masih kanak-kanak telah ditinggalkan mati oleh Ayah-bundanya, kemudian mereka dipelihara dan dididik oleh Tok Liong Taisu, seorang bekas bajak sungai yang menjadi Pertapa hanya untuk berpura-pura alim belaka, untuk menutupi dan menghIbur sesalan batinnya terhadap dosa-dosanya yang bertumpuk-tumpuk.
Apalagi, selama berguru kepada Tok Liong Taisu, Kim Lun dan Kim Lian ini amat dimanja, diberi pakaian-pakaian indah, sudah tentu hasil daripada pekerjaan merampok dahulu, dan hidup tak tentu tempat tinggalnya, Berpindah-pindah di sepanjang Sungai Liao-Ho, bertemu dengan orang-orang jahat yang tunduk kepada Tok Liong Taisu, bergaul dengan segala bajak sungai dan perampok, dengan laki-laki kasar dan perempuan-perempuan cabul.
Dalam keadaan seperti ini, betapapun murni dan bersih "dasar"
Watak kedua anak itu, tentu akan ternoda juga!
Dekatkanlah sehelai kertas putih bersih kepada segala macam kotoran dan kemudian ditulis oleh seorang yang tak berwewenang dan tak pandai, maka akan lenyaplah kebersihan dan keindahan kertas tadi!
Demikian pula dengan Kim Lun dan Kim Lian.
Sungguh amat sayang, kedua anak muda itu berwajah elok dan telah mewarisi ilmu silat tinggi dari Tok Liong Taisu, akan tetapi keduanya tak dapat disebut berwatak baik.
Kim Lun berhati kejam dan amat sombong, sedangkan Kim Lian menjadi seorang dara yang genit dengan kepala penuh dengan lamunan-lamunan cabul.
Setelah tamat belajar, mereka mendapat perkenan dari Suhu mereka untuk merantau dan memperluas pengalaman menambah pengetahuan.
Di tengah perjalanan, keduanya tak segan-segan.
untuk melakukan hal-hal yang kurang baik.
Sudah banyak ahli-ahli silat sengaja mereka datangi hanya untuk mengalahkannya dan mengagulkan kepandaian sendiri.
Sudah banyak pula Kim Lun mengganggu anak orang dengan cara yang biadab dan tak patut dilakukan oleh seorang gagah.
Apabila mereka kehabisan uang bekal, mereka tak segan-segan untuk mencuri atau merampok tanpa memilih bulu!
Kedua Kakak-beradik she Lee ini tadinya hanya mau merantau selama satu tahun saja, akan tetapi setelah merasa betapa enak dan senangnya berada di dunia ramai yang mewah itu, mereka tidak mempunyai maksud untuk kembali lagi ke tempat tinggal Suhu mereka!
Dan akhirnya sampailah mereka di kota Sung-Kian dan menonton pIbu yang diadakan antara Song-Kauwsu dan Can-Kauwsu.
Kim Lun amat kagum dan tergerak hatinya menyaksikan kecantikan Bwee Eng, dan lebih senang pula hatinya ketika melihat bahwa ilmu silat dara itu lumayan juga.
Belum pernah ia bertemu dengan seorang gadis cantik yang pandai ilmu silat, selain adiknya sendiri, maka kini melihat Bwee Eng, tak terasa lagi hatinya berdebar aneh.
Tentu saja pertempuran antara dua orang Guru silat itu tidak ada artinya bagi mereka dan tidak ada sangkut-pautnya sama sekali dan merekapun tidak mau ambil perduli.
Akan tetapi, oleh karena Kim Lun jatuh hati terhadap Bwee Eng, maka ia lalu mencari akal bagaimana agar supaya dapat berkenalan dengan gadis itu.
Kesempatan tiba ketika ia melihat kehebatan pertempuran antara dua orang Guru silat itu, maka ia lalu mengajak adiknya untuk melompat naik dan meleraikan pertandingan itu dan alangkah girang hati Kim Lun ketika Song-Kauwsu mengajaknya mampir di rumahnya.
Inilah yang ia kehendaki, agar dapat berkenalan dengan Bwee Eng!
Can-Kauwsu tidak diperdulikan lagi, karena memang pada Guru silat tua ini tak ada sesuatu yang menarik hatinya.
Song Swi Kai merasa girang sekali karena dapat mengikat tali persahabatan dengan dua orang muda yang lihai itu, dan dengan amat meriah ia menjamu kedua anak muda she Lee ini.
Ketika ia mendengar bahwa mereka adalah perantau-perantau yang sudah yatim-piatu, maka tergeraklah hatinya.
Pemuda ini cukup tampan dan amat gagah, pikirnya, pantas sekali kalau menjadi mantuku!
Kalau ia dapat menjadi mantuku, maka kedudukanku akan menjadi kuat sekali dan aku tak perlu khawatir menghadapi orang seperti Can-Kauwsu demikian Guru silat ini berpikir.
ia selalu membujuk dan menahan kedua orang muda itu agar supaya suka tinggal di rumahnya untuk sementara waktu.
Lee Kim Lun tentu saja menyatakan suka, sedangkan Kim Lian sendiri juga senang tinggal di rumah gedung yang besar dan mewah itu.
Song-Kauwsu cukup kaya raya sehingga mereka takkan terlantar tinggal di tempat ini.
Akhirnya tercapai jugalah kehendak hati Song-Kauwsu.
Ketika ia menyatakan maksud hatinya untuk menjodohkan Bwee Eng dengan Kim Lun, pemuda itu menerima dengan bersukur dan girang hati.
Adapun Bwee Eng sendiri diam-diam merasa amat berbahagia mendapat jodoh seorang pemuda yang demikian tampan, gagah, dan tinggi ilmu silatnya, jauh melebihi idam-idaman hatinya!
Sebulan kemudian, berlangsunglah pesta pernikahan antara Song Bwee Eng dan Lee Kim Lun dan semenjak saat itu, pemuda ini bersama adiknya tinggal di rumah gedung keluarga Song.
Kalau Kim Lun menikmati hidup bahagia sebagai pengantin baru dengan isterinya yang cantik, adalah Kim Lian yang merasa kesunyian dan bosan menganggur saja di kota itu.
Maka mulailah ia berpesiar ke sekeliling kota dan pada suatu hari, bertemulah ia dengan Gu Ma Ek, murid Can-Kauwsu itu.
Kim Lian sudah pernah melihat Ma Ek dan telah tahu pula bahwa pemuda ini adalah murid kedua dari Can-Kauwsu.
ia memang tertarik hatinya melihat Ma Ek yang gagah dan bertubuh tinggi besar dan kuat itu.
Nafsu cabulnya timbul ketika di dalam kesunyiannya ia bertemu dengan Ma Ek di tengah jalan.
ia tersenyum-senyum manis dan menegur.
"Saudara ini bukankah Gu Ma Ek, murid Can-Kauwsu?"
Ma Ek sudah tahu dengan siapa ia berhadapan.
ia maklum bahwa kota Sung-Kian didatangi oleh dua orang muda yang lihai ini, dan bahwa nona inipun sekarang telah menjadi anggota keluarga Song, maka dengan kaku ia menjawab.
"Benar, nona, dan apakah gerangan keperluan nona mengajak bicara seorang seperti aku ini?"
Mendengar jawaban yang sinis ini, Kim Lian memandang dengan senyum lebar dan sepasang matanya yang genit itu mengerling lucu.
"Eh, eh, mengapa kau merajuk, saudara Gu? Sungguh nampak lucu dan tidak pantas sekali seorang pemuda gagah perkasa seperti kau ini berkelakuan seperti seorang Nenek pemarah yang ompong!"
Ma Ek mengangkat muka memandang dengan terheran-heran.
Terkejut juga ia melihat keramahan gadis ini yang tiba-tiba berkelakar kepadanya.
Akan tetapi kekecutan hatinya masih membekas, dan ia hanya menjawab sederhana.
"Lee-Lihiap,"
Ia menyebut Lihiap (pendekar wanita) karena maklum akan kelihaian gadis ini yang menurut penuturan Suhunya memang berkepandatan tinggi.
"Tak perlu kiranya kau mengejek kepadaku dengan sebutan gagah perkasa itu! Semua orang tahu bahwa aku tidak mampu mengalahkan Hek-Bin-Liong, murid kedua dari Song-Kauwsu. Akan tetapi, kekalahan itu tidak kekal dan belum tentu aku takkan dapat mengatasinya lain kali, maka kekalahan ini tak perlu dijadikan bahan ejekan. Katakanlah saja, apakah keperluanmu menghadang perjalananku?"
"Saudara Gu, bukankah sudah menjadi kewajiban tiap orang yang mempelajari ilmu silat dan menjunjung tinggi kegagahan untuk saling berkenalan dan beramah-tamah? Ketahuilah, aku ingin berkenalan dengan kau dan justru hendak membicarakan tentang kekalahanmu terhadap Hek-Bin-Liong itulah!"
Merah wajah Ma Ek, karena menyangka bahwa ia hendak dihina dan diejek karena kekalahannya itu.
"Aku sudah kalah, hendak apa lagi?"
"Bodoh, kau tidak semestinya kalah"
"Apa katamu?"
"Memang tidak seharusnya kau kalah. Aku sendiri menyaksikan pertandingan itu dan kalau saja kau mengetahui jalannya, kau takkan kalah."
Ma Ek teringat bahwa gadis ini memiliki ilmu silat tinggi, dan melihat sikapnya yang amat ramah dan baik itu, ia lalu bertanya dengan bernafsu.
"Bagaimana jalannya?"
Lee Kim Lian tersenyum manis dan melempar kerling tajam.
"Tidak semudah itu, kawan! Ilmu silat dan gerakan serta tipu pukulan silat tidak dapat dibicarakan dengan amat mudah dan di tengah jalan besar seperti sekarang ini! Kalau kau memang menghargai persahabatan, marilah kita mencari lapangan rumput yang sunyi dan di sana akan kuberi petunjuk-petunjuk kepadamu sehingga dalam beberapa hari saja kepandaianmu akan meningkat jauh dan dengan mudah kau akan mengalahkan Hek-Bin-Liong!"
Ma Ek adalah seorang pemuda berusia dua puluh tahun yang masih hijau, bodoh, dan karena wajahnya amat jujur, maka ia percaya saja ucapan seseorang yang bersikap baik terhadapnya.
Dan pula, iapun hanya seorang manusia biasa, seorang jantan yang tidak lepas daripada cengkeraman nafsu dan kecantikan seorang gadis, terutama kalau gadis itu selain cantik juga memiliki ilmu kepandaian tinggi dan pandai main mata dan bersenyum manis pula!
Demikianlah, bagaikan seekor kerbau yang dituntun hidungnya, Gu Ma Ek mengikuti Kim Lian menuju ke sebuah lapangan rumput di luar kota dan di situ pemuda ini menerima latihan silat dari Kim Lian.
Hubungan mereka makin erat dan Ma Ek roboh dalam perangkap Kim Lian yang hanya menganggapnya sebagai barang permainan belaka.
Tepat sebagaimana dikatakan orang bahwa asap tak dapat disembunyikan, demikian Pula perbuatan-perbuatan tidak sewajarnya tidak mudah untuk disembunyikan.
Perhubungan antara Ma Ek dan Kim Lian ini akhirnya diketahui orang dan sampai pula ke telinga Can Gi Sun!
Guru silat ini semenjak kehilangan puterinya, telah menganggap Ma Ek seperti anak sendiri, maka alangkah marahnya ketika ia mendengar betapa Ma Ek seringkali mengadakan pertemuan dengan Kim Lian dan menerima pelajaran silat dari gadis itu.
Hal ini masih tidak membuat ia marah, akan tetapi yang benar-benar memerahkan telinganya adalah berita bahwa muridnya itu telah bermain gila dengan Kim Lian sehingga ia tak membuang waktu lagi dan mengadakan pengintaian sendiri.
Betul saja, Ma Ek dan Kim Lian berlatih silat di lapangan rumput dan sikap keduanya amat mesra bagaikan dua orang kekasih.
Bukan main marahnya hati Can-Kauwsu, karena dari penglihatan ini saja ia telah dapat menduga bahwa Kim Lian bukanlah seorang gadis sopan dan baik.
ia melompat keluar dari tempat sembunyi dan menegur muridnya dengan muka merah karena marahnya.
"Bagus, Ma Ek! Sejak kapankah kau menjadi seorang rendah dan hina sehingga memalukan Gurumu?"
Kalau ada kilat menyambar di atas kepalanya, mungkin Ma Ek tak sekaget itu.
ia memandang kepada Suhunya dengan muka pucat dan tak dapat menjawab sesuatu, hanya memandang dengan mata terbelalak.
Tiba-tiba Kim Lian berkata sambil tertawa mengejek.
"Semenjak kapankah ada orang-tua begitu tidak malu untuk mencampuri urusan orang muda?"
Can-Kauwsu memandang tajam kepada Kim Lian dan berkata dengan muka merah.
"Aku tidak berurusan dengan nona, dan kedatanganku ini untuk bicara dengan muridku!"
"Hm, Can-Kauwsu, kau mengandalkan apakah maka bersikap seakan-akan kau yang pandai sendiri dan patut menjadi Guru orang? Ketahuilah bahwa Ma EK juga telah menjadi muridku dan aku melarang siapapun juga untuk mengganggu latihan kami!"
Bukan main gelisah dan malunya hati Ma Ek melihat keadaan itu.
"Kim Lian..."
Tegurnya, lupa bahwa dihadapan orang lain tidak seharusnya ia menggunakan sebutan mesra itu.
"Hm, pantas betul! Di mana ada murid menyebut nama Gurunya begitu saja?"
Kata Can-Kauwsu sambil tersenyum sindir.
Merahlah wajah Kim Lian dan Ma Ek menundukkan muka tanpa berani memandang Suhunya.
Akan tetapi, disamping perasaan jengah dan malu, Kim Lian juga merasa marah sekali kepada Guru silat tua itu.
"Can-Kauwsu! Bukan menjadi hakmulah untuk mengurus tentang sebutan antara Guru dan murid orang lain! Apakah kau sudah begitu tebal muka tidak mau pergi dan masih hendak mengganggu kami? Pergilah dari sini!"
Bukan main marahnya hati Can-Kauwsu mendengar usiran yang amat menghinanya itu, akan tetapi ia masih dapat menyabarkan hatinya. ia berpaling kepada Ma Ek dan membentak.
"Manusia rendah budi! Kau tidak lekas pergi dari sini dan pulang?"
Ma Ek hendak mengangkat kaki, akan tetapi tiba-tiba Kim Lian berseru.
"Ma Ek, jangan kau pergi!"
Suara gadis ini ternyata lebih berpengaruh terhadap pemuda itu, karena ia menahan kakinya lagi dan berdiri dengan ragu-ragu dan muka pucat.
"Ma Ek! Kau hendak membangkang terhadap aku yang telah mendidikmu, memeliharamu dan membesarkanmu? Hayo kau pulang!"
"Hm, hendak kulihat apakah kau benar-benar berani meninggalkan aku!"
Terdengar pula Kim Lian berkata perlahan, akan tetapi suaranya mengandung ancaman hebat.
Ma Ek makin bingung, memandang kepada Suhunya dan kepada gadis itu berganti-ganti, kemudian sambil menundukkan mukanya ia berkata dengan suara lemah kepada Suhunya.
"Suhu, mohon kau sudi pulang dulu, Teecu nanti menghadap untuk menerima hukuman!"
"Bangsat rendah! Kau perlu dihajar!"
Can-Kauwsu tak dapat menahan marahnya lagi dan melangkah maju untuk menampar muka muridnya itu, akan tetapi tiba-tiba bayangan Kim Lian berkelebat dari samping dan menangkis tamparan itu sambil membentak.
"Jangan berani mengganggu muridku!"
Kini amarah di dalam dada Can-Kauwsu sudah meluap dan ia tak dapat menahan sabar lagi.
"Nona Lee! Kau agaknya sengaja mencari jalan untuk bertempur dengan aku!"
Lee Kim Lian tertawa mengejek sambil mencabut Siangkiamnya.
"Kalau kau menganggap demikian, terserah! Aku selamanya tak pernah takut menghadapimu!"
"Perempuan cabul! Rasakan hajaranku!"
Seru Can-Kauwsu yang cepat mencabut keluar Poan-Koan-Pitnya dan maju menyerang.
Serangannya yang hebat dapat ditangkis oleh pedang di tangan kiri Kim Lian yang segera membalas dengan tusukan pedang di tangan kanannya!
Mereka bertempurlah dengan amat seru dan sengitnya!
Ma Ek memandang dengan tubuh lemas dan hati bingung dan gelisah.
ia merasa menyesal sekali, akan tetapi tidak tahu harus berbuat apa.
ia amat bakti dan setia kepada Gurunya dan telah menganggap orang-tua ini sebagai pengganti Ayahnya sendiri, Akan tetapi di dalam kebodohannya ia telah jatuh betul-betul di bawah telapak kaki Kim Lian dan menganggap bahwa gadis itu mencintainya dengan sepenuh hati!
Ilmu Pedang Ngo-Heng Kiam-Hwat yang dimainkan dengan dua pedang oleh Kim Lian memang benar-benar hebat dan lihai sekali.
Gerakan sepasang pedangnya tidak saja cepat dan kuat, akan tetapi juga ganas dan mempunyai perubahan-perubahan yang sukar sekali diduga sehingga tiap tusukan atau bacokan pedang merupakan serangan maut yang amat berbahaya.
Can-Kauwsu diam-diam harus mengakui bahwa ilmu silatnya masih kalah lihai apabila dibandingkan dengan ilmu pedang gadis ini dan hanya ketenangan dan pengalamannya saja yang membuat ia masih dapat mainkan sepasang Poan-Koan-Pitnya untuk menjaga diri dan membalas dengan serangannya.
Namun akhirnya ia harus mengakui pula bahwa usia tua dan kedukaan telah membuat gerakannya tidak secepat ketika masih muda dulu.
Gadis lawannya ini memiliki ginkang yang amat luar biasa sehingga baru bertempur tiga puluh jurus saja ia telah merasa pening kepala karena harus mengikuti pergerakan gadis yang lincah bagaikan seekor burung walet menyambar-nyambar dari berbagai jurusan itu!
Can-Kauwsu terdesak hebat dan kini hanya bersilat sambil mundur dan menahan desakan lawannya yang makin lama makin ganas gerakan pedangnya.
Pada saat itu, terdengar suara orang ketawa dan ternyata bahwa Lee Kim Lun, Song Swi Kai, Song Bwee Eng, dan beberapa orang murid Song-Kauwsu telah mendengar tentang pertempuran itu dan datang ke tempat itu.
Melihat betapa Can-Kauwsu terdesak mundur, mereka ini mentertawakannya!
Makin gelisah dan bingunglah hati Can Gi Sun sehingga permainan silatnya menjadi kalut dan ketika kedua pedang Kim Lian menyerang dengan hebatnya, pedang di tangan kiri masih bisa ditangkisnya, akan tetapi pedang di tangan kanan yang menusuk dada, biarpun sudah ditangkis, tetap saja masih dapat menusuk pundaknya dan pedang itu amblas di bawah tulang pundaknya!
Ketika Kim Lian menarik kembali pedangnya, tubuh Can-Kauwsu terhuyung-huyung dan darah mengucur keluar dari pundaknya, membasahi seluruh baju.
ia menggigit bibir dan tidak mengeluarkan keluhan sedikitpun juga.
Rasa sakit di hatinya melebihi keperihan pundaknya yang terluka, apalagi ketika ia melihat betapa rombongan Song-Kauwsu memandangnya sambil tertawa mengejek.
ia berdiri lurus dan tegak, menyimpan Poan-Koan-Pitnya, lalu menjura dengan kaku kepada Kim Lian.
"Aku Can Gi Sun mengaku kalah!"
Lalu ia membalikkan tubuh dan dengan kaki gemetar akan tetapi langkahnya masih tetap, ia meninggalkan tempat itu diiringi gelak tawa oleh Song Swi Kai dan rombongannya.
"Suhu... !"
Ma Ek mengejar Suhunya dan hendak menggandeng tangan Suhunya ketika dilihatnya orang-tua itu agak limbung.
Akan tetapi, tiba-tiba Can-Kauwsu menggerakkan tangan kirinya menyampok dan terlemparlah tubuh Ma Ek, bergulingan di atas tanah.
Can-Kauwsu melanjutkan langkahnya tanpa menengok lagi.
Ma Ek melangkah bangun dan terdengar gelak tawa makin riuh yang jelas sekali mentertawakan pemuda itu.
Dengan muka merah Ma Ek lalu bangun dan hendak menghampiri Kim Lian, akan tetapi alangkah kagetnya ketika ia melihat gadis itu berdiri sambil memandangnya dengan senyum mengejek dan membentak.
"Anjing buduk! Apakah kau hendak membela dan membalaskan sakit hati Gurumu?"
Sambil berkata demikian, gadis ini menggerak-gerakkan sepasang pedangnya seakan-akan hendak menyerangnya se hingga Ma Ek terpaksa melangkah mundur dengan muka pucat.
Semua orang tertawa bergelak dan Ma Ek merasa seakan-akan kepalanya disambar petir!
Rasa malu, marah, kecewa, menyesal dan semua perasaan sakit hati menusuk-nusuk ulu hatinya, membuat mukanya menjadi pucat sekali dan sambil mengeluarkan seruan panjang yang menyeramkan ia lalu membalikkan tubuh dan berlari pergi dari situ dengan air mata bercucuran.
Semenjak terjadi peristiwa itu, Can-Kauwsu jatuh sakit.
Tidak saja ia rebah sakit karena lukanya, akan tetapi terutama sekali karena sakit hatinya.
ia telah terhina, dan menderita malu yang hebat sekali.
Belum pernah selama hidupnya ia menderita malu sedemikian rupa.
Murid kepalanya, yakni Lui Siong, datang menengok Gurunya dan murid ini hanya dapat mengucurkan air mata di depan Suhunya.
"Suhu,"
Kata murid yang sudah berusia empat puluh tahun ini.
"Biarlah Teecu pergi ke rumah Song-Kauwsu dan mengajak pIbu mati-matian dengan perempuan jalang itu!"
Can-Kauwsu menggelengkan kepala.
"Tidak ada artinya, Lui Siong, kau tak boleh mengorbankan nyawa dengan sia-sia. Dia bukan lawanmu, terlalu lihai, sedangkan aku sendiripun mengakui bahwa kepandaiannya masih lebih tinggi daripada kepandaianku. Memang nasibku yang buruk..."
"Teringatlah Can-Kauwsu kepada puterinya yang hilang dan tak dapat dicegah lagi dua titik air mata melompat keluar dari kedua matanya. Isterinya yang semenjak ia pulang selalu menjaga dan duduk di dekatnya, telah kehabisan air mata dan kini duduk dengan muka pucat dan kedua tangan terkepal. Nyonya yang keras hati ini lalu berkata perlahan dan pasti.
"Suamiku, karena kita tidak mempunyai... anak..., maka biarlah aku akan berlatih silat dan beberapa tahun kemudian aku sendiri yang akan membalas dendam ini!"
Kalau saja ucapan ini dikeluarkan pada saat biasa, maka tentu akan menimbulkan tertawa, akan tetapi pada saat itu, ucapan ini membuat air mata di kedua mata Can-Kauwsu makin banyak keluar, bahkan Lui Siong sendiri menjadi sedemikian terharu sehingga ia menangis tersedu-sedu!
Setelah mereka dapat menekan perasaannya, keadaan menjadi hening sejenak.
Kemudian terdengar suara Can-Kauwsu.
"Isteriku, sebagai seorang gagah, aku harus berani menerima kekalahan dan mengakui kelemahan sendiri. Akan tetapi aku tidak dapat tinggal terus di kota ini, maka biarlah kita pindah saja ke lain tempat."
Pada saat itu, seorang murid yang masih setia dari Can-Kauwsu datang memberi laporan bahwa di luar terdapat seorang tamu yang bernama Liok Si Seng minta bertemu dengan Can-Kauwsu.
Mendengar disebutnya nama itu, tiba-tiba wajah Can-Kauwsu yang tadinya muram menjadi berseri girang.
ia cepat bangkit dari tempat tidurnya, akan tetapi ia merebahkan diri lagi sambil mengeluh kesakitan, karena pundaknya yang terluka terasa sakit sekali.
"Lekas pergi sambut dia!"
Katanya kepada Lui Siong dan isterinya.
"Dia adalah Suhengku (kakak seperguruan)!"
Lui Siong cepat bangkit dan menyambut tamu itu yang ternyata adalah seorang Kakek tua berpakaian compang-camping dan wajahnya selalu tersenyum-senyum.
Kakek ini bernama Liok Si Seng dan terkenal di kalangan kang-ouw dengan julukan Pek-To Lo-Mo (Iblis Tua Bergolok Putih)!
Memang dia adalah Suheng dari Can-Kauwsu dan sudah belasan tahun mereka tidak bertemu.
Di dalam perantauan, Liok Si Seng yang hidup sebatangkara tak bersanak tak beranak ini ketika lewat di kota Sung-Kian mendengar nama Can-Kauwsu, maka ia segera mencari rumah Sutenya itu.
"Supek,"
Kata Lui Siong sambil memberi hormat.
"Teecu adalah murid Suhu Can-Kauwsu, karena Suhu sedang sakit, Supek dipersilakan masuk saja ke kamar Suhu."
Liok Si Seng menghela napas.
"Ah, tak kusangka Sute menjadi ringkih dan mudah terserang penyakit. Itulah kalau orang berkeluarga dan tinggal di dalam rumah saja. Hidup di luar seperti aku ini jarang atau bahkan tak pernah terkena penyakit, bukankah burung di udara juga tak pernah sakit?"
Sambil berkata demikian, ia masuk ke dalam dan langsung diantar oleh Lui Siong ke kamar Suhunya.
Nyonya Can menyambutnya dengan memberi hormat dan ketika Liok Si Seng melihat Sutenya yang berbaring dengan muka pucat dan pundak dibalut, mengerutlah keningnya.
"Sute, kau kenapakah?"
Can Gi Sun tersenyum ketika melihat Suhengnya yang masih kelihatan gagah dan kuat itu, padahal usia Suhengnya ini sudah ada enam puluh tahun!
"Ah, Suheng, aku selalu bernasib sial!
Semenjak kita berpisah, sudah terlalu banyak kesialan dan kemalangan menimpa diriku!"
Setelah berkata demikian, Can-Kauwsu menghela napas panjang berulang-ulang. Liok Si Seng duduk di pinggir pembaringan dan berkata dengan tegas.
"Sute, kau terluka dan kau mengandung hati penasaran dan dendam! Katakanlah, siapa orangnya yang melukaimu dan apa sebabnya kau dianiaya orang?"
Can-Kauwsu kembali tersenyum.
Sungguh-sungguh masih seperti dulu Iblis Tua Golok Putih ini keras dan kasar!
Karena ia memang mengharapkan pertolongan dan bantuan Suhengnya ini, maka diceritakanlah semua peristiwa yang terjadi, semenjak ia kehilangan puterinya sehingga berhenti menjadi Piauwsu dan bekerja sebagai Guru silat, kemudian sampai kepada permusuhannya dengan Song-Kauwsu.
Ketika ia menceritakan peristiwa pertempurannya dengan Kim Lian yang baru terjadi kemarin siang, ia menghela napas dan berkata.
"Perempuan cabul itu lihai sekali, aku tak dapat melawannya!"
"Kurang ajar!"
Seru si Iblis Tua Golok Putih.
"Perempuan itu jahat dan tak tahu malu! Biar malam ini kuambil kepalanya!"
Sungguhpun Can Gi Sun masih merasa ragu-ragu apakah Suhengnya ini akan dapat menghadapi musuh-musuh yang lihai itu, akan tetapi kata-kata besar ini menghIbur juga hatinya yang sakit.
"Suheng, aku tidak main-main. Perempuan itu sungguhpun masih amat muda, bahkan hampir masih kanak-kanak, akan tetapi ilmu pedangnya hebat sekali. Mungkin Kakaknya masih lebih lihai lagi. Permainan Siangkiamnya benar-benar berbahaya, harap kau berhati-hati, terutama perhatikan kedua pedangnya yang selalu melakukan serangan dengan gerakan menyilang dan memecah perhatian kita kedua jurusan."
"Jangan kuatir, Sute. Golokku masih cukup tajam dan biarlah Kakak-beradik itu maju bersama, akan kuhajar keduanya!"
Iblis Tua Golok Putih itu menyombong.
Setelah makan hidangan yang dikeluarkan oleh Nyonya Can dan mendapat keterangan tentang letak tempat tinggal keluarga Song, Liok Si Seng lalu berangkat seorang diri dengan langkah lebar menuju ke rumah Song Swi Kai.
Hari telah menjelang senja ketika ia tiba di depan pintu rumah gedung Song-Kauwsu.
"Beritahukan kepada Kakak-beradik she Lee bahwa aku datang hendak menantang mereka bertempur!"
Katanya dengan suara galak kepada penjaga pintu sehingga pelayan ini menjadi ketakutan lalu cepat melaporkan hal itu kepada Song-Kauwsu yang kebetulan sedang makan sore bersama keluarganya, termasuk Lee Kim Lun dan Lee Kim Lian.
Mendengar laporan pelayan itu bahwa ada seorang-tua yang datang menantang mereka, Kim Lun dan Kim Lian menjadi marah sekali.
Mereka lalu keluar sambil membawa pedang mereka, diikuti oleh Song-Kauwsu dan keluarganya.
Ketika Liok Si Seng melihat banyak orang keluar, ia tertawa bergelak dan berkata.
"Pantas saja Guru silat she Song menjadi galak dan sombong, tidak tahunya ia mengandalkan banyak orang untuk menjagoi kota Sung-Kian. Eh, yang manakah dia yang bernama Lee Kim Lian gadis tak tahu malu yang jahat itu?"
Kim Lian tak dapat menahan marahnya lagi. ia melompat menghadapi Kakek yang pakaiannya compang-camping itu sambil mencabut pedangnya dan menudingkan pedang kanannya ke arah muka Kakek itu.
"Akulah yang bernama Lee Kim Lian! Kau ini tua bangka dari manakah datang-datang memaki orang?"
Iblis Tua Golok Putih itu memandang kepada Kim Lian, lalu tertawa bergelak.
"Hm, cantik, genit, ganas! Tiga sifat yang membuat wanita dapat menjadi makluk sejahat-jahatnya di dunia ini! Kau mau mengetahui namaku? Aku disebut Pek-To Lo-Mo dan bernama Liok Si Seng. Kau telah berlaku sewenang-wenang terhadap Suteku Can Gi Sun, bahkan telah melukainya. Perbuatan kejam ini tentu saja tak dapat dibiarkan lalu tanpa terhukum!"
Semua orang terkejut mendengar nama itu, karena nama ini cukup terkenal. Akan tetapi, Kim Lian dan Kim Lun tidak takut sedikitpun juga, bahkan Kim Lun tertawa mengejek dan berkata.
"Eh, eh, tidak tahunya iblis tua yang pernah dihajar jatuh bangun oleh Suhu! Pek-To Lo-Mo, masih ingatkah kau kepada Suhu kami yang bernama Bu-Eng-Kwi Tok Liong Taisu?"
Kini Liok Si Seng yang merasa terkejut sekali.
ia memang pernah bertemu dengan Bu-Eng-Kwi si Iblis Tanpa Bayangan itu dan pernah pula bertempur ketika ia mencoba untuk membasmi bajak sungai itu, akan tetapi ia telah dikalahkan dan benar seperti yang dikatakan oleh Kim Lun, ia pernah dihajar sampai jatuh-bangun!
"Hm, jadi kalian berdua Kakak-beradik ini murid-murid di tua jahat itu?
Pantas kalau begitu.
Gurunya buruk muridnya pasti busuk!
Kebetulan sekali, kalau begitu kau boleh sekalian membayar hutang Gurumu kepadaku!"
Kim Lian tertawa dan menggerak-gerakkan sepasang pedangnya.
"Suhu telah berlaku kepalang tanggung dan akulah yang akan menamatkan riwayatmu!"
Sambil berkata demikian, gadis ini lalu maju menyerang.
Liok Si Seng melompat mundur sambil mencabut goloknya yang putih berkilau bagaikan perak itu.
Pertempuran terjadilah dengan amat hebatnya.
Sungguhpun sepasang pedang di tangan Kim Lian benar-benar lihai dan cepat sekali, namun ketika Liok Si Seng memutar goloknya sehingga senjata itu berubah menjadi segulung sinar putih, maka sepasang pedang gadis itu sama sekali tak dapat menembus.
Kemanapun pedangnya menyerang, selalu tertumbuk pada dinding putih yang dIbuat oleh sinar golok itu.
Kim Lian menjadi penasaran dan ia mengerahkan seluruh tenaga dan semangatnya, namun si tua itu benar-benar tangguh.
Sampai dua puluh jurus lebih pertempuran berlangsung, namun Kim Lian belum juga dapat menembus benteng pertahanan lawan.
Sementara itu, Liok Si Seng diam-diam mengeluh karena ternyata bahwa ilmu pedang gadis itu benar-benar lihai, sungguhpun tidak selihai Bu-Eng-Kwi Tok Liong Taisu sendiri, namun gadis ini memiliki ginkang yang luar biasa.
Terpaksa ia mengerahkan semangatnya dan menggerakkan goloknya yang menyambar-nyambar laksana naga perak yang garang.
Melihat betapa adiknya tak dapat merobohkan lawannya, panaslah hati Kim Lun.
ia mencabut sepasang pedangnya dan berkata.
"Kim Lian, mundurlah! Biar aku sendiri menghadapi tua bangka ini!"
Kim Lian mundur dan berdiri di dekat Bwee Eng yang nampak gelisah melihat suaminya hendak melayani Kakek yang lihai itu, akan tetapi Bwee Eng dihIbur oleh Kim Lian dengan kata-kata tetap.
"Jangan gelisah, So-So (kakak ipar), sebentar lagi Koko tentu akan berhasil merobohkan Kakek ini!"
Memang dugaan Kim Lian ini benar dan ia telah dapat mengetahui sebelumnya karena ia telah tahu sampai di mana kehebatan kepandaian Kakaknya, sedangkan Iblis Tua Golok Putih ini tidak banyak lebih pandai darinya sendiri.
Begitu Kim Lun menggantikan adiknya, ia memutar-mutar kedua pedangnya dan sungguhpun ilmu pedang yang dimainkannya masih juga Ngo-Heng-Siang Kiam-Hwat dan sama dengan permainan Kim Lian, akan tetapi kalau dibandingkan, gerakan Kim Lun ini jauh lebih hebat dan berbahaya.
Tidak saja Kim Lun masih lebih unggul daripada adiknya dalam hal tenaga dan kecepatan, akan tetapi juga dalam pergerakan dua pedangnya.
Kim Lun lebih mahir dan lebih banyak memiliki gerak-gerak tipu yang membingungkan lawan.
Hal inipun dirasakan oleh Pek-To Lo-Mo Liok Si Seng, karena begitu bergebrak ia telah dapat merasakan kehebatan serangan orang muda itu.
Tentu saja hal ini membuat ia merasa terkejut sekali dan terpaksa ia mengeluarkan seluruh kepandaiannya untuk mencapai kemenangan.
Namun sia-sia, pertempurannya melawan Kim Lian tadi saja sudah cukup melelahkannya, apalagi sekarang ia menghadapi Kim Lun yang jauh lebih tinggi kepandaiannya daripada Kim Lian!
Setelah berhasil menghadapi sepasang pedang Kim Lun yang menyambar-nyambar membawa maut sampai dua puluh jurus, Akhirnya ia harus mengakui bahwa kepandaian lawan yang masih muda ini lebih tinggi daripada kepandaiannya sendiri.
Sebuah tusukan pedang di tangan kiri Kim Lun tak dapat ia hindarkan dan dengan tepat pedang itu memasuki rongga dadanya sebelah kanan!
Biarpun pedang itu telah hampir menembus dadanya, akan tetapi setelah dicabut, Liok Si Seng masih kuat untuk melompat jauh dan berlari pergi meninggalkan tempat itu!
Bukan main heran dan kagumnya hati Kim Lun dan kawan-kawannya melihat kekuatan tubuh orang-tua itu!
Song Swi Kai diam-diam menghela napas penuh kekhawatiran.
Ah, makin hebat saja permusuhanku dengan Can-Kauwsu, pikirnya.
Akan tetapi, untung bahwa ia mempunyai seorang mantu seperti Lee Kim Lun dan mendapat bantuan dari Kim Lian pula, kalau tidak, tentu akan berbahayalah kedudukannya.
"Gakhu,"
Kata Kim Lun kepada mertuanya setelah mereka semua masuk kembali ke dalam rumah.
"Can-Kauwsu itu sungguh tak tahu malu dan masih saja berusaha memusuhi kita. Kalau dia masih terus tinggal di kota ini, kukira pertempuran tak akan habisnya. Biarlah besok aku akan pergi menemuinya dan menantang pIbu padanya dan dalam kesempatan itu akan kuhabiskan saja nyawanya agar ia tidak dapat mendatangkan kerIbutan lagi!"
Terkejutlah hati Song-Kauwsu mendengar ini.
Betapapun bencinya kepada Can-Kauwsu, akan tetapi permusuhannya dengan Guru silat tua itu tidak demikian mendalam sehingga tiada pikiran padanya untuk membunuh saingan itu.
Tadipun ia telah merasa menyesal bahwa permusuhan yang terbit karena persaingan usaha itu telah mengorbankan nyawa seorang-tua yang terkenal namanya di kalangan kang-ouw, karena ia maklum bahwa Iblis Tua Golok Putih tadi akan sukar tertolong nyawanya setelah mendapat luka sedemikian rupa.
"Hian-sai (anak mantu),"
Jawabnya.
"kurasa tak perlu permusuhan ini diperluas dengan bunuh-membunuh. Kalau kau hendak pergi ke sana, cukup kalau kau mengancamnya agar ia tidak berani membikin rIbut lagi di rumah kita, akan tetapi tidak perlu harus membunuhnya. ia sudah tua dan kita tak perlu takut menghadapinya, apapula dengan adanya kau dan adikmu di sini!"
Kim Lun tersenyum dan di dalam hatinya ia menganggap bahwa mertuanya ini terlalu lemah, akan tetapi tentu saja ia tidak berani menyatakan anggapan ini dengan kata-kata.
Pada keesokan harinya, Kim Lun dan Kim Lian berdua pergi ke rumah Can-Kauwsu, akan tetapi kedua Kakak-beradik ini tidak jadi mengajukan tantangan pIbu ketika melihat bahwa di rumah itu orang sedang sIbuk mengadakan sembahyang di depan peti mati yang diletakkan di ruang depan!
Mereka dapat menduga bahwa yang mati itu tentulah Liok Si Seng yang sore hari kemarin menyerang rumah mereka, maka tanpa berbuat sesuatu, keduanya lalu pulang lagi.
Lui Siong dapat melihat kedua orang ini dan bukan main marah dan sakit hatinya, akan tetapi apakah yang dapat ia lakukan?
Malam tadi, selagi ia masih menjaga Suhunya yang masih sakit, datanglah Liok Si Seng dengan luka parah.
Orang-tua ini hanya tertawa-tawa dan hanya dapat mengeluarkan sedikit kata-kata terakhir.
"Murid-murid Bu-Eng-Kwi terlalu kuat... Sute, sayang sekali aku gagal..."
Setelah berkata demikian, ia roboh dan tewas di depan Sutenya!
Tentu saja Can Gi Sun menjadi berduka sekali.
Baca Juga: Suling Emas Dan Naga Siluman 16
Baca Juga: Asmara Si Pedang Tumpul 2