Ceritasilat Novel Online

Asmara Si Pedang Tumpul 2

Eps 2 Asmara Si Pedang Tumpul - Kho Ping Hoo

Baca online Asmara Si Pedang Tumpul - Kho Ping Hoo

Cersil Asmara Si Pedang Tumpul - Kho Ping Hoo.

Masing-masing memiliki ilmu golok yang tangguh, apalagi mereka biasa maju bersama, maka dapat dibayangkan betapa lihai mereka kalau maju bersama sebagai to-tin (barisan golok), sukar dapat dikalahkan lawan.

Belasan tahun yang lalu, ketika terjadi perebutan benda-benda pusaka istana kaisar yang dicuri Se Jit Kong kemudian terjatuh ke tangan Sam-sian, Hek I Ngo-liong itu pernah mencoba untuk merampasnya dari tangan Sam-sian.

Akan tetapi, mereka bukan tandingan Sam-sian.

Biarpun mereka maju berlima menghadapi mendiang Kiam-sian, Dewa Pedang yang semula terdesak itu akhirnya dapat mengalahkan mereka.

Kalau seorang Dewa Pedang saja baru dengan susah payah dapat mengalahkan mereka, maka dapat dibayangkan betapa tangguhnya lima orang Naga Baju Hitam ini!

Mereka tangguh, kejam, tidak mau tunduk kepada siapapun juga, bahkan congkak.

Akan tetapi kalau ada orang yang mengenal mereka dan melihat sikap mereka ketika memasuki ruangan belakang kuil tua dan berhadapan dengan si kedok hitam yang duduk di atas kursi, orang akan merasa heran.

Lima orang Hek I Ngo-liong itu memberi hormat dengan sikap yang merendah sekali.

Mereka mengangkat kedua tangan ke depan dada, lalu membungkuk sampai pinggang mereka terlipat ke depan, dan dengan irama kacau mereka menyebut "Yang Mulia"

Kepada orang berkedok itu!

Tanpa bangkit dari tempat duduknya, dengan sikap penuh wibawa, orang berkedok itu memandang lima orang pendatang dengan sinar matanya yang mencorong penuh selidik, lalu mengangguk dan terdengar suaranya yang dalam dan parau, namun kata-katanya teratur rapi seperti cara bicara seorang bangsawan tinggi.

"Selamat datang, Hek I Ngo-liong. Duduklah kita masih menanti datangnya beberapa rekan lagi."

"Baik Yang Mulia,"

Kata Coa Ok mewakili mereka berlima dan merekapun mengambil tempat duduk.

Di situ telah diatur bangku-bangku yang mengelilingi sebuah meja besar.

Karena orang berkedok itu hanya duduk dengan tegak, tidak memandang lagi kepada mereka, juga tidak mengeluarkan sepatah kata lagi, diam seperti patung, Hek I Ngo-liong juga duduk diam.

Bahkan lima orang yang biasanya acuh dan tidak menghormati orang lain ini, yang biasa bersikap kasar dan mau menang seperti lima ekor tikus berhadapan dengan seekor kucing yang galak.

Mereka mati kutu dan tidak berani bergerak!

Memang mengherankan sekali.

Akan tetapi kalau orang sudah tahu siapa si kedok hitam ini, tentu mereka mengerti mengapa Hek I Ngo-liong bersikap demikian takut.

Mereka berlima juga tidak pernah melihat wajah aseli si kedok hitam dan hanya mengenalnya sebagai "Yang Mulia"

Saja.

Mereka hanya tahu bahwa si kedok hitam ini memiliki kepandaian tinggi, juga mempunyai anak buah yang rata-rata lihai bukan main.

Yang membuat dia ditakuti adalah karena mudah saja dia membunuh orang, akan tetapi juga mudah memberi hadiah yang luar biasa royalnya.

Hek I Ngo-liong sendiri sudah banyak menerima hadiah dari Yang Mulia, dan mereka tahu bahwa mereka berlima sama sekali bukan tandingan dari orang aneh itu.

Mereka juga tahu bahwa Yang Mulia ini merupakan seorang di antara para pimpinan yang berusaha untuk membangun kembali Kerajaan Mongol!

Mereka bekerja secara rahasia, namun telah membuat jaringan yang kuat, mempunyai banyak anak buah yang dijadikan mata-mata dan tersebar di mana-mana.

Tak lama kemudian, nampak ada dua bayangan orang berkelebat dan muncul dua orang yang berpakaian ringkas, keduanya bertubuh tinggi kurus dan melihat usia mereka, tentu mereka berusia sekitar empatpuluh tahun.

Namun wajah keduanya pucat dan biarpun gerakan mereka masih ringan dan cepat, namun yang seorang agak terpincang dan seorang lagi membongkok.

Ternyata keduanya menderita luka, seorang terluka di paha dan seorang lagi di punggung.

Begitu tiba di ruangan itu, keduanya menjatuhkan diri dan memberi hormat dengan setengah berlutut kepada Yang Mulia.

Sepasang mata di balik kedok itu berkilat menyambar.

"Kalian yang telah gagal menunaikan tugas, duduklah dulu."

Dengan wajah nampak pucat kedua orang itu bangkit, menggumamkan terima kasih lalu duduk di sudut terjauh dari tempat duduk si kedok hitam.

Suasana sunyi, bukan saja amat mencekam bagi dua orang itu, melainkan Hek I Ngo-liong yang biasanya tabah itupun nampak saling pandang dan jelas bahwa merekapun merasa tegang.

Tak lama kemudian berkelebat bayangan lain dan di situ telah berdiri seorang laki-laki yang tubuhnya tinggi kurus, usianya enampuluh tahun lebih dan di punggungnya nampak sarung pedang yang terisi dua batang pedang pasangan.

Begitu tiba di ruangan itu, ruangan itu dengan pandang matanya, kemudian melangkah maju menghadapi si kedok hitam dan memberi hormat dengan merangkap, kedua tangan depan dada.

"Yang Mulia, saya datang mewakili semua saudara saya seperti yang dikehendaki Yang Mulia."

Orang berkedok itu memandang sejenak lalu mengangguk-angguk.

"Engkau yang dijuluki Bu-tek Kiam-mo (Iblis Pedang Tanpa Tanding), bukan? Engkau mewakili Bu-tek Cap-sha-kwi (Tiga belas Setan Tanpa Tanding)? Duduklah!"

Orang yang dijuluki Bu-tek Kiam-mo itu menghaturkan terima kasih lalu mengamambil tempat duduk.

Dia saling pandang dengan Hek I Ngo-liong, dan si Iblis Pedang nampak terkejut agaknya tidak mengira bahwa lima orang pandai itu berada pula di situ.

Akan tetapi dia tidak berani mengeluarkan kata apapun, dan di pihak lima orang tokoh itupun nampaknya menahan untuk tidak berkata apa-apa ketika mereka melihat hadirnya seorang di antara Bu-tek Cap-sha-kwi, karena orang berkedok itu masih belum bergerak atau mengeluarkan kata-kata, agaknya masih menanti munculnya orang lain, maka delapan orang yang sudah datang itu juga diam saja di atas bangku masing-masing, dengan sikap menunggu.

Di antara mereka yang delapan itu, hanya Bu-tek Kiam-mo seorang saja yang berani mengangkat muka memandang kepada si kedok hitam.

Hanya dia yang bersikap sebagai tamu, bukan sebagai hamba.

Hal ini adalah karena baru sekarang Bu-tek Kiam-mo mendapat kesempatan menghadap Yang Mulia, tokoh baru yang menggemparkan dan yang sudah lama dia dengar namanya.

Pula, dia belum menjadi hamba orang aneh ini.

Dia mewakili semua saudaranya yang berjumlah tigabelas orang bersama dirinya, dan mereka adalah anak buah dari Tung-hai-liong (Naga Laut Timur) Ouwyang Cin, datuk besar yang menguasai lautan timur, bahkan kekuasaannya diakui oleh para bajak laut Jepang dan para tokoh kang-ouw di sepanjang pantai laut timur.

Tiba-tiba terdengar suara bercuitan, seperti burung malam, namun suara itu meninggi dan menggetarkan jantung.

Mendengar suara ini si kedok hitam menggerakkan kepala, menoleh dan memandang ke arah pintu.

Baru sekarang dia memperlihatkan perhatian, pada hal kedatangan delapan orang tadi disambutnya dengan sikap acuh saja.

Kini sepasang matanya mengeluarkan sinar berseri seolah dia mengharapkan sesuatu yang menyenangkan akan terjadi.

Memang berbeda gerakan kedua orang yang muncul sekarang ini.

Berkelebatnya bayangan mereka hampir tidak nampak, seolah-olah ada dua iblis yang tiba-tiba muncul dari tiada.

Tahu-tahu di situ telah berdiri dua orang yang aneh, baik wajah mereka, pakaian mereka, maupun sikap mereka.

Yang seorang adalah pria yang usianya kurang lebih enampuluh tahun akan tetapi nampak jauh lebih muda dari pada usianya.

Tubuhnya tinggi tegap dan mukanya berwarna aneh sekali, merah seperti dicat dengan darah!

Pakaiannya sutera putih sehingga warna mukanya yang merah itu menjadi semakin cerah.

Di punggungnya terdapat sebatang senjata golok yang punggungnya berbentuk gergaji.

Dia adalah Ang-bin Moko (Iblis Jantan Muka Merah).

Adapun orang kedua tentu saja Pek-bin Moli (Iblis Betina Muka Putih), wanita yang usianya satu dua tahun lebih muda, masih cantik dan ramping, akan tetapi mukanya sepucat muka mayat dan pakaiannya juga sutera putih seperti yang dipakai Ang-bin Moko.

Wanita ini tidak memegang atau membawa senjata, akan tetapi sabuk yang melilit pinggangnya adalah seekor ular yang sudah mati dan itulah senjata yang ampuh!

Sejenak kedua orang itu hanya berdiri memandang ke arah si kedok hitam, dan orang yang tadi acuh saja itu kinipun bangkit berdiri.

Tubuhnya yang tinggi besar nampak gagah dan menambah kewibawaannya, apalagi karena pakaiannya yang serba hitam itu terbuat dari sutera yang halus.

Diapun diam saja dan menyambut pandang mata kedua orang yang datang berkunjung itu dengan penuh selidik.

"Ang-ko, inikah orang yang akan memberi pekerjaan dan memimpin kita?"

Pek-bin Mo-li tiba-tiba bertanya kepada temannya. Suaranya nyaring tinggi dan lembut, namun mengandung suara dingin mengejek.

"Ha..ha, agaknya benar, Pek-moi. Kita akan menjadi pembantu seorang yang bersembunyi di balik topeng? Ha..ha, lucu juga!"

Jawab Ang-bin Moko, juga suaranya mengandung ejekan dan memandang rendah.

Pasangan ini memang terkenal sebagai pasangan iblis yang tidak pernah mengenal takut, memandang diri sendiri terpandai.

Sekali ini mereka menerima undangan dari Yang Mulia, nama yang sudah mereka dengar dari para tokoh kang-ouw sebagai nama seorang pemimpin rahasia yang tidak sayang melimpahkan hadiah yang amat royal sebagai imbalan jasa seseorang akan tetapi yang juga tidak segan-segan untuk membunuh dengan amat kejam siapa saja yang menjadi penghalang.

Mendengar ucapan sepasang iblis itu, si kedok hitam mendengus, dan suaranya yang sopan terpelajar seperti bangsawan tinggi itu terdengar penuh wibawa ketika dia bicara.

"Kami mengenal nama besar Ang-bin Moko dan Pek-bin Moli, dan sikap angkuh mereka memang mengesankan, akan tetapi kalau keangkuhan itu tidak mengandung kenyataan akan ilmu yang benar-benar tinggi, maka keangkuhan itu hanya akan menjadi bahan ejekan dan tertawaan belaka. Ang-bin Moko dan Pek-bin Moli, melihat sikap kalian, kamipun meragu dan tidak akan berani memperbantukan tenaga kalian tanpa lebih dahulu menyaksikan kemampuan kalian!"

Sepasang iblis itu saling pandang dan alis mereka berkerut.

Ucapan itu, betapapun halusnya, merupakan tantangan!

Mereka maklum bahwa orang berkedok yang hanya dikenal dengan sebutan Yang Mulia ini selain memiliki ilmu kepandaian tinggi, juga mempunyai anak buah yang banyak sekali, terdiri dari orang-orang lihai yang tentu kini banyak bersembunyi di sekitar tempat itu.

Mereka bukan orang-orang bodoh yang mencari perkara dan memancing kesulitan bagi mereka sendiri.

Akan tetapi merekapun bukan orang-orang yang membiarkan setiap tantangan lewat tanpa menyambutnya.

Ang-bin Moko menghadapi si kedok hitam dan matanya mengeluarkan sinar berkilat.

"Yang Mulia, apakah ucapan Yang Mulia itu merupakan tantangan ataukah sekedar ujian?"

Suara di balik kedok itu terkekeh, juga kekeh yang sopan.

"Heh..heh, kalian berdua kami undang bukan untuk dijadikan musuh, melainkan diajak bekerja sama. Tentu saja kami hanya ingin menguji apakah sesuai benar tingkat kepandaian kalian dengan nama besar dan sikap kalian."

"Bagus sekali!"

Pek-bin Moli berteriak nyaring.

"Siapa yang akan menguji kami dan bagaimana pula caranya?"

Sikap dan suaranya menantang dan mukanya yang sepucat muka mayat itu nampak cantik akan tetapi mengerikan, matanya jelilatan memandang ke sekeliling seolah mencari musuh.

"Karena kalian merupakan orang-orang yang amat terkenal, biarlah kami yang akan menguji. Kalian boleh maju bersama dan kalau dalam sepuluh jurus kalian mampu mengalahkan kami, maka kalian boleh menjadi pembantu kami dengan menentukan sendiri besarnya upah kalian."

Sepasang iblis itu saling pandang dan keduanya menyeringai.

Mengeroyok selama sepuluh jurus?

Dan orang ini menjanjikan kalau mereka menang boleh menentukan sendiri besarnya upah mereka?

Orang ini tentu gila, dan juga tentu kaya bukan main!

"Bagaimana kalau kami gagal?"

"Kalau kalian gagal dan tewas, kami akan menguburkan jenazah kalian baik-baik, akan tetapi kalau kalian gagal dan tidak tewas, kalian boleh menjadi pembantu kami, akan tetapi kami yang akan menentukan besarnya upah kalian."

Kembali sepasang iblis itu saling pandang, dan mereka tertawa.

Orang ini tentu gila, pikir mereka.

Bagaimana mungkin dapat bertahan terhadap pengeroyokan mereka selama sepuluh jurus?

Dan membayangkan kemungkinan dia dapat menewaskan mereka dalam sepuluh jurus.

Gila!

Tiba-tiba Ang-bin Moko tertawa bergelak.

"Baik, kami setuju!"

Dan tanpa menggerakkan bibirnya, dia mengirim suara kepada Pek-bin Moli, kita lucuti kedoknya"".."

Mengirim suara seperti itu hanya dapat dilakukan oleh orang yang memiliki tenaga sakti yang amat kuat.

Hanya getaran suara saja yang mengudara dan ditangkap oleh orang yang dikirimi suara, telinga lain tidak dapat mendengar apa-apa.

Akan tetapi, betapa kaget hati sepasang iblis itu ketika terdengar si kedok hitam berkata tenang.

"Jangan harap kalian dapat melakukan niat itu! Nah, kalian mulailah!"

Tiba-tiba tubuh yang tinggi besar itu melayang ke kiri, ke arah ruangan yang cukup luas, tubuhnya berdiri tegak lurus dengan perut menggendut, hanya sepasang mata di balik kedok itu saja yang nampak hidup, mencorong dan penuh kewaspadaan.

Sepasang iblis itu belum bergerak dari tempat mereka berdiri.

Ang-bin Moko yang bersikap hati-hati segera bertanya.

"Yang Mulia, selama sepuluh jurus ini, kita bertanding dengan tangan kosong ataukah bersenjata?"

Si kedok hitam kembali terkekeh sopan.

"Heh..heh, kami mendengar bahwa golok gergajimu dan sabuk ular Pek-bin Moli hanya untuk menakut-nakuti lawan saja, akan tetapi yang lebih ampuh adalah Toat-beng Tok-ciang dan Touw-kut-ci kalian. Benarkah itu?"

Kembali sepasang iblis itu saling pandang.

Hebat juga orang ini.

Tentu memiliki seribu telinga maka dapat mengetahui ilmu simpanan mereka.

Dan setelah mengetahui, masih berani menantang mereka berdua untuk mengeroyoknya.

Ini saja sudah membuktikan bahwa orang itu tentu memiliki sesuatu yang dapat dia andalkan untuk menandingi kedua ilmu baru mereka.

Ang-bin Moko memberi isyarat kepada Pek-bin Moli dan keduanya menggerakkan tubuh.

Bagaikan dua ekor burung rajawali, tubuh mereka melayang ke depan si kedok hitam.

Gerakan mereka demikian ringan dan gesitnya, membuat mata di balik kedok itu bersinar-sinar gembira.

Dia telah mendapatkan dua orang pembantu yang boleh diandalkan, pikir si kedok hitam.

Dua orang ini jauh lebih pandai dibandingkan Cap-sha-kwi maupun Ngo-liong.

Biarpun hanya melalui pandang mata, Ang-bin Moko dan Pek-bin Moli sudah dapat saling memberi isyarat.

Dua-orang ini memang kompak sekali, bukan saja mereka berdua berasal dari saudara seperguruan, akan tetapi mereka juga sama-sama merangkai ilmu-ilmu silat, dan lebih dari itu, hubungan mereka juga sebagai kekasih atau suami isteri.

Setelah saling pandang memberi isyarat, kedua orang itu lalu mengerahkan tenaga sakti sehingga kedua tangan mereka, dari ujung jari sampai sebatas siku, berubah warnanya menjadi kehijauan.

Itulah tandanya bahwa mereka telah mengerahkan tenaga dari ilmu Toat-beng Tok-ciang (Tangan Beracun Pencabut Nyawa).

"Yang Mulia, waspadalah, kami akan menggunakan Toat-beng Tok-ciang,"

Teriak Ang-bin Mo-ko.

Bagaimanapun juga, diapun tahu bahwa orang berkedok ini memiliki banyak sekali anak buah yang tentu sudah siap di tempat itu.

Kalau dia dan Pek-bin Moli kesalahan tangan sampai membunuh orang ini, tentu keadaan akan menjadi runyam dan mereka berdua dalam bahaya.

Walaupun mereka tidak takut, akan tetapi menguntungkan bagi mereka, bahkan hanya merepotkan saja.

Itulah sebabnya maka Ang-bin Mo-ko sengaja meneriakkan peringatan ini, hal yang biasanya tak pernah dia lakukan.

Biasanya, kalau dia hendak membunuh atau menyerang orang, dia melakukannya dengan tiba-tiba dan tanpa memberi peringatan sama sekali.

Maklum bahwa ilmu pukulan kedua orang itu memang berbahaya sekali, si kedok hitam juga tidak bersikap lengah atau memandang rendah.

Dia berdiri dengan kedua kaki terpentang lebar, kokoh kuat seperti pagoda besi, kedua lutut ditekuk sehingga membentuk siku-siku, kedua lengannya disilangkan di depan dada, dengan jari tangan terbuka, akan tetapi kalau jari-jari tangan yang lain agak melengkung, kedua jari telunjuknya lurus menunjuk ke atas dan kedua jari tangan itu berubah warna, kini menjadi hitam seperti arang!

Melihat ini, kembali sepasang iblis itu saling pandang dan merekapun teringat akan adanya semacam ilmu yang amat berbahaya, yang disebut It-kok-ci (Jari Racun Tunggal) yang kabarnya merupakan ilmu yang amat hebat dan pernah dikuasai oleh seorang saja, yaitu keluarga Wan-yen yang menjadi orang kepercayaan kaisar-kaisar Mongol.

Akan tetapi, mereka tahu bahwa pemilik ilmu itu sudah tewas dalam pertempuran ketika Kerajaan Mongol jatuh.

Apakah orang ini telah mewarisi ilmu itu?"

"Ang-bin Moko dan Pek-bin Moli, aku telah siap!"

Kata si kedok hitam.

Sepasang iblis itu lalu mengerahkan tenaga dan menggerakkan tangan mereka, memukul dari jarak jauh ke arah lawan.

Terdengar bunyi bercuitan seperti beberapa ekor tikus yang terjepit atau ketakutan, mencicit dan makin lama semakin tinggi melengking.

Dari kedua tangan mereka menyambar hawa pukulan yang amat kuat, menyambar ke arah jalan darah di tubuh lawan.

Itulah Toat-beng Tok-ciang yang dapat membunuh orang dari jarak jauh dengan mudah.

Seperti ada sinar yang tidak nampak meluncur ke arah tubuh si kedok hitam.

Akan tetapi, orang ini dengan tenang, tanpa mengubah kedudukan kedua kakinya, juga menggerakkan kedua tangannya, dan menuding dengan gerakan menotok ke udara di depannya.

Terdengar bunyi mendesir keluar dari jari-jari telunjuk yang hitam itu dan ada hawa menyambar keluar mengeluarkan uap pitam!

Tenaga yang keluar dari kedua telunjuk ini seperti perisai menangkis hawa pukulan Toat-beng Tok-ciang sehingga pukulan jarak jauh itu terpental kembali.

Tentu saja Ang-bin Moko dan Pek-bin Moli terkejut dan merasa penasaran bukan main.

Selama memiliki ilmu baru itu, belum pernah mereka gagal mempergunakannya.

Dari puluhan orang yang pernah mereka hadapi, baru seorang pemuda saja yang mampu mengelak dan menangkis Toat-beng Tok-ciang, yaitu Sin Wan murid Sam-sian.

Akan tetapi pemuda itupun hanya mengelak dan menangkis dengan pukulan yang mengeluarkan uap putih, bukannya langsung menyambut dengan totokan jarak jauh seperti yang dilakukan si kedok hitam ini.

Mereka mengerahkan tenaga dan melanjutkan serangan mereka, berbareng akan tetapi berpencar, mereka menyerang dari kanan kiri.

Si kedok-hitam tetap mempergunakan totokan jarak jauh satu tangan yang mengeluarkan uap hitam, dan sampai lima jurus lamanya, kedua iblis itu sama sekali tidak pernah mampu mengenai sasaran dengan pukulan jarak jauh mereka, apa lagi merobohkan!

Ang-bin Moko memberi isyarat kepada Pek-bin Moli dan kini keduanya berlompatan menerjang lawan dengan ilmu mereka yang kedua, yaitu Touw-kut-ci (Jari Penembus Tulang), ilmu totokan yang amat keji karena dilatihnyapun menggunakan banyak tengkorak manusia.

Celakalah lawan yang terkena totokan jari tangan mereka.

Jari tangan mereka dapat menembus tulang dan sekali mengenai kepala, jari-jari tangan itu akan menembus otak.

Kini, sepasang iblis itu menyerang dengan Touw-kut-ci, keduanya mendesak dan mencari kesempatan untuk mencengkeram ke arah muka lawan.

dan merenggut lepas kedok sutera hitam.

Akan tetapi, si kedok hitam memang bukan orang sembarangan.

Sebelum menantang sepasang iblis itu, tentu saja dia telah melakukan penyelidikan terlebih dahulu tentang kemampuan sepasang iblis itu.

Dia tahu pula akan kedahsyatan Touw-kut-ci, dan dia memang sudah siap siaga menghadapi ilmu dari sepasang iblis itu.

Karena itulah maka tadi dia sengaja menantang selama sepuluh jurus, karena kalau lebih lama dari itu, terpaksa dia harus menggunakan tangan maut untuk mencapai kemenangan.

Kalau hanya sepuluh jurus, dia yakin akan mampu mempertahankan diri.

Sepasang iblis itu menjadi terkejut bukan main ketika melihat betapa tubuh si kedok hitam itu berpusing seperti gasing dan dari putaran itu keluar angin menyambar-nyambar.

Tubuh itu tidak nampak hanya bayangan hitam berpusing amat cepatnya.

Karena ini, terpaksa serangan Touw-kut-ci tidak dapat diarahkan ke sasaran yang tepat, hanya ngawur saja asal mengenal tubuh lawan.

Namun, betapa sukarnya mengenai tubuh yang berpusing itu karena dari situ terasa ada angin pukulan yang amat kuat menyambar-nyambar, bahkan dapat menyeret mereka seperti pusaran angin puyuh.

Mereka berdua berusaha sekuatnya untuk memasukkan totokan dan mengenai tubuh lawan.

Satu kali saja mengenai lawan, tentu jari mereka akan meninggalkan bekas dan berarti mereka menang.

Akan tetapi, pada jurus ke lima ketika sepasang iblis itu menjadi lebih nekat untuk mencapai kemenangan pada jurus terakhir sehingga mereka menubruk ke depan menerobos putaran angin, tiba-tiba tubuh mereka terdorong dan terhuyung ke belakang oleh tangkisan lengan yang amat kuat mengenai lengan mereka dari samping.

Mula-mula Pek-bin Moli yang terdorong ke belakang, disusul Ang-bin Moko yang terhuyung.

Putaran bayangan hitam itu berhenti dan si kedok hitam sudah berdiri tegak di depan mereka.

Sepuluh jurus telah lewat dan mereka berdua harus mengakui bahwa selama itu, jangankan merobohkan si kedok hitam, menyentuh tubuhnyapun mereka tidak mampu.

Diam-diam mereka terkejut dan menduga-duga siapa sebenarnya si kedok hitam yang amat lihai ini.

"Bagus, bagus, kalian memang lihai sekali dan pantas menjadi pembantu utama kami,"

Kata si kedok hitam.

"Dalam sepuluh jurus, biarpun kalian tidak mampu mengalahkan kami akan tetapi kamipun sama sekali tidak sempat untuk balas menyerang. Untuk menyatakan kegembiraan hati kami, kami menghadiahkan benda ini kepada kalian, kalau kalian menerimanya, berarti kalian sanggup untuk membantu kami dengan setia."

Si kedok hitam mengeluarkan dua butir mutiara hitam yang besar dan indah dari saku bajunya dan memberikan dua butir benda berharga itu kepada Ang-bin Moko dan Pek-bin Moli dengan dilemparkannya kepada mereka.

Sepasang iblis itu menangkap mutiara itu dan wajah mereka berseri.

Mereka mengenal benda berharga dan kagum akan keroyalan si kedok hitam.

"Kami telah mengaku kalah, mulai hari ini kami berdua siap melaksanakan semua perintah Yang Mulia,"

Kata Ang-bin Moko sambil menyimpan mutiara hitam itu.

"Hamba senang sekali dapat menghambakan diri kepada Yang Mulia, dengan harapan kelak kalau usaha Yang Mulia berhasil, tidak akan melupakan hamba,"

Kata pula Pek-bin Moli dengan senang.

"Tentu saja, kami tidaK pernah melupakan jasa seorang pembantu, juga tidak pernah membiarkan begitu saja mereka yang telah merugikan kami. Nah, silakan kalian duduk karena kita akan membicarakan urusan pekerjaan yang amat penting. Akan tetapi sebelum itu, ingin kami bicara dengan orang yang telah mengecewakan hati kami dan amat merugikan gerakan perjuangan kami."

Ang-bin Moko dan Pek-bin Moli mengambil tempat duduk, dan mendengar ucapan itu, dua orang yang datang lebih dahulu dan yang menderita luka di paha dan punggung, segera bangkit dari bangku dan menghampiri orang berkedok hitam, lalu menjatuhkan diri berlutut di depan kakinya dalam jarak empat meter lebih.

"Hemm, kalian dua orang tolol, kalian bukan saja gagal melaksanakan tugas penting, akan tetapi juga bersikap pengecut, meninggalkan kawan sehingga tewas dan kalian melarikan diri. Begitukah sikap orang-orang yang telah menjadi pembantu dan anak buah kami?"

"Ampun, Yang Mulia. Kami..."

Tidak kuat menghadapi pengeroyokan banyak pengawal"...."

Kata seorang di antara mereka yang luka pahanya.

"Kami sudah berusaha sekuat tenaga dan gagal, mohon paduka mengampuni kami,"

Kata orang kedua yang terluka punggungnya. Sepasang mata di balik kedok itu berkilat.

"Enak saja kalian minta ampun. Kalian telah bertindak ceroboh sehingga menggagalkan tugas, bahkan membahayakan kedudukan kita semua dengan pelarian kalian ini. Kalian tidak patut berada di sini dan tidak pantas menjadi angguta perjuangan kita. Kalau kalian berhasil dalam tugas, selalu kami memberi hadiah besar, sekarang kalian gagal, bahkan melarikan diri, tahukah kalian apa hukumannya?"

Dengan tubuh gemetar dua orang itu membentur-benturkan dahi di lantai sambil minta ampun.

Akan tetapi, si kedok hitam itu menggerakkan kedua tangannya, telunjuknya berubah hitam arang dan ditudingkan ke arah kedua orang itu.

Seperti ada sinar hitam mencuat dari kedua jari telunjuk itu, menyambar ke depan, ke arah kepala dua orang itu.

Mereka terjengkang, tanpa mengeluarkan suara lagi karena mereka telah tewas dengan muka berubah hitam arang!

Melihat ini, sepasang iblis itu terkejut.

Mereka bertahun-tahun melatih diri dengan Touw-kut-ci mempergunakan banyak tengkorak, kini mereka melihat ilmu tusukan jari tangan dari jarak jauh yang teramat dahsyat, jauh lebih dahsyat dibandingkan Touw-kut-ci mereka.

Hal itu saja membuat mereka semakin tunduk, maklum bahwa mereka berhadapan dengan orang sakti yang pantas menjadi pimpinan mereka.

Melihat ini, Bu-tek Kiam-mo bangkit berdiri dari bangkunya dengan alis berkerut.

Dia bukan anak buah si kedok hitam, dan dia datang sebagai utusan Tung-hai-liong, datuk yang kekuasaannya seperti raja saja di lautan timur.

Melihat hukuman yang dijatuhkan kepada dua orang itu, dia merasa penasaran.

"Yang Mulia, apa yang harus saya laporkan kepada majikan saya melihat hukuman ini? Apakah kalau kelak kami gagal dalam tugas, kamipun akan dihukum mati seperti ini?"

Si kedok hitam mengangkat tangan kiri ke atas sebagai isyarat dan nampak bayangan empat orang berkelebat masuk.

Tanpa banyak bicara lagi, empat orang itu menggotong pergi jenazah kedua orang yang mendapat hukuman tadi.

Barulah si kedok hitam menghadapi Bu-tek Kiam-mo.

"Bu-tek Kiam-mo, engkau salah mengerti. Dua orang ini adalah anak buah kami, dan di antara kami sudah ada peraturan yang tidak bolen dilanggar. Kalian yang hadir ini lain lagi, bukan anak buah kami melainkan sahabat yang akan diajak bekerja sama. Tentu saja peraturan yang dikenakan kepada anak buah kami tidak berlaku untuk kalian. Yang dihukum bukan hanya kegagalan mereka, akan tetapi karena mereka berdua melarikan diri dan meninggalkan seorang rekan yang tewas. Nah, mengertikah engkau sekarang?"

Bu-tek Kiam-mo mengangguk dan duduk kembali.

Tentu saja dia tidak dapat mencampuri urusan dalam antara si kedok hitam dan anak buahnya, seperti juga majikannya yang tidak kalah kejamnya dibandingkan dengan apa yang dilakukan si kedok hitam terhadap anak buahnya tadi.

Setelah mereka duduk, dua orang anak buah si kedok hitam datang menyuguhkan arak dan makanan kecil, lalu mereka meninggalkan ruangan itu pula.

Coa Ok, orang pertama dari Hek I Ngo-liong tak dapat menahan keinginan tahunya dan bertanya "Yang Mulia, tugas apakah yang telah gagal dilakukan tiga orang anak buah paduka itu?"

Semua orang mendengarkan penuh perhatian, ingin tahu jawaban orang aneh yang penuh rahasia itu. (Lanjut ke

Jilid 04) Asmara Si Pedang Tumpul (Seri ke 02 -Serial Si Pedang Tumpul) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 04

"Kami mengirim tiga orang anak buah kami menyusup ke istana Raja Muda Yung Lo untuk membunuhnya. Akan tetapi, mereka bukan hanya gagal, bahkan seorang yang kami percaya memiliki kemampuan, telah tewas dan dua orang tadi melarikan diri membawa luka-luka."

Mendengar ini, Coa Ok yang berwatak sombong itu tersenyum menyeringai.

"Heh, kalau hendak membunuhnya, kenapa harus menyusup ke istana di mana terdapat banyak pengawal? Serahkan saja kepada kami. Kami akan menghadang dan raja muda itu keluar dari istana, kami akan sanggup membunuhnya!"

Akan tetapi si kedok hitam mengangkat tangan dan menggeleng kepala.

"Tidak selain mereka kini tentu lebih waspada dan melakukan penjagaan juga kami telah mengubah siasat. Setelah mendengar hasil penyelidikan jaringan mata-mata kami di kota raja selatan, dan setelah menerima pesan dari Pangeran Thian-cu (Anak Langit), siasat kami berubah sama sekali. Kami tidak lagi menggunakan kekerasan melainkan mengatur siasat yang halus."

"Siapakah Pangeran Thian-cu?"

Tanya Pek-bin Moli.

"Siasat apa yang akan dipergunakan dan apa pula tugas kami?"

Tanya Coa Ok mewakili semua saudaranya.

"Dan pesan apa yang harus saya sampaikan kepada majikan saya Naga Lautan Timur?"

Tanya Bu-tek Kiam-mo.

"Tenanglah dan dengarkan penjelasanku. Juga engkau Bu-tek Kiam-mo, dengarkan baik-baik agar kelak dapat kaulaporkan kepada majikanmu. Kalian tentu tahu siapa Kaisar Thai-cu yang telah memberontak terhadap Kerajaan Goan (Mongol). Dia tadinya bernama Chu Goan Ciang dan siapa dia? Seorang petani! Bayangkan saja. Seorang petani busuk menjadi kaisar dan akan memerintah kita! Bagaimana mungkin kita dapat direndahkan sampai seperti itu? Tidak! Kita harus mengenyahkan kekuasaan para petani busuk itu"

"Maaf, Yang Mulia,"

Kata Ang-bin Moko.

"Akan tetapi, bagaimana kita akan dapat melakukan hal itu? Kaisar Thai-cu telah membangun Kerajaan Beng, dan memiliki pasukan besar yang amat kuat. Bagaimana kita mampu melawan sebuah kerajaan yang memiliki pasukan besar?"

Semua orang mengangguk membenarkan pendapat Ang-bin Moko itu. Merekapun akan pikir-pikir dulu kalau diharuskan melawan pasukan pemerintah yang ratusan ribu jumlahnya.

"Heh..heh, kita tidak begitu bodoh. Kalau dengan jalan kekerasan tidak mungkin, masih banyak jalan yang lebih halus. Dan baru saja kami mendapat keterangan dari para penyelidik. Kalian dengarkan baik-baik siasat yang akan kami atur."

Dengan suara yang halus dan jelas, si kedok hitam lalu menggambarkan rencana siasatnya.

Mula-mula dia menceritakan keadaan keluarga kaisar, betapa kaisar telah mengangkat pangeran Yung Lo menjadi raja muda di Peking karena pangeran ini memang ahli dalam mengatur pasukan untuk menahan gelombang serangan orang-orang Mongol yang hendak merebut kembali kekuasaannya di selatan.

"Nah, Raja Muda Yung Lo, walaupun bukan pangeran sulung, bukan pangeran mahkota karena dia lahir dari selir, tentu saja menganggap dirinya sebagai pangeran yang paling gagah, paling cakap untuk kelak menggantikan ayahnya. Akan tetapi dia harus mengalah terhadap Pangeran Mahkota, putera pertama kaisar dari permaisuri, yaitu Pangeran Chu Hui San yang telah ditetapkan kelak menggantikan ayahnya karena diapun merupakan putera sulung. Dan di antara kedua pangeran ini seperti terdapat persaingan, dan akan mudah dicetuskan api permusuhan antara Raja Muda Yung Lo dan kakaknya, Pangeran Mahkota Chu Hui San. Inilah jalan yang kami maksudkan, cara halus yang kalau berhasil, jauh lebih menguntungkan dari pada sekedar penyerbuan dan pertempuran."

"Akan tetapi bagaimana caranya, Yang Mulia? Kami berdua masih belum jelas benar, walaupun sudah mengerti apa yang paduka maksudkan dengan cara yang halus tanpa kekerasan itu,"

Kata Pek-bin Moli.

"Jalan satu-satunya adalah melakukan penyusupan ke dalam istana Pangeran Mahkota. Kita harus mengobarkan persaingan itu menjadi permusuhan. Sukar untuk mempengaruhi Raja Muda Yung Lo karena wataknya keras dan dia dapat berbahaya. Akan tetapi, Pangeran Chu Hui San adalah seorang pangeran yang lemah dan kita akan dapat mempengaruhinya. Nah, menyusup ke istana Pangeran Mahkota dan mempengaruhinya merupakan satu di antara tugas kita. Ada pula tugas lain yang tidak kalah pentingnya."

"Apakah tugas itu, Yang Mulia?"

Tanya Ang-bin Moko.

"Kami lebih menyukai tugas yang membutuhkan kekuatan. Menyusup ke istana dan bermain sandiwara terlalu sukar bagi kami."

"Heh..heh, kami juga tidak akan mengutus kalian melakukan penyusupan ke istana, Moko. Kalian berdua dikenal oleh para tokoh persilatan, dan kalau para tokoh mengetahui kalian menyusup ke istana pangeran Mahkota, tentu kalian akan dicurigai. Tidak, kalian lebih tepat untuk tugas kedua, yaitu berusaha merebut kedudukan bengcu (pimpinan) yang akan diadakan oleh para datuk persilatan beberapa bulan mendatang di puncak Thai-san. Kalian harus dapat merebut kedudukan bengcu sehingga dengan mudah kita akan mendapat dukungan dari dunia persilatan kalau saatnya tiba bagi kita untuk bergerak."

Sepasang iblis itu saling pandang dan mereka terbelalak.

"Wah, kami sendiripun sejak dulu berkeinginan menjadi bengcu dan kami berlatih keras untuk dapat mengikuti pemilihan bengcu. Akan tetapi, Yang Mulia, kami tahu bahwa tidaklah mudah untuk menjadi orang yang paling tangguh. Banyak orang sakti akan mengikuti pemilihan itu, dan mereka memiliki pendukung, sedangkan kami tidak."

"Heh..heh, kami dapat mempersiapkan pendukung yang amat banyak. Kami berdiri di belakang kalian, dan akan kami usahakan sedapatnya agar kalian yang menang. Selain itu, juga kami akan mengirim pembantu untuk menyusup ke dalam perkumpulan pengemis. Kalau kita dapat menguasai para kai-pang, mereka dapat menjadi pendukung yang besar jumlahnya dan kuat. Nah, sekarang sudah ada tiga macam tugas kita. Pertama, menyusup ke istana Putera Mahkota. Kedua, mencoba untuk menguasai kai-pang (perkumpulan pengemis), dan ke tiga, berusaha meraih gelar bengcu agar dapat menguasai dunia kangouw. Untuk yang ke empat, kami sendiri yang akan mengaturnya, yaitu menyambut kedatangan Yang Mulia Pangeran karena beliau sendiri yang akan memimpin kita agar perjuangan ini berhasil baik."

"Yang Mulia Pangeran?"

Ang-bin Moli berseru heran.

"Siapakah beliau? Dan siapa pula paduka? Mengapa paduka selalu menyembunyikan wajah di balik kedok? Tidak enak rasanya bagi kami tidak mengenal siapa pemimpin kami. Dan Yang Mulia Pangeran itu, diakah pemimpin kita yang utama?"

Si kedok hitam mengangguk-angguk.

"Pertanyaan yang pantas dan memang kalian perlu mengetahui agar tidak ragu-ragu lagi. Ketahuilah bahwa perjuangan kita ini dipimpin langsung oleh Pangeran Yaluta yang mulia, bijaksana dan memiliki ilmu kepandaian tinggi. Beliau yang menjadi pemimpin besar dan selama ini beliau mewakilkan kepada kami. Karena aku tidak ingin dikenal agar aku dapat bergerak dengan leluasa, maka aku memakai kedok sutera hitam. Kini, Yang Mulia Pangeran merasa sudah tiba saatnya beliau sendiri yang memimpin langsung, maka beliau akan datang. Kelak, kalau beliau sudah datang, akan kami perkenalkan kepada kalian semua. Sekarang, mari kita membagi tugas masing-masing."

Si kedok hitam lalu mengatur siasat, membagikan tugas kepada mereka semua dengan teliti sekali.

Melihat cara kerja si kedok hitam, sepasang iblis itu kagum karena siasat itu rapi dan seperti siasat seorang panglima perang saja.

Kepada Bu-tek Kiam-mo, si topeng hitam itu memberi kiriman benda-benda berharga untuk dihadiahkan kepada Tung-hai-liong Ouwyang Cin, juga diharapkan bantuan datuk itu agar cita-cita Pangeran Yaluta dapat terkabul, yaitu menjatuhkan kaisar petani seperti yang disebut oleh si kedok hitam dan mendirikan kembali Kerajaan Goan yang sudah runtuh.

Harta dan kedudukan merupakan dua kesenangan yang amat kuat daya pengaruhnya terhadap manusia.

Demi mengejar kedudukan dan harta, manusia lupa diri dan tidak segan melakukan perbuatan apapun juga.

Membunuh, merampok, menipu, berkhianat, apa saja akan dilakukan demi mendapatkan harta atau kedudukan yang diinginkannya.

Kalau sudah begini, manusia kehilangan harga dirinya sebagai manusia, sebagai mahluk yang mendapatkan anugerah paling besar dari Sang Pencipta.

Manusia sudah menjadi budak, menjadi hamba dari kesenangan, hamba dari nafsunya sendiri.

Manusia lupa bahwa menghambakan diri, bertekuk lutut kepada nafsu merupakan sumber segala malapetaka dalam kehidupan, sumber sengketa, sumber derita sengsara.

Harta kekayaan yang tadinya dibayangkan sebagai sumber segala kesenangan, akhirnya hanya menjadi sumber kegelisahan, takut akan kehilangan, sumber sengketa dan perebutan, dan kesenangan yang dihasilkan oleh adanya harta hanya menjadi kesenangan palsu yang membosankan.

Pengejaran terhadap harta dan kedudukan membutakan hati merusak pertimbangan, membuat kita tidak sadar bahwa kita telah melakukan hal-hal yang amat tidak baik, jahat atau merugikan orang yang pada akhirnya akan membuahkan buah yang pahit, yang harus kita makan sendiri.

Kita terkadang silau oleh tujuan, buta akan cara yang kita pergunakan untuk pengajaran mencapai tujuan itu.

Bagaimana mungkin cara yang kotor bisa menghasilkan sesuatu yang bersih?

Tujuan merupakan akibat, merupakan hasil daripada caranya.

Cara tidak terpisah dari hasilnya.

Kaisar Thai-cu, pendiri Kerajaan Beng (Terang) adalah seorang yang pandai.

Biarpun ia terlahir sebagai anak petani, namun berkat pengalaman dan kepemimpinannya, dia berhasil menyusun kekuatan, menarik dukungan hampir seluruh rakyat dan akhirnya berhasil pula menumbangkan kekuasaan Mongol yang sudah menjajah selama hampir seratus tahun itu.

Dan diapun maklum bahwa orang-orang Mongol tentu saja tidak rela melepas kekuasaan mereka dan pasti mereka akan selalu berusaha untuk merebut kembali tahta kerajaan.

Oleh karena itu, maka diapun mengangkat puteranya yang sejak muda memiliki kemampuan seperti dia, yaitu pandai mengatur pasukan, Pangeran Yung Lo, sebagai raja muda di Peking sehingga puteranya itu akan menjamin bahwa orang-orang Mongol tidak akan menyeberangi Tembok Besar.

Juga dia mengerahkan kekuatan untuk melakukan penjagaan di perbatasan, mempertanankan kedaulatan Kerajaan Beng.

Untuk tugas-tugas ini, dia memiliki banyak pembantu.

Para panglimanya adalah orang-orang yang cakap, di antaranya yang menjadi orang kepercayaannya adalah Jenderal Shu Ta dan Jenderal Yauw Ti.

Kedua orang jenderal ini merupakan panglima-panglima perang yang pandai dan merekalah yang mengatur semua penjagaan, walaupun keduanya tetap tinggal di kota raja.

Jasa keduanya amat besar dalam meruntuhkan Kerajaan Goan (Mongol), maka kaisar memberi mereka kedudukan tinggi yang membuat mereka berdua dapat menetap di kota raja dan sekali-sekali saja melakukan peninjauan ke perbatasan.

Di kalangan sipil, Kaisar Thai-cu juga mempunyai banyak menteri yang pandai.

Seorang kaisar memang harus dapat mempergunakan orang-orang pandai kalau dia menghendaki kemajuan dalam pemerintahan yang dikendalikannya.

Kaisar Thai-cu yang kini telah berusia enam puluh tahun itu mempunyai banyak anak dari para selirnya, akan tetapi dari permaisuri, dia hanya mempunyai seorang putera, yaitu Pangeran Chu Hui San yang diangkat menjadi putera mahkota.

Hanya ada satu hal yang kadang merisaukan hati sang Kaisar, yaitu melihat betapa puteranya yang menjadi Pangeran Mahkota itu dianggapnya tidak memiliki kewibawaan dan kekuatan yang patut membuat dia menjadi calon kaisar, tidak seperti puteranya yang kini menjadi raja muda di Peking.

Pangeran Mahkota yang sudah berusia empatpuluh tahun itu lemah dan hanya berfoya-foya saja, sama sekali tidak memperdulikan urusan pemerintah.

Padahal, Putera Mahkota itu sudah cukup dewasa, bukan kanak-kanak lagi.

Dia sudah mempunyai beberapa orang anak, dari isterinya mempunyai seorang anak laki-laki yang sudah berusia enam tahun dan bernama Pangeran Chu Song, sedangkan dari para selirnya, dia juga mempunyai beberapa orang anak.

Bahkan ada puterinya yang sudah berusia delapanbelas dan tujuhbelas tahun.

Namun, tetap saja Pangeran Mahkota ini berwatak kekanak-kanakan dan selalu mengejar kesenangan.

Tidak mengherankan apabila dia dikelilingi penjilat-penjilat yang memanfaatkan kelemahannya untuk mendapatkan keuntungan darinya.

Pangeran Chu Hui San hidup bermewah-mewah, setiap hari hanya berpesta, bermain judi, bahkan dia terkenal sekali di antara rumah-rumah pelesir yang dikunjunginya secara diam-diam dan menyamar, tentu saja atas anjuran para penjilat yang menjadi teman-temannya, yaitu para pemuda bangsawan putera para pejabat tinggi di kota raja.

Pangeran Mahkota dan teman-temannya itu merupakan sebuah gerombolan bangsawan yang mempunyai tukang-tukang pukul sendiri, dan kadang mereka melakukan hal-hal yang tidak pantas seperti merampas barang berharga yang mereka senangi dari siapa saja, dan tidak jarang mereka merampas seorang gadis cantik dan menculiknya dengan kekerasan.

Tak seorangpun berani menentang mereka, karena pemimpin gerombolan itu adalah Pangeran Mahkota!

Bahkan tidak ada yang berani melapor kepada kaisar yang amat menyayang putera mahkota ini, sehingga kaisar sendiri tidak tahu akan sepak terjang calon penggantinya itu.

MEMANG sesungguhnya, tidak ada yang sempurna di seluruh alam mayapada ini kecuali Tuhan Yang Maha Sempurna.

Tidak ada seorangpun yang hidupnya mulus tanpa cacat.

Tidak ada hati yang selalu mengenal senang tanpa mengenal susah.

Kaisar Thai-cu memang dari luar nampak hidup penuh kesenangan, penuh kebahagiaan.

Dia merupakan pendiri sebuah kerajaan baru yang berhasil.

Hidup penuh kemuliaan sebagai kaisar, orang yang paling tinggi kedudukannya di antara ratusan juta manusia.

Dia tidur di atas puncak kekuasaan, berenang di lautan kemewahan.

Berkuasa, mulia, terhormat, kaya raya, mempunyai banyak isteri dan banyak anak.

Lengkap semua!

Itu hanya nampaknya saja bagi orang lain.

Namun, betapa kaisar yang satu ini seringkali termenung bertopang dagu memikirkan keadaan putera mahkota, tidak ada yang tahu!

Betapa hatinya seringkali gelisah, khawatir kalau-kalau kerajaan yang dibangunnya itu tidak akan bertahan, tidak akan berkembang menjadi besar dan jaya.

Betapa dia selalu dirongrong oleh berita tentang pemberontakan di perbatasan, tentang usaha orang Mongol yang hendak merebut kembali kekuasaan, negara-negara tetangga di selatan dan barat yang tidak mengakui kedaulatan Kerajaan Beng, dan para bajak laut yang mengacau di sepanjang pantai timur.

Tentang pejabat yang korup, pengkhianat, dan masih banyak hal lagi yang cukup membuat kaisar merasa hidupnya tidak berbahagia!

Nafsu itu seperti api, selalu mencari bahan bakar, tak pernah berhenti selama ada yang dilahapnya.

Yang sudah dibakar, ditinggalkannya menjadi abu, tak dihiraukannya lagi karena selalu disibukkan mencari bahan bakar baru.

Kalau kita sudah dikuasai nafsu, kita selalu mengejar sesuatu yang belum kita miliki.

Yang sudah kita miliki terlupa, tidak lagi nampak keindahannya, tidak lagi menyenangkan, bahkan ada kalanya membosankan.

Yang nampak indah menarik dan dianggap menjadi sumber kesenangan hanyalah yang belum diperoleh, seperti api yang selalu tertarik kepada sesuatu yang belum dijamahnya.

Nafsu membuat segala sesuatu hanya nampak indah menyenangkan bagi yang belum memiliki!

Akan tetapi yang sudah memiliki, menjadi bosan dan yang dimiliki itu segera kehilangan daya tariknya.

Hanya mereka yang tidak kaya saja yang menganggap bahwa kaya raya itu amat membahagiakan, sebaliknya, yang sudah kaya raya kehilangan apa yang digambarkan oleh yang belum kaya itu.

Hanya yang tidak memiliki kedudukan menganggap bahwa yang berpangkat tinggi itu senang dan bahagia, namun seringkali dia tersiksa justeru oleh kedudukannya itu.

Orang yang tinggal di kota rindu kepada gunung, sebaliknya yang tinggal di gunung rindu kepada kota!

Demikianlah bekerjanya nafsu, mendorong kita untuk tidak merasa puas dengan keadaan yang ada, selalu haus akan hal yang belum kita miliki.

Ini memang wajar.

Nafsu memang amat berguna bagi kehidupan kita.

Nafsu yang membuat kita maju dan bertumbuh, membuat kita "hidup".

Namun, kalau dia menjadi alat, menjadi hamba kita.

Kalau terjadi sebaliknya, kita yang diperhamba, celakalah!

Kita akan menjadi robot, dan kita kehilangan pertimbangan, mau saja dituntun melakukan perbuatan yang jahat atau tidak benar hanya untuk memuaskan nafsu mendapatkan hal-hal yang kita inginkan.

Seperti api yanq terus menjalar mencari bahan bakar baru, melupakan dan meninggalkan yang lama.

Namun kaisar Thai-cu adalah seorang yang gigih, tidak pernah menyerah kepada segala macam kesukaran.

Dia selalu berusaha menanggulangi segala masalah.

Dia seorang yang sadar akan romantika kehidupan.

Hidup memang merupakan perjuangan, di mana tantangan datang dari segala penjuru dan di segala saat.

Bahaya dan tantangan berdatangan, dan justeru itulah romantika kehidupan.

Betapa akan hampa dan haramnya penghidupan ini tanpa adanya tantangan!

Betapa akan membosankan siang hari tanpa adanya malam!

Rasa manispun akan memuakkan tanpa adanya rasa pahit dan lain-iain.

Hidup adalah perjuangan menghadapi semua tantangan.

Melarikan diri dari tantangan hidup berarti sudah tigaperempat mati.

Kita harus menghadapi kenyataan yang ada, berani menghadapi tantangan yang datang menimpa.

Menghadapi tantangan, menanggulangi atau mengatasi tantangan, itu seni kehidupan!

Kita harus mempergunakan segala daya yang ada pada kita, setiap anggauta jasmani, hati akal pikiran, untuk menanggulangi segala masalah kehidupan, persoalan lahiriah dah mengatasinya, memenangkannya.

Mengenai batiniah, kerohanian, kita serahkan saja kepada Tuhan!

Percaya, menyerah dengan sabar, ikhlas, tawakal.

Rohani adalah kuasa Tuhan, akan tetapi urusan jasmani adalah tugas kewajiban kita sendiri.

Kaisar Thai-cu tak pernah tunduk terhadap segala kesukaran yang berdatangan semenjak dia menjadi kaisar.

Bukan saja dia memilih para pembantu yang pandai untuk dijadikan pejabat yang bijaksana, akan tetapi dia bahkan tidak melupakan para tokoh di dunia persilatan untuk memanfaatkan tenaga mereka.

Dia tahu benar bahwa para pendekar yang tidak mau memegang jabatan merupakan orang-orang yang dapat berjasa banyak demi lancarnya roda pemerintahannya.

Oleh karena itu, dia selalu menghubungi mereka untuk dimintai pendapat, nasihat dan bahkan bantuan.

Ketika banyak pusaka istana lenyap dari gudang istana, belasan tahun yang lalu, dia juga minta bantuan para tokoh persilatan, bahkan kemudian, Sam-sian (Tiga Dewa) yang berhasil mendapatkan kembali kumpulan pusaka yang dicuri oleh mendiang Se Jit Kong itu.

Kemudian dia mendengar akan adanya usaha orang-orang Mongol untuk menyebar mata-mata yang mungkin akan membahayakan, maka diapun segera mengirim utusan mencari dan mengundang Sam-sian untuk datang menghadap.

Akan tetapi, yang datang menghadap hanya Ciu-sian seorang, karena dua orang rekannya, Kiam-sian dan Pek-mau-sian, telah meninggal dunia.

Kaisar Thai-cu lalu minta bantuan Ciu-sian untuk menanggulangi dan menyelidiki gerakan jaringan mata-mata Mongol.

Ciu-sian menyanggupi, akan tetapi dia merasa tua, maka dia mewakilkan pelaksanaan tugas penting yang berat itu kepada muridnya, yaitu Sin Wan.

Bayangan merah muda itu meluncur cepat menuruni lembah gunung sebelah timur.

Baru setelah ia berhenti di tepi padang rumput kehijauan, nampak jelas bahwa ia seorang gadis yang berpakaian serba merah muda.

Seorang gadis yang cantik manis, dengan wajah yang cerah, sepasang mata yang berkilat tajam, mulut yang mungil terhias senyum mengejek dan mulut itu dihias lesung pipi yang manis sekali.

Ia mengagumi pemandangan alam yang indah di pagi itu, menghirup udara yang sejuk hangat sehingga cuping hidungnya yang tipis nampak kembang kempis.

Tubuhnya ramping padat dengan lekuk liku sempurna karena ia seorang gadis muda usia.

Sesungguhnya, usianya sudah duapuluh dua tahun, akan tetapi takkan ada orang menyangka begitu, tentu ia akan disangka berusia paling banyak delapanbelas tahun.

Begitu segar berseri, anggun seperti setangkai bunga yang baru merekah dihembus semilirnya angin gunung, bermandi embun dan sinar matahari pagi.

Pakaiannya ringkas, namun pakaian berwarna merah muda itu terbuat dari sutera yang mahal.

Tubuhnya terbungkus ketat sehingga nampak jelas tonjolan dan lekukannya.

Rambut kepalanya digelung ke atas dan diikat dengan pita berwarna hijau dan kuning, tusuk sanggulnya terbuat dari emas berbentuk burung merak yang indah.

Kakinya yang kecil memakai sepatu dari kulit hitam mengkilap.

Di punggungnya terdapat buntalan pakaian dan sebatang pedang melintang di bawahnya dengan gagang di belakang pundak kanan.

Gadis itu adalah Tang Bwe Li atau yang biasa disebut Lili.

Setelah menerima tugas dari sucinya, ia meninggalkan Bukit Ular tempat tinggal suhunya, See-thian Coa-ong Cu Kiat, dan hatinya merasa riang gembira.

Tidak saja ia merasa seperti seekor burung bebas lepas di udara, dapat melakukan apa saja sekehendak hatinya tanpa harus mentaati perintah siapapun, menjadi majikan dirinya sendiri, akan tetapi juga ia merasa dirinya penting sekali.

Sucinya yang lihai dan yang semula malah menjadi gurunya itu, yang merawat dan mendidiknya sejak ia kecil, sucinya yang amat dihormati dan disayangnya, begitu percaya kepadanya untuk mewakili membalas dendam kepada seorang laki-laki yang dianggap telah menghancurkan kehidupan sucinya!

Dan ia akan menunaikan tugas itu dengan baik.

Ia harus dapat melaksanakan balas dendam itu, demi sucinya ia rela mempertaruhkan nyawanya.

Tidak aneh kalau Lili merasa bebas dan gembira.

Ia penuh kepercayaan kepada diri sendiri dan pada saat itu, ia memang merupakan seorang gadis yang telah memiliki ilmu kepandaian tinggi.

Dahulu, ketika ia belum digembleng oleh See-thian Coa-ong sendiri yang ketika itu adalah kakek gurunya, ia sudah merupakan seorang gadis yang sukar dicari bandingnya dalam ilmu silat.

Apalagi sekarang, setelah menerima gemblengan datuk itu, ilmu kepandaiannya meningkat dengan cepatnya sehingga kini tingkatnya hampir sejajar dengan Bi-coa Sianli Cu Sui In, bekas gurunya yang kini menjadi sucinya.

Dengan ilmu kepandaian sehebat itu, tentu saja Lili merasa kuat dan penuh kepercayaan kepada diri sendiri, apalagi memang pada dasarnya ia seorang gadis yang pemberani bahkan tidak mengenal artinya takut.

Sudah belasan hari ia meninggalkan Bukit Ular dan selama itu ia sudah melewati banyak gunung, padang rumput, gurun dan lembah yang amat sukar dilalui.

Juga banyak ia melewati perkampungan bermacam suku bangsa, namun tidak pernah ada gangguan.

Pagi hari ini, dengan gembira ia menuruni bukit menuju ke sebuah dusun yang tadi sudah dilihatnya dari puncak bukit itu.

Perutnya terasa lapar pagi itu, dan perjalanan sejak matahari terbit tadi menambah rasa laparnya.

Di dusun bawah sana tentu ia akan dapat membeli sesuatu untuk sarapan.

Bekal makanan yang masih ada dalam buntalan di punggungnya hanya roti kering dan daging asin, untuk minum hanya ada air putih.

Ia ingin sarapan makanan yang hangat seperti bubur, dan ingin minum air teh panas-panas.

Ketika ia menuruni lembah terakhir dan tiba di sebuah tikungan, ia mendengar suara banyak orang dan melihat bahwa di depan sana terdapat banyak orang sedang mengaso, duduk di bawah pohon-pohon dan batu-batu besar.

Banyak di antara mereka berada di balik pohon dan rumpun semak belukar, maka ia tidak dapat melihat jelas berapa banyaknya orang yang berada di sana dan sedang apa mereka itu.

Akan tetapi, tiba-tiba dua orang laki-laki sudah meloncat dan berdiri di depannya.

Lili memperhatikan mereka.

Dua orang ini bertubuh tinggi besar dan memakai topi bulu putih.

Mereka kelihatan kokoh kuat, dan keduanya memandang kepadanya seperti dua ekor srigala kelaparan melihat seekor kelinci gemuk.

Mata mereka seperti hendak menelannya bulat-bulat, bahkan seorang di antara mereka, yang kumisnya panjang menjuntai ke bawah, terang-terangan menjulurkan lidah dan menjilati bibir sendiri seperti seekor anjing mengilar melihat sepotong tulang.

Orang ke dua, yang mukanya bopeng karena cacar, menyeringai dan nampak giginya yang besar-besar dan hitam.

Agaknya orang ini pecandu rokok yang berat atau pengunyah tembakau.

Lili adalah seorang gadis cantik yang usianya duapuluh dua tahun dan sudah banyak melakukan perjalanan, dan mengalami banyak gangguan dari para pria yang mata keranjang.

Tentu saja sekilas pandang dara ini tahu bahwa ia berhadapan dengan dua orang pria yang kurang ajar.

"Hemm, kalian ini pringas-pringis seperti monyet, mau apa?"

Lili bertanya, dan senyumnya tambah mengejek.

"Heh..heh, aku mau mencium kamu!"

Kata si kumis bergantung. ''Ha..ha, dan aku mau memeluk kamu!"

Kata si muka bopeng.

Mulut itu masih tersenyum, mata itu masih bersinar-sinar, akan tetapi cuping hidung tipis itu kembang kempis.

Dua orang itu mengira bahwa gadis manis di depan mereka menyambut dengan gembira, tidak tahu bahwa kalau cuping hidungnya sudah kembang kempis, itu tandanya Lili mulai marah.

"Benarkah kalian hendak memeluk dan mencium?"

Tanya Lili suaranya masih ramah.

"Heh..heh, mari beri aku sebuah ciuman manis, sayang!"

Kata si kumis.

"Mari rebah dalam pelukanku yang hangat, manis!"

Kata si bopeng. Tiba-tiba tubuh Lili bergerak dengan kecepatan yang tak dapat diikuti pandang mata, hanya terdengar ia berkata.

"Nah, ciumlah sepatuku ini dan peluklah tanah!"

Ucapannya itu disusul gerakan kaki menendang mulut si kumis dan tangan kiri menampar tengkuk si bopeng.

"Dukk! Plakk......!"

Dua orang itu terpelanting.

Si kumis terjengkang oleh sambaran kaki, mulutnya benar-benar mendapat ciuman sepatu yang keras sehingga bibirnya pecah-pecah berdarah, beberapa buah giginya rontok!

Sedangkan si bopeng terpelanting dan jatuh menelungkup, memeluk dan mencium tanah dalam keadaan puyeng karena bumi rasanya berputar, dadanya sesak dan sukar bernapas.

"Heiiii.....! Gadis liar, apa yang kau lakukan itu?"

Terdengar bentakan orang dan nampak lima orang sudah berlari ke tempat itu.

Mereka juga mengenakan topi bulu yang berwarna putih dan melihat dua orang rekan mereka roboh dan mengaduh-aduh, apalagi melihat si kumis megap-megap dengan mulut remuk berdarah, mereka marah sekali.

"Kalian ingin seperti mereka?"

Lili bertanya dengan sikap mengejek dan suaranya masih ramah dan lembut. Ia memang memiliki suara yang basah, seperti orang berbisik mesra. Tentu saja lima orang itu menjadi marah sekali.

"Gadis liar dan sombong, engkau patut dihajar!"

Teriak seorang di antara mereka dan mereka pun sudah menerjang ke depan dengan maksud untuk menangkap gadis yang telah merobohkan dan melukai dua orang rekan mereka itu.

Namun mereka disambut kilat yang menyambar-nyambar!

Seperti kilat saja tubuh Lili bergerak, kedua tangan dan kakinya berkelebatan dan lima orang itupun terpelanting satu demi satu, merintih kesakitan, ada yang mulutnya penyok, ada yang tulang pundaknya patah, ada yang perutnya mulas dicium sepatu, ada yang berjingkrak karena tulang kering kakinya retak.

Dalam segebrakan saja Lili telah membuat lima orang laki-laki yang bertubuh kuat itu tidak berdaya melanjutkan serangan mereka!

Setelah lima orang itu roboh, Lili mendapatkan dirinya dikepung sedikitnya duabelas orang laki-laki dan mereka semua memegang senjata, ada pedang, golok atau ruyung!

Lili bersikap tenang, mulutnya masih tersenyum mengejek dan matanya mengerling ke kanan kiri.

"Hemm, kalau mereka tadi hanya layak dihajar, kalian ini memegang senjata tajam, apakah kalian sudah bosan hidup?"

Suaranya terdengar merdu dan ramah, sama sekali tidak membayangkan kemarahan.

Lili memang tidak marah karena ia memandang rendah semua pengepungnya itu.

Yang marah dan penasaran adalah belasan orang yang mengepungnya.

Gadis itu telah merobohkan tujuh orang rekan mereka dan kini dalam keadaan terkepung masih mengeluarkan ucapan yang memandang rendah sekali kepada mereka.

Betapapun cantik menariknya gadis itu, perasaan marah membuat mereka merasa gatal tangan untuk membunuhnya.

Mereka mulai membuat gerakan mengelilingi gadis itu dengan senjata di tangan.

Lili masih tersenyum, berdiri tegak dan tenang seperti sikap seekor ular yang melingkar di tengah-tengah, dikepung dan dikelilingi belasan ekor tikus yang mencoba untuk mengganggunya.

"Hemm, tikus-tikus ini memang sudah bosan hidup,"

Kata Lili seperti kepada diri sendiri.

"Tahan!"

Tiba-tiba terdengar seruan dan belasan orang itu mengenal suara komandan mereka, lalu mereka semua menahan senjata dan mundur, membiarkan dua orang laki-laki berusia limapuluhan tahun maju, menghadapi Lili.

Mereka itu juga memakai topi bulu putih, akan tetapi melihat pakaian mereka yang lebih mewah dan sikap mereka yang berwibawa, nampak jelas perbedaannya dan mereka tentu merupakan pimpinan, pikir Lili.

Juga mereka tidak bersikap sombong seperti para anak buah mereka tadi.

Keduanya bertubuh tinggi besar, yang seorang berwajah bersih tanpa jenggot dan kumis, akan tetapi orang kedua bercambang bauk dengan kumis dan jenggot lebat.

Di pinggang mereka tergantung pedang, dan sikap mereka sama menunjukkan bahwa mereka berdua adalah orang-orang yang "berisi", bukan kaleng-kaleng kosong macam yang mengeroyoknya tadi.

"Nona, siapakah nona dan mengapa nona menganiaya tujuh orang anak buah kami?"

Tanya yang bermuka bersih. Lili tersenyum mengejek.

"Siapa aku tidak perlu kalian ketahui, dan mengapa aku menghajar anak buah kalian? Karena mereka yang minta dihajar, bukan aku yang sengaja menghajar."

"Tidak mungkin!"

Bentak yang berewok karena jawaban gadis itu dianggapnya tidak masuk diakal.

"Mana ada orang minta dihajar?"

"Hemm, kalau tidak percaya, tanya saja kepada mereka,"

Kata pula Lili sambil menunjuk ke arah tujuh orang yang masih nampak kesakitan itu.

Mendengar ucapan itu, tentu saja dua orang pemimpin itu menoleh ke arah tubuh anak buah mereka yang tadi kena dihajar, Mereka itu sambil meringis kesakitan, menggeleng kepala dan seorang di antara mereka, yang tulang keringnya retak, menudingkan telunjuknya ke arah Lili dan berseru.

"Toako (kakak tertua), Ji-ko (kakak ke dua), gadis itu sombong dan jahat sekali. Tolong balaskan penghinaan atas diri kami!"

Si berewok kini menghampiri Lili dan membentak.

"Nona, engkau masih muda akan tetapi sudah bersikap sombong dan kejam. Sungguh engkau terlalu mengandalkan kepandaian sendiri!"

Lili tersenyum dan matanya mengerling tajam.

"Orang hutan, kalau begitu engkau mau apa?"

Tantangnya.

"Bocah sombong, engkau patut dihajar!"

Bentak si berewok sambil menyerang dengan tangannya yang besar, panjang dan kuat.

Temannya, si muka bersih juga sudah siap untuk menyerang.

Pukulan tangan yang besar dan kuat itu cukup berbahaya, mendatangkan angin pukulan yang amat kuat.

Lili maklum akan hal ini, namun ia tetap memandang rendah.

Orang itu hanya tenaga otot yang kuat, tidak terlalu berbahaya baginya.

Dengan gerakan ringan sekali, iapun menggeser tubuh ke kiri, pinggangnya meliuk seperti tubuh ular saja dan pukulan si berewok yang amat kuat itupun luput.

Dari sebelah kirinya, datang angin pukulan menyambar dahsyat.

Ah, kiranya si muka bersih itu malah lebih kuat dari pada si berewok, pikir Lili dan kembali tubuhnya membuat gerakan meliuk dan pukulan itupun luput.

Dua orang itu terkejut.

Mereka melihat gerakan tubuh gadis itu amat aneh, tidak seperti orang bersilat, lebih mirip gerakan seekor ular kalau mengelak, tubuhnya begitu lentur dan dengan mudah saja menghindarkan pukulan mereka.

Tentu saja keduanya merasa penasaran bukan main dan menyerang lebih gencar.

Kini Lili memperlihatkan kepandaiannya.

la memang telah mewarisi ilmu silat dari See-thian Coa-ong (Raja Ular Dunia Barat) yang memiliki ilmu silat aneh, ilmu silat yang mengandung gerakan ular.

Tubuh Lili meliuk-liuk dengan cepatnya ketika menghindarkan semua serangan dan begitu ia membalas, kedua orang lawan itupun terkejut dan cepat menghindar dengan loncatan seperti orang dipagut ular.

Kedua tangan gadis itu membentuk kepala ular dengan jari-jari disatukan, dan ketika tangan itu meluncur dan menyerang, maka terdengar suara mendesis, seolah kedua tangan itu benar-benar telah berubah menjadi dua ekor ular berbisa yang ganas!

Akan tetapi kedua orang itu tidak boleh disamakan dengan tujuh orang yang tadi sudah dikalahkan Lili.

Kalau hanya seperti mereka, biar ia dikeroyok puluhan orang, ia tidak perlu bekerja keras untuk merobohkan mereka.

Dua orang pengeroyoknya ini lain.

Mereka ternyata adalah dua orang yang tangguh, memiliki gerakan silat yang baik, mantap dan bertenaga.

Memang, kalau Lili mau menurunkan tangan maut, kiranya tidak akan terlalu lama ia dapat merobohkan mereka.

Akan tetapi ia tidak ingin membunuh orang tanpa sebab yang kuat.

Ia selalu tidak setuju dengan watak gurunya atau sucinya yang mudah saja membunuh orang.

Di dasar hatinya, Lili bukan seorang yang jahat atau kejam.

Ia hanya galak dan ganas karena sejak kecil ia hidup di dekat orang-orang yang biasa mengandalkan kepandaian untuk memaksakan kehendaknya.

Sampai belasan jurus, belum juga dua orang setengah tua itu mampu merobohkan Lili.

Apa lagi merobohkan, bahkan semua serangan mereka, baik dengan tangan ataupun kaki, tidak pernah mampu menyentuh tubuh gadis itu.

Sebaliknya, Lili yang memang suka bertanding mengadu ilmu itu, sengaja mempermainkan mereka.

Ia menanti saat baik dan memancing-mancing dengan membiarkan diri di tengah, diapit oleh kedua orang lawan dari kanan kiri.

Ketika saat yang dinanti-nantinya tiba, yaitu ketika kedua orang itu dengan hampir berbareng memukulnya dengan tangan mereka yang besar dan lengan yang panjang dari kanan agak ke depan, ia tidak bergerak mengelak, melainkan menyambut pukulan mereka itu dengan kedua tangannya.

Akan tetapi ia bukan sekedar menangkis.

Begitu pergelangan kedua tangannya bertemu dengan pergelangan tangan lawan yang memukulnya, ia meliuk maju, kedua tangannya itu bagaikan seekor ular membelit lengan lawan!

Dua orang lawan itu terkejut, berusaha untuk menarik kembali tangan mereka, akan tetapi, seperti melekat dengan kedua lengan gadis itu yang bukan saja membelit, bahkan seperti dua ekor ular, tangan dan lengan gadis itu merayap maju cepat sekali dan tahu-tahu kedua tangan yang membentuk kepala ular itu telah mematuk dada mereka tanpa dapat mereka hindarkan lagi.

"Tuk! Tuk!"

Dua orang itu mengeluh dan roboh terjengkang.

Untung bagi mereka bahwa Lili memang tidak berniat membunuh orang, maka ia membatasi tenaganya ketika kedua tangannya yang membentuk kepala ular itu mematuk.

Dua orang itu tidak tewas, hanya merasa betapa mereka kehilangan tenaga dan dada terasa nyeri, napas mereka menjadi sesak.

Akan tetapi karena merekapun bukan orang lemah, sebentar saja mereka dapat memulihkan keadaan tubuh mereka.

Keduanya berloncatan berdiri dan nampak sinar berkilauan ketika mereka berdua mencabut pedang.

Berkembang kempis cuping hidung Lili, tanda ia marah.

Kalau lawan menyerangnya dengan tangan kosong, ia menganggap mereka itu hanya menguji ilmu, maka ia tidak mau membunuh orang.

Akan tetapi kalau lawan sudah mencabut senjata, berarti bahwa lawan menginginkan kematiannya, maka ia menganggap sudah sepatutnya kalau iapun berusaha membunuhnya!

Dalam keadaan yang menegangkan, kedua orang itu dengan pedang di tangan berhadapan dengan Lili yang masih berdiri tenang dengan mulut tersenyum.

Akan tetapi tangan kanannya sudah siap untuk mencabut pedang di punggungnya, dan sekali pedang itu tercabut, akan celakalah kedua orang lawan itu.

Pedang Pek-coa-kiam (Pedang Ular Putih), jarang dicabut dari sarungnya, akan tetapi biasanya, sekali dicabut, tentu akan jatuh korban!

"Tahan senjata!"

Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan mendengar bentakan ini, dua orang yang memegang pedang itu cepat menengok dan menjatuhkan diri setengah berlutut, menyimpan pedang dan memberi hormat kepada pria yang muncul di situ.

"Kongcu......!"

Kata mereka dengan sikap merendah sekali.

Melihat ini, Lili merasa heran dan iapun memandang kepada orang yang baru muncul itu penuh perhatian.

Dia seorang laki-laki berusia sekitar tigapuluh lima tahun, bertubuh tinggi kokoh namun pembawaannya lembut dan sopan seperti pembawaan seorang bangsawan terpelajar.

Pakaiannya rapi, pakaian seorang sasterawan dan diapun memakai sebuah topi bulu yang indah.

Wajahnya tampan dan cerah sehingga dia nampak jauh lebih muda dari pada usianya, wajah yang halus dan tidak berkumis atau berjenggot karena dicukur bersih.

Matanya tajam berwibawa dan mata itu jelas menunjukkan kecerdikan.

Diam-diam Lili merasa heran bagaimana dua orang yang tangguh itu bersikap demikian merendah terhadap seorang kongcu yang nampaknya lemah.

Juga mereka yang tadi mengepungnya, kini bersikap hormat dan tidak ada seorangpun di antara mereka yang mencabut senjata lagi.

Pria itu menyapu mereka dengan pandang matanya, lalu terdengar dia bicara dengan suara lantang namun lembut.

"Apa yang telah terjadi di sini dan mengapa kalian mengepung siocia (nona) ini?"

Karena pertanyaan itu ditujukan kepada dua orang yang tadi mengeroyok Lili, maka dua orang itu saling pandang dan si muka bersih memberi hormat lalu menjawab.

"Maaf, kongcu. Kami berdua menyerangnya karena nona ini menghajar dan merobohkan lima orang anak buah kami."

Pria itu mengangguk, lalu menengok ke arah mereka yang masih meringis kesakitan. Kemudian dia menghadapi Lili, mengangkat kedua tangan ke depan dada sebagai penghormatan.

"Nona, kalau boleh aku bertanya, mengapa nona menghajar lima orang anak buah kami? Kesalahan apakah yang mereka lakukan terhadap diri nona?"

Melihat sikap yang sopan dari pria itu, Lili juga bersikap baik dan sambil tersenyum ia menjawab.

"Ah, kiranya mereka itu anak buahmu? Jadi engkau ini majikan mereka? Tanya saja kepada mereka karena mereka mengeroyok dan menyerangku maka kurobohkan mereka."

Pria itu mengerutkan alisnya, lalu menoleh kepada lima orang yang masih kesakitan itu.

"Hei kalian berlima. Benarkah kalian mengeroyok nona ini, dan kalau benar kenapa?"

Dalam suaranya yang lembut itu terkandung teguran keras.

Sambil menahan rasa nyeri, lima orang itu menjatuhkan diri berlutut menghadap pria itu dan seorang di antara mereka mewakili teman-teman menjawab.

"Maafkan kami, kongcu. Karena melihat nona itu memukul roboh dan melukai dua orang rekan, maka kami berlima turun tangan mengeroyoknya."

Pria itu kini kembali menghadapi Lili, sepasang matanya mengamati penuh selidik dan nampak kekaguman dalam pandang matanya.

Gadis yang demikian muda, cantik manis dan nampak lembut, telah memiliki kepandaian yang demikian tinggi sehingga dua orang pembantunya yang dia tahu cukup lihai, tadi nampaknya tidak berdaya melawan nona ini.

"Nona, agaknya terpaksa aku harus kembali kepada nona dan bertanya mengapa nona melukai dua orang anak buah kami."

Senyum dibibir Lili melebar.

Ia merasa tertarik.

Pria ini demikian lembut dan tenang, akan tetapi dalam menyelidiki urusan dan mengajukan pertanyaan, cukup adil dan tidak berat sebelah, tidak memihak seperti seorang hakim yang jujur.

"Engkau ingin tahu mengapa aku hajar mereka? Yang seorang ingin menciumku, dan orang ke dua ingin memelukku, maka aku lalu membiarkan yang seorang mencium sepatuku, dan orang ke dua memeluk tanah!"

Wajah pria itu berubah kemerahan dan dengan suara yang meninggi dia lalu menoleh dan berseru.

"Siapakah kalian berdua? Maju ke sini!"

Dua orang yang tadi mencari gara-gara dengan Lili, merangkak maju, berlutut menghadap pria itu. Karena si kumis mulutnya remuk dan dia tidak dapat bicara, maka si bopeng yang mewakili.

"Kongcu, ampunkan kami........"

"Jawab, benarkah kalian hendak memeluk dan mencium nona ini? Ceritakan apa yang terjadi?"

"Ampun, kongcu. Kami berdua melihat nona ini lewat..... melihat ia begitu cantik, kami..... kami hanya ingin main-main........"

"Cukup! Kalian tahu bahwa satu di antara larangan keras kita adalah mengganggu wanita?"

"Kami..... kami tahu, kongcu."

"Dan kalian tahu apa hukumannya kalau melanggar larangan itu?' Dua orang itu menjadi ketakutan. Mereka membenturkan dahi di tanah dan merintih minta ampun, akan tetapi karena ketakutan, si bopeng masih dapat berkata dengan suara menggigil.

"Kami...... kami siap meneriam hukuman......"

"Bagus! Setidaknya kalian mati sebagai laki-laki yang bertanggung jawab!"

Kata pria itu dan tiba-tiba saja tubuhnya bergerak, nampak sinar berkelebat dan dua tubuh yang berlutut itu terpelanting dengan kepala terpisah dari badan.

Lili memandang kagum.

Gerakan pria itu sungguh cepat bukan main.

Bagi mata biasa, gerakan itu tidak dapat diikuti, akan tetapi Lili tadi dapat melihat betapa cepatnya pria itu bergerak mencabut pedang yang berada di pinggangnya tertutup jubah panjang, mengelebatkan pedangnya memancung kepala dua orang itu lalu menyarungkan kembali pedangnya yang tidak ternoda darah!

Demikian cepatnya gerakan itu, menunjukkan ilmu pedang dahsyat seorang ahli!

"Kuburkan mayat mereka,"

Kata pria itu kepada para anak buahnya. Mayat dua orang itu lalu digotong pergi dan pria itu memberi hormat kepada Lili.

"Kami harap nona memaafkan kami dan puas dengan pelaksanaan hukuman bagi anak buah kami yang telah menghina nona."

Lili masih tertegun karena kagum.

Orang ini jelas bukan orang sembarangan, pikirnya.

Kelihatan lemah lembut dan seperti seorang bangsawan terpelajar, namun memiliki ilmu pedang yang dahsyat!

Selain itu, juga amat berwibawa dan sikapnya mengingatkan ia akan gurunya, See-thian Coa-ong yang juga dapat bertindak tegas berwibawa terhadap anak buahnya.

Pula, dia menghukum mati dua orang anak buahnya yang mengganggu wanita, hal ini saja sudah mendatangkan rasa kagum dan suka di hati Lili.

"Kiamsut (ilmu pedang) yang hebat!"

Katanya memuji.

"Aih, dibandingkan nona, aku bukan apa-apa,"

Pria itu merendah.

"Kalau nona tidak menganggap aku terlalu rendah untuk menjadi kenalanmu, perkenalkanlah. Namaku Lu Ta dan semua Orangku menyebut aku Ya-kongcu. Bolehkah aku mengetahui nama nona?"

Karena sikap orang ini baik dan cukup berharga untuk dijadikan teman, setidaknya kenalan, Lili menjawab sederhana.

"Namaku Tang Bwe Li dan orang biasa memanggil Lili."

Ya Lu Ta atau Ya-kongcu kembali memberi hormat, kemudian dia menoleh ke belakang, kepada anak buahnya dan berteriak.

"Heiii, kalian lihat. Ini adalah Tang Siocia, mulai sekarang menjadi sahabatku. Kalian harus bersikap hormat kepadanya!"

Kemudian dia berkata kepada Lili.

"Tang Siocia, kami persilakan engkau untuk menjadi tamu kehormatan kami dan sudi makan minum bersama kami."

Lili memang sedang lapar. Menghadapi sikap yang demikian hormat dan baik, dan penawaran itupun dilakukan dengan sikap hormat dan jujur, iapun tertawa lepas.

"Heh..heh, memang aku sedang lapar dan sedang bingung bertanya-tanya dalam hati ke mana harus mencari sarapan. Terima kasih, aku akan suka sekali makan minum denganmu, Ya-kongcu."

Pria itu nampak gembira sekali.

Lili memang seorang gadis yang berwatak polos dan bebas, tidak terikat oleh sikap malu-malu seperti para wanita lainnya.

Namun, Ya-kongcu maklum sepenuhnya bahwa walaupun gadis itu bebas, jangan dikira bahwa ia boleh dipermainkan begitu saja!

Buktinya, anak buahnya sempat dihajar habis-habisan oleh gadis ini.

Dia lalu mengajak Lili ke tempat peristirahatannya, tidak jauh dari situ, di bawah pohon-pohon rindang dan ternyata di sana terdapat banyak kuda pilihan dan anak buah kongcu itu tidak kurang dari tigapuluh orang!

Di bawah pohon itu telah diatur makanan dan minuman yang cukup lezat.

Lili semakin kagum.

Kiranya kongcu ini bersama rombongannya membawa peralatan masak pula karena masakan itu masih mengepul panas dan tak jauh dari situ nampak dapur darurat.

Ya-kongcu dengan gembira mempersilakan Lili untuk duduk menghadapi meja sederhana yang dibuat secara darurat pula, duduk di atas bangku.

Lili makan minum dengan lahapnya, senang karena tuan rumah tidak banyak cakap, hanya bicara kalau mempersilakan ia mengambil hidangan dan menambah minuman yang terdiri dari dua macam.

Ada anggur dan ada pula teh harum.

Setelah selesai makan minum dan meja dibersihkan, Ya-kongcu berkata.

"Tadi kulihat gerakanmu yang mirip gerakan seekor ular. Mungkin masih ada hubungan antara nona dengan See-thian Coa-ong, yaitu locianpwe (orang tua gagah) Cu Kiat?"

Kembali Lili dibuat kagum.

Jelaslah bahwa orang ini memang lihai dan bermata tajam, tentu luas pengetahuannya tentang ilmu silat sehingga melihat gerakannya sedikit saja sudah dapat mengenal ilmu silatnya.

"Dia adalah guruku"

Katanya. Kini Ya-kongcu yang terkejut dan memandang dengan mata terbelalak, akan tetapi wajahnya berseri.

"Pantas kalau begitu! Biar seluruh anak buahku maju mengeroyok kau, tentu mereka semua akan dapat kaurobohkan! Kiranya nona adalah murid See-thian Coa-ong, datuk wilayah barat yang terkenal itu."

Dia cepat bangkit berdiri.

"Maafkan kalau aku tadi bersikap kurang hormat, Tang Siocia (nona Tang)."

Lili cepat membalas penghormatan itu.

"Aih, jangan terlalu merendah, Ya-kongcu. Engkau sendiri memiliki ilmu pedang yang amat dahsyat."

"Aku mendengar bahwa See-thian Coa-ong merupakan seorang di antara calon bengcu yang akan diadakan oleh para tokoh dan datuk persilatan di puncak Thai-san. Benarkah itu, Siocia?"

Kembali Lili kagum. Memang orang ini memiliki pengetahuan yang luas. Iapun mengangguk membenarkan.

"Kalau begitu, tentu kepergianmu ini ada hubungannya dengan pemilihan bengcu yang akan diadakan sebulan sesudah sin-cia tahun depan, bukan?"

"Tidak, Ya-kongcu. Urusan pemilihan bengcu itu adalah urusan suhu dan suci, sedangkan aku mempunyai tugas lain."

"Ah, begitukah? Kalau kau hendak mengurus pemilihan bengcu, katakan saja terus terang, nona. Karena sesungguhnya, kami sudah sejak semula siap untuk memilih locianpwe See-thian Coa-ong sebagai bengcu."

"Eh, kenapa begitu?"

Lili tertarik.

"Apakah engkau sudah mengenal suhu?"

Pria itu menggeleng kepala sambil tersenyum.

"Mengenal secara pribadi memang belum, akan tetapi aku telah lama mendengar nama besar gurumu itu dan aku yakin bahwa hanya dia yang pantas untuk menjadi bengcu. Kami siap untuk membantunya agar dia yang kelak terpilih. Kami mempunyai banyak anak buah yang tersebar di seluruh kota besar, juga di kota raja, maka kalau kami membantu, pasti gurumu akan memperoleh suara dukungan terbanyak."

"Aku tidak tahu apakah suhu memerlukan bantuan itu, akan tetapi mungkin saja engkau dapat membantuku dengan keterangan, kongcu. Aku sedang mencari seseorang,......"

Kata Lili, timbul harapannya untuk dapat segera menemukan orang yang dicarinya ketika mendengar bahwa Ya-kongcu mempunyai banyak anak buah di kota besar dan di kota raja.

Apalagi sikap dan pernyataan Ya-kongcu yang hendak membantu dan mendukung suhunya itu menimbulkan rasa suka dan percaya, maka ia tidak ragu untuk minta bantuan.

Wajah itu berseri dan sepasang mata itu bersinar-sinar.

"Katakanlah, siapa orang yang kaucari itu, nona? Kami akan membantumu sekuat tenaga dan kami yakin dalam waktu singkat kami akan dapat memberitahu kepadamu di mana adanya orang yang kaucari itu. Siapa dia?"

"Dia seorang tokoh Butong-pai berjuluk Sin-kiam-eng (Pendekar Pedang Sakti) dan namanya Bhok Cun Ki,"

Kata Lili sambil menatap tajam wajah itu untuk melihat reaksinya. Ya-kongcu terbelalak.

"Sin-kiam-eng Bhok Cun Ki? Ah, tentu saja aku mengenal siapa dia, nona! Akan tetapi, sebelum kuberitahu kepadamu di mana dia, aku ingin tahu lebih dulu, apa hubunganmu dengan Sin-kiam-eng?"

Tentu saja gembira sekali rasa hati Lili mendengar bahwa Ya-kongcu mengenal orang yang dicarinya.

Tak disangkanya akan sedemikian mudahnya ia dapat menemukan musuh besar sucinya.

Karena ia seorang yang jujur dan terbuka, apalagi kalau ia sudah percaya kepada seseorang, mendengar pertanyaan Ya-kongcu iapun mengaku terus terang.

"Aku mencari Sin-kiam-eng Bhok Cun Ki untuk membunuhnya."

"Ahhh........!"

Ya-kongcu berseru, terbelalak.

"Mengapa, kongcu?"

Tanya Lili dan alisnya berkerut ketika ia teringat sesuatu.

"Apakah dia sahabat baikmu atau keluargamu?"

Pria itu tertawa dan menggeleng kepala.

"Sama sekali bukan, nona. Bahkan sebaliknya, diapun musuh besarku dan tentu saja aku suka sekali membantumu menentangnya. Akan tetapi, aku hanya terkejut mendengar engkau hendak membunuh Sin-kiam-eng Bhok Cun Ki. Dia seorang pendekar ahli pedang yang amat tangguh, nona. Bahkan namanya paling terkenal di antara para tokoh Bu-tong-pai!"

"Hem, boleh jadi dia lihai, akan tetapi aku tidak takut,"

Jawab Lili gagah dan dingin, penuh kepercayaan kepada kemampuannya sendiri.

"Tang Siocia, kalau boleh kami mengetahui, permusuhan apa yang ada antara engkau dan dia?"

"Ini merupakan urusan pribadi yang tak dapat kuceritakan kepada siapapun juga, kongcu. Cukup kauketahui bahwa aku mencari dia untuk mengajaknya bertanding dan kalau mungkin membunuhnya."

Dalam suara gadis itu terkandung ketegasan yang membuat Ya-kongcu berhati-hati dan tidak berani mendesak.

"Aku mengerti, nona, dan aku tidak berani mencampuri urusan pribadi nona. Akan tetapi, kurasa tidaklah mudah untuk melaksanakan keinginanmu itu, sungguh tidak mudah sama sekali."

Dengan alis masih berkerut Lili berkata.

"Katakan saja di mana aku dapat menemukan Sin-kiam-eng Bhok Cun Ki dan selanjutnya aku tidak berani merepotkanmu, kongcu."

"Nona Tang, dalam hal ini, sebaiknya kita bekerja sama. Aku akan membantumu menemukan dan menghadapi Sin-kiam-eng, dan aku akan mengerahkan kawan-kawanku untuk membantu suhumu agar terpilih sebagai bengcu."

Lili adalah seorang gadis yang cukup cerdik. Mendengar janji kesanggupan ini, ia menatap tajam.

"Dan sebaliknya? Apa yang harus kulakukan untukmu?"

Pria itu tersenyum.

"Tidak apa-apa, nona. Cukup kalau nona menganggap kami sebagai sahabat baik, cukuplah. Di antara sahabat baik tentu saja saling membantu tanpa pamrih, bukan?"

"Ya-kongcu, aku akan berterima kasih sekali kalau engkau suka membantuku memberitahu di mana musuh besarku itu. Dan engkau akan kuanggap seorang sahabat baik kalau keteranganmu itu betul dan aku dapat menemukan musuh itu. Nah, katakan di mana dia?"

"Tang Siocia, Sin-kiam-eng Bhok Cun Ki telah berjasa besar terhadap Kerajaan Beng dan karena jasa-jasanya ketika para petani memberontak dan menggulingkan pemerintah Goan, maka kini dia diangkat menjadi seorang jenderal yang berkuasa dan berkedudukan tinggi di kota raja."

"Hemm, dia tinggal di kota raja?"

Tanya Lili.

Kedudukan tinggi itu sama sekali tidak berkenan baginya.

Yang penting, ia dapat menemukan orang itu!

"Dia tinggal di kota raja, nona.

Akan tetapi, sebagai seorang jenderal, dia tinggal di dalam benteng di mana terdapat ribuan orang tentara.

Kiranya tidak mungkin bagi nona untuk mencari dia di dalam tempat tinggalnya."

Mendengar ini, barulah Lili tertegun.

Tentu saja, betapa tinggipun ilmu kepandaiannya, kalau harus mencari musuh besarnya ke dalam benteng pasukan yang ribuan orang banyaknya, sama saja dengan bunuh diri.

Tidak mungkin ia akan berhasil.

"Hemmm, begitukah? Lalu bagaimana aku akan dapat berhadapan dengan dia?"

Gumamnya seperti pada diri sendiri.

"Itulah sebabnya mengapa tadi aku menawarkan bantuan kepadamu, nona. Kita harus bekerja sama dan aku akan mendapatkan jalan agar engkau dapat bertemu muka dengan jenderal itu. Kalau engkau mau bekerja sama, mari kita melakukan perjalanan bersama karena kamipun ingin pergi ke kota raja."

Tentu saja Lili menyetujuinya.

Biarpun ia seorang gadis dan akan melakukan perjalanan yang jauh bersama seorang pria yang mempunyai anak buah banyak dan kesemuanya pria, ia sama sekali tidak merasa canggung.

Ia seorang gadis yang bebas dan yakin akan kemampuan diri sendiri sehingga ia tidak khawatir akan gangguan pria.

Apalagi semua anak buah Ya-kongcu sudah mengenal siapa gadis itu dan tentu takkan ada seorangpun yang berani mengusiknya.

Hajaran yang diberikan Lili kepada tujuh orang itu sudah cukup keras, apalagi dua orang pengganggu pertama dihukum pancung kepala oleh Ya-kongcu.

Lili juga tidak ingin tahu siapa sebenarnya pria itu.

Andaikata ia tahu akan keadaan Ya-kongcu yang sesungguhnya, agaknya ia tidak akan perduli.

Yang penting baginya adalah menemukan Sin-kiam-eng agar ia dapat melaksanakan tugas yang diberikan sucinya kepadanya.

Siapakah sebetulnya Ya Lu Ta yang disebut Ya-kongcu itu?

Dia bukan orang sembarangan, karena dia adalah Pangeran Yaluta, seorang di antara para pangeran dari Kerajaan Goan, yaitu Kerajaan Mongol yang telah runtuh.

Bersama sisa keluarga kerajaan, Pangeran Yaluta ini juga terpaksa melarikan diri mengungsi ke utara, kembali ke tanah air bangsa Mongolia di utara karena semua usaha sisa pasukan Mongol untuk melawan pasukan Kerajaan Beng gagal.

Semua pasukan Mongol dihancurkan, banyak yang tewas dan yang masih dapat menyelamatkan diri, melarikan diri ke Mongolia.

Tentu saja banyak anggauta keluarga, terutama para pangeran Mongol, yang masih penasaran dan (Lanjut ke

Jilid 05) Asmara Si Pedang Tumpul (Seri ke 02 -Serial Si Pedang Tumpul) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 05 tidak mau menerima nasib.

Bagaimana mungkin keluarga yang tadinya merajai seluruh daratan Cina, yang berada di puncak kekuasaan, hidup mulia, terhormat dan kaya raya, kini harus kembali ke daerah tandus di utara dan hidup sebagai bangsa pengembara lagi?

Tidak, mereka akan tetap berusaha untuk mencoba menguasai kembali daerah selatan dan di antara para pangeran yang paling gigih adalah Pangeran Yaluta yang memang memiliki kemampuan besar itu.

Dia memiliki ilmu silat tinggi, pandai memimpin pasukan, dan juga dia ahli sastera.

Selama hampir seabad menjajah Cina, orang-orang Mongol, terutama sekali kaum bangsawannya, melebur diri menjadi pribumi, mempelajari kebudayaan dan peradaban mereka yang lebih tinggi.

Maka, tidak sukar bagi Pangeran Yaluta untuk mengaku bernama Ya Lu Ta seperti orang pribumi dan kalau saja dia berpakaian pribumi, takkan ada seorangpun menyangka dia seorang pangeran Mongol.

Tidak ada sedikitpun pada dirinya berbekas Mongol.

Sudah sejak jatuhnya Kerajaan Mongol, Pangeran Yaluta atau yang kini dikenal sebagai Ya-kongcu itu, berusaha keras untuk merampas kembali tahta kerajaan yang telah terjatuh ke tangan orang-orang Han sendiri yang kini mendirikan Kerajaan Beng yang baru.

Namun, usahanya mempergunakan kekerasan selalu gagal, selalu pasukannya dipukul hancur oleh pasukan Beng yang kuat.

Oleh karena itu, selama beberapa tahun ini.

Ya-kongcu mempergunakan siasat lain.

Dia tidak lagi mempergunakan kekuatan pasukan untuk mencoba menyerang ke selatan, melainkan mempergunakan siasat halus.

Dia mengirim para pembantunya yang lihai dan cerdik, menyebar banyak sekali mata-mata ke selatan.

Bahkan orang-orangnya sudah beberapa kali berusaha untuk melakukan pembunuhan-pembunuhan rahasia terhadap orang-orang penting dari pemerintah Kerajaan Beng, ada yang berhasil ada pula yang gagal.

Kemudian dia memberi perintah baru kepada orang-orang yang merupakan jaringan mata-mata di Kerajaan Beng.

Usaha kekerasan agar dihentikan, dan dia menggunakan siasat lain.

Kedudukan bengcu dari dunia persilatan harus dikuasai oleh orang yang dapat mereka pengaruhi, dan persaingan di antara pangeran Kerajaan Beng harus dimanfaatkan untuk menimbulkan pertikaian di antara mereka dan memperlemah kedudukan Kerajaan Beng.

Untuk tugas yang penting ini, Ya-kongcu bertekad untuk turun tangan sendiri, memimpin langsung di tempat lawan, yaitu di kota raja!

0leh seorang ahli pengobatan di negerinya, dia telah membiarkan wajahnya diubah dengan pembedahan dan pengobatan sehingga bentuk mata, hidung dan mulutnya berubah.

Tidak akan ada seorangpun di kota raja yang akan mengenal wajahnya sepagai wajah pangeran Mongol yang terkenal.

Di kota raja sendiri dia sudah mempunyai wakil atau tangan kanan yang selama ini memimpin jaringan mata-mata, orang yang memegang kedudukan penting di Kerajaan Beng, yang sudah dapat dia pengaruhi dan dia manfaatkan tenaganya.

Demi tercapainya cita-citanya itulah Ya-kongcu bersikap ramah terhadap Lili, setelah diketahui bahwa gadis itu memiliki ilmu kepandaian tinggi, apalagi setelah mereka berkenalan dan dia tahu bahwa gadis itu adalah murid See-thian Coa-ong.

Dia harus dapat merangkul orang-orang yang pandai, apalagi datuk-datuk yang selain lihai juga memiliki kekuasaan besar, mempunyai banyak pengikut.

Kalau kelak bengcu menjadi sekutunya, dan dia dapat merangkul banyak perkumpulan besar, mempengaruhi pejabat-pejabat tinggi, kiranya cita-citanya bukan merupakan mimpi belaka.

Ya-kongcu selalu menerima laporan dari kaki tangannya maka bekas pangeran ini mengetahui dengan baik segala peristiwa yang terjadi di Kota raja, bahkan dia mengenal nama mereka yang memiliki kedudukan penting, mana yang dianggap berbahaya bagi pergerakannya, dan pejabat mana yang kiranya dapat ditarik menjadi sekutu.

Oleh karena itu, keterangannya tentang Bhok Cun Ki kepada Lili, bukanlah keterangan bohong.

Bhok Cun Ki memang kini menjadi seorang jenderal yang dipercaya di kota raja.

Sejak terjadinya perjuangan menumbangkan kekuasaan Mongol yang dipimpin oleh Chu Goan Ciang yang kemudian menjadi Kaisar Thai-cu, kaisar pertama Kerajaan Beng (1368-1398), Bhok Cun Ki sudah ikut dalam perjuangan sebagai seorang toKoh pemimpin yang gagah perkasa.

Dia memang seorang pendekar, murid Butong-pai yang lihai sekali.

Oleh karena itu, setelah perjuangan berhasil dan Chu Goan Ciang menjadi kaisar, maka pemimpin pejuang ini tidak melupakan rekan-rekannya.

Selain dua orang panglima besar seperti Jenderal Shu Ta dan Jenderal Yauw Ti yang memperoleh kedudukan panglima pertama dan kedua, banyak tokoh pejuang yang menerima kedudukan sesuai dengan kecakapan dan kemampuan mereka.

Di antaranya adalah Bhok Cun Ki yang diberi kedudukan jenderal dan merupakan seorang di antara para pembantu Jenderal Shu Ta.

Sedikit saja kekeliruan keterangan yang diberikan Ya-kongcu kepada Lili, yaitu mengenai tempat tinggal Bhok-Goanswe (Jenderal Bhok).

Dia dan keluarganya tidak tinggal di dalam benteng, melainkan di sebuah gedung yang cukup besar dan megah.

Sebagai seorang Panglima, tentu saja rumahnya itu siang malam dijaga pengawal yang biarpun hanya belasan orang banyaknya, namun mereka merupakan perajurit-perajurit kepercayaan Jenderal Bhok dan merupakan orang-orang pilihan yang selain setia juga memiliki ilmu silat yang cukup tangguh.

Di dalam gedungnya, Bhok Cun Ki tinggal bersama keluarganya.

Dia kini berusia empatpuluh lima tahun, dan dalam usia setengah tua ini dia masih nampak gagah perkasa, berwajah ganteng dengan kumis dan jenggot tipis, matanya lebar berwibawa, hidungnya mancung dan mulutnya membayangkan kelembutan hati walaupun dagunya milik orang yang keras dan teguh hati.

Sebelum menjadi panglima dia sudah terkenal di dunia persilatan dengan julukan Sin-kiam-eng (Pendekar Pedang Sakti) karena dengan ilmu pedang dari Butong-pai yang indah dan cepat, dia memang merupakan seorang ahli pedang yang sukar dicari bandingnya.

Bhok Cun Ki telah menikah sebelum Kerajaan Mongol jatuh, dengan seorang wanita yang masih berdarah bangsawan karena isterinya itu puteri seorang pembesar bagian kebudayaan, seorang Han yang ketika terjadi perjuangan, juga berpihak kepada pejuang, meninggalkan kedudukannya dan meninggalkan kota raja bersama keluarganya.

Bersama isterinya dia mempunyai dua orang anak, seorang pemuda yang kini sudah berusia duapuluh tahun dan seorang gadis yang kini berusia delapanbelas tahun.

Pemuda itu bernama Bhok Ci Han, tampan dan tegap, pendiam dan gagah perkasa, sedangkan adiknya bernama Bhok Ci Hwa, cantik manis, lincah jenaka tidak seperti kakaknya yang pendiam.

Kedua Kakak beradik ini sejak kecil sudah digembleng oleh ayahnya sendiri sehingga setelah kini mereka dewasa, keduanya selain memiliki ilmu sastera yang cukup baik, juga mereka mewarisi ilmu silat Butong-pai yang tangguh.

Biarpun diluarnya mereka kelihatan seperti seorang kongcu (tuan muda) dan seorang siocia (nona) yang lemah lembut, pandai membaca kitab, pandai bersajak dan kesenian lain, namun sebenarnya mereka berdua adalah pendekar-pendekar Butong-pai yang lihai.

Bhok Cun Ki tinggal bersama isteri dan dua orang anaknya di gedung yang selalu terjaga perajurit pengawal.

Gardu penjagaan berada di dekat pintu gerbang, akan tetapi seringkali, terutama di waktu malam, serombongan pengawal melakukan perondaan mengelilingi gedung, bahkan ada pula yang memeriksa keamanan dari atap gedung.

Pada suatu sore, Panglima Bhok menerima undangan yang bersifat panggilan dari atasannya, yaitu Jenderal Shu Ta yang menjadi panglima besar kepercayaan kaisar yang utama.

Tentu saja Bhok Cun Ki merasa heran karena biasanya atasannya tidak akan memanggilnya di waktu hari telah sore.

Kalau hal ini terjadi, berarti atasannya itu memiliki alasan yang kuat dan tentu ada urusan yang teramat penting sehingga Jenderal Shu Ta tidak segan-segan mengganggu waktunya beristirahat.

Dia segera berangkat, naik kereta dan dikawal selusin orang perajurit pengawal, menuju ke perbentengan karena dia dipanggil menghadap ke sana.

Setelah tiba di dalam benteng dan dipersilakan memasuki ruangan yang biasa dipergunakan untuk rapat, di situ telah menanti Jenderal Shu Ta dan pembantu utamanya, yaitu Jenderal Yauw Ti, dan beberapa orang panglima muda lain, juga seorang pemuda berpakaian sederhana, pakaian rakyat biasa.

Kiranya atasannya mengadakan rapat yang lengkap dengan para panglima, pikir Bhok Cun Ki dan diapun memandang sejenak kepada pemuda tinggi tegap berkulit gelap itu.

Jenderal Shu Ta berusia kurang lebih limapuluh tiga tahun, tubuhnya agak gemuk namun kokoh kuat, mukanya kemerahan dan sikapnya tegas berwibawa.

Adapun wakil atau pembantu utamanya, Jenderal Yauw Ti, bertubuh tinggi besar dengan pinggang ramping, usianya sekitar limapuluh tahun akan tetapi dia masih nampak muda dan tegap.

Selain menjadi pembantu utama panglima besar, Jenderal Yauw Ti ini juga menjadi penasihat kaisar di bagian kemiliteran dan karena dia terkenal pandai dalam ilmu silat dan ilmu perang, diapun dijadikan guru bagi para panglima muda dalam hal ilmu perang.

Kedua orang jenderal ini sudah banyak jasanya di waktu perjuangan, maka mereka merupakan dua orang yang paling tinggi kedudukannya di bagian kemiliteran, walaupun Jenderal Yauw Ti lebih dipercaya dan lebih dekat dengan kaisar yang merupakan sahabat karibnya di waktu perjuangan dan mereka masih menjadi pemuda-pemuda dari kalangan rakyat kecil biasa.

Sebaliknya, Jenderal Yauw Ti sejak muda sudah menjadi seorang perwira walaupun dahulu dia seorang perwira pasukan Mongol.

Ketika terjadi pemberontakan rakyat, diapun meninggalkan pasukannya dan berpihak kepada rakyat, maka jasanya besar dan kini dia memperoleh kedudukan tinggi yang hanya kalah oleh Jenderal Shu Ta saja.

Para panglima yang hadir, ada belasan orang banyaknya, merupakan orang-orang yang menduduki jabatan penting di bagian ketentaraan dan keamanan.

Maka, tentu saja mengherankan hati Bhok Cun Ki melihat adanya seorang pemuda asing, bukan anggauta pasukan, apalagi panglima atau perwira, hadir pula di situ.

"Bhok-ciangkun telah datang, kini lengkap sudah, kita boleh mulai bicara,"

Kata Jenderal Shu Ta yang memimpin pertemuan itu.

"Pertama-tama, kami perkenalkan kepada ciangkun (perwira tinggi) sekalian, saudara ini adalah murid yang mewakili locianpwe Ciu-sian (Dewa Arak) Tong Kui. Namanya adalah Sin Wan dan dia datang sebagai utusan dan wakil dari locianpwe Ciu-sian."

Bhok Cun Ki mengamati pemuda yang berdiri dan memberi hormat ke sekeliling itu dengan hormat.

Nampaknya tidak mengesankan namun dia dapat menduga bahwa murid Ciu-sian tentulah lihai, apalagi sudah menjadi wakil tokoh besar dunia persilatan itu.

Dan kalau dalam sikap yang sopan dan pendiam itu tidak dapat dilihat kelihaiannya namun sinar matanya yang bersinar-sinar itu menunjukkan bahwa dia bukan pemuda sembarangan.

"Maaf, Shu-goanswe (jenderal Shu), saya mengenal locianpwe Ciu-sian, akan tetapi bagaimana kita dapat yakin bahwa pemuda ini murid dan datang mewakilinya? Kita harus yakin benar akan hal ini, mengingat akan bahayanya kalau ada orang luar yang tidak berhak menyelundup,"

Kata Bhok Cun Ki dan para rekannya mengangguk setuju. Jenderal Shu Ta tersenyum senang dan menoleh kepada Sin Wan setelah mempersilakan pemuda itu duduk kembali.

"Nah, engkau dapat mendengar dan melihat sendiri, taihiap, betapa teliti dan berhati-hati para rekan panglima di sini. Tentu engkau maklum betapa besar bahayanya kalau sampai ada mata-mata musuh datang menyusup. Rahasia kami akan diketahui musuh dan hal itu amat berbahaya. Karena itu, maafkan sikap mereka kalau meragukan keaselianmu sebagai murid dan wakil locianpwe Ciu-sian."

Sin Wan mengangguk.

"Tidak ada yang perlu dimaafkan, bahkan saya merasa kagum sekali. Nah, sebaliknya kalau cu-wi ciangkun (para panglima sekalian) memeriksa tanda kuasa yang diberikan suhu kepada saya ini, dan juga surat keterangan yang ditulis suhu seperti yang tadi telah saya perlihatkan kepada Shu-goanswe."

Sin Wan mengeluarkan sehelai leng-ki, yaitu sebuah bendera kecil sebagai tanda bahwa pemegangnya adalah utusan kaisar yang akan menerima sambutan penghormatan dan bantuan dari setiap orang pejabat, dari yang paling rendah sampai yang paling tinggi kedudukannya.

Kaisar telah memanggil Ciu-sian dan kaisar sendiri yang menyerahkan sehelai leng-ki kepada Ciu-sian dan memberi tugas kepada Dewa Arak itu untuk membantu pemerintah, melakukan penyelidikan dan menentang jaringan mata-mata Mongol yang berbahaya bagi keamanan negara.

Di samping leng-ki itu, juga Sin Wan mengeluarKan segulung surat tulisan, Dewa Arak yang menerangkan bahwa karena dia sudah terlalu tua, maka dia menyerahkan tugas dari kaisar kepada muridnya bernama Sin Wan yang akan bertindaK mewakilinya dalam segala hal, dan bahwa sepak terjang Sin Wan dialah yang bertanggung jawab.

Membaca surat keterangan itu dan leng-ki, belasan orang panglima itu segera memberi hormat secara militer, berdiri tegak, lalu berlutut sebelah kaki.

Bendera kecil (leng-ki) adalah tanda kuasa dari kaisar yang diberikan kepada seorang utusan, maka bukan utusan itu yang dihormati, melainkan leng-ki yang merupakan lambang kehadiran kaisar.

"Hari ini Sin Wan taihiap (pendekar besar) datang berkunjung, dengan maksud untuk minta keterangan dan penjelasan tentang jaringan mata-mata musuh seperti yang kita ketahui, agar dia dapat memulai dengan penyelidikannya. Karena melihat pentingnya tugas yang dilakukannya, dan kita semua mengharapkan bantuannya, maka kami mengundang cu-wi (anda sekalian) untuk membicarakan urusan ini."

"Nanti dulu, tai-ciangkun,"

Kata Jenderal Yauw Ti.

"Kita semua sejak dulu telah bekerja untuk menentang musuh, dan kita selalu menyelidiki jaringan mata-mata Mongol. Akan tetapi, kita tidak pernah menemukan jaringan mata-mata itu, kecuali ditangkapnya beberapa orang yang kita curigai. Itupun tidak ada hasilnya karena tidak ada yang mengaku, dan mungkin mereka itu hanya terkena fitnah belaka. Kita, dengan kekuatan pasukan kita, dapat menanggulangi segala ancaman musuh. Lalu apa artinya Saudara Sin Wan yang hanya seorang diri ini untuk menghadapi jaringan mata-mata, kalau memang ada?"

Mendengar ini, beberapa orang panglima mengangguk menyetujui.

Bagaimanapun juga, mereka merasa diremehkan.

Mereka adalah panglima-panglima yang memimpin pasukan dan selama ini mereka berhasil menghalau semua musuh Kerajaan Beng.

Kalau sekarang ada seorang pemuda yang hendak bertugas menyelidiki jaringan mata-mata, bukankah hal itu sama saja dengan meremehkan kekuatan dan kemampuan mereka?

Apa sih artinya seorang pemuda saja, betapapun pandainya?

Jenderal Shu Ta yang dahulunya juga seorang rakyat biasa, namun sudah sejak muda berkecimpung di dunia kangouw, mengerutkan alisnya.

"Harap cu-wi tidak berpendapat sepicik itu. Cu-wi agaknya lupa bahwa orang-orang dunia persilatan seperti locianpwe Ciu-sian atau muridnya ini, dapat bergerak lebih bebas dari pada kita. Mereka akan dapat menghubungi orang-orang kangouw dan mereka dapat melakukan penyelidikan tanpa diketahui pihak lawan. Kita sudah dikenal, dan kalau kita bergerak, tentu musuh sudah mengetahuinya. Kalau musuh yang datang itu pasukan yang menyerang dengan berterang, tentu saja kita dengan pasukan kita yang maju, bukan perorangan seperti taihiap ini. Akan tetapi pihak lawan bergerak dengan sembunyi, maka kitapun harus mempercayakan kepada para pendekar seperti taihiap ini. Lupakah cu-wi ketika benda-benda pusaka milik Sribaginda dicuri orang? Kita sudah mengerahkan pasukan untuk mencari, hasilnya sia-sia belaka. Kemudian, setelah Sribaginda mengutus Sam-sian untuk mencarinya, maka para locianpwe itu berhasil membawa kembali benda-benda pusaka. Nah, apa yang dapat cu-wi katakan lagi?"

Jenderal Yauw Ti mengangguk-angguk.

"Kini kami mengerti dan kami menanti perintah ciangkun,"

Katanya mengalah. Jenderal Shu Ta lalu menceritakan keadaan keamanan pada waktu itu, terutama sekali kepada Sin Wan, dan juga berita baru tentang perubahan gerakan orang-orang Mongol.

"Kami menerima laporan dari para komandan pasukan, juga dari Raja Muda Yung Lo bahwa kini orang-orang Mongol mengundurkan diri, tidak lagi melakukan tekanan di perbatasan. Belum diketahui dengan pasti sebab-sebabnya mengapa mereka tiba-tiba saja mengendurkan tekanan dan jarang ada serangan terhadap para penjaga di perbatasan. Hal ini hanya ada dua kemungkinan. Pertama, mereka sengaja mundur untuk membuat kita lengah, sementara mereka memperkuat kedudukan dan memperbesar pasukan. Kemungkinan kedua, mereka melihat bahwa penyerangan mereka untuk menembus perbatasan selalu gagal dan tidak mungkin dilanjutkan, maka mereka mungkin akan menyerang dari jurusan lain, bisa dari barat dan mungkin juga membonceng keadaan yang dibikin kacau oleh para bajak, menyerang dari timur menggunakan perahu, walaupun kemungkinan ini kecil sekali. Betapapun juga, kita harus memperkuat penjagaan di barat, dan mengamati dengan ketat pantai timur."

Jenderal Shu Ta berhenti sebentar dan memandang kepada semua pembantunya.

"Bagaimana pendapat cuwi?"

"Ciangkun, saya melihat kemungkinan lain,"

Tiba-tiba Bhok Cun Ki berkata. Semua orang memandang kepada panglima yang tampan dan gagah itu.

"Bhok-ciangkun, katakan apa pendapatmu."

"Berulang-kali orang-orang Mongol kita pukul mundur. Bahkan sejak Shu-goanswe memimpin pasukan besar ke utara belasan tahun yang lalu, kita menyeberangi gurun Gobi, kita menggempur dan membakar kota lama Karakorum dari bangsa Mongol, bahkan terus ke utara sampai ke Pegunungan Yablonoi dan menghancurkan setiap pasukan Mongol. Sejak itu boleh dibilang kekuatan pasukan Mongol sudah hancur dan agaknya tidak mungkin bagi mereka untuk bangkit kembali. Kalau kini mereka menghentikan penyerangan, hal itu wajar saja dan ada kemungkinan yang cukup membahayakan kita, yaitu bahwa mungkin mereka akan mengganti siasat, tidak menyerang dengan kekerasan lagi."

"Tidak menyerang dengan kekerasan? Kalau begitu, kenapa kaukatakan berbahaya, Bhok-ciangkun?"

Tanya Jenderal Shu Ta.

Memang dahulu, ketika dia memimpin pasukan besar mengejar bangsa Mongol sampai jauh ke utara, Bhok Cun Ki merupakan seorang di antara pembantunya yang gagah perkasa dan berjasa besar.

"MUNGKIN mereka akan menggunakan siasat halus, antara lain penyebaran mata-mata yang lebih tekun, memasang jaringan mata-mata untuk mendatangkan kekacauan di kota raja dan kota-kata besar lainnya. Mungkin mereka akan merangkul dan mempengaruhi para pejabat yang memang tidak suka kepada Kerajaan Beng, atau mereka itu bersekutu dengan para pengkhianat, memanfaatkan perkumpulan-perkumpulan golongan sesat untuk membuat kekacauan agar kehidupan rakyat menjadi tidak aman. Bisa saja mereka melakukan usaha pembunuhan terhadap tokoh-tokoh penting pemerintahan kita."

Suasana menjadi hening setelah Bhok Cun Ki bicara karena semua orang tenggelam dalam lamunan masing-masing, membayangkan kemungkinan itu dengan hati merasa ngeri.

Bagi orang-orang yang biasa menghadapi pertempuran ini, mereka merasa ngeri menghadapi musuh yang dilakukan secara sembunyi.

Melakukan kekacauan dengan cara apa saja, cara yang bagi mereka amatlah hina dan curang, dan mereka tidak biasa menghadapi cara-cara seperti itu.

"Benar apa yang diucapkan Bhok-ciangkun,"

Kata Jenderal Shu Ta.

"Oleh karena itulah maka usaha menanggulangi jaringan mata-mata ini perlu digalakkan, dan lebih-lebih kita amat membutuhkan bantuan para pendekar. Dalam hal inilah tenaga para pendekar seperti Sin Wan taihiap ini amat kita butuhkan. Nah, siapa lagi yang mempunyai pendapat yang kiranya berguna bagi kita untuk kita bicarakan?"

Seorang panglima yang bertubuh tinggi kurus berkata dengan suaranya yang lantang dan mantap.

"Shu-goanswe, saya tadi teringat akan keterangan Bhok-ciangkun bahwa mungkin sekali pihak musuh akan mendekati dan memanfaatkan perkumpulan golongan sesat. Saya setuju sekali, dan saya teringat bahwa beberapa bulan lagi akan diadakan pemilihan bengcu di dunia persilatan. Kalau sampai kedudukan bengcu itu berada di tangan seorang datuk sesat, kemudian bengcu itu dapat dipengaruhi oleh orang Mongol dan dijadikan sekutu, maka hal itu akan berbahaya sekali. Maka, sebaiknya kalau kita memperhatikan pemilihan bengcu itu."

"Benar sekali!"

Kata Jenderal Shu Ta.

"Memang hal itu kami bicarakan dengan Sin Wan taihiap ketika dia datang kepada kami, bahkan kami sudah merencanakan pembagian tugas dan sebaiknya kalau Sin Wan taihiap yang bertugas untuk mengamati pemilihan bengcu itu dan sedapat mungkin mencegah agar kedudukan bengcu jangan sampai terjatuh ke tangan orang sesat. Dalam hal ini, kami menunjuk Bhok-ciangkun untuk bekerja sama dengan Sin Wan taihiap, mengingat bahwa Bhok-ciangkun mempunyai hubungan yang luas dengan para tokoh dunia kang-ouw."

Semua panglima setuju dan Bhok Cun Ki mengangguk-angguk.

Memang sebaiknya begitu, pikirnya.

Dia belum tahu sampai di mana kemampuan pemuda itu.

Akan berbahayalah kalau tugas sepenting itu diserahkan kepada pemuda itu seorang.

Kalau bekerja sama dengan dia, maka dia akan dapat menguji pemuda itu, dan dia sendiri yang akan turun tangan kalau dalam pemilihan itu pihak golongan sesat akan menguasainya.

"Maaf, Shu tai-ciangkun!"

Kata Jenderal Yauw Ti.

"Kami mempunyai pendapat yang penting, akan tetapi agar dimaafkan kalau menyinggung, karena pendapat ini hanya terdorong oleh keinginan menjaga keamanan bagi pihak kita sendiri."

"Bicaralah, Yauw-ciangkun,"

Kata Jenderal Shu Ta. Semua orang memandang kepada Jenderal yang bertubuh tinggi besar dan ramping itu.

"Sekali lagi saya minta maaf kalau pendapat saya ini menyinggung, terutama kepada taihiap Sin Wan. Memang taihiap ini telah membawa leng-ki dan surat kuasa dari locianpwe Ciu-sian, akan tetapi terus terang saja, kita sama sekali belum pernah mengenalnya. Dan kalau mata saya yang tua ini belum berkurang kemampuannya, saya lihat bahwa taihiap ini seperti bukan orang Han! Dan siapakah keturunannya? Kenapa namanya Sin Wan begitu saja tanpa nama keluarga?"

Semua orang terdiam dan kini mereka memandang kepada Sin Wan, diam-diam mereka terkejut akan keberanian Jenderal Yauw Ti, karena bagaimanapun juga, ucapannya itu amat menyinggung dan jelas membayangkan ketidak kepercayaannya.

Pada hal pemuda itu membawa surat kuasa Ciu-sian dan bahkan membawa leng-ki dari kaisar.

Juga jenderal Shu Ta terkejut, dan kini dia memandang kepada Sin Wan.

Memang sebetulnya, dalam hati kecilnya juga ada pertanyaan ini, akan tetapi dia tidak berani mengeluarkannya karena dia melihat leng-ki dan surat Ciu-sian.

Kini, ada yang berani menanyakan, hal itu sungguh baik sekali dan dia mengharapkan jawaban sejujurnya dari Sin Wan.

Akan tetapi, kekhawatiran para panglima itu sia-sia saja.

Pemuda itu sama sekali tidak nampak tersinggung.

Memang Sin Wan tidak merasa tersinggung, dan diapun hanya tersenyum.

Dia tahu bahwa dia berhadapan dengan orang-orang peperangan yang wataknya terbuka, keras dan jujur.

Kalau pertanyaan tadi diajukan oleh Jenderal Yauw Ti, jelas bahwa pertanyaan itu keluar dari hati yang jujur dan sama sekali tidak berniat menyinggung atau menghina.

Dan memang dia tidak malu untuk mengakui keadaannya.

Dia menyapu wajah para panglima itu dengan pandang matanya.

Dia melihat wajah-wajah yang gagah, sinar mata yang tajam berwibawa dan membayangkan kekerasan dan ketegasan.

"Saya tidak merasa tersinggung sedikitpun, karena pertanyaan itu memang sudah sewajarnya. Memang sebaiknya kalau cu-wi (anda sekalian) mengenal siapa sesungguhnya saya. Nama saya Sin Wan, tanpa nama keluarga dan saya memang bukan orang Han. Ayah dan ibu saya telah meninggal dunia dan mereka berdua adalah orang-orang yang bersuku bangsa Uighur. Akan tetapi sejak kecil saya terdidik sebagai orang Han, dan menjadi murid ketiga suhu Sam-sian, maka saya merasa diri saya tidak berbeda dengan orang-orang Han yang merupakan pribumi aseli."

"Suku bangsa Uighur?"

Terdengar Jenderal Yauw Ti berseru dan matanya terbuka lebar, lalu alisnya berkerut dan matanya mengamati wajah Sin Wan dengan penuh selidik.

"Akan tetapi banyak orang Uighur yang berpihak kepada Mongol!!"

Suasana menjadi hening dan banyak mata memandang kepada Sin Wan penuh selidik. Suasana yang tegang itu dipecahkan oleh suara tawa Jenderal Shu Ta.

"Ha..ha..ha, tidak ada jeleknya kalau Yauw-ciangkun bersikap hati-hati. Akan tetapi ketahuilah bahwa kita sama sekali tidak curiga kepada taihiap ini. Tidak semua orang Uighur berpihak kepada Mongol, dan selain taihiap ini murid Sam-sian, sudah dipercaya oleh locianpwe Ciu-sian yang memberikan leng-ki kepadanya dan mengangkatnya sebagai wakilnya melaksanakan perintah Sribaginda, juga taihiap Sin Wan ini pernah bersama Pek-sim Lo-kai Bu Lee Ki diundang sebagai tamu oleh Pangeran Yen atau Raja Muda Yung Lo, dan dijamu oleh beliau. Bukan itu saja, bahkan taihiap ini akan diangkat menjadi panglima oleh beliau akan tetapi taihiap Sin Wan menolaknya."

"Ehh? Kenapa menolak anugerah pangkat panglima yang akan diberikan Pangeran Yen?"

Tanya Jenderal Yauw penasaran.

Sin Wan tersenyum.

Tentu saja dia tidak dapat mengatakan bahwa dia tidak menerima kedudukan itu karena di sana ada Lim Kui Siang, sumoinya yang dari cinta berbalik benci kepadanya.

"Saya tidak dapat menerima anugerah itu karena terus terang saja, saya tidak betah tinggal di utara yang dingin. Saya lebih senang tinggal di selatan."

Alasan ini memang masuk diakal. Bagi orang yang biasa hidup di selatan, tinggal di utara memang tidak menyenangkan. Apalagi kalau tiba musim salju, dinginnya bukan main.

"Nah, sekarang kita kembali kepada pembagian tugas. Bhok-ciangkun kami tugaskan untuk menjaga agar kedudukan bengcu tidak sampai terjatuh ke tangan datuk sesat yang dapat dimanfaatkan oleh orang Mongol, sedangkan taihiap Sin Wan membantunya dalam pelaksanaan tugas itu. Sementara itu, engkaupun dapat melakukan penyelidikan di kota raja, taihiap, sebelum waktu pemilihan bengcu tiba. Dan untuk ini, engkau boleh bekerja sama dengan Bhok-ciangkun, dan tentu akan kami bantu kalau sewaktu-waktu membutuhkan."

"Terima kasih, mudah-mudahan saya dapat melaksanakan tugas dengan baik. Saya kira keadaan akan menjadi baik kalau Pek-sim Lo-kai Bu Lee Ki yang kelak menjadi bengcu. Dia seorang datuk besar yang tentu akan membawa semua orang kang-ouw mendukung pemerintah. Kalau dunia kang-ouw sudah bersikap demikian, menentang para pemberontak, maka tugas pemerintah akan lebih ringan. Menurut suhu Ciu-sian, yang paling berbahaya datang dari utara, dari orang-orang Mongol. Selain mereka mempunyai banyak orang pandai, juga mengenal baik seluruh keadaan di semua kota, juga di kota raja, terutama sekali mereka itu tentu berusaha mati-matian untuk dapat mendirikan kembali kerajaan mereka yang telah hancur, atau setidaknya akan berusaha membikin kacau. Jenderal Shu Ta mengangguk-angguk dan mengelus jenggotnya yang pendek dan rapi.

"Engkau benar, taihiap. Orang-orang Mongol itu agaknya sudah maklum bahwa mereka tidak mungkin membangun kembali kerajaan mereka melalui kekerasan, karena setiap kali bergerak, pasukan mereka dapat kita hancurkan. Mereka tentu akan mempergunakan siasat busuk, oleh karena itu, senang dan legalah hati kami kalau kini Bhok-ciangkun dapat memperoleh bantuanmu. Kami yakin bahwa kalian berdua akan mampu menghancurkan setiap usaha jaringan mata-mata yang berbahaya, dimulai dari pemilihan Bengcu. Nah, kami semua mengharapkan kalian akan dapat melaksanakan tugas dengan baik, Bhok-ciangkun dan Sin Wan taihiap!"

Jenderal itu mengangkat cawan arak yang disambut dengan gembira oleh Sin Wan dan Bhok Cun Ki.

Juga Jenderal Yauw Ti mengucapkan selamat dan menyampaikan harapan baiknya dengan secawan arak.

Setelah pertemuan rahasia antara para panglima itu dibubarkan, panglima Bhok Cun Ki segera mengajak Sin Wan bersamanya.

Karena pemuda itu sudah ditunjuk sebagai pembantunya, bekerja sama dengan dia, maka tentu saja mulai saat itu pendekar muda itu harus selalu dekat dengannya dan dia mengusulkan agar Sin Wan tinggal saja di rumahnya sehingga mereka dapat bekerja sama lebih baik.

Sin Wan rnenerima tawaran ini dan diapun segera mengikuti Bhok Cun Ki ketika panglima itu mengajaknya pulang untuk membuat persiapan dan perundingan lebih lanjut mengenai tugas mereka berdua.

Dua orang muda itu sedang berlatih silat, saling serang dengan gerakan cepat dan kuat.

Dari gerakan tangan mereka terdengar angin menyambar-nyambar, tanda bahwa mereka bukanlah ahli-ahli silat biasa, melainkan sudah memiliki tingkat kepandaian yang hebat.

Sambaran angin yang mengiuk-ngiuk itu saja membuktikan bahwa mereka berdua telah memiliki sin-kang (tenaga sakti) yang kuat.

Mereka adalah seorang pemuda berusia duapuluh tahun dan seorang gadis berusia delapanbelas tahun.

Mereka kakak beradik, putera dan puteri Bhok Cun Ki.

Pemuda itu, anak pertama, bernama Bhok Ci Han, bertubuh sedang tegap dan wajahnya tampan dan gagah seperti ayahnya.

Gadis itu adiknya bernama Bhok Ci Hwa, cantik jelita, lincah jenaka, bertubuh ramping.

Sebagai putera puteri panglima Bhok, tentu saja sejak kecil mereka digembleng ayah mereka sendiri sehingga kini mereka telah menjadi dua orang muda yang memiliki ilmu kepandaian silat yang tinggi.

Biasanya, kalau mereka berlatih silat di sore hari, ayahnya selalu mengamati latihan mereka.

Akan tetapi sore ini mereka berdua berlatih tanpa pengamatan ayahnya, bermain silat di kebun mereka yang luas, di dalam lingkungan pagar tembok yang tinggi.

Sore ini ayah mereka menerima panggilan dari atasannya, yaitu Jenderal Shu Ta, maka dua orang kakak beradik itu berlatih berdua saja.

Ayah mereka, Bhok Cun Ki adalah seorang pendekar Butong-pai dan pernah membuat nama besar di dunia kang-ouw sampai dia menjabat pangkat panglima setelah kerajaan Beng menggantikan kerajaan Mongol.

Ibu mereka adalah seorang wanita cantik berdarah bangsawan yang lemah lembut dan ahli seni dan sastra, tentu saja sama sekali tidak pandai silat.

Dari ibu mereka, dua orang muda inipun mewarisi kelembutan dan kepandaian dalam hal seni dan sastra.

Ketika mereka berdua sedang berlatih dan gerakan mereka semakin cepat sehingga mata biasa akan sukar mengikuti gerakan mereka bahkan tubuh mereka hanya kelihatan seperti dua sosok bayangan yang berkelebatan, tiba-tiba muncul seorang perajurit yang biasa berjaga di pintu gerbang depan.

"Kongcu (tuan muda) dan Siocia (nona muda), harap berhenti dulu!"

Teriak perajurit itu.

Kakak beradik itu menghentikan latihan mereka.

Dengan leher dan muka berkeringat mereka memandang kepada perajurit itu.

Bhok Ci Hwa menghapus keringat di lehernya dengan sehelai kain handuk, dan mengomel.

"Ada apa sih? Engkau mengganggu latihan kami!"

Perajurit itu memberi hormat.

"Maafkan saya. Akan tetapi di luar terdapat seorang tamu yang bersikeras ingin bertemu dengan Bhok-ciangkun. Ketika saya beritahu bahwa ciangkun tidak berada di rumah, ia berkeras mengatakan hendak bertemu dengan keluarganya."

"Berkeras? Hemm, kenapa tidak kaukatakan saja bahwa ia boleh kembali lagi kalau ayah sudah pulang?"

Tegur Bhok Ci Han yang juga merasa tidak senang dengan gangguan itu.

"Maaf, kongcu. Saya dan kawan-kawan sudah mengatakan demikian, akan tetapi ia berkeras hendak bertemu dengan Bhok-ciangkun atau dengan keluarganya."

"Siapa sih orang itu? Dan apa keperluannya? Ci Hwa menjadi tertarik.

"Ia seorang gadis yang cantik dan galak, Siocia. Dan ketika kami bertanya tentang keperluannya, ia mengatakan bahwa ia membawa berita yang teramat penting bagi Bhok-ciangkun atau keluarganya."

"Apakah ia tidak memberitahu siapa namanya dan dari mana ia datang?"

Tanya Ci Han.

"Kami sudah tanyakan, akan tetapi ia tidak mau mengaku....."

"Namaku Lili!"

Ci Han dan Ci Hwa, juga perajurit itu terkejut.

Mereka memutar tubuh dan di situ telah berdiri seorang gadis yang cantik manis telah berdiri di situ, matanya mencorong tajam dan bibirnya yang manis itu tersenyum sinis.

"Itu..... itu ia orangnya, kongcu........."

Kata perajurit itu, lalu melangkah maju dengan sikap galak.

"Heii, nona. Kenapa engkau lancang masuk ke sini tanpa ijin? Bukankah tadi sudah ku suruh menanti di luar sementara aku melapor kedalam?"

Perajurit itu mengambil sikap hendak menyerang, dan Lili hanya berdiri santai sambil tersenyum mengejek. Bhok Ci Han menyentuh lengan perajurit itu dan berkata.

"Keluarlah, biar kami bicara dengan nona ini!"

Perajurit itu memberi hormat, lalu keluar dari dalam taman itu dengan langkah lebar dan bersungut-sungut.

Agaknya dia masih penasaran bagaimana tamu itu tahu-tahu sudah berada di taman.

Bukankah di luar masih ada lima orang kawannya?

Bagaimana mereka membiarkan gadis lancang itu masuk begitu saja?

Dia akan menegur lima orang kawan itu.

Akan tetapi ketika dia tiba di gardu penjagaan pintu gerbang depan, dia disambut oleh lima orang kawannya yang babak belur dan matang biru karena dihajar oleh gadis tamu itu ketika mereka berlima hendak menghalanginya memasuki pekarangan!

Sementara itu, Lili sudah berdiri saling pandang dengan dua putera dan puteri Bhok Cun Ki.

Melihat kakak beradik itu mengenakan pakaian ringkas dan mereka berkeringat karena habis latihan, dan di situ terdapat sebuah rak senjata yang lengkap dengan bermacam senjata, Lili tersenyum.

lapun teringat akan pesan gurunya agar ia berhati-hati melawan Bhok Cun Ki karena pendekar Butong-pai itu lihai sekali.

Subonya sendiri diwaktu mudanya kalah oleh Bhok Cun Ki, membuktikan bahwa pendekar itu memang lihai.

Kalau ayahnya lihai, tentu anak-anaknya juga berkepandaian tinggi.

"Apakah kalian ini anak-anak dari Bhok Cun Ki?"

Tanya Lili dengan sikap sambil lalu, seolah pertanyaan itu tidak penting baginya.

"Benar, panglima Bhok Cun Ki adalah ayah kami. Ada keperluan apakah nona mencari ayah kami?"

Tanya Ci Han, sedangkan Ci Hwa memandang dengan alis berkerut.

Gadis yang berdiri di depannya memang cantik manis, senyum sinis yang dihias lesung pipinya itu amat elok, juga cuping hidung yang agak kembang kempis itu nampak lucu, akan tetapi pandang mata itu dingin dan galak bukan main.

Walaupun suara gadis itu lembut berbisik, namun mengandung ejekan, dan terutama pandang mata dan senyum itu jelas memandang rendah orang lain.

"Kalau kalian ini anak-anaknya, kalian boleh mengetahui bahwa aku datang mencari Bhok Cun Ki untuk membunuhnya."

Pemuda dan gadis itu terbelalak dan muka mereka berubah merah. Ci Hwa tidak dapat menahan kemarahannya lagi.

"Keparat busuk yang sombong! Sebelum engkau bertemu dengan ayah, engkau akan lebih dulu kuhajar!"

Sambil berteriak nyaring gadis ini sudah menerjang Lili dengan pukulan dahsyat ke arah muka gadis yang mengancam hendak membunuh ayahnya itu.

"Bagus!"

Kata Lili sambil mengelak dan meloncat ke belakang.

"Dari kepandaian kalian aku dapat mengukur sampai di mana kelihatan ayah kalian."

Ci Hwa tidak perduli lagi.

Begitu pukulannya luput, ia sudah melanjutkan dengan serangan bertubi yang ganas.

Namun, Lili beberapa kali mengelak dan ketika ia menyambut sebuah tamparan dengan lengan kirinya, dua buah lengan yang sama-sama mungil berkulit halus bertemu dengan kuatnya.

"Dukk!"

Tubuh Ci Hwa terhuyung.

Hal ini bukan saja mengejutkan Ci Hwa, akan tetapi juga membuat Ci Han khawatir sekali akan keselamatan adiknya, maka diapun meloncat dan melindungi adiknya dengan sebuah dorongan tangan ke arah pundak Lili.

"Plakk!"

Lili menangkis dengan lengan melingkar, dan kini Ci Han yang hampir terpelanting!

Tentu saja dia terkejut dan tahu bahwa gadis manis itu tidak membual atau menyombong ketika mengeluarkan ucapan mengancam ayahnya, karena memang ia lihai bukan main.

Dia dan adiknya lalu mengeroyok Lili dan terjadilah perkelahian yang seru.

Namun segera ternyata bahwa Lili memang memiliki tingkat kepandaian silat yang lebih tinggi dari pada kakak beradik itu.

Setelah lewat tigapuluh jurus, mulailah Lili mendesak mereka dengan ilmu silatnya yang aneh.

Tubuhnya begitu lentur dan berlenggang-lenggok seperti tubuh seekor ular saja.

Memang ilmu silatnya adalah ilmu silat yang dasarnya meniru gerakan seekor ular.

Bukan hanya tubuh yang meliuk-liuk seperti tubuh ular, juga kedua lengannya ketika menangkis dan menyerang seolah gerakan dua ekor ular yang gesit kuat dan cepat sekali.

Lili hanya dipesan subonya untuk membunuh Bhok Cun Ki.

Oleh karena itu, ketika menghadapi dua orang putera dan puteri musuh besar subonya itu, ia sama sekali tidak mempunyai niat untuk mencelakai atau membunuh mereka.

Karena itulah maka Lili tidak mengerahkan tenaga yang mengandung racun.

Bahkan ketika ia memperoleh kesempatan, ia hanya merobohkan Ci Hwa dengan totokan dengan ujung kaki pada belakang lutut Ci Hwa dilanjutkan dorongan kakinya membuat Ci Hwa terjengkang, dan ketika Ci Han memukul ke arah dadanya, ia mengelak, tangan kirinya menangkap dan lengannya, seperti seekor ular, telah membelit lengan pemuda itu!

Ci Han terkejut, dan kesempatan ini dipergunakan Lili untuk membantingnya ke samping dan pemuda itupun terpelanting.

Ci Hwa yang merasa penasaran sudah meloncat ke arah rak senjata untuk mengambil pedangnya yang tadi ia taruh di situ ketika latihan, diikuti kakaknya.

Akan tetapi ketika ia menyambar pedangnya, lengannya dipegang oleh Ci Han.

Ia menengok dan kakaknya menggeleng kepala sambil memandang kepadanya.

"Jangan, moi-moi (adik), tidak perlu kita menggunakan senjata."

Melihat itu, Lili tertawa walaupun di dalam hatinya, ia merasa suka kepada kakak beradik itu.

Tadi, kakak beradik itu melawannya berdua tanpa menimbulkan keributan, ini saja menunjukkan bahwa mereka memang memiliki wajah yang gagah.

Kalau tidak demikian, apa sukarnya bagi mereka untuk berteriak atau memberi tanda agar para pasukan pengawal datang mengeroyoknya?

Dan sekarang, si kakak itu melarang adiknya menggunakan senjata, inipun merupakan bukti bahwa mereka, biarpun putera dan puteri seorang panglima, namun agaknya tidak biasa membonceng kedudukan ayah untuk bertindak sewenang-wenang terhadap orang lain.

"Kakakmu itu benar, tidak perlu kita menggunakan senjata, sudah cukup bagiku menguji kepandaian kalian. Aku tidak bermaksud membunuh kalian atau siapa saja, kecuali Bhok Cun Ki!"

"Kalau engkau tidak bermaksud mengganggu keluarga ayah kami, kenapa tadi engkau mencari keluarga ayah?"

Ci Han bertanya sedangkan Ci Hwa memandang dengan mata melotot marah.

"Ketika penjaga di luar mengatakan bahwa Bhok Cun Ki tidak ada, aku tidak percaya dan aku ingin bertemu dengan keluarganya, hanya untuk bertanya di mana adanya Bhok Cun Ki. Aku tadipun tidak bermaksud untuk mengajak kalian berkelahi."

"Ayah memang tidak berada di rumah."

"Ke mana dia pergi?"

Sepasang mata yang amat tajam itu seperti hendak menembus dan menjeguk isi hati Ci Han melalui matanya.

"Kami tidak tahu benar. Ayah kami sedang melaksanakan tugas dan hal itu tidak dapat dibicarakan dengan siapapun juga."

"Hemm, aku percaya padamu. Sinar mata dan suaramu tidak membohong. Akan tetapi, kapan dia pulang?"

Tanya pula Lili.

"Itupun kami tidak tahu dengan pasti. Mungkin malam nanti, mungkin juga besok pagi. Akan tetapi, kenapa engkau hendak membunuh ayah kami? Siapakah engkau dan dari mana engkau datang?"

Lili tersenyum.

"Tidak perlu kujelaskan, akan tetapi kalau ayah kalian pulang, katakan saja kepadanya bahwa aku menantangnya untuk mengadu nyawa pada besok sore di puncak bukit Bambu Naga. Katakan saja bahwa aku membawa benda ini untuk memcabut nyawanya!"

Berkata demikian, tangan kanannya bergerak, nampak sinar putih berkelebat dan tahu-tahu ia sudah memegang sebatang pedang yang bentuknya seperti seekor ular putih.

Hanya sebentar saja kakak beradik itu melihat pedang itu, karena dengan gerakan secepat kilat, pedang itu telah kembali masuk ke dalam sarungnya dan Lili meninggalkan tempat itu dengan melompat dan tubuhnya lenyap menjadi bayangan berkelebat.

Kakak beradik itu saling pandang dan merasa kagum, juga khawatir sekali.

Gadis tadi harus mereka akui amat lihai.

Walaupun mereka yakin bahwa ayahnya juga amat lihai, namun mereka tetap khawatir karena selain gadis itu akan merupakan lawan tangguh ayahnya, juga mereka mengenal watak ayah mereka.

Biarpun dia sudah menjadi seorang panglima, namun tetap saja ayah mereka itu berwatak pendekar.

Sebagai seorang laki-laki jantan, apalagi yang berkedudukan tinggi di dunia persilatan, bagaimana ayahnya akan suka melawan seorang gadis muda yang menantangnya?

Dengan hati merasa penasaran, kakak beradik itu lalu pergi ke luar untuk menegur para penjaga mengapa mereka membolehkan gadis tadi masuk dan di tempat itu baru mereka mengerti betapa gadis itupun telah menghajar lima orang yang bertugas jaga di luar ketika mereka hendak mencegah ia memasuki pekarangan!

"Kalian berenam tidak perlu bicara kepada siapapun mengenai kunjungan gadis tadi, biar kami yang akan melapor kepada ayah.

Awas, kalau ada di antara kalian yang membocorkan berita tentang peristiwa tadi, kalian akan dihukum berat!"

Kata Ci Han kepada mereka. Enam orang perajurit itu memberi hormat.

"Baik, kongcu. Kami tidak akan bicara kepada siapapun tanpa ijin kongcu dan siocia."

Setelah menyuruh seorang penjaga mengambil rak senjata dari taman, kakak beradik itu lalu memasuki rumah.

Kepada ibu merekapun mereka tidak bercerita tentang peristiwa tadi.

Ibu mereka adalah seorang wanita yang lemah dan halus perasaannya.

Mereka tidak ingin melihat ibu mereka menjadi gelisah kalau mendengar ancaman dari gadis tadi.

Mereka akan menanti sampai ayah mereka pulang.

Tidak mengherankan kalau Lili dapat menemukan rumah Bhok Cun Ki sedemikian mudahnya.

Gadis ini telah bertemu dan bersahabat dengan Pangeran Yaluta yang dikenalnya sebagai Ya Lu Ta atau Ya-kongcu.

Karena pangeran yang dianggapnya seorang pemuda yang kaya raya dan ramah tamah itu bersikap baik, bahkan menghukum anak buahnya sendiri yang kurang ajar kepadanya, kemudian Ya-kongcu menjanjikan untuk mendukung See-thian Coa-ong Cu Kiat menjadi bengcu dalam pemilihan di Thai-san tahun depan, bahkan berjanji akan membantunya mencarikan Bhok Cun Ki, maka Lili mau menjadi sahabatnya.

Ia mau pula diajak melakukan perjalanan bersama ke kota raja.

Di sepanjang perjalanan sikap Ya-kongcu amat baik, ramah dan penuh hormat kepadanya.

Lili yang belum banyak mengenal dunia ramai, dengan mudah saja tunduk dan menganggap Ya-kongcu sebagai seorang yang baik dan patut dijadikan sahabat.

Di Nan-king, Lili tidak perlu repot-repot.

Anak buah Ya-kongcu sudah menyediakan sebuah kamar di hotel terbesar, dan beberapa hari kemudian ia bahkan memperoleh petunjuk di mana adanya musuh besar bekas gurunya yang kini menjadi sucinya itu.

Bhok Cun Ki telah menjadi seorang panglima dan tinggal di sebuah gedung besar, tidak tinggal di dalam benteng.

Begitu mudahnya!

Oleh karena itu, ia segera pada sore hari itu datang berkunjung seorang diri karena ia menolak tawaran Ya-kongcu untuk mengirim pembantu menemaninya "Terima kasih, Ya-kongcu,"

Katanya menolak halus.

"Bantuanmu menemukan tempat tinggal Bhok Cun Ki saja sudah merupakan budi besar, dan urusanku dengan Bhok Cun Ki adalah urusan pribadi yang tidak boleh dicampuri orang lain. Aku akan mengunjunginya seorang diri saja."

Demikianlah, sore itu ia datang berkunjung ke rumah keluarga Bhok, bahkan sempat menguji kepandaian putera dan puteri musuh besar sucinya itu dan merasa puas.

Ia telah meninggalkan pesan untuk Bhok Cun Ki, dan pada besok sore ia tentu akan dapat menyelesaikan tugas yang diserahkan sucinya kepadanya.

Malam hari itu, Ya-kongcu dan dua orang pengawalnya datang berkunjung ke tempat penginapan Lili dan membawa hidangan makan malam yang dipesannya dari restoran terbesar dan termewah.

Hidangan itu diantar dengan kereta oleh pegawai restoran.

Lili terkejut akan tetapi tentu saja tidak berani menolak, dan mereka berdua makan minum di dalam ruangan yang khusus disediakan untuk keperluan tamu dalam hotel yang mewah itu.

Ketika mereka makan minum, Lili melihat betapa dua orang laki-laki setengah tua yang datang bersama Ya-kongcu hanya berdiri di dekat pintu ruangan.

"Siapakah teman kongcu itu? Kenapa tidak di suruh makan sekalian dengan kita?"

"Ah, mereka adalah dua orang pengawalku. Di kota raja ini banyak terdapat orang jahat, maka lebih aman kalau aku pergi disertai dua orang pengawal. Mereka bertugas melindungiku, maka tidak semestinya kalau mereka ikut makan bersama kita. Sudahlah, jangan pikirkan mereka dan mari kita makan sambil aku mendengarkan ceritamu tentang kunjunganmu kepada keluarga Bhok Cun Ki itu."

Mereka makan minum dengan gembira dan Lili lalu menceritakan dengan singkat namun jelas hasil kunjungannya kepada Bhok Cun Ki, betapa ia tidak berhasil bertemu dengan Bhok Cun Ki karena panglima itu tidak berada di rumah, akan tetapi ia sudah bertemu dengan putera dan puterinya dan meninggalkan pesan tantangan kepada Bhok Cun Ki agar besok sore mereka mengadu kepandaian di puncak Bukit Bambu di luar kota raja.

Ya-kongcu mendengarkan dan nampak kagum sekali.

"Engkau sungguh gagah perkasa dan pemberani, nona Lili. Akan tetapi kalau engkau hendak membunuh panglima Bhok Cun Ki, setelah tiba di rumahnya dan bertemu dengan dua orang anaknya, kenapa engkau tidak membunuh mereka?"

Lili menunda makannya, memandang wajah pemuda itu dan mengerutkan alisnya.

"Kenapa aku harus membunuh mereka, kongcu? Urusanku ini hanya menyangkut diri pribadi Bhok Cun Ki, tidak ada hubungannya dengan keluarganya. Tidak, aku tidak mau membunuh orang lain, kecuali Bhok Cun Ki seorang!"

Melihat sikap Lili, Ya-kongcu mengangguk-angguk, di dalam hati mencatat watak dan pendirian Lili.

Gadis ini tidak dapat disamakan dengan tokoh-tokoh dunia hitam yang lain.

Walaupun datang dari lingkungan datuk sesat, murid dari datuk See-thian Coa-ong, namun watak gadis ini lebih mendekati watak seorang pendekar.

Dia harus berhati-hati menghadapi seorang seperti ini.

Kalau Lili seorang tokoh sesat, amat mudahlah menanganinya.

Cukup dengan pemberian hadiah-hadiah berharga, dia akan dapat mempergunakan tenaga seorang datuk sesat sekalipun.

Akan tetapi gadis ini lain!

Karena itu, ia menolak ketika hendak dibantu menghadapi Bhok Cun Ki.

"Akan tetapi, nona. Aku tahu bahwa nona lihai sekali, hanya aku mendengar dari para pembantuku bahwa Bhok Cun Ki adalah seorang ahli pedang yang amat tangguh. Dia adalah seorang murid Butong-pai yang sukar dikalahkan. Aku khawatir kalau besok sore engkau melawannya......."

Lili tersenyum dan Ya-kongcu terpesona.

Dia bukan seorang pemuda hijau, sama sekali tidak.

Usianya sudah tigapuluh lima tahun dan dia sudah mempunyai banyak pengalaman hidup, juga dengan wanita.

Dia pernah bergaul dengan wanita yang bagaimanapun juga.

Akan tetapi baru sekarang dia bertemu dengan gadis seperti ini, dan senyumnya demikian menawan, membuat jantungnya berdebar penuh gairah.

Bagaimanapun, belum pernah dia mempunyai kekasih seorang gadis perkasa dan aneh seperti Lili!

"Engkau mengkhawatirkan aku kalau kalah melawan Bhok Cun Ki, kongcu?

Aihh, apa yang harus dikhawatirkan?

Kalah menang dalam pertandingan adalah hal yang lumrah dan biasa saja.

Kalau tidak menang tentu kalah dan kalau tidak kalah ya menang!

Apa bedanya?

Yang terpenting bagiku adalah memenuhi tugas ini.

Kalau aku sudah berhadapan dan bertanding dengan dia, cukuplah.

Menang kalahnya terserah keadaan nanti, akan tetapi tentu saja aku akan mengerahkan seluruh kemampuanku dan untuk itu aku sudah membuat persiapan matang."

"Aku yakin engkau akan menang, nona. Dan untuk itu, aku ikut mendoakan dengan tiga cawan anggur!"

Dia mengangkat cawan anggurnya, disambut oleh Lili dan mereka minum beruntun sampai tiga kali.

Sementara itu, di rumah keluarga Bhok, panglima Bhok Cun Ki malam itu pulang bersama Sin Wan.

Dalam perjalanan pulang ke gedung keluarga Bhok ini, Sin Wan bercakap-cakap dengan panglima itu dan diam-diam dia kagum.

Panglima ini seorang yang cerdik dan berpemandangan luas, juga berwatak pendekar, rendah hati dan mengenal dunia kang-ouw secara luas.

Oleh karena itu, dia merasa girang sekali bahwa Jenderal Shu Ta telah memberi tugas kepadanya agar bekerja sama dan membantu panglima ini.

Mula-mula dia merasa ragu apakah panglima ini memiliki pandangan yang sama dengan Jenderal Shu Ta bahwa dia seorang keturunan asing, bukan orang Han aseli, melainkan keturunan Uighur.

Jangan-jangan panglima ini mempunyai pandangan yang dangkal seperti yang dikemukakan Jenderal Yauw Ti tadi, yang menaruh curiga kepada orang yang bukan aseli dan menganggap bahwa dalam hati seorang keturunan Uighur tidak mempunyai kesetiaan terhadap pemerintah Han!

Dia sengaja memancing, dalam perjalanan itu dia bertanya kepada Bhok-ciangkun tentang hal itu.

"Ciangkun, bagaimana pendapat ciangkun tentang ucapan Jenderal Yauw Ti tadi, mengenai kenyataan bahwa aku bukanlah seorang pribumi, bukan orang Han melainkan keturunan Uighur, keturunan asing? Agaknya Jenderal Yauw Ti meragukan kesetiaanku terhadap negara."

Bhok Cun Ki tersenyum.

"Kesetiaan seseorang, bahkan lebih luas lagi, baik buruknya seseorang sama sekali tidak ditentukan oleh kebangsaan, keturunan atau keadaan lahiriyahnya, taihiap. Dalam setiap kelompok, keturunan, suku atau bangsa, bahkan kelompok agama sekalipun, di situ pasti terdapat orang yang baik dan orang yang tidak baik, seperti adanya orang yang sehat dan orang yang sakit. Karena itu, menilai seseorang dari keadaan lahiriahnya saja merupakan penilaian yang salah sama sekali. Dan khususnya mengenai keturunan, aseli dan tidak aseli, bagaimana ukurannya? Aku sendiri tidak tahu nenek moyangku ini keturunan apa dan dari mana. Aku tidak tahu apakah darahku ini dari satu keturunan yang aseli ataukah sudah campuran. Apa bedanya? Seseorang hanya dapat dinilai dari perbuatannya, sepak terjangnya dalam hidup. Itu saja! Kalau menilai dari segi lain, bahkan dari sikapnya atau kata-katanya sekalipun, hal itu masih belum meyakinkan, karena sikap dan kata-kata dapat saja dibuat-buat. Akan tetapi perbuatan dan sepak terjang yang berkelanjutan dalam hidup, merupakan kenyataan yang tidak bisa dibuat-buat."

"Kalau begitu, di dalam hati ciangkun tidak mempunyai perasaan tidak senang dan berprasangka buruk terhadap diriku dan orang-orang bukan pribumi Han?"

Panglima itu menggeleng kepala.

"Sudah kukatakan, aku memandang seseorang dari perbuatannya pribadi, bukan dari golongan dan kebangsaannya. Tentu saja ini merupakan pandangan pribadiku. Dalam pandanganku sebagai seorang panglima, tentu saja jalan pikiranku lain lagi, harus disesuaikan dengan kepentingan negara. Kalau ada kelompok yang memusuhi pemerintah, tentu saja mereka akan kuhadapi sebagai musuh, lepas dari pada permusuhan antara pribadi. Mengertikah engkau, taihiap?"

Sin Wan mengangguk dan pandang matanya mencorong penuh kekaguman.

"Ciangkun adalah seorang bijaksana, aku merasa gembira sekali dapat bekerja sama denganmu."

Panglima itu tertawa.

"Ha..ha..ha, sudah lama aku mengagumi Sam-sian, dan sekarang dapat bekerja sama dengan murid mereka, tentu saja hal itu merupakan suatu kebanggaan bagiku."

Akan tetapi ketika mereka tiba di rumah keluarga Bhok, mereka disambut dengan wajah berkerut penuh ketegangan oleh Bhok Ci Han dan Bhok Ci Hwa.

Sejak tadi pemuda dan gadis itu menanti pulangnya ayah mereka untuk melaporkan peristiwa yang amat menggelisahkan hati mereka itu, namun melihat ayah mereka pulang bersama seorang pemuda asing, mereka memandang dengan penuh perhatian dan tidak berani segera menceritakan di depan pemuda asing itu.

"Ayah, siapakah saudara ini?"

Ci Han bertanya. Adiknya, Ci Hwa, juga memandang penuh perhatian kepada pemuda itu.

"Taihiap, perkenalkan, ini adalah putera dan puteriku, Bhok Ci Han dan Bhok Ci Hwa. Kalian ketahuilah bahwa ini adalah murid Sam-sian, bernama Sin Wan, oleh Jenderal Shu Ta dia diangkat menjadi pembantuku dalam sebuah tugas penting."

Pemuda dan gadis itu memandang penuh perhatian.

Pemuda yang diangkat menjadi pembantu ayahnya ini sama sekali tidak mengesankan, tidak nampak sebagai seorang perajurit, apalagi pendekar, walaupun ayah mereka memperkenalkannya sebagai murid Sam-sian.

Tubuhnya tinggi tegap, kulitnya agak gelap, tidak seperti kulit pemuda Han biasa, dan ketampanan wajahnya juga lain, agak asing.

Dahinya lebar, alisnya tebal berbentuk golok dan mata yang lebar bersinar itu terlalu hitam, hidungnya juga terlalu tinggi dan agak besar.

Namun Ci Hwa mengakui dalam hatinya bahwa pemuda ini memang memiliki kejantanan walaupun lembut, seperti seekor harimau jantan yang sudah jinak.

Dan melihat Sin Wan merangkap kedua tangan depan dada memberi hormat, Ci Han dan Ci Hwa cepat membalas penghormatan itu.

"Mana ibu kalian? Kenapa tidak berada dengan kalian menanti pulangku di sini?"

Tanya Bhok-ciangkun yang merasa heran karena biasanya, isterinya tentu bersama dua orang anaknya itu menanti kepulangannya di serambi depan.

"Tidak, ayah. Ibu berada di dalam dan memang kami sengaja menanti ayah berdua saja karena kami mempunyai berita yang teramat penting."

Kata Ci Han.

"Hemm, berita apa yang begitu penting sehingga ibumu tidak dibawa serta mendengarnya?"

Tanya ayah mereka sambil tersenyum.

"Ayah......,"

Ci Hwa berkata dan matanya melirik ke arah Sin Wan. Mengertilah Bhok-ciangkun, dan dia tertawa.

"Ha..ha..ha, jangan khawatir. Kalau ada berita penting bagaimanapun, katakan saja. Sin Wan Taihiap adalah seorang kepercayaan Sribaginda Kaisar sendiri, mewakili gurunya, maka tidak ada rahasia baginya. Katakanlah, apa yang telah terjadi? Tidak seperti biasa, malam ini kalian kelihatan begini tegang. Ada apa?"

"Ayah, sore tadi kami kedatangan seorang tamu. Tadinya ia ingin bertemu denganmu, akan tetapi ketika diberitahu bahwa ayah tidak berada di rumah, ia memaksa hendak bertemu dengan keluarga ayah. Bahkan ia memaksa masuk ke pekarangan dan lima orang penjaga yang hendak mencegahnya, dipukulnya roboh. Lalu tamu itu menemui kami berdua yang sedang berlatih silat di taman."

Bhok-ciangkun mengerutkan alisnya.

"Begitu beraninya? Siapakah tamu itu?"

"Ia seorang gadis cantik, usianya sekitar duapuluhtiga tahun....."

"Lalu bagaimana? Teruskan!"

Bhok-ciangkun merasa tertarik dan juga heran sekali. Ada seorang gadis cantik yang memaksa memasuki tempat tinggalnya! Sungguh aneh dan betapa beraninya.

"Setelah bertemu kami, kami bertanya apa maksudnya mencari ayah dan ia menjawab bahwa ia.... ia......"

Ci Han tergagap.

"Ia ingin membunuhmu ayah."

Ci Hwa melanjutkan.

Bhok-ciangkun membelalakkan matanya.

Kalau dia mendengar ada orang-orang hendak membunuhnya, hal itu memang tidak aneh karena tentu banyak orang memusuhinya, baik sebagai seorang pendekar Butong-pai yang sudah banyak membasmi kawanan penjahat, maupun sebagai panglima yang sering memimpin pasukan bertempur.

Akan tetapi seorang gadis muda mencarinya dan hendak membunuhnya?

Luar biasa!

"Ceritakan yang jelas apa yang terjadi.

Sin Wan mari silakan duduk,"

Kata panglima itu dengan sikap serius, dan mereka lalu duduk mengelilingi meja diserambi depan.

"Tentu saja kami marah mendengar ia hendak menbunuhmu, ayah. Kami minta penjelasan mengapa ia hendak melakukan hal itu, akan tetapi ia tidak mau mengaku dan akhirnya kami berkelahi, maksudku..... kami berdua mengeroyoknya."

"Hemmm......"

Bhok Cun Ki mengerutkan alisnya.

Putera dan puterinya yang sudah digembleng sejak kecil dan telah memiliki ilmu silat tinggi dan jarang menemui lawan yang dapat menandinginya, kini tidak malu bercerita bahwa mereka mengeroyok seorang gadis?

Dua orang muda itu agaknya mengerti apa yang membuat ayah mereka kelihatan tidak senang.

(Lanjut ke

Jilid 06) Asmara Si Pedang Tumpul (Seri ke 02 -Serial Si Pedang Tumpul) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 06

"Ayah, tadinya Hwa-moi yang menandinginya, akan tetapi melihat Hwa-moi terancam, akupun maju dan kami mengeroyoknya. Ia lihai bukan main, ayah. Biarpun kami mengeroyok dua, kami.... kami sempat roboh. Hwa-moi hendak melanjutkan dengan pedang, akan tetapi aku melarangnya. Gadis itu lalu meninggalkan pesan, menantang ayah agar besok ayah dan ia mengadu kepandaian di puncak Bukit Bambu Naga di luar kota."

Bhok Cun Ki menger"tkan alisnya dan meraba-raba jenggotnya yang pendek, mengingat-ingat.

Rasanya tidak pernah dia bermusuhan dengan seorang gadis muda!

"Apakah ia sama sekali tidak menceritakan mengapa ia memusuhiku?"

"Tidak, ayah,"

Kata Ci Hwa.

"Hanya ia memperlihatkan sebatang pedang ular kepada kami dan mengatakan bahwa ia membawa pedang ular putih itu untuk membunuh ayah."

"Sebatang pedang ular? Putih? Bukan hitam?"

Tiba-tiba wajah panglima itu berubah.

"Yakinkah engkau bahwa itu adalah pedang ular putih, bukan pedang ular hitam?"

"Pedang ular putih, ayah,"

Kata Ci Hwa.

"Ia mencabutnya dan kami berdua melihatnya."

Baca Juga: Petualang Asmara 10

Baca Juga: Kisah Si Bangau Putih 4

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert