Eps 3 Asmara Si Pedang Tumpul - Kho Ping Hoo
Baca online Asmara Si Pedang Tumpul - Kho Ping Hoo
Cersil Asmara Si Pedang Tumpul - Kho Ping Hoo.
"Dan namanya? Ia menyebutkan namanya?"
"Ia hanya bilang bahwa kami boleh menyebut namanya Lili dan......"
Ci Hwa tidak melanjutkan ucapannya karena mereka bertiga mendengar seruan kaget dari Sin Wan. Bhok Cun Ki memandang wajah Sin Wan penuh selidik.
"Kenapa, taihiap? Engkau mengenal gadis itu?"
Sin Wan mengangguk.
"Kalau tidak salah, aku pernah bertemu dengan gadis bernama Lili, dan kalau tidak salah, memang pedangnya berupa pedang ular putih, kalau pedang ular hitam adalah senjata gurunya, yaitu Bi-coa Sianli Cu Sui In."
"Ahhh.... ahhh.... benar ia...., Ci Han, Ci Hwa, ingat baik-baik, apakah gerakan silat gadis itu seperti gerakan seekor ular?"
"Benar sekali, ayah!"
Kata dua orang muda itu hampir berbareng dan mereka memandang ayah mereka dengan gelisah karena ayahnya kini menjadi pucat sekali wajahnya.
"Ilmu silat dari See-thian Coa-ong,"
Kata pula Sin Wan dan Bhok-ciangkun yang memandang kepadanya mengangguk-angguk, wajah yang pucat itu nampak muram.
"Ayah, kita hadapi bersama gadis itu kalau memang ia terlalu berbahaya untuk ayah!"
Kata Ci Hwa penasaran.
"Tidak!"
Tiba-tiba suara Bhok-ciangkun menggelegar, mengejutkan dua orang anaknya dan mengherankan hati Sin Wan.
"Urusanku dengan gadis itu adalah urusan pribadi dan tak seorangpun boleh mencampurinya, biar dia anakku sendiri sekalipun."
"Tapi, kenapa, ayah?"
Tanya Ci Han penasaran.
"Kami adalah anak-anakmu, ayah. Kami berhak mengetahui dan kami berhak mencampuri dan melindungi ayah!"
Kata pula Ci Hwa yang lebih berani karena lebih dimanja ayahnya.
Panglima itu menggeleng kepala.
Sekali ini tidak.
Urusan ini adalah urusanku dahulu sebelum kalian lahir, jadi kalian tidak boleh mencampuri.
Biar aku sendiri yang akan menyelesaikannya besok,"
Kata panglima itu, akan tetapi dia tidak nampak bersemangat bahkan kelihatan lesu dan murung.
"Maaf, ciangkun. Bukan aku bermaksud lancang mencampuri. Akan tetapi aku mengenal gadis itu dan kalau ciangkun suka memberitahu persoalannya, kukira aku akan dapat membujuknya agar ia tidak melanjutkan tantangannya."
Bhok-ciangkun menghela napas panjang, memandang kepada Sin Wan, lalu kepada kedua orang anaknya, dan dia menggeleng kepala.
"Tidak, engkaupun tidak boleh mencampuri, taihiap. Ketahuilah kalian bertiga, aku sama sekali bukannya takut menghadapi lawan yang manapun juga, akan tetapi ini...... ini urusan pribadi. Taihiap, aku adalah seorang laki-laki yang bertanggung jawab, nah, mengertikah engkau?"
Sin Wan mengangguk-angguk.
Biarpun tidak tahu urusannya, namun dia dapat menduga bahwa munculnya Lili yang hendak membunuh panglima itu, tentu ada hubungannya dengan masa lalunya pada waktu mana panglima itu agaknya telah melakukan sesuatu yang membuat menyesal dan kini dia siap mempertanggung-jawabkan!
Maka diapun diam saja.
"Nah, sekali lagi, kalian bertiga besok sore sama sekali tidak boleh menemaniku ke sana, juga tidak boleh mengikuti dan membayangiku. Mengerti? Aku akan marah sekali dan tidak dapat memaafkan siapa saja yang membayangiku dan mencampuri urusan pribadi ini."
Dengan alis berkerut, kedua orang muda itu mengangguk, dan Sin Wan segera memberi hormat.
"Aku berjanji tidak akan mencampuri urusan pribadimu, ciangkun."
"Terima kasih dan maafkan aku, taihiap. Nah urusan ini tidak boleh kalian beritahukan ibu kalian, mengerti? Ci Han, antarkan Sin Wan taihiap ke kamar tamu dan suruh pelayan melayaninya baik-baik. Selamat malam, taihiap. Besok pagi-pagi saja kita bertemu di ruangan makan pagi dan kita lanjutkan perundingan kita tentang tugas kita berdua. Selamat malam. Oh ya, malam ini biar kedua anakku yang menemanimu makan malam."
Panglima itu lalu meninggalkan mereka, masuk ke dalam. Tiga orang muda itu lalu duduk kembali di serambi depan, masih merasa tegang.
"Aneh sekali kenapa ayah tidak membiarkan kita membantu? Apakah ayah sudah tidak percaya lagi kepada kita?"
Ci Hwa mengomel kepada kakaknya.
"Ada orang mengancam hendak membunuh ayah dan kita tidak boleh mencampurinya. Bagaimana mungkin ini? Setidaknya, kalau kita melihat pertand"ngan itu, kita tidak akan segelisah kalau ditinggal di sini dan menanti-nanti ayah pulang."
Ci Han juga berkata kepada adiknya.
"Sebaiknya kalau ji-wi (anda berdua) tidak gelisah. Aku yakin bahwa Bhok-ciangkun dapat melindungi dan membela diri pasti akan dapat menyelesaikan urusan itu dan dia lebih tahu apa yang harus dia lakukan."
Kakak beradik itu seperti baru teringat bahwa di situ ada orang lain. Mereka lalu memandang kepada Sin Wan.
"Ayah menyebutmu taihiap (pendekar besar), tentu engkau lihai sekali dan mempunyai banyak pengalaman. Engkau tadipun mengenal gadis jahat itu! Ceritakanlah kepada kami, siapa sebenarnya Lili itu dan orang macam apa? Siapa pula itu Bi-coa Sian-li Cu Sui In dan siapa pula See-thian Coa-ong?"
Tanya Ci Hwa sambil memandang wajah Sin Wan penuh selidik.
Mereka duduk berhadapan, terhalang meja dan Sin Wan harus mengakui diam-diam dalam hatinya bahwa gadis ini cantik sekali, cantik jelita dan memiliki sifat kelembutan yang mengingatkan dia kepada sumoinya, yaitu Lim Kui Siang yang kini tinggal di Peking menjadi kepala pengawal wanita untuk keluarga Raja Muda Yung Lo.
Diam-diam dia merasa heran sekali mengapa setiap kali bertemu seorang gadis cantik, otomatis wajah Kui Siang terbayang di depan matanya?
Melihat Sin Wan seperti melamun dan hanya memandang wajah adiknya, Ci Han segera mendesak.
"Benar adikku, taihiap. Kamipun ingin sekali mengetahui siapakah mereka itu, orang-orang yang kini agaknya hendak memusuhi ayah. Atau taihiap tidak sudi menceritakan dan ingin kuantar sekarang juga ke kamar tamu?"
Sin Wan baru sadar dari lamunannya dan diapun tersenyum.
"Kuharap ji-wi tidak lagi menyebutku taihiap. Sebutan itu terlalu besar dan tinggi bagiku. Bagaimana kalau kita saling sebut seperti saudara saja? Kalau ji-wi tidak merasa direndahkan tentu saja. Atau lebih suka kalau aku menyebut kongcu (tuan muda) dan siocia (nona muda) kepada ji-wi?"
"Memang kita tidak perlu berbasa-basi. Setelah engkau menjadi pembantu kepercayaan ayah, tentu akan banyak bergaul dengan kami. Nah, kusebut engkau twa-ko (kakak besar), bagaimana? Dan engkau menyebut aku siauw-moi (adik kecil)."
"Dan engkau boleh menyebut aku siauw-te (adik kecil), Wan-twako (kakak Wan)!"
Kata pula Ci Han.
"Nah, setelah kita menjadi sahabat akrab, bolehkah kami mendengarkan penjelasanmu?"
Sin Wan tersenyum girang. Dua orang putera panglima ini seperti ayah mereka. Begitu sederhana, tidak berlagak seperti biasanya anak-anak bangsawan.
"Baiklah, Han-te dan Hwa-moi. Aku mengenal gadis liar itu yang bernama Lili. Memang ia liar dan galak, akan tetapi ia bukan orang jahat,"
Sin Wan teringat akan pertemuannya dengan Lili, betapa ia disiksa dan diikat, dijadikan umpan bagi harimau.
Akan tetapi betapa Lili kemudian menyelamatkannya, dan betapa gadis itu mengaku cinta, akan tetapi juga mengaku benci.
Gadis liar memang!
Akan tetapi dia tidak mungkin dapat menganggap Lili sebagai gadis jahat.
"Hemm, ia hendak membunuh ayahku dan ia tidak jahat?"
Ci Hwa mencela.
"Teruskan, twako. Siapa itu Bi-coa Sianli (Dewi Ular Cantik) Cu Sui In dan siapa pula itu See-thian Coa-ong (Raja Ular Dunia Barat)?"
Tanya Ci Han.
"Huh, serba ular! Mengerikan!"
Kata Ci Hwa bergidik.
"Dan gerakan Lili itupun seperti ular, tentu ia siluman ular!"
"Setahuku, Bi-coa Sianli Cu Sui In adalah guru dari Lili, dan Dewi Ular Cantik itu puteri dari See-thian Coa-ong, datuk yang amat lihai dan yang tinggal di Bukit Ular. Keluarga itu memang lihai sekali."
"Seorang datuk sesat, tokoh golongan hitam?"
Tanya Ci Han. Sin Wan menggeleng kepalanya.
"Hal itu aku tidak tahu jelas, karena datuk-datuk seperti See-thian Coa-ong itu tidak dapat digolongkan hitam atau putih. Dia hanya mementingkan diri sendiri. Baik golongan hitam maupun putih, kalau dianggap merugikan, akan ditentang, sebaliknya tanpa memperdulikan golongan, kalau dianggap sahabat, akan dibela mati-matian."
"Ihh! Kalau begitu, lebih berbahaya dari pada golongan hitam yang sesat!"
Kata Ci Hwa.
"Kenapa begitu, Hwa-moi?"
Tanya Ci Han.
"Kalau datuk sesat sudah jelas kedudukannya ditentang para pendekar. Akan tetapi kalau hitam tidak putihpun bukan, sungguh merepotkan. Dianggap kawan, tiba-tiba menjadi lawan, dianggap lawan, bisa menjadi kawan. Orang yang bukan hitam bukan putih ini yang berbahaya, seperti bunglon, suka plin-plan! Huh, aku tidak suka kepada mereka! Gadis bernama Lili itu sepantasnya siluman ular!"
"Sudahlah, Hwa-moi. Mari kita antar Wan-toako kekamarnya. Biar dia mengaso, dan mandi. Nanti kita makan bersama di ruangan samping dekat kamarnya."
Kakak beradik itu lalu mengantar Sin Wan ke kamar tamu yang berada di samping.
Kamar itu cukup luas dan nyaman, lengkap dengan kamar mandi.
Mereka lalu meninggalkan Sin Wan dan berjanji akan makan malam bersama setelah Sin Wan mandi.
Setelah berada seorang diri, mandi dan bertukar pakaian, Sin Wan merasa suka dan kagum kepada keluarga ini.
Bhok-ciangkun demikian gagah perkasa dan bijaksana, anak-anaknyapun ramah dan sama sekali tidak congkak.
Akan tetapi diam-diam dia merasa khawatir.
Dia tahu bahwa Lili amat lihai dan merupakan lawan yang amat berbahaya.
Dan biarpun dia sudah mendengar bahwa Bhok Cun Ki juga bukan orang lemah, melainkan seorang pendekar Butong-pai, namun dia belum tahu sampai di mana kepandaian panglima itu.
Dan orang seperti Lili itu tidak akan segan untuk membunuh lawannya!
Pada keesokan harinya, dengan sikap tenang seperti biasa, Bhok Cun Ki setelah makan pagi bersama Sin Wan, berunding dengan pemuda itu tentang tugas mereka.
"Pemilihan bengcu akan terjadi beberapa bulan lagi di puncak Thai-san,"
Kata panglima itu.
"Menurut pendapatmu, siapa-siapa sajakah kiranya yang akan menjadi calon bengcu, taihiap?"
Dalam perundingan pagi itu, hadir pula Ci Han dan Ci Hwa yang diperbolehkan ayah mereka untuk ikut mendengarkan dan siapa tahu mereka mempunyai usul-usul yang baik, dan perundingan itupun akan menambah pengalaman mereka.
"Aih, ayah! Han-ko dan aku sendiri sudah sepakat untuk menyebut twako kepada Wan-twako, dan dia menyebut kami adik. Kenapa ayah masih menggunakan sebutan sungkan itu? Biarpun dia diam saja, namun aku tahu bahwa Wan-twako tidak suka disebut taihiap. Dia amat rendah hati, ayah!"
Kata Ci Hwa yang lincah dan sudah biasa berbicara sejujurnya kepada ayahnya.
Panglima itu menoleh kepada Sin Wan sambil tersenyum, hanya pandang matanya yang bertanya.
Sin Wan juga tersenyum dan mengangguk.
"Memang benar apa yang dikatakan Hwa-moi, ciangkun. Aku lebih suka kalau disebut Sin Wan saja, tanpa embel-embel taihiap."
"Ha..ha..ha, engkau semakin menarik, orang muda. Tinggal satu lagi yang ingin kuketahui, kekuatan apa yang tersembunyi di balik kesederhanaan dan kerendahan hatimu. Baiklah, aku akan menyebutmu Sin Wan saja, akan tetapi engkaupun tidak boleh menyebutku ciangkun. Aku lebih pantas menjadi pamanmu, bukan? Nah, kita saling menyebut ciangkun dan taihiap dalam pertemuan resmi di depan orang-orang lain. Setuju?"
Sin Wan memandang kagum. Bukan main keluarga ini! "Baik, paman, dan terima kasih!"
"Nah, Sin Wan. Sekarang jawab pertanyaanku tadi. Siapa saja kiranya yang akan menjadi calon bengcu?"
"Paman Bhok, seperti pernah kuceritakan kepada Jenderal Shu Ta, ketika diadakan pemilihan pemimpin besar para kai-pang (perkumpulan pengemis) yang diadakan di Lok-yang kurang lebih setahun yang lalu, banyak tokoh memperebutkan kedudukan pemimpin besar itu, semata-mata karena kedudukan itu akan membuat pemegangnya mendapat kesempatan untuk menjadi calon bengcu dan banyak harapan akan menang karena memperoleh dukungan suara seluruh kai-pang. Selain Pek-sim Lo-kai Bu Lee Ki yang memang sejak dahulu menjadi pemimpin besar kai-pang, ada beberapa orang yang mewakili guru-guru atau pemimpin mereka. See-thian Coa-ong ketika itu diwakili oleh puterinya, yaitu Bi-coa Sianli Cu Sui In dan Lili. Kemudian Tung-hai-liong (Naga Lautan Timur) Ouwyang Cin diwakili oleh muridnya yang bernama Maniyoko........"
"Bukankah Tung-hai-liong Ouwyang Cin adalah seorang peranakan Jepang, merupakan datuk para bajak laut di lautan timur?"
Bhok-ciangkun memotong.
"Benar, paman. Kalau See-thian Coa-ong merupakan datuk di barat, Tung-hai-liong merupakan datuk di timur. Mereka berdua sama kuat, lihai dan liciknya."
"Hemm, lalu siapa datuk dari selatan dan utara?"
Tanya pula panglima itu.
"Setahuku, tokoh besar selatan tidak ada yang melebihi locianpwe (orang tua gagah) Bu Lee Ki yang berjuluk Pek-sim Lo-kai (Pengemis Tua Hati Putih), dan beliau yang didukung oleh Raja Muda Yung Lo agar kelak menjadi bengcu. Kalau dia yang menjadi ketua bengcu, kurasa dunia kang-ouw akan aman dan tidak akan ada yang berani memberontak terhadap pemerintah, paman. Mengenai datuk besar dari utara, aku belum mendengar siapa orangnya. Banyak tokoh besar kang-ouw di utara kini cerai berai dan meninggalkan daerah yang menjadi daerah perang dan amat berbahaya itu."
"Aih, sudah disebut datuk besar dunia kang-ouw, kenapa takut menghadapi bahaya perang? Siapa akan berani mengganggunya?"
Ci Hwa mencela. Ayahnya tertawa.
"Ci Hwa, engkau terlalu mengangkat tinggi seorang datuk besar persilatan. Boleh jadi kalau menghadapi lawan pribadi, seorang datuk besar tidak mengenal takut dan sukar dikalahkan. Akan tetapi, dalam perang antara pasukan pemerintah melawan para sisa pasukan Mongol, yang berperang adalah ratusan ribu orang. Betapapun lihainya seorang datuk besar, bagaimana dia akan mampu melindungi diri terhadap ratusan ribu orang? Kelihaian seseorang tidak akan lebih dari seratus orang. Kalau dikeroyok ribuan orang, apalagi dikeroyok perajurit yang bersenjata lengkap, biar dia pandai terbang seperti burung sekalipun, tentu akhirnya akan mati ditembus anak panah atau senjata lain."
"Kalau begitu, bahaya hanya datang dari See-thian Coa-ong dan Tung-hai-liong saja, tentu dengan anak buah dan para pembantu mereka?"
"Yang kita ketahui memang dari kedua pihak itu, paman. Akan tetapi, mengingat bahwa kedudukan bengcu merupakan kedudukan yang penting dan amat berharga, maka kuyakin bahwa dari utara tentu akan muncul pula seorang datuk baru."
"Menurut pendapatmu, di antara tiga orang sakti yang telah kita ketahui itu siapa yang paling lihai dan akan dapat menangkan kedudukan bengcu?"
"Kurasa locianpwe Bu Lee Ki! Tentu saja kalau tidak terjadi kecurangan dan kalau seluruh kai-pang setia kepada pemimpin besarnya. Kita tidak dapat menentukan dengan pasti sikap para ketua kai-pang. Mereka orang-orang aneh yang mudah berubah, mudah dipengaruhi dari luar."
"Memang ke sanalah kita harus melakukan penjagaan, mengirim penyelidik-penyelidik yang pandai untuk mengawasi para kai-pang. Mereka itu dapat dimanfaatkan pihak yang kuanggap paling berbahaya?"
"See-thian Coa-ong, ayah?"
Tanya Ci Hwa.
"Bukan."
"Kalau begitu, Tung-hai-liong?"
Tanya pula Ci Han.
"Juga bukan. Yang paling berbahaya dari semuanya adalah orang-orang Mongol! Mereka tiba-tiba mengubah siasat, tidak lagi melakukan penyerangan dengan pengerahan pasukan dari utara dan barat. Hal ini mencurigakan dan boleh jadi sekali mereka menggunakan siasat halus untuk menyusup ke dalam negeri melalui pemilihan bengcu. Karena itulah, kita harus berhati-hati. Siapa tahu, sekarang juga mereka telah menyusup ke kota-kota besar, bahkan ke kota raja."
"Kalau begitu, siluman ular Lili itu mungkin juga dipergunakan oleh orang Mongol"
Ci Hwa berseru. Bagaimana pendapatmu, Wan-ko?"
Sin Wan mengerutkan alisnya yang tebal dan dia menggeleng kepala perlahan.
"Kukira orang seperti See-thian Coa-ong, puterinya dan para muridnya merupakan orang-orang yang sulit untuk diperalat orang lain. Mereka tidak akan mau tunduk kepada siapapun dengan pengaruh apapun."
"Kurasa Sin Wan benar, Ci Hwa. Akupun yakin bahwa gadis itu tidak diperalat, melainkan datang atas kemauan sendiri. Sudah, kita tidak perlu bicara tentang gadis itu. Sin Wan, selama beberapa hari ini, bersama para mata-mata yang menjadi anak buahku, harap kausuka membantu melakukan penyelidikan di kota raja, di rumah-rumah penginapan, di kuil-kuil kosong, di tempat-tempat yang sekiranya patut dicurigai menjadi tempat pemondokan mata-mata Mongol. Ingat, mereka sudah hafal benar akan keadaan di sini, akan kebudayaan pribumi, dan mereka licik dan cerdik sehingga akan sia-sia kalau engkau mencari-cari seorang yang kelihatan seperti orang Mongol di antara mereka. Mungkin mereka itu nampak lebih pribumi dari pada pribuminya sendiri."
"Baik, paman. Dan untuk keperluan itu, sebaiknya kalau aku bekerja bebas dan tidak disiarkan berita bahwa aku menjadi pembantu paman. Dengan demikian, rasanya akan lebih leluasa aku melakukan penyelidikan."
"Aku mengerti, Sin Wan. Dan sekarang, agar kita dapat lebih saling mengenal, mari kita pererat melalui ilmu silat."
Sin Wan maklum apa yang dimaksudkan dan dalam hatinya, dia tidak setuju.
"Apakah itu perlu, paman?"
"Tentu saja, perlu sekali. Bukankah kita harus bekerja sama? Untuk itu, kita harus dapat melihat kemampuan masing-masing."
Sin Wan ingin membantah, akan tetapi tiba-tiba dia teringat bahwa sore nanti Bhok Cun Ki akan bertanding melawan Lili, bukan pertandingan yang main-main, melainkan mempertahankan nyawa dari ancaman gadis liar itu.
Ah, dia dapat memberi petunjuk secara tidak langsung, tanpa menyinggung perasaan pendekar Butong ini, pikirnya.
"Baiklah, paman, kalau paman berpendapat demikian."
Ci Han dan Ci Hwa gembira sekali mendengar itu.
Mereka juga ingin sekali menyaksikan kelihaian tamu yang kini sudah akrab dengan mereka, yang hanya mereka kenal sebagai murid dari Sam-sian (Tiga Dewa) yang namanya pernah menggemparkan dunia persilatan karena Sam-sian adalah tokoh-tokoh besar yang berhasil mengembalikan pusaka-pusaka yang dicuri dari gudang pusaka istana kaisar!
Sam-sian merupakan tokoh-tokoh besar persilatan yang banyak jasanya, dan amat dihargai oleh Kaisar sendiri.
Dan kini, di antara ke tiga Sam-sian hanya tinggal seorang saja, yaitu Ciu-sian (Dewa Arak) yang mendapat tugas baru dari Kaisar, akan tetapi karena merasa sudah tua dan dua orang rekannya sudah tidak ada, mewakilkannya kepada murid ini.
Mereka pergi ke lian-bu-thia (ruangan belajar silat) yang berada di bagian belakang bangunan itu.
Ruangan ini luas dan memang enak sekali untuk bermain silat, penuh dengan alat-alat untuk berolah raga dan berlatih silat.
TAK lama kemudian, kedua orang itu sudah saling berhadapan.
Melihat tuan rumah yang sudah melepas baju luar itu menghadapinya dengan tangan kosong, Sin Wan yang mempunyai niat untuk mengukur ilmu pedang dan kalau mungkin memberi petunjuk, segera memberi hormat dan berkata.
"Paman Bhok, aku mendengar bahwa paman adalah seorang pendekar Butong-pai, dan Butong-pai terkenal dengan ilmu pedangnya. Oleh karena itu, kalau paman tidak berkeberatan, aku ingin sekali merasakan kelihaian ilmu pedang paman dan mengagumi keindahannya."
Tentu saja Sin Wan bermaksud lain.
Dia tahu bahwa orang seperti Lili pasti tidak mau bertanding dengan tangan kosong saja melawan orang yang akan dibunuhnya, dan tentu menggunakan pedang ular putih.
Bukankah ia sudah memperlihatkan pedang itu kepada putera puteri panglima itu dan mengancam akan membunuhnya dengan pedang itu?
Lili pasti mempergunakan pedang dan Bhok-ciangkun pasti terpaksa akan melayani dengan pedangnya pula.
Mendengar ucapan Sin Wan, Ci Hwa berseru kaget.
"Aih, Wan-twako, kenapa harus dengan pedang? Bagaimana kalau kalian saling melukai?"
Mendengar ini, Bhok-ciangkun mencela puterinya.
"Ci Hwa, masih belum tahukah engkau bahwa orang yang ilmu pedangnya sudah setinggi tingkat Sin Wan, tidak mungkin pedangnya dapat melukai orang tanpa dikehendakinya? Pedang sudah merupakan bagian ujung dari tangannya, begitulah!"
Ci Han dan Ci Hwa tentu saja tahu akan hal itu, namun karena tingkat mereka belum setinggi itu, belum sempurna benar menguasai pedang, maka mereka memandang kagum.
"Baik, Sin Wan. Mari kita main-main sebentar dengan pedang."
Panglima itu lalu mencabut pedang yang tergantung di pinggangnya. Akan tetapi Sin Wan agak meragu, lalu dengan perlahan dia mencabut pedangnya.
"Ihh! Pedangmu kenapa buruk amat, twako?"
Kembali Ci Hwa berseru.
Gadis lincah ini begitu terbuka dan terus terang, ini membuktikan bahwa ia memang sudah akrab benar dengan Sin Wan sehingga tidak lagi merasa sungkan.
Kembali Bhok Cun Ki yang tertawa bergelak.
"Ha..ha..ha, engkau seperti seekor anak burung yang baru belajar terbang, belum mengenal dunia luas, Ci Hwa. Lihat baik-baik. Yang dipegang Sin Wan itu adalah sebuah di antara pedang-pedang pusaka paling ampuh di dunia ini. Itulah Pedang Tumpul yang dahulu menjadi pusaka istana!"
"Wahhh.......!!"
Ci Han dan Ci Hwa terbelalak kagum.
Mereka sudah mendengar akan pedang pusaka itu yang oleh kaisar dihadiahkan kepada Sam-sian bersama beberapa benda lain.
Sin Wan menggerakkan tangannya dan tahu-tahu pedang itu telah lenyap, menyusup kembali ke dalam sarung pedang.
"Eh, kenapa kau simpan kembali pedangmu, Sin Wan?"
"Paman, aku tidak ingin kalau sampai pedangmu rusak oleh pedangku, maka sebaiknya kalau kita menggunakan pedang yang biasa dipakai untuk latihan saja."
Dan tiba-tiba tubuhnya sudah meluncur ke arah rak senjata.
Demikian cepat gerakannya dan tahu-tahu dia sudah kembali ke tempat tadi, di depan panglima itu dan membawa dua batang pedang yang biasa dipakai latihan.
Melihat gerakan secepat itu, Bhok Cun Ki dan kedua orang anaknya menjadi kagum, dan panglima itu merasa gembira.
Ketika mendengar bahwa Sin Wan adalah murid Sam-sian dan telah memperoleh kepercayaan seorang sakti seperti Ciu-sian untuk mewakilinya, dia sudah percaya bahwa tentu pemuda itu telah memiliki tingkat kepandaian yang tinggi.
Akan tetapi, dia ingin membuktikan sendiri agar yakin bahwa pembantunya ini dapat dipercaya dan diandalkan.
"Bagus, usulmu itu baik sekali, Sin Wan!"
Katanya dan dia menerima sebatang pedang dari pemuda itu.
Kini mereka saling berhadapan dengan pedang di tangan.
Karena maklum bahwa panglima itu sebagai seorang pendekar Butong tentu lihai sekali ilmu pedangnya, Sin Wan segera memasang kuda-kuda dari ilmu pedang yang dia pelajari dari mendiang Kiam-sian (Dewa Pedang), yaitu Jit-kong Kiam-sut (Ilmu Pedang Sinar Matahari).
Sebaliknya, Bhok-ciangkun memasang kuda-kuda ilmu pedang Butong-pai yang terkenal indah gerakannya namun amat tangguh itu.
"Silakan, paman,"
Kata Sin Wan yang tidak berani bergerak lebih dahulu.
"Ha..ha, engkau terlalu sungkan, Sin Wan. Nah, aku akan memulai, bersiaplah engkau!"
Setelah berkata demikian, panglima itu mengeluarkan bentakan nyaring dan pedang di tangannya sudah bergerak dengan setengah lingkaran, lalu menusuk ke arah dada Sin Wan.
Dengan gerakan tenang, Sin Wan mengelak dan balas menyerang.
Lawannya juga meloncat dan membalas.
Terjadi serangan balas membalas dan duanya mengandalkan kegesitan tubuh untuk mengelak.
Makin lama, semakin cepat gerakan mereka dan pedang di tangan Sin Wan yang menjadi sinar bergulung-gulung itu menyilaukan mata, sesuai dengan nama ilmunya.
Namun lawannya juga tidak kalah cepat gerakannya, pedang di tangan panglima itupun menjadi sinar bergulung-gulung yang kadang-kadang menyambar ke arah lawan.
"Tranggg..........!"
Bunga api berpijar ketika untuk pertama kalinya kedua pedang bertemu di udara.
Keduanya merasa betapa telapak tangan mereka tergetar.
Ternyata dalam hal tenaga merekapun berimbang.
Kini kedua pedang itu saling sambar dan kadang bertemu mengeluarkan bunga api, dua gulungan sinar pedang saling belit seperti dua ekor naga berlaga di angkasa.
Setelah lewat tigapuluh jurus, Sin Wan teringat akan maksudnya mengajak bertanding pedang.
Tiba-tiba dia mengubah gerakannya dan kini dia sering bermain silat pedang dengan tubuh direndahkan.
Sinar pedangnya menyambar-nyambar dari bawah, kadang tubuhnya bergulingan di atas lantai dan sinar pedang mencuat dari bawah.
Nampak betapa Bhok-ciangkun terkejut dan agak kewalahan menghadapi serangan-serangan aneh itu.
Setelah beberapa jurus lamanya Sin Wan mendesak, sambil menyapu kedua kaki lawan dengan pedangnya sehingga.
Bhok-ciangkun terpaksa berlompatan, Sin Wan berkata halus.
"Lawan ular yang tangguh adalah burung!"
Seketika teringatlah Bhok-ciangkun dan diapun tahu mengapa pemuda itu kini mengubah ilmu pedangnya walaupun tadi pemuda itu tidak terdesak. Mendengar kata "ular"
Ingatlah Bhok-ciangkun bahwa sore nanti dia harus bertanding melawan gadis yang datang dari Bukit Ular.
Maka, dia pun cepat mengubah ilmu pedangnya dan kini gerakannya menggunakan banyak loncatan dan pedangnya menyambar-nyambar dari atas bagaikan seekor burung yang menandingi seekor ular!
Setelah lewat duapuluh jurus, Sin Wan mengubah lagi ilmu pedangnya dan kembali menggunakan Jit-kong-kiamsut seperti tadi.
Dan Bhok-ciangkun sudah cukup puas.
Dia tadi pernah mengerahkan seluruh tenaganya dan mengeluarkan jurus-jurus simpanannya, namun semua serangannya dapat dipatahkan oleh Sin Wan.
Dia tidak tahu apakah pemuda itu dapat mengalahkannya, akan tetapi yang jelas baginya, untuk dapat mengalahkan pemuda itu, agaknya akan merupakan hal yang amat sukar baginya.
Dan ini sudah memuaskan hatinya.
Diapun meloncat agak jauh ke belakang.
"Cukuplah, Sin Wan,"
Katanya sambil tersenyum.
"Sekarang aku tahu benar betapa lihainya murid dari Sam-sian!"
"Paman, ilmu pedang paman juga hebat dan indah, aku mengaku kalah,"
Kata Sin Wan. Dengan sopan dia lalu menghampiri panglima itu, menerima pedangnya dan mengembalikan kedua pedang itu di rak senjata.
"Sin Wan, terima kasih atas petunjukmu tadi,"
Kata Bhok Cun Ki.
Kedua orang anaknya tidak mengerti apa yang terjadi, akan tetapi Sin Wan hanya tersenyum dan tidak menjawab.
Setelah mendengar keterangan Bhok Cun Ki tentang tanda-tanda rahasia untuk mengenal anak buah panglima itu yang disebar sebagai penyelidik di kota raja, Sin Wan lalu pergi ke kamarnya untuk membuat persiapan.
Dia akan memulai dengan tugasnya hari itu juga, melakukan penyelidikan di kota raja dalam usahanya membantu Bhok-ciangkun memberantas jaringan mata-mata Mongol.
Ketika dia hendak meninggalkan kamarnya setelah bertukar pakaian yang tadi basah oleh keringat, dia bertemu Ci Han dan Ci Hwa di ruangan depan kamarnya.
Agaknya kakak dan adik itu sengaja mencarinya, Sin Wan menyambut mereka dan tiga orang muda itu duduk di ruangan itu.
"Twako, ajaklah aku melakukan, penyelidikan agar menambah luas pengetahuanku!"
Ci Han membujuk. Sin Wan tersenyum.
"Bagaimana mungkin, Han-te (adik Han). Pekerjaanku adalah penyelidik, dan dalam hal ini aku beruntung bahwa di kota raja tidak ada orang mengenalku. Ini memudahkan pekerjaanku, karena aku akan dapat bergerak dengan leluasa, melakukan pengamatan terhadap siapa saja yang kuamati. Akan tetapi engkau adalah seorang pemuda yang dikenal siapa saja di kota raja. Orang-orang yang kita curigai, siang-siang sudah berjaga diri dan bersikap hati-hati kalau melihat engkau muncul. Maaf aku terpaksa tidak dapat membawawu serta, Han-te."
"Akupun tadinya ingin ikut untuk menambah pengalaman, twako. Akan tetapi mendengar alasanmu tadi, aku mengerti bahwa pekerjaanmu harus dilakukan secara rahasia, dan kami berdua tak mungkin menyembunyikan keadaan diri kami. Eh, Han-koko, kalau tidak mungkin kita bekerja sama dengan kakak Sin Wan, sebaiknya kita bekerja sendiri-sendiri saja membantu ayah. Aku akan pergi seperti sedang pesiar atau berjalan-jalan, akan tetapi mulai sekarang aku akan waspada. Siapa tahu aku akan dapat menangkap seorang mata-mata Mongol."
"Hwa-moi, engkau jangan main-main. Pekerjaan ini bukan pekerjaan ringan. Menurut ayah, kalau orang Mongol mengirim mata-mata, sudah pasti dia lihai sekali!"
"Aku tidak takut! Kita di kota raja, takut apa? Semua orang akan membantuku!"
Kakak beradik itu lalu meninggalkan Sin Wan akan tetapi tidak lama kemudian Ci Hwa, muncul lagi, kini sendirian saja.
"Wan-twako, ada sebuah hal yang ingin kubicarakan denganmu berdua saja."
"Ehh? Apakah itu, Hwa-moi? Duduklah dan ceritakanlah yang hendak kaubicarakan,"
Jawab Sin Wan dan kembali mereka duduk di tempat tadi.
"Twako, aku khawatir sekali terhadap keselamatan ayah kalau dia pergi bertanding sore nanti."
"Jangan khawatir, ayahmu seorang yang berkepandaian tinggi. Siapapun tidak akan mudah mengalahkannya."
Sin Wan menghibur dengan sungguh-sungguh karena dia maklum bahwa betapapun lihainya, Lili tidak akan mudah mengalahkan panglima itu.
"Akan tetapi aku tetap khawatir, twako. Gadis siluman itu lihai bukan main. Melihat engkau tadi mengadu kepandaian dengan ayah, aku merasa yakin bahwa hanya engkau yang akan mampu mengalahkannya. Wan-twako, maukah engkau menolongku?"
"Menolongmu? Tentu saja aku mau, Hwa-moi,"
Kata Sin Wan sambil menatap wajah yang manis itu.
"Kalau begitu, kau lindungilah ayahku!"
Sin Wan mengerutkan alisnya.
"Ayahmu telah menekankan bahwa kita tidak boleh mencampuri urusan itu, Hwa-moi?"
"Aku tidak minta engkau mencampuri urusan itu, twako. Akan tetapi, aku minta engkau melindunginya, secara diam-diam. Kalau sampai ayah terancam bahaya maut, engkau dapat melindunginya. Maukah engkau berjanji, twako? Aku.... aku akan berterima kasih sekali padamu,"
Gadis itu menyentuh tangan Sin Wan, lalu menggenggam tangan itu dan mengguncangnya, pandang matanya penuh harapan, penuh permohonan.
Sin Wan tidak tega untuk menolaknya.
Dan memang di lubuk hatinya dia sedang mencari jalan bagaimana untuk dapat melindungi panglima itu dari ancaman maut di tangan Lili, maka diapun mengangguk.
"Baiklah, akan kuusahakan, Hwa-moi."
Tangan yang kecil itu menggenggam jari-jari tangan Sin Wan lalu melepaskannya.
"Twako, terima kasih! Terima kasih, dan aku yakin, bahwa percayaanku kepadamu tidak akan sia-sia. Aku sendiri tidak akan duduk diam. Aku akan pergi keluar, dan kalau Han-koko mencari mata-mata Mongol, aku akan mencari gadis siluman itu. Kalau ia berada di kota, aku akan menyerangnya dan memanggil pasukan penjaga untuk membantuku!"
"Jangan, Hwa-moi. Itu berbahaya sekali!"
"Aku tidak takut!"
"Tapi ayahmu telah melarangmu......."
"Melarang aku mencampuri urusannya? Tentu, aku tidak akan melanggar larangannya. Akan tetapi dia tidak melarang aku membalas kekalahanku dari gadis siluman itu!"
Ci Hwa lalu meninggalkan ruangan itu dan Sin Wan termangu dalam lamunan.
Berbahaya, pikirnya.
Orang macam Lili dapat melakukan apa saja.
Dia harus melindungi Ci Hwa lebih dahulu sebelum melindungi ayahnya.
Dan dia pun segera keluar.
Putera Mahkota atau Pangeran Chu Hui San sama sekali tidak mewarisi sifat-sifat baik dari ayahnya, yaitu Kaisar Thai-cu yang dahulu bernama Chu Goan Ciang.
Kalau ayahnya seorang pejuang yang gigih, kemudian menjadi kaisar yang bijaksana, pendiri kerajaan Beng-tiauw, sebaliknya pangeran yang merupakan putera mahkota yang sulung itu sejak mudanya adalah seorang yang lemah dan kurang bersemangat.
Pangeran Chu Hui San seperti mabok kemuliaan dan yang disukai hanyalah bersenang-senang saja.
Biarpun dia sudah beristeri dan memiliki belasan orang selir, masih saja dia haus akan kecantikan wanita.
Puteranya yang baru berusia enam tahun lebih itulah yang agaknya mewarisi kecerdikan dan semangat kakeknya.
Puteranya itu bernama Chu Hong dan karena semangatnya inilah maka Pangeran kecil Chu Hong menjadi kekasih kakeknya.
Bahkan kakeknya, Kaisar Thai-cu sendiri yang seringkali mendidik Chu Hong, menanamkan jiwa kepahlawanan melalui dongeng-dongeng.
Tidak jarang kaisar membiarkan cucunya tercinta itu tidur di dalam kamarnya!
Biarpun usianya sudah empatpuluh tahun, Pangeran Mahkota Chu Hui San masih berlagak seperti seorang pemuda remaja saja.
Pakaiannya selalu mewah dan dia seringkali lolos dari istana, tidak mau dikawal sehingga dia dapat melancong dengan bebas seperti halnya para kongcu (tuan muda) bangsawan.
Dan tentu saja diapun banyak bergaul dengan para kongcu bangsawan lainnya yang mempunyai kebiasaan dan kesukaan seperti dia, yaitu menghambur-hamburkan uang dan beroyal-royalan sepuas hati.
Pada suatu hari, pagi-pagi pangeran Chu Hui San sudah berada di beranda loteng rumah pelesir Seruni, sebuah rumah pelesir terbesar di kota raja.
Tentu saja pengurus rumah pelesir Seruni berikut semua penghuninya, para gadis penghibur, menyambut dengan penuh kehormatan dan kegembiraan ketika pangeran mahkota bersama dua orang temannya, dua orang kongcu bangsawan lain, muncul dan mereka seolah berebut menawarkan diri untuk menghibur tiga orang tamu itu terutama sang pangeran.
Siapa tahu pangeran mahkota terpikat olehku dan membawaku ke istana menjadi selirnya, dan kalau kelak sang pangeran menjadi kaisar berarti ia akan menjadi selir kaisar!
Demikian diharapkan oleh setiap orang gadis penghibur itu.
Akan tetapi sekali ini, Pangeran Chu Hui San dan dua orang kawannya agaknya sudah merasa jemu dengan mereka.
Karena bertiga hanya minta disediakan sarapan pagi yang mewah, dan setelah makan pagi mereka bertiga duduk di beranda loteng dan melihat-lihat mereka yang berlalu lalang di atas jalan raya di bawah depan loteng.
Pagi itu seperti biasa banyak wanita tua muda berlalu lalang di atas jalan raya.
Untuk pergi ke pasar dan pulangnya, para wanita itu melewati jalan itu karena pasar terletak dekat dengan rumah pelesir itu.
Dan tiga orang laki-laki bangsawan ini menjadi iseng.
Mereka melempar-lemparkan kwaci dan kacang ke bawah setiap kali ada gadis atau wanita muda lewat di bawah sana.
Wanita yang terkena lemparan kwaci atau kacang, kalau hendak marahpun tidak jadi, bahkan tersenyum malu dan bangga ketika mereka melihat siapa laki-laki yang mengganggunya itu.
Wanita mana yang tidak akan senang diganggu oleh Pangeran Mahkota?
Dari jauh nampak seorang wanita muda melangkah gontai di atas jalan raya.
Ia seorang wanita muda, usianya sekitar duapuluh tahun dan bentuk tubuhnya yang ramping amat menggiurkan dan menggairahkan.
Langkahnya dan lenggangnya amat memikat, dengan tubuh lentur lemas dan berlekuk lengkung sempurna.
Pada waktu itu musim panas, telah tiba dan karena hawa udara panas, para wanitanya mengenakan pakaian yang lebih tipis dan longgar sehingga keindahan bentuk tubuh mereka lebih dapat dikagumi dari pada kalau mereka mengenakan pakaian tebal musim dingin.
Wanita muda ini membawa keranjang gantung yang kosong sehingga mudah dimengerti bahwa ia tentu sedang menuju ke pasar untuk berbelanja.
Bajunya yang biru muda itu nampak baru.
Pangeran Chu Hui San memandang kepada wanita itu dan berkata kepada dua orang temannya.
"Tunggu! Yang baju biru muda itu untukku, biar aku yang menembaknya!"
Istilah menembak itu mereka pergunakan untuk menyambitkan kwaci dan kacang ke bawah.
Dua orang temannya adalah pemuda pemuda bangsawan yang selalu ingin memperoleh kesan baik dengan menjilat, maka mendengar permintaan ltu, segera mereka mentaati dan hanya menjadi penonton.
Putera Mahkota itu mempersiapkan kacang yang besar dan ketika wanita itu berlenggang di bawah loteng, dia membidik dan menyambitkan kacang itu ke bawah.
"Tukk!"
Kacang itu tepat mengenai kepala wanita itu.
Tidak menimbulkan sakit memang, akan tetapi cukup mengagetkan dan wanita itu cepat mengangkat muka memandang ke atas.
Dilihatnya tiga orang pria berpakaian mewah tertawa-tawa.
Akan tetapi Pangeran Chu Hui San terpesona ketika memandang ke atas itu dia melihat sebuah wajah yang cantik manis, dan tidak seperti wanita lain yang begitu melihat siapa penyambitnya lalu melempar senyum dan kerling memikat, wanita itu berani cemberut, mengerling marah lalu membuang muka!
Akan tetapi semua tarikan muka yang lain dari pada yang lain itu, yang tidak bermanis-manis tidak menjual murah, bahkan nampak demikian memikat bagi Pangeran Chu Hui San.
"Cui-ma, cepat kejar perempuan itu. Aku menginginkannya, sekarang juga!"
Kata sang putera mahkota yang sudah terbiasa sejak kecil selalu terpenuhi segala kehendaknya.
Mendengar perintah ini, nyonya kurus yang berada di belakang mereka terbongkok-bongkok melayaninya dan bergegas turun dari loteng.
Dari atas beranda loteng itu, Pangeran Chu Hui San dan dua orang temannya dapat melihat betapa mucikari itu berlari keluar diikuti dua orang laki-laki berewok tinggi besar dan mereka bertiga cepat mengejar wanita muda yang jalannya belum jauh itu.
Mereka melihat betapa mucikari itu bersama dua orang jagoannya telah dapat menyusul.
Wanita muda itu nampak menolak, menggeleng kepala dan kelihatan marah-marah, tidak dapat dibujuk oleh mucikari itu dengan omongan manis.
Sang mucikari sendiri, bibi Cui atau dipanggil Cui-ma, merasa heran bukan kepalang melihat ada seorang wanita muda berani menolak ajakan putera mahkota!
Tidak perduli ia sudah menikah atau belum, rakyat jelata atau bangsawan belum pernah ada wanita yang menolak ajakan yang seolah merupakan bulan jatuh ke pangkuan itu.
Karena wanita muda itu menolak, dua orang tukang pukul sudah menangkap kedua lengan wanita itu dan tanpa kesulitan dua orang jagoan yang kuat itu memaksa dan menarik wanita muda itu ikut ke dalam rumah pelesir.
Tak seorangpun yang berani melerai ketika melihat ada wanita muda dipaksa masuk ke rumah itu oleh seorang wanita tua dan dua orang jagoannya.
Cui-ma memang disegani, bukan hanya karena ia mempunyai tukang pukul, melainkan terutama sekali karena dibelakang mucikari ini berdiri banyak bangsawan tinggi yang menjadi langganannya sehingga ia bisa mendapatkan pembelaan dari kalangan atas.
Petugas rendahan biasa saja, mana berani menentangnya?
Mungkin akan berhadapan dengan atasannya sendiri nanti!
Pangeran Chu Hui San telah duduk menanti dalam kamar yang mewah itu seorang diri ketika wanita muda itu masih bersama keranjangnya didorong masuk dari luar dan daun pintu segera ditutup kembali dari luar.
Wanita itu, bagaikan seekor anak kelinci yang dilempar ke dalam kerangkeng harimau, berdiri menggigil dan menangis, tidak berani berkutik, hanya bersandar pada dinding memeluk keranjangnya.
"Ampun...... ampunkan aku...... lepaskan aku..... aku sudah bersuami, suamiku keras dan galak......"
Ia meratap ketakutan tanpa berani mengangkat mukanya yang menunduk.
Akan tetapi, alasan bahwa wanita itu sudah bersuami tidak meredakan gelora gairah sang pangeran.
Yang membuat ia terheran-heran adalah melihat sikap wanita itu.
Kenapa begitu berani dan sama sekali tidak menghormatinya?
"Nyonya muda yang manis, pandanglah aku.
Apakah engkau tidak tahu, siapa aku?"
Perintahnya. Dengan ketakutan wanita itu mengangkat muka memandang, namun ia sama sekali tidak nampak terkejut. Bahkan ia menggeleng kepalanya.
"Aku tidak mengenal engkau siapa, akan tetapi mohon kau lepaskan aku, jangan ganggu aku......"
"Hemm, aku adalah pangeran, putera mahkota, tahu?"
Wanita itu kembali memandang dengan mata terbelalak, lalu keranjangnya jatuh mengelinding dan iapun menjatuhkan diri berlutut menyernbah-nyembah.
"Ahh.... ampun hamba.... hamba tidak tahu, hamba baru sebulan berada di kota raja, hamba dari dusun, setelah menikah baru di sini..... mohon paduka mengampuni hamba dan membiarkan hamba pergi...."
Pangeran itu semakin heran.
"Aku suka padamu, manis. Kesinilah dan jangan takut. Aku akan memberi hadiah besar kepadamu."
"Tidak...... tidak...... mohon paduka mengampuni hamba.... hamba baru sebulan menikah, hamba tidak berani, suami hamba galak......."
"Aih, pengantin baru, ya? Heh..heh, aku suka pengantin baru. Tentang suamimu, jangan takut. Dia tidak akan berani memarahimu kalau tahu bahwa pangeran putera mahkota yang mengajakmu. Kesinilah!"
Pangeran Chu Hui San semakin bergairah karena belum pernah dia bertemu dengan wanita yang tidak segera lari ke dalam pelukannya.
Malah dia yang kini turun dari pembaringan dan menghampiri wanita yang menggigil ketakutan itu.
Akan tetapi baru saja dia memegang lengan wanita itu untuk ditariknya, dia mendengar suara gedebukan di luar kamar, suara orang berkelahi.
Dia terkejut dan heran, lalu dibukanya daun pintunya untuk melihat apa yang terjadi.
Ternyata dua orang tukang pukul berewokan itu sedang mengeroyok seorang laki-laki muka bopeng yang juga tinggi besar.
Akan tetapi laki-laki bopeng itu lihai sekali, dan ketika sang pangeran membuka daun pintu, tepat dia melihat betapa dua orang tukang pukul itu dihantam roboh!
"Cang-ko (kakak Cang),.......!"
Wanita cantik yang berada di dalam kamar Pangeran Chu Hui San menjerit ketika ia melihat laki-laki bopeng itu.
"Kim-moi (adik Kim)!"
Laki-laki itu berteriak dan diapun menerjang masuk ke dalam kamar.
"Aku tahu, engkau berada disini!"
Bentaknya dan dengan mata melotot dia memandang kepada isterinya, lalu kepada sang pangeran. Ketika dia memandang kepada pangeran itu, Pangeran Chu Hui San berkata dengan sikap gagah dan marah.
"Orang kasar, butakah matamu? Aku adalah Pangeran Chu Hui San! Hayo cepat engkau pergi dari sini atau akan kusuruh orang menangkap dan menghukum siksa sampai mati!"
Akan tetapi si muka bopeng itu menyeringai.
"Aku tahu engkau pangeran putera mahkota yang mata keranjang itu. Engkau berani menghina isteriku! Biar aku akan dihukum mati, akan tetapi sekali ini engkau yang akan kusiksa sampai mati lebih dulu!"
Dengan langkah lambat namun sikapnya menyeramkan, si muka bopeng menghampiri sang pangeran.
Pangerah yang satu ini memang lemah.
Melihat gertakannya tidak berhasil, diapun melangkah mundur dan mukanya mulai membayangkan ketakutan.
"Jangan...... maafkan aku dan engkau akan kuganjar hadiah yang besar........"
"Tidak ada hadiah besar dari pada membunuh orang yang telah berani menghina isteriku tercinta!"
Bentak orang itu dengan geram dan dia sudah siap untuk menubruk.
Tiba-tiba seseorang muncul di ambang pintu kamar itu.
Akan tetapi kemunculannya tidak membesarkan harapan sang pangeran, karena dia hanyalah seorang pria berusia tigapuluh lima tahun yang berpakaian seperti seorang sastrawan muda, mungkin sastrawan kaya karena pakaiannya mewah.
Apa artinya seorang sastrawan lemah terhadap si bopeng yang tangguh ini?
Dua orang jagoan tukang pukul di rumah pelesir itupun sudah dia pukul roboh.
"Muka bopeng, jangan kurang ajar kau!"
Sastrawan itu membentak dan biarpun suaranya lembut, namun mengandung getaran berwibawa sehingga tiba-tiba si bopeng menghentikan langkahnya dan memutar tubuh menghadapi sastrawan itu, nampaknya terkejut.
Akan tetapi ketika dia melihat bahwa yang menegur dan mencelanya hanya seorang sastrawan yang kelihatan lemah, dia menjadi semakin berang.
Dengan langkah lebar dia menghampiri sastrawan itu dan sikapnya mengancam.
"Jahanam, siapa engkau berani mencampuri urusanku?"
Dia mengepal tinju dan siap menerjang.
"Engkaulah yang jahanam! Berani engkau mengancam yang mulia pangeran putera mahkota yang sepatutnya kau sembah? Hayo cepat berlutut minta ampun!"
Akan tetapi, si muka bopeng menjawabnya dengan gerengan dan diapun menerjang dengan ganas ke arah sastrawan itu.
Pangeran Chui Hui San menyangka bahwa penolongnya itu tentu roboh dengan sekali pukul dan dia sudah siap untuk melarikan diri.
Akan tetapi, dia terbelalak.
Ketika si muka bopeng yang tinggi besar itu menerjang, sastrawan itu mengelebatkan kipas yang berada di tangannya dan entah bagaimana, tiba-tiba saja si muka bopeng itu yang terpelanting ke atas lantai Dia merangkak bangun, meloncat dan menerjang lagi akan tetapi disambut tendangan yang mengenai dadanya dan membuat, dia terjengkang dan terbanting keras.
Si muka bopeng terengah-engah dan matanya terbelalak ketakutan, lalu dia bangkit dan membalikkan diri, cepat lari keluar dari dalam kamar itu.
Sastrawan itu membiarkan si muka bopeng lari, dan diapun membalik, menghadapi Pangeran Chu Hui San dan menjatuhkan diri berlutut dengan sikap hormat dan sopan sekali.
"Hamba kira akan jauh lebih baik dan aman kalau paduka selalu ditemani seorang pengawal yang boleh dipercaya. Dewasa ini banyak sekali terdapat penjahat dan pemberontak yang tentu akan berbuat yang tidak baik kepada paduka."
Tentu saja pangeran itu merasa berterima kasih karena tanpa munculnya sastrawan itu, tentu sekarang dia telah tewas dibunuh si muka bopeng tadi.
Dia melangkah maju dan dengan kedua tangan menyentuh pundak sastrawan itu dia berkata.
"Terima kasih, engkau telah menyelamatkan aku. Kami akan merasa senang sekali kalau saat ini engkau suka menemani dan menjaga keselamatanku."
"Hamba suka sekali, hamba siap mengorbankan nyawa demi keselamatan paduka, pangeran!"
Kata sastrawan itu.
"Siapa namamu?"
"Hamba she (bernama keturunan) Yauw, nama hamba Lu Ta."
Pada saat itu, wanita muda yang sejak tadi berdiri ketakutan, mempergunakan kesempatan itu untuk melarikan diri keluar dari dalam kamar.
Akan tetapi melihat ini, Yauw Lu Ta meloncat dan sekali tangannya bergerak, dia telah menotok wanita itu pada pundaknya, membuat wanita itu menjadi lemas dan tentu akan jatuh ke atas lantai kalau Yauw Lu Ta tidak menyambutnya, memegang lengannya kemudian mendudukkannya di atas lantai bersandar dinding.
Wanita muda itu tidak mampu bergerak, hanya matanya yang memandang dengan ketakutan.
"Yauw Siucai (Sastrawan Yauw), kalau ia tidak mau, suruh ia pergi. Kami tidak mau memperkosanya!"
Kata Pangeran Chui Hui San dengan suara mengandung kekecewaan. Wanita itu bukan saja menolak cintanya, bahkan suaminya hampir saja membunuhnya! Yauw Lu Ta membungkuk dengan senyum.
"Harap paduka jangan kecewa. Dalam satu menit ia akan berubah sama sekali dan akan melayani paduka dengan seluruh tubuh dan hatinya."
Dia mengeluarkan sebuah bungkusan dari dalam saku bajunya.
Ketika dibukanya, dalam bungkusan terisi bubuk merah.
Melihat di atas meja dalam kamar itu, terdapat cawan dan guci arak, dituangkannya sedikit arak ke dalam cawan, dimasukkannya sedikit bubuk merah ke dalam cawan kemudian dia menghampiri wanita muda itu, tangan kiri menekan kanan-kiri mulut sehingga mulut itu terbuka, ditengadahkan, lalu isi cawan dia tuangkan ke dalam mulut.
Di luar kehendaknya, wanita itu terpaksa menelan anggur dari cawan dan Yauw Lu Ta melepaskannya.
Pangeran Chu Hui San memandang penuh perhatian.
Semenit kemudian, terjadi perubahan pada wajah wanita itu.
Kedua pipinya kemerahan dan pandang matanya tidak lagi ketakutan, akan tetapi seperti orang yang mengantuk.
Yauw Lu Ta membebaskan totokannya dan diapun berkata.
"Kini paduka dapat berbuat apapun terhadap dirinya dan ia akan menyerahkan diri dengan suka rela dan penuh semangat. Hamba akah menjaga keamanan paduka di luar kamar."
Yauw Lu Ta melangkah keluar dan menutupkan daun pintu kamar itu dari luar.
Sebetulnya, peristiwa tadi sudah mengusir semua gairah nafsu dari pikiran pangeran ini.
Akan tetapi, dia tertarik dan ingin sekali tahu apakah ucapan pengawal barunya itu benar.
Dia lalu memandang wanita muda yang sudah dibebaskan dari totokan itu.
Kini wanita itu berlutut menghadap kepadanya, hanya menundukkan muka dan tidak berani memandangnya, tidak pula mengeluarkan kata-kata, juga tidak lagi menangis ketakutan.
"Angkat mukamu!"
Kata pangeran itu dengan suara memerintah.
Dan wanita muda itu mengangkat muka memandangnya.
Dan alangkah jauh bedanya dengan tadi.
Wanita itu kini memandangnya dengan sikap malu-malu, dengan mata sayu dan mulut mengulum senyum.
"Kesinilah,"
Kata pula pangeran itu.
Wanita itu nampak tersipu, lalu bangkit dan dengan malu-malu berjalan menghampiri Pangeran Chu Hui San.
Ketika pangeran merangkulnya, iapun mengeluarkan suara lirih dan menyandarkan mukanya ke dada pangeran itu.
"Siapa namamu, manis?"
"Nama hamba Bi Kim....."
Suaranya berbisik dan kini bangkitlah kembali gairah di hati pangeran itu.
Dia menuntun wanita itu ke pembaringan dan benar seperti yang dikatakan Yauw Lu Ta tadi, kini wanita itu sama sekali tidak menolaknya, bahkan melayaninya dengan sukarela dan penuh gairah.
Tentu saja semua itu adalah siasat yang sudah diatur oleh Yauw Lu Ta atau Yaluta, pangeran Mongol itu!
Ketika Kerajaan Mongol belum jatuh, dia masih kecil, baru belasan tahun usianya dan tidak dikenal.
Oleh karena itu, tanpa ragu-ragu dia menggunakan namanya, hanya diubah sedikit menjadi nama pribumi agar tidak ada yang tahu bahwa dia adalah bekas pangeran Mongol!
Sejak peristiwa di rumah pelesir itu, Pangeran Chu Hui San menerima Yauw Lu Ta yang disebutnya Yauw Siucai menjadi pengawal pribadinya, juga temannya berfoya-foya.
Yauw Siucai amat pandai mengambil hatinya.
Dengan adanya Yauw Siucai, putera mahkota ini dapat menikmati bermacam kesenangan yang tadinya tidak dikenalnya sama sekali.
Dengan bantuan Yauw Siucai, wanita yang bagaimana keraspun akan menjadi lunak dan jinak.
Bahkan putera mahlota itu, saking percayanya kepada Yauw Siucai, telah mengangkat sastrawan ini menjadi guru sastra dari puteranya yang bernama Chu Hong.
Maka, kuatlah kedudukan Yauw Siucai di istana putera mahkota.
Dengan cerdik sekali Yauw Lu Ta yang memang mendekati pangeran putera mahkota ini untuk tujuan yang lebih besar, menuntun Pangeran Chu Hui San yang lemah itu sehingga keadaan pangeran itu semakin rusak.
Bukan saja bujukan Yauw Siucai membuat dia menjadi semakin menggila dalam mengejar kesenangan sehingga lupa diri, juga Yauw Siucai dengan cerdik menjerumuskan pangeran yang menjadi calon pengganti kaisar itu menjadi seorang pecandu madat!.
Yauw Siucai ingin agar kelak yang menjadi kaisar seorang yang lemah, tidak mampu dan yang berada dibawah pengaruhnya sehingga kalau dia mendapatkan kesempatan baik melakukan gerakan, maka pemerintahan di bawah kaisar semacam itu akan mudah dia robohkan dan dia dapat membangun kembali Kerajaan Goan (Mongol) yang pernah jaya!
(Lanjut ke
Jilid 07) Asmara Si Pedang Tumpul (Seri ke 02 -Serial Si Pedang Tumpul) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 07 Sore itu udara cerah sekali.
Langit tidak ternoda awan, dan biarpun matahari sudah condong jauh ke barat, namun sinarnya masih kuat dan hawa udara cukup gerah karena tidak ada angin bertiup.
Dengan langkah lebar dan tegap, Panglima Bhok Cun Ki berjalan mendaki bukit Bambu Naga di luar kota raja.
Dia sengaja berjalan kaki, tidak menunggang kuda.
Pertama, agar tidak ada orang yang memperhatikannya, dan ke dua agar lebih mudah baginya untuk melihat bahwa tidak ada orang yang membayanginya.
Dia tidak ingin anak-anaknya mencampuri urusan pribadinya.
Tentu saja cerita putera dan puterinya tentang gadis yang berpedang Ular Putih itu seketika mengingatkan dia akan riwayat hidupnya dahulu, ketika dia belum menikah.
Dia pernah saling berkenalan dan bersahabat dengan seorang pendekar wanita yang cantik jelita dan lihai dan akhirnya ia dan wanita itu yang bernama Cu Sui In saling jatuh cinta.
Dia sendiri seorang pendekar muda Butong-pai di waktu itu, dan gadis itu memang cantik dan pandai, sehingga mereka berdua merupakan pasangan yang serasi dan cocok sekali.
Hubungan di antara mereka sudah amat intim dan mesra, bahkan keduanya sudah demikian saling percaya bahwa mereka akan menjadi suami isteri sehingga mereka saling menyerahkan diri.
Akan tetapi, beberapa hari kemudian, dia mendapat kenyataan bahwa kekasihnya itu adalah puteri See-thian Coa-ong!
Bahkan kekasihnya itu di dunia kangouw dikenal dengan julukan Bi-coa Sianli (Dewi Ular Cantik) yang terkenal ganas dan kejam!
Melihat kenyataan pahit ini, seketika dia mengambil keputusan untuk memisahkan diri dan meninggalkan Cu Sui In.
Tidak mungkin dia sebagai seorang pendekar penentang golongan sesat, menikah dengan seorang puteri datuk sesat!
Seluruh dunia kangouw akan mentertawakannya, dan bagaimana dia akan tetap dapat menentang kejahatan kalau beristeri seorang tokoh jahat?
"Sui In........"
Dia menghela napas panjang dan mengeluh dalam hati.
"kenapa sampai sekarang engkau masih mendendam? Dan kenapa pula tidak datang sendiri mencariku, akan tetapi menyuruh muridmu?"
Setelah tiba di puncak bukit yang sunyi itu, dia berdiri di puncak yang datar, yang dikelilingi hutan bambu yang lebat.
Banyak di situ terdapat bambu yang batangnya seperti tubuh ular naga, maka disebut bambu naga.
Biarpun dia tidak melihat bayangan orang, akan tetapi dia merasa bahwa ada orang yang mengintai dan mengamatinya.
Oleh karena itu, dia berdiri dengan tegak, kedua kaki terpentang, lalu dia berkata dengan suara yang lantang.
"Nona berpedang Ular Putih, aku Bhok Cun Ki telah datang memenuhi undanganmu!"
Memang sejak tadi Lili sudah mengintai dari balik semak belukar.
Sejak laki-laki itu mendaki lereng dekat puncak, ia sudah tahu dan ketika pria itu sudah dekat, ia memandang kagum.
Jadi inikah kekasih sucinya yang telah meninggalkan sucinya dan membuatnya hidup merana?
Pantas kalau sucinya tergila-gila.
Memang pria ini seorang pria yang gagah perkasa dan ganteng.
Sekarangpun, dalam usia yang mendekati limapuluh tahun, pria itu masih nampak tegap dan ganteng, dengan penampilan seorang pendekar tulen.
Sebatang pedang tergantung di pinggangnya dan langkahnya ketika mendaki puncak tadi bagaikan langkah seekor harimau.
Dari atas puncak ia mengamati dan melihat bahwa pria itu memang datang seorang diri, dan inipun menunjukkan bahwa dia memang gagah dan berani, dan tidak curang.
"Bagus, kiranya engkau yang bernama Bhok Cun Ki!"
Bhok Cun Ki membalikkan tubuh dan melihat bayangan berkelebat, tahu-tahu di depannya telah berdiri seorang gadis yang cantik.
Dia mengamati penuh perhatian.
Seorang gadis berusia kurang lebih duapuluh tiga tahun yang cantik manis, dengan sikap yang dingin dan galak, namun matanya bersinar tajam.
Dia tahu bahwa gadis itu memiliki keringanan tubuh dan kecepatan yang tak boleh dipandang ringan.
Cepat dia memberi hormat sepantasnya dengan merangkap kedua tangan depan dada.
"Apakah hubunganmu dengan Cu Sui In, nona? Apakah engkau muridnya?"
Bhok Cun Ki langsung bertanya karena dia sudah yakin bahwa inilah gadis yang telah mencarinya dan mengalahkan putera dan puterinya.
"Cu Sui In adalah suciku. Hemm, agaknya engkau sudah dapat menduga bahwa aku datang diutus oleh suci untuk membunuhmu?"
Bhok Cun Ki menghela napas panjang dan mengangguk.
"Aku sudah dapat menduganya. Kiranya engkau adalah sumoinya, dan engkau murid See-thian Coa-ong. Pantas engkau lihai. Akan tetapi, terima kasih bahwa engkau tidak membunuh kedua orang anakku. Hal ini saja sudah mengherankan karena biasanya orang-orang dari Bukit Ular tak pernah membiarkan lawannya hidup."
Lili mengerutkan alisnya.
"Aku bukan pembunuh! Aku ditugaskan untuk membunuhmu, bukan membunuh anak-anakmu. Nah, bersiaplah untuk mengadu nyawa. Engkau atau aku yang akan mati hari ini!"
Lili mencabut pedangnya dan nampak sinar putih menyilaukan mata tertimpa sinar matahari senja.
Bhok Cun Ki mengeluh dalam hatinya.
Tak disangkanya bahwa urusan pribadinya dengan Cu Sui In akan menimbulkan peristiwa yang dihadapinya sekarang ini.
Dia ditantang seorang gadis muda!
"Nona, siapakah namamu?"
Tanya dan suaranya lembut karena melihat gadis itu, walaupun ia nampak galak dan dingin, menimbulkan perasaan suka dalam hatinya.
Dia merasa berhadapan dengan anak sendiri atau keponakan sendiri.
Bagaimana dia, seorang pendekar Butong-pai, seorang panglima, dapat enak hati menyambut tantangan mengadu nyawa seorang gadis yang sepantasnya menjadi anaknya atau keponakannya?
"Namaku tidak ada sangkut-pautnya dengan urusan adu nyawa ini, Bhok Cun Ki!"
Kata Lili dengan tegas.
"Benar sekali, akan tetapi kalau engkau kalah dan mati, engkau akan tahu siapa yang membunuhmu, sebaliknya kalau aku yang kalah dan mati, arwahku bisa penasaran karena aku tidak tahu siapa yang membunuhku."
Bhok Cun Ki bicara dengan nada suara serius, akan tetapi juga mengandung kelakar.
Lili juga merasa sukar untuk mempertahankan kekakuannya juga, di dalam hatinya tidak mempunyai masalah pribadi dengan pria ini, maka iapun tidak dapat merasa benci.
Bahkan ia merasa kagum karena ia berhadapan dengan seorang laki-laki jantan yang bersikap begitu tenang.
"Baik, namaku biasa disebut orang Lili."
"Nona Lili, nama yang bagus. Akan tetapi kenapa sucimu Cu Sui In tidak datang sendiri membunuhku, melainkan menyuruh engkau yang tidak mempunyai sangkut paut dengan urusan kami?"
"Aku hanya menunaikan tugas. Jangan tanya kepadaku, tanyalah kepada suci, akan tetapi tidak ada kesempatan lagi bagimu karena engkau akan mati ditanganku."
Bhok Cun Ki tersenyum.
"Nona Lili, engkau masih begini muda namun memiliki kepandaian tinggi dan pemberani. Sungguh sayang seorang muda seperti nona ini melakukan pertandingan mengadu nyawa. Aku sendiri sudah cukup tua, dan mati bagiku bukan apa-apa. Akan tetapi engkau, masih begini muda dan berhak untuk hidup lebih lama lagi dan menikmati hidupmu. Tahukah engkau mengapa sucimu itu menyuruhmu mencariku dan membunuhku?"
"Bhok Cun Ki, kenapa engkau begini cerewet, sih? Agaknya dahulu suci terpikat oleh kapandaianmu merayu dengan kata-kata. Tentu saja aku tahu kenapa suci ingin aku membunuhmu. Engkau telah menghancurkan kebahagiaan hidupnya, engkau telah membuat ia merana sampai sekarang tidak berumah tangga. Engkau merayunya dengan ketampananmu, kepandaianmu merayu, dengan janji-janji palsumu. Sudahlah, akupun tidak perduli. Yang penting, aku harus membunuhmu. Cepat keluarkan pedangmu, atau aku akan membuat engkau mati konyol!"
Gadis itu menggerakkan pedangnya sehingga berkelebatan dan mengeluarkan sinar putih yang menyilaukan mata.
"Tunggu sebentar, nona. Aku tidak percaya seorang gadis seperti engkau ini mau membunuh orang yang belum siap melawan. Dengar dahulu, baru kita bertanding agar engkau mengetahui urusan antara aku dan sucimu itu, agar kita berdua dapat bertanding dengan penuh kesadaran. Memang ku akui bahwa ketika aku masih muda, di antara aku dan sucimu Cu Sui In terjalin hubungan cinta kasih yang mendalam, bahkan kami berdua sudah saling berjanji dan sepakat untuk menjadi suami isteri. Aku mencintainya dengan sepehuh hatiku, bahkan sampai sekarangpun aku masih mencintanya. Akan tetapi ia menipuku. Ia tadinya tidak berterus terang tentang dirinya. Setelah aku mengetahui bahwa ia adalah puteri See-thian Coa-Ong dan ia berjuluk Bi-coa Sianli, seorang tokoh sesat, puteri seorang datuk sesat yang melakukan banyak kekejaman dan kejahatan, bagaimana mungkin aku berjodoh dengannya? Seluruh pimpinan Butong-pai akan mengutuk aku, karena sebagai seorang pendekar aku harus menentang golongan sesat, bukan mengawini puteri seorang di antara para datuknya, yaitu See-thian Coa-ong. Nah, itulah sebabnya aku memisahkan diri walau aku selalu mencintanya."
"Omong kosong! Cinta macam apa itu kalau memakai persyaratan? Cinta macam apa yang dapat dibeli dengan keadaan seseorang? Yang kaucinta itu orangnya, pribadinya, ataukah kedudukannya dan namanya? Ingat, aku adalah murid See-thian Coa-ong, dan bagiku, suhu jauh lebih jantan dari pada engkau yang mengaku pendekar! Setidaknya, suhu tidak pernah menjual omong kosong dan rayuan gombal kepada seorang wanita!"
Wajah Bhok Cun Ki berkerut-kerut dan agak pucat, matanya nampak bingung dan gelisah!
Selama hidupnya, baru sekali ini dia merasa menyesal bukan main.
Memang dia tidak pernah dapat melupakan Cu Sui In, akan tetapi selama ini selalu dia menghibur perasaannya, menghibur batinnya bahwa dia meninggalkan Sui In karena melihat bahwa dia dan Sui In tidak akan dapat menjadi suami isteri yang rukun.
Namun, semua itu hanya hiburan belaka bagi perbuatan mengkhianati kasih di antara mereka.
Dalam hati kecilnya dia sudah merasa menyesal mengapa dia tergesa-gesa mengambil keputusan memutuskan cintanya itu.
Padahal, dia tahu betapa Sui In amat mencintanya, dan demi cinta kasih mereka itu, bukan tidak mungkin dia akan dapat menuntun Sui In kembali ke jalan benar!
Kini, dari mulut gadis itu dia seperti mendengarkan suara hatinya sendiri yang setiap kali membuatnya menyesal.
"Sudahlah, aku merasa bersalah kepada Sui In. Akan tetapi, nona muda, jangan harap orang lain akan dapat membunuhku. Kalau Cu Sui In sendiri yang datang, aku akan menyerahkan nyawaku tanpa melawan. Kalau ia mewakilkannya kepada orang lain, jangankan engkau, biar andaikata See-thian Coa-ong sendiri yang datang, aku akan melawan dan membela diri."
"Bagus, akupun bukan orang yang suka membunuh lawan yang tidak mau membela diri. Hayo, cabut senjatamu dan sudah cukup banyak kita bicara!"
Bentak Lili dengan sikap garang.
Bhok Cun Ki tersenyum dan diapun mencabut pedangnya.
Nampak sinar kehijauan berkelebat ketika dia mencabut pedang Ceng-kong-kiam (Pedang Sinar Hijau) yang merupakan sebatang pedang pusaka dari Butong-pai.
Hanya murid yang sudah berjasa mengangkat nama baik Butong-pai sajalah yang berhak menerima hadiah sebatang senjata pusaka Butong-pai dan Bhok-ciangkun ini seorang di antara para pendekar Butong-pai yang tangguh.
"Aku sudah siap, nona Lili!"
Katanya.
"Lihat pedang!"
Lili membentak dan iapun sudah menggerakkan pedangnya yang berbentuk ular putih itu, mulai dengan serangannya.
Karena ia sudah tahu bahwa lawannya adalah seorang ahli pedang Butong-pai yang berjuluk Sin-kiam-eng, (Pendekar Pedang Sakti) dan menurut sucinya amat lihai, begitu menyerang ia sudah menggunakan jurus yang amat dahsyat.
Pedangnya berubah menjadi sinar putih meluncur bagaikan anak panah cepatnya menusuk ke arah tenggorokan lawan.
"Wirr.... sing.......!"
Pedang itu berdesing ketika sasarannya luput karena Bhok Cun Ki sudah mengelak dengan cepat, lalu dari samping pedangnya berubah menjadi sinar hijau menyambar ke arah mata kiri Lili!
Serangan balasan inipun dahsyat, cepat dan mengandung tenaga sehingga pedangnya berdesing nyaring.
Namun, Lili sudah mengelak dengan merendahkan tubuhnya, kemudian kaki kirinya mencuat ke arah pusar lawan, disusul pedangnya menyambar dari kanan ke kiri membabat leher!
"Wuuuutttt.........!"
Kembali Bhok-ciangkun menghindarkan diri dari serangan dahsyat itu dengan meloncat ke belakang, dengan amat cepatnya Lili sudah meloncat ke depan, menyusulkan serangan lanjutan yang makin hebat.
Pedangnya bagaikan seekor ular meluncur dibarengi tubuhnya yang merendah, pedang itu menusuk ke arah kedua lutut kaki lawan secara bertubi!
Seolah-olah ada banyak sekali ular yang menyerang dan mematuk ke arah lutut dan kalau sekali saja lutut itu terkena patukan pedang ular, tentu Bhok-ciangkun akan roboh!
Namun, Bhok-ciangkun adalah seorang pendekar pedang yang sudah banyak pengalamannya bertanding dengan pedang.
Dalam pengalamannya sebagai seorang pendekar pedang, sudah banyak dia bertanding melawan orang-orang dari berbagai golongan.
Tentu saja dia tidak mudah dikalahkan begitu saja dan dia sudah melihat bahayanya serangan yang dilakukan gadis itu ke arah kedua lututnya.
Dengan ringan sekali tubuhnya meloncat ke atas, berjungkir balik dan turun ke belakang Lili dan membalas dengan serangan pedangnya yang diputar dengan cepatnya.
Dia mulai memainkan jurus-jurus ilmu pedang Butong-pai yang indah dan kuat, juga amat cepat sehingga pedangnya lenyap berubah menjadi sinar hijau yang bergulung-gulung!
Lili terkejut juga melihat kehebatan ilmu pedang lawan.
Iapun tidak mau kalah dan ia memainkan pedangnya dengan gerakan cepat sehingga pedangnya lenyap bentuknya, berubah menjadi sinar putih yang bergulung-gulung.
Kadang-kadang, kedua gulungan putih dan hijau itu retak dan putus, ketika sepasang pedang itu bertemu di udara, menimbulkan percikan bunga api dan mengeluarkan bunyi berkerontang nyaring.
Keduanya merasa tergetar tangan kanan masing-masing, maka tahulah mereka bahwa lawan memiliki tenaga yang tangguh dan keadaan mereka berimbang.
Namun, setelah lewat limapuluh jurus, mulailah sinar putih itu terkurung tertekan oleh sinar hijau.
Bagaimanapun juga ilmu pedang yang dimainkan Bhok Cun Ki memang hebat sekali.
Pula, dia mempunyai banyak pengalaman bertanding, jauh lebih banyak dibandingkan lawannya.
Lili mulai terdesak!
Gadis yang keras hati dan pemberani ini maklum bahwa kalau ia hanya memainkan ilmu pedang biasa saja hanya mengandalkan kecepatan dan kekuatan, ia takkan menang melawan ilmu pedang lawan yang demikian hebatnya.
Tiba-tiba ia mengeluarkan suara mendesis nyaring dan gerakan pedangnya berubah.
Bukan hanya gerakan pedangnya yang berubah, melainkan juga gerakan tubuhnya.
Tubuh gadis itu, kedua lengannya, dan gerakan pedang itu kini mengandung gerakan seekor ular!
Berlenggang lenggok dan menyerang dari bawah dengan tusukan, bacokan seperti ular memagut, disertai desis mengerikan seperti seekor ular cobra yang marah!
Bhok Cun Ki terkejut juga menghadapi serangan aneh yang amat berbahaya itu.
Tahulah dia bahwa gadis itu mengeluarkan inti dari ilmu silatnya yang bersumber dari gerakan ular dan ilmu ini yang membuat nama besar See-thian Coa-ong ditakuti orang.
Gadis itu memang lihai dan berbahaya sekali.
Bukan hanya pedang putih itu yang berbahaya, menyambar-nyambar dari bawah bagaikan seekor ular beracun pembawa maut, akan tetapi juga tangan kirinya membantu dengan serangan yang tidak kalah ampuhnya.
Tangan itu menotok, mencengkeram dan gerakannya seperti seekor ular pula.
Dihujani serangan dari bawah seperti itu, keadaannya menjadi berbalik.
Kalau tadi Bhok Cun Ki berhasil mendesak lawan, kini dia lebih banyak mengelak dan menangkis, dan segera terdesak karena dia harus mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaian untuk melindungi dirinya.
Dia merasa seolah-olah dikeroyok banyak ular beracun.
Akan tetapi setelah belasan jurus lewat dan dia terdesak semakin hebat, teringatlah dia, akan pertandingan ujian dalam permainan pedang melawan Sin Wan pagi tadi.
Pemuda itu berkata bahwa lawan ular yang tangguh adalah burung!
Mengertilah kini Bhok Cun Ki bahwa secara tidak langsung pemuda itu telah memberi petunjuk kepadanya bagaimana harus melayani gadis ini!
Diapun mengerahkan tenaga, mengeluarkan bentakan nyaring dan tiba-tiba tubuhnya meloncat ke atas, lalu menukik turun dan menyerang dari atas dengan pedangnya!
Lili yang kini terkejut dan cepat menangkis, akan tetapi Bhok Cun Ki sudah melanjutkan serangkaian serangannya yang membuat gadis itu repot.
Ketika Lili melempar diri ke atas tanah bergulingan dan membentuk serangan baru dari bawah, kembali tubuh Bhok-ciangkun melompat tinggi ke atas.
Kini dia tidak mau menangkis atau mengelak ke samping, melainkan menghadapi serangan gadis itu dengan loncatan tinggi kemudian ketika tubuhnya turun dia menyambar bagaikan seekor rajawali menyerang seekor ular.
Kembali keadaan menjadi berbalik, Lili yang kini terdesak karena bagaikan seekor ular menghadapi burung yang dapat terbang, ia tidak diberi kesempatan menyerang lawan, sebaliknya lawan menghujankan serangan yang dimulai dari atas.
Hal ini membuat Lili menjadi penasaran dan marah sekali.
Ketika untuk kesekian kalinya Bhok Cun Ki mendesaknya dengan serangan bertubi, ia mengeluarkan teriakan nyaring, pedangnya diputar cepat melindungi tubuhnya dan tangan kirinya mendorong dengan pengerahan tenaga dari ilmu tok-coa-kun (silat ular beracun).
Dorongan ini hebat sekali karena dari telapak tangan kiri itu keluar uap kehitaman.
Itulah pukulan beracun yang ganas!
"Haiiiitttt!"
Bhok Cun Ki yang mengenal pukulan maut, segera meloncat lagi ke atas, lalu menukik bagaikan seekor burung garuda.
Pada saat itu, dia melihat sinar hitam meluncur ke arah dadanya dari arah kiri.
Dia tahu bahwa dia diserang oleh senjata rahasia yang berbahaya.
Karena tubuhnya sedang berada di udara dan tidak dapat mengelak, dia mengerahkan tenaga pada pedangnya dan menangkis senjata rahasia yang hanya berupa sinar hitam itu.
"Cringgg!"
Dan sinar hitam itu tertangkis, meluncur ke bawah, ke arah Lili.
"Awas.......!!"
Bhok Cun Ki berseru memperingatkan, namun terlambat.
Lili sama sekali tidak mengira bahwa akan ada senjata rahasia meluncur demikian cepatnya oleh tangkisan pedang lawan yang berada di atas sehingga sebelum ia tahu apa yang terjadi, tiba-tiba ia merasa nyeri pada pundak kirinya dan senjata rahasia itu telah menancap di pundak.
Tubuhnya seketika menjadi lemas dan matanya berkunang, lalu gelap!
Lili roboh pingsan.
"Pengecut curang!"
Teriak Bhok Cun Ki dan tubuhnya sudah melayang ke arah dari mana datangnya senjata rahasia tadi.
Namun dia tidak menemukan orangnya.
Agaknya penyerang gelap itu telah melarikan diri dengan cepat.
Karena cuaca mulai remang-remang, Bhok Cun Ki cepat menghampiri Lili.
Gadis itu rebah miring dan ketika dia memeriksanya, dia terkejut.
Sebatang paku hitam menancap di pundak itu.
Paku itu masuk semua ke dalam daging pundak, dan panjang paku itu sepanjang jari kelingkingnya.
Paku beracun!
Hal ini dapat dilihatnya dengan seketika, melihat betapa sekitar luka itu nampak tanda hitam kebiruan.
Cepat dia menotok beberapa bagian dari pundak itu setelah merobek bajunya, menghentikan jaian darah agar racun paku itu tidak menyebar luas, lalu dicabutnya paku itu.
Karena dia tidak membawa obat, maka dipanggulnya tubuh gadis yang masih pingsan itu dan dibawanya lari cepat kembali ke kota raja.
Tentu saja para penjaga terkejut melihat panglima itu memanggul seorang gadis yang pingsan dan mereka cepat memberi pertolongan, menyediakan kereta sehingga Bhok-ciangkun, dapat membawa Lili pulang tanpa menarik banyak perhatian.
Kedatangan Bhok-ciangkun disambut dengan girang oleh Ci Han dan Ci Hwa, akan tetapi mereka juga terheran-heran melihat ayahnya memondong tubuh seorang gadis yang bukan lain adalah Lili, gadis yang hendak membunuhnya!
"Ayah, kenapa ayah membawa siluman ini ke sini?"
Tanya Ci Hwa.
"Apa yang terjadi, ayah,"
Tanya Ci Han.
Sin Wan yang juga berada di situ, tidak bertanya karena dia sudah mengetahui segalanya.
Dia sudah berjanji kepada Ci Hwa untuk melindungi Bhok-ciangkun agar tidak sampai celaka ditangan Lili.
Oleh karena itu, sebelum Bhok-ciangkun berangkat, dia telah mendahului naik mendaki bukit Bambu Naga dan mengambil jalan memutar sambil bersembunyi, kemudian dia menyembunyikan diri di balik semak belukar di puncak.
Karena itu, dia melihat pertemuan antara Bhok Cun Ki dan Lili, bahkan mendengarkan semua percakapan di antara mereka.
Maka tahulah dia urusan pribadi apa yang ada antara Bhok Cun Ki dan Bi-coa Sianli Cu Sui In.
Diam-diam dia merasa terharu dan kasihan kepada mereka berdua.
Cinta antara pria dan wanita merupakan perpaduan dari sorga dan neraka.
Kalau berkembang dan berhasil baik membuat keduanya merasa seperti di sorga, sebaliknya kegagalan cinta membuat orang merana seperti tersiksa di neraka!
Kemudian, tanpa berani memperlihatkan diri Sin Wan melihat mereka berdua bertanding.
Dia hanya siap untuk melindungi Bhok-ciangkun, kalau sampai panglima itu terancam bahaya dan diam-diam diapun mengambil keputusan untuk mencegah seandainya Lili yang kalah dan terancam maut.
Kemudian, selagi Bhok-ciangkun mempergunakan siasat seperti yang dimaksudkannya ketika dia dan panglima itu bertanding pedang, yaitu dengan cara berlompatan mengambil seekor burung menghadapi ular, dan ketika panglima itu sudah dapat mendesak lawan, dia melihat senjata rahasia yang meluncur ke arah Bhok-ciangkun itu.
Akan tetapi dari tempat dia bersembunyi, tidak mungkin menolong panglima itu karena senjata rahasia itu meluncur dari arah yang berlawanan dari tempat dia bersembunyi!
Dan dia melihat betapa Bhok-ciangkun berhasil menangkis senjata kecil itu dengan pedang, dan senjata rahasia itu bahkan melukai Lili!
Dengan cepat, melalui jalan memutar, Sin Wan lari ke tempat dari mana senjata itu datang.
Akan tetapi karena dia harus mengambil jalan memutar, dia terlambat dan tidak dapat menemukan penyerang gelap itu.
Ketika dia melihat Bhok-ciangkun menolong Lili dan memondong gadis yang pingsan itu, menuju ke kota raja, dia mendahului dan kepada Ci Hwa dan Ci Han dia hanya menceritakan bahwa Bhok-ciangkun dalam keadaan selamat dan dapat mengalahkan Lili.
"Cepat, ambilkan peti obat!"
Kata Bhok-ciangkun kepada kedua orang anaknya sambil memondong tubuh Lili yang masih pingsan ke dalam kamar.
Sin Wan tidak ikut masuk, melainkan masuk ke dalam kamarnya sendiri dan termenung.
Dia ikut terharu dengan peristiwa itu dan tidak ingin mencampuri.
Betapapun juga, dia semakin kagum kepada Bhok Cun Ki.
Sungguh seorang pendekar yang bijaksana, pikirnya.
Gadis itu jelas datang, untuk membunuhnya dan kini gadis itu pingsan karena senjata rahasia orang lain.
Namun, Bhok Cun Ki bahkan menolongnya dan membawanya pulang untuk mengobatinya!
Jarang terdapat orang bijaksana dan budiman seperti panglima itu.
Bhok Cun Ki sibuk mengobati Lili .
Dua orang anaknya hanya menonton dengan alis berkerut.
Mereka merasa penasaran sekali.
Gadis liar itu telah menghina mereka, mengalahkan mereka, bahkan mengancam hendak membunuh ayah mereka.
Akan tetapi kini ayah mereka malah membawa gadis yang terluka itu pulang untuk diobati!
Bhok Cun Ki mencuci bersih luka itu, kemudian mengurut bagian pundak dan memaksa darah menghitam keluar dari luka di pundak.
Setelah itu, ditempelkannya obat penghisap racun berupa koyok (obat tempel) putih yang tebal, dan dibalutnya pundak itu.
Semua ini dia kerjakan sendiri karena kedua orang anaknya segan untuk membantu.
Lili mengeluh dan membuka kedua matanya.
Sejenak ia seperti nanar dan bingung, akan tetapi ia bangkit duduk dan menggigit bibir ketika terasa nyeri pada pundaknya.
Ia memandang ke arah pundak kirinya, alisnya berkerut melihat betapa baju di pundaknya robek dan nampak kulit pundaknya telanjang, kini sudah terbalut kain putih.
Ia menoleh dan melihat Bhok Cun Ki duduk di depannya, juga dua orang anak panglima itu berada di kamar.
Melihat ia duduk di atas pembaringan di sebuah kamar, Lili segera teringat.
Ia terkena serangan senjata rahasia di pundaknya dan ia roboh di puncak bukit itu, kenapa ia tahu-tahu berada di kamar ini?
Melihat obat berserakan di atas meja, iapun tahu bahwa tentu ia telah diobati oleh Bhok Cun Ki!
"Engkau.....
manusia curang!
Pengecut!
Engkau menyerangku dengan senjata rahasia!
Dan engkau membawaku ke sini!
Sungguh engkau telah menghinaku!!"
"Tenanglah, nona Lili. Bukan aku yang menyerangmu dengan senjata rahasia. Lihatlah, benda ini yang mengenai pundakmu!"
Dia mengeluarkan paku hitam dari dalam saku bajunya, menyerahkannya kepada Lili. Gadis itu menerimanya, menyimpan dalam lipatan bajunya.
"Akan kuketahui kelak siapa pemilik paku ini. Tentu komplotanmu yang sengaja menyerangku secara curang."
"Nona Lili, engkau terlalu memandahg rendah kepadaku!"
Kata Bhok Cun Ki dengan alis berkerut.
"Engkau tahu benar bahwa dalam pertandingan tadi, aku tidak berada di pihak yang kalah atau terdesak. Paku itu ditujukan kepadaku, menyerangku dan aku yang sedang berada di atas, menangkisnya dengan pedang. Paku itu melesak dan mengenai pundakmu."
"Bhok Cun Ki, kalau begitu, kenapa engkau membawaku ke sini? Jangan kaukira perbuatanmu ini akan membuat aku berhutang budi kepadamu. Aku tetap akan menantangmu mengadu nyawa lagi setelah sembuh lukaku!"
Lili berkeras.
"Nona, jangan pergi dulu, lukamu belum sembuh. Atau, kalau engkau berkeras hendak pergi, bawalah obat ini untuk menggantikan koyok yang menyedot racun dari lukamu itu,"
Kata Bhok-ciangkun melihat gadis itu hendak melangkah pergi.
"Dan jangan lupa, ini pedangmu!"
Dia menyodorkan pedang dan buntalan obat.
Lili cemberut, tangan kanannya menyambar pedang ular putih dan diselipkan di pinggang, kemudian direnggutnya balutan pundaknya dengan kasar sehingga balutan itu terlepas dan obat koyok itupun jatuh dari pundaknya.
"Aku tidak membutuhkan pertolonganmu. Aku tidak minta kau obati!"
Katanya sambil menahan rasa nyeri karena luka itu berdarah lagi setelah koyok dan balutannya ia renggut lepas dan ia buang.
"Kelak aku akan mencarimu lagi untuk melanjutkan pertandingan sampai seorang di antara kita menjadi mayat!"
Setelah berkata demikian, Lili membalikkan tubuhnya dan sambil menahan rasa nyeri, iapun melarikan diri meninggalkan gedung keluarga Bhok.
Bhok-ciangkun tidak mengejar, dan dia menjatuhkan diri duduk di atas kursi dengan wajah yang muram sekali.
Isterinya masuk dari ruangan belakang dan segera menghampiri suaminya.
"Apakah yang terjadi? Aku mendengar dari para pelayan bahwa engkau pulang memondong seorang gadis yang terluka dan pingsan."
Bhok Cun Ki menggeleng kepala. Tidak ada apa-apa. Ia seorang gadis yang terkena paku beracun dan tadi aku menolongnya."
"Gadis itu sombong sekali ibu,"
Kata Ci Hwa.
"Ia ditolong malah marah-marah dan pergi."
"Siapa sih ia?"
Tanya Nyonya Bhok Cun Ki yang berwajah cantik dan berwatak lembut itu. Ci Hwa dan Ci Han memandang kepada ayah mereka, dan Bhok Cun Ki, berkata.
"Kami tidak mengenalnya. Sudahlah, jangan dipikirkan lagi gadis itu."
Dengan isyarat pandang matanya, Bhok Cun Ki menyuruh kedua orang anaknya pergi.
Dua orang muda itupun keluar dari kamar meninggalkan ayah ibu mereka.
Ci Hwa mencari Sin Wan di kamarnya, akan tetapi pemuda itu tidak berada di sana, juga tidak berada di mana-mana dalam gedung itu.
Untung bagi Lili bahwa malam itu cuaca amat gelapnya dan udara yang mendung membuat orang segan keluar rumah.
Jalan-jalan sunyi sehingga Lili yang bajunya robek di bagian pundak, hanya ditutupi dengan saputangan lebar dan tangan kanan, tidak menarik perhatian banyak orang.
Juga ketika ia memasuki rumah penginapan besar melalui pintu samping, para penjaga tidak begitu memperhatikannya sehingga ia dapat memasuki kamarnya di rumah penginapan terbesar di kota raja itu dengan aman.
Setibanya di dalam kamar, Lili tidak menahan-nahan lagi rasa nyeri di pundaknya dan iapun merintih kesakitan.
Lalu ia menyalakan lampu penerangan, ditambah beberapa batang lilin, dan memeriksa luka di pundaknya di depan sebuah cermin.
Hemm, luka beracun, pikirnya.
Sebagai murid See-thian Coa-ong yang mempelajari penggunaan bermacam racun, terutama racun ular dan binatang berbisa lainnya, ia segera mengetahui bahwa luka di pundaknya itu mengandung racun bunga yang cukup berbahaya.
Untung bahwa racun itu tidak menjalar ke dalam, juga sebagian besar racun telah disedot oleh koyok yang dipasangkan Bhok Cun Ki dan yang tadi dibuangnya.
SELAGI ia hendak mengobati lukanya dengan obat yang berada dalam bekalnya, tiba-tiba terdengar suara di luar daun jendela kamarnya.
"Lili, bukalah jendela ini, biarkan aku masuk. Aku ingin bicara denganmu."
Tangan kanan Lili meraba gagang pedangnya, dan matanya terbelalak. Suaranya terdengar agak gemetar, bukan karena takut melainkan karena tegang ketika ia bertanya.
"Siapa....? Siapa di luar jendela itu?"
"Aku yang berada di sini, Lili. Aku Sin Wan......"
"Sin Wan......?"
Wajah itu berubah menjadi berseri, pandang mata yang tadinya berharap-harap cemas itu bersinar-sinar dan dengan tangan kanan yang agak menggigil Lili membuka daun jendela yang lebar itu.
Sesosok bayangan berkelebat masuk melalui jendela ke dalam kamar dan Sin Wan menutupkan kembali daun jendela itu.
"Sin Wan.......! Akhirnya kita jumpa juga....... aih, betapa rinduku kepadamu......"
Lili berseru perlahan dan iapun merangkul leher pemuda itu dengan lengan kanannya karena lengan kirinya akan membuat pundaknya nyeri sekali kalau ia gerakkan.
Sin Wan terkejut.
Tak disangkanya dia akan disambut begini mesra dan penuh sukacita, juga penuh keharuan oleh gadis liar ini.
Akan tetapi dia teringat akan pertemuannya dahulu dengan Lili.
Gadis ini pernah dengan terus terang mengaku cinta kepadanya, akan tetapi juga benci.
Bahkan ketika Kui Siang meninggalkannya, Lili muncul dan mengajaknya untuk hidup bersamanya.
Kini, melihat sikapnya, tahulah dia bahwa gadis liar ini tak pernah melupakannya dan masih mencintanya.
Sejenak Sin Wan membiarkan Lili melepas kerinduan dengan merangkul dan menyandarkan muka ke dadanya.
Kemudian, perlahan-lahan dia melepaskan rangkulan gadis itu dan berkata.
"Lili, aku datang untuk bicara denganmu."
Lili melepaskan diri dan kini ia menatap wajah pemuda itu dengan sinar mata bercahaya dan kedua pipi kemerahan.
Wajahnya berubah menjadi segar dan berseri walaupun pundaknya masih terasa nyeri.
Sin Wan kini baru melihat bahwa pundak kiri gadis itu tidak tertutup baju dan ada luka kehitaman di situ.
"Ah, engkau terluka? Luka beracun pula itu, Lili. Mari kubantu engkau mengobatinya."
Lili tersenyum dan senyumnya masih semanis dulu.
"Aku tahu engkau memang baik sekali kepadaku, Sin Wan. Tak pernah kulupakan betapa engkau dahulu juga menolongku dan mengobati luka keracunan di punggung dan pundakku."
Sin Wan memeriksa luka itu. Memang hanya luka kecil saja, bekas tusukan paku. Akan tetapi racun yang dibawa paku itu kini jauh lebih hebat dan berbahaya.
"Aku membawa bekal obat penawar racun, Sin Wan. Biar kuambil dari buntalan itu."
"Nanti dulu Lili. Kulihat racun dalarn lukamu ini amat berbahaya. Semua sisa racun harus dikeluarkan dulu, baru diberi obat agar engkau tidak terancam bahaya yang mungkin timbul kelak karena pengaruh sisa racun,"
Kata Sin Wan.
"Engkau duduklah bersila di atas pembaringan itu."
Bagaikan seorang anak yang amat penurut, dengan senyum penuh kegembiraan, Lili duduk di atas pembaringan dan bersila.
Sin Wan juga duduk bersila di belakangnya dan pemuda ini lalu menempelkan tangan kirinya di punggung bawah pundak kiri gadis itu, mengerahkan tenaga sakti dan menyalurkannya melalui lengan kirinya.
Dari mendiang Pek-mau-sian (Dewa Rambut Putih), seorang di antara Tiga Dewa gurunya, Sin Wan mewarisi ilmu pengobatan dan di dalam ilmu Sam-sian Sin-ciang (Tangan Sakti Tiga Dewa) terdapat penggunaan sinkang yang menyedot amat kuatnya.
Kini dia mengerahkan tenaga itu untuk mendorong keluar hawa beracun yang masih tersisa di sekitar pundak kiri.
Lili merasakan getaran hawa yang kuat dan hangat itu memasuki pundak lewat telapak tangan Sin Wan.
Ia tersenyum, memejamkan kedua matanya dan merasa suatu kebahagiaan yang amat ia rindukan menyelinap ke dalam hatinya.
Sejak dahulu ia kagum kepada pemuda ini, sejak masih kanak-kanak.
Ketika mereka masih kanak-kanakpun mereka pernah bertemu dan berkelahi.
Sucinya, Cu Sui In yang ketika itu masih menjadi gurunya, sedang bertanding melawan Sam-sian, dan ia bertanding melawan Sin Wan.
Akan tetapi, ia kalah dan Sin Wan menangkapnya, menelungkupkannya di atas pangkuan Sin Wan dan anak laki-laki itu menghukumnya dengan tamparan pada pinggulnya sampai sepuluh kali!
Teringat akan semua itu, timbul kemesraan yang mendalam di hati Lili.
Teringat pula ia ketika mereka sudah dewasa dan bertemu kembali, Sin Wan juga menolongnya seperti ini, bahkan pemuda itu menggunakan mulutnya untuk menghisap luka-luka di punggungnya dan pundaknya untuk mengeluarkan racun, dan betapa setengah hari, lamanya ia tertidur dalam rangkulan Sin Wan, bersandar pada dadanya.
Betapa mesranya!
Kemudian, ia ingat betapa ia pernah membalas hukuman tamparan pada pinggulnya itu dengan penuh kemarahan, karena menang kekalahannya di waktu ia masih kecil itu tak pernah dapat ia lupakan.
Ia menangkap Sin Wan, menyiksanya, mengikatnya di hutan sehingga nyaris pemuda itu diterkam harimau.
Akan tetapi ia mencintanya!
Ia mencinta Sin Wan maka ia tidak membiarkan pemuda itu mati diterkam harimau.
Ia menyelamatkannya dan membebaskannya.
Dan kini, pemuda yang pernah disiksanya dan hampir dibunuhnya itu kembali menolongnya, mengobati dan mengusir racun keluar dari lukanya.
Sebetulnya, ia sendiri dapat menyembuhkan luka itu.
Akan tetapi ia membiarkan Sin Wan yang mengobatinya dan ia merasa betapa kemesraan menyusup di hatinya.
Tak lama kemudian luka di pundak itu mengeluarkan cairan menghitam.
Sin Wan terus mendorong dengan getaran hawa saktinya sampai semua cairan menghitam habis keluar.
Setelah yang keluar darah merah, barulah dia menghentikan pengerahan sinkangnya dan dia menaruh obat bubuk putih milik Lili, ditaburkannya pada luka itu.
Obat bubuk putih itu manjur bukan main karena seketika luka kecil itu tertutup dan kering.
Tidak perlu dibalut lagi.
"Sekarang bahaya sudah lewat,"
Kata Sin Wan sambil meloncat turun dari atas pembaringan.
Lili juga turun dan ia mengeluarkan sehelai baju baru, menyelinap masuk ke dalam kamar mandi yang terdapat di kamar besar itu.
Tak lama kemudian, Sin Wan melihat gadis itu keluar, bukan hanya telah mengenakan pakaian bersih, bahkan jelas bahwa ia menggunakan kesempatan itu untuk membereskan gelung rambutnya dan menambah bedak pada wajahnya yang cantik!
Lili tersenyum kepadanya.
"Duduklah, Sin Wan dan sekarang mari kita bicara. Bagaimana engkau tahu aku berada di sini dan apa yang akan kaubicarakan dengan aku?"
"Lili, aku melihat engkau bertanding dengan Bhok-ciangkun di puncak bukit Bambu Naga tadi."
"Ehhh?"
Lili terkejut dan mengamati wajah pemuda itu penuh selidik.
"Dan engkau melihat siapa yang telah menyerang dengan paku beracun tu?"
Sin Wan menggeleng kepala.
"Sudah kucoba untuk mengejar, akan tetapi tidak berhasil. Aku tidak tahu siapa yang melakukan kecurangan itu."
"Siapa lagi kalau bukan kawan Bhok Cun Ki sendiri yang hendak berlaku curang?"
"Jangan engkau menuduh seperti itu, Lili. Aku mengenal siapa Bhok Cun Ki itu dan dia adalah seorang gagah yang tidak akan sudi berbuat curang."
"Huh, kau tidak tahu. Dia seorang yang palsu, perayu dan..... sudahlah, untuk apa kita bicara tentang dia? Tentu engkau datang mengunjungiku untuk bicara tentang diri kita, bukan? Apakah engkau sudah bersedia untuk bertualang berdua denganku, Sin Wan? Aku selalu merindukanmu, dan hidup akan terasa bahagia sekali kalau engkau dapat selalu mendampingiku."
Sin Wan menarik napas panjang.
Dia merasa iba kepada Lili.
Seorang gadis yang sebetulnya memiliki dasar watak yang baik dan gagah.
Sayang karena lingkungan, maka ia menjadi seorang gadis kang-ouw yang ganas dan seperti liar tak terkendali.
Diapun tahu bahwa di lubuk hatinya, dia merasa sayang dan kagum kepada gadis ini.
Oleh karena itulah maka dia mencari Lili, untuk menyadarkannya, agar gadis itu tidak melanjutkan niatnya memusuhi dan mengadu nyawa dengan Bhok Cun Ki.
"Lili, aku suka dan kagum kepadamu. Aku tahu engkau seorang gadis yang gagah perkasa dan baik hati. Akan tetapi, aku masih terikat oleh banyak tugas penting sehingga belum sempat mengunjungimu. Malam ini aku sengaja mencarimu justru untuk bicara tentang Bhok-ciangkun."
Lili mengerutkan alisnya dan sepasang mata yang indah itu mengerling tajam, cuping hidungnya agak kembang kempis menunjukkan bahwa hatinya terasa tegang.
"Hemm, apa lagi yang dapat dibicarakan tentang laki-laki itu?"
Katanya dengan suara ketus.
"Lili, aku mengharapkan sungguh-sungguh agar engkau menghentikan permusuhanmu dengan dia. Hentikanlah memusuhinya karena dia bukanlah laki-laki seperti yang kausangka. Dia seorang pendekar dan panglima yang bijaksana dan baik budi. Engkau keliru sekali kalau memusuhinya, apa lagi berniat hendak membunuhnya."
Makin dalam kerutan di antara alis mata gadis itu.
"Sin Wan, apamu sih Bhok Cun Ki itu maka engkau hendak melindunginya sedemikian rupa?"
"Bukan apa-apa, hanya kenalan saja."
"Kalau begitu, engkau belum mengenal betul siapa dia! Terus terang saja, aku hendak membunuhnya untuk melaksanakan perintah dari suciku, untuk membalaskan dendam sakit hati suci. Engkau tidak tahu apa yang telah dilakukannya terhadap suci. Dia telah menghancurkan kebahagiaan hidup suciku, tahu?"
"Aku tahu, aku sudah mendengarnya dan aku dapat mengerti dan menduga apa yang telah terjadi. Akan tetapi dia bukan seorang laki-laki yang sengaja hendak merusak kehidupan sucimu. Aku tahu bahwa mereka tadinya saling mencinta dan sudah terjanji akan hidup bersama sebagai suami isteri. Akan tetapi, kemudian Bhok Cun Ki mendengar bahwa kekasihnya itu adalah seorang tokoh sesat, maka sebagai seorang pendekar dia merasa tidak berjodoh dan tidak mungkin menjadi suami isteri dengan sucimu. Jadi, dia memisahkan diri bukan karena bosan atau tidak mencinta lagi. Aku yakin dia masih mencinta sucimu dan hanya karena keadaan memaksanya, dia meninggalkannya."
"Hemm, memang enak saja engkau berpendapat seperti itu, Sin Wan. Engkau tidak merasakan penderitaan yang dialami suciku selama bertahun-tahun, bahkan engkau tidak melihatnya dia menderita. Akan tetapi, sejak aku masih kecil, aku sudah hidup didekat suci yang dahulu menjadi guruku, setiap hari aku melihat keadaannya, kedukaannya, penderitaan batinnya. Ia bahkan tidak mau lagi berdekatan dengan pria, apa lagi menikah. Padahal ia seorang wanita yang cantik, pandai dan memiliki segalanya. Sudah sepatutnya kalau ia mendendam kepada Bhok Cun Ki dan mengutus aku untuk membunuh laki-laki yang jahat itu!"
"Lili, engkau hanya diracuni dendam yang dikandung sucimu. Bhok Cun Ki sama sekali bukan orang jahat dan hal itu sudah terbukti jelas ketika dia bertanding denganmu. Kalau dia jahat, tentu engkau akan dianggap musuhnya yang berbahaya karena engkau hendak membunuhnya. Akan tetapi, seperti yang telah kulihat, dalam pertandingan itu dia selalu mengalah, bahkan ketika engkau terluka oleh senjata rahasia gelap itu, dia membawamu pulang dan berusaha mengobatinya. Kalau dia jahat, tentu dia mendapatkan kesempatan baik untuk membunuhmu, bukan malah menolongmu. Bukti itu saja sudah menyatakan bahwa Bhok Cun Ki adalah seorang pendekar."
Lili tersenyum mengejek, hatinya merasa tidak senang melihat sikap dan mendengar ucapan Sin Wan yang memuji-muji musuh besarnya.
"Boleh jadi Bhok Cun Ki seorang pendekar, akan tetapi dalam pandanganku, dia adalah seorang yang telah melakukan perbuatan jahat sekali terhadap suci. Sudah sepatutnya kalau suci menaruh dendam, dan karena suci sudah mewakilkan kepadaku, maka aku harus berusaha membunuhnya!"
"Tapi dia bukan lawanmu, Lili. Dia masih terlalu lihai bagimu dan engkau akan kalah."
"Aku tidak takut! Aku akan mengadu nyawa dengannya. Dia atau aku yang harus mati dalam pertandingan kami nanti!"
Kata Lili dengan suara yang tegas dan nekat.
Sin Wan mengerutkan alisnya.
Sedikit banyak dia sudah mengenal watak gadis yang liar dan ganas ini.
Lili bukan sekedar menggertak, akan tetapi semua ucapannya itu akan dilakukannya.
Diam diam dia merasa khawatir sekali.
Dia tidak menghendaki Bhok Cun Ki terbunuh oleh gadis liar ini, akan tetapi dia juga tidak ingin melihat Lili tewas.
"Lili kenapa engkau begini keras kepala dan bodoh? Tanpa memperdalam silatmu, bagaimana engkau akan mampu menandinginya? Engkau sudah kalah dan kalau hanya nekat maju lagi dan kalah lagi, bukankah hal itu amat memalukan? Sungguh tidak tahu malu kalau setelah berulang-ulang dikalahkan, masih nekat maju lagi dan dikalahkan lagi."
Akal Sin Wan memanaskan hati gadis itu berhasil. Sepasang pipi itu menjadi kemerahan dan sinar mata itu mencorong marah.
"Kalau aku melawannya lagi, aku tidak akan berhenti sebelum dia atau aku yang menggeletak mati menjadi mayat. Dia atau aku yang harus mati!"
"Hemm, itu namanya konyol! Kalau kita sudah tahu tidak akan menang dan akan mati akan tetapi kita nekat, itu berarti suatu kebodohan dan kematian itu adalah kematian yang konyol dan tidak ada artinya sama sekali. Lili, ingatlah, kalau engkau mati dalam pertandingan itu, lalu apa artinya? Engkau mati konyol dan tetap saja dendam sucimu tidak terbalas. Kematianmu itu hanya akan menambah kedukaan sucimu saja, juga kekecewaan bahwa engkau yang dipercaya ternyata tidak mampu melaksanakan tugas dengan baik."
Mendengar ucapan ini, Lili termenung, menundukkan mukanya dan alisnya berkerut, tanda bahwa ia berpikir. Lalu ia mengangkat mukanya memandang kepada Sin Wan.
"Sin Wan, kalau bukan engkau yang bicara tadi, tentu aku sudah membunuh pembicaranya. Akan tetapi, kupikir engkau benar juga dan aku kini menjadi bingung. Kalau menurut pendapatmu, lalu apa yang harus kulakukan?"
Agak lega rasa hati Sin Wan melihat perubahan sikap gadis itu.
"Lili, urusan antara Bhok Cun Ki dan sucimu itu adalah urusan yang amat pribadi, maka sebaiknya kalau sucimu sendiri yang maju membuat perhitungan dengan Bhok Cun Ki. Kalau demikian keadaannya, maka orang luar, siapapun dia, tidak berhak mencampuri. Pula, sucimu tentu memiliki kepandaian yang lebih tinggi darimu, maka kiranya ialah yang akan mampu menandingi Bhok Cun Ki. Andaikata engkau yang tetap diutus olehnya yang mewakilinya, sebelum engkau menantang Bhok Cun Ki, sebaiknya kalau engkau memperdalam lebih dahulu ilmu kepandaianmu agar jangan mati konyol begitu saja. Nah, bukankah usulku ini sehat dan dapat diterima? Dalam hal pertandingan mengadu ilmu dan mungkin mengadu nyawa, kita tidak boleh terdorong oleh hati panas. Hati boleh panas, akan tetapi kepala harus tetap dingin agar engkau dapat memikirkan siasat yang baik."
Lili mengangguk-angguk.
"Agaknya engkau benar, Sin Wan. Biarpun aku tidak takut mati, akan tetapi tentu saja tidak benar kalau aku nekat dan kematianku tidak ada artinya. Baiklah, ucapanmu menyadarkan aku akan kebodohanku, dan tidak akan menantang Bhok Cun Ki sebelum aku memperdalam ilmu-ilmuku. Aku menuruti permintaanmu, Sin Wan. Akan tetapi sebaliknya, engkaupun harus menuruti permintaanku."
"Permintaan apakah itu?"
"Pertama, engkau jangan mencampiri urusan antara suci dan Bhok Cun Ki, jangan melindungi Bhok Cun Ki........"
"Tentu saja aku tidak akan mencampuri. Sudah kukatakan, urusan itu amat pribadi dan Bhok-ciangkun sendiripun tidak mau dicampuri orang lain. Engkau melihat sendiri, ketika dia memenuhi tantanganmu, tidak ada seorangpun bersama dia. Aku sendiri hanya mengintai dengan sembunyi dan diluar tahunya."
"Bagus, dan sekarang permintaan ke dua. Kalau memang benar engkau tidak berpihak kepada Bhok Cun Ki, marilah engkau menemani aku bertualang di dunia persilatan, dan engkau membimbingku agar aku dapat memperdalam ilmu silatku. Sin Wan, sejak dulu aku cinta padamu dan hidupku akan berbahagia sepenuhnya kalau engkau mau mendampingi aku selamanya."
Sin Wan terkejut.
Gadis ini sungguh terbuka dan jujur bukan main.
Kiranya sukar mencari seorang gadis yang begini berterus terang mengatakan isi hatinya.
Ucapan itu tentu saja membuat dia merasa kikuk dan mukanya menjadi kemerahan.
"Aih, Lili, kenapa engkau bicara kembali soal itu? Sudah kukatakan bahwa aku masih mempunyai banyak tugas yang harus kuselesaikan, dan aku sama sekali belum memikirkan perjodohan "Sin Wan, bukankah itu hanya alasan saja? Kalau memang engkau tidak suka kepadaku, katakan terus terang agar aku tidak selalu mengharapkanmu!"
"Aku kagum dan suka kepadamu, Lili. Akan tetapi, untuk berjodoh, diperlukan perasaan yang lebih mendalam, lebih dari pada hanya kagum dan suka. Dan aku belum memikirkan hal itu, aku masih terikat oleh kewajiban. Bukankah engkau sendiripun masih terikat oleh tugas-tugasmu?"
"Aku siap untuk meninggalkan suhu dan suci kalau engkau mau hidup bersamaku, Sin Wan."
Sin Wan menggeleng kepalanya.
"Lili, kelahiran, perjodohan dan kematian berada ditangan Tuhan. Kalau kita memaksakannya maka hal itu akan tidak baik akibatnya. Kalau memang kita berjodoh, kelak tentu Tuhan akan mempertemukan kita. Gadis itu kini bangkit berdiri, matanya bersinar-sinar marah.
"Bagus, kiranya engkau hanya bermain mulut saja! Kalau memang tidak mau, katakan saja tidak mau! Aku tahu, engkau berpihak kepada Bhok Cun Ki, dan siapa tahu, engkau mungkin sudah jatuh cinta kepada puterinya yang cantik itu. Hemm, tentu saja engkau akan terjamin kalau menjadi mantu seorang panglima!"
"Lili, aku tidak........."
"Cukup! Engkau memualkan perutku. Pergi! Pergi dari sini dan jangan memperlihatkan mukamu lagi!"
Gadis itu menunjuk ke jendela, mengusirnya.
Sin Wan menghela napas, tidak merasa terhina oleh pengusiran itu karena dia sudah mengenal watak Lili yang keras dan aneh.
Diapun tanpa banyak cakap lagi lalu mengdampiri jendela, membuka daun jendela dan melompat keluar dengan gerakan ringan tanpa menimbulkan suara.
Lili berdiri termenung memandang jendela yang kosong, dan tanpa disadarinya, dua titik air mata keluar dari pelupuk matanya, jatuh ke atas sepasang pipinya.
Di lembah muara Sungai Kuning yang memuntahkan airnya ke teluk Pohai, terdapat beberapa bukit kecil.
Di atas puncak sebuah di antara bukit itu terdapat sebuah rumah gedung yang besar.
Inilah tempat tinggal seorang datuk persilatan yang terkenal di dunia kang-ouw sebagai datuk yang berkuasa di wilayah timur.
Datuk ini dijuluki Tung-hai-liong (Naga Lautan Timur) bernama Ouwyang Cin.
Datuk ini berusia enampuluh enam tahun, tubuhnya gendut bulat, kepalanya botak dan melihat tubuhnya orang tidak akan menyangka bahwa dia seorang ahli silat yang amat lihai.
Tung-hai-liong Ouwyang Cin sebetulnya peranakan Jepang.
Ayahnya seorang Cina Han, dan ibunya seorang Jepang aseli.
Akan tetapi, sejak kecil dia dididik oleh ayahnya sehingga dia tidak lagi kelihatan sebagai peranakan, melainkan sebagai seorang Han aseli, baik namanya, cara hidupnya dan kebudayaannya.
Hanya ilmu silatnya saja yang campur dengan ilmu silat dari Jepang, yang dia pelajari dari para pamannya, yaitu jagoan-jagoan samurai dari Jepang.
Ketika masih muda, Tung-hai-liong Ouwyang Cin adalah seorang petualang yang dengan perahu layarnya malang melintang di lautan timur.
Namanya terkenal sebagai bajak laut yang amat ditakuti, bahkan dia terkenal sampai ke Jepang karena seringkali dia membajak di perairan kepulauan Jepang.
Bahkan isterinyapun puteri seorang jagoan samurai yang takluk kepadanya, sehingga Ouwyang Cin mengenal banyak jagoan Samurai Jepang.
Dia menikah dengan gadis Jepang yang berwatak lembut itu, yang telah melahirkan seorang anak perempuan.
Biarpun Tung-hai-liong Ouwyang Cin seorang bajak laut yang hidup dalam kekerasan, namun ternyata dia amat mencinta isterinya.
Ketika puterinya berusia sepuluh tahun dan dia sendiri berusia limapuluh lima tahun, dia melepaskan perahunya dan tinggal di bukit lembah muara Huang-ho, tidak lagi berlayar menjadi bajak laut, akan tetapi mulai dikenal sebagai datuk wilayah timur.
Semua bajak laut yang malang melintang di teluk Pohai dan lautan timur, tunduk kepadanya dan menganggap dia sebagai datuk para bajak laut.
Puteri Ouwyang Cin bernama Ouwyang Kim, dan kini telah berusia duapuluh tahun.
Gadis ini selain cantik jelita dan mungil, wajahnya bulat dan kulitnya halus putih kemerahan.
Sikapnya lembut dan ramah sehingga ia nampak lemah.
Akan tetapi sesungguhnya, dibalik kelembutannya itu tersembunyi kekuatan yang dahsyat dan gadis ini lihai bukan main karena sejak kecil menerima gemblengan ayahnya.
Bahkan tingkat kepandaian gadis ini lebih tinggi dari pada tingkat kepandaian suhengnya yang bernama Maniyoko, pemuda Jepang yang masih keponakan mendiang ibunya dan juga menjadi murid ayahnya.
Demikianlah keadaan keluarga Ouwyang Cin.
Di dalam rumah gedung besar itu hanya tinggal dia dan isterinya, puterinya dan muridnya itu.
Jumlah pelayan jauh lebih banyak karena semua ada sepuluh orang pelayan untuk mengurusi rumah gedung besar itu dan empat orang penghuninya.
Pekerjaan Ouwyang Cin setiap harinya hanyalah menerima tamu-tamu, kebanyakan para bajak laut yang berkunjung untuk menghormat dan untuk menyumbangkan sebagian dari hasil bajakan mereka sebagai tanda bahwa mereka mengakui kepemimpinan datuk ini.
Juga banyak perampok pantai yang mengakuinya sebagai datuk pemimpin.
Waktu selebihnya dipergunakan Ouwyang Cin untuk mengurus perkebunan, peternakan dan juga beberapa buah perahu besar beserta para nelayannya yang mencari ikan di sepanjang muara.
Dari hasil semua ini, Ouwyang Cin terkenal sebagai seorang yang kaya raya.
Diapun tidak pernah melupakan latihan silat untuk puterinya dan muridnya atau keponakannya, bahkan dia sendiri tak pernah mengendurkan semangatnya berlatih silat karena dia maklum bahwa tanpa latihan, kemahiran akan cepat menurun, mengingat bahwa usianya semakin bertambah.
Maniyoko merupakan murid yang baik dan patuh kepada gurunya dan sudah seringkali Ouwyang Cin menyerahkan pekerjaan penting kepada muridnya ini sebagai wakilnya.
Jarang sekali Maniyoko gagal melaksanakan tugas sehingga gurunya semakin sayang dan percaya kepadanya.
Diam-diam Ouwyang Cin mengandung niat untuk menarik murid yang juga keponakan isterinya ini menjadi calon suami bagi puterinya.
Dia melihat dengan jelas betapa Maniyoko mencinta puterinya.
Hanya karena sikap Ouwyang Kim yang nampaknya tidak atau belum membalas cinta itulah yang membuat Ouwyang Cin masih belum dapat mengambil keputusan.
Dia terlalu sayang kepada puterinya untuk memaksanya dalam urusan apapun juga.
Pada suatu pagi yang cerah, di taman bunga belakang gedung milik keluarga Ouwyang, nampak seorang pemuda dan seorang gadis sedang berlatih silat.
Mereka merupakan pasangan yang sedap dipandang.
Pemudanya berusia duapuluh tujuh tahun, wajahnya tampan dan bulat, kulitnya halus putih dan pakaiannya yang ringkas itu rapi dan mewah.
Cambangnya hitam tebal tumbuh dari pelipis sampai ke dagu, terpelihara rapi.
Melihat pakaian dan rambutnya yang disisir rapi, ada kesan pesolek pada diri pemuda yang nampak tampan dan juga gagah karena cambangnya itu.
Tubuhnya agak pendek, hanya sedikit lebih tinggi dari pada gadis yang bertubuh mungil dan tidak tergolong tinggi itu.
Gadis itupun cantik jelita, wajahnya yang berbentuk bulat, kulitnya putih halus dan kemerahan seperti kulit seorang bayi.
Rambut dan alis matanya hitam sekali, membuat wajah itu nampak semakin putih.
Tubuhnya mungil kecil namun padat dan ramping dan ia nampak lembut dan lemah gemulai dalam gerakan silatnya.
Mereka adalah Maniyoko dan Ouwyang Kim.
Mereka sedang berlatih silat tangan kosong dan keduanya dapat bergerak dengan gesit bukan main.
Dasar gerakan ilmu silat mereka adalah ilmu silat dari selatan karena sebelum menjadi bajak laut, dahulu Ouwyang Cin adalah seorang ahli silat dari selatan yang sudah mempelajari banyak macam ilmu silat dari berbagai aliran, baik dari Siauw-lim selatan maupun dari Butong-pai.
Namun, ilmu silatnya berkembang dan bercampur dengan aliran lain, bahkan telah dikombinasikan dengan ilmu bela diri dari Jepang.
Dalam latihan, nampak gerakan Ouwyang Kim lebih cepat dan ringan, dan ia lebih banyak menyerang dari pada suhengnya (kakak seperguruannya).
Namun, gerakan Maniyoko yang mantap dan kokoh dapat membuat pemuda Jepang ini mampu menangkis atau mengelak dari semua serangan lawannya.
Akhirnya dia meloncat ke belakang dan berseru.
"Cukup, sumoi, desakanmu membuat aku repot sekali. Sungguh kecepatan gerakanmu luar biasa!"
Pemuda itu memuji dan pandang matanya penuh rasa kagum dan sayang kepada sumoinya. Ouwyang Kim tersenyum.
"Aih, engkau selalu memuji, suheng. Engkaupun sudah maju pesat, kedua tanganmu berat sekali."
"Sumoi, mari kita berlatih pedang. Gerakan di bagian akhir dari ilmu pedang kita sungguh masih terlalu sulit bagiku, belum juga aku mampu melakukannya dengan sempurna."
Pemuda itu mengambil dua batang pedang yang memang sudah dipersiapkan di situ.
Biasanya, mereka berlatih di dalam ruangan berlatih silat yang cukup luas di bagian belakang gedung.
Akan tetapi karena pagi hari yang cerah itu amat panas, mereka memilih untuk terlatih di taman, di udara terbuka.
"Suheng, memang ilmu pedang Raja Matahari yang dirangkai ayah merupakan ilmu pedang yang sukar. Ilmu pedang itu diambil dari jurus-jurus pilihan dari semua ilmu pedang yang pernah dipelajari ayah, dicampur dengan ilmu pedang dari Jepang yang menggunakan pedang samurai. Kalau kita belum pernah mempelajari ilmu-ilmu pedang dari ayah, tidak mungkin kita akan mampu menguasai Jit-ong-kiamsut (Ilmu Pedang Raja Matahari) ini dengan baik. Kita harus tekun dan bagian yang sukar harus kita latih terus menerus."
Mereka lalu berlatih ilmu pedang.
itu dan dalam hal ilmu yang baru ini, ternyata Ouwyang Kim jauh lebih unggul dan ialah yang memberi petunjuk-petunjuk kepada suhengnya.
Mereka berhenti berlatih ketika dari taman itu mereka melihat sebuah kereta memasuki pekarangan depan.
Mareka tertarik karena yang datang dengan kereta itu bukanlah para bajak atau golongan sesat yang biasa datang menghadap Ouwyang Cin.
Melihat muka-muka baru, kedua orang muda ini tertarik dan tanpa bicara mereka menghentikan latihan dan pergi ke depan untuk melihat siapakah para tamu yang datang berkunjung.
(Lanjut ke
Jilid 08) Asmara Si Pedang Tumpul (Seri ke 02 -Serial Si Pedang Tumpul) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 08 Ternyata kereta itu memuat sebuah peti dan tamunya berjumlah empat orang yang sedang diterima oleh pelayan penjaga yang seperti biasa menanyakan siapa mereka dan apa keperluan mereka datang berkunjung.
Ketika empat orang itu melihat munculnya Maniyoko dan Ouwyang Kim, yang tertua di antara mereka, berusia limapuluh tahun lebih bertubuh tinggi kurus, segera menghadapi mereka dan bertanya dengan sikap yang sopan.
"Kami mendengar bahwa locianpwe (orang tua gagah) Ouwyang Cin mempunyai seorang murid laki-laki dan seorang puteri yang keduanya gagah perkasa Apakah (anda berdua) murid dan puterinya itu?"
Ouwyang Kim yang wataknya pendiam dan halus itu tidak menjawab, membiarkan suhengnya yang menjawab. Maniyoko memandang kepada penanya itu dan diapun berkata dengan suara yang angkuh.
"Benar, Tung-hai-liong Ouwyang Cin adalah guruku, dan aku bernama Maniyoko. Sumoiku ini puteri suhu bernama Ouwyang Kim. Siapakah paman dan ada keperluan apa datang berkunjung?"
"Nama saya Coa Kun, seorang di antara Bu-tek Cap-sha-kwi (Tigabelas Setan Tanpa Tanding), bersama tiga orang rekan saya diutus oleh Yang Mulia untuk menghaturkan sedikit bingkisan berikut suratnya, kepada locianpwe Tung-hai-liong Ouwyang Cin."
Berbeda dengan Ouwyang Kim yang jarang meningggalkan rumahnya, Maniyoko sudah banyak terjun ke dunia kangouw dia mengenal banyak tokoh kangouw, maka tentu saja dia sudah pernah mendengar tentang Bu-tek Cap-sha-kwi.
Dia mengamati laki-laki tinggi kurus itu, melihat pedang yang tergantung di punggungnya dan diapun berkata.
"Ah, kalau begitu tentu kami berhadapan dengan Bu-tek Kiam-mo (Iblis Pedang Tanpa Tanding)!"
"Kongcu mempunyai penglihatan yang tajam sekali!"
Bu-tek Kiam-mo memuji.
"Mari, paman, kami antar paman sekalian menghadap suhu,"
Kata Maniyoko dengan gembira, apa lagi mendengar bahwa tokoh kangouw ini diutus oleh seseorang yang disebutnya Yang Mulia.
Tentu seorang tokoh besar.
Diapun menyuruh seorang pelayan penjaga untuk memberi laporan kepada gurunya bahwa empat orang tamu hendak menghadap diantar oleh dia dan sumoinya.
Coa Kun lalu menyuruh tiga orang rekannya untuk menggotong peti yang dimuat di dalam kereta, sedangkan kuda penarik kereta diserahkan kepada pelayan untuk dirawat.
Mereka berempat lalu mengikuti Maniyoko dan Ouwyang kim memasuki gedung, menuju ke ruangan tamu yang berada di bagian samping kanan.
Di dalam ruangan tamu yang mewah itu telah menanti Tung-hai-liong Ouwyang Cin yang duduk di kursinya dengan sikap yang agung seperti seorang raja yang hendak menerima orang-orang yang hendak menghadap.
Biarpun usianya sudah enampuluh enam tahun, tubuhnya gendut dan kepalanya semakin botak, namun datuk ini masih nampak mencorong dan berwibawa, seperti pandang mata seseorang yang merasa yakin akan kekuatannya sendiri.
Bu-tek Kiam-mo Coa Kun juga seorang tokoh besar dalam dunia kangouw, akan tetapi dia maklum bahwa kedudukannya kalah tinggi dibandingkan kakek yang duduk di kursi dengan angkuhnya itu, maka diapun segera memberi hormat dengan merangkap kedua tangan depan dada, diikuti tiga orang rekannya setelah meletakkan peti yang mereka angkut dari dalam kereta tadi.
"Saya Coa Kun dan tiga orang pembantu datang menghadap locianpwe Ouwyang Cin untuk menyampaikan salam hormat dari Yang Mulia di kota raja,"
Katanya dengan suara lantang.
Ouwyang Cin, juga Maniyoko dan Ouwyang Kim memandang dengan penuh perhatian, karena mereka terkejut dan heran juga mendengar disebutnya Yang Mulia, sebutan yang biasanya hanya diberikan kepada seorang kaisar, raja atau setidaknya pangeran.
Akan tetapi, tak seorangpun di antara mereka memperlihatkan perasaan heran itu pada wajah mereka.
"Coa Kun, jelaskan siapa yang kausebut Yang Mulia itu, agar aku mengetahui dengan siapa aku berurusan,"
Suara datuk itu dalam dan parau.
"Saya sendiri tidak tahu siapa nama pemimpin besar kami itu, locianpwe. Akan tetapi, Yang Mulia mengutus saya menghadap locianpwe, selain menyampaikan salam hormatnya, juga mengirim sekedar bingkisan dan surat kepada locianpwe, harap locianpwe sudi menerimanya."
Coa Kun memberi isyarat kepada tiga orang rekannya dan mereka segera membuka tutup peti itu, memperlihatkan isinya kepada tuan rumah.
Dari tempat duduknya, Ouwyang Cin dapat melihat bahwa peti itu terisi barang berharga seperti kain sutera yang mahal, barang ukiran kuno, ada pula lukisan indah dan barang-barang perhiasan dari emas dan perak.
Sungguh merupakan bingkisan yang amat besar nilainya.
Hatinya merasa senang, akan tetapi inipun tidak nampak pada wajahnya.
"Berikan surat itu kepadaku,"
Katanya.
Coa Kun mengeluarkan sesampul surat dari saku bajunya dan menyerahkannya kepada Ouwyang Cin.
Datuk ini membuka sampulnya, mengeluarkan sehelai surat yang ditulis dengan huruf-huruf indah.
Sebelum membaca isinya, dia melirik ke arah cap di bawah surat sebagai tanda si pengirim surat dan sekali ini, matanya terbelalak tanpa dapat dia sembunyikan lagi saking kaget dan herannya.
Tentu saja dia mengenal cap kebesaran itu, karena dahulu di waktu mudanya sering dia melihat cap itu, yalah cap kebesaran Kaisar Kerajaan Goan atau Mongol!
Kerajaan itu telah jatuh duapuluh tahun yang lalu, akan tetapi bagaimana sekarang ada seseorang memakai cap kebesaran itu dan mengirim bingkisan berharga kepadanya?
Cepat dibacanya surat itu dan dia menjadi semakin terheran-heran.
Surat itu menerangkan bahwa Kerajaan Goan kini sedang menyusun kekuatan untuk bangkit dan berjaya kembali, dan untuk tugas itu diserahkan kepada seorang pangeran dan seseorang yang bergerak di bawah tanah, menggunakan kedok dan hanya dikenal dengan sebutan Yang Mulia.
Dan kini Yang Mulia mengajak Ouwyang Cin untuk membantu gerakannya menjatuhkan Kerajaan Beng, dengan janji bahwa kalau berhasil kelak, maka Ouwyang Cin pasti akan diangkat menjadi raja muda yang menguasai daerah timur!
Ouwyang Cin masih terbelalak, akan tetapi wajahnya berseri-seri.
Menjadi raja muda!
Mana mungkin hal itu dapat terjadi kalau tidak bekerja sama dengan kekuasaan besar yang mempunyai balatentara kuat seperti bekas kaisar Mongol?
Dia kini hanya menjadi datuk golongan sesat!
Tentu saja jauh berlainan dibandingkan dengan menjadi seorang raja muda!
Sudah terbayang di pelupuk matanya betapa dia duduk di singgasana, berpakaian sebagai raja muda tulen, dihadap para pengawal dan disembah oleh seluruh rakyat di wilayah timur!
Membantu orang-orang Mongol mencoba untuk meruntuhkan Kerajaan Beng baginya bukan berarti memberontak, karena sekarangpun sebagai datuk sesat, dia sudah dimusuhi oleh pemerintah.
Pula, dia seorang peranakan Jepang!
Dibacanya sekali lagi isi surat itu, dan diliriknya isi peti, kemudian dia mengangguk-angguk dan tersenyum puas.
"Baiklah, Coa Kun. Kami terima bingkisan dari Yang Mulia dengan ucapan terima kasih. Dan kami setuju untuk bekerja sama, akan tetapi kami ingin mendengar lebih banyak tentang rencananya. Kita bicarakan hal itu sambil makan minum, saudara Coa Kun!"
Ouwyang Cin dengan gembira lalu menoleh kepada puterinya dan berkata.
"Katakan kepada ibumu agar menyiapkan hidangan besar untuk menjamu para tamu kita yang terhormat."
Ouwyang Kim mengerutkan alisnya, akan tetapi ia tidak berani membantah dan mengangguk, lalu masuk ke dalam untuk memberitahu kepada ibunya.
Sebagai seorang yang kaya raya, Ouwyang Cin dapat saja membuat pesta setiap hari, karena ternak tinggal potong, bumbu-bumbu sudah sedia, tukang masakpun ada.
Segera terjadi kesibukan di dapur, dipimpin oleh Nyonya Ouwyang Cin, dan dibantu pula oleh Ouwyang Kim.
"A Kim, siapa sih tamu-tamunya maka harus dibuatkan jamuan besar segala?"
"Tamunya itu seorang di antara Bu-tek Cap-sha-kwi, ibu, namanya Coa Kun dan julukannya Bu-tek Kiam-mo, julukan yang mergandung kesombongan besar. Akan tetapi bukan karena dia itu berjuluk Setan Pedang Tanpa Tanding maka dia dijamu ayah, melainkan karena dia mengaku sebagai utusan Yang Mulia."
Wanita cantik yang lembut itu memandang kepada puterinya dengan heran.
"Yang Mulia? Siapa itu?"
"Aku tidak tahu, ibu. Coa Kun itu menyerahkan surat dan barang hadiah yang serba mahal. Setelah membaca surat itu, ayah kelihatan senang sekali dan menjamu Coa Kun yang tadinya sama sekali tidak dihormatinya. Jelas bahwa yang mengutus orang itulah yang dihormati ayah, dan aku tidak tahu siapa itu Yang Mulia."
"Sebutan Yang Mulia hanya ditujukan kepada kaisar atau raja atau orang yang besar kedudukannya. Kalau Kaisar, kiranya tidak mungkin mengirim hadiah dan surat kepada ayahmu, ah, aku khawatir........."
Wanita itu termenung.
"Khawatir apa, ibu?"
Ouwyang Kim bertanya.
"Ayahmu tentu hanya mengenal dua orang kaisar, yaitu kaisar Kerajaan Beng yang baru berdiri duapuluh tahun, dan tentu saja kaisar lama, kaisar Mongol dari Kerajaan Goan yang sudah jatuh. Aku khawatir sekali karena aku sudah mendengar bahwa orang-orang Mongol berusaha untuk membangun kembali pemerintah Mongol yang sudah jatuh. Jangan-jangan........ ayahmu didekati orang-orang Mongol untuk membantu mereka memberontak dan mendirikan lagi Kerajaan Mongol."
Gadis itu mengangguk-angguk.
"Mungkin sekali, ibu. Akan tetapi, ayah memang seorang petualang yang tidak pantang melakukan apa saja demi keuntungan........"
Suara gadis itu terdengar penuh kedukaan.
Ia sependapat dengan ibunya, yaitu bahwa pekerjaan seperti yang dilakukan ayahnya, menjadi datuk para bajak laut, merupakan pekerjaan yang jahat dan tidak baik.
Pada dasarnya, ibu gadis itu seorang wanita Jepang, puteri seorang samurai yang berjiwa lembut dan tidak suka melihat perbuatan jahat dan kekerasan sehingga ketika menjadi isteri seorang seperti Tung-hai-liong seorang datuk yang hidupnya penuh dengan kekerasan, ia hidup dalam keadaan batin tertekan dan menderita.
"Akan tetapi, menjadi pemberontak? Ini sudah keterlaluan, A Kim. Berbahaya sekali pekerjaan itu. Bagaimana mungkin menentang pemerintahan yang mempunyai ratusan ribu pasukan? Sebaiknya kalau ayahmu tidak melibatkan diri dengan pemberontakan."
"Akan tetapi, belum tentu surat itu datang dari pemberontak Mongol, ibu."
"Syukurlah kalau begitu. Akan tetapi hatiku tidak enak, A Kim. Engkau harus dapat memperoleh keterangan yang jelas. Kalau benar dugaanku bahwa ayahmu didekati pemberontak, kita berdua harus mencegahnya dan membujuknya. Maniyoko tidak bisa kita harapkan, selalu mentaati ayahmu sampai mati."
"Ibu, andaikata benar demikian dan kita tidak berhasil membujuk ayah? Ibu tahu akan kekerasan hati ayah."
"Kalau begitu, kita harus menentangnya! Maksudku, engkau harus menentangnya karena aku sejak kecil tidak suka mempelajari ilmu silat. Aku tidak suka melihat ayahmu memberontak. Engkau harus berjuang untuk menentang pemberontakan itu sehingga engkau akan dapat mencuci noda karena perbuatan ayahmu. Aku tidak ingin melihat engkau kelak dihukum karena menjadi anak pemberontak. Nah, tidak perlu engkau membantu di dapur, A Kim. Keluarlah dan ikutlah dengan mereka bercakap-cakap. Engkau seorang ahli silat, engkau pantas saja untuk ikut berbincang. Akan tetapi jangan tergesa-gesa mencela ayahmu di depan tamu. Aku ingin engkau mengetahui sepenuhnya siapa Yang Mulia yang mengirim surat kepada ayahmu itu dan bagaimana bunyi suratnya."
Ouwyang Kim yang sejak kecil lebih dekat kepada ibunya dari pada ayahnya, kecuali kalau ia sedang berlatih silat, mengangguk dan iapun meninggalkan dapur, kembali ke ruangan tamu di mana ayahnya masih bercakap-cakap sambil minum arak harum yang membuat lidah mereka lebih lancar bicara.
Melihat puterinya muncul, Ouwyang Cin tidak menegurnya.
Puterinya itu memang tidak dipingit seperti para gadis lainnya, namun dibiarkan bebas dan sudah biasa puterinya hadir kalau dia sedang menerima tamu penting.
"Sumoi, apakah engkau tidak membantu subo yang sibuk di dapur?"
Maniyoko bertanya, nadanya tidak menegur dan halus. Dia selalu bicara halus kepada sumoinya itu. Ouwyang Kim cemberut.
"Suheng, kenapa aku saja yang harus membantu selalu? Kenapa tidak engkau yang sekarang membantu? Aku ingin mendengar percakapan ayah dengan tamu penting ayah, aku ingin sekali tahu, siapa sih yang disebut Yang Mulia itu? Apakah Kaisar atau Raja?"
Bu-tek Kiam-mo Coa Kun mengerutkan alisnya, khawatir melihat gadis cantik yang bebas itu.
Sungguh berbahaya membuka sebuah rahasia kepada seorang gadis seperti ini, pikirnya.
Akan tetapi agaknya Ouwyang Cin mengerti akan kekhawatiran tamunya, maka dia tertawa bergelak.
"Ha..ha..ha, saudara Coa Kun, harap jangan khawatir. Anakku Ouwyang Kim ini selain dapat dipercaya, juga ia bukan seorang gadis lemah. Dan aku tidak biasa menyimpan rahasia terhadap puteriku sendiri. A Kim, yang disebut Yang Mulia itu adalah wakil Kaisar Kerajaan Goan.......".
"Bukankah Kerajaan Goan itu Kerajaan Mongol ayah? Dan bukankah sekarang sudah tidak ada lagi Kerajaan Mongol itu?"
"Ha..ha..ha, kaulihat saudara Coa Kun, betapa cerdiknya puteriku ini. Jangan pandang ringan anakku ini! Benar, A Kim, akan tetapi kau keliru kalau mengira bahwa Kerajaan Goan sudah tidak ada. Kerajaan itu masih ada, hanya untuk sementara ini menyingkir karena dikalahkan pemberontak duapuluh tahun yang lalu. Sekarang sedang menyusun kekuatan dan menawarkan kerja sama dengan ayahmu."
"Aih, ayah main-main saja. Aku tidak percaya!"
Kata Ouwyang Kim cemberut.
"Ha..ha, kaubaca sendiri suratnya!"
Ayahnya melemparkan surat itu dan Ouwyang Kim menyambutnya, lalu membacanya, cepat sekali, lalu mengembalikannya kepada ayahnya.
Ia sudah hafal akan isinya dan bahkan ia mengingat-ingat dan mencatat bentuk tulisan yang indah itu.
"Sekarang aku baru percaya, ayah."
"Dan bagaimana pendapatmu?"
Tanya ayahnya.
Coa Kun menatap tajam wajah gadis itu karena dia ingin sekali mendengar pendapatnya.
Bagaimanapun juga dia lebih percaya kepada Maniyoko dari pada gadis ini.
Ouwyang Kim memandang kepada Coa Kun dan tiga orang temannya, lalu menoleh kepada ayahnya dan tersenyum.
"Aku tidak mempunyai pendapat, ayah. Urusan itu sama sekali tidak menarik hatiku, yang lebih menarik adalah tamu kita ini."
Ia memandang kepada Coa Kun sambil tersenyum.
"Ehh? Apa maksudmu, A Kim? Apanya yang menarik pada diri saudara Coa Kun ini?"
Ayahnya bertanya heran, mengira bahwa puterinya tertarik kepada tamu pria yang usianya sudah limapuluhan tahun lebih itu.
"Yang menarik hatiku adalah pedang di punggungnya dan nama julukannya, ayah. Paman Coa Kun engkau dijuluki orang Bu-tek Kiam-mo (Setan Pedang Tanpa Tanding)! Tanpa Tanding atau tak terkalahkan, bukan main! Aku jadi ingin sekali minta pelajaran dalam ilmu pedang darimu, paman, karena aku yakin bahwa dari seorang jago pedang yang tak pernah terkalahkan, aku akan mendapatkan banyak petunjuk "
"Sumoi.........,"
Maniyoko terkejut mendengar ini.
"Aih, nona harap jangan main-main dengan pedang......"
Bu-tek Kiam-mo berkata sambil tersenyum lebar, ada rasa bangga mendapat pujian seorang gadis cantik, akan tetapi juga perasaan tidak enak karena yang menantangnya mengadu ilmu pedang adalah puteri tuan rumah.
Akan tetapi, Tung-hai-liong Ouwyang Cin tertawa bergelak, hatinya senang sekali.
"Apa yang dikatakan puteriku memang benar. Kami sudah lama mendengar nama besar Cap-sha Bu-tek-kwi, dan kebetulan yang datang berkunjung adalah seorang di antara mereka yang ahli pedang. Puteriku memang suka sekali mempelajari ilmu pedang, oleh karena itu, harap saudara Coa Kun tidak terlalu pelit untuk memburu sekedar petunjuk untuk puteriku, agar menambah pengetahuannya yang dangkal dan pengalamannya yang sempit."
Ucapan merendah ini bukan timbul karena kerendahan hati, melainkan karena diam-diam kakek datuk inipun memandang rendah tamunya dan dia yakin puterinya akan mampu menandingi Bu-tek Kiam-mo karena dia tahu akan kelihaian puterinya.
Mendengar ucapan itu, Bu-tek Kiam-mo merasa seolah-olah kepalanya menjadi membengkak besar dan hatinya yang memang sombong itu menjadi senang bukan main.
Inilah kesempatan untuk pamer, memamerkan kepandaiannya tanpa memberi kesan pamer kepada pihak tuan rumah.
"Tapi pedang adalah benda mati, aku khawatir kalau kesalahan tangan dan melukai nona."
Kembali dalam ucapan ini terkandung kesombongan, seolah-olah dia sudah yakin akan mengalahkan nona itu dan takut kalau sampai melukainya.
"Ha..ha, dalam pertandingan pedang, biasalah kalau ada yang terluka. Akan tetapi kami yakin bahwa saudara Coa Kun akan bermurah hati dan tidak sampai melukai A Kim terlampau parah,"
Kata pula Ouwyang Cin.
Mendengar semua ucapan itu, senanglah hati Ouwyang Kim.
la memang sengaja mencari akal menantang tamu ayahnya itu untuk membikin malu kepadanya dan untuk melampiaskan hatinya yang mendongkol melihat ayahnya terbujuk dalam persekutuan pemberontak dengan orang-orang Mongol.
Melihat ayahnya sudah menyetujui, gadis itu sudah mencabut pedangnya dan ia pergi ke tengah ruangan yang luas itu.
"Kurasa ruangan ini cukup luas untuk bermain pedang. Suheng, tolong angkut kursi dan meja itu ke tepi agar tempatnya lebih luas."
Ouwyang Cin memberi isyarat agar Maniyoko melaksanakan permintaan sumoinya itu dan dia sendiri memandang kepada Coa Kun dan tiga orang temannya dengan tertawa.
"Marilah, saudara Coa Kun harap jangan sungkan. Sambil menanti selesainya hidangan, mari engkau memberi petunjuk kepada A Kim"
Melihat tempat itu sudah diperluas dengan disingkirkannya meja kursi ke tepi, dan melihat gadis itu sudah siap dengan pedang di tangan, Coa Kun tersenyum dan mengangguk ke arah tuan rumah.
"Kalau memang dikehendaki, baiklah. Mari kita main-main sebentar, nona."
Berkata demikian, tangan kanannya bergerak ke atas kepala dan tiba-tiba saja dia sudah mencabut pedangnya.
Gerakannya memang cepat dan pedang itu mengeluarkan sinar ketika dia menggerakkannya dan dia sudah meloncat ke depan Ouwyang Kim, memasang kuda-kuda yang gagah sekali.
Melihat lawan sudah siap, Ouwyang Kim lalu berseru.
"Bu-tek Kiam-mo, bersiaplah dan lihat seranganku!"
Iapun menggerakkan pedangnya, mulai menyerang dan begitu menyerang, ia menggunakan jurus dari Jit-ong-kiamsut yang amat hebat.
Bukan main kagetnya hati Coa Kun melihat sinar terang dari pedang gadis itu menyambar ke arah dadanya.
Pedang itu diputar sedemikian rupa sehingga merupakan gulungan sinar terang yang meluncur ke dadanya.
Sebagai seorang ahli pedang, dia mengenal jurus pedang yang amat berbahaya, maka diapun cepat meloncat ke belakang sambil memutar pedangnya membentuk perisai untuk melindungi dirinya.
"Trang..trang..trang.........!!"
Berulang kali kedua pedang itu bertemu di udara dan nampak bunga api berpijar menyilaukan mata.
Kembali Coa Kun terkejut setengah mati karena setiap kali pedangnya bertemu pedang lawan, lengannya terasa hampir lumpuh karena terserang getaran yang amat kuat.
Dan Ouwyang Kim tidak menghentikan serangannya, melainkan menyerang dan mendesak terus dengan ilmu pedang Raja Matahari yang gerakannya asing dan aneh bagi Coa Kun.
Hal ini tidak mengherankan karena memang ilmu pedang itu dirangkai oleh Tung-hai-liong dari berbagai ilmu pedang bercampur dengan ilmu samurai Jepang!
Coa Kun mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya untuk melindungi dirinya.
Gadis itu sama sekali tidak memberi kesempatan kepadanya terus menyerangnya secara bertubi-tubi dan karena memang setiap serangan itu amat berbahaya, Coa Kun hanya mampu mengelak dan menangkis, tanpa mampu membalas sejuruspun!
Begitu bergebrak, dia terus diserang dan makin lama serangan gadis itu semakin berat dan berbahaya.
Dia tahu bahwa kalau gadis itu menghendaki, sebelum tigapuluh jurus saja tentu dia dapat dirobohkan dengan dada tertembus pedang atau leher putus!
Si Setan Pedang Tanpa Tanding itu sudah mandi keringat dan wajahnya pucat.
Betapa akan malunya kalau sampai dia terluka.
Sama sekali tidak pernah disangkanya bahwa gadis puteri datuk itu sedemikian lihainya walaupun dia tahu bahwa ayah gadis ini memang seorang datuk yang sakti.
Jangankan baru dia seorang, biar dia dibantu tiga orang temannya itupun belum tentu dia akan mampu mengalahkan Ouwyang Kim.
Lebih baik malu sedikit dari pada malu banyak.
"Cukup, nona, saya mengaku kalah!"
Serunya dan diapun melompat jauh ke belakang.
Biarpun dia malu, akan tetapi setidaknya dia selamat dari menderita luka.
Wajahnya pucat dan dia masih mandi keringat.
Ouwyang Kim tersenyum.
Gadis ini nampak biasa saja, tidak berkeringat, dan tidak nampak lelah.
Sudah tercapai apa yang ia kehendaki, yaitu membikin malu tamu ini untuk memperlihatkan ketidak senangan hatinya bahwa ayahnya dilibatkan dalam persekutuan pemberontak.
la menyimpan pedangnya dan mengangguk kepada Coa Kun.
"Terima kasih atas petunjuk Bu-tek Kiam-mo!"
Tentu saja ucapan itu dimaksudkan untuk mengejek. Dengan mengesampingkan rasa malunya, Coa Kun memperlihatkan giginya yang kuning.
"Heh..heh di depan locianpwe Tung-hai-liong dan puterinya, saya tidak berani menggunakan julukan itu. Kiamsut dari siocia amat tangguh dan hebat, belum pernah saya menemui ilmu pedang sehebat itu!"
Dia mengangkat kedua tangan memberi hormat kepada tuan rumah dan puterinya, lalu berkata lagi.
"Sungguh pilihan Yang Mulia amat tepat. Dengan bantuan locianpwe dan nona, tentu kedudukan kita akan menjadi jauh lebih kuat."
"Ahh, saudara Coa Kun. Yang Mulia hanya mengajak aku, dan aku hanya akan berkunjung bersama muridku, Maniyoko ini. Anakku akan tinggal di rumah menemani ibunya dan menggantikan aku menerima kunjungan para sahabat kami,"
Kata Ouwyang Cin yang tidak ingin puterinya ikut pula dalam pekerjaan besar itu.
Pula, di rumah perlu ada wakilnya untuk menerima sumbangan sebagai semacam upeti dari para pimpinan gerombolan sesat di perairan ataupun di pantai.
Maniyoko mengatur kembali meja kursi dan kini mereka duduk lagi bercakap-cakap dan sekali ini ditemani oleh Ouwyang Kim.
Gadis pendiam ini tidak ikut bicara, melainkan sebagai pendengar yang mencatat semua percakapan itu di hatinya.
Tahulah ia bahwa ayahnya memang telah menerima uluran tangan dari Yang Mulia, yaitu tokoh yang mewakili Kerajaan Goan atau kerajaan orang-orang Mongol yang mengadakan gerakan rahasia di kota raja dan yang berniat untuk membangun kembali kerajaan Goan yang sudah jatuh duapuluh tahun yang lalu.
Singkatnya, ayahnya telah bersekutu dengan golongan pemberontak dengan janji bahwa kalau kelak gerakan itu berhasil, pemerintah Kerajaan Beng dapat digulingkan dan Kerajaan Goan bangun kembali, ayahnya akan diberi pangkat raja muda yang berkuasa di daerah timur.
Dan ayahnya akan pergi bersama Maniyoko ke kota raja menghadap Yang Mulia dan menerima tugas.
Menurut keterangan Coa Kun yang didesak ayahnya, mungkin sekali ayahnya mendapat tugas untuk bekerja sama dengan mereka, merampas kedudukan bengcu atau pimpinan kangouw yang akan diadakan di puncak Thai-san tahun depan, sebulan sesudah tahun baru, dan membantu orang yang ditunjuk oleh Yang Mulia agar menjadi bengcu.
Pendeknya, ayahnya harus membantu anak buah Yang Mulia untuk mencegah agar kedudukan bengcu jangan terjatuh ke tangan orang yang setia kepada Kerajaan Beng.
Kalau kedudukan itu terjatuh ke tangan orang-orang Mongol, tentu mereka akan dapat mengerahkan seluruh dunia kang-ouw untuk membantu gerakan orang Mongol menggulingkan Kerajaan Beng dan mendirikan kembali Kerajaan Goan!
Percakapan dilanjutkan ketika hidangan dikeluarkan.
Sambil makan minum mereka bercakap-cakap, dan Ouwyang Kim hanya mendengarkan saja dengan sikap acuh, pada hal diam-diam ia memperhatikan dan mencatat semua pembicaraan.
Setelah selesai makan minum sampai kenyang, Coa Kun dan tiga orang temannya pamit dan mereka meninggalkan rumah keluarga Ouwyang membawa hadiah yang diberikan secara royal oleh Ouwyang Cin untuk menghormati utusan Yang Mulia dari kota raja itu.
Baru setelah para tamu pergi, Ouwyang Kim menceritakan semuanya kepada ibunya.
Wanita itu merasa khawatir sekali dan bersama puterinya, ia lalu menasehati suaminya agar tidak melibatkan diri dalam pemberontakan.
"Langkahmu sudah terlalu jauh,"
Demikian antara lain isteri yang gelisah itu memberi nasihat.
"mengapa tidak dipikir secara mendalam? Menempatkan diri sebagai sekutu pemberontak sungguh amat berbahaya, menyeret seluruh keluargamu dalam bahaya. Di dunia kang-ouw engkau boleh saja mengandalkan kepandaian untuk menjagoi akan tetapi apa dayamu menghadapi balatentara kerajaan? Sebagai pemberontak, engkau akan berhadapan langsung dengan pemerintah dan kalau tertangkap, hukumannya hanya satu yaitu mati berikut seluruh keluarga."
Ouwyang Kim juga membujuk ayahnya.
"Mengapa ayah percaya kepada seorang semacam Coa Kun itu? Ayah melihat sendiri, omongannya saja besar, julukannya besar akan tetapi buktinya, dia tidak ada gunanya. Kalau utusannya seperti itu, tentu yang mengutusnya juga tidak banyak artinya."
"Ha..ha..ha, kalian tidak mengerti. Gerakan ini bukan sekedar pemberontak biasa. Yang memimpin gerakan ini adalah Para pangeran Kerajaan Goan yang berhasil mengungsi ke utara. Kini mereka datang ke selatan dan menyusun kekuatan untuk membangun kembali Kerajaan Goan. Tentang siapa yang berkuasa, apa perduliku? Akan tetapi, mereka mengirim hadiah yang amat berharga, dan selain itu, mereka menjanjikan bahwa kelak kalau gerakan berhasil, aku akan diberi kedudukan raja muda yang berkuasa di daerah timur. Kalian dengar? Raja muda! Kalian akan menjadi isteri dan puteri raja muda! A Kim, engkau akan menjadi seorang puteri sejati, bangsawan tinggi. Dan tentang Yang Mulia itu, aku sendiri tentu tidak akan sudi menghambakan diri kepada orang yang tidak mampu. Aku akan melihat orang macam apa adanya dia."
Percuma saja ibu dan anak itu membujuk.
Nafsu daya rendah memang teramat kuat dan setiap orang manusia selalu gagal menundukkannya.
Kebutuhan kita hidup dalam dunia amatlah terbatas.
Untuk mempertahankan kehidupan ini, cukuplah dengan sandang pangan dan papan sekadarnya.
Akan tetapi keinginan atau pengaruh nafsu tidak mengenal batas, tidak pernah merasa cukup atau puas.
Nafsu adalah angkara murka, pementingan diri sendiri yang tanpa batas.
Segala daya upaya dalam kehidupan diarahkan demi menyenangkan si aku, atau nafsu.
Namun, nafsu tak pernah puas, kesenangan yang diperoleh segera terganti kebosanan dan dengan liar mencari kesenangan lain yang belum diperolehnya.
Hati akal pikiran sudah pula digelimangi nafsu sehingga hati dan pikiran selalu membela kepentingan nafsu dengan mengajukan berbagai dalih dan alasan untuk membenarkan tindakan yang didorong nafsu.
Pengaruh nafsu selalu menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan, dan tujuan itu tiada lain pasti sesuatu yang dianggap menyenangkan si aku.
Nafsu bagaikan api berkobar, makin diberi umpan semakin besar nyalanya dan semakin tamak ingin melahap segala yang ada.
Nafsu yang timbul dari daya rendah disertakan manusia sejak lahir bukan merupakan kutukan.
Sebaliknya malah, nafsu merupakan anugerah dari Tuhan Maha Pengasih yang amat mengasihi manusia sebagai ciptaanNya.
Nafsu mutlak perlu bagi kita dalam kehidupan di dunia ini.
Tanpa adanya nafsu kita tidak akan hidup seperti sekarang ini, bahkan mungkin saja manusia tidak akan dapat berkembang biak seperti sekarang.
Nafsu yang bekerja sama dengan hati akal pikiran membuat manusia dapat membuat segala benda yang dibutuhkan dalam hidup ini, dapat membuat kehidupan menjadi menyenangkan.
Nafsu yang berada di panca indra yang membuat kita dapat merasakan segala kenikmatan hidup.
Yang dinamakan kemajuan di bidang apa saja adalah hasil dorongan nafsu pada hati akal pikiran manusia.
Mata kita dapat menikmati penglihatan indah, hidung kita dapat menikmati penciuman harum, telinga kita dapat menikmati pendengaran merdu, dan selanjutnya.
Tanpa adanya nafsu yang menimbulkan gairah, sukar membayangkan bagaimana kehidupan ini.
Kosong, hampa dan tidak menarik.
Kasih sayang Tuhan terbukti dengan diikutsertakan nafsu kepada kita.
Seperti api, kalau kecil dan terkendali, nafsu amatlah bermanfaat bagi kehidupan.
Sebaliknya, kalau membesar dan tidak terkendali, segalanya akan terbakar habis!
Jadi masalahnya, nafsu harus terkendali lalu bagaimana kita dapat mengendalikannya?
Pertanyaan ini selalu diajukan manusia sejak sejarah tercatat, dan sampai kinipun manusia masih selalu berusaha dengan segala macam cara untuk menguasai atau mengendalikan, nafsunya sendiri.
Melalui tuntunan agama, melalui keprihatinan, pertapaan, penyiksaan diri dan segala macam cara lagi ditempuh manusia demi untuk dapat menguasai dan mengendalikan nafsu.
Namun betapa pahitnya kenyataan itu, ialah bahwa jarang sekali ada manusia yang berhasil dalam usahanya itu.
Ada yang sudah bertapa di tempat sunyi sampai bertahun-tahun, tetap saja tidak mampu mengendalikan nafsunya.
Ketika berada di puncak gunung yang sunyi, nampaknya seolah dia berhasil menidurkan nafsunya.
Akan tetapi begitu ia turun gunung, nafsunya bergejolak, bahkan menjadi semakin liar, lebih kuat dari pada sebelum dia bertapa.
Mengapa demikian?
Semua usaha hati akal pikiran untuk mengendalikan nafsu, sebagian besar gagal karena hati akal pikiran juga sudah digelimangi nafsu.
Jadi, menggunakan hati akal pikiran untuk menguasai nafsu!
Tidak aneh kalau gagal!
Pengetahuan dan pengertian hati akal pikiran saja tidak mungkin dapat mengalahkan nafsu.
Semua orang yang melakukan perbuatan tidak baik tentu tahu dan mengerti bahwa perbuatannya itu tidak baik, namun tetap saja mereka melakukannya dan mengulanginya.
Kadang sesal datang setelah berbuat, namun begitu nafsu datang mendorong, tidak ada kekuatan dalam diri untuk menahannya, bahkan akal pikiran dan hatipun tidak berdaya, bahkan menjadi pembela dari perbuatan yang terdorong nafsu.
Kita dihadapkan pada jalan buntu.
Kita tidak dapat hidup tanpa nafsu, akan tetapi kitapun terseret ke dalam dosa oleh nafsu, dan kita tidak berdaya untuk mengendalikan lalu bagaimana?
Hanya ada satu pemecahannya, yaitu mengembalikannya kepada Sang Maha Pencipta.
Tuhan yang menciptakan nafsu, maka hanya Tuhan yang akan dapat mengembalikan nafsu kepada kedudukan dan tugasnya yang semula, yaitu menjadi peserta dan pelayan bagi manusia hidup di dunia, bukan sebagai majikan.
Hanya Tuhan Yang Maha Kuasa yang akan mampu mengembalikan api nafsu itu menjadi api kecil yang terkendali sehingga amat bermanfaat bagi kehidupan manusia.
Oleh karena itu, hanya dengan penyerahan yang tulus ikhlas, penuh kesabaran dan ketawakalan, kepada Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang, maka segalanya akan kembali teratur, sesuai dengan kehendak Tuhan, terjadi karena, kuasa Tuhan.
Tidak ada cara atau jalan lain!
Hati akal pikiran yang merupakan alat seperti juga anggauta tubuh lainnya, kita pergunakan untuk keperluan lahiriah, bekerja dan sebagainya.
Adapun urusan rohaniah kita menyerah kepada kekuasaan Tuhan.
Sia-sia saja Ouwyang Kim dan ibunya membujuk dan manasihati Ouwyang Cin yang telah menjadi hamba nafsunya sendiri sehingga akhirnya ibu dan anak itu mengundurkan diri.
Bahkan ketika Ouwyang Cin dan Maniyoko berangkat menuju ke kota raja, Ouwyang Kim tidak diperkenankan ikut.
"Engkau di rumah saja, A Kim. Engkau mewakili ayah menerima kunjungan para sahabat dan menerima sumbangan mereka dan mencatatnya, dan temani ibumu. Pekerjaan mewakili ayah inipun penting dan jangan diabaikan."
Demikian pesannya kepada Ouwyang Kim.
Gadis itu tidak dapat membantah walaupun ia sebetulnya ingin sekali pergi untuk melindungi ayahnya karena ia seperti juga ibunya, khawatir kalau-kalau langkah yang diambil Ouwyang Cin itu akan menjerumuskan kepada bencana bagi diri sendiri.
SETELAH Ouwyang Cin pergi, isterinya yang lembut hati itu menangis.
Sudah terlalu banyak air mata ditumpahkan wanita ini sejak ia menjadi isteri datuk itu.
Ia sendiri adalah puteri seorang pendekar samurai yang baik hati, yang menentang kejahatan dan kini ia menjadi isteri seorang datuk sesat!
Maka, pukulan paling hebat kini dirasakan ketika suaminya menjadi sekutu komplotan pemberontak.
Melihat ibunya menangis, A Kim merangkulnya.
Baca Juga: Kisah Sepasang Rajawali 2
Baca Juga: Kisah Para Pendekar Pulau Es 8