Eps 4 Asmara Si Pedang Tumpul - Kho Ping Hoo
Baca online Asmara Si Pedang Tumpul - Kho Ping Hoo
Cersil Asmara Si Pedang Tumpul - Kho Ping Hoo.
"Ibu, harap ibu jangan khawatir. Aku akan pergi ke kota raja dan aku akan menentang semua usaha pemberontakan itu. Dengan demikian, maka aku akan dapat menebus dosa dan noda yang dilakukan ayah. Syukur kalau aku dapat menyadarkan ayah sebelum terlambat."
Ibunya mengangguk pasrah.
Ia tahu bahwa hanya itulah satu-satunya jalan bagi mereka.
Ia harus merelakan puterinya karena ia sendiri tidak mampu berbuat sesuatu.
Kalau usaha mereka dengan bujukan kata-kata tidak berhasil, maka harus dilanjutkan dengan tindakan untuk mencegah suaminya menjadi seorang pemberontak.
"Hati-hatilah, A Kim. Ibu selalu mendampingimu dengan doa. Tidak ada di antara nenek moyangmu yang menjadi pemberontak, baik nenek moyangmu di Jepang maupun yang berada di negeri ini. Sudah menjadi kewajibanmu untuk menyelamatkan ayahmu, walau dengan taruhan nyawa."
Demikianlah, pada hari itu juga, Ouwyang Kim atau A Kim berangkat menuju ke Nan-king, ibu kota Kerajaan Beng, menyusul ayah dan suhengnya.
Sesosok bayangan berkelebat seperti burung garuda terbang saja di atas atap sebuah rumah makan kecil yang berada di sudut kota raja.
Tanpa menimbulkan suara bayangan itu melompat turun dan beberapa detik kemudian dia sudah berada di jalan raya yang sudah sepi karena malam sudah larut.
Dia adalah Sin Wan.
Tadi dia membayangi seorang yang dianggap mencurigakan.
Ketika orang itu memasuki rumah makan, tempat itu segera ditutup dari dalam dan diapun mengintai dari atap.
Dilihatnya orang itu berbisik-bisik dengan tiga orang lain di dalam rumah makan kecil itu.
Maka, dia cepat meninggalkan tempat itu dan langsung melapor kepada Bhok-ciangkun.
Bhok Cun Ki yang memang selalu mempersiapkan pasukan keamanan, cepat mengirim seregu pasukan terdiri dari duabelas orang yang dipimpin sendiri oleh Sin Wan, menggerebek rumah makan itu.
Akan tetapi apa yang dia temukan?
Hanya sebuah rumah kosong.
Tak seorangpun berada di situ dan jelas bahwa penghuni rumah makan itu telah melarikan diri sebelum pasukan tiba.
Padahal, dia bergerak cepat dan tidak ada yang mengetahuinya.
Sin Wan merasa penasaran sekali.
Sudah beberapa kali sejak dia berada di rumah Bhok Cun Ki dan melakukan penyelidikan, selalu usahanya menangkap mata-mata atau orang yang dicurigai gagal.
Pernah beberapa hari yang lalu, menjelang tengah malam, dia mengejar sesosok bayangan yang mencurigakan dan bayangan itu lenyap begitu saja di dekat pintu gerbang pagar yang membentengi istana!
"Sungguh aneh sekali,"
Dia mengomel ketika kembali ke rumah keluarga Bhok dan berunding dengan panglima itu.
"Bagaimana mereka bisa mengetahui bahwa tempat itu akan digerebek?"
"Mungkin di antara mereka terdapat banyak orang pandai, sehingga dapat mengetahui gerakanmu. Kenapa tadi engkau tidak turun tangan sendiri saja menangkap mereka?"
Tanya Bhok Cun Ki.
"Saya ingin bekerja secara rahasia agar mereka tidak mengenal saya dan memudahkan penyelidikan saya, paman Bhok. Kalau sekali mereka mengenal saya, tentu akan sulit bagi saya untuk melakukan penyelidikan. Karena itulah saya ingin agar pasukan keamanan yang menangkap mereka."
"Kurasa tidak perlu begitu, Sin Wan. Lambat laun mereka tentu akan mengenalmu juga. Pula, bantuanmu melakukan penyelidikan terhadap jaringan mata-mata di kota raja hanya sementara saja. Tugas kita yang utama adalah mengamati pemilihan bengcu di puncak Thai-san. Tugas keamanan di kota raja akan ditangani sendiri oleh Jenderal Yauw."
"Saya belum mengenal benar Jenderal Yauw. Dia sangat teliti dan keras. Apakah dia lihai?"
Bhok Cun Ki mengangguk-angguk.
"Di antara jagoan kota raja, dialah yang nomor satu. Aku sendiri agaknya akan.sukar untuk menandinginya. Dialah yang menjadi guru para panglima muda di kota raja. Hanya dalam urusan perang dia kalah oleh Jenderal Shu Ta. Akan tetapi dalam hal ilmu silat, dia lihai bukan main. Diapun amat keras dan entah sudah berapa orang yang dicurigai sebagai mata-mata disiksa sampai mati kalau terjatuh ke tangannya."
Sin Wan mengelutkan alisnya.
Dia sama sekali tidak suka mendengar kekejaman yang dilakukan seseorang terhadap orang lain.
Akan tetapi dia maklum bahwa begitulah kenyataannya.
Kalau menusia sudah saling bermusuhan, apa lagi dalam perang, maka tidak ada makhluk lain di dunia ini yang lebih kejam dari pada manusia.
Akan tetapi dia sendiri akan selalu menuruti kata hati nuraninya.
Dia selalu mendekati Tuhan dengan kepasrahannya, dengan imannya.
Dia percaya bahwa Tuhan akan membersihkan perasaan hatinya dari benci, biar terhadap orang yang memusuhinya sekalipun.
Dia memang bertekad untuk menentang kejahatan, akan tetapi perbuatannyalah yang dia tentang, bukan manusianya.
Dia sendiri akan memperlakukan seorang yang.
dianggap jahat tidak dengan kebencian, melainkan dengan keadilan, dan dia akan berusaha agar orang yang melakukan penyelewengan itu dapat kembali ke jalan benar.
Demikianlah pelajaran yang dahulu sering dia dengar dari mendiang ibunya tersayang, juga dari tiga orang gurunya, yaitu Sam-sian (Tiga Dewa).
Pelajaran itu sesuai dengan suara hatinya.
Kalau saja tidak ditugaskan oleh Ciu-sian agar dia mewakili gurunya itu, dia segan untuk melibatkan, diri dalam urusan kerajaan.
Setelah beberapa kali gagal menangkap mata-mata musuh, Sin Wan bertindak lebih hati-hati lagi.
Beberapa hari kemudian, pada suatu malam ketika dia melakukan pengintaian sambil bersembunyi, dia melihat bayangan hitam berkelebat cepat sekali di dekat pagar tembok istana.
Tentu saja dia menjadi curiga, khawatir kalau ada mata-mata musuh menyelundup ke istana dan melakukan kejahatan.
Biarpun dia tahu bahwa kaisar sendiri dilindungi banyak pengawal yang rata-rata merupakan jagoan istana yang lihai, namun kalau ada orang luar menyelundup masuk ke istana kaisar maka hal itu amatlah berbahaya bagi keselamatan keluarga kaisar.
Diapun cepat membayangi orang itu.
Akan tetapi, agaknya bayangan itu meragu dan tiba-tiba dia mengubah tujuan, tidak jadi melompati pagar tembok, melainkan membalik dan meninggalkan tempat itu.
Sin Wan sudah maklum bahwa orang itu memiliki ilmu berlari cepat yang tinggi, dan tubuhnya kelihatan ringan bukan main, maka dia menjadi semakin curiga dan ingin sekali mengetahui apakah orang itu termasuk kawan ataukah lawan.
Dia tahu bahwa pemerintah sendiri menyebar banyak penyelidik yang berilmu tinggi, maka melihat bayangan itu, tentu saja dia tidak dapat memastikan apakah orang itu mata-mata pemerintah ataukah mata-mata musuh.
Maka, dia cepat membayangi ke mana orang itu pergi.
Sin Wan bergerak dengan hati-hati sekali karena membayangi seorang yang memiliki gerakan ringan seperti itu, amat berbahaya dan setiap saat dapat saja orang itu memergokinya.
Benar dugaannya.
Pada saat orang itu berlari cepat, tiba-tiba saja orang itu berhenti dan membalik.
Akan tetapi Sin Wan lebih cepat lagi.
Tubuhnya sudah bertiarap di tempat gelap sehingga tidak mungkin orang itu melihatnya.
Orang yang dibayanginya itu kembali melanjutkan perjalanannya dan Sin Wan kagum.
Seorang yang cerdik, pikirnya.
Kalau dia kurang cepat sedikit saja menjatuhkan diri bertiarap dalam bayangan gelap sebuah rumah, tentu dia akan diketahui dan akan sia-sialah pengintaiannya.
Akhirnya, dari jarak yang agak jauh, dia melihat bayangan itu tiba di luar pagar tembok yang mengelilingi sebuah gedung besar, lalu bayangan itu membalik lagi, melihat ke sekeliling, kemudian barulah meloncat ke atas pagar tembok itu dan menghilang.
Sin Wan termenung.
Sebelum melakukan penyelidikan, dia sudah mempelajari seluruh keadaan kota raja dan dari Bhok-ciangkun dia memperoleh gambaran mengenai gedung-gedung besar yang penting.
Dia tahu bahwa gedung yang dimasuki bayangan itu adalah.sebuah gedung peristirahatan di luar istana yang menjadi milik Pangeran Chu Hui San, putera mahkota.
Dia sudah mendengar banyak tentang pangeran itu dari Bhok-ciangkun yang menceritakan dengan bisik-bisik bahwa pangeran yang menjadi calon pengganti kaisar itu adalah seorang yang setiap hari hanya berenang di dalam lautan kesenangan.
Kelemahan putera mahkota itu adalah wanita, dan menurut keterangan rahasia dari Bhok-ciangkun, gedung itu menjadi tempat pelesir pangeran itu kalau dia berkencan dengan wanita-wanita yang bukan selir atau dayangnya!
Dia tidak tahu apakah malam itu sang pangeran berada di gedung itu ataukah tidak, akan tetapi bagaimanapun juga, timbul kekhawatirannya.
Bukan tidak mungkin ada mata-mata masuk untuk membunuh pangeran yang menjadi calon kaisar karena hal, ini akan menguntungkan pihak musuh dan akan mengacaukan keadaan.
Berpikir demikian, Sin Wan lalu mendekati pagar tembok, mencari bagian yang gelap dan sepi di sebelah belakang dan tubuhnya melayang naik seperti seekor burung garuda saja, melompati pagar tembok dan beberapa detik kemudian dia sudah berada di taman bunga yang berada di belakang gedung.
Sin Wan menggunakan kepandaiannya, mengerahkan ginkang (ilmu meringankan tubuh), menyusup dan menyelinap di antara pohon-pohon dan semak di taman itu, mendekati gedung.
Sunyi saja di sekitar gedung dan hal ini dia artikan bahwa malam itu sang pangeran tidak berada di situ.
Kalau sang pangeran mahkota berada di situ, tentu terdapat pasukan pengawal yang menjaga keamanan.
Hatinya sudah merasa agak lega, karena kalau sang pangeran tidak berada di situ, maka keselamatan pangeran mahkota itu tidak terancam bahaya.
Akan tetapi, kalau semua bagian gedung itu gelap, di bagian kiri dia melihat sebuah ruangan yang dipasangi lampu penerangan.
Cepat dia menyelinap dan tak lama kemudian dia sudah mengintai di luar jendela ruangan itu.
Sebuah ruangan yang luas dan nampak tiga orang duduk berhadapan terhalang meja.
Agaknya mereka mengadakan perundingan.
Akan tetapi yang membuat dia terheran-heran adalah melihat mereka itu semua memakai kedok!
Orang pertama bertubuh tinggi besar dengan perut gendut dan dia mengenakan pakaian ringkas serba hitam, bahkan topeng yang menutupi mukanya juga merupakan topeng hitam.
Hanya nampak sepasang matanya yang mencorong melalui lubang pada topeng atau kedok itu.
Agaknya dialah yang memimpin, karena sikapnya yang berwibawa dan sikap dua orang itu yang penuh hormat dan seperti menerima perintah dan mengangguk-angguk.
"Hamba mengerti, Yang Mulia,"
Kata seorang yang mengenakan kedok hijau.
"Ingat, kalau tidak terpaksa, jangan melibatkan diri dalam perkelahian,"
Kata Si Kedok Hitam yang disebut Yang Mulia itu, dan Sin Wan terkejut mendengar suara itu.
Bukan seperti suara manusia, demikian parau dan dalam, seperti suara yang datang dari alam lain!
"Pusaka apa yang harus didahulukan, Yang Mulia?"
Tanya orang yang mengenakan kedok biru.
"Apa saja, yang penting pusaka Kerajaan Goan, dan kalau ada, dahulukan cap-cap kebesaran atau bendera-bendera tanda kekuasaan, juga pedang-pedang tanda kekuasaan."
Selagi orang berkedok hijau hendak bicara, tiba-tiba Si Kedok Hitam memberi isyarat agar dia diam, dan tiba-tiba saja dia memutar tubuh ke kanan, tangannya bergerak dan sinar hitam meluncur dengan cepat sekali ke arah jendela di mana Sin Wan mengintai!
Serangan itu hebat bukan main dan ternyata ada tiga batang paku beracun yang meluncur sedemikian cepatnya sehingga dapat menembus kain jendela dan menyerang mata, tenggorokan dan dada Sin Wan!
Akan tetapi, pemuda ini dengan tenang namun lebih cepat dari sambaran senjata-senjata rahasia sudah melempar tubuh ke samping dan bergulingan sehingga tiga batang paku itu mengenai dinding di belakangnya dan runtuh ke lantai mengeluarkan bunyi berdenting.
Ketika dia bergulingan itu, dia mendengar suara parau aneh itu memerintahkan dua orang tadi untuk segera pergi.
"Cepat kalian pergi, biar kubinasakan pengintai itu!"
Sin Wan hendak melompat pergi, akan tetapi tiba-tiba saja terdengar suara keras, jendela itu pecah berantakan dan sesosok tubuh yang tinggi besar telah menyerangnya dengan dahsyat.
Ternyata dia Si Kedok Hitam dan memang orang ini luar biasa sekali.
Begitu tiba di luar jendela tangannya sudah meluncur hendak menangkap dan mencengkeram pundak Sin Wan.
Dari sambaran anginnya saja tahulah Sin Wan bahwa ia berhadapan dengan seorang lawan yang amat tangguh, yang memiliki tenaga sin-kang yang amat kuat.
Diapun cepat menggerakkan dan memutar lengan kanannya menangkis sambil mengerahkan tenaganya.
"Dukk!"
Sin Wan merasa tubuhnya tergetar dan kuda-kudanya goyah, akan tetapi Si Kedok Hitam itupun terkejut dan mengeluarkan suara kaget.
"Uhhh......! Siapakah engkau?"
Bentaknya dan dalam suaranya yang parau aneh itu terkandung keheranan dan kekaguman.
Tentu saja dia kagum karena selama ini jarang sekali atau bahkan hampir tidak ada orang yang dapat menangkis pukulannya tadi dan membuat dia hampir terdorong mundur!
Sin Wan bersikap tenang.
"Siapa adanya aku tidak menjadi masalah lagi karena semua orang dapat melihat diriku dengan baik. Yang menjadi pertanyaan adalah siapa engkau yang memakai kedok dan berada di gedung milik Pangeran Mahkota?"
Akan tetapi, Kedok Hitam itu tidak menjawab dengan kata-kata, melainkan langsung saja menyerang dengan dahsyat, jauh lebih dahsyat dari pada tadi.
Sin Wan mengenal serangan berbahaya, tubuhnya bagaikan sehelai bulu burung ringannya sudah mengelak.
Akan tetapi lawannya menyerangnya lagi dan ketika dia mengelak.
Si Kedok Hitam yang menjadi semakin penasaran menyerang lagi secara tertubi-tubi.
Nampaknya dia hendak, memukul roboh dan menewaskan Sin Wan yang dianggapnya berbahaya, namun pemuda ini tentu saja bukan merupakan lawan ringan baginya.
Sin Wan selalu mengelak dan kadang kalau dia menangkis, mereka berdua terguncang hebat, Tiba-tiba terdengar orang itu mengeluarkan bentakan parau seperti suara seekor biruang marah dan tubuhnya sudah berpusing seperti gasing.
Sin Wan terkejut karena dari pusingan tubuh itu mencuat jari tangan yang menotok secara bertubi-tubi.
Berbahaya sekali serangan ini, maka terpaksa dia meloncat ke belakang untuk menghindarkan diri.
Pada saat itu, suara keributan terdengar oleh orang-orang di luar gedung dan terdengar derap kaki orang berlari-larian menuju ke gedung itu.
Dan kesempatan selagi Sin Wan meloncat ke belakang, Si Kedok Hitam sudah meloncat jauh sekali meninggalkan tempat itu.
Sin Wan berusaha mengejar, akan tetapi orang itu sudah menghilang seperti ditelan kegelapan malam.
Diapun tidak memperdulikan orang-orang yang berdatangan, lalu meloncat dan menghilang pula.
Sin Wan teringat akan percakapan yang didengarnya tadi, maka diapun langsung berlari cepat menuju ke gedung pusaka, di mana tersimpan semua pusaka berharga milik kerajaan.
Dari percakapan tadi dia menduga bahwa Si Kedok Hijau dan Kedok Biru agaknya ditugaskan oleh atasannya tadi untuk mencuri pusaka dari dalam gedung pusaka.
Di mana lagi pusaka-pusaka dicuri kalau bukan di gedung pusaka, demikian pikirnya dan cepat diapun pergi ke tempat itu.
Dugaannya memang tepat.
Ketika dia meloncat naik ke atas gedung pusaka, dia melihat bayangan dua orang baru saja melayang keluar dari dalam gedung itu, dan diapun melihat beberapa orang penjaga diam tak bergerak di tempatnya, ada yang sedang duduk dan ada yang rebah.
Mereka itu seperti patung saja dan diapun dapat menduga bahwa tentu orang-orang yang melakukan penjagaan di luar gedung pusaka itu telah dibuat tidak berdaya oleh totokan dua orang yang lihai itu.
Cepat dia melompat ke atas bagian yang paling tinggi di mana terdapat dua orang itu, akan tetapi si bayangan itu segera melarikan diri dengan berpencar.
Tentu saja dia tidak mungkin dapat mengejar keduanya, maka secepat kilat dia meloncat ke arah bayangan terdekat dan begitu dekat dia langsung mengirim serangan dengan jurus paling ampuh dari ilmu Sam-sian Sin-ciang (Tangan Sakti Tiga Dewa).
Andaikata orang itu memiliki ilmu kepandaian beberapa kali lipat dari pada tingkatnya yang sekarangpun belum tentu dia akan mampu menghindarkan diri dari serangan dahsyat ini.
Orang itu hanya mengeluh dan roboh, pasti akan terguling kalau saja tidak cepat disambar oleh tangan Sin Wan.
Orang itu tidak mampu bergerak, akan tetapi masih dapat bicara karena jari tangan Sin Wan tadi hanya menghentikan jalan darahnya saja, buat kaki tangannya lumpuh.
"Barang-barangnya...... dibawa...... temanku........"
Sin Wan percaya karena dia melihat bahwa orang ini tidak membawa apa-apa.
Dia membebaskan totokannya dan cepat berkelebat pergi untuk mengejar bayangan kedua yang katanya membawa barang-barang, tentu benda-benda pusaka yang dicuri dua orang maling itu.
Yang penting adalah mendapatkan kembali benda-benda pusaka yang dicuri, dan dia tidak ingin membiarkan orang itu dalam keadaan tertotok di atas atap karena kalau sampai dia jatuh, tentu akan tewas.
Yang penting sekarang baginya adalah menangkap orang yang melarikan benda pusaka.
Sin Wan mengerahkan seluruh tenaganya berlari cepat dan akhirnya dia dapat melihat bayangan itu berloncatan dari atas atap ke atas atap, rumah lain dan dia terus mengejar secepatnya.
Ternyata orang itu berlari ke rumah gedung milik Pangeran Mahkota yang tadi!
Berdebar rasa jantung di dada Sin Wan.
Kalau Si Kedok Hitam tadi berada dirumah itu, dia akan menghadapi lawan berat.
Si Kedok Hitam itu sudah berat, apalagi kalau dibantu orang-orang lain.
Akan tetapi dia tidak merasa takut.
Melihat orang itu menghilang ke dalam gedung, diapun cepat mengintai dari atas atap.
Yang membuat dia heran adalah bahwa kini seluruh gedung dipasangi lampu penerangan, tidak seperti tadi.
Dia mengintai ke ruangan tengah dan betapa kaget dan herannya melihat Pangeran Mahkota Chu Hui San berada di situ, duduk menghadapi meja panjang ditemani empat orang wanita muda yang cantik-cantik.
Dari pakaian mereka Sin Wan tahu bahwa empat orang wanita itu pasti bukan selir atau dayang dari istana.
Agaknya sang pangeran mata keranjang itu sedang bersenang-senang ditemani empat orang wanita panggilan.
Anehnya, kenapa baru sekarang pangeran itu berada di situ sedangkan tadi, hanya kurang lebih dua jam yang lalu, belum ada?
Dan kini di sekeiiling gedung itu terdapat pengawal, tidak seperti tadi.
Bagaimana si pencuri pusaka dapat masuk ke situ tanpa diketahui pengawal?
Kalau bersembunyi, dapat bersembunyi di mana?
Sin Wan meragu.
Dia tidak berani lancang turun menemui sang pangeran, karena hal itu akan dianggap dosa besar, mengganggu kesenangan sang pangeran mahkota!
Dia menanti sampai setengah jam lamanya, tanpa melihat apa yang dilakukan putera mahkota itu dengan empat orang wanitanya, hanya bersiap siaga kalau-kalau bayangan tadi muncul dan menyerang sang pangeran, atau kalau-kalau bayangan itu menyelinap keluar lagi.
Akan tetapi tidak terjadi sesuatu.
Bayangan tadi, maling yang dikejarnya, seperti lenyap ditelan bumi.
Karena tidak berani mengganggu Putera Mahkota, terpaksa Sin Wan pulang dengan tangan kosong.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali dia membuat laporan kepada Bhok-ciangkun tentang semua yang dilihat dan dialaminya semalam.
Bhok Cun Ki tentu saja tertarik sekali, terutama tentang Si Kedok Hitam yang amat lihai.
"Begitu lihainya dia sampai dapat menandingimu, Sin Wan? Hemm, tentu dia seorang tokoh besar dari Kerajaan Goan. Dia disebut Yang Mulia? ini menunjukkan bahwa dia seorang bangsawan tinggi, mungkin keluarga Kaisar Mongol yang telah kalah dan jatuh."
"Akan tetapi yang membuat saya tidak mengerti mengapa Pangeran Mahkota tiba-tiba berada di sana, dan mengapa pula Si Kedok Hitam dan dua orang anak buahnya yang mencuri dari gedung pusaka dapat berada di sana pula?"
"Hemm, hal ini memang tidak masuk di akaL Kalau benar Si Kedok Hitam itu seorang bangsawan Mongol, tidak mungkin dia dapat berada di rumah milik Putera Mahkota! Memang aneh sekali. Biarlah sekarang juga akan kuperiksa keadaan di gedung pusaka, apakah ada pusaka yang hilang. Kalau menurut ceritamu tadi, Si Kedok Hitam menyuruh anak buahnya mencuri pusaka milik Kerajaan Mongol, terutama cap-cap dan tanda-tanda kebesaran."
Sebentar saja Bhok Cun Ki memperoleh berita bahwa gedung pusaka memang kecurian barang yang bagi Kerajaan Beng tidak berharga, hanya disimpan di situ sebagai benda sejarah, yaitu tiga buah cap kebesaran kaisar dan sebuah pedang tanda kekuasaan kaisar Mongol.
"Jelas, pencurinya tentulah mata-mata Mongol!"
Seru Bhok Cun Ki.
"Akan tetapi bagaimana mungkin jaringan mata-mata Mongol dapat bersembunyi di rumah Pangeran Mahkota? Hal ini perlu penyelidikan, akan tetapi harus hati-hati sekali agar jangan sampai Putera Mahkota merasa tersinggung. Beliau adalah seorang pangeran, bahkan putera mahkota, calon kaisar. Aku bagaimana juga tidak percaya kalau beliau mempunyai hubungan dengan bangsawan Mongol yang hendak mendirikan kembali Kerajaan Mongol. Mustahil ini!"
"Saya tahu akan kesulitan paman kalau harus menyelidiki urusan ini. Paman seorang panglima, tentu tidak akan berani kalau harus melakukan penyelidikan di rumah gedung milik Putera Mahkota. Akan tetapi saya seorang yang tidak terikat oleh disiplin ketentaraan sehingga saya tidak akan merasa canggung dan rikuh. Apalagi saya membawa tanda kekuasaan dari Sribaginda Kaisar yang saya terima dari suhu."
Bhok Cun Ki mengerutkan alisnya.
"Akan tetapi, bagaimana kalau Pangeran Mahkota marah? Sekali dia memberi isyarat, para jagoan istana akan mengeroyok dan membunuhmu dan kalau engkau melawan, berarti engkau telah menjadi pengkhianat dan pemberontak!"
Sin Wan menggeleng kepala dan tersenyum.
"Saya kira tidak akan begitu, paman. Saya akan menggunakan cara yang halus dan seandainya dia bermain kasar, saya masih mempunyai pelindung, yaitu surat kekuasaan Kaisar dan juga kesaksian saya bahwa ada mata-mata Mongol berlindung di rumah pangeran."
Panglima itu menghela napas panjang. Urusan ini memang penting sekali, dan akan dia bicarakan dengan atasannya, yaitu Jenderal Shu Ta.
"Baiklah, Sin Wan. Akan tetapi berhati-hatilah. Aku amat membutuhkan bantuanmu pada pemilihan bengcu kelak. Dan sebaiknya hal ini kusampaikan dulu kepada Jenderal Shu Ta."
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Bhok-ciangkun berkunjung ke benteng.
Akan tetapi, ternyata dia tidak bertemu dengan Jenderal Shu Ta yang belum datang, dan hanya bertemu dengan wakilnya, yaitu Jenderal Yauw Ti.
Jenderal Yauw Ti yang bertubuh tinggi besar dan gagah itu setelah menerima penghormatan Bhok Cun Ki, bertanya heran.
"Ada kepentingan mendesak apakah yang membuatmu sepagi ini sudah mencari Jenderal Shu?"
Karena Jenderal Yauw Ti juga merupakan atasannya, maka Bhok Cun Ki segera menerangkan tentang pengalaman Sin Wan semalam. Mendengar ini, wajah Jenderal berubah merah dan alisnya berkerut.
"Hemm.... hemmm...... engkau bermain dengan api, Bhok-ciangkun,"
Katanya tak senang.
"Betapa beraninya bocah Uighur itu bicara! Jangan-jangan dia malah mata-mata Mongol yang hendak mengacaukan keadaan. Bagaimana mungkin Pangeran Mahkota.... ah, mustahil. Biar aku sendiri yang akan bicara dengan beliau, dan jikalau ternyata anak Uighur itu membohong, terpaksa aku akan menangkapnya dengan tuduhan menghina Putera Mahkota!" (Lanjut ke
Jilid 09) Asmara Si Pedang Tumpul (Seri ke 02 -Serial Si Pedang Tumpul) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 09 Bhok Cun Ki terkejut.
Dia tahu betapa Jenderal ini membenci suku-suku bangsa lain.
Saya harap Yauw-goanswe (Jenderal Yauw) tidak terburu nafsu.
Saya akan mohon pertimbangan Jenderal Shu.........."
"Heh, apa bedanya? Tidak urung diapun akan bertindak seperti yang kulakukan. Di antara kami tidak pernah ada ketidakcocokan. Kalau timbul masalah, harus kita tanggulangi dengan secepatnya. Pangeran Mahkota dicurigai, maka harus diselidiki sekarang juga untuk menentukan siapa yang bersalah! Sudahlah, serahkan urusan ini ditanganku dan kembalilah!"
Ucapan itu merupakan perintah dan Bhok Cun Ki cepat pulang dengan tubuh panas dingin.
Celaka bagi Sin Wan pikirnya.
Jenderal Yauw adalah seorang yang sepenuhnya setia kepada kaisar dan apalagi putera mahkota, dan seorang yang keras hati dan keras tangan.
Kalau sampai Pangeran Mahkota menyangkal, dan keterangan Sin Wan tidak ada bukti, celakalah Sin Wan!
Setelah tiba di rumah, Bhok Cun Ki cepat memberitahu Sin Wan tentang pertemuannya dengan Jenderal Yauw.
"Wah, repot!"
Katanya cemas.
"Jenderal Shu belum datang dan aku kepergok Jenderal Yauw. Sukar untuk tidak berterus terang, apa lagi diapun atasanku, wakil Jenderal Shu. Dan orang yang keras hati itu langsung saja menanggapi, hendak menyelidiki kepada Pangeran Mahkota. Dia berani bertindak keras terhadap siapa saja, dan kalau sampai engkau tidak dapat membuktikan keteranganmu, tentu engkau dapat dianggap sebagai orang yang melakukan fitnah terhadap Pangeran Mahkota. Jenderal Yauw dapat berbuat hal-hal yang mengejutkan, dan dia selalu keras, akan tetapi dia membela kebenaran, tidak ada yang dapat membantahnya."
"Jangan khawatir, paman. Saya berpegang kepada kebenaran dan saya yakin bahwa Tuhan Yang Maha Adil akan selalu melindungi orang yang berada di pihak benar."
Bhok Cun Ki menghela napas panjang.
"Akan tetapi, semua orang akan mengaku benar, Sin Wan, untuk membela tindakannya."
"Saya mengerti, paman. Manusia dapat dibohongi, akan tetapi Tuhan tidak! Tuhan Maha Mengetahui sehingga akan mengetahui pula siapa benar siapa yang salah. Karena saya yakin bahwa saya benar, tidak melakukan fitnah dan tidak berbohong, maka saya berani menghadapi segala resikonya."
Bhok Cun Ki menghela napas panjang dan memandang pemuda itu dengan kagum.
"Engkau seorang gagah sejati Sin Wan. Aih, kalau dahulu mudaku aku dapat bersikap sepertimu, tentu sekarang tidak akan menanggung akibatnya. Nah, kalau begitu terserah kepadamu, Sin Wan."
Pemuda itu maklum bahwa panglima ini tentu teringat akan permusuhannya dengan Bi-coa Sianli Cu Sui In, akan tetapi dia tidak menanggapi urusan yang amat pribadi itu.
"Saya hanya minta agar paman suka mengusahakan saya dapat menghadap, Pangeran Mahkota sekarang juga."
"Baik, akan kutemui kepala pengawal istana yang kukenal baik. Apalagi engkau memegang tanda kekuasaan dari Sribaginda Kaisar, tentu tidak sukar bagimu untuk menghadap beliau."
Benar saja, dengan bantuan Bhok Cun Ki, tidak sukar bagi Sin Wan untuk memasuki istana dan diapun segera diantar pengawal menuju ke gedung tempat tinggal Pangeran Chu Hui San, putera Mahkota.
Dan suatu kejutan yang sama sekali tidak disangka-sangka oleh Sin Wan menyambutnya ketika dia memasuki kamar tamu dan duduk di ruangan luas itu setelah dipersilakan pengawal untuk menunggu di situ.
Kejutan itu muncul bersama Pangeran Chu Hui San.
Pangeran berusia empatpuluh tahun yang tinggi kurus, bermuka pucat dan bermata cekung, pesolek dan tubuhnya nampak lemah itu muncul bersama seorang pria tampan berusia tigapuluh lima tahun, berpakaian sebagai seorang sastrawan, lembut dan wajahnya cerah dihias senyum, tangan kirinya memegang sebuah kipas putih yang sesuai pula dengan pakaiannya yang serba putih indah, dan seorang gadis yang membuat Sin Wan terbelalak karena gadis cantik yang tersenyum simpul itu bukan lain adalah Tang Bwe Li atau Lili!
Sebagai seorang yang tahu sopan santun, Sin Wan yang sudah mendapat gambaran tentang Pangeran Mahkota dan yakin bahwa dia berhadapan dengan pangeran itu, segera bangkit dari tempat duduknya dan menjatuhkan diri berlutut dengan kaki kiri memberi hormat.
Pangeran Chu Hui San memandang kepada Sin Wan dengan alis berkerut.
Jelas bahwa kunjungan seorang pemuda biasa di pagi hari itu, ketika tubuhnya masih terasa lelah dan malas bangun, mengganggunya.
Akan tetapi kepala pengawal mengatakan bahwa pemuda yang mohon menghadap itu adalah seorang yang memegang tanda kekuasaan kaisar dan mohon menghadap untuk urusan yang teramat penting mengenai keselamatan sang pangeran, maka mau tidak mau dia terpaksa bangun dan menerima tamu itu.
"Sin Wan.......! Engkau yang datang ini?"
Lili berseru, suaranya mengandung kejutan, keheranan dan juga kegembiraan.
"Ehh? Engkau sudah mengenal pemuda ini, nona Lili?"
Sang pangeran bertanya heran.
Lili tersenyum manis dan Sin Wan melihat betapa Lili nampak sudah akrab dengan pangeran itu, bahkan sikapnya tidak sangat merendah seperti sikap orang lain terhadap seorang pangeran mahkota.
"Tentu saja, pangeran! Sejak berusia sepuluh tahun aku sudah mengenalnya!"
Sin Wan yang masih terkejut dan heran, hanya dapat berkata dengan suara lirih.
"Lili, tidak kusangka akan bertemu denganmu di sini."
Dia memandang kepada pria tampan yang berpakaian sastrawan, akan tetapi tidak mengenalnya.
"Aku belum lama berada di sini, Sin Wan, menjadi pengawal pribadi yang mulia pangeran mahkota!"
Melihat kedua orang muda itu saling tegur dan bicara seolah-olah dia sendiri tidak berarti dan sudah dilupakan orang, Pangeran Chu Hui San menjadi marah.
Tidak marah kepada Lili yang diperkenalkan kepadanya oleh Yauw Siucai, dan diangkat menjadi pengawal pribadinya karena selain gadis itu amat lihai, juga cantik menarik sekali dan dia mengharapkan gadis itu sekali waktu akan menyerahkan diri kepadanya.
Dia marah kepada Sin Wan yang dianggapnya telah mengganggu waktunya.
"Orang muda,"
Teguran dengan suara berwibawa.
"Pengawal tadi mengatakan bahwa engkau adalah seorang yang memegang tanda kekuasaan Kaisar. Benarkah itu? Kalau benar, buktikan kepada kami."
Mendengar perintah ini, Sin Wan yang tadinya berlutut dengan sebelah kaki, bangkit berdiri dan mengeluarkan sehelai bendera kecil, yaitu bendera tanda kekuasaan kaisar yang diberikan kepada seorang utusan yang dipercaya.
Melihat benda ini, sastrawan berpakaian serba putih itu cepat menjatuhkan diri berlutut, dan sang pangeran juga membungkuk dengan hormat.
Sastrawan itu yang melihat Lili masih berdiri seperti biasa saja berbisik.
"Nona Lili, berlututlah untuk memberi hormat!"
Lili memandang heran.
"Apa-apaan ini? Mengapa aku disuruh berlutut? Kepada Sin Wan ini?"
"Bukan kepada orangnya, akan tetapi kepada bendera itu. Leng-ki itu adalah bendera kekuasaan dari Sribaginda dan kita menghormatinya sebagai wakil kehadiran Sribaginda sendiri. Berlututlah, nona......"
Kata pula sastrawan itu berbisik.
Mendengar ini, mau tidak mau Lili lalu berlutut, walaupun mulutnya cemberut.
Kalau berlutut menghormati kaisar, tentu saja ia akan melakukannya dengan senang.
Akan tetapi kepada sehelai bendera yang dipegang oleh Sin Wan?
Lucu!
Sementara itu, Pangeran Mahkota lalu berkata.
"Orang muda, kami telah melihat bahwa engkau memang memegang sebuah leng-ki. Simpanlah pusaka itu dan silakan duduk."
Sikap pangeran itu kini menjadi hormat.
Sin Wan hanya ingin membuktikan bahwa dirinya memang menjadi wakil Ciu-sian yang mendapatkan leng-ki dari kaisar, bukan berniat mempergunakan kesempatan itu untuk menyombongkan diri.
Dia cepat menggulung dan menyimpan kembali leng-ki, dan duduk di atas kursi, berhadapan dengan pangeran mahkota.
Setelah sang pangeran duduk, Yauw Siucai dan Lili juga mengambil tempat duduk di belakang pangeran itu.
"Nah, sekarang katakan apa keperluan yang mengenai keselamatan kami itu, dan siapa namamu,"
Kata sang pangeran. Sin Wan memberi hormat sambil duduk dan berkata.
"Sebelumnya harap paduka maafkan saya yang telah berani menghadap paduka tanpa dipanggil dan mengganggu waktu paduka. Nama saya Sin Wan dan saya mewakili suhu Ciu-sian yang menerima titah Sribaginda Kaisar untuk melakukan penyelidikan tentang gerakan jaringan mata-mata Mongol yang merupakan ancaman bagi pemerintah."
"Hemm, kalau engkau melaksanakan tugas seperti itu, kenapa pagi ini datang menghadap padaku? Kami tidak ingin memusingkan kepala dengan segala macam urusan penjagaan keamanan!"
Sang pangeran mulai marah lagi karena merasa terganggu.
"Maafkan saya, Yang Mulia. Tidak sekali-sekali saya berani mengganggu waktu paduka kalau saja malam tadi tidak terjadi sesuatu yang amat aneh sehingga terpaksa saya memberanikan diri menghadap paduka untuk mohon keterangan."
Pangeran Chu Hui San mengerutkan kening dan memandang heran.
"Terjadi apakah dan mengapa minta keterangan dari kami?"
Dengan singkat namun jelas Sin Wan lalu menceritakan pengalamannya semalam, betapa dia melihat tiga orang berkedok berada di rumah gedung peristirahatan milik pangeran mahkota diluar lingkungan istana, sebelum melihat sang pangeran berada di rumah itu.
"Demikianlah, Yang Mulia. Saya hanya ingin mohon keterangan, siapakah tiga orang berkedok itu."
Wajah Pangeran Mahkota menjadi merah.
"Memang benar semalam kami pergi ke rumah peristirahatan kami di luar istana, dikawal oleh sepasukan pengawal. Akan tetapi di sana tidak ada siapa-siapa lagi. Kami tidak mengerti apa yang kau maksudkan dengan orang-orang berkedok itu!"
Tiba-tiba Lili yang berada di belakang pangeran itu menegur.
"Sin Wan, semalam aku tidak disuruh mengawal yang mulia pangeran. Kalau engkau memang melihat tiga orang berkedok berada di rumah pangeran, kenapa engkau tidak menangkap mereka?"
"Benar sekali pertanyaan itu,"
Kata sang pangeran.
"Engkau bertugas sebagai penyelidik, kenapa engkau tidak menangkap mereka?"
"Mohon maaf, yang mulia. Orang berkedok itu lihai bukan main dan saya tidak berhasil menangkapnya. Adapun si kedok hijau dan kedok biru yang melakukan pencurian di gedung pusaka, setelah saya kejar, dia melarikan diri dan menghilang pula di gedung peristirahatan paduka itu dan lenyap. Karena semalam saya melihat paduka berada di sana maka saya tidak berani melakukan pengejaran ke dalam."
Kini sastrawan berpakaian putih yang nampak lembut itu, memberi hormat kepada pangeran dan berkata dengan halus.
"Maaf, pangeran. Urusan yang diceritakan pemuda ini menyangkut nama paduka, oleh karena itu, haruslah dibuktikan kebenarannya. Pemuda ini harus dapat memperlihatkan bukti dari apa yang dia ceritakan."
"Tepat sekali! Nah, Sin Wan, apa buktinya bahwa semua ceritamu itu benar-benar terjadi?"
Tanya sang pangeran. Pada saat itu, kepala pengawal masuk dan menjatuhkan diri berlutut di ambang pintu ruangan.
"Mohon ampun yang mulia. Jenderal Yauw Ti mohon menghadap paduka sekarang juga!"
Sebelum sang pangeran menjawab, jenderal yang tinggi besar itu sudah melangkah masuk dan dia menjatuhkan diri berlutut dengan sebelah kaki dan memberi hormat kepada pangeran mahkota.
Kepala pengawal segera mengundurkan diri dengan hati lega karena kemunculan jenderal itu membebaskan dia dari kemarahan sang pangeran.
"Pangeran, hamba ingin bicara penting dengan paduka sekarang juga!"
Kata jenderal itu dengan sikap dan suara tegas.
Pangeran mahkota mengerutkan alisnya dan memandang kepada jenderal itu.
Biarpun sikapnya jelas menunjukkan bahwa hatinya tidak senang dengan semua gangguan ini, namun dia tahu bahwa jenderal yang datang ini adalah seorang kepercayaan ayahnya dan terkenal jujur dan keras, maka diapun mengangguk dan berkata.
"Hemm, kiranya engkau, Jenderal Yauw Ti. Ada urusan apakah pagi-pagi begini engkau sudah datang berkunjung?"
Jenderal itu tanpa dipersilakan lalu bangkit dan duduk, kemudian dia memandang kepada Sin Wan dan mukanya berubah kemerahan seperti orang marah.
"Yang Mulia, kebetulan sekali urusan yang hendak hamba bicarakan mengenai diri pemuda itu. Hamba mendengar dari Bhok-ciangkun bahwa pemuda itu, eh, siapa namanya, Sin Wan? Ya, dia memberi keterangan bahwa dia melihat penjahat dan pencuri bersembunyi di dalam rumah peristirahatan paduka. Urusan ini teramat penting, menyangkut nama baik paduka dan harus dibikin terang sekarang juga."
"Ahh, kamipun sedang membicarakan soal itu dengan Sin Wan ini dan kami sedang menuntut agar dia dapat membuktikan apa yang dia ceritakan itu,"
Kata sang pangeran.
"Tepat sekali itu, Pangeran yang mulia!"
Seru Jenderal Yauw Ti.
"Memang hamba sendiripun merasa penasaran mendengar cerita itu dan hamba menuntut agar pemuda Uighur yang kebetulan menjadi murid Sam-sian ini membuktikan kebenaran ceritanya."
"Pangeran!"
Tiba-tiba Lili berseru dengan suara tegas.
"Urusan ini sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan suku bangsa atau keturunan! Saya memprotes kalau orang menekankan kepada kesukuan Sin Wan!"
Sin Wan sendiri terkejut.
Dia tahu benar bahwa gadis liar ini memang mencintanya, akan tetapi membelanya secara demikian kasar, di depan Pangeran Mahkota dan seperti menyerang Jenderal Yauw Ti, sungguh merupakan perbuatan yang terlalu berani dan lancang.
Pangeran Chu Hui San hanya tersenyum, agaknya dia sudah mengenal watak pengawal pribadinya yang baru itu sehingga tidak merasa heran melihat peledakan ini.
Akan tetapi, jenderal Yauw Ti mengerutkan alisnya yang tebal dan memandang kepada Lili dengan mata melotot marah.
Akan tetapi, gadis itupun memandang kepadanya dengan balasan mata melotot yang tidak kalah sengitnya!
"Yang Mulia, siapakah gadis yang kasar dan lancang ini?"
Tanya sang jenderal, menahan kemarahannya karena di depan Pangeran Mahkota tentu saja dia tidak berani bersikap kasar. Pangeran Mahkota segera menengahi dan menyabarkan Jenderal Yauw Ti.
"Jenderal Yauw Ti, harap jangan marah. Ia ini Lili, eh, nona Tang Bwe Li dan ia adalah pengawal pribadiku yang baru. Ia amat lihai dan boleh dipercaya, dan yang ini adalah Yauw Siucai. Eh, menarik sekali karena kebetulan nama keluarganya sama dengan margamu. Yauw Siucai ini adalah pengawal juga akan tetapi sekarang dia telah menjadi guru sastra untuk puteraku."
Jenderal Yauw Ti mengangguk-angguk, kemudian dia kembali memandang kepada Sin Wan dan berkata.
"Seperti hamba katakan tadi, pangeran. Tuntutan paduka memang tepat dan pemuda itu harus dapat membuktikan bahwa omongannya itu betul. Nah, Sin Wan, bagaimana jawabanmu?"
Sejak tadi Sin Wan hanya menjadi penonton saja.
Dia tidak khawatir terhadap jenderal itu karena tahu bahwa jenderal itu adalah orang yang amat setia kepada Kerajaan Beng, seorang yang sudah berjasa besar.
Adapun sastrawan itu, kalau dia itu pengawal dan juga guru sastra di istana, tentu merupakan orang yang boleh dipercaya.
Hanya dia masih bingung dan harus heran melihat Lili secara tiba-tiba menjadi pengawal pribadi Pangeran Chu Hui San!
Kini, menghadapi pertanyaan jenderal galak yang agaknya tidak suka kepada suku bangsa Uighur itu, dengan sikap tenang diapun menatap wajah jenderal itu.
"Kalau jenderal sekarang memeriksa ke gedung pusaka, tentu akan mendengar bahwa ada benda-benda yang hilang dan itu merupakan bukti kebenaran cerita saya. Juga para penjaga yang tertotok semalam, akan dapat bercerita. Itulah bukti saksi kebenaran keterangan saya."
"Hemm, itu hanya saksi bahwa memang gedung pusaka pernah dimasuki pencuri. Itu tidak ada sangkut-pautnya dengan nama yang mulia Pangeran Mahkota. Yang kami tuntut pembuktiannya adalah keteranganmu bahwa para penjahat berkedok berada di rumah gedung milik beliau. Nah, engkau harus dapat membuktikan itu. Mari kita bersama menggeledah rumah itu untuk mencari orang-orang berkedok yang kau ceritakan itu!"
"Sudah pasti kita tidak akan dapat menemukan seorangpun!"
Bantah Sin Wan sambil tersenyum.
"Mereka adalah orang-orang lihai dan tidak mungkin mereka begitu bodoh untuk tinggal diam saja disana menunggu ditangkap."
"Orang muda, hati-hati dengan kata-katamu. Engkau telah melempar fitnah dengan mengatakan bahwa ada penjahat bersembunyi di rumah yang mulia Pangeran Mahkota. Apakah engkau hendak mengatakan bahwa beliau bersekongkol dengan penjahat berkedok?"
Sin Wan terkejut bukan main. Tak disangkanya bahwa urusan membelok sedemikian rupa sehingga dia yang kini terancam bahaya! "Ah, sama sekali tidak, Jenderal!"
"Kaubilang sama sekali tidak? Akan tetapi bagaimana kalau orang-orang mendengar bahwa pencuri pusaka lari menghilang ke dalam rumah pangeran, dan mendengar bahwa engkau melihat tiga orang berkedok berada di rumah itu? Apakah tidak didesas-desuskan orang bahwa Pangeran Mahkota menyembunyikan penjahat-penjahat di rumah beliau? Hayo katakan, bagaimana engkau dapat membuktikan kehadiran para penjahat di rumah beliau. Kalau tidak, terpaksa aku akan menangkap dan menahanmu sebagai orang yang menghina dan melempar fitnah kepada Pangeran Mahkota!"
Sin Wan tak dapat menjawab dan dia semakin terkejut.
Dia yang kini terancam bahaya, akan tetapi dia tidak menyalahkan kekerasan Jenderal Yauw Ti.
Jenderal itu memang sudah sepantasnya kalau mencurigainya.
Pria berpakaian sastrawan itu kini berkata dan suaranya tetap lembut.
"Saudara Sin Wan yang gagah, apa yang dikatakan tay-ciangkun (panglima besar) Yauw memang tidak keliru. Sebaiknya kalau engkau dapat membuktikan kebenaran keteranganmu dengan menangkap semua atau seorang di antara para penjahat berkedok itu, baru engkau mendapatkan bukti."
Sin Wan menggeleng kepala. '"Bagaimana mungkin saya dapat mencari mereka? Selain lihai, merekapun berkedok sehingga saya tidak mengenal wajah mereka."
"Kalau begitu, kami harus menangkap dan memeriksamu, mengusut perkara ini, dengan tuduhan engkau sudah menghina Yang Mulia Pangeran!"
Jenderal itu lalu menengok ke arah pintu untuk memanggil pasukan.
"Tunggu........!!"
Tiba-tiba Lili melangkah maju dan mengeluarkan suara bentakan yang mengejutkan semua orang.
"Sin Wan, keluarkan, leng-kimu tadi, cepat!"
Sin Wan yang tadinya sudah merasa bingung, tiba-tiba teringat bahwa dia memiliki senjata yang ampuh, yaitu bendera tanda kekuasaan dari kaisar itu.
Kini, mendengar seruan Lili, demi untuk menyelamatkan diri, diapun mengeluarkan bendera kecil itu dan mengangkatnya ke atas kepala.
Lili segera menjatuhkan diri berlutut menghadap Sin Wan dan berseru dengan suara lantang.
"Banswe, ban-ban-swe (hidup Sribaginda Kaisar)!"
Seruan ini biasa dilakukan orang apabila menghadap kaisar untuk memberi hormat dan memujikan kaisar panjang umur sampai selaksa tahun!
Melihat ulah gadis ini, mau tidak mau semua orang menjatuhkan diri berlutut dengan satu kaki memberi hormat kepada bendera kekuasaan kaisar itu dengan seruan yang sama.
"Siapa yang menghina pemegang leng-ki, sama dengan menghina kaisar sendiri!"
Seru Lili. Jenderal Yauw Ti menjadi penasaran.
"Leng-ki berada di tangan orang yang salah! Aku harus menangkap Sin Wan ini!"
"Menangkap pemegang leng-ki sama dengan menangkap Sribaginda Kaisar! Apakah engkau hendak memberontak terhadap Sribaginda, Jenderal? Kalau begitu halnya, sebagai hamba yang setia aku akan menentangmu!"
Lili juga berdiri dan sikapnya menantang. Melihat ini, Pangeran Mahkota melerai.
"Hentikanlah keributan ini dan kita bicara dengan kepala dingin."
"Pangeran,"
Kata Lili cepat mendahului jenderal itu.
"Aku mengenal benar siapa Sin Wan. Dia seorang pendekar yang gagah perkasa, dan aku yakin dia tidak akan melakukan hal yang salah, apalagi menghina dan menyebar fitnah kepada paduka! Dia pemegang leng-ki, kalau kita mengganggunya, tentu Sribaginda akan marah sekali."
Saking emosinya, gadis itu sampai lupa diri dan menyebut diri sendiri aku begitu saja kepada Pangeran Mahkota!
Pangeran Chu Hui San maklum akan kebenaran pendapat Lili, maka diapun menyabarkan hati Jenderal yang galak itu.
"Sudahlah, Jenderal Yauw Ti. Apa yang dikatakan Lili memang benar. Engkau, tidak boleh terburu nafsu. Mungkin saja rumahku itu dijadikan tempat persembunyian penjahat di waktu saya tidak berada di sana. Siapa tahu? Penjahat itu lihai dan tentu cerdik. Kalau mereka bersembunyi di sana, siapa yang akan menduga dan menangkap mereka?"
Jenderal itu mengangguk.
"Baiklah, Yang Mulia. Akan tetapi hamba akan melapor dan memprotes kehadapan Yang Mulia Sribaginda Kaisar dan mohon agar leng-ki itu dicabut dari tangan bocah Uighur ini."
Dia lalu berpaling kepada Lili dan melotot.
"Dan kau..... kau...."
Penuh kebencian sinar matanya seperti menyerang diri Lili. Gadis itu membusungkan dadanya.
"Aku mengapa? Engkau jenderal, aku pengawal pribadi pangeran, kita sama-sama mengabdi kepada kerajaan. Kalau aku benar, engkau mau apa? Jangan dikira aku takut padamu, jenderal galak!"
Jenderal Yauw Ti mengepal tinjunya.
Rasanya ingin sekali dia menerjang dan sekali pukul menghancurkan kepala gadis yang begitu beraninya memaki dan menentangnya di depan pangeran.
Akan tetapi, di situ ada pangeran mahkota dan gadis itu adalah pengawal pribadi yang agaknya amat disayangnya, maka tentu saja dia hanya menekan kemarahannya dan setelah memberi hormat kepada sang pangeran, diapun meninggalkan ruangan itu dengan muka merah padam.
"Sin Wan, cepat kau pergi. Selidiki dan sedapat mungkin tangkaplah orang-orang berkedok itu, jangan lagi datang ke sini karena yang mulia pangeran tidak tahu apa-apa tentang mereka,"
Kata Lili.
"Biar kuantar engkau keluar agar jangan diganggu jenderal galak itu!"
Lili memberi hormat kepada Pangeran Mahkota.
"Pangeran, perkenankan saya mengantar Sin Wan keluar dari istana."
Pangeran itu.
menghela napas panjang dan menggerakkan tangan memberi isyarat agar mereka pergi.
Sin Wan memberi hormat, lalu dia keluar dari ruangan itu bersama Lili.
Dengan mudah mereka melewati semua penjagaan, karena para penjaga sudah mengenal gadis cantik yang menjadi pengawal pribadi yang baru dari Pangeran Mahkota.
Tak lama kemudian rnereka sudah tiba di luar pintu gerbang istana.
"Nah, selamat jalan, Sin Wan. Berhati-hatilah engkau, agaknya jenderal galak itu membencimu."
"Terima kasih, Lili. Kenapa engkau melakukan, semua ini untukku? Kenapa engkau begini baik kepadaku dan berani menentang seorang jenderal berkuasa untuk membelaku?"
Tanya Sin Wan sambil menatap wajah cantik itu.
Sebetulnya tidak perlu lagi dia bertanya, karena dia sudah tahu.
Akan tetapi karena dia sangat berterima kasih dan terharu, karena tanpa pembelaan Lili mungkin dia sudah menjadi tawanan, dia mengajukan pertanyaan itu.
"Kenapa, Sin Wan? Engkau masih bertanya lagi, kenapa? Lupakah engkau bahwa aku cinta padamu? Aku rela mengorbankan nyawa untuk membelamu karena aku cinta padamu, Sin Wan. Selamat jalan."
Gadis itu membalikkan diri dengan cepat dan memasuki lagi pintu gerbang daerah istana yang terlarang itu.
Sin Wan berdiri mematung, mengamati kepergian gadis itu sampai lenyap, di sebelah dalam pintu gerbang.
Dia menghela napas dan membalikkan tubuh, pergi dari situ.
Dia merasa iba kepada Lili dan merasa rmenyesal mengapa dia tidak dapat membalas cinta kasih yang demikian besarnya.
Cintanya masih kepada Lim Kui Siang, namun gadis yang dicintanya dan yang tadinya juga mencintanya, sekarang berbalik membencinya karena dia dianggap musuh besarnya!
Ayah tirinya, yang juga merupakan guru pertamanya, telah membunuh ayah gadis itu.
Sin Wan segera melupakan wajah kedua orang gadis itu dan menyadari kembali keadaannya.
Penyelidikannya telah gagal, bahkan kini dia yang terancam oleh kecurigaan Jenderal Yauw Ti.
Kalau jenderal itu melapor kepada kaisar, bukan tak mungkin dia akan ditangkap dan dituduh telah menghina pangeran mahkota.
Cepat dia melangkahkan kakinya menuju ke benteng, dan di sana dengan girang dia dapat menghadap Jenderal Shu Ta!
Hanya jenderal inilah yang agaknya dapat menolongnya karena jenderal ini adalah atasan jenderal Yauw Ti.
Setelah duduk berhadapan dengan Jenderal Shu Ta, Sin Wan melaporkan segala yang telah dialaminya semalam, kemudian betapa dia diancam oleh Jenderal Yauw Ti yang menganggap dia menghina pangeran mahkota.
Setelah mendengarkan semua laporan Sin Wan dengan penuh perhatian, Jenderal Shu Ta mengangguk-angguk.
"Jenderal Yauw Ti memang berwatak keras, dan secara tidak kebetulan bagimu, dahulu dia pernah tertawan bangsa Uighur dan mengalami siksaan sebagai tawanan musuh sehingga setelah dia dapat dibebaskan, dia menaruh dendam kebencian kepada bangsa Uighur. Biarpun demikian, apa yang dia lakukan terhadap dirimu bukan semata karena dendam kepada bangsamu itu, melainkan berdasarkan perhitungan yang tidak dapat disalahkan. Memang, kalau tidak ada bukti, keteranganmu itu dapat dianggap sebagai penghinaan dan pencemaran nama baik pangeran mahkota. Kurasa, benar seperti pendapat pangeran mahkota, para penjahat itu sengaja mempergunakan rumah peristirahatannya yang kosong untuk bersembunyi, dan aku sendiripun tidak akan menyangka bahwa rumah itu akan dijadikan tempat persembunyian penjahat. Sudahlah, aku akan menemui Jenderal Yauw Ti agar dia tidak menghadap Sribaginda Kaisar."
Lega rasa hati Sin Wan.
Ketika dia meninggalkan benteng matahari telah naik tinggi dan dia merasa lapar.
Sejak pagi dia belum makan.
Sin Wan lalu pergi ke sebuah rumah makan besar di sudut kota yang tidak begitu ramai.
Akan tetapi sebelum tiba di rumah makan itu, ketika melewati sebuah rumah penginapan, tiba-tiba dia melihat dua orang di pekarangan rumah penginapan yang membuat dia cepat menyelinap agar tidak kelihatan oleh mereka.
Jantungnya berdebar penuh ketegangan ketika dia mengenal seorang di antara mereka.
Wanita cantik yang memasuki pekarangan, bersama seorang kakek tinggi kurus itu adalah Bi-coa Sianli Cu Sui In, bekas guru Lili yang kini menjadi sucinya!
Dia tidak mengenal kakek itu, akan tetapi melihat Cu Sui In, diapun teringat kepada Lili dan timbul keinginan tahunya Lili sendiri sudah menjadi pengawal pribadi pangeran mahkota.
Dia sendiri tidak menaruh curiga sedikitpun terhadap Lili, karena dia yakin bahwa Lili adalah seorang gadis yang pada dasarnya memiliki hati yang baik, walaupun ia kasar dan liar.
Akan tetapi, lain lagi dengan Bi-coa Sianli!
Wanita iblis ini telah menewaskan dua orang di antara tiga gurunya, yaitu Kiam-sian (Dewa Pedang) dan Pek-mau-sian (Dewa Rambut Putih).
Seorang wanita yang lihai bukan main, juga amat kejam.
Kehadirannya di kota raja ini sungguh mencurigakan.
Dan yang lebih menarik hatinya, kini dia tahu bahwa Cu Sui In yang masih tetap cantik dalam usia setengah tua itu dahulu adalah kekasih Bhok Cun Ki.
Wanita inilah yang menyuruh Lili untuk membunuh Bhok Cun Ki.
Dan kini ia datang sendiri ke kota raja.
Siapa pula kakek yang tinggi kurus itu?
Dia harus menyelidiki.
Siapa tahu ada kaitannya antara mereka dengan orang-orang berkedok.
Andaipun tidak ada kaitannya, dia harus menyelidiki demi Lili dan Bhok Cun Ki.
Setelah melihat kedua orang itu memasuki rumah penginapan, Sin Wan menggunakan kepandaiannya, memasuki rumah penginapan itu dengan mengambil jalan memutar dari kebun belakang.
Ketika dia melewati sebuah kamar yang pintunya tertutup, dia mendengar suara Cu Sui In, atau yang diduganya suara iblis betina itu, suara wanita yang merdu dan dingin.
"Sungguh heran, di mana sumoi? Susah benar mencari jejaknya!"
Lalu terdengar suara parau dan dalam seorang pria, tentu pria yang sudah tua, didahului suara tawanya.
"Ha..ha..ha, engkau memang aneh sekali, Sui In! Heran aku mengapa ada kebencian yang dapat kaupendam sedemikian lamanya? Kebencian yang aneh. Kalau menghendaki dia mampus, apa sukarnya? Engkau malah menyuruh anakmu yang membunuh ayah kandungnya, dan sekarang engkau gelisah sendiri. Ha..ha..ha, sungguh mati, seorang wanita memang makhluk paling aneh di dunia ini."
"Ayah, lebih baik jangan bicara tentang itu!"
"Kenapa? Dia itu muridku, juga cucuku satu-satunya!"
"Sudahlah, ayah. Sudah kukatakan, jangan mencampuri urusan pribadiku yang satu ini!"
Sunyi di kamar itu dan Sin Wan cepat menyelinap pergi.
Wajahnya berubah penuh ketegangan dan harus menenteramkan hatinya lebih dulu di jalan kecil, lorong di belakang rumah penginapan itu.
Mereka bicara tentang Lili!
Dan ternyata Lili adalah puteri Cu Sui In, dan pria tua yang disebut ayah oleh Bi-coa Sianli itu, yang mengakui Lili sebagai cucunya, siapa lagi lagi kalau bukan See-thian Coa-ong?
Kenyataan ini terlalu hebat bagi Sin Wan, membuatnya terkesima dan seperti kehilangan akal.
Iblis betina itu mendendam secara aneh kepada Bhok Cun Ki!
Dan Lili ternyata puterinya, puteri Cu Sui In dan puteri Bhok Cun Ki!
Kini mengertilah Sin Wan.
Ketika Bhok Cun Ki meninggalkan kekasihnya, Cu Sui In, wanita itu dalam keadaan mengandung.
Hal ini agaknya tidak diketahui Bhok Cun Ki.
Pantaslah, Cu Sui In demikian mendendam kepada kekasihnya atau ayah dari anaknya.
Akan tetapi, betapa kejamnya iblis betina itu.
Dendamnya hendak dibalasnya secara aneh, yaitu ia hendak mengadu anaknya agar bermusuhan dengan ayahnya sendiri.
Ia hendak membuat ayah dan anak itu saling berbunuhan.
Hal ini harus dicegah!
Sin Wan merasa amat iba kepada Lili, gadis yang malang itu, yang amat mencintanya, dan andaikata di sana tidak ada Kui Siang, betapa akan mudahnya membalas cinta kasih seorang gadis seperti Lili.
Akan tetapi bagaimana cara mencegahnya?
Menasehati mereka tidak akan ada gunanya, dan pula, diapun tidak berhak mencampuri urusan rumah tangga dan urusan pribadi mereka.
Akan tetapi satu hal sudah jelas, Bi-coa Sianli Cu Sui In dan ayahnya See-thian Coa-ong, tidak ada hubungannya dengan orang-orang berkedok yang bersembunyi di rumah peristirahatan pangeran mahkota.
Agaknya ayah dan anak itu baru tiba sekarang dan mereka mencari-cari Lili yang oleh sucinya disuruh membunuh Bhok Cun Ki.
Gadis yang malang itu sama sekali tidak menyadari bahwa yang disuruh bunuh adalah ayah kandungnya sendiri, dan yang menyuruhnya adalah ibunya sendiri!
Sin Wan teringat.
Hampir saja Lili tewas ketika bertanding melawan Bhok Cun Ki, diserang oleh orang lain secara menggelap, kemudian diselamatkan atau ditolong oleh Bhok Cun Ki.
Sebaliknya kalau mereka itu saling dipertemukan agar Lili dapat bercerita kepada sucinya tentang sikap Bhok Cun Ki.
Mungkin saja kebaikan hati Bhok Cun Ki terhadap Lili akan mencairkan kebekuan hati mendendam dalam dada wanita itu.
Tidak terlalu lama dia menanti di depan rumah penginapan itu.
Ketika dia melihat ayah dan anak itu keluar dari pintu depan rumah penginapan, cepat dia memasuki pekarangan dan menyongsong mereka.
Cu Sui In masih tidak berubah, masih seperti dulu ketika dia melihatnya dalam pertemuan antara pimpinan kai-pang (perkumpulan pengemis) untuk merebutkan kedudukan pimpinan para kai-pang.
Peristlwa itu terjadi setahun lebih yang lalu ketika dia bersama Kui Siang mengikuti Pek-sim Lo-kai Bu Lee Ki yang akhirnya menjadi pemimpin besar para kai-pang kembali, kedudukan yang sebelum itu juga dipegangnya.
Akan tetapi dipilihnya Pek-sim Lo-kai adalah karena keputusan atau perintah dari Raja Muda Yung Lo, sehingga para calon lainnya terpaksa mundur, di antara mereka terdapat pula Bi-coa Sianli Cu Sui In.
Ketika Sin Wan bertemu pandang dengan kakek yang berjalan di samping wanita cantik itu, diam-diam dia terkejut dan kagum.
Sinar mata kakek ini mencorong seperti mata seekor naga.
Biarpun tubuhnya tinggi kurus, namun kakek ini kelihatan gagah dan berwibawa, terutama sekali matanya.
"Harap ji-wi memaafkan saya......"
Sin Wan memberi hormat dan mengangkat kedua tangannya ketika dia berdiri di depan kedua orang itu, menghadang perjalanan mereka.
"Hemm, orang muda, siapa engkau dan mau apa?"
See-thian Coa-ong bertanya, senyumnya yang selalu menghias mulut seperti orang mengejek itu tidak pernah meninggalkan bibir.
"Heii, bukankah engkau...... murid Sam-sian yang bernama Sin Wan itu?"
Cu Sui In berseru sambil menudingkan telunjuk kanannya ke arah muka Sin Wan.
Ia teringat akan pengakuan sumoinya.
Lili mencinta pemuda ini!
"Mau apa engkau menghadangku?
Apakah engkau hendak membalaskan kematian Kiam-sian dan Pek-mau-sian?"
"Tidak sama sekali. Saya hanya ingin memberitahu kepada ji-wi locianpwe bahwa saya pernah bertemu dengan Lili, dan ketika tadi melihat ji-wi, saya lalu bermaksud memberitahu."
Cu Sui In menatap tajam.
"Engkau bertemu dengan Lili? Di mana ia?"
Pertanyaannya dilakukan tergesa-gesa karena hatinya gembira mendengar itu.
"Di dalam istana kaisar!"
Jawab Sin Wan.
"Ahhh??"
See-thian Coa-ong sendiri dan puterinya mengeluarkan seruan kaget. Bagaimana mungkin Lili berada di istana kaisar? "Apa maksudmu, Sin Wan?"
Tanya Bi-coa Sianli Cu Sui In.
"Saya bertemu Lili di dalam istana. Ia tinggal di istana Pangeran Mahkota Chu Hui San sebagai pengawal pribadi beliau. Hanya itu yang ingin saya sampaikan kepada jiwi, selanjutnya terserah kepada ji-wi."
Sin Wan membalikkan diri hendak meninggalkan tempat itu.
"Haii, tunggu!"
Terdengar kakek itu membentak dan Sin Wan terpaksa menghentikan langkahnya, membalik dan kembali berhadapan dengan mereka.
"Sikapmu mencurigakan sekali. Hayo katakan terus terang apa maksudmu dengan pemberitahuan ini atau kau akan kubunuh sekarang juga!"
"Ayah, dia adalah pemuda yang dicinta Lili. Sin Wan, kenapa engkau memberitahukan tetang Lili kepadaku?"
"Lili telah menyelamatkan saya. Saya berhutang budi kepadanya, akan tetapi saya khawatir dengan kehadirannya di istana. Amat berbahaya bagi gadis seperti Lili, akan tetapi saya tidak berdaya, tidak dapat mencegahnya. Oleh karena itu ketika saya melihat ji-wi, saya memberitahu agar ji-wi dapat mengeluarkannya dari istana."
Sin Wan memberi hormat dan kini dia pergi tanpa dicegah oleh ayah dan anak itu. Setelah pemuda itu pergi, Cu Sui In berkata kepada ayahnya.
"Ayah, sekarang juga kita ke istana, menemui Lili dan mengajaknya keluar. Apa-apaan ia menjadi pengawal pribadi pangeran mahkota segala!"
"Ha..ha, siapa tahu ia ingin menjadi isteri pangeran mahkota agar kelak menjadi pemaisuri kaisar? Ha..ha..ha..ha!"
Akan tetapi datuk ini menurut saja ketika puterinya menarik tangannya dan mengajaknya pergi menuju ke istana!
Ketika Lili kembali ke istana pangeran setelah mengantar Sin Wan keluar istana, seorang pengawal menyambutnya dan memberitahu bahwa ia dipanggil oleh pangeran di dalam kamarnya.
Lili tidak menyangka buruk dan iapun mengetuk daun pintu kamar yang tertutup itu.
"Yang Mulia, saya Lili siap menghadap paduka kalau diperlukan,"
Katanya lirih.
"Masuklah, Lili, daun pintunya tidak dikunci,"
Terdengar suara pangeran itu dari dalam.
Lili mendorong daun pintu, dibiarkan saja oleh empat orang pengawal yang berjaga di luar kamar, lalu ia melangkah masuk.
Kamar pangeran itu luas dan terang, dengan perabot kamar yang serba mewah, dan tempat tidur yang luas pula.
Pangeran hanya seorang diri saja, rebah miring di pembaringan.
"Tutupkan kembali daun pintunya, Lili,"
Katanya.
Biarpun alisnya berkerut karena belum pernah ia disuruh masuk kamar berdua saja dengan pangeran itu, apalagi daun pintu kamar ditutup, Lili tidak berani membantah dan menutupkan daun pintu kamar.
"Kesinilah, Lili!"
Kata pula pangeran itu dengan suara lembut. Karena mengira bahwa pangeran akan membicarakan urusan penting, Lili melangkah maju ke dekat pembaringan dan berlutut dengan kaki kanan.
"Siap menanti perintah, pangeran,"
Katanya.
"Jangan berlutut di situ, Lili. Duduklah di pembaringan sini......"
"Tidak, pangeran, Saya di sini saja! kata Lili, suaranya mulai mendingin.
"Perintah apa yang harus saya laksanakan untuk paduka?"
"Lili, duduklah di sini dan kau pijitlah tubuhku, terasa lelah......"
Wajah Lili berubah merah dan iapun bangkit berdiri.
"Pangeran, memijit bukan pekerjaan saya. Saya bukan tukang pijit dan kalau paduka lelah dan minta dipijit, biar saya panggilkan selir atau dayang..........."
"Aku ingin engkau yang memijitiku, Lili."
Pangeran itu bangkit duduk.
"Ke sinilah, aku sayang padamu, Lili. Sejak kau berada di sini, aku merindukanmu. Rebahlah di sini, di sampingku, Lili......."
"Pangeran! Apa yang paduka katakan ini? Apakah paduka mabok? Saya tidak sudi!"
"Lili, aku cinta padamu, aku ingin mengangkatmu menjadi selirku terkasih."
"Tidak, aku tidak sudi!"
"Ingat, aku seorang pangeran mahkota, Lili."
Lili sudah marah sekali, kalau ia tidak ingat bahwa pria ini seorang pangeran, putera mahkota, tentu sudah dicekiknya kepala orang itu sampai lumat.
"Tidak, aku tidak sudi, biar kau seorang pangeran mahkota, seorang dewa atau seorang iblis sekalipun! Sekarang juga aku akan pergi, aku tidak sudi menghambakan diri di sini lagi!"
Gadis itu lalu meloncat keluar dan lari meninggalkan tempat itu.
"Pengawal.....!"
Pangeran berteriak dan ketika para pengawal bermunculan, dengan geram dia memerintahkan untuk mengejar dan menangkap Lili.
Akan tetapi para pengawal itu jerih untuk mengejar bekas pengawal pribadi yang kabarnya amat lihai itu.
Apalagi ketika muncul Yauw Siucai, juga pengawal pribadi pangeran dan guru sastra Pangeran kecil Chu Hong yang membujuk mereka agar bertindak lambat dan agar jangan bentrok dengan Lili karena hal itu akan membahayakan mereka sendiri.
Namun, bujukan ini hanya mempengaruhi beberapa orang pengawal saja.
Mereka yang setia kepada pangeran bahkan melapor kepada kepala pengawal dan puluhan orang perajurit pengawal melakukan pengejaran kepada Lili yang berlari ke luar istana.
Bukan main marahnya hati Lili.
Ia tidak tahu bahwa ketika Yauw Siucai memperkenalkan ia kepada Pangeran Chu Hui San, kemudian diterima sebagai pengawal pribadi, pangeran mata keranjang itu menerimanya bukan hanya karena Yauw Siucai memuji kelihaiannya, melainkan terutama sekali karena kecantikannya.
Biarpun sudah ratusan mungkin ribuan orang wanita pernah melayaninya, namun pangeran ini belum pernah mempunyai seorang kekasih yang memiliki ilmu kepandaian tinggi dan juga memiliki watak yang keras dan berani seperti Lili.
Bagaimana mungkin ada seorang gadis yang sikapnya begitu berani terhadap seorang jenderal besar seperti Jenderal Yauw Ti?
Semua itu membuat sang pangeran semakin tergila-gila dan melihat sikap gadis itu terhadap sang jenderal tadi, diapun merasa khawatir kalau suatu saat dia akan kehilangan Lili, maka gairahnya semakin memuncak dan dia mengambil keputusan untuk memiliki Lili saat itu juga.
Namun, baru sekali itu selama hidupnya, ada wanita yang menolak keras ketika dirayunya!
Dalam keadaan marah Lili keluar dari istana.
Ia bukan tidak tahu bahwa besar kemungkinan pangeran akan mengerahkan para pengawal untuk menangkapnya, namun ia tidak perduli dan siapa saja yang akan berani menghalanginya, akan dihajarnya.
"Lili...........!!"
Lili mengangkat muka dan melihat dua orang yang berada di luar pintu gerbang istana, iapun terbelalak dan segera lari menghampiri.
"Suci.....! Suhu.....!!"
Serunya girang bukan main melihat kakak seperguruannya dan gurunya berada di situ.
Akan tetapi pada saat itu, dari pintu gerbang muncul berbondong-bondong para pengawal yang melakukan pengejaran.
Melihat Lili, mereka berteriak-teriak dan mengejar, dipimpin beberapa orang perwira pengawal yang berteriak.
"Tangkap pemberontak!"
"Apa yang terjadi?"
Tanya Cu Sui In.
"Pangeran hendak memaksaku menjadi selirnya, aku tidak sudi dan melarikan diri,"
Kata Lili dan gadis inipun segera menyambut serbuan para pengawal, merobohkan dua orang dengan tamparannya.
Akan tetapi para pengawal sudah menyerangnya dengan senjata di tangan.
Tombak dan pedang golok menyambar-nyambar.
Lili mencabut pedangnya Pek-coa-kiam (Pedang Ular Putih) mengamuk.
Melihat betapa Lili dikepung banyak pengawal yang menyerang mati-matian, tanpa diminta Cu Sui In segera mencabut Hek-coa-kiam (Pedang Ular Hitam) dan terjun ke dalam pertempuran membantu gadis itu.
See-thian Coa-ong Cu Kiat memandahg dengan alis berkerut.
Tentu saja dia tidak mengkhawatirkan dua orang wanita yang dikeroyok itu.
Akan tetapi dia bukan seorang bodoh.
Betapapun lihainya Lili dan Sui In, bahkan ditambah dia sendiri sekalipun, tidak mungkin dapat bertahan kalau datang pasukan besar mengeroyok mereka.
Inilah yang merupakan ancaman karena mereka berada di kota raja, apalagi di depan pintu gerbang istana.
Mereka seperti berada di guha harimau dan selain itu, diapun tidak ingin menjadi pemberontak tanpa alasan yang kuat, hanya karena Lili akan diambil selir seorang pangeran.
Bahkan kalau gadis itu mau, dia malah akan merasa senang sekali.
Mengapa menolak jadi selir seorang pangeran mahkota dan mempunyai kesempatan baik untuk menjadi permaisuri?
Bodoh sekali!
"Lili, Sui In, kita pergi dari sini!"
Serunya dan sekali dia menyerbu, kepungan itu terpecah dan dua orang wanita itu yang juga maklum akan bahaya, segera meloncat keluar dari kepungan yang pecah.
Mereka bertiga berloncatan dengan cepat dan sebentar saja para pengawal itu sudah kehilangan bayangan mereka.
Para pengawal melakukan pengejaran dan kini pasukan pembantu sudah datang sehingga mereka menyebar ke seluruh kota untuk mencari tiga orang itu, terutama Lili.
Di antara mereka yang melakukan pencarian, tentu saja nampak pula seorang pria berpakaian sastrawan serba putih, yaitu Yauw Siucai.
yang berlagak marah-marah ketika mendengar akan peristiwa itu.
"Gadis tak mengenal budi!"
Dia berseru di depan pangeran Chu Hui San.
"Jangan khawatir, yang mulia. Saya akan berusaha mencari dan menemukannya!"
Ketika tiga orang pelarian itu sedang berlari dan berloncatan di sebuah lorong, tiba-tiba saja di depan mereka muncul Yauw Siucai. Tempat itu sunyi, dan Yauw Siucai berkata cepat.
"Ke sinilah! Cepat, sam-wi masuk ke sini!"
Tiga orang itu, dipimpin Lili yang sudah mengenal Yauw Siucai dan mempercayainya, mengikuti pemuda berpakaian putih itu memasuki sebuah pintu samping sebuah rumah dan segera daun pintu itu ditutup dari dalam.
Mereka tiba di sebuah kebun dan tanpa bicara lagi Yauw Siucai mengajak mereka masuk rumah itu dari belakang.
Di sebuah gudang barang, terdapat sebuah pintu rahasia dan diapun membawa tiga orang pelarian memasuki sebuah lorong rahasia dan turun ke dalam sebuah ruangan bawah tanah yang luas dan mewah dan lengkap.
Tiga orang itu sampai terheran-heran dan kagum, tidak mengira bahwa di bawah gedung itu terdapat ruangan bawah tanah yang demikian mewahnya.
"Untuk sementara, harap sam-wi (anda bertiga) bersembunyi dulu di sini sampai pencarian mereda,"
Kata Yauw Siucai kepada mereka.
"Terima kasih atas bantuanmu, Yauw kongcu,"
Kata Lili, lalu ia memperkenalkan gurunya dan kakak seperguruannya.
"Ini adalah suhu dan suciku........."
Yauw Siucai tercengang dan tersenyum girang bukan main.
"Locianpwe See-thian Coa-ong dan Bi-coa Sianli? Ah, sudah lama sekali saya mendengar akan nama besar ji-wi (anda berdua),"
Katanya memberi hormat.
"Suhu dan suci, ini adalah Yauw Kongcu, namanya Yauw Lu Ta dan kami berkenalan dalam perjalanan. Dia yang memperkenalkan aku dengan Pangeran Mahkota dan memasukkan aku menjadi pengawal pribadi. Akan tetapi ternyata Pangeran Chu Hui San hendak kurang ajar kepadaku, maka aku melarikan diri!"
See-thian Coa-ong yang merasa bahwa dia telah terlepas dari bahaya karena pertolongan pemuda tampan berpakaian putih-putih itu berkata.
"Hemm, hari ini Yauw Kongcu telah menyelamatkan kami. Aku tidak akan melupakan budi ini."
Cu Sui In tidak memperdulikan pria yang menolongnya itu, sebaliknya ia mengomel kepada Lili.
"Sumoi, apa saja yang kaulakukan di kota raja? Bukankah aku memberimu tugas penting? Engkau sudah mengabaikan tugasmu?"
Lili memandang sucinya.
"Sama sekali tidak, suci. Juga dengan bantuan Yauw Kongcu, aku sudah, dapat menemukan Bhok Cun Ki........"
"Dan kau sudah membunuhnya?"
Wanita itu bertanya cepat dan suaranya terdengar gemetar. Lili menundukkan mukanya yang agak kemerahan.
"Suci, maafkan aku. Aku telah menantangnya dan kami telah bertanding tapi....... aku kalah........."
Cu Sui In terbelalak dan nampak marah sekali.
"Sumoi, engkau kalah dan engkau masih hidup bahkan bersenang-senang di istana? Hemm, beginikah engkau membalas budi sucimu ini?"
"Hemm, bersabarlah, Sui In,"
Kata See-thian Coa-ong.
"Lili, ceritakan apa yang terjadi. Kalau memang Bhok Cun Ki itu lihai sekali, biar kelak aku sendiri yang turun tangan."
"Jangan, ayah! Ayah jangan mencampuri urusan ini. Nah, Lili, kauceritakan apa yang terjadi."
Lili lalu menceritakan tentang pertandingannya melawan Bhok Cun Ki.
Ia seorang gadis yang terbuka dan jujur, maka ia menceritakan semuanya.
Betapa lihainya Bhok Cun Ki sehingga ia tidak mampu mengalahkannya, bahkan ia yang selalu terdesak.
"Selagi dia mendesakku, tiba-tiba ada senjata rahasia menyerangnya. Akan tetapi dia lihai dan pedangnya dapat menangkis. Celakanya, sebatang paku beracun terpental dan mengenai pundak kiriku. Aku pingsan. Ketika aku siuman, ternyata aku telah berada di rumah Bhok Cun Ki. Dia membawa aku ketika pingsan dan mengobatiku. Akan tetapi setelah siuman, aku menolak kebaikannya itu dan aku melarikan diri. Demikianlah, suci. Maafkan kegagalanku."
Wajah Cu Sui In menjadi merah sekali.
"Sumoi, aku malu sekali kepadamu! Engkau pernah mengatakan bahwa untuk melaksanakan permintaanku, engkau bersedia mempertaruhkan nyawa. Akan tetapi buktinya? Huh, engkau...... engkau sungguh mengecewakan!"
Dicela seperti itu, Lili menjadi marah.
"Suci, apa yang harus kulakukan sekarang? Katakan, biar aku harus mengorbankan nyawaku, akan kulakukan. Aku bukan pengecut seperti yang suci sangka!"
"Bagus!"
Kalau begitu, sekarang juga pergilah cari Bhok Cun Ki dan ulangi tantanganmu. Sekali ini engkau harus berhasil membunuhnya! Kalau tidak, jangan lagi engkau berani mengakui aku sebagai sucimu!"
"Baik! Sekali ini, dia atau aku yang harus mati!"
Seru Lili.
"Itulah yang kumaksudkan. Dia atau engkau yang harus mati!"
Kata Sui In. Lili hendak lari meninggalkan tempat itu, akan tetapi Yauw Siucai segera menghadangnya.
"Bersabarlah, nona Lili, dan kuharap engkau juga bersabar, toanio,"
Katanya kepada Sui In.
"Kalau nona Lili nekat keluar, sebelum dapat bertemu dengan Bhok Cun Ki, tentu ia akan lebih dulu tertangkap oleh pasukan pengawal, dan semuanya akan gagal pula."
"Ha..ha, omongan Yauw Siucai ini benar sekali, Yauw Siucai kalau menurut pendapatmu, bagaimana sebaiknya?"
Kata See-thian Coa-ong.
"Sebaiknya dikirim surat tantangan kepada Bhok Cun Ki dan saya yang akan menyuruh orang menyampaikan. Kemudian, nona Lili dan ji-wi (anda berdua) harus keluar dari sini dengan berpencar dan menyamar menuju ke tempat yang ditentukan untuk bertanding. Dengan demikian aman. Tempat bertanding harus ditentukan di luar kota, sebaiknya di hutan buatan sebelah utara kota raja yang biasa dipergunakan untuk berburu keluarga kaisar. Di sana sepi dan baik sekali untuk bertanding tanpa gangguan."
Mendengar ini, Sui In mengangguk-angguk.
"Bagus, aturlah seperti itu, Yauw Siucai. Kiranya engkau seorang yang cerdik sekali, pantas Lili suka bersahabat denganmu,"
Kata See-thian Coa-ong girang.
"Lili, cepat membuat surat tantangan!"
"Biar aku yang membuatnya!"
Kata Cu Sui In dan Yauw Siucai lalu mengeluarkan alat-alat tulis dari laci sebuah meja di ruangan itu. Sui In lalu membuat surat tantangan singkat dan dimasukkan ke dalam sampul.
"Sekarang saya akan pergi mengirim surat tantangan, sementara sam-wi melakukan penyamaran. Untuk itu, di lemari sudut itu terdapat alat penyamaran lengkap."
Yauw Siucai pergi dan ketika Sui In membuka lemari mereka bertiga tercengang dan kagum.
Di situ tersedia alat penyamaran yang lengkap dari pakaian rambut palsu, pengubah warna kulit sampai alat-alat yang dapat membuat kulit mengeriput dan sebagainya.
Mereka bertiga segera merias diri, menyamar.
Lili dan Sui In menyamar sebagai pria yang tampan, sedangkan See-thian Coa-ong menyamar sebagai seorang pengemis tua yang bongkok!.
Setelah mereka bertiga selesai dengan penyamaran mereka, mereka menanti kembalinya Yauw Siucai.
Tidak terlalu lama mereka menanti karena orang itu segera muncul di situ dengan wajah berseri.
"Sudah saya suruh antar surat tantangan itu dan Bhok Cun Ki pasti akan berada di hutan sebelah utara kota raja. Sekarang sam-wi boleh keluar dan saya melihat penyamaran sam-wi baik sekali."
Mereka semua keluar dari lorong rahasia itu, tiba di gudang dan ketika hendak membuka pintu kebun, Yauw Siucai yang lebih dahulu keluar.
Setelah melihat bahwa lorong itu sunyi, tiga orang yang menyamar itu keluar seorang demi seorang, berpencar dan mengambil jalan masing-masing menuju ke pintu gerbang sebelah utara.
Kota raja masih penuh dengan para perajurit yang melakukan pencarian, akan tetapi tidak seorangpun mengenal Lili dalam penyamarannya sebagai seorang pemuda tampan yang berkumis dan berkulit gelap.
Juga alisnya kini menjadi tebal, bentuk hidungnya menjadi besar.
Dengan cepat Lili berhasil keluar dari pintu gerbang utara dan melanjutkan perjalanan dengan cepat ke utara.
Matahari condong ke barat, dan Lili merasa betapa hatinya gundah.
Biarpun ia tahu bahwa ia tidak akan menang melawan Bhok Cun Ki, ia sama sekali tidak takut.
Ia tidak takut kalah dan ia tidak takut mati karena watak seperti ini sudah ditekankan kepadanya sejak ia kecil oleh sucinya yang dahulu adalah gurunya.
Yang membuat ia merasa gundah bukanlah kelihaian Bhok Cun Ki, melainkan kebaikannya.
Tak mungkin ia dapat melupakan perkelahian yang pernah terjadi antara ia dan panglima itu.
Ia kini tahu benar bahwa pelepas senjata rahasia bukanlah panglima itu, seperti yang juga diterangkan oleh Sin Wan kepadanya.
Ada pihak ke tiga yang melakukannya, dan yang diserang adalah panglima itu, bukan ia.
Akan tetapi, yang terkena paku beracun itu ia dan musuh besar sucinya itu bahkan menolongnya, merawatnya!
Biarpun ia telah bersikap keras dan tidak mau menerima budi itu, namun di dalam hatinya, ia bukanlah orang yang tidak mengenal budi.
Dan sekarang, ia sedang pergi untuk membunuh atau dibunuh orang itu!
Wajahnya semakin muram kalau ia teringat akan sikap dan kata-kata sucinya.
Sungguh sukar mengerti sikap sucinya.
Kenapa sucinya memaksa ia yang membunuh Bhok Cun Ki, pada hal sucinya yang merasa sakit hati?
Kenapa bukan sucinya sendiri yang membalas dendam?
Bahkan ketika guru mereka, atau ayah sucinya hendak turun tangan membunuh Bhok Cun Ki, sucinya melarang dengan keras dan memaksanya agar ia yang melawan Bhok Cun Ki.
Pada hal sucinya sudah mendengar bahwa ia pernah kalah oleh Bhok Cun Ki.
Kenapa sikap sucinya begini aneh, pada hal ia merasakan benar bahwa sucinya amat sayang kepadanya?
Sungguh sikap yang amat berlawanan dan aneh!
Biarpun kedua kakinya dengan ringan melangkah tanpa ragu ke arah tempat yang ditentukan untuk mengadu kepandaian, atau lebih tepat kalau dinamakan mengadu nyawa, namun hatinya terasa berat oleh kebimbangan.
(Lanjut ke
Jilid 10) Asmara Si Pedang Tumpul (Seri ke 02 -Serial Si Pedang Tumpul) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 10 Sin Wan cepat pergi ke rumah keluarga Bhok untuk mencari panglima itu.
Dia harus mengabarkan kenyataan luar biasa itu, bahwa Lili adalah puterinya sendiri, kepada panglima itu!
Akan tetapi, belum dia tiba di rumah keluarga Bhok Cun Ki, dia mendengar tentang keributan di depan istana.
Dia teringat bahwa Lili berada di sana, maka cepat dia kembali lagi dan mendengar bahwa memang gadis itu yang membuat keributan, dan menurut kabar yang dia dengar, gadis itu melarikan diri dari istana dan dikejar-kejar oleh pasukan keamanan.
Juga dia mendengar bahwa ketika tiba di luar istana, gadis itu dibantu oleh seorang wanita cantik dan seorang kakek tinggi kurus dan amat lihai, akan tetapi tiga orang itu lalu melarikan diri dan sampai kini masih terus dicari oleh para perajurit keamanan.
Sin Wan dapat menduga bahwa tentu Lili telah dilarikan oleh See-thian Coa-ong dan Bi-coa Sianli Cu Sui In.
Dia segera kembali menuju ke rumah Bhok Cun Ki.
Ketika tiba di rumah keluarga-Bhok, yang menyambutnya adalah Bhok Cin Han dan Bhok Ci Hwa.
Kakak beradik itu memberitahu kepadanya bahwa ayah mereka telah pergi sejak tadi, setelah mendengar akan keributan yang terjadi di depan istana.
"Kami mendengar bahwa yang membikin kacau adalah seorang pengawal wanita dari Pangeran Mahkota,"
Kata Cin Han.
"Kabarnya ia melarikan diri setelah hampir membunuh Pangeran Mahkota. Agaknya ia seorang mata-mata yang dikirim musuh untuk membunuh Pangeran Mahkota."
"Ayah pergi untuk berusaha menangkap kembali gadis itu, yang kabarnya dibantu dua orang yang amat lihai,"
Kata pula Cin Hwa.
Diam-diam Sin Wan merasa khawatir sekali.
Tentu saja ia tidak memberitahu kepada mereka bahwa yang dimaksudkan dengan gadis pengacau itu bukan lain adalah Lili.
Dia merasa khawatir kalau sampai Bhok Cun Ki bertemu dengan Lili dan See-thian Coa-ong bersama puteri datuk itu.
Dapat berbahaya bagi panglima Bhok.
Maka, tanpa banyak cakap lagi diapun meninggalkan kakak beradik itu dengan alasan untuk membantu ayah mereka mengejar pengacau.
Di sepanjang perjalanan Sin Wan berpikir.
Dia merasa khawatir sekali terhadap keselamatan Lili dan juga Bhok Cun Ki.
Teringatlah dia betapa secara aneh sekali Lili telah menjadi pengawal pribadi Pangeran Chu Hui San.
Dan siapakah Yauw Siucai itu?
Biarpun dia nampak lemah lembut dan ramah halus, namun kehadirannya dekat Lili amat mencurigakan.
Selagi dia berjalan sambil melamun, matanya tidak pernah mengurangi kewaspadaan melihat setiap orang yang berlalu-lalang di jalan-jalan yang menjadi ramai dan penuh ketegangan dengan adanya berita tentang kekacauan itu.
Tiba-tiba dia menyelinap dengan cepat sekali ke samping sebuah rumah di tepi jalan.
Dia melihat sastrawan yang tampan itu berjalan seorang diri.
Yauw Siucai!
Baru saja dia mengenang sastrawan yang dianggap cukup mencurigakan itu dan kini dia melihat orang itu melangkah seorang diri dengan tergesa-gesa sehingga lupa menggunakan kipas besar yang dipegangnya untuk mengusir kegerahan, bahkan kini langkahnya tidak lagi langkah sastrawan yang lemah lembut.
Sepasang kaki itu melangkah dengan gesitnya, dan dari langkahnya saja Sin Wan dapat menduga bahwa orang ini tidaklah selemah tampaknya ketika berada di istana Pangeran Mahkota!
Diapun cepat membayangi Yauw Siucai yang memasuki sebuah lorong kecil.
Akan tetapi, begitu memasuki lorong sempit itu, Yauw Siucai menghilang, entah ke mana!
Sin Wan terkejut dan merasa heran, berhenti didepan sebuah dinding pagar yang tebal dan tinggi.
Di balik pagar tembok itu nampak atap sebuah rumah besar.
Tidak ada pintu pada dinding pagar itu.
Akan tetapi kemana lenyapnya Yauw Siucai?
Kecurigaannya bertambah dan diapun melompat ke atas pagar tembok.
Ketika melihat betapa di sebelah dalam sunyi saja, diapun, melompat ke sebelah dalam.
Pada saat dia melompat itu, ada bayangan orang berjalan memasuki lorong itu, akan tetapi Sin Wan yang sudah melompat masuk, tidak tahu bahwa ada orang melihat dia melompat dari atas pagar tembok ke sebelah dalam.
Dengan hati-hati sekali Sin Wan yang tiba di sebuah kebun, menghampiri rumah yang atapnya nampak dari luar pagar tembok.
Rumah itu nampak sunyi sekali, seperti tidak berpenghuni.
Apakah Yauw Siucai tadi menghilang ke rumah ini?
Dia tidak dapat memastikannya.
Dia harus menyelidiki karena sikap Yauw Siucai itu mencurigakan sekali.
Andaikata tidak ada hubungannya dengan Lili, tentu dia tidak akan bersusah payah mencurigai dan membayangi Yauw Siucai.
Namun karena pada saat itu pikirannya penuh dengan bayangan Lili yang agaknya oleh ibu kandungnya sendiri, di luar pengetahuannya, hendak diadu melawan ayah kandungnya sendiri, disuruh saling serang dan saling bunuh antara anak dan ayah kandung, maka kemunculan Yauw Siucai itu menarik perhatiannya.
Sin Wan menyelinap ke dalam rumah melalui pintu samping yang kecil, dan dia hampir yakin bahwa rumah itu kosong.
Tak mungkin Yauw Siucai bersembunyi di rumah ini, pikirnya.
Pula, kenapa bersembunyi?
Dia yang tadi kurang waspada.
Mungkin sastrawan itu menghilang di sebuah tikungan di lorong itu, atau memasuki sebuah pintu kecil yang terbuka.
Dia telah salah duga dan tergesa-gesa mengira sastrawan itu masuk ke sini.
Namun, dia tetap penasaran.
Dia sudah terlanjur masuk, maka diintainya setiap ruangan di rumah itu.
Ketika dia mengintai sebuah kamar yang besar dari balik jendela, dia terkejut.
Dalam kamar yang tertutup dan remang-remang itu, dia melihat seseorang rebah terlentang di atas pembaringan dan dengkurnya terdengar lirih.
Seseorang yang bertubuh tinggi besar dan perutnya gendut sekali.
Dia mencurahkan perhatian dan mengamati.
Berdebarlah jantung Sin Wan, penuh ketegangan ketika dia mengenal orang itu.
Sama sekali bukan Yauw Siucai, melainkan seorang tinggi besar gendut yang mengenakan kedok hitam!
Si Kedok Hitam yang pernah bertanding dengan dia di gedung peristirahatan Pangeran Mahkota!
Kedok Hitam yang amat lihai itu, yang menjadi pemimpin dari gerombolan berkedok, yang mengatur pencurian benda-benda dari gedung pusaka!
Dengan girang karena dapat menemukan tempat persembunyian pimpinan kedok hitam yang dia yakin tentulah mata-mata orang Mongol, karena telah mencuri benda-benda tanda kekuasaan milik bekas kaisar Mongol, Sin Wan siap untuk menangkapnya.
Jasanya akan besar sekali kalau dia dapat menangkap pemimpin gerombolan mata-mata dan menyeretnya ke depan Jenderal Shu Ta!
Tanpa ragu lagi, dia membuka jendela dengan hati-hati, lalu meloncat ke dalam kamar itu.
Suara dengkur lirih itu tidak terhenti, tanda bahwa Si Kedok Hitam itu masih tidur nyenyak.
Agar tidak mencurigakan kalau-kalau ada orang lain berada di luar rumah itu.
Sin Wan menutupkan kembali daun jendela dan pada saat dia hendak meloncat ke dekat pembaringan, tiba-tiba terdengar bunyi desis yang tajam.
Sin Wan terkejut, desis itu seperti desis ular dan dia menoleh ke kiri, akan tetapi terdengar bunyi desis-desis lain dari sekelilingnya dan tiba-tiba saja kamar itu telah penuh asap yang amat keras menyengat hidung.
Asap beracun!
Karena tadinya dia tidak menduga, hidungnya terlanjur menyedot sedikit asap yang membuat kepalanya tiba-tiba terasa pening.
Ketika dia hendak meloncat keluar lagi, dia bingung mencari-cari di mana adanya jendela tadi.
Kepeningan membuat pandang matanya berkunang dan tempat itu seperti berputar.
Pada saat itu ada angin menyambar dari belakang.
Dia membalik sambil menangkis, berhasil menangkis tiga kali serangan, akan tetapi karena kepalanya pening, akhirnya sebuah totokan mengenai punggungnya dan diapun roboh dengan kedua kaki seperti lumpuh.
Dia berjuang untuk menahan napas agar tidak menyedot asap yang semakin tebal, dan melihat bayangan Si Kedok Hitam meloncat keluar dari pintu kamar yang segera tertutup kembali.
"Ha..ha..ha..ha..ha.."
Si Kedok Hitam yang keluar dari kamar itu, kini tertawa bergelak-gelak tanda kegembiraan hatinya dapat menangkap seorang musuh yang tangguh sedemikian mudahnya.
Pada saat itu, pimpinan gerombolan mata-mata Mongol ini memang sedang berada seorang diri di rumah persembunyian mereka.
Ketika tadi melihat Sin Wan memasuki tempat itu, cepat dia memasang perangkap.
Kamar itu memang kamar yang diperlengkapi dengan alat rahasia yang menyemprotkan asap beracun.
Si Kedok Hitam yang pura-pura tidur telentang di pembaringan itu yang menekan tombolnya ketika Sin Wan melompat masuk ke kamar.
Kemudian, pada saat Sin Wan terpengaruh asap beracun, dia menyerang dengan dahsyat dan berhasil merobohkan pemuda dengan totokan.
Untuk menghindarkan asap beracun, dia lalu melompat keluar kamar dan saking gembiranya dia tertawa bergelak.
"Ha..ha-ha..ha-ha! Mampus kau sekarang, bocah usil......... ha..ha..ha........"
Tiba-tiba dia menghentikan tawanya dan melempar tubuh ke belakang, Tiga batang jarum lembut menyambar lewat dan pada saat itu, sesosok bayangan melayang turun dari atas genteng dan bagaikan seekor burung garuda, bayangan itu telah menyerang Si Kedok Hitam dengan sebatang pedang yang mengeluarkan hawa dingin sekali.
Serangan itu cepat dan dahsyat bukan main, mengejutkan Si Kedok Hitam yang merupakan seorang yang sakti.
Dia tidak berani memandang rendah dan cepat meloncat ke belakang.
Ketika dia memandang, dia terheran-heran karena penyerangnya itupun mengenakan topeng hijau dan berpakaian serba hijau pula.
Akan tetapi jelas bahwa ia seorang wanita!
Seorang gadis yang masih muda, bertubuh padat langsing dan rambutnya hitam sekali.
Kembali gadis berpakaian dan bertopeng hijau itu menyerang dan serangannya lebih dahsyat lagi.
Si Kedok Hitam dapat menilai bahwa dia berhadapan dengan lawan yang amat tangguh, maka dia pun cepat menggerakkan kedua tangannya yang berlengan baju lebar.
Ujung kedua lengan bajunya itulah yang dia pergunakan sebagai senjata dan mereka telah saling serang dengan dahsyat sekali dalam waktu yang singkat itu.
Keduanya terkejut, maklum bahwa lawan memang hebat dan tidak boleh dipandang ringan.
Si Kedok Hitam merasa khawatir.
Tanpa dibunuhpun, pemuda yang sudah terjebak itu akan mati sendiri oleh asap heracun.
Wanita berkedok hijau ini lihai bukan main.
Walaupun dia tidak akan kalah, namun untuk merobohkan wanita ini bukan hal yang mudah.
Dia khawatir kalau ada lawan lain yang datang.
Dia bukan takut kalah, melainkan takut kalau keadaan dirinya diketahui.
Dia memegang peran penting dalam jaringan mata-mata Mongol, maka tidak boleh sampai dikenal orang.
Teringat akan ini, dia lalu mengeluarkan bentakan nyaring dan kedua ujung lengan bajunya menyambar-nyambar seperti kilat, membuat lawannya meloncat ke belakang dan kesempatan ini dipergunakan oleh Si Kedok Hitam untuk meloncat dan lenyap melalui sebuah pintu rahasia.
Wanita bertopeng dan berpakaian hijau itu tidak melakukan pengejaran karena iapun tahu betapa lihainya orang tadi sehingga mengejar orang selihai itu di tempat yang penuh alat rahasia ini dapat membahayakan diri sendiri.
Yang terpenting adalah menolong pemuda yang tadi terperangkap, pikirnya.
Ia memasuki kamar yang masih penuh dengan asap itu dan cepat menahan napas karena ia maklum bahwa asap itu berbahaya kalau sampai tersedot.
Sementara itu, tadi Sin Wan terpaksa menutup pernapasannya karena dia tidak mampu melarikan diri dari kamar penuh asap itu.
Namun, dia hanya seorang manusia biasa, maka tak mungkin dapat, menahan pernapasan terlalu lama.
Jalan pernapasannya tertutup dan karena kekurangan hawa udara, diapun merasa semakin pening dan roboh pingsan.
Dia tidak tahu betapa wanita bertopeng hijau memasuki kamar itu dan memondong tubuhnya ke luar dari dalam kamar yang penuh asap, membawanya keluar rumah dan merebahkannya di atas rumput di kebun samping rumah itu.
Sunyi di situ, tidak nampak seorangpun manusia.
Dan memang pada waktu itu, yang berada di rumah itu hanyalah Si Kedok Hitam yang telah melarikan diri karena khawatir kalau dirinya diketahui orang luar.
Wanita bertopeng itu memeriksa keadaan Sin Wan dengan cepat.
Sepasang matanya yang bening dan mencorong dari balik topeng meneliti keadaan pemuda itu, jari-jari tangannya meraba-raba dan menotok punggung dan pundak, membebaskannya dari totokan.
Melihat Sin Wan masih pingsan dan keadaan dadanya menggembung dan keras kaku, tahulah ia bahwa ada kemacetan pada paru-parunya, tentu karena pemuda itu menutup jalan pernapasannya sebelum pingsan agar tidak kemasukan asap beracun, pikirnya.
Hanya ada satu cara untuk menyelamatkan pemuda ini dari cengkeraman maut.
Mukanya sudah mulai kehijauan karena kekurangan udara.
Ia menyingkap bagian bawah topengnya sehingga nampak hidung dan mulutnya yang memiliki sepasang bibir yang merah basah karena sehat, lalu tanpa ragu-ragu ia menutup kedua lubang hidung pemuda itu dengan jari tangannya dan menempelkan mulutnya pada mulut Sin Wan yang dipaksanya membuka, lalu iapun meniup dengan kuatnya ke dalam dada Sin Wan melalui rongga mulutnya.
Beberapa kali ia mengulangi dan karena tiupannya amat kuat, maka hawa yang keluar dari mulutnya dan ditiupkannya itu berhasil membuka jalan pernapasan Sin Wan, membuat dadanya kembang kempis dan paru-parunya bekerja kembali.
Wanita itu menarik napas lega, dan tiba-tiba kedua pipinya berubah merah sekali dan ia cepat menutupkan kembali topeng kain bagian bawah sehingga mulut yang mungil dan hidung mancung itupun lenyap tertutup topeng hijau.
Ia mengamati wajah Sin Wan, menghela napas lagi dan menunduk, termenung.
Ia tidak melihat betapa bulu kedua mata Sin Wan bergerak-gerak, kemudian kedua mata itu terbuka perlahan-lahan.
Begitu melihat seorang memakai topeng di dekatnya, duduk di atas batu dan dia sendiri rebah di atas rumput, Sin Wan segera melompat dan menyerang dengan totokan tangannya yang ampuh.
Wanita bertopeng itu terkejut, akan tetapi tidak sempat mengelak lagi sehingga pundaknya tertotok dan iapun terkulai lemas.
Sin Wan terbelalak, karena baru sekarang dia melihat bahwa yang ditotoknya roboh itu sama sekali bukanlah laki-laki tinggi besar perut gendut yang berkedok hitam.
Bukan Si Kedok Hitam yang tadi menjebaknya sehingga dia roboh pingsan dalam kamar, dan tubuhnya tidak tertotok lagi!
Orang ini adalah seorang wanita yang mengenakan topeng hijau dan berpakaian serba hijau.
"Eh..... ohh..... maaf..... kukira Si Kedok Hitam! Siapa..... engkau......?"
Sin Wan berkata gagap karena bingung dan ragu. Wanita itu tidak mampu bergerak, akan tetapi mampu melototkan matanya dan mengeluarkan suara yang nadanya marah dan mengejek.
"Bagus, kiranya yang kuselamatkan nyawanya adalah seorang manusia tak berbudi yang membalas pertolongan orang dengan serangan yang curang!"
Mendengar ini, teringatlah Sin Wan bahwa dia yang tadinya berada di dalam kamar dan terserang asap beracun, juga tertotok lumpuh ini telah berada di kebun dan totokannya juga sudah bebas, dan tidak ada lagi bekas keracunan asap.
"Ah, maafkan aku.....!"
Katanya cepat dan diapun segera membebaskan totokannya dengan muka berubah merah karena merasa malu dan menyesal.
Dia melihat wanita itu bangkit berdiri dan cepat dia merangkap kedua tangan di depan dada, lalu memberi hormat sambil membungkuk rendah, menundukkan muka dan berkata penuh penyesalan.
"Maafkan aku...... kukira Si Kedok Hitam.........!"
Wanita itu menjadi semakin marah.
"Si Kedok Hitam? Yang tinggi besar dan perutnya gendut itu? Lihat, buka matamu baik-baik, apakah aku tinggi besar. Apakah perutku gendut? Lihat!"
Akan tetapi Sin Wan tidak berani melihat, bahkan tidak berani mengangkat muka karena tadi pun dia sudah melihat bahwa orang ini adalah seorang wanita yang berkulit putih mulus, bertubuh sedang dan mungil, dan pinggangnya ramping, perutnya kempis!
"Maafkan aku......."
Saat itu, tangan si topeng hijau bergerak, cepat sekali dan di lain saat Sin Wan sudah terkulai, tertotok persis seperti yang dia lakukan kepada wanita bertopeng itu.
Dia terkejut, akan tetapi juga kagum, karena tahulah dia bahwa wanita bertopeng ini sungguh lihai sekali.
Tidak mengherankan kalau ia mampu menyelamatkannya.
Mulut di balik topeng itu mengeluarkan suara tawa mengejek.
"Heh..heh, apa kaukira hanya engkau sendiri yang mampu menotok roboh orang secara curang? Akupun bisa!"
"Nona, aku kesalahan tangan menotokmu tanpa memberi peringatan, dan engkau kini membalas dengan perbuatan yang sama, itu namanya sudah adil dan akupun tidak menyesal. Tadi engkau telah menyelamatkan nyawaku, kalau sekarang engkau hendak membunuhku, akupun tidak akan menyesal, berarti hutangku sudah lunas."
Mata di balik topeng itu terbelalak mendengar ucapan Sin Wan yang dilakukan dengan suara sungguh-sungguh itu.
"Apa katamu? Engkau tidak takut mati?"
Sin Wan tersenyum.
"Mati adalah bagian tak terpisahkan dari hidup. Kalau sudah tiba saatnya mati, ditakutipun tidak ada gunanya, tetap akan mati. Akan tetapi kalau belum tiba saatnya mati, diancam bagaimanapun juga, tidak akan mati."
"Hemm, kalau sekarang aku membunuhmu, siapa yang akan dapat membebaskanmu dari kematian? Nyawamu berada di tanganku!"
"Tidak, nona. Nyawaku, juga nyawamu dan nyawa setiap orang semua berada di tangan Tuhan. Kalau Tuhan tidak menghendaki aku mati, engkau atau siapapun tidak akan dapat membunuhku. Buktinya, tadi dalam ancaman maut, pada saat terakhir muncul engkau yang menyelamatkanku, itu berarti bahwa Tuhan belum menghendaki aku mati."
"Huh, sombong! Kalau sekarang aku menggerakkan tangan membunuhmu, apakah Tuhan akan menolongmu?"
"Aku yakin, nona. Kalau Tuhan menghendaki aku hidup, engkau tidak akan berhasil membunuhku! Si topeng hijau itu merasa ditantang. Ia mengangkat tangan kanan ke atas, siap untuk memukul. Sin Wan maklum bahwa sekali tangan itu menyambar, dia akan tewas tanpa, dapat ditolong lagi. Akan tetapi sedikitpun dia tidak was-was, tidak takut dan bahkan tersenyum sambil memandang, berkedippun tidak! Mata di balik topeng itu berkilat, tangan itu menyambar turun, akan tetapi berhenti di tengah-tengah.
"Kenapa tidak dilanjutkan, nona?"
Tanya Sin Wan, tenang saja.
"Hemm, kalau tangan ini kulanjutkan, engkau pasti mati dan Tuhanpun tidak akan dapat menyelamatkanmu."
Sin Wan tersenyum.
"Nona, inilah buktinya bahwa Tuhan belum menghendaki aku mati, maka nona tidak melanjutkan pukulanmu."
"Huh! Tapi kenapa engkau tersenyum? Aku bukan pembunuh keji yang suka membunuh orang yang tidak melawan."
Tangannya menyambar, akan tetapi bukan untuk memukul, melainkan untuk membebaskan totokannya tadi. Sin Wan dapat bergerak dan diapun berdiri sambil tersenyum.
"Nona, orang yang percaya kepada Tuhan, percaya lahir batin dan bukan hanya pengakuan dimulut saja, tentu akan bersikap pasrah dan menyerah terhadap kekuasaan Tuhan. Kalau Tuhan menghendaki aku mati, aku ingin mati dengan senyum di mulut, bukan dengan tangis dan ketakutan."
Sejenak nona itu memandang penuh selidik, lalu menggeleng kepala.
"Engkau orang aneh. Belum pernah selama hidupku bertemu dengan seorang manusia aneh macam kamu!"
"Dan akupun belum pernah selama hidupku bertemu dengan seorang gadis yang cantik dan lihai, juga berbudi mulia sepertimu, nona."
"Heiii! Bagaimana engkau dapat mengetahui semua itu?"
"Mengetahui apa, nona?"
"Engkau sebut aku nona, dan engkau katakan aku cantik...."
Sin Wan tersenyum.
"Ah, mudah sekali, nona. Dari bentuk tubuhmu, kulit lengan, dahi dan lehermu, rambutmu, sinar matamu dari balik topeng, kemudian suaramu yang bening merdu, mudah saja aku mengetahui bahwa engkau adalah seorang gadis muda yang cantik jelita."
"Hemm, ngawur! Engkau tidak pernah melihat wajahku, bagaimana bisa mengatakan cantik"
"Tentu saja bisa. Dengan rambut seperti itu, kulit seperti itu, mata seperti itu, tidak mungkin nona tidak memiliki kecantikan yang luar biasa."
"Lebih ngawur lagi! Wajahku amat jelek, penuh bekas cacar dan noda hitam, karena itu kusembunyikan di balik topeng."
"Kecantikan bukan karena wajah halus saja, nona. Kecantikan terletak lebih mendalam lagi, engkau memiliki semua kecantikan itu. Biar wajahmu penuh cacar dan noda hitam sekalipun, bagiku engkau tetap cantik. Sayang engkau penakut, tidak berani memperlihatkan wajahmu seperti aku memperlihatkan wajahku kepadamu tanpa kusembunyikan. Engkau seperti Si Kedok Hitam saja......."
"Lancang mulut! Aku memakai topeng bukan karena takut!"
Berkata demikian, ia merenggut topeng kain hijau itu terlepas dari depan mukanya dan Sin Wan tertegun, terpesona.
Wajah itu berkulit putih mulus, berbentuk bulat dengan alis yang amat hitam seperti digambar.
Hidungnya kecil mancung dan mulut itu memiliki bibir yang menggairahkan.
Sepasang mata itupun indah seperti yang sudah dapat diduganya.
"Kenapa engkau bengong?"
Gadis itu membentak. Sin Wan bagaikan baru sadar dari mimpi. Dia menggeleng kepala dan menghela napas panjang.
"Engkau jauh sekali lebih dari pada yang kubayangkan, nona. Tuhan telah memberkahimu berlimpah-limpah, dengan segala kecantikan aseli, dengan suara merdu, dengan sinar mata indah mencorong seperti bintang, dan bentuk tubuhmu mungil..... kecantikanmu agak asing rasanya begitu, tidak seperti kecantikan gadis-gadis lain yang pernah kulihat."
Biarpun Sin Wan bukan seorang laki-laki perayu yang pandai menyenangkan hati wanita dengan pujiannya, bahkan kata-katanya agak kaku, namun tetap saja gadis itu merasa.
Wanita mana yang tidak senang akan pujian tentang kecantikannya, apalagi yang memuji itu seorang laki-laki yang berkenan di hatinya.
Dan dalam pandangan pertama ketika Sin Wan masih pingsan, apalagi setelah ia terpaksa menghidupkan kembali pemuda itu melalui pernapasan dari mulut ke mulut, pemuda itu mendatangkan kesan yang amat mendalam di hati gadis itu.
"Aku memang bukan seorang gadis Han aseli, aku keturunan Jepang."
"Aih, pantas kalau begitu, tubuhmu begini mungil dan alismu begitu hitam!"
"Sudah, simpan sisa pujianmu. Sekarang katakan, siapa engkau dan apa artinya semua peristiwa yang terjadi di rumah itu"
Ia menunjuk ke arah rumah gedung yang nampak sunyi.
"Akupun bukan orang Han, nona. Ayah ibuku berbangsa Uighur, akan tetapi sejak kecil aku dididik seperti orang Han. Namaku Sin Wan. Dan, kalau boleh aku mengetahui namamu......"
"Namaku Ouwyang Kim,"
Jawab gadis itu dengan singkat. Sin Wan memandang dengan mata terbelalak.
"Ah, kalau begitu nona tentulah puteri dari locianpwe (orang tua gagah) Ouwyang Cin yang berjuluk Tung-hai-liong!"
Ouwyang Kim mengerutkan alisnya dan sinar matanya menyambar tajam penuh selidik.
"Bagaimana pula engkau dapat tahu?"
"Mudah sekali, nona Ouwyang! Nama keturunanmu Ouwyang, ilmu silatmu dahsyat dan engkau keturunan Jepang. Siapa lagi kalau bukan puteri Tung-hai-liong Ouwyang Cin yang namanya sudah kudengar di mana-mana?"
Kembali gadis itu mengerutkan alisnya.
Tak nyaman rasa hatinya mendengar pemuda itu mengenal nama ayahnya.
Ia tahu bahwa di dunia persilatan, nama ayahnya tidaklah nama yang sedap, karena ayahnya adalah seorang datuk yang menguasai semua bajak laut dan para perampok di sepanjang pantai.
"Sudahlah, ceritakan apa yang terjadi di sini dan apa maksudmu memasuki tempat ini seperti maling tadi."
Sin Wan memandang penuh selidik dan dia ragu.
Gadis ini adalah puteri seorang datuk sesat, dan Si Kedok Hitam juga memimpin mata-mata dan pencuri gudang pusaka.
Mereka itu segolongan!
Akan tetapi hatinya membantah.
Biarpun ayah gadis ini datuk sesat, akan tetapi gadis ini jelas menentang Si Kedok Hitam dan buktinya telah menyelamatkannya.
Setelah dia diselamatkan orang, apakah dia harus tidak percaya kepada penolongnya?
Tidak, dia harus jujur dan berterus terang karena dari sinar matanya, bicaranya, dan sikapnya, dia tidak percaya kalau gadis seperti ini akan berpihak kepada pemberontak atau penjahat, biarpun ayahnya seorang datuk sesat.
"Nona Ouwyang........"
"Ah, sudahlah, sebut saja aku Akim dan ceritakan yang jelas."
Sin Wan tersenyum. Tepat penilaiannya. Gadis ini selain lembut hati dan baik budi, juga jujur dan bersahaja.
"Baiklah. Akim. Aku adalah seorang penyelidik yang bertugas untuk menentang jaringan mata-mata Mongol yang beraksi di kota raja."
Akim teringat akan nasihat ibunya dan ia mengangguk-angguk.
"Bagus, orang Mongol memang penjajah yang harus ditentang dan mereka sudah kalah. Lanjutkan ceritamu, Sin Wan."
Mendengar ucapan itu, semakin senang dan yakinlah hati Sin Wan bahwa kepada gadis ini dia boleh mempercayainya. Dia melanjutkan.
"Ketika terjadi pencurian benda-benda pusaka dari gudang pusaka kerajaan, aku pernah melihat Si Kedok Hitam, akan tetapi aku gagal menangkapnya karena dia memang ihai. Oleh karena itu, ketika tadi aku melihat seorang siucai yang kucurigai lenyap di lorong itu, aku menduga bahwa dia menghilang di sini dan aku mencurigai rumah ini. Maka, melihat lorong itu sepi, aku lalu meloncati pagar tembok dan masuk ke sini."
"Hemm, saat engkau meloncat itulah aku melihatmu, maka aku cepat mengenakan topeng ini dan kubayangi engkau."
"Setelah aku mengintai, rumah ini sunyi dan dapat kaubayangkan betapa girang hatiku ketika aku melihat Si Kedok Hitam tidur mendengkur di sebuah kamar........"
"Kamar rahasia penuh perangkap dan engkau terjeblos!"
Gadis itu mencela. Sin Wan tersipu. Harus diakuinya bahwa dia memang agak ceroboh tadi. Dia mengangguk.
"Aku sudah berhati-hati, sama sekali tidak mengira akan diserang dengan asap beracun karena dia sendiri tidur di situ. Pada saat aku pening, sebelum sempat menerjang keluar, si Kedok Hitam berhasil menotokku roboh. Aku hanya dapat menghentikan jalan pernapasan dan tidak ingat apa-apa lagi. Maka, ketika aku siuman di sini dan melihat seorang mengenakan topeng, tentu saja aku mengira bahwa engkau Si Kedok Hitam atau setidaknya seorang anak buahnya, karena memang dia mempunyai anak buah yang mengenakan kedok. berbagai warna, ada yang hijau."
"Hemm, penyelidik macam apa engkau ini, begitu mudah tertawan musuh. Siapa sih yang menyuruhmu melakukan penyelidikan?"
"Aku mendapat kekuasaan dari Kaisar sendiri dan aku bekerja sama dengan seorang panglima. Sekarang, ceritakan keadaanmu, Akim. Bagaimana engkau dapat begitu kebetulan melihat aku melompati pagar tembok dan membayangi sehingga dapat menolongku."
"Hemm, cerita tentang diriku tidak menarik. Aku meninggalkan tempat tinggal kami di lembah Muara Huang-ho untuk melakukan perantauan. Aku berkunjung ke kota raja karena perantauanku adalah untuk menyusul ayah dan kukira ayah berada di kota raja. Aku mempersiapkan topeng dan selalu mengenakan pakaian hijau karena aku tidak ingin ayah melihatku. Dia akan marah kalau melihat aku menyusulnya. Nah, ketika aku berjalan-jalan, kebetulan aku memasuki lorong itu untuk mencari jejak ayah, dan aku melihatmu melompati pagar tembok. Aku lalu membayangimu dan ketika aku melompat ke dalam, aku kehilangan bayanganmu dan rumah itu sunyi sekali. Selagi aku mencari ke sana sini, tiba-tiba aku mendengar suara orang tertawa. Dia adalah seorang laki-laki tinggi besar berperut gendut yang memakai kedok hitam, dan dia berdiri di depan sebuah kamar dari mana mengepul asap yang dari baunya aku tahu bahwa asap itu asap beracun. Akupun dapat menduga apa yang terjadi. Tentu engkau terjebak di kamar itu, maka aku lalu menyerang Si Kedok Hitam itu. Ternyata dia lihai bukan main, akan tetapi agaknya dia tidak ingin berkelahi terus. Dia melarikan diri dan aku tidak mengejarnya, melainkan cepat memasuki kamar dan membawamu keluar ke sini."
"Dan engkau menyelamatkan nyawaku, Akim. Entah bagaimana aku dapat membalas budimu yang besar. Engkau telah membawaku keluar dari kamar berasap itu, lalu membebaskan totokanku dan bagaimana engkau dapat mengobatiku sedemikian cepatnya?"
Tiba-tiba saja wajah gadis itu menjadi kemerahan.
"Aku.... aku melihat engkau pingsan, dadanya melembung besar dan keras, kaku, pernapasanmu berhenti sama sekali. Kukira engkau sudah mati........."
"Ah, aku ingat sekarang. Sebelum pingsan, aku mengambil satu-satunya cara untuk mencegah asap beracun memasuki dadaku. Aku menghentikan jalan pernapasanku dan karena tidak tahan aku lalu tidak ingat apa-apa lagi."
Akim mengangguk.
"Engkau sudah kaku dan mukamu kebiruan........"
"Engkau ahli pula dalam pengobatan agaknya."
Akim menggeleng kepalanya.
Ia seorang gadis yang jujur dan terbuka, akan tetapi sekali ini, ia seperti tenggelam dalam perasaan sungkan dan malu kalau harus menceritakan bagaimana ia tadi menyelamatkan Sin Wan.
"Lalu bagaimana engkau dapat membuat jalan pernapasanku bekerja kembali?"
Sin Wan ingin tahu sekali karena menurut pengetahuannya, jalan pernapasan yang sudah dihentikannya itu, dalam keadaan dia jatuh pingsan, tak mungkin dapat terbuka sendiri atau bekerja sendiri.
Dia sendiripun tidak akan dapat menolong orang yang keadaannya seperti dia tadi.
"Aku memberimu pernapasan......"
"Eh? Memberi pernapasan? Bagaimana maksudmu, Akim?"
"Aih, Sin Wan Kenapa engkau cerewet, sih? Bukankah yang penting aku sudah berhasil membuatmu bernapas kembali?"
"Akim, aku berterima kasih sekali kepadamu. Bukan maksudku untuk menjadi cerewet, akan tetapi aku ingin sekali tahu agar sewaktu-waktu ada peristiwa seperti itu, aku dapat mengobati orang yang keadaannya seperti aku tadi."
Akim termenung.
"Sin Wan, terus terang saja, kalau bukan engkau kebetulan mendatangkan perasaan iba dan percaya kepadaku, kalau orang lain, sampai matipun aku tidak akan sudi memberi pengobatan seperti itu, dengan jalan memberi pernapasan."
"Sekali lagi terima kasih, Akim. Akan tetapi aku tidak mengerti apa maksudnya memberi pernapasan itu."
"Ya memberi pernapasan, meniupkan napas ke dalam paru-parumu! Bodoh benar sih kau ini!"
Gadis itu nampak jengkel dan mukanya menjadi semakin merah.
Biar ia sudah berusia duapuluh tahun, namun Ouwyang Kim belum pernah bergaul dekat dengan pria, bahkan ia merasa jemu dan jengkel melihat suhengnya, Maniyoko, kelihatan begitu mencintanya.
Bergaul akrab dengan priapun belum, apa lagi beradu mulut seperti yang ia lakukan ketika meniupkan kehidupan kepada Sin Wan!
"Meniupkan napas ke dalam paru-paruku.....
Tapi.....
tapi....
bagaimana caranya?"
Sin Wan bertanya dengan jujur, tidak dibuat-buat karena memang dia sama sekali tidak pernah membayangkan cara yang mustahil itu.
"Tolol benar, tentu saja aku meniupkan napas ke dalam paru-parumu, melalui mulutmu dan dengan menutupi hidungmu!"
Akim menjawab cepat, akan tetapi ia menundukkan mukanya, tidak berani menentang pandang mata Sin Wan yang terbelalak dengan mulut terbuka saking kaget dan herannya.
Sejenak suasana menjadi hening.
Akim menunduk dan Sin Wan memandang kepadanya dengan bengong, tidak berani berkata apa-apa karena apa yang dikatakan gadis itu sungguh di luar dugaannya sama sekali.
Kini dia membayangkan betapa mulut yang indah itu tadi meniupkan napas ke dalam dadanya melalui mulutnya.
Mulut mereka tadi bertemu entah berapa lama dan entah berapa kali.
Walaupun jantungnya berdebar keras dan dia ingin sekali tahu berapa lama dan berapa kali, namun dia tidak memiliki keberanian untuk menanyakannya.
Melihat gadis itu menunduk dan kelihatan malu sekali, dia merasa kasihan.
Pantas gadis yang demikian gagah menjadi seperti seorang perawan desa yang malu-malu, kiranya dia memaksa gadis itu menceritakan adegan yang mustahil!
"Ahhh....
maafkan aku, Akim.......
semakin besar jasa dan budimu.
Aku tidak akan melupakannya selama hidupku.
Engkau....
engkau sungguh teramat baik kepadaku, Akim."
"Cukup, aku bisa menjadi muak tiada hentinya engkau berterima kasih seperti itu. Aku ingin tahu, apakah engkau seorang perwira, atau seorang pejabat pemerintah yang bertugas sebagai penyelidik"
Sin Wan menggeleng kepala.
"Bukan sama sekali. Aku tidak akan mau mengikatkan diri dengan jabatan."
"Bagus, aku akan membencimu kalau engkau seorang petugas bayaran. Lalu, kenapa engkau bertugas menentang jaringan mata-mata Mongol dan mendapat kekuasaan dari Kaisar sendiri?"
"Sebetulnya, guruku yang mendapat tugas dan kekuasaan akan tetapi karena guruku merasa sudah tua, beliau mewakilkan kepadaku. Karena hendak berbakti dan mentaati guruku itulah maka sekarang aku melakukan penyelidikan."
"Ketika engkau menotokku, gerakanmu hebat. Siapa sih gurumu itu, Sin Wan?"
"Guruku adalah Sam-sian, sekarang hanya tinggal suhu Ciu-sian saja."
Gadis itu mengangkat kedua tangan ke atas.
"Wah, Sam-sian? Ayahku pernah bercerita tentang Sam-sian, dan memuji mereka. Jadi engkau murid mereka? Dan kalau engkau tidak menjadi perwira, kenapa engkau tadi mengatakan bahwa engkau bekerja sama dengan seorang panglima......"
"Celaka, aku sampai melupakan dia!"
Sin Wan berseru.
"Panglima itu, dia...... terancam bahaya maut, aku harus cepat menolongnya!"
Dia bangkit berdiri.
"Sin Wan, biarkan aku ikut. Aku akan membantumu."
"Tapi........"
Dia meragu. Gadis itu bertolak pinggang, sikapnya menantang.
"Baru saja engkau berterima kasih berulang-ulang sampai menjemukan, sekarang, aku hendak ikut dan membantumu saja engkau melarangku. Begitukah macamnya terima kasihmu itu?"
Gadis itu cemberut, membalikkan badan dan meloncat pergi ke atas pagar tembok, terus keluar.
Sesosok bayangan berkelebat di sampingnya dan Sin Wan telah berada di sampingnya, di lorong sempit itu.
Hal ini saja membuat Akim menyadari bahwa pemuda murid Sam-sian ini memang hebat, memiliki gin-kang (ilmu meringankan tubuh) yang luar hiasa.
"Maafkan aku, Akim. Mari kita pergi bersama."
Seketika wajah, yang cemberut itu berubah menjadi cerah dan tersenyum yang manis mengembang.
"Aku sedang kebingungan seorang diri di kota raja yang besar dan ramai ini, Sin Wan, dan kini mendapatkan seorang teman baik. Mari!"
Diam-diam Sin Wan merasa kagum kepada gadis puteri datuk timur ini.
Seorang gadis yang baik hati, walaupun juga aneh, mengingatkan dia kepada Lili Hanya bedanya, gadis ini agaknya tidak berhati ganas dan kejam seperti Lili yang pernah menyiksanya, hanya untuk membalas dendam ketika kecil pernah dia tampari pinggulnya.
Dengan gadis seperti Akim ini di dekatnya, dia merasa mendapatkan seorang teman yang boleh diandalkan dan boleh dipercaya.
Mereka berdua melakukan perjalanan cepat menuju ke rumah Bhok Cun Ki.
Kembali Sin Wan tidak bertemu dengan Bhok Cun Ki dan seperti tadi, yang menyambutnya adalah Ci Han dan Ci Hwa.
Kakak beradik ini kelihatan muram dan bingung, dan mereka berdua memandang penuh selidik dan kecurigaan ketika melihat seorang gadis cantik berpakaian serba hijau datang bersama Sin Wan.
Tadinya mereka mengira bahwa gadis yang datang bersama Sin Wan itu Lili, gadis yang mengancam ayah mereka.
Akan tetapi setelah Sin Wan dan Akim datang dekat, mereka meiihat bahwa gadis itu adalah seorang asing yang tidak mereka kenal.
"Siapakah enci ini, Wan-toako?"
Tanya Ci Hwa dengan alis berkerut dan hati merasa tidak senang.
Ia merasa kagum kepada Sin Wan bahkan mengharapkan bantuan pemuda ini untuk menyelamatkan ayahnya.
Ia tertarik kepada pemuda Uighur ini, maka melihat dia datang bersama seorang gadis cantik, tentu saja hatinya merasa tidak nyaman.
"Ini nona Ouwyang Kim, seorang sahabat. Akim, ini adalah kakak beradik Bhok Ci Han dan Bhok Ci Hwa, putera puteri panglima Bhok. Adik Ci Han dan Ci Hwa, di manakah ayah kalian?"
"Ah, gawat sekali, toako,"
Jawab Ci Han.
"Ayah menerima surat tantangan lagi dan sekali ini dia ditantang untuk bertemu musuhnya di sebelah utara kota raja."
"Dan ayah melarang keras kepada kami agar kami tidak menyusul ke sana. Kami merasa gelisah sekali, toako!"
Kata Ci Hwa dengan pandang mata penuh harapan agar Sin Wan membela ayahnya. Mendengar ini, Sin Wan terkejut bukan main.
"Kalau begitu, aku harus cepat mencarinya ke sana. Mari kita pergi, Akim! Tanpa banyak keterangan lagi Sin Wan lalu pergi dengan cepat, diikuti Akim. Ci Hwa memandang kepada kakaknya, wajahnya semakin muram.
"Koko, mari kita pergi menyusul ayah."
"Hwa-moi, ayah tadi sudah memperingatkan kita dengan keras agar kita tidak menyusul ke sana. Ayah tentu akan marah sekali kalau kita melanggarnya."
"Tapi, bagaimana mungkin kita dapat berdiam diri begini saja? Kita harus membela ayah!"
"Sudah ada Wan-toako yang menyusul ke sana, Hwa-moi."
"Justeru itulah yang membuat aku penasaran. Kau lihat tadi? Gadis itu adalah seorang asing sama sekali dan ia saja ikut Wan-toako menyusul ayah. Kalau seorang gadis asing boleh ke sana, kenapa kita putera puterinya tidak boleh? Kalau engkau tidak mau, biar aku sendiri yang akan menyusul ke sana."
"Hwa-moi, ayah melarang kita karena pihak musuh amat berbahaya. Ayah tidak ingin melihat kita celaka, dan juga ayah menekankan bahwa urusan itu adalah urusan pribadi yang tidak bolen dicampuri siapapun juga."
"Tapi gadis yang pergi bersama Wan-toako tadi? Kenapa boleh? Apa ia lebih hebat, lebih lihai daripada aku?"
"Aih, Hwa-moi, kau....... agaknya kau...... cemburu kepadanya!"
Wajah Ci Hwa berubah merah, akan tetapi ia tidak membantah, dan berkata.
"Sudahlah, aku mau pergi menyusul sekarang. Kalau engkau mau ikut baik, kalau tidak, aku akan pergi sendiri. Kalau ayah marah, biar aku yang bertanggung jawab!"
Setelah berkata demikian, Ci Hwa bergegas meninggalkan rumah.
Tentu saja Ci Han tidak tega membiarkan adiknya menyusul seorang diri, maka diapun segera mengejarnya.
Biarlah mereka berdua yang akan bertanggung-jawab kalau sampai ayah mereka marah.
Bhok Cun Ki telah menerima surat tantangan yang ditulis oleh Cu Sui In.
Hari itu dia ikut mencari Lili yang menjadi orang buruan, namun tidak berhasil.
Adalah kedua orang anaknya yang mendapatkan surat itu.
Sehelai surat yang tahu-tahu telah berada di daun pintu rumah mereka, tertancap di daun pintu, tertusuk sebatang pisau.
Surat itu singkat saja, menantang Bhok Cun Ki untuk mengadu nyawa di hutan sebelah utara kota raja.
Tentu saja kakak beradik itu menjadi marah sekali, akan tetapi mereka tidak tahu siapa yang menyambitkan pisau bersurat itu pada daun pintu rumah mereka.
Ketika ayah mereka pulang, mereka memberitahu akan surat itu.
Setelah membaca surat itu, berubahlah wajah Bhok Cun Ki karena dia masih ingat akan tulisan Cu Sui In, bekas kekasihnya!
Surat itu tanpa nama pengirim, namun dia tahu bahwa sekarang yang menantangnya adalah Sui In sendiri.
Andaikata yang menantangnya itu sumoi dari Sui In, tentu dia tidak akan memperdulikannya.
Akan tetapi kini yang mengirim surat tantangan adalah Cu Sui In!
Dia harus pergi menemui bekas kekasihnya itu.
Dia memang merasa bersalah terhadap wanita itu, maka dia akan minta maaf, dan andaikata Sui In berkeras untuk menantangnya, dia akan mencari jalan agar wanita itu dapat memaafkan, atau kalau tidak, terpaksa dia akan menghadapinya.
Bagaimanapun juga akibatnya, dia harus menemui Sui In.
"Kalian di rumah saja, jangan sekali-kali menyusulku. Urusan ini adalah urusan pribadi yang terjadi ketika aku masih muda, dan tidak seorangpun boleh mencampuri,"
Demikian dia berpesan kepada Ci Han dan Ci Hwa.
Dia tahu bahwa kalau anak-anaknya muncul, hal itu hanya akan menambah panas dan marahnya hati Sui In saja dan dia tidak ingin melihat anak-anaknya terancam bahaya.
Demikianlah, dengan membawa surat tantangan itu, Bhok Cun Ki meninggalkan rumah pada sore hari itu, keluar dari pintu gerbang utara dan terus menuju ke sebuah hutan yang kecil yang sudah dikenalnya.
Hutan itu terletak di lereng bukit, menyimpang dan agak jauh dari jalan raya sehingga tempat itu tentu sunyi, apalagi di waktu sore seperti itu.
Ketika tiba di tengah hutan dan mendapatkan hutan itu sunyi, Bhok Cun Ki berdiri tegak dan kedua kakinya terpentang, lalu dia menengadah dan berseru dengan lantang.
"Cu Sui In, aku telah datang memenuhi tantanganmu. Keluarlah untuk bertemu denganku!"
Tempat itu merupakan lapangan terbuka yang cukup luas, dikelilingi pohon-pohon rindang.
Cuaca sudah mulai redup karena matahari mulai bergeser ke barat.
Suara Bhok Cun Ki bergema di sekeliling tempat itu.
"Bhok Cun Ki, bersiaplah untuk mati sekali ini!"
Terdengar bentakan halus dan ketika Bhok Cun Ki membalikkan tubuh, wajahnya berkerut karena kecewa.
Yang muncul bukanlah Sui In yang diharapkan, melainkan Lili, gadis yang pernah memaksanya bertanding itu.
"Hemm, engkau lagi, nona. Di mana Sui In? Suruh sucimu itu saja yang keluar dan bicara sendiri denganku. Aku tidak mempunyai urusan pribadi denganmu,"
Katanya.
Lili yang telah menanggalkan penyamarannya setelah tiba di hutan itu, kini menghadapi Bhok Cun Ki, matanya berkilat tajam dan mulutnya tersenyum mengejek walaupun hatinya terasa tidak enak sekali.
Hidungnya kembang kempis, tanda bahwa hati gadis ini sebenarnya tegang sekali.
Ia merasa terpaksa sekali harus berhadapan kembali dengan panglima ini untuk saling serang dan saling bunuh!
Setelah apa yang dilakukan panglima ini kepadanya, sikapnya yang demikian baik dan ramah, sungguh menyiksa sekali ia harus menantangnya kembali!
Maka, iapun tidak ingin banyak bicara lagi.
"Bhok Cun Ki, suci mewakilkan kepadaku untuk membunuhmu. Nah, tidak perlu banyak cakap lagi. Mari kita lanjutkan pertandingan kita yang dahulu terganggu sekali, seorang di antara kita harus roboh dan mati, barulah pertandingan dihentikan! Bersiaplah engkau, Bhok Cun Ki!"
Lili mencabut pedangnya, pedang yang berbentuk ular putih, memasang kuda-kuda dan wajahnya membayangkan kenekatan.
Akan tetapi, Bhok Cun Ki seperti tidak melihatnya dan panglima ini memandang ke sekeliling, mencari-cari.
"Bhok Cun Ki, bersiaplah dengan pedangmu!"
Lili membentak.
"Sui In, di mana engkau? Keluarlah dan jangan menyuruh sumoimu yang menghadapi aku. Aku hanya mau berurusan denganmu, bukan dengan orang lain!"
Bhok Cun Ki berseru, tidak memperdulikan Lili yang menantang. Akan tetapi tidak ada jawaban, juga tidak nampak bayangan orang lain di hutan itu.
"Bhok Cun Ki, sekali lagi, bersiaplah karena aku akan menyerangmu!"
Kembali Lili berseru, mukanya kemerahan karena ia marah sekali melihat panglima itu tidak memperdulikan dirinya, seolah memandang rendah atau menganggap ia anak kecil saja.
Panglima itu tetap celingukan ke sekelilingnya, mencari-cari.
"Cu Sui In, aku hanya mau menyerahkan nyawaku kepadamu! Keluarlah dan mari kita bicara baik-baik!"
Lili menjadi marah sekali. Ia mengelebatkan pedangnya di depan muka panglima itu dan sekali bergerak, pedang itu telah menodong. Ujung pedang Pek-coa-kiam menempel pada dada panglima itu.
"Bhok Cun Ki, kalau engkau tidak mau melawan, terpaksa aku akan membunuhmu! Apakah engkau seorang pengecut yang tidak berani melawanku? Apakah engkau ingin mati konyol seperti seekor babi?"
Lili sengaja memaki untuk memanaskan hati orang itu.
Biarpun ia tahu bahwa ia akan sukar sekali menang kalau bertanding melawan panglima ini, akan tetapi ia tidak sudi membunuh orang yang tidak mau melawan.
Ketika pedang itu, menodong dadanya, seakan baru sadarlah Bhok Cun Ki bahwa di situ tidak ada Sui In, yang ada hanyalah gadis sumoi dari bekas kekasihnya yang kini siap untuk menyerangnya.
"Nbna, sejak dulupun aku tidak ingin bertanding denganmu. Katakan kepada Sui In bahwa aku hanya mau bertanding dengannya, bukan dengan wakilnya. Pula, mengapa engkau mati-matian mewakili sucimu dan siap membunuhku atau terbunuh olehku? Kenapa tidak ia sendiri yang maju?"
"Bhok Cun Ki! Aku datang bukan untuk mengobrol denganmu, melainkan untuk membunuhmu! Aku rela mati untuk suci. Kalau aku tidak berhasil membunuhmu, aku akan melawan terus sampai mati!"
Lili menarik pedangnya dan kembali memasang kuda-kuda, siap bertanding.
Akan tetapi Bhok Cun Ki tidak bernapsu untuk bertanding dengan Lili.
Dia ingin bertemu dengan Sui In karena hanya kalau berhadapan dengan wanita itulah maka semua urusan akan dapat dibereskan dan diselesaikan.
Kalau memang dia telah menghancurkan kebahagiaan Sui In, biarlah wanita itu boleh membunuhnya.
Akan tetapi bukan oleh tangan orang lain!
"Cu Sui In, keluarlah sendiri!"
Kembali dia berteriak lantang. Lili marah sekali, merasa tidak dipandang, merasa diremehkan.
"Akulah Cu Sui In, anggap saja aku Cu Sui In! Nah, aku akan menyerangmu, jangan salahkan aku kalau engkau terbunuh oleh serangan ini. Sambutlah!"
Pedang itu berubah menjadi sinar putih dan meluncur ke arah tenggorokan Bhok Cun Ki.
Bhok Cun Ki memang enggan untuk bertanding lagi melawan gadis yang sama sekali tidak mempunyai urusan dengannya itu, akan tetapi tentu saja diapun tidak mau mati konyol di tangannya.
Maka, melihat pedang meluncur ke tenggorokannya dalam serangan maut, dia cepat melompat ke kanan menjauh sehingga serangan itu gagal.
Akan tetapi Lili menyerang terus dengan dahsyatnya.
Gadis ini memang sudah nekat.
Hanya ada dua pilihan baginya, sesuai dengan kehendak sucinya, yaitu membunuh Bhok Cun Ki atau terbunuh olehnya!
Tentu saja ia memilih membunuh dari pada dibunuh dan iapun menyerang terus dengan gencar dan dahsyat.
Bhok Cun Ki terpaksa mencabut pedang Ceng-kong-kiam dan nampaklah sinar hijau bergulung-gulunq, saling belit dengan gulungan sinar putih dari pedang di tangan Lili.
Terjadilah pertandingan untuk kedua kalinya.
Namun, sekali ini lain sekali keadaannya.
Kalau Lili menyerang mati-matian dan mengerahkan segala daya untuk membunuh lawan, sebaliknya Bhok Cun Ki ragu-ragu dan selalu hanya mengelak atau menangkis saja, jarang sekali balas menyerang kalau tidak terpaksa untuk membendung gelombang serangan lawan yang berbahaya.
Karena itu, walaupun Bhok Cun Ki lebih tinggi tingkatnya, pertandingan itu menjadi seru sekali bahkan Bhok Cun Ki mulai terdesak.
Ketika Lili memainkan Pek-coa Kiam-sut yang membuat gerakan bagaikan seekor ular yang amat berbahaya, serangannya mengandung daya kekuatan dari bawah bagaikan seekor ular yang ganas, hanya dengan gerakan seperti seekor burung saja, Bhok Cun Ki masih mampu mempertahankan diri.
Bagaimanapun juga karena dia tidak ingin mengalahkan Lili, hanya melindungi diri, dia yang selalu terdesak dan beberapa kali nyaris termakan pedang.
Karena setiap serangan ia lakukan dengan pengerahan seluruh tenaga, maka setelah lewat lima puluh jurus, tubuh Lili sudah mandi keringat, dan napasnya agak terengah.
Demikian pula dengan Bhok Cun Ki, dia sudah berpeluh dan gerakannyapun mulai mengendur karena bergerak dengan loncatan-loncatan seperti burung itu menguras banyak tenaganya.
"Lili, sumoi, bunuh dia.......! Bunuh dia........!"
Mendengar suara lembut yang tiba-tiba itu, Bhok Cun Ki melirik dan ketika dia melihat Cu Su In berdiri di sana, dia tertegun.
"Sui In........!"
Dia berseru dan terbelalak memandang kepada wanita bekas kekasihnya yang masih nampak cantik jelita dan anggun itu.
Sekarang barulah dia menyadari bahwa selama ini dia masih mencinta wanita itu, sejak dahulu dia mencintanya, dan hanya keangkuhan saja yang memaksanya meninggalkan Sui In dan menikah dengan wanita lain.
"Singgg...... singg......!"
Sinar putih menyambar-nyambar.
Biarpun Bhok Cun Ki berusaha mengelak, namun karena sebagian besar perhatiannya ditujukan kepada Sui In, maka sambaran yang ke tiga dari pedang Pek-coa-kiam itu tak dapat dihindarkan lagi telah menusuk paha kirinya dan diapun roboh terguling!
Setelah melihat lawannya roboh dan darah bercucuran dari celana bagian paha, Lili berdiri seperti patung.
Kalau ia menyusulkan serangan, pasti panglima itu tidak akan mampu melindungi diri lagi.
Akan tetapi, pada dasarnya Lili memiliki watak yang gagah.
Merobohkan lawan yang sejak tadi tidak pernah membalas saja sudah membuat ia merasa menyesal sekali, apalagi sekarang melihat lawan yang selalu bersikap baik kepadanya itu sudah terluka.
Ia merasa jijik kepada diri sendiri kalau harus menyusulkan serangan lagi.
Maka ia berdiri mematung dengan hati bimbang.
Bhok Cun Ki tidak mengeluh, juga tidak perduli akan luka di pahanya.
Dia memaksa diri bangkit duduk, memandang kepada Sui In yang melangkah mendekatinya.
Sukar dilukiskan wajah wanita berusia empatpuluh tiga tahun yang masih nampak cantik seperti seorang gadis itu ketika memandang kepada laki-laki yang telah menghancurkan kebahagiaan hidupnya selama puluhan tahun ini.
"Sui..... In-moi...... aku memang bersalah kepadamu, baru sekarang aku melihat kesalahanku itu. Dosaku terhadap dirimu amat besar, aku telah menghancurkan kebahagiaanmu, merusak kehidupanmu, aku memang layak mati di tanganmu, Karena itu, marilah..... mari kaubunuh aku agar aku dapat menebus dosaku kepadamu, agar engkau memperoleh kebahagiaan dari balas dendammu ini. Pergunakan pedangku ini, In moi......"
Bhok Cun Ki dengan wajah cerah disertai senyum menjulurkan tangan kanannya yang memegang pedang Ceng-kong-kiam kepada Bi-coa Sianli Cu Sui In.
Akan tetapi Cu Sui In hanya berdiri menatap wajah pria itu seperti orang terpesona, dan kedua matanya berubah kemerahan, kedua pipinya menjadi pucat dan kedua mata itu perlahan-lahan menjadi basah.
Ia seperti tidak mampu mengalihkan pandang matanya dari wajah itu, lalu dengan paksa ia merenggut lepas pandang mata yang melekat itu, menoleh kepada sumoinya dan suaranya terdengar tidak semerdu tadi, melainkan agak parau dan lirih, namun tegas mendesak.
"Sumoi, cepat kaubunuh dia! Cepat kataku! Bunuh dia!"
Akan tetapi sekali ini Lili tidak bergerak.
"Suci, dia sudah terluka dan tidak akan mampu melawan. Dia sudah menyerah untuk kaubunuh, kenapa suci tidak segera melaksanakannya sendiri dan memaksaku untuk membunuhnya? Suci, kalau engkau hendak membunuhnya, lakukanlah sendiri, apa susahnya?"
"Engkau begitu sakit hati kepadaku, kenapa menyuruh sumoimu, Sui In? Kalau sumoimu yang membunuhku, dendammu tidak akan pernah padam. Sumoimu benar, kalau engkau hendak membunuhku, lakukanlah sendiri. Aku tidak akan melawan, aku akan tersenyum menyambut kematian di tanganmu, In moi."
Tiba-tiba Cu Sui In seperti mendapat semangat baru.
Sekali tangannya bergerak, pedang yang disodorkan Bhok Cun Ki itu sudah dirampasnya, kemudian ia mengangkat pedang itu, siap membacok leher Cun Ki yang sudah pasrah.
Panglima itu menengadah memandang dengan senyum, sedikitpun tidak nampak takut, dan matanya tidak ber kedip.
"Singgg......!!"
Pedang itu menyambar, berubah menjadi sinar hijau yang menyilaukan saking kuatnya tangan yang menggerakkannya.
Leher Bhok Cun Ki tentu akan terpenggal dengan mudah.
Akan tetapi, ketika pedang meluncur lewat, leher itu masih tetap utuh dan pedang Ceng-kong-kiam menancap, amblas di dalam tanah di dekat tubuh panglima itu, menancap ke tanah sampai ke (Lanjut ke
Jilid 11) Asmara Si Pedang Tumpul (Seri ke 02 -Serial Si Pedang Tumpul) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 11 gagangnya!
Cu Sui In menutup mukanya dengan kedua tangannya, tubuhnya gemetar, kedua pundaknya terguncang karena ia telah menangis tanpa suara, akan tetapi air matanya merembes keluar dari celah-celah jari tangannya.
"Aku..... aku tidak bisa melakukannya.... aku selalu mencintamu.... selamanya..... aih, Cun Ki..... kenapa engkau begitu tega menyia-nyiakan diriku dan menghancurkan kebahagiaan hidupku....."
Ia terisak-isak menangis.
Wajah Bhok Cun Ki menjadi pucat sekali.
Pendengaran dan penglihatan ini baginya lebih menyakitkan, bagaikan ribuan pedang menusuk-nusuk jantungnya.
Tak tertahankan lagi olehnya, kedua matanya menjadi basah dan air mata mengalir ke atas pipinya.
Baru terbuka kesadarannya bahwa Cu Sui In amat mencintanya, dan dia sendiripun selamanya mencinta Sui In.
Akan tetapi, demi menjaga namanya sebagai seorang pendekar besar, dia meninggalkan Sui In, menghancurkan cinta kasih di antara mereka.
Padahal, sebagai seorang gadis, Sui In telah menyerahkan segalanya kepadanya, menyerahkan batin dan badannya.
"In-moi..... ah, Inmoi...... sungguh aku telah bersikap kejam kepadamu. Aku...... aku....... apa yang harus kulakukan sekarang In moi? Aku tidak akan membantah, apa saja akan kulakukan demi menebus kesalahanku itu........."
Tiba-tiba Sui In menurunkan kedua tangannya.
Wajahnya nampak pucat sekali, basah air mata, mulutnya tertarik-tarik di kedua ujung bibirnya karena ia menahan tangisnya, hidungnya kemerahan dan air mata masih berderai turun ke atas kedua pipinya.
"Lili! Perintahku yang penghabisan kepadamu. Gerakkan pedangmu dan bunuh laki-laki ini sekarang juga! Kalau engkau tidak mematuhi perintahku, mulai detik ini hubungan di antara kita putus!"
"Suci....."
"Cepat, kuhitung sampai tiga. Kalau belum kaulakukan, aku akan menyerangmu sebagai seorang musuh besar!"
Kata wanita itu. Wajah Lili menjadi pucat, akan tetapi ia tidak mempunyai pilihan lain, apalagi ketika terdengar suara sucinya.
"Satu.... dua....."
Lili memejamkan matanya, lalu menerjang ke depan dan meggayun pedang Pek-coa-kiam.
Bagaimanapun juga, ia berhutang segalanya kepada sucinya.
Sejak kecil ia dipelihara, dididik, dan dilimpahi kasih sayang oleh Cu Sui In.
Ia rela mengorbankan nyawanya sekalipun untuk sucinya, maka biarpun hatinya terasa berat, ia akan melaksanakan perintah itu.
"Singgg........!!"
Pedang Pek-coa-kiam berubah menjadi sinar putih menyambar ke arah leher Bhok Cun Ki, dipandang oleh Cu Sui In yang terbelalak.
"Trangggg....... !!"
Bunga api berpijar ketika pedang Ular Putih itu yang menyambar ke arah tubuh Bhok Cun Ki, tiba-tiba tertahan dan tertangkis oleh sebatang pedang yang nampaknya buruk, Pedang Tumpul!
Lili terkejut, membuka matanya dan memandang terbelalak kepada Sin Wan yang sudah berdiri di situ dengan pedang buruknya di tangan.
"Sin Wan......!"
Teriaknya.
"Apa yang kaulakukan ini?"
Sin Wan memandang tajam, sikapnya tegas dan seperti orang marah.
"Lili, akulah yang bertanya kepadamu, apa yang kaulakukan ini?"
"Perlu apa bertanya lagi."
Lili membantah.
"Aku memenuhi perintah suciku, hendak membunuh laki-laki yang menghancurkan kehidupan suci, kenapa engkau berani menghalangiku?"
"Kau pandanglah baik-baik laki-laki ini, Lili. Pandanglah baik-baik, apakah hatimu tidak tergetar dan membisikkan suatu rahasia kepadamu. Dia ini bukan musuhmu, dia adalah ayah kandungmu, Lili......"
"Aihhh......!!"
Lili menjerit tak percaya.
"Dan yang menyuruhmu membunuhnya, wanita ini, adalah ibu kandungmu!"
"Sui In......!!"
Kini terdengar jerit dari mulut Bhok Cun Ki dan biarpun kakinya terluka parah, dia merangkak ke depan kaki Sui In.
"Sui In...... benarkah ia ini anakku..... anak...... anak...... kita.......?"
"Suci......! Apa artinya ini? Benarkah seperti yang dikatakan Sin Wan tadi? Dia ini ayahku dan suci adalah..... ibuku....?"
Wajah Lili pucat seperti mayat dan matanya terbelalak liar seperti mendadak menjadi gila. Kini Sui In terisak dan menangis, mengeluarkan suara tangisan mengguguk dan ia mengangguk.
"Benar......., benar......... aaaaahhh.......!"
"Sui In........!"
Bhok Cun Ki merangkul kedua kaki Sui In.
"Ibu.....! Kau ibuku........!"
Lili menubruk dan merangkul ibunya, menangis di dada wanita yang selama ini ia anggap gurunya, lalu sucinya. Tiga orang itu menangis semua.
"Aku..... aku tak dapat menahan kenyerian.... hatiku..... aku...... aku menderita sekali Cun Ki..... ketika kau meninggalkan aku, aku telah mengandung dua bulan.... aku sengaja tidak memberitahu, aku sakit hati sekali, kudidik anak kita.... hanya untuk dapat melihat ia dan ayahnya saling serang dan saling bunuh. Itulah hukumanku kepadamu, pembalasanku kepadamu...... tapi.... tapi... ah, betapa lemah hatiku......"
Ia menangis tersedu-sedu. Bhok Cun Ki melepaskan kedua kaki Sui In dan merangkul kaki Lili.
"Kau..... kau anakku....... ahhh, begini gagah dan cantik, ha..ha..ha...... aku bangga, aku senang sekali.... kau anakku........!"
Pendekar besar dan panglima muda yang gagah itu tertawa dan menangis sambil merangkul kaki Lili.
Gadis itu menjerit, menjatuhkan diri dan jatuh ke dalam rangkulan pria yang baru saja dikenalnya sebagai ayahnya, pria yang dua kali bertanding mati-matian dengan dia, pria yang tadi hampir saja dibunuhnya.
"Ayah......!!"
Betapa manisnya sebutan ini, sebutan pertama kali keluar dari mulutnya, sebutan yang didambakannya sejak ia masih kecil disamping sebutan ibu.
"Lili..... Bwe Li namamu.....? Ha..ha..ha, dan siapa shemu, anakku........?"
"Ayah, ibuku yang selama ini kukenal sebagai guru dan suci, memberi nama, Tang Bwe Li kepadaku?"
"Tang.....?"
Pria itu mengangkat muka memandang kepada Sui In yang masih berdiri sambil menangis.
"Aduh, Sui In.... betapa selamanya engkau tak pernah dapat melupakan aku. Nama kecilku adalah Tang Cun dan kau memberi she Tang kepada anak kita....."
Ayah dan anak itu saling berangkulan di bawah kaki Sui In.
Sin Wan, dengan mata basah pula karena terharu dan bahagia, mundur dan hanya menonton pertunjukan yang amat mengharukan itu dari bawah pohon.
Dia terharu dan gembira bukan hanya keluarga itu dapat bertemu dalam keadaan masih hidup walaupun Bhok Cun Ki terluka pahanya, melainkan juga dia teringat kepada ayah dan ibu kandungnya sendiri.
Lili menemukan ayah dan ibu kandungnya, akan tetapi dia telah kehilangan mereka!
"Ha..ha..ha..ha.
Pertunjukan lawak macam apa ini?
Sungguh memalukan sekali anak dan cucuku menjadi orang-orang lemah dan cengeng.
Sui In, Lili mundurlah kalian.
Kalau kalian begitu lemah, biarlah aku yang mewakili kalian membunuh orang ini!"
Muncullah See-thian Coa-ong Cu Kiat dan dengan langkah lebar menghampiri mereka.
"Ayah, jangan......!"
Tiba-tiba Cu Sui In melompat dan menghadang di depan orang tua itu.
See-thian Coa-ong terbelalak, memandang kepada puteri tunggalnya penuh perhatian.
Dia melihat betapa wajah puterinya telah berubah.
Muka itu masih basah air mata, hal ini saja sudah luar biasa sekali karena selama ini belum pernah puterinya menangis.
Wajah itu masih pucat akan tetapi ada kecerahan aneh, seolah setangkai bunga yang telah lama semakin layu kini mendadak dapat siraman embun pagi yang menyegarkan.
"Apa maksudmu jangan, Sui In? Selama bertahun-tahun dengan mati-matian engkau mengingkari anak kandungmu sendiri, menganggapnya sebagai murid dan sumoi, mendidiknya dengan sungguh-sungguh agar ia dapat membunuh Bhok Cun Ki! Sekarang, setelah kalian gagal membunuhnya, aku yang akan menyempurnakan dendammu ini, engkau mengatakan jangan! Apa maksudmu?"
"Ayah, hampir aku menjadi gila karena dendam pribadi, karena sakit hati yang kutanggung selama bertahun-tahun sehingga aku ingin sekali menghukumnya dengan mengadu antara ayah dan anak kandung. Aku tahu bahwa Lili tidak akan menang dan kalau sampai Lili tewas ditangannya, lalu aku memberitahu bahwa yang dibunuhnya itu anak kandungnya sendiri, tentu dia akan menderita selama hidupnya. Akan tetapi aku..... aku tidak tega..... aku masih mencintanya, ayah tidak pernah aku berhenti mencintanya, dan Lili adalah anakku yang kusayang. Sekarang baru aku tahu bahwa aku telah menjadi gila oleh dendam. Sudahlah, aku memaafkan dia. Lili, mari kita pergi."
"Ibu.....!"
Lili merangkul ibunya dengan air mata bercucuran.
"Tidak, ibu, aku tidak ingin berpisah dari ayah......"
Sui In mengerutkan alisnya, lalu menghela napas panjang.
"Engkau benar kalau memilih ayahmu. Dia seorang pendekar, seorang panglima besar yang berkedudukan mulia, yang mempunyai kehormatan dan nama bersih, mana bisa disamakan dengan ibumu, seorang wanita sesat, seorang wanita jahat yang namanya tersohor hitam dan kotor?"
Seluruh kepahitan hatinya karena ditinggalkan kekasihnya tersalur lewat ucapan itu.
"Tidak, ibu, akupun tidak ingin berpisah darimu. Aku ingin berkumpul dengan ayah dan ibu!"
Kata Lili dengan suara mengandung getaran penuh kesedihan dan kerinduan.
Betapa rindunya untuk dapat berkumpul dengan dua orang yang menjadi ayah ibunya.
Seolah-olah diciptakan menjadi manusia baru yang tadinya merasa yatim piatu kini tiba-tiba menemukan kembali ayah dan ibu kandungnya!
"Sui In, aku mengaku bersalah, aku telah berdosa, aku terlalu sombong dan bodoh, aku sudah menyerah dan rela kau bunuh.
Kalau engkau tidak mau membunuhku, aku bersumpah untuk memperbaiki kesalahanku.
Belum terlambat bagiku untuk membahagiakan engkau dan anak kita Lili.
Marilah, Sui In, marilah kita hidup bersama anak kita dan tidak saling berpisah lagi........."
Sui In memandang bekas kekasihnya itu. dengan sinar mata berkilat, mulutnya mencibir.
"Huh, dan aku merampasmu dari isteri dan anak-anakmu? Engkau akan mencampakkan mereka begitu saja? Laki-laki macam apa engkau ini?"
"Tidak, Sui In. Jangan salah mengerti. Aku tidak akan mengulang perbuatanku yang jahat. Maksudku, kita tinggal bersama menjadi keluarga besar. Marilah, engkau dan Lili ikut bersamaku, tinggal bersama kami menjadi anggauta keluargaku."
"Dan setiap hari menghadapi kebencian isterimu dan anak-anakmu?"
"Tidak! Percayalah, Sui In. Isteriku adalah seorang bijaksana dan selama ini aku tidak pernah mempunyai isteri lain atau selir. Ia pasti akan menerimamu, apalagi kalau aku berterus terang tentang masa lalu. Kedua orang anakku juga anak-anak yang berbakti dan baik."
"Aku tidak percaya! Aku tidak sudi dari keadaan menderita karena rindu dan kesepian, kini pindah ke dalam keadaan menderita karena dimusuhi keluargamu."
Tiba-tiba terdengar suara seorang wanita, lemah lemhut dan halus.
Baca Juga: Cinta Bernoda Darah 6
Baca Juga: Kisah Si Bangau Putih 2