Ceritasilat Novel Online

Asmara Si Pedang Tumpul 5

Eps 5 Asmara Si Pedang Tumpul - Kho Ping Hoo

Baca online Asmara Si Pedang Tumpul - Kho Ping Hoo

Cersil Asmara Si Pedang Tumpul - Kho Ping Hoo.

"Bhok Cun Ki berkata benar, enci. Kami sudah mendengar semuanya dan aku merasa iba kepadamu dan kepada anakmu. Kalau kalian berdua suka, datanglah dan tinggallah bersama kami. Kami menerima kalian dengan hati dan tangan terbuka......., bahkan aku rela menjadi isteri kedua karena sesungguhnya, engkau yang lebih dahulu menjadi isterinya."

Cu Sui In dan Lili menengok, juga Bhok Cun Ki.

Kiranya yang bicara itu adalah nyonya Bhok, isteri panglima itu bersama kedua orang anaknya, Ci Han dan Ci Hwa!

Karena merasa khawatir terhadap ayah mereka, kedua orang kakak beradik ini lalu memberitahu kepada ibu mereka dan isteri panglima inipun khawatir sekali, maka ia mengajak kedua orang anaknya untuk menyusul cepat menggunakan kereta.

Mereka turun dari kereta, memasuki hutan dan sempat mendengar dan melihat pertemuan yang mengharukan antara Bhok Cun Ki dan bekas kekasihnya dan anak mereka.

Nyonya Bhok adalah seorang wanita yang berperasaan peka dan halus, dan ia merasa, terharu sekali, iba terhadap Cu Sui In dan Lili.

Melihat seorang wanita yang lembut dan halus gerak geriknya, seorang wanita bangsawan sejati, Cu Sui In merasa canggung.

Ia melangkah menghampiri, dan sejenak kedua orang wanita itu saling pandang.

"Nyonya, sesungguhnyakah kata-katamu tadi, atau hanya sekedar basa-basi dan karena engkau takut kepada suamimu saja?"

Tanya Sui In.

Wanita itu tersenyum lembut dan dari seri wajah dan senyum itu saja Sui In maklum bahwa biarpun bertubuh lemah, wanita ini memiliki kepribadian yang kuat dan tidak mungkin ia takut terhadap suaminya.

"Demi Tuhan, aku bicara dari hati yang tulus, enci. Pula, harap jangan menyebutku nyonya. Aku adalah adikmu, madumu yang lebih muda dan marilah kita bersama hidup sebagai sebuah keluarga besar."

Sui In merasa demikian terpukul dan terharu sehingga ia tidak mampu mengeluarkan kata-kata. Sementara itu, Ci Hwa menghampiri Lili dan memegang tangan gadis itu.

"Aih, aku girang sekali mendapatkan seorang cici seperti engkau. Kau harus mengajarkan aku ilmu silatmu yang hebat itu, enci Lili!"

Seperti ibunya, Lili juga merasa tertegun. Tak disangkanya sama sekali bahwa isteri dan anak-anak ayah kandungnya bersikap seperti itu! Ci Han juga tidak mau kalah, maju mendekat.

"Enci Lili, jangan lupa mengajarkan silat kepadaku pula. Kalau hanya Ci Hwa yang kau ajari dan ia lebih menang dariku, tentu ia akan sewenang-wenang terhadap aku!"

"Ihh, Han-ko, engkau ini hanya ikut-ikutan saja!"

Adiknya menegur.

Mau tidak mau Lili tersenyum, kagum dan juga bangga.

Adik-adik tirinya ini mengagumkan!

Terdengar suara tawa bergelak.

See-thian Coa-ong yang tertawa, lalu berkata dengan suara lantang.

"Ha..ha..ha..ha, seperti adegan wayang panggung saja! Heii, Bhok Cun Ki, kalau sekali ini engkau tidak benar-benar membahagiakan anak dan cucuku, aku pasti akan datang untuk mematahkan batang lehermu dan seluruh keluargamu!"

"Locianpwe adalah ayah mertua saya, saya persilakan locianpwe untuk tinggal sementara di rumah kami agar locianpwe dapat menyaksikan sendiri apakah saya benar-benar hendak membahagiakan Sui In dan Lili ataukah sebaliknya."

Kembali kakek itu tertawa.

Dalam hatinya, dia merasa gembira sekali melihat puterinya agaknya akan mendapatkan kembali kebahagiaannya setelah selama duapuluh tahun lebih menyiksa diri dan tenggelam dalam duka dan dendam.

Juga cucunya akan mendapatkan seorang ayah kandung dan rumah tangga yang pantas.

Sebagai puteri seorang panglima, tentu saja Lili akan dihormati orang dan derajatnya naik.

"Ha..ha..ha, tidak perlu aku tinggal di rumahmu. Akan tetapi sewaktu-waktu aku akan singgah untuk menengok keadaan anak dan cucuku."

Lili teringat akan Sin Wan dan ia melepaskan diri dari pelukan Ci Hwa dan lari menghampiri pemuda yang berdiri agak menjauh itu.

"Hei, Sin Wan, kenapa engkau diam saja di sana?"

Teriaknya dan setelah tiba di depan pemuda itu, Lili memegang kedua tangannya dengan sikap mesra.

"Sin Wan, aku sungguh, berterima kasih kepadamu! Kalau tidak ada engkau yang membuka rahasia, entah bagaimana jadinya. Sin Wan, agaknya kebahagiaan akan selalu menyertaiku kalau engkau berada di dekatku!"

Lili memang seoranq gadis yang polos, maka ia tidak menyembunyikan perasaan hatinya dan semua orang dapat menduga dengan mudah bahwa gadis lincah dan lihai ini jatuh hati kepada pemuda Uighur itu.

Sin Wan juga merasakan keterus terangan Lili yang membuat mukanya berubah merah.

Akan tetapi dia tersenyum dan ketika dia hendak menarik kedua tangannya, Lili mempertahankannya sehingga bagi penglihatan orang-orang di situ, kedua orang muda ini saling berpegang tangan dengan mesra dan enggan melepaskan.

"Lili, jangan berkata demikian. Engkau adalah sahabatku yang pernah menolongku, dan Bhok-ciangkun juga sahabatku yang kuhormati. Aku hanya ingin mencegah terjadinya malapetaka kalau anak dan ayah saling serang dan saling bunuh. Aku ikut bergembira bahwa urusan berakhir dengan baik seperti ini. Kuucapkan selamat kepada keluarga ini dan kepadamu Lili."

Bhok Cun Ki merasa berbahagia sekali melihat betapa Sui In dan isterinya nampak saling menyukai, dan kini mereka berdua menghampirinya, dan Sui In tanpa berkata apa-apa sudah memeriksa pahanya yang terluka dan memberi obat.

Obat dari Sui In amat manjur karena rasa nyeri berkurang banyak, dan dia sudah mampu bangkit berdiri.

"Sebaiknya kalau bersama pulang dan bicara di rumah. Tidak baik bicara di tengah hutan seperti ini. Bagaimana pendapatmu, Sui In?"

Sui In menatap wajah pria yang tak pernah dilupakannya itu. Wajahnya menjadi kemerahan dan sinar matanya lembut, malu-malu akan tetapi mulutnya tersenyum manis.

"Aku hanya menurut saja....."

Katanya sambil melirik ke arah Nyonya Bhok.

"Ha..ha..ha, memang sebaiknya begitu. Kalian semua pulanglah, aku masih ingin melihat-lihat kota raja sebelum pergi mempersiapkan pemilihan bengcu di Thai-san. Sewaktu-waktu akan singgah di rumah kalian. Nah, aku pergi dulu!"

Kakek itu membalikkan tubuhnya dan berkelebat lenyap ke dalam hutan.

"Lili, kau ajaklah kedua ibumu dan adik-adikmu pulang....."

Kata Bhok Cun Ki, enak saja menyebut kedua ibumu seolah-olah memang sejak dahulu Sui In mejadi isteri dan anggauta keluarganya.

"Aku datang membawa kereta. Mari, enci Sui In, kita naik kereta bersama. Juga kalian, Lili dan Ci Hwa......"

"Tidak, ayah sedang terluka. Biar ayah yang naik kereta bersama ibu berdua,"

Kata Lili. Gadis ini juga merasa tidak canggung menyebut ibu berdua. Sikapnya sungguh membuat semua orang merasa enak dan senang.

"Aku dan kedua adik Ci Han dan Ci Hwa akan berjalan kaki saja, dan engkau juga, Sin Wan. Engkau ikut dengan kami, bukan?"

Sin Wan meragu, akan tetapi Bhok Cun Ki berkata.

"Lili benar, Sin Wan. Kita pulang dulu dan kita bicarakan tentang kepergian Lili dari istana, tentang semua keributan yang terjadi."

"Baiklah, paman. Aku juga jngin melaporkan beberapa peristiwa yang baru saja kualami bersama..... eh, ke mana ia?"

Sin Wan teringat akan Ouwyang Kim dan diapun melompat ke tempat persembunyian mereka tadi sebelum dia mencegah Lili membunuh ayah kandungnya.

Akan tetapi, Akim yang tadi mengintai di balik pohon, tidak nampak lagi bayangannya, Gadis itu telah pergi tanpa pamit!

Tanpa diketahui siapapun, ketika Lili dan Sin Wan saling berpegang kedua tangan tadi, yang dilihat oleh orang lain seperti suatu kemesraan, ada dua orang yang merasa jantungnya seperti ditusuk.

Orang pertama adalah Ci Hwa.

Gadis ini telah tertarik kepada Sin Wan, mengaguminya dan ingin bergaul lebih akrab.

Ketika melihat adegan itu, Ci Hwa menggigit bibir dan menundukkan muka agar tidak nampak oleh orang lain.

Orang ke dua yang merasa tertusuk hatinya melihat adegan itu adalah Akim!

Gadis ini sudah berusia duapuluh tahun, dan biarpun ia belum banyak bergaul dengan pria, namun ia dapat menqetahui isi hatinya.

Ia tahu bahwa sejak ia meniupkan pernapasan ke dalam dada Sin Wan melalui mulut dengan mulut, ia telah jatuh cinta!

Maka, hatinya merintih melihat kemesraan antara Sin Wan dan Lili, lalu diam-diam iapun pergi meninggalkan tempat itu.

"Engkau mencari siapa, Sin Wan?"

Tanya Lili. Ci Hwa yang merasa cemburu, mendapat kesempatan untuk melampiaskan cemburunya.

"Wan-toako yang kaucari tentulah enci Akim yang cantik jelita itu, bukan?"

Sin Wan adalah seorang yang berwatak jujur dan tidak mempunyai prasangka, maka pertanyaan Ci Hwa itupun dianggapnya biasa saja karena memang dia meninggalkan rumah keluarga Bhok bersama Akim yang sudah dia perkenalkan kepada kakak beradik itu.

"Benar, tadi ia menanti di sini."

"Siapa sih Akim yang cantik jelita itu, Sin Wan?"

Pancingan Ci Hwa berhasil dan Lili bertanya kepada Sin Wan dengan sinar mata penuh selidik.

Sin Wan mengerutkan alisnya.

Pandang mata Ci Hwa dan Lili membuat dia merasa tidak enak.

Kedua orang gadis itu memandang kepadanya seperti menuduhkan sesuatu yang tidak baik.

"Sudahlah, ia sudah pergi tanpa pamit. Mari kita berangkat,"

Katanya sambil membantu Cin Han yang memapah Bhok Cun Ki keluar dari hutan itu, menuju ke kereta yang tadi ditumpangi Nyonya Bhok dan kedua orang anaknya.

Kusir dan lima orang pengawal masih menanti di situ.

Mereka merasa heran melihat majikan mereka dalam keadaan terpincang dan luka di paha yang sudah dibalut, akan tetapi mereka tidak berani bertanya.

Bhok Cun Ki bersama dua orang wanita yang kini menjadi isterinya, duduk dalam kereta.

Ci Han lalu minta empat ekor kuda dari para pengawal untuk dia, Ci Hwa, Lili dan Sin Wan.

Mereka berempat menunggang kuda mengawal kereta, dan para pengawal yang kehilangan kuda itu terpaksa harus berjalan kaki pulang ke kota raja.

Di sepanjang perjalanan itu, Bhok Cun Ki yang duduk sekereta dengan kedua isterinya, menceritakan masa lalunya bersama Sui In kepada Nyonya Bhok yang mendengarkan dengan penuh kesabaran.

Mendengar betapa suaminya dahulu kekasih Sui In dan suaminya itu meninggalkan Sui In yang tidak diketahuinya dalam keadaan mengandung, membuat Sui In menderita selama duapuluh tahun lebih, Nyonya Bhok menegur suaminya.

"Kalau dahulu aku tahu, tentu aku tidak mau menerima pinanganmu, kecuali kalau engkau juga menarik enci Sui In menjadi isterimu. Akan tetapi, sudahlah, semua ini sudah takdir, tidak perlu disesalkan lagi asalkan di kemudian hari engkau dapat menebus kesalahan itu terhadap enci Sui In,"

Demikian isteri yang berbudi luhur ini menasihati suaminya.

"Memang aku sudah merasa bersalah, hanya sesungguhnya aku sama sekali tidak pernah menduga bahwa Sui In telah mengandung ketika kutinggalkan,"

Kata sang suami.

"Sudahlah,"

Kata Sui In menghibur.

"Benar seperti dikatakan adik tadi, semua sudah terjadi dan sudah takdir. Kalau saja tidak ada Lili, aku pun tentu akan merasa malu untuk mengganggu ketenteraman rumah tangga kalian."

"Aih, enci Sui In harap jangan berkata demikian. Demi Tuhan, kami sama sekali tidak merasa terganggu, bahkan merasa berbahagia sekali,"

Kata Nyonya Bhok. Sui In memandang tajam penuh selidik, sukar untuk percaya ada seorang wanita yang sebaik ini.

"Engkau mendapatkan seorang madu yang tidak disangka-sangka, bagaimana engkau dapat merasa berbahagia sekali?"

Nyonya Bhok tersenyum dan melirik suaminya.

Banyak keuntungan yang membuat aku merasa berbahagia.

Pertama, suamiku tidak lagi terancam musuh yang amat berbahaya, bahkan mengubah musuh itu menjadi orang terdekat.

Ke dua, suamiku akan selalu merasa berdosa dan tertekan batinnya, akan tetapi kini dia mendapat kesempatan untuk menebus dosa, bukankah itu melegakan hati sekali?

Ke tiga, aku sendiri akan merasa kecewa sekali kalau melihat suamiku menghancurkan kehidupan seorang wanita, dan kalau dia tidak mau menerima enci dan Lili, kiranya aku tidak mungkin mau mendekatinya lagi.

Ke empat, dengan adanya enci dan Lili yang demikian lihai, tentu berkurang bahaya ancaman orang-orang jahat yang selalu memusuhi suami kita dan ke lima......."

"Cukup, cukup........"

Sui In tersenyum dan memegang tangan madunya.

"Sungguh beruntung sekali aku dapat bertemu dan bersaudara dengan seorang sepertimu."

Setelah mereka semua tiba di rumah, disambut dengan heran oleh para pengawal dan pelayan, mereka segera berkumpul di ruangan dalam, mengelilingi meja besar dengan sikap gembira dan suasana berbahagia, Sin Wan yang tadinya dengan sopan hendak mengundurkan diri ke kamarnya karena merasa tidak berhak hadir dalam pertemuan kekeluargaan yang berbahagia itu terpaksa hadir juga karena ditahan oleh Bhok Cun Ki.

"Sin Wan, pertemuan ini terutama sekali hendak membicarakan peristiwa yang ada hubungannya dengan tugas kita. Pula, bukankah engkau hendak menceritakan pengalamanmu yang penting?"

Demikian Bhok Cun Ki menahannya.

"Benar kata ayah, Sin Wan. Pula, kalau engkau tidak hadir, rasanya kurang lengkap!"

Kata Lili dan kembali Ci Hwa menundukkan mukanya yang berubah kemerahan.

Demikianlah, mereka duduk mengelilingi meja, Bhok Cun Ki di kepala meja, diapit oleh kedua isterinya di kanan kiri.

Lili duduk di sebelah kiri ibu tirinya, didampingi Ci Hwa, dan Ci Han duduk bersebelahan dengan Sin Wan.

"Nah, sekarang engkau ceritakan lebih dahulu tentang pengalamanmu di istana Pangeran Mahkota, Lili. Kami hanya mendengar bahwa engkau melarikan diri dari sana dan menjadi orang buruan. Nanti aku akan menghubungi Jenderal Shu Ta untuk membebaskanmu dari buruan, setelah aku mendengar ceritamu,"

Kata Bhok-ciangkun kepada puterinya yang baru saja tadi hampir membunuhnya.

"Akupun ingin sekali mendengar bagaimana engkau tiba-tiba saja dapat berada di istana pangeran, kemudian bahkan menjadi buronan. Aku belum mendengar sejelasnya,"

Kata pula Cu Sui In kepada puterinya.

Lili tersenyum.

Senang bahwa ia menjadi pusat perhatian, dan merasa lucu bahwa kalau baru tadi ia masih menjadi musuh Bhok Cun Ki dan menjadi sumoi Cu Sui In, kini ia menghadapi mereka sebagai ayah dan ibu kandung.

Seperti dalam mimpi saja!

Ia lalu menceritakan dengan terus terang akan semua pengalamannya sejak meninggalkan Bukit Ular sampai ia yang mencari Bhok Cun Ki ke kota raja, dalam perjalanan bertemu dengan Yauw Lu Ta yang dikenalnya sebagal Yauw Kongcu.

Kemudian, betapa atas bantuan Yauw Kongcu ia diterima menjadi pengawal pribadi Pangeran Mahkota, sedangkan Yauw Kongcu menjadi penasihat dan guru sastra Pangeran kecil Chu Hong, putera Pangeran Mahkota Chu Hui San.

"Ketika Sin Wan menghadap Pangeran Mahkota, masih belum terjadi sesuatu sehingga aku masih menganggap Pangeran Mahkota itu baik dan aku setia kepadanya. Eh, tidak tahunya, setelah Sin Wan pergi, pangeran laknat itu memanggilku ke kamarnya dan dia hendak berbuat kurang ajar! Kalau aku tidak ingat dia itu putera kaisar, pangeran yang menjadi putera mahkota, tentu sudah kucekik mampus dia! Aku marah dan meninggalkannya tanpa menyerangnya. Eh, tidak tahunya pangeran gila itu berteriak memanggil pasukan pengawal sehingga aku menjadi buronan. Untung di depan istana aku bertemu dengan suci eh, dengan ibu dan kong-kong (kakek) sehingga dapat lolos dari kepungan pasukan keamanan."

Ia lalu menceritakan betapa ia, ibunya dan kakeknya yang sedang melarikan diri, ditolong oleh Yauw Kongcu atau Yauw Siucai, bersembunyi dan berhasil keluar dari kota raja dengan menyamar, sampai terjadi peristiwa tadi di dalam hutan.

Semua orang kagum mendengar pengalaman yang hebat dari Lili itu.

"Wah, enci Lili sungguh seorang pemberani!"

Puji Ci Han kagum.

Betapa dia tidak akan kagum mendengar seorang gadis muda seperti kakak tirinya ini sempat membikin geger istana pangeran mahkota dengan perbuatannya yang gagah berani menentang seorang pangeran mahkota calon kaisar?

Sungguh membuat dia sebagai adiknya merasa bangga!

Bhok Cun Ki mengerutkan alisnya.

"Hemm, aku sudah mendengar akan watak yang kurang baik dari putera mahkota. Akan tetapi dia memiliki kekuasaan besar sekali. Kalau dia mendengar bahwa engkau adalah anakku, mungkin dia akan mempergunakan kekuasaannya untuk menuntut agar engkau kuserahkan kepadanya."

"Huh, kalau begitu, biar kubunuh saja pangeran keparat itu, ayah!"

Lili berseru.

"Lili, ingat bahwa kita sekarang bukan lagi menjadi penghuni Bukit Ular yang bebas liar dan boleh berbuat sesuka hati kita. Ingat bahwa engkau adalah puteri ayahmu yang menjabat pangkat panglima! Serahkan saja urusan ini kepada ayahmu, tentu dia akan mengetahui apa yang terbaik untukmu,"

Kata Sui In.

Kalau orang yang sudah lama mengenalnya mendengar ucapan ini, tentu akan merasa heran bukan main.

Dalam sekejap mata saja wanita yang tadinya terkenal liar dan ganas ini tiba-tiba berubah menjadi seorang ibu yang baik, yang taat dan patuh kepada suami!

"Ibumu benar, kata Bhok Cun Ki, wajahnya berseri ketika dia memandang kepada Sui In.

"Akan tetapi jangan khawatir. Selain pangeran mahkota, yang dapat megatasai pangeran itu adalah atasanku, yaitu Jenderal Shu Ta. Jenderal Shu tentu akan mampu membebaskanmu dari pengejaran dan dia yang berani menegur pangeran mata keranjang dan lemah itu. Sekarang harap engkau suka menceritakan pengalamanmu yang penting itu, Sin Wan."

Sin Wan lalu bercerita tentang pertemuannya dengan Yauw Siucai di jalan, dan dia melihat sastrawan itu memasuki lorong tergesa-gesa, maka dia cepat membayangi dan melihat sastrawan itu hilang di lorong itu.

Lalu dia menceritakan betapa dia terjebak oleh Si Kedok Hitam yang pernah dijumpainya di rumah peristirahatan Pangeran Mahkota!

"Saya tentu telah tewas oleh Si Kedok Hitam yang licik dan lihai paman, kalau saja tidak tertolong oleh Akim."

Dia lalu menceritakan tentang pertolongan gadis perkasa itu sehingga dia dapat lolos, akan tetapi tidak berhasil menemukan Si Kedok Hitam. Setelah dia selesai bercerita, Lili cepat bertanya.

"Apakah Akim itu gadis yang kata adik Ci Hwa cantik jelita dan yang kaucari di hutan itu, Sin Wan? Kalau benar, siapa sih ia yang begitu lihai?"

Pertanyaan yang begitu jujur dan kembali membayangkan kecemburuan! Sin Wan mengerutkan alisnya dan menjawab.

"Memang benar, panggilannya Akim, dan namanya yang sebenarnya adalah Ouwyang Kim,"

"Ouwyang..........??"

Cu Sui In berseru.

"Ada hubungannya dengan Tung-hai-liong Ouwyang Cin?"

Sin Wan mengangguk.

"Memang ia puteri Tung-hai-liong Ouwyang Cin. Akan tetapi melihat sepak terjangnya, ia tidak dapat dimasukkan golongan sesat. Lili, aku sungguh curiga melihat Yauw Siucai itu. Menurut ceritamu tadi, selain dia ahli sastra, juga dia pandai silat?"

Lili mengacungkan jempul kanannya.

"Dia lihai bukan main! Ilmu silatnya tinggi, mungkin tidak kalah olehmu, Sin Wan."

Tentu saja ini hanya bual kosong, mungkin hanya untuk membalas kisah Sin Wan tentang Akim, karena sebetulnya, Lili belum pernah menguji ilmu kepandaian Yauw Siucai.

Ia memang dapat menduga bahwa sastrawan itu lihai ketika Yauw Siucai menghukum mati dua orang anak buahnya dengan sekali pancung dan pedangnya tidak bernoda darah sedikitpun.

Mendengar ini, Sin Wan mengerutkan alisnya "Kalau begitu, sungguh mencurigakan.

Tahukah engkau akan asal usulnya, Lili?"

Lili menggeleng kepala.

"Kami bertemu, berkenalan akan tetapi tidak pernah aku bertanya tentang riwayatnya, akan tetapi aku yakin bahwa dia bukan golongan sesat."

Kembali ucapan khusus ditujukan untuk membalas pujian Sin Wan tentang Akim tadi. Bhok Cun Ki juga mengerutkan alisnya.

"Memang mencurigakan. Asal-usulnya tidak jelas, pandai silat akan tetapi tahu-tahu menjadi guru sastra putera Pangeran Mahkota. Dan setelah itu, Sin Wan melihat Si Kedok Hitam di rumah peristirahatan Pangeran Mahkota, kemudian melihat Yauw Kongcu di lorong itu yang kemudian mempertemukan Sin Wan dengan Si Kedok Hitam lagi. Apakah ada hubungan antara dia dan Si Kedok Hitam? Lili, apakah engkau pernah melihat Yauw Siucai itu mengadakan hubungan dengan orang berkedok hitam?"

Lili mengerutkan alisnya, mulutnya cemberut dan menggeleng kepala.

"Ayah, kalau perlu, dapat kutemui dia dan dapat kutanyakan dia apakah mempunyai hubungan dengan Si Kedok Hitam."

"Jangan, Lili. Hal itu akan berbahaya sekali bagimu. Bahaya datangnya bukan saja dari Si Kedok Hitam, akan tetapi terutama sekali dari Pangeran Mahkota sendiri. Dia merupakan putera mahkota yang besar kekuasaannya, sehingga menyelidiki keadaannya saja sudah dapat diangqap sebagai pemberontak. Aku akan berunding dengan Jenderal Shu Ta bagaimana untuk menghadapi pangeran itu. Setidaknya hanya Jenderal Shu yang akan mampu membebaskan dari pada pengejaran pasukan keamanan."

"Paman Bhok, bagaimanapun juga, rumah di lorong itu amat mencurigakan dan aku yakin bahwa rumah itu pasti menjadi sarang dari jaringan mata-mata yang beraksi di kota raja. Karena itu, bagaimana pendapat paman kalau saya memimpin pasukan untuk melakukan penggeledahan?"

"Itu baik sekali, Sin Wan. Kalau aku tidak terluka, tentu akan kupimpin sendiri. Nah, sekarang juga akan kusuruh kepala pengawal mempersiapkan pasukan!"

Panglima itu memanggil kepala pengawal dan segera memerintahkan untuk menyiapkan dua losin perajurit untuk dipimpin Sin Wan melakukan penggeledahan dan pembersihan.

Setelah Sin Wan pergi melaksanakan tugas itu, keluarga itu masih berkumpul dan bercakap-cakap saling menceritakan riwayat dan pengalaman masing-masing, dan sebuah pesta keluarga yang meriah diadakan untuk menyambut masuknya anggauta keluarga baru itu.

Cu Sui In merasa berbahagia sekali karena sekarang ia dapat membuktikan sendiri betapa besar cinta kasih Bhok Cun Ki kepada dirinya, dan terutama sekali sikap yang amat baik dari madunya dan anak-anak tirinya.

Lili juga merasa berbahagia sekali.

Nyonya Bhok memang seorang wanita bijaksana.

Tanpa segan dan dengan rela hati ia mengumumkan kepada semua pelayan di dalam keluarganya bahwa nyonya yang baru itu adalah Toa-hujin (Nyonya Pertama) sedangkan ia sendiri adalah Nyonya Kedua.

Hal ini ia lakukan dengan penuh kesadaran bahwa memang Sui In lebih dahulu menjadi isteri suaminya, dan Lili adalah anak sulung.

Biarpun merasa heran karena belum pernah mendengar majikan mereka menikah dengan nyonya baru yang telah mempunyai seorang anak yang sudah dewasa itu, para pelayan tidak ada yang berani bertanya atau membicarakan, dan menerima Sui In dan Lili sebagai Toa-hujin dan Nona Lili.

Sementara itu, Sin Wan memimpin dua losin perajurit, memasuki lorong dan menyerbu rumah besar di mana dia terjebak siang tadi.

Para perajurit membawa obor dan rumah itu dikepung lalu diserbu.

Mereka bersikap hati-hati sekali dan mentaati semua petunjuk Sin Wan yang tidak ingin melihat pasukan itu menjadi korban perangkap yang di pasang di rumah itu.

Namun segera mereka mendapatkan rumah itu kosong, tanpa seorangpun penghuni.

Tidak ditemui tanda-tanda tentang adanya jaringan mata-mata di situ, hanya terdapat perabot rumah biasa.

Bahkan semua alat perangkap juga tidak bekerja karena sudah dirusak.

Agaknya, penghuni rumah itu sudah lebih dahulu menghilangkan semua jejak kemudian melarikan diri meninggalkan sarang itu.

Bhok Cun Ki sendiri, setelah dapat berjalan dan luka di pahanya hampir sembuh, mengunjungi Jenderal Shu Ta yang mendengarkan dengan penuh perhatian semua laporannya.

Jenderal itu menghela napas panjang dan berkata.

"Sebelum engkau melaporkan, kami sendiri sudah menyuruh seorang penyelidik untuk menyelidiki Yauw Siucai yang tiba-tiba saja muncul dan bergaul dengan akrab sekali mendekati pangeran mahkota, bahkan lalu diangkat menjadi guru sastra bagi pangeran kecil Chu Hong. Ternyata pangeran bertemu dengan sastrawan itu di sebuah rumah pelesir, ketika pangeran itu menggoda seorang wanita dan suaminya marah-marah. Hampir saja pangeran mahkota celaka, akan tetapi muncul Yauw Siucai yang menolongnya. Semenjak itulah, pangeran lalu mengajak Yauw Siucai ke istananya dan mengangkatnya menjadi guru sastra puteranya. Agaknya tidak ada yang mencurigakan pada diri Yauw Siucai, apalagi pangeran mahkota demikian percaya kepadanya."

Bhok Cun Ki yang menjadi orang kepercayaan Jenderal Shu Ta itu, terus terang menceritakan tentang Lili, puterinya yang baru saja dia temukan.

"Bwe Li secara kebetulan bertemu dan berkenalan dengan Yauw Siucai, dan sastrawan itulah yang mengusulkan kepada pangeran mahkota agar puteriku diberi berkedudukan sebagai pengawal pribadi. Semua berjalan dengan baik, akan tetapi pada suatu waktu, puteriku hendak dipaksa menjadi selir pangeran. Ia tidak mau dan melarikan diri dari istana, dan sejak itulah ia dijadikan orang buruan, dikejar-kejar seperti penjahat. Saya mohon bantuan Goanswe (jenderal) agar pengejaran terhadap puteri saya itu dihentikan karena Bwe Li sama sekali tidak bersalah."

Jenderal Shu Ta menggeleng-geleng kepalanya.

"Sungguh mengecewakan sekali kalau diingat bahwa pangeran mahkota adalah calon kaisar yang baru kalau tiba saatnya nanti. Bagaimana mungkin pemerintahan dipimpin oleh seorang yang kini hanya mengutamakan kesenangan dan pemuasan nafsu-nafsunya belaka. Bermain perempuan, tidak segan mengganggu anak isteri orang, pelesir di rumah-rumah pelesir, bermabok-mabokan, bahkan terakhir ini para penyelidik kami melaporkan bahwa beliau mulai menghisap candu. Baiklah, akan kubujuk sang pangeran agar menghentikan pengejaran terhadap puterimu, akan tetapi berhati-hatilah, ciangkun, jangan sampai menyinggungnya secara langsung karena kalau sampai terjadi dia menuntut seseorang dengan bukti, aku sendiripun tidak akan mampu mencegahnya. Kita amati saja keadaannya dari jauh dengan waspada, terutama sekali kita awasi gerak-gerik Yauw Siucai. Walaupun belum ada bukti bahwa dia mempunyai hubungan dengan jaringan mata-mata, namun kita harus waspada."

Demikianlah, dengan bantuan Jenderal Shu Ta, Pangeran Chu Hui San membebaskan Lili dan tidak lagi ada pengejaran terhadap gadis itu.

Dan karena semenjak itu, tidak nampak Yauw Siucai mengadakan aksi apapun yang mencurigakan, melainkan dengan tekun dia mendidik pangeran kecil Chu Hong, maka Bhok Cun Ki juga tidak mempunyai alasan untuk mencurigainya, apa lagi menindaknya.

"Hwa-moi, mengapa selama ini engkau bermuram durja saja seperti orang yang berduka dan kecewa? Siauw-moi (adik kecil), bukankah kehadiran ibu tiri dan kakak tiri di rumah ini menambah kecerahan kehidupan keluarga kita? Lihat, setelah ibu tiri berkumpul dengannya, ayah selalu nampak riang gembira dan wajahnya selalu cerah, seolah dia menjadi muda kembali. Juga ibu selalu nampak gembira, dan pergaulannya akrab sekali dengan ibu tiri kita. Bahkan selama satu bulan ini, kita sendiri seringkali menerima petunjuk dalam ilmu silat darinya dan dapat berlatih silat di bawah bimbingan enci Lili. Kenapa engkau kelihatan bersedih, adikku manis?"

Ci Han membujuk dan bertanya kepada adiknya ketika pada sore hari itu mereka berdua selesai berlatih silat di taman bunga.

Sekali itu, Lili tidak berada bersama mereka.

Setelah tadi memberi petunjuk, Lili meninggalkan kedua orang adik tirinya itu sehingga terbuka kesempatan bagi Ci Han untuk menanyai adiknya.

Mendengar ucapan kakakmya itu, Ci Hwa menundukkan mukanya dan diam saja.

Akan tetapi, kakaknya melihat betapa beberapa titik air mata berjatuhan ke atas kedua pipi adiknya.

Dia terkejut.

Tak disangkanya keadaan hati adiknya sudah separah itu, kesedihannya agaknya bersungguh-sungguh.

Ci Han duduk di atas bangku dekat adiknya, memegang tangan Ci Hwa.

"Adikku yang baik, selama ini tidak ada rahasia di antara kita, Katakanlah, apa yang menyusahkan hatimu, adikku? Aku pasti akan membantumu. Katakanlah kepadaku!"

"Koko......"

Akhirnya Ci Hwa berkata lirih dan menghela napas panjang, lalu menggunakan punggung tangannya untuk menghapus air mata yang membasahi pipinya.

"Han-koko, hanya kepadamulah aku tidak akan merahasiakan sesuatu. Engkau tentu tahu bagaimana perasaan hatiku terhadap Wan-toako........"

Gadis itu menundukkan mukanya dan kedua pipinya kemerahan.

Ci Han terbelalak.

Hampir ia lupa bahwa adiknya ini sekarang bukan anak kecil lagi!

Adiknya ini sudah merupakan seorang gadis dewasa, berusia delapanbelas tahun lebih!

Tadinya, dia mengira bahwa adiknya, seperti juga dia sendiri, hanya merasa kagum kepada Sin Wan yang lihai dan yang berjasa besar mempersatukan kembali keluarga ayah mereka.

Baru sekarang matanya seperti dibuka sehingga dia dapat melihat bahwa perasaan adiknya terhadap Sin Wan lebih jauh lagi, perasaan seorang gadis dewasa terhadap seorang pria yang dikaguminya.

"Hwa-moi, kau...... kau cinta kepada Wan-toako?"

Wajah itu semakin merah dan semakin menunduk, akan tetapi Ci Hwa masih mengangguk. Ci Han memegang kedua tangan adiknya dan tersenyum lebar.

"Aihh, adikku yang manis. Kalau engkau cinta kepadanya, kenapa engkau bersedih? Aku yang akan mendekati Wan-toako dan menceritakan tentang cintamu......."

"Jangan, koko!"

Kini Ci Hwa mengangkat muka seperti orang terkejut.

"Berjanjilah, jangan kau ceritakan kepadanya atau kepada siapapun juga. Berjanjilah!"

Ci Han menggerakkan pundaknya.

"Baiklah, baiklah. Akan tetapi katakan, kenapa cintamu itu membuat engkau bersedih?"

Sampai beberapa saat lamanya Ci Hwa hanya menundukkan mukanya, seolah jawaban pertanyaan itu amat sukar keluar dari mulutnya. Beberapa kali kakaknya mendesak dan akhirnya ia menjawab.

"Koko, lupakah engkau akan sikap enci Lili terhadap Wan-twako?"

"Enci Lili.... ?"

Ci Han mengerutkan alisnya dan diapun teringat. Tentu saja dia ingat akan sikap itu dan sekarang mengertilah dia mengapa adiknya ini bersedih.

"Mereka...... mereka saling mencinta....... ah, koko......!"

Dan tak dapat ditahannya lagi Ci Hwa menangis lirih.

Ci Han, pemuda berusia duapuluh tahun yang juga belum berpengalaman dalam urusan cinta, hanya duduk diam dengan alis berkerut, merasa kasihan kepada adiknya akan tetapi tidak tahu harus berkata atau berbuat apa.

Cemburu!

Itulah yang menggoda hati Ci Hwa.

Sudah menjadi pendapat umum bahwa cemburu merupakan hal yang wajar bagi orang yang sedang jatuh cinta.

Bahkan ada yang begitu yakin berpendapat bahwa cemburu adalah kembangnya cinta, bahwa cemburu merupakan pertanda adanya cinta!

Kalau pendapat ini dibenarkan, berarti bahwa di dalam cinta terkandung cemburu, atau cemburu sama dengan cinta!

Kalau kita mau membuka mata melihat kenyataan, akan nampaklah bahwa apa vang dinamakan cinta itu, kalau disamakan dengan cemburu, maka cinta itu bukanlah cinta!

Cemburu timbul karena nafsu karena cemburu mendatangkan kemarahan, kebencian, kekecewaan yang berakhir dengan penderitaan.

Bukanlah cinta kalau mendatangkan kesengsaraan atau penderitaan.

Hanya ulah nafsu yang menyeret kita ke dalam jurang penderitaan.

Cemburu pasti timbul kalau terdapat ikatan.

Apakah ikatan itu membelenggu kita kepada benda, kepercayaan, kepada cita-cita, gagasan, ataukah kepada seseorang.

Ikatan membuat kita merasa berarti, membuat kita merasa memiliki.

Kita tidak ingin kehilangan yang kita miliki itu, yang telah mengikat kuat dalam hati kita.

Kalau kita merasa mencinta seseorang kita terikat kepada orang itu dan kita tidak ingin kehilangan.

Kita akan merasa sedih, merasa khawatir kalau-kalau orang yang kita miliki itu direnggut lepas dari diri kita, membuat kita tidak berarti karena tidak memiliki apa-apa lagi.

Kekhawatiran inilah yang menimbulkan cemburu!

Khawatir akan kehilangan orang yang membuat dirinya berarti.

Yang beginikah yang dianggap sama dengan cinta?

Kalau cinta itu bersifat memiliki, menguasai, ikatan lalu mendatangkan kekhawatiran kalau kehilangan, maka cinta seperti itu bukan lain adalah cinta nafsu belaka.

Kalau cinta nafsu, tentu saja tiada bedanya dengan buah nafsu lainnya seperti ketakutan, kemarahan, kebencian, keinginan untuk senang sendiri, termasuk pula cemburu.

Kalau cinta kasih, bukan nafsu, bagaikan cahaya terang, maka cemburu adalah kegelapan.

Kalau ada cahaya terang, maka tidak ada kegelapan.

Kalau ada cinta kasih, tidak ada cemburu.

Kalau ada cemburu, jelas nafsu yang memegang peran, walaupun nafsu itu diberi pakaian indah yang disebut cinta!

"Hwa-moi, sikap mereka yang akrab belum menjadi bukti bahwa mereka saling mencinta.

Enci Lili memang memiliki watak terbuka dan ramah terhadap siapa saja.

Aku belum yakin.

Siapa tahu Wan-twako diam-diam juga membalas cintamu."

Mendengar ini, seolah timbul harapan baru dalam hati Ci Hwa dan iapun menyusut air matanya.

"Mudah-mudahan begitu, koko. Akan tetapi kuminta kepadamu jangan beritahukan siapapun, terutama jangan sampai enci Lili mengetahui bahwa aku........"

Ci Han mengangguk-angguk.

"Aku tahu, adikku, dan jangan khawatir."

Akan tetapi tentu saja diam-diam Ci Han merasa prihatin melihat keadaan adiknya dan sebagai kakak yang menyayangnya, tentu-saja dia ingin membela adiknya.

Beberapa hari kemudian, pada suatu malam terang bulan yang cerah, ketika dia melihat Ci Hwa seorang diri berada di taman bunga, dia cepat menemui Sin Wan.

"Wan-twako, aku sungguh mengharapkan bantuanmu......"

Begitu bertemu dengan pemuda itu di dalam kamarnya, Ci Han berkata dengan sikap serius.

"Hemm, tentu saja setiap saat aku siap untuk membantumu, Han-te (adik Han). Apakah yang dapat kulakukan untuk membantumu?"

Dengan sikapnya yang tenang Sin Wan bertanya dan mempersilakan pemuda itu duduk.

"Bukan aku yang membutuhkan bantuanmu, toako, melainkan Ci Hwa."

"Ehh? Apakah yang terjadi dengannya?"

"Selama beberapa hari ini, adikku itu selalu bersedih. Aku sudah berusaha untuk menghiburnya, namun sia-sia. Ia tenggelam ke dalam kesedihan dan aku khawatir, kalau berlarut-larut, ia dapat jatuh sakit."

"Ah, pantas saja wajah Hwa-moi selalu tidak gembira. Kenapa ia bersedih Han-te? Apakah yang terjadi?"

"Aku sudah berkali-kali membujuk dan bertanya, akan tetapi ia hanya menggeleng kepala dan sekali pernah ia berkata lirih bahwa Wan-twako membencinya."

Sepasang mata Sin Wan terbelalak dan mulutnya tersenyum tak percaya dan heran.

"Aku....? Membenci Hwa-moi.......?"

"Aku juga merasa heran mendengarnya, Wan-twako. Mungkin ia merasa bahwa twako kurang memperhatikannya. Ci Hwa memang kadang masih seperti anak kecil. Tolonglah, twako, hiburlah ia dan katakan bahwa twako sayang kepadanya. Ia sekarang, seperti sudah beberapa malam ini, duduk termenung seorang diri di taman, tenggelam dalam kesedihannya. Maukah twako menolongnya?"

Sin Wan tersenyum dan mengangguk.

"Tentu saja, Han-te. Aku akan segera menemuinya dan menghiburnya."

Dengan hati girang Ci Han mengucapkan terima kasih lalu dia kembali ke dalam kamarnya sendiri.

Dia telah melaksanakan tugasnya sebagai seorang kakak, dan dia hanya dapat mengharapkan agar adiknya tidak hanya bertepuk tangan sebelah dalam cintanya.

Dia sendiri setuju sepenuhnya kalau Ci Hwa dapat berjodoh dengan Sin Wan yang dikagumi.

Dengan hati merasa heran dan penasaran mengapa Ci Hwa menganggap dia membencinya, Sin Wan memasuki taman bunga keluarga itu.

Malam itu bulan purnama dan cahayanya yang lembut mendatangkan suasana yang romantis.

Pergaulannya dengan keluarga itu sudah sedemikian akrabnya sehingga dia tidak merasa canggung untuk menemui Ci Hwa pada malam hari itu di taman bunga.

Dia merasa bahwa Ci Hwa seperti adiknya sendiri.

Hanya terhadap Lili sajalah dia merasa canggung dan tidak enak karena gadis itu bersikap jatuh cinta kepadanya.

Taman bunga keluarga Bhok itu indah karena terawat, apalagi karena Ci Hwa memang suka sekali memperhatikan keadaan taman bunga itu, sering memberi petunjuk kepada tukang kebun bagaimana sebaiknya mengatur taman itu.

Malam itu indah dan sunyi di situ, dan udara sejuk dan segar oleh keharuman bunga-bunga yang beraneka warna.

Sin Wan menghampiri Ci Hwa yang sedang duduk melamun seorang diri di atas bangku panjang dekat kolam ikan.

Banyak ikan emas di kolam itu dan Sin Wan melihat gadis itu duduk seorang diri memandang bulan yang berada di dalam air kolam.

Gadis itu seolah berada di dunia lain dalam lamunannya sehingga tidak tahu bahwa Sin Wan telah menghampiri dan berdiri di belakangnya.

Sin Wan maju melangkah lagi dan memandang wajah itu dari belakang kanan.

Dari samping, wajah gadis itu nampak cantik jelita, apa lagi tertimpa cahaya bulan keemasan, membuat wajah itu seperti bercahaya pula.

"Hwa-moi.....!"

Sin Wan memanggil lirih agar tidak mengejutkan gadis itu.

Ci Hwa terkejut mendengar panggilan ini.

Bagaikan baru sadar dari mimpi, ia bangkit berdiri dan membalikkan tubuhnya.

Ternyata Sin Wan telah berdiri di situ, kini mereka berdiri berhadapan.

"Ah, Wan-twako......."

Kata Ci Hwa lirih pula dan mukanya berubah kemerahan. Mereka saling pandang. Sin Wan tersenyum lalu melangkah maju, mendekati.

"Hwa-moi, kenapa malam-malam begini engkau berada di taman seorang diri?"

Ci Hwa sudah dapat menguasai dirinya dan ia menjawab.

"Aku sedang mencari hawa sejuk dan menikmati keindahan bulan purnama di taman ini, twako."

Sin Wan memperhatikan dan melihat bahwa memang ada perubahan pada diri Ci Hwa.

Biasanya, Ci Hwa adalah seorang gadis yang lincah jenaka, akan tetapi kini sikapnya pendiam dan bahkan lebih banyak menundukkan muka.

"Ci Hwa, kulihat selama beberapa hari ini kalau aku bertemu denganmu, engkau nampak seperti orang yang bersedih. Kenapakah, Hwa-moi?"

Mendengar pertanyaan yang diucapkan dengan suara lembut itu, keluar dari mulut orang yang menjadi sebab kedukaannya, Ci Hwa merasa hatinya seperti diremas.

Ia berusaha untuk menahan diri, akan tetapi rasa iba diri membuat ia bersedih dan lemas.

Ia menjatuhkan diri di atas bangku dan menutupi wajahnya untuk menyembunyikan tangisnya.

Sin Wan terkejut.

Benar seperti yang dikatakan Ci Han, gadis ini sedang menderita sedih.

Diapun lalu duduk di atas bangku di sebelah gadis itu, maklum bahwa biarpun gadis itu menahan diri tidak mengeluarkan suara tangis dan menyembunyikan muka di balik kedua tangannya, namun sesungguhnya ia menangis.

Kedua pundaknya terguncang dan air mata mengalir keluar dari celah jari-jari tangannya.

"Hwa-moi, kenapa engkau menangis? Apa yang membuat hatimu merasa sedih?"

Tanya Sin Wan dengan hati-hati.

Akan tetapi gadis itu tidak menjawab, hanya menggeleng kepala berkali-kali tanpa menurunkan kedua tangan dari depan mukanya.

Karena beberapa kali ditanya tetap tidak mau menjawab, Sin Wan teringat akan keterangan Ci Han bahwa gadis yang sedang menangis sedih di depannya ini mempunyai perasaan bahwa dia membencinya.

Bahkan Ci Han minta kepadanya agar dia menghibur Ci Hwa dan mengatakan bahwa dia sayang kepada gadis ini.

Pengakuan seperti itu tidaklah sukar baginya, karena memang dia sayang kepada Ci Hwa, gadis yang biasanya lincah jenaka dan baik budi ini.

"Hwa-moi, kalau ada hal-hal yang menyusahkan hatimu, kalau ada persoalan yang mengganggumu, katakanlah kepadaku. Aku pasti akan membantumu, Hwa-moi. Aku sayang kepadamu, Hwa-moi, dan tidak ingin melihat engkau berduka........"

Mendengar ucapan itu, tiba-tiba Ci Hwa membiarkan tangisnya pecah, tidak lagi membendungnya dan iapun terisak-isak.

Sin Wan menyentuh pundaknya untuk menghiburnya dan sentuhan ini semakin mengharukan hati Ci Hwa sehingga iapun tersedu dan merangkul, menyandarkan mukanya di dada Sin Wan sambil sesenggukan.

"Twa-ko...... hu..hu..huuhh, twako........."

Tangisnya. Sin Wan menahan senyumnya, hatinya lega karena gadis itu sudah mau bicara.

"Bicaralah, Hwa-moi, tidak baik menekan kesedihan di dalam hati. Katakanlah apa yang menyusahkan hatimu, sayang."

Gadis itu mengangkat muka memandang. Wajah yang cantik itu basah air mata, dan suaranya gemetar.

"Wan-twako,..... benarkah kata-katamu tadi.......?"

Sin Wan mengelus rambut kepala gadis itu, merasa seolah dia menghibur hati seorang adik sendiri yang sedang rewel.

"Kata-kataku yang mana?" (Lanjut ke

Jilid 12) Asmara Si Pedang Tumpul (Seri ke 02 -Serial Si Pedang Tumpul) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 12

"Bahwa engkau.... sayang padaku.........?"

Kini baru Sin Wan percaya kepada keterangan Ci Han yang tadinya dia anggap berlebihan. Gadis ini bersedih karena mengira dia membencinya, atau setidaknya tidak suka kepadanya.

"Tentu saja, Hwa-moi!"

Katanya dengan suara tegas.

"Tentu saja aku sayang padamu, sejak kita berjumpa, aku sudah sayang padamu dan akan tetap sayang padamu."

Apa sukarnya mengobral pernyataan sayang kepada seorang gadis seperti Ci Hwa!

Bersumpahpun dia mau bahwa dia sayang kepada Ci Hwa.

Siapa yang tidak akan merasa sayang kepada seorang gadis yang begini cantik, lincah jenaka dan berbudi mulia?

Wajah yang masih basah air mata itu kini berseri, mulut itu tersenyum dan mata yang bening itu kini bersinar-sinar walaupun masih agak merah oleh tangis tadi.

Ci Hwa membenamkan mukanya ke dada itu, kedua lengannya merangkul pinggang dan terdengar ia berbisik-bisik.

"Terima kasih, Wan-twako....... terima kasih.... akupun sangat sayang padamu, aku...... sangat cinta padamu......"

Sin Wan terbelalak dan hampir saja dia merenggut lepas dirinya yang dipeluk gadis itu.

Akan tetapi dia masih menyadari keadaan.

Jelaslah sekarang baginya.

Ci Hwa mencintanya!

Gadis ini, dengan caranya sendiri, seperti Lili, telah jatuh cinta kepadanya.

Gadis ini salah paham, mengira bahwa sayangnya terhadap gadis ini sama dengan cinta seorang pria terhadap seorang wanita.

Padahal, dia menyayang Ci Hwa seperti seorang kakak menyayangi adiknya karena dia merasa iba.

Terpaksa dia mendiamkan saja, karena dia maklum bahwa kalau saat itu dia melepaskan diri dan mengaku bahwa dia tidak mencinta Ci Hwa tentu gadis ini akan merasa terpukul sekali, akan merasa malu dan mungkin akan putus asa.

Setelah sejenak membiarkan gadis itu tenggelam ke dalam kemesraan, dengan hati-hati dan perlahan-lahan Sin Wan melepaskan dirinya dan berkata dengan lembut.

"Hwa-moi, jangan begini. Kalau terlihat orang lain tentu tidak baik. Marilah kita bicara dengan tenang."

Mendengar ini dan merasakan gerakan Sin Wan yang hendak melepaskan diri, Ci Hwa melepaskan rangkulan kedua lengannya dan kini ia duduk menghadapi Sin Wan, kedua pipinya kemerahan bagaikan setangkai bunga mawar yang baru saja bermandikan embun pagi yang sejuk segar.

"Wan-ko, aku tidak akan perduli andaikata ada orang lain yang melihatnya. Yang penting, kita berdua saling mencinta......."

Sin Wan merasa betapa kepalanya pening.

Celaka, pikirnya, ini kesalahpahaman yang berbahaya sekali!

Maju salah mundur salah!

Dia tidak mencinta gadis ini seperti yang dimaksudkan Ci Hwa.

Kesayangannya adalah perasaan sayang seorang kakak terhadap adiknya, atau kesayangan seorang sahabat, bukan cinta kasih seorang pria terhadap wanita yang mengharapkannya menjadi jodohnya.

Menerimanya berarti menjerumuskan diri sendiri ke dalam perjodohan yang pincang, apa lagi dia sama sekali belum mempunyai niat untuk mengikatkan diri dengan perjodohan.

Kalau dia menolak dan berterus terang menyatakan bahwa dia tidak mencinta gadis itu, berarti dia akan menghancurkan perasaan Ci Hwa.

Sungguh serba salah.

Kembali dengan mesra kedua tangan Ci Hwa sudah menggenggam kedua tangannya.

Sin Wan terpaksa menarik ke dua tangannya itu dan mulutnya tidak berani mewakili hatinya, hanya mengeluarkan kata-kata.

".... tapi..... tetapi......"

Tiba-tiba nampak sesosok bayangan orang berkelebat dan tahu-tahu di situ telah berdiri Lili!

Gadis ini berdiri memandang kepada mereka seperti sebuah patung, tidak mengeluarkan suara dan hanya memandang dengan alis berkerut.

"Bagus sekali!"

Seruan ini membuat Ci Hwa terkejut, menengok dan terbelalak ketika melihat Lili berdiri di situ. Wajahnya berubah pucat dan ia bangkit berdiri, lalu berkata, suaranya gemetar.

"Enci, maafkan aku.... kami...... kami saling mencinta, enci...."

Jelas nampak betapa Ci Hwa takut kalau enci tirinya itu marah karena ia tahu bahwa encinya ini mencinta Sin Wan pula.

"Ci Hwa, tidak ada yang perlu kumaafkan. Engkau tidak bersalah apapun."

"Lili, aku...... aku.... kami....."

Sin Wan yang juga terkejut bukan main melihat kemunculan Lili yang tiba-tiba itu, menjadi gugup dan biarpun hatinya ingin sekali menjelaskan keadaan yang sebenarnya, namun mulutnya tidak mampu mengeluarkan pernyataan yang akan menghancurkan hati Ci Hwa itu.

Lili tersenyum.

Senyum yang tulus walaupun matanya memandang penuh keheranan.

"Aku tahu, Sin Wan. Engkau mencinta Ci Hwa! Ingatkah engkau ketika engkau mengobati lukaku dahulu? Ketika itu aku sudah menduga bahwa engkau mencinta Ci Hwa."

"Lili, engkau keliru, dan Ci Hwa salah paham. Aku..... aku menyayang Ci Hwa seperti adikku sendiri, tidak mencinta seperti yang dimaksudkan......."

"Wan-koko.......!!"

Ci Hwa terbelalak dan menjerit, memandang kepada pemuda itu seperti melihat setan. Sepasang alis Lili berkerut semakin dalam dan sinar matanya mencorong marah.

"Sin Wan, apakah engkau hendak mengecewakan hatiku dan menjadi seorang pangecut yang tidak bertanggung jawab? Mataku sendiri menyaksikan adegan mesra tadi dan sekarang engkau berani mengatakan bahwa engkau tidak mencinta adikku Ci Hwa? Hemm, Sin Wan. Kalau engkau tidak membalas cintaku, hal itu masih kuanggap ringan karena aku memang seorang gadis liar dan buruk. Akan tetapi, engkau hendak menolak Ci Hwa, gadis cantik jelita dan berbudi? Kau gila! Lalu apa artinya engkau tadi saling rangkul dan bermesraan dengan adikku? Apakah engkau hanya hendak mempermainkannya?"

"Lili, tenanglah dan jangan terburu nafsu. Aku sayang kepada Ci Hwa, sayang seorang kakak kepada adiknya, bukan cinta seperti yang kalian maksudkan."

"Wan-koko....."

Kembali Ci Hwa menjerit dan sekali ini ia menjatuhkan diri di atas bangku dan menangis. Lili marah sekali dan mukanya menjadi merah.

"Sin Wan, aku pernah jatuh cinta kepadamu dan engkau tidak menghiraukan aku. Hal itu masih dapat kumaafkan. Akan tetapi kalau engkau mempermainkan adikku Ci Hwa, aku akan membunuhmu!"

"Lili, ini hanya suatu kesalahpahaman saja. Sungguh, aku tidak mempermainkan adik Ci Hwa. Aku melihat ia berduka, aku hanya ingin menghiburnya dan aku tidak pernah mengaku cinta kepadanya."

"Wan-ko....,"

Seru Ci Hwa di antara isaknya.

".... kenapa engkau bersikap seperti ini....? Tadi..... tadi engkau begitu menyayangku..... kurasakan itu dalam rangkulanmu..... koko, kenapa begini......?"

Ingin rasanya Sin Wan menampar kepalanya sendiri.

Karena iba, dan karena hendak menghibur hati Ci Hwa, dia tadi memperlihatkan kasih sayangnya dan kenapa dia tidak menolak ketika Ci Hwa merangkul dan menangis di dadanya?

Tadipun dia sudah menyadari bahwa adegan itu berbahaya dan tidak benar, akan tetapi kenapa dia tidak tega untuk menolaknya?

Dan sekarang dia harus menghadapi akibatnya.

"Tadi aku menyatakan suka dan sayangku kepadamu sebagai seorang sahabat, sebagai seorang saudara, sama sekali tidak terbayangkan olehku perasaan cinta seorang pria terhadap wanita seperti yang kaumaksudkan."

Mendengar ucapan ini, Ci Hwa hanya mampu menangis dengan hati yang perih seperti ditusuk-tusuk rasanya.

"Sin Wan, engkau sudah keterlaluan! Engkau mempermainkan adikku! Aku tidak bisa membiarkannya saja. Akan kubunuh kau!"

Lili mencabut pedang Ular Putih dan hendak menyerang Sin Wan dengan kemarahan berkobar.

"Enci......!"

Ci Hwa sudah menubruk dan menjatuhkan diri berlutut, merangkul kedua kaki Lili.

"Enci Lili jangan.... jangan bunuh dia. Bunuh saja aku, enci....."

Dan dengan hati sedih sekali Ci Hwa menangis tersedu-sedu di depan kaki Lili. Pada saat itu terdengar suara banyak orang dan muncullah Bhok Cun Ki, Cu Sui In, Bhok Ci Han dan Nyonya Bhok.

"Heii, apa yang terjadi ini? Lili, apa yang telah terjadi?"

Tanya Sui In sambil meloncat ke dekat puterinya.

"Ci Hwa, apa yang telah terjadi?"

Seru Nyonya Bhok kepada puterinya, melihat puterinya menangis di depan kaki Lili yang berdiri marah dengan pedang terhunus di tangan. Ci Hwa bangkit lalu berlari menubruk ibunya sambil menangis.

"lbuu......!"

Nyonya Bhok merangkul puterinya yang terisak-isak dan tidak mampu bicara itu.

"Ibu, aku akan membunuh Sin Wan!"

Teriak Lili marah.

"Laki-laki tak tahu diri ini berani mempermainkan adik Ci Hwa. Kulihat sendiri mereka saling bermesraan di sini, akan tetapi dia tidak mau mengaku cinta, dia mengingkari cintanya terhadap adik Ci Hwa!"

"Apa?"

Sui In berseru marah.

"Pemuda ini berani menghina anakku Ci Hwa? Kalau begitu, biar aku sendiri yang akan memberi hajaran kepadanya!"

Wanita ini sekali menggerakkan tubuhnya sudah melayang ke depan Sin Wan dan mengirim tamparan bertubi-tubi, gerakannya cepat dan amat kuat.

Sin Wan yang tidak diberi kesempatan untuk bicara melihat datangnya serangan yang amat berbahaya, setiap tamparan merupakan cengkeraman maut, cepat bergerak mengelak dan menangkis.

Sampai tujuh kali berturut-turut kedua tangan Cu Sui In menyambar-nyambar, namun selalu dapat dihindarkan oleh Sin Wan.

"In-moi, tahan dulu.....!"

Bhok Cun Ki berseru dan meloncat ke depan, melerai dan memegang lengan kiri isterinya.

"Harap jangan tergesa dan terburu nafsu. Kalau ada persoalan, kita bicarakan dulu dengan tenang."

Karena dicegah suaminya, Cu Sui In terpaksa menurut ketika ditarik mundur ke belakang. Bhok Cun Ki yang melihat gawatnya persoalan, segera mengambil alih pimpinan dan dia bertanya kepada puterinya.

"Ci Hwa, katakan, apa yang telah terjadi di sini antara engkau dan Sin Wan."

Akan tetapi Ci Hwa tidak mampu menjawab, hanya menangis dalam pelukan ibunya. Melihat betapa Ci Hwa hanya menggeleng kepala sambil sesenggukan, Sui In lalu bertanya kepada Lili.

"Lili, karena adikmu tidak mampu menjawab, engkaulah yang harus menceritakan kepada ayahmu, apa yang telah terjadi!"

Bhok Cun Ki mengangguk ketika Lili memandang kepadanya. Tidak mungkin memaksa Ci Hwa bicara kalau sedang menangis seperti itu.

"Ceritakanlah, Lili,"

Katanya.

"Begini, ayah, ibu. Tadi secara kebetulan aku memasuki taman dan melihat Sin Wan dan adik Ci Hwa sedang duduk di bangku ini, bermesraan, saling berpelukan. Kedatanganku membuat mereka terkejut dan adik Ci Hwa ketakutan. Akan tetapi aku mengatakan bahwa aku bahkan bergembira kalau mereka saling mencinta. Eh, ternyata dia ini, laki-laki tidak bertanggung jawab ini, dia menyangkal bahwa dia mencinta Ci Hwa! Nah, hati siapa tidak menjadi panas melihat adiknya dipermainkan orang!"

Mendengar keterangan ini, Bhok Cun Ki yang biasanya berpikiran panjang dan dapat menahan perasaannya, mau tidak mau mengerutkan alisnya dan mukanya berubah merah.

Sebagai seorang ayah, tentu saja dia tidak senang mendengar laporan itu, walaupun dia masih meragukan kebenaran laporan itu karena selama ini dia mengenal Sin Wan sebagai seorang pemuda yang gagah perkasa dan berkelakuan sopan.

Bhok-ciangkun kini menatap wajah Sin Wan.

Bulan sedang terang-terangnya sehingga cuaca menjadi cerah.

"Sin Wan, kami harap engkau bersikap sebagai seorang gagah dan suka menceritakan semuanya dengan jujur. Nah, benarkah apa yang diceritakan Lili tadi?"

Sin Wan menghela napas panjang.

Keadaan sudah sedemikian rupa sehingga jalan satu-satunya hanya berterus-terang dan tidak lagi merahasiakan sesuatu walau dengan resiko menyinggung hati Ci Hwa atau siapapun saja.

Kalau tidak, maka tentu suasana akan menjadi semakin gawat.

"Baiklah, paman Bhok. Memang seharusnya saya berterus terang. Karena ketidak terus-terangan sayalah yang menyebabkan semua ini terjadi. Laporan Lili tadi tidak dapat saya salahkan, karena memang kelihatannya benar seperti yang ia terangkan. Akan tetapi sesungguhnya tidaklah demikian, paman. Biarlah akan saya ceritakan dari awal. Mula-mula, adik Ci Han yang datang menemui saya di kamar saya dan dia menceritakan kepada saya bahwa adik Ci Hwa sedang bersedih. Menurut keterangan adik Ci Han, adik Ci Hwa bersedih karena mengira bahwa saya membencinya. Tentu saja saya merasa heran dan terkejut, maka ketika adik Ci Han minta tolong kepada saya untuk menghibur dan mengaku sayang kepada adik Ci Hwa yang sedang berada di taman, tanpa ragu lagi saya lalu menemuinya di dalam taman ini."

"Benarkah semua keterangannya itu, Ci Han?"

Tanya Bhok Cun Ki kepada puteranya yang sejak tadi hanya mendengarkan saja dengan wajah tegang.

"Benar, ayah. Memang aku yang menceritakan tentang keadaan Hwa-moi kepada Wan-toako dan minta bantuannya agar dia menghibur Hwa-moi dan mengatakan bahwa dia tidak membencinya, melainkan menyayangnya."

"Hemm, Sin Wan, lanjutkan keteranganmu,"

Kata Bhok Cun Ki kepada Sin Wan.

"Setelah tiba di taman, saya melihat adik Ci Hwa duduk seorang diri dan memang kelihatan berduka sekali. Saya lalu mendekatinya, duduk di bangku dan mengatakan bahwa saya sayang kepadanya dan agar ia tidak berduka. Mendengar pengakuan saya itu, adik Ci Hwa menangis dan merangkul saya, menangis di dada saya dan mengatakan bahwa ia mencinta saya. Pada saat itu saya sudah menyadari akan adanya kesalah-pahaman, paman. Akan tetapi apa yang harus saya lakukan? Terus terang mengatakan bahwa saya tidak mencintanya? Tentu hal itu akan merupakan pukulan hebat kepadanya dan saya tidak tega melakukannya. Saya menyayangnya sebagai seorang kakak terhadap adiknya, paman. Dan pada saat itu Lili muncul! Karena keadaan menjadi gawat, maka saya lalu berterus terang bahwa saya tidak mencinta adik Ci Hwa seperti yang mereka sangka, tidak mencinta sebagai seorang pria kepada seorang wanita melainkan, hanya kesayangan seorang kakak kepada adiknya. Lili marah dan selanjutnya, paman melihat dan mendengar sendiri. Saya memang bersalah tidak berani berterus terang sehingga terjadi kesalahpahaman yang menyakiti hati adik Ci Hwa. Maafkan saya."

Melihat gawatnya persoalan itu, Bhok Cun Ki menghela napas panjang. Bagaimanapun juga, hal ini menyangkut kebahagiaan dan kehormatan diri puterinya, maka dia lalu berkata.

"Mari kita semua masuk ke rumah dan membicarakan urusan penting ini di dalam saja."

Kedua orang isterinya juga maklum akan pentingnya urusan itu, maka mereka mengangguk dan semua orang meninggalkan taman, memasuki rumah tanpa mengeluarkan suara, hanya masih terdengar isak tertahan dari Ci Hwa yang dirangkul dan digandeng ibunya memasuki rumah.

Sin Wan yang berjalan paling belakang, merasa seperti seorang pesakitan masuk ke dalam ruangan sidang pengadilan yang akan mengadilinya.

Mereka duduk di ruangan dalam dan tidak ada seorangpun pelayan yang diperbolehkan masuk.

Sin Wan duduk di sudut, dihadapi oleh seluruh keluarga itu.

Dia bersikap tenang, dengan keyakinan bahwa dia tidak melakukan suatu kesalahan, tidak mempunyai niat untuk mengganggu siapa saja, dan urusan yang dihadapinya ini adalah suatu kesalahpahaman belaka.

Begitu mereka duduk, Lili yang sejak tadi menahan perasaannya, perasaan bermacam-macam, ada kecewa, ada pula kemarahan, bukan karena ia melihat kenyataan pahit bahwa pemuda yang dicintanya ternyata mencinta gadis lain, akan tetapi juga karena kemudian pemuda itu menyatakan tidak menerima cinta kasih Ci Hwa.

"Ayah, adik Ci Hwa mencinta Sin Wan dan diapun tidak pernah menolak cintanya. Oleh karena itu, aku menuntut agar mereka menjadi suami isteri. Kalau Sin Wan menolak, dia akan kuanggap sebagi musuhku!"

"Aku sendiripun tidak akan menerima begitu saja kalau anakku Ci Hwa diperhina orang!"

Kata pula Cu Sui In.

Ibu dan anak ini memandang kepada Sin Wan dengan sinar mata mencorong.

Bhok Cun Ki mengangkat kedua tangan sebagai isyarat agar isteri dan puterinya itu berdiam diri.

Kemudian dia memandang kepada Sin Wan dan suaranya terdengar tenang namun tegas.

"Sin Wan, kami menyadari sepenuhnya bahwa peristiwa ini terjadi karena kesalah-pahaman di pihak anak kami Ci Hwa. Akan tetapi, engkaupun tidak bebas dari pada kesalahan karena sikapmu yang tidak berterus terang. Andaikata pada saat itu engkau berterus terang menyatakan isi hatimu yang sebenarnya kepada Ci Hwa, tentu tidak akan berlarut-larut kesalah-pahaman itu. Sekarang, semua telah terjadi dan engkaupun tentu maklum betapa akan kecewa dan malu hati kami semua kalau Ci Hwa tidak berjodoh denganmu. Oleh karena itu, kami harap kebijaksanaanmu agar suka menyetujui ikatan perjodohan antara engkau dan Ci Hwa."

Sin Wan mengerutkan alisnya.

Bayangan Lim Kui Siang, sumoinya itu, berkelebat di depan matanya.

Selama hidupnya dia hanya mencinta seorang saja, yaitu Kui Siang dan sampai saat ini, walaupun Kui Siang telah berubah menjadi benci kepadanya, dia tidak mampu melupakan gadis itu.

Memang dia tidak lagi mengharapkan untuk dapat berjodoh dengan Kui Siang mengingat betapa Kui Siang sudah memandangnya sebagai musuh, namun bagaimana mungkin dia dapat berjodoh dengan gadis lain kalau hal ini bertentangan dengan perasaan hatinya?

Dia memang suka dan sayang kepada Ci Hwa, iba kepadanya, akan tetapi tidak ada perasaan cinta di dalam hatinya seperti perasaan cintanya terhadap Kui Siang.

Dengan tulus Sin Wan kini memandang kepada mereka semua, seorang demi seorang, lalu berkata dengan suara lembut namun tegas dan sejujurnya.

"Paman Bhok, bibi berdua, adik Ci Hwa, Ci Han dan Lili, saya mengerti bahwa terkadang pengakuan sejujurnya mendatangkan kepahitan dan ketidak-senangan. Akan tetapi sayapun yakin bahwa kebohongan, walaupun kadang menyenangkan, akan mendatangkan akibat yang jauh lebih buruk lagi. Apa yang baru saja terjadi antara saya dengan adik Ci Hwa, hanya merupakan suatu kesalah-pahaman belaka. Saya menyayang adik Ci Hwa sebagai seorang kakak terhadap adiknya, atau sebagai seorang sahabat yang ikut prihatin melihat sahabatnya berduka dan ingin menghiburnya, akan tetapi adik Ci Hwa salah sangka, mengira saya mencintainya sebagai seorang pria mencinta wanita. Setelah sekarang semua itu kita mengerti, dan saya sudah minta maaf kepada adik Ci Hwa dan kepada semua keluarga, mengapa ikatan perjodohan ini akan dipaksakan dan dilaksanakan juga? Kalau perjodohan seperti ini kelak mengalami kegagalan, bukankah kita semua pula yang akan menanggung derita? Paman, saya tidak ingin kelak mengecewakan dan menghancurkan perasaan hati adik Ci Hwa. Karena itu, dari pada kelak terpaksa mengkhianati cintanya dan menyusahkan hatinya, sebaiknya kalau dari sekarang saya menjauhkan diri. Saya terpaksa tidak dapat memenuhi permintaan paman untuk berjodoh dengan adik Ci Hwa."

Mendengar ucapan ini, Ci Hwa terisak, lalu melepaskan rangkulan ibunya, dan iapun lari ke kamarnya sambil menangis. ibunya bangkit dan menyusulnya.

"Bagus, kalau begitu, engkau harus menebus penghinaan ini dengan nyawamu!"

Bentak Lili dan iapun sudah menyerang Sin Wan dengan dahsyat.

Sin Wan yang maklum bahwa kemarahan keluarga itu mungkin saja membuat mereka ingin membunuhnya, sudah siap waspada sejak tadi dan begitu Lili menyerangnya, diapun sudah meloncat ke belakang dan menghindarkan diri dari totokan maut yang dilakukan gadis itu.

"Biar aku yang menghajarnya!"

Bentak Bi-coa Sianli Cu Sui ln.

Nampak sinar hitam berkelebat ketika wanita itu mencabut Hek-coa-kiam (Pedang Ular Hitam) dan menyerang Sin Wan.

Juga Lili sudah mencabut Pek-coa-kiam (Pedang Ular Putih) dan siap mengeroyok Sin Wan.

"Tahan! teriak Bhok Cun Ki yang sudah melompat ke depan menghadang isteri dan puterinya.

"Simpan pedang kalian dan jangan serang dia. Kita tidak begitu rendah untuk memaksa seseorang yang tidak mau menjadi anggauta keluarga kita."

Biarpun dengan alis berkerut, Cu Sui In menyimpan kembali pedangnya dan mengomel.

"Akan tetapi dia telah menghina anak kita Ci Hwa!"

Lili juga menyimpan pedangnya dan berkata tak puas.

"Dia telah menghancurkan hati adik Ci Hwa dan membuatnya berduka."

Bhok Cun Ki menghela napas panjang.

"Semua itu kesalahan Ci Hwa sendiri. Siapa menyuruh ia mencinta seorang pria yang tidak membalas cintanya? Sudahlah, mungkin seorang pendekar besar yang memiliki kepandaian tinggi seperti dia, merasa terlalu tinggi untuk berjodoh dengan seorang gadis bodoh seperti Ci Hwa. Akan tetapi, aku tidak akan sudi memaksanya."

Mendengar ucapan keluarga itu, dan melihat Ci Han duduk saja dengan muka pucat, Sin Wan menghela napas panjang dan memberi hormat kepada mereka, kemudian berkata kepada Bhok Cun Ki.

"Paman Bhok, saya mengerti bahwa semua ucapan tadi hanya timbul dari hati yang kecewa. Saya telah mengecewakan keluarga paman, dan menyusahkan hati adik Ci Hwa. Karena itu, saya berpamit, paman. Sekarang juga saya akan meninggalkan rumah ini, dan banyak terima kasih saya ucapkan atas semua kebaikan paman dan keluarga paman yang telah melimpahkan kepada saya. Selamat tinggal."

Sin Wan pergi ke kamarnya, mengemasi pakaiannya lalu pergi meninggalkan rumah itu.

Ci Han, yang sejak tadi diam saja, diam-diam merasa menyesal sekali.

Dialah yang menjadi biang-keladi, keluhnya dalam hati.

Dia yang menyuruh Sin Wan menghibur adiknya, tidak disangkanya akan berakibat begini.

Dia pun meninggalkan ruangan itu, disusul Lili yang juga pergi dari situ.

Tinggal Bhok Cun Ki yang masih duduk dan berulang kali menghela napas panjang, ditemani Cu Sui ln.

"Aihh, mengapa cinta selalu mendatangkan duka kepada manusia? Kita berdua menderita banyak kesengsaraan, terutama engkau, karena cinta. Sekarang anak kita, gadis yang masih bersih dari pada noda, terpaksa harus menderita pula karena cinta."

"Akan tetapi, biar dahulu menderita, sekarang aku menemui kebahagiaan. Akan tetapi bagaimana dengan anak kita Ci Hwa? Hemm, kalau tidak kau larang, sudah kubunuh pemuda yang berani menolak cintanya itu!"

Bhok Cun Ki tersenyum.

Wanita yang sejak dahulu dicintanya ini, biarpun hidup sebagai puteri datuk dan selalu terbiasa dengan kekerasan, namun pada hakekatnya memiliki watak yang baik.

Ia menganggap Ci Hwa sebagai puterinya sendiri.

"Hemmmm, cinta......., apa sih sebenarnya cinta itu? Cinta membuat orang hari ini tertawa senang, besoknya menangis susah. Cinta mendatangkan cemburu, kemarahan, bahkan kebencian. Cinta, siapakah sebenarnya kamu dan apa sebenarnya perasaan yang selalu mempermainkan hati setiap orang manusia ini? Tidak perduli pria atau wanita, pintar atau bodoh, kaya atau miskin, semua menjadi permainan cinta dan setiap orang pernah atau akan menderita karena cinta!"

Ucapan Bhok Cun Ki yang seperti ditujukan kepada dirinya sendiri itu, membuat isterinya, Cu Sui In, ikut pula duduk termenung.

Keduanya tenggelam ke dalam renungannya sendiri tentang cinta yang kalau diukur lebih dalam dari pada samudera dan lebih tinggi dari pada langit itu.

Renungan tentang cinta dilakukan orang sepanjang masa, sejak jaman nenek moyang kita dahulu sampai kini.

Namun, adakah manusia yang pernah menemukan jawabnya yang tepat.

Banyak memang pendapat orang tentang cinta, akan tetapi apakah pendapat itu sudah dapat membuat kita mengenal cinta?

Kalau mendatangkan cemburu yang disusul kebencian dan permusuhan, apakah itu cinta?

Kalau mendatangkan kesenangan disusul kesusahan, apakah itu cinta?

Ingin memiliki dan dimiliki sendiri, itukah cinta?

Menjadi pembangkit, penyalur dan pemuasan berahi, itukah cinta?

Membela dengan mempertaruhkan nyawa, membunuh atau dibunuh seperti dalam perang membela tanah air, itukah cinta?

Mengorbankan diri untuk anak cucu, itukah cinta?

Ataukah cinta mencakup kesemuanya?

Apakah cinta merupakan kebalikan dari benci?

Apakah benar bahwa cemburu menjadi kembangnya cinta?

Kalau dilanjutkan, masih ada satu macam pertanyaan yang tak terjawab mengenai cinta.

Bagaimana mungkin hati yang tidak pernah mengenal cinta, dapat mencari apa sebenarnya cinta itu?

Hati akal pikiran ini hanya mampu menemukan sesuatu yang pernah dikenalnya, pernah dialaminya, dapat menemukan hal yang telah lalu.

Yang mendatangkan cemburu, mendatangkan suka dan duka, mendatangkan kebencian dan permusuhan, yang memuaskan berahi, yang membelenggu dalam ikatan, jelas bukanlah CINTA, melainkan nafsu.

Nafsu selalu menimbulkan keinginan untuk mendapatkan kesenangan dan menjauhi ketidak-senangan.

Nafsu selalu mempermainkan manusia, mengombang-ambingkan manusia antara suka dan duka, puas dan kecewa.

Nafsu membuat kita mencinta seseorang karena daya tarik yang khas, yang sesuai dengan keinginan nafsu.

Kita mencinta orang karena kecantikannya atau ketampanannya, karena kekayaannya, kedudukannya, kepintarannya dan sebagainya.

Kalau yang menjadi daya tarik itu sudah luntur, maka cinta kitapun ikut luntur karena ikatan itu mengendur.

Cinta yang didorong nafsu membuat kita ingin memiliki sendiri yang kita cinta, baik itu berupa benda, binatang peliharaan, tanaman, atau orang.

Kalau ini dilanggar, kita cemburu, kita marah, kita benci.

Kalau kita berhasil memiliki, timbullah rangkaian yang mendatangkan penderitaan pula.

Memiliki berarti menjaga dan kehilangan!

Memiliki dapat menimbulkan kebosanan.

Cantik dan indah hanya terasa sebelum didapatkan, atau paling banyak terasa untuk jangka waktu yang pendek saja.

Sesudah itu, cantik dan indah mulai luntur kalau tidak membosankan malah.

Betapa banyaknya pasangan yang cantik dan tampan cekcok atau bercerai.

Betapa banyaknya pasangan yang kaya raya, tidak cocok dan menderita.

Cinta yang kita puja-puja pada umumnya hanyalah permainan nafsu belaka.

Cinta kita berpamrih seperti menjadi sifat nafsu, dan permainan nafsu tak dapat tiada menyeret kita ke dalam permainan suka duka, yang lebih banyak dukanya dari pada sukanya.

Kita mencinta untuk mendapatkan sesuatu.

Cinta kita merupakan cinta jual-beli dan setiap jual-beli selalu mendambakan keuntungan.

Selama nafsu pamrih masih ada, cinta tidak akan ada.

Kalau nafsu dan pamrih sudah tidak ada, apakah cinta akan ada?

Tak dapat kita mengharapkan cinta, tidak dapat kita mengundang cinta.

Cinta akan datang menghampiri kita seperti air suci mengisi cawan yang sudah kosong dan bersih!

Di lembah Sungai Huang-ho, di luar kota Cin-an, nampak meriah.

Suasananya seperti dalam pesta besar.

Memang terdapat pesta besar di tempat itu.

Bangunan mewah di tepi sungai yang menjadi tempat peristirahatan kaum bangsawan, dihias meriah.

Apa yang terjadi di pagi hari itu?

Pertemuan keluarga besar diadakan di tempat itu.

Pangeran Chu Hui San, yaitu putera mahkota, mengundang adiknya, yaitu Raja Muda Yung Lo di Peking, untuk mengadakan pertemuan di tempat itu.

Hal ini dilakukan Pangeran Mahkota Chu Hui San untuk menghormati adiknya yang sudah menjadi raja muda di Peking.

Kota Cin-an terletak di antara kota raja Nan-king dan Peking.

Agar tidak nampak saling merendahkan, maka tempat itu dipilih oleh Pangeran Chu Hui San untuk mengadakan pertemuan dengan Raja Muda Yung Lo.

Untuk berkunjung ke kota itu, keduanya harus melakukan perjalanan yang hampir sama jauhnya.

Raja Muda Yung Lo harus menyeberangi Huang-ho sebelum tiba di Cin-an, dan Pangeran Mahkota harus menyeberangi sungai Yang-ce ketika keluar dari kota raja menuju ke utara.

Dengan alasan rindu dan ingin mengajak adiknya itu bercakap-cakap tentang kenegaraan, Pangeran Mahkota Chu Hui San mengundang Raja Muda Yung Lo.

Dia melakukan hal ini atas bujukan dan nasihat Yauw Siaucai yang telah menjadi guru sastra puteranya, juga menjadi penasihatnya.

"Hamba mendengar bahwa kekuasaan Raja Muda Yung Lo di Peking semakin besar dan kuat. Karena paduka yang diangkat menjadi pangeran mahkota maka kekuasaan Raja Muda Yung Lo itu kelak dapat merupakan ancaman bagi kedudukan paduka kalau paduka sudah menjadi kaisar. Oleh karena itu, perlu sekali paduka mendekatinya dan berbaik dengannya. Juga untuk sekedar menguji kesetiaannya dan mengukur kekuatannya."

Demikian antara lain Yauw Siucai membujuk.

"Akan tetapi, perjalanan itu amat jauh dan berbahaya,"

Pangeran Mahkota membantah.

"Paduka dapat mengerahkan pasukan keamanan untuk mengawal. Bukankah terdapat jenderal-jenderal besar yang boleh dipercaya seperti jenderal besar Shu Ta atau kalau beliau sibuk dengan tugasnya, dapat paduka mengutus Jenderal Yauw Ti dengan pasukan pengawalnya yang kuat. Tentu saja paduka harus mendapatkan persetujuan Sribaginda Kaisar dan karena niat itu baik sekali, tentu beliau tidak akan keberatan."

Akhirnya Pangeran Chu Hui San menurut dan seperti yang telah dikemukakan oleh Yauw Siucai, Kaisar memberi restu, dan penjagaan keamanan dan pengawalan diserahkan kepada Jenderal Yauw Ti yang sudah dipercaya sebagai wakil Jenderal Shu Ta yang sibuk dengan tugasnya.

Demikianlah, pada pagi hari itu, rombongan Pangeran Mahkota tiba di Cin-an dan pada siang harinya, baru rombongan Raja Muda Yung Lo datang dari utara.

Rombongan Raja Muda Yung Lo tidak besar, hanya dikawal pasukan yang tiga losin orang banyaknya.

Akan tetapi dia ditemani seorang pengawal pribadi wanita yang cantik dan gagah perkasa, yang bukan lain adalah Lim Kui Siang!

Seperti telah kita ketahui, Raja Muda Yung Lo yang merasa amat kagum dan berhutang budi kepada Lim Kui Siang, telah jatuh hati kepada gadis perkasa itu.

Raja Muda Yung Lo yang berwatak keras dan jujur itu, dengan terang-terangan menyatakan cintanya dan ingin memperisteri Kui Siang.

Melihat gadis itu bimbang mendengar pinangannya, dia memberi waktu sebulan kepadanya untuk memberi jawaban.

Dalam waktu sebulan itu Kui Siang merasa tersiksa hatinya.

Usianya sudah duapuluh tiga tahun dan bagi seorang gadis pada masa itu, usianya sudah lebih dari pada dewasa.

Yang meminangnya adalah seorang raja muda yang hebat, yang ia kagumi.

Andaikata tidak ada bayangan Sin Wan selalu menggodanya, kiranya tidak akan sukar untuk menerima pinangan Raja Muda Yung Lo itu, bahkan akan diterimanya dengan hati bersyukur dan berbahagia.

Akan tetapi, di sana ada Sin Wan.

Ia tidak dapat melupakan pemuda itu yang masih tetap dicintanya.

Ia sudah berusaha melupakan Sin Wan, berusaha meyakinkan dirinya bahwa Sin Wan adalah anak tiri dan murid musuh besarnya.

Mendiang Se Jit Kong, ayah tiri Sin Wan, telah menghancurkan keluarganya dengan membunuh ayahnya.

Bagaimana mungkin ia berjodoh dengan anak tiri dan murid musuh itu?

Namun, semua usahanya untuk melupakan Sin Wan sia-sia belaka dan akhirnya, setelah masa sebulan lewat, dengan terus terang Kui Siang menjawab kepada Raja Muda Yung Lo bahwa ia tidak, dapat menerima pinangannya karena ia sudah mencinta orang lain.

Biarpun hatinya merasa kecewa sekali, namun dengan sikap yang tenang dan hati yang besar Raja Muda Yung Lo menerima kenyataan itu.

Dia adalah seorang yang bijaksana, dan menomor duakan urusan pribadi di bawah urusan negara.

Biarpun dia kecewa atas penolakan Kui Siang, namun dia tidak ingin kehilangan gadis perkasa ini sebagai pengawal pribadinya yang boleh diandalkan dan dapat dipercaya pula.

"Aku dapat menghargai kejujuranmu, Kui Siang, dan penolakanmu ini bahkan membuat aku semakin kagum padamu. Engkau seorang gadis yang cantik jelita, gagah perkasa, dan tidak tertarik akan kemuliaan dan kedudukan. Engkau hebat sekali dan aku dapat menduga siapa pria yang telah menempati hatimu. Dia tentu Sin Wan, bukan?"

Kui Siang menundukkan mukanya yang berubah kemerahan, akan tetapi ia membuat gerakan mengangguk.

Setelah ketegangan hatinya mereda oleh sikap bijaksana raja muda itu, iapun berkata dengan hati terharu.

"Yang Mulia, andaikata di dunia ini tidak ada dia dan hati hamba tidak lebih dahulu terikat oleh dia, maka pinangan paduka akan merupakan anugerah yang hamba terima dengan penuh kehormatan dan kebahagiaan. Harap paduka suka memaafkan hamba."

"Tidak ada yang perlu dimaafkan, Kui Siang. Engkau memang telah melakukan pilihan hati yang amat tepat. Sin Wan adalah seorang pendekar yang budiman dan gagah perkasa. Akan tetapi di mana dia sekarang? Kenapa tidak menerima tawaranku yang kuberikan kepadanya agar bekerja di sini sehingga tidak berjauhan darimu?"

Wajah Kui Siang berubah muram dan ini, Raja Muda Yung Lo yang berpengalaman itu dapat menduga bahwa tentu terjadi sesuatu yang meretakkan hubungan antara gadis ini dengan kekasihnya.

"Kui Siang, karena engkau tidak dapat menerima pinanganku, tidak dapat menjadi isteriku, biarlah engkau menjadi saudaraku atau sahabat baikku. Nah, ceritakanlah apa yang terjadi dan aku berjanji akan membantumu untuk memecahkan kesulitanmu."

"Terima kasih, Yang Mulia. Memang kami berpisah,..... bukan kesalahannya, akan tetapi......."

Melihat keraguan Kui Siang, Raja Muda Yung Lo semakin tertarik. Dia harus menolong Kui Siang dan Sin Wan, pikirnya, untuk membalas budi mereka.

"Katakanlah, Kui Siang, apa yang telah terjadi dan mengapa kalian saling berpisah?"

"Dia...... dia seorang Uighur......"

Kui Siang berhenti lagi karena masih merasa ragu apakah ia akan menceritakan persoalan pribadinya kepada raja muda itu. Raja Muda Yung Lo tertawa.

"Ha..ha..ha, kami sudah tahu akan hal itu, Kui Siang dan apa salahnya! Bangsa kita memiliki tanah air yang amat luas di mana tinggal ratusan juta orang dari ratusan macam suku bangsa. Kalau kita masih membeda-bedakan antara suku bangsa, ada yang merasa lebih tinggi derajatnya ada pula yang merasa lebih rendah, lalu bagaimana kita dapat menjadi suatu bangsa yang besar? Perbedaan antara suku hanya mendatangkan perpecahan dan tanpa adanya kesatuan dari seluruh rakyat dari pelbagai suku itu bagaimana mungkin negara kita akan menjadi besar dan kuat? Membedakan antara suku merupakan suatu kepicikan karena pada hakekatnya, semua manusia itu sama, dilahirkan sebagai bangsa apapun merupakan kehendak Tuan."

"Bukan itu yang menjadi persoalan, Yang Mulia. Hamba sendiripun tidak membeda-bedakan keturunan atau suku. Akan tetapi..... ah, bagaimana mungkin hamba berjodoh dengan anak tiri dan murid seorang...... musuh besar yang membunuh ayah hamba?"

Kini raja muda itu tertegun. Sungguh keterangan yang sama sekali tidak pernah dia duga.

"Siapakah ayah tiri dan gurunya itu?"

"Namanya Se Jit Kong........"

"Ahh! Apakah Hwe-ciang-kwi (Iblis Tangan Api)?"

"Benar, Yang Mulia."

"Akan tetapi, bukankah katanya Sin Wan murid dari Sam-sian (Tiga Dewa) dan menjadi suhengmu (kakak seperguruanmu)?"

"Itupun benar, Yang Mulia. Akan tetapi sejak kecil dia menjadi anak tiri Se Jit Kong dan baru-baru saja, setelah kami berada di sini, hamba tahu bahwa dia anak tiri dan murid musuh besar hamba. Oleh karena itu, hamba mengusirnya dan tidak mau lagi bertemu dengannya."

Kui Siang menunduk dan wajahnya menjadi sedih.

"Hemm, kurasa engkau keliru, Kui Siang. Dia hanya anak tiri, dan kejahatan yang dilakukan ayah tirinya itu tidak ada sangkut-pautnya dengan dirinya. Bukankah Sin Wan itu murid Sam-sian dan tidak pernah berbuat jahat seperti ayah tirinya?"

"Hamba menyadari hal itu, akan tetapi....... ketika hamba mengetahui bahwa dia anak tiri mendiang Se Jit Kong, hamba merasa kecewa dan marah sehingga hamba mengusirnya dan memutuskan hubungan dengannya. Sekarang hamba menyadari bahwa hamba telah bersikap tidak adil kepadanya..........."

"Jangan khawatir, Kui Siang. Tenang-tenang sajalah. Aku akan rnenyuruh orang mencari Sin Wan dan aku yang akan menjelaskan kepadanya dan mendamaikan kalian berdua. Aneh, dalam hati mencinta, akan tetapi diluarnya menyatakan benci dan bermusuhan."

Demikianlah, Kui Siang tidak lagi didesak oleh Raja Muda Yung Lo yang sudah melepaskan keinginannya mempersunting gadis itu, bahkan menjanjikan untuk mendamaikan antara ia dan Sin Wan.

Ketika Raja Muda Yung Lo menerima undangan dari Putera Mahkota yang menjadi kakaknya, tentu saja dia tidak dapat menolak.

Bagaimanapun juga, kakaknya itu adalah putera mahkota, calon pengganti kaisar ayah mereka yang berarti calon junjungannya.

Kalau pangeran Mahkota sudah mengalah dan datang ke Cin-an, berarti itu menaruh hormat.

kepadanya.

Ketika Kui Siang menyatakan kekhawatirannya, Raja Muda Yung Lo tersenyum.

"Kami menerima undangan dari kakanda Pangeran Mahkota untuk mengadakan pertemuan di Cin-an. Kenapa engkau merasa khawatir, Kui Siang? Apakah engkau mencurigai Pangeran Mahkota?"

"Tentu saja sama sekali tidak, Yang Mulia. Akan tetapi, kita mengetahui bahwa pihak Mongol selalu berdaya untuk merampas kembali kekuasaannya, maka mereka akan melakukan segala cara untuk mencelakakan keluarga Sribaginda Kaisar. Perjalanan ke Cin-an tidak dekat, maka hamba khawatir kalau-kalau kesempatan ini dipergunakan oleh pihak musuh untuk menghadang dan mencelakai paduka atau Pangeran Mahkota."

"Jangan khawatir, Kui Siang. Aku bukan seorang yang mudah dijebak begitu saja oleh siapapun. Kita berangkat dengan pasukan pengawal dan engkau menjadi pengawal pribadiku. Kalau ada engkau di dekatku, siapa yang akan mampu menggangguku!"

Kata Raja Muda Yung Lo setengah berkelakar.

Hati Kui Siang selalu penuh kekhawatiran dan ia melakukan penjagaan ketat, teliti dan waspada di sepanjang perjalanan karena ia menganggap bahwa pasukan pengawal tiga losin orang itu jauh dari pada cukup untuk menjamin keselamatan seorang raja muda, seperti Yung Lo.

Akan tetapi ternyata tidak ada gangguan di sepanjang perjalanan, bahkan para pembesar setempat yang mendengar akan datangnya Raja Muda Yung Lo yang melakukan perjalanan ke selatan, mengadakan penyambutan di setiap kota dengan penuh penghormatan.

Ketika rombongan Raja Muda Yung Lo tiba di luar kota Cin-an, di tempat peristirahatan dekat sungai Kuning itu, mereka disambut oleh Putera Mahkota sendiri dan Raja Muda Yung Lo saling berpelukan dengan kakaknya.

Kemudian, dua orang bangsawan ini memasuki gedung yang disediakan untuk pertemuan itu.

Raja Muda Yung Lo ditemani Kui Siang yang memimpin enam orang pengawal wanita sebagai anak buahnya.

Tujuh orang gadis yang rata-rata cantik ini nampak gagah dan berwibawa sehingga Pangeran Mahkota Chu Hui San memandang dengan senyum menyeringai lalu berkata kepada adiknya.

"Adinda Yung Lo, pasukan pengawal pribadimu sungguh hebat, cantik dan gagah!"

Raja Muda Yung Lo hanya tersenyum saja dan diapun memperhatikan orang-orang yang mengawal kakaknya.

Dia melihat Jenderal Yauw Ti yang tadi sudah cepat memberi hormat kepadanya secara militer.

Tentu saja dia mengenal jenderal besar ini, yang merupakan orang kepercayaan dari ayahnya Sribaginda Kaisar dan merupakan orang yang berjasa dan menjadi pembantu Jenderal Shu Ta.

Melihat hadirnya jenderal itu, hati Raja muda Yung Lo menjadi semakin tenang.

Jenderal ini tentu membawa pasukan besar dan tentu saja keadaan menjadi aman.

Di samping Jenderal Yauw Ti, yang menemani Pangeran Mahkota hanya ada seorang lagi saja, seorang pria muda berusia tigapuluh lima tahun yang tampan dan bersikap sopan dan halus gerak-geriknya, berpakaian seperti seorang sastrawan, bermata tajam dan nampaknya cerdik sekali.

Raja Muda Yung Lo tidak mengenal pria itu, hanya dia merasa heran mengapa kakaknya tidak diiringkan pengawal pribadi melainkan seorang sastrawan!

"Kakanda Pangeran, siapakah sastrawan ini?"

Tanyanya heran.

"Ahh, engkau belum pernah mengenalnya? Dia memang belum lama menjadi penasihatku dan diapun menjadi guru keponakanmu Chu Hong. Dia kami sebut Yauw Siucai."

Yauw Siucai cepat memberi hormat dengan menekuk sebelah lutut kepada Raja Muda Yung Lo, yang diterima dengan sikap anggun oleh bangsawan itu.

Akan tetapi selanjutnya, Raja Muda Yung Lo tidak lagi menaruh perhatian kepada sastrawan itu.

Sebaliknya, sejak mengikuti raja muda itu dan melihat sastrawan itu, diam-diam Kui Siang amat memperhatikannya.

Biarpun pakaiannya seperti sastrawan, namun ada sesuatu dalam sikap orang itu, terutama kilatan pandang matanya, yang membuat dia patut diawasi karena jelas bahwa, sastrawan ini bukan sembarang orang.

Pertemuan dua orang saudara keluarga Kaisar ini berlangsung meriah dan ketika mereka berdua bercakap-cakap di ruangan paling dalam, mereka tidak ingin dihadiri orang lain.

Bahkan Kui Siang sendiri terpaksa harus berjaga di luar ruangan itu di mana ia melihat sastrawan yang disebut Yauw Siaucai itu berjalan mondar-mandir dengan tenang dan mengipasi tubuhnya dengan kipas putih yang besar.

Juga Jenderal Yauw Ti hanya mengatur anak buahnya melakukan penjagaan ketat di luar gedung dan di sekitar tempat pertemuan itu.

Dua orang pangeran yang bercakap-cakap itu saling menceritakan keadaan masing-masing, juga keadaan di utara dan di selatan.

Dengan sejujurnya Raja Muda Yung Lo mendukung kakaknya yang menjadi pangeran mahkota itu, dan menyatakan bahwa kelak kalau kakaknya menjadi kaisar, dia akan mendukung kekuasaan kakaknya itu di wilayah utara.

Akan tetapi dengan jujur pula dia mengatakan bahwa dia mendengar desas-desus tentang pangeran mahkota itu yang dikabarkan hanya mengejar kesenangan.

Mendengar teguran halus adiknya ini, Putera Mahkota tertawa.

"Ha..ha..ha, berita yang kaudengar itu berlebihan, adinda Yung Lo. Selagi kita muda, apa salahnya kalau kita bersenang-senang? Sudah menjadi hak setiap orang, apalagi kita para pangeran, untuk bersenang dan menikmati hidup, bukan?"

"Memang benar, kakanda pangeran. Akan tetapi, kakanda adalah seorang pangeran mahkota yang kelak akan menggantikan ayahanda Kaisar, menjadi kaisar yang mempunyai tugas berat memimpin seluruh rakyat dan negara. Sudah semestinya kalau mulai sekarang kakanda pangeran memperhatikan dan mempelajari soal pemerintahan agar kelak kalau tiba saatnya, kakanda akan dapat mengemudikan pemerintahan dengan sebaik mungkin."

"Hemm, adinda Yung Lo. Tidak usah kaunasihatipun, aku sudah mengerti. Kalau seorang kaisar harus pusing sendiri memikirkan semua tugas itu, lalu apa gunanya kaisar memiliki penasihat dalam segala urusan? Sekarangpun, aku telah memiliki seorang penasihat yang bijaksana dan pandai. Kelak, kalau aku sudah menjadi kaisar, tentu akan kumiliki penasihat-penasihat yang pandai, baik dalam urusan pemerintahan urusan keamanan dan sebagainya. Jangan khawatir, adinda. Bukankah engkau sendiri juga sudah merupakan seorang di antara para calon penasihatku kalau kelak aku sudah menjadi kaisar?"

Biarpun di dalam hatinya merasa tidak puas dengan sikap kakaknya itu, namun Raja Muda Yung Lo tidak berani mendesak atau menegur terlalu keras, karena bagaimanapun juga, kakaknya itu adalah seorang atasan baginya.

Setelah bercakap-cakap, maka seperti telah direncanakan, Pangeran Mahkota mengadakan pesta perjamuan yang meriah untuk adiknya dan dengan royal Pangeran itu makan minum sambil menonton para penyanyi pilihan dan penari yang cantik-cantik menghibur mereka.

Raja Muda Yung Lo yang tidak begitu suka berpesta pora dan bersenang-senang, sekali ini terpaksa menuruti kehendak kakaknya.

Dalam perjamuan ini, Lim Kui Siang diperbolehkan ikut serta, disamping Yauw Siucai.

Namun Jenderal Yauw Ti menolak hadir dengan alasan bahwa dia harus mengatur penjagaan keamanan di luar dan di dalam gedung.

Di luar gedung itu, ketika dua orang bangsawan itu sedang pesta pora, terjadi hal lain yang amat menarik hati.

Sesosok bayangan berkelebat dan melakukan pengintaian dan penyelidikan, menyusup di antara penonton dan dengan hati-hati dia meneliti keadaan.

Bayangan ini bukan lain adalah Sin Wan!

Bagaimana pemuda ini dapat berada di tempat itu?

Seperti kita ketahui, Sin Wan meninggalkan rumah keluarga Bhok.

Karena kini tidak mungkin lagi baginya untuk bekerja sama dengan Bhok Cun Ki setelah peristiwa dengan Bhok Ci Hwa, dia lalu bermalam di rumah penginapan dan baru pada keesokan harinya dia pergi menghadap Jenderal Shu Ta.

Jenderal itu menerimanya dengan ramah dan ketika dia bertanya kepada Sin Wan akan maksud kunjungannya, pemuda itu mengatakan bahwa dia ingin bekerja sendiri, terlepas dari Bhok-ciangkun.

"Bekerja sama dengan Bhok-ciangkun membuat saya tidak leluasa bergerak, karena pihak musuh tentu akan dapat mengikuti gerak gerik saya sebagai pembantu Bhok-ciangkun. Akan tetapi, dengan bekerja sendiri, saya merasa lebih bebas dan dapat bergerak lebih leluasa. Saya ingin sekali dapat membongkar rahasia Si Kedok Hitam yang amat lihai itu, karena saya yakin bahwa dialah pemimpin jaringan mata-mata Mongol yang bergerak di kota raja, thai-ciangkun."

Jenderal Shu Ta mengangguk-angguk dan dapat menerima alasan itu.

"Akan tetapi sebelum engkau melanjutkan penyelidikanmu di kota raja, kini kami ingin menyerahkan sebuah tugas yang teramat penting, tai-hiap."

Jenderal besar itu lalu bercerita tentang undangan yang dilakukan Pangeran Mahkota untuk mengadakan pertemuan ramah tamah dengan Raja Muda Yung Lo yang akan diadakan di luar kota Cin-an.

Dia menambahkan.

"Biarpun Pangeran Mahkota sudah dikawal oleh Jenderal Yauw Ti atas permintaan beliau, dan Jenderal Yauw tentu saja memimpin pasukan pengawal yang cukup kuat, namun hatiku merasa tidak enak. Peristiwa ini terjadi diluar tahu Sribaginda Kaisar, dan kami ingin sekali mengetahui apa yang menjadi latar belakang pertemuan tingkat tinggi yang agaknya dirahasiakan itu. Nah, kami beri tugas kepadamu untuk pergi ke Cin-an dan melakukan penyelidikan rahasia ini, tai-hiap. Syukur kalau engkau dapat mengetahui apa yang dibicarakan dua orang putera Sribaginda Kaisar yang keduanya memiliki kedudukan penting itu, dan setidaknya, harap engkau ikut menjaga agar keselamatan kedua orang pangeran itu terjamin."

Sin Wan menerima tugas itu dan dan maklum betapa pentingnya tugas yang diserahkan kepadanya, walaupun di anggapnya tidak terlalu gawat, karena bukankah Pangeran Mahkota telah dikawal oleh Jenderal Yauw Ti bersama pasukan pengawalnya yang kuat?

Dan tentang Raja Muda Yung Lo.....

tiba-tiba dia teringat dan menundukkan muka agar tidak nampak perubahan pada wajahnya oleh Jenderal Shu Ta.

Begitu teringat kepada Raja Muda Yung Lo, tiba-tiba saja diapun teringat bahwa Lim Kui Siang tentu telah menjadi pengawal pribadi raja muda itu!

Tentu pertemuan penting yang membuat raja muda itu melakukan perjalanan jauh ke selatan, akan disertai pula oleh Kui Siang!

Besar kemungkinannya di Cin-an dia akan bertemu dengan Kui Siang!

Bermacam perasaan mengaduk hatinya.

Ada perasaan gembira karena dia merasa amat rindu kepada sumoinya yang dia cinta itu, ada pula perasaan tegang dan khawatir akan sikap sumoinya terhadap dirinya ketika mereka akan saling berpisah.

Sumoinya itu sudah membencinya dan menganggap dia sebagai musuh.

Perasaan gembira kini bercampur perasaan sedih.

Demikianlah, pada sore itu, ketika dua orang pangeran sedang mengadakan pesta dan cuaca di luar gedung sudah mulai remang-remang, Sin Wan yang baru tiba di Cin-an siang hari itu, segera mengadakan penelitian dan penyelidikan.

Dia melihat betapa di sekitar kota Cin-an penuh dengan perajurit anak buah pasukan Jenderal Yauw Ti.

Demikian pula di tempat pertemuan di luar kota, dekat sungai Kuning, berkeliaran perajurit pengawal, baik yang berpakaian seragam rnaupun yang berpakaian preman.

Melihat penjagaan ini, tentu saja Sin Wan merasa lega dan dia boleh bersantai saja karena siapa yang akan berani mengganggu keselamatan kedua orang pangeran yang terjaga ketat itu?

Kini tugasnya adalah menyelidiki apa gerangan arti pertemuan itu, dan terselip pula keinginan pribadinya untuk melihat apakah Kui Siang ikut pula mengawal Raja Muda Yung Lo.

Kalau sumoinya itu benar berada di situ, ingin dia bertemu dengannya, atau setidaknya dapat melihatnya.

Dengan kepandaiannya yang tinggi, tidak sukar bagi Sin Wan untuk menyelinap tanpa menimbulkan kecurigaan sehingga dia dapat mendekati gedung di mana kedua orang pangeran itu mengadakan pesta atas pertemuan mereka.

Dari luar gedung terdengar suara musik dan nyanyian.

Bahkan bau arak yang keras dan anggur yang harum tercium dari luar.

Sin Wan menghela napas panjang.

Dua orang kakak beradik bangsawan itu sedang berpesta pora, bergembira atas pertemuan di antara mereka.

Dan untuk pesta itu, begitu banyak perajurit pasukan keamanan dikerahkan untuk menjaga keamanan mereka.

Bahkan dia sendiri mendapat tugas khusus dari Jenderal Shu Ta untuk menyelidiki, juga ikut menjamin keselamatan mereka.

Nampaknya sungguh ganjil.

Siapa sih yang begitu gila untuk berani mencoba melakukan gangguan terhadap kedua orang pangeran itu?

Tiba-tiba Sin Wan bergerak cepat, menyusup ke bawah pohon dan bersembunyi di balik semak yang tumbuh di belakang gedung itu karena dia melihat bayangan berkelebat cepat dari arah kiri.

Betapa kagetnya ketika dia melihat bahwa bayangan itu adalah tokoh yang selama ini menjadi perhatiannya dan di cari-carinya.

Si Kedok Hitam!

Mudah dikenal karena selain pakaian dan kedok hitamnya, juga tubuhnya yang tinggi besar dengan perut yang besar menggendut.

Namun gerakannya amat ringan dan beberapa kali loncatan saja membuat tubuh yang tinggi besar itu berkelebatan dan lenyap ke arah barat, yaitu ke arah tepi sungai di mana terdapat sebuah hutan kecil.

Sin Wan tadi sudah melakukan penyelidikan dan tahu bahwa di dalam hutan kecil itu terdapat pondok-pondok darurat yang dijadikan markas pasukan pengawal Pangeran Mahkota yang besar jumlahnya.

Maka, diapun melakukan pengejaran.

Dia melihat bayangan Si Kedok Hitam, sebaliknya, begitu dia tiba di hutan itu, dia dihadang oleh belasan orang perajurit keamanan dari kota raja.

Mereka mengepungnya dengan senjata tajam di tangan, siap menyerangnya.

"Tangkap mata-mata!"

"Tangkap penjahat!"

Teriakan-teriakan ini membuat Sin Wan maklum bahwa dia dalam bahaya, maka diapun cepat memperkenalkan diri.

"Sobat sekalian, harap jangan salah sangka. Aku adalah Sin Wan, seorang penyelidik dari kota raja yang diutus oleh Jenderal Shu Ta!"

Seorang perajurit berkumis tebal yang menjadi pemimpin mereka maju dan mencoba untuk mengamati wajah Sin Wan dalam cuaca yang mulai remang-remang.

"Hemm, apa buktinya bahwa engkau utusan Jenderal Shu Ta?"

Sin Wan hanya membawa leng-ki, yaitu bendera kecil tanda sebagai utusan kaisar.

Akan tetapi dia menganggap bahwa tidak sepantasnya kalau berhadapan dengan pasukan penjaga ini dia harus memperlihatkan benda berharga itu.

"Jenderal Yauw Ti mengenalku, kalau kalian tidak percaya, boleh laporkan aku kepada beliau."

Dia memang harus menghadap jenderal itu untuk memperingatkan bahwa dia melihat Kedok Hitam di tempat ini, yang berarti bahwa ada mata-mata musuh yang amat berbahaya hadir pula di tempat pertemuan antara kedua orang pangeran itu dan berarti bahaya mungkin mengancam diri mereka.

Belasan orang perajurit itu ketika mendengar bahwa Sin Wan mengenal atasan mereka, tidak berani bersikap bengis lagi akan tetapi mereka tetap curiga dan mengawal pemuda itu dengan kepungan ketat untuk menghadapkannya kepada Jenderal Yauw Ti.

Melihat banyaknya perajurit di hutan itu, diam-diam Sin Wan merasa heran.

Untuk mengawal Putera Mahkota, kenapa dikerahkan pasukan yang sedikitnya ada seratus orang banyaknya?

Bukankah di Cin-an sendiri juga terdapat pasukan keamanan?

Sungguh Jenderal Yauw Ti agak berlebih-lebihan, pikirnya.

Atau memang jenderal itu sudah mencium adanya niat jahat dari jaringan mata-mata?

Sebetulnya, dia segan untuk bertemu dengan Jenderal Yauw Ti.

Biarpun jenderal itu adalah wakil Jenderal Shu Ta dan merupakan orang kepercayaan kaisar, namun dalam dua kali pertemuan, jenderal itu selalu memperlihatkan sikap memusuhinya.

Pertama, ketika dia memperkenalkan diri, Jenderal Yauw Ti sudah menghinanya sebagai seorang suku Uighur yang amat dibenci oleh jenderal itu karena dahulu pernah tertawan dan dimusuhi orang-orang Uighur.

Kemudian dalam pertemuan kedua, jenderal itu bahkan menuduhnya menghina Putera Mahkota dan hendak menangkapnya.

Dan kini terpaksa dia harus bertemu lagi dengan jenderal yang galak dan jujur itu.

Benar saja seperti yang dia khawatirkan, begitu dia berhadapan dengan jenderal itu, Jenderal Yauw Ti memandang kepadanya dengan alis berkerut.

Alisnya yang tebal bergerak naik turun, wajahnya yang galak itu nampak kemerahan dan tangannya yang berjari besar itu terkepal.

Dia nampak marah sekali mendengar laporan kepala jaga bahwa pemuda ini nampak berkeliaran di dalam hutan dan mereka menangkapnya dan membawanya ke depan sang jenderal.

"Hemm, sejak dahulu sudah kuduga. Engkau pastilah anggauta kelompok mata-mata musuh! Kalau tidak demikian, mau apa engkau berkeliaran di sini dan memata-matai pasukan kami?"

"Maaf, tai-ciangkun. Saya bukan memata-matai pasukan pemerintah, sebaliknya saya membantu pemerintah karena saya berada di sini atas perintah Jenderal Shu Ta. Beliau yang mengutus saya untuk ikut membantu dan menjaga keamanan kedua orang pangeran yang sedang mengadakan pertemuan di sini."

"Tidak mungkin! Aku sendiri yang memimpin pasukan Pangeran Mahkota, masa Jenderal Shu Ta masih mengutus engkau untuk menjaga keamanan beliau? Kami tidak percaya! Sin Wan, engkau seorang Uighur, kami tidak percaya dan tetap curiga kepadamu. Engkau harus kami tahan dulu, dan kelak akan kami hadapkan kepada Sribaginda Kaisar untuk membuktikan apakah benar engkau mendapat kepercayaan Beliau atau leng-ki yang kaubawa itu hanya palsu. Tangkap dia dan jebloskan ke dalam kamar tahanan!"

"Jenderal Yauw Ti, apakah engkau akan menangkap seorang utusan Kaisar?"

Sin Wan berseru sambil mengeluarkan leng-ki. Akan tetapi jenderal yang tinggi besar dan galak itu kini tidak (Lanjut ke

Jilid 13) Asmara Si Pedang Tumpul (Seri ke 02 -Serial Si Pedang Tumpul) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 13 memperdulikannya.

"Kami masih menghargaimu dan tidak langsung membunuhmu. Akan tetapi kalau engkau banyak tingkah, terpaksa kami akan membunuhmu. Masukkan dia ke dalam kamar tahanan, perlakukan sebagai tamu akan tetapi jaga ketat jangan sampai dia melarikan diri!"

Sin Wan tidak diberi kesempatan untuk membantah lagi karena para perajurit sudah memegang kedua lengan dan pundaknya dari belakang dan mendorongnya keluar dari situ.

Dia tidak memberontak, maklum bahwa kalau dia menggunakan kekerasan, dia akan berhadapan dengan puluhan orang perajurit dan tentu saja dia tidak ingin berkelahi melawan pasukan pemerintah.

Hanya dia diam-diam merasa heran mengapa jenderal ini demikian membencinya.

Apakah hanya karena dia seorang berbangsa Uighur, atau ada sebab lain?

Untuk sementara ini, sebaiknya dia mengalah sambil melihat perkembangan selanjutnya.

Dia hanya merasa penasaran karena tadi dia benar-benar melihat Si Kedok Hitam yang gendut itu memasuki hutan.

Kenapa si gendut itu tidak tertangkap oleh penjaga, sebaliknya malah dia yang ditangkap?

Apakah ada hubungan antara Si Kedok hitam dengan......?

Ah, tidak mungkin sama sekali?

Biarpun galak, keras dan mau menang sendiri, Jenderal Yauw Ti adalah wakil Jenderal Shu Ta dan dia merupakan seorang yang banyak jasanya bagi pemerintah, dan dipercaya pula oleh kaisar.

Sin Wan didorong masuk ke dalam sebuah kamar yang kokoh.

Agaknya markas darurat ini dibangun dengan lengkap, berikut tempat tahanan pula!

Di luar kamar tahanan itu, selosin orang perajurit melakukan penjagaan ketat.

Sin Wan tak mampu berbuat apa-apa, hanya duduk di atas lantai penjara itu.

Kalau dia menggunakan kekerasan, sebetulnya tidaklah sukar untuk meloloskan diri sebelum terkepung, akan tetapi hal itu akan membuat dia menjadi pelarian dan dimusuhi pasukan pemerintah, bahkan tentu Jenderal Yauw Ti akan menjadi semakin curiga dan menganggap dia benar-benar mata-mata musuh!

Untuk melarikan diri dan melapor kepada Jenderal Shu Ta, jarak dari situ ke Kota raja terlampau jauh.

Tidak, dia harus bersabar dan mencari kesempatan melarikan diri tanpa menimbulkan perkelahian.

Masih baik baginya bahwa pedangnya, yang dia sembunyikan di balik bajunya tidak dirampas, dan tak lama kemudian, seorang penjaga memasukkan makanan dan minuman melalui lubang di bahwa jendela beruji besi.

Sin Wan makan dan minum sampai kenyang untuk menjaga kesegaran dan kekuatan tubuhnya karena dia menghadapi keadaan yang gawat, lalu duduk bersila di sudut kamar.

Dia mengambil keputusan untuk keluar dari situ dan melarikan diri tanpa menimbulkan keributan.

Tiba-tiba terdengar suara berdebukan di luar kamar tahanan itu.

Dia cepat bangkit dan menghampiri jendela beruji untuk melihat keluar.

Di bawah sinar penerangan lampu yang tergantung di luar, Sin Wan melihat betapa selosin orang yang tadinya berjaga di luar, kini telah roboh malang melintang.

Agaknya mereka telah dirobohkan orang tanpa menimbulkan suara, entah dengan cara bagaimana.

Selagi matanya mencari-cari, dia melihat bayangan berkelebat di luar kamar tahanan itu berdiri seorang yang mengenakan pakaian dan kedok serba hijau.

"Akim!"

Sin Wan berkata lirih.

"Hemm, engkau masih ingat kepadaku?"

Gadis berkedok itu berkata lirih seperti orang menegor atau mengejek.

"Bagaimana mungkin melupakan engkau, Akim? Engkau telah menolongku, dua kali malah dengan sekarang!"

"Sudah, jangan banyak cakap sekarang, mari kita lari!"

Kata gadis itu dan ia agaknya sudah merampas kunci dari kepala jaga, maka dengan mudah ia membuka pintu kamar tahanan tanpa harus menjebol dan menimbulkan banyak suara berisik.

Inilah yang dikehendaki Sln Wan.

Melarikan diri tanpa ribut-ribut agar dia tidak berkelahi dengan pasukan pemerintah.

Bagaikan dua ekor kucing saja, Sin Wan dan gadis berkedok yang bukan lain adalah Akim, menyelinap keluar dari tempat tahanan itu, meloncat ke atas membuka atap genteng dan lolos melalui atap tanpa diketahui oleh para penjaga lain yang berada di luar tempat tahanan itu.

Malam telah tiba dan cuaca di luar gelap sekali, hanya diterangi cahaya bintang yang lemah.

Akan tetapi agaknya Akim sudah mengenal jalan.

"Mari kau ikuti aku, kita pergi dari hutan ini,"

Bisiknya.

"Tapi, Akim......."

"Ssshh..., bukan waktunya bicara. Nanti saja,"

Bisik lagi gadis itu dan iapun menyelinap di antara pondok-pondok dan pohon-pohon, lalu keluar dari dalam hutan kecil itu diikuti oleh Sin Wan yang merasa kagum kepada gadis ini.

Puteri datuk besar di pantai Lautan Timur ini memang hebat, pikirnya.

Mirip Lili, akan tetapi biarpun sama anehnya, sama-sama penuh rahasia, kalau Lili wataknya keras dan galak, sebaliknya puteri datuk dari timur ini lebih halus.

Ternyata Akim mengajak Sin Wan ke tepi Huang-ho dan tak lama kemudian mereka duduk di balik semak belukar yang penuh duri, duduk di atas rumput tebal di tepi sungai, terlindung dan tidak nampak dari daratan.

Dari situ hanya nampak sungai yang amat luas itu seperti lautan.

"Nah, Sekarang engkau boleh bicara, sambil menanti datangnya fajar, kata Akim yang sudah menanggalkan kedok hijaunya, kedok kain yang kini tergantung di lehernya. Ia duduk bersandar batu besar dan mereka saling pandang dalam cuaca remang-remang, hanya nampak garis bentuk wajah mereka saja.

"Akan tetapi, aku yang akan bicara dan bertanya lebih dahulu. Kenapa kalau kita bertemu, engkau menjadi tawanan melulu?"

Sin Wan tersenyum.

"Aku selalu menjadi tawanan yang tak berdaya dan engkau yang menjadi bintang penolongku. Memang aneh, agaknya memang engkau ditakdirkan untuk selalu menjadi penolongku, menjadi dewi penyelamatku."

"Hemm, jangan main-main, Sin Wan. Aku melihat perbedaan yang besar antara kedua peristiwa itu. Dahulu engkau dijebak dan ditawan orang berkedok hitam yang amat lihai itu, sedangkan sekarang ini, engkau ditawan seorang jenderal besar tanpa engkau melakukan perlawanan. Apa artinya semua ini? Kenapa engkau berada di sini dan kenapa pula engkau ditawan?"

Sin Wan tidak dapat mengelak dan memang dia merasa tidak perlu berbohong kepada gadis ini.

Baru dua kali dia bertemu dan berkenalan dengan AKim, akan tetapi puteri datuk timur ini agaknya memang dapat dipercaya sepenuhnya.

Oleh karena itu, dengan berbisik diapun menceritakan dengan terus terang betapa dia menerima tugas dari Jenderal Shu Ta untuk menyelidiki pertemuan antara kedua pangeran itu dan juga membantu agar keamanan kedua orang pangeran penting itu terjamin.

"Dan kautahu siapa yang kujumpai sore tadi?"

Dia menutup ceritanya.

"Aku melihat Si Kedok Hitam!"

"Ehhh? Di sini?"

Akim berseru heran.

"Ya, di tempat pertemuan itu, aku membayanginya dan dia lenyap ketika menuju ke hutan itu. Karena aku mengira dia memasuki hutan, aku lalu mengejar ke dalam hutan dan aku bertemu dengan para perajurit anak buah Jenderal Yauw Ti yang menangkapku dan menghadapkan kepada jenderal itu. Jenderal Yauw Ti marah dan mencurigaiku, maka dia lalu menyuruh anak buahnya menahanku."

"Dan engkau tidak melawan sama sekali?"

"Tentu saja tidak mungkin aku memusuhi perajurit keamanan kerajaan. Sudah kuberitahukan kepadanya bahwa aku diutus Jenderal Shu Ta, akan tetapi dia tidak percaya dan memang dia membenciku."

"Kenapa?"

"Pernah dahulu dia ditawan oleh suku yang memusuhinya, yaitu suku Uighur, maka dia membenci suku bangsa itu, dan karena aku adalah orang, maka dia agaknya juga membenciku."

"Hemm, kiranya engkau berbangsa Uighur?"

Tanya Akim. Sin Wan merasa perutnya panas, karena dia teringat akan sikap Kui Siang dan Pek-sim Lo-kai Bu Lee Ki yang menjauhinya karena dia seorang peranakan Uighur dan putera tiri Se Jit Kong.

"Aku memang seorang peranakan Uighur, bukan pribumi asli. Lalu kenapa?"

Mendengar ucapan yang nadanya ketus itu, Akim terbelalak, akan tetapi Sin Wan tidak dapat melihat mata yang terbelalak itu.

Dia menunduk dan bersungut, siap mendengar yang paling buruk, mendengar bahwa gadis inipun akan berubah sikapnya mendengar dia seorang peranakan Uighur.

Akan tetapi Akim tertawa, merdu akan tetapi lembut dan ditahan karena gadis inipun menjaga diri agar suaranya tidak terlalu nyaring sehingga akan terdengar orang lain.

"Hi-hik, kenapa engkau marah-marah, Sin Wan? Engkau tidak senang menjadi seorang peranakan Uighur?"

"Memang tidak enak, bukan tidak senang. Semua orang mencibirkan bibir dan menaikkan hidung mendengar aku seorang peranakan Uighur, bukan penduduk asli bangsa Han. Nah, kalau engkau tidak senang kepadaku, katakan saja, aku sudah terbiasa mendengar itu."

Mendengar suara merajuk itu, Akim semakin geli.

"Hi-hik, engkau lucu. Siapa yang tidak suka mendengar engkau peranakan asing? Aku sendiripun peranakan Jepang! Apa sih jeleknya peranakan? Apa sih salahnya? Kita dahulu tidak minta kepada Tuhan untuk dilahirkan sebagai peranakan, sebagai keturunan bangsa ini atau itu!"

"Bagus, kalau engkau juga peranakan dan tidak membenciku, berarti aku mempunyai orang senasib. Tentu saja tidak semua orang membenci golongan seperti kita ini, akan tetapi ada saja yang beranggapan bahwa orang-orang seperti kita ini tidak asli, dan yang tidak asli itu apa lagi kalau bukan palsu?"

"Aih, aihh...".. jangan merendahkan diri seperti itu, Sin Wan. Kukira hanya perasaanmu sendiri saja demikian, dan kalaupun benar ada yang mempunyai anggapan seperti yang kaukatakan itu, maka anggapan itu berada dalam pikiran orang-orang yang belum mengerti."

"Sudahlah, tidak perlu kita bicara tentang hal-hal yang tidak mengenakkan hati kita itu. Apapun anggapan orang terhadap diriku, akan kubuktikan bahwa aku adalah orang yang berguna bagi negara dan bangsa Han karena aku dibesarkan sebagai orang Han, bahkan merasa asing dengan bangsa Uighur yang menurunkan diriku. Nah, sekarang engkau mendapat giliran menceritakan mengapa engkau juga berkeliaran di tempat ini, Akim? Dan..."".. haiiiii, baru aku ingat. Mengapa kalau aku bertemu Si Kedok Hitam, selalu muncul engkau Si Kedok Hijau?"

"Apa? Ihh, sialan! Kaukira aku ini ekor Si Kedok Hitam?"

"Maaf, Akim, aku hanya berkelakar. Nah, ceritakan bagaimana engkau dapat mengetahui aku berada dalam tahanan dan dapat membebaskan aku."

"Jangan mengejek. Kalau engkau menghendaki, tentu engkau dapat nembebaskan diri dari sana. Sebetulnya, aku tidak mempunyai urusan denganmu, juga tidak mempunyai urusan dengan Pangeran Mahkota atau Raja Muda Yung Lo, atau dengan Si Kedok Hitam sekalipun. Aku tidak perduli semua itu. Aku kebetulan saja berada di sini, bahkan kebetulan saja ketika berada di kota raja. Aku membayangi dan mencari ayahku."

"Hemm, dan engkau menemukan jejak ayahmu menuju ke sini?"

Sin Wan bertanya dan merasa tertarik sekali. Akim menghela napas panjang.

"Karena engkau sudah bicara jujur kepadaku, akupun akan bersikap jujur. Sebetulnya, aku membayangi ayahku karena khawatir kalau dia sampai terpikat oleh orang-orang Mongol. Ketahuilah, utusan orang-orang Mongol mendatangi ayah dan menawarkan kerja-sama dengan janji-janji muluk sehingga ayah tertarik. Dia pergi memenuhi undangan mereka bersama suhengku, Maniyoko."

"Maniyoko......! Hemm, pernah aku bertemu dengan dia, bahkan bertanding melawan dia ketika terjadi perebutan kedudukan pemimpin besar para kai-pang. Dia lihai akan tetapi..."

Hemm...". curang dan kejam."

"Aku tidak marah. Memang dia curang dan kejam, dan akupun tidak suka kepada suhengku itu. Nah, ayah bersama Maniyoko pergi memenuhi undangan orang-orang Mongol, maka aku atas desakan ibuku yang menentang sikap ayah itu menyusul untuk membujuk ayah dan bahkan menghalangi dia menjadi kaki tangan orang Mongol. Jejaknya menuju ke kota raja, bahkan menuju ke Cin-an, maka akupun mengejar ke sini. Ketika mendengar akan pertemuan antara kedua orang pangeran, aku merasa khawatir sekali. Siapa tahu orang-orang Mongol akan mencelakai kedua orang bangsawan itu, dan ibu sama sekali tidak ingin melihat ayah membantu pemberontakan, apa lagi pemberontakan itu dilakukan oleh bangsa Mongol yang hendak mendirikan kembali pemerintah penjajah. Aku lalu melakukan penyelidikan dan kebetulan melihat engkau dimasukkan tempat tahanan itu, maka aku lalu membebaskanmu."

"Akan tetapi, bagaimana engkau dapat merobohkan belasan orang penjaga itu tanpa menimbulkan suara ribut sama sekali?"

Gadis itu tersenyum dan menepuk-nepuk saku di balik bajunya.

"Aku melihat mereka sedang minum arak. Aku berhasil menaburkan sedikit bubuk pembius dan begitu mereka minum lagi arak mereka, seorang demi seorang roboh tanpa mengeluarkan suara."

Sin Wan tersenyum kagum dan merasa lega bahwa gadis itu tidak ganas, tidak melakukan pembunuhan semena-mena.

"Engkau hebat, Akim, cerdik bukan main. Ada satu hal yang ingin kutanyakan kepadamu. Ketika kita berdua menyaksikan pertandingan antara panglima Bhok Cun Ki dengan ibu dan anak itu, kenapa engkau tahu-tahu menghilang, pergi meninggalkan aku tanpa pamit?"

Yang ditanya menundukkan mukanya dan sampai beberapa lama ia tidak menjawab.

"Kenapa, Akim?"

Sin Wan mengulang, penasaran. Didesak pertanyaan ulang itu, Akim mengangkat muka memandang, lalu menjawab dengan pertanyaan lain.

"Sin Wan, apakah gadis yang hampir membunuh ayah kandungnya itu, yang menggunakan pedang sinar putih itu, apakah ia itu kekasihmu, tunangan atau calon isterimu?"

Tentu saja Sin Wan tertegun heran, sama sekali tidak mengira akan mendapat pertanyaan seperti itu. Dia menggeleng kepala dan menjawab singkat.

"Bukan!"

"Apakah engkau mencinta gadis itu?"

Sin Wan semakin heran dan kembali menggeleng kepala.

"Tidak, kenapa engkau bertanya demikian dan apa hubungannya dengan pertanyaanku kepadamu tadi?"

"Dekat sekali hubungannya. Aku ketika itu melarikan diri tanpa pamit karena aku cemburu!"

Sin Wan terbelalak, dan mulutnya ternganga saking kaget dan herannya.

"Kau...".. cemburu? Kenapa cemburu..."...?"

"Gadis itu bersikap demikian mesra kepadamu. Jelas sekali nampak bahwa ia mencintamu, Sin Wan. Aku.... aku mengira bahwa engkaupun cinta padanya. Sin Wan menjadi semakin heran. Sepasang matanya sampai menjadi bulat karena terbelalak.

"Apa artinya ini? Aku menjadi bingung. Aku memang tidak mencinta Lili, akan tetapi andai kata aku mencinta juga, apa hubungannya denganmu? Dan kenapa pula engkau cemburu?"

Gadis itu mengeluarkan suara dengus ejekan.

"Huh, engkau ini laki-laki tolol. Aku tentu saja cemburu melihat sikap gadis itu begitu mesra kepadamu karena aku cinta padamu, Sin Wan!"

Ini merupakan pukulan yang membuat Sin Wan seperti berubah menjadi patung.

Dia duduk tegak, matanya terbelalak memandang gadis itu, sedikitpun tidak bergerak dan ketika hendak bicara, tidak ada kata-kata keluar dari mulutnya.

Bukan main!

Dahulu, ketika Lili dengan cara yang jujur dan terbuka menyatakan cinta kepadanya, dia mengira bahwa di dunia ini hanya ada seorang saja gadis seperti Lili.

Akan tetapi sekarang, ada gadis lain yang mengaku cinta padanya dengan cara yang sama, begitu terus terang, terbuka dan tanpa pura-pura lagi.

"Sin Wan, kenapa kau diam saja? Aku cinta padamu, dan bagaimana pendapatmu tentang ini?"

"Aku...". aku...""

Tapi...""""

"Sin Wan, apakah engkau tidak suka kepadaku? Katakan terus terang, apakah engkau tidak suka padaku?"

"Tentu saja, Akim. Aku kagum kepadamu, aku suka padamu tapi..."""

"Sin Wan, itupun sudah cukup!"

Akim berseru gembira dan gadis itu sudah mendekat lalu merangkul leher Sin Wan dan merebahkan mukanya di dada pemuda itu.

"Asal engkau tidak membenciku, asal engkau suka kepadaku, maka cintaku tidak sia-sia dan....."

"Akim, bagaimana sih engkau ini? Bagaimana begitu mudahnya engkau mengaku cinta, pada hal baru dua kali kita saling jumpa?"

"Sin Wan, dalam perjumpaan kita yang pertama, sejak aku meniupkan napas ke dalam dadamu melalui mulutmu, sejak saat itulah aku telah jatuh cinta padamu. Karena itu, melihat Lili bersikap demikian mesra kepadamu, tentu saja aku merasa cemburu dan sakit hati, lalu aku pergi meninggalkanmu. Biarpun aku mencintamu, aku belum begitu rendah untuk merebut pacar orang. Maka aku tadi bertanya apakah engkau mencintanya, karena kalau engkau mencinta gadis lain, tentu aku tidak akan sudi mengganggumu. Engkau ternyata tidak mencinta Lili, ah, betapa lega dan gembira rasa hatiku sekarang!"

Gadis itu merangkul semakin ketat dan seolah hendak membenamkan mukanya ke dada Sin Wan.

Pemuda itu tentu saja menjadi bingung dan salah tingkah.

Ingin dia menolak, akan tetapi hatinya merasa tidak tega.

Dia maklum bahwa dia akan menghancurkan hati gadis ini kalau menolak begitu saja secara langsung.

Tidak, dia harus bicara perlahan menyadarkan Akim bahwa cintanya itu tidak dapat dilanjutkan karena dia tidak dapat membalasnya.

Akan tetapi karena merasa tidak tega, diapun membiarkan saja sejenak gadis itu melepaskan dan mencurahkan perasaannya melalui dekapan ketat itu.

Kemudian, dengan lembut, dia melepaskan kedua lengan Akim yang merangkul lehernya, dan berbisik lirih.

"Akim, tenanglah dan mari kita bicara dengan baik-baik. Jangan terlalu menuruti perasaan hatimu, Akim."

Akan tetapi, betapa heran rasa hatinya ketika merasa betapa tubuh gadis itu lemas lunglai dan terkulai ketika dia melepaskan rangkulan kedua lengannya.

Dengan hati-hati dia merangkul dan ternyata gadis itu telah tertidur!

Entah apa yang terjadi dia tidak tahu.

Mungkin gadis itu terlalu lelah dan karena pelepasan perasaannya, gadis itupun terkulai dan tertidur, mungkin dengan mimpi yang indah!

Sin Wan tersenyum geli, lalu perlahan-lahan dia merebahkan gadis itu di atas rumput, kemudian dia melepaskan jubahnya dan menyelimuti tubuh yang rebah telentang dan tidur pulas itu.

Bulan sepotong muncul dan kini cuaca tidaklah segelap tadi.

Seberkas cahaya lembut bulan sepotong membantu cahaya bintang menimpa wajah Akim.

Sin Wan yang duduk di dekatnya, dapat melihat wajah itu dengan cukup jelas.

Wajah yang cantik memang.

Kecantikan yang berlainan dengan kecantikan wajah Lili, atau wajah Bhok Ci Hwa.

Akan tetapi tidak kalah manis dan menariknya.

Wajah yang bentuknya bundar dengan kulit muka yang putih mulus sehingga nampak alis dan rambutnya yang hitam.

Bibir yang mungil itu tersenyum, agak terbuka sehingga nampak kilatan gigi putih.

Ouwyang Kim memang seorang gadis yang cantik menarik.

Dan lebih dari itu, seperti juga Lili dan Ci Hwa, gadis ini mencintanya!

Sin Wan menghela napas panjang karena perlahan-lahan, wajah Akim seperti berubah dan nampaklah wajah yang selalu terbayang baik dalam tidur maupun sadar, yaitu wajah Liem Kui Siang!

"Sumoi...".!"

Sin Wan menghela napas panjang.

Cintanya hanya pada Kui Siang seorang.

Andaikata di sana tidak ada Kui Siang yang telah menguasai seluruh ruang dalam dadanya, betapa akan mudahnya untuk membalas cinta gadis-gadis seperti Lili, Ci Hwa atau Akim ini!

Sin Wan membiarkan bayangan Kui Siang memenuhi kepala dan dadanya, lalu diapun duduk bersamadhi untuk menenangkan hati dan memulihkan tenaga karena dia tahu bahwa mereka berdua masih belum bebas benar dari ancaman pengejaran pasukan keamanan.

Apalagi dia masih harus menyelidiki tentang Si Kedok Hitam yang dilihatnya berkeliaran di sekitar Cin-an.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Akim sudah terbangun.

Begitu ia membuka mulut, ia memanggil.

"Sin Wan..."."

Walaupun matanya masih terpejam. Agaknya gadis itu semalam suntuk bermimpi tentang Sin Wan! "Selamat pagi, Akim,"

Kata Sin Wan dan gadis itu membuka kedua matanya, memandang kepada pemuda itu dan tersenyum manis.

"Aih, Sin Wan, lamakah aku tertidur? Wah, sudah pagi!"

Gadis itu biarpun baru bangun tidur, nampak segar seperti setangkai bunga pagi yang bermandikan embun.

"Di sana ada sumber air yang jernih, aku ke sana dulu!"

Gadis itu menyelinap keluar dari balik semak belukar, tidak lupa membawa pedangnya dan topeng hijau masih tergantung di lehernya. Ia menoleh dan tersenyum manis.

"Sin Wan, kau tunggu di sini sebentar, ya? Nanti setelah aku selesai, baru engkau ke sana membersihkan dan menyegarkan badan."

"Kenapa kita tidak pergi bersama saja, Akim?"

Kata Sin Wan yang merasa khawatir kalau-kalau terjadi sesuatu dengan gadis itu. Kini wajah itu berubah kemerahan dan sepasang mata yang indah itu mengerling tajam, senyumnya dikulum.

"Ihh! Tidak malukah engkau berkata demikian? Bagaimana mungkin kita mandi berbareng? Kita belum menikah!"

Setelah berkata demikian, sambil tertawa terkekeh gadis itupun menyelinap pergi, tidak memberi kesempatan kepada Sin Wan untuk menjawab.

Tidak nyaman rasa hati Sin Wan menanti seorang diri di balik semak belukar itu.

Akhirnya, setelah menanti agak lama dan menurut perkiraannya tentu Akim sudah selesai mandi, diapun keluar dari balik semak belukar dengan hati-hati.

Dia tadi melihat Akim pergi ke arah kanan, maka diapun pergi ke sana.

Belum jauh dia berjalan, tiba-tiba dia mendengar suara senjata tajam beradu di sebelah depan.

Sin Wan segera meloncat dan berlari cepat ke arah suara itu dan ketika dia tiba di balik rumpun tebal, dia melihat Akim yang kini sudah mengenakan topeng hijaunya sedang bertanding pedang melawan seorang laki-laki tinggi besar berperut gendut yang mengenakan kedok pula.

Si Kedok Hitam!

Sin Wan terkejut, akan tetapi juga girang karena kini dapat menemukan tokoh yang selalu menghilang dengan rahasia itu, tokoh yang memang dia cari-cari.

Dia maklum akan kelihaian Si Kedok Hitam itu dan kini Akim juga sudah mulai terdesak walaupun puteri datuk timur itupun bukan seorang lawan yang lemah.

Pedang yang berada di tangan gadis itu berubah menjadi gulungan sinar yang berkilauan lembut dan mengandung hawa dingin.

Akan tetapi, Si Kedok Hitam yang memegang sebatang pedang pendek, hanya menggunakan pedangnya untuk menangkis sambaran sinar dari gulungan pedang Akim, sedangkan tangan kirinya melakukan totokan-totokan yang membuat Akim terdesak karena totokan itu amat berbahaya.

Jari tangan kiri Si Kedok Hitam yang menotok itu mengeluarkan bunyi bercuitan, seolah jari telunjuk yang menotok itu menjadi sebatang senjata runcing yang amat dahsyat.

Maklum bahwa Akim terancam bahaya, Sin Wan mengeluarkan bentakan nyaring dan diapun sudah melompat ke depan sambil menggerakkan pedangnya, pedang yang tumpul dan buruk, akan tetapi begitu pedang itu bertemu dengan pedang pendek di tangan Si Kedok Hitam, orang tinggi besar gendut itu terpental ke belakang.

Dia mengeluarkan suara gerengan marah, apalagi ketika mengenal Sin Wan sebagai pemuda yang beberapa kali telah menggagalkan pekerjaannya bahkan merupakan halangan besar.

"Bagus, kau datang mengantar nyawa!"

Bentak Si Kedok Hitam dan agaknya mulutnya menggigit sesuatu sehingga suaranya menjadi aneh, bukan seperti suara manusia biasa.

Setelah mengeluarkan gerengan, Si Kedok Hitam sudah menyerang dengan pedang pendeknya, tubuhnya berpusing amat cepatnya sehingga mengejutkan Sin Wan.

"Wut..wut..wutt.... cinggg "

Berulang kali pedang pendek itu menyambar, mencuat dari gulungan sinar gulungan sinar pedang, namun Sin Wan dapat mengelak atau menangkis, lalu membalas dengan gerakan pedangnya yang amat tangguh.

"Cring..cring..tranggg.....!!"

Bunga api berpijar-pijar dan Si Kedok Hitam mengeluarkan gerengan marah ketika melihat betapa mata pedang pendeknya patah ketika beberapa kali bertemu pedang tumpul di tangan Sin Wan.

Kini putaran tubuhnya semakin hebat sehingga sukar dilihat bentuk tubuhnya, seperti benda berpusing dan menerjang ke arah Sin Wan.

Menghadapi serangan yang amat dahsyat dan aneh ini, Sin Wan segera memainkan Sam-sian Sin-ciang, ilmu andalannya yang merupakan gabungan dari semua ilmu ketiga orang gurunya.

Karena ilmu ini mengandung daya tahan yang kokoh kuat, maka dia mampu menahan terjangan lawan sehingga terjadilah saling serang yang amat hebat.

Kilatan kedua pedang mereka menyambar-nyambar ganas dan lengah sedikit saja cukup untuk kehilangan nyawa.

"Cuinggg.....!"

Sinar pedang Si Kedok Hitam mencuat dan meluncur ke arah leher Sin Wan.

Pemuda ini meloncat ke samping untuk mengelak.

Tubuh Si Kedok Hitam sudah berputar beberapa kali dan pedangnya klni menyambar dengan bacokan ke arah pundak kanan Sin Wan.

Kembali Sin Wan mengelak ke samping, akan tetapi dengan membentuk sinar bergulung, pedang pendek yang kehilangan sasaran itu melayang dengan gerakan melengkung dan kini membacok dari atas ke arah kepala Sin Wan.

Pemuda ini merasa kewalahan juga menghadapi serangan bertubi yang membuat dia sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk membalas.

Kini melihat pedang lawan membacok dari atas, meluncur ke bawah agaknya hendak membelah kepalanya menjadi dua, diapun cepat menggerakkan pedang tumpul dan mengerahkan sin-kang.

"Trakkk!"

Dua batang pedang bertemu di udara dan pedang tumpul itu seperti memiliki tenaga magnit yang amat kuat, menempel pedang pendek sehingga pedang itu tidak dapat terlepas.

Si Kedok Hitam marah dan penasaran, mengerahkan tenaga untuk melepaskan pedangnya dan pada saat itu, nampak sinar lembut berkelebat menyambar dan ternyata Ouwyang Kim sudah membantu Sin Wan dan menusuk ke arah perut yang gendut itu!

Pada saat itu, Si Kedok Hitam sedang mengadu tenaga dengan Sin Wan sehingga seluruh tubuhnya digetarkan oleh tenaga dahsyat.

Kalau orang biasa yang menusuknya, maka terkena getaran tenaga itu, si penusuk tentu akan celaka sendiri.

Akan tetapi, yang melakukan tusukan adalah Ouwyang Kim, puteri Tung-hai-liong (Naga Lautan Timur) Ouwyang Cin, maka tentu saja ia bukan lawan biasa, melainkan seorang gadis yang amat lihai dan telah memiliki tenaga sin-kang yang hebat pula.

Tusukannya itu amat cepat, tidak mungkin dapat dielakkan lagi oleh Si Kedok Hitam yang seolah-olah sedang melekat kepada Sin Wan melalui pedang mereka.

"Crottt!!"

Sebagian dari ujung pedang di tangan Akim menusuk dan terbenam ke dalam perut gendut Si Kedok Hitam!

Melihat ini, Sin Wan melepaskan lekatan pedangnya dan melompat ke belakang karena dia melihat betapa Si Kedok Hitam tidak nampak terkejut, bahkan tersenyum mengejek!

Akim juga terkejut dan cepat menarik kembali pedangnya.

Si Kedok Hitam sama sekali tidak mengeluh, juga dari perut gendut yang tertutup baju itu tidak kelihatan darah, agaknya dia tidak merasa sakit sama sekali, bahkan kini tubuhnya berpusing lagi menyerang ke arah Akim, pedangnya bergulung-gulung dengan dahsyatnya, membuat Akim yang masih terkejut dan gentar melihat lawan itu sama sekali tidak terluka apalagi roboh terkena tusukan pedangnya, kini menjadi terdesak hebat dan terpaksa ia memutar Goat-im-kiam (Pedang Tenaga Bulan) untuk menjadi perisai melindungi dirinya.

Namun ia terdesak dan mundur.

Sin Wan hendak maju membantu Akim, akan tetapi pada saat itu muncul lima orang, kesemuanya berkedok beraneka warna, menggunakan senjata mereka mengeroyok Sin Wan.

Rata-rata lima orang itu memiliki kepandaian yang tinggi sehingga Sin Wan harus mencurahkan perhatiannya terhadap pengeroyokan mereka dan tidak dapat membantu Akim yang terus didesak oleh Si Kedok Hitam.

Sebetulnya, tingkat kepandaian Ouwyang Kim sudah cukup tinggi sehingga walaupun ia masih belum mampu mengatasi kepandaian Si Kedok Hitam, akan tekapi agaknya tidak terlalu mudah bagi Si Kedok Hitam untuk merobohkannya.

Akan tetapi, hati gadis ini masih terkejut dan agak gentar melihat kehebatan lawan.

Ia mengenal banyak ilmu, bahkan ia sendiri pernah mempelajari ilmu kebal.

Kalau tubuh Si Kedok Hitam mampu melawan tusukan senjata tajam biasa, ia tidak akan merasa heran.

Akan tetapi, lawan ini mampu menerima tusukan Goat-Im-kiam!

Dan bukan merupakan kekebalan biasa yang membuat kulitnya tidak dapat ditembus melainkan kekebalan yang aneh.

Pedangnya sudah memasuki perut, akan tetapi orang itu tidak terluka, bahkan tidak mengeluarkan darah.

Inilah yang membuat hatinya menjadi kecil dan gerakannya kacau, apalagi Si Kedok Hitam menyerangnya sambil berpusing seperti gasing.

"Trang-trang...".!!"

Untuk ke sekian kalinya, pedang Goat-im-kiam di tangan Akim hanya mampu menangkis, akan tetapi tiba-tiba dari pusingan tubuh gendut itu, jari tangan kiri Si Kedok Hitam mencuat dan tiba-tiba saja Akim terkulai karena ia sudah terkena totokan yang amat lihai, dari ilmu It-tok-ci (Jari Tunggal Beracun).

Pedang Goat-im-kiam terlepas dari tangannya dan dilain saat tubuh Akim sudah disambar dan dipanggul oleh Si Kedok Hitam.

Sin Wan terkejut sekali dan marah.

Dia mengeluarkan seruan panjang dan pedang tumpul di tangannya membuat sinar melengkung.

Dua di antara lima orang pengeroyoknya terpaksa melepaskan senjata mereka dan dua orang lagi terpelanting ke kanan kiri.

Sin Wan meninggalkan mereka untuk mengejar, akan tetapi dia melihat Si Kedok Hitam itu lari ke tepi sungai sambil memondong tubuh Akim, lalu tiba-tiba orang itu meloncat ke bawah!

Sin Wan terkejut dan cepat meloncat ke tepi sungai.

Kiranya Si Kedok Hitam yang menawan Akim itu meloncat ke sebuah perahu kecil yang agaknya memang sudah dipersiapkan di sana.

Kini, Si Kedok Hitam melepaskan tubuh Akim yang rebah miring ke dalam perahu sedangkan dia sendiri cepat mendayung perahu ke tengah.

Sin Wan yang termangu dan pada detik itu dia teringat akan lima orang pengeroyoknya tadi.

Dia harus dapat menangkap seorang di antara mereka untuk memaksanya memberitahu siapa adanya Si Kedok Hitam dan di mana sarangnya agar dia dapat menolong Akim yang tertawan.

Akan tetapi ketika dia menengok, dia melihat lima orang itu lari menghampiri tepi sungai.

Dia mengejar akan tetapi mereka berloncatan ke bawah.

Terdengar suara berdeburnya air dan ketika dia menjenguk ke bawah, lima orang itu bagaikan ikan-ikan saja, berenang dengan cepatnya menuju ke tengah sungai di mana sudah terdapat sebuah perahu lain yang menanti, didayung seorang yang berkedok pula.

Mereka naik ke perahu itu dan segera mendayung perahu ke tengah.

Mereka lenyap, seperti juga Si Kedok Hitam yang menawan Akim!

Sin Wan mengepal tinju, lalu dia memungut pedang Goat-im-kiam milik Akim, lalu menyimpannya.

Bagaimanapun juga, dia harus dapat menolong Akim!

Sin Wan lalu menyusuri tepi sungai untuk menyewa perahu, agar dia dapat mulai mencari.

Akim yang dilarikan orang dengan perahu ke tengah sungai.

"Yang Mulia Pangeran, bagaimanapun juga, hamba merasa curiga sekali terhadap semua ini dan hamba mengharapkan kewaspadaan paduka agar jangan sampai terjadi sesuatu yang hanya mendatangkan penyesalan yang sudah terlambat."

Demikian antara lain Liem Kui Siang membujuk Raja Muda Yung Lo ketika akhirnya mereka dapat bicara empat mata saja setelah pesta malam itu usai.

Kalau tadinya Raja Muda Yung Lo hanya tersenyum saja dan menganggap kekhawatiran pengawal pribadinya itu kekanak-kanakan, kini pandang matanya berubah dan sikapnya bersungguh-sungguh.

"Benarkah engkau mencurigai kakakku, Pangeran Mahkota yang mengundangku ke sini, Kui Siang?"

"Pangeran, kecurigaan hamba bukan hanya ngawur belaka, melainkan berdasarkan pemikiran yang mendalam melihat keadaan yang tidak wajar. Pertama, kalau Pangeran Mahkota mengundang paduka, kenapa tidak di kota raja? Ke dua, kenapa pula pertemuan diadakan di tempat yang sepi ini? Ke tiga, Pangeran Mahkota membawa pasukan yang dipimpin sendiri oleh Jenderal Besar Yauw Ti, seolah-olah hendak perang atau pamer kekuatan. Lalu ke empat, selama pertemuan antara paduka dengan Pangeran Mahkota, menurut pengamatan hamba, tidak pernah terjadi percakapan yang penting, hanya basa-basi biasa saja sehingga pertemuan itu sungguh tidak sepadan dengan perjalanan yang demikian jauhnya. Juga hamba mencurigai sastrawan yang tak pernah terpisah dari Pangeran Mahkota itu, Pangeran. Pandang matanya bukan pandang mata orang biasa dan dia dapat menjadi lawan yang berbahaya."

Raja Muda Yung Lo mengangguk-angguk.

"Bagus, engkau sungguh mengagumkan sekali, Kui Siang. Tidak keliru pilihanku dan menjadikan engkau sebagai pengawal pribadi. Engkau waspada dan wawasanmu jauh dan tepat. Kecurigaanmu berdasar dan tidak ngawur, atas dasar nalurimu yang tajam. Lalu menurut pendapatmu, bagaimana baiknya?"

Pandang mata pangeran yang menjadi raja muda itu bersinar, penuh rasa bangga dan gembira.

Sayang, katanya dalam hati, gadis ini tidak membalas cintanya!

"Maaf, Pangeran.

Kalau menurut pendapat hamba, sebaiknya paduka menolak undangan untuk berpesta di atas perahu besok pagi, dan lebih baik segera kembali saja ke utara."

Raja Muda Yung Lo mengelus jenggotnya yang terpelihara rapi sambil tersenyum dan berkata.

"Bagaimana mungkin, Kui Siang? Kalau aku melakukan seperti apa yang kau usulkan, tentu kakanda Pangeran Mahkota akan tersinggung dan kalau dia melapor kepada ayahanda Kaisar, tentu aku akan mendapat teguran. Apakah yang kau khawatirkan? Tidak mungkin kakanda Pangeran hendak mencelakakan aku."

"Yang hamba khawatirkan bukan dari Yang Mulia Pangeran Mahkota, melainkan dari pihak ketiga yang mempergunakan kesempatan ini untuk mencelakai paduka. Lupakah paduka akan penyerangan terhadap diri paduka di istana yang di lakukan oleh orang-orang Mongol? Menurut hamba, kesempatan ini amat baik bagi orang-orang Mongol yang hendak mencelakakan paduka atau Pangeran Mahkota. Paduka hanya membawa sedikit pasukan pengawal, bagaimana kalau terjadi penyerangan besar-besaran di sini? Walaupun hamba akan membela paduka dengan taruhan nyawapun, apa artinya kalau pihak musuh terlalu kuat dan semua perlawanan kita akan gagal?"

Tiba-tiba Raja Muda Yung Lo tertawa bergelak sehingga mengherankan hati Kui Siang.

"Ha..ha..ha..ha, Kui Siang. Agaknya engkau terlalu memandang rendah kepadaku. Ingat, aku adalah seorang panglima perang yang sudah banyak pengalaman, dan tidak akan mudah dikelabui dan ditipu musuh begitu saja, ha..ha..ha!"

"Apa maksud paduka, Pangeran?"

Kui Siang memandang heran.

"Ha..ha, kaulihat sendiri saja dan kau akan mengerti!"

Setelah berkata demikian, Raja Muda Yung Lo menuju ke pintu, membuka daun pintu dan memberi isyarat kepada seorang di antara perajurit pengawalnya lalu membisikkan sesuatu setelah perajurit itu mendekat.

Tak lama kemudian, daun pintu diketuk orang dari luar.

"Gan-ciangkun, masuklah,"

Kata Raja Muda Yung Lo.

Daun pintu terbuka dan masuklah laki-laki berusia limapuluhan tahun dan biarpun tubuhnya tinggi kurus, namun sikapnya tegak dan berwibawa, juga gagah.

Melihat orang ini, Kui Siang memandang heran.

Dia tahu bahwa orang ini adalah Panglima Gan, seorang di antara para panglima kepercayaan Raja Muda Yung Lo.

Setahunya, panglima ini tidak ikut dalam pasukan pengawal, bagaimana sekarang tiba-tiba dapat dipanggil masuk?

Setelah panglima itu memberi hormat dan dipersilakan duduk, Raja Muda Yung Lo berkata.

"Bagaimana, ciangkun. Apakah pasukanmu sudah siap dan berapa jumlahnya yang kau kerahkan?"

"Semua sudah siap tinggal menanti perintah paduka. Hamba sudah mempersiapkan tigaratus orang perajurit yang memasang barisan pendam di luar kota Cin-an."

"Bagus! Nah, malam ini juga kau kerahkan pasukanmu untuk mengepung bagian sungai yang besok pagi akan dijadikan tempat pesta. Siapkan pengepungan di tepi dan juga perahu-perahunya. Begitu ada gejala tidak beres, kalau ada kelompok orang hendak mengacaukan pesta, serbu saja dan tangkap. Engkau sudah mengerti jelas apa yang kumaksudkan, Gan-ciangkun?"

Panglima tinggi kurus itu bangkit berdiri dan memberi hormat.

"Hamba mengerti dan siap melaksanakan perintah paduka!"

"Nah, kerjakan sekarang juga."

Setelah panglima Gan pergi, barulah Kui Siang dapat bicara dengan suara yang gembira dan penuh kagum.

"Aih, maafkan hamba, Pangeran. Bukan sekali-kali hamba memandang ringan kepada paduka, hanya hamba sama sekali tidak pernah menduga bahwa paduka telah mempersiapkan segala-galanya, bahkan sebelum kita berangkat! Kalau begitu, semua kecurigaan hamba tidak ada artinya, karena hamba jauh kalah dulu oleh paduka!"

Raja Muda Yung Lo tersenyum.

"Bukan begitu, Kui Siang. Kalau aku mempersiapkan pasukan, hal itu hanya demi penjagaan keselamatan belaka, sebaliknya kecurigaanmu itu berdasarkan alasan yang kuat, sebagai hasil dari pengamatanmu yang waspada. Nah, sekarang perasaanmu sudah merasa tenteram, bukan?"

Kui Siang mengangguk.

"Berkat kebijaksanaan paduka! Hamba ingin sekali melihat perkembangan selanjutnya dari peristiwa yang penuh rahasia ini. Mudah-mudahan paduka akan dapat membongkarnya kalau terdapat kecurangan dan campur tangan pihak ke tiga untuk mengacaukan keadaan dan mengancam keselamatan paduka dan Pangeran Mahkota."

Sementara itu, di bagian lain dari gedung-gedung peristirahatan itu, yang menjadi tempat bermalam Pangeran Mahkota, pangeran inipun berbincang-bincang berdua saja dengan penasihatnya, yaitu Yauw Siucai.

Para pengawal pribadi hanya berjaga-jaga di luar gedung, di sekitar gedung dan di luar ruangan di mana pangeran itu sedang bercakap-cakap dengan penasihatnya.

"Ah, Yauw Siucai, kurasa perjalanan jauh dan melelahkan ini tidak banyak gunanya. Betapa sukarnya menyenangkan hati adinda Pangeran Yung Lo. Dia tidak begitu suka dengan pesta dan kesenangan, yang dia bicarakan bahkan urusan ketatanegaraan yang membuat kepalaku menjadi pening. Bagaimana kalau kita hentikan saja pesta pertemuan ini dan kembali ke kota raja?"

Pangeran Mahkota Chu Hui San mengeluh kepada penasihatnya.

"Hamba kira tidak bijaksana kalau paduka menghentikan pesta sebelum selesai, Pangeran. Biarpun Pangeran Yung Lo tidak begitu menyukai pesta, setidaknya beliau akan terkesan oleh keramahan dan itikad baik paduka, dan hal ini akan menambah perasaan kesetiaannya kelak kalau paduka menjadi kaisar. Menurut rencana, hanya tinggal besok melaksanakan pesta air di perahu yang telah dipersiapkan, maka hamba mohon paduka bersabar, demi kekuatan dan kebaikan kedudukan paduka sendiri kelak."

"Hemm, kalau begitu baiklah. Akan tetapi jangan lupa, datangkan penari-penari dan para penyanyi yang muda dan cantik. Tampilkan seluruh gadis-gadis penari tercantik dari Cin-an dan daerahnya, agar hati kami dapat merasa gembira."

"Tentu saja, Yang Mulia. Akan tetapi sebaiknya kalau dalam bersenang-senang, paduka tidak mengurangi kewaspadaan. Kita tidak tahu apa yang dipikirkan Pangeran Yung Lo, maka sebaiknya kalau paduka memerintahkan Jenderal Yauw Ti untuk melakukan penjagaan besok pagi. Sebaiknya kalau dia mengepung tempat pesta dan tidak membolehkan siapapun mendekat, baik itu anak buah Pangeran Yung Lo atau orang-orang lain. Dengan demikian, keamanan paduka dan Pangeran Yung Lo dapat terjamin karena terkepung oleh pasukan Jenderal Yauw Ti."

"Bagus, sebaiknya begitu. Nah, panggil sekarang juga Jenderal Yauw Ti datang menghadap,"

Perintah pangeran itu yang selalu menuruti nasihat Yauw Siucai.

Ketika Jenderal Yauw Ti yang tinggi besar dan gagah perkasa itu datang menghadap, Pangeran Mahkota Chu Hui San segera memberi perintah seperti yang dikemukakan penasihatnya tadi.

Jenderal yang tidak banyak cakap itu memberi hormat, menyatakan kesiap-siagaannya melaksanakan perintah, lalu dipersilakan keluar lagi.

Seperti biasa, malam itu tidak dilewatkan sia-sia begitu saja oleh Pa geran Chu Hui San.

Dan kebutuhan bangsawan yang sudah menjadi budak nafsunya sendiri ini selalu dipenuhi, bahkan diberi semangat oleh Yauw Siucai yang diam-diam telah mempersiapkan dua orang gadis panggilan yang tercantik untuk menemani sang pangeran tidur pada malam hari itu.

Setelah dua orang gadis itu memasuki kamar, Yauw Siucai meninggalkan kamar itu untuk mengaso dalam kamarnya sendiri dengan pesan kepada para petugas pengawal di luar kamar untuk melakukan penjagaan ketat.

Malam itu, di luar gedung pesanggrahan yang berada dalam suasana pesta dan dijaga ketat itu, terjadi pula hal yang aneh.

Sebuah perahu kecil meluncur cepat menuju ke sebuah perahu besar yang berada di dekat seberang, dan perahu besar itu berhenti, tidak terbawa arus air yang lambat di bagian itu, karena tertahan jangkar yang dilepas.

Ketika perahu kecil tiba di dekat perahu besar, penumpang perahu kecil melemparkan kaitan ke arah perahu besar.

Besi kaitan itu tiba di dek, mengait tiang dan diperkuat dengan cepat oleh dua orang anak buah perahu besar.

Kemudian, bagaikan seekor burung saja, penumpang perahu kecil meloncat ke atas perahu besar dan ternyata dia adalah Si Kedok Hitam yang bertubuh tinggi besar dan berperut gendut.

Perahu besar itu sama sekali tidak terguncang ketika dia melompat ke sana, dan empat orang anak buah perahu besar menyambutnya dengan sikap hormat, bahkan mereka berlutut dengan kaki kiri.

"Apakah kedua orang tamu yang kami undang itu belum tiba?"

Tanya Si Kedok Hitam kepada mereka.

"Belum, Yang Mulia. Akan tetapi sudah ada yang menjemput dan mungkin sebentar lagi mereka datang,"

Jawab seorang di antara anak buah itu.

"Begaimana dengan tawanan kita? Tidak banyak tingkah, bukan?"

"Mula-mula ia meronta dan mengamuk, akan tetapi belenggu kaki tangannya diperkuat dan penjagaan diperketat sehingga ia tidak lagi dapat membuat ribut."

Si Kedok hitam mengangguk, lalu melangkah memasuki lorong di perahu besar itu menuju ke sebuah kamar di sudut yang terjaga oleh enam orang anak buahnya.

Dia membuka daun pintu dan menjenguk ke dalam.

Ouwyang Kim nampak telentang di atas dipan dengan kaki tangan terbelenggu erat pada dipan itu, topengnya sudah terbuka dan wajah yang cantik itu nampak marah sekali.

Akan tetapi ia tidak lagi meronta dan ketika melihat Si Kedok Hitam menjenguk dari luar pintu, iapun berkata lantang.

"Si Kedok Hitam pengecut besar! Lepaskan aku dan mari kita bertanding sampai seorang di antara kita mampus!"

Namun, dari balik kedok hitam itu hanya terdengar suara tawa aneh dan diapun menutupkan kembali daun pintu kamar tawanan itu lalu pergi ke ruangan tengah dan duduk menanti.

Tak lama kemudian, bermunculan belasan orang yang semua memakai topeng yang beraneka warna.

Begitu mereka tiba di ruangan itu, mereka memberi hormat kepada Si Kedok Hitam dan mengambil tempat duduk, membentuk setengah lingkaran menghadap Si Kedok Hitam yang duduk dengan kedua kaki terpentang, sikapnya gagah dan berwibawa walaupun perutnya gendut sekali seperti tergantung ke bawah.

"Kalian sudah hadir selengkapnya?"

Tanya Si Kedok Hitam dan belasan orang itupuh menyatakan bahwa mereka sudah lengkap.

"Sebaiknya kita cepat membuat rencana sebelum Ouwyang Cin dan muridnya tiba. Mereka belum dapat dipercaya sepenuhnya karena mereka masih nampak ragu-ragu. Malam ini merupakan penentuan untuk menguji mereka dan membuktikan apakah mereka itu boleh ditarik sebagai kawan. Untung bahwa tanpa disengaja, kami dapat menawan puterinya. Nah, sekarang dengarkan baik-baik rencana yang sudah kita atur. lni merupakan pengulangan saja agar semua dapat dilaksanakan dengan baik."

Tiba-tiba Si Kedok Hitam menghentikan bicaranya ketika daun pintu ruangan itu diketuk orang.

Dengan nada suara yang masih aneh dan parau namun kini ditambah nada suara marah, dia menoleh ke pintu dan membentak.

"Siapa berani mengganggu tanpa dipanggil?"

Seorang penjaga muncul dengan sikap takut-takut.

"Ampun, Yang Mulia. Saya terpaksa menghadap untuk menyampaikan berita yang amat buruk dan mencelakakan.

"Cepat bicara, apa yang terjadi!"

Si Kedok Hitam membentak tak sabar.

"Yang Mulia, kami baru saja mendengar laporan penyelidik bahwa di luar penjagaan pasukan dari kota raja, terdapat pasukan besar Raja Muda Yung Lo yang membuat gerakan seolah mengepung daerah ini. Mereka itu dalam keadaan siap seperti hendak bertempur, dan jumlah mereka menurut taksiran para penyelidik, tidak kurang dari tigaratus orang."

Hening sejenak dan tubuh yang tinggi besar berperut gendut itu sejenak tidak bergerak seperti patung. Kemudian terdengar suaranya yang parau aneh.

"Sudah yakin benarkah hasil penyelidikan itu, dan siapa pemimpin pasukan?"

"Kalau belum yakin, tentu para penyelidik tidak berani membuat laporan, Yang Mulia. Pemimpin pasukan besar dari utara itu adalah Gan-ciangkun."

"Hemm, sudah. Keluarlah dan jaga baik-baik tawanan itu,"

Katanya.

Pelapor itu keluar dan daun pintu ditutup kembali.

Setelah itu, Si Kedok Hitam mengangkat muka dan sepasang matanya yang tajam mencorong itu dari balik kedoknya menyapu belasan orang yang menghadap padanya.

"Telah terjadi berubahan besar, akan tetapi hal ini bahkan lebih baik lagi, menyempurnakan gerakan kita,"

Katanya.

"Maaf, Yang Mulia. Bagi kami, berita itu merupakan malapetaka. Bagaimana paduka mengatakan hal itu menyempurnakan gerakan kita? Mohon penjelasan!"

Kata seorang di antara mereka dan kawan-kawannya mengangguk menyetujui.

Baca Juga: Bu Kek Siansu 4

Baca Juga: Petualang Asmara 13

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert