Ceritasilat Novel Online

Kaki Tiga Menjangan 5

Eps 5 Kaki Tiga Menjangan - Chin Yung

Baca online Kaki Tiga Menjangan - Chin Yung

Cersil Kaki Tiga Menjangan - Chin Yung.

"Hebat orang-orang ini. Mereka semua berkepandaian tinggi, nama mereka terkenal, namun mereka bersikap hormat kepada si pangeran, Dengan memberi hormat kepada Kong Cin ong, mereka juga seperti menghormati aku. Bukankah mereka menghadap ke arahku?"

Setelah Itu, Sin Ciau siangjin memutar tubuhnya menghadap para pengawal dari Inlam. Dia berkata dengan suara lantang.

"Sahabat-sahabat dari Inlam, silahkan kalian memilih senjata masing-masing!"

Pengawal yang tadi melayani si biku segera menjawab dengan sopan.

"Kami sudah menerima perintah dari Yang Mu-lia Peng Si ong, bahwa sesampainya di kotaraja, kami tidak boleh bertempur dengan siapa pun!"

"Bagaimana seandainya ada orang yang bermaksud memenggal batok kepala kalian? Apakah kalian akan menjulurkan leher panjang-panjang dan membiarkannya saja?"

Tanya Sin Ciau siangjin yang hatinya mulai panas.

"Atau mungkin kalian akan menyembunyikan kepala kalian dalam-dalam sehingga tidak terlihat?"

Kata-katanya yang terakhir merupakan penghinaan sebab di dunia ini hanya kura-kura yang suka menyembunyikan kepalanya.

Mendengar ucapan itu, para pengawal Go Eng-him segera memperlihatkan tampang marah.

Akan tetapi, pemimpin mereka yang bertubuh kurus menjawab dengan datar.

Titah Peng Si ong berat bagaikan gunung, jikalau kami sampai melanggarnya, begitu kemb ke Inlam, kami semua akan mendapat hukuman mati!"

Sin Ciau siangjin tetap tidak mau mengerti.

"Baiklah kalau begitu. Kita coba-coba saja!"

Katanya, Biku ini lalu mengumpulkan rekan-rekannya di sudut ruangan untuk mengajak mereka berunding. Dia berbicara dengan nada berbisik.

"Kita serang bagian tubuh yang berbahaya, Kita lihat, apakah mereka akan memberikan perIawanan...."

"Kalau mereka sampai terluka, tidak jadi masalah,"

Kata Ci Goan-kay ikut memberikan pendapatnya.

"Lebih baik kita panas-panasi hati mereka agar memberikan perlawanan.."

"Tapi, kita harus berhati-hati,"

Kata seorang lainnya.

"Baiklah! Mari kita mulai!"

Kata Sin Ciau siangjin akhirnya, Kali ini si biku tidak berayal lagi, Selesai berseru, dia segera maju ke depan bersama kelima belas rekannya dan menyerang orang-orang Go Eng-kim.

Para pengawal Peng Si ong berdiri tegap tanpa bergerak sedikit pun.

Tangan mereka lurus ke bawah seperti tidak bermaksud menghindarkan diri sama sekali.

Hanya mata mereka yang menatap mereka sudah terkurung.

Para hadirin merasa heran dan juga tercekat hatinya, bahkan ada yang berseru.

"Hati-hati!"

Para jago yang diundang Kong Cin ong menggerak-gerakkan senjatanya ?

sehingga ada yang saling bentrok dan ada juga yang secara tidak langsung mengenai para pengawal dari Inlam itu.

Ada seorang yang terluka bagian bahunya dan seorang lagi gerluka wajah nya.

Darah mengalir dengan deras.

Tampaknya luka kedua orang itu tidak ringan, tapi mereka tetap berdiri tegak seperti posisi semula bahkan merintih pun tidak!

Kong Cin ong menyaksikan semuanya dengan seksama, Dia sadar apabila pertandingan yang tidak seimbang ini dilanjutkan, pasti akan jatuh korban, sebab orangorang Peng Si ong terang-terangan tidak mau mengadakan perlawanan Karena itu, segera dia berseru.

"Bagus! Berhentilah semuanya!"

Perintah itu dilaksanakan Sin Ciau siangjin mengiakan kemudian bergerak mundur, tetapi sebelumnya dia mengibas jatuh topi salah seorang pengawal itu, perbuatannya diikuti oleh rekan rekannya yang lain.

Setelah itu, dia tertawa dengan gembira.

Siau Po melihat di antara para pengawal itu, ada tujuh orang yang kepalanya plontos sehingga tampak licin mengkilap, Dia langsung bertepuk tanga sambil berseru.

"Tetok, matamu tajam sekali. Lihat, kepala mereka benar-benar botak!"

Belum habis kata-katanya, dia melihat wajah keenam belas pengawal itu berubah demikian kelam.

Mata mereka menyorotkan sinar kemaraha dia pun jadi urung melanjutkan ucapannya.

Di samping itu, dia sendiri merasa perbuatan Sin Ciau siangjin dan rekan-rekannya memang rada keterlaluan.

Dia sendiri, kalau sedang bermain judi, tidak pernah membuat lawannya kalah habis-habisan.

Karena itu ia segera bangun dari tempat duduknya dan menghampiri para pengawal yang kesabarannya luar biasa itu, Dipungutnya topi yang dikibaskan Sin Ciau siangjin tadi kemudian dipakaikannya kembali kepada pengawal yang tinggi kurus itu.

"Tuan, kau lihay sekali!"

"Terima kasih!"

Sahut pengawal itu singkat Siau Po kembali memungut semua topitopi yang tergeletak di atas tanah dan menyerahkannya kembali kepada sisa lima belas pengawal itu.

"Perbuatan mereka agak keterlaluan ya?"

Katanya sambil tertawa ramah. Para pengawal itu memilih topi masing-masing lalu mengenakannya kembali "Terima kasih!"

Kata mereka serentak "Tidak pantas kami menerima kehormatan ini."

Mereka berkata demikian karena yakin bocah tanggung ini berkedudukan tinggi, Kalau tidak, mana mungkin bocah ini bisa duduk berdampingan dengan Kong Cin ong dan Go Eng-him tuan muda mereka.

Sekali lagi para pengawal itu mengucapkan terima kasih sembari menjura.

Sebetulnya Siau Po tidak mempunyai kesan baik terhadap para pengawal Peng Si ong, maupun puteranya, Go Eng-him.

Alasannya berbuat demikian, hanya karena merasa tindakan Sin Ciau siangjin dan yang lainnya memang rada keterlaluan.

"Ongya,"

Katanya kepada Kong Cin ong.

"Bolehkah aku meminjam beberapa tail perak?"

Kong Cin ong tertawa.

"Saudara Kui, ambillah sesukamu!"

Sahutnya ramah.

"Apakah sepuluh laksa tail cukup?"

"Tidak perlu begitu banyak,"

Kata Siau Po sambil tersenyum Dia lalu menoleh kepada pelayan pangeran itu dan memerintahkan "Cepat kau pergi membeli topi yang harganya paling mahal semakin cepat semakin baik!"

Pelayan itu segera mengiakan dan kemudian mengundurkan diri. Melihat gerak-gerik si thay-kam cilik, Go Eng-him segera memberi hormat.

"Terima kasih, kongkong!"

Katanya.

"Kongkong baik sekali. Kami merasa bersyukur,"

Katanya. Bagian 17

"Terima kasih apa? Kau sebenarnya anak kura kura!"

Maki Siau Po dalam hati.

Kong Cin ong sendiri sebetulnya merasa tidak enak hati melihat Sin Ciau siangjin dan yang lainnya menjatuhkan topi para pengawal dari Inlam.

Dia khawatir Go Eng-him bakal tersinggung, Tetapi untuk meminta maaf, dia merasa gengsi Biar bagaimana dia lebih tua ketimbang anak muda itu dan kedudukannya setingkat dengan ayahnya.

Karena itu pula, dia senang melihat tindakan Siau Po yang sesuai dengan keinginan hatinya, Dia menggunakan kesempatan yang baik itu untuk berkata.

"Mana orang? Cepat hadiahkan lima puluh tail perak kepada masing masing pengawal Go sicu! juga masing-masing lima puluh tail untuk orang-orang kita!"

Hadiah untuk Sin Ciau siangjin dan rekan-rekannya memang disengaja agar mereka tidak merasa dibedakan atau diperlakukan tidak adil, Tindakannya itu justru mengundang sorak riuh dan tepuk tangan dari para hadirin.

To Lung juga ikut berdiri, dia menuangkan arak ke dalam cawan para hadirin, kemudian dia berkata kepada para tamu tersebut.

"Sicu tianhe, Ayah sicu adalah seorang panglima yang sudah terkenal sekali, sekarang barulah kita membuktikannya dengan mata kepala sendiri. Lihatlah para pengawalmu itu, mereka begitu taat pada perintah sehingga tidak takut menghadapi kematian Tidak heran setiap kali maju di medan perang, mereka selalu memperoleh kemenangan. Nah, mari kita minum bersama untuk menghormati Peng Si ong yang berjasa itu. Go Eng-him bangkit sambil mengangkat cawannya.

"Aku mewakili ayahku minum arak ini. Terima kasih untuk kebaikan tuan-tuan sekalian!"

Para hadirin pun mengangkat cawannya dan mengeringkan isi nya. Setelah itu Go Eng-him berkata kembali.

"Ayah berkedudukan di wilayah selatan dan keselamatannya terjamin, Semua ini berkat rejeki besar junjungan kita Yang Mulia serta bantuan para menteri dalam istana, Ayah hanya ingat untuk bersedia terhadap Sri Baginda, tidak berani dia bermalasmalasan. jadi dalam hal ini, sebetulnya ayah tidak berjasa apa-apa."

Tidak lama kemudian, pelayan yang diperintahkan oleh Siau Po telah muncul kembali.

Dia membawa enam belas topi yang paling mahal harganya dan menyerahkannya kepada thay-kam cilik kita.

Siau Po menghadap Kong Cin ong.

"Ongya, barusan para suhu telah menjatuhkan topi para pengawal dari Inlam, Karena itu sudah selayaknya Ongya menggantikan kerugian mereka dengan topi yang baru,"

Katanya. Kong Cin ong lantas tertawa.

"ltu sudah selayaknya! Kau benar-benar pandai berpikir, saudara Kui! Kau bisa mengingat sampai ke sana!"

Kemudian dia menyuruh pelayannya untuk menyerahkan topi-topi itu kepada para pengawal dari Inlam.

Orang-orang Go Eng-him menerima hadiah itu.

Mereka menjura dalam-dalam serta menyatakan terima kasih sekali lagi, Setelah itu mereka melipat topi itu dan menyimpannya dalam saku, sedangkan kepala mereka masih tetap mengenakan topi yang lama.

Kong Cin ong dan Siau Po saling pandang sekilas, Mereka mengerti apa sebabnya para pengawal dari Inlam itu bersikap demikian.

Tentu karena mereka tidak mau berlaku lancang.

Perjamuan diteruskan sampai tiba saatnya pertunjukan dimulai Kong Cing ong meminta tamunya memilih cerita yang disukai Go Eng-him menyebut kisah "Ban Cong Hud"

Atau Kisah Jenderal Kwe Cu-gi mengadakan pesta ulang tahun di mana hadir ketujuh putera dan delapan menantunya yang datang mengucapkan selamat kepadanya, Jenderal itu hidup berbahagia, jasanya banyak sekali Pangkat-nya tinggi, panjang umur serta mempunyai keluarga besar.

Selesai pertunjukan itu, Kong Cin ong menoleh kepada Siau Po.

"Saudara Kui, ayo! Kau juga memilih cerita kesukaanku!"

Siau Po tertawa dan berkata.

"Aku tidak bisa memilih, biar Ongya saja yang pilihkan! Yang penting ceritanya seru dan ada perkelahiannya!"

"Kalau begitu kau pasti suka cerita mengenai kegagahan,"

Kata Kong Cin ong seraya tertawa.."Baiklah! Aku pilihkan kisah seorang pemuda yang mengalahkan seorang tua, seperti waktu kau membekuk Go Pay! Kisah Pek Sui-tha!"

Setelah kedua kisah yang diminta selesai dipertunjukkan tukang cerita menyambung lagi sebuah kisah yang berjudul "Yu Wan Keng-Bong"

Yang mengisahkan seorang pemuda yang berjalan-jalan di taman bunga di mana dia tertidur dan tersentak bangun oleh mimpinya.

Siau Po tidak sabaran, Karena perannya kebanyakan menyanyi dan berpantun, hal ini tidak disukainya, Kemudian dia berdiri dan menuju paseban belakang di mana dia melihat ada beberapa meja yang dipenuhi oleh orang-orang yang sedang berjudi.

Ada yang main dadu, juga ada yang main kartu ceki.

Dia merasa tertarik sayangnya dia tidak membawa dadunya yang istimewa.

Tapi tidak apa-apa, karena dia membawa uang dalam jumlah yang cukup banyak, Dia melihat di meja yang satunya sang bandar sudah menang banyak, Uang di depannya sudah bertumpuk tinggi.

"Eh, Kui kongkong!"

Sapa sang bandar sambil tertawa.

"Apakah kongkong berminat ikut mengambil bagian dalam permainan ini?"

"Baik!"

Sahut Siau Po tanpa bimbang lagi.

Saat itu juga, dia melihat ada seorang yang bertubuh kurus tinggi, yakni pengawal Go Eng-him yang sabar luar biasa itu.

Dia menaruh kesan baik terhadap orang yang satu ini.

Dia hanya menonton permainan dari samping.

Siau Po segera melambai kepadanya dan menyapanya.

Pengawal itu segera menghampiri si bocah dan memberi hormat dengan menjura daIam-dalam.

"Entah ada perintah apa, Kui kongkong?"

Tanyanya ramah. Siau Po tertawa.

"Di meja judi tidak ada perbedaan derajat, baik ayah dan anak sama saja, karena itu janganlah kau bersikap sungkan, Toako, siapakah she dan namamu yang mulia?"

Tadi ketika ditanya oleh Sin Ciau siangjin, pengawal ini tidak memberikan jawaban, Tapi keramahan Siau Po membuat perasaannya jadi tidak enak.

"Hamba she Yo bernama Ek-ci!"

"Oh, nama yang bagus sekali! Nama yang bagus sekali!"

Kata Siau Po yang sebetulnya buta huruf dan tidak tahu apa arti nama itu.

"Banyak orang gagah yang berasal dari keluarga Yo. Umpamanya Yo Leng-kong, Yo Lak-say, Yo Cong-po, Yo kong! Nah, Yo toako, mari kita main bersama-sama!"

Senang sekali hati Ek-ci mendengar para leluhur yang bermarga sama dengannya mendapat pujian tinggi dari thay-kam cilik ini. Lekas-lekas dia menyahut.

"Maaf, kongkong. Hamba tidak bisa berjudi."

"Tidak bisa berjudi?"

Tanya Siau Po.

"Tidak apa-apa! jangan takut. Aku akan mengajarimu! Keluarkanlah uang goanpo milikmu yang besar itu."

Ek-ci menurut. Dia mengeluarkan uang goanpo hadiah Kong Cin ong. Siau Po sendiri mengeluarkan selembar cek kemudian meletakkannya di atas meja, Sembari tertawa dia berkata.

"Aku akan berkongsi dengan Yo toako, jumlah modalnya seratus tail."

Bandar itu pun ikut tertawa.

"Bagus! Makin besar jumlahnya, makin baik"

Sahutnya sambil melempar dadu. Setelah itu giliran Siau Po, dia mendapat angka titik tujuh, Dan demikian seratus tail itu melayang ke tangan bandar karena dia kalah.

"Aku pasang lagi seratus tail!"

Katanya kemudian. Kali ini dialah yang mcnang, selanjutnya permainan seri, Tidak ada yang kalah atau pun menang.

"Ah, tidak benar kalau begini, Kasihan, apalagu Yo toako sampai kalah, Buat aku sih tidak apa-apa..."

Pikir Siau Po dalam hati, Karena itu memasang lagi lalu melemparkan dadunya sambil berseru.

"Bayar!"

Kali ini keluar angka dobel enam, Si bandar kalah dan dia harus membayar dua kati lipat, ratus tail jadi dua ratus. Dua ratus jadi empat dan empat ratus tail jadi delapan ratus.

"Kui kongkong mujur sekali!"

Kata si bandar seraya tertawa lebar, Dia kalah, tapi ia masih tersenyum. Siau Po juga ikut tertawa.

"Kau mengatakan aku mujur? Bagaimana kita main dua kali lagi?"

Dia pun mengambil kembali uangnya yang delapan ratus tail itu. Apa daya si bandar memang sedang apes kalah lagi. Dengan demikian uang Siau Po meneribu enam ratus lail! "Bagaimana, Yo toako?"

Tanya bocah itu pada kongsiannya.

"Apakah kita lanjutkan lagi permainan ini?"

"Terserah Kui kongkong,"

Sahut Yo Ek-ci, tapi di dalam hatinya dia berpikir.

"Kau toh sudah menang banyak, buat apa main terus?"

Pada saat itu sudah banyak orang yang mengerumuni tempat Siau Po berjudi, Sebab jarang ada orang yang menang sampai seribu tail lebih.

Siau Po masih memegang dadu, sambil melemparkan dadunya dia berseru, Dadu itu berputaran yang satu berhenti angkanya enam.

Tinggal yang satu masih terus berputaran Dadu itu bukan miliknya, karena itu dia belum bisa menguasainya dengan baik.

Akhirnya dadu itu berhenti Angkanya dua.

sekarang giliran bandar yang melemparkan dadunya, Seperti Siau Po tadi, dadu itu terus ber-utaran, Yang satu berhenti lebih dahulu, angkanya lima.

Si bandar tertawa.

"Kongkong, mungkin kali ini kau bisa kalah!"

Katanya, Dadu yang satu masih berputar.

"Dua! Dua!"

Teriak Siau Po.

Apabila keluar angka tiga, empat atau lima, dia pasti kalah, Kalau keluar angka dua, bandarlah yang harus mengganti pasangannya, sedangkan kalau dapat angka tiga, berarti jumlahnya delapan, Sama dengan angka yang didapatkan oleh Siau Po, Tapi dalam permainan ini, tetap si bandar yang menang, itulah sebabnya Siau Po meminta angka dua.

Tampaknya kemujuran memang sedang berada di pihak si thay-kam cilik, Dadu itu bolak-balik beberapa kali kemudian berhenti, Ternyata memang yang muncul dua titik, Siau Po pun bersorak gembira, selekasnya.

"Ciangkun, kau benar-benar apes"

"Betul, kongkong, Hari ini kau memang mujur sekali!"

Kata bandar itu sambil menghitung uang untuk membayar pasangan Siau Po. Siau Po menerima uang yang disodorkan itu.

"Terima kasih...!"

Katanya sambil tertawa, Dia lalu menoleh kepada rekannya.

"Yo toako, ambillah uang ini semuanya!"

Ek-ci terperanjat juga gembira, Di samping itu dia juga merasa heran, seakan tibatiba dia menemukan harta karun.

"Kongkong, apa artinya Ciangkun?"

Tanyanya dengan nada berbisik.

"Apa pangkatnya?"

Sekarang giliran Siau Po yang menjadi heran mendengar pertanyaan itu, Dia menoleh kepada si bandar yang dipanggil Ciangkun itu.

"Ciangkun, bolehkah aku menanyakan she dan namamu yang mulia?"

Bandar itu berdiri dan tertawa, Dengan penuh hormat dia menjawab.

"Aku yang rendah bernama Ouw Pek-seng. Aku adalah Cong peng dari Thian Cin dan merupakan bawahan langsung dari Kong Cin ong."

Cong peng setingkat dengan Brigadir Jendral, Siau Po tertawa dan berkata.

"Ciangkun, aku yakin dalam peperangan, seratus kali terjun, seratus kali pula kau mendapat kemenangan sayangnya dalam perjudian, nasibmu kurang beruntung."

Nama ciangkun itu Pek Seng, artinya memang seratus kali perang seratus kali menang. Ouw Pek seng tertawa mendengar kata-kata Siau Po.

"Kongkong, sebetulnya dalam perjudian pun, biasanya seratus kali main, aku juga seratus kali menang, Tapi ada pepatah yang mengatakan di atas gunung masih ada gunung iainnya, Kita jago, ada lagi yang lebih jago, Karena itu, hari ini bertemu dengan kongkong, aku seperti membentur batu. Seratus kali berjudi, aku pun seratus kali kalah,"

Katanya sambil tertawa terbahak-bahak. Siau Po juga tertawa, Kemudian dia mengundurkan diri, tiba-tiba sebuah ingatan melintas di benaknya.

"Akh"

Tidak mungkin Cong peng itu kalah!

Melihat caranya melempar dadu, dia sebenarnya seorang ahli, tapi kenyataannya dia kalah, Hal ini membuktikan bahwa dia sengaja mengalah, Tapi, kenapa?

Oh, aku mengerti!

Tentu karena kedudukanku yang lebih mantap daripadanya!"

Siau Po merasa puas.

Akhirnya dia kembali ke dalam ruangan dan duduk di tempatnya semula.

Pada saat itu seorang wanita sedang bernyanyi dan banyak penonton yang memuji keindahan suaranya.

Siau Po merasa heran mengapa dirinya sendiri tidak tertarik mendengarkan nyanyian itu?

Kemudian dia bangun kembali.

Melihat gerak-gerik thay-kam muda itu, KongCin ong tersenyum.

"Saudara Kui, apa yang kau pikirkan? Apakah kau ingin berjalan-jalan? Pergilah, jangan sungkan-sungkan.

"Terima kasih,"

Sahut Siau Po gembira karena Kong Cin ong bisa memahaminya.

Kemudian dia meninggalkan ruangan tersebut Ketika melihat orang-orang masih asyik bermain judi, hampir dia kepincut kembali.

Untung akhirnya dia dapat mengendalikan diri.

ia terus menuju belakang, masih diingatnya jalan-jalan dalam istana Cin ong itu.

Di mana-mana tampak sinar lilin menerangi.

Setiap orang istana itu yang melihat Siau Po selalu memberi hormat Selagi berjalan, tiba-tiba Siau Po merasa ingin buang air kecil Dia berjalan terus kekiri menuju taman bunga, Disana ada sebuah jendela, dia lalu menolakkan daun jendela dan pergi ke sudut yang gelap.

Ketika bermaksud membuka ikat pinggangnya, tiba-tiba dia mendengar suara orang sedang berbicara dengan lirih sekali di balik pepohonan.

"Uangnya dulu nanti baru aku mengantarkan engkau,"

Kata orang yang pertama.

"Kau antarkan aku duIu!"

Sahut orang yang kedua.

"Setelah mendapatkan barang itu, jangan khawatir uangnya berkurang sepeser pun!"

"Uangnya dulu!"

Terdengar orang yang pertama berkata kembali "Kalau kau sudah mendapatkan barang itu, tapi uangnya tidak kau serahkan, kemana aku harus mencarimu?"

"Baiklah!"

Sahut orang kedua yang akhirnya mengalah juga.

"Nah, ini kau terima dua ribu duIu. sisanya belakangan!"

Siau Po merasa heran, Ribuan tail bukan jumlah yang sedikit Barang apakah yang demikian mahal harga?

Ditundanya keinginan untuk membuang air kecil, pendengarannya dipertajam untuk mencuri dengar pembicaraan antara kedua orang itu."

"Dua ribu duIu? Tidak!"

Kata orang yang pertama.

"Aku tidak setuju! Kau toh tahu, urusanya bisa membuat kepalaku pindah rumah. Kutakut main-main?"

Orang yang kedua rupanya merasa terdesak.

"Baiklah! Nih, kau terima selaksa tail!"

Katanya.

"Terima kasih!"

Sahut orang-yang pertama.

"Sekarang ikutlah denganku!"

Siau Po semakin heran, perhatiannya menjadi tertarik, Urusan apakah yang dapat membuat kepala pindah? "Aku akan mengintai mereka!"

Ia memutuskan dalam hati.

Dia pun lalu mengikuti kedua orang itu secara diam-diam.

Kedua orang itu menuju ke barat Mereka berjalan di balik pepohonan Setelah berjalan kira-kira dua tombak, mereka berhenti Kemudian keduanya celingak-celinguk ke sekelilingnya.

"Gerak-gerik mereka sangat mencurigakan, tentunya mereka mengandung niat tidak baik,"

Pikir bocah dalam hatinya.

"Kong Cin ong memperlakukan aku dengan baik, sebaiknya aku intil kedua orang ini untuk mengetahui apa yang akan mereka lakukan, Kalau benar maksudnya memang jahat, biar mereka kenal kehebatan aku, si Kui kongkong. Kedua orang itu berjalan lagi, Siau Po terus mengintil di belakang, Namun sekarang dia sudah mengeluarkan pisau belatinya yang tajam itu. Dengan demikian perasaan takutnya jadi berkurang. Kedua orang itu kemudian masuk ke dalam sebuah ruangan kecil, cepat-cepat Siau Po menghampiri jendela, Dilihatnya ada cahaya dari dalam nya, Dengan hati-hati dia mengintai Rupanya kamar itu merupakan sebuah Hu-tong (Tempat memuja sang Buddha). Patungnya terletak di atas meja, di depannya ada sebuah pelita minyak, Apinya bergerak-gerak karena hembusan angin. Seseorang yang berdandan seperti pelayan berkata dengan perlahan.

"Sudah satu tahun lebih aku mengadakan penelitian sekarang aku baru tahu tempat penyimpanan barang itu. pokoknya tidak sia-sia kau mengeluarkan uang sebanyak selaksa tail!"

"Oh ya, di mana tempatnya?"

Tanya seorang lainnya, punggungnya menghadap Siau Po.

"Sini!"

Kata orang yang pertama, Orang yang kedua pun menoleh, Kali ini Siau Po dapat melihat wajah orang itu dengan jelas, dia merasa heran karena ia mengenalinya sebagai Gi Goan-Kay.

"Sini apa?"

Pelayan itu tertawa.

"Ci suhu memang paling bisa berpura-pura! Tentu saja kurangnya yang selaksa tail lagi!"

"Kau sungguh cerdik, sobat!"

Kata Ci Goan-kay sambil merogoh sakunya untuk mengeluarkan uang sisanya yang selaksa tail lagi, Kemudian dia menghitung uang itu.

jantung Siau Po berdebar-debar.

Bukan karena jumlah uang yang banyak itu, tapi karena dia insyaf kelihayan Ci Goan-kay.

Apabila dia sampai kepergok, pasti celakalah dia.

Sudah barang tentu Ci Goan-kay akan curiga padanya dan menduga yang bukanbukan.

Setelah menerima uang sisanya, pelayan itu tertawa lagi "Betul!"

Katanya, kemudian ia berbisik di telinga Cia Goan-kay.

Goan Kay menganggukkan kepalanya berkali-kali Siau Po berusaha menerka, tapi dia tidak tahu apa yang dibisikkan pelayan itu.

Tiba-tiba Goan Kay melompat naik ke atas meja, dia melihat ke belakang namun tangannya terulur ke atas untuk meraba telinga kiri sang patung Buddha.

Setelah berhasil meraba sesuatu, Goan Kay mencelat turun kembali sekarang tangannya memegang suatu benda kecil.

Di bawah cahaya pelita, dia memeriksanya dengan teliti.

Siau Po tidak mengerti Dia melihat Ci Goan-kay menggenggam sebuah kunci emas yang cahayanya berkilauan.

Setelah memeriksa anak kunci itu, Ci Goan-kay lalu menunduk Dia segera menghitung batu lantai, yang melintang jumlahnya ada beberapa puluh, sedangkan yang memanjang hanya belasan.

Dari sela kaos kakinya dia mencabut sebilah golok kecil yang kemudian digunakan untuk mencungkil batu tersebut Setelah berhasil, terdengar dia berseru gembira.

"Itu kan barang asli dan harganya sesuai!"

Kat si pelayan "Kau lihat, aku tidak berbohong kan?"

Goan Kay tidak menjawab Dia memasukkan anak kunci nya, terdengar suara kelotekan. Tampak dia tercengang.

"Kenapa tidak bisa dibuka? Apakah kuncinya tidak cocok?"

Tanyanya.

"Mana mungkin?"

Sahut si pelayan "Ongya sendiri yang membukanya dengan kunci itu dan ternyata bisa, Ketika itu aku mengintip dari jendela. Aku dapat melihatnya dengan jelas!"

Pelayan itu.

Lalu membungkuk dan tangannya menjulur ke depan Tentu dia merasa tidak percaya dan ingin membuktikannya sendiri Tampak tangannya menarik sesuatu.

Tapi, tepat pada saat itu juga, terdengar suara angin berkesiur, Tahu-tahu sebatang anak panah melesat ke atas.

"Aduh!"

Jerit si pelayan karena anak panah itu tepat menancap di dadanya, Tubuhnya roboh ke belakang, Tangannya yang memegang tutup besi menyebabkan tutup itu terlepas dan terpental.

Goan Kay terkejut, tetapi dia tabah dan gesit.

Dia berhasil menyambar tutup besi itu, Kalau tutup besi itu sampai terjatuh di atas lantai pasti menimbulkan suara berisik.

Setelah itu dia berjongkok untuk memeriksa keadaan si pelayan Dia membekap mulutnya agar jeritannya tidak terdengar orang lain Kemudian dia menggunakan tangan orang itu untuk meraba-raba ke dalam lubang batu.

"Rupanya masih ada alat rahasia lainnya."

Pikir Siau Po dalam hati, Dia terus mengintai "Sungguh lihay orang she Ci itu...."

Ternyata kali ini tidak ada alat rahasia lainnya.

Karena itu Goan Kay lalu memasukkan tangannya sendiri dan menarik keluar sebuah bungkusan.

Tangan kanannya mengibas sehingga si pelayan terguling, Dia sendiri langsung bangun, Kaki kanannya menekan mulut si pelayan agar tidak bersuara.

Dengan sedikit memiringkan tubuhnya, Goan Kay meletakkan bungkusan itu di atas meja, Lalu dia membukanya sehingga isinya terlihat Rupanya sebuah kitab, Tampak Ci Goan-kay menghembuskan nafas lega.

"Kitab itu rupanya Si Cap Ji Cin-keng dan merupakan kitab ke empat yang pernah dilihat oleh Siau Po. Persis sama dengan yang pernah didapatkannya dari rumah Go Pay. Bedanya hanya kain suteranya berwarna biru dan ikatannya dari sutera merah. Dengan gesit Goan Kay membungkus lagi kitab itu kemudian memasukkannya ke dalam saku. setelah itu dia mengangkat kakinya dan menginjak anak panah yang menancap di dada si pelayan itu sehingga tembus ke dalam, tanpa sempat bersuara sedikit pun, pelayan itu menghembuskan nafas terakhir. Siau Po terperanjat melihat apa yang terjadi di hadapannya, Sungguh licik orang she Ci itu, ia bekerja tidak kepalang tanggung, Setelah itu ia merogoh saku pelayan itu untuk mengambil uangnya kembali. Sembari tertawa ia berkata.

"Sekarang kau sudah mendapatkan bagianmu!"

Sesaat kemudian dia mencelat keluar. Siau Po berpikir dengan cepat "Dia mau kabur! Apakah aku harus berteriak?"

Pikirnya ragu.

Tepat di saat pikiran si bocah masih bekerja, sesosok bayangan melesat naik ke atas genting, Dia adalah Ci Goan-kay.

Siau Po mengerutkan tubuhnya, jangan sampai dirinya terlihat oleh orang itu, Dia mendengar suara perlahan dari atas genting, tidak lama kemudian, suara itu lalu lenyap, Setelah itu tampak Ci Goan-kay melompat turun.

Kali ini ia berjalan dengan tenang kembali ke ruangan dalam, di mana perjamuan sedang berlangsung.

"Tidak salah!"

Pikir Siau Po.

"Pasti dia menyembunyikan kitab itu di atas genting, Lain kali kalau ada kesempatan dia bisa mengambilnya kembali Hm! Tidak semudah yang kau bayangkan, sobat!"

Siau Po menunggu lagi beberapa saat sampai dia yakin Goan Kay sudah pergi jauh, Setelah itu baru dia keluar dari tempat persembunyiannya dan bergegas naik ke atas genting untuk mencari kitab itu, Dia berusaha keras mengira-ngira di mana Goan Pay menyembunyikannya seperti tadi dia mendengar suaranya dari bawah.

Setelah menyingkap belasan potong genting, akhirnya Siau Po berhasil mendapatkan bungkusan yang berisi kitab Si Cap Ji Cin-keng tersebut.

Dia ambil bungkusan itu dan kemudian merapikan kembali genting-genting yang terbuka, Malam itu cuaca cukup gelap, keadaan di sekitar hanya remang-remang.

"Mengapa kitab ini demikian berharga sehingga banyak orang yang menginginkannya?"

Pikirnya dalam hati.

"Mula-mula si kura-kura tua, lalu ibu suri, Ada lagi Go Pay, Kong Cin ong dan sekarang si orang she Ci! Kalau aku sekarang tidak mengambilnya, aku pantas disebut orang tolol! Percuma aku she Wi!"

Dia segera membuka bungkusan itu dan lalu memasukkan kitab tersebut ke dalam sakunya, Karena dia mengenakan jubah yang longgar, dari luar tidak kentara kalau dia menyembunyikan sesuatu, Bungkusannya sendiri dilemparkan ke atas pohon, lalu cepat-cepat dia kembali ke ruangan besar untuk mengikuti perjamuan yang masih berlangsung.

Pesta masih dilanjutkan Demikian pula orang-orang yang berjudi, mereka masih asyik dengan permainan itu, pertunjukan sandiwara juga masih berlangsung dan sang wanita masih bernyanyi terus."

"Apakah peran wanita yang menyamar sebagai biarawati itu?"

Tanya Siau Po kepada So Ngo-tu. Orang yang ditanya tertawa.

"Dalam cerita dikisahkan bahwa biarawati itu merindukan seorang pria, Dia bermaksud melarikan diri ke bawah gunung untuk menikah dengan pria pujaannya, Kau lihat, bukankah wajahnya menyiratkan kalau dia sedang dirundung asmara?"

Berkata sampai di situ, tiba-tiba So Ngo-tu menghentikan kata-katanya.

Dia teringat bahwa yang diajaknya berbicara adalah seorang thay-kam, Thay-kam itu seperti juga sebangsa pendeta yang tidak suka membicarakan soal perempuan.

"Cerita itu tidak menarik. Nanti aku pilihkan sebuah kisah yang bagus untuk kongkong!"

Katanya kemudian.

Mereka berdua telah mengangkat saudara, tapi hal ini masih dirahasiakan itulah sebabnya di depan umum mereka tetap saling menyebut dengan formalitas.

Selesai berkata, So Ngo-tu memerintahkan pada tukang cerita untuk mengganti pertunjukannya dengan kisah "Nge Koan Lau", cerita tentang Lie Cun-houw yang memukul harimau.

Setelah selesai, pertunjukan diganti lagi dengan "Ciong Hiok menikah".

Seru sekali jalan ceritanya di mana kelima pembantu si Raja setan bertempur dengan sengit.

Siau Po bertepuk tangan dan berseru menyatakan pujiannya, Setelah itu dia menambahkan.

"Aku harus segera kembali ke istana, Maaf kalau aku tidak dapat menonton lebih lama lagi."

Ketika dia menoleh, dilihatnya Ci Goan-kay sedang bermain teka-teki tangan dengan asyiknya bersama dua orang pengawal justru saat itu terdengar Ci Goan-kay bertanya.

"Sin Ciau siangjin, di mana orang she Long tadi?"

"Sudah agak lama juga aku tidak melihat, kemungkinan dia sedang keluar.,."

Sahut beberapa pengawal lainnya. Sin Ciau siangjin lantas tertawa.

"Orang itu tidak tahu kebaikan orang, Mungkin dia malu berada di sini lama-lama,"

Katanya. "Betul. Kemungkinan dia sudah menyingkir dari sini, Sikap orang itu mencurigakan dan dia juga dikenal licik, bisa jadi dia mencuri sesuatu..."

Kata Ci Goan-kay.

"Mungkin saja,"

Sahut seorang pengawal lainnya.

"Orang she Ci ini sungguh cerdik, cara kerjanya juga sempurna, Belum apa-apa dia sudah menimpakan kesalahan kepada orang lain, Kalau kitab itu ketahuan hilang, tentu orang she Long itulah yang akan dicurigai Apalagi kalau pelayan itu diketemukan sudah jadi mayat, Bisa jadi mereka menduga si Long yang membunuhnya. Cara kerjanya orang she Ci ini bagus sekali. Lain kali bila aku ingin melakukan sesuatu, aku harus mencari kambing hitamnya dulu,"

Pikir Siau Po dalam hati.

Karena malam sudah mulai larut, Siau Po pun segera memohon diri pada tuan rumah.

Kong Cin ohg tahu thay-kam cilik ini bisa di kunci dari dalam apabila pulang terlalu malam.

Karena itu dia tidak menahannya lagi.

Dia hanya tertawa dan mengantarkan Siau Po sampai di depan pintu.

Go Eng-him dan So Ngo-tu serta yang lainnya juga ikut mengantarkan.

Ketika Siau Po naik ke atas joli.

Yo Ek-ci segera menghampirinya.

"Kongkong, tuan muda kami menghadiahkan barang yang tidak berharga ini. Harap kongkong sudi menerimanya."

Siau Po tertawa.

"Terima kasih!"

Katanya sembari menerima bungkusan itu.

"Yo toako, kita baru pertama kali bertemu, tetapi hubungan kita sudah seperti sahabat lama, Senang rasanya aku bergaul denganmu, Kalau aku menghadiahkan uang untukmu, mungkin kau akan merasa terhina, Karena itu, sebaiknya lain kali aku mentraktirmu saja!"

Yo Ek-ci tertawa, Dia senang sekali mendengar ucapan Siau Po.

"Kongkong sudah menghadiahkan aku seribu enam ratus tail, apakah itu masih belum cukup?"

"ltu kan hadiah dari orang lain, tidak masuk hitungan!"

Tukas Siau Po dengan cepat.

Tidak lama kemudian joli itu sudah sampai di depan istana, Siau Po segera membuka bungkusan yang diserahkan Yo Ek-ci.

Dia sudah tidak sabar ingin mengetahui isinya, isinya tiga kotak yang diberi tali emas, Kotak pertama berisi sebuah ayam-ayaman dari batu kumala hijau, semuanya terdiri dari sepasang, buatannya halus sekali, Kotak kedua berisi dua renceng mutiara, Memang mutunya tidak sebagus yang dia tumbuk buat si kuncu cilik, tapi ukurannya sama, jumlahnya dua ratus butir.

"Aku berbohong pada si kuncu akan membeli mutiara guna meracik obatnya, Siapa sangka Go Eng-him benar-benar menghadiahkan mutiara untukku sehingga dustaku menjadi kenyataan Tentu si kuncu jadi percaya karenanya,"

Pikirnya dalam hati.

Kemudian dia membuka kotak yang ketiga, Ternyata isinya dua puluh lembar cek yang nilainya masing-masing sepuluh tail uang emas, jumlahnya jadi dua ratus tail uang emas, sedangkan cek itu tertera toko emas Ju Liong Seng yang sangat terkenal di kotaraja.

Untung saja pintu istana belum dikunci.

Siau Po langsung kembali ke kamarnya, Setelah memalang pintu kamarnya, dia menyulut lilin lalu menyingkap kelambu.

"Tentu kau sudah tidak sabar menunggu kepulanganku,"

Katanya sambil tertawa, Dia melihat si nona cilik itu masih berbaring tanpa berkutik sedikit pun.

Mulutnya masih tersumpal kue yang belum dimakannya, dia segera mengeluarkan dua renceng mutiaranya yang indah, Sembari tertawa dia berkata kembali.

"Kau lihat, aku membelikan kau dua renceng mutiara yang sangat indah, Nanti aku akan menumbuknya untuk dijadikan bedak agar wajahmu sepuluh kali lipat lebih cantik dari sekarang, Kau akan menjadi nona yang tercantik di kolong langit ini! Kalau gagal, a... ku bukan orang she Kui lagi, Wah, aku sampai lupa. Kau lapar tidak? Kenapa kau tidak makan kue itu? Mari, aku bantu kau agar bisa bangun dan duduk...."

Tiba-tiba kata-kata Siau Po terhenti. Dia mengeluarkan seruan tertahan, sebab mendadak tulang rusuknya terasa seperti kebal dan disusul dengan rasa nyeri di dadanya.

"Aduh!"

Dia menjerit saking kagetnya, Kemudian dia merasa seluruh tubuhnya menjadi lemas.

Lututnya terkulai dan dia pun roboh ke depan pembaringan Dia merasa tidak mempunyai tenaga sehingga tidak dapat berkutik sama sekali.

Tiba-tiba terdengar si kuncu tertawa sambil menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya.

Kemudian dia turun dari tempat tidur dan berkata.

"Jalan darahku sudah bebas!

Sudah cukup lama aku menantikan kepulanganmu!

Kenapa kau baru datang sekarang?"

Siau Po heran.

"Siapa yang membebaskan jalan darahmu?"

Tanyanya tanpa menjawab pertanyaan si nona.

"Tentu saja bebas sendiri!"

Sahut si nona cilik.

"Setelah kau membebaskan jalan darah gaguku, maka jalan darah yang lainnya juga akan bebas setelah waktunya sampai. Aku tidak membutuhkan pertolonganmu lagi sekarang, Aku akan membantumu naik ke atas tempat tidur agar bisa berbaring dengan enak, Aku sendiri akan meninggalkan tempat ini...."

Siau Po terperanjat setengah mati.

"Tidak bisa!"

Katanya cepat.

"Kau belum boleh pergi, Wajahmu belum pulih secara keseluruhan. Kau masih membutuhkan obat agar dapat sembuh dari lukamu dan bersih kembali seperti sediakala!"

Si nona tertawa geli.

"Kau memang manusia licin dan busuk!"

Katanya.

"Kau pintar membohongi orang! Kapan kau mengukir wajahku? Tadinya aku memang kaget dan ketakutan mendengar kata-katamu yang ternyata hanya bualan belaka!"

"Oh, bagaimana kau bisa tahu?"

Tanya Siau Po semakin bingung.

"Tadi aku sudah turun dari tempat tidurku dan bercermin,"

Sahut si nona cilik.

"Ternyata di wajahku tidak ada ukiran apa pun...."

Siau Po memperhatikan wajah si nona yang memang sudah tampak putih bersih. Dia merasa menyesal.

"Dasar aku yang teledor,"

Katanya.

"Kenapa aku tidak memeriksa wajahmu terlebih dahulu? Kalau tidak, mana mungkin aku kena ditipu olehmu, Bila demikian halnya, buat apa aku pergi membeli mutiara yang begitu mahal? Kau lihat, aku sudah menjelajahi seluruh kota untuk mencari barang-barang ini, Selain kalung mutiara, aku juga membeli sepasang barang mainan lainnya!"

Si nona cilik masih kekanak-kanakan, mendengar barang mainan hatinya jadi tertarik.

"Barang mainan apa?"

"Kau bebaskan dulu jalan darahku, Nanti aku perlihatkan kepadamu,"

Sahut Siau Po. Dia memang ditotok oleh si nona sehingga tidak dapat berkutik sama sekali.

"Baik!"

Sahut si nona cilik yang langsung mengulurkan tangannya, Tapi tiba-tiba dia menghentikan karena sinar matanya bertemu pandang dengan bola mata Siau Po yang jelalatan sehingga kecurigaannya jadi timbul .

Siau Po tidak mengerti mengapa si nona tak jadi membebaskan jalan darahnya, Dia memperhatikan gadis cilik itu lekat-Iekat.

Si nona tertawa.

"Aih! Hampir saja aku kena kau kelabui lagi! Begitu aku membebaskanmu, tentu kau akan melarang aku pergi,"

Katanya.

"Tidak, tidak akan!"

Sahut Siau Po.

"Kalau seorang laki-Iaki sudah mengeluarkan kata-kata-nya, entah kuda apa pun tidak bisa mengejarnya!"

"Empat ekor kuda sulit mengejarnya!"

Kata si nona membetulkan "Mana ada kuda apa yang tidak bisa mengejarnya?"

"Tapi kuda yang kumaksudkan ini lebih cepat dari keempat kudamu!"

Kata Siau Po berkeras.

"Kalau kudaku saja tidak dapat mengejar, apalagi ke empat ekor kudamu itu."

Si nona tersenyum, Dia tidak mengerti apa yang dimaksud dengan "kuda apa pun", karena itu dia lalu menatap Siau Po lekat-lekat kemudian berkata.

"Baru kali ini aku mendengar kalimat kuda apa pun tidak bisa mengejarnya."

"ltulah sebabnya aku mengajari kau hari ini,"

Kata Siau Po yang kecerdikannya luar biasa itu.

Dia juga nakal sekali dan suka bergurau "Hari ini aku ingin menyenangkan hatimu, Barang mainan ini indah sekali, terdiri dari sepasang jantan dan betina."

"Apakah itu sepasang kelinci ?"

Tebak si nona cilik yang semakin penasaran dan tertarik. Siau Po menggelengkan kepalanya.

"Bukan! Tentunya lebih menarik sepuluh kali lipat daripada kelinci!"

"Mungkinkah ikan mas?"

Tanya si nona lagi, Dia semakin ingin tahu. Sekali lagi Siau Po menggelengkan kepalanya.

"Apa sih?"

Tanya si nona. Dia bingung sekali, Disebutnya beberapa jenis binatang dan benda lain nya, tapi Siau Po tetap menggelengkan kepalanya.

"Ayo, keluarkanlah!"

Kata si nona akhirnya, Di merasa kewalahan "Barang apa sih sebetulnya yang kau beli?"

"Cepat kau bebaskan dulu diriku,"

Kata Siau Po "Setelah bebas, aku akan perlihatkan kepadamu!"

"Tidak bisa!"

Kata si nona cilik sambil menggelengkan kepalanya.

"Sekarang juga aku akan meninggalkan tempat ini, Sudah lama kakakku tidak melihat aku, pasti dia khawatir dan bingung sekali!"

Siau Po menatap gadis cilik itu lekat-lekat.

"Kau mengatakan bahwa kau telah bebas, bukan? Kau juga mengatakan akan meninggalkan tempat ini? Nah, mengapa kau tidak pergi dari tadi saja? Mengapa harus menunggu sampai aku pulang?"

"Kau baik sekali terhadapku. Kau ingin membelikan aku barang permata, Karena itu, aku harus mengucapkan terima kasih kepadamu, Dan aku harus pamitan kepadamu, Kalau aku pergi begitu saja, bukankah aku bisa dikatakan tidak tahu sopan santun dan tidak menghargaimu sama sekali?"

Mendengar ucapan si nona cilik, Siau Po segera berpikir dalam hati.

"Ah, dasar nona toloI! Kalau aku mengatakan keluarga Bhok itu keluarga kayu, perkiraanku memang tidak salah, Nama keluarga mereka salah!"

Meskipun dalam hati dia berpikir demikian, namun mulutnya berkata lain.

"Kau tahu, aku mencemaskan keadaanmu, sepanjang jalan aku tidak dapat tenang, Aku terburu-buru memasuki toko-toko emas intan untuk mencari barang yang aku inginkan, Di beberapa toko, barang itu tidak ada. Aku menjadi bingung karena sudah terlalu lama di luaran, Ketika sudah mendapatkannya, aku berlari-lari pulang, sampai aku tersandung jatuh beberapa kali."

"Oh!"

Seru si nona cilik.

"Kau tentu merasa kesakitan, bukan?"

Siau Po sengaja meringis.

"Sekali aku terjatuh sehingga dadaku kebentok kayu,"

Sahutnya.

"Ketika itu aku merasa bukan main sakitnya...."

"Apakah sekarang kau masih merasa sakit?"

Tanya si nona. Siau Po mengeluarkan suara mirip erangan.

"lya, sekarang aku masih merasa sakit,"

Sahutnya.

"Kau menotok jalan darahku dan membuat aku ih, rasa, nyerinya semakin bertambah, Kau.,., aku,.,."

Suaranya semakin perlahan, nona cilik itu memperhatikannya, Dia melihat Siau Po seperti benar-benar kesakitan.

Tiba-tiba dia melihat sepasang mata bocah itu membelalak ke atas, sehingga yang tampak hanya bagian yang putihnya saja, Kemudian mata itu dipejamkan rapat-rapat dan orangnya pun diam saja, Tampaknya bocah cilik itu hampir jatuh pingsan.

Si putri bangsawan itu terkejut sekali melihat keadaan Siau Po.

"Eh... kau... kenapa?"

Tanyanya gugup.

"Apakah... kau merasa sakit sekali?"

Dengan suara yang lemah sekali, Siau Po menjawab "Mungkin a... ku akan ma... ti. Tapi... aku tidak takut, Hanya ada satu hal yang mencemaskan hatiku, mem... buat perasaanku tidak tenang..."

"Apa itu?"

Tanya si nona.

"Katakanlah!"

"Tempat ini sangat berbahaya,"

Kata Siau Po yang seakan memaksakan dirinya untuk berbicara.

"Kalau aku mati, tidak ada orang yang membantumu. Kau tahu, ada orang-orang yang ingin menawanmu, mereka hendak membunuhmu..."

"Kau tidak akan mati,"

Kata si nona.

"Kau tidurlah, sebentar kau akan sehat kembali Aku akan pergi sekarang!"

"Tapi... aku sukar ber... nafas.,."

Sahut Siau Po, suaranya demikian lemah, Tampaknya dia sedih sekali, Nafasnya tertahan.

Nona Bhok lantas mengulurkan tangannya ke depan hidung bocah itu.

Dia terkejut sekali karena tidak merasakan hembusan nafas.

"Oh!"

Serunya tertahan, Air matanya langsung menetes keluar. Diam-diam Siau Po melirik. Dia melihat keadaan si nona dan mendengar isak tangisnya, Dalam hati dia malah menertawakan.

"Dasar nona kelas sembilan! Tampaknya dia belum pengalaman sama sekali..."

"Apakah kau pingsan?"

Tanya si nona.

"Kau tidak boleh mati!"

Siau Po menatap si nona dengan sinar mata sayu.

"Kau tidak boleh mati!"

Seru si nona cilik sekali lagi.

"Tapi... kau menotok... jalan da... rah yang salah,"

Kata si bocah dengan suara lemah, "Ta... hukah kau, yang... kau to... tok itu jalan... darah ke... matianku?"

Kuncu cilik itu tampak terkejut setengah mati.

"Tidak mungkin!"

Katanya bingung.

"Kau tidak mungkin mati! Aku tidak mungkin salah menotok! Ajaran guruku tidak mungkin keliru! Kau, tahu barusan aku menotok kedua jalan darah Leng Hi dan Pou Long, kemudian aku juga menotok jalan darah Thian ti di tubuhmu."

"Tapi, kau sedang bingung, pikiranmu sedang ka... lut,"

Sahut Siau Po.

"Karena pikiranmu bingung dan kacau, kau... salah menotok, Aduh! Rasanya,., da... rahku... bergolak... aduh!"

"Apakah jalan darahmu tersesat?"

Tanya si non cemas.

"Ya,., ter... sesat!"

Sahut Siau Po tersendat sendat "Aih!...

ilmu menotok...

mu be.,.lum sem purna, Kenapa kau...

sembarangan me...

notokku Kau bukan menotok...

jalan darah Thian ti dan Po long, tapi ja...

lan darah kematianku yang kau totok!"

Sebetulnya Siau Po tidak tahu nama-nama jala darah, dia hanya meniru kata-kata si nona cilik saja.

Untungnya si nona cilik juga belum begitu paham semua jalan darah, jumlahnya memang banyak sekali sehingga timbul kesangsian dalam hati si gadis cilik bahwa ada kemungkinan memang dia sudah salah menotok.

"Aih!"

Serunya kemudian.

"Mungkinkah aku telah menotok jalan darah Tan tiong?"

"lya, tidak salah lagi!"

Kata Siau Po cepat, Tapi...

kuncu,., sudahlah, Kau tidak perlu khawatir atau menyesal Aku tidak menyalahkan engkau.

Aku tahu kau tidak sengaja menotokku, Niatmu baik, Kalau aku sudah mati nanti, dan ditanyakan oleh penjaga Akherat, aku tidak akan mengatakan bahwa kau yang menotokku sampai mati, Aku akan katakan bahwa aku menotok diriku sendiri!"

Kuncu cilik itu tercekat hatinya ketika mendengar Siau Po menyebut-nyebut penjaga akherat, tapi di samping itu dia juga agak lega mendengar bocah itu berjanji tidak akan menyeret-nyeret dirinya.

"Begini saja,"

Kata si nona cepat.

"Nanti aku akan menotokmu lagi untuk membebaskanmu, Aku harap akan berhasil.."

Benar saja, nona bangsawan itu segera meraba-raba dada Siau Po kemudian menotok beberapa kali, Juga bagian iga dan bawah ketiaknya. Siau Po merintih.

"Aih, jalan darahku sudah tertotok, Pasti jiwaku tidak bisa tertolong lagi,"

Katanya.

"Belum tentu,"

Sahut si nona.

"Aku menyesal telah salah menotokmu."

"Aku tidak menyalahkan engkau, Aku tahu kau baik hati, Kalau aku sudah mati nanti, dari alam baka aku akan melindungimu dari pagi sampai malam, arwahku akan selalu mengikutimu Aku bisa mencegah apabila ada orang yang akan mencelakaimu Si nona semakin tercekat hatinya, dia jadi bingung sekali.

"Apa katamu?"

Tanyanya menegaskan "Arwahmu akan mengikutiku terus?"

"Jangan takut, kuncu,"

Kata Siau Po.

"Arwahku tidak akan mengganggumu, Hanya ada satu hal yang harus kau ketahui, siapa yang membunuhmu, setan-ku akan terus mengikutinya." . Si nona masih bingung.

"Sesungguhnya aku tidak berniat menceIakaimu...."

Siau Po menarik nafas panjang.

"Kuncu, sebenarnya siapakah namamu?"

Tanyanya kemudian.

"Untuk apa kau menanyakan namaku?"

Tanya si nona cilik dengan menatap tajam pada Siau Po.

"Apakah kau ingin menuntutku di akherat nanti? Tidak! Aku tidak akan memberitahukan namaku kepadamu!"

"Kalau aku tahu siapa namamu, di akherat nanti aku bisa memberikan keterangan,"

Sahut Siau Po "Di sana aku akan memohon para iblis untuk melindungimu!

Di sana ada setan-setan yang mati gantung diri!

Ada setan yang tadinya pendeta, juga ada setan tanpa kepala!

Akan kusuruh mereka mengiringi kau setiap waktu!"

Si nona jadi ketakutan mendengar kata-katanya.

"Tidak! Tidak!"

Serunya.

"Aku tidak sudi diikuti mereka!"

"Habis bagaimana?"

Tanya Siau Po.

"Bagaimana kalau yang mengikutimu hanya satu setan saja?"

Nona cilik itu bimbang beberapa saat.

"Kau... kau..."

Katanya kemudian.

"Kalau kau yang mengikutiku, asal kau berjanji tidak akan membuat aku kaget..."

"Sudah pasti aku tidak akan membuat kau kaget janji Siau Po.

"Siang hari di saat kau duduk... duduk, aku akan menemanimu mengusir lalat. Di malam hari kalau kau sedang tidur, aku akan membantumu membasmi nyamuk yang nakal, Kalau kau sedang kesal atau berduka, arwahku akan mengirimkan mimpi tentang dongeng yang menarik agar hatimu terhibur."

"Mengapa kau memperlakukan aku begini baik?"

Tanya si nona sambil menarik nafas panjang.

"Kalau demikian, lebih baik kau jangan mati..."

"Dalam satu hal kau telah berjanji padaku..."

Kata Siau Po.

"Kalau kau tidak menepatinya, bukankah aku bakal mati dengan mata melek?"

"Apa itu?"

Tanya si nona cilik.

"Apa yang telah kujanjikan kepadamu."

"Kau pernah berjanji akan memanggil aku kakak yang baik sebanyak tiga kali,"

Sahut si bocah.

"Tapi kau baru memanggilnya satu kali. Kalau di saat sebelum menutup mata kau memanggilku lagi, barulah aku dapat mati dengan tenang."

Puteri ini hidup di Propinsi Inlam dan leluhurnya turun temurun merupakan raja muda.

Begitu pula ayah bundanya, saudara-saudaranya semua memperlakukannya dengan baik sekali.

Dia sangat disayangi Meskipun belakangan negara runtuh dan keluarganya ikut tertimpa musibah, keagungannya tetap tidak berubah.

Semua Ke Ciang, pengawal maupun sekalian budak-budaknya tetap memperlakukannya sebagai keluarga bangsawan Selama hidupnya, belum pernah ada orang yang berani mendustainya atau menggertaknya dengan kata-kata yang tidak benar, itulah sebabnya ketika mendengar ucapan Siau Po, dia percaya sepenuhnya.

Padahal ketika berbicara, dia melihat sinar mata si bocah yang mengandung kelicikan, tetapi pada dasarnya hati si nona cilik ini memang masih polos dan belum mengerti apa arti keculasan, atau tepatnya dia sendiri masih hijau, dia jadi tidak mengambil hati, Namun akhirnya dia tersadar juga.

"Kau sedang berbohong!"

Katanya.

"Kau tidak bakalan mati!"

Siau Po pun tertawa.

"Andaikata benar aku tidak mati sekarang, toh lewat beberapa hari lagi aku akan mati juga,"

Sahutnya.

"Lewat beberapa hari nanti juga kau tidak akan mati!"

Kata si nona tegas. Siau Po kembali tertawa.

"Seandainya lewat beberapa hari aku tidak mati, tapi lama kelamaan aku toh akan mati juga!"

Kata Siau Po berkeras.

"Kalau kau tetap tidak sudi memanggil aku kakak yang baik, kalau aku sudah mati nanti, setiap hari arwahku akan memanggilmu... adik yang ba... ik" ... a... dik yang ba... ik...."

Sengaja Siau Po membuat ucapannya menjadi panjang dan menyeramkan nadanya seperti ratapan sehingga si nona menjadi ketakutan dan tubuhnya gemetar Siau Po malah sengaja menjulurkan lidahnya keluar seperti mayat yang mati menggantung diri.

"Oh!"

Jerit si nona yang langsung hendak lari keluar kamar.

Siau Po lompat menyusul, sebelah tangannya menjambret pinggang gadis cilik itu dan kemudian merangkulnya, sedangkan sebelah tangannya yang lain digunakan untuk memalang pintu.

"Kau tidak boleh keluar!"

Kata Siau Po.

"Di luar banyak setan jahat!"

"Lepaskan aku!"

Teriak si nona.

"Aku mau pulang!"

"Kau tidak boleh keluar!"

Kata Siau Po ngotot.

Kuncu itu marah sekali, Dia menghajar tangan Siau Po yang merangkulnya, Tapi, bocah itu menangkis sekaligus mencekal tangan nona cilik itu.

Kuncu tersebut semakin gusar, Dia menggunakan tangan yang satunya lagi untuk menghajar kepala bocah itu.

Namun Siau Po dapat menghindarkan diri dengan merendahkan tubuhnya, Tangannya yang sebelah digunakan untuk merangkul paha gadis cilik itu, sehingga si kuncu tidak dapat menggerakkan kakinya.

Kuncu itu penasaran, dia menyerang kembali, Kali ini Siau Po tidak sempat mengelak, bahunya terhajar, tapi dia dapat menahan rasa sakitnya, Ditariknya kaki si nona cilik yang dirangkulnya itu sehingga si kuncu terjatuh, kemudian dia menerjang dengan maksud hendak menindihnya.

Kuncu itu mengadakan perlawanan Dia mengirimkan sebuah tendangan dengan gerakan Wan yo Tui mengarah muka orang, Untuk itu, si bocah memiringkan wajahnya sedikit dan di samping itu dia masih mencekal tangan si nona keras-keras.

Sebenarnya dalam hal ilmu silat, si kuncu masih menang jauh daripada Siau Po.

Kalau sekarang dia tidak berdaya, hal ini karena Siau Po mengajaknya bergumul, dengan tanpa memperdulikan tata krama.

Apalagi tangannya sudah kena dicekal Bocah itu malah tertawa dan berkata.

"Nah, kau menyerah tidak?"

"Tidak!"

Sahut si nona berkeras. Siau Po mengangkat kaki kirinya. Dengan dengkulnya dia menekan punggung nona cilik itu.

"Menyerah tidak?"

Bentaknya.

"Tidak!"

Sahut si nona ketus, Dia mendongkol sekali, Seumur hidupnya belum pernah dia diperlakukan orang sedemikian rupa, Biasanya dia justru dimanjakan sekali.

Siau Po menambah tenaganya, Dia menarik tangan gadis cilik itu keras-keras.

"Aduh!"

Jerit si nona, Mau tidak mau air matanya mengalir karena rasa sakit yang tidak tertahankan.

Selama Siau Po berlatih gulat dengan kaisar Kong Hi, belum pernah ada satu pihak pun yang menjerit kesakitan, apalagi nenangis, Biasanya kalau salah satunya sudah berteriak.

"Menyerah tidak?"

Asal yang lainnya menyerah, pergulatan pun selesai, Apabila masih ingin dilanjutkan perkelahian pun dimulai lagi dari awal. Siapa sangka si kuncu cilik ini malah menangis saking sakitnya.

"Hah! Budak tidak ada gunanya!"

Kata Siau Po sambil tertawa, Dia pun lalu melepaskan cekalannya.

Kuncu itu bergerak bangun, tiba-tiba tangan kirinya melayang ke depan!

Hal ini tidak disangka-sangka oleh si bocah, Tinju itu sempat mampir juga di hidungnya, sedangkan tangan si nona yang satunya lagi telah meluncur dengan jurus "Sepasang walet terbang".

Bahu kanannya sudah terhajar, sekarang bahu kirinya terkena hantaman pula, Bocah itu jadi jatuh terduduk Dengan demikian Kuncu itu pun segera lari ke pintu.

Dia bermaksud menyingkirkan kayu palangnya dan lari keluar.

Dengan menahan rasa sakitnya, Siau Po melompat mengejar Disambarnya nona cilik itu kemudian dirangkulnya lehernya, Si nona cilik itu pun menggerakkan kedua sikutnya untuk menghajar dada si bocah.

Sekali lagi Siau Po kena batunya!

Untung saja tenaga si nona sudah jauh berkurang sehingga akibatnya tidak begitu hebat.

Siau Po sadar, seandainya si nona berhasil lolos dari kamarnya, mereka berdua akan tertimpa bencana, karena itu dengan menahan rasa sakit, dia terus merangkul sedangkan si nona tidak henti-hentinya meronta.

Satu kali si kuncu berhasil memuntir batang leher Siau Po sehingga wajah mereka berhadapan.

Tapi dia menjadi terkejut sekali begitu melihat wajah si bocah berlumuran darah.

"Eh, kenapa kau?"

Tanyanya kaget.

"Kau berdarah sebetulnya tinju si nona yang mampir di hidung Siau Po yang menyebabkan darah mengalir Namun Siau Po tidak sempat memperdulikannya. Lukanya tidak berarti, rasa sakitnya pun sudah hilang. Hanya darahnya saja yang masih mengucur terus, meskipun tidak terlalu banyak.

"Kau tidak boleh pergi dari sini?"

Kata Siau Po yang tidak memperdulikan pertanyaan itu "Lekas lepaskan aku!"

Teriak si nona.

"Tidak!"

Sahut Siau Po, yang tetap merangkul erat-erat. Si nona mulai kebingungan melihat darah dari hidung Siau Po yang terus mengalir.

"Apakah kau merasa sakit?"

Tanyanya kemudian.

"Aku merasa kesakitan, malah sudah hampir mati!"

Sahut si bocah yang masih tidak lupa bergurau "Biarlah kali ini kau hajar aku sampai mampus sekalian!"

Bocah ini memang cerdik, Dia mencekal kedua tangan si nona sehingga tidak dapat digerakkan untuk menotoknya.

"Kau tidak akan mati!"

Kata si nona.

"Meskipun hidungmu terhajar dan mengeluarkan darah, kau tetap tidak akan mati!"

"Darahku masih belum berhenti mengucur Kalau nanti sudah berhenti, aku pasti akan mati, Biar sudah menjadi mayat, aku akan memelukmu terus, Apapun yang kau katakan, pokoknya aku tidak mau melepaskan!"

"Biarkan aku mengambil kapas untuk menyumbat hidungmu Dengan demikian darahnya tidak akan mengalir terus,"

Kata si nona kemudian.

"Biarkan saja, Aku lebih suka darahku mengalir terus, semakin deras dan semakin banyak, semakin baik. Biar aku cepat menjadi mayat!"

Si kuncu cilik jadi kewalahan.

"Kau tidak boleh mati,"

Katanya kemudian.

"Aku minta jangan kau menjadi mayat!"

"Aku tidak akan mati kalau kau berjanji tidak akan pergi dari sini!"

Kata Siau Po.

"Baik, aku tidak akan pergi!"

Sahut si nona, Namun dalam hatinya dia berpikir "Kau tidak akan mati!"

"Asal kau melangkah keluar dari pintu kamar, aku akan bunuh diri!"

Kata Siau Po mengancam Kemudian dia mengendorkan cekalannya pada tangan si nona sehingga dapat bergerak bebas, Si kuncu cilik menarik nafas lega.

"Kau berbaringlah dulu, nanti aku bantu kau menghentikan darah yang mengalir dari hidungmu. Pemah satu kati aku tersandung dan hidungku juga berdarah, tapi aku toh tidak mati."

Selesai berkata, si nona cilik itu segera memegang tangan Siau Po dengan maksud memayangnya.

Siau Po pura-pura limbung sehingga tubuhnya menabrak dan saling menempel dengan si kuncu, Tapi si nona cukup sigap, dia berhasil memegangi tubuh Siau Po dan membawanya ke atas pembaringan setelah itu dia lalu mengambil sehelai sapu tangan yang kemudian ia celupkan ke air yang kemudian digunakannya untuk mengompres dahi si bocah.

Di samping itu, dia menggunakan sapu tangan lainnya untuk menyusut darah di hidung Sia Po.

Dia bekerja dengan hati-hati namun cekatan.

"Kau berbaringlah dan istirahat sebentar,"

Kat si nona.

"Darah di hidungmu akan berhenti mengalir. Barusan aku telah menghajarmu Aku merasa menyesal sekarang aku benar-benar akan pergi. jangan kau halang-halangi aku. Kalau tidak, aku akan memukulmu lagi!"

"Aduh!"

Tiba-tiba Siau Po menjerit "Bagian belakang telingaku sakiti"

Si nona cilik terkejut setengah mati, Dia menoleh kan kepalanya dan membatalkan niatnya keluar Segera dia menghampiri Siau Po.

"Benar?"

Tanyanya sambil membungkukkan tubuhnya untuk melihat keadaan bocah itu.

Begitu si nona mendekati mendadak Siau Po menyambar pinggang gadis itu sambil mengerahkan tenaganya, Si nona cilik terkejut.

Dia meronta-ronta namun tidak berdaya.

Rangkulan Siau Po kali ini menggunakan jurus Tenglo Si atau Lilitan rotan yang membuat orang tidak bisa mengerahkan tenaga nya.

Ketika si kuncu masih berusaha memberontak tiba-tiba terdengar sebuah suara di jendela.

"Diam!"

Bisik Siau Po.

"Ada setan!"

Kuncu itu tercekat hatinya.

Dia segera diam, Gagallah usahanya untuk meronta lebih jauh.

sedangkan tadinya dia berniat menghajar wajah si bocah untuk membuatnya kesakitan sehingga rangkulannya terlepas.

Kembali terdengar suara di jendela yang seakan ada seseorang sedang mendorongnya.

Siau Po terperanjat Sejak Hay kongkong sakit, jendela itu sudah dipantek dengan paku dan terus dibiarkan dalam keadaan demikian saja.

Hal ini untuk mencegah apabila ada orang yang hendak mengintai Tapi sekarang, untuk pertama kali ada orang yang berusaha membongkarnya.

Bagian 18

"Benar-benar setan?"

Tanya Siau Po seakan pada dirinya sendiri Kuncu tadi semakin ketakutan.

Dia yang tadinya berdiri di sisi tempat tidur segera naik ke atasnya, Kepalanya menyusup ke dalam selimut dan bersandar di dada si bocah cilik, Tubuhnya gemetar "Siau Kui cu...

Siau Kui cu...."

Terdengar panggilan dari luar jendela, Suara seorang wanita.

"Ah! Setan perempuan!"

Kata Siau Po.

Kuncu tersebut semakin takut Dia merangkul si thay-kam gadungan erat-erat Tibatiba terasa angin berhembus, lilin dalam kamar jadi padam, Tahu-tahu di dalam kamar telah bertambah seseorang yang suaranya terdengar kembali.

"Siau Kui cu.... Siau Kui cu... Giam Lo ong (raja akherat) telah memanggilmu! Kata Giam Lo ong, kau telah menganiaya Hay kongkong sampai mati."

"Aku tidak menganiaya Hay kongkong.,."

Kata Siau Po tapi hanya dalam hati "Siau Kui cu.... Giam Lo ong akan meringkusmu!"

Kata si setan.

"Kau akan dilemparkan ke gunung golok dan dimasukkan ke dalam kuali panas! Kau tidak mungkin lolos lagi!"

Sampai di situ, hilang sudah perasaan terkejut di hati Siau Po.

sebaiknya dia merasa terkesiap, karena dia mengenali suara wanita itu sebagai suara Hong thayhou.

Baginya, ibu suri ini justru lebih menakutkan dari setan mana pun, sebab Hong thayhou bisa merenggut nyawanya dengan mudah!

Tadinya perasaan Siau Po sudah agak tenang, Dia mengira Hong thayhou sudah percaya sepenuhnya kepada dirinya karena sudah sekian lama tidak pernah mengambil tindakan apa-apa.

Dia juga mempunyai dugaan bahwa ibu suri tidak berani mencelakainya karena dia sangat disayang oleh Sri Baginda.

Padahal, alasan mengapa ibu suri selama ini tidak melakukan tindakan apa-apa, adalah karena harus merawat lukanya yang cukup parah akibat bentrokan dengan Hay kongkong tempo hari.

Dia juga penasaran mengapa si bocah tidak mati oleh pukulan Hay kongkong yang lihay itu.

Karena itu pula dia menduga tenaga dalam si thay-kam cilik sudah mencapai taraf yang tinggi sekali, sedangkan untuk membunuh si bocah, selama lukanya belum sembuh, ibu suri enggan menggunakan tangan orang lain.

Kalau saja dia mau menggunakan tenaga orang lain, dia tinggal mengeluarkan perintahnya dan bereslah sudah.

Malam ini tiba saatnya bagi Hong thayhou untuk menghabisi duri dalam mata yang satu ini.

sebetulnya dia belum sehat betul, tapi dia tidak bisa bersabar lebih lama, itulah sebabnya dia mendatangi kamar si thay-kam cilik dan membongkar jendelanya.

Sama sekali tidak terbayangkan oleh ibu suri bahwa di dalam kamar itu ada orang lainnya...

Tenaga dalam sudah dikerahkan pada lengan kanannya, setindak demi setindak thayhou berjalan mendekati tempat tidur.

Kepandaiannya tidak terpaut jauh dengan Hay kongkong, Dapat dibayangkan apabila serangannya mencapai sasaran!

Siau Po sendiri diam-diam sudah mempertajam pandangan matanya, Meskipun keadaan di dalam kamar remang-remang, namun dia bisa melihat gerak-gerik ibu suri.

Dia tidak berani mengadakan perlawanan juga tidak terpikir olehnya untuk melarikan diri, Mungkin karena dia merasa sia-sia.

Dia hanya menggeser tubuhnya agar tertutup oleh kasur.

Tapi karena tubuhnya bergerak, otomatis tubuh si kuncu cilik ikut tergeser juga.

Thayhou segera melancarkan serangan.

Dia tidak ingin kepalang tanggung dalam turun tangan Namun Siau Po tidak terhajar telak, Hanya ada sedikit nyeri yang dirasakannya, Tubuhnya pun sudah bergeser dari tengah-tengah tempat tidur.

Thaybpu masih belum puas, Dia tidak mendengar suara apa pun dan juga tidak bisa melihat keadaan musuhnya, Dia segera melancarkan serangan untuk kedua kalinya.

Tepat ketika dia meluncurkan tangannya, di saat itu juga Hong thayhou mengeluarkan seruan terkejut namun perlahan Dalam waktu yang bersamaan dia merasa sakit juga heran.

Tinjunya seakan mengenai benda yang tajam.

Sambil menjerit dia mencelat ke belakang!

Tepat pada saat itu juga, di luar kamar terdengar suara teriakan-teriakan gaduh.

"Ada pembunuh gelap! Ada pembunuh gelap!"

Hati thayhou benar-benar tercekat "Mengapa ada orang yang tahu perbuatanku?"

Tanyanya dalam hati.

Dengan gesit dia melompat keluar lewat jendela.

Dia adalah seorang ibu suri, meski para bawahannya sendiri sekalipun, tidak boleh ada seorang pun yang memergokinya.

Dia kabur tanpa sempat mencari tahu apakah Siau Po masih hidup atau sudah mati.

Dia juga dibingungkan oleh rasa nyeri di tangannya.

Tepat di saat ibu suri melompat keluar dan kakinya belum sempat menginjak lantai, tiba-tiba ada seseorang yang menyerangnya, Dia terkejut namun cukup waspada.

Matanya juga sempat melihat sehingga kedua belah tangannya segera menangkis datangnya serangan bokongan itu, Akibatnya penyerang itupun terhajar mundur.

Di saat thayhou masih kebingungan dari kejauhan terdengar orang berteriak.

"Pasukan pertama dan kedua melindungi Sri Baginda! Pasukan ketiga kanan lekas melindungi thayhou! Ingat, jangan sampai ada yang meninggalkan pos masing-masing!"

Menyusul itu, dari sebelah kanan di mana terdapat gunung-gunung buatan terdengar lagi teriakan.

"Awas! Di sini ada orang jahat! Dia ingin mencelakai Kui kong kong!"

Thayhou segera mengetahui bahwa teriakan teriakan itu merupakan suara dari para siwi atau pengawal istana, Dia tidak ingin dipergoki oleh mereka.

Lekas-lekas dia melompat ke taman untuk bersembunyi di antara pepohonan bunga.

Dia bingung sekali karena tangannya terasa sakit sekali Dari sana dia dapat menonton serombongan orang yang tengah bertempur sengit juga terdengar bentrokan senjata tajam yang nyaring dan bising.

"0h... Rupanya ada pemberontak yang menyerbu istana!"

Pikir Hong thayhou.

"Entah mereka ini antek-anteknya Hay kongkong atau Go Pay?"

Thayhou hanya menduga tentang kemungkinan salah satu di antara kedua orang tersebut.

Dari kejauhan masih terdengar suara-suara teriakan.

Kali ini diiringi munculnya sinar obor serta lentera di sana-sini yang semuanya mendekati arena pertempuran.

"Ah! Kalau aku tidak cepat-cepat kembali ke istanaku, pasti aku akan celaka,"

Pikir ibu suri kemudian Dia pun langsung berjalan dengan mengendap-endap lalu lari menuju kamarnya.

Baru beberapa tombak dia berlari, tiba-tiba ada sesosok bayangan yang menghadangnya.

Sambil membentak orang itu lantas melancarkan serangan.

"Pemberontak! Berani kau menyerbu istana?"

Thayhou menggeser tubuhnya, tangan kanannya bersikap menangkis sedangkan tangan kirinya menghantam ke pundak penyerangnya itu.

Si penyerang menghindarkan diri, Dia menggunakan sebatang senjata yang mirip dengan garpu raksasa, Dia balas menyerang kembali sehingga kali ini giliran Hong thayhou yang harus mengelakkan diri.

Dengan demikian terjadilah pertempuran yang sengit di antara mereka berdua.

Thayhou bingung juga jengkel Siwi yang satu ini lihay sekali, ia sanggup melayani ibu suri sebanyak dua puluh jurus lebih, Malah dia sempat membentak.

"Oh! Kiranya pemberontak perempuan! Bagaimana kau begitu berani mati menyerbu ke dalam istana?"

Thayhou sadar, untuk merobohkan siwi itu setidaknya dia memerlukan tiga puluhan jurus lagi, sedangkan dia tidak menginginkan hal itu terjadi, karena penundaan waktu merupakan bencana baginya.

Bagaimana kalau para siwi yang lainnya sempat berdatangan?

Celakalah kalau dia sampai terkurung.

Rahasianya pasti akan terbongkar.

Pada saat itu dia melihat kurungan ke arah dirinya semakin merapat.

"Hei, budak celaka"

Akhirnya dia memutuskan untuk membuka suara.

Dia sadar bahwa dia tidak dapat melayani siwi itu bertempur lebih lama lagi, Dia juga sengaja tidak merubah suaranya.

Bukan main terkejutnya hati si pengawal Dia membatalkan penyerangannya sambil mencelat ke belakang sejauh dua tindak.

"Apa katamu?"

Tanyanya bimbang, Dia merasa kenal dengan suara itu, tapi dalam keadaan gelap dia tidak dapat melihat dengan jelas.

"Aku ibu suri!"

Bentaknya sambil melancarkan serangan dengan menggunakan kesempatan ketika si pengawal sedang tertegun, Orang itu pun segera terjengkang roboh dengan nyawa melayang.

Demi keselamatan dirinya sendiri, thayhou terpaksa menurunkan tangan kejam, Setelah itu, di langsung melarikan diri ke kamarnya.

Sementara itu, Siau Po masih merasa terkejut karena hajaran thayhou tadi membawa rasa sakit tapi kesadarannya masih utuh dan untung saja dia ingat untuk membela dirinya sendiri.

Menjelang saat-saat genting, dia mengeluarkan pisau belati dan kemudian mengangsurkan pisau tersebut ke atas menembus kasur.

Sungguh kebetulan, tepat pada saat itu tinjunya ibu suri datang menyambut pisau tersebut.

Karena itulah Hong thayhou sampai terkejut kesakitan dan langsung lari pergi.

Apalagi dalam waktu yang bersamaan terdengar suara-suara teriakan yang gaduh, sedangkan pisau Siau Po sempat menembus telapak tangannya dari sisi yang satu ke sisi yang lainnya.

Kepergian Hong thayhou menguntungkan Siau Po, kalau tidak, dia tentu akan terus terancam bahaya, Cepat-cepat dia menyingkap kasur dan seIimutnya.

sekarang dia juga dapat mendengar dengan jelas suara berisik di luar.

Namun dia masih belum mengerti apa yang telah terjadi.

"Celaka, thayhou pasti mengirim orang untuk menangkapku!"

Hal inilah yang pertama-tama teringat olehnya.

"Cepat kita lari!"

Katanya kepada si kuncu cilik. Tapi nona itu malah menangis.

"Aduh! Aduh!"

Keluhnya.

Rupanya pukulan Hong thayhou yang mengenai pinggang Siau Po sempat menyerempet si kuncu cilik, Dia merasa sakit sekali, namun saking takutnya sejak tadi dia diam saja.

Setelah mendengar kata-kata Siau Po, dia baru berani mengeluarkan suara.

"Kenapa kau?"

Tanya Siau Po terkejut sekaligus heran, Dia menarik leher baju nona cilik itu untuk membangunkannya.

"Mari kita lari secepatnya! Cepat!" Tubuh kuncu itu tertarik bangun, tapi sebelum sempat menginjak lantai, dia terjatuh kembali sehingga kembali dia merintih kesakitan Pahanya terasa nyeri sekali Dia tidak sanggup berdiri.

"Pahaku sakit!"

Katanya kemudian "Tulang pahaku mungkin patah."

Siau Po menjadi kebingungan "Setan alas! Celaka!"

Serunya sambil mendamprat "Kenapa tulangmu justru patah pada saat seperti ini? Aih! PerduIi amat! Yang penting aku harus menyingkir dari sini!"

Katanya dalam hati.

Dia melompat ke jendela untuk mengintai keluar Dia bermaksud kabur lewat jendela itu.

Namun pada saat itulah Siau Po sempat melihat ibu suri merobohkan seorang penghadang yang dikenalinya sebagai salah seorang pengawal istana, karena baju seragamnya terlihat jelas, Dia menjadi heran.

"Ah! Kenapa thayhou membunuh pengawalnya sendiri?"

Pikirnya diam-diam.

Dia juga melihat thayhou bersembunyi di dalam taman.

Setelah itu, Siau Po juga melihat serombongan orang sedang bertempur dengan sengit tidak jauh dari tempat persembunyian Hong thayhou, Disusul dengan suara teriakan di sana-sini, bocah yang cerdik ini langsung dapat menduga bahwa istana telah kedatangan penyerbu.

"Tangkap pembunuh gelap! Tangkap pembunuh gelap!"

Demikian suara teriakan yang terdengar olehnya.

Mendengar suara-suara itu, hati Siau Po menjadi lega seketika.

Jadi, bukan dia yang hendak ditangkap, hanya para siwi yang sedang bertempur melawan pemberontak yang datang menyerbu.

Ketika itu Siau Po sempat juga melihat Hong thayhou merobohkan seorang siwi lainnya, Dia melihat pertempuran itu berjalan seru, Setelah si pengawal roboh, thayhou lari kembali, kemudian menghilang di balik kegelapan.

"Para siwi bukan hendak menangkap aku, Mungkinkah mereka mendapat titah Sri Baginda untuk meringkus thayhou?"

Pikirnya kemudian.

"Kalau begitu, aku tidak perlu pergi dulu!"

Dia segera menolehkan kepalanya melihat si kuncu, Nona itu duduk di lantai sembari merintih perlahan Dia berjalan mendekati Sekarang hatinya sudah Iega, tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkannya.

"Bagaimana? Apakah kau merasa sakit sekali? jangan membuka suara! Di luar ada orang yang menawanmu!"

Kuncu itu takut sekali sehingga dia terus menghentikan rintihannya, Tiba-tiba dari luar kamar terdengar suara seruan seseorang.

"Giginya si anjing kaki hitam ini lihay sekali, sebaiknya kita bergegas mendaki gunung Cong san!"

Mendengar suara itu, Si kuncu terperanjat.

"Ah! itulah orang-orang kami!"

Serunya perlahan "Apa? orang-orang kalian?"

Tanya Siau Po he-ran.

"Pagaimana kau bisa tahu?"

"Kata-kata rahasia yang mereka ucapkan adalah kata sandi keluarga Bhok kami,"

Sahut si nona, Cepat! Cepat! Aku ingin melihat mereka!"

"Apakah kedatangan mereka kemari memang untuk menoIongmu?"

Tanya Siau Po kembali.

"Aku tidak tahu, Apakah ini istana raja?"

Si nona malah balik bertanya. Siau Po tidak menjawab, Diam-diam dia berpikir.

"Kalau rombongan penyerbu itu mengetahui kuncu mereka berada di sini, mungkin mereka akan menyerbu ke kamarku ini. Mana mungkin dengan seorang diri aku melawan mereka yang jumlahnya begitu banyak?"

Karena itu dia mengulurkan tangannya membekap mulut si nona sembari berkata.

"Kau jangan bicara duIu, Kalau sampai ada orang yang mendengarnya, pasti ada orang lain lagi yang datang ke sini untuk menghajar kakimu yang sebelah lagi, Aku tidak sampai hati melihatnya!"

Tiba-tiba terdengar suara teriakan di luar, disusul dengan suara jeritan dan seseorang pun berseru.

"Dua orang pembunuh gelap telah terbunuh!"

Ada lagi seruan yang lainnya.

"Sisa kawanan penyerbu melarikan diri ke arah timur! Lekas kejar!"

Segera terdengar suara langkah kaki yang ramai berlari serabutan, Suara itu semakin lama semakin jauh.

"Orang-orangmu sudah kabur..."

Kata Siau Po yang kemudian melepaskan bekapan tangannya pada mulut si nona.

"Mereka bukan kabur,"

Sahut si kuncu.

"Tadi mereka mengatakan akan mendaki gunung Cong San, itu artinya mereka hendak mundur untuk sementara waktu."

"Lalu apa yang dimaksud dengan anjing kaki hitam?"

Tanya Siau Po.

"Anjing kaki hitam itu adalah para pengawal Raja."

Dari kejauhan masih terdengar sayup-sayup suara perintah-perintah.

Siau Po menduga pastilah para penyerbu itu masih terus diserang atau mungkin sedang dikepung.

Tepat pada saat itulah, terdengar suara rintihan lemah dari luar pintu, Suara seorang perempuan.

"Masih ada pembunuh gelap yang belum sempat kabur,"

Kata Siau Po.

"Biar aku keluar untuk membacoknya dua kali lagi,"

Siau Po dapat menduga bahwa orang yang ada di luar pintu kamarnya pasti rombongan penyerbu, karena para siwi di istana itu terdiri dari kaum pria.

"Jangan! jangan kau membunuhnya! Mungkin dia salah satu dari anggota keluargaku!"

Cegah si kuncu.

Dengan berpegangan pada lengan Siau Po, si kuncu berusaha berdiri Dia bertumpu pada bahu bocah cilik itu.

Tanpa menghiraukan pahanya yang sakit, dia melompatlompat dengan kaki kirinya menuju jendela kemudian melongok keluar.

"Apakah langit selatan dan bumi utara?"

Tanyanya. Siau Po segera membekap mulut gadis cilik itu sehingga suaranya jadi tertahan. Dari luar jendela terdengar sahutan seorang perempuan.

"Sebawahannya Kong Ciak-Beng ong, Apakah Siau kuncu di sana?"

"Perempuan ini berhasil menemukan tuan putrinya, ini berbahaya sekali,"

Pikir Siau Po.

Dia segera mengangkat pisaunya untuk menimpuk kepala perempuan itu.

Tapi tibatiba tangannya yang membekap mulut si kuncu terlepas karena lengan nya terasa nyeri.

Rupanya si kuncu sudah berhasil mencek lengan kanannya itu sehingga seluruh tubuhny kesemutan dan tenaganya lenyap.

"Apakah suci di sana?"

Tanya kuncu tersebu pada perempuan yang ada di Iuar.

"Benar,"

Sahut perempuan itu dengan nada keheranan.

"Kenapa kau ada di sini?"

Belum lagi si kuncu menjawab, Siau Po sudah mendamprat perempuan itu terlebih dahulu.

"Setan alas! Kau sendiri kenapa kau ada di situ?"

"Jangan... kau maki dia!"

Kata si kuncu kepada Siau Po cepat.

"Dia adalah suci-ku (kakak seperguruan) Suci... kau terluka, bukan? Eh... eh, lekas cari akal untuk menolongnya! Kakak seperguruanku yang satu ini paling baik terhadapku!"

Kata si kuncu panik. Kali ini giliran Siau Po yang tidak sempat memberikan sahutan, sebab perempuan itu sudah menukas.

"Aku tidak sudi ditolong olehnya, Lagipula, belum tentu dia mempunyai kesanggupan untuk memberikan pertolongan!"

Siau Po meronta dari cekalan si kuncu.

"Perempuan bau!"

Dampratnya.

"Aku tidak sanggup memberikan pertolongan? Hm! Kau budak perempuan yang ilmu silatnya dari golongan kelas sembilan? Asal aku mengeluarkan sebuah telunjukku saja, aku bisa menolong orang sebangsamu sebanyak dua atau tiga puluh orang, mungkin malah lebih!"

Pada saat itu dari kejauhan masih terdengar suara teriakan-teriakan. Tangkap pembunuh gelap! Tangkap pembunuh gelap!"

Kuncu cilik mendengar suara-suara itu, dia menjadi bingung sekali.

"Cepat kau tolongi suci-ku itu. Aku akan memanggilmu tiga kali "

Kakak yang baik, kakak yang baik,., kakak yang baik.,.!"

Sebetulnya Siau kuncu atau si kuncu cilik tidak suka memanggil Siau Po dengan sebutan itu.

Tapi sekarang keadaan sedang gawat-gawatnya dan dia berusaha membaiki hati Siau Po agar mau menolong kakak seperguruannya.

Siau Po tertawa terbahak-bahak, Dia merasa puas dan gembira sekali.

"Oh, adikku yang baik,"

Katanya.

"Adikku, apakah yang kau ingin kakakmu ini lakukan?"

Wajahnya si kuncu jadi merah padam, Dia merasa jengah sekali. "Aku minta agar kau mau menolong kakak seperguruanku itu..."

Sahutnya dengan terpaksa. Dari luar jendela, terdengar si perempuan menukas.

"Siau kuncu, jangan minta pertolongannya! Bocah itu belum tentu dapat menolong dirinya sendiri dalam marabahaya!"

"Hm!"

Siau Po mendengus dingin.

"Justru karena memandang muka adikmu, aku baru berniat menolongmu Adikku, apa yang telah kita ucapkan, tidak boleh kita ingkar. Kau meminta aku menolong dia, baik! Aku akan menolongnya. Tapi kau sendiri, jangan kau ingkari janjimu. Untuk selama lamanya kau harus memanggil aku kakak yang baik!"

"Apa pun aku bisa memanggilmu Aku bisa memanggilmu paman yang baik, kongkong yang baik!"

Sahut si nona. Siau Po tertawa lagi.

"Cukup kau memanggilku kakak yang baik!"

Katanya.

"Orang yang memanggilku kongkong, sudah kelewat banyak!"

"Ya, ya!"

Sahut si nona.

"Baik! Untuk selama-lamanya aku memanggil kau..."

"Kau apa?"

Goda Siau Po.

"Ka... kak yang baik.,."

Kata si kuncu sambil mendorong tubuh Siau Po sehingga bocah itu terpaksa melompat keluar jendela.

Seorang perempuan dengan pakaian serba hitam sedang meringkuk di bawah jendela, Kepada nona itu, Siau Po berkata.

"Para siwi di istana ini sebentar lagi akan berdatangan Mereka akan meringkusmu kemudian mencincang tubuhmu sampai hancur untuk dijadikan bakso dan dimasukkan ke dalam air mendidih! Eh, mungkin juga kau akan dijadikan bakpao!"

"Masa bodoh!"

Bentak perempuan itu.

"Pasti akan datang orang yang membalaskan sakit hati ku!"

"Dasar budak bau! Mulutmu pintar sekali bicara, ya? Bagaimana kalau para siwi itu tidak langsung membunuhmu? Bagaimana kalau mereka membuka dulu seluruh pakaianmu sehingga kau telanjang bulat kemudian mereka semua akan,., akan.,, mengambil kau sebagai istri mereka?"

Sembari berkata, Siau Po membungkukkan tubuhnya untuk membopong nona itu, Si nona terkejut setengah mati, Tanpa sadar tangannya melayang untuk menampar pipi bocah tanggung itu.

Untungnya nona itu sudah kehabisan tenaga sehingga Siau Po seperti merasa pipinya sedang dieIus.

Karena itu dia tertawa lebar dan berkata.

"Aih! Kau sungguh keterlaluan! Belum lagi menjadi istriku sudah hendak menampar!"

Tanpa menunggu jawaban, dia langsung membawa si nona dan melompat ke dalam kamar, Si kuncu cilik gembira bukan main.

Dia menyambut kakak seperguruannya itu kemudian meletakkannya di atas tempat tidur.

Tepat pada saat itu dari luar pintu terdengar suara yang perlahan sekali "Kui...

kong...

kong, pe...

perempuan i...

tu tidak dapat ditolong.

Dia a...

dalah rombongan...

pe...

njahat yang ta...

di menyer...

bu is...

tana!"

Siau Po terkejut setengah mati.

"ltu suara siwi yang dihajar oleh thayhou tadi. Rupanya dia tidak mati!"

Pikirnya dalam hati.

"Siapa kau?"

Tanyanya untuk meyakinkan dirinya sendiri.

"Aku... adalah salah seorang pengawal dalam istana,"

Sahut orang itu. Siau Po sudah mendapat kepastian dari keterangan orang itu, Dia juga menduga bahwa siwi itu pastinya sedang terluka parah. pikirannya bekerja dengan cepat.

"Kalau aku menyerahkan perempuan berpakaian hitam ini kepadanya tentunya perbuatanku ini merupakan sebuah jasa besar Tapi bagaimana dengan Siau kuncu? Apabita rahasia si nona cilik ini bocor, celakalah aku!"

"Apakah kau terluka?"

Tanyanya sembari melompat keluar lewat jendela.

"Da... daku..."

Sahut pengawal itu.

"Coba aku lihat!"

Tukas Siau Po sambil maju mendekati orang itu, Dia bukan memeriksa luka siwi itu, malah ia menikam dada pengawal itu.

Hanya satu kali orang itu sempat mengeluarkan seruan tertahan, kemudian nyawanya pun putus.

"Maaf, aku terpaksa melakukannya demi menjaga keselamatan diriku sendiri,"

Kata si bocah dalam hatinya.

Setelah itu, dia masih melihat-lihat keadaan di sekitar kamarnya kalau-kalau masih ada siwi lainnya yang melihat apa yang dilakukannya..Ia menemukan lima sosok mayat Tiga di antaranya adalah para siwi istana tersebut, sedangkan dua lainnya tidak dikenalinya, pasti orang-orang dari pihak pemberontak yang menyerbu.

Siau Po segera memondong seorang pengawal kemudian meletakkannya di bawah kusen jendela, Kepalanya dibiarkan terkulai di bagian dalam, Punggung siwi itu ditikamnya beberapa kali agar terdapat bekas luka.

Kuncu terkejut sekali.

"Dia... adalah orang onghu kami!"

Katanya marah.

"Mengapa orang yang sudah mati kau tikam lagi dengan pisau?"

"Kau tahu apa! Dengan cara ini aku justru menolong kakak seperguruanmu yang bau itu!"

Sahut Siau Po.

"Kaulah yang bau!"

Si nona yang terbaring dalam keadaan terluka balas memaki. Dia tidak senang dikatakan bau oleh Siau Po. Si bocah nakal tertawa lebar.

"Kau kan tidak pernah mencium aku?"

Tanyanya.

"Bagaimana kau bisa tahu kalau aku bau?"

"Karena di kamar ini ada bau busuk!"

Kata si nona kembali. Kembali bocah yang nakal dan banyak akal ini tertawa.

"Sebenarnya kamarku ini baunya harum,"

Katanya.

"Setelah kau masuk kemari, barulah timbul bau tidak sedap ini!"

"Hai,"

Si kuncu menghadang di tengah.

"Kalian berdua toh belum saling mengenal? Kenapa datang-datang kalian bertengkar? Ayo, berhenti! jangan mengadu mulut lagi! Suci, kenapa kau bisa datang kemari?"

Tanya kuncu kepada kakak seperguruannya.

"Apakah kalian ingin menolong aku?"

"Kami sama sekali tidak tahu kau berada di sini,"

Sahut nona itu.

"Kami tidak berhasil menemukanmu. Kami sudah mencari kemana-mana. Karena itulah kami mempunyai dugaan kemungkinan bahwa kau sudah ditawan oleh bangsa Tatcu!"

Nona itu hanya sanggup mengucapkan beberapa patah kata itu saja lalu berdiam diri karena kehabisan tenaga. Siau Po segera berkata.

"Kalau kau sudah kehabisan tenaga dan tidak sanggup bicara lagi, jangan paksakan dirimu untuk berbicara!"

"Aku justru mau bicara,"

Teriak si nona memaksakan diri.

"Kau mau apa?"

"Kalau kau memang sanggup, bicaralah terus,"

Kata Siau Po sambil tersenyum datar.

"Lihat orang lain, nona bangsawan, luwes, lemah lembut, beda bagai bumi dan langit dengan kau perempuan galak, cerewet!"

"Tidak!"

Tukas si kuncu cepat "Kau belum kenal suci-ku ini. sebenarnya dia baik sekali jangan kau sindir dia terus, pasti dia tidak akan marah, Suci, bagian mana yang terluka? Parahkah?"

"Dasar ilmu silatnya yang masih cetek,"

Kata Siau Po ikut bicara.

"Tidak tahu diri! Berani-beraninya datang menyatroni istana ini. Sudah pasti dikalahkan dan terluka parah, Tampaknya dia malah tidak akan hidup lebih lama lagi, Tidak sampai besok pagi, mungkin dia sudah berpulang ke alam baka!"

"Tidak! Tidak mungkin!"

Tukas kuncu kembali.

"Ka... kak ya,., ng baik, carilah akal untuk menolong suciku!"

Si nona yang menjadi kakak seperguruannya Siau kuncu itu justru kesal sekali. Kegusarannya seakan hampir meledak dalam dadanya.

"Biarkan saja aku mati! Tidak sudi aku ditolong olehnya!"

Katanya ngotot "Siau kuncu, binatang kecil ini mulutnya jahat sekali, Mengapa kau malah memanggiI... nya dengan sebutan itu tadi?"

"Memangnya Siau kuncu memanggil apa padaku?"

Tanya Siau Po yang semakin senang menggoda nona itu. Nona itu tidak mau mengulangi panggilan Siau kuncu, dia sengaja berkata dengan sengit.

"Dia memanggilmu si kunyuk kecil!"

"Bagus! Bagus! Aku memang si kunyuk kecil, Tapi aku ini kunyuk laki-Iaki, sedangkan kaulah kunyuk betinanya!"

Dalam hal bersilat lidah, Siau Po memang ahlinya.

Sejak kecil dia sudah terlatih dalam pergaulannya sehari-hari, baik di rumah pelesiran maupun dengan segala bujang dan kuli setempat.

Mendengar orang bicara sekasar itu, si nona tidak sudi melayaninya lagi, Dia mengatur nafasnya yang masih memburu karena tadi tidak sanggup mengendalikan emosi dalam hatinya, Lagipula dia menahan rasa sakitnya yang terasa berdenyutan.

Setelah si nona berdiam diri, Siau Po mengangkat lilin lalu menghampirinya.

"Mari kita periksa lukanya,"

Katanya kepada Siau kuncu.

"Di bagian mana dia terluka?"

"Jangan periksa lukaku! jangan periksa Iuka-ku!"

Teriak si nona yang merasa kesal juga malu.

"Hus! jangan berteriak-teriak!"

Bentak Siau Po.

"Apa kau memang ingin suaramu terdengar kemudian diringkus untuk dijadikan istri sekalian para siwi?"

Dia tetap membawa lilinnya dan mendekati nona yang terluka itu, Lalu dia menyalakannya.

Wajah nona itu penuh dengan noda darah.

kemungkinan usianya sekitar tujuh atau delapan belas tahun.

wajahnya berbentuk kuaci, Meskipun wajahnya kotor oleh darah, tapi kecantikannya masih kentara jelas.

Diam-diam Siau Po mengagumi keelokan paras si nona.

"Oh, rupanya nona bau ini seorang gadis yang cantik sekali!"

Katanya.

"Jangan menyindir ciciku, dia memang sangat cantik!"

Tukas Siau kuncu.

"Kalau begitu,"

Kata Siau Po dengan suara sungguh-sungguh.

"Biar bagaimana aku harus mengambilnya sebagai istri!"

Nona itu terkejut setengah mati, Dia berusaha untuk bangun, Tangannya bergerak dengan maksud menghajar mulut si bocah yang ceriwis, Tapi terdengar mulutnya mengeluarkan seruan "Aduh!"

Karena tubuhnya langsung terguling jatuh dari atas tempat tidur Lukanya yang cukup parah membuat dia tidak sanggup mengendalikan gerakan tubuhnya.

Melihat gadis itu jatuh terguling, Siau Po tidak membantunya bangun tapi malah menertawakannya.

"Jangan terburu nafsu!"

Katanya, Semakin senang hatinya menggoda gadis itu.

"Kau harus dapat bersabar! Kita belum lagi menjalankan upacara pernikahan, mana mungkin langsung menjadi suami istri? Oh! Lukamu mengeluarkan darah lagi, Lihat, kau mengotori tempat tidurku!"

Darah memang masih mengalir dari luka si nona, Hal ini menandakan bahwa lukanya memang tidak ringan.

Tepat pada saat itu terdengar suara langkah kaki dari orang banyak yang mendatangi dengan tergesa-gesa, Kemudian terdengar suara seruan yang mengandung kepanikan.

"Kui kongkong, Kui kongkong! Apakah kau baik-baik saja?"

Ketika itu para siwi sudah berhasil mengusir penyerbu.

Mereka segera melindungi Sri Baginda dan Ibusuri serta para selir Raja, juga thay-kam dari tingkat atas, Karena Siau Po adalah thay-kam kesayangan Raja, maka dia juga butuh perlindungan itulah sebabnya belasan siwi langsung mendatanginya untuk menjaga keselamatannya.

Sebelum menjawab pertanyaan para siwi itu, Siau Po berkata terlebih dahulu kepada Siau kuncu.

"Kuncu, naiklah ke atas tempat tidur."

Dia langsung mengangkat nona yang terluka itu kemudian menutupi mereka dengan selimut Setelah tu dia juga menurunkan kelambu lalu berkata dengan suara lantang.

"Kalian cepat masuk. Di sini ada orang jahat!"

Nona yang terluka kaget sekali, Dia ingin ber-gerak, tapi tenaganya sudah lemah sekali, Si kuncu ikut khawatir Dia segera berkata kepada Siau Po.

"Jangan bersuara! Nanti ciciku akan kepergok dan tertawan!"

Siau Po tertawa.

"Dia toh tidak sudi menjadi istriku, Mengapa aku harus berbuat kebaikan kepadanya?"

Pada saat itu, belasan siwi sudah sampai di luar jendela.

"Di sini ada orang jahat!"

Salah satu di antaranya berseru, Rupanya tadi dia yang mendengar suara si thay-kam cilik. Siau Po mengeluarkan suara tertawa.

"Kalian tidak perlu khawatir, atau pun bingung, Barusan memang ada penjahat yang datang kemari, namun aku sudah berhasil merobohkannya!"

Ia menunjuk kepada mayat penyerbu yang sengaja dicantolkannya pada kusen jendela, Darah mayat itu sampai berceceran mengotori jendela dan lantai kamarnya.

"Aih! Kongkong pasti terkejut sekali!"

Kata beberapa siwi.

"Tidak! Kui kongkong tidak akan terkejut,"

Sahut seorang siwi lainnya.

"llmu silat Kui kongkong tinggi sekali, Dengan sekali gerakan saja, dia berhasil merobohkan seorang penyerbu, Kalau saja tadi ada beberapa orang jahat yang menyatroninya, mereka pasti akan mati juga!"

"lya, kongkong memang lihay!"

Kata beberapa lainnya lagi memuji, Mereka ingin mengambil muka si thay-kam gadungan itu.

"Jasa kongkong besar sekali !"

"Aih, tidak dapat dikatakan jasa,"

Kata Siau Po sambil tertawa.

"Sebenarnya penjahat itu sampai di kamarku memang dalam keadaan sudah terluka, sehingga dengan mudah aku dapat menghabisinya!"

"Sie loliok dan Him loji gugur dalam melaksanakan tugas.,."

Kata seorang siwi yang menarik nafas panjang pertanda menyesalkan kejadian itu.

"Kawanan pemberontak yang menyerbu itu benar-benar lihay sekali!"

"Sekarang, silahkan kalian mengundurkan diri,"

Kata Siau Po.

"Pergilah kalian melindungi Sri Baginda, Aku di sini sudah tidak ada urusan apa-apa!"

"Sekarang tempat Sri Baginda sudah dijaga oleh dua ratus lebih pengawal,"

Kata seorang siwi Iainnya.

"Kawanan penyerbu itu sudah kabur dengan meninggalkan teman-temannya yang mati maupun terluka, Seluruh istana sudah aman kembali."

"Bagus!"

Puji Siau Po.

"Mengenai para siwi yang sudah mengorbankan diri itu sebaiknya kalian memohon pada Sri Baginda untuk mengubur dan memberi hadiah kepada keluarga yang ditinggalkan. Kalian juga sudah mengeluarkan jasa, tidak mungkin Sri Baginda melupakan kalian."

Rombongan siwi itu senang sekali Tidak lupa mereka mengucapkan terima kasih. Melihat sikap para siwi itu, Siau Po berkata dalam hatinya.

"Peduli amat! Toh, bukan aku yang mengeluarkan uang untuk hadiah kalian, Tidak ada ruginya bagiku berbuat kebaikan ini!"

Karena itu dia berkata lagi.

"Tuan-tuan sekalian, aku sudah lupa nama besar kalian, Tolong disebutkan sekali lagi semuanya agar aku bisa melaporkan apabila Sri Baginda menanyakan siapa saja yang berjasa malam ini."

Para siwi itu senang sekali, Cepat-cepat mereka menyebutkan nama masing-masing dan Siau Po mengulanginya beberapa kali sampai hapal betul.

"Sekarang kalian meronda lagi, Siapa tahu masih ada orang jahat yang bersembunyi di tempat-tempat gelap atau di antara pohon-pohon yang rimbun, Andaikata berhasil meringkus penjahat, yang laki-laki harus dirangket dengan rotan dan yang perempuan harus ditelanjangi dan diperlakukan seperti istri kalian sendiri!"

Mendengar kata-katanya, para siwi tertawa geli.

"lya! Iya!"

Jawab mereka serentak, Mereka merasa thay-kam cilik itu benar-benar lucu dan suka bergurau.

"Sekarang, tolong kalian singkirkan mayat ini,"

Pinta Siau Po kemudian.

"Baik,"

Sahut para siwi itu yang terus berebutan mengangkat mayat itu.

Lalu mereka pun memohon diri untuk mengundurkan diri.

Siau Po mengawasi kepergian mereka dan menutup pintu kamarnya kembali Setelah itu dia menghampiri tempat tidur serta menyingkapkan kelambunya.

"Kau benar-benar biang iseng!"

Kata Siau kun-cu.

"Kau benar-benar membuat kami terkejut!" . Tapi ketika dia menoleh kepada kakak seperguruannya, gadis cilik itu terkejut setengah mati, Tanpa dapat menahan diri lagi dia mengeluarkan seruan tertahan, wajah nona itu pucat pasi, napasnya juga lemah sekali.

"Bagian manakah yang terluka?"

Tanya Siau Po.

"Dia harus cepat ditolong supaya darahnya berhenti mengucur."

"Kau... menyingkirlah jauh-jauh..."

Kata si nona yang sedang terluka itu.

"Kuncu, a... ku terluka di... Sebenarnya Siau Po masih ingin menggoda, tetapi ketika melihat darah nona itu mengucur semakin banyak, dia membatalkan niatnya, Dia khawatir nona itu akan mati karena lukanya yang terlalu parah, tapi di mulutnya dia malah berkata.

"Baru darah yang mengalir, apa bagusnya sih dilihat? Eh, kuncu, apakah kau mempunyai obat luka?"

"Aku tidak punya,"

Sahut si kuncu cilik.

"ltu si perempuan bau, dia membawa obat luka atau tidak?"

Tanya Siau Po kembali.

"Tidak!"

Sahut si nona yang sedang terluka.

"Dan kaulah yang bau!"

Si kuncu cilik tidak berdiam diri. Dia segera merobek baju dalamnya nona yang sedang terluka itu. Tiba-tiba dia terkejut dan berseru.

"Aduh! Bagaimana ini?" Mendengar seruan si kuncu, Siau Po segera menolehkan kepalanya, ia melihat dua liang kecil tanda luka di dada gadis itu, Luka itu masih mengucurkan darah. Kuncu kebingungan sampai menangis.

"Kau.... Lekas tolongi kakakku ini... Cepat!"

Katanya panik. Tapi si nona yang terluka itu justru merasa jengah dan berusaha bangkit untuk duduk di atas tempat tidur.

"Jangan! jangan biarkan dia melihat aku!"

Katanya bingung dan malu.

"Fuh!"

Siau Po membuang ludah.

"Aku juga tidak sudi melihatnya!"

Meskipun demikian, bocah cilik itu tetap menoleh ke kiri dan ke kanan untuk mencari kapas atau barang lainnya yang dapat digunakan untuk menyumbat luka yang berdarah itu, Dia melihat Bit-hu, bahan pelekat dari madu.

"Nah, itu obat menghentikan darah yang manjur."

Katanya, Dia segera mengambil bahan perekat itu dan kemudian bekerja dengan gesit, Dioleskannya perekat itu di lubang luka, Ketika melihat buah dada gadis itu, timbul lagi rasa isengnya.

Dia sengaja menggeser tangannya dan meraba-raba susu si nona.

Bukan main malu dan gusarnya hati si nona itu.

"Kuncu, bunuh dia!"

Katanya kepada Siau kuncu dengan suara keras.

"Tapi, suci... dia sedang mengobatimu...."

Saking kesalnya, si nona tidak banyak bicara lagi, Dia hampir pingsan diperlakukan sedemikian rupa oleh Siau Po.

Sayang dia tidak dapat bergerak, kalau tidak, kemungkinan Siau Po benar-benar akan dibunuhnya.

"Lekas totok jalan darahnya!"

Kata Siau Po kemudian "Dia tidak boleh bergerak terus, nanti darahnya tidak akan berhenti mengalir dan jiwanya akan terancam bahaya!"

"lya!"

Sahut Siau kuncu yang langsung menotok kakak seperguruannya di bagian perut, iga dan pahanya beberapa kali.

"Suci, jangan sembarangan bergerak!"

Tidak lupa dia memesankan kepada kakak seperguruannya.

Sementara itu, Siau kuncu sendiri sampai meneteskan air mata karena baru sekarang dia merasakan bahwa lukanya sendiri menimbulkan rasa sakit, Dia terluka di bagian pahanya.

"Kau juga sebaiknya berbaring saja,"

Kata Siau Po yang terus menggantikannya memberikan pertolongan.

Ketika di Yang-ciu, Siau Po sering melihat orang memberikan pertolongan kepada orang lain yang terluka di bagian kakinya.

sekarang sebisanya dia mengikuti cara tersebut, Dia mencari dua helai papan kemudian dijepit dan diikatkan pada kaki si nona, setelah itu dia menjadi bingung sendiri.

"Kemana aku harus mencari obat?"

Tanyanya tidak kepada siapa pun. Sesaat kemudian, dia menemukan akal yang bagus.

"Kau berbaring saja di sini,"

Katanya kepada Siau kuncu, jangan sekali-sekali bersuara!"

Dia menurunkan kelambu dan kemudian berjalan menuju pintu.

"Kau mau kemana?"

Tanya Siau kuncu ketika si bocah membuka pintu.

"Aku akan mencari obat untuk mengobati kakimu!"

"Jangan lama-lama!"

Pesan si kuncu khawatir.

"Aku tahu!"

Sahut Siau Po.

Dia merasa puas, karena dari nada suara si nona, Siau Po yakin dia mempercayainya, Dia segera memalangkan pintunya kembali, Dia merasa tenang, sebab dia tahu, kecuali Sri Baginda atau ibu suri, tidak ada orang lain lagi yang berani sembarangan masuk ke kamarnya.

Baru berjalan beberapa langkah, Siau Po merasakan pinggangnya agak nyeri.

"lbu suri, si perempuan jalang itu sungguh kejam!"

Pikirnya dalam hati.

"Dia telah menghajar aku! Kalau begini, aku tidak bisa berdiam terlalu lama lagi di istana ini. Siang atau pun malam, nyawaku selalu terancam maut. Ya, aku harus pergi secepatnya !"

Thay-kam gadungan ini segera menuju tempat di mana terlihat cahaya api. Di sana beberapa siwi tengah meronda. Ketika melihat Siau Po, semuanya segera menghampiri untuk menyambutnya.

"Berapa jumlah siwi yang terluka?"

Tanyanya prihatin "Harap kongkong ketahui,"

Sahut salah seorang pengawal itu.

"Ada delapan orang yang luka parah dan lima belas orang yang luka ringan."

"Di mana mereka dirawat?"

Tanya Siau Po kembali.

"Tolong kalian antarkan aku menjenguknya."

"Terima kasih, kongkong. Kami sangat menghargai kebaikan kongkong,"

Kata siwi itu yang kemudian meminta dua orang kawannya mengantarkan Siau Po ke tempat di mana para pengawal istana itu sedang dirawat, Di sana tampak dua puluh orang lebih siwi yang sedang terluka dan ada empat orang thay-kam yang repot memberikan pertolongan.

Siau Po segera menghampiri dan menghibur semuanya dengan memuji keberanian mereka menghalau para penyerbu, Dia juga tidak lupa menanyakan nama para siwi itu untuk dilaporkan kepada Sri Baginda.

Puas hati para siwi tersebut mendapat perhatian begitu besar dari thay-kam kesayangan Sri Baginda, Hal ini bahkan membuat rasa nyeri yang mereka rasakan hilang sebagian besar.

"Apakah kalian tahu dari pihak mana kawanan pemberontak yang menyerbu itu?"

Tanya Siau Po.

"Mungkinkah mereka antek-anteknya Go Pay?"

"Entah mereka dari pihak mana? Tapi kami yakin mereka orang-orang bangsa Han..."

Sahut siwi yang ditanya dan dibenarkan oleh rekan-rekannya yang lain.

"Kami juga tidak tahu apakah ada di antara mereka yang tertangkap hidup-hidup atau tidak?"

Ketika pembicaraan berlangsung, Siau Po memperhatikan cara pengobatan yang dilakukan para thay-kam.

Mereka menggunakan obat buatan tabib istana, semuanya merupakan obat luka, ada obat luar dan ada juga obat dalam.

"Obat semacam itu harus kusediakan,"

Kata Siau Po.

"Kalau ada saudara siwi yang terluka dan tabib belum sempat datang, mereka dapat menggunakan obat persediaanku, Oh, kawanan penyerbu itu benar-benar ganas dan nyalinya besar sekali Malam ini mereka tidak dibasmi semuanya, mungkin lain kali mereka akan datang lagi!"

Beberapa siwi menganggukkan kepalanya.

"Kongkong baik sekali, kami bersyukur,"

Kata mereka.

"Kita harus saling prihatin,"

Kata Siau Po yang langsung memohon diri.

sebelumnya dia telah meminta tabib istana membungkuskan sejumlah obat, Dia juga menanyakan sampai jelas cara pemakaiannya.

Biarpun bocah ini tidak berpendidikan tapi pengalamannya banyak sekali akibat pergaulannya di rumah pelesiran dulu, Karena itu bahasanya juga kasar.

Untung saja para siwi itu juga bukan semuanya berasal dari orang-orang golongan atas, itulah sebabnya mereka tidak memperhatikannya.

Siau Po langsung pulang ke kamarnya, Sebelum masuk, dia memasang telinga dulu di depan jendela, Setelah mendapat kepastian kamarnya sunyi saja seperti semula, dia baru mengeluarkan suara dengan lirih sekali.

"Kuncu, aku pulang!"

Dia berkata demikian karena khawatir Siau kuncu mengira orang lain yang datang serta langsung mengirimkan serangan kepadanya.

"Oh!"

Terdengar suara si gadis cilik.

"Sudah cukup lama aku menunggumu!"

Siau Po menolakkan daun jendela dan lalu melompat ke dalam Setelah itu dia menyulut lilin dan menyingkapkan kelambu tempat tidurnya.

Kedua nona itu tampak berbaring berdampingan.

Gadis yang terluka itu sedang membuka matanya lebar-lebar, namun ketika dia melihat Siau Po, cepat-cepat dia memejamkan matanya, Mungkin dia masih jengah atau malu.

Lain dengan Siau kuncu, dia malah menatap si bocah cilik dengan matanya yang jeli dan indah, Sinar matanya menunjukkan hatinya terhibur dan senang dapat melihat Siau Po lagi.

"Kuncu, sini aku obati lukamu!"

Kata Siau Po.

"Tidak!"

Sahut Siau kuncu.

"Kau obati dulu kakak seperguruanku. Kesinikan obatnya, biar aku yang memakaikannya!"

"Kau selalu berbahasakan aku dan kau, apakah tidak ada sebutan lainnya yang lebih enak didengar ?"

Goda Siau Po. Siau kuncu tertawa, Rupanya dia merasa bocah ini lucu sekali.

"Siapa namamu yang sebenarnya? Aku selalu mendengar orang-orang memanggilmu Kui kong-kong!"

"Kui kongkong adalah panggilan orang lain,"

Sahut Siau Po.

"Kau sendiri, bagaimana kau memanggilku?"

Siau kuncu berdiam diri beberapa saat, Matanya dikedap-kedipkan.

"Di dalam hatiku.,."

Katanya kemudian "Aku... memanggilmu kakak yang... baik. Tetapi di mulut, terasa... aneh untuk menyebutkan... nya."

"Baik, baik! Kita atur begini saja,"

Kata Siau Po.

"Di depan orang lain, aku memanggilmu Siau kun cu, dan kau memanggilku Kui toako, Tetapi kalau hanya kita berdua yang ada, aku akan memanggilmu adik dan kau harus memanggilku kakak yang baik."

Belum lagi Siau kuncu sempat memberikan jawabannya, si nona yang sedang terluka sudah mencibirkan bibirnya sambil mengejek.

"Manis benar kedengarannya! Siau kuncu, jangan kau ladeni dia. Aku tahu dia sedang mengambil hatimu!"

"Hm!"

Siau Po mendengus dingin.

"Aku toh tidak suruh kau yang memanggil aku? Untuk apa kau usil? seandainya kau yang memanggil aku, tentu aku tidak sudi mendengarnya!"

Siau kuncu tertawa mendengar pertengkaran di antara kedua orang itu.

"Lalu, kau mau dia memanggil apa kepadamu?"

Tanyanya. Siau Po juga tertawa.

"Aku ingin dia memanggilku suami yang baik! Ya, suami yang terbaik!"

Sahutnya. Wajah si nona jadi merah padam mendengarnya.

"Kalau kau ingin menjadi suami orang, kau harus menjelma sekali lagi pada penghidupan mendatang"

Katanya sengit dan wajahnya memperlihatkan mimik mencemooh.

"Sudah, sudah!"

Siau kuncu segera menengahi.

"Kalian berdua kan bukan musuh bebuyutan? Kenapa baru bertemu sudah bertengkar terus? Kui toako, aku harap kau bersedia memberikan obatnya kepadaku!"

"Baik!"

Sahut Siau Po.

"Tapi biarkan aku mengobati lukamu terlebih dahulu!"

Dia segera menyingkap selimut yang menutupi tubuh kedua nona itu, Kemudian dia menggulung celana Siau kuncu dan memakaikan obat di kakinya yang terluka.

"Terima kasih!"

Kata Siau kuncu tanpa malu-malu, Nada suaranya juga mengandung ketulusan.

"Siapa nama istriku?"

Tanya Siau Po. Siau kuncu tertegun.

"lstrimu?"

Tanyanya bingung.

"lya, istriku!"

Kata Siau Po. Kepalanya menoleh kepada nona yang sedang terluka itu dengan bibir dimonyongkan. Siau kuncu tertawa, Dia mengerti kakak seperguruannya itulah yang dimaksudkan thay-kam cilik itu.

"Aih! Kau memang suka bercanda!"

Katanya.

"Kakak seperguruanku ini she Pui dan namanya...."

"Jangan beritahukan kepadanya!"

Tukas si nona yang terluka gugup.

Begitu mendengar nona itu she Pui, Siau Po segera teringat ketika mengadakan perjalanan di Kangsou utara, dia bertemu dengan dua orang anak muda, Seorang pria dan seorang wanita.

Mereka adalah orang-orang dari Bhok onghu.

Mereka juga yang membuat Mau Sip-pat segan serta menghajarnya setengah mati, Namun nona yang mereka lihat hari itu, sedikit lebih tua dari nona Pui.

"Oh, dia she Pui. Aku tahu! Di sana aku masih mempunyai seorang toa-ku dan toaie,"

Katanya kemudian. Toa-ku dan toa-ie adalah ipar laki-laki dan ipar perempuan.

"Aneh! Apa yang kau maksud dengan toa-ku dan toa-ie?"

Tanya Siau kuncu bingung.

"Dia mempunyai, seorang kakak laki-laki dan seorang kakak perempuan, bukan? Mereka itulah ipar-iparku!"

Sahut Siau Po seenaknya. Siau kuncu semakin heran.

"Oh, jadi di antara kalian masih ada hubungan keluarga?"

Tampaknya dia percaya saja dengan ocehan si thay-kam cilik.

"Siau kuncu, jangan layani dia bicara!"

Kata nona Pui.

"Bocah itu benar-benar busuk hatinya, Dia tidak ada hubungan keluarga denganku. Benar-benar sial kalau aku memilikinya!"

Siau Po tidak marah, Dia malah tertawa lebar Cepat dia menyerahkan obat pada Siau kuncu sambil berbisik di telinganya.

"Adikku yang baik, coba kau katakan siapakah nama belakangnya istriku itu?"

Jarak antara kedua gadis itu dekat sekali, Meskipun Siau Po berbicara dengan suara berbisik, tetapi nona Pui dapat mendengarnya dengan jelas, Karena itu dia segera berkata.

"Jangan beritahukan!"

Siau Po tertawa lagi.

"Tidak apa-apa kalau kau tidak mau memberitahukannya, Tapi aku ingin menciummu dulu satu kali, Pertama-tama, aku akan mencium pipi kirimu, lalu aku akan mencium pipi kananmu dan terakhir bibirmu.

Nah, sekarang kau katakan terus terang, kau lebih suka dicium atau memberitahukan namamu saja?"

Nona itu tidak bergerak, pikirannya bingung, Thay-kam cilik ini benar-benar iseng dan agak ceriwis.

Selain bingung, nona Pui juga kesal sekali, Untung saja Siau Po masih seorang bocah cilik dan tadi dia juga mendengar para siwi memanggilnya kongkong.

Siau Po seakan ingin membuktikan ancamannya.

Dia menggerakkan tubuhnya dan kepalanya dicondongkan ke depan seperti ingin mendekatkan bibirnya ke wajah nona itu.

Tentu saja nona Pui itu berdebaran jantungnya melihat perbuatan Siau Po.

"Baik, baik!"

Kata si nona Pui cepat dan gugup.

"Baik, setan cilik! Aku akan memberitahukan namaku!"

Siau kuncu tertawa "Seperti apa yang kukatakan barusan, Kakakku she Pui, sedangkan nama suci hanya satu huruf Ie, jadi namanya Pui ie."

Siau Po buta huruf, dia tidak tahu bagaimana tulisan nama itu, namun dia menganggukkan kepalanya juga.

"Ah.... Nama yang dipilih secara sembarangan, sama sekali tidak bagus!"

Katanya.

"Sekarang giliran kau, Siau kuncu, siapakah namamu?"

"Aku she Bhok, namaku Kiam Peng. Kiam artinya pedang, Peng artinya tirai,"

Sahut Siau kuncu.

"Namamu lebih bagus!"

Kata Siau Po kembali Tapi sayangnya bukan dari kelas satu!"

"Tentu namamu baru nama dari kelas satu, bukan?"

Sindir Pui Ie.

"Siapa she dan namamu? Sampai mana bagusnya?"

Ditanya sedemikian rupa, untuk sesaat Siau Po tertegun Dia sadar dirinya dijebak oleh ucapannya sendiri.

"Aku tidak boleh menyebutkan nama asli,"

Pikirnya dalam hati, Tapi Siau Kui cu bukan nama yang dapat dibanggakan! Biar bagaimana, dia harus menyebutkan sebuah nama, Akhirnya dia berkata.

"Aku she Go, karena aku seorang thay-kam, orang-orang memanggil aku Go laokong...."

"Go laokong.... Go laokong..."

Pui Ie mengulangi nama itu beberapa kali.

"Ah! Namamu itu...."

Mendadak kata-katanya terhenti, wajahnya menjadi merah padam, Sebab dia sadar bahwa yang disebut Siau Po bukan nama orang, Go laokong artinya mertuaku.

"Cis!"

Seru si nona kemudian.

"Kau hanya mengoceh sembarangan."

"Aih! Lagi-lagi kau menggoda orang!"

Kata Bhok Kiam Peng.

"Aku dengar orangorang memanggilmu Kui kongkong, kau bukan she Go!"

Siau Po tidak mau kalah.

"Kalau laki-laki, mereka memanggilku Kui kongkong, tapi kalau perempuan, dia memanggilku Go laokong."

"Aku tahu siapa namamu!"

Kata nona Pui Ie yang mulai banyak bicara, Hal ini karena dia merasa tidak mau kalah dan ingin membalas ejekan Siau Po. Siau Po agak terkejut mendengar kata-katanya.

"Kau tahu? Bagaimana kau bisa tahu?"

Tanyanya heran.

"Aku tahu namamu yang sebenarnya adalah Ho Pat-to!"

Kata nona itu. Siau Po tertawa terbahak-bahak, Nama yang disebut nona itu hanya sebuah sindiran yang artinya "Ngaco belo."

Setelah Siau Po tertawa terbahak-bahak, tiba-tiba saja tampak nafas Pui Ie memburu. Rupanya hati gadis itu mendongkol sekali dan sejak tadi dipendam, lagipula dia juga terlalu banyak bicara.

"Oh, adikku yang baik!"

Kata Siau Po kepada Kaim Peng.

"Cepat kau pakaikan obat yang kuberikan. jangan membiarkan dia mati karena aku! Aku Go laokong hanya mempunyai dia seorang istri. Kalau dia sampai mati, kemana lagi aku bisa mencari istri yang kedua?"

Kiam Peng tersenyum.

"Kakakku mengatakan kau senang mengoceh yang bukan-bukan, ucapannya memang tepat,"

Katanya, Dia segera menurunkan kelambu kemudian mengobati luka Pui Ie.

"Apakah darahnya sudah berhenti mengalir?"

Tanya Siau Po. "Sudah berhenti,"

Sahut Kiam Peng.

"Bagus! Memang obatku mujarab sekali, Bahkan melebihi obatnya Pou sat. sekarang baru kau percaya, Nanti, sesudah lukanya sembuh, dadanya tidak akan meninggalkan bekas cacat sedikit pun sehingga bunga dan rembulan pun merasa malu terhadapnya."

"Aih! Kau memang paling bisa!"

Kiam Peng tertawa mendengar ucapan si bocah yang lucu.

"Setelah lukanya tidak mengeluarkan darah lagi, kau pakaikan lagi obat luar,"

Kata Siau Po.

"lya,"

Sahut Kiam Peng. Tepat pada saat itu, dari luar terdengar suara panggilan "Kui kongkong! Kui kongkong! Apakah Kui kongkong sudah tidur?"

"Sudah?"

Sahut Siau Po namun ia bertanya juga.

"Siapa? Kalau ada urusan apa-apa, tunggu besok pagi saja!"

Orang di luar rnenjawab.

"Aku yang rendah Sui Tong!"

Nama itu membuat Siau Po terkejut "Oh, Sui congkoan! Entah ada keperluan apakah ?"

Tanyanya cepat.

Bagian 19 Rupanya Sui Tong itu adalah Hu congkoan, pemimpin muda dari Gi Cian siwi, pasukan pengawal pribadi Raja, Siau Po sering mendengar nama orang itu yang menurut para siwi ilmu silatnya tinggi sekali.

Hanya selama beberapa tahun belakangan ini, dia sering bertugas di luar istana, Karena itu Siau Po belum pernah bertemu dengannya.

"Aku yang rendah mempunyai urusan yang penting!"

Terdengar Sui Tong berkata kembali.

"Kui kongkong, harap maafkan, Aku yang rendah telah mengganggu ketenangan kongkong, Tapi aku yang rendah ada urusan yang penting hendak dibicarakan. Nyali Siau Po menjadi ciut. Diam-diam dia berpikir Tengah malam begini dia datang kemari, entah apa yang diinginkannya? Mungkinkah dia tahu kalau aku menyembunyikan kawanan pemberontak dan sekarang dia datang untuk memeriksa dan menggeledah kamarku? Bagaimana baiknya sekarang? Kalau aku tidak membukakan pintu, dia tentu akan memaksa masuk. sedangkan kedua perempuan bau yang sedang terluka ini tidak bisa melarikan diri, sebaiknya aku pandai-pandai melihat situasi. Kalau ditilik dari suara langkah kaki di luar pintu, tampaknya Sui Tong hanya seorang diri.

"Ah... mengapa aku tidak mencari kesempatan membokongnya saja? Memang tidak ada jalan lain kecuali membunuhnya!"

Pikirnya kemudian. Dari luar kamar kembali terdengar suara Sui Tong.

"Urusan ini penting sekali, Kalau tidak, nanti aku yang rendah berani mengganggu kongkong yang sedang bermimpi indah!"

"Baiklah,"

Sahut Siau Po.

"Nanti aku akan membukakan pintu!"

Tapi, bukannya membukakan pintu, dia malah menyusupkan kepalanya ke dalam kelambu dan berbisik kepada Kiam Peng serta Pui Ie.

"Kalian jangan bersuara!"

Nadanya serius, tampangnya juga bersungguh-sungguh.

Setelah itu baru dia berjalan menuju pintu, Siau Po menenteramkan hatinya agar dia tampak tenang, kemudian baru dia membuka pintu.

Di depan pintu berdiri seorang siwi yang tubuhnya tinggi besar, Kepala Siau Po paling-paling sampai dadanya saja.

Orang itu, Hu congkoan Sui Tong, segera menjura ketika melihat Siau Po.

"Maaf, kongkong,"

Katanya.

"Aku telah mengganggu kongkong!"

"Tidak apa-apa!"

Sahut Siau Po sambil mengangkat wajahnya untuk memperhatikan orang di depannya, Dia melihat seraut wajah yang tidak menyiratkan mimik perasaan apa-apa.

Wajah itu begitu kaku, sehingga orang sulit menerka apa yang dipikirkannya.

"Sui congkoan, ada keperluan apakah?"

Tanyanya dengan sikap wajar, Dia sengaja tidak mengundang orang itu masuk ke dalam kamarnya karena khawatir congkoan itu akan curiga dan memergoki Kiam Peng serta Pui Ie.

"Aku yang rendah baru saja menerima perintah dari ibu suri,"

Katanya.

"Menurut surat titah yang diturunkan ibu suri itu, kawanan pemberontak yang menyerbu istana malam ini berhasil masuk karena ajakan Kui kongkong!"

Mendengar ucapan "titah ibu suri,"

Siau Po sudah terkejut setengah mati, inilah pertanda buruk, Apalagi mendengar tuduhan yang dijatuhkan pada dirinya.

pikirannya bekerja dengan cepat Berkat kecerdasannya dia segera mendapat akal.

Pertama-tama dia menunjukkan mimik keheranan "Aneh sekali!

Aku baru saja menghadap Sri Baginda untuk menanyakan keselamatannya, Di sana aku mendengar beliau berkata.

"Ah! Sungguh besar nyali si budak Sui Tong, Baru pulang ke istana, dia sudah... hm!"

Mendengar keterangan itu, Sui Tong terkejut setengah mati.

Untuk sesaat dia berdiri terpaku, Dia justru menerima titah ibu suri untuk membekuk thay-kam cilik ini sebab menurut ibu suri, dia telah membawa kawanan pemberontak menyelundup ke dalam istana.

Sekarang mendengar kata-kata Siau Po, ia percaya sekali, sebab dia tahu bocah di hadapannya ini merupakan thay-kam cilik kesayangan raja.

"Apakah Sri Baginda ada mengatakan hal lainnya?"

Tanya Sui Tong seakan melupakan tugasnya sendiri, sebenarnya ibu suri malah mengatakan kalau perlu dia boleh membinasakan bocah ini.

Sekarang dia malah sudah ketakutan lebih dulu...

Siau Po berbicara demikian sebetulnya untuk mengulur waktu agar ia mendapat kesempatan untuk meloloskan diri.

Tentunya dia senang sekali melihat sikap pengawal ibu suri yang begitu ketakutan Dia pun segera menjawab pertanyaan Hu congkoan itu.

"Setelah berkata demikian, Sri Baginda menurunkan perintah agar besok pagi, begitu fajar menyingsing, aku harus mencari keterangan dari para siwi, mengapa Sui Tong bisa membawa kawanan pemberontak itu masuk ke dalam istana dan apa maksudnya yang sebenarnya serta perintah siapa yang dijalankannya, Sri Baginda ingin tahu apa rencana berikutnya dan siapa saja konco-konconya!"

Begitu khawatir dan terkejutnya Sui Tong sehingga pertanyaan berikutnya menjadi gugup dan tersendat-sendat.

"Ke... napa.... Sri Ba... ginda mengatakan a...ku yang membawa... ka... wanan pemberon... tak menyerbu ke... mari? Sia... pa yang mengo,., ceh semba... rangan di... hadap... an beliau? Bukan... kah fitnah i... tu hebat se... kali?"

Sebetulnya Sui Tong gagah dan cerdas otaknya, Namun dalam keadaan seperti ini, otaknya seakan menjadi keruh dan tidak sanggup berpikir secara normal, sebab ucapan Sri Baginda bagaikan penentuan hukuman mati baginya.

"Sri Baginda menugaskan aku untuk mencari keterangan secara teliti,"

Kata Siau Po kemudian.

"Sri Baginda juga berpesan bahwa aku harus berhati-hati. Katanya.

"kalau budak Sui tong mengetahui tugasmu ini, mungkin dia akan mencarimu dan membunuhmu!"

Tapi aku meminta Sri Baginda agar menentramkan hatinya. Karenanya aku berkata kepada Sri Baginda.

"Meskipun Sui Tong bernyali besar, tidak akan dia berani lancang melakukan pembunuhan di dalam istana! Sri Baginda tidak percaya, Beliau berkata.

"Hm! Hal itu bukan tidak mungkin, Dia berani membawa kawanan pemberontak menyerbu istana untuk mencelakai junjungannya, perbuatan apa lagi yang tidak berani dilakukannya?"

"Kau ngaco!"

Tiba-tiba Sui Tong menukas dengan nada membentak "A... ku... aku tidak mengajak orang menyerbu istana! Tidak mungkin Sri Baginda berani sembarangan menuduh!"

Di saat Sui Tong berkata demikian, pikiran Siau Po kembali bekerja dengan cepat.

"Aku harus mendahuluinya menghadap Sri Baginda untuk menuduhnya! Setelah terang tanah, aku harus segera meninggalkan tempat ini Tapi, bagaimana dengan Siau kuncu serta nona Pui itu? Huh! Perduli amat dengan mereka! Yang penting ialah menyelamatkan jiwa sendiri! Bukankah aku berada di bawah ancaman maut?"

Setelah berpikir demikian, Siau Po berkata lagi kepada Sui Tong.

"Kalau begitu, bukan engkau yang membawa kawanan pemberontak itu menyerbu istana?"

"Sudah tentu bukan!"

Sahut Sui Tong tegas.

"lbu suri sendiri mengatakan bahwa kaulah yang membawa kawanan pemberontak itu menyelundup ke sini!"

"Kalau begitu, kita berdua sama-sama kena difitnah!"

Kata Siau Po kemudian "Sui congkoan, kau tidak perlu takut Nanti aku akan menghadap Sri Baginda untuk membelamu.

Asal kau memang jujur!

Meskipun Sri Baginda masih muda sekali, namun beliau bijaksana dan cerdas, Beliau juga sangat mempercayai aku.

Aku yakin katakataku akan didengarnya dan urusan ini segera dapat diselesaikan dengan mudah!"

"Baik!"

Sahut Sui Tong.

"Sebelumnya aku mengucapkan terima kasih kepadamu sekarang kau ikutlah aku menemui ibu suri!" Tidak berani Sui Tong membunuh Siau Po, meskipun ibu suri sudah memberikan ijinnya, Biar bagaimana, hatinya merasa bimbang mengingat bocah ini adalah thay-kam kesayangan raja. Apalagi setelah mendengarkan ocehan ini. Nyalinya semakin ciut Setidaknya, kalau Siau Po tidak mati, dia masih mempunyai seorang yang dapat diandalkan untuk membelanya. Siau Po berlagak pilon.

"Sekarang kan sudah tengah malam, buat apa aku menghadap ibu suri?"

Tanyanya.

"Aku rasa sebaiknya besok pagi-pagi aku menghadap Sri Baginda terlebih dahulu, Siapa tahu sekarang beliau sudah menurunkan titah untuk membekuk dan menghukummu? Ya... Sui congkoan, aku ingin memberitahukan suatu hal kepadamu Nanti kalau ada siwi dari Sri Baginda yang ingin menawanmu, jangan sekali-sekali kau melakukan perlawanan Sebab, sekali kau melawan, berarti kau telah membangkang perintah raja dan hal ini membuat fitnah atas dirimu susah dicuci bersih kembali!"

Biar bagaimana Sui Tong jadi bingung, sebenarnya dia meragukan juga kata-kata Siau Po, namun hatinya dilanda kebimbangan Rasa takut membuat pikirannya kacau, Bukankah dia membutuhkan keterangan bocah ini di hadapan Sri Baginda nanti?

pikirannya lantas bekerja keras.

"Memang aku membutuhkannya untuk memberikan keterangan tentang kebersihanku di hadapan Sri Baginda, Tapi aku sedang menjalankan titahnya thayhou, Dan ibu suri telah mengancamku bahwa aku berbuat kesalahan besar apabila Siau Kui cu sampai lolos. Tidak bisa tidak! pokoknya aku harus membawa bocah ini menghadap Hong thay-hou terlebih dahulu, dengan demikian aku telah menunaikan tugasku...."

Dengan membawa pikiran demikian, Sui Tong segera berkata kepada Siau Po.

"Aku toh tidak bersalah, mengapa Sri Baginda harus menawanku? sekarang sebaiknya kau ikut aku dulu menghadap ibu suri!"

Siau Po menggeser tubuhnya ke samping, Sui Tong mengulurkan sebelah tangan untuk menariknya. Sembari menyingkir dia berkata dengan suara perlahan.

"Kau lihat! Di sana datang beberapa orang yang hendak menawanmu!"

Sui Tong terkejut setengah mati, wajahnya menjadi pucat pasi.

Dengan cepat dia menolehkan kepalanya.

Tepat di saat Sui Tong menoleh, bocah yang cerdik itu langsung memutar tubuhnya dan mencelat ke dalam kamar, justru di saat itulah Sui Tong menggerakkan tangannya menyambar sebab dalam sekejap mata dia sudah melihat bahwa pada arah yang ditunjuk Siau Po tidak ada seorang pun yang mendatangi.

Siau Po takut tertangkap oleh siwi itu.

Dia telah menyembunyikan dua orang nona dalam kamarnya dan dia menduga rahasia itu sudah bocor, Kalau dia sampai diringkus dan dibawa ke hadapan Hong thayhou, pasti sulit baginya untuk meloloskan diri dari bahaya.

Kalau saja dia bisa lari sampai ke taman, tentu banyak tempat baginya untuk bermain petak umpet dengan orang itu, Namun dia tidak menyangka gerakan Sui Tong begitu cepat.

Setelah berhasil menghindarkan diri dari sambaran tangan Sui Tong, Siau Po mencelat dan sampai di depan jendelanya, Tapi Sui Tong telah mengejarnya, Sebelum dia sempat melompat keluar lewat jendela, tangan pengawal muda itu telah mengenai punggungnya sehingga kedua kakinya lemas dan tubuhnya roboh seketika!

Sui Tong mengulurkan tangan kirinya untuk menyambar pinggang Siau Po.

Dia tidak ingin thay-kam cilik itu meloloskan diri.

Siau Po berusaha membela diri, Kedua tangannya digerakkan, dia mengerahkan jurus Kim Na jiu-hoat.

Sayangnya, tubuh bocah itu jauh lebih kecil sehingga kalah tenaga, Karena dia mengadakan perlawanan, tubuhnya terdorong dan jatuh ke dalam gentong air.

Gentong air itu milik Hay kongkong yang digunakan untuk merendam diri mengobati penyakitnya.

Sampai sekarang memang Siau Po belum sempat membuangnya.

Melihat bocah itu tercebur, Sui Tong tertawa terbahak-bahak, Tangannya diulurkan kembali untuk mencekal bocah yang hendak melarikan diri itu, tapi dia hanya berhasil mencengkeram batang leher Siau Po.

Di dalam gentong air, Siau Po mengerutkan tubuhnya, Namun gentong itu memang tidak terlalu dalam, Sesaat kemudian tangan Sui Tong sudah berhasil mencekiknya kemudian dia diangkat ke atas dalam keadaan basah kuyup.

Siau Po masih mencoba melawan, Ketika di dalam gentong, dia menyedot air cukup banyak dan sisanya masih dibiarkan berkumur dalam mulut Setelah kena dicekal, wajahnya berhadapan dengan wajah Sui Tong, Dia menyemburkan air itu sekeraskerasnya ke arah matanya!

Sui Tong terkejut setengah mati.

Dia juga gelagapan karena air masuk ke dalam mata, hidung dan juga mulutnya!

Dalam waktu yang bersamaan, Siau Po menerjang tubuh orang itu, tangan kirinya meluncur ke leher Sui Tong untuk dipelintir.

Sui congkoan terperanjat Dia berseru tertahan, tubuhnya menggidik beberapa kali, Lambat laun cekalan tangannya jadi kendor, kedua matanya mendelik dan wajahnya menyiratkan rasa nyeri.

sedangkan dari mulutnya meluncur kata-kata atau lebih tepat gumaman yang tidak jelas.

Hal ini disebabkan oleh pisau mustika Siau Po yang telah menancap di tubuh Sui Tong ketika dia menerjang ke depan, Dan tidak kepalang tanggung, Begitu berhasil menusuk dada lawannya, Siau Po segera menghentakkan pisaunya ke bawah sampai terkoyak ke bagian perut.

Hal ini pula yang menyebabkan Sui Tong tidak berdaya, Dia tidak menyadari dari mana datangnya bokongan itu, juga tidak sanggup mempertahankan diri terlebih lama, Darah menyembur dengan deras dari bekas lukanya, tubuhnya terjengkang ke belakang dan nyawanya pun melayang!

Dapat dikatakan bahwa dia mati penasaran!

"Hm!"

Siau Po mendengus dingin, Setelah itu dia mencabut pisau belatinya.

Meskipun kepandaian Sui Tong sangat tinggi namun sayangnya kecerdasannya masih kalah dengan Siau Po.

Karena itulah, dengan akal yang licik, bocah kita sanggup membunuhnya.

Selama Siau Po melompat ke dalam kamar dan akhirnya tercekal oleh siwi yang kemudian mati itu.

Kiam Peng dan Pui Ie dapat melihat jelas dari balik kelambu.

Hanya saja mereka tidak tahu bagaimana caranya Siau Po membinasakan orang itu, Karenanya mereka menjadi heran.

Siau Po sendiri menjadi gugup setelah melakukan perbuatan itu, Untuk sesaat dia tidak sanggup mengatakan apa-apa.

Ketika dia membuka mulut akhirnya, suaranya terdengar tidak jelas.

"A...ku... a... ku...."

"Terima kasih kepada Langit dan Bumi. Akhirnya kau berhasil juga membunuh orang itu!"

Kata Kiam Peng.

"Sui Tong ini mempunyai julukan Tian-Ciang Bu tek (Tangan besi tanpa lawan)."

Pui Ie turut memberikan keterangan "Tadi dia sudah membinasakan tiga orang anggota Bhok onghu, perbuatanmu berarti telah membalaskan sakit hati mereka bertiga. Bagus! Bagus?"

Dengan cepat Siau Po berhasil menenteramkan hatinya.

"Dia dijuluki Tangan besi tanpa lawan, tapi dia tidak sanggup berhadapan dengan aku, Wi Siau Po!"

Katanya senang, Rasa bangga membuatnya jadi sombong.

"Akulah jago silat nomor satu yang lain dari umumnya!"

Selesai berkata, Siau Po memeriksa kantong Sui Tong dan akhirnya dia berhasil menarik sebuah buku kecil yang penuh dengan huruf-huruf kecil.

juga didapatkan beberapa helai surat, Tapi karena dia buta huruf, dia meletakkan semuanya di samping, Ketika dia memeriksa lagi, tangannya menyentuh sesuatu yang agak keras di pinggang korban.

Dengan pisaunya dia merobek jubah orang itu, akhirnya dia menemukan sebuah bungkusan yang dipak rapi dengan kain minyak.

"Entah mustika apa yang ada di dalamnya, Penyimpanannya saja demikian sempurna,"

Pikirnya dalam hati. Kembali dia menggunakan pisaunya untuk memutuskan tali pengikat bungkusan tersebut setelah dibukanya, dia mendapatkan se

Jilid kitab Si Cap Ji cin-keng yang ukurannya dan bentuknya sama dengan yang pernah ia lihat sebelumnya.

"Ah!"

Serunya girang, Lekas-lekas ia mengeluarkan bukunya yang sama, Untung saja tidak ikut basah karena dirinya tercebur ke dalam gentong air tadi, Diletakkannya kedua kitab itu secara berdampingan .Ternyata tidak ada bedanya.

"Pasti ada sesuatu yang aneh dalam kitab ini,"

Pikirnya kemudian "Sayangnya aku buta huruf, Kalau aku meminta penjelasan dari kedua nona ini, tentu mereka mengerti Tapi mereka pasti jadi tidak memandang sebelah mata terhadapku!"

Setelah berpikiran demikian, Siau Po membatalkan niatnya dan menyimpan kedua

Jilid kitab tersebut di dalam lacinya.

"Bagaimana sekarang?"

Terdengar Kiam Peng bertanya.

"Kau sudah membunuh orang ini, pasti sebentar lagi ada orang yang menyusulnya kemari!"

Pikiran Siau Po bekerja dengan cepat, Tadi thayhou sendiri datang kemari untuk membunuhku Hal ini pasti disebabkan rahasianya yang telah diketahui olehku dan dia khawatir aku akan membocorkannya.

Setelah gagal, dia mengirim Sui Tong melanjutkan keinginannya yang tidak kesampaian perempuan tua itu sungguh lihay!

Bagaimana dia mendapat akal menuduhku sebagai konconya para pemberontak yang menyerbu istana malam ini?

Bukankah itu fitnahan yang sadis?

Biar bagaimana, aku harus mendahuluinya turun tangan!

Tindakan inilah yang paling tepat!

Aku harus menghadap Sri Baginda selekasnya untuk memberikan penjelasan.

Begitu fajar menyingsing, aku harus meninggalkan tempat ini dan tidak akan kembali lagi untuk selama-lamanya!"

Setelah berpikir demikian, Siau Po langsung mengambil keputusan Dia berkata kepada Pui Ie.

"Aku harus mengarang cerita bahwa Sui Tong telah bersekongkol dengan pihak Bhok onghu kalian Maka itu, nona Pui.... Tolong kau jelaskan apa maksud kalian yang sebenarnya menyerbu istana malam ini?"

Siau Po menatap si nona cantik lekat-lekat.

"Karena kami sudah menganggap kau seperti orang sendiri, rasanya tidak apa-apa kalau kami bicara terus terang kepadamu,"

Sahut nona Pui Ie.

"Kami menyamar sebagai orang-orangnya Go Eng-him, putera dari Go Sam-kui. penyerbuan kami kemari bermaksud melakukan pembunuhan gelap terhadap Raja. Kami pikir, syukur kalau kami berhasil. Andaikata tidak sekalipun, kami bisa menimpakan kesalahan ini kepada pihak Go Sam-kui, Bahkan apabila Sri Baginda gusar, ada kemungkinan Go Sam-kui sekeluarga akan dihukum mati!"

Siau Po menarik nafas panjang, Hatinya lega mendengar keterangan Nona Pui itu.

"Bagus, bagus!"

Katanya memuji "Tapi, dengan bukti apa kalian memfitnah Go Samkui?"

"Sengaja kami meninggalkan tanda di baju-baju kami,"

Sahut Pui Ie.

"Tanda itu akan memberikan bukti bahwa kami orang-orang dari pihak Peng Si ong. Beberapa senjata kami juga sengaja diukir huruf "

Tay Beng Sanhay kwan hu congpeng"

Siau Po tertawa, Sebelum berpihak pada kerajaan Ceng, Go Sam-kui memang menjabat sebagai congpeng di Sanhay kwan pada masa kerajaan dinasti Beng.

"Akal itu bagus sekali!"

"Ketika kami merencanakan penyerbutan ke istana ini, kami sudah berpikir bahwa ada kemungkinan beberapa di antara orang-orang kami yang akan tertawan atau terluka sehingga tidak sempat melarikan diri Tapi, demi bangsa dan negara, kami siap mengorbankan diri! Kami sudah menerka, apabila ada orang kami yang tertangkap, tanda-tanda itu pasti ditemukan Mulanya kami pasti tidak mau mengaku. Setelah disiksa beberapa hari, barulah kami menyerah dan menyatakan bahwa kamilah orangorang yang dikirim oleh Peng Si ong untuk membunuh Raja. Begitu masuk ke dalam istana, kami melemparkan beberapa senjata dengan tanda khusus itu secara sembarangan Maksud kami, apabila kami beruntung bisa lolos semuanya, bukti itu toh sudah tertinggal."

Nona Pui berbicara dengan serius, nafasnya sampai memburu saking bersemangatnya. wajahnya sampai bersemu dadu.

"Jadi kedatangan kalian bukan untuk menolong Siau kuncu?"

Tanya Siau Po kembali.

"Bukan!"

Sahut Pui Ie.

"Kami toh bukan dewa."

Bagaimana kami bisa tahu Siau kuncu ada di dalam istana?"

"Apakah kau pun membawa senjata yang telah diberi tanda bukti itu?"

Tanya Siau Po.

"Ada!"

Sahut Pui Ie yang segera menyusupkan tangannya ke dalam selimut dan mengeluarkan sebatang gotok.

Karena tenaganya sudah lemah sekali, dia tidak sanggup mengangkat golok itu tinggi-tinggi.

Siau Po tertawa melihatnya.

"Untung aku tidak tidur di sampingmu, kalau tidak, tentu mudah bagimu untuk menikam aku sampai mati!"

Wajah nona itu menjadi merah padam karena jengahnya.

"Fui!"

Serunya dengan mata mendelik Siau Po tersenyum Dia menerima golok kecil itu kemudian disembunyikan di balik pakaian Sui Tong.

"Aku akan memberikan laporan kepada Sri Baginda, Aku akan mengatakan bahwa Sui Tong adalah anteknya para penyerbu malam ini. Bukankah senjata tadi akan menjadi suatu bukti?"

Tapi Pui Ie menggelengkan kepalanya.

"Sebetulnya huruf apakah yang terukir di golok-golok itu?"

Tanya Siau Po. Dia merasa dirinya toh buta huruf, buat apa dia melihat sendiri huruf-huruf itu.

"Tadi aku toh sudah mengatakan bahwa bunyi-nya Tay Beng Sanhay kwan hu congpeng. sedangkan Sui Tong adalah orang Boan, tidak mungkin dia menghamba pada seorang congpeng dari dinasti Beng!"

"lya, benar juga yang kau katakan,"

Kata Siau Po. Cepat-cepat dia mengambil kembali golok kecil yang diselipkan dalam pakaian Sui Tong.

"Sekarang barang apa yang harus kita masukkan ke dalam pakaian orang ini?"

Tanyanya kemudian. Tapi sebelum Kiam Peng atau Pui Ie sempat menjawab, sebuah ingatan sudah melintas di benaknya.

"Oh, ya! Ada!"

Siau Po segera mengeluarkan barang-barang hadiah Go Eng-him, yakni dua renceng mutiara, sepasang ayam-ayaman dari batu kumala dan beberapa helai uang kertas, semuanya dia masukkan ke dalam pakaian Sui Tong, Dia merasa barangbarang itu akan menjadi bukti yang kuat sekali, terutama uang kertasnya.

"Nah, Go sicu,"

Kata Siau Po dalam hatinya.

"Lohu harus meninggalkan tempat ini. Yang lainnya terserah padamu, Maafkan tindakan lohu ini."

Kemudian Siau Po mengangkat tubuh itu untuk diletakkan dalam taman, namun belum sempat dia membuka pintu, tiba-tiba telinganya mendengar suara langkah kaki mendatangi ia terkejut sekali, Dengan cepat dan berhati-hati, dia meletakkan tubuh itu kembali.

Setelah itu dia memasang telinganya.

Dari luar kamar terdengar seseorang berseru.

"Sri Baginda menitahkan agar Siau Kui cu datang melayaninya!"

Senang sekali hati Siau Po mendengarnya.

"Aku justru khawatir tidak sempat bertemu dengan Sri Baginda lagi. Siapa sangka Sri Baginda sendiri yang mencari aku. Apalagi baru saja timbul keonaran, tentu merupakan saat yang tepat bila aku bertemu dengannya sekarang, Tapi, untuk sementara terpaksa aku tidak dapat membawa tubuh Sui Tong ini,"

Pikirnya dalam hati.

"lya, hambamu sudah mengerti!"

Sahut Siau Po cepat "Hambamu hendak mengganti pakaian terlebih dahulu, sebentar lagi hamba akan menghadap."

Sembari berbicara, Siau Po mendorong tubuh Sui Tong ke kolong tempat tidur, Kemudian dia menggerak-gerakkan tangannya kepada kedua nona di atas tempat tidur agar mereka jangan bangun, Ketika dia akan meninggalkan kamarnya, tiba-tiba dia berpikir.

"Nona Pui itu tidak dapat dipercaya sepenuhnya, Celaka kalau dia mencuri harta bendaku..."

Karena itulah dia lalu mengambil kedua kitab serta semua uangnya dan disimpan dalam pakaiannya, Setelah memadamkan lilin, baru dia membuka pintu dan berjalan keluar.

Di luar pintu berdiri menunggu empat orang thay-kam yang semuanya tidak ada yang dikenalnya, Diam-diam dia menjadi heran, Thay-kam yang menjadi pemimpin segera tertawa dan berkata.

"Kui kongkong, tengah malam buta seperti ini Sri Baginda masih memanggilmu juga, Hal ini memperlihatkan bagaimana sayangnya junjungan kita kepada Kui kongkong!"

Siau Po bersikap tenang.

"lstana telah diserbu orang. Karena itu, aku sendiri ingin secepatnya bertemu dengan Sri Baginda untuk menanyakan keselamatannya serta menghiburnya, Tapi, justru karena belum ada panggilan, aku tidak berani lancang menjenguk beliau di tengah malam...."

"Kau begitu setia terhadap Raja, tidak heran Sri Baginda menyayangimu..."

Kata thay-kam tadi.

"Sekarang, mari kau ikut dengan kami."

Dia memutar tubuhnya dan melangkahkan kaki untuk berjalan di depan Siau Po. Siau Po heran sekali, Diam-diam dia berpikir di dalam hati.

"Aku adalah kepala para thay-kam di Siang Sian tong, berarti kedudukanku lebih tinggi daripada kedudukanmu Mengapa kau malah jalan di depanku? Usia thay-kam ini sudah tidak muda lagi. Tidak mungkin kalau dia tidak tahu aturan."

Dengan membawa pikiran demikian, dia segera bertanya.

"Kongkong, siapakah nama dan she kongkong yang mulia? Rasanya kita jarang bertemu..."

Thay-kam itu tertawa dan berkata. "Kongkong menjadi orang kesayangan Sri Baginda, sebaliknya kami hanya para thay-kam biasa, Sudah tentu kongkong tidak kenal dengan kami."

"Tapi,"

Kata Siau Po.

"Sri Baginda menitahkan kalian memanggilku, berarti kalian bukan thay-kam biasa!"

Ketika berbicara, lagi-lagi Siau Po dilanda keheranan Thay-kam yang menjemputnya itu mengajaknya ke arah timur, sedangkan kamar raja letaknya di Tenggara.

"Eh, eh! Kau salah jalan!"

Tegur Siau Po sembari tertawa, Dia memang merasa heran, tapi tidak curiga. Dia malah menertawakan thay-kam itu begitu tolol sehingga dimana letak kamar raja pun lupa.

"Tidak salah!"

Sahut thay-kam itu.

"Sri Baginda sedang menjenguk thayhou, Agar kita tidak mengganggunya, kita langsung saja menuju kamar ibu suri!"

Mendengar thay-kam itu menyebut ibu suri, Siau Po terkejut setengah mati, Mendadak dia menghentikan langkah kakinya, justru karena dia berhenti, ketiga thaykam yang mengiringinya langsung melompat dengan posisi mengurungnya, Siau Po tambah tercekat hatinya.

"Celaka!"

Pikirnya.

"lni pasti bukan panggilan dari Sri Baginda, Tentu thayhou yang menitahkan mereka untuk membekukku!"

Dia pun bingung, Dia tidak tahu apakah keempat thay-kam itu mengerti ilmu silat atau tidak, Tapi satu lawan empat saja, Siau Po sudah sangsi.

Lagipula, bila sampai terjadi pertempuran, pasti para siwi akan bermunculan dan pada saat itu semakin kecil kesempatannya untuk melarikan diri.

Meskipun hatinya tercekat, tapi pada dasarnya Siau Po memang cerdas sekali, Dengan cepat dia berhasil menguasai dirinya, Setelah tertegun sejenak, dia segera tertawa dan berkata.

"Ke kamarnya thayhou? Bagus! Setiap kali ke kamar thayhou, aku selalu diberinya hadiah, Kalau bukan uang emas, sedikitnya kembang gula serta kue yang lezat Dalam hal memperlakukan para hambanya, thayhou memang yang paling baik hatinya. Dia suka mengatakan aku sebagai budak yang mulutnya paling rakus!"

Sembari berkata, Siau Po melangkahkan kakinya menuju arah kamar tidur ibu suri.

Melihat keadaan itu, keempat thay-kam yang mengiringinya tidak mengatakan apaapa lagi, Mereka berjalan kembali seperti posisi semula, Satu di depan, tiga lagi mengintil di belakang.

Siau Po berkata kembali.

"Belum lama ini ketika aku menghadap thayhou, rejekiku bagus sekali, Aku dipersen uang emas sebanyak lima ribu tail dan uang perak dua laksa tail, Tenagaku masih kecil, mana kuat aku mengangkat uang sebanyak itu. Tapi thayhou memang sangat baik, dia mengatakan, kalau aku tidak kuat mengangkatnya sekaligus, aku boleh membaginya beberapa kali angkat Kemudian thayhou juga bertanya kepadaku.

"Eh, Siau Kui cu, uang sebanyak itu akan kau gunakan untuk apa?"

Aku pun menjawab.

"Harap thayhou ketahui, hambamu gemar mengikat persahabatan dengan para thay-kam di istana, Mana saja yang baik, pasti hambamu akan menghadiahkan uang agar dapat mereka gunakan untuk bersenang-senang!"

Sembari berbicara, sebetulnya otak Siau Po juga bekerja mencari akal agar mendapat kesempatan untuk meloloskan diri, Kata-katanya membuat mereka jadi ragu.

"Mana mungkin thayhou memberi persen dalam jumlah yang demikian banyak?"

Kata salah seorang thay-kam yang mengiringinya dari belakang.

"Apa? Kau tidak percaya?"

Tanya Siau Po.

"Nih, kau lihat sendiri!"

Siau Po merogo kantongnya serta mengeluarkan uangnya, Ada uang emas, ada juga uang perak, Nilainya paling kecil lima ratus tail, Melihat uang sebanyak itu, keempat thay-kam itu jadi terpaku!

Siau Po memperhatikan mereka lekat-lekat Dia menarik empat lembar uang kertasnya kemudian tersenyum.

"Sri Baginda dan thayhou tidak henti-hentinya menghadiahkan uang kepadaku, Mana mungkin aku bisa menghabiskannya? Di sini ada empat lembar uang kertas, ada yang nilainya seribu tail, ada juga yang nilainya dua ribu tail, sekarang coba kalian uji peruntungan saudara sekalian! Masing-masing menarik sehelai!"

Keempat thay-kam itu merasa heran, Untuk sesaat mereka jadi bimbang.

"Walaupun kau seorang dermawan, tidak mungkin kau menghadiahkan uang sebanyak itu!"

Kata para thay-kam itu.

Siau Po tersenyum "Uangku banyak sekali, kemana aku harus menghamburkannya?

Bahkan kadangkala aku di-repotkan oleh uang-uang itu.

Sekarang aku akan menghadap Sri Baginda dan thayhou, entah berapa banyak lagi hadiah yang akan kuterima!"

Dia mengangkat uangnya tinggi dan mengibar-ngibarkannya. Seorang thay-kam menatapnya dengan tajam, Kemudian dia tertawa dan bertanya.

"Kui kongkong, benarkah kau hendak memberi persen kepada kami? Apakah kau tidak sedang bermain-main?"

"Siapa yang main-main?"

Kata Siau Po.

"Dari semua saudara-saudaraku di Siang sian tong, siapa yang belum pernah menerima hadiah sebanyak delapan ratus atau seribu tail dariku? Nah, saudara-saudara sekalian, mari! Cobalah peruntungan kalian dengan masing-masing menarik selembar uang ini. Ayo, siapa yang mengundi terlebih dahulu?"

Salah seorang thay-kam tertawa.

"Aku!"

Katanya.

"Tunggu sebentar!"

Kata Siau Po kembali "Kalian harus melihat dulu biar tegas!"

Lalu keempat lembar uang kertas itu didekatkan pada lentera, Keempat thay-kam itu mengerumuni untuk memperhatikan Ternyata memang benar, uang kertas itu bernilai seribu serta dua ribu tail, Hati mereka sampai berdenyutan melihatnya.

Watak para thay-kam memang aneh.

Mereka tidak mempunyai anak isteri.

Juga tidak dapat menjabat pangkat yang tinggi, tapi mereka selalu tergila-gila akan uang, Mungkin harta benda merupakan satusatunya hiburan bagi mereka dalam dunia, Meskipun tinggal dalam istana, gaji seorang thay-kam sangat kecil, belum pernah mereka melihat uang yang nilainya sampai ribuan tail.

Sekarang, melihat uang kertas di tangan Siau Po, iman mereka menjadi goyah.

Siau Po mengibas-ngibaskan uang kertasnya.

"Nah, saudara-saudara, Saudara inilah yang akan mencoba peruntungannya terlebih dahulu!"

Katanya pada thay-kam yang mengajukan dirinya tadi.

Thay-kam itu segera mengulurkan sebelah tangannya, Siau Po tidak menunggu sampai tangan itu berhasil menyentuh uang kertasnya, Secara tiba-tiba dia mengendorkan genggamannya sehingga uang-uang kertas itu terlepas dan berterbangan terbawa angin, Lalu dia sengaja berseru.

"Ah! Kenapa kau tidak bertindak cepat dia mencekalnya erat-erat? Lekas, lekas rebut kembali! Siapa yang dapat, dia yang berhak memilikinya!"

Keempat thay-kam itu adalah orang-orangnya ibu suri, Mereka mendapat perintah menyusul Sui Tong, Tugas mereka ialah memanggil Siau Po atas nama Sri Baginda, Kalau thay-kam cilik itu membangkang, mereka harus membekuknya.

Ibu suri melakukan hal ini karena merasa khawatir Meskipun Sui Tong berkepandaian tinggi, tapi takutnya dia kalah cerdas dengan Siau Po.

Dia sendiri pernah ditusuk oleh Siau Po sehingga tangannya terluka parah.

Keempat orang itu tidak mendapat perintah untuk membunuh bocah cilik itu, karenanya mereka hanya bersikap mengurung.

Tapi sekarang mereka disodori uang sebanyak ribuan tail, sehingga mereka lupa akan tugas yang sedang dijalankan Mereka juga tidak curiga, karena si thay-kam cilik yang seharusnya mereka bekuk, tidak mengadakan perlawanan sama sekali.

Karena itu pula, melihat uang kertas yang berterbangan mereka segera berlarian mengejarnya.

"Lekas! Lekas!"

Seru Siau Po menambah semangat mereka, Namun, mulutnya berteriak, kaki-nyapun digerakkan juga.

Dia berlari meninggalkan tempat itu dan masuk dari sebuah gunung buatan yang telah ia kenal baik situasinya.

Memang dari tadi dia sudah memikirkan jalan untuk menyelamatkan diri, di dalam taman itu banyak gunung buatan, banyak juga gua buatan yang berliku-liku, Siapa pun yang lari bersembunyi di tempat itu, tentu tidak mudah ditemukan.

Dari keempat thay-kam itu, ada satu yang berhasil mendapatkan dua lembar uang kertas, salah satunya malah tidak mendapatkan apa-apa, karena itu dia meminta bagian pada temannya yang mendapat dua lembar, Tapi permintaannya sudah tentu ditolak sehingga timbullah pertengkaran di antara mereka.

"Bukankah tadi Kui kongkong telah mengatakan bahwa siapa yang mendapatkan berhak memilikinya?"

Kata thay-kam yang beruntung itu.

"Maka kedua lembar uang kertas ini adalah milikku!"

"Tapi tadi juga sudah dijelaskan bahwa setiap orang mendapat satu helai!"

Kata kawannya berkeras.

"Kau bagi selembar kepadaku Cukup yang seribu tail saja!"

"Apa! Seribu tail?"

Bentak thay-kam yang beruntung itu.

"Enak saja! Satu tail pun tidak akan kuberikan!" Kawan itu menjadi panas mendengarnya, dia segera menjambak dada rekannya.

"Kau mau memberikan atau tidak?"

Tanyanya dengan sikap mengancam.

"Mari kita minta Kui kongkong yang menentukan!"

Kata si thay-kam yang beruntung itu, Dia segera memutar tubuhnya dan saat itu juga dia menjadi tertegun. Siau Po tidak ada lagi di antara mereka.

"Lekas cari dia! Lekas!"

Teriak thay-kam itu.

Tapi thay-kam yang tidak mendapatkan uang kertas tidak mau mengerti Dia masih mencekal baju depan orang itu.

Siau Po sudah lari sejauh belasan tombak, tapi dia masih mendengar suara pertengkaran di antara kedua orang, Diam-diam dia menertawakan dalam hati, Kemudian dia berpikir.

"Aku akan bersembunyi di sini sampai fajar menyingsing Aku akan menyingkir dari pintu samping. Aku tidak akan kembali ke sini lagi!"

Ketika itulah terdengar suara langkah kaki ramai mendatangi, disusul dengan suara percakapan.

"Malam ini datang pemberontak yang menyerbu, besok kita pasti mendapat teguran Mungkin juga ada yang kena hukuman,"

Kata salah seorang di antaranya. Siau Po mengenali mereka sebagai para pengawal istana, Lalu terdengar seorang yang lainnya berkata.

"Semoga besok Kui kongkong membantu kita berbicara beberapa patah kata di depan Sri Baginda...."

Kemudian terdengar lagi suara siwi yang ketiga.

"Kui kongkong masih muda sekali, tapi baik dan bijaksana, Sungguh sukar menemukan orang seperti dia!"

Mendengar suara mereka, senang sekali hati Siau Po. Segera dia keluar dari tempat persembunyiannya.

"Hu! Saudara-saudara sekalian! jangan bersuara keras-keras!"

Katanya. Dua orang yang berjalan di depan segera mengangkat lenteranya tinggi-tinggi.

"Oh, Kui kongkong!"

Seru mereka perlahan Siau Po melihat belasan siwi yang tadi ada di luar kamarnya, Dia bahkan masih ingat nama-nama mereka.

"Tio toako!"

Katanya.

"Di sana ada empat orang thay-kam yang bersekongkol dengan kawanan pemberontak yang menyerbu malam ini. Lekas kalian bekuk mereka, pasti kalian bernyali besar sekali!"

Kemudian dia menoleh kepada siwi lainnya.

"Dan kau, Ong toako, Cio toako, kalian totok saja otot gagu mereka atau hajar rahang mereka agar tidak bisa berkaok-kaok, dengan demikian kalian tidak perlu mengejutkan Sri Baginda!"

Sekalian siwi itu percaya penuh dengan ucapan Siau Po.

Mereka juga tidak perlu merasa khawatir karena antek-antek para penjahat itu hanya terdiri dari empat orang thay-kam.

Segera mereka menghentikan pembicaraan lentera juga dipadamkan Dengan mengendap-endap mereka menuju tempat yang ditunjuk oleh Siau Po.

Keempat thay-kam itu masih mencari-cari Siau Po.

Tegasnya dua orang yang mencari, sedangkan dua yang lainnya masih bertengkar Dalam sekejap mata keempat thay-kam itu sudah didekati dan dengan mudah berhasil dibekuk.

Di antara mereka ada yang tidak mengerti ilmu menotok, Karena itu mereka menghajar muka keempat thay-kam itu sehingga mereka tidak sanggup berteriak Suaranya hanya terdengar desahan saja.

"Bawa mereka ke kamar itu!"

Kata Siau Po seraya menunjuk sebuah kamar yang letaknya d samping.

"Paksa mereka berkata sejujurnya!"

Dia sendiri juga ikut masuk ke dalam kamar itu Bahkan dia duduk di tengah ruangan begitu lentera dinyatakan kembali.

Para pengawal itu menyuruh keempat thay-kam tersebut untuk bertekuk lutut, tetapi mereka membangkang karena menganggap mereka adalah orang orangnya ibu suri dan tidak pantas diperlakukan seperti itu, itulah sebabnya mereka kembali mendapat hajaran keras.

Para pengawal itu menampar meninju juga menendang serta memaksa mereka bertekuk lutut.

"Barusan kalian berempat kasak-kusuk, jika kalian mencurigakan Lagak kalian seperti pencuri dan terus bertengkar,"

Kata Siau Po yang mulai dengan gayanya yang khas.

"Kalian juga menyebu nyebut jumlah uang, Kalau tidak salah, seribu tahil milik si anu, dua ribu tail milik si ini! Mengapa kalian juga mengatakan bahwa kawan-kawan kalia dari luar itu tidak bagus peruntungannya karena ada beberapa yang terluka dan mati di tangan para si anjing?"

Mendengar kata-kata Siau Po, para siwi itu menjadi marah sekali, Lagi-lagi mereka mengirimkan tendangan dan tinju kepada keempat thay-kam tersebut.

Para thay-kam itu berteriak-teriak penasaran tapi suara mereka tidak jelas kedengaran karena rahang mereka sulit digerakkan "Kalian tahu, aku telah menguntit kalian!"

Kata Siau Po kembali, Dia terpaksa memfitnah untuk membela dirinya sendiri Dia juga merasa tidak ada salahnya bersikap keras terhadap orang-orangnya ibu suri yang ingin mencelakakan dirinya.

"Lekas bicara! Aku dengar tadi kau mengatakan.

"Akulah yang menunjukkan jalan untuk mereka dan uang ini adalah pemberian mereka, karena itu mana boleh aku membagikannya kepadamu?"

Sembari berbicara, Siau Po menunjuk pada kedua lembar uang kertas yang diperebutkan tadi, Lalu dia menuding kepada thay-kam yang tidak berhasil mendapatkan apa-apa.

"Bukankah tadi kau mengatakan bahwa perbuatan kalian ini dapat membuat batok kepala kalian pindah rumah dan dosa yang harus dipikul sama beratnya sehingga uang itu harus dibagi sama rata? Kau juga mengatakan biar bagaimana pun kau harus mendapat bagian?"

"Mereka menjadi musuh dalam selimut, dosa mereka memang besar sekali, Ada kemungkinan batok kepala mereka memang bisa pindah rumah!"

Kata beberapa siwi memberikan pendapatnya.

"Ter-bukti mereka sedang membagi hasil, mari kita geledah pakaian mereka!"

Kata-kata itu segera dibuktikan Ternyata selain kedua lembar uang kertas yang sedang diperebutkan pada kedua thay-kam ditemukan dua lembar uang kertas lainnya, Karena itu, para siwi itu jadi gaduh.

Mereka tahu gaji seorang thay-kam sebulannya hanya dua sampai tiga tail perak.

Tapi sekarang mereka mempunyai uang kertas senilai seribu dan dua ribu tail!"

"Bagus!"

Kata seorang siwi.

"Para penyerbu itu pasti memberikan uang ini sebagai hadiah mereka yang telah menjadi pemasuk atau penunjuk jalan, Sialnya mereka juga mengejek kita sebagai siwi anjing! Sekarang biar mereka mendapatkan bagian masingmasing!"

Saking sengitnya para siwi itu menendang dengan hebat, salah seorang thay-kam langsung terguling di atas tanah dan nyawanya pun melayang seketika.

"Jangan sembrono!"

Kata seorang siwi lainnya.

"Mereka harus diperiksa dengan seksama!"

Rupanya siwi yang satu ini lebih sabar wataknya. Dia malah menolong seorang thaykam untuk bangkit dan mengurut-urut rahangnya agar dapat berbicara.

"Ayo katakan!"

Bentak Siau Po.

"Siapa yang menyuruh kalian melakukan perbuatan nekat ini? Nyalimu sungguh besar sekali. Cepat katakan!"

"Aku merasa penasaran!"

Teriak thay-kam itu.

"Kami adalah thay-kam thayhou dan kami sedang menjalankan perintah.."

"Ngaco!"

Bentak Siau Po sambil menerjang ke depan, Dengan tangan kirinya dia membekap mulut thay-kam itu, sedangkan tangan kanannya menghajar batok kepala orang sehingga thay-kam itu jatuh tidak sadarkan diri, Kemudian dia berkata kepada para siwi.

"Saudara sekalian, dia menyebut-nyebut nama thayhou, Hal ini bisa membahayakan kita!"

Para siwi itu terkejut setengah mati. Untuk sesaat mereka mempunyai pikiran yang sama.

"Mungkinkah mereka sedang menjalankan perintah thayhou untuk menjadi penunjuk jalan bagi para pemberontak itu?"

Para siwi itu mengetahui bahwa Sri Baginda bukan putra kandung thayhou yang sekarang, ibu suri juga sangat cerdik.

Karena itu, mereka langsung menduga bahwa ada kemungkinan Raja telah melakukan suatu perbuatan yang menyalahi thayhou sehingga ibu tirinya itu mengambil tindakan sedemikian rupa.

Mereka juga sadar dalam istana segala hal apa pun dapat terjadi Karena itu, hati mereka menjadi was-was.

Siau Po melanjutkan pemeriksaannya.

"Benarkah kalian sedang menjalankan titah thayhou?"

Tanyanya pada salah seorang thay-kam.

Urusan ini hebat sekali, Kalian tidak boleh sembarangan bicara!

Benarkah kamu dititahkan oleh thayhou?

" Thay-kam itu tidak dapat berbicara, Karena itu dia hanya menganggukkan kepalanya.

"Apakah uang ini juga pemberian ibu suri?"

Tanyanya kembali. Thay-kam itu menggelengkan kepalanya, Siau Po tahu apa yang harus dia katakan.

"Kalian sedang menjalankan perintah Karena itu apa yang kalian lakukan bukan keinginan kalian sendiri, bukan?"

Demikian dia bertanya. Thay-kam itu kembali menganggukkan kepalanya.

"Sekarang katakan! Kalian ingin hidup atau mati?"

Tentu saja pertanyaan itu menyulitkan kedua thay-kam tersebut Untuk sesaat mereka bingung, Yang pingsan tadi juga sudah sadar Dia menganggukkan kepalanya sedangkan yang lain menggeleng, Lalu ketiga-tiganya mengangguk serentak dan akhirnya menggeleng bersama-sama pula.

"Jadi kalian mau mati?"

Tanya Siau Po menegaskan. Ketiga thay-kam itu menggelengkan kepalanya.

"Oh, jadi kalian ingin hidup?"

Tanya Siau Po.

Mereka segera menganggukkan kepala, Siau Po segera menarik tangan dua orang siwi yang menjadi pemimpin lalu mengajaknya keluar dari kamar itu.

Di sana dengan suara lirih dia berkata kepada kedua orang itu.

"Tio toako, Cio toako, kepala kita juga bisa pindah rumah!"

Kedua siwi itu, yakni Tio Kong-lian dan Cio Ci-hian terkejut setengah mati mendengar perkataannya.

"Lalu... apa yang harus kita lakukan?"

Tanya mereka gugup.

"Aku juga bingung!"

Kata Siau Po.

"Kakak berdua, bagaimana pendapat kalian?"

"Celakalah kalau urusan ini sampai tersiar Aku pikir, sebaiknya kita cari akal untuk menutupinya.,."

Sahut Tio Kong-lian.

"Benar begitu,"

Timpal Cio Qi-hian.

"Bagaimana kalau mereka bertiga dibebaskan dan kita pura-pura tidak tahu saja?"

"Tapi, bagaimana kalau mereka berniat mencelakai kita?"

Tanya Tio Kong-Iian.

"Salah satu rekan mereka telah kita bunuh...."

"Memang ada baiknya kalau mereka dibebaskan tapi khawatirnya mereka akan mengadu kepada thayhou,"

Kata Siau Po.

"Bukankah hal itu berbahaya sekali? Apa yang harus kita lakukan agar mereka tidak berani mengadu? Ada bagusnya apabila thayhou langsung membunuh mereka saja guna membungkamkan mereka, Tapi bagaimana kalau thayhou marah dan urusan diperpanjang? Tamatlah riwayat kita!"

Tubuh kedua siwi itu menggigil saking takutnya.

Tapi akhirnya Kong Lian berhasil menguasai hatinya, Dia mengangkat tangannya kemudian menghajar sasaran kosong!

Siau Po mengerti Dia menoleh kepada Ci Hian.

"Bagus juga!"

Kata Ci Hian sambil mengangguk "Tapi bagaimana dengan uangnya?"

"Mudah!"

Kata Siau Po.

"Uang itu boleh saudara ambil dan dibagi rata, Aku takut sekali, Yang penting aku tidak terlibat dalam urusan ini!"

Mendengar uang sebanyak enam ribu tail diserahkan kepada mereka, para siwi itu menjadi senang sekali, Berarti mereka masing-masing akan mendapatkan empat ratus tail apabila dibagi rata, Karena itu mereka segera mengambil keputusan, Mereka kembali ke dalam dan berbisik kepada tiga orang siwi yang dapat dipercaya penuh.

Ketiga siwi itu menganggukkan kepalanya mendengarkan bisikan pemimpinnya, Salah satu dari mereka segera berkata kepada tiga thay-kam tadi.

"Kalian adalah orang-orangnya thayhou, Karena itu kami tidak ingin memperpanjang urusan ini. Kalian pergilah!"

Bukan main senangnya hati ketiga thay-kam itu.

Mereka langsung berjalan keluar tanpa mengatakan apa-apa lagi.

sedangkan ketiga siwi tadi mengikuti dari belakang.

Begitu mereka berada di luar, segera terdengar suara jeritan yang menyayat hati dari ketiga thay-kam tersebut, kemudian disusul dengan teriakan salah seorang siwi tadi.

"Ada pembunuh gelap! Ada pembunuh gelap!"

"Celaka! Penyerbu gelap sudah membunuh empat orang thay-kam!"

Teriak siwi lainnya. Setelah itu, ketiga siwi tadi berlari ke dalam kamar sambil berteriak.

"Kui kongkong! Celaka! Ada orang jahat yang menyerbu lagi! Empat orang kongkong terbunuh!"

"Sayang sekali!"

Kata Siau Po sambil menarik nafas panjang.

"Cepat kalian tawan para penjahat itu! jangan sampai ada yang lolos!"

"Salah seorang penyerbu telah berhasil kami bunuh!"

Teriak seorang siwi lainnya. "Bagus."

Kata Siau Po.

"Sekarang cepat kalian laporkan kepada siwi congkoan tentang kematian keempat kongkong itu!"

"Baik!"

Sahut para siwi sambil menahan tawa, Mereka menganggap sandiwara mereka bagus sekali, sebaliknya Siau Po sendiri tidak dapat menahan rasa gelinya, dia tertawa cekikikan, Melihat hal itu, para siwi jadi ikut tertawa.

Kemudian dia memberi hormat seraya berkata.

"Kakak semua, aku ucapkan selamat kepada kalian yang telah mendapatkan hadiah, Nah, sampai jumpa besok!"

Tanpa menunda waktu lagi, Siau Po segera kembali ke kamarnya, Tapi baru dia sampai di pintu, tiba-tiba dia mendengar suara dingin yang datangnya dari gerombolan pohon bunga.

"Siau kui cu, tindakanmu bagus sekali, ya?"

Bukan main terkejutnya hati Siau Po, Dia mengenali suara orang itu sebagai suara ibu suri, Dia segera memutar tubuhnya untuk melarikan diri, Tapi baru kira-kira enam langkah, dia merasa bahu kirinya tercekal keras, tubuhnya gemetar Di samping tidak dapat bergerak, dia juga terpaksa membungkuk Namun pada saat itu juga, dia berusaha mencabut pisau belatinya, Sebuah pukulan yang keras langsung mengenai tangannya sehingga dia menjerit kesakitan.

"Eh, Siau Kui cu!"

Terdengar kembali suaranya Hong thayhou, Kali ini lebih menyerupai bisikan.

"Kau masih sangat muda, tapi kau sudah pandai bekerja, Dengan mudah kau berhasil membunuh keempat orang thay-kam, malah kau menjatuhkan fitnah kepada diriku. Berani-beraninya kau mempermainkan aku! Hm!"

Siau Po takut setengah mati, Dia juga menyesal sekali sehingga dia memaki dirinya sendiri dalam hati.

"Siau Po, kau benar-benar kura-kura cilik! To-lol! Ingat, kalau kali ini kau tidak dapat meloloskan diri, mana namamu bukan Wi Siau Po lagi!"

Tapi pada dasarnya dia memang cerdik sekali, Dalam keadaam terdesak, dia segera mengambil keputusannya.

Thayhou sangat membenci aku.

Percuma bila aku merengek memohon pengampunannya, Baiklah.

Aku akan bersikap keras, Aku harus bertaha terus sampai mendapat kesempatan untuk kabur Hm...

dia harus digertak!"

Karena itu dia langsung berkata.

"Thayhou, kalau sekarang kau ingin membunuh aku,sayang sekali sudah terlambat!"

"Apanya yang patut disayangkan?"

Tanya thayhou heran.

"Kau hendak membunuh aku agar mulut ini bungkam,"

Kata Siau Po.

"Sayang kau terlambat satu langkah. Bukankah tadi kau sudah mendengar apa yang dikatakan oleh para siwi?"

"Kau mengatakan aku telah mengirim empat orang kongkong yang tak punya guna untuk bersekongkol dengan kawanan para pemberontak dan mengajak mereka masuk ke dalam istana! Benar bukan! Untuk apa aku bersekongkol dengan para pemberontak itu?"

"Mana aku tahu apa maksudmu?"

Kata Siau Po dengan berani.

"Mungkin Sri Baginda bisa menduganya!"

Thay-kam gadungan ini benar-benar sudah nekat. Ibu suri merasa gusar sekali tapi dia masih bisa menguasai dirinya.

"Kalau sekarang aku menyerangmu dengan satu kali hantaman saja, kau akan mampus!"

Kata-nya.

"Tapi kalau benar demikian, peruntunganmu terlalu bagus!"

Siau Po benar-benar berani.

"Kalau sekarang kau membunuh aku Siau Kui cu, besok seluruh istana akan tahu!"

Katanya.

"Pasti setiap orang akan bertanya.

"Kenapa Siau Kui cu bisa mati?"

Dan jawabannya adalah.

"Pasti thayhou yang membunuhnya!"

Lalu ada lagi yang bertanya.

"Mengapa thayhou harus membunuh Siau Kui cu?"

Yang lain pun menyahut.

"Karena Siau Kui cu telah mengetahui rahasia thayhou!"

Lalu ada lagi pertanyaan "Rahasia apa yang telah diketahui oleh Siau Kui cu?"

Aih! Bicara soal itu", ceritanya pasti panjang sekali. Karena itu, mari! Mari masuk ke dalam kamarku, Nanti aku akan menjelaskan kepadamu !"

Thayhou terdiam beberapa saat. Dalam hatinya dia berkata.

"Apa yang diucapkan bocah ini ada benarnya juga!"

Hatinya mendongkol sekali. Saking menahan emosinya, tangan wanita itu sampai gemetaran. Lalu dia berkata.

"Biar bagaimana pun, kau harus dibunuh! Apa artinya belasan siwi? Besok aku akan menyuruh Sui Tong membekuk mereka dan dihukum mati! Setelah itu, aku akan terbebas dari ancaman!"

Mendengar kata-katanya, Siau Po tertawa terbahak-bahak.

"Kematianmu sudah di depan mata, Apa lagi yang kau tertawakan?"

Bentak ibu suri yang hatinya panas bukan main melihat lagak Siau Po. Lagi-lagi Siau Po tertawa.

"Ah! Thayhou, kau hendak menyuruh Sui Tong membunuh para siwi itu?"

Tawa Siau Po semakin keras.

"Dia... dia.... Ha... Ha... ha...!"

"Kena... pa dia?"

Tanya thayhou.

"Ha... ha... ha... ha.,.!"

Siau Po kembali tertawa pula.

"Dia telah aku.,,."

Tadinya Siau Po ingin mengatakan "dia telah aku bunuh,"

Tapi tiba-tiba dia mendapat akal yang bagus. Setelah tertawa sejenak, dia terus berdiam diri. Thayhou heran Dia menatap bocah itu lekat-lekat.

"Apa yang kau lakukan pada dirinya?"

Tanyanya. Lagi-lagi si thay-kam cilik yang cerdik ini tertawa.

"Dia telah aku tundukkan!"

Katanya.

"Dia sekarang menurut sekali sehingga tidak sudi lagi mendengar kata-katamu!"

Thayhou tertawa dingin Dia tidak percaya kata-kata Siau Po.

"Kau setan cilik! Sampai di mana kehebatanmu?"

Tanyanya dengan nada mengejek "Bagaimana mungkin kau bisa membuat Sui congkoan tidak sudi mendengar lagi katakataku?"

Siau Po terus memutar lidahnya yang tajam.

"Aku adalah seorang thay-kam cilik, tentu dia tidak mungkin menurut padaku,"

Katanya.

"Tapi di sana ada seseorang lainnya yang dia takuti!"

Thayhou terkejut.

"Dia... dia..."

Katanya dengan suara bergetar "Dia takut kepada Raja?"

"Kami semua adalah para budak, siapa yang tidak takut kepada Sri Baginda?"

Kata Siau Po.

"Hal itu tidak perlu diherankan, bukan?"

Thayhou penasaran sehingga tanpa sadar dia jadi terlibat pembicaraan dengan si bocah cilik.

"Apa saja yang kau katakan kepada Sui Tong?"

"Semuanya telah kukatakan kepada Sri Baginda..."

Sahut Siau Po.

"Semuanya telah kau katakan?"

Tanpa sadar thayhou mengulangi ucapan bocah itu, Unluk sesaat dia berdiam diri, Sesaat kemudian baru dia bertanya lagi.

"Di... mana dia sekarang?"

Yang di maksudkan nya tentu saja Sui Tong.

"Dia telah pergi jauh!"

Sahut Siau Po.

"Ya, dia telah pergi jauh sekali dan tidak akan kembali lagi! Thayhou, kalau kau hendak menemuinya, rasanya tidak begitu mudah !"

Hati thayhou tercekat.

"Maksudmu, dia sudah meninggalkan istana ini?"

"Tidak salah! Dia berkata kepadaku bahwa di takut kepada Sri Baginda dan dia juga takut kepadamu! Dia juga mengatakan bahwa sulit sekali hidup di antara dua orang yang terus menekannya, Dia khawatir suatu hari jiwanya akan melayang. Karena itu, dia menganggap pergi jauh-jauh adalah jalan yang terbaik baginya!"

Bagian 20

"Jadi dia sudah melarikan diri?"

Tanya thayhou "Benar! Eh, thayhou, bagaimana kau bisa tahu Apakah kau telah mendengar sendiri apa yang dikatakannya? Ya! Dia sudah pergi jauh, jauh sekali."

"Hm!"

Thayhou mendengus dingin.

"Jadi pangkatnya pun tidak ia kehendaki lagi? Kemana tujuannya?"

"Dia.,, dia... pergi ke...."

Baru berkata sampai disini, tiba-tiba sebuah ingatan melintas lagi di benak Siau Po. Karena itu dia langsung melanjutkan kata-katanya.

"Katanya dia akan pergi ke... entah apa Tay san... Liok Tay... Cit Tay... Eh, bukan! Kalau tidak salah Pat Tay san."

"Mungkin Ngo Tay san?"

Kata thayhou.

"Benar! Benar!"

Tiba-tiba Siau Po berseru.

"Memang benar gunung Ngo Tay san! Oh, thayhou, kau seperti dewa yang bisa tahu segala hal!"

"Apa lagi yang dikatakannya?"

Tanya thayhou tanpa memperdulikan pujian orang. Dia juga tidak sadar bahwa bocah itu sedang mempermainkannya.

"Dia tidak mengatakan apa-apa lagi,"

Sahut Siau Po.

"Hanya... hanya...."

"Hanya apa?"

Tanya thayhou cepat. "Dia hanya mengatakan bahwa dia mengerti perasaanku dan biar bagaimana dia akan melakukan sekuat kemampuan agar berhasil walaupun dia akan dihukum mati, dia akan melakukan nya!"

"Apa yang kau pinta dia lakukan untukmu?"

Tanya thayhou.

"Ah! Tidak apa-apa, Sui congkoan berkata padaku bahwa baginya, tidak memangku jabatan bukanlah persoalan dan dia juga dapat melakukan perjalanan tanpa uang sepeser pun. Toh, kepergiannya ini bukan untuk setengah atau satu tahun Karena itu, aku telah memberikan uang kertas kepadanya sebesar dua puluh ribu taiI...."

"Banyak sekali uangmu!"

Sindir thayhou.

"Dari mana kau mendapatkannya?"

"Semua uang itu aku peroleh dari orang lain! sahut Siau Po.

"Aku mendapatkannya dari Kong Ci ong, So Ngo-tu tayjin, Di dalam Siangsian tong juga banyak orang yang sering menghadiahkan uang kepadaku!"

Thayhou tahu jawabannya itu bukan bualan belaka.

"Kau begitu baik. Tanganmu terbuka lebar, wajar kalau Sui Tong ingin membalas kebaikan hatimu, Sebenarnya, apa yang kau suruh dia laku kan? Apa yang kau pesankan padanya?"

Tanya thayhou kembali "Hambamu tidak berani mengatakannya!"

Sahu Siau Po.

"Kau katakan atau tidak?"

Bentak Thayho garang. Siau Po menarik nafas panjang, Dia masih membawa lagaknya seperti orang yang dipaksa keadaan.

"Sui Tong telah berjanji kepadaku,"

Sahutnya kemudian.

"Seandainya hambamu ini mati dicelakai orang dalam istana, dia akan menghadap Sri Baginda untuk membeberkan duduk persoalannya sebenarnya, Dia mengatakan bahwa dia akan menulis laporan dan akan dibawanya ke mana-mana, Dia juga berjanji setiap dua bulan akan mengadakan pertemuan denganku agar...."

"Agar apa?"

Bentak thayhou dengan suara sinis tapi nadanya bergetar.

"Agar setiap dua bulan sekali, aku harus menemuinya...."

"Bagaimana cara pertemuan itu?"

Tanya thayhou.

"Setiap dua bulan, aku harus pergi ke Tian Kio,"

Kata Siau Po.

"Di sana aku harus menemui seorang... pria penjual buIi-buli gula batu, Aku harus bertanya kepadanya apakah dia menjual buli-buli batu akik? Mendengar pertanyaanku orang itu akan mengatakan bahwa harga serencengnya seratus tail, Aku harus bertanya mengapa harga itu demikian tinggi, Orang itu bukannya menjawab tapi bertanya kepadaku, apakah aku sudah pernah pulang ke langit? Aku harus mengatakan padanya agar dia pulang ke rumah orang tuanya! Dengan demikian dia akan menyampaikan kabarku kepada Sui congkoan."

Dalam waktu yang singkat, Siau Po tidak menemukan jawaban atas pertanyaan Thayhou tadi, Karena itu dia mengubah sedikit ajaran yang dianjurkan oleh Tan Kin-lam untuk bertemu dengan Ci Tian-coan.

Hati thayhou tercekat Dia tahu cara itu sering digunakan orang-orang kangouw untuk berhubungan dengan rekannya, Dia jadi percaya thay-kam cilik ini bukan hanya mengada-ada.

Semakin dipikirkan hatinya semakin ciut.

Dia tidak menyangka bocah cilik ini bisa membuat Sui Tong melarikan diri, Tidak heran kalau Sui Tong menjadi ketakutan dan melarikan diri, juga tidak aneh kalau tujuannya Ngo Tay san, yakni tempat di mana bekas kaisar kerajaan Ceng menyucikan diri.

Dalam waktu yang singkat, banyak sekali yang terlintas dalam benak thayhou, otaknya semaki ruwet, Setelah lewat sejenak lagi, baru dia berkat lagi.

"Bagaimana kalau dalam waktu dua bulan seperti yang dijanjikan lalu kau tidak datang mencari penjual buli-buli gula batu itu?"

Tanya thayho kemudian.

"Sui congkoan mengatakan kepadaku bahwa dia akan menunggu sampai sepuluh hari lamanya Andaikata aku tetap tidak kelihatan, dia akan mempunyai dugaan bahwa aku sedang terancam bahaya atau kemungkinan sudah mati, maka itu dia akan.. memikirkan jalan bagaimana caranya agar dapat menghadap Sri Baginda untuk menyampaikan laporannya, Sampai waktu itu, hambamu memang sudah mati, Tidak ada urusan apa-apa lagi, Namun aku tetap setia kepada junjunganku, Aku sudah menyadarkan Sri Baginda agar penasaran dibalas dengan penasaran, permusuhan dibalas dengan permusuhan, Sri Baginda tidak boleh sekali-kali diperdaya oleh orang jahat, Dengan demikian hamba beserta Sui congkoan sudah membuktikan kesetiaannya!"

Terdengar suara perlahan dari mulut thayhou yang seperti orang gerutuan.

"Penasaran dibalas dengan penasaran, permusuhan dibalas dengan permusuhan.... Ya, itu memang bagus sekali!"

Siau Po tidak menghiraukan wanita itu. Terdengar dia seakan menggumam seorang diri.

"Selama beberapa hari belakangan ini, hamba akan tetap melayani Sri Baginda sebagaimana biasanya. Hamba tidak akan membocorkan rahasia apa pun. Asal hamba tetap hidup dan bisa merawat Sri Baginda, urusan ini tidak nanti hamba bongkar sampai kapan pun juga!"

Mendengar kata-katanya, thayhou agak lega sedikit.

"Kalau benar demikian, kau memang baik hati!"

"Sri Baginda memperlakukan aku dengan baik,"

Kata Siau Po kembali "Dan thayhou juga tidak berlaku buruk terhadapku Karena itu, terhadap thayhou, hamba juga akan bersetia, Siapa tahu, kalau hati thayhou sedang senang, hamba akan mendapat hadiah yang berharga, seandainya demikian, bukankah kita sama-sama merasa senang?"

Thayhou tertawa dingin.

"Apakah kau masih mengharap aku akan memberikan hadiah kepadamu? Kutit mukamu benar-benar tebal!"

Biar bagaimana, ibu suri merasa puas juga.

Bukankah Siau Kui cu mengatakan dia tidak akan membuka rahasia seumur hidupnya?

Karena itu, dia merasa tidak ada halangan untuk memikirkan urusan itu perlahan-lahan.

Siau Po juga merasa puas, Kata-katanya thayhou menyatakan bahwa pikirannya sudah berubah.

"Hamba tidak mengharapkan apa-apa,"

Kata Siau Po kemudian.

"Asal thayhou dan Sri Baginda senantiasa dalam keadaan sehat wal afiat dan bergembira, sebagai seorang hamba, aku juga ikut merasa senang! Harap thayhou tidak perlu khawatir Besok hamba akan pergi ke Tian Kiou untuk mencari penghubung itu dan meminta dia menyampaikan kepada Sui congkoan supaya dia menutup mulut rapat-rapat, Aku juga akan menitipkan uang sebanyak tiga ribu tail, dengan mengatakan bahwa itulah persen dari thayhou untuknya."

"Hm!"

Thayhou mendengus dingin.

"Orang semacamnya yang bekerja tidak sungguhsungguh, Karena rasa takut, dia melarikan diri, Sudah bagus batang lehernya tidak kukutungkan, mana mungkin aku memberinya persen? Ngaco!"

"lya, iya, Thayhou benar juga!"

Kata Siau Po.

"Lagipula uang itu toh milikku, memang thayhou tidak sepatutnya memberi persen kepada orang itu."

Baru sekarang thayhou melepaskan cekalannya pada bahu Siau Po. ia melepaskannya dengan perlahan-lahan.

"Siau Kui cu,"

Katanya kemudian.

"Apakah kau benar-benar setia padaku?"

Siau Po segera menjatuhkan dirinya berlutut di depan wanita itu, Dia tidak takut akan dihajar oleh thayhou iagi. Dia juga menyembah berkali-kali.

"Iya. Hamba akan setia kepada thayhou!"

Demikian katanya.

"Dalam hal ini, hamba akan mendapat keuntungan besar, Hamba berjanji, kalau hamba sampai tidak setia, biarlah Siau Kui cu rela kepalanya dikutungkan, walaupun hamba orang bodoh, tapi hamba masih tahu bagaimana harus menyayangkan batok kepala ini."

Ibu suri menganggukkan kepalanya.

"Bagus, bagus sekali!"

Katanya, tapi tangannya tidak henti menepuk bahu bocah itu.

jumlah keseluruhannya tiga kali, Siau Po merasa tercekat hatinya.

Tiba-tiba dia merasa kepalanya pusing dan perutnya mual pandangan matanya berkunang-kunang, Kerongkongannya mengeluarkan suara yang aneh, sebab dia ingin muntah tapi tidak dapat.

Terdengar thayhou berkata kembali.

"Siau Kui cu, kau ingat kan belum lama ini ketika Hay tayku si bangsat tua mengatakan ada sejenis ilmu yang namanya Hoa Kut-bian ciang. ilmu itu bila dipelajari sampai mencapai taraf kesempurnaan maka siapa yang terserang akan remuk seluruh tulang belulangnya, ilmu itu sulit sekali dipelajari aku juga tidak bisa memahaminya. walaupun demikian, otakmu sangat cerdas, Hatimu baik, lagipula penurut Aku hanya menepuk bahumu tiga kali dengan maksud bergurau, Hal ini menyenangkan sekali...."

Siau Po tidak sanggup mengatakan apa-apa.

Dia merasa dada dan isi perutnya bergolak dan darahnya seakan mengalir dua kali lebih cepat daripada biasanya, Tanpa dapat mempertahankan diri lagi, dia memuntahkan darah yang bercampur dengan air.

"Terbukti perempuan hina ini tidak percaya kepadaku,"

Pikirnya dalam hati.

"Sekarang dia telah menurunkan tangan jahatnya terhadapku!" Lalu terdengar ibu suri berkata.

"Siau Kui cu, jangan takut Aku tidak akan memukulmu sampai mati, Sebab kalau kau sampai mati, siapa nanti yang akan pergi ke Tian Kio untuk mencari si penjual buli-buli gula batu? Besok pagi-pagi, pertama-tama kau harus ke keraton Cu Leng kiong, di sana aku akan memberikan tiga butir pil kepadamu, Setiap hari kau harus menelan satu butir. Setelah tiga puluh hari kemudian, jiwamu tidak akan terancam bahaya lagi, Kalau kau telah menghabiskan tiga puluh butir, nanti aku akan mengantarkan tiga puluh butir lagi untukmu!"

Terima kasih untuk kebaikan thayhou,"

Kata Siau Po.

Kemudian perlahan-lahan dia menggerakkan tubuhnya untuk berdiri.

Namun kepalanya pusing sekali sehingga dia terhuyung-huyung lalu roboh kembali, Lalu dia muntah darah beberapa kali, tapi dia masih bisa berkata.

"Thayhou, setiap hari hamba akan memuja Pou Sat yang maha suci agar thayhou dilindungi dan panjang umur, Sebab, seandainya thayhou batuk-batuk atau masuk angin saja, tentu hamba tidak akan mendapatkan obat dan bukankah hamba akan menjadi setan berumur pendek? Ya, hamba akan menjadi si kura-kura yang pendek usianya."

Thayhou tertawa terbahak-bahak.

"Bagus kalau kau menyadari hal itu!"

Katanya keras, Setelah itu tubuhnya berkelebat dan menghilang di balik gerombolan bunga-bunga yang lebat.

Dengan susah payah Siau Po bangkit untuk berdiri tegak, Saat itu dia sudah berhasil menenangkan hatinya, perlahan dia mengambil jalan memutar untuk sampai di jendela belakang kamarnya, tapi dia tidak sanggup melompati bahkan untuk sesaat dia harus mendekam di bawah jendela untuk mengatur pernafasannya, Setelah beristirahat sejenak, baru dia merayap naik untuk masuk lewat jendela.

"Kui toakokah itu?"

Terdengar Kiam Peng bertanya.

"Kalau bukan aku, siapa lagi?"

Sahut Siau Po dengan nada bentakan, Hal ini membuktikan hatinya sedang tidak senang.

"Kuncu menanya kau secara baik-baik, mengapa kau menjawabnya dengan begitu kasar?"

Tanya Pui Ie yang merasa tidak puas mendengar nada suara Siau Po.

"Iya..."

Sahut Siau Po, tapi baru sepatah kata saja, tubuhnya sudah terguling ke dalam kamar.

Dia tidak sanggup memegang kusen jendela untuk mempertahankan diri, Tenaganya sudah habis, nafasnya pun memburu.

Dia terkulai di atas lantai tanpa sanggup bergerak, bahkan duduk pun tidak bisa.

Bhok Kiam Peng terkejut setengah mati melihat keadaannya.

"Oh!"

Serunya gugup.

"Kenapa kau?"

"Apakah kau terluka?"

Pui Ie juga ikut khawatir.

Kedua nona itu merasa tercekat hatinya, Siau Po telah terkena pukulan Hoa Kut-bian ciang milik Hong thayhou, walaupun untuk sementara, dia tidak akan langsung mati, tapi keadaannya cukup parah.

tapi dia tidak takut, Dasar bocah nakal, mendengar pertanyaan kedua nona itu, dia malah tertawa lebar.

"Ah! Adikku yang manis dan istriku yang cantik! Kalian berdua toh dalam keadaan terluka, Kalau aku tidak ikut terluka, mana tepat dikatakan susah dan senang dicicipi bersama-sama?"

"Oh, kau terluka, Kui toako?"

Tanya Kiam Peng.

"Bagian manakah yang terluka? Apakah kau merasa sakit sekali?"

"Oh, adikku... hatimu baik sekali, Aku memang sedang kesakitan tadinya, Mendengar pertanyaanmu yang mengandung kecemasan hatimu itu, rasa sakit itu jadi langsung hilang, Nah, coba kau bilang, aneh bukan?"

Bhok Kiam Peng tertawa.

"Ah, kau paling pandai membohongi orang!"

Sahutnya. Siau Po berpegangan pada kaki meja, Dia berusaha berdiri Dalam hati dia berkata.

"Aku masih bisa hidup sampai sekarang, semua ini berkat nama Sui congkoan, Coba seandainya thayhou mengetahui pengawalnya itu sudah mati, Tentu nyawaku akan amblas juga malam ini!"

Perlahan-lahan Siau Po mendekati kotak obatnya.

Dia buka kotak itu dan mencari obat yang dibutuhkannya, Di dalamnya terdapat banyak botol obat, tetapi dia mengambil sebuah yang bentuknya segi tiga dan warna dasarnya hijau keputihan.

Di antara sekian banyaknya obat milik Hay kongkong, hanya obat itu yang dikenalinya.

itulah bubuk Hoa Si-hun, obat untuk mencairkan mayat.

Obat itu pernah dia gunakan untuk menghancurkan mayat Siau Kui cu, thay-kam cilik yang namanya dia pakai sekarang, Setelah mendapatkan obat itu, Siau Po berusaha menarik keluar mayat Sui Tong dari kolong tempat tidur Lalu dia mengeluarkan uang kerta serta benda-benda berharga yang tadi dia masukkan ke dalam pakaian orang itu.

"Ketika kau pergi, mayat ini terus ada di kolong tempat tidur, Kami takut sekali,"

Kata Kiam Peng. Siau Po tertawa.

"Kalau kalian berdua sampai mati, bukankah mayat ini malah akan mendapatkan kawan?"

"Cis!"

Bentak Pui Ie.

"Kuncu, jangan bicara dengannya!"

Siau Po tidak memperdulikan nona itu.

"Aku akan bermain sulap, apakah kalian mau melihatnya?"

Tidak!"

Sahut nona Pui singkat.

"Siapa yang tidak suka melihat, boleh memejamkan matanya!"

Kata Siau Po kembali.

Pui Ie menurut Dia segera memejamkan matanya rapat-rapat Kiam Peng juga ikut memejamkan matanya, tapi hanya sebentar Kemudian dia melihat Siau Po mengeluarkan sebotol kecil dan kemudian menuangkan isinya ke dalam sendok, lalu ditaburkan di atas luka Sui Tong.

"Kalian lihat."

Katanya.

Tidak lama kemudian, tampak asap mengepul dari bekas luka yang ditaburkan bubuk obat itu, lalu tercium bau tidak sedap yang disusul dengan keluarnya cairan berwarna kuning dari luka yang menguak semakin besar itu.

"Ah!"

Seru Kiam Peng keheranan.

Pui Ie penasaran melihat seruan adik seperguruannya, Dia segera membuka matanya, Ketika dia melihat apa yang disaksikan Kiam Peng, sepasang mata gadis itu sampai membelalak lebar-lebar dan tidak dipejamkan lagi.

Seperti Siau kuncu, dia juga keheranan.

Asal terkena cairan berwarna kuning tersebut, luka di tubuh mayat itu semakin meluas, Dagingnya meleleh menjadi cairan kuning pula.

Menyaksikan keadaan itu, kedua nona itu sampai tertegun sekian lama.

"Kalian berdua, awas! Siapa yang tidak mau menuruti kata-kataku, wajahnya akan kutaburi dengan obat ini, sehingga jelek seperti mayat ini!"

Gertak Siau Po.

"Kau... kau jangan menakut-nakuti orang!"

Bentak Kiam Peng.

Sebaliknya Pui Ie menatap Siau Po dengan tajam dan sorot matanya menunjukkan kemarahan.

Hatinya juga tercekat dan khawatir.

Senang hati Siau Po melihat kedua nona itu ketakutan.

Dengan hati-hati dia menyimpan obatnya kembali Kemudian dia mengambil sebuah kursi dan mendorong mayat Sui Tong yang terbagi menjadi dua bagian karena gerakan cairan yang tidak merata, Akhirnya seluruh mayat itu lumer menjadi cairan kuning dan menyebarkan bau yang tidak enak.

Melihat keadaan itu, lega rasanya hati Siau Po.

"Biar si nenek sihir itu mengirim lima laksa pengawalnya ke Ngo Tay san, tetap saja dia tidak berhasil menemukan Sui Tong!"

Setelah itu Siau Po mengambil air dari dalam gentong untuk mencuci bersih cairan kuning tersebut Setelah membersihkan lantai, dia membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, Dia merasa lelah sekali, matanya langsung dipejamkan Sekejap kemudian dia suda tertidur pulas.

Sampai fajar tiba, baru Siau Po mendusin dari tidurnya, Dia langsung merasakan nyeri di dadanya Bahkan dia juga merasa perutnya mual dan ingin muntah, tapi sampai sekian lama dia mencoba, tetap saja tidak ada sebutir nasi pun yang dimuntahkannya.

Kiam Peng dan Pui Ie merasa heran melihatnya.

"Kui toako, apa yang kau rasakan?"

Tanyany prihatin Siau Po bangun dan duduk di atas tempat tidur.

Dia melihat kedua nona itu dan tidur di antar keduanya, Kedua nona itu tidak membuka pakaian luarnya, Ketika dia melihat waktu sudah tidak pagi cepat-cepat dia bangun dan turun dari tempat tidur.

"Kalian berbaring saja, jangan bergerak!"

Katanya kepada kedua nona itu.

"Aku ingin menemui Sri Baginda secepatnya!"

Tadinya Siau Po berniat keluar dari kamarnya lewat jendela, tapi tenaganya masih 1emah.

Akhirnya terpaksa dia keluar dari pintu depan kemudian menguncinya dari luar.

Belum berapa lama Siau Po berada di kamar tulis kaisar Kong Hi, junjungannya itu sudah mengundurkan diri dari ruang sidang seperti biasanya.

Begitu melihat Siau Po, kaisar Kong Hi tertawa lebar dan berkata pada thay-kam cilik kesayangannya itu.

"Siau Kui cu, lagi-lagi kau membunuh orang tadi malam."

Siau Po cepat-cepat memberi hormat dan mengucapkan selamat pagi pada junjungannya itu.

"Kau sungguh beruntung!"

Kata kaisar Kong Hi kembali "Kembali kau dapat menempur para penyerbu itu.

Aku sendiri, melihat wajah penyerbu itu saja tidak!

Bagaimana kepandaian para pemberontak itu?

Dengan jurus apa kau merobohkannya?"

Siau Po berpikir dengan cepat Kaisar Kong Hi pandai ilmu silat Tidak mungkin dia memberikan keterangan secara sembarangan Sebenarnya, dia tidak bertempur melawan seorang pun di antara penyerbu tadi malam.

Tapi dia teringat pertempuran yang berlangsung di rumah keluarga Pek ketika Hong Ci-tong melawan Pek Han-tiong.

"Pertempuran itu terjadi di saat gelap,"

Sahutnya.

"Tiba-tiba hambamu melihat kaki kiri orang itu menyapu ke kanan dan tangan kanannya menyambar ke kiri, Kemudian..."

Dia pun menjelaskan tipu silat lawannya.

"Bagus!"

Seru kaisar Kong Hi seraya bertepuk tangan.

"Tepat sekali tipu yang kau gunakan itu!"

Thay-kam gadungan itu tertegun.

"Oh, Sri Baginda, apakah kau tahu jurus silat yang digunakan para pemberontak itu?"

"lya,"

Sahut kaisar Kong Hi. Bibirnya menyunggingkan senyuman, Tahukah kau apa nama jurus itu?"

Siau Po tahu jurus silat yang diperlihatkannya bernama Heng-Sau ciangkun, tapi dia pura-pur tidak tahu.

"Hamba tidak tahu...."

Raja tertawa.

"Kalau kau tidak tahu, biar aku beritahukan, katanya.

"Jurus itu bernama Heng-sau ciang kun!"

"Bagus sekali nama itu!"

Puji Siau Po pura-pur terkesima.

"Dia menggunakan jurus itu, lalu bagaimana kau menghadapinya?"

"Untuk sesaat hamba sempat kebingungan sahut Siau Po.

"Lalu tiba-tiba saja hamba ingat tipu silat yang pernah digunakan Sri Baginda ketika dulu kita berlatih bersama, Ketika itu hamba kena dibuat terpental sehingga melewati kepala Sri Baginda. Kalau tidak salah itu adalah, itu adalah tipu ilmu Hui In-jiu dari Butong paimu...."

Senang sekali hati kaisar Kong Hi mendengar jawaban Siau Po.

"Jadi kau menggunakan tipu silatku untuk memunahkan jurus Heng-sau ciang kun itu?"

"Benar, Sri Baginda,"

Sahut Siau Po.

"sebenarnya kepandaian hamba belum berarti apa-apa, tetapi untungnya Sri Baginda sering mengajak hamba berlatih bersama sehingga ada sebagian besar ilmu silat Sri Baginda yang masih hamba ingat dan hamba manfaatkan begitu menghadapi musuh...."

Kaisar Kong Hi tambah senang hatinya.

"Bagus! Bagus sekali kau masih mengingatnya!"

Siau Po juga gembira melihat kaisar Kong Hi berseri-seri wajahnya.

"Untung saja ocehanku tepat!"

Pikirnya, Tidak sia-sia dia mengangkat rajanya itu tinggi-tinggi.

Kemudian dia menambahkan kembali "Hanya ada satu hal yang patut disayangkan, yakni tenaga dalam hamba masih cetek sekali, Akhirnya penjahat itu berhasil juga meloloskan diri."

"Ya, sayang! Sayang!"

Kata raja.

"Sebenarnya kau harus langsung menotok jalan darah hwe Cong dan Gwe Kuan penjahat itu, Kalau kau melakukan hal itu, tentu penyerbu tersebut tidak dapat meloloskan diri lagi!"

Sembari berkata, kaisar Kong Hi segera mencekal lengan Siau Po dan menunjukkan cara bagaimana menekan lawannya. Siau Po berusaha meronta, tapi dia tidak berhasil membebaskan dirinya.

"Ah!"

Serunya penuh penyesalan "Coba kalau dari siang-siang Sri Baginda mengajarkan tipu ini, tentu hamba tidak perlu melalui saat-saat yang membahayakan jiwa."

Kaisar Kong Hi tertawa.

"Lalu, bagaimana kelanjutannya?"

"Begitu berhasil membebaskan diri, orang itu lari ke belakang hamba dan berhasil menghajar punggung hambamu dengan kedua telapak tangannya!" "Itulah jurus Kao-san Liu Sui!"

Seru Sri Baginda memberikan keterangan mengenai jurus yang digunakan pihak lawan.

"Oh, itukah jurus Kao-san Liu Sui?"

Tanya Siau Po pura-pura terkejut "Sayang aku tidak tahu...."

"Benar-benar manusia tidak berguna!"

Maki kaisar Kong Hi, tapi sembari tertawa.

"Mengapa waktu bertempur kau tidak menggunakan ilmu yang diajarkan gurumu? Mengapa kau selalu meniru gerakan ilmu silatku?"

"Entahlah, Sri Baginda!"

Sahut Siau Po.

"Setiap jurus silat yang guru hamba ajarkan, dapat hamba gerakkan dengan baik di saat berlatih, namun apabila menghadapi pertempuran seperti tadi malam, tiba-tiba semuanya jadi menguap dan tidak ada satupun yang teringat dalam benak hambamu ini. sebaliknya semua gerak tipu silat Sri Baginda justru terbayang jelas di pelupuk mata sehingga tanpa berpikir panjang lagi hamba menirukannya, Begitu pula ketika punggung hamba terhajar Tiba-tiba saja hamba mengelit ke samping kanan."

"ltulah jurus Keng Hong-pou,"

Kata Sri Baginda yang menjelaskan tipu silat miliknya yang berarti "Gerakan angin puyuh."

"Benar!"

Sahut Siau Po.

"Setelah berkelit, hamba segera mencabut pisau belati dan membalas menyerang musuh sambil hamba berteriak dengan keras "

Hai, Siau Kui cu, menyerah tidak?"

Raja tertawa terbahak-bahak.

"Aih! Kau ini benar-benar aneh!"

Katanya.

"Mengapa kau justru memanggil namamu sendiri?"

"Saat itu hamba tidak sempat berpikir dan menyebut nama hamba secara tanpa sadar Hamba ingat, ketika baru-baru ini Sri Baginda mengadakan latihan dengan hamba. Bukankah Sri Baginda selalu menyerukan kata-kata itu?"

"Bagus, bagus!"

Kata kaisar Kong Hi memuji.

"Ternyata kau masih ingat semuanya!"

Kaisar Kong Hi merasa puas sekali.

"Kalau demikian, para pemberontak itu mempunyai nyali yang besar tapi kepandaiannya tidak seberapa lihay!"

Tambahnya kemudian.

"Sebetulnya, Sri Baginda,"

Kata Siau Po.

"Ada juga beberapa di antara para pemberontak itu yang ilmu kepandaiannya cukup tinggi, Buktinya ada beberapa siwi yang tewas dan terluka, Dasar hamba berpanjang umur, hamba telah mendapat pelajaran dari Sri Baginda sehingga hamba sanggup menjaga diri. Kalau tidak, terpaksa Sri Baginda hari ini mengeluarkan firman agar semua orang membaca doa untuk menghibur arwahnya Siau Kui cu yang sudah berpulang ke alam baka serta menghadiahkan uang sebanyak seribu tail...."

Raja tertawa.

"Seribu tail tidak sebanding dengan jasamu. seharusnya selaksa!"

Siau Po juga tertawa, Senang dia dapat bergurau dengan junjungannya itu.

"Eh, Siau Kui cu... apakah kau dapat menduga asal-usul para pemberontak itu?"

Tanya kaisar Kong Hi kembali "Memalukan sekali! Hamba tidak tahu!"

Sahut Siau Po.

"Sri Baginda, kalau ditilik dari tipu silat yang mereka gunakan, dapatkah Sri Baginda menerka asal-usul mereka?"

"Mula-muIa aku masih bimbang, tetapi keteranganmu telah memperkuat dugaanku!"

Sahut sang raja, Kemudian dia bertepuk tangan dan menurunkan perintah kepada salah seorang pelayannya.

"Pergi kau panggil So Ngo-tu dan To Lung untuk datang kemari!"

Kedua pelayan itu menunggu Sri Baginda di luar kamar tulisnya, Mendengar perintah junjungannya itu, mereka segera berlalu untuk melaksanakan tugas tersebut.

To Lung adalah orang Boanciu asli.

Pangkatnya Tou Tong atau gubernur militer, dan termasuk golongan Bendera bersulam biru, Ketika angkatan perang Boan menyerbu ke selatan, dia telah membangun jasa yang tidak kecil Kepandaiannya juga cukup tinggi, namun karena terdesak oleh Go Pay, dia tidak mendapat kedudukan yang setimpal di kota raja, Setelah Go Pay jatuh, oleh raja dia dinaikkan pangkatnya menjadi Gi Cian siwi Tou congkoan atau Kepala barisan pengawal Raja.

Namun apa mau dikata, belum lama dia menjabat kedudukan itu, telah terjadi penyerbuan oleh para penjahat.

Dengan demikian dia jadi tidak enak hati, sepanjang malam dia tidak dapat tidur, Dia khawatir ibu Suri atau Sri Baginda akan menegurnya dan atau menghukumnya.

Ketika Tou congkoan itu muncul, tampak matanya merah sekali.

"Apakah para penjahat yang tertawan itu sudah dimintakan keterangannya?"

Tanya Sri Baginda.

"Harap Sri Baginda ketahui,"

Sahut kepala siwi itu.

"Penjahat yang tertawan jumlahnya ada tiga orang, Hamba telah memeriksanya. Dan hamba melakukannya dengan cara terpisah-pisah untuk mencocokkan ucapan mereka nantinya, Pertamatama mereka tidak mau mengaku, Belakangan karena tidak tahan menghadapi siksaan, barulah mereka mengaku, Benar saja.... Mereka adalah orang-orangnya... Peng Si ong..."

Kaisar Kong Hi menganggukkan kepalanya.

"Begitu?"

Tanyanya agak heran "Semua senjata para penjahat itu ada ukiran yang merupakan tanda dari Peng Si onghu,"

Kata To Lung menjelaskan "Sedangkan di dalam baju mereka juga terdapat tanda dari Peng Si ong juga Dengan demikian terbukti bahwa pemberontak pemberontak itu adalah orang-orangnya Go Sam kui.

seandainya bukan sekalipun, Go Sam-kui past tidak terlepas dari keterlibatan."

Kaisar Kong Hi kembali menganggukkan kepalanya, Kemudian dia menoleh kepada So Ngo-tu "Apakah kau juga telah melakukan pemeriksaan?"

"Hamba telah memeriksa semua senjata dan pakaian para penjahat, Memang cocok dengan apa yang dikatakan To congkoan!"

Sahut To Lung.

"Coba bawa kemari senjata-senjata dan pakaian para pemberontak itu!"

Perintah kaisar Kong Hi.

To Lung segera mengiakan Dia langsung k luar untuk mengambil barang-barang yang diperintahkan kaisar Kong Hi.

Dia tahu rajanya itu masi muda sekali, tetapi otaknya cerdas dan juga sikapnya teliti.

Dia memang sudah menduga raja aka memeriksa sendiri semua senjata dan pakaian itu.

Karenanya, sebelum mendapat panggilan dia sudah mempersiapkan semuanya.

Tidak lama kemudian dia sudah kembali ia.

Segera dibukanya bungkusan yang ia bawa dan membeberkan isinya di atas meja, Setelah itu dia mengundurkan diri beberapa tindak.

Kaisar-kaisar Boanciu terdiri dari orang-orang gagah dan tidak pantang menghadapi senjata, Tetapi dalam sebuah kamar tulis di istana, semua pembesar dilarang membawa senjata menghadap Sri Baginda, Untuk menghindarkan diri dari kecurigaan To Lung segera mengundurkan diri agak jauh.

Raja mengangkat sebatang golok dan memeriksanya, Memang benar dia melihat ukiran huruf-huruf "Tay Beng sanhay kwan coanpeng hu"

Kaisar Kong Hi langsung tersenyum dan berkata.

"Urusan ini agak mencurigakan! Kalau ada rencana terselubung, seharusnya semua bukti-bukti ini dihilangkan terlebih dahulu, tapi ini malah sebaliknya!"

Kaisar Kong Hi menoleh kepada So Ngo-tu.

"kalau Go Sam-kui mengutus orang ke istana untuk melakukan pembunuhan, seharusnya dia sudah merencanakannya matang-matang, Senjata apa yang tidak boleh digunakannya? Mengapa dia justru memakai senjata yang ada tanda jati dirinya? Mereka toh datang ribuan li dari propinsi Inlam, masa di tengah jalan tidak pernah terpikir bahwa ada kemungkinan senjata mereka bisa tertinggal di dalam istana di saat melakukan penyerbuan?"

"Ya, ya! Sri Baginda benar sekali!"

Puji So Ngo-tu.

"Sri Baginda cerdik dan dapat memandang urusan sampai jauh, hamba benar-benar takluk!"

Raja menoleh kepada thay-kamnya yang masih muda.

"Siau Kui cu,"

Panggilnya.

"llmu silat apakah yang digunakan penjahat yang berhasil kau bunuh itu?"

"llmu Heng-sau ciang kun dan Kao-san Li Sui!"

Sahut si bocah cilik yang ditanyai.

"Nah, ilmu dari manakah itu?"

Tanya kaisar Kong Hi kepada To Lung.

Walaupun kepala pengawal ini asli orang Boan tapi To Lung kenal banyak macam ilmu silat, Karena itu pula tidak heran kalau dia mengenal kedua macam ilmu silat yang disebut Siau Po.

"Mirip dengan ilmu silat keluarga Bhok di Inlam!"

Sahutnya, Raja menepuk tangan keras-keras.

"Tidak salah! Memang tidak salah!"

Puji kaisar Kong Hi.

"To Lung, pandanganmu luas sekali!"

Puas rasanya hati To Lung mendengar pujian junjungannya, Dia segera menjatuhkan diri berlutut untuk memberi hormat dan mengucapkan kata-kata merendah, serta mengucapkan terima kasih.

"Coba kalian pikir,"

Kata kaisar Kong Hi kembali.

"Kalau benar Go Sam-kui menitahkan orang-orangnya datang ke kotaraja untuk menyerbu istana, tidak mungkin dia memilih saat yang sama mengutus puteranya datang berkunjung ke kota Peking ini! Para penyerbunya toh bisa datang setiap waktu, kenapa dia memilih waktu ketika puteranya ada di sini? inilah hal pertama yang menimbulkan kecurigaan. Go Sam-kui pandai mengatur tentara, orangnya teliti dalam mengambil setiap tindakan Mengapa dia bisa mengirim orang-orang semacam ini untuk melakukan tugas yang dititahkannya? Bukankah jumlahnya terlalu kecil dan kepandaian mereka tidak seberapa tinggi? Tapi mengapa dia mengirimkannya juga? Hal inilah yang disebut kecurigaan kedua, Ada lagi yang ketiga, Taruh kata, benar dia mengirim orang untuk membunuh raja-nya, apa manfaat bagi dirinya? Mungkinkah dia ingin memberontak dengan menimbulkan huruhara? Kalau dia benar ingin memberontak mengapa dia mengirim puteranya ke kota raja? Bukankah itu berarti dia mengantarkan puteranya menuju ambang pintu kematian?"

Tatkala Siau Po mendengar dari Pui Ie, perihal muslihat yang mereka gunakan untuk memfitnah Go Sam-kui, dia merasa siasat itu bagus sekali, Sekarang, setelah mendengar keterangan Sri Baginda, baru dia merasa siasat itu terlalu banyak kelemahannya.

Diam-diam dia merasa kagum terhadap Raja muda yang cerdik itu.

So Ngo-tu juga memuji sang raja yang dikatakan cerdas sekali.

"Nah, mari kita pikirkan lebih jauh!"

Kata kaisar Kong Hi.

"Seandainya para penyerbu itu bukan orang-orang Go Sam-kui, tetapi mereka menggunakan senjata dan pakaian yang bertanda Peng Si orujhu itu, apakah maksudnya? Apakah hal ini mempunyai arti tersendiri? Terang ada orang yang ingin memfitnah Go Sam-kui, Peng Si ong telah membantu kita merampas seluruh tanah Tionggoan. Sudah tentu tidak sedikit orang yang membencinya, Nah, penjahat itulah yang harus kita cari! Siapa kira-kira orang itu? Atau dari pihak manakah ? Hal inilah yang harus kita pikirkan dengan seksama!"

"Sri Baginda benar!"

Sahut So Ngo-tu dan To Lung serentak "Kalau seandainya Sri Baginda tidak berpandangan demikian jauh, mungkin kami sekalian sudah kena dikelabui, Bukankah itu berarti kami mencelakai orang baik-baik dan memfitnah tidak karuan?"

Kata To Lung menambahkan.

"Memfitnah orang baik-baik! Hm!"

Kata Raja, Setelah itu kaisar Kong Hi berdiam diri.

Karena itu, So Ngo-tu dan To Lung pun segera memohon diri.

Raja membiarkan kedua orang itu pergi, Dia justru memandangi Siau Kui cu lekatlekat kemudian berkata.

"Siau Kui cu, coba kau terka, bagaimana aku bisa mengetahui kedua jurus Heng-sau ciang kun dan Kao-san Liu Sui?"

"Hambamu justru sejak tadi, dilanda keheranan,"

Sahut Siau Po.

"Apa sebabnya Sri Baginda bisa tahu?"

"Tadi pagi-pagi sekali, aku telah memanggil beberapa orang siwi untuk menghadap. Lalu aku menanyakan soal penyerbuan tadi malam, terutama tentang ilmu silat yang mereka gunakan, Ternyata ada beberapa jurus ilmu silat yang merupakan ciri khas keluarga Bhok, Kau tahu, keluarga ini turun temurun menguasai wilayah Inlam, Hanya setelah masuknya kerajaan Ceng kita, propinsi itu langsung diserahkan kepada Go Sam-kui. Tentu saja karena itu keluarga Bhok menjadi gusar dan sakit hati. Selain itu, Bhok Tian-po pangeran terakhir Bhok onghu justru tewas di tangan bawahan Go Sam-kui. Hal ini menambah kebencian di hati mereka. Aku juga menyuruh beberapa orang siwi itu menjalankan ilmu silat keluarga Bhok, ternyata di antaranya memang ada Heng-sau ciang kun dan Kao-san Liu Sui!"

"Sungguh Sri Baginda pandai berpikir dan menerka!"

Puji Siau Po. Di dalam hati dia justru merasa gundah dan khawatir sekali, Dia berpikir.

"Di dalam kamarku tersembunyi dua orang nona dari keluarga Bhok. Entah Sri Baginda mengetahuinya atau tidak?"

Ketika Siau Po masih bingung, kaisar Kong Hi tersenyum dan berkata kepadanya.

"Eh, Siau Kui cu, apakah ada pikiranmu untuk mendapatkan rejeki besar?"

Tanyanya. Siau Po menoleh kepada Raja dan menatap dengan pandangan tidak mengerti.

"Kalau Sri Baginda tidak memberikan, mana berani hamba memintanya,"

Sahut bocah itu, Dia kurang mengerti apa yang dimaksudkan oleh junjungannya, karena itu dia hanya dapat menduga-duga saja.

"Sebaliknya, apabila Sri Baginda bersedia memberikannya, hamba pun tidak berani menerimanya!"

Raja tertawa.

"Bagus!"

Katanya.

"Aku akan memberikan rejeki besar untukmu! sekarang kau kumpulkan semua senjata dan pakaian dalam ini. Juga surat-surat pengakuan para penyerbu yang kena ditawan lalu bawa semuanya kepada seseorang, Aku yakin kau akan memperoleh harta karun!"

Siau Po tertegun, tapi sejenak kemudian dia tersadar.

"Oh, dia pasti Go Eng-him!"

Serunya.

"Kau memang cerdas sekali!"

Kata Raja.

"Nah, kau bawalah semua barang-barang ini kepadanya!" "Sungguh besar rejeki Go Eng-him!"

Kata Siau Po.

"Ha... ha... ha.,.! sekarang jiwa dia beserta keluarganya, semua ada di tangan Sri Baginda, Bahkan seluruhnya juga merupakan hadiah dari Sri Baginda!"

"Bagaimana nanti kau berbicara dengannya?"

Tanya Sri Baginda.

"Akan hamba katakan begini kepadanya.

"Eh, orang she Go, junjungan kita sangat cerdas dan berpandangan jauh, Sri Baginda dapat mengetahui apa saja yang kalian ayah dan anak lakukan di Inlam. Tidak ada satu hal pun yang tidak beliau ketahui Kalau kalian hendak memberontak, Sri Baginda sudah dapat menduganya dari jauh hari Oleh karena itu, kalian harus baik-baik dan menuruti perkataanku!"

Kaisar Kong Hi tertawa.

"Kau cerdas sekali!"

Katanya.

"Meskipun kau tidak bersekolah, kau buta huruf dan kata-katamu kasar, tetapi alasannya selalu tepat Memang mereka ayah dan anak harus tunduk sepenuhnya kepadaku!"

Senang Siau Po mendengar nada junjungannya.

Dia segera membungkus seluruh senjata dan pakaian dalam yang berserakan di atas meja, Juga surat pengakuan para siwi, Kemudian dia memberi hormat kepada Raja untuk memohon diri.

Setelah itu dia memutar tubuhnya untuk meninggalkan kamar tulis Raja itu, Namun tepat pada saat itu juga, dia merasa punggungnya nyeri sekali.

"Celaka!"

Gerutunya dalam hati Mendadak saja kepalanya terasa pusing dan perutnya muak. Dia merasa ingin muntah.

"Ah, aku harus menemui nenek sihir itu secepatnya agar diberikan obat!"

Di samping Siau Po ada seorang thay-kam, sembari mengasongkan bungkusannya yang akan menjadi harta karun, dia berkata.

"Kau pegang dulu barang ini Aku akan ke keraton Cu Leng hiong untuk mengucapkan selamat pagi kepada thayhou!"

Thay-kam itu mengangguk Dia menyambut bungkusan itu.

Siau Po bergegas pergi ke keraton Cu Leng hiong, kamarnya ibu suri, sesampainya d sana dia meminta seorang thay-kam mengabarkan kedatangannya.

Tidak lama kemudian muncullah Lui Cu, s dayang cilik.

Melihat Siau Po, dia berkata dengan suara lirih.

"Kui kongkong, thayhou sedang marah. Katanya beliau tidak ada waktu menemui mu. Kalau ka ada urusan apa-apa, besok saja kau datang lagi."

Siau Po jadi tertegun.

"Besok baru datang lagi?"

Pikirnya dalam hati "Entah besok aku masih hidup atau tidak?

Terang terangan kemarin thayhou sendiri yang mengatakan agar aku datang hari ini untuk mengambil obat sekarang dia sengaja mempermainkan aku.

Ak benar-benar tidak menyangka!"

"Adik kecil,"

Katanya kemudian kepada Lui Cu "Tolong kau kembali lagi kepada thayhou dan kata kan bahwa kemungkinan besok aku tidak bisa hidup lagi, Tapi, Siau Kui cu menganggap jiwanya kecil karena itu aku tidak perlu minum obat lagi!"

Lui Cu bingung, Untuk sesaat dia menatap Sia Po dengan tatapan heran.

"Eh, apa yang kau katakan?"

Tanyanya.

"Bagaimana aku bisa menyampaikan katakatamu kepad thayhou, sedangkan ucapanmu itu begitu tidak sopan?"

"Hm!"

Siau Po mengeluarkan suara yang tawar.

"Karena aku akan mati, perduli apa kata-kataku ini sopan atau tidak!"

Selesai berkata, dia langsung membalikkan tubuhnya dan pulang ke kamarnya sendiri Dia langsung memalang pintu kamarnya itu setelah sebelumnya mengambil dulu bungkusan yang dititipkan tadi, Dia duduk di atas kursi dengan nafas tersengal-sengal.

Biar bagaimana, pikirannya bingung dan hatinya mendongkol.

"Apa kau kurang sehat?"

Tanya Kiam Peng.

"Meiihat wajahmu yang cantik, kesehatanku pun pulih kembali,"

Sahut Siau Po.

"Kau begitu cantik sehingga bunga dan rembulan pun merasa malu memandangmu!"

Kiam Peng tertawa.

"Suciku baru termasuk gadis cantik yang bisa membuat bunga-bunga malu dan rembulan menutup diri, Di wajahku ada kura-kura kecil sehingga buruk sekali...."

Mendengar gurauan si nona cilik, hati Siau Po terasa lega juga.

"Eh, kenapa di wajahmu ada kura-kura?"

Tanyanya sambil tertawa.

"Oh, aku tahu sekarang, Adikku yang baik, wajahmu begitu bersih dan mulus sehingga bila kau berkaca, kau akan melihat bayangan seekor kura-kura cilik,"

Kiam Peng heran, Dia menatap Siau Po tajam. "Apa katamu? Mengapa kau berkata demikian."

"Kau lihat, dengan siapa kau tidur?"

Kata Siau Po.

"Wajahmu berpotongan telur mirip sebuah cermin Dan di sana terbayang wajahnya seseorang yang tampak mirip seekor kura-kura kecil!"

"Cis!"

Pui le yang sejak tadi diam saja jadi sengit karena merasa disindir oleh Siau Po.

"Nih, kau lihat sendiri wajahku!"

Siau Po tertawa.

"Kalau aku melihatnya dari dekat, maka di wajah adikku yang manis pasti terpantul tampang seorang tuan besar yang tampan dan gagah!"

Kiam Peng tertawa, Pui le juga ikut tertawa, Mereka merasa thay-kam cilik ini memang lucu sekali.

"Kalau seekor kura-kura kecil bisa jadi tuan besar, lalu tuan besar yang bagaimana itu?"

Sindir Pui Ie. Siau Po tertawa, Juga Kiam Peng dan Pui le, tap mereka tidak berani tertawa keraskeras.

"Sekarang mari kita bicara yang serius,"

Kata Pu Ie.

"Kami harus menyingkir dari sini Bagaimana caranya? Kau harus memikirkan jalannya bagi kami!"

Di dalam istana, Siau Po selalu dihormati oleh para thay-kam dan para siwi, Berhadapan dengan raja, dia juga merasa gembira.

Tapi begitu kembali ke kamarnya, dia akan merasa sepi Sejak adanya kedua nona dari keluarga Bhok, dia tidak lagi kesepian.

Memang dia khawatir mereka bisa kepergok, namun dia tetap tidak ingin cepat-cepat berpisah dengan kedua nona itu.

Mendengar ucapan Pui le, dia jadi berpikir.

"Kita harus pikirkan dengan seksama, Kalian sedang terluka, Apabila kalian keluar dari kamar ini, ada kemungkinan kalian akan kepergok dan ditawan kembali Bukankah hal itu membahayakan sekali?"

Katanya. Pui le dan Kiam Peng terdiam, Kata-kata Siau Po memang benar.

"Coba kau beritahukan kepadaku,"

Kata Pui Ie.

"Di antara kawan-kawanku yang datang menyerbu tadi malam, ada berapa yang mati dan berapa pula yang tertawan? Apakah kau mengetahui nama-nama mereka?"

Siau Po menggelengkan kepalanya.

"Aku tidak tahu,"

Sahutnya.

"Kalau kau ingin mencari keterangan itu, nanti aku akan menanyakannya...."

"Terima kasih,"

Kata Pui Ie. Siau Po merasa senang dan juga heran. Barukali ini dia mendengar suara si gadis yang demikian lembut, bahkan gadis itu pun mengucapkan terima kasih.

"Yang paling penting kau selidiki, apakah di antara orang yang tertawan itu ada seorang she Lau atau tidak?"

Kata Kiam Peng ikut bicara.

"Seorang she Lau?"

Tanya Siau Po menegaskan "Siapa nama belakangnya?"

"Dia adalah kakak seperguruan kami,"

Sahut Bhok Kiam-peng.

Baca Juga: Pedang Pusaka Thian Hong Kiam Kho Ping

Baca Juga: Kidung Senja Di Mataram 4

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert