Ceritasilat Novel Online

Kidung Senja Di Mataram 4

Eps 4 Kidung Senja Di Mataram - Kho Ping Hoo

Baca online Kidung Senja Di Mataram - Kho Ping Hoo

Cersil Kidung Senja Di Mataram - Kho Ping Hoo.

Kalau ada murid yang melanggar peraturan, mempergunakan kekerasan dan kepandaian untuk memaksakan kehendak mereka kepada orang lain, melakukan kejahatan, pasti murid itu akan dihukum berat.

Karena itu, nama Dayatirta sebagai perguruan kanuragan, dikenal dan dihormati semua orang.

Adipati Jayaraga tentu saja sudah mendengar akan nama besar perguruan Dayatirta ini, dan sudah mengirim utusan untuk menghubungi Santiko dan Bargolo, mengajak agar perguruan itu suka membantu Ponorogo menghadapi Mataram.

Akan tetapi, usaha ini belum berhasil karena terjadi pertentangan paham antara Santiko dan adiknya sendiri, yaitu Bargolo.

Santiko ingin menanggapi ajakan Adipati Ponorogo, akan tetapi adiknya, Bargolo, tidak setuju.

Karena ini, maka ajakan Pangeran Jayaraga masih belum mendapatkan tanggapan yang pasti.

Setelah Nurseta menghubungi mereka dan membujuk mereka agar suka bekerja sama membantu Ponorogo, kembali terjadi pertengkaran dan pembantahan antara kedua orang kakak beradik itu, Pada pagi hari itu, kembali kakak dan adiknya ini bertengkar mengenai urusan itu.

Mereka berdua duduk di tepi telaga yang sunyi.

Mereka memang sengaja memilih tempat yang sunyi itu agar percakapan mereka tidak didengarkan orang lain.

Mereka duduk berhadapan di atas batu datar yang licin, di tepi telaga.

Pagi yang cerah.

Matahari belum naik tinggi, merupakan bola besar yang kuning emas dan biarpun bola api itu sendiri cukup menyilaukan kalau dipandang langsung, namun sinarnya masih lemah dan hangat, belum menyengat.

Kicau burung pagi sudah melemah karena sebagian besar burung-burung itu sudah meninggalkan pohon mencari makan.

Tinggi di angkasa nampak beberapa puluh ekor kelelawar besar atau kalong yang kesiangan, pulang ke sarang mereka dari pekerjaan mereka mencari makan sepanjang malam tadi.

Sarang mereka adalah sebuah randu alas besar di hutan bukit sana.

Air telaga nampak tenang, seperti sebuah cermin kaca yang besar.

Sinar matahari membuat jalan emas yang panjang di permukaannya, membuat bayang-bayang pepohonan yang terbalik kehijauan nampak aneh mengandung rahasia yang mendalam.

Dalam keadaan seperti itu, kalau kita duduk di tepi telaga, kalau kita mengamati semua itu tanpa keinginan mengamati, tanpa pikiran, tanpa penilaian, kita seolah menjadi bagian tak terpisahkan dari keagungan alam ciptaan Sang Maha Pencipta itu.

Tidak ada lagi bedanya antara yang satu dengan yang lain, semua merupakan bagian dari suatu kesatuan agung.

Tidak ada baik tidak ada buruk, tidak ada indah atau jelek, tidak ada tinggi atau rendah, semua berada dalam keadaannya yang suci!

Bagus dan buruk hanya timbul setelah kita menilai, dan penilaian ini selalu didasari oleh rasa suka dan tidak suka, sedangkan rasa suka dan tidak suka didasari pula oleh kepentingan pribadi.

Kalau menyenangkan, maka timbul perasaan suka dan dianggap indah, kalau tidak menyenangkan, timbul perasaan tidak suka dan dianggap buruk.

Karena penilaian itu terpengaruh pikiran dan kepentingan, tentu saja tidak abadi, selalu berubah sesuai dengan kepentingannya.

Mungkin yang kemarin kita katakan baik, hari ini kita katakan buruk, dan apa yang hari ini kita katakan buruk, besok kita anggap baik.

Sejenak Santiko dan Bargolo duduk berhadapan tanpa kata-kata, seolah suasana di sekelilingnya mempengaruhi mereka, mengusir semua gerak hati akal pikiran, dan dalam keadaan kosong dan hening, tidak ada masalah, tidak ada pertentangan, tidak ada gesekan.

Akan tetapi akhirnya, hati akal pikiran yang menang dan sekali lagi keduanya sudah dicengkeram oleh hati akal pikiran masing-masing.

Santiko sang kakak, bertubuh tinggi besar dan kokoh kuat, wajahnya membayangkan kegagahan, gerak geriknya kasar, sesuai dengan wataknya yang keras terbuka dan jujur.

Dia membiarkan kumis dan jenggotnya tumbuh subur sehingga wajah itu nampak jantan dan gagah perkasa.

Sepasang matanya yang lebar itu bersinar penuh kejujuran, dan dia tidak pernah mengenal kepura-puraan.

Adiknya, Bargolo yang berusia tiga puluh tahun, merupakan kebalikan dari keadaan lahiriah kakaknya.

Bargolo ini bertubuh sedang dan nampak lelah lembut, baik geragerik maupun tutur-sapanya.

Wajah tampan dan halus, tidak memelihara kumis dan jenggot, senyumnya menghias wajahnya sehingga dia selalu nampak ramah dan manis budi.

Akan tetabiarpun keadaan mereka jauh berbeda, kedua kakak beradik ini memiliki tingkat kedigdayaan yang sama karena murid Ki Ageng Jayagiri di "Nah, sekarang kita bicara untuk yang terakhir kali, adikku Bargowo.

Sudah sampai ke sini berita bahwa pasukan besar Mataram telah siap dan sewaktu-waktu pasukan itu akan datang menyerbu daerah Ponorogo.

Kita harus dapat mengambil keputusan sekarang juga, selagi kita berdua saja di sini dan tidak ada yang mendengarkan percakapan kita."

Suara yang besar dan tegas dari Santiko itu berwibawa. Bargolo tersenyum.

"Baiklah, kakang Santiko. Aku sendiripun ingin mengambil kepu-tusan agar aku dapat menentukan langkahku selanjutnya."

"Sekarang aku sekali lagi hendak bertanya. Engkau adalah adikku, adik kandungku, kita seayah dan seibu. Karena ayah dan ibu sudah tidak ada, maka sudah sepatutnya kalau aku sebagai kakakmu menjadi pengganti ayah dan ibu. Akan tetapi aku tidak ingin memaksakan kehendakku kepadamu. Nah, aku bertanya, apakah engkau ini, adik kandungku, benar-benar hendak melanjutkan dorongan nafsumu, hendak menjadi seorang pengkhianat? Engkau hendak membelakangi Ponorogo dan menyeberang, membantu Mataram?"

"Memang benar, kakang Santiko. Hatiku sudah bulat, aku bertekat untuk membantu Mataram, bukan (Lanjut ke

Jilid 09) Kidung Senja Di Mataram (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 09 untuk menjadi pengkhianat"".."

"Gila! Engkau hendak membantu Mataram dan melawan Ponorogo, dan engkau mengatakan bahwa engkau bukan menjadi pengkhianat? Lalu apa? Lupakah engkau akan semua wejangan bapa guru di puncak Merbabu, bahwa seorang gagah tidak akan bertindak khianat? Kita adalah kawula Ponorogo, kita harus membela Ponorogo dengan taruhan nyawa, itulah sikap seorang ksatria!"

"Hemm, kakang Santiko, engkau hanya ingat yang satu akan tetapi lupa yang lain. Lupakah kakang akan wejangan bapa guru bahwa kita harus menjadi orang yang selalu menjunjung tinggi tinggi kebenaran dan menentang kejahatan? Kita harus membela dan mempertahankan kebenaran dan keadilan, kalau perlu dengan taruhann nyawa! Nah, itulah sebabnya mengapa aku membela Mataram, kakang Santiko. Jelas bahwa dalam pertentangan antara Ponorogo dan Mataram, pihak Ponorogo yang bersalah. Ponorogo adalah termasuk wilayah Mataram sejak dahulu, kenapa sekarang Ponorogo meniru daerah lain, memberontak terhadap Mataram? Seorang ksatria yang menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan, tidak akan membenarkan pemberontakan yang pada dasarnya adalah karena iri hati dan hendak merebut kekuasaan."

"Hemm, engkau selalu mengajukan pendapat seperti itu. Agaknya engkau hendak meniru kelakuan Wibisono yang berkhianat terhadap Alangka dan memihak Roma untuk memerangi kerajaan kakaknya sendiri!"

"Tidak kusangka, kakang. Dan engkau agaknya hendak meniru raksasa Kumbokarno, tidak perduli bahwa kakaknya jahat dan keji, membela angkara murka dengan alasan membela tanah air!"

Bargowo membalas.

"Memang benar, karena kuanggap bahwa Kumbokarno itulah yang benar! Biarpun dia raksasa, akan tetapi hatinya adalah hati seorang ksatria, seorang pahlawan. Dia rela mati demi membela tanah air dan bangsa. Dan aku memang mandaulad tindakan itu. Aku pun rela mati demi membela Ponorogo!"

"Akan tetapi itu berarti bahwa engkau membela yang salah, kakang!"

"Dan kau kira Sang Prabu Hanyokrowati dari Mataram itu yang benar? Engkau mengkhianati Ponorogo, tempat di mana ibu melahirkan kita, dan membela Mataram? Sungguh memalukan sekali!"

Kakak beradik itu saling tatap dengan muka merah.

Keduanya sudah marah sekali, yakin akan kebenaran masing-masing.

Memang sungguh aneh keadaan mereka itu, sama benar dengan yang dialami oleh kakak beradik Kumbokarno dan Wibisono dalam kisah pewayangan Ramayana.

Kumbokarno yang berujud raksasa dan Wibisono yang berujud bambang yang tampan itu saling berhadapan seperti musuh karena mereka pun berbeda bahkan bertentangan pendapat seperti halnya Santiko dan Bargowo sekarang ini.

Kakak mereka Sang Prabu Dasamuka, menculik Dewi Sinta isteri Ramawijaya sehingga Rama mengerahkan pasukan monyet menyerbu Alengka, negara Dasamuka.

Wibisono yang tidak berhasil membujuk kakaknya, Dasamuka untuk mengembalikan Shinta dan mengaku kesalahan, lalu menyeberang dan memihak kepada Ramawijaya.

Sebaliknya, ketika Kumbokarno juga gagal mengingatkan Dasamuka, dia bahkan menjadi senopati, melawan pasukan Ramawijaya dengan penuh kesadaran akan kelaliman kakaknya akan tetapi dia melawan pasukan Ramawijaya bukan demi membela kakaknya melainkan membela tanah air dan bangsa dari serbuan musuh, sampai dia gugur di medan laga.

Keduanya membela kebenaran masing-masing, dan masing-masing memiliki alasan yang kuat.

Wibisono hendak membela kebenaran dan keadilan dan untuk itu, dia rela menentang kakak sendiri karena kakaknya berada di fihak yang lalim dan bersalah.

Sebaliknya, Kumbokarno mati-matian membela negara dan bangsa, walaupun dia sadar bahwa kakaknya berada di pihak yang bersalah.

Dia membela tanah air, bukan membela kakaknya, berarti dia membela kebenaran pula.

Kakak beradik sama-sama membela kebenaran, akan tetapi kebenaran masing-masing, seperti kebenaran yang diakui oleh setiap orang, seringkali bertentangan!

"Kakang Santiko, benar-benarkah kita yang tadinya menjadi kakak beradik yang saling mencinta, saling membela, sekarang harus saling berhadapan sebagai musuh?

Kakang, tidak adakah jalan lain?"

Bargowo berkata dengan suara penuh duka. Santiko menggeleng kepala dan menarik napas panjang.

"Aku menyesal sekali, adi Bargowo. Akan tetapi sampai matipun aku tidak mungkin mengubah pendirianku. Aku harus membela Ponorogo, sampai tetes darah terakhir!"

"Kakang Santiko, sungguh hancur perasaan hatiku melihat keadaan kita. Ah, bapa guru begitu jauh sehingga kita tidak dapat memohon petunjuk beliau. Lalu kepada siapakah kita akan minta petunjuk dan keadilan?"

Keluh Bargowo.

Pada saat itu, terdengarlah lengking suling yang mendayu-dayu mengalun indah, seolah suara suling itu datang bersama sinar matahari, halus lembut menyusup kalbu.

Kedua orang kakak beradik itu saling pandang, agak terkejut.

Kemudian timbul suatu pikiran dalam benak Bargowo.

"Kakang Santiko, kita tidak tahu siapa peniup sulung itu. Akan tetapi dalam keadaan seperti ini, tiba-tiba ada orang meniup suling semerdu itu. Agaknya suara itu akan mendatangkan kunci bagi kita untuk membuka keruwetan ini. Bagaimana kalau kita menemui peniup suling itu dan menentukan bahwa kita berdua akan mendengarkan pendapatnya sehingga ada yang akan menengahi pertentangan pendapat di antara kita?"

Santiko mengerutkan alisnya. Akan tetapi mengangguk dan berkata.

"Mudah-mudahan dia akan dapat mendamaikan antara kita, akan tetapi kalau dia tidak mempunyai alasan yang kuat, aku tidak akan mangubah keputusanku."

"Tentu saja, kakang. Kalau dia ternyata hanya seorang biasa saja yang kepandaiannya hanya meniup suling dan tidak mempunyai pandangan yang tepat, akupun enggan untuk mengubah pendirianku. Mari kita songsong dia, kakang!"

Kakak beradik itu bangkit dari atas batu, akan tetapi mereka tidak perlu pergi jauh karena pada saat itu, si peniup suling sudah tiba di tikungan dan sedang menuju ke arah mereka sambil terus meniup sulingnya dan melangkah perlahan sambil menundukkan mukanya.

Kakak beradik itu memandang penuh perhatian kemudian mereka saling pandang, lalu memandang lagi kepada pemuda peniup suling yang melangkah perlahan menuju ke arah mereka itu.

Peniup suling itu seorang pemuda, masih muda sekali, tidak akan lebih dari dua puluh tahun usianya, tidak berbaju, hanya mengenakan celana hitam dan berkalung kain.

Tubuhnya sedang dan tegap , keadaannya sederhana saja dan melihat itu, kakak beradik ini sudah merasa kecewa.

Agaknya hanya seorang pemuda dusun yang biasa bertani atau menggembala ternak, walaupun wajah pemuda itu tampan dan gerak geriknya halus.

Seorang pemuda sederhana seperti itu bagaimana mungkin dapat menengahi pertentangan pendapat di antara mereka, apa lagi mengenai urusan membela kebenaran?

Pemuda itu adalah Aji, atau nama lengkapnya Banu Aji.

Dengan kecerdikannya, ketika dia menjajak lari Ki Sinduwening dan Mawarsih, pada saat ayah dan puterinya itu dikeroyok penjaga, Aji berhasil menyelinap dan menggunakan saat kacau itu, dia berhasil keluar dan melarikan diri.

Semenjak malam itu, tentu saja dia tidak berani kembali lagi ke kadipaten Ponorogo.

Masih untung bahwa dia tidak dibunuh oleh Brantoko yang telah menghajar dan memukulinya sampai babak belur.

"Kisanak, harap berhenti sebentar!"

Bargowo menegur Aji yang tadinya masih melangkah dan melanjutkan tiupan sulingnya tanpa memperdulikan dua orang itu karena dia tidak mengenal mereka.

Mendengar teguran itu, Aji menghentikan tiupam sulingnya, mengangkat muka memandang kepada dua orang itu.

Kini kakak beradik itu melihat betapa pemuda sederhana ini memiliki wajah yang tampan dan manis, dengan sinar mata yang tajam.

Pandang mata seperti itu jelas bahkan pandang mata seorang yang bodoh dan sederhana.

Pandang mata itu membayangkan kecerdikan, dan senyum di bibirnya itu membayangkan ketenangan dan keramahan.

"Maaf, apakah andika berdua mempunyai urusan dengan aku?"

Tanyanya ramah.

"Kami yang minta maaf karena telah mengganggu andika, kisanak,"

Kata Bargowo.

"Memang kami mempunyai sebuah urusan yang ingin kami bicarakan dengan andika."

Melihat sikap ramah dan sopan dari Bargowo, diam-diam Aji merasa kagum.

Tak disangkanya di tepi telaga yang sunyi ini dia bertemu dengan orang yang selain kelihatan anggun dan gagah, juga bersikap lembut dan sopan.

"Dengan senang hati, kisanak. Apakah yang akan andika berdua bicarakan dengan aku?"

Tanyanya. Santiko yang tidak biasa menggunakan basa basi, berkata dengan suaranya yang besar dan lantang.

"Kisanak, mari kita duduk di batu ini. Ketahuilah bahwa kami kakak beradik. Namaku Santiko dan ini adikku bernama Bargowo. Bolehkah kami mengetahui nama andika?"

Aji memandang dengan tertarik sekali dan senyumnya mengembang.

Sungguh amat menarik, pikirnya.

Kakak beradik yang bukan hanya wajahnya berlawanan, akan tetapi juga sikapnya.

Yang seorang, adiknya,tampan dan halus ramah dan sopan, yang kedua kakaknya, kekar dan gagah seperti Bimaseno, terbuka dan jujur.

Mungkin yang seorang seperti ayahnya dan yang seorang lagi seperti ibunya, pikir Aji.

"Namaku Banuaji, biasa dipanggil Aji begitu saja."

Katanya singkat.

"Hemm, begini, kisanak. Kami kakak beradik ini tadi sedang bertengkar dan kami ingin agar engkau menjadi penengahnya dan""". dan"".."

Santiko memang tidak begitu pandai mengatur kata-kata, maka dengan bingung dia menoleh kepada adiknya.

"engkau sajalah yang menerangkan kepadanya!"

Bargolo tersenyum. Mereka duduk saling berhadapan dan dia lalu manatap Aji dan menerangkan dengan kata-kata yang jelas dan tidak tergesa-gesa.

"Seperti yang dikatakan kakang Santiko tadi, dimas Aji, bolehkah aku menyebutmu dimas? Andika masih begini muda, pantas menjadi adik kami."

"Tentu saja, kakangmas Bargowo. Lanjutkan keteranganmu tadi,"

Kata Aji dan jawaban serta sikap Aji itu menyadarkan kakak beradik itu bahwa yang mereka hadapi bukanlah seorang pemuda dusun, melainkan sudah tahu akan tata-krama.

Maka pandangan mereka berubah dan timbul harapan mereka bahwa pemuda ini akan dapat membikin terang kemelut di antara mereka berdua.

"Seperti dikatakan kakang Santiko tadi, kami kakak beradik menghadapi suatu masalah yang membuat kami saling bertentangan, saling memperebutkan kebenaran masing-masing. Ketika kami mendengar tiupan suling andika tadi, kami lalu mengambil keputusan untuk minta pendapat si peniup suling agar kami dapat mengambil keputusan siapa di antara kami yang benar dan apa yang harus kami lakukan."

Aji tersenyum dan mengangkat kedua alisnya, merasa heran sekali.

Bagaimana mungkin mereka itu minta pendapat seseorang yang sama sekali tidak mereka kenal, hanya menentukan dari suara suling saja?

"Masalah apakah itu, dan bagaimana aku dapat membantu andika berdua?"

"Dimas Aji, pernahkah andika nonton wayang kulit?"

Tiba-tiba Santiko bertanya. Aji terbelalak, heran mendengar pertanyaan yang aneh dan diajukan secara tiba-tiba itu. Akan tetapi keherannya bertambah ketika Bargowo juga berkata.

"Aku merasa yakin bahwa seorang yang pandai meniup suling seperti tadi, tentulah seorang seniman, adimas Aji, dan sebagai seorang seniman, tentu andika mengerti tentang kisah pewayangan. Benarkah itu?"

Aji tertawa, merasa aneh dan lucu.

"Tentu saja aku sering menonton wayang, bahkan aku pernah mempelajari seni pedalangan. Akan tetapi apa hubuangannya masalah andika berdua dengan pewayangan?"

"Kalau begitu begus sekali!"

Bargowo berkata girang dan ketika Aji melihat wajah Santiko yang gagah, dia pun melihat betapa orang ini juga memandang kepadanya dengan wajah berseri.

"Kalau begitu, sungguh kebetulan, agaknya memang andikalah orangnya yang dapat menjadi penengah kami yang adil. Andika tentu mengenal kisah Ramayana, bukan?"

Aji semakin tertarik. Kakak beradik ini sungguh aneh sekali, akan tetapi dia mengangguk.

"Aku hafal akan isi kisah itu."

"Andika tentu tahu akan kisah perang yang terjadi di Alengka, ketika Prabu Ramawijaya menyerbu dengan pasukan keranya ke sana?"

Kini Sabtiko yang bertanya. Kembali Aji mengangguk.

"Aku bahkan dapat menceritakan kisah itu dari permulaannya sampai akhirnya. Apakah andika berdua ingin aku bercerita tentang kisah Ramayana?"

"Tidak, dimas Aji!"

Kata Bargowo.

"Kami berdua hanya ingin mendapatkan kepastian, dan kami minta pendapatmu tentang peranan Kumbokarno dan Wibisono dalam perang antara Ramawijaya dan Dasamuka. Andika tahu bukan, bagaimana sikap Kumbokarno dan Wibisono dalam menghadapi perang yang melanda kerajaan Alengka? Nah, yang ingin kami minta pendapat andika adalah ini. menurut pendapat andika, siapakah yang benar dan siapa yang salah antara kedua tokoh itu dengan sikap mereka menghadapi penyerbuan Ramawijaya ke Alengka itu?"

Aji memandang kepada kakak beradik itu bergantian.

Betapa anehnya.

Menghentikan seorang yang sama sekali tidak dikenalnya, hanya untuk ditanya tentang sikap Kumbokarno dan Wibisono!

Akan tetapi dia mereka yakin bahwa di balik pertanyaan tentang pewayangan itu tentu terdapat hal lain yang lebih penting, maka dengan sikap serius diapun menjawab, suaranya tenang dan tegas.

"Kakangmas Santiko dan Bargowo, sikap kedua orang tokoh itu sudah jelas, seperti yang terdapat dalam kisah Ramayana. Sang Kumbokarno, raksasa berwatak ksatria yang gagah perkasa itu memihak Alengka dan menjadi senopati pasukan Alengka menghadapi penyerbuan pasukan kera Sang Prabu Ramawijaya yang kahirnya dia gugur sebagai seorang senopati yang gagah perkasa, yang bahkan dihormati oleh Ramawijaya sendiri. Adapun Sang Wibisono, keluarga raksasa yang tampan halus seperti bambang itu dan yang bijaksana, sebaliknya membantu Ramawijaya untuk menentang kakaknya sendiri, yaitu Sang Prabu Dasamuka atau Rahwanaraja yang lalim."

"Benar!"

Kata Bargowo.

"Akan tetapi yang kami ingin ketahui menurut pendapat andika siapakah yang lebih benar di antara mereka berdua? Dan siapa yang tindakannya salah?"

"Ya, katakan terus terang saja, berikut alasannya, adimas Aji. Siapakah yang benar dan siapa yang salah di antara di antara keduanya itu?"

Sambung pula Santiko.

"Kalau menurut pengamatanku, keduanya benar dan keduanya juga salah!"

Jawaban ini sungguh di luar dugaan kakak beradik itu, mereka saling pandang, lalu dengan alis berkerut keduanya menatap wajah Aji, merasa tak senang karena menganggap pemuda itu mempermainkan mereka.

"Dimas Aji, ketahuilah bahwa kami kakak beradik adalah pendiri perkumpulan kanuragan Dayatirta yang terkenal di seluruh wilayah ini."

Kata Bargowo.

"Kami adalah orang-orang yang menjunjung tinggi kegagahan, kebenaran dan keadilan dan kami menghadapi masalah yang penting dan gawat. Karena itu, kami minta kepada andika, Dimas Aji, harap jangan main-main dan memberi jawaban yang sebenarnya dan sejujurnya."

"Sungguh, aku tidak main-main. Pendapat itu lahir dari penilaian, dan penilaian didasari kepentingan pribadi, kakangmas Santiko dan Kakangmas Bargowo. Yang berpihak kepada Kumbokarno tentu akan mengatakan dia benar, sebaliknya yang berpihak kepada Wibisono tentu akan mengatakan dia yang benar, dan yang berpihak itu tentu ada hubungannya dengan kepentingan pribadi, merasa cocok sesuai, sependapat dan satu selera. Di dalam yang salah tentu akan ditemukan benarnya, sebaliknya di dalam yang benar terdapat pula kesalahannya. Yang mutlak benar dan sempurna itu hanyalah Tuhan Yang Maha Sempurna. Karena itu, kalau andika berdua tanya kepadaku, aku dengan sejujurnya mengatakan bahwa Kumbokarno dan Wibisono itu, kalau dikatakan benar yang benar, dikatakan salah ya salah."

Kembali kakak beradik itu saling pandang dan Bargowo yag wataknya lebih periang, segera dapat melihat kejanggalan dan kelucuan dalam pendapat Aji itu, maka dia tersenyum.

"Wah jawabanmu membuat kami menjadi semakin bingung, adimas, Aji. Bukankah sudah jelas bahwa Wibisono yang benar, karena dia sebagai ksatria yang bijaksana membela yang benar dan menentang yang lalim, walaupun yang lalim itu kakaknya sendiri? Dan bukankah Kumbokarno itu bersalah, karena dia membela yang lalim dan menentang Ramawijaya yang menuntut kembalinya isterinya yang diculik Dasmuka?"

"Yang benar adalah Kumbokarno!"

Kata Santiko suaranya tegas.

"Kumbokarno adalah seorang ksatria yang mengorbankan nyawa membela tanah air dan bangsa dari penyerbuan pasukan kera, sedangkan Wibisono adalah seorang pengecut dan pengkhianat kakaknya sendiri, membantu musuh dan membelakangi negara dan bangsa sendiri!"

Aji melihat betapa kedua orang kakak beradik itu saling pandang dengan penuh kemarahan dan sikap mereka seperti dua ekor ayam jago yang sedang dalam keadaan siap untuk berkelahi!

"Ahhh, harap andika berdua memaafkan aku, aku harap bersabar.

Mengapa kita ribut-ribut soal kisah pewayangan?

Itu hanya dongeng, tidak ada harganya untuk kita pertengkarkan.

Lebih baik kalau andika berdua menjelaskan, sebetulnya ada masalah apakah di antara andika berdua?

Siapa tahu, mungkin saja aku akan dapat membantu memecahkan persoalan itu.

Kita bicara tentang andika berdua saja secara langsung, bukan bicara tentang kisah pewayangan,"

Suara Aji penuh ketenangan dan kesabaran yang tulus, membuat kakak beradik itu aga reda dan sabar.

Kembali mereka saling pandang dan keduanya mengangguk.

Tanpa katapun keduanya menyetujui untuk menceritakan tentang persoalan yang mereka hadapi kepada pemuda itu.

"Begini, adimas Aji,"

Kata Bargowo.

"Keadaan kami berdua hampir sama dengan keadaan Kumbokarno dan Wibisono, oleh karena itu tadi kami menanyakan pendapat andika tentang mereka berdua. Kini, perang berada di ambang pintu. Agaknya, tak lama lagi Mataram akan menyerang Ponorogo dan menghadapi perang itu, timbul pertentangan pendapat antara aku dan kakang Santiko. Seperti Kumbokarno, kakang Santiko berkeras akan membantu Ponorogo menentang Mataram, sedangkan aku berkeras untuk membantu Mataram melawan Ponorogo. Seperti Kumbokarno dan Wibisono, kami berdua juga mempunyai alasan kami masing-masing. Kakang Santiko berlandaskan membela tanah air dan bangsa, sedangkan aku sendiri berlandaskan membela kebenaran dan keadilan karena kuanggap bahwa Sang Adipati Ponorogo telah memberontak terhadap Mataram. Nah, kami bedua sungguh mengharapkan pendapatmu dalam hal ini, adimas Aji. Bagaimana menurut pendapat andika?"

Aji bersikap hati-hati.

Diam-diam dia terkejut dan maklum akan gawatnya persoalan.

Pemberontakan terjadi di mana-mana, para adipati dan bupati saling berlomba untuk memperebutkan kekuasaan.

Kesatuan rakyat terpecah-belah karena membela junjungan masingmasing, seperti halnya kakak beradik ini.

Setelah dia berdiam diri sebentar, seperti biasa dia mohon petunjuk dan bimbingan Tuhan Yang Maha Kasih dalam menghadapi keadaan yang gawat, dia lalu memandang kepada kedua kakak beradik itu.

"Sebelumnya aku menyatakan pendapatku, aku mengharap andika berdua bersikap jujur dan suka menjawab semua pertanyaanku secara terus terang. Nah, pertama-tama aku bertanya kepada andika berdua, andika ini bertanah air apa dan berbangsa apa?"

"Kami berkelahiran daerah Ponorogo, tentu saja kami berbangsa Ponorogo!"

Kata Santiko.

"Ponorogo termasuk wilayah Mataram, aku merasa lebih tepat kalau mengatakan bahwa kami adalah bangsa Mataram!"

Kata Bargowo.

"Kalau begitu, pertentangan pendapat antara andika berdua adalah bahwa kakang mas Santiko membela Ponorogo dan kakangmas Bargowo membela Mataram, begitukah?"

"Benar sekali!"

Kata Bargowo.

"Tidak salah!"

Sambung Santiko.

"Lupakah andika berdua bahwa sebetulnya Ponorogo, atau Mataram, hanya merupakan sebagian saja dari Nusantara? Di jaman Mojopahit dahulu, bukankah tidak ada perbedaan antara Ponorogo dan daerah manapun juga, yang ada hanyalah suatu negara kesatuan? Kita tinggal di Pulau Jawa, kawasan Nusantara, dan kita ini sebangsa dan setanah air. Kita ini bersaudara dan kini kita akan bercerai-berai, terpecah-pecah karena adanya perebutan kekuasaan di antara para pemimpin kita. Kakangmas Santiko mengatakan hendak membela Ponorogo? Ponorogo dan rakyatnya yang akan kakangmas bela, ataukah kakangmas sebetulnya hanya membantu Adipati Ponorogo yang hendak merebut tahta kerajaan rakandanya, Sang Prabu Hanyokrowati di Mataram? Dan kakangmas Bargowo mengatakan hendak membela Mataram dan mempertahankan kebenaran dan keadilan, ataukah sebenarnya kakangmas Bargowo henya akan membantu Sang Prabu Hanyokrowati yang hendak mempertahankan tahta kerajaan dan menundukan Ponorogo yang dianggap pemberontakan?"

Kakak beradik itu saling pandang, agak bimbang karena apa yang diucapkan Aji itu merupakan pandangan yang baru bagi mereka.

"Harap andika berdua pertimbangkan dengan tenang. Bukankah kalau terjadi perang antara Ponorogo dan Mataram, maka perang itu merupakan perang antara dua saudara yang saling memperebutkan kekuasaan? Angkara murka telah menguasai hati dua saudara yang saling memperebutkan kekuasaan, dan akibatnya, rakyat jelata ikut terseret dalam perang saudara yang mengerikan, saling terkam demi membela dua saudara keluarga kerajaan yang saling memperebutkan kekuasaan."

"Akan tetapi Ponorogo diserang, tentu saja kami harus mempertahankan!"

Kata Santiko.

"Ponorogo memberontak, maka Mataram akan menyerbu!"

Kata pula Bargowo.

"Tentu saja terdapat seribu satu macam alasan, yang pada hakekatnya bersumber kepada perebutan di antara kedua pemimpin. Kalau Sang Adipati Ponorogo dan Sang Prabu di Mataram bijaksana, mereka tentu tidak akan saling serang. Mereka tentu akan bersatu padu, mengatasi semua pertentangan pendapat dengan musyawarah, dan memperkuat pertahanan tanah air yang kini diancam oleh musuh kita yang kini diancam oleh musuh kita yang sebenarnya, musuh yang mengancam tanah air dan bangsa, yang datang dari barat dan yang kini mulai menguasai daerah pesisir di Banten. Perang saudara hanya akan melemahkan kita sendiri, dan penyebabnya hanya kerena keangkara-murkaan dua orang bersaudara yang saling memperebutkan kekuasaan saja. Oleh karena itu, aku berani mengatakan bahwa yang membela Mataram pada hakekatnya membantu Sang Prabu Hanyokrowati mempertahankan kekuasaannya, sedangkan yang membela Ponorogo sesungguhnya hanya membantu Adipati Jayaraga untuk merebut kekuasaan dari tangan rakandanya. Nah, andika berdua dapat mempertimbangkan sendiri siapa di antara andika yang benar atau salah. Aku sudah terlalu banyak bicara. Selamat tinggal dan semoga Tuhan akan menunjukkan jalan bagi andika berdua."

Setelah berkata demikian, Aji bangkit berdiri, lalu meninggalkan kakak beradik itu.

Mereka tertegun, sampai lama tak mampu bicara, kemudian mendengar suara tiupan suling itu yang sudah terdengar menjauh.

Kakak beradik itu saling pandang sampai beberapa lamanya, masih termangu oleh ucapan pemuda yang pandai meniup suling itu.

Akhirnya, keduanya menghela napas panjang.

"Apa yang akan kita lakukan sekarang?"

Akhirnya Santiko bertanya kepada adiknya. Bargowo menatap wajah kakaknya.

"Kurasa benar sekali apa yang dikatakan dimas Aji tadi, kakang Santiko. Kalau di antara kita sampai terjadi bentrokan, bahkan saling serang dan saling bunuh, semua itu hanya untuk membela kepentingan dua orang yang hanya didorong angkara-murka belaka. Mereka sampai melupakan persaudaraan, hanya untuk memperebutkan kekuasaan. Mereka bahkan rela mengorbankan dan mempertaruhkan nyawa ribuan orang perajurit dan rakyat yang saling berbunuhan."

Santiko mengangguk.

"Kalau begitu, mari kita kumpulkan para murid dan kita mempersiapkan diri menghadapi perang saudara, tidak mencampuri perang itu sendiri, tidak berpihak melainkan kita harus siap membela dan melindungi rakyat jelata apa bila mereka diancam oleh perbuatan yang jahat dan penindasan dari mana dan dari siapapun datangnya. Musuh kita adalah kejahatan, seperti yang seringkali kita dengar dari wejangan bapa guru. Kita hanya memihak kebenaran dan menentang kejahatan, tidak mau melibatkan diri dengan perebutan kekuasaan antara para bengsawan."

Bargowo merangkul kakaknya.

"Aku setuju dan mentaati perintahmu, kakang Santiko!"

Keduanya lalu bangkit dan pergi meninggalkan tepi telaga, dan kini wajah mereka berseri dan ada suatu nyala api di dalam sinar mata mereka.

Mereka merasa gembira sekali karena telah menemukan jalan tengah yang amat baik, yang membuat bukan saja di antara mereka tidak ada pertentangan, bahkan juga jalan keluar itu akan membebaskan para murid mereka dari perpecahan pula.

Mereka mempunyai murid-murid dari berbagai asal-usul, ada yang merasa sebagai kawula Ponorogo, ada yang sebagai kawula Mataram sehingga andaikata kakak beradik ini jadi terpecah, maka di antara para murid mereka akan terjadi perpecahan pula.

Dengan pasukan yang besar jumlahnya Sang Prabu Hanyokrowati mulai menyerang Ponorogo.

Akan tetapi, sebelum penyerangan digerakkan, pihak kadipaten Ponorogo sudah mengetahui akan semua rencana penyerangan itu, karena Nurseta diam-diam telah mengirim berita.

Maka, pasukan Ponorogo telah membuat persiapan yang amat baik dan pertahanan dikerahkan ke arah utara untuk menyambut penyerangan yang dipimpin oleh Ki Sinduwening dan para senopati lain.

Sedangkan pertahanan di selatan secukupnya saja karena pasukan Mataram yang menyerbu dari selatan dipimpin oleh Nurseta sendiri, sehingga tidak perlu dikhawatikan.

Akan tetapi untuk dapat mengendalikan Nurseta, Sang Adipati Ponorogo memberi tugas kepada Mayaresmi dan Brantoko untuk memimpin pasukan melakukan pencegatan di selatan.

Sedangkan Ki Danusengoro, adik seperguruan Ki Sinduwening, memperkuat para senopati Ponorogo untuk menghadang dan menjebak pasukan Mataram yang datang dari utara itu.

Di manapun dan kapanpun juga, apapun alasannya, perang sudah pasti menimbulkan kekacauan dan kesengsaraan kepada rakyat jelata.

Kalau terjadi perang, segala macam jin setan brekasakan seolah berpesta pora, muncul dan menyeret manusia yang menjadi nekat, lupa diri, dipenuhi nafsu dan terjadilah perbuatan-perbuatan yang kejam dan keji, segala macam bentuk kejahatan dilakukan manusia yang berbatin lemah.

Karena keadaan dalam kekacaun, pamong praja sedang disibukkan perang, maka tidak ada lagi kekuasaan yang mempertahankan keamanan di antara rakyat jelata.

Semua lurah, kepala dusun dan kepala daerah, sibuk dengan perang, juga semua petugas keamanan terjun ke dalam peperangan.

Maka, hukum tidak berlaku lagi, yang ada hanyalah hukum rimba, siapa kuat dia akan menang dan siapa menang dia akan benar!

Penindasan terjadi di mana-mana, yang pintar menipu yang bodoh, yang kuat memaksakan kehendaknya menekan yang lemah.

Yang menang berkuasa dan yang berkuasa mengendalikan hukum untuk memperkuat dan mempertahanklan kekuasaannya, agar hukum-hukum itu dapat membelenggu yang kalah.

Kekuasaan Tuhan yang nampak bekerja di seluruh alam semesta merupakan Hukum yang agung, merupakan garis pembatas yang menjamin adanya ketertiban.

Tanpa adanya hukum atau ketentuan yang sudah teratur dan berjalan rapi itu, alam semesta akan menjadi kacau balau.

Hukum Tuhan berujud ketertiban yang mengatur alam semesta, bahkan menjadi syarat kelangsungan hidup.

Namun sebaliknya, hukum buatan manusia kadang membelenggu yang berada di bawah, walaupun pada hakekatnya dibuat untuk melindungi yang berada di bawah atau yang lemah.

Dalam kenyataan, betapa seringnya terjadi bahwa hukum menjadi senjata dan perisai dari mereka yang menang dan berkuasa.

Bahkan banyak terjadi betapa hukum membelenggu kemerdekaan seseorang, tentu saja yang merasa terbelenggu kemerdekaannya itu adalah mereka yang lemah, bukan mereka yang berkuasa.

Kekuasaan merupakan puncak yang diperebutkan manusia di dunia ini, karena kekuasaan menjadi sumber segala kesenangan lahir batin.

Kekuasaan membuka pintu lebar bagi penonjolan diri, kekayaan, kehormatan dan kemuliaan, kekuasaan mendatangkan perasaan bangga diri karena menang dan merasa menang.

Kekuasaan menuntut ketaatan mereka yang berada di bawah.

Kerena itu amat menyenangkan dan menjadi rebutan.

Bukan hanya kekuasaan dari mereka yang menjadi pemimpin dan penguasa pemerintah, melainkan juga kekuasaan ini dirasakan sebagai sumber kesenangan bagi pemimpin kelompok, pemimpin masyarakat, perkumpulan sampai pemimpin keluarga.

Kekuasaan selalu mendatangkan kemenangan dan kesenangan.

Perebutan kekuasaan inilah yang menimbulkan sengketa, bentrokan, bahkan perang!

Perang!

Betapa mengerikan.

Dalam perang nafsu sepenuhnya menguasai manusia.

Tidak ada lagi perikemanusiaan.

Yang ada hanyalah nafsu untuk menang, dengan cara dan jalan apapun juga.

Yang curang dianggap cerdik.

Yang kejam dianggap gagah perkasa!

Segala cara ditempuh, kelicikan, kekejaman, pembunuhan, siksaan, kecurangan apa saja ditempuh, asal menang!

Bahkan Nama Tuhan diperebutkan kedua pihak yang berperang, seolah Tuhan hendak ditarik oleh kedua pihak, diperebutkan agar membantu mereka masing-masing!

Perang, puncak kelemahan manusia puncak kekuasaan nafsu atas diri menusia.

Penyerbuan pasukan Mataram ke Ponorogo menimbulkan perang saudara yang hebat.

Di seluruh daerah Ponorogo, suasana menjadi kacau dan keruh.

Dalam kesempatan ini, para penjahat bermunculan dan merajalela tanpa kendali tanpa halangan.

Nafsu angkara murka dibiarkan meliar.

Bukan hanya para penjahat yang berpesta pora mengail di air keruh yang timbul kerena perang.

Juga dendam pribadi menuntut balas tanpa ada yang menghalangi karena pihak penguasa sibuk dengan perang.

Dalam keadaan itu, kakak beradik Santiko dan Bargowo, pendiri perkumpulan pencak silat Dayatirta, mendapatkan kesempatan untuk berdarma bakti kepada bangsa, yaitu tidak membiarkan diri terseret ke dalam kancah perang saudara antara Mataram dan Ponorogo, melainkan menjadi pelindung rakyat di daerah selatan, menentang perbuatan sewenangwenang.

Mereka bertindak sebagai pengganti penguasa daerah yang tidak lagi mampu mengurusi keamanan rakyat.

Anak buah atau para murid Dayatirta tersebar di mana-mana, selalu siap untuk menentang kejahatan yang mempergunakan kesempatan selagi suasana dalam kacau.

Di Pacitan yang terletak di pantai Laut Selatan, penduduknya juga dikecam kegelisahan.

Sebagian besar para pemuda daerah itu telah meninggalkan kampung halaman, untuk ikut berperang membantu Ponorogo, dipimpin oleh Demang Pacitan.

Yang tinggal di Pacitan hanyalah kaum wanitanya, kanak-kanak dan orang-orang tua.

Ketika sering kali terjadi kejahatan merajarela pula di daerah itu, penduduknya dicekam rasa takut.

Malam itu hujan turun rintik-rintik sejak sore.

Semua yang berada di luar rumah basah kuyup.

Jalan-jalan menjadi becek dan hawa udara dingin sekali.

Tidak ada penduduk Pacitan yang keluar rumah dalam cuaca seperti itu, kecuali mereka yang mempunyai urusan penting.

Hanya nampak beberapa orang berjalan tergesa-gesa, melindungi diri mereka dari hujan dan dingin dengan payung atau caping lebar dan baju rangkap.

Akan tetapi, kalau orang berada lebih lama di luar dan tidak tergesa-gesa mungkin dia akan dapat melihat beberapa bayangan hitam yang memakai kerudung untuk melindungi diri mereka dari hujan menyelinap di antara rumah-rumah dan pohon-pohon di tepi jalan.

Dan ia pun akan melihat serombongan orang memasuki gerbang Pacitan.

Mereka ini terdiri dari delapan orang, dipimpin seorang pria yang usianya sekitar tiga puluh tahun, tubuhnya tinggi besar seperti rakasa dengan kulit dan wajah bengis.

Mereka melangkah dengan cepat menuju ke arah sebuah rumah mungil yang terletak di ujung barat kotitu.

Rumah kecil mungil ini dikenal oleh seluruh penduduk Pacitan kerena penghuninya adalah Suminten yang lebih terkenal dengan nama Madularas, seorang ledhek yang cantik manis, bersuara emas dan pandai menari.

Suminten tinggal di rumah itu bersama ibunya yang janda, seorang bibinya yang membantu pekerjaan rumah tangga.

Ledhek muda usia bersama ibunya itu dapat tinggal di rumah yang mungil dan berkeadaan cukup kerena Suminten berpenghasilan lumayan.

Usianya hampir delapan belas tahun, akan tetapi ia masih belum menikah, walaupun lamaran yang datang sudah puluhan kali.

Semua lamaran itu ditolaknya dengan halus.

Suminttak ingin meninggalkan ibunya yang janda, pula ia masih belum tertarik untuk melayani seorang Begitu tiba di luar rumah mungil itu, lima orang berjaga di sekeliling rumah, dan si raksasa hitam bersama dua orang temannya, ke tiganya bermuka bengis dan memegang golok telanjang, menggedor daun pintu.

Tiga orang wanita yang berada di dalam rumah itu sudah masuk ke dalam kamar.

Suminten memasuki kamarnya sendiri, ibunya dan bibinya masih bercakap-cakap di dalam kamar ibunya.

Tiga orang wanita itu menghambur keluar ketika mendengar daun pintu digedor orang sampai lama mereka berdiri berhimpitan di ruangan tengah, memandang ke arah pintu depan dengan mata terbelalak.

Siapa yang malam-malam begini, hujan rintik-rintik pula, datang bertamu?

Dan cara mengetuk pintu itupun luar biasa, bukan mengetuk melainkan memukul keras-keras.

Apa lagi waktu, semua orang di dusun dan kota sudah dicekam perasaan takut dengan adanya perang yang membuat semua tempat menjadi keruh dan orang-orang jahat berani bermunculan dengan ganas.

"Dor-dor-dorrr""!"

Kembali daun pintu dipukul kuat-kuat dari luar.

"Buka pintu!"

Gedoran pintu itu disusul suara yang parau, yang membuat tiga orang wanita itu menjadi semakin ketakutan.

"Ibu"". jangan buka".. aku takut""."

Bisik Suminten sambil merangkul ibunya.

"Siapa itu?"

Janda itu memberanikan diri bertanya dari dalam, suaranya cukup lantang namun gemetar.

"Buka pintu, kami datang untuk mengundang ledhek Madularas bermain di rumah kami!"

Kata pula suara parau itu.

Kedua tangan Suminten yang merangkul ibunya menggigil dan rangkulannya semakin ketat.

Ia menggeleng-geleng kepala untuk menyatakan kepada ibunya bahwa ia tidak ingin pergi pada waktu malam gelap dan dingin seperti itu.

"Ki sanak, harap besok pagi saja Ki sanak datang lagi dan kita bicarakan urusan itu. Malam ini Suminten tidak dapat pergi karena ia agak masuk angin. Besok saja andika datang lagi!"

"Buka dulu pintunya, biar kami masuk dan kita bicara!"

Kata pula suara parau itu.

"Malam sudah larut, dingin dan gelap pula. Besok saja kita bicara""."

"Dor dor dorrr"".! Buka dulu pintunya, atau ingin kami menjebol dulu daun pintu ini?"

Bentakan itu disusul pula gedoran yang lebih kuat, membuat daun pintunya terguncang.

"Nanti sebentar""..!"

Kata ibu Suminten dengan suara gemetar dan ia mendorong puterinya sambil berbisik.

"Cepat masuk kamarmu dan palangi pintunya dari dalam!"

Suminten lari memasuki kamarnya dan menutupkan daun pintu dan memalangkannya dari dalam, lalu ia bersimpuh di atas pembaringannya dengan tubuh menggigil dan menahan tangisnya.

Karena maklum bahwa kalau ia menolak untuk membuka pintu, orang di luar itu akan menjadi semakin marah dan pintunya tentu akan benar-benar dijebolnya, maka dengan tubuh gemetar, ibu Suminten terpaksa menghampiri daun pintu dan membuka palangnya.

Daun pintu terbuka dan masuklah tiga orang laki-laki yang berwajah bengis itu.

Mata mereka agak silau oleh sinar lampu gantung karena baru saja mereka masuk dari tempat yang gelap.

Mata tiga orang itu jelalatan, memeriksa ke seluruh ruangan itu.

Yang nampak hanya dua orang wanita tua.

"Mana Madularas?"

Tanya laki-laki raksasa hitam, matanya yang kemerahan itu masih jelalatan.

"Ia".. ia sedang sakit""

Masuk angin"""

Kata ibu Suminten.

"Suruh ia keluar, aku mau bicara dengannya!"

Kata pula laki-laki yang usianya sekitar tiga puluh tahun itu dengan berang.

"Tapi ia""

Ia sakit"""

"Suruh keluar kataku! Atau kucari sendiri ia dan kuseret keluar?"

Wanita itu menjadi pucat wajahnya. Belum pernah ia berhadapan dengan laki-laki segalak dan sekasar itu.

"Tapi ia"".. ia". tidak berada di rumah, ia sedang keluar""""

Katanya tergagap dan ketakutan.

"Keparat! Tadi bilang sakit sekarang bilang tidak berada di rumah! Pembohong busuk!"

Melihat betapa dua orang wanita itu melirik ke arah sebuah kamar yang daun pintunya tertutup, laki-laki itu melangkah ke arah kamar itu.

"Jangan"". jangan"".. jangan ganggu anakku"""

Ibu Suminten berteriak dan mencoba menghalangi. Akan tetapi, laki-laki itu menggerakan tangan menampar.

"Plakk!"

Demikian kuatnya tamparan yang menganai muka wanita itu sehingga ia terpelanting keras dan terbanting.

Kepalanya terbentur lantai dan ia pun pingsan.

Bibi Suminten lari pula menghalang, akan tetapi kembali ia roboh oleh tamparan tangan laki-laki raksasa hitam itu sehingga ia pun pingsan di dekat tubuh ibu Suminten.

"Dor-doorr".. brakkk!"

Daun pintu itu jebol dan Suminten yang masih bersimpuh di atas pembaringan dengan tubuh menggigil, terbelalak memandang laki-laki yang melangkah masuk ke dalam kamarnya.

Ia mengenal laki-laki itu yang bukan lain adalah Ganjur!

"Kau""

Mau apa kau"..?"

Katanya tersendat-sendat, suaranya gemetar, tubuhnya menggigil. Ganjur tertawa menyeringai.

"Ha-ha-ha, Madularas, aku datang untuk menjemputmu. Engkau akan menjadi milikku selamanya, dan tak seorangpun boleh menghalanginya!"

"Tidak"""""

Ti""""

Akan tetapi Ganjur sudah menubruk dan meringkusnya, memondongnya. Suminten meronta-ronta, menggunakan kakinya menendang-nendang, tangannya mencakar-cakar.

"Tidak, aku tidak sudi! Lepaskan aku"".., lepaskan"".!"

Akan tetapi sambil tertawa-tawa, Ganjur memondong tubuh mungil itu di pundak kirinya, dirangkul lengan kirinya yang kokoh kuat, dan tangan kanan masih memegang golok, lalu melangkah keluar dari kamar.

Bibi Suminten sudah siuman dari pingsannya dan melihat Suminten menjerit-jerit di pondong Ganjur, ia mencoba bangkit, akan tetapi sebuah tendangan kaki Ganjur membuatnya terjengkang dan terbanting keras, pingsan lagi!

Ibu Suminten juga bangkit dan dengan nekat menerjang maju hendak menolong Suminten, akan tetapi Ganjur yang sudah marah itu menggerakkan goloknya dan wanita itu roboh mandi darah.

"Bibi"..! Ibuuuu""..!!"

Suminten menjerit-jerit melihat bibinya ditendang roboh dan ibunya dibacok sampai mandi darah.

Namun, Ganjur membawanya lari keluar diikuti dua orang temannya yang tadi tidak menyia-nyiakan kesempatan dan menyambar barang-barang berharga yang dapat mereka temukan di dalam rumah itu.

Setelah tiba di luar, bersama tujuh orang pengikutnya yang kesemuanya adalah warok-warok muda yang bengis dan kuat, Ganjur melarikan Suminten di kegelapan malam.

Suminten berteriak dan meronta-ronta.

"Tolong"""..! Tolooong"""!!"

Ia menjerit-jerit akan tetapi mulutnya segera dibungkam tangan kanan Ganjur yang besar.

Dan pula, andaikata ada yang mendengar teriakannya, siapa berani keluar menolong!

Yang ada di dusun itu hanyalah para kakek dan bocah yang lemah!

Ganjur sudah tertawa-tawa girang.

Merangkul dan memondong tubuh ledek muda yang sudah lama membuatnya tidak dapat tidur nyenyak itu sudah merupakan suatu kesenangan tersendiri.

Tubuh yang sintal dan kenyal hangat itu menjanjikan kenikmatan yang membakar gairahnya, apa lagi tubuh itu meronta-ronta dalam rangkulannya.

Akan tetapi, ketika mereka tiba di luar dusun Pacitan, tiba-tiba muncul tiga sosok bayangan orang yang menghadang mereka.

Dua buah obor dinyalakan tiga orang itu dan ditancapkan di bawah pohon besar.

Api obor tidak padam karena rintik hujan yang tertahan daun-daun pohon, dan angin dingin yang bersilir membuat api obor menari-nari, menimbulkan bayangbayang yang menyeramkan.

Dari penerangan itu dapat terlihat bahwa tiga orang yang menghadang itu adalah tiga orang pria yang berusia antara tiga puluh sampai empat puluh tahun.

Yang seorang bertubuh tinggi besar dan mukanya brewok, nampak gagah perkasa.

Orang ke dua bertubuh sedang wajahnya tampan dan sikap atau gerak-geriknya lembut walaupun juga membayangkan kegagahan.

Orang ke tiga bertubuh agak pendek dan perutnya gendut, juga berdiri dengan tegak dan sikapnya gagah dan pemberani.

Mereka adalah Santiko, adiknya Bargowo, dan seorang rekan mereka yang menjadi pembantu mereka dalam memimpin perguruan pencak silat Dayatirta.

"Hemm, kiranya andika, ki sanak. Bukankah andika Si Ganjur, jagoan dusun Beledug? Sungguh tidak kami sangka, seorang jagoan begini rendah untuk berubah menjadi seorang pemimpin perampok dan gerombolan yang menculik seorang wanita!"

Kata Santiko dengan suaranya yang menggeledek. Ganjur juga mengenal wajah kakak beradik yang menjadi pemimpin perguruan Dayatirta itu.

"Babo-babo!"

Sumbarnya.

"Sejak kapan pula orang-orang Dayatirta lancang mencampuri urusan pribadi orang lain?"

"Toloooong! Dia membunuh bibi dan ibuku!"

Suminten berteriak sambil menangis.

"Ganjur, sudah lama kami mendengar bahwa andika adalah seorang yang suka berbuat sewenang-wenang. Sekarang, agaknya menggunakan kesempatan selagi keadaan menjadi kacau dan keruh karena perang, engkau tidak segan melakukan kejahatan. Jangan harap andika akan dapat berbuat semena-mena selagi masih ada kami!"

Kata pula Bargowo dengan suaranya yang lembut namun mengandung kekuatan.

"Babo-babo, keparat! Bunuh mereka!"

Bentak Ganjur kepada tujuh orang temannya.

Tujuh orang itu sudah menerjang dan mengeroyok tiga orang pimpinan Dayatirta, mengguna-kan kolor atau golok mereka.

Mereka itu rata-rata memiliki ilmu kedigdayaan, maka Santiko, Barowo dan temannya harus mengerahkan tenaganya untuk melawan.

Ganjur sendiri cepat mengikat kaki tangan Suminten, menggunakan kemben yang dipakai gadis itu sendiri, kemudian diapun menggunakan goloknya untuk membantu teman-temannya mengeroyok tiga orang penghalang itu.

Terjadilah perkelahian yang seru antara tiga orang pimpinan Dayatirta melawan delapan orang warok muda yang bengis dan ganas itu.

Kalau saja mereka itu bertanding satu lawan satu, pihak Ganjur tentu akan kalah.

Namun, Ganjur berdelapan, sedangkan lawannya yang dikeroyok hanya bertiga.

Selisih tingkat kepandaian mereka tidak banyak, maka tentu saja pihak Santiko dan Bargowo terdesak hebat.

Mereka dikepung ketat dan dihujani serangan senjata sehingga ketiganya hanya mampu mengelak dan menangkis dengan keris mereka, tanpa mendapat banyak kesempatan untuk balas menyerang.

Ganjur sudah tertawa-tawa mengejek.

"Bunuh mereka! Bunuh!"

Teriaknya berulang kali, memberi semangat kepada tujuh orang temannya.

Pada saat keadaan menjadi amat gawat bagi keselamatan tiga orang pendekar Dayatirta itu, tiba-tiba nampak bayangan hitam berkebat dan di bawah sinar obor berdirilah seorang ymengenakan pakaian serba hitam, dan mukanya tertutup kedok hitam pula, Si Kedok Hitam ini tidak banyak cakap lagi, dengan sebatang suling di tangannya, dia sudah menerjang ke dalam medan perkelahian dan begitu dia menggerakkan sulingnya, terdengar suara melengking seolah suling itu ditiup, nampak sinar bergulung dan dua orang sudah roboh terpelanting!

Melihat datangnya bantuan yang tangguh inim, tentu saja Santiko dan Bargowo menjadi gembira bukan main.

"Terima kasih, kawan!"

Kata mereka dan kini mereka menggerakkan keris mereka untuk menyerang Ganjur yang menjadi biangkeladi perkelahian ini.

Teman mereka membantu Si Kedok Hitam menghajar lima orang, setelah yang dua orang tadi roboh.

Menghadapi seorang di antara kakak beradik itu saja, tentu Ganjur akan kewalahan, apa lagi dikeroyok dua.

Dia masih mencoba untuk mengamuk dengan golok besarnya, namun kakak beradik itu terlampau tangkas baginya setelah lewat belasan jurus, akhirnya Ganjur berteriak mengaduh dan roboh dengan dua luka tusukan keris yang membuat dia tewas seketika.

Si Kedok Hitam tidak merobohkan lawan untuk membunuh, melainkan hanya menghajar mereka dengan pukulan suling atau tangan kiri yang tidak mematikan.

Akan tetapi, setelah tujuh orang itu dibuat jatuh bangun, apa lagi melihat betapa Ganjur roboh dan tewas, tujuh orang itupun maklum bahwa kalau dilanjutkan, mereka semua akan mengalami nasib seperti pemimpin mereka.

Larilah mereka tunggang langgang di dalam kegelapan malam, meninggalkan Ganjur yang sudah menjadi mayat.

"Ki sanak, kami berdua menghaturkan terima kasih kepada andika. Tanpa adanya bentuan andika, kami bertiga rekan kami tentu sudah tewas oleh Ganjur dan teman-temannya. Ganjur melarikan gadis ini dari Pacitan dan melihat perbuatan itu, kami berusaha untuk menolong gadis itu, akan tetapi kepandaian kami terlalu rendah sehingga hampir saja kami gagal bahkan mengorbankan nyawa sendiri."

Kata Santiko.

Sementara itu, Bargowo cepat menghampiri Suminten dan melepaskan ikatan kaki tangan gadis itu.

Gadis itu masih menggigil dan saking lega hatinya terbebas dari ancaman malapetaka yang baginya lebih mengerikan dari pada maut, iapun merangkul pundak Bargowo dan menangis di dada pemuda perkasa itu.

Bargowo mengelus rambut yang halus itu dan membiarkan Suminten menangis di dadanya.

Air mata yang hangat terasa di dadanya yang hanya tertutup baju tipis, dan sungguh aneh, baginya seolah air mata itu meresap masuk melalui kulitnya, menembus kulit dan langsung menyiram jantungnya!

"Sudahlah, nimas, jangan menangis lagi, bahaya telah lewat,"

Dia menghibur, akan tetapi gadis itu masih sesenggukan di dadanya. Bargowo membiarkannya saja sambil tetap mengelus rambut dikepala yang bersandar di dadanya. Sementara itu, Si Kedok Hitam bertanya.

"Kenapa dia begitu mudah menculik gadis dari kademangan Pacitan?"

Santiko mengerutkan alisnya.

"Semua orang muda pergi ke kadipaten Ponorogo untuk menjadi perajurit, maka tidak ada yang dapat menghalangi perbuatan Ganjur dan kawan-kawannya."

"Dan andika bertiga, kenapa tidak ikut pula ke kadipaten?"

"Kami tidak mau melibatkan diri dalam perang saudara itu,"

Jawab Santiko yang teringat akan percakapan dia dan adiknya dengan Banuaji.

"Ada tugas yang lebih penting bagi kami, yaitu menjaga rakyat dari perbuatan jahat seperti yang dilakukan Ganjur dan kawan-kawannya tadi. Perang saudara penuh dengan kekejaman dan kelicikan, pengkhianatan dan kemunafikan. Dari seorang rekan dalam perkumpulan kami Dayatirta, kami mendengar bahwa senopati muda dari Mataram yang bernama Nurseta itu, yang terkenal gagah perkasa dan diagungkan sebagai senopati Mataram yang dipercaya, ternyata hanyalah seorang pengkhianat pula terhadap Mataram".."

"Ahh, apa yang terjadi?"

Tanya Si Kedok Hitam.

"Dia bersengkongkol dengan Ponorogo dan sekarang dia memimpin pasukan menyerang Ponorogo dari selatan. Ha-ha-ha, sekali ini Mataram kecolongan, tentu saja dia tidak membawa tentaranya menyerbu, bahkan memperkuat pertahanan Ponorogo dengan memukul pasukan Mataram! Kami tidak sudi terlibat dalam urusan yang kotor seperti perang saudara itu."

"Hemm, sudahlah, itu bukan urusanku. Aku pergi sekarang, harap andika berdua mengantar gadis itu pulang ke rumahnya dan mengurus segalanya dengan baik."

Sebelum Santiko sempat menahannya, Si Kedok Hitam sudah melompat dan menghilang dalam kegelapan. Pada saat itu, terdengar Suminten menangis dan memanggil nama ibu dan bibinya.

"Mari kita antar ia pulang, kakang Santiko,"

Kata Bargowo kepada kakaknya yang masih berdiri tertegun memandang ke arah menghilangnya Si Kedok Hitam. Baru dia sadar dan cepat menghampiri adiknya yang masih merangkul Suminten yang menangis.

"Baik, akan tetapi bagaimana dengan mayat ini?"

Dia menuding ke arah mayat Ganjur.

"Kakang Santiko, kita urus dulu adik ini. Biar mayat Ganjur diurus oleh kawan-kawannya, atau kalau kawan-kawannya tidak mau mengurusnya, kita ajak penduduk Pacitan untuk menguburnya. Akan tetapi yang terpenting adalah mengantar adik ini pulang. Aku khawatir keadaan ibunya dan bibirnya."

Dua orang kakak beradik itu lalu mengantar Suminten yang masih menangis memasuki kademangan Pacitan yang masih sepi dan gelap.

Suminten setengah berlari menuju ke rumahnya dan lari masuk ke dalam rumah melalui pintu depan yang masih terbuka.

Dua orang kakak beradik bersama seorang rekan mereka mengikutinya dari belakang dan mereka melihat seorang wanita setengah tua menangisi seorang wanita lain yang menggeletak mandi darah.

"Ibuuu""..! Ah, ibuuu"".!!"

Suminten menubruk tubuh yang terbujur tak bernyawa lagi itu, merangkul mayat ibunya dan akhirnya ia terkulai lemas pingsan.

Gegerlah seluruh penghuni Pacitan ketika mendengar bahwa ibu Suminten terbunuh oleh perampok dan Suminten sendiri diculik oleh Ganjur, nama yang sudah mereka kenal karena pernah Ganjur membuat ribut di Pacitan.

Akan tetapi, Suminten dapat ditolong oleh tiga orang pria perkasa yang mengantarnya pulang, bahkan Ganjur tewas di tangan mereka.

Para penghuni datang melayat, dan mereka membantu pula pemakaman ibu Suminten.

Bahkan beberapa orang laki-laki tua yang masih kuat, membantu Santiko dan Bargowo untuk mengurus jenazah Ganjur yang ternyata tidak diambil oleh kawan-kawannya.

Setelah semua beres.

Bargowo mengajak Suminten untuk ikut bersama dia dan kakaknya.

"Kami khawatir kalau-kalau kawan-kawan dari Ganjur datang membuat pembalasan ke sini, nimas, Suminten."

Kata Bargowo.

"Sebaiknya, sementara ini sebelum keadaan aman dan penjaga keamanan di Pacitan tersusun kembali, andika ikut bersama kami. Kakang Santiko dan aku serta kawan-kawan kami akan melindungimu."

Kini Santiko melihat betapa cantiknya ledek muda itu, yang membuatnya merasa kagum dan dia sepenuhnya setuju dengan rencana Bargowo untuk melindungi dan mengajak Suminten ikut mereka untuk sementara.

"Apa yang dikatakan adikku Bargowo benar, nimas. Apa lagi kalau diingat bahwa Ganjur adalah murid Ki Wirobandot yang sudah terkenal sebagai jagoan di Pacitan. Dia sekarang ikut pula membantu pasukan Ponorogo, akan tetapi kalau dia sudah kembali ke sini dan mendengar tentang kematian anak buahnya, tentu dia tidak mau menerimanya begitu saja, apa lagi mendengar kematiannya adalah karena andika, nimas Suminten."

Suminten menggunakan sapu tangannya untuk menyusut air matanya, lalu menoleh kepada bibinya dan berkata kepada kedua orang kakak beradik itu.

"Terima kasih atas limpahan budi andika berdua, kakangmas. Kalau tidak ada andika berdua yang menolong, tentu sekarang saya sudah pergi bersama ibu""."

Ia menangis lagi. Setelah tenang kembali ia berkata.

"Saya menerima ajakan andika berdua, akan tetapi bibi saya ini harus ikut dengan saya, karena ia tidak mempunyai keluarga lain, dan saya takut kalau kelak kawan-kawan Ganjur akan mengganggunya karena tidak dapat menemukan saya di sini."

Wanita berusia empat puluh lima tahun yang bernama Warsinah, sudah janda tanpa anak itu merangkul Suminten dan mereka berdua menangis.

Santiko dan Bargowo saling pandang dan mereka tentu saja tidak dapat menolak permintaan yang mereka anggap sudah sepantasanya itu.

Demikianlah, pada keesokan harinya, Suminten dan Bibi Warsinah pergi meninggalkan Pacitan bersama tiga orang penolongnya, diajak tinggal di perkampungan para anggota Dayatirta yang selama terjadi perang kini berpusat d dusun Jaten, sebelah selatan Ponorogo.

Sesuai dengan laporan para penyelidik, Sang Prabu Hanyokrowati dan para senopatinya sudah memperhitungkan sampai di mana kekuatan pasukan Ponorogo, maka penyerangan dilakukan dari tiga jurusan.

Dari utara akan menyerbu pasukan yang dipimpin oleh Ki Sinduwening yang dibantu oleh puterinya, yaitu Mawarsih.

Gadis perkasa ini tidak mau ketinggalan dan mendesak ayahnya agar ia diperbolehkan ikut membantu ayahnya berperang.

Tentu saja ia tidak memberi tahu ayahnya akan isi hatinya yang sesungguhnya.

Mawarsih bukan ingin berperang, melainkan pertama sekali tentu saja ingin menjaga dan membantu ayahnya karena kalau ayahnya pergi perang dan ia menanti di rumah seorang diri, ia akan selalu merasa gelisah memikirkan ayahnya.

Dan yang ke dua kalinya, setiap saat ia selalu teringat kepada dua orang yang tak pernah meninggalkan hatinya, yaitu Aji dan Si Kedok Hitam!

Dua orang pria ini selalu bermunculan dalam ingatannya, dan ia selalu rindu kepada keduanya!

(Lanjut ke

Jilid 10) Kidung Senja Di Mataram (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 10 Kadang ia merasa bingung dan linglung, heran kepada diri sendiri bagaimana ia dapat merindukan dua orang pria sekaligus!

Ia tidak dapat mengingkari perasaan hatinya bahwa ia telah jatuh cinta kepada Aji, bukan setelah pemuda yang lemah itu demikian nekat menolong dan membelanya, bahkan mengorbankan dirinya dipukuli dan disiksa, melainkan perasaan sudah mulai tumbuh sejak pertemuan pertama kali dengan Banuaji, ketika ia masih tinggal di desanya, di dusun Sintren, yaitu ketika ia diperkenalkan kepada Banuaji oleh Bayu, penggembala kerbau yang pandai meniup suling itu.

Sejak itu, ia sudah merasa tertarik sekali dan kagum karena wajahnya yang tampan, gerak geriknya yang sederhana, pendiam dan lembut, dan kepandaiannya bertembang dan meniup suling, jauh lebih pandai dan lebih merdu tiupan sulingnya dari pada Bayu yang sudah dikaguminya itu.

Apa lagi ketika sebagai tukang kuda di kadipaten Ponorogo.

Banuaji telah menyelamatkan ia dan ayahnya dengan jalan membakar tempat tahanan dan berhasil mengajak ia dan ayahnya keluar dari tempat tahanan dan melarikan diri.

Cintanya semakin bertumbuh dan mekar.

Ia cinta kepada Banuaji, ini tak dapat disingkalnya.

Akan tetapi, kemudian muncul Si Kedok Hitam!

Tergetar perasaan hatinya kalau ia teringat kepada Si Kedok Hitam yang sudah berulang kali menolongnya itu.

Akan tetapi, Si Kedok Hitam selalu menghindarkan diri, tidak mau berkenalan.

Bahkan dalam keadaan setengah pingsan, ketika ia diselamatkan pula oleh Si Kedok Hitam dari tangan KI Wirobandot, Si Kedok Hitam pernah mencium dahinya.

Ciuman sopan memang, namun mengandung kehangatan dan kemesraan yang tak mungkin dapat ia lupakan.

Cintanya memang bercabang, dan ini yang merisaukan hatinya.

Cintanya kepada Banuaji memang cinta yang wajar, mencinta karena rupanya, karena sikap dan wataknya.

Akan tetapi cintanya kepada Si Kedok Hitam adalah cinta yang terdorong oleh perasaan kagum akan kesaktiannya, karena budinya yang telah menyelamatkannya dari ancaman malapetaka berulang kali.

Menurut perhitungan Sang Prabu Hanyokrowati dan para senopatinya, pasukan yang dikerahkan dari utara di bawah pimpinan Ki Sinduwening, dan dari selatan di bawah pimpinan Nurseta, sudah lebih dari cukup untuk mematahkan pertahanan Ponorogo.

Yang terbesar adalah pasukan yang dipimpin Ki Sinduwening.

Pasukan dari selatan pimpinan Nurseta tidak seberapa besar, hanya terdiri dari dua ribu orang karena pasukan ini mempunyai tugas untuk lebih dahulu menyerbu dari selatan, yaitu untuk memancing pihak lawan mempertahankan diri di bagian selatan.

Setelah berhasil memancing lawan ke selatan, barulah pasukan dari utara menyerbu.

Kalaupun siasat yang sudah diperhitungkan masak-masak ini menemui kegagalan, masih ada pasukan cadangan yang terbesar, dipimpin oleh Sang Prabu Hanyokrowati sendiri, untuk memberi bantuan kepada kedua pasukan dari utara dan selatan.

Tentu saja Sang Prabu Hanyokrowati sama sekali tidak menyangka bahwa semua siasat perangnya telah diketahui oleh Adipati Ponorogo, yaitu Pangeran Jayaraga, adik tirinya sendiri.

Tentu saja semua rahasia itu dapat diketahui pihak musuh karena sudah dilaporkan oleh Nurseta!

Bahkan pihak Ponorogo yang kini mengatur siasat untuk menghancurkan pasukan yang datang dari utara!

Sesuai siasat yang sudah diatur semula, Ki Sinduwening menghentikan gerakan pasukannya di sebelah utara Ponorogo, dan mengatur barisan pendam agar tidak nampak gerakan mereka di sekitar lembah Kali Ngebel yang lebat dengan hutan-hutan liar.

Mereka menanti di situ, menunggu isarat dari para penyelidik bahwa pasukan Ponorogo sudah terpancing dan ditarik semua ke selatan, dari mana menurut siasat, pasukan pimpinan Nurseta akan lebih dahulu melakukan penyerbuan di bagian selatan Ponorogo.

Sementara itu, pasukan cadangan yang dipimpin Sang Prabu Hanyokrowati sendiri berhenti di sekitar Kali Tempuran, siap untuk membantu apa bila kedua pasukan Mataram tidak berhasil mematahkan pertahanan Ponorogo.

Malam itu gelap dan dingin.

Ribuan bintang di langit agaknya tidak mampu menembuskan sinarnya pada kegelapan malam yang berkabut.

Malam itu, menurut siasat pasukan Mataram, pasukan dari selatan akan menyerbu ke Ponorogo.

Diperhitungkan bahwa pada keesokan harinya, seluruh penjagaan pasukan Ponorogo tentu akan ditarik ke selatan.

Setelah untuk yang terakhir kali hari itu Ki Sinduwening mengadakan rapat dengan para panglima Mataram, untuk membuat persiapan karena menurut rencana siasat yang telah diatur, kalau besok pagi-pagi para penyelidik membuat laporan bahwa pasukan yang berjaga di bagian utara Ponorogo telah ditarik mundur ke selatan, maka mereka akan bergerak, menyerbu dan menyerang Ponorogo yang diharapkan telah terpancing untuk mempertahankan bagian selatan.

Setelah selesai mengadakan rapat, Sinduwening mengundurkan diri, bermaksud untuk beristirahat malam itu agar besok pagi dapat mulai terjun ke dalam pertempuran dengan tubuh yang segar.

"Bapa"".!"

"Eh, engkau belum tidur, Mawar? Besok mungkin kita menghadapi pertempuran besar, sebaiknya kita tidur sore-sore untuk menyimpan tenaga."

Kata Ki Sinduwening, diam-diam dia merasa heran melihat wajah puterinya muram seperti orang yang sedang risau hatinya.

"Kenapa engkau nampak tidak tenang?"

Gadis itu menghela napas panjang.

"Justru pertempuran itulah yang membuat hatiku risau, bapa. Bapa sendiri yang pernah mengatakan bahwa perang saudara itu amat merugikan bangsa sendiri. Adipati Ponorogo adalah adik sendiri dari Sang Prabu. Betapa akan menyesalnya hati mendiang Sang Prabu Panembahan Senopati yang arif bijaksana kalau melihat dua orang putera beliau saling serang. Yang amat menyedihkan adalah kalau aku membayangkan betapa besok, banyak manusia akan jatuh dan tewas bergelimpangan, terbunuh atau terluka oleh saudara-saudara sendiri. Bukankah menurut bapa, musuh kita yang sesungguhnya, yang benar-benar mengancam tanah air kita, adalah orang-orang kulit putih yang datang dari barat?"

Ayah itu tidak tahu bahwa di balik kegelisahan hati puterinya terhadap perang saudara yang saling bunuh antara saudara atau sebangsa itu, terdapat keresahan yang mendalam, yaitu mengkhawatirkan Banuaji.

Bagaimana pemuda itu kalau terjadi perang?

Akan berpihak manakah?

Dan pemuda itu demikian lembut dan lemah.

Kalau ikut bertempur, tentu akan celaka di tangan lawan yang tangguh!

Dan Si Kedok Hitam?

Apakah akan membela Mataram?

Dan apakah ia akan dapat bertemu kembali dengan orang aneh yang merahasiakan dirinya itu?

Mendengar ucapan puterinya.

Ki Sinduwening menghela napas panjang pula.

"Aku sendiri tentu saja tidak senang menghadapi perang saudara ini, Mawar. Akan tetapi, bagaimana lagi kalau memang Pangeran Jayaraga, adipati Ponorogo itu menghendaki perang? Dialah yang bersalah kalau terjadi perang saudara ini. Bukankah dahulu, seluruh daerah sampai ujung timur sampai perbatasan Banten, dapat dipersatukan oleh mendiang Sang Prabu Panembahan Senopati? Akan tetapi, kini timbul lagi pemberontakan di daerah-daerah, termasuk Ponorogo yang dipimpin oleh adik Sang Prabu sendiri. Kalau hal ini dibiarkan, Mataram akan terpecah-pecah dan tanpa adannya persatuan, bagaimana bangsa kita akan memiliki kekuatan dan kemampuan untuk mengusir bangsa kulit putih yang hendak menguasai daerah kita? Tentu saja Sang Prabu ingin mempersatukan seluruh daerah dengan jalan damai tanpa perang, akan tetapi kalau jalan itu gagal, dan ada daerah yang memberontak, terpaksa ditundukkan dengan perang. Mudah-mudahan saja kita akan dapat menundukkan Ponorogo dengan cepat sesuai dengan rencana tanpa harus mengorbankan banyak nyawa, baik dari perajurit Mataram maupun perajurit Ponorogo."

Ayah dan anak itu lalu memasuki kamar masing-masing dalam gubuk darurat itu dan tidur.

Akan tetapi Mawarsih gelisah, sukar untuk dapat pulas kerena pikirannya selalu diganggu dua bayangan orang, yaitu Banuaji dan Si Kedok Hitam.

Baru setelah tengah malam ia tertidur.

Akan tetapi, menjelang fajar.

Mawarsih dikejutkan oleh suara riuh rendah.

Sebagai seorang gadis yang sejak kecil digembleng dengan aji kedigdayaan, yang membuatnya tangkas, begitu membuka mata, ia telah siap siaga dan meloncat turun dari atas pem-baringannya.

Bukan ia seorang yang dikejutkan suara itu.

Hampir ia bertabrakan dengan ayahnya yang juga melompat keluar.

"Ada apakah, bapa?"

"Entah, mari kita melihat keluar!"

Ayah dan anak itu berlompatan keluar.

Hari masih pagi sekali.

Cuaca masih remang-remang, akan tetapi segera nampak api bernyala-nyala di sana-sini dan terdengar suara orang berteriak-teriak dan pertempuran terjadi di sekeliling mereka.

Seorang perwira menghampiri "Celaka kita diserbu musuh!"

Katanya.

Tentu saja ayah dan anak ini terkejut bukan main.

Dibantu puterinya, Ki Sinduwening berusaha untuk mengatur pasukannya.

Akan tetapi, serbuan pihak musuh secara tiba-tiba itu membuat pasukan menjadi kacau dan tidak dapat diatur lagi.

Kebakaran terjadi di sana sini dan pertempuran juga terjadi dengan kacau.

Apa lagi ketika ayah dan anak ini mendapat kenyataan bahwa serbuan itu terjadi dari dua penjuru, dari luar dan dari dalam sehingga pasukan Mataram seolah terhimpit dan diserbu kanan kiri.

Hal ini sungguh amat mengherankan, karena menurut rencana siasat, pasukan musuh akan dipancing ke selatan oleh pasukan yang dipimpin Nurseta.

Bagaimana sekarang terjadi sebaliknya, pasukan Mataram yang belum bergerak itu yang dihimpit oleh pasukan musuh?

Bagaimana dengan pasukan Nurseta?

Namun, pertanyaan itu tidak ada yang dapat menjawab dan pada saat itu, Ki Sinduwening juga tidak sempat lagi untuk terlalu memusingkan pertanyaan itu.

Yang penting, dia harus dapat memimpin pasukannya untuk dapat keluar dari himpitan pihak musuh.

Dia berusaha mengumpulkan para senopati pembantu untuk dapat mengatasi keadaan, namun para perwira sudah sibuk terlibat dalam pertempuran yang kacau balau.

Karena keadaan yang demikian kacau dan tidak mungkin dapat diatur lagi, terpaksa ayah dan anak itu pun ikut mengamuk dan melawan serbuan pasukan Ponorogo.

Pertempuran berjalan seru, akan tetapi jelas nampak bahwa pihak pasukan Mataram kewalahan karena terhimpit oleh dua pihak dan ternyata pasukan Ponorogo berjumlah besar dan kuat.

Cuaca tidak begitu gelap lagi kerena sinar matahari pagi mulai mengusir sisa kegelapan malam.

Tiba-tiba muncul Nurseta dan diapun mengamuk dan dengan tombaknya dia merobohkan beberapa orang perajurit Ponorogo sebelum dia berhasil mendekati Ki Sinduwening dan Mawarsih.

"Raden".., apa yang telah terjadi?"

KI Sinduwening bertanya ketika melihat senopati muda itu. Dia terheran-heran bagaimana Nurseta yang memimpin pasukan untuk memancing pihak musuh dari selatan itu tiba-tiba dapat muncul di sini.

"Celaka, paman"".. kita terjebak, semua rencana kita ketahuan! Paman, kita harus cepat menyelamatkan Sang Prabu""""

Kata pemuda itu setelah mereka bertiga melompat ke tempat kosong dan tidak diserang musuh.

"Ceritakan, apa yang terjadi!"

Kata Ki Sinduwening memegang lengan pemuda itu, alisnya berkerut dan wajahnya berubah mendengar bahwa junjungannya terancam bahaya.

"Kita terjebak musuh. Ketika aku mempimpin pasukan, ternyata bagian selatan tidak ada yang jaga dan kosong. Ketika kami menyerbu masuk, kami diserang dari belakang dan dihujani anak panah dari barisan pendam. Banyak perajurit kami yang tewas. Kemudian, aku menangkap seorang perajurit musuh dan memaksanya mengaku. Dia yang menceritakan bahwa pasukan paman dijebak di sini dan juga bahwa pihak musuh merencanakan menjebak pasukan yang dipimpin Sang Prabu dan bermaksud menawan beliau. Kita harus cepat menyelamatkan Sribaginda, paman! Mari, cepat. Aku tahu di mana komplotan yang ditugaskan menculik Sang Prabu itu!"

Ki Sinduwening dan puterinya terkejut bukan main.

Pasukannya sudah tidak dapat dikendalikan lagi karena telah terjadi pertempuran kalang kabut di situ, dan yang terpenting tentu saja menyelamatkan Sribaginda dari bencana.

"Kita cepat pergi ke Kali Tempuran".."

Dia maksudkan tempat pasukan yang dipimpin Sang Prabu Hanyokrowati menanti saat untuk turun tangan membantu dua barisan yang menyerbu dari selatan dan utara.

"Jangan, paman. Itu mungkin akan terlambat! Aku tidak tahu benar apakah Sang Prabu telah mereka culik atau belum, akan tetapi kita langsung saja ke tempat rahasia mereka. Kalau mereka sudah berhasil menculik, kita bebaskan sang prabu, kalau belum, kita hancurkan sarang mereka! Marilah, paman dan diajeng Mawarsih, jangan sampai terlambat. Kita naik perahu"".!"

Pemuda itu melompat dan tentu saja Ki Sinduwening dan puterinya juga melompat dan mengikutinya.

Memang yang penting sekali adalah keselamatan sang prabu.

Andaikata sekali ini pasukan Mataram mengalami pukulan, lain kali masih dapat membalas kekalahan hari itu asal saja sribaginda masih selamat.

Mereka tiba di tepi sungai dan tanpa banyak cakap, Nurseta melepaskan tali perahu yang berada di balik semak, kemudian mengajak ayah dan anak itu naik perahu dan segera perahu digayungnya ke tengah, dibantu oleh Ki Sinduwening.

Matahari mulai muncul dan pagi ini nampak cerah, walaupun hari-hari sebelumnya, selalu turun hujan sehingga air sungai itu penuh dan bahkan di sana-sini meluap dan membanjiri sawah ladang dan dusun-dusun yang berada di tepi sungai.

Perahu kecil yang ditumpangi tiga orang itu meluncur cepat karena terbawa air yang deras, apa lagi dikendalikan dayung kedua orang yang kuat itu.

Sebetulnya, apa yang terjadi dan bagaimana Nurseta yang ditugaskan memimpin pasukan yang membuat pancingan dari selatan itu tahu-tahu dapat berada di utara, di mana pasukan yang dipimpin Ki Sinduwening diserang dari depan belakang secara tiba-tiba?

Semua itu telah diatur oleh pihak Ponorogo.

Karena pengkhianatan Nurseta, maka pihak Ponorogo mengetahui siasat apa yang akan dipergunakan oleh Mataram dalam penyerbuan mereka ke Ponorogo.

Tentu saja setelah mengetahui rencana siasat itu, pihak Ponorogo dapat mengimbanginya dengan siasat lain yang menguntungkan mereka.

Kalau Nurseta mendapat tugas untuk malam itu melakukan penyerbuan dari selatan untuk membikin panik dan memancing pasukan Ponorogo, diam-diam Nurseta membawa pasukannya yang sudah taat kepadanya itu untuk siang-siang memasuki daerah Ponorogo.

Yang melakukan penjagaan di selatan adalah Mayaresmi dan Brantoko yang hanya membawa pasukan kecil karena memang tidak perlu ada pertempuran.

Segera Nurseta bergabung dengan meraka, kemudian membawa pasukannya terus ke utara untuk membantu pasukan Ponorogo yang menjebak pasukan Mataram dan menghimpit musuh dari luar dan dalam!

Kemudian, sesuai dengan siasat yang sudah dia rencanakan dengan Mayaresmi, Nurseta lalu sengaja mencari Ki Sinduwening dan Mawarsih dan memancing ayah dan anak ini meninggalkan pasukannya untuk menyelamatkan Sang Prabu Hanyo-krowati.

Tentu saja ini hanya merupakan jebakan untuk melenyapkan senopati tua yang tangguh itu, dan untuk dapat memiliki Mawarsih yang membuat Nurseta tergila-gila!

Adapun sebuah pasukan yang cukup kuat, sesuai dengan siasat yang diatur oleh Ponorogo, dipimpin langsung oleh Sang Adipati Ponorogo sendiri, dibantu oleh Surodigdo, senopati yang terkenal tangguh, diam-diam menuju ke barat dan bermaksud untuk menyergap pasukan yang dipimpin Sang Prabu Hanyokrowati dan kalau mungkin menawan atau membunuh Raja Mataram itu!

Akan tetapi, ketika pasukan ini tiba dilembah Kali Tempuran, mereka kecelik karena tidak melihat adanya pasukan Sang Prabu Hanyokrowati di sana!

Yang ada hanyalah bekas pesanggrahan atau tempat perhentian pasukan itu saja, akan tetapi Sang Prabu Mataram dan pasukannya telah pergi.

Tentu saja pasukan Ponorogo yang dipimpin oleh sang adipati sendiri itu merasa heran dan khawatir kalau-kalau mereka terjebak, maka mereka cepat mundur kembali ke Ponorogo, hanya membantu pasukan yang sedang menggempur pasukan besar Mataram yang berada di utara.

Apa yang terjadi dan ke mana perginya Sang Prabu Hanyokrowati?

Ternyata, pada malam hari itu terjadi sesuatu yang mengejutkan di tempat itu.

Malam memang gelap dan dingin, dan pasukan itu bersembunyi di dalam hutan yang lebat.

Dan pada malam hari itu, menjelang tengah malam, tiba-tiba saja terdengar suara orang bertembang memecah kesunyian malam.

Semua orang termasuk Sang Prabu Hanyokrowati, dengan jelas dapat menangkap kata-kata dalam tembang itu dan seperti yang lain.

Raja Mataram ini terkejut bukan main.

Kata-kata itu berarti.

"Karena ulah seorang pengkhianat, malam ini menjelang pagi, pasukan Mataram di utara akan dikepung dan dihancurkan, pasukan di sini akan diserbu dan Sang Prabu akan ditawan atau dibunuh!"

Semua orang cepat mencari cari, siapa yang berkidung itu.

Namun, tak seorangpun menemukan penembangnya.

Biarpun tidak sepenuhnya percaya akan isi tembang itu, namun Sang Prabu Hanyokrowati merasa tidak enak, demikian pula para senopati, maka segera pasukan itu ditarik mundur untuk melihat bagaiamana perkembanganya pada keesokan harinya.

Demikian, maka ketika pasukan Ponorogo yang dipimpin langsung oleh Adipati Ponorogo bersama Surodigdo, senopatinya yang tangguh, tempat itu kosong!

Tiada seorangpun melihat siapa yang menembangkan kidung yang isinya memberi peringatan itu.

Tentu tidak mungkin dapat melihat gerakan bayangan hitam itu karena gerakannya amat cepat, apa lagi diselimuti kegelapan malam, sehingga andaikata ada orang sempat melihatnya pun, tentu akan disangka bahwa yang dilihatnya berkelebat itu bayangan burung malam atau sebagainya.

Perahu yang membawa Nurseta, Ki Sinduwening dan Mawarsih itu meluncur cepat sekali.

Beberapa kali Ki Sinduwening bertanya ke mana mereka menuju dan selalu Nurseta menjawab bahwa tempatnya sudah dekat.

"Masih jauhkah, kakangmas Nurseta?"

Mawarsih juga bertanya tak sabar lagi.

"hatiku merasa tidak enak, jangan-jangan Sang Prabu benar-benar terancam bahaya"."

Mereka tiba di sebuah tikungan dan Nurseta berkata.

"Kita sudah sampai. Paman, harap tahan perahunya, aku ingin mendarat dan melihat lebih dulu!"

Nurseta tidak menanti jawaban dan setelah perahu itu minggir, diapun melompat ke darat. Ki Sinduwening menggunakan dayung untuk menahan perahu, akan tetapi pada saat itu, Mawarsih berseru.

"Awas, bapa! Di sana itu""!"

Ia menuding dan Ki Sinduwening menoleh.

Ternyata ada lima buah perahu dari depan dan tiga buah perahu di belakang, delapan buah perahu ini masing-masing ditumpangi tiga orang dan mereka semua mendayung perahu ke arah mereka dan mengurung perahu mereka!

Dapat dibayangkan betapa heran dan kagetnya hati Ki Sinduwening dan puterinya ketika dia melihat beberapa orang yang mereka kenal di antara dua puluh empat orang itu.

Mereka adalah Ki Danusengoro, Brantoko, dan Ki Wirobandot!

Dengan heran dan penasaran, Ki Sinduwening menoleh ke darat dan bukan main marahnya ketika dia melihat Nurseta berdiri tenang, bahkan tersenyum-senyum dan kedua lengan disilangkan depan dada!

Seketika mengertilah Ki Sinduwening apa yang telah terjadi.

Nurseta telah mengkhianati Mataram!

Pantas saja semua rencana Mataram gagal dan pasukannya bahkan dikepung dan diserbu musuh.

"Nurseta, kamu pengkhianat busuk!!"

Bentak Ki Sinduwening. Akan tetapi, pada saat itu, para penumpang delapan perahu yang mengepung sudah menggerakkan tombak-tombak panjang untuk menyerangnya.

"Hati-hati, jangan lukai diajeng Mawarsih!"

Terdengar teriakan Nurseta dan teriakan ini membuat Ki Sinduwening dan Mawarsih menjadi semakin marah.

Kini mereka mengertilah akan niat Nurseta, yaitu membunuh Ki Sinduwening dan menawan Mawarsih, tentu dengan niat yang tidak senonoh.

"Jahanam busuk Nuseta, aku akan mengadu nyawa denganmu!"

Bentak Mawarsih, akan tetapi ia tidak mungkin meloncat ke darat karena perahu itu terkepung dan mereka sudah dihujani senjata tombak dari segala jurusan Ki Sinduwening sudah mencabut pecutnya yang melilit pinggang, memutar pecut itu untuk melindungi diri dari sambaran tombak-tombak musuh.

Mawarsih juga meloloskan kemben merahnya dan iapun memutar-mutar kemben untuk membantu melindungi ayahnya karena semua serangan ditujukan kepada ayahnya.

Akan tetapi, bagaimana mungkin ayah dan anak itu dapat membela diri dengan baik?

Andaikata mereka berada di daratan sekalipun, dikepung dan dikeroyok dua empat orang itu mereka tentu repot sekali mengingat bahwa di antara mereka terdapat orang-orang tangguh seperti Ki Danusengoro, Brantoko, Ki Wirobandot, bahkan Nurseta sendiri.

Apa lagi kini mereka berada di sebuah perahu kecil dan dikepung dari semua jurusan.

Ketika mereka bergerak untuk membela diri, perahu kecil itu terguncang dan beberapa kali hampir terguling.

Kalau sampai mereka terpelanting ke dalama sungai deras karena banjir itu, tentu mereka akan celaka.

Andaikata tidak dicelakakan para pengeroyokpun, bagaimana mereka akan mampu melawan dan bertahan terhadap arus sungai yang akan menyeret dan menenggelamkan mereka?

Keadaan mereka amat gawat.

Ki Sinduwening sudah terluka di pundak kanan dan pangkal lengan kiri, membuat gerakan pecutnya mengendur.

Dan biarpun Mawarsih tidak dilukai, namun gadis inipun lelah bukan main memutar kembennya untuk melindungi ayahnya.

Sebentar lagi, tentu mereka akan tidak mampu bertahan lagi.

Ki Sinduwening tentu akan terbunuh dan Mawarsih tertawan!

Tiba-tiba nampak sebuah perahu kecil meluncur datang dengan kecepatan luar biasa dan begitu dekat, terdengar suara mengaung-angung dan beberapa orang pengeroyok terjungkal keluar dari perahu mereka.

Mawarsih hampir saja bersorak ketika melihat bahwa yang datang itu adalah Si Kedok Hitam!

Dengan sebatang ranting panjang di tangan kanan dan suling di tangan kiri, Si Kedok Hitam mengamuk.

Rantingnya bergerak berciutan, sulingnya mengaung-angung.

Dia melemparkan baja kaitan di ujung tali perahu ke sebuah perahu pengeroyok sehingga perahunya tergandeng dengan perahu itu, lalu diapun berloncatan dari satu ke lain perahu, mengamuk dengan kecepatan bagaikan seekor burung garuda menyambar-nyambar.

"Andika berdua pergilah! Cepat mendarat dan lari?"

Si Kedok Hitam berseru kepada ayah dan anak itu.

Tentu saja Ki Sinduwening dan puterinya bukan orang-orang penakut.

Apa lagi melihat Si Kedok Hitam harus menghadapi dua puluh lima seorang diri, bagaimana mereka tega untuk meninggalkannya seorang diri?

Mereka telah ditolong, mana mungkin mereka sekarang melarikan diri meninggalkan penolong mereka?

Ki Sinduwening mempergunakan pecutnya, dan Mawarsih mempergunakan kembennya, menyerang perahu terdekat.

"Cepat andika berdua pergi sebelum terlambat, agar tidak sia-sia usahaku!"

Kata pula Si Kedok Hitam dan kembali rantingnya membuat seorang pengeroyok terjungkal keluar dari dalam perahu.

Ki Sinduwening maklum bahwa kalau orang seperti Si Kedok Hitam yang demikian saktinya sampai minta kepada mereka untuk melarikan diri, tentu ada sebabnya.

Mungkin akan datang musuh lebih banyak lagi sehingga kalau sampai terjadi demikian, maka akan terlambat dan semua usaha Si Kedok Hitam untuk menolong merekapun sia-sia, bahkan akan membahayakan Si Kedok Hitam sendiri.

"Mari kita pergi!"

Katanya sambil menyambar dayung dan mendayung perahu itu.

"Tapi,bapa"""

Mawarsih membantah karena ia tidak tega meninggalkan Si Kedok Hitam yang kini dikepung dan dikeroyok oleh banyak orang.

"Ini permintaannya jangan bantah. Pula, kita harus melihat keadaan pasukan kita!"

Kata Ki Sinduwening dan perahu mereka yang kini tidak terkepung lagi karena semua orang sibuk mengeroyok Si Kedok Hitam, meluncur cepat ke tepi dan mereka berdua berloncatan ke darat.

Akan tetapi ketika Mawarsih menoleh untuk melihat keadaan Si Kedok Hitam ia menjerit.

Ki Sinduwening cepat menengok dan diapun melihat betapa perahu di mana Si Kedok Hitam berdiri dikeroyok banyak orang, tiba-tiba terguncang dan miring sehingga Si Kedok Hitam terpelanting ke dalam air!

Tubuhnya disambar arus sungai yang deras dan hanyut, lalu tenggelam.

Kembali Mawarsih menjerit dan hendak berlari ke tepi lagi, ke arah menghilangnya tubuh Si Kedok Hitam.

Akan tetapi pada saat itu, terdengar teriakan Nurseta.

"Kejar mereka!!"

Ki Sinduwening menyambar tangan puterinya dan menariknya, mengajaknya melarikan diri, mereka.

Mereka mempergunakan Aji Tunggang Maruta (Menunggang Angin) sehingga tubuh mereka meluncur cepat sekali.

Biarpun Nurseta dan kawan-kawannya berusaha mengejar, namun mereka tertinggal jauh dan akhirnya bayangan ayah dan anak itupun lenyap.

Nurseta tentu saja merasa kecewa sekali, akan tetapi dia agak terhibur karena dapat membunuh Si Kedok Hitam yang tidak nampak muncul kembali.

Tentu orang rahasia itu telah tenggelam dan mayatnya menjadi makan ikan, pikirnya.

Diapun mengajak kawan-kawannya kembali untuk membantu pasukan Ponorogo yang sedang menghimpit dan mendesak pasukan Mataram.

Pasukan Mataram benar-benar terhimpit dan disergap di luar sangkaan mereka sehingga berantakan.

Apa lagi setelah Ki Sinduwening dan Mawarsih tidak terdapat di antara mereka, semangat para perwira juga mengendur dan akhirnya, pasukan itu terpaksa mundur dan keluar dari daerah Ponorogo dengan menderita kekalahan besar.

Banyak di antara mereka yang terluka atau tewas.

Mataram menderita kekalahan dari Ponorogo dalam pertempuran pertama!

Sukar untuk dipercaya!

Dan gegerlah Mataram ketika pasukannya pulang menderita kekalahan.

Sang Prabu Hanyokrowati segera mengumpulkan seluruh senopati dan menteri untuk mengadakan perundingan.

Dalam pertemuan inilah Sang Prabu Hanyokrowati dan para senopati mendengar keterangan Ki Sinduwening tentang pengkhianatan yang dilakukan Nurseta.

"Jahanam! Kalau begitu, suara yang kita dengar malam itu benar adanya! Si keparat Nurseta!"

Sang Prabu dengan muka murka lalu memerintahkan kepada seorang senopati.

"Bawa pasukan dan gempur kademangan Praban. Tangkap Ki Demang Padangsuta dan seluruh keluarganya!"

Akan tetapi Ki Sinduwening cepat menyembah dan berkata.

"Ampun, Sribaginda. Hamba sudah mengirim penyelidik ke sana, dan ternyata bahwa Ki Demang Padansuta beserta seluruh pengikutnya juga sudah meninggalkan kademangan dan membantu Ponorogo."

Sang Prabu Hanyokrowati mengepal tangan kanannya.

Wajahnya kemarahan karena dia benar-benar merasa terhina dan tertipu.

Melihat Sribaginda marah-marah, para senopati tidak ada yang berani mengeluarkan suara.

Pada saat itu, seorang di antara para pangeran yang ikut hadir dalam rapat penting itu berkata.

"Kanjeng Rama, perkenankan hamba sekarang juga membawa pasukan besar menyerbu Ponorogo membalas atas kekalahan pasukan. Semua orang memandang kepada pembicara. Dia adalah Raden Mas Menang, pangeran ke dua yang memang berwatak keras. Sang Prabu Hanyokrowati atau Raden Mas Jolang mempunyai lima orang anak, empat pangeran dan seorang puteri. Empat pangeran itu adalah Raden Mas Rangsang, Radn Mas Menang, Raden Mas Martapura, dan Raden Mas Cakra. Adapun puterinya bernama Ratu Pandan. Yang diangkat menjadi pangeran mahkota adalah puteranya yang ketiga, yaitu Raden Mas Martapura sesuai dengan janji yang pernah diucapkan Sang Prabu, disaksikan oleh semua keluarganya. Sang Prabu menggeleng kepala.

"Tidak usah engkau yang maju menaklukan Ponorogo, puteraku. Masih banyak senopati tangguh di Mataram. Kalau kita dikalahkan dalam penyerbuan pertama, hal itu hanya dapat terjadi karena kita dikhianati si Jahanam Nurseta. Aku sudah mengambil keputusan untuk memimpin sendiri pasukan besar, menundukkan bukan hanya Ponorogo, melainkan seluruh Jawa Timur, Kediri, Ketasana, Wirasaba, Surabaya, Gresik, Pendeknya, sebelum seluruh Jawa Timur kembali mengakui kedaulatan Mataram, aku tidak akan kembali!"

Mendengar pernyataan penuh semangat dari Sang Prabu Hanyokrowati, para senopati menunduk.

Para pangeran diam-diam tidak menyetujui tekad ayah mereka yang sudah berusia lanjut itu, akan tetapi merekapun tidak berani membantah karena maklum bahwa Sang Prabu Hanyokrowati sedang marah karena kekalahan dalam pertempuran pertama melawan Ponorogo itu.

Sang Prabu Hanyokrowati lalu memerintah kepada Ki Sinduwening untuk menyusun bala tentara baru yang lengkap dan gemblengan.

Dia tidak mau gagal lagi, maka hanya para senopati tua yang sudah dia ketahui kesetiaannya saja yang diserahi tugas menyusun pasukan, membantu Ki Sinduwening.

Pasukan itu harus siap dalam waktu tiga bulan,karena panyusunan kekuatan pasukan itu bukan hanya untuk menyerbu Ponorogo, melainkan untuk terus melakukan perjalanan atau gerakan menaklukan daerah-daerah yang memberontak.

Setelah pertemuan dibubarkan, Ki Sinduwening mengajak semua senopati untuk berunding dan membicarakan pembagian tugas dan pelaksanaan perintah Sang Prabu.

Kemudian, matahari telah condong ke barat ketika akhirnya Ki Sinduwening pulang ke rumahnya.

Dia menjadi pejuang sukarela, tidak menerima kedudukan senopati, dan menyerahkan penyusunan pasukan kepada para senopati yang dia percaya benar.

Setibanya di rumah, puterinya sudah menanti.

Melihat betapa Mawarsih semanjak pulang ke Mataram nampak selalu murung dan berduka, hanya bersemangat kalau mendengar rencana penyerbuan kembali ke Ponorogo, diam-diam Ki Sinduwening merasa khawatir juga.

Teringat dia betapa Mawarsih hampir tidak mau lari meninggalkan Si Kedok Hitam yang terpelanting ke dalam sungai dan hanyut, bahkan tidak nampak lagi.

Dia yang memaksa puterinya itu untuk berlari terus, mempergunkana Aji Tunggang Maruta sehingga mereka terlepas dari pengejaran Nurseta dan kawan-kawannya.

Mawarsih melarikan diri sambil membiarkan tangannya digandeng ayahnya, dan ia pun menangis sepanjang jalan.

"Bagaimana keputusan yang diambil dalam rapat tadi, bapa? Apakah kita akan segera menyerang Ponorogo lagi untuk membalas kekalahan kita?"

Tanya Mawarsih, dan tiba-tiba wajah yang muram itu berseri dan pandang matanya penuh gairah.

Ki Sinduwening tersenyum.

Biasanya, sikap puterinya tidak begitu.

Kalau dia pulang, dalam keadaan bagaimanapun juga, Mawarsih akan lebih dahulu melayaninya, mengambilkan minum, mengambilkan baju pengganti dan sebagainya.

Akan tetapi sekarang, begitu datang sudah dihujani pertanyaan yang dilakukan penuh semangat.

"Tentu saja Sang Prabu akan memimpin lagi pasukan untuk menyerbu Ponorogo yang memberontak."

"Bagus! Kapan, bapa? Besok pagi? Kita harus bersiap-siap!"

Kata Mawarsih bersemangat dan wajahnya kini berseri.

"Kenapa begitu tergesa-gesa, cahayu? Sang Prabu berkehendak agar dipersiapan pasukan besar, bukan hanya untuk menundukkan Ponorogo, juga daerah lainnya di Jawa Timur. Karena itu, pasukan besar dan lengkap harus disusun dan para senopati diberi waktu tiga bulan.""

Sepasang mata yang indah itu bersinar tajam itu terbelalak.

"Tiga bulan?? Kenapa begitu lama, bapa? Kalau begitu, sebaiknya kalau aku pergi lebih dulu ke sana, melakukan penyelidikan dan mempelajari kekuatan musuh."

"Jangan. Nini! Jangan kau pergi. Semua orang sudah mengenalmu, mengenal kita. Biar engkau menyemar sekalipun, karena engkau pernah membikin geger Ponorogo ketika menolongku dari tahanan, maka begitu engkau muncul, mereka tentu akan mengenalmu dan menangkapmu. Jangan memancing-mancing bahaya, tunggu saja sampai ada perintah Sribaginda dan kita akan melakukan penyerangan ke dua yang harus dan pasti berhasil. Akan tetapi, kuharap dalam penyerangan nanti, biar aku saja yang maju, Mawar. Engkau tinggallah di rumah, engkau seorang gadis, seorang wanita. Bahkan engkau sudah remaja puteri. Hatiku akan merasa tenteram melaksanakan tugas mengikuti Sang Prabu andaikata engkau telah mempunyai sisihan, telah mempunyai sandaran, yaitu seorang suami."

"Ah, bapa"..!!"

Mawarsih berseru, kedua pipinya kemerahan.

"Kenapa, Mawar? Engkau sudah dewasa, sudah sepantasnya kalau engkau menikah, dan terus terang saja, bapamu ini sudah ingin sekali engkau menikah, sudah ingin sekali mempunyai mantu."

"Kenapa bapa tidak juga jera? Bapa pernah berniat menjodohkan aku dengan Nurseta dan apa jadinya? Untung sekali hal itu belum terjadi, kalau sudah, bukankah hidupku akan menderita sekali, mempunyai seorang suami yang menjadi pengkhianat? Harap bapa tidak tergesa-gesa, kalau salah pilih, berarti menjerumuskan aku ke dalam lembah kesengsaraan."

Ki Sinduwening menghela napas panjang dan nampak menyesal sekali.

"Aihhh siapa kira dia akan tersesat seperti itu? Aku sendiri sampai sekarang masih bingung dan tidak mengerti mengapa dia dapat menjadi pengkhianat! Padahal, dia seorang pemuda yang baik dan pandai. Aihhh, memang kita harus berhati-hati dalam menentukan pilihan seorang calon suami bagimu, nini. Aku tidak tergesa-gesa, akan tetapi akan berbahagialah hatiku kalau sebelum aku berangkat mengikuti Sribaginda, engkau sudah mempunyai suami atau setidak-tidaknya, seorang calon suami. Aku akan membuka mata melihat-lihat"""

"Bapa, apakah bapa sudah lupa akan syarat yang kita ajkan kepada Paman Danusengoro dahulu? Calon suamiku harus mampu mengalahkan aku dan walinya dapat mengalahkan bapa."

"Hemm, memang sebaiknya begitu. Akan tetapi bagaimana kalau tidak ada yang mampu? Apakah engkau selamanya tidak akan menikah? Tidak, nini, kita harus mengubah syarat itu. Kalau ada seorang perjaka yang berbudi baik, sehat rohani, jasmaninya, pandai dan bijaksana, dan"""

"Sudahlah, bapa. Aku tidak mau menikah dengan orang lain!"

Ki Sinduwening tertegun. Terasa benar olehnya tekanan pada kata "orang lain"

Itu.

"Mawar, anakku cahayu, jelaskan siapakah pilihan hatimu itu. Siapakah dia yang menjadi kekecualian dari orang-orang lain itu?"

Mawarsih baru menyadari bahwa rasa penasaran tadi membuat ia tanpa disadarinya telah membuka rahasia hatinya.

Ia tidak mau menikah dengan orang lain, berarti ia mau menikah dengan seseorang!

Karena ucapan itu sudah keluar tanpa disengaja, ia tidak mungkin menyangkal dan bersembunyi dari ayahnya, kedua pipinya menjadi semakin merah, akan tetapi sekali ini bukan hanya karena malu, melainkan juga karena kesedihannya tiba-tiba menyusupi hatinya dan kedua matanya menjadi basah.

Orang yang dipilihnya itu telah mati!

"Dia""

Dia".. Si Kedok Hitam"""

Katanya lirih sambil menundukkan mukanya dan menghapus beberapa butir air mata yang menetes turun ke pipinya.

"Dia""? Si Kedok Hitam? Akan tetapi dia sudah mati, terus tenggelam di air banjir itu!"

Mawarsih mengangkat mukanya yang kini agak pucat, kedua matanya yang basah menatap wajah ayahnya dan ia menggeleng kepala.

"Aku tidak yakin, bapa. Aku baru yakin kalau sudah melihat jenazahnya"""

Sinduwening mengerutkan alisnya, bangkit berdiri dan berjalan mondar-mandir, kedua tangannya ke belakang pinggul, kepala digeleng-gelengkan dan berulang kali menghela napas panjang.

"Si Kedok Hitam""?"

Berulang-ulang dia menyebut nama ini.

"Aku tidak heran kalau engkau kagum dan suka kepadanya, mungkin jatuh cinta padanya. Akan tetapi siapa dia? Pernah engkau melihat mukanya?"

Dia berhenti dan menoleh kepada puterinya. Mawarsih menunduk dan menggeleng kepalanya.

"Belum pernah, bapa."

Sinduwening kembali mondar-mandir dan mulutnya mengomel panjang pendek, bersungut-sungut.

"Belum pernah melihat mukanya akan tetapi sudah menentukan menjadi calon suami! Bagaimana pula ini? Aneh".. aneh".. anakku aneh sekali"".."

Mawarsih kini mengangkat muka memandang ayahnya yang mondar-mandir sambil berulang kali menyatakan aneh.

"Bapa, cinta bukan hanya timbul karena ketampanan muka. Sudah berkali-kali dia menyelamatkan aku dari melapetaka yang lebih mengerikan dari pada maut, dan dia membela kita, dia memiliki kesaktian yang jauh melebihi kita. Tidak cukupkah itu untuk membuat aku jatuh cinta?"

Ayahnya tersenyum, lalu menghampiri dan duduk di atas kursi didepan puterinya, dan dengan sikap tenang dia menyentuh kedua pundak puterinya dengan kedua tangan, mendorongnya sedikit ke belakang sehingga Mawarsih duduk tegak dan mengangkat muka memandang.

Mereka saling pandang, Ki Sinduwening tersenyum.

"Wah anakku telah menjadi wanita dewasa sekarang!"

"Ah, bapa"".."

Mawarsih tersipu.

"Karena engkau sudah dewasa, anakku, tidak rikuh lagi bapa mengajakmu bicara tentang cinta yang kausebut-sebut tadi. Aku tidak dapat membantah bahwa cinta dapat tumbuh karena kepribadian seseorang, karena tingkah lakunya yang baik, karena sikapnya yang sopan, karena berbudi dan bijaksana, apa lagi karena orang sudah melimpahkan budi kepada kita. Justeru keadaan batin seseorang yang menjadi pendorong utama bagi timbulnya cinta. Akan tetapi, betapapun tidak enak kedengarannnya, ada sutau kenyataan bahwa di dalam cinta antara pria dan wanita yang mendatangkan perjodohan, hidup bersama selama hidupnya, di situ terdapat syarat lain yang mutlak penting. Yaitu keadaan jasmaninya. Dapatkah seorang pria mencintai seorang wanita atau sebaliknya, kalau yang dicintai itu, betapapun baik batinnya, memiliki jasmani yang cacat parah, memiliki wajah yang cacat dan buruk sehingga dapat mendatangkan rasa takut dan jijik? Dapatkan kita mencinta seseorang untuk menjadi suami atau isteri, kalau kemudian ternyata bahwa orang itu tidak sempurna keadaan tubuhnya sehingga tidak dapat melakukan hubungan suami isteri? Dapatkah cinta itu dipertahankan kalau kedua pihak tidak memiliki daya tarik jasmaniah masing-masing. Mungkin cinta antara sahabat, cinta antara orang tua dan anak, pendeknya cinta yang bukan antara pria dan wanita yang akan menjadi suami isteri, dapat menghadapi dan mengatasi semua itu. Akan tetapi, coba bayangkan dan kemudian jawab sejujurnya. Engkau mengatakan bahwa engkau mencinta Si Kedok Hitam karena dia gagah perkasa, karena dia berbudi luhur dan bijaksana, karena dia telah melimpahkan budi kepadamu, membuatmu jatuh cinta walaupun tidak tahu atau belum melihat wajahnya. Akan tetapi coba bayangkan kalau pada suatu hari, engkau mendapat kesempatan untuk membuka kedoknya dan melihat bahwa dia adalah seorang pria yang buruk sekali mukanya karena cacat, misalnya hidungnya gruwung (tanpa bukit hidung), mulutnya perot, pendeknya wajahnya menjijikkan dan menakutkan seperti wajah iblis?"

"Ihhhh, bapa""!"

Gadis itu bergidik, ngeri membayangkan semua itu.

"Anakku, engkau sudah dewasa, hadapilah semua kenyataan ini dan mari kita lanjutkan. Soal wajah saja sudah memegang peran penting dalam syarat tumbuhnya cinta antara pria dan wanita. Sekarang, katakanlah bahwa Si Kedok Hitam itu tidak cacat wajahnya, cukup tampan dan gagah, makin banyaklah senjata yang dia miliki untuk menjatuhkan hatimu. Dia tampan, gagah Sakti, berbudi luhur, telah melimpahkan budi kepadamu. Nah, sudah sewajarnya kalau engkau jatuh cinta padanya. Akan tetapi, tunggu dulu, dan bersiaplah untuk menerima kenyataan ini. Bagaimana kalau di balik semua itu, dia mempunyai suatu ketidak sempurnaan sehingga dia tidak dapat melakukan hubungan suami isteri, tidak mungkin dapat menjadi bapak anak-anakmu?"

"Bapa""!"

Mawarsih tersipu. Ki Sinduwening menghela napas panjang.

"Hidup ini memang ruwet, anakku. Kita ini manusia yang tidak mungkin dapat dipisahkan dari nafsu! Kita mutlak membutuhkan nafsu dalam kehidupan di dunia ini. Karena itulah, nafsu memegang peran penting dalam semua segi kehidupan kita! Hati dan akal pikiran kita dapat bekerja baik dan menghasilkan kalau disertai nafsu. Makanan tidak akan terasa lezat kalau tidak ada nafsu dalam mulut, tidak ada suara merdu tanpa nafsu dalam pendengaran kita, tidak ada penglihatan indah tanpa nafsu dalam mata kita, tidak ada keharuman tanpa nafsu dalam hidung kita, dan selanjutnya. Demikian pula, di dalam apa yang kita namakan cinta asmara, di antara pria dan wanita, tak mungkin terjadi tanpa adanya bumbu berupa nafsu itu. Nafsu menimbulkan daya tarik lawan jenis, nafsu menimbulkan gairah, nafsu menimbulkan kenikmatan dalam hubungan. Tanpa nafsu, tidak akan terjadi hubungan antara pria dan wanita, dan bagaimana jadinya dengan perkembangbiakan manusia? Memang kedengarannya tak enak, akan tetapi begitulah kenyataannya, angger. Karena itu, jangan anggap remeh tentang keadaan jasmani seseorang sebelum engkau menjatuhkan hati dan menyatakan cinta."

Mawarsih tertegun, bingung.

Gadis berusia delapan belas tahun ini tercenggang-cengang mendengar kata-kata ayahnya.

Ia demikian terbuai oleh khayal tentang cinta sehingga ia seperti buta melihat kenyataan yang ada.

Tak dapat disangkal pula kenyataan yang dipaparkan ayahnya tadi.

"Bapa,"

Katanya dan merasa ngeri terhadap perasaannya sendiri.

"Apakah kalau begitu"..aku hanya kagum saja kepada Si Kedok Hitam? Tapi"". ketika aku melihat dia jatuh ke sungai dan hanyut, dunia seperti kiamat bagiku, aku ingin mencarinya, ingin menolongnya, ingin""."

"Aku tahu anakku. Engkau kagum dan merasa berhutang budi yang tentu saja membuat engkau merasa suka kepadanya, dan hutang budi membuat engkau ingin membelanya, ingin menolongnya. Akan tetapi cinta? Kurasa masih terlalu pagi untuk mengatakan bahwa engkau cinta padanya, Mawar. Ingat, ada lagi satu hal yang yang mutlak perlu bagi cinta kasih antara calon suami isteri, yang tidak kalah pentingnya dari pada nafsu."

"Apa lagi, bapa?"

Gadis itu semakin tertegun karena tidak pernah mengira demikian rumit dan banyak liku-likunya tentang cinta.

"Cinta tidak mungkin sama sekali kalau hanya sepihak. Tidak mungkin bertepuk sebelah tangan. Cinta asmara baru lengkap kalau dirasakan kedua pihak, yaitu saling mencinta. Sedangkan engkau dan Si Kedok Hitam itu, kurasa hanya engkau yang mencintanya karena kagum tadi. Aku tidak tahu apakah dia juga mencintamu, Mawar. Bagaimana kalau kemudian ternyata bahwa dia tidak mencintamu, tidak ingin menjadi suamimu bahkan menolak usul perjodohan antara kalian? Hal itu bukan tidak mungkin terjadi, misalnya, bagaimana kalau pendekar itu sudah beristeri, atau kalau dia sudah mempunyai kekasih lain?"

Mawarsih terbelalak.

Sungguh merupakan kemungkinan yang sama sekali tak pernah ia bayangkan!

Ngeri ia membayangkan bahwa Si Kedok Hitam sudah beristeri, bahwa dia tidak mencintanya dan mencinta gadis lain!

"Tapi""

Tapi aku yakin dia mencintaku, bapa."

"Ehh?"

Bagaimana engkau dapat yakin? Apakah dia pernah mengaku cinta padamu?"

Mawarsih menggelang kepala dan tersenyum. Terbayang kecupan pada dahinya itu. Kecupa yang hangat dan mesra. Akan tetapi dia merasa malu untuk menceritakan hal itu, biar kepada bapanya sekalipun.

"Aku".. yakin karena aku dapat merasakannya, bapa."

"Begitukah? Jadi, bagaimana dengan perasaan cintamu terhadap Si Kedok Hitam setelah percakapan kita ini?"

Ki Sinduwening memancing sambil memandang wajah puterinya dengan perasaan cinta dan bangga. Puterinya begini cantik menarik! Tentu para pemuda akan berlomba memperebutkan hatinya.

"Bagaimana, ya?"

Mawarsih termenung.

"Setelah mendengar kata-kata bapa, aku menjadi bimbang dan harus mengakui bahwa cintaku memang bersyarat, bapa. Semua kebakan yang ada pada Si Kedok Hitam harus pula ditambah dengan syarat lain, yaitu bahwa dia harus tidak cacat jasmani seperti bapa bayangkan tadi, tidak buruk menjijikkan, dan dia". dia harus masih perjaka dan hanya mencintaku seorang."

"Ha-ha-ha, berarti engkau belum dapat menyatakan bahwa engkau sudah sepenuh-nya mencintanya, bukankah begitu?"

"Bapa, semua ini membuat aku merasa bingung dan bimbang."

"Tidak perlu bimbang, tidak perlu cemas, angger. Memang semua cinta manusia mengandung nafsu, karenanya pasti mengandung pamrih demi kesenangan diri pribadi. Hanya Cinta Tuhan yang sajalah yang suci dan tanpa pamrih. Tidak pilih kasih, tidak ada satupun yang diabaikan. Cinta manusia selalu berpamrih."

"Kukira cinta orang tua kepada anaknya tidak berpamrih, bapa. Betapapun buruknya si anak, biar cacat sekalipun, orang tua akan tetap mencintanya."

Ki Sinduwening tersenyum.

"Mungkin lebih sedikit kadar nafsunya dibandingkan cinta asmara, anakku, akan tetapi, tidak ada cinta manusia, baik orang tua kepada anak sekalipun yang tanpa syarat dan tanpa pamrih."

"Wahh? Kalau begitu, apakah cinta bapa terhadap diriku juga bersyarat dan berpamrih?"

Gadis itu manatap wajah ayahnya dengan sinar mata menantang.

Ia yakin benar akan besarnya kasih sayang ayahnya kepada dirinya, apa lagi semenjak ibunya tiada.

Ki Sinduwening mengangguk-angguk dan tersenyum, lalu mengelus kepala puterinya.

"Karena engkau anak baik, menyenangkan, maka cinta kasihku kepadamu juga tumpukundung! Akan tetapi andaikata engkau tidak seperti sekarang ini, andaikata engkau menjadi anak yang binal, jahat, murtad dan tidak mentaatiku, hemm, aku sangsi apakah cinta kasih itu dapat kupertahankan. Ketahuilah anakku. Kita semua, baik selaku orang tua selaku anak, selaku kekasih, selaku suami atau isteri, selaku sahabat dan selanjutnya, kita semua ini mencinta dengan pamrih disenangkan. Seorang ayah atau ibu mencinta anaknya dengan syarat agar anaknya itu menjadi anak baik, penurut, taat, berbakti dan menyayang orang tua. Demikian pula seorang anak terhadap orang tuanya. Dapatkah seorang anak mencinta orang tuanya yang tidak mengurusinya, bahkan menekannya terlalu keras, menyiksanya? Dapatkah seorang suami atau isteri mencinta pasanganya itu kalau pasangannya membencinya, tidak mau melayaninya dan tidak menyenangkan hatinya? Dapatkah seseorang mencinta sahabatnya kalau sahabat itu merugikannya atau mencelakakannya? Nah, semua cinta manusia berpamrih, betapapun murni cinta itu diakuinya. Hanya kasih sayang Allah Yang Maha Kasih sajalah yang yang suci murni. Setiap makhluk, dari yang terkecil sampai yang terbesar, bahkan dari orang yang paling baik sampai yang paling jahat, semua mendapatkan berkahNya. Tanpa adanya berkah Tuhan, tidak satupun makhluk dapat hidup dan menikmati hidupnya."

"Ah, kalau begitu cinta manusia itu palsu, alangkah rendahnya!"

"Bukan palsu, anakku. Memang demikianlah sifat segala sesuatu yang didorong nafsu. Akan tetapi hal itu wajar saja karena memang manusia hidup tidak mungkin dipisahkan dari nafsu. Hanya bedanya,kita memperalat nafsu ataukah sebaliknya kita diperalat nafsu. Kalau kita yang memperalat nafsu, maka nafsu menjadi pendorong kehidupan yang amat penting dan bermanfaat, kalau sebaliknya kita yang diperalat nafsu, kita terseret ke dalam kesesatan dan kesengsaraan menanti kita di ujung sana."

"Wah, percakapan kita tentang cinta ini membuat aku jadi takut untuk mencinta seseorang, bapa."

"Hushh, jangan begitu, nini. Yang kita bicarakan tadi hanya dipandang dari segi nafsu saja, segi buruknya. Akan tetapi di dalam cinta kasih atau lebih tepat kita sebut cinta asmara, yaitu antara pria dan wanita, terdapat sesuatu yang lebih halus, lebih indah, walaupun hanya sekelumit namun merupakan berkah dari keagungan Allah. Perasaan suci dalam cinta asmara ini membuat kita merasa iba, membuat kita ingin selalu menyenangkan hatinya, ingin membahagiakannya, ingin membelanya."

"Sebetulnya aku sendiri sedang bingung menghadapi dua orang pria yang selalu mengusik hatiku, Bapa. Yang pertama adalah Si Kedok Hitam yang biarpun belum pernah kulihat wajahnya, akan tetapi telah membuat hatiku tertarik sekali kepadanya. Dan yang ke dua adalah""."

Gadis itu tidak melanjutkan, tiba-tiba merasa malu kepada dirinya sendiri, kenapa sebagai seorang dara ia mengaku kepada ayahnya bahwa ia mencinta dua orang pria!

Sungguh tidak pantas dan memalukan sekali rasanya, maka ia tidak dapat melanjutkan.

"Hemm, agaknya aku dapat menduganya, Mawar."

Mawarsih mengangkat muka menatap wajah ayahnya.

"Ehh? Benarkah bapa dapat menduganya?"

Ki Sinduwening tersenyum dan mengangguk.

"Pemuda yang menjadi tukang kuda di Ponorogo, bernama Banuaji itu, bukan?"

Kedua pipi itu menjadi merah kembali.

"Ihh, bapa serba tahu saja!"

"Mawar, aku adalah ayahmu yang melihat engkau bertumbuh sejak kecil menjadi dewasa. Tentu saja aku mengenal semua keadaan hatimu. Ketika engkau nekat keluar dari tempat persembunyian ketika melihat pemuda itu, dihajar oleh Brantoko, aku sudah tahu bahwa engkau tentu mencinta pemuda itu. Tidak mengherankan kalau engkau tertarik kepada dua orang muda itu karena mereka keduanya pernah menolongmu. Akan tetapi, terus terang saja, pilihanmu itu, kedua-duanya, membuat aku kurang puas, Mawar."

"Bapa""!"

"Si Kedok Hitam memang seorang pemuda pendekar perkasa yang agaknya memiliki aji kesaktian yang bahkan jauh melampui tingkatku dan aku akan merasa bangga dan tenang kalau engkau bersuamikan seorang pria yang demikian saktinya. Akan tetapi sayang, kita belum melihat wajahnya dan tidak tahu siapa dia! Adapun pemuda kedua, Banuaji itu. Memang kulihat dia itu tampan dan tabah, pemberani dan setia sehingga biar disiksapun tidak mau mengkhianatimu. Akan tetapi, aku kecewa karena dia hanyalah seorang pemuda biasa, yang hanya memiliki keberanian saja, seorang pemuda yang lemah dan tidak memiliki kedigdayaan. Bagaimana seorang suami seperti dia itu akan mampu melindungimu?"

"Agaknya tidak ada seorangpun di dunia ini yang tanpa kekurangan, bapa. Setiap manusia tentu ada kelebihan atau kekurangan masing-masing. Bagaimana mungkin kita mengharapkan dapat bertemu seseorang yang sempurna?"

"Aku mengerti, dan bukan itu maksudku. Akupun tidak gila untuk menuntut seorang calon mantu yang sempurna. Akan tetapi, kita harus bisa mendapatkan yang sebaiknya untukmu. Kita belum yakin siapa di antara kedua pamuda itu yang mencintamu, kalau kita boleh katakan Si Kedok Hitam seorang pemuda. Karena itu, kalau engkau setuju, bapamu ini akan mengadakan sayembara, yaitu menurut syarat kita semula. Kita mengadakan sayembara bahwa siapa yang mampu mengalahkan engkau dan aku, dialah yang pantas menjadi suamimu. Nah, kalau sayembara itu kita siarkan, tentu akan terdengar pula oleh Si Kedok Hitam dan Banuaji, dan kalau mereka berdua benar mencintamu, tentu mereka akan datang mengikuti sayembara. Bagaimana pendapatmu?"

Mawarsih merasa setuju.

Kiranya itu hanya merupakan satu cara terbaik untuk menarik perhatian dua orang pria yang dirindukannya itu.

Kalau yang muncul pria lain, ia dan ayahnya akan mampu menolak mereka dan mengalahkan mereka.

"Terserah kepada bapa saja."

Katanya dan iapun lari meninggalkan ayahnya, memasuki kamarnya, dikejar suara tawa ayahnya.

Karena keberangkatan pasukan Mataram menyerang Ponorogo masih tiga bulan lagi, mananti kalau musim hujan reda dan menanti penyusunan barisan yang tangguh.

Ki Sinduwening lalu menyiarkan pengumuman sayembaranya.

Senja yang indah.

Matahari sudah tenggelam di balik bukit di barat, akan tetapi sinarnya masih mengakibatkan kebakaran di langit barat.

Semua nampak merah kekuningan seolah terpulas warna warna emas.

Burung-burung beterbangan kembali ke sarang mereka.

Para penggembala ternak menggiring kerbau dan sapi mereka kembali ke kandang.

Para petani memanggul pacul beriringan melangkah santai pulang ke dusun.

Pohon-pohon nampak tenang, agaknya sudah siap untuk menyambut datangnya malam, di mana mereka tenggelam dalam kegelapan.

Azan magrib terdengar mengemandang dari sebuah langgar di dusun itu, dan mereka yang biasa melakukan sholat sudah memasuki ruangan sembahyang di rumah masing-masing untuk melakukan kewajiban berbakti kepada Yang Maha Kuasa dengan sembahyang.

Maghrib telah lewat dan sinar kemerahan yang ditinggalkan matahari mulai memudar.

Suasana sunyi karena orang-orang telah memasuki rumah masing-masing, kerbau dan sapi pulang ke kandang, burung-burung pulang ke sarang.

Semua menyambut datangnya malam.

Dian-dian mulai dinyalakan.

Akan tetapi, di dalam kesunyian yang syahdu itu, tiba-tiba terdengar suara merdu seorang wanita yang menembangkan sebuah kidung Sekar Pangkur.

Suaranya lembut dan merdu sekali, dan dari alunan suaranya, dari lekuk dan lengkung suaranya di antara nada-nada yang indah, dapat diduga bahwa penembang tentu seorang yang ahli dalan kesenian itu.

Katakatanya jelas walaupun suara itu tidak dikeluarkan sepunuhnya, cengkoknya, kembangannya, naik turunnya nada dengan lengkungnya yang khas, demikian serasi dan seolah mengelus sanubari.

"Nging sisiping tapa-brata tyang tapa ingkang tansah anduluri hardaning hawa nafsu katarik ing rubeda sasawangan kang anuntun lampah dudu sayekti dadya angkara pamurunging capta sening."

Kidung itu sedemikian indah dan mengelus sanubari sehingga setelah tembang itu selesai, suasana terasa hening dan syahdu, dan banyak orang dusun Ngampil dekat Sumoroto diamdiam mengharapkan agar penembangnya melanjutkan kidung itu.

Mereka semua tahu siapa yang menembang itu dan setiap orang mengaguminya.

Akan tetapi, agaknya kidung itu hanya terhenti sampai di situ.

Dan di belakang sebuah pondok sederhana, menghadap ke kebun jagung, Suminten duduk di bangku bambu, berhadapan dengan Bargowo yang duduk di atas sebuh batu besar.

"Alangkah indahnya dan merdunya suaramu, Suminten,"

Kata pria itu, sambil memandang penuh kagum. Cuaca di luar sudah remeng, akan tetapi di atas mereka tergantung sebuah lampu dan sinar lampu yang lemah tepat menerangi wajah gadis itu.

"Kakang Bargowo, harap jangan terlalu sering memujiku, nanti membuat aku ketagihan dan kalau sekali waktu tidak dipuji, akan mendatangkan perasaan kecewa dan duka."

Kata Suminten sambil tersenyum. Manis sekali dara bekas ledek Pacitan ini kalau tersenyum. (Lanjut ke

Jilid 11) Kidung Senja Di Mataram (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 11

"Apa salahnya? Biar aku akan memujimu terus sampai kiamat! Memang suaramu indah, Suminten dan kidung tadi, lagunya Sekar Pangkur, bukan? Kata-katanya demikian indahnya. Dari mana engkau mempelajarinya?"

"Kidung itu hanya hafalan, kakangmas, sebagai seorang penyanyi, aku harus hafal banyak macam kidung. Yang tadi adalah kidung Sekar Pangkur Arjuna Wiwaha."

"Arjuna Wiwaha? Aku pernah mendengar kisah itu, yang kadang disebut kisah Arjuna Mintaraga. Nimas, apakah andika mengerti arti dari kidung yang indah tadi?"

Suminten menundukkan mukannya, agak tersipu dan menggeleng kepalanya.

"Aku hanya hafal akan kata-katanya saja, kakangmas. Siapa yang akan mengajakku memahami arti katakata yang amat mendalam itu?"

Bargowo menghela napas panjang dan tersenyum.

"Arti kidung itu memang mendalam, tidak mengherankan kalau andika tidak mengerti artinya, Suminten. Nah, aku akan mencoba menjelaskan artinya kepadamu. Arti kidung itu seperti ini kurang lebih."

Bargowo lalu mengartikan kidung Sekar Pangkur tadi.

"Tetapi Keliru tapa-brata adalah Jika orang bertapa yang selalu membiarkan hawa nafsu merajalela tertarik oleh godaan penglihatan yang membimbing ke jalan sesat jelas menjadikan angkara murka membatalkan kejernihan batin"

"Nah, begitulah kira-kira kidung yang kau tembangkan tadi, Suminten."

Gadis ayu itu memandang kagum.

"Wah, kiranya demikian mendalam, kakangmas. Aku hanyalah seorang ledek dusun yang bodoh, bagaimana mungkin dapat mengerti hal yang muluk-muluk itu?"

"Suminten, engkau selalu merendahkan dirimu. Bagiku engkau bagaikan seorang dewi khayangan. Engkau cantik jelita lahir batin. Engkau cantik, kalau menari seperti Dewi Supraba, dan suaramu merdu. Dan di samping keindahan lahiriah itu, aku tahu bahwa engkau berwatak lembut, bersusila, baik budi dan"".."

"Ahhh""

Cukuplah, kakangmas. Kalau andika lanjutkan, bisa aku melambung ke awan-awan dan meletus di sana".."

Gadis itu tertawa menutupi mulutnya dan Bargowo juga tertawa.

"Suminten, agaknya saat ini merupakan saat yang paling tepat bagiku untuk menyatakan perasaan hatiku padamu."

Melihat keseriusan pada suara dan tatapan mata pria itu, Suminten agak gemetar.

"Apa".. apa maksudmu, kakangmas Bargowo?"

"Maksudku, aku melamarmu, Suminten. Aku ingin engkau menjadi isteriku, hidup bersamaku sebagai suami isteri sampai selamanya."

Suminten terbelalak.

Ia telah ditolong oleh kakak beradik, yaitu Santiko dan Bargowo dan keduanya amat baik kepadanya.

Bukan saja mereka telah menyelamatkan dari tangan Ganjur yang kemudian tewas di tangan mereka.

Bukan hanya sampai di situ kakak beradik itu menolongnya, akan tetapi karena khawatir akan gangguan kawan-kawan Ganjur, kakak beradik itu mengajaknya untuk ikut dengan mereka yang memimpin perkumpulan Dayatirta.

Dan kini mereka tinggal di dusun Ngampil.

Ia dan bibinya, yaitu bibi Warsinah, diberi tempat tinggal di pondok sederhana itu.

Sikap kakak beradik itu terhadap dirinya baik, ramah dan sopan dan mereka sudah bergaul akrab.

Dan seperti sering dilakukan oleh kakak beradik itu, senja hari itu Bargowo datang berkunjung dan mereka bercakap-cakap di belakang pondok.

Tak disangkanya sama sekali bahwa Bargowo malam itu akan meminangnya!

Dan hal ini memang selalu menjadi harapan hatinya!

Diam-diam Suminten telah jatuh hati kepada Bargowo yang lembut, tampan dan menjadi penolong utamanya itu.

"Kakangmas Bargowo,"

Katanya lirih sambil menundukkan mukanya.

"Aku". aku bukan merendahkan diri, akan tetapi kenyataannya, aku hanyalah seorang ledek"""

"Sekarang tidak lagi, nimas!"

""".. yaah, bekas ledek dusun saja yang bodoh. Andika seorang ksatria yang akan mudah memperoleh jodoh seorang puteri bangsawan, kenapa andika meminangku""."

"Nimas Suminten, kau bertanya kenapa aku meminangmu? Karena aku cinta padamu, Suminten. Aku cinta padamu!"

Kepala itu semakin menunduk dan kedua pundak itu terguncang sediki, terdengar isak tertahan.

"Ehh? Kenapa, Suminten? Engkau""

Engkau menangis?"

Tanya Bargowo khawatir kalaukalau dia menyinggung hati gadis itu, lebih khawatir lagi kalau-kalau Suminten akan menolak cintanya.

"""""..sudah"". sudah lama aku"""

Menanti ucapanmu itu""."

Bargowo terbelalak, lalu bangkit dan melangkah menghampiri.

"Apa""..? Jadi kau"".. kau menerima pinanganku, Suminten?"

Dia duduk di dekat gadis itu, di atas bangku bambu.

Suminten menyusut air matanya dan mengangguk, lalu memberanikan diri mengangkat muka memandang, bibirnya tersenyum akan tetapi matanya mengandung air mata, lalu mengangguk.

"Aku".. akan berbahagia sekali kakangmas"""

"Suminten""

Pujaan hatiku, dewiku""..!"

Bargowo mendekap kepala gadis itu ke dadanya.

Dua orang muda yang sedang asyik-masyuk itu sama sekali tidak tahu bahwa tak jauh dari situ terdapat sepasang mata yang mencorong, mengintai dari kegelapan.

Sinar mata itu semakin berapi-api, akan tetapi kemudian lenyap di balik semak-semak itu.

Pada keesokan harinya, Suminten agak kesingan bangun dari tidurnya sehingga bibinya sampai menggugahnya.

"Minten"".. Minten, bangun! Matahari telah sejak tadi muncul dan engkau masih juga belum bangun!"

Bibi Warsinah sengaja membuka jendela kamar itu dan sinar matahari pagi menyorot masuk, membuat Suminten menggeliat seperti seekor kucing dan ia menggosok-gosok mata dengan punggung tangan karena silau.

"Wah, sudah sesiang ini? Maaf, bibi, tidurku nyenyak sekali. Belum pernah aku tertidur seperti tadi!"

Kata gadis itu dengan senyum bahagia karena teringat akan peristiwa semalam dan peristiwa itulah yang membuatnya begitu enak tidur.

Bibinya tersenyum simpul.

Kau kira aku tidak tahu, katanya dalam hati.

"Hemm, agaknya engkau dibuai mimpi indah. Sudahlah, cepat cuci muka dan berganti pakaian, itu di luar sudah ada anakmas Santiko menantimu."

Sepasang mata itu terbelalak.

"Kakangmas Santiko? Sepagi ini dia sudah datang berkunjung?"

Hatinya kecewa karena bukan Santiko yang diharapkan berkunjung sepagi itu, melainkan kekasih hatinya, Bargowo.

"Cepatlah, jangan biarkan dia terlalu dia terlalu lama menanti. Dia agaknya membawa keperluan penting sekali pagi ini, wajahnya nampak begitu sungguh-sungguh, dan aku merasa takut menghadapinya."

Suminten turun dari pembaringan dan tersenyum lebar.

Santiko memang beda dengan Bargowo.

Kalau Bargowo lembut dan tampan, Santiko kasar dan keras, jujur dan brewokan, tinggi besar seperti Werkudoro.

Namun, hatinya sama baiknya dengan Bargowo, ini ia tahu benar, maka ia merasa geli mengapa bibinya takut menghadapi Santiko yang demikian baik hati.

Ia setengah berlari menuju ke kamar mandi, membersihkan badan lalu bertukar pakaian dan cepat membereskan rambutnya yang awut-awutan.

Suminten tidak seperti dahulu kalau hendak menari, selalu merias diri dengan cermat.

Sekarang ia sederhana sekali, sama sekali tidak pesolek dan mengutamakan kebersihan.

Namun hal ini tidak mengurangi daya tariknya, bahkan ia nampak selalu segar dan asli, bagaikan setangkai bunga yang mekar di waktu pagi, masih dihias butir-butir embun seperti mutiara.

Santiko terpesona ketika melihat Suminten keluar dari pintu dalam, diikuti Bibi Warsinah.

Sejak pertama kali bertemu, hati perjaka yang kokoh dan keras ini sudah bertekuk lutut dan Santiko sudah tergila-gila kapada Suminten.

Namun, perasaannya sebagai seorang pendekar selalu mengekangnya untuk menyatakan isi hatinya.

Dia khawatir kalau-kalau pernyataan cintanya disalahartikan oleh Suminten, takut disangka dia menolong gadis itu karena mempunyai niat lain!

Itulah sebabnya, sampai sekarang dia mengekang perasaannya dan pagi ini, setelah semalam menyaksikan adegan yang membuat hatinya panas terbakar antara Suminten dan Bargowo, dia mengambil keputusan untuk bertindak!

"Kakangmas Santiko, maafkan kalau aku terlambat menyambut kedatanganmu.

Ada keperluan apakah yang membuat kakangmas sepagi ini datang berkunjung?"

Tanya Suminten dengan sikap wajar dan lembut, ramah seperti biasa.

Akan tetapi, benar seperti dikatakan bibinya, Santiko bersikap berbeda dari biasanya.

Tidak ada senyum di balik jenggotnya yang lebat dan sikapnya kaku, suaranya juga agak ketus.

"Duduklah, Suminten, dan andika juga, Bibi Warsinah. Aku datang untuk membicarakan urusan penting sekali dengan kalian."

Sungguh tidak biasa ini, pikir Suminten.

Biasanya, Santiko hanya ingin bicara berdua saja dengannya, dan Bibi Warsinah tidak pernah berani mengganggunya atau mencampuri percakapan mereka.

Ada peristiwa apakah?

Apakah perang telah bernyala lagi seperti yang pernah ia dengar dari kakak beradik itu bahwa perang belum selesai dengan kekalahan pasukan Mataram, bahkan pasti terjadi perang yang lebih besar lagi?

Suminten dan bibinya duduk dan gadis itu menatap wajah Santiko.

Jelas nampak bahwa wajah itu risau, kedua mata yang lebar dan bersinar tajam itu agak kemerahan seperti mata orang yang kurang tidur.

"Kakangmas, ada terjadi apakah? Engkau kelihatan risau"""

Kata Suminten penuh perhatian dan suara ini menyentuh hati Santiko.

Seorang gadis yang baik, baik sekali, pikirnya.

Santiko adalah seorang laki-laki yang jantan, yang tidak pernah mengenal rasa takut, tabah menghadapi bahaya apapun.

Akan tetapi sekarang, berhadapan dengan Suminten, gadis berusia delapan belas tahun yang mungil dan lembut itu, jantungnya berdebar tegang, tangannya gemetar, dan lidahnya terasa kelu.

"Begini"""

Diajeng Suminten".."

Dia tergagap lagi, baru sekarang dia menyebut gadis itu diajeng, sebutan yang amat mesra sehingga Suminten juga mengangkat alis dan memandang heran.

"Sebaiknya kutujukan saja kepada Bibi Warsinah. Bibi, karena andika merupakan pengganti orang tua dan wali dari Suminten, maka kepada bibilah kusampaikan maksud hatiku ini. Aku"". aku melamar Suminten untuk menjadi isteriku!"

"Bibi Warsinah tersenyum, dan Suminten terbelalak. Mereka tidak mampu menjawab. Bibi Warsinah tentu saja tidak berani mengambil keputusan dan menyerahkan keputusannya kepada Suminten, sedangkan Suminten tidak mampu menjawab karena baru semalam ia menyerahkan cintanya kepada Bargowo! "Bagaimana, Bibi? Diterimakah lamaranku, atau ditolak?"

Timbul ketegasannya kembali setelah Santiko dapat menenangkan hatinya dan sesuai dengan wataknya, dia tidak berteletele.

"Anakmas Santiko, bagaimana aku dapat menjawab? Sebaiknya, hal itu ditanyakan kepada Suminten sendiri karena ialah yang berhak menentukan jawabannya,"

Kata Bibi Warsinah mengelak. Santiko memandang kepada gadis itu. Sejenak pandang mata bertemu dan ia bertaut, akan tetapi Suminten lalu menundukkan mukanya.

"Bagaimana, diajeng Suminten? Apakah aku cukup berharga untuk menjadi suamimu? Ataukah engkau tidak mau menerima cintaku?"

Bukan main pemuda ini, pikir Suminten.

Biarpun Bargowo juga menyatakan cintanya dengan jujur, namun tidak sekeras Santiko yang menghendaki kepastian seketika.

Diterima atau ditolak!

"Kakangmas Santiko, aku menerima budi yang berlimpah darimu.

Engkau seorang ksatria perkasa yang berbudi mulia, sedangkan aku hanya seorang ledek dusun yang miskin dan bapa, bahkan yatim piatu.

Bagaimana aku berani menganggap bahwa kakangmas tidak cukup berharga untuk menjadi suamiku.

Akulah yang terlampau rendah bagimu, dan"""

"Jadi engkau tidak menolak? Engkau menerima pinanganku?"

Santiko memotong tegas. Suminten menggeleng kepala dan menghela napas panjang, hatinya risau sekali, dipenuhi kegelisahan.

"Sungguh sayang sekali, kakangmas Santiko. Baru saja malam tadi aku telah menerima pinangan kakangmas Bargowo".."

Santiko tidak terkejut, akan tetapi marah.

"Hemm, apakah Bargowo sudah mengajukan lamaran secara resmi kepada Bibi Warsinah? Bibi, apakah adikku itu sudah meminang Suminten kepadamu?"

Bibi Warsinah menggelang kepalanya "Belum, anakmas."

"Kalau begitu, pinangannya itu belum sah? Kalau begitu, berarti aku yang lebih dulu meminangmu, diajeng Suminten!"

"Tapi".tapi".. kakangmas Santiko"""

"Tapi apa lagi, diajeng Suminten? Aku lebih berhak karena aku yang lebih dahulu meminangmu. Juga aku lebih tua, aku sebagai kakaknya yang pantas untuk menikah lebih dulu. Kecuali, tentu saja, kalau engkau tidak suka menjadi isteriku, aku tidak akan dapat memaksamu."

Suminten tidak mampu menjawab dan tiba-tiba ia menangis, sesenggukan. Bibinya mendekati dan merangkul, menyuruhnya tenang.

"Hemm, kenapa menangis diajeng Suminten? Dengarlah baik-baik. Kalau engkau tidak menolak cintaku, kalau engkau suka menjadi isteri maka akulah yang berhak menikahimu, karena aku yang lebih dahulu meninangmu, dan di antara kami berdua, aku yang lebih tua sehingga aku yang lebih pantas untuk menikah lebih dulu. Kalau engkau tidak menolak, engkau akan menjadi isteriku. Akan tetapi kalau sebaliknya engkau menolak pinanganku, kaalu engkau tidak suka menjadi isteriku, maka aku akan pergi dan tidak akan memaksamu."

Tentu saja amat sukar bagi Suminten untuk menjawab.

Kalau ia mengatakan menolak, hal itu selain tidak sesuai dengan suara hatinya yang tentu saja ingin membalas budi, ia tidak ingin menyinggung hati ksatria ini yang tentu akan merasa terhina oleh penolakannya.

Kalau ia menyatakan menerima, lalu bagaimana dengan Bargowo yang dicintanya?

Aneh sekali, dalam keadaan seperti itu, ia teringat akan pengalaman-pengalamannya yang lalu ketika ia masih menjadi ledek.

Betapa seringnya ia dihadapkan dengan keadaan semacam ini, menjadi rebutan dan persaingan diantara dua atau bahkan lebih pria-pria yang ingin berjoget dengannya.

Akan tetapi sekali ini, yang memperebutkan dirinya adalah dua orang ksatria yang dipujanya, dan mereka bukan sekedar ingin berjoget, hal yang dapat dilakukan secara bergantian, melainkan memilikinya untuk diri sendiri, tidak boleh berbagi dengan orang lain, sebagai isteri.

"Suminten jawablah, aku menghendaki keputusan sekarang juga!"

Kata Santiko, mendesak, setelah melihat gadis itu diam dan nampak ragu dan bimbang.

"Kakangmas Santiko, betapa sukarnya mengambil keputusan. Sungguh mati, bukan aku menolak pinanganmu, kakangmas, akan tetapi bagaimana aku dapat menerimanya kalau malam tadi aku sudah menerima pinangan kakangmas Bargowo? Biarpun dia belum melamar kepada bibi, akan tetapi dia sudah melamar langsung kepadaku dan aku sudah menerimanya. Aku tidak mungkin mengingkari janji dan menyangkal kata-kata sendiri. Maafkan aku, kakangmas."

"Jadi engkau menolak lamaranku?"

Ucapan itu dikeluarkan dengan suara yang galak sehingga Suminten dan Bibi Warsinah merasa takut.

Wajah Santiko menjadi merah dan sinar matanya jelas menunjukkan kemarahan.

Pada saat itu, terdengar orang berkata dari luar.

"Kakang Santiko, cinta tidak dapat dipaksakan, dan diajeng Suminten mencintaku. Kami saling mencinta dan telah berjanji akan manjadi suami isteri."

Bargowo muncul dan Santiko memandang kepada adiknya itu dengan mata berang.

Dia bukan hanya merasa kecewa dan iri hati, akan tetapi juga merasa malu karena di depan Suminten dan Bibi Warsinah, dia merasa dikalahkan oleh adiknya sendiri.

Dia akan menjadi buah tertawaan mereka, pikirnya dengan hati menjadi semakin panas.

"Bargowo!"

Teriaknya sambil menudingkan telunjuknya ke arah muka adiknya itu.

"Engkau memang berwatak pengkhianat! Di dalam hatimu engkau condong membela Mataram dan mengkhianati Ponorogo. Dan sekarang biarpun engkau tentu dapat mengetahui bahwa aku mencinta diajeng Suminten, engkau telah mendahuluiku, berarti telah mengkhianati kakakmu sendiri! Mulai sekarang engkau bukan adikku lagi!"

Setelah berkata demikian, Santiko keluar dari pondok itu dengan langkah lebar.

"Kakang Santiko""..!"

Bargowo memanggil, akan tetapi Santiko tidak menoleh dan tahulah Bargowo bahwa dalam keadaan marah seperti itu, kakaknya sukar diajak bicara baik-baik maka dia akan membiarkan sampai kemarahan kakaknya mereda.

Dia hanya menghela napas ketika Suminten menghampirinya sambil menangis.

"Kakangmas, bagaimana ini sebaiknya?"

Katanya di antara isak tangisnya.

"Anakmas Bargowo, saya takut melihat anakmas Santiko. Di marah sekali."

Kata Bibi Warsinah.

"Kakangmas, aku khawatir sekali. Dia kelihatan amat marah kepadamu."

Kata pula Suminten.

"Jangan khawatir, biarkan aku yang akan menghadapi kakang Santiko. Kalau hatinya sudah dingin, aku akan bicara dengan dia, tentu dia mau mengerti. Sekarang yang penting kita bicarakan kepastian hari pernikahan kita. Setelah timbul urusan dengan kakang Santiko, memang sebaiknya kalau kita cepat menikah, diajeng Suminten."

Gadis itu menarik napas panjang, merasa agak tenang melihat sikap kekasihnya yang tenang.

"Terserah kepadamu, kakangmas. Kuharap saja tidak terjadi hal-hal yang buruk sebagai akibat peristiwa dengan kakangmas Santiko tadi."

Akan tetapi ternyata Santiko tetap marah, bahkan tidak menanggapi kalau Bargowo mengajaknya bicara, dan selalu menjauhkan diri.

Melihat ini, Bargowo juga mendiamkan saja dan mengurus pernikahannya dengan Suminten yang dirayakan secara sederhana, hanya dihadiri para anggota Dayatirta dan para penghuni dusun Ngampil.

Dan pada hari pernikahan itu, sepekan semenjak Santiko melamar Suminten, Santiko tidak hadir, juga belasan orang anggota Dayatirta.

Ternyata Santiko bersama belasan orang kawannya pergi meninggalkan dusun Ngampil tanpa pamit.

Mendengar ini Suminten merasa khawatir, akan tetapi suaminya menghiburnya.

"Biarlah, agaknya memang bagitu yang terbaik. Sejak kecil memang watak kakang Santiko keras dan selalu berlawanan dengan aku. Kami saling menyayang, akan tetapi juga saling bertentangan karena perbedaan pendapat dalam hidup. Tidak perlu kaususahkan dan risaukan, diajeng."

Dan semenjak hari itu, mereka menjadi suami isteri yang saling mencinta.

Bargowo dan kawan-kawannya yang berjumlah kurang lebih tiga puluh orang masih tetap melakukan tugas sebagai pendekar yang menentang kejahatan dan melindungi rakyat dari ganguan para penjahat.

Nama Dayatirta menjadi terkenal di kalangan rakyat semenjak terjadi parang dengan Mataram itu, karena sudah banyak rakyat yang mereka tolong.

Para penjahatpun merasa jerih berurusan dperkumpulan Dayatirta yang memiliki anggota-anggota yang tangguh.

Dengan restu Sang Prabu Hanyokrowati, Ki Sinduwening membuka sayembara pemilihan calon suami untuk puterinya.

Mawarsih.

Karena sayembara ini diadakan secara terbuka dan resmi, apa lagi mendapat restu dari Sribaginda sendiri, maka orangpun berbondong-bondong datang pada hari yang telah ditentukan, memasuki pekarangan yang luas dari rumah Ki Sinduwening.

Di pekarangan itu telah dibangun sebuah panggung yang kokoh kuat, dan di bawah panggung, di pakarangan itu disediakan bangku-bangku yang banyak jumlahnya.

Terutama sekali para pria muda berdatangan, kalaupun tidak hendak memasuki sayembara, tentu untuk menonton karena semua orang dapat menduga bahwa dalam sayembara memilih calon suami yang syaratnya mengadu kedigdayaan itu, tentu akan terjadi pertandingan yang ramai dan seru.

Kiranya Ki Sinduwening tidak akan berani lancang mohon restu Sribaginda untuk urusan memilih mantu kalau saja di balik pemilihan calon mantu itu tidak ada maksud lain yang berkenan di hati Sribaginda.

Dalam sayembara itu tentu akan berdatangan orang-orang muda yang digdaya, mengingat bahwa sayembara itu diadakan dengan mengadu aji kesaktian.

Dan pada waktu itu, Mataram sedang menyusun kekuatan untuk melakukan penyerbuan ke timur, maka tentu saja tenaga para muda yang digdaya amat dibutuhkan.

Maka, sayembara memilih jodoh ini mempunyai maksud lain, ialah mengumpulkan orang-orang yang berkepandaian untuk ditarik dan dibujuk membantu dan memperkuat pasukan Mataram.

Setelah matahari naik agak tinggi, pekarangan itu telah dipenuhi pendatang, dan beberapa orang perajurit keamanan yang berjaga di situ oleh Ki Sinduwening ditugaskan untuk menerima pendaftaran mereka yang ingin memasuki sayembara.

Sebetulnya, semua orang sudah tahu belaka siapa Mawarsih, tahu bahwa gadis yang mengadakan sayembara memilih jodoh itu adalah seorang gadis berusia delapan belas tahun yang cantik jelita, memiliki kegidayaan, puteri Ki Sinduwening yang menjadi pembantu Sribaginda yang dipercaya.

Siapa yang berhasil memenangkan sayembara itu, berarti akan memperoleh seorang isteri yang cantik dan perkasa, juga menjadi mantu seorang yang memiliki kedudukan tinggi dan nama besar!

Banyak sekali pemuda yang tentu saja ingin sekali memperisteri Mawarsih, akan tetapi mereka ragu dan jerih untuk dapat memenangkan gadis itu, apa lagi harus mencari wali yang akan mampu menandingi Ki Siduwening.

Banyak yang mundur teratur menghadapi syarat yang bagi mereka dianggap terlalu berat itu.

Biarpun demikian, banyak pula yang ingin cobacoba, andaikata akan kalahpun, setidaknya mereka sudah memperlihatkan diri untuk menarik perhatian sang dara.

Maka, ketika akhirnya orang yang dinanti-nanti, yaitu Mawarsih bersama Ki Sinduwening keluar dan naik ke panggung, disambut sorak sorai para penonton, yang ikut mendaftarkan terdapat dua belas calon!

Para penonton, terutama para calon menujukan pandang mata mereka semua kepada Mawarsih.

Banyak di antara mereka yang menelan ludah,dan mereka yang ragu-ragu dan jerih, yang tidak berani mengajukan diri sebagai calon walaupun hati mereka tertarik, kini merasa menyesal sekali mengapa mereka tidak berani mendaftarkan diri.

Mawarsih nampak cantik jelita dan anggun sekali pagi itu.

Rambutnya yang hitam lebat dan panjang itu halus mengkilap, digelung ke belakang dengan sederhana dan karena ia menghadapi sayembara di mana ia akan bertanding pencak silat, gelung rambutnya diperkuat tusuk sanggul dan diikat agar gelung itu tidak sampai terlepas nanti.

Sinom atau anak rambut di dahinya masih melingkar lingkar tipis.

Alis di matanya juga hitam kecil dan panjang melengkung seperti di lukis.

Sepasang matanya bersinar-sinar tajam seperti bintang kejora.

Hidungnya kecil mancung dan bibirnya merah basah dipermanis lekuk di pipi kanan dan tahi lalat kecil di pipi kiri.

Kedua pipinya, di bawah tepi mata, kemerahan tanpa pemerah.

Tubuhnya sintal dan kenyal, padat, tubuh seorang dara yang sedang mekar, kulitnya kuning mulus.

Pakaiannya serba hitam dan ringkas, kedua lengan baju tergulung sampai ke siku, dan kainnya juga tersingkap sampai ke betis agar membuat gerakannya mudah dan leluasa.

Betis dan lengan yang nampak putih kuning mulus itu menambah daya tariknya.

Semua yang hadir bangkit berdiri tanpa diperintah ketika ayah dan puterinya ini muncul, Ki Sinduwening membungkuk ke semua penjuru, lalu mengangkat kedua tangan memberi salam kepada para tamunya dan mempersilakan mereka semua duduk kembali.

Dia dan puterinya juga duduk di bangku yang sudah disediakan di atas panggung.

Kemudian, Ki Sinduwening berdiri kembali dan mengangkat kedua tangan memberi isarat kepada semua orang agar menaruh perhatian dan tidak gaduh karena suasana seperti dalam pasar saja ketika semua orang berbisik dan saling bicara memuji kecantika Mawarsih.

Semua orang berdiam dan Ki Sinduwening lalu bicara dengan suaranya yang mantap dan tenang.

Dia mengamati sehelai catatan yang tadi diterimanya dari penjaga yang mencatat nama dua belas orang calon.

"Saudara sekalian! Sambutan ini kami tujukan kepada dua belas orang pemuda yang sudah mendaftarkan diri sebagai calon, juga kepada para penonton yang menjadi saksi sayembara ini."

Ki Sinduwening lalu menjelaskan tentang peraturan sayembara.

Karena yang mencalon ada dua belas orang, maka akan diadakan undian pertama untuk menentu-kan siapa yang lawan siapa.

Enam orang pemenangnya akan melakukan pertandingan ke dua, dan kembali diadakan undian untuk menentukan lawan.

Pemenang dari pertandingan babak ke dua ini, tinggal tiga orang, akan ditambah dengan Mawarsih, menjadi empat orang dan diundi untuk menentukan lawan.

Pemenangnya, tinggal dua orang, akan dipertandingkan dan pemenangnya merupakan calon terkuat untuk dapat diterima sebagai jodoh Mawarsih.

Yang akan menentukan adalah wali dari pemenang itu, yang harus mampu menandingi dan mengalahkan Ki Sinduwening.

"Saudara sekalian, sayembara ini diadakan dengan niat yang baik, bukan untuk mencari permusuhan, oleh karena itu, pertandingan ini dilakukan dengan tangan kosong, tanpa senjata, dan akan diiringi gamelan agar para peserta tidak lupa bahwa pertandingan ini merupakan perkenalan persahabatan, bukan permusuhan. Diharapkan agar tidak ada yang sampai terluka parah, apa lagi sampai tewas. Akan tetapi kalau ada yang terluka atau bahkan tewas karena tidak di sengaja, tidak boleh ada yang mendendam. Kalau ada calon yang tidak setuju dengan peraturan ini, sebaiknya mundur sebelum memulai."

Tepuk tangan yang menyambut ucapan itu menandakan bahwa tidak ada yang tidak setuju karena peraturan itu dianggap sudah cukup adil.

Ki Sinduwening kembali memberi isarat agar semua orang tenang, kemudian dia berkata lagi.

"Sayembara ini juga dimaksudkan untuk berkenalan dan mencari saudara-saudara yang berilmu dan tangguh. Sribaginda Raja sendiri yang mengharapkan agar para saudara yang gagal dalam sayembara ini, suka menyumbang tenaga dan kepandaian mereka untuk memperkuat pasukan Mataram, membantu kerajaan untuk menundukkan daerah-daerah yang memberontak demi keutuhan dan persatuan seluruh wilayah Mataram. Dengan demikian, kita semua akan tetap menjadi saudara, saudara seperjuangan! Sekarang, kami akan memanggil nama para calon dan diharapkan agar nama yang dipanggil suka naik ke panggung."

Dengan suara lantang, Ki Sinduwening lalu memanggil nama-nama para pengikut sayembara, didengarkan dengan penuh perhatian oleh semua orang, terutama sekali oleh Mawarsih.

Dapat dibayangkan betapa kecewa rasa hati Mawarsih ketika nama-nama itu disebut, tidak terdapat nama Banuaji, walaupun di dalam hati dia sudah tahu bahwa andaikata Banuaji hadir pula di antara penonton, pemuda itu pasti tidak akan berani mencalonkan diri karena dia hanya memiliki keberanian luar biasa dan kecedikan saja, tidak memiliki kedigdayaan.

Mawarsih masih mengharapkan kalau-kalau di antara nama-nama para calon itu terdapat nama asli Si Kedok Hitam.

Akan tetapi begaimana ia bisa tahu siapa di antara mereka itu yang menjadi Si Kedok Hitam?

Ia masih berharap-harap cemas ketika ia mengamati seorang demi seorang dua belas orang calon yang berdiri di tepi panggung, berderet menghadap kepadanya.

Mereka itu semua adalah pria-pria muda yang nampak gagah perkasa.

Mudah diduga bahwa mereka tentulah orang-orang muda yang memiliki kedigdayaan, karena kalau tidak demikian, siapa berani memasuki sayembara yang syarat bertanding mengadu kedigdayaan itu?

Ketika pandang mata Mawarsih bertemu dengan pandang mata seorang di antara mereka, gadis itu merasa ngeri dan jantungnya berdegup kencang, bukan karena kagum atau girang, melainkan kerena gentar.

Dia seorang laki-laki yang tubuhnya tinggi besar seperti raksasa, usianya sekitar tiga puluh tahunan.

Baca Juga: Jodoh Rajawali 8

Baca Juga: Kisah Si Bangau Putih 13

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert