Eps 5 Kidung Senja Di Mataram - Kho Ping Hoo
Baca online Kidung Senja Di Mataram - Kho Ping Hoo
Cersil Kidung Senja Di Mataram - Kho Ping Hoo.
Tubuhnya yang tinggi besar itu nampak kekar dan kokoh seperti batu karang, bajunya terbuka di bagian dada, memperlihatkan dada yang bidang dan berotot juga ditumbuhi rambut.
Wajahnya membuat Mawarsih merasa serem, karena kulit mukanya bopeng, penuh luka bekas cacar.
Matanya lebar berotot, hidungnya bengol dan mulutnya besar dengan bibir tebal.
Orang ini memang segala-galanya nampak tebal dan kuat, kedua lenganya itu sebesar kaki Mawarsih!
Ngeri gadis itu membayangkan dirinya menjadi isteri laki-laki seperti ini.
Sesuai dengan peraturan yang telah ditentukan, Mawarsih sendiri yang melakukan undian pertama.
Laki-laki yang mengerikan tadi bernama Malangkoro dan dalam undian itu, dia bertemu di antara dua belas calon yang benama Danur, seorang pemuda berusia dua puluh lima tahun yang brewok dan gagah.
Danur ini seorang pemuda yang berasal dari Gunung Kidul.
Gamelan segera ditabuh dan suasana menjadi tegang karena semua orang sudah siap untuk menonton pertandingan sayembara itu, yaitu babak pertama di mana dua belas orang itu diadu dan pemenangnya akan tinggal enam orang.
Sesuai dengan nomor urut yang sudah ditentukan sebelumnya, pertendingan pertama dimulai.
Dua orang peserta maju dan setelah diberi tanda oleh Ki Sinduwening yang bertindak sendiri sebagai wasit, kedua orang muda itu mulai saling serang dengan seru.
Akan tetapi pertandingan ini tidak berlangsung lama.
Baru kurang lebih lima belas jurus saja, seorang di antara mereka terkena pukulan pada rahangnya dan diapun roboh pingsan.
Dia segera digotong turun dari panggung dan pemenangnya memberi hormat kepada Ki Sinduwening dan dipersilakan turun pula dari atas panggung dan menantikan babak kedua.
Demikianlah, sepasang demi sepasang diadu dan para pemenangnya duduk berkumpul di bawah panggung.
Setiap kali ada yang menang, penonton menyambutnya dengan sorak-sirai.
Suasana menjadi meriah ketika para penonton mulai bertaruhan.
Gamelan dipukul semakin gencar.
Pertandingan terakhir, sesuai dengan nomor urut, adalah antara Malangkoro melawan seorang pemuda jangkung yang mukanya penuh brewok.
Birapun pemuda jangkung itu nampak cukup kuat, namun dia agak gentar juga ketika berhadapan dengan raksasa itu di atas panggung.
Gamelan dipukul gencar dan Malangkoro tertawa bergelak menghadapi lawannya.
"Hua-ha-ha-ha! Lebih baik andika mundur saja dan mengaku kalah, kawan, dari pada kesakitan."
Kata Malangkoro.
"Hemm, jangan sombong dulu, kawan!"
Kata si jangkung brewok.
"Siapa sombong? Kalau aku, Malangkoro, tidak mampu merobohkanmu dalam waktu sepuluh jurus, anggap saja aku kalah!"
Raksasa itu berkata lantang.
Semua orang terkejut.
Raksasa yang tidak mereka kenal itu sungguh sombong.
Danur, pemuda brewok itu, adalah seorang perajurit yang sudah terkenal kekuatannya.
Mungkin saja Malangkoro dapat memangkan pertandingan itu, akan tetapi kurang dari sepuluh jurus?Gila!
Orang-orang mulai ramai bertaruh dan kebanyakan condong menjagoi Danur bahwa pemuda itu akan mampu bertahan sampai sepuluh jurus dan dianggap menang!
Danur yang merasa dipandang rendah, segera memasang kuda-kuda dengan sikap gagah sekali.
Dia membuka pasangan, mula-mula kedua kakinya merapat, kedua tangan digerakkan berputar, yang kiri dari atas, yang kanan dari bawah, bertemu di depan dada merupakan sembah, kemudian kedua kakinya terpentang miring menghadapi lawan, tangan kiri menyilang depan perut, tangan kanan diangkat tinggi di atas kepala, bentuk kedua lengan itu melengkung dan jari-jari tangannya terbuka, mukanya yang brewok menunduk akan tetapi kedua matanya mengerling ke depan, ke arah lawan.
Dia nampak gagah sekali dan penuh semangat ketika membuka pasangan kuda-kuda ini, membesarkan hati mereka yang menjagoinya dan dia disambut tepuk tangan.
Malangkoro hanya mengeluarkan suara ha-he-he, sama sekali tidak memasang kuda-kuda seperti lawannya, akan tetapi kedua tangannya tiba-tiba meluncur ke depan, dan jari-jari tangan yang panjang besar itu dibuka seperti hendak menangkap.
"Plakk! Plakk!"
Danur menangkis dari samping ke arah kedua lengan Malangkoro, akan tetapi betapa kagetnya ketika dia merasa kedua lengannya yang menangkis itu terpental dan terasa nyeri, seolah yang ditangkisnya adalah panggada baja.
Dia maklum bahwa raksasa itu kuat sekali, maka dia harus mengandalkan kecepatannya.
"Hyaaaattt"".!!"
Dia mengeluarkan seruan nyaring dan kakinya sudah mencuat ke arah muka Malangkoro.
Tendangan menyilang itu cepat dan kuat sekali, akan tetapi Malangkoro yang gerakannya lamban itu tidak mengelak, melainkan miringkan mukanya dan menerima tendangan itu dengan pundaknya.
"Dukkk"".!!"
Bukan yang kena tendangan yang roboh, melainkan yang menendang terdorong ke belakang dan tentu akan terjengkang kalau saja Danur tidak cepat membuang diri ke samping dan bergulingan.
"Ha-ha-ha-ha!"
Malangkoro tertawa dan bertolak pinggang, membuka bajunya bagian depan sehingga dada dan perutnya telanjang penuh rambut.
Mawarsih yang sejak tadi menonton penuh perhatian, merasa gentar juga.
Raksasa itu sungguh merupakan lawan yang tangguh, pikirnya.
Danur meloncat bangun kembali, wajahnya agak merah karena dalam dua gebrakan atau dua jurus itu tadi, jelas bahwa raksasa itu berada di pihak unggul.
Akan tetapi masih ada delapan jurusa lagi, pikirnya.
Kalau aku terus menyerang, tidak memberi kesempatan kepadanya membalas, tentu aku akan mampu bertahan sampai delapan jurus lagi dan menang.
Setelah berpikir demikian, dia mempergunakan kesempatan selagi raksasa itu bertolak pinggang dan tertawa-tawa, cepat dia menerjang ke depan dan mengirim pukulan dengan kedua tangan bertubi-tubi ke arah dada dan perut MalangSungguh menakjupkan.
Malangkoro sama sekali tidak mengelak atau menangkis, melainkan membiarkan dada dan perutnya menjadi bulan-bulan pukulan kedua tangan Danur.
Terdengar suara bak-bik-buk, akan tetapi setiap kali tangannya mengenai dada atau perut raksasa itu, Danur merasa seperti memukul benda dari karet saja, pukulannya membalik dan tangannya terpental sedangkan yang dipukul, jangankan roboh, berkedippun tidak.
"Ha-ha-ha, boleh kau pilih, kawan. Sesukamu hedak memukul yang mana. Depan atau belakang?"
Malangkoro lalu membalikkan tubuh membelakangi lawan dengan kedua tangan masih di pinggang.
Tentu saja mereka yang menjagoi Malangkoro dalam taruhan, sudah tertawa-tawa gembira.
Melihat lagak lawan, wajah Danur menjadi merah sekali dan diapun kini mengerahkan seluruh tenaganya ke dalam tangan kanannya dan sambil mengeluarkan bentakan nyaring, tangan itu menghantam ke arah punggung yang lebar itu.
"Desss""!!"
Hebat sekali hantaman itu dan terdengar suara krek-krek disusul terhuyungnya tubuh Danur yang memegangi tangan kanan dengan tangan kirinya.
Agaknya tulang-tulang kecil dari tangannya patah-patah ketika bertemu dengan punggung yang oleh pemiliknya dibuat menjadi sekeras baja itu.
Sambil tertawa, Malangkoro menggerakkan kakinya menendang dan tubuh Danur melayang ke bawah panggung.
Dia kalah sebelum sepuluh jurus.
Sorak sorai menggegap gempita menyambut kemenangan Malangkoro yang memang amat mengagumkan itu.
Mawarsih menyembunyikan kegelisahan hatinya ketika ia mewakili ayahnya membuat undian lagi untuk pertandingan babak ke dua, antara enam orang pemenang itu.
Dan diam-diam, lima orang pemenang yang lain mengharap agar mereka tidak bertemu dengan Malangkoro dalam babak ke dua ini.
Semua orang juga ngeri menyaksikan sepak terjang Malangkoro.
Akan tetapi undian telah dilakukan dan yang menjadi lawan Malangkoro dalam babak ke dua ini adalah seorang pemuda dari Pegunungan Dieng yang bernama Panjalu.
Pemuda ini bertubuh sedang dan wajahnya cukup tampan walaupun hidungnya agak pesek.
Panjalu ini dalam babak pertama tadi juga dapat memenangkan pertandingan dengan mudah sehingga dia termasuk seorang pemuda gemblengan yang cukup digdaya.
Akan tetapi, wajahnya menjadi agak pucat dan pandang matanya liar ketika undian menyatakan bahwa lawannya dalam babak ke dua adalah raksasa burik itu.
Akan tetapi, urutan pertandingan baginya dalam babak ke dua itu adalah yang terakhir, setelah dua pertandingan mendahuluinya.
Pertandingan babak ke dua memang lebih gayeng.
Hal ini adalah karena yang bertanding adalah para pemenang babak pertama.
Yaitu pemuda-pemuda yang memiliki kedigdayaan.
Pertandingan pertama dan ke dua berjalan seimbang dan ramai sekali sehingga setelah melalui pertandingan yang seru, muncullah kedua orang pemenangnya.
Setelah itu barulah Malangkoro maju, dihadapi Panjalu dan seperti juga tadi, banyak orang condong menjagoi Malangkoro.
Ki Sinduwening yang memimpin pertandingan sebagai wasit sejak tadi juga mengamati dengan penuh perhatian seperti puterinya, karena peristiwa itu merupakan peristiwa teramat penting baginya, yaitu memilihkan calon suami untuk anak tunggalnya.
Kalau sampai salah pilih!
Ngeri dia membayangkan kemungkinan ini.
Kini, melihat sepak terjang Malangkoro, hatinya juga diliputi kekhawatiran.
Apa lagi dia tahu benar isi hati puterinya.
Puterinya relah jatuh cinta kepada pemuda pemberani bernama Banuaji itu.
Akan tetapi, dalam sayembara seperti ini, bagaimana mungkin Banuaji akan mampu mengikuti?
Dan puterinya juga jatuh cinta atau kagum sekali kepada Si Kedok Hitam, ksatria yang selalu menyembunyikan mukanya itu, akan tetapi yang jelas memiliki kedigdayaan hebat.
Tentu puterinya mengharapkan kemunculan Si Kedok Hitam, seperti harapannya pula.
Akan tetapi, yang manakah di antara mereka ini Si Kedok Hitam, kalau memang orang berahasia itu muncul?
Yang jelas, Si Kedok Hitam itu bukan Malangkoro, karena bentuk tubuh Si Kedok Hitam tidaklah sebesar Malangkoro dan hal ini setidaknya melegakan hatinya.
Kini Malangkoro berhadapan dengan Panjalu.
Panjalu tadi telah melihat betapa lawannya ini memiliki tubuh yang kebal.
Oleh karena itu, diapun tidak mau membuang tenaga dengan menyerang tubuh yang kebal itu.
Dia memiliki gerakan yang gesit dan bagaikan seekor burung sikatan tubuhnya menyambar-nyambar di sekitar tubuh Malangkoro dan dia melancarkan serangan yang ditujukan ke bagian anggota tubuh yang lemah dari lawannya.
Yang menjadi sasaran seranganya adalah bawah pusar, tenggorokan, telinga dan mata, juga tengkuk.
Dan ternyata seperti yang diduganya.
Malangkoro tidak membiarkan bagian-bagian tubuh ini terkena serangan lawan, dan mulailah dia menangkis dan membalas serangan lawan dengan dahsyat.
Memang hebat sekali gerakan raksasa ini.
Setiap kali tangannya menyambar, terdengar angin bersiutan dan lawan sudah merasakan serangan angin lebih dahulu sebelum tangan yang besar itu datang.
Panjalu tidak berani menyambut dan dia hanya mempergunakan kelincahan tubuhnya untuk mengelak.
Dan dia gencar menyerang bagian tubuh berbahaya dari lawan.
Pertandingan ini memang seru sekali sehingga para penonton bersorak-sorai.
Panjalu memiliki gerakan lincah, akan tetapi jelas dia kalah jauh dalam hal tenaga, maka dia selalu menjaga agar jangan sampai dia terkena pukulan.
Sampai dua puluh lima jurus terlewat dan masih belum ada yang menang.
Malangkoro menjadi marah sekali.
Lawannya terlampau gesit, seperti kera, sukar disentuh.
Tiba-tiba, dia mengeluarkan bentakan yang amat dahsyat sambil membanting kaki.
Seluruh panggung tergetar oleh bantingan kaki ini dan bentakan dahsyat itu membuat banyak orang yang hampir terpelanting!
Panjalu juga terkejut dan terpengaruh bentakan itu sehingga untuk beberapa detik lamanya, dia tertegun.
Yang beberapa detik ini cukuplah bagi Malangkoro.
Panjalu sendiri tidak tahu bagaimana terjadinya, tahutahu dia telah terangkat ke atas dan tubuhnya yang dipegang kedua tangan raksasa itu diputarputar.
Kemudian, dengan bentakan hebat, Malangkoro melemparkan tubuh Panjalu ke bawah panggung.
Tubuh itu terlempar seperti terbang dan menimpa penonton yang berada agak jauh.
Penonton bersorak dan tentu saja Panjalu yang tidak mampu melanjutkan pertandingan, dianggap kalah mutlak.
Kini jumlah pemenang tinggal tiga orang.
Pertama adalah Malangkoro, kedua seorang pemuda berusia dua puluh tiga tahun bernama Senggono, seorang perwira pasukan Mataram yang bentuk tubuhnya seperti Gatutkaca, gagah perkasa, sedangkan pemenang ke tiga bernama Jayanto, seorang pemuda berusia dua puluh satu tahun yang berwajah tampan dan lembut gerak-geriknya, namun matanya bersinar tajam.
Ktika dengan jantung berdebar tegang Mawarsih hendak mengundi, siapa yang akan saling berhadapan dalam babak ke tiga ini dan siapa pula yang akan menandingnya karena dia sendiri harus terjun di babak ke tiga itu untuk melangkapi jumlah yang ganjil, Malangkoro dengan suara yang lantang berkata kepada Ki Sinduwening.
"Paman Sinduwening, untuk mempersingkat waktu dan menjaga agar diajeng Mawarsih tidak usah bertanding dua kali, maka saya bersedia untuk sekaligus menghadapi dua orang pemenang ini. Biar mereka maju berdua melawan saya!"
Tentu saja semua orang tertegun mendengar ucapan lantang ini.
Betapa sombongnya Malangkoro!
Menantang agar dikeroyok dua!
Mendengar ucapan ini, Ki Sinduwening mengerutkan alisnya dan menjawab dengan lantang pula.
"Peraturan sayembara telah ditentukan sebelumnya dan telah diumumkan, kalau hendak diadakan perubahan, maka hal itu harus disetujui oleh semua orang, yaitu pertama oleh yang mengadakan sayembara, dalam hal ini Mawarsih, ke dua oleh para peserta, yaitu ke dua orang anakmas ini, dan ke tiga harus disetujui oleh penonton!"
Biarpun di dalam hatinya Ki Sinduwening tentu saja setuju dengan permintaan Malangkoro, namun sebagai seorang senopati yang tangguh perkasa dan adil, dia mengajukan syarat itu.
"Ha,ha, itu tidak adil sekali, paman. Biar saya tanyakan sekarang juga kepada mereka yang brsangkutan. Diajeng Mawarsih, setujukah andika dengan permintaan saya tadi untuk sekaligus menghadapi dan mengalahkan dua orang peserta pemenang babak ke dua? Setelah saya menang, barulah diajeng maju menandingi saya."
Mawarsih juga bukan seorang bodoh.
Sejak tadi ia merasa ngeri kalau-kalau Malangkoro yang akan keluar sebagai pemenang dalam pertandingan sayembara ini.
Kalau Mayangkoro menandingi pengeroyokan dua orang muda itu, lebih banyak harapan raksasa itu akan kalah.
Mendengar pertanyaan itu, tanpa ragu lagi iapun mengangguk.
"Aku setuju."
"Ha-ha-ha!"
Malangkoro tertawa gembira lalu menghadapi dua orang pemuda itu.
"Bagaimana dengan kalian berdua? Berani dan setujukah kalian berdua maju bersama dan mengeroyok aku?"
Baik Senggono maupun Jayanto memang diam-diam merasa ngeri juga melawan Malangkoro satu lawan satu, kini mendapat kesempatan untuk maju berbareng menghadapi raksasa itu, tentu saja merasa lega.
"Aku setuju!"
Kata Senggono.
"Aku juga setuju!"
Kata pula Jayanto. Sambil tersenyum lebar malangkoro menghadap Ki Sinduwening.
"Paman Sinduwening, diajeng Mawarsih telah setuju dan dua orang peserta itupun telah setuju."
"Hemm, masih belum ditanyakan kepada para penonton yang menjadi saksi pertandingan sayembara ini."
Kata Ki Sinduwening yang kini berdiri di panggung lalu bertanya kepada penonton.
"Kami minta pendapat para penonton yang menjadi saksi sayembara ini. Setujukah kalian dengan usul Malangkoro itu?"
Para penonton agaknya juga tidak rela kalau Mawarsih yang demikian cantik jelita akan terjatuh ke tangan seorang raksasa buruk dan kasar seperti Malangkoro.
Juga mereka ingin menyaksikan pertandingan yang lebih seru, maka serentak mereka menyatakan persetujuan mereka sambil bersorak-sorai.
Ki Sinduwening mengangguk-angguk.
"Baiklah,"
Katanya dengan lantang dan hatinya merasa lega.
"Karena semua pihak setuju, maka diadakan sedikit perubahan dalam babak ke tiga ini. Malangkoro akan menghadapi du orang lawan sekaligus, yaitu anakmas Senggono dan Jayanto. Pemenang pertandingan ini barulah akan menghadapi kami ayah dan anak, satu lawan satu."
Para penonton bersorak gembira dan Ki Sinduwening membari isarat kepada tiga orang yang hendak bertanding itu untuk maju ke panggung.
Sambil tersenyum menyeringai sombong, Malangkoro kini berdiri menghadapi dua orang pemuda itu.
Bagaikan seorang raksasa pemuda gagah itu.
Bagaikan seorang raksasa berhadapan dengan Sang Gatutkaca dan saudara sepupunya, Sang Abimayu.
Gamelan segera ditabuh dengan irama keras dan panas, karena para penabuh juga merasa gembira dan penuh semangat menghadapi pertandingan yang tentu akan seru sekali itu.
Malangkoro dengan sikap yang congkak sekali, berdiri bertolak pinggang dan membusungkan dadanya yang lebar menghadapi dua orang pemuda yang juga sudah siap dan memasang kuda-kuda masing-masing.
Senggono yang seperti Gatutkaca itu membuka gerakan silatnya dengan pasangan yang tegap dan gagah, kedua lengannya dikembangkan, tubuh agak membungkuk seperti seekor burung garuda yang hendak terbang dan mengembangkan sayapnya.
Sedangkan Jayanto yang seperti Abimayu itu membuka pasangan kuda-kuda dengan kedua lengan bersilang, yang kiri di depan dada, yang kanan di depan pusar, jari-jari tangannya terbuka.
"Heh-heh-heh, majulah, seranglah. Apakah kalian takut?"
Malangkoro mengejek.
Ternyata raksasa itu bukan hanya digdaya dan kuat, akan tetapi di juga cedik.
Menghadapi pengeroyokan dua orang lawan, sebaiknya kalau mereka itu bergerak lebih dulu karena dalam keadaan tidak menyerang, dia akan dapat melindungi dirinya lebih baik.
Setelah nanti melihat dia akan dapat membuat serangan sesuai dengan perkembangan gerakan kedua orang lawan itu.
Mendengar tantangan Malangkoro yang nadanya mengejek itu, senggono mulai menyerang.
"Haiiiiit"""..!!"
Bagaikan Gatutkaca, diapun menerjang dengan pukulan yang disusul sebuah tendangan kilat yang menggunakan tumit kaki menghentam ke arah rahang itu tentu saja merupakan tendangan melompat yang dahsyat.
"Hissss"".,!!"
Jayanto juga menyerang dari samping, nampaknya tangannya meluncur lemah ke arah lambung lawan, akan tetapi sebenarnya, jari-jari tangan pemuda yang lemah lembut ini dapat berubah sekuat baja kalau dipergunakan untuk menusuk seperti itu.
"Plakk! Plakkk""!!"
Malangkoro menggerakan kedua lengannya menangkis dan dua orang lawannya terdorong ke belakang.
Dengan sigap mereka meloncat dan dapat hinggap di atas papan panggung dalam keadaan berdiri tegak.
Dalam gebrakan pertama itu, Malangkoro sengaja menangkis untuk mengukur tenaga kedua orang lawannya dan diapun mendapat kenyataan bahwa kalau Senggono mengandalkan kekuatan otot yang cukup besar, Jayanto lebih mengandalkan kekuatan dari tenaga sakti dalam tubuh.
Baginya, Jayanto yang merupakan lawan lebih tangguh.
Dua orang itu kembali menyerang, kini Jayanto yang menggunakan kedua tangan dengan jari terbuka, mencengkeram ke arah muka Malangkoro disusul jari tangan kiri menusuk ke arah ulu hati.
Serangan ini nampak lembut namun menyembunyikan kekuatan yang cukup dahsyat.
Malangkoro lebih berhati-hati menghadapi serangan Jayanto ini, maka diapun meloncat ke kiri menghindarkan diri dari serangan itu.
Gerakan mengelak ke kiri di sambut oleh Senggono yang menghantam ke arah dadanya sambil mengerahkan seluruh tenaganya.
Telapak tangan kanannya, dengan tenaga otot sepenuhnya, menghantam dada yang bidang itu dan malangkoro sengaja tidak menangkis atau mengelak, melainkan menyambut hantaman itu dengan dadanya yang sudah dilindungi kekebalan.
"Desss"..!!"
Pertemuan antara telapak tangan dengan dada itu membuat tubuh Malangkoro agak bergoyang sedikit, akan tetapi sebaliknya, Senggono terdorong ke belakang sampai terhuyung dan dia menyeringai, merasa betapa lengan kanannya seperti lumpuh ketika tenaga pukulannya membalik dan menghantam dirinya sendiri.
Pada saat itu, Jayanto sudah menyerang lagi dari samping, tangannya mencengkeram ke arah leher Mlangkoro.
Malangkoro miringkan tubuh mengelak, akan tetapi karena hantaman tangan Senggono tadi membuat tubuhnya bergoyang, gerakannya kurang cepat dan cengkeraman tangan Jayanto masih mengenai pundaknya.
"Brettt"".!!"
Baju di bagian pundak itu robek, berikut sedikit kulitnya sehingga berdarah.
Kekebalan Malangkoro dapat ditembus jari-jari tangan Jayanto yang mengandung kekuatan sakti!
Malangkoro terbelalak, mukanya berubah kemerahan, matanya seperti mengeluarkan api dan dan diapun menggereng seperti harimau terluka.
Kemudian, seperti seekor gajah mengamuk, dia menerjang ke arah kedua orang lawannya.
Kedua lengan dan kedua kakinya yang panjang dan besar lagi kuat itu menyambar-nyambar.
Dia mengamuk dan segera nampak bahwa dua orang lawannya itu masih belum mampu mengimbangi kehebatan Malangkoro.
Mereka berdua berusaha untuk mengelak dan menangkis, akan tetapi setiap kali tangkisan mengena tubuh mereka yang terdorong sampai hampir jatuh.
Luka di pundaknya tidak membuat Malangkoro menjadi lemah.
Luka itu terlalu kecil dan tidak ada artinya baginya, hanya luka kulit dan bahkan membuat dia marah sekali.
Dua orang pengeroyok itu berusaha mempergunakan kegesitan mereka untuk menghindarkan diri, namun karena memang mereka sudah terdesak hebat, akhirnya Senggono yang lebih dahulu terkena tendangan kaki Malangkoro sehingga tubuhnya terlempar ke bawah panggung, menimpa para penonton!
Melihat Senggono sudah kalah, Jayanto menjadi nekat.
Dia menggunakan kecepatan gerakan tubuhnya melakukan penyerangan bertubi-tubi, yakin bahwa jari-jari tanganya akan mampu menembus kekebalan kulit Malangkoro.
Akan tetapi, setelah kini tidak dikeroyok lagi, tentu saja Jayanto bukan merupakan lawan yang terlalu berat bagi Malangkoro.
Semua serangan Jayanto dapat ditangkisnya, bahkan ketika Jayanto agak lengah karena lengannya terasa ngilu beradu dengan lengan Malangkoro, tiba-tiba saja tamparan tangan kiri Malangkoro yang besar dan berat mengenai pundaknya.
Keras bukan main tamparan itu, membuat Jayanto terpelanting dan sebelum dia mampu bangkit, sebuah tendangan mengenai punggungnya dan tubuh pemuda inipun terlempar ke bawah panggung.
Kembali tepuk sorak penonton menyambut kemenangan Malangkoro.
Semua orang merasa kagum dan jerih terhadap raksasa yang ternyata memang hebat itu.
Ki Sinduwening diamdiam merasa khawatir sekali terhadap puterinya, akan tetapi dia juga girang mendapatkan seorang yang memiliki kedigdayaan seperti Malangkoro.
Kalau dijadikan seorang senopati, tentu Malangkoro akan berguna sekali bagi Mataram.
Sambil tersenyum, Malangkoro yang kini melepaskan bajunya yang robek sehingga nampak tubuh bagian atas yang kokoh dan penuh dengan otot benjol-benjol melingkar pada pundak, punggung, dada dan lengannya, menghadap Ki Sinduwening.
"Bagaimana, paman. Apakah sekarang saya diperbolehkan memasuki babak selanjutnya, yaitu bertanding melawan Diajeng Mawarsih atau paman sendiri?"
Ucapan itu tidak bernada mengejek atau menantang, walaupun ada sikap memandang ringan.
"Anakmas Malangkoro. Tidak adil kalau kami mengharuskan andika melawan kami sekarang. Andika sudah bertanding sebanyak tiga babak, maka biarlah sekarang andika beristirahat dulu. Matahari telah naik tinggi dan kita semua perlu makan siang. Sayembara ini dilanjutkan dengan babak penentuan, yaitu pemenang babak ke tiga harus dapat mengalahkan Mawarsih dan aku sendiri. Besok, setelah matahari naik sampai ke atas atap rumah itu, kita lanjutkan sayembara ini di sini."
Malangkoro tersenyum dan pertandingan itupun dihentikan sampai di situ.
Para penonton pulang dan para peserta juga meninggalkan tempat itu setelah mereka berjanji kepada Ki Sinduwening bahwa besok mereka akan datang, bukan hanya untuk mengetahui kelanjutan mendaftarkan diri sebagai perajurit seperti yang dilanjurkan Ki Sinduwening pada pembukaan sayembara itu.
Dengan wajah muram Ki Sinduwening mendekati puterinya yang rebah menelungkup di atas pembaringan sambil menahan isak tangisnya.
Sejak sayembara ditunda sampai besok, gadis itu memasuki kamarnya, tidak mau keluar lagi dan tidak mau makan.
Ki Sinduwening duduk di tepi pembaringan, mengelus rambut yang terurai lepas dari sanggulnya itu.
"Anakku Mawarsih, hentikan tangismu. Tidak ada gunanya menangis dan kiraku, saat ini bukan waktunya untuk berduka. Besok engkau menghadapi ujian berat, menghadapi pertandingan berat, haruslah menghimpun tenaga dan engkau harus makan. Tidak semestinya seorang gadis seperti engkau menjadi cengeng dan putus asa."
Mendengar ucapan ayahnya itu, Mawarsih mengusap air matanya, lalu bangkit duduk.
Kedua matanya agak membengkak kemerahan dan kedua pipinnya agak pucat, matanya redup dan muram.
Namun ia telah berhasil menghentikan tangisnya.
"Aku memang bersikap bodoh, bapa. Akan tetapi betapa hati ini tidak akan hancur, betapa pikiran ini tidak akan kacau kalau kita melihat hasil dari sayembara kita? Kedua orang yang kuharap-harapkan tidak muncul, bahkan yang muncul dan menjagoi pertandingan adalah Malangkoro. Aih, bapa,anakmu ini lebih baik memilih mati dari pada harus berjodoh dengan raksasa yang buruk rupa dan buruk sikap itu. Baru melihatnya saja, rasanya kedua kakiku sudah menggigil".."
Gadis itu bergidik ngeri membayangkan ia harus bersanding sebagai isteri raksasa itu.
"Mawar, di mana ketawakalanu kepada Gusti Allah? Dia Maha Kuasa, Mawar. Kalau kita menyerah kepada kekuasaan Gusti dengan penuh kepasrahan, apa lagi yang patut ditakuti? Kita akan berdaya semampu kita, dan dengan dasar penyerahan kepada Gusti Allah, maka kita akan memenuhi tugas dalam kehidupan ini. Jangan putus asa, anakku, karena keputusasaan hanya merupakan tanda bahwa iman kepercayaan kita kepada Gusti mulai menipis. Semua kehendak Allah terjadilah! Dan hanya Dia yang Maha Mengetahui, tahu apa yang terbaik untuk kita. Jangan lepaskan ikhtiar, dan jangan lepaskan penyerahan kita angger."
Mawarsih sadar dan ia merangkul bapanya.
"Bapa, terima kasih dan maafkan kelemahanku tadi. Aku hanya merasa penasaran mengapa kedua orang itu tidak datang. Apakah"". apakah""
Mereka itu sama sekali tidak menaruh perhatian kepadaku?" (Lanjut ke
Jilid 12) Kidung Senja Di Mataram (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 12
"Inilah sebabnya mengapa aku mengumumkan agar sayembara diundurkan sampai besok pagi,"
Kata Ki Sinduwening.
"Berita tentang pertandingan hari ini tentu akan disebarluaskan para penonton dan tentu akan terdengar oleh seorang di antara mereka. Aku khawatir bahwa mereka tidak ada yang muncul karena tidak mendengar tentang adanya sayembara ini."
"Begitukah, bapa? Mudah-mudahan begitu,"
Sambungnya cepat dan dalam suaranya terkandung harapan.
"Akan tetapi, bagaimana andaikata besok mereka berdua tetap tidak muncul?"
"Mawar, bukankah masih ada engkau sendiri dan bapamu ini yang harus dikalahkan dulu oleh Malangkoro?"
"Dia begitu sakti, bapa. Bagaimana kalau aku dan bapa sampai kalah olehnya? Aku""
Aku merasa ngeri, bapa"".."
"Hemm, kalau kita berdua kalah, bukankah masih ada kekuasaan yang takkan dapat dikalahkan oleh siapapun juga? Bukankah masih ada Gusti Allah Yang Maha Kuasa? Di sinilah letaknya penyerahan, anakku. Kalau memang Gusti Allah menghendaki, segalapun akan terjadilah. Dan satu di antara ketentuan yang dipastikan oleh Gusti, adalah perjodohan. Kalau memang Gusti menentukan jodohmu dengan Malangkoro, siapapun tidak akan dapat menghalanginya."
"Ah, bapa"..! Tapi"". dia begitu buruk, mengerikan"".."
Ki Sinduwening tersenyum.
"Anakku, engkaupun tentu sudah mengetahui benar bahwa kebagusan hanyalah sedalam kulit belaka. Yang terutama sekali bukankah keindahan lahiriah,anakku, melainkan keindahan batin. Kindahan batin itu abadi sifatnya, sebaliknya keindahan lahiriah itu terbatas dan sementara saja. Karena itu, dalam soal perjodohan, selain ikthiar kita untuk memperoleh jodoh yang cocok dengan kinginan hati, pada dasarnya kita menyerah saja kepad ketentuan yang sudah dipastkan oleh Gusti Allah."
"Akan tetapi, siapakah sebenarnya Malangkoro itu, bapa? Orang macam apakah dia? Bagaimana kalau ternyata dia seorang yang jahat?"
"Menurut keterangan dalam pendaftarannya, dia berasal dari tepi Laut Selatan, seorang nelayan dan dia adalah murid dari orang sakti yang bernama Danyang Gurita. Aku sendiri tidak pernah mengenal dia atau juga gurunya, akan tatapi melihat kepandaiannya, harus diakui bahwa dia sakti mandraguna. Melihat pula cara dia mengalahkan lawan lawannya, dia bukan seorang yang kejam, hanya seorang yang biasa dengan kekerasan. Orang seperti itu cocok sekali untuk menjadi senopati atau setidaknya perajurit pilihan."
"Akan tetapi, bapa. Aku merasa ngeri kalau membayangkan aku menjadi jodoh orang seperti dia itu".."
Ki Sinduwening tidak dapat menyalahkan puterinya.
Dia sendiri rasanya tidak rela menjodohkan puterinya dengan Malangkoro, apa lagi karena puterinya tidak suka kepada pria raksasa itu.
Andaikata puterinya mencinta Malangkoro, tentu dia tidak akan menghalangi.
Baginya, dalam perjodohan puterinya, yang terpenting bukanlah selera dan perasaannya, melainkan demi kebahagiaan puterinya, karena itu, haruslah anak itu sendiri yang memilih calon jodohnya.
"Jangan bersedih dan jangan gelisah, Mawar. Sudah kukatakan tadi, di sini masih ada engkau dan bapamu ini. Besok, biarlah aku yang akan menghadapinya lebih dahulu. Sukurlah kalau aku bisa menandingi dan menang sehingga sebagai peserta terakhir, diapun tidak memenuhi syarat untuk menjadi jodohmu. Akan tetapi seandainya aku kalah, terpaksa engkau maju dan semoga Gusti memberi jalan keluar padamu, anakku."
Suasana menjadi hening. Setelah beberapa kali menghela napas panjang, terdengar Mataram berkata.
"Aku mengerti, bapa, dan semoga Gusti akan memberi jalan keluar kepada anak bapa ini."
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali para penonton sudah memadati sekeliling panggung pertandingan.
Mereka berlumba untuk lebih dulu mendapatkan tempat terdekat di panggung agar mereka dapat menonton lebih jelas.
Semua orang ingin sekali melihat kelanjutan sayembara kemarin, ingin melihat bagaimana pihak yang menyelenggarakan sayembara, terutama sekali Mawarsih yang jelita, akan menghadapi Malangkoro yang demikian digdayanya.
Malangkoro sendiri agaknya ingin sekali segera menyelesaikan babak terakhir agar dia dapat segera memboyong Mawarsih sebagai jodohnya.
Semalam dia sudah bermimpi duduk bersanding dengan si jelita sebagai suami isteri!
Kerena itu, pagi-pagi diapun sudah tiba di sana dan mendahului Ki Sinduwening dan puterinya.
Dia duduk di sudut panggung, bersila dan tersenyum-senyum ketika melihat betapa pandang mata semua orang ditujukan kepadanya dengan penuh kagum dan juga iri.
Siapa orangnya yang tidak akan mengiri kalau melihat dia sudah hampir berhasil memondong sang dyah ayu Mawarsih?
Bahkan sebelas orang pemuda lainnya yang kemarin menjadi peserta sayembara akan tetapi sudah kalah dan gagal, semua lengkap berada di situ, dan pandang mata mereka juga mengandung penyesalan dan kekecewaSuasana agak gaduh seperti dalam pasar karena para penonton itu membicarakan sayembara ykemarin, bahan percakapan yang sejak berakhirnya pertandingan kemarin telah ramai melanddusun-dusun di sekitar tempat itu.
Ki Sinduwening tersenyum.
"Anakku, engkaupun tentu mengetahui benar bahwa kebagusan hanyalah sedalam kulit belaka. Yang terutama sekali bukankah keindahan lahiriah,anakku, melainkan keindahan batin. Kindahan batin itu abadi sifatnya, sebaliknya keindahan lahiriah itu terbatas dan sementara saja. Karena itu, dalam soal perjodohan, selain ikthiar kita untuk memperoleh jodoh yang cocok dengan kinginan hati, pada dasarnya kita menyerah saja kepad ketentuan yang sudah dipastkan oleh Gusti Allah."
"Akan tetapi, siapakah sebenarnya Malangkoro itu, bapa? Orang macam apakah dia? Bagaimana kalau ternyata dia seorang yang jahat?"
"Menurut keterangan dalam pendaftarannya, dia berasal dari tepi Laut Selatan, seorang nelayan dan dia adalah murid dari orang sakti yang bernama Danyang Gurita. Aku sendiri tidak pernah mengenal dia atau juga gurunya, akan tatapi melihat kepandaiannya, harus diakui bahwa dia sakti mandraguna. Melihat pula cara dia mengalahkan lawan lawannya, dia bukan seorang yang kejam, hanya seorang yang biasa dengan kekerasan. Orang seperti itu cocok sekali untuk menjadi senopati atau setidaknya perajurit pilihan."
"Akan tetapi, bapa. Aku merasa ngeri kalau membayangkan aku menjadi jodoh orang seperti dia itu".."
Ki Sinduwening tidak dapat menyalahkan puterinya.
Dia sendiri rasanya tidak rela menjodohkan puterinya dengan Malangkoro, apa lagi karena puterinya tidak suka kepada pria raksasa itu.
Andaikata puterinya mencinta Malangkoro, tentu dia tidak akan menghalangi.
Baginya, dalam perjodohan puterinya, yang terpenting bukanlah selera dan perasaannya, melainkan demi kebahagiaan puterinya, karena itu, haruslah anak itu sendiri yang memilih calon jodohnya.
"Jangan bersedih dan jangan gelisah, Mawar. Sudah kukatakan tadi, di sini masih ada engkau dan bapamu ini. Besok, biarlah aku yang akan menghadapinya lebih dahulu. Sukurlah kalau aku bisa menandingi dan menang sehingga sebagai peserta terakhir, diapun tidak memenuhi syarat untuk menjadi jodohmu. Akan tetapi seandainya aku kalah, terpaksa engkau maju dan semoga Gusti memberi jalan keluar padamu, anakku."
Suasana menjadi hening. Setelah beberapa kali menghela napas panjang, terdengar Mataram berkata.
"Aku mengerti, bapa, dan semoga Gusti akan memberi jalan keluar kepada anak bapa ini."
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali para penonton sudah memadati sekeliling panggung pertandingan.
Mereka berlumba untuk lebih dulu mendapatkan tempat terdekat di panggung agar mereka dapat menonton lebih jelas.
Semua orang ingin sekali melihat kelanjutan sayembara kemarin, ingin melihat bagaimana pihak yang menyelenggarakan sayembara, terutama sekali Mawarsih yang jelita, akan menghadapi Malangkoro yang demikian digdayanya.
Malangkoro sendiri agaknya ingin sekali segera menyelesaikan babak terakhir agar dia dapat segera memboyong Mawarsih sebagai jodohnya.
Semalam dia sudah bermimpi duduk bersanding dengan si jelita sebagai suami isteri!
Kerena itu, pagi-pagi diapun sudah tiba di sana dan mendahului Ki Sinduwening dan puterinya.
Dia duduk di sudut panggung, bersila dan tersenyum-senyum ketika melihat betapa pandang mata semua orang ditujukan kepadanya dengan penuh kagum dan juga iri.
Siapa orangnya yang tidak akan mengiri kalau melihat dia sudah hampir berhasil memondong sang dyah ayu Mawarsih?
Bahkan sebelas orang pemuda lainnya yang kemarin menjadi peserta sayembara akan tetapi sudah kalah dan gagal, semua lengkap berada di situ, dan pandang mata mereka juga mengandung penyesalan dan kekecewaSuasana agak gaduh seperti dalam pasar karena para penonton itu membicarakan sayembara ykemarin, bahan percakapan yang sejak berakhirnya pertandingan kemarin telah ramai melanddusun-dusun di sekitar tempat itu.
Ketika Ki Sinduwening dan Mawarsih muncul, suasana yang tadinya gaduh itu menjadi sepi dan semua orang menjadi tegang hatinya, Inilah saat yang mereknanti-nantikan.
Semua mata ditujukan ke arah Mawarsih.
Dara ini, seperti juga ayahnya, namtenang-tenang saja dan cantik jelita dengan pakaiannya yang serba hitam dan ringkas.
Setelah ayah dan anak itu mengambil tempat duduk mereka, Ki Sinduwening bangkit berdiri lagi dan melangkah ke tengah panggung.
Dia memandang ke sekeliling, diam-diam hatinya mengharapkan apa yang selalu dinantikan puterinya, lalu berkata dengan suaranya yang lembut dan tegas.
"Saudara sekalian! Karena pertandingan sayembara belum selesai, maka hari ini masih ada yang berkenan mengikuti sayembara, kami masih membuka kesempatan itu. Hari ini, peserta tunggal hanya tinggal seorang, yaitu anakmas Malangkoro!"
Mendengar ucapan ini, malangkoro bangkit menghadapi para penonton, seolah merasa dipermainkan sebagai jagoan.
Biarpun pengumuman itu merugikan dirinya yang sudah keluar sebagai pemenang dalam tiga babak, namun dia tidak berkecil hati.
Dia yakin bahwa dia akan mampu mengalahkan siapapun yang berani maju menandinginya.
Agaknya, di antara para penonton tidak ada yang berani maju.
Andaikata ada yang berminat sekalipun, minat itu sudah tersapu pergi setelah melihat sepak terjang Malangkoro yang dahsyat kemarin.
Apa lagi, berita tentang pertandingan kemarin itu dibesar-besarkan oleh mereka yang menyebarluaskannya.
"Paman, kiranya tidak ada lagi yang berani maju. Saya mohon agar pertandingan babak terakhir dapat segera dimulai. Saya siap untuk bertanding melawan diajeng Mawarsih."
Kata Malangkoro dengan suara lantang.
"Anakmas Malangkoro, yang akan maju menguji kepandaianmu adalah aku sendiri. Kalau andika mampu mengalahkan aku, barulah Mawarsih sendiri yang akan maju!"
Kata Ki Sinduwening.
Para penonton yang mendengar ini, menjadi gembira dan meramalkan bahwa mereka akan disuguhi pertandingan yang amat menarik.
Semua orang sudah mengetahui belaka betapa senopati Ki Sinduwening adalah seorang yang sakti mandraguna.
Mendengar ucapan Ki Sinduwening, Malangkoro mengerutkan alisnya.
Memang tidak ada peraturan yang menentukan siapa yang akan melawannya lebih dulu di antara ayah dan anak itu, akan tetapi menurut kepantasan, tentu Mawarsih dulu yang seharusnya menandingi-nya.
Kalau Mawarsih kalah, barulah ayahnya maju, karena dalam syarat disebutkan bahwa seorang calon harus mampu mengalahkan Mawarsih dan ayahnya.
"Ah, paman Sinduwening,"
Katanya sambil tersenyum.
"Sebetulnya, saya merasa sungkan sekali untuk bertanding melawan paman karena"".bukankah paman merupakan calon mertua saya?"
Ucapan itu sejujurnya, tidak mengandung ejekan, namun membuat para penonton tersenyum, dan wajah Ki Sinduwening agak merah.
Bagaimanapun juga, ucapan Malangkoro itu membayangkan bahwa raksasa itu sudah merasa yakin benar bahwa dia yang akan menang dan menjadi suami Mawarsih.
"Malangkoro, ini adalah sebuah sayembara yang menyangkut kehormatan keluarga kami. Karena itu, tidak ada masalah lain kecuali kalah dan menang dalam pertandingan mengadu ilmu dan kedigdayaan. Kalau aku kalah olehmu engkau masih harus dapat mengalahkan Mawarsih. Sebaliknya kalau engkau yang kalah olehku, berarti engkau gagal. Nah, bersiaplah!"
Malangkoro maklum bahwa menghadapi Ki Sinduwening, dia tidak boleh main-main.
Dia belum pernah menyaksikan kehebatan senopati ini, akan tetapi dia sudah banyak mendengar akan kesaktianya.
Tidak mengherankan kalau Ki Sinduwening sakti mandraguna.
Para murid mendiang Sunan Gunung Jati memang terkenal memiliki kedigdayaan.
Dia melirik ke kiri, ke arah para penonton yang berjubel di sekeliling panggung dan melihat seorang kakek berdiri di antara penonton.
Hatinya menjadi tenang.
Kakek itu adalah Danyang Gurita, gurunya yang ternyata memenuhi permintaannya untuk membantunya pada hari itu, dia mengeluh di depan gurunya tentang kekhawatirannya melawan Ki Sinduwening dan guru itu berjanji akan hadir dan membantu muridnya kalau perlu.
"Baiklah, paman. Saya telah siap!"
Katanya dan tidak seperti dalam pertandinganpertandingan penyisihan kemarin, di mana dia sama sekali tidak pernah membuka pasangan, kini raksasa itu membuka pasangan kuda-kuda yang kokoh kuat.
Kedua kaki yang panjang itu terpentang lebar, kaki kiri di belakang ditekuk, kedua lengan yang panjang itupun menyilang dengan tangan ditekuk ke belakang dan jari-jari melengkung, seolah kedua lengan itu meniru bentuk ulat yang siap untuk mematuk.
Melihat lawannya sudah siap, Ki Sinduwening berdoa mohon perlindungan dan kekuatan kepada Tuhan dan mengerahkan aji kesaktian Hasta Legawa sehingga kedua lengannya dialiri tenaga sakti yang kuat.
Setelah itu, dia memasang kuda-kuda, kedua kaki terpentang lebar, kedua lutut ditekuk dan kedua tangan membuat gerakan melingkar dari atas ke bawah, dari kanan kiri dan kedua tangan berhenti di depan dada dengan jari-jari terbuka.
"Mulailah dengan seranganmu, Malangkoro!"
Bentaknya dengan suara lantang.
"Maafkan saya, paman!"
Jawab Malangkoro dan tiba-tiba saja kedua lengan yang menyilang itu meluncur ke depan, kedua tangannya yang besar menyambar, yang kiri ke arah leher, yang kanan menyusul ke arah perut.
Dahsyat bukan main serangan Malangkoro ini dan terdengar angin pukulan menyambar.
Dari serangannya ini saja mudah diketahui bahwa sekali ini Malangkoro bersunguh-sungguh, tentu karena dia takut kalah dan gagal memperisteri Mawarsih yang jelita.
"Haiiiiitt!"
Ki Sinduwening melihat betapa dahsyat kedua tangan lawan itu.
Satu saja di antara kedua tangan raksasa itu mengenai tubuhnya, belum tentu kekebalannya dapat menahan, maka diapun membuat gerakan ke samping dan melangkah ke belakang, mengelak sehingga dua sambaran tangan itu luput.
Ketika tubuh Malangkoro menyambar lewat, Ki Sinduwening menyambar dari samping dengan tendangan kakinya, ke arah perut lawan.
"Wuuuttt"""
Plakk!"
Kaki itu mental kembali bertemu dengan tangkisan lengan Malangkoro.
Keduanya merasa betapa kuatnya tenaga lawan memulai bentakan kaki dan lengan itu.
Kembali Malangkoro menyerang, kini lebih dahsyat karena dia yakin sekarang akan kedigdayaan lawan dan dia harus dapat menang.
Ketika dia menggerakkan kedua tangannya yang masih membentuk sepasang ular itu, angin pukulannya sampai terasa oleh para penonton di bawah panggung.
Namun, Ki Sinduwening segera dapat melihat kekurangan lawan yang tenaganya hebat itu, ialah kecepatan.
Malangkoro mungkin lebih kuat darinya, akan tetapi jelas dia lebih cepat dan dia harus mempergunakan kelebihannya ini untuk mendapatkan kemenangan.
Maka, diapun mengerahkan tenaganya dan bergerak cepat untuk mengimbangi serangan lawan yang bertubi-tubi dan dahsyat itu.
Malangkoro menggunakan jurus pencak Sarpo Krodo (Ular Marah), kedua lengannya menyambar-nyambar dan gerakannya mirip dua ekor ular yang mengamuk dan semua gerakan ini masih diperkuat lagi oleh tendangan-tendangan kakinya yang panjang dan kuat.
Diam-diam Ki Sinduwening kagum.
Raksasa muda ini memang memiliki kedigdayaan yang hebat.
Melihat kehebatannya, memang dia pantas untuk dijadikan seorang senopati perang, juga pria dengan kedigdayaan seperti inilah yang pantas menjadi mantunya.
Akan tetapi ada satu kekurangan dan halangan yang agaknya tidak memungkinkan hal itu terjadi, ialah bahwa Mawarsih tidak menyukainya.
Menyerahkan puteri tunggalnya untuk menjadi isteri seorang pria yang tidak disukainya, sama saja dengan menyerhkan seekor domba kepada seorang jagal.
Ki Sinduwening juga mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menggagalkan usaha Malangkoro keluar dari sayembara sebagai pemenang yang berhak memperisteri Mawarsih.
Dia menggunakan kecepatan gerakannya untuk mengimbangi lawan.
Aji Hasta Legawa (Tangan Tangkas) dia mainkan dengan cepat, membuat tubuhnya berkelabatan dan kedua tangannya seolah berubah menjadi enam!
Penonton terbelalak dan merasa tegang menyaksikan perkelahian yang demikian serunya.
Baru sekali ini mereka menonton pertandingan yang benar-benar hebat karena kemarin para lawan Malangkoro sama sekali tidak mampu mengimbangi kedigdayaan raksasa itu.
Akan tetapi sekarang, dia bertemu tanding yang memiliki kesaktian seimbang.
Papan panggung sampai berderak-derak menahan gerakan kaki kedua orang yang sakti mandraguna itu dan belasan jurus terlewat tanpa ada yang terdesak, apa lagi kalah.
Malangkoro mampu membendung hujan serangan yang dilakukan Ki Sinduwening karena kecepatannya itu itu dengan memutar kedua lengannya menjadi perisai tubuhnya.
Para penabuh gamelan juga menabuh dengan gencar dan penuh semangat.
Tentu saja mereka semua berpihak kepada Ki Sinduwening.
Tukang gendang menabuh gendangnya bertalu-talu dan jelas bahwa pukulan gendangnya mengikuti gerakan Ki Sinduwening membuat Malangkoro merasa khawatir juga.
Dia tidak pernah mampu memukul lawan, hampir tidak sempat memukul karena lawan demikian cepat gerakannya.
Serangan lawan datang bertubitubi sehingga dialah yang harus sibuk menangkis dan mengelak, tidak sempat membalas.
Kalau dilanjutkan seperti ini, bagaimana di akan mampu menang, pikirnya.
Diam-diam dia berganti siasat.
Dia mengerahkan aji kekebalannya, kemudian sengaja bergerak lambat untuk memancing serangan lawan yang akan disambutnya dengan kekebalan, akan tetapi pada saat yang sama, dia dapat membalas serangan lawan.
Melihat lawan mengendur dan gerakannya agak lambat, Ki Sinduwening mengira bahwa lawannya mulai bingung dengan desakannya yang mengandalkan kecepatan.
Diapun mengerahkan tenaga pada tangan kanan lalu menyerang dengan hantaman keras pada dada yang bidang itu.
"Haiiiiitt". Des""..!!"
Tangan kanannya bertemu dada yang keras dan kenyal seperti karet sehingga tangannya mental kembali, dan pada saat itu, hanya selisih satu detik, pada saat tangannya memukul, Malangkoro yang memasang dada untuk dipukul, juga menggerakkan tangan menampar, ke arah lengan lawan.
Ki Sinduwening sempat manarik leher dan kepala ke balakang, akan tetapi pukulan itu masih mengenai pundak kirinya.
"Desss""..!!"
Dua pukulan itu datang dalam waktu hampir bersamaan, dan akhirnya, tubuh Malangkoro bergoyang-goyang, akan tetapi tubuh Ki Sinduwening terhuyung ke belakang sampai tiga langkah!
Mawarsih menahan jeritnya.
Tahulah gadis ini bahwa dalam hal kekebalan, ayahnya kalah oleh raksasa itu.
Bukan main!
Pada hal ayahnya memiliki kekebalan yang amat kuat.
Pertandingan dilanjutkan dan agaknya Ki Sinduwening juga merasa penasaran sekali.
Dia mengerahkan seluruh tenaganya untuk memukul lagi, dan juga mengerahkan kekebalannya.
Malangkoro menyambutnya seperti tadi, menerima pukulan dan membalas.
Keduanya memang sama-sama kebal sehingga pukulan masing-masing tidak sampai merobohkan lawan.
Akan tetapi jelas nampak bahwa Malangkoro lebih kuat.
Pukulan Ki Sinduwening hanya membuat dia goyah sedikit, sebaliknya, pukulannya membuat Ki Sinduwening selalu tergetar dan terhuyung.
Selain kalah tenaga, juga Ki Sinduwening kalah dalam daya tahan dan pernapasannya karena usia.
Maka, dalam pertandingan pukul memukul yang membuat penonton melongo saking kagum dan membuat para penabuh gamelan semakin bersemangat itu, di mana dia harus mengerahkan seluruh tenaganya untuk melindungi tubuh dengan kekebalan, akhirnya Ki Sinduwening kehabisan tenaga, sedangkan lawannya masih segar!
Dengan tenaga yang dipusatkan kepada kedua tangannya, Ki Sinduwening kini mengerahkan semua kekuatannya, menghantam ke arah dada Malangkoro sambil mengeluarkan bentakan nyaring.
"Hyaaaaattt"""
Desss"""!!"
Hebat sekali pukulan ini, dan sekali ini, tubuh Malangkoro terhuyung ke belakang sampai lima langkah!
Tentu saja mereka yang berpihak kepada Ki Sinduwening, bersorak melihat ini.
Akan tetapi, tiba-tiba Malangkoro menerjang ke depan, kakinya menendang dibarengi bentakan nyaring dan disusul dorongan kedua tangan.
"Desss""!!"
Dan tubuh Ki Sinduwening terlempar dan jatuh di dekat Mawarsih.
"Bapa"".!!"
Mawarsih cepat menubruk ayahnya.
Ki Sinduwening tidak terluka parah, hanya terengah-engah kehabisan napas dan tenaga dan membiarkan dirinya dipapah kembali ke tempat duduknya.
Dengan sedih dia berbisik kepada puterinya.
"Mawar, dia terlalu tangguh".. aku tidak mampu menandinginya""."
"Jangan khawatir, bapa. Aku akan membujuk dia tidak melanjutkan kehendaknya memperisteriku dan hanya mau menjadi senopati Mataram. Kalau dia memaksa, akan kulawan sampai aku tewas di atas panggung."
"Mawar""""
"Hanya itulah petunjuk dari Gusti, bapa."
Setelah berkata demikian, Mawarsih melompat ke atas panggung, disambut tepuk sorak para penonton.
Dengan tubuh basah dan berkilauan karena keringat, Malangkoro berdiri menyambut datangnya Mawarsih dengan senyum lebar.
Sepasang matanya bersinar-sinar ketika dia melihat gadis jelita yang berdiri dengan gagahnya di depannya itu.
Mawarsih memang nampak gagah dan cantik jelita.
"Diajeng Mawarsih, tidak ada hal yang lebih memberatkan hatiku dari pada harus bertanding melawan paman Sinduwening dan andika. Oleh karena itu, lebih baik andika mengalah dan aku akan meminangmu menjadi calon isteriku, tanpa harus bertanding lagi."
"Malangkoro, jangan engkau mengira bahwa kemenanganmu ini sudah mutlak. Masih ada aku di sini yang akan menandingimu. Malangkoro, engkau memang cukup digdaya dan patut untuk menjadi senopati Mataram, akan tetapi untuk menjadi jodohku, terus terang saja aku tidak dapat menerimanya. Engkau bukan jodohku, dan aku tidak suka menjadi isterimu. Nah, kalau engkau mau melepaskan keinginanmu untuk memperisteri aku, kita tidak perlu bertanding dan engkau kan menjadi senopati."
"Aih, bagaimana mungkin begitu?"
Malangkoro memprotes.
"Aku memasuki sayembara ini justru karena ingin memperisterimu, diajeng."
"Kalau engkau kukuh, aku akan menandingimu sampai aku mati di sini."
Mawarsih berkata.
"Engkau atau aku yang akan menggeletak menjadi mayat di panggung ini."
Pada saat itu terdengar suara dari bawah panggung.
"Tahan dulu! Mawarsih ada aku yang akan mengikuti sayembara, belum saatnya puteri yang disayembarakan maju sendiri!"
Dan seorang pemuda naik ke panggung itu melalui anak tangga, tidak meloncat seperti para peserta lain. Semua orang memandang, juga Mawarsih dan seketika wajah gadis ini berubah kemerahan.
"Kakang Aji"".!"
Tanpa disadarinya, seruan ini berhambur keluar dari mulut Mawarsih, dan langsung muncul dari lubuk hatinya. Pemuda itu menghadapi Mawarsih dan tersenyum.
"Peserta sayembara yang lain masih ada, mengapa andika maju sendiri? Harap meninggalkan panggung dan biar aku yang menghadapi Rahwana ini."
Mawarsih terbelalak.
"Rahwana?"
Rahwana atau Dasamuka adalah raja raksasa di Alengkadiraja, seorang raja besar yang sakti mandraguna dan angkara murka.
Akan tetapi ia segera mengerti maksudnya dan wajahnya semakin merah.
Tentu pemuda itu menganggap ia Dewi Sinta yang hendak diperisteri raja raksasa Rahwana itu.
Secara tidak langsung, ucapan itu merupakan pujian bagi dirinya yang dianggap Dewi Sinta!
"Kakang Aji, dia"""
Dia itu digdaya sekali"".."
Timbul kegelisahannya ketika ia teringat betapa Aji hanya seorang pemuda yang pemberani dan cerdik, akan tetapi tidak memiliki kedigdayaan sehingga kalau harus bertanding melawan Malangkoro, sama saja dengan membunuh diri.
Akan tetapi di samping kekhawatirannya akan keselamatan pemuda itu, jantungnya tergetar hebat karena suka cita.
Ternyata pemuda yang diharap-harapkannya itu benar-benar telah muncul dan hendak membelanya!
Ki Sinduwening juga berseri wajahnya ketika dia melihat pemuda itu, akan tetapi dia segera mengerutkan alisnya dan timbul kegelisahan hati yang sama dengan puterinya ketika dia teringat bahwa pemuda itu bukan seorang yang digdaya.
Adapun para penonton menjadi terheran-heran melihat munculnya peserta sayembara yang baru muncul setelah pertandingan mencapai babak terakhir.
Tidak ada di antara para penonton yang mengenal pemuda itu, akan tetapi melihat betapa Mawarsih bersikap akrab dan agaknya telah mengenal pemuda itu dengan baik, semua orang memandang penuh perhatian.
Seorang pemuda yang masih muda, berusia dua puluhan tahun yang bertubuh sedang tegap, tidak membayangkan kekuatan, berkulit agak hitam manis, pakaiannya sederhana, namun wajah yang hitam manis itu tampan dan gagah, teruatam sekali mulutnya yang banyak senyum dan matanya yang kadang mencorong tajam.
"Mas ayu""."
Kata Banuaji dan mendengar sebutan ini, Mawarsih mengerutkan alisnya. Pemuda ini selalu merendahkan diri! "Silakan andika mundur, biar aku yang melayani raksasa ini."
Biarpun ucapan itu lembut, dan hormat, namun ada sesuatu dalam nada suaranya yang tak dapat dibantah.
Mawarsih lalu mengundurkan diri, duduk di dekat ayahnya dan tanpa disadarinya, jari-jari tangannya menggenggam lengan ayahnya.
Ki Sinduwening tersenyum dan berbisik "Mudah-mudahan penilaian kita terhadapnya keliru dan dia akan mampu mengatasi keadaan."
Mawarsih hanya mengangguk lemah, tidak pernah menoleh, tidak pernah mengalihkan pandang matanya dari atas panggung di mana kini Banuaji berhadapan dengan Malangkoro.
Dia seperti melihat seorang raksasa yang kokoh kuat berhadapan dengan seorang remaja yang lemah.
Akan tetapi, bantah hatinya, bukankah raksasa sebesar bukit kalah oleh Sang Arjuna yang nampak lemah lembut!?
Bukankah Rahwana pernah dibuat tak berdaya menghadapi Ramawijaya yang lemah lembut dan kecil pula dibandingkan raksasa itu.
Mudah-mudahan begitu, doanya di dalam hati.
Kini Aji sudah berdiri berhadapan dengan Malangkoro yang menyeringai lebar melihat keberanian pemuda yang nampaknya lemah dan usianya masih amat muda itu.
Akan tetapi, hatinya telah berkobar panas karena tadi dia melihat sendiri betapa sikap Mawarsih amat manis kepada pemuda ini.
Dia tahu bahwa semua mata dan perhatian kini ditujukan ke atas panggung, maka Malangkoro menahan kemarahannya dan diapun tertawa bergelak, tangan kiri bertlak pinggang, tangan kanan menudingkan telunjuknya ke arah muka Aji.
"Hoa-ha-ha-ha! Siapakah engkau ini? Bocah ingusan begini ingin menjadi peserta sayembara? Ha-ha, sebaiknya engkau cepat pulang dan bersembunyi di pangkuan ibumu dari pada harus merasakan kuhajar sampai semua tulang di tubuhmu remuk!"
Semua penonton merasa ngeri mendengar ancaman itu.
Mereka tahu bahwa Malangkoro dapat melaksanakan ancamannya, bukan sekedar gertakan untuk menakut-nakuti saja.
Tak seorangpun menghendaki pemuda yang tampan dan lembut itu menjadi korban kedua tangan yang kokoh kuat itu.
Mereka menduga bahwa pemuda itu tentu ketakutan dan akan segera pergi.
Akan tetapi pemuda itu bersikap sebaliknya dari apa yang mereka duga dan harapkan.
"Hoa-ha-ha-ha!"
Aji menirukan cara Malangkoro tertawa terbahak, akan tetapi karena dia seorang pamuda yang gerak-geriknya tidak kasar, juga tubuhnya tidak sebesar tubuh Malangkoro, suara tawa itu sama sekali tidak cocok dengan keadaan dirinya dan terdengar lucu.
"Malangkoro, aku memang masih muda dan belum menikah, maka sudah sepantasnya kalau aku mengikuti sayembara ini. Akan tetapi engkau? Engkau adalah seorang laki-laki yang sudah mempunyai tiga orang isteri dan lima orang anak, dan mau apa engkau ke sini menjadi peserta sayembara? Sungguh tak tahu malu kau!"
Semua orang terkejut mendengar ini, juga Ki Sinduwening dan Mawarsih bangkit berdiri dengan alis berkerut.
"Malangkoro!"
Teriak Ki Sinduwening dengan suara penasaran.
"Benarkah apa yang dikatakan anakmas Banuaji itu bahwa engkau sudah mempunyai tiga orang isteri?"
Malangkoro memandang kepada Aji dengan mata melotot, kemudian dia menghadapi para penonton lalu berkata dengan lantang.
"Saudara sekalian menjadi saksi bahwa siapa saja boleh menjadi peserta sayembara asalkan dia tidak mempunyai isteri, demikian syarat para peserta, tidak disebutkan apakah dia perjaka ataukah duda. Dan aku, Malangkoro, akan menjadi duda kalau menang dalam sayembara ini, karena tiga orang isteriku akan kuceraikan. Nah, Paman Sinduwening, bukankah dengan demikian aku juga tidak menyalahi syarat? Aku akan menceraikan tiga orang isteriku dan diajeng Mawarsih menjadi isteri tunggalku!"
Medengar ucapan ini, Ki Sinduwening tidak dapat membantah lagi karena kalau Malangkoro menceraikan isteri-isterinya dan menjadi duda, tentu saja dia berhak mengikuti sayembara.
Diapun terduduk lagi dengan lemas dan bersama puterinya hanya dapat menonton dengan penuh harapan mudah-mudahan Banuaji akan dapat mengatasi raksasa itu.
"Nah, bocah ingusan. Melihat lagak dan pakaianmu yang berbau pedusunan, engkau tentu seorang bocah desa yang bisanya hany mencangkul dan menggembala kerbau. Sekali lagi kuminta engkau mengaku siapa namamu dan cepat engkau berlutut menyembah dan minta maaf padaku atau aku akan mematahkan kedua pasang tulang lengan dan kakimu, lalu melempar tubuhmu sampai lima puluh tombak dari panggung ini!"
Kata Malangkoro yang merasa mendapatkan angin setelah mengeluarkan kata-kata lantang tadi.
"Heh, Malangkoro Buto Galiuk!"
Bentak Aji dan semua orang tersenyum melihat lagak pemuda itu yang demikian berani, Buto Galiuk adalah seorang raksasa dalam cerita pewayangan yang bertampang buruk dan berwatak lebih buruk lagi.
"Orang seperti engkau ini mana pantas untuk menjadi suami Mas ayu Mawarsih? Menjadi tukang kudanyapun masih belum pantas. Kalau Mas ayu Mawarsih berjodoh dengan pemuda lain yang sepadan, aku pun tidak berani mencampuri, karena aku hanyalah seorang pemuda dusun yang tidak mempunyai kepandaian apapun. Akan tetapi menjadi isterimu? Ia sendiri tidak suka, bagaimana engkau akan dapat memaksanya? Tidak, kalau engkau yang menjadi pemenang sayembara, aku harus melupakan kebodohanku dan ikut menjadi peserta untuk menggagalkanmu!"
"Katakan siapa namamu!"
Bentak Malangkoro yang kini mukanya sudah menjadi merah seperti kepiting direbus saking marahnya.
"Setelah itu, kalau engkau masih mempunyai saudara atau kawan, suruh mereka semua maju. Ada sepuluh orang macam engkau bocah ingusan ini akan dapat kuhajar semua!"
"Babo-babo, sumbarmu seperti dapat meruntuhkan gunung dan mengeringkan samudera Malangkoro!"
Kata Banuaji dan ketika mengeluarkan ucapan itu, lagaknya seperti Sang Gatutkaca sedang berlagak di atas panggung wayang.
"Aku memang bukan tukang pukul, bukan warok bukan datuk, akan tetapi kalau hanya melawan Buto Galiuk, aku tidak takut!"
Setelah berkata demikian, Aji berjoget, gerakann-gerakannya lembut seperti seorang ksatria dalam panggung wayang sedang menghadapi seorang raksasa!
Tentu saja para penabuh gamelan menjadi geli dan juga gembira bahwa ada seorang pemuda yang berani mempermainkan Malangkoro, maka merekapun mengimbangi gerakan pemuda itu dan menabuh gamelan yang sesuai dengan tariannya!
Para penonton menjadi geli dan juga gembira.
Seolah-olah yang mereka tonton itu bukan pertandingan sungguh-sungguh, melainkan hanya perkelahian di atas panggung antara seorang ksatria melawan raksasa.
Melihat dan mendengar semua ini, api kemarahan semakin berkobar di dalam dada Malangkoro.
Apa lagi melihat Aji menari-nari di depannya.
Matanya melotot, mulutnya berbuih, sepuluh batang jari tangannya bergerak-gerak dan mengeluarkan suara berkerotokan.
Mengerikan sekali.
"Keparat, akan kupatahkan batang lehermu!"
Teriaknya dan diapun cepat menubruk dengan gerakan terkaman seperti seekor harimau menubruk domba.
"Wuuut""., barkkk!"
Bukan Aji yang ditubruknya, melainkan papan panggung karena tiba-tiba saja, dengan gerakan joget yang indah, seperti elakan yang dilakukan Sang Arjuna di atas panggung, Aji sudah menyusup ke kiri pada saat tubuhnya sudah hampir terkena terkaman.
Semua penonton bersorak memuji, akan tetapi Ki Sinduwening dan Mawarsih mengerutkan alis mereka.
Gerakan Aji itu adalah gerakan tarian, biarpun indah, akan tetapi bagaimana mungkin ilmu menari itu dapat dipergunakan untuk melawan ilmu pencak silat yang keras dan kuat seperti yang dilakukan Malangkoro?
Mereka khawatir sekali, akan tetapi orang yang dikhawatirkan itu masih berjoget indah sambil tersenyum mengejek dan mengerling ke arah Malangkoro yang sudah melompat bangun kembali.
"Auuuurhhhh"""..!"
Malangkoro mengeluarkan gerengan seperti seekor beruang mengamuk dan kini dengan kedua lengan dikembangkan, dia menubruk, bermaksud menangkap pemuda itu dengan kedua tangannya dan membantingnya atau mematah-matahkan tulangnya.
"Wuuuttt""..!"
Dengan gerakan lincah sekali Aji telah menyusup ke bawah ketiak raksasa itu dan telah tiba di belakangnya.
Gerakannya demikian tidak teratur, maka tidak terduga-duga dan cepatnya bukan main sehingga Malangkoro tidak sempat mengikuti dengan pandang matanya.
Tahu-tahu Aji telah berada di belakangnya dan pemuda itu menggerakkan kaki kanannya menendang, tepat ke arah pantatnya.
"Bukk"".!"
Aji berjingkrak memegangi kaki kanannya yang menendang dan berteriak-teriak.
"Ihh, pantatmu keras dan mengepul kotor!"
Memang celana yang berdebu itu ketika terkena tendangan mengeluarkan kepulan debu dan Aji menutupi hidungnya dengan tangan.
"Wah minta ampun baunya"".!"
Tentu para penonton bersorak dan tertawa geli melihat adegan itu, bukan hanya geli karena lucu, melainkan juga merasa puas bahwa siraksasa sekarang ada yang mempermainkannya.
Akan tetapi Ki Sinduwening dan Mawarsih, biarpun merasa senang dan geli juga, masih saja merasa khawatir.
Apa yang dilakukan Aji itu masih belum menjadi bukti bahwa pemuda itu memiliki kedigdayaan.
Mungkin hanya dapat bergerak lincah saja dan sedang beruntung.
Kalau memang berkepandaian, mengapa menendang pantat lawan malah kesakitan sendiri?
Dengan menggereng marah Malangkoro membalik dan kini dia menyerang bertubi-tubi dengan kedua tangannya.
Akan tetapi, semua orang tertawa terpingkal-pingkal karena semua serangannya itu luput dan Aji sudah berloncatan dan berlarian ke seputar tepi panggung.
Malangkoro mengejar, dan Aji terus berlari, kalau dipukul dia mengelak dengan loncatan seperti seekor domba muda yang bermain-main, loncatannya aneh dan lucu akan tetapi selalu dapat menghindarkan pukulan atau tendangan lawan.
Malangkoro semakin marah dan kedua orang itu berkejaran di atas panggung, kedua kaki Malangkoro mengeluarkan suara berdembam-dembam saking berat badannya.
Ketika Aji ditendang lagi, dia melompat ke depan dan terdengar suara berkeretak katika kakinya tiba di atas panggung lagi, akan tetapi dengan lincahnya dia meloncat lagi ke samping sehingga tendangan Malangkoro kembali luput.
Aji menyeringai lalu menjulurkan lidahnya mengejek Malangkoro dan berkata.
"Apakah kemampuanmu hanya memukul dan menendang angin saja, Buto Galiuk? Kalau hanya begitu, anak kecilpun bisa!"
Melihat dan mendengar ejekan itu, Malangkoro marah bukan main dan diapun meloncat ke depan untuk menubruk. Aji melangkah mundur ketika kaki Malangkoro turun dan "braaaaakkk"".!!"
Papan panggung itu jebol.
Kaki Malangkoro yang besar dan membawa tubuhnya yang berat itu menimpa bagian papan yang tadi retak terinjak kaki Aji sehingga papan itu tidak dapat menahan beban yang demikian berat dan kuatnya.
Kaki kanan Malangkoro terjeblos ke bawah menembus papan yang jebol sampai sebatas paha!
Ketika Malangkoro meronta dan berusaha melepaskan kakinya dari jepitan papan pecah.
Aji sudah bergerak cepat mendekatinya dan sekali tangannya bergerak, Malangkoro berteriak kesakitan sehingga mengejutkan dan mengherankan semua orang.
Bagaimana mungkin Malangkoro yang kebal dan kuat itu kini menjerit kesakitan?
Akan tetapi setelah semua orang memandang penuh perhatian, meledaklah suara tawa mereka.
Kiranya dengan cepat sekali tadi Aji telah menyambar dan merenggut kumis Malangkoro yang tebal panjang dan akibat renggutan itu, kumis sebelah kiri raksasa itu jebol dan kulit di bawah hidungnya itu berdarah!
Agaknya, tidak mudah untuk mengembalikan kulit yang ditumbuhi kumis itu!
Dan Aji tahu bahwa bagian itu merupakan satu di antara bagian yang lemah dari lawan.
Mawarsih ikut bertepuk tangan melihat betapa Aji mempermainkan Malangkoro.
Akan tetapi, Ki Sinduwening tetap mengerutkan alisnya.
Biarpun nampaknya saja Aji mempermainkan Malangkoro, akan tetapi semua itu bukan karena Aji memiliki kedigdayaan, melainkan dia hanya memiliki keberanian, kecerdikan, kecepatan bergerak seperti menari, dan sedang beruntung saja.
Kalau pertandingan itu dilanjutkan, akhirnya Aji akan terancam bahaya maut yang mengerikan karena Malangkoro sekarang menjadi marah seperti kerbau gila.
"Mawarsih, aku khawatir sekali. Malangkoro semakin marah dan dapat mata gelap. Aji terancam bahaya maut."
Kata Ki Sinduwening lirih kepada puterinya.
Wajah Mawarsih yang tadinya berseri itu kini menjadi agak muram karena ia maklum apa yang menjadi kekhawatiran ayahnya.
Ia pun dapat melihat bahwa pemuda yang selalu dikenangnya itu bukan seorang laki-laki yang memiliki kedigdayaan walaupun memiliki kegesitan dan kelincahan, juga kecerdikan luar biasa.
Dan iapun tahu bahwa Malangkoro marah bukan main dan tentu akan membunuh Aji apabila raksasa itu dapat menangkapnya.
Sekali saja terkena pukulan atau tendangan raksasa itu, bagaimana mungkin Aji akan mampu menahannya?
"Bapa, apakah tidak lebih baik pertandingan itu dihentikan saja?"
Tanyannya dengan suara penuh kegelisahan.
"Kalau kuhentikan, sama saja dengan pengakuan kalah bagi Banuaji,"
Kata ayahnya.
"Biarlah aku yang akan menandinginya, bapa."
Kata Mawarsih dengan suara yang membuat ayahnya merasa ngeri.
Dia tahu bahwa anaknya telah mengambil keputusan untuk menang atau mati di panggung!
Pada saat itu, Malangkoro sudah menyerang dengan amat dahsyat.
Semua orang memandang dengan khawatir.
Ada sesuatu yang menyeramkan terjadi ketika semua orang melihat ada gumpalan seperti asap hitam berputar-putar mendahului serangan Malangkoro.
"Ini tidak wajar"".!"
Bisik Ki Sinduwening dan Mawarsih mencengkeram lengan ayahnya saking tegang dan ngeri hatinya.
Ia melihat betapa Aji terbelalak melihat asap hitam yang berputar-putar menyerang dirinya itu, disusul serangan Malangkoro!
Akan tetapi, Mawarsih merasa heran melihat betapa wajah Banuaji yang tadinya nampak terkejut itu, kini tersenyum dan sebelum serangan itu mengenai dirinya, Aji berseru nyaring sehingga terdengar oleh semua orang.
"Malangkoro, aku tidak tahan bau keringatmu!"
Dan tiba-tiba saja tubuhnya melayang turun dari atas panggung dan tepat menimpa diri seorang kakek yang sedang menonton di bawah panggung sambil duduk bersila.
Kakek itu tadi duduk bersila dan merangkap kedua tangan depan dada seperti sedang melakukan sebah atau sedang tekun dalam samadhi sehingga tentu saja mengherankan semua orang bagaimana ada penonton yang bersamadhi di situ?
Ketika tubuh Aji melayang turun, tubuh itu menimpa kakek ini sehingga terpelanting.
Kakek itu terkejut dan terbelalak, dan menyeringai memandang Aji yang sudah bangkit dan pemuda ini berloncatan pergi meninggalkan tempat itu!
Mawarsih terisak.
Ki Sinduwening menepuk-nepuk pundaknya.
"Lebih baik begitu dari pada melihat dia tewas secara mengerikan di tangan Malangkoro,"
Bisik ayah itu yang merasa iba sekali kepada puterinya.
"Bapa, sekarang aku yang akan menandinginya!"
Kata Mawarsih sambil menghapus air matanya.
Harapannya untuk berjodoh dengan Banuaji yang dicintainya telah lenyap, dan satu-satunya jalan baginya hanyalah mengadu nyawa dengan Malangkoro!
"Nanti dulu, lihat itu siapa yang naik ke atas panggung,"
Kata ayahnya.
Semua orang juga melihat betapa ada orang yang naik ke atas panggung dan ketika melihat bahwa yang naik ke panggung itu hanyalah seorang anak laki-laki yang usianya baru tiga belas tahun, tentu saja semua orang menjadi terheran-heran.
"Bayu""., dia"..dia Bayu""..!"
Kata Mawarsih yang juga terbelalak heran.
"Bayu, siapa dia?"
Ayahnya bertanya.
"Lupakah bapa kepada anak penggembala di dusun Sintren itu? Dialah Bayu, penggembala kerbau yang pandai meniup suling dan dia".. dia yang memperkenalkan aku kepada kakang Aji"""
Akan tetapi kini ayah dan anak itu menghentikan percakapan dan mereka berdua memandang penuh perhatian kepada Bayu yang berhadapan dengan Malangkoro!
Tentu saja Malangkoro juga terheran-heran.
Dia tadi sempat terkejut dan bertambah marah melihat betapa Aji yang melompat keluar panggung itu menimpa tubuh gurunya!
Akan tetapi kemerahan itu terpaksa ditahannya karena Aji sudah melarikan diri dengan cepat, apa lagi dia melihat bahwa gurunya itu tidak terluka parah.
Hanya diam-diam dia merasa heran bagaimana gurunya yang sakti itu yang tadi membantunya dengan pengerahan ilmu hitam yang menimbulkan asap hitam berpusing, dapat tertimpa begitu saja sehingga terpelanting oleh Aji!
Tadinya dia sudah hendak menuntut kepada Ki Sinduwening agar dia dinyatakan menang ketika tiba-tiba seorang bocah naik ke panggung itu.
"Heh, kamu anak kecil mau apa naik ke panggung ini?"
Bentak Malangkoro, lebih merasa heran dari pada marah.
Anak kecil itu memang Bayu yang dulu pernah dikenal Mawarsih sebagai penggembala kerbau, keponakan lurah Pancot yang tampan, lugu dan bermata cerdik, juga lincah pandai meniup suling.
"Aku hanya menjadi utusan, aku disuruh seseorang untuk menyampaikan tantangannya kepadamu!"
Terdengar suara anak itu lantang dan semua orang memandang heran, juga kagum karena anak itu sama sekali tidak kelihatan takut berhadapan dengan Malangkoro yang menyeramkan itu.
"Siapa orangnya yang berani menantangku!"
Bentak Malangkoro yang matanya menyapu sekeliling panggung, seolah hendak menantang setiap orang.
"Dia akan datang ke sini, dan dia mengatakan bahwa andika tidak patut untuk menjadi mantu Gusti Senopati Ki Sinduwening. Dia menganjurkan agar andika menghentikan keinginan untuk menjadi mantu beliau dan sebaliknya masuk menjadi perajurit untuk membantu Mataram menundukkan pemberontakan di timur."
Malangkoro terbelalak marah.
"Bocah lancang, minggatlah dan suruh manusia sombong itu naik ke sini!"
Berkata demikian, Malangkoro melangkah maju dan menendang ke arah tubuh Bayu, Mawarsih terkejut dan hendak meloncat, akan tetapi dicegah ayahnya karena sudah terlambat.
Dan begitu kaki yang besar panjang itu menyambar, dengan gerakan lincah sekali Bayu melempar tubuh ke belakang, berjungkir balik tiga kali di atas papan panggung, kemudian dengan indah sekali dia meloncat turun dari atas pangung, juga dengan jungkir balik.
Tentu saja gerakan yang indah ini disambut tepuk sorak para penonton dan Mawarsih tertegun.
Bagaimana mungkin bayu yang dikenalnya sebagai penggembala kerbau yang lugu itu kini memiliki ilmu meringkan tubuh seperti itu?
"Wah, gerakan anak itu menunjukkan bahwa dia murid seorang sakti.
Gerakannya lebih hebat dibandingkan anakmas Banuaji!"
Kata Ki Sinduwening.
Akan tetapi dia dan Mawarsih tidak sempat lagi bicara karena pada saat itu nampak berkelebat bayangan orang dan tahu-tahu di atas panggung telah berdiri seorang yang membuat Mawarsih mencengkeram lengan ayahnya.
"Bapa"., dia datang".., dia datang"..!!"
Semua orang memandang dengan heran dan suasana menjadi tegang dan aneh karena yang muncul di panggung adalah seorang yang aneh penuh rahasia, seorang berpakaian serba hitam dan mengenakan kedok hitam pula.
"Hemm, Si Kedok Hitam, dia muncul juga"".?"
Ki Sinduwening berbisik dan dia merasa bersyukur demi puterinya.
Setelah Banuaji tadi melarikan diri karena tidak kuat menanggulangi amukan Malangkoro, kini muncul Si Kedok Hitam, orang ke dua setelah Banuaji yang diharap-harapkan puterinya.
Kalau saja dia tidak muncul dengan pakaian dan kedok hitam, agaknya orang yang kini berhadapan dengan Malangkoro juga tidak mendatangkan kesahebat.
Orangnya bertubuh sedang-sedang saja.
Akan tetapi karena berkedok, maka semua memandang dengan hati tegang, apa lagi kemunculannya tadi sudah membuktikan bahwa dia bukan orang biasa.
Dia dapa bergerak demikian cepatnya sehingga seolah-olah pandai menghilang dan tahu-tahu telah berada di atas panggung pada saat semua orang bertepuk sorak menyambut cara anak tadi menghindarkan diri dari tendangan Malangkoro dengan cara melompat dan berjungkir balik sampai turun dari atas panggung.
Kini, kedua orang itu saling berhadapan dan Malangkoro agaknya juga menyadari bahwa dia berhadapan dengan seorang aneh yang memiliki kedigdayaan.
"Kisanak, bukalah kedokmu dan perlihatkan siapa dirimu dan apa maksudmu naik ke panggung ini! Kata Malangkoro tegas untuk menaikkan kesan wibawanya. Dari balik kedok itu terdengar suara yang lembut namun mantap dan mengandung wibawa yang kuat.
"Malangkoro, hentikan angkara murkamu ini dan kembalilah ke jalan yang benar sebagai seorang yang digdaya,"
Kata-kata itu singkat, namun mengandung bujukan dan juga teguran. Malangkoro tersenyum mengejek.
"Hemm, orang yang menyembunyikan diri di balik kedok berarti takut menghadapi kenyataan dan seorang pengecut. Kenapa engkau menegur aku? Apa halmu untuk menegurku? Dan siapa mengatakan bahwa aku menyimpang dari jalan benar, bahwa aku angkara murka? Aku adalah peserta sayembara yang sah, yang mengalahkan semua lawanku dalam pertandingan sayembara ini dengan cara yang sah pula."
"Malangkoro, engkau seorang yang sakti mandraguna, apakah kesaktianmu itu hanya untuk pamer dan untuk memaksa orang menjadi isterimu? Ingat, Mataram sedang membutuhkan tenaga bantuan orang-orang seperti andika ini. Kenapa harus memperebutkan seorang wanita? Apa lagi kalau wanita itu tidak sudai menjadi isterimu. Kalau dipaksa, apakah kelak tidak hanya mendatangkan kepahitan dalam hidupmu. Sadarlah, Malangkoro. Biarpun engkau telah memenangkan sayembara ini, namun puteri yang disayembarakan tidak suka menjadi isterimu. Sebaiknya engkau mundur secara ksatria dan mengabdikan dirimu kepada Mataram sehingga namamu akan dihormati dan dihargai seluruh rakyat."
"Babo-babo!"
Malangkoro kini bertolak pinggang.
"Engkau bersikap dan berbicara seolaholah engkau ini guruku, penasihatku atau orang tuaku. Aku hendak melakukan apa yang kusukai, apa pedulimu? Kalau memang engkau merasa penasaran dan ingin menjadi peserta sayembara, lebih baik mengaku terus terang dari pada harus bicara berbelit-belit!"
"Baiklah, kalau begitu mari kita bertanding dengan taruhan, bahwa kalau andika tidak dapat menandingi aku dan kalah, andika harus mundur dari sayembara ini dan mendaftarkan diri sebagai perajurit Mataram."
"Kalau engkau yang kalah ?"
Kata Malangkoro.
"Kalau aku yang kalah olehmu, terserah kepada yang mengadakan sayembara, aku tidak akan mencampuri lagi."
Jawab Si Kedok Hitam.
"Tidak cukup begitu saja, enak engkau kalau begitu. Kalau engkau kalah, engkau harus membuka kedokmu dan memperkenalkan diri kepada semua orang. Bagaimana?"
"Baik, aku terima syarat itu!"
Kata Si Kedok Hitam.
"Nah, mari kita mulai, Malangkoro!"
Malangkoro melirik ke kiri di mana gurunya, Danyang Gurita, duduk bersila.
Dia dapat menduga bahwa Si Kedok Hitam ini seorang lawan yang tangguh, maka dia mengharapkan bantuan gurunya.
Dan melihat gurunya itu memandang kepadanya dan mengangguk.
Gurunya adalah seorang ahli ilmu sihir, ilmu hitam dan dengan ilmunya itu, diam-diam Danyang Gurita dapat membantunya dan mempengaruhi lawannya.
"Heiiiittt"". yahhh""..!!"
Malangkoro sudah mengerahkan tenaga dan mulai menyerang.
Memang mengagumkan sekali raksasa ini.
Sejak kemarin, dia sudah bertanding melawan banyak orang dan selalu menang, dan agaknya dia tidak pernah menjadi letih, tenaga dan napasnya tidak pernah berkurang.
Begitu menyerang, dia telah mengerahkan aji kesaktiannya dan kedua tangan terbuka itu mendorong ke arah Si Kedok Hitam.
Agaknya, orang berkedok ini ingin pula mengakhiri pertandingan itu dalam waktu singkat, maka begitu melihat lawannya menyerangnya dengan dorongan tenaga sakti diapun merendahkan tubuh dengan menekuk sedikit kedua lututnya, kemudian diapun mendorongkan kedua tangannya menyambut serangan lawan.
"Plakk!"
Dua pasang tangan bertemu dan keduanya terdorong ke belakang,lalu mereka mendorong lagi dan kedua tangan bertemu lagi untuk kedua kalinya.
"Plakk!"
Kini terdorong sampai dua langkah, dan sekali lagi mereka saling hantam dengan dorongan kedua tangan dan sekali ini terjadi benturan yang amat kuat.
"Dessss""!!"
Akibatnya, tubuh Malangkoro terdorong dan terhuyung sampai lima langkah sedangkan Si Kedok Hitam mundur dua langkah.
Dari benturan tenaga ini saja sudah dapat dilihat bahwa dalam hal tenaga sakti, Si Kedok Hitam jauh lebih kuat!
Mawarsih merasa gembira bukan main.
Malangkoro mengeluarkan gerengan dan tiba-tiba dia menyerang dan terjadilah keanehan lagi karena berbareng dengan serangan itu, terasa ada angin kuat berputar dan menyerang ke arah Si Kedok Hitam, membuat ujung kedok dan ujung bajunya berkibar-kibar.
Si Kedok Hitam nampak terkejut dan dia menoleh ke arah Danyang Gurita yang sudah duduk bersila dan merangkapkan kedua tangan depan dada lagi.
Mawarsih juga melihat ini dan ia menyentuh lengan ayahnya lalu memberi isyarat dengan pandang matanya ke arah kakek itu.
Ki Sinduwening juga menengok dan ia melihat apa yang dilakukan Danyang Gurita, diapun segera bersila dan bersedekap, memejamkan matanya dan tanpa diketahui orang lain kecuali Mawarsih, terjadilah pertandingan kedua yang tidak nampak mata antara Ki Sinduwening dan Danyang Gurita.
Ki Sinduwening, dengan kekuatan batinnya yang bersandar kepada kekuasaan Tuhan, sedang menentang dan menangkis serangan Danyang Gurita berupa angin keras yang membantu muridnya menyerang Kedok Hitam.
Pertandingan antara Si Kedok Hitam dan Malangkoro memang hebat bukan main.
Kini keduanya sudah benar-benar bertanding, mempergunakan kegesitan, ketrampilan dan terutama kekuatan.
Pukulan demi pukulan ditangkis dan terdengar suara berdetak nyaring kalau kedua lengan bertemu.
Keduanya memang kuat dan kebal, namun sekali ini, Malangkoro tidask berani mengandalkan kekebalan tubuhnya untuk menerima pukulan lawan.
Dia selalu menangkis dan kadang mengelak dan membalas dengan dahsyat.
Namun, semua serangannya dapat dipunahkan oleh Si Kedok Hitam yang bergerak dengan tenang sekali.
Mereka itu saling serang, saling pukul, saling tendang dan kadang tubuh mereka berputarputar.
Namun, setelah beberapa kali berseru heran melihat jurus yang dikeluarkan Malangkoro, jurus yang amat dikenalnya, akhirnya Si Kedok Hitam yang memiliki tenaga sakti lebih kuat, mulai mendesak lawannya.
Kedua lengan Malangkoro yang besar panjang dan kuat itu sudah nampak membiru dan membengkak seperti berulang kali diadu dengan baja.
Kedua lengannya terasa nyeri, demikian pula tulang kering keduanya kakinya yang berkali-kali bertemu dengan tangkisan lengan Si Kedok Hitam.
Tiba-tiba Malangkoro mengeluarkan bentakan nyaring dan tangan kanannya dengan dikepal, menjadi kepalan besar, meluncur kearah dada Si Kedok Hitam dan orang berkedok itu agaknya tidak keburu menangkis atau mengelak sehingga kepalan yang besar itu melanda dadanya!
Mawarsih menahan jeritnya melihat Si Kedok Hitam terkena pukulan yang amat dahsyat itu.
Akan tetapi pada saat semua orang yang sebagian besar berpihak kepada Si Kedok Hitam menahan napas karena tegang melihat jagoan mereka agaknya tak dapat lolos dari hantaman yang dahsyat itu, terjadi sesuatu yang tak mereka sangka-sangka.
"Desss""!!"
Pukulan itu memang dengan hebatnya melanda dada Si Kedok Hitam, akan tetapi Malangkoro mengeluarkan teriakan kaget karena merasa seolah kepalan tangannya masuk kedalam benda yang lunak sehingga tenaganya lenyap dan sebelum dia tahu apa yang terjadi, lengan kanannya sudah ditangkap pada pergelangan tangannya dan sekali Si Kedok Hitam membentak, lengan itu (Lanjut ke
Jilid 13) Kidung Senja Di Mataram (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 13 sudah ditekuk ke belakang punggungnya.
Dia terperosok berlutut, namun sebuah tendangan mengenai punggungnya membuat dia roboh menelungkup.
Si Kedok Hitam menggunakan kaki kanan menginjak pinggang Malangkoro sedangkan lengan raksasa itu ditelikungnya ke belakang, ke punggung.
Malangkoro tidak mampu berkutik lagi!
Kalau dia mencoba untuk meronta, maka lengan kanannya yang ditelikung itu dapat terlepas sambungan tulang pada pundaknya, dan tulang punggungnya dapat patah terinjak.
Tangan kirinya juga tidak mampu dipergunakan karena tertindih tubuhnya sendiri.
Beberapa kali dia meronta, hanya untuk mengaduh dan menyeringai.
Suasana menjadi hening dan semua orang menahan napas melihat kesudahan pertandingan yang menegangkan urat syaraf itu.
"Malangkoro, apakah engkau belum mau mengaku kalah?"
Terdengar Si Kedok Hitam bertanya, suaranya lantang. Malangkoro mengangguk-angguk.
"Kisanak, aku mengaku kalah. Andika sakti mandraguna, aku menyerah kalah!"
"Kalau begitu, engkau harus menepati janjimu, mendaftarkan diri menjadi prajurit!"
"Baik, aku malangkoro tidak biasa melanggar janji. Aku laki-laki sejati!"
Jawab Malangkoro, bukan karena takut melainkan karena tersinggung bahwa dia dikhawatirkan tidak akan memegang janjinya.
Si Kedok Hitam melepaskan tangan dan kakinya, kemudian menghadap Ki Siduwening dan berkata dengan suara yang penuh hormat namun juga mengandung teguran.
"Maafkan saya, paman. Sebaiknya kalau perjodohan dilakukan atas dasar saling cinta dan saling mengerti, bukan berdasarkan sayembara pertandingan yang hanya akan mendatangkan banyak permusuhan dan persaingan."
Setelah berkata demikian, Si Kedok Hitam melompat turun dari panggung.
"Anak-mas, tunggu""!"
Ki Sinduwening berseru, akan tetapi Kedok Hitam telah menghilang entah ke mana.
Juga ketika dia mencari-cari, Bayu tidak dapat ditemukan di antara para penonton.
Mawarsih mengerutkan alisnya dan nampak terpukul sekali batinnya.
Bagaimana ia tidak merasa kecewa?
Dua orang yang diharapkan hadir dan mengikuti sayembara memang benar telah muncul, akan tetapi yang seorang melarikan diri dari Malangkoro, sedangkan yang kedua, biarpun sudah berhasil mengalahkan Malangkoro, ternyata pergi begitu saja dan tidak bermaksud memenangkan sayembara itu dan menjadi jodohnya!
Bahkan Banuaji juga tadi tidak menyatakan bahwa dia ikut sayembara untuk memperebutkan dirinya.
Kalau saja tidak dilihat banyak orang, mau rasanya ia menangis dan menjerit-jerit!
Dengan suara lantang Ki Sinduwening lalu menyatakan bahwa sayembara ditutup tanpa ada seorangpun yang dinyatakan menjadi calon suami Mawarsih, dan pada saat itu, terdengar derap kuda dan semua orang yang belum pergi segera berlutut menyembah.
Ketika Ki Sinduwening dan Mawarsih mengangkat muka memandang, mereka terkejut karena yang datang adalah Raden Mas Martapura, yaitu pangeran mahkota, putera dari Sang Prabu Hanyokrowati.
Sebetulnya, Raden Mas Martapura merupakan putera yang ke tiga, namun karena Sribaginda amat sayang kepadanya, maka diapun dipilih dan diangkat menjadi putera mahkota yang kelak akan menggantikan kedudukan sang ayah menjadi raja.
Sang Prabu Hanyokrowati mempunyai lima orang anak, yaitu empat orang putera yang bernama Raden Mas Rangsang, Raden Mas Menang, Raden Mas Martapura dan Raden Mas Cakra.
Adapun putrinya seorang bernama Dyah Ayu ratu Pandan.
Pada waktu itu, Pangeran Mahkota Raden Mas Martapura telah berusia dua puluh tiga tahun, berwajah tampan dan merasa bahwa dia kekasih ayahnya, dia menjadi manja dan agak tinggi hati.
Melihat Sang Pangeran yang dikawal selosin prajurit berkuda itu datang dan berhenti di situ, Ki Sinduwening tergopoh-gopoh menyambut, diikuti pula oleh Mawarsih.
Pangeran itu tersenyum dan melompat turun dari atas punggug kudanya ketika melihat Mawarsih dan Ki Sinduwening.
Tentu saja dia mengenal senopati yang telah banyak berjasa itu, dan sudah beberapa kali pernah melihat Mawarsih puteri senopati itu yang disohorkan sebagai seorang gadis yang sakti mandraguna pula.
Setelah memberi hormat, Ki Sinduwening mempersilahkan pangeran itu untuk berkunjung ke rumahnya.
Akan tetapi, Raden Mas Martapura menolak dan hanya naik ke panggung sehingga terpaksa Ki Sinduwening dan Mawarsih melayaninya.
Para penonton tidak jadi bubaran melihat pangeran itu kini berada di panggung.
Mereka semua mengenal putera mahkota ini yang suka membuat ulah sehingga mereka semua ingin sekali mengetahui apa yang akan dilakukan pangeran itu mengenai sayembara yang telah dibubarkan itu.
"Kami mendengar paman mengadakan sayembara untuk memilihkan jodoh Mawarsih, benarkah itu?"
Tanya sang pangeran dan matanya dengan bebasnya menggerayangi seluruh tubuh Mawarsih yang terpaksa menundukkan muka dengan hati tak senang.
Dalam pertemuan beberapa kali dengan pangeran ini, ia merasa tidak suka, berbeda dengan pangeran lainnya.
Pandang mata pangeran ini demikian genit dan penuh gairah.
"Benar sekali, pangeran, akan tetapi sekarang telah selesai dan bubar,"
Jawab Ki Sinduwening cepat.
"Hemm, lalu siapa yang menang? Siapa yang begitu beruntung untuk mendapatkan hadiah Mawarsih yang cantik jelita ini?"
Kembali matanya liar menggerayangi tubuh dara itu.
"Tidak ada yang memenangkan sayembara, Pangeran. Pemenangnya adalah Si Kedok Hitam, akan tetapi dia bertanding bukan untuk memperebutkan puteri hamba Mawarsih. Karena itu, sayembara ini dibubarkan dan tidak ada yang akan menjadi calon jodoh puteri hamba."
"Si Kedok Hitam? Siapa dia itu?"
"Tidak ada seorangpun yang mengetahui, Pangeran, karena dia datang mengenakan kedok hitam. Setelah bertanding dan menang dia pergi lagi."
Pangeran itu tertawa.
"Hemm, kalau begitu kebetulan sekali. Paman Sinduwening, kenapa sih susah-susah memilihkan jodoh puterimu ini dengan jalan mengadakan sayembara?"
"Hamba telah mendapat persetujuan Yang Mulia Sang Prabu, karena sayembara ini juga merupakan upaya untuk menghimpun tenaga-tenaga muda yang digdaya untuk memperkuat barisan kita yang akan menyerang ke timur."
Raden Mas Martapura mengangguk-angguk.
"Bagus, akan tetapi karena tidak ada yang terpilih sebagai jodoh Mawarsih, dan mengingat ia sudah cukup dewasa, bagaimana kalau, andika serahkan saja Mawarsih kepadaku, paman?"
Bukan hanya Ki Sinduwening dan Mawarsih berdua saja terkejut mendengar ucapan itu, juga semua orang yang mendengarnya menjadi terkejut dan memandang dengan hati tegang.
Semua orang sudah tahu belaka akan ulah pangeran mahkota ini yang terkenal mata keranjang, akan tetapi sekali ini hendak menggangu puteri seorang senopati yang berjasa dan yang dipercaya Sang Prabu.
Namun, hanya sebentar Ki Sinduwening terkejut.
Dia segera dapat mengatasi perasaannya.
"Kanjeng Pangeran telah memiliki banyak selir"""
"Tidak mengapa, paman. Selirku sudah ada sembilan orang, ditambah seorang lagipun tidak mengapa!"
Kata pangeran itu sambil tersenyum, memotong ucapan Ki Sinduwening yang belum selesai.
"Bukan begitu maksud hamba. Paduka tentu saja boleh memiliki berapa banyakpun selir, akan tetapi puteri hamba tidak mau menjadi selir siapapun juga."
Mendengar ucapan ini, Raden Mas Martapura terbelalak, memandang seperti tidak percaya bahwa ada ayah yang menolak puterinya dia ambil sebagai selir!
Padahal, menurut pendapatnya, setiap orang ayahpun akan berlumba menyerahkan puterinya untuk menjadi selirnya karena hal itu berarti naiknya derajat mereka.
"Apa""?? Andika"".. berani menolak kehendakku, paman?"
Bentaknya marah.
"Ini merupakan perintah, tahukah andika? Perintah dari seorang pangeran mahkota, calon raja!"
"Maaf, Pangeran. Hamba seorang senopati dan setiap saat siap untuk mentaati perintah atasan dengan taruhan nyawa, selama perintah itu ada hubungannya dengan tugas hamba. Tugas hamba adalah melawan musuh kerajaan dan memadamkan api pemberontakan dan pengacauan. Mengenai urusan perjodohan puteri hamba, hal itu merupakan persoalan pribadi keluarga kami."
"Paman Sinduwening, berani engkau menampik pinanganku? Ini merupakan penghinaan!"
"Maaf, Pangeran. Hamba tidak menampik, akan tetapi urusan perjodohan puteri hamba adalah urusan pribadinya dan hamba serahkan sepenuhnya kepada keputusan yang akan menjalani. Mawarsih, jawablah sejujurnya di depan Pangeran, maukah engkau diambil menjadi selir Kanjeng Pangeran Raden Mas Martapura?"
Dengan muka masih ditundukkan karena tidak mau memberi kesempatan kepada pangeran itu untuk meraba-raba wajahnya dengan sinar matanya, Mawarsih menggeleng kepala keraskeras.
"Tidak, bapa. Aku tidak mau diselir oleh siapapun. Aku tidak mau!"
Ki Sinduwening memandang wajah pangeran itu yang berubah kemerahan.
"Nah, paduka mendengar sendiri, Pangeran. Bukan hamba atau puteri hamba menampik paduka, melainkan karena puteri hamba tidak suka diselir, baik oleh paduka ataupun oleh siapa juga."
Pangeran itu menjadi marah bukan main, bukan hanya karena penampikan pinangannya itu dianggap suatu penghinaan, akan tetapi terutama sekali karena penolakan itu disaksikan dan didengar banyak orang sehingga hal itu amat memalukan dirinya.
Diapun dengan melotot menoleh kepada selosin perajurit pengawal, lalu menghardik sambil menudingkan telunjuknya kepada Ki Sinduwening dan Mawarsih.
"Tangkap mereka berdua!"
Dua belas orang perajurit pengawal yang bertugas menjaga keselamatan pangeran mahkota itu sudah turun dari atas pungung kuda mereka pula, akan tetapi kini mereka saling pandang seperti orang-orang bodoh dan kehilangan akal.
Padahal mereka adalah perajurit-perajurit pilihan yang mempunyai tanggung jawab berat, yaitu menjaga keselamatan putera mahkota.
Akan tetapi, mendengar perintah untuk menangkap Senopati Sinduwening dan puterinya, mereka tentu saja merasa serba salah dan gentar.
Seorang senopati adalah seorang panglima, atasan mereka, apa lagi mereka semua tahu belaka betapa saktinya Ki Sinduwening dan puterinya!
Untuk melaksanakan perintah itu, menangkap Ki Sinduwening dan Mawarsih merasa gentar dan tidak berani, akan tetapi membangkang terhadap perintah Raden Mas Martapura mereka juga takut.
Maka, mereka hanya saling pandang dan melongo seperti kehilangan akal.
"Hayo tangkap mereka!!"
Bentak pula Raden Mas Martapura. Pada saat itu, muncul seorang yang sekali meloncat sudah berada di atas panggung dan diapun bertanya dengan suara lembut namun berpengaruh sekali.
"Hemm, Paman Sinduwening, adimas Pangeran Mahkota, apakah yang telah terjadi di sini? Ada apakah ribut-ribut ini dan mengapa andika nampak marah-marah, adimas?"
Hati para perajurit pengawal, juga hati Ki Sinduwening dan Mawarsih merasa lega ketika melihat siapa yang muncul pada saat yang gawat itu.
Dia seorang pemuda berusia dua puluh tujuh tahun, tinggi tegap, berwajah tampan dan anggun, sikapnya agung dan berwi-bawa.
Dia adalah Raden Mas Rangsang, pangeran yang merupakan putera sulung Sang Prabu Hanyokrowati, Pangeran Raden Mas Rangsang ini terkenal sebagai seorang pemuda yang amat bijaksana, sakti mandraguna, ahli dalam ilmu kesenian dan kesusasteraan, dan terutama sekali dekat dengan rakyat jelata sehingga dia amat terkenal dan disuka.
Tangan dan hatinya selalu terbuka untuk menolong rakyat yang sedang tertimpa kesengsaraan, dan tangan itu dapat menjadi sekeras baja kalau dia menghadapi kejahatan.
Satu di antara kebijaksanaannya adalah bahwa dia sedikitpun tidak pernah merasa iri atau marah ketika Sang Prabu Hanyokrowati mengangkat adiknya yang ke tiga, yaitu Raden Mas Martapura, sebagai pangeran mahkota, sungguhpun menurut adat dan aturan, dialah sebagai putera sulung yang lebih berhak menggantikan ayah mereka kelak.
Akan tetapi, sedikitpun Raden Mas Rangsang tidak pernah mengeluh, bahkan sikapnya terhadap Raden Mas Martapura selalu lembut dan penuh nasihat.
Melihat munculnya kakak sulungnya, Raden Mas Martapura yang masih penasaran dan marah, segera mengadu.
"Kakangmas, ayah dan anak ini telah menghinaku! Aku telah dipermalukan di depan orang banyak! Kakangmas harus memberi hukuman berat kepada mereka!"
Teriaknya dengan muka merah.
Raden Mas Rangsang lalu menghadapi para penonton yang masih berada di situ dan sejak tadi tidak berani mengeluarkan suara, dan dengan suara yang lembut dia berkata kepada mereka.
"Kuharap para paman, kakak dan adik suka meninggalkan tempat ini karena sudah tidak ada sesuatu yang perlu ditonton lagi."
Mendengar ucapan lembut itu, orang-orang segera mengundurkan diri dan merasa malu sendiri karena memang tidak patut kalau mereka terus menonton pertikaian yang tidak ada sangkut-pautnya dengan mereka.
Tempat itu menjadi sepi dan yang tinggal di atas panggung kini hanya kedua orang pangeran, Ki Sinduwening dan Mawarsih.
Akan tetapi Ki Sinduwening yang tahu akan kewajiban, segera meneriaki para peserta sayembara agar sore hari nanti mereka datang kepadanya untuk diterima sebagai perajurit.
Para peserta itu menyanggupi dan merekapun segera mengundurkan diri.
Hanya selosin perajurit pengawal itu saja yang masih tinggal di bawah panggung, akan tetapi mereka hanya menundukkan muka, tidak berani memandang ke atas panggung karena maklum bahwa majikan mereka, Putera Mahkota, sedang marah kepada mereka yang tadi tidak menaati perintah untuk menangkap ayah dan anak itu.
"Nah, sekarang ceritakanlah. Adimas Pangeran, apa sesungguhnya yang telah terjadi sehingga andika menjadi marah-marah dan mengatakan bahwa Paman Sinduwening dan diajeng Mawarsih ini telah menghinamu dan mempermalukanmu di depan orang banyak?"
"Coba saja kakangmas pertimbangkan sendiri, siapa orangnya yang tidak merasa terhina! Aku mendengar bahwa Ki Sinduwening mengadakan sayembara untuk memilih suami bagi puterinya. Aku ingin nonton pertandingan sayembara, akan tetapi setelah tiba di sini, pertandingan telah bubar dan tidak seorangpun yang dapat diterima menjadi suami Mawarsih, karena gadis ini masih bebas, belum terikat perjodohan, sudah sepantasnya kalau aku mengajukan pinangan, kuminta kepada Ki Sinduwening agar Mawarsih menjadi selirku. Akan tetapi, kakangmas, mereka ini ayah dan anak ini, menolakku dan penampikan itu mereka lakukan di sini, di depan banyak orang! Siapa yang tidak merasa malu dan terhina? Aku ini putera mahkota, calon raja mereka, dan mereka berani merendahkan aku seperti ini?"
Suaranya terdengar seperti hendak menangis. Dengan sikap tenang dan sabar, Raden Mas Rangsang mendengarkan ucapan adiknya, kemudian dia menoleh kepada Ki Sinduwening dan tersenyum, bertanya.
"Paman Sinduwening, benarkah apa yang dikatakan oleh dimas Pangeran Martapura tadi?"
"Memang benar bahwa Kanjeng Pangeran Mahkota telah minta agar Mawarsih diberikan kepada beliau untuk dijadikan selir yang kesepuluh. Karena beliau mengajukan pinangan di sini, disaksikan banyak orang, maka ketika hamba menjawab, hamba lakukan di sini pula. Hamba sudah jelaskan bahwa urusan perjodohan anak hamba menjadi hak Mawarsih sendiri untuk menentukan, dan puteri hamba itu tidak mau dijadikan selir oleh siapapun juga. Bukan berarti kami menolak atau menampik Kanjeng Pangeran, melainkan tidak mau kalau Mawarsih dijadikan selir. Kami tidak bermaksud menghina, apa lagi mempermalukan, Pangeran."
"Adimas Pangeran, benarkah apa yang diucapkan Paman Sinduwening itu?"
Tanya Raden Mas Rangsang kepada adiknya, suaranya menuntut ketegasan. Raden Mas Martapura cemberut.
"Sama saja, ayah dan anak ini telah menolak pinanganku, dan itu penghinaan namanya. Aku adalah putera mahkota dan""""
"Adimas Pangeran, cukup semua itu. Justeru karena andika menjadi putera mahkota, calon raja, maka haruslah bersikap bijaksana dan tidak menindas kepada bawahan dan rakyat jelata. Memaksa seorang wanita menjadi selir, itu merupakan perbuatan sewenang-wenang namanya. Apakah adimas pangeran ingin mencontoh perbuatan Rahwana raja yang hedak memaksa Dewi Shinta menjadi isterinya? Adimas mengajukan pinangan di tempat umum, mendapat jawaban di tempat umum pula, hal ini sudah sepantasnya. Dan seperti andika pangeran mendengar sendiri tadi, Ki Sinduwening dan Mawarsih sama sekali tidak bukan bermaksud menghina atau menolak pinangan, hanya merupakan tekad diajeng Mawarsih untuk tidak suka dijadikan selir. Diajeng Mawarsih, jawablah, apa jawabanmu kalau sekarang ini aku meminangmu untuk menjadi selirku?"
Kedua pipi Mawarsih berubah kemerahan mendengar pinangan aneh dari Raden Mas Rangsang ini.
"Mohon paduka mengampuni hamba, Pangeran. Hamba hanya akan menikah dengan pria idaman hati hamba, dan menjadi isterinya, bukan menjadi selirnya. Hamba tidak mau menjadi selir siapapun juga."
Raden Mas Rangsang menoleh kepada adiknya.
"Nah, andika mendengar sendiri, adimas pangeran! Aku tidak merasa tersinggung oleh penolakannya, karena hal itu wajar, bukan? Orang meminang hanya mempunyai dua kemungkinan, diterima atau ditolak.Kita sepatutnya kagum akan pendirian diajeng Mawarsih yang hanya suka menjadi isteri seorang pria idaman hatinya."
Mendengar ucapan kakaknya, Raden Mas Martapura menunduk dan cemberut.
Biarpun dia putera mahkota, akan tetapi dia belum menjadi raja dan selama dia masih menjadi pangeran, tentu saja dia harus tunduk terhadap kakaknya, saudaranya yang lebih tua.
Sementara itu, Ki Sinduwening yang merasa tidak hati mendengar mahkota seolah ditegur pangeran sulung, segera berkata.
"Mohon paduka berdua sudi memaafkan kami ayah dan anak. Tidak ada seujung rambutpun di hati kami untuk merendahkan paduka berdua, hanya urusan perjodohan merupakan urusan pribadi puteri hamba, bahkan hamba sendiripun tidak berani memaksanya."
"Sudahlah, paman,"
Kata Raden Mas Rangsang.
"Anggap saja kesalahan paham ini tidak pernah terjadi. Adimas Pangeran Mahkota masih terlalu muda untuk mengetahui bahwa tidak semua gadis berlumba menjadi selirnya dan tidak semua ayah mengharapkan puterinya menjadi selir pangeran."
Raden Mas Martapura merajuk.
"Sudahlah sudah"".., katakan saja aku tidak boleh berbuat sesuka hatiku. Kakangmas Rangsang, aku pergi dulu!"
Tanpa menoleh lagi dia menuruni panggung dan meloncat ke atas punggung kudanya dan segera pergi, diikuti oleh selosin pengawalnya. Raden Mas Rangsang menarik napas panjang dan menggeleng kepalanya.
"Hemm, sampai kapankah dia akan menjadi dewasa?"
Lalu dia menghadap Ki Sinduwening dan berkata.
"Paman, maafkan kalau aku terpaksa menegurmu, paman. Memang sudah menjadi hak kalian untuk mengadakan sayembara, apa lagi kalau tahu bahwa sayembara itu juga dimanfaatkan untuk mengumpulkan tenaga orang-orang digdaya untuk memperkuat pasukan Mataram dan sudah pula mendapat restu Kanjeng Rama. Akan tetapi, paman. Dalam keadaan gawat seperti sekarang ini, pada saat Mataram sedang berusaha untuk menundukkan daerah timur yang memberontak, sudah tepatkah kalau paman sebagai seorang senopati Mataram mendahulukan urusan pribadi yang sifatnya suka ria? Maaf, paman, aku hanya mengingatkan, bukan menyalahkan atau menegur."
Mendapatkan peringatan dari pangeran yang mereka kenal sebagai seorang bijaksana itu, Sinduwening dan Mawarsih tertegun.
Dan bagaikan baru terbuka mata mereka akan sikap Banuaji dan juga Si Kedok Hitam.
Itukah sebabnya mengapa mereka itu biarpun menentang Malangkoro namun tidak ikut menjadi peserta yang memperebutkan Mawarsih?
"Ah, sekarang kami menyadari kekeliruan kami, Raden Mas Rangsang.
Terima kasih atas peringatan paduka dan memang apa yang paduka katakan itu sungguh benar dan tepat.
Kami akan menunda usaha memilih mantu ini dan akan lebih dahulu menghimpun tenaga dan melaksanakan tugas menyerbu ke Ponorogo pada waktu yang telah ditentukan Sang Prabu."
Raden Mas Rangsang mengangguk.
"Memang seyogyanya demikian, paman. Aku mendengar tentang kedigdayaan Malangkoro, karena itu sepatutnya kalau dia diberi kedudukan yang cukup penting dalam pasukan kita, juga para peserta sayembara yang lain dapat diberi kedudukan yang sesuai dengan tingkat kemampuan mereka. Kanjeng Rama menentukan penyerangan kurang lebih tiga bulan lagi dengan perhitungan bahwa hujan sudah mulai berkurang sehingga Kali Tempuran dan Kali Ngebel tidak banjir. Kedua kali itulah yang akan dipergunakan untuk mengepung Ponorogo dari utara dan barat, sedangkan pasukan dari selatan menyerbu mulalui daratan."
Ki Sinduwening mangangguk-angguk kagum.
"Hamba yakin akan keampuhan siasat perang yang akan diatur oleh Sang Prabu."
Pangeran itu tersenyum kepada Mawarsih dan berkata.
"Diajeng Mawarsih, ada tiga peristiwa penting terjadi dalam kehidupan kita, yaitu kelahiran, perjodohan, dan kematian. Dan yang tiga ini sepenuhnya diatur oleh kekuasaan Gusti Allah Yang Maha Kasih, oleh karena itu, andika serahkan saja kepadaNya, dan andika pasti akan dapat bertemu dan bersatu dengan jodohmu."
Kedua pipi gadis itu menjadi kemerahan dan iapun menghaturkan terima kasihnya dengan sembah.
Pangeran sulung itu lalu berpamit dan meninggalkan ayah dan anak itu termenung berdua saja mengenangkan semua peristiwa yang telah terjadi.
Akhirnya Ki Sinduwening menghela napas panjang.
"Alhamdulillah"".!"
"Bapa, kenapa bersyukur?"
Tanya puterinya, tak mengerti. Ki Sinduwening memandang puterinya dan tersenyum, kini wajahnya menjadi tenang, terbebas dari kegelisahan yang dirasakannya ketika mereka mengadakan sayembara.
"Mawar, sekarang bapamu ini baru mengerti mengapa dua orang muda yang kauharap-harapkan itu tidak mengikuti sayembara! Agaknya, aku yakin bahwa merekapun berpendapat sama seperti Raden Mas Rangsang, yaitu bahwa sekarang tidak tepat saatnya bagi mereka untuk mengikuti sayembara pemilihan jodoh, tidak tepat waktunya untuk bersenang-senang."
"Benarkah itu, bapa? Kiranya tidak banyak orang yang memiliki kebijaksanaan seperti kanjeng pangeran itu."
"Si Kedok Hitam itu jelas bukan orang biasa, melainkan seorang pendekar yang sakti, seorang ksatria yang berbuat kebaikan tanpa pamrih sehingga dia menyembunyikan mukanya. Sudah tentu seorang ksatria seperti dia memiliki kebijaksanaan yang tidak jauh bedanya dari kebijaksanaan Raden Mas Rangsang. Juga Banuaji itu, biarpun anak dusun, namun jelas dia memiliki kecerdikan dan kebijaksaan. Kemunculan mereka bukan sebagai peserta sayembara akan tetapi berusaha untuk menolong kita dari desakan Malangkoro membuktikan bahwa mereka itu, walaupun jauh berbeda dalam sikap, namun memiliki dasar yang sama, yaitu watak pendekar tanpa pamrih."
"Mudah-mudahan saja perkiraan bapa ini benar,"
Kata Mawarsih lirih dan muncul pula harapan di hatinya.
Sekali lagi, kedua orang muda itu, baik Aji maupun Si Kedok Hitam jelas telah menolongnya dan ini membuktikan bahwa mereka setidaknya memperhatikan keselamatannya.
Kini dia yakin bahwa Si Kedok Hitam juga seorang muda.
Bukankah tadi dia menyebut paman kepada ayahnya?
Dan teringat akan sepak terjang kedua orang muda itu di atas panggung, hatinya condong lebih mengagumi Si Kedok Hitam, walaupun ia merasa terharu atas pembelaan Banuaji yang demi membelanya melupakan kelemahan diri sendiri sehingga kalau tidak cepat-cepat pergi, mungkin akan tewas di tangan Malangkoro yang pada waktu itu sudah marah bukan main.
Ki Sinduwening sudah melupakan dan mengesampingkan urusan perjodohan puterinya dan menyibukkan diri dengan penampungan orang-orang muda yang memenuhi panggilan kerajaan untuk menjadi parajurit.
Ki Sinduwening sendiri yang menguji dan menempatkan mereka dalam kedudukan yang sesuai dengan tingkat kepandaian mereka.
Sang Prabu Hanyokrowati mempercayakan penghimpunan tenaga ini kepada senopatinya yang setia itu.
Begitu tiba di istana, Raden Mas Martapura, pangeran mahkota, segera memanggil komandan pasukan pengawal dan memerintahkan agar memberi hukuman cambuk masing-masing dua puluh lima kali kepada dua belas orang perajurit pengawalnya ketika dia berada di panggung pertandingan sayembara yang diadakan Ki Sinduwening.
Dengan alasan bahwa selosin perajurit pengawal itu membangkang perintahnya, tidak mau menangkap Ki Sinduwening dan Mawarsih, dia menyuruh hukum mereka dan minta agar padanya diberi regu pengawal yang baru.
Penumpahan kemarahan kepada selosin pengawalnya ini masih belum menghapus kejengkelan yang meracuni hati Raden Mas Martapura.
Dia menginginkan Mawarsih, dan selama keinginan ini belum terpenuhi, dia tentu akan terus-terusan marah dan jengkel.
Sembilan orang selirnya yang muda-muda dan cantik tidak dapat menghibur hatinya.
Sebagai putera Sang Prabu Hanyokrowati, tentu saja Raden Mas Martapura juga bukan seorang pria yang lemah.
Biarpun dia tidak menguasai aji kedigdayaan seperti para saudaranya, terutama Raden Mas Rangsang, namun dia memiliki satu kelebihan, yaitu ilmu sihir atau sulap.
Dia pernah berguru kepada seorang pertapa ahli sihir sehingga Raden Mas Martapura seringkali melakukan tapa-brata untuk menguasai ilmu sihir.
Seringakali dia memamerkan ilmunya itu kepada para penghuni istana, hanya untuk mencari pujian dan membanggakan diri.
Sore hari itu, dengan wajah murung dan pandang mata muram, dia berjalan-jalan di taman sari istana.
Maksudnya untuk menghibur dirinya, dan dia melarang pengawal mendekatinya.
Dia berjalan-jalan seorang diri dan ketika dia berada di dekat dinding pemisah antara taman sari dan kaputren di mana tinggal para selir dan dayang dari Sang Prabu Hanyokrowati, dia mendengar suara tembang.
Suara tembang itu demikian merdu dan indahnya sehingga dia menghentikan langkahnya dan mendengarkan.
Tembang Kinanti itu terdengar indah sekali karena ditembangkan oleh seorang ahli yang memiliki suara merdu.
Di dalam hatinya timbul perasaan iri.
Di antara para selirnya dan abdi dayangnya, tidak ada yang memiliki suara merdu itu.
Ayahnya selalu memilih yang terbaik!
Bahkan selir-selir ayahnya juga cantikcantik, lebih menarik daripada selir-selirnya sendiri.
Nafsu mendorong kita untuk mengejar yang baru, dan sudah menjadi sifat nafsu yang berakhir dengan kebosanan kepada sesuatu yang tadinya diburu-buru dan yang telah menjadi miliknya.
Karena pengaruh nafsu inilah maka kita selalu lebih menghargai milik orang lain daripada milik kita sendiri.
Milik orang lain, baik itu berujud benda, binatang, tumbuhtumbuhan, atau manusia sekalipun, akan selalu nampak lebih menarik dari pada yang kita miliki.
Bunga mawar di taman orang lain nampak lebih cantik semerbak harum dibandingkan bunga mawar di taman sendiri.
Demikian pula dengan Raden Mas Martapura yang sejak muda sekali, karena selalu dimanja, menjadi hamba nafsu yang selalu mengejar kesenangan dan kenikmatan.
Biarpun sembilan orang selirnya itu canti-cantik, namun dia merasa bosan dan dia membayangkan bahwa selir-selir muda ayahnya jauh lebih cantik menarik!
Tiba-tiba wajah yang murung itu kini berseri, mulut yang cemberut itu mengembangkan senyum dan mata yang muram kini berseri, lalu dia mengepal tangan kanannya.
Hemm, kenapa tidak?
Dari pada bersusah hati, lebih baik dia menghibur diri di dalam kaputren tempat para selir ayahnya!
Tentu saja di pintu tembusan itu diahadang seorang pengawal yang berjaga di situ.
Begitu melihat sang pangeran, pengawal itu memberi hormat dan menegakkan tombaknya.
"Minggir, aku mempunyai urusan penting di dalam!"
Kata sang pangeran.
Biarpun dengan alis berkerut, penjaga itu tidak berani melarang.
Kalau bukan pangeran mahkota yang memasuki pintu tembusan itu,tentu dia akan melarang dengan mati-matian, karena kalau sribaginda mengetahui bahwa dia memperbolehkan pria memasuki tempat itu, dia tentu akan dihukum berat, mungkin dihukum mati karena bagi pria,memasuki tempat tinggal para selir itu merupakan larangan keras.
Dia minggir dan membiarkan pangeran muda itu masuk.
Pada saat itu, para selir yang jumlahnya dua puluh orang lebih itu bersama para dayang yang centil-centil sedang bersuka ria, ada yang bertembang, ada yang menari dan ada yang hanya bercengkerama.
Semua tugas sehari itu telah selesai dan mereka setelah mandi dan makan malam, kini bersantai-santai di taman kecil itu sambil menanti kalau-kalau Sribaginda berkenan datang ke situ dan bersenang dengan mereka.
Ketika Raden Mas Martapura muncul, semua selir terkejut.
Di antara mereka yang berpakaian sembarangan, segera menutupkan pakaian pada tubuh mereka agar nampak sopan.
Tempat itu memang khusus ditinggali para selir yang muda, sedangkan para selir tua yang telah mempunyai anak, mendapatkan kamar-kamar tersendiri di istana.
Setelah mereka semua tahu bahwa yang datang adalah pangeran mahkota, merekapun menyambut dengan sikap manis.
Bagaimanapun juga, pangeran ini merupakan calon pengganti raja, maka para selir dan para dayang amat menghormatinya.
Mereka mempersilakan sang pengeran duduk lalu dengan berbagai macam gaya yang luwes mereka menanyakan maksud kedatangan pangeran itu.
Raden Mas Martapura tersenyum.
"Ah, tidak mempunyai urusan tertentu, hanya ingin bermain-main saja karena aku merasa bosan di istanaku."
Seorang selir yang masih muda, baru dua puluh tahun usianya, hitam manis dan centil mengerling tajam dan berkata sambil tersenyum.
"Aihh, paduka ini sungguh aneh, Pangeran. Bukankah di istana paduka terdapat selir-selir yang paling cantik, yang setiap saat siap menghibur hati paduka? Bagaimana mungkin paduka merasa bosan?"
Ucapan itu didukung oleh para selir lainnya. Bagaimanapun, mereka merasa bergembira karena di tengah-tengah mereka terdapat seorang pangeran muda yang tampan.
"Hemm, mereka itu sama sekali tidak dapat dibandingkan dengan para ibu selir di sini,"
Kata pengeran itu.
"Di tempat ini aku merasa seperti di dalam taman Indraloka, di antara para dewi kahyangan yang cantik jelita."
Ucapan pangeran itu disambut oleh kekeh tawa yang gembira dan juga centil, bahkan ada seorang dua orang selir yang dengan sembunyi-sembunyi menyentuh tubuh pangeran itu dari samping dan belakang.
Namun seorang di antara mereka, seorang selir yang mendapat nama panggilan Sekarjingga, mengerutkan alisnya.
Ini sungguh tidak layak dan tidak baik, pikirnya.
Oleh karena itu, ia memberanikan diri berkata kepada pangeran itu dengan suara lembut.
"Ampunkan hamba, pangeran. Hamba kira seyogyanya kalau paduka segera meninggalkan tempat ini, karena kalau sewaktu-waktu Kanjeng Rama paduka masuk, kita semua akan mendapatkan kemarahan."
Mendengar ucapan ini, Raden Mas Martapura mengerutkan alisnya dan mengangkat muka untuk melihat siapa yang berani menegurnya itu walaupun dengan teguran halus.
Kiranya ia adalah Sekarjingga, selir ayahnya yang sudah menjadi selir selama tiga tiga tahun dan belum mempunyai anak.
Selir ini cantik manis, dan mungkin untuk menyesuaikan diri dengan namanya, kembennya berwarna jingga.
Akan tetapi, di samping merasa terganggu oleh teguran itu, dia merasa bahwa selir itu benar juga.
Dan bagaimanapun, para selir yang bersikap ramah kepadanya ini tidak akan berani bersikap lebih mesra daripada sekedar keramahan terhadap seorang pangeran yang menjadi putera tiri mereka!
Diapun memaksa diri tersenyum.
"Andika benar juga, kanjeng Ibu Sekarjingga. Kalau begitu, biarlah aku pergi sekarang dan memanggil Kanjeng Rama agar menemani kalian yang sedang kesepian,"
Diapun bangkit berdiri, tersenyum kepada semua selir yang diam-diam merasa kecewa dan kehilangan karena pangeran yang tampan itu demikian cepat meninggalkan mereka.
Raden Mas Martapura keluar dari tempat itu melalui pintu tembusan yang tadi dan kepada penjaga yang masih bertugas di situ, dia berkata bahwa sebentar lagi Sang Prabu akan lewat masuk melalui pintu tembusan itu.
Sang penjaga merasa heran dan diam-diam tidak percaya bahwa Sribaginda akan memasuki kaputren lewat pintu tembusan itu karena biasanya kalau berkunjung ke situ langsung dari istana melalui pintu besar manuju ke kaputren yang letaknya di bagian belakang istana itu.
Akan tetapi, alangkah kagetnya penjaga itu dan cepat-cepat dia memberi hormat ketika tak lama kemudian Sang Prabu Hanyokrowati benar-benar memasuki kaputren lewat pintu tembusan itu.
Dengan agungnya Sang Prabu lewat dan hanya melirik kepadanya, membuat penjaga ini hanya berani memberi hormat sambil menundukkan mukanya.
Sementara itu, pada selir juga berharap-harap heran bagaimana mungkin sang pangeran tadi dapat memanggil ayahnya untuk datang ke situ!
Dan lagak pangeran tadi sungguh tinggi hati, mengatakan bahwa dia akan memanggil Sang Prabu, seolah bisa saja dia memanggil beliau.
Dimohon datangpun belum tentu dapat, apa lagi dipanggil!
Akan tetapi betapa heran dan juga gembira rasa hati mereka ketika benar-benar Sang Prabu muncul di tempat itu dari pintu tembusan yang menuju ke taman sari.
Yaitu taman besar istana, dari mana tadi sang pangeran keluar!
Tentu saja para selir menyambut dengan hormat dan gembira, dan segera mereka mempersilakan Sribaginda untuk masuk ke dalam, duduk dengan santai dan mereka semua melayaninya dengan penuh kemesraan.
Dan agaknya malam itu Sribaginda sedang bergembira.
Dan nampak demikian penuh semangat dan penuh cinta, bahkan agak berlebihan sehingga dia menciumi para selirnya, seorang demi seorang bagaikan seekor harimau kelaparan!
Keadaan ini membuat Sekarjingga kembali menjadi curiga.
Selama tiga tahun lebih ia menjadi selir Sribaginda, dan biarpun pada saat-saat tertentu Sribaginda dapat bersikap mesra, namun belum pernah seperti ini, seperti harimau kelaparan dan menciumi para selir begitu saja di depan semua selir itu!
Seolah Sribaginda telah kehilangan kesopanan dan keagungannya sebagai seorang raja besar!
Karena itu, ketika tiba gilirannya dia dipegang tangannya, ditarik dan hendak dirangkul dan dicium, dengan halus namun tegas ia meronta dan melepaskan diri.
"Ampun, gusti"""
Tapi""
Tidak di sini""."
Katanya.
Dan Sribaginda menjadi marah, lalu menggerakan jari-jari tangannya, menjentik dengan ibu jari dan jari tengah sehingga mengeluarkan suara berdetak seolah-olah dia sedang membujuk seekor burung perkutut atau seekor ayam.
"Nimas Sekarjingga, kenapa engkau malu-malu? Lihat itu, kembenmu juga sudah terlepas dan kembenmu tidak malu-malu seperti engkau!"
Beberapa kali jari tangannya menjentik dan"..
Sekarjingga manahan jeritnya karena tiba-tiba saja kembennya yang berwarna jingga itu terlepas seolah ada tangan tak nampak yang melepaskannya atau seolah kemben itu hidup seperti ular, melepaskan lingkarannya dari pinggangnya yang ramping.
Para selir dan dayang juga merasa heran, akan tetapi mareka segera tertawa cekikikan karena mereka maklum bahwa Sang Prabu Hanyokrowati agaknya memperlihatkan ilmunya sehingga kemben itu dapat terlepas sendiri!
"Nah-nah sekarang kainmu yang melepaskan diri.
Kalau pakaianmu tidak malu-malu kenapa engkau malu, nimas?
Ke sinilah, ke dalam pelukanku".."
Kembali jari-jari tangan itu menjentik-jentik dan""
Tak dapat lagi Sekarjingga menahan jeritnya karena kini benar-benar yang melibat tubuhnya mulai mengembang dan hendak melepaskan diri dari tubuhnya!
Dan pada saat itu, terdengarlah suara yang berat dan berwibawa.
"Apa yang terjadi di sini? Ada apakah ribut-ribut ini?"
Ketika semua selir dan dayang menoleh, banyak di antara mereka yang menjerit dan mereka semua terbelalak melihat Sang Prabu Hanyokrowati telah berdiri di ambang pintu ruangan itu!
Ketika mereka semua kini menoleh kepada "Sribaginda"
Yang tadi mereka layani dayang mengajak mereka bercumbu, mereka semua menjadi pucat dan cepat mereka menjatuhkan diri berlutut menghadap Sang Prabu, karena yang tadi mereka anggap sebagai Sribaginda bukan lain adalah Raden Mas Martapura!
Pengaruh sihir atas diri selir Sekarjingga juga pudar dan selir ini cepat membetulkan kain dan kembennya, lalu menjatuhkan diri berlutut menyembah Sribaginda sambil menangis.
"Kanjeng Rama, hamba hanya ingin bermain-main di sini""."
Raden Mas Martapura tergagap dan diapun cepat turun dari tempat duduknya, menyembah dan wajahnya menjadi agak pucat.
Kalau pangeran lain yang tertangkap basah menodai tempat selir seperti itu, pasti Sang Prabu Hanyokrowati akan marah besar dan mungkin menghukumnya dengan berat, bahkan bisa saja membunuhnya karena perbuatan itu sungguh merupakan aib bagi keluarganya.
Akan tetapi, dia terlalu menyayang Raden Mas Martapura, maka dalam kekecewaan, penyesalan, kedukaan dan kemarahannya, terlontar ucapan yang langsung keluar dari lubuk batinnya.
"Martapura, apakah engkau sudah gila? Perbuatanmu ini seperti perbuatan orang gila saja!"
Hening sesaat setelah Sang Prabu Hanyokrowati mengeluarkan ucapan itu, kemudian nampak Pangeran itu berkata dengan suara gemetar.
"Ampunkan hamba, Kanjeng Rama".."
Dan terdengar isak tangisnya! Akan tetapi hanya sebentar karena kini pangeran itu berkata lagi.
"Kanjeng Rama, hamba ingin bersenang-senang saja"""Dan diapun tertawa-tawa.
"Astagfirullah aladziimm""..!"
Sang Prabu Hanykrowati mohon ampun kepada Gusti Allah dan diapun menyadari apa yang telah terjadi.
Dalam kemarahannya tadi, dia telah mengeluarkan kata-kata kutukan dan kini puteranya itu benar-benar telah menjadi gila!
Ucapan seorang ayah atau ibu mengandung kekuatan yang amat hebat, apa lagi keluar dari hati seorang raja besar ytelah mendapatkan wahyu dari Gusti Allah untuk menjadi pemimpin rakyat.
Namun, sekali mengeluarkan ucapan tidak mungkin dapat ditarik kembali dan raja itu hanya dapat memandang puteranya dengan hati yang seperti ditusuk-tusuk rasanya.
Raden Mas Martapura memang bersikap aneh.
Dia mengangkat muka, memandang ke sekeliling, tertawa ha-ha-he-he, lalu menyembah ke arah Sang Prabu Hanyokrowati.
"Kanjeng Rama, hamba mohon diri""."
Dan diapun bangkit dan berjalan pergi melalui pintu tembusan diikuti oleh pandang mata sang ayah yang kini baru menyadari bahwa dia telah meracuni puteranya sendiri dengan limpahan kasih sayang yang hanya merusak kepribadian puteranya itu sehingga menjadi manja, tinggi hati dan batinnya lemah.
"Ya Allah, Gusti Maha Agung".. segala kehendakMU terjadilah""."
Dia meratap di dalam hatinya. Kemudian dia berkata dengan suara lembut kepada para selirnya.
"Kalian semua harus mandi keramas, kemudian berpuasa selama tiga hari, baru boleh memperlihatkan diri kepadaku."
Para selir sambil menangis menaati perintah itu dan Sang Prabu Hanyokrowati lalu kembali ke istana.
Peritiwa yang nampaknya sepele ini ternyata kemudian mengubah jalannya sejarah seperti yang telah diatur oleh Sang Prabu Hanyokrowati.
Biarpun Raden Mas Martapura sudah diangkat menjadi pangeran mahkota dan ditentukan bahwa dia yang kelak menggantikan ayahnya menjadi raja di Mataram, akan tetapi karena pikirannya tidak waras lagi, karena dia telah menjadi seorang yang lebih sering bersikap seperti orang gila, tentu saja tidak mungkin mendudukkan dia sebagai raja dan kelak, sebagaimana tercatat dalam sejarah, yang menggantikan Sang Prabu Hanyokrowati bukanlah Raden Mas Martapura, melainkan Raden Mas Rangsang, pengeran sulung yang kelak akan menjadi seorang raja yang amat terkenal, bahkan lebih besar dari pada ayahnya, yaitu Sultan Agung Senopati Ing Alaga Saidin Panatagama dengan julukan Sang Prabu Pandita Anyakrakusuma!
Dalam peritiwa ini kembali terbukti akan kebesaran dan keagungan kekuasaan Tuhan!
Betapapun pandainya manusia, betapapun pintarnya manusia mengatur dan merencanakan sesuatu, namun akhirnya Kekuasaan Tuhan yang akan menentukan segalanya, sungguhpun semua akibat itu bukan tanpa sebab dan sebabnya terletak dalam sepak terjang si manusia sendiri dalam hidupnya.
Oleh karena itu, tidak ada yang lebih tepat bagi sikap hidup kita sehari-hari kecuali, ingat dan waspada.
Ingat selalu tanpa henti kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dengan penuh keyakinan akan kekuasaan-Nya dan menyerah dengan penuh kepasrahan, keihklasan dan ketawakalan, dan waspada akan langkah hidupnya setiap saat sehingga kita tidak akan lengah dan tahu benar apa bila langkah hidup ini menyeleweng atau menyimpang dari kebenaran yang sudah digariskan dalam setiap agama atau pengertian tentang perbedaan antara benar dan salah pada umumnya.
Walaupun pengetahuan hati akal pikiran tidak mungkin mampu mengusai nafsu yang sudah mencengkeram diri setiap orang manusia, namun dengan penyerahan yang sepenuhnya lahir batin, maka Kekuasaan Tuhan yang akan bekerja selaras dengan kehendak Tuhan.
Malam terang bulan purnama.
Indah nian permukaan bumi yang mandi cahaya bulan purnama.
Terang namun lembut dan dingin, berbeda dengan terangnya matahari di siang hari yang keras garang dan panas.
Tepatlah perbandingan yang dikatakan orang bahwa matahari adalah "raja"
Dan bulan adalah "ratu"
Atau dewi.
Begitu indah, lembut dan suasana menjadi tenang dan penuh keriangan apabila bulan purnama muncul di angkasa.
Di dalam sebuah gubuk di tengah ladang yang sunyi, di luar pintu gerbang kota raja, nampak duduk dua orang yang sedang bercakap-cakap.
Dari jauh, mereka kelihatan seperti dua orang petani yang sedang menikmati bulan purnama di gubuk itu.
Akan tetapi andaikata ada yang sempat mendekati mereka, orang itu tentu akan terkejut mengenal bahwa seorang di antara mereka adalah Raden Mas Rangsang, pangeran sulung itu.
Dan lebih mengejutkan orang lagi, yang duduk di depannya, keduanya bersila, di dalam gubuk bambu yang terbuka itu, adalah seorang yang berpakaian serba hitam dan mukanya tertutup kedok.
Si Kedok Hitam yang kemunculannya di dalam sayembara yang diadakan Ki Sinduwening telah menggegerkan orang.
Si Kedok Hitam sedang duduk bercakap-cakap dengan Pangeran Raden Mas Rangsang!
Dan mereka bercakap-cakap demikian akrabnya!
"Berita yang kaubawa ini sungguh teramat penting, adimas,"
Kata Pangeran Raden Mas Rangsang.
"Jadi sudah pasti bahwa mereka itu hendak bergerak pada waktu pagi, lima hari lagi dan dua hari kemudian, mereka akan menyerbu Mataram di waktu malam hari?"
"Demikianlah keterangan yang saya peroleh, kakakngmas pangeran. Dan karena saya dapat mendengarnya ketika mereka mengadakan rapat penting, tentu saja hal itu sudah pasti."
Jawab Si Kedok Hitam.
"Bagus, kalau begitu besok akan kulaporkan kepada Kanjeng Rama agar diadakan perubahan siasat menghadapi mereka. Kemudian, berita apa lagi yang penting darimu, adimas?"
"Tentang Malangkoro dan gurunya. Danyang Gurita itu, kakangmas pangeran."
Pangeran itu tersenyum.
"Hemm, raksasa yang hampir memenangkan sayembara dan memboyong diajeng Mawarsih itu? Orang yang kau kalahkan dalam pertandingan? Wah, ulahmu itu membuat diajeng Mawarsih tak dapat tidur, adimas."
"Saya hanya mencegah orang kasar itu memaksakan kehendaknya, kakangmas pangeran."
"Sudahlah, akupun tidak menyalahkan engkau mencegah diajeng Mawarsih menjadi isteri orang lain. Akan tetapi, berita apa tentang Malangkoro dan Danyang Gurita?"
"Ketika saya bertanding melawan Malangkoro, saya melihat dia menggunakan jurus dari Aji Tirtadahana (Air Api)"""
"Ahh!"
Raden Mas Rangang memotong.
Bagaimana mungkin itu?
Tirtadahana adalah aji yang dirangkai oleh Eyang Sunan Kalijogo!
"Itulah sebabnya saya menjadi terkejut, heran dan ingin sekali menyelidiki, kakang-mas.
Malangkoro adalah murid Danyang Gurita, dan kakek itu adalah seorang pertapa ahli sihir dan ilmu hitam.
Bagaimana mungkin Malangkoro dapat melakukan serangan Aji Tirtadahana?
Saya lalu pergi ke tempat asal mereka, di pantai Laut Selatan.
Ternyata kemudian bahwa Danyang Gurita pernah bentrok dengan Eyang Sunan dan dikalahkan lalu menakluk.
Kemudian, karena Eyang Sunan Kalijogo melihat bahwa Danyang Gurita mau bertaubat, maka beliau berkenan mengajarkan beberapa jurus dari Tirtadahana.
Nah, kakek itu lalu mengajarkan pula kepada muridnya, si Malangkoro.
Akan tetapi bukan hal ini yang terpenting dalam hasil penyelidikan saya, kakangmas pangeran."
"Ada yang lebih penting lagi? Wah, andika memang seorang penyelidik yang ulung dan mahir, adimas! Ceritakan, apa lagi yang kau ketemukan dalam penyelidikanmu?"
Kakangmas, ternyata bahwa Malangkoro dan gurunya adalah mata-mata yang sengaja dikirim oleh Sang Adipati Ponorogo."
"Eladhalah!"
Pangeran Raden Mas Rangsang berseru kaget.
"Sungguh cerdik sekali Paman Adipati Ponorogo! Paman Sinduwening mengadakan sayembara untuk menghimpun tenaga, Paman Adipati mempergunakan kesempatan itu untuk menyelundupkan mata-mata yang menjadi peserta sayembara. Dan Malangkoro berhasil memperoleh kedudukan dalam pasukan kita karena kedigdayaannya. Hemm, aku mengerti sekarang mengapa mereka hendak melakukan serbuan mendadak. Tentu mereka sudah mendengar tentang rancana penyerbuan pasukan kita ke Ponorogo dan mereka sengaja hendak mendahului."
"Kakangmas Pangeran bijaksana dan cerdik pandai, tentu telah dapat mengambil kesimpulan dan tahu apa yang harus dilakukan. Kakangmas tentu maklum bahwa sampai sekarang, saya tetap dapat menjauhkan diri dari keterlibatan perang saudara yang amat menyedihkan ini."
Pangeran sulung itu mengangguk.
"Aku mengerti akan keadaanmu dan perasaan hatimu, adimas. Perasaanmu terpecah antara Mataram dan Ponorogo yang sesungguhnya tidak merupakan daerah terpisah dan andika tidak mau terlibat karena berat terhadap keduanya. Akan tetapi biarpun tidak langsung terlibat, andika membantu Mataram dengan keteranganketerangan, hanya karena andika melihat betapa Paman Adipati Ponorogo dipengaruhi orang-orang yang hendak memancing di air keruh, orang-orang yang menghendaki pecahnya perang saudara. Kami juga akan menuntut andika untuk membantu kami berperang, adimas. Akan tetapi, menurut pikiranmu, bagaimana baiknya dengan Malangkoro? Apakah sebaiknya kalau dia sekarang juga kutangkap?"
"Sebaiknya jangan, kakangmas. Lebih baik kita berpura-pura tidak tahu saja, dan nanti apabila terjadi pertempuran, saya yang akan mengamatinya kalau-kalau dia melakukan pengkhinatan yang merugikan Mataram."
"Baiklah kalau begitu. Akan tetapi, karena antara kita jarang mendapat kesempatan untuk saling jumpa, ingin sekali aku mempergunakan kesempatan ini untuk minta nasihatmu tentang diajeng Dyah Ayu Ratu Pandan. Sejak andika menjauhkan diri dan tidak pernah nampak lagi, bahkan kemudian selalu bersembunyi sebagai Si Kedok Hitam, ia seringkali bertanya kepadaku di mana andika berada, dan ia merasa amat rindu kepadamu. Aku yakin benar bahwa ia amat mencintamu, adimas."
"Aduh Gusti, hati ini seperti diremas kalau teringat kepada diajeng Ratu Pandan, kakangmas. Tentu kakangmas maklum bahwa tidak mungkin"""
"Aku tahu, adimas, dan sampai sekarang, hanya aku seorang yang mengetahui rahasiamu. Bahkan Kanjeng Rama sendiri belum tahu. Dan akupun memenuhi permintaanmu agar aku tidak menceritakan kepada orang lain. Lalu bagaimana baiknya dengan diajeng Ratu Pandan? Apakah sebaiknya kalau kuceritakan saja kepadanya tentang rahasiamu agar ia tidak mengharapkanmu lagi?"
"Jangan, kakangmas! Belum tiba saatnya. Nanti setelah pertempuran melawan Ponorogo selesai, saya akan menceritakan segalanya kepada semua orang. Kalau sekarang diceritakan, tentu akan menimbulkan kerisauan dan hal itu amat tidak baik selagi kita berdua berada dalam keadaan tegang dan gawat menghadapi perang saudara."
"Baiklah, adimas. Dan sekarang tentang diajeng Mawarsih. Kalau memang kalian sudah saling mencinta, akupun mau menjadi perantara untuk mengajukan pinangan".."
"Ahhh, kakangmas pangeran. Bagaimana mungkin seorang gadis dapat mencinta seseorang yang selama hidupnya belum pernah dilihat wajahnya? Kalau belum yakin benar bahwa ia mencinta saya, bagaimana saya akan berani mengajukan pinangan? Hal itupun nanti saja kita bicarakan setelah pertempuran yang menyedihkan hati kita ini berakhir."
Raden Mas Rangsang tertawa, lalu merenung memandang bulan dan berkata seperti kepada diri sendiri.
"Wahai Sang Dewi Ratri (Dewi Malam), Sang Dewi Candra Purnama (Bulan Purnama), betapa penuh rahasia cahayamu nan indah gemilang, seperti rahasia yang terpendapat dalam cinta kasih! Ada orang jatuh cinta karena wajah dan tubuh yang indah, karena memang kita suka akan keindahan! Ada yang jatuh cinta karena budi kebaikan, karena memang kita suka kalau diperlakukan baik oleh orang lain. Ada yang jatuh cinta karena harta atau kedudukan, karena memang kita suka memiliki harta atau kedudukan. Semua itu sama saja, karena dasarnya adalah kesenangan. Akan tetapi ada cinta karena cinta, kerena sesuatu terjadi di dalam batin, dan cinta inilah yang membuat orang yang dicinta selalu nampak indah, selalu nampak baik dan harta atau kedudukan tidak masuk hitungan, lagi. Andika orang yang penuh rahasia, adimas, ingin sekali aku mengetahui, kalau andika jatuh cinta, entah pada golongan mana andika berdiri."
"Saya tidak tahu, kakangmas. Dalam urusan cinta, agaknya saya masih harus belajar dari kakangmas, karena saya tidak mempunyai pengalaman sama sekali."
Jawab Si Kedok Hitam.
Pangeran sulung itu hanya tertawa dan merekapun meninggalkan gubuk itu, saling berpisah.
Raden Mas Rangsang kembali ke kota raja sedangkan Si Kedok Hitam pergi ke arah timur.
Di bawah sinar bulan purnama, Si Kedok Hitam berjalan seorang diri.
Dia berjalan sambil melamun.
Selama menjadi adik seperguruan Raden Mas Rangsang, pangeran itu telah banyak memberi bimbingan kepadanya, baik mengenai aji kesaktian maupun kebijaksanaan.
Dan dia bertemu dengan Dyah Ayu Ratu Pandan, adik bungsu pangeran itu.
Oleh Pangeran Raden Mas Rangsang, mereka diperkenalkan dan sejak perkenalan itu, puteri kedaton itu nampak akrab dengannya dan diapun merasa betapa puteri kedaton itu menyukainya.
Hal ini amat merisaukan hatinya karena terdapat sebuah rahasia pada dirinya yang membuat dia tidak mungkin dapat berjodoh dengan sang puteri.
Dan rahasia itu hanya diketahui Raden Mas Rangsang seorang.
Sejak dia yakin bahwa puteri itu jatuh cinta kepadanya, dia lalu lenyap dari pergaulan umum dan muncullah dia sebagai Si Kedok Hitam.
Hal ini pertama kali dia lakukan agar sang puteri tidak lagi dapat bergaul dengannya, dan ke dua kalinya, dia dapat melakukan bentuan kepada Mataram tanpa harus memperlihatkan diri, baik kepada pihak Mataram maupun pihak Ponorogo.
Kalau melihat ayah kandungnya orang Mataram, tentu dia harus memihak Mataram.
Akan tetapi ibu kandungnya adalah orang Ponorogo sehingga diapun tidak tega untuk memusuhi Ponorogo.
Dan keadaannya itu hanya diketahui oleh Raden Mas Rangsang.
Pendiriannya sama dengan pengeran itu, bahwa perang saudara antara Mataram dan Ponorogo itu merupakan suatu keadaan yang menyedihkan.
Sang Adipati Jayaraga dari Ponorogo adalah adik sendiri dari Raden Mas Jolang yang sekarang menjadi Sang Prabu Hanyokrowati.
Ketika menyadari bahwa dia tenggelam ke dalam renungan dan kenangan, Si Kedok Hitam mencela diri sendiri dan dia lalu berlari cepat, mempergunakan aji berlari cepat sehingga tubuhnya melesat ke dalam cahaya bulan, seperti seekor rusa muda.
Sebentar saja bayangan hitam itupun lenyap.
Bulan sudah tidak purnama lagi, namun masih memancarkan cahayanya yang terang karena baru lewat tiga hari purnama.
Di dusun Ngampil, semua penghuninya sudah tidak nampak di luar rumah.
Malam telah larut dan keadaan di dusun kecil seperti dusun Ngampil memang demikian.
Di dusun, berbeda dengan keadaan di kota, tidak terdapat tempat-tempat hiburan yang dapat ditonton, tidak terdapat pula warung-warung tempat jajan.
Karena itu, para penghuni dusun lebih senang berada di dalam rumah, baik untuk bergadang maupun tidur sore-sore.
Apa lagi malam itu hawanya memang dingin sekali.
Malam terang bulan dengan hawa udara sedingin itu merupakan malam yang indah sekali bagi sepasang pengantin baru seperti Bargowo dan Suminten yang pernah terkenal sebagai ledhek dari Pacitan yang bernama Madularas.
Baru sebulan mereka menikah dengan sederhana di dusun Ngampil dan tinggal di sebuah rumah yang tidak terlalu besar namun cukup menjadi tempat tinggal mereka berdua bersama Bibi Warsinah, yaitu bibi dari Suminten yang kini ikut keponakannya yang sudah yatim piatu itu.
Bargowo masih memimpin perkumpulan Dayatirta dan kurang lebih tiga puluh orang anggotanya tersebar di sekitar daerah itu, ada pula yang tinggal di dusun Ngampil, dan ada pula yang tinggal di dusun-dusun yang berdekatan.
Biarpun kini kakaknya, Santiko, telah meningalkan Bargowo dan ada belasan orang anggota perkumpulan Dayatirta mengikuti jejak Santiko meninggalkan perkumpulan itu, namun perkumpulan itu masih berdiri di bawah pimpinan Bargowo.
Biarpun sejak ia remaja Suminten sudah bekerja sebagai ledek yang pandai menari dan bernyanyi (Lanjut ke
Jilid 14) Kidung Senja Di Mataram (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 14 dengan suara merdu, namun tidak seperti para ledek pada umumnya di waktu itu, Suminten selalu pandai menjaga diri dan tidak pernah mau disentuh pria, apa lagi disuruh melayani dalam pergaulan yang mesra.
Ia selalu menolak sehingga ia adalah seorang gadis murni ketika menikah dengan Bargowo, suaminya yang dipilihnya karena saling mencinta dan juga terutama karena ia telah berhutang budi itu.
Dan Bargowo yang telah berusia tiga puluh tahun, seorang pria yang matang, tampan dan lembut, bersikap lembut sekali sehingga Suminten memasuki kehidupan baru sebagai isteri dengan penuh kebahagiaan.
Malam itu, belum juga tengah malam, suami isteri pengantin baru ini telah tidur pulas dengan senyum kepuasaan dan kebahagiaan di bibir mereka.
Mereka tidak tahu bahwa Bibi Warsinah gelisah dalam kamarnya di belakang, tak juga dapat pulas, hal yang tidak seperti biasanya dan beberapa kali ia bangun duduk dengan hati merasa tidak enak.
Malam itu sunyi, dan biarpun bulan bercahaya terang, namun kesunyiaan melengang itu mendatangkan suasana yang menyeramkan.
Apa lagi ketika terdengar suara anjing melolong, kebiasaan anjing-anjing yang suka melolong ke arah bulan, suasana menjadi semakin menyeramkan, bahkan mengerikan, seolah-oleh lolong anjing itu sebagai peringatan kepada para penduduk dusun Ngampil bahwa setan-setan yang gentayangan sedang berkeliaran mencari korban.
Empat orang penduduk dusun Ngampil yang mendapat giliran meronda pada malam hari itu, mulai mengantuk dan mereka duduk di dalam gardu penjagaan, merasa seram juga mendengar lolong anjing itu.
Perondaan tiap malam diadakan secara bergilir atas prakarsa Bargowo sebagai ketua perkumpulan Dayatirta.
Kalau ada penduduk dusun itu yang kebetulan berada di luar dusun, tentu dia akan lari tunggang-langgang melihat gerombolan bayang-bayang hitam yang datang menuju ke dusun ituMereka terdiri dari kurang lebih lima puluh orang dan di dalam sinar bulan yang dari jauh nremang-remang itu, mereka menambah seramnya suasana, seolah mereka itu adalah segerombolan iblis yang datang hendak mengganggu ketentraman dusun Ngampil.
Sesungguhnya,iblis tidak akan kelihatan jahat sebelum dia menguasai seorang manusia karena iblis sendiri tidak kuasa berbuat jahat.
Akan tetapi, kalau iblis sudah menguasai hati manusia, barulah iblis mempergunakan tubuh manusia untuk melakukan kejahatan.
Dan gerombolan orang yang menghampiri dusun Ngampil itu adalah serombongan manusia!
Mereka dipimpin oleh seorang pria yang bertubuh tinggi besar dan wajahnya dihias brewok sehingga dia nampak jantan, gagah dan menyeramkan.
Orang ini bukan lain adalah Santiko!
Sebulan lebih yang lalu, Santiko pergi meninggalkan perkumpulan Dayatirta diikuti belasan orang anak buahnya ketika dia dengan marah harus mengakui kekalahan dalam memperebutkan cinta kasih Suminten dari adiknya sendiri, yaitu Bargowo.
Dia pargi membawa perasaan cemburu dan iri hati yang makin lama semakin membara menjadi dendam.
Nafsu menggelitik hati dan akal pikirannya, mengobarkan api dendam yang membuat Santiko hampir gila.
Makin dikenang, semakin terbayanglah dia akan wajah Suminten yang cantik jelita, tubuhnya yang menggairahkan.
Dan semakin marahlah dia kepada adiknya yang dianggapnya telah merampas Suminten dari tangannya, kemarahan yang lambat laun menjadi dendam kebencian.
"Aku harus mendapatkan Suminten!"
Akhirnya, setelah tersiksa batinnya selama sebulan, dia mengambil keputusan bulat.
"Aku tidak dapat hidup tanpa Suminten!"
Dendam meracuni hati manusia, menggelapkan hati nuraninya dan mengguncang pertimbangan akal budi sehingga menjadi miring.
Santiko berubah sama sekali!
Dia sudah lupa akan keputusan yang diambilnya bersama Bargowo bahwa mereka berdua tidak akan melibatkan diri dengan perang saudara antara Mataram dan Ponorogo, dan hanya bersikap sebagai ksatria yang melindungi yang lemah tertindih, menentang yang jahat dan mempertahankan kebenaran dan keadilan tanpa mencampuri perang saudara yang saling memperebutkan kekuasaan.
Dia segera pergi berkunjug ke Ponorogo dan diterima dengan penuh kegembiraan oleh adik seperguruannya, yaitu Raden Nurseta dan juga oleh Mayaresmi, bekas isteri guru mereka, Ki Ageng Jayagiri yang kini menjadi kekasih Nurseta dan bersamasama membantu Adipati Jayaraga dari Ponorogo.
"Ah, kami merasa berbahagia sekali bahwa andika telah menyadari bahwa sudah menjadi kewajiban kita untuk berbakti kepada Ponorogo, kakang Santiko. Akan tetapi, akan lebih baik kalau kakang Bargowo juga dapat diajak untuk bekerja sama."
"Hemm, dia telah menjadi pengkhianat, dia berpihak kepada Mataram!"
Kata Santiko dengan geram, akan tetapi kemarahannya bukan karena seperti yang dikatakannya itu, melainkan karena Suminten.
"Kalau begitu, dia perlu dihukum, Kakang Santiko. Sebaiknya kalau andika membawa pasukan dan mendatanginya. Sukur kalau dia mau membantu Ponorogo. Kalau berkeras tidak mau, sebaiknya ditangkap sebagai pengkhianat."
Kata Nurseta penasaran.
Demikianlah, malam itu Santiko membawa anak buahnya ditambah pasukan Ponorogo yang jumlahnya semua kurang lebih lima puluh orang untuk melaksanakan tugas pertamanya yang dia terima dari adik seperguruannya, Raden Nurseta yang kini telah menjadi seorang senopati muda Ponorogo.
Akan tetapi di balik inti tugasnya itu tersimpan rahasia hatinya, yaitu gerakannya itu terutama sekali untuk merampas Suminten dari tangan adiknya!
Lolong anjing yang tadi seperti ratapan yang ditujukan kepada bulan, kini bertambah ramai, bukan lolong lagi melainkan gonggongan anjing yang marah atau ketakutan.
Agaknya anjing-anjing di dusun itu telah mengetahui akan datangnya segerombolan orang itu yang kini sudah memasuki pintu gerbang dusun.
Empat orang peronda yang tadinya duduk saja di gardu, kini bangkit dan mereka mengambil keputusan untuk melakukan perondaan.
Dusun itu biasanya aman.
Tidak ada penjahat berani beraksi di daerah itu karena mereka takut kepada perkumpulan orang gagah Dayatirta.
Bargowo mengusulkan diadakan perondaan karena keadaan yang gawat dengan adanya ancaman perang antara Ponorogo dan Mataram, dan biasanya, kalau terjadi perang, maka para penjahat akan keluar dan berkeliaran dan mengganas tempat-tempat yang tidak ada petugas keamanannya.
Baca Juga: Kisah Pendekar Bongkok 6
Baca Juga: Dara Baju Merah 3