Eps 4 Kaki Tiga Menjangan - Chin Yung
Baca online Kaki Tiga Menjangan - Chin Yung
Cersil Kaki Tiga Menjangan - Chin Yung.
Satu bulan lebih kembali berlalu, dari tujuh puluh dua gambar yang tertera dalam kitab Hay kongkong, dia sudah menguasai dua puluh satu di antaranya.
Dia merasa tubuhnya segar dan ringan, gerakan kakinya cepat dan ini membuat hati Siau Po menjadi gembira.
Pada suatu hari, Siau Po pergi lagi ke kedai teh.
Dia ingin mendengar kisah yang dituturkan si tukang dongeng, Kisah yang dituturkannya masih "Eng Liat-toan"
Pelayan kedai itu sudah menyediakan tempat duduk karena mereka semua tahu bahwa dia adalah thay-kam kesayangan Sri Baginda, Siau Po selalu disajikan teh yang baik.
Dia juga merasa senang karena orang-orang di sana sangat menghormatinya, Sedikitsedikit dia dipanggil Kongkong, Siau Po sedang mendengarkan dengan asyik, ketika ada seseorang yang berdiri di sisinya sambil berkata.
"Numpang duduk!"
Siau Po menolehkan kepalanya dan dia melihat seseorang sudah duduk di sebelahnya.
Bocah itu jadi kurang senang, sepasang alisnya menjungkit ke atas.
Orang itu tidak menghiraukan sikap kurang senang yang diperlihatkan Siau Po.
Dia malah berkata dengan suara perlahan.
"Aku yang rendah mempunyai koyo yang mujarab dan ingin kujual kepada kongkong. Coba kongkong lihat dulu!"
Siau Po memperhatikan, dia melihat orang itu meletakkan koyo di atas meja. Yang aneh, koyo itu warnanya separuh merah dan separuhnya lagi hijau, Siau Po langsung bertanya.
"Obat apakah itu?"
"Ini obat untuk menghilangkan racun dan menyembuhkan mata yang buta sehingga melek kembali sahut orang itu, Dengan suara yang lirih dia menambahkan "
Ada namanya, Ki-ceng Hok-beng!"
"Ki-ceng hok-beng" , adalah kata-kata sandi perkumpulan Tian-te hwe Arti sebenarnya memang memusnahkan racun dan membuat mata buta melek kembali Tetapi bagi perkumpulan Tian-te hwe sendiri artinya lain lagi, yaitu mengusir Ceng dan membangun kembali Beng. Siau Po memperhatikan orang itu Iekat-lekat. Usianya sekitar tiga puluh tahun, tampangnya gagah, dengan demikian orang itu berbeda dengan apa yang pernah dilukiskan oleh gurunya. Menurut gurunya Ci lotau orangnya sudah tua, Tapi dia bertanya juga.
"Berapa harga obatmu ini?"
"Tiga tail uang perak dan tiga tail uang emas."
"Apakah kau mau menjualnya dengan harga lima tail uang perak dan lima tail uang emas?"
"Apakah tawaran itu tidak terlalu tinggi?"
"Tidak tinggi, tidak tinggi! Asal obatnya benar-benar manjur, dapat menghilangkan segala macam racun dan dapat pula membuat mata yang buta melek kembali. Bahkan jika benar-benar demikian manjur, aku bersedia menjadi kerbau atau kudamu! Sama sekali tidak mahal!"
Sahut Siau Po. Orang itu mendorong obatnya ke hadapan Siau Po sambil berkata lagi dengan suara lirih.
"Kongkong... aku ingin bicara denganmu."
Tanpa menunggu sahutan dari Siau Po, dia langsung ngeloyor pergi.
Siau Po segera meletakkan uang dua ratus bun di atas meja, Setelah itu dia bangun dan berjalan pergi, Orang itu berdiri di depan kedai, Melihat Siau Po melangkah keluar, dia segera menuju ke arah timur.
Kemudian dia menikung ke sebuah gang kecil, Di tengah jalan dia menghentikan langkah kakinya.
"Bumi bergetar, tanjakan tinggi, parit di pegunungan indah,"
Kata nya. Mendengar ucapannya, Siau Po langsung menyahut.
"Pintu menghadap laut besar. Tiga sungai mengalir menjadi satu laksaan tahun lamanya."
Tan-pa menanti jawaban orang itu, dia bertanya.
"Tuan, ini paseban merah, tuan dari ruang yang mana?"
"Aku dari Ruang Bunga Merah."
"Berapa hio yang disulut dalam ruangan itu?"
Tanya Siau Po kembali.
"Tiga batang!"
Sahut orang itu.
Bagian 13 Siau Po menganggukkan kepalanya, Diam-diam dia berpikir dalam hati, kedudukanmu lebih rendah dua tingkat daripadaku.
Terdengar orang itu bertanya lagi.
"Kakak, apakah kakak ini Wi hiocu yang menyulut lima batang hio dari Ruang Kayu Hijau?"
"Benar!"
Sahut Siau Po. Diam-diam dia berpikir kembali "Usiamu lebih jauh tua, tapi kau memanggilku kakak. Enak sekali didengarnya! Mengapa tidak sekalian saja memanggil kakek atau paman ?"
"Aku yang rendah she Kho bernama Gan-tiau dari Hong-hua tong. Sudah lama aku mendengar nama besar Wi hiocu, namun sampai sekarang baru sempat bertemu muka, ini benar-benar keberuntungan bagiku!"
Kata orang itu. Tentu saja Siau Po senang sekali, tapi dia memang pandai menutupinya.
"Kakak Kho hanya memuji saja! Kita toh orang-orang sendiri, jangan kau sungkan!"
"Wi hiocu, di dalam tong kakak ada seorang saudara Ci yang biasa menjual koyo di Thianko, Hari ini dia telah diserang oleh seseorang sehingga terluka parah. Karena itulah aku sengaja datang untuk melaporkan kepada kakak!"
Kata orang she Kho itu. Siau Po terkejut setengah mati.
"Aku tahu saudara Ci itu,"
Katanya.
"Selama ini aku selalu sibuk sehingga belum sempat aku menemuinya. Bagaimana lukanya dan siapa yang menyerangnya ?"
"Kita tidak bisa berbicara di sini."
Kata orang she Kho itu.
"Silahkan hiocu ikut denganku!"
Siau Po menganggukkan kepalanya.
Dia langsung mengikuti di belakang orang itu.
setelah melewati tujuh delapan gang, Gan Tiau sampai di sebuah lorong kecil, Mereka masuk ke dalam sebuah toko obat yang atasnya terdapat tiga huruf besar namun tidak dimengerti oleh Siau Po.
Di dalam Kho Gan-tiau berbisik kepada seseorang yang tubuhnya gemuk.
Terdengar orang itu menyahut.
"Ya, ya!"
Beberapa kali, Setelah itu dia mengangguk kepada para tamunya dan berkata.
"Tuan sekalian ingin membeli obat pilihan, silahkan masuk ke dalam!"
Dia pun mengantarkan tamu-tamunya ke dalam setelah merapatkan pintu.
Di dalam ruangan, orang itu membuka papan lantai yang kemudian terlihatlah sebuah celah gelap.
Setelah itu dia turun ke bawah lewat undakan batu yang terdapat di dalamnya.
Ruangan bawah tanah itu demikian gelap sehingga Siau Po merasa curiga, Diamdiam dia berkata dalam hatinya.
"Benarkah mereka ini orang-orang Tian-te hwe? Celaka kalau tempat ini rumah jagal..."
Meskipun demikian, dia tetap mengikuti di belakang Kho Gan-tiau.
Untunglah setelah berjalan sepuluh langkah, mereka sudah sampai di depan sebuah pintu, Si pengantar membuka pintu tersebut kemudian mengajak mereka masuk ke dalamnya, Ruangan itu mempunyai penerangan sehingga semuanya dapat terlihat jelas.
Ukurannya kecil, jumlah orang di dalamnya ada lima, sedangkan orang keenam sedang terbaring di atas sebuah balai-balai yang rendah.
Dengan bertambahnya tiga orang, ruangan itu menjadi sesak "Saudara-saudara, inilah Wi hiocu dari Ceng-bok tong!"
Kata Kho Gan-tiau memperkenalkan.
Kelima orang itu segera bangkit dan memberi hormat serta menyambut kedatangan Siau Po dengan gembira, Siau Po merangkapkan sepasang tangannya dan membalas dengan menjura.
Gan Tiau menunjuk kepada orang yang terbaring di atas balai-balai.
"ltu kakak Ci, karena sedang terluka dia tidak dapat memberi hormat kepada hiocu!"
"Tidak apa, tidak apa,"
Sahut Siau Po yang segera menghampiri orang itu.
Wajah si Ci pucat sekali, seperti tidak ada darah yang mengalir dalam tubuhnya, sepasang matanya dipejamkan rapat-rapat.
Nafasnya perlahan sekali, ada noda darah di permukaan kumisnya yang sudah memutih.
"Siapakah yang melukai kakak Ci ini?"
Tanya Siau Po.
"Apakah begundal Tatcu?"
"Bukan,"
Sahut Gan Tiau sambil menggelengkan kepalanya.
"Yang melukainya adalah orangnya Bhok ong-ya dari Inlam."
Hati Siau Po benar-benar tercekat mendengarnya. Dia benar-benar tidak habis mengerti dibuatnya.
"Orangnya Bhok ong-ya dari Inlam? Bukankah keluarga itu juga para pecinta negara seperti halnya kita?"
Tanyanya kemudian.
Gan Tiau menggelengkan kepalanya.
"Menurut kakak Ci, ketika dengan susah payah dia berhasil kembali ke rumah obat Hwe-cun tong ini, dengan terputus-putus dia sempat mengatakan bahwa orang yang melukainya adalah dua anak muda she Pek dari Bhok ong-ya."
"She Pek?"
Tanya Siau Po menegaskan "Bukankah mereka adalah putra-putra salah satu dari keempat Keciang keluarga Bhok?"
"Bisa jadi."
Sahut Gan Tiau.
"Menurut kakak Ci, pertikaian mula-mula terjadi karena kedua pihak berdebat soal Tong dan Kui. Saking sengitnya, mereka bercekcok, akhirnya mereka jadi menggunakan kekerasan otomatis dengan seorang diri kakak Ci tidak sanggup melawan dua pengeroyoknya itu."
"Dua orang mengeroyok seorang lawan bukanlah perbuatan yang gagah!"
Kata Siau Po.
"Tapi, apakah Tong dan Kui itu?"
Kho Gan-tiau segera menjelaskan.
"Bhok ong-ya termasuk keluarga yang mendukung Kui ong. sedangkan kami dari pihak Tian-te hwe dulunya merupakan bawahan Tong ong. Kakak Ci bertempur justru karena ingin membela pangeran junjungannya."
Siau Po masih belum mengerti juga.
"Apa yang dimaksud dengan orang-orangnya Kui ong dan Tong ong?"
Kho Gan Tiau menjelaskan lebih lanjut "Kui ong bukanlah raja yang sah. Tong ong kami barulah raja yang sesungguhnya!"
Di antara kelima orang yang sejak semula sudah ada dalam ruangan itu, terdapat seorang tojin berusia kurang lebih lima puluh tahun.
Dia merasa keterangan yang diberikan Kho Gan-tiau kurang jelas, karena itu dia segera menukas.
"Wi hiocu, ketika dulu Lie Cong menyerbu ke kota raja Peking dan memaksakan kematian kaisar Cong Ceng dari dinasti Beng, Go Sam-kui juga memimpin angkatan perang kerajaan Ceng menyerbu ke Tionggoan, Dalam hal ini dia berhasil, sehingga seluruh Tionggoan kena dirampas lalu diduduki tentara musuh. Pada saat itulah, para menteri yang setia dan para orang-orang gagah mendukung anak cucunya Sri Baginda Beng thay-cou menjadi raja, Pertama-tama Hok ong dari Lam-khia yang menjadi raja. Ketika Hok ong berhasil dibunuh oleh bangsa Tatcu, di propinsi Hokkian, orang-orang mendukung Tong ong. Tong ong didukung oleh keluarga Kok-sing ya, dengan demikian dialah raja yang resmi, sementara itu, di dua propinsi Kwisay dan Inlam, ada kelompok lainnya yang mendukung Kui ong serta ada lagi kelompok ketiga di Ciatkang yang mendukung Lau ong. Merekalah raja-raja yang palsu!"
Mendengar keterangan itu, Siau Po langsung memberikan komentar.
"Langit tidak mungkin dihuni dua matahari dan rakyat pun tidak bisa di bawah pimpinan dua orang raja, Kalau sudah ada Tong ong, maka Kui ong dan Lau ong tidak boleh dipilih lagi."
"Memang!"
Kata Gan Tiau.
"Apa yang dikatakan hiocu tepat sekali!"
"Tapi pihak Kwisay dan Ciatkang mempunyai pikiran yang berbeda, mereka tamak akan kedudukan tinggl, mereka berkeras bahwa pangeran-pangeran yang didukung oleh pihak masing-masinglah raja yang sah!"
Tojin itu menghentikan kata-katanya sejenak, setelah mengatur pernafasan, dia baru melanjutkan kembali.
"Apa yang terjadi kemudian? Baik Tong ong, Kui ong maupun Lau ong mengalami kegagalan. Tapi sampai sekarang semua orang masih tidak mau berhenti berusaha, mereka sibuk mencari turunan dari ketiga raja tersebut untuk dipilih kembali. Bangsa Han tetap ingin membangun kerajaan Beng, untuk itu tentu saja kerajaan Ceng harus diusir dulu. Ketiga pihak tetap mendukung junjungan masing-masing, Pihak yang pro kepada Kui ong dan Lau ong mengatakan Tian te hwe sebagai pendukung Tong ong. Hal ini memang tidak salah, karena kitalah sah. Pihak yang mendukung Kui ong dan Lau ong hanya ingin merebut kedudukan saja,"
"Oh! sekarang aku mengerti...,"
Kata Siau Po menganggukkan kepalanya.
"Jadi pihak Bhok ong-hu merupakan kelompok yang mendukung Kui ong, bukan?"
"Benar!"
Sahut tojin itu.
"Selama belasan tahun, tiga kelompok ini terus berebutan satu dengan lainnya."
Siau Po teringat ketika-mengadakan perjalanan dengan Mau Sip-pat, di sebelah utara Kangou mereka bertemu dengan kedua kakak beradik she Pek.
Di sebabkan sedikit ucapannya, Siau Po sampai kena dicambuki Mau Sip-pat habis-habisan.
Sejak itu kesannya kepada kedua saudara Pek sudah kurang baik.
"Kalau Tong ong adalah raja yang sah, kedua kelompok lainnya tidak patut memperebutkannya lagi, Bukankah menurut kata orang Bhok ong-ya itu berhati mulia?
Aku khawatir, kalau suatu hari beliau menutup mata, mungkin orang-orangnya akan main gila"
"Apa yang dikatakan Wi hiocu memang benar."
Kata Gan Tiau dan yang lainnya serentak.
"Sebenarnya para orang-orang gagah dalam dunia kangouw selalu menghormati Bhok ong-ya."
Kata tojin itu melanjutkan keterangannya.
"Buktinya kalau ada yang melihat bendera putih dengan sulaman biru, orang selalu mengalah. Mungkin hal itulah yang membuat orang-orang Bhok ong-ya menjadi besar kepala, sehingga sikap mereka menjadi garang, itulah sebabnya kesabaran kakak Ci jadi habis. Sejak dulu sampai sekarang, kakak Ci memang sangat menghormati Tong ong, tentu dia tidak senang pangeran pujaannya dicela orang lain. Perasaan kakak Ci sangat halus, mendengar orang menyebut nama almarhum Sri Baginda saja, air matanya langsung menetes."
"Tadi kakak Ci sempat tersadar sebentar dan mengharap kita semua akan membalaskan sakit hatinya."
Tukas Kho Gan-tiau.
"Sekarang, orang yang berwenang di wilayah ini hanya Wi hiocu seorang. Karena itu pula, menurut peraturan, kami harus melaporkan hal ini kepadamu. Yang menjadi masalah, justru yang kita hadapi adalah pihak Bhok onghu yang merupakan pecinta negara seperti haInya kita, Coba kalau orang lain yang menjadi lawan kita, urusannya tentu tidak sepelik ini."
Siau Po hanya mendengarkan dengan berdiam diri.
"Kata kakak Ci, sebetulnya sudah sejak beberapa bulan yang lalu dia mengharapkan kedatangan Wi hiocu, Dia melihat hiocu berbelanja atau mendengar cerita di kedai teh...."
"Oh rupanya dia telah melihat aku...."
"Ya,"
Kata Gan Tiau.
"Menurut kakak Ci, apabila Wi hiocu mempunyai keperluan, tentu akan menemuinya sesuai dengan apa yang telah dikatakan Cong tocu. itulah sebabnya, meskipun dia melihat Wi hiocu, tidak berani sembarangan menyapa."
Siau Po menganggukkan kepalanya, Dia memperhatikan si Ci lekat-lekat, kemudian dia berpikir dalam hati.
"Kiranya si rase tua ini sudah mengenaliku dan sering menguntitku kemana-mana sehingga dia tahu apa saja yang kulakukan. Bagaimana kalau dia bertemu dengan suhu lalu mengoceh yang bukan-bukan? Ah, lebih baik dia tidak dapat disembuhkan lagi dan langsung mati, Dengan demikian bereslah semuanya!"
"Setelah kami berunding, akhirnya kami bersepakat untuk mengundang Wi hiocu kemari."
Kata si imam kembali "Kami berharap Wi hiocu dapat menyelesaikan urusan ini."
Mendengar kata-kata tojin itu, kembali Siau Po berpikir.
"Aku toh masih bocah cilik, memangnya apa yang bisa kulakukan?"
Biarpun begitu, Siau Po merasa bangga karena orang-orang menghormatinya. Kemudian terdengar salah satu dari kelima orang yang mula-mula ada dalam ruangan berkata.
"Pihak kami sering mengalah, karena kami menghormati Bhok ong-ya. Tapi kalau bicara tentang membela negara, Kok-sing ya kami telah membangun jasa yang banyak sekali."
"Kalau kita mengalah lima bagian, mereka harus membalasnya sepuluh bagian,"
Kata seorang lainnya sengit.
"Tapi justru karena kita mengalah, mereka jadi besar kepala. Apakah kita harus berlaku sungkan terus menerus? Kalau urusan ini tidak dapat diselesaikan, apa yang akan terjadi kelak? Pasti kita akan digilas habis-habisan dan diinjak-injak sampai kita tidak sanggup mengangkat wajah lagi di kalangan masyarakat. Lalu, pada saat itu, bagaimana kita harus melewati hari-hari? Dengan mengurung diri?"
Ketiga orang lainnya juga ikut menyatakan perasaan kurang puasnya.
"Karena itu, apa yang harus kita lakukan, terserah hiocu saja!"
Kata tojin tadi kembali.
Pandangan mata orang-orang dalam ruangan terpusat pada diri hiocu yang masih muda itu.
Siau Po sendiri kebingungan Kalau urusan lain, mungkin tidak sulit baginya untuk mengambil keputusan.
Tetapi urusan ini menyangkut perkumpulan Tian-te hwe, masalah besar, Siau Po sendiri tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
Apalagi dia tidak mempunyai pengalaman sama sekali.
Dia berbalik mengawasi orang-orang itu dengan tajam.
Tiba-tiba orang yang barusan berbicara dengan suara lantang mengembangkan senyuman, Siau Po heran.
Tadi dia sengit sekali, kenapa sekarang dia tersenyum, apa yang sedang tersirat dalam benaknya ?
Dia juga melihat sinar mata orang itu yang menyorotkan kelicikan.
Siau Po bukanlah Siau Po kalau dia tidak bisa menebak apa yang sedang terpikir oleh orang itu.
"Ah! Rupanya mereka bermaksud menyeret aku ke dalam lumpur supaya kelak apabila ada apa-apa, aku yang bertanggung jawab, seandainya ada teguran dari Cong tocu, mereka tentu akan lepas tangan. Mereka toh sudah melaporkan hal ini kepadaku dan meminta saran dariku? Tidak! Aku tidak akan membiarkan diriku terjerumus dalam siasat mereka!"
Katanya dalam hati. Bocah yang cerdik ini pura-pura menundukkan kepalanya untuk berpikir, sesaat kemudian dia baru mengangkat wajahnya dan berkata.
"Saudara sekalian, walaupun aku menjadi hio-cu, tapi jabatan itu kudapatkan secara kebetulan karena aku berhasil membunuh Go Pay. Sesungguhnya aku tidak mempunyai kepandaian apa-apa dan tidak sanggup mengajukan pemikiran apapun Lebih baik totiang saja yang mencari akal, Totiang sekalian pasti jauh lebih pintar dari aku."
Tojin itu bernama Hian Ceng, Bibirnya tersenyum kemudian menoleh kepada seorang laki-laki berusia setengah baya yang kumisnya sudah beruban.
"Hoan samko, kau lebih cerdas daripadaku, coba kau bilang, apa yang harus kita lakukan?"
Tanyanya. Orang yang dipanggil Hoan samko itu bernama Hoan Kong. orangnya jujur lagi polos.
"Menurut pendapatku, tidak ada jalan lain kecuali langsung menemui orang she Pek itu, Dia harus minta maaf pada kakak Ci, barulah urusan ini bisa diselesaikan. Kalau tidak, tidak mempan menggunakan tata krama, kita terpaksa menggunakan kekerasan!"
Beberapa orang yang lain juga sudah mempunyai pikiran yang sama sejak tadi, tetapi mereka tidak berani mengutarakannya, sekarang mendengar Hoan Kong mengatakannya, mereka segera menyatakan setuju.
"Hoan ko benar, paling baik kalau tidak perlu menggunakan kekerasan. Tapi kalau tidak bisa dikompromikan baik-baik, kita harus menunjukkan bahwa pihak Tian-te hwe bukan orang-orang yang mudah dipermainkan. Kakak Ci sudah dihina seperti ini, kita tidak boleh berdiam diri!"
Kata mereka serentak. Siau Po menoleh kepada Gan Tiau dan Hian Ceng.
"Nah, bagaimana pendapat kalian berdua?"
"Apalagi yang dapat kita lakukan?"
Sahut Gan Tiau. Hian Ceng hanya tersenyum, dia tidak memberikan komentar apa-apa. Siau Po memperhatikan tojin itu lekat-lekat. Diam-diam dia berpikir dalam hati.
"Dia tidak mengatakan apa-apa, kelak apabila terjadi sesuatu, tentu mudah baginya untuk menyangkal Baik! Aku justru akan mendesaknya terus!"
"Toatiang, apakah kau menganggap pendapat kakak Hoan masih kurang sempurna?"
Sengaja dia mengajukan pertanyaan itu.
"Bukannya kurang sempurna, tapi biar bagaimana kita harus berhati-hati, untuk menempur pihak Bhok onghu, pertama kita tidak boleh kalah. Kedua, kita tidak boleh membunuh orang, kalau pihak sana sampai ada yang jatuh korban, urusannya bisa gawat!"
Sahut Hian Ceng.
"Lalu, bagaimana kalau kakak Ci tidak bisa sembuh lagi?"
Hian Ceng menganggukkan kepalanya.
"ltulah yang aku khawatirkan!"
"Kalau begitu, pikirkanlah cara yang lebih bermanfaat, kalian toh lebih berpengalaman dari aku."
"Sebenarnya hiocu hebat sekali!"
Kata Hian Ceng.
"Totianglah yang terlalu merendahkan diri sendiri!"
Sahut Siau Po tidak mau kalah.
Keduanya pun tertawa lebar.
Akhirnya mereka berunding, kebanyakan menyetujui usul Hoan Kong tadi, Kemudian Siau Po diminta untuk memimpin mereka menuju Bhok onghu.
Mereka ingin menegur serta meminta keadilan dari pihak pangeran itu, mereka menyembunyikan senjata masing-masing.
Siau Po memesan kepada mereka agar bersabar seandainya harus terjadi bentrokan, biarkan pihak sana yang memulainya terlebih dahulu.
"Namun kita membutuhkan beberapa orang lagi yang kepandaiannya tinggi,"
Kata Hian Ceng. Dia mengusulkan beberapa busu sebagai saksi agar jangan sampai dituduh Tian-te hwe yang sengaja mencari keributan.
"Kita juga harus berjaga-jaga agar kelak tidak disalahkan oleh Cong tocu!"
"Lebih baik mengundang orang-orang yang kepandaiannya benar-benar tinggi."
Kata Siau Po yang terpaksa menurut pada suara orang banyak, Dia yakin orang-orang Bhok onghu pasti lihay sekali, buktinya Mau Sip-pat pun segan kepada mereka. Hian Ceng tersenyum.
"Kita mengundang orang yang mempunyai nama dan sudah lanjut usia saja, Yang penting mereka menjadi saksi, bukan membantu kita berkelahi."
"Yang sudah tua dan mempunyai nama, otomatis kepandaiannya tinggi juga, jadi kita mendapatkan semuanya!"
Kata Gan Tiau.
"Lalu, siapa yang akan kita undang?"
Tanya Hoan Kong. Mereka berunding kembali, saksi itu harus mempunyai nama besar, tidak bersahabat dengan pembesar negeri dan harus mempunyai kesan yang baik terhadap Tian-te hwe.
"Ja... ngan un... dang o... rang... lu... ar,"
Tiba-tiba Ci lautau yang baru tersadar berkata dengan suara dipaksakan.
"Apakah saudara Ci tidak setuju kalau kita mengundang orang luar?"
Tanya Hoan Kong.
"Ya... Wi hiocu... bekerja di istana... tidak boleh ada yang mengetahui... bahwa dia... kenal dengan kita. Bi,., sa membahaya...kannya. Urusan...nya juga... ga... wat...."
Baru sekarang mereka ingat bahwa Siau Po adalah mata-mata perkumpulan Tian-te hwe yang disengajakan berdiam di istana untuk mengintai gerak-gerik musuh.
Rahasia ini sekali-sekali tidak boleh bocor Cong tocu juga menugaskannya untuk urusan besar, bukan urusan remeh seperti ini.
"Kalau begitu, sebaiknya hiocu tidak ikut dengan kami. Biar kami saja yang berbicara dengan orang she Pek itu, bagaimana hasilnya akan kita laporkan kepada hiocu kemudian."
Justru sekarang Siau Po berkeras untuk ikut.
"Aku harus ikut. Untuk mencegah agar rahasia ini jangan bocor. kita tidak usah mengundang saksi...."
Siau Po memang agak jeri terhadap orang-orang Bhok onghu, tapi dia penasaran ingin menyaksikan jalannya peristiwa itu.
"Kalau begitu, sebaiknya kita atur begini saja. Hiocu adalah atasan kami, hiocu mau ikut, kita tidak boleh melarang atau mencegahnya. Kami yang bawahan harus turut apa yang dikatakan sang ketua, sekarang sebaiknya hiocu merubah dandanannya sedikit agar tidak ada orang yang mengenali.,.,"
Kata Hian Ceng. Siau Po setuju dengan pikirannya.
"Bagus-bagus sekali!"
Ci lautau juga setuju, bahkan dia berkata.
"Kalau diatur dengan cara demikian, kita boleh mengundang saksi, cuma kalian harus waspada, Nah, hiocu hendak menyamar sebagai apa?"
Pandangan setiap orang tertuju pada Siau Po. Bocah itu pun berpikir.
"Lebih baik menyamar sebagai pengemis atau anak hartawan?"
Dia memang kagum sekali melihat dandanan anak-anak orang kaya di Yang-ciu dan ingin sekali menirunya, Apalagi sekarang dia mempunyai banyak uang.
Dengan cepat dia mengambil keputusan Siau Po langsung mengeluarkan uang sejumlah seribu lima ratus tail, masing-masing terdiri dari uang kertas senilai lima ratusan, Kemudian dia menyodorkan uang itu sambil berkata.
"Nah, siapa saudara yang bersedia menolong aku membeli seperangkat pakaian yang indah?"
Semua orang merasa heran karena jumlah uang itu terlalu banyak.
"Jangan khawatir soal uang. Aku punya banyak,"
Kata Siau Po.
"Yang penting pakaiannya, makin bagus makin baik. Beli juga beberapa permata agar tidak ada orang yang menyangka aku ini thay-kam."
"Hiocu benar!"
Kata Hian Ceng.
"Saudara Kho, tolong kau pergi membelikan keperluan Wi hiocu!"
Gan Tiau menerima baik tugas ini. Siau Po sendiri menambahkan lagi sepuluh tail.
"Tidak apa kita mengeluarkan uang sekali-sekali!"
Katanya, Tindakannya itu membuat orang-orang dalam ruangan itu jadi heran, Siau Po mengeluarkan uang lagi sebanyak tiga ribu lima ratus tail kemudian disodorkan kepada Hian Ceng.
"Kita baru berkenalan belum sempat aku membelikan tanda mata apa-apa. Harap totiang sudi menerima sedikit uang ini. Uang ini aku dapat dari bangsa Tatcu, boleh dibilang perak haram!"
Bocah ini ingin mengatakan "uang yang tidak halal,"
Tapi dia jaga ucapan itu. Karenanya dia mengatakan "perak haram."
Tian-te Hwe melarang anggotanya menerima uang tidak halal, itulah sebabnya Gan Tiau dan yang lainnya termasuk orang miskin, Melihat jumlah uang yang begitu banyak, mereka sampai terkesima.
Memang Siau Po bermaksud mengatakan uang yang tidak halal, tapi kata-kata yang tercetus dari mulutnya justru perak haram, Dengan demikian berarti haram bagi bangsa Tatcu namun halal bagi mereka.
Karena itu dengan senang hati mereka menerimanya.
"Kita harus berpencar untuk mengundang beberapa orang saksi,"
Kata Hian Ceng.
"Karena itu, hari ini tidak sempat lagi kita pergi ke tempat Bhok ong-ya. Besok saja kita tunggu kedatangan Wi hiocu, Jam berapa kira-kira hiocu bisa datang kemari?"
"Pagi aku banyak pekerjaan. selewatnya tengah hari baru sempat."
Sahut Siau Po.
Dengan demikian mereka pun bubar.
Malam itu, Siau Po senang sekali sehingga di lupa berlatih, Besok paginya dia menuju ke kama tulis raja untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Siang harinya dia membawa uang cukup banyak, lalu per ke toko emas dan membeli sebuah cincin bermata hijau dan sebuah kopiah yang dihiasi sebutir batu kumala putih yang besar dengan dikelilingi empat butir mutiara.
Siau Po menghabiskan delapan ribu tail perak untuk semua itu, Dari toko mas tersebut, ia langsung menuju toko obat di mana Gan Tiau yang lainnya sedang menunggu.
Di sana dia diberitahukan bahwa mereka telah berhasil mengundang empat orang saksi yang terdiri dari busu, guru silat ternama.
Seorangnya dihadiahkan seratus tail, Siau Po merasa jumlah itu terlalu kecil.
Lima ratus tail perorangnya baru selesai Setelah itu giliran Gan Tiau menunjukkan belanjaannya, Dia membeli seperangkat pakaian yang lengkap dengan kaos kaki bahkan sepatunya, Juga baju luar yang panjang serta rompi dari kulit rusa.
Bagian lehernya dihiasi bulu yang indah.
Menurut Gan Tiau, baju itu merupakan pesanan khusus yang dikerjakan sampai larut malam, Ongkosnya saja hampir lima tail perak.
"Tidak mahal, tidak mahal!"
Kata Siau Po yang mendapatkan pakaian yang indah itu, Malah uangnya masih lebih banyak.
Setelah itu cepat-cepat dia berdandan.
Kemudian mereka berangkat.
Siau Po naik joli, hal ini memang disengaja agar dalam perjalanan dia tidak terlihat oleh siapa pun.
Pertama-tama mereka menuju sebelah timur kota di mana terdapat sebuah ekspedisi bernama Bu seng piaukiok untuk menjemput keempat orang saksi yang telah diundang.
Mereka terdiri dari Ma Pok-jin, guru silat Tan Twi, Yau Cun Tay-i, tabib yang mengobati Ci lautau, Lui It-siau ahli ilmu kebal dari Tiatpou san, dan Ong Bu-seng, kepala Piau su (piautau) dari Bu-seng piaukiok.
Empat ahli silat itu sudah mendengar bahwa hiocu dari Tian-te hwe itu seorang yang usianya masih muda sekali, namun mereka tidak menyangka begitu mudanya sehingga masih seorang bocah cilik.
Mana tampangnya juga mirip seorang anak hartawan atau putera orang berpangkat, Mereka semua mengagumi nama Tan kin-lam dan mereka percaya muridnya pasti bukan orang sembarangan Karena itu tidak berani mereka memandang sebelah mata.
Hanya sejenak mereka duduk untuk saling berkenalan, kemudian mereka-langsung berangkat menuju tempat orang she Pek di Yangciu, Selain Siau Po yang naik joli, Ma Pok-jin, Yau Cun juga demikian sedangkan Lui It-siau dan Ong Bu-seng menunggang kuda.
sisanya berjalan kaki.
Setibanya di depan rumah orang she Pek yang dindingnya berwarna merah, Kho Gan-tiau bermaksud mengetuk pintu, namun saat itu juga dari dalam rumah berkumandang suara tangisan.
Semua menjadi heran sekarang mereka baru melihat di kanan kiri pintu tergantung lampion pintu dari kain putih, tanda berkabung, Melihat hal itu, Kho Gan-tiau tidak berani mengetuk pintu tersebut keras-keras.
Beberapa saat kemudian pintu gerbang gedung itu baru dibuka oleh seorang koanke (pengurus rumah tangga) yang sudah berusia lanjut, Kho Gan-tiau segera menyodorkan lima lembar kartu nama sembari berkata.
"Beberapa tuan serta saudara dari Bu-seng piaukiok, Tan-twi bun dan Tian-te hwe datang mengunjungi Pek thayhiap dan Pek jihiap!"
Mendengar disebutnya nama Tian-te hwe, sepasang alis orang tua itu langsung menjungkit ke atas.
Matanya mendelik lebar-tebar kepada para tamunya.
Setelah itu dia berlalu tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Ma Pok-jin sudah tua, namun sikapnya berangasan.
"Budak tidak tahu diri!"
Katanya sengit.
"Ma loya benar!"
Sahut Siau Po.
Tidak lama kemudian muncullah seorang pria berusia kurang lebih tiga puluh tahun.
Tubuhnya tinggi besar dan mengenakan pakaian berkabung, matanya masih merah dan membengkak, bekas air mata masih terlihat jelas.
Dia merangkapkan kedua tangannya untuk menjura.
"Wi Hiocu, Ma loyacu, Ong Cong piautau serta tuan-tuan semua, terimalah hormatku! Aku Pek Han-hong menyatakan maaf karena tidak dapat menyambut dari jauh!"
Ma Pok-jin yang tidak sabaran langsung bertanya.
"Pek Jihiap sedang berkabung, Bolehkah kami tahu siapa dalam keluarga jihiap yang mengalami kemalangan?"
"Itulah kakakku Pek Han-siong!"
Sahut Pek Han-hong.
"Aih, sayang sekali! Pek tayhiap adalah panglima yang sangat diandalkan oleh Bhok onghu, Namanya dalam dunia kangouw sudah terkenal sekali, Namun beliau toh masih muda dan perkasa, penyakit apakah yang dideritanya sehingga tidak tertolong lagi?"
Tanya Ma Pok-jin kembali. Mendengar pertanyaan itu, tidak terduga-duga Pek Han-hong menatap lawannya dengan sorot mata gusar.
"Ma loya, aku menghargai kau sebagai seorang tokoh tua dalam dunia persilatan. Aku juga menyambut kedatanganmu dengan hormat, Tapi sekarang kau sengaja menghina kami, padahal kau sudah tahu, tapi kau masih pura-pura menanyakannya?"
Teriaknya sinis. Siau Po bingung mengapa orang itu tiba-tiba menjadi marah, Saking terkejutnya dia sampai menyurut mundur satu Iangkah. Ma Pok-jin mengusap-usap janggutnya.
"Heran! Benar-benar heran!"
Katanya setelah tertegun "Justru karena lohu tidak tahu, maka lohu bertanya, Kenapa lohu malah dikatakan sudah tahu masih pura-pura bertanya?
Apa maksudmu?
walaupun jihiap sedang berduka karena kehilangan saudara, tidak sepatutnya menimpakan kesedihan dengan marah kepada orang lain!"
"Ma loyacu dan tuan-tuan yang lainnya, silahkan duduk dulu!"
Kata Pek Han-hong berusaha meredam emosinya.
"Duduk ya duduk!"
Kata Ma Pok-jin yang masih mendongkol "Memangnya kami takut?"
Dia menoleh kepada Siau Po dan berkata.
"Wi hiocu, silahkan duduk di atas!"
"Tidak!"
Sahut Siau Po.
"Silahkan Ma loyacu saja."
Pek Han-hong sudah melihat kartu nama yang dibawakan oleh pengurus rumah tangganya.
Memang ada sehelai diantaranya yang bertuliskan nama Wi hiocu dengan nama lengkapnya Siau Po.
Tapi dia tidak menyangka orangnya masih seorang bocah cilik yang kekanakkanakan, tiba-tiba dia menyambar tangan Siau Po dan membentak dengan suara garang.
"Kaukah Wi hiocu dari Tian-te hwe?"
Siau Po terkejut setengah mati.
Tanpa dapat mempertahankan diri lagi dia mengeluarkan seruan tertahan Dia tidak menyangka akan diserang secara mendadak sehingga dia tidak sempat menghindarkan diri.
Tangannya langsung terasa nyeri dan panas karena cekalan Pek Han-hong yang keras, Bahkan dia hampir jatuh semaput dan air matanya langsung mengucur keluar.
"Kami semua merupakan tamu-tamu Anda, Pek jihiap, Harap jangan terlalu menghina!"
Bentak Hian Ceng tojin sambil meluncurkan sebuah serangan ke iga lawannya.
Pek Han-hong heran mendapat kenyataan bahwa seorang hiocu dari Ceng-bok tong ternyata demikian lemah, Cepat-cepat dia melepaskan cekalan tangannya dan menyurut mundur sehingga terhindar dari serangan Hian Ceng tojin.
"Maaf!"
Katanya.
Siau Po berdiri terpaku, Sebagian tubuhnya terasa kelu, Alisnya mengerut dan wajahnya menyeringai menahan sakit, diam-diam dia menyusut air matanya.
Bukan hanya Pek Han-hong saja yang terkejut melihat Siau Po demikian tidak berdaya, bahkan Ma Pok-jin, Ong Bu-seng dan lainnya juga merasa heran.
Bukankah bocah ini muridnya ketua Tian-te hwe, Tan Kin-lam?
Mengapa ia tidak sanggup menghindarkan diri dari serangan Pek Han-hong malah menjerit kesakitan dan meneteskan air mata!
Wajah Hian Ceng dan anggota Tian-tc hwe lainnya jadi jengah serta merah padam saking malunya.
"Maaf!"
Kata Pek Han-hong kembali "Sungguh malang nasib kakakku yang mati di tangan anggota Tian-te hwe. itulah sebabnya aku tidak bisa mengendalikan diri sehingga...."
"Apa?"
Tanya Ma Pok-jin dan yang lainnya setelah mendengar kata-kata itu.
"Apa? Pek tayhiap mati di tangan anggota Tian-te hwe? Tidak mungkin!"
Teriak yang lainnya. Pek Han-hong kesal sekali sampai membanting-banting kakinya di atas tanah.
"Kalian bilang tidak mungkin?"
Tanyanya gusar.
"Lalu kalian kira kakakku hanya purapura mati? silahkan kalian lihat sendiri, Mari!"
Kemudian dia pun mengulurkan tangannya kembali untuk mencekal Siau Po.
Kali ini Hian Ceng dan Hoan Kong sudah berjaga-jaga.
Begitu si tuan rumah menggerakkan tangannya, merekapun mengirimkan serangan ke arah dada dan punggung Pek Han Hong.
Han Hong melihat datangnya serangan, batal dia mencekal tangan Wi Siau-po.
justru dia segera menangkis untuk melindungi diri.
Hian Ceng menarik kembali tangan kirinya lalu menyerang dengan tangan kanannya, sementara itu, tangan Hoan Kong beradu dengan tangan Pek Han-hong.
Laki-laki she Pek ini menggeser tubuhnya sedikit untuk menghindarkan diri dari serangan Hian Ceng, tanpa menunda waktu lagi dia mengirimkan sebuah totokan ke arah kerongkongan Hoan Kong.
Hian Ceng menghindarkan diri, sedangkan Hoan Kong juga menyurut mundur tiga tindak sehingga punggungnya membentur dinding.
Sungguh hebat kepandaian Pek Han-hong, dalam waktu yang bersamaan dia sanggup mendesak Hoan Kong mengundurkan diri sekaligus membuat Hian Ceng kerepotan melindungi diri.
"Apakah kau benar-benar ingin berkelahi?"
Bentak Hoan Kong yang gusar karena tangannya masih terasa nyeri akibat beradu dengan tangan lawan, dia maju lagi dengan niat melakukan penyerangan.
"Kakakku sudah mati. Aku pun enggan hidup lebih lama lagi!"
Teriak Pek Han-hong tak kalah kalapnya.
"Kawanan anjing Tian-te hwe, majulah kalian semuanya!"
"Tahan!"
Seru Yau Cun si tabib yang mempunyai kesabaran luar biasa.
"Mungkin dibalik semua ini telah terjadi kesalahpahaman Bukankah Pek jihiap menuduh bahwa kakaknya telah dibunuh oleh anggota Tian-te hwe? Bagaimana duduk persoalan yang sebenarnya? Dapatkah Pek jihiap menjelaskan lebih lanjut?"
Tanyanya.
"Mari kalian ikut denganku!"
Ajak Pek Han-hong sambil mendahului yang lainnya masuk ke ruangan dalam dengan langkah lebar.
Yau Cun beserta yang lainnya segera mengikuti.
Mereka tidak merasa takut meskipun sadar telah masuk ke dalam sarang harimau, sesampainya di dalam ruangan, mereka menghentikan langkal kakinya karena melihat sebuah peti mati di kamar belakang di mana di dalamnya terlihat sesosok tubuh yang membujur dan bagian kepala serta kakinya tampak jelas.
Pek Han-hong menyingkap tirai kemudian berteriak dengan keras.
"Toako, kau mati penasaran sekarang aku hendak membunuh beberapa ekor anjing Tian-te hwe untuk membalaskan sakit hatimu!"
Meskipun suaranya keras, namun agak serak karena sudah terlalu banyak menangis.
Yau Cun beserta Ma Pok-jin, Lui It-siau dan Ong Bu-seng maju menghampiri peti mati itu.
Mereka dapat melihat dengan tegas bahwa mayat yang terbujur di dalamnya memang Pek Han-sing.
Yau Cun mendekati mayat itu dan memegang lengannya.
Han Hong tertawa dingin.
"Kalau kau sanggup menghidupkan kakakku kembali, aku akan menyembah sebanyak selaksa kali di hadapanmu!" Yau Cun menarik nafas panjang.
"Pek Jihiap,"
Katanya sabar.
"Seseorang yang sudah meninggal, tidak mungkin bisa dihidupkan kembali, Aku harap kau bisa mengendalikan kesedihanmu.... sekarang ada sesuatu yang ingin kutanyakan kepadamu, benarkah orang Tian-te hwe yang membunuh kakakmu? Apakah dugaanmu itu tidak keliru?"
"Aku... keliru?"
Pek Han-hong mengulangi pertanyaan itu dengan mata mendelik, Yau Cun merasa terharu, dia tahu Pek Han-hong benar-benar sedih atas kematian kakaknya, bahkan Hoan Kong pun menahan emosinya, sehingga dia dapat berpikir dengan kepala dingin.
"Dia baru saja kehilangan kakaknya, tidak heran dia sampai tidak dapat mempertahankan kemarahan hatinya."
Pek Han-hong berdiri tegak di depan peti mati kakaknya sambil bertolak pinggang. Dia berteriak dengan suara lantang.
"Orang yang membunuh kakakku adalah Ci lautao si penjual koyo dari Tian-te hwe. Aku pernah dengar bahwa nama asli orang itu ialah Ci Tian-coan. julukannya Pat-pek Wan-kau (Si kera bertangan delapan) dan merupakan anggota Cam-tay tong di Tian-te hwe Benar bukan? Apakah kalian masih ingin menyangkal?"
Hoan Kong dan yang lainnya saling menatap dengan perasaan bingung, kedatangan mereka justru untuk mencari keadilan bagi Ci tian-coan, rekan mereka sendiri, Siapa nyana, justru mereka mendengar kabar kematian Han Siong yang menurut adiknya binasa di tangan Ci itu.
Saking gundahnya, Hoan Kong menarik nafas panjang dan berkata.
"Pek loji, Ci Tian-coan yang kau sebutkan itu memang benar orang Tian-te hwe, tapi dia... dia...."
"Ada apa dengan dia?"
Tanya Han Hong.
"Dia telah terluka parah oleh toakomu,"
Sahut Hoan Kong yang masih merasa sedih.
"Keadaannya sangat mengenaskan bahkan nafasnya tinggal satu-satu, Bahkan sekarang kami sendiri tidak tahu apakah dia masih hidup atau sudah mati, justru kedatangan kami ingin menanyakan mengapa kau sampai menyerang kakak kami sedemikian rupa, siapa sangka... aih!"
Tapi Pek Han-hong sedang dilanda kesedihan yang tidak terkatakan, mana mungkin dia bisa mengendalikan kemarahannya?
"Jangan kata kakak kalian itu belum mati, biar sudah mampus sekalipun, selembar jiwa anjingnya tidak cukup untuk mengganti jiwa toako kami!"
Hoan Kong menjadi gusar sekali melihat orang tidak dapat diajak berkompromi secara baik-baik.
"Bicaramu sungguh kotor!"
Tegurnya keras.
"Apakah kau pantas disebut sebagai orang rimba persilatan? sekarang katakan, apa sebenarnya yang kau inginkan?"
"Aku... tak tahu...,"
Teriak Pek Han-hong.
"Aku hendak membasmi kamu orang-orang Tian-te hwe yang mirip anjing pun tidak! Aku ingin membunuh kalian semua, semua!"
Selesai berkata, tuan rumah itu langsung menyambar sebatang golok yang menggeletak di sisi mayat kakaknya.
Seiring dengan berkelebatan sinar golok, tubuh Pek Han-hong pun menerjang ke arah para tamunya.
Hoan Kong dan lainnya yang menyaksikan keadaan itu, segera menghunus senjata masing-masing untuk berjaga-jaga.
"Jangan bergerak!"
Tiba-tiba terdengar teriakan yang memekakkan telinga. Lui It-siau segera mencelat maju ke depan peti mati. sepasang kapaknya diangkat tinggi-tinggi.
"Pek Jihiap, bila kau berniat membinasakan orang, bunuhlah aku terlebih dahulu!"
Katanya lantang.
Sesuai dengan namanya, yakni Lui yang berarti guntur dan Siau yang berarti siulan, suaranya memang seperti geledek yang mengejutkan.
Pek Han-hong demikian kalapnya sehingga lupa diri, teriakan itu menyadarkannya kembali.
"Untuk apa aku membunuhmu? Kau toh bukan pembunuh kakakku!"
"Begitu pula dengan sahabat-sahabat dari Tian-te hwe ini. Mereka juga bukan orang yang membunuh kakakmu, Lagipula anggota Tian-te hwe paling tidak berjumlah lima puluh laksa jiwa, apakah kau sanggup membunuh semuanya?"
Sahut Lui It-siau.
"Aku tidak perduli!"
Teriak Han Hong.
"Ketemu satu akan kubunuh satu, ketemu dua aku bunuh dua!" Tepat pada saat itu, di luar rumah terdengar suara derap kaki kuda yang sedang mendatangi. Sesaat kemudian suaranya berhenti di depan rumah tersebut.
"Mungkin tentara kerajaan!"
Kata Yau Cun.
"Simpan senjata kalian!"
Hoan Kong semua menurut, mereka mendekati Lui It-siau. Han Hong pun terpaksa menyimpa kembali senjatanya, namun dia masih berkata dengan garang.
"Sekalipun yang datang raja langit, aku tidak takut!"
Sekejap kemudian terdengar suara ketukan pintu, lalu disusul teriakan seseorang.
"Pek jite (adik kedua) aku yang datang!"
Seiring suaranya, tampak seseorang meloncati tembok pekarangan kemudian menerjang ke dalam rumah.
Orang yang datang usianya kurang lebih empat puluh tahun, pakaiannya berwarna ungu, tampangnya gagah namun wajahnya pucat sekali.
"0h... benar rupanya Pek Toate.... Pek toate.,"
Serunya dengan suara bergetar. Han Hong melempar golok di tangannya lalu menghambur ke depan.
"Oh, Sou siko, toako... dia... dia...."
Tanpa dapat menahan kepedihan hatinya lagi, dia menangis meraung-raung. Kho Gan-tiau langsung bisa menduga siapa adanya orang itu.
"Kemungkinan besar dia inilah sin Jiu kisu Soukong yang termasuk salah satu keciang keluarga Bhok...."
Pada saat itu pintu telah dibuka dan muncullah belasan orang yang serombongan dengan orang she Sou itu.
Di antara mereka terdapat beberapa perempuan, mereka langsung mendekati peti mati Pek Han-Siong dan beberapa perempuan itupun menangis tersedu-sedu.
Rupanya di antara mereka adalah istri-istrinya Pek Han-siong dan Pek Han hong.
Menyaksikan situasi itu, Hoan Kong jadi tida enak hati, Mereka menjadi malu sendiri Lagipula dalam keadaan seperti ini, tentu mereka tidak bisa bicara secara baik-baik.
Karena itu, mereka saling lirik dengan yang lainnya, kemudian masing-masing melangkahkan kaki dengan maksud meninggalkan tempat itu.
"Eh, kalian mau kabur?"
Bentak Pek Han-hong yang melihat gerak-gerik para tamunya.
"Tidak bisa!"
Dia langsung menerjang ke arah Hoan Kong yang membelakanginya.
"Siapa yang mau kabur?"
Bentak Hong Kong marah.
Dia menoleh serta menangkis, Ketika melangkah, dia memang sudah meningkatkan kewaspadaan.
Karena itu, dia tahu dirinya diserang, Yan Cun dan yang lainnya juga melihat keadaan itu, mereka terpaksa menghentikan langkah kakinya.
Tampak orang she Sou itu maju ke depan.
"Siapakah tuan-tuan ini?"
Tanyanya.
"Maaf, aku belum mengenal mereka!"
"Merekalah anjing-anjing dari Tian-te hwe!"
Teriak Han Hong gusar "Toako justru dibunuh oleh mereka."
Mendengar kata-kata itu, orang-orang yang sedang menangis dengan sedih segera mencelat ke depan dan menghunus senjata masing-masing.
Mereka mengambil posisi mengurung, semuanya menatap dengan pandangan bengis dan penuh kebencian.
Ong Bu-seng tertawa lebar.
"Ma toako, saudara Lui, Yau tayhu, kapan kita masuk menjadi anggota Tian-te hwe? Orang-orang semacam kita, meskipun kita memohon, rasanya juga belum tentu diterima!"
Orang she Sou itu menjura kepada empat orang itu.
"Oh, rupanya tuan-tuan ini bukan orang dari Tian-te hwe? Dan yang dipanggil Yau tayhu ini kalau tidak salah bernama Yau Cun, bukan? Aku yang rendah Sou Kong, kami baru mendapat kabar bahwa adik Pek yang besar sudah menutup mata. itulah sebabnya kami segera datang dari Wanpeng. Saking berduka, kami jadi lupa berkenalan dengan tuan-tuan sekalian Harap maafkan!"
Katanya sambil menjura sekali lagi. Ong Bu-seng membalas hormat sambil tersenyum.
"Selamat berjumpa! sungguh bukan nama kosong julukan Sin Jiu kisu. pandanganmu jauh dan jiwamu gagah perkasa!"
Selesai berkata, piautau ini segera memperkenalkan rekan-rekannya, Pertama-tama dia menunjuk kepada Wi Siau-po.
"lnilah Wi hiocu bagian Ceng-bok tong dari Tian-te hwe!"
Sou Kong tahu bahwa Tian-te hwe mempunyai sepuluh bagian atau tong dan setiap tong dipimpin oleh seorang hiocu yang gagah, Karena itulah dia menatap Siau Po dengan heran, karena hiocu yang satu ini masih terlalu muda.
Dia juga bingung melihat dandanan bocah itu yang demikian mentereng.
"Maaf! Sudah lama kami mendengar nama besarmu!"
Katanya sambil menjura.
Selesai Ong Bu-seng memperkenalkan diri, Sou Kong juga memperkenalkan rombongannya, Di antaranya terdapat dua orang adik seperguruannya, sedangkan mereka bertiga juga termasuk saudara seperguruan dengan kakak adik she Pek.
Ada lagi muridnya Sou Kong serta nyonya Han Siong dan nyonya Han Hong.
"Pek jihiap!"
Kata Yau Cun dengan nada lembut "Sebenarnya persoalan apa yang membuat kalian berkelahi dengan anggota Tian-te hwe?
Aku harap kau sudi menjelaskan.
Nama Bhok onghu dari Inlam sangat terkenal di dunia persilatan sedangkan peraturan Tian-te hwe juga keras sekali, Tidak biasanya mereka bertindak kasar atau berlaku kurang sopan terhadap sesama pecinta negara.
Menurut pendapatku yang rendah, urusan ini tidak boleh kita selesaikan dengan kekerasan.
Kami berempat yakni Ma loyacu, Lui toako, Ong piautau dan aku sendiri, pada hakekatnya tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan Tian-te hwe.
Dan kami juga tidak bersahabat akrab dengan pihak kalian.
Tetapi justru kami bersedia menjadi orang tengah bagi kalian.
Karena itu, sudi kiranya kalian memandang muka kami dengan memberi penjelasan selengkapnya, Kami benar-benar bermaksud baik.
Bahkan kalau bisa kami ingin mendamaikan."
Ong Bu-seng juga langsung memberikan pendapatnya sebelum pihak tuan rumah sempat mengatakan apa-apa.
"Bicara sejujurnya, Pek jihiap sekalian, sahabat-sahabatnya dari Tian-te hwe ini sesungguhnya tidak tahu bahwa Pek tayhiap telah tiada, Kalau tidak, mana mungkin mereka berani datang mengganggu kalian yang sedang tertimpa kemalangan..."
"Lalu, apa sebenarnya maksud kedatangan Wi hiocu dan tuan-tuan semuanya ke tempat kami ini?"
Tanya Sou Kong. Ong Bu-seng tersenyum lagi.
"Kami tidak berani berdusta, Kedatangan kami ini disebabkan pihak Tian-te hwe yang mengatakan bahwa saudara mereka yakni Ci Tian-coan telah terluka parah di tangan kedua saudara Pek. Kami para orang tua ini diminta untuk mewakilkan mereka menanyakan duduk persoalan yang sebenarnya..."
"Kalau begitu, kalian datang kemari untuk menegur dan menghukum kami semua?"
"Kami tidak berani."
Sahut Ong Bu-seng cepat.
"Kami adalah orang-orang kangouw yang hidup mengandalkan rasa persahabatan Kami tidak berani sembarangan mengambil tindakan. Dalam urusan ini, siapa benar dan siapa salah, biarlah keadilan yang menentukan dan keadilan adalah suara terbanyak. Kita tidak berbicara tanpa mengandalkan hati nurani kita!"
Sou Kong menganggukkan kepalanya.
"Ong Cong piautau benar, Nah, silahkan kalian duduk dulu!"
Katanya sambil memberi isyarat kepada rekan-rekannya untuk menyimpan kembali senjata masing-masing.
Kecuali Pek Han-hong, semuanya menuruti nasehat Sou Kong, Kemudian kedua belah pihak mengambil tempat duduk masing-masing.
Sou Kong juga duduk, tetapi beberapa rekannya tidak, karena kekurangan kursi.
"Pek jite,"
Kata Sou Kong pada tuan rumah.
"Coba kau jelaskan duduk persoalan yang sebenarnya agar orang-orang dalam ruangan ini dapat mengerti."
Pek Han-hong menarik nafas panjang.
"Kemarin dulu, kurang lebih menjelang siang hari...."
Baru berkata sampai di sini, kemarahannya meluap lagi.
Tangannya bergerak, goloknya dilemparkan ke atas lantai sehingga ada dua potong ubin yang somplak.
Setelah itu dia mengatur pernapasannya sebentar kemudian baru melanjutkan kembali.
"Siang itu aku duduk bersama kakak di sebuah kedai arak dekat Thianko, Tibatiba datanglah seorang pembesar negeri bersama empat orang pengikutnya. Keempat pengikutnya itu sungguh tidak enak dilihat. Cara bicaranya kasar dan tidak bersopan-santun sedikitpun Mereka memesan arak dan makanan dengan lagak seperti tuan besar, Mereka juga berbicara dengan aksen Inlam."
"Oh, mereka berbicara dengan aksen Inlam?"
Tanya Sou Kong.
"lya,"
Sahut Han Hong.
"ltulah sebabnya aku dan kakak segera memasang telinga." Hoan Kong tahu bahwa keluarga Bhok berkuasa di Inlam, Kedua keluarga Sou dan Pek juga berasal dari Inlam, Tentu saja mereka menaruh perhatian pada orang-orang propinsi itu.
"Sembari minum arak, si pembesar berkali-kali mencela barang hidangan yang menurutnya tidak lezat. Dan keempat pengikutnya segera meniru, Toako merasa tertarik, otomatis dia ikut bicara, Mengetahui bahwa kita pun berasal dari Inlam, pembesar itu mengundang kami bersantap ber-sama-sama. Karena itu kami pindah duduk, Toako ingin mendengar segala sesuatu yang berkaitan dengan Inlam, karena kita sudah lama sekali pindah kemari. Kemudian diketahui bahwa pembesar itu bernama Yo It-hong dan atas keputusan Go Sam-kui, dia telah diangkat menjadi camat wilayah Kiokceng!"
"Tadi kau mengatakan bahwa mereka berbicara dengan aksen Inlam?"
Tanya Sou Kong.
"lya, tapi dia berasal dari Tayli, Menurut peraturan, orang Inlam tidak boleh memangku jabatan di wilayahnya sendiri, namun Yo It-hong mengatakan bahwa dia tidak memperdulikan segala macam peraturan itu karena ia diangkat langsung oleh Peng See-ong!"
"Oh, nenek moyangnya!"
Seru Hoan Kong sengit "Baru diangkat oleh si pengkhianat Go Sam-kui saja, sudah begitu sombong!"
Han Hong melirik ke arah tamunya itu dan mengangguk perlahan.
"Saudara... Hoan, kau benar,"
Katanya kemudian.
"Ketika itu aku pun mempunyai pikiran yang sama denganmu, namun Toako ingin mendengar kabar tentang Inlam, itulah sebabnya dia pura-pura senang menemani pembesar itu berbicara. Bahkan toako sengaja mengangkat-angkatnya, pembesar itu senang sekali, Semakin kata-katanya mengenai Go Sam-kui. sekarang ini, semua pembesar yang pangkatnya tinggi maupun rendah, adalah hasil pengangkatan Go Sam-kui. Bahkan banyak pembesar di ketiga propinsi sucoan, Kwisay dan Kuiciu juga hasil pemilihan wilayah baratnya Go Sam-kui. Katanya, biasanya bila raja mengangkat seorang pembesar, Go Sam-kui langsung menempatkan orangnya terlebih dahulu, sehingga pembesar yang dipilih raja itu ketinggalan Menurut Go Sam-kui jasanya sangat besar. Karena dialah, bangsa Boanciu dapat merampas seluruh Tionggoan, itulah sebabnya dia sangat dipercaya dan apapun usulnya tidak pernah ditolak oleh raja?"
"Apa yang dikatakan pembesar itu memang benar,"
Ong Bu-seng turut memberikan komentar "Ketika aku pergi ke beberapa propinsi barat daya untuk mengantar barang, di Inlam dan Kuicu aku dengar sendiri, orang-orang di sana hanya tahu Go Sam-kui, mereka tidak pernah tahu titah dari raja!"
"Menurut pembesar itu,"
Kata Pek Han-hong melanjutkan kisahnya.
"Menurut peraturan yang ada, siapa yang menjadi camat, dia harus pergi dulu ke kotaraja untuk menghadap raja dan nanti Sri Bagindalah yang akan mengangkatnya secara sah. Tetapi kalau camat yang diangkat oleh Go Sam-kui, kedatangannya hanya untuk formalitas saja, semakin banyak orang itu minum, ucapannya juga semakin jumawa, Toako sengaja mengatakan bahwa dengan pembesar Yo yang menjadi camat, berarti orang Inlam mengepalai orang Inlam sendiri, Tentu penduduk Inlam sangat berbahagia karenanya, Mendengar kata-kata toako, pembesar Yo itu tertawa terbahak-bahak. Dia berkata.
"Hal itu sudah tentu!"
Justru tepat pada saat dia mengucapkan kata-kata itu, di meja lain ada seseorang yang berteriak.
"Oh, bangsat tua. Dia benar-benar musuh kita semua!"
Terus orang itu melompat bangun, Tampak wajahnya merah padam karena menahan kemarahan."
"Apakah kata-kata itu diucapkan oleh Pat-pil Wan-kan Ci Tian-coan, setan tua itu?"
Tanya Sou Kong.
"Memang dia!"
Sahut Han Hong.
"Bangsat tua itu duduk di dekat jendela sembari minum arak, dia terus menambahkan, katanya kalau orang setempat memangku jabatan di asalnya sendiri, rakyat semakin diperas habis-habisan, Sebetulnya, kita toh sedang berbicara, siapa suruh dia banyak mulut?"
Hian Ceng tertawa datar.
"Pek jihiap, kata-katanya Ci samko kami tidak salah, bukan?"
Han Hong terdiam sejenak, sulit baginya untuk menjawab pertanyaan itu, Sesaat kemudian dia baru berkata kembali.
"Kata-katanya memang tidak salah, aku juga tidak mengatakan dia salah,.. tapi, untuk apa dia ikut campur dalam pembicaraan orang lain? Coba kalau dia diam saja, tentu tidak akan timbul urusan sepelik ini di antara kita."
Melihat hati Han Hong masih panas, Hian Cen pun tidak mengatakan apa-apa lagi. Pek Han-hong melanjutkan keterangannya.
"Yo It-hong marah sekali mendengar kata-kata orang itu, Dia menggebrak meja keras-keras dan menoleh ke arah orang yang berbicara, Dia melihat orang itu sudah tua dan punggungnya bungkuk, di sampingnya ada sebuah kotak obat yang sudah kumal dan kotor. Mengetahui bahwa orang itu hanya seorang penjual obat, pembesar itu langsung menyentaknya dengan suara bengis.
"Tua bangka tidak tahu mampus, apa yang kau katakan. Keempat pengikutnya pun menghampiri dan mendamprat bahkan salah satunya langsung merenggut leher pakaian orang itu. Ketika itu mataku benar-benar lamur, aku tidak tahu orang itu mengerti ilmu silat karenanya aku maju untuk memisahkan mereka, Maksudku hanya untuk meredakan suasana yang mulai panas,"
"Pek jihiap, tindakanmu benar sekali, Kau patut disebut pemuda yang gagah perkasa dan berhati mulia,"
Kata Hian Ceng memuji.
Dia memang sengaja berkata demikian, agar hatinya tuan rumah itu tidak panas terus.
Dengan demikian mereka bisa mencari penyelesaiannya, Bukakah pihaknya yang meraih kemenangan?
Pek Han-siong sudah mati, sedangkan ci Samko hanya terluka parah, sebaiknya mereka bisa berdamai saja.
Tapi ternyata Han Hong tidak kena diangkat-angkat, dia malah tambah marah.
Matanya menatap ke arah Hian Ceng dengan mendelik.
"Orang gagah apanya? Aku justru menyesal mataku tidak mengenal orang, Aku tidak melihat bahwa bangsat tua itu sangat licik malah aku menyangkanya manusia baikbaik. Ketika itu Yo It-hong sudah berkaok-kaok bahwa orang itu berani memberontak serta mencaci-maki dengan kalang kabut. Dia mengatakan bahwa orang kota raja kebanyakan licik dan harus dihukum!"
"Pembesar anjing itu sungguh keterlaluan!"
Maki Hoan Kong yang mendongkol "Sudah di Inlam berani memeras rakyat, di kota raja pun dia hendak mengunjuk kuasanya!"
"Buat menghina, pembesar itu tidak dapat berbuat sesukanya. Dia mengatakan bahwa dia ingin meringkus orang itu untuk diserahkan kepada pembesar setempat supaya dihukum rangket empat puluh rotan, Dia akan mengalungi leher orang itu kemudian digiring di jalan raya agar dapat disaksikan oleh orang banyak, Mendengar ucapan si pembesar itu, si bangsat tua itu tertawa terbahak-bahak, Dia malah berkata. Tuan camat yang mulia, dari tadi mulutmu berkaok-kaok terus, apakah kau tidak merasa letih? Biar aku yang hina memberimu selembar koyo agar mulutmu itu tertutup rapat!"
Habis berkata dia membuka kotak obatnya dan mengeluarkan sehelai koyo yang langsung di sobek lapisannya!"
Semua orang yang ada dalam ruangan itu jadi tertarik hatinya dan ikut mendengarkan dengan perhatian penuh.
"MuIanya aku heran melihat orang she Ci itu tidak takut terhadap pembesar negeri,"
Kata Pek Han-hong melanjutkan penuturannya.
"Aku bersama toako hanya memperhatikan saja. Biasanya, kalau koyo akan ditempelkan harus digarang di atas api dulu agar obatnya meleleh. Tetapi tidak demikian halnya dengan bangsat tua itu. Dia menjepit koyo itu dengan kedua telapak tangannya dan obat itu langsung lumer. Tenaga dalamnya hebat sekali, sementara itu, Yo It-hong masih juga memerintahkan orangnya untuk meringkus si bangsat tua!"
Bagian 14 Selama Pek Han-hong bercerita, Siau Po berpikir "Bagus, tentu pertunjukannya bagus sekali, Aku akan mendengarkan dengan seksama!"
"Menduga bahwa bangsat tua itu pasti sangat lihay, aku membiarkan saja tindakan pembesar dan keempat pengikutnya itu, Salah seorang sok jago, dia mengatakan bahwa dia akan maju sendiri menghadapi lawan, dia benar-benar maju ke depan bangsat tua itu!"
"Kau mau beli obat?"
Tanya bangsat tua itu.
"Nah, ini obatnya!"
Dia pun meletakkan obat itu di tangan si pengikut."
"Pengikut itu menjadi gusar."
"Hai, anjing tua! Apa sebenarnya yang kau inginkan? bentaknya, sambil maju terus ke depan." "Orang tua itu mendorong perwira atau mungkin tukang pukul tersebut, tangannya yang satu tetap meluncur ke depan dan koyo yang masih panas itu langsung ditempelkan di mulut pembesar itu. Karena nyeri, pembesar itu sampai berkaok-kaok, namun karena mulutnya tersumpal, tidak ada suara yang keluar dari kerongkongannya kecuali Akkk.... Uuukkkkk!"
Mendengar cerita yang seru itu, Siau Po sampai tidak dapat menahan rasa gelinya sehingga tertawa terpingkal-pingkal dan tepuk tangan keras-keras.
Pek Han-hong menolehkan kepalanya dan mendelik kepada si bocah, Siau Po jadi ngeri melihat sinar matanya yang bengis sehingga tawanya tidak dapat dilanjutkan lagi.
"Bagaimana kelanjutannya?"
Tanya Sou Kong.
"Pembesar itu jadi kelabakan dan berusaha melepaskan koyo panas yang menyumpal bibirnya. Si bangsat tua itu tidak berdiam diri, Tangannya bergerak dengan cepat menyambar ke empat pengikut itu satu per satu kemudian melempar mereka sambil berteriak.
"Cepat kau bantu pembesarmu itu!"
Entah bagaimana cara bangsat tua itu melakukannya, tahu-tahu tangan ke empat pengikut itu meluncur ke depan dan menampar muka pembesar itu secara bergantian pembesar itu semakin kesakitan, suaranya seperti ayam disembelih dan dalam sekejap mata kedua pipinya sudah bengap tidak karuan dan merah padam!"
Kembali Siau Po tertawa geli, Dia lupa sikap garang Pek Han-hong dan matanya sengaja dialihkan ke tempat lain sehingga tidak perlu melihatnya. Sou Kong menganggukkan kepalanya.
"Orang tua itu dijuluki Pat-pi Wan-hau, tidak heran kalau gerakan tangannya lihay sekali, Konon ilmu Kim na-tay hoat nya hebat sekali, Ternyata sekarang telah terbukti."
Pek Han-hong melanjutkan cerita nya.
"Kakakku tertawa menyaksikan peristiwa itu. Pada saat itu, penonton mulai ramai, sebab rumah makan itu memang cukup laris, Si bangsat tua terus bergaya. Dia sengaja berteriak-teriak seakan-akan membela pembesar itu.
"Jangan! jangan kalian pukuli atasanmu itu!"
Katanya.
Tubuhnya mencelat ke sana ke mari, Tampaknya dia sedang menghindarkan diri dari sasaran keempat pengikut tersebut, tetapi sebetulnya dia malah menambah tamparan pada Yo It-hong.
Dia baru berhenti setelah pembesar itu roboh pingsan di atas tanah.
Sibuklah keempat pengikut itu menolong junjungannya.
Namun sebetulnya mereka masih bingung, apa yang telah terjadi, Malah mereka menduga sedang diganggu setan usil.
Tanpa banyak bicara lagi, mereka menggotong si pembesar dan meninggalkan rumah makan itu dengan terbirit-birit.
Pemilik rumah makan hanya bisa menggelenggelengkan kepalanya sambil mengelus dada, Tentu saja dia tidak berani meminta ganti rugi kepada pengikut pembesar itu!"
"Bagus! Bagus!"
Seru Hong Kong tertawa terbahak-bahak.
"Segala pembesar anjing memang harus diberi pelajaran Terutama kaki tangannya Go Sam-kui. perbuatan Ci samko sama artinya dengan melampiaskan kejengkelan di hati rakyat Eh, Pek jihiap.... Mengapa waktu itu kau tidak membantu Ci samko menghajar anjing pembesar itu dengan beberapa bogem mentahmu?"
Pek Han-hong semakin mendongkol mendengar pertanyaan yang bersifat sindiran itu.
"Bangsat tua itu kan hanya ingin memamerkan kepandaiannya, buat apa aku ikut campur? Lagi pula dia yang sedang menghajar orang bukan dirinya yang sedang dihajar, untuk apa aku membantu nya?"
Sahutnya kesal.
"Pek jihiap benar!"
Kata Hian Ceng ikut memberi komentar.
"Huh!"
Pek Han-hong mendengus dingin.
"Setelah rombongan pembesar itu berlalu, toako memanggil pemilik rumah makan dan mengatakan bahwa dia akan menggantikan semua kerugiannya, Bangsat tua itu tertawa dan mengucapkan terima kasih atas ucapan toako itu. Kemudian toako mengundang bangsat tua itu untuk minum bersama. Tahu apa yang dikatakannya? Dia berbicara dengan suara perlahan. Terima kasih! Terima kasih! Memang sudah lama aku dengar nama besar kalian berdua. Sungguh beruntung hari ini kita dapat berjumpa! Mendengar kata-katanya, toako terkejut Rupanya dia sudah tahu dengan jelas siapa kami adanya, sebaliknya kami justru tidak tahu siapa orang itu. Lalu toako pun berkata.
"Kami benar-benar merasa malu, Bolehkah kami mengetahui siapa nama loyacu yang mulia?"
Bangsat tua itu tertawa dan menjawab "Aku yang rendah bernama Ci Tian-coan.
Harap maafkan.
Karena tidak dapat menahan emosi, aku telah menunjukkan lagak yang berlebihan di hadapan saudara berdua, ilmu yang buruk dan hanya membuat bahan tertawaan saja.
"Saat itu kami masih belum tahu siapa adanya Ci Tian-coan itu. Namun karena dia memberi pelajaran pada pembesar musuh, kami yakin bahwa kami merupakan orangorang dari golongan yang sama, Mungkin kalau bangsat tua itu tidak turun tangan, lama kelamaan kami akan menghajarnya juga. setelah itu kami duduk bersama-sama dan berbincang-bincang sembari menikmati arak. Tampaknya ada kecocokan di antara kami, Karena merasa kurang leluasa berbicara di rumah makan itu, toako langsung mengundang orang she Ci itu ke rumah kami,"
"Ah!"
Seru Hong Kong tertahan.
"Jadi Ci samko telah datang ke tempat ini dan akhirnya berkelahi dengan kalian?"
"Siapa bilang kami berkelahi di sini?"
Kata Pek Han-hong dengan mata mendelik.
"Mana mungkin kami membiarkan orang mengacau di rumah kami sendiri? itu namanya penghinaan!"
Hian Ceng tojin menganggukkan kepalanya dan berkata.
"Pek-si Siang-eng adalah orang-orang gagah didunia kangouw, Tidak mungkin mereka berkelahi dengan orang di rumahnya sendiri!"
Pek Han-hong tersenyum kecil mendengar pendeta itu memujinya, Dia sempat mengucapkan terima kasih, Kemudian dia melanjutkan ceritanya.
"Dengan segala kehormatan dan keramah tamahan kami mengundang bangsat tua itu singgah di rumah kami. Setelah itu kami menanyakan bagaimana dia bisa mengenali kami berdua, Bangsat tua itu tidak menutupi dirinya. Dia mengatakan dengan terus terang bahwa dia adalah anggota Tian-te hwe. Dan sejak kami datang ke kotaraja dia sudah tahu siapa adanya kami berdua, Menurutnya, dia memang bermaksud berkenalan dengan kami dan kalau bisa menjadi sahabat kami. Bangsat tua itu benar-benar pandai bicara sehingga kami percaya sepenuhnya, Dia juga mengatakan bahwa dia memang sengaja menghajar pembesar anjing itu agar perhatian kami tertarik dan dia menggunakan kesempatan itu untuk berkenalan dengan kami. Kami hampir menganggapnya sebagai orang baik-baik, Karena itu pula kami membicarakan usaha kita menentang pemerintah Boan. Kami juga merundingkan kemungkinan membangkitkan kembali kerajaan Beng, Kami bertiga, Bukan! Hanya berdua serta seekor anjing, semakin lama semakin merasa cocok satu dengan lainnya!"
Siau Po mendongkol juga mendengar ucapan Pek Han-hong. Terang-terangan dia sudah mengatakan "kami bertiga,"
Eh... tiba-tiba malah mangganti ucapannya dengan "hanya dua orang dan seekor anjing!"
Kata-katanya itu benar-benar merupakan penghinaan bagi Ci lautao, Bocah itu tidak dapat menahan dirinya lagi dan berkata.
"Dua orang manusia dan seekor anjing, mereka langsung merasa cocok satu dengan lainnya!"
Mendengar ucapannya si thay-kam cilik, Hoan Kong tersenyum, Yang lainnya juga merasa geli sehingga rasanya ingin tertawa tapi akhirnya ditahan juga karena tidak enak dengan tuan rumah yang sedang berduka.
Pek jihiap benar-benar marah mendengar kata-kata Siau Po.
Matanya menyorotkan sinar kebencian.
"Setan cilik, kau sengaja mengoceh sembarangan."
Mendengar teguran yang kasar itu, Hoan Kong merasa tidak puas. Biar bagaimana pun Siau Po adalah ketuanya.
"Pek jihiap, ini adalah hiocu kami, Biar usianya masih muda, dia tetap merupakan ketua dari Ceng-bok tong. Dan semua anggota perkumpulan kami, tanpa ada yang terkecuali, harus menghormatinya!"
"Kalau memang hiocu, kenapa?"
Tanya Pek Han-hong seakan menantang. Sou Kong cepat-cepat menengahi.
"Saudaraku ini sedang berduka, Karena itu belum bisa mengendalikan emosinya ketika berbicara, Harap Wi hiocu memakluminya."
Orang she Sou ini sudah banyak pengalaman dan dia tahu sampai di mana tingginya kedudukan seorang hiocu dalam perkumpulan Tian-te hwe.
Pek Han-hong sendiri juga langsung tersadar.
Dia sengaja memalingkan wajahnya ke arah lain agar tidak perlu bertemu pandang dengan Siau Po.
Terdengar dia melanjutkan kata-katanya kembali.
"Setelah itu, kami bertiga...."
"Bukan bertiga!"
Tukas Siau Po.
"Hanya dua orang dan seekor anjing!"
Han Hong benar-benar marah, meskipun kata-kata itu dia sendiri yang mengucapkannya, Wajahnya sampai marah padam dan telunjuknya menuding Siau Po.
"Kau! Kau!"
Pek Han-hong tidak meneruskan kata-katanya karena tiba-tiba dia dapat menguasai dirinya kembali Dia segera menarik nafas panjang-panjang kemudian baru melanjutkan ceritanya.
"Kita lantas membicarakan urusan menentang kerajaan Ceng dan membangun kembali kerajaan Beng. Kita juga membayangkan setelah kerajaan Ceng dibasmi, kami akan mengangkat kembali keturunan Sri Baginda Hong Bu untuk menduduki tahta kerajaan Kata toako, setelah Sri Baginda wafat, hanya ada satu turunannya yang cerdas dan pandai dan sekarang sedang menyembunyikan diri di daerah pegunungan. Bangsat tua itu malah menyahut bahwa raja yang sah ada di Taiwan dan dalam keadaan baik-baik saja."
Ketika Pek Han-hong bercerita sampai di sini, baik Sou Kong, Yaou Cun, Ong Buseng dan yang lainnya baru mengerti apa yang menjadi pokok perselisihan antara kedua saudara Pek dan Ci Tian-coan.
Rupanya kedua belah pihak sama-sama berkeras bahwa junjungannyalah raja yang sah.
Tatkala Kaisar Cong Ceng, raja terakhir dinasti Beng, mati menggantung diri di bukit Bwesan, bangsa Boanciu merampas seluruh Tionggoan, Sisa keluarga kerajaan Beng, yakni pangeran Hok ong, pangeran Lou ong dan pangeran Tong ong mengangkat diri menjadi raja di tempat masing-masing.
Ketiga pangeran itu bukan bekerja sama atau mengalah untuk saudara yang lainnya, tetapi justru bersaing sehingga menjadi musuh.
walaupun ada pangeran yang telah wafat, namun para menterinya yang setia tetap menjunjung pangeran tersebut dan tetap berselisih paham dengan pihak pangeran lainnya.
Pek Han-hong meneruskan penuturannya.
"Mendengar ucapan si bangsat tua itu, aku langsung bertanya.
"Kapan raja kami pergi ke Tai-wan?"
Bangsat tua itu menyahut.
"Yang kumaksudkan adalah putra muda Sri Baginda Liong bu, bukan anak cucunya Kui ong!"
Kemudian toako berkata.
"Ci loyacu, kau adalah seorang patriot yang gagah perkasa, kami dua bersaudara sangat mengagumi mu, Tapi mengenai urusan negara yang besar, rupanya paham kita berbeda, Setelah Baginda Ceng ceng wafat, Hok ong bangkit mengangkat dirinya sendiri. Tapi kemudian Hok ong tertawan tentara Boan, itulah sebabnya Tong ong menggantikan kedudukannya, sayangnya umur Tong ong juga tidak panjang, beliau juga berkorban demi negara. Setelah itu, muncullah Sri Baginda Eng lok kami, dan ketika baginda ini juga mengorbankan diri, sudah sepantasnya kalau kedudukan beliau digantikan oleh anak cucunya sendiri!"
"Liong bu"
Adalah tahun kerajaan ketika Tong ong naik tahta, sedangkan "Eng lok"
Adalah tahun kerajaan ketika Kui ong naik tahta, Sampai sekarang para pengikutnya semua menyebut junjungannya dengan tahun pemerintahan masing-masing Bahkan lama kelamaan menjadi sebutan bagi umur.
Tiba-tiba terdengar Hong Kong menukas.
"Pek jihiap, harap kau tidak berkecil hati. Setelah wafatnya raja Liong bu, dia digantikan oleh saudaranya, raja Ciau bu yang berkuasa di Kui Ciu Tidak disangka-sangka, Kui ong mengirim pasukannya untuk menyerang Ciau bu. Bukankah mereka semua masih keturunan kaisar Cong ceng? Mereka bukan menghajar bangsa Tatcu yang telah merampas seluruh Tionggoan, tetapi malah bergontokan antara saudara sendiri.Bukankah itu suatu kekeliruan yang sangat besar?"
Han Hong tidak senang dengan pertanyaan itu. Karena itu dia menjawab dengan suara keras.
"Nada bicaranya si bangsat tua itu tidak berbeda dengan cara kau bertanya sekarang, Bukankah kaisar Liong bu kami berniat baik? Dia mengutus menterinya ke Kuiciu untuk meminta secara baik-baik agar Tong ong bersedia meletakkan tahta kerajaannya itu, Siapa nyana menteri itu malah dibunuh. Untuk membangun sebuah kerajaan yang kuat, terlebih dahulu harus ada kekompakan di pihak sendiri, bukan? Perbuatan Tong ong tidak dapat dibenarkan sama sekali itu namanya pemberontakan menentang atasan dan dialah biang bencana!"
Hoan Kong tertawa dingin.
"Dalam peperangan di Samsui, aku yang rendah juga mengambil bagian, Ketika itu, pihak siapakah yang kalah?"
Tanyanya dengan bibir dicibirkan. Pek Han-hong marah sekali sampai-sampai dia berjingkrakan.
"Kau masih juga mengungkit kembali hutang lama itu?"
Siau Po tidak memperdulikan kegusaran orang itu.
"Hoan toako,"
Tanyanya pada Hong Kong.
"Bagaimana sih jalannya peperangan di Samsui itu?"
Hoan Kong tertawa.
"Kui ong telah mendengar hasutan dari menterinya yang berkhianat, Kui ong kemudian mengirimkan seorang panglimanya yang bernama Lim Kui-teng membawa pasukan perangnya menyerang Kuiciu...."
"Hoan toako,"
Tukas Sou Kong.
"Keteranganmu itu tidak sesuai dengan kenyataannya, Tong ong yang mula-mula mengirim pasukannya menyerang Tiaukeng, karena itu terpaksa Sri Baginda kami menyambut serangan itu!"
Perselisihan paham ini menghalangi kelanjutan cerita Pek Han-hong, persoalan lama menimbulkan perasaan emosi di hati kedua belah pihak.
Mereka sama-sama egois terhadap paham yang mereka pegang.
Yau Cun segera mengibaskan tangannya melihat suasana menjadi panas, mungkin setiap saat golok dan senjata tajam pun bisa ikut mengambil bagian dalam perdebatan itu.
"Sudah! Sudah!"
Kata si tabib menengahi "Apa gunanya menyebut-nyebut urusan yang telah lalu?
Tidak perduli siapa yang menang dan siapa yang kalah, hal itu tidak membawa kegemilangan bagi kita, sebab pada akhirnya kedua pihak sama-sama dijatuhkan oleh bangsa Tatcu!"
Mendengar kata-kata itu, baik Pek Han-hong maupun Hoan Kong sama-sama bungkam, mereka merasa malu pada diri sendiri.
"Pek jite, bagaimana kelanjutan ceritamu tadi?"
Kata Sou Kong.
"Ucapan bangsat tua itu persis seperti kata-kata tuan Hong barusan...."
Pek Hanhong masih juga menyebut Ci laotoa sebagai bangsat tua.
"Pembicaraan kita semakin lama semakin keras, siapa pun tidak ada yang sudi mengalah Saking marahnya, toako menggebrak meja keras-keras sehingga meja itu menjadi hancur berantakan peristiwa itu tidak membuat bangsat tua itu jeri, dia malah tertawa dingin sembari berkata.
"Setelah alasanmu kalah kuat, aku malah ingin menggunakan kekerasan? Nama besarnya Pek-si Siang Eng dari Bhok onghu memang sangat terkenal, meskipun aku hanya seorang anggota tidak berarti dalam Tian-te hwe, tapi bukan berarti aku harus merasa takut terhadap kalian!"
Pek Han-hong menghentikan kata-katanya sejenak untuk mengedarkan pandangannya ke sekeliling, setelah itu baru dia melanjutkan kembali "Kata-katanya itu sungguh tidak enak didengar Benar-benar merupakan penghinaan bagi keluarga Bhok, Tapi toako masih berusaha bersikap sabar, dia hanya berkata.
"Aku memecahkan meja yang memang milikku sendiri, apa urusannya dengan kau? Mengapa kau menghina Bhok onghu? Siapa yang kau andalkan sehingga kau begitu berani? Sampai di situ pertengkaran kami, lalu toako dan bangsat tua itu mengadakan perjanjian untuk menyelesaikan persoalan lewat pertempuran malam itu juga di Tiantan."
Mendengar hal itu, Sou Kong menarik nafas panjang sebagai tanda penyesalan dan kegundahan hati nya.
"Rupanya masalah ini timbul karena urusan yang sepele saja..."
Tengah malam itu juga kita pergi ke Tian tan,"
Kata Han Hong.
"Kalian tentu tahu tempat pemujaan yang ada di kota Peking itu. sesampainya di sana, tanpa bicara sepatah katapun, kedua pihak langsung terlibat pertempuran"
"Tentunya dua lawan satu!"
Tukas Siau Po.
"Eh, entah Pek tayhiap yang maju terlebih dahulu atau Pek jihiap?"
Wajah Pek Han-hong merah padam disindir sedemikian rupa. Saking marahnya dia langsung berteriak.
"Kami dua bersaudara memang selalu turun tangan bersama-sama. Berhadapan dengan satu musuh, kami berdua. Berhadapan dengan seratus musuh, sama juga!"
Siau Po menganggukkan kepalanya.
"Oh, rupanya begitu!"
Kata Siau Po yang mulutnya tajam.
"Jadi, kalau berhadapan dengan aku, seorang bocah cilik, kalian turun tangan berdua juga?"
Bukan main gusarnya Pek Han-hong yang ditanya sedemikian rupa, ia merasa terhina, karenanya sebelah tangannya langsung melayang ke kepala Siau Po. Sou Kong segera mencegah tindakan saudaranya itu.
"Jangan, Pek jite!"
Han Hong memberontak.
"Bocah ini sudah menghina kami secara kelewatan !"
Siau Po diam saja, Meskipun hatinya masih ingin menggoda terus, namun dia dapat melihat orang she Pek itu benar-benar marah.
"Jite, lebih baik kita kesampingkan urusan yang tidak berarti ceritakan lebih lanjut bagaimana orang she Ci itu bisa mencelakai Pek toate!"
Kata Sou Kong mengingatkan. Pek Han-kong mendelik terlebih dahulu kepada Siau Po sebelum meneruskan ceritanya.
"Pada suatu hari nanti aku akan membeset kulitmu dan mencabik-cabik daging di seluruh tubuhmu!"
Ancamnya. Siau Po tidak menggubris orang yang sedang marah itu, sementara itu, Hoan Kong tersenyum ketika mendengar ucapan Sou Kong.
"Sou samhiap, barusan kau mengatakan bahwa Pek tayhiap telah dicelakai oleh Ci samko kami. Kata "
Mencelakai"
Itu sungguh tidak tepat Bukankah kau sudah mendengar sendiri bahwa mereka mengadakan pertemuan di Tian-tan untuk bertempur Dan Ci toako seorang diri melawan kedua saudara Pek.
Dia pun tidak menggunakan akal licik apa-apa.
Dengan demikian pertempuran berlangsung dengan adil, Mana boleh kau mengatakan mencelakai?"
Katanya.
"kenyataannya toako kami memang mati dicelakai orang she Ci itu!"
Teriak Pek Hanhong yang emosinya terbangkit kembali "Sebelum pergi ke Tiantan, kedua pihak sudah mengadakan perjanjian Toako sempat berkata kepadaku.
"Meskipun tua bangka itu sungguh menyebalkan, tetapi bagaimana pun dia berasal dari golongan yang sama dengan kita dan bertujuan merobohkan kerajaan Ceng, Memandang perkumpulan Tian-te hwe, pertempuran harus dibatasi dengan saling towel saja, jangan sampai mencelakai lawannya, jadi kita tidak boleh membunuhnya."
Siapa tahu bangsat tua itu benar-benar kejam dan sadis. Dia justru menurunkan tangan jahat terhadap toako sehingga selembar jiwanya melayang!"
"Bagaimana caranya bangsat tua itu mencelakai Pek toate?"
Tanya Sou Kong.
Tampaknya orang yang satu ini lebih dapat mengendalikan diri dan bijaksana.
Dia ingin mendapatkan keterangan sejelasnya dari rekannya itu.
Kedua pihak langsung terlibat pertempuran Sampai empat puluh jurus masih belum ada kepastian siapa yang menang dan siapa yang kalah Setelah berkelahi lagi beberapa saat, tiba-tiba bangsat tua itu melompat mundur dari arena kemudian memberi hormat sambil berkata.
"Aku yang rendah merasa kagum."
Hari ini tidak ada yang menang maupun kalah, rasanya tidak perlu pertempuran ini dilanjutkan!
ilmu silat Bhok onghu benar-benar hebat Tidak heran namanya bisa terkenal sampai ke seluruh penjuru dunia!"
"Kalau begitu, bukankah anjurannya baik sekali karena perdamaian bisa tercapai dengan dihentikannya pertempuran itu?"
Tanya Sou Kong.
"Tapi, kakak Sou tidak melihat sikapnya ketika berbicara!"
Kata Han Hong dengan nada mendongkol "Apa kakak mengira maksudnya baik?
Dia tersenyum dingin Hal itu membuktikan bahwa dia tidak memandang sebelah mata kepada kita, Pasti dia menganggap Pek-si Suang Eng dari Bhok onghu tidak sanggup mengalahkan dia yang kedudukannya rendah dalam Tian-te hwe, meskipun kami menghadapinya dengan dua lawan satu!
itu juga berarti bahwa percuma nama kami terkenal kalau hanya kepulan asap belaka, itulah sebabnya aku merasa tidak senang dan berkata kepadanya.
"Kalau belum ada yang menang atau kalah, kita harus bertempur terus sampai ada penyelesaiannya!"
Bangsat tua itu menyambut tantangan Kami pun terlibat pertempuran kembali, Kali ini aku menggunakan tipu jurus Liong-teng Hou-you (Naga melesat harimau melompat), Setelah mencelat ke atas, dari ketinggian aku menyerang ke bawah, Bangsat tua itu kena ditipu.
Dia menghindar ke samping, padahal kami dua bersaudara sudah melatih ilmu itu sampai sempurna.
Toako menggunakan jurus Heng Siau Ciang-kun (Menyapu seribu tentara dengan posisi melintang) kaki kiri menendang ke kanan sedangkan tangan kanan menyerang ke kiri, Dengan demikian, bangsat tua itu tidak bisa menyingkir lagi..."
Kata Pek Han Hong menjelaskan jalannya pertempuran. Hian Ceng menganggukkan kepalanya.
"Jurus itu memang membuat orang kelabakan karena baik menghindar ke kiri maupun ke sana posisinya tetap serba salah, Lihay sekali!"
"Tapi si bangsat tua itu mengerutkan tubuhnya."
Terdengar Han Hong menjelaskan kembali "Tiba-tiba dia menerjang dada toako. Toako segera melindungi bagian dada dengan kedua tangannya, sembari tertawa dia berkata.
"Nah! Kau kalah!"
Tapi baru saja ucapan toako selesai, dalam waktu yang bersamaan terdengar suara yang keras. Suara benturan!"
Rupanya hantaman si bangsat tua itu berhasil mengenai toako, Dua pukulan sekaligus, sasarannya perut dan dada.
sebenarnya toako mengingat hubungan sesama kaum persilatan sehingga tidak mau mencelakai lawannya, Kedua tangannya hanyadiusapkan ke arah lawan tanpa mengandung tenaga yang dahsyat Siapa sangka hati bangsat tua itu benar-benar beracun!
Dia justru menurunkan tangan jahat!
Melihat keadaan itu, aku langsung menyerangnya dengan jurus Kao-san Liu-sui (Gunung tinggiAir mengalir) Aku hajar punggung bangsat tua itu sehingga dia terhuyung mundur beberapa tindak, namun saat itu toako pun sudah jatuh tertunduk.
MuIutnya memuntahkan darah segar beberapa kali.
Aku terkejut setengah mati, segera aku menghambur ke hadapan toako untuk mengangkatnya bangun Ketika itu si bangsat tua tertawa dingin.
Kemudian dia mengambil langkah seribu, Aku memondong toako untuk membawanya pulang, Tapi di tengah jalan, kakak hanya sempat berkata.
"Balaskan sakit hatiku!"
Kemudian menghembuskan nafas terakhir Sou Samko, kalau sakit hati ini tidak bisa terbalas, percuma kita hidup sebagai manusia!"
Selesai berkata, tanpa dapat mempertahankan diri lagi, air mata Han hong mengucur dengan deras. Hian Ceng menoleh kepada temannya.
"Hong liok-ko, tadi Pek jihiap menyebutkan beberapa jurus yang telah mereka gunakan dalam pertempuran Bagaimana kalau kita mencobanya?"
Orang yang dipanggil Hong liok-ko itu sebenarnya bernama Ci Tiong, Tampangnya biasa-biasa saja, Tidak ada keistimewaan apa pun, malah mirip orang tua yang tidak berdaya.
Sejak hari sebelumnya ketika berkenalan di toko obat, orang ini tidak pernah membuka suara sedikit pun, Siau Po juga tidak begitu memperhatikannya, Mendengar kata-kata Hian Ceng tojin itu, dia hanya menganggukkan kepalanya terus bangun.
Begitu berdiri, dia langsung menghantam ke arah Hian Ceng dengan sebelah telapak tangannya!
Hian Ceng menangkis serangan itu, Setelah itu dia membungkukkan tubuhnya sedikit dan kedua tangannya berbarengan menghantam ke depan.
Sampai di tengah jalan kelima jari tangannya ditekuk sehingga membentuk cakar dan gerakannya pun mirip kera.
Dengan cara demikian dia meniru gerakan Ci Tian coan yang berjuluk kera bertangan delapan.
Hong Ci-tiong menghindar ke kiri kemudian ke kanan, Setelah itu kakinya menutul dan tubuhnya mencelat ke udara, dari atas dia meluncur turun kembali dengan mengirimkan serangan.
"Bagus!"
Seru Yau Cun.
"ltulah jurus Liong-teng Hou-you!"
Belum habis kumandang suara si tabib, Hian Ceng sudah menghindarkan diri, Tapi Hong Ci-tiong tidak berhenti sampai di situ, Dia mengulangi serangannya, Tangannya menghantam ke samping kiri.
Semua orang dapat melihat dengan tegas bahwa gerakan yang dilakukannya persis seperti apa yang dituturkan Pek Han-hong barusan, yakni juru Heng Siau Ciang-kun.
Gerakan Hong liok-ko itu sungguh hebat, terdengar sorakan kawan-kawannya yang merasa kagum.
Kedua orang itu dapat menirukan gerakan Han Siong dan Han Hong dengan baik.
"Nah, Pek Jihiap, Begitu bukan jalannya pertempuran di Tiantan?"
Tanya Hian Ceng.
Wajah Pek Han-hong menjadi pucat pasi, Tojin itu sungguh-sungguh lihay, Gerakan keduanya memang tepat sekali sehingga dia terpaksa menganggukkan kepalanya.
Sementara itu, Siau Po dan rekan-rekan nya juga memuji tiruan gerakan Hian Ceng dan Hong liok-ko.
Di dalam hati, Han Hong sendiri juga merasa kagum sekaligus heran, Laki-laki yang tampangnya biasa-biasa saja itu membuat pikirannya bingung, Bagaimana dia bisa mengerti ilmu yang dikuasai mereka dua bersaudara?
siapakah dia sebenarnya?
Hong Ci-tiong menoleh ke arah Hian Ceng sambil berkata.
"Totiang, harap lotiang melepaskan jubah itu sebentar Maaf!"
Hian Ceng tojin merasa heran dan terkejut Dia tidak mengerti maksud kawannya itu.
Tapi dia menurut juga, Segera dia melepaskan jubah luarnya, justru ketika dia mengibaskan jubahnya itu, tampak dua helai koyakan ujung jubah tertiup angin dan melayang-layang di udara, Karena itu dia langsung merentangkan jubahnya tersebut sehingga dia dapat melihat ada dua bagian yang berlobang dengan bekas telapak tangan.
Meskipun tojin itu berwatak sabar dan tenang, namun tak urung dia terkejut juga sehingga wajahnya menjadi merah.
Biarpun mereka hanya bermain-main, namun hatinya merasa kagum juga, Bagaimana kalau tadi mereka bertempur dengan serius?
Cepat-cepat dia meraba bagian dadanya dan hatinya pun menjadi lega ketika mengetahui dadanya tidak terasa sakit.
Ketika orang-orang masih terdiam saking kagumnya, terdengar Hong Ci tiong berkata kembali kepada tuan rumah.
"Pek jihiap, Pek tahyiap jauh lebih lihay dari aku yang rendah, Tentunya dapat dibayangkan luka yang diderita oleh Ci toako kami. Apalagi bagian punggungnya juga terhajar oleh jurus Kao-san Liu-sui yang hebat, Dengan demikian luka yang diderita Ci toako ada kemungkinan bisa merenggut selembar jiwanya."
Siau Po termenung seorang diri. Diam-diam dia berpikir dalam hati.
"Hay kongkong semasa hidupnya pernah menghajar aku. Tampaknya ia hanya mengusapkan tangannya di bagian dada bajuku, Rupanya tipu jurus ini yang digunakannya."
Sou Kong memperhatikan Han Hong yang memang sedang menatap kepadanya, Keduanya tampak tidak bersemangat, mereka sudah melihat dengan jelas kelihayan Hong Ci-tiong.
Dan dari gerakan yang ditirunya tadi, dapat dibuktikan bahwa Ci Tian-cong turun tangan karena terpaksa, dengan demikian, sulit bagi mereka untuk menuntut balas bagi kematian Pek tayhiap.
Akhirnya Sou Kong berdiri dan berkata.
"Tuan Hong, ilmu silatmu lihay sekali, Kau membuat aku yang rendah merasa kagumi seandainya Pek toate mempunyai ilmu silat yang sebanding denganmu saja, tentu dia tidak bisa dibinasakan oleh orang she Ci!"
Hoan Kong merangkapkan sepasang tangannya dan memberi hormat kepada Sou Kong, Dia mewakili Hong liok-ko menjawab pujian tadi.
"Hari ini kami telah datang mengganggu kalian. sekarang ijinkanlah kami memohon diri."
"Tunggu sebentar!"
Kata Hian Ceng. Mari kita memberi hormat pada Pek tayhiap! Aku harap kejadian ini tidak sampai merenggangkan hubungan baik antara Bhok onghu dengan Tian-te hwe...."
Selesai berkata, dia segera mendahului yang lainnya melangkah ke daIam. Pek Han-hong maju ke depan dan mengulurkan tangannya untuk mencegah, Terdengar dia tertawa dingin.
"Toako mati tidak meram, Sudahlah, Kalian tidak perlu berpura-pura!"
Teriaknya marah.
"Pek jihiap,"
Kata Hian Ceng yang terkenal lebih sabar "Jangan katakan pertandingan yang telah berlangsung antara pihak kami dengan kalian dua bersaudara adalah atas sukarela, dan Ci toako memang telah kesalahan tangan, seandainya Ci toako sengaja melakukannya sekalipun, kau tidak dapat menyalahkan dan membenci seluruh anggota Tian-te hwe.
Kami ingin memberi hormat kepada jenazah Pek tayhiap untuk terakhir kalinya sebagaimana peraturan yang ada dalam dunia kangouw."
Mendengar kata-kata itu, Sou Kong segera ikut memberikan komentarnya.
"Jite, apa yang dikatakan totiang memang benar Kita tidak boleh bersikap kurang sopan."
Pek Han-hong tidak mencegah lagi.
Seluruh rombongan itu langsung maju ke depan peti mati untuk sama-sama menganggukkan kepala sambil membungkuk dan memberi hormat Siau Po sendiri menjatuhkan dirinya berlutut dan terlihat mulutnya berkomatkomit.
"Hai, apa yang kau katakan?"
Bentak Han Hong dengan wajah garang. "Aku hanya bersembahyang kepada Pek tayhiap,"
Sahut si bocah cilik itu.
"Apa urusannya denganmu?"
"Suaramu tidak jelas, entah apa yang kau katakan!"
Kata Pek Han-hong.
"Kau mau tahu?"
Tanya Siau Po.
"Aku bilang begini. Pek tayhiap, kau berangkatlah terlebih dahulu Aku yang rendah Wi Siau-po telah dihajar oleh adikmu sehingga seluruh tubuhku babak belur, mungkin selembar jiwaku ini tidak dapat dipertahankan terlalu lama lagi, Beberapa hari lagi, kalau aku berpulang ke alam baka, tentu kita akan bersua di sana!"
"Kapan aku menghajarmu?"
Tanya Pek Han-hong mendongkol "Kau mau lihat buktinya?"
Tanya Siau Po kembali Dia segera menarik lengan bajunya ke atas dan memperlihatkan tangannya yang bekas tercekat sehingga bertanda biru matang.
"Nah, apakah ini bukan bekas hajaranmu?"
Sou Kong menoleh kepada Pek Han-hong yang diam saja, Dia merasa kurang puas, karena itu dia berkata kepada Siau Po.
"Wi hiocu, urusan ini tidak dapat diselesaikan dalam waktu singkat, aku rasa sebaiknya lain kali saja kita bicarakan kembali."
"Sebenarnya sih tidak apa-apa, cuma.,, aku khawatir luka yang kuderita ini terlalu parah sehingga tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Kapan waktu saja ada kemungkinan dijemput oleh Giam Lo-ong. Kalau ini sampai terjadi, berarti tidak ada kesempatan lagi bagi kita untuk membicarakan urusan ini."
Pikiran Sou Kong bergerak dengan cepat.
"Bocah ini dapat berbicara dengan lancar, rona wajahnya juga memperlihatkan kesehatannya yang baik, mengapa dia bicara seperti itu? Apabila seseorang dalam keadaan terluka, apalagi parah, tent keadaannya tidak demikian! Karena itu dia segera paham bahwa bocah itu memang sengaja mempermainkan mereka, Mengapa dalam perkumpulan Tian-te hwe yang tersohor bisa ada seorang hiocu yang sedemikian rupa?"
"Tak usah khawatir, Wi hiocu,"
Katanya kemudian.
"Kau pasti berumur panjang sampai seratus tahun! Kalau kami semua sudah mati, kau masih bisa hidup beberapa puluh tahun lagi."
"Tetapi sekarang aku merasa perutku sakit sekali,"
Sahut Siau Po.
"Jangan-jangan ususku sudah berbelit-belit dan pencernaanku tidak dapat bekerja lagi, mungkin aku tidak bisa bertahan sampai besok.... Hong liok-ko, Hian Ceng totiang, kala aku sampai mati, janganlah kalian mencari Pek jihiap untuk membalas dendam, Di dalam dunia kangouw, kita harus saling menghargai, karena itu jangan sekali-sekali menimbulkan masalah yang bisa menghancurkan hubungan baik antara Tian-te hwe dengan pihak Bhok onghu.,,."
Rekan-rekannya hanya tersenyum mendengar kata-kata Siau Po.
sedangkan Sou Kong tida menggubrisnya lagi.
Hanya sepasang alisnya yang mengerut, Tanpa banyak bicara lagi, dia mengantar para tamunya keluar.
Setelah itu, Hian Ceng toji juga mengucapkan terima kasih atas bantuan yang diberikan oleh Ma Pok-jin, Yau Cun, Lui It-sia dan Ong Bu-seng, akhirnya rombongan anggota Tian-te hwe beserta Yau Cun, kembali ke rumah obat Namun, sesampainya di tempat itu, mereka langsung terkejut setengah mati.
Tampaknya telah terjadi sesuatu yang luar biasa, meja terbolak-balik, Laci-laci telah dikeluarkan dari tempatnya, hampir semuanya bergeletakan di atas lantai.
Obat-obatan bertumpahan di mana-mana, Dan ketika mereka masuk ke dalam serta memanggilmanggil, tidak terdengar sahutan sama sekali.
Mereka segera merasa curiga, karena toko obat itu ada pegawainya yang mengawasi, tapi mengapa sekarang tidak ada seorangpun yang memberikan jawaban, Ketika mereka masuk ke halaman dalam, semuanya menjadi terperanjat Disana terkulai tiga sosok mayat yang dikenali sebagai pemilik toko yang gemuk beserta dua orang pegawainya.
"Lekas tutup pintu!"
Teriak Hian Ceng tojin.
"Jangan biarkan orang luar masuk. Cepat lihat keadaan Ci toako!"
Dia segera mendahului yang lainnya lari ke ruang bawah tanah.
"Ci toako! Ci toako!"
Panggil nya panik, Yang lain pun mengikuti tindakannya. Sesampainya di ruang bawah tanah itu, semuanya menjadi tertegun, Ci Tian-coan tidak ada lagi di balai-balai tempatnya berbaring.
"Neneknya!"
Teriak Hoan Kong yang marah sekali "Mari kita kembali ke Bhok onghu untuk mengadu jiwa dengan mereka!"
Dia langsung mencurigai bahwa semua ini merupakan hasil perbuatan orang-orang Bhok onghu.
"Lekas undang Ong cong piautau dan lainny untuk menjadi saksi!"
Kata Hian Ceng tojin.
"Selagi kita membuang-buang waktu mengundang mereka, mungkin jiwa Ci toako sudah melayang!"
Kata Hoan Kong yang kebingungan.
"Kalau mereka memang berniat membunuh Ci toako, tentu mereka sudah melakukannya di sini tanpa bersusah payah membawanya pergi."
Hian Ceng tojin mengemukakan pendapatnya.
"Karena mereka membawanya, maka dapat dipastikan bahwa untuk sementara keadaan Ci toako tidak perlu dikhawatirkan."
Hoan Kong tersadar Mereka segera keluar dan menitahkan beberapa rekannya untuk mengundang kembali Ong Bu-seng serta ketiga kawannya.
Dalam sekejap saja mereka sudah datang.
Ketika mengetahui duduknya persoalan, keempat orang itu juga merasa marah sekali.
"Jangan menunda waktu lagi!"
Kata Ong piautau.
"Sekarang juga kita kembali ke sana!"
Bergegas mereka menuju rumah keluarga Pe Pek Han-hong segera keluar ketika diberitahukan kedatangan orang Tian-te hwe yang belum ia pergi, Dia muncul di muka pintu dan tertawa dingin.
"Ada keperluan apa tuan-tuan kembali lagi sini?"
"Pek jihiap!"kata Hoan Kong dengan nada keras.
"Kau sudah tahu mengapa, buat apa kau malah menanyakannya? perbuatanmu kali ini benar-benar menjatuhkan pamor Bhok onghu dan juga wibawamu sendiri!"
Pek Han-hong menatapnya dengan tampang kebingungan.
"Mengapa harus kehilangan pamor? perbuatan apa yang telah kulakukan?"
Tanyanya heran.
"Mana Ci toako kami?"
Tanya Hong Kong kembali "Lekas serahkan!
Kau menggunakan kesempatan ketika kami tidak ada di rumah untuk datang menyatroni tempat kami itu dan membinasakan tiga orang pegawai Hwe-cun tong serta menculik Ci toako, perbuatanmu itu sungguh rendah!"
Pek Han-hong semakin bingung.
"Kau hanya mengacau! Apa kalian sudah gila? Apa itu Hwe-cun tong? Apa yang kau maksudkan dengan tiga pegawai yang mati?"
Tepat pada saat itu, Sou Kong keluar dari dalam, dia sempat mendengar pertengkaran itu.
"Ada keperluan apakah sehingga tuan-tuan datang kembali?"
Tanyanya sabar.
"Sou samhiap!"
Lui It-siau ikut bicara.
"Kali ini pihakmulah yang tidak benar, manusia tidak boleh lupa dengan tata krama serta etiket, Andaikata kalian ingin membalas sakit hati, tapi caranya bukan sembarang membunuh orang yang tidak bersalah dan menculik orang yang sedang terluka. Betapa beraninya kalian melakukan hal ini di kotaraja!"
Sou Kong menoleh kepada Pek Han-hong.
"Apa sedang mereka bicarakan?"
Tanyanya bingung.
"Mana aku tahu?"
Sahut Pek Han-hong.
"Aku sendiri tidak mengerti!"
Ong Bu-seng segera berkata.
"Sou samhiap, Pek jihiap! Di tempat tinggal anggota Tian-te hwe kami menemukan tiga orang yang mati terbunuh, Sedangkan bayangan Ci suhu tidak kelihatan lagi, Hal ini berarti dia telah diculik, Karena itulah kami datang kemari. Siapa yang salah dan siapa yang benar akan kita pertimbangkan nanti! Sekaran marilah kita bicara baik-baik. Di samping itu, aku mohon sudilah kiranya Sou samhiap dan Pek jihiap memandang muka kami agar membebaskan Ci suhu dulu!"
Sou Kong menjadi penasaran "Ci Tian-coan telah diculik?"
Tanyanya.
"Sungguh aneh! Oh, rupanya tuan-tuan menyangka kamilah yang melakukannya? Tapi tuan-tuan sekarang lihat sendiri! Bukankah sejak tadi kami ada di sini bersama tuan-tuan sekalian? Kami toh tidak mungkin memisahkan diri untuk melakukan hal lainnya.
"Sudah tentu bukan kalian sendiri yang melakukannya!"
Kata Hoan Kong. Tapi kalian bisa menugaskan orang-orang kalian untuk turun tangan. Tentunya bukan hal yang sulit, bukan?"
"Kalau tuan-tuan tidak percaya kepada kami, apa lagi yang bisa kami katakan?"
Kata Sou Kong "Apa mungkin tuan-tuan ingin menggeledah agar lebih yakin? silahkan rnasuk!"
Sebelum rombongan orang-orang Tian-te hwe sempat menjawab, Pek Han-hong sudah berkata.
"Kata-kata Sin Jiu kisu biasanya satu bilang satu, dua bilang dua. Dia tidak pernah berdusta, Biar aku katakan secara terus terang, Kalau orang she Ci itu sampai terjatuh ke tanganku, pasti aku akan langsung menghabisinya, siapa yang kebanyakan waktu menculiknya dan memberinya makan?"
Sou Kong masih bisa bersikap sabar.
"Di balik semua ini pasti ada sesuatu yang tersembunyi katanya.
"Maaf, tuan-tuan. Tapi, bolehkah kalian mengajak aku ke tempat kejadian untuk melihat-lihat?"
Hoan Kong dan yang lain-Iainnya jadi sangsi, tampaknya baik Sou Kong maupun Pek Han-hong bcnar-benar tidak mengetahui urusan itu.
"Sou samhiap,"
Kata Hoan Kong. Kami semua ingin mendengar satu patah kata darimu saja. sebenarnya Ci toako kami telah terjatuh ke tangan kalian atau tidak?"
Sou Kong menggelengkan kepalanya.
"Tidak!"
Sahutnya tegas.
"Dan aku berani menjamin bahwa Pek Jihiap juga tidak ada sangkut pautnya dengan urusan ini!"
Nama Sou Kong sudah terkenal sebagai tokoh kangouw yang jujur. Hal ini membuktikan bahwa apa yang dikatakannya tidak mungkin dusta.
"Kalau begitu, Sou samhiap,"
Kata Hian Ceng tojin kemudian.
"Silahkan kalian datang ke tempat kami."
Pek Han-hong dan Sou Kong menerima baik undangan itu.
Mereka segera kembali ke Hwe-cu tong.
Keduanya memeriksa dengan teliti mayat ketiga pegawai toko obat tersebut.
Para mayat itu terhajar oleh tangan yang berat sehingga tulang bagian dada dan iga pada patah dan remuk.
Namun pukulan itu biasa-biasa saja, jadi sulit membedakan ilmu apa yang digunakan atau berasal dari partai mana.
"Biar bagaimana kita harus bersama-sama menyelidiki sampai tuntas,"
Kata Sou Kong, Setelah itu, dia termenung sekian lama, kemudian baru berkata lagi.
"Kalau tidak, kita akan menghadapi penasaran yang tidak dapat dijelaskan untuk selamanya!"
Dari toko obat itu, mereka menuju ruang rahasia, Pihak Tian-te hwe tidak keberatan orang luar mengetahui tempat rahasia mereka itu.
Di sini Sou Kong dan Pek Han-hong juga tidak berhasil mendapat petunjuk apa-apa.
Oleh karena itu akhirnya terjadi kesepakatan bahwa mereka akan menyelidiki urusan ini bersama-sama.
Karena hari sudah sore, kedua belah pihak pun berpisah, Yau Cu beserta ketiga rekannya juga segera memohon diri.
Sebelum berpisah, Hoan Kong sempat berkata.
"Sou samhiap, Pek jihiap, Harap kalian ketahui nanti malam kami akan membakar tempat ini untuk menghapus segala jejak."
Sou Kong menganggukkan kepalanya.
"Kami sudah memeriksanya dengan teliti,"
Sahutnya.
"Memang ada baiknya tempat ini dibakar sampai habis, di sekitar tidak ada rumah penduduk dengan demikian tidak akan merugikan orang lain lagi pula pihak pembesar negeri juga tidak bisa mencurigainya."
Siau Po senang sekali mendengar usul pembakaran rumah obat itu, Tentu dia setuju sekali.
"Wi hiocu,"
Kata Hian Ceng tojin kemudian "Hari sudah mulai gelap, sebaiknya kau segera kembali ke istana, Pembakaran rumah ini hanyalah sebuah urusan kecil, karena itu tidak perlu merepotkan Wi hiocu, Aku yakin tidak akan terjadi peristiwa apa-apa."
Siau Po tertawa lebar.
"Totiang dan saudara-saudara sekalian, aku harap kalian tidak usah mengangkatangkat aku demikian tinggi. Meskipun aku sudah menjadi hiocu, tetapi dalam urusan apa pun aku masih kalah dengan kalian, Aku ingin berdiam di sini sekedar menyaksikan saja,"
Hian Ceng tojin ikut tertawa.
"Bukan begitu, Wi hiocu,"
Katanya.
"Ada baiknya hiocu ketahui bahwa pembakaran akan dilakukan mulai tengah malam, Kami juga akan berpencar untuk melakukan pengawasan agar penduduk di sekitar sini tidak menjadi terkejut atau ketakutan sedangkan bagi hiocu, satu malam tidak pulang ke istana tentu bisa menimbulkan pertanyaan."
Siau Po menganggukkan kepalanya, Apa yang dikatakan imam itu memang benar Setelah makan malam, pintu istana akan dikunci dan dijaga ketat.
Tidak ada orang yang bisa keluar masuk tanpa ijin.
tidak terkecuali Wi Siau-po.
Tidak baik apabila dia sampai tidak pulang sepanjang malam.
"Sayang sekali,"
Katanya penuh penyesalan "Tentu menyenangkan kalau aku bisa menjadi orang pertama yang menyulut api!" Mendengar ucapannya, Kho Gan-tiau segera menghampiri dan berbisik.
"Hiocu, kalau lain kali kita akan membakar rumah lagi, tentu kami akan mengundang Wi hiocu sebagai orang pertama yang menyulutnya!"
Siau Po gembira sekali sehingga dia menggenggam tangan Kho Gan-tiau erat-erat.
"lngat janjimu, Kho toako!"
Katanya.
"Jangan kau melupakannya!"
"Perintah Hiocu tidak mungkin kami yang rendah berani melupakan!"
Sahut Kho Gantiau. Siau Po tertawa gembira.
"Bagaimana kalau besok pagi ke lorong Yang-ciu untuk membakar rumah keluarga Pek?"
Katanya mengusulkan. Kho Gan-tiau terkejut setengah mati mendengar ucapan bocah itu.
"Ini... ini bukan urusan main-rnain. Kita harus mempertimbangkannya baik-baik, karena gawat kalau sampai Cong tocu mengetahuinya."
Disebutnya nama ketua pusat itu, hilanglah kegembiraan Siau Po.
ia segera mengganti pakaiannya kembali dan dibungkusnya pakaiannya yang baru serta mewah itu, sementara itu, Gan Tiau berjalan keluar dan memeriksa sekitar tempat itu dengan seksama.
Setelah yakin tidak ada orang yang mencurigakan, ia masuk lagi ke dalam dan mengiringi Siau Po meninggalkan tempat itu dengan joli untuk kembali ke istana.
Di tengah jalan, ketika masih berada di dalam joli, seorang anggota Tian-te hwe yang ikut mengiringi berkata kepada Siau Po.
"Wi hiocu, besok kalau hiocu ada waktu, datanglah ke dapur Siang-sian tong untuk melihat-lihat!"
"Memangnya ada apa di sana?"
Tanya Siau Po bingung.
"Tidak ada apa-apa!"
Sahut orang itu sembari ngeloyor pergi.
Siau Po mencoba mengingat-ingat, tapi dia lupa siapa nama orang itu.
Tampangnya agak ketolol-tololan dengan kumis tipis dan janggut seperti kambing, Dia juga ikut ke rumah keluarga Pek.
Namun tadinya Siau Po mengira bahwa dia salah satu pegawai toko obat Hwe-cun tong.
Dia merasa heran mengapa orang itu berpesan demikian.
Mengingat Siang-sian tong adalah wilayah tugasnya Siau Po, maka besok paginya dia langsung ke dapur istana itu.
para bawahannya menjadi repot, mereka menyambutnya dengan penuh hormat.
Pertama-tama dia disuguhi teh hangat.
Anehnya, dia tidak melihat sesuatu yang istimewa di tempat tersebut.
Ketika thay-kam kesayangan Sri Baginda itu hendak kembali ke kamarnya, tiba-tiba dia melihat datangnya seorang thay-kam yang bertugas berbelanja di pasar, Di belakangnya mengikuti seseorang yang membawa sebuah timbangan besar, sembari berjalan orang itu tertawa cekikikan.
"Benar, benar! Apa pun yang dikatakan kong-kong, pasti tidak salah lagi!"
Siau Po merasa terperanjat juga heran, Sebab dia mengenali orang itu sebagai anggota Tian-te hwe yang menyarankan agar dia datang ke dapur Siang-sian tong kemarin.
Thay-kam yang tugasnya berbelanja itu segera memberi hormat kepada atasannya.
Siau Po menganggukkan kepalanya sambil menunjuk kepada kawannya yang membawa timbangan itu.
"Siapa dia?"
Thay-kam itu tertawa.
"Dia biasa dipanggil Cian laopan (tauke Cian), pemilik toko daging Cian Hin-liong di pintu kota utara, Kami baru saja berkenalan dan hari ini sengaja dia datang membawa sepuluh ekor daging babi sebagai tanda persahabatan."
Cian laopan segera bertekuk lutut memberi hormat pada thay-kam gadungan kita.
"Kongkong ibarat ayah bunda yang membesarkan kami. Hari ini sungguh beruntung aku yang rendah dapat memberi hormat kepada kongkong. Rupanya ini berkat keluhuran budi nenek moyang kami di jaman dahulu!"
Siau Po tertawa.
"Sudahlah! Tidak usah banyak peradatan!"
Katanya, sedangkan dalam hati dia berpikir "Mau apa dia masuk ke dalam istana? Mengapa dia tidak mengatakan langsung saja kemarin apabila ada keperluan apa-apa?"
Cian laopan berdiri sambil tersenyum.
"Maksud kami mengirim daging ke istana agar toko kami menjadi laris, Memang kami sengaja menjualnya lebih murah dari toko daging lainnya. Kalau khalayak ramai mengetahui bahwa ibu suri, Sri Baginda, para pangeran ataupun kongkong sekalian membeli daging dari toko kami, tentu kami merasa bergengsi dan bisa dianggap sebagai toko daging nomor satu di kota ini!"
Sekali lagi dia menjura. Kemudian dia mengeluarkan tiga lembar cek yang lalu diserahkannya kepada Siau Po.
"Di sini ada sejumlah uang yang tidak ada nilainya, harap kongkong terima agar dapat dibagi-kan kepada para bawahan kongkong!"
Siau Po menyambut tiga lembar cek itu.
Dia melihat masing-masing bernilai lima ratus tail, lho?
inikan jumlah yang kuberikan kepada Kho Dan-tiau kemarin untuk itu dia sampai tertegun saking heran...
Cian Laopan melakicart bibirnya ke arah thay-kam tukang masak, Siau Po mengerti isyarat yang diberikannya, Dia maju dan berkata.
"Cian laopan benar-benar baik hati"
Kemudian dia serahkan ketiga lembar cek itu kepada thay-kam tukang belanja dan berkata. terimalah uang ini agar dapat dibagi kali rata dengan kawan-kawanmu Aku sendiri tidak usah..."
Bukan main gembiranya thay-kam itu. Jumlah seribu lima ratus tahil tidak kecil sehingga dia pun mengucapkan terima kasih berkali-kali. Namun dia berpikir juga dalam hati.
"Biar bagaimana, aku harus menyisihkan buat kongkong. Terdengar Cian laupan berkata kembali.
"Kongkong sangat menyayangi para bawahan. Bagus sekali Hal ini membuktikan kebaikan hati kongkong. Tapi kongkong tidak menerima apa pun dariku. Hal ini membuat perasaanku jadi tida enak. Sekarang begini saja, Aku mempunyai dua ekor babi Hok-leng hoa-tiau yang besarnya lua biasa. Nanti aku akan menyembelih dua ekor, Satu untuk ibu suri dan seekor lagi untuk kongkong sendiri. Khusus untuk kongkong punya, akan ku antar ke kamar kongkong!"
"Apa artinya babi Hok-Ieng hoa-tiau?"
Tanya Siau Po.
"Namanya aneh sekali, aku belum pernah mendengarnya."
"ltulah babi istimewa yang dipelihara menurut resep peninggalan leluhurku,"
Kata Cian laopan menjelaskan.
"Pertama-tama harus dipilih babi dari turunan yang bagus. Kemudian cara pemeliharaannya sebagai berikut. Babi yang baru berhenti menyusu pada induknya harus diberi makan dengan campuran Hok feng, tong som dan beberapa macam obat-obatan lainnya ditambah sebutir telur serta seekor arak Hoa tiau yang telah lama direndam dalam arak.,.,"
Belum habis ucapan Cian laopan, para thay-kam sudah tertawa geli, Sebab pemeliharaan babi dengan cara demikian sungguh luar biasa.
jangan kata menemui, mendengar saja baru kali ini, bahkan ada yang bertanya.
"Mengapa harus memelihara babi dengan cara sesusah itu? Biayanya saja sudah ratusan tail!"
"Ongkosnya tidak menjadi persoalan,"
Sahut Cian laopan.
"Yang menjadi masalah justru diperlukan ketekunan khusus dan cara perawatan yang memakan waktu lama."
"Bagus!"
Seru Siau Po.
"Biar bagaimanapun daging babi seperti itu harus kucicipi!"
"Baik, kongkong,"
Sahut Cian laopan "Eh, nanti siang kira-kira jam berapa aku boleh mengantar babi itu ke kamar kongkong?"
Siau Po berpikir sebentar.
"Antara jam Bi-sie dan Sin-sie saja,"
Sahutnya kemudian, Maksudnya kurang lebih pukul tiga siang.
"Baik, kongkong!"
Kata Cian laopan yang kembali memberi hormat lalu memohon diri.
"Kongkong,"
Kata thay-kam tadi.
"Kalau nanti kongkong bertemu dengan Sri Baginda, harap kongkong tidak mengungkit urusan ini..."
"Kenapa?"
Tanya Siau Po.
"Ada peraturan dalam istana yang melarang disuguhkannya barang-barang makanan yang langka terhadap keluarga raja, Sebab apabila ada yang sakit karena makanan itu, kitalah yang terancam bahaya, bisa-bisa batok kepala kita menggelinding dari tempatnya."
Siau Po menganggukkan kepalanya.
"Baik!"
"Lagipula,"
Lanjut thay-kam tadi kembali.
"Kalau seandainya Sri Baginda menjadi ketagihan, di mana lagi kita harus mencari babi yang dipelihara dengan berbagai keistimewaan itu? Bukankah kita hanya mencari penyakit bagi diri kita sendiri?"
Siau Po tertawa.
"Pikiranmu tepat sekali!"
"Sedangkan ada peraturan turun temuran bahwa sayur mayur maupun hidangan yang disajika untuk ibu suri maupun Sri Baginda tidak boleh yang baru atau segar,"
Kata thay-kam itu kembali Siau Po sampai tertegun mendengar keterangannya.
"Kalau tidak boleh makan yang segar, apakah Sri Baginda dan ibu suri harus menyantap hidangan yang sudah disimpan satu hari atau satu malam? Sudah beberapa bulan dia menjadi kepala Siang-sian tong, tapi baru hari dia mendengar ada peraturan seperti itu "
Bukan begitu, kongkong,"
Kata thay-kam tadi tertawa.
"Yang kumaksudkan bukan demikian, Hanya beberapa macam makanan, umpamanya yang dalam satu tahun hanya bermusim satu atau dua kali, seperti rebung. itu juga bisa terancam hukum gantung."
Tidak mungkin! Bukankah Sri Baginda dan ibu suri sangat bijaksana dan adil?"
Kata Siau Po.
"Tapi peraturan itu sudah ada sejak jaman dinasti Beng, Kami hanya bekerja menurut peraturan yang ada."
Siau Po heran sekali, Namun dia tidak mengatakan apa-apa lagi, segera dia menuju kamar tulis untuk melayani Sri Baginda, Selesai bertugas, dia kembali ke dapur.
Tidak lama kemudian Cian laopan muncul bersama empat orang pegawainya yang menggotong dua ekor babi yang besarnya memang luar biasa, Mungkin berat masingmasing mencapai tiga kwintaj.
Setelah memberi hormat kepada Siau Po, Cian laopan berkata.
"Kongkong, kalau setiap pagi kongkong makan daging babi Hok-Ieng hoa-tiau ini, pasti baik sekali untuk kesehatan apalagi yang dipanggang! Yang seekor ini akan kuantar ke kamar kongkong agar besok pagi dapat dipotong-potong dan dimasak, sisanya bisa diawetkan!"
Bagian 15 Siau Po segera mempunyai dugaan. Dia menganggukkan kepalanya.
"Baik!"
Katanya.
"Pikiranmu benar-benar sempurna, sekarang kau ikut denganku!"
Cian laopan mengangguk Seekor babi ditinggalkan di dapur dan seekor lagi bersama tiga orang pegawainya digotong ke kamar Siau Po.
sesampainya di sana, ketiga pegawainya disuruh pergi kembali ke dapur untuk menunggu di sana.
Dia sendiri langsung merapatkan pintu kamar thay-kam gadungan itu.
"Wi hiocu,"
Katanya setelah mereka tinggal berdua.
"Apakah di sini tidak ada orang lain lagi?"
Siau Po yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik Cian laopan itu segera menggelengkan kepalanya.
Cian laopan langsung membalikkan tubuh babi yang besar itu.
Ternyata di bagian bawah perutnya terdapat jahitan yang ditempel lagi dengan selapi kulit babi lainnya.
"Di dalam perut babi itu pasti tersimpan sesuat yang aneh...."
Pikir Siau Po dalam hati, Kemudian dia memperhatikan dengan seksama, Sekian lama dia berdiam diri. Dia menduga benda yang te( simpan dalam perut babi itu kemungkinan senjati senjata tajam.
"Mungkinkah orang-orang Tian-te hwe berencana untuk menyerbu istana?"
Karena mempunyai pikiran seperti itu, jantungnya jadi berdebar-debar dengan kencang.
Cian laopan segera memutuskan benang jahit pada perut babi itu, Dari dalamnya dia mengeluarkan sebuah bungkusan yang besar sekali, kemudian diangkatnya dan kemudian di buka.
"Akh!"
Mulut Siau Pb sampai mengeluarkan jeritan tertahan, ketika matanya sudah melihat dengan tegas.
Rupanya dalam bungkusan besar itu berisi tubuh seseorang.
Tubuhnya kecil dan kurus, rabutnya panjang, Usianya sekitar dua atau tiga belas tahun.
pakaiannya tipis sekali.
Dia seorang bocah perempuan, matanya terpejam dan tubuhnya tidak bergerak tapi dadanya naik turun menandakan bahwa dia masih hidup.
"Siapa nona ini?"
Tanya Siau Po. suaranya perlahan karena khawatir terdengar orang.
"Untuk apa kau membawanya kemari?"
"Dia kuncu dari Bhok onghu,"
Sahut Cian laopan dengan suara yang sama pelannya. Kuncu adalah puteri bangsawan. Siau Po semakin heran. Matanya membelalak lebar-lebar.
"Kuncu dari Bhok onghu?"
Tanyanya menegaskan.
"Benar!"
Sahut Cian Iaopan.
"Dialah adik kandung dari Siau ongya dari Bhok onghu! Mereka menculik Ci toako kita, maka kita pun menculik putri kecil ini sebagai sandera. Dengan demikian mereka tentu tidak berani mengganggu keselamatan jiwa Ci toako!"
Siau Po bingung sekaligus gembira, memang hanya inilah satu-satunya jalan untuk menjamin keselamatan Ci Tian-coan.
"Bagus! Tapi, bagaimana kau bisa menculik kuncu ini?"
"Kemarin, ketika Wi hiocu dan yang lainnya menuju keluarga Pek, kami berdiam di rumah, justru saat itulah kami mendengar kedatangan Go Eng-him di kotaraja, Dia adalah putra sulungnya Go Sam-kui si pengkhianat bangsa!"
"Aneh!"
Pikir Siau Po dalam hatinya.
"Ada keperluan apa putra Go Sam-kui datang ke kotaraja? "
Kemudian kami masih menerima berita lainnya."
Cian laopan melanjutkan keterangannya "Yakni kabarnya putra Bhok ongnya, si pangera muda yang datang dengan serombongan orang."
Siau Po menganggukkan kepalanya.
"Tentunya mereka ingin membunuh putranya Go Sam-kui, bukan?"
"Benar!"
Sahut Cian Iaopan, Tapi si pengkhianat cilik itu di jaga dengan ketat, Dia dilindungi beberapa pengawal yang kepandaiannya tinggi.
Dengan demikian tidak mudah apabila ingin mem-bunuhnya, setelah mendapat kabar itu, kami segera mencari keterangan lebih jauh.
Kami pergi ke tempat persinggahan keluarga Bhok ong-ya itu.
Tempat itu kosong.
Rupanya mereka juga sedang menyelidiki Go Eng-him.
Yang ada hanya si kuncu cilik beserta dua orang budak perempuan.
Sungguh merupakan saat yang tepat untuk turun tangan...."
"Karena itu, kau langsung membekuknya, begitu?"
Cian laopan menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
"Betul!"
Sahutnya.
"Nona ini masih kecil, tapi bagi Bhok onghu, dia bagaikan si burung Hong, Asal dia ada dalam genggaman kita, Ci toako pasti akan dilayani secara baik-baik!"
"Cian toako, jasamu ini besar sekali!"
Kata Siau Po memuji.
"Terima kasih atas penghargaan hiocu."
"Sekarang kita sudah berhasil menawan si kuncu cilik apa yang selanjutnya harus kita lakukan ?"
Tanya Siau Po.
"Urusan ini kalau dibilang besar, sebetulnya tidak, tapi dibilang kecil tidak juga. Terserah hiocu saja bagaimana menanganinya!"
Siau Po merenung beberapa saat, tetapi dia tidak menemukan jalan keluarnya, Karena itu, dia bertanya kepada si Cian.
"Bagaimana menurut pendapatmu sendiri?"
"Untuk sementara sebaiknya nona ini disembunyikan di tempat yang aman,"
Kata si Cian mengemukakan pendapatnya.
"Tempat itu harus sedemikian rahasianya sehingga tidak dicurigai oleh pihak Bhok ongya. Juga harus dijaga baik-baik agar tidak ditemukan. Tidak sedikit jumlah orang Bhok onghu yang datang ke kota ini. Selain keempat orangnya diandalkan, yakni dari keluarga Lau, Pek. Pui dan Sou masih ada sejumlah orang lainnya. Lagipula mereka mengetahui persis setiap pangkalan kita dan pasti akan terus di awasi. Asal ada sedikit saja gerak gerik kita yang mencurigakan mereka pasti akan mendatangi kita dan meminta pertanggungan jawab kita."
Siau Po tertawa, Si Cian ini jenaka juga dan cocok dengan wataknya sendiri Karena itu, Siau Po langsung menyukainya.
"Cian toako, mari duduk,"
Katanya ramah.
"Biarlah kita berbincang-bincang sejenak!"
"Baik, terima kasih!"
Sahut si Cian, Dia langsung duduk di atas sebuah kursi.
Kemudian dia berkata kembali "Aku sengaja membawa nona ini dalam perut babi agar dapat mengelabui para siwi serta menjaga dari mata-mata Bhok onghu, Ada beberapa orangnya yang lihay sekali sehingga kita harus berhati-hati.
Apabila kuncu tidak disembunyikan dalam istana, mereka pasti akan berhasil menemukannya!"
"Jadi kau ingin agar si kuncu cilik disembunyikan di sini?"
Tanya Siau Po.
"Tidak berani aku yang rendah mengatakan demikian,"
Sahut si Cian.
"Hal ini terserah hiocu sendiri Aku yang rendah memang menganggap istana adalah tempat yang paling aman. Biarpun orang-orang Bhok ong-ya lihay sekali, mereka pasti tidak sanggup melawan para siwi istana, Kalau kuncu ini disembunyikan di sini, jangan kata mereka tidak akan menduganya, seandainya pun mereka bisa menerkanya, tidak mungkin mereka berani datang menyerbu kemari untuk menolongnya, seandainya mereka berani, tentu Sri Baginda bangsa Tatcu sudah kena diculik oleh mereka. Hanya ada satu hal yang aku mohon hiocu dapat memaafkan, yakni aku telah membawa si kuncu cilik ini kemari sehingga hiocu akan menemui banyak kesulitan..."
Diam-diam Siau Po berpikir dalam hati.
"Sudah tahu akan menyulitkan aku, tapi kau masih melakukannya juga. Buat apa kau meminta maaf? Tapi, pikirannya memang bagus, istana merupakan satu-satunya tempat yang paling aman, Tinggal kesulitannya saja... Eh, mungkinkah kau ingin menguji keberanianku? Kita lihat saja nanti!"
Siau Po segera mengembangkan senyuman yang lebar dan berkata.
"Pendapatmu bagus sekali! Baiklah, kau boleh sembunyikan kuncu cilik ini di sini!"
"Bagus, hiocu! Asal hiocu sudah menyanggupi tentu akan kuselesaikan urusan lainnya, Aku yakin pihak Bhok onghu juga tidak kecewa apabila putri kesayangan ini disembunyikan dalam istana, tentu lain halnya kalau disembunyikan dalam tempat pembantaian yang bau amis serta banyak darah terceceran!"
Siau Po tertawa.
"Betul! Lagipula setiap hari dia bisa diberi makan Hok-leng, tongsom dan Hoa-tiau seperti babi peliharaanmu!"
Si Cian tertawa geli walaupun wajahnya agak merah karena jengah.
"Lagipula sebagai seorang putri bangsawan, tentu namanya akan tercemar kalau setiap hari dia berkumpul dengan pria-pria tukang jagal babi, sebaliknya di sini, dia akan aman bersama hiocu!"
"Kenapa begitu?"
Tanya Siau Po bingung.
"Bukankah hiocu masih muda sekali dan bekerja dalam istana pula?"
Sahut si Cian agak gugup, itulah sebabnya aku mengatakan aman...."
Bocah cilik itu memperhatikan lekat-lekat. Di melihat si Cian agak risih, dia langsung dapat menerka apa alasannya berkata demikian.
"Maksudmu, karena aku seorang thay-kam, bukan? Dengan demikian nama baik kuncu ini tidak akan tercemar?"
Tentu saja Siau Po dapat menerka jalan pikirannya si Cian.
Karena selain Kin-Iam, tidak ada seorang pun yang tahu bahwa dia adalah seoran thay-kam gadungan.
Bahkan saudara angkatnya sendiri, Mau Sip-pat mengira bahwa dia sudah dikebiri oleh Hay kongkong dalam keadaan terpaksa.
"Ketika aku membawa kuncu kemari,"
Kata si Cian mengalihkan bahan pembicaraan "Aku sudah menotok jalan darah Sin-tong hiat dan Yang-tong hiat di punggungnya, juga jalan darah Tian-cu hiat di belakang tengkuknya, Karena itu dia tidak dapat bergerak serta tidak dapat berbicara, jikalau hiocu akan memberinya makanan, jalan darahnya harus dibebaskan terlebih dahulu, Namun sebelumnya kau harus menotok dulu jalan darah Hoan-tiau hiat di pahanya agar dia tidak dapat melarikan diri, orang-orang Bhok onghu lihay-lihay.
Meskipun nona ini masih kecil dan lemah lembut, tapi sebaiknya kita berjaga-jaga."
Siau Po tidak paham jalan darah yang diuraikan si Cian, Tapi dia merasa gengsi untuk mengakuinya, Dia pikir, tentunya memalukan apabila dia mengakui bahwa sebagai seorang hiocu dia masih belum mengerti ilmu menotok jalan darah, bahkan membebaskan totokan pun belum bisa.
"Pasti dia akan memandang hina padaku?"
Pikir bocah itu selanjutnya.
"Lagipula, apa susahnya mengurus seorang nona cilik?"
Karena itu dia langsung menganggukkan kepalanya dan berkata.
"Baiklah, aku sudah tahu!"
"Hiongcu, tolong pinjamkan sebatang goIok!"
Kata si Cian, -"Untuk apa dia meminjam golok?"
Tanyanya dalam hati, namun ia mengeluarkan juga pisau belatinya dan menyodorkannya kepada si Cian.
Si Cian menerima pisau itu kemudian menggunakannya untuk menggores daging babi.
Dia langsung terkesima karena tanpa perlu mengerahkan tenaga ia bisa memotong tubuh babi yang gemuk itu dengan mudah.
"Sungguh pisau yang luar biasa tajamnya!"
Puji si Cian yang segera mengutungkan kedua kaki depan babi itu.
"Hiocu, simpanlah kaki babi in untuk dipanggang. sisanya boleh kau serahkan kepada tukang masak. sekarang aku ingin mohon diri. Lain hari, apabial ada berita dari perkumpulan kita aku akan datang memberitahukannya kepada hiocu!"
"Baik!"
Kata Siau Po sambil menyimpan kembali pisau belatinya, Dia memperhatikan si kuncu cilik itu sekilas lalu bertanya.
"Kapan kau akan datang lagi untuk menjemput nona ini?"
Sebenarnya di ingin mengatakan bahwa terlalu berbahaya apabila si nona ditinggalkan agak lama dalam istana.
Ya sebagai seorang hiocu dari Tian-te hwe, dia malu dikatakan penakut Dia juga tidak ingin wibawanya jatuh di mata orang lain.
Si Cian tidak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan itu.
"Lihat saja perkembangannya nanti!"
Katanya kemudian sambil mengundurkan diri.
Siau Po segera mengunci pintu kamarnya rapat-rapat, Dia juga memeriksa seluruh jendelanya dengan teliti, Setelah itu dia duduk di sisi tempat tidur untuk memperhatikan si kuncu cilik.
Sebenarnya si nona cilik itu juga sedang mengawasi Siau Po.
Ketika mengetahui si bocah menoleh kepadanya, dia segera memejamkan matanya, namun pandangan mereka sudah sempat bentrok.
Siau Po tertawa.
"Kau tidak dapat bergerak maupun berbicara, sebaiknya kau rebah saja dengan tenang, ini merupakan jalan terbaik untukmu!"
Pakaian si nona tampak bersih.
Rupanya si Cian memperhatikan pembungkusnya baik-baik dan babinya juga pasti sudah dicuci berkali-kali.
Siau Po menarik selimut untuk menutupi tubuh gadis cilik itu.
Kemudian dia memperhatikan lekat-lekat wajahnya pucat pasi, sepasang alisnya justru lentik sekali, dan terus bergerak-gerak, Mungkin karena perasaannya yang takut atau cemas.
"Jangan takut!"
Kata Siau Po.
"Aku tidak akan membunuhmu Lewat beberapa hari nanti, aku akan membebaskanmu!"
Nona itu membuka matanya sekejap lalu di pejamkan kembali, Siau Po merasa puas, Diam diam dia berpikir dalam hati.
"Kau berasal dari keluarga Bhok yang menggetarkan seluruh dunia kangouw, Lihat saja ketika melakukan perjalanan di wilayah Kangouw, hanya karena ucapan sedikit saja, aku dianggap bersalah oleh seorang turunan Keciang sehingga Mau Sip-pat, si setan bernyali kecil mencambuki aku setengah mampus! Dasa neneknya!"
Siau Po memperhatikan tangannya yang memar karena cekalan Pek Han-hong yang keras, Dia menggumam seorang diri.
"Han Hong, manusia celaka! Kakakmu yang mati, kau mengumbar kemarahannya malah kepadaku. Lihat! Sampai detik ini tanganku masih biru matang akibat perbuatanmu! Malah rasa nyerinya sampai berdenyut-denyut. Siapa nyana, putri kesayangan keluarga Bhok ini malah terjatuh ke tanganku, sekarang apa pun yang kuinginkan baik mencaci maki atau merotaninya, aku dapat melakukannya sesuka hatiku. Dia toh tidak sanggup berkutik sedikit pun!"
Membawa pikiran demikian dia tertawa sendiri. Si nona cilik membuka matanya kembali ketika mendengar suara tawa Siau Po. Dia memperhatikan orang di hadapannya, Sekali lagi Siau Po tertawa dan berkata.
"Betul, kau adalah seorang putri bangsawan, lalu kau menganggap dirimu hebat, bukan? Tapi aku tidak takut padamu!"
Tanpa berpikir panjang lagi, dia menampar pipi gadis cilik itu berkali-kali. Wajah si kuncu itu jadi merah dan bengap, Air matanya juga langsung bercucuran Rupanya dia sangat kesakitan.
"Jangan menangis!"
Bentak Siau Po.
"Kau harus mendengar apa pun laranganku!"
Namun nona itu tidak dapat menahan rasa sakit di pipi dan juga rasa sedih di hatinya, air matanya justru mengucur semakin deras. Siau Po menjadi marah.
"Nona bandel dan bau!"
Bentaknya sekali lagi. Kembali dia menampar pipinya, Kemudian dia menjambak rambut gadis itu lalu menariknya sehingga tubuh si nona terangkat "Ayo, kau masih berani menangis atau tidak?"
Air mata si nona masih terus mengalir.
"Buka matamu!"
Kata Siau Po ketus.
"Lihat aku!"
Si nona malah memejamkan matanya erat-erat.
"Hai, kau kira ini istanamu! ini bukan Bhok onghu, tahu? Biarpun keempat pengawal keluargamu lihay-lihay, tapi suatu hari nanti mereka akan bertemu denganku, Saat itu aku akan membunuh serta mencincang tubuh mereka sehingga berkeping-keping. Ayo, buka matamu tidak?"
Siau Po seperti orang kalap, Tapi si nona tidak mau menggubrisnya. Matanya tetap terpejam "Baik!"
Kata si bocah cilik kemudian jambakannya dilepas.
"Kau tetap tidak mau membuka matamu? Lalu buat apa kau memiliki mata yang jelek itu? Lebih baik dikorek keluar saja dan akan kujadikan santapan dengan arak!"
Dia langsung mengeluarkan pisau belatinya dan menggerak-gerakkannya di depan wajah gadis cilik itu.
Tubuh si nona gemetar namun dia tidak membuka matanya, Siau Po kewalahan juga, Ternyata si nona tidak mempan ancaman.
"Kau tetap tidak mau membuka matamu?"
Tanyanya dengan nada keras.
"Aku justru ingin kau membukanya! Ayo kita mengadu kelihayan, lihat apakah kau putri bau yang menang dan aku, Kui kongkong yang kalah? sekarang aku tidak jadi mengorek biji matamu. Kautahu yang menang apabila aku melakukannya, Untuk selamanya kau tidak bisa melihat aku lagi, sekarang aku ingin menggorek wajahmu terlebih dahulu, seperti memotong telur rebus, Aku bisa membuat gambar bermacam-macam, umpamanya pipi kiri kuukirkan seekor kura kura dan di pipi kanan aka kugambar setumpukan tahi kerbau! Nanti kalau lukanya sudah kering bekas tidak dapat dihilangkan lagi, Kalau kau berjalan keluar rumah, kau akan menjadi tontona ratusan bahkan ribuan orang, Saat itu pasti semua orang akan memuji kecantikanmu, Betapa man dan mempesonanya putri cilik Bhok onghu, Nah kau hendak membuka matamu atau tidak?"
Tubuh si nona semakin gemetar, tetapi matanya masih dipejamkan juga. Melihat keadaan itu, Siau Po langsung menggumam seorang diri perlahan-lahan.
"Oh, rupanya nona ini menganggap wajahnya kurang cantik dan ingin aku meriasnya agar mencapai kesempurnaan Baiklah, aku akan melaku-kannya, Sekarang, pertamatama aku akan melukis seekor kura-kura!"
Di atas meja ada tersedia alat-alat tulis, Siau Po segera mempersiapkan bak tinta serta pitanya, Semua itu peninggalan Hay kongkong yang tidak pernah dikutakkutiknya, Seumur hidupnya baru kali ini Siau Po memegang sebatang pit.
Karena itu, cara menggenggam nya seperti memegang sumpit makan.
Sesaat kemudian si nona cilik merasa ujung pit bergerak-gerak di pipinya, Siau Po sedang mencoba melukis seekor kura-kura, Air matanya mengalir semakin deras sehingga warna tinta hitam mencair dan wajahnya jadi kotor tidak karuan.
"Sekarang aku sedang melukis seekor kura-kura!"
Kata Siau Po kembali, Dia tidak menghiraukan perasaan takut si gadis cilik itu.
"Nanti kalau aku sudah selesai melukis, aku akan mengukirnya dengan mengikuti garisnya, Pisauku sangat tajam, kau tidak perlu khawatir gambarku gagal, Nah, kalau sudah selesai dan kering, aku baru membawamu berjalan-jalan di muka umum agar semua orang bisa memuji kecantikanmu. Di depan pintu kota Tiang-An aku akan berteriak-teriak sekeraskerasnya. Tuan-tuan sekalian, siapa yang ingin mempunyai lukisan kura-kura? Harganya murah sekali Sehelai hanya tiga bun. Dengan demikian aku bisa menghasilkan uang. Melukisnya juga tidak susah, Mungkin satu hari aku sanggup melukis seratus helai gambar kura-kura. Mudah bukan mencari uang tiga ratus bun untuk berfoya-foya setiap hari?"
Selesai berkata, Siau Po memperhatikan wajah si nona.
Dia melihat alis orang itu bergerak-gerak dan matanya berkedip-kedip menandakan hatinya, yang sedang ketakutan Siau Po menjadi puas dan girang sekali Mulutnya tertawa lebar.
"Nah, sekarang giliran pipi kanan!"
Katanya kemudian "Tapi, kalau aku melukis setumpuk kotoran kerbau, siapa yang sudi membelinya? Ah? sebaiknya aku melukis gambar seekor babi. Ya, babi yang gemuk dan buntek, Pasti laris!"
Lalu dia mencoretcoret ujung pitnya di pipi si nona yanf satunya lagi. Dia menggambar binatang berkaki empat, tapi tampangnya tidak mirip babi maupu anjing! "Selesai!"
Katanya, Dia meletakkan pitnya di atas meja kemudian diambilnya sebuah guntin yang ujungnya runcing dan dingin di pipi nona itu dan tentu saja dia hanya menempelkannya saja.
"Ayo, kau buka matamu atau tidak?"
Bentakn sekali lagi "Kalau tidak, aku akan mulai mengukir!"
Air mata si nona masih mengalir namun matanya tetap dipejamkan.
"Kau masih membandel juga?"
Kata Siau Po.
Dia segera membalikkan guntingnya dengan bagian pegangan di bawah dan diletakkannya ke pipi si gadis untuk menggertaknya.
Kuncu cilik merasa pipinya dingin dan agak sakit, Saking takutnya, bukannya membuka mata, dia malah jatuh pingsan!
Siau Po terperanjat setengah mati.
Dia khawatir gadis itu akan mati ketakutan Cepatcepat dia meletakkan ujung jarinya di bawah hidung si nona yang bangir dan dia merasa ada pernafasan yang lemah sekali.
Hatinya lega sekali ketika mengetahui si nona masih hidup.
"Ah, dia hanya pura-pura mati,"
Pikirnya dalam hati Kemudian dia berkata keraskeras.
"Sampai pingsan dia masih tidak mau membuka matanya juga, apakah aku Wi Siau-po harus mengalah? Tidak! Tidak sudi aku kalah olehmu!"
Siau Po segera mengambil sehelai sapu tangan yang kemudian dibasahkan dengan air lalu digunakan untuk membasuh wajah si nona, Dalam sekejap mata wajah si nona jadi bersih kembali Siau Po dapat melihat selembar wajah yang putih dan cantik Bulu matanya lentik, alisnya panjang, hidungnya mancung dan bentuk bibirnya mungil.
Terdengar dia menggumam seorang diri.
"Kau seorang kuncu, sedangkan aku hanya rakyat jelata, Tapi, bukankah kita sama-sama manusia?"
Rupanya karena terkena sentuhan air dingin, si nona siuman dari pingsannya, otomatis dia membuka matanya, Mungkin untuk sesaat dia lupa telah terjatuh ke tangan Siau Po.
Ketika dia membuka matanya dan mendapatkan wajah thay-kam cilik itu begitu dekat dengannya, dia terkejut setengah mati, Apalagi mata mereka sempat berpadu, Cepat-cepat dia memejamkan matanya kembali.
"Ha.,, ha... ha... ha... ha!"
Siau Po tertawa terbahak-bahak.
"Akhirnya kau membuka matamu juga! Ya, kau sudah melihat aku! Dengan demikian, akulah yang menang, Benar kan?"
Puas rasanya hati Siau Po.
Tapi hanya untuk sekejapan saja, Akhirnya dia kecewa juga, Karena nona itu tidak membuka matanya lagi.
Dia berpikir untuk membebaskan totokan gadis cilik itu tetapi dia tidak mempunyai kesanggupan!
"Aih, celaka."
Pikirnya dalam hati, Kemudian dia berkata kepada si gadis cilik.
"Nona, jalan darahmu telah ditotok oleh orang, tapi ia tidak membebaskannya ketika menyerahkan kau padaku, Bukankah kau jadi tidak bisa makan dan bakal mati kelaparan? Aku ingin menolongmu, tapi aku tidak bisa. Dulu aku pernah belajar ilmu totokan, tapi sekarang aku sudah lupa! Bagaimana dengan kau Apakah kau mengerti ilmu silat? Kalau kau tidak bisa, terpaksa kau harus menerima nasib dengan berbaring di sini sampai kematian menjemputmu Tapi kalau kau bisa kedipkanlah matamu tiga kali!"
Selesai berkata, Siau Po memperhatikan gadis cilik itu lekat-lekat untuk menunggu reaksinya.
Sesaat kemudian tampak sulit wajah gadis itu bergerak dan dia mengedipkan matanya tiga kali.
Bukan main girangnya hati si thay-kam gadungan, Dia segera berkata.
"Tadinya aku kira orang-orang keluarga Bhok semuanya terdiri dari boneka kayu, manusia-manusia tolol, otak udang. Apa pun tidak bisa. Kiranya kau berbeda, kayu cilik! untunglah kau mengerti ilmu totokan!"
Siau Po mengatakan boneka kayu dan menyebut si nona dengan panggilan kayu cilik sebab marga keluarga nona itu Bhok yang nada suaranya seperti dengan kayu.
Saking senangnya, Siau Po segera mengangkat tubuh si nona cilik kemudian didudukannya di atas sebuah kursi.
"Sekarang kau lihat aku!"
Kataya dengan nada ramah.
"Aku akan meraba seluruh tubuhmu untuk membebaskan jalan darahmu, Kalau aku menunjuk bagian yang tepat kau harus mengedip tiga kali, Kalau salah, kau harus membelalakkan matamu lebarlebar, Dengan demikian aku baru bisa membebaskanmu, mengerti? Kalau kau paham apa yang kumaksudkan kedipkanlah matamu tiga kali."
Nona itu dapat mendengar kata-katanya dengan jelas, Karena itu dia mengedipkan matanya tiga kali.
"Bagus!"
Seru Siau Po senang.
"Sekarang aku akan mulai mencari jalan darahmu yang tertotok!"
Bocah ini bengal dan nakal, Kebiasaannya ini sudah sulit diubah, Begitu juga kali ini, meskipun dia baru pertama kali bertemu dengan puteri bangsawan itu, tapi dia sudah mengganggunya sedemikian rupa, Dia juga berani sekali sehingga perbuatannya mirip dengan anak yang genit!
Siau Po segera mengulurkan tangannya dan meraba payudara sebelah kanan gadis cilik itu.
"Di sini bukan?"
Tanyanya. Wajah si nona cilik jadi merah padam Dia membelalakkan matanya lebar-lebar tanpa berani berkedip sedikit pun. Siau Po kembali menekan dada sebelah kiri gadis cilik itu.
"Apakah di sini?"
Tanyanya lagi. Wajah si nona semakin jengah, Tapi karena sudah cukup lama dia membelalakkan matanya, di tidak dapat bertahan lagi, tanpa dikehendaki mata nya berkedip satu kali.
"Oh, di sini rupanya!"
Kata Siau Po.
Tapi si nona segera membelalakkan matanya kembali.
Dia merasa malu sekali, Tapi mulutnya tidak dapat berbicara untuk menjelaskan kepada Siau Po.
Dia malah jadi kebingungan Kedua anak itu masih di bawah umur, Tetapi biasanya memang anak perempuan lebih cepat matang daripada anak Iaki-laki.
sedangkan Siau Po dibesarkan dalam rumah pelacuran.
Meskipun belum mengerti, tetapi dia sering melihat perbuatan apa saja yang sering dilakukan para laki-laki hidung belang bersama nona-nona yang disewanya.
Senang hati Siau Po melihat si nona merasa malu dan kebingungan.
Tiba-tiba dia teringat ke-pahitan yang pernah dialaminya di Kangou juga cekalan tangan Pek Hanhbng yang menjadi Ke-cing keluarga Bhok.
Tnilah waktu yang tepat untuk membalas dendam!"
Pikirnya dalam hati.
Sebetulnya Siau Po tidak genit, tetapi dia sering dipengaruhi wataknya yang usil dan suka mengganggu Karena itu dia sengaja meraba tubuh nona itu kesana kemari sehingga si kuncu cilik tidak berani mengedipkan matanya sekalipun.
Bahkan keringat dingin mulai membasahi seluruh tubuhnya.
Tepat pada saat itu Siau Po menotok iga kiri-nya.
Si nona kegelian sekaligus senang, karena kali ini Siau Po menotok dengan tepat, Karena itu pula cepat-cepat dia mengedipkan matanya tiga kali lalu menarik nafas panjang pertanda kelegaan hatinya.
Siau Po tertawa lebar sembari berkata.
"Nah, benar di sini! sebetulnya bukan aku tidak tahu jalan darah ini, tapi entah kenapa aku sampai melupakannya!"
Tiba-tiba sebuah ingatan melintas dalam benaknya.
"Sekarang jalan darahnya sudah bebas, Entah sampai di mana tingginya kepandaian nona cilik ini. Yang pasti ilmu silatku sendiri masih rendah sekali sebaiknya aku meningkatkan kewaspadaan sebab ada kemungkinan dia akan menyerang aku secara mendadak!"
Siau Po bekerja dengan gesit.
Dia segera mengambil dua buah ikat pinggang.
Kemudian dia melipatkan sepasang kaki gadis cilik itu erat-erat dan kedua tangannya pun dilipatkan ke bagian belakang kursi.
Kuncu cilik itu tidak memberontak meskipun diperlakukan sedemikian rupa, Dia hanya merasa khawatir sebab tidak tahu hinaan apa lagi yang akan ditimpakan Siau Po pada dirinya, Karena itu dia memandangi Siau Po dengan sinar mata ketakutan.
Siau Po tertawa.
"Kau takut padaku, bukan?"
Tanyanya.
"Karena kau takut, baiklah! Lohu akan membebaskan totokanmu!"
Lalu dengan seenaknya dia meraba ketiak kiri nona itu kemudian ditekan-tekannya.
Si nona tercekat hatinya, apalagi dia memang mudah geli, wajahnya menjadi merah padam karena menahan rasa ingin tertawa, Dalam keadaan demikian mana mungkin dia tersenyum?
Hatinya merasa mendongkol malu juga takut, Namun karena ia tidak dapat bergerak, terpaksa dia mendiamkan saja orang mempermainkannya.
Siau Po yang jahil berkata kembali.
"Sebetulnya aku seorang ahli dalam ilmu totokan maupun membebaskannya. Hanya saja akhir-akhir ini aku repot sekali sehingga aku sampai hampir lupa semuanya, Tapi ini kan urusan kecil, betul tidak? Nah, sekarang kau katakan, benarkah ini cara membebaskanmu dari totokan?"
Dia meraba lagi dan sekaligus mengge1ktik. Kuncu cilik itu merasa kehilangan namun dia bertahan sekuatnya, Dalam hati dia memaki.
"Dasar kau yang tidak becus! Tapi kau masih mengoceh sembarangan Mana ada orang yang membebaskan totokan dengan cara konyol seperti ini?"
Tentu saja Siau Po tidak tahu jalan pikiran si nona cilik itu. Dia berkata kembali.
"Memang ilmu totokanmu ini sangat istimewa dan hanya bisa memperlihatkan hasil apabila dilakukan pada diri orang dari kalangan atas, Kau hanya seorang budak kecil, bukan keturunan luhur atau kalangan atas, jadi ilmuku ini tidak membawa faedah padamu, Baiklah, sekarang kita coba ilmu yang nomor dua!"
Kembali Siau Po meraba ketiak si nona dan menekan-nekannya, Nona cilik itu sungguh menderita. Di samping geli, dia juga merasa sakit. Air matanya sampai bercucuran Rasa nyeri membuatnya sukar tertawa.
"Ah! Masih tidak jalan juga!"
Kata Siau Po.
"llmu yang nomor dua tidak membawa hasil juga, Benar-benar hebat! Mungkinkah kau hendak kelas tiga? Tidak ada jalan lain kecuali mencoba ilmuku yang ketiga!"
Ucapannya dibuktikan Si nona kembali merasakan siksaan.
Tangan si bocah kembali menggerayangi seluruh tubuhnya, tetapi hasilnya tetap tidak menggembirakan Ilmu totokan harus dipelajari dengan tekun dan memakan waktu, Demikian juga ilmu membebaskannya, Orang harus memahami seluruh jalan darah yang ada dalam tubuh serta tidak boleh melakukan kesalahan.
Mending kalau membebaskan, boleh sembarang memijit di sana-sini, tapi kalau menotok, harus mengetahui jalan darah yang tepat.
Sebab bila salah melakukannya, bisa mengakibatkan kematian Siau Po mengalami kegagalan berkali-kali.
Meskipun dia mengerti sedikit ilmu silat, tapi dia buta sama sekali dalam ilmu totokan Dia hanya main terka saja.
"Kurang ajar!"
Katanya sengit "Aku sudah mencoba sampai ilmuku yang kedelapan namun masih tidak juga berhasil Eh, mungkinkah kau ini budak kelas sembilan?
Aku orang yang berderajat tinggi, tidak bisa aku menggunakan ilmuku yang kesembilan sembarangan Rupanya kalian orang-oran dari Bhok onghu hanya bangsa kutu busuk, Ya...
ap boleh buat Aku tidak bisa memperdulikan rasa harga diriku, Akan kucoba ilmuku yang ke sembilan!"
Kali ini Siau Po tidak menekan-nekan lagi, dimenyentilkan jari tangannya kesana-sini sambil ber-kata.
"lni yang disebut ilmu bunga kapas!"
Dia mengulangi sampai belasan kali. Mendadak si nona menjerit keras dan menangis sesenggukkan Bukan main girangnya hati Siau Po sampai dia berjingkrakan.
"Nah, apa kataku?"
Serunya.
"Oh, anak manis, Kiranya anggota keluarga Bhok ongya hanya budak kelas sembilan Pantas saja kau hanya bisa dibebaskan dengan ilmuku yang ke sembilan pula!"
"Kau.,, kaulah budak... dari ke!as... sem... bilan!"
Seru gadis cilik itu terbata-bata, Dia merasa mendongkol sekali tetapi dia berteriak sembari menangis sehingga ucapannya tidak lancar "Kau.... kaulah... budak... ke.,.las sembilan!"
Ucap Siau Po meniru kata-kata gadis cilik itu, setelah itu dia tertawa terbahak-bahak.
Selagi si nona masih terisak-isak, Siau Po berkata kembali "Aku sudah lapar, Tentunya kau ingin makan juga, Baiklah!
Aku akan mencarikan makanan untukmu!"
Untuk mencari makanan, tidak ada kesulitan sama sekali bagi Siau Po.
Dia adalah kepala bagian Siang-sian tong.
Dia tinggal membuka mulut dan memintanya dari koki istana.
Dia memang sering dimanjakan para koki dan sering dibawakan makanan yang lejatIezat, sebelumnya dia juga senang keluyuran sehingga tahu nama hidangan yang ter kenal dan disukainya, Dia juga banyak tahu tentan kue dan roti, Dia tidak menemukan kesulitan karena uangnya banyak.
Itulah sebabnya tidak lama kemudian dia sudah kembali lagi ke kamar dengan membawa beberap macam kue.
"Nah, mari kita makan ini!"
Ajak Siau Po.
"lni kue kacang hijau dengan aroma bunga mawar Rasanya lezat sekali. Cobalah!" . Si kuncu cilik menggelengkan kepalanya.
"Bagaimana dengan yang ini?"
Siau Po menunjuk kue lainnya.
"lni kue kacang kedelai, tempatmu, Inlam, kue semacam ini pasti tidak ada Cobalah!"
"Aku... aku tidak... ingin ma... kan apa-apa"
Sahut si nona cilik yang akhirnya membuka suara juga. Namun setelah itu, kembali dia menangis terisak-isak. Mendengar suara tangisan itu, kekesalan dalam hati Siau Po agak berkurang.
"Kalau kau tidak makan, tentunya kau akan kelaparan Hal itu membahayakan!"
Kata Siau Po dengan nada sabar. "A...ku tidak la.,.par,"
Sahut si nona.
"Nanti kau sakit!"
"Tidak, aku tidak sakit...."
"Ah... aku tidak percaya,"
Kata Siau Po yang suka melayani nona cilik itu berbicara sebab setiap ucapannya mendapat sambutan.
"Perduli apa aku sakit? Aku lebih suka mati!"
"Tidak! Kau tidak akan mati!"
Tepat pada saat itu, di pintu terdengar suara ketukan.
Suaranya perlahan sekali, tapi Siau Po dapat mendengarnya dengan jelas.
Dia tahu saatnya thay-kam datang mengantarkan makanan, Dia khawatir nona itu akan menjerit Karena itu dia segera mengeluarkan sehelai sapu tangan yang kemudian digunakan untuk menyumpal mulut si nona cilik.
Setelah itu baru dia berjalan menuju pintu dan membukanya sedikit.
"Hari ini aku ingin mencoba masakan In lam. Beritahukan kepada koki istana, minta dia menyediakannya!"
"Baik!"
Sahut si thay-kam kecil yang langsung mengundurkan diri.
Di dalam istana, terdapat banyak pelayan, semuanya dilakukan serba cepat.
Karena itu sebentar saja pesanan Siau Po sudah diantarkan.
Siau Po sendiri yang mengatur hidangan di atas meja yang ada di hadapan si nona.
Dia sendiri langsung duduk di depannya, Terlebih dahulu dia melepaskan sapu tangan yang menyumpal mulut gadis cilik itu.
"Mari makan!"
Katanya..
"lni daging kambing, ikan dan daging babi! Nah, itu sup yang enak sekali...."
Siau Po langsung menyendoknya untuk dicicipi Mulutnya memperdengarkan suara seperti sedang menikmati dengan Iahapnya.
Secara diam-diam Siau Po melirik ke arah gadi cilik itu.
Si kuncu duduk berdiam diri.
Malah air matanya masih menetes sekali-sekali, Tampaknya dia benar-benar belum lapar.
"Aih!"
Kata Siau Po yang mulai kehilangan rasa sabarnya.
"Mungkinkah seorang budak kelas sembilan tidak bisa menikmati hidangan nomor wahid dan harus menyantap ikan busuk dan daging basi Lihat! Semur hidangan ini termasuk kelas satu. Tapi, tidak apa-apa. sebentar aku akan menyuruh orang menyediakan daging basi dan ikan busuk saja. Mungkin kau mau memakannya!"
"Aku tidak makan hidangan busuk!"
Sahut nona yang akhirnya membuka mulut juga.
"Tentu kau suka ikan busuk dan daging bau"
Kata Siau Po sengaja memanaskan hati orang.
"Jangan sembarangan bicara!"
Teriak nona itu "Aku tidak suka makanan bau!"
Siau Po mengambil sepotong kepiting kemudian dimasukkan ke dalam mulutnya.
"Sedap!"
Katanya, tapi ketika si kuncu masih juga belum memperlihatkan reaksi apaapa, d meletakkan sumpitnya kembali lalu duduk merenung, otaknya bekerja memikirkan akal apa yang harus digunakannya untuk menghadapi si putri bangsawan ini.
Tidak lama kemudian, thay-kam kecil yang mengantarkan hidangan tadi datang kembali.
Kali ini dia membawa masakan khas Inlam sepoci teh keluaran wilayah itu.
Dia juga menyebutkan namanya satu per satu.
"Mari makan!"
Kata Siau Po setelah mengunci pintu rapat-rapat, Dia kembali mengatur hidangan yang baru dibawakan di atas meja.
"Semua ini masakan ala In lam. silahkan kau mencobanya!"
Kuncu tertarik. Semua hidangan itu berasal dari kampung halamannya, Dia menyukainya. Tiba-tiba saja seleranya muncul, Tetapi, ketika dia ingat perbuatan bocah itu terhadapnya, hatinya menjadi sebal.
"Tidak! Aku tidak mau makan! Biar dia membujukku dengan cara apa pun!"
Janjinya diam-diam. Siau Po menjemput sepotong ham dengan sumpitnya kemudian disodorkannya ke mulut si nona.
"Bukalah mulutmu!"
Katanya sembari tertawa. Bukannya membuka mulut, si nona malah mengatupkannya erat-erat, Si bocah memang jahil, dia sengaja mengoleskan ham yang berminyak itu ke bibir si nona kecil itu.
"Makanlah! Setelah makan, nanti aku akan membuka ikatanmu!"
Katanya membujuk.
Memang nona cilik itu baru bisa berbicara, Anggota tubuh lainnya belum bisa bergerak karena belum terbebas dari totokan, Nona itu tidak mengatakan apa-apa, hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Siau Po menaruh potongan ham kembali ke piring, dia mengangkat mangkok sup yang isinya masih mengepul saking panasnya.
"Kau lihat sup ini masih panas sekali Kalau kau makan, aku menyuapimu sesendok demi sesendok, tapi kalau kau tidak sudi, hm!"
Katanya kesal. Tanpa menanti jawaban, dia memencet hidung si nona cilik kemudian menyendok kuah sup dan menyodorkannya ke mulut si nona, Dalam keadaa terpaksa, mau tidak mau si nona membuka mulutnya.
"Kau lihat, bagaimana panasnya sup ini Perut mu bisa melepuh karenanya!"
Kata Siau Po sambi menyuapi sup ke mulut si nona, Kemudian di melepaskan pencetannya di hidung agar nona itu dapat bernafas. Setelah menarik nafas panjang beberapa kali nona itu menangis lagi.
"Kau... kau telah menggores wajahku!"
Katany jengkel "Aku tidak mau hidup lagi! Wajahku jadi jelek...!"
"Oh, kiranya kau menyangka aku benar-benar mengukir wajahmu dengan pisau!"
Pikir Siau Po Kemudian dia tertawa lebar dan berkata.
"Biarpun wajahmu telah diukir, tapi gambar kura-kura itu mungil dan indah sekali Kalau kau berjalan depan umum, aku yakin setiap orang akan menatapmu dengan terpesona dan tidak henti-hentinya memujimu!"
"Mereka menatapku seperti makhluk aneh dan bersorak karena wajahku yang jelek!"
Teriak si nona sembari menangis terus.
"Aku lebih suka mati saja...."
"Aih! Rupanya kau tidak suka gambar kura-kura yang demikian mungil,"
Kata Siau Po menggoda.
"Kalau begitu, buat apa tadinya aku mengasah otak capek-capek, Lebih baik aku mengukir sekuntum bunga saja."
"Mengukir sekuntum bunga? Bunga apa? Aku toh bukannya kayu!"
Sahut si nona kesal "Bagaimana bukan kayu kalau margamu saja Bhok?"
Sepertinya telah terangkan sebelumnya bahwa lafal huruf Bhok sama artinya dengan kayu.
"Memang benar aku she Bhok, tapi bukan Bhok"
Kayu!"
Sahut si nona membantah "Marga Bhok keluarga kami ada tiga titik air di sampingnya."
Siau Po buta huruf, Dia tidak tahu bagaimana bentuk huruf Bhok, tapi mendengar marga nona itu ada tiga titik air di sampingnya, timbul lagi rasa isengnya.
"Kalau kayu di rendam dalam air, lama-lama kan akan menjadi kayu busuk?"
Nona cilik itu menangis lagi, Dia benar-benar kewalahan adu mulut dengan si thaykam gadungan.
"Aih! Kenapa harus menangis? Lebih baik kau panggil aku kakak yang baik sebanyak tiga kail Nanti aku akan menghapus kura-kura di wajahmu sehinga bersih kembali dan dijamin tidak ada bekasnya sedikit pun!"
Wajah si nona menjadi marah karena jengahnya.
"Mana mungkin bisa dihapus?"
Sahutnya lirih.
"Kalau kau menghapusnya lagi, bisa jadi apa wajahku ini?"
"Kau jangan khawatir.."
Kata Siau Po senang karena kata-katanya mulai termakan oleh gadis cilik itu.
"Aku mempunyai obat penghapus yang mujarab, kalau bagi seorang dari golongan tingkat atas, bekas luka kura-kura seperti wajahmu ini pasti sulit dihapuskan lagi, tapi bagi budak kelas sembilan seperti kau ini, tidak menjadi persoalan!"
"Aku tidak percaya kata-katamu. Kau memang manusia paling jahat!"
Sahut si nona. Siau Po tidak melayaninya.
"Ayo, kau,mau panggil aku kakak yang baik atau tidak?"
Wajah si nona semakin merah, dia merasa malu namun kepalanya menggeleng. Siau Po gadis cilik itu merasa jengah, Dia tertarik melihat tampang si gadis yang lugu. Semakin suka dia menggodanya.
"Kura-kura kecil itu baru diukir, masih mudah menghapusnya,"
Katanya kembali.
"Tapi kalau dibiarkan terlalu lama, pasti sudah meresap, Apala kalau ekornya sudah tumbuh, Wah! Kau pasti menyesal karena sudah terlambat!"
Para gadis umumnya menyukai kecantikan.
Tidak terkecuali si nona bangsawan dari keluarga Bhok, Meskipun dia merasa bingung dan ragu-ragu, tapi ia memperhatikan Siau Po lekat-lekat.
Agaknya dia mulai termakan kata-katanya thay-kam gadungan itu.
Dia juga merasa takut kalau kura-kura di wajahnya benar-benar tumbuh ekor.
"Apa... kau tidak berbohong?"
Tanyanya kemudian.
"Membohongimu?"
Kata Siau Po dengan tampang serius.
"Untuk apa? Malah semakin cepat kau memanggilku kakak yang baik, aku akan segera menghapus kurakura di wajahmu itu agar terlihat cantik kembali seperti sediakala, Nah, sebaiknya kau cepat-cepat memanggil aku kakak yang baik!"
Tapi... kalau... kalau.,, kau menghapusnya kurang sempurna. Dengan apa kau akan mengganti kerugianku?"
Tanya si nona cilik sangsi.
"Jangan khawatir Aku akan menggantimu dua kali lipat!"
Sahut si bocah nakal "Betul! Aku akan memanggilmu adik yang baik sampai enam kali berturut-turut!"
Wajah si nona kembali merah padam Dia merasa malu sekali.
"Ah, kau memang busuk! Aku tidak mau...!"
"Aih! Kau masih saja sangsi! Sayang sekali..!"
Nona itu memperhatikan si thay-kam cilik Iekat-lekat, sedangkan Siau Po juga sedang menatapnya.
"Bagaimana kalau kita atur begini saja. sekarang kau memanggil aku satu kali dulu kakak yang baik, Setelah selesai menghapus kura-kura di wajahmu itu, kau memanggil lagi satu kali. Berarti keseluruhannya sudah dua kali, Pada waktu itu aku akan mengambil cermin untuk kau lihat sendiri hasilnya, Kalau kau sudah merasa puas dengan hasil kerja ku, kau boleh memanggil aku kakak yang baik sekali lagi, Mungkin pada waktu itu, kau akan kegirangan setengah mati sehingga kau akan memanggil aku kakak yang baik sampai belasan kali!"
"Tidak! Tidak!"
Sahut si nona cilik.
"Kau suda bilang tiga kali, mana boleh ditambah lagi?"
Siau Po tertawa.
"Baiklah! Tiga kali, ya tiga kali!"
Katanya.
"Nah, cepatlah kau memanggil aku sekarang!"
Si nona menatap Siau Po. Bibirnya bergerak gerak namun tidak ada sedikitpun suara yang keluar.
"Ayo!"
Desak si bocah nakal.
"Panggillah aku kakak yang baik! Apa sih susahnya? Aku toh tida menyuruh kau memanggil aku, paman yang baik atau paman yang tua. Cepat! Kalau kau masih berlama-lama, nanti harganya akan kunaikkan lagi!"
Nona itu kena digertaknya, Dia merasa takut.
"Baiklah! sekarang aku akan memanggil kau satu kali terlebih dahulu,"
Katanya kemudian.
"Setelah selesai kau memperbaiki wajahku, nanti aku akan memanggil dua kali lagi!"
Siau Po pura-pura menarik nafas panjang.
"Kau benar-benar pandai menawar!"
Katanya.
"Baiklah, Aku terima tawaranmu itu, Aku adalah seorang pedagang yang baik, bayar di muka atau belakangan sama saja!"
Nona cilik itu memejamkan matanya.
"Kakak,.,"
Terdengar suaranya yang merdu dan lirih, tapi dia tidak melanjutkan katakatanya. wajahnya semakin merah saking jengahnya.
"Kenapa kau memanggilnya setengah jalan?"
Tanya Siau Po menggoda.
"Mana sambungannya?"
Wajah si nona semakin merah.
"Aku pasti memanggilnya,"
Sahutnya.
"Aku tidak akan membohongimu...."
Siau Po tertawa.
"Yang... baik!"
Kata si nona melanjutkan panggilannya.
"Bagus!"
Seru Siau Po.
"Kau tidak mengelabui aku. sekarang juga aku akan memperbaiki wajahmu Akan kulakukan dengan mengerahkan segenap kemampuanku agar kau tambah manis!"
"Sudahlah!"
Kata si nona.
"Jangan mengoceh yang bukan-bukan lagi, Bukankah aku sudah memanggilmu kakak?"
Kembali Siau Po tertawa, Dia langsung membuka kotak obat peninggalan Hay kongkong, Di dalamnya terdapat banyak botol-botol kecil, Satu per satu botol-botol itu dikeluarkannya kemudian dituangkan isinya sedikit demi sedikit Lagaknya seperti seorang tabib yang sedang meracik obat.
Si nona memperhatikan dengan diam-diam Melihat begitu banyaknya jenis obat yang dicampurkan, timbullah keyakinannya, Siau Po berhenti meracik obat.
Dia mengambi beberapa potong kue yang terbuat dari bahan kacang hijau, kacang kedelai dan lain-lainnya.
Setela dicuci bersih sehingga tepung bagian luarnya tida ada lagi, dia menumbuk kue-kue itu untuk dicampur dengan obat-obatan tadi.
Dia juga menambahka gula madu serta diludahinya racikan obat itu sebanyak dua kali tanpa sepengetahuan si nona.
"Nah, obatnya sudah selesai!"
Katanya kemudian, inilah obat yang mujarab sekali, Tapi, mungkin kau belum mempercayainya sepenuhnya, Akan kubuktikan nanti, Bukankah kau ingin wajahmu pulih kembali seperti sediakala?"
Siau Po mengambil topinya yang dikelilingi empat butir mutiara, ia melepaskan mutiara-mu tiara itu kemudian diletakkan dalam telapak kirinya.
"Lihat ini!"
Katanya.
"Apa pendapatmu tentang mutiara ini?"
"Bagus!"
Sahut si nona tanpa ragu sedikit pun "Ukurannya sama besar, jarang ada mutiara yang ukurannya persis sama!"
Gembira sekali hati thay-kam gadungan itu mendengar ucapan si nona, itu merupakan pujian baginya.
"Mutiara ini kubeli kemarin dengan harga dua ribu sembilan ratus tail perak,"
Katanya kemudian.
"Mahal, bukan?"
Sengaja Siau Po meninggikan harga mutiara itu sebanyak seribu tail, Padahal dia membelinya dengan harga seribu sembilan ratus tail, Dimasukkannya keempat butir mutiara itu ke dalam lumpang dan ditumbuk sehingga hancur.
"Aih!"
Kata si nona menyesal.
"Mengapa mutiara seindah itu kau tumbuk?"
Puas sekali Siau Po melihat si nona yang tercengang. itu memang yang diharapkannya, Dia tidak menjawab tapi terus menumbuk keempat butir mutiara itu sampai halus sekali.
"Kalau aku hanya memulihkan wajahmu, tak akan terbukti bahwa aku Wi..."
Tiba-tiba dia menghentikan kata-katanya karena mengingat sudah kelepasan bicara, Cepat-cepat dia mengalihkannya dengan berkata.
"Takkan terbukti kelihayan si kongkong Siau Kui cu! Aku akan membuat kau sepuluh kali lipat lebih cantik dari sebelumnya, Dan panggilanmu kakak yang baik sebanyak sepuluh kali lipat akan membuat hatiku puas!"
"Eh, kenapa sepuluh kali?"
Tanya si nona, Tanpa disadari, dia ikut terhanyut kejenakaan si bocah dan suka melayaninya berbincang-bincang.
"Tadi kau sudah mengatakan tiga kali!"
Siau Po tidak menjawab, Dia menyendoki mutiara yang sudah halus itu dengan racikan obatnya.
Si nona merasa heran, Dia memperhatikan dengan seseorang matanya yang indah dibelalakkan lebar-lebar.
Biar bagaimana, dia menyayangkan ke empat butir mutiara itu.
Tapi, di samping itu, di semakin yakin dengan khasiat obat buatan Siau Po "Meskipun keempat butir mutiara ini sanga mahal, tapi nilainya tidak seimbang dengan kemanjuran obatku ini.
wajahmu sebenarnya tidak cantik.
Kau hanya tergolong kelas delapan atau mungki malah sembilan, tetapi setelah menggunakan obat ku ini, peringkatmu akan naik menjadi sedikitnya kelas dua.
Malah ada kemungkinan kau akan menjadi nona tercantik seluruh antero dunia ini!
Mempesona bagai bulan purnama!"
"Bagai bulan purnama?"
Tanya si nona.
"lya! Kau akan menjadi luar biasa cantiknya!"
Selesai berkata, Siau Po langsung mengamb obat racikannya kemudian diolesi ke seluruh waja si nona berulang kali.
Nona bangsawan itu diam saja.
Dia membiarkan Siau Po memoles wajahnya.
Dalam sekejap mata wajahnya sudah tertutup oleh racikan obat istimewa Siau Po.
Bahkan telinganya juga diolesi oleh Siau Po.
Namun satu hal yang membuatnya gembira obat itu tidak bau, malah menyiarkan keharuman.
Siau Po tertawa melihat gadis cilik itu ke dikelabuinya, Diam-diam dia berkata dalam hati.
"Masih untung obat ini tidak kucampurkan dengan air kencing, Soalnya aku merasa malu sendiri. Setidaknya aku masih menghargai leluhurmu, paduka Bhok Eng yang mulia, Dia adalah pembangun negara dan aku Siau Po sangat menghormatinya!"
Selesai memoles wajah nona itu. Siau Po mencuci tangannya sampai bersih.
"Tunggu sampai obat ini kering, Nanti aku akan pakaikan bedak yang istimewa! Kau harus memakai obat ini sebanyak tiga kali, Mencucinya harus tiga kali juga, setelah itu wajahmu akan menjadi cantik seperti bulan purnama!"
Si nona merasa heran juga.
"Mengapa obatnya harus dipakai sampai tiga kali?"
"Sebenarnya tiga kali masih terlalu sedikit Un-tuk membuat kecap saja, kacang kedelainya harus dijemur sampai sembilan kali, Merebus daging anjing pun harus tiga kali sampai benar-benar empuk dan gurih!"
"Masa kau samakan wajahku dengan kacang kedelai dan daging anjing?"
"Pokoknya kalau mau wajahmu pulih kembali atau tidak?"
Tanya Siau Po kesal.
Dia mengambil sepotong ham kemudian disodorkannya ke depan mulut si nona.
Si nona tidak berani menolak lagi.
Pertama karena dia takut akan digoda lagi oleh Siau Po, kedua dia juga melihat bocah itu tidak menyayangkan keempat butir mutiaranya yang mahal untuk racikan obat pemulih wajahnya.
Karena itu di membuka mulutnya dan mengunyah daging ham itu.
"Adik manis, ini baru anak pintar!"
Puji Siau Po gembira.
"A.,.ku bukan adikmu yang manis?"
"Kalau begitu, kau adalah ciciku yang baik!"
Goda Siau Po.
"Bukan juga!"
Sahut si nona cilik.
"Kalau begitu, kau adalah ibuku yang kusayangi!"
Kata Siau Po. Si nona cilik jadi geli sehingga tertawa.
"Mana... bisa aku menjadi ibu...."
Sejak dibawa oleh si Cian sampai sekarang, baru sekali ini Siau Po mendengar suara tawa si non cilik itu.
Sayang wajahnya tertutup racikan obat sehingga tidak dapat dilihat bagaimana bentuk bibirnya yang sedang tersenyum, hanya suaranya yang merdu seperti keliningan di pagi hari.
Siau Po menyebutnya ibu yang kusayangi, sebetulnya dia mengejek nona itu sebagai perempuan pelesiran.
Tapi mendengar suara tawanya yang begitu polos Siau Po merasa agak menyesal juga.
Dia berpikir dalam hati.
"Aih! Masa bodoh! Jadi pelacur juga bukan tidak baik. Mungkin uang yang dihasilkan ibu jauh lebih banyak dari ibunya yang kawin dengan segala manusia kayu!"
Dia mengambil lagi beberapa potong ham lalu disuapkannya lagi ke mulut nona cilik itu.
"Kalau kau berjanji tidak melarikan diri, aku akan membebaskan totokan di tanganmu,"
Katanya kemudian.
"Untuk apa aku melarikan diri? Lagipula kau sudah mengukir seekor kura-kura di wajahku, sebelum pulih kembali aku tidak berani keluar di jalan raya!"
Diam-diam Siau Po berpikir dalam hatinya.
"Kalau nanti kau tahu di wajahmu tidak ada ukiran kura-kura, tentu kau akan melarikan diri, sedangkan si Cian tidak mengatakan kapan dia akan menjemputmu Aku menyembunyikan seorang nona asing di dalam istana, Kalau sampai ketahuan, celakalah aku! Apa yang harus kulakukan?"
Ketika pikirannya melayang-layang, tiba-tiba terdengar ketukan di pintu, Kemudian ada seseorang yang berkata.
"Kui kongkong, hambamu adalah pesuruh dari Kong cin-ong! Hamba datang karena ada urusan penting!"
"Baik!"
Sahut Siau Po. Kemudian dia berkata kepada si nona cilik dengan nada direndahkan.
"Ada orang! jangan bersuara! Tahukah kau tempat apa ini?"
Si nona menggelengkan kepalanya.
"Kalau aku beritahukan kepadamu, mungkin kau bisa melompat bangun saking terkejutnya!"
Kata Siau Po.
"Di sini, setiap orang berniat mencelakakan dirimu, Hanya aku seorang yang iba melihat nasibmu, Karenanya aku bersedia menampung kau di sini, tapi kalau kau sampai kepergok, hm...!"
Siau Po mengasah otak memikirkan katakata yang bisa menggertak si nona cilik ini. Sesaat kemudian dia baru berkata lagi.
"Kalau kau sampai kepergok, kau akan ditelanjangi, Setelah itu kau akan dirangket sehingga kau merasa sakit yang tidak terkirakan!"
Si nona cilik benar-benar ketakutan.
Wajahnya pucat pasi seketika, Diam-diam Siau Po merasa senang, Kemudian dia membuka pintu dan berjalan keluar.
Orang itu juga thay-kam, Usianya kuran lebih tiga puluh tahun.
Dia segera berkata.
"Ongya kami mengatakan bahwa sudah lama beliau tidak bertemu dengan kongkong, Ong-ya merasa rindu sekali, Karena itu, sengaja hari ini ong-ya mengundang kongkong datang untuk menonton pertunjukan sekaligus minum arak."
Orang itu membungkukkan tubuhnya memberi hormat.
Mendengar dia diundang untuk menonton pertunjukan, hati Siau Po senang sekali.
Tetapi mengingat bahwa di kamarnya tersembunyi seorang dari keluarga Bhok, hatinya menjadi ragu, Bagaimana kalau jejak nona itu ketahuan?
Melihat Siau Po agak bimbang, thay-kam itu berkata kembali.
"Ongya berpesan bahwa bagaimana pun kongkong harus berhasil diundang datang, karena pertunjukan hari ini ramai sekali, Juga ada berbagai jenis perjudian!"
Hati Siau Po semakin tertarik mendengar adanya perjudian Sejak berkenalan dengan Sri Baginda, dia tidak pernah berjudi lagi dengan kawan-kawannya.
Mereka tidak berani datang ke istana, Dan sekarang merupakan kesempatan baik baginya untuk meraih keuntungan.
Saking gembiranya dia jadi lupa tentang si nona cilik yang disembunyikan dalam kamarnya.
"Baiklah!"
Sahutnya kemudian "Tunggu sebentar Nanti aku akan ikut denganmu!"
Bagian 16 Siau Po kembali ke dalam kamar.
SeteIah itu dia mengangkat tubuh si nona untuk direbahkan di atas tempat tidur.
Dia mengikat kaki dan tangan gadis cilik itu kemudian ditutupnya dengan sehelai selimut.
Nona itu menatapnya dengan perasaan bingung, Siau Po berkata.
"Aku ada urusan sedikit Karena itu aku harus keluar sebentar saja aku sudah kembali lagi!"
Nona itu tidak memberikan komentar. Matanya memperhatikan thay-kam gadungan itu lekat-lekat, Siau Po segera menambahkan.
"Mutiaranya masih kurang, Aku harus membelinya lagi, Dengan demikian aku bisa memakaikannya padamu dan kau akan menjadi sepuluh kail lipat lebih cantik dari sebelumnya!"
"Jangan... pergi,"
Kata si nona cilik yang percaya dengan kata-katanya Siau Po.
"Harganya mahal sekali!"
"Tidak apa-apa!"
Sahut Siau Po.
"Aku mempunyai banyak uang, Aku ingin membuat kau menjadi luar biasa cantik sehingga rembulan maupun bunga di taman merasa malu me!ihatmu. Apa artinya menghamburkan uang beberapa ribu tail?"
"Aku... di sini sendirian Aku... takut!"
Kata si nona pula.
Sebenarnya Siau Po merasa iba melihat tampang si nona cilik yang benar-benar ketakutan.
Hampir saja dia membatalkan kepergiannya, Tapi membayangkan perjudian yang digemarinya, terpaksa dia mengeraskan hati, Dia segera menyuapkan ikan ke dalam mulut nona itu.
"Kau makanlah!"
Katanya.
"Hati-hati! jangan sampai berjatuhan!"
Si nona cilik ingin berbicara, tapi suaranya tidak terdengar jelas karena tersumpal ikan.
"Kau... ja...ngan... pergi!"
Siau Po tetap meninggalkan si nona cilik dalam kamarnya, Dia membawa sejumlah uang kemudian mengunci pintu kamarnya dari luar dan mengikuti thay-kam tadi.
Di depan istana Kong cin ong sudah berbaris dua deretan siwi, pasukan pengawal si raja muda.
seragamnya rapi serta mewah, selanjutnya ada golok, juga pedang, Tampang mereka gagah, Tampaknya barisan itu lebih rapi daripada ketika dia datang untuk pertama kalinya.
Kemungkinan penjagaan lebih ketat setelah penyerbuan orangoran dari Tian-te hwe.
Baru Siau Po melangkah di ambang pintu, Kong Cin ong sendiri sudah keluar menyambutnya.
Dia langsung merangkul Siau Po berkata.
"Oh, saudara Kui. Sudah beberapa hari kita tidak bertemu, Kau tampak semakin tinggi dan tampan!"
"Aih! Ongya hanya memujiku saja!"
Sahut Siau Po.
"Bagaimana kabar Ongya sendiri?"
"Terima kasih atas perhatianmu Aku baik-baik saja,"
Sahut si pangeran tertawa lebar.
"Kau jarang datang ke rumahku, Kalau sering melihat kau, hatiku tentu senang sekali, Tapi jarang melihat saudara, hatiku menjadi gundah!"
Siau Po tertawa.
"itu tandanya ong-ya mengharap aku dapat sering-sering kemari, sebetulnya aku tidak berani mengharapkan hal ini!"
"Nah, kau harus ingat janjimu sendiri, Sebetulnya sudah beberapa kali aku meminjam saudara dari Sri Baginda agar kita dapat bersenang-senang selama beberapa hari. Tapi aku khawatir Sri Baginda tidak akan mengijinkannya walaupun untuk sehari saja."
Selesai berkata dia menggandeng Siau Po dan mendampinginya masuk ke ruangan dalam.
Hati Siau Po senang sekali, Meskipun dalam istana dia juga sering dihormati, tapi biar bagaimana kedudukannya tetap seorang thay-kam, sedangkan di sini dia dianggap saudara oleh seorang pangeran, bayangkan saja!
Sesampainya di ruangan dalam, dia disambut lagi oleh dua orang.
Yang pertama adalah To Lung, kepala siwi yang baru diangkat menggantikan orangnya Go Pay yang sudah digeser dan ditangkap, Yang kedua adalah saudara angkatnya Sou Ngo-tu.
Orang itu langsung melompat bangun dari tempat duduknya dan memegang tangan Siau Po erat-erat.
"Mendengar ong-ya mengundangmu kemari, aku juga langsung datang, Dengan demikian kita bisa bersenang-senang sama-sama!"
Katanya sambil tertawa terbahakbahak.
Berempat mereka melangkah ke dalam ruangan Segera terdengar musik penyambutan Siau Po merasa bangga sekali.
Dia belum pernah mendapat penyambutan yang demikian meriah, Untuk sesaat dia menjadi gugup.
sesampainya di ruangan dalam, sudah ada dua puluhan perwira dan pembesar yang sedang menantikannya.
Tepat pada saat itu, seorang thay-kam melangkah masuk dengan tergesa-gesa.
"Ong-ya, putra Peng si ong tiba!"
Katanya melaporkan. Kongcin ong tertawa lebar.
"Bagus! Saudara Kui, kau tunggu sebentar di sini, Aku akan menyambut kedatangan tamu!"
"Putra Pengsi ong?"
Pikir Siau Po dalam hatinya.
"Bukankah dia putera Go Sam-kui? Untuk apa dia datang ke sini?"
So Ngu-tu segera berbisik di telinga Siau Po.
"Hari ini kau akan mendapat keuntungan besar!"
Siau Po tertegun.
"Keuntungan besar apa?"
"Go-Sam-kui menitahkan puteranya datang ke Kotaraja untuk mengantarkan upeti. Karena itu, semua pembesar dan para menteri pasti akan mendapat bagian!"
Bisik So Ngu-tu kembali.
"0h. puteranya Go Sam-kui datang ke kotaraja untuk mengantar upeti? Tapi, aku kan bukan menteri atau pembesar negeri?"
Tanya Siau Po.
"Kau terhitung seorang pembesar negeri dalam istana!"
Kata So Ngu-tu.
"Kau malah lebih penting daripada para menteri. Puteranya Go Sam-kui itu, namanya Go Eng-him, otaknya cerdas sekali dan banyak urusan yang diketahui!"
So Ngu-tu menghentikan kata-katanya sejenak. Dia kemudian berbisik lebih perlahan lagi.
"Nanti kalau Go Eng-him memberikan hadiah kepadamu, biar nilainya besar atau kecil, jangan kau perlihatkan tampang gembira. Kau boleh berbicara dengannya secara datar saja. Begini. Oh, Sicu datang dari tempat yang jauh, lentunya letih dalam perjalanan, bukan?"
Kalau dia melihat tampangmu senang, selanjutnya pasti tidak ada apa apa lagi, sebaliknya kalau sikapmu dingin, dia pasti menganggap hadiahnya terlalu sedikit dan esok pasti dia akan menambahkan lebih banyak lagi!"
Siau Po tertawa.
"Kiranya ajaran toako ini ajaran memeras orang!"
Katanya. So Ngu-tu juga tertawa.
"Bodoh namanya kalau tidak bisa menggenggam kesempatan baik-baik. Bukankah ayahnya menguasai wilayah Inlam, Kui ciu dan lainlainnya juga? Coba bayangkan berapa banyak uang rakyat yang sudah masuk ke kantong orang itu! Kalau kita tidak membantunya menghamburkan ke satu kita tidak menghormati ayahnya, Kedua, kita tidak menghargai jerih payah rakyat Inlam dan Kui ciu serta sekitarnya!"
Siau Po tertawa geli mendengar kata-katanya.
"Kau benar!"
Sahutnya kemudian.
Tepat pada saat itu, Kong cin ong sudah kembali lagi bersama Go Eng him.
Puteranya Peng si ong itu berusia sekitar dua puluh lima tahunan Tampangnya gagah dan wajahnya tampan, Langkahnya tegap, Sungguh pantas menjadi putera seorang jenderal besar.
Mula-mula Kong cin ong menarik tangan Siaui Po kemudian berkata kepada tamunya.
"Siau tianhe, inilah Kui kongkong, kongkong yang paling disayangi oleh Sri Baginda, Kelika terjadinya penangkapan atas diri Go Pay di kamar tulis raja, jasa kongkong inilah yang paiing besar!"
Siau tianhe adalah panggilan untuk pangeran muda, Kong cin ong adalah seorang pangeran, tapi Go Sam-kui adalah seorang panglima besar yang dianugerahi jabatan sebagai raja muda di beberapa propinsi.
Karena itu puteranya harus dipanggil Tianhe.
Go Sam-Kui mempunyai banyak mata-mata di kotaraja.
Sedikit gerakan saja yang terjadi di kota Peking, pasti segera ada yang melaporkan kepadanya.
Karena itu, baik dia sendiri ataupun puteranya, Go Eng-him juga sudah mendengar prihal tertangkapnya Go Pay oleh beberapa orang thay-kam cilik.
Dan ada satu di antaranya yakni Siau Kui cu yang mempunyai jasa besar, itulah sebabnya, sebelum datang ke Kotaraja sebagai utusan, kedua ayah dan anak itu sudah merundingkan tindakan apa saja yang harus dilakukan Go Eng-him selama di Kotaraja.
Biar bagaimana, Go Sam-kui merasa segan terhadap kaisar Kong Hi yang meskipun masih muda namun cerdas sekali itu.
otomatis dia ingin menggunakan segala macam cara untuk mempertahankan kedudukannya yang tinggi.
Karena itu pula, Go Sam-kui mengirim puteranya ke kotaraja untuk menyelidiki gerak-gerik kaisar Kong Hi dan kaki tangannya, Eng Him harus mengetahui segala sesuatu yang dapat memperkokoh kedudukan mereka.
Bukan main senangnya hati Go Eng-him yang datang berkunjung ke Kong cin ong dan mendapat kesempatan bertemu dengan kongkong kesayangan Sri Baginda itu, Dia langsung mengulurkan tangannya dan menjabat tangan Siau Po erat-erat dan berkata.
"Kui kongkong, aku... yang rendah selama di Inlam sudah sering mendengar nama besarmu, Kami ayah dan anak sungguh mengagumi Sri Baginda dan kongkong, Usia kongkong masih muda sekali, tapi sudah sanggup menanam jasa besar bagi negara. Karena itu ayahku juga menitipkan sedikit hadiah bagi kongkong, Tapi ada peraturan bahwa pembesar di luar kota dilarang berhubungan erat dengan menteri-menteri ataupun orang penting istana, Meskipun ada niat dalam hati, tapi aku tidak berani mengajukan permohonan tersebut, maka sungguh kebetulan kita dapat bertemu di istana Kongcin ini, Aku benar-benar gembira sekali!"
Puas hati Siau Po mendengar kata-kata pangeran itu.
Ternyata dia pandai bicara, Dia juga merasa bangga mengetahui Go Sam-kui yang ada pada jarak ribuan li juga telah mendengar namanya, tetapi pada dasarnya Siau Po memang cerdik, apalagi dia sudah mendapat petunjuk dari So-Ngu-tu.
Karena itu dia sengaja bersikap tawar.
"Kami yang menjadi budak hanya melakuka perintah Sri Baginda, Yang penting, pertama, jangan takut menderita, Kedua, jangan takut mati, Mana ada kebiasaan atau jasa apa-apa? Siau ong-ya hanya memuji saja!"
Di samping itu, diam-diam di berpikir dalam hatinya.
"So toako benar-benar dapat menyimak urusan ibarat dewa. Begitu sampai, kunyuk kecil itu langsung saja menyebut urusan hadiah!"
Go Eng-him adalah tamu dari jauh, Dia juga putera sulung Peng si ong.
Karenanya Kongcin ong mempersilahkan dia duduk di kursi pertama, sedangkan Siau Po dipersilahkan menduduki kursi kedua.
Di dalam ruangan itu hadir banyak perwira serta pembesar lainnya, Meskipun Siau Po brandal, tapi dia tidak berani duduk di kursi kedua itu.
Berulang kali dia menolak dengan halus, Kongcin ong tertawa lebar "Saudara Kui, kau adalah tangan kanan Sri Baginda, Semua orang menghormatimu juga berarti menunjukkan kesetiaan kepada Raja kita, Harap kau tidak sungkan-sungkan lagi!"
Selesai berkata dia menekan bahu bocah itu dan memaksanya duduk, Setelah itu para perwira lainnya juga ikut mengambil tempat duduk masing-masing, sedangkan So Ngu-tu tentu memilih duduk di samping Siau Po.
Diam-diam Siau Po berpikir dalam hati.
"Neneknya! Ketika di Li cun-wan, sering ibu menyuruh aku berdiri di belakangnya dan secara mengumpat menyodorkan makanan kepadaku, itu saja aku sering diusir oleh para putera hartawan yang lagaknya setinggi langit. Pada waktu itu, aku hanya berpikir kapan bisa menjadi orang kaya agar para putera hartawan dan hidung belang itu menjadi iri melihat aku dilayani oleh seluruh wanita penghibur dari Li Cun-wan, Tidak tahunya hari ini aku duduk di sini ditemani Kongci ong, pangeran serta menteri dan pembesar negeri, sayangnya para kutu busuk di Yang-ciu tidak melihat pamorku hari ini!"
Para hadirin duduk menikmati arak, Ke enam belas pengawal yang mengiringi Go Eng-him berbaris di depan jendela, mata mereka sekali-sekali melirik ke arah para pelayan yang mengantarkan hidangan ke dalam ruangan.
Siau Po memperhatikan semua itu secara diam-diam.
Otaknya yang cerdas bekerja dengan cepat.
"Hm! Keenam belas orang itu pasti jago-jago yang ditugaskan melindungi Siau ongya ini. Kemungkinan besar orang-orang dari Bhok onghu juga sudah menantikan di luar istana Kong cin ong, Paling baik apabila terjadi perkelahian sengit di antara kedua belah pihak, ingin aku lihat, apakah pihak Go Sam-kui yang menang atau pihak Bhok onghu yang berjaya?"
Perutnya terasa panas mengingat perlakuan yang diterimanya dari Mau Sip-pat garagara orang dari Bhok onghu yang mereka temui dalam perjalanan di Kangouw, Dia berharap kedua belah pihak akan sama-sama terluka parah dalam perkelahian.
Kongcin ong sendiri juga memperhatikan gerak gerik keenam belas pengawal Go Eng-him.
Dia tahu mereka takut tuan mudanya diracuni atau dicelaka.
Tapi sebagai tuan rumah yang baik, dia juga tidak dapat mengatakan apa-apa yang dapat membuat tamunya tersinggung.
Si kepala siwi, To Lung mempunyai watak yang polos dan suka berterus-terang, Setelah meneguk beberapa cawan arak, terdengar dia berkata.
"Siau ong-ya, orang-orang yang mengiringimu itu pasti tergolong dari perwira pilihan yang mempunyai kepandaian tinggi, bukan?"
Go Eng-him tersenyum.
"Memangnya mereka punya kebisaan apa? Mereka tidak lebih dari para prajurit yang biasa mengikuti aku kemana-mana, Mereka semua tahu watakku yang buruk, Kalau ada mereka di samping, seandainya aku mabuk, kan ada orang yang menggotong!"
To Lung ikut tertawa.
"Siau ong-ya benar-benar pandai merendah. Coba lihat kedua orang itu. Keningnya terang bercahaya, hal ini menunjukkan tenaga dalamnya sudah mencapai taraf kesempurnaan Dan dua orang yang lainnya, mempunyai wajah yang kencang dan berminyak, menandakan dia seorang gwakang (tenaga luar) yang sudah tinggi sekali kepandaiannya. sedangkan sisanya, coba suruh mereka buka topi, pasti kepala mereka botak semua!"
Go Eng-him tidak memberikan komentar, namun bibirnya tersenyum, sedangkan So Ngo-tu langsung tertawa dan berkata.
"Tadinya aku mengira Ciangkun hanya pandai maju ke medan perang sehingga selalu merebut kemenangan Ternyata Ciangkun juga pandai melihat wajah orang seperti peramal."
To Lung tertawa.
"So tayjin tidak tahu, sudah lama Peng-si ong menetap di San-hay kwan. Banyak perwiranya yang berasal dari perguruan Kim-teng bun kota Kimciu, sedangkan umumnya murid-murid Kim-teng bun yang ilmunya sudah mencapai taraf yang tinggi, wajahnya selalu berminyak bahkan kepalanya botak."
Kong Cin-ong tertarik mendengar keterangan itu. Dia tersenyum.
"Bolehkah tianhe menyuruh mereka membuka topi supaya kita bisa membuktikan kata-katanya Te tok (jenderal yang menjadi kepala siwi) benar atau tidak?"
Tanyanya.
"Mata Te tok sungguh tajam, Kata-katanya memang tepat,"
Sahut Eng Him.
"Beberapa pengiringku ini memang orang-orang dari perguruan Kim-ten bun, hanya saja kepandaian mereka belum sampai taraf kesempurnaan sehingga kepalanya tidak seratus persen botak, masih ada sisa rambutnya sedikit, Kalau menyuruh mereka membuka topi akhirnya hanya menjadi bahan tertawaan saja."
Mendengar keterangan itu, para hadirin tertawa, Karena si pangeran sudah menolak secara halus, tentu tidak enak bagi mereka apabila maksakan kehendaknya.
Justru di saat itu Siau Po memperhatikan para pengiring putera Peng-si ong itu, Di dalam hatinya dia berkata.
"Entah ada berapa helai rambut di atas kepala orang yang tinggi besar itu? Dan yang tubuhnya kurus kering mungkin kalah lihay, Pasti rambutnya masih cukup banyak."
Dengan berpikir demikian, thay-kam gadungan itu teringat sesuatu hal, sehingga tanpa disadari dia tertawa. Kongcin ong merasa heran.
"Mengapa kau tertawa, saudara Kui?"
Tanyanya.
"Coba kau terangkan agar para tamu sekalian bisa mendengar dan ikut mengetahui apanya yang lucu!"
"Aku sedang berpikir bahwa para suhu dari Kim-teng bun itu pasti mempunyai sifat yang penyabar sekali,"
Sahut Siau Po.
"Mereka pasti jarang berkelahi dan malah mungkin tidak bisa melakukannya!"
Cing ong tidak mengerti maksudnya.
"Mengapa kau bisa mempunyai pendapat seperti itu, saudara Kui?"
Siau Po tertawa kembali.
"Sebab kalau mereka pemarah, tentu mata mereka akan mendelik dan menantang lawannya untuk menghitung jumlah rambut mereka, Di samping itu, mereka juga akan menyuruh lawan mereka membuka topi serta akhirnya bertanding rambut siapa yang lebih banyak, dialah yang kalah.
sedangkan rambutnya yang lebih sedikit, dialah yang menang!"
Kata-katanya Siau Po membuat orang-orang dalam ruangan itu merasa geli dan tertawa. ucapannya dianggap lucu sekali. Terdengar Siau Po berkata kembali.
"Aku yakin para suhu dari Kim-teng bun itu selalu membawa suipoa (papan yang berbiji-biji dan digunakan sebagai alat hitung pada jaman itu), Ke mana-mana, Sebab tanpa alat itu, tentu sulit menghitung rambut."
Lagi-lagi para hadirin tertawa.
"Kong ong-ya."
Kemudian terdengar To Lung berkata.
"Setelah tempo hari sisa antek-anteknya Go Pay mengacau di istana ini, menurut kabar, ong-ya banyak mengundang tokoh-tokoh lihay. Benarkah?"
Kongcin ong memilin kumisnya sembari menjawab, wajahnya menunjukkan perasaannya yang bangga.
"Tidak mudah mengundang tokoh-tokoh yang sudah punya nama dan berkepandaian tinggi, Hanya beberapa gelintir pesilat-pesilat kelas dua dan kelas tiga saja,"
Sahutnya merendah.
Kemudian baru melanjutkan kembali "Tapi peruntunganku memang cukup bagus, Selain gaji yang tinggi, aku juga membantu mereka menyelesaikan beberapa persoalan, karena itu mereka sudi datang kemari memberi muka kepadaku untuk menggebah para pemberontak,"
"Bolehkah tayjin memberitahu, kiat apa yang digunakan untuk mengundang para jago ini?"
Tanya To Lung.
"Kepandaian Te tok sendiri sudah terhitung jago kelas satu. Untuk apalagi mengundang orang luar?"
Kata Kong Cin-ong tersenyum.
"Terima kasih atas pujian ong-ya,"
Sahut To Lung.
"Menurut selentingan di Iuaran, ilmu memanah ong-ya tinggi sekali Tempo hari ketika para pemberontak datang mengacau, katanya ong-ya telah menggunakan panah membidik mati dua puluh orang lebih anggota pemberontak itu."
Kongcin-ong hanya tersenyum, Dia tidak memberikan komentar Kenyataannya, tempo hari dia memang memanah mati anggota Tian-te-hwe, tetapi jumlahnya hanya dua orang.
Cerita di luaran hanya dtbesar-besarkan saja.
"Saat itu aku memang menyaksikan dengan mata kepala sendiri,"
Kata Siau Po ikut berbicara.
"Aku merasa tiba-tiba deru angin berkesiur, Kemudian di depanku terdengar suara "Aduh! Aduh!"
Dan di belakang ada beberapa orang yang memuji, panah bagus!"
"bidikan hebat!"
Go Eng-him segera mengangkat cawan araknya tinggi-tinggi.
"Hebat sekali ilmu memanah Cin ong! Boan-seng kagum sekali. Dengan ini Boanseng ingin mengulanginya!"
Para hadirin ikut mengangkat cangkirnya dan meneguk arak bersamaan, Kongcin ong senang sekali, Diam-diam dia berpikir dalam hati.
"Siau Kui cu ini sungguh pandai mengikuti perkembangan. Tidak heran Sri Baginda begitu menyayanginya!"
"Ongya,"
Kata To Lung kembali "Ongya telah mempekerjakan begitu banyak busu, Bagaimana kalau mereka itu diundang keluar agar kita dapat berkenalan satu dengan lainnya?"
Kongcin ong suka membanggakan diri, ia langsung menerima baik permintaan Kiubun Te tok itu. Segera dia menurunkan perintah kepada seorang bawahannya.
"Lekas siapkan dua buah meja perjamuan di sebelah sana dan undang Sin Ciau siangjin serta yang lainnya hadir di sini!"
Perintah itu langsung dilaksanakan.
Pelayan-pelayan bekerja dengan gesit, sebentar saja meja perjamuan sudah tersedia, Di lain saat muncul dua puluh orang lebih busu yang dipimpin seseorang berjubah merah, Tubuhnya tinggi besar dan gemuk, Dia seorang biku.
Kong Cing-ong bangun dari tempat duduknya.
"Para sahabat sekalian, mari kita duduk dan minum bersama!" Melihat tuan rumah berdiri, yang lainnya pada ikut bangkit untuk menyambut rombongan yang baru masuk itu.
"Terima kasih! Terima kasih!"
Kata si biku yang merangkapkan sepasang tangannya sambil tertawa.
"Tayjin sekalian, silahkan duduk!"
Suara si biku nyaring dan lantang.
Menandakan tenaga dalamnya sudah mencapai taraf yang tinggi sekali.
Rekan-rekannya yang lain ikut memberi hormat, mereka juga mengucapkan terima kasih kemudian mengambil tempat duduk di dua meja yang baru selesai diatur itu.
To Lung paling suka ilmu silat, wataknya juga polos dan suka terus-terang, Tanpa menunggu para busu itu meneguk kering cawannya masing-masing, dia sudah berkata.
"Ongya, menurut penglihatan siau-ciang, para busu itu gagah-gagah, Kepandaian mereka pasti tinggi sekali, Bolehkah ong-ya menyuruh mereka mempertunjukkan sedikit kelihayannya? Kebetulan disini ada Go sicu dan Kui kongkong, mereka tentu ingin melihat kepandaian orang-orang ong-ya!"
Kongcin ong tertawa.
"Tuan-tuan yang terhormat,"
Katanya pada rombongan Sin Ciau siangjin "Banyak tamu agung di sini ingin menyaksikan kepandaian kalian. Bolehkah kalian mempertunjukkanya sedikit?"
Seorang busu setengah tua yang duduk di sebelah kiri, langsung bangun. Dia berkata dengan suara lantang.
"Aku kira ong-ya menghargai kepandaian orang sehingga mengundang aku datang kemari, Siapa sangka kami dipandang sebagai orang kangouw yang suka menjual silat di depan umum. Kalau para hadirin sekalian ingin menonton pertunjukan topeng monyet, mengapa tuan-tuan tidak pergi ke Tiankio saja? Maaf, ijinkanlah aku yang rendah memohon diri!"
Selesai berkata, orang itu meng angkat tangan kirinya dan terdengarlah suara "Plok!" , hancurlah bagian belakang kursinya, kemudian dia melangkah lebar-lebar keluar dari ruangan pesta itu.
Melihat keadaan itu, para hadirin jadi tertegun Seorang laki-laki tua yang bertubuh kurus bangkit dari tempat duduknya dan mencegah busu setengah tua yang hendak berlalu itu dengan berkat "Long suhu, kata-katamu itu tidak memakai aturan.
Ongya sangat menghargai kepandaian kita.
Ongya ingin menyaksikan kepandaian kita, sebenarnyalah kita menyambut dengan baik.
Andaika Long suhu tidak setuju, tidak mungkin ong-ya memaksamu, Tapi kenapa kau harus menghancurkan kursi di tempat pesta ini?
Seumpamanya ong-ya sangat bijaksana dan tidak menyalahkan kau, tapi kami semua, di mana kami harus meletakkan muka ini?"
Orang she Long itu langsung tertawa dingin.
"Setiap orang mempunyai pendirian tersendiri, To suhu, kalau kau suka menunjukkan kepandaianmu, silahkan, Tapi, maaf, aku tidak dapat menemani kalian lebih lama!"
Katanya sambil berjalan pula. Terdengar orang tua she To berkata.
"Kalau kau memang hendak pergi juga, seharusnya kau memberi hormat kepada ongya dengan menyembah dan mengangguk Apabila ongya sudah menyatakan persetujuannya, baru kau boleh meninggalkan tempat ini!"
Kembali orang she Long itu tertawa dingin.
"Aku toh tidak menjual diriku menjadi budak onghu!"
Katanya sengit "Bukankah sepasang kakiku ini menempel di tubuhku sendiri? Kalau aku ingin pergi, aku bebas untuk berjalan. Siapa yang berani melarang aku?"
Selesai berkata, dia berjalan lagi.
Tampaknya si orang tua she To masih tidak mau mengalah, Ketika melihat orang she Long itu hampir menubruknya, dia langsung mencekal lengan kiri orang itu sambil membentak dengan suara keras.
"Tidak bisa tidak! Aku memang hendak melarangmu!"
Orang she Long ingin menghindarkan diri dari cekalan orang she To.
Tubuhnya berputar dan tinjunya meluncur ke pinggang orang she To, Dan lawannya mendahuluinya dengan mengirimkan sebuah tendangan ke arah dada.
Long suhu ternyata lincah sekali, Dia mengangkat tangan kanannya dan menyambut tendangan itu.
Karena gerakannya yang cepat, dia berhasil menyanggah bagian dalam lutut lawannya kemudian dia mengerahkan tenaganya untuk mendorong dari bawah ke atas.
Orang she To tidak dapat melepaskan diri dari cekalan itu.
Tubuhnya kena dipentalkan ke belakang.
Namun dia juga cukup gesit, dia sempat membuang diri sehingga tidak sampai terjatuh.
Namun dia sudah kalah angin sehingga wajahnya menjadi merah padam saking malunya.
Orang she Long juga tidak menunda waktu, dia segera menghambur ke pintu ruangan.
Tiba-tiba muncullah rintangan yang lain, seseorang yang bertubuh kurus tahutahu sudah menghadang di-depannya.
Orang itu tidak menyerang, hanya merangkapkan sepasang tangannya memberi hormat seraya berkata.
"Long toako, harap kau kembali ke dalam ruangan!"
Orang she Long itu sedang menghambur ke depan, sulit baginya untuk mengendalikan gerakan tubuhnya, Namun si orang bertubuh kurus juga tidak mau menyingkir Karena itu keduanya jadi beradu, Lebih tepat lagi bila mengatakan orang she Long itu menubruk tubuh si kurus.
Kesudahannya sungguh luar biasa, Bukannya orang yang bertubuh kurus itu terdorong atau terpental ke belakang.
Namun malah si orang she Long yang tersurut mundur sejauh tiga langkah.
Tubuhnya terhuyung-huyung, sulit baginya untuk menjaga keseimbangan.
Dia limbung ke kanan, bukannya berhenti atau berdiam diri, dia terus berlari menuju jendela, jelas dia tidak sudi berdiam lebih lama dalam ruangan itu.
Si kurus itu ternyata hebat sekali, Tahu-tahu dia sudah ada di depan jendela dan menghadang kepergian si orang she Long.
Busu setengah baya itu sadar bahwa lawannya lihay sekali, Benturan tadi membuatnya insaf dan dia tidak ingin kejadian itu terulang kembali.
Dia menahan gerakan tubuhnya sedemikian rupa sehingga ketika luncurannya terhenti jarak mereka hanya tinggal dua dim saja.
Si kurus berdiam diri, sepasang matanya menatap si orang she Long tanpa berkedip sekali pun.
Orang she Long itu tetap berusaha mencapai luar ruangan agar dapat melarikan diri, namun si kurus tampaknya tidak sudi memberinya kesempatan sama sekali.
Ketika si orang she Long mengirimkan tinjunya ke depan, dia hanya mengangkat tangannya dan mendorong dengan asal-asalan, namun akibatnya sekali lagi si orang she Long terhuyung mundur ke belakang.
"Hebat!"
Seru beberapa tamu yang memuji kepandaian si kurus.
Si Long berdiam diri, wajahnya pucat dan merah secara bergantian, dia merasa terkejut juga bingung.
Tampaknya sulit baginya untuk keluar dari istana tersebut, akhirnya terpaksa dia berdiam diri saja.
Si orang kurus memberi hormat kepadanya.
"Saudara Long, silahkan duduk! Ongya mengharapkan kita menunjukkan sedikit kepandaian bukankah kita sudah melakukannya?"
Kali ini, selesai berkata, si kurus kembali ke tempat duduknya semula.
Dengan perasaan malu, si orang she Long terpaksa kembali ke tempat duduknya dengan kepala tertunduk Dia masih merasa kesal juga gundah.
Para hadirin bersorak menyaksikan peristiwa itu, yang memang merupakan sebuah pertunjukan.
Kongcin ong sendiri sebetulnya merasa tidak enak hati, karena orang she Long menentangnya di depan umum, tapi perbuatan si kurus juga mengembalikan pamornya.
Karena itu dia segera menitahkan pelayannya mengambil uang sebesar lima puluh tail perak.
"llmu silat suhu itu hebat sekali."
Kata Go Eng-him.
"Siapakah namanya? Mudah saja dia menghadang kepergian orang."
Pangeran itu tidak langsung menjawab, Dia juga tidak kenal siapa adanya orang bertubuh kurus itu.
Dia juga tidak tahu kapan orang itu datang.
Tapi tentunya tidak baik baginya untuk mengatakan terus-terang.
"Siau ong sungguh pelupa, tidak ingat lagi siapa namanya!"
Sahut Kongcin-ong asalasalan, Pelayan yang disuruh tadi sudah kembali lagi dalam waktu singkat, dia membawa sebuah nampan yang di atasnya terdapat uang goanpo masing-masing senilai dua puluh lima tail.
Kong Cin-ong tertawa sambil berkata.
"Para busu telah memperlihatkan kepandaiannya. Karena itu harus ada orang yang pertama-tama menerima hadiah, Sahabat, silahkan kemari, Ambillah sepotong goanpo ini!"
Yang dipanggil adalah orang yang bertubuh kurus tadi. Dia segera menghampiri si pangeran dan menyambut sepotong goanpo yang disodorkan kepadanya.
"Sahabat,"
Panggil Siau Po.
"Siapakah she dan namamu yang mulia?"
"Aku yang rendah bernama Ci Goan-kay,"
Sahut orang itu.
"Terima kasih tuan besar telah sudi menanyakannya!"
"Memang lihay kepandaian busu Ongya,"
Kata To Lung kemudian "Sekarang aku ingin sekali menyaksikan kepandaian para pengawal Siau tianhe Siau ong-ya, tolong tunjuk salah seorang pengawalmu untuk bermain-main sejenak dengan Ci suhu ini!"
Go Eng-him tidak segera menjawab, tampaknya dia sedang merenung. Melihat keadaan itu, To Lung berkata kembali.
"lni hanya pertunjukan saja, batasnya saling menowel. Juga tidak perlu hadiah segala macam. Dengan demikian persahabatan kita tidak akan terganggu. Siapa yang menang atau kalah tidak menjadi masalah!"
"Pikiran Te tok baik sekali!"
Kongcing ong yang suka keramaian ikut berbicara, Tapi sebaiknya para busu semua mendapat sesuatu, Aku akan menghadiahkan goanpo bernilai besar pada yang menang namun yang kalah juga mendapat bagian, hanya nilainya lebih kecil sebagai tanda penghargaan, Kong Cin ong menoleh kepada pelayannya tadi.
"Ambillah lagi sejumlah goanpo bernilai dua puluh lima tail."
Pelayan tadi masuk ke dalam ruangan, tidak lama kemudian dia sudah keluar lagi dengan membawa dua nampan besar uang goanpo yang berkilauan.
"Pihak kami mengajukan Ci Goan-kay,"
Kata Kongcin ong.
"Busu manakah yang mula-mula akan mewakili pihak Peng-si ong?"
Para hadirin senang mendengar kata-kata si tuan rumah, perhatian mereka segera beralih pada keenam belas orang yang mengawal kedatangan Go Eng-him.
Mereka tahu, meskipun pertandingan ini hanya pertandingan persahabatan tetapi kedua pihak itu justru Kongcin ong dan Peng-si ong, Rata-rata mereka mengharap pihak tuan rumahlah yang akan meraih kemenangan.
Di saat Go Eng-him masih memikirkan jalan keluar terbaik, salah seorang pengawalnya segera melangkah ke depan kemudian memberi hormat kepada pihak tuan rumah seraya berkata.
"Harap ong-ya ketahui, ketika mengikuti sicu berangkat ke kotaraja, Kami telah dipesan untuk menjaga dan merawat sicu sebaik-baiknya, Peng Si-ong juga telah memesan berulang kali bahwa selama di kotaraja kami dilarang berbentrokan dengan siapa pun. Pesan beliau sama sekali tidak boleh dilanggar."
Kongcin ong tertawa.
"Peng-si ong sungguh teliti dan waspada!"
Puji-nya.
"Tapi ini bukan bentrokan, hanya pertandingan bermain-main, anggaplah kalian sedang berlatih. Apabila Peng-si ong sampai menanyakan katakan saja aku yang memintanya!"
Orang itu menjura sekali lagi.
"Maaf, ong-ya,"
Sahutnya.
"Dengan sesungguhnya kami tidak berani menerima perintah ong-ya ini!"
Kongcin ong menjadi kurang senang, hatinya mulai marah, diam-diam dia berpikir.
"Kau selalu menyebut Peng-si ong, seakan-akan aku tidak dipandang sebelah mata olehmu! Mungkin perintah Sri Baginda sekalipun akan kau abaikan!"
Saking sengitnya, dia segera berkata.
"Tidak mungkin kalau kau akan diam saja apabila orang menghajarmu!"
Orang itu menjura kembali.
"Sewaktu kami berada di Inlam, kami sudah mendengar bahwa semua pembesar negeri, tentara bahkan rakyat di kotaraja sangat tahu aturan. Kalau kita tidak melakukan kesalahan terhadap orang lain, tidak mungkin orang sengaja mencari perkara dengan kita!"
Pengawal Go Eng-him itu bertubuh tinggi besar, tampaknya cerdik, suaranya tajam.
seandainya Kongcin ong memaksakan kehendaknya, berarti dia tidak tahu aturan.
Karenanya dia jadi mendongkol sekali, akhirnya dia menoleh kepada Sin Ciau siangjin sembari berkata.
"Sin Ciau siangjin, Ci suhu, sahabat-sahabat dari Inlam itu tidak sudi memberi muka kepada kita, Karenanya kita juga tidak bisa berbuat apa-apa!"
Mendengar kata-kata pangeran itu, Sin Ciau siangjin segera bangkit. "Ongya,"
Katanya.
"Sahabat-sahabat dari Inlam itu justru ketakutan kalah, dengan demikian mereka akan kehilangan muka. Toh, tidak mungkin mereka mendiamkan saja apabila ada orang yang menyerang pada bagian tubuh mereka yang menbahayakan!"
Begitu suaranya berhenti, biku itu langsung mencelat ke samping pengawalnya Go Eng-him itu kemudian tertawa lebar.
"Tenaga tangan aku, si biku biasa-biasa saja, dibandingkan orang she Long tadi, mungkin aku hanya menang satu tingkat Ongya, pinceng ingin merusak sebuah batu di tempat ong-ya ini. Apaka ong-ya akan berkecil hati karenanya?"
Kongcin ong tahu, di antara orang-orang barunya, Sin Ciau siangjin terhitung yang paling lihay, sekarang mendengar kata-kata biku itu, dia tahu orang ingin menunjukkan kepandaiannya.
Karena itu, dia langsung menganggukkan kepalanya, Hati-nya senang sekali.
"Silahkan, siangjin! Rusak sepotong batu saja tidak menjadi masalah!"
Katanya.
Sin Ciau siangjin menganggukkan kepalanya, Tubuhnya membungkuk sedikit, tangannya terulur ke bawah menekan lantai, ketika dia mengangkat tangannya kembali Tangan itu sudah bertambah sepotong batu hijau berukuran satu kaki lebih.
Batu itu bukan dipegangnya, tetapi menempel pada telapak tangannya sebagai bukti tenaga dalamnya hebat sekali!
"Bagus!"
Seru Siau Po yang disusul dengan tepukan tangan dan sorak memuji yang lainnya.
Sin Ciau siangjin tersenyum, batu itu diangkat ke atas.
Tenaga hisapannya pun buyar, namun sebelum batu itu sempat terjatuh ke lantai, Sin Ciau siangjin bergerak dengan cepat.
Sepasang tangannya kembali menjepit batu itu kemudian ditekannya keras-keras sehingga batu itu menjadi hancur dan abunya jatuh di atas lantai.
Kembali para hadirin bersorak, Sin Ciau siangjin segera menghampiri pengawalnya Go Eng-him yang berbicara tadi "Tuan, bolehkah aku mengetahui she dan nama tuan yang mulia?"
"Tenaga dalam siangjin besar dan mengagumkan,"
Kata pengawal itu.
"Dengan demikian mataku yang rendah jadi terbuka, Aku hanya orang kecil dari tanah perbatasan Hanya seorang tidak ternama...."
Sin Ciau siangjin tertawa.
"Meskipun orang liar dari tanah perbatasan tidak mungkin tanpa she atau nama, bukan?"
Sepasang alis pengawal itu menjungkit ke atas. Hal ini membuktikan hatinya mulai marah, namun dalam sekejap mata wajahnya pulih kembali seperti tidak terjadi apapun dia menyahut.
"Orang liar dari tanah perbatasan, seandainya punya nama pun tidak lebih dari Amau atau A-ku (kucing atau si anjing) Karena itu, tidak ada gunanya meskipun taysu mengetahuinya!"
"Tuan, kau sungguh sabar sekali,"
Kata Sin Ciau siangjin sambil tertawa, Hari ini Kong cing ong mengadakan pesta, tamu-tamunya banyak, 6 kota Peking, jarang ada pesta semeriah ini sekarang ongnya menyuruh kami mengadakan pertunjukan, maksudnya untuk menggembirakan para tamunya, Dengan demikian semuanya dapat merasa senang, Karena itu, kalau tuan tidak suka memberikan pelajaran, bukankah tuan mengangkat dirimu terlalu tinggi?"
"Aku yang rendah hanya pernah mempelajari beberapa jurus petani pedesaan yang kasar, mana mungkin aku sanggup menandingi Sin Ciau siangjin dari kuil Tiat-hud Si di kota Congciu? Kalau taysu tetap ingin bertanding, biarlah di sini juga aku yang rendah mengaku kalah dan silahkan taysu mengambil goanpo yang besar itu...."
Setelah berkata orang itu memutar tubuhnya untuk mengundurkan diri.
"Tunggu dulu!"
Seru Sin Ciau siangjin.
"Pokok-nya pinceng harus mencoba kepandaian tuan! Ke-dua tanganku akan bergerak dalam waktu yang bersamaan seperti memukul tambur Aku akan mengincar kedua pelipismu, silahkan tuan membalasnya!"
Orang itu tidak menjawab, hanya kepalanya saja yang di gelengkan.
Sin Ciau siangjin membentak lantang, tiba-tiba tubuhnya seperti melar menjadi besar, Hal itu membuktikan bahwa dia sedang mengerahkan tenaga dalamnya, kemudian kedua tangannya bergerak menyambar ke arah kepala orang itu.
Benar saja!
Dia mengincar bagian pelipis seperti yang dikatakannya barusan.
Para hadirin terkejut.
Kepala orang itu pasti remuk apabila terkena hantaman pukulan Sin Ciau siangjin, sedangkan sebuah batu hijau saja sampai hancur lebur karenanya.
Pengawalnya Go Eng-him sungguh luar biasa.
Dia tetap berdiri tanpa bergeming sedikit pun.
Apalagi menangkis atau menghindarkan diri.
sikapnya lebih mirip sebuah patung pajangan.
Sin Ciau siangjin sengaja menyerang agar orang itu terpaksa melayaninya, tetapi melihat orang hanya berdiam diri, terpaksa dia mengubah pikirannya.
Tidak mungkin dia menyerang orang yang tidak melakukan perlawanan, apalagi orang itu bawahannya Peng-Si ong.
Kalau orang itu sampai celaka, bagaimana dia harus bertanggung jawab?
Bukankah perbuatannya bisa berarti mengajukan tantangan perang?
Karena itu, dia menaikkan tangannya ke atas sehingga hanya ujung jubahnya saja yang mengenai kepala orang.
Si pengawal tersenyum.
"Sungguh hebat tenaga dalam taysu!"
Mata semua orang membelalak saking kagumnya, orangnya Peng-Si ong itu benarbenar tabah dan sabar.
Karena itu, orang-orangnya mempunyai dugaan bahwa dia pasti bukan orang sembarangan.
Kalau tadi dia sampai terhajar, bukankah dia akan mati konyol?
Mengapa dia memandang nyawanya sendiri sedemikian tidak berharga ?
Lagaknya ini orang edan.
Sin Ciau siangjin menarik kedua tangann kembali.
Dia memandangi orang di depannya lekat-lekat.
Dia juga merasa heran dan menduga-duga dalam hatinya, Orang itu memang tolol atau justru terlalu angkuh?
Dia juga menjadi bingung, dia merasa tidak enak mengundurkan diri begitu saja, Akhirnya dia berkata.
"Tuan, rupanya tuan tidak sudi memberi muka kepadaku. Baiklah, sekarang pinceng akan menyerangmu dengan jurus Hek-hou tau sim (harimau hitam mencuri jantung)."
Siapa saja yang pernah belajar ilmu silat, pasti mudah menghindari serangan itu, Sebab jurus itu sangat umum.
Apalagi sebelumnya telah diberitahu akan diserang dengan jurus yang satu ini Dengan serangan semacam itu bisa timbul anggapan bahwa lawan tidak memandang sebelah mata kepadanya.
Orang itu masih tidak memberikan jawaban, bibirnya hanya tersenyum.
Semakin tidak puas rasanya hati si biku.
"Seandainya aku menghajar kau, tentu kau hanya akan terluka, tidak mungkin begitu mudah untuk mati. Dengan demikian aku juga tidak melakukan kesalahan besar terhadap Peng-Si ong, pikirnya dalam hati Karena itu dia segera memasang kuda-kudanya dan terus mengirimkan sebuah serangan. Orang itu tetap tidak menangkis ataupun menghindarkan diri Blam! Terdengarlah suara yang keras karena dadanya terkena hantaman Sin Ciau siangjin. Tubuhnya juga tersurut satu tindak, Namun dia segera tertawa dan berkata.
"Nah, taysu sudah menang! Aku telah tergeser mundur satu langkah!"
Sin Ciau siangjin jadi heran.
Walau pun serangannya tadi tidak merupakan pukulan yang mematikan, tetapi cukup keras juga.
Siapa sangka orang itu sanggup menerimanya seperti tidak merasakan apa-apa, bahkan masih sempat tertawa dan berbicara.
Bagi pembesar negeri yang bukan golongan tentara, hal itu memang terasa aneh.
Tidak demikian halnya dengan para perwira atau jenderal, mereka ini melihat tegas bahwa pengawal si raja muda dari Inlam justru sengaja mengalah.
Demikian pun si biku, sehingga dia menjadi kurang senang.
Rasanya sudah habis kesabarannya wajahnya menjadi merah padam.
"Sebaiknya kau terima satu kati lagi tinjuku ini"
Katanya sengit Dan dia langsung menyerang kembali dada orang itu.
Dan kali ini dia menggunaka tenaga dalam sebanyak tujuh bagian, Dia tidak perduli lagi walaupun orang bisa muntah darah karena pukulannya.
Para hadirin yang mengerti ilmu silat dapat melihat bahwa si biku telah menggunakan tenaga dalam yang besar.
Mereka juga menduga orang yang terkena pukulan itu bisa celaka, mereka memperhatikan jalannya peristiwa itu sambil berdiam diri mengkhawatirkan keselamatan pengawal Pe Si ong itu.
Tapi, pengawal itu memang sungguh luar biasa, tatkala serangan itu tiba, dadanya diciutkan dalam dan tubuhnya mencelat ke belakang sejauh setengah tombak, sepertinya dia kena terhajar dalam waktu yang bersamaan dia bergerak mundur.
Siapa yang ilmunya tanggung-tanggung tentu tidak dapat melihat cara mengelakkan diri yang istimewa itu, caranya itu meminta ketajaman mata dan kelincahan tubuh.
Si biku benar-benar marah ketika mengetahui serangannya kembali gagal, dia segera membentak keras dan menyerang kembali Kali ini dia mengirimkan tendangan kaki kanannya yang secara tiba-tiba mengarah perut lawan.
"Aduh! Celaka!"
Seru si pengawal dari Inlam, Dalam waktu yang bersamaan, tubuhnya menghempas ke belakang sehingga posisinya lurus, sedangkan kedua lututnya ditekuk sehingga telapak kakinya masih memijak tanah seperti semula, sungguh suatu cara pengelakkan diri yang luar biasa.
Namanya Tiat-poan kio (Jembatan papan besi), Dengan demikian, perutnya terhindar dari tendangan Sin Ciau siangjin.
Ketegangan di hati para hadirin menjadi mengendur dan berganti dengan perasaan kagum, sungguh hebat pengawal itu, dia selalu mengalah dan menghindarkan diri dari ancaman maut.
Sin Ciau siangjin jadi penasaran, tanpa menunda waktu dia mengulangi serangannya, kali ini dengan tendangan berantai Tipu silat yang digunakannya adalah Wan-yo lian hong (tindakan berantai si burung Wan Yo).
Begitu tendangan tadi meleset, si pengawal segera bangkit kembali Namun tepat pada saat itu datanglah serangan susuIan dari Sin Ciau siangjin, sebenarnya dia baru saja menegakkan tubuhnya, jadi tidak sempat lagi dia menghindarkan diri.
Tapi dia memang lihay sekali, kembali dia dapat meluputkan diri-sekali lagi dia menggunakan jurus silat Tiat-poan kio tadi.
Meledaklah suara sorak dan tepukan dari para hadirin, mereka merasa kagum sekali, sekalipun seorang ahli silat jarang menyaksikan pertunjukan langka semacam ini.
Sampai di sini, hilang sudah rasa penasaran di hati Sin Ciau siangjin.
Dia sadar ilmu silatnya masih kalah dengan pengawal itu.
Karena itu dia segera memberi hormat.
"Kepandaianmu hebat sekali! Aku sungguh kagum!"
Katanya. Pengawal itu membalas hormat sikapnya teta tenang seperti semuIa. Taysu hanya memuji saja!"
Sahutnya sabar Kongcin ong segera berkata.
"Kedua pihak sama-sama lihay, Siau tianhe pengawalmu itu sabar sekali. Dia tidak mau membalas serangan. Karena itu, pertandingan kali ini tidak dapat disamakan dengan pertandingan biasa Mari! Kedua-duanya sama-sama memperoleh potong goanpo!"
Pengawal itu menjura.
"Hamba yang rendah tidak berjasa apa-apa karenanya hamba tidak berani menerima hadiah dari Kongcin ong!"
Katanya. Menyaksikan pengawal itu tidak mau menerima hadiah dari tuannya, Sin Ciau siangjin juga malu maju ke depan. Kongcin ong segera berkata kepada seorang pelayannya.
"Kau antarkan dua potong goangpo kepada kedua orang itu!"
Karena didesak sedemikian rupa, si pengawal terpaksa menerima juga hadiah itu sambil mengucapkan terima kasih.
Karena itu, Sin Ciau siangjin juga menerima sepotong goanpo dan menghaturkan terima kasih puIa.
Kongcing ong mengerti pertandingan barusan berakhir dengan kekalahan dipihak Sin ciau siang-jin.
Dia berbuat demikian hanya demi menjaga pamornya saja, Dalam hati dia merasa penasaran Diam-diam dia berpikir.
Pengawalnya Go Eng-bim itu lihay sekali, Entah bagaimana dengan yang lainIainnya, kemungkinan di antara mereka ada juga yang kepandaiannya rendah.
Orangorangku mempunyai kepandaian tersendiri Umpamanya Ci Goan-kay, tentunya dia tidak kalah dengan Sin Ciau siangjin, sebaiknya aku mencoba lagi."
Raja muda itu penasaran Dengan cepat dia mengambil keputusan. Kemudian dia berkata kepada orangnya.
"Barusan pibu gagal, itu artinya ada keretakan di dalam kesempurnaan Karena itu, Ci suhu, kau mengajak lima belas rekanmu dan siapkan senjata masing-masing lalu memohon pertandingan kepada keenam belas pengawal Peng-Si ong. Nah, saudara Go, kau perintahkan seluruh pengawalmu untuk menyiapkan senjata masing-masing!"
Go Eng-him mengawasi tuan rumah.
"Kami adalah tamu-tamu Kongcin ong, mana berani kami membawa senjata tajam ke dalam istana ini!"
Sahutnya saban Kongcin ong tertawa.
"Siau tianhe selalu sungkan!"
Katanya.
"Ayah Siau tianhe yang terhormat beserta aku adalah sama-sama panglima perang, Seumur hidup kita, sudah biasa bercampur dengan segala macam senjata tajam, Karena itu, tidak usahlah kita perdulikan pantangan orang.... Mana orang? Bawa kemari delapan belas alat senjata supaya para pengawal Siau tianhe dapat memilihnya sendiri!"
Memang Kongcin ong adalah seorang panglima perang, Sejak mulai berangkat dari Kwan gwa yakni Manchuria, sampai menyerang serta menduduki wilayah Tionggoan, Dia selalu menyiapkan delapan belas macam senjata di istananya, Oleh karena itu mendengar perintahnya, beberapa orang pelayannya segera mengiakan serta melaksanakan tugas.
Dalam waktu singkat, semua senjata telah tersedia kemudian dikumpulkan di hadapan orang-orangn Go Eng-him.
Ci Goan-kay sendiri sudah memilih empat belas orang busu, sebab dia, meminta Sin Ciau siangjin yang memimpin kelompok itu.
Sin Ciau siangjin sendiri sebetulnya masih penasaran, dia merasa inilah kesempatan yang baik untuk mengembalikan pamornya yang sempat jatuh tadi, tetapi agar tidak menyolok dia mencoba menolak Setelah didesak berkali kali barulah dia menerima dengan baik tugas itu, dengan demikian orang akan mengira dia menerimanya karena terpaksa.
"Biar bagaimana, aku harus sanggup melukai beberapa orang pengawal dari Inlam ini,"
Katanya dalam hati, Sekarang dia tidak perduli lagi apakah perbuatannya menyalahi Peng Si ong.
Kelompok Ci Goan-kay sudah siap dengan senjatanya masing-masing, Sin Ciau siangjin sendiri memegang sepasang golok.
Sambil menggenggam senjatanya itu, dia memberi hormat kepada sang pangeran.
Kong Cin ong juga membalas penghormatannya, Senang hati Siau Po melihat keadaan itu, Diam-diam dia berkata dalam hatinya.
Baca Juga: Pedang Berkarat Pena Beraksara 2
Baca Juga: Pertikaian Tokoh Tokoh Persilatan 6