Ceritasilat Novel Online

Kaki Tiga Menjangan 3

Eps 3 Kaki Tiga Menjangan - Chin Yung

Baca online Kaki Tiga Menjangan - Chin Yung

Cersil Kaki Tiga Menjangan - Chin Yung.

Menghadapi serangan yang demikian beruntun, thayhou melompat ke kanan, namun apa daya kakinya tergelincir sehingga tubuhnya melorot turun terkulai di atas tanah.

Tepat pada saat itu, tembok di mana thayhou bersandar tadi terhantam pukulan Hay kongkong sehingga timbullah suara yang bergemuruh.

Wajah thayhou pucat pasi.

"Tamatlah riwayatku!"

Pikirnya dalam hati, Dia tidak dapat bergerak lagi, sedangkan jarak antara Hay kongkong dengannya semakin dekat Tapi, setelah menyerang secara beruntun, Hay kongkong tidak bergerak lagi, tubuhnya menopang pada reruntuhan tembok, Ternyata setelah perutnya tertikam, orang tua itu sudah menggunakan sisa tenaganya yang terakhir untuk melakukan serangan.

Dengan penuh kebencian, orang tua itu melancarkan pukulannya, Keadaannya sudah mendekati kalap.

Namun sayangnya, serangan yang terakhir itu hanya mengenai tembok yang hancur seketika.

Dengan berhentinya serangan yang gencar itu, berhenti pula denyut jantung thaykam tua itu.

Thayhou melihat orang tua itu mendekam sekian lama, dia mulai dapat menduga apa ya terjadi, Thayhou berusaha untuk bangun, namu dia mengalami kegagalan Dalam keadaan bingung dia bermaksud memanggil dayangnya agar membimbingnya kembali ke kamar, namun saat itu juga dari kejauhan dia mendengar sayup-sayup orang ramai mendatangi.

"Mungkin para penjaga sudah mendengar suara perdebatan dan perkelahianku dengan thay-kam tua itu, suara runtuhnya tembok yang dihajar orang juga keras sekali. Bagaimana kalau para siwi atau thay-kam istana datang kemari dan menyaksikan aku rebah tidak berdaya sedangkan tidak jauh dariku ada mayat thay-kam tua dan thay-kam muda itu pikirnya dalam hati. Thayhou menjadi panik. Dikiranya Siau Kui cu juga sudah mati. Dia bertekad untuk mencoba bangun kembali, namun lagi-lagi dia gagal. Pikirannya tambah bingung, sedangkan suara orang yang mendatangi semakin dekat. Tiba-tiba terdengar suara seseorang menyapanya.

"Apakah thayhou baik-baik saja?"

Thayhou menolehkan kepalanya dan melihat seseorang sedang menghampiri.

"Bagaimana kalau hamba membantu thayhou berdiri?"

Tegur orang itu kembali. Ibu suri langsung mengenalinya sebagai Siau Kui cu.

"Oh, Kau... kau tidak mati ditendang thay-kam jahat itu?"

"Dia mana sanggup menendang mati hamba,"

Sahut si thay-kam cilik.

Ketika tertendang oleh Hay kongkong, Siau Po langsung muntah darah, namun sesaat kemudian dia bisa mempertahankan diri dan merayap bangun kembali, Karena itu dia melihat semuanya dengan jelas.

Sampai si thay-kam tua roboh terkulai di atas reruntuhan tembok, dia masih berdiam diri sejenak, kemudian dia memungut sebutir batu kecil yang lalu disambitkannya ke kepala Hay kongkong, tidak ada reaksi apa-apa meskipun sambitannya mengenai kepala thay-kam tua itu dengan jitu.

Hati Siau Po agak lega karena dia yakin setidaknya orang tua itu pasti tidak sadarkan diri seandainya tidak mati, dia pun berjalan perlahan-lahan mendekati Hay kongkong dan menyepaknya satu kali.

Tetap tidak ada reaksi, sekarang Siau Po yakin bahwa thay-kam tua itu memang sudah mati.

Dia segera mendekati thayhou dan menawarkan jasanya.

Otak Siau Po memang cerdik, dia juga sudah mendengar sayup-sayup orang ramai mendatangi.

Apabila dia kepergok begitu saja, tentu dia tidak bisa meloloskan diri, itulah sebabnya dia mengambil keputusan untuk menolong thayhou.

Dengan demikian dia jadi punya alasan apabila di tanyai apa yang telah terjadi.

Bagian 09

"Oh, anak yang baik! Lekas kau bimbing aku ke dalam kamar!"

Kata thayhou setelah mengenali Sia Po. Dia juga tidak perlu merasa malu, memang Sia Kui cu seorang bocah laki-laki, tapi dia toh seorang thay-kam yang sudah dikebiri.

"Baik!"

Sahut Siau Po yang langsung memegang lengan wanita itu dan membimbingnya masuk ke dalam kamar.

Dia juga membantu thayhou berbaring di atas tempat tidurnya.

Siau Po sendiri sudah terlalu letih, selesai membantu ibu suri, dia sendiri jatuh terkulai di ata permadani yang tebal, nafasnya tersengal-sengal.

"Kau berbaring saja,"

Kata thayhou.

"Nanti kalau ada yang datang, jangan mengeluarkan suara sedikit pun."

"Ya,"

Sahut Siau Po mengangguk lemah.

Sejenak kemudian terdengarlah suara yang riuh rendah di luar kamar thayhou.

Rupanya sudah banyak orang yang berkumpul di sana, Ada yang membawa obor dan ada juga yang membawa lentera.

"Eh, ada thay-kam mati di sini!"

Teriak seseorang dengan nada terkejut.

"Dia Hay kongkong dari ruang Siang-sian tong!"

Seru yang lainnya begitu mengenali siapa adanya mayat itu. Seorang lainnya segera berteriak dengan suara lantang.

"Lapor! Harap thayhou ketahui bahwa di dalam taman ini telah terjadi sesuatu, semoga thayhou dalam keadaan baik-baik saja!"

"Urusan apa yang telah terjadi?"

Tanya thayhou pura-pura tidak tahu apa-apa.

Jawaban itu melegakan hati para siwi dan thay-kam yang berdatangan di taman itu.

Kalau thayhou dalam keadaan selamat, berarti mereka pun aman.

Meskipun peristiwa itu terjadi di dalam keraton Cu-Ceng kiong.

"Kemungkinan hanya para thay-kam yang berkelahi, bukan urusan penting, silahkan thayhou beristirahat peristiwa ini akan segera diurus dan besok baru hamba memberikan laporan selengkapnya,"

Sahut siwi tadi.

"Baiklah!"

Suara yang bising pun mereda, mereka bekerja dengan hati-hati. Mayat Hay kongkong diangkat kemudian reruntuhan tembok dirapikan kembali.

"Di sini masih ada mayat seorang dayang cilik!"

Tiba-tiba terdengar seseorang berteriak "Eh,., Dia masih belum mati hanya pingsan...."

"Syukurlah kalau belum mati. Nanti kalau sadar, kami bisa mendapat keterangan yang jelas darinya...."

Thayhou mendengar pembicaraan itu, dia segera menukas.

"Apa? Ada dayang kecil yang tidak sadarkan diri? Cepat pondong dia masuk ke dalam kamarku!"

Thayhou tahu satu-satunya dayang cilik yang melayaninya hanya Lui Cu.

Dia harus mendapatkan nona cilik itu agar setelah sadar, Lui Cu tidak sembarangan berbicara.

Perintah thayhou segera dilaksanakan.

Dua orang pengawal segera memondong tubuh Lui Ci kemudian memasukkannya ke kamar ibu suri, setelah itu mereka langsung keluar lagi.

Sampai saat itu, para dayang yang lainnya serta beberapa thay-kam yang melayani ibu suri baru berdatangan.

Mereka hanya berdiri di depan pintu kamar menunggu perintah.

Tidak ada seorang pun yang berani lancang masuk ke dalam.

Ibu suri tahu para pelayannya sudah berdatangan, dia segera memberi perintah.

"Kalian tidak perlu menunggu di sini, istirahatlah!"

Seperti mendapat pengampunan, berbondong-bondong pelayan itu menyatakan terima kasih lalu meninggalkan keraton Cu-ceng kiong.

SebetuInya, memang tidak ada dayang yang tahu thayhou mengerti ilmu silat.

Kalau ia berlatih, selalu dilakukannya dalam keadaan seorang diri, baik di dalam kamar ataupun di luar, Dia melarang dayang, siwi atau thay-kam sembarangan menyentuh pintu kamarnya.

Sementara itu, thayhou segera memejamkan matanya untuk beristirahat setengah kentungan kemudian, keadaannya mulai membaik.

Tenaga Siau Po sendiri sudah mulai pulih sebagian, dia bisa duduk tegak bahkan berdiri.

Thayhou bingung melihat keadaan Siau Po yang baik-baik saja, Kalau menurut pendapatnya sendiri, tendangan Hay kongkong tadi cukup dahsyat, apalagi bagi seorang bocah berusia belasan tahun.

Meskipun tidak sampai mati, dapat dipastikan tulang di dadanya bisa patah, tapi kenyataannya tidak, sebab thay-kam cilik ini masih kuat memondongnya masuk ke dalam kamar.

Hal mana tidak mungkin dilakukan seseorang yang terluka parah atau tulangnya patah, Dia menerka-nerka ilmu apa yang dipelajari bocah cilik ini.

"Selain Hay kongkong, siapa lagi yang mengajarkan ilmu silat kepadamu?"

Tanya thayhou dengan perasaan ingin tahu.

"Hamba hanya belajar setengah tahun dari thay-kam tua itu,"

Sahut Siau Po.

"Thayhou, dia jahat sekali. Setiap hari yang dipikirkannya hanya bagaimana membunuh hamba...."

"Oh!"

Seru ibu suri.

"Apa benar kau yang membutakan kedua matanya?"

"Tua bangka yang jahat itu siang malam terus memaki thayhou,"

Sahut Siau Po yang cerdik dan pandai mengikuti situasi yang ada di hadapannya "Dia juga mencaci maki Sri Baginda sehingga hamba tidak tahan mendengarnya, sayangnya hamba tidak mempunyai keberanian untuk membunuhnya, hamba takut"

"Bagaimana dia mencaci maki raja dan aku?"

Tanya thayhou.

"Ah! Mulutnya hanya sembarangan mengoceh, tidak pernah hamba mengingatnya dengan serius! "

Kau anak yang baik,"

Puji ibu suri.

"Apa keperluanmu malam-malam di taman bungaku?"

Otak Siau Po bekerja dengan cepat "Ketika baru tertidur, hamba mendengar tua bangka itu membuka pintu kamar, Hamba takut dia akan mencelakai hamba, maka diam-diam hamba bangun dan mengikutinya.

Ternyata hamba mengikutinya sampai di sini!"

"Tadi dia juga mengoceh sembarangan di ha dapanku, apakah kau dengar apa yang dikatakannya?"

Tanya thayhou.

"Hal ini membuat perasaannya menjadi khawatir, Apalagi Siau Kui cu dekat sekali dengan Sri Baginda.

"Ucapan orang tua itu seperti kentut busuk. Maaf, hamba sampai berkata kasar di hadapa thayhou, Hal ini karena hamba benci sekali kepadanya. Setiap hari dia mencaci hamba sebagai anak kura-kura. Dia juga memaki leluhur hamba, karena itu hamba tidak pernah menanggapi apa pun yang diocehkannya."

"Kau dengar!"

Tiba-tiba nada suara thayhou berubah jadi dingin.

"Aku hanya bertanya, apakah kau dengar apa yang dikatakannya kepadaku malam ini?"

Siau Po cepat-cepat menggelengkan kepalanya.

"Tadi hamba bersembunyi jauh di luar taman, Tidak berani hamba berada pada jarak yang terlalu dekat dengannya, meskipun mata tua bangka itu sudah buta, telinganya justru semakin tajam. Hamba takut dia tahu akan kehadiran hamba. sebenarnya hamba ingin sekali mendengar apa yang diocehkannya kepada thayhou, tetapi sayang jaraknya terlalu jauh sehingga tidak dapat mendengar sepatah kata pun. Sampai lama sekali hamba mengintai dari kejauhan, setelah tua bangka itu menyerang thayhou, baru hamba berani mendekat. Tujuan hamba ingin membokongnya, sayangnya hamba gagal. Hamba yakin ia tentu menjelek-jelekkan hamba di depan thayhou, Hamba mohon thayhou jangan percaya pada apa yang dikatakannya!"

Sahutnya cerdik.

"Hm!"

Thayhou mendengus dingin sekali lagi.

"Apa benar kau tidak mendengar apa yang dikatakannya? Syukurlah kalau memang benar, Kau anak yang cerdik juga berani, tapi awas kalau kelak dikemudian hari aku tahu kau berdusta!"

"Thayhou memperlakukan hamba dengan baik, Kalau sampai dia bicara yang tidak genah mengenai thayhou, tentu hamba akan mengadu jiwa dengannya!"

"Bagus kalau kau bisa mempunyai pikiran seperti itu! Sebenarnya, aku tidak merasa telah memperlakukan kau dengan baik...."

"Thayhou benar-benar memperlakukan hamba dengan baik. Hamba sudah berani berkelahi dengan Sri Baginda, walaupun saat itu hamba tidak tahu bahwa beliau adalah sang Raja, tetapi thayhou tidak menyalahkan hamba sedikit pun juga, ini yang disebut budi kebaikan! Dengan matinya si tua bangka, berarti thayhou telah membebaskan hamba dari cengkeraman hatinya yang jahat!"

"Bagus, kau mengerti budi, Nah, sekarang nyalakan lilin di atas meja!"

Siau Po mengiakan, dia segera melaksanaka perintah itu.

"Ke sini! Aku ingin melihat wajahmu!"

Kata thayhou kemudian.

Perlahan-lahan Siau Po menghampiri, dia melihat wajah ibu suri pucat sekali.

Matanya setenga dipicingkan, Sinar matanya tajam sekali dan mengandung pengaruh yang besar, jantung Siau Po berdebar-debar melihatnya.

"Mungkinkah dia ingin membunuhku agar aku bungkam untuk selamanya? Kalau sekarang aku lari, dia pasti akan meringkusku, Tapi, belum tentu dia bisa mengejar aku...."

Pikir Siau Po ragu-ragu untuk sejenak.

"Tapi kalau aku sampai tertawan, matilah aku!"

Ketika bocah itu masih dilanda kebimbangan tiba-tiba tangannya telah dicekal oleh thayhou. Siau Po terkejut sekali, sampai dia mengeluarkan seruan tertahan.

"Kau takut? Apa yang kau takutkan?"

Tanya thayhou datar.

"Ham... ba tidak takut, namun...."

"Namun apa?"

"Budi thayhou besar laksana gunung, apa pun keputusan thayhou, hamba akan menerimanya..."

Siau Po jadi gugup, dia tidak ingat lagi apa yang ingin dikatakannya.

"Kenapa kau gemetaran?"

Tanya thayhou.

"Ti... dak...."

Thayhou menyalurkan tenaga pada lengan kirinya. Dia ingin menghajar Siau Po sampai mati. Dia takut kelak bocah ini akan menimbulkan bencana baginya.

"Apabila bocah ini mampus, rahasia tidak akan terbongkar lagi untuk selamanya,"

Pikirnya dalam hati.

Tapi barusan dia berkelahi melawan Hay kongkong, tenaganya sudah terkuras habis, seandainya Siau Po meronta sedikit saja, pasti dia akan bebas, namun dia tidak berani melakukan hal itu.

"Luar biasa anak ini. Tadi si thay-kam tua bangka itu menendangnya dengan keras, tapi dia tida apa-apa. ilmu apakah yang dipelajarinya? Sekarang tenagaku sudah habis, lebih baik aku bersabar beberapa hari dan mencari kesempatan Iainnya, pikir thayhou dalam hati.

"Malam ini kau telah berjasa, Aku akan memberikan hadiah besar kepadamu!"

Kata thayhou sambil tersenyum.

"Sebetulnya tua bangka itu ingin membunuh ku!"

Kata Siau Po yang pandai menempatkan diri.

"Thayhou telah membunuhnya, berarti thayho yang telah menolong hamba. Hamba sendiri tida berjasa apa-apa."

Senang hati thayhou mendengarkan kata-kata itu, tetapi dia tidak mengutarakannya.

"Kau tahu diri, kelak aku tidak akan menyia-nyiakanmu, sekarang kau boleh mengundurkan diri!"

Perlahan-lahan thayhou melepaskan cekalannya pada tangan bocah itu.

Siau Po menjatuhkan dirinya berlutut, dia mengangguk-anggukkan kepala untuk memberi hormat dan menyatakan perasaan terima kasihnya.

Kemudian dengan setengah merangkak dia mengundurkan diri.

Thayhou memperhatikan dengan seksama, Dia melihat pakaian bocah itu penuh bercak darah, hal ini membuktikan bahwa tadi Siau Kui cu sudah muntah darah cukup banyak, tetapi gerak-geriknya tetap gesit, dia jadi heran karenanya.

Ketika berjalan keluar, Siau Po melirik ke arah Lui Cu.

Dada nona itu bergerak turun naik, tanda nafasnya masih bekerja.

sedangkan mata nona itu terpejam, wajahnya bersemu dadu seperti orang yang sedang tertidur nyenyak Hati Siau Po agak lega melihatnya.

"Lain kali aku akan membelikan buah-buahan dan kue untukmu,"

Janjinya dalam hati.

Sekejap kemudian Siau Po sudah kembali ke kamarnya, Dia segera menutup pintu dengan palangnya, setelah itu baru dia bisa bernafas lega.

Sejak tadi hatinya merasa tidak tenang, dia ingat selama setengah tahun lebih dia hidup bersama Hay kongkong, hatinya selalu was-was karena takut Hay kongkong mengetahui samarannya dan akan mencelakai dirinya.

"Sekarang si kura-kura tua sudah mampus. Tidak ada lagi yang perlu kutakutkan!"

Namun baru berpikir sampai di sini, tiba-tiba dia teringat wajah thayhou dengan senyumnya yang menggidikkan hatinya.

"Ah! istana ini tetap tidak aman bagiku, Lebih baik aku... aku...."

Hatinya ragu sejenak, dia memikirkan apa yang harus dilakukannya, kemudian dia tersenyum lebar "Lebih baik aku bawa uangku yang empat ratus lima puluh ribu tail itu, Aku akan pulang ke Yangciu dan hidup senang sampai di hari tua bersama ibuku!"

Berpikir sampai di situ, hati Siau Po senang sekali, dia berjingkrak-jingkrak seorang diri, Hampir saja dia tidak bisa mengendalikan kegirang hatinya untuk berteriak sekeraskerasnya.

Tiba-tiba Siau Po teringat tendangan keras Hay kongkong.

Sampai sekarang dadanya masih terasa agak nyeri, Cepat-cepat dia menuju peti penyimpanan obatobatan.

Di dalamnya terdapat banyak botol-botol kecil dari berbagai jenis warna, Juga ada yang bertulisan sayangnya Siau Po buta huruf, tidak tahu botol mana yang berisi obat luka dalam.

"Ah! Sudahlah, Apa artinya sedikit rasa sakit ini? Bukankah selama ini tubuhku kuat, Jarang sakit dan ilmuku juga sudah sempurna?"

Katanya kepada diri sendiri.

Dia menutup kembali peti obat itu, dia merasa setelah kematian Hay kongkong sudah pantasnya dia mewarisi barang-barangnya itu.

Maka dia pun membongkar sana sini dan ingin tahu apa saja yang bisa ditemukannya, Di dalam laci masih ada uang kontan senilai dua ratus tahil.

Siau Po tidak terlalu memperhatikan uang itu, Bukankah dia mempunyai banyak uang simpanan di tangan Ngo-tu, saudara angkatnya?

Dia membongkar laci yang terakhir Tiba-tiba dia menemukan sebuah bungkusan yang tidak seberapa besar dari kain berwarna hijau, Ketika di membukanya, hati Siau Po langsung berdegup ke cang.

Isinya dua buah kitab, judulnya Si Cap Ji Ci keng!

Untuk sesaat Siau Po tertegun.

Buku itu dibungkus kain hijau yang sudah kumal dan tua sekali.

"Aneh si kura-kura tua itu! Dia toh sudah memiliki buku ini, mengapa masih mencari yang lain? Mengapa dia menyuruh aku mencuri milik ibu suri? Mengapa thayhou juga mempunyai pikiran yang sama dengan kura-kura tua itu? Untuk apa sebenarnya buku ini? Segala buku tua dan bau apek diperebutkan Lebih baik berjudi agar bisa memenangkan uang banyak!"

Meskipun berpikiran demikian, Siau Po tetap memegangi buku itu, dia membalikkan halamannya sehingga terlihatlah huruf-huruf yang padat, dia memperhatikannya dengan seksama.

"Kalian mengenal aku Wi Siau-po, sayangnya aku justru tidak mengenal kalian!"

Gerutunya dalam hati, Dia membungkus kembali buku itu untuk memeriksa buku yang satunya lagi, Dia mengenalinya sebagai kitab yang sama.

"Dasar celaka! Tuan besar tidak ingin mengenalmu!"

Makinya.

Dia menduga bahwa kitab itu pasti berisi ajaran Buddha, tapi dia toh membalikkan halamannya satu per satu.

Kemudian dia menemukan bahwa setiap halaman dari kitab itu berisi gambar laki-Iaki bertubuh telanjang dan penuh dengan garis-garis kecil berwarna merah mirip benang halus.

Tanpa terasa, perhatiannya jadi tertarik maka dia membuka lagi halaman berikutnya dan memperhatikan dengan seksama.

Gambar orang-orang yang ada dalam kitab itu dalam posisi yang berbeda, Ada yang duduk, ada yang berdiri, ada yang setengah berlutut, ada yang berbaring dengan posisi miring.

Bahkan ada yang bersikap kepala di bawah dengan kaki di atas.

"Ah! ini pasti gambar cara melatih ilmu silat."

Pikir Siau Po yang berotak cerdas.

"llmu silat kura-kura tua lihay sekali, mungkin dia mempelajarinya dari kitab ini, Hm... dia mengajarkan ilmu silat Siaulim pai palsu kepadaku, isi kitab ini pasti asli. Kalau aku mempelajari satu dua tiga halaman saja, mungkin dalam setengah sampai satu tahun aku sudah berhasil menguasai semuanya dan aku pun akan lihay seperti si kura-kura tua. pada saat itu, tidak ada lagi orang yang sanggup menandingi aku. Aku pun menjadi si kura-kura kedua! Ai"

Tidak betul! Kalau aku menjadi kura-kura kedua bukankah artinya aku menjadi kura-kura cilik?"

"Ha... ha... ha... ha..."

Saking gelinya, Siau Po jadi tertawa sendiri, dengan perasaan gembira, segera membolak-balik halaman kitab itu.

Dilihatnya gambar seorang Iaki-laki sedang duduk bersila.

Dia segera meniru gambar itu dengan duduk bersila juga.

Tapi, baru saja dia duduk sebentar, dari depan pintu terdengar suara yang nyaring.

"Kui kongkong, Kui kongkong! Selamat! Selamat! Lekas buka pintu!"

Siau Po meloncat bangun, cepat-cepat dia menyimpan kembali kedua kitab tadi dan menutup lacinya dengan rapi, setelah itu dia juga mengenakan sehelai jubah lain untuk menutupi tubuhnya yang telanjang, pakaiannya sudah dilepaskan dan dicuci bersih dari noda darah.

Setelah itu baru dia berjalan menuju pintu dan membukanya.

"Hei, hei! Tunggu dulu! Urusan apa yang begitu menggembirakan?"

Tanyanya ramah. Di depan pintunya berdiri empat orang thay-kam. Mereka langsung menjura memberi hormat kepada Siau Po seraya berkata.

"Selamat, Kui kongkong, Selamat!"

Siau Po tersenyum.

"Apa-apaan ini? Pagi-pagi kalian sudah muncul di sini dan berteriak-teriak, Ada apa kah ?"

Salah seorang thay-kam berusia setengah baya segera menyahut "Tadi thayhou telah mengeluarkan firman kepada Lwe buhu, bunyinya menyatakan.

"Oleh karena Hay tayhu Hay kongkong telah menutup mata akibat sakit yang berkepanjangan, maka jabatannya sebagai Hu congkoan diserahkan kepada Kui kongkong sekarang kongkong naik lagi pangkatnya!"

Seorang thay-kam yang lain tidak mau ketinggalan Dia tersenyum kemudian berkata.

"Tanpa menunggu Lwe buhu datang kemari menyampaikan firman tersebut, kami mendahuluinya memberi selamatl Senang sekali mengetahui bahwa Kui kongkong yang akan memimpin Siang-sian tong mulai hari ini!"

Siau Po sendiri tidak terlalu antusias mendengar kenaikan pangkatnya, diam-diam dia berpikir dalam hati.

"Kenaikan pangkatku ini pasti karena thayhou takut aku membocorkan rahasia tadi malam. Sebenarnya, biar tidak dinaikkan pangkat, lohu juga tidak berani sembarangan bicara, bisa-bisa kepala ku pindah rumah dan mulutku disumpal untuk selamanya! Mana mungkin aku begitu bodoh berani mengoceh? sekarang thayhou telah menaikka pangkatku, aku yakin dia tidak akan membunuhku Hatiku boleh lega sekarang."

Sebelum Siau Po sempat mengatakan sesuatu thay-kam yang ketiga juga ikut menimbrung.

"Di dalam istana ini, sebelumnya tidak pernah ada seorang pun Hu congkoan yang usianya semuda Kui kongkong, jumlah keseluruhan congkoan di istana ini ada empat belas orang, sedangkan wakil nya ada delapan orang, Di antara mereka, tidak ada satu pun yang usianya kurang dari tiga puluh tahun, sekarang Kui kongkong menggantikan kedudukan Hay kongkong, berarti mulai besok kedudukanmu sudah sama dengan Tio congkoan dan Ong cong koan!"

Thay-kam yang keempat pun ikut memberika komentar.

"Kami semua tahu Kui kongkong sangat disayangi Sri Baginda. Tidak disangka kau juga dihargai oleh thayhou, Kami yakin tidak sampai setengah tahun lagi, Kui kongkong akan dinaikkan pula pangkatnya menjadi congkoan Kongkong, kami harap kelak kongkong tidak lupa kepada kami dan mau menolong kami!"

Senang juga hati Siau Po mendengar nada suara keempat thay-kam yang demikian hormat kepadanya. Bibirnya langsung menyunggingkan senyuman.

"Kita semuanya merupakan saudara. jangan bicara soal lupa atau toIong. Sudah sepatutnya kita saling memperhatikan. Dan kenaikan pangkatku itu adalah berkat kebaikan thayhou, Apalah jasa lohu?"

Tampaknya sudah menjadi kebiasaan bagi Siau Po untuk menyebut dirinya sendiri lohu, meskipun orang yang dihadapinya jauh lebih tua daripadanya sendiri.

"Nah, mari kalian masuk! Di dalam kamar kita minum teh!"

Ajak Siau Po. Thay-kam yang berusia setengah baya tadi segera berkata.

"Firman thayhou mungkin akan disampaikan oleh Lwe buhu setidaknya siang nanti, Karena itu Kui kongkong, sebaiknya kita minum teh bersama merayakan kenaikan pangkat kongkong ini, semoga tidak lama lagi pangkat kongkong akan naik pula, Kui kongkong, kau sekarang terhitung pembesar tingkat lima. Untuk orang seusiamu, benar-benar luar biasa!"

Thay-kam lainnya ikut memberikan pujian.

Bahkan ada yang ingin mengundang "Siau Po minum arak.

Karena malu hati, akhirnya Siau Po mengganti pakaian yang lebih pantas, kemudian mengunci pintu kamarnya dan ikut dengan keempat thay-kam tersebut Dua dari keempat thay-kam itu adalah pelayannya thayhou.

Mereka yang menyampaikan firman thayhou kepada Lwe buhu dan juga merupakan dua orang pertama yang mendengar kabar gembira itu.

Dua yang lainnya adalah petugas Siang-sian tong yang bertugas membeli beras dan barang-barang makanan, ketika mendengar berita kematian Hay kongkong, pagi-pagi sekali mereka sudah berkumpul di depan kantor Lwe buhu untuk mendengar siapa yang akan menggantikan kedudukan thay-kam tua itu.

Dengan demikian sejak dini mereka bisa memberi selamat kepada orang yang beruntung karena hal ini penting demi menjaga kelangsungan kedudukan mereka sendiri.

Mereka mengajak Siau Po ke dapur, di sana bocah itu dipersilahkan duduk dan semuanya pun repot melayani.

Mereka menyiapkan santapan yang paling lezat, bahkan lebih hebat dari hidangan yang biasa disajikan untuk Sri Baginda maupun thayhou.

Siau Po tidak suka minum arak, dia hanya menemani keempat thay-kam itu bercakap-cakap.

"Sebenarnya Hay kongkong cukup baik. Hanya saja belakangan ini kesehatannya memburuk, apalagi matanya sudah buta, Menurut kabar, dia mati karena penyakit batuknya yang sudah parah sekaii,"

Kata salah seorang thay-kam itu.

"Benar, penyakit batuk Hay kongkong memang sudah kronis, kalau lagi batuk, kadang-kadang dadanya sampai sesak karena sulit bernafas,"

Sahut SiauPo.

"Tadi pagi-pagi,"

Kata thay-kam yang melayani thayhou.

"Lie Taiie, si tabib istana datang melaporkan bahwa penyakit yang diderita oleh Hay kongkong adalah sakit paruparu yang sudah menyusup ke dalam tulang dan sakit beri-beri yang sudah naik ke jantung. sedangkan penyakit lamanya kumat pula, Karena itu dia tidak dapat disembuhkan lagi, Bahkan karena takut penyakitnya bisa menular, jenasahnya langsung dibakar. Mendengar laporan itu, thayhou sampai menarik nafas panjang sekali-sekali, Thayhou menyayangkan kematian Hay kongkong yang katanya baik dan pekerjaannya bagus."

Siau Po tidak memberikan komentar.

Sehabis pesta, dia kembali lagi ke kamarnya, Ketika dia mohon diri, seorang thay-kam menjejalkan sebuah bungkusan kecil ke dalam genggaman tangannya.

Begitu sampai di kamar dia segera membuka bungkusan itu, isinya ternyata uang kertas masing-masing senilai seribu tail.

Diam-diam dia berkata dalam hati.

"Belum lagi aku menjabat kedudukan yang baru, uang sudah masuk kantong, Lumayan juga!"

Tengah hari, Siau Po dipanggil oleh Sri Baginda untuk menghadap ke kamar tulisnya. Ketika bocah itu melangkah masuk, kaisar Kong Hi langsung menyambutnya dengan senyuman yang meriah.

"Siau Kui cu, menurut thayhou, kemarin kau berjasa besar. Karena itu pula pangkatmu dinaikkan!"

"Hamba telah mengetahuinya,"

Sahut Siau Po yang pandai membawa diri. Dia segera menjatuhkan diri berlutut dan menyatakan terima kasihnya.

"Sebenarnya hamba tidak berjasa apa-apa. Semuanya karena budi kebaikan thayhou belaka!"

Kaisar Kong Hi tertawa.

"Siau Kui cu, walaupun usia kita masih muda, tapi kita harus bisa melakukan usaha besar agar para menteri tidak berani mencemooh kita atau mengejek kita sebagai bocah cilik yang tidak ada gunanya!"

"Benar!"

Sahut Siau Po.

"Asal Sri Baginda sudah mempunyai rencana yang matang, apa pun akan hamba laksanakan dengan senang hati!"

"Bagus! Kau tahu Go Pay si menteri celaka itu bukan? Dia telah berani menentang aku sebagai junjungannya, meskipun sekarang dia sedang menjalani hukuman, tetapi antek-anteknya masih banyak, Aku khawatir mereka akan memberontak. Kalau hal itu sampai terjadi, negara bisa dilanda kekacauan yang tidak berani kubayangkan!"

"Benar!"

Sahut Siau Po setuju.

"Tadi Kong cin ong datang melaporkan bahwa Go Pay dipenjarakan di istana pangeran, tetapi setiap hari dia berteriak-teriak tidak karuan, Kata-katanya tidak enak didengar."

Kaisar Kong Hi merendahkan suaranya.

"Dia mengatakan bahwa aku telah menikam punggungnya satu kali."

"Tapi, mana mungkin? Bukankah lidahnya sudah kita kutungkan?"

Tanya Siau Po dengan suara yang tidak kalah lirihnya.

"Rupanya hari itu kita kurang seksama, lidahnya tidak sampai putus. Tapi hanya terluka saja. Setelah beberapa hari lukanya sudah sembuh dan dia bisa berkaok-kaok lagi."

"Tapi kata-katanya tidak benar! Untuk menghadapi seorang Go Pay saja, tidak mungkin Sri Baginda harus turun tangan sendiri kan? sebetulnya hambalah yang menikamnya, Ada baiknya hamba datang ke Kong cin ong untuk menjelaskan hal ini."

Sebetulnya memang kaisar Kong Hi yang membokong Go Pay.

Tetapi apabila hal ini sampai tersiar di luaran, tentu nama baiknya akan tercemar.

Karena itu hatinya gembira mendengar Siau Po langsung mengakui bahwa dialah yang melakukan bokongan itu.

"Memang paling bagus kalau kau yang menjelaskannya sendiri,"

Kata kaisar Kong Hi. Kepalanya manggut-manggut.

"Kau boleh pergi ke istana pangeran itu dan lihat kira-kira kapan jahanam itu akan menemui kematiannya."

"Baik!"

Sahut Siau Po.

"Tadinya aku mempunyai keyakinan bahwa dia akan langsung mati setelah terkena tikaman itu. Siapa sangka tubuhnya begitu kuat dan bisa bertahan sampai hari ini. Aih! Kalau tahu begini..!"

Wajah kaisar Kong Hi tampak sedih dan gelisah memikirkan hal itu. Siau Po dapat menduga apa yang menjadi pikiran kaisar Kong Hi. Dia bermaksud membunuh Go Pay secara diam-diam.

"Menurut penglihatanku, orang itu tidak mungkin hidup lewat hari ini!"

Kata bocah itu sambil mengedipkan matanya. Kaisar Kong Hi senang sekali mendengarnya, kemudian dia berkata dengan suara berbisik.

"Dia lihay sekali. Meskipun sudah dipenjarakan, dia ibarat seekor harimau yang ganas, itulah sebabnya kau harus berhati-hati, jangan sampai dirimu yang dilukai atau sampai terbunuh olehnya!"

"Hamba mengerti!"

Sahut Siau Po dengan suara Iirih.

"Nah, sekarang kau pergilah!"

Kata kaisar Kong Hi yang kemudian menitahkan empat orang pengawalnya mengantarkan Hu congkoan itu.

Siau Po pergi ke istana Kongcin ong dengan menunggang kuda yang tinggi dan besar, Dia di kawal oleh empat orang siwi, dua di depan dan dua lagi di belakang.

Di sepanjang jalan dia selalu menoleh ke kiri dan kanan, sikapnya menunjukkan dia bangga sekali dengan kedudukannya itu.

Tiba-tiba terdengar seseorang berkata.

"Apakah benar kabar yang tersiar di luaran bahwa orang yang membekuk Go Pay adalah seorang kongkong kecil yang berusia sepuluh tahun lebih?"

"Benar!"

Terdengar sahutan seorang lainnya.

"Sri Baginda masih muda, sekarang thay-kam yang disayangnya juga hampir sebaya dengan beliau."

"Apakah kongkong yang dimaksud bukan kongkong yang sedang menunggang kuda ini?"

Tanya yang satu lagi.

"Entah!"

Keempat pengawal itu mendengar pembicaraan mereka, Salah satunya ingin mengambil hati Siau Po. Dia segera berkata.

"Ketika terjadi penangkapan atas diri Go Pay, si pengkhianat, Kui kongkong inilah yang berjasa!"

Go Pay memang sangat dibenci oleh orang-orang Han sebab sikapnya yang sadis dan sering membunuh rakyat tanpa alasan yang tepat.

Ketika para penduduk Peking mengetahui bahwa dia telah tertawan karena berani menghina Sri Baginda, seluruh kota menjadi gempar.

Mereka senang sekali, bahkan ada yang mengadakan pesta untuk merayakan kehancurannya.

Berita itu tersebar luas, mereka pun mengetahui bahwa yang menangkap Go Pay itu adala seorang thay-kam cilik yang menjadi kesayangan Sri Baginda, sebagaimana biasanya gosip-gosip yang disiarkan, kasus yang satu ini pun dibumbui oleh orang yang satu ke orang yang lainnya, cerita itu jadi semakin seru.

Malah kalau ada seorang thay-kam yang lewat di pasar atau jalan raya, dia dihentikan orang hanya untuk ditanyakan kebenaran cerita itu karena mereka merasa penasaran sekali.

Begitu juga kali ini, begitu si pengawal mengatakan bahwa Kui kongkong inilah yang meringkus Go Pay, Siau Po langsung dikerumuni orang banyak.

Ada yang menanyakan ini itu seperti wartawan, ada pula yang bersorak-sorak memuji kegagahannya, jumlahnya sampai ratusan orang.

Kalau tidak ada keempat pengawal yang menguakkan kerumunan orang banyak itu, mungkin sampai sore Siau Po masih terkurung terus, Di lain pihak, dia senang diperlakukan seperti orang penting oleh rakyat.

Setibanya di istana Kong cin ong, sang pangeran yang sudah mendengar berita tentang datangnya utusan Sri Baginda, segera membuka pintu tengah dan keluar menyambutnya sendiri, Kongcin ong bermaksud mengatur meja sembahyang dan memasa hio untuk menerima firman Sri Baginda, Siau Po langsung mengulapkan tangannya sambil berkata.

"Ongya, kedatangan hamba hanya menjalankan tugas Sri Baginda untuk melihat keadaan Go Pay, Bukan untuk hal penting apa-apa."

"Baiklah kalau begitu,"

Sahut sang pangeran yang sikapnya ramah sekali terhadap si thay-kam gadungan, Dia tahu Siau Po selalu mendampingi raja yang sudah membuat jasa besar dengan meringkus Go Pay.

"Kui kongkong,"

Katanya kemudian.

"Kedatangan kongkong merupakan suatu kehormatan bagi kami. Nah, mari kita minum dulu satu dua cawan, setelah itu kita baru lihat Go Pay."

Siau Po menerima baik undangan itu, sesaat kemudian dia sudah duduk bersama Kong cin ong.

Keempat pengawal yang mengiringinya juga diajak duduk bersama.

Perjamuan itu dilakukan dalam taman bunga, Kong cin ong menanyakan apa kesukaan kongkong kecil itu, Siau Po berpikir dalam hati.

"Kalau aku mengatakan bahwa kegemaran ku berjudi, mungkin pangeran ini akan menemaniku bermain dan aku pun akan memenangkan uang yang banyak. Tapi cara itu kurang baik apabila sampai didengar oleh raja..."

Karena itu dia segera menjawab "Hamba tidak mempunyai kesukaan apa-apa."

Kongcin ong menguras otaknya, Dia ingin menyenangkan hati Siau Po.

"Orang yang sudah tua suka uang, orang yang usianya setengah baya biasanya suka perempuan tapi kongkong ini justru masih kecil lagipula dia seorang thay-kam, mana mungkin tertarik dengan wajah cantik? Lalu, apa kira-kira kesukaannya? Barang apa yang harus kuhadiahkan kepadanya. Dia pandai silat, tentu suka dengan golok atau pedang mustika, tetapi di dalam istana tidak boleh sembarangan menyimpan senjata tajam. Kalau sampai terjadi apa-apa, aku yang tertimpa bencan Ah... ya... aku tahu sekarang!"

Pikirnya dalam hati.

Pangeran itu pun tertawa lebar "Kui kongkong, di dalam istalku ada beberapa ekor kuda pilihan, Karena kita sudah menjadi sahabat karib, harap kongkong sudi memilih beberapa di antaranya sebagai hadiah dan kenangan untukmu."

Siau Po senang mendengar Kongcin ong menawarkan hadiah itu kepadanya, tapi dia pura-pura berkata.

"Ongya, mana boleh ongya memberikan hadiah kepada hamba."

"Kita adalah orang sendiri, jangan sungkan"

Kata Kong Cin-ong.

"Mari, kita lihat kudakuda itu dulu, nanti kita teruskan lagi perjamuan ini!"

Kong cin ong langsung menggandeng tangan Siau Po dan mengajaknya menuju istalnya, Pangeran itu segera menitahkan orangnya untuk mengeluarkan beberapa ekor kuda kecil.

Mendengar pangeran itu mengatakan "kuda kecil,"

Hati Siau Po merasa kurang puas.

"Mengapa kuda kecil yang akan dihadiahkan kepadaku? Apakah karena dia menganggap aku masih kecil sehingga tidak sanggup menunggang kuda yang besar?"

Gerutunya dalam hati. Saat itu juga dia melihat seorang pegawai Kongcin ong menuntun enam ekor kuda ke hadapan mereka, Siau Po menatapnya sekilas kemudian tertawa lebar sambil berkata.

"Ongya, tubuh hamba memang tidak tinggi, tapi hamba senang menunggang kuda yang besar. Dengan demikian hamba tidak akan terlihat kecil"

Kong cin ong mengerti. Dia menepuk pahanya dan tertawa terbahak-bahak.

"Aih! Kenapa aku sampai lupa!"

Katanya, kemudian dia pun memerintahkan orangnya.

"Kau bawa kemari kuda Giok Hoa-cong! Biar Kui kongkong melihatnya!"

Perawat kuda itu mengiakan, dia segera pergi dan sejenak kemudian sudah kembali lagi dengan menuntun seekor kuda yang tinggi dan besar.

Bulunya berwarna merah dan tubuhnya bertotolan, Ketika kuda itu mengangkat kepalanya tinggi-tinggi, sikapnya gagah sekali.

Sedangkan pakaiannya terbuat dari emas dan batu permata yang bertaburan, jangan kata kudanya, pakaiannya saja sudah tidak ternilai harganya.

"Bagus!"

Puji Siau Po. sebenarnya dia tidak bisa membedakan mana kuda bagus dan mana kuda jelek, dia hanya memuji karena tampangnya saja yang kelihatannya gagah. Kong cin ong tertawa.

"Kuda ini berasal dari wilayah barat, jenis kuda Ferghana, jangan kau lihat tubuhnya yang tinggi besar, padahal usianya masih muda, baru dua tahun lewat beberapa bulan. Kuda yang bagus harus di tunggangi oleh orang yang gagah. Nah, saudara Kui bagaimana kalau kau memilih kuda ini saja?"

Dari kongkong, sebutan pangeran terhadap si bocah cilik berubah menjadi "saudara" , Hal ini membuktikan bahwa perasaan Kong Cin-ong sudah akrab sekali dengan si thaykam cilik palsu ini.

"Ta... pi, ini kan kuda ongya sendiri? Mana berani hamba menerimanya? Lagipula hadiah ini terlalu istimewa bagi hamba.,."

Kata Siau Po.

"Aih, Saudara Kui. jangan menganggap aku sebagai orang luar, Kalau kau menolak, berarti kau tidak memandang mata kepada ku. Apakah saudara memang keberatan bersahabat denganku?"

"Ongya, di dalam istana kedudukan hamba rendah sekali, Mana pantas hamba bersahabat dengan ongya."

"Kami bangsa Boanciu adalah orang-orang yang terbuka, Kalau kau memang menganggap aku sebagai sahabat, terimalah kuda ini, MuIai sekarang tidak ada perbedaan derajat lagi di antara kita. Kalau tidak, aku benar-benar marah...."

Wajah Kong Cin-ong tampak serius sekali ketika mengucapkan kata-kata itu. Siau Po merasa simpatik terhadap pangeran ini.

"Ongya, kau... begitu baik terhadap hamba... entah bagaimana hamba harus membalasnya...."

Mendengar kata-kata Siau Po, wajah Kong Cin-ong berubah berseri-seri seketika.

"Jangan bicara soal budi, kalau kau sudi menerima kuda ini, berarti kau benar-benar menghargai aku."

"Kong Cin-ong menghampiri kudanya kemudian menepuk-nepuknya dengan lembut.

"Giok Hoa, Giok Hoa,"

Katanya kepada kuda itu.

"Mulai sekarang kau ikut dengan Kui kongkong, Harap kau melayaninya dengan baik."

Kemudian Kong cin ong menoleh kembali kepada Siau Po dan berkata.

"Saudara Kui, cobalah menunggangnya."

"Baik!"

Sahut Siau Po tertawa. Siau Po langsung memegangi pelana kuda itu kemudian loncat ke atasnya, dia menggunakan ilmu yang diajarkan oleh Hay kongkong.

"Bagus!"

Puji Kong cin ong.

Dia melihat gerakan Siau Po yang lincah sekali.

Siau Po menunggangi kuda itu berkeliling beberapa saat, ketika dia menarik tali kendalinya, kuda yang jinak itu langsung berhenti, Hatinya senang sekali mendapatkan kuda yang cerdas.

"Bagus! Bagus!"

Puji Kongcin ong sambil bertepuk tangan.

"Ongya, hamba mengucapkan banyak-banyak terima kasih atas hadiah yang tidak ternilai ini, Nah, sekarang sudah waktunya hamba melihat Go Pay. sekembalinya nanti, hamba akan menemani Ongya lagi!"

Hal ini membuktikan bahwa Siau Po tidak melupakan tugasnya meskipun hatinya yang kekanak-kanakan masih ingin bermain-main dengan kuda yang luar biasa itu.

"Baiklah,"

Sahut Kongcin ong.

"Tugas memang harus diutamakan, Namun saudara Kui, apabila kau kembali ke istana nanti, tolong sampaikan pada Sri Baginda bahwa aku akan menjaga si pengkhianat itu baik-baik, meski dia mempunyai sayap sekalipun, jangan harap dapat meloloskan diri dari tempat ini!"

"Tentu"

Kata Siau Po.

"Apakah saudara ingin kutemani?"

Tanya Kongcin ong.

"Terima kasih, Hamba tidak ingin mencapaikan Ongya,"

Kata Siau Po.

Sebetulnya Kongcin ong juga tidak suka bertemu dengan Go Pay.

Setiap kali dia melihatnya, orang itu selalu mencaci-makinya habis-habisan sampai dia merasa kehilangan muka di depan para bawahannya.

Karena itu, dia menugaskan delapan orang siwi untuk mengawal Siau Po menjenguk orang yang di penjara dalam kamar tahanan itu.

Siau Po segera diantar ke sebuah rumah batu yang letaknya terpisah dari bagian yang lain, Di depannya menjaga enam belas orang wisu.

Tangan mereka masingmasing menggenggam sebatang golok yang berkilauan saking tajamnya, Dua orang di antaranya berjalan mondar-mandir untuk menjaga-jaga terhadap kemungkinan adanya orang yang bisa menyelinap.

Salah seorang siwi segera menemui wisu kepala, dia melaporkan bahwa Kui kongkong sebagai utusan raja datang untuk melihat Go Pay.

Semua wisu segera menjura dalam-dalam kepada Siau Po.

Setelah itu kepala wisu mengeluarkan kunci untuk membuka pintu kamar tahanan dan mempersilahkan kongkong kecil itu masuk ke dalam.

Kamar tahanan itu gelap gulita, Di sudut ruangan ada dapur dan seorang petugas sedang menanak nasi.

"Pintu penjara ini tidak pernah dibuka, barang makanan dapat diselusupkan lewat celah yang ada. Petugas itulah yang biasa melayaninya,"

Kata si kepala wisu menerangkan.

"Bagus! Ketat sekali penjagaan di sini, Asal pintu besi itu tidak dibuka, otomatis tahanan pun tidak dapat melarikan diri!"

Sahut Siau Po sambil menganggukkan kepalanya. Wisu itu ikut mengangguk.

"Ongya telah berpesan wanti-wanti, apabila tahanan ini sampai lolos, semuanya akan mendapat hukuman mati!"

Wisu itu mengajak Siau Po masuk ke halaman dalam. Mereka sampai di sebuah ruangan kecil, dari situ sudah terdengar suara teriakan Go Pay rupanya dia tengah mencaci maki Sri Baginda.

"Roh nenek moyangmu akan mendapat ganjaran! Locu sudah mengalami kematian berkali-kali, Locu telah membuat jasa yang tidak terkirakan banyaknya, semuanya demi para leluhurmu. Demi ayahmu! Karena jasaku, dia mendapat negara yang kaya dan luas ini. Sekarang kau, setan cilik yang bejat! Usiamu masih muda, tapi hatimu sudah busuk! Kenapa kau mencelakai locu dengan cara membokong? Ingat! Kalau locu mati, biar jadi setan pun, locu tidak akan mengampunimu!"

Wisu kepala yang mendengar dampratan yang tidak enak itu langsung mengernyitkan keningnya.

"Dengarlah kata-kata jahanam itu! Matanya benar-benar sudah tidak memandang tingginya langit dan undang-undang kerajaan! Dia pantas mendapat hukuman penggal kepala!" Siau Po tidak memberikan komentar, dia melangkah perlahan menuju kamar penjara yang kecil. Dari jendela yang ada di dalam ruangan ada sinar suram yang menyorot masuk, Siau Po dapat melihat keadaan Go Pay. Tangannya dibelenggu oleh borgol yang besar, rantainya cukup panjang sehingga dia dapat berjalan mondar-mandir di kamar itu. Suara bising terpancar dari rantai yang diseret-seret itu terdengar jelas. Ketika dia mengangkat kepalanya dan melihat Siau Po, Go Pay langsung berteriak seperti orang kalap.

"Kau... Kau setan cilik yang harus mampus beribu kali, Masuklah kemari! Lihat bagaimana locu akan mencekik lehermu sampai mampus!"

Matanya mendelik dan memancarkan sorot kegusaran yang tidak terlukiskan.

Dengan sengit, dia maju ke depan dan menghantam borgol tangannya ke jeruji besi penyekat jendela tahanannya, suaranya sampai memekakkan gendang telinga.

Meskipun sudah berusaha menenangkan dirinya semaksimal mungkin, Siau Po tetap terkejut.

Kakinya sampai surut ke belakang dua langkah, matanya menatap Go Pay dengan sorot ngeri karena orang itu memang garang sekali.

"Jangan takut!"

Hibur si wisu kepala.

"Dia tidak dapat menerjang keluar."

"Mengapa harus takut?"

Sahut Siau Po sok gagah.

"Sekarang harap kalian menunggu di luar, menurut perintah yang diberikan oleh Sri Baginda, ada beberapa pertanyaan yang harus aku ajukan kepadanya!"

Wisu itu mengiakan. Dia segera mengajak rekan-rekannya keluar dari ruangan tersebut. Go Pay masih tetap mencaci maki dengan nada lantang, setelah berada berduaan, Siau Po tertawa lebar.

"Go siaupo!"

Sapanya ramah, Dia sengaja nyebut siaupo yang artinya pelindung raja, Sedangkan jabatan Go Pay telah dicopot "Siaupo, Baginda menitahkan aku datang menjengukmu, beliau ingin tahu apakah kau dalam keadaan baik-baik saja atau tidak.

Tapi kalau mendengar suara caci makimu yang demikian bersemangat, tampak kesehatanmu baik sekali.

Kalau Sri Baginda mengetahuinya, tentu beliau akan senang sekali."

Go Pay mengangkat kedua tangannya, rantai penyambung borgolnya dihantamkan ke jeruji jendela.

"Setan gentayangan! Anak turunan anjing, sana beritahukan kepada Raja, tidak usah pura-pura kasihan. Kalau mau bunuh silahkan, apa kira Go Pay akan merasa takut?"

Siau Po menyurut mundur dua langkah, khawatir jeruji besi itu akan jebol terkena hantaman Go Pay. Bibirnya kembali menyungging senyuman.

"Sri Baginda memang sangat membencimu, dia tidak ingin kau mati cepat-cepat, Sri Baginda malah berharap kau akan berumur panjang hingga dapat menikmati kehidupan di sini selama dua puluh atau tiga puluh tahun lamanya, apabila kau benar-benar sudah menginsyafi kesalahanmu dan merangkak di depan Sri Baginda sambil membenturkan kepalamu di atas tanah sampai beratus kali, dan memohon pengampunan mu. Mengingat jasa yang telah kau dirikan, Sri Baginda akan membebaskan kau dari penjara ini. Tapi, jabatanmu yang telah dicopot tidak dapat kau peroleh kembali."

Mendengar kata-kata Siau Po, diam-diam Go Pay berpikir dalam hati.

Tentu sengsara sekali dikurung dalam tahanan ini sampai puluhan tahun, dengan demikian mati atau hidup hampir tidak ada bedanya, Bahkan lebih menderita daripada mendapat hukuman penggal kepala!"

Biarpun benaknya berpikir demikian, tapi pada dasarnya Go Pay beradat keras, dia tidak sudi menyerah pada Sri Baginda begitu saja.

Dia tidak mau berlutut atau memohon pengampunan justru kepada orang yang dibencinya dan tidak dipandang sebelah mata olehnya.

"Beritahukan kepada raja agar dia jangan bermimpi di siang bolong! Mungkin tidak sulit baginya untuk membunuh Go Pay, tapi jangan berharap mudah menyuruh Go Pay berlutut memohon pengampunan!"

Tawa Siau Po semakin lebar mendengar ucapan nya.

"Kita lihat saja nanti!"

Katanya "Tiga atau empat tahun kemudian, asal Sri Baginda teringat kepadamu, tentu beliau akan mengutus orang kemari untuk menjengukmu Go tayjin, jagalah kesehatanmu baik baik.

Hati-hati agar jangan sampai masuk angin dan terserang penyakit batuk."

"Kau benar-benar anak haram!"

Maki Go Pay "Sri Baginda sebenarnya cukup baik, tapi dia mudah dipengaruhi kalian, orang-orang Han yang berhati busuk!

Kalau sejak semula Raja mendengarkan nasehatku, tentu istana tidak ada seorang menteri pun di istana yang berbangsa Han, bahkan seekor anjing Han pun dilarang masuk ke dalam, Kalau perkataanku diikuti, tentu keadaannya tidak menjadi kacau seperti sekarang ini!"

Siau Po tidak memperdulikan umpatannya, Di berjalan ke arah dapur dan membuka tutup kuali, di dalamnya terdapat masakan daging dengan sawi putih.

"Baunya sedap sekali!"

Puji Siau Po.

"Beginilah makanan orang tahanan, Tidak ada yang lezat?"

Sahut si pengurus dapur.

"Sri Baginda memerintahkan aku memeriksa hidangan untuk orang tahanan ini. Tidak boleh sembarangan memberikan makanan kepadanya!"

"Harap kongkong jangan khawatir, dia tidak bakal kelaparan Ongya juga berpesan agar setiap hari dia dimasakkan sekati daging."

"Ambilkan mangkuk, aku akan mencicipi makanan ini. Kalau kau berbuat yang bukan-bukan akan kuadukan kepada Ongya agar kau dihajarnya habis-habisan!"

Pelayan itu ketakutan setengah mati.

"Hamba tidak berani main gila!"

Sahutnya sambil memgambilkan sebuah mangkuk dan menyendokkan masakan ke dalamnya, Kemudian disodor-kannya kepada Siau Po dengan penuh hormat.

Siau Po mencicipi satu sendok kuah masakan itu, dia tidak memberikan komentar apa-apa, hanya berkata.

"Apakah setiap hari kau memberinya sekati daging? Jangan-jangan kau menyisihkannya untuk mengenyangkan perutmu sendiri!"

Pelayan itu menggelengkan kepalanya berkali-kali.

"Tidak, tidak! Hamba mana berani melakukan perbuatan itu? sekarang juga... hamba akan menyuguhkan makanan kepada tahanan itu,"

Katanya gugup. Dia segera menyendokkan semangkuk besar masakan dan tiga mangkuk nasi, Siau Po mengangkat sumpit yang tergeletak di samping dan memperhatikannya dengan seksama.

"Sumpit ini kotor sekali, Kau cuci dulu biar bersih!"

"Baik, baik."

Sahut pelayan itu yang langsung membawa sumpit itu untuk dicuci di pancuran air di luar.

Di saat pelayan itu sudah pergi, Siau Po segera mengeluarkan sebungkus bubuk berisi obat, dituangkannya setengah ke dalam masakan daging kemudian sisanya disimpan kembali.

Kemudian dia mengaduk-aduk masakan itu agar obatnya larut.

Siau Po tahu Sri Baginda ingin membunuh Go Pay, itu sebabnya dia membuka peti obat milik Hay kongkong untuk mencari racun yang mematikan.

Tapi dia tidak tahu yang mana obat beracun yang diinginkannya, akhirnya dia mencampur beberapa macam obat menjadi satu, karena dia yakin beberapa di antaranya pasti ada obat yang mengandung racun mematikan sekarang obat itulah yang dimasukkan ke dalam masakan yang akan dihidangkan untuk Go Pay.

Sesaat kemudian pelayan tadi sudah kembali lagi dengan sumpit yang sudah dicuci bersih.

"Ya, dagingnya memang tidak sedikit. Tapi, apa sehari-harinya selalu begini? Apa kau tidak mencuri makanannya?"

"Tidak, tidak, kongkong!"

"Nah, pergilah kau antarkan makanan ini!"

"Baik, kongkong!"

Sahut pelayan itu yang segera membawa makanan yang telah disiapkan. Siau Po puas sekali, sembari mengetuk-ngetuk mangkuk dengan sumpit, ia berpikir.

"Kalau Go Pay sudah menyantap hidangan itu, tentu darah akan mengalir dari mulut hidung dan telinganya!"

Dengan membawa pikiran itu, Siau Po segera berjalan keluar menemui para penjaga.

"Go Pay sedang makan, mari kita lihat,"

Katanya kepada kepala wisu.

"Mari!"

Sahut orang itu. Siau Po dan wisu kepala itu jalan berdampingan. Baru melangkah masuk pintu, tibatiba terdengar suara yang gaduh, Terdengar seseorang membentak.

"Siapa? Berhenti!"

Kemudian disusul dengan suara sambaran anak panah. Wisu kepala itu terkejut sekali.

"Kongkong, kau duluan, Nanti aku lihat apa yang terjadi!"

Serunya sambil menghambur keluar Siau Po juga mengikuti di belakangnya, segera terdengar suara keras seperti bentrokan senjata tajam.

Ternyata ada belasan orang berpakaian hijau yang sedang berkelahi melawan para wisu.

Melihat hal itu, hati Siau Po tercekat.

"Ah! Mungkinkah mereka konco-konconya Go Pay yang datang untuk menolongnya?"

Tanyanya dalam hati.

Si wisu kepala langsung menghunus senjatanya dan memegang tampuk pimpinan.

Dia memberikan petunjuk-petunjuk kepada anak buahnya namun pada saat itu, dia diserang oleh seorang laki-Iaki dan perempuan dari kedua sisinya.

Empat siwi yang mengawal Siau Po ada di dekatnya, mereka segera memberikan bantuan kepada para wisu.

Dalam sekejap mata dua orang wisu sudah berhasil dirobohkan oleh rombongan orang berpakaian hijau itu.

Siau Po segera menyusup ke dalam ruangan dan menutup pintunya rapat-rapat.

Tapi baru saja di mengangkat palang pintu itu, titta-tiba terasa ada serangkum angin tolakan yang keras sehingga tubuh bocah itu terpental ke belakang, setelah itu tampak empat orang berpakaian hijau meloncat ke dalam sambil berteriak.

"Go Pay! Di mana Go Pay?"

Malah seorang laki-laki yang usianya agak lanjut dan wajahnya dipenuhi janggut langsung mencekal Siau Po sebelum bocah itu sempat melakukan apa-apa.

"Di mana Go Pay ditahan?"

Bentaknya garang.

"Di luar, dalam kamar ada ruangan bawah tanah,"

Sahut Siau Po sambil menunjuk keluar. Dua orang berpakaian hijau segera menghambur keluar, sebaliknya dari luar ada empat orang lainnya yang menerjang masuk terus menuju belakang.

"Di sini!"

Terdengar teriakan salah satu di antaranya.

Orang tua yang mencekal Siau Po marah sekali, dia langsung mengirimkan sebuah bacokan ke arah Siau Po yang untung sudah terlepas dari cekalannya.

Siau Po menghindarkan diri dengan gesit.

Namun dari sisi kirinya ada seorang berpakai hijau lainnya yang langsung menyerangnya.

Dukk!

punggungnya terhajar.

Sekali lagi tubuhnya terpental ke halaman belakang, namun kali ini dia tidak sanggup bangun lagi.

Enam orang berpakaian hijau menyerbu ke dalam penjara, tetapi pintu besinya kokoh sekali, tidak mudah dijebol.

Sementara itu di luar terdengar suara gong yang bising.

Rupanya para wisu sedang meminta bala bantuan.

"Cepat!"

Gertak salah seorang berpakaian hijau itu.

"Ngaco"

Sahut yang tidak tahu "kita tidak boleh menunda waktu lama-Iama di sini?"

Bentak si orang tua tadi.

Seorang berpakaian hijau kewalahan menggempur pintu besi yang kokoh itu.

Dia segera menuju jeruji jendela dan menghajarnya dengan senjata ruyungnya.

Baru beberapa kali hantaman, besi jeruji jendela itu sudah melengkung.

Jumlah mereka semuanya menjadi enam orang, sedangkan ruangan itu cukup sempit sehingga mereka harus berdesak-desakan.

Ketika mereka semua sedang mengepung kamar tahanan itu, Siau Po mulai dapat merangkak.

Dia berniat menyingkir dari tempat itu, tapi belum beberapa tindak, seseorang telah memergokinya, orang itu langsung menikam ke arahnya.

Untung saja Siau Po waspada, dia segera menggulingkan tubuhnya, namun meskipun demikian ujung pedang itu sempat juga mengoyakkan pakaiannya dan menyayat bagian iganya, Siau Po tidak memperdulikan nyeri yang dirasakannya, Yang paling utama baginya hanya menyelamatkan diri.

Dia terus melompat sekuat tenaga dan menghambur.

"Setan cilik!"

Damprat seseorang yang melompat sambil membacokkan goloknya.

Siau Po terdesak, tidak ada tempat baginya untuk meloloskan diri, akhirnya dengan nekat dia menerobos ke dalam dua jeruji jendela yang sudah dilengkungkan oleh kawanan berpakaian hijau itu.

Seorang berpakaian hijau berusaha menahannya dengan serangan, tetapi dia hanya berhasil menghajar jeruji besi karena tubuh Siau Po sudah nyeplos ke dalamnya.

"Biarkan aku masuk! Biarkan aku masuk!"

Teriak salah seorang dari kawanan berpakaian hijau itu.

Dia bermaksud menyelusup ke dalam jeruji besi seperti halnya Siau Po.

Sayang tubuh orang itu terlalu besar, hanya bagian kepalanya saja yang bisa masuk lewat jeruji itu.

Siau Po segera mengeluarkan belatinya dan menggenggamnya erat-erat, Dengan panik dia berteriak.

"Lekas panggil bala bantuan! Lekas panggil bala bantuan!"

Dari luar terus berkumandang suara pukulan gong dan bentrokan senjata, Ketika Siau Po sedang berteriak-teriak, tiba-tiba ada angin keras yang menyambar ke arahnya.

Belum sempat dia mengetahui apa yang telah terjadi, tahu-tahu tubuhnya sudah terpelanting kemudian bergulingan beberapa kali.

Kemudian dia juga mendengar suara keras yang memekakkan telinga, cepat ia menolehkan kepalanya.

Dilihatnya Go Pay sedang menyerang kesana kemari dengan tangan tetap terbelenggu kata-katanya tidak jelas lagi, hanya suaranya keras dan tidak enak didengar.

Bagian 10 Tepat pada saat itu seorang berpakaian hijau menyelusup lewat jeruji jendela.

Rupanya orang yang satu ini memiliki tubuh yang kecil dan ramping, tapi baru saja tubuhnya meluncur masuk, rantai borgol di tangan Go Pay sudah menyambutnya dengan keras sehingga batok kepalanya pecah tidak karuan.

Siau Po terkejut dan heran menyaksikan hal itu.

"Eh, kok dia menyerang temannya sendiri? padahal mereka berniat menolongnya keluar dari tahanan, Ah! Aku tahu! Celaka! Obat yang kuberikan padanya tidak membunuh mati orang itu, justru membuatnya jadi gila. Pasti aku memberikan obat yang salah!"

Pikirnya dalam hati. Siau Po menjadi bingung, di luar kamar suara gaduh semakin menjadi-jadi dan berbaur dengan suara bising yang diterbitkan rantai borgol Go Pay yang menghajar kesana-kemari.

"Kalau dia sampai berbalik dan menghajar aku, tamatlah riwayatku!"

Pikir si thay-kam gadungan ini.

Tapi pada dasarnya otak Siau Po memang cerdik dan nyalinya juga besar.

Dalam keadaan bingung, dia berusaha menenangkan dirinya.

Diam-diam dia menghampiri Go Pay dari belakang dan tiba-tiba menikam punggungnya dengan belatinya yang tajam bukan main itu.

Tenaganya cukup kuat ketika melakukannya sehingga seluruh gagang belati itu amblas ke dalam punggung Go Pay.

Sebetulnya Go Pay mempunyai tenaga yang kuat dan pendengaran yang tajam, tetapi karena menelan cukup banyak obat yang dicampurkan Siau Po dalam makanannya, pikirannya jadi terganggu dan perasaannya jadi kurang peka.

Dia baru tahu ada yang membopongnya ketika punggungnya terasa nyeri.

Dia mengibaskan rantai di tangannya dengan kencang tapi luput pada sasarannya.

Hebat sekali serangan Siau Po barusan, bukan hanya belatinya saja yang luar biasa tajamnya, tetapi, begitu menghunjamkan dia langsung menariknya ke luar lalu ditekan ke bawah sehingga tulang punggung Go Pay putus seketika.

Hanya satu kali orang itu sempat mengeluarkan jeritan histeris, kemudian roboh bermandikan darah di atas tanah, suara borgolnya menimbulkan suara gemuruh.

Kawanan pakaian hijau yang ada di luar jendel menjadi terkejut dan heran, mereka juga gusar karena kematian teman mereka di tangan Go Pay.

Mereka menyaksikan perbuatan Siau Po terkesima.

Mereka benar-benar tidak mengerti....

Begitu tersadar dari rasa terkejut seseorang diantaranya langsung berteriak.

"Bocah itu membunuh Go Pay! Bocah itu membunuh Go Pay!"

Terdengar suara yang berwibawa dari mulut si orang tua.

"Bongkar jendela! periksa apakah Go Pay benar-benar sudah mati?"

Tampak dua orang dari kawanan itu mendekati jeruji jendela kemudian menghajarnya dengan ruyung besi.

Dua orang lainnya berusaha membongkar kusen jendela itu.

Tepat pada saat itu dua orang wisu menerjang ke arah mereka, tapi ditahan oleh si orang tua, dalam dua kali gebrakan, kedua wisu itu sudah roboh mati di atas tanah.

Tidak lama kemudian, jeruji jendela itu sudah berhasil dibongkar.

"Biar aku yang masuk!"

Kata seorang wanita bertubuh kecil, dia langsung masuk ke dalam dan disambut oleh belati Siau Po yang mengangkat kawanan berpakaian hijau itu adalah musuhnya.

Wanita itu lincah sekali, Goloknya diangkat ke atas untuk menahan serangan Siau Po.

Namun dia sampai terkejut ketika mendapatkan goloknya terkutung menjadi dua bagian terkena tebasan belati Siau Po.

Wanita itu sempat mengeluarkan seruan tertahan, tetapi secepat kilat dia menyambitkan kutungan goloknya ke arah Siau Po.

Siau Po melihat datangnya serangan, dia bermaksud menghindarkan diri.

Dia menundukkan tubuhnya sedikit dan mengira golok itu akan melintas lewat di atas kepalanya, ternyata dugaannya keliru, Golok itu bukan mengincar kepalanya tapi malah mengarah dadanya.

Begitu cepat golok itu meluncur sehingga tahu-tahu dadanya sudah tertancap.

Siau Po merasa terkejut dan juga kesakitan, belum sempat dia berbuat apa-apa, wanita itu sudah menerjang lagi ke arahnya dan dalam sekejap mata kedua tangannya sudah ditelikung ke belakang sehingga Siau Po tidak berdaya.

Wanita itu juga langsung mengirimkan sebuah totokan ke iganya sehingga dia merasa nyeri sekali.

Setelah jeruji jendela berhasil dibongkar, si orang tua tadi pun bisa meloncat ke dalam, dia segera mengangkat tubuh Go Pay dan memeriksanya dengan teliti.

"Memang benar Go Pay!"

Kata orang tua itu sambil mengangkat tubuh itu ke atas dengan maksud menyodorkannya kepada rekannya yang masih di luar jendela, retapi gerakannya tertahan karena rantai masih memborgol tangan Go Pay.

Wanita yang membuat Siau Po tidak berdaya itu teringat pisau belati si bocah yang tajam, dia segera mengambilnya dan berkata.

"Belati ini tajam sekali, Biar aku coba!"

Ditebasnya rantai pengikat Go Pay dengan belati milik Siau Po, ternyata dengan sekali tebas saja rantai itu sudah putus.

Sejenak kemudian tubuh Go Pay sudah dilemparkan lewat jeruji jendela yang langsung disambut kawanan berpakaian hijau itu.

Terdengar si orang tua berkata.

"Bawa bocah itu sekalian, sekeluarnya dari istana ini, kita berpencar jangan lupa, nanti malam kita bertemu di tempat semula!"

Dia pun mendahului yang lainnya menyelusup keluar lewat jeruji jendela.

Kawan-kawannya juga ikut keluar dan wanita tadi langsung mengempit tubuh Siau Po sembari mengiakan.

Mereka pun meninggalkan tempat itu.

Tapi belum sampai di luar istana, mereka sudah diserang oleh anak panah.

Bahkan Kong cin ong dengan membawa sebatang golok langsung memegang tampuk pimpinan Siau Po diserahkan kepada seorang berpakaian hijau lainnya, Wanita itu menggunakan belati Siau Po untuk mengibaskan setiap batang anak panah yang meluncur ke arahnya.

"Mari ikut aku!"

Teriak salah-seorang dari kawanan itu yang memanggul mayat Go Pay.

Dia menggunakan tubuh Go Pay sebagai kitiran untuk menahan datangnya serangan.

Kong cin ong tidak tahu Go Pay sudah mati atau masih hidup, dia tidak berani mengambil resiko.

"Jangan memanah!"

Di lain saat, dia juga melihat Siau Po dipanggul oleh kawanan itu. Dia segera menambahkan "jangan memanah! Nanti melukai Kui kongkong!"

Siau Po dapat mendengar suaranya dengan jelas, diam-diam dia berterima kasih.

"Ongya, kau sungguh baik, Siau Po tidak akan melupakan budimu ini!"

Janjinya dalam hati.

Tukang panah istana segera menghentikan aksinya.

Kesempatan itu digunakan kawanan berpakaian hijau yang tampaknya hampir semua memiliki kepandaian cukup tinggi.

Mereka segera menyerbu keluar istana, Si orang tua mengulapkan tangannya, Tampak empat orang di antara kawanan itu segera melancarkan serangan kepada Kong cin ong, para siwi istana terkejut setengah mati.

Sebetulnya apa yang dilakukan orang tua itu hanya merupakan bagian dari siasatnya, Salah seorang di antara rekannya menyambitkan sebatang pisau yang langsung menancap di lengan Kong cin ong.

Para pengawal semakin panik.

Tidak ada lagi yang mengurus kawanan berpakaian hijau itu.

Mereka segera mengerumuni Kong cin ong untuk memberikan pertolongan sementara itu, para penyerbu sudah menerjang keluar dan dalam sekejap mata tidak terlihat bayangannya lagi.

Kawanan berpakaian hijau itu lari masuk dalam sebuah rumah yang letaknya tidak jauh dari istana Kongcin ong.

Mereka segera mengunci pintunya rapat-rapat.

Tapi anehnya mereka tidak berdiam di dalam rumah itu malah lari lagi lewat belakang.

Rupanya mereka sudah merencanakan semuanya matang-matang sehingga jejak mereka tidak mudah diketahui oleh musuh.

Mereka menggunakan cara yang sama sampai berkali-kali.

Di rumah terakhir, mereka mengganti pakaian dengan macammacam dandanan sehingga tampak seperti rakyat biasa.

Sebuah kereta telah disiapkan Dua orang yang mendorongnya, Di dalam kereta terdapat dua buah drum besar, Mayat Go Pay diselusupkan ke dalam drum yang satunya dan Siau Po juga dimasukkan ke dalam drum yang lainnya.

"Setan alas!"

Maki Siau Po dalam hati ketika mendengar suara kereta bergerak.

Dia merasa mendongkol sekali karena tidak bisa melakukan apa-apa.

Kepalanya dipenuhi buah tho sehingga bagian dalam drum itu tidak kelihatan sama sekali.

Untungnya, Siau Po masih bisa bernafas walaupun menemui sedikit kesulitan.

Lambat laun dia mulai bisa menenangkan hatinya dan berpikir dengan kepala dingin.

"Mereka ini tentunya antek-antek Go Pay. Mereka menawan aku setelah mengetahui aku yang membunuh pengkhianat itu. Jangan-jangan perutku akan dibelek dan jantungku akan dikorek untuk menyembahyangi arwah penjahat itu. Celaka! Semoga saja di tengah jalan kereta ini bertemu dengan tentara kerajaan. Pada saat itu, aku akan berusaha menggulingkan drum ini supaya mereka menjadi curiga dan aku bisa tertolong!"

Pikirnya diam-diam.

Siau Po lupa tubuhnya dalam keadaan tertotok, dia tidak dapat bergerak sama sekali seandainya di tengah jalan mereka bertemu dengan tentara kerajaan sekalipun, tidak mungkin dia bisa menggulingkan drum itu.

Dia hanya mendengar suara roda kereta yang berputar dan tubuhnya yang terguncang-guncang.

Sampai sekian lama mereka meneruskan perjalanan dengan tenang.

Tidak ada tentara kerajaan yang menghadang....

Perasaan Siau Po semakin kesal, rasanya ingin dia memaki sepuas-puasnya, tapi tidak bisa melakukan hal itu, bahkan mulutnya pun sulit dibuka untuk menggigit buah tho yang memenuhi seluruh kepala dan wajahnya itu.

Akhirnya dia hanya dapat mencaci dalam hati.

Lambat laun, saking letihnya Siau Po pun tertidur pulas, entah berapa lama waktu telah berlalu, ketika ia tersadar kembali, kereta masih melaju, dia tetap tidak dapat bergerak, malah merasa sekujur tubuhnya ngilu dan kesemutan.

"Aih! Kali ini mungkin aku tidak dapat lolos lagi dengan selamat. Biar nanti aku akan mencaci maki mereka sepuas-puasnya. Biarlah aku mati, dua puluh tahun kemudian toh aku akan menjelma lagi sebagai seorang bayi laki-laki. Untung saja aku berhasil membunuh Go Pay. Coba kalau tidak, Setelah tertawan oleh kawan-kawannya ini, aku pasti akan mengalami berbagai siksaan dahulu sebelum mati dibunuh, sekarang aku dapat mati dengan puas, Go Pay toh berpangkat tinggi, sedangkan aku hanya seorang kacung dari rumah pelesiran. selembar nyawanya ditukar dengan nyawaku ini, rasanya masih tidak rugi!"

Pikirnya dalam hati.

Sungguh Siau Po seorang bocah yang hebat, dalam keadaan seperti itu dia masih sanggup menghibur hatinya sendiri.

Beberapa saat kemudian, kembali Siau Po tertidur, malah kali ini lebih lama dari yang pertama, Akhirnya setelah terbangun, dia merasa kereta itu melaju di jalan yang licin.

Dalam hati dia bertanya-tanya, kemana mereka akan membawanya.

Lalu, saat yang ditunggu sampai juga, kereta itu berhenti Siau Po masih terus menunggu, namun tidak ada seorang pun yang mengeluarkannya dari dalam drum.

Dia merasa heran dan juga gundah, terus dia berdiam diri sampai sayup-sayup didengarnya suara orang mendatangi.

Dia agak terkejut ketika seseorang membuka tutup drum itu, buah tho yang menutupinya dikeluarkan sehingga Siau Po dapat bernafas lebih Iega.

Ketika dia membuka matanya kembali, mula-mula pandangan terasa gelap, lambat laun dia baru mulai terbiasa, kali ini ada orang yang mengangkatnya dari dalam drum kemudian mengempitnya di bawah ketiak dan membawanya pergi Ada seorang lainnya yang berjalan di samping dengan membawa sebuah lentera.

Rupanya malam sudah mulai menjelang.

Siau Po dapat melihat bahwa orang yang membawanya adalah seorang tua yang wajahnya berwibawa, sikapnya pendiam karena dia tidak bicara sama sekali.

Ketika itu mereka berada dalam sebuah taman, tapi orang itu masih membawanya menuju ruangan belakang.

Pembawa lentera langsung mementangkan daun jendela.

"Celaka aku!"

Keluh Siau Po dalam hati.

Ruangan itu penuh dengan orang, jumlahnya mungkin mencapai seratus lebih.

Pakaian mereka seragam, semuanya berwarna hijau, Kepala masing-masing dibalut dengan sabuk putih, Bagian pinggang dililit dengan kain putih juga.

Hal ini membuktikan bahwa mereka mengenakan pakaian berkabung.

Di tengah ruangan telah diatur sebuah meja sembahyang.

Di sekelilingnya menyala delapan batang lilin.

Ketika di Yangciu, Siau Po pernah menghadi upacara sembahyang seperti ini.

Karenanya di tahu dan hatinya takut sekali Tubuhnya gemetar, dia khawatir dirinya akan menjadi korban untuk upacara itu.

Mungkin dadanya akan dibelek untuk di keluarkan jantungnya.

Si orang tua menurunkan Siau Po dan membiarkannya berdiri dengan sebelah lengannya tetap tercekal.

Dia lalu menepuk dada dan punggung bocah itu agar jalan darahnya yang tertotok dapat bebas, tapi Siau Po tetap tidak dapat berdiri tegak karena kedua lututnya terasa lemas sehingga dia terpaksa dipapah oleh orang tua itu.

"Bagaimana aku dapat meloloskan diri dari tempat ini?"

Hal inilah yang pertama-tama timbul dalam benaknya.

Sebab dia sadar, yang paling utama saat ini hanyalah lari.

Semua orang yang ada dalam ruangan ini tentu berkepandaian tinggi inilah kesulitan yang harus dihadapinya.

Tidak mungkin dia sanggup menandingi mereka.

Tapi totokannya sudah bebas, Biar bagaimana, dia tetap akan berusaha, Dia terus mencoba!

"Bagaimana aku harus bersikap agar orang tua ini tidak terus menerus memegangi aku?"

Pikirnya kembali "Kalau aku lolos, pertama-tama yang kulakukan adalah memadamkan semua lilin di atas meja itu agar ruangan ini menjadi gelap gulita, Dengan demikian akan ada kesempatan bagiku untuk meloloskan diri."

Diam-diam Siau Po memperhatikan orang-orang yang ada dalam ruangan itu.

Kebanyakan terdiri dari laki-laki, ada beberapa hwesio dan tosu di antaranya.

Juga terdapat beberapa wanita yang membawa senjata di pinggangnya.

Tampak seorang laki-laki berusia setengah baya muncul dari kerumunan orang kemudian menghampiri meja sembahyang.

Di samping meja itu dia berkata dengan suara keras.

"Ha... ri ini sakit hati yang da... lam telah terbalas! Toa... ko, semoga arwah mu tenang di alam baka!"

Hanya berkata sampai di sini, dia sudah menangis menggerung-gerung, tubuhnya mendekam di atas meja sembahyang dan berguncang-guncang karena tangisannya yang mengharukan Semua orang yang hadir dalam ruangan itu ikut menangis dengan sedih.

"Kurang ajar orang-orang ini!"

Pikir Siau Po yang mendongkol sekali.

"Mereka harus didamprat!"

Baru berpikir sampai di sini, tiba-tiba dia merasa apabila dia benar-benar melakukan hal itu, berarti dia membahayakan dirinya sendiri.

"Asal aku membuka mulut, mereka tentu akan menyerbu aku Bagaimana aku dapat meloloskan diri?"

Dia melirik ke kiri kanan orang-orang itu memang sedang menangis, tetapi dia tidak mempunyai kesempatan untuk melarikan diri.

Takutnya asal dia bergerak sedikit saja, tentu mereka akan mengejarnya dan akibatnya bisa lebih runyam Iagi.

"Upacara sembahyang dimulai!"

Terdengar seseorang berteriak dengan lantang, rupanya dialah pemimpin upacara itu, suaranya menunjukkan usianya tidak muda lagi.

Mendengar suara itu, keluarlah seorang laki-laki yang bertelanjang dada, kepalanya dibalut dengan sabuk putih, tangannya terangkat tinggi ke atas sambil menggenggam sebuah nampan.

Dan di atas nampan terdapat kepala seseorang yang dialasi dengan kain merah dan darahnya masih bercucuran.

Hampir Siau Po semaput melihat kepala orang itu.

"Celaka!"

Gerutunya dalam hati.

"Jangan-jangan mereka juga akan mengutungi kepalaku! Tapi, kepala siapakah itu? Kong cin ong atau saudara angkatku, So Ngo-tu?"

Karena nampan itu diangkat tinggi ke atas, Siau Po tidak dapat melihat kepala siapa yang berada di atasnya, Nampan itu lalu diletakkan di atas meja sembahyang, Pembawanya segera menjatuhkan diri berlutut.

Orang-orang lainnya yang sedang menangis juga mengikuti perbuatannya.

"Kapan lagi aku menyingkir kalau bukan sekarang?"

Pikir Siau Po dalam hati, Dia segera menggerakkan kakinya, Belum sempat bertindak lebih jauh, orang tua di sampingnya sudah menyambar tangannya dan menariknya kuat-kuat sehingga Siau Po terjatuh berlutut di sisinya.

Saking sengitnya, Siau Po memaki-maki dalam hati.

"Go Pay bangsat!

Kura-kura!

Awas kau, di neraka pun lohu tidak akan mengampuni dirimu!"

Beberapa orang bangun, namun sebagian masih berlutut, suara tangisan masih terdengar.

"Tidak tahu malu!"

Maki Siau Po dalam hati.

"Masa laki-laki menangis seperti ini? Memangnya siapa Go Pay, si manusia busuk itu? Apa sih kehebatannya sampai perlu ditangisi seperti ini? Dia toh sudah mati, apanya lagi yang perlu disayangkan? Kenapa kalian harus menangis terus untuknya?"

Sesaat kemudian, seorang tua berjalan menuju samping meja dan berkata dengan suara lantang.

"Saudara sekalian, sakit hatinya In hiocu kita sudah terbalaskan! Akhirnya si jahanam Go Pay telah menerima bagiannya, kepalanya sudah dipenggal. Hal ini tentu saja merupakan berita gembira bagi Ceng-bok tong dari Tian-te hwe kita!"

Tian-te hwe adalah perkumpulan langit dan bumi. Siau Po heran mendengar bahwa kepala Go Pa telah dipenggal.

"Eh, apa artinya ini?"

Tanyanya dalam hati, Di merasa heran sekaligus terkejut juga gembira.

"Apakah mereka bukan antek-anteknya Go Pay? Jadi mereka ini malah musuhnya si jahanam itu?"

Orang tua itu tetap berbicara, tetapi Siau Po sedang sibuk dengan pikirannya sendiri. Sekian lama dia berdiam diri merenungkan apa yang sedang dihadapinya. Terdengar orang tua itu berkata lagi.

"Hari ini kita menyerbu istana Kong cin ong, Syukur kita berhasil membekuk Go Pay dan membawanya pulang kemari! Dengan demikian nyali bangsa Tartar pasti ciut ini merupakan keuntungan bagi perkumpulan kita yang bercita-cita menentang dan merobohkan kerajaan Ceng. Kita akan membangun kembali kerajaan Beng! Kalau bagian lain dari perkumpulan kita mengetahui apa yang telah dilakukan oleh Ceng-bok tong kita, tentu mereka akan merasa kagum!"

"Benar! Benar!"

Sahut yang lainnya serentak.

"Memang Ceng-bok tong kita telah berhasil memperlihatkan kehebatannya!"

Teriak seseorang.

"Pihak Ang-hoa tong yang biasa suka mengagulkan diri, tentu akan iri dengan keberhasilan kita kali ini!"

Seru yang lainnya tidak mau ketinggalan.

"Peristiwa ini tentu akan menjadi bahan percakapan di mana-mana. Apalagi kalau kita berhasil mengusir bangsa Tartar, tentu nama Ceng-bok tong akan semakin harum!"

"Memang bangsa Tartar harus diusir! Tapi lebih bagus lagi kalau kita bisa membasmi mereka!"

Suasana dalam ruangan itu jadi gaduh karena teriakan di sana sini.

Ucapan mereka penuh semangat sehingga kesedihan pun mulai terhapus karenanya.

Sekarang Siau Po sadar bahwa orang-orang itu adalah bangsa Han yang terdiri dari patriot-patriot pecinta negara dan sedang berusaha menentang pemerintah Boan, Siau Po masih muda dan belum banyak pengalaman, tetapi dia sering mendengar orang menyebut nama perkumpulan Tian-te hwe perkumpulan ini mempunyai cita-cita untuk menghancurkan kerajaan Ceng dan membangkitkan kembali kerajaan Beng.

Dia juga sering mendengar berbagai usaha yang dilakukan perkumpulan itu.

Bangsa Boan terkenal dengan kekejamannya, Ke-tika terjadi penyerbuan di kota Yangciu, entah berapa banyak rakyat yang menjadi korban.

Dia juga pernah mendengar tentang Suko hoat yang dengan berani menentang pemerintah Boan, bahkan sampai mengorbankan nyawanya sendiri.

Mendengar suara orang banyak itu, terbangkit juga semangat Siau Po sehingga untuk sesaat dia lupa bahwa saat ini dia sedang menyamar sebagai si thay-kam cilik.

Setelah suara teriakan agak mereda, orang tua itu baru melanjutkan kata-katanya kembali.

"Selama dua tahun kita selalu teringat sakit hati In hiocu, kita juga sudah mengucapkan sumpah bahwa kita akan membunuh Go Pay dan memenggal kepalanya sebagai korban sembahyang upacara arwah In hiocu, Sampai sekarang maksud kita baru tercapai. Hari ini melihat adanya kepala Go Pay di atas nampan, tentu arwah In hiocu akan tertawa senang di alam baka!"

"Benar! Benar!"

Seru yang lainnya serentak. Terdengar seorang lainnya berkata.

"Dua tahun sudah sejak kita mengangkat sumpah akan membalaskan sakit hati In hiocu, Saat itu pula kita berjanji, apabila kita gagal, kita semua akan bunuh diri, Sebab, apabila kita mengalami kegagalan, kita yang dari bagian Ceng-bok tong bukanlah manusia tapi anjing-anjing buduk, tidak ada muka lagi bagi kita untuk hidup lebih lama, untunglah akhirnya sakit hati ini dapat terbalas juga. Aku orang she Pwe sudah dua tahun lamanya tidak enak makan dan tidak enak tidur karena memikirkan pembalasan dendam bagi In hiocu, tidak disangka-sangka kalau hari gembira ini tiba juga akhirnya!"

Saking gembiranya orang she Pwe itu sampai tertawa terbahak-bahak, setelah itu masih ada beberapa orang lagi yang memberi komentar Siau Po yang menyaksikan hal itu diam-diam berpikir.

"Aneh kalian semua, sebentar menangis, sebentar tertawa, benar-benar mirip anak kecil!"

Suara gaduh pun reda. Tiba-tiba terdengar seseorang berkata dengan nada dingin.

"Apakah kita yang membunuh Go Pay"

Pertanyaan itu tajam sekali, orang-orang yang ada dalam ruangan itu membungkam seketika.

Pertanyaan itu juga tepat menikam ulu hati mereka, karena semuanya tahu bahwa yang membunuh Go Pay adalah seorang thay-kam cilik.

Beberapa pentolan bagian Ceng-bok tong sendiri yang menjadi saksinya.

Sampai sekian lama baru ada seseorang yang mengomentari pertanyaan itu.

"Memang bukan kita sendiri yang membunuh Go Pay. Tapi hal itu terjadi tepat ketika kami menyerbu ke istana pangeran itu. Orang yang membunuhnya justru menggunakan kesempatan ketika kekacauan terjadi sehingga dia berhasil!"

"Oh, begitu rupanya!"

Tanggap orang yang pertama dengan nada yang sedingin semula. Orang yang kedua langsung bertanya dengan suara lantang.

"Ki losam, apa maksud kata-katamu itu?"

"Apa maksudku? Tidak ada! Aku hanya ingin bertanya, apabila ada orang dari Cengbok tong yang mengaku dirinyalah yang membunuh Go Pay, aku ingin tahu siapa orangnya?"

Sungguh sebuah pertanyaan yang sulit dijawab, memang tajam dan menyakitkan namun merupakan kenyataan yang tidak dapat disangkal. Terdengar si orang tua yang bertubuh kurus berkata.

"Sebetulnya orang yang membunuh Go Pay adalah si thay-kam cilik dari istana Sri Baginda, tetapi dia juga berhasil karena kebetulan dan mendapat kesempatan yang baik. Aku yakin arwah In hiocu yang membimbing bocah itu membunuh Go Pay, Kita semua merupakan laki-laki sejati Kita tidak boleh mengakui jasa orang lain!"

Semuanya terdiam semangat mereka menjadi kendur, kegembiraan sebelumnya sirna entah ke-mana. Ternyata Go Pay dibunuh oleh orang lain.

"Selama dua tahun Ceng-bok tong tidak mempunyai pimpinan, Orang banyak mengangkat aku sebagai wakil ketua untuk sementara, Aku berusaha segenap kemampuanku karena aku terus teringat sakit hati In hiocu, sekarang Go Pay sudah mati. Tugasku juga sudah selesai. Karena itu aku akan mengembalikan lencana Tong pai kita kepada In hiocu, Setelah itu, silahkan saudara-saudara pilih seorang ketua yang pandai dan bijak."

Selesai berkata dia mengeluarkan lencana perkumpulan mereka kemudian meletakkannya di atas meja sembahyang. Lalu dia menjatuhkan diri berlutut dan menyembah tiga kali.

"Lie toako!"

Terdengar seseorang berkata.

"Selama dua tahun ini, kau telah membimbing kami dengan baik. Karena itu, selain engkau, tidak ada orang lagi yang lebih cocok menduduki jabatan ini, Harap toako jangan sungkan lagi, ambillah kembali lencana itu!"

Untuk beberapa saat semuanya terdiam, sampai terdengar seseorang berkata.

"Kedudukan hiocu tidak dapat ditentukan oleh kita sendiri, tidak bisa sembarangan memilih satu orang kemudian menyiarkannya menjadi ketua Ceng-bok tong. Kedudukan itu harus ditentukan oleh Ketua pusat!"

"Memang benar!"

Kata orang yang pertama.

"Tapi, jangan lupa, biasanya setelah calon itu terpilih dan diajukan kepada pusat, tidak pernah ada tentangan, jadi penetapan dari pusat hanya formalitas saja." "Menurut apa yang aku ketahui,"

Kata seorang lainnya.

"Setiap hiocu yang baru dipilih oleh hiocu yang lama."

"ltu terjadi apabila hiocu yang lama sudah tua atau sakit dan tidak dapat menjalankan tugas lagi, Tapi, itu juga atas dasar kesepakatan semua orang, bukan satu orang saja,"

Sahut yang lainnya. Terdengar orang yang pertama berkata kembali.

"Sungguh sayang hiocu yang dahulu yakni In hiocu telah dibunuh oleh Go Pay, Dengan demikian tidak ada pesan terakhir dari beliau. Ki lao-liok, hal ini kau bukannya tidak tahu, mengapa sekarang kau berlagak bodoh? Aku tahu maksudmu! Kau menentang Lie toako sebagai hiocu, karena kau mempunyai niat buruk, kau sudah merencanakan sesuatu!"

Orang yang dipanggil Ki lao-liok menjadi marah mendengar ucapan tadi.

"Apa niat burukku? Apa yang kurencanakan? Cui toucu bicaralah yang jelas, jangan sembarangan memfitnah!"

Orang yang dipanggil Cui toucu juga jadi gusar.

"Hm!"

Terdengar dia mendengus dingin.

"MariIah kita bicara blak-blakan, Di dalam Ceng-bok tong kita, siapa yang tidak tahu bahwa kau ingin menunjang kau punya cihu (kakak-ipar), Bi-jiam kong Kwan hucu sebagai hiocu? Apabila Kwan hucu menjadi hiocu, otomatis kau sendiri akan menjadi Kok-kiu loya (Tuan besar ipar ketua). Dengan demikian kau akan mendapat kedudukan tinggi dan kau bisa berbuat suka hatimu, ingin angin, angin pun datang, ingin hujan, hujan pun turun?"

"Kwan hucu itu kebetulan kakak iparku atau bukan, adalah masalah Iain!"

Bentak Ki lao-liok.

"Tapi kalian harus ingat, dalam penyerbuan ke istana Kong cin ong, yang memimpin adalah Kwan hucu. Dia berhasil pulang dengan membawa kemenangan. Menilik kepandaiannya, bukankah dia pantas menjabat sebagai hiocu? Li toako memang berhak, dia juga memenuhi syarat, orangnya baik, aku tidak menentangnya secara pribadi. Akan tetapi kalau bicara tentang kepandaian Kwan hucu masih berada di atasnya!"

Mendengar kata-kata itu, Cui toucu langsung tertawa terbahak-bahak, nada suaranya mengandung ejekan. Hal ini membuktikan bahwa dia tidak memandang sebelah mata pun.

"Apa yang kau tertawakan?"

Bentak Ki lao-liok yang menjadi semakin marah.

"Apa ada kata-kataku yang salah?"

Cui toucu kembali tertawa.

"Kau tidak salah, Ucapan Ki lao-liok mana mungkin salah? Aku hanya merasa kepandaian Kwan hucu memang luar biasa, sebab kota besar mana pun sudah dia lalui, tetapi tidak ada satu pun panglima besar musuh yang sanggup dibinasakannya. Bahkan akhirnya seorang Go Pay yang sudah dipenjarakan juga mati di tangan seorang bocah cilik!"

Tiba-tiba seseorang keluar dari kerumunan Siau Po mengenalinya sebagai orang tua berjenggot yang memimpin penyerbuan ke istana Kongcin ong dia memang tampak gagah.

Tapi dikala hatinya sedang marah seperti sekarang ini, wajahnya kelihatan berwibawa sekali.

Sebenarnya dia bernama Kwan An-ki, tetapi karena kumis dan jenggotnya yang panjang, orang menjulukinya Kwan kong.

Kebetulan she-nya juga sama.

itulah sebabnya orang-orang menyebutnya Kwan hucu (Nabi Kwan).

Tampak Kwan hucu mendelikkan matanya lebar dan berkata dengan suara lantang.

"Saudara Cui, kau boleh berdebat dengan lao-Iiok, kau juga bebas menyebutkan apa pun yang kau sukai. Tapi aku tidak bersalah apa-apa padamu, jangan kau seret aku dalam perselisihan ini, Bukankah kita semua telah bersumpah dan mengangkat saudara di hadapan para dewa untuk hidup dan mati bersama? Mengapa sekarang kau bersikap demikian terhadapku apa maksudmu sebenarnya?"

Si orang she Cui itu ngeri juga melihat kemarahan Kwan hucu, kakinya sampai menyurut mundur satu langkah.

"A... aku tidak bermaksud... mencela engkau.... Tapi, Kwan toako, apabila kau setuju Li toako yang menjadi ketua Ceng-bok tong, aku akan berlutut di hadapanmu dan minta maaf atas kata-kataku tadi!"

Kwan An-ki menatapnya dengan sorot mata garang.

"Aku juga tidak berani menerima penghormatan yang demikian besar darimu, Tapi kau harus mengerti, siapa pun yang akan menjadi hiocu, aku tidak berhak mengatakan apa-apa, Dan kau, saudara Cui, kau juga belum menjadi ketua pusat, jadi... siapa pun yang menjadi ketua Ceng-bok tong ini, belum giliranmu untuk menentukannya!"

Cui tou cu menyurut mundur lagi satu langkah.

"Kwan jiko, apakah kata-katamu juga tidak menyinggung perasaan orang? Aku Cui toucu, mempunyai kesadaran sendiri Meskipun aku menjelma delapan belas kali lagi, tetap saja tidak pantas menjadi ketua Tian-te hwe. Aku hanya mengatakan bahwa singan Kim Ci (Mata Malaikat bersayap emas) Lie toako adalah seorang tokoh yang dihormati kalangan kita, Usianya sudah tua, tindakannya bijaksana, Apabila beliau yang terpilih menjadi ketua Ceng-bok tong, aku yakin sembilan bagian orang-orang kita akan menyetujuinya!"

Di antara para hadirin terdengar seseorang menukas.

"Cui toucu, kau bukan mereka, kau tidak bisa menyusup ke dalam jiwa delapan sembilan bagian dari orang-orang Ceng-bok tong, bagaimana kau bisa mengatakan mereka semua akan menyetujui nya? Lie toako memang orangnya baik, kita bisa mengajaknya minum arak bersama-sama, dapat pula mengajaknya bercerita atau bersenda gurau tetapi untuk mengangkatnya sebagai hiocu, mungkin delapan bagian atau sembilan bagian dari kita tidak menyetujuinya!"

"Kalau menurut aku, kata-kata saudara Ti memang tepat sekali!"

Tukas seorang lainnya.

"Kita tidak bisa memandang tinggi satu orang yang menjadi pujaan kita, Kita ingin menghancurkan kerajaan Ceng dan membangun kembali kerajaan Beng kita, Kita juga bukan guru besar kita Kong Hu Zu yang bisa bicara soal filsafah maupun etiket, Bangsa Tartar tidak dapat diusir dengan nama besar saja. Orang yang kau katakan tadi banyak bisa dijumpai di mana-mana!"

Para hadirin tertawa mendengar kata-katanya yang kocak. Lalu seseorang bertanya.

"Kalau begitu, Saudara, menurutmu siapakah yang pantas dipilih menjadi ketua kita? Apakah kita akan memilih orang yang gagah dan pandai melaksanakan kewajibannya?"

"Menurut pinto.,."

Tukas seorang pendeta agama To.

"Orang yang gagah dan pandai itu memang hanya Lie toako seorang!"

"Kami memilih Kwan hucu!"

Seru berpuluh-puluh orang lainnya.

"Kepandaian Lie toako tidak dapat menandingi Kwan hucu!"

"Kwan hucu selalu serius dalam menangani persoalan apa pun. Semua orang mengetahui hal ini dan semua juga mengaguminya!"

Kata seorang tosu.

"Benar! Benar!"

Berpuluh orang tadi segera memberikan sambutan yang meriah.

"Nah, apalagi yang akan kalian katakan?"

"Sabar! Sabar!"

Teriak si tosu yang pertama.

"Dengar dulu kata-kataku ini, Satu hal yang harus kalian ingat adalah watak Kwan hucu, Dia terlalu berangasan. Asal kurang senang, seenaknya dia mencaci orang, Di matanya, kalian hanya bawahannya, sedangkan terhadap dia, kalian merasa segan. Karena itu, apabila dia menjadi hiocu, dikhawatirkan semuanya menjadi tidak tenang!"

"Tapi belakangan ini watak Kwan Hucu sudah jauh lebih baik, Aku yakin bila dia sudah memangku jabatan sebagai hiocu, sifatnya akan berubah semakin baik!"

Seseorang ikut memberikan tanggapan. Tosu itu menggelengkan kepalanya.

"Negara mudah dirubah, tidak demikian halnya dengan watak seseorang, Tabiat Kwan hucu adalah bawaan sejak lahir. Mungkin sekali-sekali dia bisa mengendalikan dirinya, tetapi apakah dia juga bisa mengendalikan dirinya setiap saat? Belum tentu! sedangkan kedudukan hiocu bukan untuk sehari dua, namun untuk selamanya! Karena itu kita harus menjaga, jangan karena watak buruk seseorang, terjadi perpecahan di antara kita, Sekali saja terjadi keributan di antara kita, maka usaha yang telah dipupuk sekian lama, usaha yang mempunyai cita-cita luhur akan menjadi berantakan!"

Ki lao-liok ikut membuka suara.

"Kou Yao totiang, menurut pandanganku sifatmu sendiri belum sempurna!"

Mendengar sindiran itu, Kau Yap tojin, si tosu tadi tertawa lebar.

"Benar apa yang dikatakan orang bahwa urusan pribadi masing-masing, diri sendirilah yang paling paham. perangai pinto memang tidak baik, Sering pinto berbuat kesalahan itulah sebabnya pinto berusaha untuk mengurangi pembicaraan tetapi dalam hal pengangkatan hiocu ini, pinto tidak bisa berdiam diri, Karena hal ini menyangkut kepentingan Ceng-bok tong kita, Terpaksa pinto mengungkapkan isi hati. Tabiat pinto tidak baik, pinto juga tidak tertarik menjadi hiocu. Kalau ada saudara yang tidak puas dan tidak memilih pinto, maka suatu hal yang kebetulan Menjauhkan diri dari pinto memang merupakan hal yang terbaik, Tetapi apabila pinto yang menjadi hiocu, tentu pinto tidak mau tidak dihiraukan sebawahannya atau pun tidak dipandang sebelah mata!"

Ki lao-liok menjadi tidak puas mendengar ucapannya.

"Toh tidak ada orang yang mengajukan dirimu sebagai hiocu, Mengapa sekarang kau banyak bacot ?"

Tiba-tiba tosu itu menjadi marah.

"Ki lao-liok!"

Teriaknya.

"Sahabat-sahabatnya dari dunia kangouw, apabila bertemu dengan pinto, mereka menyebut pinto dengan panggilan totiang, Bahkan Cong tocu sendiri, ketua pusat kita juga masih sungkan terhadapku Mana ada orang yang begitu tidak tahu aturan seperti engkau? Biar pinto katakan terus-terang kepadamu, apabila Kwan hucu diajukan sebagai hiocu Ceng-bok tong, pintolah orang yang pertama yang menyatakan tidak setuju, Kalau dia memaksakan diri juga, dia harus memenuhi sebuah syarat!"

Ki lao-liok mendongkol sekali mendengar ucapan tosu itu, tapi dia berusaha untuk mengendalikan emosinya.

"Apa yang kau maksudkan? Bicaralah yang jelas agar kita semua bisa mempertimbangkannya!"

Kou Yap tojin menatap Ki lao-liok dengan tajam, kemudian baru dia berkata.

"Syarat yang harus dipenuhi oleh Kwan hucu ialah harus bercerai dengan Sip Ciok Cin-kim Ki Kim-to!"

Mendengar jawaban rahib itu, orang-orang yang ada di dalam ruangan itu tertawa terpingkal-pingkal karena merasa lucu sekali.

Hat ini disebabkan Sip Ciok Cin-kim (Seratus persen emas murni) Ki Kim-to adalah istrinya Kwan hucu, Dia adalah kakak perempuannya Ki lao-liok, julukannya itu didapat karena dia menggunakan senjata yang merupakan sepasang golok emas.

Sekarang Kou Yap tojin justru mengajukan syarat yang aneh itu.

Tentu saja orangorang yang mendengarnya jadi geli.

Sebetulnya Ki Kim-to adalah seorang wanita yang baik.

wataknya jujur, Ki lao-liok juga cukup baik, sayangnya dia terlalu menyanjung cihunya sendiri.

Padahal watak Kwan hucu justru mudah marah dan berangasan, Karena itu banyak orang yang membicarakan perangainya yang buruk.

Kwan hucu yang mendengar ucapan Kou Yap tojin terus berdiam diri, ia tidak ingin berdebat dengan siapa pun.

Tosu itu juga tidak mau memperpanjang urusan, Dia tertawa lebar.

"Kwan hucu, kita adalah saudara angkat, berbagai bahaya telah kita lalui bersama. Oleh karena itu, jangan karena perdebatan sesaat, persaudaraan kita menjadi hancur karenanya, Barusan pinto hanya bergurau, harap kau maafkan aku. Nanti kala kau kembali ke rumah, harap jangan sampaikan apa yang kukatakan kepada enso, Kalau tidak, mungkin dia akan datang kemari dan menarik kumis dan jenggotku ini sampai putus!"

Kembali orang-orang yang ada dalam ruangan tertawa terbahak-bahak, Imam itu memang jenaka sekali, Kwan An-ki juga segan terhadap tosu itu.

Dia tidak berkata-kata hanya bibirnya saja yang tersenyum.

Pemilihan hiocu masih menjadi bahan pembicaraan, ada yang memuji Lie toako yang sudah tua dan bijaksana, ada yang memilih Kwan hucu yang gagah, Sampai cukup lama masalah ini masih belum bisa dipecahkan.

Selagi orang ramai masih membicarakan persoalan itu, tiba-tiba terdengar seseorang menangis meraung-raung sambil berkata.

"ln hiocu, oh, In hiocu! Semasa hidupmu, kami dari Ceng-bok tong selalu rukun satu sama lainnya, Semua saudara tua dan muda tidak ada perbedaannya. Kita selalu bersatu dalam menghadapi apa pun. Kita bercita-cita merobohkan kerajaan Ceng dan membangun kembali kerajaan Beng kita! Siapa nyana kau justru mati di tangan Go Pay si jahanam! Sampai sekarang tidak ada orang yang hebat seperti toako! Oh, In hiocu, kecuali kau hidup kembali, kami pasti tidak bisa rukun seperti dulu, Kami akan seperti pasir yang buyar terhempas ombak, Kita tidak bisa kompak lagi seperti semasa hidupmu!"

Mendengar kata-kata itu, orang-orang lainnya pun teringat kepada In-hiocu.

Mereka sedih sekali, Bahkan sebagian di antaranya ikut menangis dengan pilu.

Tepat pada saat itu, terdengar seseorang lainnya berkata.

"Lie toako mempunyai kebaikan tersendiri demikian pula dengan Kwan hucu. Keduaduanya merupakan saudara kita, Karena itu, jangan karena urusan mereka berdua, masalah pemilihan hiocu ini jadi kacau, Dengan demikian tali persaudaraan kita bisa kendor dan kita pun tidak dapat hidup rukun lagi sebagaimana biasanya. Menurutku, lebih baik kita serahkan urusan ini kepada In hiocu. Kita undang arwahnya, Kita tulis nama Lie toako dan Kwan hucu, kemudian kita memasang hio bersembahyang kepada In hiocu dan memohon keputusannya. Bukankah cara ini yang paling bagus?"

Beberapa orang segera menyatakan persetujuannya.

"Cara itu tidak bagus!"

Bantah Ki lao-liok.

"Kenapa tidak?"

Tanya seseorang."

"Siapa yang akan mengundi nama-nama itu?"

"Bersama-sama kita pilih seseorang untuk menjadi pengundinya."

"Bagaimana kalau orang itu tidak jujur?"

"Benar! Bagaimana kalau ada yang berani main gila?"

"Tidak mungkin!"

Teriak Cui tou cu.

"Di depan arwahnya In hiocu, siapa yang berani main gila?"

"Hati manusia sulit diterka, biar bagaimana kita harus berjaga-jaga terhadap segala kemungkinan!"

Kata Lao-liok yang kukuh pada pendiriannya.

"Kau benar-benar edan! Siapa yang berani main gila kecuali kau?"

Bentak Cui tocu. Lao-liok menjadi gusar mendengar kata-katanya.

"Siapa yang kau maki?"

"Aku memaki kau, bocah cilik!"

Sahut Cui toucu terus-terang.

"Mau apa kau?"

"Sebenarnya aku sudah berusaha untuk sabar, tetapi kali ini habisIah kesabaranku!"

Bentak Ki lao-liok. Ki lao-liok langsung menghunus goloknya dan berkata.

"Cui toucu, mari kita pergi ke halaman luar untuk mengadu kepandaian!"

Tantangnya. Dengan tenang Cui toucu juga menghunus senjatanya.

"Kau yang menantang aku, terpaksa aku melayani!"

Dia menolehkan kepalanya kemudian berkata.

"Kwan hucu, kau lihat sendiri!"

"Kita semua merupakan saudara, jangan karena urusan ini timbul perselisihan Cui toucu, tanpa sebab musabab kau memaki iparku, Kesalahan ada padamu!"

"Aku sudah menduga bahwa kau akan membela iparmu itu dan menyalahkan aku, Kwan hucu, belum jadi hiocu saja pertimbanganmu sudah berat sebelah, Apalagi kalau kau benar-benar terpilih menjadi hiocu?"

Kwan An-ki marah sekali.

"Apa orang yang sembarangan memaki itu kelakuannya benar? Apalagi kau mengucapkan kata-kata yang kasar, lalu maumu, aku harus bagaimana?"

Ucapan Kwan hucu dianggap lucu, sehingga orang-orang yang mendengarkan jadi tertawa.

Lao-liok yang mendapat pembelaan dari cihu-nya semakin besar kepala, Dia segera beranjak dari tempatnya dan menantang.

"Cui toucu, silahkan!"

Ada seseorang yang segera memegangi tangannya dan mencegah.

"Lao-liok, kau ingin cihumu menjadi hiocu, pemikiran ini memang tidak salah, Tapi kau jangan melakukan kesalahan terhadap orang lain, Apalagi di hadapan orang banyak, seharusnya dalam segala hal kau bisa mengalah!"

Perlahan-lahan Cui toucu memasukkan goloknya ke dalam sarung.

"Bukannya aku takut kepadamu,"

Katanya kepada Ki lao-liok.

"Aku hanya memandang saudara-saudara kita yang lainnya. Tapi aku tegaskan sekali lagi, apabila Kwan hucu ingin menjadi hiocu, biar bagaimana aku orang she Cui tidak setujui wataknya Kwan hucu masih lumayan, tapi lain halnya dengan Ki lao-Iiok. Lebih baik bertemu dengan Giam lo-ong daripada algojonya!"

Siau Po berdiri di samping, Dia dapat mendengar semuanya dengan jelas, Tanpa terasa dia menjadi tertarik.

Rasa takutnya sudah hilang karena tahu dirinyalah yang salah sangka, Tadinya dia mengira orang-orang itu adalah antek-anteknya Go Pay, ternyata bukan, malah sebaliknya merekalah musuh bangsa Boan.

Tapi masih juga terselip kekhawatiran di hatinya, yakni orang-orang itu merupakan patriot pecinta negeri sedangkan saat ini dia sendiri menyaru sebagai thay-kam cilik dari istana kerajaan musuh.

"Mana mungkin mereka percaya kalau aku bukan seorang thay-kam?"

Pikirnya dalam hati.

"Sebentar lagi, apabila mereka sudah mengambil keputusan, mungkin aku akan dibunuhnya, Apalagi aku sudah mendengar rahasia mereka. Pasti mereka akan membungkam mulutku untuk selamanya, Taruh kata aku tidak dibunuh, mereka pasti akan mengurung aku untuk selamanya, Satu-satunya jalan yang paling baik adalah menyingkirkan diri selagi masih ada waktu!"

Perlahan-lahan Siau Po bergerak mundur untuk mencapai pintu, Dia berharap akan terjadi kekacauan di antara mereka sendiri sehingga dia dapat melarikan diri dari tempat itu.

"Mengundi hanya permainan anak-anak!"

Terdengar seseorang memberikan komentar "Menurut aku, paling baik kita gunakan cara yang singkat dan tegas, yakni membiarkan Lie toako dan Kwan hucu mengadu kepandaian, boleh dengan tangan kosong maupun senjata tajam, tapi sebatas saling menotol saja.

Dengan demikian tidak ada pihak yang sampai terluka, Kita semua menonton dari samping, siapa yang menang atau kalah, kita putuskan bersama, Bagaimana?"

Ki lao-liok setuju, Dialah yang pertama-tama menganggukkan kepalanya.

"Bagus! Begitu saja keputusannya, Kita gunakan cara mengadu kepandaian. Kalau Lie toako yang menang, aku akan menghormatinya sebagaimana layaknya seorang hiocu!"

Mendengar ucapannya, Siau Po berpikir dalam hati.

"Belum tentu apa yang kau katakan jujur, Siapa tahu kau memang sudah yakin cihumu yang bakal meraih kemenangan? Kalau begitu, buat apa mereka mengadu kepandaian?"

Kalau Siau Po saja bisa mempunyai pikiran seperti itu, tidak heran yang lainnya juga berpikiran sama, Buktinya banyak orang yang memprotes usul itu, Bahkan ada yang mengatakan.

"Untuk menjadi seorang hiocu, harus ada dukungan dari kita semua, Bukankah kita semua terdiri dari saudara? persaudaraan tidak ada hubungannya dengan kepandaian. Tidak perduli siapa yang kepandaiannya lebih tinggi atau lebih rendah!"

"Kalau kita mengambil keputusan berdasarkan pibu, taruh kata Kwan hucu berhasil menang, lalu ada orang lagi yang menentangnya dan orang itu menang, Dengan demikian bukankah orang itu yang pantas menjadi hiocu? Sampai kapan urusan ini baru bisa diselesaikan?"

"ltu bukan cara untuk memilih hiocu tapi pertandingan di atas panggung, Kalau demikian, lebih baik Kwan hucu membangun panggung saja dan menentang setiap orang untuk mengadu kepandaian !"

Kata yang lain.

"Andaikata Go Pay belum mati, mungkin Kwan hucu sendiri tidak sanggup mengalahkannya. Lalu apabila hal ini sampai terjadi, seandainya Go Pay tidak mati, apakah kita harus memilihnya sebagai hiocu kita?"

Tukas orang yang lain. Mendengar pertanyaan itu, orang banyak langsung tertawa geli, justru di saat itu terdengar pula ratapan seseorang.

"Oh, In hiocu! Setelah engkau menutup mata, orang tidak menghormatimu Iagi! In hiocu dengar sendiri, apa yang mereka ucapkan di depan meja sembahyangmu! Sumpah yang pernah mereka ucapkan sekarang hanya angin busuk belaka!"

Siau Po mengenali suara orang itu sebagai Ki losam yang paling pandai menyindir dengan ucapannya yang tajam.

Begitu suara itu terdengar suara bising pun sirap seketika, Ruangan itu menjadi sunyi seketika, Semua orang dapat merasakan tajamnya kata-kata itu.

"Eh, Ki losam apa maksud ucapanmu itu?"

Tanya beberapa orang.

"Hm!"

Ki losam mendengus dingin.

"Dulu ketika In hiocu meninggalkan, aku juga ikut berlutut menyembah di depan peti matinya, Aku juga menusuk jari tanganku dan dengan darah sendiri-sendiri kita bersumpah akan membalas sakit hati bagi In hiocu, Aku ingat apa yang pernah kita ucapkan waktu itu, siapa pun yang berhasil membunuh Go Pay, kita akan mengangkatnya sebagai hiocu, Aku masih mengingat dengan baik sumpah itu dan aku tidak mau mengingkarinya, Apa yang telah kuucapkan bukan sekedar angin busuk!"

Semua orang terdiam mendengar kata-katanya.

Sumpah itu memang bukan hanya diucapkan oleh Ki losam, tetapi mereka semua juga mengucapkannya, dan sebetulnya mereka tidak mungkin melupakannya.

Sesaat kemudian baru terdengar Ki lao-liok berkata.

"Ki samko, apa yang kau katakan memang tidak salah, bukan hanya engkau yang mengucapkan sumpah itu, aku juga, bahkan kita semua juga mengucapkannya. Tapi kau tahu, aku juga tahu, kita semua tahu bahwa yang membunuh Go Pay adala bocah itu...."

Dia menoleh, tepat pada saat Siau Po sampai di ambang pintu, Ki lao-liok terkejut sekali dengan gugup dia berseru.

"Tangkap dia! Jangan biarkan dia lolos!"

Siau Po juga terkejut Dia ingin lari tetapi jalannya langsung dihadang beberapa orang. Dengan demikian gagallah niatnya itu, Siau Po kena dicekal dengan mudah dan ditenteng kembali ke dalam ruangan.

"Hai kura-kura sekalian!"

Teriak Siau Po dengan berani.

"Kura-kura! Mau apa kalian menyeret-nyeret lohu?"

Siau Po menganggap dirinya tidak mungkin dibiarkan hidup, karena itu sebelum mati dia ingin berteriak sepuas-puasnya, Dia ingin memaki mereka habis-habisan.

"Eh, eh. Saudara kecil, jangan sembarangan memaki orang! Tunda dulu cacianmu itu!"

Kata seorang laki-laki berdahdanan siu cai. Siau Po menolehkan kepalanya, dia mengenali orang yang berbicara.

"Kau toh Ki losam?"

Tanyanya. Ki losam yang bernama Ki Pu-ceng menatapnya dengan heran.

"Eh, kau kenal aku?"

"Kau tanya aku kenal denganmu?"

Kata Siau Po.

"Tidak. Aku kenal dengan ibumu!"

Losam tambah bingung, Tampangnya seperti orang pandir.

"Bagaimana kau bisa kenal dengan ibuku?"

"Tentu saja aku kenal dengan ibumu, Malah kami bersahabat karib!"

Kata Siau Po seenaknya, Orang-orang yang mendengarkan ucapannya jadi tertawa geli.

"Aih! Lidah bocah ini sungguh tajam!"

Terdengar komentar beberapa orang. Wajah Ki Piu-ceng merah padam seketika, .

"Aih! Saudara kecil ini memang suka bergurau!"

Tampangnya menjadi serius,"

Saudara kecil, bolehkah aku tahu mengapa kau membunuh Go Pay?"

Siau Po segera mendapat akal yang bagus, pada dasarnya dia memang cerdik sekali dan pandai mengikuti perkembangan di sekitarnya.

"Go Pay si jahanam!"

Katanya dengan sepasang tinju dikepalkan.

"Dia manusia terkutuk yang telah banyak melakukan kejahatan Terutama dia telah membunuh banyak patriot pecinta negara? Dialah musuh besarku! Aku Wi Siau-po telah bersumpah tidak sudi hidup dalam satu jaman dengannya, Aku, seorang rakyat jelata, tapi dia membekuk aku dan membawaku ke istana, Di sana aku dipaksanya menjadi thay-kam. Sungguh menyesal aku tak sempat mencincang tubuhnya atau melemparkan tubuhnya menjadi mangsa buaya di sungai!"

Sengaja Siau Po mengucapkan kata-katanya dengan keras dan penuh semangat agar semua orang mendengarnya.

Ternyata semua orang yang hadir dalam ruang an itu jadi tertarik perhatiannya, mereka bahka saling pandang dengan terkesima.

"Sudah lamakah kau menjadi thay-kam?"

Tanya Ki Piu-ceng.

"Lama? setengah tahun pun belum! Aku berasal dari Yangciu, dibekuk oleh Go Pay kemudian dibawanya ke istana dengan paksa, Si jahat, Go Pay! Kalau dia mati, mayatnya harus dibawa ke gunung golok, arwahnya akan menerima siksaan dalam kuali panas! Batok kepalanya dipantek dengan tusuk konde!"

Selama berbicara, Siau Po sengaja mengeluarkan logat Yangciu.

"Benar Dia memang orang Yangciu!"

Kata seorang wanita yang berasal dari daerah yang sama.

"Bibi, kita sama-sama orang Yangciu,"

Kata Siau Po yang akalnya banyak dan rasanya tidak pernah kekurangan itu.

"Dulu sungguh mengenaskan nasib kita orang Yangciu! Kita telah disembelih oleh orang-orang Mancu tanpa belas kasihan sedikit pun! Sampai sepuluh hari berturut-turut anjing-anjing Manchu melakukan pembunuhan! Kakek kita, nenek kita habis dibunuh! Tidak ada satu pun yang dibiarkan hidup! Iblisiblis itu menyerbu dari pintu timur menuju pintu barat Dari pintu selatan menerjang ke pintu utara! Semua itu atas perintah Go Pay! Karena itulah aku membencinya dan menganggap nya sebagai musuh besar. Tak sudi aku hidup bersama-sama dengannya!"

Hebat sekali ucapan bocah cilik ini.

orang-orang yang berkumpul dalam ruangan itu langsung menganggukkan kepalanya berulang kali, Hati mereka tergerak dan ikut tegang membayangkan kembali peristiwa yang dikatakan bocah itu barusan.

"Tidak heran! Tidak heran!"

Seru Kwan An-ki saking kagumnya. "Bukan hanya kakek dan nenekku yang menjadi korban, Bahkan ayahku juga mati karena Go Pay!"

Kata Siau Po kembali "Kasihan... kasihan..."

Kata Ki losam.

"Saudara kecil, berapa usiamu tahun ini? tanya Cui toucu.

"Empat belas tahun..."

Sahut Siau Po.

"Eh! peristiwa yang terjadi di Yangciu suda berselang dua puluh tahun dari sekarang, Bagaimana ayahmu bisa dibinasakan oleh Go Pay?"

Tanya Cui toucu kembali. Siau Po terkejut sekali ketika merasa kebohongannya mulai dirasakan oleh Cui toucu, Tapi dasar bocah cerdik, dia sengaja berlagak pilon.

"Memang! Mana aku tahu? Saat itu aku pun belum lahir, ibulah yang menceritakannya kepadaku!"

"Andai pun ketika itu kau masih dalam kandungan, waktunya tetap saja kurang tepat!"

"Saudara Cui kata-katamu sendiri yang kurang tepat, Saudara kecil ini hanya mengatakan bahwa ayahnya telah dibunuh oleh Go Pay. Dia tidak mengatakan kematiannya tepat pada peristiwa Yangciu itu. Bukankah selama jabatan Go Pay, tidak ada sehari pun dia tidak melakukan kejahatan?"

Kata Ki losam.

"Oh ya... ya!"

Cui toucu pun menganggukkan kepalanya berkali-kali.

"Eh, sahabat kecil, tadi kau mengatakan bahwa Go Pay telah banyak membunuh patriot pecinta negara. Apa hubungannya denganmu?"

Tanya Ki losam.

"Tentu saja ada hubungannya,"

Sahut Siau Po.

"Aku mempunyai seorang sahabat yang ditangkap oleh Go Pay dan dibawa ke istana kerajaan Ceng kemudian dianiaya sampai mati. sebenarnya aku ditangkap sama-sama dengan sahabatku itu!"

Para hadirin menjadi heran, mereka menatap bocah itu dengan penuh perhatian.

"Siapakah sahabatmu yang ditangkap dan dicelakai oleh Go Pay itu?"

Tanya seseorang.

"Sahabatku itu seorang tokoh yang sudah mempunyai nama di dunia kangouw, Dia bernama Mau Sip-pat!"

Sahut Siau Po dengan perasaan bangga. Para hadirin terbelalak mendengar kata-kata bocah itu. Bahkan ada beberapa di antaranya yang bertanya.

"Mau Sip-pat itu sahabatmu?"

"Tapi, dia kan belum mati?"

Kata ki Lao-liok bingung. Sekarang gantian Siau Po yang membelalakkan matanya lebar-lebar.

"Apa? Dia belum mati? Benarkah dia belum mati? Oh, aku ingin bertemu dengannya!"

Kali ini apa yang dikatakan Siau Po memang keluar dari hatinya yang paling tulus.

"Bagus!"

Seru Kwan An-ki.

"Dengan demikian kita bisa membuktikan apakah saudara kecil ini sebenarnya kawan atau lawan? Nah, Lao-liok. Ce-pat kau ajak beberapa saudara kita untuk mengundang saudara Mau Sip-pat ke sini, Coba kita lihat apakah dia kenal dengan bocah ini!"

Ki Lao-liok segera mengiakan dan berlalu dari tempat tersebut sementara itu, Ki Piuceng menarik sebuah kursi.

"Saudara kecil, silahkan duduk,"

Katanya mempersilahkan.

Tanpa sungkan-sungkan lagi, Siau Po langsung duduk di kursi yang telah disediakan, setelah itu ada orang yang datang mengantarkan semangkuk bakmi dan secawan teh dan meletakkannya di depan Siau Po.

Bocah itu memang sudah lapar, tanpa malu-malu lagi dia melahap habis makanan yang disajikan.

Setelah itu, Kwan An-ki menemaninya duduk sambil berbincangbincang, Masih ada beberapa orang yang ikut bergabung.

Di antaranya ada Piu-ceng dan orang yang dipanggil Lie toako, nama sebenarnya Lie Lek-si.

Mereka bicara dengan sungkan, padahal diam-diam atau dengan cara halus mereka sedang mengorek keterangan dari Siau Po untuk menyelidiki asal-usul bocah itu yang sebenarnya.

Bagian 11 Siau Po menceritakan dengan terus-terang, sekali-sekali dia menyelipkan caci maki kepada Go Pay yang dibencinya itu, dia menceritakan bagaimana dia membantu kaisar Kong Hi membekuk pengkhianat yang terkenal sebagai jago nomor satu bagi bangsa Boan itu.

Yang ditutupinya hanyalah urusan Hay kongkong yang mengajarnya ilmu silat dan kaisar Kong Hi yang ikut membokong Go Pay.

Kwan An-ki dan yang lainnya percaya penuh dengan cerita dari Siau Po, sebelumnya mereka memang sudah mendengar tentang seorang thay-kam cilik yang dengan berani ikut membekuk Go Pay.

Saking kagumnya, dia sampai menarik nafas panjang dan berkata.

"Go pay terkenal sebagai orang gagah nomor satu bangsa Boan.

Kau bukan hanya berhasil membunuhnya, bahkan sebelumnya kau membekuknya terlebih dahuIu, ini yang dinamakan takdir!

Nasib telah menentukan jalan hidupnya harus berakhir seperti itu!"

Tepat pada saat itu, pintu ruangan terbuka, tampak masuk dua orang anggota perkumpulan itu dengan menggotong sebuah usungan Di belakangnya mengiringi Ki Lao-Iiok. Dia segera berkata.

"Cihu, saudara Mau Sip-pat telah diundang datang...."

Siau Po langsung bangun dari tempat duduknya, dia melihat Mau Sip-pat yang terbaring di atas sebuah usungan, pipinya cekung dan matanya celong, wajahnya suram.

"Saudara, a... pakah kau sakit?"

Tanya Siau Po.

perasaannya sedih dan heran melihat keadaan sahabatnya.

Mau Sip-pat diundang oleh Ki Lao-liok, dia menduga ada urusan penting yang terjadi di Ceng-bok tong dan dia akan diajak berunding.

Tidak disangka-sangka dia melihat Siau Po dan langsung mengenalinya, hatinya gembira sekali.

"Hai, Siau Po!"

Serunya.

"Kau... kau juga berhasil lolos! Oh, betapa aku memikirkanmu! Tadinya aku bermaksud menunggu sampai sembuh kemudian menyelinap ke dalam istana untuk menolongmu !"

Hanya beberapa patah kata yang diucapkan oleh Mau Sip-pat, hilanglah kecurigaan orang-orang dalam ruangan itu.

Mereka percaya sekarang bahwa bocah itu bukan orang kerajaan Ceng.

Sebetulnya Mau Sip-pat bukan anggota Tian-te hwe, tetapi namanya sudah terkenal di dunia kangouw sebagai seorang laki-laki yang gagah dan jujur.

Mau Sip-pat juga seorang buronan kerajaan Ceng dengan demikian berarti mereka berada di pihak yang sama.

"Mau toako, apakah kau terluka?"

Tanya Siau Po khawatir. Sip-pat menarik nafas dalam-dalam agar dadanya terasa lega.

"Malam itu, ketika aku berniat melarikan diri dari istana, begitu sampai di halaman depan, aku kepergok para siwi, sendirian aku dikeroyok lima siwi tersebut. Dua di antaranya berhasil kubunuh, tapi aku sendiri juga kena terbacok sebanyak dua kali, aku kabur dengan dikejar para siwi itu. sebenarnya aku hampir tidak punya kesempatan lagi untuk menyelamatkan diri, untung saja datang saudara-saudara dari Tian-te hwe ini yang memberikan bantuan. Apakah kau juga ditolong oleh saudara-saudara dari Tian te hwe ini?"

Pertanyaan itu membuat Kwan An-ki dan yang lainnya menjadi malu hati, mereka jengah sebab bukan mereka menolong Siau Po melarikan diri dari istana, tetapi mereka justru membekuk dan menculiknya dari sana....

Namun, tidak disangka-sangka Siau Po tidak mempermalukan mereka.

"Benar! Di istana, si thay-kam tua memaksa aku menjadi thay-kam cilik seperti dia sendiri. Baru hari ini aku mendapat kesempatan meloloskan diri, untunglah aku bertemu dengan bapak-bapak dari Tian-te hwe ini!"

Semua anggota Tian-te hwe menghembuskan nafas lega mendengar ucapan Siau Po. Muka mereka benar-benar dibuat terang, mereka menjadi bersyukur karena kehebatan bocah ini.

"Mari kita istirahat di dalam,"

Ajak Ki Lao-liok kemudian.

Mereka berbicara di ruang sembahyang bersama yang lainnya.

Lukanya Mau Sip-pat parah sekali, meskipun selama setengah tahun ini dia sudah berobat dengan berganti-ganti tabib, tapi masih belum sembuh secara keseluruhan.

Ketika dia digotong keluar barusan, usungannya berguncang-guncang sehingga lukanya terasa nyeri kembali.

Saking menahan rasa nyeri itu, Mau Sip-pat sampai tidak sanggup berbicara, padahal banyak yang ingin dibicarakannya dengan Siau Po.

Mereka telah terpisah begitu lama dan selama ini mereka saling memikirkan sehingga perasaan mereka tidak pernah tentram.

Hati Siau Po justru yang paling lega.

"Biar bagaimana, tidak mungkin mereka membunuhku.,."

Pikirnya dalam hati, Tadinya dia cemas orang-orang perkumpulan Tian-te hwe itu tidak percaya kepadanya dan menganggapnya sebagai seorang thaykam bangsa Boan.

Ketika Sip Pat beristirahat dengan menahan rasa nyerinya, Siau Po sudah tertidur pulas di atas kursi, Tubuhnya meringkuk.

Tengah malam, Siau Po merasa tubuhnya dibopong kemudian dipindahkan ke atas pembaringan lalu ditutupi sehelai selimut.

Ketika dia terjaga dari tidurnya yang nyenyak, segera muncul seseorang yang membawakan sebaskom air untuk membasuh muka, Kemudian dia juga dibawakan semangkuk bakmi dan secawan teh.

"Semakin lama semakin baik perlakuan mereka terhadapku,"

Pikir Siau Po.

"Senang sekali diperlakukan seperti orang dewasa."

Namun ketika dia membuka pintu kamar, hatinya langsung tercekat Di luar kamar ada orang yang berdiri tegak, demikian pula di luar jendela, Apakah orang-orang itu sedang mengawasinya secara diam-diam karena khawatir dia akan melarikan diri?

Tapi Siau Po memang cerdik, dia pura-pura tidak melihat mereka.

"Kalau mereka benar-benar menganggap aku sebagai tamu, mengapa aku harus diawasi?"

Pikirnya lagi, Tapi Siau Po tidak takut Dia berkata dalam hati.

"Hm! Kalian ingin menjaga aku, Wi Siau-po? Aku mau keluar, ingin kulihat bagaimana caranya kalian empat manusia tolol bisa mencegahku?"

Diam-diam Siau Po mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar itu, dia segera mendapatkan akal yang bagus.

Tiba-tiba dia membentangkan jendela sebelah timur keras-keras sehingga menimbulkan suara yang gaduh.

Ke empat penjaga itu terkejut setengah mati.

Serempak mereka menoleh ke arah sumber suara.

Tepat pada saat itu Siau Po menghentak pintu kamarnya lalu membantingnya dengan keras dan secepat kilat dia menyusup ke kolong tempat tidur.

Kembali keempat orang itu terkejut.

Apalagi setelah melihat bahwa jendela dan pintu kamar sudah terbuka lebar, hati mereka tercekat Mereka ditugaskan untuk mengawasi bocah itu, tetapi sekarang mereka yakin Siau Po sudah kabur.

"Ayo!"

Teriak mereka serentak, dengan gugup mereka lari ke dalam kamar. Mau Sip-pat masih tertidur dengan nyenyak namun bocah itu sudah tidak kelihatan.

"Bocah itu pasti belum jauh! Lekas kalian berpencar mengejarnya!"

Kata penjaga yang satu.

"Aku akan memberikan laporan!"

"Baik!"

Sahut ketiga kawannya, kemudian mereka pun berpencaran yang satu menuju luar dan dua lagi naik ke atas genteng, sedangkan yang satu lagi segera masuk ke dalam.

Begitu orang-orang itu meninggalkan kamarnya, Siau Po segera keluar dari kolong tempat tidur.

Sengaja dia mengeluarkan suara batuk-batuk kemudian dengan tenang melangkah ke arah aula.

Dia membuka pintu dan tampaklah Kwan An-ki sedang duduk bersama Ki Lek-si, sedangkan penjaga tadi sedang memberikan laporan.

Tampaknya orang itu panik sekali sampai-sampai bicaranya pun tersendat dan tiba-tiba ucapannya terhenti ketika dia melihat si bocah muncul di depan pintu.

Mulutnya mengeluarkan seruan tertahan da matanya menatap dengan membelalak.

Sikap Siau Po tenang sekali, dia menganggukkan kepalanya pada kedua tokoh Ceng-bok tong itu.

"Lie toako! Kwan hucu! selamat pagi! Apa kabar?"

Seenaknya saja Siau Po memanggil Lie toako dan Kwan hucu seperti anggota Tian-te hwe lainnya. Kwan An-ki dan Lie Lek-si saling pandang sejenak.

"Sudah pergi!"

Bentak Kwan An-ki pada si penjaga.

"Dasar manusia tidak berguna!"

Penjaga itu menganggukkan kepalanya berkali-kali dan cepat-cepat keluar dari ruangan aula, Kwan An-hi menoleh kepada Siau Po dan berusaha bersikap sewajar mungkin.

"Silahkan duduk! Apakah tidurmu nyenyak tadi malam?"

"Terima kasih, Kwan hucu,"

Sahut Siau Po sambil tersenyum.

"Tidurku nyenyak!"

Tepat pada saat itu jendela aula tersebut tiba-tiba terpentang lebar, dua orang melompat ke dalam sambil berseru.

"Kwan hucu, bocah itu kabur entah kemana!"

Kata-katanya mendadak berhenti sebab dia melihat Siau Po sudah duduk di dalam ruangan bersama para pemimpinnya.

"Dia... dia!"

Satu di antaranya menunjuk ke arah Siau Po dengan sikap gugup dan bingung.

Siau Po tidak dapat menahan kegelian hatinya, Dia tertawa terpingkal-pingkal.

Menurutnya, kejadian itu lucu sekali.

"Kalian empat orang dewasa benar-benar tidak ada gunanya!

Seorang bocah cilik pun tidak sanggup diawasi.

Kalau aku memang berniat melarikan diri, sejak tadi aku sudah menghilang!"

Ta... pi, tapi bagaimana caranya kau bisa keluar dari kamar itu? Apakah mata kami yang sudah kabur?"

Kata salah seorang penjaga itu keheranan "Kami tidak melihat bayangan siapa-siapa dan tahu-tahu kau sudah lenyap. Aneh sekali!"

Siau Po tertawa.

"Aku menguasai ilmu melenyapkan diri tanpa terlihat oleh siapa pun, sayangnya ilmu itu tidak bisa aku ajarkan kepada kalian!"

Kwan An-hi mengernyitkan keningnya mendengar pembicaraan mereka, Kemudian dia mengibaskan tangannya.

"Kalian boleh mundur sekarang!"

Katanya.

"Tidak heran! pantas!"

Seru kedua orang itu dengan pandangan kagum, Mereka percaya dengan penuh ocehan bocah itu.

Setelah itu mereka memberi hormat kepada Kwan An-ki dan Lie Lek-si, lalu mengundurkan diri.

Lie Lek-si tertawa lebar.

"Saudara kecil, usiamu masih muda sekali, tapi otakmu sungguh cerdik. Kami benar-benar kagum kepadamu!"

Belum sempat Siau Po memberikan komentar tiba-tiba terdengar sayup-sayup suara derap kuda, Dapat diduga bahwa ada serombongan orang berkuda yang sedang mendatangi ke arah tempat tersebut.

Kwan An-ki dan Lie Lek-si langsung melompat bangun dari tempat duduknya.

"Mungkinkah pasukan Boan yang datang?"

Tanya Lie lek-sie dengan suara Iirih.

Kwan An-ki menganggukkan kepalanya, dia segera menyelipkan kedua jari telunjuk dan jempolnya disela-sela bibir kemudian bersuit tiga kali.

Lima anggota Tian-te hwe segera menghambur ke dalam.

"Semua bersiap!"

Kata Kwan An-hi "Lie Iao-liok, kau lindungi saudara Mau Sip-pat. Kalau pasukan itu jumlahnya besar, jangan lawan mereka dengan kekerasan. Kita mundur teratur seperti rencana semula."

Kelima orang itu segera mengiakan lalu mundur, semua anggota Ceng-bok tong segera bersiap sedia.

"Saudara kecil, mari ikut denganku!"

Kata Kwan An-ki. Tepat pada saat itulah, seorang penunggang kuda menghambur datang dengan cepat sambil berseru.

"Cong tocu tiba!"

"Apa?"

Kwan An-ki dan Lie Lek-si terhenyak seketika, Yang di maksud dengan Cong tocu adalah ketua dari markas pusat.

"Cong tocu datang bersama kelima tongcu lainnya,"

Kata pembawa berita itu menerangkan "Mereka datang dengan menunggang kuda!"

Dari terkejut, Kwan An-ki dan Lie Lek-si menjadi senang sekali.

"Bagaimana kau bisa tahu?"

"Aku bertemu dengan Cong tocu di tengah jalan, dan aku diperintahkan untuk berjalan duluan agar dapat memberi kabar kepada kalian,"

Sahut orang baru datang itu. Tampaknya dia melakukan perjalanan dengan tergesa-gesa sehingga nafasnya masih tersengal sengal.

"Kau istirahatlah!"

Perintah Kwan An-ki yang kemudian memanggil orang-orangnya dan lalu menjelaskan "Yang datang bukan pasukan Boan, tetapi Cong tocu dengan kelima tongcu lainnya, Sekarang kalian bersiap-siap untuk mengadakan penyambutan!"

Perintah itu segera disiarkan Para anggota perkumpulan itu pun sibuk mengadakan penyambutan, sementara itu, Kwan An-ki menarik tangan Siau Po.

"Saudara kecil, Cong tocu kami datang. Mari kita menyambutnya!"

Bocah itu hanya mengangguk lalu mengikutinya, Lie Lek-si dan yang lainnya pun ikut keluar.

Dalam sekejap mata, orang-orang dari bagian Ce bok tong perkumpulan Tian-te hwe yang jumlahnya tiga ratus orang lebih sudah berbaris rapi, semuanya tampak bersemangat.

Mau Sip-pat ikut menyambut, dia digotong oleh dua orang.

"Saudara Mau, kau adalah tamu kami, seharusnya tidak perlu sungkan seperti ini,"

Kata Lie Lek-si.

"Tapi, aku sudah lama mendengar nama besar Cong tocu yang ibarat petir menyambar di angkasa, Sudah selayaknya kalau hari ini aku menemuinya, Aku sudah merasa puas dapat bertemu dengannya walaupun setelahnya aku akan mati!"

Sahut Mau Sip-pat antusias.

"Lie Lek-si terharu mendengar ketulusan Mau Sip-pat.

Suara derap kaki kuda semakin jelas, tampaklah belasan penunggang kuda sedang mendatangi.

Tiga di antaranya segera mendahului yang lainnya, Begitu tiba, mereka langsung melompat turun dari kuda masing-masing.

Lie Lek-si menyambut ketiga orang itu, mereka langsung berjabat tangan dengan akrab sekali, Siau Po mendengar seseorang berkata.

"Cong tocu ada di depan menunggu, Lie toako, Kwan hucu dan saudara-saudara yang lain, mari kita menyambutnya!"

Lie Lek-si menganggukkan kepalanya, Bersama-sama Kwan An-ki, Ki Piu-ceng, Cui toucu beserta yang lainnya segera keluar. Mau Sip-pat merasa kecewa.

"Apakah Cong tocu tidak datang kemari?"

Tanyanya pada seseorang, Dia tidak memperoleh jawaban, tampang yang lainnya juga menyiratkan kekecewaan yang sama sepertinya.

Sesaat kemudian, datang lagi seorang penunggang kudanya yang langsung menyebutkan nama tiga belas orang, ketiga belas orang inilah yang sedang dinantikan oleh Cong tocu mereka.

"Mau toako,"

Panggil Siau Po.

"Bukankah usia Cong tocu itu sudah lanjut sekali?"

Mau Sip-pat tidak diajak oleh rombongan yang menyambut ke depan.

"A... ku belum pernah melihatnya,"

Sahut Ma Sip-pat dengan nada kecewa.

"Berapa banyak orang dunia kangouw yang ingin bertemu dengannya namun ini memang bukan hal yang mudah..."

Siau Po merasa tidak puas melihat sikap Ma Sip-pat.

"Huh! Banyak amat lagaknya! Apanya yang hebat? Lohu sih tidak berniat bertemu dengannya."

Katanya terus-terang. Tiga ratusan anggota Ceng-bok tong masih berbaris menanti, namun ada beberapa di antaranya yang sudah merasa pegal sehingga duduk berjongkok.

"Tuan Mau,"

Kata seseorang di antaranya.

"Baiknya tuan Mau istirahat saja di dalam, kalau Cong tocu datang, nanti kami akan kirim orang untuk memberitahukannya kepadamu."

"Tidak!"

Sahut Sip pat sambil menggeleng kepalanya, pada dasarnya adat orang yang satu ini memang keras sekali Siau Po yang paling tahu persis.

"Biar aku menunggu di sini sampai Cong tocu datang, Kalau aku tidak berbuat demikian, itu namanya aku tidak menghormatinya, Entahlah, apakah dalam hidup ini aku mempunyai peruntungan untuk bertemu dengannya atau tidak."

Siau Po hanya mendengarkan dengan berdiam diri, memang sejak di Yang-ciu, Mau Sip-pat sudah menyatakan kekagumannya kepada Tocu perkumpulan Tian te hwe ini, itulah sebabnya dia mendumel terus karena keinginannya untuk bertemu demikian kuat.

Beberapa saat kemudian, kembali terdengar suara derap kaki kuda, serentak semua orang yang sedang duduk maupun berjongkok langsung berdiri, mereka menjulurkan kepalanya ke depan dengan harapan ada panggilan lagi dari tocu atau ketua pusat mereka.

Kali ini muncul empat orang penunggang kuda, salah satunya yang menjadi pemimpin langsung menghampiri Mau Sip-pat kemudian menjura daIam-dalam.

"Cong tocu mengundang tuan Mau Sip-pat dan tuan Wi Siau Po untuk bertemu muka!"

Bukan main senangnya hati Mau Sip-pat.

Dia sampai meloncat turun dari usungannya, namun sesaat kemudian dia langsung menjerit keras dan roboh jatuh.

Kegembiraan yang meluap-luap membuat dirinya lupa bahwa tubuhnya masih menderita sakit, tapi dia menahan rasa nyeri itu.

"Mari kita pergi!"

Katanya penuh semangat. Wi Siau Po juga senang sekali Tapi alasannya lain dengan Mau Sip-pat.

"Orang biasanya memanggil aku dengan sebutan kongkong, sehingga aku merasa sebal, Baru kali ini ada yang memanggil aku tuan. Ya, baru pertama kali! Tuan Wi Siau Po!"

Pikirnya antusias.

Mau Sip-pat mengucapkan terima kasih.

Dua orang segera menggotongnya ke atas usungan.

sedangkan seorang lainnya menyodorkan seekor kuda kepada Siau Po agar bocah itu menungganginya.

Sejenak kemudian semuanya berjalan beriringan, mereka membelok ke kanan di mana ada sebuah jalan kecil.

Di antara jarak tertentu, selalu ada dua atau tiga orang yang melakukan penjagaan Ada yang berdiri dan ada juga yang duduk.

Setiap melewati orang-orang itu, utusan yang ditugaskan menjemput Mau Sip-pat dan Siau Po selalu menunjukkan dua atau tiga jari tangannya.

Hanya saja gerakan tangannya berbeda-beda, Rupanya itu semacam kode di antara mereka.

Baik Mau Sip-pat maupun Siau Po sama-sama tidak mengerti arti kode itu, yang jelas itulah tanda rahasia dari perkumpulan Tian-te hwe.

Mereka berjalan terus sejauh dua belas atau tiga belas li.

akhirnya mereka tiba di depan sebuah gedung yang besar dengan pekarangan yang luas sekali, Di sana juga terdapat puluhan penjaga.

Orang yang menjadi utusan itu segera melompat turun dari kudanya dengan diikuti rekan-rekannya yang lain, mereka menggerakkan tangannya memberi isyarat.

Melihat itu, seorang penjaga langsung berkata dengan suara Iantang.

"Tamu-tamu sudah datang!"

Pintu gerbang pun segera dibuka, muncullah Lie Lek-si bersama Kwan An-ki dan dua orang lainnya yang belum pernah dilihat oleh Mau Sip-pat maupun Siau Po.

Mereka semua menjura dengan merangkapkan kedua tangannya dan salah satu dari kedua orang itu segera berkata.

"Tuan Mau, Tuan Wi, selamat datang! Cong tocu kami sudah menunggu kalian berdua!"

Bukan main senangnya hati Siau Po. Diam-diam dia berpikir dalam hati.

"Ah, benar-benar aku sudah tua!"

Sementara itu, Sip Pat berusaha untuk bangkit, tapi dia langsung terjatuh kembali sambil menahan nyeri.

"Aduh, bagaimana aku harus memberi hormat kepada Tocu.... Aduh!"

"Sudahlah, Tuan Mau,"

Kata Lie Lek-si.

"Kau toh sedang terluka, Tidak usah banyak peradatan!"

Siau Po bergegas membalas penghormatan mereka, Sip Pat langsung digotong kembali menuju aula pertemuan. Sampai di sana, seorang penjaga berkata kepada Siau Po.

"Tuan Wi, harap tunggu sebentar di sini! Cong tocu ingin berbicara lebih dulu dengan Tuan Mau!"

Siau Po mengangkat bahunya dengan tampang apa boleh buat, Mau Sip-pat langsung diusung ke dalam, Siau Po dipersilahkan duduk, teh dan beberapa macam kue segera disajikan di depannya, Siau Po mencicipi sepotong kue.

Dia berkata dalam hati.

"Kue ini lain sekali rasanya dengan kue yang dihidangkan dalam istana."

Karena kue yang tidak lezat itu, pandangan Siau Po terhadap Cong tocu perkumpulan Tian-te hwe agak meremehkan Tapi karena perutnya lapar, dia makan cukup banyak juga.

Kurang lebih setengah kentungan kemudian, Lie Lek-si dan yang lainnya muncul lagi, Kali ini yang mengiringinya ada seorang kakek yang janggutnya sudah memutih dan panjang sekali.

Dia mengatakan kepada Siau Po bahwa ketua mereka sudah menunggu di dalam.

Saat itu Siau Po sedang makan sepotong kue, mendengar kata orang tua itu, dia repot membersihkan mulutnya dan mengelapkan tangannya di pakaian lalu menjura kepada beberapa orang itu.

Akhirnya dia diajak ke ruangan dalam.

Sampai di depan sebuah ruangan, orang tua itu langsung menyingkap tirai penyekatnya sambil berkata.

"Siau Pek-liong Wi Siau-Po sudah datang!"

Mendengar kata-kata itu, hati Siau Po merasa heran juga senang, Tadi dia dipanggil dengan sebutan tuan, sekarang malah ada yang menyebut julukannya Siau Pek-liong atau si naga kecil putih.

"Pasti Mau toako sudah menceritakan semuanya sehingga mereka tahu julukanku!"

Pikirnya dalam hati. Di dalam ruangan tampak seorang laki-laki setengah baya bangun dari duduknya dan menyambut Siau Po dengan senyuman Iebar.

"Silahkan masuk!"

Katanya, Siau Po langsung masuk ke dalam kamar Kwan An-ki segera memperkenalkan inilah Tan Cong tocu kami!"

Siau Po mendapat kenyataan bahwa orang ini mempunyai sifat penyabar namun sepasang matanya menyorotkan kewibawaan besar Diam-diam hatinya tercekat dan tanpa disadari dia menjatuhkan diri berlutut dan memberi hormat.

Laki-laki setengah baya dengan dandanan sastrawan itu tersenyum ramah.

"Bangunlah!"

Katanya sambil mencekal lengan Siau Po.

"Tidak perlu banyak peradatan!"

Siau Po terkejut juga heran, Cekalan tangan ketua perkumpulan Tian-te hwe itu membuat tubuhnya terasa panas dan bergetar Dia tidak sanggup berlutut lebih lama.

"Saudara kecil, kau telah membinasakan Go Pay yang terkenal sebagai orang gagah nomor satu bangsa Boanciu. Dengan demikian berarti kau telah membalaskan sakit hati orang banyak yang menjadi korban keganasan si jahat itu. Karena itu pula, dalam waktu yang singkat namamu sudah terkenal kemana-mana, Kau benar-benar orang langka yang sulit dicari duanya di dunia ini!"

Sebetulnya Siau Po termasuk manusia kulit badak, Biasanya dia akan menerima pujian seperti itu dengan bangga, Tapi kali ini, mendengar suara Tan Cong tocu yang demikian lantang dan berwibawa, wajahnya jadi merah padam.

Laki-laki setengah baya itu menunjuk ke arah sebuah kursi.

"Silahkan duduk!"

Siau Po menurut, dia duduk di tempat yang ditunjuk sambil mengucapkan terima kasih.

Sementara itu, Lie Lek-si dan yang lainnya tetap berdiri dengan tangan lurus ke bawah.

Cong tocu itu tersenyum dan berkata kemba "Menurut tuan Mau Sip-pat, saudara kecil telah membinasakan seorang kepala siwi di gunung Te Seng San wilayah Yangciu, Untuk seorang yang baru tampil di dunia kangouw, jasamu ini sudah terhitung besar sekali, Saudara kecil, dapatkah menceritakan bagaimana caranya kau dapat membunuh Go Pay, si manusia dorna itu?"

Perlahan-lahan Siau Po mengangkat kepala, ketika pandangan matanya bertemu dengan sinar mata tokoh Tian-te hwe itu, jantungnya langsung berdegup-degup dengan keras.

Dia tidak berani berbohong.

Karena itu, dia segera menceritakan dengan terus-terang perihal terbekuknya Go Pay dan bagaimana dia berhasil membunuhnya ketika masih berada dalam kamar tahanan, Dia juga tidak menutupi bahwa dia disayang oleh kaisar kerajaan Ceng.

Ketua Tian-te hwe itu menganggukkan kepalanya berkali-kali mendengarkan penuturan Siau Po.

"Kiranya begitu! Saudara kecil, dengan demikian berarti ilmu silatmu lain alirannya dengan tuan Mau. Di luar tampaknya kau seperti menguasai ilmu Siaulim pai, sedangkan di dalamnya kau memahami ilmu Kong tong pai! Saudara kecil, bolehkah aku mengetahui siapa gurumu itu?"

Diam-diam Siau Po merasa terkejut dan kagum.

"Benar-benar tajam mata Cong tocu ini. Dari ceritaku saja dia dapat menebak aliran ilmu yang kupelajari pikirnya. Cong tocu tersenyum melihat Siau Po yang terdiam.

"Aku dapat melihatnya dari gerak-gerikmu. caramu berjalan menunjukkan bahwa kau adalah orang Siau lim pai. Aku tidak dapat menduga sampai mana dasar tenaga dalam yang kau miliki. Tapi dari cckalanku tadi, aku tahu kau mempelajari inti tenaga dalam Kong tong pai. Terus-terang saja, aku juga heran dengan bercampur aduknya ilmu yang kau pelajari itu."

"Sebenarnya si kura-kura tua itu tidak mengajarkan aku ilmu silat yang sejati, hanya mengajarkan dengan keliru saja,"

Sahut Siau Po.

Pengetahuan Cong tocu dari perkumpulan Tian-te hwe ini luas sekali, tapi dia tidak pernah mendengar adanya orang yang dijuluki si kura-kura.

Karena itu dia memandang Siau Po dengan heran.

"Siapa si kura-kura tua itu?"

Siau Po tertawa.

"Si kura-kura tua adalah Hay kongkong! Nama aslinya Hay Tai-hu, Aku dan Mau toako ditawan olehnya kemudian dibawa ke istana."

Berkata sampai di situ, Siau Po terkejut sendiri.

Dia khawatir Mau Sip-pat sudah menceritakan semuanya denga terusterang kepada Cong tocu ini.

Apalagi sebelumnya dia mengaku ditangkap oleh Go Pay namun sekarang dia mengatakan bahwa Hay kon kong yang menawannya.

Otaknya bekerja dengan cepat Dia segera menambahkan.

"Kura-kura tua itu mendapat perintah dari Go Pay, dialah yang menawan kami. Go Pay adalah seorang menteri yang kedudukannya tinggi sekali, Tentu dia merasa gengsi turun tangan sendiri!"

Cong tocu diam-diam berpikir dalam hatinya.

"Hay Tai-hu? Hay Tai-hu? Apakah di dalam partai Kongtong pai ada tokoh sehebat itu?"

"Eh, saudara kecil, coba kau mainkan beberapa jurus ilmu yang diajarkannya kepadamu,"

Kata tocu itu kemudian Siau Po merasa malu menunjukkan ilmu yang belum matang itu. Karena itu dia berkata.

"Si kura-kura tua hanya mengajarkan aku ilmu palsu, Dia sangat membenci aku, sebab aku telah membuat matanya menjadi buta, itulah sebabnya dia menggunakan akal apa saja untuk mencelakakan aku, ilmu ajarannya tidak pantas dilihat orang!"

Cong tocu tidak memaksa, dia hanya mengibaskan tangannya, Kepalanya manggut beberapa kali, Dia mengerti Siau Po tidak ingin menunjukkannya di hadapan orang banyak.

Tentu saja Kwan An-ki dan yang lainnya juga maklum.

Mereka segera mengundurkan diri.

Pintu ruangan itu pun ditutup rapat, Cong tocu bertanya lagi kepada Siau Po.

"Bagaimana caranya kau membutakan mata si kura-kura tua itu?"

Siau Po merasa serba salah menghadapi orang yang mempunyai wibawa besar seperti Cong tocu ini, karenanya dia mengambil keputusan untuk berbicara sejujurnya, Dia pun menceritakan bagaimana dia meracuni Hay kongkong sehingga matanya buta.

Dia juga menceritakan tentang Siau Kui cu yang dibunuhnya kemudian dia menyaru sebagai si thay-kam cilik itu.

Cong tocu terkejut sekaligus merasa lucu, Dia menganggap bocah ini memang luar biasa, otaknya cerdik dan nyalinya pun besar, Tapi dia masih ingin menguji apakah bocah ini bicara sejujurnya atau tidak.

Tiba-tiba tangannya menjulur ke depan secepat kilat ke arah selangkangan Siau Po.

Dalam sekejapan mata dia sudah menarik tangannya kembali sambil menghela nafas lega.

Ternyata bocah ini memang belum dikebiri.

"Bagus! Bagus!"

Katanya kemudian sambil tertawa.

"Tadinya aku masih ragu sehingga sulit rasanya mengambil keputusan, ternyata kau memang belum dikebiri, saudara kecil!"

Tangan kirinya menepuk meja seakan teringat sesuatu yang penting.

"Aih! inilah yang harus aku lakukan, Ya, dengan demikian saudara In ada keturunannya dan Cen bok tong pun ada yang memimpin."

Siau Po bingung, Dia tidak mengerti apa ya dikatakan Cong tocu itu.

Karenanya dia hanya memperhatikan dengan seksama.

Hatinya lega melihat wajah Cong tocu itu berseri-seri.

Kalau laki-laki itu berwajah kelam, hatinya pasti akan gentar menghadapinya.

Cong tocu itu memangku tangannya sambil berjalan mondar-mandir.

Terdengar dia menggumam seorang diri.

"Apa yang dilakukan oleh perkumpulan Tian-hwe adalah perbuatan yang tidak pernah dilakukan orang lain sebelumnya. semuanya boleh dibilang akulah yang bertindak, segala perbuatan yang mengejutkan orang banyak, Namun, apa artinya semua ini?"

Siau Po masih memperhatikan terus, Dia benar-benar tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh Cong tocu itu.

"Di sini hanya ada kita berdua, Kau tidak perlu malu-malu. Coba kau mainkan seluruh ilmu silat yang pernah diajarkan Hay Tai-hu kepadamu, Aku ingin melihatnya, tidak perduli ilmu itu asli atau palsu,"

Katanya kemudian. Baru sekarang Siau Po mengerti mengapa Kwan An-ki dan yang lainnya disuruh mengundurkan diri.

"Kalau ajaran Hay kongkong tidak benar, harap jangan ditertawakan,"

Kata bocah itu.

"Tentang itu kau tidak perlu khawatir,"

Sahut Cong tocu sambil tersenyum.

Siau Po tidak berani banyak bicara lagi, Dia segera menjalankan Taycu Taypi Cianyap jiu yang diajarkan oleh Hay kongkong, Cong tocu memperhatikan dengan seksama sejak awal sehingga selesai Kepa-lanya manggut-manggut.

"Bagus! Rupanya kau juga pernah mempelajari ilmu Taykim-na hoat dari Siaulim pai, benar kan?"

Siau Po menganggukkan kepalanya, tadinya dia tidak berniat menunjukkan tetapi ternyata Cong tocu ini dapat mengetahui segalanya dengan tepat. Dia pun tidak berani menutupi lagi.

"Tujuan si kura-kura tua mengajarkan ilmu padaku hanya untuk menguji ilmu kaisar,"

Katanya, Dia pun segera memainkan jurus-jurus ilmu Taykim-na hoat tersebut. Cong tocu tertawa.

"Bagus!"

"Sudah sejak semula aku tahu akan ditertawakan!"

Sahut Siau Po setengah menggerutu.

"Aku tidak menertawakan, justru aku senang melihatnya,"

Kata Cong tocu sambil tersenyum.

"Daya ingatmu baik sekali dan kecerdasan otakmu juga sukar dicari tandingannya. Kau seorang anak yang berbakat. Barusan kau memainkan jurus Pek be huan te (Kuda putih mengais tanah) sebetulnya Hay kongkong memang sengaja mengajarkanmu secara keliru, tapi ketika kau menjalankan sampa jurus Le-hi toksu (lkan lele melompat-lompat) kau dapat mengikuti perubahannya, Bagus sekali!"

Mendengar kata-kata Cong tocu itu, Siau Po berpikir dalam hatinya.

"Rupanya ilmu Cong tocu ini jauh lebih tinggi dari Hay kongkong. Kalau dia sudi mengajarkan ilmu silat kepadaku, tentu aku akan lihay sekali. Tidak perlu lagi aku menjadi pahlawan gadungan, aku bisa menjadi seorang pendekar besar."

Tanpa terasa dia melirik ke arah Cong tocu, tidak tahunya saat itu sang ketua perkumpulan Tian-te hwe itu juga sedang mengawasinya dengan tajam.

Biasanya Siau Po sangat berani, meskipun terhadap kaisar Kong Hi maupun Hong thayhou dia juga tidak merasa takut, namun menghadapi tokoh yang satu ini, entah mengapa dia tidak tahan menatap sinar matanya yang tajam dan mengandung wibawa itu.

"Tahukah kau apa tujuan utama Tian-te hwe?"

Tanya Cong tocu dengan nada sabar.

"Tian-te hwe ingin membantu bangsa Han membasmi bangsa Tatcu, Bahkan kalau mungkin ingin membangkitkan kembali kerajaan Beng!"

Sahut Siau Po. Cong tocu menganggukkan kepalanya berkali-kali.

"Benar! sekarang aku ingin bertanya, maukah kau masuk menjadi anggota Tian-te hwe dan menjadi saudara kami semua?"

Siau Po senang sekali mendengar tawaran itu.

"Bagus! Bagus sekali!"

Selama di Yangciu, sudah sering Siau Po mendengar sepak terjang yang dilakukan perkumpulan itu.

Dan sebenarnya perkumpulan itu bukan rahasia lagi bagi rakyat maupun pihak kerajaan, Semua orang sudah mengetahuinya.

Dan Siau Po sendiri sudah Iama sekali mengaguminya.

"Cuma, aku khawatir... aku tidak mempunyai peruntungan untuk masuk sebagai anggotanya."

"Kalau ada niatmu untuk masuk menjadi anggota perkumpulan kami, sebetulnya tidak sulit, hanya ada satu hal yang harus kau ketahui, perkumpulan kami mempunyai peraturan yang keras. Siapa yang melanggarnya, baik sengaja atau tidak, akan mendapat hukuman berat. Karena itu kau harus mempertimbangkannya matangmatang!"

"Mengenai hal itu, aku sudah tahu, Karena nya aku tidak perlu pertimbangkan lagi,"

Sahut Siau Po.

"Apa pun peraturan kalian, akan kutaati semuanya. Cong tocu, asal kau bersedia menerima aku menjadi anggota, sulit rasanya melukiskan kegembiraan hatiku ini."

Senyum di wajah Cong tocu sirna seketika.

"Urusan ini sangat penting. Menyangkut soal mati dan hidup, bukan sebuah permainan seperti yang kau bayangkan!"

Kata Cong tocu dengan tampang serius.

"Aku mengerti, Cong tocu, Aku pun tidak berani menganggapnya sebagai permainan, Sudah lama aku mendengar tentang perkumpulan Tian-te hwe yang melakukan berbagai perbuatan mulia, Sepak terjangnya selalu menggetarkan langit dan bumi! Hal sepenting ini mana boleh dianggap permainan anak kecil?"

"Bagus kalau kau memang mau tahu?"

Kat Cong tocu itu kembali Bibirnya tersenyum.

"Untuk masuk menjadi anggota Tian-te hwe ada dua puluh enam sumpah yang harus kau ucapkan dan sepuluh larangan yang tidak boleh kau langgar, kalau tidak, maka bisa mendapat hukuman berat!"

Sewaktu mengucapkan kata-kata ini, suara Cong tocu itu serius dan berwibawa sekali, Terdengar dia menambahkan kembali.

"Di antaranya ada beberapa aturan yang belum berlaku padamu, mengingat usiamu yang masih kecil, namun ada satu peraturan yang harus kau ingat baik-baik, bunyinya begini. Seorang anggota perkumpulan kami harus jujur dan lurus, tidak boleh berdusta atau berpura-pura! Nah, dapatkah kau mentaati peraturan yang satu ini?"

Siau Po tertegun, Dia menatap ketua pusat itu lekat-lekat.

"Terhadap Cong tocu sendiri, sudah pasti aku tidak berani berdusta, Tetapi bagaimana dengan saudara-saudara yang lain? Toh, tidak mungkin aku bicara sejujurnya sampai ke hal-hal yang paling kecil?" "Tentu saja urusan kecil tidak masuk hitungan, Yang dimaksudkan di sini adalah urusan penting dan yang menyangkut orang banyak!"

Sahut Cong tocu.

"Baik!"

Sahut Siau Po.

"Ada lagi, bolehkah aku berjudi dengan saudara-saudara yang lain? Bolehkah aku menggunakan cara-cara tertentu untuk mengakali orang lain?"

Cong tocu memperhatikan Siau Po dengan tajam. Dia tidak menyangka bocah sekecil itu akan mengajukan pertanyaan demikian, namun dia tetap tersenyum.

"Berjudi itu tidak, meskipun perkumpulan kami tidak memiliki aturan khusus yang melarangnya. Demikian pula dengan mengakali orang, perkumpulan kami juga tidak memiliki larangan untuk hal yang satu ini. Tapi kau harus ingat, apabila kebohongan atau kecuranganmu diketahui oleh saudara yang lain, ada kemungkinan kau akan dihajar setengah mati. Apakah kau mau kepalamu dikemplangi orang banyak hanya karena hal yang tidak berarti?"

Siau Po tertawa lebar mendengar kata-kata Cong tocu itu.

Hal ini membuktikan bahwa bagaimanapun Siau Po masih seorang bocah yang polos namun keberaniannya patut dipuji "Pasti mereka tidak tahu kalau telah diakali.

Lagipula, dalam berjudi, aku tidak perlu menggunakan akal apa pun karena sembilan puluh persen uang mereka akan pindah ke kantongku!"

Cong tocu itu enggan membicarakan soal perjudian Hal itu memang tidak dilarang, Demikian juga minum arak.

Kedua hal itu memang suka dilakukan orang-orang gagah meskipun dia sendiri kurang menyenanginya.

"Sekarang ada satu hal lagi yang ingin kutanya kan kepadamu, maukah kau mengangkat aku sebagai guru?"

Tanya Cong tocu. Siau Po tertegun, tapi hanya sebentar, hatinya senang tidak terkatakan.

"Oh!"

Dia langsung menjatuhkan diri berlutut di depan Cong tocu kemudian menyembah berkali-kali dan memanggil.

"Suhu!"

Kali ini Cong tocu membiarkan saja. Setelah Siau Po menyembah sampai belasan kali, baru dia menghentikannya.

"Sudah cukup!"

Siau Po pun berdiri, wajahnya berseri-seri menunjukkan hatinya yang gembira sekali.

"Sekarang kau dengar baik-baik,"

Kata Cong tocu.

"Aku she Tan bernama Kin-lam. Nama Tan Kin-Iam ini hanya nama yang dipakai dalam perkumpulan kita, Kau telah menjadi muridku, ada baiknya kau tahu namaku yang asIi, yaitu Tan Eng-hoa."

Ketika menyebut nama aslinya, Tan Kin-lam sengaja merendahkan suaranya sehingga hanya Siau Po yang dapat mendengarnya.

"Baik, suhu!"

Sahut Siau Po penuh hormat "Tecu akan mengingatnya baik-baik dan tidak akan membocorkan rahasia ini kepada siapa pun!"

Tan Kin-lam menatap muridnya lekat-lekat kemudian berkata dengan nada sabar.

"Sekarang hubungan kita adalah guru dan murid. Kita juga harus berhati tulus antara satu dengan yang lainnya, terus terang saja aku katakan, otakmu itu terlalu cerdik, bahkan banyak bicara dan menjurus ke licik. sifatmu itu tidak cocok dengan watakku sendiri Tapi mengapa aku mengambilmu sebagai murid? Tentu saja ada alasannya, yakni demi kepentingan perkumpulan kita ini!"

"Suhu, tecu berjanji akan merubah sifat buruk ini agar kelak dapat menjadi orang baik-baik!"

Sahut Siau Po.

"Negara bisa diubah, mengubah watak seseorang justru lebih sulit dari menemukan jarum di tengah samudera, Kau sadar dan kau berjanji, tapi aku tahu kau tidak dapat berubah banyak, Tapi aku sudah mengeluarkan ucapanku. Baiklah... kau masih muda, perasaanmu mudah berubah atau terpengaruh. Lagipula kau belum pernah melakuka perbuatan-perbuatan yang tercela. Karena itu, kau harus mengingat kata-kataku baikbaik, Terhadap murid, aku mempunyai peraturan yang keras. Kalau kau sampai melanggar peraturan, terutama mengkhianati perkumpulan kita, aku tidak segan-sega mencabut nyawamu. Ingat, aku dapat melakukannya semudah membalikkan telapak tangan dan dalam hal ini aku juga tidak mengenal belas kasihan! kata Tan Kin-lam serius. Selesai berkata, Tan Kin-lam menggebrak meja di hadapannya sehingga ujungnya menjadi gompal kemudian dia meremas pecahan kayu itu sehing hancur seperti debu yang bertaburan. Mata Siau Po membelalak lebar saking kagumnya. Tanpa dapat ditahan lagi dia menjulurkab lidahnya. Sungguh hebat gurunya ini, Namun sejenak kemudian dia merasa gembira sekali atas peruntungannya yang bagus. "

Suhu, aku berjanji tidak akan melakukan perbuatan yang tercela, seandainya satu kali saja aku melakukan perbuatan jahat, kau boleh pelintir batang leherku ini sampai putus.

Tapi suhu, sebelumnya aku ingin mengatakan terlebih dahulu, Kalau leherku putus, tentu tidak bisa lagi menerima ajaran ilmu darimu!"

"Ya, kau ingat baik-baik!"

Kata Tan Kin-lam.

"Satu kali saja kau melakukan kejahatan, kita bukan lagi guru dan murid!"

"Bagaimana kalau dua kali?"

"Diam! jangan memutar lidah! Kita membicarakan hal yang serius!"

Hardik Tan Kinlam yang mulai kewalahan menghadapi muridnya yang satu ini.

"Baik, suhu,"

Sahut Siau Po, Namun dalam hatinya dia berkata.

"Bagaimana kalau aku hanya berbuat setengah kesalahan?"

"Dengar!"

Kata Tan Kin-lam kembali "Sekarang aku telah menerima kau sebagai murid, tapi aku tidak mempunyai banyak peluang untuk mengajarkan ilmu kepadamu, Karena itu...."

Laki-laki setengah baya itu mengeluarkan se

Jilid kitab tipis dari dalam saku bajunya.

"Kitab ini berisi inti ilmu tenaga dalam, Kau bacalah dengan teliti, kemudian ikuti gambar-gambar petunjuk yang ada di dalamnya."

Siau Po menganggukkan kepalanya.

Tan Kin-lam segera membalikkan halaman kitab itu satu persatu dan menunjukkan cara berlatih menurut gambar yang ada.

Dia menjelaskannya dengan terperinci sampai Siau Po mengerti.

Tetapi Siau Po masih kecil, lagipula dia belum begitu paham ilmu silat, jadi sulit baginya untuk memahaminya secara keseluruhan Namun dia berusaha memusatkan segenap perhaliannya.

Hampir satu jam lamanya Tan Kin-lam memberikan penjelasan, kemudian ia berkata.

"Pelajaran ini mempunyai syarat yang terpenting, yakni kesungguhan hati, Hal ini memang akan menimbulkan kesulitan untukmu karena dasar ilmu yang kau pelajari sudah berbeda dengan yang tertera dalam kitab ini. Tapi asal kau belajar dengan tekun, bersungguh-sungguh, tetap akan membawa faedah yang tidak kecil bagimu, Dan apabila sedang berlatih kau merasakan kepalamu pusing atau matamu berkunang

Tiraikasih website

http.//cerita-silat.co.cc/ kunang, kau harus segera menghentikannya.

Sampai perasaanmu sudah membaik kembali, baru kau boleh melatihnya kembali.

Apabila kau berkeras melanjutkan di saat kau merasa sakit kepala atau tidak enak badan, akibatnya bisa berbahaya sekali ingat baik-baik!"

"Baik, suhu,"

Sahut Siau Po sambil mengucapkan terima kasih dengan menjatuhkan diri berlutut dan menyembah tiga kali, setelah itu baru memasukkan kitab itu ke dalam saku bajunya.

"Kau terhitung muridku yang keempat,"

Kata Tan Kin-lam menjelaskan selanjutnya, Mungkin kau juga akan menjadi muridku yang terakhir dan termuda.

Urusan Tian-te hwe yang harus ditanggulangi masih menumpuk, karena itu aku tidak bisa menerima murid terlalu banyak.

Kau harus ingat, dalam dunia persilatan, derajatku tidak rendah, namaku juga tidak pernah cacat, karena itu sebagai muridku, jangan sekali-sekali kau melakukan perbuatan yang dapat membuat aku kehilangan muka!"

"Baik, suhu,"

Sahut Siau Po.

"Tapi...."

"Tapi apa?"

"Memang aku tidak akan mencemarkan nama baik suhu, tapi bagaimana kalau hal itu terjadi di luar kehendakku? Umpamanya aku dikalahkan orang dalam perkelahian lalu aku kena ditawan dan diangkat kesana kemari seperti layaknya benda mati. Kalau hal itu sampai terjadi, aku mohon suhu dapat memaafkannya...."

Tan Kin-lam mengerutkan keningnya, bocah ini memang luar biasa, Ada-ada saja pertanyaan yang terpikirkan olehnya, Untuk sesaat dia merasa lucu, sekaligus diamdiam mengeluh dalam hati, Akhirnya dia menarik nafas panjang.

"Aku telah menerimamu sebagai murid. Mungkin ini merupakan suatu kesalahan terbesar yang pernah aku lakukan seumur hidup. Tapi, biar bagaimana aku tetap akan menjalaninya. Semua ini demi kepentingan perkumpulan kita, Siau Po, sebentar lagi kau harus berhadapan dengan berbagai urusan perkumpulan ingat baik-baik apa yang telah aku katakan kepadamu tadi, Asal kau pandai membawa diri, jangan banyak mulut atau bicara sembarangan aku yakin tidak ada masalah bagimu!"

"Baik, suhu!"

Sahut Siau Po. Matanya menatap Tan Kin-lam lekat-lekat "Apa yang ingin kau katakan?"

Tanya Tan Kin-lam yang dapat menerka ada sesuatu yang ingin dibicarakan oleh muridnya itu.

Tecu ingin menjelaskan Apabila tecu berbicara, tecu akan berbicara hal-hal yang beralasan, tidak nanti Tecu berbicara sembarangan."

"Bagus! Mulai sekarang kau harus kurangi bicaramu!"

Kata sang guru. Diam-diam Tan Kin-lam berpikir dalam hati.

"Entah berapa banyak orang-orang gagah berbicara denganku, Biasanya mereka selalu berpikir dahulu matang-matang sebelum mengemukakan pikirannya, Tidak seperti bocah ini yang ceplas-ceplos seenaknya, Dia sungguh berani dan juga bandel sekali."

Kemudian dia berdiri dan berjalan menuju pintu, Setelah itu dia menoleh dan berkata.

"lkutlah denganku!"

Siau Po segera menghambur ke depan dan membukakan pintu serta mempersilahkan gurunya keluar terlebih dahuln Setelah itu baru dia mengikuti dari belakang terus menuju aula pertemuan.

Di dalam aula sudah berkumpul dua puluh orang lebih, ketika mereka melihat kehadiran Tan Kin-Iam, semuanya langsung berdiri dengan sikap hormat.

Tan Kin-lam menganggukkan kepalanya kemudian duduk di atas kursi yang kedua, Siau Po merasa heran mengapa seorang ketua duduk di kursi yang kedua dan bukan yang pertama.

Diam-diam dia berpikir dalam hati.

"Mungkinkah suhu bukan tokoh yang kedudukannya paiing tinggi dalam perkumpulan ini? Apakah masih ada orang yang lebih tinggi lagi kedudukannya daripada suhu?"

Sementara itu, terdengar Tan Kin-lam berkata.

"Saudara-saudara! Hari ini aku telah menerima seorang murid yang paiing kecil!"

Tangannya menunjuk kepada Siau Po.

"lni dia orangnya!"

Seluruh anggota perkumpulan itu langsung mengucapkan selamat dengan menjura.

"Selamat, Cong tocu!"

Mereka juga memberi selamat kepada Siau Po.

"Sekarang giliranmu memberi hormat kepada para pekhu dan sidehu-mu!"

Kata Kin lam kepada Siau Po.

Siau Po menurut, dia segera menjatuhkan diri berlutut di atas tanah serta memberi hormat kepada para pamannya sekalian dan mengucapkan terima kasih.

Setelah itu, Lie Lek-si mengenalkannya kepada sembilan hiocu dari perkumpulan itu, Hiocu adalah ketua dari setiap seksi.

Selain itu masih ada Hu hiocu, yakni wakil ketua setiap seksi.

Siau Po jadi repot berlutut dan menyembah ke sana-sini.

untung saja ketika memberi hormat kepada para Hu hio cu, belum sempat menyembah, mereka sudah mencegahnya.

"Jangan sungkan, saudara kecil silahkan bangun!"

Mereka juga memberi hormat dengan berlutut Siau Po segera menghambur ke depan untuk mencegah mereka, peraturan pada zaman itu memang demikian.

Jumlah para paman tua muda itu semuanya ada dua puluh orang lebih, Siau Po tidak dapat mengingat mereka satu per satu.

Karena itu dia berkata kepada dirinya sendiri.

"Mereka adalah orang-orang penting, Biar nanti perlahan-lahan aku akan mengingat nama mereka satu per satu."

Setelah upacara perkenalan selesai, Tan Kin-lam baru berkata kembali.

"Saudara sekalian, aku telah menerima Siau Po sebagai murid, harap kalian pun dapat menerimanya sebagai saudara kita dalam perkumpulan Tian-te hwe!"

"Bagus!"

Orang banyak menyatakan persetujuannya. Bahkan Coa tek-tiong, yakni hiocu dari Lian hoa tong yang rambut dan kumis serta janggutnya sudah memutih langsung berkata.

"Sejak jaman dulu kala, guru yang pandai selalu menghasilkan murid yang hebat, Murid Cong tocu ini akan menjadi seorang pendekar muda dan akan membuat jasa besar bagi perkumpulan kita, aku yakin sekali akan hal itu!"

Hiocu dari Ki-hou tong, yakni Ma Tiau-hin mempunyai wajah yang selalu berseri-seri, tubuhnya gemuk pendek, dan sekarang dia ikut memberikan komentar.

"Hari ini kita berkenalan dengan saudara Wi, tapi kami tidak memberikan tanda mata apa pun. Karena itu, aku mengajukan diri sebagai pengantar bersama-sama Coan hiocu untuk menjadi perantara bagi saudara kecil yang mengajaknya masuk menjadi anggota Tian-te hwe. Entah bagaimana pendapat Coa hiocu?"

Coa Tek Tiong langsung tertawa lebar.

"Bagus! Aku setuju sekali! Cara ini juga tidak perlu mengorek kantong mengeluarkan uang!"

Katanya. Mendengar ucapan itu, orang banyak merasa lucu dan tertawa.

"Siau Po. Cepat bilang terima kasih kepada kedua pamanmu!"

Kata Tan Kin-lam kepada muridnya.

"lni merupakan suatu keberuntungan bagimu!"

Siau Po menurut, dia segera menjatuhkan diri berlutut kemudian menganggukkan kepalanya serta menyatakan rasa terima kasih kepada kedua hiocu tersebut.

"Saudara sekalian, peraturan kita sangat keras, sedangkan muridku ini masih terlalu muda dan kelewat cerdik, Aku khawatir dia akan ceroboh dalam mengambil tindakan atau melakukan suatu yang keliru. Oleh karena itu, saudara Ma dan saudara Coa, kalian adalah perantara, aku harap selanjutnya kalian bersedia mengawasi muridku ini dan memberikan petunjuk kepadanya agar jangan salah jalan. Kalau ada urusan apaapa, jangan kalian sungkan-sungkan menegurnya!"

Kata Tan Kin-lam kembali.

"Cong tocu terlalu merendah, mana mungkin murid Cong tocu melakukan hal yang keliru?"

Sahut Coa Tek-tiong.

"Aku tidak merendahkan diri, justru apa yang kukatakan adalah hal yang sejujurnya. Terhadap muridku ini, perasaanku selalu khawatir saja. Andaikata kalian beramai-ramai sudi mengawasi dan memberikan petunjuk kepadanya, berarti kalian juga membantu aku menenangkan perasaan ini sehingga tidak ada yang perlu dikhawatirkan."

Kata Cong tocu. Ma Tiau-hin tertawa lebar.

"Kalau mengawasi saudara Wi, kami tidak berani. Tetapi mengingat usianya yang memang masil muda, kalau ada urusan apa-apa, kami akan bicar terus-terang saja dan memberikan petunjuk dengan sejelas-jelasnya!"

Siau Po mendengarkan semua pembicaraan itu, diam-diam dia mendumel dalam hati.

"Memangnya kesalahan apa yang aku lakukan? Mengapa suhu terus khawatir aku akan melakukan hal yang keliru? Si kura-kura tua toh bukan guruku, itulah sebabnya aku membuat kedua matanya buta. Tetapi suhu justru guruku yang sejati, tidak mungkin aku mencelakakan dirinya, Kalau begini banyak orang yang mengawasiku, bagaimana aku bisa berkutik lagi?"

Melihat muridnya diam saja dan hiocu lainnya juga tidak memberikan komentar lagi, Tan Kin-lam baru berkata lagi.

"Saudara Lie, aku minta sudi kiranya kau mengatur meja sembahyang, Hari ini juga kita akan melakukan upacara menerima Wi Siau-po sebagai anggota Tian-te hwe!"

"Baik, Cong tocu!"

Sahut Lie Lek-si.

"Menurut peraturan kita, seandainya ada seorang yang ingin masuk menjadi anggota, setelah ada orang yang menjadi perantaranya, kita masih harus menyelidiki asal-usulnya dan perbuatan apa saja yang pernah dilakukannya di masa lalu. Paling tidak kita memerlukan waktu setengah sampai satu tahun untuk memperoleh kepastian apakah dia pantas masuk menjadi anggota perkumpulan kita, Dalam hal ini, Wi Siau Po mendapat pengecualian Kedudukannya dalam istana kerajaan Ceng dan rasa sayangnya kaisar terhadap anak ini, membuat dirinya patut mendapat keistimewaan sebelumnya, aku ingin mengatakan, bahwa bukan aku memanjakannya, tapi karena aku yakin, hubungannya yang erat dengan kaisar kerajaan Ceng akan membawa manfaat bagi kita."

"Kami mengerti,"

Sahut beberapa hiocu, Mereka merasa Siau Po memang patut mendapat keistimewaan.

Apalagi dia telah membangun jasa besar meskipun dilakukannya tanpa sengaja untuk perkumpulan mereka.

Hiocu dari Hong Sun-tong yang tubuhnya tinggi besar dan janggutnya hitam pekat, Pui Tay-hong, ikut memberikan suara.

"Semua ini merupakan kemurahan hati Thian yang kuasa dengan memberikan kita seseorang saudara yang menjadi orang kepercayaan kaisar bangsa Tatcu. Mungkin memang sudah takdir bahwa kerajaan Ceng akan hancur dan kerajaan Beng kita akan bangkit kembali ini yang dinamakan.

"paham diri sendiri, tahu diri lawan,"

Dengan demikian seratus kali berperang, seratus kali pula kita akan meraih kemenangan. Siapa di antara kita yang tidak mengerti isi hati Cong tocu?"

Siau Po sangat cerdik, dari pembicaraan yang berlangsung dia maklum apa yang terkandung dalam benak Tan Kin-lam. Diam-diam dia berpikir.

"Kalian semua memperlakukan aku demikian baik, ternyata ada udang dibalik batu. Rupanya kalian ingin menjadikan aku mata-mata di kerajaaa musuh. Lalu, apa yang harus kulakukan? Apakah aku harus menuruti keinginan mereka?"

Sementara itu, Coa Tek-Liong langsung menuturkan sejarah berdirinya perkumpulan Tian-te hwe.

Juga mengenai peraturan-peraturannya yang harus ditaati.

"Pendiri perkumpulan kami berjuluk Kok Sing-ya.

Nama aslinya The Seng-kong.

Mula-mula Kok Sing-ya memimpin pasukan perangnya menyerbu wilayah Kanglam, namun ketika menderita kegagalan beliau mengundurkan diri ke kepulauan Taiwan.

Sebelum mengundurkan diri, Kok Sing-ya menerima usul Cong tocu kita untuk membuat sebuah perkumpulan, dengan demikian berdirilah Tian-te hwe.

Saat itu Cong tocu kita masih menjadi penasehat perang Kok Sing-ya, sedangkan aku bersama saudara Pui, saudara Ma, saudara Ouw, saudara Lie serta saudara In almarhum yang merupakan hiocu dari Ceng-bok tong masih menjadi perwira dalam pasukan Kok Singya."

Mengenai Kok Sing-ya, Siau Po memang pernah mendengarnya. Dia tahu Kok Singya adalah The Seng-kong yang mendapat anugerah marga "Cu"

Dari kaisar dinasti Beng.

"Cu"

Adalah marga dari pendiri kerajaan Beng, itulah sebabnya dia mendapat julukan Kok Sing-ya (tuan agung yang menggunakan marga negara) Nama Kok Sing-ya paling terkenal di propinsi Kangsou, Ciatkang, Hokkian dan Kwitang, Beliau menutup mata di permulaan dinasti Ceng, tidak lama setelah kaisar Kong Hi naik tahta.

Meskipun beliau telah tiada, tapi rakyat masih menghormatinya karena semangatnya yang menyala-nyala membela kepentingan negara.

"Tentara kita sendiri berpusat di Kanglam, Karena tidak mungkin semuanya mengundurkan diri ke Taiwan, maka sebagiannya ada yang mundur ke Emui. Atas titah Kok Sing-ya, Cong tocu tidak ikut mengundurkan diri, sebab Tian-te hwe tidak boleh tanpa pemimpin, Cong tocu diperintahkan untuk menghubungi semua bekas pengikut Kok Sing-ya. Mereka pun menjadi anggota Tian-te hwe, mereka tidak perlu melalui tentara lagi, sebab asal-usul dan riwayat hidup mereka telah diketahui dengan jelas, sedangkan penelitian terhadap orang luar hanya untuk berjaga-jaga agar jangan sampai ada matamata musuh yang menyusup ke dalam."

Bagian 12 Penuturan hiocu itu tidak ditukas oleh siapa pun. Siau Po juga mendengarkan dengan penuh perhatian. Ketika melanjutkan kembali ceritanya, wajahnya tampak penuh semangat.

"Ketika angkatan perang kita keluar dari Tai-wan dulu, jumlah semuanya mencapai tujuh belas laksa jiwa, yang terbagi sebagai berikut. Lima laksa pasukan berkuda, lima laksa pasukan bahari, dan lima laksa pasukan jalan, sedangkan dua pasukan lainnya terdiri dari selaksa pasukan gerilya, Selaksa lagi disebut pasukan orang besi, Hal ini karena mereka mengenakan baju besi dan menggunakan tombak panjang sebagai senjata. Tugas mereka khususnya untuk mengait kaki lawan dan kaki kuda tunggangan musuh, sedangkan mereka tidak akan terluka oleh anak panah karena mengenakan baju besi, itulah sebabnya ketika terjadi pertempuran di bukit Yanghong dan wilayahnya Tinkang, dengan dua ribu tentaranya, Cong tocu berhasil melabrak musuh yang jumlahnya delapan belas ribu jiwa, Saat itu aku sendiri menjadi tentara pasukan ke delapan. Sewaktu kami menyerang musuh, kami mendengar mereka berteriak.

"Malu... malu, chihu... chihu...."

Siau Po menjadi tertarik, tapi dia mengerti apa yang dimaksud dengan kata-kata terakhir hiocu itu.

"Apa artinya "malu dan chihu?"

"Malu artinya mama, sedangkan chihu artinya kabur. Jadi tentara musuh berteriak, Mama... mama... kabur... kabur!"

Orang-orang dalam ruangan itu ikut tertawa mendengar ceritanya yang lucu.

"Coa hiocu, ceritamu memang menyenangkan, apalagi mengenai pertempuran di Tinkang itu, Tapi kalau kau cerita terus, mungkin tiga hari tiga malam juga tidak akan selesai. Bisa-bisa sampai kumis saudara Wi sudah tumbuh."

Tiba-tiba Ma Tiau-hin menghentikan kata-katanya, Sebab dia teringat bahwa seorang thay-kam tidak mungkin tumbuh kumis, diam-diam dia melirik ke arah Siau Po.

Untung saja bocah itu memperlihatkan wajah kurang senang, Dia khawatir bocah itu akan tersinggung karenanya.

Tepat pada saat itu, Lie Lek-si muncul dan melaporkan bahwa meja sembahyang telah selesai diatur Tan Kin-lam langsung mengajak semuanya menuju pendopo belakang.

Siau Po melihat di atas meja sembahyang ada dua buah Cengpai (tanda peringatan) yang masing-masing bertulisan "Tanda peringatan arwah kaisar dinasti Beng dan tanda peringatan Jenderal besar Ciau Tou-tay ciangkun merangkap pangeran Yan Peng-kun dari dinasti Beng, The Seng-kong."

Di atas meja juga teratur rapi berbagai macam persembahan, misalnya kepala babi, kambing, ayam dan ikan.

Dalam tempat perabuan tertancap tujuh batang hio.

Semua orang langsung menjatuhkan diri berlutut memberi hormat pada kedua lengpai tersebut, sementara itu, Coa Tek-tiong mengambil sehelai kertas dari atas meja sembahyang kemudian membacanya.

"Langit dan bumi saksinya, kami bersumpah akan membangun kembali kerajaan Beng, Kami akan membasmi bangsa Tatcu, Kami bersedia hidup dan mati bersama, seperti tiga saudara dari zaman tiga Negara. Kami berjanji akan menjadi saudara antara yang satu dengan yang Iainnya, kami mengakui langit sebagai ayah dan bumi sebagai ibu, matahari sebagai saudara laki-laki dan rembulan sebagai saudara perempuan. Kami juga menghormati Ngo-cou dan Si-cou Ban In-liong serta keluarga Hong! Hari lahir kami jatuh pada jam cu-sie tanggal dua puluh lima bulan ketujuh tahun Khe-in. Kami semua, baik dari dua kota raja maupun tiga belas propinsi, kami tetap satu hati satu tubuh. Bagi pemerintah sekarang, kami bukanlah apa-apa. Kalau hati kami tergerak, semua hanya karena ingin membangun kembali kerajaan Beng yang maha besar. Kami berjanji akan melaksanakan apa pun perintah Tan KinIam, kami akan menjelajahi lima sungai dan mengarungi empat lautan, demi menemukan rekan-rekan sejiwa dalam perjuangan. Dengan ini kami meneteskan darah kami sebagai penguat sumpah dan para malaikatlah yang menjadi saksinya!"

Selesai membacakan kertas ikrar itu, Coa Tek-tiong berkata kepada Siau Po.

"Saudara Wi, kita mencontoh apa yang dilakukan tiga saudara angkat dari jaman Sam Kok (tiga negara) kau mengerti bukan?"

"Aku mengerti,"

Sahut Siau Po.

Tiga saudara angkat dari jaman Sam Kok adalah Lau Pi, Kwan Kong dan Tio Hui.

Mereka tidak terlahir dalam hari bulan dan tahun yang sama namun bersedia mati dalam hari bulan dan tahun yang sama!"

"Betul!"

Kata Coa Tek-tiong.

"Sekarang kau masuk menjadi anggota Tian-te hwe, dengan demikian kita menjadi saudara satu dengan yang Iainnya, Kami juga menjadi saudara dari Cong tocu, dan karena kau sudah menjadi murid beliau, otomatis kami semua sekaligus juga menjadi pekhu dan siok-siokhu-mu. Dulu, kalau bertemu dengan kami, kau harus berlutut dan menyembah, nanti setelah masuk menjadi anggota yang berarti kita bersaudara, kau tidak perlu lagi melakukan peradatan seperti itu!"

"Baik!"

Sahut Siau Po. Dalam hatinya dia berkata sendiri.

"Bagus sekali!"

Coa Tek-tiong berkata kembali.

"Kita orang-orang dari Tian-te hwe juga disebut kaum Hong Bun. Kata Hong diambil dari tahun kerajaan Sri Baginda Beng Thaycou, yakni Hong Bu. Pemimpin kita yang pertama, seperti yang sudah kau ketahui adalah Kok Sing-ya atau Ban In-liong. Kita tidak berani sembarang menyebut nama asli Kok Sing-ya karena hal itu berbahaya sekali, Bisa-bisa kita diringkus bangsa Tatcu! Itulah sebabnya kami menyebut Kok Sing-ya dengan panggilan Ban In-liong. Ban artinya laksa, di sini mempunyai makna sebagai rakyat negeri kita yang jumlahnya ratusan ribu laksa jiwa, sedangkan In-liong berarti mega mengiringi naga. Dengan demikian Ban In-liong bisa berarti rakyat seluruh negeri mengiringi pemimpin sesakti naga, Saudara Wi, ini adalah rahasia perkumpulan kita, jangan sekali-sekali kau menyampaikannya kepada siapa pun, termasuk Mau Sip-pat saudara angkatmu sendiri. Harap kau ingat baik-baik pesanku ini!"

Siau Po menganggukkan kepalanya.

"Aku mengerti!"

"Yang dimaksudkan dengan jam cu-sie tanggal dua puluh lima bulan ketujuh tahun Khe-in adalah waktu lahirnya perkumpulan kita ini. Ngo-cou adalah lima leluhur perkumpulan kita, mereka adalah lima tokoh gagah perkasa yang telah mengorbankan nyawanya demi kepentingan negara. Leluhur kami yang pertama adalah Kam Hui. Sewaktu pasukan perang kami menyerang Kangleng, aku memimpin sepasukan tentara Tin-peng, Atas titahnya Cong tocu, aku bersembunyi di luar pintu kota sebelah barat Bangsa Tatcu...."

"Coa hiocu!"

Tukas Ma Tiau-hin tiba-tiba.

"Urusan pertempuran di kota Kangleng, kau bisa ceritakan perlahan-lahan kelak, tentu masih belum terlambat."

Coa Tek-tiong tersenyum meskipun ceritanya diputus oleh Ma Tiau-hin. Perlahanlahan dia menepuk dahinya sendiri.

"Benar! Benar! Menceritakan pengalaman seru yang telah berlalu pasti tidak habishabisnya, Baik-nya sekarang aku jelaskan saja soal peraturan dan segala larangan yang ada dalam perkumpulan kita,"

Coa Tek-tiong langsung menjelaskan hal-hal yang perlu kepada Siau Po. Siau Po pun mendengarkan dengan penuh perhatian.

"Baiklah!"

Kata Siau Po.

"Aku telah mengerti dan akan mentaati semuanya!"

Ma tiau-hin segera mengambil sebuah mangkok yang telah diisi dengan arak.

Setiap orang yang ada dalam ruangan itu menusuk jari tengah tangan mereka dengan sebuah jarum, kemudian meneteskan darahnya ke dalam mangkok berisi arak itu.

perbuatan ini diikuti oleh Siau Po.

Kemudian mereka meminum satu teguk arak yang telah bercampur dengan darah tersebut, dengan demikian berarti upacara telah selesai dan mereka pun sudah menjadi saudara antara satu dengan yang lainnya, semuanya merangkul Siau Po dan memberi hormat sekali lagi kepadanya.

Setelah itu, terdengar Tan Kin-lam berkata lagi.

"Partai kami terdiri dari sepuluh tong. Di depan ada lima pong dari lima tong dan demikian pula di belakang, Kelima tong depan adalah Kian Hong-tong, Hong Sun-tong, Ki Hou-tong, Cam Tay-tong dan Hung Hua-tong. Kelima tong di belakang terdiri dari Ceng-bok tong, Cik Hwe-tong, Pek Kim-tong, Han Sui-tong dan Oey Tou-tong. sembilan hiocu dari sembilan tong telah berkumpul di sini, kecuali Ceng-bok tong yang tidak mempunyai hiocu karena In hiocu telah mati di tangan Go Pay. Sampai sekarang lowongan ini belum terisi. Setelah kematian In hiocu, para saudara dari Ceng-bok tong pernah mengangkat sumpah di depan abu penghormatan saudara Ban In-liong, bahwa siapa pun yang dapat membinasakan Go Pay, berarti dia telah membalaskan sakit hati In hiocu dan orang itu akan diangkat menjadi hiocu Ceng-bok tong sebagai pengganti In hiocu, Nah, saudara sekalian, benarkah kalian pernah mengucapkan sumpah seperti itu?"

Serentak semua anggota Ceng bok-tong membenarkan kata-kata Cong hiocu mereka.

"Benar!"

Dengan sorot mata yang tajam, Tan Kin-lam mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, Kemudian dia berkata lagi dengan nada lembut.

"Bukankah pernah terjadi perselisihan antara para saudara dari Ceng-bok tong pemilihan seorang ketua sebagai pengganti In hiocu? Bukankah perselisihan itu jadi reda karena kalian semua mengingat kepentingan perkumpulan ini? Nah, sampai sekarang masalah itu masih terkatung-katung. Bagaimana hal ini dapat dibiarkan saja? Tentu tidak baik akibatnya nanti, Bukankah Ceng-bok tong merupakan bagian yang penting dalam perkumpulan Tian-te hwe, sebab bagian inilah yang mengepalai seluruh saudara-saudara kita dari wilayah di sekitar Kanglam. Kekosongan ini akan merugikan kita dan menguntungkan pihak musuh!"

Semua anggota perkumpulan itu terdiam mendengar kata-kata ketua mereka, karena apa yang dikemukakannya memang beralasan "Sekarang aku ingin tanya, benarkah musuh besar kita Go Pay dibunuh oleh saudara Wi Siau Po?

Apakah benar saudara sekalian telah mengetahui bahkan beberapa di antaranya menyaksikan dengan mata kepala sendiri?"

Tanya Tan Kin-Iam kembali.

"Ya, benar,"

Sahut Lie Lek-si dan Kwan An-ki. Lie-Lek-si malah menambahkan.

"Kita semua sudah mengangkat sumpah di depan abu penghormatan Ban In-Iiong, kita tidak boleh mengingkari apa yang pernah kita ucapkan. Kalau sumpah itu hanya angin busuk belaka, untuk apa lain kali kita mengangkat sumpah lagi? Saudara Wi Siau Po memang masih muda, tapi aku Lie Lek-si bersedia mengangkatnya sebagai hiocu kami, hiocu dari Ceng-bok tong!"

Tentu saja Lie Lek-si paham apa arti ucapan Cong tocu tadi, karena itu dia langsung mendahului menyatakan pendapatnya.

Kwan An-ki juga ingin memberikan pendapatnya, tetapi sudah didahului oleh Lie Leksi.

Diam-diam dia berpikir dalam hati.

"Bocah itu telah menjadi murid Cong tocu, dengan demikian dia bukan orang sembarangan. Lie Lek-si tidak berbeda dengan aku yang menginginkan kedudukan hiocu, namun sekarang ini kesempatan sudah tidak ada. Mendengar kata-kata Cong tocu barusan, Lie Lek-si menyadari maksud hati Cong tocu tersebut Sungguh pandai dia mengikuti perkembangan sehingga langsung mengemukakan pendapatnya, semestinya aku tidak boleh kalah dengannya!"

Itulah sebabnya Kwan An-ki segera berkata.

"Benar sekali apa yang dikatakan Lie toako, saudara Wi sangat cerdas. Di bawah bimbingan Cong tocu, kelak dia akan menjadi seorang pemuda yang bisa menggemparkan dunia kangouw, Ya! Kwan An-ki juga bersedia mengangkatnya sebagai ketua Ceng-bok tong!"

Mendengar kata-kata itu, Wi Siau Po langsung mencelat bangun, dia menggoyangkan tangannya berulang kali.

"Tidak bisa! Tidak bisa! Apa itu hiocu atau joucu? Aku tidak sudi!"

Katanya, Sebetulnya hiocu berarti seorang ketua dari suatu seksi dalam sebuah perkumpulan namun dalam kata-kata sehari-harinya hiocu juga bisa berarti tuan yang harum itulah sebabnya Siau Po yang bengal mengatakan hiocu atau joucu "tuan yang bau."

Sepasang mata Tan Kin-lam mendelik lebar-lebar dan mimik wajahnya menyiratkan kewibawaan.

"Apa yang kau ocehkan?"

Bentaknya, Siau Po pun tidak berani mengatakan apa-apa lagi. Tan Kin-lam melanjutkan kata-katanya kembali.

"Bocah ini telah membunuh Go Pay. Hal ini tidak pernah terlintas dalam bayangan kita, namun ternyata toh terjadi. Oleh karena itu, sudah sepantasnya kita menepati sumpah yang pernah kita ucapkan di hadapan abu penghormatan toako Ban In-liong! Bukankah kita telah bersumpah akan mengangkat orang yang berhasil membunuh Go Pay sebagai hiocu Ceng-bok tong? Justru karena ingin mengangkatnya sebagai hiocu, aku baru menerimanya sebagai murid. Jadi bukan sebaliknya, Anak ini mempunyai bakat besar, juga cerdik. Di kemudian hari entah berapa banyak kesulitan yang harus kuhadapi karenanya!"

"Cong tocu, kami semua mengerti maksud hati tocu yang memikirkan kepentingan kita semua,"

Kata Pui Tay-cong ketua dari Hong Sun-tong.

"Bukankah Cong tocu tadinya tidak mengenal saudara Wi, sebagaimana halnya saudara Wi juga tidak mengenal Cong tocu? Kedua pihak tidak ada hubungan apa-apa sampai bisa bertemu dihari ini. Memang sikap Cong tocu yang lain dari biasanya cukup mengejutkan, namun kami mengerti semua ini demi kepentingan kita bersama. Karena itu pula harap Cong tocu tidak perlu khawatir, meskipun usia saudara Wi masih sangat muda, tapi kami yakin dia tidak akan melakukan sesuatu yang tidak diharapkan! Apalagi dengan adanya Lie toako dan Kwan hucu yang membantu sekuat tenaga."

Tan Kin-lam menganggukkan kepalanya.

"Kita memilih Wi Siau-po sebagai hiocu hanya untuk mewujudkan sumpah yang telah kita ikrarkan di hadapan arwah Ban InLiong toako,"

Katanya kemudian "Apakah saudara Wi bisa menjadi hiocu untuk selamanya atau hanya untuk satu kali saja, masalahnya lain lagi.

Yang penting kita telah memenuhi sumpah yang telah kita ucapkan, seandainya besok dia berani main gila atau menghalang-halangi pekerjaan kita yang ingin mengusir bangsa Boan, kita boleh segera memecatnya tanpa ragu-ragu!

Lie toako, saudara Kwan, aku harap kalian bersedia membantunya.

Andaikata anak ini melakukan sesuatu yang tidak benar, jangan segan-segan meIaporkannya kepadaku, jangan kalian menutupinya!"

Lie Lek-si dan Kwan An-ki menganggukkan kepalanya serentak.

"Baik, Cong tocu,"

Sahut mereka bersamaan, Tan Kin-lam memutar tubuhnya kemudian menjatuhkan diri berlutut di depan meja abu. Dia mengambil tiga batang hio yang kemudian disulutnya lalu diangkatnya tinggi ke atas.

"Sebawahan Tan Kin-lam dengan ini bersumpah di hadapan toako Ban In-liong, apabila murid kami yang baru Wi Siau-po melanggar aturan serta kurang bijaksana dalam mengambil tindakan, kami akan segera memecatnya, Kami mengangkatnya sebagai hiocu karena ingin mewujudkan sumpah yang telah kami ucapkan. Apabila Tan Kin-lam tidak mentaati sumpah itu, biarlah arwah Ban toako menurunkan kutukannya kepadaku!"

Selesai berkata, Tan Kin-lam segera menyembah beberapa kali lalu menancapkan hio di tempat dupa sembahyang dan menganggukkan kepalanya lagi sebanyak belasan kali.

"Dengan berbuat demikian, Cong tocu telah menunjukkan kebijaksanaannya yang tidak mementingkan diri sendiri, Kami semua menjunjung tinggi Cong tocu!"

Terdengar suara banyak orang mengomentari. Siau Po justru mempunyai pandangan yang berbeda, Diam-diam dia berpikir dalam hati.

"Bagus! Aku kira kalian bermaksud baik mengangkat aku sebagai hiocu, tidak tahunya kalian hanya menjadikan aku jembatan penyeberangan. Apabila kalian sudah sampai di tujuan, jembatan pun akan dirobohkan kembali. Hari ini kalian mengangkat aku sebagai hiocu yang untuk mewujudkan sumpah yang telah kalian ucapkan, besok kalian bisa mencari seribu satu alasan untukk memecatku. Yang penting kalian tidak mengingkari sumpah kalian sendiri, dan pada waktu itu, mungkin Lie toako atau Kwan hucu yang akan menggantikan kedudukanku. Dengan demikian kalian tidak menyalahi aturan!"

Berpikir sampai di sini, dia segera berkata dengan suara lantang.

"Suhu, aku tidak mau menjadi hiocu!"

Suaranya memang lantang, namun menyiratkan ketenangan sehingga Tan Kin-lam menatap muridnya itu dengan heran. Bahkan orang yang ada di dalam ruangan itu ikut menjadi bingung.

"Apa katamu?"

Tanya Tan Kin-Iam.

"Aku tidak bisa menjadi hiocu!"

Sahut Siau Po tegas.

"Aku juga tidak menginginkan jabatan tersebut !"

"Kalau merasa tidak sanggup, kau bisa belajar perlahan-lahan,"

Kata Tan Kin-lam "Aku dapat membantumu, demikian juga saudara Lie serta saudara Kwan.

Mereka telah memberikan kesanggupannya untuk membantumu, jabatan hiocu dari Tian-te hwe adalah sebuah kedudukan yang tinggi, Mengapa kau malah menolaknya?"

Siau Po menggelengkan kepalanya.

"Aku tidak suka kedudukan itu, Sebab hari ini aku diangkat menjadi hiocu, mungkin besok kau akan memecatku. Daripada mendapat malu, lebih baik aku tolak jabatan itu, tanpa kedudukan, aku dapat melakukan apa pun yang aku inginkan Begitu aku menjadi hiocu, aku seumpama telur yang didatangi setiap orang untuk dicari tulangnya! DaIam sekejap mata telur itu akan pecah dan habislah semuanya!"

"Telur ayam kan tidak ada tulangnya?"

Tanya Tan Kin-lam.

"Biar pun orang mencarinya, tetap saja mereka tidak bisa menemukannya."

"Tapi telur dapat menetas menjadi anak ayam,"

Sahut Siau Po.

"Sedangkan anak ayam pasti ada tulangnya, Taruhlah tidak ada tulangnya, tapi asal orang mengambil telur itu lalu dipecahkan dan bagian merah serta putih telurnya diaduk menjadi satu, maka habislah sudah!"

Para hadirin menjadi tertawa mendengarkan kata-katanya yang lucu. Tan Kin-lam tetap bersikap sabar.

"Kau kira usaha kami perkumpulan Tian-te hwe seperti permainan anak-anak? Asal kau tidak melakukan kesalahan, setiap orang akan menghormatimu sebagai seorang ketua yang bijaksana dari Ceng-bok tong. Siapa yang berani memperlakukan kau dengan kurang hormat? Taruh kata mereka tidak menghargai kau sebagai seorang ketua, mereka tetap akan menghormati kau sebagai muridku !"

Siau Po merenung sejenak.

"Baiklah!"

Kata bocah itu akhirnya.

"Sebaiknya sekarang kita bicara dulu secara terus-terang. Kalau di kemudian hari kalian tidak menyukai aku menjadi ketua hiocu Ceng-bok tong, aku harap kalian bicara sejujurnya, aku akan mengundurkan diri secara sukarela, Aku tidak mau kalau kalian sampai sembarangan menuduh aku berbuat kesalahan, atau menyeret aku tanpa alasan yang pasti lalu memenggal kepalaku!"

Tan Kin-lam mengernyitkan keningnya.

"Kau benar-benar suka saling tawar. Seperti apa yang telah kukatakan sebelumnya, Asal kau tidak berbuat kesalahan, siapa yang akan menuduhmu sembarangan atau memenggal kepalamu? justru sebaliknya, apabila bangsa Tatcu menghajar atau membunuhmu, maka seluruh anggota perkumpulan Tiante hwe akan membelamu dan membalaskan sakit hatimu! Siau Po, seorang laki-laki sejati, berani berbuat harus berani bertanggung jawab. Demi keadilan, dia tidak akan mundur atau menyerah begitu saja. Sekali kau masuk menjadi anggota Tian-te hwe, maka kau harus berani dan pantang mundur demi membela kepentingan negara, Siapa yang hanya mengutamakan dirinya pribadi, apakah pantas dia disebut orang gagah?"

Mendengar diungkitnya soal orang gagah, hati Siau Po jadi tertarik. Dia teringat tukang dongeng yang sering mengisahkan cerita-cerita tentang orang-orang gagah di zaman dulu.

"Benar sekali, suhu! Paling-paling juga batok kepalaku ini dipenggal, toh delapan belas tahun kemudian aku akan menjelma lagi menjadi manusia."

Kata-kata yang diucapkan Siau Po biasanya dicetuskan oleh orang yang sedang digiring algojo menuju tiang gantungan atau akan menjalani hukuman mati dengan kepalanya dipenggal orang-orang dalam ruangan itu langsung memberikan sambutan meriah atas ucapannya itu!

Tan Kin-lam juga ikut tertawa dan berkata.

"Menjadi hiocu adalah suatu hal yang menggembirakan, mana dapat disamakan dengan orang yang akan menjalani hukuman mati? Lihatlah ke sembilan hiocu yang lain, mereka menjalankan tugas dengan senang hati, Kau seharusnya mencontoh mereka!"

Kwan An-ki segera menghampiri Siau Po lalu memberi hormat dengan membungkukkan tubuhnya rendah-rendah.

"Sebawahan Kwan An-ki menghadap hiocu!"

Katanya. Mendapat penghormatan seperti itu, Siau Po tidak menolak atau membalas. Dia langsung menoleh kepada Tan Kin-lam sambil bertanya.

"Suhu, apa yang harus tecu lakukan?"

"Kau harus membalas hormat!"

Sahut Tan Kin-lam.

"Kwan hucu, apa kabar?"

Kata si bocah sambil merangkapkan kedua tangannya menjura, Tan Kin-lam tersenyum mendengar ucapan Siau Po.

"Sebutan Kwan hucu hanya panggilan umum karena itulah julukannya saudara Kwan, Tapi di saat melangsungkan upacara seperti ini, kau harus memanggilnya Kwan jiko!"

Siau Po menurut, sekali lagi dia menjura sambil berkata.

"Kwan jiko, apa kabar?"

Kwan An-ki hanya tersenyurn, sementara itu, Lie Lek-si menyesal karena telah didahului oleh Kwan An-ki.

Bergegas dia juga maju ke depan dan memberi hormat kepada hiocu barunya itu.

Setelahnya, sembilan hiocu yang lain pun melakukan hal yang sama.

Selesai upacara, mereka duduk berkumpul di aula pertemuan.

Cong tocu dan sepuluh hiocu dari perkumpulan itu pun terlibat pembicaraan yang berkaitan dengan urusan partai.

Ceng-Bok tong adalah seksi pertama dari kelima hou-tong atau tong belakang, Dan terhitung bagian keenam dalam perkumpulan Tian-te hwe itulah sebabnya Siau Po duduk di kursi deretan pertama sebelah kanan, Dan rasanya lucu melihat di sebelahnya duduk orang yang sudah tua dan janggutnya sudah memutih semua.

Lie Lek-si, Kwan An-ki dan yang lainnya segera mengundurkan diri.

Di dalam ruangan itu hanya tinggal Tan Kin-lam dan sepuluh orang hiocu dari sepuluh bagian perkumpulan Tian-te-hwe.

Di tengah ruangan ada sebuah kursi kosong, Tan Kin-lam menunjuk ke arah kursi itu dan berkata kepada Siau Po.

"Kursi itu adalah kursi kedudukan Cu Sam thaycu!"

Dia menunjuk lagi ke kursi kosong lainnya yang terletak di sebelah kursi pertama tadi.

"Dan itulah kursi kedudukan yang disediakan bagi The ongya dari Taiwan, Kalau kita sedang mengadakan rapat dan keduanya tidak dapat hadir, maka kedua kursi itu dibiarkan kosong.,."

Tan Kin-Iam menghentikan kata-katanya sejenak kemudian baru melanjutkan kembali.

"Saudara-saudara sekalian, silahkan saudara sekalian melaporkan dahulu segala sesuatu yang menyangkut wilayah kalian masing-masing."

Ada baiknya kita jelaskan terlebih dahulu mengenai perkumpulan Tian-te hwe.

Kelima tong di depan yaitu Lian-hoa tong mempunyai kekuasaan di propinsi Hokkian, Tong kedua, yakni Hong-sun tong berkuasa di propinsi Kwitang, Tong ketiga, Ki-hou tong menguasai propinsi Kwisai, Tong ke-empat, Cam-tay tong bermarkas di dua propinsi, yakni Ouwlam dan Ouwpak, sedangkan tong kelima, Hong-hoa tong menguasai propinsi Ciatkang.

Kemudian kelima houtong, yakni tong belakang, Ceng-bok tong berkuasa di Kangsou, Cik-hwe tong di Kwiciu, Si-kim tong di Sicuan, Hian-sui tong di Inlam dan Oey-tou tong di Tiong ciu, Hoalam, Pertama-tama hiocu Coa tek-tiong yang melaporkan usaha mereka di Hokkian, kemudian menyusul hiocu Pui Tay-hong dari Kwitang.

Tidak tertarik hati Siau Po mendengarkan laporan itu, kesatu karena dia memang tidak mengerti kedua dia juga tidak tertarik terhadap masalah itu.

Dia lebih senang membicarakan soal perjudian Sampai giliran hiocu keempat yakni Lim Eng-tiau dari Hian-sui tong, baru hatinya tergerak.

Lim Eng-tiau memberikan laporan dengan penuh nafsu sekali, Kadang-kadang dia malah menyelipkan umpatan serta cacian, itulah sebabnya Siau Po tambah tertarik mendengarkan kata-katanya.

"Go Sam-kui, penjahat besar itu, dia sangat menentang kita bangsa Han. Dia memusuhi kita di mana saja. semenjak tahun yang lalu sampai sekarang, belum ada sepuluh bulan namanya, sudah ada seratus tujuh puluh sembilan anggota perkumpulan kita yang mati di tangannya. Dia benar-benar telur busuk, induk kambing! Dialah musuh dari keturunanku! Tiga kali berusaha membunuhnya secara diam-diam, selalu aku menemui kegagalan. Dia mempunyai banyak pembantu yang lihay. Terakhir malah aku sendiri yang turun tangan, celakanya bukan hanya tidak berhasil! bahkan lengan kiriku jadi kutung! Manusia itu benar-benar raja kejahatan. Pada suatu hari nanti, pasti dia beserta seluruh keturunannya akan jatuh dalam genggaman kita, Pada waktu itu, aku ingin menghancur leburkan seluruh tubuhnya!"

Mendengar disebutnya nama Go Sam-kui, para hiocu yang lain juga ikut marah dan panas, Siau Po sendiri pernah mendengar nama Go Sam-kui ketika di Yangciu, Dialah pengkhianat bangsa Han yang telah memimpin pasukan Boanciu masuk ke Tiong-goan untuk menyerang, kemudian merampas kerajaan.

Go Sam-kui juga si raja jahat yang menjadi biang keladi pembunuhan di Yangciu, Entah berapa banyak rakyat yang dikorbankannya di saat itu.

Berkat jasanya ini pula, dia diangkat menjadi Peng-seng ong, raja muda yang menguasai wilayah barat, tepatnya di propinsi Inlam.

Setiap menyebut nama Go Sam-kui, rakyat bangsa Han pasti akan mengepalkan tinjunya dan mengkertakkan gigi erat-erat karena mereka membenci orang itu sampai ke tulang sumsum.

Karena itu, Siau Po juga tidak heran mendengar hiocu Hian-sui tong memaki dengan demikian hebatnya.

Dipelopori oleh hiocu Lim Eng-tiau, kedelapan hiocu yang lainnya segera membuka suara ikut mencaci Go Sam-kui.

Untung saja di sana terdapat Tan Kin-lam, kalau tidak, mungkin mereka sudah mengeluarkan segala macam cacian terkotor yang pernah ada.

Siau Po senang sekali mendengar caci maki mereka, baginya semua kata-kata itu adalah makanan sehari-hari.

Tanpa dapat mempertahankan diri lagi, dia ikut memaki.

Akhirnya gaduhlah ruangan itu karena caci maki yang keras dan saling sahut menyahut.

"Cukup! Cukup!"

Seru Tan Kin-lam sambil mengibaskan tangannya berkali-kali.

"Di seluruh negara, bangsa Han setiap hari mencaci dan mengutuk Go Sam-kui, tapi sampai hari ini dia masih tetap sehat wal "

Afiat dan bahkan masih menjadi seorang raja muda, sedangkan percobaan pembunuhan atas dirinya selalu gagal!"

Mendengar kata-kata sang ketua, Lie Si-kay dari Hong-hoa tong yang tubuhnya pendek kecil dan agak pendiam ikut memberikan pendapatnya.

"Menurut pandanganku yang rendah, seandainya kita menyerang ke Inlam dan menghabisi Go Sam-kui, tindakan itu masih belum berarti banyak bagi perkumpulan kita, apalagi orang ini adalah pengkhianat besar bangsa, satu kali bacokan terlalu enak baginya.Dia pantas menjalani berbagai siksaan berat seperti yang dialami tawanantawanan yang pernah jatuh ke tangannya!"

Tan Kin-lam menganggukkan kepalanya.

"Hiocu memang benar, Sekarang, dapatkah hiocu memberikan pendapatmu yang berharga?"

"Urusan ini besar sekali, Lebih baik kita rundingkan bersama-sama. Aku sendiri tidak mempunyai pandangan apa-apa. Cong tocu saja yang memberikan petunjuk!"

"Memang urusan ini bukan main besamya, maka benarlah bahwa kita harus merundingkannya bersama..."

Kata Tan Kin-lam.

"Siapa juga tahu, pikiran satu orang pendek, pikiran dua orang panjang. sedangkan jumlah kita ada sepuluh, ch... bukan, sebelas! Tentu kita bisa memikirkan sebuah akal yang baik."

Tan Kin-lam menghentikan kata-katanya sejenak, pandangannya mengedarkan orang-orang yang berkumpul dalam ruangan itu, baru dia kemudian melanjutkan kembali.

"Kita ingin membunuh Go Sam-kui, tujuannya bukan hanya untuk membalas sakit hati para saudara kita, tetapi untuk rakyat yang tercekam olehnya! Kedudukan Go Samkui di Inlam kuat sekali Mungkin Tian-te hwe kita tidak sanggup membasminya...."

"Biar bagaimanapun kita toh harus berusaha menghancurkannya!"

Kata Lim Eng-tiau.

"Kita bisa mengadu jiwa dengannya!"

"Sampai sebegitu jauh, buktinya kau belum berhasil, bahkan kau kehilangan sebelah lenganmu!"

Tukas Coa Tek-tiong.

"Apakah kau sengaja menghina aku atau ingin menertawakan kegagalanku?"

Tanya Lim Eng-tiau dengan wajah kurang senang.

"Aku hanya bercanda,"

Sahut Coa Tek-tiong yang sadar telah kelepasan bicara, dia segera menoleh kepada Tan Kin-lam dengan bibir tersenyum.

"Cong tocu, harap maafkan sikapku barusan."

Kin-lam mengetahui bahwa hati Lim Eng-tiau masih panas mendengar ucapan Coa Tek-tiong. Dia tidak ingin urusan ini jadi berkepanjangan.

"Saudara Lim,"

Katanya dengan nada sabar.

"Membunuh Go Sam-kui adalah cita-cita setiap bangsa Han. Orang terus berharap bahkan sampai memimpikannya, Jadi bukan berarti hanya tugasmu seorang saja. Kalau bicara terus terang, kita semua juga belum tentu bisa berhasil membunuhnya, namun kita toh tidak boleh putus asa begitu saja!"

Kemarahan dalam hati Lim Eng-tiau sirap mendengar ucapan Cong tocunya.

"Apa yang Cong tocu katakan memang benar!"

Terdengar Tan Kin-lam berkata kembali.

"Untuk membunuh Go Sam-kui rasanya kita harus bekerja sama dengan partai persilatan lainnya, dengan demikian baru kita bisa mempunyai kekuatan yang besar. Di Inlam, Go Sam-kui mempunyai pasukan perang yang jumlahnya laksaan jiwa, belum lagi pendamping-pendampingnya yang berilmu tinggi, inilah yang membuat kita menghadapi kesulitan untuk membasminya..."

Terutama Siaulim pai dan Butong pai, kita harus berupaya untuk mengajak mereka bekerja sama, karena selain murid-murid mereka banyak, kepandaian mereka juga tinggi-tinggi!"

Tukas Coa Tek-tiong.

"Aku ragu kalau pihak Siaulim pai bersedia bekerja sama dengan kita, menurut apa yang kuketahui ketua Siaulim pai, yakni Beng Seng taisu, lebih mengutamakan soal agama daripada urusan politik..."

Kata Yau Pit-tat, hiocu dari Oey-tou tong.

"Sejak beberapa tahun yang lalu, dia malah mengeluarkan peraturan baru. Para murid kuil itu, baik yang hwesio atau yang preman, tidak boleh sembarangan terjun ke dunia kangouw, Hal ini disebabkan kekhawatiran si taisu tua itu bahwa akan terbit keonaran yang tidak diinginkan, Karena itu, aku rasa tidak mudah bagi kita untuk mengharapkan dukungannya."

"Pihak Butong juga bersikap hampir tidak berbeda dengan Siaulim pai,"

Kata Ouw Tek-ti, hiocu dari Cam-tay tong di wilayah Ouwkong.

"In Gan tojin, pengurus kuil Cin-bu-koan, sudah lama tidak akur dengan kakaknya, In Ho tojin, Di antara murid kedua belah pihak pun seperti ada ganjalan apa-apa. Aku khawatir..."

Hiocu itu tidak dapat melanjutkan kata-katanya, tapi semua orang sudah maklum memang sulit mengharapkan kerja sama dari pihak Siau lim pai maupun Bu tong pai.

"Kalau memang sulit mengharapkan kerja sama dari kedua partai itu, tidak ada salahnya kalau kita bergerak sendiri saja!"

Kata Lim Eng-tiau.

"Biar bagaimana, kita tidak boleh terburu nafsu..."

Tukas Tan Kin-lam.

"Kita toh tahu bahwa di dunia ini, partai persilatan tidak terdiri dari Siaulim pai dan Butong pai saja."

Mendengar kata-kata ketua mereka, beberapa hiocu langsung mengajukan nama Gobi pai dan Kaypang, Terutama Kaypang yang terkenal setia kawan serta jujur.

"Pokoknya, kalau kita belum mendapat kepastian, sebaiknya kita jangan sembarangan membicarakan urusan, hal tersebut merupakan rahasia yang harus kita jaga baik-baik!"

Kata Tan Kin-lam.

"BetuI!"

Sahut Pui Tay-hong.

"Jangan kita memaksakan kehendak dan jangan sampai kita kena batunya atau mendapat malu!"

"Yang penting kita harus bisa menyimpan rahasia."

Sekali lagi Tan Kin-Iam menegaskan "Kalau rahasia kita bocor, Go Sam-kui pasti akan membuat penjagaan yang ketat..."

"Karena itu, mulai sekarang kita tidak boleh lancang. Untuk mendapatkan kerja sama dari pihak lain, kita tidak boleh gegabah, Harus ada persetujuan terlebih dahulu dari Cong tocu, jangan sekali-sekali mengambil keputusan sendiri!"

Kata Lie Si-kay.

"ltu benar!"

Seru beberapa orang lainnya sepakat.

"Sekarang kita belum bisa mengambil keputusan, karena itu, tiga bulan kemudian kita berkumpul lagi di Tiangsi, OuwIam, dan kau, Siau Po, kau kembalikan ke istana, Urusan Ceng-Bok tong boleh diserahkan saja kepada Lie toako dan Kwan hucu. Dalam rapat di Tiangsi kau juga tidak usah hadir,"

Kata Tan Kin-lam selanjutnya. "Baik,"

Sahut sang murid. Tan Kin-lam menarik tangan Siau Po kemudian mengajaknya masuk ke dalam kamar tadi.

"Kau dengar kata-kataku ini,"

Katanya kepada Siau Po.

"Di dalam kota Peking, ada seorang kakek penjual koyo (obat tempel) di sebuah tempat yang bernama Thiankio, orang itu she Ci. Kalau orang lain menjual koyo berwarna hitam, koyonya justru berwarna separuh hijau dan separuh lagi merah seandainya hendak menghubungi aku, kau pergi saja ke Thiankio dan temui si Ci itu. Agar tidak terjadi kesalahan dan dapat saling percaya, ada pembicaraan yang telah diatur begini. Kau harus menanyakan kepada dia, apakah dia menjual koyo pembasmi racun dan obat yang dapat membuat mata buta menjadi melek kembali. Nanti dia akan menjawab.

"obatnya ada, tapi harganya mahal sekali, YAKNI TIGA TAIL UANG EMAS DAN TIGA TAIL UANG PERAK!"

Kau tawar, apakah dia menjualnya dengan harga lima tail uang emas dan lima tail uang perak, Setelah itu dia pasti tahu siapa dirimu."

Hati Siau Po jadi tertarik Dia tertawa lebar "Orang minta harga tiga tail, kita malah menawar lima tail, di dunia ini mana ada peraturan seperti itu?"

"ltu merupakan isyarat kita, mendengar kau menawar lebih tinggi, dia tentu akan menanyakan apa alasannya, Kau harus mengatakan bahwa tawaran itu sama sekali tidak mahal. Malah kalau mata yang buta bisa melek kembali, kau bersedia menjadi kerbau atau kuda baginya. Nanti dia akan berkata.

"Bumi bergetar, tanjakan tinggi dan parit di gunung indah."

Dan kau harus menjawab.

"Pintu menghadap laut besar, tiga sungai mengalir menjadi satu laksaan tahun lamanya."

Dia akan bertanya lagi.

"Di sisi paseban bunga merah, di ruangan yang mana?"

Kau harus menjawab.

"Ruang kayu hijau, yakni Ceng-bok tong."

Kemudian dia tentu bertanya lagi "Berapa batang hio yang disulut dalam ruangan itu?"

Kau jawab.

"Lima batang hio."

Lima batang hio artinya kelima hiocu. Dalam perkumpulan kedudukanmu jauh lebih tinggi daripadanya. Karena itu, bila ada urusan apa-apa, kau boleh perintahkan dia untuk melaksanakannya."

"Siau Po mengingat baik-baik semua tanya jawab yang aneh itu. Kin-lam juga mengujinya beberapa kali sampai dia hapal betul."

"Meskipun orang tua she Ci itu kedudukannya rendah, tapi kepandaiannya justru baik sekali, Karena itu, jangan sekali-sekali kau bersikap kurang ajar kepadanya!"

"Baik, suhu!"

Sahut Siau Po. Kin Lam menerangkan beberapa teori ilmu silat yang harus dilatih oleh Siau Po. Kemudian baru dia berkata kembali.

"Siau Po, kita mempunyai tugas masing-masing yang harus dilaksanakan. Karena itu, kita tidak dapat berkumpul lama-Iama. Nanti sesampai di istana, kau boleh melaporkan bahwa kau telah diculik para penjahat, kemudian di malam hari kau berhasil meloloskan diri dengan membunuh penjagaan. Juga kau mengatakan boleh bahwa mereka datang ke tempat di mana kau ditahan, yakni tempat ini. Kepala Go Pay akan kupendam di kebun sayur belakang rumah ini. Kau boleh gali dan ambil kepala itu sebagai bukti. Dengan demikian kau tidak akan dicurigai."

Siau Po menganggukkan kepalanya.

"Bagaimana dengan suhu dan yang lainnya? Apakah suhu ingin menyingkir dari tempat ini?"

Tan Kin-lam mengangguk "Kalau kau sudah pergi, kami pun akan berlalu dari sini, kau tidak perlu khawatir!"

Tan Kin-lam membelai kepala muridnya itu.

"Siau Po, aku harap kau akan menjadi anak yang baik. Bila ada waktu luang, aku akan datang ke kota raja dan mengajarkan ilmu silat kepadamu."

Siau Po mengangguk "Ya, Suhu,"

Katanya.

"Bagus, Nak. Pergilah, Kau harus berhati-hati, Bangsa Tatcu sangat licik, meskipun otakmu cerdas sekali, tapi kau masih kurang pengalaman."

"Suhu!"

Panggil Siau Po sambil menundukkan kepalanya.

"Sebetulnya aku tidak kerasan lama-lama di istana, kapan kiranya aku bisa ikut suhu mengembara?"

Tan Kin-lam memperhatikan muridnya lekat-lekat.

"Sabarlah kau untuk beberapa tahun. Berusahalah untuk membuat jasa bagi perkumpulan kita, Nanti setelah kau agak dewasa di mana suaramu sudah pecah dan kumismu mulai tumbuh, tentu kau tidak dapat menyamar sebagai thay-kam lagi, itulah saatnya kau meninggalkan istana!" Siau Po juga memperhatikan gurunya lekat-lekat, diam-diam dia berpikir dalam hati.

"Baiklah, aku akan berdiam di dalam istana saja, di sana aku bebas melakukan apa pun yang aku suka, kalian toh tidak mungkin mengetahuinya. Dengan demikian, kalian juga tidak menemukan alasan untuk memecat aku sebagai hiocu. Setelah lewat beberapa tahun, kepandaianku juga akan bertambah tinggi. Kalau aku sudah lihay, kalian belum tentu berani menentangku lagi!"

Oleh karena itu, pikirannya yang tadi gundah menjadi gembira.

Sebelum berangkat, Siau Po menemui Mau Sip-pat untuk mengucapkan selamat berpisah.

Siau Po tidak menceritakan apa-apa, meskipun Mau Sip-pat banyak bertanya.

LakiIaki itu tidak tahu kalau adik angkatnya sudah menjadi hiocu Ceng-bok tong, bahkan diterima sebagai murid oleh Tan Kin-lam.

Hatinya prihatin sekali.

Di samping itu, Siau Po juga telah mendapatkan semua barangnya kembali, juga pisau belatinya yang luar biasa tajamnya itu, Ketika ia akan berangkat, Siau Po diberikan seekor kuda dan diantarkan oleh Tan Kin-lam sampai di depan pintu.

sedangkan Kwan An-ki, Lie Lek-si serta yang lainnya mengantar sampai sejauh tiga li.

Siau Po menanyakan sampai jelas jalan menuju kota raja, Kemudian dia melarikan kudanya dengan cepat ke tempat tujuannya itu, Ketika dia sampai dikota raja, hari sudah menjelang malam, Tanpa menunda waktu lagi, dia menuju istana dan menghadap kaisar Kong Hi.

Kaisar Kong Hi telah menerima laporan dari anak buahnya bahwa Siau Po diculik oleh antek-antek Go Pay.

Dia menduga bahwa thay-kam kesayangannya itu telah dicelakai oleh mereka.

Dia juga sudah menitahkan seorang jenderal, dengan membawa pasukan pergi mencari orang-orang yang bertanggung jawab atas kejadian ini.

Meskipun puluhan orang telah ditangkap dan diinterogasi, tetap saja tidak ada hasilnya.

Justru tepat di saat kaisar Kong Hi pusing memikirkan keselamatan thay-kam gadungan itu, tiba-tiba dia mendapat laporan bahwa Siau Po sudah pulang, bukan main gembiranya hati raja cilik itu.

"Lekas perintahkan dia menghadap secepatnya!"

Tidak lama kemudian, Siau Po pun menghadap dan memberi hormat kepada sang raja.

"Oh! Siau Kui cu... bagaimana kau bisa meloloskan diri dari tangan musuh?"

Tanyanya dengan nada terharu.

Siau Po telah diajari bagaimana harus berdusta, dia juga sudah memikirkan katakata yang harus diucapkannya sepanjang perjalanan.

Karena itu dia tidak mendapat kesulitan sedikit pun dalam mengisahkannya.

Dia menceritakan bagaimana dia ditawan oleh pihak musuh, bagaimana dia dibawa dengan dimasukkan ke dalam sebuah drum lalu dijejali buah tho.

Dia juga menceritakan bahwa dia akan dibunuh untuk menjadi korban, bahkan meja sembahyang sudah disediakan.

Sampai akhirnya ada salah seorang dari rombongan penjahat itu yang mengusulkan agar hukumannya ditunda duIu, dia pun dikurung dalam sebuah kamar gelap.

Dia kemudian berhasil meloloskan diri setelah membunuh seorang penjaga.

Siau Po mengatakan bahwa dia bersembunyi dibalik pepohonan yang lebat sampai akhirnya dia berhasil mencuri seekor kuda dan kabur pulang ke istana dengan jalan memutar!

Cerita karangannya dikisahkan dengan bagus sehingga kaisar Kong Hi tidak curiga sedikit pun.

Bahkan kaisar Kong Hi merasa gembira sekali sehingga dia menepuk bahu thay-kam gadungan itu berkali-kali.

"Hebat kau, Siau Kui cu, Tentunya kau sudah banyak mengalami penderitaan!"

Kata raja itu.

"Tidak apa, Sri Baginda,"

Sahut bocah yang cerdik itu.

"Sri Baginda, antek-anteknya Go Pay banyak sekali, Mereka harus dicari dan ditumpas, Hamba tahu di mana letaknya sarang persembunyian mereka. Bagaimana kalau sekarang juga kita membawa pasukan untuk menyerang dan sekaligus menumpas mereka?"

"Bagus!"

Seru kaisar Kong Hi.

"Lekas kau ajak So Ngo-tu dan pimpin lima ribu tentara berkuda untuk menawan para pemberontak itu!"

Siau Po menerima baik perintah itu.

Dia tidak beristirahat lagi.

ia segera menyuruh bawahannya menyampaikan perintah itu kepada So Ngo-tu.

setelah itu dia segera mengganti pakaiannya.

Sekejap kemudian dia sudah berjalan bersama So Ngo-tu untuk menjalankan tugas yang diberikan kaisar Tentu saja dia bertindak sebagai penunjuk jalan.

Di tengah jalan pasukan tersebut disusul oleh orang suruhannya Kong cin ong, karena pangeran itu bermaksud mengirimkan kuda Giok-ho cong yang sudah dihadiahkan kepada Siau Po.

Ketika sudah naik ke atas punggung kuda, penampilan Siau Po jadi berwibawa sekali.

Tatkala pasukan tentara itu tiba di tempat Siau Po tertawan, sarang itu sudah kosong melompong.

Namun, atas anjuran si thay-kam gadungan, So Ngo-tu memerintahkan orangnya untuk mengadakan pemeriksaan.

Kepala Go Pay digali dari dalam tanah kebun belakang, Di sana terdapat sebuah lengpai yang bertuliskan Tempat bersemayamnya arwah Yang MuIia Go Pay berpangkat Siau Po dari kerajaan Ceng yang Maha Besar.

Di sana juga terdapat beberapa batang kayu yang berukir kata-kata pujian untuk orang gagah nomor satu dari bangsa Boan, dapat dipastikan bahwa Tan Kin-Iam telah mengatur semuanya dengan seksama demi memperkuat ceritanya Siau Po.

Mereka pun kembali ke istana.

Meski tidak ada seorang tawanan pun yang berhasil didapatkan, tapi So Ngo-tu dapat menghaturkan kepalanya Go Pay serta lengpai dan beberapa batang kayu berukir huruf-huruf itu.

Kaisar Kong Hi merasa puas sekali dan menganggap panglimanya sudah berjasa besar kali ini.

"Selidikilah terus urusan ini!"

Katanya kepada So Ngo-tu.

Siau Po juga senang sekali, Apalagi membayangkan bahwa raja pun telah kena diperdaya olehnya.

Begitu masuk ke dalam kamarnya sendiri, Siau Po langsung menghitung uang yang diberikan So Ngo-tu kepadanya, jumlahnya mencapai empat puluh enam laksa enam ribu lima ratus tail perak, semestinya dia menerima jumlah yang kurang satu laksa, tapi So Ngo-tu memang ingin menyenangkan hatinya dengan mengurangi bagiannya sendiri, dan Siau Po memang senang sekali menerimanya!

Setelah menyimpan uangnya, Siau Po segera mengeluarkan kitab kecil pemberian Tan Kin-lam.

Kitab itu berisi ilmu tenaga dalam.

Dia langsung duduk bersila dengan sikap orang bersemedi.

Tapi belum sampai setengah jam, dia sudah letih dan mengantuk.

Karena itu dia pun tertidur pulas.

Keesokan paginya, setelah terjaga dari tidurnya dan membasuh muka serta mengganti pakaiannya kembali, Siau Po pun menghadap raja, Dia menyelesaikan tugas cepat-cepat.

Siang hari dia kembali ke kamarnya sendiri untuk melatih diri, Tapi, seperti juga kemarin, belum lama berlatih, dia sudah merasa capek dan tertidur Rupanya kitab ilmu tenaga dalam yang diberikan Tan Kin-lam sangat sulit dipelajari.

Untuk berhasil, orang yang mempelajarinya harus mempunyai minat, tekad serta ketekunan yang besar Siau Po cukup cerdas, minat pun ada, sayangnya ketekunannya kurang.

Ketika Siau Po terjaga kembali, hari sudah larut malam, Diam-diam ia berpikir dalam hati.

"Suhu menyuruh aku mempelajari kitab ini, tetapi isinya sama sekali tidak menarik"

Siau Po segera membalikkan halaman kitab itu.

Selain gambar orang masih terdapat banyak huruf-huruf di dalamnya, Sayangnya, Siau Po tidak bisa membaca, seandainya bisa, kata-kata dalam kitab itu tentu akan memberikan bantuan kepadanya, Akhirnya Siau Po menarik nafas panjang dan menyimpan kembali kitab itu.

Ketika menerima Siau Po sebagai murid, Tan Kin-lam melakukan satu kesalahan.

Dia tidak menanyakan apakah muridnya itu bisa membaca atau tidak.

Mungkin bukan hanya Kin Lam yang tidak terpikir sejauh itu.

Mengingat Siau Po sangat disayangi oleh Sri Baginda dan thayhou, orang lain pasti tidak mempunyai keraguan terhadapnya, sebenarnya semua penjelasan itu tidak sulit di mengerti, sayangnya Siau Po memang tidak bisa!

"Bagaimana kalau aku bertemu lagi dengan suhu kelak?"

Pikirnya sambil rebah di tempat tidur Bagaimana kalau suhu ingin melihat sampai di mana kemajuanku?

Tentu suhu akan kecewa....

Kemudian dia bangkit kembali dan mengeluarkan kitab pemberian Tan Kin-lam kemudian dia duduk bersila lagi.

Belum berapa lama rasa kantuknya sudah menyerang lagi.

Siau Po berusaha mempertahankan diri sekuatnya biarpun matanya terasa berat dan sulit diajak berkompromi.

"Aih! keluh Siau Po dalam hati.

"Suhu orangnya baik dan kepandaiannya tinggi sekali, sayang sekali pelajarannya tidak menarik sebagaimana halnya pelajaran Hay kongkong!"

Teringat akan pelajaran Hay kongkong, semangat Siau Po terbangkit kembali, cepat dia mengambil kitab ilmu silat si thay-kam tua itu.

Dia segera membukanya dan berlatih menurut gambar yang tertera dalam kitab itu.

Baru bersila tidak berapa lama, Siau Po sudah merasa ada hawa hangat yang mengalir dalam tubuhnya, diam-diam dia berkata dalam hati.

"Menurut keterangan suhu, habis berlatih hawa hangat memang akan keluar Karena kalau aku mempelajari kitab yang diberikan suhu, hawa hangat itu tidak terasa? Mengapa justru terasa begitu cepat kalau aku mempelajari ilmu si kura-kura tua?"

Siau Po juga merasa tubuhnya nyaman sekali.

Mempelajari kedua kitab tersebut, ilmu kepandaian Siau Po maju pesat, Tanpa disadarinya, dia menggabungkan kedua macam ilmu tersebut, Kalau pelajaran yang satu mengalami kesulitan, dia akan beralih kepada pelajaran yang lainnya, demikian pula sebaliknya.

Dalam waktu sembilan hari, Siau Po sudah selesai mempelajari gambar pertama dari kitab Hay kongkong, sementara itu, dia juga tetap dibantu oleh kitab dari gurunya.

Setiap kali berlatih, seluruh tubuh Siau Po pasti basah oleh keringat dan terasa nyaman sekali, Namun dia sendiri tidak menyadari kemajuan yang diperolehnya dari gabungan kedua pelajaran itu.

Semakin hari Siau Po semakin bersemangat, asal dia sudah selesai melayani Sri Baginda, dia akan mengunci diri di kamar untuk berlatih.

Setiap tanggal dua dan enam belas ada pula thay-kam yang datang mengantarkan uang perak sebesar dua ribu tail untuknya.

So Ngo-tu mengeluarkan uang yang tidak sedikit dan membagi-bagikannya kepada beberapa selir raja, thay-kam dan siwi yang berpengaruh atas nama Siau Po.

Hal ini membuat kedudukan thay-kam gadungan itu semakin kuat, dalam waktu beberapa bulan saja Siau Po sudah disukai oleh berbagai kalangan dalam istana, Di mana saja dia muncul, selalu disambut dengan ramah.

Bahkan raja sendiri juga semakin menyayanginya.

Musim gugur telah berlalu, datanglah musim dingin.

Suatu hari, di saat Siau Po selesai melayani raja, tiba-tiba dia teringat akan gurunya.

"Suhu telah berpesan, apabila aku mempunyai urusan yang ingin dibicarakan dengan suhu, aku boleh mencari si Ci, penjual koyo di Thianko, walaupun aku tidak mempunyai urusan apa-apa, tapi sekarang aku mempunyai waktu senggang, ada baiknya aku ke tempat itu. Siapa tahu suhu ada di sana! Aku harus bertemu secepatnya, agar kepandaianku mengalami kemajuan!"

Dengan membawa pikiran demikian, Siau Po keluar dari istana, Setelah jalan berputaran beberapa kali, dia mampir di sebuah kedai teh, Di sana ada tukang dongeng yang sedang bercerita, Siau Po duduk menikmati secawan teh panas sambil memasang telinga mendengarkan Kisah yang dituturkan adalah "Eng Liat-toan."

Sebetulnya Siau Po sudah sering mendengar cerita yang satu ini, tapi karena tukang dongengnya pintar mengisahkan cerita itu, perhatian Siau Po sampai terpusat penuh.

Dia terus mendengarkan dan tidak disadari bahwa hari sudah menjelang malam, dengan demikian hari itu dia tidak jadi menemui si Ci penjual koyo tersebut.

Di hari kedua kembali Siau Po keluar dari istana, tapi dia hanya berputar-putar saja, kemudian mendengarkan cerita lagi, Hari itu, pikirannya juga dilanda kebimbangan Dia merasa rindu kepada gurunya, namun dia juga khawatir dirinya akan ditegur, karena pelajarannya yang tidak mengalami kemajuan, bisa-bisa dia dipecat dari jabatannya sebagai hiocu dari Ceng-bok tong....

"Bukankah lebih enak jadi thay-kam saja?"

Pernah tersirat pikiran itu dalam benaknya, Tapi dia merasa kehidupan seperti ini tiada artinya, meskipun dia bebas melakukan apa saja.

Namun, dia juga tidak ingin menjabat sebagai seorang hiocu untuk selamanya, Dia memang ingin bertemu dengan gurunya, namun tidak ada kepentingan apa-apa yang harus dibicarakan "Buat apa aku mencari si Ci penjual koyo itu?

Kalau sampai mulutku kelepasan bicara atau membocorkan rahasia Tian-te hwe dan menimbulkan bencana bagi perkumpulan itu, celakalah aku!"

Pikirnya kemudian.

Baca Juga: Pedang Langit Dan Golok Naga 18

Baca Juga: Golok Sakti 8

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert