Eps 2 Kaki Tiga Menjangan - Chin Yung
Baca online Kaki Tiga Menjangan - Chin Yung
Cersil Kaki Tiga Menjangan - Chin Yung.
Sahut Siau Po sambil meronta dengan penasaran. Tetapi tiba-tiba dia terdiam, rupanya dia telah ditotok terlebih dahulu oleh Siau Hian cu sehingga tenaganya lemas.
"Baik, kau menyerah kali ini!"
Katanya kemudian.
Dia tahu yang digunakan oleh Siau Hian cu adalah totokan yang diajarkan Hay kongkong, tetapi dia sendiri tidak tahu cara memainkannya.
Siau Hian cu tertawa, Dia bangkit berdiri, Tiba-tiba kakinya dikait oleh Siau Po sehingga terjungkal jatuh dan terus dihantam sekali sehingga tidak dapat melakukan pembalasan.
"Nah, menyerah tidak?"
Tanya Siau Po.
"Hm!"
Siau Hian cu mendengus dingin.
Kedua tangannya langsung bergerak, Siau Po terkejut setengah mati, Dadanya terhajar Dia merasa kesakitan sehingga menjerit kemudian roboh.
Dengan demikian mereka sudah saling merobohkan Tapi seperti sebelumnya, Siau Po terpaksa mengakui keunggulan lawan, Ketika Siau Hian cu bangkit kembali, dia merasa tubuhnya sudah letih sekali Demikian pula Siau Po, dia sampai terhuyunghuyung.
"Sampai besok. Kita akan melanjutkan kembali, Biar bagaimana pun kau harus ditaklukkan!"
Siau Hian cu tertawa.
"Biar sepuluh atau seratus kali, kau tetap kalah olehku, Kalau kau memang berani, besok kau datang lagi!"
"Asal kau juga mempunyai nyali! Janji sampai mati!"
Sahut Siau Po.
"Janji sampai mati!"
Siau Hian cu mengikuti kata-katanya, Mereka pun berpisah, Sampai di kamarnya, Siau Po langsung berkata kepada si thay-kam tua.
"Kong kong, ilmu totokmu payah, Nyatanya tidak berhasil!"
"Dasar kau yang tidak becus! Pasti hari ini kau kalah lagi!"
Sahut Hay kongkong.
"Kalau aku pakai caraku sendiri, meskipun belum tentu menang, tapi mungkin tidak akan menderita kekalahan juga, justru karena memakai cara yang kau ajarkan, aku jadi ka1lh. ilmu itu terlalu sederhana, dia pun bisa!"
"Oh? Dia juga mengerti ilmu totokan? Coba kau tiru kasih aku lihat!"
"Matamu kan buta, bagaimana bisa melihat?"
Pikir Siau Po dalam hatinya. Tapi dia menyerang orang tua itu dengan jurus yang digunakan Siau Hian cu.
"Nah, begini caranya dia menyerang aku!"
"Akh! itu tipu jurus I Te-tui (Menyikut ketiak)."
"Ada lagi.!"
Kata Siau Po sambil menirukan gerak lainnya.
"ltu tipu jurus Hui In-jiu!"
"Dan ini!"
Sekali lagi Siau Po memberikan contoh.
"ltu tipu jurus To-ki Bwe (Merobohkan pohon Bwe)!"
"Rupanya semua jurus itu ada namanya,"
Pikir Siau Po dalam hati.
"Kau tentu dikalahkan dengan cara seperti ini,"
Kata Hay kongkong sambil melakukan gerakan.
"Ya,"
Sahut Siau Po mengakui. Hay kongkong menarik nafas panjang.
"ltulah jalan darah Ci Hiat-kong. Kalau begitu, guru bocah itu pasti lihay sekali!"
"Masa bodoh! pokoknya besok aku harus mengalahkannya!"
Kata Siau Po ngotot.
"Bocah itu menggunakan ilmu partai Bu Tong pai."
Hay kongkong seperti menggumam seorang diri.
"Siapa sangka di dalam istana ini, ada jago yang demikian lihay, Apa maksudnya? Sulit menebaknya... Eh, berapa kira-kira usia Siau Hian cu itu?"
"Mungkin lebih tua sekitar dua tahun dariku, kurang lebih lima enam belas tahun, tapi tubuhnya lebih tinggi...."
"Berapa lama kau berkelahi dengannya?"
Bagian 05
"Kira-kira satu jam...."
"Jangan mengoceh sembarangan! Berapa lama sebenarnya ?"
"Tidak ada satu jam, mungkin setengahnya,.,."
"Kalau aku bertanya, jangan kau jawab asal-asalan saja. Kau harus mengatakan yang sebenarnya. Dia belajar silat, kau tidak, Kalah pun tidak perlu malu, Apalagi usianya dan tubuhnya lebih besar dari kau. Tidak apa meskipun kau kalah seratus kali, yang penting akhirnya kau bisa menang! Dengan demikian lawan akan menyerah dan mengakui kau sebagai seorang enghiong!"
"Benar! Dulu Han Kho cou telah melabrak Co Pa Ong sehingga Raja Cou itu menggantung diri di sungai Ouw Kang,.,."
"Apa? Menggantung diri di sungai? Bukan membunuh diri!"
"Menggantung diri atau membunuh diri di sungai Ouw Kang sama saja! pokoknya dia kalah da membunuh diri sendiri!"
"Baiklah, sekarang aku tanya lagi, Sebenarnya berapa kali kau kalah?"
"Paling-paling cuma dua atau tiga kali!"
"Pasti empat kali."
"Yang benar-benar kalah cuma dua kali, yang dua kali aku dikelabui olehnya, tidak masuk hitungan!"
Hay kongkong tersenyum.
"Anak ini keras kepala tapi jujur,"
Pikirnya dalam hati.
"Otaknya juga cerdik sekali,"
Kemudian dia berkata.
"Kau tidak mengerti sekolah ilmu silat, Siau Hian cu pasti akan mengganggumu terus sampai kau benar-benar takluk! Tapi aku percaya dia juga baru belajar, Kau jangan takut, nanti aku ajarkan kau ilmu Tay kim na-hoat. Asal kau mengingatnya baik-baik, besok kau pasti dapat melawannya!"
Siau Po kegirangan.
"Ya, aku akan belajar sungguh-sungguh. Akan kujatuhkan dia!"
"Masih belum tentu, Nak. Tergantung dari latihanmu ilmu itu terdiri dari delapan belas jurus, dan setiap jurusnya ada tujuh delapan gerak perubahan. Tidak mungkin bisa kau pelajari dalam waktu satu hari, sekarang kau perhatikan baik-baik, begini caranya!"
Hay kongkong berdiri. Sebelah kakinya diangkat ke atas sedikit untuk memasang kuda-kuda. Kemudian kedua tangannya mulai bergerak perIahan-lahan.
"Kau perhatikan ingat baik-baik kemudian kau ikuti, Setelah kau bisa menjalankannya dengan baik, nanti aku beberkan setiap perubahannya."
Siau Po menurut, dia langsung bersilat otaknya memang cerdas sekali, ingatannya kuat Dia dapat menirukan gerakan orang tua itu. Setelah menjalankan tujuh delapan kali, dia langsung berteriak.
"Sekarang aku bisa!"
"Mari kita coba!"
Kata Hay kongkong yang langsung duduk di kursi.
"Kau boleh mulai menyerang!"
Siau Po menurut, baru tangannya bergerak, tahu-tahu bahunya telah terpegang.
"Kau belum bisa!"
Kata Hay kongkong.
"Ayo latihan lagi!"
Siau Po tertegun, tapi dia mengerti ia meneruskan latihannya, tapi ketika dia mencobanya untuk kedua kali, kembali dia gagal "Huh! Bocah tolol! Kau benar-benar kutu kecil yang bebal"
"Dasar kura-kura tua!"
Maki Siau Po dalam hati, namun dia terus berlatih, pikirannya dilanda kebingungan.
Walaupun kau berlatih tiga tahun lagi, tetap saja kau tidak dapat menghindarkan diri dari seranganku seharusnya ketika aku menyambar, kau langsung menyambuti dengan menghajar tanganku.
Sebab seranganku ini tidak dapat ditangkis, itu namanya diserang namun menyerang!"
Senang hati Siau Po memperoleh keterangan dari si orang tua.
"Begitu rupanya, nah sekarang aku akan memulai!"
Dia lantas menyerang, Dia disambar, tetapi tahu-tahu telinganya kena ditampar!
Dia menjadi terkejut dan panas hatinya dan bermaksud membalas menampar telinga si orang tua, tapi dia gagal.
Tangannya malah kena dicengkeram kemudian disentakkan sehingga tubuhnya terpelanting.
Hay kongkong tertawa terbahak-bahak.
"Dasar kutu kecil bebal, otak lembu, Nah, sekarang kau ingat baik-baik!"
Siau Po terlempar ke sudut tembok dan jatuh terbanting.
Hampir saja dia semaput.
Hatinya semakin panas, Hampir saja dia mencaci Untung saja dia masih bisa mengendalikan mulutnya, malah diam-diam dia berpikir "Betul Tipu gerakan ini bagus sekali, Aku akan mencobanya besok!"
Dia langsung merayap bangun dan terus latihan lagi.
Bocah ini memang keras kepala, Dia terus berlatih, berkali-kali dia gagal, namun dia terus mencoba, Hatinya merasa penasaran, bagaimana mungkin seorang yang sudah buta masih begitu lihay?
"Kong kong, bagaimana sebenarnya ini?
Mengapa aku tidak bisa menghindar dari seranganmu?" Hay kongkong tersenyum.
"Beberapa kali aku menyerangmu dengan perlahan Kalau aku mau, kapan saja aku bisa mencelakaimu. Biar pun belajar sepuluh tahun lagi, tetap saja kau tidak bisa menghindarkan diri dari seranganku sekarang kita kembalikan saja pada urusanmu sendiri!"
Siau Po menurut.
Dalam hatinya dia ingin sekali mengalahkan Siau Hian cu, karenanya dia lalu berlatih sungguh-sungguh.
Dia berlatih dari siang sampai sore, Hay kongkong juga melayaninya.
Malam itu Siau Po tidur dengan menahan rasa nyeri bekas pukulan dan jatuh, Tapi dia tidak menghiraukannya, sebab semua itu toh tidak membahayakan nyawanya.
Besok paginya, kembali dia pergi berjudi.
Siang harinya dia mencari Siau Hian cu, yang dia temukan dengan pakaian baru, Hatinya sengit sekali.
Lupa ia akan ajaran Hay kongkong, tanpa berpikir panjang dia menyerang bocah itu.
Sekali renggut dia berhasil mengoyak pakaian Siau Hian cu, tapi bocah itu tidak memperduIikannya, tinjunya menghajar ke pinggang Siau Po sehingga thay-kam gadungan itu menjerit-jerit kesakitan.
Tangan Siau Hian cu juga menotok paha kirinya sehingga di lain saat dia telah ditunggangi seperti seekor kuda.
"Ya, aku menyerah!"
Siau Hian cu bangkit, memberi kesempatan kepada lawannya agar dapat berdiri Siau Po memperhatikannya lekat-lekat. Dia sudah bersiap.
"Majulah!"
Tantangnya.
Siau Hian cu maju, tapi kali ini dia gagal Sebab satu jurus dari Toa Kim na-hoat membuatnya menjerit-jerit kemudian terpaksa mengaku kalah.
Bukan kepalang girangnya hati Siau Po, ini merupakan kemenangannya yang pertama, dia menjadi lupa daratan dan sombong, Dan ketika mereka bergebrak kembali.
Dia jadi kena dirobohkan.
"Celaka!"
Pikirnya dalam hati, dia pun meningkatkan kewaspadaan dan berkelahi dengan penuh perhatian.
Pada babak keempat, mereka seri.
Mereka sudah bergumul cukup lama sehingga keduanya sama-sama merasa letih, permainan pun dihentikan "Hari ini kau maju banyak sekali!"
Kata Siau Hian cu sambil tertawa. Pertempuran ini sangat menarik hati. siapakah yang mengajari kau?"
"lnilah kepandaianku sendiri,"
Sahut Siau Po berbohong.
"Selama dua hari ini aku memang sengaja menyembunyikannya, Besok-besok masih banyak kejutan yang akan kuperlihatkan kepadamu. Kau mau coba atau tidak?"
"Tentu aku suka mencobanya!"
Kata Siau Hian cu.
"Awas, jangan sampai kau berkaok-kaok mengaku kalah dan takluk kepadaku!"
"Hal itu tidak akan terjadi Besok kaulah yang akan mengaku kalah!"
Sampai di situ keduanya berpisah, Siau Po kembali ke kamarnya, pekerjaannya sekarang rutin sekali, bermain judi dan melawan Siau Hian cu.
Tanpa terasa dua bulan sudah dia menetap di istana itu, Dia mendapat berbagai pengalaman baru dan pengetahuannya pun semakin bertambah sekarang dia tahu bahwa ilmu silat Hay kongkong berasal dari Siau lim pai.
sedangkan Siau Hian cu dari Bu Tong pai.
Sementara itu, hutang kedua saudara Un semakin bertumpuk Siau Po sengaja menawarkan jasanya kepada mereka.
Rasanya kesempatannya untuk masuk ke kamar tulis raja guna mencuri kitab yang dimaksudkan Hay kongkong tidak lama lagi akan datang.
Jumlah hutang keduanya sudah mencapai dua ratus tail lebih, Belakangan mereka kalah habis-habisan.
Keduanya saling lirik sekilas, kemudian Yu To berkata kepada Siau Po.
"Saudara Kui, kami ingin membicarakan sesuatu, sudikah saudara ikut dengan kami?"
"Baik,"
Sahut Siau Po santai.
"Kalau kalian masih membutuhkan uang, katakan saja!"
Terima kasih,"
Kata Yu To. Mereka terus berjalan mengikuti Siau Po, ketiganya menuju rumah sebelah.
"Saudara Kui, kau masih begitu muda, namun hatimu mulia sekali, Sukar mencari orang baik sepertimu di zaman ini,"
Kata Yu To memuji Tentu Siau Po senang dipuji, tetapi dia tetap merendah.
"Ah, saudara hanya memuji, di antara orang sendiri tidak perlu sungkan-sungkan. Soal pinjam meminjam tidak menjadi masalah!"
Kata Siau Po sambil mengeluarkan uang sebanyak tiga puluh tail dan diserahkannya kepada kedua saudara itu.
"Kalian butuh uang? Ambillah ini!"
"Kau baik sekali, saudara, cuma hati kami jadi tidak enak,"
Kata Yu To.
"Hutang kami sudah banyak..."
"Saudara, semakin lama kau semakin maju saja, sedangkan modal kami pun sudah amblas, bahkan hutang kami menumpuk, entah sampai kapan baru kami bisa melunasinya? perasaan kami jadi bingung...."
Siau Po tersenyum.
"Hutang tidak terbayar padahal hal yang biasa, sudahlah, tak usah saudara menyebut-nyebutnya lagi."
Yu To menarik nafas panjang.
"Saudara, kau sungguh baik, jadi maksudmu, sampai kapan pun hutang kami itu tidak perlu dipikirkan?"
"Memang begitulah maksudku, Tidak apa-apa, meskipun sampai dua ratus tahun!"
"Sampai dua ratus tahun? Mana ada manusia yang umurnya sepanjang itu?"
Tukas Yu Hong sambil menoleh kepada kakaknya dan Yu To pun menganggukkan kepalanya.
"Saudara Kui, setahu kami, majikanmu itu hebat sekali!"
"Maksudmu, Hay kongkong?"
"Benar,"
Sahut Yu Hong, itulah yang mengkhawatirkan kami. Meskipun kau tidak menagih hutang itu, tapi bagaimana dengan majikanmu? Kami akan mencari akal untuk membayarnya."
Otak Siau Po bergerak cepat, pikirnya dalam hati.
"Hay kongkong memang cerdik, Kura-kura tua itu bisa memandang jauh, Entah apa yang dipikirkannya sekarang?"
Selama ini dia repot bertanding dengan Siau Hian cu, sehingga lupa urusannya mencari kitab.
"Baiklah, sekarang aku ingin mendengar apa yang akan dikatakan kedua bersaudara ini."
Karena itu pun, dia memperhatikan kedu orang di hadapannya.
"Saudara Kui, setelah berpikir sekian lama kami rasa hanya ada satu jalan, yakni jangan kau beritahukan kepada Hay kongkong mengenai hutang kami, Kami berjanji, kalau nanti menang main kami akan melunasi hutang itu."
"Kalian berdua memang kura-kura. Boleh saja kalian berjanji, tapi mana mungkin kalian bisa melunasi hutang kalian itu? Kalian toh tidak mungkin mengalahkan aku!"
Makinya dalam hati. Namun di luar dia berkata.
"Sayang sekali..."
Siau Po pura-pura menyesal "Hal itu justru sudah diketahui oleh kongkong, Majikanku itu pernah mengatakan, bahwa hutang harus dilunasi, tetapi waktunya boleh diperpanjang sedikit."
Mendengar kata-katanya, kedua saudara itu terkejut setengah mati, Mereka saling melirik sekilas. Tampaknya mereka memang takut terhadap Hay kongkong.
"Tapi, saudara muda, tidak dapatkah kau membantu kami? Begini, kalau kau menang lagi nanti, uang kemenangan itu kau serahkan kepada kongkong dan katakan sebagai cicilan hutang kami!"
"Ah! Kalian memang Iicik!"
Maki Siau Po dalam hati.
"Apakah kalian mengira aku ini bocah usia tiga tahun?"
Gerutunya lagi diam-diam.
"Caramu itu bisa juga dilakukan, tetapi apakah tidak akan menimbulkan kesulitan bagiku?"
Katanya kepada kedua saudara Un itu.
"Saudara Kui, kau memang baik sekali, Terima kasih untuk kebaikanmu itu,"
Kata kedua saudara Un dengan perasaan lapang.
"Kami tidak akan melupakan budimu untuk selamanya!"
Kata Yu Hong.
"Kalau kalian sudah mengambil keputusan seperti itu, baiklah, cuma ada satu permintaanku. Dapatkah kalian memberikan bantuan kepadaku?"
"Mudah! Mudah!"
Sahut kedua orangku serentak "Bantuan apa yang dapat kami Iakukan?"
"Begini, sudah banyak hari aku berdiam dalam istana. tetapi selama ini aku belum pernah melihat wajah Sri Baginda, Berbeda dengan kalian, sebab di dalam Gi Si Pong, kalian senantiasa melayani junjungan kita itu. Aku bermaksud meminta kalian mengajak aku melihat Sri Baginda."
Yu To dan Yu Hong terkejut sekali.
"Ini... ini"
Sikap mereka gugup sekali, Untuk sesaat mereka sampai tidak dapat mengatakan apa-apa.
"Jangan salah paham, Aku hanya ingin melihat wajah Sri Baginda, Aku bukan hendak mengajukan sesuatu, Kalau aku berada dalam Gi Si Pong, tentu aku bisa melihat beliau! Betapa puas hatiku nanti! Andaikata gagal, aku juga tidak akan menyalahkan kalian!"
Kedua saudara itu berdiam diri sejenak untuk berpikir Kemudian terdengar Yu To berkata.
"Kalau tujuan Saudara hanya untuk melihat wajah Sri Baginda, siang nanti aku akan menjemput saudara dan mengajak saudara ke Gi Si Pong, ItuIa saatnya Sri Baginda berada di kamar tulisnya untuk menulis sajak atau yang lainnya, Di saat itu lebih banyak kesempatan saudara untuk melihatnya."
Selesai berkata Yu To pun melirik ke arah saudaranya sekali lagi. Siau Po melihat sikap kedua orang itu dan diam-diam ia berkata dalam hatinya.
"Kura-kura, kalian memang banyak lagak. Mungkinkah di siang hari Sri Baginda justru tidak berada di kamar tulisnya? Tapi, apa perduliku? Tujuanku toh bukan untuk melihat Raja, tapi untuk mencuri kitab, Namun, bagaimana kalau aku bertemu dengan raja? Apa yang harus kukatakan? Kalau rahasiaku ketahuan, aku bisa dihukum mati sekeIuarga.... Kalau aku berhasil mencuri kitab itu, mungkin kongkong akan mengajarkan aku ilmu silat yang sebenarnya, Selama ini aku masih sering dikalahkan oleh Siau Hian cu."
Membawa pikiran demikian, Siau Po segera menjura kepada kedua saudara Un.
"Terima kasih, saudara sekalian, Pada dasarnya kita semua memang para budak, tetapi kalau seumur hidup kita tidak bisa melihat wajah Sri Baginda, tentu di akherat nanti kita akan dicaci maki Raja Akherat."
Sampai di situ, mereka pun berpisah.
Kedua saudara Un memenuhi janji, Baru lewat jam Bi si, mereka sudah menjemput Siau Po.
padahal waktu perjanjian masih kurang satu kentungan.
Di luar kamar, Yu Hong bersiul perlahan sebagai tanda dan Siau Po pun segera menghampirinya, kedua saudara itu memberi isyarat dengan gerakan tangan, kemudian mereka bertiga menuju ke arah barat.
Kali ini Siau Po mengingat-ingat setiap jalan yang dilaluinya, dia terasa diajak cukup jauh berjalan Tiba-tiba Yu To menghentikan langkah kakinya dan berkata perlahan.
"Sudah sampai inilah Gi Si Pong! Kau harus berhati-hati!"
"Aku mengerti,"
Sahut Siau Po.
Dua saudara Un mengajak Siau Po ke belakang, jalannya memutar.
Di situ ada sebuah pintu kecil yang kemudian mereka masuki setelah melintasi dua buah taman kecil mereka sampai di sebuah ruangan yang besar.
Di dalamnya terdapat beberapa rak besar yang penuh dengan berbagai kitab, jumlahnya mungkin mencapai ribuan jilid.
Melihat buku-buku itu, Siau Po diam-diam menarik nafas panjang, Dia merasa kagum juga bingung.
"Kalau aku memiliki buku sebanyak ini dan diharuskan membacanya. Mana ada waktu lagi untuk berjudi? Kongkong menyuruh aku mencuri sebuah kitab, tetapi kitab yang mana? Bagaimana aku mencarinya?"
Gerutunya dalam hati.
Siau Po hanya mengenal huruf angka seperti 123 dan seterusnya, sekarang dia harus mencari sebuah kitab di antara ribuan jilid, bagaimana kepalanya tidak menjadi pusing?
Rasanya dia ingin membalikkan tubuh untuk kabur dari tempat itu!
"Sebentar lagi Sri Baginda akan datang ke kamar tulisnya ini.
Dia biasa duduk di belakang meja itu,"
Bisik Yu To sambil menunjuk Siau Po memperhatikan keadaan dalam ruangan.
Di tengah-tengah ada sebuah meja besar, terbuat dari kayu mahoni dan pinggirannya dilapisi emas.
Meja itu sangat indah, dan harganya pasti mahal sekali, kecuali beberapa
Jilid buku, di atas meja juga terdapat beberapa macam peralatan tulis.
Kursinya memakai alas dan sarung yang bersulamkan naga dari benang emas.
Meskipun nyalinya besar sekali, tetapi melihat perabotan dalam kamar itu, jantung Siau Po bertebaran juga, Di dalam hati kembali dia memaki "Raja kura-kura ini, bahagia sekali hidupnya!"
"Kau bersembunyi di belakang rak buku itu,"
Kata Yu To.
"Nanti kau bisa melihat Sri Baginda raja, Selagi Sri Baginda menulis, kau jangan bersuara sedikit pun. juga jangan batuk-batuk atau berdehem, Kalau kau sampai kepergok dan Sri Baginda gusar, mungkin beliau akan memanggil para siwi (pengawal) dan kau pun akan diringkus untuk dipenggal batang lehermu!"
"Aku tahu!"
Sahut Siau Po.
"Tak nanti aku bersuara ataupun terbatuk-batuk." Kedua saudara Un segera bekerja, mereka membersihkan debu-debu dari meja dan kursi, juga menyapu lantai sehingga semuanya bertambah mengkilap, Cermin muka pun dilap sehingga menjadi terang.
"Saudara, kalau lohor ini Sri Baginda raja tidak datang, berarti hari ini beliau tidak akan datang lagi, sebentar lagi akan ada siwi yang meronda, kalau kita sampai kepergok, habislah semuanya!"
Kata Yu To.
"Aku tahu,"
Sahut Siau Po.
"Sekarang kalian boleh pergi dulu, aku akan menunggu sebentar lagi."
"Tidak bisa, Kau tentu tahu peraturan di dalam istana, bukan? Baik para thay-kam dan dayang-dayang tidak dapat sembarangan saja menghadap raja."
"Betul, saudara Kui,"
Kata Yu Hong menambahkan.
"Bukannya kami tidak suka membantumu, tapi berdiamnya kami di sini ada batas waktunya. Kami hanya boleh berada di sini selama setengah jam. Selesai menjalankan tugas, kami harus keluar lagi, jikalau kami berayal, dan kena dipergoki para siwi, setidaknya kami bisa dirotani atau beratnya dihukum mati!"
"ltu toh tidak berarti?"
Kata Siau Po seenaknya. Yu Hong membanting kaki.
"Saudara Kui, di sini kita tidak bisa main-main. Untuk melihat Sri Baginda, besok masih ada kesempatan kita datang lagi saja besok,"
"Baiklah,"
Sahut Siau Po akhirnya.
"Mari kita pergi!"
Bukan kepalang leganya hati kedua saudar Un. Mereka segera keluar dari ruangan itu sambi mendampingi Siau Po dari kanan kiri, justru pada saat itu, tiba-tiba Siau Po berkata.
"Kalian juga belum pernah melihat Raja, bukan?"
Yu Hong tertegun.
"Kau... kau... bagaimana...."
Sikapnya gugup, Sudah tentu dia ingin bertanya.
"Bagaimana kau bisa tahu?"
Tetapi belum sempat dia menyelesaikan ucapannya, Yu To sudah menukas.
"Mana mungkin kami belum pernah melihatnya ?"
Yu To lebih pandai berpura-pura.
"Sudah sering kami melihat beliau."
Siau Po tidak mau memojokkan mereka.
Dia berjanji kepada kedua saudara Un bahwa dia akan menggunakan uang kemenangannya sebagai pembayar hutang kepada Hay kongkong.
Kedua saudara itu langsung mengucapkan terima kasih berulangkali, serta mengatakan kelak mereka akan membalas budi kebaikan Siau Po.
Sekejap saja mereka sudah sampai kembali di pintu samping, Siau Po berkata.
"Lain kali kalian ajak lagi aku kemari, lihatlah peruntunganku!"
"Ya, ya!"
Sahut kedua saudara Un.
Mereka pun berpisah, Siau Po berjalan dengan cepat, setelah melintasi dua buah lorong, dia menghentikan langkah kakinya dan menolehkan kepala untuk melihat kedua saudara Un itu.
Dia bersembunyi sebentar, begitu kedua orang itu pergi jauh, dia langsung kembali lagi, tujuannya sudah pasti kamar tulis raja.
Sempat dia merasa kecewa, karena ternyata pintunya dikunci.
Untuk sesaat Siau Po tertegun.
"Pintu kamar tulis ini sudah dikunci, ternyata kedua saudara Un itu tidak berbohong, pasti barusan ada siwi yang meronda kemari, tetapi, kemana perginya mereka sekarang?"
Pikirnya dalam hati.
Siau Po memasang telinganya di depan pintu, Dia tidak mendengar suara apa pun.
Hatinya penasaran dia mengintai dari lubang kunci, tidak terlihat seorang pun di dalam kamar tulis itu.
Akhirnya dia mengeluarkan pisau belati yang digunakannya untuk membunuh Siau Kui cu.
Kepalanya melongok ke kanan kiri.
Setelah yakin tidak ada orang, dia congkelkan pisaunya ke dalam celah pintu sehingga palangnya terbuka, Dengan gesit dia membuka pintu itu dan kemudian menyelinap ke dalamnya, pintu itu pun lalu dipalang kembali Ternyata Gi Si Pong itu nama kamar tulis Raja dan di dalam tidak ada siapa-siapa.
Melihat kursi yang bersulaman indah itu, Siau Po tidak dapat menahan keinginan hatinya, Dia berjalan menghampiri kursi itu kemudian duduk di atasnya.
"Gila, Raja dapat duduk di sini, mengapa aku tidak?"
Meskipun mulutnya berkata demikian, ketika dia menghenyakkan pantatnya di atas kursi itu, jantungnya berdegup dengan kencang.
"Ah, kursi ini tidak seberapa nyaman diduduki, kalau begitu jadi Raja juga belum tentu enak,"
Pikirnya kembali.
Tidak berani dia duduk lama-lama, cepat-cepat dia mendekati rak besar dan mencari kitab Si Cap Ji cin-keng.
Namun dia menemui kesulitan, jumlah bukunya terlalu banyak, sedangkan dia tidak bisa membaca.
Dia mencari judul buku dengan huruf "Si"
Sebagai permulaan Dia menemukannya, tetapi huruf keduanya bukan Cap.
Kemudian dia mencari buku yang huruf keduanya "Cap", kembali dia menemui kegagalan sebab yang ada bukan Cap Ji tapi Cap Sha tiga belas.
Ah, dimanakah letaknya kitab itu, tanyanya berulang-ulang dalam hati, Tepat pada saat itulah dia mendengar suara langkah kaki di luar pintu.
"Celaka ada orang!"
Hatinya terkesiap.
"Bagaimana baiknya? Tidak dapat dia berlari keluar sebab pintunya hanya ada satu, cepat-cepat dia berlari kemudian bersembunyi di balik rak buku. Sekejap kemudian orang itu sudah masuk ke dalam kamar, dia tidak langsung duduk, tetapi berjalan hilir mudik, seolah sedang gelisah menunggu sesuatu. Gawat! Tentu ada siwi yang lagi meronda!"
Pikir Siau Po dalam hatinya.
"Apakah tadi ada orang yang melihat aku tusuk ke ruangan ini?"
Keringat dingin langsung membasahi kening Siau Po.
Dia sadar, kalau sampai kepergok, tamatlah riwayatnya.
Selagi orang itu berjalan mondar mandir di dalam ruaagan, tiba-tiba di luar ada seseorang yang berkata.
"Sri Baginda yang mulia, Gak siau-po datang karena ada urusan yang penting sekali. Sekarang Gak siau-po sedang menunggu di depan pintu!"
"Oh!"
Terdengar seruan terkejut Sri Baginda. Siau Po terkejut sekaligus senang. Dia ingat siapa Gak siau-po, Diam-diam dia berpikir dalam hati.
"Jelas orang di dalam ruangan ini Raja dan yang di luar Gak siau-po. Dan Gak siaupo itu orang lihay nomor satu bangsa Boanciu yang hendak dicari oleh Mau toako, Entah bagaimana tampangnya, aku harus melihatnya!"
Siau Po langsung mengintai dari tempat persembunyiannya.
sementara itu, Sri Baginda sudah memberi ijin kepada Gak Siau-po untuk masuk ke dalam, Langsung terdengar suara langkah kaki yang masuk ke dalam.
Orang itu lantas memberi hormat sambil berlutut "Go Pay menghadap Sri Baginda!"
Siau Po mengintip, Dia melihat seseorang bertubuh tinggi besar, Tidak berani dia memperhatikan lama-lama karena khawatir orang itu akan mengangkat wajahnya dan melihatnya.
"Kau menganggukkan kepala kepada Raja, sama saja kau memberi hormat kepadaku! Begini rupanya tampang tokoh nomor satu bangsa Boan ciu, apanya yang hebat!"
Makinya dalam hati.
"Cukup!"
Sementara itu terdengar suara sahutan Sri Baginda. Go Pay langsung bangun dan berkata.
"Harap Sri Baginda ketahui bahwa Suke Shasia bermaksud mengkhianati, sarannya sungguh kurang ajar, Bagaimana pun dia harus mendapat hukuman yang berat!"
"Begitu?"
Sahut Raja datar.
"Ya, Sri Baginda, Dia juga mengusulkan agar hamba ditugaskan menjaga makam kerajaan!"
"Oh, begitu,"
Sahut Raja singkat, kembali tanpa emosi.
"Oleh karena itu hamba sudah merundingkannya bersama para raja muda, para pangeran dan menteri-menteri besar yang mana akhirnya ditarik kesimpulan bahwa Suke Shasia mempunyai dua puluh empat dosa besar, termasuk berhati licik serta berniat mengkhianati dan menghina Sri Baginda. Dia harus dihukum picis bersama putra bungsunya, Suke Tan, yang menjabat sebagai menteri besar urusan negara, Dan keenam orang anak angkatnya, seorang cucu, dua orang anak saudaranya harus dihukum mati, sedangkan sanaknya Tongnia Pai-erl Hetu dan siwi Ngo Tu juga harus dihukum mati!"
Kata Go Pay kembali.
"Apakah hukuman demikian tidak terlalu berat?"
Tanya Raja. Siau Po heran mendengar suara raja itu. Diam-diam dia berkata dalam hati.
"Suara Raja seperti suara anak kecil dan mirip dengan suara Siau Hian cu, aneh sekali?"
Terdengar Go Pay berkata kembali "Sri Baginda masih terlalu muda, mungkin Sri Baginda masih kurang jelas mengenai urusan pemerintahan, Suke Shasia telah mendapat pesan terakhir dari almarhun Sri Baginda sebelumnya bahwa dia beserta hambamu yang lainnya harus membantu dalam urusan negara, seharusnya dia merasa gembira mendengar Sri Baginda sendiri yang akan memegang tampuk pimpinan.
Tetapi dia malah memberikan saran yang menghina, hatinya jahat.
Karena itu hamba mohon Sri Baginda menerima saran hamba ini agar dia segera ditawan dan dijatuhi hukuman berat, Sri Baginda baru mulai memerintah sudah sepatutnya Sri Baginda menunjukkan kewibawaan agar semua menteri merasa segan!
jikalau Suke Shasia diampuni atas kesalahannya ini, kelak di kemudian hari sulit bagi Sri Baginda untuk mengendalikan pemerintahan di negara ini, apalagi yang berani meniru perbuatan Suke Shasia itu!"
Kesal hati Siau Po mendengar suara Go Pay yang angkuh itu.
"Kura-kura tua ini sangat tidak tahu diri. Dia berani menghina Raja yang menurutnya masih muda sekali. Tetapi apakah benar Raja ini masih kecil? Tidak heran, suaranya mirip Siau Hian cu. Menarik sekali,"
Pikirnya. Kemudian dia mendengar suara Raja.
"Mungkin perbuatan Suke Shasia memang kurang tepat, tetapi dia adalah seorang menteri besar yang ditugaskan membantu kerajaan. Sama seperti kau dan menteri-menteri lainnya yang dihargai oleh mendiang Sri Baginda, Kalau baru mulai memerintah saja aku sudah menghukum mati seorang menteri besar, mungkin arwah mendiang Sri Baginda di dunia lain akan menjadi tidak senang."
Go Pay tertawa.
"Sri Baginda, ucapan Sri Baginda seperti kata-kata seorang anak kecil saja, mendiang Sri Baginda menugaskan Suke Shasia membantu pemerintahan itu artinya, dia harus baik-baik memberikan bantuan kepada Sri Baginda, tetapi dia justru sebaliknya, Dia berhati serong juga menghina Sri Baginda! Hal ini membuktikan bahwa dia tidak menghormati mendiang Sri Baginda, juga Sri Baginda sendiri !"
Habis berkata, menteri itu tertawa lebar.
"Go siau-po, apakah yang lucu sehingga kau tertawa?"
Tanya Raja, Tawa Go siau-po seperti dibuat-buat, sikapnya benar-benar tidak sopan Lagipula memang tidak ada yang lucu. Go Pay tertegun, dia baru sadar bahwa sikapnya kurang pantas.
"Ya... ya..."
Katanya bingung, perasaannya mendadak jadi tidak enak.
"Lagi pula, kalau dia sampai dihukum mati, hilanglah kharisma serta kebijaksanaan Raja yang terdahulu. Apa kata rakyat nanti apabila aku keliru menghukum seorang menteri besar? Dia dianggap banyak dosanya, tetapi mengapa mendiang Sri Baginda mau menggunakan jasanya seperti halnya engkau yang bahkan bertugas bersamanya?"
"Sri Baginda hanya ketahui satu hal, tapi tidak tahu yang lainnya, Kalau rakyat mempunyai pemikiran tersendiri biarkan saja. Hamba yakin tidak ada yang berani sembarangan berbicara, Sebenarnya, memang siapa yang berani mencela mendiang Sri Baginda? Orang yang berani berbuat demikian, memangnya punya batok kepala berapa buah?"
"Akan tetapi, kita harus ingat apa yang dicatat dalam kitab tua. yakni menjaga mulut rakyat seperti menjaga sungai yang mengalir Kalau kita sembarangan menghukum mati saja, sedangkan rakyat dilarang bicara, aku rasa bukanlah hal yang bijaksana."
Diam-diam Siau Po merasa kagum terhadap raja ini.
"Memang benar apa yang dikatakannya."
Katanya dalam hati.
"Itulah tulisan dari kitab tua zaman Beng yang paling tidak bisa dipercayai kata Go Pay kembali "
Kalau orang Han itu benar, kenapa kerajaannya bisa jatuh ke tangan, kita bangsa Boanciu, Hamba ingin menasehati Sri Baginda agar mengurangi bacaan tidak bermanfaat yang bahkan bisa membuat otak kita menjadi butek itu."
"Hm!"
Raja hanya berdehem.
"Begitu juga ketika hamba mengikuti mendiang Sri Baginda Thay Cong dan mendiang Sri Baginda menyerang ke timur serta barat, Ketika dari Kwan gwa menerjang masuk ke Kwan-lai, berapa banyak jasa besar yang telah hamba bangun, semuanya menggunakan cara kita bangsa Boanciu,"
Kata Go Pay kembali.
"Ya, jasa Siau-Po memang besar sekali, kalau tidak, mana mungkin mendiang Sri Baginda bisa menghargaimu!"
"Hambamu hanya tahu bagaimana harus setia mengikuti Sri Baginda menjalankan pemerintahan, Hamba sudah mengabdi dari zaman Thay Cong sampai Si Cou malah sampai Sri Baginda sekarang! Kita bangsa Boanciu, kita biasa melakukan apa pun seadanya, Setiap perbuatan ada pahalanya dan ada hukumannya, tergantung dari apa yang kita lakukan. Suke Shasia tidak setia, karena itu dia harus mendapat hukuman berat!"
"Sungguh jahat, Dari suaramu saja, aku tahu bahwa kaulah sendiri yang pengkhianat!"
Maki Siau Po dalam hatinya.
"Sejak tadi kau berkeras agar Suke Shasia mendapat hukuman berat, sebetulnya apa alasan utamanya ?"
Tanya Raja.
"Alasannya? Mungkin Sri Baginda menganggap aku mempunyai persoalan pribadi dengannya!"
Suara menteri itu semakin keras. Setelah itu dia malah berkata lagi.
"Hamba bekerja untuk bangsa Boanciu, usaha yang telah dibangun oleh Thay cou dan Thay cong tidak dapat disia-siakan oleh anak cucunya. Sungguh hamba tidak mengerti apa maksud pertanyaan Sri Baginda tadi?"
Siau Po terkejut setengah mati mendengar suaranya yang begitu sinis dan tajam Dia mengintai lagi, Kali ini dia dapat melihat dengan tegas.
Ternyata bukan hanya tubuhnya saja yang besar, Go Pay juga memiliki kulit wajah yang kasar.
Alisnya menjungkit ke atas, tebal tapi mengesankan kebengisan Dia berbicara dengan sepasang tangannya dikepal-kepalkan, bahkan dapat terdengar suara peletekan tulang belulangnya.
Tepat pada saat itu seorang bocah tanggung melompat turun dari kursi yang bersulaman indah itu, Ketika Siau Po menegaskan pandangan matanya, hatinya terkesiap, Mulutnya melongo dan tanpa sadar dia mengeluarkan seruan tertanam.
Sebab sekarang dia dapat melihat tegas bahwa orang itu memang Siau Hian cu yang mengajaknya berkelahi setiap hari.
Setelah pulih kesadarannya, Siau Po bermaksud melarikan diri dari tempat itu.
Tetapi sebuah ingatan melintas di benaknya.
"Siau Hian cu lebih hebat daripada aku. Apalagi saat ini ada Go Pay, si tokoh nomor satu dari bangsa Boanciu...."
Berpikir demikian, tiba-tiba Siau Po tahu apa yang harus dilakukannya, Dia mengurungkan niatnya untuk menyingkir atau bersembunyi kembali, dengan nekat dia malah melompat turun, kemudian menghambur ke depan Siau Hian cu dan menghadang Go Pay.
"Go Pay!"
Dia langsung menegur Raja Muda itu.
"Apa yang kau inginkan? Beraniberaninya kau bersikap kurang ajar terhadap Sri Baginda! jikalau kau benar berniat memukul atau membunuh beliau, kau harus langkahi dulu aku sebagai penghalang pertama!"
Go Pay terkejut dan heran.
Dia adalah seorang menteri besar, Dia juga panglima perang yang gagah.
Terhadap kaisar Kong Hi (Siau Hian cu) yang masih muda, dia berani bicara keras, Tidak ada orang lain yang ia takutkan.
Dia benci sekali kepada Suke Sashia, karena itu ia memfitnahnya sampai-sampai dia bersikap keras terhadap junjungannya itu.
Tidak terduga sama sekali olehnya bahwa tiba-tiba akan muncul seorang thay-kam cilik yang tidak dikenalnya, Begitu terkejutnya sampai-sampai dia menyurut mundur dua langkah.
Tidak jadi dia mendekati rajanya.
"Siapa kau?"
Bentaknya.
"Mengapa kau mengoceh sembarangan? Aku sedang berbicara dengan Sri Baginda, mengapa kau berani mencela seenaknya?"
Sepasang kepalan Go Pay sudah dibentang.
Sekarang kenyataan bahwa bocah cilik yang setiap hari mengadu ilmu dengan Siau Po memang Kaisar Kong Hi, raja Boan yang masih muda sekali, Nama aslinya Hian Yap.
Dia melihat Siau Kui cu tidak mengenalinya sebagai raja, sengaja dia menggunakan nama Siau Hian cu.
Dasar masih kecil, timbul gairahnya untuk bermainmain sebagaimana layaknya bocah-bocah seusianya.
Dia juga tertarik sekali kepada Siau Po.
Seperti halnya orang-orang bangsa Boanciu, kaisar Kong Hi juga senang bergulat, Dia juga telah mempelajarinya.
Sebetulnya dapat saja dia berlatih bersama para siwi, tetapi dia tidak bersemangat sebab mereka semua takut kepadanya dan selalu mengalah untuknya.
Memperoleh kemenangan dengan cara demikian tidak seru rasanya.
Sampai dia bertemu dengan Siau Kui cu yang dianggapnya lawan setimpal, Siapa sangka di dalam Gi Si Pong ini dia dapat bertemu dengan Siau Kui cu pula, Bahkan bocah itu berani menantang Go Pay demi membelanya.
Sebenarnya kaisar Kong Hi sudah tahu apa sebabnya Go Pay mendesaknya agar menghukum Suke Shasia, sebab mereka memang bermusuhan pertentangan mereka disebabkan kedudukan mereka berdua sebagai orang-orang golongan bendera kuning dan bendera putih.
Karena itu dengan enggan dia menerima usul Go Pay dan tidak disangka Raja Muda itu berani menunjukkan kegarangannya.
Sebenarnya perasaan Kaisar agak ngeri juga, Di sana tidak ada thay-kam atau pengawal.
Kalau terjadi apa-apa, tidak ada yang bisa menolongnya.
Siapa nyana dalam keadaan terdesak, tahu-tahu Siau Po muncul di hadapannya.
Sementara itu, keberanian Siau Po semakin terbangun melihat Go Pay menyurut mundur.
"Urusan menghukum Suke Shasia adalah haknya Sri Baginda, Mengapa kau justru bersikap kurang ajar terhadap junjunganmu? Kenapa kau hendak menyerang Sri Baginda? Apakah tidak takut seluruh keluargamu akan mendapat hukuman mati?"
Go Pay terperanjat.
Kata-kata itu tepat menikam jantungnya, Keringat dingin sampai membasahi seluruh tubuhnya, Dia sadar perbuatannya tadi terlalu kasar Tapi dia memang pandai mengikuti perkembangan cepat dia berkata.
"Sri Baginda, harap Sri Baginda jangan mendengarkan ocehan thay-kam cilik ini. Hambamu adalah seorang menteri yang sangat setia."
Kaisar Kong Hi tahu apa yang harus dilakukannya. Dia merasa belum saatnya menelanjangi menterinya yang berkepandaian tinggi ini, lagipula menteri itu sudah mundur teratur.
"Siau Kui cu, kemarilah,"
Katanya kepada Siau Po. Siau Po segera menjura sambil mengiakan, dia pun menyurut mundur beberapa langkah.
"Go siau-po, aku tahu kau adalah seorang menteri yang setia dan telah banyak berjasa, Aku tidak akan menyalahkanmu dalam urusan kecil ini!"
Go Pay girang mendengar suaranya itu.
"Ya... ya...."
"Mengenai urusan Suke Shasia, Aku setuju denganmu, pokoknya kau tidak perlu khawatir Hanya tinggal waktunya saja, Dalam hal menghukum ataupun memberikan hadiah, aku tahu kewajibanku sendiri."
"Bagus!"
Sahut Go Pay senang.
"Sekarang ternyata pandangan Sri Baginda sudah terbuka, Untuk selanjutnya hambamu akan mengabdi dengan setia demi negara dan Sri Baginda!"
"Bagus! Bagus! Akan kami laporkan kepada Thay hou supaya besok kau akan mendapat hadiah yang berarti!"
"Terima kasih, Sri Baginda,"
Kata Go Pay sembari menjura.
"Sekarang apa kau masih mempunyai urusan lain yang ingin dibicarakan?"
Tanya raja kemudian.
"Tidak."
Sahut Go Pay.
"Hamba mohon diri."
Kaisar mengangguk. Dengan wajah berseri-seri Go Pay meninggalkan kamar tulis Raja, Begitu orang itu keluar, Kong Hi langsung menghambur ke depan Siau Po.
"Siau Kui cu, sekarang kau sudah tahu rahasiaku..."
"Sri Baginda.... Waktu itu a... ku... hamba... tidak tahu, A... ku patut mendapat hukuman mati. Sampai sekian lama masih tidak tahu bahwa kaulah Sri Baginda Raja yang diperagungkan,., malah aku melayani kau berkelahi...."
Mendengar kata-kata Siau Po, Kaisar Kong Hi menarik nafas panjang.
"Aih! setelah tahu siapa aku, tentu kau tidak berani lagi berkelahi denganku, Hatiku jadi gundah karenanya..."
Siau Po tertawa lebar.
"Asal kau tidak keberatan, lain kali aku tetap akan melayanimu, buatku tidak ada halangan apa-apa."
Kaisar Kong Hi senang mendengar janji yang diucapkan Siau Po.
"Bagus! Kita akan berjanji Siapa yang tidak sungguh-sungguh berkelahi maka dia bukanlah seorang Ho han, laki-laki sejati!"
Selesai berkata, raja mengulurkan tangannya, Siau Po tidak tahu aturan dalam istana, dia juga tidak kenal takut.
Karena itu dia juga mengulurkan tangannya dan keduanya pun berjabatan dengan erat.
Kemudian keduanya tertawa terbahak-bahak.
Merupakan kebiasaan bagi Kaisar Kong Hi untuk bersikap serius bila berhadapan dengan ibunya atau para bawahannya, Kadang-kadang dia sengaja menonjolkan kewibawaan dirinya.
Namun bagaimana pun dia masih seorang bocah cilik yang belum hilang sifat kekanak-kanakannya.
Begitu berhadapan dengan Siau Po, dia merasa dirinya tidak berbeda dengan yang Iainnya, yakni rakyat jelata.
Sejak kecil kaisar Kong Hi dipingit, namun sejak ayahnya meninggal dan dia diharuskan menggantikannya, dia sudah mendapat kebebasan.
Namun kemana saja masih ada para thay-kam ataupun dayang yang mengiringi.
Kadang-kadang dia memerintahkan mereka meninggalkannya, itulah sebabnya dia bisa bertemu dengan Siau Po seorang diri.
Sambil menggenggam erat-erat tangan Siau Po, Kaisar Kong Hi bertutur.
"Di hadapan orang lain, kau harus memanggilku Sri Baginda, tetapi di tempat yang tidak ada orangnya, kau dapat memanggil aku sebagaimana biasanya. Kita dapat bergaul erat seperti yang sudah-sudah."
"Baik,"
Sahut Siau Po sambil tersenyum.
"Sebenarnya aku tidak menyangka akan menghadapi keadaan seperti ini. Mimpi pun aku tidak menduga bahwa kaulah sang raja. Tadinya aku mengira raja itu seorang thay-kam tua yang seluruh janggutnya sudah memutih!"
Raja juga ikut tertawa.
"Apakah Hay kongkong pernah membicarakan urusanku denganmu?"
"Tidak, Dia cuma mengajarkan aku ilmu silat Oh ya, Sri Baginda, siapa yang mengajari kau ilmu silat?"
Raja tertawa Iagi.
"Aku sudah mengatakan di tempat yang sepi di mana hanya ada kita berdua, kau tidak perlu memanggil aku dengan sebutan itu, baru beberapa menit kau sudah melupakannya kembali."
Siau Po menjadi jengah, namun dia tertawa juga.
"Aku bingung."
Raja menarik nafas panjang.
"Sudah aku bayangkan, asal kau sudah tahu siapa aku ini. Kau pasti tidak bisa berkelahi denganku lagi seperti yang sudah-sudah."
"Akan kuusahakan, tetapi aku takut gagal,"
Kata Siau Po.
"Eh, Siau Hian cu, siapa yang mengajarkan ilmu silat kepadamu?"
"Bukannya aku tidak mau memberitahu tetapi apa gunanya kau ketahui hal itu?"
Tanya Kaisar Kong Hi.
"Begini, Go Pay menganggap ilmunya luar biasa sehingga dia berani bersikap kurang ajar kepadamu. Malah tadi tampaknya dia hampir memukulmu Apabila gurumu memang lihay sekali, mengapa kau tidak memintanya untuk melabrak Go Pay."
Kong Hi tersenyum.
"Tidak, Guruku tidak bisa melakukan hal itu."
Siau Po terdiam, untuk beberapa saat dia menguras otaknya.
"Sayangnya guruku, Hay kongkong, sudah buta kedua matanya, Kalau tidak, aku dapat meminta bantuannya untuk menghajar Go Pay. Dia tentu akan menang, Taph., ada jalan lainnya.... Kita berdua menghadapinya bersama, Bagaimana pendapatmu? Meskipun dia tokoh nomor satu di istana ini, kalau kita mengeroyoknya, mustahil kalau kita tidak bisa menang!"
Dasar masih bocah, Raja menyetujui pemikirannya itu.
"Bagus."
Serunya, tetapi sekejap kemudian dia menggelengkan kepalanya.
"Ah.... Tidak dapat aku melakukan hal itu. Raja menempur menterinya sendiri, tidak lucu."
Siau Po memperhatikan Kong Hi lekat-lekat.
"Coba kalau kau bukan raja...."
Kong Hi mengangguk, tidak sepatah kata pun sanggup diutarakannya, Dalam hati dia sangat menyukai Siau Po yang dianggapnya cerdas juga polos, Juga suka melakukan apa yang terpikirkan olehnya.
Di lain pihak, hatinya panas mengingat sikap Go Pay terhadapnya, Diam-diam dia mendumel dalam hati.
"Benar-benar tidak tahu aturan? Mengapa dia begitu kurang ajar terhadapku? Sedikit pun dia tidak memandang mata kepadaku. Sebenarnya, dia atau akukah yang menjadi raja di istana ini? Apa kira-kira yang dapat aku lakukan terhadapnya? Dia adalah kepala pasukan pengawal di dalam istana. Dia juga memimpin pasukan tentara Pat Ki. Kalau aku mengeluarkan perintah untuk menawannya, dan menghukum mati padanya, mungkin dia akan memberontak Dan apabila dia melakukan perlawanan, kemungkinan akulah orang pertama yang akan dibinasakannya. Biar bagaimana, aku harus mencari akal untuk melepaskan jabatannya dan mencari kesalahannya agar bajingan itu dapat dihukum mati. Dia harus diseret ke pingu Ngo-mui untuk ditebas batang lehernya di hadapan rakyat!" Hanya sejenak kemudian pikiran raja berubah lagi, Dia menganggap keputusannya kurang tepat. Akhirnya dia mengambil keputusan untuk tidak melakukan tindakan apaapa dulu sekarang ini, Dia ingin mencari jalan yang paling sempurna. Tentu saja pikirannya ini tidak diutarakannya kepada Siau Po.
"Sekarang kau kembali dulu kepada Hay kong-kong!"
Perintahnya kepada kacung yang sudah dijadikannya sahabat itu.
"Belajarlah dengan giat, besok kita akan bertanding lagi!"
Siau Po menurut.
"Baik!"
"lngat, urusanku dengan Go Pay ini jangan kau ceritakan kepada siapa pun juga!"
"Baik!"
"Di sini tidak ada orang lain, begitu aku mau pergi, aku langsung pergi. Aku tidak perlu menekuk lutut!"
Kata Siau Po terus terang. Kong Hi tersenyum.
"Ya, tidak usah bertekuk lutut. Pergilah!"
Siau Po tersenyum dan berlalu, begitu bertemu dengan si thay-kam tua, dia tidak mengatakan apa-apa.
Keesokan harinya kembali dia berkelahi dengan Kong Hi.
Dia mengira dirinya dapat berlaku wajar, tetapi ternyata tidak.
Setelah mengetahui siapa adanya Siau Hian cu, hatinya menjadi tidak tenang apabila berhadapan langsung, Dia tidak seperti sebelumnya yang berani menjotos atau menghajar betulan, Tanpa terasa seperti yang lainnya, dia pun selalu mengalah.
Kaisar Kong Hi menghentikan pertempuran Dia juga tidak bersemangat lagi untuk berkelahi terus, Diajaknya Siau Po ke sebuah ruangan khusus untuk berlatih gulat, Di sana dia menyuruh salah seorang bawahannya untuk menghadapi Siau Po.
Demikianlah hari-hari terus berlalu.
Lama-lama Hay kongkong menjadi curiga, sekarang Siau Po tidak banyak bercerita lagi bila kembali ke kamar Karena itu dia berniat menyelidiki sebabnya.
"Bagaimana dengan Siau Hian cu?"
Tanyanya ketika mendengar suara langkah kaki Siau Po masuk ke dalam kamar.
"Biasa, Hanya kurang bersemangat."
"Apakah dia sakit?"
Tanya Hay kongkong kembali "Tidak."
"Coba kau jelaskan jalannya pertempuran!"
Siau Po kehabisan akal, Terpaksa dia menceritakan apa yang dilihatnya di ruang berlatih gulat, Dan dia mengaku bahwa dia yang kalah.
"Kau sengaja mengalah?"
Tanya Hay kongkong.
"Tidak, Aku hanya merasa sungkan karena aku telah menjadi sahabatnya,"
Sahut Siau Po.
"Oh, kau telah menjadi sahabatnya, Aku tahu, sebenarnya kau tidak berani berkelahi lagi dengannya, karena kau sudah tahu...."
Siau Po terperanjat.
"Tahu apa?"
Tanyanya gugup.
"Coba katakan. Dia yang mengaku sendiri atau kau yang mengetahuinya?"
"Apa yang kau maksudkan kongkong? Aku tidak mengerti!"
"Ayo, katakanlah terus terang, Cepat katakan, bagaimana kau bisa mengetahui perihal Siau Hian cu?"
Sembari berkata, thay-kam tua itu langsung menyambar tangan kiri Siau Po kemudian menekannya sehingga bocah itu menjerit kesakitan.
"Aku menyerah!"
"Cepat katakan!"
Bentak Hay kongkong garang.
"Aku toh sudah menyerah, mengapa kau tidak melepaskan cekalanmu?"
"Aku bertanya kepadamu dan kau harus menjawabnya baik-baik!"
"Baik. Kalau kau memang sudah tahu siapa Siau Hian cu, aku akan menjelaskannya. Tapi jangan main paksa, kalau tidak, mati pun aku tidak akan mengatakan apa-apa!"
"Kau kira apanya yang mengherankan? Siau Hian cu adalah raja, Sejak semula aku memang sudah mengetahuinya."
Senang hati Siau Po mendengar kata-kata thay-kam tua itu.
"Rupanya sejak semula kau sudah mengetahuinya. Baiklah, aku akan bicara, Tidak apa-apa, bukan?"
Siau Po langsung menceritakan semuanya, Termasuk sikap Go Pay terhadap raja.
Hay kongkong mendengarkan dengan seksama, Beberapa kali dia bertanya kembali untuk mendapat penegasan.
"Tapi Sri Baginda telah berpesan bahwa aku tidak boleh membuka rahasianya, kalau tidak, dia akan menghukum mati aku,"
Kata Siau Po mengakhiri ceritanya.
"Kau toh sahabatnya, mana mungkin dia menghukum mati padamu? seandainya akan dihukum mati, pasti akulah orangnya!"
"Syukurlah kalau kongkong sudah tahu."
Hay kongkong berdiam diri sekian lama, Terdengar dia bergumam seorang diri.
"Buat apa raja melatih tiga puluh thay-kam cilik? Apakah dia menyesal tidak dapat berkelahi lagi denganmu sehingga memerintahkan orang dari ruang berlatih untuk mendidik tiga puluh thay-kam cilik yang kemudian akan dijadikan lawannya? Aih! Sungguh sukar ditebak kemauannya, Eh, Siau Kui cu, inginkah kau menjadi orang kesayangan raja?"
Siau Po heran, Dia menatap thay-kam tua itu lekat-lekat.
"Dia adalah sahabatku, sudah sepatutnya aku membuatnya bahagia,"
Sahut Siau Po.
"Bagaimana caranya aku bisa membuat diriku disukainya?"
"Sekarang kau dengar kata-kata ku baik-baik! selanjutnya kalau Sri Baginda menyebutmu sahabat, jangan mau. Coba bayangkan, sekarang usianya masih kecil, sikapnya masih kekanak-kanakan, kalau hatinya senang, apa pun dapat dikatakannya, Tetapi setelah dia dewasa nanti, asal kau salah bicara sedikit saja, dia akan membuat kepalamu pindah dari batang lehermu itu."
Siau Po cerdas, dia mengerti apa yang dimaksudkan oleh Hay kongkong.
"Ya, aku tahu, selanjutnya aku akan ingat kata-kata kongkong baik-baik!"
"Hm!"
Thay-kam tua itu mendengus dingin.
"Sekarang aku tanya lagi, apakah kau ingin mempelajari ilmu silat yang hebat?"
"Tentu saja aku mau. Apakah kongkong mau mengajarkan? sesungguhnya aku merasa heran, kepandaian kongkong tinggi sekali, mengapa kongkong tidak menerima seorang murid saja?"
"Di dalam dunia ini banyak manusia licik dan jahat, Bagaimana kalau aku keliru memilih? Bukankah aku mencari penyakit untuk diriku sendiri?"
Siau Po terkesiap, Diam-diam dia berpikir dalam hati.
"Apakah dia sudah tahu samaranku dan tahu aku yang menyebabkan kedua matanya buta?"
Tapi Siau Po menekan perasaan curiganya.
Cepat-cepat dia berkata.
Tapi aku setia kepadamu, Kau sendiri toh tahu bagaimana aku berani menempuh bahaya pergi ke Gi Si Pong untuk mencuri sebuah kitab untukmu, sayangnya jumlah buku di sana terlalu banyak dan aku tidak bisa membaca...."
"Kau tidak bisa membaca?"
Tanya Hay kongkong heran. Sekali lagi jantung Siau Po berdenyut dengan kencang, Dia tidak tahu apakah Siau Kui cu pernah belajar ilmu surat atau tidak, Kalau Siau Kui cu bisa, celakalah dia.
"Karena itu, cepat-cepat dia menambahkan "
Berulang kali aku mencari kitab itu, tapi sejauh ini aku belum berhasil menemukannya, Biarlah, waktu toh masih banyak, Apalagi sekarang aku sudah menjadi sahabat raja, Setiap waktu aku bisa menghadap ke kamar tulisnya.
Suatu hari aku pasti akan menemukan kitab itu."
"Asal kau tidak melupakannya saja!"
"Mana mungkin aku melupakan bahwa Kong-kong memperlakukan aku dengan baik. Budi besar itu belum sempat aku balas, Kalau aku sampai melupakannya, sungguh aku tidak patut disebut manusia!"
"Hm.,, kalau kau tidak tahu membalas budi, memang sungguh kau bukan seorang manusia!"
Kata Hay kongkong mengulangi ucapan Siau Po. Hati Siau Po tercekat, namun sesaat dia telah pulih kembali.
"Sekarang aku akan mengajarkan kau ilmu Tay Cu, Tay Pi, Cian Yap-jiu!"
Hati Siau Po masih was-was, dia takut Hay kongkong akan mencelakainya, tetapi ternyata orang tua itu sungguh-sungguh mengajaknya ilmu silat, Siau Po pun memperhatikan dengan seksama kemudian menirunya.
"Perlu kau ketahui bahwa jurus ilmu ini sangat banyak, jumlahnya seribu jurus sesuai dengan namanya, tidak lebih tidak kurang. Maka kau jangan berharap dapat menguasainya dalam waktu singkat "
Baik, aku akan belajar sungguh-sungguh, Tidak perduli berapa lama waktunya!"
Hari itu Siau Po berlatih sampai jauh malam, Keesokan harinya dia menemui Kong Hi, Ditemuinya Kaisar itu sedang meninju bangku kulit dengan kesal setelah melihat kehadiran Siau Po, baru dia tersenyum.
"Hatiku sedang jengkel, Mari kau temani aku bermain-main!" "Kong kong baru mengajari aku sebuah ilmu baru. Namanya Tay cu, Taypi Cian Yapjiu. Katanya ilmu ini lebih hebat dari Toa kim na-hoat. Kalau aku sudah berhasil menguasainya, kau tidak akan sanggup melawanku lagi!"
"Ilmu yang bagaimana?"
Tanya Kong Hi penasaran.
"Coba kau tunjukkan kepadaku!"
"Baik!"
Siau Po pun bergerak menuruti ajarkan Hay kongkong.
Kong Hi memperhatikan dengan seksama.
semua serangan Siau Po ditujukan kepadanya, Kong Hi tidak sempat berkelit Dia kena diserang sebanyak lima kali, tapi karena serangannya perlahan, dia tidak merasa nyeri ataupun terjatuh karenanya.
"Aih! Sungguh bagus ilmu yang kau tunjukkan itu. Baik Aku akan menemui guruku dan memintanya untuk mengajarkan ilmu lain yang dapat melawan ilmu barumu itu!"
Siau Po kembali ke kamarnya, dia menceritakan kepada Hay kongkong apa yang dialaminya bersama Kong Hi.
"Entah ilmu apa yang akan diajarkan gurunya? Sudahlah, sekarang kau harus berlatih jurus lainnya."
Siau Po menurut Hay kongkong langsung bergerak perlahan-lahan agar Siau Po dapat melihatnya dengan teliti, mulutnya pun terus memberikan penjelasan mengenai tipu daya jurus itu.
Tetapi ilmu itu memang terlalu rumit Tidak seluruhnya dapat dimengerti oleh Siau Po.
Dia hanya dapat meniru gerakannya saja.
Besoknya seperti dijanjikan, Siau Po langsung menuju Gi Si Pong, ia heran sewaktu mendapatkan ada empat siwi yang menjaga di depan pintu.
Satu di antaranya malah tersenyumn simpul sambil menyapa.
"Kau tentunya Kui kongkong, bukan? Sri Baginda Raja menitahkan agar kau masuk saja!"
Siau Po terkejut Siapa itu Kui kongkong?
Tetapi sesaat kemudian dia mengerti, tentu dia sendiri yang dimaksud dengan Kui kongkong, Mungkin siwi itu tahu bahwa dia sudah menjadi orang kepercayaan Kaisar sehingga bersikap sungkan terhadapnya.
"Selamat bertemu!"
Dia segera menjura kepada para siwi itu. Mereka membalasnya dengan hormat Siau Po dipersilahkan masuk ke dalam kamar tulis. Melihat kehadirannya, kaisar Kong Hi langsung meloncat turun dari kursinya.
"Kelima tipu jurusmu kemarin sudah diajarkan pemecahannya oleh guruku, Mari kita coba sekarang!"
Bagian 06 Siau Po hendak menolak, tapi dia tidak berani Terpaksa dia mengiringi kemauan sang raja, Hari ini benar saja kelima tipuannya berhasil dipecahkan oleh Kong Hi.
"Kemarin aku mempelajari lagi enam jurus baru, mari kau coba!"
Siau Po langsung menyerang, Dia sempat membuat lawannya kerepotan "Baiklah, Aku akan mempelajari cara untuk memecahkannya!"
Mereka berpisah puIa, Demikianlah setiap hari Siau Po mempelajari jurus baru lalu dicobanya untuk menyerang kaisar Kong Hi, setelah kewalahan, raja itu akan mencari pemecahannya pula dari gurunya.
Sekarang bukan hal aneh lagi bila semua thay-kam maupun siwi dan para dayang tahu bahwa thay-kam cilik dari Siang sian tong ini adalah anak kesayangan raja, Sikap mereka juga jadi hormat.
Di pihak lain, Siau Po juga ingin memperoleh perhatian khusus dari Hay kongkong, Dia tidak lupa mencari kitab Si Cap Ji cing-keng, tapi sampai sejauh ini dia masih belum berhasil menemukannya, Sedikit-sedikit dia sudah mengerti ilmu surat karena Hay kongkong juga mengajarinya.
Pada suatu hari Kong Hi berkata kepada Siau Po.
"Siau Kui cu, besok kita akan melakukan satu pekerjaan besar, Pagi-pagi kau harus sudah datang dan tunggu aku di kamar tulis!"
"Baik!"
Sahut Siau Po singkat.
Dia tahu Raja tidak suka banyak bicara, Karena kaisar Kong Hi tidak menjelaskan dia juga tidak menanyakan.
Keesokan harinya, pagi-pagi Siau Po sudah muncul di kamar tulis raja, Begitu dia muncul Kong Hi segera berbisik kepadanya.
"Aku ingin kau melakukan sesuatu, entah kau berani atau tidak?"
"Kalau kau yang menyuruh, apa yang harus kutakutkan?"
Sahut Siau Po sok gagah.
"Tapi urusan ini hebat sekali. Kalau kau gagal, bukan hanya jiwamu saja yang terancam bahaya, jiwaku juga!"
Siau Po terkejut juga, Tetapi sesaat kemudian dia bertekad bulat. "Paling juga aku kehilangan selembar nyawa, tapi kau adalah raja, siapa yang berani mencelakaimu."
Melihat sikap Siau Po, Kong Hi pun berterus terang.
"Go Pay si menteri celaka itu sudah jelas berniat jahat. Hari ini aku ingin menawannya, Kita bekerja sama, Beranikah kau?"
Mendengar keterangan itu, bukan main senangnya hati Siau Po.
Memang selama ini, kecuali menemani raja berlatih silat, dia tidak mempunyai kegiatan apa-apa yang menggairahkan sekarang pun dia tidak pernah berjudi lagi, sedangkan hatinya memang membenci Go Pay yang dianggapnya congkak dan tidak tahu diri, Tentu dia senang diajak bekerja sama untuk menawannya.
"Bagus! Bagus! Aku toh pernah mengatakan bahwa kita berdua pasti bisa melawannya, Tidak perlu kita risaukan bahwa dialah tokoh nomor satu bangsa Boanciu, Bukankah kita berdua telah memperoleh banyak kemajuan Tidak perlu kita takut kepadanya!"
Namun kaisar Kong Hi menggelengkan kepalanya.
"Bukan begitu maksudku, Kita memang bekerja sama, tapi bukan berarti kita turun tangan bersama menghadapinya, Kau harus tahu bahwa aku adalah seorang raja, aku tidak dapat turun tangan sendiri Go Pay mempunyai pengaruh yang besar dalam istana. Dia juga pemimpin dari para pengawal dan pasukan tentara, Di dalam istana banyak siwi yang menjadi orang kepercayaannya. Bila ia sampai memberontak, pasti sebagian besar berpihak kepadanya, jangan kata kita berdua, bahkan permaisuri dan ibu suri pun akan terancam bahaya..."
Siau Po benar-benar tidak takut, dia malah menepuk dada.
"Kalau begitu, sebaiknya aku tunggu dia di luar istana, Secara tidak terduga-duga di mana dia tidak bersiap sedia, aku akan menyerangnya, Dengan sebatang golok, aku akan menikamnya, Syukur kalau aku berhasil, tapi kalau gagal, dia toh tidak akan tahu bahwa aku disuruh olehmu!"
"Dia sangat gagah perkasa, sedangkan kau masih terlalu kecil Mungkin kau bukan tandingannya, LagipuIa di luar istana juga banyak pengawal Mana mungkin kau bisa mendekatinya? Taruh kata, kau bisa membunuhnya, tapi kau sendiri juga akan mati dikeroyok para siwi,"
Kata Kong Hi panjang lebar "Aku mempunyai jalan lain yang lebih baik...."
"Baik, apa itu?"
Siau Po pun penasaran.
"Sebentar dia akan datang melaporkan sesuatu, Sebelum itu aku akan menitahkan para thay-kam kecil berkumpul di sini. Kau harus memperhatikan aku. Asal cawan teh di tanganku terlepas jatuh, langsung saja kau maju menotok jalan darahnya, Dalam waktu yang bersamaan, seluruh thay-kam cilik akan menyerangnya sehingga dia kerepotan. Kalau kau gagal juga, terpaksa aku turun tangan membantumu!"
"Bagus akalmu itu!"
Kata Siau Po.
"Apakah kau mempunyai golok? Usaha ini harus berhasil Kalau rencana kita sampai gagal, terpaksa aku harus membunuhnya!"
Kong Hi menganggukkan kepalanya, Dari kaos kakinya dia mengeluarkan dua bilah pisau belati. Yang satu diserahkannya kepada Siau Po, sedangkan yang lainnya dia simpan sendiri.
"Tenangkan hatimu,"
Kata Siau Po.
"Sekarang kau pergilah dan panggillah kedua belas thay-kam cilik kemari!"
Perintah kaisar Kong Hi.
Siau Po menurut, Tidak Iama kemudian dia sudah kembali lagi dengan para thaykam cilik itu.
Kedua belas thay-kam cilik itu sudah berlatih ilmu gulat selama beberapa bulan atas titah kaisar Kong Hi.
Mereka memang tidak mengerti ilmu silat, tapi untuk menerjang, cengkeram kaki tangan, mereka sudah cukup pandai.
Raja segera berkata kepada mereka.
"Kalian sudah belajar beberapa bulan, entah sampai di mana kemajuan kalian? sebentar akan datang seorang jago gulat kami, aku menyuruh dia menguji kalian, Nanti kalau cawanku jatuh ke atas lantai, kalian harus menyerangnya serentak, Gunakan segenap kepandaian kalian, Siapa yang berhasil mencekalnya erat-erat, akan kuberikan hadiah besar."
Selesai berkata, kaisar Kong Hi menarik lacinya dan mengeluarkan setumpuk uang Goan Po senilai lima puluh tail masing-masing lembarannya, dia menunjuk ke arah tumpukan uang itu kemudian berkata dengan nada berwibawa.
"Siapa yang menang, masing-masing akan mendapat selembar Goan Po ini. Kalau kalian kalah, dua belas orang akan dipenggal batang lehernya, orang yang malas dan tidak berguna, tidak perlu dibiarkan hidup terus!"
Kedua belas thay-kam itu langsung menjatuhkan dirinya berlutut dan berkata serentak.
"Budak sekalian akan bekerja dengan sepenuh hati bagi Sri Baginda!"
"SebetuInya ini bukan tugas apa-apa. Aku hanya ingin menguji kepandaian dan ingin mengetahui apakah selama ini kalian belajar dengan rajin atau hanya bermalasmalasan. Nah, bangunlah."
Menyaksikan gerak-gerik raja dan kata-katanya, hati Siau Po kagum sekali.
"Kaisar memang cerdik sekali Dengan demikian orang tidak akan curiga bahwa dia memang berniat menghancurkan Go Pay,"
Pikirnya dalam hati.
Para thay-kam itu memberi hormat kemudian bangkit kembali Raja membalik lembaran bukunya dan membaca dengan suara kurang jelas, Siau Po memperhatikan dengan seksama, Raja itu tabah dan tenang, suaranya tidak gemetar sedangkan dia sendiri merasa kaki dan tangannya mulai berkeringat dingin.
"Ah, Siau Kui cu,"
Katanya kepada diri sendiri "Kalau dibandingkan dengan Siau Hian cu, hari ini kau kalah semuanya, Kau kalah tenang dan kalah gagah!"
Namun sesaat kemudian dia berpikir lagi Siau Hian cu adalah seorang raja, pantas dia mempunyai sikap demikian.
Umpama dia sendiri yang menjadi raja, dia juga yakin akan mempunyai ketenangan seperti Siau Hian cu.
Tidak lama kemudian, di luar kamar terdengar suara tindakan sepatu, disusul dengan suara seorang pengawal "Go siau-po datang menghadap Sri Baginda!
Dia memujikan agar Sri Baginda dalam keadaan sehat wal'afiat dan berbahagia!"
"Go siau-po, masuklah!"
Sahut Raja memberi ijinnya. Tirai disingkapkan dan Go Pay melangkah masuk. Dia memberi hormat dengan menekuk lututnya. Kong Hi tertawa.
"Go siau-po, kebetulan sekali kau datang,"
Katanya.
"Di sini ada dua belas orang thay-kamku, semuanya belajar ilmu guIat, Mereka ingin aku memberi petunjuk kepada mereka, sedangkan kau adalah orang kuat nomor satu bangsa Boanciu, Entah bagaimana pendapatmu?"
"Apabila Sri Baginda mempunyai kegembiraan untuk menyaksikan tentu hamba bersedia melayani."
Sahut Go Pay sambil memberi hormat sekali lagi. Kong Hi tertawa.
"Siau Kui cu, kau perintahkan semua siwi di luar sini untuk beristirahat, tanpa ada titah dariku, mereka tidak boleh datang kemari!"
Katanya kepada Siau Po.
"Baik!"
Sahut Siau Po yang langsung keluar menjalankan titahnya. Kembali raja tertawa lebar, Kemudian dia berkata lagi kepada Go Pay.
"Go siau-po, pernah kau menganjurkan kepadaku agar jangan banyak membaca buku-buku bangsa Han. sekarang aku pikir nasehatmu memang tepat sekali, sekarang kita pergi ke kamar tulisku saja dan bermain-main di sana. Dengan demikian tidak ada orang yang mengetahuinya. Apabila hal ini sampai diketahui oleh Thay hou (ibu suri) tentu aku akan dipaksanya membaca buku pula."
Senang sekali hati Go Pay mendengar kata-kata sang Raja kecil ini.
"Betul, betul. Segala buku bacaan bangsa Han memang tidak ada manfaatnya!"
Raja tertawa, sementara itu Siau Po sudah kembali Dia melaporkan.
"Semua siwi sudah mengundurkan diri. Mereka menghanturkan terima kasih buat kebaikan Sri Baginda."
"Bagus!"
Seru kaisar Kong Hi sambil tersenyum "Nah, sekarang kita mulai bermainmain, Para thay-kam cilik, kalian memencarkan diri dan menjadikan kelompok yang terdiri dari dua orang."
Kedua belas thay-kam itu segera mengiakan Kemudian mereka mengatur diri masing-masing.
Go Pay tertawa menyaksikan gerak-gerik para thay-kam cilik itu.
Terang dia tidak memandang mata pada mereka.
Dia yakin kepandaian mereka masih belum berarti Tampak dia menggelengkan kepalanya berulang kali.
Raja diam-diam memperhatikan gerak-gerik Go Pay.
Dia mengangkat cawannya kemudian minum seteguk.
"Go siau-po, apakah kau menganggap kepandaian anak-anak ini biasa-biasa saja?" "Mungkin lumayan juga,"
Sahut Go Pay tersenyum, agak sinis tampaknya. Raja pun ikut tertawa.
"Jikalau dibandingkan dengan Go siau-po, mereka pasti tidak ada apa-apanya,"
Katanya sambil menggeser tubuhnya sedikit dan menjatuhkan cawannya sambil berseru.
"Sekarang!"
"Sri Baginda?"
Seru Go Pay terkejut Tapi hanya sepatah sempat dia bersuara, karena di lain waktu dia sudah diterjang oleh kedua belas thay-kam cilik itu.
Ada yang menyerempet bahunya, ada yang mencekal kaki dan tangannya malah ada pula yang menghajar dengan tinjunya.
Raja tertawa terbahak-bahak kemudian berkata dengan lantang.
"Go siau-po, awas!"
Go Pay terkejut, tapi dia masih belum sadar.
Dia masih mengira Sri Baginda hanya menyuruh para thay-kam itu mengujinya.
Atau dia yang menguji para thay-kam itu.
Tenaganya kuat sekali, begitu dia mengerahkannya, empat orang thay-kam langsung terpental mundur Dia tidak mengerahkan seluruh tenaganya karena khawatir ada yang terluka, Dia menendang dan kembali dua orang thay-kam terpelanting jatuh.
Para thay-kam terus mengingat ucapan Raja, Kalau mereka kalah, mereka akan dihukum penggal, tapi kalau menang akan mendapatkan hadiah besar Karena itu mereka menjadi nekat, Yang jatuh segera merangkak bangun dan menerjang kembali Apalagi yang memeluk pinggang serta mencekal betisnya, mereka benar-benar sudah nekat.
Siau Po tahu tugasnya, ketika orang-orang itu sedang bergumul, diam-diam dia menghampiri dari belakang, Tujuannya untuk menotok jalan darah I-Sia hiat, Kalau orang biasa yang terkena totokan di jalan darah itu, pasti akan roboh seketika atau setidaknya pingsan.
Tetapi menteri yang satu ini memang luar biasa, dia hanya merasa tubuhnya kesemutan dan diam-diam dia berpikir dalam hati.
"Siapa tokoh lihay yang paham ilmu menotok ini?"
Menteri itu langsung mengibaskan lengan kirinya sehingga tiga orang thay-kam roboh terpelanting, Dia bermaksud membalikkan tubuh untuk melihat siapa orang yang menyerangnya.
Tetapi tiba-tiba dia merasa dadanya nyeri karena Siau Po sudah menyerangnya kembali sekarang dia terkejut sekali begitu mengetahui bahwa yang menyerangnya bukan lain thay-kam cilik yang selalu menyertai kaisar, Dia juga merasa heran dan aneh, walaupun demikian, dia masih tidak dapat mempercayai bahwa raja memang sengaja menitahkan para thay-kam itu untuk membekuknya.
Dengan satu luncuran tangan kiri, Go Pay menyerang Siau Po.
Maksudnya ingin menekan bahu si bocah tetapi Siau Po berkelit ke kiri sembari membalas sebuah serangan.
Bahkan Siau Po menggunakan kedua tangannya, tangan kirinya meninju sedangkan tangan kanan mengirimkan totokan.
Siau Po menggunakan tipu jurus "Kiak Hou Kong Kong (Setelah sadar ternyata kosong) Tangan kirinya tidak menyerang terus, hanya gertakan belaka.
Go Pay berkelit, tahu-tahu dia mendupak lawannya dengan mencelat ke atas.
Go Pay terkejut setengah mati.
Namun tiba-tiba Siau Po menjerit keras-keras, karena kakinya seperti membentur dinding yang kokoh,sekarang Go Pay bukan hanya terkejut saja, dia juga gusar sekali Sudah berkali-kali orang menyerangnya di bagian yang berbahaya, sedangkan para thay-kam mengerubutinya seperti semut merubung gula.
Dia juga tidak dapat menerka apa maksud Raja yang sebenarnya, Timbul niatnya untuk menghalau kawanan thay-kam itu, tapi masih saja tangan dan kakinya dicekal Dua terlepas yang lain segera menerjang lagi.
Raja menonton sambil bersorak-sorak dan menepuk tangan dengan keras.
"Go siau-po, aku khawatir kau akan kalah!"
Katanya sambil tertawa terbahak-bahak. Go Pay justru bermaksud menghajar kepala Siau Po ketika dia mendengar kata-kata raja, Hilanglah kecurigaannya.
"Ah, kiranya raja sedang bercanda denganku, Dasar adatnya masih kekanakkanakan, Mana boleh aku mempunyai pikiran yang sama!"
Maksudnya ia tidak boleh melayani anak-anak itu dengan sungguh-sungguh.
Kembali menteri itu meluncurkan tangan kirinya.
Kali ini Siau Po terhajar bahu kanannya, Dia terhajar dengan tenaga sebanyak tiga bagian, tapi sudah terhitung hebat sebab tubuh orang itu besar sekali Tubuhnya terhuyung-huyung seketika.
Tapi dia memang lihay, karena terhuyung ke samping, maka dari tempat itu kembali dia melakukan penyerangan.
Bukan main kagetnya Go Pay, hatinya juga jadi mendongkol Dia membentak keras kemudian meluncurkan kedua tangannya untuk mencekik batang leher Siau Po.
Dalam keadaan kritis, Kong Hi tidak dapat berdiam diri lagi.
Kalau tidak usahanya pasti mengalami kegagalan pisau belatinya sudah siap di tangan.
Begitu terjun ke arena, dia langsung mengincar punggung lawannya.
Go Pay terkejut setengah mati melihat keadaan ini.
sekarang dia sadar bahwa raja memang menghendaki nyawanya.
Ditinggalkannya Siau Po dan berbalik untuk menyerang kaisar Kong Hi.
Dengan gesit bocah yang menjadi raja itu dapat menghindarkan diri, Go Pay jadi gusar Diangkatnya dua orang thay-kam terdekat, kepala keduanya diadu dengan keras sehingga otaknya berceceran Kemudian dia menghajar seorang thay-kam lainnya dengan tangan kiri dan menendang empat orang thay-kam lagi yang merangkul betisnya.
Para thay-kam itu terpental ke belakang sehingga membentur tembok, Tulang mereka berpatahan dan roboh di atas tanah tanpa berkutik lagi, mereka sudah mati karena hajaran yang keras itu.
Delapan thay-kam dalam sekejap mata sudah dibuat tidak berdaya dan empat lainnya sampai termangu-mangu, Kong Hi dan Siau Po terus menyerang dengan belati di tangan masing-masing, Go Pay semakin gusar.
Dia membentak keras, kemudian menghajar dengan kalap, Beberapa kali hampir saja serangannya mengenai tubuh kedua bocah yang mengeroyoknya, semakin lama mereka semakin kewalahan.
Go Pay mendongkol sekali melihat serangannya gagal, dengan tendangan berantai dia menyerang tubuh rajanya.
Namun justru tepat pada saat itu, terlihat asap mengepul dan debu beterbangan percuma saja Go Pay bermaksud mengibas dengan kedua tangannya, sebab abu kayu cendana yang halus sudah masuk ke dalam matanya.
Rupanya Siau Po kembali menggunakan cara yang licik itu untuk menghadapi lawannya.
Tanpa menunda waktu lagi, dia mengangkat hiolo tempat kayu cendana untuk mengharumkan ruangan Diangkatnya hiolo itu ke atas kemudian dihajarnya ke kepala si menteri laknat.
Hiolo jatuh di atas tanah dan pecah berantakan, tetapi Go Pay tidak apa-apa.
Sesaat kemudian tampak tubuhnya terhuyung-huyung kemudian jatuh terkulai di atas tanah.
Rupanya kepalanya hanya pusing dihajar terlalu keras oleh Siau Po dan lantas jatuh semaput.
Cepat Siau Po dan kaisar Kong Hi mengambil tali untuk mengikat tubuh orang itu kuat-kuat.
"Siau Kui cu, kau hebat sekali!"
Puji kaisar. Tidak lama kemudian Go Pay sudah sadar kembali Dia terkejut menyaksikan dirinya telah terikat ketat.
"Aku adalah menteri setia! Aku tidak berdosa! Mengapa aku dicelakai sedemikian rupa? Aku tidak puas!"
"Jangan cerewet."
Bentak Siau Po.
"Kau justru brengsek dan bermaksud berkhianat. Rupanya sudah lama kau merencanakan maksud jahatmu ini. Hayo kalau tidak, mengapa kau masuk ke dalam Gi Si Pong dengan membawa senjata tajam? Kau berdosa sekali sehingga patut mendapat hukuman mati selaksa kali!"
"Aku tidak membawa golok ataupun senjata tajam apa-apa!"
Bantah Go Pay.
"Sudah terang kau membawa senjata tajam!"
Bentak Siau Po tidak kalah bengisnya.
"Lihatlah, di punggungmu ada sebatang pisau belati, Demikian pula di tanganmu. Masih mau menyangkal?"
Padahal itulah pisau belati yang diserahkan Kong Hi kepadanya, Go Pay penasaran sekali, Dia berteriak-teriak menyangkalnya.
Raja mengawasi sisa thay-kam yang masih hidup, jumlahnya hanya tinggal empat orang.
"Kalian lihat sendiri, bukan? Go Pay sudah berani kurang ajar dan berniat jahat, Dia mau membunuh aku!"
Sisa para thay-kam itu memang sedang kebingungan apa sebenarnya yang telah terjadi.
Mereka juga tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Mendengar kata-kata raja, mereka hanya bisa menganggukkan kepalanya berulang kali.
"Ya...
ya...."
"Sekarang kalian keluar..."
Kata Raja kepada keempat thay-kam itu.
"Lekas kalian panggil orang Kong Cin-ong, Kiat Si dan Ngo Tu berdua datang kemari!"
Raja mengawasi mereka dengan tajam.
"Apa yang terjadi di sini, aku larang kau bicarakan dengan siapa pun juga, Kalau peristiwa ini sampai tersiar, hati-hati dengan batok kepala kalian!"
Keempat thay-kam itu segera mengiakan Setelah memberi hormat, bergegas mereka keluar dari kamar tulis raja.
"Penasaran! Penasaran!"
Teriak Go Pay seperti orang kalap.
"Sri Baginda sendiri ingin membinasakan aku, padahal aku adalah menteri yang setia, Kalau mendiang Sri Baginda mengetahui hal ini, pasti arwah nya tidak akan tenang."
Wajah Kong Hi menjadi merah padam, Dia memandang kepada Siau Po sambil berbisik.
"Kita harus mencari jalan agar dia tidak mengoceh terus."
"Ya!"
Sahut Siu Kui cu palsu, Dia segera menghampiri Go Pay dan memencet hidungnya, Dengan demikian mulut menteri itu jadi terbuka.
Kemudian dia memberi isyarat kepada Siau Hian cu.
Tentu saja Raja yang cerdik itu mengerti Dia segera mengambil pisau belati dari tangan Go Pay dan digunakan untuk memotong lidahnya, Go Pay meronta-ronta kemudian terdiam karena saking sakitnya, dia pun lantas semaput.
Siau Po menancapkan kedua bilah belati itu di atas meja, Kong Hi senang sekali melihat tindakan sahabatnya itu.
Kalau tidak ada bantuan Siau Po yang cerdik, tentu tadi dia sudah mati di tangan Go Pay.
Tidak lama kemudian keempat thay-kam tadi sudah balik lagi dengan Kong Cin-ong, Kiat Si dan So Ngo Ta.
Mereka melihat mayat-mayat yang bergelimpangan dan keadaan Go Pay yang mengenaskan, Keduanya sampai berdiri termangu-mangu beberapa saat.
Raja segera menjelaskan kepada mereka berdua.
"Go Pay mempunyai niat memberontak. Dia datang kemari dengan membawa senjata tajam, dengan berani dia mencoba menyerangku untuk membunuhku. Syukurlah roh para leluhurku masih melindungi aku sehingga niatnya itu tidak tercapai juga ada thay-kam cilik dari Siang Sian Tong ini bersama para thay-kam muda lainnya sehingga penjahat besar ini dapat dibekuk, sekarang aku serahkan pada kalian untuk mengurus hal selanjutnya."
Kong Cin-ong dan So Ngo Ta memang biasanya tidak cocok dengan Go Pay.
Mereka merasa tidak puas dengan tindak-tanduk menteri itu, sekarang menghadapi kenyataan ini, tentu saja mereka menjadi senang bukan main.
Tanpa diperintahkan untuk kedua kalinya, mereka langsung menjatuhkan diri berlutut memberi hormat kepada raja.
Terdengar raja berkata pula.
"Tentang Go Pay yang menyelinap kemari untuk membunuhku, sebaiknya jangan kalian beritahukan kepada siapa pun juga, dengan demikian Hong thay hou serta Thay hong tidak akan terkejut dan ketakutan. Lagipula hal ini bisa menjadi bahan tertawaan rakyat dan bangsa Han. Go Pay memang jahat, meskipun tidak ada kejadian ini, sudah sejak dulu dia patut dihukum mati!"
Kedua menteri itu mengangguk-anggukkan kepalanya ke atas lantai.
"Ya... ya..."
Sahut mereka serentak.
Meskipun demikian, dalam hati mereka sebetulnya timbul juga kecurigaan.
Kekuataan Go Pay luar biasa, lagipula dia juga tokoh nomor satu bangsa Boan Ciu, Bagaimana dia dapat dikalahkan dengan mudah oleh beberapa orang bocah cilik?
Di balik semua ini pasti ada apa-apanya, pikir kedua menteri itu.
Tetapi mereka tidak berani meminta keterangan dari raja.
Bahkan mereka sudah merasa senang karena satu saingan sudah tergeser.
Terdengar Kiat Si berkata.
"Perlu Baginda ketahui bahwa Go Pay mempunyai banyak antek di dalam istana, kalau perlu kita harus sapu bersih seluruh antek-anteknya. Kita harus mencegah apabila mereka berbalik pikiran, Hamba rasa sebaiknya Ngo tayjin tetap di sini saja untuk melindungi Baginda, jangan sampai berpisah satu tombak pun darinya. Hamba sendiri akan menurunkan titah untuk menawan seluruh antek Go Pay."
"Baik!"
Kata Raja menganggukkan kepalanya.
Kong Cin-ong memberi hormat kemudian mengundurkan diri.
sementara itu So Ngo Ta memperhatikan Siau Kui cu sambil tersenyum.
"Saudara cilik, hari ini kau berjasa telah menyelamatkan nyawa Sri Baginda, Kau sungguh hebat!"
Siau Po merendah.
"Semua ini berkat rejekinya Sri Baginda yang besar, Kami yang menjadi budak-budak, mana bisa berbuat jasa apa-apa!"
Kong Hi senang mendengar Siau Po tidak mengharap apa-apa, terutama dia tidak menceritakan perihal berkelahinya melawan Go Pay.
"Sayang sekali dia hanya seorang thay-kam sehingga tidak bisa dihadiahkan kedudukan yang tinggi. Baiknya ku hadiahkan jumlah uang yang besar saja,"
Pikir Kong Hi dalam hatinya.
Sementara itu, Kong Cin-ong bekerja dengan tangkas.
Dalam sekejapan saja seluruh antek Go Pay sudah dibekuknya, Dia kembali dengan membawa sejumlah menteri dan pangeran yang semuanya meminta maaf atas keteledoran mereka dan juga mengucapkan selamat kepada Sri Baginda yang terlepas dari marabahaya.
Akhirnya Raja dipersilahkan memilih pemimpin siwi yang baru dan sekaligus beberapa siwi lainnya untuk menggantikan antek-antek Go Pay yang tertangkap.
"Kalian pasti sudah letih sekali,"
Kata Raja, sementara itu, para pangeran dan menteri itu menjadi bergidik melihat mayat para thay-kam yang berserakan dalam keadaan mengenaskan.
Bahkan ada beberapa orang yang mencaci maki Go Pay karena kekejamannya itu.
Setelah itu Heng Pou Siang Si segera membawa Go Pay untuk dipenjarakan, sedangkan para pangeran dan menteri masih menghibur Raja dengan beberapa patah kata sebelum mengundurkan diri ke tempat masing-masing.
Kong Cin-ong juga menyampaikan pesan Raja agar tidak menyiarkan maksud jahat Go Pay supaya tidak membuat terkejut permaisuri atau ibu suri.
Cukup disalahkan karena kekurangajarannya dan tidak becus dalam pemerintahan saja.
Para pangeran itu memuji kebijaksanaan kaisar Kong Hi mengingat kejahatan Go Pay itu besar sekali, padahal selama Kong Hi memerintah, meskipun belum terlalu lama, tetapi juga bukan baru beberapa bulan, tampuk pemerintahan yang sebenarnya diatur oleh Go Pay, jadi raja cilik itu hanya mendengarkan apa yang dikatakan menterinya itu, sekarang melihat kebijaksanaannya, otomatis mereka merasa kagum dan tidak henti-hentinya memuji.
Kaisar Kong Hi sendiri merasa puas atas apa yang dilakukannya, rasanya baru sekarang dia dapat mencicipi bagaimana menjadi raja yang sesungguhnya.
Diam-diam dia melirik kepada Siau Kui cu.
Didapatinya bocah itu hanya berdiri diam di pojok, Kaisar Kong Hi berkata dalam hati.
"Aih! jasa bocah ini benar-benar sulit dibalas!"
Begitu para pangeran dan menteri-menteri sudah keluar semua, So Ngo Ta berkata kepada kaisar Kong Hi.
"Sri Baginda kamar tulis ini harus dibersihkan Keadaannya benar-benar tidak enak dilihat Sebaiknya Sri Bagihda kembali dulu ke kamar sendiri untuk beristirahat!"
Kong Hi mengangguk mengiakan Dia lantas mengundurkan diri.
Kong Cin-ong dan So Ngo Ta mengantarnya sampai di luar kamar Ketika raja hendak berlalu, Siau Kui cu masih berdiri di sudut dengan termangu-mangu.
Karena tidak mendapat perintah apa-apa, dia menjadi bingung apa yang harus dilakukannya.
Raja segera mengangguk kepadanya dan berkata.
"Mari ikut aku!"
Siau Po sudah menduga bahwa kamar raja itu pasti luar biasa indahnya, dia memang ingin sekali melihat kamar raja, tetapi begitu masuk ke dalam, dia jadi melongo.
Sebab kamar raja itu demikian sederhana sehingga hampir tidak berbeda dengan kamar rakyat umumnya.
Hanya bantal dan spreinya yang terbuat dari sutera bersulaman indah.
Kong Cin-ong dan So Ngo Ta tidak ikut masuk ke dalam kamar.
Mereka hanya mengantarkan dan kemudian mengundurkan diri.
Sebab kamar raja tidak boleh dimasuki orang lain kecuali para thay-kam, dayang-dayang, ratu serta selir-selir.
Sehabis minum ramuan Som Tung yang disajikan dayangnya, Kong Hi berkata kepada Siau Kui cu palsu.
"Siau Kui cu, mari kau ikut aku menghadap Hong thayhou!"
Kaisar Kong Hi belum menikah, kamarnya terpisah tidak jauh dari kamar Hong thayhou, Begitu sampai di sana, Kong Hi langsung masuk ke dalam, Siau Po disuruh nya menunggu di luar.
Berdiri menunggu di depan seorang diri, pikiran Siau Kui cu alias Siau Po melayanglayang.
"llmu Taycu Taypi Cian Yap-jiu telah aku kuasai demikian pula dengan ilmu Pat Kua Yu-Ciong ciang milik raja, Untuk apa aku terus menyamar sebagai thay-kam di sini? Setiap hari aku harus berlutut memberi hormat dan munduk-munduk kepada Siau Hian cu. Hal ini membuat pikiranku jadi mumet, Go Pay telah berhasil dibekuk, Siau Hian cu tidak memerlukan bantuanku lagi sebaiknya besok aku lari saja dari istana ini dan tidak perlu kembali lagi! pikirnya dalam hati. Selagi pikirannya bekerja, seorang thay-kam tua berjalan keluar dan menghampirinya.
"Saudara Kui, Hong thayhou menitahkan saudara masuk ke dalam untuk menyampaikan hormat kepada beliau,"
Katanya sembari tersenyum. Mendengar keterangannya, lagi-lagi hati Siau Po mengeluh.
"Celaka dua belas! Kembali aku harus bertekuk lutut dan mengangguk-angguk sehingga dahiku sakit karena membentur lantai terus menerus. Dan kau, Hong thayhou, mengapa bukan kau saja yang menjatuhkan diri berlutut dan mengangguk terhadap aku Wi Siau-po?"
Meskipun dia berpikir demikian, tetapi dengan sikap hormat dia mengiakan.
Kemudian dia mengiringi thay-kam itu masuk ke dalam kamar.
Mereka melewati dua buah ruangan, sampai di depan sebuah pintu, thay-kam tua tadi menyingkapkan tirai penyekat sambil berkata.
"Lapor kepada thayhou, Siau Kui cu telah datang menghadapi Selesai berkata, dia memberi isyarat kepada Siau Po. Siau Po mengerti. Dia melangkah masuk, Di bagian dalam masih ada selapis tirai lainnya yang bertaburkan batu manikam, sinarnya berkilauan. Sungguh indah, Tirai itu disingkap oleh seorang dayang. Sambil menunduk, Siau Po melangkahkan kakinya. Diam-diam dia melirik ke atas, dilihatnya seorang wanita cantik berusia kurang lebih tiga puluh enam tahun duduk di sebuah kursi. Dia langsung menduga bahwa wanita itulah Hong thayhou atau ibu suri. Tanpa menunda waktu lagi, dia segera menjatuhkan diri berlutut dan memberi hormat. Hong thayhou tersenyum sembari mengangguk kecil.
"Bangunlah!"
Perintahnya, Ketika Siau Po bangkit, dia berkata kembali "Sri Baginda mengatakan bahwa hari ini kau telah membuat jasa besar dengan membantu menawan Go Pay...."
"Harap thayhou ketahui bahwa hamba hanya tahu bagaimana bersetia kepada Sri Baginda dan melindunginya. Apa pun yang Sri Baginda titahkan, hamba hanya menjalankan. Usia hamba masih muda, karena itu pengetahuan hamba pun dangkal sekali"
Belum ada satu tahun Siau Po menjadi thay-kam gadungan dalam istana, tetapi karena otaknya cerdas, dengan cepat ia dapat mengerti adat istiadat yang berlaku di tempat itu.
Selama dia bermain judi, kawan-kawannya sering bercerita tentang pengalaman mereka dan dia mendengarkan dengan seksama.
Dia tahu bahwa raja maupun ibu suri tidak suka pada orang yang mengagul-agulkan jasanya.
Semakin besar pahalanya, orang itu harus bersikap pura-pura bodoh agar tidak timbul masalah yang tidak diinginkan jangan sekali-kali bersikap congkak dan angkuh, pasti usianya tidak bakal panjang.
Apalagi orang yang tidak disukai oleh junjungannya.
Ternyata ibu suri senang sekali dengan sikap Siau Po.
Terdengar dia berkata kembali.
"Kau masih muda, tetapi kau sudah tahu aturan dan setia, Kegagahanmu melebihi Go Pay yang telah menjadi siau-po. Aih, anak! Hadiah apakah yang pantas kita berikan kepadanya?"
Tanya ibu suri kepada Sri Baginda. Kong Hi menjawab dengan hormat.
"Silahkan thayhou saja yang memutuskannya."
Hong thayhou berpikir sejenak, terdengar dia seperti menggumam seorang diri.
"Di dalam Siang-sian tong, apakah tingkatanmu?"
Tanyanya kepada Siau Po.
"Ah, sudahlah, sekarang aku akan mengangkat kau menjadi thay-kam tingkat enam dan kepala thay-kam, Kau harus selalu mendampingi Sri Baginda!"
Mendengar kata-kata ibu suri, Siau Po ngedumel dalam hati.
"Masa bodoh kau mau mengangkat aku menjadi thay-kam tingkat satu sekalipun Tidak nanti aku akan menerimanya!"
Meskipun hatinya berkata demikian, dia langsung bertekuk lutut dan menganggukkan kepalanya seraya berkata.
"Terima kasih atas kebaikan thayhou!"
Dalam istana Ceng, tingkatan para thay-kam dibagi dalam kelompok congkoan (pengurus) yang semuanya berjumlah empat belas orang, Siuceng thay-kam seratus delapan puluh sembilan orang, jumlah thay-kam tidak terbatas, Mula-mula jumlahnya hanya beberapa orang, sekarang mungkin sudah lebih dari dua ribu orang.
Thay-kam tingkat empat menduduki jabatan tertinggi.
Ada pula tingkat yang paling rendah, yakni tingkat delapan, Siau Po dari thay-kam tanpa tingkat tiba-tiba dinaikkan kedudukannya menjadi thay-kam tingkat enam.
Kejadian ini bukanlah suatu hal yang mudah, boleh dibilang sangat jarang terjadi.
Ibu suri mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Baik-baiklah kau menjalankan tugasmu!"
"Ya... ya!"
Sahut Siau Po berulang-ulang, Dia pun lalu bangkit untuk mengundurkan diri, namun pada saat itulah dia melihat di samping meja ibu suri ada se
Jilid kitab yang diatasi kain kuning, Di atasnya tertulis "Si Cap Ji cing-keng! Siau Po jadi tertegun, Diamdiam dia berpikir dalam hati.
"Monyet! Lohu mencarinya dalam Gi-Si pong sampai berbulan-bulan, tapi tidak berhasil menemukannya, Tahu-tahu kitab itu ada di kamar ibu suri, Tentu saja sampai botak pun aku tidak akan mendapatkan hasil apa-apa!"
Hong thayhou tersenyum ketika mengetahui Siau Po sedang memperhatikan kitabnya.
"Eh, Siau Kui cu, apakah kau bisa membaca?"
"Hamba belum pernah bersekolah,"
Sahut Siau Po cepat "Hamba hanya mengenal beberapa huruf saja."
"Kalau begitu, bila ada kesempatan, ada baiknya kau belajar menulis dan membaca dari beberapa thay-kam tua."
"Baik,"
Sahut Siau Po sambil mengundurkan diri.
Ketika seorang dayang menyingkapkan tirai, diam-diam Siau Po memperhatikan ibu suri, Dia melihat wajah wanita itu agak pucat namun sepasang matanya sangat tajam dan alisnya berkerut Tampaknya ada sesuatu yang menyusahkan hatinya.
"Dia kan ibu suri, apa yang membuat pikirannya susah?"
Tanyanya dalam hati. Sesampainya di kamar, Siau Po menceritakan semua yang dialaminya kepada Hay kongkong, Ternyata Hay kongkong menyambut ceritanya dengan tawar.
"Sebetulnya sejak beberapa waktu yang lalu, hal itu sudah akan dilakukannya. Siau Po terkejut.
"Kongkong, apakah kau sudah tahu rencana Sri Baginda ini?"
"Sri Baginda belajar gulat, ini merupakan permainan yang paling digemari anak-anak, tapi dia belajar dengan serius, Apalagi dia juga mempelajari Patkua Yu-ciong ciang, tentu dia mengandung maksud tertentu, Dia juga menunggu sampai kau berhasil mempelajari Cian-yap jiu, baru dia mengajakmu membekuk Go Pay. Sungguh harus dikagumi kesabarannya itu."
Siau Po memalingkan kepalanya dan menatap Hay kongkong dengan perasaan heran.
"Kura-kura tua ini matanya sudah buta, tetapi urusan apa pun tidak dapat mengelabuinya,"
Pikirnya dalam hati Terdengar Hay kongkong bertanya kepada Siau Po.
"Bukankah Sri Baginda telah mengajakmu menemui Hong thayhou?"
"Benar!"
Sahut Siau Po yang semakin heran.
"Lagi-lagi dia tahu!"
"Apa yang dihadiahkan Hong thayhou kepadamu?"
"Aku tidak diberikan hadiah apa-apa. Hanya dianugerahi pangkat sebagai thay-kam tingkat enam dan Siuceng thay-kam..."
Hay kongkong tertawa terbahak-bahak.
"Bagus! Dibandingkan diriku, kau hanya kalah satu tingkat. Aku memerlukan waktu tiga puluh tahun baru mencapai tingkat ini, sedangkan kau hanya dalam waktu beberapa bulan saja."
Siau Po memperhatikan orang tua itu lekat-lekat.
"Besok aku toh akan meninggalkan istana ini, Kau telah mengajarkan aku berbagai iimu, tetapi aku malah membutakan kedua matamu, Dalam hal ini, akulah yang bersalah seharusnya aku mencuri kitab Si Cap Ji cing-keng itu sebagai balas budimu tetapi sayangnya buku itu sedang dibaca oleh ibu suri. Mana mungkin aku bisa mencurinya, Ada baiknya aku beritahukan saja kepadamu agar kau mencari jalan sendiri!"
Membawa pikiran demikian, dia segera berkata kepada Hay kongkong. "Kongkong, ketika hendak meninggalkan kamar ibu suri, aku melihat suatu benda yang menurutku cukup aneh."
"Apa itu?"
Tanya si thay-kam tua cepat.
"Kitab Si Cap Ji cing-keng yang kau ingin aku mencurinya, kongkong."
"Apa?"
Hay kongkong terperanjat sikapnya yang tenang sebagaimana biasanya tidak terlihat lagi.
"Apa kata-katamu benar?"
Tampangnya penuh semangat.
Dia langsung menghambur ke depan untuk menyambar tangan Siau Po.
Bocah itu terkejut setengah mati, Dia berniat menghindarkan diri, tapi baru kakinya menggeser sedikit, tahu-tahu tangannya sudah tercekal.
"Buat apa aku berbohong?"
Sahutnya gugup.
"Kitab itu berada di samping meja ibu suri. Aku juga melihat kain pembungkus yang terbuat dari sutera berwarna kuning, Di atasnya terdapat lima huruf dengan sulaman indah, Si Cap Ji cin-keng."
Untuk beberapa saat Hay kongkong berdiam diri.
"Kongkong,"
Kata Siau Po kembali "Kalau kau hendak mencuri kitab itu dari kamar ibu suri, tentunya sulit sekali.
Kalau menurutku, sebaiknya kau berterus-terang saja kepada Sri Baginda, apabila ibu suri telah selesai membacanya, kau ingin meminjamnya sebentar, Atau kau minta saja terang-terangan."
"Tidak, tidak bisa!"
Sahut Hay kongkong cepat.
"Jangan kau bicara yang tidak-tidak!"
Untuk beberapa saat Hay kongkong berdiam diri. Sejenak kemudian baru dia berkata lagi.
"Tidak mungkin... tidak mungkin...."
Tidak sanggup dia meneruskan kata-katanya, Celakanya pada tangan Siau Po dilepaskan.
Dia duduk kembali, tiba-tiba dia batuk-batuk dengan keras sampai-sampai tubuhnya meringkuk.
Melihat keadaan orang tua itu, timbul rasa iba dalam hati Siau Po.
"Tua bangka ini sungguh aneh,"
Katanya dalam hati.
Malam itu Hay kongkong terus terbatuk-batuk, bahkan dalam keadaan tertidur Siau Po masih bisa mendengarnya.
Besok paginya Siau Po pergi ke Gi si pong untuk melayani Sri Baginda, Dia melihat para siwi yang menjaga di luar sudah diganti dengan orang baru.
Tidak lama kemudian, muncullah Sri Baginda di dalam kamar tulisnya, Kemudian menyusul Kongcin ong Kiat-si dan So Ngo-tu, Mereka berdua memberikan laporan bahwa setelah bekerja sama dengan para pangeran dan menteri lainnya, didapatkan kesalahan Go Pay berjumlah tiga puluh macam.
"Tiga puluh macam?"
Kaisar Kong Hi sampai berseru saking terkejutnya, Hal ini benar-benar di luar dugaannya.
"Masa begitu banyak?"
Kongcin ong segera menjura dan berkata.
"Pada dasarnya dosa Go Pay memang banyak sekali, bukan hanya tiga puluh macam saja, jumlah ini dikumpulkan berdasarkan pertimbangan dan kebijaksanaan Sri Baginda agar dia mendapat keringanan."
"Baiklah! Apa saja ketiga puluh macam dosa itu?"
Tanya Kong Hi. Kongcin ong mengeluarkan sehelai kertas dari dalam lengan pakaiannya dan membacakannya keras-keras.
"Rupanya kejahatan orang itu demikian banyak Lantas hukuman apa yang pantas diberikan kepadanya?"
Tanya Kong Hi kembali.
"Seharusnya dia dijatuhi hukuman picis, tetapi sekarang dia mendapat keringanan, yakni hukuman dicopot pangkatnya serta penggal kepala, sedangkan seluruh antekanteknya seperti Pi Lung, Panpu Erl Shan dan Ho shasia sekalian...."
Raja merenung sesaat, kemudian dia mengangkat tangannya menahan ucapan menterinya.
"Dosanya Go Pay memang besar sekali tetapi dia adalah seorang menteri besar dan telah banyak berjasa pada kerajaan sebaiknya dia dibebaskan dari hukuman mati. Hukumannya dipecat serta dipenjarakan saja, tetapi untuk selama-lamanya dia tidak boleh dibebaskan ataupun dikunjungi. Mengenai kaki tangannya boleh turuti pertimbangan kalian tadi, yakni dihukum mati agar tidak ada lagi yang berani mendengar hasutan orang lain untuk berkhianat."
Kong cin ong segera berlutut dan menerima baik titah Sri Baginda, dia memuji kebijaksanaan rajanya itu.
Diam-diam Siau Po yang menyaksikan dari samping menertawakan dalam hati "Luka di punggung Go Pay yang terkena tikaman cukup parah, umurnya juga tidak bakal panjang lagi.
Dihukum mati atau tidak, apa bedanya ?
" "
Bendera sulam kuning adalah salah satu dari tiga bendera utama, Karena itu meskipun Go Pay berdosa dan patut menerima hukuman, tapi kesalahannya tidak boleh mengaitkan bendera lainnya.
Dalam urusan ini kita harus bertindak adil,"
Kata Kong Hi selanjutnya.
"Baik!"
Sahut Kiat Si dan yang lainnya.
Siau Po hanya mendengarkan dari samping.
Dia belum paham persoalan mengenai bangsa Boanciu yang terpecah di antara beberapa bendera, Dia hanya mendengar bahwa Go Pay menjadi pemimpin oey-ki (bendera kuning) dan Suke Shasia menjadi pemimpin pek-ki (bendera putih).
Kedua pemimpin itu tidak akur satu dengan lainnya.
"Sekarang kalian boleh pergi Biar So Ngo-tu tetap di sini. Masih ada masalah yang ingin kubicarakan dengannya,"
Kata kaisar Kong Hi. Kiat Si dan yang lainnya mengiakan, dia mengajak rekan-rekannya memberi hormat kepada Sri Baginda kemudian mengundurkan diri.
"Ketika Suke Shasia dibunuh oleh Go Pay, tentunya semua harta benda juga disita bukan?"
Tanya Kong Hi kepada So Ngo-tu.
"Semua harta benda Suke Shasia berikut tanah dan sawahnya telah disita untuk negara, tetapi saat itu Go Pay juga menggeledah seluruh isi rumah Suke Shasia dan merampas emas intan dan permatanya."
"ltu sudah kuduga,"
Kata kaisar Kong Hi.
"Sekarang kau ajak beberapa orangmu ke rumah Go Pay, cari harta bendanya Suke Shasia untuk dikembalikan pada anak cucunya."
"Baik, Sri Baginda!"
Sahut So Ngu-tu. Dia segera mengundurkan diri karena raja tidak mengatakan apa-apa lagi. Tapi ketika menteri itu melangkah perlahan menuju pintu, terdengar Kong Hi berkata kembali.
"Masih ada lagi pesan dari Hay Hong thayhou, Seperti kalian ketahui, ibu suri senang membaca kitab Buddha, Konon di tangan kedua pemimpin pek-ki dan oey-ki masingmasing menyimpan se
Jilid kitab Si Cap Ji cin-keng...."
Siau Po terkesiap mendengar kata-kata kaisar Kong Hi. Kitab itulah yang dicari Hay kongkong, Dia segera memasang telinganya mendengarkan Kaisar Kong Hi melanjutkan kata-katanya.
"Kedua kitab itu dibungkus dengan kain sutera, Kitab bendera putih dibungkus dengan sutera putih. sedangkan kitab bendara kuning dibungkus dengan kain sutera berwarna kuning, Di rumah Go Pay, sekalian kau cari kitab itu dan bawa kemari apabila kau menemukannya."
So Ngo-tu menerima baik titah itu. Dia tahu raja masih muda sekali, tetapi sangat berbakti kepada Hong thayhou, Apa pun kehendak ibu suri selalu diturutinya.
"Siau Kui cu!"
Kaisar Kong Hi menoleh kepada Siau Po.
"Kau ikutlah dengan So Ngotu, kalau kitab itu berhasil diketemukan, bawalah kemari."
Siau Po senang sekali mendapat tugas itu. Hanya diam-diam dia berpikir dalam hati.
"Kitab itu aneh sekali, Jadi jumlahnya ada tiga? Biar bagaimana aku harus memeriksanya nanti, lagipula sudah lama aku berdiam di dalam istana dan tidak pernah pergi ke mana-mana. perasaanku memang sudah jenuh, walaupun aku sudah mengambil keputusan untuk meninggalkan istana besok, tapi kalau ada kesempatan niat ini boleh dipercepat Ada baiknya aku menggunakan peluang ini untuk pergi dari sini!"
So Ngo-tu berjalan di samping Siau Po.
Dia sadar thay-kam cilik itu gagah perkasa dan sangat disayangi Raja, Apalagi dia telah membuat jasa besar dengan membantu membekuk Go Pay.
Dia menduga Kaisar tentunya mempunyai maksud tertentu karena untuk mengambil kitab saja, toh tidak perlu diiringi si thay-kam cilik ini.
Dia sendiri juga dapat menyelesaikan tugasnya.
Sebuah ingatan melintas dalam benaknya.
"Hm! Aku mengerti sekarang, Pasti Sri Baginda ingin menghadiahkan sesuatu kepada bocah ini. Go Pay mempunyai harta benda yang banyak dan inilah kesempatan untuk memenuhi saku, tetapi Sri Baginda mencurigai aku sehingga mengutus thay-kam ini untuk mengawasi aku...."
Dengan berpikir demikian, So Ngo-tu segera memaklumi apa yang harus dilakukannya, Mereka berdua pun keluar dari istana, Di luar telah menunggu beberapa orang pengawal.
Sesampainya di luar, So Ngo-tu berkata kepada Siau Po sambil tersenyum.
"Kui kongkong, silahkan naik kuda!"
Di dalam hatinya, dia menduga thay-kam cilik ini pasti tidak bisa menunggang kuda, karena itu dia berjaga-jaga di sampingnya.
Tetapi kenyataannya, meskipun belum mahir, Siau Po pernah belajar silat, kuda-kudanya sudah cukup mantap, dia dapat naik ke punggung kuda dengan baik.
Tidak lama kemudian mereka sudah sampai di rumah Go Pay.
Tanpa menunggu waktu lagi, mereka langsung masuk ke dalam, So Ngo Ta tertawa dan berkata kepada Siau Po.
"Kui kongkong, lihat barang-barang ini. Mana yang kau suka, silahkan ambil saja, Sri Baginda menttahkannya kongkong ikut denganku mengambil kitab, sebenarnya beliau mempunyai maksud tertentu, yakni ingin memberikan hadiah untukmu. Apa juga yang kongkong ambil di sini, Sri Baginda pasti tidak perduli."
Bukan main ramahnya sikap So Ngo-tu terhadap si bocah cilik, Dia selalu memanggilnya dengan sebutan kongkong.
Sementara itu, Siau Po masih terkesima melihat barang-barang yang ditunjukkan kepadanya, semuanya terdiri dari harta benda yang tidak terkirakan nilainya, Ada batu permata yang indah, emas, berlian dan lain-lainnya.
Dia juga melihat bahwa semua perabotan yang ada di dalam rumah Go Pay lebih indah dari Li Cun-wan, rumah pelesiran di Yang-ciu.
Dia menjadi bingung, barang apa yang harus diambilnya?
Namun Siau Po juga teringat bahwa dia sudah mengambil keputusan untuk meninggalkan istana besok, tentu tidak leluasa baginya membawa barang banyak-banyak dalam perjalanan.
Ketika So Ngo-tu mencatat barang-barang yang ada di dalam rumah itu, Siau Po mengambil salah satu di antaranya, Batu permata itu sudah dicatat oleh bawahan So Ngo-tu.
Begitu melihat si bocah mengambil salah satunya, orang itu segera menghapus tulisannya untuk dikurangi jumlahnya, tetapi Siau Po meletakkannya kembali dan orang itu pun terpaksa menulis sekali lagi.
Berdua mereka memeriksa gudang itu, seorang bawahan So Ngo-tu menghampiri atasannya dan memberikan laporan.
"Harap tayjin berdua ketahui, di dalam kamar Go Pay ada sebuah gudang penyimpanan barang-barang, Hamba tidak berani lancang, karena itu harap tayjin berdua memeriksanya sendiri."
So Ngo-tu senang menerima laporan itu.
"Bagus! Sebuah gudang? Tentu digunakannya untuk menyimpan barang-barang berharga, Bagaimana dengan kedua kitab yang dikatakan Sri Baginda, Apakah kalian sudah berhasil menemukannya?"
"Dalam berpuIuh-puluh kamar yang ada di gedung ini, kedua
Jilid kitab itu tidak diketemukan. Yang ada hanya buku-buku perhitungan saja. Tapi kami masih mencari terus,"
Sahut bawahannya.
Dengan menuntun tangan Siau Po, So Ngo-tu mengajaknya ke kamar tidur Go Pay.
Di kamar yang sebelumnya terdapat banyak uang serta batu permata dan harta lainnya, namun di kamar tidurnya sendiri, perabotannya cukup sederhana, Lantainya ditutupi dengan lempengan besi yang ditutup dengan kulit harimau, sedangkan di tembok tergantung busur yang lengkap dengan anak panahnya, Ada juga golok dan pedang, Hal ini membuktikan bahwa penghuninya seorang yang gemar berburu.
Karena kulit harimau dan lempengan besi penutup lantai telah dibuka, maka terlihatlah sebuah celah yang cukup Iebar, Dua orang pengawal berdiri di kedua sisi celah itu.
"Bawa keluar semua barang yang ada di dalamnya!"
Perintah So Ngo-tu kepada pengawal itu.
Keduanya segera mengiakan dan masuk ke dalam celah tersebut Mereka tidak lama di dalam celah itu, barang-barang pun mulai disodorkan dari bawah yang mana kemudian disambut oleh pengawal lainnya di atas.
mereka menyusunnya di atas kulit harimau.
"Semua barang berharga Go Pay pasti disimpan dalam lubang ini. Kui kongkong, kau pilih saja barang apa yang kau sukai, aku yakin kau tidak akan salah memilih,"
Kata So Ngo-tu sambit tersenyum. Siau Po ikut tertawa.
"Jangan sungkan, Kau juga pilih saja!"
Baru mengucapkan dua patah kata, tiba-tiba Siau Po mengeluarkan seruan tertahan, karena tangannya menggenggam sebuah bungkusan dari kain sutera berwarna putih, Di atasnya tersulam lima huruf dengan indah.
"Si Cap Ji Cinkeng." "Nah, itu dia!"
Seru So Ngo-tu. Kemudian dia mengambil lagi bungkusan lain yang terbuat dari sutera berwarna kuning.
"Bagus, Kui kongkong! Kita berhasil mendapatkan kedua
Jilid kitab ini, Hong thayhou pasti senang sekali dan kita bakal mendapat hadiah besar!"
Sikap Siau Po tetap tenang.
"Mari kita periksa dulu buku ini,"
Katanya sembari membuka bungkusan yang pertama."
"Kongkong, ada sesuatu yang ingin kukatakan, aku harap kongkong tidak menjadi salah paham karenanya."
Siau Po senang menghadapi sikap So Ngo-tu yang berpangkat tinggi namun selalu mengucapkan kata-kata yang sopan kepadanya, Selama di Yang-ciu, setiap hari dia dihina para tamu dan kebanyakan memanggilnya dengan sebutan yang tidak enak didengar, umpamanya kura-kura kecil atau anak haram.
Belum ada yang memperlakukannya sebaik itu.
Kadang-kadang dia merasa heran atas perubahan menyolok yang dialaminya.
"Ada perintah apa, So tayjin? silahkan utarakan saja,"
Kata Siau Po.
"Memerintah? Mana aku berani?"
Sahut So Ngo-tu tersenyum.
"Begitu, aku lebih tua beberapa tahun darimu, dan tiba-tiba saja terlintas sebuah ingatan di benakku, Kui kongkong, kitab-kitab ini merupakan permintaan Hong thayhou dan Go Pay punya menyimpannya di tempat yang demikian rahasianya, pasti kitab ini penting sekali, Namun di mana letak pentingnya? Aku juga ingin sekali melihat isinya, tapi aku khawatir kalau isinya tidak disukai oleh Hong thayhou, sedangkan kita sudah mendahului beliau membukanya, bukankah kita akan celaka karenanya?"
Siau Po terkejut setengah mati. Cepat-cepat dia letakkan kembali kitab itu.
"Kau benar, So tayjin, Terima kasih atas nasehatmu Kalau tidak, kemungkinan kita berdua akan tertimpa bencana,"
Kata Siau Po.
"Jangan berkata demikian, kongkong, Kita dititahkan untuk bekerja sama, Di antara kita tidak ada perbedaan derajat, Kalau aku tidak memandang kongkong sebagai orang sendiri, mana mungkin aku berani bicara terus-terang, iya kan?"
"Tapi, tayjin, Kau adalah seorang menteri besar, sedangkan aku hanya seorang budak hina. Mana boleh dianggap sebagai orang sendiri?"
Kata Siau Po. So Ngo-tu mengibaskan tangannya.
"Kalian keluar du!u!"
Perintahnya kepada para bawahannya. Para pengawal itu segera mengiakan sambil menjura, begitu orang-orang itu mengundurkan diri, Hay So Ngo-tu segera menarik tangan Siau Po sambil berkata.
"Kongkong, jangan kau ucapkan kata-kata itu lagi, bahkan kalau kongkong tidak keberatan, aku ingin mengikat tali persaudaraan denganmu."
Siau Po tertegun.
"Kita mengangkat jadi saudara? Mana mungkin?"
"Sudah kukatakan, kongkong jangan mengucapkan kata-kata itu. Sama saja kongkong tidak memandang sebelah mata kepadaku, Entah mengapa, mungkin karena jodoh, begitu pertama kali melihat kongkong, aku langsung mempunyai perasaan akrab, Senang sekali rasanya dapat bergaul denganmu, Nah, kalau kau memang tidak keberatan, kita pergi ke ruang sembahyang untuk mengangkat sumpah di sana. Dengan demikian kita mengangkat persaudaraan Asal Sri Baginda tidak tahu, tentu tidak ada yang berani mengatakan apa-apa."
So Ngo-tu menggenggam tangan Siau Po erat-erat, sikapnya serius sekali, Dia memang seorang menteri yang berpandangan jauh dan pengamatannya tajam sekali.
Dia sadar bahwa bersahabat dengan si thay-kam cilik akan membawa manfaat besar baginya, Bukankah thay-kam cilik ini sangat disayang oleh Sri Baginda dan juga ibu suri?
Meskipun Siau Po juga seorang bocah yang cerdas, tapi dalam soal kelicikan dia masih kalah jauh dengan So Ngo-tu, Karena itu pula dia mudah terbujuk mulut manis.
"Mari!"
Kata So Ngo-tu sambil menarik tangan Siau Po.
Bangsa Boanciu memuja sang Budha, itulah sebabnya dalam setiap rumah para pembesar, menteri maupu orang sipil terdapat ruang pemujaan.
Demikian pula dengan gedung kediaman Go Pay ini.
So Ngo-tu langsung mengambil hio yang mana kemudian disulutnya dan diajaknya Siau Po menjatuhkan diri berlutut bersama-sama.
"Murid bernama So Ngo-tu, hari ini murid bersama...."
"Kui Siau-Po!"
Kata Siau Po menyebut namanya, tapi dia menggunakan she Kui. "Benar-benar edan! Aku sampai lupa menanyakan nama lengkapmu!"
Seru So Ngotu sambit menepuk kepalanya sendiri.
"Siau Po.... Nama yang bagus, kau memang mustika di antara manusia!"
Siau Po artinya mustika kecil, Dan saat itu, ketika mendengar ucapan So Ngo-tu, Siau Po justru berkata dalam hatinya.
"Hm, itu katamu, Di Yang-ciu, orang justru memanggilku si kura-kura kecil!"
So Ngo-tu melanjutkan sumpahnya.
"Murid, So Ngo-tu. Hari ini, murid mengangkat saudara dengan Kui Siau Po, untuk selanjutnya kami akan hidup bahagia dan sengsara bersama-sama, Siapa tidak jujur atau tu!us, biarlah dia diku-tuk, untuk selamanya tidak bisa maju dan akan mendapat celaka di akhir nanti."
Selesai bersumpah, dia menyembah tiga kali, kemudian berkata kepada Siau Po.
"Nah, sekarang giliranmu!"
Bagian 07 Siau Po menurut, dia juga memasang hio dan menjatuhkan diri berlutut serta menyembah Namun sebelum mengucapkan sumpahnya, diam-diam dia berkata dalam hati.
"Aku lebih muda, tak sudi aku mati bersama-sama denganmu Lagipula namaku bukan Kui Siau Po!"
Setelah itu baru dia bersumpah "Murid Kui Siau Po, thay-kam dalam istana dan sehari-harinya dipanggil Siau Kui cu, hari ini mengangkat saudara dengan So Ngo-tu tayjin.
Kami ingin hidup bahagia dan sengsara bersama-sama, Kami tidak terlahir dalam hari, bulan dan tahun yang sama, tapi ingin mati bersama dalam hari, bulan serta tahun yang sama, jikalau Siau Kui cu tidak jujur dan setia, biarlah Siau Kui cu terkutuk Tidak akan berumur panjang dan selamanya tidak mendapat rejeki."
Selesai bersumpah, dia menyembah lagi tiga kali, otaknya memang cerdik Dia terus menyahut nama Siau Kui cu, dengan demikian yang bersumpah itu bukan dia, tapi Siau Kui cu adanya.
Setelah itu, keduanya saling memberi hormat dengan berlutut dan menganggukkan kepala sebanyak delapan kali.
"Saudara Kui, sekarang kita telah mengangkat saudara, kita harus bergaul lebih daripada saudara kandung sendiri, Lain kali, bila kau memerlukan bantuan, silahkan katakan saja terus-terang. jangan sungkan-sungkan."
Siau Po tertawa.
"Hal itu tidak usah dibicarakan lagi, Sejak dilahirkan, aku memang tidak tahu apa arti sungkan."
Kembali So Ngo-tu tersenyum.
Tentang pengangkatan saudara ini, ada baiknya jangan diketahui pihak ketiga agar tidak menimbulkan kesirikan orang lain, menurut peraturan kerajaan, kami dari menteri pihak luar tidak boleh bergaul akrab dengan pembesar dalam istana, Karena itu, sebaiknya urusan ini diketahui kita berdua saja."
"Benar!"
Sahut Siau Po menyetujui pendapat itu.
"Saudara Kui, di hadapan umum aku tetap memanggilmu Kui kongkong, dan kau tetap menyebutku So tayjin, ini demi kebaikan kita masing-masing, Beberapa hari lagi, aku akan mengundangmu ke rumahku untuk minum arak sambil menonton Dengan demikian kita dua bersaudara dapat merasakan saat-saat menyenangkan bersamasama."
Siau Po senang sekali, Dia tidak suka minum arak, tapi nonton wayang merupakan kegemaran utamanya, Dia langsung bertepuk tangan sambil tertawa gembira.
"Bagus! Aku memang suka nonton. Kapan?"
"Kalau kau memang suka nonton, aku bisa mengundangmu setiap waktu. sebaiknya kau yang tentukan sendiri kapan waktu senggangmu."
"Bagaimana kalau besok?"
"Baik! Besok pun jadi. Siang-siang aku akan menunggumu di depan pintu,"
Sahut So Ngo-tu.
"Tapi bagaimana dengan aku? Apakah seorang thay-kam dapat keluar masuk istana dengan leluasa?"
"Mengapa tidak? Asal kau sudah selesai melayani Sri Baginda, tidak ada pekerjaan lagi yang harus kau lakukan. Kau kan Sieceng thay-kam dan kau juga sangat disayang oleh Sri Baginda, Siapa yang berani melarangmu?" Siau Po tersenyum Dalam hati dia sudah mengambil keputusan untuk meninggalkan istana dan tidak akan kembali lagi, Tetapi kalau dipikir-pikir lagi sekarang, dia tidak berniat meninggalkan istana itu cepat-cepat karena rupanya dia dapat keluar masuk dengan bebas.
"Baiklah, demikian saja kita tetapkan, Kita adalah saudara, senang sama-sama, nonton pun harus sama-sama,"
Katanya kemudian. So Ngo-tu segera menarik tangannya.
"Nah, mari kita kembali ke kamar Go Pay!"
Siau Po menurut. Di kamar Go Pay, So Ngo-tu mulai memeriksa daftar barangbarang dan meneliti benda-benda lainnya yang dikeluarkan dari dalam gudang rahasia.
"Saudara, apa yang kau inginkan?"
Tanyanya kepada Siau Po.
"Aku tidak tahu barang apa yang paling berharga, Toako, kau saja yang pilihkan buatku."
"Baik!"
Sahut So Ngo-tu yang segera mengambil dua rangkaian mutiara dan sebuah kuda-kudaan dari batu kumala.
"Kedua barang ini sangat berharga, kau menyukainya bukan?"
"Aku sih suka saja,"
Kata Siau Po.
Dia langsung menerima benda-benda yang disodorkan itu kemudian dimasukkan ke dalam saku pakaiannya.
Setelah itu, Siau Po iseng-iseng menjamah barang-barang lainnya, tangannya secara sembarangan mengambil sebilah pisau belati yang panjangnya kurang lebih lima dim.
sarungnya terbuat dari kulit ikan.
Beratnya tidak berbeda dengan belati lainnya, Tanpa disengaja dia mencabut belati itu, tiba-tiba dia merasa ada serangkum hawa dingin yang menerpa.
Siau Po mengeluarkan seruan tertahan, Dia segera memperhatikan belati itu dengan seksama, Anehnya, tubuh belati itu berwarna hitam pekat dan tidak mengkilap, malah warnanya agak kusam.
Dia menduga belati itu tentunya sejenis senjata pusaka, sebab Go Pay menyimpannya di gudang rahasia.
Namun bentuknya tidak jauh dengan belati biasa, dengan ayal-ayalan dia melemparkan pisau itu, tetapi dia dikejutkan suara yang keras.
Rupanya pisau itu menancap di ujung meja sampai sebatas gagangnya.
"Ah!"
So Ngo-tu juga mengeluarkan seruan terkejut.
Keduanya mengawasi dengan mata terbelalak, lebih-lebih Siau Po, karena dia tahu bahwa dia melemparkan sembarangan tetapi ternyata sanggup menembus meja itu.
"Aneh! Belati itu tajam sekali, sehingga meja itu seperti sepotong tahu saja!"
Cepat-cepat Siau Po mengambil belati itu dan memperhatikannya dengan teliti.
"Pisau belati ini aneh sekali!"
Pengalaman So Ngo-tu sudah banyak sekali, suatu ingatan melintas di benaknya.
"Mari kita coba lagi!"
Katanya sambil mengambil sebatang golok Go Pay yang tergantung di dinding kamar, Ketika dia menghunusnya, golok itu mengeluarkan cahaya berkilauan yang menandakan tajamnya yang luar biasa.
Dia merentangkan golok itu kemudian berkata kepada Siau Po.
"Saudara, coba kau tebas golok ini dengan belati itu!"
Siau Po menurut.
Dia mengayunkan belati ditangannya untuk menebas go!ok.
Keduanya pun jadi tertegun seketika.
Karena kenyataannya golok itu terkutung menjadi dua bagian begitu saja oleh tebasan belati tersebut.
"Bagus!"
Seru mereka serentak Golok itu terkutung seperti kayu yang dibelah, tidak terdengar suara dentingan logam sebagaimana biasanya, Hal ini membuktikan bahwa senjata belati itu memang benda mustika yang langka.
"Saudaraku, selamat!"
Kata So Ngo-tu kepada Siau Po. Bibirnya ramai dengan senyuman.
"Beruntung sekali kau mendapatkan senjata pusaka itu, Menurut pendapatku di antara semua benda-benda milik Go Pay, mungkin belati ini yang paling berharga!"
Tentu Siau Po senang sekali.
"Toako, kalau kau menginginkannya, ambillah!"
So Ngo-tu segera mengibaskan tangannya.
"Tidak! Kakakmu ini pembesar militer, sekarang menjadi pembesar sipil, perang sudah selesai, kami tidak membutuhkan senjata tajam lagi, sebaiknya yang simpan kau saja belati itu."
Siau Po menganggukkan kepalanya, Dia segera menyelipkan pisau itu di pinggangnya.
"Saudara, ukuran belati itu pendek sekali. sebaiknya kau selipkan dari kaos kakimu saja. Lagi-pula menyelipkan di pinggang mudah terlihat, nanti timbul banyak pertanyaan." Memang ada peraturan dalam istana kaisar Ceng, kalau bukan siwi tingkat satu, siapa pun dilarang membawa senjata tajam. Siau Po segera mengiakan dan menyelipkan belatinya dalam kaos kaki. Dia sudah mendapatkan pisau pusaka itu, hal lain tidak menarik perhatiannya lagi, Dia terus memikirkan pisau itu sementara yang lainnya bekerja. Di keluarkannya lagi pisau belati itu dan dicobanya untuk menebas tombak yang ada di sudut ruangan. Ternyata tombak itu juga terkutung jadi dua bagian, Setelah itu dia seperti ketagihan, apa saja yang ditemuinya, dibabat seenaknya. Terakhir dia malah menggurat gambar seekor kura-kura di atas meja. Setelah selesai, jatuhlah bagian yang di guratnya ke atas lantai dengan bentuk seekor kurakura. Sementara itu, So Ngo-tu yang asyik memeriksa barang-barang, melihat sepotong pakaian yang tipis sekali, Dia merasa heran karena pakaian itu mengeluarkan cahaya seperti perak. Dia segera mengambil pakaian itu dan mengangkatnya, terasa ringan seperti kapas, pakaian itu bukan terbuat dari bahan sutera, entah dari bahan apa, pokoknya halus sekali.
"Saudaraku, kemarilah!"
So Ngo-tu memanggil Siau Po. Dia ingin mengambil hati adik angkatnya itu, Karena itu, barang bagus yang ditemukannya, langsung dia serahkan kepada Siau Po agar hati bocah itu senang.
"Adik, coba kau pakai baju ini, rasanya pasti hangat sekali, buka dulu baju luarmu dan pakai ini di bagian dalam."
"Apakah itu juga baju pusaka? Apakah mengandung keajaiban?"
Tanya Siau Po.
"Entahlah, kau pakai saja,"
Sahut So Ngo-tu.
"Baju ini kebesaran...."
"Tidak apa-apa. Baju ini kan tipis dan lemas, longgar sedikit tidak menjadi masalah."
Siau Po menerima baju itu. Memang ringan sekali. Dia teringat ketika di Yang-ciu, ibunya juga membuatkan sehelai baju hangat untuknya, tetapi sebelum selesai, dia sudah pergi.
"Ada baiknya aku pakai baju ini, Nanti kalau pulang ke Yang-ciu, aku akan memperlihatkannya kepada ibu,"
Pikirnya dalam hati.
Siau Po langsung membuka baju luarnya dan mengenakan baju tipis itu.
Baju itu memang kebesaran tetapi empuk dan hangat.
Kemudian So Ngo-tu meminta daftar yang telah dicatat orang-orangnya.
Dia mendapatkan jumlah yang besar sekali, Untuk beberapa saat dia sampai terkesima karenanya.
"Sungguh luar biasa kekayaan Go Pay ini, Harta bendanya melebihi dugaanku."
So Ngo-tu memberi isyarat dengan gerakan tangan agar orang-orangnya mengundurkan diri. Setelah itu baru dia berkata lagi kepada Siau Po.
"Saudara, ada pepatah bangsa Han yang mengatakan "merantau sejauh ribuan li untuk memperkaya diri."
Sekarang kebetulan kita mendapat tugas yang menyenangkan Kita ambil saja sebagian harta ini, nanti akan kuubah daftarnya. Bagaimana menurut pendapatmu?"
"Aku tidak mengerti hal semacam ini,"
Sahut Siau Po.
"Urusan ini aku serahkan kepada toako saja."
So Ngo-tu tertawa.
"Jumlah kekayaan Go Pay seluruhnya ada 2.353.481 taiI. Bagaimana kalau kita main sulap sedikit dengan merubah angka dua di depan menjadi satu? Setuju?"
Siau Po terperanjat.
"Maksud toako...?"
Dia bingung, sebab jumlah yang hendak dikurangkan So Ngo-tu mencapai satu juta tail, Kemudian jumlah itu akan dibagi rata dengannya. So Ngo-tu tertawa lebar.
"Saudara, apakah kau menganggap jumlah itu terlalu sedikit?"
"Bu... bukan begitu,"
Sahut Siau Po gugup.
"Hanya... saja aku masih kebingungan."
"Begini, saudara, Dari jumlah itu kita ambil satu juta tail yang kemudian kita bagi dua. Dengan demikian, satu orang mendapatkan lima ratus tail, Tapi kalau kau menganggapnya masih kurang, kita bisa atur lagi."
Wajah Siau Po menjadi pucat pasi seketika, Ketika di Yang-ciu, apabila dia mendapatkan uang sebanyak lima atau enam tail saja, dia sudah merasa dirinya tibatiba menjadi orang terkaya di dunia, Tapi sekarang dia justru ditawarkan harta senilai lima ratus tail.
Bayangkan!
Siau Po hampir tidak percaya pada pendengarannya sendiri.
Sebetulnya Siau Po masih terlalu muda untuk memahami tujuan So Ngo-tu yang sebenarnya.
Menteri itu ingin memenuhi kantongnya sendiri, tapi dia khawatir Siau Po akan mengadukannya kepada Sri Baginda.
Karena itu, dia menawarkan bocah itu untuk mengambil apa saja yang ia sukai dan diberi bagian setengah dari jumlah harta yang akan disulapnya.
Dengan demikian, Siau Po tentu tidak berani berkata apa-apa kepada kaisar Kong Hi.
"Eh, saudara, ada apa denganmu? Kau tahu aku akan menuruti apa pun kehendakmu,"
Kata So Ngo-tu heran. Siau Po menghembuskan nafas lega.
"Toako, aku toh sudah mengatakan bahwa terserah kau saja, Kau ingin membagi aku setengah dari jumlah itu, rasanya terlalu banyak...."
"Tidak, tidak terlalu banyak, Begini saja, kalau adik merasa jumlahnya terlalu banyak, Bagaimana kalau kita kurangi sejumlah seratus ribu tail untuk dibagikan rata kepada orang-orangku ini. Jadi kita masing-masing mendapat empat ratus lima puluh ribu tail."
"lde bagus, Tapi sayangnya aku tidak tahu bagaimana cara membaginya,"
Sahut Siau Po.
"Mudah, serahkan saja pada toakomu ini. Maka kubagi sama rata dan mengatakan kau yang menghadiahkannya, Dengan demikian, mereka akan tunduk dan menurut apa pun yang kau katakan. Dalam urusan apa pun, kau bisa mengandalkan mereka...."
"Baiklah kalau begitu."
"Sekarang saudaraku, tentunya repot bagimu untuk membawa barang-barang ini pulang ke kamarmu Ada baiknya sebagian kita jadikan uang kontan dulu, sehingga jumlahnya tidak menyolok dan bisa kau bawa kemana-mana. Tentu tidak ada orang yang menyangka bahwa kita ini sebenarnya kaya raya."
Siau Po tersenyum, Dia merasa cara ini memang bagus sekali Namun dia masih ragu dengan semuanya ini.
Benarkah aku mempunyai harta sebanyak empat ratus lima puluh ribu tail?
Uang begitu banyak, bagaimana cara memakainya?
Kalau hanya untuk makan enak, tidak memerlukan uang sebanyak itu, Lebih baik aku kembali ke Yangciu saja dan membuka sepuluh rumah pelesiran di sana, ibu tidak usah bekerja lagi.
Dialah yang akan mengelola tempat itu menjadi besar dan menjadi saingan utama Li Cu-wan.
Hm!
Aku ingin sekali melihat tampang-tampang orang yang menghinaku dulu.
Nama-ku tentu akan menjadi terkenal kemana-mana, Sungguh suatu kenyamanan yang tidak terlukiskan dengan kata-kata.
So Ngo-tu melihat Siau Po berdiri terpaku, wajahnya termangu-mangu.
Dia berusaha menduga apa yang sedang dipikirkan bocah itu.
"Saudara, Sri Baginda dan Hong thayhou menunggu kitab ini. sebaiknya kita antarkan secepatnya. Mengenai harta Go Pay, nanti akan ku urus."
Siau Po tersentak dari lamunannya. Dia menganggukkan kepalanya, So Ngo-tu segera membungkus rapi kedua
Jilid kitab Si Cap Ji Cing-keng. Dengan masing-masing membawa satu jilid, mereka kembali ke istana, Begitu bertemu dengan raja, keduanya segera memberikan laporan sekalian menyerahkan kedua
Jilid kitab itu.
Kaisar Kong Hi senang sekali, setelah itu dia mengajak Siau Po menyertainya membawa kitab itu ke kamar ibu suri, So Ngo-tu tidak masuk ke dalam.
Dia mengundurkan diri dan mengemukakan alasan bahwa dia akan membereskan harta benda Go Pay.
Ketika berjalan masuk, Raja menanyakan berapa jumlah harta Go Pay, Siau Po menjawab satu juta lebih seperti yang dikatakan So Ngo-tu.
Dia mengatakan demikian untuk berjaga-jaga apabila di kemudian hari hal ini terbongkar oleh kaisar Kui Kong Hi, Dia bisa menimpakan kesalahan kepada saudara angkatnya itu.
"Huh!"
Kong Hi mendengus dingin.
"Telur busuk itu, begitu banyak dia memeras rakyat, Coba bayangkan nasib rakyat jelata yang diperasnya!"
"Kau tidak tahu hampir sebagian dari jumlah sebenarnya telah dimanipulasikan oleh So Ngo-tu dan dibagi ramai-ramai!"
Kata Siau Po dalam hati-nya. Dia juga menertawakan kaisar yang ternyata begitu mudah dikelabui. Sejenak kemudian mereka sudah sampai di kamar thayhou, Raja segera menyerahkan kedua
Jilid kitab tersebut sambil menjelaskan bahwa Siau Kui cu dan So Ngo-tu yang menemukannya di kediaman Go Pay.
"Siau Kui cu, pekerjaanmu bagus sekali!"
Puji Hong thayhou, Dia langsung menyambut kedua
Jilid kitab itu.
wajahnya berseri-seri.
Siau Po menjatuhkan diri berlutut dan menyembah Dia mengatakan bahwa semuanya berkat keberuntungan ibu suri sendiri.
Di samping ibu suri ada seorang dayang kecil, permaisuri berkata kepadanya.
"Lui Cu, ajaklah Siau Kui cu ke belakang, Dan berikan manisan buah untuknya."
Dayang itu berusia sekitar tiga atau empat belas tahun, wajahnya manis dan menawan, Dia tersenyum sambil berkata.
"Baik!"
Siau Po langsung mengucapkan terima kasih kepada Hong thayhou.
"Siau Kui cu,"
Kata Kong Hi.
"Setelah menikmati manisan buah, kau boleh langsung kembali ke kamarmu, Aku ingin berdiam di sini bersama thayhou, Kau tidak perlu menunggu lagi."
Siau Po mengiakan, kemudian mengikuti Lui Cu.
Mereka menuju sebuah dapur kecil yang letaknya di bagian dalam.
Nona cilik itu membuka sebuah lemari di mana di dalamnya terdapat berpuluh macam manisan buah.
Ada juga beberapa macam kue.
Sambil tersenyum dia berkata kepada Siau Po.
"Kau bernama Siau Kui cu, karena itu kau harus makan dulu manisan Kui hoa siongci. Dia mengeluarkan sebuah dus yang berisi manisan Kui-hoa campur Siong-ci. Baunya harum sekali. Siau Po tertawa.
"Cici yang baik, kau juga makanlah bersama."
"Thayhou menghadiahkannya untukmu, bukan untukku, Kami yang menjadi pelayan, mana boleh mencuri makanan?"
Katanya terus-terang.
"Kalau kita makan secara diam-diam, tidak ada orang yang mengetahuinya, bukan?"
Wajah si nona menjadi merah jengah, Dia menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak bisa makan!"
"Kalau tidak, begini saja, aku akan menunggu sampai kau selesai melayani thayhou, manisan ini aku bungkus dan nanti kita makan bersama-sama,"
Kata Siau Po.
"Lebih baik kau makan sekarang saja. Atau kalau memang kau ingin membungkusnya, boleh juga, Kau bisa nikmati di kamarmu, Tapi jangan kau tunggu aku, sebab selesai melayani thayhou, waktunya pasti sudah tengah malam,"
Sahut Lui Cu malu-malu.
"Memangnya kenapa kalau tengah malam. Malah bagus karena tidak ada yang tahu? Bukan? Cici katakan, di mana kau akan menunggu aku?"
Melihat sikap Siau Kui cu yang demikian serius, Hati Lui Cu ikut tertarik.
Di antara beberapa dayang ibu suri, Usianya memang paling muda, wajahnya cantik dan manis, sayangnya dia tidak begitu akrab dengan kawan-kawannya dan tidak pernah bisa terbuka seperti terhadap Siau Kui cu sekarang.
Sikap bocah ini menarik simpatinya, Dia memperhatikannya lekat-lekat.
"Bagaimana kalau di taman luar?"
Tanya Siau Po. Gadis cilik itu ragu-ragu sejenak, tetapi akhirnya mengangguk juga, Bukan kepalang senangnya hati Siau Po.
"Bagus, kita sudah mengadakan perjanjian sekarang kau ambilkan manisannya, pilih saja yang kau sukai,"
Kata Siau Po kembali. Lui Cu tersenyum.
"Kan bukan aku yang makan, Kok, aku yang disuruh pilih? Kau suka makan manisan apa?"
"Apa pun yang kau suka, aku pasti suka juga,"
Sahut Siau Po. Nada suaranya manis sekali sehingga hati Lui Cu jadi berbunga-bunga. Gadis cilik itu segera memilihkan beberapa macam manisan kemudian dusnya diserahkan kepada Siau Po.
"Nanti kentungan ketiga, aku menunggumu diluar pendopo, jangan lupa!"
Kata Siau Po. Lui Cu menganggukkan kepalanya.
"Kau harus berhati-hati!"
Pesannya.
"Kau juga harus hati-hati!"
Kata Siau Po yang segera meninggalkan tempat itu.
Kalau ditilik dari usianya, Siau Po belum mengenal kata asmara, Dia masih seorang bocah cilik yang gemar bermain-main.
Baginya, penyamaran sebagai Siau Kui cu adalah sebuah permainan yang menyenangkan.
Apalagi sampai sekian jauh, tidak ada seorang pun yang mencurigainya, namun kegembiraannya agaknya berkurang ketika mengetahui bahwa teman berkelahinya Siau Hian cu adalah sang Raja.
Di samping itu, kedudukannya tiba-tiba saja meningkat banyak, tapi dia tidak merasa puas, bukan itu tujuannya menyamar sebagai Siau Kui cu di istana ini, itulah sebabnya dia merasa bersemangat kembali mendapat teman baru seperti Lui Cu.
Padahal dia sadar sedang bermain api, bila ketahuan, jiwanya bisa celaka, namun dia tetap nekad melakukannya karena hal ini membangkitkan kegembiraannya.
Sesampainya di kamar, Hay kongkong menanyakan apa saja yang dilakukannya hari ini.
Siau Po menceritakan bahwa dia dititahkan Sri Baginda untuk ikut dengan So Ngo-tu menggeledah rumah Go Pay, tujuannya untuk menyita harta benda orang itu.
Tentu saja dia tidak menceritakan soal harta yang disulap, serta pisau belati dan baju tipis yang diambilnya, Dia hanya mengatakan.
"Kongkong, thayhou menyuruh aku mengambil kitab Si Cap Ji Cin-keng. Ternyata di rumah Go Pay, aku menemukan dua
Jilid kitab tersebut, persis dengan yang ada di samping meja thayhou...."
Tampaknya Hay kongkong terkejut setengah mati mendengar keterangan Karena dia sampai terlonjak bangun.
"Di dalam gedung Go Pay, ada dua
Jilid kitab yang sama?"
"Benar!"
Sahut Siau Po menegaskan "Thayhou dan Sri Baginda yang menitahkan aku mengambil kedua kitab itu, Kalau tidak, sudah kubawa kemari untuk kongkong."
Wajah Hay kongkong berubah menjadi kelam.
"Hm! Hm! Bagus sekali!"
Nada suaranya agak menyeramkan.
Dapat dipastikan bahwa hati Hay kongkong tidak senang mendengar berita itu.
Ketika Siau Po menyuguhkan bubur untuknya, orang tua itu hanya makan sedikit.
Kedua matanya mendelik ke atas sehingga yang terlihat hanya bagian yang putih saja, tampaknya dia sedang menguras otaknya memikirkan sesuatu.
Siau Po tidak memperdulikan thay-kam tua itu, selesai makan dia langsung beranjak tidur, dia ingat janjinya pada kentungan ketiga tengah malam nanti, pikirannya terus membayangkan wajah Lui Cu sehingga dia tidak dapat pulas.
Ketika bangun, dia berjinjit perlahan-lahan menuju pintu, Dia tidak ingin mengejutkan thay-kam tua itu.
Tapi, baru saja dia membuka daun pintu, Hay kongkong sudah menegurnya.
"Siau Kui cu, hendak ke mana kau?"
"Aku ingin buang air kecil."
Sahutnya.
"Kenapa tidak di dalam kamar saja?"
Tanya Hay kongkong dengan suara tajam.
"Aku tidak dapat tidur, aku ingin mencari udara segar di taman!"
Siau Po khawatir dia akan dicegah oleh Hay kongkong, Tanpa membuang waktu lagi dia segera melangkah keluar, tapi baru kakinya maju satu tindak, tahu-tahu kerah lehernya telah tercekat kemudian dia ditenteng masuk oleh Hay kongkong.
Saking terkejutnya, Siau Po sampai menjerit, diam-diam dia berpikir dalam hati.
"Apakah dia tahu aku ada janji dengan dayang cilik itu dan dia hendak mencegahnya?"
Belum selesai pikirannya melayang, tubuhnya sudah dibanting ke atas tempat tidur, otak Siau Ku cu bekerja kilat, cepat dia berkata.
"Ah, kongkong,"
Katanya sembari tertawa.
"kenapa kongkong masih suka bercanda? Sudah beberapa hari kongkong tidak mengajarkan ilmu silat kepadaku, jurus apakah yang kongkong mainkan barusan?"
"Hem!"
Hay kongkong mendengus dingin.
"Ini jurus "Menangkap biawak"
Yang tidak pernah gagal. Lihatlah, sekarang biawak tua akan meringkus biawak kecil!"
"Huh! Biawak tua meringkus biawak kecil?"
Dalam hati Siau Po jengkel sekali otaknya segera bekerja, sepasang matanya mengedar, dia ingin meloloskan diri, karena ingat janji dengan Lui Cu.
Dia juga memikirkan manisan buahnya, Pasti dus-nya sudah ringsek karena tertindih tubuhnya ketika dibanting Hay kongkong tadi.
Hay kongkong menghenyakkan pantatnya di atas tempat tidur.
"Kau memang berani, juga sangat berhati-hati. Apalagi kau juga cerdas, ilmu silatmu masih belum cukup berarti, tapi kau mempunyai bakat besar. Sayang... Sayang...."
Siau Po tertawa.
"Kongkong, apanya yang disayangkan?"
Dia bersikap seakan-akan hatinya sedang gembira sekali. Hay kongkong tidak langsung menjawab dia menarik nafas dalam-dalam, Sesaat kemudian dia baru berkata lagi.
"Aksen suara Peking-mu sudah maju banyak, kalau delapan bulan yang lalu, aksenmu sudah sebaik sekarang, tentu tidak mudah aku mengetahuinya...."
Siau Po terkejut setengah mati, tubuhnya menggigil, keringat dingin membasahi seluruh wajahnya. Tapi dia memaksakan dirinya untuk tertawa. "Kongkong, kau..."
"Anak, berapa tahun usiamu sekarang?"
Siau Po dapat mendengar nada suaranya yang tidak sekeras tadi lagi, hatinya menjadi lega. Rasa takutnya agak berkurang, Dia berusaha untuk bersikap tenang.
"Tahun... ini usiaku empat... belas."
"Mengapa jawabanmu ragu-ragu?"
"A... ku tidak tahu berapa usiaku yang sebenarnya. Ibu... juga tidak mengingatnya,"
Sahut Siau Po. Sebenarnya jawaban Siau Po itu bukan asal mengoceh saja. Dia memang tidak tahu berapa usianya yang sebenarnya. Hay kongkong menganggukkan kepalanya, ia juga terbatuk-batuk.
"Dulu ketika belajar ilmu silat, aku pernah tersesat. Maksudku, salah latihan. Akhirnya timbullah penyakit batuk ini. Kemudian aku tahu penyakit ini tidak dapat disembuhkan lagi...."
"Sebaliknya, kongkong, Aku rasa batukmu malah sudah membaik...."
Hay kongkong menggelengkan kepalanya.
"Membaik? Tidak! Sedikit pun tidak! Aku merasa dadaku semakin nyeri, hal ini memang tidak pernah aku katakan padamu, karena itu kau pun tidak mengetahuinya...."
"Sekarang bagaimana? Apakah kongkong ingin aku mengambilkan obat?"
Tanya Siau Po.
"Mataku fidak bisa melihat, aku tidak mau sembarangan minum obat!"
Siau Po terdiam. Tidak berani dia bicara sembarangan Menurutnya, watak Hay kongkong malam ini aneh sekali, dia merasa perasaannya tidak enak.
"Jodoh mu bagus sekali, Nak. Kau sudah menjadi sahabat Raja, Kelak di kemudian hari, banyak hal yang dapat kau lakukan, Kau pun belum membersihkan tubuh, sebetulnya aku dapat melakukannya, hanya saja... sekarang ini rasanya sudah terlambat."
Siau Po bingung, dia tidak mengerti apa yang dimaksudkan thay-kam tua itu.
Dia tidak tahu yang dimaksudkan dengan membersihkan tubuh adalah dikebiri, Dia hanya merasa kata-kata orang tua itu aneh sekali.
"Kongkong, sekarang sudah larut malam, sebaiknya kongkong beristirahat saja,"
Kata Siau Po.
"Tidur, ya tidur sebetulnya waktu tidur sudah terlalu banyak, Pagi tidur, siang tidur, malam juga tidur. Kalau orang kebanyakan tidur, untuk selamanya dia tidak akan terjaga lagi, Anak, kalau seseorang tertidur untuk selamanya, bukankah dia tidak akan merasakan penderitaan lagi? Dia juga tidak akan mengalami sengsaranya batuk-batuk seperti ini. Bukankah bagus sekali?"
Siau Po membungkam, dia tidak berani memberi komentar apa-apa. Hatinya tercekat, dia merasa kata-kata Hay kongkong malam ini semakin lama semakin aneh.
"Anak!"
Terdengar Hay kongkong berkata kembali "Masih ada siapa di rumahmu?"
Sebetulnya pertanyaan itu sederhana sekali Sering diajukan oleh siapa pun juga, tetapi masalahnya Siau Po menyamar sebagai Siau Kui cu.
sedangkan dia tidak pernah tahu riwayat hidup thay-kam cilik itu, Bagaimana kalau dia salah bicara?
Namun, biar bagaimana pun, dia tidak bisa mengabaikan pertanyaan itu.
"Di rumahku masih ada seorang ibu saja, tentang yang lainnya, entahlah, aku merasa tidak bergairah membicarakannya."
"0h... jadi hanya tinggal ibumu seorang, Kalian orang Hokkian, Biasanya bagaimana kalian menyebut ibu?"
Tanya Hay kongkong. Sekali lagi Siau Po terkesiap.
"Mengapa dia bisa mengatakan aku orang Hok-kian? Apakah karena Siau Kui cu memang orang suku itu? Mungkinkah si kura-kura tua ini sudah mengetahui samaranku? Kalau benar, apakah dia juga tahu bahwa akulah yang membutakan kedua matanya?"
Pikiran Siau Po terus bekerja, sedangkan mulutnya menjawab dengan gugup.
"Aih! Un... tuk apa kau menanyakan hal itu?"
Hay kongkong menarik nafas daIam-dalam.
"Usiamu masih begitu muda, tapi mengapa hatimu begitu jahat? sebenarnya kau menuruni watak ibumu atau ayahmu?"
Rasa terkesiap dalam hati Siau Po jangan ditanyakan lagi.
Tapi pada dasarnya dia memang berani, Dalam keadaan seperti ini, dia masih bisa tertawa.
"Aku tidak mirip dengan siapa pun.
Watakku tidak terlalu bagus, tetapi juga tidak terlalu buruk."
Hay kongkong kembali terbatuk-batuk.
"Kau tahu, sejak masih muda aku sudah dikebiri, karena itulah aku menjadi thaykam...."
Hampir saja Siau Po mengeluarkan seruan terkejut, sekarang dia baru mengerti apa maksudnya membersihkan diri. Diam-diam dia berpikir dalam hati.
"Aku belum dikebiri, dan aku pun tidak mau. Pokoknya aku harus mencari akal untuk meloloskan diri dari tempat ini!"
"Sebenarnya aku mempunyai seorang anak Iaki-laki."
Thay-kam tua itu melanjutkan kata-katanya.
"Sayangnya, ketika berusia delapan tahun, dia meninggal. Kalau tidak, mungkin cucuku saja sudah seusiamu sekarang, Eh, laki-laki she Mau itu, apakah dia itu ayahmu ?"
Jantung Siau Po berdebar-debar.
"Bukan! Bukan!"
Sahutnya cepat. Tanpa terasa nada suara atau dialek Siau Po kembali sebagaimana dulunya, yakni aksen orang Yangciu.
"Aku juga mempunyai dugaan demikian seandainya kau adalah anakku tidak nanti aku tinggalkan kau dalam bahaya untuk melarikan diri sendiri. Biar bagaimana, aku pasti berusaha menyelamatkanmu!"
"Sayangnya aku tidak mempunyai ayah yang sebaik dirimu,"
Kata Siau Po dengan suara yang manis sekali.
"Aku sudah mengajarkan dua macam ilmu kepadamu Yang pertama Tay Kim-na hoat dan Taycu Taypi Cian-yap jiu! Tentunya kedua ilmu itu sudah kau pahami dengan baik, bukan?"
Kata Hay kongkong kembali.
"Ya, Tapi ada baiknya kongkong mengajarkan aku ilmu lainnya, Kepandaian kongkong terhitung nomor satu di dunia, tentu baik sekali apabila ada yang mewariskannya, Dengan demikian nama kongkong akan terangkat sehingga menjadi terkenal,"
Kata Siau Po memuji. Hay kongkong menggelengkan kepalanya.
"Nomor satu di dunia? Aku tidak berani menerimanya, Kau tahu, orang yang berkepandaian tinggi di dunia ini banyak sekali, Bahkan tidak terhitung.,."
Hay kongkong menghentikan kata-kata-nya sejenak, seakan sedang mempertimbangkan sesuatu, Kemudian baru dia melanjutkan kata-katanya.
"Coba kau tekan perutmu, kurang lebih tiga dim dari pusar dan katakan apa yang kau rasakan?"
Siau Po tidak mengerti mengapa dia disuruh melakukan hal itu, tetapi dia menurut.
Tanpa dapat dipertahankan lagi, dia mengeluarkan seruan tertahan karena bagian yang ditekan itu terasa nyeri, Nafasnya tersengal-sengal dan keringat dingin bercucuran.
"Bagaimana? Enak bukan?"
Suara Hay kongkong benar-benar tidak enak didengar. Panas sekali hati Siau Pp disindir sedemikian rupa, Dia pun memaki dalam hatinya.
"Dasar kura-kura tua tidak tahu mampus! Kura-kura tua busuk!"
Mulut dia menyahut dengan tenang.
"Oh, memang enak sekali, hanya sedikit nyeri saja, kok!"
"Setiap hari kau pergi berjudi dan berkelahi dengan Sri Baginda, sebelum kau pulang, hidangan sudah diantarkan kemari, aku merasa supnya kurang lezat, setiap hari dari dalam peti aku mengeluarkan sebotol obat yang lantas aku campurkan dalam sup itu. Dosisnya sedikit sekali sebab kalau banyak-banyak, reaksinya pada tubuhmu bisa membahayakan. Aku sadar tidak boleh melakukan hal itu, kau seorang bocah yang sangat cerdik, kau pasti akan curiga, dengan menaruh obat itu sedikit demi sedikit, kau tidak menyadarinya, bukan?"
Siau Po semakin terperanjat jantungnya berdegup semakin kencang.
"A... ku... aku kira kau tidak suka makan sup...."
"Sebenarnya aku suka, tapi karena, di dalam sup ada racunnya biarpun hanya sedikit, aku jadi tidak suka, Siapa yang memakannya, lama-lama akan menjadi penyakit. Benar kan?"
Semakin kesal hati Siau Po.
"Benar-benar sekali!"
Dia mengangkat jempol tangannya.
"kongkong, kau memang lihay sekali!"
Thay kam tua itu menarik nafas panjang.
"Bukan, bukan begitu, Untuk melatih ilmu Tay-cu Taypi cian-yap Jiu, orang juga harus melatih pernafasannya, ini yang dinamakan latihan tenaga dalam. Latihan itu dapat menahan racun dalam tubuhmu, Kalau kau tidak melatih ilmu itu, mungkin sejak empat lima bulan yang lalu, kau sudah dilanda sakit yang tidak tertahankan. Sampai satu tahun kemudian, kau tidak dapat menahan nyeri itu lagi sehingga kau akan membenturkan kepalamu ke dinding atau menggigit tanganmu sendiri!"
Berkata sampai di sini, dia berhenti sejenak untuk mengatur pernafasannya yang mulai memburu.
"Yang harus disayangkan justru aku, penyakit ini membuat aku semakin lama semakin tidak berdaya, itulah sebabnya aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi...."
Perasaan Siau Po menjadi agak lega mendengar kata-katanya. Di samping itu dia juga memikirkan untuk mencari akal guna meloloskan diri dari cengkeraman thay-kam tua yang licik ini.
"Biarlah, meskipun ilmunya tinggi sekali, tapi toh matanya sudah buta, Kalau aku menyembunyikan diri, mana mungkin dia bisa mencari aku?"
Pikirnya dalam hati. Tiba-tiba sebuah ingatan yang bagus melintas di benak Siau Po.
"Baru saja aku mendapatkan sebilah belati mustika yang tajamnya luar biasa, Kenapa aku tidak mencobanya saja?"
Membawa pikiran ini, dia segera berkata.
"kongkong, kiranya sejak semula kau sudah tahu bahwa aku bukan Siau Kui cu yang asli, itukah sebabnya kau ingin menyiksa aku dengan cara ini? Ha... ha... ha... ha...! sayangnya kau juga telah kena dikelabui olehku, Ha,., ha... ha... ha.,.!"
Siau Po tertawa terbahak-bahak.
Sembari tertawa, Siau Po menundukkan tubuhnya dan mencabut belati yang terselip di kaos kakinya, Dia melakukannya dengan hati-hati.
Dan dia yakin, meskipun timbul sedikit suara, tapi suara tawanya itu akan menutupinya.
"Dalam urusan apa aku dikelabui olehmu?"
Sengaja Siau Po mengarang-ngarang cerita agar perhatian thay-kam tua itu teralihkan.
"Sejak semula aku sudah tahu bahwa sup itu beracun, Aku langsung membicarakannya dengan Siau Hian cu...."
"Apa katanya?"
"Dia mengatakan bahwa kau ingin mencelakai aku!"
Hay kongkong tidak dapat menutupi rasa terkejutnya.
"Oh! Jadi Sri Baginda menduga demikian?"
"Kenapa tidak? Cuma waktu itu aku masih belum tahu bahwa Siau Hiancu adalah Sri Baginda. Dia menganjurkan aku agar pura-pura tidak tahu demi menjaga diri terhadap hal yang tidak diinginkan. Dia menyuruh aku setiap hari minum sup itu kemudian dimuntahkan kembali. Kau kan tidak melihatnya, bukan?"
Sembari berkata begitu, pisau belatinya telah terhunus, bagian yang tajamnya di arahkan ke Hay kongkong. Diam-diam dia berpikir dalam hati.
"Aku harus menikamnya dengan tepat Kalau dia tidak langsung mati, tentu aku yang akan dibunuhnya!"
Dalam usia tiga atau empat belas tahun, Siau Po sudah bisa menggunakan otaknya mencari akal dan pemecahan bagaimana harus berbuat otaknya cerdas, apa pun dapat dipelajarinya dengan cepat.
Hay kongkong setengah percaya setengah tidak dengan ucapan Siau Po itu.
Terdengar dia tertawa dingin.
"Kalau kau tidak makan sup itu, bagaimana kau bisa merasa nyeri di perutmu barusan?"
Siau Po menarik nafas panjang.
"Masaiahnya begini, meskipun aku sudah muntahkan sup itu kembali, tetapi aku tidak sempat langsung mencuci mulut Karena itu, sedikit banyak racun itu menempel dilidahku, Lama-lama toh akan membawa pengaruh juga di tubuhku ini."
Jarak Siau Po dengan thay-kam tua itu tinggal setengah tindak. Dia tinggal menunggu kesempatan yang baik untuk menyerangnya tepat di tengah jantung.
"Bagus!"
Kata Hay kongkong.
"Racunku itu tidak ada obatnya, Kau makan sedikit reaksinya memang menjadi lambat, namun penderitaan yang akan kau rasakan juga semakin hebat!"
Siau Po tertawa terbahak-bahak.
Tenaga dalamnya dikerahkan ke tangan kanan, tiba-tiba saja dia menikam ke jantung thay-kam tua itu!
Hay kongkong tercekat hatinya, namun dia memang lihay sekali, begitu merasakan adanya serangkum angin dingin yang menyambar, dia langsung mempunyai dugaan buruk.
Dengan gerakan spontan, tubuhnya maju ke depan, tangannya menangkis sekaligus mengirimkan serangan.
Tangan kiri menangkis, tangan kanan menyerang.
Buk!
Blam!
Terdengar suara keras yang saling susul, dalam sekali gerak, kedua tangannya sudah memperlihatkan hasil.
Tubuh Siau Po terpental ke belakang dan menghantam daun jendela sehingga jebol seketika kemudian melayang keluar dan jatuh di atas tanah dengan menerbitkan suara keras, Siau Po merasa lengan dan seluruh tubuhnya nyeri bukan main.
Di pihak lain, Hay kongkong juga merasa terkesiap sebab telapak tangannya terasa bukan main nyerinya, Ternyata keempat jari tangannya telah terkutung akibat tangkisannya pada belati mustika Siau Po tadi.
Bahkan kalau reaksinya tadi kurang cepat, pasti saat ini dadanya sudah tertikam, namun sekarang hanya kulit luarnya saja yang tersayat.
Seandainya belati yang digunakan Siau Po bukan barang langka, ke empat jari tangannya sendiri juga tidak perlu terkutung karena tenaga dalamnya sudah mencapai taraf yang tinggi sekali.
Terdengar Hay kongkong tertawa dingin, suaranya itu sungguh menggidikkan hati, Dalam dugaannya, mungkin Siau Po tidak dapat bertahan lebih lama lagi karena lukanya yang kelewat parah.
"Sungguh kematian yang terlalu enak baginya!"
Thay-kam tua itu mendumel sendiri, Setelah itu dia mengoyak kain sprei untuk membalut luka di tangannya. Setelah selesai, dia menggumam lagi seorang diri.
"Entah senjata apa yang digunakan bocah sialan itu. Mengapa bisa begitu tajam? Eh, jangan-jangan yang digunakannya adalah senjata mustika!"
Dengan membawa pikiran itu dia segera keluar dari jendela untuk mencari bocah itu.
Tapi, meskipun sudah meraba kesana kemari, dia tetap tidak berhasil menemukan Siau Po, apalagi senjata mustikanya.
Hay kongkong sempat bingung.
Karena meskipun matanya buta, dia dapat menduga dengan tepat di mana jatuhnya tubuh Siau Po tadi.
Dia juga masih hapal di luar kepala mana letak taman dan setiap pepohonan yang ada di sana.
Tapi meskipun sampai kewalahan dia mencarinya, tetap saja dia tidak menemukan apa-apa.
"Mungkinkah ada orang yang langsung menyingkirkan mayatnya?"
Tanyanya dalam hati.
"Siapa orang itu dan kemana mayatnya disingkirkan? Mengapa aku tidak berhasil menemukannya?"
Si thay-kam tua tetap yakin bahwa pukulannya sudah berhasil membunuh Siau Po.
Padahal, kenyataannya Siau Po memang belum mati, Dia hanya merasakan nyeri di seluruh tubuhnya, dadanya sesak.
Memang ketika terpanting keluar, dia sendiri mempunyai dugaan bahwa jiwanya akan melayang, Hampir saja ia putus asa.
Karena apabila hal itu terjadi, dendamnya karena dicelakai thay-kam tua itu pasti tidak bisa dibalas lagi.
Namun ketika menyadari dirinya tidak mati, cepat-cepat dia menggulingkan tubuhnya menjauhi tempat jatuhnya tadi, Hal ini karena mendadak ia ingat ada kemungkinan Hay kongkong tidak yakin akan kematiannya dan akan keluar untuk memastikannya.
Mengingat bahaya yang dihadapinya, dia segera menggulingkan tubuhnya, kemudian merayap beberapa tindak, namun dia roboh kembali, Dan kebetulan tanah tempatnya roboh itu cukup landai, sehingga dia bergulingan ke bawah.
Sampai sejauh belasan tombak, gerakan tubuhnya baru terhenti Akhirnya dia dapat berdiri juga walaupun seluruh tubuhnya masih terasa ngilu.
Untungnya belati mustika yang didapatkan dari rumah Go Pay masih tergenggam erat di tangannya.
"Sayang si tua bangka itu tidak sampai mampus di ujung belatiku ini. Dasar nasibnya lagi terang!"
Gerutunya dalam hati. Diam-diam dia juga bersyukur bahwa dirinya sendiri masih hidup, setelah menyelipkan kembali belatinya ke dalam kaos kaki, Siau Po berpikir kembali.
"Rahasiaku sudah terbongkar Aku tidak bisa tinggal lagi dengan kura-kura tua itu. Berbahaya sekali jiwaku bisa diincarnya setiap saat. Sayang uangku masih belum diberikan oleh So toako. Aih Sudahlah, anggap saja aku sudah menghamburkannya dalam satu malam sehingga ludes! Tapi, bagaimana dengan dayang cilik itu?"
Tiba-tiba ingatannya kembali pada Lui Cu.
"Pasti dia sedang menunggu aku! Hampir saja Siau Po menjerit kecewa ketika mendapatkan manisan buahnya sudah hancur semua."
Aku harus menemuinya dan memperlihatkan manisan ini kepadanya, Biar bagaimana, manisan ini masih harum dan rasanya masih bisa dimakan...." Membawa pikiran demikian, Siau Po cepat-cepat melangkah keluar sesampainya di depan pintu pendopo, lagi-lagi nyaris dia berteriak saking kesal Ternyata pintu itu terkunci Mana mungkin dia bisa masuk ke dalam?
Siau Po berdiri termangu-mangu.
pikirannya bingung.
Dia merasa gundah, Beberapa saat kemudian tiba-tiba pintu itu terbuka, lalu menyembullah sebuah kepala.
Ketika Siau Po memperhatikan dengan seksama, hatinya menjadi senang, Dia mengenali orang itu sebagai si dayang cilik yang mengadakan perjanjian dengannya.
Lui Cu sedang menggapai kepadanya sambil tersenyum manis, Tanpa berpikir panjang lagi Siau Po segera menghambur ke depan dan menyelinap masuk lewat celah pintu yang tersingkap.
"Aku khawatir kau tidak dapat masuk, Karena itu aku menunggumu di sini,"
Kata si dayang cilik yang bibirnya tetap mengembangkan senyuman menawan "Sudah cukup lama juga aku menunggumu."
"Maafkan keterlambatanku,"
Sahut Siau Po.
"Di tengah jalan aku bertemu seekor kura-kura tua yang baunya bukan main. Batoknya keras sekali Aku ditabraknya sehingga jatuh terguling."
Lui Cu jadi tertegun mendengar keterangannya.
"Apakah di taman ini ada kura-kura yang begitu besar? Aih! Aku, kok belum pernah melihatnya, Lalu, apakah sakit sekali tubuhmu sekarang?"
Siau Po sedang menghampiri nona cilik itu, ketika dia bertanya, Tiba-tiba saja dadanya terasa nyeri kembali, untuk sejenak dia sudah melupakannya tadi karena terlalu gembira melihat si nona membukakan pintu untuknya, dia sampai mengeluarkan suara erangan.
Lui Cu dapat melihat keadaan bocah itu, Cepat-cepat dia menghampiri Siau Po dan membimbingnya agar tidak sampai terguling.
"Masih sakit?"
Tanyanya lembut.
Baru saja Siau Po hendak menjawab pertanyaannya, tetapi gerakan bibirnya terhenti karena saat itu juga dia melihat sesosok bayangan yang berkelebat.
Bayangan itu besar dan gerakannya cepat, sehingga mirip dengan burung garuda, namun ketika bayangan itu berdiam diri, Siau Po dapat melihat tegas bahwa itu merupakan seseorang yang tubuhnya kurus dan membungkuk.
Malah Siau Po langsung mengenalinya sebagai Hay kongkong, si thay-kam tua.
jantungnya berdebardebar dengan kencang.
Lui Cu juga sudah melihat orang itu.
sementara itu, Hay kongkong menatap ke arah mereka dengan pandangan mata yang garang, sayangnya dia suda buta, Kalau tidak, tentu dia bisa mengenali Siau Po dan dayang cilik itu.
Padahal jarak mereka hany terpaut dua kaki saja.
"Jangan bersuara!"
Bentak Hay kongkong garang.
"Kalau tidak menurut apa kataku, kau akan mati! jawab perlahan-lahan, siapa kau?"
"Aku... aku...."
Lui Cu menjadi gugup karena takut. Thay-kam tua itu mengulurkan tangannya meraba kepala nona cilik itu, Dia juga mengusap wajahnya.
"Kau dayang keraton, bukan?"
"Be... nar,"
Sahut si nona cilik.
"Sekarang sudah tengah malam, apa yang kau lakukan di sini?"
Suaranya perlahan, tapi sinis sekali.
"A... ku,., sedang men... cari udara segar...."
Hay kongkong tersenyum, namun senyumannya itu benar-benar menggidikkan bagi siapa pun yang melihatnya, rembulan menyembunyikan dirinya sebagian sehingga cuaca tampak kelam.
"Dengan siapa kau di sini?"
Tanya Hay kongkong kembali.
Dia menoleh, telinganya dipasang, Dia dapat mendengar deru nafas seseorang yang lain.
Tadi, karena terkejut, nafas Lui Cu memburu, itulah sebabnya Hay kongkong bisa mengetahui bahwa di sana ada orang, sedangkan Siau Po berdiri di samping nona cilik itu, tentu saja suara nafasnya juga tidak luput dari telinga thay-kam tua yang tajam itu.
Mendengar pertanyaan Hay kongkong, Siau Po terkejut setengah mati, Dia ingin memberi isyarat kepada si nona, tapi dia tidak berani bersuara atau menggerakkan kaki tangannya karena takut ketahuan Untung Lui Cu juga cerdik sekali, dia dapat menduga isi hati Siau Po dari sinar matanya.
"Ti... tidak..."
Sahutnya cepat. "Di mana Hong thayhou sekarang?"
Tanya Hay kongkong kembali "Antar aku menemuinya!"
"Kong.,, kong... kau,., aku ha... rap kau jangan ber... kata apa-apa kepada ibu suri, lain kali... aku tidak berani lagi,"
Kata Lui Cu panik. Nona cilik ini menyangka Hay kongkong sudah memergoki perbuatannya dan akan diadukan kepada Hong thayhou.
"Kau tidak perlu memohon apa-apa kepadaku. Kalau kau tidak antar aku sekarang, aku akan membunuhmu!"
Hay kongkong mencekal tangan nona itu erat-erat, sebelah tangannya lagi mencekik leher dayang itu.
Wajah si nona cilik jadi merah padam karena nafasnya sesak.
Siau Po juga terkejut setengah mati, Hampir saja dia mengeluarkan seruan.
Untung saja dia dapat mengendalikan perasaannya.
"Lekas jawab!"
Bentak Hay kongkong, Cekikannya pada leher si nona dikendurkan.
"A... ku akan mengajakmu Ma... ri,"
Sahut Lui Cu lirih.
Terpaksa dayang cilik itu mengajak Hay kongkong masuk ke dalam pendopo yang mana merupakan tempat tinggal ibu suri, Tetapi si nona sempat mengedipkan matanya kepada Siau Po agar dia segera meninggalkan tempat itu.
"Thayhou berada di kamar tidur,"
Katanya perlahan.
Hay kongkong mengikutinya, tapi tangan kirinya tetap mencekal nona itu.
Otak Siau Po bekerja keras, Dia mengkhawatirkan Lui Cu, juga mencemaskan ibu suri, Diam-diam dia berpikir dalam hati.
"Pasti si kura-kura tua ini akan mengadukan samaranku kepada Hong thayhou, dia juga akan menceritakan kematian Siau Kui cu dan kebutaan matanya yang disebabkan olehku, Dia akan meminta kepada Hong thayhou untuk memerintahkan para pengawal menangkap aku. Bahaya sekali, Tapi, mengapa ia tidak mengadu kepada Sri Baginda saja? Apakah karena tahu aku bersahabat baik dengan Raja dan kaisar Kong Hi akan membela aku? Apa yang harus kulakukan sekarang? Ah! Aku harus segera melarikan diri, Tapi, mana mungkin? Pintu istana sudah dikunci, lagipula di depan banyak pengawal sebentar lagi Hong thayhou pasti akan menitahkan mereka menangkapku, Biarpun seandainya punya sayap, rasanya sulit untuk meloloskan diri dari tempat ini..."
Ketika Siau Po masih bingung untuk mengambil keputusan Tiba-tiba terdengar suara seorang wanita.
"Ah! Hay tayhu! Akhirnya kau datang juga mencariku!"
Siau Po terkesiap, Suara itu sinis dan menggidikkan hati orang yang mendengarnya, namun yang paling membuat dia terkejut justru karena dia mengenalinya sebagai suara Hong thayhou, Rasanya dia ingin sekali mengambil langkah seribu meninggalkan tempat itu.
Tepat pada saat itu juga, terdengarlah suara Hay kongkong.
"Benar! Hambamu ini memang Hay tayhu, Hambamu datang kemari untuk memberi hormat kepada kau orang tua!"
Nada suara thay-kam tua itu tak kalah sinis dan menyeramkan. Tampaknya dia mengandung niat yang kurang baik. Siau Po keheranan, diam-diam dia berpikir dalam hati.
"Eh, siapa kiranya si kura-kura tua ini dalam anggapannya? Mengapa bicaranya begitu kurang ajar kepada thayhou? Nada suaranya juga tidak enak didengar. Mungkin thayhou juga tidak menyukainya, Eh, bukankah aku sudah tidak mungkin melarikan diri dari tempat ini? Mengapa aku tidak coba menentangnya saja? Bukankah aku baru mendapat pujian dari Sri Baginda dan Hong thayhou karena jasaku yang besar? Apa artinya membunuh seorang Siau Kui cu dan membutakan matanya thay-kam tua itu? Aku rasa itu bukan kesalahan besar. Kalau perlu, mungkin saudara So Ngo Ta bisa membantuku. Tapi kalau aku kabur, kemudian si kura-kura tua ini mengoceh sembarangan siapa yang berani menentang atau menyangkalnya? Pasti kesalahanku akan dibesar-besarkan olehnya!"
Pikir Siau Po dalam hatinya. Otaknya terus bekerja.
"Bagaimana kalau thay-hou menanyakan alasanku membunuh Siau Kui cu? Apa yang harus kujawab? Aku... akan mengatakan... aku akan mengatakan... oh ya, aku akan mengatakan bahwa aku mendengar Siau Kui cu dan si kura-kura tua ini memburuk-burukkan thayhou dan Sri Baginda. Karena mendengar kata-kata yang kotor, sehingga aku tidak dapat menahan diri, lalu kubunuh Siau Kui cu dan kubutakan mata si kura-kura tua. Bagaimana kalau aku ditanya apa saja kata-kata kotor yang dilontarkannya? Ah, aku toh dapat mengarangnya, Kalau berkelahi dengan kura-kura tua itu, aku memang bukan tandingannya, Tapi kalau adu bicara, hm... dia harus belajar sepuluh tahun lagi untuk menandingi aku. Lihat saja nanti!"
Dengan berpikiran demikian, perasaan Siau Po jadi agak Iega.
Dia juga menjadi berani, Dibatalkannya niat untuk meninggalkan tempat itu, karena resikonya toh terlalu besar.
Namun masih ada satu hal yang menjadi pemikirannya, yakni kepandaian Hay kongkong yang tinggi sekali.
"Dalam satu gebrakan saja dia sanggup membunuh diriku, sebaiknya aku mencari posisi yang tersembunyi dengan demikian bila dia menyerang aku, dia tidak akan berhasil mencapai maksud hatinya itu,"
Demikian pikir Siau Po. Terdengar suara ibu suri yang berkata.
"Kau ingin memberi selamat kepadaku? Mengapa tidak datang di siang hari, malah di tengah malam begini, Aturan dari mana itu?"
"Aku mempunyai sebuah rahasia yang ingin kuceritakan kepada thayhou, siang hari terlalu banyak orang dan banyak telinga, kalau sampai rahasia ini diketahui tentu tidak baik,"
Sahut si thay-kam tua.
"Nah, ini dia!"
Kata Siau Po dalam hati.
"Sekarang dia pasti ingin membeberkan kesalahanku Biar aku dengarkan dulu apa yang akan diocehkannya, kalau sudah setengah nanti, baru aku menukasnya, tentu belum terlambat untuk menyangkalnya!"
Siau Po menoleh ke kanan kiri, dia ingin mencari sebuah tempat yang aman dan leluasa untuk mendengarkan percakapan itu, Kemudian dia melihat sebuah gunung buatan di samping kolam ikan emas, dia segera menuju ke tempat itu yang dianggapnya cukup bagus.
"Kalau si kura-kura tua menyerang, aku akan loncat ke dalam koIam, Lalu berenang ke seberang dan menerjang masuk ke dalam kamar thayhou, Meskipun kura-kura tua itu mempunyai sembilan nyawa, tentu dia tidak berani menyerbu masuk."
"Hm!"
Terdengar thayhou mendengus dingin "Rahasia apakah yang ingin kau sampaikan? Katakan saja sekarang!"
"Apakah di sini tidak ada orang lainnya?"
Tanya Hay kongkong.
"Apa yang ingin hamba sampaikan adalah sebuah rahasia besar!"
"Apakah kau ingin masuk ke dalam untuk memeriksanya? Bukankah ilmu silatmu sudah mencapai taraf yang tinggi sekali? Apakah kau tidak bisa mendengar bahwa di sini tidak ada orang lainnya?"
Tantang thayhou.
"Mana berani hamba masuk ke dalam kamar thayhou? Bolehkah thayhou keluar ke sini, sebab ada rahasia besar yang ingin hamba utarakan."
"Huh! Semakin lama nyalimu semakin besar saja! siapakah yang kau andalkan sehingga sikapmu demikian kurang ajar?"
Tegur thayhou. Mendengar teguran ibu suri, hati Siau Po merasa puas.
"Memang kura-kura tua ini sudah keterlaluan, beraninya bersikap demikian tidak sopan terhadap Hong thayhou!"
Batinnya. Sementara itu, terdengar sahutan Hay kong-kong.
"Hambamu mana berani...."
"Hm!"
Suara Hong thayhou semakin dingin.
"Kau... kau memang sudah lama tidak memandang sebelah mata terhadapku! Malam ini, tanpa terduga-duga kau datang kemari, sebetulnya niat busuk apa yang terkandung dalam hatimu?"
Semakin puas hati Siau Po mendengarnya.
"Oh, dasar kura-kura tua. Ketemu batunya kau kali ini! Rasanya aku tidak perlu campur tangan lagi, Thay-hou sendiri bisa memakimu sepuas hati!"
Terdengar suara Hay kongkong yang tetap tenang.
"Kalau thayhou memang tidak mau mendengarnya, tidak apa-apa. sebetulnya aku mempunyai berita tentang orang itu. Nah, aku pergi saja!"
Orang tua itu berlagak seakan ingin meninggalkan tempat itu dengan membalikkan tubuhnya.
Sedangkan Siau Po yang mengira bahwa si thay-kam tua hendak berlalu, belum apaapa sudah kegirangan "Ah, kau mau pergi?
Pergilah!
Lebih cepat lebih baik!"
Bagian 08 Namun saat itu juga terdengar suara Hong thayhou yang agak gugup.
"Kau mempunyai berita apa?"
"Berita dari gunung Ngo-tay san!"
"Dari Ngo-tay san?"
Tanya ibu suri menegaskan suaranya agak bergetar "Apa maksudmu?"
Tiba-tiba Hay kongkong menggerakkan tangannya dan terkulailah tubuh Lui Cu.
Siau Po yang melihat itu terkejut setengah mati "Aih, si kura-kura membunuh nona yang manis itu.
Pasti thayhou akan marah sekali Dengan demikian ucapannya yang menyalahkan aku, tentu tidak akan dipercaya lagi!"
Pikir si bocah dalam hati.
"Siapa yang kau lukai?"
Tanya thayhou gugup.
"Salah seorang dayangmu,"
Sahut si thay-kam tua.
"Hamba tidak membunuhnya, hanya menoto jalan darahnya saja agar dia tidak dapat mendengar pembicaraan kita nanti."
Mendengar keterangan itu, lega juga perasaan Siau Po. Namun di pihak lain, dia juga mengkhawatirkan dirinya kembali. Kemudian terdengar kembali suara Hong thay-hou.
"Kau menyebut-nyebut Ngo-tay san, Kenapa?"
"Karena di puncak Ngo-tay san ada seseorang yang sangat memperhatikan thayhou,"
Sahut Hay kongkong dengan suara datar.
"Maksudmu... dia sudah pergi ke Ngo-tay san?"
Tanya Hong thayhou dengan suaranya yang bergetar kembali.
"Kalau thayhou ingin mendapatkan keterangan yang lebih jelas, ada baiknya thayhou keluar saja dari kamar, Di tengah malam begini, tidak leluasa hamba masuk ke dalam kamar, sedangkan jika hamba bicara keras-keras, orang lain pasti mendengarnya."
Thayhou terdiam, tampaknya dia ragu-ragu.
"Baik!"
Katanya sesaat kemudian.
Terdengar suara pintu dibuka dan seseorang melangkah keluar, Siau Po mengintai dari tempat persembunyiannya, Dia bisa melihat orang itu memang ibu suri adanya.
Ternyata wanita itu mempunyai bentuk tubuh yang agak gemuk dan pendek.
Dua kali dia pernah melihat ibu suri, tetapi posisi wanita itu selalu dalam keadaan duduk.
Terdengar ibu suri bertanya kembali.
"Barusan kau mengatakan dia telah pergi ke Ngo-tay san. apakah benar yang kau katakan itu?"
"Hambamu tidak mengatakan siapa yang pergi ke gunung Ngo-tay san. Hamba hanya mengatakan bahwa di puncak gunung Ngo-tay san, ada seseorang yang mungkin masih menaruh perhatian kepada thayhou."
Thayhou terdiam pula sejenak.
"Baik. Anggap saja kau memang mengatakan begitu, Dia... maksudku, orang itu, untuk apa dia pergi ke Ngo-tay san? Apakah dia berdiam di dalam kuil?"
Sikap Hong thayhou biasanya tenang sekali, tetapi kali ini begitu mendengar katakata Hay kongkong, penampilannya jadi seperti orang yang gelisah, sebaliknya sikap Hay kongkong malah berubah semakin tenang.
"Orang itu memang berdiam di kuil Ceng-Lian si yang letaknya di puncak gunung Ngo-tay san."
Mendengar kata-katanya, thayhou menarik nafas dalam-dalam seakan perasaannya menjadi agak lega.
"Terima kasih kepada langit dan bumi! Akhirnya aku bisa juga mendapat berita tentang dirinya.."
Thayhou tidak dapat melanjutkan kata-katanya, suaranya bergetar mungkin karena kelewa terharu. Siau Po justru semakin bingung mendengar percakapan mereka.
"Siapa orang itu? Mengapa thayhou begitu memperhatikannya?"
Tanyanya dalam hati. perasaannya menjadi kacau, Dia hanya dapat menerka-nerka.
"Apakah orang itu ayah atau sanak saudaranya ibu suri? Atau kekasihnya? Ya, pasti kekasihnya, Kalau memang ayah atau sanak saudaranya, toh bukan hal yang perlu dirahasiakan itulah sebabnya rahasia itu takut diketahui orang, Tapi, mengapa si kura-kura tua bisa mengetahui rahasia ini? Mungkinkah thay-kam tua itu ingin menggunakannya untuk memaksa thayhou menghukum mati diriku? Celakalah aku! Untung saja aku mendengarkan pembicaraan ini, Kalau perlu, aku akan membeberkannya agar dapat meloloskan diri dengan selamat dari tempat ini."
Terdengar suara pernafasan thayhou yang agak memburu.
"Apa yang dilakukannya di kuil Ceng-Liang si?"
Tanyanya kemudian.
"Apakah thayhou benar-benar ingin mengetahuinya?"
"Untuk apa kau bertanya terus? Tentu aku ingin mengetahuinya."
Bentak thayhou dengan nada tidak sabar.
"Junjungan kita itu sudah mencukur rambutnya menjadi hwesio."
"Oh!"
Thayhou mengeluarkan seruan tertahan "Dia...
benarkah dia sudah menjadi hwesio?
Apa kau tidak mengelabui aku?
" "Tidak berani hambamu berdusta pada thayhou, Lagipula, hamba rasa juga tidak ada perlunya,"
Sahut Hay kongkong ketus.
"Benar-benar tega dia!"
Seru thayhou sengit.
"Tentunya dia selalu memikirkan si rase centil, sampai-sampai dia mengabaikan usaha yang telah dibangun leluhurnya dengan susah payah. Dia juga tinggalkan kami, ibu dan anaknya!"
Siau Po semakin bingung.
"Apa yang dimaksud dengan usaha leluhurnya?"
Mengapa si kura-kura tua menyebut orang itu sebagai junjungannya, mungkinkah dia bukan kekasih thayhou?"
Tanyanya dalam hati, semakin penasaran ia.
"Hati junjungan kita telah tawar melihat dunia yang penuh kepalsuan ini. Dia sudah sadar apa artinya kehidupan. Karena itu dia tidak ingin memikirkan negara, istri maupun anaknya lagi, Menurut beliau, semuanya bagai awan gelap yang telah berlalu!"
Mengapa dia tidak menyucikan diri di masa dulu atau kelak, tetapi justru sekarang?
Mengapa dia harus menunggu sampai si rase centil itu mati baru mencukur rambutnya menjadi hwesio?
Mengapa negara yang diusahakan leluhur, istri dan anaknya masih kalah dibandingkan dengan si rase genit itu?
Sekarang, kalau kenyataannya dia sudah menyucikan diri, kenapa pula dia meminta kau datang menemuiku?"
Pertanyaan thayhou datang bertubi-tubi, seakan semuanya membingungkan hatinya. Semakin lama suaranya pun semakin keras, Siau Po yang mendengarkan jadi cemas.
"Siapa orang itu sebenarnya?"
"Junjungan kita telah berpesan wanti-wanti. Biar bagaimana, hambamu dilarang membuka mulut, agar urusannya tidak menjadi bocor. Terutama agar Hay thayhou dan Sri Baginda mengetahuinya. junjungan kita juga mengatakan, dengan putra mahkota menggantikan kedudukannya, negara akan menjadi aman dan damai, Beliau benarbenar merasa puas."
"Kalau begitu, mengapa baru sekarang kau mengatakannya kepadaku?"
Suara thayhou semakin sengit "Sebetulnya aku sudah tidak ingin memikirkannya kembali, Aku tidak ingin mengetahuinya, Bukankah di dalam hatinya hanya ada si rase centil?"
Siau Po masih heran.
"Mungkinkah orang itu ayah Sri Baginda?"
Tanyanya pula dalam hati.
"Tapi, kaisar Sun Ti, ayah Sri Baginda kan sudah meninggal lama? justru karena ayahnya wafat, baru Sri Baginda menggantikannya, Mungkinkah Sri Baginda masih mempunyai ayah yang lain?"
Siau Po bingung karena memang dia tidak begitu paham silsilah kerajaan.
Yang ia tahu, Kaisar Sun Ti adalah ayah dari si raja cilik sekarang.
Mungkin, bila thayhou dan Hay kongkong berbicara lebih jelas lagi, dia juga belum bisa mengerti.
"Junjunganku sekarang sudah menjadi hwesio, semestinya aku juga menyucikan diri di Ceng-Liang si untuk melayani beliau, tetapi masih ada satu hal yang membuat junjunganku tidak tenang, itulah sebabnya hamba ditugaskan kembali ke istana untuk menyelidikinya...."
"Urusan apa yang membuatnya risau?"
Tanya thayhou cepat.
"Menurut junjunganku, meskipun Tang Gok hui...."
"Di hadapanku, aku larang kau menyebut nama si rase centil itu?"
Tukas thayhou bengis.
"Ah! Rupanya yang dimaksud dengan rase centil adalah Tang Gok-Hui. Tentunya dia seorang selir raja, Dan kemungkinan kekasih thayhou menyukainya dan tidak suka lagi kepada thayhou, Itulah sebabnya thayhou menjadi iri hati dan marah!"
"Baik, baik,"
Sahut si thay-kam tua.
"Kalau thay hou tidak menyukainya, tentu hamba tidak akan menyebutnya lagi."
Nafas ibu suri tersengal-sengal, dia masih penasaran.
"Apa katanya mengenai si rase centil itu?"
"Hambamu tidak mengerti apa yang kau maksudkan, thayhou, Setahu hamba, junjunganku tida pernah menyebut si rase centil...."
Thayhou marah sekali melihat sikap Hay kongkong yang berlagak pilon.
"Sudah tentu dia tidak akan menyebutnya demikian Di dalam hatinya cuma ada permaisuri Toan-keng. Setelah si rase centil mati, dia langsung menganugerahkan gelarnya itu. Tong keng Hong hou. Langsung saja para budak dan pelayan yang pandai menjilat menyebutnya permaisuri yang baik hati."
"Thayhou benar, Setelah Tang Gok-hui meninggal hamba seharusnya memanggilnya dengan sebutan Toankeng Hong hou. permaisuri itu meninggalkan buku catatannya yang berjudul Toankeng Hou Gi-lok. Apakah thayhou ingin membacanya? Hamba selalu membawanya kemana-mana!"
Hawa amarah dalam hati thayhou semakin meluap-Iuap mendengar kata-kata Hay kongkong.
"Kau! Kau!"
Untuk sesaat dia sampai tidak sanggup mengatakan apa-apa, Namun kemudian dia sadar bahwa thayhou tua itu memang sengaja memancing kemarahannya.
Karena itu dia segera mengeluarkan suara tertawa dingin sambil berkata.
"Ya, sekarang ini zaman memang sudah berubah, Penjilat ada di mana-mana, karena itu banyak orang yang senang membaca buku yang isinya ngaco itu. Kecuali satu
Jilid yang ada padamu dan beberapa
Jilid yang ada pada junjunganmu, siapa lagi yang masih memiliki buku-buku itu?"
"Thayhou telah mengeluarkan perintah secara diam-diam untuk memusnahkan bukubuku itu. Siapa lagi yang berani menyimpannya? Junjunganku memang memiliki buku itu, namun sebetulnya tidak membawa arti apa-apa. Karena apa yang ditulis oleh Toankeng Hong hou dalam buku itu sudah dihapal luar kepala oleh junjunganku, Hal ini sudah melebihi hanya memiliki buku tersebut."
Thayhou memperhatikan thay-kam tua itu lekat-lekat.
"Untuk menyelidiki urusan apakah sehingga dia menitahkan kau kembali ke istana?"
"Sebetulnya untuk dua macam urusan, tetapi setelah hamba menyelidikinya, ternyata hanya terdiri dari satu urusan saja."
"Dua urusan jadi satu, apakah itu?"
Tanya thay-hou.
"Yang pertama mengenai kematian putera mahkota Eng Cin ong...."
"Yang kau maksudkan puteranya si rase centil?"
"Yang hamba maksudkan puteranya Toankeng Hong hou...."
"Hm! Binatang cilik itu mati ketika usianya baru empat bulan, Umurnya memang sudah ditakdirkan pendek, Apa yang aneh?"
"Tapi junjunganku mengatakan, ketika pangeran Eng Cin ong mendadak jatuh sakit, tabib istana langsung dipanggil. Dan tabib itu mengatakan penyebab kematiannya aneh sekali...."
"Hm! Tabib istana mana yang begitu pandai memeriksa penyakit? Mungkin kau sendiri yang mengada-ada!"
Hay kongkong tidak menyangkal, dia hanya melanjutkan kata-katanya.
"Ketika Toankeng Hong hou wafat, banyak yang menduga bahwa kematiannya disebabkan tekanan batin karena kehilangan puteranya yang masih bayi itu. Menurut tabib istana, kematian Eng Cin ong disebabkan dua ototnya putus karena hantaman seseorang, karena itu isi perutnya menjadi hancur."
"Apakah junjunganmu itu mempercayai ocehanmu?"
Tanya thayhou dengan nada dingin.
"Pertama-tama junjunganku memang tidak percaya, tetapi pikirannya berubah setelah hambamu memberikan faktanya. Dalam waktu satu bulan, hamba mencoba penemuan ini pada lima orang dayang, hasilnya... sebab kematian mereka persis dengan kematian Toankeng Hong hou. Kalau hanya satu yang kematiannya sama, mungkin masih bisa dikatakan bahwa perkiraan hamba itu salah, Tapi kalau limalimanya sama, tentu persoalannya lain lagi, Akhirnya junjunganku jadi percaya."
"Oh! Hebat sekali! Sungguh mengagumkan di dalam istana ada seorang ahli penyelidik seperti engkau ini,"
Sindir thayhou.
"Terima kasih atas pujian thayhou,"
Sahut Hay kongkong yang sikapnya tidak berubah meskipun sadar dirinya disindir.
Untuk sesaat keduanya membungkam.
Hanya sekali-sekali terdengar suara batuknya si thay-kam tua itu.
Sejenak kemudian baru Hay kongkong melanjutkan katakatanya.
"ltulah alasan mengapa junjunganku menitahkan aku kembali ke istana ini, yakni untuk menyelidiki sebab musabab kematian Toankeng Hong hou dan Eng Cin ong!"
Thay hou tertawa dingin.
"Untuk apa diperiksa? Di dalam istana ini, mana ada orang yang kepandaiannya begitu tinggi."
"Biar bagaimana, hambamu yakin orang berkepandaian tinggi itu pasti ada!"
Sahut Hay kongkong berkeras.
"Sehari-harinya sikap Toankeng Hong hou terhadap hamba sangat baik, Hamba selalu mendoakan agar beliau panjang umur dan hidup sejahtera sampai hari tua. seandainya saja sejak semula hamba tahu ada orang yang bernia membunuh beliau, tentu hamba akan mengerahkan segenap kemampuan untuk melindunginya, Hamba rela mengorbankan selembar jiwa tua ini demi keselamatan beliau!"
"Sungguh setia!"
Ejek thayhou.
"Seharusnya dia bersyukur mempunyai seorang anjing pengawal seperti engkau!"
"Sayangnya hamba tidak becus, akhirnya tidak sanggup melindungi permaisuri...."
Thayhou tertawa datar.
"Tentunya setiap pagi kau bersembahyang dan membaca kitab suci agar arwah Tongkeng Hong hou segera mencapai surga...."
Nada suaranya masih mengandung ejekan, tetapi Hay kongkong tidak memperduIikannya.
"Kalau hanya bersembahyang atau membaca kitab suci saja, tidak ada gunanya, Di dalam dunia ini sepertinya ada sebuah pernyataan, yang baik akan mendapat kebaikan, yang jahat akan mendapat balasan!"
Hay kongkong menghentikannya kata-katanya sejenak.
"Kalaupun pembalasan sampai tidak terjadi, hal ini hanya soal waktu saja...."
Sekali lagi thayhou mendengus dingin.
"Perlu thayhou ketahui, junjunganku menitahkan aku menyelidiki dua macam urusan, ternyata hanya terdiri dari satu, Namun di samping itu, tanpa terduga-duga ada sebuah persoalan lainnya yang justru dari satu menjadi dua."
"Rupanya banyak sekali urusan yang berhasil kau selidiki Urusan apa lagi?"
"Urusan yang ada kaitannya dengan selir Hui!"
Ibu Suri tersenyum datar.
"Dia? Dia kan adiknya si rase centil, pantasnya dia menjadi si rase centil kecil, Untuk apa kau menyebut-nyebutnya?"
"Ketika junjunganku meninggalkan istana, beliau meninggalkan sepucuk surat yang menyatakan bahwa beliau tidak akan kembali lagi untuk selama-lamanya, Berhubung thayhong dan thayhou sadar bahwa suatu negara tidak boleh tanpa pemimpin, itulah sebabnya kalian membuat pengumuman bahwa raja telah mangkat dan putera mahkota Kong Hi diangkat untuk menggantikannya. Kekuasaan akhirnya jatuh di tangan Sri Baginda yang sekarang dan thayhou sendiri, Ketika itu junjunganku sudah mencukur rambutnya menjadi hwesio, Hal ini hanya lima orang yang mengetahuinya, termasuk Gio Lim taisu dan hambamu, Hay tayhu."
Mendengar sampai di situ, Siau Po baru mengerti duduk persoalannya, Rupanya "orang"
Yang mereka sebut-sebut memang kaisar Sun Ti yang sudah mencukur rambut menjadi hwesio dan kemudian dinyatakan telah mangkat oleh Hong thayhou.
Kaisar Sun Ti mengundurkan diri karena sedih sekali ditinggal mati oleh selir kesayangannya, Sedangkan menurut Hay kongkong, kematian selir ini akibat diserang secara gelap oleh seseorang berkepandaian tinggi.
Senang sekali hati Siau Po ikut mendengar pembicaraan mereka, Diam-diam dia berkata dalam hati.
"Si kura-kura tua tadi mengatakan bahwa rahasia ini hanya diketahui oleh lima orang, Dia tidak tahu jumlah sebenarnya adalah enam, berikut diriku!" . Baru saja berpikir demikian, tiba-tiba timbul rasa jeri dalam hati Siau Po. Sebab dia baru saja mendengar sebuah rahasia besar, apabila si thay-kam tua sampai mengetahui hal ini, tamatlah riwayatnya, dan kalau ibu suri yang mengetahuinya, akibatnya sama saja. Karena takutnya, gigi Siau Po sampai berbunyi gemeretuk, Untung saja baik Hay kongkong maupun Hong thayhou sedang hanyut dalam pikiran masing-masing sehingga tidak memperhatikannya. Apalagi suara batuk Hay kongkong memang sudah cukup membisingkan. Beberapa saat kemudian si thay-kam tua baru berkata lagi.
"Ketika Ceng-hui bunuh diri demi junjunganku, seluruh istana memujinya. Tetapi di pihak lain, ada beberapa orang yang mengatakan bahwa kematian Ceng-hui karena dipaksa seseorang, bukan atas kehendaknya sendiri."
"ltu pasti fitnahan para menteri durhaka yang tidak menghormati kaisar ataupun para atasannya, Cepat atau lambat, orang-orang seperti itu tidak boleh dibiarkan hidup!"
"Tapi, apa yang mereka katakan memang benar, Ceng-hui mati bukan atas kehendaknya sendiri!"
Kata Hay kongkong.
"Apa kau ingin mengatakan bahwa kematian Ceng-hui karena dipaksa olehku?" tanya thayhou dengan nada sinis.
"Kata-kata paksa, hamba tidak berani ucapkan,"
Sahut thay-kam itu.
"Lalu apa maksudmu?"
"Ceng-hui mati karena dibunuh, bukan dipaksa mati, Hambamu sudah menanyakannya kepada pemeriksa jenasah, Ketika mayatnya dibersihkan kemudian dimasukkan ke dalam peti, ternyata tulang-tulang di tubuh Ceng-hui telah berpatahan, bahkan batok kepalanya juga remuk, itu merupakan hasil pukulan ilmu Hoa-hut Bian ciang (Pukulan lembut meremukkan tulang) bukan?"
"Mana aku tahu?"
"Hamba pernah mendengar bahwa di dunia ini memang ada ilmu yang lihay itu. Apabila seseorang dihantam oleh pukulan tersebut, dari luar memang tidak terlihat perubahan apa-apa, tapi tidak demikian dengan tulang-tulang dalam tubuhnya. Menurut selentingan, orang yang menjadi korban pukulan itu, dalam tiga atau empat tahun, barulah tulang tulang dalam tubuhnya menjadi hancur. Mungkin orang yang mencelakai Ceng-hui ilmunya belum sempurna, sehingga perubahannya lebih cepat, yakni sore itu juga. Hal inilah yang ditemukan oleh pemeriksa jenasah, Dia terkejut setengah mati, namun tidak berani mengutarakannya kepada siapa pun. Belakangan, setelah hamba memaksanya dengan berbagai cara, baru dia terpaksa mengatakannya. Nah, thayhou, bagaimana tanggapanmu sendiri, benarkah orang itu masih belum sempurna ilmu Hoahut Bian ciong-nya?"
Terdengar ibu Suri menyahut dengan suara yang menyeramkan.
"Walaupun belum sempurna, tapi sudah membawa manfaat juga, bukan?"
"Bicara soal bermanfaat, memang benar, Karena setelah dipakai untuk membunuh Ceng-hui, dapat pula digunakan atas diri Haukong Hong hou!"
Sahut Hay kongkong.
"Ah, benar-benar edan! Kenapa selir raja begitu banyak?"
Kata Siau Po dalam hati.
"Sekarang ada lagi seorang Hau-kong Hong hou, Mungkin permaisurinya lebih banyak daripada nona-nona penghibur di Li Cun-wan."
Dasar bocah nakal, Mungkin hanya dia seorang yang bisa membandingkan jumlah selir raja dengan perempuan-perempuan penghibur di rumah pelesiran.
Sebenarnya kaisar Sun Ti mempunyai empat orang permaisuri yang mana permaisuri pertama telah dipecat.
Dia adalah keponakan ibunya sendiri.
Kaisar Sun Ti sangat mencintai Tang Gok-hui, ratu jadi cemburu karenanya dia sering mencari keributan dengan suaminya, itulah sebabnya permaisuri pertama itu dipecat.
Para menteri memprotes perbuatannya, Perkara ini memakan waktu sepuluh tahun, namun akhirnya permaisuri dipecat juga.
Kaisar Sun Ti ingin mengangkat Tang Gok-hui sebagai permaisuri, namun sayangnya wanita itu bukan turunan bangsawan, sehingga hal itu tidak memungkinkan.
Akhirnya seorang perempuan lain yang diangkat jadi permaisuri, dia adalah Hau hui Hong Hou yang masih sanak famili ibunya, tentu saja pengangkatan itu karena persetujuan ibunda raja, Raja merasa tidak puas.
Belakangan, setelah putera mahkota Kong Hi diangkat menjadi kaisar untuk menggantikannya, permaisuri itu baru diangkat menjadi ibu suri atau Hong thayhou.
Dua permaisuri lainnya, yang pertama adalah ibu kandung kaisar Kong Hi sendiri.
Dia asalnya orang Han, ayahnya bernama Tong To-Lai itulah sebabnya kaisar Kong Hi berdarah campuran, separuh Han dan separuh Boan.
Hong hau adalah seorang selir, tetapi karena anaknya diangkat menjadi kaisar, akhirnya dia pun diangkat menjadi permaisuri, namun di saat pemerintahan Kong Hi tahun kedua dan bulan kedua juga, permaisuri itu wafat.
Setelah itu dia pun dianugerahi gelar Hau hong Hong hou.
Yang satunya lagi adalah Tang Gok-hui.
Setelah wafat, dia dianugerahi gelar Haulian Hong hou dan Toankeng Hong hou.
Siau Po tidak tahu bahwa Haukeng Hong hou adalah ibu kandung kaisar Kong Hi, ia hanya menjadi heran ketika mendengar perubahan suara thay-hou.
Terdengar Hay kongkong berkata kembali.
"Orang yang mengurus jenasah Haukeng Hong hou sama orangnya dengan yang memeriksa jenazah Tang Gok-hui serta Ceng-hui!"
"0h... tentunya orang itu, mengoceh yang bukan-bukan lagi bukan? Dia benar-benar pandai memfitnah, sepatutnya mendapat hukuman mati!"
Kata thayhou.
"Kalau thayhou bermaksud membunuhnya, sekarang sudah terlambat!" ibu Suri merasa heran.
"Apakah kau telah membunuhnya?"
"Bukan!"
Sahut Hay kongkong.
"Tahun yang lalu hamba sudah menitahkan orang itu pergi ke Ceng-liang si untuk menuturkan apa yang ditemukannya kepada junjungan kita. Setelah itu, dia mendapat perintah untuk menyingkir ke luar perbatasan (Kwan gwa), di sana dia harus mengganti she dan nama aslinya untuk menghindarkan diri dari ancaman bencana."
"Kau... kau..."
Ibu suri marah sekali Suaranya sampai bergetar "Kau kejam sekali!"
"Yang kejam bukan hamba, tapi orang lain, Hamba merasa malu tidak mendapat kehormatan demikian besar,"
Sahut Hay kongkong. Thayhou terdiam beberapa saat.
"Kalau begitu, apa tujuanmu datang kemari malam ini?"
"Hamba datang untuk menanyakan satu hal kepada thayhou, Harap Hong thayhou sudi berterus-terang, agar hamba bisa pulang ke Ngo-tai san dan memberikan laporan kepada junjungan kita. Toankeng Hong Hou, Tang Gok-hui dan Ceng hui mati penasaran itulah sebabnya junjunganku sampai meninggalkan istana dan mencukur rambutnya menjadi hwesio. Hamba ingin mengetahui siapa orangnya yang menurunkan tangan jahat kepada mereka, Tentunya dia seorang yang berkepandaian tinggi dan bersembunyi di dalam istana ini, bukan Siapa dia? Hamba sudah tua, penyakit batuk ini pun semakin hari semakin parah dan tidak mungkin bisa disembuhkan lagi, Hamba ibarat lilin yang hampi padam. Kalau hamba tidak tahu siapa orangnya yang telah menurunkan tangan jahat, biar mati pun hamba tidak bisa memejamkan mata dengan tenang."
"Sekarang sepasang matamu sudah buta. Kau tidak bisa melihat lagi, Untuk apa kau bertemu dengan orang itu?"
Tanya thayhou.
"Meskipun mata hamba sudah buta, tetapi hati hamba masih terang!"
"Kalau hatimu masih terang, mengapa kau harus bertanya padaku, mengapa kau tidak mencari jawabannya sendiri?"
"Lebih baik ditanyakan agar semuanya menjadi jelas dan hamba tidak perlu menduga-duga sekenanya. Sudah berapa bulan hamba menyelidiki masalah ini. Siapa kira-kira orang berilmu tinggi yang bersembunyi di dalam istana, sebetulnya hal ini sulit sekali, sampai suatu hari terjadi peristiwa yang kebetulan sekali, Hamba berhasil mengetahui bahwa Sri Baginda mengerti ilmu silat!"
Thayhou tertawa dingin.
"Kenapa kalau Sri Baginda mengerti ilmu silat? Apakah dia yang membunuh ibu kandungnya sendiri?"
Sindirnya tajam.
"Maaf! Dosa, dosa kalau hamba berani mengatakan demikian, Hamba malah patut mendapat hukuman mati apabila mempunyai pikiran seperti itu saja. Tidak mungkin Sri Baginda melakukan perbuatan yang demikian durhaka!"
Hay kongkong terbatuk-batuk sedikit, kemudian melanjutkan kembali kata-katanya.
"Hamba mempunyai seorang pelayan bernama Siau Kui cu...."
Siau Po terkejut sekali mendengar ucapan thay-kam tua itu.
"Nah, si kura-kura tua mulai menyebut-nyebut namaku,"
Pikirnya was-was.
"Siau Kui cu lebih muda dua tahun dari Sri Baginda,"
Kata Hay kongkong melanjutkan kata-katanya.
"Sri Baginda sangat menyukainya, Sering mereka berlatih gulat bersama dan berlatih ilmu silat juga, Kepandaian Siau Kui cu, hamba yang mengajarkannya, Dia belum terhitung orang gagah nomor satu, tapi mengingat usianya, tidak mudah sembarangan orang mengalahkannya."
Senang juga hati Siau Po mendengar pujian yang secara tak langsung itu.
"Guru yang hebat pasti membuahkan murid yang pandai, sama seperti panglima yang gagah memimpin tentara yang perkasa!"
Kata ibu suri.
"Terima kasih atas pujian thayhou. Tapi, kenyataannya apa yang terjadi, setiap Siau Kui cu berkelahi melawan Sri Baginda, dalam sepuluh kali bertanding, dia pasti kalah sembilan kali, Tipu jurus apa pun yang hamba ajarkan, selalu dapat dipecahkan oleh Sri Baginda, Karena itu pula, hamba berpendapat bahwa guru Sri Baginda mempunyai kepandaian yang lebih tinggi daripada hamba, Hamba juga yakin bahwa di antara para pesilat di dalam istana ini, guru Sri Baginda itulah yang berkepandaian tertinggi itulah sebabnya hamba juga mempunyai keyakinan bahwa tidak sulit menemukan siapa orangnya yang telah membunuh dua orang permaisuri dan seorang putera mahkota itu."
"Oh, begitu..."
Kata ibu suri.
"Kau berbicara dengan berbelit-belit, apakah hanya ini yang ingin kau katakan kepadaku?"
"Barusan thayhou mengatakan bahwa di bawah bimbingan seorang guru yang hebat, pasti membuahkan seorang murid yang pandai, Demikian juga kebalikannya, Apabila ada seorang murid yang hebat, gurunya pasti terlebih lihay lagi, Sri Baginda paham ilmu Patkua Yu-liong ciang yang terdiri dari enam puluh empat jurus. Hamba yakin guru Sri Baginda juga paham ilmu Hoa-hut Bian ciang."
"Apakah kau telah berhasil mengetahui siapa adanya orang itu?"
Tanya thayhou tenang.
"Ya, hamba telah mengetahuinya!"
Thayhou tertawa dingin.
"Harus kuakui kehebatanmu! Kau dapat mempertimbangkan segalanya sampai jauh, Sengaja kau mengajarkan ilmu silat kepada Siau Kui cu agar dia dapat melayani Sri Baginda, rupanya kau menggunakan kesempatan itu untuk menyelidiki siapa adanya guru Sri Baginda,"
Hay kongkong menarik nafas panjang.
"Hamba melakukannya karena terpaksa."
Dia menghentikan kata-katanya sejenak untuk merenung, Kemudian baru dia melanjutkan kembali "Siau Kui cu adalah telur busuk yang paling licik dan jahat yang hamba temui, dia telah meracuni hamba sehingga kedua mata hamba menjadi buta, seandainya hamba tidak ada keperluan memanfaatkan dirinya, mungkin sudah sejak lama hamba membunuhnya !"
Thay hou tertawa terbahak-bahak.
"Siau Kui cu memang bocah yang cerdik, dia telah membutakan kedua matamu, Bagus! Besok aku akan memberikan hadiah besar kepadanya!"
"Terima kasih, thayhou, seandainya thayho mengeluarkan perintah untuk menguburkannya dengan upacara kebesaran, tentu arwahnya akan ber syukur kepada thayhou di alam baka,"
Kata Ha kongkong memberitahukan.
"Apakah kau telah membunuhnya?"
"Hamba sudah bersabar terlalu lama, Apalagi sekarang hamba tidak memerlukan tenaganya lagi."
Siau Po terkejut juga gusar sekali, Diam-diam dia berpikir dalam hati.
"Kampret! Rupanya sejak dulu kura-kura tua ini sudah tahu bahwa aku adalah Siau Kui cu gadungan, bahkan dia juga tahu bahwa kedua matanya dibutakan olehku. Dan dia hanya memperalat aku untuk menyelidiki ilmu silat Sri Baginda, itulah sebabnya dia belum membunuhku sampai hari ini. Dia mengajari aku ilmu silat untuk mengetahui siapa yang menjadi gurunya Sri Baginda, Celaka! Kalau aku tahu, tentu aku tidak akan menceritakan denga jujur jurus-jurus yang digunakan Sri Baginda, Hm sekarang kurakura tua ini mengira aku sudah mati. Pasti akan datang saatnya di mana dia akan terkejut setengah mati mengetahui aku masih hidup!"
Hay kongkong terbatuk-batuk, kemudian di menarik nafas dalam-dalam.
"Watak junjungan kita tidak sabaran, Apa pun yang diinginkannya, harus dilaksanakan pada saat itu juga, sayangnya beliau merasa kecewa menjadi raja, karena orang yang dicintainya tidak sanggup beliau lindungi. Junjunganku sudah menjadi hwesio, tetapi dia tidak dapat melupakan Tang Gok-hui dan Ceng-hui. Ketika hamba berangkat menuju istana ini, junjunganku telah menitipkan selembar surat sebagai firman agar hamba menyelidiki siapa pembunuh Toankeng Hong hou, Ceng-hui dan putera mahkota yang masih bayi, Hamba mendapat kuasa untuk membunuh pembunuh itu apabila berhasil ditemukan!"
"Hm!"
Thayhou mendengus dingin.
"Dia kan sudah mencukur rambut menjadi hwesio, mengapa otaknya masih dipenuhi urusan membunuh dan mencelakai orang? Kan tidak sepatutnya seorang yang menyucikan diri mempunyai pikiran kotor?"
Hay kongkong tidak memberi tanggapan atas ucapan thayhou itu, Dia hanya berkata.
"Hamba telah memikirkan baik-baik bahwa hamba mungkin bukan tandingan guru Sri Baginda yang lihay itu, Karena itu diam-diam hamba mempelajari sebuah ilmu baru, tapi sayangnya hamba terlalu terburu nafsu, sehingga salah jalan dan menderita penyakit batuk yang tidak bisa disembuhkan ini, Di samping itu, mata hamba juga sudah buta, Tampaknya hamba tidak mempunyai harapan untuk...."
"Benar!"
Tukas thayhou.
"Kau sudah kena penyakit yang parah dan matamu pun sudah buta pula, Meskipun seandainya kau mendapat firman rahasia, kau tidak sanggup menyelesaikannya lagi!" Hay kongkong menarik nafas panjang.
"Memang benar..."
Tampangnya seperti menderita sekali "Nah, sekarang juga hambamu ingin mohon diri!"
Selesai berkata, orang tua itu langsung membalikkan tubuh, kemudian berjalan perlahan-lahan menuju luar. Melihat keadaan itu, lega rasanya hati Siau Po.
"Asal kura-kura tua itu pergi, aku akan bebas. Dia mengira aku sudah mati, tidak mungkin di mencari aku lagi!"
Pikirnya dalam hati.
"Tunggu dulu!"
Teriak ibu suri.
"Hong thayhu kau hendak kemana?"
"Hamba sudah menceritakan semuanya kepada thayhou, sekarang hamba akan pergi untuk menunggu saat kematian...."
"Jadi kau tidak melakukan tugas yang dititahkan kepadamu?"
"Hamba mempunyai keinginan, tetapi tenaga sudah tidak memungkinkan Lagipula hamba juga tidak berani melakukan perbuatan yang kuran sopan terhadap Yang MuIia."
"Hm! Kau sungguh tahu diri! Tidak sia-sia kau melayani kami sekian tahun!"
Kata thayhou denga nada sinis.
"Ya, ya! Terima kasih atas budi kebaikan thay hou, Dendam kesumat ini biar ditangguhkan saja sampai Sri Baginda dewasa dan beliau yang akan menyelesaikannya."
Terdengar dia batuk-batuk beberapa kali.
Lalu melanjutkan kembali "Kabarnya Sri Baginda telah berhasil membekuk Go Pay.
sungguh perbuatannya hebat sekali!
sikapnya gagah, ibunya sendiri tewas dianiaya orang.
Hamba yakin tidak lama lagi beliau akan curiga dan akan menyelidikinya sampai tuntas, sayangnya hamba tidak dapat menunggu begitu lama sampai semua misteri ini disingkapkan!"
Thayhou melangkah maju beberapa tindak.
"Hay tayhu, kembali!"
Thay-kam tua menghentikan langkah kakinya.
"Ya, thayhou, ada perintah apa?"
"Barusan kau sudah berkata panjang lebar di hadapanku Semua ucapanmu itu tidak bisa dipegang, Apakah kau sudah menyampaikannya kepada Sri Baginda?"
Suara wanita itu jadi meninggi.
"Belum, thayhou, Hamba berencana untuk mengatakannya besok pagi sekarang hamba mohon diri dulu...."
"Bagus! Bagus!"
Kata thayhou, namun tepat pada saat itu juga, terdengar suara angin berkesiur sebanyak dua kali.
Siau Po terkejut sekali, dia sampai melongokkan kepalanya untuk melihat apa gerangan yang terjadi.
Tampak tubuh thayhou berkelebat dengan gesit ke arah Hay kongkong?
sepasang tangannya secara bergantian mengirimkan serangan ke arah thay-kam tua itu.
Hay kongkong sendiri tetap berdiri tegak, tangannya bergerak menangkis serangan yang gencar itu.
Matanya memang buta, tapi kepandaiannya tinggi sekali, biar diserang dari mana pun, dia sanggup menghindarkan diri.
Diam-diam Siau Po merasa kagum, namun dia juga berpikir "Mengapa thayhou menyerang kura-kura tua ini?
Ah!
Rupanya thayhou pandai bersilat!"
Thayhou bergerak dengan lincah, setiap pukulannya mengandung tenaga yang dahsyat, tetapi Hay kongkong tetap berdiri tegak dan dapat mengimbangi setiap serangannya dengan baik, Angin yang terbit dari pukulan thayhou dapat terdengar jelas, tapi sambutan tangan Hay kongkong justru tidak terdengar sama sekali.
Sesaat kemudian, tibalah saat yang membahayakan, tiba-tiba tubuh thayhou mencelat ke atas, sebelah kakinya mengirimkan sebuah tendangan.
Hay kongkong menangkis, tangan dan kaki mereka lantas beradu, akibatnya tubuh thayhou terpental ke belakang dan mendarat di atas tanah dalam keadaan limbung.
Di pihak lain, Hay kongkong juga terhuyung-huyung ke belakang beberapa tindak.
"Budak yang baik!"
Bentak thayhou, Nada suaranya gusar dan kesal "Sungguh pandai kau berpura-pura.
Kau mengajarkan ilmu SiauIim pai kepada Siau Kui cu agar aku menduga bahwa kau adalah orang dari partai itu.
Tetapi kenyataannya kau orang Kongtong pai!"
"Maaf, thayhou, Sama saja, tidak ada perbedaannya di antara kita, Thayhou sendiri mengajarkan ilmu Bu tong pai untuk menipu hambamu ini. Namun, ilmu Hoa-hut Bian ciang adalah ilmu istimewa dari Coa To (Pulau Ular). sebenarnya hal ini sudah hamba ketahui sejak dua tahun yang silam...."
Siau Po dapat menyaksikan apa yang berlangsung di antara mereka.
Dia juga dapat mendengar semuanya dengan jelas, Dia menjadi heran dan kagum terhadap kedua orang itu, namun karena otaknya yang cerdik, sekejap saja dia sudah paham.
"Kura-kura tua ini sungguh licik, Dia mengajarkan aku ilmu Taykim Na hoat dan Taycu Taypi Cian-Yap jiu, semua merupakan ilmu Siau lim pai. Dia melakukannya agar thayhou bisa dikelabui, Dan kenyataannya dia orang Kong tong pai. sayangnya ilmu Patkua Yu-Liong ciang justru tidak berhasil mengelabui kura-kura tua ini. Ah! Rupanya ilmu silat Sri Baginda diajarkan oleh thayhou!"
Berpikir sampai di sini, tiba-tiba seluruh tubuhnya dingin karena berkeringat. Mendadak dia ingat suatu hal yang penting.
"Celaka! Thayhou mengerti ilmu silat Hoahut Bian ciang, Mungkinkah para permaisuri dan putera mahkota yang mati adalah korban-korban thayhou sendiri? Kalau benar, gawat! Bahkan ibu kandung kaisar pun dibunuhnya! Bagaimana kalau Hay kongkong menyampaikan rahasia itu kepada Sri Baginda? Hebat akibatnya! Kalau Sri Baginda berniat menghukum mati ibu suri, thayhou pasti akan membunuhnya pula, Bagaimana baiknya?"
Pada saat itu, satu-satunya yang menjadi pikiran Siau Po adalah segera angkat kaki dari tempat itu, Dia merasa dirinya terancam bahaya besar.
Namun dia masih ketakutan sehingga kedua lututnya terasa lemas, dia tidak kuat melangkahkan kakinya sama sekali.
Keadaannya tidak berbeda seperti orang yang tengah bermimpi buruk.
Saat itu pula terdengar suara ibu suri.
"Setelah urusannya menjadi begini, kau masih berharap dapat meninggalkan tempat ini?"
Tampaknya Hay kongkong tidak takut terhadap ancaman itu.
"Thayhou boleh dipanggil semua siwi, makin banyak makin baik. Dengan demikian hamba bisa membeberkan semuanya kepada mereka, Hamba yakin pasti ada salah satunya yang bisa menyampaikan apa yang hamba katakan kepada Sri Baginda!"
Thayhou tertawa. suaranya melengking dan nyaring.
"Hm! jalan pikiranmu hebat sekali!"
Bicaranya perlahan, Hal ini membuktikan bahwa dia sedang mengatur pernafasannya yang memburu.
"Harap thayhou jaga diri baik-baik. jangan sampai thayhou tersesat seperti hamba!"
"Kau baik sekali!"
Sindir thayhou sinis.
"Thayhou justru manusia paling baik di dunia ini!"
Hay kongkong tidak mau kalah set.
Sebetulnya kepandaian Hay kongkong dengan thayhou berimbang, tetapi karena matanya buta, dia merasa tidak bisa menandingi ibu suri itu.
Dia menyadari kehebatan Hoa-hut Bian ciang wanita itu, ilmu itu merupakan ilmu simpanan dari Coa To.
Untuk menghadapi ilmu tersebut, diam-diam dia mempelajari sebuah ilmu baru.
Ketika itu dia masih belum tahu siapa pembunuh Tang Gok-hui, Ceng-hui dan putera mahkota yang masih bayi itu.
Setelah mengetahui bahwa kaisar Kong Hi dan Siau Kui cu senang bertanding ilmu silat, dia mulai mempunyai dugaan dari mana Sri Baginda mempelajari ilmu silat, Hay kongkong yakin pembunuh para permaisuri dan putera mahkota adalah guru Sri Baginda.
Dia juga membayangkan bahwa pada suatu hari kelak dia akan berhadapan dengan tokoh yang lihay itu.
Di samping itu, berkat kecerdikannya Hay kongkong juga berhasil mengetahui penyamaran Siau Po.
Dia yakin Siau Kui cu yang asli sudah dibunuh oleh bocah itu dan si setan cilik itu pula yang membutakan kedua matanya.
Tetapi, karena Siau Kui cu palsu hanya seorang bocah cilik, dia menduga ada orang lain yang menjadi dalang dibalik semuanya, itulah yang membuatnya bertekad untuk menyelidiki siapa adanya dalang itu.
Dalam hal ini, dugaanya salah, Siau Po melakukan apa-apa hanya berdasarkan nalurinya sendiri, tidak ada orang yang menyuruh ataupun menasehatinya untuk melakukan apa saja, dengan demikian Hay kongkong tidak bisa membuktikan apa-apa.
Terpaksa dia menggunakan akal, Dia mengajarkan Siau Po ilmu-ilmu Siau lim pai dengan harapan lawan bisa dikelabui, ternyata siasatnya berhasil.
Sejak setengah tahun yang lalu, thayhou sudah menduga bahwa Hay kongkong adalah tokoh dari Siaulim pai.
Sebaliknya, Hay kongkong dapat mengira dengan tepat bahwa thayhou bukan orang dari Bu tong pai.
Karena itu, dalam pemikiran, ternyata thayhou masih kalah satu tingkat dengan Hay kongkong.
Hay kongkong juga mempunyai pikiran jauh.
Karena matanya buta, dia sudah kalah selangkah itulah sebabnya dia harus memancing agar lawan menyerangnya terlebih dahulu.
Dia juga harus mendapat kepastian atas dugaannya bahwa thayhou adalah sang pembunuh, dia masih menyimpan keraguan sebab bagaimana caranya thayhou bisa menguasai ilmu Hoa-hut Bian ciang yang merupakan ilmu simpanan Coa to.
Ilmu itu harus ditekuni setidaknya selama dua puluh lima tahun, walaupun ada kemungkinan di masa muda thayhou pernah pergi ke Coa To, namun rasanya tidak mungkin mempunyai begitu banyak waktu untuk melatihnya, karena itu pula dia mempunyai dugaan bahwa di samping thayhou masih ada seorang tokoh lihay lainnya.
Untuk mendapat kepastian itu, sengaja dia mengoceh bahwa akan membawa persoalan itu kepada Sri Baginda, kali ini dia berhasil, thayhou menjadi panik, tanpa disadari dia mengakui bahwa dialah pembunuhnya.
Pertempuran masih berlangsung, Dalam tiga gebrakan, thayhou menderita luka dalam.
Hay kongkong tahu hal itu dan dia merasa puas, Dia beranggapan bahwa setelah terluka, thayhou tidak bisa berbuat banyak lagi terhadapnya.
Luka thayhou tidak ringan, dia menjadi cemas dan bingung, diam-diam dia berpikir dalam hati.
"Celaka kalau thay-kam tua ini berhasil meloloskan diri, kalau dia sampai membeberkan urusan ini kepada Sri Baginda, aku dan sahabat-sahabatku tentu akan terjerumus dalam bencana besar. Si rase kecil centil yang ada dalam penjara tentu akan bersorak kegirangan mengetahui berita ini...."
Hati ibu suri menjadi panas apalagi setelah membayangkan arwah Tang Gok-hui akan senang melihat keruntuhannya, dia menarik nafasnya dalam-dalam kemudian berkata dengan suara Iantang.
"Malam ini aku akan mengadu jiwa denganmu agar kita mati bersama-sama!"
Kalau ditinjau dari kedudukannya, sebetulnya tidak pantas seorang ibu suri berkelahi dengan seorang thay-kam, akan tetapi keadaannya membuat dia terpaksa melakukan hal ini.
Belum sempat si thay-kam tua mengatakan apa-apa.
thayhou sudah melanjutkan kata-katanya kembali, cuma nadanya kali ini agak lunak.
"Hay tayhu, kau memang suka mengarang-ngarang. pergilah kau, beberkan kepada Sri Baginda, Usia Sri Baginda memang masih muda, tetapi otaknya cerdas sekali. Coba kita lihat, siapa yang akan dipercayainya, kau atau aku!"
Hay kongkong tetap bersikap tenang.
"Pertama-tama Sri Baginda tidak akan percaya dengan kata-kata hamba, malah ada kemungkinan hamba akan segera ditawan dan dihukum mati. Tetapi beberapa tahun kemudian, beliau pasti dapat berpikir kembali dan insaf bahwa hamba benar. Bila saat itu tiba, kehancuran akan terjadi pada diri thayhou beserta kerabat thayhou yang lainnya!"
Mendengar kata-kata itu, thayhou jadi tercekat, karena apa yang diucapkannya memang bisa menjadi kenyataan, apabila Sri Baginda berpikir dengan tenang, berdasarkan kecerdasan otaknya dia memang bisa membuktikan kebenarannya katakata si thay-kam tua ini.
Hay kongkong tidak menunggu jawaban Ibu suri, dia segera melanjutkan katakatanya.
"Junjunganku telah berpesan, apabila hamba sudah berhasil menyelidiki siapa adanya pembunuh itu, hamba berhak melakukan tindakan apa saja terhadapnya, sayangnya keadaan hamba tidak memungkinkan, itulah sebabnya hamba terpaksa menempuh jalan lain, yakni memberitahukannya kepada Sri Baginda!"
Selesai berkata, kembali thay-kam tua itu melangkah pergi.
Diam-diam thayhou mengerahkan tenaga dalamnya untuk menghajar thay-kam kurang ajar itu.
Tetapi, belum sempat dia mengambil tindakan apa-apa, tiba-tiba Hay kongkong membalikkan tubuhnya dan mengirim sebuah serangan.
Kedua tangannya meluncur ke depan dengan cepat.
Hay kongkong mendapat tugas dari junjungannya, yakni kaisar Sun Ti.
Dia diharuskan menyelidiki siapa pembunuh kedua permaisuri dan putera mahkotanya, Kata-katanya akan mengadu kepada Sri Baginda hanya gertakan belaka agar perhatian thayhou teralihkan.
Secara tiba-tiba dia menyerang thayhou yang dianggapnya lawan tangguh itu, sebelumnya dia juga sudah menghimpun seluruh tenaga dalamnya dan menduga dengan tepat di mana posisi berdirinya thayhou agar dia bisa menyerang dengan telak.
Kedua matanya memang buta, tetapi selama ini dia sudah melatih pendengarannya dengan baik sehingga dia dapat melancarkan serangannya ke dada ibu suri.
Ibu suri ingin mengirimkan serangan, tetapi ternyata dia yang diserang terlebih dahulu, untuk sesaat hatinya terkesiap, sebenarnya dia sudah menghitung matangmatang posisinya apabila serangannya menderita kegagalan.
Dia yakin, dengan matanya yang buta, thay-kam tua itu tidak akan sanggup menandinginya, Siapa nyana kepandaian thay-kam itu memang tinggi sekali.
Untuk sesaat thayhou sempat kewalahan diserang sedemikian rupa oleh si thay-kam tua.
Namun belakangan di bisa juga menguasai dirinya sehingga mulai balas menyerang.
Ketika mengadu tenaga dalam, Hay kongkong yakin dia akan meraih kemenangan karena thayhou sudah terluka, ia akan bertahan terus sampai lawannya kehabisan tenaga.
Siau Po dapat melihat semuanya dengan tegas dari tempat persembunyiannya, Dia melihat thay hou mengadu tenaga dengan sebelah tangannya.
Tampaknya keadaan mereka biasa-biasa saja, tetapi sebenarnya tidak, karena dengan lewatnya waktu tenaga dalam Hay kongkong akan semakin kuat.
Thay-hou heran ketika merasakan perubahan pertahanan thay-kam tua itu.
Dia juga merasa terkejut.
"Untung sejak semula aku sudah bersiap-siaga. Coba kalau tidak, mungkin sekarang aku sudah celaka. Malam ini mungkin nyawaku bisa amblas tangannya,"
Pikir thayhou dalam hati.
Ibu suri bukan orang bodoh, ia tahu apa yang harus dilakukannya, Di saat tangannya menahan serangan orang tua itu, tangan kirinya meraba dalam saku untuk mengeluarkan senjatanya yang istimewa, Ngo-bi ci, sejenis ujung tombak dari baja berlapis platina.
Secara diam-diam dia mengarahkan bagian yang runcing dari senjata itu ke dada lawan.
Siau Po dapat melihat gerak-gerik thayhou, Dia masih mengintai karena belum menemukan kesempatan yang baik untuk melarikan diri.
Melihat berkilaunya sinar putih di tangan wanita itu, diam-diam dia merasa senang.
Biar bagaimana, dia lebih berpihak kepada thayhou.
"Bagus, bagus! Biar bagaimana, tampaknya si kura-kura tua malam ini terpaksa berpulang ke alam baka!"
Serunya dalam hati.
Tetapi, ketika senjata thayhou mengulur ke depan secara perlahan-lahan, tiba-tiba gerakannya terhenti.
Hal ini disebabkan tenaga dalam Hay kongkong yang mulai mendesak ibu suri.
Tenaga wanita itu sendiri semakin melemah.
Karena terdesak, thayhou terpaksa harus menggunakan tangan yang satunya.
Tapi dia menggerakkannya dengan perlahan, agar senjatanya tidak diketahui oleh pihak lawan, namun karena kelambatannya, dia berhasil didahului oleh lawan.
Siau Po melihat tangan kiri thayhou gemetar, dia melihat senjata wanita itu tidak dapat digerakkan.
Dia tidak tahu apa sebabnya.
Sesaat kemudian, senjata itu bukan saja tidak bisa bergerak ke depan malah perlahan-Iahan mulai mundur, thayhou masih bertahan tetapi keadaannya mulai terdesak.
Saat itulah Siau Po baru mulai tersadar, hatinya tercekat.
"Ah! Celaka! Thayhou tidak sanggup melawan kura-kura tua itu! Kalau aku tidak menyingkir sekarang juga, nanti tentu tidak ada kesempatan Iagi!"
Pikirnya dalam hati, ia segera membalikkan tubuhnya dan melangkah dengan mengendap-endap.
Dia tidak ingin mengambil resiko sedikit pun.
Dia juga yakin setelah agak jauh, baru dirinya aman.
Tepat ketika dia sampai di depan pintu dan mengulurkan tangan untuk membukanya, dia mendengar seruan tertahan dari mulut Hong thayhou.
Hatinya terperanjat dan cepat dia menolehkan kepalanya.
"Celaka! Thayhou telah dibunuh oleh kura-kura tua itu!"
Keluhnya dalam hati. Justru pada saat itulah terdengar suara Hay kongkong.
"Thayhou, kau ibarat lampu yang sudah mula kehabisan minyak, sebentar lagi pelitamu akan padam dan habislah semuanya, kecuali kalau ada orang yang datang menolongmu atau mendadak menikam punggungku yang mana akan membuat aku mati karenanya!"
Siau Po mendengar kata-katanya thay-kam tua itu dengan jelas.
"Oh, kiranya thayhou belum mati, Tapi apa yang dikatakan kura-kura tua itu ada benarnya juga, dia sedang menghadapi thayhou dengan kedua tangannya. Kalau aku membokongnya, tentu di tidak dapat berbuat apa-apa. Kau sendiri yang memancing orang mencelakainya, maka jangan kau salahkan aku!"
Katanya dalam hati.
Dalam keadaan yang demikian kritis, Siau Po langsung mengambil keputusan.
Dia ingin membantu thayhou, dia juga ingin membunuh thay-kam tua itu, sekarang ada kesempatan yang baik, dia harus menggenggamnya erat-erat.
Siau Po segera membungkuk dan mencabut belati yang terselip di kaos kakinya, setelah itu dia melompat keluar dari tempat persembunyiannya sambil berteriak.
"Hei, Kura-kura tua! jangan celakai thayhou!"
Dia langsung menerjang ke depan untuk menikam punggung thay-kam tua itu.
Hay kongkong memang hebat sekali, ketika dia sedang melayani ibu suri, telinganya yang tajam dapat mendengar suara langkah kaki yang lirih sekali.
Tiba-tiba saja ingatannya melayang kepada Siau Kui cu.
Dia langsung menduga bocah itu pasti belum mati, Dia takut Siau Kui cu gadungan itu akan meminta bantuan para pengawal untuk membekuknya, karena itu dia segera memancing Siau Po dengan kata-katanya dan bocah itu langsung keluar dari tempat persembunyiannya untuk menyerangnya.
Siau Po tertipu, Dadanya terkena tendangan Hay kongkong, Tubuhnya langsung terpental juga ke belakang dan memuntahkan segumpal darah segar, serangan yang dahsyat itu telah menggagalkan bokongannya.
Ketika menyerang si bocah yang datang dari belakang, Hay kongkong sudah menduga thayho akan berusaha menyelamatkan diri.
Kemungkinan dia akan diserang oleh tangan kiri lawan, cepat di berjaga-jaga, tangan kanannya mendekap bagian perut.
Namun tepat pada saat itu si thay-kam tu terkejut setengah mati.
Dia merasa telapak tangannya tersentuh benda yang dingin dan perutnya terasa nyeri seketika, karena matanya buta, dia tidak dapat melihat keadaan lawan.
Dia mengira thayhou akan menyerangnya dengan tangan kosong, tidak diduga sama sekali bahwa wanita itu telah menyiapkan senjata yang luar biasa tajamnya perutnya langsung terkena tikaman.
Saking nyeri dan terkejutnya, Hay kongkong menghantamka tangan kirinya.
Thayhou sedang menikam tidak sempat di membela diri, Hantaman thay-kam tua itu langsung membuat tubuhnya terpental ke belakang beberapa tindak, untung saja dia masih sempat mengendalikan gerakan tubuhnya dengan kaki kiri sehingga tidak sampai jatuh roboh terguling.
Dadanya teras sesak, darah di dalamnya terasa bergejolak, hampir saja dia semaput.
Dia juga khawatir si thay-kam tua itu akan menyerang terus, karenanya dia menyurut mundur dua langkah kemudian bersandar pada tembok.
Terdengar Hay kongkong mengeluarkan suara tawa yang melengking dan menyeramkan.
"Nasibmu mujur sekali! Benar-benar mujur!"
Secara berturut-turut dia melancarkan tiga buah serangan.
Setiap kali menyerang, kakinya pun turut melangkah maju ke depan sehingga jaraknya dengan ibu suri semakin dekat.
Baca Juga: Pusaka Pedang Embun 2
Baca Juga: Seruling Samber Nyawa 3