Eps 1 Kaki Tiga Menjangan - Chin Yung
Baca online Kaki Tiga Menjangan - Chin Yung
Cersil Kaki Tiga Menjangan - Chin Yung.
Kaki-Tiga-Menjangan "
PANGERAN MENJANGAN"
"LU DING JI "
Judul Inggeris .
Duke Of Moon Deer Karya .
Chin Yung Bagian 01 Bagian pertama Sejak masa purbakala, kota Yang-ciu sudah terkenal sebagai daerah istimewa.
Apalagi sekarang, sepanjang hari kota Yang-ciu selalu ramai, Berbagai toko memenuhi sepanjang jalan.
Tahun pertama kedudukan kaisar Kong Hi dari dinasti Ceng, Di samping telaga Siu Sai, Yang-ciu, ada sebuah bangunan besar tempat hiburan.
Saat ini baru masuk musim semi, lentera-lentera tergantung menerangi seluruh tempat itu.
Bangunan yang bernama Li Cun Goan mengumandangkan berbagai jenis suara.
Ada ketukan bambu, ada suara teriakan para laki-Iaki yang sedang bertaruh kepalan tangan.
Ada pula suara tertawa cekikikan.
Maklumlah, Li Cun Goan memang menyediakan banyak wanita penghibur.
Ada juga yang sudah setengah mabuk sehingga bernyanyi-nyanyi dengan suara sumbang, Pokoknya suasana bising sekali sampai di taman pun terdengar jelas.
Tiba-tiba, dari arah utara dan selatan terdengar suara bentakan serentak.
"Para sahabat yang ada di dalam gedung, para nona-nona cantik dan teman-teman yang sedang menghamburkan uang, harap dengarkan. Kami ingin mencari seseorang! Tidak ada urusannya dengan kalian semua. Siapa pun tak boleh berkoar-koar atau ribut-ribut, siapa yang tidak mendengar perintah kami, jangan salahkan apabila kami mengambil tindakan keras!"
Suasana hening seketika.
Tetapi sesaat kemudian terdengarlah suara jeritan beberapa orang wanita dan suara teriakan laki-Iaki yang keras.
Keadaan di tempat itu jadi kacau tidak karuan.
Di tengah-tengah ruangan Li Cun Goan itu ada belasan laki-laki yang duduk mengitari tiga buah meja, Di samping masing-masing ditemani seorang wanita penghibur.
Mendengar suara bentakan tadi, wajah mereka semuanya berubah.
"Ada apa?"
"Siapa?"
"Apakah ada pemeriksaan dari pihak kerajaan?"
Berbagai pertanyaan tercetus serentak.
Dalam waktu yang bersamaan terdengar suara ketukan keras di pintu, para pelayan dan wanita penghibur jadi bingung.
Untuk sesaat mereka tidak tahu apa yang sebaiknya dilakukan.
Apakah harus membuka pintu atau membiarkannya saja?
Terdengar suara benturan yang keras, rupanya pintu ruangan itu sudah didobrak sehingga terbuka.
Disusul dengan masuknya belasan laki-laki bertubuh kekar.
Para laki-laki itu mengenakan pakaian yang ringkas, kepala diikat dengan selendang putih.
Tangan masing-masing membawa golok yang berkilauan menandakan tajamnya.
Ada pula beberapa orang yang membawa pentungan besi.
Sekali lihat saja para tamu maupun wanita penghibur di dalam gedung itu sudah mengenali mereka sebagai para begajul yang biasa malang melintang di sekitar wilayah itu.
Agaknya mereka tidak dapat disamakan seperti begajuI-begajuI biasanya, karena rombongan itu berkumpul di bawah naungan seorang pemimpin dan mereka hanya mengadakan jual beli garam selundupan.
Pada zaman itu, baru terjadi peralihan dinasti, harga garam tinggi sekali.
Siapa yang bisa menyelundupkan garam dan kemudian menjualnya dengan harga di bawah pasaran, akan menjadi kaya raya.
Rombongan inilah penyelundup garam tersebut kecuali itu mereka tidak pernah merampok ataupun melakukan kejahatan lainnya.
Meskipun demikian, kegarangan mereka kali ini berbeda dengan biasanya.
Hal ini membuat para tamu maupun wanita-wanita penghibur di Li Cun Goan itu bertanyatanya apa kemauan mereka sebenarnya.
Seorang laki-laki berusia kurang lebih lima puluhan tahun segera keluar dari rombongan itu.
"Para sahabat sekalian, maafkan gangguan kami ini!"
Selesai berkata, dia segera menjura ke kiri dan kanan, kemudian berteriak lagi dengan suara Iantang.
"Sahabat she Ci dari Tian-te hwe, Cia lao-liok apakah ada di sini?"
Matanya mengedar di antara para tamu.
Para tamu yang bertemu pandang dengan sinar matanya, langsung ciut hatinya.
Tetapi mereka berpikir dalam hati, Mereka toh hanya mencari orang yang berkecimpungan dunia kangouw, pasti tidak mencampur adukkan urusannya dengan orang lain yang tidak bersangkutan.
Laki-laki setengah baya tadi berteriak sekali dengan suara keras.
"Cia lao-liok, sore ini di tepi telaga Siu Sai, kau mengoceh sembarangan mengatakan bahwa kami para penyelundup garam Yang-ciu terdiri dari orang-orang yang tidak berguna. Tidak berani membunuh petugas kerajaan, hanya berani main belakang. Mengadakan usaha yang pengecut. Di sana kau berteriak-teriak seenak perutmu dengan mengatakan bahwa apabila kami tidak puas, boleh datang ke Li Cun Goan untuk mencarimu Nah, sekarang kami sudah datang, Cia lao-liok, kau toh seorang pentolan dari Tian-te hwe, mengapa sekarang menjadi anak kura-kura yang menyurutkan kepalanya?"
Para laki-laki yang datang bersamanya seperti beo yang latah berteriak serentak.
"Pentolan dari Tian-te hwe, mengapa jadi kura-kura yang menyurutkan kepalanya?"
"Eh, kalian semua! sebetulnya kalian dari Tian-te hwe atau Sut-thau hwe (perkumpuIan menyurutkan kepala)?"
Teriak yang lainnya.
"Kata-kata itu hanya diucapkan oleh Cia lao-liok seorang, tidak ada urusannya dengan orang lain. Meskipun kami hanya mencari sesuap nasi dari beberapa patah kata dan tidak sanggup bersaing dengan segala Tian-te hwe, tapi setidaknya kami bukan orang-orang seperti kura-kura yang hanya bisa menyusutkan kepalanya dalam batok!"
Kata laki-laki setengah baya yang pertama tadi. Setelah menunggu beberapa lama, masih tidak terdengar sahutan dari orang yang dipanggil Cia lao-liok, laki-laki setengah baya tadi membentak lagi.
"Cari ke setiap bagian bangunan ini, Kalau bertemu dengan Cia lao-liok, undang dia keluar! Diwajah orang ini ada bekas bacokan golok yang cukup panjang, mudah dikenali!"
Tiba-tiba dari kamar sebelah timur berkumandang suara yang serak tapi gagah.
"Siapa yang pentang mulut keras-keras di sini, mengganggu ketenangan lohu saja?"
"Cia lao-liok ada di sini!"
"Cia lao-liok, cepat menggelinding keluar!"
Teriak rekan-rekan laki-laki setengah baya tadi.
"Maknya! Anjing tua itu nyalinya sungguh besar!"
Teriak yang lainnya. Orang di dalam kamar sebelah timur itu tertawa terbahak-bahak.
"Lohu bukan she Cia, tetapi mendengar kalian memaki-maki Tian-te hwe, telinga tua ini jadi gatal. Meskipun lohu bukan orang Tian-te hwe, tapi maklum bahwa setiap anggota Tian-te hwe terdiri dari laki-laki sejati. Kalian yang bermulut ember bocor masih tidak pantas menenteng sepatu mereka atau menceboki pantat mereka sekalipun!"
Rombongan yang datang itu marah sekali, mereka memaki-maki serabutan.
Tiga di antaranya langsung mengayunkan golok dan menerjang ke kamar sebelah timur.
Sesaat kemudian terdengarlah suara mengaduh dan mengerang dari mulut mereka.
Satu per satu melayang keluar lalu terbanting di atas tanah, Golok seorang di antaranya membentur kepala sendiri sehingga darah segar bercucuran, kemudian ia pun semaput seketika.
Enam orang lainnya ikut-ikutan menerjang ke dalam kamar sebelah timur, tapi mereka menemukan nasib yang sama dengan rekan-rekannya.
Semua terpental kembali dengan mulut mengerang-erang.
Yang lainnya semakin berang, mereka memaki dengan kata-kata yang kotor, tetapi tidak ada seorang pun yang berani menerjang ke dalam kamar itu lagi.
Laki-laki setengah baya yang menjadi pimpinan rombongan itu segera melangkah ke depan dan melongokkan kepalanya ke dalam kamar.
Dia melihat seorang laki-laki brewokan sedang duduk di atas tempat tidur kepalanya terikat dengan selendang putih.
Di wajahnya tidak ada bekas bacokan golok, ternyata ia memang bukan Cia lao-liok.
Laki-laki setengah baya itu bertanya dengan lantang.
"Kepandaian saudara sungguh hebat, bolehkah kami tahu siapa she dan nama anda yang mulia?" Orang di dalam kamar itu menyahut dengan setengah mengomel.
"Siapa she dan nama bapakmu, itu pula she dan namaku, Anak kurang ajar! Masa nama bapak tua sendiri tidak tahu?"
Tiba-tiba salah satu dari para wanita penghibur yang berdiri di samping tidak dapat menahan kegelian hatinya mendengar ucapan orang dalam kamar, dia tertawa cekikikan.
Salah seorang laki-laki tinggi besar dari rombongan para penjual garam itu segera maju ke depan dan menempeleng pipi wanita yang tertawa tadi sebanyak dua kali.
"Perempuan lacur! Apa yang kau tertawakan?"
Makinya garang.
Wanita itu ketakutan setengah mati dan otomatis tidak berani bersuara sedikit pun, Tiba-tiba dari samping ruangan menghambur keluar seorang bocah laki-laki berusia dua belasan tahun, Begitu sampai dia langsung memaki.
"Kau berani memukul ibuku! Kura-kura busuk, kakeknya kura-kura! Kusumpahi biar tanganmu budukan, korengan, bernanah, lama-lama jadi kutung. Kumannya menyebar ke mulutmu, tenggorokanmu, biar tertelan nanah busuknya dan ususmu ikut busuk!"
Laki-laki bertubuh kekar itu berang sekali.
Tangannya terulur ke depan untuk mencengkeram anak kecil itu.
Ternyata gerakan tubuh si bocah gesit sekali, sekali kelebat dia sudah menyelinap di balik rekan laki-laki itu.
Laki-laki tadi segera menggeser rekannya ke samping sehingga terhuyung-huyung, kemudian tangan kanannya mengirimkan sebuah pukulan ke arah bocah kecil itu.
Wanita penghibur yang kena tempeleng tadi langsung menjerit histeris.
"Ampun, toaya!"
Dalam waktu yang bersamaan, si bocah cilik sudah merundukkan tubuhnya, tangan kanannya menjulur ke depan dan mencengkeram bagian selangkangan laki-laki itu, otomatis si tubuh kekar itu menjerit kesakitan.
Kemarahannya semakin meluap-Iuap, tapi si bocah sudah mengelit ke samping, Kemarahan laki-laki itu belum terlampiaskan, Tinjunya melayang ke depan, menghantam wajah wanita penghibur tadi, wanita itu pun pingsan seketika.
Bocah cilik itu langsung menghambur ke depan dan memeluk wanita tadi.
"Mak! Mak!"
Laki-laki bertubuh kekar tersebut segera mengulurkan tangannya mencengkeram kerah belakang bocah itu.
Baru saja dia ingin mengangkatnya ke atas dan ingin membantingnya keras-keras, tindakannya sudah dicegah oleh pemimpinnya.
"Jangan bikin onar, lepaskan anak itu!"
Meskipun kurang senang, laki-laki itu tidak berani membantah.
Dia meletakkan bocah tadi di atas tanah lalu menendang pantatnya keras-keras sehingga menggelinding beberapa kali lalu membentur tembok.
Pemimpinnya melirik laki-laki kekar itu sekilas lalu berkata dengan lantang.
"Kami adalah para saudara dari Ceng Fang, Karena salah seorang anggota Tian-te hwe, yakni Cia lao-liok menghina perkumpulan kami, bahkan menantang kami dengan mengatakan akan menunggu di sini, maka kami datang ke tempat ini. seandainya saudara memang bukan orang dari Tian-te hwe dan tidak pernah mempunyai perselisihan dengan Ceng pang kami, mengapa saudara mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan hati? Harap saudara meninggalkan she dan nama, agar kami bisa memberikan tanggung jawab apabila ditanyakan oleh Pangcu kami!"
Orang di dalam kamar itu tertawa terbahak-bahak.
"Kalian ingin membuat perhitungan dengan orang Tian-te hwe, apa urusannya denganku? Aku hanya ingin menyenangkan hati di tempat ini, kalau kalian mengatakan tidak ada perselisihan di antara kita, terlebih-lebih kalian tidak boleh mengganggu kesenangan lho. Tapi ada sepatah kata yang ingin aku nasehatkan kepada loheng. Kalian pasti tidak sanggup menghadapinya. Karena terlanjur di maki orang, terima saja dalam hati, Toh, kenyataannya memang begitu."
Laki-laki yang menjadi pimpinan rombongan marah sekali mendengar ocehannya.
"Aneh, di dunia masa ada orang yang begitu tidak tahu aturan seperti Anda ini?"
"Tahu aturan atau tidak, toh bukan urusanmu, Memangnya kau sedang mencari suami untuk kakak atau adikmu?"
Tepat pada waktu itu juga, dari luar melesat masuk tiga orang lainnya.
Dandanannya sama seperti rombongan penyelundup garam tersebut.
Salah satunya yang membawa pecut segera berbisik di telinga si laki-laki setengah baya.
"Siapa orang itu?"
"Dia tidak mau mengatakannya, tetapi sedikit-sedikit dia sesumbar tentang kehebatan Tian-te hwe, kemungkinan besar Cia lao-liok memang bersembunyi di dalam kamar itu,"
Sahut si orang tua.
Orang yang bertubuh kurus itu memberikan isyarat tangan kepada kedua rekannya.
Bersama-sama si orang tua yang sudah mengeluarkan sebatang pedang pendek dari selipan pinggangnya, mereka menerjang ke arah kamar sebelah timur itu.
Terdengar suara benturan senjata dari dalam kamar Ruangan di gedung Li Cun Goan seluruhnya terdiri dari kamar-kamar yang mempunyai perabotan lengkap, sekarang terdengar suara gedebak-gedebuk yang tidak beraturan.
Dapat dibayangkan bahwa kursi dan meja di dalamnya pasti menjadi sasaran amukan beberapa orang itu.
Wajah pemilik gedung yang gemuk itu terus berkerut-kerut, hatinya terasa sakit membayangkan barang-barangnya hancur berantakan.
Mulutnya berkomat-kamit mengucapkan nama Buddha.
Ke empat laki-laki yang terdiri dari para penyelundup garam itu membentak dengan suara keras, seperti sedang berlangsung suatu pertarungan yang berlangsung sengit sekali, tetapi tidak terdengar sedikit suara pun dari mulut si tamu itu sendiri.
Para tamu menepi jauh-jauh, mereka tidak ingin terkena getahnya.
Tiba-tiba terdengar suara jeritan histeris dari mulut seseorang, agaknya salah satu dari keempat orang yang menyerbu masuk.
Si bocah kecil yang ditendang oleh laki-laki bertubuh kekar tadi tentu saja kesakitan setengah mati, Bagian selangkangannya benar-benar terasa ngilu dan perih.
Dalam keadaan marah, dia melihat si bocah berusaha merangkak bangun, tinjunya segera menghantam kedepan.
Bocah itu mengelak ke samping untuk menghindarkan diri.
Laki-laki kekar itu mana sudi menyudahi urusannya begitu saja, dia segera melayangkan dua kali tamparan ke pipi kiri kanan bocah itu.
Tubuh sang bocah sampai melintir saking tidak dapat menahan diri.
Para tamu yang lain serta wanita-wanita penghibur di gedung itu dapat melihat sepasang mata si laki-iaki kekar yang beringas.
Kalau dia memukul terus beberapa kali lagi, sang bocah pasti akan terkapar mati.
Tapi tidak ada satu pun yang berani mencegah atau menasehatinya.
Tampak laki-laki kekar itu kembali mengangkat tangannya ke atas dan siap dihantamkan ke bawah.
Bocah laki-laki itu nekad menerjang ke depan, tapi tidak ada jalan lagi baginya untuk meloloskan diri.
Akhirnya dia terpaksa mendorong pintu kamar sebelah timur itu dan menerobos ke dalam.
Para tamu dan yang lainnya mengeluarkan seruan tertahan Laki-Iaki itu berniat mengejarnya, tapi akhirnya niatnya ia batalkan, mungkin karena takut menjadi sasaran perkelahian di dalam.
Begitu menyelinap ke dalam kamar, si bocah tidak dapat melihat jelas pemandangan di dalamnya.
Hanya terdengar suara benturan senjata yang nyaring.
Trang!
Timbul beberapa percik bunga api, tampak seorang laki-laki brewokan sedang duduk di atas tempat tidur.
Kepalanya diikat dengan sehelai selendang putih, tampangnya menyeramkan.
Si bocah sampai mengeluarkan seruan tertahan Begitu percikan bunga api padam, keadaan di dalam kamar menggelap kembali.
Hanya sinar lentera dari luar kamar yang menyorot suram Perlahan-lahan pandangan mata baru terbiasa dan mulai dapat melihat keadaan di dalam kamar tersebut.
Di antara keempat orang yang menyerbu masuk, sekarang hanya tinggal dua orang yang masih bertahan, yakni laki-laki yang membawa pecut dan si orang tua yang menggunakan sebatang pedang pendek.
Mereka sedang berkelahi dengan seru.
Si bocah berpikir dalam hati.
"Bagian kepala orang itu sudah terluka, berdiri saja tidak genah, pasti ia tidak akan sanggup melawan para penyelundup garam ini lebih Iama. sebaiknya cepat-cepat melarikan diri, tapi entah bagaimana keadaan mak?"
Mengingat ibunya yang dihina sedemikian rupa, kemarahan dalam hatinya meluap lagi.
Tanpa sadar dia memaki-maki seenaknya "Penjahat busuk!
Turunan banci!
Aku sumpahi agar delapan belas keturunanmu berbau busuk!
Garam selundupanmu pasti banyak sekali.
Kalau istri, nenek, emakmu mati, kuburkan saja dengan garam.
Kalau dagingnya sudah asin, bawa ke pasar untuk dijual, satu kilo tiga picis pun tidak ada yang sudi membeli daging busuk keluargamu itu...!" Laki-laki bertubuh kekar yang terdiri di luar kamar jadi gusar mendengar makian si bocah yang kasar, tapi dia tetap tidak berani menerjang masuk ke dalam kamar.
Orang yang duduk di atas tempat tidur itu tiba-tiba menggerakkan goloknya ke depan.
Bacokannya tepat menikam ke bahu kiri si taki-laki kekar yang membawa pecut, akibatnya tulang pundak si kekar itu tertebas putus seketika.
Dalam waktu bersamaan, si orang tua juga maju ke depan satu tindak, pedang pendeknya dihunjamkan ke dada orang yang duduk di atas tempat tidur.
Dengan sigap orang itu mencabut goloknya dari bahu si laki-laki kekar kemudian mengayunkannya ke samping untuk menangkis serangan pedang pendek si orang tua, sekaligus tangan kirinya mengirimkan pukulan sebanyak tiga kali berturut-turut.
Si orang tua rupanya tidak menyangka dalam keadaan terdesak seperti itu, si brewok itu masih sempat menyerangnya.
Dadanya langsung terhantam, mulutnya memuncratkan darah segar dan tubuhnya terpental keluar kamar.
Laki-laki bertubuh kekar yang tulang pundaknya hancur memang sudah terluka parah, tapi masih nekad juga.
Dia ayunkan pecut bajanya ke depan.
Kali ini si brewok yang duduk di atas tempat tidur tidak melakukan gerakan apa-apa, kemungkinan tenaganya sudah habis terkuras.
Bila pecut itu sampai mengenai tubuhnya, tidak ayal lagi pasti selembar nyawanya sulit dipertahankan.
Melihat situasi yang demikian kritis, timbul perasaan senasib sependeritaan dalam hati si bocah cilik.
Tanpa berpikir panjang dia langsung menerkam sepasang kaki si lakilaki kekar itu dan menariknya erat-erat.
Bayangkan saja, tubuh laki-laki itu paling tidak ada dua ratusan kati, sedangkan si bocah cilik itu kurus kering, Dalam keadaan biasa, mana mungkin dia sanggup menahan tubuh orang itu, tetapi laki-laki kekar itu memang sudah terluka parah.
Serangannya ini juga menggunakan sisa tenaga yang terakhir.
Begitu ditarik oleh si bocah cilik, tubuhnya langsung terjengkang ke belakang dan tidak bergerak lagi.
Laki-laki brewokan di atas tempat tidur itu segera berseru dengan lantang.
"Kalau memang bernyali, masuklah kalian semua ke dalam!"
Bocah cilik itu menggoyangkan tangannya berkali-kali, maksudnya agar laki-laki itu tidak menentang penyelundup garam lainnya yang ada di Iuar.
Pada saat si orang tua terpental keluar, pintu kamar itu sempat terbuka sekejap lalu mengatup kembali.
Sampai sekarang pintunya masih bergerak kesana kemari.
Dengan bantuan sorotan lemah dari lentera yang tergantung di luar, orang-orang dapat melihat seluruh wajah si brewok penuh dengan noda darah, tampangnya sungguh menyeramkan.
Tetapi mereka hanya dapat melihat sekelebatan, apa sebenarnya yang terjadi di dalam kamar mereka tidak tahu, Beberapa orang penyelundup garam lainnya hanya saling pandang dengan bimbang.
Terdengar si brewok berkata lagi dengan keras.
"Anak kura-kura, kalau kalian tidak berani masuk ke dalam, sebentar lagi lohu akan keluar dan membantai kalian satu per satu!"
Mendengar kata-kata itu, orang-orang yang masih berdiri di luar segera mengangkat tubuh rekannya yang terluka dan lari meninggalkan gedung itu dengan terbirit-birit.
Si brewok tertawa terbahak-bahak, kemudian berkata dengan suara perlahan.
"Anak, cepat kau rapatkan pintu kamar!"
Si bocah memang sudah mempunyai pikiran yang sama. Karena itu dia segera mengiakan dan merapatkan pintu. Setelah itu perlahan-lahan dia menghampiri tempat tidur, samar-samar tercium bau amis darah.
"Kau... kau..."
Si brewok seperti ingin mengatakan sesaatu, tetapi kekuatannya sudah hampir habis, tubuhnya limbung beberapa kali dan hampir saja terjerembab jatuh di tanah.
Si bocah terkejut setengah mati, cepat-cepat dia menghambur ke depan dan menahan tubuh si brewok.
Tubuh orang itu sangat berat Dengan segenap tenaga si bocah meletakkan kepala orang itu di atas bantal.
Si brewok mengatur pernafasannya beberapa kali.
Tampaknya dia merasa agak baikan.
Sesaat kemudian baru dia berkata.
"Aku sudah membunuh beberapa orang penyelundup garam itu, sekarang tenagaku masih belum puIih. Kalau rombongan itu datang lagi membawa tenaga bantuan, bahaya sekali, sebaiknya aku menyingkir dulu, ya... menyingkir dulu."
Agaknya dia merasa menyesal dengan keadaannya sendiri.
Dia mencoba menggerakkan tubuhnya untuk bangun, tapi rasa sakit segera menyerangnya, sehingga mulutnya mengeluarkan suara erangan.
Si bocah cerdik sekali, dia mengerti apa keinginan orang itu.
Dia segera membantunya agar dapat duduk tegak.
"Ambil golok!"
Kata orang itu.
"Berikan padaku!"
Anak itu menuruti permintaannya, ia mengambil golok dan menyodorkannya ke hadapan orang itu.
Orang itu menggunakan goloknya sebagai tongkat dan turun dari pembaringan perlahan-lahan, Bocah itu masih membimbing tangannya.
Untuk sesaat, tubuhnya masih terhuyung-huyung.
"Aku akan keluar sekarang,"
Kata orang itu.
"Tak perlu kau bimbing aku terus. Kalau rombongan penjahat itu datang kembali dan melihat kita bersama. Kau bisa celaka, kau akan mereka bunuh!"
"Maknya! Aku tidak takut! Kalau mereka mau membunuh aku, silahkan! Kita adalah sepasang sahabat yang harus menjunjung kegagahan, pokoknya bagaimana pun aku harus membantu kau!"
Orang itu tertawa terbahak-bahak. Karena tubuhnya masih lemah, dia sampai terbatuk-batuk.
"Kau membicarakan soal kegagahan?"
"Kenapa tidak boleh. Sahabat sejati harus senang dirasakan bersama, menderita dicicipi bersama puIa!"
Di kota Yang-ciu banyak tukang cerita yang menceritakan berbagai kisah tentang Sam Kok, Sui Hu Coan, dsbnya, Bocah itu memang keranjingan cerita-cerita itu, karenanya dia dapat mengucapkan kata-kata senang dan menderita dicicipi bersama.
"Kata-kata yang bagus! Aku berkelana di dunia bulim ini sudah dua puluh tahun Iebih, kata-katamu tadi aku juga sudah mendengarnya ribuan kali. Teman yang mau diajak bersenang-senang di mana-mana pun ada, tapi yang mau diajak menderita bersama, sampai sekarang baru beberapa gelintir yang kutemukan Mari kita berangkat!"
Bocah itu terus membimbing tangan orang itu dan mengajaknya keluar dari kamar.
Tiba di ruangan tengah, orang-orang yang melihat mereka jadi terkejut dan menyingkir karena takut.
Terdengar ibu si bocah memanggil-manggil.
"Siau Po, Siau Po, mau kemana kau?"
"lbu, aku akan mengantarkan sahabatku ini dulu, sebentar aku kembali lagi!"
Mendengar kata-kata si bocah, orang itu tertawa terbahak-bahak.
"Bagus-bagus... sahabat, iya sahabat Aku memang sudah menjadi sahabatmu!"
"Jangan kau pergi, nak. sebaiknya kau bersembunyi saja,"
Kata sang ibu khawatir.
Si bocah hanya tersenyum, bersama sahabat barunya dia meninggalkan Li Cun Goan, rumah pelesiran itu.
Keadaan di luar gang, sunyi senyap.
Tampaknya kawanan penyelundup itu memang sudah pergi, atau mungkinkah mereka sedang mencari bala bantuan?
Tiba di sebuah gang kecil, orang itu mendongakkan wajahnya menatap langit, dia memandangi bintang-bintang yang bertaburan.
"Mari kita menuju ke barat!"
Katanya. Si bocah menurut. Mereka berjalan bersama-sama. Lewat beberapa tombak, di depan tampak sebuah kereta keledai sedang bergerak ke arah mereka.
"Lebih baik kita naik kereta saja,"
Kata orang itu kembali, Kemudian dia berteriak dengan suara lantang.
"Pak Kusir! Pak Kusir! Ke sini!"
Kusir kereta itu segera menghentikan keIedainya.
Dia terperanjat melihat wajah orang itu yang penuh luka.
Diam-diam timbul kecurigaan dalam hatinya.
Orang itu rupanya segera maklum arti pandangan kusir kereta itu.
Dia segera mengeluarkan uang perak seberat lima tail dan menyodorkannya kepada si kusir kereta.
"Ambillah uang ini!"
Pikiran sang kusir bekerja cepat "Masa bodoh urusan lainnya, uang paling penting!"
Karena itu, dia segera menganggukkan kepalanya sambil menyambut uang yang disodorkan itu.
Dengan bantuan si bocah, orang itu perlahan-lahan naik ke atas kereta, Kembali dia mengeluarkan uang goanpo yang besar jumlahnya kemudian menyerahkan kepada si bocah.
"Sahabat cilik, aku akan berangkat sekarang. Uang sekedar ini harap kau simpan baik-baik."
Melihat jumlah uang besar itu, si bocah meneguk air liurnya.
Tapi dia teringat kembali kisah cerita yang sering di dengarnya bahwa orang-orang gagah hanya mementingkan persahabatan uang atau harta tidak ada artinya.
Dengan susah payah hari ini dia sudah berhasil menampilkan dirinya sebagai seorang gagah, biar bagaimana usaha itu tidak boleh tandas di tengah jalan hanya karena harta yang tidak seberapa dan sebentar saja sudah habis itu.
Karena itu dia segera menggelengkan kepalanya dan berkata dengan nada tegas.
"Kita membicarakan soal persahabatan sejati. Kau memberikan uang kepadaku, itu tandanya kau tidak menghargai aku. Lukamu masih belum sembuh, aku akan mengantar kau lebih jauh sedikit!"
Orang itu melengak, kemudian dia menengadahkan kepalanya dan tertawa terbahakbahak.
"Bagus! Bagus!"
Serunya.
"Kau memang sahabat sejati!"
Ia pun menyimpan uangnya kembali. Si bocah pun langsung melesat naik ke atas kereta dan duduk di samping orang itu.
"Ke mana tujuan kita, tuan?"
Tanya si kusir kereta yang sejak tadi diam saja.
"Ke bukit Tek Seng san, di sebelah barat kota!"
Sahut orang itu.
"Ke Tek Seng san? Tengah malam begini?"
Tanya si kusir kereta yang menganggap telinganya salah dengar.
"Benar!"
Sahut orang itu tegas sembari mengetuk-ngetukkan ujung goloknya ke alas kereta.
"Baik-baik,.,"
Kata si kusir yang ketakutan.
Cepat-cepat dia menurunkan tirai, kemudian memecut keledainya sehingga kereta itu langsung melaju ke depan.
Bukit Tek Seng san letaknya di sebelah barat kota Yang-ciu, tepatnya di dusun Pek Gi Hiang, kurang lebih tiga puluh li dari kota.
Di zaman dinasti Lam Song, Song selatan, Jenderal Han Se-Tiong pernah menggempur prajurit Kim habis-habisan, karenanya bukit Tek Seng san jadi terkenal.
Kereta terus bergerak, kurang lebih satu jam kemudian, mereka sudah sampai di kaki bukit.
"Tuan, kita sudah sampai di bukit Tek Seng san!"
Kata si kusir. Si brewok melongokkan kepalanya, ia melihat gundukan tanah setinggi tujuh delapan tombak, sebenarnya tidak cocok disebut bukit, tapi gunung-gunungan.
"lnikah Tek Seng san?"
Tanyanya bimbang.
"Benar tuan,"
Sahut si kusir.
"Ya, ini memang bukit Tek Seng san, ibu dan para cici lainnya sering datang ke bukit ini untuk bersembahyang di kuil Eng Liat hujin, Aku pernah ikut dan bermain-main di situ."
"Kalau kau yang mengatakannya, pasti tidak salah lagi!"
Mereka segera turun dari kereta, Si bocah mencelat turun terlebih dahulu.
Dia memperhatikan keadaan di sekitar tempat itu yang sunyi senyap dan remang-remang karena hari sudah senja, Diam-diam dia berpikir di dalam hati.
"Tempat ini cocok sekali untuk menyembunyikan diri. Kawanan penyelundup garam itu pasti tidak akan mencari sampai ke tempat ini."
Kusir kereta itu masih merasa khawatir. Rasanya ingin dia cepat-cepat berlalu dari tempat itu, namun si brewok berkata lagi padanya.
"Tunggu, kau antar dulu bocah ini kembali ke kota!"
"Baik, Tuan."
"Tidak, Aku akan menemanimu beberapa saat lagi,"
Kata si bocah.
"Besok pagi aku bisa membelikan bakpau untuk mengganjal perut."
Si brewok memperhatikan sang bocah lekat-lekat.
"Benarkah kau akan menemaniku?"
"Tidak baik sendirian berada di tempat seperti ini, apalagi lukamu masih belum sembuh!"
Sahut si bocah tegas. Si brewok tertawa lebar. Dia menoleh kepada kusir kereta tadi.
"Kau boleh pergi saja!"
"Baik, tuan,"
Sahut si kusir kereta yang sejak tadi memang sudah menunggu-nunggu perintah itu.
Si brewok berjalan menuju sebuah batu besar dan duduk di sana.
Kereta keledai itu sudah melaju pergi.
Keadaan di sekitar sunyi senyap.
Tiba-tiba si brewok membentak.
"Anak kura-kura berdua yang bersembunyi di balik pohon Liu cepat menggelinding keluar!"
Si bocah terkejut setengah mati. Diam-diam dia berpikir dalam hati.
"Benarkah di sini ada orang lain?"
Hal ini benar-benar di luar dugaannya.
Ternyata dari balik sebatang pohon besar muncul dua sosok bayangan hitam.
Mereka melangkah maju beberapa tindak, tetapi berhenti kembali.
Si bocah tidak dapat melihat jelas wajah kedua orang itu, namun mereka mengenakan sabuk putih di kepala, pertanda bahwa mereka adalah rombongan para penyelundup garam.
Tangan masing-masing mencekal sebatang golok.
Melihat sikap mereka yang hanya maju beberapa langkah, kemudian berhenti lagi, tampaknya hati mereka dilanda kebimbangan.
Si brewok membentak lagi dengan suara yang garang.
"Hei, anak kura-kura! Kalian mengintil aku dari Li Cun Goan, kenapa sekarang malah ragu-ragu mendekatiku? Bukankah kalian memang sengaja datang untuk mengantar jiwa?"
Mendengar kata-katanya, diam-diam si bocah membenarkan dalam hati, Tentunya kedua orang itu memang sengaja menguntit sampai di tempat ini, kemudian mereka bisa mendatangkan bala bantuan untuk mengeroyok si brewok.
Tampak kedua orang itu saling berbisik beberapa patah kata, tiba-tiba mereka membalikkan tubuhnya kemudian lari meninggalkan tempat itu.
"Eh!"
Seru si brewok yang berusaha bangun, maksudnya ingin mengejar kedua orang itu.
Tetapi tiba-tiba dia mengaduh, tentu rasa sakit di lukanya kumat lagi.
Si bocah segera memapah tubuh orang itu.
Diam-diam dia berpikir dalam hati "Gawat, Kereta tadi sudah pergi jauh, sedangkan kita tidak bisa berdiam terus di sini.
Untuk menyingkir sahabatku ini tampaknya tidak kuat berjalan.
Bagaimana kalau kedua orang itu kembali lagi dengan membawa konco-konconya?"
Sekonyong-konyong bocah itu menangis meraung-raung.
"Aduh, kenapa kau jadi mati? Tidak! Kau tidak boleh mati!"
Suara tangisannya semakin keras.
Kedua anggota penyelundup garam yang baru berjalan tidak seberapa jauh menjadi terhenyak seketika.
Tentu saja mereka mendengar suara tangisan si bocah, serentak mereka membalikkan tubuhnya dan mendengar si bocah meratap dengan sedih.
"Hu... hu... hu.... Kenapa kau mati begitu saja?"
Kedua orang itu saling pandang sejenak. Yang satu langsung berkata.
"Kau dengar suara tangisan anak laki-laki itu. Pasti si bangsat itu sudah mati."
"Benar! Pasti lukanya terlalu parah sehingga ia tidak dapat menahan diri lagi,"
Sahut yang lainnya. Keduanya segera menoleh dan dari kejauhan terlihat bayangan tubuh yang menggumpal, Keduanya mengira pasti si anak kecil sedang mendekap tubuh si brewok sambil menangis pilu.
"Mari kita hampiri,"
Kata salah seorangnya.
"Taruh kata dia belum mampus, tetapi keadaannya sudah terlalu lemah untuk mengadakan perlawanan. Kita tebas saja batang lehernya, sekaligus batok kepala si anak celaka itu!"
"lde bagus!"
Sahut rekannya setuju. Kedua orang itu berjalan ke arah semula dengan mengendap-endap. Si bocah masih menangis sedih. Dia memukuli dadanya sendiri sambil membanting-banting kakinya di atas tanah.
"Oh, saudaraku... mengapa kau diam saja? Kalau kawanan penjahat itu sampai balik lagi, bagaimana aku sanggup melawan mereka?"
Teriak bocah itu sambil meraungraung.
Mendengar kata-kata si bocah, kedua anggota penyelundup garam itu semakin senang hatinya.
Mereka segera mempercepat Iangkahnya.
Kemudian keduanya menerjang ke hadapan si bocah sambil mengayunkan goloknya...
Si bocah sepertinya terkejut setengah mati, matanya membelalak lebar.
Dalam waktu yang bersamaan tampaklah sinar lain yang berkelebat lebih cepat lagi.
Tahu-tahu batang leher si penjahat yang pertama sudah terbabat putus, kemudian disusul dengan rekannya yang koyak perutnya sehingga ususnya amburadul keluar.
Saat itu juga si brewok bangkit dan tertawa terbahak-bahak.
Si bocah sebaliknya masih menggerung-gerung sambil berkata.
"Aduh, sahabat-sahabatku, kasihan sekali nasib kalian, Mengapa kepalamu menggelinding? Dan kau... mengapa perutmu terbuka lebar? Mengapa kalian menghadap raja Giam lo-ong? Siapa yang akan menyampaikan kabar baik ini kepada keluarga dan rekan-rekanmu? Celaka?"
Berkata sampai di sini, bocah itu tidak dapat menahan kegelian hatinya sehingga tertawa terbahak-bahak. Si brewok ikut-ikutan tertawa.
"Hai setan cilik, kau memang cerdas sekali. Kalau kau tadi tidak pura-pura menangis tadi, tentu kedua telur busuk ini tidak akan kembali lagi menyerahkan jiwanya!"
"Apa susahnya pura-pura menangis? biasanya kalau emak akan menghajar dengan rotan, cepat-cepat aku menangis sekeras-kerasnya sehingga emak tidak tega menghajar aku keras-keras,"
Kata si bocah.
"Kenapa ibumu suka memukulmu?"
"Sebabnya tidak pasti. Kadang-kadang karena aku mencuri uangnya. Kadangkadang karena aku mempermainkan bibi Bin dan paman Yu..."
Si brewok menarik nafas panjang.
"Kalau kedua mata-mata ini tidak mati, urusannya pasti gawat. Eh, kenapa ketika menangis tadi kau tidak memanggil aku tuan atau paman, tapi hanya saudara saja?"
"Kau kan sahabatku, sudah seharusnya aku memanggilmu saudara! Tuan, apa kau kira dirimu? Kalau kau ingin aku memanggilmu tuan, setanlah yang akan melayanimu!"
Si brewok tertawa tergelak-gelak.
"Benar, benar! Eh, sahabat cilik, siapakah namamu?"
"Kau menanyakan she dan namaku yang mulia? Aku bernama Siau Po!"
"Bagus, Nama besarmu Siau Po, lalu apa she-mu yang mulia?"
"She... she mu... yang mulia..."
Bocah itu tergagap-gagap.
"She Wi."
Si brewok tertawa semakin geli, Bocah itu mengatakan she-mu yang muIia, Hal itu membuktikan bahwa dia tidak tahu apa artinya, seperti burung yang membeo saja.
Sebetulnya bocah ini lahir di rumah pelesiran, ibunya bernama Wi Cun Hoa.
Siapa ayahnya, jangan kata dia, bahkan ibunya sendiri mungkin tidak tahu.
Sampai sebesar ini, tidak pernah ada yang menanyakan asal-usulnya, baru hari ini si brewok menanyakannya, Karena bingung, dia pun menggunakan she ibunya sendiri.
Bocah ini tidak pernah belajar membaca menulis.
Dia mengetahui sebutan she dan nama yang mulia dari cerita-cerita kepahlawanan yang sering didengarnya.
"Dan... kau sendiri... siapa... nama besarmu dan... she-mu yang mulia?"
Tanya si bocah kemudian. Si brewok tersenyum.
"Kau sudah menjadi sahabatku, tidak perlu aku menyembunyikan she dan namaku terhadapmu. Aku bernama Mau Sip-pat. Mau dari Mau rumput dan Sip-pat berarti delapan belas."
Bocah itu mengeluarkan seruan tertahan dan langsung melonjak bangun.
"Aku... pernah mendengar bahwa pembesar negeri sedang mencarimu. Mereka ingin... menangkapmu karena dianggap penjahat besar!"
"Benar, Apakah kau takut kepadaku?"
Tanya Mau Sip-pat terus terang.
"Takut? Kenapa aku harus merasa takut? Lagi-pula aku tidak mempunyai harta ataupun uang, Apa sih artinya seorang penjahat? Bukankah Lim Ciong dan Bu Song dari cerita Sui Hu Coan juga orang-orang gagah yang terdiri dari para perampok?"
Mau Sip-pat senang sekali mendengar kata-kata Siau Po.
"Kau samakan aku dengan Lim Ciong dan Bu Song, orang-orang gagah yang terkenal itu? Bagus sekali,.,"
Katanya.
"Sekarang coba kau beritahu kepadaku, siapa yang mengatakan bahwa ada pembesar negeri yang ingin menangkapku?"
"Di dalam kota Yang-ciu penuh dengan selebaran yang mencari Mau Sip-pat. Dijelaskan pula, barang siapa yang dapat membunuhmu, hadiahnya lima ribu tail, sedangkan bila hanya memberikan informasi tentang di mana dirimu berada, hadiahnya tiga ribu tail, Tapi jumlahnya juga sudah terhitung besar juga, bukan?"
Mau Sip-pat memperhatikan Siau Po dengan tajam. Bibirnya mencibir seperti memandang rendah. Tiba-tiba saja, timbul pikiran Siau Po.
"Kalau aku mempunyai uang sebesar tiga ribu tail, tentu aku bisa menebus ibuku dari Li Cun Wan. seandainya ibu tidak bersedia keluar dari tempat hina itu, uang sebanyak itu pun cukup untuk membeli baju bagus dan hidup mewah selama beberapa tahun!"
Melihat Siau Po diam saja, pandangan mata Mau Sip-pat semakin tajam dan memperhatikan mimik wajahnya lekat-lekat.
Siau Po dapat merasakan pandangannya yang mengandung kecurigaan Hatinya menjadi kurang senang.
"Kenapa kau mengawasi aku seperti itu? 0h... kau pasti mengira aku akan melaporkan kau ke pembesar negeri agar mendapatkan hadiah besar itu, bukan?"
Mau Sip-pat menganggukkan kepalanya.
"Memang benar! jumlah hadiah itu begitu besar dan siapa orangnya di dunia ini yang tidak suka uang?" "Sinting! Menjual sahabat. Buat apa kita membicarakan kegagahan?"
"Lho! itu kan tergantung prinsipmu sendiri!"
"Kalau kau memang tidak percaya padaku, mengapa kau memberitahukan nama aslimu, Dandananmu sekarang jauh berbeda dengan selebaran yang tertempel di dalam kota. Kalau kau sendiri tidak mengatakannya, siapa yang bisa mengenalimu sebagai Mau Sip-pat?"
Teriak si bocah kurang senang.
"Bukankah kau sendiri yang mengatakan bahwa senang dan menderita harus kita cicipi bersama? Kalau nama saja perlu disembunyikan, bagaimana bisa disebut sebagai sahabat sejati?"
Mendengar kata-kata itu, perasaan jengkel dalam hati Siau Po terhapus seketika.
"Kau benar. Bagiku, jangan kata baru tiga ribu tail, tiga laksa tail pun tidak akan aku menjual sahabatku!"
Meskipun mulutnya berkata demikian, tetapi namanya juga anak-anak, ia tetap membayangkan betapa senangnya memiliki uang sebesar tiga ribu tail.
"Baiklah,"
Kata Mau Sip-pat.
"Sekarang kita tidur dulu. Besok pagi ada dua orang sahabatku lainnya yang akan datang mencari aku. Kami sudah mengadakan perjanjian untuk bertemu di bukit Tek Seng san. perjanjian mati, sebelum bertemu siapa pun tidak boleh memisahkan diri!"
Siau Po sudah lelah dan mengantuk.
Dia tidak begitu ambil perhatian atas kata-kata Mau Sip-pat.
Begitu menyenderkan tubuhnya pada sebatang pohon, dia langsung tertidur pulas.
Keesokan paginya ketika dia terbangun, Siau Po melihat Mau Sip-pat sedang berdiri menghadap matahari terbit sepasang telapak tangannya merangkap di depan dada dan nafasnya teratur sekali.
Kemungkinan dia sedang melatih diri untuk menyembuhkan luka dalamnya.
Sampai cukup lama Mau Sip-pat melakukan hal itu, Ketika membuka mata, dia melihat Siau Po sedang memandanginya dengan terkesima.
Bibirnya langsung menyunggingkan seutas senyuman.
"Kau sudah bangun?"
Siau Po menganggukkan kepalanya.
"Sekarang kau seret dulu mayat kedua orang itu ke balik pohon besar itu, Kemudian asahlah ketiga batang golok itu agar menjadi tajam,"
Kata Mau Sip-pat selanjutnya.
Siau Po mengiakan ia melakukan perintah sahabatnya dengan gesit.
Saat ini dia baru memperhatikan dengan jelas bahwa usia Mau Sip-pat sekitar empat puluhan tahun.
Tubuhnya kekar, tampangnya gagah.
Setelah selesai mengasah golok, Siau Po berkata.
"Aku akan pergi membeli bakpau."
"Di mana kau bisa membeli bakpau di tempat seperti ini?"
"Tidak jauh di bawah sana ada sebuah kedai makanan. Mau toako, kau kan mempunyai uang, bolehkah aku pinjam sedikit?"
"Kita sudah menjadi saudara satu dengan lainnya. Milikku adalah milikmu juga. Mengapa harus menyebut kata-kata pinjam?"
Diam-diam Siau Po berpikir dalam hati.
"Dia sudah menganggap aku sebagai sahabat sejatinya, meskipun ada hadiah sebesar tiga ribu tail, tidak boleh aku melaporkan keberadaannya kepada pembesar negeri. Tapi bagaimana kalau nilainya satu laksa tail, pusing juga mengambil keputusan. Dia begitu baik kepadaku, Tidak! Aku tidak boleh mengkhianatinya! Karena itu, Siau Po segera menerima uang yang disodorkan Mau Sip-pat sambil bertanya.
"Mau toako, apakah aku perlu membelikan obat luka untukmu?"
"Tidak usah. Aku punya,"
Sahut Sip-pat.
"Baiklah, Aku pergi dulu,"
Kata Siau Po.
"Mau toako, kau tidak perlu khawatir seandainya aku sampai tertangkap, meskipun batok kepalaku ini akan dipenggal aku tidak akan mengaku di mana adanya engkau."
Mau Sip-pat menganggukkan kepalanya, Dia percaya penuh dengan ucapan Siau Po. Terdengar Wi Siau Po seperti menggumam seorang diri.
"Mau toako masih mempunyai dua orang sahabat yang akan datang, sebaiknya aku membeli sepoci arak dan beberapa kati daging rebus."
Mau Sip-pat senang sekali mendengarnya.
"Bagus sekali, Paling cocok kalau ada arak dan daging, sesudah perut kenyang, berkelahi pun jadi penuh semangat!"
"Berkelahi? Mengapa kau harus berkelahi?"
Tanya Siau Po bingung.
"Kau kira untuk apa aku datang kemari tanpa juntrungan? justru aku berjanji dengan orang untuk bertanding di bukit Tek Seng san ini!"
"Ah! Mau toako sedang terluka, bagaimana bisa berkelahi? Tidak bisakah kau menundanya sampai lukamu itu sembuh? Atau pihak sana yang tidak bersedia mengundurkan waktunya?"
"Aih. Kau tidak tahu,"
Sahut Mau Sip-pat.
"Pihak sana terdiri dari orang-orang gagah, mana mungkin mereka tidak setuju apabila tahu aku sedang terluka, justru aku yang tidak ingin menunda waktunya."
Mau Sip-pat merenung sejenak, kemudian baru melanjutkan kata-katanya kembali.
"Hari ini bulan tiga tanggal dua puluh bukan? janji hari ini sudah kami tetapkan sejak setengah tahun yang lalu, Sempat aku tertangkap oleh pembesar negeri dan dipenjara. Tapi aku terus mengingat perjanjian itu. Janji yang sudah diucapkan oleh seorang lakilaki sejati tidak boleh diingkari. Karena itulah aku kabur dari penjara untuk datang kemari. Selagi melarikan diri, aku sempat membunuh beberapa orang petugas, itulah sebabnya kota Yang-ciu jadi gempar dan para pembesar negeri pun mencari aku. Akhirnya kau tentu sudah tahu, yakni terjadi keributan di rumah pelesiran itu. Celakanya aku jadi terluka gara-gara urusan itu."
Siau Po diam saja mendengarkan. Setelah Mau Sip-pat menyelesaikan kata-katanya, baru dia membuka suara.
"Baiklah, Aku akan pergi sekarang juga dan kembali selekasnya agar kau sempat mengisi perut sampai kenyang."
Wi Siau Po langsung membalikkan tubuh dan berlari meninggalkan tempat itu.
Pasar atau kedai makanan yang dimaksudkannya terletak pada jarak kurang lebih tujuh delapan li, sebentar saja dia sudah sampai di sana, tetapi otaknya terus digelayuti tentang apa yang dikatakan sahabatnya.
"Aih! Mau toako sedang terluka, mana bisa dia berkelahi dengan orang? jalan saja sukar. Tetapi, apa akal ku untuk membantunya?"
Dengan pikiran melayang-layang, Siau Po membeli belasan butir bakpau dan delapan cakwe, harganya hanya dua puluh bun lebih.
Di sakunya masih tersisa banyak uang.
jangan kata memilikinya, memegangnya saja baru sekarang ini.
Hatinya jadi bingung bagaimana harus menggunakan uang sebanyak itu.
Siau Po pergi ke toko daging, Dia membeli sekati daging kerbau yang sudah matang dan seekor bebek panggang, Sebotol arak Hong ciu.
Sisa uangnya masih cukup banyak.
Akhirnya sebuah ingatan melintas di benak Wi Siau Po.
"Akh, sebaiknya aku membeli tambang. Nanti aku akan membuat jerat untuk dibentangkan di atas tanah, Apabila pihak sana kurang berhati-hati ketika berkelahi, dia bisa tersandung jatuh, sehingga Mau toako mudah mengalahkannya."
Siau Po teringat akan cerita dongeng yang sering didengarnya, yakni menjatuhkan atau membuat kuda musuh terjungkal oleh tali panjang yang direntangkan itulah sebabnya ia cepat-cepat menuju toko kelontong.
Di depan toko itu, Siau Po melihat empat buah guci besar, Yang pertama berisi beras, yang kedua berisi kacang kedelai, yang ketiga berisi garam dan yang terakhir berisi semen.
Melihat bubuk semen itu, Siau Po teringat suatu peristiwa yang sempat dilihatnya tahun lalu, Dia berpikir dalam hati.
"Di tepi jembatan Sian li Ki waktu itu terjadi pertempuran antara para penyelundup garam dari dua sindikat yang berlainan. Salah satu pihak menggunakan timpukan semen sehingga dari keadaan kalah dia menjadi menang. Kenapa aku tidak mengingat akal itu sejak tadi?"
Membawa pikiran itu, Siau Po tidak jadi membeli tambang, sebaliknya ia membeli dua kantong semen yang lantas dibawanya ke bukit Tek Seng San di mana Mau Sip-pat menunggu.
Mau Sip-pat sedang tertidur nyenyak ketika Siau Po kembali Mendengar suara langkah kaki, dia langsung tersentak bangun.
Tanpa berbasa-basi lagi dia meraih botol arak dan meneguk isinya beberapa kali.
"Arak bagus!"
Pujinya.
"Apakah kau sendiri tidak merasa haus?"
Sebetulnya Siau Po tidak biasa minum arak, tapi untuk menjaga gengsinya sebagai orang gagah, dia menyambut juga botol yang disodorkan oleh Mau Sip-pat dan meneguk isinya satu kali.
Serangkum hawa panas yang seperti api membakar tenggorok-annya.
Tanpa dapat ditahan lagi Siau Po terbatuk-batuk.
Mau Sip-pat tertawa terbahak-bahak.
"He, enghiong cilik, kau belum cukup mahir minum arak!"
Katanya menggoda. Tepat pada saat itu terdengar sebuah suara menyapa.
"Hai, Sip-pat heng, sudah lama kita tidak berjumpa, bagaimana kabarmu sejak perpisahan kita?"
Sip Pat memalingkan kepalanya.
"Oh, rupanya Go heng dan Ong heng sudah datang,"
Sahutnya.
"Tentunya kalian berdua sehat-sehat saja bukan?"
Siau Po yang mendengar tegur sapa itu merasa terkejut sekali.
Untuk sesaat dia jadi tertegun sampai-sampai bakpau di tangannya pun lupa dicaploknya.
Cepat dia menoleh ke arah sumber suara.
Dia melihat dua orang tengah mendatangi dengan cepat.
Anehnya, mereka tidak berlari, hanya melangkah tapi gerakan mereka bagaikan kilat.
Dalam sekejap mata mereka sudah sampai di depan Mau Sip-pat dan Siau Po.
Yang satu merupakan seorang tua, kumis dan janggutnya panjang sekali menjuntai sampai di depan dada, wajahnya belum keriput, bahkan kulitnya berwarna kemerahmerahan seperti anak gadis berusia lima enam belasan tahun, sedangkan yang satu lagi berusia kurang lebih empat puluhan tahun.
Tubuhnya pendek dan buntek, Kepalanya botak dengan kuncir kecil yang lucu sekali.
Mau Sip-pat menjura sambil tetap mendeprok di atas tanah.
"Kakiku ini sedang kurang leluasa, tidak bisa memberi hormat sebagaimana layaknya,"
Katanya. Si botak sepertinya kurang puas dengan tindakan Mau Sip-pat, tapi rekannya segera berkata.
"Tidak apa-apa, jangan sungkan."
Diam-diam Siau Po menggerutu dalam hati.
"Mau toako terlalu jujur, kakinya sedang terluka pun diberitahukan kepada pihak lawan."
Terdengar Mau Sip-pat berkata kembali "Di sini kebetulan ada arak dan daging, maukah kalian mencicipinya sedikit?"
"Maaf kalau kami telah mengganggu keasyikan Mau heng.,."
Kata si orang tua langsung ikut mendeprok di sisi Mau Sip-pat dan mengulurkan tangan menyambuti botol arak. Menyaksikan hal itu, hati Siau Po menjadi girang, Tadinya dia masih bingung dan khawatir.
"Oh kiranya mereka ini sahabat-sahabat Mau toako, Kedatangan mereka bukan untuk berkelahi. Bagus sekali. Dengan demikian Mau toako berarti mendapat bantuan dua tenaga apabila sebentar lagi lawannya datang, sayangnya mereka tidak membawa senjata. Eh, apakah mereka mengerti ilmu silat atau tidak ya?"
Si orang tua mengangkat botol arak ke dekat mulutnya, Ketika dia ingin meneguknya, terdengar si botak berkata.
"Go toako, sebaiknya kau jangan minum arak itu!"
Suaranya keras sekali sehingga Siau Po terperanjat. Tanpa dapat menahan diri lagi, kakinya menyurut mundur dua langkah. Orang tua itu sempat tertegun sejenak, kemudian dia tertawa terbahak-bahak.
"Tidak perlu berprasangka buruk. Sip-pat heng adalah seorang laki-laki sejati Tak nanti dia menaruh racun dalam arak."
Ia terus meneguk arak itu sebanyak dua kali. Kemudian dia menyodorkan botol itu ke hadapan rekannya.
"Kalau kau tidak sudi meneguk arak ini, berarti kau tidak menghargai sahabatmu."
Si botak ragu-ragu sejenak, tapi tampaknya dia tidak berani menentang ucapan si orang tua.
Tangannya segera menjulur ke depan untuk menyambut botol arak, tapi baru saja dia hendak meneguknya, botol arak itu sudah direbut oleh Mau Sip-pat "Araknya kurang banyak.
Lagipula Ong heng tidak gemar minum, lebih baik hemat sedikit untuk diriku sendiri!"
Katanya sambil menenggak habis isi botol itu.
Wajah si botak menjadi merah padam seketika, Tapi dia tidak berkata apa-apa.
Diambilnya sepotong daging lalu dikunyahnya, Terdengar Mau Sip-pat berkata kembali.
"Tuan-tuan, mari aku kenalkan dulu pada sahabat baikku ini!"
Tangannya menunjuk kepada si orang tua kemudian berkata lagi kepada Siau Po.
"lni tuan Go Tay Peng, orang kangouw menjuIuki-nya Mo In-Jiu (tangan meraba mega/awan), ilmu silatnya tinggi sekali hampir tanpa tandingan."
Si orang tua yang bernama Go Tay Peng langsung tertawa lebar.
"Mau heng, kau sungguh pandai membuat kepalaku besar!"
Tetapi ketika memperhatikan keadaan sekitarnya, dia menjadi heran karena di tempat itu tidak ada orang lain kecuali Mau Sip-pat dan rekannya yang she Ong, Lalu siapa sahabat yang dimaksudkannya?
Sip-pat kembali menunjuk kepada si botak.
"Yang ini Ong suhu yang bernama tunggal Tan. Beliau mendapat julukan Siang Pit Kay-San (sepasang pit pembuka gunung), ilmunya lihay sekali."
"Mau heng hanya berkelakar saja. justru aku pernah dikalahkan olehmu dan hal itu membuat aku malu sekali...."
"Saudara Ong tidak perlu merendah,"
Tukas Mau Sip-pat. Dia terus menunjuk ke arah Siau Po dan berkata kembali "inilah sahabat baruku...."
Go Tay Peng dan Ong Tan jadi tertegun serentak.
Sesaat kemudian tampak keduanya saling pandang, mereka benar-benar bingung, Setelah itu mereka menolehkan kepalanya memperhatikan si bocah laki-laki yang usianya paling banter dua belas tahun itu, Tubuhnya kurus kering pula.
"Siapakah bocah ini?"
Pikir mereka dalam hati. Sementara itu, terdengar Mau Sip-pat melanjutkan kata-katanya.
"Sahabat kecilku ini she Wi, namanya Siau Po. Orang kangouw menjulukinya..."
Mau Sip-pat menghentikan kata-katanya sejenak seakan sedang berpikir.
"Siau pek-liong (Si Naga putih yang keciI). ilmu berenangnya istimewa sekali. Dia sanggup menyelusup di dalam air selama tiga hari tiga malam. Untuk mengisi perut dia makan udang dan ikan mentah!"
Sengaja Mau Sip-pat berkata demikian, walaupun dia tahu Siau Po tidak mengerti ilmu silat sama sekali.
Kedua sahabatnya merupakan tokoh-tokoh dunia kangouw yang ilmunya tinggi sekali, tentu saja tidak mudah dikelabui.
Tapi kedua orang itu tidak bisa berenang, karena itu dia memakai alasan itu untuk meninggikan derajat Wi Siau Po.
Dengan demikian mereka juga sukar membuktikan kebenaran kata-katanya.
"Nah, aku harap kalian bertiga dapat mengikat persahabatan yang kekal."
Go Tay Peng dan Ong Tan segera menjura kepada Wi Siau Po sambil berkata.
"Telah lama kami mendengar nama besarmu, saudara muda."
Siau Po tidak mau kalah set. sembari membalas hormat, dia pun berkata.
"Aku juga sudah lama mengagumi kalian."
Dalam hati Siau Po justru mengeluh "Mau toako bisa saja, Orang seperti aku ini mana pantas disebut tokoh kangouw? lagipula aku tidak bisa berenang, bagaimana kalau hal ini ketahuan kelak?"
Perjamuan istimewa itu pun dilanjutkan sampai akhirnya arak habis, daging serta bakpau tidak bersisa lagi, Ong Tan mula-mula yang paling malu, tapi belakangan dia yang justru paling banyak gegares.
Mau Sip-pat menyeka mulutnya dengan ujung bajunya, kemudian berkata.
"Go loya cu, sahabat cilikku ini pandai berenang dan menyelam. Tetapi dia tidak mengerti ilmu silat sama sekali, Karena itu, dalam pertempuran kali ini, hanya satu lawan dua. Hal ini bukan semata-mata karena aku memandang rendah kalian berdua...."
Go Tay Peng memperhatikan Mau Sip-pat lekat-lekat.
"Aku rasa sebaiknya perkelahian ini kita tunda setengah tahun lagi saja."
"Kenapa?"
Tanya Mau Sip-pat heran.
"Kau sedang terluka, Mau heng. Tentu kau tidak bisa mengerahkan ilmumu dengan baik,"
Sahut Go Tay Peng.
"Andaikata aku si orang tua meraih kemenangan, tidak ada yang dapat kubanggakan. Tetapi kalau aku sampai kalah, habislah pamorku selama ini."
"Bagiku, terluka atau tidak, tak banyak bedanya,"
Kata Mau Sip-pat sambil tertawa terbahak-bahak "Kalau kita harus menunggu setengah tahun, apakah usus kita tidak jadi melilit dan putus?"
Dengan tangan kiri menopang pada batang pohon dan tangan kanan menggunakan golok sebagai tongkat, Mau Sip-pat berdiri perlahan-lahan.
"Go loya cu, kau memang selamanya tidak pernah menggunakan senjata. Saudara Ong, keluarkanlah andalanmu itu!"
Katanya. Bagian 02
"Baik!"
Seru Ong Tan sambil mengeluarkan sepasang boan-koan pit dari selipan pinggangnya, Senjata inilah yang membuat nama orang ini jadi terkenal dan mendapat julukan Siang Pit Kay-San.
"Baiklah, Mau heng, bila kau tetap memaksakan kehendakmu Ong te, kau bersiap sedia saja, sebentar kalau aku menderita kekalahan, baru kau maju." Sebagai seorang tokoh dunia kangow yang sudah mempunyai nama, Go Tay Peng tidak mau menghadapi lawan dengan cara mengeroyok.
"Baik!"
Sahut Ong Tan kemudian menyurut mundur tiga langkah.
Go Tay Peng sudah bersiap sedia, pergelangan tangannya memutar.
Tangan kanannya melingkar, terus diluncurkan kepada lawan.
Dia menyerang sambil melindungi dirinya sendiri.
"Serrr! Sip-pat menebaskan goloknya. Dia tidak menangkis atau menebas tangan kanan lawan, yang diincarnya justru tangan kiri! Sungguh suatu serangan balasan yang hebat sekali! Go Tay Peng menangkis dengan tangan kirinya. Kepala dan bahunya dimiringkan sedikit. Gerakannya bukan hanya menghindarkan diri dari serangan lawan, tapi tangan kirinya sekaligus menyambar ke arah tangan kanan Mau Sip-pat yang menggenggam golok. Mau Sip-pat menghindar dengan memutar tubuhnya, pukulan lawannya mengenai batang pohon, Terasa getaran yang kuat dan dedaunan dari pohon itu pun rontok sebagian.
"PukuIan yang hebat!"
Puji Mau Sip-pat.
Diam-diam dia mengakui bahwa julukan lawannya bukan nama kosong belaka.
Mau Sip-pat sendiri bukan hanya memuji, dia juga maju menyerang, menebas pinggang lawan dengan goloknya, Go Tay Peng menutulkan sepasang kakinya di atas tanah sehingga dengan gerakan indah tubuhnya mencelat ke atas.
Bahkan jenggotnya sampai melambai-lambai karena hembusan angin.
Sungguh di luar dugaan, meskipun usianya sudah lanjut, gerakan Mo In-Jiu Go Tay Peng ternyata masih demikian lincah dan gesit.
Wi Siau Po merasa kagum sekali.
Seumur hidup dia belum pernah melihat perkelahian yang demikian seru.
Namun dia juga mengkhawatirkan keadaan Mau Sip-pat.
Diam-diam dia berpikir.
"Bisa celaka kalau Mau toako sampai terhajar pukulannya yang lihai itu."
Pertempuran berlangsung semakin sengit, golok Mau Sip-pat memutar ke sanakemari sehingga timbul cahaya yang berkilauan Semua serangan lawan dapat dihadapinya dengan baik.
Tepat pada saat pertarungan masih berlangsung, tiba-tiba terdengar suara derap kaki kuda.
Ke empat orang itu menoleh serentak.
Mereka melihat belasan penunggang kuda sedang mendatangi dan begitu tiba di dekat mereka lantas memencarkan diri mengambil posisi mengepung.
Dari pakaian seragamnya dapat diketahui bahwa mereka terdiri dari tentara Boan.
sedangkan orang yang menjadi pimpinannya segera berteriak dengan lantang.
"Berhenti semua! Kaml mendapat perintah menangkap penjahat besar Mau Sip-pat. Kalian yang tidak ada sangkut pautnya, harap segera mengundurkan diri!"
Mendengar kata-kata itu, Go Tay Peng menghentikan serangannya kemudian mencelat mundur. Sikap Mau Sip-pat berani sekali. Dia segera berkata kepada rekannya.
"Go loya cu, kawanan kuku garuda ini muncul lagi. Tujuan mereka kemari hanya mencari aku, sebaiknya kau tidak usah perdulikan mereka. Kita lanjutkan saja pertarungan kita."
Go Tay Peng tidak menggubris ucapan Mau Sip-pat. Dia menatap para tentara itu dengan mengedarkan pandangan matanya kemudian berkata kepada si pemimpin.
"Mau Sip-pat adalah seorang rakyat jelata, bagaimana kalian bisa menganggapnya sebagai penjahat besar? Mungkinkah kalian mencari orang yang salah?"
Si perwira tertawa dingin.
"Dia rakyat jelata?"
Sikapnya seperti mengejek "Kalau orang seperti dia dapat disebut rakyat yang baik-baik, entah berapa banyak orang baik di dunia ini?"
Matanya melirik ke arah Mau Sip-pat kemudian melanjutkan kata-katanya kembali "Sahabat Mau, bukankah kau telah menerbitkan keonaran besar di kota Yang-ciu?
Seorang yang gagah pasti bertanggung jawab atas hasil perbuatannya, sebaiknya secara baik-baik saja kau turut dengan kami!"
"Boleh kau tunggu dulu sebentar,"
Sahut Mau Sip-pat seenaknya.
"Kau saksikan dulu bagaimana aku melayani Go loya cu ini sampai ada yang menang atau kalah!"
Kemudian dia menoleh kepada Go Tay Peng sambil berkata pula.
"Go loya cu, biar bagaimanapun hari ini kita harus bertempur sampai ada hasilnya, Kalau kita menunda lagi sampai setengah tahun lamanya, siapa yang berani memastikan di saat itu Mau Sip-pat masih bernafas?"
Si perwira yang mendengar ocehannya mulai kehabisan rasa sabar.
"Kamu bertiga, kalau kalian memang bukan sekongkolan Mau Sip-pat, sebaiknya lekas tinggalkan tempat ini! jangan mencari penyakit bagi diri kalian sendiri!"
Mau Sip-pat gusar sekali. Tanpa takut sedikit pun dia mendamprat.
"Nenek nyinyir! Buat apa kau begitu bawel?"
Si perwira semakin gusar. Dia mengalihkan pandangannya kepada Go Tay Peng dan Ong Tan.
"Kalian berdua bertarung dengannya. Hal ini membuktikan bahwa kalian bukan konconya, Dan kau, Loya cu, janggutmu sudah memutih dan wajahmu bersemu dadu, apakah kau ini yang mendapat julukan Mo In-Jiu, Go Tay Peng?"
"Tak berani aku menerima pujian saudara yang demikian tinggi. Tapi memang benar, akulah Go Tay Peng!"
Sahutnya merendah. Si perwira menunjuk lagi ke arah Ong Tan.
"Dan itu yang kepalanya botak, pasti saudara Ong yang mendapat julukan Siang Pit Kay-San, bukan?"
"Hm!"
Ong Tan menjawab dengan singkat.
Sementara itu, Go Tay Peng memperhatikan si perwira dengan seksama, usianya mungkin sekitar empat puluhan tahun, suaranya cukup lantang, menandakan tenaga dalamnya yang cukup kuat.
Diam-diam Go Tay Peng merasa aneh bahwa di dalam pimpinan ketentaraan Boan ada orang pandai seperti dia.
sedangkan rekan-rekannya yang lain juga tampaknya bukan orang sembarangan.
Kemudian dia melihat si perwira menggunakan senjata joan-pian, yakni semacam ruyung yang lunak mirip cambuk yang dapat dilipat dan di pinggang kirinya bergelantung sebuah senjata seperti boIa yang berduri.
Dengan demikian dia langsung dapat menduga siapa adanya perwira itu, Terdengar dia berkata.
"Kabarnya Hek Liong-pian Su Siong adalah seorang tokoh yang mencintai kegagahan di dunia kangouw, entah sejak kapan menjadi hamba pemerintah musuh?"
Memang benar, perwira itu bukan lain dari Hek Liong-pian Su Siong atau si Cambuk Naga Hitam. wajahnya menjadi merah padam mendengar sindiran Go Tay Peng.
"Go Siau-Po yang ada di kota Pe King sangat bijaksana, Dia juga mempunyai pergaulan yang luas serta pandai menghormati orang-orang pintar dan gagah. Aku yang bodoh saja telah diundangnya untuk menjadi perwira bagi Sri Baginda Raja, Dan beberapa sahabatku ini juga merupakan undangan Go Siau-Po."
Hek Liong-Pian menghentikan kataku tanya sejenak.
"Kami dari kota raja yang jauh sengaja datang kemari karena mendapat tugas untuk mengajak pulang sahabat Mau ini ke kota Pe King, Siapa sangka, sahabat ini telah melakukan keonaran di kota Yang-ciu, bahkan melarikan diri dari penjara. Sungguh kebetulan kita dapat berjumpa di sini!"
"Begitu rupanya,"
Sahut Go Tay Peng tawar. Terdengar Mau Sip-pat berkata.
"Go Pay mengaku dirinya sebagai jago nomor satu dari suku bangsa Boan-ciu, sebetulnya sampai di mana tingginya ilmu silat orang itu?"
"Go siau-po mempunyai tenaga alamiah, kekuatannya hebat sekali,"
Sahut Su Siong.
"llmu silatnya memang patut disebut nomor satu di dunia ini. pernah satu kali di kota Pe King dia membunuh seekor kerbau dengan menghantamkan kepalannya. Bukankah kau yang seorang penjahat besar pun sudah mengetahuinya?"
Mau Sip-pat marah sekali diejek sebagai penjahat besar.
"Makmu! Aku tidak percaya Go Pay sedemikian lihay, Aku justru ingin pergi ke Pe King untuk menghadapinya!"
Su Siong tertawa dingin.
"Orang semacam kau hendak melawan Go siau-po ? Hm! Asal kena tinjunya satu kali saja, kau pasti akan terkapar mampus di atas tanah!"
Hek Liong-pian menoleh kepada Go Tay Peng dan Ong Tan.
"Go loya cu, saudara Ong, harap kalian menggeser sedikit!"
Tiba-tiba Ong Tan yang sejak tadi diam saja berkata.
"Apa yang kau katakan tadi mengenai kepalaku ? Bukankah kau mengejek aku sebagai si botak?"
Sejak muda Ong Tan paling keki kalau orang mengungkit soal kepalanya yang botak, Kepekaannya langsung tergores. "0h... tidak,"
Sahut Su Siong sambil tertawa.
"Aku tidak ber...."
Semakin meluap kemarahan Ong Tan. Hek Liong-pian bukannya minta maaf malah tertawa.
"Lalu, apa maksudmu? Mengapa kau tertawa barusan?"
Bentak Ong Tan.
"Mengapa aku tidak boleh tertawa, Yang botak kan kau sendiri, apa urusannya dengan kami?"
Rasanya seperti ada bara api yang berkobar di dada Ong Tan.
Langsung saja dia mengirimkan sebuah serangan ke depan, jurus yang digunakannya adalah ilmu totokan yang istimewa, yakni Ular naga mencelat ke atas, burung Hong terbang di udara"
Su Siong tertawa terbahak-bahak.
Kakinya menyurut mundur dan dengan secepat kilat Joanpian-nya sudah tercekal di tangan, senjatanya yang istimewa itu melayang ke pinggang lawan.
Ong Tan menghindarkan diri sambil dengan Boan-koan pit kirinya, Kedua senjata itu langsung beradu, sementara itu, duri-duri yang tajam dari Joanpian Hek Liong-pian mengancam bagian belakang kepala Ong Tan sehingga terpaksa dia menangkis pula dengan Boan-koan pit kanannya.
Su Siong segera menarik senjatanya ke beIakang, tetapi sekejap kemudian dia mengasongkan kembali ke muka lawan, Dia tidak menyerang dengan sungguhsungguh, hanya menggerakkannya ke depan dan kemudian ditarik kembali, lalu diselipkan di pinggangnya, Dalam segebrakan dia sudah membuat Ong Tan kerepotan.
Melihat kehebatannya, para pengikutnya langsung memberi sambutan yang meriah.
"Saudara Su, ternyata ilmumu memang hebat sekali, jurus yang kau gunakan barusan tentunya Sin-liong Sam-pa bwe (Naga sakti menggoyangkan ekornya)."
"Tak berani aku menerima pujian setinggi itu, Harap jangan ditertawakan"
Sahut Hek Liong-pian.
Sementara itu, Ong Tan masih ragu apakah harus meneruskan serangannya atau tidak, Su Siong sendiri tidak menggubris Ong Tan lagi.
Sembari tertawa lebar dia memalingkan kepalanya kepada Mau Sip-pat.
"Orang she Mau, bangunlah? ikut kami meninggalkan tempat ini!"
"Tidak demikian mudah, sahabat!"
Sahut Mau Sip-pat dengan datar "Kalian berjumlah tiga belas orang, sedangkan aku hanya sendiri.
Meskipun rasanya tidak masuk akal satu sanggup melawan tiga belas orang, tapi aku ingin mencobanya juga."
Mendengar kata-katanya Go Tay Peng langsung tersenyum.
"Mau heng, mengapa kau menganggap kami ini seperti orang luar saja? Kau bukan melawan mereka seorang diri, tetapi empat melawan tiga belas!"
Mau Sip-pat tertegun sejenak, kemudian dia menoleh kepada Ong Tan.
"Saudara Ong, kau membantu pihak yang mana?"
"Sudah tentu aku berpihak padamu!"
Sahut Ong Tan tegas.
"Tuan berdua, harap kalian jangan ceroboh, Siapa yang berani melawan pemerintah yang agung, urusannya bisa gawat sekali!"
Go Tay Peng kembali tersenyum, dia berkata.
"Dikatakan memberontak, tentu kami tidak berani, Yang benar, menentang pihak yang sewenang-wenang!"
"Apa bedanya? Orang she Go, apakah kau sudah bertekad untuk membantu pemberontak ini?"
"Harap tuan jangan salah duga, sebaiknya kau memaklumi dulu duduk persoalannya, Setengah tahun yang lalu, saudara Mau dan saudara Ong ini sudah mengikat perjanjian untuk melakukan pertandingan persahabatan hari ini. Di dalam urusan ini, aku yang rendah juga telah diikutsertakan. Tetapi nyatanya, apa yang terjadi kemudian? pembesar negeri benar-benar memperlihatkan kesan yang kurang baik. Mereka telah menangkap saudara Mau, kemudian memenjarakannya, sedangkan Mau adalah seorang laki-laki sejati, tidak nanti dia mengingkari janjinya sendiri. Bisa-bisa jatuh nama baiknya di dunia kangouw dan dianggap sebagai pengecut. Untuk menghindarkan hal yang tidak di'inginkan, terpaksa Mau heng melarikan diri dari penjara guna memenuhi perjanjian ini, Dalam hal ini, pembesar negerilah yang memaksa rakyat memberontak Sekarang, jika saudara sudi memandang mukaku, silahkan kau menarik pasukanmu dari tempat ini. Biarkan kami menyelesaikan dulu urusan ini. Besok kau boleh kembali lagi. Pada saat itu kau hendak menawan Mau heng atau tidak, bukan urusan kami lagi!"
"Tidak bisa!"
Sahut Su Siong tegas. Salah seorang rekannya segera maju ke depan dan berkata dengan suara keras.
"Sahabat Su, buat apa banyak bicara?"
Orang itu menghunus goloknya.
setibanya di depan Go Tay Peng, dia langsung mengirimkan serangan.
Tentu saja Go Tay Peng mendongkol sekali.
Dia segera menggeser kakinya ke samping kemudian mencelat ke atas.
Sebelah tangannya menjulur ke depan, dalam sekejap mata dia sudah berhasil mencengkeram orang yang masih duduk di ataskuda itu dan membantingnya dengan keras ke tanah.
"Pemberontak! Pemberontak!"
Para prajurit lainnya segera berteriak sambil mencelat turun dari kuda masing-masing dengan kalang kabut, Mereka segera mengepung Go Tay Peng dan yang lainnya.
Dengan demikian, terpaksa Go Tay Peng dan Ong Tan melakukan perlawanan.
Tidak terkecuali Mau Sip-pat, meskipun keadaannya masih terluka dan terpaksa melawan dengan punggung bersandar pada sebatang pohon, tetapi serangannya lihai sekali.
Dua orang musuh yang menerjang ke arahnya langsung tertebas bagian pinggangnya sehingga menemui ajal seketika.
Su Siong masih belum turun tangan.
Dia menyaksikan jalannya pertempuran dari atas kudanya, sementara itu, Wi Siau Po yang cerdik mengerahkan akalnya, Diam-diam dia menggeser tubuhnya sedikit demi sedikit sehingga keluar dari kancah pertempuran.
Rupanya karena dia hanya seorang bocah cilik, pihak lawan tidak begitu memperhatikannya, Lagi-pula sejak perdebatan terjadi, dia sudah menyembunyikan diri di belakang sebatang pohon yang jaraknya kurang lebih satu tombak.
Di sana diamdiam dia berpikir "Sebaiknya aku kabur saja atau menonton terus jalannya pertempuran?"
Hatinya diliputi kebimbangan.
"Mau toako cuma bertiga, sedangkan lawan jauh lebih banyak, Mana mungkin mereka bertahan terus, bisa-bisa malah tewas di tangan para prajurit ini. Apakah perwira itu akan melepaskan aku kalau yang lainnya sudah mati? Tapi, Mau toako sudah menganggap aku sebagai sahabat sejatinya. Lagi-pula aku sendiri yang mengatakan senang dan susah dicicipi bersama. Kalau sekarang aku diam-diam kabur, tentu aku malu pada diriku sendiri. Tidak pantas lagi aku disebut sebagai sahabat sejati!"
Tepat pada saat itu, terdengar suara bentakan Go Tay Peng, seorang lawannya roboh binasa karena terhantam pukulannya, sementara itu, Ong Tan masih dikeroyok tiga orang lainnya.
Mau Sip-pat sendiri sudah berhasil menebas kutung kaki salah seorang lawannya yang kini terkulai di atas tanah, merintih kesakitan sembari mencaci maki dengan katakata yang kotor.
Tidak urung hati Su Siong tercekat juga melihat keadaan ini.
Dua orangnya sudah tidak berdaya dan tiga lainnya sudah binasa, sekarang sisanya tinggal tujuh orang lagi.
Memang kalau ditilik dari keadaannya, posisi mereka masih di atas angin, tapi siapa yang berani menjamin apa yang akan terjadi nanti?
"Tidak boleh aku berdiam diri terlalu lama"
Katanya dalam hati, Terdengar dia mengeluarkan suara bentakan keras lalu melompat turun dari kudanya.
Yang diincarnya sudah barang tentu Mau Sip-pat.
Begitu sampai di hadapan orang itu, dia langsung menyerang dengan gencar Mau Sip-pat mengadakan perlawanan dengan goloknya, Setiap serangan dihadapinya dengan hati-hati, dia mengerahkan jurus Ngo-Houw Toan Bun To (llmu golok lima harimau).
Tepat pada saat itu, kembali terdengar suara bentakan Go Tay Peng yang disusul dengan robohnya seorang lawan lagi.
Dengan demikian pihak prajurit kerajaan itu berkurang satu tenaga lagi.
Ong Tan masih kelabakan menghadapi tiga lawannya, Pahanya telah terluka karena bacokan golok musuh, tapi dia tetap mempertahankan diri.
Tiga lawan Go Tay Peng lainnya mempunyai kepandaian yang lumayan, itulah sebabnya mereka masih sanggup bertarung terus, Beberapa kali serangan Go Tay Peng dapat mereka hadapi dengan baik.
Sementara itu, diam-diam Su Siong merasa kagum melihat kepandaian Mau Sip-pat.
Musuhnya itu sedang terluka, kedua kakinya tidak dapat bergerak dengan leluasa pula, tapi serangan tangannya lihai sekali.
Terutama tangan kanan yang menggenggam golok, Sampai sekian lama, belum sempat Joan-pian lawan mengenai tubuhnya.
"Untung saja kakinya terluka, kalau tidak tentu sejak tadi aku sudah berhasil dikalahkan olehnya,"
Pikir Su Siong dalam hatinya.
Segeralah ia menguras otaknya mencari akal untuk menghadapi lawan.
Tiba-tiba sebuah ingatan melintas dalam benaknya.
Dengan jurus Pek-Coa Tou Sin (Ular putih menyemburkan racun) ia menyambar bahu kanan lawannya.
Mau Sip-pat langsung menangkis.
Tidak dinyana, ternyata serangan itu hanya tipuan belaka, Tangan lawan berubah saat itu juga.
Dengan menggunakan siasat "Bersuara di timur, menyerang dari barat, Hek Liong-pian menyerang kembali dengan jurus "
Giok-Tai Wi Yau" (Sabuk kumala melilit pinggang)"
Joan-pian bergerak dari kiri ke kanan mengincar pinggang lawan.
seandainya sepasang kaki Mau Sip-pat dapat digerakkan, pasti dia akan bergerak maju ke depan atau mencelat mundur ke belakang.
Tetapi keadaannya justru tidak mengijinkan mau tidak mau dia terpaksa menyambut serangan lawannya dengan kekerasan!
Gerakan tubuh Su Siong cepat sekali.
Ujung senjatanya tidak dapat tersentuh oleh golok lawan, Malah dia berhasil melilit tubuh lawannya sehingga melingkar tiga kali sehingga terikat di batang pohon.
Kemudian dia mengirimkan serangan ke arah dada lawan.
Mau Sip-pat terperanjat setengah mati, dadanya tertusuk oleh duri-duri yang terdapat di ujung Joan-pian.
Ketika mendapatkan perintah dari atasannya, Su Siong sudah dipesan wanti-wanti untuk membawa Mau Sip-pat dalam keadaan hidup, Biar bagaimana dia harus menuruti perintah itu.
Sekarang, setelah berhasil melumpuhkan Mau Sip-pat, dia akan membantu rekannya membereskan Go Tay Peng dan Ong Tan.
Dengan demikian tugasnya sudah selesai dan dia dapat kembali ke kota raja dengan tenang.
Itulah sebabnya dia segera membungkuk dengan maksud mengambil golok Mau Sippat dan mengutungkan lengan kanannya sehingga menjadi cacat untuk selamanya.
Tentunya niat perwira itu sudah kesampaian, apabila tiba-tiba tidak meluncur bayangan putih yang melesat ke arahnya sehingga dia jadi terkesiap dan panik.
Ternyata bayangan putih itu adalah sejenis bubuk yang langsung menerpa matanya sehingga tidak dapat dibuka.
Ada sebagian pula yang tersedot ke dalam hidung dan masuk atau tertelan ke dalam mulut, sehingga tenggorokannya bagai tercekat.
Tapi yang paling hebat justru bubuk yang masuk ke dalam kelopak malanya.
Bukan saja dia tidak bisa melek, namun juga merasa perih sekali, sedangkan mulutnya tidak dapat mengeluarkan suara sedikit pun disebabkan tenggorokannya yang tersumbat.
Terpaksa Su Siong membatalkan niatnya untuk memungut golok, Dia mengucekucek matanya, semakin dikucek semakin perih, Saat itulah Su Siong sadar bahwa musuh sudah menyerangnya dengan bubuk semen.
Hanya dia tidak dapat menduga musuh mana yang membokongnya.
Hatinya juga terkejut setengah mati Sebab dia ingat bahwa semen tidak dapat dibersihkan dengan air, karena semakin melarut dan dapat mengakibatkan kebutaan, justru di saat pikirannya sedang bingung.
Dia merasa ada suatu benda dingin yang masuk ke dalam perutnya, lalu rasa perih yang tidak terkirakan menyerangnya.
Rupanya sebatang golok telah ditikam ke dalam perut orang itu!
Mau Sip-pat yang mengetahui tubuhnya terlilit senjata lawan merasa terkesiap.
Bagian dadanya langsung terasa perih karena duri-duri joanpian yang menusuk bagian dadanya.
Di saat hatinya masih dilanda kebingungan tiba-tiba dia melihat ada semacam bubuk putih yang menyerang mata lawannya, sehingga lawan langsung mengucek-kucek matanya, Kemudian dia melihat Siau Po memungut golok di atas tanah dan lalu menancapkannya ke perut Su Siong.
Selesai menikam dengan golok, Siau Po kembali ke balik pohon untuk bersembunyi, sedangkan Su Siong sempat terhuyung-huyung sejenak sebelum akhirnya rubuh di atas tanah.
Rekan-rekan yang melihat keadaan itu jadi panik.
Beberapa orang di antaranya segera berteriak-teriak manggil.
"Su Siwi! Su Siwi!"
Tepat pada waktu itu pula Go Tay Peng meluncurkan pukulan kirinya membuat seorang musuhnya terpental beberapa tombak, Mulut orang itu mengeluarkan seruan tertahan, kemudian tubuhnya jatuh berguling dan mulutnya memuntahkan darah segar.
Dari pihak musuh, masih tersisa lima orang, tetapi mereka sudah ciut nyalinya.
Tanpa menunda waktu lagi mereka lari terbirit-birit Tidak perduli rekannya masih hidup atau sudah mati, Bahkan kuda tunggangan mereka pun ditinggalkan begitu saja!
Go Tay Peng tidak berniat bermusuhan dengan petugas kerajaan, Karena itu dia biarkan sisa lima orang itu lari pergi, Dia membalikkan tubuhnya dan berkata kepada Mau Sip-pat.
"Mau heng, hebat sekali! Kau telah berhasil merobohkan Hek Liong-pian!"
Orang tua itu melihat Su Siong sudah terkapar mati, dia mengira Mau Sip-pat yang melakukannya, Tetapi tampak Sip-pat menggelengkan kepalanya, wajahnya merah karena jengah.
"Sungguh malu, Go loya cu, sebenarnya Su Siong dibunuh oleh Saudara Wi!"
Go Tay Peng dan Ong Tan langsung termangu-mangu mendengar keterangan itu.
"Bocah itu yang membunuhnya?"
Tanya mereka serentak.
Tadi Ong Tan juga tidak sempat melihat siapa yang membunuh Su Siong, sebab dia sendiri sedang kelabakan menghadapi lawan-lawannya, Mayat-mayat musuh terkapar di antara genangan darah.
sedangkan yang terluka masih dalam keadaan sekarat.
Di atas tanah juga terdapat semen berserakan, tetapi tidak ada yang memperhatikannya.
Mau Sip-pat menggenggam joanpian milik Su Siong.
Dengan menahan rasa nyeri, dia menarik keluar duri-duri yang menancap di dadanya, otomatis sedikit ujung dagingnya ikut tertarik, dapat dibayangkan bagaimana rasa sakitnya.
Seluruh baju langsung dipenuhi noda darah.
Begitu senjata lawannya sudah berhasil dicabut, Mau Sip-pat langsung menghantamkan duri tajam itu ke arah Su Siong yang saat itu belum mati.
Orang itu sempat berkelojotan beberapa kali sebelum nyawanya melayang dengan kepala hancur.
"Saudara Wi. Kau lihay sekali!"
Seru Mau Sip-pat. Wi Siau Po muncul dari balik pohon. MuIutnya membungkam karena tidak tahu apa yang harus dikatakannya, Go Tay Peng dan Ong Tan memperhatikan Siau Po dengan heran.
"Saudara cilik,"
Tanya Go Tay Peng.
"Jurus apa yang kau gunakan untuk membunuh orang she Su itu?"
"Aku cuma menancapkan golok ke dalam perutnya, Aku tidak tahu jurus apa."
Mau Sip-pat tertawa lebar.
"Go loya cu, Ong heng, terima kasih atas bantuan kalian sehingga selembar nyawaku ini dapat dipertahankan. Bagaimana selanjutnya setelah musuh-musuh sudah mati dan sebagian kecilnya kabur, Apakah kita akan melanjutkan pertarungan kita yang tertunda tadi?"
Go Tay Peng ikut tertawa.
"Mau heng, jangan bicara soal menolong jiwa."
Dia menolehkan kepalanya kepada rekannya sambil berkata.
"Saudara Ong, bukankah lebih baik kita sudahi saja urusannya sampai di sini?"
"Ya, memang, Lebih baik tidak usah berkelahi Iagi. sebenarnya antara aku dengan Mau heng juga tidak ada permusuhan apa-apa. Bukankah sebaiknya kita mengikat tali persahabatan saja?"
"Baiklah kalau itu kemauan saudara Ong,"
Kata Go Tay Peng kemudian menjura kepada Mau Sip-pat "Selama gunung masih menghijau dan sungai masih mengalir, pasti ada saatnya kita akan berjumpa pula!"
Go Tay Peng adalah seorang hartawan di wilayah Utara.
Untuk membantu sahabatnya Ong Tan, dia ikut datang mencari Mau Sip-pat.
Tidak disangka akhirnya malah memberikan bantuan kepada Mau Sip-pat untuk mengusir prajurit kerajaan.
Dia merasa agak menyesal membiarkan sisa musuh melarikan diri, sebab buntutnya bisa berbahaya.
Begitu selesai memberi hormat kepada Mau Sip-pat, dia segera membalikkan tubuhnya untuk meninggalkan tempat itu.
Tetapi, sembari melangkahkan kakinya, sepasang telapak tangannya juga menghantam ke sana kemari.
Tanpa memperdulikan pihak musuh yang masih hidup atau sudah mati, pukulannya membuat tubuh mereka hancur tidak karuan, Dia menggunakan ilmu andalannya yakni Mo In-Jiu (tangan meraba awan) yang membuat namanya menjulang tinggi di dunia kangouw.
"Hebat sekali!"
Puji Mau Sip-pat yang menyaksikan perbuatannya. Setelah itu dia memerintahkan Siau Po menuntun seekor kuda ke hadapannya. Siau Po menurut. Dia menghampiri salah satu kuda yang ditinggalkan musuh.
"Tuntunnya dari depan, Kalau dari belakang, kau bisa disepaknya!"
Kata Sip-pat menasehati.
Siau Po menurut.
Segera dia membawa kuda itu ke hadapan Mau Sip-pat sementara itu, Sip-pat merobek ujung bajunya untuk membalut luka di lengannya.
Setelah itu dia menjejakkan kakinya ke atas tanah dan lalu melompat ke atas kuda.
"Pulanglah kau sekarang!"
Katanya kepada Siau Po.
"Kau akan kemana?"
Tanya si bocah.
"Untuk apa kau menanyakan hal itu?"
"Kita kan sudah menjadi sahabat, sudah sepatutnya aku menanyakan tujuanmu!"
Wajah Mau Sip-pat tiba-tiba berubah menjadi garang.
"Sinting! Siapa yang menjadi sahabatmu?"
Siau Po menyurut mundur satu tindak, Wajahnya langsung merah padam dan air matanya bercucuran.
Dia tidak dapat menahan keperihan hatinya.
Dia juga tidak mengerti mengapa tiba-tiba saja Sip-pat marah kepadanya.
"Mengapa tadi kau menyemburkan semen ke mata Su Siong?"
Bentak Mau Sip-pat ketus. Siau Po menjadi tercekat. Kakinya menyurut mundur satu langkah lagi.
"A... ku... aku...."
Suaranya gemetar dan tersendat-sendat saking gugupnya.
"Aku,., lihat dia ingin membunuhmu!"
"Dari mana kau mendapatkan semen itu?"
"Dari pasar. Aku membelinya sekalian ketika membeli bakpau dan arak. Aku dengar kau akan berkelahi sedangkan kau sedang terluka...."
"Anak haram! Dari mana kau mempelajari akal yang begitu rendah?"
Siau Po memang anak seorang wanita penghibur, ia tidak pernah tahu siapa ayahnya, Karena itu pula dia paling benci bila ada orang yang menyebutnya sebagai anak haram, Kemarahannya jadi meluap seketika.
"Nenekmu yang haram!"
Tanpa memperdulikan hal lainnya, dia langsung balas memaki.
"Perduli apa aku mempelajarinya dari mana? Manusia bau yang tidak tahu mampus!"
Setelah memaki, hatinya tergetar juga, cepat-cepat dia bersembunyi ke balik pohon, Sip Pat menggerakkan kudanya maju ke depan, Sebelah tangannya terulur dan dalam sekejap mata si bocah sudah kena dicekalnya lalu diangkatnya ke atas.
"Setan cilik, coba apa kau masih berani memaki?"
Siau Po meronta-ronta. sepasang kakinya menendang kalang kabut. Kedua tangannya juga dige rakkan kesana kemari.
"Kura-kura hitam! Babi mandul! Kampret! Mulutnya masih terus memaki. Sejak kecil Siau Po tinggal di rumah pelesiran. Sudah biasa dia mendengar cacian yang kotor dan bukan baru pertama kali ini dia mengucapkannya. Sip-pat gusar sekali melihat keberanian bocah itu. Dia menempeleng pipinya bolakbalik. Tetapi Siau Po memang keras kepala, Meskipun air matanya mengalir dengan deras, mulutnya tidak berhenti mencaci. Dia baru berhenti ketika menggigit tangan Mau Sip-pat. Sip-pat terperanjat juga kesakitan Tanpa sadar cekalannya terlepas dan tubuh Siau Po pun terbanting ke atas tanah. Siau Po langsung merangkak bangun kemudian berlari sambil mencaci maki. Sip-pat mendongkol sekali Dia segera mengejar. Dengan menunggang kuda tentu tidak sukar baginya mengejar. Siau Po lari belum berapa jauh tahu-tahu sudah tersusul oleh Mau Sip-pat. Nafasnya tersengal-sengal. Tanpa menoleh dia tahu Mau Sip-pat sudah ada di belakangnya. Tiba-tiba kaki terpeleset talu jatuh bergulingan, namun mulutnya masih berkaok-kaok.
"Bangun!"
Bentak Mau Sip-pat.
"Aku mau bicara!"
"Aku tidak mau bangun, Biar aku mati di sini!"
"Baik! Biar kau mampus terinjak kaki kuda!"
Siau Po memang bandel, Semakin diancam, dia semakin sengaja, Sembari menangis, dia berteriak keras-keras.
"Ada orang mau membunuh! Ada orang mau membunuh! Tua bangka menghina anak kecil! Dasar kura-kura kolot! Orang dulu memperumpamakan germo sebagai kurakura! Dia naik kuda, dia mau menginjak orang sampai mati!"
Kuda yang ditunggangi Mau Sip-pat dihentakkan sehingga sepasang kakinya berjingkrak ke atas, Siau Po segera menggulingkan tubuhnya menghindar.
"Hah! Setan cilik, ternyata kau takut mampus juga, bukan?"
"Kalau aku takut padamu, biarlah aku menjadi anak kura-kura, turunan anjing buduk! Aku tidak pantas disebut orang gagah!"
Kewalahan juga Mau Sip-pat menghadapi bocah yang mulutnya lancang itu, akhirnya dia malah tertawa geli.
"Kau seorang enghiong?"
Tanyanya tersenyum.
"Baik, Kau bangunlah. Aku tidak akan menghajarmu lagi Aku akan pergi sekarang!"
Siau Po berdiri, wajahnya masih basah oleh air mata.
"Tidak apa-apa kalau kau ingin menghajarku, tapi jangan panggil aku anak haram!"
Katanya.
"Kau toh sudah memaki aku sepuluh kali lipat Sudahlah, kita tidak usah memperpanjang persoalan ini lagi."
"Kau menghajar telingaku dan aku sudah menggigit tanganmu, Berarti kedudukan kita seri! Baik, semuanya selesai sampai di sini saja, Tapi, ngomong-ngomong, ke mana sih tujuanmu sebenarnya?"
Tanya Siau Po sambil menyusut air matanya.
"Ke Pe King, kota raja!"
"Ke kota raja?"
Tanya Siau Po dengan amat terbelalak "Bukankah para pembesar negeri sedang mencarimu? Mengapa kau malah mengantar diri ke sana?"
"Aku ingin mencari Go Pay. Dia merupakan tokoh nomor satu dari bangsa Boanciu. Malah dia mengaku dirinya sebagai jago nomor satu di kolong langit Aku tidak puas! Aku ingin mencarinya untuk mengadu kepandaian!"
Siau Po tertarik sekali dengan keterangan ini, karena berarti akan ada suatu pertunjukan yang menarik.
"Mau toako, aku mempunyai permintaan. Sebetulnya sederhana sekali, tetapi aku tidak tahu apakah kau akan mengabulkannya?"
Mau Sip-pat orangnya gengsian, dia tidak mau dianggap berjiwa picik, Ucapan si bocah membuatnya penasaran.
"Apa itu? Katakan saja, aku pasti akan mengabulkannya!"
"Bagus! Tapi kau tidak boleh menyesal!"
"Tentu tidak!"
"Aku minta kau mengajak aku ke kota raja!"
"Ke kota raja? Untuk apa?"
Tanya Mau Sip-pat bingung.
"Aku ingin menonton pertandingan antara kau dan Go Pay!"
Mau Sip-pat menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Tidak mungkin. Jarak dari Yang-ciu ke Pe King jauhnya ribuan Ii. Lagipula para pembesar negeri menjanjikan hadiah besar bagi siapa pun yang dapat menawanku, perjalanan ini berbahaya sekali."
"Memang aku sudah menyangka bahwa kau akan menyesal dan menarik kembali janjimu sendiri. Lagipula dengan mengajak aku, kau pasti mudah dikenali. Pasti kau tidak berani mengajak aku!"
Kata si bocah. Hati Mau Sip-pat panas mendengarnya.
"Kenapa aku tidak berani?"
"Kalau memang berani, ajaklah aku!"
Tantang si bocah.
"Sebenarnya bukan apa-apa, tapi aku repot membawa kau serta, sedangkan kau belum memberitahukan kepada ibumu, Nanti dia akan mencemaskan dirimu,"
Sahut Mau Sip-pat berusaha mengemukakan alasan.
"Tidak mungkin ibu mencemaskanku, Lagipula beberapa hari lagi aku toh sudah pulang."
"Setan cilik, banyak benar sih kemauanmu?"
"Aku tahu, kau tidak berani mengajak aku karena takut kalah dan jadi malu."
Kemarahan dalam hati Mau Sip-pat membara kembali.
"Siapa bilang aku kalah kepada Go pay?"
"Aku yang bilang, Sebab kau takut kalah dan malu, Bagaimana kalau aku menyaksikan kau berlutut di depan kaki Go Pay dan meratap-ratap meminta ampun sambil menyebutnya, tuanku... tuanku?"
Mau Sip-pat tambah mendongkol. Dia memajukan kudanya kemudian mencengkeram kerah baju bocah itu dan kemudian menaikkannya ke atas kuda.
"Baiklah! Aku akan membawa kau ke Pe King, Lihat siapa nanti yang akan berlutut dan memohon pengampunan!"
Diam-diam hati Siau Po girang sekali, tetapi dengan licik dia berkata.
"Kalau aku tidak melihat dengan mata kepala sendiri, tentu aku hanya bisa mendugaduga, Dan dalam bayanganku, kaulah yang akan berlutut dan memohon ampunannya!"
Plak! Plok! Sip-pat menghajar pantat Siau Po berulang kali.
"Sekarang aku yang akan menyuruh kau berteriak-teriak minta ampun terlebih dahulu!"
Siau Po mengaduh-aduh, tetapi dia tidak menangis malah tertawa cekikikan.
Mau tidak mau, Sip-pat jadi ikut tertawa geli.
Bocah itu sungguh nakal, jenaka juga keras kepala dan akal busuknya banyak!
"Eh, setan cilik, Kau memang hebat!"
"Eh, setan tua, aku juga kewalahan menghadapinya."
Sahut Siau Po dengan berani.
"Sekarang aku akan mengajak kau ke kota raja. Tapi ingat, sepanjang jalan kau harus menuruti apa pun kataku. jangan sekali-sekali menimbulkan keonaran."
"Siapa sebenarnya yang membuat keonaran? Kau sendiri! MuIa-mula kau dimasukkan ke dalam penjara, kemudian kau buron, Lantas kau melabrak kawanan penyelundup garam. Dan baru saja kau membunuh beberapa orang petugas kerajaan. Bukankah itu yang disebut menimbulkan keonaran?"
"Kau memang pandai bicara,"
Kata Mau Sip-pat.
"Baiklah, aku mengaku kalah!"
Bocah itu membetulkan duduknya di atas pelana.
Tali kendali kuda pun di hentakkan sehingga melesatlah mereka menuju Utara.
Pertama-tama Siau Po takut akan terjungkir balik, maklumlah seumur hidup dia belum pernah menunggang kuda.
Dia merapatkan tubuhnya dan memeluk Mau Sip-pat erat-erat.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih lima enam li, perasaannya pun agak tenang dan dia dapat duduk dengan nyaman.
"Bagaimana kalau aku menunggang kuda yang satu itu?"
Tanya Siau Po setelah keberaniannya terbangku.
Memang sejak semula Mau Sip-pat menuntun seekor kuda lainnya milik pihak petugas kerajaan.
Tampaknya kuda-kuda itu memang sangat jinak, meskipun penunggangnya sudah mati ataupun melarikan diri, mereka tidak menjadi panik.
"Kalau kau sanggup, silahkan Awas kalau kau tidak sanggup, nanti kau bisa terjungkal dan kakimu patah!"
Sahut Mau Sip-pat.
"Aku pernah menunggang kuda sebanyak puluhan kali, masa bisa terjungkal.W sahut Siau Po menyombongkan diri, Dia langsung melompat turun dari kuda Mau Sip-pat. Dipegangnya tali kendali kemudian ia menginjakkan kakinya di sangurdi dan lalu mencelat naik. Melihat cara Siau Po naik ke atas kuda, Sip-pat tertawa geli, Sebab posisinya salah, sehingga tubuhnya bukan menghadap ke depan malah menghadap ke ekor kuda.
"Hushhh!"
Seru Mau Sip-pat setelah selesai tertawa, Tali kendali dihentakkannya, kuda itu pun terkejut dan lari terpontang-panting, Siau Po tercekat bukan main.
Dia dibawa kabur oleh kuda itu.
Cepat-cepat dia mencekal pelana kuda itu erat-erat.
Hampir saja dia terjungkal jatuh.
Siau Po dapat mendengar suara hembusan angin yang menerpa lewat di telinganya.
Lewat tiga li, sampailah mereka di jalanan yang menanjak, Kuda masih lari terus.
Di waktu yang bersamaan, di tengah jalan mendatangi sebuah kereta yang rodanya sedang menggelinding perlahan.
Di belakangnya mengiringi seorang penunggang kuda yang usianya masih muda sekali, paling banter enam atau tujuh belas tahun.
Ketika melihat seekor kuda sedang berlari dengan kalap, kusir kereta itu berteriakteriak dengan panik.
"Kuda ngamuk! Kuda ngamuk!"
Tepat di saat tabrakan hampir terjadi, si anak muda yang mengiringi di belakang langsung menerjang ke depan sembari mengulurkan tangannya mencekal tali kendali, sehingga gerakan kuda itu pun terhenti seketika.
Hal ini membuktikan tenaga dalam anak muda itu luar biasa sekali.
Tampak perut kuda itu kembang kempis dan mulutnya berbusa karena tadi sudah berlari melebihi takarannya.
Dari dalam kereta terdengar suara halus menyapa.
"Adik Ceng, ada apa?"
"Ada kuda ngamuk,"
Sahut si anak muda.
"Penunggangnya seorang bocah cilik, entah masih hidup atau sudah mati."
"Tentu saja masih hidup!"
Siau Po pun segera menegakkan tubuhnya dengan gaya digagah-gagahkan.
"Masa mati?" Anak muda tadi memperhatikan Siau Po sekilas, wajahnya putih bersih, sepasang matanya jeli dengan alis yang bagus bentuknya. Dia mengenakan jubah panjang sedangkan kopiahnya penuh dengan sulaman benang emas dan di tengah-tengahnya terhias sepotong batu kumala putih. Dari penampilannya dapat diduga bahwa anak muda itu berasal dari keluarga hartawan Siau Po juga memandang pemuda itu lekat-lekat. Dia tahu pemuda di hadapannya dari keluarga berada. Tapi dia justru paling benci kaum hartawan, itulah sebabnya dia langsung membuang ludah dan berkata dengan sinis.
"Sungguh busuk! Lohu sedang melakukan perjalanan sejauh seribu li dan sedang gembira-gembiranya, siapa sangka bertemu dengan mayat perintang jalan, sehingga lohu tidak bisa meneruskan perjalanan."
Si pemuda tampaknya kurang senang.
Dia sebal melihat bocah itu bersikap sok tua dengan menyebut diri sendiri "lohu", Apalagi lagaknya sombong dan menghina sekali.
Sepasang alisnya menjungkit ke atas, Hampir dia mengumbar hawa amarahnya, tetapi ketika memperhatikan Siau Po dengan seksama, dia melihat tampangnya yang dekil dan tubuhnya yang kurus kering.
Dia tidak jadi marah, bibirnya malah menyunggingkan senyuman dan segera menggeser untuk memberi jalan kepada Wi Siau Po.
Siau Po menarik tali kendali kudanya sembari berkata.
"Celaka benar! Mengapa di kolong langit ini banyak pemuda bau yang usil saja dengan urusan orang lain?"
Tepat pada saat itu, Mau Sip-pat pun sudah menyusul tiba.
"Eh, setan cilik, Apakah kau tidak jatuh pingsan?"
"Pingsan? Sudah barang tentu, tidak!"
Sahut si bocah seenaknya.
"justru ketika lohu sedang enak-enak melakukan perjalanan, lohu dirintangi oleh bocah bau ini, Sungguh menyebalkan!"
Mau Sip-pat tertawa geli mendengar kata-kata-nya.
Tetapi sesaat kemudian dia tertegun ketika menoleh kepada si anak muda, Dia melihat di bagian depan kereta tertancap sebatang bendera kecil berwarna putih dengan sulaman biru di tepiannya.
Di tengah-tengahnya terdapat huruf "Pui".
Tanpa ayal lagi, dia segera menarik tangan bocah itu ke pinggir jalan.
Dan pada saat itu Siau Po masih mendumel "Dasar bocah busuk tidak tahu diri!"
"Tutup mulutmu!"
Bentak Mau Sip-pat sambil mengayunkan cambuk ke bagian kepala Siau Po.
Untung Siau Po sempat melihatnya dan menghindarkan diri, Tetapi kepalanya selamat, bahunyalah yang kena terhajar.
Seperti orang kalap, Mau Sip-pat terus mencambukinya, hingga akhirnya seluruh tubuh Siau Po terhajar berdarah dan pakaiannya koyak-koyak.
Siau Po tidak menyangka akan berakibat seperti ini.
Dengan menahan sakit, dia mendekam di punggung kudanya, Tepat pada saat itu, dari dalam kereta terdengar lagi suara halus tadi.
"Apakah di sana tuan Mau dari Cong Ciu? Sudahlah, jangan kau hajar lagi bocah itu!"
Mau Sip-pat mencelat turun dari kudanya, Dengan bantuan tangan kirinya dia mendeprok di atas tanah.
"Mau Sip-pat sedang terluka kakinya sehingga tidak dapat memberi hormat secara layak kepada nona Kou dan Pui siauhiap, Harap tidak menjadi gusar karenanya!"
"Terima kasih! Tidak berani kami menerima penghormatan demikian besar!"
Sahut si nona dalam kereta, sedangkan anak muda yang menunggang kuda hanya menganggukkan kepalanya sedikit, Setelah itu dia memecut kudanya agar keret berjalan lagi.
Dia sendiri tetap mengikuti dari belakang.
Setelah kereta itu pergi jauh, Mau Sip-menekan tanah pula kemudian mencelat ke atas kuda.
Lalu dia menyambar tubuh Siau Po dan memeluknya.
"Sungguh berbahaya! Sungguh berbahaya"
Mau Sip-pat menyusuti peluh yang memenuhi wajah dan tubuhnya.
"Kau tahu, jiwamu baru kutarik kembali dari pintu neraka!"
Terdengar dia menarik nafas panjang.
"Kalau hajaran cambukku terlalu perlahan, maka kita berdua pasti sudah menjadi mayat sekarang ini."
Dengan kasih sayang dia membersihkan wajah Siau Po. Suara Siau Po lirih sekali.
"Aku... mati juga tidak apa-apa... aku tidak... takut mati!"
Hanya beberapa patah kata yang sempat diucapkannya, kemudian dia jatuh tidak sadarkan diri.
Siau Po sendiri tidak tahu berapa lama dia pingsan, hanya ketika tersadar kembali, dia merasa seluruh tubuhnya nyeri dan ngilu.
Tanpa dapat menahan diri lagi, dia mengerang kesakitan.
"Eh, setan cilik, akhirnya kau siuman juga!"
Seru Sip-pat dengan nada lega. wajahnya berseri-seri. Siau Po membuka matanya dan menatap Mau Sip-pat. Dia mendapatkan sahabatnya itu sedang memandangnya dengan penuh perhatian.
"Kalau kau memang menginginkan kematianku, bunuh saja aku dengan golok mu. Buat apa kau harus menyiksaku dengan cambuk?"
"Kenapa aku menginginkan kematianmu? Kemarin aku mencambukmu justru untuk menolong selembar nyawamu!"
"Celaka! Terang-terang kau menyiksaku sampai sedemikian rupa, kau masih mengatakan telah menolong nyawaku!"
Siau Po mendongkol sekali karena menganggap dirinya dipermainkan, karena itu suaranya juga ketus sekali.
"Kau benar-benar tidak tahu tingginya langit, tebalnya bumi!"
Bentak Mau Sip-pat tak kalah garangnya.
"Bagaimana kau berani sembarangan mencaci keluarga Bhok dari In Lam? Kau benar-benar sudah bosan hidup rupanya!"
Siau Po tidak tahu siapa keluarga Bhok dari In Lam.
"Apa bedanya? pokoknya aku menganggapnya sebagai anak kura-kura dan telur busuk!"
"Tutup mulutmu! Apa masih belum cukup banyak keonaran yang kau timbulkan?"
Melihat kegusaran Mau Sip-pat, Siau Po tidak berani banyak bicara lagi. Tapi dasar anak bandel dia masih mendumel juga.
"Kau sepertinya tidak takut terhadap raja, juga tidak takut kepada Go Pay, kenapa sebaliknya kau malah takut terhadap dua bocah bilik dari keluar Bhok? Benar-benar bisa membuat orang tertawa hingga giginya copot."
"Aku bukannya merasa takut Aku hanya malu hati terhadap orang-orang gagah lainnya dari dunia kangouw, apabila kita berbuat salah terhadap keluarga Bhok. Hilang nyawa masih lumayan, tetapi yang membuat kita tidak tahan justru caci maki mereka."
"Siapa sebenarnya keluarga Bhok itu?"
Tanya Siau Po.
"Apakah mereka memang lihay sekali?"
"Kau bukan orang dunia persilatan, meskipun aku memberitahukan belum tentu kau bisa mengerti,"
Sahut Sip-pat.
"Begitu rupanya? Tapi aku tidak perduli!"
Kata si bocah masih dengan nada penasaran. Tetapi dia tidak berani mengejek keluarga Bhok lagi.
"Tadi kau mencambukku, katamu demi menolong selembar nyawaku, apa artinya?"
"Perbuatanmu itu benar-benar kurang ajar. sembarangan kau mencaci maki pemuda berbaju hijau itu. Dia itu dari keluarga Pui, salah satu dari empat keluarga yang menjadi Ke Ciang bagi keluarga Bhok, Kalau aku tidak menghajar kau agar kemarahannya reda, sekali cekal saja kau bisa di-pencet mati seperti semut."
Ke Ci maksudnya pelindung keluarga.
"Huh!"
Siau Po mendengus dingin.
"Aku tidak percaya dia demikian lihay!"
Di luar dia menyangkal, di dalam hati diam-diam dia mengakui.
"Kalau dia sampai memencet mati aku, apakah kau akan diam saja? Dengan demikian, mana bisa kita disebut sebagai sahabat sejati yang senang dan susah kita cicipi bersama?"
Kata Siau Po. Mau Sip-pat seperti disudutkan oleh kata-kata-nya, dia menarik nafas panjang.
"Di dalam dunia kangouw, asal orang yang mempunyai pengetahuan sedikit saja, pasti tahu siapa adanya keluarga Bhok, Bila mereka bertemu atau melihat orang-orang dari keluarga itu, mereka pasti akan menepi untuk memberi jalan dengan sikap hormat Tidak ada seorang pun yang berani demikian lancang seperti kau, seandainya dia berniat turun tangan, meskipun ada maksudku untuk menolongmu, tetap saja aku tidak sanggup melakukannya."
"Jadi pemuda itu benar-benar demikian lihay?"
Tanya Siau Po seperti masih kurang yakin. Mau Sip-pat menggelengkan kepalanya.
"Mengenai hal itu, aku tidak tahu, Mungkin aku sanggup menghadapinya, mungkin juga tidak. Tapi yang jelas aku tidak dapat melawannya!"
"Kenapa harus takut? Bunuh saja pemuda berkuda dan perempuan dalam kereta itu, siapa yang bakal tahu? Dengan demikian, semuanya beres, bukan?"
"Enak saja kau bicara, tahukah kau, bahkan seorang kusir kereta pun mempunyai kepandaian yang tinggi dalam keluarga Bhok!"
"Kalau begitu, kau memang sudah paham, Kau sengaja mencambuki aku untuk memuaskan hati pemuda itu, Dengan demikian bukan aku saja yang terhindar dari kematian, kau sendiri juga akan selamat!"
Kata Siau Po.
"Siapa yang aku takutkan? Siapa?"
Kata-kata yang terakhir justru diucapkan dengan suara rendah.
Hal ini membuktikan keraguannya, Mungkin hatinya agak gentar juga, cuma saja dia malu mengakuinya, Dari penasaran dia jadi marah, dan lantas menghardik dengan suara keras.
"Sejak semula aku sudah mengatakan agar kau jangan mengikuti aku, tapi kau memaksa! Baru satu hari saja kau sudah menimbulkan keonaran, Siapa yang suruh kau menyembur mata orang dengan semen? Dalam dunia kangouw, itu merupakan perbuatan manusia rendah, tahu? Lebih rendah dari orang yang menggunakan obat bius. Aku lebih suka mati di tangan Su Siong dari pada ditolong dengan cara demikian! Dasar bocah setan, melihat lagakmu, semakin lama aku semakin kesal saja!"
Saat itu Siau Po baru menyadari, rupanya hal itu yang membuat Mau Sip-pat kurang senang.
Dia sungguh-sungguh tidak tahu kalau apa yang dilakukannya adalah perbuatan rendah.
Tetapi pada dasarnya, adat Siau Po memang keras, Meskipun salah tetap dia tidak sudi mengalah "Apa bedanya membunuh orang dengan menyemburkan semen atau membacok dengan golok?"
Tanyanya penasaran "Kalau aku tidak menggunakan cara itu, tentu sekarang kau sudah terkapar menjadi bangkai!
Kalau kau memang tidak suka aku ikut denganmu, katakan saja terus terang.
Mulai sekarang kita ambil jalan sendiri-sendirj.
Anggap saja kita tidak pernah saling mengenal, beres!"
Mau Sip-pat memperhatikan Siau Po yang sudah terluka karena cambukannya, Hatinya merasa iba.
Lagipula sekarang mereka sudah jauh dari kota Yang-ciu, mana tega dia meninggalkan bocah cilik itu di tempat seperti ini.
Lagipula, biar bagaimanapun sudah dua kali Siau Po menyelamatkan nyawanya, dia tidak bisa menjadi manusia rendah yang tidak ingat budi.
Demikianlah, katanya kemudian "Aku akan mengajak kau ke kota raja tapi kau harus menerima tiga buah syaratku!"
Hati Siau Po girang sekali.
"Apa ketiga syarat itu? Aku tidak perduli! Seorang laki-laki sejati, begitu kata-kata sudah meluncur keluar dari mulutnya, entah kuda apa pun sukar mengejarnya!"
Siau Po suka mendengar cerita tukang-tukang dongeng.
Untuk sesaat dia lupa katakata "enam ekor kuda" , sehingga dia mengatakan entah kuda apa pun, tapi Sip-pat tidak memperdulikan kesaIahannya.
Dia hanya berkata.
"Pertama, aku larang kau menimbulkan keonaran, jangan sembarangan mengoceh atau memaki orang, Mulutmu harus dijaga!"
"Gampang!"
Sahut Siau Po.
"Tidak memaki juga tidak apa-apa, Tapi aku mau tanya dulu, bagaimana kalau orang lain yang memaki duluan?"
"Kalau kita benar, mana mungkin orang mengganggu kita tanpa sebab musabab, Syarat yang kedua, kalau kau berkelahi, aku larang kau main gigit, apalagi menggunakan semen. juga main bergulingan di atas tanah dan sembarangan memencet alat vital orang. seandainya kau kalah, jangan pura-pura mati atau berteriakteriak seperti orang gila, semuanya itu bukan perbuatan orang gagah, hanya membuat dirimu sendiri menjadi malu dan tidak dihargai oleh orang lain."
"Tapi, kalau aku kalah, masa aku tidak boleh menggunakan salah satu dari ketiga cara itu untuk membela diri?"
Tanya Siau Po kurang puas.
"Tentu boleh membalas, tetapi dengan kepandaian sejati, bukan dengan cara yang rendah, jangan membuat diri kita jadi bahan tertawaan orang. Di Li Cun Wan, kau boleh berbuat apa saja yang kau anggap baik. Tetapi bila kau ingin ikut aku mengembara, kau harus menggunakan cara yang lain."
Diam-diam Siau Po menggerutu dalam hati.
"Kau bisa saja mengatakan berkelahi dengan menggunakan kepandaian. Tapi bagaimana dengan aku? Aku toh masih kecil Tidak mengerti ilmu silat pula, Kalau begini dilarang, begitu salah, sama saja artinya kau mau aku terima gebukan dengan berdiam diri?"
Di luarnya dia hanya berkata.
"Aku toh tidak mengerti ilmu silat, Bagaimana melawan orang dengan kepandaian sejati?"
"llmu silat dapat dipelajari apabila kita mempunyai kemauan Siapa yang sejak lahir sudah mengerti ilmu silat? Mumpung kau masih kecil, justru sekarang merupakan kesempatan yang baik bagimu untuk belajar. Kau berlutut di hadapanku dan menyembah aku sebagai gurumu, Selama ini aku hidup tidak menentu, ada baiknya juga bila aku mengangkat seorang murid, Kau beruntung bisa menjadi muridku, asal kau berlatih dengan giat serta tekun kelak di kemudian hari kau bisa memiliki kepandaian yang lumayan tinggi."
Siau Po cepat-cepat menggelengkan kepalanya.
"Tidak bisa! Kita kan bersahabat, berarti kedudukan kita sama, Kalau sekarang aku menyembahmu sebagai guru, itu kan berarti derajatku lebih rendah satu tingkat darimu? Dasar setan tua, niat mu tidak baik, licik, egois!"
Siau Po lupa diri, kembali mulutnya mengoceh sembarangan Tentu saja Sip-pat menjadi tidak senang, Banyak orang yang ingin menjadi muridnya justru dia tolak mentah-mentah.
Selalu saja timbul perasaan bahwa niat mereka itu tidak tulus atau ada beberapa orang di antaranya yang mempunyai bentuk tubuh kurang bagus dan kurang sesuai untuk belajar ilmu golok Ngo-Houw Koan Bun (Lima harimau menutup pintu), LagipuIa sebelumnya dia sibuk, tidak ada kesempatan atau waktu luang untuk mendidik seorang murid, sekarang dia tertarik kepada Siau Po dan berniat mengangkatnya sebagai murid, eh...
malah bocah ini yang menolaknya.
Saking kesalnya hampir saja tangannya melayang untuk menampar pipi anak itu, tetapi untung saja dia melihat bekas luka cambukannya sehingga dia membatalkan niatnya.
"Biar aku beritahu kepadamu!"
Katanya kemudian "Sekarang ini perasaanku sedang senang, maka aku suka menerima kau sebagai murid. Tetapi kelak, meskipun kau berlutut di hadapanku dan memohon-mohon, pasti aku akan menolaknya!"
"Tidak jadi masalah!"
Sahut si bocah yang tetap ugal-ugalan.
"Kelak, meskipun kau berlutut dan menyembah padaku sampai ratusan kali bahkan dengan suara meratapratap, tetap saja aku tidak sudilmenjadi muridmu. Kalau aku menjadi muridmu, berarti dalam hal apa pun aku harus menuruti kata-katamu, mana enak? Tidak! Aku-tidak mau belajar ilmu silat!"
Bagian 03 Mau Sip-pat mendongkol sekali, Hatinya juga mulai marah.
"Baiklah, urusanmu sendiri mau belajar silat atau tidak, Tetapi kalau kau sampai tertangkap lawan dan disiksa sehingga hidup tidak mati pun tidak, waktu itu kau jangan menyesali."
"Apa yang harus disesalkan? Lagipula, apa hebatnya belajar ilmu silat darimu? Buktinya kau bisa dililit oleh Su Siong begitu saja, dan ketika melihat dua bocah dari keluarga Bhok, kau langsung ketakutan Aku tidak mengerti ilmu silat, tapi aku tidak ketakutan seperti kau. Hal ini membuktikan bahwa bisa ilmu silat saja belum tentu hebat!"
Kemarahan dalam hati Mau Sip-pat benar-benar meluap.
Tanpa dapat mengendalikan emosinya lagi, dia melayangkan tangannya menampar pipi Siau Po keras-keras.
Tetapi bocah itu bukannya menangis kesakitan malah tertawa terbahakbahak.
Benar-benar anak yang kuat, juga bandelnya tidak ketulungan!
"Nah, benar kan?
Aku sudah membuka rahasia hatimu sehingga kau menjadi marah dan melampiaskan kekesalan pada diriku, Coba kalau kau benar-benar tidak takut, tentu kau tidak akan begini marah hanya karena ucapanku tadi!"
Sip-pat membungkam.
Dia benar-benar kehabisan akal menghadapi bocah yang satu ini.
Ditegur salah, dihajar kasihan, ingin meninggalkannya begitu saja, dia tidak sampai hati padahal adatnya juga keras sekali, tetapi kali ini dia terpaksa mengekang diri.
"Huh!"
Dia hanya mendengus satu kali, kemudian berdiri termangu-mangu.
Siau Po yang melihat keadaannya juga turut berdiam diri, pikirannya melayanglayang, dia ingat ibunya di rumah pelesiran, Sejak mengenal Mau Sip-pat, dia bertekad untuk menjadi orang gagah.
Ternyata tidak mudah.
Dia juga tahu hilang sudah kesempatan baginya unjuk belajar silat, tapi dia tidak menyesal.
Dia meraba-raba mukanya yang bengap parah di sudut bibirnya sudah kering.
Tiba-tiba sebuah ingatan melintas di benaknya, pikirnya dalam hati.
"Tidak apa-apa aku tidak jadi belajar ilmu silat darimu, yang penting aku bisa ikut terus mengembara. Pasti aku bisa memperhatikan gerak-gerikmu ketika kau berkelahi, apa aku tidak bisa menirunya sedikit demi sedikit? Bahkan aku bisa melihat gerakan musuh. Dengan demikian aku bukan hanya belajar ilmu silatmu saja, ilmu silat orang lain juga bisa kucuri belajar. Dengan memiliki kepandaian beberapa orang sekaligus, bukankah lama kelamaan aku bisa mempunyai kepandaian yang lebih tinggi dari padamu? Hm! Sementara itu, Mau Sip-pat merasa perutnya lapar sekali.
"Mari kita pergi!"
Katanya sambil langsung mengangkat tubuh Siau Po.
Siau Po tidak membantah.
Mereka mencari tempat untuk beristirahat.
Keduanya mengisi perut, membersihkan tubuh, mengganti pakaian juga mengoles obat.
Kemudian, untuk melanjutkan perjalanan, Sip-pat menyewa kereta.
Kakinya terluka, gerakannya tidak leluasa, Kedua ekor kuda rampasannya ditinggalkan begitu saja.
Dengan menumpang kereta, dirinya juga tidak mudah terlihat orang.
Bukankah dia seorang pelarian dari kota Yang-ciu?
Tujuan mereka tetap utara, Pada suatu siang, mereka sampai di propinsi Soa Tang, Ketika mereka menempuh perjalanan, tiba-tiba terdengar suara derap kaki kuda, Siau Po melongokkan kepalanya, Dia melihat tiga kereta mendatangi dengan perlahan.
Pada bagian depan kereta terdapat sehelai bendera kecil atau panji yang warna dasarnya putih dan tepiannya bersulamkan benang biru.
Di tengah-tengahnya tertera huruf "Sou"
Persis sama dengan bendera kecil yang mereka lihat tempo hari. Tanpa berpikir panjang lagi, Siau Po segera membangunkan Mau Sip-pat yang sedang tidur.
"Coba lihat!"
Mau Sip-pat membuka matanya.
Ketika melihat kereta dengan benderanya itu, wajahnya menyiratkan ketegangan.
Sekejap kemudian, kereta itu telah melewati mereka dan terus melaju menuju selatan.
Tampak Mau Sip-pat menghela nafas lega.
"Apakah yang lewat barusan juga kereta keluarga Bhok dari In Lam?"
Tanya Siau Po.
"Mengapa kau bisa mempunyai dugaan itu?"
"Karena aku melihat semangatmu seperti terbang melihat kereta itu, itulah sebabnya aku bisa menduga demikian."
"Kapan semangatku terbang? jangan sembarangan mengoceh!"
Bentak Mau Sip-pat. Meskipun mulutnya berkata demikian, tapi Sip-pat menyadari bahwa suaranya rada bergetar.
"Kau tidak takut aku justru sebaliknya,"
Sahut Siau Po.
"Apa yang kau takutkan?"
"Aku takut kau tidak sanggup menahan perasaan terkejut sehingga sakit parah,"
Sahut Siau Po seenaknya.
"Bisa juga kau mati kaget. Kalau hal itu sampai terjadi, bagaimana dengan aku?"
"Celaka! Gawat!"
Terdengar Mau Sip-pat menggerutu. Dia tidak menggubris ucapan Siau Po. Mungkin telinganya sudah kebal, Dia hanya menggumam seorang diri.
"Keluarga Sou pun berangkat ke selatan. Pasti di sana telah terjadi sesuatu yang hebat!"
"Apa sebenarnya arti huruf "Sou"
Itu?"
Tanya Siau Po penasaran "Di samping huruf "Sou"
Masih ada tiga huruf lainnya, yakni huruf "Lau".
"Pui"
Dan "Pek"
Mereka adalah nama keluarga yang menjadi Ke Ciang bagi keluarga Bhok, sedangkan keluarga Bhok itu keluarga bangsawan, tingkat Kim Kok-kong."
"Kim Kok-kong itu sejenis makhluk aneh atau hantu?"
"Tampaknya mulutmu memang harus dicuci biar bersih, Di dalam dunia kangouw, nama Kim Kok-kong bahkan lebih menciutkan nyali dari pada makhluk aneh atau hantu apa pun."
"Oh, begitu rupanya."
"Hm..."
Kata Mau Sip-pat.
"Pada waktu Baginda Beng Tay-cou mengerahkan angkatan perangnya menentang kerajaan Goan, Bhok ongya, Bhok Eng telah membuat jasa besar, sebab dia berhasil merampas propinsi In Lam, Karena itu Sri Baginda mengangkatnya sebagai penguasa di wilayah In Lam turun temurun. Setelah dia meninggal dia dianugrahkan gelar kehormatan Raja Muda Kim Len ong, sedangkan keturunannya mendapat gelar kehormatan Kim Kok-kong. "
Di zaman akhir pemerintahan Kerajaan Beng ketika Kaisar Kui-ong menyingkir ke In Lam, Kim Kok-kong Bhok Tian Po dengan setia melindunginya, Kim Kok-kong bahkan mengajak Kui-ong menyingkir ke Birma."
"Celakanya di sana Kui-ong dibunuh oleh orang jahat, sehingga Kim Kok-kong turut menjadi korban, jarang ada panglima merangkap menteri yang demikian setia kepada junjungannya."
"0h.... Kalau begitu yang dipanggil loya Bho Tian Po itu merupakan cucu Bhok Eng seperti yang dikisahkan dalam cerita Eng Liat Toan. Memang Bhok ongya itu gagah sekali dan menjadi panglima kesayangan Baginda Raja."
Siau Po dapat mengatakan hal itu karena dia sudah terlalu sering mendengar legenda-legenda tukang cerita seperti Eng Liat Toan yang di dalamnya dikisahkan para pemeran utamanya, yakni Bhok Eng, Ci Tat, Siang Oi Cun, dan Oh Toa Hay.
Mereka semua terdiri dari para panglima yang perkasa.
"Aih! Kenapa kau tidak menjelaskannya dari semula?"
Gerutu Siau Po seakan menyalahkan Sip-pat.
"Kalau aku tahu keluarga Bhok dari In Lam itu masih keturunan Bhok ongya, Bhok Eng. Tentu aku akan bersikap lebih sopan sedikit. Coba kau ceritakan orang-orang seperti apakah keempat keluarga Lau, Pek, Pui dan Sou itu?"
Mereka adalah para Ke Ciang dari keluarga Bhok.
Leluhur mereka turut mengambil bagian ketika Kim Leng-ong menaklukkan In Lam dan ketika Kim Kok-kong Bhok Tian Po melindungi raja menyingkir ke Birma, hampir seluruh keturunan para Ke Ciang itu ikut tewas.
Hanya beberapa yang sempat meloloskan diri.
Di kemudian hari keturunan dari keempat keluarga itu dihadiahkan masing-masing sebuah panji kecil berwarna putih dengan alas biru oleh Tan Ho cu dari Tian-te hwe sebagai lambang.
Siapa pun tokoh persilatan yang melihat panji kecil itu, wajib memberikan bantuan atau pun melindungi mereka.
itulah sebabnya aku juga menaruh hormat melihat panji kecil itu.
Bukan takut, hanya sungkan, kalau aku sampai membuat kesalahan, tentu aku akan menjadi orang terhina di dunia ini!"
Sahut Mau Sip-pat yang tampaknya senang menerangkan secara panjang Iebar.
"Oh, begitu, Memang benar, bila bertemu dengan keturunan panglima atau menteri yang setia sudah selayaknya kita berlaku hormat."
"Sejak berkenalan dengan kau, baru kali ini ak mendengar-ucapan yang tepat!"
Kata Sip-pat sambil menganggukkan kepalanya berkali-kali.
"Aku sendiri, entah kapan pernah mendengar kau mengucapkan kata-kata yang pantas seperti sekarang ini!"
Sahut Siau Po tidak mau kala "Siapakah yang tidak menghormati Bhok ongya yang hanya dengan terompet tembaga dapat menyeberangi sungai dan dengan sebatang panah dapat membunuh gajah?"
Mau Sip-pat kebingungan mendengar ucapannya, Diperhatikannya bocah itu lekatlekat.
"Apa yang dimaksud dengan terompet tembaga dapat menyeberangi sungai dan dengan sebatang panah api dapat membunuh gajah?"
Siau Po tertawa lebar.
"Kau cuma tahu bagaimana harus menghormati keluarga Bhok, tetapi kau tidak tahu sampai mana kegagahannya, Tahukah kau ada hubungan apa antara Bhok ongya dengan Sri Baginda Raja."
"Siapa yang tidak tahu bahwa dialah panglimanya Raja."
"Panglima? Ya, ya betul. Memang panglima,"
Kata Siau Po dengan nada mengejek.
"Panglima juga bukan sembarang panglima! Kau tahu, di bawah raja ada enam orang Ong atau Raja Muda. Tentunya kau pernah mendengar Tiong San-ong Ci Tat serta Kay Peng-ong Siang Gi Cun bukan? Tetapi tahukah kau siapa Raja Muda lainnya?"
Sip-pat paling buta soal riwayat kerajaan.
Dia memang pernah mendengar orang menyebut nama Ci Tat maupun Siang Gi Cun, tetapi dia tidak tahu bahwa mereka juga termasuk Raja Muda.
Apalagi bahwa mereka mendapat gelar Tiong San-ong dan Kay Peng-ong.
Lain halnya dengan Siau Po yang sering mendengar legenda atau sejarah si tukang cerita, Dia menatap Mau Sip-pat dengan perasaan puas karena menganggap dirinya lebih banyak tahu.
"Empat Raja Muda lainnya ialah Ki Yang-ong Lie Bun Tiong, Leng Ho-ong Teng Ji, Tong Au-ong Tung Ho yang merupakan sahabat karibnya Tay cou, tapi usianya lebih tua. Teng Ji sudah lama mengenal Sri Baginda, Dia selalu mengambil bagian dalam setiap peperangan Lie Bun Tiong adalah keponakan luar Sri Baginda, sedangkan Bhok Eng adalah anak angkatnya, karena itu dia diijinkan memakai she rangkap." "0h... begitu rupanya! Lalu apa artinya terompet tembaga dan panah api yang kau katakan tadi?"
Tanya Sip-pat.
"Belakangan hanya tinggal Raja Muda Lian-ong dari In Lam dan Kui Ciu yang belum tertaklukkan, Liang-ong itu bernama Colikuluhua. Dia keponakan Goan Sun-te, yakni Kaisai terakhir dari kerajan Goan."
Sebetulnya Siau Po hanya mendengar kisah yang dituturkan oleh tukang cerita.
Nama Raja Muda itu terlalu aneh sehingga dia tidak dapa mengingatnya.
Karena itu dia sembarangan menciptakan sebuah nama, padahal nama Raja Muda itu PacaIawaerimi.
Untung saja Mau Sip-pat memang tidak tahu apa-apa.
"Tay cou gusar sekali karena Raja Muda itu masih belum mau takluk juga, Akhirnya dia mengirim pasukan perang besar berjumlah tiga puluh laksa jiwa untuk menumpasnya, Panglimanya ialah Bhok ongya yang bersama Kwe Eng dan Yu Ti serta Lie Giok Eng dari In Lam. Angkatan perang itu bertemu dengan pasukan Goan yang dipimpin Jenderal Talima, panglima itu memiliki tubuh yang tingginya mencapai sepuluh tombak dan kepala sebesar kuali...."
"Mana ada orang yang tingginya sepuluh tombak?"
Tukas Mau Sip-pat. Siau Po mencibirkan bibirnya.
"Orang Tatcu memang jauh lebih jangkung daripada bangsa kita, bangsa Han,"
Katanya tak kalah.
"Jenderal Talima mengenakan seragam besi dan bertombak panjang. Di tepi sungai Pek Sek di wilayah Tiok Ceng itu, dia berteriak bagai guntur, Kemudian terdengar suara jeburan air dan percikannya muncrat ke mana-mana. Kau tahu apa sebabnya?"
"Bagaimana aku bisa tahu?"
"Suara tawa itu terdengar sampai ke tepi sungai lainnya. Belasan prajurit Beng tak sanggup mendengar suara itu, Mereka terkejut setengah mati dan roboh terjungkal dari kudanya kemudian terjebur sungai. Bhok ongya sempat kebingungan. Gawat kalau suara itu diperdengarkan terus, bisa-bisa seluruh tentaranya roboh dan kalah dengan mengenaskan. Dia segera mencari akal untuk mengatasinya. BegituIah, ketika Talima mau membuka mulut lagi, Bhok ongya segera memanahnya. Dia lihay sekali, dengan sebat dia menghindar Memang dia berhasil menyelamatkan diri, tapi di belakangnya terdengar suara jeritan saling susul menyusul. Jenderal Talima terkejut setengah mati. Kiranya anak panah Bhok ongya telah menembus badannya puluhan perwira sehingga tewas seketika."
"Ah, mana mungkin ada tenaga yang demikian tangguh,"
Kata Sip-pat.
"Tapi kau harus ketahui, Bhok ongya merupakan bintang di langit yang menjelma ke dunia untuk mendampingi Tay cou. jadi dia bukan manusia sembarangan panahnya saja bernama Coan In-ciang (Panah penembus langit)."
"Kemudian bagaimana?"
Tanya Sip-pat yang sebetulnya ragu-ragu dengan cerita itu.
"Talima merasa penasaran. Dia balas memanah, tapi Bhok ongya berhasil menangkap panah itu dengan kedua jari tangannya, Tepat pada saat itu, di angkasa terbang serombongan burung belibis yang mendatangi Rombongan burung itu terbang di atas kepala mereka, Bhok ongya mengatakan akan memanah mata sebelah kiri burung yang ke-tiga, Jenderal Talima tidak percaya. Untuk memanah burung yang ketiga saja sukar, apalagi matanya yang sebelah kiri. Bhok ongya segera memanah, bukan ke arah burung tetapi ke arah Jenderal Talima."
"Bagus!"
Seru Sip-pat sambil menepuk pahanya.
"Itu yang dinamakan siasat bersuara di timur, menyerang di barat!"
"Masih terhitung bagus nasib Jenderal Talima. Mata kirinya tertembus panah, tubuhnya langsung terjungkal di atas tanah, Dengan demikian panah kedua dan ketiga hanya mengenai bawahan. Delapan belas perwira orang Tatcu berbulu tubuhnya. Pasukan tentara Beng menamakan mereka Mau-ciang dan Mau-peng, yakni prajurit dan tentara berbulu. Akhirnya pihak Tatcu kehilangan delapan belas orangnya, Lantas ada sebutan yang mengatakan dengan tiga batang anak panah, Bhok ongya membunuh Mau Sip-pat!"
Mau Sip-pat langsung tertegun.
"Apa katarnu?"
Harnpir dia tidak percaya dengan pendengarannya sendiri Mau Sippat yang diucapkan Siau Po artinya "delapan belas si berbulu"
Tapi nadanya sama dengan namanya sendiri.
Siau Po memberikan penjelasan sampai beberapa kali, Akhirnya Mau Sip-pat tertawa terbahak-bahak.
Biar bagaimana, itu merupakan sindiran baginya.
Mau Sip-pat mendelikkan matanya sambil menggerutu.
"Ngaco! Ada juga Bhok ongya memanah ke seberang, yang kena Wi Siau Po."
Siau Po tertawa terbahak-bahak.
"Waktu peristiwa itu terjadi, aku masih belum lahir, bagaimana Bhok ongya bisa memanah aku?"
Sip-pat juga tertawa.
"Lalu bagaimana kelanjutannya setelah panglima musuh terpanah mata kirinya?"
"Tentara musuh jadi kalang kabut setelah panglima dan perwira-perwiranya terluka, Bhok ongya ingin mengejar ke seberang sungai Tiba-tiba dari seberang terdengar suara riuh terompet. Rupanya bala bantuan musuh telah tiba. Mereka langsung menyerang dengan anak panah. Waktu itu malam telah tiba. Bhok ongya kembali mencari akal, Empat panglima bawahannya diperintahkan membawa pasukan tentara ke hilir, Dengan diam-diam mereka menyeberang secara memutar sesampainya di sana, mereka diperintahkan untuk membunyikan terompet tembaga dengan riuh."
"Ke empat panglima itu pasti Lau, Pek, Pui dan Sou, bukan?"
Sebetulnya Siau Po tidak tahu siapa keempat panglima itu, tetapi dia tidak ingin Mau Sip-pat menebaknya dengan tepat, karena itu dia berkata.
"Bukan, Mereka adalah Ciu, Go, Tan dan Ong, sedangkan Lau, Pek, Pui dan Sou selalu mengiringi Bhok ongya!"
"Oh, begitu,"
Sahut Sip-pat yang kena dibodohinya.
"Sampai di situ, Bhok ongya menitahkan si Lau berempat memberi titah kepada para tentaranya agar berteriak-teriak dengan bising. Di lain pihak, seribu prajurit telah disiapkan dan diperintahkan menyeberangi sungai dengan rakit serta sampan."
"Musuh melihat mereka, yang mana lantas memanah secara serabutan, Wah, entah berapa banyak ikan dan udang yang mati terpanah!"
"Ngaco! ikan masih bisa dipanah, udang mana mungkin? Ukurannya terlalu kecil!"
"Kalau kau tidak percaya, coba kau ke pasar beli ikan, udang dan kepiting, kau gantungkan dengan disusun lalu kau panah, coba mati apa tidak?"
"Sip-pat tahu Siau Po hanya sembarangan mengoceh, tetapi dia tetap ingin tahu kelanjutannya.
"Lalu bagaimana akhirnya?"
"Akhirnya tentara Bhok ongya mengambil delapan belas ekor ikan yang terpanah, Ikan-ikan dipanggang lalu dimakan beramai-ramai, habis!"
Sahut si bocah yang cerdik.
"Dasar setan cilik, kutu kupret! Kau memang pandai menyindir orang dengan cerita yang diputar balikkan!"
Gerutu Mau Sip-pat sambil tertawa.
"Hayo cepat katakan bagaimana keterusannya mengenai Bhok ongya dapat menyeberangi sungai?"
"Bhok ongya menunggu sampai si Ciu dan kawan-kawan sudah sampai di belakang musuh dan membunyikan terompet tembaga, baru dia menyeberangi sungai. Bersama sisa pasukannya, dia naik rakit dan sampan, tangan masing-masing menggenggam sebuah perisai, dengan demikian panah musuh tidak bisa mengenai mereka, sementara itu bangsa Tatcu sudah kekurangan anak panah karena tadinya terlalu dihamburhamburkan, Mereka kena dilabrak sehingga lari kocar-kacir. Di antara musuh ada seseorang yang rebah di atas punggung kuda serta dilindungi para perwira. Diduga, dialah Jenderal Talima. Bhok ongya mengejar sambil menyerukan agar Talima menyerah, tetapi pihak musuh menyangkal bahwa orang itu adalah Jenderal Talima, Namun ia tetap dapat dikenali karena di mata kirinya masih menancap anak panah. Kemudian orang itu diringkus oleh si Lau berempat. Dengan demikian bangsa Tatcu pun menderita kekalahan. Banyak prajuritnya yang mati, sebagian di darat, sebagian lagi di air. Yang di air menjadi santapan ikan-ikan...."
"Lalu?"
"Kemudian Bhok ongya dari Kiok Ceng maju terus sampai di luar tembok kota raja. Musuh menggantungkan pengumuman agar peperangan ditunda, permintaan itu diterima baik karena tidak ingin timbulnya banyak korban. Malam harinya, ketika Bhok ongya sedang membaca kitab Cun Ciu, tiba-tiba terdengar suara yang bising dan aneh dari dalam kota, Bukan suara harimau ataupun serigala, Bhok ongya terkejut setengah mati sehingga ber-teriak...."
"Suara apa itu?"
Tanya Sip-pat "Coba kau tebak!"
"Tentunya suara jeritan Jenderal Talima dan anak buahnya!" "Bukan, Bhok ongya segera mengadakan rapat darurat, Lau Ciang Kun diperintahkan membawa serdadunya yang berjumlah tiga ribu orang malam itu juga untuk mencari tikus sawah, Siapa yang tidak berhasil mendapatkan akan diberi hukuman, sebaliknya yang bisa mendapatkan akan diberi hadiah...."
"Untuk apa tikus sawah?"
Tanya Sip-pat bingung.
"Bhok ongya seorang ahli siasat perang. Rahasianya tidak boleh sembarangan dibeberkan. Orang pun tidak boleh bertanya apa-apa. Kalau dia sampai marah, seandainya kau adalah bawahannya, maka delapan belas batok kepalamu akan diremukkan seketika."
"Masa bertanya saja tidak boleh?"
"Tidak dalam keadaan seperti itu, Setelah itu, Bhok ongya menitahkan Pek ciangkun membawa dua laksa serdadunya pergi ke tembok kota sejauh lima li untuk menggali tanah sepanjang satu Ii. Dalamnya tiga tombak, penggalian itu harus sudah selesai dalam waktu satu malam. Kemudian kubu-kubu pertahanan dimundurkan sejauh satu li, jadi jaraknya dengan tembok kota kurang lebih enam li."
"Aneh sekali! Untuk apa lubang sepanjang dan sedalam itu?"
"Hm! Kalau siasat perang Bhok ongya dapat diterka olehmu, maka Bhok ongya bisa berubah menjadi Mau Sip-pat dan Mau Sip-pat berubah saja menjadi Bhok ongya."
Sip-pat membungkam. Lagi-lagi Siau Po menyindirnya.
"Keesokan subuhnya, kedua panglima pulang dengan membawa laporan masingmasing, bahwa sudah didapatkan tikus sawah sebanyak satu laksa lebih, dan penggalian tanah pun sudah selesai Bhok ongya mengatakan "
Bagus!"
Lalu beberapa mata-matanya dikirim untuk mengintai gerak-gerik musuh.
Siang harinya, di dalam kota terdengar suara riuh rendah, terutama suara tambur perang, Si mata-mata segera lari pulang menyampaikan berita, Tingkahnya panik sekali dan berkali-kali menyerukan celaka, Bhok ongya menjadi gusar dan membentaknya sambil menggebrak meja, Dia menanyakan apa yang telah terjadi, Mata-mata itu segera melaporkan bahwa musuh telah membuka gerbang sebelah utara dan dari sana muncul beberapa ratus kerbau siluman, Dikatakan siluman sebab hidungnya panjang, kawanan binatang itu sedang menyerbu datang."
"Binatang apa itu?"
Tanya Bhok ongya tersenyum.
"Mustahil ada kerbau berhidung panjang, Coba kau selidiki sekali lagi, Cepat!"
Mata-mata itu mengiakan lalu berlalu menjalankan perintah Bhok ongya, walaupun memberikan perintah demikian, tetapi Bhok ongya tetap memimpin pasukannya maju ke depan, Dia mengawasi dari kejauhan sehingga dia dapat melihat debu-debu beterbangan dari pihak musuh, Setelah itu beberapa ratus ekor "kerbau berhidung panjang"
Seperti yang dilaporkan oleh mata-matanya datang menerjang.
Kiranya yang dimaksud adalah ratusan ekor gajah yang di bagian kepalanya dikaitkan golok yang tajam, Gajah-gajah itu menerjang datang seperti kalap, sebab di bagian ekornya diikat obor api yang menyala!
Liang-ong membeli beberapa ratu ekor gajah itu dari Birma dan menjadikannya pasukan gajah api untuk menyerbu lawan.
Obor itu terbuat dari kayu cemara, saking kagetnya gajah gajah itu kabur ketakutan.
Gajah binatang yang besar dan kuat, kulitnya tebal, anak panah hanya dapat melukainya karena sulit membunuhnya.
Kalau tentara Beng sampai kena diserbu pasukan gajah itu, mereka pasti akan menderita kekalahan.
Malah para tentara Beng yang asalnya dari Utara itu, boleh dibilang mereka tidak pernah melihat gajah, itulah sebabnya hati mereka pun tercekat."
"Pasukan gajah memang hebat sekali!"
"Tetapi Bhok ongya tidak gentar. Bahkan sikapnya tenang sekali, Begitu pasukan gajah itu mendekat, Bhok ongya segera memerintahkan bawahannya untuk melepaskan semua tikus hasil tangkapan tadi malam. Dalam sekejap mata ribuan bahkan laksaan ekor tikus sawah lari serabutan ke segala penjuru. Gajah tidak takut harimau, singa ataupun beruang, tetapi takut tikus. Melihat binatang kecil yang suka seradak-seruduk itu, kawanan gajah tersebut jadi terkejut. Semua lantas membalikkan tubuhnya menerjang ke arah pasukan bangsa Tatcu sendiri. Kacaulah tentara musuh. Sebaliknya, setiap gajah yang sampai di lubang penggalian, semua tercebur roboh tanpa berdaya, Setelah itu Bhok ongya mengeluarkan perintah lagi, yakni melepaskan panah api. Dengan demikian di udara segera terlihat ribuan percikan api yang meleset ke arah musuh."
"Bagaimana panah bisa berapi?"
Tanya Mau Sip-pat penasaran. Siau Po tersenyum.
"Namanya saja panah api, sebetulnya bukan panah, Sejenis mesiu yang ditembakkan dengan meriam dan terselubung sehingga suaranya bising dan melesatnya jauh sekali, Gajah-gajah jadi ketakutan dan lari serabutan, sementara itu Bhok ongya memerintahkan pasukannya menyerbu masuk ke kotaraja pihak musuh. Saat itu Lian-Ong dan permaisurinya sedang berpesta, mereka sedang menantikan berita kemenangan dalam peperangan tersebut Tidak disangkanya bahwa yang datang menyerbu justru tentara musuh. Bukan main terkejutnya hati Lian-Ong dan permaisurinya, Dia berteriak sekeras-kerasnya "
Kuluaputuliwa! KuIuapu-tuliwa!"
"Apa artinya?"
Tanya Sip-pat kebingungan.
"Tentu saja yang digunakan adalah bahasa bangsa Tatcu yang artinya "Celaka, pasukan gajah berontak!"
Dengan panik dia menyeret tangan permaisurinya melompati tembok kota dan lari, Dia melihat sebuah sumur dan tanpa berpikir panjang lagi dia langsung terjun ke dalamnya, Ternyata lubang sumur itu terlalu kecil sehingga hanya sepasang kakinya yang masuk, sedangkan tubuhnya tertahan di luar Dengan demikian, Bhok ongya jadi mudah meringkusnya."
"Bocah, ceritamu bagus sekali!"
Kata Mau Sip-pat sambil tersenyum.
Dia tidak perduli cerita Siau Po benar atau tidak, yang penting hatinya merasa senang dan perjalanan pun tidak begitu membosankan.
Mau Sip-pat menggunakan kesempatan ini untuk menceritakan segala sesuatu yang berkaitan tentang dunia kangouw kepada Siau Po, terutama mengenai apa saja yang tidak pantas dilakukan.
"Kau tidak mengerti ilmu silat, tidak mungkin orang melakukan kekejaman atas dirimu, tetapi jangan sekali-sekali kau berpura-pura, akibatnya malah gawat!"
Siau Po hanya tersenyum.
"Aku kan Siau Pek-Iiong Wi Siau Po, aku bisa menyelam dalam air selama tiga hari tiga malam dan makan ikan serta udang mentah-mentah."
Sip-pat tertawa, Sahabat ciliknya itu memang lucu sekali, sepanjang jalan, tidak pernah mereka bertemu lagi dengan keluarga Bhok.
Selama itu pula luka di kaki Mau Sip-pat berangsur-angsur sembuh, setibanya di Pe King, yakni kota raja, Mau Sip-pat kembali memperingatkan Siau Po agar berhati-hati.
"Aku tidak takut, kaulah yang harus waspada!"
Mereka menuju ke Se Sia, sebelah barat kota, Kemudian mereka masuk ke sebuah rumah makan.
Ketika mereka sedang menikmati hidangan, mereka melihat masuknya dua tamu lain, Yang satu sudah tua, usianya sekitar enam puluh tahun lebih, sedangkan yang satunya, bocah berusia sebelas atau dua belas tahun.
Siau Po merasa heran, karena dia melihat pakaian mereka aneh sekali.
Sip-pat yang sudah banyak pengalaman segera mengetahui bahwa kedua orang itu merupakan para thay-kam (pelayan istana yang dikebiri).
Si thay-kam tua berwajah kekuning-kuningan, pucat dan tubuhnya bungkuk.
Tak henti-hentinya dia mengeluarkan suara batuk.
Tampaknya orang itu sedang menderita sakit Si thay-kam cilik memapahnya, Mereka duduk di meja sebelah timur.
"Bawakan arak!"
Kata si thay-kam tua yang ternyata suaranya tajam sekali.
Pelayan bergegas datang dan melayani dengan hormat Tampaknya dia gentar menghadapi kedua thay-kam tersebut.
Si thay-kam tua lalu mengeluarkan sebuah bungkusan dan membukanya, Isinya semacam bubuk.
Dia mengendus bubuk itu lalu dengan jari tangan diambilnya sedikit kemudian dimasukkan ke dalam arak.
Perlahan-lahan dia meneguk araknya itu.
Tak lama kemudian, mendadak thay-kam itu menggigil seperti orang kedinginan.
Pelayan rumah makan itu terkejut setengah mati dan menanyakan dengan panik.
"Ada apa? Ada apa?"
"Minggir!"
Hardik si thay-kam cilik.
"Buat apa kau mengoceh di sini?"
Kedua belah tangan thay-kam tua itu memegangi meja.
Giginya gemerutukan tubuhnya semakin bergetar.
Bahkan sejenak kemudian, meja pun ikut bergetar, sampaisampai cawan arak dan supit berjatuhan ke lantai.
Si cilik jadi kebingungan.
"Makan obat lagi..."
Katanya.
"Kongkong, makan obat lagi saja!"
"Tidak usah, tidak usah!"
Sahut si thay-kam tua.
suaranya masih setajam tadi, tapi wajahnya menyiratkan ketegangan.
Si thay-kam cilik berdiri mematung dengan tangan masih menggenggam bungkusan obat.
Tepat pada saat itu terdengar suara langkah kaki yang ramai, muncullah tujuh orang Iaki-laki bertubuh kekar.
Mereka semua bertelanjang dada.
Tubuh mereka berminyak, dari muka sampai ke kaki.
Tubuh mereka juga berotot, sedang di bagian dada dipenuhi bulu hitam.
Tangan mereka kasar dan besar-besar.
Mereka segera duduk memenuhi dua buah meja dan berteriak meminta arak serta daging.
"Cepat!"
Teriak beberapa orang.
"Ya! Ya! Tuan ingin memesan sayur apa saja?"
"Dasar budek!"
Bentak salah satunya.
Bahkan seorang rekannya yang lain langsung menyambar pinggang pelayan itu dan mengangkatnya tinggi-tinggi, Pelayan itu meronta-ronta sambil berkaok-kaok.
Ke tujuh orang itu tertawa terbahak-bahak, kemudian tubuh pelayan itu dilempar keluar sehingga jatuh terbanting dan menjerit kesakitan orang-orang itu kembali menertawakannya.
"ltulah ilmu gulat!"
Bisik Sip-pat kepada Siau Po.
"Setelah lawan tercekal kemudian diangkat ke atas, lalu dibanting dengan keras agar lawan tidak bisa segera membalas menyerang."
"Apakah kau mengerti ilmu itu?"
Tanya Siau Po penasaran "Tidak! ilmu semacam itu tidak ada gunanya bagi seorang ahli silat."
"Dapatkah kau melawan mereka?"
"Tidak ada gunanya!"
"Seorang diri melawan mereka bertujuh, pasti kau kalah."
"Mereka bukan tandinganku!"
Sifat ugal-ugalan Siau Po timbul lagi, tiba-tiba dia berteriak kepada ketujuh orang itu.
"Eh, sahabat! Kawanku ini mengatakan bahwa kalian bertujuh bukan tandingannya!"
Mau Sip-pat terkejut setengah mati.
"Jangan mengacau!"
Cegahnya.
Sip-pat tidak tahu bahwa hati Siau Po penasaran sekali melihat pelayan itu dibanting tanpa melakukan kesalahan apa-apa.
Dia merasa ketujuh orang itu perlu diajar adat.
Mendengar teriakannya, ketujuh orang itu menolehkan kepalanya serentak.
"Eh, bocah cilik, Apa yang kau katakan barusan?"
Tegur salah satunya.
"Kata kawanku ini, seenaknya kalian menghina pelayan itu, kelakuan kalian itu bukan perbuatan orang-orang gagah!"
Sahut Siau Po.
"Kalau kalian memang berani, lawanlah dia!"
"Benarkah katamu itu, manusia hina?"
Salah seorang lantas maju memukul.
Sebetulnya Mau Sip-pat tidak berniat mencari keributan, tetapi hatinya panas melihat kegarangan orang-orang itu, Apalagi dia memang benci sekali kepada bangsa Boan ciu, teguran itu pun membuatnya gusar.
Dia langsung mengangkat tangannya menangkis sehingga orang itu menjerit kesakitan karena tulang lengannya patah.
Seorang lainnya menjadi gusar.
Dia langsung menerjang ke arah Sip-pat untuk melakukan serangan, tetapi dia langsung disambut dengan sebuah tendangan yang mengenai perutnya, tubuhnya langsung terpental dan rubuh bergulingan.
Kelima orang lainnya langsung kalap, mereka mencaci maki dengan kalang kabut, serentak mereka maju menerjang.
Sip-pat menyambut dengan gerakan Kim Na hoat, dengan mudah dia dapat merobohkan mereka.
Salah satu di antaranya langsung diangkat ke atas, diputar-putar dan baru kemudian dilemparkan ke depan, Kepalanya jatuh karena posisi jatuhnya memang di bagian kepala dulu.
Seorang lainnya maju menerjang tapi dia juga disambut dengan sebuah tendangan di dadanya, nafasnya jadi sesak kemudian memuntahkan darah segar.
Ketika ada lagi yang maju, Sip-pat menghajar lengan orang itu sampai patah!
Tanpa menunda waktu lagi, Sip-pat segera menarik tangan Siau Po.
"Lagi-lagi kau menimbulkan keonaran, mari kita pergi!"
Tentu saja Siau Po mengerti.
Dia pun mandah saja ditarik oleh Mau Sip-pat.
Di luar dugaan, tepat di depan pintu rumah makan itu mereka sudah dihadang oleh si thay-kam tua.
Sip-pat mengulurkan tangannya dengan maksud mendorong agar orang memberi jalan untuknya, tetapi saat tangannya menyentuh tubuh orang itu, hatinya langsung tercekat.
Tubuhnya tergetar kemudian terhuyung-huyung.
Kakinya sampai menyurut mundur dua tindak, pinggangnya membentur meja sehingga terbalik.
Bahkan Siau Po sampai ikut terpental dan jatuh ke dalam gentong air!
Si thay-kam tua sendiri masih berdiri tegak di tempat semula, Hanya suara batuknya yang tidak berhenti-henti.
Saat itu juga, Mau Sip-pat menyadari bahwa dia berhadapan dengan seorang berkepandaian tinggi.
Bahkan mungkin mengerti ilmu gaib.
Kalau tidak, tak mungkin dia kena terhantam balik oleh tenaga pantulannya sedemikian rupa.
Mau Sip-pat dapat merasakan gelagat yang kurang baik, cepat-cepat dia mengangkat tubuh Siau Po dari dalam gentong air terus membawanya lari lewat bagian belakang rumah makan itu.
Baru saja melangkah tiga tindak dia sudah terkejut setengah mati.
Tahu-tahu thay kam tua itu sudah menghadang di hadapannya Suara batuknya masih belum berhenti, Mau Sip-pat penasaran sekali.
Dia menabrak thay-kam tua itu, namun kembali tubuhnya terpental ke belakang sehingga dia harus berjungkir balik di udara untuk menjaga keseimbangan agar tidak terguling jatuh, sementara itu, tangannya masih tetap membopong Siau Po.
Baru saja kaki Mau Sip-pat mendarat di atas tanah, dia merasa punggungnya seperti tersentuh sedikit, Di saat dia bermaksud menepis tangan itu, keadaan sudah kasip.
Tubuhnya langsung roboh, untung saja dia jatuh di atas tubuh kedua lawannya tadi sehingga tidak sampai menderita sakit.
Kedua orang Boan ciu itu patah kakinya, tepi tangannya masih kuat sebagaimana halnya para pegulat.
Mereka langsung mencekal Mau Sip-pat erat-erat Sip-pat mencoba mengadakan perlawanan tetapi tenaganya punah karena totokan si thay-kam tua.
Tubuhnya ditekan ke bawah dalam posisi tengkurap sehingga dia tidak bisa melihat apa-apa, tetapi telinganya masih mendengar suara batuk si thay-kam tua yang tidak berhenti-henti.
"Kau terus menyuruhku minum obat, berarti kau memang menginginkan aku cepat mampus, bukan?"
Bentaknya pada si thay-kam cilik.
"Kalau kau menambah setengah bungkus lagi saja, aku bisa mati konyol. Aih! Anak, kau benar-benar ceroboh!"
"Anak... anak benar-benar tidak tahu,"
Sahut si thay-kam kecil gugup.
"Lain kali tidak akan terulang lagi!"
"Lain kali?"
Kata si thay-kam tua sambil tertawa getir.
"Anak, kau toh tahu hidupku tidak akan lama lagi!"
"Kongkong, siapa orang ini? Mungkinkah salah seorang pemberontak atau pembangkang Kerajaan?"
Si thay-kam tidak menyahut, dia malah bertanya kepada rombongan pegulat.
"Kalian ini fuku dari mana?"
"Kami dari istana The ongya, Terima kasih Kongkong, Apabila tidak ada bantuan dari Kong kong, kami pasti sudah kehilangan muka."
"Hm! Hanya kebetulan saja!"
Orang Boan ciu gemar bergulat, setiap Pwe le atau pangeran biasa memelihara pegulat yang di namakan fuku, Begitu pula The ongya.
"Jangan menimbulkan keributan lagi, Sekaran kalian bawa laki-laki serta bocah ini ke Tay lwe Siang Sian Kam. Katakan bahwa mereka adalah orang-orangnya Hay kongkong!"
"Baik, Kongkong,"
Sahut beberapa fuku itu. Mereka segera membereskan mayatmayat teman mereka dan dibawanya sekalian bersama Mau Si pat dan Siau Po.
"Mengapa kau masih diam saja?"
Tanya thay-kam kepada bocah cilik itu.
"Bukannya cepat panggil joli, kau kan tahu aku tidak bisa berjalan!"
"Ya, ya, Kongkong!"
Sahut si thay-kam cilik sambil berlari keluar.
Thay-kam tua itu kembali mendekam di atas meja sambil terbatuk-batuk, sementara itu, Siau Po dan Mau Stp-pat benar-benar tidak berdaya.
Malah Siau Po kena batunya, ketika dia berusaha meloloskan diri, tahu-tahu betisnya terserang sebatang sumpit sehingga dia terguling jatuh, Dalam hati dia mencaci maki.
"Bapaknya Jin! Setan tua itu pasti menggunakan ilmu siluman! Mungkin dia memang jelmaan siluman kura-kura yang hampir mampus!"
Sebetulnya Siau Po memang ingin kabur secara diam-diam, dia ingat tukang cerita di tempat tinggalnya sering mengatakan "Selagi gunung masih menghijau, jangan takut kehabisan kayu bakar" , Tidak lama kemudian, si thay-kam cilik sudah kembali dengan sebuah joli, Kemudian si thay-kam tua digotong pergi, batuknya masih belum reda juga.
Di lain pihak, Siau Po dan Mau Sip-pat juga diangkut ke atas joli Iainnya.
Tubuh mereka diikat erat-erat dan mulut mereka juga disumpal dengan kain.
Bahkan Siau Po sudah dihajar beberapa kali karena tadinya mulut bocah itu tidak hentinya memakimaki.
Joli itu ditutup dengan tirai hitam sehingga orang di dalamnya tidak dapat melihat apa-apa.
Beberapa kali joli dihentikan kemudian terdengar suara orang bertanya, namun akhirnya joli itu diberi jalan setelah salah seorang fuku menjawab.
"Kami mendapat perintah Hay kongkong dari Siang Sian Kam!"
Siau Po bingung, Dia tidak tahu apa itu Siang Sian Kam.
Tapi dia dapat menduga bahwa thay-kam tua itu mempunyai pengaruh yang kuat di dalam istana kerajaan Boan.
Seumur hidupnya, baru dua kali Siau Po naik joIi, Yang pertama ketika dia ikut dengan ibunya bersembahyang di kelenteng, Saat itu dia hampi tertidur pulas, ia merasa joli dihentikan dan salah seorang fuku berkata.
"Orang yang dibutuhkan Hay kongkong suda tiba!"
"Ya,"
Sahut seorang bocah cilik.
"Hay kongkong sedang beristirahat. Biarkan saja orang itu menunggu di sini!"
Dari suaranya, Siau Po segera mengetahui bahwa yang berbicara barusan adalah si thay-kam ciiik.
Lalu dia merasa jolinya diangkat dan digotong menuju suatu tempat kemudian berhenti lagi.
Terdengar seseorang berkata.
"Kami akan pulang sekarang. Akan kami laporkan urusan ini kepada The ongya, pasti ongya akan mengirimkan wakilnya untuk mengucapkan terima kasih kepada Hay kongkong!"
Terdengar lagi sahutan si thay-kam cilik.
"Kalian melakukan hal yang tepat. Memang kalian harus melaporkan urusan ini kepada The ongya dan tolong sampaikan salam kongkong kepadanya."
Sementara itu, hidung Siau Po juga mengendus bau obat. Diam-diam dia berpikir dalam hati.
"Setan tua itu tampaknya sudah parah sekali penyakitnya, tapi mengapa dia tidak cepat-cepat mampus saja? Celakanya kami justru sudah terjatuh ke dalam genggamannya."
Ruangan itu begitu hening.
Hanya sekali-sekali terdengar suara batuk Hay kongkong.
Siau Po kesal sekali, dia merasa urat tangan dan kakinya mulai kaku.
Dia juga tidak dapat bersuara karena mulutnya tersumpaj sedangkan Hay kongkong seperti sudah lupa kepada mereka berdua.
Entah berapa lama kemudian, tiba-tiba terdengar suara panggilan si thay-kam tua.
"Siau Kuicu!"
Segera terdengar sahutan si thay-kam cilik, Siau Po berpikir dalam hati.
"Ah... dia juga memakai huruf Siau di depan namanya, sama dengan namaku!"
"Lepaskan ikatan mereka, Ada beberapa pertanyaan yang ingin aku ajukan!"
Perintah Hay kongkong.
Siau Kui cu segera melaksanakan perintah itu, tidak lama kemudian penutup mata Mau Sip-pat dan Siau Po telah dibuka, mereka melihat bahwa mereka berada dalam sebuah ruangan yang besar, tapi perabotannya sedikit sekali.
Yang ada hanya sebuah meja dan kursi, Di atas meja tersusun beberapa
Jilid buku, Hay kongkong duduk di atas kursi dengan posisi setengah menyandar, kedua pipinya cekung, matanya setengah dipejamkan.
Sumpalan kain di mulut Sip-pat dilepaskan ketika Siau Kui cu akan melepaskan sumpalan pada mulut Siau Po, Hay kongkong segera mencegahnya.
"Tunggu dulu, mulut bocah itu kotor sekali, Biar tersumbat agak lama!"
Siau Po hanya dapat memaki kalang kabut dalam hati.
ikatan kedua tangannya telah dibebaskan tetapi dia tidak berani melepaskan sumpal mulutnya sendiri karena dia tahu thay-kam tua itu lihay sekali, usahanya pasti sia-sia.
Dia hanya dapat memperhatikan sembari memasang telinga mendengarkan.
"Ambil kursi dan suruh dia duduk!"
Perintah Hay kongkong.
Siau Kui cu segera menuruti perintah, Diambilnya sebuah kursi dari ruangan sebelah kemudian dipersilahkannya Sip-pat untuk duduk, Siau Po tidak disediakan kursi.
Tanpa sungkan lagi dia duduk di atas tanah.
"Kalau tidak salah tuan ini she Mau dan ahli ilmu Ngo-houw toan bun to, bukan?"
Tanya Hay kongkong. Di dalam hatinya, Mau Sip-pat terkejut setengah mati.
"Rupanya thay-kam tua ini sudah mengetahui siapa diriku!"
Karena itu dia juga merasa tidak perlu berdusta lagi. "Benar!"
Sahutnya tanpa ragu.
"Menurut selentingan yang kudengar, katanya tuan melakukan perampokan di kota Yang-ciu dan akhirnya setelah tertangkap, kau buron dari penjara setelah membunuh beberapa hamba kerajaan, Banyak juga perbuatan onar yang telah kau terbitkan, ya?"
"Memang benar!"
Sahut Sip-pat. Dia mengagumi kepandaian si thay-kam tua yang tinggi, karena itu dia tidak mau berlaku kurang sopan.
"Sekarang tuan telah sampai di kota raja, dapatkah tuan memberitahukan apa keperluanmu?"
Tanya Hay kongkong kembali.
"Aku toh sudah terjatuh dalam genggamanmu, mau bunuh, mau siksa silahkan, Aku orang she Mau adalah seorang laki-laki sejati, tak bakal aku mengerutkan keningku. Tapi kalau kau bermaksud mencari keterangan dari mulutku, sasaranmu salah!"
Hay kongkong tersenyum.
"Siapa yang tidak tahu Mau Sip-pat adalah seorang laki-laki sejati? Untuk memaksa kau, tentu aku orang tua tidak berani, tapi menurut kabar yang kuterima, katanya kau ini orangnya Peng Si-ong...."
Belum selesai ucapan Hay kongkong, Mau Sip-pat sudah menukas dengan marah.
"Siapa yang mengatakan bahwa aku orangnya Go-sam Kui si pengkhianat bangsa? Kata-katamu itu sungguh menghina!"
Peng Si-ong adalah pangkatnya Go-sam Kui, yakni seorang Raja Muda yang menaklukkan wilayah barat. Thay-kam tua itu terbatuk-batuk beberapa kali, kemudian tersenyum lagi.
"Peng Si-ong telah berjasa besar terhadap kerajaan Ceng yang maha agung, Sri Baginda sangat mengandalkannya, Kalau tuan memang orangnya Peng Si-ong, sebaiknya katakan terus terang saja, Dengan memandang muka raja muda itu, aku orang tua juga tidak akan memperpanjang persoalan."
"Bukan! Mau Sip-pat dengan jahanam Go-sam Kui tidak ada hubungannya sedikit pun!"
Teriak Mau Sip-pat.
"Aku tidak sudi memperoleh keuntungan dari keparat itu. Kalau kau memang mau membunuh aku, silahkan jangan membuat keluarga Mau sial karena tuduhanmu itu!"
Wi Siau Po juga pernah mendengar nama Peng Si-ong Go-sam Kui, orang itu yang membawa pasukan bangsa Boan ciu memasuki gerbang perbatasan sehingga dinasti Beng jatuh, Sejak itu pula kerajaan Ceng berkuasa di daratan cina.
Dia maklum mengapa Mau Sip-pat marah sekali dikatakan orangnya Peng Si-ong, sebab Go-sam Kui dikenal sebagai pengkhianat bangsa Han atau Han Kan.
Sebetulnya ia kurang setuju dengan sikap Mau Sip-pat, pikirnya dalam hati.
"Si kura-kura tua ini pasti sedang membujuk sahabatku ini untuk mengaku, Mengapa dia tidak mengakuinya saja, dengan demikian bukankah kita akan dibebaskan? Sesudah bebas kita dapat memikirkan akal untuk melarikan diri dari kota raja, sekarang saudara Mau malah berkeras. Bagaimana kalau dia sampai disiksa? Bukankah dia hanya mencari penyakit? Sesudah bebas, kita bisa mencaci maki pengkhianat itu!"
Sejak dibebaskan, Siau Po dapat menggerakkan kaki dan tangannya dengan leluasa.
Hanya mulutnya yang tetap tersumpal, Diam-diam dia mengangkat tangannya ke atas untuk melepaskan sampai mulutnya itu.
Hay kongkong sedang berbicara dengan Sip-pat, dia tidak memperhatikan tingkah si bocah, bibirnya malah menyunggingkan senyuman mendengar suara Sip-pat yang semakin keras.
"Tadinya aku mengira tuan datang ke kota raja atas perintah Peng Si-ong, rupanya aku keliru,"
Katanya.
"Biarlah aku katakan terus terang padamu, Kedatanganku ke kota raja ini sebetulnya untuk mencari Go Pay. Aku dengar dia adalah tokoh nomor satu dari bangsa Boan Ciu, katanya dia dapat membunuh seekor kerbau gila dengan kepalannya, Mendengar cerita itu, aku tidak puas, Aku sengaja mencarinya untuk mengadu kepandaian!"
Hay kongkong menarik nafas panjang mendengar kata-kata Mau Sip-pat.
"Kau hendak mengadu kepandaian dengan Go siau-po? sekarang kedudukannya tinggi sekali, di bawah satu orang tetapi di atas laksaan orang, Bagaimana mungkin dia dapat bertanding denganmu?"
Sementara itu, otak Sip-pat bekerja keras.
Di sudah dikalahkan oleh thay-kam tua ini, Kalau Hay kongkong saja dia tidak dapat menandingi apalagi Go Pay?
Bukankah Go Pay dikenal sebagai orang kuat nomor satu bagi bangsa Boan ciu?
Sementara itu, secara diam-diam dia juga telah membebaska dirinya dari totokan Hay kongkong.
Dia berpikir dalam hati, apakah dirinya sanggup melawan thay-kam tua ini?
padahal ketika di Te Seng San, dia tidak mempunyai rasa gentar sedikit pun.
Setelah berdiam diri sekian lama, terdengar Hay kongkong menarik nafas panjang kembali.
"Tuan, apakah kau masih berniat mengadu kepandaian dengan Go Pay?"
"Ada satu hal yang ingin kutanyakan terlebih dahulu, Bagaimana sebenarnya kepandaian itu? Kalau dibandingkan dengan kau orang tua, berapa tingkat kemenangannya?"
Hay kongkong tersenyum.
"Go Pay adalah seorang menteri yang sangat dihormati. Di dalam rumah, tugasnya menjadi menteri, di luar dia dapat merangkap menjadi panglima besar. Kekayaannya jangan ditanyakan lagi, Pangkatnya juga hampir tiada tandingannya, Berbeda dengan aku, kedudukanku di istana sangat rendah, Apabila dibandingkan dengan Go siau-po, ibarat bintang di langit dengan pasir di tanah!"
Thay-kam tua itu sepertinya mengelakkan pertanyaan Sip-pat dengan membicarakan soal lainnya, tapi Sip-pat tetap penasaran.
"Kalau kepandaian Go Pay ada setengahnya darimu saja, dapat dipastikan bahwa aku bukanlah lawannya!"
"Tuan terlalu merendah,"
Kata Hay kongkong sambil tersenyum. Tampaknya sikap orang tua ini sangat ramah.
"Sekarang aku tanyakan dulu kepadamu menurut penglihatanmu bagaimana ilmu silatku kalau dibandingkan dengan Tan Eng Hoa?"
Mau Sip-pat terperanjat setengah mati.
"Apa katamu?"
"Aku menanyakan tentang hiocu tertinggi dari partai kalian. Aku mendengar Tan hiocu telah mempelajari ilmu tenaga dalam Liong-kian Kong Khi (Naga menggulung hawa) yang hebat sekali. Sayangnya, aku yang rendah tidak mempunyai kesempatan untuk bertemu dengannya."
Sip-pat merasa heran.
Semakin lama, thay-kam tua ini semakin membingungkan Dia bukan hanya mengetahui siapa dirinya, tapi juga banyak tahu tentang Tan Eng Hoa, ketua Tian-te Hwe.
Mulutnya melongo, sampai sekian lama dia tidak sanggup mengatakan apa-apa.
Kembali Hay kongkong menarik nafas panjang, Tampaknya dia memang paling ahli dalam menarik nafas dan batuk-batuk.
"Saudara Mau, sejak semula aku sudah tahu bahwa kau adalah seorang laki-laki sejati, ilmumu cukup tinggi, mengapa kau tidak mengabdi saja pada Sri Baginda kami? Tidak sulit bagimu mendapatkan kedudukan Te-tok atau ciangkun. Tapi kau justru mengikuti Tan hiocu mengadakan perlawanan... aih!"
Tampak Hay kongkong menggelengkan kepalanya berulang kali kemudian menambahkan kembali.
"Kau akan mendapatkan akibat yang tidak menyenangkan. Karena itu, dengan hati tulus aku menasehatimu, Lebih baik kau pertimbangkan kembali dan rubah pendirianmu sebelum semuanya terlambat, undurkan diri dari Tian-te Hwe..."
"Tian-te Hwe.,.? Aku tidak tahu apa-apa tentang partai itu..."
Sahut Sip-pat, tetapi pada dasarnya dia seorang jujur yang tidak pernah berdusta sekalipun Tingkahnya jadi gugup, Akhirnya dia menjadi nekad, Dia tahu orang pasti tidak akan mempercayai katakatanya.
"Tidak salah! Aku memang anggota Tian-te Hwe! Kami telah bersatu hati serta jiwa untuk membangun kembali kerajaan Beng. Mana mungkin aku mengabdi kepada bangsa Boan? Bukankah aku akan menjadi seorang Han-kan? Nah, sekarang semuanya sudah jelas bagimu, Terserah apa yang akan kau lakukan kepadaku!"
Hay kongkong tidak ada maksud membunuhnya. Dia malah berkata dengan nada sabar.
"Kalian orang-orang Han memang merasa tidak senang karena bangsa Boan telah merampas negaramu, pendapat kalian itu keliru sekali, Karena itulah aku menghargai kegagahanmu yang cinta pada negara, sekarang begini saja, aku tidak akan membunuhmu, tetapi tolong sampaikan kata-kataku kepada Tan hiocu bahwa Hay kongkong ingin sekali bertemu dengannya. Dengan demikian aku bisa menguji sampai di mana ketinggian ilmunya, Lian-kian Kong Khi. Aku harap dia datang secepatnya ke kota raja. Aih! Umurku tidak seberapa lama lagi, itulah sebabnya, bila Tan hiocu tidak lekas datang, aku tentu tidak mempunyai kesempatan untuk bertemu dengannya lagi. Sungguh harus disesalkan bila aku mati tanpa sempat bertemu dengan orang yang demikian gagah!" Sip-pat benar-benar bingung dengan sikap thay-kam tua itu. Bukan saja dia akan membebaskan mereka, dia juga berani menentang Tan hiocu. Hampir saja dia tidak percaya dengan pendengarannya sendiri. Dia berdiri dari tempat duduknya, tetapi tetap berdiri di tempat. Dia merasa ragu untuk melangkah.
"Apa lagi yang kau tunggu? Mengapa masih belum pergi?"
Tanya Hay kongkong.
"Baik!"
Sahut Mau Sip-pat sembari membalikkan tubuhnya dan menarik tangan Siau Po.
Bibirnya bergerak-gerak, seakan ada sesuatu yang ingin dikatakannya, tetapi tidak ada sedikit pun suara yang tercetus dari mulutnya.
Hay kongkong menarik nafas panjang.
"Percuma kau menjadi orang kangouw sampai berpuluh tahun lamanya. Masa kau tidak tahu peraturan sedikit pun? Apakah kau akan meninggalkan tempat ini begitu saja tanpa meninggalkan apa-apa sebagai tanda mata?"
Sip-pat menggigit bibirnya keras-keras.
"Benar, Aku orang she Mau sampai melupakan hal itu. Saudara cilik, pinjam pisaumu sebentar. Aku akan mengutungkan tangan kiriku sebagai tanda mata!"
Katanya. Ucapan Mau Sip-pat ditujukan kepada si thay-kam cilik yang menggenggam sebilah pisau belati sepanjang delapan dim yang tadi digunakan untuk memutuskan tali pengikat mereka berdua.
"Tangan kiri saja masih belum cukup!"
Kata Hay kongkong. Wajah Mau Sip-pat langsung merah padam saking gusarnya.
"Kau menginginkan tangan kananku juga?"
Hay kongkong menggelengkan kepalanya.
"Dua belah tangan dan dua biji mata!"
Sip-pat tercekat hatinya, Tanpa dapat ditahan lagi, kakinya menindak mundur dua langkah, cekalannya pada Siau Po dilepaskan.
Dengan gerakan cepat tangan kanan dan tangan kirinya bergerak serentak, Tangan kiri diangkat ke atas, tangan kanan bergerak ke samping, itulah jurus Ti-gu Bong Goat " (Badak menengadah menghadap rembulan).
Dalam hatinya dia berpikir "Bagaimana mungkin kau menginginkan kedua belah tangan dan kedua biji mataku?
Tanpa lengan dan mata, apa gunanya aku menjadi manusia?
Lebih baik aku mengadu jiwar biarlah aku mati di tanganmu!"
Hay kongkong tidak menolehkan kepalanya atau memperhatikan gerak-gerik Mau Sip-pat, dia sibuk mengurus batuknya yang semakin lama semakin menjadi-jadi, nafasnya seperti sesak, Hay kongkong berdiri sambil memegangi tenggorokannya seperti ingin mengurut-urut agar pernafasannya menjadi lega.
Melihat penderitaan taykam tua itu, Mau Sip-pat berpikir dalam hati.
"Kalau tidak lari sekarang, mau kapan lagi?"
Tubuhnya langsung bergerak, bukan untuk menyerang thay-kam tua itu, tetapi untuk menarik tangan Siau Po agar dapat diajaknya berlari bersama.
Tepat pada saat tubuh Sip-pat bergerak, Hay kongkong menurunkan tangan dan kedua jarinya seperti memotes ujung meja, potongan meja itu disambitkannya ke depan.
Sip-pat baru sampai di ambang pintu ketik potongan kayu itu menghajar betis kanannya, tepat di jalan daerah Hok-tut hiat.
Tenaganya punah seketika, kemudian ia terjatuh dalam posisi bertekuk Iutut.
Satu serangan lain mengenai betis kirinya sehingga Siau Po pun ikut terguling jatuh.
Sementara itu, suara batuk Hay kongkong masih terdengar terus, Terdengar pula Siau Kui cu berkata.
"Makan lagi obatnya setengah bungkus, mungkin batuknya bisa reda...."
Terdengar sahutan si thay-kam tua.
"Baik, baik. Tambah sedikit tidak apa. Tetapi kalau lebih bisa membahayakan."
"Baiklah."
Terdengar Siau Kui cu berkata.
Thay-kam cilik itu merogoh sakunya untuk mengambil obat, kemudian dia menuju ke dalam untuk mengambil secawan arak.
Sesaat kemudian dia sudah kembali lagi, dibukanya bungkusan obat itu ia dikoreknya sedikit dengan ujung kelingking.
"Ter... lalu ba... nyak...."
"Baik,"
Sahut Siau Kui cu.
Dia menuangk kembali setengah bubuk itu ke dalam bungkusannya.
Matanya menatap Hay kongkong seakan ingin menanyakan apakah takarannya sudah cukup.
Hay kongkong menganggukkan kepalanya.
Tiba-tiba punggungnya membungkuk, batuknya semakin menjadi-jadi.
Kemudian mendadak saja tubuhnya roboh tengkurap di lantai, tubuhnya kelojotan.
Siau Kui cu terkejut setengah mati, Dia menubruk Hay kongkong kemudian memapahnya bangun.
"Kongkong! Kongkong!"
Panggilnya berkali-kali.
"Kenapa kau, kongkong?"
"Panas... panas..."
Kata Hay kongkong kalang kabut.
"Papah aku ke dalam gentong air itu, aku ingin berendam..."
"Ya!"
Sahut Siau Kui cu yang langsung mengerahkan tenaganya untuk membimbing Hay kongkong, Sesaat kemudian terdengar Burrr!
Tubuh thay-kam tua itu pun dicemplungkan ke dalam gentong air.
Bagian 04 Semua itu diperhatikan oleh Siau Po.
Diam-diam dia berdiri lalu berjalan menuju meja, dengan ujung kelingking dia mengorek obat dari bungkusan tadi dan lalu menuangkannya ke dalam cawan arak.
Setelah mengorek tiga kali, Siau Po khawatir dosisnya masih kurang keras, dia menambah dua korekan lagi.
Dari dalam kamar terdengar suara Sau Ku cu.
"Kong kong, apakah kau sudah merasa baikan? jangan berendam terlalu lama!"
"Baik... baik!"
Sahut si thay-kam tua.
"Panas... panas seperti terbakar api."
Sementara itu Siau Po melihat pisau belati di atas meja, diambilnya pisau itu, kemudian ia rebah kembali di samping Mau Sip-pat dalam posisi semula.
Terdengarlah suara air dari dalam kamar, kemungkinan Hay kongkong sudah selesai berendam.
Dia keluar dengan dipapah oleh Siau Kui cu.
Suara batuknya masih belum berhenti.
Siau Kui cu mengambil cawan arak kemudian membawanya ke dekat mulut Hay kongkong, orang tua itu masih terbatuk-batuk sehingga dia tidak dapat meminum arak itu.
Siau Po memperhatikan dengan seksama, hatinya tegang bukan main, jantungnya berdebar-debar.
Dia berharap Hay kongkong meneguk arak itu.
"Lebih baik tidak usah minum obat, tidak usah minum obat.,."
Kata Hay kongkong.
"Ya..."
Sahut Siau Kui cu.
Diletakkannya cawan arak di atas meja, kemudian dia membungkus rapi obat tadi dan memasukkannya ke dalam saku bajunya.
Masih saja thay-kam tua itu terbatuk-batuk, akhirnya dia menunjuk ke arah cawan arak di atas meja, Siau Kui cu segera mengambilnya dan kembali membawanya ke depan mulut Hay kongkong.
Kali ini si thay-kam meneguk seluruh isinya hingga kering.
Sementara itu Mau Sip-pat sudah habis kesabarannya, nulutnya mengeluarkan erangan sedikit.
"Kau berharap... dapat... hidup terus, bukan?"
Tanya Hay kongkong.
Baru dia selesai bertanya, tiba-tiba terdengar suara.
Buk!
Kursi yang didudukinya rubuh terguling, tangannya sempat memegangi ujung meja, tetapi tekanannya terlalu keras, sehingga meja itu tidak kuat bertahan, tubuh Hay kongkong pun bergulingan di atas tanah.
"Kongkong! Kongkong!"
Panggil Siau Kui cu yang terkejut sekali, serta merta dia menghambur ke depan untuk memapah tubuh orang tua itu, posisinya sekarang memunggungi Mau Sip-pat dan Siau Po.
Wi Siau Po maklum apa yang harus dia lakukan, wataknya memang berani sekali, dia bangkit dan tiba-tiba dia menerjang ke arah Siau Kui cu, sebelum thay-kam cilik itu menyadari apa yang sedang terjadi, punggungnya sudah tertikam pisau belati di tangan Siau Po.
Hanya satu kali dia sempat menjerit kemudian tubuhnya roboh terguling, otomatis tubuh Hay kongkong pun jatuh kembali.
Siau Po menghampiri thay-kam tua itu.
Pisau belati masih digenggamnya erat-erat.
Dia bermaksud menikam orang tua itu, tetapi tiba-tiba Hay kongkong membuka matanya dan berkata kepada pelayannya.
"Eh, eh.... Siau Kui cu, kok, rasanya obat ini kurang beres...?"
Siau Po terkejut sekali, dia batal menikam, Hay kongkong tidak hanya bertanya, dia memutar tubuhnya sambil mengulurkan tangannya.
Tangannya malah membentur pergelangan tangan Siau Po yang mana langsung dicekalnya.
"Siau Kui cu, a... pakah... barusan kau tidak salah menakar obat?"
"Ti... dak sa... lah!"
Sahut Siau Po dengan membuat suaranya kurang jelas, Dia merasa cekalan pada tangannya nyeri sekali sehingga rasa sakitnya menghebat, tetapi dia tidak berani menjerit karena takut suaranya dikenali.
"Cepat... cepat nyalakan lilin!"
Seru Hay kongkong gugup.
"Gelap sekali, apa pun tidak terlihat!" Siau Po bingung sekali, api lilin menyala dengan terang, mengapa thay-kam tua itu mengatakan keadaannya gelap gulita. Suatu ingatan melintas dalam benaknya.
"Jangan-jangan matanya menjadi buta sehingga yang dilihatnya hanya kegelapan?"
Siau Po ingin mendapatkan kepastian.
"Lilin masih menyala, Kong kong, apakah kau tidak melihatnya?"
Suaranya Siau Po berbeda dengan suara Siau Kui cu.
Hal ini karena Siau Po orang Yang-ciu, sedangkan Siu Kui cu adalah bangsa Boan ciu, tetapi dia berusaha menirukan suaranya, agar tidak dikenali oleh Hay kongkong.
"Aku tidak melihatnya..."
Sahut Hay kongkong.
"Siapa bilang lilin itu dalam keadaan menyala Lekas sulut!"
Teriaknya sambil melepaskan cekala pada tangan Siau Po.
"Ya... ya!"
Sahut Siau Po. Cepat-cepat dia menjauhkan diri, dia berjalan menuju dinding dan sengaja membenarkan tubuhnya satu kali agar bersuara.
"Lilin telah dinyalakan!"
"Apa? Ngaco! Kenapa kau masih belum menyalakan lilinnya?"
Baru berkata sampai di sini, tiba-tiba tubuhnya terguling jatuh kembali Hay kongkong rebah dalam posisi terlentang.
Melihat keadaan itu, Siau Po segera memberi isyarat dengan tangan agar Mau Sip-pat segera meninggalkan tempat itu, tetapi Sip-pat justru menggapaikan tangannya karena dia ingin mengajak Siau Po.
Bocah cilik itu berpikir dalam hatinya.
"Dua orang minggat bersama lebih berbahaya, mudah dipergoki orang. Lebih baik mereka memencarkan diri, karena itu dia memberi isyarat kepada kawannya agar lari terlebih dahulu. Mau Sip-pat sempat bimbang sejenak, Terdengar Hay kongkong merintih.
"Siau... Kui cu.... Siauw.. Kui... cu!"
"Ya, aku di sini,"
Sahut Siau Po sambil mengibaskan tangannya menyuruh Mau Sippat meninggalkan tempat itu.
Mau Sip-pat tidak bisa kabur, kedua kakinya masih tertotok, Dengan kedua tangannya dia memijit dan mengurut bagian pinggang dan kedua betisnya, sebegitu jauh, dia masih belum berhasil.
"Aku tak dapat berjalan, memang tidak mudah aku mengajak Siau Po. ia masih kecil tapi juga cerdik sekali, mungkin dengan mudah dia dapat meloloskan diri, tetapi kalau kita lari bersama, lebih gawat lagi kalau kita dihadang oleh para pengikut Hay kongkong yang lainnya,"
Pikirnya dalam hati.
Membawa pikiran demikian, Mau Sip-pat pun merayap meninggalkan tempat itu.
sebelumnya dia memberi isyarat kepada Siau Po.
Dengan kedua tangan dia menyeret tubuh serta kakinya.
Hay kongkong masih merintih terus, Siau Po tidak berani meninggalkannya.
Dia sadar, apabila Hay kongkong mengetahui bahwa Siau Kui cu sudah mati, orang tua itu pasti akan berteriak sekeras-kerasnya sehingga orang-orang berdatangan dan pada saat itu, tamatlah riwayat Siau Po.
"Mau toako kena masalah karena ulahku, Kedua kakinya terluka. Entah sampai kapan baru bisa sembuh dan bagaimana caranya meloloskan diri dari tempat ini. Lebih baik aku menunggu di sini saja, Yang penting si tua bangka ini tidak tahu kalau aku bukan Siau Kui cu. Keadaannya parah sekali, kalau dia pingsan, aku bunuh saja sekalian, baru melarikan diri,"
Pikir Siau Po.
Beberapa saat kemudian terdengar suara kentungan dipukul satu kali.
Hal ini menandakan bahwa saat itu sudah masuk kentungan pertama.
Tampak sinar lilin berkelebat, Siau Po menoIehkan kepalanya, rupanya salah satu lilin di ruangan itu sudah tersulut habis, dan saat itu juga dia melihat mayat Siau Kui cu masih menggeletak di sana, Tiba-tiba saja perasan bocah itu jadi takut.
"Aku yang membunuhnya, bagaimana kalau tiba-tiba dia menjadi setan dan minta pertanggungan jawab dariku?"
Pikirnya dalam hati.
Siau Po berdiam diri sejenak, kemudian dia mengambil keputusan untuk melarikan diri selagi masih tengah malam.
Suara rintihan Hay kongkong masih terdengar membuktikan bahwa thay-kam tua itu tidak pingsan.
Biarpun nyali Siau Po cukup besar, tetapi dia tidak berani terlalu dekat thay-kam tua itu untuk menikamnya, Dia sadar ilmu orang tua itu tinggi sekali, salah sedikit saja dia pasti mengetahui apa yang akan dilakukannya.
Bila dia menggerakkan kaki atau tangannya saja, celakalah Siau Po, apalagi kalau bagian kepalanya yang kena, bisa-bisa remuk karena tenaga dalam thay-kam tua yang kuat sekali itu.
Tidak lama kemudian, padamlah dua batang lilin yang lainnya, pandangan mata Hay kongkong sudah rusak, ada lilin atau tidak tentu bukan persoalan lagi baginya, berbeda dengan Siau Po, hatinya semakin kebat-kebit mengingat mayat Siau Kui cu dan bisa tersentuh apabila dia mengulurkan tangannya.
"Ah, sebaiknya aku cepat-cepat pergi dari tempat ini,"
Pikirnya kembali. Tiba-tiba terdengar suara rintihan Hay kong-kong.
"Siau Kui... cu... Siau.,., Kui... cu, di mana kau?"
"Aku di sini!"
Sahut Siau Po sambil perlahan-lahan melangkah ke pintu.
"Siau Kui cu, kau... hendak... ke mana?"
"Aku... ingin buang air... kecil."
"Kenapa tidak di kamar saja?"
Tanya Hay kong-kong kembali "Ya... ya..."
Sahut Siau Po, Dia pun lalu pergi ke dalam kamar. Baru berjalan dua tindak, ttba-tiba kepalanya membentur daun pintu.
"Eh, Siau Kui cu, ada apa?"
Tanya Hay kongkong bercuriga.
"Ti... tidak apa-apa."
Kepala Siau Po terasa sakit, dia merogoh sakunya untuk mengeluarkan peletekan api.
Dia melihat beberapa batang lilin di atas meja.
Diambilnya sebatang kemudian dinyala kannya lilin itu sehingga suasana kamar itu menjadi terang kembali.
Di dalam terdapat dua buah tempat tidur, yang satu ukurannya besar dan yang satunya lagi kecil.
Siau Po tahu itu merupakan tempat tidurnya si thay-kam tua dan Siau Kui cu.
Ada sebuah meja da.
sebuah lemari, juga beberapa peti, entah apa isinya.
Sebuah kamar yang perabotannya sederhana sekali, di sebelah kanan ada sebuah gentong besar dan airnya bercipratan ke mana-mana.
"Apakah sebaiknya aku kabur lewat jendel saja?"
Pikir Siau Po dalam hatinya. Tiba-tiba dia mendengar suara Hay kongkon bertanya kembali.
"Eh, Siau Kui cu, kenapa kau masih belum buang air juga?"
"Heran, Tidak henti-hentinya dia menanyaka aku, apakah dia sudah curiga kalau aku bukan Sia Kui cu?"
Siau Po menjadi khawatir, dia segera mengambil pispot dari kolong tempat tidur, sementara itu, matanya mengawasi jendela yang tertutup rapat dengan kertas tempelan, mungkin khawatir Hay kongkong yang batuk-batuk terus bisa masuk angin kalau dibiarkan terbuka.
"Kalau aku membuka jendela dengan paksa, suaranya pasti berisik dan si tua bangka itu pasti akan mendengarnya, dia pun akan masuk ke dalam kamar untuk meringkus aku,"
Pikirnya lagi.
Siau Po menguras otaknya habis-habisan, tapi dia tidak menemukan jalan lain, Di dekat kolong tempat tidur Siau Kui cu ada seperangkat pakaian baru.
Melihat itu, tibatiba Siau Po mendapat sebuah ingatan, cepat-cepat dia membuka bajunya sendiri, lalu menggantinya dengan pakaian itu.
"Siau Kui cu, sedang apa kau?"
Tanya Hay kongkong kembali.
"Tidak apa-apa."
Siau Po bergegas mengancingkan bajunya dan berjalan ke luar. Dia sempat meraih kopiah Siau Kui cu dan mengenakannya sekalian.
"Lilinnya mati lagi,"
Katanya.
"Aku mau ambil lagi satu batang."
Ia kembali ke kamar, diambilnya dua batang lilin sekalian merenggut bajunya sendiri. Hay kongkong menarik nafas dalam-dalam agar dadanya lega.
"Benarkah kau sudah menyalakan lilin?"
"Benar, Apakah kongkong tidak melihatnya?"
Tanya Siau Po. Thay-kam tua itu tidak memberikan komentar apa-apa. Beberapa kali dia terbatukbatuk akhirnya baru berkata.
"Sejak dulu aku sadar obat itu tidak boleh diminum terlalu banyak, Rasanya pahit sekali, Ya, memang makannya sedikit-sedikit, tetapi lama-lama akan menjadi bukit, setelah bertahun-tahun racunnya mulai memperlihatkan reaksi sehingga timbullah efek sampingannya di mata...."
Mendengar ucapannya, perasaan Siau Po menjadi agak lega. Hal ini membuktikan bahwa orang tua itu benar-benar sudah buta.
"Untung dia tidak tahu bahwa aku yang menambah takaran obatnya, dalam anggapannya dia sudah minum obat itu terlalu lama dan banyak...."
"Siau Kui cu!"
Tiba-tiba orang tua itu memanggil pula.
"Bagaimana aku memperlakukan dirimu selama ini?"
"Baik sekali,"
Sahut Siau Po. Dia tidak tahu bagaimana sikap Hay kongkong terhadap Siau Ku cu sehari-harinya, tetapi dia merasa jawaban itu paling aman.
"Aih! sekarang mata Kong koag sudah buta, dalam dunia ini hanya kau seorang yang dapat kuandalkan untuk merawat aku. maukah kau untuk tidak meninggalkan aku? Bagaimana kalau suatu hari nanti kau tidak memperdulikan aku lagi"
Suaranya terdengar pilu dan mengenaskan.
"Tidak akan, Kong kong.-."
"Sungguh?"
"Sungguh!"
Sahut Siau Po.
otaknya memang cerdas sekali, Dia dapat memberikan jawaban dengan cepat dan pandai berpura-pura pula, nada suaranya begitu tegas sehingga orang tidak akan mengetahui apakah dia serius atau memang berdusta.
"Kong kong, kau toh tidak memiliki orang lain lagi untuk melayanimu, kalau bukan aku yang menemanimu, siapa lagi? Aku yakin lewat beberapa hari mata Kong kong pasti akan sembuh kembali Kong kong tidak usah khawatir."
"Tidak, Siau Kui cu. Mataku ini tidak mungkin bisa sembuh lagi!"
Hay kongkong termenung sesaat, Kemudian baru berkata lagi.
"Apakah orang she Mau itu sudah kabur?"
"lya, Kongkong."
"Bocah yang bersamanya itu telah kau bunuh bukan?"
Siau Po heran bagaimana Hey kongkong bisa mengetahuinya, Mungkinkah suara jeritan tertahan dari Siau Kui cu dikira orang tua itu sebagai suaranya sendiri? Tapi dia menjawab juga.
"Ya, kongkong, Bagaimana dengan mayatnya ?"
"Aih! Kalau ketahuan kita membunuh orang di dalam kamar, urusannya bisa jadi panjang, Siau Kui cu, ambil peti obatku!"
"lya,"
Sahut Siau Po sambil langsung masuk ke kamar, tetapi dia tidak tahu di mana letak peti obat.
Lemari dibukanya, dia menarik setiap laci yang ada.
Tidak disangka-sangka, karena perbuatannya Hay kongkong tiba-tiba saja menjadi marah.
"Siau Kui cu, apa yang kau lakukan?"
Bentak orang tua itu.
"Mengapa kau membuka lemari dan laci? Siapa yang menyuruhmu?"
Siau Po terkesiap, jantungnya berdebar-debar.
"Rupanya kotak-kotak ini tidak boleh sembarangan dibuka,"
Pikirnya, Cepat-cepat dia menjawab "Aku lagi mencari peti obat, entah di mana letaknya?"
"Ngaco! Masa peti obat saja kau lupa di mana letaknya?"
Bentak Hay kongkong.
"Kong kong, mungkin aku baru saja membunuh orang sehingga pikiranku menjadi kacau. Apalagi mata kongkong sekarang sudah buta,"
Sahut Siau Po. Selesai berkata, terdengarlah suara tangisannya yang terisak-isak.
"Aih! Anak, apa artinya membunuh orang? Kau toh sudah biasa melihat orang dibunuh? Peti obatku ada di dalam kotak pertama yang besar!"
"Ya... ya!"
Sahut Siau Po.
"Aku... hanya takut...."
Selesai berkata, dia segera memperhatikan tumpukan kotak yang jumlahnya ada dua dan terkunci Entah di mana anak kuncinya, Siau Po menghampiri kotak itu dan iseng-iseng menggerakkan tangannya, ternyata kotak itu tidak terkunci.
"Bagus, Aku harus hati-hati agar setan tua itu tidak mencurigaiku!"
Dia segera membuka peti itu. isinya terdiri dari berbagai jenis barang, tetapi peti kecil yang berisi obat ada di sebelah kiri. Siau Po segera mengeluarkannya.
"Ambil sedikit bubuk Hoa si-hun, lalu taburkan pada bocah itu agar tubuhnya lumer dan musnah!"
"lya!"
Siau Po segera membuka peti obat di mana di dalamnya terdapat botol-botol kecil dengan berbagai warna, tetapi tidak ada satu pun yang bertulisan Siau Po menjadi bingung, yang mana bubuk Hoa si-hun?
"Botolnya yang mana?"
Tanyanya kemudian.
"Bagaimana sih kau hari ini? Apa benar pikiranmu begitu kacau?"
Hay kongkong balik bertanya.
"Aku takut, kongkong,"
Sahut Siau Po pura-pura bergetar "Apakah matamu benarbenar tidak dapat disembuhkan lagi?"
Kata-kata itu penuh perhatian Si thay-kam tua itu jadi terharu, dia meng-usap-usap kepala Siau Po.
"Botol itu bentuknya segi tiga, warnanya hijau berbintik-bintik putih, Obat itu sangat manjur, sedikit saja sudah cukup."
"Ya, ya..."
Sahut Siau Po yang langsung mengambil botol yang disebutkan tadi, Dibukanya tutup botol itu, kemudian dari dalam laci diambilnya sehelai kertas, Obat itu dituangkannya sedikit ke atas kertas, kemudian dituangkannya ke tubuh Siau Kui cu.
Sampai beberapa saat kemudian tidak ada perubahan apa-apa.
Siau Po merasa heran, sedangkan Hay kongkong menunggu laporan darinya.
"Bagaimana?"
Akhirnya Hay kongkong tidak sabaran.
"Tidak ada perubahan apa-apa,"
Sahut Siau Po jujur.
"Di mana kau taburkan bubuk itu? Bukan di darahnya?"
Tanya orang tua itu.
"Oh, aku lupa!"
Kata Siau Po yang segera menuangkan lagi bubuk obat itu ke luka Siau Kui cu yang masih berdarah.
"Hari ini tingkahmu agak janggal,"
Kata Hay kongkong sambil menggelengkan kepalanya.
"Sampai-sampai suaramu ikut berubah!"
Tepat pada saat itu terdengar suara peletekan dari tubuh Siau Kui cu, kemudian tampak asap mengepul, lalu keluar semacam nanah yang terus mengalir Setiap kali asap mengepul semakin tinggi, nanahnya pun keluar semakin banyak, sedangkan bagian yang terluka juga menguak semakin lebar.
Heran Siau Po menyaksikan perubahan itu.
Dia memperhatikan dengan seksama.
Dia dapat melihat bahwa daging di tubuh Siau Kui cu yang terkena rembesan nanah itu langsung musnah.
Bahkan baju dan celananya pun perlahan-lahan termakan habis.
Cepat-cepat Siau Po melemparkan baju luarnya sendiri ke cairan itu, ia juga membuka sepatunya sendiri untuk ditukar dengan sepatu Siau Kui cu.
Kurang lebih satu jam kemudian, habislah seluruh tubuh Siau Kui cu, yang tersisa hanya cairan berwarna kuning.
"Kalau si tua bangka ini pingsan, bagus sekali, Sekalian saja kububuhkan obat ini agar tubuhnya juga lumer seperti mayat Siau Kui cu tadi,"
Pikir Siau Po dalam hati.
Hay kongkong masih terbatuk-batuk.
Berulang kali dia menarik nafasnya dalamdalam, tetapi tidak pernah jatuh pingsan.
Sementara itu, di jendela terlihat sinar matahari mulai menyorot, tandanya sang fajar telah menyingsing.
Ternyata waktu berlalu tanpa terasa.
"Sekarang aku telah mengganti pakaian, rasanya tidak perlu takut lagi untuk keluar berjalan-jalan, siapa yang akan mengenali aku?"
Pikir Siau Po kembali dalam hatinya.
"Siau Kui cu!"
Tiba-tiba Hay kongkong memanggilnya.
"Hari sudah terang, bukan?"
"Ya,"
Sahut Siau Kui cu palsu ini dengan cepat.
"Kalau begitu, cepat kau ambil air dan bersihkan cairan kuning itu. Baunya tidak enak sekali!"
Siau Po mengiakan, dia bekerja dengan gesit. Sejenak kemudian cairan kuning di atas lantai tidak bersisa Iagi.
"Sebentar lagi, habis sarapan, kau boleh berjudi dengan mereka..."
Kata Hay kongkong, Siau Po merasa heran, Hatinya bertanya-tanya.
"Berjudi? Aku tidak mau! Matamu sudah buta, Mana bisa aku meninggalkanmu hanya untuk ber-main-main?"
Sahutnya.
"Bermain-main? Siapa bilang bermain-main?"
Tegur Hay kongkong marah.
"Kau lupa apa yang aku pesankan? BerbuIan-bulan aku mengajarimu, berapa ratus tail uang yang telah kau habiskan semuanya demi urusan besar kita, Apakah kau tidak mau mendengar perintahku lagi?"
"Bukan,., bukan begitu.,,."
Siau Po benar-benar bingung. Dia hanya dapat mengikuti perkembangannya saja.
"Kesehatanmu sedang terganggu, batukmu semakin menjadijadi. Kalau aku pergi, siapa yang akan merawatmu?"
"Kau harus menyelesaikan tugas yang aku perintahkan itu, urusan ini lebih penting dari segalanya!"
Kata Hay kongkong.
"Sekarang coba kau main lagi!"
"Bagaimana caranya?"
Tanya Siau Po.
"Bagaimana? Ambil dadunya!"
Kata Hay kongkong sengit.
"Kau membantah saja, hal ini membuktikan bahwa selama ini kau tidak belajar dengan sungguh-sungguh, Sudah begitu lama kau belajar, mengapa masih belum juga terlihat kemajuan apa-apa?"
Mendengar disebutnya tentang dadu, hati Siau Po langsung tertarik, Selama di Yangciu, dia sudah kenal baik dengan permainan ini, bahkan merupakan salah satu permainan favoritnya, selain mendengarkan kisah-kisah pahlawan-pahlawan besar si tukang cerita."
"Wah, kacau, Di mana lagi disimpannya dadu itu?"
Pikirnya bingung, Lalu dia berkata kepada Hay kongkong.
"Aduh, mengapa otakku hari ini kacau sekali? Di mana ya kusimpan dadu itu?"
"Benar-benar manusia tidak berguna!"
Bentak Hay kongkong.
"Kenapa kau takut bermain dadu? Taruh kata kau kalah, toh bukan uangmu yang dipertaruhkan. Dadu itu disimpan dalam peti!"
"Aku sendiri tidak mengerti!"
Sahut Siau Po sambil menghampiri peti yang dimaksud dan dia mendapatkan dadu itu tersimpan dalam sebuah guci kaca.
Dia sampai mengeluarkan seruan gembira, Siau Po menganggap dadu sebagai sahabatnya dan dia cepat-cepat memberikan dadu itu kepada si thay-kam tua.
"Benarkah kongkong mengharapkan aku berjudi?"
Tanyanya meminta penegasan.
"Apakah kalau aku pergi, kongkong tidak akan kesepian ?"
"Sudahlah, jangan cerewet!"
Bentak Hay kongkong.
"Aku jamin, kalau aku yang mengajari, kau akan pandai sekali bermain dadu!"
"Ya... ya!"
Sahut Siau Po. Baginya permainan dadu di mana pun sama saja, Toh, buahnya hanya empat, Dia mencoba melemparkan dadu itu dan dia mendapatkan empat dadu angka enam! "Bagus!"
Katanya.
"Aku mendapat empat dadu angka enam!"
"Coba aku periksa!"
Kata Hay kongkong, Matanya sudah buta, dia tidak bisa melihat sehingga terpaksa merabanya dengan tangan.
"Coba lagi!"
Katanya, Siau Po siap melemparkan dadunya kembali, tiba-tiba sebuah ingatan melintas di benaknya, dia tidak tahu sampai di mana kehebatan Siau Kui cu bermain dadu, tetapi kalau mendengar nada bicara Hay kongkong tadi, tampaknya si bocah cilik masih kurang mahir.
Akhirnya dia mengambil keputusan untuk berpura-pura, jangan sampai kedoknya terbuka.
Dia melemparkan dadunya sembarangan kali ini dia mendapat 2 angka 3, satu angka 4 dan satu lagi angka 5.
"Tidak apa-apa!"
Kata Hay kongkong.
"Coba lagi!"
Sampai tujuh delapan kali Siau Po melemparkan dadunya namun gagal terus, Sampai lemparan ke sepuluh baru dia mendapatkan kembali empat angka 6.
"Nah, sudah ada kemajuan!"
Hay kongkong senang sekali setelah memeriksa.
"Sekarang pergilah kau untuk mencoba peruntunganmu, Hari ini kau bawa lima puluh tail perak!"
Berjudi memang kegemaran Siau Po.
Mendengar saja dia sudah senang, apalagi disuruh memainkannya, tadi selagi membuka peti di kamar dia melihat ada beberapa potong uang Goan po senilai dua puluh lima tail.
Dia memang sudah mengambil dua potong uang itu.
Tepat pada saat itu di luar kamar terdengar panggilan.
"Siau Kui cu! Siau Kui cu!"
"Ya!"
Sahut Siau Po.
"Siapa yang memanggil kau? Pergilah!"
Kata Hay kongkong. Senang sekali Siau Po mendengar perintah thay-kam tua itu. Baru saja dia berniat melangkah keluar, sekonyong-konyong sebuah ingatan melintas lagi di benaknya.
"Ah... orang bisa mengenali bahwa aku bukan Siau Kui cu. Aku harus menutupi wajahku ini...."
Dia memang cerdik, Diambilnya sehelai saputangan yang kemudian ia gunakan untuk menutupi wajahnya sehingga yang terlihat hanya matanya saja.
"Kong kong, aku pergi!"
Katanya berpamitan kepada si orang tua. Lalu bergegas dia keluar dari kamar itu. Di luar kamar telah menunggu seorang thay-kam cilik. Dia memperhatikan Siau Po dengan heran.
"Kemarin aku kalah, sehingga dihajar oleh Kongkong,"
Kata Siau Po memberikan alasan. Thay-kam kecil itu tertawa.
"Sekarang kau berani main lagi? Tentu kau ingin mendapat pulang modalmu, bukan!"
Siau Po menarik tangan thay-kam cilik itu lalu mengajaknya menjauh dari pintu kamar.
"Hussh! jangan berisik, nanti terdengar oleh kongkong!"
Kata Siau Po pura-pura takut.
"Tentu saja aku ingin modalku kembali!"
"Kalau begitu, kau memang benar-benar berani! Hayo kita ke sana!"
Kedua anak itu jala berdampingan. Kedua kakak beradik Un sudah datang, biar bagaimana hari ini kau harus menang!"
"Gawat kalau aku sampai kalah lagi."
Mereka melintasi beberapa serambi dan koridor panjang, kagum sekali Siau Po melihat tempat itu. Dia berpikir dalam hati.
"Sungguh hebat pemilik tempat ini. Dia sanggup membangun gedung yang luas dan demikian indah."
Siau Po melihat tiang-tiang penglari yang terukir indah.
Seumur hidupnya belum pernah dia melihat gedung seindah ini.
Mereka melintasi sebuah taman kecil di mana di dalamnya ada sebuah paviliun, Setelah melewati dua buah kamar, thay-kam cilik mengetuk sebuah pintu, pertama tiga kali, kemudian disusul dengan dua kali ketukan terakhir tiga kali.
Sesaat kemudian pintu pun terbuka, terdengar suara suatu benda yang bergerak di dalam mangkuk, di situ terdapat enam orang yang dandanannya berseragam.
Rupanya mereka sedang bermain dadu.
"Ada apa dengan Siau Kui cu?"
Tanya seseorang yang usianya kurang lebih dua puluh tahun.
"Dia kena dihajar oleh Hay kongkong karena kekalahan kemarin,"
Sahut si thay-kam cilik yang menjemput Siau Po.
Orang itu pun tertawa, Siau Po berdiri di belakang mereka, Dia melihat ada yang memasang satu tail ada pula yang memasang lima Ci, tidak tentu jumlah taruhannya, ia ikut, dia memasang lima ciam.
"Lihat Siau Kui cu!"
Kata seorang lainnya.
"Entah berapa banyak uang yang dicurinya hari ini?"
"Kau mengatakan aku mencuri? Tidak enak didengar kata-katamu itu!"
Hampir saja Siau Po mencaci maki kalau saja dia tidak ingat siapa statusnya sekarang dan di mana dia berada.
Untung pula dia ingat bahwa suaranya sekarang sudah tidak sama seperti yang orang-orang itu ketahui sementara itu, dia memperhatikan aksen suara orang itu baik-baik dengan harapan dapat menirunya kelak.
"Eh, Lao Go, bandar lagi apes, berapa pasanganmu sekarang?"
Tanya seorang pada thay-kam cilik yang mengajak Siau Po.
"Dua tail!"
Sahut Lao Gao, dia menoIehkan kepalanya kepada Siau Po.
"Siau Kui cu, bagaimana denganmu?"
Siau Po lantas berpikir "Untuk sementara sebaiknya aku jangan menang banyakbanyak, mereka bisa curiga."
Itulah sebabnya dia hanya memasang lima Ci.
Orang lain tidak ada yang menggubrisnya, Setelah itu Siau Po berpikir kembali bahwa sebaiknya dia rela kalah dulu, nanti baru dia akan merebut kemenangan.
Perjudian pun berlangsung, orang lainnya bertaruh semakin besar, hanya Siau Po yang tetap pada patokan semula, akhirnya sang bandar berkata.
"Paling sedikit satu tail, Lima Ci tidak boleh ikut!"
Siau Po memang berat gengsinya, dia langsung menerima tantangan itu. Dia memasang dua tail. Baik kalah ataupun menang, sikapnya cuek saja, Dia tidak ingin menimbulkan kecurigaan orang lain.
"Ah, sialan, Apes benar aku hari ini!"
Gerutu Lao Go. Dia sudah kalah tiga puluh tail. Tampaknya dia kesal sekali.
"Pakailah uang ini untuk menebus kekalahanmu,"
Kata Siau Po kepada sahabat barunya. Dia menyodorkan uang senilai tiga puluh tail.
"Saudara, kau baik sekali!"
Kata Lao Go sambi menepuk bahu Siau Po. Melihat keadaan itu, semua orang menjadi senang, Bahkan si bandar berkata.
"Hebat, Siau Kui cu! Hari ini jiwamu besar"
Permainan itu pun dilanjutkan, Ketika Siau Po sudah menang sepuluh tail, seseorang berkata.
"Sudah waktunya bersantap, besok kita sambung lagi."
Permainan pun dihentikan, Semua lantas menukar Ciam dengan uang kontan.
"Entah di mana tempat bersantap?"
Tanya Siau Po dalam hati. Sedang Lao Go kalah lagi dua puluh tail.
"Saudara, besok saja kuganti uangmu itu,"
Katanya kepada Siau Po.
"Tidak perlu dipikirkan urusan kecil,"
Sahut rekannya.
"Kau benar-benar baik sekali, cepatlah kau pulang, sudah saatnya Hay kongkong bersantap!"
Kata Lao Go pula.
"Oh, rupanya semua orang bersantap di tempat masing-masing,"
Kata Siau Po dalam hatinya, ia senang sekali, Dia memang berniat kembali ke kamar secepatnya.
"Sampai besok!"
Katanya kepada Lao Go. Mereka pun berpisah, Siau Po berniat meninggalkan tempat itu, tapi tidak tahu arah mana yang harus diambilnya untuk menuju kamar Hay kongkong.
"Wah, celaka!"
Pikirnya.
Dia berputaran di tempat itu, tetapi ia malah kesasar, tidak mudah menemukan kamar si thay-kam tua, Akhirnya dia sampai di depan sebuah pintu modet rembulan, disebelah kiri ada sebuah kamar yang dari dalamnya terpancar bau makanan.
Pintu kamar itu tidak tertutup rapat, mengendus makanan itu, perutnya langsung terasa lapar, Siau Po menghampiri pintu kamar dan mendorongnya sedikit.
Tidak ada seorang pun di dalamnya, Dia memberanikan diri untuk masuk ke dalam.
Di atas meja terdapat beberapa macam kue, diambilnya kue itu lalu dimasukkannya ke dalam mulut, kue itu rasanya enak sekali dan baunya harum.
Dia makan lagi beberapa potong, tetapi jenisnya berlainan dan Siau Po sadar dia sedang mencuri.
Tidak mau dia makan satu macam saja, agar tidak diketahui si empunya.
Tiba-tiba terdengar suara tindakan sepatu di luar kamar Tampaknya ada seseorang yang sedang mendatangi Siau Po menyambar sepotong kue kemudian menyusup ke kolong meja.
Kamar itu kosong, tidak ada tempat lain yang dapat dijadikan tempat persembunyian.
Tak lama muncullah orang yang suara langkahnya terdengar itu, Siau Po melihat seorang bocah sebaya dengannya masuk ke dalam kamar.
Dia mengambil sepotong kue lalu memakannya.
"Ah, rupanya dia juga pencuri"
Pikir Siau Po dalam hati.
"Seandainya aku berteriak, tentu dia akan terkejut dan lari ketakutan Pada saat itu aku bisa makan kue sepuasnya,"
Tapi Siau Po tidak melakukan hal itu, Sebaliknya, dia merasa menyesal mengapa tidak mengambil kue lebih banyak lalu membawanya ke taman dan di sana dia bisa makan dengan puas?
Tidak lama kemudian terdengar suara sesuatu yang dipukul Dia merasa heran, cepat-cepat dia mengintai, rupanya bocah itu sedang memukuli sebuah boneka kulit.
Kelakuannya aneh sekali sebentar dia memeluk, kemudian mendorong lalu dibantingnya.
Tapi pada dasarnya Siau Po memang cerdas, sejenak saja dia sudah mengerti apa yang sedang dilakukan bocah itu, Ya, dia pasti sedang berlatih diri.
Siau Po menjadi tertarik, sembari tertawa dia keluar dari kolong meja.
"Boneka hanya barang mati, mana menarik diajak berlatih, Mari aku temani kau!"
Berani sekali bocah ini.
Begitu keluar dia langsung menantang!
Anak kecil itu terkejut sehingga dia terlonjak dan memperhatikan Siau Po dengan tertegun, dia melihat wajah orang di hadapannya tertutup sehelai sapu tangan putih.
Di saat lain, rasa terkejutnya sudah hilang, dia tersenyum sambil berkata.
"Baik, mari maju!"
Siau Po menyeruduk ke depan untuk mencekal tangan bocah itu, namun lawannya segera menggeser tubuhnya ke samping, kedua tangannya digerakkan kakinya mengait, tubuh Siau Po pun bergulingan jatuh, Terdengar bocah itu berkata.
"Ah, kau tidak mengerti ilmu gulat!"
"Siapa bilang aku tidak bisa?"
Teriak Siau Po yang langsung bangun kembali dan menerjang ke arah kaki lawan untuk dipeluknya.
Dengan demikian bocah itu gagal menyambar punggungnya, malah sebaliknya Siau Po yang meluncur terus ke depan dan lalu meninju dagu bocah itu.
Anak itu terkejut sekali, tetapi dalam sekejap dia sudah pulih kembali.
Dia menyerang lagi ke arah Siau Po, kali ini mereka bergumul Keduanya sama-sama jatuh di atas lantai, sayangnya Siau Po kena ditindih oleh bocah itu.
Dia terus memberontak dan berusaha mengadakan perlawanan Akhirnya dia berhasil pula membalikkan tubuhnya sehingga posisinya berada di atas, namun keduanya sudah lelah sekali.
"Ha... ha... ha... ha...!"
Keduanya tertawa terbahak-bahak, pergumulan pun dihentikan.
Namun rupanya bocah itu jail juga, mendadak dia menarik sapu tangan yang menutupi wajah Siau Po.
Siau Po terkejut, dia tidak sempat berkelit.
"Ah.,., Rupanya kau yang mencuri makanan!"
Kata si bocah sambil tertawa lebar. Siau Po memperhatikan dengan seksama, sekarang dia dapat melihat bahwa bocah itu sangat tampan, wajahnya bersih serta menimbulkan kesan baik.
"Siapa namamu?"
Tanya bocah itu. "Siau Kui cu. Kau sendiri?"
Anak itu bimbang sejenak, kemudian dia menjawab juga.
"Aku Siau Hian cu. Kau orangnya kongkong yang mana?"
"Aku melayani Hay kongkong...."
Siau Hian cu mengangguk-angguk, Dia menyeka keringat yang membasahi wajahnya dengan kain penutup wajah Siau Po lalu diambilnya sepotong kue untuk dimakan, Siau Po juga ikut makan.
"Kau belum belajar ilmu gulat, tapi gerakanmu cukup gesit sehingga tidak dapat ditindih Iama-lama! Kalau kita bergumul lagi, akhirnya kau akan kalah!"
"Ah, belum tentu!"
Kata Siau Po alias Siau Kui cu palsu.
"Kau tidak percaya? Baik, mari kita coba lagi!"
Siau Po menerima tantangan itu dan mereka kembali bergumul Benar seperti apa yang dikatakan anak itu, baru beberapa gebrakan saja Siau Po telah dirobohkan kemudian ditindihnya.
"Nah, menyerah atau tidak?"
Tanya Siau Hian cu.
"Tidak!"
Sahut Siau Po yang keras kepala. Siau Hian cu bangun, Siau Po ingin menyerang kembali, tetapi bocah itu mencegahnya.
"Cukup dulu! Kau bukan tandinganku!"
"Tidak!"
Kata Siau Po penasaran "Besok kita lanjutkan lagi!"
Ia menunjukkan uangnya.
"Besok kita bertaruh!"
Siau Hian cu tertawa.
"Baik! Besok aku akan membawa uang! Nah, sampai jumpa besok siang!"
"Baik, sampai besok! Ingat, seorang laki-laki sejati, bila sudah mengeluarkan ucapannya, kuda pun sukar mengejarnya!"
"Ya,"
Sahut bocah itu.
"Kuda pun sukar mengejarnya!"
Dia mengikuti ucapan Siau Po kemudian meninggalkan kamar itu.
Siau Kui cu alias Siau Po juga ikut keluar sebelumnya dia meraup beberapa potong kue kemudian memasukkannya ke dalam saku, Di tengah jalan dia mengingat kembali saat Mau Sip-pat yan memenuhi perjanjian untuk mengadu ilmu.
Meskipun keadaannya sedang terluka saat itu, dia berpikir bahwa dia pun harus memenuhi janjinya, kali ini dia berhasil kembali ke kamar Hay kongkong sebelumnya dia mengingat baik-baik jalannya agar besok-besok tidak lupa lagi.
Baru sampai di depan pintu, dia sudah mendengar suara batuknya Hay kongkong.
"Apakah keadaanmu sudah agak baik?"
Tanyanya.
"Baik, kentut busukmu! Cepat masuk!"
Siau Po masuk ke kamar, dia melihat thay-kam tua itu duduk di kursi samping meja.
"Apakah kau menang hari ini"
"Menang tiga puluh tail, tapi...."
"Tapi apa?"
"Aku pinjamkan kepada Lao Go."
"Apa gunanya kau meminjamkan uang kepada Lao Go? Dia bukan orang dari Gi Si Pong, Mengapa tidak kau pinjamkan saja kepada kedua saudara Un?"
Siau Po kebingungan.
"Mereka tidak meminjam uang kepadaku."
"Mereka tidak meminjam, tapi apakah kau tidak bisa mencari akal agar mereka meminjamnya?"
Bentak Hay kongkong.
"Apakah kau sudah lupa dengan pesanku?"
Siau Po tertegun.
"Kemarin aku baru membunuh orang, aku masih takut, aku jadi lupa pada pesan Kong kong."
"Bunuh satu jiwa adalah hal yang lumrah, tetapi kau masih kecil sehingga dapat dimaklumi. Apalagi kau belum pernah membunuh orang sebelumnya, sekarang ada satu hal yang akan kutanyakan apa kau sudah lupa mengenai buku itu?"
"Aku... aku...."
"Ah! Kau pasti sudah lupa!"
"Kong kong, kepa... laku pu... sing, a... ku sampai me... lupakannya."
"Baik, nah, kau kemarilah!"
Siau Po maju ke depan beberapa langkah.
"Aku akan menjelaskan sekali lagi, Kalau kau sampai lupa lagi, aku akan membunuhmu!"
"Ya... ya,"
Sahut Siau Po. Diam-diam dia berkata dalam hatinya.
"Kau kira aku Siau Kui cu, kalau kau katakan sekali saja, sampai seratus tahun pun aku tidak akan lupa."
"Begini, kau harus mengalahkan kedua saudara Un, kemudian kau tawarkan pinjaman uang kepada mereka. Lebih banyak lebih bagus. Lalu lewat beberapa hari, kau minta mereka mengantar kau ke Gi Si Pong. Karena mereka ada hutang denganmu, tak mungkin mereka menolak, seumpamanya mereka menolak, kau ancam akan mengadukannya kepada Ouw kongkong, congkoan dari Gi Si Pong. Kalau mereka tidak dapat membayar, otomatis mereka akan mengajak kau ke Gi Si Pong. Asal kebetulan Sri Baginda sedang tidak ada di dalam kamar tulis nya itu...."
"Sri Baginda Raja?"
Tanya Siau Po mengira telinganya salah dengar.
"Apa katamu?"
"Oh, tidak,"
Sahut Siau Po cepat.
"Mereka tentu akan menanyakan untuk apa kau ke Gi Si Pong. Kau katakan saja bahwa Sri Baginda adalah manusia agung, kau ingin melihatnya, dan kau berharap dapat bekerja di sana. Dengan demikian dapat dipastikan bahwa kedua saudara Un tidak akan mengijinkan kau melihat raja. Apabila mereka mengajakmu, tentu dipilihnya waktu ketika Sri Baginda sedang tidak ada di kamarnya, kau harus menggunakan kesempatan baik itu untuk mencuri sebuah kitab."
Mendengar disebutnya Sri Baginda, perasaan Siau Po menjadi heran, Dia tahu Sri Baginda itu raja, tapi dia tidak tahu apa artinya Gi Si Pong.
"Oh, kalau begitu ini pasti istana kerajaan, Kalau bukan istana, tentu tidak seindah dan semegah ini. itulah sebabnya orang-orang di sini semuanya terdiri dari para thaykam yang biasa melayani di istana raja,"
Pikirnya dalam hati.
Tampang dan suara para thay-kam biasanya berbeda dengan orang umum, sayangnya Siau Po kurang pengalaman sehingga tidak mengetahuinya.
Dia pernah mendengar tentang raja, putera mahkota, pangeran ataupun puteri.
Juga tentang thay-kam dan para dayang, tetapi semua belum pernah dilihatnya dengan mata kepala sendiri ia telah bergaul dengan Hay kongkong, Lao Go, serta kedua saudara Un, tetapi dia baru menyadari bahwa mereka adalah para thay-kam, Sekarang, mendengar kata-kata Hay kongkong, dia baru mengerti.
"Celaka, Kalau begini, bukankah aku juga menjadi thay-kam cilik?"
Pikirnya dalam hati.
"Eh, kau mengerti apa tidak?"
Hay kongkong segera menegur melihat Siau Po tidak menyahut dari tadi.
"Ya, ya... aku mengerti,"
Sahut Siau Po.
"Aku harus ke kamar tulisnya raja!"
"Untuk apa kau ke kamar tulisnya raja?"
Uji Hay kongkong.
"Apakah untuk bermainmain?"
"Untuk mencuri sebuah kitab...."
"Kitab apa?"
Tanya Hay kongkong mendesak.
"Aku... aku... entah kitab apa? aku... lupa...."
"Akan ku ulangi sekali lagi, ingat baik-baik! Kitab itu kitab agama Budha yang judulnya Si Cap Ji cing-keng, jumlahnya beberapa jilid, Kitab itu sudah tua sekali, Mengerti? Nah, apa nama kitab itu?"
"Aku ingat! Namanya kitab Si Cap Ji cing-keng!"
Seru Siau Po girang. Hay kongkong merasa heran mengapa nada suara Siau Po begitu gembira.
"Kenapa kau begitu senang?"
"Karena kongkong mengingatkan sekali lagi, sehingga aku tidak akan lupa lagi!"
Sahut Siau Po cepat.
Padahal bukan itu alasan mengapa hatinya merasa senang, Dia tidak pernah sekolah jadi dia tidak bisa membaca, yang dikenalnya hanya huruf angka san dan kitab itu kebetulan berjudul Si Cap Ji cing-keng (Empat puluh dua kitab Buddha) Dengan demikian tidak ada kesulitan baginya untuk menemukan kitab itu.
"Mencuri kitab dalam istana Gi Si Pong harus cekatan, kalau kau sampai kepergok, biarpun nyawamu ada seratus, kau pasti mati juga,"
Kata Hay kongkong mengingatkan.
"Aku mengerti. Asal kepergok, matilah aku!"
"Kalau kau sudah berhasil, ajaklah kedua saudara Un kemari Aku akan menghadiahkan mereka semacam barang permainan yang berharga sekali."
"Baik, kongkong, Tapi bolehkah aku tahu barang mainan apakah itu?"
"Sampai waktunya kau akan tahu sendiri,"
Sahut thay-kam tua itu.
"Apakah dadumu sudah ada?"
"Ada!" "Kalau begitu, jangan bermalas-malasan. Mulailah berlatih!"
Siau Po mengiakan dan kemudian masuk ke dalam, Di atas meja, hidangan masih utuh.
"Kong kong belum makan, nanti aku sendoki nasinya."
"Tidak usah, aku belum lapar!"
Sahut orang tua itu.
"Kau makanlah dulu!"
Siau Po mengiakan, tanpa sungkan-sungkan lagi dia makan dengan lahap.
Meskipun makanan itu sudah agak dingin, Siau Po tetap merasakan kelezatannya yang luar biasa, sembari menikmati santapannya, dia berpikir.
"Kalau ini istana, sudah dapat dipastikan kalau Lao Go, kedua saudara Un dan yang lainnya adalah para thay-kam, entah bagaimana tampang Raja dan permaisurinya ? Senang sekali kalau bisa melihat mereka! Aih... entah bagaimana nasib Mau toako? Berhasilkah dia meloloskan diri? Tetapi ketika berjudi, tidak ada seorang pun yang membicarakan tentangnya, Mungkin dia memang sudah berhasil membebaskan diri."
Selesai makan, Siau Po mulai berlatih, dia khawatir Hay kongkong curiga kepadanya kalau dia diam saja, Suara dadunya di dalam mangkuk berisik sekali.
Padahal sejak dua tahun yang lalu, Siau Po sudah lihay bermain dadu, jadi dia tidak perlu berlatih lagi Dia melakukannya hanya karena tidak ingin Hay kongkong curiga.
Karena itu, tidak lama berlatih, rasa kantuk pun menyerangnya, maklumlah sepanjang malam dia tidak tidur.
Sesaat kemudian dia sudah pulas.
Di waktu magrib, Siau Po terbangun, dia melihat seorang thay-kam cilik mengantarkan makanan Tampangnya kebodoh-bodohan.
Dia tidak mengucapkan sepatah kata pun.
Setelah menyajikan makanan, dia langsung pergi.
Tentunya dengan membawa piring mangkuk kotor siangnya.
Siau Po melayani Hay kongkong bersantap terus merapikan tempat tidurnya agar orang tua itu dapat beristirahat.
Dia sendiri berbaring di tempa tidur pikirannya melayang-layang.
"Besok aku akan melawan Siau Hian cu. Bi bagaimana pun aku harus menang!"
Dia memejamkan matanya sambil membayangkan cara Mau Si pat menghadapi lawannya di bukit Tek Seng Sa "Lebih baik aku tiru saja gerakan mereka, Sayang sekali ketika itu Mau toako ingin menerima aku sebagai murid dan mengajarkan aku ilmu silat, aku mengabaikannya.
Kalau besok aku kena tindih lagi oleh Siau Hian cu, sungguh memalukan, mengapa aku tidak minta si kura-kura tua ini mengajarkan ilmu silat kepadaku, bukankah kepandaiannya tinggi sekali?"
Siau Po segera mengambil keputusan.
"Kong kong,"
Panggil Siau Po.
"Besok aku harus ke Gi Si Pong untuk mencuri sebuah kitab, tapi aku mempunyai sedikit kesulitanku."
"Apa itu?"
Tanya Hay kongkong.
"Begini, kongkong, tadi sepulang bermain dadu, aku dicegat oleh seorang thay-kam cilik. Dia memaksa meminta uang meskipun aku tidak sudi memberikannya. Akhirnya kami berkelahi. Dia bilang, asal aku bisa mengalahkannya, dia akan mengijinkan aku lewat, itulah sebabnya aku sampai tidak sempat makan karena melayani dia berkelahi...."
"Kau kalah, bukan?"
"Tubuhnya lebih tinggi dan lebih besar, Dia menantang aku berkelahi setiap hari Ketika aku kalah, dia membiarkan aku lewat..."
"Siapa nama bocah itu? Dia orang dari mana?"
"Namanya Siau Hian cu, entah dari kamar mana."
"Mungkin karena kau menang judi sehingga lagakmu menjadi sombong dan orangorang tidak menyukaimu..."
"Tapi aku tidak puas, pokoknya besok aku akan melawannya lagi, entah menang atau kalah...."
"Hm... rupanya kau minta aku mengajarkan ilmu silat kepadamu Kalau aku mengatakan tidak, percuma biar kau merongrong sepanjang hari!"
"Dasar kura-kura tua, benar-benar tidak dapat diperdaya gerutu Siau Po dalam hatinya. Tetapi di luar dia hanya berkata.
"Siau Hian cu tidak mengerti ilmu silat, untuk mengalahkannya aku pun tidak perlu belajar ilmu silat, Siapa yang ingin diajari olehmu? Tadi aku berhasil menindihnya, justru karena tenaganya kuat dan tubuhnya besar, dia berhasil membalikkan aku pula. Tapi besok aku akan menindihnya kembali. Aku yakin seperti seekor kura-kura, dia tidak bisa membalik lagi!"
Sebenarnya Siau Po sudah mencoba mengendalikan kata-katanya agar jangan berbicara kasar, tetapi dia kelepasan juga.
"Tidak sulit apabila kau ingin membuat dia tidak bisa membalik diri,"
Kata Hay kongkong.
"Aku juga berpikir demikian. Besok aku akan menekan bahunya sekuat tenaga!"
"Percuma kalau kau menekan bahunya, untuk membalikkan tubuh, tenaga pinggang harus kuat. Karena itu kau harus menindih pinggangnya dengan Iututmu. Mari aku ajarkan!"
Siau Po senang sekali ia melompat turun dari pembaringannya dan menghampiri Hay kongkong, orang tua itu langsung menyambar pinggang Siau Po kemudian menekannya sehingga bocah itu merasa lemas.
"lni dia jalan darahnya, ingat baik-baik!"
"Baik, besok akan kucoba, Entah berhasil atau tidak?"
"Berhasil atau tidak? Harus berhasil!"
Hay kongkong menekan sedikit sisi leher Siau Po, sehingga bocah itu menjerit kesakitan Dadanya terasa sesak.
"Kalau kau menekan dia dua bagian itu, dia pasti akan lemas dan tidak dapat berkelahi lagi!"
Siau Po semakin senang.
"Bagus! Besok aku akan melawannya lagi dan pasti aku yang menang!"
Dia kembali ke pembaringannya dan tidur pulas.
Keesokan paginya, Lao Go datang menjemput Siau Po untuk diajak berjudi.
Hari itu bandarnya ialah kedua saudara Un, yakni Yu To dan Yu Hong.
Siau Po menghadapinya dengan cara licik, Dalam sekejapan saja dia sudah menang empat puluh tail.
Setelah bermain agak lama, habislah uang kedua saudara Un yang menjadi bandar itu.
Mereka kalah sebanyak seratus tail.
"lni, pakai saja uangku!"
Kata Siau Po menawarkan.
Mereka meminjam lima puluh tail darinya, namun akhirnya ludes juga.
Siau Po ingat janjinya dengan Siau Hian cu.
permainan pun dihentikan, bergegas dia menuju kamar yang kemarin.
Di atas meja kembali tersedia barang makanan Tanpa berpikir panjang lagi Siau Po langsung meraihnya dan makan sampai kenyang, Ketika mendengar suara langkah kaki, cepat-cepat dia bersembunyi di bawah kolong meja untuk mengintai Siau Po khawatir yang datang bukan Siau Hian cu.
"Siau Kui cu! Siau Kui cu!"
Terdengar suara panggilan dari luar Siau Po mengenali suara itu, segera ia keluar dari kolong meja dan menghampiri orang yang memanggilnya. Bibirnya langsung tersenyum.
"Kita sudah berjanji kemarin, sebelum bertemu, aku pasti tidak akan pergi,"
Katanya. Ketika sudah berhadapan, Siau Po dapat melihat pakaian Siau Hian cu mentereng sekali, Siau Po merasa kagum. Diam-diam dia berpikir dalam hati.
"Rupanya dia thay-kam kesayangan Raja, Biar sebentar nanti aku sengaja merobek pakaiannya agar hatinya kecewa!"
Tanpa menunda waktu lagi, Siau Po langsung mulai menyerang.
"Bagus!"
Kata Siau Hian cu yang menyambut serangannya.
Kedua tangan mereka pun saling mencekal, Ketika kaki Siau Hian cu maju ke depan mengait, robohlah tubuh lawannya, tapi Siau Po sempa menarik tubuh Siau Hian cu sehingga keduanya jatuh bersama-sama.
Dengan gesit, Siau Po membalikkan tubuhnya menindih tubuh lawan, Dia berniat menotok tubuh lawannya menurut ajaran Ha kongkong, sayangnya dia belum mengerti ilmu totokan, terlalu lambat baginya untuk mencari jalan darah mana yang dimaksudkan sehingga dia kena didahului oleh Siau Hian cu yang dengan tangan membalikkan tubuhnya, Sekejap mata mereka pun terpisah.
"Eh, kau pun mengerti ilmu Hui in-jiu (Tipu awan terbang)?"
Tanya Siau Hian cu heran. Sebetulnya Siau Po sendiri tidak tahu apa nama tipu gerakan itu, tetapi otaknya cerdas sekali, dia langsung berkata.
"Hui In-jiu masih belum seberapa! Aku masih mengerti banyak tipu daya lainnya!"
Siau Hian cu tertawa.
"Tidak mungkin Mari kita coba lagi!"
Siau Po tidak menolak. Kembali mereka berkelahi Kali Siau Hian cu juga menggunakan tipu daya sehingga Siau Po roboh dan kena ditindihnya.
"Nah, menyerah tidak?"
Tanyanya. "Tidak!"
Baca Juga: Warisan Jenderal Gak Hui 3
Baca Juga: Rajawali Sakti Dari Langit Selatan 10