Eps 2 Lima Jago Luar Biasa - Sin Liong
Baca online Lima Jago Luar Biasa - Sin Liong
Cersil Lima Jago Luar Biasa - Sin Liong.
"Oh jika Hongya mengetahui aku sering main-main dengan kau, tentu Hongya akan gusar.."
Kata Pek Thong setengan berseru. Lauw Kuihui menggeleng perlahan.
"Cuiya tamu agung kami, dan Ciuya berhati baik hendak memberi petunjuk mengenai pelajaran ilmu tiamhoat, karena itu mengapa Toan Hongya harus gusar?" 91 Ciu Pek Thong ragu-ragu, tapi Lauw Kuihui telah berkata lagi.
"Walaupun kini Ciuya telah mengetahui bahwa aku adalah selir Hongya, tapi Ciuya jangan terlalu segan padaku….! Karena itu kupikir agar hubungan kita tidak kaku, untuk selanjutnya maafkanlah kelancangan siiauwmoay memanggil Ciuya dengan sebutan Ciu toako saja dan Ciuya boleh memanggil aku dengan sebutan si Eng saja…!"
Pek Thong kaget, dia menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Mana bisa begitu! Bagaimana bisa begitu! Jika memang Kuihui ingin memanggilku dengan sebutan Ciu toako, itu memang masih pantas, tapi mana layak memanggil Kuihui sengan sebutan si Eng saja? jika semula aku berlaku kurang hormat dan lancang, itulah aku memang tidak mengetahui bahwa kau adalah Kuihui. Lauw Kuihui tertawa.
"Ciu toako jangan berkata begitu, jika memang engkau bersikap canggung-canggung dan kaku setelah mengetahui bahwa aku seorang kuihui, bukankah itu hanya merusak kegembiraan kita? Bukankan selama ini kita dapat bermain dengan gembira? Akupun tidak gila hormat. Karena cukup jika Ciu toako memanggil dengan sebutan si Eng saja. nama kecilku Eng dan nama tunggalku Lauw."
Ciu Pek Thong masih bingung dan ragu-ragu, namum Lauw Kuihui benar-benar cerdik, dia mengajak Ciu Pek Thong mengobrol kesna kemari dan mengetahui bahwa Loo Boan Tong gemar mendengarkan cerita dongeng mengenai kerajaan Langit, Lauw Kuihuipun telah banyak bercerita mengenai dongeng-dongeng yang terjadi di kerajaan langit.
Memang Lauw Kuihui selama berada di istana Toan Hongya ini, dimana dia sejak diboyong ke istana, maka untuk melewati waktu-92 waktunya yang senggang, dia telah banyak membaca buku-buku dongeng sejenis itu, karenanya sama sekali dia tidak menemui kesulitan untuk mendongeng dihadapan si bocah tua bangkotan yang nakal, yang gemar mendengarkan cerita ini.
Sebentar saja kegembiraan Ciu Pek Thong telah pulih kembali, bahkan dalam percakapan mereka karena gembiranya, Ciu Pek Thong juga tidak jarang memanggil Lauw Kuihui dengan sebutan Engmoay, si adik Eng itu.
Sedangkan Lauw Kuihui juga memanggil Ciu Pek Thong selalu dengan sebutan Ciu toako, kakak Ciu… Begitulah waktu telah saling mengejar juga dan kian larutlah malam.
Sampai suatu kali, Lauw Kuihui telah mengingatkan pada Pek Thong tentang maksud mereka untuk berlaatih ilmu totokan itu, dimana Pek Thong akan memberikan petunjuk.
"Biarlah aku padamkan dulu api penerangannya, Ciu toako!"
Kata Lauw Kuihui.
Pek Thong mengiyakan.
Dilihatnya Lauw kuihui telah emmadamkan api penerangan yang tergantung di kedua dinding kamr.
Lalu api penerangan dekat pembaringan dan juga api penerangan di sudut ruangan dekat pot bunga moauwtan yang tumbuh tengah mekar menebarkan aroma harum semerbak.
Seketika kamar Lauw kuihui menjadi gelap, hanya samar sekali cahaya rembulan masih berhasil menerobos masuk lemah sekali lewat sela-sela jendela.
"Apakah kita mulai sekarang, Cio toako?"
Tanya Lauw Kuihui dengan suara tidak begitu keras.
"Ya, ya.."
Menyahut Pek Thong. 93
"Dengan cara bagaimana kita mulai?"
Tanya Lauw Kuihui/ "Kau harus duduk dipembaringan, dan aku akan menunjukkan satu-persatu letak jalan darh di tubuhmu, kau harus mengingatnya baik-baik Eng moay….!"
Menjelaskan Pek Thong.
"Baik,"
Kata Luw Kuihui.
Pek Thong masih duduk di kursinya, perasaan dan hatinya berdegupan tidak tenang.
Tapi dia tidak mau menyalahi janjinya.
Bukankan dia yang telah menjanjikan kepada Lauw kuihui itu bahwa dia akan menurunkan pelajaran ilmu menotok jika memang si adik Eng mau menemaini bermain-main.
Memang dia telah mengajarkan Kauwhoat (teorinya) tetapi itu belum cukup, karena belum berarti si adik Eng itu bisa menggunakannya untuk menotok.
Didengarnya si adik Eng itu telah naik ke pembaringan, didengarnya juga bergeseknya alas pebaringan, rupanya si adik Eng tengeh merapikan duduknya dipembaringan.
Keadaan dalam kamr itu gelap sekali.
Namun sebagai orangn yang terlatih matanya Ciu Pek Thong masih bisa melihat samar-samar bayangn si adik Eng itu yang mulai duduk rapi dipembaringan.
"Nah, Ciu Toako, kita sudah bisa segera mulai, aku telah siap…! kata Lauw Kuihui. Ciu Pek Thong bangkit dari duduknua, menghampiri pembaringan. Dia mengulurkan tangannya ke arah tubuh si adik Eng itu. Tapi cepat dia menarik kembali tangannya.
"Kenapa Ciu toako? Apakah ada sesuatu yang tidak beres? Mengapa engkau tidak naik saja ke pembaringan saja agar lebih mudah memberikan petunjukmu?"
"Kau… kau masih mengenakan pakaianmu, aku tidak bisa memberitahukan letak jalan darahmu!"
Kata Pek Thong walaupun kamar itu gelap, tidak urung muka Pek Thong berubah menjadi merah dan dia merasakan pipinya panas sekali, jantungnya berdegupan, dia merasa malu bukan main.
"Oh, harus membuka pakaianku?!"
Tanya Lauw Kuihui, tapi kemudian terdengar dia tertawa perlahan.
Tanpa bimbang sedikitpun dia telah membuka seluruh pakaiannya.
Ciu Pek Thong telah memejamkan matanya, karena walaupun kamar gelap, toh matanya tajam sekali, dia masih bisa melihat si adik Eng itu samar-samar, melihat bagaimana kedua tangan dan tubuhnya bergerak tengah membuka pakaiannya.
Dan Pek Thong tidak mau melihatnya.
Dia hanya mendengar suara bergesekan pakaian si adik Eng yang tengah dibuka.
"Mengapa kau belum naik ke atas pembaringan, Ciu toako? Bukankah dengan berdiri di dekat pembaringan saja kau akan sulit memberikan petunjuk yang jelas dan baik padaku?"
Tiba-tiba Pek Thong dikejutkan oleh teguran Lauw Kuihui. Karena sudah tidak ada pilihan lain, Loo Boan Tong menyahuti.
"Ya, ya.. saja, dan telah membuka sepatunya. Diapun naik ke atas pembaringan. Duduk menghadapi pnggung Lauw Kuihui. Lauw Kuihui memang sudah tidak mengenakan pakaian, sesungguhnya punggungnya itu halus, kulitnyapun lembut sekali, karena dalam kamar yang gelap pekat itu, toh 95 punggungnya itu seperti juga masih memancarkan sinarnya yang lembut halus. Ciu Pek Thong telah menarik nafas dalam-dalam, dia menyalurkan tenaga dalam menyatukan pikiran dan hawa murninya dalam beberapa detik, goncangan hatinya telah berhasil dikuasainya, karenanya seger juga dia bersikap tenang. Apalagi memang Pek Thong juga segera berpikir bahwa dia hanya bermaksud baik menurunkan ilmu menotok tersebut padanya, jadi bukan mengandung maksud tidak-tidak atau busuk. Segera juga tangan kanannya menunjuk ke dekat ketiak Lauw Kuihui, dia mulai memberikan penjelasan.
"Inilah jalan darah yang disebut "
Cuan-cie-hiat‟, jalan darah ini tidak begitu penting, karena jalan darah ini hanya melumpuhkan tangan lawan sebelah kiri, itupun tidak berlangsung lama, karena hanya bisa bertahan beberapa menit saja, akan segera terbuka dengan sendirinya totokan itu.
Biarpun begitu, jalan darah ini memiliki hubungan dengnan jalan darah "Tay-yang-hiat‟ jalan darah besar yang terdapat di tengah-tengah punggung karenanya jika sampai jalan darah "
Cuan cie hiat‟ ini ditotok, lalu dalam waktu yang singkat juga dibarengi dengan menotok "Tay-yang-hiat, walaupun orang yang ditotok itu memiliki tenaga Iwekang yang sempurna sekali, totokan ini dapat memunahkan tenaga Iwekangnya.
Sehingga untuk selamanya orang itu akan menjadi cacat, seluruh tenaga Iwekangnya akan menjadi lenyap!"
Seterusnya Ciu Pek Thong juga memberikan petunjuk-petunjuk letak jalan darah lainnya dan Lauw Kuihui mendengarkan dengan penuh perhatian.
Semua keterangan Ciu Pek Thong diingatnya baik-baik.
96 Selama memberikan petunjuk dengan menggunakan tangannya dan telunjuk itu, dan terkadang karena gelap, Ciu Pek Thong harus meraba tubuh si adik Eng itu untuk mencari letak yang tepat dari jalan darah yang dimaksud.
Perasaan Pek Thong sering terguncang tidak karuan, perasaan aneh sering menyelusup kedalam hatinya, membuat otaknya menjadi semakin tumpul kalau saja memang Pek Thong tidak memiliki Iwekang yang telah sempurna, sehingga dia bisa mengandalikan perasaan dan hatinya dengan cepat, niscaya dia akan gagal dengan tugasnya memberikan pelajaran yang istimewa itu.
Untung saja dia telah dapat menekan perasaannya yang tak karuan itu setiap kali dengan memusatkan tenaga Iwekangnya, hawa murni dan pemusatan pikirannya.
Dengan demikian dia bisa mengatasi kesulitan-kesulitan yang mengganggunya itu.
Demikian juga halnya dengan Lauw kuihui.
Karena memang pada dasarnya dia telah menyukai Pek Thong, sekarang seluruh tubuhnya diraba dan disentuh-sentuh oleh ujung telunjuk Pek Thong.
Diapun dipengaruhi oleh perasaan aneh yang membuatnya jadi sering gelisah.
Perasaan seperti ini tidak pernah dialami selama dia mendampingi Toan Hongya, dan baru pertama kali dia merasakan betapa hatinya berdenyut-denyut aneh, pipinya juga dirasakan panas, dan tubuhnya sering mengigil.
Namun disebabkan tekadnya yang kuat untuk memiliki ilmu yang tinggi acap kali Lauw Kuihui berhasil menindih perasaan itu dengan memperhatikan lebih baik lagi penuh perhatian pada setiap keterangan yang diberikan oleh Ciu Pek Thong.
Pelajaran pertama yang meliputi delapan belas jalan darah, yang memiliki perpecahan tiga ratus duapuluh jalan darah 97 kecil, telah selesai begitu sinar matahari telah menerobos lewat kisi-kisi jendela.
Ciu Pek Thong segera melompat turun dari pembaringan, katanya.
"Petunjuk yang kuberikan kali ini, hanya sampai disini saja dulu, aku ingin kembali ketempatku."
Semula Ciu Pek Thong masih ingin menjelaskan sisa dua buah jalan darah besar lainnya, yaitu Im-tai-hiat dan Yang-tai-hiat yang masing-masing terletak di pinggang sebelah kiri dan kanan, terpisah tiga jari dari tepi pinggang.
Namun disebabkan karena sinar matahari yang mulai masuk menerobos ke dalam melalui celah-celah jendela, sehingga kamar itu samar-samar mulai terang Ciu Pek Thong kuatir jika dia nanti meneruskan petunjuknya itu, sinar matahari semakin kuat dan kamar semakin terang, dan dia bisa melihat semakin jelas.
Lauw Kuihui telah mengenakan pakaiannya, dia mengucapkan terima kasihnya.
"Dan malam nanti Ciu toako akan melanjutkan petunjuk-petunjuk-petunjukmu itu, bukan?"
Tanya Lauw Kuihui waktu Ciu Pek Thong mau meninggalkan kamarnya.
Pek Thong hanya mengangguk mengiyakan dan dia cepat-cepat kembali ke tempatnya.
Lauw Kuihui hanya mengawasi kepergian Ciu Pek Thong dengan senyuman lebar mekar menghiasi bibirnya.
Sedangkan waktu itu sinar matahari fajar semakin kuat memancarkan sinarnya yang hangat.
**** 98 MALAM kedua Ciu Pek Thong masih memberikan pelajaran ilmu tiam-hoat itu di bagian punggung.
Namun di malam ketiga ia memperoleh kesulitan karena malam inilah dia harus memberikan petunjuk letak jalan darah dibagian depan.
Waktu pertama kali di malam ketiga itu Pek Thong masih memberikan petunjuk beberapa jalan darah yang tersisia kemarin, namun begitu selesai, seketika itu juga dia harus menyambungnya dengan memberikan petunjuk mengenai letak jalan darah yang terdapat di bagian depan yaitu mulai dari leher, dada, perut terus sampai ke bagian kaki.
Inilah tugas yang membuat mata Ciu Pek Thong sering nanar berkunang-kunang, kepalanya sering berdenyutan, dadanya sering bergelombang, nafasnya sering sesak, dan jantungnya berdegupan tidak karuan.
Waktu selesai memberikan petunjuk bagian belakang tubuh Lauw Kuihui, Pek Thong waktu itu masih ragu-ragu untuk menyebutkan agar Lauw Kuihui memutar tubuhnya duduk menghadapinya, berhadapan dengannya.
Pek Thong hanya menggumam.
"Nah seluruh jalan darah di bagian belakang telah selesai kujelaskan semuanya!"
"Apakah sekarang kita akan melanjutkan dengan bagian depan?"
Tanya Lauw Kuihui.
Ciu Pek Thong sangsi namun akhirnya dia telah mengiyakan.
Lauw Kuihui memutar tubuhnya dan duduk berhadapan dengan Pek Thong.
Benar kamar itu gelap, namun jarak demikian dekat, juga karena kulit Lauw Kuihui demikian putih meletak bagaikan salju.
Ciu Pek Thong masih bisa melihat dengan jelas, dan apa 99 yang dilihatnya membuat jantungnya berdegup kencang tidak karuan.
Walaupun Pek Thong telah memusatkan Iwekangnya dan memusatkan perhatiannya untuk pelajaran thiam-hoat, toh dia gagal untuk mengendalikan jantungnya yang tengah berdegup kencang itu.
Lauw Kuihui mengetahui bahwa Pek Thong mengalami kesulitan dn tentu saja Lauw Kuihui tidak menginginkan jika sampai peetunjuk-petunjuk yang diberikan oleh Pek Thong hari ini jadi menurun sedikit disebabkan ketidak-tenangannya itu.
Dengan mempergunakan kedua tangannya yang bersedekap, dia melintangi didepan dadanya untuk menutup dadanya.
"Apakah Ciu toako dapat memulai?"
Tanya Lauw Kuihui waktu melihat Pek Thong masih duduk diam tidak segera memberikan petunjuk, hanya matanya yang terpejam rapat-rapat.
"Ya, ya.. aku akan segera mulai!"
Kata Pek Thong.
Tapi begitu dia membuka matanya, walaupun Lauw Kuihui telah mempergunakan kedua tangannya yang dilintangakan di depan dadanya, namun jantung Pek Thong masih juga berdegup kencang tiada hentinya.
Malah dengan sikap kedua tangan dilintangkan didepan dadanya, dalam keadaan duduk berhadapan, dan memancarnya harum semerbak yang menerjang hidung Pek Thong membuat dia semakin tidak tenteram saja, dia kewalahan untuk mengendalikan goncangan perasaan dan berdegupnya jantungnya itu.
"Celaka! Berabe! Berabe!"
Berseru Pek Thong berulang kali.
Malah ketika dia kembali gagal untuk mengendalikan goncangan hatinya itu, dia telah melompat turun dari 100 pembaringan dan berjingkrak beberapa kali sambil kedua tangannya telah menepuk-nepuk kepalanya.
Melihat itu, Lauw Kuihui tertegun sejenak, namun akhirnya tertawa.
"Kenapa kau, Ciu toako?"
Tanyanya.
"Berabe…! Celaka sekali! Aku tidak bisa mengendalikan jantungku! Aneh sekali, mengapa perasaanku jadi tergoncang demikian…? Celaka! Celaka! Aku tidak bisa memberikan petunjuk-petunjuk yang kau kehendaki!"
Lauw Kuihui tersenyum.
"Cio toako, jika memang dengan keadaan seperti ini tidak bisa memberikan petunjukmu, biarlah bagian-bagian yang belum perlu diberitahukan letak jalan darahnya, kututupi dulu dengan pakaianku, hanya dibuka bagian-bagian yang perlu diberitahukan kepadamu saja. kau tinggal menyebutkan, bagian disekitar anggota tubuh yang mana harus dibuka. Bukankah dengan cara seperti itu lebih baik?"
Pek Thong mengiyakan beberapa kali, dia masih memukuli kepalanya beberapa kali.
Sedangkan Lauw Kuihui tidak bersila lagi, melainkan rebah terlentang di pembaringan dan menutupi anggota tubuhnya itu dengan pakaiannya.
Dengan terlentang seperti itu, pakaiannya akan tetap pada letaknya, sebab jika duduk bersila, tentu tidak mudah untuk memeganngi pakaiannya tersebut.
"Ciu toako, aku sudh menutupi seluruh tubuhku, r#tentu engkau tidak memperoleh kesulitan lagi…!"
Kata Lauw Kuihui. Ciu Pek Thong berseru perlahan seperti gugup.
"Sebentar, aku belum dapat mengendalikan perasaanku ini! Oohh sungguh 101 celaka, mengapa jadi demikian perasaanku?"
Dan Pek Thong telah duduk bersila di lantai, dia memejamkan sepasang matanya dan mulai menyelurkan hawa murninya.
Setelah lewat sekian lama dia telah berhasil mengendalikan perasaannya.
Waktu Pek Thong bangkit dan menghampiri pembaringan, hari dan perasaannya tidak tergoncang seperti tadi karena seluruh tubuh Lauw Kuihui sudh tertutup oleh pakaiannya dalam keadaan rebah di pembaringannya.
Ciu Pek Thong duduk di tepi pembaringan dan mulai memberikan petunjuk tentang letak jalan daarah disekitar dagu, leher dan tulang piepe.
Semua itu dijelaskan dengan lancar, karena dia tidak terganggu lagi oleh pemandangan yang membuat matanya nanar tidak karuan.
Begitu selesai memberikan petunjuk-petunjuknya untuk letak jalan darah di bagian atas itu, segera Pek Thong mulai menghadapi kesulitan baru lagi.
Walaupun dia habis menjelaskan letak jalan darah yang terletak di pundak dekat tulang piepe dan terdapat disekitar bagian anggota tubuh disitu, Pek Thong berdiam diri saja.
"Bagian .. dada…!"
Menyahuti Pek Thong dengan suara yang tidak lampias.
Lauw Kuihui telah membuka tutup di bagian dadanya.
Kembali mata Pek Thong jadi nanar harinya bersebaran dan jantungnya berdegup kencang seperti mendengar musik merdu mengalun dari kerajaan langit.
Namun Pek Thong berusaha untuk meneruskan memberikan petunjuknya, tangannya gemetaran ketika dia mulai menunjuk bagian-bagian letak jalan darah disekitar dada.
102 Lauw Kuihui sendiripun sebenarnya waktu itu memiliki perasaan yang samadengan Pek Thong.
Bukan main gelisahnya Pek Thong sampai tubuhnya sering mengigil menahan perasaannya itu.
Dengan demikian kali ini dia agak lambat dalam memberikan petunjuknya itu.
Namun akhirnya toh selesai juga di bagian dada.
Lalu menurun ke bagian perut dimana dia memberikan petunjuk-petunjuk letak jalan darah yang terdapat disekitar tempat itu.
Kali ini lebih sering Pek Thong menggigil.
Begitu pula halnya dengan Lauw Kuihui.
Karena perlu diketahui bahwa bagian perut dari seorang wanita adalah perasaan yang paling sensitif.
Dengan demikian disentuh terus menerus oleh jari tangan Pek Thong, terkadang juga Pek Thong meraba untuk mencari tempat yang tepat dari letak jalan darah itu membuat Lauw Kuihui jadi menggigil juga.
Perasaan aneh bergolak hebat dalam hatinya.
Jantungnyapun berdegupdegup kencang.
Sama halnya dengan jantung Pek Thong yang tidak henti-hentinya berdegupan itu.
Lauw Khuihuipun gagal untuk memusatkan seluruh perhatiannya mendengarkan sebaik mungkin keterangan Pek Thong, karena pikirannya waktu itu seperti melayang-layang menerawang ketempat yang jauh.
Terlebih lagi waktu itu yang disentuh semua merupakan jalan darah yang berhubungan dengan jalan darah besar, yang akirnya membuat perasaan kewanitaan Lauw Kuihui semakin membumbung tinggi bagaikan dia terlontar ke tengah-tengah angkasa yang tidak bertepi, tidak berujung..
hanya nafasnya yang memburu.
Sedangkan semua keterangan Pek Thong, yang dijelaskan dengan suara agak gemetar itu, masuk telinga kanan keluar 103 telinga kiri.
Akhirnya dia tidak bisa mengendalikan perasaannya dan dia memeluk Pek Thong.
Ciu Pek Thong seperti dipagut ular berbisa, melompat dari pembaringan.
"Jangan… tidak boleh… mana boleh begitu!"
Berseru-seru Pek Thong gugup bukan main, nafasnyapun memburu.
Tapi lauw Kuihui seorang yang cerdas, sedangkan untuk memperoleh ilmu menotok saja dia bisa mempengruhi Pek Thong, terlebih sekarang jika maksud hati yang terkandung itu tidak tercapai, tentu dia bukan Lauw Kuihui namanya.
Pek Thong walaupun kepandaiannya tinggi dan Iwekangnya sempurna, toh tetap seorang manusia yang terdiri dari darah dan daging, sehingga akhirnya dia kalah juga oleh segala musik setan dan cengkraman setan)*, yang telah menyeretnya tanpa dia bisa melawan mempergunakan ilmu silatnya atau iwekangnya, karena semua itu memang tidak diperlukan pada waktu itu.
Gugurlah Pek Thong dalam rangkulan Lauw Kuihui.
Inilah pertama kali Pek Thong bernafas memburu keras, pertama kalinya juga dalam seumur hidupnya dia merasakan betapa harumnya rambut seorang wanita, rambui yang begitu halus dan menggetarkan hati Ciu Pek Thong, sedang gagahnya dan Lauw Kuihui sedang mudnya.
Tubuh mereka beradu tidak hentinya, hari ketemu hati tanpa merasa hati mereka telah terjalin, sehingga akhirnya mereka tersesat sampai tidak dapat diurusi lagi dengan keberandalan masing-masing.
)* Kebiasaan manusia berbudi rendah yang tidak mampu mengendalikan hawa nafsunya akan selalu mengkambing-hitamkan setan, padahal bertemu setanpun belum pernah.
**** PADA HARI HARI berikutnya, sudah tidak ada kesulitan buat Pek Thong memberikan petunjuk mengenai jalan darah 104 diseluruh tubuh Lauw Kuihui, malah tampaknya mereka begitu intim dan mesra.
Lauw Kuihui yang telah mengetahui tabiat Ciu Pek Thong ini, bisa melayaninya dengan sempurna sehingga Ciu Pek Thong lupa daratan, dimana kegemaran bermain kelereng dituruti, kegemaran main petak juga dituruti, kegemaran main lompat-lompatan juga dituruti, gemar akan main permainan baru yaitu permainan ayun-ayunan yang menerawangannya si bocah tua bangkotan yang berandalan inipun selalu dituruti oleh Lauw Kuihui dengan senang hati, bahkan Lauw Kuihui sangat mencintai Ciu Pek Thong ini, mencintai sepenuh hati.
Begitulah hubungan mereka berlangsung selama dua bulan, dimana Pek Thong telah memberikan segala penjelasan mengenai cara melatih ilmu menotok tersebut.
Bahkan Pek Thong juga telah menurunkan ilmu-ilmunya yang lain lagi, sehingga Lauw Kuihui dapat melatihnya dengan bersemangat sekali, melatih dengan cepat, karena dia memang berbakat dan cerdas, sehingga dia dapat dengan cepat menguasai seluruh ilmu yang diwariskan Pek Thong,sama cepatnya seperti dia menguasai diri Pek Thong.
Tapi urusan yang terjalin antara Pek Thong dengan salah seorang selirnya Toan Hongya ini akhirnya tidak bisa juga ditutupi untuk selamanya, bukankan asappun tidak bisa ditutupi, yang akhirnya tersiar juga?
Demikian pula dengan peristiwa jalinan asmara yang telah trjadi antara Lauw Kuihui dengan Loo Boan Tong.
Jika memang hanya diketahui oleh para dayang itu masih bagus dan tidak mungkin akan sampai ke teling Toan Hongya.
tapi justru dari dayang-dayang Lauw Kuihui itulah urusan telah tersiar ke telinganya para selir lain.
Memang selir-selir Toan Hongya yang lainnya menaruh perasaan iri danbenci pada Lauw Kuihui.
Walaupun itu tidak 105 berani diunjukkan dengan berterang.
Mereka melihat raja mereka terlalu memanjakan dan mencintai Lauw Kuihui yang memperoleh perlakuan lain dari mereka.
Tidak jarang Toan Hongya menjenguk Lauw Kuihui dua kali dalam satu bulannya, tidak demikian dengan mereka yang harus menanti-nanti kunjungan kaisar mereka dengan harapan kosong selama dua atau tiga bulan baru dapat giliran.
Sebab itu pula, perasaan itu lah yang menyebabkan selir-selir itu lalu berunding, lalu secara bersama-sama mereka telah menyampaikan peristiwa hebat itu pada Toan Hongya.
Memang berita itu merupakan berita hebat buat Toan Hongya, dimana perasaannya tergempur.
Terutama sekali waktu dia memerintahkan beberapa orang kepercayaannya untuk mengawasi gerak gerik Ciu Pek Thong dan Lauw Kuihui.
Toan Hongya memang tidak bisa menerima begitu saja laporan dari para selir itu, karena bisa saja mereka memberi laporan palsu berhunung dia iri pada Lau Kuihui, sehingga mereka bisa memfitnah.
Namun laporan yang diterima Toan Hongya dari beberapa orang kepercayaannya itu memang benar kalau Ciu Pek Thong memiliki hubungan gelap dengan Lauw kuihui.
Bukan main mendongkolnya Toan Hongya sehingga satu malamandia tidak bisa tidur.
Dan sesungguhnya malam itu juga dia ingin ketemu Pek Thong untuk menghukumnya dan Lauw Kuihui, walaupun dia sangat mencintai selir itu, tapi perbuatannya telah menyakiti hati dan melukai perasaan.
Namun semua niatnya itu dibatalkan sebab dia memandang Ong Tiong Yang, akhirnya Toan Hongya hanya pura-pura pilon tak mempedulikan urusan itu.
106 Cuma yang membuat Toan Hongya terluka, acapkali mengunjungi permaisurinya, maka permaisurinya membicarakan prihal Lauw Kuihui yang meninabobokkan Ciu Pek Thong, setiap kali mengunjungi selir-selirnya, Toan Hongya selalu harus mendengar perstiwa yang sangat memalukan didalam istananya tersebut.
Tapi disebabkan dia memang menghormati Ong Tiong Yang, dengan sendirinya membuat Toan Hongya hanya menahab dan tidak menegur Ciu Pek Thong, bahkan dia menganggap seperti tidak terjadi peristiwa itu didalam istananya.
Namun dari mulut ke mulut, akhirnya berita itu telah trdengar pula oleh Ong Tiong Yang dan diam-diam dia telah menyeksikan gerak-gerik Ciu Pek Thong.
Pada sore itu sengaja dia tidak menngunjugi Toan Hongya sebagaimana mestinya.
Jika sebelumnya dia selalu mengawasi Toan Hongya berlatih It Yang Cie dan ilmu-ilmu hebat yang lainnya yang diwariskan kepada raja tersebut, namun sekarang, sengaja Ong Tiong Yang memperhatikan gerk-gerik adik seperguruannya itu.
Memang begitu malam menjelang datang, Ciu Pek Thong telah meninggalkan kamarnya.
Diluar tahunya Ong Tiong Yang mengikuti secara diam-diam dan telah memperhatikan apa yang hendak dilakukannya.
Ciu Pek Thong telah menuju ketampatnya Laue Kuihui.
Diwaktu mereka tengah bercengkrama dan bermaksud ingin bermain kelereng, waktu itulah Ong Tiong Yang telah muncul menegur keras pad adik seperguruannya.
Melihat munculnya Ong Tiong Yang, Ciu Pek Thong bermaksud untuk melarikan diri, ia kaget dan ketakutan bukan main.
Namun Ong Tiong 107 Yang tidak mau melepaskan adik seperguruannya.
Dia membekuk Pek Thong dan diseret ke istananya Toan Jongya.
Ciu Pek Thong yang merasa dirinya memang bersalah, tidak memberikan perlawanan.
Waktu dia diringkus oleh Ong Tiong Yang, dia menerima saja diperlakukan seperti itu, dan ketika Ong Tong Yang menyeretnya ke tempat Toan Hongya, diapun telah ikut dengan tidak membantah sepatah katapun.
Cum saj mulutnya yang mengoceh terus menerus, menanyakan mengapa dirinya diperlakukan seperti itu oleh suhengnya.
Ong Tiong Yang yang tengah gusar tidak mau melayani adik seperguruannya itu.
Waktu tiba ditempat Toan Hongya, segera Ong Tiong Yang perintahkan Ciu Pek Thong untuk berlutut dihadapan raja itu.
Ciu Pek Thong tidak berani membantah, dimana dia telah berlutut dihadapan Kaisar tersebut, hanya hatinya tidak puas dengan perintah suhengnya itu.
"Toan Hongya, silakan Hongya menjatuhkan hukuman yang pantas pada suteku ini. dia telah melakukan perbuatan yang memalukan sekali, mendatangkan aib dan tidak kenal aturan! Sungguh tidak pernah kusangka bahwa akhirnya dia menimbulkan keonaran juga di istana Hongya!"
Kata Ong Tiong Yang dengan muka yang merah padam, sambil mengawasi Ciu Pek Thong dengan mata bersinar tajam sekali.
Toan Hongya menghela nafas dalam-dalam.
Dia jadi serba salah.
Sudah jelas memang Ciu Pek Thong bersalah, bahkan melakukan perbuatan yang melukai hati dan perasaan Toan Hongya, bahkanyang membekuknya itu adalah Ong Tiong Yang, suheng dari Pek Thong, tapi dengan memandang pada Ong Tiong Yang sangat dihormati itu, Toan Hongya jadi tidak tahu harus berbuat bagaimana.
108 Walaupun Toan Hogya seorang kaisar, namun dia gemar ilmu silat.
Bahkan orang yang paling dihormati seumur hidupnya adalah Ong Tiong Yang, seorang tokoh rimba persilatan.
Karena itu, Toan Hongya sangat menghargai kehormatan dan persahabatan lebih tinggi daripada urusan perempuan.
Setelah menghela nafs beberaa kali, Toan Hongya perintahkan beberapa pengawalnya untuk membebaskan Ciu Pek Thong.
Malah Toan Hongya segera perintahkan memanggil Lauw Kuihui.
Lauw Kuihui menghadap dengan cepat.
Mukanya memang agak pucat, namun agaknya dia tidak gentar, karena memang dia sudah siap untuk mempertanggung-jawabkan apa yang telah diperbuatnya bersama Ciu Pek Thong.
"Karena semuanya sudah terlanjur terjadi demikian,"
Kata Toan Hongya pad mereka.
"Maka alangkah baiknya jika kalian, Ciu Suheng dan kau Kuihui agar menikah supaya menjadi pasangan suami isteri. Aku melepaskan kedudukanmu sebagai selirku, dengan demikian engkau tidak terikat lagi, dan kau boleh ikut bersama Ciu suheng menjadi isterinya dan merawatnya dengan baik. semoga saja kalian dapat hidup rukun bahagia sampai hari tua. Tapi, Toan Hongya baru berkata sampai disitu, Ciu Pek Thong separti orang yang kebakaran jenggot, telah kelabakan dan berteriak-teriak.
"Itu mana bisa?"
Sia menampik usul dari Toan Hongya. 109
"Mengapa tidak bisa?"
Tanya Toan Hongya sambil mengawasi tajam Ciu Pek Thong.
"Aku tidak mengetahui bahwa itu perbuatan salah,"
Kata Pek Thong sambil menepuk-nepuk kepalanya berulang kali.
"Mana bisa aku menerimanya menjadi isteriku. Sedangkan dia si adik Eng adalah selir Hongya? jika memang aku tahu itu salah, merupakan suatu perbuatan tidak bagus, tidak terpuji, walapun harus dibunuh atau dihukum berat, tidak nantinya aku akan melakukannya….!"
Dan dia dengan keras telah menolak usul dari Toan Hongya, walaupun toan Hongya telah membujuknya beberapa kali agar Ciu Pek Thong menikah dengan Lauw Kuihui.
Melihat semua itu, wajah Oang Tiong Yang jadi guram, dia masgul dan bersuka sekali, sebab Ciu Pek Thong telah mendatangkan malu yang tidak kecil buatnya.
Memang sejak berangkat menuju Tayli, Ong Tiong Yang telah mengawasi ketat setiap gerak-gerik sutenya.
Namun siapa sangka justeru di istana Toan Hongya inilah sutenya telah menimbulkan peristiwa yang demikian hebat, menimbulkan keonaran yang mendatangkan malu nuat Ong Tiong Yang, maupun juga atas nama pintu perguruan Coan Cin Kauw.
"Hongya..!"
Kata Ong Tiong Yang sambil melangkah maju dan menjura memberi hormat pasa kaisar itu.
"Memang amat memalukan sekali telah terjadi urusan seperti ini. dan justru yang tersangkut dalam urusan ini adalah suteku. Jika memang aku tidak mengetahui bahwa dia seorang manusia tolol dan berandalan tidak kenal aturan tentu aku akan membunuh-nya…!"
Toan Hongya cepat-cepat membalas hormatnya Ong Tiong Yang, katanya.
"Janganlah Ong Cinjin berkata begitu. Semua 110 ini telah terjadi, nasi sudah menjadi bubur, apa hendak dibilang? Yang penting sekarang bagaimana caranya untuk menikahkan mereka agar mereka menjadi suami isteri. Bukankah dengan adanya hubungan yang telah terjadi pada mereka berdua, menunjukkan bahwa mereka saling mencintai? Maka kukira jalan yang paling baik dan bijaksana agar Ciu suheng mau menerima Lauw Kuihui sebagai isterinya! Tentu saja gelar keselirannya akan kucabut dan akupun melepaskannya, membebaskannya sebagai selirku! Bukankah dengan demikian, kelak mereka dapat hidup rukun dan bahagia?"
"Ong Tiong Yang mengangguk, memutar tubuhnya mengawasi Ciu Pek Thong dengan muka yang merah padam dan mata yang bersinar sangat tajam sekali.
"Ciu sute,"
Kata Ong Tiong Yang keras.
"Dengarlah! Aku adalah suhengmu, apakah selama ini kau memandangku atau tidak?"
Ciu Pek Thong jadi duduk menjublek, matanya mengawasi Ong Tiong Yang guram sekali tak bersinar dan mulutnya setengah terbuka, tampaknya dia berduka.
"Ong suheng,… aku…!"
Akhirnya dia berkata dengan tergagap.
"Kini semua persoalan telah menjadi jelas. Engkau telah melakukan suatu perbuatan yang rendah dan hina, dan Toan Hongya telah bersedia memberikan pengampunan buatmu, sehingga engkau tidak perlu dihukum walaupun telah melakukan dosa besar. Tapi rupanya kau memang seorang yang tidak mengenal budi dan terima kasih. Mengapa kau menolak usul yang diberikan Hongya?!" 111 Ciu Pek Thong sekian lama duduk menjublek, tampaknya sulit dia bicara. Beberapa kali dia telah melirik pada Lauw Kuihui yang waktu itu tengah menatapnya dengan sorot mata mencintai. Hati Ciu Pek Thong tergetar setiap kali matanya benterok dengan tatapan mata Lauw Kuihui, tapi dia selalu membuang pandangan ke arah lain. Jika memang dia harus menghadapi sebuah pertempuran untuk mengadu jiwa antara hidup dan mati, tentu dia tidak akan bingung seperti ini. namun sekarang menghadapi urusan seperti ini Ciu Pek Thong benar-benar otaknya menjadi tumpul. Biasanya dia berandalan dan selalu bisa ceplas-ceplos sekehendak hatinya tanpa mempeduli-kan apakah perkataannya itu dapat diterima oleh yang bersangkutan atau tidak. namun sekarang dia seperti berubah menjadi seorang yang gagu, yang tidak bisa bicara, diam mematung dan menjublek dalam kebingungan itu. ****
Jilid 4
"Ciu sute,"
Panggil Ong Tiong Yang lagi.
"Apakah kau tetap tidak mau menerima usul Toan Hongya, untuk menerima Lauw Kuihui menjadi isterimu?"
Ciu Pek Thong geleng-geleng kepalanya beberapa kali dengan bingung.
"Itu mana boleh terjadi!"
Katanya.
"Ong Suheng, kau ampunilah aku, jangan kau mendesak aku seperti itu. Tidak mungkin aku menikah dengan Lauw Kuihui!" 112 Penolakan Ciu Pek Thong membuat Toan Hongya mendongkol bukan main, dia telah berkata dengan tegas kepada Ciu Pek Thong.
"Ciu suheng, dengan ikhlas aku menyerahkan Kuihui padamu! Apakah kau menduka aku mempunyai maksud lain? Bukankah semenjak dulu terdapat perkataan bilang.
"Saudara adalah tangan dan kaki, sedangkan isteri itu pakaian? Apakah artinya seorang perempuan?"
Mendengar perkataan Toan Hongya, muka Ciu Pek Thong jadi merah karena jengah, dia bingung dan malu.
Berulang kali dia menggelengkan kepalanya, tetap menampik perkataan Toan Hongya agar dia mengambil Kuihui sebagai isterinya.
Penampikan yang berulang kali seperti itu, walaupun Toan Hongya telah mendesaknya dengan bujukan, Toan Hongya menjadi gusar bukan main.
Dengan mendongkol dia berkata.
"Jika kau mencintai dia, mengapa sekarang kau menampik? Kalau memang kau tidak mencintainya mengapa kau lakukan perbuatanmu itu? Negeriku memang merupakan negeri yang kecil. Tapi tidak nanti aku mengijinkan kau menghina kami!"
Jelas Toan Hongya gusar sekali, mukanya sampai merah padam dan tubuhnya gemetaran, dia hanya masih memandang muka Ong Tiong Yang, Kauwcu dari Coan Cin Kauw yang menjadi suheng dari Ciu Pek Thong, si tua bangkotan yang nakal ini.
Mendengar perkataan Toan Hongya, Loo Boan Tong menjadi menjublek beberapa saat lamanya, mukanya sebentar pucat sebentar merah.
Nampaknya si bocah tua bangkotan ini memang tengah kebingungan.
Suhenghyapun berdiri dipihak Toan Hongya, yaitu mendesak agar dia bertanggung jawab terhadap perbuatan yang 113 telah dilakukannya bersama Lauw Kuihui.
Ciu Pek Thong benar-benar bingung.
Ciu Pek Thong tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
Sehingga untuk sejenak lamanya otaknya seperti menjadi membeku, tidak dapat berpilir, sedangkan dihadapannya Toan Hongya dan Ong Tiong Yang tengah menatapnya dengan sorotan mata yang sangat tajam, dimana mereka telah memandang dia dengan sikap yang tidak senang.
Akhirnya setelah menjublek beberapa waktu lamanya, Pek Thong telah menghampiri Toan Hongya, lalu dia berlutut didepan kaisar itu.
Mengangguk-anggukkan kepalanya beberapa kali, sehingga membuat Toan Hongya cepat-cepat menghindar.
"Jangan Ciu suheng banyak peradatan!"
Kata Toan Hongya dengan suara yang besar.
"Apakah Ciu suheng sudah berpikir untuk menerima usulku, untuk menikahi Lauw Kuihui dan mengambilnya menjadi isterimu?!"
"Bukan!"
Menyahut Pek Thong sambil menggelengkan kepalanya. Diapun masih berada dalam keadaan berlutut. Lalu melanjutkan perkataannya.
"Aku memang bersalah Toan Hongya! Aku pergi sekarang!"
Toan Hongya tidak menyangka akan keputusan Ciu Pek Thong seperti itu, dia mengawasi tertegun saja, karena tidak tahu dengan cara apa harus menghadapi Ciu Pek Thong ini.
jika ia menahan Pek Thong, sehingga harus menggunakan kekerasan, jelas hal ini membuat Toan Hongya tidak enak hati terhadap Coan Cin Kauwcu Ong Cinjin, suheng dari Ciu Pek Thong.
Tapi jika ia membiarkan Ciu Pek Thong pergi, bukankah dirinya terhina sekali, berarti da terinjak habis-habisan?
Bukan seorang Kaisar dari sebuah negeri, ia terhina 114 sekali oleh perbuatan Ciu Pek Thong, yang selalu menggauli Lauw Kuihui, selirnya yang paling disayanginya itu, lalu menolak anjurannya agar Ciu Pek Thong mengambil Lauw Kuihui sebagai isterinya, malah hendak begitu saja?
bukankah itu merupakan penghinaan?
Bukankah Ciu Pek Thong seperti tidak memandang sebelah mata padanya?
Dan juga Ciu Pek Thong seperti tidak menganggap Lau Kuihui sebagai seorang yang patut dihormati, malah sikapnya itu seperti juga Loo Boan Tong meremehkan Lauw Kuihui yang seperti barang rongsokan.
Waktu itu Ciu Pek Thong sudah berdiri sambil merogoh sakunya.
Ia mengeluarkan sehelai saputangan sutera.
Dia mengangsurkan itu kepada Lauw Kuihui, katanya.
"Ini kukembalikan kepadamu!"
Lauw Kuihui tidak menyambuti, saputangan itu dibiarkan saja menggeletak di lantai didekat kaki Toan Hongya.
bibir Lauw Kuihui waktu itu seperti menangis tapi bukan menangis, seperti tertawa tapi bukan tertawa.
Disamping itu muka Kuihui tersebut kuning pucat kehijau-hijauan bagai tidak dialiri darah.
Matanya menatap kosong dan hampa pada Ciu Pek Thong, yang pada waktu itu tanpa mengatakan suatu apaun meninggalkan ruangan itu untuk berlalu.
Semua orang yang berada dalam ruangan itu jadi berdiam diri saja, Toan Hongya melihat Lauw Kuihui menjublek saja seperti juga telah ditinggalkan arwhnya, sehingga membuat kaisar itu menjadi mendongkol disamping mendelu dan jemu sekali.
Kemudian Toan hongya mengambil saputangan sutera itu, seger dilihatnya disitu tampak sulaman sepasang burung Wanyoh yang tengah bermain di air.
Tidak salah lagi saputangan itu milik Lauw Kuihui untuk kekasihnya.
115 Toan Hongya tambah mendelu, sampai ia tertawa dingin.
Ia membalikkan saputangan tersebut.
Ternyata disitu terdapat sebaris syair, yang bunyinya sebagai berikut.
"Empat buah perkakas tenun, Maka tenunan burung Wanyoh Akan terbang berpasangan Sayang belum lagi tua, Tetapi kepala sudah putih, Gelombang musim semi, Rumput hijau, Di musim dingin Dalam tempat-tempat tersembunyi, Saling berhadapan baju merah…."
Muka Toan Hongya menjadi merah padam, dia tambah mendelu dan gusar sekali.
Kuihui telah menyeleweng, bahkan sekarang terlihat bahwa Kuihui memang sangat mencintai Pek Thong.
Setelah dikecewkan seperti itu, sekarang Kuihui masih mengawasi kepergian Pek Thong dengan mata yang hampa, dengan muka yang pucat pias, serta sikap yang seperti yaang ditinggal arwahnya, sikapnya itu memperlihatkan betapa besarnya cinta Lauw Kuihui pada Ciu Pek Thong.
Coan Cin Kauwcu Ong Tiong Yang merasa sangat gusar dan kecewa dengan kejadian sepertiini.
Segera ia maju merangkapkan kedua tangannya memberi hormat pada Toan Hongya.
iapun pamitan pad Toan Hongya untuk menyusul adik seperguruannya guna memberi hukuman.
116 Toan Hongya yang tengah berduka dan penasaran, tidak banyak mengeluarkan kata-kata lagi.
Ong Cinjin mengetahui hal ini.
Kaisar tayli ini tidak menahan keinginan Ong Tiong Yang untuk pamitan, dimana kaisar ini telah berkata dengan basa-basi saja sekedarnya.
Setelah Ong Tiong Yang berlalu, Toan Hongya melemparkan saputangan itu kepada Lauw Kuihui dimana hatinya bukan main berdukanya.
Sesungguhnya walaupun Lau Kuihui hanya memiliki kedudukan senagai selir, namun Toan Hongya sangat mencintai selirnya yang seorang ini, yang sangat cerdas dan juga memiliki bakat yang baik sekali untuk mempelajari ilmu silat.
Tadi karena memang Toan Hongya memandang pada persahabantan, dan memandang pada persahabatan, dan juga memandang muka terang Ong Tiong Yang, ia bersedia untuk menyerahkan Lauw Kuihui kepada Ciu Pek Thong.
Namun sesungguhnya, dengan adanya peristiwa ini, telah menggoncangkan perasaan dan jiwa Toan Hongya, sehingga kaisar ini sangat berduka bukan main, dimana pada hari-hari selanjutnya ia sudah tidak pedulikan lagi urusan negara, dia juga menungkuli diri dengan setiap hari berlatih silat saja.
dengan demikian Toan Hongya memperoleh kemajuan yang pesat sekali untuk ilmu silatnya.
Dia sudah tidak mau dipusingkan oleh segala urusan negerinya, walaupun permaisuri telah berulang kali menghibur dan membujuknya.
Demikian juga dengan para menteri dan panglima Tayli, semua ikut bersedih dengan adanya peristiwa itu, dimana raja mereka lebih banyak menungkuli diri dengan mengurung dirinya didalam kamar pribadinya dan berlatih ilmu silatnya 117 belaka, tanpa mengacuhkan lagi segala urusan yang berhubungan dengan negara.
Begitulah lebih dari setengah tahun Toan Hongya tidak pernah mengunjungi Lauw Kuihui, juga tidak pernah kaisar ini memanggil selirnya yang seorang itu.
Namun dasarnya memang Toan Hongya sangat mencintai selirnya yang seorang ini, seringkali dalam tidurnya dia memimpikan selirnya itu, malah tak jarang kaisr ini lagi bercumbu mimpi dengan selirnya itu.
Biarpun begitu, Toan Hongya tetap tidak pernah ingin menemui Lauw Kuihui dan memanggil selir tersebut.
Sampai akhirnya pada suatu malam, setelah terbangun dari tidurnya, karena bermimpi bertemu dengan Lauw Kuihui, Toan Hongya tidak bisa menahan keinginan hatinya untuk bertemu dengan Lauw Kuihui, sehingga Toan Hongya tidak bisa melawannya lagi.
Akhirnya kaisar ini telah mengambil keputusan untuk melihat selirnya yang seorang itu.
Namun Toan Hongya tidak memberitahukan niatnya pada Thaykam maupun dayang.
Ia pergi sendiri dengan diam-diam.
Hal itu disebabkan Toan Hongya ingin menyaksikan apa yang sedng dikerjakan oleh Kuihui.
Dengan mempergunakan kepandaian yang memang sudah sempurna, Toan Hongya sengaja mengambil jalan diatas genting.
Ia tiba diatas wuwungan kamar selir itu.
Segera ia mendengar suara anak kecil menangis dan suara tangisan itu berasal dari kamar selir itu.
Hal ini tentu saja membuat Toan Hongya heran bukan main, hatinya juga berdebaran.
Sebagai seorang yang sangat cerdas, segera dia bisa menduga apa yang telah terjadi.
118 Malam itu sesungguhnya salju telah turun dengan derasnya dan udarapun sangat dingin menusuk tulang, tapi diatas genting itu Toan Hongya berdiri terpaku lama sekali.
Ia berdiri bagaikan patung hidup, jika memang dia bernafas, jelas menyerupai patung saja yang tidak dapat bergerak, walaupun salju telah memenuhi tubuhnya.
Rupanya lauw Kuihui telah melahirkan anak.
Dan Toan Hongya mengetahui bahwa anak itu adalah hasil perbuatan hubungan gelap Lauw Kuihui dengan Ciu Pek Thong, karena sudah hampir satu tahun ini Toan Hongya tidak pernah menggauli selirnya yang seorang itu.
Kenyataan pahit seperti ini sangat melukai hati Toan Hongya, sehingga benar-benar Toan Hongya kali ini seperti ditinggal pergi oleh arwahnya berdiri diam.
Sepanjang malam itu hanya mendengarkan suara tangis dari bayu didalam kamar selirnya itu.
Suara tangisan yang bening dan masih suci itu, namun seperti pisau yang mennyayat hati Toan Hongya, sehingga kaisar ini terus juga berdiri mematung dengan sikap yang lesu tanpa mengetahui apa yang harus dilakukannya.
Salju turun dengan derasnya tanpa pernah mereda, dan waktu itu angin berhembus dengan kencang dan dingin sekali terasa menusuk tulang sumsum.
Namun Toan Hongya tidak pernah mempedulikan semua itu, pikirannya tengah melayang-layang kosong, dan mukanya pucat pias seperti mayat.
Jika memang Toan Hongya tidak mencintai Lauw Kuihui, tentu perasaannya tidak terluka seperti sekarang.
Namun kenyataannya Kaisar ini sangat sayang dan mencintai selirnya yang seorang ini.
dengan sendirinya, apa yang terjadi sekarang didepan matanya telah menambah luka dihatinya.
119 Itulah suatu keadaan yang hebat sekali, seorang Kaisar yang agung dan mulia, telah menuiksa diri berdiam sepanjang malam di udara terbuka, berdiri si atas genting, disiram terus menerus oleh salju den hembusan angin yang menerpa ke wajah kaisar yang dingin sekali.
Lauw Kuihui sendiri tidak mengetahui bahwa Toan Hongya ternyata telah mengawasinya sepanjang malam itu karena Kuihui tengah sibuk dengan bayinya.
Satu malam penuh Toan Hongya berdiri di atas genting menerima curahan salju yang deras sekali, hampir menimbun sepasang kakinya dan menerima tamparan angin di musim dingin yang mengigilkan tubuh.
begitu fajar menyingsing, barulah kaisar ini turun dari atas genting dan kembali ke kamarnya.
Walau bagaimanapun tangguhnya Toan Hongya, bagaimana sehat dan kuatnya tubuh kaisar itu, namun karena disebabkan ia tergempur oleh perasaan hatinya terluka, dan ia sangat berduka sekali, lalu berdiri sepanjang malam dibawah curahan hujan salju yang seras sekali serta terpaan angin dingin yang menusuk tulang sumsum, raja ini akhirnya jatuh sakit.
Dan sakit yang dideritanya itu bukan sakit yang biasa saja, melainkan sakit yang berat sekali.
Selema setengah tahun lebih Toan Hongya rebah dipembaringan karena sakitnya itu, sehingga tubuhnya menyusut banyak memang pertama-tama Toan Hongya berduka sekali, hatinya berat dan gundah jika memikirkan peristiwa yang telah terjadi pada selirnya.
Namun setelah sembuh dari sakitnya, ia tidak mau memikirkan urusan itu, terutama urusan Lauw Kuihui.
120 Hari demi hari seperti saling kejar tidak bisa ditahan, dan waktu berjalan terus, sampai akhirnya telah dua tahun sejak kesembuhan Toan Hongya dari sakitnya.
Pada malam itu, Toan Hongya tengan bersemedhi didalam kamarnya, mendadak sekali Lauw Kuihui menyingkap tirainya dan menerobos masuk ke dalam kamar Toan Hongya.
Thaykam dan dua orang siewie yang menjaga diluar pintu berusaha mencegahnya, namun mereka telah kena dihajar oleh Kuihui, sehingga mereka tidak berdaya untuk merintangi Kuihui yang telah berhasil menerobos masuk.
Waktu Toan Hongya menoleh, dilihatnya Kuihui berdiri dengan menggendong anaknya.
Toan Hongya juga melihat muka Lauw Kuihui sangat pucat, bahkan selir ini telah menekuk kedua lututnya, berlutut dihadapan Toan Hongya sambil menangis mengerung-gerung sedih sekali.
Kepalanya juga mengangguk-angguk tidak henti-hentinya waktu ia berkata.
"Aku Mohon belas kasihan Hongya agar anak ini deiberikan pengampunan, aku mohon Hongya, taruhlah belas kasihan pada anak ini dan berikanlah pengampunan untuk anak ini, aku mohon Hongya!"
Toan Hongya jadi heran bercamputr bingung, ia bangkit untuk melihat anak itu.
Ternyata muka anak tersebut merah padam, keungu-unguan, nafasnya memburu.
Toan Hongya mengulurkan kedua tangannya dan dia menggendong anak tersebut, mengawasinya dengan teliti untuk memeriksa keadaanya, segera juga Toan Hongya memperoleh kenyataan bahwa anak itu menderita patah tulang iganya sebanyak lima buah.
Waktu itu Kuihui mengawasi Toan Hongya memeriksa anaknya sambil menangis keras sekali, bahka selir itu telah berkata.
"Hongya, aku yang bersalah, aku memang harus mati, tapi aku mohon anak ini diberi ampun!" 121 Toan Hongya benar-benar heran dan bingung melihat semua itu, yang tidak pernah diduganya. Yang membuatnya lebih heran, selir ini selalu memohon padanya agar mau mengampuni anak tersebut, anak selir ini. maka akhirnya dengan suara yang sabar, Toan Hongya telah bertanya.
"Sesungguhnya apa yang telah terjadi pada diri anak ini?"
Akan tetapi Lauw Kuihui tidak menyahut, ia hanya berlutut terus dihadapan Toan Hongya sambil menangis sesenggukan, Toan Hongya mengulangi pertanyaannya beberapa kali, namun Lauw Kuihui tetap dengan sikapnya itu, berlutut sambil mengangguk-anggukkan kepalanya tidak henti-hentinya menangis sambil memohon agar Toan Hongya mengampuni anak tersebut.
"Mohon Hongya mengampuni dia,"
Katanya pada waktu Toan Hongya menanyakan pula apa yang sebenarnya telah terjadi pada diri anak ini.
"Jika memang Hongya menghendaki kematianku, aku tidk akan penasaran, hanya saja anak ini!"
Dan Lauw Kuihui menangis sedih lagi sambil terus berlutut dan mengangguk-anggukkan kepalanya. Toan Hongya tambah heran, karena diapun tidak mengerti sesungguhnya apa yang telah terjadi.
"Siapa yang menghadiahkan kematian padamu?"
Tanya Toan hongya akhirnya tidak sabar.
"Sebenarnya, kenapa anak ini terluka?"
Kuihui seperti tersentak angkat kepalanya mengawasi Toan Hongya. air matanya tampak berlinang mengalir deras sekali dari sepasang matanya.
"Apakah bukan Hongya yang perintahkan siewie untuk perintahkan untuk menghajar mati anak ini?"
Tanya Kuihui 122 kemudian, dengan seasang mata terpentang lebar-lebar degenangi air mata. Toan Hongya jadi tambah heran. Pasti ada apa-apa pada kejadian ini.
"Jasi anak itu dilukai oleh siewie?!"
Tanya Toan Hongya.
"Budak mana yang begitu bernyali besar?"
Mendengar perkataan Toan Hongya, Lauw Kuihui jadi terkejut.
"Oh, jadi bukan Hongya yang perintahkan? Jika begitu anak ini akan tertolong…!"
Setelah berkata begitu, dengan muka dipengaruhi oleh berbagai perasaan, perasaan kaget, girang, bingung, kuatir yang menjadi satu, akhirnya Kuihui pingsan tidak sadarkan diri.
Toan Hongya bukan main herannya menyaksikan semua ini, menyaksikan keadaan Lauw Kuihui seperti itu, iapun merasa kasihan.
Segera Toan Hongya mengangkat selir itu direbahkan dipembaringan.
Setelah sadar, Lauw Kuihui segera juga ia menangis, sambil menangis, ia menceritakan duduk peristiwa yang dialaminya sehingga anaknya itu patah tulang iganya lima buah.
Malam itu Lauw Kuihui tengah menepuk-nepuk anaknya agar sang anak tidur, mendadak dari luar jendela masuk melompat seseorang yang berpakaian sebagai seorang siewie dengan muka mengenakan topeng.
Anaknya lantas diangkat dan dihajar punggungnya.
Lauw Kuihui kaget bukan main, dia menjerit sekuat tenaga dan berusaha mencegah.
Siewie itu menolak Kuihui, sekali lagi dia menghajar anak tersebut, kemudian tertawa keras, barulah meninggalkan kamar dengan melompat gesit sekali.
123 Lauw Kuihui tidak mengejar, pertama karena siewie itu gagah sekali dan tampaknya memiliki kepandaian yang sngat tinggi.
Kesua dia menduga siewie itu diperintahkan oleh Toan Hongya untuk membunuh anak Lauw Kuihui.
Itulah sebabnya mengapa Lauw Kuihui segera membawa anaknya itu menghadap Toan Hongya, untuk memohonkan pengampunan buat anaknya.
Mendengar cerita Lauw Kuihui, Toan Hongya jadi semakin heran.
Dia memeriksa lebih teliti keadaan anak itu.
Segera juga bertambah rasa bingung dan herannya, karena walaupun telah memeriksa luka anak tersebut semakin lama toh Toan Hongya tetap tidak mengetahui sesungguhnya anak itu terluka oleh pukulan ilmu silat siapa.
Selama memeriksa keadaan anak itu, Toan Hongya memperoleh kenyataan ada otot-otot anak tersebut yang putus.
Segera juga Toan Hongya pergi kekamar Lauw kuihui untuk melakukan pemeriksaan, karena Toan Hongya yakin bahwa penjahat yang telah memukul terluka anak ini bukan penjahat sembarangan.
Di atas genting Toan Hongya memeriksa tapak kaki, segera Toan Hongya berkata pada Lauw Kuihui.
"Pnjahat itu lihay sekali, terutama ilmu meringankan tubuhnya. Di dalam negeri Tayli ini, kecuali aku tidak ada orang lain yang selihay dia!"
Luw Kuihui jadi kaget bukan main, ia bertanya dengan suara gemetar.
"Mustahilkah "dia‟? Perlu apa dia membinasakan anaknya sendiri?"
Berkata sampai disitu, mukanya pucat pias seperti muka mayat, dan tubuhnya menggigil keras sekali.
124 Dengan berkata begitu, yang dimaksudkan dengan perkataan "dia‟ itu , Lauw Kuihui ingin maksudkan Loo Boan Tong.
Demikian juga halnya dengan Toan Hongya, yang telah menduga bahwa perbuatan ini tentunya dilakukan oleh Ciu Pek Thong.
Alasan Toan Hongya menduga seperti itu, karena kecuali Ciu Pek Thong , tidak ada orang segagah dan selihay itu, terutama sekali ginkangnya.
Alasan lainnya Toan Hongya menduga seperti itu, karena menduga Ciu Pek Thong memang tidak sudi mempunyai anak itu, yang hanya akan mendatangkan malu buatnya.
Waktu Lauw Kuihui mendengar dugaan Toan Hongya, mukanya menjadi pucat dan merah bergantian, tampaknya dia malu dan cemas sekali, iapaun kaget bukan main.
Mendadak saja dia berteriak.
"Tidak!.. Tidak! pasti bukan dia! Suara tertawanya orang itu bukan suara tertawa dia..!"
Toan Hongya menghela nafas dan berkata.
"Kau sedang kaget dan ketakutan, mungkin kau kurang jelas mendengar suara tertawanya."
Tapi Lauw Kuihui tetap bersikeras, ia bilang.
"Suara tertawa orang itu akan kuingat selama-lamanya, walaupun aku menjadi setan, tidak nanti aku lupa! Bukan, bukah dia! Aku yakin bukan dia, aku mengenali berbedaan suara dia dengan penjahat itu!"
Mendengar perkataan Kuihui seperti itu, dimana tampaknya memang Kuihui yakin dengan pendengarannya terhadap suara tertawa penjahat itu, Toan Hongya jadi mempercayainya.
Hanya saja Toan Hongya tidak bisa menduga, siapa adanya penjahat itu.
Dia begitu gagah dan lihai, mengapa dia hendak membinasakan anak kecil?
Toan 125 Hongya sampai ingin menduga bahwa pembunuh itu terdiri dari salah seorang murid Ong Cinjin, Ong Tiong Yang, umpamanya saja Ma Giok, Khu Cie kie dan lain-lainnya.
Mungkin mereka hendak melindungi nama baik Partai mereka maka mereka melakukan pembunuhan itu.
Toan Hongya memang pernah bertemu dengan salah seorang murid Coan Cin Kauwcu Ong Tiong Yang bernam Ong Cie It.
Dialah seorang laki-laki tulen yang lurus, gagah dan jujur, yang tidak mungkin melakukan perbuatan yang rendah dan hina.
Lagipila jika memang perbuatan itu, yaitu melukai anaknya Lauw Kuihui adalah seorang dari murid Ong Tiong Yang, sesungguhnya bisa saja mereka sekali hajarmembinasakan anak itu, lalu mengapa harus menghajar dampai setengah mati, hanya melukai saja tanpa mengambil jiwa anak itu!.
Toan Hongya jadi tambah heran dan bigung.
Kaisar ini menduga pada Auwyang Hong, malah dugaannya itu dikemukakan pada Lauw Kuihui.
Namun dugaan itu ternyata terbentur jalan buntu.
Pertama, Auwyang Hong berada jauh di wilayah Barat, mustahil dia melakukan perjalanan hanya untuk menghajar setengah mati anaknya Lauw Kuihui yang tidak ada hubungan apa-apa dengannya, juga menurut Lauw Kuihui orang jahat itu bertubuh pendek dan kecil dari kebanyakan orang pada umumnya.
Dengan demikian dugaan Toan Hongya meleset lagi, sebab Auwyang Hong memiliki potongan tubuh yang tinggi besar.
Disamping bingung memikirkan siapa adanya orang jahat yang telah menurunkan tangan kejam pada anaknya Lauw Kuihui, Toan Hongya juga tengah sangsi memikirkan anak itu, puteranya Lauw Kuihui.
Anak itu terluka tidak lebih hebat dari 126 luka umumnya, namun dia masih berusia kecil sekali, tubuhnya sangat lemah, maka untuk mengobati anak itu, Toan Hongya harus mengorbankan tenaga dalamnya.
Yang membuat Toan Hongya jadi bimbang dan bersangsi, sebab Toan Hongya mengetahui didalam rapat kedua di Gunung Hoasan nanti, pasti dia tidak bisa mengambil bagian, kalau saja sekarang dia menggunakan Iwekangnya untuk menyembuhkan luka anaknya Lauw Kuihui.
Sesungguhnya Toan Hongya beberapa kali hendak menolak untuk mengobati anak itu dari lukanya, namun selalu saja Toan Hongya gagal, ia tidak dapat membuka mulut menyatakan penolakannya itu.
Pertama-tama Toan Hongya kasihan melihat Kuihui yang menangis terus menerus.
Lauw Kuihui melihat Toan Hongya berdiam diri saja, telah berlutut menangis terus menerus sambil memohon agar Toan Hongya mau menolong anaknya, menyelamatkan selembar jiwa anaknya, menyembuhkan dari lukanya.
Setelah berpikir lama seperti itu, Toan Hongya merasa betapa dirinya merupakan seorang hina dina mirip dengan binatang.
Waktu itu Toan Hongya merasakan jika toh dia bersedia menolong jiwanya putera Lauw Kuihui, itu karena dia sangat terpaksa sekali, tidak bisa menolak permohonan Lauw Kuihui.
Akhirnya Toan Hongya mengambilkeputusan untuk menolong puteranya Lauw Kuihui.
Namun setelah mengambil keputusan untuk menolong, ia masih tidak bertindak dan beranjak dari tempatnya untuk mulai mengobati anak itu karena hatinya masih juga digeluti oleh pemikiran mengenai pertemuan di Hoa San mendatang yang merupakan pertemuan yang kedua kali diantara kelima jago luar biasa, juga prihal kitab Ciu Im Cin Keng, yang akan diperebutkan oleh mereka 127 berlima, yang kelak akan ditentukan siapa yang berhak untuk memilikinya.
"Baiklah!"
Kata Toan Hongya kemudian setelah berdiam diri beberapa saat lamanya.
"Aku akan menolong jiwa anakmu itu!"
Mendengar perkataan Toan Hongya, Kuihui jadi girang, sampai dia pingsan tidak sadarkan diri.
Pertama-tama Toan Hongya menolong Lauw Kuihui, yang diurut agar siuman dari pingsannya.
Barulah kemudian Toan Hongya menolong anaknya, dimana kaisar ini menguruti sekujur tubuh anak tersebut dengan mempergunakan ilmu Sian Thian Kangnya.
Waktu Toan Hongya membuka oto anak tersebut, kaisar ini jadi trkejut, mukanya juga berobah merah.
Tampak sikap tidak senangnya atau jemu pada anak tersebut.
Pada oto itu memakai sulaman sepasang burung Wanyoh serta syair yang brbunyi.
"Empat buah perkakas tenun Maka tenunan burung Wanyoh akan berpasangan, Sayang belum lagi tua, tetapi kepala sudah putih, Gelombang musim semi, Rumput hijau dimusim dingin Didalam tempat tersembunyi Saling berhadapan baju mrerah…."
Ternyata oto tersebut terbuat dari saputangan yang Ciu Pek Thong lemparkannya pada Lauw Kuihui waktu ingin meninggalkan istana Toan Hongya.
128 Toan Hongya jadi duduk menjublek mengawasi oto tersebut, dan dikala raja ini tengah duduk bengong seperti itu, Lauw Kuihui rupanya telah melihat sikap rajanya, maka ia telah menggertakkan giginya.
Dia mengeluarkan sebilah pisau belati, yang ujung pisau tersebut diarahkan pada dadanya, sambil berkata.
"Hongya, aku tidak ingin hidup lebih lama lagi di dunia ini, maka itu aku mohon belas kasihanmu, kau tolonglah anak ini. aku menukar dia dengan jiwaku, nanti dilain penitisan, aku akan menjadi anjing atau kuda guna membalas budimu ini!"
Segera juga Lauw Kuihui menikam dadanya.
Pisau itu meluncur dengan cepat sekali, akan amblas didada selir yang tengah berputus asa ini.
Bukan main kagetnya Toan Hongya, segera dia bergerak gesit sekali, mencegah perbuatan nekat Kuihui dengan merampas pisau belati itu.
Toan Hongya berlaku cepat, tetapi toh tidak urung dada Lauw Kuihui tergores juga sedikit sehingga didadanya itu terluka dan mengeluarkan darah.
Karena kuatir Lauw Kuihui mencoba bunuh diri lagi, toan Hongya Telah menotok jalan darah di tangan dan kaki Kuihui sehingga selir itu tidak dapat menggerakkan tangan dan kakinya.
Dia hanya menangis terus menerus dengan rasa putus asa dan berduka sekali.
Setelah membalut lukanya, segera Toan Hongya mendudukkan selirnya itu untuk beristirahat.
Waktu itu keduanya berdiam diri, tidak ada yang berkata-kata.
Lauw Kuihui hanya mengawasi rajanya dengan sinar mata yang mengandung kedukaan yang sangat dalam.
Dengan berdiamnya mereka berdua tanpa bersuara, maka disitu hanya terdengar nafasnya si anak kecil, nafas yang mendesah dari putranya Lauw kuihui.
129 Mendengar nafas anak itu Toan Hongya jadi teringat kejadian yang telah lewat.
Toan Hongya juga ingat bagaimana pertama kalinya Lauw Kuihui diboyong kedalam istananya, bagaimana dia mengajari selirnya yang seorang ini berbagai ilmu silat.
Dan dia sangat menyayanginya, juga selir ini selalu bersikap hormat sekali, menghormati rajanya, bahkan tampak selir itu selalu memperlihatkan sikap agak jeri.
Dengan teliti sekali selalu Lauw Kuihui merawat kaisarnya ini, kalau sang raja menjenguknya.
Cuma saja yang tidak diketahui sang raja, justru selirnya ini sama sekali tidak mencintai dirinya.
Hal itu baru diketahui Toan Hongya setelah trjadinya peristiwa yang memalukan itu, dimana selirnya itu telah jatuh hati kepada Ciu Pek Thong.
Dan waktu itu baru terbuka mata dan hati Toan Hongya, Raja ini baru mengetahui bahwa demikian sifat seorang wanita jika mencintai seorang pria.
Dia bengong mengawasi saputangan itu, dia bengong mengawasi Ciu Pek Thong berlalu untuk selamanya, dia bengong mengawasi segalanya tanpa memiliki sinar pada matanya, hampa bagaikan arwah meninggalkan raganya, bagaikan ikut bersama kekasihnya itu.
Sinar mata Lauw Kuihui membuat Toan Hongya tidak tenteram tidur dan tidak nafsu makan.
Sejak peristiwa itu, dimana Pek Thong berlalu dari istananya dan melihat sinar mata Lauw Kuihui seperti itu, selalu pula Toan Hongya tidak bisa membuang ingatannya itu.
Dan sekarang kembali Toan Hongya harus melihat pula sinar mata seperti itu, disaat hati Lauw Kuihui tengah hancur luluh karena puteranya terancam kematian.
Hanya sekarang ini memang berbeda, jika dulu untuk kekasih yang dicintainya, namun sekarang untuk anak tersayang.
130 Toan Hongya jadi menjublek diam sejenak dengan kenangan-kenangan pahitnya.
"Seorang laki-laki terhina demikian rupa tidak dapat diterima dengan demikian saja!, terlebih lagi aku sebagai seorang kaisar! Mungkinkan aku menerima segala hinaan ini?! Karena teringat demikian, hati Toan Hongya jadi panas, tiba-tiba dia menendang bangku gading didepannya hingga bangku itu rusak. Kemudian Toan Hongya menoleh pada Kuihui, semangatnya jadi seperti terbang meninggalkan raganya, terkejut bukan main, sebab dia telah menyeksikan pemandangan yang benar-benar membuatnya jadi tidak mengerti dan kaget.
"Eh rambutmu itu kenapa?"
Tanya Toan Hongya dengan suara gemetar.
Akan tetapi Lauw Kuihui seperti tidak mendengar pertanyaan rajanya itu, ia terus mengawasi anaknya dengan mata yang tak pernah berkedip.
Toan Hongya dulu-dulu memang tidak menyangka bahwa seorang manusia memiliki sinar mata seperti itu.
Sekarang baru dia menyadarinya.
Betapa besarnya Lauw Kuihui harus dikasihani.
Rupanya Kuihui telah mengetahui bahwa Toan Hongya tidak sudi menolong anaknya itu, maka selama dia masih hidup, maka Kuihui ingin mengawasi dan memandang anaknya itu makin lama makin baik.
Toan Hongya setelah berdiam diri menjublek sekian lama, akhirnya pergi mengambil cermin.
Raja ini telah mengangsurkan cermin itu pada Kuihui, sambil katanya.
"Lihat rambutmu itu!" 131 Dalam waktu yang sangat singkat, kuihui telah menjadi lebih tua beberapa puluh tahun, sedangkan dia sebenarnya baru berusia duapuluh dua tahun. Disebabkan kaget, takut, berduka, menyesal, kecewa dan putus asa, mendadak saja rambutnya itu berubah menjadi uban. Walaupun Kuihui telah disodori cermin, namun Lauw Kuihui tidak memperhatikan keadaan muka atau rambutnya itu. Dia menyangka Toan Hongya menggunakan cermin untuk menghalangi dia mengawasi anaknya itu. Dia berkata pada Toan Hongya dengan suara yang dingin.
"angkat cermin itu!"
Waktu bicara, suara dan sikapnya tegas sekali seperti juga Lauw Kuihui lupa bahwa ia bicara dengan rajanya yang menjadi junjungannya.
Toan Hongya jadi heran, dia tahu biasanya Lauw Kuihui sangant sayang sekali paras mukanya, akan kecantikan wajahnya.
Tanpa berkata lagi Toan Hongya telah menyingkirkan cermin itu, maka terus juga Lauw Kuihui mengawasi anaknya itu.
Ah, jika saja Lauw Kuihui waktu itu memiliki seribu arwah, tentu diserahkannya semua itu kepada anaknya, asal anaknya itu bisa bidup.
Dia menghendaki kematian untuk anaknya, dia rela binasa untuk keselamatan anaknya, dia rela sengsaraasal kebahagiann anaknya dapat diraih, dia rela melakukan apapun untuk selebar nyawa anaknya.
**** 132 Menyaksikan semua itu sesungguhnya Toan Hongya tidak tega dan merasa kasihan, bahkan kaisar ini bermaksud untuk menolong jiwa anak itu.
Apa mau saputangan itu tetap beraada di dada anak tersebut.
Itulah sulaman sepasang burung Wanyoh yang saling menyenderkan leher mereka.
Kepalanya burung itu putih.
Itulah lambang untuk hidup bersama hingga dihari tua dan ubanan.
Maka mengapakah sebelum tua namun rambut sudah ubanan terlebih dahulu?
Maka melihat rambut putih Lauw Kuihui itu, keringat dingin segera mengucur keluar diseujur tubuh Toan Hongya.
mendadak hati Toan Hongya jadi keras, sekeras baja dan juga waktu itu dia sudah tidak mempedulikan suatu apapun juga, tidak mempedulikan soal prikemanusiaan, tidak mengacuhkan juga perasaan kasihan pada Kuihui, tidak pula pada selembar jiwa yang masih kecil dan suci itu yang tengah terancam renggutan malaikat elmaut.
Waktu itu dengan suara yang tegas dan keras ia berkata.
"Baiklah kalian berdua boleh menjadi tua bersama, biarlah aku sendiri tersia-sia di istana yang sunyi ini tetap sebagai kaisar! Inilah anak kalian berdua, mengapa aku harus mengorbankan diri untuk menolong menghidupi diri?"
Kuihui menoleh memandang rajanya.
Itulah pemandangannya yang sangat aneh, menusuk sampai ke dasar hati Toan Hongya.
didalam sinar mata itu, tampak sinar kedukaan, penasaran, permusuhan, dendam, sakit hati, kecewa, bingung dan kuatir, takut dan marah.
Itulah sinar mata yang tidak pernah terlihat oleh Toan hongya.
dan setelah melihat satu kali sinar mata itu, seumur hidup Toan Hongya tidak akan melupakan sinar mata seperti itu.
"Kau bebaskan aku, kau lepaskan aku dari totokanmu, aku ingin menggendong anakkua!"
Kata Lauw Kuihui, dan perkataannya itu mirip firman yang membuat orang sulit untuk 133 membantahnya.
Karenanya Toan Hongya juga tidak dapat membantahnya dan telah membebaskan Lauw Kuihui dari totokan tersebut.
Lauw Kuihui menghampiri anaknya, menggendong dengan sikap penuh kasih sayang, mengawasi anak itu dengan sikap penuh kasih sayang seorang ibu.
Anak itu terluka parah, sehingga untuk menangis saja tidak bisa.
Mukanya bersinar gelap, matanya mengawasi ibunya, mungi juga anak itu minta ditolong dari penderitaannya.
Toan Hongya sendiri sejenak itu tidak memiliki rasa kasihan sedikitpun juga.
Melihat keadaan seperti itu, sikap ibu dan anak tersebut sama sekali perasaannya tidak berubah, tidak mencair dan tetap keras membatu.
Toan Hongya hanya melihat rambut Lauw Kuihui yang hitam berubah menjadi putih, mungkin itu hanya perasaan belaka.
Lalu Toan Hongya mendengar juga sambil menggendong anaknya, Lauw Kuihui berkata dengan suara yang halus sekali pada anaknya itu.
"Anak, ibumu tidak mempunyai kepandaian untuk menolong kau, ibumu tak dapat membiarkan kau tersiksa lebih lama, maka anak, kau tidurlah dengan nyenyak… tidurlah anakku untuk selama-lamanya.. tidurlah kau, jangan mendusin pula!"
Toan Hongya melihat betapa Lauw Kuihui menina-bobokkan anaknya, menyanyikan perlahan, menyanyi mengeloni anak tidur.
Merdu nyanyiannya itu.
Toan Hongya mengawasi berdiam diri saja, melihat betapa Lauw Kuihui mengeloni anaknya itu, mendengarkan nyanyiannya yang memang merdu dan merayu agar sang anak itu tertidur nyenyak, agar bisa tertidur atau berkurangnya 134 penderitaannya yang tengah dideritanya, Lauw Kuihui benar-benar mencintai anaknya.
Anak Laue Kuihui yang rupanya merasakan kasih sayang lewat nyanyian yang disenandungkan ibunya, anak itu tersenyum.
Namun anak itu hanya sempat tersenyum sejenak saja, sebab segera saja ia merasakan kesakitan yang hebat lagi.
Sehingga saking sakitnya si anak itu jadi gelisah.
Segera ibunya berkata pula dengan suara yang halus.
"Jantung hati ibu, tidurlah, nanti lenyap semua rasa sakitmu, sedikit juga tidak akan sakit lagi, tidurlah anakku, tidurlah yang nyenyak, tidurlah untuk selama-lamanya!"
Tiba-tiba Lauw Kuihui menggerakkan tangannya, terdengar suara menublas dan pisau belatinya menancap di dada anak itu.
Toan Hongya yang menyaksikan itu jadi kaget tidak terkira, dengan tubuh terhuyung kaisar itu terus jatuh ke lantai.
Tampak samar-samar segala apa yang dilihatnya, pandangan matanya berkunang-kunang, karena itu Toan Hongya juga tidak tahu harus berpikir apa dan apa yang harus dilakukannya.
Akhirnya perlahan-lahan Toan Hongya dapat juga bangun berdiri, lalu dengan suara perlahan iapun berkata.
"Apa yang kau lakukan?!"
Waktu itu Lauw Kuihui telah berkata dengan suara perlahan, namun dalam nada suaranya itu mengandung rasa penasaran, dendam dan kecewa, kedukaan maupun kegusaran 135 yang mendalam sekali pada Toan Hongya.
"Akhirnya akan ada suatu hari aku sengan pisau belati ini menikam uluhatimu!"
Dan kemudian Lauw Kuihui telah menunjuk pada gelang kumala ditangannya, dia berkata lagi.
"Inilah gelang yang kau hadiahkan padaku waktu hari pertama aku doboyong ke istana. Kau tunggu saja, dihari yang bertemu itu, gelang kumala ini akan kukirim padamu, maka dihari itu juga pisau belati ini akan turut datang menemuimu…!"
Setelah berkata begitu, dengan menggendong anaknya, Lauw Kuihui telah melompat ke jendela, keluar dengan ringan.
Terdengar suaranya yang keras dan panjang.
Setibanya diluar, Lauw Kuihui melompat ke atas genting dan sekejap saja telah lenyap.
Selama itu Toan Hongya hanya mengawasi menjublek dengan muka yang pucat pasi.
Peristiwa yang telah terjadi begitu hebat dan kali ini telah memberikan gempuran yang begitu hebat lagi untuk Toan Hongya.
Semula memang Kaisar ini berkeras hati, dimana perasaannya terluka melihat oto bersulam anak Lauw Kuihui, sehingga ia berkeras tidak mau menolong jiwa anak itu.
namun kesudahannya benar-benar merupakan peristiwa yang terlalu hebat, sehingga untuk tiga hari tiga malam lamanya Toan Hongya tidak makan dan minum, selalu memikirkan keadaan Lauw Kuihui, menguatirkan diri selir yang seorang itu.
Kedukaan yang terukir kian dalam dihati kaisar ini, membuat Toan Hongya kian tawar juga menghadapi hari-hari depannya, dimana ia lebih banyak menekuni ilmu silatnya saja.
Malah dia juga telah berfikir untuk mencukur rambut mensucikan diri, masuk kuil dan menjadi pendeta.
Setelah tenggelam dalam keragu-raguan sekian lama, namun akibat kedukaan yang luar biasa hebatnya, 136 menyebabkan Toan Hongya tawar untuk mengurus negara dan mencampuri urusan-urusan duniawi lainnya.
Dan telah tetap putusannya bahwa ia akan mencukur rambut menjadi pendeta.
Maka tahta kerajaan diwariskan kepada anak Toan Hongya yang sulung.
Toan Hongya sendiri telah mencukur rambut dan menjadi pendeta, mengikuti jejak kaisar-kaisar Tayli yang terdahulu, yang banyak diantaranya telah mencukur rambut mensucikan diri menjadi pendeta.
Tapi hebat pendirian Toan Hongya, selama bertahun-tahun ia berdiam di Liong Coan Sie, kuil yang dipergunakan sebagai tempat bermukimnya selama hidup dalam pengunduran dirinya sebagai seorang kaisar yang agung dan menuntut kehidupan sebagai seorang pendeta.
Setiap hari Toan Hongya hanya diburu-buru oleh perasaan dosa terhadap Lauw kuihui, terutama sekali pada puteranya itu.
memang Toan Hongya sebanyak mungkin telah melakukan perbuatan mulia, menolong rinuah jiwa dari kesulitan, namun selama itu perasaan berdosa yang memburu tidak juga lenyap, malah Toan Hongya mengharapkan munculnya Eng Kouw dapat menancapkan pisau belati di ulu hatinya,agar dosa itu segera berakhir dan Toan Hongya terhindar dari tekanan-tekanan perasaan sendiri.
Namun dari tahun ke tahun, Lauw Kuihui tidak juga pernah muncul.
Toan Hongya juga tidak pernah mendengar jejak dari bekas selirnya itu.
Bersama Toan Hongya ikut empat orang yang tidak mau berpisah dengan bekas kaisar Tayli ini.
mereka adalah Perdana Menteri, Jendral Utama, Laksamana dan Jenderal Pimpina pasukan Gielimkun, pasukan keamanan istana.
Keempat orang pembesar ini tetap ikut dengan Toan Hongya, walaupun 137 mereka telah dianjurkan lebih baik melanjutkan tugas mereka masing-masing membantu Kaisar Tayli yang baru, yaitu putera Toan Hongya yang sulung agar puteranya dapat mejalankan tugasnya dengan baik.
Namun keempat pembesar itu tetap bersikeras selalu ingin mendampingi Toan Hongya, maka keinginan mereka tidak dapat ditolak oleh Toan Hongya.
Dengan ikut sertanya keempat orang itu selanjutnya disebabkan Toan Hongya telah mencukur rambutnya menjadi pendeta, merekapun menanggalkan segala pangkat dan kemewahannya.
Mereka hidup sebagai manusia biasa dan resmi menjadi empar orang murid Toan Hongya merangkap melayani sang guru bekas kaisar ini.
Nama kecil Toan Hongya adalah Toan Ceng, sesungguhnya nama resminya adalah Toan Tien Hin.
Nama itu dipergunakan setelah Toan Hongya naik Tahta Kerajaan.
Dan setelah melepaskan kedudukan sebagai Kaisar dan tahta diwariskan kepada putera sulungnya, lalu mencukur rambut dan menuntut kehidupan sebagai pendeta, Toan Hongya menggunakak gelaran sebagai It Teng Taysu.
**** UDARA cukup panas oleh teriknya matahari, dan waktu itu dipinggiran hutan kecil, tampak duduk seorang lwlaki yang berusia sekitar tigapuluh tahun lebih.
Memakai baju yang singset, sehingga terlihat betapa bentuk tubuhnya yang tinggi besar.
Mukanya yang persegi, tampan dan gagah sekali.
Sambil duduk di bawah sebatang pohon.
Ia telah mengipas-ngipas dengan mempergunakan kipas yang indah berukuran tidak begitu besar.
Pada ujung kipas itu tampak ronce berwarna hijau 138 muda.
Rupanya dengan kipas tersebut ia bisa mengurangi perasaan gerah yang menyerang dirinya.
Setelah berdiam sejenak neristirahat dibawah batang pohon itu, pemuda tersebut melompat berdiri, melipat kipasnya dan menyelipkan di pinggangnya.
Dia menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menggumam.
"Mungkin setengah tahun lagi aku baru bisa menguasai ilmu ini….!"
Dan ia melangkah memasuki hutan kecil tersebut.
Setelah berjalan serintasan, dibawah sebatang pohon Gouwtong yang besar dan lebat.
Pemuda itu berdiam diri.
Dia berdiri tegak, kedua tangannya digerakkan, menepuk tiga kali, suara tepukan tangannya itu nyaring, bergema disekitar hutan tersebut.
Menyahuti suara tepukan itu, terdengar suara "krokk, krokk!"
Beberapa kali.
Pemuda itu tersenyum, dia sedang duduk dibawah pohon Gouwtong itu dengan sebelah kaki terangkat, kemudian menepuk tangan beberapa kali.
Suara tepukannya tetap nyaring, dan selalu disambut oleh suara "krokk, krokk!"
Tidak lama kemudian tampak mahluk yang aneh dan mengerikan telah muncul dari balik sebuah pohon dihadapan Gouwtong itu.
ukuran tubuh mahluk aneh itu setinggi manusia, jalannya melompat-lompat dan jika diperhatikan dengan jelas, ternyata mahluk itu tidak lain dari seekor kodok hijau yang berukuran sangat besar sekali.
Inilah seekor kodok hijau yang jarang terdapat dimanapun juga karena kodok itu benar-benar memiliki ukuran tubuh yang sangat besar, puluhan kali lipat lebih besar daripada ukuran kodok biasa.
Kodok raksasa inilah yang selalu menyambuti tepukan tangan dari pemuda itu dengan suara "krokk, krokk"
Tidak hentinya. Dan waktu tiba 139 didekat pohon Gouwtong itu. Dihadapan si pemuda, binatang raksasa yang luar biasa ini telah berdiam diri, hanya mempergunakan suara "krokk, krokk"
Yang perlahan seperti juga tengah menantika perintah. Pemuda bertubuh tinggi besar itu tersenyum, ia berhenti menepuk tangannya. Kemudian katanya perlahan.
"Ceng jie, kau harus memperlihatkan lagi beberapa jurus kepadaku!"
Kodok itu memperdengarkan suara "krokk, krokk"
Seperti yang perlahan sekali, mengerti mengerti akan perkataan si pemuda.
Dia mendekam terus.
Sedangkan pemuda itu telah melompat berdiri, dia tersenyum sambil menganggkat kedua tangannya, tahu-tahu tubuh si pemuda berputar dua kali, sepasang tangannya bergerak dan "wuutt"
Dari kedua tangan itu telah meluncur serangkum angin yang kuat sekali, menerjang pada kodok itu.
Kodok raksasa itu tidak berkelit sama sekali, ia menerima pukulan itu, dan tubuhnya yang besar itu telah terhantam kuat sekali.
Namun kodok itu tetap mendekam ditempatnya tanpa bergeming, bagaikan tegaknya batu karang dilanda gelombang laut.
"Bagus!"
Memuji pemuda itu.
dan berbareng dengan pujiannya itu, kedua tangannya bergerak lagi mendorong.
Kodok itu tetap tidak mengelak, membiarkan tubuhnya dijadikan sasaran dari dorongan kedua telapak tangan si pemuda.
Kali ini tubuhnya agak tergetar oleh kekuatan dorongan tersebut, namun kodok itu tetap mendekam ditempatnya.
"Nah Ceng jie, sekarang kita mulai!"
Berseru pemuda itu dengan suara yang nyaring.
Dan sambil berkata begitu, pemuda 140 ini telah menekuk kedua kakinya, ia mengambil posisi dan kedudukan seperti seekor kodok, yaitu dengan berjongkok dan kedua telapak tangannya diletakkan di tanah.
Kodok itu memperdengarkan suara "krok"
Yang perlahan dan mengangkat kepala bagaikan menantikan serangan berikutnya dari pemuda itu. Waktu itu, pemuda bertubuh tinggi besar tersebut telah meniru suara kodok itu.
"krok, krok!"
Dia memperdengarkan suara itu, kemudian kedua tangannya diangkat, dia mendorong dengan kuat, dorongan mana menimbulkan suara angin yang menderu-deru menerjang pada kodok raksasa dihadapannya.
Kali ini kodok raksasa itu tidak diam mendekam diri, hanya dengan gerakan yang gesit sekali, tahu-tahu kodok raksasa itu telah melompat ke samping.
Dengan demikian, angin pukulan yang dilakukan oleh si pemuda mengenai tempat kosong dan menghantam batang pohon dibelakang kodok raksasa itu.
"Krakkkkk!"
Pohon itu tumbang dan jatuh menimbulkan suara yang sangat gaduh sekali.
Apa yang terjadi benar-benar mengejutkan karena dengan dorongan kedua telapak tangannya, si pemuda telah memperk=lihatkan kekuatan tenaga yang luar biasa besarnya, dimana dari jarak yang cukup auh, dengan hanya terkena angin dari dorongan itu, batang pohon tersebut telah patah karenanya.
Pemuda itu tertawa, walaupun pukulannya tadi tidak berhasil mengenai kodok hijau itu, yag selalu dipanggil dengan sebutan "Ceng-jie‟ (ajak hijau), judteru dia tertawa senang, dan mengulangi lagi pukulan-pukulan yang dilakukan dalam sikap yang aneh sekali, dimana dia mengambil kedudukan kedua 141 kaki yang tetap berjongkok dan mendorong dengan mempergunakan kedua telapak tangannya secara berbareng.
Dengan demikian, telah puluhan batang pohon yang tumbang karena dorongan tenaga serangan pemuda itu, karena setiap kali kodok raksasa itu dapat menghindarkan diri dari tenaga dorongan yang kuat itu.
Setelah lewat lagi beberapa jurus, tampaknya si pemuda puas, ia berkata.
"Bagus! Aku telah berhasil untuk menciptakan dua jurus lagi!"
Dan pemuda itu telah melompat berdiri tegak, dia menepuk kedua tangannya. Kodok raksasa itu mengeluarkan suara "krokk, krokk"
Lalu memutar tubuhnya melompat pergi meninggalkan pemuda itu, kembali ke arah dari mana dia datang.
Sedangkan si pemuda bertubuh tinggi besar itu, juga telah menuju ke luar hutan itu lagi, duduk di bawah sebatang pohon dan mempergunakan kipasnya untuk mengipasi tubuhnya.
Sekali-sekali iapun menyeka keringatnya.
Tampaknya ia sangat kepanasan oleh teriknya matahari.
Sedang sepasang alisnya berkerut, sepertinya pemuda itu tengah berpikir keras, berusaha mengingat-ingat gerakan dari kodok raksasa tadi.
Seperti katanya, lewat gerakan-gerakan yang dilakukan oleh kodok raksasa itu, pemuda ini telah berhasil menciptakan dua jurus ilmu silat lagi, tentu saja ilmu silat yang berdasarkan gerakan kodok.
Setelah beristirahat kira-kira sepeminum teh, pemuda itu kembali masuk ke dalam hutan.
Ia berdiri tegak seperti keadaan tadi, menepuk-neuk tangannya lalu duduk di bawah pohon Gouwtong menantikan munculnya kodok hijau yang besar itu.
142 dan selalu kodok hijau besar itu muncul dengan disertai suara "krok, krok"
Nya.
Begitulah berulang kali pemuda tersebut telah melatih diri dengan kodok hijau raksasa tersebut, tampaknya ia sama sekali tidak merasa jemu, bahkan jika ia lelah, ia beristirahat dan jika lelahnya berkurang, ia segera berlatih lagi dengan memanggil sang kodok yang dijadikan teman berlatihnya.
Siapakah pemuda aneh yang berlatih diri dengan ilmu silat yang aneh seperti itu?
Pemuda itu tidak lain dari Auwyang Hong.
**** Sejak gagalnya dalam pertemuan di Hoa San, Auwyang Hong tidak dapat muncul sebagai pemenang tunggalnya untuk memperoleh kitab Kiu Im Cin Keng, membuat pemuda she Auwyang itu berlatih diri dengan giat, ia bermaksud, kelak jika diadakan pertemuan yang kedua kalinya di Hoa San antara dia dengan Tong Shia, Tong Sin Tong, Lam Te dan Pak Kay, maka dia telah memiliki kepandaian yang jauh lebih tinggi dari yang ada, sehingga kemungkinan besar ia bisa menindih Tong Sin Tong Ong Tiong Yang.
Mengenai kepandaian yang dimiliki oleh Auwyang Hong, memang telah berimbang dan sama tangguhnya dengan ketiga jago luar biasa lainnya, yaitu Tong Shia Oe Yok Su, Pak Kay, Ang Cit Kong dan Lam Te Toan Hongya.
Untuk memperoleh dan merebut gelar sebagai jago nomor wahid tanpa tandingan lagi seperti yang telah diperoleh Ong 143 Tiong Yang, See Tok harus memperdalam ilmunya lebih hebat lagi.
Begitulah sekembalinya ke Pek to san ia telah melatih diri dengan giat.
Berdiam di tanah barat, memang Auwyang Hong memiliki banyak waktu dan kesempatan hanya mencurahkan seluruh perhatian dan waktu untuk berlatih diri.
Kepandaian yang dilatihnya dengan giat itu memang memperoleh kemajuan yang pesat.
Namun yang menjadi pikiran See tok yaitu mengenai keempat orang jago luar biasa lainnya.
Jika See tok memperoleh kepandaian yang lebih tinggi dibandingkan ketika dia menghadiri pertemuan pertama di Hoa San, maka keempat jago lainnya juga akan berlatih diri dan selama ini pasti telah memperoleh kemajuan yang pesat pada ilmunya masing-masing.
Auwyang Hong mengetahui bahwa ia harus dapat menciptakan semacam ilmu yang luar biasa lihaynya.
Maka akhirnya Auwyang Hong telah meninggalkan daerah barat, meninggalkan Pek to san, berkelana dari gunung ke gunung mencari jenis kepandaian ilmu silat bagaimana yang bisa dipergunakan untuk andalannya kelak.
Namun sejauh itu Auwyang Hong hanya bertemu dengan jago-jago biasa saja yang kepandaiannya tidak melebihi dirinya.
Setiap kali bergebrak dengan lawannya, maka Auwyang Hong dapat merubuhkan lawannya itu tidak lebih dari empat atau lima jurus.
Dengan demikian berarti Auwyang Hong memiliki kepandaian yang tinggi luar biasa, tak percuma ia termasuk sebagai salahsatu dari kelima jago luar biasa.
144 Kenyataan yang ada seperti itu membuat Auwyang Hong jadi bingung juga, ia tidak tahu kepandaian apa yang harus dilatihnya yang sekiranya bisa menghasilkan semacam kepandaian yang ketangguhannya bisa melebihi ketangguhan dari ilmu-ilmu yang telah dimilikinya.
Ketika Auwyang Hong tengah beristirahat dimuka sebuah hutan kecil di Sucuan Barat, waktu itu dia mendengar sesuatu yang aneh sekali bunyinya dari dalam hutan itu.
suara itu berbunyi.
"krok, krokkkk..!"
Lemah sekali, seperti juga suara kodok.
Namun suara itu walaupun perlahan, terdengar begitu tajam ditelinga dan bergema tak berkeputusan.
Dengan demikian, tentunya suara itu bikan suara kodok biasa.
Auwyang Hong tertarik hatinya, inilah suara yang benar-benar luar biasa, jika ingin dipersamakan dengan suara manusia, itulah suara yang telah memiliki latihan Iwekang yang luar biasa tingginya.
Mungkin kekuatan Iwekang yang telah memperoleh latihan puluhan tahun lamanya.
Setelah menyusuri hutan itu kesana kemari, Auwyang Hong tidak juga berhasil menemui mahluk yang mengeluarkan suara "krokkk, krokkk tersebut.
Dia telah beristirahat sejenak, kemudian melanjutkan lagi penyelidikannya.
Karena Auwyang Hong sangat penasaran, suara yang mirip suara kodok itu masih juga terdengar.
Bagaimanapun ia ingin dapat menemukan binatang tersebut.
Setelah berputar-putar beberapa kali di hutan itu, akhirnya Auwyang Hong tiba dimuka sebuah goa yang tidak begitu besar.
Goa itupun beradanya di tempat yang cukup aneh dan tidak biasanya.
Jika goa-goa lain biasanya terdapat di lamping-lamping gunung atau tebing-tebing jurang, tapi goa yang satu 145 ini justru berada disebuah batang pohon yang berukuran sangat besar, merupakan pohon raksasa, goa tersebut dalam sekali.
Didalamnya gelap dan tidak terlihat keadaan iainya.
Suara "krokk, krokk tersebut terdengar dari dalam goa aneh itu.
Auwyang Hong berdiri ragu-ragu beberapa saat lamanya dekat pohon besar itu.
kemudian ia mengelilingi batang pohon tersebut untuk memeriksanya.
Namun binatang yang mengeluarkan suara "krokk, krokk"
Itu ternyata tidak terlihat, rupanya berada dalam goa tersebut.
Sebagai seorang yang memiliki kepandaian tinggi, Auwyang Hong berani sekali.
Ia tidak mempedulikan entah mahluk apa yang terdapat didalam goa dibatang pohon itu, entah berbahaya atau tidak, tapi perasaan ingin tahunya kuat sekali, sehingga ia telah menggerakkan kedua tangannya, memukul batang pohon itu, sehingga batang pohonn yang berukuran sangat besar itu telah tergempur kuat sekali, sebab Auwyang Hong memukul dengan mempergunakan tenaga Iwekang yang sngat dahsyat.
Suara itu telah berhenti sejenak, tidak terdengar lagi, Auwyang Hong menanti sejenak, kemudian memukul lagi batang pohon itu.
Begitu kepalan tangan Auwyang Hong menggempur batang pohon, segera terdengar lagi suara "krokkkk!"
Suara itu keras bukan main, sehingga Auwyang Hong merasakan gendang telinganya ingin pecah dan pendengarannya seperti tuli.
Bahkan karena terkejutnya, Auwyang telah mundur dari tiga langkah kebelakang.
146 Rupanya mahluk yang mendiami goa itu tidak senang telah diganggu kesenangannya, lalu mahluk itu keluar dari goa itu.
Sepasang mata Auwyang Hong terpentang lebar-lebar, ia menyaksikan sesuatu yang luar biasa sekali.
Bukan main kagetnya Auwyang Hong, karena dihadapannya nampak mahluk aneh dan luar biasa sekali keadannya.
Itulah seekor kodok yang sangat besar, setinggi ukuran anak kecil, yang tengah mendekam di mulut goa di batang pohon dengan bola matanya yang mencelat keluar merak itu bergerak-gerak buas pada Auwyang Hong.
Lidahnya yang bercagak itu sebentar-sebentar terjulur dan tergulung tak henti-hentinya.
Hati Auwyang Hong berdebar juga melihat mahlik ini.
Bentuk tubuh kodok raksasa ini tidak ada bedanya dengan kodok biasa, namun yang luar biasa adalah ukuran kodok itu yang demikian besar.
Sedangkan kodok raksasa itu telah mengeluarkan suara "krokkk, krokkk!"
Beberapa kali tak henti-hentinya.
Sikapnya hendak menerjang pad Auwyang Hong.
Setelah menetapkan hati, Auwyang Hong berwaspada menghadapi terjangan kodok raksasa ini.
iapun telah memusatkan perhatian dan tenaganya.
Setelah mengeluarkan suara "krokkkkk"
Yang nyaring satu kali, kodok luar biasa itu melompat.
Sekali melompat, ia telah berhasil mejerjang lima tombak lebih.
Karenanya waktu kodok raksasa itu mengulurkan kedua tangannya yang didepan.
Seketika itu pundak Auwyang Hong hampir kena dicengkram.
Tetapi Auwyang Hong sebagai salah seorang diantara kelima jago luar biasa yang memang memiliki kepandaian 147 sangat tinggi sekali.
Tidak gentar menghadapi mahluk yang luar biasa itu.
dengan cepat dan gesit sekali ia mengelakkan diri dari terjangan kodok itu, dan membarengi dengan tubuhnya melompat ke samping, waktu kodok raksasa itu lewat disisi tubuhnya, disaat itulah tangan kanan Auwyang Hong bekerja dengan cepat, dia telah menghantam perut kodok itu.
Kuat sekali tenaga pukulan Auwyang Hong karena dia menggunakan tenaga Iwekangnya.
Namun waktu kepalan tangannya itu menghantam jitu perut kodok itu, ia merasa memukul tempat yang lunak, tenaga pukulannya seperti punah dengan sendirinya dan kodok itu sama sekali tidak bergeming dari tempatnya.
Malah diwaktu tangan Auwyang Hong hinggap diperutnya, kodok raksasa tersebut telah membalikkan tubuhnya, sepasang kaki depannya telah kembali terulur menjambret pundak Auwyang Hong dan juga kepala dari orang she Auwyang ini.
Itulah cara menyerang yang luar biasa.
Memang kodok raksasa itu mencengkram dengan gerakan yang biasa seperti gerak laku dari seekor kodok yang hendak mengadakan perlawanan terhadap musuhnya, tapi buat Auwyang Hong justru ia melihat kelainan yang terdapat pada gerakan kodok itu.
Segera Auwyang Hong jadi tertarik, ia menyerang berulang kali, selalu saja kodok itu dapat mengelak dan balas menyerang untuk berusaha mencengkram Auwyang Hong.
Setelah memperhatikan beberapa saat, berkelebat serupa pikiran di otak Auwyang Hong.
148 Gerakan-gerakan yang dilakukan kodok raksasa ini luar biasa sekali, jika diperhatikan dengan seksama, gerakannya itu seperti juga gerakan ilmu silat.
Jika dipelajari dengan baik cara bergeraknya kodok ini, bukankah aku bisa menyusun dan menciptakan menjadi semacam ilmu baru?
Soal ketangguhan dari ilmu yang bisa kuciptakan lewat getrakan-gerakan kodok ini, memang belum lagi bisa dipastikan kehebatannya, namun apa salahnya jika kucoba-coba untuk merobahnya setiap gerakan-gerakan kodok ini menjadi jurus-jurus ilmu silat?"
Karena berpikir seperti itu, Auwyang Hong terbangun semangatnya.
Dengan cepat ia memperhatikan setiap gerak-gerik kodok raksasa itu, dan selalu pula ia menyerang untuk memancing gerakan-gerakan kodok tersebut.
Setelah memperhatikan sekian lama terhadap gerakan-gerakan kodok raksasa itu, Auwyang Hong girang luar biasa, karena ia memperoleh kenyataan bahwa setiap gerakan kodok itu memang memiliki unsur-unsur tersembunyi kekuatan ilmu silat yang hebat, jika saja diolah dengan baik.
Sebagai salah seorang jago diantara kelima jago luar biasa diseluruh daratan Tionggoan, dengan sendirinya kepandaian Auwyang Hong telah mencapai tingkat yang tinggi dan sempurna.
Dan jika sekarang Auwyang Hong selalu berusaha untuk mencari semacam ilmu yang jauh lebih hebat dari kepandaian yang telah dimilikinya, itu karena dia memiliki cita-cita untuk menjadi jago nomor satu dari kelima jago luar biasa yang ada.
Dengan demikian dia berkeinginan untuk memiliki kepandaian setinggi mungkin agar dapat menindih pengaruh keempat jago lainnya.
**** 149
Jilid 5 Tapi pertemuan pertama di Hoa San yang telah lalu memberikan banyak pelajaran buat Auwyang Hong.
Untuk menghadapi Tong Shia, Pak Kay, Lam Te memang tidak begitu sulit, karena memang See Tok adalah untuk menghadapi Tong Shin Thong, karena Coan Cin Kauwcu Ong Tiong Yang benar-benar memiliki kepandaian yang telah sempurna.
Disamping itu, kepandaian dari Coan Cin Kauwcu merupakan kepandaian ilmu silat yang lurus dan bersih dan kemenangan Ong Tiong Yang adalah wajar.
Ilmu yang lurus dan bersih, jika dilatih dengan sempurna, tentu akan memperoleh hasil yang jauh lebih hebat dibandingkan ilmu aliran Sin-pay atau sesat, walaupun bagaimana ilmu silat golongan Sin-pay tersebut.
Yang dibuat jeri oleh Auwyang Hong pada Coan Cin Kauwcu adalah ilmu "
It Yang Cie‟nya, karena dengan ilmu itulah Auwyang Hong telah dirubuhkan oleh Ong Tiong Yang waktu mereka berkumpul di Hoa San.
Karenanya sekarang Auwyang Hong justeru mencari-cari sejenis ilmu yang luar biasa untuk dapat dipergunakan sebagai andalannya, setidak-tidaknya akan bisa dipergunakan untuk menghadapi It Yang Cie nya Ong Tiong Yang.
Karena itu Auwyang Hong tidak pernah berputus asa dan dengan segala tekad yang ada padanya, dia telah berkelana untuk mencari ilmu yang sangat hebat yang sangat 150 dikehendakinya.
Sekarang Auwyang Hong justeru telah menyaksikan dari cara-caranya kodok raksasa tersebut menghadapi serangan-serangan yang dilancarkannya.
Gerak-gerik kodok tersebut memperlihatkan gerakan-gerakan yang aneh dan luar biasa.
Malah sebagai jago luar biasa, Auwyang Hong segera bisa menimpali gerakan-gerakan tersebut dengan ditambah dan dibuangnya beberapa bagian tertentu, akan tercipta semacam ilmu silat yang hebat.
Dan memang setelah See Tok memperhatikan gerak-gerik kodok itu, setiap kali diserang olehnya, maka Auwyang Hong telah mulai dengan usahanya untuk merubah gerakan-gerakan binatang luar biasa tersebut menjadi gerakan-gerakan ilmu silat.
Pertama-tama yang dilakukan oleh Auwyang Hong adalah meniru setiap gerakan kodok itu.
iapun telah ambil sikap berjongkok, dimana Auwyang Hong setiap kali bergerak dengan gerakan seperti yang dilakukan oleh kodok itu.
Kodok itu dihadapi secara demikian oleh Auwyang Hong, semula terkejut dan tertegun sejenak tidak menerjang lagi, tapi akhirnya kodok raksasa itu telah mengeluarkan suaranya "krokkk"
Yang keras sekali dan menerjang lebih hebat, karena binatang raksasa tersebut merasa didinya tengah dipermainkan.
Malah perutnya telah dibusungkan besar sekali, berdiri mendekam dengan mata yang mengawasi jalang dan buas, tahu-tahu mengulurkan kedua tangannya kedepan mendorong ke arah Auwyang Hong.
Auwyang Hong yang meniru setiap gerakan kodok itu jadi kaget bukan kepalang, karena waktu kodok itu mengulurkan kesdua kaki depannya terasa olehnya menerjang serangan yang kuat bukan main.
151 Untung saja Auwyang Hong selalu waspada sehingga walaupun dalam keadan berjongkok seperti itu namun ia masih bisa menggerakkan tenaga Iwekangnya pada kedua kakinya dan ia telah berhasil memasang kuda-kuda kedua kakinya dengan kuat.
Dia telah menyambuti angin serangan itu dengan sampokan tangan kanannya yang dikibaskan disertai kekuatan Iwekang sebanyak enam bagian.
Tapi untuk kagetnya lagi, Auwyang Hong dia telah menggempur kuda-kuda kedua kakinya tubuhnya jadi mengelinding terjengkang ke belakang dan waktu itu kodok tersebut telah mengeluarkan suara "krokkk"
Tampaknya binatang raksasa yang aneh ini girang melihat serangannya berhasil.
Waktu itu Auwyang Hong telah melompat bangun dengan cepat, dan telah mengambil sikap berjongkok lagi.
Namun dalam keadaan seperti itu, rupanya kodok itu tidak mau memberikan kesempatan pada Auwyang Hong, karena kedua kaki depannya telah digerakkan lagi mendorong ke arah Auwyang Hong.
Angin serangan yang berasal dari kedua kaki depannya itu telah menderu-deru kuat dan tubuh Auwyang Hong jaruh terplanting lagi.
Namun Auwyang Hong bukannya merasa jeri atau takut, malah jadi girang.
Ia telah menyaksikan gerakan yang luar biasa sekali.
Gerakan seperti itulah yang membuat ia segera berpikir cepat untuk menciptakan semacam ilmu silat yang hebat sekali.
Maka waktu kodok itu menggerakkan kedua kaki depannya mendorong lagi, Auwyang Hong yang sekarang telah bersiap-siap, bergerak lincah kesana kemari tidak mau 152 menyambuti setiap serangan yang dilancarkan kodok raksasa tersebut.
Dengan demikian, kodok raksasa itu menjadi semakin penasaran saja, karena selanjutnya tak pernah satu kalipun dorongan kedua kaki depannya itu berhasil membuat Auwyang Hong terpelanting.
Sebagai korban dari dorongan kodok tersebut, adalah pohon-pohon yang telah tumbang kesana kemari karena kuatnya dorongan tersebut.
Waktu itu Auwyang Hong telah memperhatikan dengan seksama setiap kali kodok itu melakukan dorongan dengan mempergunakan kedua kaki depannya.
Dan bukan main girangnya Auwyang Hong, karena ia telah memperoleh semacam pikiran yang mana dapat menciptakan semacam ilmu yang hebat sekali berdasarkan dari cara bergerak dan menyerang kodok raksasa itu.
"Ya, seranglah terus, ayo keluarkan seluruh tenagamu!"
Berseru Auwyang Hong berulangkali sambil melompat kesana kemari menghindarkan diri dari serangan kodok itu.
Rupanya lama kelamaan kodok itu jadi lelah juga.
Suatu kali ia menyedot hawa udara sehingga perutnya membusung besar sekali.
Dan pada waktu itulah tampak Auwyang Hong menantikan gempuran kodok tersebut.
Disertai dengan suara "
Krokkkk‟ yang nyaring sekali, tampak kodok itu telah mendorong dengan mempergunakan kedua kaki depannya, dan tenaga dorongannya itu luar biasa kuatnya, jauh lebih kuat dari tenaga dorongan terdahulu.
Auwyang Hong kaget bukan main, karena tenaga dorongan itu amat kuatnya.
Jika ia menyambuti tenaga 153 dorongan seperti itu, jelas tubuhnya akan terpental hebat sekali, makah ia akan terluka dalam.
Dengan gesit sekali Auwyang Hong telah melompat dengan sebat ke arah samping kanan, gerakan itu melebihi kecepatan angin, sehingga ia berhasil mengelakkan diri dari tenaga dorongan kodok tersebut.
Dan yang menjadi korban kali ini adalah sebatang pohon Gouwtong, pohon yang berukuran cukup besar itu telah hancur berkeping-keping bertebaran kesana kemari.
Auwyang Hong meleletkan lidahnya, kaget bukan main hatinya, tapi sebagai seorang jago yang memperoleh kesempurnaan ilmu dan juga termasuk dari salah satu dari kelima jago luar biasa, dengan demikian ia memiliki hati yang tabah sekali, ia telah tertawa, dan katanya lagi.
"Ayo serang lagi, keluarkan seluruh kepandaianmu!"
Semangat Auwyang Hong semakin terbangun, dengan demikian ia dapat melihat beberapa macam gerakan hebat dari kodok raksasa tersebut.
Dengan demikian, karena Auwyang Hong mengandung maksud untuk merobah gerakan-gerakan kodok tersebut menjadi gerakan-gerakan ilmu silat baru yang hendak diciptakannya, maka ia telah memperhatikan lebih seksama.
Setelah bertempur lagio sekian lama, akhirnya kodok itu bertambah lelah, dimana binatang raksasa itu hanya mendekam saja dan tidak menyerang lagi.
Auwyang Hong tertawa, ia mengetahui bahwa kodok luar biasa ini lelah bukan main, dan inilah kesempatan yang bagus untuknya.
Auwyang Hong segera mengempos semangatnya, ia menggerakkan tangan kanannya, menghantam kuat sekali disertai delapan bagian tenaga dalamnya.
Namun dia telah 154 memperhitungkan, dia menyerang kodok raksasa itu tidak sampai menyebabkan kodok tersebut binasa, karena memang Auwyang Hong hendak menjadikan kodok raksasa itu teman berlatihnya kelak.
Kodok raksasa yang telah diserang begitu hebat oleh Auwyang Hong, tetap mendekam tanpa bergerak sama sekali.
Kodok itu tidak bergeming sedikitpun juga, dan waktu itu dia hanya mengeluarkan suara "krokkkk!‟ yang lemah dan panjang.
Auwyang Hong kagum juga dengan kekuatan kodok raksasa itu, yang tubuhnya tidak bergeming sedikitpun juga walaupun telah digempur hebat olehnya.
Jika hanya seorang jago silat biasa yang menerima gempuran yang tadi dilancarkan oleh Auwyang Hong, tentu sedikitnya tulang tubuhnya akan hancur berantakan.
Tapi kodok raksasa itu justru seperti tengah digaruki, karena sama sekali ia tidak bergeming dari tempatnya mendekam, dan juga sama sekali tidak memperlihatkan bahwa ia kesakitan, hanya nampak nafas kodok itu memburu keras, rupanya ia keletihan.
Auwyang Hong mengulangi lagi beberapa kali gempurannya, namun tetap gagal.
Kodok itu sama sekali tidak bergeming dari tempatnya mendekam.
Dengan demikian membuat Auwyang Hong jadi penasaran sekali.
Ia telah mengulangi berulang kali serangannya, namun selalu gagal saja.
Akhirnya Auwyang Hong jadi letih, ia telah duduk dibawah sebatang pohon untuk beristirahat.
Sedangkan kodok itu beristirahat.
155 Dengan demikian, keduanya yang satu seorang manusia dan yang satunya lagi seekor kodok raksasa saling berdiam diri untuk mengurangi letih mereka, beristirahat tidak bergerak sama sekali.
Tapi Auwyang hong sambil beristirahat telah berpikir keras.
Dimana ia telah mengingat ingat semua gerakan yang tadi dilakukan oleh kodok raksasa itu.
dak akhirnya ia telah melompat dari duduknya, dengan girang ia berjingkrak.
"Akur berhasil!"
Serunya.
Dan tanpa menantikan kodok raksasa itu menyerang dirinya lagi, Auwyang Hong telah menggerakkan kedua tangannya, kedua kaki mengambil sikap berjongkok, dorongan itu disertai oleh kekuatan tenaga Iwekang.
Tubuh kodok raksasa itu bergerak sedikit dan mengelaurkan suara "krokkk"
Seperti kodok raksasa inipun terkejut, karena hebatnya tenaga yang dikeluarkan oleh Auwyang Hong.
Dengan demikian telah membuat kodok itu jadi bersiap-siap hendak menyerang lagi.
Tapi kodok raksasa itu tidak sempat lagi untuk menerjang, di waktu itu Auwyang Hong telah menyusul dengan menggerakkan kedua tangannya, dia tetap mengambil sikap berjongkok.
Sikap yang diperlihatkan oleh kodok raksasa tadi waktu menyerang dengan mempergunakan kedua kaki depannya pada Auwyang Hong.
Waktu mendorong kedua telapak tangannya ke depan, Auwyang Hong menggunakan sembilan bagian dari kekuatan Iwekang yang dimilikinya, angin serangan itu berkesyuran dahsyat sekali, dan kesudahannya memang hebat.
Tubuh kodok raksasa berukuran besar itu yang semula tidak bergeming dihantam oleh pukulan Auwyang Hong, kali ini disertai dengan suara "krokkk"
Yang 156 panjang dan nyaring, telah terpental bergulingan di atas tanah beberapa kali.
Itulah hasil yang benar-benar menakjubkan yang telah diperoleh Auwyang Hong.
Semangatnya jadi terbangun.
Dia bersiap-siap hendak menyerang lagi kodok itu.
Tapi kodok raksasa itu dengan mengeluarkan suara pekik "krokkkk"
Yang panjang telah menerjang ke arah Auwyang Hong dengan lompatan yang tinggi dan cepat, malah kedua kaki depannya telah didorong ke arah Auwyang Hong.
Angin berkesiur keras sekali menerjang pada Auwyang Hong.
Namun Auwyang Hong cepat melompat ke samping dan dia berhasil mengelakkan diri dari serangan itu.
Kodok raksasa itu rupanya jadi kalap, karena berulang kali ia telah menerjang dan menghantam dengan kedua kaki depannya pada Auwyang Hong.
Semua itu dapat dihindarkan oleh Auwyang Hong.
Dan yang jadi korban sebagai pengganti Auwyang Hong adalah pohon-pohon yang menjadi tumbang dan rusak kerenanya, dimana hutan itu seperti dilanda oleh gempa bumi yang hebat.
Auwyang Hong sendiri merasa letih sekali karena dia selalu harus berusaha mengelakkan diri dari terjangan kodok raksasa itu.
Disaat kodok raksasa itu tengah mengamuk kalap seperti itu, tiba-tiba dari angkasa terdengar pekik mahluk lainnya.
Mendengar suara pekik itu, yang panjang dan nyaring seperti suara burung yang memekik itu, sangat keras sekali dan beruntun-runtun, kodok raksasa itu mengkeret tubuhnya, terus mendekam dengan perut mengempis, tampaknya ketakutan bukan main, kepalanya menengadah ke atas, memandang 157 dengan bola matanya yang bulat memerah itu bergerak-gerak tidak henti-hentinya.
Pekikan burung terdengar semakin jelas dan dekat, semakin keras memekikkan telinga.
Auwyang Hong juga telah mendongakkan kepalanya mengawasinya.
Dia melihat seekor burung yang berukuran besar tengah terbang melayang-layang diaangkasa.
Dan waktu burung itu menukik dan hinggap di dahan sebatang pohon yang cukup tinggi, Auwyang Hong segera mengenali bahwa itulah seekor burung bangau yang besar dan memiliki sepasang kaki yang panjang sekali, bulu bangau tersebut putih bersih dan pada atas kepalanya, terlihat jambul berbulu merah dengan paruhnya yang runcing tengah mengawasi kearah kodok raksasa itu dengan tatapan mata yang tajam dan bengis.
Kodok raksasa itu rupanya makin ketakutan, terlebih lagi ketika bangau putih itu telah mengeluarkan suatu pekik yang perlahan seperti juga mengerang.
Tubuh kodok raksasa itu semakin mengkeret dan akhirnya dengan cepat ia telah memutar tunuhnya.
Dengan beberapa kali lompatan telah menghampiri goa di batang pohon itu akan menyusup masuk atau jelasnya menghindarkan diri dari bangau putih bertubuh besar itu yang tampaknya begitu gagah.
Tapi bangau putih dengan jambul merahnya itu rupanya juga memiliki kegesitan yang suar biasa karena waktu kodok raksasa itu belum lagi mencapai goa di batang pohon besar itu, bangau putih berjambul merah itu telah melompat turun dengan terbang ringan sekali, tahu-tahu telah berada dihadapan kodok raksasa itu menghadang didepan goa.
158 Kodok raksasa itu jadi kaget, dia mengkerek kebelakang dengan mengeluarkan suara "krokk, krokkk, krokkkk"
Yang perlahan sekali, kepalanya digoyang-goyangkan beberapa kali, sedangkan bangau putin dengan jambul merah itu mengeram perlahan dan tahu-tahu telah mementangkan sayap kanannya, dikebutkan pada kodok raksasa itu.
Tampaknya bangau putih berjambul merah itu mengebutkan sayap kanannya itu perlahan sekali, namun kesudahannya amat hebat rupanya angin kebutan itu hebat sekali, tubuh kodok hijau yangbesat itu telah terpental terpelanting beberapa tombak jauhnya.dengan mengeluarkan suara "krokk, krokk!"
Tidak henti-hentinya kodok itu berlari kesana kemari, tampaknya terngah kebingungan dan ketakutan.
Bangau putih berjambul merah itu telah mengeluarkan gerengan perlahan.
Tahu-tahu tubuhnya honggap disamping kodok itu.
Dia mempergunakan paruhnya untuk mematuk punggung kodok raksasa itu.
Kodok raksassa itu tidak dapat menghindari patukan burung bangau, sehingga punggungnya dapat dipatuk dengan telak sekali dan kodok raksasa itu jadi mengeluarkan suara.
"krokk, krokk, krokk"
Tidak henti-hentinya, rupanya dia ketakutan dan kesakitan.
Auwyang Hong yang menyaksikan ini, jadi tertarik hatinya, sampai menjublek dan mengawasi saja.
Dilihatnya kodok raksasa yang tengah kesakitan itu rupanya jadi nekat.
Dia telah mengeluarkan suara "krooookk"
Yang panjang dan tahu-tahu tubuhnya telah melompat kedepan dengan gerakan yang sangat gesit, kemudian memutar berdiri untuk 159 menghadapi bangau putih berjabul merah.
Diapun telah membusungkan perutnya besar-besar, sehingga bulat seperti bola.
Sepasang kaki depannya siap-siap akan digunakan untuk mendorong guna menyerang bangau putih berjambul merah.
Waktu itu bangau putih berjambul merah itu rupanya melihat dan mengetahui bahwa lawannya tengah nekat, maka dia telah menyerang lebih jauh.
Hanya berdiri ddengan kaki tunggal, yang sebelah kanan mengawasi saja.
Kaki kirinya telanh iangkat tinggi-tinggi, dilipat ke dekat tubuhnya.
Dengan sikap begitu, burung bangau itu seperti menantikan serangan kodok hijau tersebut.
Menyaksikan sikap bangau berjambul merah, Auwyang Hong jadi teringat dengan satu jurus ilmu silat yang bernama "Kim Kee Tok Pit‟ ( Ayam emas berdiri dengan kaki tunggal) dan sikap yang diperlihatkan oleh bagau itu memang sama sekali tak berbeda dengan jurus ilmu silat yang satu itu.
Dengan demikian Auwyang Hong semakin tertarik menyaksikan pertaruangan antara kodok raksasa melawn bagau putih berjambul merah itu.
Dilihat dari sikap kedua binatang tersebut memang bermusuhan.
Disaat itu, kodok raksasa telam membusungkan perutnya dan kedua kaki depannya telah digerakkan mendorong dengan kuat sekali.
160 Angin dari dorongan kedua kaki depannya itu juga telah berkesyuran dahsyat sekali, sehingga telah menyebabkan daun-daun kering dan debu disekitar sehingga telah menyebabkan daun-daun disekitar tempat tersebut berhamburan kesana kemari diterjang oleh tenaga dorongan kodok raksasa tersebut.
Tampak bangau putih berjambul merah itu masih berdiri dengan sikap kaki tunggalnya itu.
sama sekali dia tidak berusaha mengelakkan diri dari gempuran yang dilakukan oleh kodok raksasa tersebut.
Waktu itu dia hanya membuka sayap kanannya dan menyampok lagi.
Dua kekuatan yang tidak kelihatan itu telah saling gempur dengan dahsyat.
Dengan mengeluarkan suara benturan yang nyaring dan menggetarkan sekitar tempat itu, tampak bangau berjambul merah itu menggerakkan lagi sayap kirinya, dia sampok lagi.
Sedangkan kodok hijau raksasa itu sama sekali tidak sempat untuk balas menyerang.
Waktu itulah tubuh kodok raksasa tersebut jadi kena disampok oleh tenaga sampokan sayap kirinya bangau putih berjambul merah, tubuh kodok raksasa itu terpelanting tiga tombak lebih dan kodok itu ketakutan, dia mendekam mengerat sambil bersuara.
"krak.. krokkk"
Tidak henti-hentinya, seperti juga dia mohon pengampunan dari bagau berjambul merah itu.
Auwyang Hong menyeksikan jalannya pertempuran aneh antara kedua binatang luar biasa tersebut, dia telah mengawasi dengan hati tertarik bukan main, juga hatinya berdebaran karena dia telah menyaksikan suatu permainan yang luar biasa dari kedua binatang aneh ini.
suatu permainan yang bisa memberikan ilham padanya untuk menciptakan semacam ilmu silat yang hebat.
161 Sebagai penonton, Auwyang Hong bisa melihat dengan jelas setiap gerakan-gerakan yang dilakukan oleh kodok raksasa maupun bangau putih itu.
dia memperoleh kenyataan seharusnya kodok itu tidak kalah jika dibandingkan dengan kekuatan bangau putih berjambul merah tersebut.
Hanya sayangnya kodok tersebut rupanya memang kodok itu belum lagi dapat mengimbangi keadaan, hingga setiap kali dia bergerak terlambat dan bangau itu dapat menyerangnnya.
Dan karena selalu dapat dirubuhkan oleh bangau putih berjambul merah itu, maka kodok itu jadi terdesak terus-menerus, akibat takutnya juga telah membuat kodok raksasa itu terdesak.
Beberapa kesempatan baik yang seharusnya dapat dipergunakan untuk merubuhkan bangau putih berjambul merah itu, disia-siakan begitu saja.
Dengan begitu, Auwyang Hong merasa sayang sekali tidak tahu bahasa binatang, sehingga dia tidak bisa meneriaki pada kodok raksasa itu untuk memberitahukan kelemahan bangau putih berjambul merah itu.
Sedangkan bangau putih berjambul merah itu telah melancarkan serangan berulang kali, dimana sepasang sayapnya selalu menyerang bergantian.
Angin yang keluar dari kedua sayap burung bangau tersebut berkesyuran uat dan dahsyat.
Tampaknya kodok raksasa itu benar-benar terdesak.
Beberapa kali kodok raksasa itu berusaha menghampiri goa di batang pohon raksasa itu, namun ushanya selalu gagal, karena burung bangau itu dapat bergerak lebih cepat darinya, dan acap kali menghadangnya di depan pintu goa didepan batang pohon besar tersebut.
Dengan demikian gagallah maksud kodok raksasa itu untuk memasuki goa guna 162 menyembunyikan diri untuk berlindung dan menyembunyikan dirinya dari burung bagau berjambul merah itu.
Auwyang Hong yang menyaksikan keadaan seperti itu, jadi merasa kasihan pada kodok raksasa itu.
karenanya waktu dia melihat kodok raksasa itu tengah dipatuki oleh burung bangau putih berjambul merah tersebut, Auwyang Hong tidak bisa menahan diri lagi.
Dengan menjejakkan kedua kakinya, tubuhnya telah melompat ke samping bangau putih dan tangan kanannya telah mencengkram sayap butung bagau itu.
dia menghentakkan dengan kuat sekali dan dilemparkannya kesamping.
Luar biasa cara Auwyang Hong melontarkan burung bagau itu, karena dia mempergunakan kekuatan Iwekangnya yang luar biasa kuatnya burung bagau itu tidak bisa mempertahankan diri lagi dan telah terlempar dengan kuat.
Untung burung itu bisa terbang sebelum tubuhnya terbanting.
Dia telah terbang dan hinggap di atas dahan dari pohon yang cukup tinggi.
Setelah hinggap di dahan itu, burung bangau putih berjambul merah itu telah mengawasi pada Auwyang Hong dengan sorot mata bengis, rupanya dia gusar sekali telah kena dibokong seperti itu oleh Auwyang Hong.
"Sahabat bangau, engkau telah berbuat curang!"
Kara Auwyang Hong.
Engkau mempergunakan sepasang sayapmu, engkau juga mempergunakan paruhmu, dengan demikian engkau mempergunakan dua cara.
Sedangkan sahabat kodok ini hanya mempergunakan satu cara, dia hanya mempergunakan sepasang kaki depannya untuk menghadapimu!
" 163 Bangau putih berjambul merah itu seperti mengerti perkataan Auwyang Hong.
Dia mengeluarkan suara pekik yang nyaring sekali, tahu-tahu telah terbang turun menyambar Auwyang Hong.
Gerakan yang dilakukannya itu sangat gesit sekali.
Karena dia telah menyembar sambil menggerakkan kedua kakinya yang panjang hendak mencengkram.
Tapi Auwyang Hong bergerak sangat gesit, dengan lincah dia menghindarkan diri.
Sedangkan bangau putih itu menjadi penasaran, dan telah mengulangi lagi terbang menyambar pada lawannya itu, namun berulang kali ia gagal.
Walau bagaimanapun gesitnya bangau putih berjambul merah itu, namun tetap saja tidak bisa mengalahkan seorang manusia seperti Auwyang Hong ini.
terlebih lagi memang Auwyang Hong juga memiliki kepandaian yang sangat tinggi dan otaknya cerdik sekali.
Setelah belasan kali hendak mencengkram Auwyang Hong namun selalu gagal membuat bangau itu menjadi lelah juga.
Dia telah terbang dan hinggap lagi di dahan sebatang pohon dan mengawasi Auwyang Hong dengan sorot mata mengandung penasaran.
Sedangkan kodok raksasa mempergunakan kesempatan diwaktu bangau putih berjambul merah itu tengah dilibat oleh Auwyang Hong telah cepat-cepat menyusup ke dalam goa di batang pohon besar itu.
dia telah bersembunyi di goa itu, hanya terdengar suaranya "krak..
krokkk".
Rupanya kodok raksasa di dalam goa itupun mengetahui bahwa Auwyang Hong tengah membelanya dan berusaha 164 untuk menghadapi burung bangau itu yang sesungguhnya merupakan lawannya yang sulit dia hadapi sendiri.
Auwyang Hong sendiri beberapa kali telah berhasil menghindarkan diri dari terjangan burung bagau putih itu, ia berhasil melihat beberapa gerakan terpenting burung bangau itu dan juga telah menangkap kelemahan dari burung bangau tersebut, kalau saja binatang berkaki panjang itu menyerang lagi padanya.
Belum lagi lewat terlalu lama, setelah beristirahat sejenak, burung bangau itu telah mengeluarkan suara pekikan dan telah terbang meluncur menyambar kepada Auwyang Hong lagi.
Kali ini Auwyang Hong tidak menyingkir jauh-jauh, karena dia telah melompat ke samping, tangan kanannya diulurkan, dia telah mencangkram kaki sebelah kanan burung bangau putih berjambul merah itu.
Burung bangau putih itu kaget waktu dia tidak bisa menggerakkan kaki kanannya.
Dia mengeluarkan suara pekikan dan berusaha untuk terbang.
Sepasang sayapnya telah dikibaskan dengan kuat, namun tubuhnya itu tergantung diudara, karena Auwyang Hong mencekal kuat sekali kaki binatang itu.
Tubuh Auwyang Hong sendiri telah diliputi oleh Iwekang yang tangguh, karena Auwyang Hong telah mengerahkan ilmu pemberat tubuh seribu kati.
Bangau putih berjambul merah itu jadi panik, dia terus juga berusaha terbang.
Sepasang sayapnya memang memiliki kekuatan yang dahsyat, karena sepasang sayapnya itu berukuran sangar besar, 165 dan diwaktu itu burung bagau itu hanya berhasil mencapai ketinggian beberapa tombak.
Auwyang Hong telah terangkat serta dibaw terbang oleh burung bangau putih berjambul merak itu, tetapi Auwyang Hong tetap tidak mau melepaskan cekalannya pada kaki burung tersebut, karenanya dia tetap bergelantungan.
Bangau putih itu memekik berulang kali, dan selama itu juga telah mempergukanak sepasang sayapnya untuk terbang, juga sekali-sekali dipergunakan untuk menyampok kepala Auwyang Hong, namun Auwyang Hong memang benar-benar cerdik.
Dia telah mengkeretkan lehernya dan kepalanya itu juga tertunduk, sehingga dengan demikian, selalu juga usaha bangau putih berjambul merah itugagal.
Sayapnya itu hanya dapat menyampok kakinya sendiri.
Hal ini disebabkan ukuran kaki bangau putih itu memang panjang sekali, sedangkan Auwyang Hong mencekal ujung kaki tersebut dekat jari-jari kaki bangau putih tersebut, dengan demikian sampokan sayapnya tidak berhasil mencapai sasaran.
Sambil bergantungan seperti itu, otak Auwyang Hong juga bekerja keras, karena dia hendak mempergunakan semacam cara untuk menaklukkan burung bangau putih berjambul merah itu.
Setelah bergelantungan sekian lama, akhirnya Auwyang Hong mengempos tenaganya, dengan sekuat tenaga dia menarik kaki burung bangau itu.
tubuh Auwyang Hong telah melambung keatas dan melewati tubuh burung bangau putih itu sendiri.
Dengan gerakan berjumpalitan beberapa kali, Auwyang Hong tahu-tahu telah hinggap di punggung burung bangau 166 putih itu.
dengan cepat sekali sepasang tangannya bekerja.
Dia telah melibatkan tangannya pada batang leher bangau yang panjang itu, dia mencekik dengan keras.
Bangau itu memekik kesakitan dan bingung, dia telah terbang kesana kemari dan akhirnya hinggap di tanah.
Dengan mengepak-ngepakkan sayapnya, seperti juga memohon agar Auwyang Hong mengampuninya, melepaskan cekikannya.
Auwyang Hong memang berasal dari wilayah Barat, dia mengerti cara gulat dari wilayah tersebut.
Dengan demikian dia telah melibat leher bangau itu seperti juga melibat cekikan pada ilmu gulat.
Sekarang melihat bangau itu seperti menyerah, Auwyang Hong tetap tak mau melepaskan libatan sepasang tangannya, juga tidak mau turun.
Bangau putih itu menjadi bingung, dia telah memekik-mekik keras, sampai akhirnya suaranya itu perlahan dan pendek, rupanya nafasnya sudah semakin pendek karena lehernya tetap dilibat dengan cara cekikan gulat oleh Auwyang Hong.
Cara mencekik yang dilakukan Auwyang Hong merupakan cara mencekik yang benar-benar membuat bangau itu mati daya, karenanya burung bangau itu lemas tidak berkutik lagi.
Dan Auwyang Hong menyadari jika dia mencekik terus, niscaya burung tersebut akan menemui kematian.
Setelah melihat tubuh bangau putih tersebut lemas tidak bertenaga dan tidak meronta lagi, Auwyang Hong melepaskan cekikannya dan melompat ke samping.
Sedangkan burung bangau itu menggeletak diatas tanah, tidak bergerak, nafasnya 167 nampak satu-datu perlahan sekali.
Dan lewat beberapa saat burung bangau tersebut baru dapat berdiri lagi dengan tubuh yang masih terhuyung-huyung dan telah melangkah mendekati Auwyang Hong.
Melihat burung bangau itu menghampirinya, Auwyang Hong tertawa, katanya "Apakah kau minta dihajar lagi?"
Tapi bangau tersebut bukan menyerang, melainkan waktu sampai dihadapan Auwyang Hong, dia menekuk kedua kakinya, duduk dihadapan pemuda itu sambil menantikan perintah.
Auwyang Hong melihat sikap burung bangau itu jadi tertawa terbahak-bahak, girang bukan main, karena burung ini telah takluk padanya.
"Bagus!"
Berseru Auwyang Hong.
"Kau akan menjadi sahabat yang baik….!"
Dan Auwyang Hong telah mengulurkan tangan kanannya, dia mengusap-usap kepala burung itu.
sedangkan bangau itu menelusurkan kepalanya yang berleher panjang itu kedepan tubuh Auwyang Hong, sepeerti ia ingin menyatakan bahwa seterusnya ia akan menjadi sahabat setia padanya.
Suara kodok hijau masih terdengar dari dalam goa dibawah batang pohon besar itu, suara "krokk, krokk"
Nya yang tidak henti-hentinya itu menunjukkan bahwa kalau kodok itupun ikut girang karena melihat bangau putih itu telah berhasil ditundukkan oleh Auwyang Hong.
Dengan demikian ancaman pada dirinya jadi lenyap karenanya.
Tapi sejauh itu kodok raksasa masih belum berani muncul dari persembunyiannya.
168 Auwyang Hong tertawa.
Dia menepuk tangannya beberapa kali seraya panggilnya.
"Sahabatku wahai kodok hijau, keluarlah!, marilah kita bermain dan bersahabat sejati."
Kodok raksasa itu seperti mengerti panggilan Auwyang Hong, oleh karena sambil bersuara "krokk"
Dia telah keluar dari gua di batang pohon raksasa itu, dia menghampiri Auwyang Hong.
Bangau putih berjambul merah itu hanya mengawasi saja dengan kaki masih tertekuk numprah disamping Auwyang Hong, tidak terlihat sikap ingin menyerangnya lagi.
Auwyang Hong girang sekali, dia segera memberikan nama pada kodok hijau itu dengan sebutan Cengjie.
Sedangkan bangau putih berjambul merah itu dengan sebutan Pekjie.
Dengan demikian kedua binatang luar biasa itu telah menjadi sahabat dari pemuda she Auwyang ini.
sejak masih berusia belasan tahun Auwyang Hong memang telah gemar mempelajari ilmu racun dan juga bergaul dengan jenis-jenis binatang beracun.
Sekarang ia memiliki dua sahabat seperti Srngjie dan Pekjie, maka mudah baginya untuk menghadapi dan melayani kedua sahabatnya itu.
Jika setiap hari Cengjie menemani Auwyang Hong berlatih terus dengan ilmu yang baru diciptakan, berdasarkan gerakan-gerakan kodok yang kemudian diberi mana ilmu "Ha Mo Kong‟ maka Pekjie setiap hari terbang kesana kemari yntyk mencarikan makanan buat Auwyang Hong.
Umumnya Pekjie pergi dipagi hari dan kembali disore hari dengan membawa beberapa ekor ikan.
Entah Pek jie itu menangkap ikannya itu di empang mana, tapi setiap sore ia selalu membawa santapan tersebut pada Auwyang Hong yang kemudian membakarnya dan melahapnya.
169 Begitulah hari demi hari telah lewat dengan cepat, dan selama itu Auwyang Hong berhasil menciptakan ilmu Ha Mo Kong nya demakin sempurna juga.
Semula masih terdapat kelemahan-kelemahan pada ilmu yang diciptakannya itu, namun dengan berlatih setiap hari bersama Cengjie, maka kelemahan-kelemahan itu bisa diketahui oleh Auwyang Hong yang telah merobah dan menyempurnakan ilmunya itu, menutupi kelemahan-kelemahan yang masih terdapat pada Ha Mo Kong.
Begitulah Auwyang Hong memperoleh kemajuan pesat.
Juga pemuda Auwyang Hong ini memang memperoleh kenyataan ilmu yang baru diciptakannya itu merupakan ilmu yang hebat, dan jika ia sudah berhasil melatihnya dengan sempurna, tentu merupakan ilmu yang luar biasa sekali dan melebihi dari ilmu-ilmu lainnya yang telah dimiliki sebelumnya.
Karena itu Auwyang Hong semakin bersemangat saja melatih diri, untuk kelak mengandalkan ilmu Ha Mo Kong tersebut untuk menghadapi lawan-lawannya dalam pertemuah di Hoa San yang kedua kalinya, untuk menindih Ong Tiong Yang dan merubuhkan Tong Sia Oe yok Su, Pak Kay Ang Cit Kong dan Lam Te Toan Hongya.
Dihari itu Auwyang Hong seperti biasa berlatih diri dengan Cengjie.
Telah beberapa kali dia melatih diri dan ia merasa cukup.
Cengjiepun telah kembali kegoanya di batang pohon yang besar itu.
Auwyang Hong duduk dibawah batang pohon diluar hutan, menantikan pulangnmya Pekjie, si bangau putih berjambul merah yang tak lama lagi akan pulang dengan membawa beberapa ekor ikan segar untuk santapan orang she Auwyang ini.
Sedangkan Auwyang Hong menggerak-gerakkan kipasnya untuk mengurangi perasaan panas yang menyerangnya.
Waktu 170 itulah pendengarannya yang tajam mendengar suara pekikan Pekjie dikejauhan.
Suara pekikan itu terdengar panjang sekali dan cepat pula terdengar semakin dekat.
Tak lama kemudian, waktu Auwyang Hong baru saja melompat berdiri dari duduknya, Pekjie telah terbang mendatangi dengan memperdengarkan suara pekikan yang sahut menyehut tidak hentinya.
Yang mengejutkan Auwyang Hong, dia segera melihat bangau putihnya yang memiliki bulu berwarna putih mulus itu telah belepotan dengan darah merah.
Tampaknya burung bagau itu telah terluka.
Dan waktu bangau itu hinggap disampingnya sambil menggerak-gerakkan kepalanya memekik tidak hentinya.
Auwyang Hong melihat memang melihat di tubuh Pekjie terdapat luka bekas tikaman pedang, bukan satu tapi beberapa tikaman hingga darah merah melumuri tubuhnya.
Muka Auwyang Hong jadi berubah merah padam gusar bukan main, dia telah mengawasinya dari arah manakah tadi itu datangnya bangau putih ini, kemudian katanya.
"Siapa yang menikammu Pekjie?"
Bangau itu mengepak-ngepakkan sayapnya, sambil mengelurkan pekikan yang panjang, rupanya dia hendak menjelaskan orang yang telah melukainya namun dia tidak bisa bicara seperti manusia.
"Kita harus berhasil menangkapnya! Jangan sampai dia lolos lagi!"
Tiba-tiba terdengar suara seorang yang parau dan nyaring, disusul beberapa sosok tubuh tampak tengah berlari mendatangi dengan gesit.
Auwyang Hong mementang matanya lebar-lebar, segera dilihatnya orang-orang yang tengah berlari-lari itu adalah lima 171 orang wanita yang semuanya berpakaian warna putih.
Mereka berusia belum lebih dari dua puluh tahun.
Ditangan masing-masing membawa pedang yang berkilauan yang setiap ujung pedang itu berlumuran darah.
Auwyang Hong segera dapat menduga bahwa kelima wanita berpakaian warna putih itulah yang telah melukai Pekjie, bukankan pedang mereka masing-masing berlumuran darah merah.
Dengan gerakan yang gesit Auwyang Hong melesat memapak kelima wanita itu.
tanpa berkata sepatah katapun sepasang tangannya telah bergerak cepat sekali dan tahu-tahu dia telah dapat merebut kelima batang pedang it.
Dengan muka bengis Auwyang Hong membentak.
"Mengapa kalian melukai Pekjie?!"
Kelima wanita itu yang pedang mereka telah direbut oleh Auwyang Hong dalam segebrakan tanpa mereka berdaya untuk mengelakkannya, kaget bukan main.
Semua tertegun karena cara itu cara yang hebat sekali dari Auwyang Hong yang dapat merebut pedang mereka dengan gerakan yang mudah dan juga waktu Auwyang Hong bermaksud untuk turun tangan kejam pada mereka, tentu kelima wanita ini dapat dicelakainya tanpa mereka berdaya sama sekali.
Padahal dalam rimba persilatan, kepandaian lima wanita berpakaian putih ini sangat tinggi sekali dan disegani oleh orang-orang kangouw.
"Kau … kau siapa?!"
Tanya salah seorang diantara mereka yang rambutnya disanggul dua dan memakai sekuntum bunga Pek lian, teratai putih yang diselipkan diantara tengah kedua sanggulnya.
"mengapa kau merampas pedang kami?"
Auwyang Hong menatap dingin, dia mendengus "hmmm!"
Dan tanpa menjawab pertanyaan gadis itu, dia telah 172 menggerakkan sepasang tangannya lagi, maka terdengar suara.
"tranggg, tranggg, tranggg"
Beberapa kali, maka kelima pedang yang berhasil dirampas itu telah patah menjadi puluhan batang kecil.
Tampaknya Auwyang Hong melakukan itu dengan mudah seperti dia mematahkan lidi saja.
Meta kelima wanita berpakaian serba putih itu telah terpentang lebar-lebar, mengawsi dengan sorot mata takjub dan kaget.
Mereka menyadari habwa pemuda yang ada dihadapan mereka ini adalah pemuda yang lihay sekali, yang memiliki kepandaian yang luar biasa hebatnya.
Dan puluhan kali lipat berada diatas kepandaiannya.
Namun kelima wanita itu penasaran setelah tersadar dari kaget mereka.
Kelima wanita ini telah melompat mengurung Auwyang Hong.
Mereka yakin dengan berlima mengeroyok pemuda itu, tentu sipemuda tak dapat berbuat banyak pada mereka.
Jika tadi pedang mereka masing-masing telah dapat dirampas pemuda itu, inilah hanya disebabkan mereka tidak waspada dan bersiaga, dengan demikian jelas itulah keteledoran yang dilakukan.
Tapi kali ini dengan waspada mereka mengurung Auwyang Hong dan pasti dapat menghadapi pemuda itu.
walaupun pemuda itu tangguh, toh mereka berjumlah banyak san merupakan semacam barisan "tin‟, barisan mengepung dari pintu perguruan mereka.
"Pemuda lancang!"
Bentak salah seorang gadis itu.
"Apakah engkau tidak tahu siapa adanya kami? Tidakkah kau memiliki mata sehingga engkau berani membentur kami?"
Auwyang Hong tertawa dingin.
"Aku tidak peduli siapa kalian atau memang kalian ini dewi-dewi dari kahyangan atau memang setan-setan jejadian, yang terutama sekali kalian telah melukai Pekjie! Karena itu kalian harus memperoleh pengajaran yang setimpal!"
Bengis 173 sekali suara Auwyang Hong.
Memang Auwyang Hong beradat aseran dan angkuh.
Sekarang waktu kelima orang wanita cantik itu terbukti sebagai orang-orang yang telah melukaibangau putih itu, membuat Auwyang Hong jadi gusar bukan main.
"Kami memang hendak menangkap bangau putih! Jika kami memang tidak tertari menangkap hidup-hidup, burung bangau itu tentu binatang sudah mampus ditangan kami!"
Menyahut selah seorang diantara kelima gadis itu.
"Hmmm, mampus di tangan kalian? Oh, oh, enak sekali bicara kalian? atau memang Pek jie tak punya majikan? Dengan dilukai begitu, kalian harus membayar mahal! Jika kalian ingin deberi pengampunan olehku, aku bersedia membebaskan kalian dari kematian asal kalian mau memenuhi syaratku!"
"Apa syaratmu?"
Tanya salah seorang gadis itu penasaran, karena ingin mengetahui.
"Pertama-tama, kalian cukur rambut kepala!"
Kata Auwyang Hong. Kedua, lepaskan seluruh pakaian dan menari dihadapanku! Ketiga, kalian harus mecium kakiku dan memanggilku Kongcu!"
Mendengar perkataan Auwyang Hong, muka kelima wanita itu menjadi berubah merah padam. Mereka malu dan gusar bukan main. Malah salah seorang diantara mereka yang berada disebelah kanan telah membentak.
"Pemuda kurang ajar, terimalah pukulan ini untuk kelancangan mulutmu itu!"
Dan kepalannya telah menyambar cepat sekali.
Namun Auwyang Hong tidak berkisar dari tempatnya, dia mendengus dingin, menyampok dan tubuh wanita itu terpental hebat sekali berguling-guling diatas tanah, dengan sepasang 174 tangannya telah patah tulangnya!
Remuk dan teklok tidak bisa diangkat lagi, dia berdiri dengan merintih kesakitan.
Keempat wanita itu terkejut bukan main, muka mereka telah berobah menjadi pucat pias dan merekapun bimbang untuk menerjang maju, karena melihat nasib kawan mereka yang seorang itu.
mereka jadi jeri untuk berurusan dengan pemuda bertangan telengas itu.
"Baiklah!"
Akhirnya salah seorang diantara mereka telah berkata dengan suara dingin.
"Pelajaran ini tentu akan kami sampaikan pada majikan kami, dan kelak tentu majikan kami akan berkunjung ke menemuimu! Tidak mudah untuk menghina dayang-dayangnya Lan ciu Cit pa (Tujuh jago di Lanciu)!"
Wanita cantik itu menduga begitu dia menyebutkan Lanciu Cit pa, maka Auwyang Hong akan memperlihatkan sikap terkejut dan jeri, karena Lanciu Cit pa merupakan tujuh jago dari lanciu yang memiliki nama sangat terkenal kejam sekali.
Sekali turun tangan jangan harap korbannya bisa selamat dengan tubuh yang masih utuh.
Tapi apa yang dilihat oleh wanita-wanita cantik itu, Auwyang Hong hanya tertawa dingin, mendengus beberapa kali dan matanya mendengus bengis.
"Baik!, seharusnya kalian akan kusiksa sampai mampus! Tapi sekarang, pilih salah seorang diantara kalian untuk pulang memberitahukan pada majikan kalian, agar mereka bertujuh datang padaku! jika tidak, kalian berempat akan kusiksa sampai mampus!"
Bengis sekali suara Auwyang Hong. Lanciu Cit pa (baca Sin Tiauw Hiap Lu,
Jilid 2 halaman 157) merupakan tujuh orang jago dari Lanciu, yang memiliki nama tidak kecil dalam dunia persilatan, karena ketujuh jago 175 itu menguasai Kim To Sin Hoat (Ilmu Sakti Golok Emas) merupakan jago-jago yang tidak sembarangan bisa dihadapi orang.
Juga mereka memiliki ratusan orang dayang yang terdiri dari wanita-ranita cantik.
Mereka menguasai dan merejai dua daerah, yaitu Lanciu sebagai daerah mereka, juga Hociu sebagai tempat mereka beraksi, memunggut pajak pada penduduk, mengadakan berbagai peraturan untuk memeras para hartawan disana,dan macam-macam cara lain lagi.
Mereka memiliki penghasilan yang sangat besar sekali.
Dengan demikian mereka hidup mewah dan bagaikan tujuh raja kecil.
Tetapi sekarang Auwyang Hong memperlihatkan sikap yang meremehkan dan tidak memandang sebelah mata pada ketujuh jago dari Lanciu itu.
Dengan demikian membuat kelima wanita cantik itu yang menjadi dayang-dayangnya Lanciu Cit pa jadi tertegun.
Kemudian mereka sadar dan dengan murka salah seorang diantara mereka telah melompat kepada dayang yang tulang-tulangnya remuk, hendak membawanya untuk dibawa pergi.
Sedang ketiga gadis lainnya telah memutar tubuh mereka juga untuk berlalu.
Melihat ini Auwyang Hong mendengus dingin, bentaknya bengis.
"Ingi pergi kemana kalian? Sudah kukatakan, yang boleh meninggalkan tempat ini hanya salah seorang diantara kalian, yang empat lainnya harus berdiam disini!"
Dan berbareng dengan perkataannya, Auwyang Hong telah menjejakkan kakinya.
Tubuhnya mencelat cepat sekali.
Tahu-tahu kelima gadis yang mengaku sebagai dayang-dayang Lanciu Cit pa itu telah jungkir balik menggelinding di tanah sambil mengeluarkan suara jeritan kesakitan dan kaget.
Auwyang Hong telah berdiri bengis memandang mereka dengan mata mendelik.
"Kau yang boleh meninggalkan tempat ini untuk melapor pada majikan-majikan kalian!"
Katanya sambil menunjuk pada dayang-dayang yang remuk tulang tangannya.
"Empat lainnya berdiam disini!"
Dayang yang seorang itu, yang kedua tulang tangannya telah remuk meringis, tanpa mengeluarkan suara dia telah memutar tubuhnya untuk berlari meninggalkan tempat itu.
Keempat dayang lainnya berdiri dengan muka pucat pasi.
Mereka tidak berani untuk meninggalkan tempat itu, karena mereka tahu, begitu mereka bergerak, maka Auwyang Hong akan membuat mereka jungkir balik seperti tadi.
Auwyang Hong waktu itu dengan muka yang bengis telah menghampiri sambil menyeringai.
"Kalian telah melukai Pekjie, karena itu kalian harus menerima pelajaran yang setimpal dengan perbuatan kalian!"
Kata Auwyang Hong dengan bengis.
Tahu-tahu tubuh Auwyang Hong telah berkelebat-kelebat gesit sekali, maka keempat gadis yang menjadi dayang-dayangnya Lanciu Cit pa, jadi kabur pandangan matanya, tahu-tahu mereka merasakan tubuh mereka tersilir angin silir dan dingin sekali dan terasa ringan, yang membuat mereka jadi kaget dan mengeluarkan jeritan, ternyata pakaian mereka telah dilucuti oleh Auwyang Hong, sehingga keempat gadis itu berdiri dalam keadaan polos tanpa sehelai benangpun menutupi tubuh mereka!
Angin yang berhembus menerpa tubuh mereka masing-masing membuat mereka merasa dingin sekali.
Keempat gadis itu memutar tubuh mereka membelakangi Auwyang Hong, karena mereka malu, murka dan penasaran sekali, namun mereka tidak berdaya.
"Hmmm, kalian menduga aku mata keranjang!"
Kata Auwyang Hong, suaranya tetap bengis.
"Sebetulnya siapa sudi menlihat tubuh kalian yang seperti babi-babi buduk itu? Hmmm, judteru aku mengehendaki Pekjie membalas sakit hatinya pada kalian…!"
Setelah berkata Auwyang Hong tertawa bergelak-gelak.
Dia melompat kebawah sebatang pohon, duduk disitu dengan satu kali diangkat menumpang pada kaki yang lainnya, dan diapun telah menepuk tangannya beberapa kali.
Pekjie mengeluarkan pekikan ketika mendengar suara tepukan tangan dan terbang ketengah angkasa.
"Patuki mereka Pekjie!"
Perintah Auwyang Hong.
Dia telah terbang menukik dan menggerakkan lehernya yang panjang.
Paruhnya yang panjang itu akan mematuk tubuh salah seorang dari keempat dayang itu.
Dayang itu tengah diliputi perasaan malu bukan main, dalam keadaan tidak mengenakan penutup tubuh, kikik buat dia bergerak, karena Auwyang Hong menyaksikan dengan tertawa gembira.
Tapi sekarang bangau putih berjambul merah itupun telah datang.
Dia berusaha mengeos dengan memiringkan tubuhnya, namun gagal, punggungnya kena dipatuk.
Seketika kulit punggungnya yang semula putih dan halus jadi dilumuri darah yang memerah karena luka kena patukan.
Ketiga dayang lainnya jadi nekat, mereka telah menjejakkan kaki mereka untuk melarikan diri dalam keadaan bertelanjang begitu.
Namun Pekjie yang rupanya kini telah punya kesempatan untuk membalas sakit hatinya, tak mau melepaskan ketiga 178 dayang itu.
Sekarang mereka tidak mempergunakan pedang.
Dengan demikian Pekjie dapat berbuat leluasa pada mereka.
Sengan menggunakan sayapnya yang besar dan lebar itu, digerakkan secara bergantian, Pekjie telah mengebut berulang kali, maka tubuh ketiga dayang itu telah tersampok terpelanting diatas tanah.
Membarengi itu Pekjie juga telah terbang menukin dan mematuki bergantian.
Ketiga dayang itu berguling-guling di tanah sambil memekik-mekik kesakitan.
Yang seorang, punggungnya telah terluka dengan mementang lebar-lebar untuk melarikan diri.
Pekjie waktu itu tengah sibuk mematuki ketiga dayang lainnya.
Namun berlari tiga atau empat langkah, tahu-tahu menyambar sebutir batu yang pesat sekali.
Batu kecil itu menghantam pinggang dayang yang seorang itu, yang seketika terjungkal sambil menjerit kesakitan.
Mendengar jeritan dayang itu, Pekjie menoleh dan terbang kini mematuki dayang yang seorang itu, yang jadi panik bergulingan diatas tanah.
Auwyang Hong yang menyaksikan semua itu tertawa gembira.
Tadi dialah yang telah menimpukkan batu kecil yntuk mencegah dayang yang seorang ini melarikan diri.
Hatinya panas dan gusar melihat dayang-dayang itu melukai Pekjie.
Karenanya sebagai seorang yang meiliki sifat yang kejam, See tok telah berusaha membalas sakit hati Pek jie dengan caranya sendiri.
Pekjie tidak puas-puasnya mematuki tubuh halus mulus dari keempat dayang tersebut, sehinggay dayang-dayang itu jadi dilumuri darah, menderita luka-luka disekujur tubuhnya.
Mereka menangis menggerung-gerung, memohon pengamunan dari Auwyang Hong.
Untuk melarikan diri tidak bisa dan 179 Pekjie masih mematuki mereka, sehingga mereka menderita luka parah disekitar tubuh mereka.
Untuk memberikan perlawanan juga tidak bisa.
Jalan satu-satunya mereka hanya memohon dari Auwyang Hong.
Auwyang Hong tertawa terbahak-bahak.
Dia tidak segera perintahkan Pekjie untuk menghentikan patukannya itu, dia hanya mengawasi saja.
Akhirnya setelah melihat sekujur tubuh keempat gadis itu berlumuran darah, muka mereka ada yang terluka oleh patukan, Auwyang Hong baru menepuk tangannya dan berkata.
"Cukup Pekjie…!"
Lalu keempat dayang-dayangnya Lanciu Cit pa telah diperintahkan oleh Auwyang Hong untuk berdiri berbaris dihadapannya.
Walaupun malu, keempat dayang itu tidak berani membantah, karena mereka kuatir kalau mereka akan disiksa lebih jauh oleh Auwyang Hong.
Karenanya mereka telah berbaris dihadapan Auwyang Hong dengan kepala masing-masing tertunduk dalam-dalam.
"Sekarang kalian beerempat harus menari!"
Kata Auwyang Hong sambil nyengir girang karena telah berhasil melampiaskan kemendongkolannya. Keempat dayang itu berdiri bingung dan ketakutan.
"Cepat menari!"
Bentak Auwyang Hong bingung.
Sebetulnya keempat dayang itu tidak bisa menari, tapi mereka tengah ketakutan, karenanya mereka telah menggerakkan kedua tangan dan kaki mereka berusaha untuk menari, sehingga waktu itu terlihat pemandangan yang aneh sekali.
Empat wanita yang bertelanjang dan sekujur tubuh berlumuran darah, tengah menari-nari dengan gerakan yang kaku dan canggung.
180 Auwyang Hong tertawa terbahak-bahak.
"Ayo menari sebaik mungkin, siapa tariannya paling bagus dan menarik, dia yang akan segera dibebaskan!"
KataAuwyang Hong.
Keempat dayang yang tengah diliputi perasaan malu dan takut.
Telah berusaha untuk berlomba-lomba menari sebaik mungkin, walaupun mereka tidak pandai menari, toh mereka berusaha menari sebaik mungkin dengan menggerak-gerakkan tubuh dan sepasang tangan atau kaki agar tampak gerakan mereka merangsang walaupun dengan tubuh yang berlumuran darah.
Auwyang Hong mengawasi tarian keempat dayang itu sambil tertaw terbahak-bahak, dia melambaikan tangannya memanggil Pekjie dan waktu bangau putih berjambul merah itu berdiri disampingnya, Auwyang Hong mengeluarkan obat bubuk yang segera diborehkan pada luka-luka di tubuh burung bangau putih berjambul merah itu.
"Ohhh, suatu pertunjukan yang hina dina rendah sekali, wanita-wanita cantik harus menari bertelanjang dihadapan lelaki buaya darat bajingan tengik….! Tiba-tiba terdengar suara seorang yang berkata dengan nada mengejak. Suara itu suara seorang wanita. Auwyang Hong menoleh, namun dia tidak melihat orang yang berkata itu. Sepasang alis Auwyang Hong mengkerut kala dia mendengar lagi kata-kata.
"Laki-laki keparat yang tidak tahu malu, mengapa tidak segera melepaskan mereka?"
Auwyang Hong segera mengetahui bahwa wanita itu berkata dari jarak jauh dengan memakai ilmu mengirim suara.
181 Itulah Iwekang yang telah mencapai tingkat paling tinggi dan sempurna, karena orangnya belum lagi tiba, namun suaranya telah sampai lebih dulu dengan jelas sekali.
"Siapa kau? Mengapa tidak memperlihatkan diri untuk menyaksikan bersama penari-penari jelita yang menarik?"
Berseru Auwyang Hong sambil menggunakan Iwekangnya.
"Hmmm!"
Terdengar sahutan wanita yang tidak tersengar orangnya itu.
"Perbuata yang rendah!"
Lalu tampak sesosok tubuh yang berkelebat cepat sekali mendatangi, dibelakangnya terlihat sosok tubuh lainnya yang sama ringannya berlari pesat sekali.
Malah waktu itu terdengar orang yang tengah mendatangi itu seperti bersenandung.
Suaranya jelas terdengar oleh Auwyang Hong.
Baca Juga: Kesatria Baju Putih 8
Baca Juga: Mutiara Hitam Kho Ping Hoo