Eps 1 Lima Jago Luar Biasa - Sin Liong
Baca online Lima Jago Luar Biasa - Sin Liong
Cersil Lima Jago Luar Biasa - Sin Liong.
https.//www.facebook.com groups/Kolektorebook/ Sumber . Buku Koleksi Gunawan Aj Scan Image. Awie Dermawan
https.//www.facebook.com groups/Kolektorebook/ Sumber . Buku Koleksi Gunawan Aj Scan Image. Awie Dermawan LIMA JAGO LUAR BIASA (Sia Tiauw Gwa Toan) (Lanjutan . HOA SAN LU KIAM) Saduran . Sin Liong
Jilid 01 – 14 U. P.
"MATAHARI"
JKT TERDAFTAR No. Pol. 025/BIN/LEKS/P/2/76 2 DISCLAIMER
Kolektor E-Book
adalah sebuah wadah nirlaba bagi para pecinta Ebook untuk belajar, ber-diskusi, berbagi pengetahuan dan pengalaman.
Ebook ini dibuat sebagai salah satu upaya untuk melestarikan buku-buku yang sudah sulit didapatkan di pasaran dari kepunahan, dengan cara mengalih mediakan dalam bentuk digital.
Proses pemilihan buku yang dijadikan objek alih media diklasifikasikan berdasarkan kri-teria kelangkaan, usia, maupun kondisi fisik.
Sumber pustaka dan ketersediaan buku di-peroleh dari kontribusi para donatur dalam bentuk image/citra objek buku yang bersangkut-an, yang selanjutnya dikonversikan kedalam ben-tuk teks dan dikompilasi dalam format digital sesuai kebutuhan.
Tidak ada upaya untuk meraih keuntungan finansial dari buku-buku yang dialih mediakan dalam bentuk digital ini.
Salam pustaka!
Te am Kolektor Ebook 3 LIMA JAGO LUAR BIASA
Jilid 1 KEMBALI dari rahasia dari perjalanan, Pedang sakti selalu mebawa jasa baru, Pohon cemara menyaring sinar rembulan, Beningnya air mengalir di atas batu, Jelita ayu bagaikan bunga mekar, Menggoncangkan jiwa dan sukma lara, Tio Hui Yan bunga kerajaan Han, Kui Hui bunga ahala tong, Jelita dan berseri bunga, Sedap dipandang elok ditatap, Risau dan resah tersapu bersih Tubuh terkulai terlena mabuk, Pedang tergantung, cawan terbalik, Anggur segantang diminum habis, Puteri jelita hanya tersenyum, Mengawasi dengan lambai sutera hijau, Angin telah meratakan semuanya......
Siliran angin yang menghembus lembut sekali daun-daun Yangliu disepanjang jalan itu yang bagaikan diajah untuk bercengkrama, sehingga daun-daun Yangliu yang memang lemah itu bergoyang-goyang, bagaikan seorang penari istana seorang Kaisar yang sedang melenggang, meliuk-liuk tubuhnya membawa tarian.
Udara cerah, matahari pagi memancarkan sinarnya yang tidak begitu terik, burung-burung kecil berkicau disekitar tempat itu.
Beberapa orang petani dengan membawa pacul tampak melalui jalan tersebut, mereka akan berangkat menuju ke sawah masing-masing yang akan digarapnya.
4 Keindahan alam disekitar tempat tersebut, membuat beberapa petani tersebut melangkah sambil bersiul atau atau bernyanyi-nyanyi tampaknya riang dan gembira.
Itulah suasana permai dan keadaan alam indah diluar perkampunyan Luan yuan cung yang terdapat disebelah barat dari negeri Tayli.
Walaupun Tayli merupakan kerajaan kecil yang tidak sebesar dan semegah kerajaan Song, namn Tayli merupakan kerajaan yang memiliki tanah subur, pemerintahan yang baik, rakyat hidup aman makmur, dimana Tayli merupakan kerjaan kecil yang memliki seorang Kaisar yang dicintai dan dikasihi oleh rakyatnya.
Waktu itu yang duduk disinggasana Tayli dan memerintah adalah Toan Hongya, Toan Ceng.
Raja ini masih berusia muda, belum lagi lebih dari tiga puluh tahun.
Namun ia pendai sekali mengatur negerinya, dimana Toan Ceng Berhasil membawa negerinya itu ke jaman keemasan, rakyat titak perlu dibebani pajak ini dan itu, juga para pembesar negari tidak ada yang korup, tidak ada kejahatan di negeri yang aman dan makmur tersebut, walaupun tidak semua rakyat hidup dalam kekayaan dan kemewahan namun juga tidak ada yang hidup melarat dan sengsara.
Semuanya serba berkecukupan dan rakyat puas dengan raja mereka yang berhasil membawa negeri mereka ke puncak kemakmuran yang ada seperti sekarang.
Terlebih lagi memang Tayli memiliki tanah yang subur, hawa udara yang cocok untuk petani, rakyatnya tak terlalu dibebani oleh berbagai macam peraturan.
Dengan demikian roda pemerintahan yang ditangani oleh Toan Hongya berjalan dengan lancar.
Apalagi raja Tayli yang satu ini tidak gemar berfoya-foya, juga sejauh itu tidak pernah memiliki niat untuk mengadakan perluasan kekuasaan di luar Tayli, semua kerajaan tetangga diperlakukan sebagi negara yang patut saling menghormati.
5 Tapi itu, diantara bergemulainya daun-daun Yangliu yang bergoyang-goyang diajak bergurau oleh siliran angin, nampak dua orang penunggang kuda yang merarikan kuda tunggangan mereka dengan perlahan.
Tampaknya mereka melakukan perjalanan tidak tergesa-gesa, dan juga merekapun tengah menikmati keindahan alam disekitar tempat tersebut.
Dari jalan yang mereka lalui tidak henti-hentinya mereka memuji akan keindahan alam di negeri Tayli tersebut, yang jika dibandingkan dengan alam selatan dari kerajaan Song, yaitu Kanglam, tentu tidak akan kalah.
Kedua penunggang kuda itu terdiri dari seorang tojin berusia kira-kira tiga puluh delapan tahun, mengenakan jubah pertapa berwarna abu-abu, kumis dan jenggot yang tipis, wajah yang merah berseri-seri gembira sehat, dan dipunggungnya napak pedang bersilang terikat baik dengan ronce berwarna merah yang berkibar-kibar dimainkan oleh angin atau goncangan larinya kuda.
Kawannya seorang-laki-laki juga namun bukan Tojin (Tosu dari agama To), hanya seorang pemuda beusia sekitar tiga puluh tahun, tampak periang sekali.
Sepanjang jalan hanya suaranya terdengar memuji ini dan itu tidak henti-hentinya, diselingi oleh tertawanya yang gembira.
Walaupun usianya telah dewasa namun tampak kekanak-kanakan sekali, karena tidak jarang di menoleh kepada si Tojin dan telah menanyakan asal mulanya pohon Yangliu , dewi mana yang menjadi penunggu pohon itu dan bagaimana terjadinya awan, bagaimana bisa datangnya hujan dan bagaimana jika malam bintang-bintang maupun rembulan bisa muncul menampakkan diri, lalu di siang hari matahari juga yang telah menggantikannya......!
Semua itu ditanyakannya tidak henti-hentinya, namun kawannya si Tojin selalu menjelaskannya dengan sabar.
Tampaknya dia tidak pernah 6 jemu dengan pertanyaan-pertanyan yang diajukan kawn seperjalanannya ini.
"Suheng,"
Kata pemuda itu sambil menarik tali kendali kudanya, dan berhenti di bawah pohon Yangliu, yang daunnya tumbuh lebat dan subur sekali.
"Ada yang ingin kutanyakan padamu lagi, entah kau mau menjelaskan atau tidak?"
Tojin itu membiarkan kudanya melangkah perlahan-lahan menghampiri kawannya, ia tersenyum sabar, kemudian sambil menggerakkan perlahan Budtim (kebutan bulu yang terbuat dari bulu-bulu kuda atau bisa juga dari helai-helai bulu perak dicampur emas atau bisa juga terbuat dari bulu-bulu yang dirajut benang sutera) telah mengangguk.
"Ciu Sute, apa yang ingin kau tanyakan lagi?"
Tnyanya sambil tetap tersenyum.
"Apakah mengenai asal mulanya bisa ada batu-batu di tanah, atau pertanyaan mengapa burung bisa terbang di angkasa dan manusia tidak bisa terbang seperti burung-burung itu?"
Pemuda itu, Ciu Sute menggelengkan kepalanya beberapa kali sambil katanya.
"Bukan, bukan itu yang ingin kutanyakan Suheng! Tetapi yang ingin kuketahui mengapa pohon Yangliu memiliki daun yang demikian lebat dan cabang maupun rantingnya yang demikian lemas lemah gemulai seperti ini, tidak seperti pohon-pohon lainnya yang tumbuh tegak dan kuat dengan cabang dan rantingnya yang tumbuh tegak dan kokoh, misalnya saja pohon Gouw tong. Pohon itu tumbuh demikian besar dan kokoh kuat, demikian gagah dengan cabang dan ranting yang demikian kokoh dan kuat-kuat! Tidak demikina halnya dengan pohon Yangliu yang seluruh cabang dan rantingnya lemas lemah gemulai seperti itu. Dapatka suheng menceritakan sebab-sebabnya?" 7 Tojin itu tidak segera menyahuti. Ia masih tetap tersenyum, namun mengangkat kepalanya menengadah mengawasi gumpalan-gumpalan awan yang memutih di langit, lalu menghela nafas perlahan sambil bergumam.
"Inilah rahasia alam… sayang kau belum lagi mengerti Ciu Sute… !"
Setelah menggumam begitu, Tojin tersebut menoleh kepada Ciu Sute itu, tanyanya.
"Apakah kau belum bisa memecahkan rahasia alam yang satu ini? Bukankan kau telah ikut bersamaku selama tujuh tahun, Ciu Sute?"
Sute itu tertawa.
"Memang sutemu ini terlalu bodoh dan otaknya tumpul, Suheng...... mungkin soal pohon Yangliu yang batang dan rantingnya lemas ini pernah kau ceritakan kepadaku, namun aku telah lupa kembali…!"
Tojin itu tersenyum, ia berkata perlahan.
"Bukan begitu maksudku...... bukan itu yang ingin kutanyakan padamu!"
"Lalu apa yang ingin Suheng katakan? Apakah yang ingin diceritakan oleh Suheng bersngkut paut dan berhubungan dengan riwayat pohon Yangliu?"
Tanya sute itu, sikapnya memang masih terlalu kekanak-kanakan sekali walaupun usianya sudah lebih dari dewasa. Tojin itu mengangguk.
"Ya, pertanyaanmu sesungguhnya merupakan sebuah pertanyaan yang baik sekali!"
Kata Tojin itu sambil tersenyum sabar.
"Itulah sebuah pertanyaan jika ingin dikaji-kaji mengandung arti yang dalam sekali! Kau tanpa sadar telah menanyakan dua sifat yang terdapat di dunia ini, yaitu Im dan Yang yaitu keras dan lunak, panas dan dingin, baik dan jahat dan lain-lainnya lagi yang mempunyai sifar bertentangan satu 8 dengan lainnya karena Im dan Yang memang tidak pernah dapat disatu-padukan sampai kapanpun!"
Mendengar suhengnya berbicara bukan prihal riwayatnya pohon Yangliu, malah berbicara soal Im dan Yang, dua macam sifat pelajaran yang terdapat pada latihan-latihan tenaga Iwekang dan ilmu silat, adik seperguruan yang dipanggil Ciu Sute itu telah tertawa.
"Suheng, yang kutanyakan adalah riwayat pohon Yangliu itu, jadi bukan pelajaran Iwekang!"
Katanya.
"Benar!"
Mengangguk Tojin tersebut.
Lalu dia memandang ke langit lagi, seperti yang tengah memikirkan kata-kata yang tepat untuk memberikan penjelasan kepad Ciu Sutenya ini.
Setelah berdiap sesaat, baru dia meneruskan perkataannya.
"Memang benar, aku memang ingin menjelaskan apa yang kau tanyakan itu jauh lebih luas dari apa yang kau maksudkan! Seperti kau lihat Ciu Sute, pohon Yangliu memiliki pohon dan ranting yang lemas, yang tampaknya begitu lemah gemulai, tidak memiliki sifat kegagahan sama sekali. Ditiup oleh hembusan angin yang perlahan, ia selalu mengikuti arah hembusan angin tersebut. Sama sekali tidak memperlihatkan sifat menentangnya! Tidak demikian halnya dengan pohon Gouw tong, pohon yang tumbuh kuat tampaknya sangat perkasa, jangankan hembusan angin, sedangkan terjangan topan dan badai akan ditantangnya, dengan batang pohonnya yang tumbuh tegak sekali, memperlihatkan sikap yang gagah sekali! Tetapi tidakkah kau dapat menarik kesimpulan dari kedua sifat yang terdapat pada kedua macam pohon ini, yaitu Yangliu dengan Gouw tong?"
"Maksud Suheng?!"
Tanya pemuda yang tampaknya kekanak-kanakan itu. 9
"Jika kita ingin mengambil perumpamaan, maka kita bisa mengumpamakan pohon Yangliu itu sebagai golongan "
IM‟, dan pohon Gouw tong di Golongan "YANG‟.
Tapi jika hendak kita bicarakan soal kegagahan, walaupun pohon Yangliu itu tampaknya lemas lemah gemulai dan Gouw tong merupakan pohon yang kuat dan menonjolkan sifat perkasa, toh kenyataannya jika kita hendak memperbandingkan mereka, pohon Yangliu jauh lebih menang dari Gouw tong!"
"Mengapa begitu Suheng?!"
Tanya Ciu Sute itu dengan perasaan ingin tahu.
"Sekarang begini saja, coba kau patahkan dahan Yangli itu dengan mempergunakan tiga bagian dari tenaga Iwekangmu, belu tentu kau bisa mematahkannya, karena Yangliu memiliki sifat lemas, alot dan tidak mudah untuk dipatahkan. Selalu Yangliu menerima dan menuruti arah yang diterimanya, baik tiupan angin maupun tenaga yang hendak mematahkannya, namun jelas karena alotnya, dahan itu tidak mudah patah! Tetapi Gouw tong yang kaku dan keras yang nampak begitu kuat, dengan hanya mempergunakan dia atau tiga bagian tenaga Iwekangmu tentu kau dapat mematahkan dahan pohon tersebut! Sekarang kau mengerti Ciu Sute?!"
Pemuda yang dipanggil dengan sebutan Ciu Sute itu seperti baru tersadar, dia mempergunakan tangan kanannya untuk menggetok-getok keningnya sambil berkata.
"Ai.. ai, mengapa aku jadi tolol begiitu? Memang benar yang Suheng katakan, yang lemas itu belum tentu daat dirubuhkan, namun yang kuat dan kaku jauh lebih mudah ditumbangkan…!"
"Tepat! dan demikian pula halnya dengan latihan Iwekangmu yang telah kuberikan cara-cara melatihnya pada tahun yang lalu, jika kau telah berhasil menembusi rahasia 10 Yangliu dan Gouw tong tersebut, tentu jauh lebih mudah buatmu mempelajari Iwekang itu…!"
Ciu Sute itu mengangguk beberapa kali.
memang percakapan kedua orang ini merupakan percakapan yang tampaknya biasa-biasa saja, namun sesungguhnya di dalam percakapan itu terkandung makna dan isi akan pelajaran aliran Iwekang kelas tinggi, yang menyangkut rahasia kekuatan lemas dan keras, lunak dan kaku, Im dan Yang!
Rupanya kedua orang ini merupakan dua orang rimba persilatan yang memiliki kepandaian ilmu silat yang tinggi sekali.
"Tapi Suheng, engkau belum lagi menceritakan asal mulanya pohon Yangliu bisa memiliki dahan dan ranting yang lemas lemah gemulai seperti itu…!"
Kata Ciu Sute itu kemudian setelah mengangguk-angguk beberapa kali waktu telah berhasil meresapi pelajaran Iwekang yang diberikan Suhengnya itu.
"Soal riwayat mengapa pohon Yangliu memiliki dahan dan ranting yang lemas lemah gemulai seperti itu hanya merupakan cerita yang singkat sekali. Pohon Yangliu adalah jelmaan dari Dewi Liu Sian Ong Bio dari kerajaan langit, yang menerima kutuk dari Raja Langit karena telah melakukan sebuah dosa......!"
"Seorang Dewi di Kerajaan Langit masih bisa melakukan sebuah dosa?"
Tanya Ciu Sute sambil mementang matanya lebar-lebar. Suhengnya tersenyum, dia melompat turun dari kudanya, katanya.
"Mari kita beristirahat di bawah pohon Yangliu, nanti kuceritakan seluruhnya padamu prihal riwayat pohon Yangliu ini!" 11 Ciu sute itu jadi kegirangan, ia gesit sekali melompat turun dari kuda tunggangannya. Wakktu kakinya menyentuh tanah, sama sekali tidak menimbulkan suara. Itu menunjukkan bahwa Ginkang yang dimiliki Ciu Sute memang telah mencapai tinggkat yang tinggi. Dia telah menuntun kudanya dan kuda suhengnya untuk diikat di batang pohon Yangliu, lalu duduk disamping suhengnya, katanya dengan sifat kekanak-kanakan.
"Suheng kau boleh memulai menceritakannya suheng, aku akan mendengarkannya baik-baik…!"
Tojin itu tidak segera bercerita, hanya mengawasi pada Ciu Sutenya dengan wajah dan sikap bersungguh-sungguh, katanya.
"Sebelum aku menceritakan prihal riwayat pohon Yangliu itu, ada sesuatu yang hendak kuminta darimu, dimana engkau harus memberikan janjimu, Ciu Sute… itu sebagai syaratnya! Jika engkau tidak bersedia berjanji, maka akupun tidak ingin menceritakan prihal Dewi Liu Sian Ong Bio yang menerima kutukan Raja Langit sehingga dikutuk menjadi pohon Yangliu…!"
Ciu Sute itu tidak sabar, katanya.
"Cepat katakan suheng, janji apa yang kau kehendaki aku ingin segera mendengar cerita menganai Dewi Liu Sian Ong Bio itu......"
"Ciu Sute, kau tahu bahwa kita tengah melakukan perjalanan untuk menemui seorang…!"
Kata suheng itu sabar.
"Ya untuk bertemu dengan Toan Hongya yang menjadi Raja di Tayli…!"
Menyahut Cia Sute itu.
"Benar! Dan sekarang kita telah memasuki wilayah kerajaan Tayli. Yang kuharap darimu dan engkau harus berjanji, selama berada di wilayah Tayli ini engkau tidak boleh menimbulkan keonaran dan kerusuhan, engkau harus menjaga tingkah lakumu yang berandalan itu jangan sampai memancing 12 keributan, engkau harus bicara baik-baik jika tengah berhadapan dengan Toan hongya, tidak boleh kurang ajar, tidak boleh berandalan dan tidak boleh bertindak semau hati......!"
"Aduh! Aduh! Banyak benar yang harus kupatuhi?!"
Teriak Ciu sute itu sambil tertawa… "Baiklah!
baiklah!
aku berjanji tidak akan berandalan, akan bicara baik-baik jika berhadapan dengan raja yang agung itu, akan berusaha membawa tingkah laku yang baik dan tidak menimbulkan keonaran dan kerusuhan!
Nah Suheng, sekarang boleh mulai bercerita mengenai Dewi Liu Sian Ong Bio itu…!"
Suheng itu mengangguk, dia bicara dengan sikap tenang dan sabar.
"Baik, baik… Dewi Liu Siang Ong Bio telah melakukan suatu dosa, dimana dia memiliki hubungan gelap dengan seorang Dewa penjaga instal kuda, dimana mereka berkasih-kasihan. Itulah dosa yang tidak berampun. Dengan demikian, waktu Raja Langit mengetahui kelakuan buruk dari Dew dan Dewi tersebut, segera keduanya dipanggil menghadap. Dihadapan Raja Langit mereka berusaha menyangkal, namun mana dapat? Raja langit lebih mengetahui dengan jelas. Karena dusta mereka dan berusaha menyangkal maka Raja Langit murka, hilang kesabarannya. Dalam keadaan marah seperti itu talah keluar kutukannya.
"Liu Sian Ong Bio, selama puluhan tahun kau menjadi seorang Dewi yang mempunyai kedudukan yang mulia dan agung di kerajaan langit, namun jiwamu bukan jiwa seorang dewi, masih kotor dan rendah seperti hal manusia! Karena itu engkau kukutuk menjadi Yangliu......!"
Lalu Raja Langit itupun mengutuk Dewa penjaga instal kuda yang bergelar Bun Ong Sian jin.
Dewa ini telah dikutuk menjadi batu giok yang akan menemani Dewi Liu Sian Ong Bio.
Walaupun Dew dan Dewi itu menangis sesambatan memohon pengampunan dari Raja 13 Langit namun kenyataannya kutuk Raja Langit telah terjadi.
Mereka dilempar kedunia dan Dewi Liu Siang Ong Bio telah menjelma menjadi pohon Yangliu berkembang biak dan sampai sekarang ini jadi banyak dan terdapat dimana-mana, jika memang dia berkembang biak sampai seratus ribu batang pohon Yangliu, maka hukumannya akan habis.
Sedangkan Dew Bun Ong Sian Jin yang dikutuk menjadi bangku empat persegi dari batu giok itu memang selalu berada disamping pohon Yangliu untuk tempat duduk-duduk berangin-angin dibawah pohon Yangliu!
Karena sedih dan berduka, Yangliu selalu bergoyang-goyang dengan dahan dan rantingnya yang melambai-lambai.
Seperti memanggil-manggil Bun Ong Sian Jin yang menjadi bangku, tidak bisa berbuat lain, hanya untuk menampung manusia-manusia yang hendak berteduh di bawah pohon Yangliu belaka.
Itulah cerita mengenai asal mulanya pohon Yangliu dan bangku empat persegi disamping pohon tersebut.
Kau mengerti makna dongeng tersebut Ciu sute?"
Pemuda yang dipanggil Ciu Sute itu telah tertawa sambil kemudian menyahuti.
"Tentu saja agar seseorang tidak melakukan perbuatan dosa......!"
Tojin tersebut mengangguk.
Itu merupakan salah satu maksud yang terkandung pada dongeng itu.
Tetapi buat kita, orang-orang yang mempelajari ilmu silat, terkandung maksud lainnya lagi, mengandung sifat Im, sifat yang lunak dan lembek.
Sedangkan bangku memiliki sifat Yang, yaitu keras dan kuat.
Itulah kedua sifar Im dan yang.
Sifat Yang pun terdapat dalam dongeng itu, dimana jika engkau mau memperhatikannya dengan seksama, banyak memberi petunjuk mengenai pelajaran dan latihan Iwekangmu!"
Ciu Sute bengong sejenak, namun akhirnya dia tertawa. 14
"Benar, benar suheng, terima kasih atas petunjukmu ......!"
Serunya kemudian.
"Mari kita meneruskan perjalanan...... Mungkin dalam tiga hari lagi baru akan dapat mencapai tujuan kita."
Kata Tojin itu sambil melompat berdiri dengan ringan dan gesit.
Ciu sute itu mengiyakan.
Keduanya telah melompat ke atas punggung kuda masing-masing, kaki kuda itu bergerak mencongklang dan berlari-lari dengan perlahan namun tetap menuju kearah depan menyusuri jalan itu.
Siapakah Tojin itu dan si pemuda yang dipanggil Ciu sute itu?
Ternyata Tojin itu adalah tidak lain dari Ong Tiong Yang, seorang tokoh rimba persilatan yang memiliki kepandian yang luar biasa.
Mungkin di daratan Tionggoan Ong Tiong Yang dari Coan Cin Kau itu tokoh yang memiliki kepandaian terhebat dan sakti, paling murni dan lurus.
Sedangkan pemuda she Ciu itu tidak lain daripada adik seperguruannya yaitu Ciu Pek Thong, yang memiliki sifat sangat berandalan sekali.
Memang secara resminya Ciu Pek Thong adalah adik seperguruan Ong Tiong Yang namun baru beberapa tahun Ciu Pek Rthong diterima dalam pintu perguruan Coan Cin Kouw, guru Ong Tiong Yang telah meninggal dunia karena usia tua, dan selanjutnya Ciu Pek Thong dibimbing oleh Ong Tiong Yang.
Secara tidak langsung sesungguhnya Ciu Pek Thong adalah murid dari Ong Tiong Yang, namun secara resminya tetap saja dia sebagai adik seperguruan Ong Tiong Yang.
Itulah sebabnya mengapa Ciu Pek Thong tetap memanggil Ong Tiong Yang dengan sebutan suheng, sedangkan Ong Tiong Yang pun tidak merubah panggilannya pada Ciu Pek Thong dengan sebutan Ciu sute.
15 Kali ini keduanya tengah melakukan perjalanan untuk menemui Toan Hongya.
Itulah sebabnya mereka dari Tionggoan telah melakukan perjalanan yang jauh menuju Tayli, karena Ong Tiong Yang memiliki sebuah urusan yang sangat penting dengan Toan Hongya, Toan Ceng, kaisar Tayli tersebut.
Waktu Ong Tiong Yang akan berangkat, Ciu Pek Thong telah merengek hendak ikut serta.
Sebagai seorang Tojin yang memiliki hati lemah lembut dan pengasih, Ong Tiong Yang tidak tega untuk meninggalkan sutenya untuk menolak keinginannya itu.
Dia meluluskan Ciu Pek Thong untuk ikut serta ke Tayli, asalkan dengan janji bahw sutenya itu tidak menimbulkan keonaran.
Ciu Pek thong memang telah memberikan janjinya bahwa ia berjanji tidak akan berandalan, tidak akan menumbulkan perbuatan-perbuatan yang bisa memancing keonaran, dan juga tidak akan menimbulkan hal-hal yang dapat mempermalukan nama Coan Cin Kouw, bahkan Ciu Pek Thong bersumpah tidak akan banyak bicara selama dalam perjalanan.
Namun dasarnya Ciu Pek Thong memang seorang berandalan, walaupun usianya telah dewasa dan juga telah memiliki kepandaian yang tinggi, lagak dan sikapnya selalu kekanak-kanakan., bahkan berandalan.
Biar dia telah benjanji disepanjang perjalanan bahwa dia tidak akan banyak bicara, toh selama dalam perjalanan tidak henti-hentinya Ciu Pek Thong bertanya tentang hal ini dan itu.
Mulutnya itu seperti tidak pernah diam, selalu ada saja yang ditanyakan .
namun Ong Tiong Yang memaklumi akan sifat dan watak sutenya ini yang walaupun nakal dan berandalan serta kekanak-kanakan toh jiwanya bersih dan jujur, melayaninya dengan sabar sekali.
16 Mereka Suheng dan Sute itu telah melakukan perjalanan lebih dari satu bulan.
Pagi itu mereka telah melarikan kuda belasan lie.
Keduanya tiba di perkampungan Luan Yuan Cung.
Kampung itu cukup besar dan ramai, penduduknyapuh ramah tamah.
Tidak terlihat kemelaratan di perkampungan tersebut, yang setiap rumahnya terawat dengan baik, walaupun tidak mewh.
Keadaan di perkampungan ini sangat bersih.
Ciu Pek Thong telah mengawasi sekelilingnya waktu mereka memasuki perkampungan tersebut.
Dilihatnya beberapa orang anak lelaki yang berusia natara delapan sembilan tahun tengah asyik bermain kelereng di pinggir jalan, sambil tertawa gembira, Ciu Pek Thong melompat turun dari kudanya.
Dengan berjalan kaki saja dia telah menghampiri anak-anak itu.
"Engko kecil, aku ikutan main ......!"
Katanya dengan gembira.
"Akupum memiliki banyak sekali kelereng yang bisa dipergunakan untuk main......!"
Anak-anak itu menoleh pada Cio Pek Thong, seketika itu juga mereka jadi tertawa.
"Engkau sudah begitu besar ingin bermain kelereng dengan kami, mana mungkin kami bisa menangi kau?"
Kata beberapa orang anak kecil itu serentak. 17
"Tapi aku tidak pandai bermain kelereng. Jika memang kalian mahir menyentil kelereng, tentu kalian yang akan menang! Jangan takut, aku tidak akan bermain curang......!"
Ciu Pek Thong setelah berkata begitu lalu merogoh sakunya untuk mengeluarkan beberapa butir kelerengnya.
"Tidak mau! … tidak mau! Tua bangka mau main-main dengan anak kecil, apakah engkau hendak mengakali kami?"
Teriak beberapa orang anak kecil itu. Ong Tiong Yang melihat adik seperguruannya telah menghampiri anak-anak itu ingin ikut main kelereng, telah memutar kudanya, dia menghampiri.
"Ciu sute, kau telah berjanji tidak akan menimbulkan kesulitan dengan dengan sifat berandalmu itu ....... ayo, jangan ganggu engo-engko kecil itu…!"
Setelah berkata begitu, Ong Tiong Yang menoleh kepada anak-anak tersebut, tanyanya.
"Engko kecil, dimanakah kami bisa memperoleh rumah penginapan?"
"Jalan terus ke arah selatan, nanti kalian akan menemukan rumah penginapan!"
Sahut dua orang anak kecil itu sambil menunjuk ke arah dalam perkampunyan.
Kemudian anak-anak itu asyik bermain kembali sedangkan Cui Pek Thong dengan mendongkol telah melompat ke atas kudanya, dia berteriak nyaring.
"Sasar setan kecil pengecut, belum apa-apa sudah takut kalah bermain kelereng dan takut diakali......!"
Anak-anak itu tidak melayani teriakan Ciu Pek Thong, karena mereka telah meneruskan permainan kelereng mereka.
18 Benar saja berjalan tidak tidak jauh lagi, mereka telah menemukan rumah penginapan yang cukup bersih dan besar.
Segera Ong Tiong Yang dan Ciu Pek Thong turun dari kudanya masing-masing, dimana seorang pelayan telah menyambuti kuda mereka dan telah membawa ke istal.
Sedangkan seorang pelayan lainnya telah membawa mereka ke ruang dalam rumah penginapan.
Ong Tiong Yang meminta sebuah kamar, segera pelayan itu mempersiapkannya.
"Suheng, aku penasaran pada setan-setan kecil itu, dia bilang aku ingin mengakali mereka, padahal aku si Ciu Pek Thong mana mau bermain curang..?!"
Ong Tiong Yng tersenyum mendengar perkataan Ciu Pek Thong, katanya.
"Sudahlah, mengapa engkau harus bermain kelereng dengan anak-anak yang masih sekecil itu? Tidak dapatkah engkau membuang sifat kekanak-kanakanmu itu? Jika memang engkau telah memiliki sifat kekanak-kanakan seperti itu, tentu engkau tidak akan memperoleh kemajuan untuk pelajaran ilmu silatmu, dimana engkau masih saja gemar bermain-main, tidak mau berlatih dengan baik…"
Ciu Pek Thong hanya tertawa ditegur seperti itu oleh suhengnya, dia tidak membantah lagi dan juga tidak mengomel lagi karena tidak diajak bermain kelereng oleh anak-anak itu.
Sedangkan Oang Tiong Yang memesan kepada pelayan beberapa macam makanan tanpa barang berjiwa.
Mereka berdua telah bersantap dengan lahap karena mereka sangat lapar.
Pelayan rumah penginapan itu melihat bahwa tamunya terdiri dari Tojin dan seorang pemuda.
Tojin yang masih muda itu tampak gagah dengan kumis dan jenggotnya yang tipis dan 19 sebatang pedang tersoren dipunggungnya, tampaknya bukan orang sembarangan.
Sedangkan si pemuda yang menjadi kawannya Tojin itu merupakan seorang pemuda jenaka dan selalu gemar tertawa dengan mulutnya yang tidak henti-hentinya berbicara, ada saja yang dibicarakannya.
Dengan demikian pelayan di rumah penginapan itu memperlakukan mereka dengan sikap hormat.
Setelah bersantap, Ong Tiong Yang mengajak Ciu Pek Tong untuk beristirahat di kamar mereka.
Namun Ciu Pek Thong tidak mau, dia ingin pesiar menikmati keadaan di perkampungan itu.
"Tapi Ciu sute, engkau ingat, sekali-sekali tidak boleh menimbulkan keonaran dan jangan membawa lagak berandalanmu lagi! Engkau harus kembali kemari tanpa menimbulkan keributan di luar!"
Pesan Ong Tiong Yang.
Ciu Pek Thong berjanji, dan diapun meninggalkan Suhengnya keluar dari rumah penginapan itu.
Ong Tiong yang sendiri telah rebah diatas pembaringan untuk beristirahat.
Ong Tiong Yang teringat dua tahun yang lalu waktu diadakan pertemuan yang pertama antara jago-jago silat di daratan Tionggoan dan Toan Hongya yang digelari sebagai Lam-te atau Raja dari selatan itu, ikut diundang untuk merundingkan ilmu silat di puncak Hoan san.
Bahkan akhirnya dari sekian para jago silat yang berkumpul disana, yang memiliki kepandaian tertinggi Cuma lima orang, yaitu See Tok Si Bisa dari Barat), Auwyang Hong, Tong Shia (si Sesat dari Timur), Oe Yok Su, Pak Kay (Pengemis dari Utara), ang Cit Kong (dan dirinya sendiri yaitu Tiong Sin Thong Ong Tiong Yang.
Kesudahan dari pertemuan pertama di Hoan san diakhiri dengan kemenangan Ong Tiong Yang yang dianggap oleh See 20 Tok, Pak Kay, Tong Shia dan Lam Te sebagai pemenang tunggal dan memiliki kepandaian tertinggi.
Sedangkan keempat jago lainnya itu merupakan jago-jago yang memiliki kepandaian luar biasa tingginya namun berimbang satu dengan lainnya.
Masing-masing memiliki kelebihan dan kekuarangan pada ilmu silat mereka masing-masing.
Tidak demikian dengan Ong Tiong Yang, yang merupakan seorang tokoh persilatan yang memiliki kepandaian ilmu silat sudah tidak ada celanya dan sangat sempurna sekali.
Dengan demikian, Ong Tiong Yang yang telah berhasil memenangkan pertemuan tersebut, dimana diapun berhak untuk memiliki kitab Kiu Im Cin Keng.
Walaupun demikian, Ong Tiong Yang tetap menghormati dan menghargai keempat jago luar biasa itu, karena mereka memang sesungguhnya memiliki kepandaian yang tinggi sekali dan belum tentu berada dibawah kepandaiannya, hanya saja pada ilmu keempat tokoh luar biasa itu masih terdapat sedikit kelemahan pada masing-masing, dan perlu dilatih lebih jauh lagi.
Ong Tiong Yang melihat banwa Tong Shia (Sesat dari Timur) Oe Yok Su merupakan seorang yang memiliki perangai yang sangat aneh, hatinya sulit dibaca dan pikirannya sulit diikuti karena dia memang sesat setiap tindak lakunya.
Perbuatan yang salah bisa dibenarkan olehnya, karena memang dia memiliki perangai yang aneh dan juga bertindak sekehendak hatinya.
Tidak pernah mau teikat oleh peraturan adat yang ada.
Demikian Oe Yok Su bukan seorang yang mudah diajak untuk bercakap-cakap merundingkan ilmu silat.
Begitu pula dengan halnya See Tok (Si Bisa dari Barat) Auwyang Hong, seperti juga dengan gelarannya itu, si Bisa dari Barat, maka tindak tanduknya selalu disertai dengan perbuatan-perbuatan yang agak kejam, dimana diapun yang 21 mahir sekali mempergunakan bermacam jenis racun, disamping kepandaiannya yang memang luar biasa tingginya.
Diluar dari semua itu, Auwyang Hong merupakan seorang yang licik, terkadang tidak segan-segan jika memiliki kesempatan untuk "makan kawn‟.
Dengan demikian diapun seorang yang tidak patut untuk diajak berunding ilmu silat.
Sedangkan Pak Kay (Pengemis dari Utara) Ang Cit Kong, seorang yang jujur, apa yang dipikirkan itulah yang dikatakannya dan sifatnya polos, disamping berdiri tegak diatas keadilan.
Namu ada juga sifatnya yang sulit untuk dimengerti, Raja Pengemis ini yang duduk sebagai Pangcu Kaypang ternya taidak betah berdiam di suatu tempat untuk jangka waktu yang lama.
Dia selalu berkelana dan jejaknya sulit sekali dicari.
Diapun gemar sekali makan makanan yang lezat-lezat, sampai tidak segan-segan raja pengemis ini menyatroni istana raja untuk mencicipi seluruh makanan raja yang belum disajikan.
Dan terkhir adalah Lam Te, Kaisar Tayli yang gemar mempelajari ilmu silat.
Lam Te seoarang yang pendiam dan jujur, memang seorang Kaisar yang memiliki sikap dan sifat yang agung, maka setiap perkataannya selalu berharga sekali.
Karena itu Ong Tiong Yang akhirnya memilih Lam Te untuk diajak berunding ilmu silat.
Karena dengan diperolehnya kiu Im Cin keng, Ong Tiong Yang bermaksud untuk membicarakan isi kitab itu dengan Lam Te.
Dengan memiliki kepandaian yang dasangat tinggi bahkan diantara mereka berlima, Ong Tiong Yang yang paling sempurna ilmu silatnya, sesungguhnya dia tidak membutuhkan lagi kitab Kiu Im Cin Keng, hanya saja disebabkan perasaan ingin tahunya, maka Ong Tiong Yang beraksud membicarakan isi kitab tersebut bersama-sama dengan Lam Te.
Dia percaya Raja Tayli itu tentu dapat membantu banyak dalam hal merundingkan ilmu silat itu.
22 Itulah sebabnya Ong Tiong Yang bersama Ciu Pek Thong telah melakukan pernalanan ke Tayli untuk berkunjung pada Lam te.
Ong Tiong Yang menantikan Ciu Pek Thong tidak juga kembali, walaupun hari telah menjelang sore.
Hal iani mendatangkan kekuatiran dihati Ong Tiong Yang.
Yang menyebabkan Coan Cin Kauwcu itu kuatir bukan karena dia menduga ciu Pek Thong menemui kesulitan diganggu orang, namun justru yang dikuatirkan kalau-kalau dia menimbulkan keonaran dan kesulitan pada orang lain.
Inilah yang tidak diinginkan oleh Ong Tiong Yang.
Setelah bersantap sore, melihat Ciu Pek Thong belum juga kembali segera Coan Cin Kuwcu keluar dari rumah penginapan untuk mencari adik seperguruannya itu yang berandalan dan jenaka yang sifatnya masih kekanak-kanakan, walaupun usianya telah lebih dri dewasa.
Kemanakah perginya Loo Boan Tong (si Tua Beandalan) Ciu Pek Thong?
Ternyata ketika keluar dari rumah penginapan, Ciu Pek Thong telah menyusuri jalan di perkampungan itu dengan riang dan bersiul gembira, dia memandang sekelilingnya.
Jika dilihat ada sekelompok anak-anak yang tengah bermain, dia nimbrung dan mint diajak untuk ikut bermain.
Namun biasanya, anak-anak kecil itu keberatan jika Ciu Pek Thong bermain dengan mereka, karena usia Ciu Pek Thong yang telah dewasa sedangkan mereka masih anak-anak kecil belaka.
Tapi si berandalan yang jenaka ini tidak pernah kehabisan akal, dia telah memberi gula-gula cukup banyak, dan membagi-bagikan kepada anak-anak itu dan diajak bermain.
Namun dasar memang berandalan , Ciu Pet Thong setiap main mau menang, dan dengan berbagai cara dan akalnya dia berudaha 23 mengalahkan anak-anak itu.
Tentu saja anak-anak itu segera meninggalkannya dan tidak mau bermain lagi dengannya.
Waktu menjelang sore, kala itu Ciu Pek Thong berada di pinggiran kampung dan cahaya marahari yang memerah itu membuat semua pemandangan yang terdapat disekitar tempat itu menjadi indah sekali.
Dia tidak melihat anak-anak kecil yang bermain karena telah pulang ke rumah masing-masing, dengan sendirinya dia hanya sendirian belaka ditempat itu.
Ciu Pek Thong garuk-garuk kepalanya karena dia juga bingung harus bermain apa dan pergi kemana untuk mencari kawan-kawan kecil yang bisa diajak bermain.
Ciu Pek Thong memang seorang yang tidak bisa diam dan selalu bergerak, dia telah pergi ke sebelah timur, kebarat, kesegala tempat di kampung tersebut namun dengan tibanya sang malam, dengan sendirinya kampung itu menjadi sepi.
Setelah putar kayun kesana kemari dan tetap tidak memperoleh "
Kawan kecil‟ yang bisa diajak bermain, Ciu Pek Thong bermaksud untuk pulang, tapi waktu dia tengah melewati sebuah gang kecil yang panjang yang hanya diterangi oleh lampu-lampu tengloleng berwarna merah redup, dimuka sebuah gedung yang besar, dari dalamnya terdengar suara tabuh-tabuhan yang desertai suara tertawa dari beberapa orang pria dan wanita.
Situa berandalan nakal ini juga tertarik hatinya, seperti dikilik-kilik.
Dia memang tengah iseng tidak mempunyai kawan bermain dan mengobrol.
Karenanya sekarang melihat ada tempat keramaian seperti itu dia menjadi tertarik hatinya, dia segera memasuki gedung itu.
Sebelum masuk, dilihatnya diatas pintu tergantung papan merek yang bertuliskan "KUPU-KUPU dan BUNGA SALJU".
24 Ciu Pek Thong tidak mengetahui tempat apa gedung tersebut, hanya saja waktu tiba di ruang dalam yang menebarkan bau arak dan asap juga dari huncue, pula suara musik yang terdengar di ruangan tersebut diderai oleh suara tertawa beberapa orang wanita, membuat Ciu Pek Thong memandang bengong.
Bertahun-tahun selamanya dia selalu berada di Coan Cin Kauw, sebuah kuil yang sunyi, hanya setiap hari mendengar orang membaca Liamkeng diiringi dengan ketukan-ketukan Bo kie.
Dan kini dia melihat suatu suasana yang lain dari yang biasanya dilihat, dia jadi kikuk dan agak bingung.
Apalagi dilihatnya didalam ruangan tersebut berkumpul banyak sekali wanita-wanita cantik yang berpakaian mewah dan berpasang-pasangan dengan lelaki dari berbagai golongan, bahkan diantara mereka ada yang tengah berpeluk-pelukan genit sekali.
Dan ada juga yang tengah makan minum yang ditemani oeh beberapa orang wanita cantik yang melayani mereka dengan sebentar-sebentar tertawa manis, disamping itu di sudut ruangan itu, tampak sebuah kursi, duduk seorang wanita yang sedang memetik Khim memperdengarkan lagunya, suaranya merdu merayu… Itulah suasana yang baru pertama kali dilihatnya sehingga Ciu Pek Thong mengedip-ngedipkan matanya berulang kali, dia mau menduga dirinya tengah berada ditempat yang biasa disebut sebagai "Sorga‟.......
dimana tampak begitu banyak para dewa dan dewi.
Tengah Ciu Pek Thong mengawasi berdiri bengong mematung di pintu masuk itu, seorang wanita yang cantik dan berusia kurang lebih dua puluh tahun, telah menghampiri sambil tersenyum-senyum genit.
Dan ketika wanita cantik itu sampai didepannya, Ciu Pek Thong mengendus bau harum semerbak yang membuat pandangan matanya jadi nanar dan kepalanya jadi pusing dengan hati yang berdenyutan aneh sekali.
"Ah toako, engkau baru datang? Mengapa tidak segera masuk mengambil tempat?"
Sapa wanita cantik itu yang pakaiannya sangat reboh dengan dengan segala macam perhiasan.
Malah dia bukan sekedar menyapa dengan lagak dan tingkah genit, dengan tubuh dimiringkan menyender pada Ciu Pek Thong, dia telah menarik-narik tangan Ciu Pek Thong.
Hati Loo Boan Tong jadi semakin tidak karuan rasa, tergoncang denyut-denyut tidak hentihentinya, diapun bingung sekali.
Biasanya dia memang berandalan, dan sekarang di tempat ini justru perasaannya tertindih Waktu wanita cantik itu telah tertawa dan kemudian memberengut sambil melirik katanya.
"Apakah toako tidak tertarik pada Siauw Lin (Teratai Kecil)? Apakah aku kurang cantik? Aku akan melayani kau sampai mencapai puncak kepuasan yang tertinggi toako… ayo, kita memilih tempat, nanti jika tamu-tamu lain berdatangan, engkau tidak kebagian tempat dan hanya bisa gigit jari saja!"
Ciu Pek Thong bingung, waktu tangannya diseret, seperti juga seekor kerbau yang dicocok hidungnya hanya mengikuti saja.
siauw Lian telah mengajaknya ke sebuah meja masih kosong, telah memanggil seorang gadis cilik, memesan beberapa macam makanan dan memesan juga beberapa kati arak.
Mendengar disebutnya arak, Ciu Pek Thong seperti tersadar dari mimpinya, dia cepat-cepat menggoyangkan tangannya, katanya‟ "Aku tidak minum arak......!"
"Apakah toako ingin minum teh dari Hang Ciu yang sangat harum?"
Tanya Siauw Lian sambil tersenyum genit.
26 Ciu Pek Thong mengangguk ragu, dia masih bingung menghadapi suasana seperti ini, matanya juga tidak henti-hentinya melirik kesana kemari menyaksikan pemandangan yang membuat hatinya jadi berdenyut-denyut tidak henti-hentinya, dimana pasangan pria dan wanita cantik tengah saling bersenda gurau, sambil tertawa-tawa genit, berbisik-bisik mesra dan suara musik yang mengalum memenuhi ruangan tersebut.
Hidangan cepat sekali disiapkan.
Beberapa macam makanan yang tampaknya lewat-lewat telah diletakkan dihadapan Ciu Pek Thong, sehingga si Tua Berandalan ini tidak malu-malu lagi melahapnya beberapa macam makanan itu sambil memuji-muji akan kelezatan makanan tersebut.
Siauw Lian telah menuangkan teh Hangciu dan diberikan kepada Ciu Pek Thong, bahkan cawan itu diangsurkan ke mulut Ciu Pek Thong melayani dengan genit sekali.
Ciu Pek Thong sendiri jadi kelabakan.
"Biar aku minum sendiri… biar aku minum sendiri!"
Kata si tua berandal ini. Siauw Lian merenggut genit, katanya.
"Apakah kau jijik pada tanganku, toako?!"
"Bukan...... bukan begitu...... !"
Menyahut Ciu Pek Thong.
Siauw Lian tetap membawa cawan itu ke mulut Cio Pek Thong, sehingga Cio Pek Thong terpaksa meminumnya beberapa teguk.
Begitu meminum teh Hang Ciu tersebut, Loo Boan Tong jadi kaget dengan sendirinya.
"Ini...... Ini bukan teh, tapi arak!"
Katanya kemudian sambil bibirnya berkecap-kecap. Siauw Lian mengangguk.
"Ya, inilah teh Hangciu yang paling harum!"
Menyahuti dia dengan tersenyum genit dan 27 matanya mengerling pada Loo Boan Tong, malah telah menambahkan lagi cawan yang telah kosong itu.
Apa yang disebut Siauw Lian sebagai teh Hangciu memang ternyata merupakan arak dari Hangciu yang memang terkenal akan harumnya, karena umumnya arak Hangciu merupakan arak simpanan yang telah disimpan puluhan tahun.
Ciu Pek Thong telah didesak lagi untuk minum sampai empat cawan, tapi karena disebabkan kepandaiannya memang tinggi dan Iwekangnya telah terlatih dengan baik, dengan sendirinya Siu Pek Thong bisa mengumpulkan arak yang telah diminumnya itu, disalurkan pada ujung jari-jari tangannya dan secara diam-diam arak itu telah dikeluarkan dan mengalir dari ujung jari tangannya ke lantai diluar tahunya Siauw Lian.
Musik masih mengalun di ruangan tersebut, dan wktu itu tampak orang berdatangan semakin penuh juga.
Sengan sikap yang genit dan manja, Siauw Lian menyender dibahu Ciu Pek Thong.
Diapun telah berbisik dengan suara mesra.
"Toako, apakah engkau tidak mau istirahat di kamar, disana kau bisa rebah-rebah dengan nyaman dan aku akan memijitmu agar tubuhmu terasa segar…!"
"A...... apa?"
Tanya Ciu Pek Thong kaget.
Seketika pipinya berobah jadi merah dan jantungnya berdegupan.
Memang sejak tadi waktu wanita ini menyenderkan tubuhnya pada bahunya, Ciu Pek Thong mencium bau semerbak yang terpancar dari tubuh Siauw Lian.
Siauw lian menggeliat genit, sambil katanya.
"Jika kau berlambat-lambat, nanti engkau tidak kebagian kamar......! Waktu itu, walaupun engkau hendak rebah istirahat, toh tidak ada tempat yang layak lagi, paling-paling diatas meja ini......!"
"Aku memang tidak ingin istirahat, aku ingin pulang saja!"
Kata Ciu Pek Thong. Namun tangannya dicekal kuat-kuat oleh Siauw Lian.
"Kenapa ingin pulang, belum juga apa-apa sudah mau angkat kaki......! merengek Siauw Lian.
"Suhengku tengah menunggu aku ......!"
Menjelaskan Ciu Pek Thong yang jadi gugup oleh sikap dan lagak wanita ini.
"Suhengmu? Dimana dia menunggumu? Mengapa tidak diajak saja agar bersama-sama datang kemari?"
Tanya Siauw Lian.
"Aku tentu bisa memperkenalkan dengan beberapa kawanku. Pokoknya cantik dan menarik."
"Suhengku mana mau datang kemari?"
Kata Ciu Pek Thong yang tambah gugup. Jika suhengku mengetahui aku telah datang ke tempat ini, tentu aku akan ditegur dan dimarahi!"
Siauw Lian tertawa.
"Kau takut ditegur dan dimarahi suhengmu?!"
Tanyanya manja sambil tertawa genit, tangannya tetap mencekal kuat lengan Ciu Pek Thong, sehingga Loo Boan Tong yang ingin bangun dari duduknya tidak bisa.
"Tentu, aku sangat menghormati suhengku ….!"
"Biarlah nanti dia menyusul kau kemari, engkau tidak perlu gelisah seperti itu!"
Membujuk Siauw Lian. Ciu Pek Thong mengoyang-goyangkan kepalanya berulang kali, dia menggumam gugup.
"Mana bisa? mana bisa? Akh celaka!... celaka!" 29
"Apanya yang celaka? Atau engkau memang sudah tidak tahan ingin dipijit olehku? Ayo kau ikut bersamaku, Toako…. Tentu tidak akan celaka lagi!"
Benar-benar bingung Ciu Pek Thong menghadapikeadaan seperti ini. Dia memang si Tua Berandalan yang jenaka, tapi sekarang di tempat ini dia seperti kehabisan akal dan daya.
"Toako….!"
Merengek Siauw Lian lagi.
Tapi Ciu Pek Thong yang melihat tamu-tamu yang berdatangan semakin banyak, dan juga wanita-wanita di gedung tersebut tampaknya tidak malu-malu lagi untuk menggandengan dan berpelukan dengan para tamu laki-laki, Ciu Pek Thong jadi tidak enak melihatnya.
Diam-diam dia berpikir, tentunya tempat ini bukanlah tempat baik-baik, karena jika tempat baik-baik, niscaya wanita-wanita itu tidak akan memperlihatkan kelakuan yang melanggar adat istiadat kesopanan dimana terdapat larangan untuk wanita dengan seorang laki-laki bersentuhan tangan….
Waktu Ciu Pek Thong memaksa agar Siauw Lian melepaskan pegangannya pada tangannya karena dia bermaksud meninggalkan tempat itu dan Siauw Lian sendiri tengah merengek-rengek, tiba-tiba datang seorang yang menghampiri.
Ciu Pek Thong melirik.
Dia melihat seorang lelaki berumur sekitar empat puluh tahunan, bertubuh tegap, pakaiannya ringkas, tampaknya dia orang yang mengerti ilmu silat.
Bahkan dipinggangnya tergantung sebatang golok.
Waktu menghampiri meja Ciu Pek Thong matanya mendelik memancarkan sikap yang kejam.
"Siauw Lian, Loya memanggilmu! Mengapa kau melayani seorang kutu busuk seperti ini?!"
Tegur lelaki bertubuh tagap itu. 30 Mendengar perkataan orang itu, bukannya marah, malah tertawa terbahak-bahak kegirangan.
"Ya, ya, memang tepat jika Loyamu memanggil nona ini…. Aku memang hendak cepat-cepat meninggalkan tempat ini, tapi dia…. nona ini justru menahanku saja. he Laoko, tolong kau beritahukan pada nona ini, jangan menggangguku lebih jauh….!"
Lelaki bertubuh tinggi besar itu telah mendelik, dia telah berkata dengan suara yang tawar.
"Cepat kau menggelinding keluar, anjing buduk!"
"Apa?"
Tanya Ciu Pek Thong.
"Kau bicara dengan siapa?"
"Dengan kau!"
"Tapi namaku bukan anjing buduk!"
"Lalu nama apa yang hendak kau pergunakan? Apakah monyet belang? Kura-kura busuk? Atau memang Gentong nasi?!"
"Bukan… bukan, semuanya juga bukan!"
Teriak Ciu Pek Thong.
"Aku Loo Boan Tong!"
Mendengar penjelasan Ciu Pek Thong, lelaki bertubuh tinggi besar itu jadi tertawa terbahak-bahak, demikian juga halnya Siauw Lian.
"Kau….. kau Loo Boan Tong? Si Tua berandalan?!"
Tanya lelaki bertubuh tinggi besar.
"Ya, memang begitu sahabat-sahabat memberikan julukan kepadaku, sedangkn namaku adalah … Ciu … ciu ….!"
"Ciu apa, ciu Kui atau cio No?"
Mengejak laki-laki bertubuh tinggi besar itu.
"Kutu busuk tidak punya guna, ayo 31 cepat angkat kaki!"
Tampaknya sudah tidak sabar, sebab tangan kanannya yang besar berotot itu diulurkan, dia bermaksud akan mencengkram baju di dada Ciu Pek Thong.
Sambil mengulurkan tangan seperti itu, dia juga telah berkata kepad Siauw Lian.
"Siauw Lian, pergi kau temui Loya. Loya telah menantikan kau di ruangan sembilan!"
Siauw Lian yang rupanya yang sangat kenal dengan laki-laki itu, kuatir kalau-kalau Ciu Pek Thong akan disiksa olehnya, maka dengan muka agak pucat telah berkata.
"Sam Toaya, kau jangan menyakiti dia!"
Waktu itu tangan lelaki tersebut telah menyambat kepada Ciu Pek Thong dengan tenaga yang kuat sekali. Namun cengkeramannya meleset karena dia seperti mencengkeram belut.
"Eh engkau mau main-main dengan tuan besarmu, anjing geladak?"
Teriak Sam Toaya itu tambah bengis, rupanya dia jadi mendongkol dan penasaran. Malah tangan kanannya yang semula hendak digunakan untuk menghantam kuat sekali ke dada Ciu Pek Thong.
"Eit… eit kenapa mau memukul orang?"
Teriak Ciu Pek Thong kaget.
Namun Ciu Pek Thong tidak berkelit.
Pukulan itu jitu sekali mengenai dadanya, menghantam kuat sekali.
Seketika terdengar suara jeritan.
Siauw Lian menutup mukanya dengan kedua tangannya, karena menduga Ciu Pek Thong tentunya telah rebah di lantai dengan tulang-tulang dadanya yang patah.
Sedangkan tamu-tamu yang lainnya juga para wanita cantik yang menjadi 32 penghuni tempat bunga raya tersebut telah menonton keributan tersebut.
Waktu Siauw Liang membuka tangan yang menutupi mukanya, dia melihat Ciu Pek Thong tengah mengibas-ngibaskan dadanya, seperti hendak membersihkan kotoran debu pada pakaiannya didekat bagian dada, masih berdiri segar bugar.
Rupanya yang menjerit adalah Sam toaya itu, dimana waktu kepalan tangannya meluncur dengan kuat, dia menghantam jitu sekali dada Ciu Pek Thong, namun yang dihantamnya itu justru kuat dan keras sekali, seperti dia menghantam dinding baja saja, malah ketika itu dia merasakan tenaga menolak yang hebat sekali.
Kuat luar biasa sehingga tubuhnya terpental terpelanting dilantai dan tangannya sakit bukan main.
Dengan murka Sam Toaya itu telah merangkak bangun, mukanya merah padam, tangan kanannya telah mencabut goloknya.
Diapun telah menggeram, katanya dengan bengis.
"Manusia Keparat, engkau mencari mampus, heh? Terimalah golokku ini….!"
Dan golok itu telah digerakkan membacok ke arah pundak Ciu Pek Thong.
Siauw Lian dan tamu-tamunya, juga para wanita-wanita bunga raya lainnya yang menyaksikan keributan tersebut telah menjerit berisik sekali.
Mereka ketakutan dan kuatir sekali untuk keselamatan Ciu Pek Thong.
Melihat orang main pukul dan sekarang malah ingin membacoknya, Ciu Pek Thong jadi mendongkol bukan main.
Tepi waktu itu juga timbul sifat nakalnya.
Melihat golok menyambar kearah pundaknya, sama sekali dia tidak berusaha berkelit, melainkan dia mengawasi saja sambil tersenyum-33 senyum pada golok yang menyambar.
Dan waktu golok telah berada dekat, tahu-tahu Ciu Pek Thong telah mengulurkan kepalanya maju kedepan dengan gerakan yang cepat sekali, ujung golok itu telah digigitnya.
Bukan main mengejutkan semua orang yang berada di tempat itu.
mereka banyak yang mengeluarkan seruan ngeri.
Tapi yang paling terkejut adalah Siauw Lian, karena dia berada dekat sekali dengan Cio Pek Thong, sehingga dia bisa menyaksikan betapa golok itu tadi menyambar ke arah Ciu Pek Thong, lalu Ciu Pek Thong mempergunakan mulutnya untuk menggigit golok itu.
Siauw Lian menduga tentu golok itu akan meluncur terus menerobos masuk kedalam mulut Ciu Pek Thong dan akan merobek mulut dan leher Ciu Pek Thong, maka sambil menjerit ketakutan, dia telah pingsan rubuh terkulai di lantai.
Ciu Pek Thong melihat tubuh wanita itu terkulai akan rubuh di lantai, cepat-cepat mengulurkan tangan kakannya.
Dia telah berhasil menyambar lengan Siauw Lian, sehingga wanita itu tidak sampai rubuh rebah di lantai.
Waktu itu, Sam toaya telah mendorong sekuat tenaganya pada goloknya waktu melihat ujung goloknya digigit oleh gigi Ciu Pek Thong, namun usahanya itu sia-sia belaka, karena sedeikitpun juga goloknya tidak bergeming.
Ciu Pek Thong telah menggerakkan kepalanya, darimana tersalur tenaga dalam, tubuh Sam toaya itu tahu-tahu telah terlontar, celakanya pada goloknya terlepas, tubuhnya terbanting menggelinding di lantai.
Diapun menjerit-jerit kaget kesakitan.
34 Ciu Pek Thong telah menotok beberapa jalan darah Siauw Lian.
Wanita itu tersadar dari pingsannya dan menangis.
Sedangkan Ciu Pek Thong jadi sibuk membujuknya.
"Jangan menangis… jangan menangis…! Biar golok ini kupatahkan agar tidak bisa menimbulkan keributan lagi!"
Sambil membujuk Siauw Lian seperti itu, Ciu Pek Thong telah menurunkan golok itu dan mencekal dengan kedua tangannya.
Seperti juga mematahkan lidi, tanpa mempergunakan tenaga, golok itu telah dipatah-patahkan oleh Ciu Pek Thong menjadi delapan potong kecil.
Tampaknya ia mudah sekali dan tanpa mempergunakan tenaga.
Sam toaya yang telah merangkak bangun, tidak berani maju menyerang Ciu Pek Thong, karena dia menyadari bahwa Ciu Pek Thong bukan orang sembarangan.
Tadi dia telah merasakan betapa lihainya Ciu Pek Thong.
Maka tanpa mengeluarkan sepatah kata, dia telah memutar tubuhnya dan berlari meninggalkan ruangan tersebut.
Siauw Lian jadi panik sekali, katanya.
"Toako, engkau harus hati-hati. Sam toaya tentu akan datang bersama kawan-kawannya dan alat negeri untuk menangkapmu….!"
Demikian juga para tamu-tamu lainnya dan para wanita bunga raya itu, telah ramai membicarakan kehebatan Ciu Pek Thong yang dipuji-puji akan kehebatannya itu.
Namun ada juga yang menganjurkan agar Ciu Pek Thong segera meninggalkan tempat itu untuk menghindari balas dendam Sam toaya tersebut.
Mereka menjelaskan juga bahwa Sam toaya itu merupakan orang kepercayaan dari Gui Ciangkun (Panglima Gui) dan di tempat ini Sam toaya itu ditakuti.
Tidak ada seorangpun yang berani membantah perkataan dan keinginannya.
Biasanya jika benterok dengan seseorang, Sam toaya akan menghadapi sendiri lawannya, tapi jika dia 35 dirubuhkan, tentu dia akan mengajak kawan-kawannya, yang terdiri dari para pengawal Panglima Gui itu.
Dengan demikian, lawannya selalu berhasil ditangkap dan disiksa.
Dasar memang Ciu Pek Thong digelari Loo Boan Tong, si bocah tua bangkotan yang berandalan dan nakal, bukannya takut atau kuatir, malah jadi tertarik dan girang.
Dia justru memeng nakal dan selalu menghendaki keramaian.
Mendengar keterangan orang-orang itu, Ciu Pek Thong malah duduk kembali di kursinya, katanya.
"Biarlah aku menunggu Sam toaya itu, aku ingin melihat apa yang dapat dilakukannya!"
Lainnya tidak bisa membujuk Ciu Pek Thong agar meninggalkan tempat itu.
Malah Ciu Pek Thong telah makan minum sekenyang-kenyangnya, sambil berdongeng mengenai asal mulanya pohon Yangliu, asal mulanya ada awan, asal mulanya ada angin, asal mulanya ada hujan….
tentu saja dongeng Loo Boan Tong sangat menarik dan para tamu yang berkunjung ke tempat itu, malah jadi lupa dengan maksud kedatangan mereka.
Semua telah memasang telinga baik-baik mendengarkan dongeng yang diceritakan oleh Ciu Pek Thong, bahwa mereka seperti lupa ancaman yang bisa datang dari Sam toaya itu.
Karena ditanggapi seperti itu, Ciu Pek Thong terbangun kegembiraannya, dia semakin lupa daratan, sambil bercerita tidak henti-hentinya dia minum "teh Hangciu‟ yang harum itu, yang sesungguhnya merupakan arak yang harum dan cukup keras.
Sekarang Ciu Pek Thong tidak berusaha membuang arak yang telah diminumnya itu lewat jari-jari tangannya, sehingga mukanya dirasakan panas, pipinya itu berubah merah dan dia semakin lupa daratan, semakin bersemangat bercerita..
36 Apa yang dikuatirkan oleh Siauw Lian memang terbukti.
Sam toaya itu telah datang kembali dengan membawa enam orang tentara negeri yang berpakaian lengkap, semua memiliki paras muka yang garang dan bengis.
"Mana dia orangnya?"
Teriak beberapa orang diantara keenam perajurit itu, telah membuat semua orang yang tengab berkumpul mendengarkan dongengan Ciu Pek Thong jadi serabutan berusaha menyingkir.
"Itu dia orangnya….."
Teriak Sam toaya sambil menunjuk kepada Ciu Pek Thong. Ciu Pek Thong tertawa sambil bangkit, katanya.
"Engkau yang memukulku, engkau yang membacokku, sekarang engkau hendak menangkap orang?!"
"Tangkap penjahat itu!, dia tentu bukan manusia baik-baik dan hanya ingin menimbulkan kerusuhan di tempat ini!"
Perintah Sam toaya dengan suara nyaring tanpa mempedulikan perkataan Ciu Pek Thong.
Keenam prajurit itu telah mencabut golok masing-masing.
Mereka telah menerjang maju untuk membekuk Ciu Pek Thong.
Siauw Lian dan para wanita bunga raya lainnya menjerit ketakutan.
Tapi Ciu Pek Thong mana jeri berurusan dengan manusia-manusia seperti itu.
dengan mudah dia telah mengelakkan setiap bacokan.
Malah ketika Ciu Pek Thong mengebutkan lengan bajunya, keenam tentara negeri itu telah terpental saling tindih terbanting di atas lantai.
Sam toaya semula menduga dengan membawa enam tentara dia akan bisa membekuk Ciu Pek Thong, yang kelak jika telah dibekuk ingin disiksanya.
Namun siapa tahu, keenam 37 tentara negeri itu seperti halnya daun-daun kering yang berguguran di bumi.
Mereka hanya dikebut sekali telah tumbang kalang kabut seperti itu.
Ciu Pek Thong tertawa.
"Ayo, ayo kemari, kita main-main lagi! Ah memang menggembirakan sekali!"
Berseru-seru Ciu Pek Thong sambil tertawa-tawa gembira. Dia memang tengah kesal dan jengkel karena dia telah mutar kayun sebelumnya mencari "
Kawan kecil‟ yang bisa diajak bermain, namun tidak berhasil, sehingga kini ada kejadian seperti ini, membangunkan kegembiraan hatinya.
Dengan demikian, dia memang bermaksud mem-permainkan keenam orang tentara negeri dan Sam toaya itu.
****
Jilid 2 Tapi waktu keenam tentara negeri itu tengah merangkak bangun dan mengambil golok mereka masing-masing yang telah menggeletak di lantai karena terlepas dari cekalan mereka, waktu itu terdengar suara seseorang menegur dengan perlahan namun suaranya dalam.
"Samjie apa yang terjadi?!"
Sam toaya terkejut, demikian juga halnya dengan keenam tentara negeri, karena mereka segera mengenali bahwa orang yang muncul dari ruang dalam itu tidak lain dari Gui Ciangkun, panglima Gui, atasan atau majikan mereka.
38 Segera Sam Toaya dan keenam tentara negeri itu berlutut dihadapan Gui Ciangkun, malah Sam toaya telah menceritakan apa yang telah terjadi.
Tentu saja dia menceritakan bahwa Ciu Pek Thong lah yang mencari gara-gara dan sumber keributan, dimana hendak mempermainkan Siau Lian yang dipanggil oleh Gui ciangkun ini.
Gui ciangkun ternyata seorang panglima yang memiliki wajah yang agung dan angker, dia memelihara kumis dan jenggot yang tebal sehingga menambah keangkeran mukanya.
Dia memandang sejenak kepada Ciu Pek Thong, kemudian katanya.
"Ciu Enghiong, apakah benar engkau yang telah menimbulkan kerusuhan di tempat ini? tampaknya Ciu enghiong seorang yang asing datang kesini? Tidakkah Ciu enghiong ingat bahwa ini merupakan daerah kekuasaan Tayli, bukan seperti di Tionggoan sana, mungkin Ciu enghiong dapat bertindak sekehendak hati. Ciu Pek Thong tertawa jenaka, dia sama sekali tidak jeri walaupun berhadapan dengan panglima itu. malah timbul kegembiraannya, katanya.
"Jika engkau tidak senang dengan peristiwa ini, engkau juga boleh maju! Mari, mari, biar kucabuti jenggot dan kumismu itu!"
Muka Gui ciangkun berubah merah, namun dia menyadari Ciu Pek Thong seorang yang memiliki kepandaian tinggi.
Dari cerita Sam toaya saja dia mendengar bahwa keenam tentara negeri itu sekali dikebut telah terpental seperti daun kering.
Maka Gui ciangkun tidak mau bertindak sembrono.
"Apakah ada sesuatu yang tidak memuaskan Ciu enghiong? Atau memang menerima pelayanan yang tidak selayaknya sehingga membuat Ciu enghiong tidak senang dan menimbulkan keributan disini?"
Tegur Gui ciangkun. 39 Ciu Pek Thong menggelengkan kepalanya sambil tertawa.
"Kalau kau ingin bicara soal puas, aku baru puas jika telah dapat mencabuti kumis dan jenggotmu itu! Ijinkanlah aku mencabut kumis dan jenggotmu …..!"
Dan benar saja sibocah tua bangkotan yang nakal itu telah membuktikan perkataannya.
Dia menjejakkan kakinya, mencelat gesit sekali kehadapan Gui ciangkun.
Tangannya bekerja mencabut jenggot Gui ciangkun, sehingga terlepas beberapa lembar.
Panglima itu sampai menjerit terjentik kesakitan.
Ciu Pek Thong tertawa, tangannya bekerja terus mencabuti kumis dan jenggot panglima itu, sehingga berulang kali Gui ciangkun berteriak-teriak menjerit kesakitan sambil memerintahkan Sam toaya dan keenam tentara itu untuk menolongnya.
Namun semuanya setiap kali maju, tentu akan dibuat terpental oleh Ciu Pek Thong dengan dupakan kakinya.
Kedua tangannya terus saja mencabuti jenggot dan kummis Gui ciangkun.
Panglima Gui itu berlari-lari mengelilingi ruangan itu untuk menghindarkan diri dari Ciu Pek Thong, namun si bocah tua bangkotan yang nakal itu sambil tertawa-tawa tetap membayangi panglima Gui itu.
tangannya juga bekerja terus mencabuti kumis dan jenggot panglima tersebut, sehingga akhirnya waktu Ciu Pek Thong berseru.
"Sudah Selesai!"
Dan melompat ke samping, jenggot dan kumis panglima Gui itu racik hanya selembar-selembar sisa diatas bibir dan dagunya seperti kumis dan jenggot tikus.
Bukan main murka dan malunya Gui ciangkun ini.
dia memang merupakan langganan setia tempat ini, kini dia telah dicabuti kumis dan jenggotnya dihadapan bunga raya itu.
sedangkan dia sebagai panglima perang yang memiliki kekuasaan besar atas angkatan perang negeri Tayli, namun 40 sekarang dia tidak berdaya dan malu bercampur gusar.
Dia memutar tubuhnya melarikan diri meninggalkan tempat tersebut, diikuti oleh Sam toaya dan keenam tentara negeri itu.
Ciu Pek Thong tertawa bergelak-gelak.
Tampaknya si bocah tua bangkotan yang nakal ini puas sekali.
Tamu-tamu lainnya yang semula tegang melihat munculnya Gui ciangkun dan kenguatirkan keselamatan Ciu Pek Thong, setelah melihat semua diakhiri dengan kejadian seperti tadi, memdadak mereka tertawa.
Dengan sendirinya mereka semakin kagum pada Ciu Pek Thong.
Siauw Lianpun bertambah aleman dan genit melayani Ciu Pek Thong, malah rengekannya setiap dua menit satu kali, meminta agar Ciu Pek Thong segera pergi beristirahat di sebuah kamar istimewa yang telah disiapkan oleh pemilik rumah tersebut.
Namun Ciu Pek Thong malah lebih mau makan dan minum sepuasnya, lalu dia merogoh sakunya, mengeluarkan sepuluh tail perak, diletakkan diantara meja.
Diapun melangkah keluar dari ruangan tersebut, tidak mempedulikan rengekan Siauw Lian.
Karena Ciu Pek Thong telah mabuk dipengaruhi oleh arak Hangliu yang harum namun keras daya kerjanya itu.
sambil melangkah dengan kaki tidak tetap dan tubuh terhuyung-huyung, dengan muka yang merah panas, Ciu Pek Thong juga menggumam.
"Tubuh terkulai terlena mabuk, pedang tergantung cawan terbalik, Anggur segantang diminum habis, puteri jelita hanya tersenyum…."
Siauw Lian dan para tamu lain serta para wanita bunga raya hanya mengawasi bengong saja.
Tidak ada diantara mereka yang berani menahan Ciu Pek Thong, mereka bagaikan puteri jelita yang hanya tersenyum mengawasi saja kepergian Ciu Pek Thong.
41 Ciu Pek Thong sambil bernyanyi-nyanyi kecil menyusuri jalan berliku-liku, sepi dan sunyi, karena malam telah larut sekali.
Tanpa disadarinya, dia telah berada di tempat para bunga raya itu sampai hampir satu malam suntuk!
Ketika Ciu Pek Thong tengah berjalan dengan tubuh terhuyung-huyung, tiba-tiba dari arah belakangnya menyambar angin yang kuat sekali.
Ciu Pek Thong tertawa dingin.
"Hmmm, ingin menyerangku secara membokong? Tidak cukup hajaran yang kuberikan tadi?"
Sambil berkata begitu, tangan kanannya telah bergerak menghantam ke belakang.
"Plakkk!"
Tahu-tahu Ciu Pek Thong merasakan tangannya nyeri dan sakit sekali, karena dia menangkis datangnya Hudtim, bahkan tubuhnya seketika terjungkir balik di tanah.
Mabuknya seketika lenyap, walaupun kepalanya masih pusing, Ciu Pek Thong telah melompat berdiri, mementang matanya lebar-lebar, saking kagetnya karena dihadapannya berdiri Ong Tiong Yang suhengnya, yang tengah mengawasi dengan tatapan mmata yang tajam bersinar dan muka yang merah padam!.
"Suheng…?"
Memanggil Ciu Pek Thong dalam kagetnya, dia merasakan bagaikan diguyur air dingin.
Pengaruh arak seketika lenyap mempengaruhi dirinya, mabuknya seketika lenyap.
Ong Tiong Yang tampak gusar bukan main.
Dengan suara yang tawar dia berkata.
"Apa yang telah kau lakukan Ciu sute?"
Walaupun Ciu Pek Thong memperoleh julukan sebagai Loo Boan Tong si bocah tua bangkotan yang nakal, namun dia 42 tidak berani main-main menghadapi suhengnya ini yang sangat dihormatinya.
Diapun tidak berani berdusta, semuanya diceritakan tanpa ada satupun yang dilewatkan.
Muka Ong Tiong Yang menjadi muram.
Dia telah berkata dengan suara tawar.
"Apa yang telah kau lakukan itu adalah perbuatan yang hina, untung saja kau tidak sampai terjerumus. Latihan Iwekangmu yang telah susah payah kau peroleh itu akan lenyap dan selanjutnya jangan harap bisa menjadi seorang yang sempurna memiliki Iwekang… akan sia-sia usiamu…….!"
Ciu Pek Thong cepat-cepat berlutut mengaku salah dan memohon minta pengampunan dari suhengnya ini.
"Mari ikut pulang!"
Kata Ong Tiong Yang dengan tawar.
Ciu Pek Thong mengiyakan.
Mereka telah kembali ke rumah penginapan.
Ketika sampai di rumah penginapan dan telah berada di kamar mereka.
Ong Tiong Yang menjatuhkan hukuman pada sutenya itu, yaitu harus duduk bersila selama satu hari penuh menghadap dinding.
Ciu Pek Thong merupakan seorang yang berandalan dan gemar sekali bergerak, sedikitpun tidak pernah diam.
Kini dia telah menerima hukuman seperti itu.
dengan sendirinya walaupun hukuman hukuman yang ringan, hanya duduk bersila menghadap dinding selama satu hari, namun buat Ciu Pek Thong hukuman tersebut merupakan hukuman yang sangat berat sekali.
Dia seperti merasakan duduk setahun, didalam hati ia menggerutu terhadap hukuman yang diterimanya, namun sepatah perkataan keluhan tidak berani diucapkannya dihadapan Ong Tiong Yang.
43 Karena dihukumnya Ciu Pek Thong oleh Ong Tiong Yang selama satu hari penuh duduk menghadap dinding, dengan sendirinya Ong Tiong Yang harus menunda perjalanan mereka selama satu hari.
Dihari kedua, kakak dan adik seperguruan itu telah melanjutkan perjalanan mereka.
Namun Loo Boang Tong telah puluh kegembiraannya dan cerewetnya bukan main, mulai bertanya ini dan itu lagi, seperti juga hukuman yang diterimanya dan pengalaman yang pernah dialaminya di rumah bunga raya itu telah dilupakannya.
Dengan memberikan hukuman seperti itu pada Ciu Pek Thong, Ong Tiong Yang menghendaki adik seperguruannya ini kelak tidak sampai main-main di tempat yang berbahaya seperti itu.
Ong Tiong Yang mengetahui bahwa adik sepergiruannya ini seorang yang jujur namun berandalan, walaupun kepandaiannya memang telah mencapai tingkat yang tinggi, namun jika sampai dia terpengaruh datang ke tempat-tempat seperti bunga raya itu pula, berarti ancaman untuk masa depannya tidak kecil, terutama untuk kemajuan ilmunya.
Sedangkan Ciu Pek Thong waktu menjalani hukuman itu telah berjanji tidak akan menginjak tempat-tempat yang membawa "Sial‟ baginya, karena harus duduk seharian penuh menghadap dinding tanpa diperkenankan bergerak sedikitpun juga.
Dan itu merupakan hukuman yang benar-benar menyiksa sekali.
Dengan demikian Ciu Pek Thong benar-benar kapok untuk bermain-main ketempat serupa itu lagi.
Bahkan dia berjanji didalam hatinya sendiri untuk berhati-hati dan menjauhkan diri dari wanita!.
Begitulah setelah melakukan perjalanan tiga hari lagi, akhirnya mereka tiba di kota raja Tayli.
Seharusnya mereka 44 tidak memerlukan waktu yang begitu lama, namun karena mereka melakukan perjalanan yang perlahan dengan sendirinya telah menelan waktu perjalanan yang cukup lama.
Lam te adalah seorang raja, walaupun bagaimana sebagai seorang Kaisar tidaklah mudah untuk dijumpai sembarang orang.
Ketika Oey Tiong Yang dan Ciu Pek Thong menyatakan pada pengawal dimuka istana Kaisar, mereka malah dicurigai dan hendak ditahan.
Seorang pengawal istana telah masuk ke dalam untuk memberitahukan prihal maksud Ong Tiong Yang dan Ciu Pek Thong, dua orang dari kerajaan Song yang hendak bertemu dengan raja mereka.
Laporan itu disampaikan pada pimpinan keluarga Istana yang berpangkat Thian Tok.
Komandan keluarga istana yang memang mengatur seluruh keadaan di istana dan bertanggung jawab penuh, telah perintahkan untuk menangkap Ong Tiong Yang dan Ciu Pek Thong, yang nanti akan diperiksa dan dikorek keterangan apa maksud mereka berusaha menemui raja mereka.
Seseorang jika hendak bertemu dengan Kaisar, itupun harus melalui banyak peraturan yang tidak mudah, bukan terus datang ke istana raja.
Harus melalui menteri dalam negeri, meminta ijin, kemudian juga meminta ijin dari Panglima Keamanan Iatana, dan masih banyak lainnya, sampai akhirnya tergantung juga pada Kaisar apakah berkenan menerimanya atau tidak.
Tentu saja Ong Tiong Yang dan Ciu Pek Thong terkejut waktu dinyatakan pada mereka bahwa mereka hendak ditahan.
Ong Tiong Yang dengan sabar berusaha memberi pengertian, berusaha meyakinkan pengawal istana itu, bahwa mereka adalah sahabat dekat raja mereka.
Karena Ong Tiong Yang bersikap manis seperti itu, akhirnya si pengawal jadi bimbang dan telah melaporkan pada atasannya.
Komandan Pengawal Keluarga Istana telah berkenan juga menerima Ong Tiong 45 Yang dan Ciu Pek Thong, justru diapun ragu-ragu, kalau saja kedua orang ini benar-benar sahabat dekat dari rajanya, tentu urusan bisa jadi runyam.
Setelah berhadapan dengan Ong Tiong Yang dan memperoleh penjelasan bahwa Ong Tiong Yang dan Ciu Pek Thong merupakan sahabat-sahabat yang pernah mengadakan pertemuan untuk mengukur ilmu silat, komandan pengawal Keluarga Istana tersebut lebih mempercayainya dan akhirnya dia melaporkan juga kedatangan Ong Tiong Yang dan Ciu Pek Thong kepada rajanya.
Selama itu, Ciu Pek Thong berbesa dengan suhengnya, dia sudah tidak sabar, hampir-hampir dia melayangkan bogem mentahnya pada pengawal pintu istana, jika saja Ong Tiong Yang tidak mendelikinya.
Dan juga selama itu Ciu Pek Thong menjadi mati kutu karena beberapa kali Ong Tiong Yang telah mengisikinya agar sute Ciu Pek Thong tidak melakukan suatu tindakan apa-apa yang dapat menimbulkan kerusuhan, karena Ong Tiong Yang pun telah mengancam sutenya itu jika sampai timbul keonaran di istana raja Tayli ini, Ciu Pek Thong akan dihukum duduk bersila menghadap tembok selama satu bulan!.
Mendengar ancaman hukuman seperti itu, Ciu Pek Thong jadi mati kutu.
Dia hanya berdiam diri mengikuti dibelakang Ong Tiong Yang dengan muka yang cemberut, hatinya kesal dan jengkel sekali.
Justeru ancaman hukuman satu bulan duduk menghadap tembol tanpa bergerak itulah yang membuat Ciu Pek Thong bisa dikunci mulutnya, tidak cerewet dan sifat berandalannya juga tidak terlalu tampak.
Toan Hongya waktu mendengar prihal kunjungan Ong Tiong Yang dan Ciu Pek Thong jadi kaget dan girang bukan main.
Bahkan seketika itu juga diperintahkan untuk segera mengadakan penyambutan istimewa pada kedua tamu itu.
46 Semua peraturan yang terdapat di istana mengenai kunjungan seorang tamu dihapuskan dan dikecualikan untuk Ong Tiong Yang dan Ciu Pek Thong.
Dengan muka yang berseri-seri diliputi kegembiraan , Lam Te telah menyambut kedua tamunya.
Bahkan untuk tiga hari lamanya Lam Te tidak memimpin sidang, semua urusan lainnya dikesampingkan dan Toan Hongya asyik menemani Ong Tiong Yang bercakap-cakap membicarakan berbagai masalah yang menyangkut ilmu silat.
Mungkin juga terdapat seorang raja asing yang datang berkunjung, Tuan Hongya tidak akan menyambutnya dengan segirang saat ini, juga tidak akan menghapus peraturan-peraturan yang terdapat dilingkungan istana yang mewjibkan tamu-tamunya hanya dapat bergerak ditempat-tempat tertentu saja.
tidak demikian halnya dengan Ong Tiong Yang dan Ciu Pek Thong yang diperbolehkan untuk bergerak kemana mereka suka di dalam istana tersebut, tidak ada tempat terlarang bagi mereka….
Kunjungan Ong Tiong Yang bersama Ciu Pek Thong ke istana Toan Hongya, raja Tayli tersebut terjadi di tahun kedua setelah pertemuan Hoa san.
Semua orang takluk pada Kauwcu dari Coan Cin Kauw tersebut, sehingga rela jika kitab Kiu Im Cin Keng jatuh ke tangannya.
Tapi Ong Tiong Yang atau Tiong Yang Cinjin sangat mengagumi ilmu Sian Thian Kang dari Toan Hongya.
Demikian, selama belasan hari berkunjung ke istana Tyli, Ong Tiong Yang membicarakan soal ilmu Sian Thian Kang tersebut.
Toan Hongya juga tidak keberatan untuk menjelaskan segala apa yang menyangkut mengenai Sian Thian Kang 47 tersebut, sehingga Ong Tiong Yang sangat girang.
Banyak sekali yang mereka percakapkan dan rundingkan.
Selama itu pula banyak yang telah mereka rundingkan menukar pengalaman mengenai ilmu-ilmu yang hebat.
Disebabkan oleh Ong Tiong Yang memperoleh penjelasan untuk ilmu Sian thian Kang, ilmu andalan Toan Hongya, dengan demikian sebagai imbalannya Ong Tiong Yang juga telah menurunkan atau mengajari ilmu silat It Yang cie.
Yang menjadi ilmu silat paling istimewa.
(Ilmu It Yang cie dikelak kemudian hari pada generasi berikutnya raja-raja Tayli merupakan ilmu andalan setiap raja yang duduk di singgasana Tayli.
Semua itu dapat dibaca dalam "
Thian Liong Pat Poh‟ atau Pendekar-Pendekar Negeri Tayli) Selama Ong Tiong Yang tengah asyik merundingkan berbagai ilmu bersama Toan Hongya, justeru Ciu Pek Thong yang gemar bergerak tak suka berdiam diri saja.
setiap hari dia berputaran saja keseluruh lingkungan istana.
Dia pergi kebagian timur, kebagian barat dari istana, kesegala tempat, sampaipun dia tidak pandang-pandang lagi istana dimana permaisuri dan selir-selir tinggal.
Semua orang kebiri dan dayang-dayang mengetahui dia adalah seorang tamu agung.
Tidak ada seorangpun yang berani melarangnya.
Seperti pada malam itu, waktu Ong Tiong Yang dan Toan Hongya tengah berunding di ruang tulis pribadi Kaisar, mereka hanya berdua karena Ciu Pek Thong memang tidak pernah mendampingi mereka, dimana Loo Boan Tong si Bocah Tua bangkotan yang nakal itu selalu keluyuran dan tidak betah tinggal diam.
48 Dalam percakapan itulah Ong Tiong Yang telah menjelaskan isi hatinya, mengapa ia telah melakukan perjalanan yang begitu jauh, dari Tionggoan ke negeri Tayli untuk menemui Toan Hongya.
Sesungguhnya terdapat maksud yang terkandung dihati yang sangat penting sekali.
Waktu itu Ong Tiong Yang tengah berkata.
"Selama ini, penyakitku yang lama telah kembali kumat, mungkin aku tidak bakal berdiam terlalu lama lagi dalam dunia ini. Karena sekarang sudah ada orang yang mewarisi It Yang cie, jadi dalam dunia ada orang yang dapat menindih padanya, bolehlah tidak usah dikuatirkan yang dia nanti berani malang melintang bermain gila…!"
Toan Hongya mengawasi tamu agungnya ini, tanyanya.
"Ada urusan apakah yang telah mengganjal hati Cinjin?"
Ong Tiong Yang menghela nafas.
"Ya, sesungguhnya memang ada sesuatu yang mengganjal dan selalu jadi pikiranku setiap hari, mengenai diri seseorang…..!"
Menjelaskan Ong Tiong Yang.
"Dan memang sengaja aku telah meminta kepada Hongya untuk menurunkan ilmu Sian thian Kang kepadaku, setelah mana sebagai imbalannya akupun mewariskan It Yang cie. Dengan demikian, kita tidak berhutang budi apa-apa.…! Memang sesungguhnya pula maksud kedatanganku kemari, hanya untuk mewariskan kepandaian It Yang cie itu kepada Hongya, namun karena kuatir Hongya tidak mau menerima, maka aku sengaja meminta agar Hongya mengajari Sian thian Kang dan sebagai imbalannya aku membayar dengan It Yang Cie…!"
Memang diantara jago-jago rimba persilatan, hanya ada lima jago luar biasa yang memiliki kepandaian paling sempurna dan tinggi.
Kelima jago luar biasa itu sama-sama sempurna ilmunya.
Mereka terdiri dari Tong Shia, See Tok, 49 Lam Tee, Pak Kay dan Tiong Sin Thong.
Jika memang Orng Tiong Yang menyatakan terus terang nahwa dia datang untuk memberikan pelajaran ilmu It Yang cie, dia kuatir kalau-kalau Toan Hongya akan menolaknya.
Kemungkinan lain Toan Hongya akan tersinggung karena merasa dianggap enteng.
Itulah sebabnya Ong Tiong Yang sengaja telah meminta agar Toan Hongya mengajarinya dulu ilmu Sian thian Kang, setelah itu barulah dia menurunkan ilmu It Yang cie.
Toan Hongya sangat bersyukur sekali, dia memang dapat menerka akan maksud orang yang sengaja ingin menurunkan kepandaian istimewanya itu.
Sebagai seorang yang memang sangat mengagumi akan kemurnian dan lurusnya ilmu Ong Tiong Yang yang sangat sempurna ini, Toan Hongya memang sangat menghormati Coan Cin Kauwcu ini.
Sekarang dia menerima ilmu It Yang cie, ilmu istimewa tersebut yang jika dibandingkan dengan Sian thian Kang, bukan merupakan imbalan yang selayaknya, karena Sian thian Kang belum tentu sehebat It Yang cie, Toan Hongya selain bersyukur juga sangat heran karena dia yakin dengan tindakan seperti itu, Ong Tiong Yang pasti mengandung maksud yang sangat penting sekali untuk umat manusia.
"Lalu apa yang dimaksudkan oleh Cinjin dengan menurunkan It Yang cie kepadaku?"
Tanya Toan Hongya sambil mengawasi Coan Cin Kauwcu itu. Ong Tiong Yang menghela nafas lagi, wajahnya muram.
"Selama aku masih hidup, tentu dia tidak berani malang melintang sekehendak hati, sebab dia tentu masih jerih menghadapi It Yang Cie. Namun begitu aku menutup mata, niscaya dia akan melakukan perbuatan-perbuatan sekehendak 50 hatinya. Orang yang kumaksudkan itu tidak lain dari See Tok (si Bisa dari Barat) Auwyang Hong…!"
Toan Hongya terkejut, sampai raja Tayli ini mengawasi tamunya dengan mata tidak berkedip. Ong Tiong Yang tersenyum, dengan sabar meneruskan perkataannya.
"Sekarang It Yang Cie telah berhasil kuwariskan kepada Hongya, dengan demikian dapatlah aku bertenang hati, sebab masih ada orang yang dipandang oleh See Tok walaupun nanti aku telah menutup mata! Hai, hai, hanya See Tok seorang yang kukuatirkan akan menimbulkan bencana yang tidak kecil buat orang-orang rimba persilatan. Karena kepandaiannya yang sempurna, juga dia memang seorang yang licik dan tidak segan-segan untuk melakukan perbuatan-perbuatan rendah! Dengan demikian, dialah seorang yang benar-benar mengancam keselamatan Rimba Persilatan! Hongya jangan tersinggung oleh pernyataanku ini, aku hendak bicara terus terang. Diantara kalian berempat, See Tok, Pak Kay, Lam Te dan Tong Shin, kalian berempat berimbang, kepandaian sama-sama sempurna. Jika memang aku meninggal dan Hongya tidak menerima warisan It Yang Cie jangan harap dapat membendung dan menindih See Tok. Karena itu sekarang dengan berhasilnya Hongya mewarisi It Yang Cie, dengan demikian Hongya dapat menindih nya, sehingga See Tok tidak mungkin bisa berbuat sekehendak hatinya, karena masih ada yang diseganinya!"
Toan Hongya mengangguk beberapa kali.
Diam-diam dia semakin tebal menaruh hormat kepada Coan Cin Kauwcu.
Jadi tegasnya mewariskan It Yang Cie bukan untuk kepentingan seseorang, bukan pula untuk kepentingan Toan Hongya, melainkan untuk kepentingan manusia banyak lainnya, untuk 51 menindih dan mengawasi See Tok, agar dia tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang melampaui batas jika Ong Tiong Yang meninggal dunia.
Begitulah untuk waktu-waktu berikutnya, Ong Tiong Yang telah merundingkan berbagai ilmu-ilmu simpanannya dengan Toan Hongya, sehingga kaisar Tayli itu memperoleh petunjuk yang sangat berharga sekali dari Coan Cin Kauwcu.
Sesungguhnya, negara Tayli semenjak Sri Baginda Sin Seng Bun Tee Thay Couw membangun pemerintahan, ialah di tahun Teng yu, itulah lebih dulu dua puluh tiga tahun dari berdirinya kerajaan Song oleh Song Thay Couw diturunkan kepada Baginda Peng Gie.
Setelah empat tahun memerintah, Baginda Peng Gie mengundurkan diri dari kerajaan dan masuk jadi pendeta.
Tahta diserahkan kepada keponakannya, yaitu Baginda Seng Tek, kemudian tahta diturunkan terus kepada Baginda-baginda Hin Cong Hauw Tek, Poo Teng, Hian Cong Soan Jin serta Ayahku Keng Cong Ceng Kong.
Semua baginda itu telah menjadi pendeta juga.
Dari Tay Couw sampai pada Toan Hongya Toan Ceng, telah delapan belas turunan, ada tujuh orang raja Tayli yang mensucikan diri.
Kaum keluarga raja-raja Toan dengan mengandalkan berkah kebijaksanaan leluhurnya telah berhasil menjadi sebuah keluarga kaisar di sebuah kerajaan kecil di selatan.
Mereka semua merasa beranggung jawab untuk kesejahteraan rakyat dan negeri, maka juga hati mereka tidak tenang, setiap hari harus menghadapi berbagai masalah yang menyangkut keselamatan dan kesejahteraan dari jutaan manusia yang menjadi rakyatnya.
Tidak ada diantata mereka yang berani melakukan apa-apa yang melewati batas.
Biarpun begitu, siapa 52 yang menjadi raja, bukankan dia dapat makan tanpa meluku, dapat berpakaian tanpa menenun yang berarti dapat makan dan pakaian mewah yang semuanya sudah tersedia?
Seorang kaisarpun jika keluar naik kereta dan jika pulang memasuki istana.
Semua itu merupakan capai lelah dan keringat rakyat.
Sebab itu disaat usia mulai lanjut, raja-raja Tayli menyadari capai lelah rakyatnya, mereka meras menyesl, maka diakhirnya mereka rela menjadi pendeta.
Itulah sebabnya mengapa banyak juga bekas raja-raja Tayli yang terus mensucikan diri menjadi pendeta.
Namun hidup dalam suasana dan lingkungan mewah yang begitu-begitu juga harinya, yang selalu merupakan pekerjaan rutin melakukan sidang-sidang para menterinya, yang dipimpin setiap pagi hari, siang hari memberikan perintah pada panglimanya dan sore harinya beristirahat dikelilingi oleh kemewahan, membuat Toan Hongya jadi bosan dan lebih banyak mempergunakan waktu-waktu senggangnya untuk berlatih diri dan mempelajari ilmu silat.
Dengan demikian, karena sejak masih menjadi pangeran dia telah mempelajari ilmu silat, kebetulan pula memperoleh ilmu yang luar biasa tingginya, dengan sendirinya toan Hongya merupakan Kaisar Tayli yang memiliki kepandaian silat yang luar biasa.
Kaisar di selatan yang sangat tersohor sekali.
Sekarang Toan Hongya menerima kunjungan Ong Tiong Yang, seorang tokoh rimba persilatan, malah jago nomor satu yang sudah tidak ada tandingannya lagi, yang sangat dihormati sekali oleh kaisar tersebut, tidak terlalu mengherankan jika Toan Hongyapun lebih banyak menghabiskan waktu-waktunya belakangan ini dengan menemani Ong Tiong Yang.
Apalagi setelah Ong Tiong Yang membuka isi hatinya mengenai maksud utamanya melakukan pernalanan jauh dari Tionggoan 53 ke Tayli ini hanya untuk mewariskan It Yang Cie pada Toan Hongya, agar kelak Toan Hongya bisa mengawasi gerak-gerik dan tingkah laku Auwyang Hong, maka Toan Hongya semakin tekun melatih diri untuk ilmu-ilmunya yang baru saja diwariskan oleh Ong Tiong Yang.
Disebabkan Ong tiong Yang pun ingin mewariskan seluruh kepandaiannya kepada Toan Hongya, dengan sendirinya Coan Cin Kauwcu tersebut harus berdiam di istana Toan Hongya selama enam bulan bersama Loo Boan Tong si bocah tua bangkotan yang nakal tersebut.
Karena telah mendapat kata sepakat antara Ong Tiong Yang dan Toan Hongya, yang telah menyetujui bahwa Ong Tiong Yang mewariskan seluruh kepandaiannya untuk Kaisar ini, dengan demikian setiap hari kedua orang itu, Kaisar dengan tamu agung tersebut berlatih diri.
Karena Ong Tiong Yang menghendaki agar Toan Hongya dapat berlatih baik dan sempurna.
Toan Hongya sendiri selain sangat bersyukur, juga dengan tekun telah mempelajari dan melatih ilmu It Yeng Cie, ilmu yang istimewa dan juga ilmu-ilmu lainnya.
*** Karena setiap hari tidak memiliki kesempatan didampingi suhengnya, dan hanya seorang diri putar kayun tidak bisa diam, Ciu Pek Thong jengkel dan kesal sekali.
Sesungguhnya dia tidak betah untuk berdiam terus di istananya Toan Hongya, karena menurutnya dia jemu dan bosan.
Namun suatu malam ketika dia menyatakan kepada Ong Tiong Yang mengenai maksudnya, ingin pergi pesiar di luar istana selama satu bulan, Ong Tiong Yang telah melarangnya dengan keras, karena Ong Tiong yang kuatir kalau-kalau Ciu Pek Thong menimbulkan kerusuhan pula.
54 Dengan dilarang keluar dari istana, membuat Ciu Pek Thong semakin jengkel.
Dia setiap hari memutar kayun di istana toan Hongya dengan hati yang mangkel sekali.
Dan karena itu, setiap bagian dari istana Toan Hongya telah didatangi.
Dan boleh dikatakan Ciu Pek Thong pun mengenal baik sekali seluruh bagian dari istana raja Tayli itu.
karena seringnya ia memutar kayun mengelilingi istana Toan Hongya maka Loo Boan Tong merupakan si bocah tua bangkotan berandalah yang nakal ini benar-benar merasakan seperti dalam keadaan disiksa dan terpenjara dimana kebebasannya sangat terkekang sekali.
Walaupun sesungguhnya sebagai tamu agung dia tidak pernah dilarang untuk berkeluyuran diseluruh wilayah istana, sampai-sampai ke daput istana, kamar mandi dan juga tempat buang kotoran, semuanya telah didatangi oleh Ciu Pek Thong dan diketahuinya dengan baik.
Tidak trkecuali juga istana tempat berdiamnya para selir dan yang lebih hebat lagi, Loo Boang Tong juga berkeliaran dengan bebas di istananya permaisuri!
Walaupun demikian, perasaan bosan juga yang membuat Ciu Pek Thong merasakan dirinya sangat terkekang, kebebasannya seperti dibatasi, karena setiap hari hanya diperbolehkan berkeliaran disekeliling istana tersebut, setapakpun tidak boleh melangkah keluar meninggalkan istana.
Ong Tiong Yang kuatir jika Ciu Pek Thong diijinkan keluar dari istana, maka dia akan menimbulkan kerusuhan.
Tapi justru dengan berdiamnya Ciu Pek Thong didalam istana, keonaran yang hebat sekalipun tidak terhindarkan telah terjadi urusan yang benar-benar membawa perobahan untuk hari depan dan juga penghidupan dan kehidupan Toan Hongya diwaktu-waktu mendatang.
Karena Loo Boan Tong jika memang tidak menimbulkan keonaran, tidaklah bisa disebut Loo Boan Tong, karena jika si bocah tua bangkotan ini selama setengah tahun terkurung di dalam istana, malah selama enam 55 bulan itu Ong Tiong Yang jarang mendampinginya, karena selalu harus memperhatikan latihan-latihan Toan Hongya, dan Loo Boan Tong tidak menimbulkan gara-gara, itulah urusn yang benar-benar mengherankan.
Pada sore itu Ciu Pek Thong baru saja salin pakaian, dia telah menggerutu seorang diri dengan hati kesal.
Semua istana ia telah kelilingi, sampai ke bagian yang paling sudut dan terpencil sekalipun.
Itupun dia baru berdiam bersama suhengnya selama dua bulan lebih di istana Toan Hongya.
Kemarin malam suhengnya itupun menjelaskan bahwa kemungkinan mereka akan berdiam di istana Toan Hongya sampai enam bulan, berarti masih ada empat bulan lagi Ciu Pek Thong harus hidup terkurung dan terkekang kebebasannya di istana tersebut.
Sanggupkah dia melakoni cara hidup ini terus menerus, dimana setapak atau selangkah kaki tidak diperkenankan keluar dari istana.
Karena itu, setiap kali berfikir begitu Ciu Pek Thong jadi berduka.
Sesungguhnya sering terpikir olehnya hendak diam-diam meninggalkan istana, tapi dia tidak memiliki keberanian sebab dia memang sangat menghormati Suhengnya dan tidak berani melanggar pesan Suhengnya satu langkahpun.
Dengan demikian akhirnya Ciu Pek Thong hanya semakin kesal saja.
Di istana yang peuh dengan pengawal, mereka tidak ada seorangpun yang bisa diajak untuk bermain-main, karena mereka memiliki tugas-tugas yang harus mereka lakukan, disamping itu peraturan di istana sangat disiplin sekali.
Dengan demikian Ciu Pek Thong tanpa kawan, benar-benar jadi bosan dan jengkel sekali.
Juga dia tidak bisa menemukan satu dua orang anak kecilpun yang bisa diajak bermain kelereng.
56 Seperti sore-sore sebelumnya, setelah bersalin pakaian Ciu Pek Thong lebih banyak keluyuran disekitar taman bunga istana, untuk memandangi bunga-bunga beraneka macam yang tumbuh terawat baik disitu.
Tapi apa yang dilihatnya, senua bunga-bunga itu menyebalkan dengan kehidupan begini-begini saja, hanya dikelilingi bunga-bunga yang tidak bisa diajak bermain.
Ciu Pek Thong sering mengomeli bunga-bunga itu, tidak jarang ia menggerutu.
"Hu, hu, kusentil telingamu….."
Sungguh menyebalkan sekali.
Dan memang Ciu Pek Thong menyentil kelopak bunga itu, seperti tengah menyentil seorang anak kecil.
Atau jika memang Ciu Pek Thong tengan sengit, dia tentu memaki bunga-bunga itu, katanya.
"Kalian toh jelmaan dari para dewi-dewi yang dikutuk oleh raja langit, yang diturnkan ke dunia untuk menjadi pohon-pohon bunga, mengapa kalian tidak mau menjelma menjadi dewi-dewi lagi untuk sehari ini guna menemaniku bermain kelereng….?"
Dan banyak lagi tingkah laku Ciu Pek Thong yang lucu, jenaka namun bisa menimbulkan prasangka orang bahwa dia terganggu otaknya jika memang ada orang yang melihat tingkah lakunya seperti itu.
Namun memang Ciu Pek Thong sangat jemu dengan kehidupannya didalam istana Toan Hongya ini.
Tapi sore ii, Ciu Pek Thong tidak menuju ke taman bunga, dia menyusuri bagian istana sebelah barat, dimana tempat para selir-selir kaisar berada.
Maksud Ciu Pek Thong, dari iseng keluyuran seorang diri, dia ingin menggoda para selir itu, dengan menakut-nakuti mereka, umpamanya membuat mimiknya sebagai mimik hantu, menjadi setan jadi-jadian, untuk menakut-nakuti para selir itu.
Jika mereka ketakutan dan berlarian sambil menjerit dan pengawal berdatangan, tentu Ciu Pek Thong akan gembira sekali.
Namun sambil melangkah menyusuri jalan yang penuh batu-batu putih bulat itu, Ciu Pek 57 Thong juga teringat pada Suhengnya.
Jika sampai dia menimbulkan gara-gara dan keonaran seperti itu dan Ong Tiong Yang suhengnya itu mengetahui, tentu dia akan dihukum berat.
Bisa memperoleh hukuman duduk bersemedhi menghadap tembok tanpa boleh bergerak sedikitpun!
Dan Loo Boan Tong, si bocah tua bangkotan ini jeri terhadap ancamman hukuman yang memungkinkan dia sama sekali tidak bisa bergerak atau keluyuran, sedangkan dia adalah seorang yang gemar bergerak dan tidak betah diam….!"
Ciu Pek Thong si bocah tua bangkotan yang nakal itu tambah uring-uringan dan menyusuri jalan kecil berbatu putih itu dengan kepala tertunduk dan sebentar-sebentar kakinya menendang-nendang batu kecil yang melintang didepannya.
Setiap kali ditendang, ada saja batu yang melayang pesat dan menghantam batu lainnya, menimbulkan suara benturan yang tidak begitu keras namun batu itu meluruk menjadi bubuk!.
Waktu Ciu Pek Thong sampai di ujung jalan kecil itu dia melihat pintu rembulan yang terukir indah sekali.
Itulah pintu yang merupakan batas antara tempat itu dengan istana para selir kaisar ditempatkan.
Di istana tersebutlah para selir memperoleh tempat-tempat tersendiri.
Ciu Pek Thong berdiri di muka pintu berbentuk rembulan tersebut beberapa saat.
Tampaknya si bocah tua bangkotan yang nakal ini ragu-ragu.
Dia memang telah berpikir tadi untuk mengganggu dan menggoda para selir itu.
namun dia jeri pada suhengnya, terutama ancaman hukuman yang bisa diterimanya.
Karenanya dia jadi ragu-ragu.
Namun dasarnya memang Loo Boan Tong yang tidak bisa diam dan nakal, akhirnya Ciu Pek Thong toh melangkah terus memasuki pintu rembulan tersebut.
58 Memasuki istana tersebut, Loo Boan Tong bertemu dengan dua orang dayang, yang telah mengangguk hormat dan tersenyum manis, tidak ada diantara mereka yang berani menegur Loo Boan Tong atas kelancangannya yang berani masuk ke dalam istana para selir.
Dan tamu agung yang nakal ini dibiarkan bebas berkeliaran di istana para selir tersebut.
Ciu Pek Thong yang tengah urung-uringan dan jengkel itu, telah keluyuran mengelilingi istana tersebut dan berulang kali bertemu dengan dayang istana dibagian berdiamnya para selir tersebut, namun mereka tidak ada yang berani melarang Ciu Pek Thong berkeliaran ditempat tersebut.
Waktu sampai di taman bunga istana, tempat selir kaisar tersebut yang terletak di sebelah barat, Ciu Pek Thong mendengar menderunya angin yang halus, seperti juga ditempat itu ada seseorang yang tengah berlatih ilmu pukulan.
Sebagai seorang yang memiliki kepandaian tinggi, Ciu Pek Thong segera dapat mengetahui bahwa didengar dari angin pukulan yang menderu-deru itu, orang yang tengah berlatih itu belum lagi mencapai tingkat yang sempurna.
Tapi semangat Ciu Pek Thong terbangun, dia girang sekali.
Dengan adanya orang yang tengah berlatih silat, tentu dia bisa mengajak orang itu main-main.
Dasar memang nakal, Ciu Pek Thong menjejakkan kakinya, tubuhnya ringan sekali melompat ke atas genting.
Kemudian dengan gesit dia teh melompat kedekat payong bangunan itu, darimana dia bisa melihat taman istana bagian tersebut, sehingga begitu melihat jelas siapa yang tengah berlatih, Ciu Pek Thong jadi bengong.
Ditaman itu, seorang memang tengah berlatih ilmu pukulan seorang diri.
Begitu tekun orang itu mempelajari ilmu pukulan, sehingga dia tidak memperhatikan keadaan disekitarnya, terlebih lagi memang Ciu Pek Thong 59 menempatkan dirinya diatas payon rumah.
Dialah seorang wanita yang cantik jelita, berusia masih muda dengan rambut yang disanggul tunggal, diberi hiasan yang terdiri dari intan dan permata lainnya, ujung rambut telah diikat merupakan buntut kuda.
Wanita yang cantik jelita itu mengenakan baju warna kuning keemas-emasan, dengan rompi warna merah dan runce-runce kuning pula.
Ikat pinggangnya berwarna jambon.
Tubuhnya bergerak lemah gemulai dalam ilmu pukulan yang tengah dilatihnya, sehingga dengan lenggang lenggoknya wanita cantik tersebut bagaikan seorang dewi dari kahyangan yang baru turun ke bumi untuk membawakan sebuah tarian yang sangat menarik.
Angin pukulan yang menderu-deru itu berasal dari gerakan kedua tangannya.
Ciu Pek Thong mengawasi dengan mata terbuka lebar-lebar, dia begitu kagum dan terpaku oleh kejelitaan wanita tersebut.
Sebagai seorang yang berandalan, bukan didorong oleh pikiran yang tidak-tidak, namun si nakal ini justru telah kesengsem oleh ingatan prihal dongeng yang sering diceritakan oleh Ong Tiong Yang suhengnya mengenai dewi-dewi dari kahyangan.
Ciu Pek Thong ingin menduga apakah wanita cantik jelita ini adalah seorang dewi yang baru saja turun dari kerajaan langit?
Yang menarik hati Ciu Pek Thong, ilmu pukulan wanita yang cantik jelita itupun sesungguhnya merupakan suatu ilmu pukulan yang sangat hebat yaitu Sian Thian Kang, ilmu andalannya Toan Hongya!
Cuma saja, disebabkan latihan wanita itu masih jauh dari sempurna, pukulan-pukulannya 60 hanya menimbulkan angin yang menderu-deru, belum lagi merupakan pukulan-pukulan yang berarti.
Karena terlalu tertarik, Ciu Pek Thong telah menghampiri lebih dekat, dimana dia berdiri depinggir payon genting, kemudian menggantung disitu dengan mencantolkan salah satu kakinya dipayon tersebut.
Maksud Ciu Pek Thong ingin mengejutkan wanita itu dengan tiba-tiba.
Dia ingin mengejutkan wanita itu dengan menjadi "setan gantung‟.
Wanita cantik yang tengah berlatih ilmu pukulan Sian thian Kang itu sama sekali tidak mengetahui bahwa dirinya tengah diperhatikan oleh Ciu Pek Thong.
Dia begitu tekun membawakan jurus demi jurus dari ilmu pukulan tersebut.
Siapakah wanita cantik jelita tersebut?
Ternyata ia tidak lain dari Lauw Kuihui, salah seorang selir tersayang dari Toan Hongya.
Tayli merupakan kerajaan kecil dan tentu saja tidak bisa disamakan dengan kerajaan Song.
Jika ingin membicarakan soal keluasan wilayah kerajaan tersebut.
Namun sama seperti raja-raja Song, seorang Kaisar Tayli selalu memiliki seorang permaisuri dan beberapa orang selir.
Dengan demikian, Toan hongya pun seperti lazimnya kaisar-kaisar lainnya memiliki permaisuri dan beberapa orang selir.
Sebagai seorang yang gemar berlatih silat, sesungguhnya Toan Hongya tidak begitu tertarik dengan wanita, namun semua itu dimana dia memiliki beberapa orang selir, hanya untuk melengkapi kedudukannya sebagai seorang raja saja, dimana memang sudah menjadi semacam tradisi atau peraturan yang tidak tertulis harus dilaksanakannya.
Jika Toan Hongya tengah berlatih diri, maka para selir Toan Hongya ikut menyaksikan, maka diantara beberapa orang 61 selir itu ingin mempelajari ilmu silat.
Toan Hongya pun memenuhi permintaan selir-selirnya itu, sebab Toan Hongya berfikir berlatih ilmu silat hanya untuk menambah kesehatan mereka dan panjang umur.
Diantara para selir-selir yang meminta diajari ilmu silat, terdapat Lauw Kuihui, yang bakatnya sangat baik dan cerdas.
Dia masih berusia muda sekali, baru dua puluh tahun dan juga rajin belajar.
Begitu diajari setiap jurus dia langsung bisa.
Bahkan setiap hari dia telah melatih diri dengan baik, dimana dia selalu berusaha untuk menguasai ilmu yang diturunkan oleh Toan Hongya.
Kesungguhan hatinya dalam berlatih ilmu silat membuat Toan Hongya menurunkan ilmu-ilmu yang lebih banyak lagi.
Bahkan Sian thian Kang, ilmu andalah Toan Hongya telah diturunkan pada selir yang seorang ini.
Lauw Kui hui ternyata bukan hanya rajin mempelajari ilmu silat yang diturunkan oleh Toan Hongya, bahkan dia berkeinginan untuk memiliki kepandaian yang benar-benar sempurna.
Dia menghendaki bisa memperoleh ilmu yang lebih tinggi, dimana kelak bisa menyebabkan dia bisa memiliki kepandaian yang tidak berada dibawah kepandaian Toan Hongya.
Dengan keinginannya untuk memiliki kepandaian ilmu silat yang tinggi seperti itu, Lauw Kui hui memiliki maksud-maksud tertentu, yaitu seetelah berhasil memiliki kepandaian yang tinggi ia bermaksud menindih pengaruhnya permaisuri, dimana Lauw Kuihui memang bercita-cita ingin menggeser permaisuri dan ia ingin duduk disisi Toan Hongya sebagai permaisuri yang agung!
Sebagai seorang wanita yang cerdas dan cerdik, dengan sendirinya mengetahui bahwa rajanya merupakan seorang yang gemar ilmu silat.
Jika ia bisa mempelajari ilmu silat yang sangat tinggi, tentu Toan Hongya 62 akan lebih menyeyangi dan memperhatikannya, bahkan diwaktu-waktu mendatang mereka bisa berunding tentang ilmu silat, dengan begitu pula Toan Hongya lebih banyak berdampingan dengannya.!
Itulah salah satu sebab mengapa Lauw Kuihui dengan rajin berlatih diri.
Dia berusaha untuk menguasai seluruh ilmu yang telah diturunkan oleh Toan Hongya, dan memang dia berhasil dengan baik, walaupun dia belum bisa menguasai tenaga Iwekang yang tinggi, namun seluruh ilmu silat yang diturunkan oleh Toan Hongya telah berhasil dikuasai semuanya, tinggal yang kurang latihan belaka.
Toan Hongya sendiri terhadap selir yang satu ini memang memperlakukannya lain dari selir-selir lainnya, raja itu memperhatikan lebih istimewa, dimana Lauw Kuihui sangat disayang dan diperhatikan.
Terlebih lagi setelah Toan Hongya mengetahui selirnya itu berbakat dalam mempelajari ilmu silat.
Dengan demikian, perhatian Toan Hongya semakin besar tertumpah pada selir yang satu ini.
Setiap sore Lauw Kuihui selalu melatih diri dengan rajin, dan sepperti sore inipun dia tengah berlatih dengan tekun, sehingga Ciu Pek Thong yang nakal itu sempat menyaksikan selir itu tengah berlatih diri.
Loo Boan Tong yang nakal itu telah mengawasi sekian lama, akhirnya dengan sebelah kaki, yaitu kaki kiri tergantung di payon, sehingga tubuhnya bergantung begitu, dia bertepuk tangan memuji.
"Bagus!..bagus! .. ilmu silat yang baik! Hanya sayang dibawakan oleh orang yang tidak begitu pandai, sehingga intisari ilmu itu lenyap semua dan tidak ada artinya…." 63 Lauw Kuihui terkejut, berhenti menggerakkan sepasang tangannya dan menoleh. Selir ini jadi terkejut melihat seorang bergelantungan di payon, malah seorang laki-laki! Di istana tersebut setiap laki-laki dilarang masuk atau menginjakkan kakinya, kecuali Toan Hongya. Sedangkan seluruh dayang di istana para selir terdiri dari wnita semuanya. Kini, ditempat ini telah masuk seorang laki-laki, inilah baru pertama kali terjadi. Buat Lauw Kuihui selain mengejutkan juga bercampur girang, karena dia segeera mengenali bahwa orang ini bukan lain dari tamu agung rajanya, yang menurut keterangan yang diperoleh dari Toan Hongya bahwa kedua tamu agung itu memiliki kemampuan silat yang tinggi sekali, bahkan salah seorang diantara mereka itu memiliki kepandaian diatas kepandaian Toan hongya sendiri. Melihat Pek Thong, seketika berkelebat serupa ingatan dihati Lauw Kuihui.
"Oh kiranya Ciuya?"
Berseru Lauw Kuihui sambil memperlihatkan paras berseri-seri, sehingga wajahnya yang cantik itu tambah rupawan, matanya yang bersinar-sinar bagaikan bintang timur, hidungnya yang bagus bentuknya, bibirnya yang mungil dengan pipinya yang kemerah-merahan sehat dan bentuk tubuhnya yang begitu indah.
Ciu Pek Thong melompat turun dengan gerakan yang ringan.
Tubuhnya melayang ke samping Lauw kuihui dengan gerakan yang indah sekali, seperti juga hinggapnya seekor burung rajawali.
Lauw Kuihui yang melihat cara melompat turun Ciu Pek Thong jadi tambah kagum, karena selir ini melihat bahwa ginkang Ciu Pek Thong memang sempurna sekali.
64 Ciu Pek Thong tidak mengetahui bahwa Lauw Kuihui adalah seorang selir Toan Hongya, malah merupakan selir yang sangat disayang dan dicintai oleh raja itu, maka sama sekali Ciu Pek Thong tidak memberi hormat sebagaimana layaknya, hanya tertawa dengan sikap jenaka, katanya.
"Apakah engkau mau main-main denganku?"
Muka Lauw Kuihui jadi berubah merah, pipinya dirasakan jadi panas sekali. Dia menunduk.
"Akh.. ciuya bergurau!"
Kata selir itu dengan suara tidak begitu jelas. Pek Thong membuka matanya lebar-lebar. Dia memandang bagaikan si tolol.
"Bergurau?"
Tanyanya.
"Aku tidak bergurau. Jika memang engkau mau, aku bersedia untuk menemanimu main-main!"
Muka Lauw Kuihui tambah merah.
Memang sebagai selir seorang Kaisar, Lauw Kuihui telah terlalu banyak mendengar tentang penyelewengan selir raja dengan pria-pria tertentu atau orang-orang dalam istana, dimana selir-selir itu yang umumnya kesepian, main-main dengan kekasih gelapnya.
Dan sekarang tamu agung yang seorang ini, begitu bertemu dengannya telah mengajaknya untuk main-main, tentu saja membuat Lauw Kuihui merasa malu dan gusar.
Namun disebabkan tamu ini merupakan tamu agung, dengan sendirinya dia tidak berani menegur kekurang-ajaran tamu tersebut.
"Ciuya, apakah Hongya telah memberikan ijinnya padamu untuk masuk kemari…?"
Tanya Lauw Kuihui untuk mengalihkan pembicaraan mereka. 65 Ciu Pek Thong menggeleng, sambil tertawa dia bertanya.
"Apakah untuk masuk kemari harus memerlukan ijin dari Toan Hongya?"
Lauw Kuihui yang kini berbalik bingung.
Orang yang dihadapannya ini adalah tamu agung kaisarnya.
Menurut rajanya itu bahwa tamu agung ini juga memiliki ilmu silat yang amat tinggi, dimana Toan Hongya sendiri memperlakukan tamu agung ini dengan hormat.
Namun sekarang dengan mata kepala sendiri dia menyaksikan tamunya ini adalah seorang yang ketolol-tololan.
Namun tentu saja Lauw Kuihui tidak berani memperlihatkan sikapnya meremehkan, bahkan dia mengangguk cepat sambil katanya.
"Ya, segala disini harus memperoleh ijin dari Toan Hongya!"
Ciu Pek Thong tertawa lebar sambil tepuk-tepuk keningnya.
"Dasar si Toan Hongya saja yang mau disibuki oleh segala peraturan, mau apa dia sibuk mengatur tempat ini, segala apa harus memperoleh ijinnya? Apakah jika aku hendak main dengan kau, itupun perlu ijin dari Toan Hongya?"
Kembali pipi Lauw Kuihui jadi berobah merah dan terasa panas, namun dia mengangguk.
"Ya…!"
Shutnya dengan sikap malu-malu tapi hatinya mendongkol bukan main.
"Hu..hu.. sungguh tengik sekali dan menyebalkan Toan Hongya, kalau memang kita main-main tanpa ijinnya, apakah kita akan dihukumnya?"
Lauw Kuihui mengawasi tamu ini, dia berdiam diri mengawasi dengan salah tingkah. 66
"Aku tertarik melihat engkau memiliki kepandaian yang lumayan, belum terlatih sempurna karena tenaga latihanmu belum kuat benar. Namun kukira cukup untuk menemaniku bermain-main beberapa jurus melewatkan waktu yang senggang! Tapi memang jika harus meminta ijin dulu dari Toan Hongya, oh..oh.. ini menyebalkan sekali! Aku semakin tidak betah berdiam ditempat ini….!"
Dan Ciu Pek Thong telah uring-uringan, dia telah menepuk-nepuk keningnya lagi.
Lauw Kuihui tertegun, sejenak dia tertawa, ternyata dia telah salah menafsir perkataan "main-main‟ nya Ciu Pek Thong.
Rupanya yang dimaksud oleh Ciu Pek Thong adalah main-main untuk berlatih ilmu silat, jadi bukan "main-main asmara‟ seperti yang diduga oleh Lauw Kuihui.
Waktu itu Ciu Pek Thong telah memutar tubuhnya, dia ingin meninggalkan taman itu karena dia benar-benar jengkel sekali.
"Tunggu dulu Ciuya!"
Panggil Lauw Kuihui cepat. Dan Ciu Pek Thong menahan langkahnya menoleh… "Apakah kau mau menemani aku main-main tanpa ijin dari Toan Hongya?"
Girang sekali si bocah tua bangkotan yang berandalan itu. Lauw Kuihui mengangguk.
"Ya, Siaumoay bersedia untuk menemani Ciuya….!"
"Bagus!"
Berjingkrak Ciu Pek Thong yang girang bukan main, sampai seperti seorang anak kecil yang memperoleh sebuah mainan yang disenangi.
Dia berjingkrak-jingkrak beberapa kali.
Lau Kuihui juga tersenyum.
Dia sekarang mengetahui walaupun tampaknya ketolol-tololan dan bloon, lagaknya 67 bego-begoan seperti itu, namun kenyataannya Ciu Pek Thong adalah seorang yang polos dan jujur.
Dalam waktu yang singkat dia telah melihat betapa polosnya Ciu Pek Thong.
Apa yang dipikirkannya , apa yang dikatakannya dan tidak terikat oleh segala peradatan.
Bukankan dia seorang selir dimana seharusnya Ciu Pek Thong harus memperlakukannya dengan sikap yang hormat dan penuh peradatan yang pantas?
Jika toh bukan selir, setidak-tidaknya sebaai seorang wanita, tentu Ciu Pek Thong pun akan memperlakukan Lauw Kuihui lebih pantas dari yang sekarang ini, dengan sikap sopan santun, dan peradatan yang memisahkan antara pria dan wanita.
Tapi si bego ini malah bersikap begitu polos semau hatinya.
Namun Lauw Kuihui tidak marah terhdap Ciu Pek Thong, diapun mamang tidak mempersalahkan sikap Pek Thong, malah menyukainya.
Menurut Lauw Kuihui, selama dia berada di istana Toan Hongya diambil menjadi selir, semua penghuni istana memperlakukannya dengan hormat dan disertai dengan segala peradatan.
Dengan demikian Lauw Kuihui menjadi bosan dan jemu disamping sebal.
Namun sekarang Ciu Pek Thong justru memperlihatkan sikap yang polos, seadanya dan apa saja yang sepantasnya, bercakap-cakap dengan polos bebas, dan juga tidak disertai dengan peradatan yang memuakkan Lauw Kuihui.
Karenanya diam-diam selir ini juga jadi senang untuk bercakap-cakap dengan si tamu agung ini.
Ciu Pek Thong telah berhenti berjingkrakan, dia telah menghampiri Lauw Kuihui, sambil tertawa lebar, diapun berkata.
"Mari.. mari kita mulai!"
"Siauwmoay tidak memiliki kepandaian yang berarti, karenanya harap Ciuya kasihan pada Siauwmoay… untuk memberikan petunjuk pada Siauwmoay!"
Kata Lauw Kuihui dengan sikap yang manis. 68 Ciu Pek Thong mengangguk, katanya.
"Jangan kuatir! Jika nanti setelah kau menemani aku main-main, sehingga kau tidak kesepian lagi, tentu aku akan membalas budimu dengan mengajarimu ilmu-ilmu yang hebat! Sungguh menyebalkan sekali, selama berada di istana Toan Hongya ini, tidak ada seorangpun yang menemani aku main-main, sehingga aku hanya keluyuran seorang diri, membosankan sekali. Jika saja ada orang yang mau menemaniku untuk bermain-main, seperti main kelereng, atau main petak dan lain-lainnya, tentu aku akan betah berada di istana ini walapun harus bertahun-tahun…!"
Lauw Kuihui tersenyum.
Dilihatnya Ciu Pek Thong walaupun seorang pemuda yang telah berusia hampir tigapuluh tahun, toh kenyataannya dia merupakan seorang yang jenaka dan wataknya seperti kanak-kanak, dimana dia masih senang main keleereng, masih senang main petak.
Inilah yang tidak pernah diduga oleh Lauw Kuihui, mengenai tabiat dari tamu agungnya ini maka sekarang begitu mengetahui tabiat si tamu agung dia jadi tersenyum sendiri.
Melihat Lauw Kuihui hanya tersenyum Ciu Pek Thong jadi gatal tangannya dan tak sabaran.
"Ayo kita mulai! Jangan senyum-senyum begitu saja!"
Kata Pek Thong.
"Siauwmoay menantikan pengajaran dari Ciuya!"
Kata Lauw Kuihui.
"/Engkau masih memiliki kepandaian yang rendah, tentu saja engkau yang harus menyerang aku!"
Kata Ciu Pek Thong tanpa tedeng aling-aling, plos sekali.
"Jika memang aku yang menyerangmu, apakah dalam dua jurus engkau masih bisa mengelakkan?" 69 Muka Lauw Kuihui jadi berubah merah. Tampa mempedulikan keadaan selir tersebut, Pek Thong telah mengibaskan lengan bajunya, katanya.
"Ayo mulai menyerang, aku akan melayanimu dengan main-main, seperti ini sungguh menggembirakan sekali!"
Lauw Kuihui sambil berkata minta "
Maaf‟ telah menggerakkan kedua tangannya saling susul, dia mulai menyerang dengan jurus-jurus pukulan Sian thian Kang.
Karena mengetahu tamu agung ini seorang yang memiliki kepandaian yang tinggi, begitu menyerang Lauw Kuihui segera menggunakan jurus yang hebat.
Namun bagi Ciu Pek Thong dia mana melihat sebelah mata terhadap serangan tersebut?
Karena dia bergerak lincah sekali menghindari serangan tersebut.
Empat kali Lauw Kuihui menyerang hebat, empat kali pula gagal.
Bahkan waktu dia menyerang keempat kalinya, Pek Thong telah melompat kebelakang Lauw kuihui sambil tertawa-tawa dan dia telah menarik buntut kuda Lauw Kuihui.
Tentusaja Lau kuihui terkejut sekali, karena bukannya mengusap, malah justru menarik rambutnya membuat kepalanya terjengklak kebelakang.
Namun akhirnya Lauw Kuihui bukannya marah atas "
Kekurangajaran‟ Ciu Pek Thong, malah dianggapnya lucu dan menyenangkan dengan main main secara bebas seperti itu.
seumur hidupnya, terlebih sejak diboyong ke istana menjadi selir, Lauw Kuihui tidak pernah bermain sebebas sekarang ini.
inilah permainan yang menyenangkan sekali.
Dengan demikian, semangat Lauw Kuihui terbangun, demikian juga kegembiraanya.
Sambil tertawa-tawa gembira Luw Kuihu menyerang Ciu Pek Thong berulang kali.
Dengan demikian, 70 karena Pek Thong selalu berkelit mengelak dan Lauw Kuihui menyerang terus sambil mengejarnya, mereka juga seperti pasangan kekasih yang tengah bermain petak.
Suara tertawa Loo Boan Tong yang selalu berjingkrak dan berseru diiringi tertawanya dan suara tertawa Lauw Kuihui yang begitu merdu merupakan kegembiraan yang terlihat jelas sekali.
Lama juga Lauw Kuihui mengejar-ngejar sambil menyerang berulang kali pada Pek Thong, namun Pek Thong selalu berhasil mengelakkannya, karena Pek Thong memang memiliki Ginkang yang sempurna, dia seperti mempermainkan Lauw Kuihui.
Sudah berbulan-bulan Pek Thong selalu dikurung di istana Toan Hongya tanpa pernah bermain-main, sehingga menyebalkan sekali buatnya.
Sekarang dia bisa bermain-main dengan gembira seperti ini hatinya jadi terbuka sekali.
Semikian juga halnya dengan Lauw Kuihui.
Tetapi setelah lewat seratus jurus lebih, Ciu Pek Thong berkata.
"Jagalah… aku akan balas menyerang!"
Lauw Kuihui mendengar bahwa Pek Thong ingin balas menyerang, sambil tertawa-tawa telah bersiap-siap untuk menerima serangan, dia berwaspada sekali.
Waktu itu Ciu Pek Thong mengulurkan tangannya akan menotok lengan, Lauw Kuihui mengelakkannya ke samping kanan.
Dengan demikian totokan Ciu Pek Thong dapat dielakkan.
Namun Pek Thong penasaran, dia meneruskan serangannya itu tanpa menarik pulang tangannya, maka tanpa diinginkan justru jari tangan Ciu Pek Thong telah menotok dada Lauw Kuihui.
71 Buat Pek Thong, hal itu tidak jadi persoalan, tidak membawa perasaan apa-apa baginya.
Tapi tidak demikian dengan Lauw Kuihui.
Mukanya berubah menjadi merah panas, karena dia menduga inilah perbuatan nakal dari Pek Thong.
Sesungguhnya Pek Thong memang tidak mempedulikan ikatan peradatan antara pria dan wanita, karenanya totokan jarinya pada dada Lauw Kuihui dianggapnya hal yang biasa saja.
Waktu itu Pek Thong telah berjingkrak tertawa.
"Bagus! bagus .. kau bisa mengelakkan totokanku. Itulah bagus, menunjukkan bahwa kepandaianmu memang cukup tinggi … coba terima lagi totokanku ini!"
Kali ini Ciu Pek Thong bergerak sebat sekali, dimana tubuhnya berkelebat gesit sekali.
Mata Lauw Kuihui jadi kabur, tahu-tahu dia telah merasakan ngilu pada pinggang dan pundaknya dan tanpa dikehendaki, tubuhnya lemas tidak bertenaga dan rubuh rebah diatas rumput yang memang tumbuh tebal ditempat itu.
Ciu Pek Thong telah melihat Lauw Kuihui terkulai rebah diatas rumput, bukannya kaget dan cepat-cepat membangunkannya untuk membebaskan totokannya, malah si bego bocah tua bangkotan yang nakal ini telah tertawa terbahak-bahak.
"Nah sekarang kau menyerah atau tidak? Jika kau mengaku kalah, aku akan membebaskan totokan itu…!"
Muka Lauw Kuihui jadi berubah merah, dia jengah sekali. Namun dia menyahuti.
"Ciuya, kepandaianmu sangat tinggi sekali, aku kagum!"
"Katakan saja dulu, kau mengaku kalah atau tidak?"
Tanya Ciu Pek Thong. 72
"Ya, Siauwmoay mengaku kalah, kepandaian Ciuya hebat sekali!"
Menyahuti Lauw Kuihui. Pek Thong berjingkrak-jingkrak kegirangan.
"Nanti kita main-main lagi, sungguh menggembirakan!"
Berseru Ciu Pek Thong.
Segera Lauw Kuihui dibebaskan dari totokan.
Waktu itu Lauw Kuihui jadi kagum sekali pada Ciu Pek Thong.
Dia memang menyukai tabiat Pek Thong yang bebas.
Maka sekarang melihat Ciu Pek Thong memiliki ilmu yang begitu tinggi, yang hanya dua kali menyerang telah merubuhkannya, Lauw Kuihui jadi tambah menyukai Ciu Pek Thong.
Sedangkan Ciu Pek Thong mendengar Lauw Kuihui takluk padanya dan juga mendengar selir itu memujinya setinggi langit, jadi girang bukan main.
Terlebih lagi memang Lauw Kuihui sangat cerdas, disamping juga dia memang cerdik dan pandai memanfaatkan keadaan, dimana melihat Pek Hong memiliki ilmu yang hebat, terutama ilmu totokan itu yang belum pernah diturunkan oleh Toan Hongya, dia telah memohon pada Pek Thong agar mau mengajarinya ilmu totokan itu padanya.
Sebelumnya Lauw Kuihui memang sering sekali memohon pada Toan Hongya agar mengajarkan ia ilmu totokan, tapi karena Toan Hongya beranggapan ilmu totokan itu merupakan ilmu yang terlalu sulit dan Lauw Khihui juga belum memiliki dasar yang kuat disamping Iwekang yang belum terlatih dengan baik, maka Toan Hongya selalu menolak permintaan Lauw Kuihui.
Dengan demikian keinginan selir itu untuk mempelajari ilmu totokan tersebut semakin kuat.
Sekarang dihadapannya berdiri si tamu agung yang bego namun memiliki ilmu totokan yang luar biasa tingginya, dengan 73 demikian Lauw Kuihui tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, dia sengaja melayani Pek Thong dengan manis, memohon agar Pek Thong mengajari ilmu totokan.
Ciu Pek Thong waktu mendengar Lauw Kuihui minta diajarkan ilmu totokan jadi bingung.
Tidak mudah untuk untuk memberikan pelajaran ilmu totokan itu, setidak-tidaknya memakan waktu yang sangat lama.
"Nanti aku akan menemani Ciuya main-main kelereng!"
Kata Lauw Kuihui.
Dia memang cerdik, tadi dia mendengar Pek Thong mengatkan bahwa si bocah tua bangkotan yang berandalan ini gemar main kelereng dan main petak, karena itu ia ingin "membayar‟ pelajaran ilmu totokan itu dengan mengajak Pek Thong main kelereng atau main petak.
Mendengar akan ditemani main kelereng, Ciu Pek Thong berjingkrak-jingkrak girang, bahkan dia telah berseru.
"Cepat kau keluarkan kelerengmu!"
Kata Ciu Pek Thong tidak sabar.
"Aku tidak memiliki kelereng!"
Kata Lauw Kuihui.
"Nih kupinjami lima kelereng, nanti kau harus mengembalikannya!"
Kata Pek Thong sambil menyerahkan lima butir kelereng pada Lauw Kuihui.
Lauw Kuihui menyambuti dan merekapun telah asyik bermain kelereng.
Semula Lauw Kuihui tidak tahu cara bagaimana bermain kelereng, tapi setelah dijelaskan oleh Pek Thong cepat sekali dia mengerti, malah mereka telah main kelereng dengan hati yang sangat gembira.
Sebentar-sebentar terdengar suara seruan dan tertawa mereka yang gembira.
Yang paling gembira adalah Pek Thong, karena dia bisa bermain kelereng ditemani Lauw Kuihui, tidak seperti hari-hari sebelumnya, dimana dia selalu diliputi kejengkelan hati karena 74 kesepian tidak ada orang yang bisa menemaninya bermain kelereng.
Sampai hari gelap, mereka masih terus bermain kelereng, malah Lauw Kuihui telah menyalakan beberapa tengloleng dimana taman itu cukup terang, dan mereka terus juga main kelereng sampai jauh malam.
Akhir dari permainan mereka, Lauw Kuihui yang kalah dan berhutang sampai duapuluh delapan kelereng pada Pek Thong.
****
Jilid 3
"Besok kita main lagi!"
Kata Lauw Kuihui.
"Dan jika besok aku yang beruntung bisa menang, akan kubayar hutangku itu!"
Pek Thong gembira sekali.
Malam itu dia tidur nyenyak sekali.
Hatinya sangat puas, sampai dalam tidurnya dia mimpi tengah bermain kelereng bersama-sama dengan Lauw Kuihui.
Keesokan paginya, Pek Thong telah datang ke istana selir kaisar mencari Lauw Kuihui.
Tidak sulit buat Pek Thong karena Lauw Kuihui telah menantinya di taman.
Merekapun asyik bermain kelereng lagi.
Bosan bermain kelereng mereka bermain petak, bermain hantu-hantuan dan 75 lain-lain permainan yang sesungguhnya semua itu merupakan permainan kanak-kanak.
Lauw Kuihui sendiri mula pertama kalinya merasa lucu dan geli dihati dengan bermain seperti kanak-kanak kembali.
Namun setelah asyik bermain, justeru selir ini jadi gembira bukan main karena belum pernah dia merasakan kebebasan dan kegembiraan seperti itu, dimana dia bisa bermain dengan bebas dan gembira sekali, tidak terkungkung oleh segala adat peradatan, malah Lauw Kuihui seperti memperoleh kembali kegembiraan masa kanak-kanaknya.
Setelah lelah bermain, Lauw Kuihui menyediakan makanan untuk Pek Thong.
Sambil makan, Pek Thong bercerita mengenai ilmu totokan itu, bagaimana pertama kalinya harus mulai mempelajari rahasia-rahasia terpenting dari ilmu totokan tersebut, dan cara bagaimana harus dapat menotok dengan mengimbangi tenaga totokan, agar setiap totokan dapat menutup jalan darah totokan tersebut.
Lauw Kuihui mendengarkan dengan penuh perhatian.
Bukan main girangnya Lauw Kuihui karena dia telah memperoleh kenyataan bahwa ilmu totokan itu adalah ilmu yang hebat dan beberapa kali dalam kesempatan waktu mereka tengah bermain gembira, selalu Liauw Kuihui menuntut agar Pek Thong menepati janjinya untuk mengajari dia ilmu totokan tersebut.
Loo Boan Tong, si bocah tua bangkotan yang nakal iitu selalu bermain dengan gembira.
Diapun tidak menganggap bahwa Lauw Kuihui sebaagai seorang wanita, hanya diperlakukan sebagai seorang sahabat yang menyenangkan yang bisa diajak bermain bersama-sama, menemaninya bermain kelereng dan petak.maka Lauw Kuihui memiliki 76 banyak sekali cara-cara bermain yang menarik, seperti juga halnya dengan bermain tangan tungkrap buka, yang dikenal dengan nama pong-pong-ciu dan bermain lempar-lempar batu, bermain melompati tambang, bermain melewati tumpukan gala.
Tentu saja semua itu harus dilakukan oleh Pek Thong tanpa mempergunakan ginkangnya, sehingga memang sulit juga Pek Thong untuk melewati tumpukan tangga dengan lompatan biasa, dan semua itu malah mendatangkan kegembiraan yang luar biasa bagi Pek Thong sehingga dia selalu menjanjikan kepada Lauw Kuihui jika memang Lauw Kuihui mau menemaninya bermain-main, dia akan menurunkan ilmu silatnya yang lain-lainnya disamping ilmu totokan itu.
Lauw Kuihui semakin bersemangat mencarikan permainan baru untuk si bocah tua bangkotan yang nakal dan berandalan ini yang memiliki tabiat masih seperti kanak-kanak itu.
Begitulah, dihari kelima, Pek Thong mulai mengajari Lauw Kuihui ilmu totokan itu.
Yang pertama-tama diajarkannya Kauwhoat (teori) ilmu totokan tersebut.
Dia telah menyebutkan satu persatu teori ilmu totokan tersebut.
Setiap kali dia selesai menjelaskan satu jurus dan ilmu totokan tersebut dia mengajak Lauw Kuihui untuk bermain.
Dan setelah puas bermain, baru Pek Thong mengajari jurus yang lainnya lagi.
Dengan cara seperti itu, setelah lewat sepuluh hari, barulah Pek Thong menjelaskan seluruh kauwhoat ilmu totokan tersebut.
Lauw Kuihui memang cerdas sekali.
Dia sangat pintar sekali, karena sekali saja Pek Thong menjelaskan.
Dia segera bisa mengingatnya dengan baik dan menguasai teori itu.
77 Waktu hari kesebelas, tiba giliran Pek Thong memberitahukan letak-letak dari jalan-jalan darah terpenting di tubuh manusia.
Untuk ini Pek Thong memperoleh kesulitan.
Sejak pagi hari, Pek Thong telah bermuram dan bermain tidak segembira hari-hari sebelumnya.
Lauw Kuihui melihat keadaan Pek Thong seperti itu, sambil tertawa menanyakannya.
Si bocah tua bangkotan itu Cuma menggeleng-gelengkan kepalanya.
Tapi waktu Lauw Kuihui mendesaknya, Pek Thong telah mengetuk-ngetuk keningnya dengan wajah muram.
"Ciuya, jika memang engkau mempunyai urusan yang sangat penting dan menyusahkan hatimu, katakan saja, siapa tahu aku bisa membantumu!"
Kata Lauw Kuihui.
"Jangan kau berdiam diri seperti itu saja, sebab akan membuat permainan kita ini tidak menarik dan kegembiraan kita lenyap…!"
Ciu Pek Thong menghela nafas, dia duduk bengong, tapi kemudian berjingkrak.
"Ai, memang benar! Benar!"
Teriaknya.
"Apa yang benar, Ciuya?!"
"Memang benar apa yang kau katakan…. Aku tidak boleh membuat permainan kita ini menjadi tidak resap dan juga kegembiraan kita jadi terganggu! Aku harus mengatakan kesulitan itu!"
"Ya, katakanlah Ciuya!"
Kata Lauw Kuihui.
"Sesungguhnya aku tengah bingung memikirkan bagaimana aku harus mengajarkan kau ilmu totokan itu. Karena Kauwhoat ilmu totokan itu telah selesai kuberitahukan, sekarang aku harus memberitahukan letak dari jalan darah 78 darah itu diseluruh tubuh…. dengan demikian …. aku mengalami kesulitan!"
"Memiliki kesulitan? Kesulitan apa Ciuya? Bukankah kau bisa memberitahukan saja dimana letak dari jalan darah itu?"
Tanya Lauw Kuihui tidak mengerti. Muka Pek Thong berubah merah, tampaknya dia jengah. Lauw Kuihui yang melihat lagak Pek Thong jadi heran.
"Katakan Ciuya, kesulitan apa yang kau miliki?"
Desak Lauw Kuihui.
"Aku teringat pada "
Lam Lie Diu Siu Put Cin‟ yaitu pria dan wanita tidak dapat bersentuhan tangan. Coba pikir, tanpa meraba jalan darah diseluruh tubuh, mana bisa ilmu itu diajarkan sempurna?!"
Muka lauw Kuihui berubah merah waktu dia mengerti apa kesulitan Pek Thong.
Dengan demikian Pek Thong memang memperoleh kesulitan jika ingin mengajari ilmu totokan itu dengan baik, dimana dia harus menunjukkan satu persatu letak jalan darah.
Berarti Pek Thong akan meraba seluruh tubuh Lauw Kuihui, untuk menjelaskan satu persatu letak dari jalan darah tersebut.
Bukankah berarti sekujur tubuh Lauw Kuihui akan dipegang-pegang dan diraba-raba oleh Pek Thong?
Sedangkan dia adalah seorang selir kaisar.
Namun keinginan untuk mempelajari ilmu ilmu totokan itu kuat sekali, karenanya setelah berpikir sejenak, Lauw Kuihui telah berkata.
"Jika memang harus menyentuh tubuhku pun tidak ada halangan. Bukankah kita tidak bermaksud buruk?!"
Tapi Pek Thong talah menggoyangkan tangannya. 79
"Celaka! Celaka! Itulah yang tidak kuinginkan!"
Kata Pek Thong.
"Kenapa celaka?!"
Tanya Lauw Kuihui. Muka Pek thong berubah merah dan panas dia jengah sekali. Lalu sambil menyeringai, dia menyebuti juga.
"Kau bilang tidak apa-apa aku meraba tubuhmu untuk memberitahukan satu persatu letak jalan darah itu, namun buat aku inilah celaka, bisa berabe!"
Lauw Kuihui tersenyum.
"Tapi bukankah kita tidak mempunyai maksud buruk dan yang tidak-tidak?"
Tanya Lauw Kuihui. Namun Pek Thong tetap menggelengkan kepala.
"Tidak! tidak! aku tidak mau nanti ditegur oleh Toan Hongya…. meraba-raba tubuh seorang wanita menurut Ong Suheng merupakan perbuatan yang melanggar kesopanan dan perbuatan yang rendah!"
Lauw Kuihui tersenyum.
"Lalu jika memang kau tidak meu meraba tubuhku, berarti engkau tidak bisa memberitahukan letak jalan darah itu satu-persatu!"
Katanya. Ciu Pek Thong jadi bengong.
"Jadi Ciuya tidak mau menepati janji untuk mengajari aku ilmu totokan itu sampai aku mahir mempergunakannya?!"
Tanya Lauw Kuihui dengan suara mendesak. Pek Thong tambah bengong, sehingga tampaknya blo‟on sekali.
"Kalau begitu, besok-besok aku tidak mau menemani kau bermain lagi!"
Kata Lauw Kuihui. Pek Thong kaget.
"Eh, mana boleh begitu?"
Katanya gugup.
"Ciuya telah melanggar janji dan tidak mau menepati janjimu yang hendak mengajari aku ilmu totok itu sampai dapat kujalankan dengan mahir!"
Ciu Pek Thong menghela nafas.
"Aku bukan hendk mengingkari janji, tapi aku tengah memikirkan dengan cara bagaimana aku bisa mengajarimu ilmu tiamhoat (totokan) itu tanpa perlu meraba tubuhmu!"
"Jika begitu biarlah aku memanggil dayangku, nanti kau boleh menunjukkan letak jalan darah disekujur tubuh padaku!"
Lauw Kuihui memberikan saran. Muka Pek Thong berseri-seri, dia berseru girang sambil melompat berdiri, namun itu hanya sekejap saja, sebab mukanya kembali murung dan dia telah bengong serta blo‟on.
"Mengapa? Bukankah dengan menunjukkan satu persatu letak jalan darah didiri dayang itu, akupun bisa mengerti?!"
Tanya Lauw Kuihui sambil mengawasi kuatir, karena dia takut kalau-kalai Ciu Pek Thong menyalahi janjinya dan batal mengajari dia ilmu totokan tersebut.
"Jika memang aku harus meraba-raba seorang dayang, itupum perbuatan yang tidak pantas!"
Kata Pek Hong.
"Mengapa begitu?"
Tanya Lauw Kuihui.
"Dayangmu itu tentunya seorang wanita juga bukan?"
Menyahut Pek Thong. Tiba-tiba dia bersorak girang sambil 81 bertepuk-tepuk kedua tangannya.
"Aku ada akal! Aku ada akal!"
Sambil berseru demikian dia bernyanyi-nyanyi. Lauw Kuihui melihat tingkah laku Pek Thong jadi ikut girang. Segera bertanya tidak sabar.
"Akal apa yang telah terpikit oleh Ciuya? Cepat jelaskan padaku…!"
"Kita ambil saja seorang pelayan laki-laki. Bukankan aku dapat dengan leluasa menunjukkan setiap jalan darah ditubuhnya, walaupun tanganku menyentuh tubuhnya, itu bukan merupakan pantangan lagi!"
Tapi Ciu Pek Thong girang, malah Lauw Kuihui yang berobah mukanya jadi merah jengah, dia kaget yang akan dijadikan penggantinya untuk menunjukkan setiap jalan darah di tubuh manusia itu adalah seorang pelayan laki-laki.
Mana mungkin hal itu diterima olehLauw Kuihui.
Dia seorang selir yang memiliki kedudukan tinggi.
Disamping itu diapun seorang wanita.
Jika memang pelayan itu diminta berdiam diri untuk ditunjukkan satu persatu setiap jalan darahnya untuk Lauw Kuihui, niscaya diapun harus membuka pakaiannya, sehingga mana dapat Lauw Kuihui menerima keadaan seperti itu?
Melihat Lauw Kuihui berdiam diri saja, Ciu Pek Thong berhenti tertawa, tanyanya heran.
"Apakah kau keberatan jika seorang pelayan lelaki yang kita pergunakan sebagai contoh?"
Lauw Kuihui telah menghela nafas.
"Mana mungkin? Pelayan laki-laki itu tentu akan membuka seluruh pakaiannya dan aku… aku !"
Kata Lauw Kuihui gugup dan jengah sekali. Pek Thong tersenyum. 82
"Mengapa harus malu-malu begitiu? Bukankah engkau hendak memiliki kepandaian ilmu totokan itu?!"
Tanya Pek Thong. Tapi Lauw Kuihui telah menggeleng.
"Tidak, aku tidak setujui usul itu, bagaimana jika nati pelayan laki-laki itu membocorkan hal ini pada hongya? tertu Hongya akan murka…!"
Ciu Pek Thong jadi garuk-garuk kepala yang tidak gatal. Dia menggerutu dengan suara yang tidak jelas.
"Habis mestinya bagaimana?"
Tanya Pek Thong berulang kali, seperti pada dirinya sendiri. Lauw Kuihui tersenyum, dia menarik tangan Pek Thong, sambil katanya.
"Lebih baik kita jangan membicarakan hal itu dulu, mari kita main untuk menambah kegembiraan kita. Aku akan menemani kau main kelereng masuk lubang…..!"
Pek Thong berdiam sejenak, namun si bocah tua bangkotan yang nakal ini mengangguk, kegembiraannya terbangun waktu dia bersama Lauw Kuihui bermain kelereng.
Lauw Kuihui telah membuat lubang berukuran tidak begitu besar di tanah, dan mereka berlomba untuk memasukkan kelereng sebanyak mungkin kedalam lobang tersebut dengan menyentilkan kelereng dari jarak jauh.
Jika Pek Thong tenggelam dalam kegembiraan waktu bermain kelereng, adalah Lauw Kuihui sambil bermain kelereng sambil tertawa dan bersorak gembira jika kelerengnya itu ada yang berhasil masuk ke dalam lobang.
Namun otaknya terus juga bekerja keras dengan cara bagaimana dia bisa memecahkan kesulitan yang tengah dihadapinya agar Pek Thong dapat mengajarinya ilmu tiamhoat itu dengan lancar.
83 Waktu itu haripun merangkak terus, dan sang sorepun menjelang datang.
Pek Thong puas dengan main-main pada hari ini, diapun ingin pamitan pulang ke tempatnya, tapi Lauw Kuihui telah mencekal lengan Pek Thong, katannya.
"Tunggu dulu Ciuya… aku ingin mengtakan sesuatu padamu. Mari kau ikut ke tempatku!"
Pek Thong menurut saja, dia mengikuti dibelakang Lauw kuihui, mereka menuju ke kamarnya selir tersebut.
Lauw Kuihui memang sengaja mengajak Pek Thong ke kamarnya, karena malam ini juga dia menghendaki Pek Thong mengajarkan ilmu totokan itu.
Kamar selir tersebut ternyata merupakan istana kecil yang sangat indah.
Begitu Pek Thong melangkahkan kaki memasuki istana tersebut, segera hidungnya diterjang aroma harum semerbak yang bukan main.
Pek Thong jadi canggung.
"Aku tak mau lama-lama disini!"
Katanya. Lauw Kuihui mencekal lengan Pek Thong.
"Mengapa harus tergesa-gesa dan gugup seperti itu?"
Tanya Lauw Kuihui.
"Duduklah, Siauwmoay akan menyediakan teh!"
Setelah berkata begitu, Lauw Kuihui keluar ruangan, dia memanggil beberapa orang dayangnya dan berpesan, siapapun tidak diperkenankan masuk ke ruang dalam karena Lauw Kuihui akan membicarakan sesuatul yang penting sekali dengan tamu agung itu.
Para dayang mengiyakan dan meninggalkan istana tersebut, kembali ketempat mereka.
Lauw Kuihui sendiri yang telah mempersiapkan teh untuk Pek Thong.
Dan Lauw Kuihui pula yang mempersiapkan makanan.
Dengan demikian, dia telah menjamu Pek Thong, sambil makan mereka bercakap-cakap.
84 Tapi Pek Thong tampak tidak tenang.
Beberapa kali sambil makan dia telah bertanya.
"Sesungguhnya apa yang hendak kau tanyakan? Katakanlah!"
"Sabar,"
Kata Lauw Kuihui.
"Nanti selesai makan, aku akan menjelaskannya! Aku telah menemukan cara yang paling baik untuk kau mengajarkan aku satu persatu letak jalan darah di tubuh setiap manusia…!"
"Kau sudah memperoleh cara yang baik untuk aku memberikan petunjuk?"
Tanya Pek Thong girang.
"Lekas kau katakan!"
"Sabar!, makanlah dulu perlahan-lahan, nanti aku akan menjelaskannya!"
Pek Thong telah bersantap dengan cepat.
Dia telah menghabskan tida mangkok nasi dan cukup banyak juga sayur-sayuran yang telah dimakannya.
Sayur-sayur itu dimasak sendiri oleh Lauw Kuihui, ternyata sangat lezat.
Setelah selesai membereskan seluruh perabotan itu, Lauw Kuihui duduk dihadapan Pek Thong.
"Ciuya, aku akan menjelaskan caraku yang terbaik ini. Kuharap saja kau tidak keberatan menerimanya!"
Kata Lauw Kuihui kemudian. Ciu Pek Thong mengangguk-angguk.
"Ya, ya katakanlah!"
"Seperti tadi telah kukatakan, jika memang perlu kau menunjukkan langsung jalan darah di tubuhku ini, aku tidak keberatan, maka dibandingkan aku harus melihat tubuh seorang pelayan laki-laki, aku lebih rela kau menunjukkan langsung setiap jalan darah di tubuhku ini! Bukankan kita memang tidak mempunyai maksud buruk. Kita boleh memadamkan api 85 penerangan. Sehingga aku tidak bisa melihatmu dan engkaupun tidak bisa melihatku! Bukankah dengan demikian engkau hanya memberikan petunjuk hanya dengan meraba saja? dengan demikian kita berduapun tidak perlu malu?"
Lauw Kuihui memberikan saran seperti itu, karena selama belasan hari ini, disaat mana dia selalu menemani Pek Thong bermain-main, maka dia melihat Pek Thong sesungguhnya seorang yang jujur dan polos.
Diapun memiliki tabiat yang bebas dan tidak senang dikekekang.
Jika memang wataknya agak berandalan, itupun hanya disebabkan tabiatnya yang kekanak-kanakan belaka.
Secara keseluruhannya, Pek Thong merupakan seorang yang menyenangkan sekali.
Bahkan diam-diam Lauw Kuihui semakin menyukai Pek Thong.
Sia memperoleh kenyataan bahwa Pek Thong tentu akan me-ngatakan secara terus terang apa yang dipikirkannya, per-buatannyapun selalu menjurus ke perbuatan yang meng-gembirakan.
Wataknya itu membuat menyalanya kembali kegembiraan Lauw Kuihui.
Selama diboyong ke istana, Lauw Kuihui selalu hidup dalam lingkungan yang kaku penuh dengan peradatan.
Demikian juga halnya jika melayani Toan hongya, harus dengan serius, dengan segala adat peradatan.
Begitu pula dalam hal semua penghuni istana memperlakukan dirinya.
Memang benar Toan Hongya menyayangi dan mencintainya, tapi Lauw Kuihui bukan mencintai Toan Hongya, dia hanya ingin hidup mewah dan senang, sehingga bersedia diboyong ke istana Kaisar ini.
Dimana sia bisa hidup dalam lingkungan istana dengan penuh kemewahan.
Memang sebelumnya Lauw Kuihui berpikir bahwa hidup di istana raja tentu menyenangkan sekali, dapat memiliki harta yang berlimpah, permata dan perhiasan yang tumpah ruah melekat di tubuh dan sekehendak hati memakainya.
Namun setelah berada beberapa tahun di istana, ternyata dia mulai bosan, mulai jemu 86 dengan keadaan yang kaku begitu-begitu saja, setiap hari tidak ada kelainan.
Terutama sekali memang Toan Hongya pun tidak bisa terlalu sering mengunjunginya, karena untuk mengunjungi permaisuri saja Toan Hongya tidak dapat melakukan setiap hari.
Paling cepat enam hari atau seminggu sekali.
Hal ini disebabkan Toan hongya juga sibuk melatih diri, sebagai seorang raja yang gemar ilmu silat, tentu saja hubungannya dengan wanita sedapat mungkin dibatasi.
Jika permaisuri saja sudah enam atau tujuh hari saja didatangi satu kali, lalu giliran untuk selir berapa lama sekali?
Lauw Kuihui sendiri dikunjungi Toan Hongya terkadang satu bulan sekali atau mungkin juga lebih lama lagi, tidak jarang sampai dua bulan lebih dia tidak menerima kunjungan Toan Hongya.
disebabkan itu pula, disamping kejemuan yang meresapi hatinya, kini kesepian pula memegang peranan yang tidak kecil.
Dan kini muncul Ciu Pek Thong yang nakal dan jenaka itu yang selalu gembira dan berhasil membangunkan kegembiraan Lauw Kuihui, dimana selir ini merasa kembali ke jaman kanak-kanaknya lagi diliputi kegembiraan.
Kegembiraan yang diperolehnya itu kian mekar dihatinya dengan lewatnya sang hari, karena Pek Thonglah yang dapat menghibur hatinya, dengan segala permainan yang mereka adakan, walaupun permainan itu merupakan cara-cara bermain dari anak kecil.
Bahkan Lauw Kuihui sampai berfikir, jika sekarang dia diminta untuk memilih, hidup mewah di istana raja namun terkungkung bagaikan burung dalam sangkar emas dan digelimangi oleh benda-benda yang mewah dan permata yang cemerlang namun kaku dan tidak bisa diajak bercengkrama, tidak bisa diajak bercakap-cakap, semuanya serba kaku dan para dayang yang selalu hanya bersikap hormat dan takut padanya, atau memang dia harus memilih hidup bebas dan penuh kegembiraan, seperti selama belasan hari ini 87 dia bersama Pek Thong, tentu Lauw Kuihui akan memilih pilihan yang kedua.
Hal itu menunjukkan bahwa sebungkah kegembiraan itu telah melahirkan perasaan laindihati Lauw Kuihui, dari perasaan suka, akhirnya mencintai Pek Thong.
Memang benar Pek Thong memiliki tabiat seperti kanak-kanak, berandalan dan jenaka, namun justru kebetulan sekali Lauw Kuihui yang tengah kesepian dan jemu terhadap lingkungan yang kaku dan mati penuh dengan peradatan, sehingga seperti juga gayung bersambut, dihati Lauw Kuihui muncul perasaan cinta… dia merasa sayang pada Pek Thong yang bisa menyalakan dan membangkitkan kembali kegembiraannya, merasa hidup dalam dunia yang lain….!
Mendengar perkataan Lauw Kuihui bahwa mereka akan berada di kamar yang dimatikan api penerangannya, agar Pek Thong memberikan petunjuk letak dari setiap jalan darah.
Loo Boan Tong bimbang sejenak.
Namun akhirnya dia mengangguk juga, katanya.
"Baiklah besok kita mulai….!"
Tapi Lauw Kuihui menggeleng.
"Jangan besok!"
"Apakah aku sekarang?"
Tanya Pek Thong.
"Aku… lelah setelah satu harian bermain-main dengan kau!"
Lauw Kuihui tersenyum.
"Jika besok pagi atau siang, cahaya matahari tentu akan menembusi masuk dalam kamar, walaupun api penerangan dipadamkan, tentu segala apa masih bisa dilihat dengan jelas. Sekarang saja kau mengajari aku… dan besok-besok di-lanjutkan setiap malam hari. 88 Pek Thong beranggapan perkataan Lauw Kuihui memang benar, dia mengangguk.
"Kau setuju bukan?"
Tanya Lauw Kuihui menatapnya dengan perasaan tegang. Pek Thong mengangguk lagi, dia mengiyakan. Bukan main gembiranya Lauw Kuihui, segera dia menarik tangan Pek Thong.
"Mari ikut aku ke dalam!"
Ajaknya.
Ciu Pek Thong hanya menurut.
Lauw Kuihui telah mengajak Pek Thong ke kamarnya, kamar pribadinya, sebuah kamar yang tersusun baik dan mewah sekali.
Ciu Pek Thong waktu melihat kamar Lauw Kuihui merasa seperti memaasuki ruangan dari istana Kerajaan Langit yang sering didengar dari dongeng-dongeng suhengnya, yang mengatakan setiap ruangan dari kerajaan Langit menaburkan harum semerbak yang nyaman dan penuh dengan barang-barang yang tersusun baik dan rapi, merupakan kamar yang terawat dengan baik dan juga kamar yang enak untuk ditempati.
Semula memang Pek Thong agak ragu-ragu untuk berdiam di kamar itu.
Namun Lauw Kuihui memang cerdik sekali, deimana dia telah mengajak Pek Thong bercakap-cakap berbagai hal.
"Kita mulai saja pelajaran itu, Ciuya?"
Tanya Lauw Kuihui.
"Tunggu dulu!"
Cegah Pek Thong.
"Ya? Ada apa lagi Ciuya?"
"Apakah ini kamarmu?" 89 Lauw Kuihui mengangguk-angguk.
"Ya..! sahutnya.
"Apakah kamar ini kurang menyenangkan dan kurang baik?"
Biarlah aku akan menyusun lagi di malam malam berikutnya agar Ciuya lebih kerasan di kamar ini!"
"Bukan… bukan begitu!"
Menyahut Pek Thong gugup, sambil menggoyang-goyangkan tangannya.
"Yang ingin kutanyakan, apakah kamar ini milikmu… yaitu yang setiap hari kau tempati?"
"Ya!"
Mengangguk lagi Lauw Kuihui.
"Jadi kau rupanya orang yang cukup penting di istana ini!? kata Pek Thong.
"Apa pekerjaanmu?! Kamar ini dihias demikian mewah jika memang ditempati oleh seorang dayang itulah tidak sepantasnya, dan jika memang ditempati sanak family Kaisar, kamar itupun masih terlalu mewah!"
Lauw Kuihui tertawa.
"Ciuya, kau tidak perlu memikirkan hal itu!"
Katanya.
"Bukankah kita dapat bermain-main setiap hari dengan gembira, dimana aku dapar menemani engkau untuk bermain kelereng dan lain-lainnya, dan engkau meng-ajari aku ilmu totokan. Tentang siapa diriku, engkau tidak perlu memusingkannya…!"
Tapi Ciu Pek Thong telah menggoyang-goyangkan tangannya.
"Tidak, tidak dapat begitu!"
Katanya.
"Mana boleh aku tidak mengetahui siapa adanya engkau? Jika memang ternyata nanti engkau ini permaisuri dari Toan Hongya raja itu, tentu aku bisa dimaki oleh Ong Suheng? Bahkan aku bisa dihukum duduk menghadap tembok selama berhari-hari karena dianggap lancang!"
Lauw Kuihui tersenyum saja. 90
"Siapa kau sebenarnya kau dan apa pekerjaanmu di istana ini?!"
Desak Ciu Pek Thong tidak senang waktu melihat Lauw Kuihui hanya tersenyum-senyum saja.
"Ya, jika jeka memang Ciuya ingin mengetahui juga, baiklan aku akan menjelaskannya! Memang aku memiliki hubungan yang dekat sekali dengan Toan Hongya, walaupun aku bukan permaisuri namun memiliki tugas yang sama dengan permaisuri, hanya soal kedudukan kami yang berbeda….!"
Ciu Pek Thong jadi tidak mengerti, dia menggerutu tidak jelas. Melihat lagak Ciu Pek Thong yang nakal ini, Lauw Kuihui jadi tersenyum.
"Mengapa harus bingung seperti itu?"
Tanya Lauw Kuihui.
"Kau mengatakan engkau bukan permaisuri, tapi engkau mengatakan juga memiliki tugas yang sama dengan permaisuri. Lalu apa artinya perkataan ini?"
Lauw Kuihui menghela nafas, senyumnya lenyap dari wajahnya, katanya.
"Sesungguhnya aku selor Hongya….!"
"Selir Hongya?"
Tanya Pek Thong. Lauw Kuihui mengangguk.
Baca Juga: Naga Sakti Sungai Kuning Kho Ping Hoo
Baca Juga: Si Angin Puyuh Si Tangan Kilat 8