Eps 3 Lima Jago Luar Biasa - Sin Liong
Baca online Lima Jago Luar Biasa - Sin Liong
Cersil Lima Jago Luar Biasa - Sin Liong.
"Cu pong yang berangan-angan merobohkan Cin, Pernah mengambil sepatu di kolong jembatan, Membantu Han mendirikan dinasti baru, Berdiri tegak seperti tiang kerajaan, Setelah tugas selesai, ia mengikut Dewa Cek Siong Gu, Sambil mengibas tangan baju, segala harta ia tinggalkan, Memang juga orang luar biasa dan tidak luar biasa. Thian tidak gampang-gampang mau diturunkan."
Ketika senandung itu sampai perkataan "mau di-turunkan‟….
maka kedua orang itu telah tiba dihadapan Auwyang Hong.
Mereka adalah dua orang wanita yang cantik jelita, berusia kira-kira dua puluh lima tahun, sedangkan dibelakangnya seorang gadis berusia lima atau enam bels tahun.
Dilihat dari pakaian wanita ini yang berbeda, maka jelas mereka adalah majikan dan pelayan.
Tentunya gadis yang 182 berusia belasan tahun tahun itu adalah pelayannya.
Namun ginkang yang mereka perlihatkan benar-benar sungguh mengagumkan.
Auwyang Hong sendiri yang melihat cara datangnya kwdua wanita ini jadi memandang takjub.
Jika gadis dibelakang itu, yang berusia belasan tahun, mungkin Auwyang Hong masih bisa tidak begitu memandang mata, tapi justru wanita yang datang terlbih dulu yang berusia dua puluh lima tahun itu dengan pakaian yang sangat reboh dan mewah, dengan rambut disanggul dua dan juga mengenakan anting-anting yang berkilauan terjuntai culup panjang, terbuat dari berlian dan permata lainnya yang dirangkai indah sekali, mempunyai ginkang yang luar biasa tingginya, karena sepasang kakinya seperti tidak menginjak tanah waktu dia berlari-lari mendatangi.
"Lelaki keparat tidak tahu malu, mengapa kau menyiksa keempat gadis itu? Apa salah mereka?"
Tanya wanita berusia dua puluh lima tahun itu. Auwyang Hong setelah tertegun sejenak lalu tertawa mengejek, kemudian dengan bengis ia menegur.
"Apakah engkau diutus oleh Lanciu Cit pa?"
"Lanciu Cit pa?"
Tanya wanita berusia dua puluh lima tahun ini sambil tertawa dingin.
"Siapa itu Lanciu Cit pa? Aku tak kenal dengan mereka!"
"Hmm lalu mengapa kau mau turut campur urusanku?"
Tanya Auwyang Hong dingin.
"Apakah kau minta dihajar juga?"
Sambil bertanya begitu Auwyang Hong mengawasi dengan mendelik pada wanita itu dengan bengis. 183 Wanita itu tercengang mendengar perkataan Auwyang Hong.
"Kau hendak menghajar aku?"
Tanyanya.
"Mungkinkah itu? Bisakah kau melakukannya? Dapatkah kau menghajarku?"
Auwyang Hong jadi naik darahnya, dengan cepat ia melangkah mendekati wanita itu.
Dia telah mengulurkan kedua tangannya, ingin mencengkram pundak wanita itu dengan jari-jari tangannya yang disertai Iwekang yang kuat sekali.
"Akan kubuktikan bahwa aku bukan hanya bicara main-main!"
Kata Auwyang Hong.
Tapi wanita berusia dua puluh lima tahun itu tertawa dingin.
Dia sama sekali tidakmengelak dari cengkraman Auwyang Hong walaupun dia mendapat kenyataan kalau Auwyang Hong bukanlah orang sembarangan, sebagai orang yang memiliki kepandaian tinggi dan sempurna.
Jari-jari tangan Auwyang Hong telah sampai pada sasarannya, namun yang membuat Auwyang Hong kaget, justru jari-jari tangannya itu seperti mencengkram baja yang licin yang keras dan tidak dapat dicengkram.
Dengan begitu, jari-jarinya itu melejit dan gagal mencengkram pundak lawannya.
Wanita cantik itu, telah memperdengarka suara tertawa dingin.
"Seumur hidupku aku paling benci pada laki-laki yang memang tidak ada satupun yang baik! Ternyata dugaanku bahwa di dunia ini tidak ada laki-laki yang tidak ada sahanya. Sekarang terbukti, engkau merupakan sekian banyak laki-laki yang terdapat di dunia ternyata engkaupun merupakan laiki-laki buruk yang memiliki watak yang rendah….!"
Sambil 184 berkata begitu, wanita cantik tersebut tidak berdiam diri saja, karena tangan kanannya tahu-tahu telah mengebut kearah dada Auwyang Hong dengan dorongan jari telunjuknya yang akan menotok.
Serangan wanita itu merupakan jurus yang biasa saja nampaknya, namun buat Auwyang Hong itulah cara menyerang yang hebat dan mematikan, karena Auwyang Hong melihat bahwa wanita cantik itu menyerang ke jalan darah "Hian kian hiat‟nya yang terletak didadanya.
Dan jika seseorang tertotok jalan darahnya itu tentu akan terbinasa saat itu juga, atau jika yang tertotok jalan darahnya itu memiliki tenaga Iwekang yang sempurna, sedikitnya akan menjadi lumpuh dan cacat seumur hidup.
Yang lebih mengejutkan lagi tenaga Iwekang yang dipergunakan wanita cantik tersebut, karena belum lagi jari telunjunya itu tiba pada sasarannya, dari ujung jari telunjuknya itu telah tersalur keluar hawa yang tajam sekali, tenaga serangan yang halus namun menusuk sehingga Auwyang Hong menggigil menahan perasaan nyeri walaupun dia belum lagi terserang.
Tapi Auwyang Hong sebagai salah satu diantara kelima jago luar biasa yang ada didaratan Tionggoan, mana dapat diserang begitu saja.
Walaupun terkejut, Auwyang Hong tidak begitu gugup.
Dia cepat-cepat menarik lagi tangannya untuk diluruskan turun ke bawah kemudian meluncur kedepan dan menghantam dada sebelah kiri wanita cantik itu.
Wanita cantik itu menangkisnya.
"Bukkk!"
Perlahan sekali terdengar benturan mereka, namun kesudahannya sangat mengejutkan bukan main karena tubuh Auwyang Hong tergetar hebat, malah ia tidak bisa mempertahankan kuda-kuda kedua kakinya yang seketika tergempur sampai melangkah mundur satu tindak.
185 Sedangkan wanita cantik itu bergoyang tubuhnya, namun tidak sampai terhuyung mundur, masih dapat mempertahankan kuda-kuda kedua kakinya tidak sampai tergempur.
Sebagai seorang yang memiliki kepandaian yang telah sampai pada puncaknya, dalah satu kali gebrakan seperti Auwyang Hong seketika mengetahui bahwa wanita cantik berusia dua puluh lima tahun itu memiliki kepandaian yang berimbang dengannya, malah boleh jadi menang sedikit dari dia!
Karena itu Auwyang Hong jadi bersikap jauh lebih hati-hati, memperlihatkan sikap heran dia menegur.
"Siapa kau sebenarnya?" ****
Jilid 6 WANITA cantik itu sendiri tampak terkejut.
Dia melirik kepada pelayannya, seperti dia hendak memberitahukan bahwa lawan yang tengah dihadapinya ini merupakan seorang lawan yang memiliki kepandaian tinggi sekali dan tidak boleh dianggap enteng.
Barulah setelah itu dia menyahuti.
"Lam Lim Pak Ong Im Seng Ie Yang!"
Mendengar perkataan wanita ini, mulut Auwyang Hong terbuka. Lam Lim Pak Ong Im Seng Ie Yang berarti 186
"Disebelah Selatan ada Lim, disebelah Utara ada Ong, yang wanita lebih menang dari yang lelaki."
Inilah hebat, karena Auwyang Hong segera teringat kepada seseorang, dia mementang sepasang matanya memandang seperti tidak mempercayai yang dilihatnya.
"Apakah engkau yang bernama Lim Tiauw Eng?"
Tanya Auwyang Hong kemudian. Wanita cantik itu mengangguk.
"Tidak salah…!"
Sahut wanita cantik yang bernama Lim Tiauw Eng.
"Sekarang apakah engkau masin ingin meneruskan niatmu untuk kita mengadu ilmu? Kulihat kepandaianmu tidak rendah. Tentunya engkau salah seorang dari Lima Jago Luar Biasa yang pernah mengadakan pertemuan dengan Ong Tiong Yang!"
Auw Yang Hong mengangguk.
"Tepat! Menarik sekali, tidak kusangka bahwa See Tok Auwyang Hong kali ini bisa memiliki jodoh bisa bertemu dengan Lam Lim Sian Lie yang memiliki kepandaian begitu hebat….. memang diantara Lima Jago Luar Biasa, Ong Tiong Yang yang lebih menang. Dia yang telah berhasil memperoleh Kiu Im Cin Keng, dan kudengar bahwa perkataan Lam Lim Pak Ong, Im Seng Ie Yang tidak salah sedikitpun juga, dimana Lim Tiauw Eng memang lebih menang dari Ong Tiong Yang! Ha, ha, ha, ha, bagus. inilah yang dinamakan rezeki! Hmm.. tentunya aku Auw Yang Hong beruntung bisa bertemu dengan Lam Lim yang begitu terkenal dengan kehebatannya dan akan dapat petunjuk!"
Waktu berkata begitu, sebagai seorang yang cerdik dan licik, Auw Yang Hong juga telah berpikir dalam hatinya.
"Dia 187 adalah Lam Lim Tiauw Eng, dengan begitu, dia merupakan lawan yang tak ringan, karena menurut kabar yang kudapat, kepandaian Lam Lim setingkat diatas kepandaiannya Ong Tiong Yang….! Hmmm, aku harus mencoba beberapa jurus untuk membuktikan apakah seorang wanita seperti dia memang bisa memiliki kepandaian yang melebihi Ong Tiong Yang?"
Auw Yang Hong berpikir begitu karena dia penasaran sekali.
Dia tidak yakin Ong Tiong Yang satu tingkat dibawah Lam Lim tersebut, setidak-tidaknya Ong Tiong Yang tentunya mengalah pada Lim Tiauw Eng, waktu mereka bertanding tentunya Ong Tiong Yang tidak menurunkan tangan sepenuh hati, dengan begitu pula akhirnya Ong Tiong Yang dinyatakan berada satu tingkat dubawah Lim Tiauw Eng dan Auw Yang Hong ingin coba-coba beberapa jurus dari kepandaian wanita ini.
Memang didalam rimba persilatan belakangan ini telah muncul perkataan "
Lam Lim Pak Ong Im Seng Ie Yang‟ (Disebelah Selatan ada Lim, disebelah Utara ada Ong, yang wanita lebih menang dari yang lelaki), perkataan itu ditujukan untuk Lim Tiauw Eng dan Ong Tiong Yang.
Lim Tiauw Eng yang berada diselatan yaitu Lam Lim, sedangkan Ong Tiong Yang berada di Utara yaitu Pak Ong.
Dan perkataan itu juga ada seterusnya yang menyetakan bahwa LiM Tiauw Eng lebih menang dari Ong Tiong Yang, yaitu yang wanita lebih menang dari yang lelaki.
Banyak jago-jago terkemuka rimba persilatan yang meragukan perkataan tersebut, sebab mereka telah mengetahui siapa adanya Ong Tiong Yang yang memiliki kepandaian luar biasa sempurnanya.
Namun sekarang justru Ong Tiong Yang dinyatakan berada di bawah satu tingkat dari Lim Tiauw Eng, termasuk juga Auwyang Hong yang jadi penasaran sekali, karenanya ia hendak melihat seberapa tainggi kepandaian yang dimiliki Tiauw Eng.
Walaupun tadi mereka 188 telah bergebrak dalam satu kali gebrakan itu, Auwyang Hong telah memperoleh kenyataan bahwa kepandaian Lim Tiauw Eng memang berimbang dan tidak berada disebelah bawah kepandaiannya, namun Auwyang Hong yakin jika memang mereka bertanding dalam beberapa jurus lagi tentu Lin Tiauw Eng tidak lebih tinggi kepandaiannya.
"Tidak kusangka bisa bertemu dengan See Tok disini!"
Kata Lim Tiauw Eng.
"Hmm, ini suatu kebetulan yang diharapkan juga sulit untuk terkabul!"
"Ya, ya, mari kita bermain-main, See Tok hendak minta petunjuk beberapa jurus dari Lam Lim!"
Kata Auwyang Hong dengan sikap bersiap sedia untuk menerima serangan. Tapi Lam Lim telah menggeleng dan kemudian Lim Tiauw Eng berkata.
"Aku tidak memiliki selera untuk main-main dengan kau! Hanya ada sesuatu yang hendak kutanyakan padamu!"
"Apa yang hendak kau tanyakan?"
Tanya Auwyang Hong dengan mata terpentang lebar menantikan dengan tidak sabar.
"Prihal Ong Tiong Yang…"
"Ong Tiong Yang?, kenapa dengan Ong Sin Thong?, apakah dia telah mampus?!"
"Bukan, bukan begitu! Justru aku tengah mencarinya, namun kami tidak berhasil menemui jejaknya..!"
Menyahut Lim Tiauw Eng. Auwyang Hong tertawa. See Tok memang licindan licik sekali, biarpun memang dia tak mengetahui entah dimana beradanya Ong Tiong Yang pada waktu itu, toh dia menyahuti juga.
"Kukira dengan adanya kuil Tiong Yang Kiong, tentu 189 disitu pula adanya Ong Tiong Yang. Kemana lagi kita harus mencarinya? Jelas hanya perlu mendatangi gunung Ciong Lam San maka kita bertemu dengannya disana!"
Lim Tiauw Eng tertaw dingin.
"Justru dia telah meninggalkan Ciong Lam San dan dia juga telah meninggalkan kuil Tiong Yang Kiong! Kami telah mencari-cari jejaknya selama satu tahun, namun selama itu kami tidak juga dapat bertemu. Dia telah menghilang seperti juga telah menyusup masuk kedalam bumi!"
"Atau mungkin juga memang Ong Tiong Yang telah mampus?"
Tanya Auwyang Hong sambil tertawa.
"Dan jika memang tidak berhasil menemukannya di Tiong Yang Kiong, atau juga tidak berhasil mencari jejaknya disekitar gunung Ciong Lam San, maka kita harus mencarinya di kuburannya!"
Muka Lim Tiauw Eng berobah merah karena mendongkol, dia telah berkata dingin.
"Hmm kau jangan bicara ngaco balau!"
"Aku tidak bicara ngaco balau! Aku bicara sesungguhnya! Menurut pendapatku memang Ong Tiong Yang tidak pernah meninggalkan Tiong Yang Kiong atau Ciong Lam San! Eh ya, ada urusan apa kau mencari-cari Ong Tiong Yang?"
Bola mata Lim Tiauw Eng berputar, dia tidak segera menyahuti, tapi matanya yang bening memancarkan sinar pembunuhan. Setelah berdiam diri ragu-ragu beberapa saat lamanya, barulah dia menyehuti.
"Aku mencarinya untuk mengikat kaki dan memborgol kedua tangannya! Dia telah mengingkari janjinya sendiri, dia telah melanggar sumpahnya!"
"Melanggar janji dan sumpah?"
Tanya Auwyang Hong heran dan tertarik hatinya, kedua matanya terpentang lebar-190 lebar dengan kedua biji matanya berputar-putar, tapi kemudian dia tertawa, katanya.
"Akh, engkau jangan bicara main-main, bagaimana bisa Tong Sin Thong yang begitu saleh, jujur dan lurus bisa melanggar janji dan sumpahnya sendiri? Kau sendiri yang mungkin ngaco balau…!"
Mendengar perkataan Auwyang Hong, Lim Tiauw Eng naik darahnya, tangan kanannya dikibaskan.
Serangkum angin yang kuat menerjang pada Auwyang Hong.
Namun See Tok yang memang sejak tadi bersiap sedia, melihat gerakan Lim Tiauw Eng telah melompat menyingkir sambil tertawa-tawa.
Angin serangan itu telah jatuh menghantam sebatang pohon, yang mewakili Auwyang Hong menerima pukulan itu, seketika itu pula batang pohon itu menjadi hancur berkeping-leping, bukan hanya tumbang, tapi hancur menjadi ratusan potongan kecil-kecil.
Auwyang Hong meleletkan lidahnya, lalu tertawa sambil memuji untuk mengejek.
"Sungguh ilmu luar biasa, mengejutkan benar!"
Lim Tiauw Eng menggerendengan dengan suara yang tidak jelas. lalu berkata.
"Aku bicara apa adanya! Kami yaitu aku dengan Tong Sin Thong memang telah bertanding. Sebelumnya kami mengadakan perjanjian, jika dia kalah ditanganku, maka selama sepuluh tahun dia harus menemaniku di Ciong Lam san, dan selama itu dia tak boleh meninggalkan gunung itu. Disamping itu , diapun untuk seterusnya harus berdiam baik-baik didalam kuil Tiong Yang Kiong menjadi Tosu!"
"Bukankah Tong Sin Thong sekarangpun menjadi hidung kerbau? Bukankah dengan begitu dia telah menepati janjinya?!"
Kenapa engkau masih mengejar-ngejarnya?"
Tanya Auwyang Hong dengan sikap menyindir.
"Hmm, hmm mencurigakan sekali, tentu ada sesuatunya yang ehemm, ehemm…!"
Auwyang Hong tidak meneruskan perkataannya, dia telah tertawa bergelak-gelak.
Muka Lim Tiauw Eng jadi berobah merah.
Dia mengetahui dirinya telah disindir.
Da gusar bukan main.
Namun Lim Tiauw Eng meneruskan lagi perkataannya.
"Sekarang ini justru Ong Tiong Yang telah meninggalkan juga Ciang Lam san dan Tiong Yang Kiong, tidak meninggalkan jejak, tentu saja aku harus mencarinya guna menuntut janji dan sumpahnya. Auwyang Hong mengerutkan sepasang alisnya, kemudian dia nyengir, katanya.
"Baik, jika memang demikian, aku akan menawarkan jasa baik kepadamu, bagaimana jika aku bantu padamu untuk bersama-sama mencari Tong Sin Thong?"
Muka Lim Tiauw Eng berubah merah, dia meludah dengan sikap mendongkol.
"Ciss! Lelaki tidak tahu malu! Siapa yang kesudian melakukan perjalanan bersamamu? Siapa yang sudi menerima bantuanmu? Siapa yang ingin dibantu olehmu? Ciss, ciss, semua lelaki tidak ada yang baik, bukan hanya Ong Tiong Yang, rngkaupun salah seorang dari kelima jago luar biasa, jelas bukan sebangsa manusia baik-baik!"
Auwyang Hong nyengir lagi. 192
"Eh, eh, mengapa jadi memaki. Tong Sin Thong dan diriku sebagai lelaki yang tidak karuan macam, sebagai manusia bulu campuran? Sungguh mencurigakan sekali, benar-benar mencurigakan sekali bahwa kau telah pernah disakiti hati oleh Tong Sin Thong, ha ha ha ha… ha ha ha ha."
Muka Lin Tiauw Eng berubah merh padam.
Naik darahnya melihat sikap Auwyang Hong, tahu-tahu tangannya bergerak dan telah mengulur untuk menghajar Auwyang Hong.
Namun Auwyang Hong juga cepat sekali telah berjongkok dan mengangkat kedua tangannya, maka ketika itu juga telah terdengar suara "Dukk‟ yang kuat, karena Auwyang Hong sekali ini mempergunakan ilmu ciptaanya sendiri yaitu Ha Mo Kong.
Dia menghadapi senrangan Lim Tiauw Eng dengan tujuh bagian tenaganya.
Lim Tiauw Eng telah mengebut tida kali dengan kedua tangannya bergantian, ketika derangan itu yang dikenal dengan pukulan "Sam Yan Touw Lim, atau tiga burung walet masuk kebutan"
Adalah pukulan yang paling hebat dari Kouw Bok Pay.
Seperti diketahui bahwa Lim Tiauw Eng merupakah seorang pendekar wanita yang memiliki kepandaian yang sangat hebat sekali, telah sampai pada puncak kesempurnaan ilmu Iwekang ataupun ilmu pedangnnya, sehingga ia berhasil menindih Ong Tiong Yang penyebabnya timbulnya perkatan "Lam Lim Pak Ong, Lam Sng Ie Yang"
Dengan demikian berarti jelas ketiga kebutan kedua tangannya itu bukanlah pukulan yang sembarangan.
Tapi ilmu Ha Mo Kong yang telah diciptakan oleh Auwyang Hong pun bukan ilmu sembarangan.
Jika dulu, waktu diadakan pertemuan di Hoa San, dia memang telah memiliki ilmu Ha Mo Kong tersebut, yang memang diberi nama Ha Mo Kong, namun Auwyang Hong justru melatih diri lewat 193 gerakan-gerakan yang dilihatnya dari kodok-kodok kecil yang biasa saja.
Waktu itupun dia telah melatih ilmu Ha Mo Kongnya tersebut, disaat usianya masih muda sekali, belum lagi terjun dalam rimba persilatan dan kemudian telah berselang sekian tahun dan dia telah dewasa, lalu mengambil bagian pada pertemuan di Hoa San, dia telah dirubuhkan oleh Ong Tiong Yang.
Dengan demikian Auwyang Hong merasaskan bahwa Ha Mo Kong yang telah dimilikinya itu tidak sempurna.
Lalu secara kebetulan dia telah bertemu dengan Cengjie, kodok raksas yang memiliki gerakan-gerakan yang aneh.
Sekali lagi Auwyang Hong menciptakan ilmu Ha Mo Kong, tentu saja dengan gerakan-gerakan yang baru dan juga tidak ada hubungannya dengan Ha Mo Kong yang pernah dimilikinya, karena gerakan-gerakan dari Cengjie barulah merupakan gerakan-gerakan yang luar biasa hebatnya ketika dia telah menyeringnya dan mengolahnya menjadi semacam ilmu silat.
Tetap Auwyang Hong menamakan ilmu yang baru diciptakan itu dengan nama Ha Mo Kong, karena pertama-tama ilmu tersebut diciptakannyapun lewat gerakan-gerakan seekor kodok, walaupun seekor kodok yang luar biasa dan merupakan binatang raksas yang memiliki gerakan-gerakan yang aneh.
Kedua, tentu saja sebagai salah seorang dari kelima jago luar biasa, yang telah diakui sebagai salah seorang guru besar.
Diantara keempat guru besar tersebut.
Auwyang Hong tak bisa sembarangan mengganti ilmunya.
Dia menamakan Ha Mo Kong juga, dengan harapan kelak lawan-lawannya beranggapan dia melatih Ha Mo Kongnya dengan baik dan mendapat kemajuan pesat.
Tentu saaja hal itu untuk kepentingan harga dirinya.
Lalu faktor betul tak disadari oleh Auwyang Hong , justru dia dapat kemajuan yang cepat sekali dan bisa menguasai ilmu Ha Mo Kongnya yang baru.
Inipun ada sangkut pautnya dengan ilmu Ha Mo Kong nya yang dulu.
194 Dulu dia memiliki ilmu Ha Mo Kong, walaupun tidak selihai Ha Mo Kong yang sekarang, tokh sedikitnya Auwyang Hong jadi mengenal watak dan sifat seekor kodok yang kini dia belajar dan menciptakan Ha Mo Kong yang baru lewat kodok raksasa yang besar itu, Cengjie, maka lancar sekali dia menciptakan ilmunya, walaupun tanpa disadarinya, gerakan dan jurus Ha Mo Kong yang baru memiliki banyak persamaan dengan Ha Mo Kong yang lama, namun tokh memang hasilnya jauh lebih hebat beberapa kali lipat dari Ha Mo Kongnya yang lebih dahulu itu.
dan ini tak disadari oleh Auwyang Hong.
Dia hanya tahu bahwa Ha Mo Kongnya yang kini jauh lebih dahsyat dibandingkan dengan ilmunya yang dulu.
Karenanya, waktu kedua telapak tangan Auwyang Hong telah menangkis tenaga serangan Lim Tiauw Eng tenaga mereka saling bentur dengan hebat.
Kaki Auwyag hong telah melesak kedalam belasan dim malah hampir kelututnya.
Inilah hebat sekali membuktikan tekanan tenaga Lim Tiauw Eng kuat bukan main dan tenaga Auwyang Hong pun luar biasa sempurnanya.
Sedangkan Lim Tiauw Eng sendiri telah terhuyung mundur tiga langkah kebelakang dengan muka merah padam.
"Memang tidak percuma kau duduki dalam barisan Lima Jago Luar Biasa, karena kepandaianmu memang tak rendah, cukup lumayan!"
Mengejek Lim Tiauw Eng. Auwyang Hong telah melompat menarik keluar kedua kakinya dari dalam tanah. Dia tertaw dan katanya.
"Siapa yang bilang kepandaianku rendah? Hmmm, jangan kau beranggapan di dunia ini tak ada yang bisa menandingimu, karena kau bisa menindih Ong Tiong Yang. Aku yakin Tong Sin Thong hanya mengalah padamu dan tak sungguh-sungguh bertempur dengan 195 kau… hmm, masi kita main-main lagi seribu jurus.. See Tok Auwyang Hong akan menemanimu…!"
Sambil berkata begitu, tak hentinya Auwyang Hong menggerak-gerakknay tangannya, dia telah bersiap untuk menerima serangan.
Tampaknya ia fatal sekali ingin bertempur.
Perlu diketahui, seorang yang telah memiliki kepandaian tinggi, tentu gembira jika memperoleh seorang lawan yang memiliki kepandaian yang lebih tinggi setidak-tidaknya berimbang dengan kepandaiannya, sehingga semangat bertempurnya itu akan terbangun.
Demikian juga halnya dengan Auwyang Hong.
Namun Lim Tiauw Eng telah menggelengkan kepalanya, katanya.
"Sudah kukatakan bahwa aku tidak memiliki selera untuk main-main dengan kau! Aku tengah mencari jejak Ong Tiong Yang. Jika memang kau penasaran, akhir tahun ini aku menantikan kau dikuburan Mayat Hidup atau Kouw Bok di Ciong Lam san."
Auwyang Hong tertawa terkekeh, katanya.
"Bagus, akan kutepati janjiku!"
"Sekarang bebaskan keempat gadis itu dan berikan padanya pakaian!"
Kata Lim Tiauw Eng.
"Oh, jadi kau ingin mengaturku?"
Tanya Auwyang Hong mengejek.
"Atau memang kau kira aku bis disamakan dengan Tong Sin Thong?"
Muka Lim Tiauw Eng berobah merah.
Aku telah meminta padamu untuk membebaskan keempat gadis itu, dan permintaanku itu tak dapat tidak, kau harus 196 memenuhinya!
Jika tidak, kelak kedatanganmu ke Ciong Lam akan sia-sia.
Aku tak akan melayani dan tak akan memberi pintu padamu!"
Auwyang Hong terdiam sejenak, tampaknya dia bimbang.
Sebagai salah seorang dari Guru Besar Rimba Persilatan yang memiliki kepandaian telah sempurna, rasa penasaran untuk mengetahui kelihayan ilmu dari lawannya memang besar sekali, karena semakin tinggi kepandaian lawannya, semakin besar pula perasaan ingin tahunya sampai dimana tingginya dan keluarbiasaan ilmu lawannya.
Terutama sekali pada Lim Tiauw Eng ini, yang dirimba persilatan telah tersiar berada di atas kepandaian Ong Tiong Yang.
Sedangkan Ong Tiong Yang berada diatas Auwyang Hong.
Dengan demikian perasaan ingin tahunya Auwyang Hong terhadap kehebatan ilmu Lim Tiauw Eng semakin besar.
Dia mengangguk dan kemudian katanya.
"Baik, baik, kupenuhi permintaanmu. Tapi kelak engkau harus sungguh-sungguh menemaniku untuk main-main seribu jurus. Kukira engkau tidak begitu hina untuk tidak menepati janji dan menyembunyikan diri di dalam kuburan "
Mayat Hidup‟ mu itu..!"
Lim Tiauw Eng hanya tertaw dingin saja. Sedangkan Auwyang Hong telah menoleh kepada keempat gadis itu katanya.
"Cepat kenakan pakaian kalian, dan pergi berikan laporan pada ketujuh majikan kalian . kalau mereka tidak senang dan kurang terima dengan pengajaran yang kuberikan pad kalian, suruh mereka menemui aku See Tok!"
Keempat gadis itu berdiri ketakutan, dia kuatir begitu Lim Tiauw Eng berlalu, maka Auwyang Hong akan menyiksa mereka pula dengan caranya yang sadis.
Dengan demikian, mereka hanya berdiri mengkeret.
Dan mendengar mereka dibebaskan, bukan main girangnya keempat gasia itu.
Mereka 197 mengenakan pakaiannya dan tidak mempedulikan rasa sakit karena pakaian itu menyentuh luka-luka disekujur tubuh mereka.
Kemudian keempat dayang dari Lamciu Cit pa telah menghampiri Lim Tiauw Eng, mengucapkan terima kasih dan segera berlari meninggalkan tempat itu.
Lim Tiauw Eng melirik kepada gadis belasan tahun dibelakangnya, dia telah memberi tanda agar mereka berlalu juga.
Sebelum berlalu, Lim Tiauw Eng berkata pada Auwyang Hong.
"Kunantikan kunjunganmu di Ciong Lam San!"
"Aku pasti datang! Orang lain boleh jeri pada Kouw Bok Pay-mu Kuburan Mayat Hidup-mu tapi aku.. hahahahaha…, nanti kuburan itu akan kubumiratakan!"
Lim Tiauw Ong tidak mempedulikan ejekan dari See Tok.
Dengan gesit dia telah menjejakkan kakinya, tubuhnya mencelat dan berlalu meninggalkan tempat itu.
Sedangkan si gadis belasan tahun yang menjadi budaknya itu telah ikut berlari gesit dibelakangnya.
Auwyang Hong mengawsi kepergian kedua orang itu sambil memperdengarkan suara tertawnya.
Senang sekali hatinya karena dia telah dapat mencoba kekuatan Ha Mo Kong yang telah diciptakannya lewat gerakan-gerakan Cengjie, karena hasilnya memang memuaskan sekali.
Ilmu itu luar biasa tangguhnya.
Segera Auwyang Hong mengajak Pekjie untuk masuk kedalam hutan, memanggil Cengjie dan mulai berlatih lagi.
Sedangkan Lim Tiauw Eng bersma budaknya telah pergi ke berbagai tempat untuk melanjutkan penyelidikannya mencari jejak Ong Tiong Yang.
Sma sekali tidak terpikir oleh Lim Tiauw Eng bahwa sesungguhnya Ong Tiong Yang waktu 198 itu berada di istana Tayli bersama Ciu Pek Tong sutenya, tengah bertamu pada Toan Hongya salah satu guru besar dalam barisan lima jago luar biasa itu.
maka sia-sia belaka Lim Tiauw Eng mencari jejak Ong Tiong Yang karena kemana dia pergi selalu dia gagal untuk mengendus jejak orang yang tengah dicarinya itu, sehingga akhirnya dia mengajak budaknya untuk kembali ke Ciong Lam San, kuburan mayat hidupnya!.
**** KEMANAKAH perginya Ong Tiong Yang waktu menyusul sutenya, yaitu Loo Boan Tong Ciu Pek Thong yang telah meninggalkan istana Tayli, sehingga mereka belum juga kembali ke Ciong Lam San ke kuil Tiong Yang Kiong.
Ternyata Ciu Pek Thong dengan hati diliputi dengan berbagai perasaan, telah berlari-lari meninggalkan istana Tayli dan dia berlari tanpa arah tujuan mengambil arah ke utara.
Waktu itu perasaan berduka karena telah melakukan suatu dosa yang dianggapnya terlalu besar, melanggar larangan pintu perguruannya, disamping itu melukai perasaan Toan Hongya, Toan Tie Hin Kaisar Tayli itu, dimana selirnya telah "dimakan‟ olehnya tanpa disadarinya bahwa hal itu merupakan perbuatan yang salah.
Dan hubungan asmara yang telah dilakukan antara dia dengan Eng Kouw membuat Ciu Pek Thong diaduk-aduk oleh bermacam-macam perasaan, karena hubungan yang berlangsung singkat itu sedikitnya telah menimbulkan perasaan yang mendalam dan sayang pada Eng Kouw.
Namun karena disebabkan oleh perasaan malu dan berdosa itulah yang membuat Ciu Pek Thong harus menindih perasaan sayangnya 199 pada Eng Kouw dan berusaha untuk melupakan selir kaisar Tayli itu.
dia telah berlari sekuat tenaganya, sehingga tubuhnya merupakan bayangan belaka, yang berkelebat kesana kemari gesit sekali dengan gerakan yang tidak bisa diikuti oleh mata manusia biasa.
Ong Tiong Yang yang semula mengejar dan menyusul sutenya itu, tidak berhasil menemui jejaknya.
Namun sebagai seorang yang mengenal watak dan tabiat sutenya itu, dia dapat menduga dalam keadaan demikian Ciu Pek Thong tentu akan menuju arah utara untuk kembali ke daratan Tionggoan ke Ciong Lam San dan nanti di kuil Tiong yang kiong sang sute itu akan meminta pengampunan dari kakak seperguruanya yang sangat dihormatinya itu.
Disebabkan dugaan seperti itulah Ong Tiong Yang telah melarikan kudanya dengan cepat sekali ke arah utara dan memang telah mengejar selama dua hari dua malam tanpa berhenti, dia telah berhasil menyusuk Ciu Pek Thong.
Adik seperguruannya itu telah ditemukan duduk termenung di bawah pohon.
Dia tengah memandang kearah langit dengan wajah pucat pasi dan mata yang hampa tek bersinar.
Ong Tiong Yang melarikan kudanya mendekati dan menghampiri sutenya dan Ciu Pek Thong telah melompat berdiri dengan sikap terkajut.
"Ong Suheng!"
Panggilnya dengan muka meringis. Loo Boan Tong yang biasanya nakal dan berandalan, justru kali ini gugup dan memandang kakak seperguruannya itu dengan muka yang meringis.
"Kau… kau datang untuk membawa aku ke Tayli. Untuk memaksa aku menikahi Eng Kouw?" 200 Ong Tiong Yang guram sekali wajahnya, ia melompat turun dari kudanya. Dengan suara yang tawar dia menyahuti.
"Sute, engkau telah menimbulkan keonaran di istanyanya Toan Hongya, engkau telah memberikan malu pada mukaku dan engkaupun seorang manusia rendah hina dina. Kau telah melakukan perbuatan rendah dan hina dina dan tidak memiliki keberanian untuk bertanggung jawab, maka kau harus menerima hukuman yang setimpal dengan perbuatanmu itu!"
Ciu Pek Thong tahu-tahu telah menekuk kedua lututnya. Dia menganguk-anggukkan kepalanya didepan Ong Tiong Yang.
"Suheng, kau hukumlah aku dengan hukuman yang paling berat. Aku akan menerimanya dengan senang hati, untuk menebus perbuatan-perbuatan hinaku itu, tapi… tapi jangan memaksa agar aku menikahi Eng Kouw!"
Memohon Ciu Pek Thong. Ong Tiong Yang mengawasi sutenya dengan wajah muram, dia berdiri sejenak lantas berkata.
"Baiklah mari ikut aku pulang keCiong Lam San…!"
Ciu Pek Thong mengangguk.
Begitulah, Ong Tiong Yang mempergunakan kudanya dan Ciu Pek Thong berlari-lari mempergunakan ginkangnya.
Waktu mereka singgah di sebuah perkampungan kecil, Ong Tiong Yang membeli seekor kuda untuk sutenya tersebut.
Dan kakak adik seperguruan itu telah meninggalkan Tayli, kembali ke daratan Tionggoan menuju ke Ciong Lam San.
Setelah tiba di Tiong Yang kiong, Ciu Pek Thong menerima hukuman satu tahun harus dikurung didalam sebuah kamar, duduk bersila menghadap tembok.
201 Hukuman seperti inilah yang kelak membuat Ciu Pek Thong memiliki kepandaian hampir berimbang dengan Ong Tiong Yang.
Karena selama satu tahun itulah dia telah mempelajari Iwekang dan ilmu-ilmu lainnya dari Coan Cin Kauw, dengan pikiran yang masih lurus, sehingga dia mendapat kemajuan yang pesat sekali.
Malam itu, dari dalam kuil Tiong Yang Kiongyang jadi pintu pusat perguruan Coan Cin Kauw itu terdengar pendeta membaca doa.
Keadaan di kuil tersebut, tenang luar biasa.
Ciaong Lam san memang merupakan tempat yang indah, dipenuhi pohon-pohon raksasa yang tinggi menjulang ketengah angkasa.
Ong Tiong Yang duduk terpekur di kamarnya menghadap se
Jilid kitab yang tengah dibolak-balik halamannya.
Dia tengah mengawasi dengan wajah muram.
Sesungguhnya, Ong Tiong Yang sejak memenangkan pertemuan di hoa san dan berhasil memiliki kitab Kiu Im Cin Keng itu, telah tersirat didalam hatinya bahwa dia tak akan melihat kitab itu karena merasa kepandaiannya pun telah sempurna dan tinggi sampai pada puncaknya.
Dia hanya ingin melindungi kitab itu ditangannya agar tidak menimbulkan pergolakan yang hebat dan banjir darah dalam kalangan kangouw.
Namun, sejak terjadinya keonaran di istana Toan Hongya yang ditimbulkan oleh kelakuan berandalnya Ciu Pek Thong membuat Ong Tiong Yang berduka sekali.
Dia telah memilih Toan Hongya sebagai pewaris kepandaian It Yang Cie nya, namun kenyataannya sekarang Toan Hongya menerima gempuran yang tidak ringan dengan terjadinya penyelewengan yang dilakukan oleh selir yang disayangi yaitu Lauw Kuihui.
202 Dengan terjadinya keonaran yang dilakukan Ciu Pek Thong, jelas Toan Hongya mungkin tidak bisa mencurahkan seluruh perhatiannya untuk melatih It Yang Cie dan ilmu-ilmu luar biasa lainnya yang telah diturunkan oleh Ong Tiong Yang.
Setelah kembali di Tiong Yang Kiong, setiap malam Ong Tiong Yang memutar otak berpikir keras, dia memikirkan cara yang terbaik agar kelak ad seorang yang kelak dapat mengendalikan Auwyang Hong jika tkh Toan Hongya gagal dengan latihan It Yang Cie dan ilmu-ilmu lainnya yang telah diwariskan Ong Tiong Yang.
Namun jika Ong Tiong Yang hendak memilih seorang lainnya, yang tentu saja harus dididik pula maka memakan waktu lama.
Inilah yang membuat pikiran Ong Tiong Yang jadi kusut.
Dia setiap malam berpikir, bagaimana caranya dia dapat mendidik dalam waktu yang cepat pada seseorang untuk memberikan seluruh kepandaian ilmunya, agar orang yang dididiknya itu benar-benar sempurna dan menguasai It Yang Cie, ilmu yang ditakuti Auwyang Hong.
Akhirnya Ong Tiong Yang ingat pada Kiu Im Cin Keng yang telah menjadi miliknya.
Dan seketika berkelebat serupa ingatan, Ong Tiong Yang berpikir, jika memang dia mempelajari Kiu Im Cin Keng, mencari-cari cara yang mungkin lebih baik?
Dengan ditambah ilmu-ilmu yang ada dalam kitab Kiu im Cin Keng, yang merupakan kitab pusaka yang ditulis oleh Tat Mo Cauwsu itu, bukanlah berarti dia dapat memberikan kepandaiannya yang lebih baik kepada orang yang dididiknya yang akan dijadikan sebagai orang yang sanggup mengendalikan keberandalan dan keganasan Auwyang Hong dikemudian hari bila dia menutup mata.
203 Karena berpikir begitu.
Ong Tiong Yang setiap malam telah meneliti Kiu Im Cin keng.
Semula dia beranggapan bahwa ilmu yang terdapat dalam Kiu Im Cinkeng, walaupun hebat, tak akan sehebat kepandaian yang telah dimilikinya.
Namun justru melihat halaman pertama dan kedua saja, tia telah terkejut.
Ilmu yang tercatat dalam Kiu Im Cin keng ternyata merupakan ilmu yang benar-benar luar biasa.
Pada halaman pertama dari Kiu Im Cin keng itu bertuliskan.
"ILMU YANG HEBAT BUKAN UNTUK MENINDAS, TAPI UNTUK MELINDUNGI UMAT MANUSIA UMUMNYA."
Dengan melihat tulisan di halaman pertama itu, maka seketika Ong Tiong Yang menaruh rasa hormat yang jauh lebih besar pada guru besar yang telah mendirikan dan merupakan cikal-bakalnya Siauw Lim Sie itu.
karena dengan tulisan itu, dia ingin mengemukakan bahwa Kiu Im Cin keng ditulisannya ini bukanlah merupakan kepandaian yang dapat digunakan untuk berbuat kejahatan, kepandaian yang tinggi, jika dipergunakan untuk kebaikan jelas akan mendatangkan kebaikan dan keberuntungan untuk umat manusia banyak umumnya.
Karena itu tekad Ong Tiong Yang untuk melindungi kitab ini agar tidak jatuh kedalam tangan manusia-manusia yang tidak karuan, agar nanti tidak jadi bahan menimbulkan gelombang hebat di rimba persilatan, semakin kuat saja.
Pada baris selanjutnya tertulis.
ILMU YANG PALING LURUS BERSIH HARUS DISERTAI DENGAN PIKIRAN YANG KOSONG, KEKOSONGAN HARUS DENGAN KEHAMPAAN, DAN KEHAMPAAN HARUS DENGAN ISI.
204 Ong Tiong Yang sebagai Coan Cin Kauwcu yang memiliki kepandaian sempurna, segera dapat menangkap maksud dari kalimat itu.
Dimana seorang yang memulai pelajaran ilmu silat haruslah dimulai dari pelajaran yang lurus.
Yang terutama sekali, orang yang dididik itu harus dimulai dari seorang yang tidak mengerti sama sekali ilmu silat.
Dengan begitu tidak terdapat percampurbauran dan mempermudah orang itu memperoleh ilmu yang murni dari Kiu Im Cin keng.
Itulah yang disebut dengan dimulai dari pikiran kosong.
Sedangkan arti dari kekosongan harus dengan kehampaan diaumpamakan seperti sebuah gudang yang jika tanpa ruang yang kosong tentu tidak dapat digunakan sebagai gudang untuk menempatkan barang-barang.
Begitu juga dengan roda pedati yang dijari-jari rodanya terdapat ruang hampa, sehingga berpungsilah roda itu dapat berputar dan jadi roda pedati.
Demikian juga halnya dengan rumah, karena dibuatnya jendela dan pintu yang kosong sehingga berfungsi sebagai rumah.
Dan cawan maupun mangkok, karena ditengahnya dibuat kosong maka dapat dipergunakan sebagaimana mestinya.
Begitu pula dengan seorang yang akan mulai mempelajari ilmu silat yang terdapat dalam kitab Kiu Im Cin Keng berarti harus mulai dengan kekosongan harus dengan kehampaan.
Dengan demikian orang itu bisa menerima pelajaran Kiu Im Cin Keng dengan sempurna dan murni.
Lalu perkataan "
Kehampaan harus dengan isi‟ itu merupakan arti yang mendalam, sama halnya dengan kata-kata diam tapi bergerak, dan kosong namun berisi, tentu saja seorang yang telah memiliki kepandaian yang tinggi yang berasal dari Kiu Im Cin Keng harus bersikap diam, bersikap kosong dan tidak dapat mempergunakan ilmunya dengan sembarangan, karena itu, jika tidak terdesak sekali, berarti orang itu harus menahan diri dan tidak mempergunakan ilmunya tersebut.
Dengan sikap seperti itu, orang tersebut akan 205 berhasil memperoleh kenajuan yang sangat pesat dan lebih sempurna.
Selama dia mempelajari Kiu Im Cin Keng, walaupun dia telah menguasai dengan sempurna, namun orang itu mengambil sikap "Kosong‟ atau juga "
Hampa‟, seperti yang tidak memiliki kepandaian apa-apa maka selamanya orang itu akan belajar.
Dengan demikian orang tersebut akan memperoleh kemajuan yang tidak ada habisnya dan tetap berisi.
Akan tetapi seseorang yang yang telah merasa puas dengan hasil ilmunya yang telah dimilikinya, sehingga terjadi perkataan "Isi namun disertai kekosongan‟, berarti akan membahayakan orang itu, dimana orang tersebut tidak akan memperoleh kemajuan lagi yang lebih tinggi, juga tidak akan memperoleh sesuatu yang baru.
Ong Tiong Yang bertambah kagun atas kata-kata yang ditulis oleh Tat Mo Kauwcu itu.
Jika seorang yang belum memiliki kesempurnaan seperti Coan Cin Kauwcu, tentu tak akan dapat menangkap arti perkataan dan maksud dari Tat Mo Kauwcu.
Namun karena Ong Tiong Yang telah memiliki kepandaian tingkat tinggi, disamping itu diapun sebagai seorang Tojin yang memiliki pengetahuan luas, dengan demikian dia telah bisa menangkap maksud pelajaran dasar dari Kiu Im Cin Keng, yang menghendako segalanya yang berhubungan dengan Kiu Im Cin Keng itu harus kosong dan hampa namun berisi.
Sedangkan Ong Tiong Yang sendiri telah memilki kepandaian yang tinggi dan sempurna.
Dan jelas dia tidak mungkin bisa mempelajari Kiu Im Cin Keng dengan baik.
dia telah memiliki dasar dari kepandaiannya sendiri.
Dengan demikian dasar dari Kiu Im Cin Keng tidak bisa ditanamkan pada dirinya.
206 Kesulitan seperti inilah, walaupun belum melihat halahan-halaman berikutnya dari Kiu Im Cin Keng telah membuat Ong Tiong Yang bersusah hati.
**** MALAM itu dia telah menatapi kata-kat yang tertulis pada halaman pertama itu.
Dia telah berpikir keras, memeras otak dan pikiran untuk memperoleh jalan keluar.
hanya satu jalan keluarnya yang bisa ditempuhnya, yaitu dengan mengambil seorang murid lagi yang akan menerima seluruh warisannya dan juga warisan Kiu Im Cin Keng.
Seseorang yang memang belum pernah mempelajari ilmu silat.
Dengan demikian tentunya orang itu akan dapat menerima pelajaran Kiu Im Cin Keng dengan sempurna dan murni.
Tapi siapa?
Siapa orangnya yang bisa siambil sebagai murid nya itu?
Sedangkan sekarang ini saja ia telah memiliki tujuh orang murid yang semuanya terlatih baik menurut dasar ilmu silat Coan Cin Kauw.
Dengan demikian mereka tidak mungkin menerima warisan kepandaian Kiu Im Cin Keng.
Dan juga Ciu Pek Thong, sama halnya dengan kedudukan Ong Tiong Yang, telah tertanam dasar kepandaian dari aliran Coan Cin Kauw, sehingga Ong Tiong Yang jadi berpikir terus menerus tanpa bisa memecahkan kesulitan itu.
Yang terpenting lagi, jika memang dia mengambil murid baru, jelas diapun harus mengambil seseorang disamping yang belum pernah mempelajari ilmu silat, juga harus berbakat dan tulang serta ototnya baik untuk belajar ilmu silat, setidaktidaknya dia harus menemukan Sin-tong, seorang anak 207 ajaib.
Jika hanya anak biasa saja, berarti akan sia-sia belaka jerih payahnya , dia akan gagal mendidik anak itu, atau calon muridnya yang baru itu.
Ketujuh murid Ong Tiong Yang dalam rimba persilatan telah punya nama yang cukup disegani.
Mereka digelari Coan Cit Cin Cu atau Tujuh Mutiara dari Coan Cin yang terdiri yaitu, Ma Giok, Tam Cie Toan, Lauw Cie Hian, Khu Cie Kie, Ong Cie It, Cek Tay Thong dan Sun Put jie.
Ketujuh orang itu menjalankan kehidupan sebagai Tosu (Pendeta Agama "
To‟), mereka mamiliki kepandaian yang tidak dapat diremehkan, ketujuhnya telah digembleng dengan baik.
juga disamping itu mereka memiliki semacam ilmu barisan mengepung yang sulit sekali dihadapi lawan.
Ilmu barisan mengepung yang diberi nama "
Thian Kong Pak Tauw Tin‟ yang diciptakan sendiri oleh Ong Tiong Yang untuk ketujuh orang muridnya itu.
Dan barisan mengepung Thian Kong Pak Tauw Tin baru akan dipergunakan jika memang Coan Cin Cit Cu tengah menghadapi ancaman bahaya yang sulit diatasi oleh mereka sendiri-sendiri.
Dengan begitu, Ong Tiong Yang tak dapat mengambil salah seorang muridnya itu untuk diwarisi kepandaian Kiu Im Cin Keng itu.
Selain mereka bertujuh tidak mungkin dapat menerima dengan sempurna segara menyeluruh kepandaian Kiu Im Cin Keng tersebut secara murni dan lurus.
Juga dapat menggagu kepandaian dasar yang telah mereka miliki yang diperoleh menurut aliran Coan Cin Kauw.
**** Malam itu Ong Tiong Yang jadi mengawasi terpekur pada halaman pertama Kiu Im Cin Keng tersebut.
Dan baru tersadar 208 dari terpekurnya itu ketika mendengar suara langkah kaki yang ringan diluar kamarnya.
Ong Tiong Yang tidak bergerak dari tempat duduknya, tetap mengawasi halaman pertama dari Kiu Im Cin Keng, namun Tojin ini telah bersiap sedia penuh kewaspadaan .
mendengar langkah kaki orang diluar, tentu orang itu memiliki Ginkang yang tinggi sekali.
"Bintang Pak Tauw bersinar terang, Rembulan sedang tersenyum, Pohon-pohon berkembang indah, Mengapa harus meninggalkan semua ini? Mengapa harus menyembunyikan diri Selama setahun lebih tanpa meninggalkan jejak Menyembunyikan hudtim atau kebutan, yang biasa dipergunakan oleh pendeta-pendeta, penganut agama To menuimpan kitab, sunyi sekeliling Tiong Yang Kiong…!"
Terdengar suara orang bersenandung diluar jendela.
Suaara seorang wanita yang halus sekali, suaranya bening dan jelas terdengar oleh Ong Tiong Yang.
Mendengar senandung itu, muka Ong Tiong Yang berobah menjadi pucat dan merah.
Kemudian Coan Cin Kauwcu ini menghela nafas, dia membalas.
"Menyembunyikan Hudtim, Untuk membersihkan debu didalam, Meninggalkan sinar rembulan yang indah, Bunga-bunga yang indah, Dan tak melihat sinar bintang Pak Tauw, Hanya untuk memperoleh cahaya, 209 Yang terik dari matahari."
"Hmm, alasan kosong saja! untuk kebaikan apa kau telah meninggalkan Ciong Lam San?"
Menggerutu orang diluar.
"Demi kebaikan umat manusia, untuk sahabat seluruh kangouw, maka pinto telah melakukan perjalanan jauh ke Tayli. Maaf, dengan begitu pinto telah melanggar sumpah dan bersedia untuk menerima hikuman!"
"Hmm!"
Terdengar lagi wanita diluar kamar itu mendengus dingin.
"Dengan berbagai alasan kau tinggalkan Ciong Lam San melanggar janji dan ingkar pada sumpah, pantaskah itu untuk deorang Coan Cin Kauwcu yang namanya begitu mulia?!"
"Karena itu, pinto bersedia dengan ikhlas menerima hukuman apapun yang hendak dijatuhkan pada pinto!"
Menyahuti Ong Tiong Yang masih duduk ditempatnya tanpa bergerak sama sekali.
"Apakah demikian caramu menyambut tamu?"
Tegur wanita diluar kamar.
"Ya, ya sulit buat pinto, sebab memang sang tamupun datang diakhir trbukanya mata ini….!"
Menyahut Ong Tiong Yang pelan.
"Hmm!"
Mendengus orang diluar itu.
"Apakah dengan kedatanganku ini kau hanya beranggapan aku sebagai pengganggu dan sumber keonaran? Apakah kau tetap tak mau meyembut tamu, Coan Cin Kauwcu yang agung dan mulia?"
Kembali terdengar suara mendengus mengejek.
210 Ong Tiong Yang menghela nafas, dia bangkit dari duduknya.
Dengan langkah tenang dia menghampiri jendela, dan telah merangkapkan kedua belah tangannya menghadap keluar, darimana angin malam yang dingin sekali bersilir menerpanya.
"Silakan Sam Lim yang mulia masuk ke dalam…!"
Mempersilakan Ong Tiong Yang.
"Tentunya kau akan dingin sekali berda di luar seperti itu."
"Cisss! Siapa yang sudi masuk kedalam kamarmu?"
Mengejek wanita diluat.
"Ataukah memang sekarang kau demikian agung dan mulianya, sehingga kakimu tidak boleh menginjak tanah diluar kamarmu, Tojin yang maha agung?"
Ong Tiong Yang tidak segera menyahuti.
Dia yakin dia kelur dari kamarnya menemui wanita diluar kamar itu yang telah diketahui siapa adanya, tentu akan timbul keributan belaka.
Seperti memang selalu terjadi, mereka bertemu muka, maka selalu ereka bertengkar.
Dan Ong Tiong Yang sesungguhnya tidak mau bertemu dengan wanita itu lagi untuk mengambil jalan masing-masing.
Waktu Ong Tiong Yang tengah ragu-ragu bergitu, wanita diluar kamar telah berkata.
"Engkau telah melanggar janji, ingkar pada sumpah, setelah melakukan kedosan itu, apakah kau tetap akan membawakan sikap yang agung dan mulia dari seorang Tojin bau yang tak mau keluar menyambut tamu??"
Ong Tiong Yang tak melayani ejekan wanita itu, dia menghela nafas.
Dengan gerakan yang ringan sekali tubuhnya melesat keluar dari kamarnya.
Diluar udara dingin sekali, harumnya bunga menebarkan harum semerbak yang menyegarkan.
Dan dihadapan Ong Tiong Yang berdiri seorang wanita cantik jelita.
Sulit mencari duanya wnita secantik itu di 211 dunia ini.
namun pada sinar mata yang tajam itu terlihat sifat angkuhnya.
Dengan bajunya yang berwarna putih dengan angkinnya berwarna kuning, dan pengikat sanggulnya yang berwarna merah muda, kelihatan dia bagaikan seorang dewi yang baru turun dari kahyangan.
Benar-benar cantik jelita.
Ong Tiong Yang menghela nafas sambil merangkapkan tangannya, dia membungkuk dan memberi hormat.
"Hukuman apakah yang hendak kau turunkan padaku?"
"Hukuman? Apakah aku punya kemampuan untuk menghukum Coan Cin Kauwcu yang lihay dan memiliki kepandaian yang luar biasa, yang telah berhasil sebagai Te It Nenghiong didalam sebuah pertemuan di Hoa san yang kepandaiannya lebih tinggi dari empat guru besar lainnya, dan sekarang telah berhasil memiliki Kiu Im Cin Keng? Hmm, bisakah aku menghukum seorang Tojin yang agung?"
Ong Tiong Yang jadi berobah merah mukanya, dia bilang.
"Tiauw Eng, kau jangan menggoda terus menerus, aku sekarang telah menganut sebagai seorang Tosu. Bukankah aku telah memenuhi keinginanmu menemanimu di Ciong Lam San ini, dan aku kini berdiam di Tiong Yang kiong? Dan memang jika beberapa hari yang lalu, karena aku memiliki urusan yang menyangkut keselamatan umat manusia banyak, demi kebaikan dan prikemanusiaan, aku telah pergi meninggalkan Ciong Lam San. jika memang kau beranggapan itu merupakan sebuah kesalahan dan dosa, maka aku ikhlas menerima hukuman dari kau!"
Wabita dihadapan Oang Tiong Yang tak lain adalah Lim Tiauw Eng.
212 Beberapa waktu yang lalu dia tahu Oang Tiong Yang telah kembali ke kuil Tiong Yang Kiong, maka malam ini dia telah datang untuk menemuinya.
Mendengar perkataan Ong Tiong Yang, Lim Tiauw Eng telah mendengus mengejek, dia berkata.
"Tiong Yang Cinjin, selama ini kau berudaha menepati janji dan menjalankan sumpahmu. Namun sebab kau bersalah besar melanggar janji dan sumpahmu meninggalkan Ciong Lam San , tidak dapat aku mepercayai kata-katamu lagi untuk dia-sia hidupku ini! hmmm, memang seperti yang kukatakan, setiap lelaki itu bukan manusia baik-baik, walaupun kini kau telah menjadi seorang Tosu, ternyata kau masih ingkar sumpahmu, merupakan manusia yang tidak bisa dipegang kata-katanya, tak bisa dipercaya hatinya!"
Ong Tiong Yang merangkapkan kedua tangannya memberi hormat.
"Mengapa kau berkata begitu?"
Kata Ong Tiong Yang.
"Bukankah kita telah pibu, demikian juga kita telah mengadi ilmu sastra, mengadu kepandaian secara Bun, akhirnya kau memenngkan pertempuran tersebut, sehingga aku harus memenuhi syaratmu itu, harus berdiam di Ciong Lam San menemani kau..?"
"Hmmm! Tapi kukira, jika engkau tetap menimbulkan hal-hal yang tidak-tidak, selamanya kita tidak pernah menuntut penghidupan yang tenang, selama itu pula kita bagai sekor anjing dan seekor kucing dalam satu kurungan, yang akan selalu cakar-cakaran! Tentang kepandaian Lim Tiauw Eng, Im Seng Ie Yang? Apakah kau belum puas?"
Mendengar perkataan Ong Tiong Yang, bola mata Lim Tiauw Eng berputar brmain, mukanya pucat, dari matanya 213 memancarkan sinar mencintai, benci, dendam, penasaran, kuatir, sayang dan benci yang menjadi satu.
Setelah mengawasi Ong Tiong Yang sekian lama, dia mengangkat kepalanya, menengadah mengawasi ke arah langit dan bibirnya yang kecil memereh indah itu telah bersenandung dengan suara yang merdu.
"Rembulan dilangit mengejar matahari, Gadis dibumi mengejar kekasih, Matahari terbit di timur tenggelam di barat, Dewi bulan bersedih hati tersayat, Sinar senja memabuki langit, Sisa sinar matahari menerangi rembulan, Siapa bilang matahari tidak berperasaan, Oh ! Mengapa kau tak menoleh memandangku, Kata orang purbakala, Mendung timbul dari samudera, Mendung jadi hujan, Air hujan mengalir masuk sungai, Sungai bergerak maju, Akhirnya masuk ke samudera kembali, Tapi cinta kasih itu, Burung terbang dapat dipanah, Ikan berenang dapat dijala, Binatang lari dapat dijebak, Namun cintaku hanya siliran angin belaka….! 214 Mendengar senandung Lim Tiauw Eng, muka Ong Tiong Yng berubah pucat, walaupun sekarang dia telah menjadi tosu, tokh kenyataannya dia mengakui dulupun dia pernah mencintai wanita dihadapannya ini. namun Lim Tiauw Eng terlampau angkuh, dengan demikian mereka selalu berselisih pendapat dan pandangan, acap kali bertemu tentu mereka bertengkar. Dengan demikian mereka tidak ada kecocokan satu sama lain, membuat cinta mereka hanya terpendam didlam hati masing-masing, hanya saja mereka menyadari cinta mereka tidak akan terpadu sampai kapanpun juga, karena diantara mereka bagaikan terdapat dinding yang menjulang tinggi membatasi mereka. Setelah bersenandung seperti itu, Lim Tiauw Eng menghela nafas beberapa kali, kakinya menendang-nendang perlahan batu-batu kerikil didepannya. Mendapat kenyataan Ong Tiong Yang berdiam diri, Lim Tiauw Ong telah menoleh kepada Ong Tiong Yang, kemudian dengan sorot mata mencintai dia bertanya.
"Apakah kau tetap tidak mempedulikan aku?!"
Ong Tiong Yang cepat-cepat merangkapkan kedua tangannya, memberi hormat dengan sikap yang gugup, dengan suara agak tergetar dia menyahuti.
"Cu Thian Cu Ie Cie Ie Siie Jin, Ie Si Ka Ie Siu Sin Wi Pun!" 215 Muka Lim Tiauw Eng merah mendengar perkataan Ong Tiong Yang seperti itu, yang telah diambil dari kitab agama To nya yang berarti sebagai berikut.
"Dari raja sampai semua rakyat, sebagian saja memperbaiki sifat diri yang dipergunakan untuk dasar."
Lim Tiauw Eng menyadari bahwa berkata begitu Oang Tiong Yang secara tidak langsung mencela sifatnya yang terlalu angkuh, tak pernah mau mengalah, juga aneh, dimana mereka selalu bertengkar setiap bertemu, sampai sekarang mereka bertemu kembalipun dilewati dengan pertengkaran.
Bagaimana mungkin mereka dapat bersatu padu?
Dengan menjawab singkat seperti itu, Ong Tiong Yang seperti ingin mengatakan, selama Lim Tiauw Eng tidak dapat merubah sifat dan wataknya, maka selama itu pula cinta mereka tidak memiliki dasar dan tak mungkin pula dapat terjalin dengan baik.
ong Tiong Yang seperti hendak mengartikan diantara mereka sudah tidak mungkin pula membicarakan hal-hal seperti itu, sebab dia telah menjadi seorang Tosu.
Bukankah sekarang ini untuk menjawab pertanyaan Lim Tiauw Eng yang menanyakan soal hubungan cinta mereka, Tiong Yang telah menyahuti dengan mengambil salah satu ucapan yang terdapat dalam kitab agamanya?
Lim Tiauw Eng menunduk dalam-dalam, dia tertawa dingin, katanya.
"Ya, mungkin adatku yang buruk dan mungkin juga watakku yang berandalan, tapi kesalahan tidak seluruhnya berada padaku, dan engkau bukanlah manusia baik-baik! dengan menjadi Tosu seperti sekarang ini, engkau bukan didorong oleh keinginan dan kesadaranmu sendiri, tapi karena 216 terpaksa, karena kau kalah dalam pertaruhan yang kita adakan, dimana engkau tentu merasa tersiksa dengan cara hidupmu sebagai seorang pendeta ini yang kau jalani dengan terpaksa dan tertekan! Ciss, apakah kau kira aku demikian hina dan rendah mengejar-ngejar cintamu? Engkau seorang laki-laki yang tidak memiliki perasaan! Sekali ini kita akhiri pertemuan kita sampai disini, tapi kelak jika satu kali saja kau akan melangkah setindak hendak keluar dari Ciong Lam San, walaupun harus bertaruh jiwaku untuk binasa bersama, akan kubinasakan kau!"
Berkata sampai disitu, Lim Tiauw Eng diam, tak bisa menahan tangisnya.
Dia putar tubuhnya, mencelat melompati tembok kuil, lenyap dalam kegelapan.
Ong Tiong Yang mengangkat kepalanya memandangi rembulan yang cemerlang memantulkan sinarnya didepan pohon-pohon bunga yang harum semerbak.
Namun hati Ong Tiong Yang malam itu seperti digandul oleh ribuan kati benda berat yang membuat dia jadi sumpek sekali.
Perkataan Lim Tiauw Eng malam ini memang tepat sekali mengenai hati dan perasaannya.
Jadi seorang Tosu seperti sekarang, malah sebagai cikal-bakalnya Coan Cin Kauw, sesungguhnya semua ini dijalani oleh Ong Tiong Yang dalam keadaan terpaksa.
Terlebih waktu pertama kali dia harus menjalani jadi Tosukarena kalah bertaruh dengan Lim Tiauw Eng, dia menjadi tersiksa sekali, walaupun akhirnya menjadi terbiasa.
Secara terus terang dia mengakui, menjadi Tosu seperti sekarang ini memang bukan atas kehendaknya dan bukan disebabkan kesadarannya, hanya disebabkan paksaan.
Teringat semua itu, Ong Tiong Yang menghela nafas dalam-dalam dengan wajah yang buram.
Betapa tidak, cinta kasih yang telah berekor panjang, karena diantara dia dengan 217 Lim Tiauw Eng selalu timbul pertengkaran yang tidak ada akhirnya dimana tampaknya Lim Tiauw Eng yang sungguh-sungguh mencintai dirinya, namun disebabkan karena keanghuhan dan adatnya yang keras itu membuat cinta mereka tidak dapat terpadu itu selalu mengejar dan mengingatkannya, melibatnya tidak dapat terlepas dari mata dan hati Lim Tiauw Eng.
Dengan demikian, Ong Tiauw Yang seumur hidupnya akan menemani Lim Tiauw Eng di gunung Ciong Lam San dan akan selamanya berdiam di Tiang Yong Kiong, menemani wanita yang mencintainya sepenuh hati, yang juda secara diam-diam dicintai oleh Ong Tiong Yang.
Mereka berdiam di sebuah tempat yang dekat satu dengan yang lain.
Seharusnya cinta mereka akan terpadu lebih erat.
Namun kenyataannya mereka mengalami seperti semboyan.
"Dekat dimata Jauh dihati‟. Setelah menghela nafas beberapa kali, dan berjalan hilir-mudik ditempat itu, akhirnya Ong Tiong Yang masuk kembali kekamarnya. Dia telah menyimpan Kiu Im Cin Keng, kemudian duduk bersemedhi untuk memenangkan hati dan pikirannya, untuk membaca kitab suci agamanya. Tapi selama itu pikiran Ong Tiong Yang melayang-layang menerawang tidak menentu. Bayangan Lim Tiauw Eng sulit dihapus dari pandangan matanya, bagaikan bermain-main dipelupuk matanya. Dimana tidak seperti biasanya jika duduk bersemedhi sebentar saja, Ong Tiong Yang akan dapat melupakan Lim Tiauw Eng dan dapat melepaskan diri dari gangguan bayangan wanita itu. Malam ini sungguh menyiksa perasaan Ong Tiong Yang, bayangan Lim tiauw Eng begitu kuat melekat dipelupuk matanya. Dia duduk bersemedhi memejamkan matanya, mengatur pernafasan dan perasannya, namun Tiauw Eng 218 seperti tersenyum-senyum dihadapannya. Dia mengambil kitab suci agamanya dan membacanya, tetap juga bayang-bayang Tiauw Eng seperti menari-nari di kitab agamanya itu. Akhirnya Ong Tiong Yang rebahkan dirinya dipembaringan dan pejamkan matanya kuat-kuat, tkh pikirannya itu seperti berputar-putar kembali, teringat peristiwa yang telah lalu….!" **** COAN CIN KAUWCU Ong Tiong Yang atau dalam rimba persilatan disebut sebagai Tong Sin Thong itu bikan telah menjadi Tosu sejak dilahirkan. Diwaktu berusia muda remaja, karena tidak tahan melihat serbuan tentara Kim yang merusak harta benda dan membunuh rakyat yang tidak berdosa, ia telah bangkit dan membentuk satu pasukan rakyat guna melawan tentara musuh. Waktu itu dia melakukan satu pekerjaan besar di daratan Tioggoan, akan tetapi akhirnya oleh tentara Kim semakin lama semakin kuat dan berjumlah besar. Berulangkali Ong Tiong Yang dengan pasukannya menderita kekalahan dimedan perang dan banyak sekali tentara dan panglima yang binasa atau terluka. Diwaktu itulah Ong Tiong Yang memutuskan untuk menyendiri ditempat sepi dan menamakan dirinya sebagai "Mayat Hidup‟. Beberapa tahun lamanya Ong Tiong Yang menyembunyikan diri dalam sebuah kuburan tua di gunung Ciong Lam San dan tidak mau melangkah setindakpun dari pintu kuburan. Dengan demmikian Ong Tiong Yang hendak memperlihatkan bahwa biarpun masih hidup, dia tidak berbeda dengan mayat yang tidak mau hidup bersama-sama dengan orang Kim dikolong langit!. 219 Selama bebeerapa tahun, banyak sahabatnya yang datang menengok, berusaha untuk membujuk agar Ong Tiong Yang mau keluar dari kuburan itu dan melakukan pekerjaan yang berharga. Namun Ong Tiong Yang hatinya sudah tawar dan tidak ada muka untuk menemui lagi kawan-kawan lama didunia kangouw, sudah menolak segala bujukan . setelah lewat delapan tahun, seorang lawan yang paling kuat telah mencaci-maki padanya dari luar kuburan, tujuh hari tujuh malam lamanya dia menaci-maki terus, sehingga Ong Tiong Yang tidak bisa menahan diri lagi, lalu keluar guna menyembut tantangan orang itu. Dan orang tersebut ketika melihat Ong Tiong Yang keluar, mendadak tertawa sambil berkata.
"Nah sekarang kau sudah keluar dan tidak perlu balik ke dalam kuburan!"
Ong Tiong Yang jadi tersadar dan segera menyadari bahwa orang yang telah memaki-makinya itu sesungguhnya memiliki maksud baik, orang itu rupanya merasa sayang jika Ong Tiong Yang yang memiliki kepandaian begitu tinggi sudah "Mengubur‟ dirinya hidup-hidup dalam kuburan, maka ia sengaja mencaci-maki untuk membikin Ong Tiong Yang gusar dan keluar dari kuburan.
Demikianlah mereka bersahabat dan terjun dalam dunia kangouw.
Orang yang telah memaki-maki Ong Tiong Yang sehingga berhasil memancingnya keluar dari kuburan itu adalah seorang wanita yang tidak lain adalah Lim Tiauw Eng.
Waktu itu, jika memang ingin diperbandingkan kepandaiannya Ong Tiong Yang dengan Lim Tiauw Eng hampir berimbang karena Lim Tiauw Eng memiliki kepandaian ilmu silat yang masih berada satu tingkat lebih tinggi dari kepandaian Tong Shia Oey Yok Su, Pak Kay Ang 220 Cit Kong, Lam te Toan Hongya maupun See Tok Auwyang Hong, keempat guru besar itu.
Hanya saja disebabkan Lim Tiauw Eng seorang wanita dan jarang sekali berkelana di dunia kangouw, namanya tidak tersebar luas.
Sesungguhnya Lim Tiauw Eng sangat mencintai Ong Tiong Yang, cintanya demikian besar dan tulus, sehingga dia telah berusaha untuk dapat menikahdengan Ong Tiong Yang.
Namun disebabkan Ong Tiong Yang memang telah melepaskan perkataan bahwa jika sebegitu lama bangsa Kim belum tersapu dari wilayah Tionggoan, ia tak akan mendirikan rumah tangga, maka terhadap cinta kasihnya Lim Tiauw Eng tidak dilayaninya dan Ong Tiong Yang pura-pura tidak mengetahui dan memperlakukan Lim Tiauw Eng sebagai sahabat biasa.
Justeru karena telah melepas perkataan tidak akan menikah sebelum orang-orang Kim tersapu bersih dari daratan Tionggoan, maka mempersulit hubungan mereka, karena akhirnya tokh dengan berada selalu bersama, berkelana bersama, selalu berdekatan tokh benih cinta lahir juga dihati Ong Tiong Yang .
hanya sebagai seorang yang berkeras perpegang pada kata-kata, tidak dapat Ong Tiong Yang melanggar sumpahnya.
Karena itu, benih cinta yang mulai tumbuh dihatinya telah ditindihnya.
Semakin Ong Tiang Yang berudaha menindih perasaan cintanya terhadap Lim Tiauw Eng, semakin besar juga bersemi dihatinya.
Karena yang ditekan jelas akan bereaksi dan berkembang.
Dengan demikian Ong Tiong Yang akhirnya mengakui bahwa dia memang sesungguhnya mencintai Lim Tiauw Eng.
221 Sedangkan Lim Tiauw Eng sendiri memiliki adat yang sangat angkuh.
Dia salah menafsirkan sikap Ong Tiong Yang.
Dia beranggapan bahwa Ong Tiong Yang tidak memandang sebelah mata padanya dan meremehkan cintanya.
Padahal, jika memang Tiauw Eng mau bersabar dan berusaha menyelami perasaan Tiong Yang, kemungkinan besar cinta mereka akan berpadu, walaupun terdapat sumpah Tiong Yang yang seperti dinding tebalnya, Tiauw Eng karena tersinggung berbalik menjadi gusar, diapun memang telah dikuasai oleh perasaan kecewa karena cintanya tidak bersambut dan merasa terhina karenanya.
Disebabkan kegusaran yang meluap dihatinya kian hebat juga.
Dahulu mereka merupakan dua orang musuh yang tak berkesudahan karena kepandaian mereka hampir berimbang.
Yang satu gagah perkasa, sementara yang satunya lagi lihay dan kosen sekali.
Karena itu setelah bersahabat dan berkelana bersama-sama, mereka sangat disegani oleh orang-orang seluruh rimba persilatan.
Namun karena disebabkan cinta yang terhalang itu, cinta yang tidak tercapai, cinta yang tidak terpadu dan disebabkan salah pengertian juga, kembali mereka bagaikan menjadi dua orang lawan.
Malah disebabkan kekecewaannya itu, Lim Tiauw Eng telah menantang Ong Tiong Yang untuk Piebu, mengadu epandaian diatas gunung Ciong Lam San.
Ong Tiong Yang yang mengetahui bahwa Lim Tiauw Eng sangat mencintainya dan tantangan itu disebabkan hanya karena rasa kecewanya belaka dan salah pengertian, disamping itu pula Ong Tiong Yang mengalah pada Lim Tiauw Eng.
Namun Limm Tiauw eng memang benar-benar memiliki adat yang aneh dan perangai yang sulir sekali diterka, semakin Ong Tiong Yang mengalah berarti semakin menghinanya.
Karena Lim Tiauw Eng pun pernah berkata pad Ong Tiong yang dengan begitu bengis.
"Semakin kau berusaha mengalah 222 padaku, maka ini jelas memperlihatkan bahwa engkau memang sungguh-sungguh tidak memandang sebelah mata padaku!"
Karena desakan Lim Tiauw Eng seperti itu, Ong Tiong Yang tidak memiliki jalan lain lagi, terpaksa dia melayani juga dan mereka lalu bertempur sampai ribuan jurus.
Namun selama itu Ong Tiong Yang tidak bertempur sepenuh hati.
Dia tidak pernah turun tangan jahat.
Lim Tiauw Eng semakin gusar dan penasaran, dia telah bilang.
"Dengan tidak bersungguh-sungguh engkau bertempur denganku, kau pandang aku sebagai manusia apa? atau memang aku tidak ad harganya untuk bertempur mengadu kepandaian denganku?!"
Waktu bertanya begitu, sorot mata dan muka Lim Tiauw Eng bengis sekali, karena memang dia tengah penasaran dan kecewa sehingga terlahirlah perasaan benci pada Ong Tiong Yang.
Ong Tiong yang menghela nafas dalam-dalam dan bingung sekali, namun akhirnya dia telah menyahuti juga.
"Mengadu kepandaian silat, sulit sekali untuk memperoleh keputusan, lebih baik kita mengadu "
Bun‟ atau surat saja.
dengan begitu kita dapat bertempur dengan baik dan bisa diambil keputusan yang lebih tinggi pengetahuan ilmu "bun‟nya.
Dan tak akan menyebabkan luka diantara kita dan menimbulkan kesan kurang baik."
Lim Tiauw Eng tertawa dingin, dengan angkuh dia mengangguk smbil katanya.
"Baik! jika aku kalah, seumur hidupku tidak akan menemui kau lagi, agar teling dan matamu bisa memperoleh ketenangan!"
"Bagaimana kalu kau yang menang?"
Tanya Ong Tiong Yang sabar.
Muka im Tiauw Eng berobah merah.
Dia berdiam sesaat, akhirnya dia mengawasi Ong Tiong Yang yang dengan sorot mata yang aneh mengandung sorot mencintai dan membenci yang campur aduk jadi satu, membuat Ong Tiong Yang tidak bisa menentang tatapan mata itu terlalu lama dan menundukkan kwpalanya.
Disaat itulah Lim Tiauw Eng baru menyahuti.
Dia berkata.
"Jika memang aku yang untung dalam pertandingan ini maka kau harus serahkan kuburan "
Mayat hidup‟ padaku!"
Mendengar itu, Ong Tiong Yang jad ragu-ragu.
Harus diketahui bahwa Ong Tiong Yang sudah berdiam delapan tahun lebih lamanya dalam kuburan itu dan sudah membuang tenaga guna melengkapi kuburan itu dengan berbagai alat rahasia.
Maka dari itu dia merasa berat dan tida rela menyerahkan kuburan itu dengan hanya kalah bertanding, walaupun belum pasti dia kalah, tokh dia tidak berani mengiyakan.
Ong Tiong Yang hanya ingat pada waktu itu bicara tentang ilmu silat.
Segera dia mengambil keputusan untuk memengakan pertempuran yang akan datang itu.
Maka segera dia juga menanyakan bagaimana cara mereka bertempur yang akan segera dilakukan itu.
"Hari ini kita sudah terlalu lelah, baiklah besok malam kita bertemu pula."
Jawab Lim Tiauw Eng sambil memutar tubuhnya untuk meninggalkan Ong Tiong Yang.
Ong Tiong Yaang juga tidak menahan kepergian Lim Tiauw Eng.
Dia hanya menghela nafas dalam-dalam.
224 Sebagai seorang manusia, jelas Ong Tiong Yang memiliki perasaan.
Dia merasa kasihan melihat keadaan Lim Tiauw Eng.
Itulah disebabkan cinta yang gagal membuat Lim Tiauw Eng selalu mengganggunya dengan berbagai cara untuk melibat dan mengikatnya terus.
Dengan demikian, Ong Tiong Yang merasa kasihan pada nasib Lim Tiauw Eng.
Jika dia tidak pernah melepas sumpah, tidak akan berumahtangga sebelum bangsa Kim tersapu bersih dari daratan Tionggoan, tentu dia akan menyambut dintanya Tiauw Eng, karena sesungguhnya diapun telah mencintai Lim Tiauw Eng, bahkan mencintai sepenuh hatinya.
****
Jilid 7 HANYA disebabkan sebarisan sumpah yang telah diucapkan itulah membuat Ong Tiong Yang harus menelan dan menindih cintanya itu, walau bagaimanapun pahit akibatnya.
Waktu itu Ong Tiong Yang juga belum dapat mengambil keputusan apakah dalam pertandingan besok dengan Lim Tiauw Eng dia akan mengalah pula seperti biasanya dan bersedia sebagai pihak yang dipecundangi atau memang dia harus memenangkan pertempuran itu.
Jika memang dia mengalah, berarti kuburan "Mayat Hidup‟ nya harus diserahkan ke tangan Lim Tiau Eng.
Tapi untuk merebut kemenangan dan 225 mengalahkan Lim Tiauw eng, hati kecilnya juga tidak mengijinkan karena dia tak tega.
Malam itu pikiran Ong Tiong Yang sangat pepat sekali.
Keesokan malamnya Ong Yiong Yang berdua dengan Lim Tiau Eng bertemu pula di Ciong Lam San.
"Sebelum kita bertanding,"
Kata Lim Tiauw Eng setelah berhadapan muka.
"Lebih dulu kau harus bersumpah!"
Ong Tiong Yang mengangguk.
"Sumpah apa?"
Tanyanya ingin tahu.
"Jika memang kau menang, aku segera menggorok leher, agar tak ketemu muka diwaktu mendatang,"
Sahut Lim Tiauw Eng. Tentu saja perkataan Lim Tiauw Eng ini hebat ditelinga Ong Tiong Yang. Dia sampai mengigil dibuatnya.
"Ini mana boleh begitu?"
Seru Ong Tiong Yang kaget bukan main. Tapi waktu itu muka Lim Tiauw Eng dingin, dia telah meneruskan perkataannya.
"Tapi jika memang aku yang beruntung jadi pihak yang menang, kau harus jadi pendeta, jadi Hweshio boleh, jadi Tosu juga boleh. Asalkan kau harus menyucikan diri jadi pendeta! Dan tak peduli jadi Hweshio atau Tosu. Kau harus mendirikan sebuah kuil di atas gunung ini guna menemani aku sepuluh tahun lamanya!"
Ong Tiong Yang menghela nafas dalam-dalam, bukan main berduka hatinya.
Menang kalah merupakan dua pilihan yang tidak menggembirakan hatinya.
Jika menang, dia yang dapat 226 kemenangan, berarti Lim Tiauw Eng akan menggorok lehernya untuk mati.
Ini tidak diinginkan oleh Ong Tiong Yang.
Namun celakanya juga, jika menang dia yang mengalah dan membiarkan Lim Tiauw Eng sebagai pemenang, jelas dia akan melewati hari-hari selanjutnya sebagai seorang pendeta, entah jadi Hwedhio entah jadi Tosu.
Inilah yang benar-benar tidak disangkanya dan jelas dia tak mau terikat begitu, karena sejak kecil diapun tak mau menjadi seorang pendeta.
Ong Tiong Yang juga paham, dengan mengajukan syarat itu, Lim Tiauw Eng menghendaki Ong Tiong Yang tidak menikah seumur hidupnya.
Akhirnya setelah tertegun beberapa saat, Ong Tiong Yang mengambil keputusan.
Walaupun bagimana, dia tak sudi memperoleh kemenangan karena dia tak menginginkan kematian Lim Tiauw Eng, dia hendak menghindarkan Lim Tiauw Eng membunuh diri karena menderita kekalahan.
Namun yang membuat Ong Tiong Yang berduka, jika dia kalah, dia harus menemani Lim Tiau Eng selama sepuluh tahun, dan itu merupakan tugas yang tidak ringan!
Terlebih lagi juga dia harus menjadi seorang pendeta.
Inilah yang membuat dia jadi bersangsi sekali.
Waktu itu Lim Tiauw Eng tertawa tawar, katanya dengan suara nyaring.
"Bagaimana?? Apakah kau menerima syarat itu dan bersedia angkat sumpah agar setelah itu kita berdua tak ada yang mengingkari sumpah tersebut?"
Ong Tiong Yang berdiam diri saja tak menyahuti, karena dia tengah tenggelam dalam kebimbangan.
"Jika kita mengadu "
Bun‟ atau sastra memang jauh lebih mudah lagi dibandingkan jika harus mengadu dengan cara "Bu‟ atau silat, karena dengan mempergunakan jari tangan, kau 227 pahat beberapa huruf diatas batu itu, sedang akupun memahat beberapa huruf dengan jari tanganku.
Siapa yang menulis lebih baik, dialah yang menang!"
Ong Tiong Yang jadi heran dan melengak.
"Apa kau bilang?"
Tanyanya.
Lim Tiauw Eng mengulangi lagi cara bertempur mereka, yaitu mereka masing-masing akan menggunakan jari tangan untuk menulis beberapa huruf di batu, dengan demikian kelak siapa yang tulisannya lebih bagus dan indah, dialah pemenangnya.
Ong Tiong Yang gelengkan kepalanya sambil tersenyum.
"Bagaimana memahatnya?"
Tanyanya.
"Siapa memahat lebih dalam, dialah yang menang! Kita mau lihat siapa yang tinggi ilmu jari tangannya!"
Sahut Lim Tiauw Eng. Ong Tiong Yang kembali menghela nafas dan berkata.
"Aku bukan Dewa, bagaimana mungkin aku bisa memahat hanya dengn menggunakan jari tangan?"
Lim Tiaue Eng tertawa dingin, sikapnya tawar dan menyahuti.
"Jika memang aku bisa, apakah kau mengaku kalah?"
Ong Tiong Yang berada dalam keadaan yang serba salah.
Dan menurut pendapatnya di dunia ini tentu tak ada seorang manusia yang dapat menulis surat diatas batu dengan jari tangannya.
Tentu tulisan surat itu harus dalam bentuk pahatan.
Berarti batu itu harus berlobang dan jari tangan menembusi batu itu, bukan menggunakan bak hitam atau cairan warna lainnya.
228 Akhirnya setelah berfikir beberapa saat lamanya Ong Tiong Yang mengangguk.
"Baiklah, jika memang engkau dapat melakukannya, menulis huruf memahat batu, dengan hanya menggunakan jari tangan saja, aku bersedia mengaku kalah, tapi jika kau gagal dan tidak bisa, anggap saja kita seri dan tidak perlu bertempur lagi!"
"Kau bicara yang jelas!"
Kata Lim Tiauw Eng.
"Jika aku berhasil memahat batu dengan hanya mempergunakan jari tanganku dan menulis beberapa huruf diatas batu itu, maka kau yang kalah! Dengan berkata begitu, menambahkan perkataan "
Bersedia‟ berarti kau menerima kekalahanmu itu dengan terpaksa.
Dan ini berarti engkau tak memandang sebelah mata padaku!
Engkau belum mencoba sudah mengatakan tidak dapat melakukannya, dan sekarang juka memang akupun tidak bisa, hitung-hitung seri.
Dengan berkata begitu, sama saja kau ingin menganjurkan agar akupun tidak mencobanya memahat batu dengan jari tanganku!
Hemm, sekarang kau harus bersumpah dengan tegas.
Jika memang kau tidak dapat menulis surat diatas batu, memahatnya mempergunakan jari tangan, dan aku dapat melakukannya, kau kalah dan akan tunduk melaksanakan syarat yang kita adakan!"
Ong Tiong Yang tersenyum sabar, dia tak yakin bahwa Lim Tiauw Eng dapat menullis surat memahat diatas batu dengan jari tangannya, karenanya dia menyebuti.
"Baiklah, jika kau dapat menulis surat diatas batu dengan memahatnya memakai jari tanganmu, maka aku kalah dan tunduk melaksanakan syarat-syarat yang telah kita sebutkan tadi."
"Bagus!"
Berseru Lim Tiauw Eng dengan wajah berobah berseri-seri, dan diapun telah menunduk.
Namun waktu dia 229 memandang Ong Tiong Yang, Ong Tiong Yang jadi terkejut, dia melihat mata Lim Tiauw Eng digenangi air mata, bibirnya gemetar ketika dia meneruskan perkataannya.
"Ong Tiong Yang , aku menghendaki kau menjadi Tosu saja!"
Suaranya perlahan dan dia berkeyakinan pasti akan menang.
Ong Tiong Yang hanya memandang tertegun padanya.
Perasaannya waktu itu jadi tak tenang, karena Ong Tiong Yang meyakini kesusahan hati Lim Tiauw Eng, kedukaan yang bersarang dihati wanita ini.
Lim Tiauw Eng sendiri telah mengusar-usar sepotong batu, mempergunakan telapak tangan kiri, lalu dengan menggunakan telunjuk tangan kanannya dia mulai menulis.
Dan apa yang terjadi pada waktu itu memang luar biasa sekali.
Dengan mata mendelong terpentang lebar Ong Tiong Yang mengawasi tak mempercayai apa yang dilihatnya, dia tahu bagaimana batu itu seperti juga tahu yang ditusuk oleh telunjuk jari tangan Lim Tiauw Eng, bagaimana debu batu meluruk jatuh begitu tersentuh dengan telunjuk wantita tersebut.
Dalam sekejap mata dia telah memahat satu huruf dengan batu itu berlobang dalam tepat dalam ukuran jari telunjuknya.
Semangat Ong Tiong Yang terbang, dia terkesiap dan ternganga bengong.
Huruf-huruf yang ditulis Lim Tiauw Eng pada waktu itu benar-benar merupakan hal yang sulit dipercaya, dimana hanya dengan menggunakan jari telunjuk belaka, Tiauw Eng dapaat menulis huruf memahat batu tersebut dengan mudah dan tampaknya tanpa mempergunakan tenaga.
230 Selesai menulis huruf yang pertama, Lim Tiauw Eng melirik pada Ong Tiong Yang, dia melihat Ong Tiong Yang berdiri mendelong dengan mulut menganga takjub seperti patung.
Lim Tiauw Eng trtawa dingin dan telah menulis pula huruf yang kedua, lalu huruf yang ketiga, keempat, kelima dan seterusnya, hingga berhasil menulis diatas batu sebarisnya syair yang berbunti sebagai berikut .
"Cu Pong yang berangan-angan merobah Cin, Pernah mengambil sepatu di kolong jembatan, Membantu Han mendirikan dinasti baru, Berdiri tegak seperti tiang kerajaan, Setelah tugas selesai, dia mengikuti Dewa Cek Siong Cu, Sambil mengibas tangan baju, segala harta ia tinggalkan, Memang juga orang luar biasa dan kitab luar biasa, Tuhan tidak gampang-gampang mau turunkan…."
Selesai menulis, Lim Tiauw Eng telah menoleh menghadapi Ong Tiong Yang sambil tersenyum lebar.
Dan ketika melihat Ong Tiong Yang berdiri mematung seperti semangat dah rohnya telah meninggalkan raganya, meledak tertawa Lim Tiauw Eng, tertawa terbahak-bahak yang sambung menyambung, namun dari sepasang matanya mengalir deras sekali air mata.
Air mata kesedihan yang benar-benar mendalam.
Ong Tiong Yang tidak mempedulikan sukap Lim Tiauw Eng yang tengah tertawa dalam tangis kedukaan itu, karena Ong Tiong Yang tengah berdiri mematung, mendelong mengawasi tulisan-tulisan yang terpahat diatas batu tersebut.
Delapan baris yang disebelah depan yang menceritakan prihalnya Thio Liang alias Cu Pong, telah mengambil kasutnya 231 seorang tua (yang dalam ceritanya adalah seorang Dewa) sehingga orang itu menjadi merasa girang dan memberikan Cu Pong se
Jilid kitab yang luar biasa.
Belakangan dia ini membantu Kaisar Han Ko Couw membangun kerajaan Han dan merupakan salah seorang dari Samkiat (tiga orang gagah) yang sudah membantu mendirikan kerajaan tersebut.
Akhirnya setelah tugasnya selesai, Thio Liang menyembunyikan dirinya dan pergi bertapa bersama Cek Ciong Su.
Dengan menulis seperti itu, sama halnya juga seperti Lim Tiauw Eng ingin mengartikan sebagai penggerak tentara rakyat yang hendak membangun sebuah kerajaan baru dan mengusir bangsa Hiongno (Kim), Ong Tiong Yang memang akan me-nyembunyikan diri selamanya.
Namun dengan menyinggung prihalnya Thio Liang yang telah menyembunyikan diri bersama Cek Siong Cu, berarti perbuatan Ong Tiong Yang bukanlah hina, karena dia hendak bertapa menjadi pendeta menemani Ling Tiauw Eng di gunung Ciong Lam San, disamping kuburan Mayat Hidup, dimana Ong Tiong Yang akan mendirikan sebuah kuil tempat berdiam.
Semangat Ong Tiong Yang seperti tak ada diraganya, dia berdiri tak bersemangat.
Cara menulis yang ditunjukkan Lim Tiauw Eng benar-benar merupakan suatu kekuatan yang dahsyat dari jari tangannya, itulah kepandaian dahsyat sekali, dan jika dibandingkan kepandaian Ong Tiong Yang berarti dia kalah.
Dan sejak peristiwa inilah telah muncul perkataan Lam Lim Pak Ong, Im Seng Ie Yang.
Disebelah selatan terdapat Lim dan disebelah Utara terdapat Ong, yang wnita mengalahkan yang lelaki.
232 Waktu itu Ong Tiong Yang sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Bagaikan orang yang ditinggal pergi arwahnya.
Ong Tiong Yang menerima dan mengakui kekalahan.
Disamping dia harus menyerahkan Kuburan Mayat Hidup nya kepada Lim Tiauw Eng diapun harus menjadi Tosu.
Dan beberapa hari kemudian dia telah membangun sebuah kuil kecil disamping kuburan Mayat Hidup, dan itulah permulaan adanya Kuil Tiong Yang Kiong, pusat dari pintu perguruan Coan Cin Kauw.
Namun selama kekalahan yang diderita oleh Ong Tiong Yang tidak bisa diterimanya dengan hati ikhlas.
Dia berusaha memecahkan teka-teki dari kehebatan jari telunjuk tangan kanannya Lim Tiauw Eng karena telah berhasil menulis syair diatas batu yang dipahat dengan jari telunjuk itu saja.
Namun selama bertahun-tahun menjadi Tosu, tokh Ong Tiong Yang tetap saja tidak dapat memecahkan teka teki itu, hingga akhirnya karena telah biasa hidup sebagai seorang Tosu, dengan sendirinya Ong Tiong Yang tidak mempedulikan lagi hal itu, yang sudah tak dipikirkannya.
Memang awal-awalnya dia menjadi Tosu, Ong Tiong Yang tidak betah dan merasa tersiksa sekali.
Namun lama kelamaan tokh akhirnya dia jadi biasa dengan kehidupannya sebagai Tosu.
Ong Tiong Yang dan Lim Tiauw Eng merupakan sepasang manusia luar biasa dalam rimba persilatan.
Sungguh sayang karena masing-masng mempunyai perangai yang aneh dan adat yang luar biasa, mereka terus menerus tarik urat tentang ilmu silat, sehingga buntut-buntutnya jodoh mereka tidak bisa tertangkap, yang seorang menjadi pendeta, yang lainnya menjadi penghuni kuburan.
233 **** Ong Tiong Yang yang sekarang telah memakai gelar Cinjin tersebut, menghela nafas dalam-dalam dengan hati berduka ketika teringat akan pengalamannya disaat dia mendirikan kuilTiong Yang kiong dan juga mendirikan pintu perguruan Coan Cin Kauw setelah menyerahkan kuil mayat hidup kepada Lim Tiauw Eng.
Dengan demikian segalanya telah lewat banyak tahun, tokh tampaknyaLim Tiauw Eng tetap mencintainya.
Walaupun dia telah menjadi Tosu tokh gerak-geriknya selalu diawasi oleh Lim Tiauw Eng, dan begitu dia turun gunung dari Ciong Lam San, segera diketahui pula oleh Lim Tiauw Eng yang datang untuk bertengkar lagi dengannya..
selamanya mereka tidak pernah bertemu dan bercakap-cakap dengan baik-baik, tak dapt mereka merundingkan ilmu silat secara baik-baik, dan tak dapat pula berhubungan sebagai sahabat karib, walaupun cinta mereka telah kandas..
dengan keadaannya yang begitu memprihatinkan Ong Tiong Yang terus menerus, bahwak rela untuk mengubur dirinya didalam kuburan mayat hidup, menunjukkan betapa besarnya cinta Lim Tiauw Eng pada Ong Tiong yang.
Sampai jauh malam disaat hampir sang fajar menyingsing, Ong Tiong Yang baru bisa terlelap dalam tidurnya.
Dandalam mimpinya itu dia bertemu dengan Lim Tiauw Eng dan bertempur lagi.
Keesokan paginya, ketika terbangun dari tidurnya Ong Tiong Yang menyesali diri.
Sekarang dia telah menjadi Tosu, berarti telah menjauhkan diri dari hal-hal keduniawian.
Dengan demikian, jelas diapun tidak bisa dipengaruhi dan dikuasai oleh 234 perasaannya yang tidak-tidak.
jika semalam dia bisa terkuasai begitu rupa oleh perasaannya sehingga bisa terkenang kembali pada peristiwa-peristiwa yang pernah dialaminya, benar-benar menunjukkan bahwa pada malam itu Ong Tiong Yang kehilangan pengendalian dirinya.
Seharusnya sebagai seorang jago nomor satu di kolong langit ini, dia tak akan mengatakan perasaan seperti itu.
Dan dihari-hari selanjutnya Ong Tiong yang dapat menguasai dirinya sebagai mana biasanya, dan urusan Lim Tiauw Eng telah dilupakan pula.
Setiap sore hari, Ong Tiong Yang mengunjungi kamar dimana Ciu Pek Thong dikurung.
Setiap kali Ong Tiong Yang masuk kedalam kamar, Ciu Pek Thong yang duduk bersila menghadap dinding tembok, telah melirik ke pintu dan bertanya.
"Oh Suheng, sudah habiskah masa hukumanku ini?"
Dan pertanyaan seperti ini kadang-kadang mendukakan hati Ong Tiong Yang yang jadi tidak tega pada adik seperguruannya, namun Ong Tiong Yang tetap pada pendiriannya bahwa Ciu Pek Thong harus berlatih diri guna mengendalikan keberandalannya, dan harus duduk bersemedhi satu tahun menghadap dinding agar keberandalannya itu brerkurang.
Karenanya dia tetap tak membebaskan Ciu Pek Thong.
Si Bocah Tua bangkotan yang nakal dan berandalan itupun benar-benar merasa jera untuk melakukan keonaran lagi, karena duduk selama satu tahun penuh menghadap dinding tembok tersebut tanpa boleh bergerak atau bangun.
Setelah masa hukumannya habis, setahun penuh Ciu Pek Thong masih dilarang keluar kuil oleh suhengnya, karena dia diwajibkan untuk berlatih diri dengan tekun dan giat, sambil juga memberikan petunjuk-petunjuk pada Ma Giok dan 235 keenam saudara seperguruan yang tergabung dalam Coan Cin Cit Cu.
Namun Ciu Pek Thong dalam memberikan petunjuk pada keponakan-keponakan muridnya itu benar-benar berandalan sekali.
Dia akan mengajarkan satu jurus jika mereka mau menemani bermain kelereng dengannya.
Coan Cin Cit Cu mengenal baik sekali watak susiok atau paman gurunya ini, setiap ada waktu senggang ketujuh murid Ong Tiong Yang selalu menemani Ciu Pek Thong bermain-main dengan berbagai permainan yang menarik.
Dan walaupun dikurung didalam kuil karena larangan keluar satu langkahpun dari pintu kuil, Ciu Pek Thong jadi kesepian.
Yang disebut sebagai kuburan mayat hidup, ternyata sebuah kuburan yang bentuknya cukup besar dalam bentuk bulat dan penuh dengan peralatan rahasia.
Kuburan itu terletak di hutan, dan di pintu kuburan itu dilengkapi dua buah batu yang berukuran besar dan beratnya laksaan kati.
Kedua batu didepan pintu kuburan itu diberi nama Toan Ling Sek atau Batu Putuskan Naga oleh Ong Tiong Yang.
Waktu Ong Tiong Yang membangun dan membuat kuburan mayat hidup ini, dia mengetahui bahwa sehubungan denga gerakan perlawanan terhadap tentara Kim yang pernah dilakukannya.
Raja Kim tntu tidak mau sudah begitu saja.
itulah sebabnya dia sudah siapkan dua batu besar untuk menjada segala sesuatu.
Jika musuh terlalu besar dan ia tak dapat melawan lebih lama, dia akan turunkan batu itu buat mati dalam kuburan.
Dengan lain perkataan, dia lebih suka binasa dengan cara begitu daripada takluk atau kena ditawan musuh.
Akan tetapi,lantaran ilmu silatnya yang tinggi, selama belasan tahun dia sudah bekuk puluhan jago-jagonya raja kim dan penjarakan mereka dalam kuburan Mayat hidup tanpa ada 236 seorangpun diantara mereka yang dapat melarikan diri.
Belakangan waktu menyerhkan kuburan Mayat hidup pada Lim Tiauw Eng, Ong Tiong Yang tidak pernah mempergunakan kedua batu laksaan kati beratnya yang bernama Toan Liong Sek itu.
Disamping kuburan mayat hidup tersebut, didalamnya masih banyak sekali terdapat peralatan rahasia yang melengkapi kuburan luar biasa itu.
Namun kini majikan kuburan mayat hidup tersebut bukan lagi Ong Tiong Yang, karena Ong Tiong Yang sendiri telah menjadi Coan Cin Kauwcu Coan Cin Kauw di kuil Tiong Yang Kiong, sedangkan yang menjadi majikan barunya adalah Lim Tiauw Eng bersama budaknya seorang gadis yang berusia lebih muda itu jauh tahun dari Lim Tiauw Eng sendiri.
Dengan memperolehnya kuburan "Mayat Hidup‟ tersebut dan juga telah hidup mengurung diri didalamnya, Lim Tiauw Eng tak pernah keluar dari kuburan "
Mayat Hidup‟ jika memang tidak perlu benar dan urusan benar-benar sangat penting.
Demikian juga dengan pelayannya itu yang telah dilarang keluar dari kuburan "Mayat Hidup‟ tersebut.
Walaupun kedudukannya hanya sebagai pelayan, budak Lim Tiauw Eng ini memperoleh didikan ilmu silat yang tinggi sekali dari Lim Tiauw Eng.
Malam itu di hutan dimana kuburan "Mayat Hidup‟ itu berada, tampaknya sunyi dan sepi sekali.
Tidak terlihat seorang manusiapun disekitar tempat tersebut, hanya terdengar berkeresekan daun-daun pohon yang terhembus siliran angin malam.
Dan kuburan "
Mayat hidup‟ yang berukuran sangat besar itu tampak merupakan benda bulat yang membungkah, 237 sangat menyeramkan sekali, membuat keadaan sekitar hutan tersebut tambah seram saja.
Namun diantara kekelaman malam, tampak sesosok tubuh dengan langkah kaki yang ringan tengah menyusuri hutan itu dengan tindakan kaki yang enteng bukan main dan gerakannya sangat gesit, diikuti dibelakangnya dua sosok tubuh lainnya.
Jika sosok tubuh yang berjalan didepan adalah sosok tubuh manusia, tapi dua sosok tubuh yang dibelakangnya mengikuti sosok tubuh yang pertama itu bentuknya aneh sekali, bukan sosok tubuh manusia, melainkan dalam bentuk binatang ajaib.
Waktu berada ditempat yang tidak terhalang oleh rindangnya daun pohon di hutan itu, sehingga sedikit sinar bulan bisa menerobos masuk memancarkan sinarnya itu, ternyata yang pertama memang seorang manusia, seorang pemuda yang berusia sekitar tiga puluh tahun lebih, yang memiliki tubuh tinggi tegap dan dia tidak lain daripada Auwyang Hong.
Sedangkan kedua sosok tubuh lainnya yang memang bukan manusia itu, ternyata seekor kodok raksasa dan seekor burung bangau putih berjambul merah, itulah Cengjie dan Pekjie, dua sahabat dari Auwyang Hong.
Rupanya Auwyang Hong memang telah sengaja menerima tantangan yang diberikan Lim Tiauw Eng beberapa waktu yang lalu, sebagai seorang yang licik, dia girang bukan main.
Dengan menerima tantangan Lim Tiauw Eng, dia mempunyai alasan untuk berkeliaran disekitar gunung Ciu Lam San.
Aueyang Hong mengetahui, disamping dari kuburan "
Mayat Hidup‟ itu berdiri megah kuil Tiong Yang Kong, kuilnya Coan Cin Kauw, dimana Ong Tiong Yang menempati 238 sebagai Coan Cin Kauwcu.
Ong Tiong Yang dalam pertemuan pertama di Hoa San memang telah memenangkan sebagai jago nomor satu di kolong langit dan berhak untuk memiliki Kiu Im Cin Keng, karena itu pula, dengan demikian telah membuat Auwyang Hong sangat mengiler sekali bisa merebut dan mencuri kitab Kiu Im Cin Keng dari tangan Ong Tiong Yang.
Namun disebabkan Ong Tiong Yang menang satu tingkat diatas kepandaiannya, sehingga Auwyang Hong tidak berani bersikap gegabah.
Dengan begitu, diapun tidak berani berkeliaran sembarangan di gunung Ciong Lam San, selama dia tidak memiliki alasan yang kuat.
Tapi dia telah menerima tantangan dari Lim Tiauw Eng, karena itu pula, dengan memiliki alasan untuk memenuhi tantangan Lim Tiauw Eng, dia bisa berkeliaran di Ciong Lam San, dan jika melihat nanti memiliki kesempatan yang baik untuk mencuri kitab Kiu Im Cin Keng dari Coan Cin Kauw jelasnya dari tangan Ong Tiong Yang.
Itulah persoalan yang menggembirakan sekali, walaupun untuk itu Auwyang Hong mempertaruhkan jiwa dan keselamatan dirinya.
Tadi, waktu mendaki gunung Ciong Lam San memang Auwyang Hong telah melihat-lihat keadaan kuil Tiong Yang Kiong, dia telah melihat kuuil yang dibangun megitu megah dan luas.
Tapi Auwyang Hong tidak berani dekat di tempat itu.
dia hanya mengawasi Tiong Yang Kiong dari jarak jauh, baru kemudian Auwyang Hong memasuki hutan itu untuk mencari kuburan mayat hidup.
Auwyang Hong memperoleh kenyataan dimana adanya kuburan-kuburan mayat hidup itu disamping kuil Tiong Yang Kiong benar-benar merupakan hutan yang cukup angker, dipenuhi oleh pohon yang tumbuh tinggi-tinggi dan besar.
239 Disamping juga batu-batu gunung yang bertonjolan disekitar hutan itu.
Setelah menyusuri hutan itu beberapa saat, akhirnya kuburan mayat hidup telah berada didepannya.
Auwyang Hong melihat kuburan itu berukuran besar, merupakan kuburan raksasa.
Lama Auwyang hong berdiam diri didepan kuburan mayat hidup, meneliti disekitarnya.
Sebagai seorang yang teliti, tentu saja dia tidak berani bergerak sembarangan.
Terlebih lagi dia seorang yang licin dan licik, karena dia tidak mau nantinya terjebak oleh Lim Tiauw eng.
Dia baru pertama datang ditempat itu, dan melihat kuburan mayat hidup tersebut.
Dengan demikian dia belum tahu keadaan disekitar tempat itu.
sekarang dia harus memperhatikan dengan seksama, jika memang kelak dia tak sanggup menghadapi Lim Tiauw Eng, atau terdapat urusan yang lainnya, bukankan dia bisa menyelamatkan dirinya dengan cara yang telah diperhitungkan?
Terlebih bagi kuburannya mayat hidup ini, letaknya sebelah-menyebelah bertetangga dengan kuil Tiong Yang Kiong, sehingga jika terjadi keributan kelak, akan memancing Tosu-tosu dari kuil itu dan menyebabkan Ong Tiong Yang keluar dari kuilnya.
Setelah mengamat-amati beberapa saat, barulah Auwyang Hong mengelilingi kuburan mayat hidup tersebut.
Dia melihat bentuk kuburan itu bulat dan juga terdapat sebuah bong pay yang cukup besar, mungkin dipergunakan sebagai pintu utama dari kuburan tersebut.
Dan Auwyang Hong yang memiliki penglihatan yang sangat tajam, melihat diatas "
Pintu‟ kuburan, tergantung dua buah batu besar yang mungkin beratnya laksaan kati yang letaknya demikian rupa, sehingga Auwyang Hong 240 menyadari itulah batu-batu dipergunakan sebagai batu rahasia yang akan dipergunakan jika menghadapi sesuatu yang tidak diinginkan.
"Hmm, memang tidak percuma Ong Tiong Yang memiliki nama besar, karena dia berhasil membangun sebuah kuburan yang seangker ini sebagai tempat persembunyiannya dulu… dan sekarang diapun malah telah berhasil membangun kuil Tiong Yang kong yang megah itu. jika dibandingkan dengan keadaan di See Hek di Barat, tentu pemandangan disini tidak menang, namun istanaku di See Hek tidak menang jika dibandingkan dengan kehebatan kuburan "
Mayat Hidup‟ ini!
dan setelah berfikir begitu, sambil mengawasi dengan penuh rasa kagum.
Auwyang Hong menghela nafas berulang kali.
Sedang auwyang Hong menghela nafas seperti itu, angin bersilir meniup punggungnya, sehingga Auwyang Hong agak bergidik.
Dia memiliki kepandaian yang tinggi sekali.
Malah salah seorang diantara kelima jago luar biasa, namun berada di tempat ini, Auwyang Hong merasakan hatinya tidak enak, terlebih-lebih didepannya terdapat kuburan raksasa seperti itu.
Auwyang Hong mengajak Cengjie dan Pekjie kebelakang kuburan raksasa tersebut.
Mereka berdiam disana beberapa saat lamanya.
Sampai akhirnya Auwyang Hong yang melihat sesosok tubuh yang bergerak ringan sekali, melompat keluar dari kuburan tersebut.
Hanya saja, Auwyang Hong yang memiliki penglihatan yang tajam, tidak bisa dengan jelas, karena orang itu melompat dari tempat yang tidak diketahui apakah merupakan pintu atau memang hanya dalam bentuk goa, sebab bangunan kuburan raksasa itu dibuat sedemikian rupa, sehingga pintu sesungguhnya dari kuburan raksasa tersebut sulit sekali diketahui yang mana dan terletak dimana.
241 Hanya tubuh itu bergerak lincah sekali menuju ke tengah hutan.
"Cengjie dan Pekjie, tunggulah aku disini, aku hendak melihat apa yang dilakukan orang itu!"
Bisik Auwyang Hong kepada kedua sahabatnya itu.
dan tubuh Auwyang Hong telah melesat ringan menguntit orang yang tadi keluar dari kuburan tersebut.
Ternyata sosok tubuh itu seorang gadis berusia diantara duapuluh tahun kebawah, gadis yang jadi budaknya Lim Tiauw Eng, yang pernah dilihat Auwyang Hong waktu Lim Tiauw Eng menantangnya setengah tahun yang lalu.
Gerakan pelayan yang masih berusia muda dan cukup cantik itu ringan dan gesit sekali dan entah apa yang akan dilakukan pelayan itu.
tapi Auwyang Hong telah menguntit terus.
Dia ingin tahu apa yang hendak dikerjakan oleh pelayan Lim Tiauw Eng itu.
Sedangkan pelayan itu tak menyadari dirinya tengah dikuntit oleh Auwyang Hong, dia berlari gesit sekali ke pertengahan hutan tersebut, dia membelok ke kanan dan tiba di sebuah lapangan rumput yang cukup besar dan disebelah kanan dari lapangan rumput itu terdapat batu gunung yang besar.
Pelayan itu melompat ke dekat batu.
Menepuk tiga kali, lalu katanya dengan suara perlahan.
"Majikanku perintahkan menyampaikan pesan, harap Thang Kongcu mau menerima pesan dari majikanku itu."
"Hmm!"
Terdengar suara mendengus dingin, disusul dengan melompatnya sesosok tubuh dengan gerakan ringan sekali yang tahu-tahu telah berdiri didepan pelayannya Lim Tiauw Eng.
242 Auwyang Hong mementang maranya lebar-lebar mengawasi orang yang baru muncul itu.
Ternyata seorang lelaki berusia antara tiga puluh tahun lebih, berpakaian sebagai pelajar yang resik sekali, pakaiannya jubah panjang yang perlente, mukanya klimis dan kumisnya yang tipis panjang itu tampak terawat rapi.
Sepasang matanya tak sipit seperti orang-orang Han, hidungnya mancung dan ditangannya terdapat kipas yang digerak-gerakkan perlahan.
Orang ini yang dipanggil oleh pelayannya Lim Tiauw Eng dengan sebutan Thang Kongcu itu, telah tersenyum dengan sikap yang keagung-agungan, dia telah bilang dengan suara yang sabar.
"Pesan apa yang ingin kau sampaikan?"
Pelayan Lim Tiauw Eng merangkapkan kedua tangannya, dia memberi hormat, katanya.
"Thang Kongcu, majikanku berpesan kalau hari ini majikanku tak bisa memenuhi keinginanmu untuk Piebu, maka jika memang engkau mendesak menghendaki majikanku menemani kau piebu, kau boleh datang sepuluh tahun lagi. Diwaktu itu tentu majikanku akan menemanimu main-main seribu jurus!"
"Hmm…"
Tertawa dingin Thang Kongcu itu.
Demikian rendahnya diriku dimata majikanmu hingga dia tak mau memandang sebelah mata, bahkan untuk piebu dia memberikan waktu yang begitu lama!
Hu, hu aku Tang Lang Cie tidak akanmau!
Jika secara baik-baik majikanmu itu tak mau keluar menemani aku piebu guna mengukur ilmu, maka biarlah aku yang lancang ini akan masuk ke dalam kuburan mayat hidup untuk menemuinya!"
Muka pelayan Lin Tiauw Eng berobah, katanya.
"Bagaimana mungkin kau memaksa seperti itu! Kedatanganmu kesini lima hari yang lalu merupakan kunjungan bersahabat, kau juga mengatakan hanya ingin minta petunjuk dari 243 majikanku itu, hingga majikanku mau memberi muka padamu perintahkan aku memberikan pesannya ini. tapi jika engkau mengandung maksud kurang ajar dan juga bermaksud untuk memasuki kuburan mayat hidup kami, hmm, walaupun engkau mempunyai empat kepala dan belasan pasang tangan, jangan harap kau bisa meninggalkan Ciong Lam San dengan tubuh utuh!"
Thang Kongcu itu yang mengaku bernama Thang Liang Cie telah tertawa dan katanya mengejek.
"Baiklah, sekarang kau kembali dan beritahukan pada majikanmu itu, apakah dia tak mau keluar menemui aku? aku telah sabar menunggu selama lima hari disini, tapi majikanmu dan kau rupanya hendak mempermainkan aku."
Pelayan Lim Tiauw Eng memandang Thang Kongcu dengan mata tajam.
"Jika memang engkau penasaran hendak mengajak piebu majikanku, dan kau hendak memaksa seperti ini, baiklah, aku yang rendah hendak mewakili majikanku itu untuk menerima pelajaran Thang Kongcu."
"Hmm!"
Muka Thang Kongcu berubah, tampaknya dia tersinggung dengan keinginan pelayan Lim Tiauw Eng yang mau melayaninya.
"Engkau sebagai pelayan orang she Lim dan kau mau mewakilinya menghadapi diriku, apakah orang she Lim sudah tidak memandang mata padaku, hingga dia merasa begitu hina jika harus menghadapi sendiri diriku ini, hanya pelayan belaka yang diperintahkan menyambut tantanganku ini!"
Pelayan itu telah merangkapkan sepasang tangannya memberi hormat dengan membungkukkan sedikit badannya, 244 dia berkata.
"Silakan aku yang rendah ingin minta petunjuk dari Thang Kongcu, harap kasihan padaku dan tidak turunkan tangan yang terlalu keras!"
Thang Kongcu telah mendengus lagi-lagi dia mengipas-ngipas, namun tak terlihat tanda-tanda dia ingin menyerang.
Dengan sikap acuh tak acuh dia telah memutar tubuh membelakangi pelayan Lim Tiauw Eng sambil menggumam perlahan.
"Hu, hu seorang pelayan tiada guna, cepat panggil majikanmu itu!"
Pelayan itu tidak tersinggung oleh perkataan Thang Kongcu, malah sambil tersenyum dia telah menyahuti.
"Jika memang aku Bu Lian tidak dapat menyambuti lima jurus dari Thang Kongcu, waktu itulah majikanku akankeluar untuk menerima tantangan Tang kongcu…!"
Thang Kongcu itu telah memutar tubuhnya, memandang pelayan yang ternyata bernama Bu Lian itu dengan mata terpentang lebar-lebar.
"Hmm, demikian tidak berharganya aku dimata majikanmu, sehingga dia merasa hanya cukup melayani aku diwakili oleh pelayan seperti kau…!"
Dan setelah berkata begitu, mungkin disebabkan terlalu mendongkol, dia telah menggerakkan kipasnya, akan menyampok muka Bu Lian. Pelayan Lim Tiauw Eng berseru.
"Maaf….!"
Dia memiringkan tangannya mendorong perlahan pada kipas itu, kemudian tangan satunya lagi, tangan kiri telah bergerak memutar seperti akan melibat tangan Tang Kongcu itu.
Ternyata Bu Lian telah menggunakan jurus pembukaan "Thian Loo Te Beng‟ atau jaring langit jala bumi.
Ilmu tersebut buka ilmu sembarangan sebab gerakan yang dilakukan oleh Bu 245 Lian walaupun nampaknya perlahan untuk menahan kipas lawan dan melibat tangan Thang Kongcu, namun membuat Thang Kongcu kaget bukan main, tangannya seperti telah dikuasai oleh kekuatan yang sulit digerakkan.
Namun dia punya kepandaian yang tinggi, dia tidak gugup.
Cepat dia merobah kedudukan tangannya, pertama-tama kipas diturunkan beberapa dim dalam keadaan terlipat disodokkan kedepan menuju kearah dada Bu Lian, akan menotok jalan darah Bian-sie-hiat gadis itu.
Bu Lian walaupun sebagai pelayan, tetapi secara tidak resmi dia adalah murid Lim Tiauw Eng, bahwak murid tunggal, karena hanya dia yang mewarisi kepandaian Lim Tiauw Eng.
Dengan demikian, tidak mengherankan kepandaian yang dimiliki Bu Lian tidak rendah.
Gerakannya sangat gesit karena mudah sekali dia berhasil menghindarkan diri dari totokan ujung kipasnya Thong Kongcu.
Sedangkan Thong Kongcu beruntun tiga kali menotok berbagai jalan darah di tubuh Bu Lian, semua itu dapat dihindari oleh Bu Lian dengan mudah.
Auwyang Hong menyaksikan dari tempat persembunyian dibalik gerombolan pohon-pohon yang rimbun, melihat bahwa kepandaian Thang Kongcu tidak setinggi kepandaian Bu Lian, nereka hampir berimbang karena Bu Lian telah berhasil menerima warisan kepandaian Lim Tiauw Eng.
Auwyang Hong diam-diam terkejut melihat gerakan-gerakan Bu Lian bukan main gesitnya, bahkan setiap gerakan tangannya, dia selalu membawakan jurus-jurus yang bisa mematikan lawan.
Dengan demikian Auwyang Hong memuji dalam hatinya bahwa Lim Tiauw Eng memang benar-benar hebat, sedangkan pelayannya itu saja telah bisa memiliki kepandaian yang tinggi.
246 Thang Kongcu atau Thang Liang Cie sebenarnya merupakan seorang yang memiliki kepandaian tinggi sekali.
Jarang ada orang yang bisa menandinginya.
Didalam kalangan kangouw iapun memiliki nama yang tidak kecil.
Sejak masih usia belasan tahun, Thang Kongcu telah gemar mempelajari ilmu silat, disamping itu, kebetulan ia bertemu dengan beberapa tokoh sakti rimba persilatan yang bersedia mengambilnya sebagai murid.
Dengan begitu Thang Kongcu memiliki kepandaian yang tinggi.
Selama malang melintang dikalangan kangouw dia tak pernah memperoleh tandingan, dengan demikian Thang Kongcu menjadi sombong dan yakin dirinya merupakan jago yang tanpa tandingan lagi di kolong langit.
Namun belakangan dia mendengar kehebatannya Lim Tiauw Eng yang telah dinyatakan satu-satunya pendekar wanita yang memiliki kepandaian luar biasa.
Bahwak yang membuat Thang Kongcu jadi penasaran, dia mendengar akhir-akhir ini dikalangan kangouw telah muncul perkataan "Lam Lim Pak Ong, Im Seng Ie Yang‟.
Dengan adanya perkataan itu, tentu saja Lim Tiauw Eng diakui berada diatasnya Ong Tiong Yang, sedangkan Ong Tiong Yang sendiri diketahui merupakan jago nomor satu di kolong langit.
Dengan begitu pula, Thang Kongcu jadi penasaran dan ingin tahu seberapa tinggi kepandaian yang dimiliki Lim Tiauw Eng, hingga dia bisa memperoleh kedudukan seperti itu yang dianggap bisa menindih Ong Tiong Yang.
Itulah sebabnya mengapa Thang Kongcu sengaja telah melakukan perjalanan ke Ciong Lam San untuk menemui Lim Tiauw Eng.
Lima hari yang lalu dia tiba di Ciong Lam San.
dia mengandung dua maksud.
Pertama-tama dia ingin mencari Lim 247 Tiauw Eng, akan ditantangnya piebu.
Jika memang dia bisa merubuhhkan Lim Tiauw Eng, maka selanjutnya dia akan mencari Ong Tiong Yang, menantang jago nomor satu di kolong langit itu, untuk mengadakan piebu diantara mereka, kalau dia berhasil merubuhkan Ong Tiong Yang Pula, bukankah berarti dengan demikian dia merupakan jago nomor satu tanpa tandingan dan benar-benar merupakan satu-satunya jago di kolong langit ini yang memiliki kepandaian tertinggi!
Cita-cita seperti itulay yang membuat Thang Kongcu jadi bersemangart sekali.
Namun setibanya di Ciong Lam San, setelah berada di luar kuburan "Mayat Hidup‟ ternyata diapun tidak memperoleh pintu dari Lim Tiauw Eng, keinginannya untuk menemui Lim Tiauw Eng telah ditolak, bahkan sama sekali diapun tidak diijinkan untuk masuk kedalam kuburan "
Mayat Hidup‟ itu.
Tetapi dengan sabar Thong Liang Cie telah menantikan diluar kuburan, selama lima hari dia menungkulinya, karena dia yakin suatu saat tetu Lin Tiauw Eng pasti akan keluar dari kuburan tersebut.
Namun kali ini justru yang menemuinya adalah Bu Lian, pelayannya Lim Tiauw Eng.
Sehingga telah membuat Thang Liang Cie jadi mendongkol dan tersinggung sekali.
Bukankan dengan demikian Lim Tiauw Eng memperlihatkan bahwa Thang Liang Cie tidak dipandang sebelah mata olehnya?
Bukahkan Thang Liang Cie dianggapnya hanya sebagai jago picisan yang tak layak dilayaninya sendiri?
Namun setelah bertempur beberapa jurus dengan pelayannya Lim Tiauw Eng, Thang Liang Cie jadi kaget dengan sendirinya, karena melihat betapa pelayannya Lim Tiauw Eng memiliki kepandaian yang tidak berada disebelah 248 bawah kepandaiannya!
Baik Ginkangnya maupun Iwekangnya.
Tampaknya Bu Lian memang tidak berada disebelah bawah kepandaian Thang Liang Cie.
Semula Thang Liang Cie bertanding dengan sikap acuh tak acuh, tidak memandang sebelah mata pada Bu Lian, yang dianggapnya enteng dalam beberapa jurus saja tentu dapat dirubuhkannya.
Namun setelah lewat beberapa jurus membuat Thang Liang Cie jadi harus berhati-hati sekali.
Dengan demikian juga jelas dia bertempur dengan mempergunakan kepandaian dan tenaganya bersunguh-sungguh kalau memang tidak ingin dirubuhkan oleh pelayannya Lim Tiauw Eng.
Auwyang Hong sendiri jadi tertarik melihat cara menyerangnnya Bu Lian, karena ilmu yang dipergunakan Bu Lian merupakan ilmu silat tingkat atas, dan juga agak luar biasa gerakan-gerakannya itu.
Auwyang Hong mengawasinya dengan penuh kecermatan, karena dia ingin tahu kelemahan-kelemahan ilmu tersebut.
Sehingga nanti kalau dia berhadapan dengan Lim Tiauw Eng dia sudah mengetahui kelemahan ilmunya wanita she Lim tersebut yang diberitakan oleh jago-kago kangouw sebagai jago wanita yang bisa menindih Ong Tiong Yang!
Bu Lian memang sejak pertama kali telah menduga bahwa Thang Kongcu ini memiliki kepandaian yang cukup tinggi, karena jika Thang Liang Cie tidak memiliki kepandaian yang berarti, jelas dia tidak akan berani datang ke Ciong Lam San untuk menantang Lim Tiauw Eng piebu.
249 Tapi setelah bertempur beberapa jurus, Bu Lian segera memperoleh kenyataan dia masih bisa mengatasi orang she Tang.
Walaupun kepandaian Thang Liang Cie tidak rendah, tokh kepandaiannya itu tidak luar biasa.
Maka pada jurus kesebelas, Bu Lian mulai menyerang dengan jurus-jurus yang jauh lebih hebat.
Thian lo tee bong yang dipergunakan oleh Bu Lian benar-benar ilmu yang bisa dipergunakan untuk menjerat lawannya tidak bisa bergerak leluasa karena seperti dijaring dengan jala.
Thang Kongcu sendiri semakin lama semakin lambat gerakan-gerakannya, karena setiap kali dia bergerak maka selalu dapat dibendung oleh Bu Lian dengan mempergunakan jurus-jurus dari Thian lo tee bong, yaitu jaring langit jala bumi, dimana Thang Kongcu itu seperti benar-benar telah dijaring dan dijala sejurus demi sejurus, Thang Liang Cie semakin terdesak.
Auwyang Hong setelah menyaksikan sekian lama, akhirnya memperoleh kesimpulan, dalam tida atau empat jurus lagi Thang kongcu pasti dapat dirubuhkan oleh Bu Lian.
250 Dan dugaan Auwyang Hong memang tidak meleset jauh, karena dua jurus kemudian Thang Kongcu terhuyung-huyung waktu tangan kanannya kena dijaring oleh libatan kedua tangan Bu Lian.
Dan belum lagi dia bisa membebaskan diri dari libatan tangan Bu Lian, waktu itu Thang Kongcu merasakan dadanya sakit kena ditotok dua kali oleh Bu Lian.
Dan dikala dia terhuyung begitu dengan menderita kesakitan yang tak ringan Bu Lian telah menghantam dengan tangan kirinya, sehingga seketika itu juga tubuh Thang Kongcu telah terpental bergulingan dua kali ditanah.
"Maaf… maaf, maaf!"
Seru Bu Lian sambil merangkapkan sepasang tangannya memberi hormat.
"Maafkan aku yang rendah telah lancang tangan terlalu keras menghadapi Thang Kongcu."
Thang Kongcu talah bangkit berdiri dengan mata yang merah karena gusar, penasaran dan juga malu.
Dia telah menatap Bu Lian beberapa saat lamanya, kemudian dia berkata dengan kata-kata yang tidak lampias.
"Terima kasih atas pelayanan yang diberikan padaku! Thang Liang Cie tentu tidak akan melupakan telah pernah menerima pelayanan yang demikian manis budi dari Lim Tiauw Eng."
Bu Lian cepat-cepat menggelengkan kepala.
"Thang Kongcu, kau jangan salah paham,"
Kata pelayannya Lim Tiauw Eng.
"Bukan majikanku tidak bersedia menemuimu, tapi mengingat bahwa piebu mempergunakan ilmu silat ini, jelas akan menimbulkan celaka bagi seseorang yang memiliki kepandaian yang lebih rendah, maka majikanku telah memerintahkan aku yang rendah mewakilinya. Jika memang aku yang rendah dapat dirubuhkan oleh Thang Kongcu, diwaktu itulah majikanku beranggapan bahwa engkau 251 cukup berharga untuk dilayaninya! Tapi jika menghadapi diriku saja, seorang pelayan belaka, namun engkau tidak berdaya, terlebih lagi jika menghadapi majikanku, tentu akan mengundang bencana dan malapetaka buat dirimu sendiri!"
Muka Thang Liang Cie tambah merah, dia gusar dan penasaran sekali, pun memang diapun jengah.
Ini merupakan kenyataan, hanya dalam belasan jurus ia dapat dirubuhkan pelayannya Lim Tiauw Eng, bagaimana mungkin dia bisa menantang Lim Tiauw Eng untuk piebu?
Bukankah majikan dari pelayan ini memiliki kepandaian yang berlipat kali lebih hebat?
Dengan sikap yang masih diliputi rasa malu, penasaran dan gusar Thang Liang Cie telah memutar tubuhnya untuk berlalu, namun Bu Lian telah berseru.
"Tunggu dulu Thang Kongcu, masih ada pesan yang kusampaikan, majikanku tadi berpesan, Jika memang engkau sudah tidak kerasan di Ciong Lam San ini dan ingin berlalu, maka kau boleh berlalu dengan leluasa tanpa rintangan suatu apapun juga, namun jika dilain waktu engkau menginjakkan kaki satu langkah saja didalam hutan disekitar kuburan "
Mayat Hidup‟ diwaktu itu juga keselamatanmu terancam! Itulah tidak bisa dijamin oleh majikanku!"
Thang Kongcu mendengus "Hmm!"
Saja, karena dia menyadari, itulah ancaman halus buatnya, karena bisa diartikan kalau memang dilain waktu dia masih berani datang ke Ciong Lam San mengunjungi kuburan "Mayat Hidup‟ berarti dia akan dibinasakan oleh Lim Tiauw Eng.
Dan ancaman itu bukan ancaman kosong belaka.
Bukankan menghadapi pelayan dari Lim Tiauw Eng saja dia tidak berdaya, apalaagi untuk menghadapi Lim Tiauw Eng.
Karenanya dia sudah tidak banyak bicara telah mementangkan langkah untuk berlalu.
252 Bu Lian waktu itu bukan mengawasi kepergian Thang Kongcu, tapi malah telah menoleh kearah dimana Auwyang Hong bersembunyi.
Dia merangkapkan sepasang tangannya, dia memberi hormat.
"Maaf, maaf, kami tidak bisa menyambut sejak tadi, sehingga terpaksa Auwyang kongcu menantikan demikian lama….!"
Dan dia membungkukkan badannya dua kali memberi hormat.
Auwyang Hong tercekat hatinya, namun seketika dia jadi kagum memuji pelayan Lim Tiauw Eng.
Rupanya tadi waktu diikuti oleh Auwyang Hong, walaupun Auwyang Hong memiliki ginkang yang tinggi dan sempurna, tkh kenyataanya Bu Lian bukannya tidak mengetahui, hanya dia ingin menyelesaikan dulu urusannya dengan Tang Liang Cie.
Dan sekarang disaat urusannya dengan Thang Liang Cie telah selesai, barulah dia menegur Auwyang Hong.
Dengan gerakan yang gesit Auwyang Hong melompat keluar dari tempat persembunyiannya.
"Ha ha ha ha, rupanya kau memiliki kepandaian yang lumayan tinggi, sungguh mengagumkan! sungguh mengagumkan! dan tadi aku beruntung sekali bisa menyaksikan ilmu yang hebat dari majikan "
Mayat Hidup‟ ini…!"
Bu Lian cepat-cepat merendah.
"Itu hanya baru merupakan kulitnya, karena aku yang rendah memang tidak memiliki bakat dan kepintaran, sehingga sia-sia capai lelah majikanku, dimana aku tidak bisa menguasai dengan baik ilmu yang diturunkan itu. Jika memang Auwyang kongcu ingin melihat jelas ilmu silat sejati Kow Bok Pay, nanti setelah kalian 253 bertemu tentu Auwyang kongcu akan dapat mengetahui dimana kehebatan ilmu Kouw Bok Pay…!"
Rupanya Bu Lian telah merendah mengagulkan kehebatan Kouw Bok Pay. Auwyang Hong Hanya menyeringai, katanya.
"Apakah kedatanganku dimalam hari seperti ini tidak mengganggu ketenangan majikanmu…?!"
Bu Lian tersenyum, katanya.
"Silakan Auwyang Kongcu ikut bersamaku, majikanku tentu telah menantikan!"
Auwyang Hong mengangguk, dia mengikuti pelayannya Lim Tiauw Eng. Mereka menuju kuburan "Mayat Hisup‟. Ternyata Bu Lian mengajak Auwyang Hong bukan kedalam kuburan "
Mayat Hidup‟, melainkan sampai didepan bongpay kuburan, dia menunjuk kesebungkah batu dan membungkukkan badannya sambil berkata dengan sikap menghormat.
"Silakan Auwyang Kongcu duduk-duduk dulu menantikan majikanku menyambut keluar…!"
Auwyang Hong mengerutkan alisnya, kemudian dia tertawa karena dia bisa memaklumi tentunya Lim Tiauw Eng memiliki peraturan bahw orang luar dilarang memasuki kuburan "Mayat Hidup‟nya itu.
"Baik, baik, aku akan menantikan…!"
Dan setelah berkata begitu Auwyang Hong seenaknya duduk di batu dekat bongpay kuburan itu.
sedangkan Bu Lian telah memutar tubuhnya untuk masuk kedalam kuburan.
Tidak lama, Bu Lian muncul lagi mengiringi seorang wanita ccantik luar biasa, tidak lain dari Lim Tiauw Eng.
254 Waktu muncul, Lim Tiauw Eng telah berkata dengan suara tawar.
"Maafkan kami telah menelantarkan tamu!"
Auwyang Hong melompat bangun.
"Lim Kouwnio, aku mengunjungimu untuk menepati janjiku!"
Kata Auwyang Hong.
"Tentunya aku akan memperoleh pengajaran sangat berharga dari kau!"
Lim Tiauw Eng memperlihatkan sikap tawar, katanya dingin.
"Hmm! Apakah kau sudah yakin bisa menghadapi setiap jurus ilmuku? Apakah kau kini telah memperoleh banyak kemajuan sehingga kau tidak berpikir akan rubuh di Hoa san dan sekarang coba-coba menghadapiku, sedangkan Ong Tiong Yang masih berada satu tingkat dibawahku!"
Auwyang Hong nyengir, dia menyahuti.
"Karena itu harapLim Kouwnio tidak turun tangan berat kepadaku! Dengan ini aku memang mohon belas kasihanmu Lim Kouwnio….!"
"Hmm…!"
Lim Tiauw Eng tertawa dingin, kemudian berkata.
"Pengajaran apa yang kau kehendaki?"
"Tidak banyak!"
Sahut Auwyang Hong.
"Aku ingin melihat ilmu Kouw Bok Pay!"
Setelah berkat begitu Auwyang Hong berhenti sejenak, kemudian meneruskan.
"Dan tentu saja aku ingin menjadi tamu yang disenangi majikan kuburan "Mayat Hidup‟ ini!"
Lim Tiauw Eng tertawa tawar, katanya.
"Maafkan jika kami tak dapat menyambut tamu selayaknya, karena memang telah menjadi peraturan kami, tak ada seorangpun yang diperkenankan untuk masuk kedalam kuburan mayat hidup ini. tidak peduli tamu itu seorang kaisar, tentu kami menyembutnya diluar sini, karena itu janganlah Auwyang kongcu tersinggung karenanya!"
"Tampat ini merupakan tempat indah dan menarik, mengapa harus tersinggung? Jika memang majikan kuburan Mayat Hidup sudah mau keluar menemuiku, hal ini merupakan keberuntungan yang tidak kecil!"
Barusaja Auwyang Hong brkata sampai disitu, terdengar suara "karaak kroook!"
Yang nyaring disekitar hutan itu. muka Lim Tiauw Eng berubah, demikian juga halnya dengan pelayannya.
"Suara apakah itu?"
Tanyanya.
"Itulah Cengjie, kodok peliharaanku."
Sahut Auwyang Hong smbil tertawa.
"Oh kiranya engkau membawa serta sahabatmu? Tanya Lim Tiauw Eng.
"Bukan hanya Cengjie, Pekjie juga ikut serta."
Menerangkan Auwyang Hong.
"Siapa Pekjie?! Tanya Lim Tiauw Eng.
"Dialah burung bangau putih berjambul merah yang pernah kau lihat dulu!"
"Oh ya!"
Mengangguk Lim Tiauw Eng. Memang aku pernah melihat bangau putih itu bersama-sama denganmu. Jadi engkau datang kesini bersama-sama dengan kedua binatang peliharaanmu?"
Auwyang Hong mengangguk. Begitulah mereka berdua bercakap-cakap. Sama sekali keduanya tak menyinggung ilmu silat. Tapi setelah lewat sekian lama, Auwyang Hong berkata dengan sikap ragu-ragu.
"Kapan kita akan mulai piebu?"
"Sekarang!"
Sahut Lim Tiauw Eng. 256 Auuwyang Hong mengangkat kepalanya mengawasi kelangit. Akhir dari sang malam telah tiba karena matahari fajar akan segera muncul.
"Jika memang kau tak keberatan, aku bersedia main-main beberapa jurus dipagi ini!"
Kata Auwyang Hong sambil tertawa lebar.
Lim Tiauw Ong mengangguk, dia memang merampungkan ilmu silatnya yang baru yang diberi nama Giok Lie Sim Keng.
Ilmu ini memang sengaja diciptakan Lim Tiauw Eng untuk dipergunakannya menindih ilmu CoanCin Kau.
Karena itu dengan memeras otak selama bertahun-tahun, Lim Tiauw Eng telahberhasil menciptakan ilmu yang hebat tersebut.
Hanya ilmu ciptaannya yang baru ini harus dilatih berdua, dengan demikian Bu Lian lah temannya berlatih.
Dan sekarang Lim Tiauw eng telah berhasil menciptakan delapan bagian, hanya tinggal dua bagian lagi rampunglah ilmu Giok Lie Sim Keng tersebut.
Sekarang dihadapannya ada Auwyang hong, salah seorang diantara lima jago luar biasa, dengan demikian Lim Tiauw Eng hendak mencoba kehebatan Giok Lie Sim Keng nya itu.
memang waktu ia bertemu Auwyang Hong beberapa saat yang lalu dan menantang Auwyang Hong untuk datang ke Ciong Lam San, sesungguhnya Lim Tiauw Eng telah mempersiapkan Auwyang Hong sebagai bahan percobaan bagi ilmunya.
Dimana Lin Tiauw Eng memang mau mencoba ilmunya yang baru itu untukmelihat seberapa hebat ilmu ciptaannya itu.
dan Auwyang Hong yang memiliki kepandaian yang tinggi dan sempurna, tentu dapat digunakan bahan percobaan yang baik.
"Kita mulai sekarang?"
Tanya Lim Tiauw Eng. 257 Auwyang Hong mengangguk. Majikan kuburan "
Mayat Hidup‟ telah memberi tanda kepada Bu Lian, maka pelayan itu pergi kedalam kuburan untuk mengambil sebilah pedang.
Kemudian pedangnya itu diberikan kepada majikannya.
Sambil mengusap-usap pedangnnya itu, Lim Tiauw Eng telah berkata.
"Aku akan mempergunakan pedang ini untuk main-main dengan kau, tapi senjata apakah yang ingin kau pergunakan? Apakah akam nenggunakan sebilah pedang juga?"
Auwyang Hong menggeleng.
"Tidak,… aku mempergunakan ini!"
Dan dia mengeluarkan kipasnya. Lim Tiauw Eng tersenyum.
"Pedang berukuran panjang, sedangkan kipasmu berukuran pendek. Apakah kau tidak menyesal jika kelak ternyata kau yang menjadi pihak pecundang?"
Auwyang Hong menggeleng.
"Aku tak akan sesalkan siapapun juga jika memang aku harus rubuh ditanganmu, paling tidak aku hanya menyesali mengapa kepandaianku belum sempurna sehingga aku dirubuhkan oleh Lim Kouwnio!"
Lim Tiauw Eng telah berdiri, dia menebas pedangnya diudara, terdengar suara mendengung yang cukup nyaring, menunjukkan bahwa tenaga menebas Lim Tiauw Eng memang kuat sekali.
"Mari kita mulai!"
Kata Lim Tiauw Eng. Auwyang Hong membuka kipasnya, dia melihat-lihat lukisan dikipasnya, sedangkan mulutnya menggumam perlahan.
"Lim kouwnio, apakah tidak terdapat syarat-syarat yang menentukan dalam piebu ini yang bisa menentukan siapa yang menang dan kalah. Bukankah kita piebu akan bertempur tidak sampai diantara kita menemui ajalnya?"
Lim Tiauw eng berfikir sejenak, kemudian menyahuti.
"Ya, kita putuskan saja begini, jika salah seorang diantara kita bisa menyentuh tubuh lawan, berarti dia sudah memperoleh kemenangan. Bagaimana? kau setuju Auwyang Sieheng?"
Auwyang Hong mengangguk.
"Baiklah, sekarang aku mengalah menerima tiga kali seranganmu."
Kata Lim Tiauw Eng.
Auwyang Hong tidak sungkan-sungkan lagi.
Dia memang cerdik dan licik, dia tahu Lim Tiauw Eng mempunyai kepandaian yang tinggi.
Jika dia tidak berusaha merebut kemenangan, tentu sulit baginya memperoleh kemenangan dari Lim Tiauw Eng.
Sekarang mendengar tawaran yang dikatakan oleh Lim Siauw Eng, Auwyang Hong telah menggerakkan kipasnya yang meluncur seperti lempengan baja saja, angin yang berkesiuran juga kuat sekali.
Lim Tiauw Eng tidak berkisar dari tempat berdirinya, hanya pedangnya yang berkelebat menikam kuat sekali kepada kipas lawannya.
Tikaman yang dilakukan merupakan tikaman yang sangat dahsyat, karena selain kuat juga cepat sekali.
Juga getaran yang terdapat pada pedang Lim Tiauw eng bisa membingungkan lawan.
Sewaktu-waktu pedang itu bisa brobah 259 arah sasaran yang ditujunya.
Itulah salah satu gerak jurus Giok Lie Kiam Hoat yang merupakan pecahan dari Giok Lie Sim Keng yang telah diciptakan olen Lim Tiauw Eng.
Pada jurus pertama ini saja Auwyang Hong telah terkejut menyaksikan kehebatan ilmu Lim Tiauw Eng.
Sebagai jago kelas satu tentu saja Lim Tiauw Eng dan Auwyang Hong tak perlu bertempur serabutan.
Dalam satu atau dua jurus saja sudah bisa menduga sampai dimana kehebatan ilmu lawan masing-masing.
Menyaksikan tikaman itu, Auwyang Hong sengaja tak menarik pulang kipasnya, dia hanya memiringkan kipasnya dan meleset lewat pedang itu, kemudian kipas itu dilipatnya, mempergunakannya untuk menotok jalan darah Pai-cian-hiat nya Lim Tiauw Eng.
Tapi Lim Tiauw Eng juga bergerak gesit sekali.
Dengan hanya menggeser kaki kanannya, tahu-tahu tubuhnya berkelebat kesamping Auwyang Hong, pedangnya bergerak akan menikam iga Auwyang Hong.
Gerakan itu cepat sekali karena tahu-tahu mata pedang hanya terpecah empat atau lima dim saja dari sasaran.
Auwyang Hong tak percuma sebagai seorang dari kelima jago luar biasa di daratan Tionggoan, karena walaupun lawannya menikam dengan cara luar biasa seperti itu tokh dia masih bisa menghindarinya dengan sikap yang tenang, malah kipasnya dipergunakan untuk menampar lawannya.
Tampaknya yang dilakukan Auwyang Hong dengan kipasnya itu merupakan sampokan yang kuat sekali, karena pedang Lim Tiauw Eng telah tersampok kesamping.
260 Namun Giok Lie Kiam Hoat yang diciptakan oleh Lim Tiauw Ong benar-benar merupakan ilmu pedang yang luar biasa dengan jurus-jurus yang aneh dan terlalu mengejutkan, karena begitu pedang itu kena ditampar tersampok kesamping, tampak pedang itu tahu-tahu telah menikam lagi kearah perut Auwyang Hong.
Auwyang Hong melompat menyingkir.
Begitulah kedua orang ini mengadu ilmu sampai duapuluh jurus lebih.
Namun sejauh itu nampaknya mereka berimbang.
Hanya Auwyang Hong sendiri sebagai orang yang telah memiliki kepandaian sempurna, dalam belasan jurus lagi tentu dia akan jatuh dibawah angin, maka dia mencoba merubah cara bertempurnya.
Dikala Lim Tiauw Eng mendesaknya dengan tikaman-tikamannya yang gencar, maka waktu itulah kipas Auwyang Hong berkelebat, tahu-tahu tangan kirinya bergerak, dengan kedua kaki mengambil sikap berjongkok.
Auwyang Hong mempergunakan salah satu jurus Ha Mo Kongnya!
Angin berkesyuran, bukan hanya pedang Lim Tiauw Eng seperti diterjang oleh gumpalan tenaga yang kuat sekali sehingga hampir terpental kebelakang, tubuh Lim Tiauw Eng sendiri juga terhuyung beberapa langkah kebelakang.
Diwaktu itu, Lim Tiauw Eng mendongkol dan kaget, namun cepat-cepat dia menguasai dirinya.
Dia mendongkol karena Auwyang Hong dengan serangan itu sama seperti membokong, kaget dengan Iwekang yang dipergunakan oleh Auwyang Hong.
261 Bu Lian hanya menyaksikan pertandingan antara majikannya dengan Auwyang Hong dengan mata terbuka lebar-lebar.
Dia mendapat kenyataan, walaupun Giok lie Sim keng Kiam hoat dari majikannya merupakan ilmu pedang luar biasa, tokh tidak bisa merubuhkan Auwyang Hong.
Tapi melihat pertempuran itu, berarti menambah pengalaman Bu Lian.
Lim Tiauw Eng kali ini tak sungkan-sungkan lagi, karena melihat Auwyang Hong menyerang dia mengempos semangatnya.
Dia menyerang membalas mempergunakan Iwekang yang sangat kuat.
Dua kekuatan telah saling bentur.
Kesudahannya keduanya hanya mundur satu langkah, lalu maju lagi.
Pertempuran kali ini, selain mempergunakan senjata, juga sekali-sekali diselingi dengan berbagai pukulan-pukulan telapak tangan yang disertai oleh Iwekang yang sangat kuat sekali.
Lim Tiauw Eng memang memiliki Iwekang yang berada diatas Auwyang Hong, karena itu dia bisa bertempur dengan lebih leluasa.
Dan setelah lewat belasan jurus lagi, dia memang menang diatas angin.
Auwyang Hong yang akhirnya mulai tertindih itu, telah mengerahkan seluruh kepandaiannya untuk dapat menyerang Lim Tiauw Eng dengan lebih gencar.
Seetelah melihat jika dia terus bertempur seperti itu hanya akam membuat kerugian buat dirinya, Auwyang dalam satu kesempatan telah melompat mundur, kipasnya telah dimasukkan kedalam saku bajunya, diapun telah berjongkok mengambil sikap seekor kodok dengan kedua telapak tangan 262 numprah diatas tanah!
Itulah cara Ha Mo Kong akan dipergunakan!
Lim Tiauw Eng yang pernah merasakan hebatnya tenaga Ha Mo Kongnya Auwyang Hong beberapa waktu yang lalu, juga tak berani ceroboh begitu saja menerjang.
Dia mengawasi waktu Auwyang Hong menggerakkan kedua tangannya, mendorong, angin berkesyuran kuat sekali, Lin Tiauw Eng mengelak.
Tapi Auwyang Hong menggeser kedua tangannya.
Angin serangan Ha Mo Kong itu seperti mengejar Lim Tiauw Eng.
"Brukkk!"
Pinggir kuburan "
Mayat Hidup‟ didekat Bongpay telah sempal terkena pukulan telapak tangan Auwyang Hong, karena tenaga Ha Mo Kongnya berhasil membuat bagian yang sempal dari kuburan itu meluruk jatuh menjadi abu benar-benarmengejutkan Lim Tiauw Eng.
Jika memang dirinya terserang oleh Ha Mo Kong tersebut berarti tubuhnya itupun akan remuk dan hancur lumat seperti halnya baru kuburan itu.
tapi Lim Tiauw Eng memperlihatkan sikap tenang, sedikitpun tidak terlihat diwajahnya sikap kuatir, karena dia yakin walaupun bagaimana kepandaian Auwyang Hong tidak lebih tinggi dari kepandaiannya.
Cuma saja kepandaian See Tok benar-benar ganas!
Yang perlu diperhatikan jangan sampai dia diam-diam membokong dengan racunnya, karena See Tok bukan sebangsa manusia baik-baik, dia licik dan tidak segan-segan akan mempergunakan racun untuk merebut kemenangannya!
Sedang Lim Tiauw Eng berfikir begitu, justru See Tok berulang kali menyerang dengan Ha Mo Kong.
263 Walaupun Ha Mo Kong merupakan ilmu pukulan yang disertai Iwekang namun merupakan sifat yang keras.
Maka Lim Tiauw Eng setelah beberapa kali menghindari gempuran Ha Mo Kong-nya Auwyang Hong, telah duduk bersemedhi diatas tanah.
Dia menggunakan Giok Lie Sinkang dan menyambuti gempuran selanjutnya dari Auwyang Hong.
Setiap kali tenaga Ha Mo Kong itu menerjang pada Lim Tiauw Eng, tenaga menyerang itu seperti juga amblas.
Memang waktu menciptakan Giok Lie Sin Keng, Lim Tiauw Eng lebih mengutamakan ilmu tersebut pada kelunakan, namun hebatnya Iwekang tersebut tidak berada dibawah Iwekangnya Auwyang Hong.
Dengan dilawan lunak, habislah dayanya Auwyang Hong.
Karenanya, walaupun dia menyerang bertubu-tubi berulang kali dengan Ha Mo Kongnya, tokh kenyataannya dia tidak bisa berbuat banyak.
Akhirnya Auwyang Hong melompat berdiri sambil berseru.
"Kukira telah cukup! Terima kasih atas petunjuk yang diberikan Lim Kouwnio!"
Lim Tiauw Eng tersenyum sambil melompat berdiri juga.
"Sungguh hebat kepandaian yang kau perlihatkan tadi Auwyang Sieheng!"
Memuji Lim Tiauw Eng.
Auwyang Hong licik, sengaja telah menyudahi pertempuran sampai disitu, dia bisa mengambil keuntungan yang tidak kecil.
Pertama, jika dia meneruskan pertempuran itu terus lebih lama lagi, jelas yang rugi dirinya.
Tenata dalamnya selalu tenggelam tidak karuan oleh bendungan tenaga dalam Giok Lie Sim Keng-nya Lim Tiauw Eng, karenanya dia telah cepat-cepat membatasi diri.
Jika dia mengerahkan terus 264 menerus tenaga dalamnya berlebih-lebihan, tentu hanya akan membuat dia terluka didalam.
****
Jilid 8 KEDUA, diapun telah menyaksikan Giok Sim Keng, kehebatan dan kekurangannya.
Dengan menyaksi-kan kehebatan Biok Lie Sim Keng, Auwyang Hong bisa memperoleh tambahan pengalaman, berarti juga bisa dipergunakan nanti menghadapi lawan-lawannya dalam pertemuan kedua kalinya di Hoa San.
Lim Tiauw Eng sendiri tidak me-ngetahui bahwa Auwyang Hong sesungguhnya waktu itu berada ditepi jurang, jika memang dia meneruskan per-tempuran itu, tentu Auwyang Hong akan menderita luka dalam yang tidak ringan.
Dengan alasan menghentikan pertempuran mereka, berarti Auwyang Hong yang licik ini telah menyembunyikan kelemahannya itu.
Lim Tiauw Eng sendiri juga menganggap bahwa pertempuran itu sudah cukup dan dia tidak terlalu mendesak Auwyang Hong, karena jika memang Auwyang Hong berlaku nekat dan akan bertempur terus mengadu jiwa dengan mati-matian, hal inipun bisa membahayakan diri Lim Tiauw Eng sendiri.
265 Sebagai dua orang jago kelas wahid yang memiliki arti yang besar, sedikit lambat atau lengah saja berarti mereka akan terluka parah karenanya.
"Terima kasih atas pengajaran yang diberikan oleh Lim Kounio…!"
Kata Auwyang Hong lebih lanjut.
"Namun ada sesuatu yang hendak kuajukan kepada Lim Kounio…!"
"Apakah itu?!"
Tanya Lim Tiauw Eng.
"Apakah aku diperkenankan untuk berdiam beberapa hari di hutan ini?"
Tanya Auwyang Hong. Lim Tiauw Eng tidak segera menyahuti, dia hanya berdiam diri mengawasi Auwyang Hong, sampai akhirnya dia bilang juga.
"Baiklah, asal engkau tidak menimbulkan keonaran disekitar tempat ini, akupun tidak berhak melarangmu!"
Dan setelah berkata begitu, Lim Tiauw Eng menoleh kepada pelayannya. Pelayan tersebut rupanya mengerti, dia telah menghampiri Auwyang Hong.
"Mari kuantarkan kau ke tempat yang menjadi batas-batas dari kuburan ini…!"
Kata Bu Lian sambil menjura. Harap Auwyang kongcu nenti mengingat baik-baik, batas-batas mana yang boleh didatangi oleh Auwyang Kongcu, batas-batas mana yang merupakan daerah terlarang!"
Waktu Bu Lian menjelaskan begitu pada Auwyang Hong, Lim Tiauw eng telah memutar tubuhnya, dia telah masuk ke kuburan "Mayat Hidup‟nya.
Auwyang Hong mengangguk dan ikut Bu Lian meninggalkan kuburan "Mayat Hidup‟ tersebut.
266 Ternyata Bu Lian telah memberikan penjelasan kepada Auwyang Hong.
Limabelas langkah disebelah selatan, duapuluh langkah disebelah utara, dua puluh lima langkah disebelah timur dan tiga puluh langkah disebelah barat.
Tempat-tempat tersebut dilarang sekali untuk didatangi oleh Auwyang Hong.
Semua itu tentu saja dihitung sejak dari tepian kuburan "mayat hidup‟ tersebut.
Selama Auwyang Hong mau mematuhi larangan ini, tidak terlalu dekat berada di kuburan ini, maka diwaktu itu Auwyang Kongcu boleh dengan leluasa berkeliaran di hutan ini.
Namun jika kau melanggar satu langkah saja daerah terlarang itu, berarti majikanku tidak akan mengampuni lagi!
Bukan hanya pada kau yang dikenakan peraturan seperti itu..
malah pada orang-orang yang tidak punya guna, begitu mereka segera menerima hukuman yang berat…!"
"Terima kasih!"
Kata Auwyang Hong sambil mengangguk.
Bu Lian telah memutar tubuhnya untuk kembali ke kuburan "Mayat Hidup‟.
Auwyang Hong yang telah ditinggal seorang diri, mengawasi sekitar hutan itu, baru kemudian pergi ketempat dimana Cengjie dan Pekjie menantikannya.
Waktu itu sinar matahari pagi telah menerobos masuk dalam hutan, sehingga apa yang dapat dilihat dengan jelas.
Sedangkan Auwyang Hong telah melihat dinding-dinding yang tinggi sekali dari tembok kuil Tiong Yang Kiong, dimana kuil itu dibawah sorotnya cahaya matahari pagi, tampak angker dan agung sekali.
"Hmm, di kuil itulah Ong Tiong Yang berdiam..!"
Berpikir Auwyang Hong.
"Untuk menghadapi Cong Cin Cit Cu 267 memang bukan persoalan yang sulit buatku, begitu juga untuk menghadapi Loo Boan Tong, Ciu Pek Thong, bukan soal yang perlu dibuat jeri. Namun Ong Tiong Yang bukanlah lawan yang mudah dihadapi. It Yang Cie nya masih belum dapat kupecahkan, karena itu aku harus melatih Ha Mo Kongku segiat mungkin untuk memahirkan dan memperoleh kesempurnaan…! Hemm, biarlah aku mengawasi dari jauh saja. Jika memang kebetulan Ong Tiong Yang tidak berada diuilnya, tengah turun gunung, waktu itulah aku diam-diam masuk ke kuil Tiong Yang Kiong untuk mencuri kitab Kiu Im Cin Keng. Jika aku berhasil memperoleh dan memiliki Kiu Im Cin Keng, jangankan hanya seorang Ong Tiong Yang, walaupun harus menghadapi sepuluh atau duapuluh Ong Tiong Yang tentu akan dapat kutaklukkan dengan mudah. Tengah Auwyang Hong termenung seperti itu, tiba-tiba dia mendengar suara orang tertawa-tawa, disusul dengan suara seorang yang bernyanyi-nyanyi dengan riang gembira, nadanya lucu sekali .
"Tik, Tak, Tik Tak, Kudanya lompat-lompatan, Larinya seperti kuda kakek, Perutnya seperti balon! Tik, Tak, Tik, Tak, Air hujan turun menyiram bumi! Mandi didalam bak, Menari sambil bernyanyi! O, O, Kudanya kuda putih, Larinya seperti kakek, Hi hi hi hi hi hi…..!" 268 Auwyang Hong jadi tertarik mendengar nyanyian seperti itu, dia segera menoleh ke arah darimana datangnya suara nyanyian itu. Segera juga dilihatnya seorang lelaki berusia antara tigapuluh tahun lebih menari-nari sambil bernyanyi-nyanyi seperti itu. Auwyang Hong jadi tertegun, karena semula dia menduga yang bernyanyi-nyanyi dengan nada jenaka itu adalah seorang anak-anak, tidak tahunya seorang tua bangkotan. Yang lebih mengejutkan Auwyang Hong, orang itu tidak lain daripada Loo Boan Tong, Ciu Pek Thong, si bocah tua bangkotan yang berandalan dan jenaka itu. Gesit bukan main Auwyang Hong telah melompat kedalam gerombolan pohon, untuk menyembunyikan diri disitu, mengawasi gerak-gerik Ciu Pek Thong. Dia juga telah membisiki Cengjie dan Pekjie agar mereka tidak menimbulkan suara. Ciu Pek Thong tengah menari-nari dan bernyanyi-nyanyi, tampaknya gembira sekali. Kiranya selama ini Ciu Pek Thong memang dikurung oleh Ong Tiong Yang didalam kuil, dikenakan hukuman tidak boleh keluar setindakpun dari kuil. Dengan begitu Ciu Pek Thong sering bersedih dan menggerutu tidak karuan macam. Dia adalah seorang yang gemar bergerak gemar bermain, maka dihukum dengan larangan tidak boleh keluar kuil oleh Ong Tiong Yang membuat Ciu Pek Thong merasakan hidup bagai didalam neraka!. Walaupun Coan Cin Cit Cu selalu setia bergantian menemaninya bermain, namn akhirnya lama kelamaan Ciu Pek Thong bosan juga, dan hari ini dia telah menghadap pada Ong Tiong Yang, merasa kasihan pada sutenya, dimana selama dikurung didalam kuil memang tidak memperlihatkan 269 keberandalan yang berlebihan, telah mengijinkannya. Dengan demikian bukan main gembiranya Ciu Pek Thong, sehingga begitu dia berada di luar kuil dia telah menari-nari sambil bernyanyi-nyanyi dengan jenaka. Setelah agak lama menari dan bernyanyi Ciu Pek Thong berdiam, dia berjongkok, tubuhnya agak membungkuk, dia seperti memperhatikan sesuatu. Lama Ciu Pek Thong dengan sikapnya seperti itu, mambuat Auwyang Hong jadi heran dan menduga-duga, entah apa yang sedang diperhatikan oleh si bocah tua bangkotan yang berandalan itu. hati Auwyang Hong juga seperti dikilik-kilik. Perasaan ingin tahunya apa yang sedang dilakukan oleh Ciu Pek Thong membuat dia tidak bisa menahan diri, maka dia telah keluar dari tempat persembunyiannya dan menghampiri ke dekat Ciu Pek Thong.
"Apa yang sedang kau cari Loo Boan Tong?!"
Tanya Auwyang Hong. Walaupun mendengar langkah kaki dn ditegur begitu, Ciu Pek Thong tidak menoleh, hanya memperdengarkan suara.
"Sssstt… jangan berisik…! nanti da kabur!"
"Siapa yang kaur?!"
Tanya Auwyang Hong heran.
Ciu Pek Thong semula menduga bahwa yang menghampirinya adalah salah seorang murid suhengnya, sehingga dia tidak menoleh.
Tapi ketika dia mendengar pertanyaan Auwyang Hong terakhir, dia seperti tersadar bahwa suara itu bukan suara dari murid suhengnya.
Dia melirik untuk kagetnya dan bercampur girangnya, seera dia mengenali orang tersebut tak lain dari Auwyang Hong!
"Akh See Tok, kau?!"
Berseru Ciu Pek Thong sambil melompat berdiri.
"kapan kau sampai di Ciong Lam San, mengapa tidak berkunjung kepada kami?"
Auwyang Hong tersenyum.
"Aku baru saja tiba… eh ya, apa yang tadi kau cari? Siapa yang kabur jika menimbulkan suara berisik?"
Ditanya begitu,Ciu Pek Thong ingat pula apa yang tengah dilakukannya. Dia telah mendekatkan jari telunjuk pada bibirnya.
"Ssstt!"
Hanya itu daja yang diperdengarkannya, kemudian dia berjongkok untuk melongok pula sebuah lobang kecill dibawah batang itu.
Auwyang Hong tambah heran, dia memperhatikan lobang kecil itu.
sebuah lobang yang besarnya seukuran lingkaran ibu jari tangannya.
Auwyang Hong jadi menduga-duga, si bocah tua bangkitan yang berandalan ini tentu tengah mencari sesuatu yang aneh.
Dan sebagai seorang yang sering mencari binatang beracun, baik ular, kelabang, kelabang, kalajengking dan binatang berbisa lainnya, maka See Tok tertarik sekali melihat lubang kecil itu.
"Apakah kau tengah mencari binatang berbisa?"
Ciu Pek Thong tidak menyahuti. Auwyang Hong juga jadi memperhatikan lobang kecil itu.
"Nah, nah, dia keluar…dia keluar … kau jangan bersuara…!"
Menggumam Ciu Pek Thong dengan suara berbisik.
Auwyang Hong semakin tertarik, dia mementang matanya lebar-lebar mengawasi lobang kecil itu.
271 Dari lobang kecil itu memang keluar binatang kecil, namun waktu melihat binatang itu, Auwyang hong jadi tertawa terbahak-bahak.
"Kukira binatang berbisa apa yang bisa ditangkap dan menarik untuk dibuat main, tidak tahunya hanya seekor jangkrik saja!"
Herseru Auwyang Hong.
Suara tertawa Auwyang Hong yang terbahak-bahak itu membuat jangkrik yang telah tiba di mulut lobang kecil itu jadi terkejut mandek sejenak, lalu binatang itu mundur masuk ke dalam lobang lagi.
Sebetulnya Ciu Pek Thong tengah bersiap-siap mengangkat tangan kanannya begitu jangkrik itu keluar lagi sedikit dari lobang tersebut.
Dia akan menggerakkan tangannya untuk menangkap binatang tersebut.
Namun justru belum lagi dia menggerakkan tangannya diwaktu Auwyang Hong telah tertawa keras seperti itu, membuat jangkrik itu batal keluar dan gagallah Ciu Pek Thong memperoleh jangkrik itu.
Bukan main mendongkolnya Ciu Pek Thang.
"Bisa bangkotan, ternyata engkau memang selalu membawa sial saja!"
Bentak Ciu Pek Thong sengit.
"Sudah kuberitahukan kau jangan timbulkan suara ribut-ribut, malah trtawa seperti orang edan! Kau lihat, jangkrik itu telah masuk kedalam lobangnya lagi, gagallah aku menangkapnya!"
Auwyang Hong tertawa, dia tidak gusar walaupun Ciu Pek Thong menegurnya kasar seperti itu, karena Auwyang Hong yang pernah bertemu Pek Thong beberapa kali sebelumnya, baik di Hoa San maupun ditempat-tempat yang dikunjungi Ong Tiong Yang, maka dia mengenal adik seperguruan Ong Tiong 272 Yang yang berandalan, biarpun telah dewasa dan usianya tida puluh tahun lebih namun memiliki watak seperti anak-anak.
"Apa gunanya seekor jangkrik!"
Menyahuti Auwyang Hong. Hu, hu, paling tidak kau hanya mendengar suaranya! Lebih baik kau main-main denganku!"
Muka Pek Thong jadi berseri-seri mendengar auwyang Hong mengajaknya bermain-main.
"Bermain apa?!"
Tanya Ciu Pek Thong.
"Sebuah permainan yang menarik sekali, aku jamin kau pasti akan menyukainya!"
Menyahut Auwyang Hong.
"Sebutkan, permainan apa?!"
Tanya Ciu Pek Thong yang mendesak tidak sabar.
"Sabar, sabar, nanti akan kuberitahukan. Tetapi sebelum kita bermain,engkau harus berjanji dulu untuk memenuhi dua permintaanku!"
"Sua permintaanmu? Apa kedua permintaanmu?"
Tanya Ciu Pek Thong. Ayo cepat sebutkan, setelah itu kita akan main dengan gembira!"
"Dengarlah!"
Kata Auwyang Hong.
"Aku akan mengajak engkau bermain dengan permainan menarik sekali, tapi pertama-tama kau harus memberitahukan dulu padaku Kouwhoat Coan Cin Sinkang dan Coan Cin Kiam Hoat.
"Apa?!"
Tanya Ciu Pek Thong kaget.
"Pertama-tama kau harus membacakan Kauwhoat (teori) dari Coan Cin Sinkang dan Coan Cin Kiamhoat….!"
Kata Auwyang Hong.
Jangan kaget, kau hanya baca satu kali saja, akupun hanya mendengarkan.
Tokh tidak membawa kerugian buatmu?
Bukankah tidak ada seorangpun yang hanya 273 mendengar satu kali saja bisa mengerti dan mengingat selamanya bunyi Coan Cin Sin Kang dan Coan Cin Kiam Hoat itu?"
Ciu Pek Thong berdiam diri memandang ragu pada Auwyang Hong. Lalu tanyanya.
"Bisa bangkotan, engkau hendak mengakali aku?!"
Hu! Hu! Loo Boan Thong bukan manusia yang mudah dipukuli…!"
Auwyang Hong tersenyum.
"Siapa bilang Ciu Pek Thong manusia yang mudah dipukuli?!"
Menyahuti Auwyang Hong, tetap tertaw. Kau seorang yang sangat cerdas, memiliki kepandaian yang tinggi, dan seorang yang periang sekali! Siapa yang tak kenal Loo Boan Tong Ciu Pek Thong?!"
Senang hati Ciu Pek Thong diumpak seperti itu, dia mengangguk-angguk beberapa kali, tapi kemudian mukanya jadi muram lagi, tampaknya dia berpikir keras. Auwyang Hong tertawa lagi, katanya.
"Bagaimana? Apakah engkau menerima permintaan yang pertama itu?!"
"Sulit! Sulit!"
Menyahut Ciu Pek Thong.
"Sulit kenapa?"
Tanya Auwyang Hong.
"Permintaanmu itu terlalu berat….!"
"Berat bagaimana? Bukankah engkau hanya menghafal satu kali saja dan tidak akan memberatkanmu?!"
"Benar, namun aku tidak berani melanggar pintu perguruanku! Mana mungkin aku membacakan Kouwhoat dari pintu perguruanku untuk seorang luar seperti kau?!"
"Tapi tidak ada orang lain yang tahu!" 274 Ciu pek Thong berdiam diri, namun akhirnya dia menoleh pada Auwyang Hong, matanya memancarkan sinar yang sangat tajam. Tegurnya.
"Apakah kau tidak akan bilang-bilang pada siapapun juga jika memang aku bersedia membacakan kouwhoat Coan Cin Kiam Hoat untukmu?!"
Auwyang Hong girang bukan main, karena dia yakin Ciu Pek Thong akan dapat diakalinya.
"Tentu saja aku tidak akan memberitahukan pada siapapun juga! Bukankah jika ada yang mengetahui, Auwyang Hong mendengar kouwhoat Coan Cin Sin Kang dan Coan Cin Kiam Hoat, hal itu hanya akan merupakan tamparan untukku? Jelas itu merupakan rahasia yang tidak akan diketahui oleh siapapun juga selain kita berdua!"
Baca Juga: Sejengkal Tanah Sepercik Darah 10
Baca Juga: Perawan Lembah Wilis 3