Eps 4 Lima Jago Luar Biasa - Sin Liong
Baca online Lima Jago Luar Biasa - Sin Liong
Cersil Lima Jago Luar Biasa - Sin Liong.
Ciu Pek Thong girang, namun itu hanya sekejap saja, kemudian dia telah menggeleng-gelengkan kepalanya lagi, katanya.
"Tidak mungkin, itu tidak mungkin….!"
"Mengapa tidak mungkin?!"
Tanya Auwyang Hong tidak sabar.
"Kau merupakan salah seorang diantara Lima Jago Luar Biasa dan yang tertinggi kepandaiannya adalah suhengku. Jika memang Coan Cin Sin Kang dan Coan Cin Kiam Hoat kuberitahukan padamu, walaupun hanya kouwhoatnya saja, bukankah itu berbahaya bagi suhengku? Dengan mengetahui kouwhoat Coan Cin Sin Kang dan Coan Cin Kiam Hoat berarti kelak dalam pertemuan yang kedua kalinya di Hoa San, engkau dapat mempergunakannya untuk menindih suhengku?"
Auwyang Hong tertawa dengan muka yang kurang enak dilihat.
Dia memang licin dan licik, karena itu dia tetap tidak mau melepaskan kesempatan ini.
hanya dia mendongkol 275 melihat Loo Boan Tong, si bocah tua bangkotan yang berandalan ini demikian uletnya untuk dibujuk.
Dia membujuk lagi.
"Hanya satu kali saja mendengar Kouwhoat yang akan kau bacakan itu, aku mana bisa mengingatnya dengan baik. Akupun hanya ingin mendengarnya untuk membanding-bandingkan mana yang lebih hebat Coan Cin Sin Kang atau memang Ha Mo Kong ku!"
Ciu Pek Thong geleng-geleng kepalanya, diapun telah berseru-seru.
"Tidak bisa! Sudahlah kau jangan mengganggu aku, aku ingin menangkap jangkrik itu lagi!"
Auwyang Hong tertawa dingin.
.Loo Boan Tong, engkau benar-benar tidak tahu permainan menarik jika memang kau menolak permintaanku, berarti engkau seumur hidupmu tidak akan memperoleh permainan yang menarik dan menggembirakan hati….!"
Ciu Pek Thong yang waktu itu akan berjongkok lagi, ketika mendengar perkataan Auwyang Hong, jadi ragu-ragu. Sebetulnya permainan apa sih yang kau bilang sangat menarik itu?!"
Tanya Loo Boan Tong.
"Sudah kukatakan, jika engkau menerima dua permintaanku, maka aku akan segera memberitahukannya… ! sekarang kau katakan dulu, mau menerima kedua permintaanku atau tidak?!"
"Permintaanmu itu terlalu berat! Coba sekarang kau beritahukan padaku permintaanmu yang kedua itu merupakan permintaan apa pula…!"
"Permintaanku yang kedua ini jauh lebih mudah dari permintaanku yang pertama tadi!"
Menyahuti Auwyang Hong. 276
"Coba kau katakan....!"
Kau belum menjelaskan sanggup atau tidak memenuhi permintaanku yang pertama, mana mungkin pula aku bisa memberitahukan permintaanku yang kedua, bukankah akan sia-sia belaka?"
Menyahuti Auwyang Hong.
"Katakan dulu apa permintaanmu yang kedua itu, mungkin jika tidak telalu berat, aku bisa menerimanya….!"
Mendesak Ciu Pek Thong. Auwyang Hong Ragu-ragu, tapi kemudian dia mengangguk.
"Baiklah, aku akan menjelaskan! Permintaanku yang kedua itu hanya menginginkan kau mengajakku ke sebuah tempat!"
"Mengajakmu ke sebuah tempat? Tempat apa?!"
Tanya Ciu Pek Thong Heran.
"Tempat itu tidak terlalu sulit untuk didatangi oleh kita berdua, engkau tentu mengenal jalan dengan betul, karena itu aku menginginkan engkau mengajakku ketempat itu!"
Menjelaskan Auwyang Hong.
"Engkau terlalu bertele-tele seperti itu. cepat katakan tempat apa yang ingin kita datangi itu?!"
Ciu Pek Thong tidak sabar.
"Aku meninginkan engkau mengajakku ke kuburan "
Mayat Hidup‟! Kau tentu mengetahui jalan untuk masuk kedalam kuburan "Mayat Hidup‟ itu….!"
"Apa kau bilang?!"
Teriak Ciu Pek Thong tercekat hatinya, kemudian tertawa.
"Kau tengah bermimpi Bisa Bangkotan! Mana mungkin kita bisa memasuki kuburan "
Mayat Hidup‟ itu, 277 sedangkan Suhengku, yang pernah memiliki kuburan itu saja tidak pernah memasuki kuburan "Mayat Hidup‟ itu selama beberapa tahun belakangan ini, setelah menyerahkannya kepada manusia she Lim itu "
Tapi sekarang justru aku menghendaki agar kau mengajak aku memasuki kuburan "Mayat hidup‟ itu… jika memang engkau bisa memenuhi permintaanku yang pertama dan yang kedua itu, maka aku akan memberitahukan padamu cara permainan yang sangat menarik sekali!"
Ciu Pek Thong jadi duduk menjublek. Dia diam tidak berkata sepatah katapun.
"Mengapa engkau termenung menjublek begitu?!"
Tanya Auwyang Hong ketika melihat Loo Boan Tong.
"Engkau mengajukan permintaan yang tidak-tidak!"
Menyahut Ciu Pek Thong.
Permintaan yang pertama itu sulit untuk dipenuhi olehku, juga permintaan yang kedua ini jauh lebih sulit lagi.
Suhengku pernah berpesan, baik kepadaku maupun kepada ketujuh muridnya, tidak boleh selangkahpun mendekati kuburan "Mayat Hidup‟ itu..
apalagi memasuki kuburan "Mayat Hidup‟ itu!"
Auwyang Hong memang licin, dia segera menyahuti.
"Ciu Pek Thong….! Dasar engkau si bocah tua bangkotan yang tolol! Tahukah engkau mengapa suhengmu itu melarang kau dan murid-muridnya untuk memasuki kuburan "
Mayat Hidup‟ itu?!"
Ciu Pek Thong menggeleng perlahan. Tanyanya,.
"Kenapa?"
"Di dalam kuburan itu terdapat semacam benda yang sagat menarik sekali, siapa yang bisa memperoleh benda itu, tentu 278 akan memiliki kepandaian tertinggi di daratan Tionggoan, menjadi jago nomor satu di kolong langit ini…!"
"Benda apa itu?"
Ciu Pek Thong jadi tertarik sekali.
"Itulah se
Jilid kitab yang luar biasa!"
Menjelaskan Auwyang Hong.
"Jika hanya se
Jilid kitab Ilmu silat, tentunya tidak mungkin lebih hebat dari kitab Ciu Im Cin Keng yang dimiliki suhengku!"
Menyahuti Ciu Pek Thong.
"Kau salah memiliki pandangan seperti itu. Justru Suhengmu waktu mendirikan kuburan "
Mayat Hidup‟ telah membuat beberapa ruangan khusus yang luar biasa hebatnya.
Didalam ruangan itu diperlengkapi dengan bermacam-macam alat bermain yang jika kita berdiam disana bisa bermain sepuas hati, sehingga merasa seperti berada di sorga….!"
"Ohhh, begitu menarikkah permainan-permainan yang terdapat didalam kuburan "Mayat Hidup‟ itu?"
Tanya Ciu Pek Thong. Auwyang Hong mengangguk.
"Itulah sebabnya Suhengmu demikian betah untuk mengurung diri terus menerus didalam kuburan "
Mayat Hidup‟ itu, demikian juga halnya dengan Lim Tiauw Eng, dimana diapun demikian senang untuk berdiam terus-menerus didalam kuburan "Mayat Hidup‟ itu.
tidakkah kau berpikir sedikit, mengapa dan apa sebab-sebabnya kedua orang itu, Suhengmu dan Lim Tiauw Eng senang untuk mengurung diri didalam kuburan "Mayat Hidup‟ itu?!"
Ciu Pek Thong menepuk-nepuk pahanya, dia kemudian melompat berdiri. 279
"Benar juga perkataanmu… memang sering sekali aku menanyakan pada Ong Suheng sebab-sebab Ong Suheng dulu pernah menutup diri didalam kuburan "
Mayat Hidup‟ nya itu, namun Ong Suheng selalu mengatakan bahwa urusan itu telah lalu dan tidak perlu dibicarakan lagi!"
"Karena itu sesungguhnya, di dalam kuburan "
Mayat Hidup‟ itu terdapat banyak sekali ruangan-ruangan yang dibuat khusus untuk bermain. Siapa saja yang berada di ruangan-ruangan tempat bermain itu, tidakkah itu akan menggembirakan sekali?"
Ciu Pek Thong termenung ragu, antara tertarik ingin melihat permainan-permainan yang menarik menurut Auwyang Hong, juga dia ragu-ragu harus membacakan kouwhoat dari Coan Cin Sin Kang maupun Coan Cin Kiam Hoat.
Disamping itu juga yang membuat Ciu Pek Thong ragu-ragu adalah ajakannya Auwyang Hong untuk memasuki kuburan "Mayat Hidup‟.
Menurut Suhengku, kepandaian Lim Tiauw Eng, yang sekarang menjadi majikan kuburan "Mayat Hidup‟ itu sangat tinggi sekali dan sulit untuk dihadapi….!"
Ragu-ragu sekali waktu Ciu Pek Thong berkata seperti itu. Auwyang Hong tertawa terbahak-bahak.
"Loo Boan Tong! Loo Boan Tong, engkau ini benar-benar tidak dapat berpikir dengan baik! Dengan kita berdua apakah yang bisa diperbuat Lim Tiauw Eng?"
"Tapi jika nanti timbul keonaran, tentu Ong Suheng akan memberikan hukuman kepadaku lagi….!"
Kata Ciu Pek Thong, dan dia menceritakan bagaimana di istananya Toan Hongya dia telah melakukan suatu perbuatan yang 280 menimbulkan keonaran yang hebat.
Dan akhirnya diapun memperoleh hukuman dari Ong Tiong Yang.
Cuma saja Ciu Pek Thong tidak menjelaskan sumber keonaran itu disebabkan dia menggauli selirnya Toan Hongya.
Auwyang Hong tertawa keras, katanya.
"Mengapa engkau harus takut dihukum, memasuki ruangan kuburan "
Mayat Hidup‟ itu bukan suatu perbuatan dosa, kita hanya ingin melihat saja bukan?
Dan Ong Tiong Yang tidak berhak untuk menghukum jika hanya memasuki kuburan "Mayat Hidup‟ belaka….!
Engkau tidak perlu kuatir, Ciau Siehang….
Jamin Ong Suhengmu tidak marah.
Jika dia menggusarimu, biarlah nanti aku yang bicara dengannya….!"
Ciu Pek Thong yang digosok pulang pergi oleh Auwyang Hong, hatinya semakin tertarik dan pendiriannya jadi goyah.
"Jika engkau menjamin akan memberikan pengertian pad Ong Suheng, jika memang nanti dia memarahiku disebabkan kita memasuki kuburan "
Mayat Hidup‟ itu? Auwyang Hong mengangguk.
"Ya…. engkau tidak perlu kuatir….!"
Menyahuti Auwyang Hong girang bukan main.
"apakah engkau bersedia untuk memenuhi kedua permintaanku itu?!"
Ciu Pek Thong mengangguk, sahutnya.
"Ya, aku akan memenuhi kedua permintaanmu itu! sekarang kau beritahukan padaku, permainan menarik apa yang kau miliki untuk kita berdua bermain dengan gembira?"
"Itulah permainan didalam kuburan "
Mayat Hidup‟!
Bukankah tadi kujelaskan, didalam kuburan "Mayat Hidup‟ itu terdapat banyak sekali ruangan-ruangan yang dibuat khusus 281 untuk bermain dengan gembira, yang keadaannya sama seperti di sorga!"
Ciu Pek Thong jadi menjublek lagi.
"Kouwhoat Coan Cin Sin Kang dan Coan Cin Kiam Hoat…. memasuki kuburan "
Mayar Hidup‟ …. Oohhh, apakah ini akan membuat Ong Suheng bergusar?"
Melihat Ciu Pek Thong bimbang lagi, Auwyang hong telah menarik muka, katanya dengan mendongkol.
"Teserah padamu segalanya, tadipun engkau telah menyanggupi untuk memenuhi kedua permintaanku, maka jika sekarang engkau mengingkari dan tidak mau memenuhi janjimu untuk meluluskan kedua permintaanku itu, akupun tidak akan menyesalimu….!"
"Oh mana bisa begitu…. Ciu Pek Thong bukan sebangs manusia yang gemar menelan ludah yang telah dibuang!"
"Jika demikian kau jadi mau memenuhi kedua permintaanku itu?"
Tanya Auwyang Hong. Ciu Pek Thong tidak segera menyehuti, sedang dihatinya dia berpikir.
"Hemm, bisa bangkotan ini sangat licik dan beracun sekali, jika memang apa yang dikatakannya tadi benar, inilah menggembirakan sekali. Tapi bagaimana jika ternyata nanti dia hanya mendustai aku, hanya mengepuli aku?!"
Karena berpikir begitu, Ciu Pek Thong telah menoleh pada Auwyang Hong, tanyanya.
"Jika nanti setelah kita masuk kedalam kuburan "
Mayat Hidup‟ itu, dan ternyata didalam kuburan itu tidak terdapat ruangan-ruangan bermain yang menarik seperti yang kau katakan tadi, beranikah kau mempertanggung jawabkannya?!" 282 Jika memang tokoh persilatan lainnya seperti Oe Yok Su, Ang Cit Kong maupun Lam Te, tentu akan berpegang teguh pada kegagahan dan nama besar, mereka tidak akan menarik pulang janji dan kata-kata yang pernah mereka ucapkan.
Namun Ciu Pek Thong kali ini justru berurusan dengan Auwyang Hong, dedengkotnya si Bisa dari Barat yang sangat licin dan licik yang tak segan-segan melakukan perbuatan yang paling hina sekalipun asalkan untuk memperoleh keuntungan buat dirinya.
Auwyang Hong waktu itu telah mengangguk sambil tertawa.
"Itu sudah jelas! Jelas aku akan bertanggung jawab! Jika memang Tiong Yang Cinjin nanti memarahimu, maka aku akan memberitahukan padanya bahwa engkau tidak bersalah, karena aku yang mengajak! Dengan demikian, urusan akan menjadi beres kan?"
Ciu Pek Thong kena dilagui oleh Auwyang Hong, dia mengangguk beberapa kali. Sampai akhirnya Ciu Pek Thong berkata.
"Jika begitu, baiklah.. kau dengarkan aku akan membacakanKouwhoat Cian Cin Sin Kang dan Coan Cin Kiam Hoat…! Setelah berkata begitu, Ciu Pek Thong dengan suara nyaring telah menghafal kouwhoat Coan Cin Sin Kang dan Coan Cin Kiam Hoat. Auwyang hong mendengarkan dengan seksama, dengan sepadang alis yang berkerut dan juga penuh perhatian walaupun dia hanya mendengarkan utnuk satu kali, namun dia seorang yang cerdas bukan main. Karena itu kouwhoat Coan Cin Sin Kang dan Coan Cin Kiam Hoat telah terpatri didalam oraknya. 283 Ketika Ciu Pek Thong telah habis membacakan seluruh kouwhoat Coan Cin Sin Kang dan Coan Cin Kiam Hoat, Auwyang Hong menanyakan beberapa bagian yang tidak dimengertinya. Memang agak sulit untuk menangkap seluruhnya kouwhoat Coan Cin Sin Kang maupun Coan Cin Kiam Hoat Cuma sekali dengar, terutama sekali memang teori ilmu silat Coan Cin Kauw tersebut merupakan ilmu silat kelas tinggi, begitu pula banyak bagian-bagiannya yang dulit. Dengan mengandalkan kecerdasan dan kecerdikannya, Auwyang Hong berusaha mengingat sebanyak mungkin dari teori ilmu silat itu, karena yang diutamakannya adalah Coan Cin Sin Kang, dimana dia menghendaki kunci dari ilmu tenaga dalam Coan Cin kauw yang lurus dan bersih itu. Sebagai seorang yang senang bermaik dengan racun, dan juga telah memiliki kepandaian yang sempurna, namun dari aliran yang sesat, tentu hawa murni yang telah dilatihnya itu akan memperlihatkan kesesatannya dan menyeret dirinya jadi menderita luka dalam yang tidak tingan. Karena dari ancaman kesesatan inilah yang membuat Auwyang Hong bermaksud untuk mengetahui kouwhoat Coan Cin Sin Kang karena dia bermaksud untuk nanti mencari kunci kelurusan tenaga dalamnya, untuk menggantikan kedudukan tenaga dalamnya yang sekarang ini, dari sesat menjadi lurus. Setidak-tidaknya tentu dengan mempergunakan Coan Cin Sin Kang dia akan dapat membendung kesesatan yang ada padanya dan memperkecil ancaman bencana akibat kesesatan itu. Ciu Pek Thong sama sekali tidak mengetahui bahwa dirinya telah dikibuli dan diperalat oleh Auwyang Hong. Dia membaca habis seluruh kouwhoat Coan Cin Sin Kang dan Coan Cin Kiam Hoat. dengan demikian justru menimbulkan 284 keonaran yang tidak kecil kelak dikemudian hari oleh Auwyang Hong…! "
Bagus!"
Kata Auwyang Hong setelah dia merasa cukup menerima keterangannya Ciu Pek Thong.
"Sekarang mari kita pergi masuk ke dalam kuburan "
Mayat Hidup‟ untuk melihat-lihat ruangan bermain yang sangat menarik itu!"
Ciu Pek Thong tidak segera menyahuti, tampaknya dia bimbang. Karena, pertama dia memang mengetahui bahwa majikan kuburan "
Mayat Hidup‟ itu, Lim Tiauw Eng memiliki kepandaian yang ditak berada disebelah bawah kepandaian Ong Tiong Yang.
Memang Auwyang Hong telah menyetakan bahwa dengan mereka berdua bisa menghadapi Lim Tiauw Eng.
Namun kebimbangan lainnya buat Ciu Pek Thong untuk memasuku kuburan "Mayat Hidup‟ it ialah Ong Tiong Yang memang telah berpesan dengan keras pad semua muridnya maupun Ciu Pek Thong, jangan sekali-sekali berusaha memasuki kuburan "
Mayat hidup‟. Siapa yang melanggar akan menerima hukuman yang seberat-beratnya. Auwyang Hont telah melompat sambil serunya.
"Ayolah Ciu Sieheng, mengapa harus melamun begitu saja….!"
Ciu Pek Thong ikut melompat menyusul Auwyang Hong, namun sejauh itu dia masih diliputi keraguan.
Perasaan ingin tahu dan tertariknya untuk melihat ruangan-ruangan yang dikatakan oleh Auwyang Hong merupakan tempat bermain yang benar-benar sangat menarik, telah membuat Ciu Pek Thong melupakan ancaman yang dikeluarkan oleh Ong Tiong Yang bagi seorang murid Coan Cin Kau yang berani memasuki kuburan "Mayat Hidup‟ tersebut.
285 Dasar memang Loo Boan Tong yang jika tidak berandalan bukannya sibocah tua bangkotan yang berandalan, akhirnya perasaan tertariknya itulah yang telah menang.
Dan dia bersedia untuk memasuki kuburan "Mayat hidup‟ tersebut.
Begitulah bersama-sama dengan Auwyang Hong mereka berdua telah mendekati kuburan "Mayat hidup‟ itu.
Namun belum lagi mereka berada dekat dengan kuburan tersebut, masih terpisah belasan tombak, saat itulah dari belakang Auwyang Hong berkesiuran angin yang kuat dan tajam menikam pada pundaknya.
Auwyang Hong terkejut, dia berusaha berkelit.
Waktu itu juga dan mendengar bentakan berupa makian seorang wanita.
"Manusia hina tidak tahu malu, rupanya engkau begiitu beracun….!"
Auwyang Hong yang berhasil mengelakkan tikaman pedang telah menoleh.
Dihadapannya berdiri Lim Tiauw Eng dengan muka yang merah padam.
Wanita ini mengawasi Auwyang Hong can Ciu Pek Thong bergantian dengan suara yang dingin.
"Bisa bangkotan, tidak salah apa yang pernah dikatakan Tiong Yang Cinjin bahwa engkaulah satu-satunya diantara lima jago luar biasa itu yang paling beracun dan licik! Hemm, tadi kau telah menyerangku dengan Ha Mo Kongmu, tapi diam-diam kau membokongku dengan mempergunakan racun bisamu…! Jika hari ini aku tidak membinaskanmu, hemm, hemm tidak ada gunanya lagi perkataan Lam Lim Peng Ong, Im Seng Ie Yang! Terimalah kematianmu….!"
Waktu itu Lim Tiauw Eng memang telah murka bukan main, rupanya tadi waktu dia kembali ke kuburan "
Mayat hidup‟ nya, dia telam memperoleh kenyataan dirinya telah 286 memperoleh terluka oleh semacam racun yang todak diketahuinya, entah racun apa namanya.
Sebagai seorang yang memiliki Iwekang yang telah mencapai tingkat sempurna, tentu saja racun tersebut tidak bekerja dengan cepat.
Itulah luka yang halus berupa satu titik kecil dilengannya.
Rupanya waktu Auwyang Hong menyerang dia dengan mempergunakan Ha Mo Kongnya, dia telah menyerang secara diam-diam, yaitu dengan membokong dengan jarum beracunnya.
Dengan demikian, diluar sadarnya, waktu tadi dia menyambuti serangan Ha Mo Kong nya Auwyang Hong, dia telah terluka.
Memang Lim Tiauw Eng telah sering mendengar Auwyang Hong merupakan See Tok, Racun dari Barat.
Dengan demikian, jelas racunnya sangat sempurna.
Hanya yang tidak disangkanya dia bisa dilukai tanpa dia sendiri menyadarinya.
Memang sebenarnya waktu tadi Auwyang Hong bertempur dengan Lim Tiauw Eng secara diam-diam dia telah mempergunakan jarum beracunnya, dia memasang alat rahasia pada kipasnya, maka begitu dia memijit tombol rahasianya, alat rahasia itu bekerja dengan cepat sekali menyemburkan jarum beracun.
Dan salah satu jarum beracunnya telah mengenai sasaran dengan tepat, yaitu dijalan darah didekat pergelangan tangan Lim Tiauw Eng.
Memang dasarnya Auwyang Hong seorang yang licik dan licin disamping hatinya kejam, dia bermaksud untuk merubuhkan Lim Tiauw eng secara diam-diam yaitu dengan mempergunakan racunnya.
Jika memang mereka bertempur mengadu kepandaian, tentu saja Auwyang Hong tidak mungkin 287 bisa merubuhkan Lim Tiauw Eng, maka dengan mengandalkan jarum beracunnya dia menghendaki kematian Lim Tiauw Eng.
Dan ajakan Auwyang Hong pada Ciu Pek Thong untuk memasuki kuburan "Mayat Hidup‟ itu untuk pergi melihat apakah Lim Tiauw Eng telah terbinasa oleh bekerjanya racunnya, jika memang Lim Tiauw Eng telah menemui kematiannya, waktu itulah Auwyang Hong akan merebut kuburan "
Mayat hidup‟ yang akan dijadikannya sebagai tempat berdiam.
Walaupun nanti Ong Tiong Yang ikut campur, jelas hal itu sudah tidak mungkin dilakukan oleh Ong Tiong Yang mendesak Auwyang Hong meninggalkan kuburan Mayat Hidup trsebut karena dia tentu tidak akan memberikan kesempatan sedikitpun pada Ong Tiong Yang untuk memasuki kuburan Mayat Hidup ini.
Namun diluar dugaan Auwyang Hong, Lim Tiauw Eng masih sehat dan segar bugar, dimana tampaknya tenaga Iwekang dari wanita ini masih kumpul dan penuh, sama sekali tidak memperlihatkan tanda-tanda bahwa ia dikuasai oleh racun yang mengendap ditubuhnya.
Auwyang Hong mau atau tidak memang harus mengakui akan kehebatannya Lim Tiauw Eng.
Waktu itu, dalam keadaan murka setelah mengetahui perbuatan curang Auwyang Hong, Lim Tiauw Eng segera keluar dari kuburan Mayat Hidupnya.
Dan betapa terkejutnya waktu secara kebetulan dia mendengar percakapan antara Auwyang Hong dengan Ciu Pek Thong, dimana Auwyang Hong tengah membujuk Ciu Pek Thong agar membacakan Kauwhoat Cian Cin Sin Kang dan Coan Cin Kiam Hoat, disamping itu juga mengejak Ciu Pek 288 Thong untuk bersama-sama untuk memasuki kuburan mayat hidupnya.
Semula Lim Tiauw Eng sudah mau menerjang keluar untuk menerjang Auwyang Hong.
Namun mendengar Ciu Pek Thong bersedia membacakan Kauwhoat Cian Cin Sin Kang dan Coan Cin Kiam Hoat, hatinya jadi tertarik dan batal menerjang keluar.
Perlu diketahui, Lim Tiauw Eng sangat mencintai Ong Tiong Yang, walaupun Ong Tiong Yang telah menjadi Tosu, tokh dia masih tetap mencintainya.
Dan juga, diantara mereka berdua memang terdapat pertentangan, selalu meributkan tentang tinggi rendahnya kepandaian diantara mereka berdua, karena mereka berdua masing-masing memiliki adat yang aneh dan keras, sama-sama angkuh dan luar biasa.
Karena itu tidak pernah ada kecocokan diantara mereka, walaupun keduanya saling mencintai.
Dan terakhir kali, merekapun berlomba-lomba untuk memiliki kepandaian tertinggi diantara mereka berdua.
Jika Ong Tiong Yang memang setingkat kepandaiannya dari Lim Tiauw eng, maka Lim Tiauw Eng akan berlatih diri dengan giat dan menciptakan sebuah ilmu baru yang luar biasa dahsyatnya sehingga kembali Ong Tiong Yang dapat ditindih satu tingkat lagi.
Kemudian Ong Tiong Yang berhasil memecahkan ilmu setelah sekian lama, kembali Ong Tiong yang berada satu tingkat diatas Lim Tiauw Eng.
Keadaan seperti itu tidak habis-habisnya.
Dan sekarang Lim Tiauw eng mendengar Ciu Pek Thong Hendak membaca Kauwhoat Cian Cin Sin Kang dan Coan Cin Kiam Hoat, akan membuat Lim Tiauw Eng mengetahui rahasia dasar ilmu silat Cian Cin Kauw?
Bukankah dengan demikian kelak dia bisa 289 menciptakan semacam ilmu yang dipergunakan untuk menindih ilmu silat Cian Cin Kauw, tentu Lim Tiauw Eng lebih mudah untuk dapat segera menciptakan semacam ilmu yang kelak bisa dipergunakan untuk menindih ilmunya Ong Tiong Yang.
Namun racun yang mengendap ditubuh Lim Tiauw Eng tidak bisa mencurahkan seluruh perhatiannya pada hafalannya Ciu Pek Thong dimana sebagian dari Kouwhoat itu tidak bisa tertangkap jelas olehnya.
Dan ketika melihat Ciu Pek Thong telah selesai membaca Kauwhoat Cian Cin Sin Kang dan Coan Cin Kiam Hoat, lalu bersama-sama dengan Auwyang Hong ingin pergi memasuki kuburan Mayat Hidupnya, maka dia sudah tidk bisa menahan diri.
Dengan pedngnya itu Lim Tiauw eng menyerng Auwyang Hong.
Muka auwyang Hong jadi merah ketika melihat Lim Tiauw Eng melompat padanya dengan pedang yang terhujam kepadanya.
Dengan gesit ia mengelakkan derangan lawannya itu.
Memang Lim Tiauw Eng menyerang dengan tikaman Ciok Lie Kiam Hoat yang hebat, dalam keadaan gusar, dia menghendaki kematian Auwyang Hong.
Waktu itu tampak Auwyang Hong sambil mengelakkan diri beberapa kali telah berseru-290 seru.
"Tahan….tahan! aku hendak bicara….!"
"Aku tidak perlu bicara lagi dengan manusia keparat dn rendah hina seperti kau….!"
Berseru Lim Tiauw Eng, pedangnya telah bekerja dengan cepat sekali, dimana dia telah menyerang bertubi-tubi sehingga angin berkesyuran dengan tajam dan keras sekali disekitar tubuh Auwyang Hong karena pedang itu telah berkelebat dengan hebat sekali.
Sedangkan Auwyang Hong dengan melompat kesana-kemari telah berseru lagi.
"Lim Kouwnio, dengarlah dulu keterangan, mungkin engkau salah paham….!"
Lim Tiauw Eng menahan juga meluncur pedangnya, dengan bengis ia membentak.
"Salah paham bagaimana?!"
"Justru itulah aku sedang heran, mengapa Lim Kopuwnio menyerang aku?"
"Hemm, justru terlalu percaya padamu manusia berbisa yang hina dina, sehingga aku telah kau celakai dengan jarum beracunmu! Sesungguhnya engkau manusia yang paling rendah di dunia ini, dan tidak pantas engkau disejajarkan dalam barisan Lim Jago Luar Biasa!"
"Mengapa begitu?"
Jika memang engkau mempunyai keberanian mengadu kepandaian dengan jujur tentu engkau tidak akan menggelap mempergunakan jarum beracun itu menyerangku…!"
Auwyang Hong tertawa, dia tidak memperlihatkan sikap yang gugup, malah dengan lagak yang agak mendongkol dia telah menyehuti.
"Jika begitu, Lim Kouwnio telah salah menuduh orang! Sama sekali aku tidak pernah mempergunakan jarum beracun, bagaimana mungkin Lim Kouwnio mengatakan 291 bahwa aku ini telah melukai kau dengan jarum beracun itu? Hemm, dengan demikian engkau hanya mencari-cari alasan kosong belaka…!"
"Manusia beracun, tadipun aku sudah mendengar pembicaraanmu dengan Loo Boan Tong, kau telah membujuknya untuk memasuki kuburan Mayat Hidup ku… dengan demikian apakah kau masih menyangkal bahwa kedatanganmu kemari mengandung maksud tidak baik?!"
Ditanggapi begitu, muka Auwyang Hong jadi berubah merah lagi, dia menyadari bahwa sudah tidak ada jalan lain lagi untuk mengelakkan pertempuran antara dirinya dengan Lim Tiauw Eng.
Namun dia memang licik dan lihay lidahnya, karena dari itu dia menoleh pada Ciu Pek Thong, dia bilang.
"Ciu Sieheng, orang she Lim ini memang sengaja hendak mencuri dengar pembicaraan kita! Dia selalu mengawasimu dan kakak seperguruanmu! Hemm, hemm, dengan lagaknya seperti itu, apakah masih pantas disebut sebagai wanita baik-baik?!"
Muka Lim Tiauw eng jadi berubah merah padam karena murka, dadanya serasa ingin meledak.
Dengan mengeluarkan suara bentakan yang bengis, pedangnya telah berkelebat lagi, gerakannya sangat cepat bukan main.
Dan angin yang berkesyuran tajam telah menuju kebeberapa tempat yang mematikan di tubuh Auwyang Hong.
Namun Auwyang Hong juga hanya mengelakkan saja berulang kali tanpa balas menyerang.
Otaknya saja yang bekerja keras.
Disini selain ada Lim Tiauw Eng yang lihay, juga ada Loo Boan Tong si bocah tua bangkotan yang berandalan namun yang tolol itu.
Jika sampai Loo Boan Tong berdiri di pihak Lim Tiauw Eng, celakalah Auwyang Hong.
292 Sebab untuk menghadapi Lim Tiauw Eng saja dia belum tentu sanggup, apalaaagi jika memang harus menghadapi Loo Boan Tong dan Lim Tiauw Eng.
Itu sebabnya Auwyang Hong telah berpikir keras mencari jalan yang sebaik mungkin untuk menguasai Loo Boan Tong.
Sambil berkelit kesana kemari, berulang kali Auwyang Hong telah berseru.
"Ciu Sieheng, pergi kau masuk trlebih dahulu ke kuburan itu, biarrlah aku membereskan dulu orang she Lim ini, untuk memberikan hajaran padanya, nanti aku akan menyusulmu ke dalam!"
Namun Ciu Pek Thong tidak bergerak dari tempat berdirinya, dia hanya berdiri menjublek saja bingung mengawasi pertempuran yang tengah berlangsung antara Lim Tiauw Eng dengan Auwyang Hong.
Bicara soal kepandaian, Auwyang Hong memang masih kalah satu tingkat dari Lim Tiauw Emg.
Waktu tadi mereka piebu, Auwyangpun telah menyadari akan hal itu dan dia mengetahui juga, jika antara dia dengan Lim Tiauw Eng terjadi pertempuran yang lama, yang memakan ribuan jurus akhirnya dialah yang nantinya jadi pihak pecundang dan dirubuhkan oleh Lim Tiauw Eng.
Namun sekarang ini Lim Tiauw Eng memang tengah terluka oleh jarum beracunnya, dengan demikian, segesit-gesitnya dan sehebat-hebatnya kepandaian Lim Tiauw Eng namun dia tidak bisa bergerak dengan leluasa dan tidak bisa sepenuhnya mempergunakan untuk membendung menjalarnya racun.
Untuk inilah Auwyang Hong memperoleh keuntungan yang tidak kecil.
Dimana dia bisa menyerang lebih hebat dan gencar.
Dan selama itu pula Auwyang Hong telah mengelak 293 kesana kemari dengan gerakan yang gesit, memaksa Lim Tiauw Eng harus memaksa Lim Tiauw Eng menyusulnya untuk menyerang lebih lanjut.
Dengan melompat, Lim Tiauw Eng terancam keselamatannya, karena berlompat-lompat dan bergerak-gerak terus menerus, peredaran darah Lim Tiauw Eng jadi jauh lebih cepat, berarti racun akan bekerja lebih cepat.
Hanya sebentar saja Lim Tiauw Eng melompat kesana kemari dengan gusar.
Namin dia bukan sebangsa manusia tolol, karena seketika dia menyadari kelemahannya itu, yang telah melakukan suatu kesalahan yang tidak kecil.
Cepat dia membatasi diri, dia menyerang tanpa banyak bergerak atau melompat.
Auwyang Hong melihat perubahan cara menyerang lawannya, telah memperdengarkan suara tertawa mengejek, malah berbalik menyerang bertubi-tubi dengan mempergunakan Ha Mo Kongnya.
Setiap serangan yang dilakukan mengandung kekuatan yang dahsyat sekali.
Lim Tiauw Eng mengeluh juga, dia berseru panjang ketika suatu kali memperoleh kesempatan, tubuhnya dengan ringan telah melayang ketengah udara, dan pedangnya berkelebat dengan cepat sekali menyambar ke arah ulu hati, perut dan paha Auwyang Hong.
Tapi Auwyang Hong cepat sekali telah menekuk kedua kakinya.
Tahu-tahu dia telah berjongkok sambil mengeluarkan suara "krook, krookk!‟ dan kedua tangannya telah didorong kedepan dengan kuat sekali.
Bukan main kagetnya Lim Tiauw Eng, hatinya tercekat karena dia merasakan dorongan yang dahsyat sekali.
294 Dia berusaha untuk menguasai dirinya, memperkokoh kuda-kuda kedua kakinya.
Tidak urung dia masih terhuyung0huyung dua langkah dan waktu dapat berdiri tetap tubuhnya masih bergoyang-goyang seperti akan rubuh.
Betapa gusarnya Lim Tiauw Eng, dengan mengeluarkan suara seruan yang mengandung kenekatan, dia telah menggerakkan pedangnya, menyerang lagi dengan dua tikaman.
Cara menyerang ini meruppakan serangan yang bisa mematikan mereka berdua.
Dalam keadaan nekat seperti itu Lim Tiauw Eng seperti sudah tidak memperhatikan keselamatan dirinya lagi.
Auwyang Hong telah melompat ke pinggir dengan gerakan yang ringan, kemudian tubuhnya juga bergulingan ditanah untuk lebih menjauhi wanita itu, waktu dia melompat berdiri, dia menepuk tangannya.
Lim Tiaue Eng melihat lagak lawannya yang tengah menepuk-nepuk tangannya namun itu hanya sebentar saja, sebab diwaktu itu tampak dua sosok tubuh telah menerjang ke arah dirinya.
Untuk kagetnya Lim Tiauw Eng segera melihat jelas, yang satu adalah seekor kodok besar, sedangkan yang satunya lagi adalah bangau putih yang memang besar juga.
Kedua binatang raksasa ini telah menerjang pada tubuh Lim Tiauw Eng dengan hebat, karena kedua binatang ini memang tidak mempedulikan keselamatan mereka.
Tenaga dorongan kodok raksasa itu kuat dan sampokan dari sayap bangau putih itu bukan main dahsyarnya, disamping ancaman patukannya.
Lim Tiauw Eng mengeluh, dia telah memutar pedangnya, menjalankan Giok Lie kiam Hoat, dia berusaha melindungi tubuhnya dengan sinar pedangnnya itu yang bergulung-gulung.
Namun kodok raksasa itu dasarnya binatang yang tidak 295 mengenal bahaya, walaupun lawannya telah memutar pedangnya dengan cepat sekali, dia tetap melompat sambil menghantamkan kesua kaki depannya.
Pedang Lim Tiauw Eng yang tengah berputar itu telah menancap dibenda yang empuk dan cairan merah segera muncrat kemana-mana mengenai mukanya juga.
Ternyata kodok raksasa itu waktu melompat, kebetulan pedang Lim Tiauw Eng bergerak kedepan dan seketika itupun perutnya tertikam, tidak ampun juga kodok itu rubuh terjungkal!
Tadi kodok itu telah sempat menggerakkan kedua kakinya kedepan mendorong dengan kekuatan tenaga yang dahsyat dan membuat Lim Tiauw Eng terhuyung.
Syukur tenaga dorongan kodok tersebut tidak mengenai dengan telak, hanya menyerempet sehingga tidak menyebabkan Lim Tiauw Eng terluka berat.
Kodok raksasa itu mengeluarkan suara "krookk, krookkk"
Yang lemah kemudian berkelonjatan, lalu diam tidak bergerak lagi, mati!
Luka yang diderita pada perutnya ternyata luka yang lebar sekali, yang telah robek oleh tajamnya pedang Lim Tiauw Eng sebingga sebagian isi perut kodok raksasa itu berhamburan keluar.
Bangau putih yang berjambul merah melihat kawannya mengalami kematian seperti itu talah mengeluarkan suara pekikan yang panjang nyaring, dia terbang diatas Lim Tiauw Eng, kemudian menggunakan kedua sayapnya untuk menyampok Lim Tiauw Eng, dan diapun telah menggerakkan paruhnya untuk mematok kepala Lim Tiauw eng.
Tapi Lim Tiauw Eng mempunyai kepandaian yang tinggi.
Dia tahu, jika dia menggunakan pedangnya , tantu tidak mudah buatnya merubuhkan bangau putih peliharaan Auwyang Hong, 296 karenanya dia telah melemparkan pedangnya, dia telah mempergunakan telapak tangannya yang dipukulkannya bergantian.
Terdengar pekik yang nyaring dari bangau putih itu, tubuhnya terpental hebat sekali, dan tulang-tulang didalam tubuh bangau itu telah hancur remuk, diapun telah menggelepar-gelepar ditanah kemudian tubuhnya berkelenjatan dn mati!
Muka Auwyang Hong sebentar merah sebentar pucat menyaksikan kedua sahabatnya, Cengjie dan Pekjie telah menemui kematian ditangan Lim Tiauw Eng seperti itu.
Dengan gesit dia melompat kedekat Lim Tiauw Eng, dia telah menggerakkan kedua tangannya menghantam dengan kuat sekali pada Lim Tiauw Eng.
Saat itu keadaan Lim Tiauw Eng sesungguhnya tidak begitu baik, dia sangat lelah, tengah terluka oleh jarum beracun, daj juga tadi telah menggunakan tenaga yang sangat besar sekali untuk merubuhkan kedua binatang peliharaan Auwyang Hong.
Sekarang Auwyang Hong telah menyerang dengan hebat seperti itu, dalam murkanya Auwyang Hong telah menyerang dengan Ha Mo kongnya disertai kekuatan tenaga dalam sepenuhnya, angin pukulan itu berkesyuran sangat dahsyat dan tampak Lim Tiauw Eng tidak sanggup untuk menerima serangan itu.
dia berusaha mengelak namun pundaknya kena serempet oleh tenaga serangan Auwyang hong, dengan begitu tubuh Lim Tiauw Eng terhuyung-huyung beberapa langkah, hampir dia terjerembab karena tidak bisa mempertahankan kuda-kudanya, Cuma saja, karena disamping kebetulan ada sebatang pohon yang bisa dipegang dengan cepat dia tidak perlu sampai terguling.
297 Ciu Pek Thong kaget melihat keadaan Lim Tiauw Eng seperti itu.
karena Loo Boan Tong mengetahui bahwa Lim Tiauw Eng adalah wanita yang dicintai oleh suhengnya.
Cepat-cepat dia melompat kedepan Auwyang Hong, dia berseru sambil ulap-ulapkan tangannya.
"Jangan melukai Lom Kouwnio… jangan melukai Lim Kouwnio….!"
Berseru Ciu Pek Thong. Auwyang Hong tertawa dingin.
"Dia telah membinasakan kedua binatang peliharaanku….!"
Katanya bengis.
"Hmm, dia harus membayar jiwa kedua binatang peliharaanku itu dengan jiwanya…!"
Tapi Ciu Pek Thong tetap menghalanginya.
"Jika memang engkau mencelakai Lim Kouwnio, tentu akan berbuntut panjang, serta tidak enak buat kau…! Berseru Ciu Pek Thong dengan gugup.
"Kenapa?"
Tanya Auwyang Hong bengis.
"Karena Suhengku tidak akan menyudahi urusan sampai disini saja…!"
Menjelaskan Ciu Pek Thong.
Auwyang Hong segera dapat dikasi mengerti, diapun segera tersadar dari kemarahannya itu, karena jika memang dia mencelakai Lim Tiauw Eng, jelas Ong Tiong Yang tidak akan mau sudah sampai disitu saya.
Tentu dia akan dicari, untuk mengadakan perhitungan.
Waktu itu Lim Tiauw Eng degan nafas memburu telah berkata lemah.
"Laki=laki hina dina… kau ingin membunuhku, bunuhlah!"
Auwyang Hong hanya mendengus mengejek. 298
"Hemm, suatu waktu engkau tentu akan mampus juga wanita rendah…!"
Kata Auwyang Hong.
"Aku See Tok, suatu saat kelak, tentu akan mengadakan perhitungan denganmu! Dengan memandang muka terangnya Ciu Sieheng dan Tiong Yang Cinjin aku bersedia menitipkan jiwamu sementara ditubuhmu…!"
Setelah berkata begitu, Auwyang Hong mengulurkan tangannya menarik tangan Ciu Pek Thong, katanya.
"Ciu Sieheng, mari kita masuk ke dalam kuburan itu…!"
Tapi barusaja Auwyang Hong berkata sampai disitu, berkesyuran angin yang kuat sekali, karena Bu Lian telah muncul dan segera menyerang dengan pedangnya dengan kekuatan yang tidak lemah.
Pelayan Lim Tiauw Eng memang telah memperoleh didikan yang baik sekali, kepandaiannya tinggi sekali, walaupun tidak setinggi dan sesempurna Lim Tiauw Eng.
Melihat gurunya terluka seperti itu, dan juga melihat Auwyang Hong ingin mengajak Ciu Pek Thong memasuki kuburan Mayat Hidup, Bu Lian tidak berdiam diri terus.
Walaupun majikannya tadi telah berpesan padanya, biar terjadi urusan hebat bagaimanapun diluar kuburan, dia tidak boleh keluar memperlihatkan diri.
Auwyang Hong tertawa dingin, dia menyampok tangan Bu Lian, dan benterokan yang terjadi itu membuat Auwyang Hong terhuyung satu langkah kebelakang, sedangkan Bu Lian terpental sampai lima langkah.
Namun gadis itu tak sampai terjungkal.
Ciu Pek Thong melihat itu jadi berkata gugup.
"Ohhh, kita menimbulkan keonaran… jika kita berdiam lebih lama lagi ditempat ini, tentu Ong Suheng akan datang kemari….!" 299 Auwyang Hong tertawa dingin.
"Biarlah Tiong Yng Cinjin juga datng ditempat ini untuk ikit meramaikannya…!"
Kata See Tok dengan tawar.
"Kau….?! Bukan main terkejutnya Ciu Pek Thong.
"Hemm, Loo Boan Tong, mengapa kita harus menyingkirkan diri, bukankah kita, bukan kita yang memulai, dia yang telah menyerang diriku terlebih dahulu, disamping itu dia telah membinasakan kedua binatang peliharaanku! Jika memang Ciong Yang Cinjin datang disini, aku akan menjelaskan duduk persoalannya dan meminta pertimbangannya untuk keadilan, kukira tentu Ciong Yang Cinjin tidak akan berdiri dipihaknya… hemm, tentu Tiong Yang Cinjinpun akan menuntut keadilan dari perempuan hina dina she Lim itu….!"
Rupanya Auwyang Hing memang masih penasaran dan marah sekali, sehingga dia masih memaki kalang kabuttan.
Dia memang sangat sayang sekali pada Cengjie dan Pekjie, tapi sekarang kedua binatang peliharaannya itu, yang telah dijadikannya sahabat-sahabat yang selalu setiap hari bergaul dengan rapat telah menggeletak ditanah menjadi bangkai yang tidak bergerak sama sekali.
Ciu Pek Thong jadi sibuk bukan main, berulang kali dia menarik-narik tangannya Auwyang hong, mengajaknya meninggalkan tempat itu.
Bu Lian waktu itu memandang Auwyang Hong dengan sorot mata yang bengis sekali.
Auwyang Hong telah berdiam diri sejenak, khirnya mengangguk, dia telah ikut dengan Ciu Pek Thong, melangkah keluar meninggalkan hutan itu.
300 Lim Tiauw Eng waktu itu telah berdiri dengan pedang masih tercekal ditanganya, dia melangkah satu-satu dengan tindakan yang berat.
Bu Lian cepat-cepat menghampiri, untuk bantu memayang majikannya itu masuk ke dalam kuburan mayat hidup.
Ribut-ribut yang terjadi di dalam hutan itu memang sudah terdengar oleh penghuni kuil Tiong Yang Kiong, karena waktu Ciu Pek Thog dan Auwyang Hong tengah keluar dari hutan itu, mereka melihat tiga Tojin muda yang tengah berlari-lari gesit mendatangi ke arah mereka.
"Mereka tida orang murid Ong Suheng… tida diantara Coan Cit Cin Cu…!"
Menjelaskan Ciu Pek Thog waktu Auwyang Hong menanyakan padanya siapa ketiga Tojin itu.
Sedangkan ketiga orang Tojin, yang tidak lain adalah Tam Cie Toan, murid kedua dari Ong Tiong Yang, lalu yang datang belakangan adalah Khu Cie Kie, murid keempat, menyusul Ong Cie It, murid kelima Tiong Yang Cinjin.
Ketiga Tojin muda itu telah lari menghampiri Ciu Pek Thong, menjura memberi hormat.
"Ada kejadian apakah susiok, tampaknya kau begitu gugup?"
Tanya Kiu Cie Kie. Loo Boan Tong memang tengah gugup, karenanya dia geleng-gelengkan kepala beberapa kali.
"Tidak,tidak ada apa-apa, aku hanya tengah main-main dengan See Tok Auwyang Hong ini..!"
Mendengar disebutnya See Tok Auwyang Hong, muka Khu Cie Kie dan kedua saudara seperguruan yang lain, jadi terkejut, mereka telah mengawasi tajam sekali pada Auwyang Hong.
Memang waktu diadakan pertemuan di Hoasan, Khu Cie 301 Kie pernah bertemu dengan Auwyang Hong, karena dia turut dengan gurunya hadir di Hoa San.
Sekarang setelah mengawasi sekian lama dan mengenali bahwa orang itu memang tidak lain dari Auwyang Hong, maka Khu Cie Kie segera memberi hormat.
"Apakah selama ini Auwyang Locianpwe baik-baik saja?"
Auwyang Hog hanya mendengus saja, dia menarik tangan Ciu Pek Thong.
"Mari kita pergi bermain…!"
Dan tanpa mempedulikan Khu Cie Kie bertiga, Auwyang Hong bersama Ciu Pek Thong meninggalkan permukaan hutan itu.
Khu Cie Kie dan kedua saudara seperguruannya telah saling pandang, dan kemudian mereka mengangguk, karena mereka yakin didalam hutan itu telah terjadi suatu keributan, yaitu antara Ciu Pek Thong, Auwyang Hong dengan Lim Tiauw eng, majikan kuburan Mayat Hidup itu.
mari kita beritahukan pada suhu….!"
Kata Tam Cie Toan.
Khu Cie Kie dan Ong Cie It setuju, mereka cepat kembali berlari-lari dengan gesit ke Tiong Yang Kiong, untuk melaporkan segala apa yang mereka saksikan pada guru mereka.
Ong Tiong Yang juga terkejut bukan main mendengar sutenya ditenteng-tenteng oleh Auwyang Hong.
Tentu Ciu Pek Thong menimbulkan keonaran, terlebih lagi dengan berada bersama-sama Auwyang Hong, si Bisa dari Barat.
Maka dari itu, Ong Tiong Yang begitu menerima laporan dari murid-muridnya segera pergi keluar pergi dari kuilnya untuk mencari Ciu Pek Thong.
Dia menemukan Ciu Pek Thong bersama Auwyang hong didekat bawah sebuat bukit, dimana keduanya tengah asik 302 bermain kelereng.
Auwyang hong memang memiliki Iwekang yang sempurna, demikian juga halnya dengan Ciu Pek Thong, maka mereka bermain kelereng dengan cara yang menarik, seperti sulap saja, karena kelereng-kelereng yang mereka sentil itu selalu dapat dikendalikan oleh suatu tenaga yang tidak terlihat.
Ong Tiong Yang cepat menghampiri mereka, waktu Auwyang Hong melihat Ong Tiong Yang, dia memberi hormat sambil tersenyum, sikapnya tenang sekali.
Sedangkan Ciu Pek Thong jadi salah tingkah, terlebih lagi Ong Tiong Yang menanyakan apa yang telah terjadi didalam hutan dekat kuburan Mayat Hidup.
Ciu Pek Thong paling menghormati kakak seperguruannya ini, karenanya diapun tidak berani berdusta, dia telah menceritakan hal yang sebenarnya.
Muka Ong Tiong Yang jadi berobah garang, dia menoleh pada See Tok, katanya.
"Dengan berkeliaran disekitar Ciong Lam San ini kau telah menimbulkan keonaran yang tidak kecil saudara Auwyang….!"
Aueyang Hong merangkapkan tangannya membungkuk memberi hormat, dengan tertawa lebar, katanya.
"Inilah yang sesungguhnya memang tidak dikehendaki olehku juga… hanya saja sungguh harus disesalkan sikap dan sambutan yang diberikan oleh majikan kuburan Mayat Hidup itu, karena begitu tiba-tiba dia menyerang tanpa memiliki persoalan apapun juga dan diapun telah membinasakan kedua binatang peliharaanku apakah Tiong Yang Cinjin bisa mengambil kesimpulan untuk sebuah keadilan buatku?" 303 Muka Ong Tiong Yang semakin suram,Lim Tiauw Eng memang memiliki adat yang aneh. Tapi Ong Tiong Yang juga mengenal baik sekali jiwa Lim Tiauw Eng menyerang Auwyang Hong dan membinasakan kedua binatang peliharaan auwyang Hong. Karenanya tidak bisa sepenuhnya mempercayai cerita auwyang Hong, terlebih lagi Ong Tiong Yang juga mengetahui siapa adanya Auwyang hong ini.
"Lalu apa yang kalian lakukan didalam hutan itu?!"
Tanya Ong Tiong Yang. Aku tidak mengetahui bahwa hutan itu merupakan tempat yang terlarang, karenanya aku telah mengajak Ciu Sieheng untuk pergi bermain-main didalamnya…!"
Menyehuti Auwyang Hong sambil tersenyum lebar.
"Dan apakah itu merupakan suatu perbuatan yang salah, sehingga harus diserang demikian hebat oleh Lim Tiauw Eng dan juga kedua binatang peliharaanku itu harus terbinasa ditangannya? Dapatkah Cinjin memberikan petunjuk yang berharga?"
Auwyang Hong merupakan salah seorang tokoh rimba persilatan salah seorang Guru Besar diantara empat Guru Besar lainnya seperti Tong Shia, Pak Kay dan Lam Te.
Justru belum lama yang lalu Ong Tiong Yang sengaja melakukan perjalanan yang jauh ke Tayli hanya untuk menemukan Toan Hongya dan mewariskan kepandaian It Yang Cie dan ilmu-ilmu luar biasa lainnya pada kaisar tersebut dengan harapan agar Toan Hongya lah yang kelak dapat mengendalikan Auwyang Hong sebab Ong Tiong Yang menyedari Auwyang Hong merupakan manusia yang licik dan busuk disamping jiwanya sangat kejam.
Tapi siapa tahu Auwyang Hong sekarang berada dihadapannya, malah telah menimbulkan keonaran di hutan 304 dekat kuburan Mayat hidup yang masih merupakan daeran Tiong Yang Kiong.
Alasan yang dikemukakan Auwyang Hong bahwa dia tidak mengetahui hutan itu merupakan tempat larangan, dan telah mengajak Ciu Pek Thong masih bermain di dalam hutan itu, sampai dipergoki oleh Lim Tiauw Eng, merupakan alasan yang tidak bisa diterima oleh Ong Tiong Yang.
Mustahil Ciu Pek Thong yang berada bersama dengan Auwyang Hong waktu itu pun tidak mengetahui larangan untuk siapapun juga memasuki hutan itu?
bukankan Cu Pek Thong sutenya Ong Tiong Yang?.
Setelah berdiam sejenak, Ong Tiong Yang menoleh pada Pek Thong, katanya dengan sikap yang tegas dan wajah yang guram.
"Sute, kau ceritakan yang sebenarnya, satu patah katapun tidak boleh ada yang kau sembunyikan….!"
Ciu Pek Thong ragu-ragu, namun dia merasa segan dan hormat pada kakak seperguruannya, tidak berani dia berdusta, tia telah menceritakan prihal ajakan Auwyang Hong untuk masuk ke dalam kuburan Mayat Hidup.
Disamping itu diapun telah menceritakan bagaimana Auwyang Hong telah meminta dia membacakan kauwhoat Coan Cin Sin Kang dan Coan Cin Kiam Hoat.
**** 305
Jilid 9 MENDENGAR semua itu Ong Tiong Yang jadi terkesiap, kaget bukan main.
Inilah hebat.
Auwyang Hong telah mengetahui Kauwhoat Coan Cin Sin Kang dan Coan Cin Kiam Hoat, dengan demikian, tentu urusan dibelakang hari jauh lebih hebat, karena dengan berhasilnya Auwyang hong memperoleh Kauwhoat Coan Cin Sin Kang dan bersama dengan Coan Cin Kiam Hoat berarti Auwyang Hong telah memperoleh petunjuk yang sangat berharga, dimana dengan meneliti bunyinya Coan Cin Sin Kang dan Coan Cin Kiam Hoat Auwyang Hong jelas akan memperoleh kesempurnaan kepandaiannya.
Tapi Ong Tiong Yang cepat sekali bisa mengendalikan dirinya, dia telah menoleh pada Auwyang hong, dia berkata dengan suara yang dingin.
"Saudara Auwyang, ternyata engkau telah menipu Ciu Sute, dan kaupun memiliki maksud yang tidak baik pada Lim Tiauw Eng Kouwnio. Hemm, apa maksudmu sebenarnya dengan mengajak Ciu Suteku untuk bersama-sama memasuki kuburan mayat hidup?"
Muka Auwyang Hong waktu itu telah berubah agak pucat, sebentar kemudian berobah menjadi merah lagi, lalu pucat lagi.
Dia jadi serba salah.
Karena Ong Tiong Yang memang orang yang disegani.
Dialah orang yang memiliki kepandaian diatas kepandaian Auwyang Hong.
Sekarang rahasia jahatnya telah terbongkar, dengan demikian dia jadi tidak bisa berkutik lagi.
Namun karena auwyang Hong seorang yang licik, dia tidak mau mengakui begitu saja kesalahannya, masih mencoba untuk 306 membela diri.
"Aku baru pertama kali datang ke Ciong Lam San, akupun tidak mengetahui bahwa hutan itu merupakan daerah tertutup dan terlarang untuk orang luar, karena aku tertarik melihat bentuk kuburan yang berukuran besar itu, aku telah mengajak Ciu Sieheng untuk masuk kedalamnya guna bermain-main … ! Prihal Coan Cin Sin Keng dan Coan Cin Kiam Hoat, itu hanya didorong oleh perasaan ingin tahu dan rasa kagumku kepadamu. Tiong Yang Cinjin, seperti telah kita putuskan dalam pertemuan pertama di Hoa San, engkau diakui sebagai jago nomor satu di kolong langit ini, dengan demikian aku kagum sekali terhadap kemurnian Sinkang Coan Cin Kauw dan juga demikian halnya dengan Coan Cin Kiam Hoat, merupakan ilmu pedang mengagumkan sekali ….! Itulah sebabnya aku minta pada Ciu Sieheng untuk membacakan Kauwhoat Coan Cin Sin Kang dan Coan Cin Kiam Hoat tersebut untuk kudengar. Hanya untuk satu kali saja dan akupun tidak ada maksud-maksud tertentu apapun untuk mempelajari ilmu Coan Cin Kauw… hanya untuk membangingkan kehebatan ilmu Coan Cin Kauw dengan ilmuku! Tiong Yang Cinjin, atau memang engkau memandang aku terlalu rendah, sehingga engkau menduga aku menyerakahi ingin mempelajari Ilmu Coan Cin kauw? Atau memang engkau beranggapan kepandaian yang telah kumiliki sekarang ini merupakan kepandaian yang tidak ada gunanya dan tidak berarti apa-apa dimatamu?!"
Ong Tiong Yang tertawa dingin.
"Hemm engkau bicara kesana kemari tidak karuan, tapi jelas dan pasti engkau telah memperdaya Ciu Sute, dengan demikian engkau berusaha untuk mengetahui pada kelemahannya Coan Cin Sin Kang dan Coan Cin Kiam Hoat! Tetapi saudara Auwyang, ketahuilah olehmu, walaupun engkau telah mengetahui Kauwhoat Coan Cin Sin Kang dan Coan Cin Kiam Hoat, engkau tetap tidak 307 akan memperoleh manfaat apa-apa, karena cara berlatih kami sangat berbeda dengan pintu perguruan silat lainnya, karena dari itu, sia-sia saja engkau menipu adik seperguruanku ini ….!"
Auwyang Hong tersenyum mengejek.
"Justru memang tidak ada maksudku untuk menipu adik seperguruanmu itu, Tiong Yang Cinjin, memang akupun tidak bermaksud untuk mengorek keterangan mengenai kepandaianmu itu…. tapi kukira, sejak kita berpisah beberapa tahun yang lalu di Hoa San apakah tidak ada baiknya jika sekarang kita coba-coba sampai seberapa jauh kepandaian yang telah kita capai selama ini?!"
Ong Tiong Yang berdiam diri dengan wjah yang guram.
Memang auwyang Hong lah yang dikuatirkan kelak akan membawa lagaknya sekehendak hati menimbulkan keonaran didalam kalangan kangouw.
Dan memang auwyang Hong pula satu-satunya merupakan orang yang memiliki sifat licik dan kejam dari ketiga jago luar biasa lainnya, Pak Kay, Thong Sia dan Lam Te, karena See Tok selain licik juga beracun sekali, lidahnya maupun tangannya.
Sekarang See Tok telah menantangnya, tapi Ong Tiong Yang tidak mau melayaninya.
@Pertemuannya kedua kalinya di Hoa San tidak akan lama lagi.
Nanti saja jika telah berkumpul di Hoa San, kita akan melihat seberapa jauh kemajuan yang telah kita peroleh!
Sekarang silakan saudara Auwyang meninggalkan tempat ini, dan diwaktu-waktu selanjutnya janganlah kau menimbulkan keonaran pula di tempat ini, karena jika terjadi keonaran seperti tadi, tentu aku tidak akan segan-segan mengambil tindakan keras kepadamu!
" 308 Sesungguhnya Auwyang Hong memang jeri pada It Yang Cie Ong Tiong Yang.
Tapi dia tidak memper-lihatkan perasaan jerinya itu dimukanya, dia telah berkata dengan tawar.
"Jika memang Ciong Yang Cinjin menghendaki begitu, akupun tidak bisa membantahnya…. Bukankan Ciong Yang Cinjin telah kami tetapkan sebagai jago nomor satu di kolong langit? Mana berani aku orang she Auwyang membangkang terhadap perintah Cinjin? Baiklah, karena sekarang Cinjin tidak mau memberikan petunjuk padaku, sampai bertemu di Hoa San di tahun mendatang…!"
Setelah berkata begitu, Auwyang Hong mengeluarkan suara tertawa terbahak-bahak yang keras sekali, diapun telah memutar tubuhnya, kemudian dia berlari dengan gesit sekali menuruni gunung Ciong Lam San.
Melihat kepergian See Tok, Ong Tiong Yang menghela nafas.
Bisa saja dia mempergunakan It Yang Cie nya untuk menundukkan Auwyang Hong, namun hal itu tentu saja tidak bisa dilaksanakannya, karena Auwyang Hong tidak secara berterang melakukan kesalahan pada Coan Cin Kauw… Dan yang jadi sasaran kemarahan Ong Tiong Yang adalah Ciu Pek Thong yang telah ditegur keras dan telah dikenakan hukuman larangan keluar kuil.
Sebab dihari pertama dia memperoleh kebebasan keluar kuil, telah menimbulkan onar yang tidak ringan.
Ketika berada di kamar semedhinya, Ong Tiong Yang jadi berfikir keras.
Menurut cerita Ciu Pek Thong, Lim Tiauw Eng telah terluka oleh Auwyang Hong dan juga jika memang Ciu Pek Thong tidak berusaha menghalangi dan mencegah Auwyang Hong meneruskan serangannya, berarti Lim Tiauw Eng akan celaka ditangan si Bisa dari Barat itu.
kepandaian Lim Tiauw Eng sangat tinggi, bahkan tidak berada dibawah kepandaian Ong Tiong Yang sendiri.
Sekarang dia bisa 309 dirubuhkan seperti itu oleh Auwyang Hong maka mambuktikan bahwa Auwyang Hong telah berhasil memperoleh kemajuan yang pesat atas ilmu kepandaiannya, berarti dalam pertemuan yang kedua di Hoa San nanti Ong Tiong Yang akan mengalami kesulitan yang tidak kecil.
**** Waktu beredara dengan cepat, dan tanpa terasa telah lewat satu tahun lagi sejak Auwyang Hong menimbulkan keonaran dihutan dekat Kuburan Mayat hidupnya Lim Tiauw Eng.
Pada pagi itu, tampak sebatang pohon yang tumbuh tinggi, tergantung sepotong kain putih yang berkibar-kibar tertiup oleh hembusan angin.
Seorang Tosu dari Cin Kauw yang melihat kain putih dipermukaan hutan tersebut, jadi terkejut dan menduga sesuatu telah terjadi di dalam kuburan Mayat Hidup itu.
segera dia melaporkan pada Khu Cie Kie dan Khu Cie Kie meneruskan laporan itu kepada Ong Tiong Yang.
Bukan main berdukanya Ong Tiong Yang, karena segera dia dapat menduga bahwa Lim Tiauw Eng telah meninggal dunia.
Dan meninggalnya Lim Tiauw /eng mungkin berhubungan dengan peristiwa setahun yang lalu, dimana Tiauw Eng telah dilukai secara curang oleh Auwyang Hong mempergunakan jarum beracunnya.
Lama Ong Tiong Yang merenaung berduka dikamarnya.
Sampai menjelang malam hari hatinya semakin tidak tenteram, diliputi oleh berbagai kenangan yang kacau sekali dalam 310 benaknya.
Segala perasaan yang berada dihatinya pada waktu itu merupakan siksaan yang tidak ringan.
Sedih, marah, benci, kasihan, mencintai, kecewa dan merasa bersalah, semua itu telah bercampur aduk menjadi satu dalam otak Ong Tiong Yang.
Memang Ong Tiong Yang pernah bersumpah tidak akan masuk kembali kedalam kuburan Mayar Hidup itu walaupun untuk satu langkah.
Namun sekarang, mendengar Lim Tiauw Eng meninggal dunia, walaupun sudah bersumpah seperti itu, tokh secara diam-diam akhirnya Ong Tiong Yang pergi juga ke kuburan Mayat Hidup itu.
malam demikian sunyi.
Waktu dia memasuki hutan itu, dia melihat kain putih yang terpasang cukup tinggi berkibar-kibar terhembus angin malam yang dingin.
Dan diatas kain putih itulah tertulis nama Lim Tiauw Eng dan usianya.
Ong Tiong Yang menghela nafas dalam-dalam, dengan hati berduka ia telah memasuki hutan itu.
waktu sampai di depan kuburan Mayat hidup, kuburan yang dibangun olehnya dan telah diserahkan pada Lim Tiauw eng, tampak begitu sunyi.
Tidak terlihat seorang manusiapun juga.
Demikian pula halnya dengan Bu Lian, tidak terlihat mata hidungnya.
Dan mengambil jalan rahasia, Ong Tiong Yang masuk ke dalam kuburan Mayat hidup.
Dia yang membangun kuburan Mayat Hidup itu, dia pula yang memperlengkapi dengan segala alat-alat rahasia disekitar kuburan Mayat Hidup tersebut, dan Ong Tiong Yang juga yang mengetahui prihal adanya jalan-jalan rahasia kuburan Mayat Hidup tersebut.
Hanya disebabkan teringat akan cinta kasih Lim Tiauw Eng yang begitu tulus dan besar padanya, maka Ong Tiong Yang melanggar sumpahnya.
Dengan Ilmunya yang sangat 311 tinggi Ong Tiong Yang masuk tanpa diketahui oleh budaknya Lim Tiauw Eng, karena Bu Lian memang waktu itu, karena terlalu letih mengurus jenazah gurunya, tengah tertidur nyenyak.
Dengan berduka bukan main dan kesedihan yang mendalam, Ong Tiong Yang menangis dihadapan jenazahnya wanita yang pernah dicintainya itu.
setelah puas menangis, dia melihat-lihat lagi keadaan di dalam kuburan itu.
Di sebuah ruangan, dia melihat gambarnya dilukis oleh Lim Tiauw Eng.
Ong Tiong Yang berdiri lama sekali, mengawasi lukisan dirinya yang terpasang didinding ruangan tersebut.
Lukisan yang begitu halus dan mirip sekali.
Demikian pandai Lim Tiauw Eng melukis keadaan Ong Tiong Yang.
Tidak ada sehelai rambutpun yang berbeda.
Dari ujung jubahnya sampai pada keadaan raut wajahnya semua sama dan lukisan itu demikian hidupnya, seperti juga gambar Ong Tiong Yang itu merupakan jelmaan dari orangnya.
Disamping itu, Ong Tiong Yang pun meneliti lukisan-lukisan di langit-langit kedua kamar batu dalam kuburan tersebut.
Dia melihat di ruangan yang satu terukir ilmu silat Coan Cin Kauw, sedangkan di ruangan yang satunya terukir ilmu Giok Lie Sim Keng yang diciptakan oleh Lim Tiauw Eng.
Waktu melihat ukiran Ciok Lie Sim Keng, yang setiap pukulannya adalah untuk menjatuhkan ilmu silat Coan Cin Kauw, mendadak saja muka Ong Tiong Yang menjadi pucat.
Dia berdiri menjublek mengawasi ukiran-ukiran dari pelajaran Ciok Lie Sim Keng, lama sekali dia mematung seperti itu, sampai akhirnya dia menghela nafas dan bergegas meninggalkan tempat itu.
dia keluar dari jalan rahasia, sehingga kedatangan Ong Tiong Yang kekuburan Mayat Hidup tersebut sama sekali tidak diketahui oleh Bu Lian sampai kelak 312 Bu Lian menemui ajalnya, dan tidak pernah menyangka Ong Tiong Yang sesungguhnya pernah melihat Ciok Lie Sim Keng.
Sekembalinya Tiong Yang Kiong Ong Tiong Yang jadi tidak tenang dan setiap hari dia merenung diri di kamar semedhinya, dia mengingat-ingat pelajaran Ciok Lie Sim Keng.
Waktu itulah Ong Tiong Yang telah mengambil keputusan untuk hidup mengasingkan diri di sebuah tempat yang sunyi guna menciptakan semacam ilmu yang kelak bisa dipergunakan untuk menindih dan menghadapi Ciok Lie Sim Keng.
Setelah keputusan diambil dan telah menyerah-kan kekuasaan dan pimpinan kuil Tiong Yang Kiong kepada Ma Giok, segera Ong Tiong Yang naik ke atas gunung, dia membuat sebuah gubuk dan selama tiga tahun beruntun tidak pernah turun dari gunung tersebut.
Dia menempati bagian yang paling sulit didatangi orang di puncak Ciong Lam San tersebut.
Dengan demikian, tidak ada orang yang bisa mencari jejak, demikian juga sahabat, murid Coan Cin Kauw, tidak seorangpun bisa bertemu dengannya selama tiga tahun itu.
Secara mendalam Ong Tiong Yang telah meyakin-kan Ciok Lie Sim Keng, dan berusaha untuk mencari semacam ilmu silat yang dapat mengalahkan Ciok Lie Sim Keng.
Dalam beberapa bagian Ong Tiong Yang memang berhasil mencari kelemahan Ciok Lie Sim Keng dan menciptakan jurus-jurus baru yang dapat mengalahkan Ciok Lie Sim Keng.
Sebagai seorang yang memiliki kepandaian yang sangat tinggi dan sempurna, Ong Tiong Yang dalam sekelebatan saja telah mengetahui keunggulan dan kelemahan Ciok Lie Sim Keng.
Selama meyakinkan ilmu itu Ong Tiong Yang melihat 313 betapa kelemahan-kelemahan yang terdapat didalam Ciok Lie Sim Keng boleh dibilang hampir tidak ada, sedangkan keunggulannya memang ilmu tersebut merupakan ilmu yang luar biasa hebatnya.
Ong Tiong Yang juga teringat kepada peristiwa setahun lebih yang lalu, dimana Lim Tiauw Eng telah dilukai oleh Auwyang Hong.
Tentu peristiwa itu terjadi disaat Lim Tiauw Eng belum lagi berhasil mengubah rampung ilmu ciptaannya tersebut, disamping itu memang disebabkan diserang meng-gelap oleh jarum beracun itulah yang menyebabkan Lim Tiauw Eng setelah merampungkan ilmu ciptaan-nya itu, Ciok Lie Sim Keng dia menghembuskan nafasnya yang penghabisan.
Tapi dalam keadaan putus asa seperti itu, tiba-tiba Ong Tiong Yang teringat akan kitab Kiu Im Cin Keng.
Sebenarnya memang Ong Tiong Yang sudah berjanji untuk tidak mempelajari ilmu didalam kitab tersebut.
Namun terdorong oleh perasaan ingin tahunya, dia telah membuka-buka lagi beberapa lembar.
Diwaktu itu Ong Tiong Yang sudah memperoleh gelaran sebagai orang yang ilmu silatnya nomor satu di kolong langit.
Macam-macam ilmu yang terdapat dalam kitab tersebut sekali lihat saja dia sudah mengerti dan bisa memahaminya dengan cepat.
Dia meyakinkan beberapabelas hari dan sudah menyelami isi Kiu Im Cin Keng tersebut.
Jika beberapa waktu yang lalu sebelum Lim Tiauw Eng meninggal, Ong Tiong Yang masih ragu-ragu untuk mempelajari Kiu Im Cin Keng, maka kini karena terdorong oleh perasaan putus harapan dan kecewa gagal menggubah serupa ilmu silat yang hebat untuk mengalahkan Ciok Lie Sim 314 Keng, maka Ong Tiong Yang merobah keputusannya, dia telah meyakinkan Ciu Im Cin Keng.
Waktu yang hanya belasan hari itu justru telah memberikan serupa ingatan dan daya cipta yang luar biasa bagusnya untuk Ong Tiong Yang, karena mendadak sekali setelah dia selesai meyakinkan Kiu Im Cin Keng, dia mengangkat kepalanya dengan memandang ke langit tertawa bergelak-gelak.
Diapun segerak kembali ke kuburan Mayat Hidup dan menulis bagian-bagian Kiu Im Cin Keng yang paling penting-penting dilangit-langit kamar batu yang paling dirahasiakan.
Dan juga memberi petunjuk tentang cara-cara yang terbaik menindih dan mengalahkan Ciok Lie Sim Keng.
Setelah itu, Ong Tiong Yang juga menulis seumlah huruf yang luar biasa kecilnya dibagian jeriji dari gambarnya dendiri yang dilukis oleh Lim Tiauw Eng.
Maksudnya agar dibelakang hari, akhli warisnya Lim Tiauw /eng yang memiliki rezeki, mengetahui bahwa ilmu silat Coan Cin Pay tidak dapat ditaklukkan oleh Ciok Lie Sim Keng.
Setelah melakukan semua itu, Ong Tiong Yang keluar dari kuburan mayat hidup dan pergi ke batu raksasa untuk membaca pula syair yang dulu ditulis ileh Lim Tiauw Eng dengan hanya mempergunakan jari telunjuk tangannya.
Sambil membaca syair itu yang memberi kenangan sedih kepadanya, hati Ong Tiong Yang penuh dengan kebimbangan.
Dia ingat huruf-huruf yang ditulis olehnya di gambar itu sedemikian kecil dan halus.
Sehingga mungkin tidak ditemukan oleh ahli waris dari Kouw Bok Pay.
Akan tetapi, kalau ditulis terang-terangan, rahasia Kiu Im Cin Keng segera akan jadi bocor.
Waktu itulah mendadak dia mendengar suara tangisnya seorang wanita.
Waktu ditanya, wanita itu ternyata she Sun yang pernah ditolong jiwanya oleh Lim Tiauw Eng.
Wanita she Sun ini naik 315 ke gunung dengan tujuan untuk menghaturkan terima kasih, tapi penolongnya sudah meninggal dunia.
Dia ingin sekali bersembahyang di depan jenazahnya, tapi juga tidak dapat pintu.
Ong Tiong Yang merasa kasihan dan lalu menunjukkan padanya jalan masuk kuburan tersebut.
Setelah itu dia berpesan.
"Aku bekali kau dengan enam belas huruf, yang kau harus ingat betul-betul, tapi tidak boleh diberitahukan kepada siapapun juga. Nanti ketika kau sudah akan meninggalkan dunia ini, barulah kau beritahukan kepada majikan dari kuburan itu!"
Wanita she Sun itu menghaturkan terima kasih dan benar saja dengan petunjuknya Ong Tiong Yang, ia dapat masuk ke dalam kuburan itu.
belakangan ia diambil murid oleh budaknya Lim Tiauw Eng, walaupun tidak secara resmi, pelayan Lim Tiauw Eng, Bu Lian, sejak meninggalnya majikannya diwarisi kuburan Mayat hidup dan juga telah memperoleh seluruh warisan kepandaian Lim Tiauw Eng.
Sedangkan wanita she Sun yang berhasil masuk ke kuburan Mayat Hidup itu lewat jalan yang diberitahukan oleh Ong Tiong Yang, belakangan dikenal sebagai Sun Popo.
Enam belas perkataan pesanan Ong Tiong Yang berbunyi.
"Tiong Yang Siansu, turunkan ilmunya kepada yang belakangan, pelajari gambarnya dan selidiki tangannya."
Dan itu ditulis pada sepotong kain putih yang dimasukkan ke dalam baju kapasnya wanita she Sun itu.
Karena kecewa atas meninggalnya Lim Tiauw Eng, disamping memang sangat berduka, Ong Tiong Yang semakin tawar hatinya, apalagi sekarang dia telah berhasil menemukan ilmu yang bisa menindidih dan mengalahkan ilmu Ciok Lie 316 Sim Keng, hatinya puas dan tidak ada yang perlu dikerjakan olehnya lagi.
Ong Tiong Yang pun menyerahkan pimpinan kuil pada Ma Giok, kemudian dia sendiri pergi berkelana.
Hanya sebelum pergi merantau, Ong Tiong Yang berpesan pada semua murid Coan Cin Kauw untuk berlaku sabar dan saling mengalah walaupun menghadapi urusan yang bagaimanapun bentuknya.
Nasehatnya itu diberikan, karena Ong Tiong Yang pun juga mengakui didalam hati kecilnya, bahwa dalam hal kecerdasan otak, dia masih kalah satu tingkat dari Lim Tiauw Eng.
Hal ini disadari oleh Ong Tiong Yang setelah dia menjelang usia tua.
Lim Tiauw Eng telah menggubah Ciok Lie Sim Keng dari otaknya sendiri, sedangkan Kiu Im Cin Keng bukanlah ciptaan atau gubahannya Ong Tiong Yang harus mengakuinya, bahwa yang menindih dan bisa mengalahkan Ciok Lie Sim Keng itu bukanlah ilmu Coan Cin Kauw yang sejati, hanyalah ilmu Kiu Im Cin Keng….
Sedangkan Kiu Im Cin Keng ditulis oleh Tat Mo Cauw Su, cikal bakalnya Siauw Lim Sie!
Banyak perbuatan mulia yang dilakukannya.
Pada suatu hari Ong Tiong Yang telah berjumpa dengan Thong Sia Oe Yok Su.
Betapa berdukanya Tong Shia waktu mendengar prihal kematian Lim Tiauw Eng.
Tong Shia merasa sayang, seorang pendekar wanita yang memiliki kepandaian sehebat Lim Tiauw Eng harus menemui kematian yang begitu mengenaskan karena akal busuknya dan cara yang jahat dari Auwyang Hong.
Walaupun Ong Tiong Yang sendiri belum bisa memastikan bahwa kematian Lim Tiauw Eng memiliki hubungan dengan peristiwa dilukainya Lim Tiauw Eng oleh Auwyang Hong mempergunakan jarum beracunnya, namun 317 sebagian besar dugaan ke arah itu memang memiliki kebenarannya.
Dan Tong Shia juga mengutuk akan kebusukan Auwyang hong.
Namun dasarnya Tong Shia Oey Yok Su juga seorang yang aneh dan memiliki perangai yang sulit sekali diterka, diapun telah mengajak Ong Tiong Yang untuk pergi ke See Hek, dia ingin melihat sampai seberapa tinggi kepandaian yang telah dicapai oleh Auwyang hong.
Disamping itu memang Oey Yok Su pun ingin melihat, telah berapa tinggi kepandaian dan kemajuan yang diperoleh Ong Tiong yang.
Bkankah jika mereka telah berada di See Hek dan berhasil mencari Auwyang Hong, Ong Tiong Yang tidak akan berdiam diri dan akan menghajar si Bisa dari Barat itu, karena telah mencelakai Lim Tiauw Eng dengan jarum beracunnya.
Sehingga Lim Tiauw Eng, wanita yang pernah dicintai oleh Ong Tiong Yang menemui ajalnya dalam usia yang tidak terlalu tua….
Namun Ong Tiong Yang juga dapat mengendus maksud Oey Yok Su yang ingin "mengadu‟ dia dengan Auwyang Hong, maka dengan halus Ong Tiong Yang menolak ajakan Oey yok Su.
Dia memberikan alasan bahwa pertamuan di Hoa San telah dekat, dan tentu mereka akan bertemu muka diwaktu itu.
Setelah bercakap-cakap kesana kemari, Ong Tiong Yang menyatakan keheranannya pada Oey Yok Su mengenai kehebatan dari jari telunjuknya Lim Tiauw Eng.
Dia mengatakan jari telunjuk Lim Tiauw Eng dapat memahat batu menulis syair, tapi mengapa menghadapi Auwyang hong, Lim Tiauw Eng dapat dirubuhkan dan dibokong dengan jarum beracunnya.
"Jika memang melihat kepandaian jari tunggalnya yang bisa memabat batu, kepandaian Lim Tiauw Eng beberapa kali lipat berada diatasku, tenaga Iwekangnya benar-benar telah 318 mencapai puncak kesempurnaan, melampaui Iwekangku maupun Iwekangmu saudara Oey! Namun justru Auwyang Hong bisa mencelakainya…. inilah yang mengheran-kan sekali, disat dia terluka justru Auwyang Hong tetap dalam keadaan sehat-sehat belaka! Memang kitapun harus mengakuinya bahwa See Tok merupakan manusia yang paling licik dan penuh akal bulus yang busuk, tapi jika dia melukai Tiauw Eng tanpa dirinya mengalami cidera, inilah benar-benar mengherankan."
Oey Yok Su juga tampak berpikir sejenak ketika mendengar keterangan Ong Tiong Yang. Setelah berpikir, Tog Shia tertawa terbahak-bahak, dia berkata.
"Akupun bisa! Hanya sayang aku belum melatih ilmu itu! biarlah aku akan datang mengunjungi Ciong Lam San sebulan kemudian, dimana kita bertemu disana….!"
Karena memang ingin memecahkan kehebatan jari telunjuk Lim Tiauw Eng yang dapat menulis syair di atas batu hanya menggunakan jari telunjuknya belaka, Ong Tiong Yang pun telah kembali ke Ciong Lam San, menantikan kedatangan Oey Yok Su.
Benar saja sebulan kemudian Oey Yok Su telah datang mengunjungi Ciong Lam San.
Tong Shia memang memiliki adat aneh dan aseran dan terlebih lagi sekarang dia tengah berurusan dengan Ong Tiong Yang itu jago nomor satu di kolong langit, maka Tong Shia ingin memberlihatkan kehebatannya.
Lalu bersama-sama dengan Ong Tiong Yang, Tong Shia telah pergi melihat batu besar yang terdapat tulisan syairnya Lim Tiauw Eng.
Waktu itu Lim Tiauw Eng hanya menliskan sampai.
"Memang juga orang luar biasa, Thian tidak gampang-319 gampang mau turunkan"
Maksudnya jelas, yaitu aagar Ong Tiong Yang ikut mencontoh perbuatannya Thio Liang dan menyembunyikan diri menjadi orang pertapaan.
Waktu itu Tong Shia telah mengawasi syair itu beberapa saat lamanya, dia telah memandang dengan penuh perhatian.
Huruf demi huruf dibacanya perlahan-lahan.
Maka ia telah mempergunakan jari telunjuknya untuk mengikuti tulisan huruf-huruf itu, persis sekali jari telunjuknya itu masuk dalam setiap garis huruf.
Memang ini benar-benar membuktikan huruf-huruf itu ditulis dengan jari tangan, bukan disebabkan pahatan benda keras lainnya.
Setelah mengawasi sekian lama, Oey Yok Su Tertawa, dia menoleh kepada Ong Tiong Yang.
"Tiong Yang Cinjin, aku dapat menulis seperti ini! kau percaya tidak?"
Tanya Tong Shia. Ong Tiong Yang mengawasi menjublek pada batu itu, dia menggumam.
"Menurut dugaanku, hanya seorang Dewa atau Dewi yang bisa menulis di batu ini dengan menggunakan jari telunjuknya! Terus terang saudara Oey, aku tidak mempunyai kesanggupan menulis huruf-huruf diatas batu, memahat dengan hanya mempergunakan jari tangan saja. jika memang benar kau bisa menulis huruf-huruf itu seperti yang dilakukan oleh Lim Tiauw Eng, maka kelak dalam pertemuan yang kedua kalinya di Hok San, tentu engkau yang akan memenangkan pertemuan itu, dimana kau tentu yang terpilih sebagai jago silat nomor satu di kolong langit ini!"
Oey Yok Su tersenyum.
"Tidak! tidak sampai begitu jauh! Ong Cinjin yang akan tetap sebagai orang yang ilmu silatnya nomor satu di kolong 320 langit!"
Kata Tong Shia.
"Terus terang saja, yang akan terpilih sebagai orang yang memiliki ilmu silat kelas satu tetap Ong Cinjin….!"
Dan setelah berkata begitu, Tong Shia tertawa terbahak-bahak.
Lama dan panjang sekali dia tertawa seperti itu, sambil tangan kirinya mengelua-elus batu tersebut, lalu dia melonjorkan tangan kanannya, dia luruskan jari telunjuknya dan mulai menulis!
Oey Yok Su mulai menulis menyambung syair yang ditulis Lim Tiauw Eng, dia telah menulis mulai dari perkataan.
"Tapi Tiong Yang yang mendirikan Coan Cin" , dimana huruf demi huruf ditulisnya dengan tarikan yang kuat dan indah sekali, jari tangannya begitu tangguh, sehingga batu itu seperti juga tahu, begitu ditusuk, begitu meluruk abunya, dan di batu itu bertambah satu huruf! Sangat mudah sekali Oey Yok Su menulis huruf-huruf di batu itu mempergunakan telunjuk tangannya. Bukan main kagetnya Ong Tiong Yang, kembali dia menjublek menyaksikan pertunjukan yang hebat itu, sama halnya ketika dia menyaksikan Lim Tiauw Eng menulis syairnya di batu tersebut dengan jari telunjuk tangan kanannya! Sekarang untuk kedua kalinya Ong Tiong Yang bisa menyaksikan Oey Yok Su dapat melakukan hal yang sama. Oey Yok Sun sendiri telah tertawa terbahak-bahak dan kemudian melanjutkan menulis lagi. Secara keseluruhan berbunyi .
"Tapi Tiong Yang mendirikan Coan Cin, Dongak kelangit, melebarkan langkah, Dengan sikap seorang gagah perkasa, Menunggu waktu ia ingin berkuasa, 321 Sesudah keliling dunia, baru insyaf melakukan kekeliruan, Menyembunyikan diri dalam suatu kuburan, Menurut kata orang, disini ia mendapat ilmu, Dan disini juga dua dewa saling bertemu, Sekarang dibawahnya gunung Ciang Lam San, Berdiri klenteng indah dengan atas menjulang keawan…."
Begitulah syair yang ditulis oleh Oey Yok Su, untuk melanjutkan syair yang ditulis oleh Lim Tiauw Eng.
Selama Oey Yok Su Menulis dengan asyiknya mempergunakan telunjuk tangan kanannya diatas batu itu, dan dsaat bubuk-bubuk batu iru meluruk, Ong Tiong Yang tengah diliputi keheranan dan kebingungan yang sangat.
Ong Tiong Yang benar-benar tidak mengerti, kepandaian Oey Yok Su satu tingkat dibawah kepandaiannya, tapi mengapa Tong Shia bisa memiliki jari tangan yang demikian hebat?
Mengapa dia menulis dengan mempergunakan jari tangannya di atas batu, yang seperti diukir dan dipahat itu?
Itulah teka-teki yang membuat Ong Tiong Yang merasakan kepalanya sakit namun tidak berhasil memecahkannya.
Ong Tiong Yang telah memutar otaknya, tapi tidak bisa pecahkan teka-teki itu, dalam jengkelnya secara tidak sengaja dia telah menggerakkan tangannya, dia telah menonjok batu itu dengan satu jarinya dan …… benar-benar mengherankan sekali, batu tersebut dapat ditembusi oleh jari tangannya sampai meninggalkan lobang yang dalam sekali!
322 Diwaktu itulah Ong Tiong Yang memperoleh keterangan dari Oey Yok Su.
Waktu pertama kali Oey Yok Su mendengar prihal Lim Tiauw Eng menulis syair diatas batu dengan hanya mempergunakan jari tangannya, segera juga Oey yok Su menduga bahwa Lim Tiauw Eng mempergunakan Hoa Sek Tan yaitu semacam obat yang dapat melunakkan segala macam batu untuk lamanya sepasangan hio.
Oey Yok Su memang memiliki kepintaran yang luar biasa dari keajaiban tersebut.
Apalagi Tog Shia juga mendengar dari cerita Ong Tiong Yang, sebelum mulai menulis, Lim Tiauw Eng telah mengusap-usap terlebih dahulu batu itu dengan mempergunakan telapak tangan kirinya.
Dugaannya semakin kuat bahwa Lim Tiauw Eng mempergunakan Obat Bubuk Hoa Sek Tan.
Itulah sebabnya menduga Oey Yok Su telah menjanjikan pada Ong Tiong Yang sebulan lagi baru akan datang mengunjungi Ciong Lam San, dimana dia tidak melakukan perjalanan bersama Ong Tiong Yang kembali ke Ciong Lam San, sebab dia ingin membeli obat-obatan guna membuat Hoa Sek Tan itu.
Setelah memperoleh keterangan dari Oey Yok Su, teka-teki yang selama ini mengganggu pikiran Ong Tiong Yang telah dapat dipecahkan.
Dan dia tidak menyesal!
Bahwa dirinya telah diperdaya oleh Lim Tiauw Eng, sehingga harus menyerahkan kuburan Mayat Hidupnya pada Lim Tiauw Eng, bahkan harus menuntuk kehidupan sebagai seorang Tosu.
323 Memang untuk pertama kali ketika Ong Tiong Yang menjalankan kehidupan sebagai seorang Tosu, dia tidak betah dan merasa tersiksa sekali.
Namun hari demi hari dia banyyak membaca kitab dan memperoleh kesadaran, segera juga Ong Tiong Yang mengetahui bahwa segala apa adalah takdir dan dia telah dapat melihat segala kekosongan dunia.
Dia terus memperdalam ilmu dan memperluas ajaran agama To, sehingga Coan Cin Kauw merupakan pintu perguruan yang sangat besar dan dihormati oleh seluruh orang-orang kangouw, terutama sekali cikal-bakalnya merupakan orang yang memiliki ilmu silat paling tinggi dan nomor satu dikolong langit ini, Tiog Yang Cinjin…..
bahkan kepopuleran dan kehebatan Tiong Yang Cinjin itu tidak akalah jika dibandingkan dengan kehebatan-kehebatan Tat Mo Cauwsu yang dikenal oleh orang-orang kangouw sebagai pencipta kitab Kiu Im Cin Keng dan Kiu Yang Cin Keng tersebut….!
Setelah berpisah denga Oey Yok Su, Ong Tiong Yang lebih banyak mempergunakan waktunya untuk memperdalam pelajaran agamanya dan semuanya diselami arti dan maksudnya secara lebih mendalam.
Tentu saja, kepandaian silatnya tak ditelantarkan, terlebih lagi Coan Cin Kau pun telah menerima murid-murid yang banyak jumlahnya, yang semuanya menjadi tosu.
Manusia dikolong langit ini memang tolol, Ada yang gemar bersekolah, Untuk memangku pangkat, Ada yang menggemati emas dan batu kumala, Untuk menjadi budak kemewahan, Ada yang tergila-gila paras elok, Untuk merasakan adanya sorga buatan, 324 Ada yang gemar belajar silat, untuk menjadi jago nomor stu di kolong langit.
Tapi benarkah semua itu?
Kosong dan nihil….
Itulah dunia.
Tui Lian yang ditulis dengan tinta emas itu tergantung besar dan indah di ruang pertama kuil Tiong Yang Kiong.
Begitu besar ukuran tulisan tersebut, juga warnanya yang demikian menyolok, sehingga setiap orang yang mengunjungi kuil tersebut, tentu akan dapat melihatnya.
Dan melangkah yang pertama dilihat adalah Tui Lian tersebut.
Pada pagi itu, waktu kabut dan embun belum lagi tersapu bersih hangatnya sinar matahari, tampak seorang wanita berusia dua puluh tahun lebih tengah berdiri mematung di ruang pertama kuil Tiong Yang Kiong, dengan muka yang pucat, mata yang merah dan digenangi oleh air mata yang turun membasahi pipinya.
Bagaikan wanita itu kehilangan arwahnya, bibirnya yang kecil mungil bentuknya itu, bergetar menggumam perlahan, mengulangi kalimat terakhir Tui Lian itu.
"Tapi benarkah semua itu? kosong dan nihil…. Itulah dunia. Itulah dunia. Ya itulah dunia ….!"
Dan wanita itu yang parasnya cantik luar biasa, walaupun pakaian yang dikenakannya itu terbuat dari bahan cita yang kasar, tokh tidak mengurangi kecantikan paras mukanya.
Sikapnya yang tengan berdiri mematung itupun memancarkan sikap yang agung dari seorang wanita yang tentunya telah hidup dalam lingkungan bangsawan.
Lama wanita cantik itu mengawasi Tuilian itu, mukanya yang pucat pias itu menunjukkan bahwa dirinya terpendam kedukaan yang mendalam.
325 Dan setelah menghela nafas dalam-dalam, dia menggumam lagi dengan suara yang perlahan dan bibir yang gemetar.
"Tapi kenihilan yang ada jika memang diberi, tentu tidak akan nihil, dan jika kekosongan yang ada itu ingin diisi, tentu tidak pula kosong ….. Tapi, cinta itu telah sirna, sepotong hati telah terombang-ambing, dan kasih sayang telah terbawa hanyut dengan perginya sikecil jantung hati…."
Wanita itu menghela nafas lagi, dia telah menyusut air matanya.
Dan kemudian dia melangkah perlahan-lahan, mendekati pendopo kuil Tiong Yang Kiong, dia menghampiri meja sembahyang untuk bersembahyang.
Tadi pada "
Biokong‟ (penjaga kuil) waktu wanita cantik ini tidak memasuki kuil, dia menyatakan maksud kedatangannya ingin memasang hio untuk sembahyang.
Tapi didasar hatinya, sesungguhnya dia mengandung maksud lain.
Dia ingin menemui seseorang di kuil Tiong Yang Kiong, namun dia tidak berhasil mulutnya menanyakan orang yang tengah dicarinya itu pada biokong tersebut.
Wanita cantik yang muda usia tersebut, yang wajahnya pucat seperti orang telah ditinggal arwahnya, dengan langkah yang agak terhuyung telah tiba didepan meja sembahyang, sia menggumam perlahan, suaranya tidak jelas, hanya sekali-sekali terdengar perkataan.
"Semoga anakku bisa beristirahat selamanya dengan tenang mengampuni ibu… Ciu Toako… laksaan lie telah dilalui…. kehampaan dan kenihilan…"
Dan wanita itu kemudian telah menancapkan hio ditangannya pada hiolo.
Diapun telah merangkapkan tangannya menyoja.
Waktu itu dari ruang dalam telah keluar seorang Tosu berusia dua puluh tahun lebih.
Ketika melihat ada orang yang tengah bersembahyang, bahkan seorang wanita, dia telah 326 menghampiri, tanyanya.
"Hujin, apakah ada sesuatu yang bisa pinto bantu?"
Wanita yang keadannya seperti yang tengan tertimpa kesulitan dan kedukaan yang hebat itu telah mengangkat kepalanya, mengawasi tosu muda tersebut, dia menghela nafas dan menyusut air matanya.
"Terima kasih Totiang …. memang ada kesulitan yang tengan dialami olehku …. dapatkah totiang mempertemukan aku dengan seseorang?!"
"Siapakah orang yang ingin Hujin temui?"
Tanya Tosu muda itu.
"Jika memang dapat pinto bantu, tentu pinto akan berusaha menyampaikan keinginan Hujin pada orang yang bersangkutan!"
Wanita muda yang paras mukanya cantik luar biasa itu telah menunduk, tampaknya dia bimbang, diapun menggumam perlahan.
"Tapi apakah dia mau bertemu denganku? Apakah dia bersedia menerima kedatanganku? Apakah dia mau mendengar ceritaku prihal anaknya….?!"
Tosu muda itu menjadi heran melihat sikap tamunya ini, segera tanyanya.
"Dapatkah Hujin memberitahukan siapakah orang yang ingin Hujit temui itu?"
Wanita itu telah menghela nafas.
"Kukira sulit untuk bertemu dengan orang itu…. belum tentu dia mau menemui aku!"
Jawab wanita tersebut.
"Siapakah Hujin dan apakah orang yang Hujin cari itu berada dalam kuil ini, juga salah seorang saudara seperguruanku Pipto?" 327 Wanita itu mengangkat kepalanya, mukanya pucat sekali, air matanya masih menitik, dia mengangguk beberapa kali.
"Ya, dia salah seorang penghuni kuil ini…! sudahlah, sekarang dapatkah Totiang mengusahakan agar kau bisa bertemu dengan Ong Cinjin, Tiong Yang Cinjin, Coan Cin Kauwcu kalian."
Mendengar disebutnya Tiong Yang Cinjin, maka muka itu jadi berubah, tampaknya dia kaget dan mengawasi wanita itu dengan mata menyelidik mengandung kecurigaan.
Wanita tersebut telah mengawasi Tosu muda itu sambil tersenyum pahit, lalu katanya.
"Sudahlah, memang telah kuduga, tentu Tiong Yang Cinjin juga tidak mungkin mau bertemu denganku!"
Dan wanita itu menghela nafas dalam-dalam, dengan wjah yang tetap pucat, dia hendak berlalu.
"Tunggu dulu Hujin!"
Panggil Tosu muda itu.
jika memang Hujin sungguh-sungguh memiliki urusan yang penting dengan Cauwsu kami, tentu pinto bisa saja memberitahukannya.
Soal diterima atau tidak keinginan Hujin untuk bertemu dengan Cauwsu, itu soal lain lagi, tapi yang penting Hujin harus menunggunya….!"
Wanita cantik itu berdiam sejenak, tampaknya dia bimbang, namun akhirnya mengangguk.
"Terima kasih Totiang, terima kasih!"
Katanya.
"Baiklah, aku menunggu disini!"
Tosu itu lalu berkata.
"Mari Hujin ikut dengan Pinto ke ruang tamu!"
Wanita itu mengangguk.
Dia ikut dengan Tosu menyusuri jalan berbatu krikil.
Kemudian sampai di ruang tamu kuil tersebut yang berbentuk segi delapan.
328 Setelah berpesan kepada seorang Tosu kecil, untuk menyediakan teh pada tamu wanita ini, Tosu itu telah pergi kedalam kuil untuk menyampaikan keinginan wanita ini kepad Tiong Yang Cinjin.
Lama sekali wanita itu duduk di ruang tamu menantikan munculnya Tiong Yang Cinjin, dan selama itu sikapnya tidak tenang.
Wajahnya yang pucat, dengan matanya yang merah karena menangis terlalu banyak memancarkan kedukaan yang hebat dan dalam, disamping itu mukanya yang muram bagaikan dia tengah memiliki kesulitan yang besar.
Keinginannya hanya untuk bertemu dengan Tiong Yang Cinjin, hanyalah untuk menanyakan prihalnya seseorang, walaupun dia tidak begitu yakin bahwa orang yang dicarinya itu masih berdiam di kuil Tioang Yang Kiong ini.
Tidak lama kemudian keluar seorang Tosu, tapi bukan Tiong Yang Cinjin.
Wanita itu memandang dengan sinar mata yang dingin mengandung kekecewaan.
Tosu muda itu telah merangkapkan kedua tangannya, memberi hormat dengan ramah dia bertanya.
"Siapakah Hujin, dan ada keperluan apakah Hujin ingin bertemu dengan guruku Tiong Yang Cinjin?! Silakan Hujin mengatakannya, Pinto Ma Giok tentu akan menyampaikannya. Sesungguhnya bukan guruku tidak berkenan menerima kunjungan Hujin, namun akhir-akhir ini guruku tengah mengurung diri selama sebulan di kamar semedhinya…. harap Hujin memakluminya!"
Wanita itu menghela nafas, wajahnya yang pucat tampak kian pucat, benar-benar dia kecewa, karena dia menyadari dengan berkata begitu.
Tosu muda tersebut yang bernama Ma Giok menyatakan penolakan Ciong Yang Cinjin untuk bertemu 329 dengannya.
Dia menghela nafas dalam-dalam sambil memutar tubuhnya.
Tanpa berkata sepatah katapun dia melangkah akan berlalu.
Hanya mulutnya yang menggumam perlahan.
"Kosong dan nihil…. Itulah dunia….!"
Ma Giok, Tosu muda itu, heran melihat sikap wanita itu, dia cepat memburunya sambil berkata ragu.
"Hujin… tidak ada pesan yang hendak ditinggalkan Hujin buat Guruku?!"
Wanita itu menahan langkah kakinya, dia menatap Ma Giok beberapa saat, kemudian menggelengkan kepalanya.
"Tidak….!"
Katanya.
"Tidak ada sesuatu yang berharga untuk disampaikan pada Tiong Yang Cinjin yang agung itu….!"
Muka Ma Gok jadi berubah merah.
"Hujin,"
Katanya cepat sambil merangkapkan tangannya.
"Janganlah Hujin salah penafsiran, bukannya guruku tidak berkenan menerima Hujin, tapi justru waktunyalah yang tidak bertepatan… inilah suatau kebetulan yang tidak menyenangkan!"
"Sudahlah akupun tidak ingin menyampaikan apa-apa, terima kasih atas sambutannya ini Totiang!"
Dan wanita itu telah meneruskan langkah kakinya, perlahan-lahan dan lesu sekali untuk meninggalkan ruangan tamu kuil tersebut.
Ma Giok jadi tartegun berdiri menjublak diam saja, dia mengawasi tidak mengerti kelakuan wanita itu, yang bebar-benar membingungkannya.
Tapi melangkah beberapa tindak lagi, wanita itu merandek.
Dia berdiam ragu kemudian memutar tubuhnya, dia menghampiri Ma Giok lagi sambil katanya.
"Ada yang hendak 330 kutanyakan mengenai seseorang, entah Totiang hendak menjawab dan memberitahukannya atau tidak?!"
"Silakan!, silakan!"
Menyahuti Ma Giok.
"Jika Pinto memang mengetahui, tentu Pinto akan memberitahukan!"
Wanita itu ragu-ragu, namun akhirnya dia berkata.
"Apakah di kuil ini masih berdiam seseorang yang bernama Ciu Pek Thong, yang biasa dipanggil dengan sebutan Loo Boan Tong…?"
"Itulah Ciu Susiok kami!"
Berseru Ma Giok tambah heran.
"Totiang belum lagi menjawab pertanyaanku….!"
Kata wanita itu.
Ma Giok kembali merangkapkan kedua tangan-nya, dia tahu bahwa tadi dia keliru, karena disebabkan perasaan heran dan tidak mengerti oleh sikap wanita ini, dia sampai melakukan hal yang tidak semestinya.
"Maaf, maaf, maaf! Memang Pinto khilaf..! Benar, Ciu Pek Thong Susiok memang masih berdiam di kuil Tiaong Yang Kiong ini…. apakah Hujin kenal dengan Ciu Susiok?!"
Muka wanita itu sekejap berseri, wajahnya yang pucat itu sejenak memerah, tampak sinar kegembiraan. Tapi kemudian kegembiraan itu lenyap dan wajahnya pucat kembali.
"Ya, ya, memang kami saling kenal….!"
Sahutnya perlahan sekali, seperti juga dia berkata-kata untuk dirinya sendiri. Sudahlah, aku permisi saja!"
"Jika memang Hujin kenal dengan Ciu Susiok, biarlah aku panggilkan Susiok untuk menemui Hujin ….!"
Kata Ma Giok cepat, dia merasa kasihan melihat keadaan tamunya yang seperti itu, maka pikir Tosu muda ini.
"Jika tokh wanita muda 331 ini memang kenal dengan Susiok Ciu Pek Thong, apa salahnya jika dia memanggil Ciu Pek Thong agar menemui tamu yang seorang ini?"
Wanita ini merandek lagi, wajahnya memperlihat-kan kebimbangan yang sangat. Namun akhirnya dia mengangguk, malah terlihat ketegangan menguasai dirinya.
"Terima kasih Totiang…. Kau sangat baik sekali!. kata wanita itu. Ma Giok sekali lagi merangkapkan tangannya, menjura sambil bertanya.
"Maafkanlah kelancangan Pinto, jika boleh Pinto mengetahui, dapatkah Hujin memberitahukan she nama Hujin yang mulia, agar Pinto tidak menemui kesulitan dalam melaporkan hal ini pada Ciu Susiok!"
Wanita itu tambah bimbang, dia mengangkat kepalanya memandang ke langit-langit ruangan itu, mulutnya gemetar ketika menggumam.
"Katakan saja ada seorang sahabat lama dari tempat yang jauh ingin bertemu dengannya… kuatir jika memang diberitahu-kan she dan namaku tentu Loo Boan Tong tidak ingin bertemu denganku!"
Ma Giok mengangguk, waktu itu dengan melihat keadaan dan sikap wanita tersebut, segera dia menyadari tentu terdapat sesuatu yang sulit pada diri wanita ini, dia tidak mau bertanya melit-melit dan rewel.
"Baiklah, harap Hujin menanti sejenak…! katanya.
"Pinto akan segera mengundang keluar Ciu Susiok!"
"Terima kasih Totiang, terima kasih….!"
Meng-angguk wanita itu.
332 Ma Giok telah meninggalkan wanita tersebut, kembali masuk kedalam kuil untuk mencari Ciu Pek Thong.
Wanita itu menantikan dengan sikap tidak tenang, tampak wajahnya memancarkan kebimbang-an yang sangat, disamping itu matanya tidak henti-hentinya melirik ke arah pintu yang menghubungkan ruang dalam kuil dengan ruang tamu tersebut, dn wajahnya memang semakin pucat, sebentar-sebentar dia menghela nafas.
Tidak lama kemudian terdengar suara langkah kaki.
Wanita itu yang tidak tenang dan tidak sabar telah melompat berdiri memandang ke arah pintu yang menghubungkan dengan ruangan dalam kuil tersebut segera sikap ogah-ogahan seorang yang meiliki tubuh jangkung, dengan mulut yang tengah mengoceh tidak hentinya.
"Kau bilang ada seorang kawan yang ingin bertemu denganku, tentunya hari ini aku akan puas bermain-main karena kawanku itu tentu akan menemaniku bermain-main…. sehingga hari ini kau dan adik-adik seperguruanmu yang lain, boleh bebas tidak menemani aku bermain….! Wanita itu memperlihatkan paras yang tegang, dia telah mengenali bahwa lelaki yang dibelakang Ma Giok yang tengah mengoceh terus menerus tidak lain dari Loo Boan Tong yaitu Ciu Pek Thong. Ciu Pek Thong sendiri ketika melangkahkan kaki masuk ke ruang tamu, menganggkat kepalanya. Mulutnya yang tengan mengoceh itu jadi terbuka lebar-lebar, namun tidak keluar suaranya lagi, diam membisu dan berdiri mematung. Lama Ciu Pek Thong dengan sikapnya seperti itu, langkah kakinya juga terhenti, dia berdiri bagaikan patung, membuat 333 Ma Giok melihat dengan heran memandang Ciu Pek Thog dan wanita yang menjadi tamu kuil ini dengan bergantian.
"Ciu Toako..!"
Memanggil wanita cantik itu dengan suara yang bergetar dan mukanya kian pucat, matanya telah mengembang air mata.
"Kau…kau Eng?!"
Tiba-tiba Ciu Pek Thong berseru dengan suara yang nyaring, gugup sekali… "Tidak!... tidak, jangan kau mencariku lagi…tidak! jangan kau mendesakku terus melakukan perbuatan dosa….!"
Dan setelah berkata begitu, Ciu Pek Thong memutar tubuhnya, berlari masuk kedalam kuil lagi seperti diburu oleh setan saja.
Wanita itu berdiri dengan wajah yang puct, lesu sekali, sinar matanya luar biasa sekali, seperti juga dia telah ditinggal arwahnya.
Ma Giok juga berdiri tertegun beberapa saat lamanya, karena dia heran dan kaget melihat sikap Ciu Pek Thong seperti itu.
Setelah tersadar, dia cepat-cepat menghampiri wanita itu yang dipanggil oleh Ciu Pek Thong sebagai si Eng.
Dia merangkapkan kedua tangannya memberi hormat, katanya dengan perasaan tidak enak.
"Maafkan….maafkanlah Hujin…. memang watak Ciu Susiok agak berandalan, sehingga dia tidk menyambutmu dengan selayaknya….!"
Wanita itu yang dipanggil si Eng telah menyusut matanya, kemusian tertawa pahit, mengandung kedukaan, kekecewaan dan putus asa, katanya.
"Sudahlah, memang telah kuduga, dia tentu tidak ingin bertemu denganku! Seperti juga halnya dengan Ciong Yang Cinjin yang tidak mau menemui aku!"
Dan 334 setelah berkata begitu, wanita itu si Eng, telah melangkahkan kakinya, dia juga menggumam dengan suara yang bergetar.
"Manusia di kolong langit ini memang sangat tolol, ada yang menggemari uang emas dan batu kumala, untuk menjadi budak kemewahan, ada yang tergila-gila paras elok untuk merasakan adanya sorga buatan….itulah dunia….!"
Ma Giok memandang hea, benar-benar peristiwa hari ini membuat dia tidak mengerti.
Sikap wanita itu,yang keadaannya begitu menyedihkan seperti menyimpan kedukaan dan kesengsaraan yang mendalam dan juga wataknya yang aneh, yang kata-katanya membingungkan.
Lalu juga sikap dari Ciu Pek Thong tadi yang telah lari meninggalkan tamunya ini, seperti juga Ciu Susioknya itu telah melihat hantu yang mengerikan, benar-benar membuat Ma Giok jadi tidak mengerti.
Maka melihat wanita itu telah melihat dengan lesu dia berdiam diri saja tidak mencegahnya.
Ketika tengan menyusuri jalan yang berbatu krikil itu, si Eng, wanita yang mukanya pucat seperti yang telah kehilangan semangat itu telah menyusuri dengan wajah tertunduk.
Sampai suatu kali dia melihat diantara batu-batu krikil itu terdapat sebutir batu yang bentuknya aneh, seperti juga bentuk kepala manusia, bulat dengan lobang-lobang yang letaknya tepat bagaikan bentuk mata, hidung dan mulut.
Wanita itu telah menunduk dan membungkukkan tubuhnya, dia mengulurkan tangannya mengambil batu tersebut, kemudian diperhatikannya.
Dan dia menghela nafas dalam-dalam, diapun menggumam.
"Ya, manusia di dunia memang tolol…. Anakku, anakkua, anakkua, engkau kini telah berada ditempatmu yang tenang dan bahagia, tidak seperti ibumu yang harus menyelesaikan beberapa urusan besar yang belum lagi bisa dirampungkan….!"
Setelah berkata begitu, tiba-tiba dia 335 menggerakkan tangannya, dia telah melontarkan batu ditangannya, dan batu itu telah meluncur dengan cepat sekali, melesat menyambar gunung-gunungan, membeletak menimbulkan suara menimbulkan suara benturan yang keras.
Batu yang disambitkan oleh wanita itu telah menerobos masuk kedalam batu gunung-gunungan dalam sekali, mungkin beberapa dim.
Ma Giok yang menyaksikan hal itu jadi tertegun, karena inilah yang tidak disangkanya.
Tenaga sambita wanita itu ternyata kuat sekali dan memiliki Iwekang yang tidak lemah.
Cepat-cepat Ma Giok memburu mendekati wanita itu, dia telah berkata dengan ragu-ragu.
"Akh, Hujin ternyata seorang yang memiliki kepandaian yang tinggi rupanya seorang Locianpwe dengan bersahabat pada Ciu Susiok, tentunya Hujinpun sebelumnya memiliki hubungan yang akrab…! Mengapa Hujin tidak mau menanti sebentar lagi, agar Pinto bisa membujuk susiok keluar untuk menemui Hujin?!"
Wanita itu mengehela nafas, dengan paras berduka dia menggeleng lemah.
"Tidak ada gunanya lagi, hatinya memang tidak padaku….! kata wanita itu.
"Hatinya memang tidak padamu?!"
Tanya Ma Giok mengulangi perkataan wanita itu dengan perasaan heran, dan sebagai seorang yang cerdas, Ma Giok juga segera dapat menduga, tentunya antara wanita ini dengan Ciu Susioknya terdapat hubungan yang istimewa.
Maka setelah berdiam sejenak, karena didorong oleh perasaan kasihan, dia bilang.
"Jika demikian, biarlah Pinto usahakan untuk memberitahukan pada guruku, agar guruku yang perintahkan Ciu Susiok keluar menyambut Hujin!" 336 Wanita itu telah melirik, dia menghela nafas.
"Kukira Tiong Yang Cinjinpun tidak mungkin bersedia keluar menemuiku….!"
Katanya.
"Tapi kita mencobanya tokh tidak ada salahnya..?!"
Kata Ma Giok.
"Maukah Hujin menanti sebentar saja, agar pinto memiliki kesempatan untuk memberitahukan guruku?!"
Wanita itu bimbang sejenak, namun dia mengangguk.
Tapi baru saja dia ingin menyahuti, dari dalam kuil itu telah melangkah seseorang dengan langkah yang sabar dan telah merangkapkan kedua tangannya.
Walaupun jarak mereka masih terisah cukup jauh dia telah menjura memberi hormat.
"Tidak kami duga bahwa kuil kami bisa memperoleh kehormatan demikian besar atas kunjungan Lauw Kuihui…. maaf, maaf, Pinto terlambat menyambut!"
Otang itu tidak lain dari Ong Tiong Yang.
Rupanya tadi waktu melihat Ciu Pek Thong terbirit-birit masuk lagi ke dalam kuil dengan pucat pias seperti telah bertemu dengan hantu, maka Ong Tiong Yang jadi heran.
Dia segera menanyakan pada Pek Thong apa yang terjadi.
Loo Boan Tong dengan nafas memburu dan muka yang pucat pias telah menceritakan prihal kedatangan Lauw Kuihui.
Ong tiong Yang terkejut, tapi sepat sekali cikal-bakalnya Coan Cin Kauw tersebut dapat menguasai diri, segera dia keluar untuk menyambut Lauw Kuihui, selirnya Toan Hongya atau Eng Kouw itu.
Muka Eng Kouw tersebut masih tetap pucat, dengan segera dia membalas hormat Ong Tiong Yang.
Ma Giok tercengang ketika mendengar bahwa wanita yang keadaannya memang luar biasa ini adalah seorang Kuihui, 337 seorang selir dari seorang kaisar!
Dia sampai memandang dengan menjublek saja.
Tapi yang membuat Ma Giok jadi heran, mengapa wanita agung tersebut hanya mengenakan pakaian yang terbuata dari cita biasa, dan bisa kenal dengan Susiok maupun Suhunya?
Yang lebih mengherankan, selir itupun memiliki tenaga Iwekang yang cukup kuat, dimana batu yang disambitkannya bisa amblas begitu dalam.
Eng Kouw telah menghampiri Ong Tiong Yang, sambil katanya.
"Yang hina Eng Kouw datang meng-hadap Tiong Yang Cinjin, semoga Tiong Yang Cinjin tidak menghinanya…!"
"Mana berani, mana berani!"
Kata Ong Tiong Yang cepat sambil tersenyum ramah.
"Silakan masuk, mari silakan Kuihui mengambil tempat untuk kita bercakap-cakap. Tentu dengan kedatangan Kuihui dari tempat yang begitu jauh, membawa berita yang penting sekali…!"
Lauw Kuihui, atau sekarang telah membuang pangkat keselirannya itu, dan hanya menggunakan nama Eng Kouw sejak dia meninggalkan istananya Toan Hongya telah mengangguk.
Dia melangkah ke ruang tamu lagi, duduk ditempatnya semula.
Sedangkan Tiong Yang telah perintahkan Ma Giok agar memanggil Ciu Pek Thong.
Lama Ma Giok pergi kedalam ruangan belakang kuil, dia tidak muncul-muncul lagi.
Sedangkan Ong Tiong yang telah menanyakan sesehatan Toan Hongya dan selir tersebut.
Wajah Eng Kouw berubah muram, dia berkata dengan suara berduka.
"Sekarang aku sudah tidak memiliki hubungan dan sangkut pautnya dengan Toan Hongya.. apakah Toan 338 Hongya dalam keadaan sehat atau sedang sakit parah, itupun tidak kuketahui…!"
"Ohhh, jadi Kuihui telah meninggalkan istana?!"
Tanya Ong Tiong Yang terkejut.
"Ya!"
Mengangguk Eng Kouw.
"Dan selanjutnya harap Cinjin tidak memanggilku dengan sebutan Kuihui lagi, cukup dengan memanggilku dengan sebutan Eng Kouw saja!"
Ong Tiong Yang menghela nafas.
"Ya, segalanya memang telah terlanjur terjadi, dan walaupun kita sesali, semua itu tokh segalanya telah terjadi….!"
Kata Coan Cin Kauw tersebut.
Eng Kouw tidak menyahuti, dia menunduk dan menangis terisak-isak.
Ong Tiong Yang hanya menghela nafas, dia membiarkan Eng Kouw menangis sampai puas.
Setelah Eng Kouw mereda tangisnya, baru ia berkata.
"Apakah sekarang Hujin tidak berdiam di Istana Toan Hongya lagi?"
"Untuk selama-lamanya…!"
Menyahuti Eng Kouw.
"Dan Toan Hongya telah begitu kejam tidak menolong jiwa anakku, sebingga anakku itu meninggal dengan keadaan yang mengenaskan sekali!"
"Jadi Hujin telah memperoleh seorang anak?!"
Tanya Ong Tiong Yang.
"Lalu apa yang terjadi dengan anak itu?"
Eng Kau lalu menceritakan, anaknya dihajar begitu mengenaskan sekali, sehingga tulang-tulangnya patah dan menderita sekali.
Orang yang menurunkan tangan dan bengis itu tidak diketahui adanya.
Dengan demikian dia telah meminta 339 pertolongan Toan Hongya, namun Hongya itu tidak bersedia memberikan pertolongannya, sampai anak itupun kini sudah tiada lagi, telah meninggal.
Ong Tiong Yang mengerutkan sepasang alisnya, tidak dapat dia mempercayai sepenuhnya cerita Eng Kouw, karena bagaimanapun dia mengenal sifat-sifat Toan Hongya.
Walaupun Ong Tiong Yang telah menjadi Tosu, mugkin untuk kesalehan dan keagungan jiwa dan juga kemuliaan dari hati seorang manusia, dia belum dapat menandingi kemuliaan hati Toan Hongya.
Maka agak aneh bagi pendengarannya jika mendengar cerita Eng Kouw seperti itu.
"Inilah bukan main anehnya….!"
Menggumam Ong Tiong Yang dengan suara ragu-ragu.
"Apakah Toan Hongya tidak mau menolong jiwa anaknya sendiri, lebih baik dia mengawasi saja anak itu yang terluka sampai menemui kebinasaannya?!"
Eng Kouw jadi menangis lagi.
"Anak itu….anak itu ….!"
Katanya sesambatan dan tidak bisa meneruskan perkataannya.
"Anak itu kenapa Hujin?"
Tanya Ong Tiong Yang.
"Anak itu bukan anaknya Toan Hongya.."
Menyahut Eng Kouw akhirnya.
"Bukan puteranya Toan Hongya? Jadi anak siapa? Bukankah Hujin tadi mengatakan bahwa anak itu adalah anakmu?!"
"Ya, memang anak itu anakku, tapi bukan diperoleh dari Toan Hongya…! Menyahut Eng Kouw. Muka Ong Tiong Yang berubah jadi merah. Segera dia teringat sesuatu dan hatinya jadi tidak tenang.
"Apakah…apakah anak itu diperoleh dari hubungan Hujin dengan….dengan Ciu Sute?!"
Tanya Ong Tiong Yang tidak lampias. Eng Kouw mengangkat kepalanya mengawasi Ong Tiong Yang sejenak, menyusut air matanya kemudian mengangguk.
"Ya …. anak itu adalah puteranya Ciu Pek Thong."
Menjelaskan Eng Kouw.
"Oohh….!"
Ong Tiong Yang mengeluh dalam-dalam, mukanya juga jadi berobah pucat.
Ciu Pek Thong memang berandalan dan selalu membuat keonaran dimana-mana.
Sebagi adik seperguruannya, memang Ong Tiong Yang mengenal betul watak Ciu Pek Thong.
Itulah sebabnya, walaupun Ciu Pek Thong telah menimbulkan keonaran yang hebat di Istananya Toan Hongya, namun sekembalinya ke kuil Tiong Yang King, tokh Ong Tiong Yang tidak menjatuhkan hukuman keras pada sutenya itu dan hanya menghukum melarang Ciu Pek Thong keluar dari kamarnya dan duduk bersila menghadap tembok selama satu tahun saja… itupun agar Pek Thong bisa mengurangi keberandalannya dan sifatnya yang gemar bergerak seperti kanak-kanak.
Memang sebelum Pek Thong menjadi sutenya Ong Tiong Yang dan sebelum Ong Tiong Yang menuntut penghidupan sebagai Tosu, mereka berdua, Ciu Pek Thong dan Ong Tiong Yang memang telah berhubungan rapat dan akrab sekali.
Dan juga Ciu Pek Thong banyak sekali membantu Ong Tiong Yang dlam menggerakkan tentara rakyatnya.
Begitulah mereka merupakan sahabat yang intim sekali, sampai akhirnya Ciu Pek Thong menjadi adik seperguruan Ong Tiong Yang.
Dengan demikian Ong Tiong Yang memperlakukan adik 341 seperguruannya dengan baik dan telah mengenal betul akan tabiat dan watak adik seperguruannya itu.
Namun sekarang, ekor dari keonaran yang ditimbulkan Ciu Pek Thong di istana Toan Hongya, justru menghasilkan seorang anak, walaupun kenyataan yang ada Eng Kouw menjelaskan anak itu telah meninggal karena disebabkan lukanya yang hebat dan berat dilukai oleh seseorang yang belum lagi diketahui siapa.
Setelah berdiam diri dengan muka yang berobah-robah tidak hentinya, akhirnya Ong Tiong Yang menghela nafas dalam-dalam, dia berkata pada Eng Kouw dengan suara yang sabar.
"Apakah kedatangan Hujin kemari, dengan melakukan perjalanan yang jauh dari Tayli ke Tionggoan ini memang sengaja hendak bertemu dengan Ciu Sute?"
Eng Kau berdiam diri, tidak segera menyahut, akhirnya dengan wajah penuh kedukaan, dia menyahut juga.
"Jika memang tokh aku ingin menemnuinya, belum tentu Ciu Pek Thong mau bertemu denganku… karena memang hatinya tidak berada padaku."
Ong Tiong Yang merangkapkan kedua tangannya, dia menjura dan katanya.
"Karena disebabkan keberandalan Suteku itu, maka hujin telah menderita dan menerima kesengsaraan seperti ini!"
"Itulah bukan kesalahan dan dosanya Pek Thong….!"
Membela Eng Kouw. Ong Tiong Yang tersenyum.
"Lalu siapakah yang dianggap bersalah dalam urusan ini?!"
Tanyanya. 342 Eng Kouw berdiam diri sejenak, baru kemudian menyahut.
"Yang bersalah adalah Toan Tie Hin!"
"A..apa?!"
Tanya Ong Tiong Yang terkejut.
"Ya, yang bersalah adalah Toan Tie hin."
"Toan Hongya?!"
Tanya Ong Tiong Yang seperti tidak mempercayai pendengarannya. Eng Kouw mengangguk.
"Ya,…. dialah yang bersalah! Jikahari itu dia tidak memaksa untuk menikahiku, berarti kami belum berpisah, dan jika memang Ciu Toako masih berada disisiku dan mengetahui aku telah hamil, memandang pada benihku yang berada diperutku, pada calon bayinya, tentu dia tidak rela untuk meninggalkanku dan tentu dia akan selamanya berad disisiku….! Dan dengan kepergiannya Ciu Toako, akhirnya anak itu dilukai oleh seseorang yang tidak diketahui siapa, karena anak itu jauh dari ayahnya, sehingga orang berani menghinanya begitu rupa! Hemm, jika memang wktu itu, Ciu Toako juga berada disisiku, tentunya dengan mempergunakan Iwekangnya yang telah sempurna, dia pasti bisa diselamatkan! Hemm..hemm dengan melihat semua itu, apakah dos dan kesalahan itu tidak bisa diserahkan pada Toan Tie Hin? Terlebih lagi dikala anak itu tengah menghadapi kematian, dimana seharusnya Toan Tie hin bisa menolong jiwa anak itu, menyelamatkan dari kematian, namun kenyataannya dia berpeluk tangan, menolak untuk menyembuhka luka itu. dia tidak mau memandang padaku yang pernah merawatnya sekian tahun. Diapun tidak memberi muka pada Ciu Toako yang sesungguhnya merupakan sahabatnya…. bukankah nasib anak itu sangat malang? Bukankah Toan Tie Hin berdosa besar sekali?!" 343 Waktu berkata sampai diakhir perkataannya itu, nada suara Eng Kouw makin meninggi dan keras, karena tampaknya dia diliputi oeh perasaan amarah, penasaran, benci dan dendam yang bercampur menjadi satu. Ong Tiong Yang berdiam diri sejenak dengan perasaan bingung. Memang persoalan yang terjadi di Istananya Toan Hongya di Tayli merupakan urusan yang memalukan, dan seharusnya yang bersalah adalah Eng Kouw dan Ciu Pek Thong yang telah mengadakan hubungan gelap diluar tahunya Toan Hongya. Itupun masih bagus Toan Hongya tidak menjatuh-kan hukuman pada Ciu Pek thong maupung Eng Kouw, disamping itu Toan Hongya tidak mengambil tindakan lainnya, yang bisa meruntuhkan nama Ciu Pek thong. Tapi sekarang, Eng Kouw hendak menibakan seluruh keagiban yang ada di istana Toan Hongya itu pada raja tersebut, dan juga mempersalahkan Toan Hongya yang tidak mau menolong jiwa anaknya, anak yang diperoleh dari Ciu Pek Thong. Memang sebagai orang gagah yang mempunyai jiwa yang gagah dan terbuka, tentu saja Toan Hongya harus menolong mahlik kecil yang tidak berdaya itu, yang membutuhkan sekali pertolongannya, tapi sebagaimana sifat manusia, yang juga dipengaruhi oleh perasaan ke‟aku‟annya jelas Toan Hongya pun memandang dari segi lainnya, yaitu anak itu adalah anak haramnya Ciu Pek Thong, yang diperoleh atas hubungan yang gelap antara Pek Thong dengan Eng Kouw. Jika memang Toan Hongya tidak dapat menolong anak itu, apakah Toan Hongya dapat dipersalahkan untuk menanggung semua dosa itu? bukankan sumber dari keruwetan dan persoalan yang melakukan tersebut herasal dari Ciu Pek Thong dan Eng Kouw? Bukankah Toan Hongya hanya terkena getahnya saja? 344 Teringat semua itu, setelah berfikir panjang pendek, akhirnya Ong Tiong Yang menghela nafas dalam-dalam, kemudian berkata.
"Yang sudah meninggal tidak perlu terlalu disesali dan difikir…. tapi yang terpenting sekarang ini bagaimana Hujin menyelesaikan urusan Hujin dengan Ciu Sute?"
Eng Kouw menghela nafas dalam-dalam, dengan wajah duka dia berkata.
"Maksudku datang kemari ingin bertemu dengan Ciu Toako bukan hendak mendesaknya agar dia mengambilku menjadi isteri. Tapi justru aku hanya ingin menyampaikan berita kematian anaknya, anak kami itu….! Jika memang Ciu Toako tidak bersedia bertemu denganku, itupun tidak menjadi persoalan, karena sejak dari Tayli melakukan perjalanan kemari, akupun telah menduganya, bahwa Ciu Toako tentu tidak akan mau bertemu muka dan melayaniku bercakap-cakap, karena jika memang dia sayang padaku, jelas dia tidak akan meninggalkanku!"
Mendengar orang bicara tentang cinta dan sayang.
Ong Tiong Yang jadi menghela nafas.
Sesungguhnya waktu itu Ong Tiong Yang juga tengah berduka karena kematian Lim Tiauw Eng, wanita yang dicintainya.
Dan percintaan yang terjalin antara Ong Tiong Yang dengan Lim Tiauw Eng pun merupakan jalinan percintaan yang luar biasa sekali, suatu jalinan percintaan yang aneh.
**** 345
Jilid 10 KARENA dari itu, dengan demikian membuat Ong Tiong Yang teringat akan nasibnya sendiri, melihat keadaan Eng Kouw, yang tampaknya begitu sengsara hanya disebabkan cintanya.
Memang Tuilian pigura bersyair yang dipasang di ruang depan kuil itu, yang berbunyi.
"MANUSIA DI KOLONG LANGIT INI MEMANG SANGAT TOLOL…."
Telah ditulis sendiri oleh Ong Tiong Yang, hasil buah kalamnya, ditulis dalam kedukaan ketika mendengar berita kematian Lim Tiauw Eng.
Sekarang, dihadapannya terdapat seorang terombang-ambing, perjalanan cintanya yang luar biasa juga, sehingga Ong Tiong Yang mau atau tidak jadi memperbandingkan, tidakkah sama juga nasib Eng Kouw dengan Lim Tiauw Eng?
Bukankah mereka berdua merupakan dua orang wanita yang patut dikasihani nasibnya?
Karena berfikir begitu, Ong Tiong Yang menghela nafas dalam-dalam, dan Tosu ini yang menjadi Coan Cin Kauwcu, yang menjadi cikal bakalnya CoanCin Kauw, telah menggumam dengan suara bersenandung.
"Burung terbang dapat dipanah, Ikan berenang dapat dijala, Binatang lari dapat dijebak, Namun cintaku hanya siliran angin belaka….!" 346 Hati Eng Kouw jadi tergoncang mendengar senandung Ong tiong Yang, mukanya pucat pias, sepasang matanya terbuka lebar-lebar, mengawasi Ong Tiong Yang bagaikan melihat sesuatu yang tidak dimengertinya, dan tubuhnya menggigil, keadaannya waktu itu benar-benar harus dikasihani sekali. Diapun telah mengikuti senandung Ong Tiong Yang dengan bibir yang gemetar, dan yang terdengar jelasnya hanya kalimat dari akhir syair itu, yang berbunyi antara lain.
"Namun cintaku, hanya siliran angin belaka….. ya, cintaku bagaikan siliran angin belaka. Dan, benarkah itu? benarkah itu?"
Sambil menggumam begitu tidak henti-hentinya telah memandang takjub pada Ong Tiong Yang.
Ong Tiong Yang setelah bersenandung seperti itu, akhirnya bisa menguasai dirinya.
Dia tersenyum sambil merakgkapkan sepasang tangannya, katanya.
"Maaf, maaf….!"
Eng Kouw juga menghela nafas, diapun telah menjura memberi hormat para Ong Tiong Yang, dia berkata.
"Terima kasih atas petunjuk Ong Cinjin….!"
Lalu tanpa berkata lainnya lagi dan tanpa menoleh pula, Eng Kouw telah melangkah pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Ong Tiong Yang juga tidak menahannya, dia hanya mengawasi kepergian wanita itu.
Eng Kouw sendiri menyadari, memang tidak mungkin dia mengejar-ngejar cintanya Ciu Pek Thong, karena bukankah hatinya laki-laki itu tidak berada padanya, dan bukankah cintanya bagaikan siliran angin belaka?
Dengan demikian sia-sia belakalah dia hendak memperoleh cintanya Ciu Pek Thong.
Dapatkah dia untuk merangkul dan menangkap angin?
Oohh, 347 angin hanya akan menyampaikanisi hatinya pada Pek Thong.
Angin pula yang akan menyampaikan rintihan jiwa dan hatinya atas semua peristiwa yang telah dideritanya….!
Ong Tiong Yang sendiri, yang melihat kepergian Eng Kouw, sesungguhnya dia ingin sekali untuk mempertemukan wanita itu dengan Pek Thong.
Bukankah Pek Thong tidak menganut penghidupan sebagai seorang Tosu?
Bukankah Pek Thong bebas?
Karena memang sejak menjadi adik seperguruannya, Pek Thong telah memperlihatkan sikap yang berandalan dan begitu bersungguh-sungguh dan kukuh mempelajari ilmu silat, sehingga nampaknya seperti orang tolol, maka Ong Tiong Yang telah menganjurkan agar Pek Thong tidak mempelajari ilmu agama, karena agama memerlukan kesungguhan dan ketekunan, harus dengan hati yang tawar, dan bertolak belakang dengan sifat yang dimiliki oleh Pek Thong yang jauh lebih menggemari pelajaran ilmu silat.
Karenanya, berarti Pek Thong tidak sesuai untuk menjadi seorang Tosu, itulah sebabnya Ong Tiong Yang telah menganjurkan pada Ciu Pek Thong lebih mencurahkan perhatiannya menekuni pelajaran silat saja dan tidak menjadi Tosu.
Dan dengan bebas seperti Ciu Pek Thong, bukankah dia bisa saja menikah dengan Lauw Kuihui yang sekarang ini telah "dilepas dan dibebaskan‟ oleh Toan Hongya?
Bukankah Pek Thong dan Eng Kouw bisa terpadu cinta kasih mereka?.
Namun justru tadi telah perintahkan Ma Giok untuk memanggil Pek Thong.
Ma Giok memperoleh kesulitan.
Pek Thong telah mengunci diri dalam kamarnya.
Walaupun Ma Giok telah mengetuk-ngetuk pintu kamarnya puluhan kali, tokh dia tidak memperoleh jawaban, 348 dan Pek Thong tetap mengurung dirinya didalam kamarnya.
Maka Ma Giok jadi tidak berdaya untuk bertemu dengan Ciu Susioknya itu.
Akhirnya Ma Giok menyampaikan dari luar kamar bahwa Ong Cinjin memanggil Ciu Susioknya tersebut.
Tetap saja Pek Thong tidak mau membuka pintu kamarnya, bahkan Pek Thong juga tidak melayani perkataan Ma Giok sepatah katapun juga.
Perintah dari Coan Cin Kauwcu jelas tidak boleh dilalaikan, walaupun tidak memperoleh jawaban dan tidak dilayani oleh Pek Thong, namun Ma Giok tetap telah mengetuk pintu kamat Pek Thong dan berusaha untuk memanggil dan memberitahukan pada Pek Thong bahwa Coan Cin Kauwcu mereka telah perintahkan Pek Thong untuk menerima tamu.
Akhirnya, rupanya Pek Thong kewalahan juga, Ma Giok memanggil-manggilnya begitu, dan juga mengetuk-ngetuk pintu kamarnya.
Diwaktu itulah Ciu Pek Thong telah berkata.
"Anak bandel, mengapa kau menggangguku terus menerus, heh! Pergi…. aku tidak mau diganggu olehmu, akupun tidak mau menemui siapapun juga!"
Ma Giok tidak berani berlalu, dia berkata.
"Ciu Susiok, Suhu memanggil Ciu Susiok keluar untuk melayani tamu….inilah perintah dari suhu, tidak berani Titjie melalaikannya…!"
Ciu Pek Thong mendongkol sekali.
"Oh, kentut bau….ayo pergi…. Melayani tamu apa? ayo pergi jangan ganggu aku….!"
Teriak Ciu Pek Thong berulang kali.
349 Ma Giok menghela nafas berulang kali dan dia telah berdiam diri beberapa saat lagi membujuk Ciu Pek Thong.
Karena Ciu Pek Thong tetap tidak mau membuka kamarnya, malah telah memaki Ma Giok sebagai keponakan murid yang kurang ajar, membuat Ma Giok tidak berdaya dan telah meninggalkan kamar itu.
Sedangkan Ciu Pek Thong tetap mengurung diri dalam kamarnya.
Eng Kouw baginya benar-benar merupakan momok yang sangat menakutkan sekali.
Dengan demikian Pek Thong sama sekali tidak ingin bertemu dengan Eng Kouw.
Nahkan menurut pendapatnya, disebabkan Eng Kouw pula, dia telah melakukan dosa dan kesalahan besar pada Toan Hongya, karenanya jika dapat, dia tidak ingin bertemu lagi seumur hidupnya dengan Eng Kouw.
Itulah sebabnya, mengapa tadi waktu dia melihat Eng Kouw, segera juga Ciu Pek Thong telah memutar tubuhnya dan berlari meninggalkannya bagaikan dikejar setan dan meminta Ong Tiong yang untuk menemui Eng Kouw dan menjelaskan bahwa dia tidak mau keluar menemuinya….!
Itulah percintaan dari dua pasang manusia yang berbelit dengan segala keanehan.
Dan justru kebetulan .
yang mengalami terdiri dari kakak dan adik seperguruan, dimana keduanya mengalami cinta yang kandas dan penuh dengan pergolakan yang aneh, mengalami perjalanan yang berliku-liku dengan cintanya.
Dengan demikian, Ong Tiong Yang pun tidak bisa terlalu mempersalahkan Ciu Pek Thong, sama halnya seperti dia menghadapi Lim Tiauw Eng, tentunya Ciu Pek Thong pun memiliki kesulitan yang sukar dijelaskan olehnya.
**** 350 DENGAN langkah yang lesu, tampak Eng Kouw telah berjalan menuruni jalan kecil di gunung Ciong Lam San tersebut.
Mukanya muram dan dia melangkah dengan kepala tertunduk.
Diwaktu itu tampak berulang kali dia menghela nafas.
Keadaan disekelilingnya, alam yang indah, burung-burung yang berwarna-warni bulunya dan elok sekali, dengan kicau yang merdu, tidak dipedulikan oleh Eng Kauw.
Dia terus juga menyusuri jalan itu dengan hati yang tidak menentu, seperti juga semangat dan arwahnya tidak dimilikinya lagi, bagaikan badannya itu hanya merupakan badan kasar yang kosong belaka tidak berperasaan lagi.
Cahaya matahari yang cukup terik, karena sang pagi telah diganti oleh siang yang memiliki keterikan cahaya matahari yang menyengat kulit, namun Eng Kouw sama sekali tidak mempedulikannya, karena dia melangkah terus, walaupun butir-butir peluh telah membasahi pakaiannya dan sekujur tubuhnya.
Ketika tiba didepan sebuah lembah yang tidak begitu luas, dimana pohon-pohon bunga banyak bertumbuhan disitu, juga binatang-binatang gunung kecil lainnya banyak terdapat di lembah tersebut, Eng Kouw menghentikan langkahnya, dia mengawasi sekitanya.
"Ha,"
Dia menghela nafas, dan kemudian menggumam dengan suara yang perlahan.
"Sebuah tempat yang seharusnya indah dan menyenangkan jika saja dia mau menemui aku!"
Yang dimaksudkan oleh Eng Kouw dengan perkataan "dia‟ adalah Ciu Pek Thog.
Lama Eng Kouw berdiri mengawasi sekitar tempat itu, sampai akhirnya dia melangkah perlahan 351 memasuki lembah tersebut.
Dia menghampiri sebatang pohon yang rimbun daunnya dan penuh disekelilingnya dengan bermacam-macam pohon bunga.
Eng Kouw duduk menyender di batang pohon itu, dia memandang awan-wan yang betebaran di langit, tengah beriring-iringan.
Seekor burung kecil telah beterbangan didepan Eng Kouw, mengeluarkan suara cicitan yang nyaring dan merdu, seakan-akan binatang kecil itu ingin mengajak Eng Kouw untuk bermain riang bersamanya.
Eng Kouw ersenyum sedih.
"Jika saja anakku bisa hidup sampai detik ini , tentu dia sudah dapat bermain denganmu….!"
Mengumam Eng Kouw, berkata pada burung kecil itu.
Burung kecil itu seperti mengerti perkataan Eng Kouw, dia mengeluarkan suara cicitan yang panjang, lalu terbang pergi.
Kembali Eng Kouw dalam kesunyian, dan lembah yang sunyi itu tidak terlihat seorang manusiapun dan juga rumah penduduk.
Hanya Eng Kouw seorang yang duduk mematung menyender dibatang pohon itu.
Tapi dikala Eng Kouw duduk mematung seperti itu, kehilangan semangat dan dengan wajah yang pucat, dalam kesunyian itu dia seperti mendengar suara yang aneh sekali, suara "krokkk, krraakkk, krrookk"
Yang samar samar sekali berasal dari dalam lembah.
Semula Eng Kouw tidak memperhatikan suara aneh tersebut, yang dianggapnya suara dari sejenis binatang yang jadi penghuni lembah itu.
namun lewat beberapa saat, suara "krakk krookkk"
Itu masih terdengar terus dan semakin keras, disertai juga dengan suara menderu-deru, bagaikan didalam lembah itu ada angin topan yang bergulung-gulung.
Yang lebih menarik perhatian Eng Kouw diselingi suara "krakkk, 352 kroookkk, krakk, kroookkk"
Tersebut dengan suara gemuruh bagaikan ada batang pohon yang tumbang.
Sebagai seorang yang gemar ilmu silat, dimana sejak dibotong ke dalam istana Toan Hongya, Eng Kouw selalu merengek minta Toan Hongya mengajarinya jurus-jurus ilmu silat.
Juga dalam istana dia selalu berlatih diri dengan tekun dan giat, peristiwa yang hebat dan keonaran yang timbul antara dia dengan Ciu Pek Thong yang mengadakan hubungan gelap, berpangkal karena keinginan terhadap ilmu silat juga, maka waktu itu, Eng Kouw telah mendengarkan beberapa saat, mengetahui bahwa suara menderu-deru itu adalah angin pukulan dari seseorang yang tengah berlatih ilmu pukulan.
Namun yang membuat Eng Kouw tidak mengerti, mengapa tenaga pukulan tersebut demikian kuat, sampai menimbulkan angin yang menderu-deru seperti itu.
disamping itu juga memang terdengar suara yang gaduh seperti tumbangnya batang-batang pohon, dan suara "kraakk, krookkk"
Itu suara yang aneh dan Eng Kouw tidak mengetahui entah suara apakah itu.
Akhirnya Eng Kouw telah bangun berdiri dari duduknya, dia memasuki lembah itu.
Semakn dalam memasuki lembah itu, semakin jelas dia mendengar suara "kraakk, krookkk"
Itu, juga suara tumbangnya batang-batang pohon disamping suara menderu-deru dari angin pukulan.
Eng Kouw mempercepat langkah kakinya, dan ketika dia sampai di ujung jalan yang menikung, Eng Kouw berdiri tertegun disana dengan mata yang terpentang lebar-lebar, dia menyaksikan sesuatu yang luar biasa.
353 Dilihatnya di depan jalan menikung itu terdapat lapangan rumput yang tidak begitu besar, disekeliling tampak tumbuh banyak sekali pohon-pohon yang berukuran besar dan tinggi.
Tapi ditengah-tengah lapangan rumput itu berjongkok seseorang, dengan kedua tangannya sebentar-sebentar diangkat dan didorong.
Dia inilah yang selalu mengeluarkan suara "kraakk, krookkk!"
Tidak hentinya dan menderu-deru angin pukulan dar orang inilah yang didengar oleh Eng Kouw.
Karena setiap kali orang tersebut menggerakkan kedua tangannya yang didorong kedepan, maka dari kedua belah telapak tangannya itu telah meluncur keluar serangkum angin yang menderu-deru dahsyat sekali.
Dan setiap kali menggerakkan sepasang tangannya itu, selalu pula orang itu menghantam salah satu batang pohon disekatnya, maka batang pohon itu terhatam tumbang.
Dan suara gemuruh yang didengar Eng Kouw adalah suara gemuruh tumbangnya batang-batang pohon tersebut.
Untuk sesaat lamanya Eng Kouw berdiri mematung mengawasi takjub.
Hatinyapun berpikir.
"Jika saja aku bisa memiliki kepandaian sehebat dia, tentu dengan mudah aku bisa membalas sakit hati membinasakan Toan Tie Hin….ah, ah, kapankah aku bisa memiliki kepandaian yang setinggi itu….!"
Dan Eng Kouw memang sangat kagum sekali dengan kepandaian orang yang sedang berlatih diri dengan berjongkok seperti sikap seekor kodok itu.
Waktu itu orang yang tengah berada dilapangan rumput dan tengah berlatih ilmu pukulannya yang aneh itu, telah menyelesaikan latihannya, dia melompat berdiri sambil tertawa.
"Oh, oh, hiranya ada tamu!"
Serunya sengan suara yang nyaring.
"Siapakah nyonya? Ada keperluan apakah menonton latihanku? Tentunya bukan ingin mencuri lihat ilmu Ha Mo Kongku bukan?"
Eng Kouw melihat laki-laki ini berusia sekitar tigapuluh tahun lebih, mungkun hampir empat puluh tahun, namun tubuhnya tinggi besar dan tegap sekali.
Eng Kouw yang waktu itu sebetulnya tidak memiliki selara untuk menghadapi hidupnya lebih jauh karena disebabkan kecewa, kali ini melihat pukulan yang luar biasa dari orang itu, jadi terbangun semangatnya.
"Tayhiap….maafkan kelancangan Siauwmoay…. sesungguhnya ….sesungguhnya ….!"
"Sesungghnya kenapa?"
Tanya laki-laki itu ketika melihat Eng Kouw bicara tidak lancar.
"Sesungguhnya Siauwmoay sangat kagum sekali melihat kehebatan ilmu pukulan Tayhiap…. Bolehkah siauwmoay mengetahui siapa adanya Tayhiap yang mulia….?"
Laki-laki itu tertaw, dia menyahut.
"Aku she Auwyang yang bernama tunggal Hong, dan orang-orang memberikan gelaran yang menarik sekali padaku yaitu See Tok….!"
"Akhhh,"
Berseru Eng Kouw dengan suara tersendat girang sekali.
"Kiranya salah seorang dari kelima Jago Luar Biasa itu! tentunya Auwyang Tayhiap yang terkenal sekali itu, yang kepandaiannya berimbang dengan Tong Shia, Pak Kay dan Lam Te?"
Auwyang Hong tertawa dingin. 355
"Apa itu Tong Shia, Pak Kay dan Lam Te? Hu, hu, jika memang dalam pertemuan kedua kali di Hoa San kelak, sekali hantam saja aku akan merubuhkan mereka….bukankah tadi engkau telah melihat betapa hebatnya Ha Mo Kongku?"
Eng Kouw girang bukan main.
Dia mengetahui bahw Auwyang Hong memang merupakan salah satu dari keempat tokoh besar yang terdapat di daratan Tionggoan, kepandaiannya malah berimbang dengan Toan Hongya, kemungkinan besar juga, Toan Hongya tidak bisa menghadapinya.
Maka jika memang dia bisa mengangkat Auwyang Hong menjadi gurunya, bukankah kesempatan untuk membalas sakit hatinya kelak kepada Toan Tie Hin, Toan Hongya itu, akan jauh lebih mudah?
Karena berfikir begitu, segera juga Eng Kouw menekuk kedua kakinya, dia telah berlutut dihadapan Auwyang Hong, sambil menangis terisak-isak.
Auwyang Hong heran dan kaget, cepat-cepat dia melompat kesamping, menyingkir tidak mau menerima penghormatan dari Eng Kouw, dia bertanya dengan suara ragu-ragu.
"Apa maksudmu dengan memberi penghormatan besar seperti itu?!"
"Jika memang Auwyang Tayhiap mau menaruh belas kasihan padaku yang hina dina ini, maukah Tayhiap menerima aku menjadi murid Tayhiap…..?"
Kata Eng Kouw sambil menyeka air matanya. Auwyang Hong tertegun, dia mengawasi Eng Kouw yang masih berlutut tersebut.
"Siapakah engkau sebenarnya dan apa maksudmu ingin mengangkat aku menjadi gurumu?"
Tanya Auwyang Hong kemudian. 356 Eng Kouw bimbang sejenak, namun dalam keadaan masih berlutut seperti itu dia telah menyahut.
"Sesungguhnya aku yang hina dina ini she Eng dan bernama Kouw….aku telah diperhinakan oleh seseorang, aku menaruh dendam dan sakit hati pada seseorang dan sakit hati yang sedalam lautan itu akan kubalas walaupun dengan mempergunakan jalan apa saja….! Tapi orang yang menjadi musuhku itu memiliki kepandaian yang tinggi sekali, karenanya aku harus mencari guru yang pandai dan benar-benar memiliki ilmu yang tangguh! Karena dari itu, mengetahui Tayhiap adalah salah satu dari keempat Tokoh Besar yang terdapat didaratan Tionggoan, dengan demikian aku ingin memohon pada Tayhiap agar mau menerimaku menjadi muridmu….!"
Auwyang Hong tidak segara menyahut, dia telah mengawasi Eng Kouw beberapa saat lamanya, dan kemudian telah berkata dengan suara yang tawar.
"Jika memang engkau memiliki seorang musuh, mudah saja engkau membalas sakit hatimu, biarlah nanti kau ajak aku pergi bersama menemui musuhmu itu, karena sekali hantam aku akan membinasakan musuhmu itu, sehingga sakit hatimu terbalas….!"
Tapi Eng Kouw menggelengkan kepalanya.
"Itulah tidak dapat kulakukan!"
Kata Eng Kouw.
"Karena aku telah bersumpah, aku hendak membinasakannya dengan mempergunakan tanganku sendiri, musuhku itu harus binasa ditanganku…. barulah sakit hati dan dendamku terlampiaskan!"
"Hemm, Auwyang Hong mendengus.
"Mengapa harus rewel dengan segala syarat kosong seperti itu?"
Eng Kouw berdiam diri saja, dengan kepala tertunduk dia menangis terus.
357 Dia kuatir kalau-kalau Auwyang Hong menolak permohonannya untuk menjadi murid See Tok ini, sedangkan See Tok sendiri telah mengawsi Eng Kouw, dilihatnya wanita ini menunduk menangis berdiam diri saja.
Dia melihat Eng Kouw sangat cantik, bahkan padanya nampak keagungan seorang wanita bangsawan.
Lalu sakit hati apa dan peristiwa hebat apakah yang dialaminya sehingga dia bertekad hendak berguru padanya.
"Siapa musuhmu itu, apa gelarannya dan siapa namanya?!"
Tanya Auwyang Hong. Ditanya begitu, Eng Kouw jadi ragu-ragu lagi. Kemudian dengan suara tidak begitu lancar dia menyahuti juga.
"Orang itu dikenal baik oleh Tayhiap…. dia…. memang merupakan salah seorang yang sering bertemu dengan Tayhiap….!"
"Aku bukan bertanya aku kenal atau tidak dengannya, aku bertanya siapa namanya dan apa gelarannya?!"
Suara Auwyang Hong tidak sabar.
"Dia…. she Toan!"
Menyahut Eng Kouw dengan suara yang perlahan.
"She Toan? Apakah yang kau maksudkan itu Toan Hongya, Kaisar Tayli?!"
Berseru Auwyang Hong. Eng Kouw mengangguk.
"Ya, dialah Toan Tie Hin atau Toan Ceng!"
Kata Eng Kouw kemudian.
"Musuhku itu memang Toan Hongya itu, Kaisar Tayli…..!"
Mendengar perkataan Eng Kouw itu, Auwyang Hong tiba-tiba mengangkat kepalanya, dia tertawa terbahak-bahak.
"Hebat! Hebat! Luar biasa sekali! Aku tidak menduga bahwa musuhmu itu adalah seorang hebar seperti Toan Hongya! Sungguh mengejutkan! Disebabkan oleh apa sehingga kau bisa bermusuhan dengan Toan Hongya? Inilah aneh sekali, engkau seorang wanita, tapi kau bisa mengikat permusuhan dengak Kaiwar Tayli itu, yang merupakan seorang tokoh persilatan juga, yang memiliki ilmu dan kepandaian yang tidak berada dibawahku….!"
Eng Kouw telah menghela nafas.
"Sebetulnya aku adalah selirnya, yang telah dibebaskannya!"
Menyahut Eng Kouw.
"Lalu permusuhan apa yang terdapat diantara kalian? Bukankah jika memang engkau dibebaskan menjadi selirnya, engkau tidak usah bersakit hati seperti itu…? atau memang hanya disebabkan engkau dilempar keluar dan ditendang jauh oleh Toan Hongya engkau jadi bersakit hati dan ingin membunuhnya?"
Eng Kouw menggelengkan kepala.
"Diantara kami terdapat urusan yang jauh lebih menyedihkan!"
Menyahut Eng Kouw.
"Dialah sumber dari penderitaan dan kesengsaraan yang kualami. Dan juga disamping itu, memang dia pula sumber dari kematian anakkua….!"
"Kematian anakmu? Jadi anakmu itu bukankah anaknya Toan Hongya?"
Tanya Auwyang Hong. Eng Kouw mengangguk.
"Ya, memang anakku itu bukan anaknya Toan Tie Hin!"
Menyahut Eng Kow. 359
"Apakah waktu engkau diboyong kedalam istananya, engkau telah memiliki anak?!"
Tanya Auwyang Hong sambil nyengir. Eng Kouw menggeleng.
"Waktu Toan Tie Hin memboyongku ke istananya, aku masih perawan…. Dan anak itu kuperoleh setelah aku beberapa tahun berdiam diistananya…..!"
Mendengar perkataan Eng Kouw, Auwyang Hong tertawa terbahak-bahak.
"Sekarang aku tahu dan mengerti!"
Kata Auwyang Hong.
"Setelah engkau diboyong ke dalam istana, Toan Hongya tidak memuaskan dirimu, engkau ditelantarkan, dan engkau kesepian…. lalu engkau berhubungan gelap dengan seorang pengawal istana laki-laki, dan lahirlah si anak haram itu…. bukan begitu?!"
Eng Kouw menggelengkan kepalanya beberapa kali.
"Bukan, bukan…!"
Katanya membantah dugaan Auwyang Hong, diaun tidak tersinggung atau marah mendengar anaknya yang telah tiada itu disebut oleh Auwyang Hong dengan sebutan si Anak Haram, karena memang sesungguhnya, anak yang telah tiada itu memang seorang anak haram karena Ciu Pek Thong sendiri tidak pernah mau mengakui bahwa itulah anaknya dan juga Ciu Pek Thong pun belum mengetahui, atas hubungan gelap mereka bisa meninggalkan hasil seorang anak!
"Jika bukan seperti yang kuduga,"
Kata Auwyang Hong jadi tertarik, karena justru wanita dihadapannya ini adalah seorang wanita yang memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Toan Hongya, bekas selirnya, dengan demikian jelas Auwyang Hong dapat mengorek keterangannya mengenai 360 lawnnya yang deorang itu.
memang kepandaian Auwyang Hong dengan Toan Hongya berimbang.
Justru dengan berbagai jalan Auwyang Hong ingin merubuhkan Toan Hongya karena Auwyang Hong berkeinginan enjadi orang nomor satu di kolong langit!
"Tentunya didalam persoalan ini memang masih terdapat urusan lainnya!
Dengan siapa kau berhubungan gelap diluar tahunya Toan Tie Hin?!"
Eng Kouw menggertakkan giginya, sulit buat dia menyehuti, namun keinginan untuk berguru pada Auwyang Hong lebih kuat, hasrat itu terus berontak dihatinya, karenanya dia telah menyahutinya.
"Sesungguhnya, waktu itu di istana Tayli telah menerima kunjungan dua orang terkemuka dari Tionggoan, yaitu Ong Tiong Yang Cinjin, CoanCin Kauwcu juga sutenya, yaitu Ciu Pek Thong… mereka telah tinggal selama setengah tahun diistana Toan Tie Hin dan kebetulan aku bisa berhubungan rapat dengan sute dari Coan Cin Kauwcu itu….!"
"Oh, oh, si Loo Boan Tong, Ciu Pek Thong, situa yang tolol dan lagaknya seperti bocah itu?@ teriak auwyang Hong terkejut bukan main. Eng Kouw mengangguk.
"Tayhiap kenal dengan Ciu Toako?"
Tanyanya.
"Oh tentu, kami pernah bertemu. Lalu bagaimana dengan ceritamu selanjutnya?"
Tanya Auwyang Hong. Sedangkan didalam hatinya Auwyang Hong berfikir.
"Bagus, inilah kesempatan yang baik sekali."
Tapi perasaannya itu tidak diperlihatkan pada parasnya.
Eng Kouw waktu itu telah meneruskan ceritanya, dimana mereka berdua telah main belakang pintu dari Toan Hongya, 361 akhirnya terlahirlah si anak haram itu dan Ciu Pek Thong meninggalkan Tayli tidak mau mempertanggung-jawabkan perbuatannya itu.
Auwyang Hong kaget dan girang.
Dia tidak menyangka bahwa adik seperguruan dari Ong Tiong Yang, si manusia berkepandaian paling tinggi dan nomor satu di kolong langit, telah menimbulkan keonaran hebat seperti itu di istananya Toan Hongya, salah seorang lawan terberatnya juga.
Dengan demikian, bukankah Auwyang Hong dapat menjadi seorang pemancing, untuk mengeruk keuntungan yang tidak kecil di air keruh dan bergolak itu?
Maka Auwyang Hong mengangkat kepalanya, dia mendongak mengawasi gumpalan awan dilangit sambil tertawa terbahak-bahak.
Setelah puas tertawa Auwyang Hong bertanya.
"Jadi maksudmu mengangkat aku menjadi gurumu hanya untuk mempelajari ilmu silat tingkat tinggi yang kelak akan dipergunakan olehmu untuk membinasakan Toan Hongya?!"
Eng Kouw kuatir permohonannya itu ditolak oleh Auwyang Hong, dia segera menekuk kedua kakinya berlutut lagi, dia menangis sambil menyahut.
"Benar Auwyang Tayhiap, kuharap engkau berkasihan dan mau menerimaku menjadi murid, agar aku kelak bisa membalas perasaan sakit hati ini…. membinasakan Toan Hie Tin dengan tanganku!"
Auwyang Hong tertawa dingin, dengan tawar dia berkata.
"Untuk menjadi muridku sebenarnya bukanlah urusan yang terlalu sulit, hanya saja….!"
Eng Kouw mementang matanya lebar-lebar, dengan hati berdebar, dia memang mengharap-harap dengan cemas bisa 362 diterima menjadi murid Auwyang Hong, sekarang melihat Auwyang Hong berbimbang hati seperti itu, tidak meneruskan perkataannya, dia bertanya dengan suara bergetar.
"Hanya saja kenapa Auwyang Tayhiap? Jika memang kau bersedia menerimaku menjadi murid, seumur hidup aku tidak akan melupakan budi kebaikanmu yang begitu besar, apa saja yang kau perintahkan, akan kulakukan, walaupun tubuhku harus hancur lebur, walaupun harus menemui kematian diujung seribu golok dan pedang, asalkan dapat membalas sakit hatiku membunuh Toan Tie Hin dengan tanganku sendiri, aku puas…!"
Auwyang Hong nyengir, dia seorang yang memiliki hati berbisa.
Dia sama sekali tidak memiliki rasa kasihan, walaupun dihadapannya ini Eng Kouw menangis begitu sedih.
Tapi yang di tengah pikirannya adalah bagaimana caranya yang terbaik menguasai dan mengendalikan Eng Kouw yang akan diperalatnya.
Pertemuan kedua di Hoa San akan segera tiba, dimana dalam pertemuan kedua di Hoa San nanti dia akan berhadapan dengan Tong Sin Thong, Oey Yok Su, Ang Cit Kong dan Toan Hongya.
Maka jika salah seorang diantara keempat orang lawan beratnya itu bisa disingkirkan sebelum terjadinya pertemuan kedua di Hoa San, bukankah itu berarti memperingan dan juga mempermudah dia nanti merebut kedudukan sebagai seorang yang ilmu silatnya nomor satu dikolong langit ini?
Terlebih lagi memang yang diinginkan sekali adalah memperoleh Ciu Im Cin Keng.
Sekarang kesempatan mencelakai Toan Hongya memang terbuka luas.
363 Dengan memperalat Eng Kouw, tentu dia akan dapat mencelakai Toan Hongya dengan seribu akal yang keji.
Memang antara Auwyang Hong dengan Toan Hongya tidak terdapat permusuhan, tetapi untuk kemenangannya kelak didalam pertemuan kedua di Hoa San, maka kematian Toan Hongya berarti suatu hal yang berharga sekali buat Auwyang Hong, karena jelas berkurangnnya seorang lawan tangguh.
Terlebih lagi, belum lama yang lalu diapun telah berhasil mencipta-kan Ha Mo Kong yang telah dipelajarinya dari setiap gerakan-gerakan Cengjie, yaitu kodok raksasa yang besar sekali dan gerakan-nya aneh, yang akhirnya binasa ditangan Lim Tiauw Eng itu.
Dengan demikian ilmunya itu yang luar biasa, Ha Mo Kong (yang biasa disebut Kap Moa kang).
Auwyang Hong bercita-cita untuk menjagoi seluruh permukaan bumi ini, sebagai jago nomor satu di kolong langit.
Eng Kouw mengawasi Auwyang Hong dengan sorot mata guram, mengandung kedukaan dan kekuatiran kalau-kalau Auwyang Hong menolak permintaannya.
Tapi waktu Auwyang Hong juga telah berkata.
"Eng Kouw, engkau memiliki wajah yang cantik, memiliki usia yang belum begitu lanjut, apakah engkau demikian nekat mengadu jiwa membalas sakit hati pada Toan Hongya?" 364 Eng Kouw kembali berlutut sambil memanggut-manggutkan kepalanya empat kali. Jika memang Toan Tie Hin dapat kubunuh dengan tanganku sendiri, walaupun selanjutnya aku harus terbinasa dengan tubuh yang dicincang menjadi ribuan potong, aku puas…. maka aku memhon agar Auwyang Tayhiap mau bermurah hati untuk menerimaku menjadi muridmu!"
Auwyang Hong tertawa dingin, dia menghela nafas, sepasang alisnya yang gomplok hitam itu telah mengkerut, diapun telah berkata dengan suara perlahan.
"Sesungguhnya aku memang bersedia untuk menolongmu sepenuh tenagaku, bersedia menerima-mu menjadi muridku! Tapi yang mempersulit keadaan kita, pertama-tama engkau seorang wanita, sehingga sulit buatku memberikan warisan kepandaian, karena ilmu silatku itu tidak akan cocok dan sesuai dipergunakan seorang wanita. Walaupun engkau berlatih smpai uluhan tahun, hasilnya tidak akan memuaskan….! Hal kedua dari kesulitanku itu, ilmu silat dari Pek To San (Gunung Onta Putih) tidak pernah diwariskan kepada orang luar, karena itu aku hanya bisa menurunkan kepandaianku ini kepada sanak famili, anak ataupun kerabatku belaka…! Tapi kau tidak perlu kecewa, aku berjanji akan membantu sekuat kemampuanku agar cita-citamu untuk dapat membalaskan sakit hatimu, guna membinasakan Toan Tie Hin dengan tenagamu itu tercapai dengan baik!"
Eng kouw jadi lesu dan mukanya guram, dia berduka sekali, sampai dia tidak bisa menahan menitik air matanya dan menangis terisak-isak.
"Tanpa memiliki kepandaian yang tinggi, bagaimana mungkin aku bisa berhasil membinasakan Toan Tie Hin 365 dengan tanganku sendiri?!"
Kata /eng Kouw dengan suara menggumam.
Walaupun Auwyang Tayhiap bersedia untuk membantu, tokh tidak secara keseluruhannya dapat mengandalkan waktu dan tenaga Auwyang Tayhiap, sehingga kemungkinan besar usahaku untuk membalas sakit hatiku itu akan gagal sama sekali, karena memang Toan Tie Hin memiliki kepandaian yang sangat tinggi, apalagi sejak kedatangan Coan Cin Kauwcu ke Tayli dimana dia menurunkan beberapa ilmu hebat pada Toan Tie Hin….!
Mendengar perkataan Eng Kouw yang terakhir, muka Auwyang Hong jadi berubah pucat, tampaknya dia terkejut sekali, sampai dia tertegun dan bertanya tergagap.
"Apa kau bilang?"
Eng Kouw mengangkat kepalanya, dia melihat sikap Auwyang Hong, dan sebagai seorang yang cerdik, diapun merasa bisa menarik kesempatan ini untuk keuntungan dirinya.
Dia tidak segera menjawab pertanyaan Auwyang Hong, dia hanya menggumam perlahan seperti berkata pad dirinya sendiri.
"Sudah!, sudahlah! Memang sudah karma dan menjadi suratan nasibku, bahwa aku akan terhina seperti..seperti ini, anakku harus terbinasa dalam penasaran yang besar…. tapi aku tidak berdaya untuk menuntut balas semua sakit hati itu….!"
Auwyang Hong tidak mempedulikan gumaman Eng Kouw itu, dia hanya berkata dengan tidak sabar.
"Tadi kau mengatakan bahwa Coan Cin Kauwcu datang ke Tayli untuk menurunkan ilmu-ilmu hebat pada Toan Hongya, ilmu-ilmu apa yang diturunkannya? Sebagai bekas selirnya engkau tentunya mengetahuinya dengan jelas, cepat kau ceritakan padaku!" 366 Eng Kouw menggelengkan kepalanyabeberapa kali, wajahnya yang pucat guram itu telah memancarkan keputus-asaan.
"Akan percuma saja walaupun kuceritakan, karena tokh seumur hidupku aku tidakakan berhasil dengan cita-citaku untuk membalas dendam membinasakan Toan Tie Hin dengan tanganku sendiri!"
Dan Eng Kouw menghela nafas, dia bangkit untuk memutar tubuhnya berlalu.
"Tunggu dulu!"
Kata Auwyang Hong mencegah kepergian orang. Diapun telah melompat menghalangi didepan Eng Kouw.
"Kau ceritakan ilmu apa saja yang telah diturunkan oleh Coan Cin Kauwcu Ong Tiong Yang kepada Tpan Hongya?, jika memang kau menjelaskan dengan terang semuanya itu aku akan memberikan imbalan dengan mengajarkan semacam ilmu yang hebat, tentunya sedikit banyak dapat kau pergunakan kelak menghadapi Toan Hongya! Juga aku berjanji akan membantu kau mencapai cita-citamu membalas sakit hati itu!"
Eng Kouw berdiam diri sambil menghela nafas berulang kali. Auwyang Hong jadi tidak sabar, dia berkata dengan bengis.
"Sekarang kau jangan banyak pikir segala sesuatu, kuperintahkan kau beritahukan padaku, ilmu-ilmu apa saja yang telah diturunkan oleh Tong Sin Thong pada Toan Hongya! Cepat katakan!"
Eng Kouw melirik pada Auwyang Hong, dia melihat sikap tidak sabar dari auwyang Hong, dan Eng Kouw menghela nafas lagi. Dengan lesu dia berkata.
"Sekarang kau katakan dulu, apakah engkau bersungguh-sungguh dengan janjimu, bahwa engkau akan membantu aku membalas sakit hatiku, agar kelak 367 aku bisa membinasakan dengan tanganku sendiri Toan Tie Hin, melampiaskan dendamku?!"
Auwyang Hong mengangguk cepat.
"Ya, aku akan membekuk Toan Hongya, menyerahkannya padamu dan engkau bisa membinasakannya dengan tanganmu! Walaupun engkau belum bisa mempelajari ilmu yang tinggi, tapi dengan berhasilnya engkau membinasakan Toan Hongya dengan tanganmu sendiri, itupun berarti sama saja kau mendapatkan kepuasan dihatimu? Cepat kau beritahukan padaku ilmu-ilmu apa saja yang diberikan Tong Sin Thong dan apa saja yang dibicarakan Tong Sin Thong bersama Toan Hongya?!"
Rupanya urusan pertemuan Toan Hongya dengan Ong Tiong Yang sangat penting sekali buat Auwyang Hong, karena kedua orang itu merupakan lawan berat dari kedua lawan lainnya.
Baca Juga: Bukit Pemakan Manusia 3
Baca Juga: Bangau Sakti 28