Ceritasilat Novel Online

Lima Jago Luar Biasa 5

Eps 5 Lima Jago Luar Biasa - Sin Liong

Baca online Lima Jago Luar Biasa - Sin Liong

Cersil Lima Jago Luar Biasa - Sin Liong.

Eng Kouw menghela nafas, diapun berpikir memang Auwyang Hong mau membantu sehingga Toan Hongya dapat dirubuhkan dan dibekuknya, berarti dia bisa leluasa untuk membinasakan Toan hongya, bukankah itu berarti sama saja dia bisa melampiaskan sakit hatinya.

"Baiklah, aku akan menceritakan seluruhnya apa yang aku ketahui!"

Kata Eng Kouw.

"Sesungguhnya kedatangan Coan Cin Kauwcu Ong Tiong Yang ke Tayli mengunjungi Toan Tie Hin untuk mewariskan kepandaian ilmu It Yang Cie dan beberapa ilmu hebat lainnya. Menurut Ong Tiong Yang, jika memang kelak dia menutup mata dan Auwyang Tayhiap masih malang melintang dengan perbuatan-perbuatan yang kejam, tentu Toan Tie Hin tentu dapat merintangi dan mengendalikan setidak-tidaknya bisa membatasi perbuatan dan tindakanmu!"

"Hemmm!"

Auwyang Hong mendengus saja, sedangkan hatinya kebat-kebit mendongkol dan kaget.

"Juga menurut Ong Tiong Yang, jika Toan Tie Hin telah berhasil mempelajari ilmu It Yang Cienya itu, didalam pertemuan kedua di Hoa San, kesempatan untuk muncul sebagai orang yang memiliki kepandaian silat nomor satu di kolonng langit, tentu berada ditangannya."

"Hemm!"

Auwyang Hong mendengus lagi… lalu apa lagi?"

Eng Kouw wktu itu telah berpikir.

"Dia tidak bersedia mengajarkan aku ilmunya, tidak bersedia menerima aku menjadi muridnya, biarlah kuusahakan untuk membakar hatinya, aku akan berikan dia cerita bohong, agar dia panas dan bersedia menerima aku menjadi muridnya!"

Karena berpikir begitu, maka Eng Kouw telah meneruskan perkataannya.

"Dan Toan Tie hin telah mempelajari It Yang Cie dan ilmu-ilmu hebat lainnya yang diwariskan oleh Ong Tiong Yang dengan amat giat. Selama setengah tahun Ong Tiong Yang berdiam di istana Toan Tie Hin dimana dia menurunkan ilmu-ilmunya itu dan mengawasi latihan-latihan yang dilakukan oleh Toan Tie Hin. Dengan demikian, sekarang ini menurut Ong Tiong yang, Toan Tie Hin telah mencapai tingkat yang paling sempurna!"

Bukan main kaget dan mendongkolnya Auwyang Hong.

"Hemm, hidung kerbau Ong Tiong Yang rupanya begitu licik sampai kedudukan orang yang memiliki ilmu silat paling tinggi di kolong langit ingin dihadiahkan kepada orang she Toan itu! hemm, hemm, memang dulu aku tidak bisa menghadapi It Yang Cie, tapi sekarang, hemm, hemm, 369 walaupun Ha Mo Kongku belum lagi rampung dan sempurna, namun jika pertemuan kedua di Hoa San telah tiba, jelas aku akan dapat menghadapi mereka, disamping itu pula, memang dalam hal ini akupun bukan manusia tolol, dapat saja aku mempergunakan ratusan atau bahkan ribuan akal keji untuk mencelakai mereka! Hemm, lalu apalagi yang dibicarakan oleh Ong Tiong Yang dengan Toan Hongya?"

Sesungguhnya dalam urutan kelima Jago Luar Biasa yang ada dijaman itu, Ong Tiong Yang Yang tertinggi kepandaiannya, dimana boleh dibilang satu tingkat berada diatas kepandaian See Tok, Tong Shia, Pak Kay maupun Lamte, keempat jago lain itu memiliki kepandaian yang berimbang satu dengan lainya dan memiliki keistimewaan dan kekurangan masing-masing.

Juga Auwyang Hong memang sangat jeri dan segan pada It Yang Cienya Ong Tiong Yang.

Sebelum pertemuan pertama di Hoa San diselenggarakan, dalam kalangan Kangouw telah terjadi kekalutan yang hebat karena jago-jago rimba persilatan memperebutkan se

Jilid kitab yang bernama Ciu Im Cin Keng, dan karena memperebutkan kitab-kitab tersebut, jago-jago kalangan Kangouw sudah tidak mempedulikan keselamatan jiwa masing-masing, karena mereka berlomba-lomba untuk memperoleh kitab tersebut.

Juga dalam hal ini, memang kitab Kiu Im Cinkeng yang merupakan kitab pusaka ilmu silat merupakan kitab yang langka dan juga istimewa sekali.

Jika seseorang bisa mempelajari satu aatau dua bagian saja dari isi kitab tersebut, orang itu sudah boleh malang melintang dalam kalangan Kangouw tanpa kuatir menemui tandingan lagi, akan menjadi kosen dan lihay sekali.

Inilah daya tarik yang terdapat didalam 370 Kiu Im Cin Keng, karenanya hampir semua jago-jago kalangan Kangouw telah memperebutkan kitab itu.

Telah ratusan bahkan ribuan jiwa yang melayang sebagai korban memperebutkan kitab Kiu Im Cin Keng, karenanya ketika diadakan pertemuan pertama di Hoa San, Ong Tiong Yang telah memaklumkan kepada semua jago-jago yang berkumpul disitu, siapa nanti dapat muncul keluar sebagai orang yang memiliki ilmu silat tertinggi di kolong langit ini, dialah yang berhak untuk memperoleh Kiu Im Cin Keng.

Untuk itu telah disetujui oleh semua jago-jago yang berkumpul disitu dan perundingan ilmu silatpunpun segera dimulai dengan piebu berbagai cara.

Dan terakhir sekali, hanya tinggal lima orang, yaitu Ong Tiong Yang, Oey Yok Su, Ang Cit Kong, Toan Hongya dan Auwyang Hong.

Kelima orang inilah yang telah berhasil bertahan sebagai lima orang pemenang yang memiliki kepandaian tertinggi, dan sampai akhir dari pertemuan di Hoa San bisa mempertahankan kedudukan mereka.

Setelah berunding selama beberapa hari, mereka letih sekali dan beristirahat, karena waktu berikutnya mereka berlimapun harus merundingkan ilmu silat lagi untuk menentukan siapa diantara mereka berlima yang benar-benar sebagai jago silat nomor satu di kolong langit ini.

**** Begitulah, keesokan harinya mereka melanjutkan pertemuan itu, perundingan ilmu silat di Hoa San dan Ong Tiong Yang yang ilmunya tertinggi, keempat orang lawannya tidak bisa mengimbangi ilmunya.

Dengan demikian diputuskan Ong Tiong Yang yang diakui sebagai jago silat nomor satu yang tidak ada tandingan di kolong langit.

371 Sedangkan kitab Ciu Im Cin Keng jatuh ditangannya dan berhak untuk memilikinya.

Sedangkan Oey Yok Su, Ang Cit Kong, Toan Hongya dan Auwyang Hong memiliki kepandaian yang berimbang.

Mereka masing-masing memiliki keunggulan-keunggulan tersendiri dengan ilmu andalan mereka, namun keempatnya itu tidak bisa merubuhkan lawan juga tidak bisa dirubuhkan lawan.

Maka telah membuat mereka dalam kedudukan yang seimbang.

Tapi keempat jago ini, Tong Shian, See Tok, Pak Kay dan Lam Te tetap penasaran, mereka ingin menjadi jago silat nomor satu dikolong langit.

Mereka memang gemar ilmu silat melebihi kegemaran mereka terhadap wanita.

Dengan demikian, seluruh waktu mereka lebih banyak dihabiskan untuk memikirkan dan menciptakan ilmu silat yang hebat dan meyakinkan ilmu silatnya agar mencapai tingkat yang paling sempurna.

Oleh karena itu mereka berempat telah berlomba-lomba untuk menciptakan ilmu silat mereka yang baru dan jauh lebih hebat, juga berusaha meyakinkan kepandaian mereka yang sudah ada itu jauh lebih sempurna lagi.

Hanya saja yang disegani dan dimalui oleh Auwyang Hong, sama halnya dengan Tong Shia, Pak kay dan Lam Te, mereka menghormati Ong Tiong Yang karena Tosu ini memang memiliki kepandaian yang luar biasa sempurnanya, ilmu silatnya murni dan Iwekangnya luurus.

Keempat Jago Luar Biasa itupun menduga dengan memperoleh Kiu Im Cin Keng, berarti Ong Tiong Yang akan lebih hebat lagi.

Dia memang telah terpilih sebagai jago nomor satu, maka kini Kiu Im Cin Keng jatuh ditangannya.

Berarti akan selamanya dia menjadi jago nomor satu.

Harapan keempat jago luar biasa itu adalah Ong Tiong Yang menutup 372 mata sehingga antara Pak Kay, See Tok Tong Shia dan Lam Te bisa mengadu ilmu lagi untuk memperebutkan jago nomor satu dan kitab Kiu Im Cin Keng.

Tapi sekarang mendengar Ong Tiog Yang telah mengunjungi Toan Hongya, mengunjungi kaisar itudinegaranya, yaitu di Tayli dan juga dari Eng Kouw dia mendengar bahwa Toan Hongya telah menerima warisan ilmu hebat luar biasa It Yang Cie dari Ong Tiong Yang, inilah yang benar-benar mengejutkannya dan membuat dia jadi mendongkol bukan main.

dengan memperoleh warisan ilmu dari Ong Tiong Yang, Toan Hongya akan menjadi jago nomor satu yang kepandaiannya sangat hebat sekali.

Jika sampai pertemuan kedua di hoa San telah diselenggarakan , walaupun seumpama Ong Tiong Yang telah menutup mata tentu sulit dan berat buat Auwyang Hong merubuhkamn oan Hongya yang telah diwarisi It Yang Cie dan ilmu-ilmu silat lainnya.

Malah waktu itu Auwyang Hong mau menduga Ong Tiong Yang telah ewariskan kepandaian yang terdapat dalam kitab Kiu Im Cin Keng kepada kaisar tayli itu!"

Auwyang Hong jadi mengeluh, jika dugaannya itu benar, jelas kesempatan buat dia angkat nama sebagai manusia yang memiliki kepandaian ilmu silat nomor satu di kolong langit ini akan kandas, dan dia tidak memiliki harapan untuk menjadi Te It Enghiong (jago nomor satu).

"Lalu apa saja yang kau ketahui?"

Tanya Auwyang Hong kemudian.

"Apakah diantara mereka disinggung -singgung pula soal kitab Kiu Im Cin Keng?"

Eng Kouw menggelengkan kepala perlahan, dia berkata.

"Soal itu aku tidak tahu jelas, namun yang kuketahui bahwa ilmu silat yang diturunkan Ong Tiong Yang banyak yang 373 berasal dari se

Jilid kitab dan menurut Toan Tie hin itu ilmu didalam kitab itu malah lebih hebat dari It Yang Cie, karena ilmu-ilmu hebat didalam kitab itu adalah warisan dari Tat Mo Cauwsu, cikal bakalnya Siauw Lim Sie.

Auwyang Hong mengeluh.

"Benar-benar hidung kerbau itu menurunkan ilmu silat yang terdapat dalam kitab Kiu Im Cin Keng pada orang she Toan itu!"

Dia merendeng. Diwaktu itu Eg Kouw yang melihat sikap Auwyang Hong telah menghela nafas.

"Apakah Auwyang Tayhiap melihat bahwa dengan diturunkannya kepandaian Ong Tiong Yang kepada Toan Tie Hin maka Auwyang Tayhiap sulit untuk menghadapi Toan Tie Hin?"

Auwyang Hong tertawa dingin beberapa kali, dia bilang dengah suara yang dingin.

"Hemm, walaupun dia menerima ilmu Dewa, See Tok tidak pernah jeri pada langit dan takut pada bumi!"

"Tapi Auwyang Tayhiap….. apakah sekiranya Auwyang Tayhiap akan dapat membekuk dan berubuhkan Toan Tie Hin?"

Tanya Eng Kouw lagi.

"Engkau tidak perlu kuatir, walaupun dia telah menerima warisan kepandaian Ong Tiong Yang, tapi kukira akupun tidak kekurangan akal untuk membinasakannya….! Aku akan membantu sekuat tenaga, agar cita-citamu yang ingin membalaskan sakit hatimu pada orang she Toan itu tercapai!"

Eng Kouw mengawasi Auwyang Hong. 374

"Dengan cara bagaimana Auwyang Tayhiap bisa merubuhkan dan membekuk Toan Tie Hin?"

Tanya Eng Kouw kemudian tampak benar kebimbangannya.

"Hemm, engkau tahu beres saja, serahkan semuanya padku, nanti kau boleh lihat bagaimana orang she Toan itu akan kubekuk….!"

Dan setelah berkata begitu karena terlalu mendongkol mendengar Ong Tiong Yang telah mewariskan kepandaian pada Toan Hongya, Auwyang Hong tertawa terbahak-bahak untuk melampiaskan kemendongkolannya itu dan dihatinya telah bertekad, walaupun bagaimana dia hendak membinasakan kaisar Tayli itu.

Memang diantara mereka berdua tidak terdapat permusuhan apapun juga, tapi demi kedudukan sebagai jago nomor satu di kolong langit, Toan Hogya yang telah menerima warisan kepandaian Ong Tiong yang harus disingkirkan.

Dan waktu itu Auwyang Hong yang licik dan kejam telah terpikir sebuah jalan untuk membinasakan Toan Hongya dengan satu cara yang kejam dan licin sekali, dia yakin pasti akan dapat memperalat Eng Kouw untuk mencapai keinginannya itu.

Setelah puas tertawa terbahak-bahak seperti itu, Auwyang Hong menoleh pada Eng Kouw, katanya.

"Apakah engkau bersedia ikut bersamaku ke Tayli? Aku akan mengajakmu untuk menyeksikan bagaimana orang she Toan itu kubekuk dan kuserahkan kepadamu untuk dibinasakan."

Eng Kouw girang, dia mengangguk cepat.

"Terima kasih Auwyang Tayhiap! Budi kebaikan-mu yang besar ini tak akan kulupakan seumur hidupku!"

Sambil berkata 375 begitu, Eng Kouw telah menekuk kedua kakinya berlutut dan menangis terisak-isak.

Begitulah, Auwyang Hong bersama dengan Eng Kouw telah meninggalkan Ciong Lam San untuk melakukan perjalanan menuju Tayli guna berusaha membinasakan Toan Tie Hin atau Toan Hongya itu.

Demi menyingkirkan seorang lawan beratnya itu, Auwyang Hong memang rela tidak kembali ke Pek To San, gunung tempat kediamannya di wilayah barat.

Dia hendak ke Tayli untuk membinasakan Toan hongya, jika usahanya itu berhasil, kemudian dari Tayli dia akan kembali ke Ciong Lam San untuk mencuri kitab Kiu Im Cin Keng dari tangan Ong Tiong Yang.

Memang selama kitab Kiu Im Cin Keng berada di tangan Ong Tiong Yang, tidak ada seorangpun yang memiliki nyali untuk mencurinya.

Demikian juga halnya dengan Auwyang Hong, sesungguhnya dia masih menyegani It Yang Cienya Ong Tiong Yang.

Jika hanya menghadapi Ciu Pek Thong, berurusan dengan Loo Boan Tong atau juga Coan Cin Cit Cu, dia tidak jeri.

Justru It Yang Cie Ong Tiong Yang itulah yang membuatnya gentar bertindak sembarangan.

Dengan berdiamnya dia di lembah Ciong Lam San selama lebih dari setahun, sesungguhnya dia tengah menantikan kesempatan ini akan digunakan sebaik mungkin untuk mencuri atau merampas kitab Kiu Im Cin Keng.

Karena dengan demikian, baik Ciu Pek Thong maupun Coan Cin Cit Cu yang kepandaiannya masih berada dibawah kepandaiannya tidak mungkin bisa menghalangi maksudnya.

Begitulah, bersama dengan Eng Kouw, Auwyang Hong telah melakukan perjalanan ke Tayli.

Selama dalam perjalanan, 376 banyak yang ditanyakan See Tok mengenai keadaan dan diri Toan Hongya.

Juga yang paling utama diperhatikan dan ditanyakan pada Eng Kouw adalah ilmu sillatnya Toan Hongya itu, sebab menurut pengakuan Eng Kouw diapun pernah menerima didikan Toan Hongya.

Disamping itu Ciu Pek Thongpun yang memiliki hubungan gelap dengannya pernah menurunkan ilmu Cian Cin Kauw.

Dengan demikian Auwyang Hong terus juga mengorek keterangan dari Eng Kouw.

Dia hendak mencari kelemahan yang terdapat didalam ilmu Toan Hongya maupun ilmu silatnya Coan Cin Kauw.

Namun sayang sekali justru yang diketahui oleh Eng Kouw sangat terbatas sekali sehingga tidak banyak yang dapat dijelaskannya mengenai kedua macam ilmu silat dari kedua pintu dan aliran itu!" **** SEJAK berakhirnya pertemuan di Hoa San antara Lima Jago Luar Biasa untuk mengadu pedang dan ilmu, yang akhirnya dimenangkan oleh Ong Tiong Yang yang diakui sebagai orang yang memiliki ilmu silat nomor satu dikolong langit, Oey Yok Su lebih banyak mengurung diri di Tho Hoa To.

Selama itu dia memperdalam ilmunya, meyakinkan dengan tekun dan berusaha untuk meneliti kelemahan-kelemahannya, sehingga dia gagal dalam mem-perebutkan gelar sebagai jago nomor satu di kolong langit, dan gagal pula memperoleh Kiu Im Cin Keng.

Pulang pergi dia meneliti ilmunya, tetap saja dia tidak memperoleh kelemahan dari ilmu Ong Tiong Yang, sebab setelah dia berusaha satu tahun untuk memecahkan rahasia kekalahannya ditangan Ong Tiong Yang namun 377 akhirnya dia mengakui juga sejujurnya bahwa kepandaian dan ilmu yang dimiliki Ong Tiong Yang masih menang satu tingkat dengannya karena begitu sempurnanya kepandaian Ong Tiong Yang sehingga walaupun dia telah setahun lebih bolak-balik berusaha mencari kelemahan dari Ong Tiong Yang dengan meneliti juga seluruh kepandaian dan ilmunya disamping mengingat seluruh jurus dan gerakan ilmu silat yang pernah dipergunakan oleh Ong Tiong Yang namun tetap dia gagal untuk dapat menindih ilmu Oang Tiong Yang, tidak berhasil Oey Yok Su untuk menggubah semacam ilmu yang sekiranya bisa dipergunakan untuk menindih keampuhan ilmu Ong Tiong Yang.

Dengan demikian, Oey Yok Su juga sangat menghormati Ong Tiong Yang.

Walaupun pertama kali dia menderita kekalahan dan terpaksa mengakui Ong Tiong Yang sebagai jago silat nomor satu tanpa tanding di kolong langit, dia memberikan pernyataannya itu dengan perasaan tertekan.

Itupun terpaksa sekali diberikan mengingat memang dia tidak sanggup untuk merubuhkan Ong Tiong Yang.

Namun sekarang setelah dia berusaha mencari kelemahan Ong Tiong Yang, namun tidak berhasil, dia jadi tambah menghormati kepada Jago Nomor Satu tanpa tanding dikolong langit itu.

Oey Yok Su adalah seorang yang cerdas dan memiliki otak yang sangat terang, baginya tidak ada persoalan yang sulit dan diapun bisa memiliki kepandaian lainnya dengan sempurna.

Namun dengan gagalnya dia mencari kelemahan ilmu Ong Tiong Yang, hal itu membuktikan betapa sempurnanya 378 kepandaian Ong Tiong Yang dan Oey Yok Su memang harus mengakui dengan sejujurnya kenyataan tersebut.

Sebagai seorang yang gemar sekali mempelajari ilmu, Oe Yok Su pun bukan hanya memperdalam ilmu silatnya belaka, dia mengerti bermacam-macam ilmu, malah ada yang mengatakan bahwa Oey Yok Su, tocu dari Tho Hoa To ini pandai sekali ilmu gaib.

Malah pulaunya itu telah diatur dan disusun dengan keadaan dan menurut barisan rahasia Pat Tin Touw dri Gu Kat Bu Houw, seorang panglima terkemuka di jaman dahulu.

Oey Yok Su bukan main cerdasnya, otaknya encer dan tidak ada hal yang sulit buatnya, pekerjaan apapun dapat dilakukannya dengan mudah dan diapun pintar sekali.

Jika memang bicara soal kecerdikan, mungkin didalam lima jago luar biasa, Oey Yok Su merupakan satu-satunya yang paling cerdik, hanya saja adatnya "Kukoay‟ dan aneh sekali, bahkan agak sesat, dia melakukan segala apa menurut kehendaknya sendiri, tanpa mempedulikan peradatan yang lazimnya.

Disamping memiliki ilmu silat yang tinggi dan sempurna, juga Oey Yok Su pandai memainkan alat tabuh-tabuhan, bermain catur, menulis indah dan melukis.

Diapun mengerti ilmu obat-obatan, tentu saja bukan obat-obatan yang sembarangan, karena obat yang diramu oleh Oey Yok Su merupakan obat istimewa.

Dan bagaikan ada perkataan bahwa obat Oey Yok Su merupakan obat yang bisa merebut arwah dari tangan malaikat elmaut!

Dengan adanya perkataan seperti itu, bisa dimengerti betapa mendalam dan hebatnya ilmu pengobatan Oey Yok Su.

Dan bukan itu saja.

Masih ada kepandaiannya yang lain.

Oey Yok Su juga mengerti ilmu alam, tidak terkecuali ilmu pertanian serta ilmu memeriksa keletakan tempat yang indah, ilmu perbintangan.

Oey Yok Su ini juga paham ilmu 379 perusahaan, ilmu perang, pendek kata tidak ada satupun ilmu yang tidak dipelajarinya.

Hanya sayang sekali, karena adatnya yang memang aneh dan sulit sekali diterka hatinya dan keinginannya.

Oey Yok Su selalu bertindak dengan sekehendak hati dan agak sesat.

Itulah sebabnya dia telah diberikan gelar Thong Shia (si Sesat dari Timur) Memang Oey Yok Su telah memiliki berbagai macam kepandaian, seharusnya dia sudah merasa puas.

namun menurut pendapatnya, seetiap orang yang mempelajari ilmu, semakin dia belajar, semakin banyak yang ingin diketahuinya.

Itulah sebabnya semakin tinggi kepandaian ilmu silat Oey Yok Su, semakin sempurna Iwekangnya, maka semakin hebat pula desakan-desakan dihati dan ikiran Oey Yok Su untuk memperoleh ilmu kepandaian yang jauh lebih tinggi lagi.

Dan yang membuat dia penasaran, serta selalu menjadi pemikirannya ialah Kui Im Cin Keng yang telah menjadi milik dari Coan Cin Kauwcu Ong tiong Yang.

Keinginannya untuk memperoleh kitab Ciu Im Cin Keng itu sangat kuat, karena dia telah menyaksikan ilmunya lebih hebat dan telah mengurung dirinya di pulau tersebut, dengan harapan kelak jika diadakan pertemuah yang kedua kalinya di Hoa San, dia telah berhasil memiliki ilmu yang jauh lebih tinggi dari Ong Tiong Yang maupun Lam Te, See Tok dan Pak Kay.

Sejauh itu Oey Yok Su juga telah memutar otak, untuk menggubah semacam ilmu, untuk memperdalam kepandaiannya.

Setelah berdiam diri dipulaunya sampai empat tahun lebih, akhirnya bosan juga.

Karena usianya waktu itu belim begitu tua, dia tengah gagahnya dan dia gemar sekali mengumpul-kan barang-barang permata yang berharga dan 380 juga barang-barang antik yang umurnya ribuan tahun, yang semua telah dikumpulkan sebagai penghias pulaunya.

Bahkan untuk memperoleh benda antik dan berusia ribuan tahun, Oey Yok Su tidak segan-segan untuk berkeliaran gerayangi istana Kaisar, darimana dia bisa memperoleh banyak sekali barang-barang antik itu.

Karena kepandiannya telah mencapai tingkat tinggi dan sempurna, maka Oey Yok Su bisa berkeliaran dengan leluasa, tanpa ada yang bisa mencegahnya.

Demikian juga halnya Oey Yok Su sering mendatangi sarang-sarang perampok terkenal, menghajar mereka dan merampas barang-barang antik maupun batu permata yang harganya tidak ternilai.

Sebagi pelayan-pelayan di pulaunya, Oey Yok Su telah membawa orang-orang yang diculiknya dan kemudian ditempatkan dipulaunya untuk melayaninya sebagai Raja!

Untuk mencegah orang-orang itu jangan sampai melarikan diri dan membocorkan rahasia keadaan di Tho Hoa To, maka Oey Yok Su setiap kali menculik calon pelayannya, segera memotong lidah mereka, dengan demikian dia telah membuat semua pelayannya menjadi gagu tidak bisa bicara.

Alasan yang pernah dikemukakan oleh Oey Yok Su waktu Ong Tiong Yang menegurnya karena menganggap perbuatan Oey Yok Su terlalu kejam, Oey Yok Su tertawa lebar, sambil mengatakan bahwa para pelayannya itu umumnya diambil dari para penjahat, karena itu, dengan dibawanya mereka, berarti Oey Yok Su menarik mereka ke jalan yang benar, menjadi pelayan dan tidak melakukan kejahatan lagi.

Dengan dipotong lidahnya itulah untuk mencegah orang-orang ini melarikan diri dan banyak cerita mengenai keadaan di Tho Hoa To.

381 Memang menghadapi para pelayannya ini.

Oey Yok Su sangat bengis, tidak segan-segan ia menurunkan kematian pada pelayannya yang berusaha melarikan diri dan tertangkap basah olehnya.

Disebabkan itu pula, maka para pahlawan Oey Yok Su umumnya ngeri jika coba-coba jika melarikan diri dari Tho Hoa To.

Dan pada pagi itu, Oey Yok Su telah memerintahkan beberapa orang pelayannya untuk mempersiapkan perahunua, sebab hari itu dia bermaksud untuk berlayar pesiar.

Selama empat tahun lebih mengurung diri di pulaunya.

Para pelayannya bekerja dengan cepat, mereka telah mempersiapkan sebuah perahu yang cukup besar, kemudian mengisi dengan perbekalan yang akan dibawa oleh majikan mereka, juga mereka telah membersihkan dayung dan peralatan lainnya.

Setelah segalanya rampung lalu mereka melaporkan pada Oey Yok Su.

Mereka tidak bisa bicara, karenanya mereka melaporkan dengan gerakan-gerakan kedua tangan belaka sebagai isyarat.

Sebelum berangkat, Oey Yok Su berpesan supaya mereka menjaga pulau sebaik mungkin.

Dan jika memang ada orang yang "tersesat‟ datang ke pulau ini, agar ditahan untuk menantikan sampai dia kembali dari pesiarnya.

Dan orang itu, sengaja atau tidak berkunjung ke pulaunya ini, harus diperlakukan dengan keras, yaitu sepasang kakinya harus dipatahkan, dipukul hancur!

Itulah hukuman bagi orang yang berani mendekati Tho Hoa To sejauh garis lingkaran dua ratus tombak!

382 Peraturan itu dipegang teguh oleh Oey Yok Su, jika memang ada seorang nelayan yang tersesat atau terdampar ke pulaunya, nelayan itu akan dihajar patah dan hancur dulu sepasang kakinya, baru kemudian dibebaskan dilepas untuk pulang kembali.

Dengan demikian nelayan itu telah menceritakan kengerian yang terdapat di pulau Tho Hoa To, membuat nyali nelayan lainnya pecah dan mereka mengkeret ngeri jika mendengar nama pulau itu.

tidak ada seorang dari nelayan di sekitar daerah perairan pulau itu, yang berani dekat-dekat dengan pulau Tho Hoa To!

Dengan mempergunakan perahunya yang berukuran cukup besar itu, Oey Yok Su telah mendayung perlahan-lahan, udara waktu itu tidak begitu panas dan cuacapun cukup baik, angin tidak bertiup terlalu kencang, hanya sepoi-sepoi itu menyebabkan lipatan-lipatan di permukaan air laut, gelombang-gelombang kecil yang saling kejar-mengejar.

Pemandangan yang indah dan awan yang bergantungan di langit yang saling kejar-mengejar, bagaikan pasangan kekasih yang saling mencintai dan saling berkejaran, lapang sekali hati Oey Yok Su, hatinyapun bergembira sambil mendayung dia berdendang.

Angin yang berhembus lembut mengiringi senandung Oey Yok Su, dengan jubahnya yang berwarna hijau, kopiah Siauw-yan-kinnya yang berwarna hijau pula dan tangan yang perlahan-lahan menggerakkan dayungnya memecahkan air laut, perahunya meluncur merejang gelombang yang kecil seperti kerut-kerut cita itu.

dengan senandung ditambah pula dengan keadaan disekitar lautan tersebut, maka Oey Yok Su bagaikan seorang Dewa Laut yang tengah pesiar mengelilingi daerah kekuasaannya.

383 Selama beberapa hari Oey Yok Su melakukan perjalanan air berlayar dengan perahunya itu.

jika siang dia mendayung dengan gembira, jika malam sebelum mengantuk, iapun mendayung sambil menikmati keindahan rembulan yang memancarkan sinar berpantulan dimuka air laut, sehingga dengan riak gelombang itu permukaan laut bagai dihampari oleh mutu manikam dan permata yang berkilauan indah sekali.

**** Tapi pada malam itu waktu Jo sie dan matahari belum turun rendah di ufuk barat, memancarkan sinarnya yang berkilauan, Oey Yok su melihat setitik hitam dikejauhan.

Segera ia mendayung lebih cepat, dengan disalurkan iwekang pada lengannya, setiap kali Oey Yok Su menggerakkan dayungnya, perahu itu bagaikan terbang melesat memecah lautan menuju ke arah titik hitam itu, yang diduganya tentu sebuah kapal layar.

Karena Oey Yok Su memiliki Iwekang yang sangat sempurna, maka dia bisa mengendalikan perahunya berlayar begitu pesat tanpa mengandalkan hembusan angin.

Dan dalam sekejap saja, titik hitam yang dilihatnya itu semakin jelas dalam bentuknya sebuah kapal layar yang cukup besar ukurannya.

Namun kapal layar itu bukan hanya satu, karena terpisah beberapa ratus tombak dari kapal layar itu, tampak beberapa buah kapal layar lainnya yang tengah berterot menyusulnya menerjang lautan.

Oey Yok Su jadi tambah tertarik, dia ingin mengetahui sesungguhnya kapal apakah itu dan siapa penumpangnya.

Sebagai seorang yang memiliki adat yang "

Kukoay‟ (aneh), Oey Yok Su memang selalu ingin mengetahui apa saja, dan jika memang orang-orang yang berada di kapal layar yang 384 besar itu merupakan hartawan-hartawan kaya, dia akan mempermainkan nya.

Jika para tentara Kim, dia akan membajak mereka.

Karena itu dia mendayung semakin cepat.

Perahunya meluncur semakin cepat bagaikan anak panah terlepas dari busurnya.

Lengan jubahnya berkibaran tertiup angin.

Disamping itu juga air laut yang diterjang oleh perahu Tocu Hoa to itu telah terbelah memecah kesamping kiri dan kanan, tampak begitu indah sekali bagaikan lautpun jeri pada Tocu Hoa To ini sehingga telah memecahkan diri membuka jalah untuk perahunya pemilik pulau Tho Hoa To tersebut.

Waktu perahu Oey Yok Su terpisah beberapa tombak dengan kapal layar yang pertama itu, justru kapal-kapal layar lainnya yang berada dibelakang kapal layar pertama itu telah berhasil menyusul kapal layar tersebut dimana kapal-kapal itu merapat pada kapal layar yang pertama.

Dari dalam kapal layar yang menyusul itu, telah melompat puluhan sosok bayangan tubuh yang gesit sekali, melompat naik keatas kapal layar yang pertama itu.

Dari dalam kapal layar yang pertama itu telah terdengar jeritan yang cukup ramai, terdiri dari suara jeritan laki-laki dan wanita.

Dan juga tampak puluhan sosok tubuh itu telah mengurung disekeliling kapal layar sersebut.

Sedangkan kapal layar yang menyusul itu telah mengelilingi kapal layar yang pertama tersebut.

Menyaksikan demikian, Oey Yok su segera juga menyadari, tentunya terjadi suatu permpokan.

Sedikitnya kapal layar yang menyusul itu berjumlah lima dan memiliki anak buah kapal yang banyak sekali jumlahnya.

Jika yang melompat naik kapal layar yang pertama itu sudah erjumlah puluhan orang, sedangkan di kapal-kapal layar lainnya iru masih nampak puluhan orang lainnya, yang berdiri ditepian geladak 385 kapal dengan tangan masing-masing mencekal senjata tajam yang berkilauan tertimpa cahaya matahari sore.

"Perampokan…. Bajak laut!"

Mendengus Oey Yok Su.

Dan walaupun Oey Yok Su memiliki adat yang kukoay yang bisa membenarkan yang salah dan mempersalahkan yang benar, namun terhadap kejahatan dia memusuhi seperti juga musuh turunan.

Sekarang melihat kapal layar pertama itu hendak dirampok atau dibajak, dia jadi naik darah.

Segera dia menggerakkan dayungnya lebih cepat, sehingga perahunya meluncur cepat sekali dan waktu sampai disamping kapal layar yang hendak dibajak itu, Oey Yok Su menjejakkan kakinya, tubuhnya bagaikan anak panah yang meluncur keatas kapal layar itu.

dayung ditangannya telah digerakkan sebelum kedua kakinya menginjak landasan kapal itu, sehingga terdengar suara pekik kesakitan dan kaget, tujuh orang bajak telah terhantam terpelanting masuk tercebur kedalam laut!

Bajak-bajak laut lainnya yang menyaksikan ini, jadi mengeluarkan suara seruan kaget, terlebih lagi waktu itu, mereka melihat seorang berusia tiga puluh tahun lebih dengan jubah warna hijau dan kopiah Siauw Yan Kin serta dayung ditangan berdiri tegak, jubahnya berkibaran terhembus angin laut, tampaknya agung dan berwibawa, mukanya yang dingin tidak memantulkan perasaan, tampak bagaikan muka mayat, tidak tersenyun juga tidak menampakkan perasaan jeri menghadapi bajak-bajak yang jublahnya banyak sekali, tenang luar biasa, bagaikan seorang Dewa yang baru turun dari kerajaan langit, karena dia tiba begitu mendadak sekali, meluncur dari atas dan hinggap diatas kapal tersebut dengan ringan bagaikan melayang perlahan-lahan dan turun ringan 386 sekali tidak menimbulkan suara sedikitpun juga.

Itulah ginkang yang sudah sempurna sekali.

Para bajak telah memandang dengan mata yang terbelalak lebar, mereka terkejut dan heran, namun kemudian setelah tersadar, mereka tertawa dengan suara yang ramai sekali, menggerakkan golok dan pedang ditangan masing-masing untuk mengurung Oey Yok Su.

"Manusia-manusia rendah yang tidak tahu diri, apakah kalian ingin mampus semua?"

Bentak Oey Yok Su dengan suara dingin dan bengis. Para bajak itu telah mengurungnya, salah seorang diantara mereka melompat keluar.

"Apa andalanmu sehingga berani membinasakan kami, heh!"

Bentak orang itu sambil menggerakkan goloknya, menebas udara kosong. Lalu dengan bengis dia melanjutkan perkataannya.

"Hian Pwe Bong (Ular Naga Abu-abu) Kiauw Thay akan memperlihatkan dengan siapa engkau berhadapan! Sekarang kau sebutlah dulu namamu, agar engkau kukirim ke akherat bukan merupakan setan tanpa nama. Oey Yok Su tertawa mengejek, lalu dia berkata dengan dingin dan bengis.

"Mulutmu terlalu kurangajar….!"

Dan Oey Yok Su menggerakkan pundaknya sedikit, tanpa bisa diikuti oleh pandangan manusia biasa, tubuh Oey Yok Su Berkelebat dan terdengar suara "Plak-plok!"

Dua kali, kemudian tampak Hian Pwe Bong Kiauw Thay telah terhuyung mundur beberapa langkah dengan mulut yang jontor mengeluarkan darah, berlumuran sampai ke lehernya.

Rupanya Oey Yok Su telah menghadiahkan dua kali tempelengan yang keras, malah tidak sampai disitu saja, waktu Hian Pwe Bong Kiauw Thay terhuyung mundur seperti itu, dia merasakan tangannya dingin 387 tersilir angin laut, karena cekalannya pada golok telah terlepas, golok mana telah pindah ke tangan Oey Yok Su.

Oey Yok Su membolang-balingkan golok itu, dia melirik kepada penghuni kapal layar yang tengah ketakutan, berkumpul di sudut geladak.

Mereka terdiri dari belasan pria dan wanita yang belasan orang jumlahnya, termasuk juru mudi kapal tersebut.

"Hemm, golok karatan yang tidak ada gunanya, dia meremas golok itu, yang telah meluruk menjadi abu!"

Semua mata terpentang lebar-lebar mengawasi takjub.

Inilah pertunjukan yang benar-benar mengejutkan dan baru pertama kalinya mereka melihatnya, betapa kuatnya telapak tangan Oey Yok Su, karena dia telah meremas golok tersebut, yang terbuat dari baja telah diremas hancur meluruk menjadi abu!

Jika memang seorang jago persilatan yang memiliki kepandaian tinggi mematahkan pedang atau golok lawannya dengan mempergunakan Iwekangnya, hal itu memang sering mereka dengar.

Namun seorang yang dengan mempergunakan tangannya, meremas golok menjadi hancur jadi abu, benar-benar merupakan pertama kali mereka saksikan!

Oey Yok Su telah mengibas-ngibas jubahnya yang berwarna hijau, dia tertawa dingin.

"Apakah kalian masih tidak mau cepat-cepat berlutut mengangguk-anggukkan kepala meminta pengampunan dariku?! Bengis sekali suara Oew Yok Su. Hian Pwe Bong Kiauw Thay setelah mengawasi bengong sejenak, ketenangannya telah pulih, dia membentak.

"Sungguh berani mati kau! Dengan menghancurkkan golokku itu berarti engkau telah menghina Tiat Ciang Pang!"

Dan setelah berkata 388 begitu Hian Pwe Bong Kiauw Thay mengawasi bengis, kemudian baru dia meneruskan.

"Tahukah engkau hukuman apa yang akan diterima oleh orang yang berani menghina anggota Tiat Ciang Pang?"

Mengetahui bahwa Hian Pwe Bong Kiauw Thay orang-orangnya Thiat Ciang Pang, dia tertawa dingin.

"Memang telah cukup lama aku mendengar perkumpulan Thiat Ciang Pang! Hemm… didalam hal ini justru aku hendak bertemu dengan pimpinan kalian yang katanya memiliki tangan yang liehay!"

"Apakah setelah bertemu dengan pimpinan kami, Tiat Ciang Sui Siang Piauw Khin Cian Jin, kau masih bisa mengharapkan hidup?"

Kata Hian Pwe Bong Kiauw Thay. Ditanya begitu Oey Yok Su tertawa bergelak-gelak, suara tertawanya nyaring sekali.

"Hebat! Memang aku Oey Yok Su hendak melihat sampai dimana liehaynya tangan Tiat Ciang Sui Siang PiauwKhin Cian Jin agar mataku terbuka lebar….!"

"Apa?"

Teriak Hian Pwe Bong Kiauw Thay tergagap waktu mendengar orang yang dihadapinya adalah Oey Yok Su, Tocu Tho Hoa To yang sangat terkenal itu, Thong Shia dengan sepak terjangnya yang kukoay itu.

"Hemm, kenapa kau terkejut?"

Mengejek Oey Yok Su.

"Karena kalian anggota Thiat Ciang Pang, maka aku kini menghendaki jiwa kalian!"

Muka Hian Pwe Bong Kiauw Thay berobah pucat pias, demikian juga dengan kawan-kawannya yang lain.

Mereka berdiri ketakutan bukan main, mereka melihat Oey Yok Su 389 bagaikan melihat momok saja, karena mereka sudah sering mendengar akan sepak terjang Oey Yok Su yang aneh namun memiliki kepandaian yang luar biasa, sebab Oey Yok Su termasuk salah seorang dari kelima jago luar biasa yang ada yang kepandaiannya sulit diukur.

"Jika begitu, maafkanlah kami Cianpwe!"

Kata Hian Pwe Bong Kiauw Thay sambil menjura dengan muka yang masih pucat pias.

"Kami memiliki mata tapi tida bisa melihat gunung Tay San, kami akan segera minta diri!"

"Hemm,"

Mendengus Oey Yok Su.

"Kalian meminta maaf dan hendak berlalu begitu saja? Sekarang telah bertemu denganku, tidak mudah untuk pergi begitu saja!"

Dingin dan bengis sekali kata-kata Oey Yok Su, sehingga Hian Pwe Bong Kiauw Thay dan kawan-kawannya jadi menggigil ketakutan.

"Cianpwe, dengan memandang muka terang guru kami, Tiat Ciang Sui Siang Piauw Khin Cian Jin, tentu Cianpwe tidak akan mempersulit diri kami!"

"Hemm, muka terang? Nama besar?"

Hemm, justru karena kalian murid-murid Tiat Ciang Sui Siang Piauw Khin Cian Jin maka kalian harus dihajar!"

Muka Hian Pwe Bong Kiauw Thay berobah tambah pucat, saking ketakutannya tidak segan-segan dia menekuk sepasang kakinya dan berlutut.

"Maafkanlah Cianpwe, ampunilah kami…. karena memang kami tidak mengetahui tengah berhadapan dengan Cianpwe, sehingga berlaku kurang ajar!" **** 390

Jilid 11

"BAIK, aku bersedia mengampuni kalian, tapi siapa yang hendak diampuni jiwa anjingnya, harus merangkak lewat selangkanganku!"

Muka Hian Pwe Bong Kiauw Thay berobah tidak enak dilihat, itulah penghinaan yang hebat tiat Ciang Sui Siang Piauw Kui Chian Jin bukan orang sembarangan, nama guru mereka setingkat dengan Oey Yok Su, Auwyang Hong, Ang Cit kong, Ong Tiong Yang maupun Toan Hongya.

hanya saja Ciang Sui Siang Piauw Kui Chian Jin tidak hadir dalam pertemuan adu pedang di Hoa San karena terhalang suatu persoalah yang tidak bisa ditinggalkannya.

Sekarang orang perintahkan dia bersama kawan-kawannya merangkak melalui selangkangan Oey Yok Su, bukankah itu merupakan tamparan yang hebat sekali untuk Ciang Sui Siang Piauw Kui Chian Jin, guru mereka?!

Melihat Hian Pwe Bong Kiauw Thay berdiam diri, Oey Yok Su tertawa dingin.

"Semula kukira Ciang Sui Siang Piauw Kui Chian Jin merupakan seorang yang dihormati dan merupakan tokoh persilatan yang terpuji, tidak tahunya hanya seorang kepala bajak! Hemm, inilah yang tidak kusangka-sangka…!"

"Oey Cianpwe….!"

Kata Hian Pwe Bong Kiauw Thay dengan sikap tidak senang.

"Memang kami sebagai murid-muridnya, tentu saja tidak mempunyai kepandaian yang berarti untuk meminta petunjuk dan pengajaran dari Oey Cianpwe, 391 karena kami tingkatan muda yang tidak bisa berurusan dengan orang-orang yang mempunyai tingkatan yang lebih tua dari kami…. tapi jika memang Oey Cianpwe ingin bertemu dengan guru kami….. tentu kami bisa mempertemukannya!"

Muka Oey Yok Su jadi bengis dan tampak dingin, tangannya bergerak menghantam kayu disampingnya, begitu terhajar kayu itu sempal.

"Hemm, jadi kau ingin mengartikan jika gurumu berada disini aku akan dilemparkan kelaut?"

Tanyanya bengis dan dingin.

"Mana berani, hanya saja jika memang guru kami berada disini, tentu bisa main-main dengan Locianpwe dengan asyik sekali….!"

Waktu itu Oey Yok Su mendelik, mentaknya tambah bengis.

"Apakah kalian masih tidak mau merngkak? Atau memang kalian menunggu sampai aku berobah pikiran?"

Sedang Hian Pwe Bong Kiauw Thay ragu-ragu, waktu itu dua orang kawannya telah melompat kesamping kapal, maksud mereka ingin melompat kembali ke kapal mereka.

Oey Yok Su tertawa dingin melihat keinginan kedua orang itu yang mau kabur begitu saja, tanpa menggerakkan tangannya tahu-tahu kedua orang itu telah rubuh bergulingan sambil menjerit-jerit kesakitan.

Rupanya dengan menyentilkan jari tangannya, dari balik lengan jubahnya, Oey Yok Su menghajar kedua orang itu dengan mempergunakan beberapa batang jarum yang halus dan kecil, yang mengenai tepat sekali beberapa jalan darah dari edua orang tersebut, membuat kedua orang itu merasakan sekujur tubuh mereka seperti disayat-sayat dan digigit ribuan semut.

Itulah sebabnya, selain lenyap 392 tenaganya telah terjungkal dilantai kapal juga telah terguling-guling sambil menjerit-jerit kesakitan.

Oey Yok Su tertawa dingin, diapun mendengus, bentaknya.

"Apakah kau tetap tidak memperoleh jalan hidup?!"

Hian Pwe Bong Kiauw Thay tengah bingung melihat sikap Oey Yok Su yang bengis seperti itu, dia tambah ketakutan. Tapi untuk menjaga nama baik perguruannya, Hian Pwe Bong Kiauw Thay telah menyahuti.

"Baiklah, jika memang Cianpwe ingin juga bentrok dengan kami dari Tiat Ciang Pang dan hendak membunuhku, silakan….. bunuhlan….!"

Baru saja Hian Pwe Bong Kiauw Thay berkata sampai disitu, tangan kanan Oey Yok Su telah bergerak, terdengar suara "krakk, krakk" , sepasang tangan Hian Pwe Bong Kiauw Thay telah dihajar hancur semplek, sehingga tidak bisa digerakkan lagi!

Hian Pwe Bong Kiauw Thay menjerit kesakitan, terhuyung mundur dengan muka yang pucat, dan ketakutan setengah mati.

Dia memang sering mendengar kebengisan Oey Yok Su yang sering turun tangan kejam kepada orang-orang yang tidak disukainya.

Tadi tangannya bergerak begitu cepat, jangankan untuk berkelit atau menghindarkan pukulan Oey Yok Su, sedangkan untuk melihat jelas saja cara memukul Oey Yok Su, si Ular Naga abu-abu itu tidak dapat melakukannya.

Jika memang Oey Yok Su menghendaki jiwanya, bukankah itu mudah saja dilakukannya, sama seperti juga Oey Tocu itu membalikkan telapak tangannya sendiri?.

Karena telah dihajar seperti itu dan ketakutan Hian Pwe Bong Kiauw Thay cepat-cepat menekuk kedua kakinya dan berlutut, dia mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Ampunilan boanpwe, Oey Cianpwe…. ampunilah boanpwe!"

Dia sesambatan, lenyap perasaan malunya dan sirna keinginannya untuk melindungi nama besar gurunya.

Yang diingatnya hanya bagaimana dia memperoleh pengampunan dari Oey Tong Shia ini agar bisa dibebaskan.

Melihat orang berlutut dan mengangguk-angguk seperti itu, Oey Yok Su jadi tambah sebal dan muak.

Memang perangai Oey Yok Su aneh dan kukoay sekali.

Jika orang takut dan pengecut menghadapinya dia tambah benci dan akan turun tangan menyiksanya, tapi jika orang memiliki sifar gagah berani, tentu Oey Yok Su akan menghargainya.

Sekarang murid dari Tiat Ciang Sui Siang Piauw Khiu Cian Jin telah berlutut mengemis-ngemis pengampun-annya, saat mana sepasang tangannya telah dihajar hancur seperti itu, membuat Oey Yok Su jadi tambah muak melihatnya.

Dia menggerakkan kaki kanannya, dan tubuh Hian Pwe Bong Kiauw Thay telah terjngkal bergulingan dilantai kapal sambil menjerit-jerit kesakitan.

Oey Yok Su mendengus bengia.

Tadi aku telah memberikan jalan hidup agar kalian merangkak lewat selangkanganku, tapi kalian jual mahal dan tidak segera mematuhi!

Sekarang, walaupun kalian ingin merangkak pulang pergi sepuluh kali, aku justru tidak mau!"

Muka Hian Pwe Bong Kiauw Thay jadi berobah tambah pucat ketakutan.

"Oey Cianpwe, apakah…. apakah kau tidak mau mematuhi peraturan dalam Kangouw, sehigga demikian sewenang-wenang, yang tua menghina yang muda?!"

"Hemm, kau mengatakan aku menghinamu? Baik! aku tidak akan menggunakan kedua tanganku ini untuk menghajarmu! Aku masih mau lihat, apakah masih bisa dibilang yang tua menghina yang muda!"

Dan setelah berkata begitu, Oey Yok Su memasukkan kedua tangannya kedalam sakunya, hanya tubuhnya yang sempoyongan kesana kemari, dengan pundaknya dia telah membenturi kawanan orang Tiat Ciang Pang itu dan setiap kali salah seorang diantara mereka itu dibentur, maka seketika itu juga tubuh mereka terpental dab tercebur ke dalam laut!"

Oey Yok Su telah membenturi terus menerus, dan tampak belasan anak buah dari Tiat Ciang Pang dibenturi tercebur ke laut sehingga air laut muncrat naik tinggi sekali.

Sisanya ketakutan bukan m ain telah bertekuk lutut memohon pengampunan buat mereka.

Namun Oey Yok Su tengah merasa sebal terhadap mereka, dia telah menggunakan kedua kakinya menendangi silih berganti.

Setiap orang Tiat Ciang Pang yang kena ditendangnya, tubuh mereka terpental keras sekali dan kemudian tercebur kedalam laut dengan terluka didalam yang berat, jika tidak tulang rusuk mereka yang pada patah, tentu tulang tangan dan kaki mereka yang patah dan remuk!

Begitu juga dengan orang-orang Tiat Ciang Pang yang dibentur oleh Oey Yok Su tang telah terpental dan tercebut ke laut, mereka bukannya tidak menderit cidera, karena begitu dibentur oleh pundak Oey Yok Su, mereka seperti dibentur oleh kekuatan yang laksaan kati.

Dan tubuh mereka terpental dengan seluruh isi perut dan anggota dalam tubuh mereka rusak jungkir balik, terluka didalam dan parah sekali.

Orang-orang Tiat Ciang Pang yang berada di kapal-kapal mereka segera menolong kawan-kawannya naik ke kapal 395 mereka dan kemudian cepat-cepat meninggalkan kapal yang hendak mereka bajak.

Hian Pwe Bong Kiauw Thay sendiri telah ditendang sampai belasan tombak, tubuhnya nyebur dialut dan kemudian jatuh pingsan.

Untung saja kawan-kawannya segera menolongnya, mengangkat Kiauw Thay naik ke kapal mereka kemudian dibawa kabur!

Setelah melemparkan orang-orang Tiat Ciang Pang itu ke laut, Oey Yok Su mendengus sengit, tampak dia puas telah berhasil menghajar orang-orang itu kalang-kabutan.

Penumpang kapal yang batal dibajak itu bersama juru mudinya telah cepat-cepat berlutut semuanya dihadapan Oey Yok Su, guna menyampaikan rasa syukur dan terima kasih mereka, karena dengan adanya Oey Yok Su, mereka batal menjadi korban keganasan orang-orang Tiat Ciang Pang itu.

Oey Yok Su perintahkan agar mereka segera bangun berdiri, kemudian dengan dingin, tidak memperlihatkan perasaan dia mengibaskan lengan jubahnya, dia memutar tubuhnya, melangkah ketepi kapal untuk bersenandung.

"Air bergelombang, dunia bergelombang, kerut-kerut merupakan rintangan, dan semua itu merupakan perjalanan yang menggembirakan……!"

Dan tubuh Oey Yok Su ringan seperti kapas telah melayang turun, dia hinggap di perahunya, dan kemudian mendayung pula perlahan-lahan.

"Tunggu…. Tunggu dulu Tayhiap!"

Tiba-tiba terdengar seorang berteriak dari atas kapal memanggil Oey Yok Su.

Sebetulnya Oey Yok Su paling jemu dengan orang-orang diluar rimba persilatan, dia memiliki sifat yang kukoay sekali.

Tadi dia telah menghajar kalang-kabut orang-orang Tiat Ciang 396 Pang karena dia membenci kejahatan seperti membenci musuh turunannya, dan bukan untuk menolong orang-orang yang berada dikapal yang mau dibajak tersebut, tetapi kini ada orang yang berteriak meminta agar dia jangan pergi dulu, sepasang alisnya jadi berdiri, dia menahan dayungnya dan menoleh dengan wajah yang dingin, katanya bengis.

"Apakah kalian ingin minta dihajar juga?!"

Orang diatas kapal jadi ketakutan, muka mereka jadi pucat.

Sedangkan orang yang memanggil-manggil meminta Oey Yok Su jangan pergi dulu itu adalah seorang lelaki berusia lima uluh tahun, dengan kumis dan jenggotnya yang kemerah-merahan, tumbuh panjang dan tipis, dan pakaiannya yang mewah memperlihatkan bahwa dia seorang hartawan.

Rupanya dia memang sangat berterima kasih sekali pada Oey Yok Su, walaupun dibentak dengan bengis, dan melihat Oey Yok Su yang dingin seperti itu, dia memberanikan diri untuk menyahuti.

"Tayhiap, ada yang ingin Lohu katakan!"

"Apa yang ingin kau katakan?"

Tanya Oey Yok Su dingin.

"Banyak….. dapatkah Tayhiap naik dulu sebentar kemari?! tanya hartawan itu. Muka Oey Yok Su berobah semakin dingin, sepasang alisnya berdiri lagi. Dialah ocu dari Tho Hoa To, seumur hidupnya belum pernah ada orang yang berani mengaturnya begini dan begitu. Dipulaunya, dia hidup seperti seorang raja dilayani oeh para pelayannya, dan tidak sepatah katapun juga pelayan-pelayannya itu berani membantah perintahnya. Demikian juga didalam kalangan Kangouw, setiap orang-orang gagah dalam kalangan kangouw bertemu dengannya, sama juga bertemu dengan momok yang menakutkan. Hal itu disebabkan sifat Oey Yok Su yang angin-anginan dan kukoay. Jika dia 397 sedang gembira, dia bisa menolongi orang namun jika dia sedang jengkel dan kesal dia bisa turunkan tangan kejam sekali, menghajar hancur kaki orang, menghantam mati orang yang tidak bersalah… karena dari itu, jarang sekali orang-orang persilatan yang berani bentrok muka dengan Tocu Tho Hoa To yang bengis dan angin-anginan ini. Sekarang hartawan itu hendak menahannya, malah memintanya naik ke atas kapal itu. hatinya jadi mendongkol, tabiat angkuhnya jadi terbangun. Dia mendengus tertawa dingin.

"Baik! baik! aku akan naik kekapal kalian lagi!"

Kata Oey Yok Su dengan berseru nyaring.

Dan berbareng dengan itu tubuhnya telah mencelat naik ke kapal.

Dia hinggap disamping hartawan itu, tangan kanannya diangkat hendak menghantap pecah batok kepala hartawan tersebut.

Waktu itulah terdengar suara teriakan.

"Tahan…. Jangan sakiti ayahku!"

Suara teriakan itu melengking nyaring, suara teriakan seorang wanita.

Oey Yok Su menahan tangannya, dia melirik kekiri.

Begitu dia melihat orang yang mencegahnya itu, hatinya jadi memukul keras, karena tidak disangkanya dihadapannya kini berdiri seorang wanita berusia enam atau tujuh belas tahun, paras mukanya demikian cantik, walaupun waktu itu sigadis tengah ketakutan namun kecantikannya tidak berkurang.

Sepasang alisnya yang melengkung seperti bulan sabit, hidungnya yang mancung dan bibirnya yang ternganga ketakutan itu demikian manis bergairah dan juga potongan mukanya seperti kuaci, disamping itu, pakaiannya yang indah terhembus oleh angin laut yang sepoi-sepoi menyebabkan gadis itu seperti seorang bidadari yang turun kedunia.

Mata 398 Oey Yok Su jadi nanar.

Sejak kecil dia memang gemar ilmu silat.

Kegemaran terhadap ilmu silat melebihi dari yang lainnya, karena Oey Yok Su sepanjang hudupnya hanya mencurahkan seluruh waktu dan perhatiannya untuk berlatih ilmu silat.

Namun sekarang, melihat wanita secantik itu, yang mungkin baru kali ini dijumpainya, walaupun sebelumnya Oey Yok Su banyak sekali bertemu dengan wanita-wanita cantik, hatinya mendadak tergoncang dan berdebaran aneh.

Gadis itu telah berlari menghampiri hartawan itu, dipeluknya kuat-kuat dengan memperlihatkan wajah ketakutan yang amat sangat.

Hartawan itu sendiri jadi bingung, rupanya dia sendiri masih tidak menyadari bahwa maut sebetulnya sudah tiba diatas kepalanya.

"A Heng, kenapa kau?!"

Menegur hartawan itu kepada gadis tersebut dengan heran.

"Ayah, cepat kau meminta ampun kepada Tayhiap itu!"

Kata si gadis dengan wajah yang masih memancarkan ketakutan yang sangat.

Waktu itu Oey Yok Su tengah mengawasi si gadis dengan perasaan tidak menentu, wajahnya dingin, sinar matanya begitu guram, dan tiba-tiba dia tertawa terbahak-bahak panjang sekali.

Suara itu bergema seperti memenuhi sekitar lautan tersebut, mengejutkan semua penumpang kapal itu, karena merasakan kapal mereka ini terguncang keras, bagaikan tengah dipermainkan oleh gelombang yang besar, seperti juga suara tertawa Oey Yok Su meruntuhkan langit dan mengaduk-aduk air lautan.

399 A Heng, gadis itu semakin ketakutan, dia memeluk hartawan itu, yang rupanya ayahnya, dengan kuat, diapun telah berseru ketakutan.

"Ayah, cepat kau meminta maaf kepada Tayhiap itu….. cepat! Jika terlambat akan celakalah kita….!"

Hartawan itu benar-benar tidak mengerti akan sikap puterinya ini, dia telah mengawasi putrinya dan Oey Yok Su bergantian sampai akhirnya dia mengangguk.

"Baik, baik, aku akan meminta maaf pada Tayhiap itu, minggirlah kau….!"

Katanya sambil mendorong puterinya.

Waktu itu Oey Yok su telah berhenti tertawa, dia tengah mengawasi si gadis yang tadi dipanggil A Heng oleh ayahnya, sorot mata Oey Yok Su begitu laur biasa, guram sekali, dingin, tapi dibalik semua itu seperti mengandung perasaan yang aneh sekali.

A Heng yang ditatap begitu adi mengigil, dia tambah ketakutan.

Sesungguhnya gadis itu memiliki otak yang sangat cerdik sekali, dia cerdas bukan main, sejak kecil dia telah mempelajari ilmu surat, dalam usia tujuh tahun dia telah berhasil membaca kitab dan tidak ada satu hurufpun yang terlupa lagi olehnya.

Disamping itu kecerdasan yang dimiliki A Heng merupakan kecerdasan yang lain dari pada gadis-gadis lainnya, karena begitu dia melihat sesuatu, dia dapat mengingatnya seumur hidup, tidak akan terlupa pula, Cuma saja, disebabkan dia hanya mempelajari ilmu surat, tenaganya lemah sekali, umumnya dia hanya mempergunakan kecerdikannya.

Tadi dia telah melihat ayahnya memanggil Oey Yok Su, memang maksud ayahnya baik dan A Heng mengetahui ayahnya itu mau mengucapkan terima kasih dan menyampaikan hadiah pada tuan penolong itu, namun itulah yang membuat Oey Yok Su gusar.

Sebagai seorang gadis yang cerdik luar biasa, segera 400 A Heng melihat ancaman bahaya buat ayahnya, segera dia memburu pada ayahnya untuk meminta maaf.

Sebetulnya, ayah dan anak ini tengah melakukan perjalanan untuk menuju Siauwciu karena A Heng baru saja kematian ibunya.

Ayah yang merupakan seorang hartawan mangajak pindah ke Siauwciu, menghindarkan diri dari kenangan yang menyedihkan hati.

Dengan meninggalkan kampung halaman tentu ayahnya berkurang teringat pada mendiang isteriya.

Tetapi tidak diduga dalam perjalanan ini waktu menyewa kapal inipun untuk melakukan perjalanan dan membawa harta benda mereka telah menumpang beberapa orang penumpang lainnya yang terdiri dari pedangang dan pelancong.

Ayah A Heng yang memiliki hati mulia, telah mengijinkannya.

Dan dalam perjalanan air inilah orang-orang Tiat Ciang Pang telah mencium bahwa di kapal tersebut terdapat saudarag hartawan yang kaya raya, disamping ayah A Heng, yang memang hartanya sangat banyak bermaksud akan merampoknya.

Disamping itu juga, kecantikan paras muka A Heng yang bagaikan dewi itu telah tiba pula ditelinganya Kiu Chian Jin yang ingin merampas gadis tersebut untuk dijadikan gundik.

Untung saja sebelum segalanya itu terjadi,Oey Yok Su telah datang menolong mereka.

Dan sekarang, tuan penolong yang memiliki adat yang aneh ini, justru merupakan seorang yang angin-anginan, dari tuan penolong sekarang berbalik akan mengancam keselamatan ayahnya.

Ayah A Heng waktu itu telah merangkapkan sepasang tangannya, katanya.

"Tayhiap, jika memang lohu bersalah, harap Tayhiap memaafkan, Lohu bukan hendak menghalangi 401 keberangkatan Tayhiap, hanya disebabkan Tayhiap telah menyelamatkan kami dari para bajak itu, sehingga kami terlolos dari ancaman bahaya maut, maka Lohu selain menyampaikan rasa terima kasih jung ingin menyampaikan semacam bingkisan kepada Tayhiap…!"

Tapi Oey Yok Su seperti tuli dan tidak mempeduli-kan ayah A Heng, dia hanya mengawasi si gadis dengan sorot mata yang luar biasa, seperti ditempat itu tidak terdapat orang lainnya, A Heng yang diawasi seperti itu jadi berdebar hatinya, memang dia tengah menguatirkan keselamatan ayahnya, dia kuatir Oey Yok Su benar-benar turun tangan kejam.

Bukankah tadi A Heng memang telah menyaksikan betapa Oey Yok Su dengan mudah menghajar kocar-kacir orang-orang Tiat Ciang Pang?

"Kau…!"

Kata Oey Yok Su kemudian dengan suara yang dingin, paras mukanyapun dingin sekali.

"Mengapa kau mengatakan aku hendak mencelakai ayahmu dan menyuruh ayahmu meminta maaf padaku?!"

A Heng telah berusaha menenangkan diri, dia segera menyahut.

"Tayhiap… sesungguhnya ayah tadi telah melakukan kekhilafan, sehingga menyinggung perasaan Tayhiap….. tidak selayaknya ayah memanggil Tayhiap dan menahan keberangkatan Tayhiap….!"

"Hemm, darimana engkau mengetahui eku tersinggung?"

Tanya Oey Yok Su dengan suara tambah dingin.

A Heng sebagai seorang yang cerdas, mengetahui bahwa jika dia menjawab sejujurnya, tentu Oey Yok Su akan tambah tersinggung, kalau memang dia mengatakan bahwa Oey Yok Su memiliki adat yang aneh, perangai yang kukoay.

Bukankah tadi menghadapi orang-orang dari Tiat Ciang Pang tampak 402 jelas sekali bahwa Oey Yok Su memang memiliki perangai yang kuokay dan adat yang aneh?

Sebagai seorang yang cerdas, segera juga A Hrng memperoleh jawaban.

"Sebetulnya siuawmoay hanya mengetahui dari perasaan hati kecil siauwmoay saja, jika memang hal itu tidak benar, malah siauwmoay bersyukur, tapi jika memang benar Tayhiap tersinggung oleh kekhilapan ayah siauwmoay, tentunya dengan ayah meminta maaf, Tayhiap akan memaafkannya…!"

Oey Yok Su mengawasi gadis ini.

dialah seorang gadis yang cantik sekali, seorang gadis yang lemah lembut.

Yang menarik sekali buat Oey Yok Su, gadis ini tampaknya cerdas sekali.

Seumur hidupnya baru kali ini Oey Yok Su melihat seorang gadis yang demikian cantik jelita seperti seorang dewi.

Setelah berdiam beberapa saat barulah Oey Yok Su bertanya dengan suara dingin.

"Tadi ayahmu mengatakan ingin memberikan semacam bingkisan kepadaku! Bingkisan apa?!"

Ayah A Heng mendengar perkataan Oey Yok Su seperti itu jadi girang.

Dia menduga tentunya pendekar yang gagah tapi aneh tabiatnya ini bersedia untuk menerima hadiah darinya, maka segera dia mengeluarkan sebuntalan kecil dan terbungkus kain merah.

Dibungkusan itu terdapat batu-batu permata yang berkilauan ketika kain pembungkusnya dibuka.

"Inilah yang hendak Lohu sampaikan kepada Tayhiap sebagai tanda terima kasih kami!"

Kata ayah A Heng sambil mengangsurkan bungkusan itu.

Oey Yok Sumemandang dingin, dia melihat batu permata didalam bungkusan itu merupakan benda-benda berharga mahal sekali harganya dan tidak mudah untuk memperoleh 403 benda-benda berharga seperti itu.

tapi dengan diberi hadiah seperti itu, Oey Yok Su merasakan bahwa itu adalah suatu penghinaan buatnya.

Maka dia telah mengangguk, katanya.

"Baik, terima kasih atas kebaikanmu! Barang itu kuterima, dan sekarang ingin kuhadiahkan pula barang itu kepada seseorang!"

"Menghadiahkan lagi kepada seseorang?!"

Tanya ayah A Heng heran. Oey Yok Su mengangguk.

"Siapa orang itu?"

Tanya ayah A Heng,karena dia jadi kurang senang.

Memang menjadi keinginannya memberikan hadiah itu kepada Oey yok Su untuk menyampaikan rasa terima kasihnya.

Jika memang Oey Yok Su ingin menghadiahkan kepada orang lain, itu adalah urusan Oey Yok Su, asal jangan diberikannya ketika dia menerima hadiah tersebut.

Dengan suara yang dingin Oey yok Su telah menyahut.

"Aku hendak menghadiahkan batu permata itu kepada Hay Liong Ong….!"

Dan setelah berkata begitu, tangannya bergerak menerima bungkusan batu permata yang kemudian dilemparkannya ke laut!

Bukan main kagetnya ayah A Heng dan yang lain-lainnya, mereka sampai mengeluarkan suara tertahan.

Mereka semuanya telah memandang ke arah laut, kearah dimana tadi Oey Yok Su melemparkan batu permata itu, mereka merasa sayang benda berharga itu dibuang begitu saja, yang akan lenyap ke dasar laut tanpa bekas.

Oey YokSu tertawa bergelak-gelak, sampai kemudian dia berkata.

"Terima kasih untuk kebaikan hatimu! Tampaknya 404 engkau seorng hartawan yang kaya raya dan baik hati karena telah mau membalas budi kepadaku dengan membayarku menggunakan batu-batu permata itu! aku tidak pernah merasa melepas budi kepada kalian, tadipun aku bukan hendak menolong kalian, aku hanya benci kepada orang-orang Tiat Ciang Pang yang ternyata manusia-manusia busuk, dan aku membenci kejahatan sama seperti membenci musuh turunanku…. Hemm, tapi karena kau telah berbaik hati dan ingin menghadiahkan batu permata itu kepadaku, tentu saja tidak baik kalau kutolak! Dak kukira jika batu-batu permata itu berada di dasar laut, bukankah akan memperindah dasar lautan ini, dimana cahaya batu permata akan berkilauan indah sekali? Bukankah Hay Liong Ong pun akan mengucapkan "

Terima kasih.. terima kasih‟ sehingga selanjutnya kalian melakukan pelayaran dengan dipayungi Hay Liong Ong Raja Naga Samudera itu, dan tidak akan mengalami bencana sampai tiba ditempat tujuan?"

Dan setelah berkata begitu, Oey Yok Su tertawa terbahak-bahak lagi, dia memutar tubuhnya melangkah mendekati tepi kapal , dan kemudian menjejakkan kakinya, tubuhnya seperti melayang terbang meluncur hinggap diperahunya, bagaikan seorang dewa yang baru saja turun dari atas gumpalan awan.

A Heng waktu itu telah berdiri mematung, dia mengawasi kepergian Oey Yok Su dengan sorot mata yang aneh pula, bagaikan dia kehilangan semangat.

Bukan main kagumnya menyaksikan kepandaian Oey Yok Su yang dengan sangat mudah menghajar kocar-kacir orang Tiat Ciang Pang, dan A Heng pun tertarik akan sifat aneh dan perangai luar biasa dari Tocu Tho Hoa To tersebut.

405 Oey Yok Su telah menggerakkan dayungyna perlahan-lahan, perahunya mulai meluncur membelah air laut.

Samar-samar terdengar senandungnya .

"Rembulan yang tersenyum, matahati yang beringas, laut yang mengganas, semua itu kulalui, tapi mengapa harus bertemu dengan dia….. mengapa?"

Rupanya waktu itu Oey Yok Su sendiri telah menyadarinya bahwa dalam pandangannya pertama dia telah jatuh hati, gadis yang luar biasa jelita.

Bukan hanya kecantikan yang luar biasa itu merupakan daya tarik yang sangat kuat, tapi kelembutannya dan kegagahan yang dimiliki oleh gadis itu yang berusaha melindungi ayahnya, walaupun dia tampaknya tidak mengerti ilmu silat, namun gadis yang lemah lembut itu memiliki otak yang sangat cerdas dan cerdik sekali dan telah berusaha untuk melindungi ayahnya dengan kemampuan yang ada.

Kapal yang ditumpangi oleh hartawan she Ming, ayah A Heng dan saudagar-saudagar lainnya itupun sudah melanjutkan pelayarannya.

Air laut diterjang dan terbelah berbuih, kapal layar yang berukuran cukup besar itu meluncur dipermukaan laut.

Oey Yok Su masih mendayung terus.

Semakin lama perasaannya jadi semakin tidak karuan.

Karena waktu itu perahunya meluncur perlahan, kapal layar yang ditumpangi A Heng berlayar disebelah depan dan perahu Oey Yok Su seperti mengikuti kapal itu, mengekor terus.

Malam telah tiba, permukaan laut bermain dengan pantulan sinar rembulan, sehingga permukaan air laut itu bagaikan ditabur oleh jutaan butir batu permata mutu manikan.

406 Penumpang kapal layar Ming Wanggwe telah sunyi, karena semua penumpang telah tertidur.

Banya beberapa orang anak buah kapal yang masih dengan tugasnya mengemudikan kapal tersebut.

Sesosok tubuh yang gemulai tampak berdiri ditepian geladak mengawasi indahnya cahaya rembulan.

Dialah A Heng, gadis yang cantik jelita itu.

dia tengah menikmati keindahan malam itu.

sejak tadi sore hatinya tidak tenang, wktu dia hendak tidur, hatinya resah dan gelisah.

Dan A Heng sendiri tidak mengetahui entah mengapa dia harus memiliki perasaan demikian.

Dan untuk melapangkan pikiran dan perasaan hatinya, A Heng telah keluar dari kamarnya dan menuju kegeladak.

Dia menikmati keindahan malam itu, memandang keindahan rembulan yang tengah memancarkan cahayanya yang kuning keemasan itu.

Malam yang demikian sunyi, suara gelombang laut yang selalu menampar-nampar tubuh kapal yang tengah berlayar itu terdengar bagaikan irama musik yang merdu sekali.

Dan dikejauhan tampak sebuah perahu kecil tengah meluncur perlahan-lahan dibelakang kapal itu.

dibawah cahaya rembulan, tampak penumpang perahu kecil itu menggerak-gerakkan dayungnya perlahan, jubahnya yang hijau dipermainkan oleh hembusan angin, duduk angker dan agung, dialah Oey yok Su, Tocu Tho Hoa To.

Melihat Oey Yok Su, jantung A Heng tambah berdebaran tidak karuan, namun dia tetap mengawasi terus.

Mengawasi perahu kecil itu semakin lama semakin cepat menghampirinya dan akhirnya sesosok tubuh telah berkelebat.

Telah berdiri dihadapannya seorang laki-laki berjubah hijau, ditangan 407 kanannya mencekal sebatang seruling dan tengah tersenyum manis mengawasinya.

Keduanya berdiam lama sekali, hanya mata mereka yang saling bertemu.

Dan Oey Yok Su pemuda berbaju hijau itu telah membawa serulingnya kedekat bibirnya, dia telah meniup serulingnya membawakan sebuah lagu.

Suara seruling itu mengalun, iramanya demikian tenang dan bagaikan irama musik dari kerajaan langit.

Ternyata waktu itu Oey Yok Su tengah membawakan lagu "Thian Mo Bu Kiok " (lagu Tarian Hantu Langit), lagu yang luar biasa sekali.

Suara seruling begitu tenang, namun didalam suara seruling itu mengandung tenaga Iwekang yang sangat sempurna dan semakin lama suara seruling itu terdengar semakin halus, bagaikan suara bisikan dewi-dewi dari kerajaan langit.

A Heng yang memang sejak kecil menyenangi pelajaran Bun (sastera) telah berdiri mematung takjub, karena memang dia kagum sekali mendengar tiupan seruling yang demikian halus demikian memukaunya.

Walaupn bagaimana A Heng mengerti akan seni musik dan siapun sesungguhnya pandai meniup seruling.

Tapi jika ingin dibandingkan kemahirannya meniup seruling dengan lagu yang tengah diperdengarkan Oey Yok Su, A Heng merasa dirinya masih tidak berarti apa-apa…..

karena tiupan seruling Oey Yok Su selain dari lemah-lembut dan halus, bagaikan bisikan para dewi dari kerajaan Langit, juga didalam suara seruling itu seperti mengandung kekuatan gaib yang membuat perasaan A Heng melambung ke dunia lain, terombang-ambing antara perasaan dan hati yang diliputi bermacam kemelut.

408 Akhirnya Oey Yok Su telah menyelesaikan tiupan serulingnya dan telah menjura pada A Heng.

"Maafkan sikapku tadi siang yang telah berlaku kasar padamu dan ayahmu….!"

Kata Oey Yok Su halus.

Waktu itu entah mengapa adat dan perangainya yang biasanya angkuh dan aneh itu telah lenyap.

Dan dihadapan gadis ini, Oey Yok Su demikian sabar, demikian lembut dan mengerti.

A Heng tersipu, dia seperti baru bangun dari mimpi.

Cepat-cepat dia merangkapkan sepasang tangannya, diapun telah memberi hormat, membalas penghormatan Oey Yok Su.

"Jangan Tayhiap berkata begitu, karena memang merupakan penghargaan yang tidak ternilai bisa bertemu dengan Tayhiap, dimana kami semua telah tertolong dari bencana!"

Kata A Heng dengan suara yang halus.

Sesungguhnya Oey Yok Su paling tidk senang dengan adanya peradatan, selamanya dia tidak pernah memakai aturan dalam sepak terjangnya, karena apa yang disenanginya pasti dilakukannya dan apa yang tidak disenanginya tentu akan dihajarnya sampai hancur lebur.

Namun dihadapan A Heng, sifat-sifat angkuh aneh dan juga sikap sombongnya sebagai seorang jago luar biasa yang terdapat didaratan Tionggoan, telah lenyap begitu saja, yang ada hanyalah perasaan lembut dan sabar, perasaan menyayangi pada gadis ini, perasaan yang selalu menggoda hatinya sejak sore tadi dia mengikuti kapal ini, disaat dia mendayung dan mengawasi permukaan air laut yang selal pula dia seperti melihat di gadis tengah memandangnya sambil trsenyum.

Itulah sebabnya Oey Yok Su mengikuti terus kapal ini, dia mendayung terus perahunya walaupun hari telah larut malam.

Dibawah cahaya rembulan dan jutaan bintang di langit, dia 409 melihat diatas kapal ada muncul dewi yang selalu dikenangnya itu, sehingga dia telah mempercepat mendayung perahunya dan melompat naik keatas kapal itu.

Di hadapan A Heng, Oey Yok Su seperti juga tidak berdaya untuk membawa adatnya, dan dia jadi terpukau melihat wajah yang demikian cantik luar biasa dibawah cahaya rembulan dan bintang dan juga senyuman A Heng yang seperti meruntuhkan keangkuhannya.

Mereka bercakap-cakap saling memperkenalkan diri.

A Heng menceritakan bahwa di a bersama ayahnya memang tengah menuju ke Souwciu dan juga nama dia sesungguhnya adalah Ming Sian Heng.

Namun pada Oey Yok Su dia minta agar dirinya tetap dipanggil sebagai adik Heng atau memang A Heng.

Oey Yok Su telah memberitahukan namanya, telam pula menceritakan keindahan pulaunya, tempat dia berdiam selama ini.

mereka bercakap-cakap demikin asyik dan juga A Heng demikian tertariknya mendengar bahwa Oey Yok Su memiliki sebuah pulau terpencil, yang telah diaturnya sedemikian menarik, lengkap dengan segala pohon-pohon bunga yang harum dan indah.

Kapal itu berlayar terus dibawah terangnya cahaya rembulan dan jutaan bintang di langit.

Pasangan muda-mudi ini telah bercakap=cakap sampai menjelang fajar.

Waktu itulah Oey Yok Su baru minta diri untuk kembali ke perahunya.

Merekapun berpisah dengan hari masing-masing bungah dan bahagia.

Malam keduanya, Oey Yok Su telah datang pula ke kapal itu, mereka telah bertemu dan bercakap=cakap dengan asyik sekali.

410 Begitulah selama belasan hari Oey Yok Su mendayung perahunya mengikuti di belakang kapal tersebut.

Selama belasan hari tersebut diluar pengetahuan dari Ming Wangwe, antara Oey Yok Su dan A Heng telah terjalin hubungan yang intim.

Sebagai seorang yang memiliki kepandaian yang luar biasa, juga perangai yang aneh sekali, jika memang ia menginginkan membawa pergi A Heng begitu saja dengan secara paksa, bisa saja dilakukan jika dia hendak memaksa A Heng ikut dengannya, siapakah yang bisa mencegah?

Bukankah selama hidupnya memang Oey Yok Su selalu melakukan sepak terjangnya tanpa ada yang bisa membendung dan menghalanginya?.

Namun terhadap A Heng, entah mengapa Oey Yok Su menaruh hormat yang besar, entah mengapa dia sangat mencintai gadis ini, yang diperlakukan dengan agung sekali.

A Heng pun melihat, walaupun Oey Yok Su memiliki adat dan perangai yang aneh, namun dalam diri laki-laki itu terdapat keistimewaan lainnya yang menarik hati A Heng.

Begitulah, dua hati telah saling bertautan, akan tetapi selama belasan hari itu mereka berdua tidak pernah membicarakan masalah yang berhubungan dengan perasaan cinta mereka.

Keduanya hanya membicarakan soal-soal kitab sastera, membicaraka syair-syair, bertukar pikiran mengenai sajak-sajak kuno.

Ternyata yang membuat A Heng lebih kagum lagi, selain ilmu silat Oey Yok Su luar biasa tingginya, juga Oey Yok Su memahami dan menguasai pelajaran Bun mendalam sekali.

Bicara soal kecerdikan, sesungguhnya Oey yok Su merupakan seorang yang cerdas.

tetapi bicara soal otak yang 411 encer, A Heng memiliki otak yang jauh lebih encer.

Dan dalam percakapan mengenai sajak syair-syair Oey Yok Su walaupun paham dan menguasai dunia sastra, tapi dia merasa kagum terhadap pengetahuan A Heng yang luas mengenai jenis pelajaran tersebut.

Yang membuat Oey Yok Su lebih kagum dan mencintai gadis itu, A Heng ternyata memang memiliki daya tangkap pada pikirannya yang kuat sekali.

Setiap satu patah kata yang diucapkan oleh Oey Yok Su selalu dapat diingatnya dengan baik.

bagaimana sulitnya pembicaraan mereka, walaupun baru pertama kali didengarnya, baik tentang ilmu silat, keadaan dalam dunia Kangouw yang diceritakan oleh Oey Yok Su, dia dapat mengingatnya dengan baik sehingga dapat mengimbangi cerita Oey Yok Su dengan baik sehingga diantara mereka semakin terdapat keakraban.

Oey Yok Su sendiri tidak mengerti bisa bertemu dengan gadis ini yang luar biasa otaknya.

Sebagai seorang yang beradat kukoay, kini bertemu dengan gadis yang lembut dan sama sekali tidak mengerti ilmu silat, benar-benar Oey Yok Su jadi tertarik.

Jika biasanya dia berwatak angkuh dan anehnya dihadapan A Heng seperti telah lenyap semuanya.

**** Kapal layar itu berlayar terus dan akhirnya telah tiba di pelabuhan Kwie-nam.

Ming Wangwe dan puterinya telah mendarat di pelabuhan ini, mereka menyewa emppat buah kereta untuk mengangkut barang-barang mereka guna mencapai Souwciu.

412 Kepada juru mudi kapal tersebut, Ming Wangwe telah memberikan hadiah yang cukup banyak sehingga mereka mengucapkan terima kasih yang tidak habisnya.

Iring-iringan kereta itu, melakukan perjalanan ke arah barat, mungkin untuk mencapai Soauwciu harus melakukan perjalanan selama setengah bulan.

Selama didalam perjalanan, A Heng sering melongok keluar dari jendela, karena yang membawanya itu untuk melihat apakah Oey Yok Su ikut serta melakukan perjalanan ke souw Ciu.

Betapa kecewanya dan berdukanya gadis ini ketika dia memperileh kenyataan satu hari itu walaupun telah puluhan kali ia melongok keluar jendela kereta namun dia tidak melihat bayangan Oey Yok Su, laki-laki yang telah meebut hatinya dan disayanginya itu.

Rombongan kereta yang membawa Ming Wangwe dan A Heng terus juga meluncur dengan cepat.

Dalam lima hari saja mereka telah dapat lalui ratusan lie.

Pada hari keenam mereka telah tiba di kota Liangko.

Dikota tersebut Ming Wangwe bermaksud beristirahat dua hari karena kota ini memang merupakan kota yang indah dan ramai, padat penduduknya.

Ming Wangwe bermaksud mengajak puterinya untuk menikmati keindahan kota tersebut sambil beristirahat secukupnya.

Sejak mendarat dan melakukan perjalanan dengan kereta, A Heng setiap hari memperlihatkan sikap yang lesu.

Tidak bergembira dan wajahnya selalu muram seperti diselubungi oleh kabut kedukaan dan kekecewaan.

Hal itu pula yang menyebabkan Ming Wangwe melihat keadaan puterinya seperti itu, telah bermaksud mengiburnya dua hari singgah di Liangko.

413 Sejauh itu juga Ming Wangwe menduga-duga entah disebabkan apa puterinya jadi pemurung dan wajahnya selalu muram, tak bergembira seperti biasanya.

Berulang-kali Ming Wangwe telah mendesak menanyakan sebab-sebabnya namun puterinya itu tak pernah mau menjelaskannya, hanya A Heng selalu menghela nafas panjang pendek.

Malam itu di Liangko sangat ramai, memang kota yang padat penduduknya ini boleh dikatakan hidup terus, selama siang dan malam toko-toko buka siang dan malam.

Bahkan ditengah malam banyak yang berdagang, terutama sekali rumah-rumah penginapan dan rumah makan yang tetap buka menerima kunjungan para tamu.

Ketika pada kentongan kedua, Ming /wangwe tengah bercakap-cakap dengan pemilik rumah penginapan dimana rombongan ini singgah, sedangkan A Heng tengah berdiam di kamarnya, duduk termenung menyesali mengapa pertemuannya dengan Tocu Tho Hoa To begitu singkat, mengapa mereka dipertemukan dan kemudian berpisah kembali?

Dan selalu pula A Heng teringat kepada laki-laki yang disayanginya itu, yang sampai sekarang tidak terlihat mata-hidungnya lagi.

Dan A Heng juga menyesal, mengapa dia tidak selamanya berlayar diatas laut?

Bukankah jika berlayar terus diatas permukaan laut, selamanya dia berada di atas kapal selama itu pula dia akan bertemu, selalu akan bercakap-cakap dengan menggembirakan bersama Tocu Tho Hoa To itu?

Sedang A Heng dirundung kekesalan seperti itu ,tiba-tiba terdengat suara ribut-ribut di ruang bawah rumah penginapan.

Semula A Heng tidak memperhatikan suara ribut-ribut tersebut, dia sedang kesal dan jengkel, maka dia tidak mau memperhatikan segala apapun juga.

Namun disebabkan suara ribut-ribut itu disertai suara pekik ketakutan dan seruan bengis, 414 membuat A Heng jadi heran dan ingin juga mengetahui apa yang terjadi.

Dia membuka pintu kamarnya dan dia pergi ke ruang depan rumah penginapan, waktu dia memasuki ruang depan, gadis ini jadi berdiri tertegun, karena diwaktu itu didepan rumah penginapan itu telah penuh dengan orang-orang yang berwajah menyeramkan yang semuanya ditangan masing-masing tercekal senjata tajam.

Pemilik penginapan, para pelayan dan juga para tamu telah dikumpulkan di sudut ruangan depan itu, mereka dikelilingi oleh tujuh atau delapan orang yang bersenjat golok dan pedang yang mukanya menyeringai mengerikan sekali, mengandung hawa pembunuhan dan kekejaman.

Belasan orang bermuka menyeramkan dan bertubuh tegak dengan kumis dan jenggot yang kasar, muka mereka ada yang bercacat, semuanya membekal senjata tajam, yang telah mengurung ruangan depan rumah penginapan itu.

malah salah seorang diantara mereka, yang bertubuh tinggi besar yang kedua tangannya dibalut, tengah membentak-bentak bengis dan menggunakan kakinya menendang berulangkali pada Ming Wangwe, seperti dia menanyakan sesuatu.

Ming Wangwe tampak menggelengkan kepalanya beberapa kali, mukanya ketakutan bukan main, dia dalam keadaan berlutut.

Disebelah kanannya berdiri seorang lelaki berusia empat puluh tahun, memelihara jenggot yang tidak begitu panjang namun telah terdiri dari dua warna aada sebagian yang telah memutih, matanya tajam seperti mata elang, hidungnya seperti paruh burung dan bibirnya lebar seperti mulut seekor kera, disamping itu rambutnya menutupi belakang tengkuknya.

Dia berdiri dengan muka yang dingin, mulutnya selalu bergerak-gerak seperti memperlihatkan sikap menakut-nakuti Ming Wangwe, tidak sepatah katapun diucapkannya.

"Sungguh… sungguh…. Lohu tidak tahu menahu tentang orang itu….!"

Kata Ming Wangwe berulang kalikarena diliputi ketakutan yang sangat.

Ming Wangwe seperti hendak menangis.

Melihat keadaan ayahnya seperti itu, A Heng mengeluarkan jeritan kaget dan telah cepat-cepat menghampiri untuk memeluk ayahnya itu.

Tapi, belum lagi dia bisa menghampiri mendekati ayahnya, dua orang bertubuh tinggi besar, dengan senjata golok di tangan masing-masing telah mencekal lengannya, menahannya, walaupun A Heng meronta, dia tidak bisa melepaskan cekalan kedua orang itu.

"Inilah anak gadisnya, Pangcu!"

Teriak kedua orang itu hampir berbareng.

"Diapun mengetahui orang itu, dan juga dialah yang ingin diambil oleh Pangcu, dimana kami gagal memboyongnya ke markas kita!"

Bola mata lelaki bertubuh tinggi besar dengan jenggot yang telah dua warna itu mencilak mengawasi A Heng, kemudian mulutnya yang memang telah lebar itu jadi semakin lebar karena dia menyeringai, dengan perlahan-lahan dia menghampiri.

"Sungguh cantik!"

Menggumam laki-laki berjenggot dua warna itu, kembali dia menyeringai. Kemudian mengulur tangan kanannya mencolek dagu A Heng, sambil berkata.

"Engkaukah puterinya hartawan she Ming itu?"

A Heng waktu itu melihat ancaman untuk ayah dan dirinya sendiri, diapun segera mengenali bahwa orang yang kedua tangannya dibalut itu adalah Hian Pwee Bong Kiauw Thay.

Sebagai seorang yang cerdik, segera dia dapat menduga 416 tentunya Hian Pwee Bong Kiauw Thay membawa kawan-kawannya ini untrk datang mencari mereka ayah dan anak, tentunya mencari Tocu Tho Hoa To, Oey Yok Su….!"

"Siapa kau… mengapa menghina kami ayah dan anak demikian rupa?!"

Tanya A Heng setelah berhasil menenangkan perasaannya. Orang berjenggot dua warna itu telah tertawa menyeringai sambil katanya kemudian.

"Nona manis, tidak tahukah engkau tengah berhadapan dengan Khiu Toaya? Justru kedatangan kami hendak menjemput karena Khiu Toayamu bermurah hati ingin mengambil kau sebagai gundiknya, tentu dihari-hari mendatang nenti engkau akan menjadi nyonya terhormat yang disegani dan dihormati oleh seluruh orang Kangouw!"

Muka A Heng jadi berubah.

Dia tahu Khiu Toaya ini yang ternyata tidak lain dari Tiat Ciang Siu Siang Pauw Khiu Cian Jin, seorang kangouw yang tidak segan-segan melakukan perbuatan kejam menganiaya mereka ayah dan anak.

Karena itu A Heng menyadari pula walaupun bagaimana tidak dapat dia menghadapi orang semacam Khiu Cian Jin ini dengan sikap yang keras, akhirnya dia mengangguk.

"Baik, baik… jika memang Khiu Toaya memiliki maksud baik seperti itu, tentunya merupakan hal yang menggembirakan sekali!"

Kata A Heng kemudian.

"Apa?!"

Mendengar perkataan A Heng, Khiu Cian Jin jadi tertegun heran, seperti dia kaget sendirinya.

Karena semula dia membayangkan gadis itu tentu akan meronta-ronta dan menangis menggerung-gerung.

Tapi sekarang justru apa yang dilihatnya berlainan dengan apa yang diduganya.

A Heng mengangguk.

"Bukankah seperti yang Khiu Toaya katakan, dengan bermurah hati Khiu Toaya ingin mengambilku menjadi gundikmu? Bukankah Khiu Toaya orang yang sangat terkenal didunia persilatan? Dengan menjadi Nyonyanya Khiu Toaya, tentu akupun akan dihormati dan disegani oleh orang-orang rimba persilatan! Bukankah begitu Khiu Toaya?!"

Khiu Cian Jin berdiam sejenak, kemudian tertawa bergelak-gelak.

"Bagus! Bagus! Kau ternyata seorang yang selain sangat cantik, juga sangat mengerti sekali yang bia melihat selatan!"

Memuji Khiu Cian Jin yang jadi girang bukan main.

"Ayahmu berarti akan menjadi mertuaku, dengan demikian aku harus bersikap hormat sekali padanya!"

Dan kembali Khiu Cian Jin tertawa erbahak-bahak.

Dia kemudian mendadak sekali menghentikan tertawanya, matanya mendelik kepada kedua orang murid Tiat Ciang Pang yang waktu itu masih mencekal kuat-kuat lengan A Heng.

"Mengapa kalian masih merbuat kurang ajar seperti itu, atau memang kalian ingin mamps? Cepat minta maaf pada Pangbo (Istreri Pangcu)!"

Kedua murid Tiat Ciang Pang kaget bukan main, mereka cepat-cepat melepaskan cekalan masing-masing dan menekuk kedua kaki mereka berlutut dihadapan A Heng sambil berkata.

"Harap Pangbo mengampuni kekurang-ajaran kami!"

A Heng mengangguk saja dan kedua murid Tiat Ciang Pang menyingkir ke samping. Sedangkan Kiu Cian Jin telah menghampiri Ming Wangwe, sambil tertawa dia berkata.

"Gakhu (mertua)….. harap menerima hormatnya mantumu…..!" 418 Ming Wangwe memperlihatkan sikap terheran-heran, karena dia kaget dan heran, sampai dia bengong saja menerima hormatnya si "baba mantu"

Ini…! Setelah memberi hormat pada Ming Wangwe, Khiu Cian Jin mengibaskan tangan, katanya bengis "

Kalian semua menunggu di luar, sungguh manusia-manusia gentong nasi yang membikin Gakhu Tayjin jadi kaget…. Kalian perlu diberikan hukuman!"

Murid-murid Thiat Ciang Pang segera cepat-cepat meninggalkan ruangan tersebut, mereka menunggu diluar rumah penginapan.

Khiu Cian jin telah menoleh kepada tamu-tamu dan pemilik rumah penginapan dan para pelayan, katanya.

"Kalian boleh pergi, maafkan atas kejadian ini yang hanya mengejutkan kalian saja!"

Dan Khiu Cian Jin tertawa lagi.

Jika tokh dia melepaskan semua orang itu, karena memang KhiuCian jin tengah bergirang-hati, karena tidak disangka-sangkanya si nona manis yang memang tengah diincarnya itu bisa memberikan sambutan seperti itu.

dan tentu saja dihadapan bakal mertuanya ini dia ingin memperlihatkan watak yang sebaik mungkin.

Ming Wangwe setelah berdiam bengong sejenak, kemudian tersadar dengan wajah yang pucat, katanya.

"Apa….. apa artinya semua ini, mengapa….. mangapa Tayhiap memanggilku dengan sebutan Gakhu?"

Khi Cian Jin menoleh sambil menyeringai, katanya.

"Apakah Gakhu belum mengetahui? Aku mantu Gakhu, dan puterimu itu telah pinuju denganku….. hahaha!"

Muka Ming Wangwe jadi berobah merah padam, walaupun dia erasa takut pada seorang ini, dia ngeri melihat 419 sikap yang garang dan anak buahnya begitu banyak, namun urusan ini adalah urusan puterinya.

"Mana bisa begitu saja….. kau mana bisa berkata seenakmu begitu saja, belum pula kau meminta persetujuanku, belum lagi melamar dan kalian belum lagi menikah, bagaimana kau memanggilku dengan sebutan Gakhu… jika tokh memang antara kau dan anakku terdapat kesepakatan, itupun harus dibicarakan perlahan-lahan!"

"Oh begitu?"

Tanya Khiu Cin Jin sambil tersenyum menyeringai lagi.

"Tentu sana mantu hanya menuruti keinginan Gakhu. Soal pesta perkawinan puterimu denganku jangan kuatir, karena mantumu akan menyelenggarakan pesta yang besar dan meriah, tidak akan kalah meriahnya dengan jika seorang kaisar melangsungkan perkawinannya mengambil Hong Houw (permaisuri)…!"

Ming Wangwe melihat lagak Khiu Cin Jin semakin tidak menyukai.

Memang dia mengetahui orang-orang kangouw umumnya kasar berandalan, tapi urusan ini justru menyangkut soal masa depan puterinya, bagaimana mungkin dia bisa main-main menghadapinya?

Maka Ming Wangwe menggeleng-gelengkan kepalanya, katanya.

"Maafkan Tayhiap, tidak bisa soal ini dibicarakan sekarang. Kami tengah dalam perjalanan ke Souwciu, ketempat kediaman kami yang baru. Jika memang kami telah tiba disana, silakan Tayhiap nanti mengirim orang untuk menemui kami, dan waktu itulah kita membicarakan soal itu….!"

Muka Khiu Cian jin berobah, dia berkata dengan sikap tidak senang.

"Jadi Gakhu tidak mau menerima mantumu ini?!"

Tanyanya. 420 Ming Wangse jadi mengkeret melihat sorot mata yang bengis dari "calon mantu‟ ini, tapi kemudian dia memaksakan diri untuk mengangguk.

"Bukan menolak, tapi soal keputusan soal diterima atau ditolak, itu tergantung dari hasil pembicaraan kita kelak di Siauwciu, urusan pernikahan antara Tayhiap dengan puteriku itu bukanlah urusan remeh, itulah urusan seumur hidup, karena dari itu harus kita bicarakan perlahan-lahan….!"

Khiu Cian Jin berobah wajahnya semakin tidak enak, dia menyeringai dengan wajah yang tidak sedap dilihat dan bengis sekali, sorot matanya juga tajam, dia berkata.

"Terserah pada Gakhu mau menyetujui ata tidak, tapi yang terpenting puterimu itu telah penuju denganku, dan calin isteriku itu akan kubawa serta sekarang ini untuk dibawa ke rumahku….. jika Gakhu setuju, boleh ikut serta untuk hadir dalam pesta perkawinan kami, jika tidak, Gakhupun tidak dipaksa untuk ikut dengan kami…!"

Muka Ming Wangwe jadi berubah sebentar merah sebentar pucat kehijau-hijauab, dia gusar bukan main, tapi dalam gusarpun bercampur jeri, dia tidak berani memperlihatkan kegusarannya itu, hanya katanya.

"Saat ini tidak bisa diputuska begitu saja sepihak dari Tayhiap, karena sebagai ayahnya Lohupun belum lagi membicarakannya dengan anakku itu!"

"Hemm, tadi Gakhu telah mendengar sendiri tentunya, bahwa puterimu itu penuju denganku, maka sekarang Gakhu tidak perlu banyak cara lagi, jangan terlalu rewel...!"

"Tapi…!"

"Tapi apa?!"

Bentak Khiu Cian jin habis sabar, dan dia menggerakkan tangannya, maksudnya hendak menempeleng 421 Ming Wangwe, tangannya yang telah diangkat itu tergantung diudara, tidak jadi diturunkan untuk menempeleng, karena dia teringat dengan segera, walaupun bagaimana lelaki tua dihadapannya itu adalah "Gakhu‟ nya yang tentu saja tidak pantas ditempeleng dihadapan A Heng calon gundiknya.

"Sudah, kau menyingkir kesana!"

Bentak Khiu Cian Jin.

Muka Ming Wangwe waktu itu pucat, dia memandang pada Khiu Cian Jin antara takut dan kuatir, diapun tidak mau menyingkir, karena kuatir kalau-kalau puterinya nanti main paksa dibawa begitu saja oleh orang she Khiu yang tampaknya berangan ini.

A Heng yang melihat keadaan ayahnya seperti itu, telah cepat-cepat menghampiri Khiu Cian Jin, katanya "Khiu Toaya, bukankah engkau mengatakan mau membahagiakanku dihari-hari mendatang, janganlah engkau memperlakukan ayahku seperti itu, karena hatiku jadi sakit dan berduka…!"

"Oh, tidak manis, tidak….. aku hanya meminta ayahmu menyingkir agar kami tidak bertengkar. Tokh pertengkaran tidak membawa kebaikan untukmu?"

Sahut Khiu Cian jin.

"Soal perkawinan kita, memang benar apa yang dikatakan ayah, kitapun biar telah saling cocok satu dengan yang lain dan telah bersepakat, namun harus menghormati orang tua, terlebih lagi pernikahan kita bukan urusan yang remeh, merupakan urusan seumur hidup! Jika memang Khiu Toaya mencintaiku, tentunya Khiu Toaya tidak akan meremehkan urusan itu, sama juga Khiu Toaya tidak memberi muka sedikitpun padaku…!"

"Ohh….. mana boleh begitu, mana boleh begitu?"

Kata Khiu Cian Jin cepat.

"Lihatlah justru aku telah datang kemari untuk menjemputmu! Tidak sembarangan aku bersedia 422 menjemput seperti ini, dengan kedatanganku ini, tanpa mengirim utusan, berarti aku menghormati kalian ayah dan anak…!"

"Tapi Khiu Toaya …!"

A Heng tidak meneruskan perkataannya.

"Tapi kenapa. Manisku?"

Tanya Khiu Cian Jin.

"Bukankan kedatangan Khiu Toaya ingin mencari seseorang?"

Tanya A Heng hati-hati dan diam-diam dia memperhatikan Khiu Cin Jin, dilihatnya muka Khiu Cin Jin berseri-seri.

"Benar! Benar!"

Katanya cepat. Memang aku sedang mencari seseprang. Kebetulan sekali, tentunya aku bisa minta keterangan darimu manis…!"

"Siapakah yang sedang Khiu Toaya cari?"

Tanya A Heng.

"Dia she Oey dan bernama Yok Su, yang waktu itu telah menghajar kalang kabutan murid-murid Tiat Ciang Pang di kapal yang ditumpangi kalian… bisakah kau menjelaskan, manis, orang she Oey itu pergi kemana? Apakah dia tidak memberitahukan tujuannya kepada kalian kemana dia akan pergi?"

A Heng menggelengkan kepalanya.

"Sayang sekali orang itu tidak mengatakan apa-apa…!"

Katanya kemudian.

"Sepatah katajuga dia tidak memberitahukan apapun juga?! Tanya Khiu Cian jin. A Heng menggeleng lagi. Khiu Cian Jin tersenyum.

"Jika memang demikian, biarlah, janganlah kita terlalu memperhatikan urusan itu, karena nanti terganggu kegembiraan kita, disaat-saat bahagia akan memasuki hari perkawinan seperti ini….!"

Muka A Heng berobah merah, dia jengah dan mendongkol! Deia membatin.

"Hemm, siapa yang sudi menjadi isterimu? Lebih baik aku mati daripada menjadi isteri seorang manusia kasar sepertimu!"

Namun belum lagi A Heng berkata-kata untuk mengulur-ulur waktu, tiba-tiba terdengar suara seruling yang mengalun perlahan namun merdu.

Lagipula dalam nada suara seruling itu bagaikan mengandung suatu kekuatan gaib yang memukau!

A Heng jadi berseri-seri girang memperoleh harapan, karena segera juga dia mengenali, itulah lagu "

Thian Mo Bu Kiok‟ (lagu tarian hantu langit) yang pernah didengar A Heng ketika Oey Yok Su meniupkan lagu itu di kapal untuk A Heng mendengarkannya.

Dan lagu itu kini terdengar lagi, sebentar perlahan dan jauh sekali, tapi tidak lama kemudian terdengar meninggi dengan suara yang tetap lembut, bagaikan dekat sekali, seperti suara seruling itu berada dipinggir telinganya.

Muka Khiu Cian jin jadi berobah, tampaknya dia keget bercampur girang, diapun telah berjingkrak sambil berseru.

"Itu dia… cepat cari…!"

Murid-murid Tiat Ciang Pang segera beramburan keluar rumah penginapan. Namun waktu Khiu Cian Jin hendak keluar juga, disaat itulah terdengar orang berkata dengan suara dingin.

"Aku berada disini!" 424 Khiu Cian Jin memang memiliki kepandaian yang tinggi, Iwekangnya juga sempurna. Dia tadi memperhatikan suara itu, seperti juga berada diluar rumah penginapan, namun waktu mendengar per-kataan seseorang itu datangnya dari atas panglarian, segera dia mengangkat kepalanya, maka dia melihat seseorang tengah duduk tenang-tenang disitu dengan wajah yang dingin dan mata yang bengis. Ditangannya tercekal sebatang seruling, mengenakan jubah warna hijau gan berkopiah Shiauw-yan-kin. A Heng ketika melihat orang yang duduk dipenglarian itu jadi girang bukan main, dia sampai berseru tanpa disadarinya dengan kegirangan yang meluap.

"Oey Toako…!"

Orang itu memang tidak lain daripada Oey Yok Su.

Malah waktu itu Oey Yok Su tengah menoleh memandang pada A Heng, melihat si gadis yang tengah berseri-seri dalam kegembiraan yang meluap seperti itu, wajah Oey Yok Su jadi berobah cerah, jika semula dingin tidak berperasaan, kini mukanya itu tampak bersinar cerah dan matanya mengawasi lembut, penuh kasih sayang pada A Heng.

Begitu hangat sorot mata tersebut, sehingga A Heng tanpa diinginkannya telah melangkah beberapa tindak kedepan, dan katanya.

"Oey toako… Oey toako, mereka menghina kami!"

Oey Yok Su mendengus.

"Hemm, perlahan, tahu-tahu tubuhnya seperti seekor rajawali telah terbang turun hinggap disamping A Heng, katanya lembut dan sabar.

"Jangan kuatir A Heng, aku akan menghajar mereka agar hatimu puas…!"

Setelah berkata begitu, Oey Yok Su menoleh kepada Khiu Cian Jin, wajahnya jadi dingin dan bengis, katanya.

"Engkau rupanya Pangcu Thiat Ciang Pang, yang terkenal dengan "

Ngo Tok Sin Ciang Kang‟ (Tangan Besi Yang Beracun)….! 425 Kebetulan sekali kita bisa bertemu, aku orang she Oey ingin sekali meminta petunjuk tangan beracunmu itu…!"

Muka Khiu Cian Jin berobah merah karena mendongkol dan gusar, dia telah menyahuti dengan sengit.

"Bagus! Engkau telah rubuh ditangan Ong Tiong Yang dalam pertempuran di Hoa San. sungguh tidak tahu malu, apakah sebagai jago pecundang sekarang engkau hendak membuka mulut lebar? Aku Khiu Cian Jin waktu itu tengah memiliki urusan yang tidak bisa ditinggalkan dan kerenanya, aku tidak bisa hadir dalam pertemuan di Hoa San, dengan begitu, aku tidak bisa memperluhatkan kebolehanku! Hemm, jika tidak, kalian berlima, Ong Tiong Yang dengan kau, See Tok, Lam Te dan Pak Kay, tentu bukan menjadi tendinganku, dimataku kalian tidak lebih dari bocah-bocah nakal belaka….!"

Mendengar perkataan Tiat Ciang Sui Siang Piauw Khiu Cian Jin, Oey Yok Su mendengarkan dengan suara dingin, mukanya dingin tidak berperasaan dan bengis sekali.

Dia memang telah cukup lama mendengar nama besar Khiu Cian Jin.

Memang jago ini memiliki tangan yang beracun sekali.

Beberapa tahun Khiu Cian Jin telah melatih dan memahamkan Ngo Tok Sin Ciang Sin Kang yang sangat beracun sekali, semacam ilmu yang luar biasa, justru waktu diselenggarakan pertemuan pertama di Hoa San, latihan Ngo Tok Sin Ciang Sin Kang belum sempurna diyakininya, maka dia tidak ikut serta sebab dia jeri pada Ong Tiong Yang yang memiliki ilmu yang sempurna.

Karena dari itu, dia telah melatih diri terus dengan giat untuk menyempurnakan ilmunya itu, untuk dapat ambil bagian dalam pertemuan kedua di Hoa San, guna merebut gelar "Bu Kong Thian Hie It‟ (Jago nomor satu dikolong langit ini).

"Baiklah, aku telah menyaksikan , betapa seorang Pangcu yang ternama, yang memiliki ilmu yang luar biasa hebatnya, 426 yang demikian perkasa, hingga bisa membuat orang mengkeret ketakutan, tidak peduli pria ataupun wanita, sungguh membuat aku Oey Yok Su jadi kagum bukan main…!"

Kata Oey Yok Su kemudian.

Itulah ejekan buat Khiu Cian Jin, dia mengawasi Oey yok Su dengan sorot mata yang merah menyala karena murka, sampaiakhirnya berkata dengan suara yang menahan kegusarannya itu.

"Baik, baik orang she Oey, jika memang di Hoa San kita tidak memiliki kesempatan untuk bertemu muka, maka aku hendak mengajakmu main-main, guna melihat, apakah engkau nanti panta atau tidak turut serta dalam pertemuan di Hoa Sah yang kedua kalinya….. jika memang sekali ini engkau rubuh ditanganku, berarti engkau sudah tidak memiliki hak untuk ambil bagian dalam pertemuan kedua di Hoa San…!"

Mendengar perkataan Khiu Cian Jin seperti itu, Oey Yok Su tertawa dingin, katanya dengan tawar.

"Baik, baik aku ingin melihat tangan beracunmu itu hebat sampai ditingkat keberapa dan apakah bisa melumpuhkan Tong Shia ….. jika memang Tong Shia harus tunduk kepadamu hari ini, maka aku tegaskan disini saja, untuk selanjutnya aku tidak mau dipusingi lagi dengan segala urusan pertemuan di Hoa San dan juga gelar Bu Kong Thian Hee Tee It sudah tidak ingin kuperebutkan lagi! Malah jika memang kau mau memiliki gelar Bu Kong Thian Hee Tee It itu, aku Oey Yok Su akan mempersembahkan dengan kedua tanganku!"

Dan setelah berkata begitu, Oey Yok Su mengibaskan serulingnya, simana dia telah menyampok udara kosong, sambil katanya.

"Mari kita main….!" 427

"Mari kita mulai…..!"

Kata Khiu Cian Jin sambil mengerahkan tenaga dalamnya ke telapak tangannya.

Diam-diam dia memang bermaksud sekali turun tangan membinaakan Oey Yok Su.

Dia memang mengetahui bahwa Oey Yok Su merupakan salah seorang jago luar biasa yang memiliki kepandaian telah sempurna dan tidak boleh dipandang ringan.

Jika tadi dia bersikap acuh tak acuh dan tidak memandang sebelah mata pada Oey yok Su, itu untuk memperlihatkan sikap keagung-agungan, bagaikan Oey yok Su tidak berarti dimatanya.

Kedua jago yang memiliki kepandaian sempurna ini telah saling berhadapan.

Oey Yok Su sendiri memang belum pernah bertemu muka dengan Khiu Cian Jin.

Cuma saja dia telah mendengar banyak prihal Pangcu Tiat Ciang Pang ini, yang menurut cerita orang memiliki kepandaian yang sangat tinggi sekali dan boleh jadi diatasnya kepandaian Ong Tiong Yang.

Namun sebagai orang yang berperingai aneh, Oey Yok Su tidak jeri menghadapinya.

Khiu Cian Jin setelah merasa cukup mengerahkan tenag dalamnya pada telapak tangannya, yang telah dilatihnya dengan direndam racun selama tahunan itu, telah melayangkan tangan kanannya, tahu-tahu dia menyampok ke arah Oey Yok Su.

Sama sekali dia tidak bermaksud untuk menyerang mengenai sasaran, tapi angin serangan yang menebarkan bau amis itu telah menerjang Oey Yok Su dan Oey Yok Su dan menyebabkan harus mundur karena menyadari itulah hawa racun yang hebat sekali.

Tapi Oey Yok Su juga mundur bukan untuk berdiam diri, karena dia telah melompat kesamping sambil menggerakkan serulingnya, membabat kearah pergelangan tangan Khiu Cian 428 Jin, sebab ujung seruling itu telah meluncur akan menotok jalan darah Kie hiat-hiat dari orang she Khiu tersebut.

Khiu Cian jin menarik pulang tangannya sehingga hawa pukulan yang menebarkan bau amis dan mengandung racun telah tidak menyelubungi Oey Yok Su lagi.

Tocu Tho Hoa To itu turun tangan tidak tanggung-tanggung, melihat lawannya menarik pulang tangannya, serulingnya yang tengah bergerak untuk menyerampang tangan Khiu Cian Jin telah diteruskan sehingga kini meluncur lurus sekali, akan menotok dada Khiu Cian Jin.

Khiu Cian Jin melompat lagi kesamping dengan tubuh yang bergoyang kebelakang, guna menjauhkan diri dari ujung seruling itu.

dengan gerakan seperti itu Khiu Cian Jin memang telah berhasil mengelakkan diri dari totokan tersebut.

Tapi Oey Yok Su sama sekali tidak mau membuang-buang waktu lagi, dalam waktu yang sangat singkat dia telah menotok lima atau enam kali yang dilakukannya dengan beruntun.

Dan Khiu Cian Jin juga telah balas menyerang dengan cepat sekali, sepasang tangannya itu bergerak-gerak dan dari kedua telapak tangannya itu telah meluncur angin pukulan yang mengandung racun yang hebat dan bisa mematikan, sehingga Oey yok Su mersakan angin pukulan yang amis dan memuakkan.

Kala itu Khiu Cian jin sendiri telah melihat bahwa kepandaian Oey Yok Su memang bukan sembarangan.

Karena biarpun Oey Yok Su menyerang baru beberapa jurus, namun kenyataan yang ada, dia telah memperlihatkan tingkat Iwekang dan kepandaiannya yang sempurna.

Sebagai seorang yang telah memiliki kepandaian sempurna, sekali melihat begitu saja Khiu 429 Cian Jin telah mengetahui bahwa Oey Yok Su memang memiliki kepandaian yang tidak berada disebelah bawah kepandaiannya dan kemungkinan juga masih berada diatasnya!

Memang Tocu Tho Hoa To itu memiliki kepandaian yang aneh sekali disamping hebat.

Sebagai seorang yang memiliki Iwekang yang sempurna dan juga mengerti ilmu Cu Kat Bu Hauw yaitu ilmu delapan penjuru langkah yang menurut jalannya Pat Kwa, maka Oey Yok Su bisa menyerang Khiu Cian Jin selalu dari berbagai jurusan, sebab tubuh Oey Yok Su sebentar berada disebelah kanan, lalu disebelah kiri, mendadak sekali disebelah belakang, dan tiba-tiba didepannya lagi.

Dengan tindakan yang ringan dan enteng sekali, Oey Yok Su seperti tidak menginjak tanah dan setiap kali serulingnya bergerak menyerang, maka sasaran yang dicecarnya itu merupakan jalan darah yang bisa mematikan atau setidaknya mengakibatkan terluka didalam kalau saja salah satu jalan darah Khiu Cian Jin kena tertotok.

Waktu itu, A Heng yang mengawasi jalannya pertempuran itu tengah mengawasi dengan hati yang berdebran kuatir sekali, dia telah menghampiri ayahnya.

Mereka Ayah dan anak telah menyeksikan jalannya pertempuran itu.

sedangkan tamu-tamu lainnya didalam rumah penginapan itu dan pemilik rumah penginapan bersama beberapa orang pelayan, telah ikut menyaksikan jalannya pertempuran tersebut dengan hati mengkeret, karena mereka mengetahui kedua orang itu memiliki kepandaian yang tinggi sekali.

Mereka berdoa agar Oey Yok Su yang memperoleh kemenangan, sebab jika Khiu Cian Jin yang memperoleh kemenangan, tentu mereka bisa celaka di tangan Khiu Cian jin Pangcu dari Tiat Ciang Pang yang terkenal sangat kejam itu.

430 Murid-murid Thiat Ciang Pang yang mendengar suara ribut-ribut di dalam, telah menyerbu masuk dan waktu meluhat Pangcu mereka tengah bertempur dengan seseorang, yang merupakan orang yang tengah mereka cari, yaitu Oey Yok Su, mereka mengepung sekitar ruangan tersebut, senjata mereka dicekal kuat-kuat, karena jika pangcu mereka mengalami ancaman bahaya, tentu mereka bisa menyerbu untuk mengeroyok Oey Yok Su, dan diwaktu itu, mereka juga telah melihatnya di ruangan tersebut bahwa pangcu mereka memang agak terdesak, trutama sekali Pangcu dari Tiat Ciang pang tersebut berulangkali harus mundur.

Khiu Cian Jin sendiri jadi sangat penasaran sekali dan gusar, karena selama dia meyakinkan ilmunya, Ngo Tok Sin Cian Sin Kang, dia yakin akan dapat mempergunakan ilmunya tersebut menghadapi Ong Tiong Yang, si manusia yang berkepandaian nomor satu di kolong langit ini, sedangkan menghadapi Oey Yok Su saja, jago yang memiliki kepandaian satu tingkat dibawah kepandaian Oang Tiong Yang, bukannya dia bisa merubuhkan lawannya, malah dirinya sendiri yang terdesak berulang-kali.

Waktu itu Khiu Cian jin, setelah melihat cara menyerang Oey Yok Su dan masih juga mempergunakan serulingnya untuk menotok, telah merobah cara bertempurnya, dia telah menggerakkan kedua tangannya yang didorongnya silih berganti.

Dalam keadaan seperti inilah tampak jelas sekali, betapa jelas sekali, betapa angin yang mengandung hawa racun menggempur bertubi-tibi pada Oey Yok Su.

Oey Yok Su ketika melihat bertempurnya Khiu Cian jin yang lain dari semula dan waktu itu juga, selain tenaga pukulan lebih kuat, pula mengandung racun lebih hebat, telah merobah 431 pula cara bertempurnya.

Dia mendekatkan seruling kebibirnya, kemudian meniupnya dengan suara merayu-rayu.

Sambil meniup serulingnya itu, tubuh Oey Yok Su juga berkelebat kesana kemari mengelilingi Khiu Cian Jin dan Khiu Cian Jin seperti melihat Oey Yok Su telah berobah menjadi puluhan Oey Yok Su, dimana hal itu disebabkan cepatnya Oey Yok Su mengelilinginya berpindah-pindah tempat dari yang satu ketempat lainnya, dari samping kebelakang, dari belakang kedepan lagi, dari depan kesamping kiri atau kekanan.

****

Jilid 12 BEGITU seterusnya.

Dan Khiu Cian Jin seperti dikurung oleh bayangan Oey Yok Su.

Dengan demikian terlihat betapa Khiu Cian Jin jadi repot sekali menghindarkan diri maupun melompat kesana kemari menghindarkan serangan Oey Yok Su, yang sekali-sekali menggunakan kakinya untuk me-nendang, menotok dengan memper-gunakan ujung sepatunya.

Begitulah kedua orang ini telah terlibat dalam sebuah pertempuran yang benar-benar seru sekali.

Semua orang yang mengawasi jalannya pertempuran tersebut jadi mengawasi dengan mata terpentang lebar-lebar.

Waktu itu anak murid Tiat Ciang Pang, walaupun mereka masing-masing mencekal senjata tajam, namun mereka tidak berani sembarangan menyerbu maju untuk mengeroyok Oey 432 Yok Su.

Pertama, mereka tidak berani menerjang maju sebelum mendapat perintah dari pangcu mereka.

Kedua, karena memang mereka mengetahui Oey Yok Su memiliki kepandaian yang tinggi sekali, dengan demikian, jelas jika mereka main terjang saja, menyebabkan mereka menerima bencana yang tidak kecil.

Bukankah sudah ada contoh kawan-kawan mereka yang dihajar kalang kabutan oleh Oey Yok Su diatas perahu beberapa waktu yang lalu?

Dan bukankah telah ada contoh pula betapa Hian Pwee Bong Kiauw Thay telah dihajar hancur sepasang tangannya sehingga Hian Pwee Bong Kiauw Thay menjadi manusia bercacat?

Waktu itu setelah berkelebat-kelebat beberapa saat dan lagu yang dimainkannya telah habis, maka Oey Yok Su telah berkata.

"Sekarang sudah tiba waktunya aku menghajarmu!"

Dan tampak Oey Yok Su sudah merobah cara bertempurnya, tubuhnya berkelebat semakin cepat, dan Khiu Cian Jin merasakan angin serangan yang bertubi-tubi menyambar kearahnya, menyambar dengan hebat dan kuat, mengincar bagian-bagian yang mematikan disekeliling dirinya.

Khiu Cian Jin sendiri mencelos hatinya.

Sekarang dia baru menyadari bahwa dirinya memang bukan tandingan Oey Yok Su.

Jangankan hendak merubuhkan Ong Tiong Yang, sedangkan dengan Oey Yok Su yang kepandaiannya satu tingkat dibawah Ong Tiong Yang, dia dibuat tidak berdaya.

Malah sebagai orang yang memiliki kepandaian yang sangat tinggi dan juga Iwekang yang kuat, segera juga Khiu Cian Jin menyadarinya, sedikitnya dia berada satu tingkat dibawah kepandaian Oey Yok Su…!

Diantara angin serangan yang menderu-deru dan bayangan tubuh kedua jago yang mengukur kepandaian itu, yang 433 berkelebat-kelebat dengan gesit sekali tidak bisa dilihat jelas, terdengar Oey Yok SU telah berkata.

"Sekarang kau terimalah ini!"

Dan tahu-tahu Oey Yok Su telah menyentil dengan jari telunjuknya.

Gerakan yang dilakukan itu nampak perlahan sekali, namun tenaga menyentilnya itu hebat sekali, sehingga mendatangkan gelombang angin serangan yang luar biasa dahsyatnya.

Khiu Cian Jin mati-matian berusaha meng-elakkan diri, dan dia memang berhasil menghindari telunjuk Oey Yok Su, namun justru yang menjadi korban adalah lengan jubahnya yang kena ditotok jari telunjuknya Oey Yok Su, sampai lengan jubahnya itu berlobang.

Khiu Cian Jin melompat mundur dengan wajah yang merah padam, karena dia gusar dan malu, dia telah membentak.

"Orang she Oey, hari ini memang aku mengakui telah dirubuhkan olehmu, tapi kelak dalam pertemuan yang kedua kalinya di Hoa San, kita akan bertemu pula, disana kita akan mengadu kepandaian sepuas hati..!"

Lalu tanpa menantikan jawaban Oey Yok Su, Khiu Cian Jin telah memutar tubuhnya, dia telah mengisyaratkan murid-murid Tiat Ciang Pang agar meninggalkan tempat tersebut.

Oey Yok Su tidak menahan kepergian lawannya itu, diapun tidak mengejaknya, hanya dia mengawasi dengan wajah yang dingin dan sorot mata yang tajam.

**** Setelah Khiu Cian Jin dan murid-muridnya berlalu, maka Ming Wangwe dan tamu-tamu rumah penginapan lainnya, 434 termasuk pemilik rumah penginapan dan para pelayan telah memberi hormat kepada Oey yok Su yang telah datang untuk mengusir Khiu Cian Jin dan murid-muridnya itu.

Terlebih lagi pemilik rumah penginapan itu, yang telah memperlakukan Oey Yok Su dengan sikap yang manis dan mempersilakan tuan penolong ini memilih sebuah kamar istimewa yang paling bagus di rumah penginapannya ini…!

Ming Wangwe sambil merangkapkan tangannya dan membungkuk memberi hormat, telah berkata.

"Terima kasih atas pertolongan kali ini Tayiap… telah dua kali Tayhiap menyelamatkan kami ayah dan anak dari tangan manusia-manusia jahat itu… entah bagaimana caranya aku orang she Ming harus membalas budi besar Tayhiap…!"

Oey Yok Sy hanya mengangguk saja, katanya.

"Aku hanya melakukan apa yang ingin kulakukan… sudahlah, diantara kita tidak terdapat budi dan kebaikan, karena apa yang kusenangi tentu akan kulakukan. Jika memang aku tidak menyukai kalian, tentu aku bisa saja membantu Khiu Cian Jin untuk menyiksa kalian!"

Ming Wangwe tercengang sejenak, didalam hatinya dia berkata.

"Dasar orang Kagouw, kasar-kasar semua, tidak tahu peradatan dan sopan santun…!"

Tentu saja apa yang dipikirkannya itu tidak berani diutarakannya, dia tersenyum sambil katanya.

"Tayhiap, bagaimana jika kami mengundang Tayhiap makan-makan bersama kami? Lohu mengundang Tayhiap, untuk menyampaikan rasa terima kasih kami!"

Jika dalam keadaan biasa tentu Tecu Tho Hoa To ini akan mengejek atas keinginan Ming Wangwe yang mau menjamunya, tapi kali ini justru lain.

Dia melirik dulu pada A Heng, yang waktu itu si gadis tengah mengawasinya dengan 435 bibir tersungging senyuman, matanya yang bersinar mengandung kegirangan yang meluap dan juga pancaran perasaan mencintai.

Maka Oey Yok Su tidak tega untuk menolak keinginan ayah si gadis yang disayangnya itu, disamping itu nanti bisa A Heng berduka.

Maka Oey Yok Su kemudian mengangguk.

"Baiklah, terima kasih Ming Wangwe…!"

Kata Oey Yok Su perlahan.

Bukan main girangnnya Ming Wangwe, segera dia perintahkan pelayan untuk mempersiapkan sebuah meja perjamuan yang lengkap dengan segala makanan yang lezat-lezat.

Disamping itu Ming Wangwe dalam girangnya telah memesan sebuah meja perjamuan lainnya, menjamu para kusir kereta, agar mereka ikut meramaikan perjamuan itu, untuk ikut bergembira.

Oey Yok Su duduk dengan wajah yang dingin, sedangkan Ming Wangwe menjamunya dengan menghormat sekali.

Demikian juga pelayan pemilik rumah penginapan yang ikut berpesta juga, memperlakukan Oey Yok Su dengan menghormat sekali, karena mereka telah melihat betapa Oey Yok Su memiliki kepandaian yang begitu tinggi, memiliki kehebatan yang menakjubkan, dengan mudah telah bisa mengusir Khiu Cian Jin dan murid-muridnya…!

Tapi perlakuan dan pelayanan yang diterima oleh Oey YokSu tidak menggembirakan Oey Yok Su.

Dipulaunya sendiri dia hidup bagaikan seorang kaisar, dia dilayani oleh pelayan-pelayannya.

Pelayan-pelayan yang telah dipotong lidahnya sehingga menjadi gagu semua, pelayan-pelayan yang telah ditusuk telinganya sehingga menjadi tuli.

Dimama Oey 436 Yok Su dilayani dengan sikap menghormat, dilayani bagaikan seorang Kaisar belaka….!

Memang para pelayannya itu adalah para mantan penjahat, yang latar belakang kehidupannya telah diselidiki dengan benar oleh Oey Yok Su, mereka merupakan manusia-manusia busuk, karena dari itu Oey Yok Su telah memaksa dan membawa mereka ke pulaunya, dipotong lidahnya, ditusuk telinganya, sehingga gagu dan tuli.

Lalu diperintahkan kepada mereka untuk melayani dirinya, dan sikap Oey Yok Su terhadap mereka selalu bengis, dimana tidak segan-segan Oey Yok Su akan menurunkan tangan kejam mengandung kematian buat pelayannya yang berani melarikan diri.

Bahkan Oey Yok Su sendiri pernah berkata.

"Aku Oey Yok Su, aku bukan seorang Kauwcu, kaum Kangouw menyebut aku Tong Shia, si sesat dari Timur maka dengan sendirinya tidak dapat bergaul dengan bangsa budiman. Bujang-bujang, semakin dia jahat, semakin tepat untukku…!"

Dan memang Tong Shia memiliki adat dan perangai yang aneh, malah oleh sahabat-sahabatnya dia dikenal sebagai orang yang agak sesat sepak terjangnya.

Hal itu disebabkan oleh Oey Yok Su memang selalu membawa cara hidupnya, tidak pernah mau mentaati segala peradatan yang terdapat dalam pergaulan antara sesama manusia.

Dia bilang hitam, harus hitam, dia bilang putih harus putih.

Maka yang hitam dibilang putih, orang lain harus menurutnya, tidak ada seorangpun yang boleh membantah perkataannya, sebab jika ada orang berani membantah perkataannya, niscaya Oey Yok Su akan sebal dan muak, berarti bisa saja dia turunkan tangan kejam mencelakai orang itu, jika tidak dibinasakannya, tentu akan disiksanya agar orang itu menjadi bercacat.

437 Waktu itu, Oey Yok Su yang mendapat pelayanan istimewa dari Ming Wangwe dan puterinya, telah menerima pelayanan tersebut dengan girang pula, karena disampingnya memang ada A Heng si gadis yang sangat dicintainya.

Rupanya Ming Wangwe telah melihat juga, betapa puterinya memperlakukan Oey Yok Su dengan sikap manis luar biasa, juga Oey Yok Su selama memandang A Heng dengan sorot mata mencintai, maka orang tua itu hanya senyum-senyum dan pura-pura pilon tidak mengetahuinya, hanya dia selalu menyediakan dan mengisi cawan arak yang telah habis diteguk oleh Oey Yok Su dengan arak baru dari pocinya.

Begitulah Oey Yok Su telah memperoleh kamar yang cukup besar dan diatur bersih sekali oleh pemilik rumah penginapan tersebut.

Mereka berpesta bersama para tamu rumah penginapan yang lainnya sampai larut malam, barulah mereka berpisah kembali ke kamar masing-masing.

Malam itu tampaknya Ming /wangwe gembira sekali.

Tapi keesokan paginya, ketika dia terbangun dari tidurnya, dan setelah bersalin pakaian, Ming Wangwe jadi terkejut dan berduka, dia tidak melihat puterinya dan hanya menemukan sepucuk surat yang menyatakan bahwa puterinya ini ikut dengan Oey Yok Su, untuk jadi isteri Tocu Tho Hoa To tersebut.

Dan Oey Yok Su didalam surat itu juga menjelaskan bahwa dia tidak pernah menuruti peradatan yang ada dan meminta Gakhunya itu memaafkan tindakannya yang main ajak begitu saja pada puteri orang she Ming tersebut.

Ming Wangwe hanya bisa menghela nafas dalam-dalam.

Dia memang mengetahui bahwa orang-orang kangouw terdiri dari manusia-manusia kasar, tapi dia sama sekali tidak 438 mengetahui bahwa Oey Yok Su sesungguhnya seorang tokoh besar dalam kalangan Kangouw, seorang yang kepandaiannya telah sempurna dan sudah tidak ada lawannya lagi selain keempat tokoh besar lainnya.

Disamping itu juga memang Oey Yok Su mem-punyai perangai yang aneh dan bertindak sesuai kata hati belaka.

Maka terhadap A Heng, dikala gadis itu memang mencintainya juga, maka Oey Yok Su telah mengajukan lamarannya langsung pada gadis itu setelah bubarnya pesta, dia mendatangi kamar si gadis, menanyakan apakah cintanya itu bersambut.

Dan setelah memperoleh jawaban bahwa A Heng junga mencintainya maka Oey Yok Su telah membawa pergi gadis tersebut.

Ming Wangwe benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukan, selain keesokan paginya dia melanjutkan perjalanan menuju ke Souwciu.

**** OEY YOK SU yang mengajak A Heng telah mengempit gadis itu dan berlari dengan cepat dan pesat sekali, karena dia telah mempergunakan ginkangnya yang telah sempurna.

A Heng merasakan betapa tubuhnya seperti melayang-layang diangkasa.

Gadis ini telah memejamkan matanya, dia tidak berani melihat sekitarnya yang dilaluinya.

Setelah fajar menjelang datang dan matahari pagi mulai memancarkan sinarnya, Oey Yok Su baru menurunkan si gadis.

Mereka telah berada disebuah permukaan hutan yang tidak begitu lebat.

Setelah beristirahat beberapa saat lamanya, Oey Yok Su telah bersembahyang kepada Langit dan Bumi, buat 439 meresmikan pernikahan mereka.

Barulah kemudian mereka meneruskan perjalanan, dimana Oey Yok Su ingin membawa pengantin barunya ini pulang ke Tho Hoa To, untuk hidup bahagia disana.

Sepanjang dalam perjalanan, Oey Yok Su menceritakan pada A Heng, bahwa sesungguhnya dia selalu mengikuti ayah dan anak itu, secara diam-diam telah melindunginya.

Tetapi ketika melihat Khiu Cian Jin, dia sengaja hendak melihat dulu apa yang dilakukan oleh Khiu Cian Jin, baru kemudian memperlihatkan dirinya.

Oey Yok Su juga mengatakan, di pulaunya yang indah itu, A Heng akan diperlakukan sebagai ratunya….!

Dengan demikian Ming Sian Heng, puteri dari Ming Wangwe, telah resmi menjadi Nyonya Oey Yok SU.

Mereka merupakan pengantin baru yang berbahagia sekali.

Walaupun Ming Sian Heng atau A Heng meras berat berpisah dengan ayahnya, namun karena cintanya yang begitu besar pada Oey Yok Su, akhirnya dia memang bahagia disisi suaminya, terlebih lagi Oey Yok SU memang sangat mencintai dan memanjakannya.

Tidak ada satu permintaan dari A Heng yang tak pernah diturutinya.

Dan Oey Yok Su yang mempunyai perangai yang aneh itu memang tunduk sekali pada isterinya, karena memang dia sangat sayang pada A Heng, sedapat mungkin dia ingin membahagiakan puterinya tersebut.

**** ONG TIONG YANG yang telah memiliki Iwekang sempurna dan ilmu silat yang telah mencapai puncak 440 kesempurnaan, mengetahui bahwa detik-detik terakhir dari hidupnya tidak akan lama lagi.

Karena sebagai seorang yang telah memiliki kepandaian begitu sempurna dan sulit ditakar, Ong Tiong Yang bisa mengetahui kapan detik-detik hidupnya akan berakhir dan kapan meninggalnya…!"

Didalam rimba persilatan Ong Tiong Yang sudah tidak ada tandingannya lagi, karena dialah orang yang berkepandaian paling tinggi dan nomor satu di kolong langit.

Untuk itu dia telah memperoleh pengakuan resmi dari empat tokoh besar lainnya.

Namun justru, akhirnya dia menyerah juga pada usia tuanya, dimana kematian tokh akan menjelang datang.

Namun yang membuat Orn Tiong Yang berat adalah prihal Kiu Im Cin Keng, karena jika dia menutup mata, kitab itu tntu akan menjadi rebutan kembali dari orang-orang rimba persilatan, dengan demikian akan menimbulkan korban yang banyak sekali.

Inilah yang tidak diinginkan oleh Ong Tiong Yang.

Waktu Ong Tiong Yang ikut serta dalam pertemuan pertama di Hoa San, tujuan utamanya bukanlah untuk memperoleh gelar "Bu Kong Thian Hee Tee Ie‟ (Jago Nomor Satu di Kolong Langit).

Ikut sertanya Ong Tiong Yang hanyalah untuk memperoleh kitab Kiu Im Cin Keng.

Dan juga bukan sekali-sekali Ong Tiong Yang ingin menyerakahi kitab Kiu Im Cin Keng tersebut.

Bukan untuk memiliki dan mempelajari isi kitab tersebut, karena tujuannya yang utama, karena dia ingin menyimpan kitab tersebut agar tidak diperebutkan lagi oleh orang-orang kangouw.

Dengan demikian, korban-korban yang berjatuhan disebabkan saling memperebutkan kitab Kiu Im Cin Keng itu dapat dicegah.

441 Ong Tiong Yang memang merupakan jago yang berkepandaian nomor satu di kolong langit ini.

dengan demikian, jika ia mempelajari ilmu dalam kitab Kiu Im Cin Keng, dia tokh memang tetap merupakan jago nomor satu dikolong langit.

Karena dari itu, belajar atau tidak akan isinya Kiu Im Cin Keng buat Ong Tiong Yang sama saja, namun yang utama adalah menyelamatkan orang-orang kangouw, jangan sampai jatuh korban karena kitab Kiu Im Cin Keng tersebut yang tidak habis-habisnya diperebutkan.

Sekarang karena dia telah mengetahui bahwa tidak lama lagi dia tentu akan menutup mata, maka Ong Tiong Yang jadi berduka dan bingung juga, sebab tidak tahu kepada siapa kitab itu akan diwariskannya.

Jika memang dia mewariskan untuk Ciu Pek Thong, tokh jago-jago lihay lainnya akan berduyun-duyun mendatangi Pek Thong untuk memperebutkan Kiu Im Cin Keng tersebut.

Terlebih lagi jika dia memberikan kitab tersebut kepada murid-muridnya.

Karena dari itu, akhirnya Ong Tiong Yang telah memutuskan tidak akan memberikan kitab itu baik kepada Pek Thong maupun pada Ma Giok dengan keenam sutenya itu.

Akhirnya Ong Tiong Yang memutuskan saja kitab Kiu Im Cin Keng dibakar saja, untuk menghindari kekacauan dikemudian hari dalam rimba persilatan.

Sebelumnya kitab Kiu Im Cin Keng itu telah disembunyikan oleh Ong Tiong Yang dibawah tindihan batu yang sangat besar dan berat, sehigga tidak mudah untuk diangkat oleh sepuluh orang atau lebih, maka kitab tersebut boleh dianggap tersimpan dengan baik.

Dan memang Ong Tiong Yang juga menyadari, selama kitab itu berada didalam tangannya tentu tidak akan ada 442 seorangpun yang berani datang untuk mencurinya, baik Oey Yok Su, Auwyang Hong, Lam Te Toan Hongya maupun Pak Kay Ang Cit Kong, begitu juga dengan jago-jago lihay lainnya.

Namun justru disaat-saat pada akhir dari hidupnya ini, Ong Tiong Yang kuatir tokoh-tokoh besar maupun jago-jago lihay lainnya akan berdatangan untuk mem-perebutkan kitab Kiu Im Cin Keng itu begitu dia menutup mata.

Sore itu, Ong Tiong Yang telah memanggil Ciu Pek Thong, kepada adik seperguruannya ini, dia perintahkan untuk mengambil kitab Kiu Im Cin Keng.

Ciu Pek Thong segera mengambil kitab itu, dia dibantu oleh Ma Giok bertujuh.

Memang Pek Thong dan para keponakan muridnya itu memiliki kepandai-an yang tinggi, maka mereka dapat mengangkat batu besar yang menindih kitab pusaka tersebut.

Segera Pek Thong membawa kitab Kiu Im Cin Keng itu kepada Ong Tiong yang, menyerahkannya dengan hati yang menduga-duga, entah apa yang hendak diperbuat oleh suhengnya ini terhadap kitab pusaka tersebut, yang telah membuat mengiler para jago dikalangan dunia persilatan.

Kemudian Ong Tiong Yang juga telah perintahkan Pek Thong untuk menyalakan api di perapian, dia bermaksud untuk membakar kitab pusaka itu diperapian tersebut untuk dimusnahkan.

Pek Thong terkejut mendengar niatan kakak seperguruannya itu.

"Suheng?"

Katanya dengan suara agak tergetar. Ong Tiong Yang mengawasi adik seperguruannya ini.

"Ada apa sute?!"

Tanyanya dengan suara yangsabar, dan 443 tangannya telah mengusap-usap kitab pusaka Kiu Im Cin Keng itu, sambil menantikan marongnya api di perapian tersebut.

"Apakah….. apakah kitab itu….. kitab itu akan dimusnahkan?"

Tanya Pek Thong.

Ong Tiong Yang menghela nafas, dia tidak segera menyehuti, matanya menatap ke arah api yang menyala cukup besar.

Setelah menghela nafas beberapa kali, barulah Ong Tiong Yang berkata seperti menggumam.

"Inilah hasil capai lelah capai hati Tat Mo Cauwsu Locianpwe yang akhirnya berhasil menciptakan kitab pusaka luar biasa ini, mana dapat kitab pusaka ini termusnah ditanganku? Mana dapat kitab pusaka yang merupakan pekerjaan yang tidak ringan dan telah mensia-siakan waktu Tat Mo Couwsu Locianpwe itu banyak tahun termusnah begitu saja ditanganku?"

Dan setelah berkata dengan suara menggumam seperti itu, Ong Tiong Yang menghela nafas lagi beberapa kali, baru kemudian melanjutkan lagi perkataannya itu.

"Air memang dapat menampung perahu, namun juga dapat membuat perahu menjadi karam karenanya. Karena dari itu haruslah dilihat, bagaimana orang-orang dijaman mendatang dapat mempergunakan kitab ini yang mungkin bisa membawa kebaikan bisa pula membawa kekacauan dan korban. Hanya orang-orang partai kita, siapapun tak dapat menyaksikan ilmu ini, agar jangan sampai orang luar mengatakan aku merampas kitab sebab aku serakah."

Setelah berkata begitu, Ong Tiong Yang memejamkan matanya, kemudian dia membuka lagi, katanya pada Ciu Pek Thong.

"Dan harap engkau mau menjaga dan mencegah kerusuhan hanya disebabkan oleh kitab ini…!"

Kemudian Ong Tiong Yang memejamkan matanya lagi, kali ini dia 444 memejamkan matanya itu untuk tidak dibuka lagi.

Dia ternyata telah menutup mata dalam keadaan duduk bersemedhi.

**** Malam itu, seluruh kuil diliputi kedukaan yang sangat hebat.

Pek Thong menangis menggerung-gerung sampai berjam-jam lamanya, bagaikan air matanya itu tak pernah kering.

Bahkan Pek Thong karena terlalu berdukanya, dia sampai tidak bisa menahan diri dan bergulingan di lantai, sampai sibuklah Ma Giok dan yang lainnya berusaha membujuknya.

Akhirnya Pek Thong sendiri yang tersadar dan berkata.

"Benar! Aku tidak boleh menangis terus-terusan! Jika memang aku mau menangis, aku boleh menangis setelah selesainya penguburan jenazah Ong Suheng….! Waktu itu barulah aku boleh menangis lagi!"

Jenazah Ong Tiong Yang ditahan di kuil untuk bedok dimandikan dan diurus serta disembahyangi.

Waktu itu belum lagi menjelelang jam tiga malam,telah terjadi keonaran yang tak pernah diduga sebelumnya….

Malam itu, dikuil Tiong Yang Kiong tampak sunyi dan sadhu sekali, diliputi kedukaan.

Dan juga daun-daun pohon dihutan dekat kuil Tiong Yang Kiong tersebut seperti ikut berduka atas meninggalnya seorang tokoh utama rimba persilatan, seorang yang memiliki kepandaian ilmu silat nomor satu dalam rimba persilatan dan di kolong langit ini yang akhirnya menyerah kalah dan juga pada usia tuanya dimana dia harus menutup mata karena memang ajalnya telah sampai, 445 dipanggil pulang untuk menghadap Raja Akherat….!

Ong Tiong Yang jago yang bergelarThiong Sin Tong, si jago nomor satu di kolong langit, yaitu Bu kong Thian He Tee It, yang telah diakui dengan resmi oleh jago-jago lainnya.

Dari kuil Tiong Yang Kiong terdengar orang membaca ayat-ayat suci, dimana begitu sendu sekali, para pendeta di kuil tersebut yang telah menemani jenazah dari Coan Cin Kauwcu dan merangkap Cauwsu mereka juga yang merupakan cikal bakal Coan Cin kauw.

Memang dalam diliputi kedukaan seperti itu, keadaan disekitar kuil Tiong Yang kiong sangat sunyi.

Ciu Pek Thog bersama murid-murid Coan Cin Pay telah menemani jenazah cikal bakal pintu perguruan tersebut yang telah berpulang selamanya.

Waktu itu mereka semuanya tengah diliputi kedukaan bukan main.

Sedangkan Ciu Pek Thong dengan menunduk sedih, duduk disamping peti jenzah tengah menggumam tidak henti-hentinya.

"Suheng mengapa engkau harus berpulang begitu cepat? Mengapa Suheng? Ohh, jika saja Suheng mau bertahan hidup didunia beberapa tahun lagi, tentu aku akan memperoleh petunjukmu yang jauh lebih berharga. Aku benar-benar sangat menyesal bahwa selama ini aku hanya banyak bermain-main, sehingga melalaikan nasehat yang diberikan oleh Suheng….!"

Dan berulang kali Ciu Pek Thong menghela nafas, tampaknya dia memang berduka sekali.

Sedangkan Ma Giok dan sute-sutenya, seperti Tam Cie Toan, Luw Cie Hian, Khu Cie Kie.

Ong Cie It, Cek Tay Thong dan Sun Put Jie, tengah membaca kitab suci, untuk membacakan ayat-ayat suci untuk jenazah guru mereka.

Dalam keadaan yang begitu sunyi, waktu tengah malam tiba, tiba-tiba murid-murid Coan Cin Kauw dan juga Ciu Pek 446 Thong telah dikejutkan mendengar suara langkah kaki yang ringan sekali diatas genting, suara langkah kaki itu demikian ringannya, bagaikan suara jatuhnya daun-daun kering saja.

Tapi dalam kesunyian dan kedukaan yang sangat, Ciu Pek Thong dan ketujuh murid Coan Ciu Kauw dapat mendengar dengan jelas.

Sedangkan murid-murid tingkatan lebih bawah lagi seperti In Cie Peng dan lainnya, tidak mendengar apa-apa, mereka tengah menungkuli jenazah dengan membaca kitab suci terus dengan irama yang sendu mengandung kedukaan.

Ciau Pek Thong melirik kepada Coan Cin Cit Cu, dia memberi isyarat, bahwa dia akan tetap menunggu jenazah Suhengnya ini, dia tidak akan keluar.

hanya Coan Cin Cit Cu itu yang berus berusaha memancing musuh yang telah menyatroni itu keluar dari kuil, agar mereka tidak memiliki kesempatan untuk merusak jenazah Ong Tiong Yang.

Sedangkan Coan Cin Cit Cu telah melompat ringan dari dalam ruangan itu, mereka telah tiba dipekarangan luar dengan gerakan tubuh yang ringan.

Namun begitu mereka menancapkan kaki di bumi, disaat itu juga mereka merasakan berkesyuran angin serangan yang menyambar dahsyat sekali kearah mereka, disusul pula dengan menerjangnya puluhan sosok bayangan yang menubruk kearah mereka.

Tubrukan itu disusul dengan serangan yang beruntun.

Dengan demikian telah membuat Coan Cin Cit Cu untuk sejenak terkejut, namun mereka telah memperoleh didikan yang sangat baik sekali dari Og Tiong yang, maka cepat pula mereka bisa menguasai diri mereka.

Terlebih lagi Khu Cie Kie, yang merupakan satu-satunya murid Ong Tiong Yang berhasil mewarisi sebagian besar 447 kepandaian gurunya dan juga merupakan murid yang terpandai dari Coan Cin Kauw dibandingkan dengan keenam saudara seperguruannya yang lainnya itu, telah mencabut pedangnya, dengan berkelebat-kelebatnya sinar pedang dia memaksa orang-orang itu untuk mundur beberapa tombak.

Pedangnya telah digerakkan dengan mempergunakan ilmu pedang Coan Cin Kiam Hoat yang hebat luar biasa, dimana pedang Khu Cie Kie berkelebat-kelebat terus mendesak lawan-lawannya yang berada didekatnya.

Demiikian juga dengan Ma Giok dan yang lainnya, mereka telah mencabut pedang masing-masing dan menyerang hebat pada lawan mereka, sebab mereka memang hendak mencegah orang-orang yang merupakan tamu tidak diundang itu tidak bisa menerobos masuk ke dalam kuil, karena dikuatirkan orang itu datang dengan mengandung maksud hendak merusak jenazah dari juru mereka.

Begitulah terjadi pertempuran yang seru sekali.

Tapi jago-jago yang menyatroni Tiong Yang Kiong tersebut ternyata merupakan jago-jago yang memiliki kepandaian tinggi dan hebat, mereka juga bukan orang-orang sembarangan, karena terdiri dari berbagai pintu perguruan di dunia persilatan.

Mereka memang telah mengincar sejak beberapa waktu, kalau-kalau Ong Tiong Yang menemui kematiannya.

Dan disaat pendeeta itu menutup mata, mereka bermaksud untuk membarengi untuk merebut kitab Kiu Im Cin Keng.

Mereka yakin dengan cara menyerbu seperti itu, dan dikala orang-orang Cian Cin Kauw tengah dirundung kedukaan yang hebat, tentu saja mereka mudah ditundukkan dankitab kiu Im Cin Keng akan mudah dirampas oleh mereka.

Namun tidak mereka sangka, bahwa Coan Cit Cu ternyata memang telah memperoleh gemblengan yang baik sekali dari 448 Ong Tiong Yang, bahkan Khu Cit Kie mempunyai ilmu pedang yang hebat sekali, yang berhasil mendesak lawannya sampai akhirnya harus keluar dari kuil itu.

Demikian juga Coan Cin Cit Cu itu telah berhasil mendesak dan memancing lawan-lawan tangguh itu keluar dari kuil Tiong Yang kiong.

Ciu Pek Thong tetap duduk disamping jenazah Suhengnya untuk berjaga dan bersiap-siap dengan waspada,kalau-kalau nanti ada seorang yang berhasil menerobos masuk untuk merusak peti dan jenazah suhengnya tersebut.

Lauw Cie Hian dan Cek Tay Thong berdua yang agak terdesak oleh lawan mereka.

Kedua lawan dari kedua murid Coan Cin Kauw itu terdiri dari dua orang lelaki berusia lanjut, bertubuh jangkung, dan mereka berdua merupakan manusia-manusia yang memiliki tangan yang sangat telengas sekali.

Walaupun Lauw Cie Hian dan Cek Tay Thong telah mengerahkan kepandaian mereka untuk berusaha menghadapi kedua lawannya dengan baik, tokh mereka terdesak hebat.

Setelah lewat belasan jurus lagi, pundak Lauw Cie Hian telah terkena cengkraman dari lawannya dan terluka dengan jubah dipundaknya telah robek pecah.

Lauw Cie Hian berusaha untuk memperbaiki kedudukannya dengan memutar cepat sekali pedangnya, untuk mencegah lawannya menyusuli dengan serangan berikutnya.

Dia telah memutar pedangnya seperti kitiran, sehingga seluruh tubuhnya seperti dilindungi oleh sinar pedang itu.

Cek Tay Thong sendiri, setelah lewat beberapa jurus lagi, semakin terdesak.

Namun Cek Tay Thong memang nekat, dalam kedukaan dia sudah tidak mempedulikan lagi 449 keselamatannya, dia telah bertempur dengan hebat sekali dan pedangnya telah digerakkan berkali-kali ke bagian yang mematikan di tubuh lawannya.

Lawannya itu, seorang yang menguasai ilmu Kim Na Ciu, ilmu mencengkram dan memutar serta menangkap.

Dia bertangan kosong.

Waktu melihat pedang Cek Tay Thong meluncur beruntun menyerang bagian yang mematikan di anggota tubuhnya, orang tersebut main lompat kesana kemari mengelakkan.

Tapi kedua tangannya itu tidak tinggal diam, sebab diapun telah menggunakan Kim Na Ciu untuk menangka pergelangan tangan Cek Tay Thong, berusaha juga untuk mencengkram pundak lawannya, atau juga memutar batok kepala dari pendeta ini.

Namun serangan orang ini dapat dihindarkan oleh Cek Tay Thong, karena diapun telah berusaha melancarkan serangan yang paling dahsyat dari Coan Cin Kiam Hoat.

Dengan demikian mereka terlibat dalam pertempuran yang berkepanjangan.

Sedangkan jumlah musuh demikian banyak, membuat Coan Cin Cit Cu jadi kewalahan juga, harus menghadapi mereka yang puluhan orang itu.

Akhirnya, Khu Cie Kie yang melihat keadaan mereka sudah tidak menguntungkan, dimana pihak lawan demikian besar jumlahnya, dia telah meneriaki saudara-saudara seperguruannya itu agar segera membagi diri mengambil kedudukan Thian Kong Pak Tauw Tin, yaitu ilmu yang diciptakan oleh Ong tiong Yang untuk ketujuh murid ini yang bisa digunakan untuk menghadapi lawan-lawan yang tangguh.

Setelah Khu Cie Kie memberi isyarat, maka para Tosu dari Coan Cin Kauw itu memecah diri, mereka segera duduk bersila tanpa mengucapkan sepatah katapun juga.

450 Lawan-lawan mereka untuk sejenak jadi tertegun, mereka heran, mengapa disaat bertemput seperti itu, ketujuh murid Coan Cin Kauw ini kemudian duduk bersila dan saling berendeng dalam bentuk sebuah barisan seperti itu.

bahkan diantara orang-orang yang menyatroni Tiong Yang Kiong ini telah ada yang saling pandang satu dengan yang lainnya, mereka heran bercampur lucu, terdengar suara geli mereka.

"Sekali tertinggal sampai beberapa puluh tahun…!"

Bersenandung Ma Giok dengan suara halus dan sabar sekali. Lalu Tam Cie Toan telah menyambunginya.

"Dengan rambut kusut jalan sepanjang hari bagaikan edan."

Suaranya kasar karena dia memang seorang yang berpotongan kasat, dimana anggota Coan Cin Cit Cu itu mukanya berdaging dan berotot, alisnya gempyok, matanya besar, tubuhnyapun besar serta kekar.

Sebelum mensucikan diri, dia merupakan seorang tukang besi di Soantang, tabiatnya juga jujur dan polor, maka dari itu, gelarannya adalah Tiang Cin Cu.

Anggota ketiga dari Coan Cin Cit Cu yaitu Tiang Seng Cu Lauw Cie Hian, yang mukanya kurus memanjang dan tubuhnya pendek kurus juga tempaknya seperti muka seekor kera, telah ikut menyambungi senandung dari kedua saudara seperguruannya.

"Dibawah paseban Haytong menanam bibit."

Walau tubuhnya pendek dan kurus serta kedil, suaranya itu nyaring sekali. Kemudian Tiang Cun Cu Khu Cie Kie yang ikut menyambungi senandung itu.

"Didalam perahu diantara daun teratai ada dewa Thay It Siat."

Senandung Khu Cie Kie itu telah disambung lagi oleh Giok Yang Cu Ong Cie It.

"Tak ada beda maka boleh keluar dari batok kosong!" 451 Lalu menyusul Kong Leng Cu Cek Tay Tong ikut bersenandung.

"Ada orang yang dapat sada sebelum dilahirkan."

Dialah seorang anggota Coan Cin Cit Cu yang pakaiannya sangat berbeda sekali dengan keenam anggota Coan Cin Cit Cu lainnya.

Dia seorang yang bertubuh gemuk dan tinggi besar, romannya seperti seorang pembesar negeri, tangan baju dari jubahnya ad separuh, hanya sampai sebatas sikut.

Jadi sangat menyolok tampak dia beda sekali dengan jubahnya Ma Giok beramai Cek Tay Thong ini.

semasa dia belum menjadi Tosu, dia adalah seorang hartawan yang kaya raya di Lenghay, Shoatang.

Diapun terpelajar tinggi.

Baru kemudian mengangkat Ong Tiong Yang menjadi guru.

Ketika dia diterima menjadi murid Ong Tiong Yang, guru itu telah meloloskan jubahnya yang dipakai, kedua ujung lengan baju itu dikutunginya, jubahnya itu diberikan kepada muridnya untuk dipakai.

Ong Tiong Yang waktu itu telah berkata.

"Tidak ada bahaya Tdak ad tangan baju, maka kaulah yang harus merampungkannya sendiri."

Dan huruf "TANGAN BAJU‟ memang sama suaranya dengan huruf "MENERIMAKAN‟.

Dengan itu mau diartikan, walaupun guru itu tidak memberikan banyak pengajaran kepada murid yang satu ini, dengan peryakinan sendiri si murid akan memperoleh kemajuan.

Cek Tay Thong mengingat baik-baik perkataan gurunya itu, maka selanjutnya dia terus mengenakan jubah tangan buntung itu.

Waktu itu Ceng Ceng San Jin Sun Put Jie juga telah meneruskan senandung dari saudara-saudara seperguruannya itu, katanya.

"Pergi keluar sambil merdeka dan tertawa bebas."

Sebagai penutup, bersenandunglah Tan Yang Cu Ma Giok.

"Mega di telaga Sii Ouw, rembulan dilangit!"

Semua jago-jago yang tidak diundang yang waktu itu telah mengurung mereka, siap menerjang maju, jadi terkejut 452 mendengar suara Coan Cin Cit Cu, karena suara mereka menunjukkan tenaga dalam yang mahir.

Waktu itu salah seorang jago yang mengurung Coan Cin Cit Cu telah melompat sambil menggerakkan cambuk ditangannya yang diayunkan dengan cepat, sehingga cambuk itu terus juga meluncur ke arah Sun Put Jie.

Cambuk panjang itu memiliki banyak gaetan.

Bergerak perlahan bagaikan seekor ular naga besar berlegot!

Orang itu memiliki potongan tubuh yang tinggi besar dan wajahnya bengis sekali.

Dialah seorang ahli Pianhoat (Ilmu Cambuk) dari wilayah barat di See Hek, kedatangan-nya kedaratan tionggoan hanyalah menantikan kesempatan untuk ikut memperebutkan Kiu Im Cin Keng jika Ong Tiong Yang telah meninggal dunia.

Dan sekarang cikal bakalnya Coan Cin Kauw itu memang telah menutup mata, maka dia ikut bersama jago-jago lain untuk mendaki Ciong Lam San dan menyerbu ke Tiong Yang Kiong untuk merebut Kiu Im Cin Keng.

Namun dia tidak menyangka murid-murid Ong Tiong Yang memang tangguh, dan sekarang melihat sikap ketujuh murid Ong Tiong Yang seperti itu, bukannya bertempur, malah duduk bersila, saling sahut bersahutan bersenandung, membuat dia habis kesabaran dan mengayunkan cambuknya itu untuk menyerang.

Tian Kong Pak Tiau Tin merupakan barisan yang mengambil kedudukan bintang-bintang Pak Tauw, sehingga ketujuh Coan Cin Cit Cu itu mengambil kedudukan persis dengan keletakan dan kedudukannya ketujuh bintang Pak Tauw tersebut, bintang-bintang utara.

Ketujuh Tosu itu telah mengambil kedudukannya masing-masing menurut fungsi dari tugas mereka.

Ma Giok mengambil kedudukan Thian Kie, Tam Cie Toan mengambil kedudukan Thian Soan, Lauw Cie Hian mengambil kedudukan Thian 453 Koan, sedangkan ong Cie It mengambil kedudukan Giok Heng, Cek Tay Thong mengambil kedudukan Kay Yang dan Sun Put Jie mengambil kedudukan Yauw Kong.

Kedudukan Thian Koan paling penting, karena kedudukan itulah yang menghubungi yang tiga dengan yang tiga lagi, karena itu kedudukan tersebut ditempati oleh Khu Cie Kie yang kepandaiannya paling liehay.

Yang kedua terpenting adalah Giok Heng, maka dari itu diambil oleh Ong Cie It.

Tujuh Tosu itu telah menggabungkan diri dengan tangan kiri mereka menyambung dengan tangan kanan.

Sambungan tangan itu mirip dengan tangan yang berkaitan kuat merupakan mata rantai yang bisa disaluri dan dilewati tenaga Iwekang keetujuh Tosu tersebut.

Dengan demikian pula, berarti tenaga Iwekang dari salah seorang Tosu itu sama kuatnya dengan tujuh Tosu digabung menjadi satu yang berkumpul tangguh dan kuat sekali.

Cambuk jago See Hek itu telah menyambar perlahan ke kepala Sun Put Jie, tampaknya memang perlahan, ancamannya sebenarnya memang sangant hebat sekali.

Sun Put Jie seorang Tosu wanita, tetap tidak bergerak.

Disaat mengawsi cambuk itu meluncur datang dan disaat ujung cambuk hampir mengenai sasarannya, ialah bagian gigi dari uung kaitan pada cambuk tersebut, Sun Put Jie dengan tiba-tiba menyampok dengan lengan jubahnya, sehingga cambuk itu telah berbalik sendirinya, berbalik dengan kaget, bagaikan kepala ular kena dibacok, menyambar kepada pemiliknya.

Jago See Hek itu kaget bukan kepalang, dia tidak sempat menggerakkan tangannya, sebab tangannya itupun tergetar.

Yang membuat dia jadi kaget tidak terkira, karena tenaga sampokan itu dahsyat sekali, dan hampir saja dia tidak 454 mempercayai bahwa Sun Put Jie memiliki tenaga Iwekang sedahsyat itu.

Sesungguhnya, seperti tadi telah diceritakan bahwa ketujuh Tosu ini duduk bersila dengan tangan kiri mereka saling berpegangan dengan yang lain tangan kanan Tosu disampingnya, begitu sambung menyambung, dengan demikian tenaga Iwekang dari ketujuh Tosu ituberkumpul menjadi satu.

Tidak peduli Tosu mana saja menggerakkan tangan dan membuka serangan, dia sama juga artinya dengan mempergunakan tenaga mereka bertujuh yang digabungkan.

Jago See Hek itu telah melompat mundur, dia penasaran, waktu kesemutan tenaganya agak berkurang, dia menggerakkan cambuknya lagi.

Kali ini dia bukan mengincar Sun Put Jie, melainkan dia menggerakkan cambuknya kearah pundak Khu Cie Kie.

Tanpa disadarinya, inilah suatu kesalahan terbesar buatnya.

Seperti diketahui bahwa Khu Cie Kie yang memiliki kedudukan Thian Koan yang menghubungkan ketiga kedudukan dengan tiga kedudukan lainnya.

Dan sekarang justru pusat dari ketujuh "

Bintang Pak Tauw‟ tersebut telah diserang intinya, pusat kekuatannya, yang merupakan nadi terpentingnya, maka celakalah jago See Hek itu.

Begitu cambuk berkaitan, menyambar kearahnya, Khu Cie Kie juga tidak mempedulikan datangnya serangan.

Dan menanti hampir saja cambuk itu mengenai pundaknya, diwaktu terpisah beberapa dim saja, cepat luar biasa tangan kiri Khu Cie Kie telah menyentil.

Dan sentilan yang dilakukan Khu Cie Kie yang merupakan Tosu yang menduduki kedudukan Thian Koan, yang paling penting, sehingga seluruh tenaga dalam ketujuh Tosu itu telah berkumpul dan tersalur ke ujung jari Khu Cie Kie.

455 Pecut berduri itu tidak ampun lagi telah terpental pesat, sulit dilihat oleh mata biasa, berbalik menyambar kearah pemiliknya, dan belum lagi jago See Hek itu mengetahui apa yang terjadi, mukanya telah dihantam oleh cambuknya sendiri dengan hebat.

Duri-durinya yang panjang dan tajam itu telah menancap dan karena kesakitan dan kaget, jago See Hek itu telah menghentakkan cambuknya, dimana akhirnya daging dimukanya bercopotan kena tergaet oleh duri-duri di cambuknya sendiri, bukan hanya darah yang berlumuran, muka jago See Hek itu juga jadi rusak karenanya, dagingnya seperti dipoceli sepotong demi sepotong.

Saking kesakitan dia menjerit-jerit sambil melompat mundur kebelakang belasan tombak.

Jago-jago lainnya sekarang jadi lebih hati-hati dan waspada, mereka telah menyaksikan dengan duduk dalam barisan Tian Kong Pak Tauw Tin itu maka ketujuh Tosu dari Coan Cin Kauw itu jadi lebih liehay dari sebelumnya, dimana mereka seperti memperoleh kemajuan kepandaian sebanyak tujuh tingkat dalambeberapa detik itu!

Beberapa orang jago yang memang datang menyatroni Thiong Yang Kiong bermaksud merebut kitab Kiu Im Cin Keng, tanpa mempedulikan bahaya mulai melancarkan gempuran dan serangan, baik dengan tangan kosong maupun dengan senjata tajam ditangan mereka.

Maka bagaikan hujan pedang dan golok ketujuh Tosu itu telah dihujani serangan-serangan yang mengandung maut.

Dengan duduk bersila dalam kedudukan Thian Kong Pak Tauw Tin itu, Coan Cin Cit Cu memiliki perbentengan yang kuat.

Mereka bertujuh telah menggerak-gerakkan sepasang 456 tangan mereka tidak hentinya dan tenaga dalam mereka silih berganti tersalurkan berpindah-pindah dari Tosu yang seorang ke Tosu yang lainnya.

Dengan demikian seperti bergantian menggunakan tenaga gabungan itu dan musuh-musuh mereka telah berhasil dibikin kocar kacir tidak berdaya lagi berurusan dengan mereka, karena selain senjata-senjata mereka yang telah terpental atau direbut dan banyak yang telah terluka didalam akibat gempuran tenaga Iwekang yang dahsyat itu, maka musuh-musuh murid Coan Cin Kauw itu pontang-panting disekitar tempat itu.

Hanya saja, orang-orang yang bermaksud memiliki Kiu Im Cin Keng itu memiliki kemauan yang keras, mereka rupanya sudah tidak memikirkan keselamatan jiwa mereka lagi, sebab semuanya telah bertempur mati-matian.

Jika ada salah seorang dari mereka yang terjungkir pontang-panting, maka dia segera bangkit lagi tanpa memikirkan keselamatan jiwanya.

Walaupun ada salah seorang diantara mereka yang terluka parah, dia masih juga melompat bangun dan ikut meneruskan pengeroyokan/ tampaknya memang jago-jago yang menyatroni Tiong Yang Kiong sudah nekat bukan main.

Mereka rupanya sudah bertekad, jika memang belum memperoleh kitab Kiu Im Cin Keng, maka mereka tidak akan mundur walaupun harus menemui kematian.

Jago-jago yang datang menyatroni Tiong Yang Kiong itu jadi terkejut bukan main melihat Coan Cin Cit Cu kini menyerang mereka dengan ilmu yang lebih hebat dan keras.

Maka mereka lebih berhati-hati.

Tapi dengan dibukanya pantangan membunuh oleh Coan Cin Cit Cu, maka diwaktu-waktu selanjutnya beruntun telah berjatuhan lagi beberapa musuh mereka yang menjadi korban dan menemui ajalnya dengan tubuh yang tergempur rusak dan terluka parah sekali.

Baca Juga: Kesatria Baju Putih 5

Baca Juga: Kemelut Blambangan 2

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert