Ceritasilat Novel Online

Kemelut Blambangan 2

Eps 2 Kemelut Blambangan - Kho Ping Hoo

Baca online Kemelut Blambangan - Kho Ping Hoo

Cersil Kemelut Blambangan - Kho Ping Hoo.

Joko Darmono hanya tersenyum dan Bagus Sajiwo menggerakkan kedua pundak tanda tidak mengerti dan heran.

"Kalau begitu, Nawangsih. Pakailah kudaku ini dan aku akan berjalan kaki."

Kata Joko Darmono.

"Tidak, aku saja yang berjalan kaki. Pakai kudaku, Nawangsih."

Bantah Bagus Sajiwo.

Nawangsih tertawa dengan wajah berseri.

Agaknya ia merasa girang sekali melihat dua orang pemuda itu saling berebutan untuk mengalah terhadap dirinya!

"Kalau begitu, mari kita semua jalan kaki saja!"

Kata Nawangsih dan mereka bertiga lalu berjalan kaki hendak keluar dari hutan itu. Dalam perjalanan ini, Joko Darmono sambil tersenyum bertanya.

"Apakah kalian pernah mendengar kisah ayah bodoh, anak bodoh dan kuda mereka yang beruntung itu?"

"Bagaimana ceritanya, Kakang Joko? Aku belum pernah mendengarnya!"

Bagus Sajiwo hanya tersenyum.

"Begini kisahnya. Pada suatu hari, seorang ayah dan anaknya hendak melakukan perjalanan jauh. Karena mereka hanya mempunyai seekor kuda saja, si ayah menyuruh anaknya menunggang kuda dan dia berjalan kaki sambil menuntun kuda yang ditunggangi anaknya. Di tengah perjalanan, mereka bertemu seorang tetangga yang mencela si anak karena dia enak-enakan menunggang kuda sedangkan ayahnya yang tua dibiarkan berjalan kaki. Mendengar teguran ini, si anak turun dan mempersilahkan ayahnya yang menunggang kuda. Akan tetapi, ditengah perjalanan, kembali ada seorang kenalan mereka menegur ayah itu yang dikatakan orang tua tidak kasihan kepada anaknya, membiarkan anaknya jalan kaki sedangkan dia sendiri enak-enak menunggang kuda! Mendapatkan teguran itu, ayah dan anak itu lalu mengambil keputusan untuk berboncengan saja agar tidak ditegur orang lagi. Maka, mereka lalu berboncengan di atas punggung kuda. Akan tetapi dugaan mereka meleset, Di tengah perjalanan, seseorang memberi teguran keras kepada ayah dan anak itu yang dianggap bertindak kejam memaksa kuda kurus itu membawa beban dua orang yang berat. Ayah dan anak itu menjadi kebingungan dan jengkel. Mereka lalu mengikat keempat kaki kuda itu lalu memikul kuda itu berdua! Di tengah perjalanan banyak orang menegur dan mentertawakan mereka akan tetapi ayah dan anak itu tidak perduli, menulikan telinga dan melanjutkan perjalanan mereka."

Nawangsih tertawa terpingkal-pingkal mendengar cerita itu. Bagus Sajiwo hanya tersenyum, diam-diam kagum kepada Joko Darmono yang pandai bercerita.

"Bagaimana pendapatmu tentang ayah dan anak itu, Nawangsih?"

Tanya Joko Darmono.

""Hemm, sikap ayah dan anak yang terakhir itulah yang tepat, namun sudah terlambat. Semestinya sejak semula mereka mempunyai pendirian yang teguh, tidak mudah goyah dan menuruti setiap celaan atau usul orang lain. Mereka itu lemah, tidak memiliki kepribadian. kalau kita melakukan sesuatu yang kita anggap benar, kita harus menerima segala cela dan kritik dengan bijaksana, tidak mengekor begitu saja kepada pendapat orang. Akibatnya kita menjadi permainan keraguan kita sendiri karena setiap orang memiliki pendapat yang lain dan kadang berlawanan."

Demikianlah, mereka bercakap-cakap sambil berjalan keluar dari hutan.

Setelah tiba di luar hutan, mereka berdiri terpesona memandang ke depan, ke arah bawah bukit.

Mereka terbelalak, Joko Darmono dan Bagus Sajiwo adalah orang-orang yang banyak melakukan perjalanan dan sudah sering menyaksikan tamasya alam pegunungan yang amati indah.

Namun mereka tidak pernah merasa bosan dan setiap kali menyaksikan kebesaran alam yang demikian indah, tetap saja mereka terpesona.

Sampai lama tiga orang itu berdiri dan melahap segala yang indah-indah itu dengan mata, telinga, dan hidung mereka.

Matahari baru muncul dari balik bukit di timur.

Muncul sebagai bola besar merah.

Kemunculannya dapat diikuti pandang mata biarpun gerakannya lambat sekali.

Cahayanya yang keemasan mulai menerangi segala sesuatu di permukaan bumi, membawa sinar kehidupan dan harapan baru.

Pohon-pohon besar dan segala tumbuh-tumbuhan seolah menyambut matahari dengan suka cita, setiap daun seperti berseri tertimpa sinar matahari yang masih lembut.

Pemandangan berwarna-warni di bawah sana, perpaduan antara warna putih, kuning dan hijau yang merupakan bagian terbesar dari warna-warni, mendatangkan perasaan sejuk dan nyaman pada mata.

Burung-burung beterbangan di udara.

Kupu-kupu menari-nari di antara bunga-bunga.

Segalanya demikian indah dan baru bagi penglihatan.

Nun jauh di bawah sana tampak anak sungai, seperti seekor ular panjang meliuk-liuk dan airnya berwarna putih seperti perak.

Bau-bauan yang amat segar dan sedap memenuhi hidung.

Bau tanah yang basah oleh embun, rumput-runput hijau segar yang tidak pernah terinjak, bunga-bunga mawar, melati yang mekar, bermacam-macam daun pohon yang memiliki aroma yang khas, hawa udara yang sejuk dan bersih tak ternoda, semua itu memasuki hidung ke dalam tubuh, memberi kesehatan dan kehidupan.

Telinga juga kebagian keindahan yang membahagiakan itu.

Kicau burung, desah angin diantara daun-dauan pohon, gemercik air dari pancuran kecil ketika menimpa batu, embik domba, dan uak lembu di kejauhan diseling teriakan anak-anak menggembala mereka.

Aduh, indah nian semua itu.

Seperti dikomando, tiga orang itu menyedot udara yang bersih dan nyaman itu sepenuh dada dan perut mereka, lalu menghembuskan keluar perlahan-lahan.

Terasa panas-panas hangat dan nyaman dalam perut di bawah pusar.

Setelah beberapa kali menghirup napas panjang, Bagus Sajiwo berbisik perlahan.

"Puji syukur kepada Gusti Allah Yang Maha Besar, Pencipta Alam Semesta."

Joko Darmono juga mengeluarkan puja-puji dari dalam lubuk hatinya.

Sejenak tiga orang itu berdiri seperti patung, terpesona oleh keindahan dan kebesaran alam yang terbentang di bawah bukit depan kaki mereka.

"Joko,"

Akhirnya Bagus Sajiwo berkata.

Begitu ada yang bicara, baru sekata saja, seperti lenyaplah pesona yang tadi.

Tadi merasa diri mereka tidak terpisah dari semua itu, seolah mereka baru menyadari bahwa mereka adalah pribadi-pribadi yang terpisah, hanya menjadi penonton dan pendengar saja.

"Ada apakah, Bagus?"

"Karena Nawangsih tidak mau berboncengan naik kuda, maka biarlah engkau menggunakan kudaku dan engkau antarkan Nawangsih pulang ke rumah orang tuanya."

"Ah, mana boleh begitu, Bagus? Engkau adalah Kakak misannya! Maka engkaulah yang berhak mengantarnya pulang, pakailah kuda yang kurampas dari penculiknya itu."

Dua oang pemuda itu bersitegang saling mengalah, lalu Bagus Sajiwo berkata.

"Sudahlah, Joko. Sekarang sebaiknya serahkan saja kepada Nawangsih untuk memilih. Nawangsih, karena kuda kita hanya ada dua ekor, maka sebaiknya untuk engkau dan seorang pengantarnya. Nah, kau pilih saja sendiri. Siapa di antara kami berdua yang kau ingin menjadi pengantarmu? Pilih saja Joko Darmono karena dia yang membebaskan engkau dari tangan penculik."

"Tidak, Nawangsih, biar Bagus yang mengantarmu karena dia adalah Kakak misanmu."

Nawangsih memandang kepada dua orang muda itu bergantian. Alisnya berkerut ketika ia bertanya.

"Hemm, kalau kalian berdua tidak mempunyai minat untuk mengantar aku, sudahlah tinggalkan aku di sini. Aku akan pulang sendiri dengan jalan kaki!"

"Ah, bukan begitu, Adik Nawangsih."

Kata Bagus Sajiwo.

"Kuda kita hanya ada dua ekor dan engkau tidak mau berboncengan. Maka seorang dari kami harus mengalah dan kuharapkan Joko Darmono yang akan mengantarmu."

"Benar, Nawangsih. aku minta Bagus yang mengatarmu karena dia lebih berhak sebagai Kakak misanmu."

"Tidak, tidak! Aku belum mengenal betul siapa kalian. Aku hanya tahu nama dan riwayat yang kalian ceritakan sendiri. Terus terang saja, kalau yang mengantar hanya seorang di antara kalian, aku tidak mau dan tidak percaya. Bagaimana kalau kalian ini sebetulnya bajul-bajul buntung yang memakai kulit domba?"

"Eh? Bajul buntung?"

Bagus Sajiwo bertanya heran lalu memandang Joko Darmono yang tertawa geli mendengar ucapan gadis cilik itu dan semakin geli melihat wajah Bagus Sajiwo yang terheran-heran.

"Engkau tidak mengerti, Bagus? Nawangsih memang memiliki istilah yang aneh-aneh. Bajul itu berarti buaya yang berekor, kalau buaya itu buntung berarti dia buaya darat kaki dua!"

Baru mengertilah Bagus Sajiwo dan dia mengerutkan alisnya.

Heran, gadis puteri Ki Cangak Awu ketua Jatikusumo ini mengapa berwatak kasar dan liar seperti itu?

"Nawangsih!

Jangan bicara seenakmu sendiri!"

Dia menegur.

"Kalau Ayah Ibumu mendengarmu mereka tentu akan marah. Masa ditolong orang malah menyangka yang bukan-bukan? Nah, kalau engkau tidak mau diantar oleh seorang di antara kami, katakan, bagaimana maumu sebenarnya?"

"Hemm, aku sama sekali tidak rewel, hanya kalian berdua yang tidak mempunyai pertimbangan. Aku seorang wanita, mana pantas harus berboncengan dengan pria? Kalau hanya ada dua ekor kuda yang menjadi persoalan, mengapa kalian berdua yang sama-sama pria tidak berboncengan saja dan mengantar aku bersama-sama? Aku ingin memperkenalkan kalian kepada orang tuaku."

Bagus Sajiwo berpikir sejenak. Bagaimanapun juga, alasan anak ini memang tidak mengada-ada. Dan dia sendiri juga tidak mungkin pergi begitu saja. Dia harus menghadap Ki Cangak Awu dan Nyi Pusposari.

"Baiklah kalau begitu, Nawangsih. engkau naik kuda itu dan aku berboncengan dengan Joko Darmono dengan kudaku yang lebih besar dan kuat."

"Tidak! Aku tidak mau berboncengan!"

Nawangsih memandang kepada Joko Darmono dengan alis berkerut.

"Kakang Joko, jadi engkau tidak sudi mengantar aku pulang?"

"Bukan begitu, Nawangsih. Aku siap mengantarmu, hanya aku tidak mau berboncengan dengan Bagus Sajiwo. Orang-orang di jalan tentu akan mencela dan menegur kami berdua, orang-orang dewasa yang menunggang seekor kuda, itu berarti kami melanggar prikebinatangan!"

Mau tidak mau Bagus Sajiwo tertawa mendengar ucapan itu, juga Nawangsih tersenyum geli.

"Habis, maumu bagaimana, Joko?"

Tanya Bagus Sajiwo.

"Kita bergantian, Bagus. Yang seorang menunggang kuda yang lain lari. Kurasa dalam hal lari, kita berdua tidak kalah cepatnya dibandingkan kuda."

Bagus Sajiwo mengangguk setuju.

"Nah, kalian boleh naik kuda, Joko dan Nawangsih. Aku akan lari di belakang kuda kalian."

"Tidak, engkau yang menunggang kuda lebih dulu. Nanti berganti."

Karena tidak ingin berbantahan terus dengan pemuda yang keras kepala itu, Bagus Sajiwo lalu menunggang kudanya.

Nawangsih menunggang kuda yang ditinggalkan Dartoko.

Mereka berdua lalu melarikan kuda.

Bagus Sajiwo melihat Joko Darmono berlari di belakang kuda yang ditunggangi Nawangsih dan diam-diam dia kagum.

Pemuda itu memang hebat.

Tubuhnya demikian ringan ketika berlari.

Tampak dia seenaknya dan santai saja dalam berlari, seperti orang berjalan biasa saja.

Akan tetapi tidak pernah tertinggal.

Nawangsih memang gadis cilik yang bengal.

sudah tahu kalau Joko Darmono berlari di belakang kudanya, malah membedal kudanya agar berlari cepat!

Terpaksa Bagus Sajiwo harus memepercepat kudanya agar jangan tertinggal dan dia melirik ke arah Joko Darmono dengan alis berkerut karena tidak senang dengan perbuatan Nawangsih yang dianggap keterlaluan mempermainkan Joko Darmono itu.

Akan tetapi dia menjadi semakin kagum karena Joko Darmono tetap dapat menyamai kecepatan larinya kuda dengan mudahnya!

Dua orang pemuda itu lari bergantian dan Nawangsih sengaja membalapkan kudanya.

Akan tetapi baik Joko Darmono maupun Bagus Sajiwo tidak pernah ketinggalan sehingga diam-diam gadis cilik itu merasa kagum bukan main.

Akan tetapi ketika mereka tiba di perkampungan Jatikusumo, hanya para murid Jatikusumo yang menyambut mereka dengan gembira.

Ki Cangak Awu dan Nyi Pusposari tidak tampak ikut menyambut.

Mereka belum pulang dan biarpun Bagus Sajiwo sudah menceritakan kepada Nawangsih bahwa ayah ibunya melakukan pengejaran terhadap penculik ke Ponorogo, tetap saja ia merasa khawatir sekali.

"Kakang Bagus, bagaimana kalau Ayah Ibuku terjebak musuh? Aku sungguh merasa khawatir sekali."

"Nawangsih, tenangkan hatimu. Sekarang juga aku akan menyusul ke Ponorogo mencari Paman Cangak Awu dan Bibi Pusposari untuk memberitahu bahwa engkau telah pulang dengan selamat."

"Aku juga akan pergi ke sana!"

Kata Joko Darmono tak mau kalah.

Bagus Sajiwo memandang pemuda itu dan tersenyum.

Bocah ini agaknya jatuh hati kepada Nawangsih, pikirnya.

Hal ini tidak mengherankan karena biarpun masih remaja, Nawangsih sudah tampak cantik manis, juga gagah berani, puteri ketua Jatikusumo yang terkenal!

Dia sendiri merasa senang kalau kelak Nawangsih dapat berjodoh dengan Joko Darmono karena menurut penglihatannya, pemuda ini selain memiliki kesaktian, juga berwatak pendekar.

"Bagus, kalau begitu kita pergi bersama, Joko."

Nawangsih gembira mendengar bahwa kedua orang satria muda itu hendak pergi bersama menyusul ayah ibunya.

"Kakang Joko dan kakang Bagus aku senang sekali dan berterima kasih kepada Andika berdua atas kesediaan Andika berdua menyusul Ayah Ibuku. Dan juga aku minta maaf atas sikapku yang sudah, yang meragukan kebaikan hati Andika berdua terhadap aku."

Dua orang pemuda itu saling pandang dan tersenyum lebar, mereka juga maklum bahwa sikap Nawangsih yang meragukan kejujuran mereka kemarin itu hanya untuk menjaga diri dan agar mereka berdua suka mengantarnya pulang bersama!

Mereka lalu berkemas dan tak lama kemudian mereka meninggalkan perkampungan Jatikusumo, diantar oleh Nawangsih sampai ke pintu gapura perkampungan Jatikusumo.

Ki Cangak Awu dan isterinya, Nyi Pusposari, membalapkan kuda mereka memasuki daerah Kadipaten Ponorogo.

Ketua perguruan Jatikusumo ini sudah mengenal Adipati ponorogo, bahkan dia pernah berjasa menangkap seorang penjahat buruan dari Ponorogo yang mencuri pusaka Kadipaten.

Pencuri sakti ini melarikan diri ke Pacitan dan Sang Adipati minta bantuannya untuk menangkap pencuri itu.

Ki Cangak Awu berhasil menangkap sang pencuri dan mengembalikan pusaka itu kepada Adipati Ponorogo.

Mengingat akan hubungan antara mereka ini, Ki Cangak Awu dan Nyi Pusposari langsung saja berkunjung ke gedung Kadipaten Ponorogo dan menghadap Sang Adipati.

Kalau mereka langsung mencari puteri mereka yang mereka duga tentu diculik orang-orangnya Ki Suro Badak yang menyerbu Jatikusumo, mereka merasa tidak enak kepada Sang Adipati.

Selain itu mereka juga tidak tahu di mana sarang para warok yang sesat itu.

Adipati Ponorogo menyambut kunjungan Ki Cangak Awu dan Nyi Pusposari dengan gembira.

Mereka lalu dipersilahkan masuk ke ruangan tamu dan Adipati Ponorogo bersama isterinya menyambut dengan hormat.

"Wah, kami senang sekali Andika berdua ke sini."

Kata Sang Adipati Ponorogo.

"Diajeng Pusposari, mengapa Andika tampak bermuram durja (berwajah muran)? Apakah yang terjadi?"

Tanya pula isteri Sang Adipati. Suami isteri itu menghela napas panjang.

"Adimas Adipati, telah terjadi musibah menimpa keluarga kami."

Ki Cangak Awu bercerita.

"Beberapa hari yang lalu, perguruan kami diserbu oleh segerombolan orang yang dipimpin dua orang warok, yaitu Ki Suro Singo dan Ki Suro Badak. Kami melawan dan dalam pertempuran itu, Ki Suro Singo dapat kami robohkan dan dia tewas. Juga beberapa orang anak buah mereka tewas, yang lain sisanya melarikan diri. Akan tetapi kemudian kami medapatkan kenyataan bahwa puteri kami, Nawangsih yang berada di dalam rumah telah hilang diculik orang. Kami menduga bahwa penculiknya tentulah anak buah Warok Ki Suro Singo pula. Karena itu, kami melakukan pengejaran ke sini dan kami mohon bantuan paduka untuk membebaskan puteri kami dan menghukum Ki Suro Badak yang dapat melarikan diri."

"Ah, jahat sekali!"

Seru isteri Adipati.

"Anakmu itu, masih kecilkah, Diajeng Pusposari?"

"Sudah remaja , sudah berusia tiga belas tahun."

Sang Adipati mengerutkan alisnya.

"Hmm, pernah kami mendengar akan sepak terjang dua bersaudara Ki Suro Singo dan Ki Suro Badak itu! Mereka adalah warok-warok yang menyeleweng dan orang-orang macam mereka itulah yang mencemarkan golongan warok yang terkenal gagah perkasa di daerah kami. Bahkan dua orang warok sesat itu kini tidak berani menampakkan diri ke Ponorogo, karena mereka dimusuhi para warok yang gagah perkasa."

"Kami akan mencarinya, Adimas Adipati! Akan tetapi sebelumnya kami menghadap Paduka karena kami tidak ingin dianggap lancang dan menimbulkan keributan di Kadipaten Ponorogo."

"Ah, Kakang Cangak Awu! Kami beserta seluruh pamong di Ponorogo sudah mengenal siapa Andika dan percaya sepenuhnya. Tentu saja Andika bebas untuk mencari Suro Badak di sini. Akan tetapi, kami kira usahamu itu akan sia-sia karena kami yakin Suro Badak tidak berani memasuki kota ini."

"Kalau begitu, ke mana kami harus mencari?"

Tanya Nyi Pusposari dengan alis berkerut karena ia merasa gelisah memikirkan nasib puterinya yang diculik penjahat.

"Jangan khawatir, kami pasti akan dapat mengetahui di mana Suro Badak berada."

Sang Adipati memanggil pengawal yang berada di luar ruangan lalu berkata kepada pengawal itu.

"Cepat undang Kakang Warok Suro Digdo ke sini. Katakan ada urusan penting!"

Selagi menanti kembalinya pengawal yang mengundang Warok Suro Digdo, sang Adipati dan isterinya menjamu Ki Cangak Awu dan Nyi Pusposari dengan jamuan makan.

"Dia adalah ketua para warok di Ponorogo. Seorang yang gagah perkasa, adil dan jujur, walaupun sikapnya kasar. Dialah yang ditakuti para penjahat di daerah Ponorogo. Kami yakin dia tahu di mana kita dapat menemukan warok sesat Ki Suro Badak itu."

Setelah selesai makan mereka duduk kembali di ruangan tamu dan tak lama kemudian muncullah pengawal tadi bersama seorang laki-laki yang wajah dan penampilannya menyeramkan.

Laki-laki ini berusia sekitar lima puluh tahun, tubuhnya tinggi besar berotot dan tampak kekar.

Mukanya penuh brewok, kumisnya melintang sekepal sebelah, sepasang matanya lebar melotot, mulutnya menyeringai seperti mengejek dan pakaiannya serba hitam, ikat pinggangnya besar, terbuat dari lawe kuning.

Kepalanya diikat kain kepala yang hitam pula.

"Selamat datang, Kakang Warok Suro Digdo!"

Sang Adipati menyambut sambil bangkit berdiri dari kursinya. Warok Suro Digdo tertawa bergelak. Suara tawanya menggetar dan bergema di seluruh gedung.

"Hua-ha-ha-ha! Kanjeng Adipati, apa yang dapat saya bantu maka Paduka memanggil saya?"

"Duduklah, Kakang!"

Dan setelah pria gagah perkasa itu duduk, Sang Adipati nerkata.

"Kakang, perkenalkan dulu tamu-tamu kita ini. Ini adalah Kakang cangak Awu dan isterinya, Nyi Pusposari, mereka adalah pimpinan perguruan Jatikusumo."

"Aha! gembira sekali dapat bertemu dan berkenalan dengan Andika berdua, suami isteri perkasa yang sudah lama kudengar nama besarnya!"

Kata Warok Suro Digdo. Suami isteri itu memberi salam dengan merangkap kedua tangan depan dada.

"Kakang, kembali kedua orang jahat, Warok Suro Singo dan Suro Badak telah membuat onar. Mereka berdua dengan anak buah mereka berani menyerbu Jatikusumo. Mereka terpukul mundur, bahkan Suro Singo tewas. Akan tetapi Suro Badak dapat melarikan diri dan gilanya, mereka itu telah menculik puteri Kakangmas Cangak Awu. Kini Kakangmas Cangak Awu dan isterinya mengejar sampai di sini dan minta bantuan kita untuk dapat menemukan Suro Badak yang telah menculik puteri mereka. Andika tentu tahu di mana kita dapat menemukan Suro badak, Kakang?"

Warok Suro Digdo mengerutkan alisnya yang tebal dan mengangguk-angguk, memandang suami isteri itu, lalu mengepal tangan kananya yang besar dan kekar.

"Keparat Suro Badak! Orang-orang macam itu hanya membikin kotor dan cemar nama baik para warok Ponorogo yang gagah berani dan terkenal adil! Hemm, jangan khawatir, Kanjeng. Aku sendiri yang akan meremukkan kepala Suro Badak dan mengambil kembali anak yang diculik itu! Memalukan sekali! Akan kuhajar dia!"

Setelah berkata demikian warok yang tinggi besar itu bangkit berdiri.

"Permisi, Kanjeng. Aku pamit!."

Ki Cangak Awu cepat bangkit berdiri.

"Ki Warok Suro Digdo, harap tunggu dulu. Kami berdua yang akan mendatangi Warok Suro Badak! Harap beritahukan kepada kami, di mana kami bisa menemukan dia!"

"Benar, Kakang Warok Suro Digdo, kami hanya ingin mendapat bantuanmu untuk menunjukkan di mana adanya Warok Suro Badak sekarang ini!"

Kata Sang Adipati. Mendengar ini, Warok Suro Digdo duduk kembali.

"Hemm, keparat itu tidak berani lagi nongol di Ponorogo setelah kuancam dia. Kalau berani muncul di kota, pasti kepalanya akan kupecahkan! Kini aku mendengar bahwa dia mengumpulkan teman-teman yang sesat, bersarang di Bukit Srendil. Apa pun yang mereka lakukan tidak ada hubungannya dengan kami para warok di Ponorogo, kecuali kalau dia berani mengacau di Ponorogo, pasti akan kami basmi mereka!"

"Bukit Srendil? Di mana itu?"

Tanya Cangak Awu. Adipati Ponorogo menjawab.

"Bukit Srendil berada di sebelah selatan Ponorogo, tidak begitu jauh. Bukit itu merupakan bukit kapur yang gersang sehingga tidak ada petani yang mau mengolah tanahnya dan merupakan tempat yang kosong dan ditinggalkan."

"Benar itu!"

Kata Warok Suro Digdo.

"Di sanalah mereka itu bersembunyi, itu yang kudengar dari teman-teman para warok lain. Akan tetapi karena mereka itu tidak pernah berani mengganggu daerah Ponorogo, maka kami juga membiarkannya saja."

"Baiklah, terima kasih banyak atas semua keterangan ini, Adimas Adipati dan juga Andika Ki Warok Suro Digdo. Sekarang kami mohon diri, akan melakukan pengejaran ke Bukit Srendil."

"Kalau Andika berdua memerlukan, kami siap membantu, Ki Cangak Awu!"

Kata warok itu dengan suaranya yang besar dan nyaring.

"Tidak perlu, terima kasih, Ki Warok. Ini merupakan urusan pribadi kami dengan Warok Suro Badak. Permisi!"

Suami isteri itu lalu meninggalkan kadipaten dan mereka membalapkan kuda mereka kembali ke selatan.

Mudah saja bagi mereka menemukan Bukit Srendil, karena bukit itu berada di sebelah timur jalan raya.

Sebetulnya tadi ketika mereka menuju ke Kadipaten Ponorogo, mereka sudah melewati bukit ini, akan tetapi karena sama sekali tidak mengira bahwa mereka yang dikejarnya itu berada di Bukit Srendil, maka mereka tidak menaruh perhatian.

Dengan penuh pensaran dan keberanian, namun tetap waspada, suami isteri itu menunggangi kuda mereka mendekati bukit itu.

Hari telah menjelang senja, namun karena amat mengkhawatirkan keselamatan puteri mereka, suami isteri itu dengan nekat melanjutkan perjalanan mereka mendaki bukit.

Akan tetapi mereka terpaksa meninggalkan kuda di lereng pertama dan menambatkan kuda mereka di situ karena jalan pendakian hanya mungkin dilakukan dengan jalan kaki dan memanjat tebing.

Perjalanan menuju ke puncak bukit itu amat berbahaya, apalagi mereka tidak mengenal daerah dan cuaca mulai gelap.

Namun mereka nekat, terdorong oleh kekhawatiran mereka tentang Nawangsih.

Dengan memanjat perlahan-lahan, akhirnya mereka sampai juga di puncak bukit.

Dalam kegelapan malam yang hanya diterangi bintang-bintang yang memberi cahaya suram dan remang-remang, mereka menemukan sebuah perkampungan di puncak.

Perkampungan itu hanya terdiri dari belasan pondok darurat.

Namun perkampungan itu sunyi dan gelap.

mereka nekat masuk dan mendapat kenyataan bahwa tempat itu telah kosong, tidak ada seorang pun berada di situ.

Ki Cangak Awu dan Nyi Pusposari merasa heran akan tetapi juga kecewa sekali.

Mereka mencari dan meggeledah seluruh pondok, namun tetap saja tidak melihat seorang pun, tidak menemukan jejak penculik dan puterinya.

"Ah, jangan-jangan Warok Suro Digdo itu menipu kita!"

Kata Nyi Pusposari. Ki Cangak Awu menggeleng kepalanya sambil menambah kayu pada api unggun yang dibuatnya untuk menerangi ruangan dalam pondok di mana mereka tinggal untuk melewatkan malam itu.

"Aku kira tidak. Dia kelihatan jujur dan sudah dipercaya oleh Adipati Ponorogo. Keterangannya benar. Para warok sesat itu memang tadinya bersarang di tempat ini. Akan tetapi mereka meninggalkan tempat ini karena salah memperhitungkan bahwa kita pasti akan mencari anak kita di sini. Mereka kabur sebelum kita datang."

"Ah, kalau begitu.... ke mana kita harus mencari anak kita....? Ah,.... Nawangsih...."

Ki Cangak Awu memegang pundak isterinya.

"Tenangkan hatimu, jangan putus asa. Kita akan terus mencari dan berusaha. Sebelum kita berhasil menemukannya, kita serahkan saja anak kita kepada Gusti Allah. Sekarang engkau mengasolah dan berdoalah saja kepadaNya semoga Gusti Allah melindungi anak kita. Engkau perlu mengaso agar besok cukup sehat untuk melanjutkan perjalanan kita. Kita cari keterangan lagi kepada Adipati Ponorogo, pasti dia mau membantu kita."

Pusposari agak terhibur mendengar kata-kata suaminya.

Akan tetapi ia masih gelisah dan sukar pulas.

Tidurnya sebentar-sebentar terbangun karena mimpi buruk.

Ki Cangak Awu duduk bersila bersamadi dan sepasang suami isteri itu melewatkan malam diperkampungan bekas sarang gerombolan para warok sesat itu.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali setelah cuaca tidak terlalu gelap dan memungkinkan mereka turun bukit, mereka meninggalkan puncak.

Setelah tiba di lereng bawah mereka menemukan kuda mereka yang kemarin mereka tinggalkan.

Mereka lalu menunggang kuda menuruni lereng bukit.

Ketika mereka tiba di kaki bukit, tiba-tiba terdengar suara letusan berkali-kali.

Ki Cangak Awu dan Nyi Pusposari terkejut sekali, apalagi ketika kuda tunggangan mereka meringkik dan mengangkat kedua kaki ke atas.

Dari dada binatang itu tampak berdarah mengucur.

Kuda mereka telah terluka oleh tembakan!

Dengan cepat mereka melompat dari atas punggung kuda sebelum kuda-kuda itu terpelanting roboh karena ada beberapa tembakan mengenai kepala mereka!

Muncullah tiga orang dari balik batu besar di tepi jalan.

Ki Cangak Awu dan Pusposari lalu berdiri tegak berdampingan dan menghadapi tiga orang itu sambil memandang dengan penuh perhatian.

Seorang dari mereka adalah Warok Suro Badak yang bertubuh tinggi besar berkulit hitam dan sepasang mata yang lebar melotot mengandung kemarahan ketika dia memandang kepada suami isteri itu.

Orang kedua adalah seorang laki-laki berusia sekitar enam puluh tahun, bertubuh sedang dan mukanya pucat seperti muka mayat.

di pinggangnya terselip dua buah pistol dan dapat diduga dialah yang tadi melepaskan tembakan-tembakan yang membuat dua ekor kuda tunggangan suami isteri itu roboh dan mati.

Orang ke tiga adalah seorang wanita cantik sekali, usianya tampak masih muda, tidak lebih dari tiga puluh tahun, pakaiannya serba putih, sikapnya gagah.

Di punggung terselip sebatang kebutan berbulu putih.

Begitu melihat Warok Suro Badak Pusposari sudah langsung membentak marah.

"Suro Badak, cepat kau serahkan kembali anakku! Kalau tidak, aku akan membunuhmu sekarang juga!"

Mendengar ini, Warok Suro Badak tersenyum menyeringai, akan tetapi pandang matanya mengandung keheranan.

"Apa yang kau bicarakan ini? Aku tidak menculik anakmu!"

"Warok Suro Badak!"

Ki Cangak Awu membentak marah.

"Jangan bertindak dan bersikap pengecut! Engkau tidak berhasil menyerbu Jatikusumo, lalu menculik anakku yang tidak mengerti apa-apa, itu sudah merupakan tindakan curang dan pengecut. Kini engkau menyangkal, itu sikap pengecut yang tidak tahu malu! Hayo katakan, di mana anakku?"

"Lebih pengecut lagi kalian menyerang kami dengan tembakan yang curang!"

Sambung lagi Nyi Pusposari.

"Hayo cepat kembalikan anakku!"

"Kalian gila!"

Bentak Warok Suro Badak.

"Kami tidak pernah menculik anak kalian! Tentu saja aku menyangkalnya. Aku bukan pengecut dan kami buktikan hari ini kami menantang kalian untuk mengadu kepandaian di tempat ini!"

Suami isteri itu saling pandang.

Mereka mulai merasa ragu.

Kalau Suro Badak yang menculik anak mereka, tentu dia tidak akan menyangkal.

Lalu siapa penculiknya?

"Hemm, Suro Badak.

Engkau hendak menentang kami, akan tetapi diam-diam menyerang dengan senjata api, apakah itu tidak pengecut?"

"Akulah yang menembak!"

Laki-laki yang dipinggangnya terselip dua buah pistol itu berkata lantang, lalu dia tertawa dengan suara tawa yang ngakak dan serak.

"Hak-hak-ha-ha! Kalau aku pengecut, tentu peluru-peluruku tadi sudah menyambar tubuh kalian dan yang mati bukan dua ekor kuda kalian, ha-ha-hak-hak-hak!"

Kini Ki Cangak Awu dan isterinya memandang kepada dua orang teman Suro Badak itu dan ketua Jatikusumo itu bertanya.

"Siapakah Andika berdua? Kami tidak mengenal Andika, mengapa Andika membantu Suro Badak memusuhi kami?"

"Ha-ha-ha-hak-hak-hak!"

Laki-laki itu tertawa terbahak-bahak.

"Kalian hendak mengenal kami? Aku adalah Arya Bratadewa dari Banten. Kalian tentu mengenal kakak seperguruanku, mendiang Kyai Sidhi Kawasa! Dan Nimas Ayu ini adalah Ni Candra Dewi, juga seorang tokoh terkenal dari Banten!"

"Hemm, mengapa para tokoh Banten memusuhi kami, membantu gerombolan penjahat yang dipimpin Warok Suro Badak?"

Tanya pula Ki Cangak Awu penasaran.

"Hek-hek-hek! Perguruan Jatikusumo sejak dulu merupakan pembela-pembela Mataram, musuh kami! Mendiang kakak seperguruanku, Kyai Sidhi Kawasa juga tewas oleh Sutejo, saudaramu. Karena itu, kami mendengar dari Ki Suro Badak dan sengaja menghadang di sini untuk membasmi orang-orang Mataram!"

"Paman Arya, biarlah aku yang menghadapi dua orang Mataram ini!"

Kata Chandra Dewi.

Seperti telah diceritakan di bagian depan, pada saat Candra Dewi terdesak ketika bertanding melawan Maya Dewi, Arya Bratadewa dan anak buahnya muncul dan menolong Candra Dewi dengan tembakan-tembakan mereka sehingga Candra Dewi dapat diselamatkan.

Semenjak peristiwa itu, Arya Bratadewa membujuk Candra Dewi untuk bergabung dan membantu dia sebagai utusan Kumpeni untuk membantu Blambangan memusuhi Mataram.

Kebetulan Arya Bratadewa dan Candra Dewi bertemu dengan Warok Suro Badak.

Karena ingin menarik para warok yang sesat untuk ikut membantu Blambangan, maka mendengar bahwa warok itu memusuhi pimpinan Jatikusumo, Arya Bratadewa mengajak Candra Dewi untuk membantu warok itu menghadapi Ki Cangak Awu dan Pusposari.

Mendengar ucapan wanita cantik berpakaian putih itu, Pusposari melangkah ke depan.

"Candra Dewi, kami tidak mempunyai permusuhan pribadi denganmu, akan tetapi kalau engkau memusuhi para pembela Mataram, kami tidak menyangkal bahwa kami adalah pembela-pembela setia Mataram! Engkau hendak membasmi orang-orang Mataram? Maju dan hadapi aku!"

Pusposari adalah puteri angkat mendiang Ki Harjodento, yang dahulu adalah ketua perguruan Nogodento di tepi Bengawan Solo di daerah Ngawi.

Sejak kecil Nyi Pusposari digembleng oleh ayah angkatnya sehingga ia menjadi seorang wanita yang memiliki kesaktian yang cukup tinggi, bahkan tingkat kepandaiannya tidak banyak selisihnya dengan tingkat kepandaian suaminya, Ki Cangak Awu.

Chandra Dewi adalah seorang wanita yang angkuh dan selalu memandang rendah lawan, apalagi kalau lawan itu pria yang memang pada umumnya ia benci.

Ia memandang Pusposari dengan senyum mengejek.

"Engkau ingin mati di tanganku? Majulah!"

Kedua tangan Candra Dewi bergerak dan ia telah mengambil senjata kebutan berbulu putih dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya mencabut pedang dari pinggangnya.

Dengan kedua senjata ampuh ini di tangan, ia memandang kepada Pusposari sambil tersenyum mengejek dan memandang rendah.

"Engkau yang mengganggu dan menantang kami. Engkau majulah aku sudah siap!"

Kata Pusposari dan diam-diam ia mencabut kerisnya dan siap untuk bersilat keris Galuh Bajra, yaitu ilmu silat menggunakan keris yang khas dari perguruan Nogodento, juga ia mempersiapkan tenaga sakti Nogodento untuk dipergunakan sewaktu-waktu.

Seluruh tubuhnya, terutama sekali kedua lengannya terisi getaran tenaga Nogodento.

Candra Dewi mengeluarkan dengusan hidungnya, lalu tanpa peringatan lagi ia sudah menerjang maju, menggerakkan kebutan ditangan kiri disusul sambaran pedangnya.

Cepat sekali gerakannya itu.

Bulu kebutan putih itu meluncur ke arah kedua mata dan pedang itu menusuk ke arah dada Nyi Pusposari.

"Wuuuttt.... singgg....!"

Pusposari terkejut juga melihat dahsyatnya serangan itu yang datang demikian cepatnya dan membawa angin yang kuat dan pedang itu mendesing nyaring.

Cepat Pusposari miringkan tubuh mengelak dari sambaran bulu kebutan dan menangkis dengan kerisnya ke arah pedang dari samping.

"Tranggg.... singggg....!"

Pusposari merasa betapa tangannya yang memegang keris tergetar, akan tetapi ilmu silat kerisnya memang istimewa.

Keris yang menangkis dan terpental itu bukan terpental ke belakang, melainkan terpental ke bawah dan menusuk ke arah perut lawan dan tangan kirinya mendorong dengan pukulan sakti Nogodento ke arah dada Candra Dewi.

Kini Candra Dewi yang terkejut.

Lawannya itu bukan saja mampu menghindarkan diri dari dua serangannya, bahkan dapat membalas spontan dan seketika dengan serangan keris dan pukulan ampuh yang mengancam perut dan dadanya!

Ia melompat ke belakang dengan ringan sehingga serangan balasan Pusposari gagal, lalu secepat kilat Candra Dewi menyerang lagi dengan lebih ganas karena setelah tahu bahwa lawannya memiliki kesaktian ia lalu menggerakkan seluruh tenaga dan mengeluarkan jurus-jurus terampuh untuk merobohkan lawannya.

Namun, Nyi Pusposari bukanlah lawan yang demikian mudah dirobohkan.

Ia melawan dengan penuh semangat.

Kerisnya menyambar-nyambar seperti patukan ular berbisa, dan tamparan tangan kirinya dengan Aji Nogodento sungguh merupakan serangan dahsyat.

Dua orang wanita ini sudah saling serang dengan serunya.

Sementara itu melihat Candra Dewi sudah menyerang Nyi Pusposari dan dia merasa yakin bahwa sahabat baru yang kini menjadi sekutunya itu pasti akan menang, Arya Bratadewa sudah mencabut sebatang golok dan dia menghadapi Ki Cangak Awu sambil tertawa ngakak.

"Hak-hak-hak-ha-ha-ha, Ki Cangak Awu, sekarang bersiaplah engkau untuk mengakhiri hidupmu!"

"Arya Bratadewa, jangan banyak cakap. majulah kalau engkau berani melawan aku!"

Ki Cangak Awu sudah melintangkan senjatanya, sebatang tongkat sebesar lengan yang terbuat dari kayu galih asem, yaitu bagian tengah dari batang asem yang kuat dan keras seperti besi!

"Hak-hak-hak, sambutlah serangan mautku!"

Arya Bratadewa membentak dan goloknya menyambar, berubah menjadi sinar terang yang dahsyat.

Golok itu terputar membuat gerakan di atas, menjadi gulungan sinar kemudian mencuat ke arah kepala Ki Cangak Awu.

"Trang-cringggg....!!"

Dua kali golok menyambar dan dua kali bertemu dengan tangkisan tongkat Ki Cangak Awu.

Ketua Jatikusumo ini memiliki tenaga yang besar.

Akan tetapi ternyata lawannya juga kuat sekali sehingga pertemuan dua senjata itu membuat keduanya terdorong mundur dan merasa tangan mereka tergetar.

Akan tetapi ternyata kemudian bahwa Ki Cangak Awu masih kalah dalam hal kecepatan gerakan sehingga keadaannnya tidak jauh dari keadaan isterinya yang juga mulai terdesak hebat oleh Ni Candra Dewi.

(Lanjut ke

Jilid 05) Kemelut Blambangan (Seri ke 05 -Serial Pecut Sakti Bajrakirana) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 05 Melihat dua orang jagoannya mendesak suami isteri pimpinan perguruan Jatikusumo itu, Warok Suro Badak tertawa-tawa gembira.

Dia amat membenci pimpinan Jatikusumo.

Dia dan Warok Suro Singo memimpin gerombolan mereka menyerbu Jatikusumo karena perguruan itu selalu memusuhi teman-teman mereka yang masuk golongan hitam atau golongan sesat.

Selain itu, juga dalam penyerbuan itu, kakaknya, Suro Singo telah tewas di tangan Ki Cangak Awu.

Maka ketika bertemu dengan Arya Bratadewa dan Candra Dewi, dia minta bantuan mereka.

Arya Bratadewa tidak menolak karena dia selalu memusuhi orang-orang yang membela Mataram.

Sebagai antek Kumpeni, memang tugasnya untuk mengadu domba antara daerah-daerah dengan Mataram.

Arya Bratadewa mau membantu Suro Badak dengan perjanjian bahwa Suro Badak akan mengerahkan semua kawannya untuk membantu Blambangan yang hendak memberontak terhadap Mataram.

Biarpun mereka berdua terdesak hebat, namun bukan watak pendekar kalau suami isteri itu menjadi gentar, apalagi berusaha melarikan diri.

Mereka melawan mati-matian sehingga amukan mereka berdua itu sedikitnya dapat meredam desakan kedua orang lawan yang memang memiliki tingkat yang lebih tinggi sedikit dibandingkan mereka.

Kalau saja tingkat kepandaian suami isteri pimpinan perguruan Jatikusumo itu lebih tinggi daripada lawan mereka, tentu sudah sejak tadi Arya Bratadewa mempergunakan sepasang pistol yang menjadi andalannya.

Akan tetapi kareka dia mampu mendesak Ki Cangak Awu dan Ni Candra Dewi juga dapat mendesak Nyi Pusposari, maka dia tidak mau mempergunakan senjata api itu.

Bagi seorang jagoan seperti dia tentu akan merasa lebih puas jika mengalahkan lawannya dengan kesaktiannya, bukan dengan senjata api yang hanya dipergunakan kalau keadaan memaksanya.

Kini suami isteri itu sudah terdesak benar.

Mereka berdua hanya mampu melindungi diri dengan elakan dan tangkisan sambil mundur, tidak ada kesempatan untuk membalas serangan lawan yang semakin gencar.

Keadaan mereka terancam bahaya dan gawat.

Mulai terdengar tawa Arya Bratadewa yang ngakak, menertawakan lawannya.

Ketika suami isteri itu sudah amat gawat keadaannya, tiba-tiba terdengar suara derap kaki kuda dan dua orang penunggang kuda membalapkan kuda mereka menuju ke tempat pertandingan itu.

Ketika keduanya sudah tiba di situ, mereka cepat melompat turun dari atas kuda.

Empat orang yang sedang berkelahi itu menyempatkan diri untuk melirik dan melihat siapa dua orang yang datang itu.

Mereka berempat tidak mengenal Joko Darmono, akan tetapi ketika Ki Cangak Awu dan Pusposari mengenal bahwa seorang dari dua pemuda yang datang itu Bagus Sajiwo, mereka menjadi girang sekali.

Sebaliknya, Ni Candra Dewi ketika melihat Bagus Sajiwo, mukanya menjadi merah.

Ia sejak dulu membenci pria dan Bagus Sajiwo merupakan satu-satunya pria yang ia pilih untuk menjadi suaminya.

Akan tetapi pemuda itu sama sekali tidak mau menerimanya sebagai isteri.

Hal ini membuat ia sakit hati dan membenci sekali kepada Bagus Sajiwo karena merasa ditampik, direndahkan yang membuat ia malu dan merasa dihina.

Akan tetapi selain marah, ia juga gentar melihat kedatangan Bagus Sajiwo dan seorang pemuda lain yang tidak dikenalnya.

Ketika Bagus Sajiwo melihat betapa suami isteri itu terdesak, apalagi bahwa yang mendesak Nyi Pusposari adalah Candra Dewi yang dia tahu amat sakti, dia lalu cepat melompat ke medan perkelahian.

Sekali dia menggerakkan tangannya, ada angin pukulan dahsyat menahan Candra Dewi yang sedang mendesak Nyi Pusposari.

Candra Dewi marah sekali melihat pemuda yang dianggap suaminya itu malah membela lawannya, maka dengan nekat ia lalu menerjang dengan kebutan dan pedangnya ke arah Bagus Sajiwo.

Akan tetapi dorongan tenaga Bagus Sajiwo itu membawa angin yang kuat sekali sehingga tubuh Candra Dewi terdorong ke belakang sampai terhuyung.

Melihat pemuda yang baru datang itu dapat membuat Candra Dewi terhuyung ke belakang, Arya Brata dewa terkejut bukan main.

Dia lalu melompat ke belakang dan cepat mencabut dua buah pistol dari pinggangnya.

Akan tetapi sebelum dia sempat membidik dan menembakkan kedua buah pistolnya itu, dua sinar hitam menyambar dan dua buah batu sebesar kemiri menghantam kedua tangannya yang memegang pistol.

"Aduhhh....!!"

Dia berteriak keras dan dua buah senjata api itu terlepas dan terlempar dari tangannya.

Dia memandang terbelalak ke arah pemuda yang menjatuhkan dua buah pistolnya dengan sambitan batu itu.

Maklumlah dia bahwa yang dihadapinya adalah dua orang pemuda yang amat tangguh, padahal dua pucuk senjata api yang menjadi andalannya telah terlepas dari tangannya.

Kalau dilanjutkan perkelahian itu, tentu fihaknya akan menderita kekalahan.

Agaknya Candra Dewi juga mempunyai pendapat yang sama.

Iblis betina Banten ini gentar menghadapi Bagus Sajiwo yang dibencinya.

Maka ketika Arya Bratadewa melompat jauh meninggalkan tempat itu, ia pun melompat dan mengejar rekannya melarikan diri.

Warok Suro Badak sudah sejak tadi melarikan diri lebih dulu melihat kemunculan pemuda yang digdaya itu.

"Jahanam busuk! Kembalikan puteriku!"

Teriak Pusposari dan ia melakukan pengejaran. Suaminya, Ki Cangak Awu juga mengejar.

"Paman dan Bibi, jangan mengejar! Adi Nawangsih sudah pulang!"

Seru Bagus Sajiwo sambil mengejar dua orang itu.

Melihat bayangan berkelebat dan pemuda itu telah berdiri menghadang di depan mereka dan mendengar ucapan itu, keduanya berhenti dan memandang pemuda itu dengan sinar mata penuh harapan.

"Anakku.... sudah pulang?"

Bagus Sajiwo mengangguk.

"Benar, Kanjeng Bibi. Joko Darmono itulah yang telah menyelamatkan Nawangsih dari tangan penculiknya."

Bagus Sajiwo memandang ke arah Joko Darmono. Suami isteri itu memutar tubuh mereka memandang Joko Darmono yang sambil tersenyum menghampiri mereka.

"Joko, perkenalkan. Ini Paman Ki Cangak Awu dan Bibi Pusposari, ayah dan ibu Nawangsih."

Kata Bagus Sajiwo memperkenalkan. Joko Darmono memberi hormat dengan sembah depan dada.

"Paman dan Bibi, senang sekali dapat berkenalan dengan Paman dan Bibi sebagai pemimpin Perguruan Jatikusumo yang terkenal."

Katanya ramah. Sumai isteri itu masih tertegun oleh rasa girang dan lega mendengar puteri mereka telah dapat diselamatkan.

"Anakmas Joko Darmono, kami amat berterima kasih bahwa Andika telah menyelamatkan anak kami."

Kata Ki Cangak Awu sambil menatap wajah tampan itu.

"Ah, Paman. Kebetulan saja aku bertemu dengan penjahat yang melarikan Adik Nawangsih sehingga dapat menggagalkan penculikan itu."

Kata Joko Darmono.

"Aduh, terima kasih banyak, Anakmas. Kami sudah merasa gelisah bukan main. Bagaimana ceritanya andika dapat menolong anak kami?"

"Bibi Pusposari, saya kira lebih baik hal itu kita bicarakan nanti. Sekarang sebaiknya Paman dan Bibi cepat pulang karena Adik Nawangsih amat mengkhawatirkan Paman dan Bibi yang mencarinya ke Ponorogo. Pakailah kuda kami."

Kata Bagus Sajiwo."

"Terima kasih, kalian sungguh pemuda-pemuda yang hebat. Kami sekeluarga berhutang budi...."

Kata Pusposari terharu.

Suami isteri itu lalu menunggang kuda kedua orang pemuda itu dan membalapkan kuda mereka ke selatan, menuju ke Jatikusumo.

Dua orang pemuda saling pandang dan keduanya tersenyum.

"Wah, harapan bagimu besar sekali, Joko!"

"Weh! Apa maksudmu? Harapan apa?"

"Harapan menjadi Adik iparku!"

"Lho? Maksudmu?"

"Alaaa, masih kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu! Nah, kujelaskan lagi. Harapan untuk menjadi mantu Paman Ki Cangak Awu!"

"Apa? Aku? Ih, gila kau, Bagus!"

"Mengapa gila? Engkau tertarik kepada adikku Nawangsih yang cantik jelita...."

"Dan galak!"

"Galak namun menggemaskan, bukan? Hayo, mengaku saja! Engkau jatuh cinta kepadanya, bukan? Dan aku tahu bahwa Nawangsih mengagumimu, apalagi ia telah kauselamatkan. Orang tuanya sangat berterima kasih kepadamu. Selain itu, aku sendiri pun sungguh akan senang sekali kalau engkau menjadi adik iparku. Engkau seorang pemuda yang baik, amat baik."

"Bagus, engkau menganggap aku baik? Apaku yang baik?"

"Segalanya. Engkau masih muda, engkau tampan seperti Arjuna, engkau gagah perkasa, sakti mandraguna dan bijaksana, seorang satria sejati yang berbudi mulia."

"Wah-wah-wah, kepalaku rasanya menjadi besar sekali nih!"

Joko Darmono berseru sambil menggunakan kedua tangan memegangi kepalanya dan tertawa.

"Bagus, jangan mengada-ada kau! Nawangsih masih kanak-kanak, jangan berpikir yang macam-macam!"

"Usianya sudah tiga belas tahun. Beberapa tahun lagi ia sudah menjadi seorang gadis dewasa yang cantik jelita! Ia bukan anak kecil lagi. Eh, Joko, terus terang saja, kalau engkau setuju, aku yang akan menjadi perantara, membicarakan hal ini dengan Paman dan Bibi."

"Husshh! Jangan, awas kalau engkau lancang. Aku akan marah sekali padamu!"

Kata Joko Darmono dan karena sikapnya bersungguh-sungguh ketika mengatakan hal ini, Bagus Sajiwo tidak melanjutkan godaannya.

Mereka berdua lalu berlari cepat mengejar suami isteri yang membalapkan kuda mereka tadi, menuju ke perkampungan Jatikusumo.

Di tengah perjalanan, Joko Darmono bertanya.

"Bagus, aku ingin bertanya...."

"Tentang Nawangsih?"

"Hush! Jangan main-main. Aku ingin bertanya tentang dua orang yang hendak membunuh Paman dan Bibimu tadi. Kau mengenal mereka?"

"Laki-laki berpistol itu aku tidak kenal dan baru sekarang aku melihatnya. Akan tetapi wanita itu tidak asing bagiku. Ia adalah Iblis Betina dari Banten...."

"Ah, itukah yang bernama Maya Dewi?"

Joko Darmono berseru.

"Sudah lama aku mendengar tentang Maya Dewi!"

"Bukan! Ia bukan Maya dewi, akan tetapi Kakak tirinya dan bernama Candra Dewi. Galak dan kejam sekali. Maya Dewi sama sekali bukan iblis betina...."

"Akan tetapi aku mendengar bahwa Maya Dewi adalah Iblis Betina yang teramat jahat, yang tidak segan melakukan segala macam kejahatan, cabul, keji, bahkan terkenal sebagai antek Kumpeni!"

Bagus Sajiwo tersenyum dan menggeleng kepalanya.

"Sekarang tidak lagi, Joko. Betapapun sesatnya ia dahulu, akan tetapi Maya Dewi yang sekarang adalah seorang wanita yang baik hati, bijaksana, dan gagah perkasa."

"Ah, engkau mengenalnya?"

"Bukan hanya mengenal. Ia sahabatku yang paling baik."

"Oh....!"

Joko Darmono terbelalak menatap wajah Bagus Sajiwo, tidak menyembunyikan keheranannya dan ia tampak terkejut bukan main mendengar pengakuan Bagus Sajiwo itu.

"Jangan heran dan percayalah padaku Joko. Maya Dewi sekarang adalah seorang pendekar wanita yang menentang kajahatan. Bahkan belum lama ini ia bentrok sendiri dengan kakak tirinya itu. Aku mengenal Candra Dewi, akan tetapi yang laki-laki tadi aku tidak mengenalnya. Hanya melihat betapa dia pandai mempergunakan senjata api dan memilikinya, mungkin sekali ia dekat Kumpeni.

"Bukan dekat lagi. Dia itu Arya Bratadewa, juga seorang tokoh berasal dari Banten yang menjadi orang kepercayaan Kumpeni Belanda."

"Hemm, jahat sekali! Aku mendengar dari Ayah Ibuku bahwa sekarang tidak ada perang antara Mataram dan Kumpeni Belanda. Bagaimana masih ada antek Kumpeni dan memusuhi para pembela Mataram? Apa maksud mereka itu? Apa yang dikehendaki Belanda dengan mengirim telik sandi (mata-mata) seperti Arya Bratadewa yang memusuhi para pendekar Mataram?"

"Apa engkau belum mendengar, Bagus? Kumpeni Belanda selalu berusaha untuk mengadu domba antara para Kadipaten dan Mataram. Dan kini Belanda membantu Kadipaten Blambangan dengan senjata-senjata api untuk menyerang Mataram."

Bagus Sajiwo terkejut.

"Hemm, benarkah itu, Joko?"

"Tentu saja benar! Blambangan sedang bersiap-siap untuk menyerang Mataram dan mereka bersekutu dengan Bali yang merupakan pembantu utamanya. Diam-diam Kumpeni juga membantu dengan mengirim para telik sandi dan juga senjata-senjata api."

"Hemm, kalau begitu penyerangan terhadap Ayah Ibuku, lalu penyerangan terhadap perguruan Jatikusumo, semua peristiwa itu ada hubungannya dengan gerakan persekutuan pemberontak yang berpusat di Blambangan?"

"Kurasa demikian, Bagus."

"Eh, Joko, bagaimana engkau dapat mengetahui ini semua?"

"Tentu saja aku tahu akan keadaan Kadipaten Blambangan karena aku adalah kawula Blambangan!"

Bagus Sajiwo memandang dengan heran dan agak terkejut.

"Ah, engkau kawula Blambangan? Akan tetapi mengapa engkau tidak membantu Blambangan, bahkan.... tadi menentang Arya Bratadewa yang engkau tahu bersekutu dengan Blambangan?"

"Hemm. engkau tidak senang aku membantu perguruan Jatikusumo dan menentang sekutu Blambangan?"

"Tentu saja tidak! Aku hanya heran, Joko. Aku tahu engkau seorang yang gagah perkasa, tidak mungkin engkau mau mengkhianati kadipaten di mana engkau menjadi kawulanya."

Joko Darmono menghela napas panjang.

"Tentu saja aku bukan pengkhianat. Terus terang saja, persekutuan itu sudah mencoba untuk mendekati dan menarik aku agar membantu mereka. Akan tetapi aku hanya siap membantu Kadipaten Blambangan kalau memang Sang Adipati bertindak benar. Akan tetapi sang adipati dipengaruhi Kerajaan Klungkung di Bali, mengadakan persekutuan dengan para tokoh sesat bahkan dengan Kumpeni Belanda! Bagaimana mungkin aku sudi membantunya? Aku akan membela Blambangan kalau Blambangan diserang secara sewenang-wenang oleh siapapun juga. Akan tetapi aku pasti tidak mau membantu kalau Blambangan bertindak angkara murka."

"Hemm, aku kagum sekali padamu, Joko. Apa yang kau katakan itu memang benar. Kita wajib membela negara dan tanah air, akan tetapi bukan membela penguasa yang angkara murka. Bahkan demi kesejahteraan negara dan bangsa, kita harus bertindak adil dan berani menentang kalau penguasa membawa negara ke arah yang tidak benar, apalagi menuruti keangkara-murkaan penguasa."

Mereka melanjutkan perjalanan dan karena keduanya kini mengerahkan aji kesaktian mereka dengan berlari secepat terbang, mereka tiba di perkampungan Jatikusumo hanya beberapa saat setelah Ki Cangak Awu dan Nyi Pusposari tiba di situ.

Hal ini membuat ketua Jatikusumo dan isterinya menjadi kagum bukan main.

Tadi mereka berdua membalapkan kuda mereka, akan tetapi ternyata dua orang pemuda itu dapat tiba di situ dengan waktu yang hampir bersamaan dengan kedatangan mereka.

Nawangsih menyambut kedatangan ayah ibunya dengan girang.

Nyi Pusposari berangkulan dengan puterinya yang diculik orang akan tetapi kini kembali dalam keadaan selamat.

Keluarga itu lalu menyambut Bagus Sajiwo dan Joko Darmono dengan ramah dan penuh rasa syukur karena dua orang muda inilah yang telah menyelamatkan Nawangsih maupun juga menyelamatkan suami isteri itu yang nyaris dibunuh lawan yang lebih kuat.

Mereka mengadakan pesta makan dengan gembira.

Dengan gayanya yang lincah Nawangsih menceritakan kepada ayah ibunya betapa ia telah diselamatkan dari tangan penculiknya yang bernama Dartoko oleh Joko Darmono.

Setelah Nawangsih selesai bercerita, Ki Cangak Awu dan isterinya menatap wajah Joko Darmono dengan kagum dan berterima kasih.

"Anakmas Joko Darmono, Andika telah menyelamatkan puteri kami dari malapetaka. Kami sekeluarga mengucapkan banyak terima kasih, dan apabila kami sekeluarga tiada kesempatan membalas budi kebaikan Andika ini, semoga Gusti Allah yang akan membalas semua amal kebaikan Andika dengan berkah yang berlimpah-limpah."

Joko Darmono tersenyum lebar. Suami isteri itu kagum melihat wajah yang amat tampan itu.

"Wah, Paman terlalu memuji. Secara kebetulan saja saya melihat orang melakukan kejahatan dan tentu saja saya segera menentangnya dan menolong Adik Nawangsih. Semua orang juga akan berbuat seperti saya, maka harap Paman sekeluarga tidak terlalu membesarkan perbuatan saya yang sudah semestinya itu."

"Kanjeng Paman dan Kanjeng Bibi, Joko Darmono ini memang seorang yang hebat sekali!"

Kata Bagus Sajiwo sambil tersenyum.

"Sudah sakti mandraguna, tampan seperti Arjuna, juga rendah hati dan bijaksana. Sungguh amat langka mendapatkan seorang pemuda seperti dia!"

"Hemm, Bagus! Engkau mau mengejek aku, ya? Memangnya aku ini barang atau mahluk langka?"

Joko Darmono menegur berlagak marah. Bagus Sajiwo yang mengetahui bahwa pemuda itu hanya berpura-pura saja marah, tertawa.

"Anakmas Joko Darmono, kami ingin mengenal Andika lebih baik lagi. Sukalah Andika menceritakan, siapa orang tua dan siapa pula Guru Andika?"

Tanya Nyi Pusposari.

"Wah, kasihan sekali dia, Ibu!"

Kata Nawangsih.

"Ketika masih kecil sudah ditinggal mati kedua orang tuanya, kemudian ketika berusia lima tahun dan hanya hidup berdua dengan Adiknya. Adiknya yang berusia tiga tahun mati pula sehingga dia hidup sebatang kara!"

"Aduh kasihan!"

Kata Nyi Pusposari.

"Benarkah itu, Anakmas?"

Joko Darmono tersenyum.

"Ah, hal itu sudah terjadi belasan tahun yang lalu dan saya sudah terbiasa hidup sebatang kara, Kanjeng Bibi."

"Dan gurumu, siapakah gurumu, anakmas Joko Darmono?"

"Maafkan saya, Kanjeng Paman. Bukannya saya tidak mau menjawab dan merahasiakan, akan tetapi.... saya harus menaati pesan Guru saya agar saya tidak memperkenalkan nama Beliau kepada siapapun juga. Maaf, Paman."

"Tidak mengapa, Anakmas. Jawabanmu itu bahkan menunjukkan bahwa Andika seorang murid yang amat baik karena mematuhi pesan Guru Andika."

"Paman Cangak Awu, pokoknya tingkat kepandaian Joko Darmono ini tinggi sekali. Kalau tidak ada dia tadi yang menyambit lepas sepasang senjata api di kedua tangan Arya Bratadewa, tentu kita sudah menjadi korban tembakan."

"Wah, Bagus, jangan membual kau!"

Joko Darmono mencela.

"Paman, dibandingkan dengan kesaktian Bagus Sajiwo, kemampuanku tidak ada artinya!"

Keluarga pemimpin perguruan Jatikusumo itu gembira sekali melihat pemuda yang rendah hati itu dan mereka merasa semakin kagum.

"Bagus Sajiwo, sekarang giliranmu untuk bercerita. Selama belasan tahun ini ke mana saja engkau pergi? Dan bagaimana engkau tiba-tiba muncul di sini?"

"Ketika saya berusia enam tahun, saya diculik oleh Wiku Menak Koncar...."

"Hemm, manusia itu memang jahat!"

Ki Cangak Awu memotong.

"Akan tetapi dia tewas di tangan Gusti Puteri Wandansari yang masih Adik seperguruanku karena iapun murid Jatikusumo. Lalu bagaimana selanjutnya, Bagus Sajiwo?"

"Saya dibawa ke arah timur dengan paksa, akan tetapi setibanya di dekat Pegunungan Ijen, saya ditolong oleh mendiang Eyang Guru Ki Ageng Mahendra."

"Wah!"

Ki Cangak Awu kembali memotong.

"Ki Ageng Mahendra itu masih Paman Kakek Guru kami! Beliau adalah Kakek Buyut guru sendiri!"

"Benar Kanjeng Paman. Saya diselamatkan oleh Eyang Guru yang mengalahkan dan mengusir Wiku Menak Koncar. Kemudian saya dibawa ke sebuah puncak bukit di Pegunungan Ijen dan mempelajari ilmu-ilmu selama belasan tahun.

"Akan tetapi mengapa sampai begitu lama engkau tidak pulang dan tidak memberi kabar sehingga Ayah Ibumu selalu mencarimu dengan gelisah dan sedih?"

Nyi Pusposari bertanya dengan suara menegur.

"Maaf, kanjeng Bibi. Saya kira persoalannya sama dengan apa yang dialami Joko Darmono. Eyang Guru melarang saya pulang atau memberi kabar kepada orang tua saya sebelum saya mencapai usia dua puluh tahun. Itulah sebabnya mengapa saya menahan diri dengan susah payah untuk tidak melanggar perintah Eyang Guru itu. Setelah berusia dua puluh tahun, barulah saya berani pulang ke Gunung Kawi."

Ki Cangak Awu mengangguk-angguk dan memandang wajah dua orang muda yang duduk di depannya itu dengan sinar mata kagum.

"Wah, hebat sekali kalian berdua! Begitu taat kepada pesan guru, sungguh merupakan murid-murid yang baik sekali!"

"Bagus Sajiwo jauh lebih baik daripada saya, Paman! Saya taat kepada Guru saya yang masih hidup sehingga saya takut melanggar perintahnya. Akan tetapi Bagus Sajiwo, walaupun Gurunya telah wafat, tetap saja dia menaati perintah itu!"

"Hi-hi-hik! Dua orang ini memang lucu sekali!"

Nawangsih tertawa.

"Sejak semula aku bertemu mereka berdua, mereka itu selalu berebut, berebut saling mengalah. Untuk mengantar aku pulang saja mereka saling dorong, saling mengalah, bukan saling berebut! Sungguh aneh dan lucu sekali!"

Gadis remaja itu tertawa geli.

Ki Cangak Awu dan Nyi Pusposari saling berpandangan dan mereka juga tertawa.

Pada saat itu kedua suami isteri itu maklum bahwa dalam hati mereka muncul keinginan agar puteri mereka dapat berjodoh dengan seorang di antara dua pemuda ini!

Akan tetapi Nawangsih belum dewasa.

Tunggu tiga empat tahun lagi dan mereka tentu akan menghubungi Ki Tejomanik dan Retno Susilo.

Pertama-tama tentu saja ketua Jatikusumo dan isterinya ini akan berusaha menjodohkan puteri mereka dengan Bagus Sajiwo.

Bagaimanapun juga Bagus Sajiwo adalah Putera Ki Tejomanik yang masih terhitung keluarga dekat dan mereka telah mengetahui bahwa Bagus Sajiwo mempunyai orang tua gagah perkasa dan berwatak satria.

Adapun Joko Darmono, walaupun tampak amat baik dan menyenangkan hati mereka, bahkan dalam soal ketampanan, Bagus Sajiwo juga kalah, namun mereka belum mengenal betul siapa pemuda ini dan siapa pula keluarga maupun gurunya.

"Paman, apakah sebabnya Jatikusumo diserbu gerombolan warok sesat itu dan mengapa pula Adik Nawangsih diculik orang yang bernama Dartoko itu? Tahukah Paman siapa Dartoko itu?"

"Menurut pengakuan Warok Suro Singo dan Suro Badak yang memimpin para penyerbu, mereka hendak membasmi Jatikusumo karena selama ini peguruan kami memusuhi para penjahat yang berani menganggu ketenteraman penduduk di sekitar daerah Pacitan. Kami dapat memukul mundur mereka, bahkan seorang pemimpin mereka, Warok Suro Singo dapat kami robohkan. Akan tetapi kami sendiri heran mendengar dari Nawangsih bahwa yang menculiknya adalah seorang pemuda bernama Dartoko yang tidak ada hubungannya dengan para penyerbu. Mungkin dia menggunakan kesempatan selagi Jatikusumo diserbu musuh untuk menyelinap masuk dan menculik Nawangsih."

"Akan tetapi Paman tidak mengenal yang bernama Dartoko itu?"

"Kami belum pernah mendengar nama itu. Baru dari Nawangsih kami mengetahui namanya."

"Kakang Bagus, jahanam busuk bajul buntung itu namanya Dartoko dan dia mengaku murid Kyai Kasmalapati!"

Kata Nawangsih.

"Kyai Kasmalapati? Siapa pula itu dan mengapa Dartoko dan mengapa Dartoko memusuhi Paman?"

Ki Cangak Awu dan isterinya tidak dapat menjawab.

"Aku pernah mendengar nama Kyai Kasmalapati itu. Dia seorang datuk Blambangan yang sesat dan dia adalah adik seperguruan Bhagawan Kalasrenggi yang kini menjadi penasihat Adipati Blambangan."

Kata Joko Darmono.

"Ah, aku mengerti sekarang!"

Ki Cangak Awu berseru sambil menepuk pahanya sendiri.

"Tentu saja! Mereka itu mengganggu Jatikusumo dalam rangka pemberontakan Blambangan terhadap Mataram!"

"Paman sudah mendengar akan hal itu?"

Tanya Joko Darmono.

"Ya, kami sudah mendengar karena berita itu sudah menjalar ke mana-mana untuk memperingatkan para pendekar pembela Mataram agar mempersiapkan diri. Akan tetapi aku masih belum mendengar keadaan yang sesungguhnya, hanya mendengar bahwa Kadipaten Blambangan hendak melakukan gerakan menentang Mataram."

"Paman Cangak Awu, Joko Darmono ini mengetahui banyak tentang gerakan Blambangan itu karena dia adalah kawula Blambangan."

Kata Bagus Sajiwo. Mendengar ini, Ki Cangak Awu dan Nyi Pusposari terkejut. Hanya Nawangsih yang bersikap tidak peduli.

"Ah, benarkah? Akan tetapi...."

Ki Cangak Awu memandang ragu. Akan tetapi Joko Darmono hanya tersenyum.

"Jangan salah mengerti, Paman. Joko Darmono ini walaupun kawulo Blambangan namun dia tidak suka membantu Adipati Blambangan kalau mereka memberontak terhadap Mataram. Dia sudah bercerita kepada saya tentang keadaan Blambangan. Kini Blambangan sedang bersiap-siap untuk menyerang masuk daerah Mataram dan gerakan mereka itu dibantu oleh Bali, juga diam-diam didukung Kumpeni dan banyak tokoh dan datuk sesat yang membenci Mataram terlibat. Arya Bratadewa dan Candra Dewi yang tadi membantu Warok Singo Badak menyerang Paman dan Bibi adalah antek-antek Kumpeni Belanda yang bergabung dengan Blambangan sebagai wakil Kumpeni."

Hemm, jelas sekarang!"

Kata Ki Cangak Awu.

"Mereka memiliki kepandaian tinggi, terutama wanita berpakaian putih itu."

"Baik Arya Bratadewa maupun Candra Dewi adalah tokoh-tokoh dari Banten, Paman. Ni Chandra Dewi terkenal dengan julukan Iblis Betina dari Banten."

"Hemm, bukankah iblis betina itu kalau tidak salah bernama Maya Dewi yang dulu menjadi telik sandi Kumpeni?"

"Bukan, Bibi. Candra Dewi adalah Kakak tiri Maya Dewi. Akan tetapi sekarang Maya Dewi telah berubah. Ia bukan lagi seorang antek Kumpeni, bahkan ia memusuhi Kumpeni dan ia bukan lagi seorang tokoh sesat dan jahat. Sebaliknya, ia kini telah menjadi seorang pendekar wanita yang perkasa dan baik budi, menentang segala kejahatan."

"Bagaimana mungkin?"

Kata Pusposari ragu.

"Dahulu ia jahat bukan main, jahat dan kejam bagaikan iblis!"

"Benar, Bibi. Hal ini pun diakuinya. Ia dahulu memang sakit berat, yang sakit adalah jiwanya, batinnya. Akan tetapi seperti juga segala macam penyakit jasmani yang diderita manusia, kalau Gusti Allah menghendaki, betapapun berat penyakit itu, dapat juga disembuhkan, bukan? Demikian pula dengan penyakit yang diderita Maya Dewi. Ia kini telah sembuh sepenuhnya, telah bertobat dan menjadi seorang yang mengenal dan taat kepada Gusti Allah."

"Bagaimana engkau dapat mengetahui demikian pasti tentang Maya Dewi, Bagus?"

Tanya nyi Pusposari.

"Bibi, telah lama saya bersama Maya Dewi menjadi sahabat, sama-sama mempelajari ilmu sehingga dapat dikatakan bahwa ia dan saya adalah saudara seperguruan."

"Ohh....!"

Suami isteri itu terkejut, akan tetapi tidak mau bertanya lebih jauh karena khawatir kalau-kalau menyinggung hati pemuda itu.

Akan tetapi diam-diam Pusposari merasa heran bagaimana tanggapan Kakak angkatnya, Ki Tejomanik dan terutama sekali Kakak iparnya, Retno Susilo kalau mendengar bahwa putera mereka menjadi saudara seperguruan iblis betina Maya Dewi!

Setelah mereka selesai makan minum dan pindah ke ruangan depan untuk bercakap-cakap, Ki Cangak Awu bicara tentang gerakan yang terjadi di Blambangan.

"Mendengar tentang gerakan pemberontakan yang dilakukan Blambangan, kami akan bersiap-siap dan sewaktu-waktu kami akan membantu Mataram sebagai sukarelawan. Bagaimana dengan kalian, Bagus dan Joko?"

"Paman. memenuhi pesan ayah, setelah bertemu Paman sekeluarga di sini, saya akan pergi mengunjungi Eyang Ki Mundingloyo, pimpinan perkumpulan Sardula Cemeng di hutan Kebonjambe di kaki Pegunungan Kelud."

"Ki Mundingsosro adalah ayah Mbakayu Retno Susilo, Bagus. Tentu dia sudah tua sekali sekarang, dan aku mendengar bahwa ibu kandung Mbakayu Retno Susilo telah meninggal dunia. Benar sekali, engkau harus mengunjungi mereka, keluarga Ibumu itu! Kalau bertemu dengan mereka, sampaikan salam hormatku."

Kata Nyi Pusposari.

"baik, Kanjeng Bibi. Akan saya perhatikan pesan Bibi."

"apakah engkau tidak ada niat untuk membantu Mataram menghadapi pemberontakan Blambangan?"

Tanya Ki Cangak Awu.

"Tentu saja, Paman. Setelah mengunjungi Eyang di perkumpulan Sardula Cemeng, saya akan merantau ke Blambangan dan melihat-lihat keadaan untuk membela Mataram dan menentang musuh."

Ki Cangak Awu lalu menatap tajam wajah Joko Darmono.

"Dan bagaimana dengan Andika, Anakmas Joko Darmono? Setelah dari sini, apa yang hendak Andia lakukan dan ke mana andika hendak pergi?"

Joko Darmono memandang kepada Bagus Sajiwo dan berkata.

"Saya memang sedang merantau tanpa tujuan tertentu. Oleh karena itu, saya ingin ikut dengan Bagus yang hendak mengunjungi Kakeknya di Gunung Kelud. Tentu saja kalau Bagus tidak keberatan melakukan perjalanan bersama saya."

Bagus balas memandang dan tersenyum.

"Keberatan? Mengapa aku harus merasa keberatan Aku malah merasa gembira kalau engkau mau ikut dengan aku, Joko!"

"Akan tetapi bagaimana sikap Andika tenang perang yang akan terjadi antara Blambangan dan Mataram kalau Blambangan jadi melakukan pemberontakan terhadap Mataram? Andika akan berdiri di fihak mana?"

Ki Cangak Awu yang ingin mengetahui isi hati pemuda yang diharapkannya menjadi jodoh puterinya kelak itu, mengejar.

"Ah, itu?"

Joko Darmono memeperlebar senyumnya.

"Paman, saya tidak akan membantu Blambangan kalau mereka memulai peperangan dan menyerbu daerah Mataram. Saya tidak akan berdiri di fihak manapun. Saya tidak mau terlibat dalam perang. Akan tetapi saya selalu akan berfihak kepada mereka yang benar namun tertindas dan selalu menentang yang kuat namun jahat dan sewenang-wenang, tidak peduli bahwa dia itu kawula Blambangan ataupun kawula Mataram."

Ucapan ini dikeluarkan dengan sungguh-sungguh dan diam-diam Ki Cangak Awu dan Nyi Pusposari dapat menerimanya sebagai sebuah pendirian seorang pendekar yang gagah perkasa.

Tidak mau membantu Blambangan karena kadipaten itu memberontak dan dianggap salah, akan tetapi juga tidak mau mengkhianati tanah tumpah darahnya itu.

"Pendirianmu itu patut kami hargai, Anakmas Joko Darmono."

Kata Ki Cangak Awu.

Dua orang pemuda itu tinggal di rumah keluarga ketua perguruan Jatokusumo selama satu malam.

Untuk mereka berdua disediakan sebuah kamar yang cukup besar dengan dua buah pembaringan.

Joko Darmono mengangkat pembaringannya menjauh dari pembaringan Bagus Sajiwo.

"Aku malam ini hendak berlatih, menghimpun hawa sakti, karena itu harus menyendiri. maafkan aku, Bagus."

"Ah. tidak mengapa, Joko. Aku pun lelah dan perlu banyak istirahat malam ini."

Bagus Sajiwo melihat betapa pemuda itu duduk bersila di atas pembaringannya, bersamadhi.

Maka dia tidak ingin mengganggu dan langsung tidur pulas.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali dua orang pemuda itu sudah menunggang kuda mereka dan meninggalkan perkampungan Jatikusumo.

Ketika mereka hendak berangkat, Nawangsih dan ayah ibunya mengantar sampai di pekarangan.

Gadis remaja itu sebelum kedua orang pemuda naik ke atas punggung kuda, memegang tangan mereka dengan kedua tangannya.

"Aku akan merindukan kalian, Kakang Bagus Sajiwo dan Kakang Joko Darmono. Kapan aku dapat bertemu lagi dengan kalian?"

Joko Darmono tertawa.

"Heh-heh, aku akan bertemu denganmu setiap malam, Nawangsih."

"Setiap malam?"

Nawangsih mengulang, bersamaan dengan Bagus Sajiwo yang juga memandang Joko Darmono dengan heran.

"Ya, setiap malam. Dalam mimpi!"

Joko Darmono tertawa dan mereka semua juga tertawa.

"Ih, kalau engkau yang bermimpi bertemu aku, belum tentu aku dapat melihatmu, Kakang Joko!"

Kata Nawangsih.

"Adik Nawangsih, masih banyak waktu bagi kita untuk dapat saling bertemu kembali kelak. Engkau belajarlah dengan tekun agar kelak dapat menjadi pendekar wanita yang gagah perkasa. Kita pasti akan dapat bertemu kembali kelak."

"Nawangsih, Bagus Sajiwo benar. Pula, setelah di hari ini datang berkunjung, pasti di antara kita akan dapat saling berjumpa lebih sering."

Kata Nyi Pusposari, menghibur puterinya yang tampak kecewa dan kehilangan mengantar kepergian dua orang pemuda itu.

Biarpun mulutnya masih cemberut, akan tetapi Nawangsih dapat menerima kenyataan dan dua orang pemuda itu lalu melompat ke atas punggung kuda mereka keluar dari perkampungan itu, di antara lambaian tangan Nawangsih dan ayah ibunya.

Perkumpulan Sardula Cemeng (harimau hitam) merupakan sebuah perkumpulan yang terkenal.

Mereka membuat perkampungan di kaki Gunung Kelud dengan jumlah anggauta kurang lebih lima puluh orang.

Sebagian besar dari mereka sudah berkeluarga dan anak isteri mereka tinggal pula di perkampungan yang cukup besar itu.

Jumlah anggauta beserta keluarga mereka yang berada di perkampungan Sardula Cemeng tidak kurang dari seratus lima puluh orang.

Mereka memiliki sawah ladang yang cukup luas dan bekerja sebagai petani dan pemburu binatang.

Juga apabila tenaga para anggauta diperlukan penduduk dusun atau kota di daerah itu untuk mengawal atau menghadapi gerombolan jahat, para anggauta Sardula Cemeng siap menolong dengan imbalan sepantasnya.

Karena memiliki bermacam sumber penghasilan ini, maka kehidupan mereka dapat dibilang cukup makmur.

Perkumpulan ini merupakan perkumpulan yang sudah cukup tua.

Didirikan lebih dari tiga puluh tahun yang lalu.

Pendirinya adalah dua orang kakak beradik yang gagah perkasa, yaitu Mundingsosro dan Mundingloyo.

Seperti kita ketahui, Ki Mundingsosro adalah ayah kandung Retno Susilo, isteri Ki Tejomanik, atau ibu kandung bagus Sajiwo.

Ketika mendirikan perkumpulan atau perguruan Sardula Cemeng, Ki Mundingsosro berusia kurang lebih tiga puluh tahun dan adiknya Ki Mundingloyo berusia dua puluh lima tahun.

Kedua orang gagah ini baru saja kembali ke Nusa Jawa setelah bertahun-tahun mereka bertualang di pedalaman Borneo (Kalimantan) dan berhasil diangkat menjadi kepala sekumpulan orang Dayak.

Ketika mereka kembali ke Jawa-dwipa, di daerah Gunung Kelud mereka bertemu dengan belasan orang pelarian dari Blambangan.

Mereka itu melarikan diri karena dipaksa oleh para pembesar Kadipaten Bambangan untuk menjadi tentara karena ketika itu Blambangan berperang melawan Bali.

Melihat bahwa para pelarian ini adalah orang-orang gagah, Ki Mundingsosro dan adiknya, Ki Mundingloyo menampung mereka dan berdirilah Perkumpulan Sardula Cemeng.

Makin lama perkumpulan itu menjadi semakin besar karena para pelarian Blambangan itu memberi kabar kepada kawan-kawannya dan saudara-saudara mereka sehingga banyak yang berdatangan dan ikut menjadi anggauta Sardula Cemeng.

Ki Mundingsosro dan Ki Mundiongloyo melatih mereka dengan aji kesaktian sehingga perkumpulan itu menjadi kuat.

Sementara Retno Susilo menikah dengan Sutejo dan pergi mengikuti suaminya, dua puluh tiga tahun telah lewat dan kini Ki Mundingsosro masih menjadi ketua Sardula Cemeng, dibantu adiknya, Ki Mundingloyo.

Keduanya telah menjadi duda dan Ki Mundingsosro hanya mempunyai anak Retno susilo seorang, sedangkan Ki Mundingloyo tidak mempunyai keturunan.

Karena Ki Mundingsosro kini telah tua, usianya sudah enam puluh sembilan tahun, maka biarpun dia masih menjadi ketua Sardula Cemeng, yang aktip melaksanakan tugas adalah adiknya, Ki Mundingloyo yang berusia enam puluh empat tahun.

Ada ciri khas pada para anggauta Sardula Cemeng kalau mereka sedang menghadapi musuh, yaitu wajah mereka itu dicoreng-moreng hitam seperti kebasaan suku Dayak pedalaman kalau sedang berperang.

Peraturan ini diadakan oleh Ki Mundingsosro yang meniru kebiasaan suku Dayak ketika dia menjadi ketua.

Coreng-moreng pada muka ini selain dapat menambah semangat, juga membuat orang luar tidak dapat membedakan para anggauta Sardula Cemeng dan tidak akan mengenal mereka kalau sedang berpakaian biasa.

Pagi hari itu, suasana di perkampungan Sardula Cemeng tampak meriah.

Semua anggauta perkumpulan itu berada di perkampungan.

Semua kegiatan sehari-hari dihentikan dan para anggauta bersama keluarganya sibuk dengan persiapan pesta yang akan diselenggarakan siang nanti.

Ada yang sibuk menghias pintu gapura perkampungan dan rumah induk tempat tinggal ketua di mana perayaan akan dipusatkan.

Ada yang sibuk memotong lembu, kambing dan ayam, ada pula yang sibuk di dapur.

Semua orang bekerja mempersiapkan perayaan yang akan diadakan.

Perkumpulan itu hendak merayakan ulang tahun berdirinya Perkumpulan Sardula Cemeng yang ketiga puluh kalinya.

Sudah tiga puluh tahun perkumpulan itu berdiri dan selama itu telah memperoleh kemajuan pesat.

Pesta itu akan dirayakan secara meriah, akan tetapi dua orang pimpinan itu, Ki Mundingsosro dan Ki Mundingloyo, tidak mengundang orang luar kecuali beberapa orang pinisepuh dan pamong dari beberapa kelurahan dusun-dusun yang berada di sekitar kaki Gunung Kelud.

Para anggautanya sendiri yang akan merayakannya dengan gembira dan bersemangat.

Bahkan gamelan berikut tarian dan tetembangan akan dilakukan sendiri oleh para anggauta yang memang sudah terlatih.

Setelah matahari naik tinggi, persiapan itu selesai dan mulai terdengar bunyi gamelan berbunyi, suasana menjadi meriah sekali.

Para anggauta, pria, wanita, tua muda, juga anak-anak, semua mengenakan pakaian mereka yang terbaru.

Di pekarangan yang luas dari rumah induk tempat tinggal ketua telah dibangun sebuah bangunan tarub yang luas, dengan panggung yang kokoh dan lantai panggung ditilami tikar-tikar berkembang yang bersih dan diatur rapi.

Mereka yang merayakan pesta itu, juga para pinisepuh dan pamong dusun yang diundang, juga dipersilakan duduk di atas lantai panggung.

Setelah perayaan dimulai, dipanggung telah duduk Ki Mundingsosro dan Ki Mundingloyo, dua orang kakak beradik pimpinan perkumpulan yang sudah menduda itu.

Mereka duduk bersanding di atas sebuah bangku, berhadapan dengan para anggauta dan sedikit tamu yang sudah memenuhi panggung, duduk bersila dengan rapi.

Di sudut kiri panggung terdapat para penabuh gamelan dan para penyanyi.

Ki Mundingsosro yang sudah berusia hampir tujuh puluh tahun itu tampak berwajah cerah.

Tubuhnya yang tinggi besar masih tampak kokoh, kulit mukanya masih kemerahan tanda sehat dan kumisnya tang tebal telah berwarna dua.

Sebagai seorang ketua dan seorang yang gagah perkasa, sebatang golok yang menjadi senjata dan pusaka andalannya, tidak pernah ditinggalkannya.

Golok itu menempel di punggungnya, ronce kuning di gagang golok berjuntai sehingga biarpun sudah tua dia tampak masih gagah perkasa berwibawa.

Adiknya, Ki Mundingloyo yang sudah berusia enam puluh empat tahun, juga masih tampak gagah.

Dia yang menjadi wakil ketua, membantu kakaknya, juga bertubuh tinggi besar dan kokoh.

Hanya bedanya kalau wajah kakaknya kemerahan, wajah Ki Mundingloyo ini agak kehitaman.

Mukanya keren walaupun tanpa kumis atau jenggot, dan sepasang matanya bersinar tajam berwibawa.

Di punggung wakil ketua ini juga tergantung senjata yang menjadi andalannya, yaitu sebatang tombak trisula yang telah mengangkat namanya menjadi seorang tokoh yang tangguh.

Setelah Ki Mundingsosro mengangkat tangan sebagai isyarat bahwa pesta perayaan dapat dimulai, para anggauta yang bertugas menghidangkan makanan dan minuman segera bekerja.

Bukan hanya para tamu undangan yang diberi hidangan, akan tetapi seluruh anggauta tidak terkecuali.

Anak-anak pun ikut berpesta ria dan untuk mereka disediakan tempat tersendiri, disebelah kanan panggung di mana mereka berkumpul dan berpesta.

Selagi pesta berlangsung dengan gembira dan dua orang ketua itu juga sedang makan minum bersama semua anggauta dan tamu mereka, tiba-tiba dari luar terdengar suara anggauta yang bertugas jaga berseru lantang.

"Utusan Kadipaten Blambangan datang bertamu!"

Ki Mundingsosro dan Ki Mundingloyo terkejut dan saling pandang.

Ada apa utusan Kadipaten Blambangan datang berkunjung?

Akan tetapi karena yang datang itu mengaku sebagai tamu seperti diumumkan anggauta penjaga tadi, sebagai tuan rumah yang baik mereka harus menerima dan menyambut tamu yang datang dengan ramah.

Semua yang hadir menahan diri agar tidak membuat gaduh ketika mendengar pengumuman penjaga tadi.

Mereka juga merasa heran dan ingin tahu siapa yang datang bertamu.

"Persilakan tamu dari Kadipaten Blambangan untuk masuk!"

Teriak Ki Mundingloyo dengan suara lantang.

Gamelan ditabuh perlahan, tidak sekuat tadi, agaknya hal ini dilakukan para penabuh gamelan yang kesemuanya anggauta Sardula Cemeng untuk tidak mengganggu kedua ketua mereka dalam menyambut tamu yang tidak diundang itu.

Tampak seorang anggauta penjaga mengiringkan dua orang laki-laki memasuki ruangan perayaan.

Semua orang yang hadir memandang penuh perhatian dan karena sebagian besar anggauta berasal dari Blambangan, tentu saja mereka ingin sekali mengetahui siapa gerangan utusan dari Kadipaten Blambangan itu.

Ketika melihat dua orang laki-laki itu, hanya sebagian saja dari mereka, yang sudah berusia lebih dari empat puluh tahun, yang mengenal dua orang itu dan mereka saling berbisik lirih dan tampak terheran dan terkejut.

Seorang dari dua orang tamu itu adalah seorang pria berusia sekitar enam puluh tiga tahun.

Pakaiannya seperti seorang pendeta, sederhana bentuknya dan terbuat dari kain berwarna kuning.

Rambutnya yang berwarna dua digelung ke atas dan diikat dengan kain kuning pula.

Tubuhnya tinggi kurus dan mukanya pucat seperti orang berpenyakitan.

Di sabuk jubahnya terselip sebatang keris dengan warangka terukir dan tangan kirinya memegang seuntai tasbih dengan biji tasbih berwarna merah.

Mereka yang mengenalnya tahu bahwa laki-laki ini adalah Sang Resi Sapujagad, seorang pertapa dari Gunung Merapi yang terkenal dakti mandraguna dan memang sejak dulu dekat dengan keluarga Blambangan, apalagi dulu isterinya yang sudah meninggal masih terhitung sanak keluarga Adipati Santa Guna Alit dari Blambangan.

Ada pun orang kedua adalah Bhagawan Dewokaton yang berusia lima puluh delapan tahun.

Bhagawan Dewokaton ini juga dikenal oleh para anggauta Sardulo Cemeng yang tua karena pertapa Gunung Bromo ini pun merupakan seorang yang tidak asing di Kadipaten Blambangan.

Orang setengah tua ini bertubuh gendut dan mukanya yang bulat selalu menyeringai dan tertawa-tawa, pakaiannya serba putih, juga sorban yang menutupi kepalanya berwarna putih.

Melihat dandanan dan sikapnya, dia memang tampak lembut, sabar dan suka tertawa.

Akan tetapi, sebatang pedang yang tergantung di punggungnya sama sekali tidak cocok dengan penampilannya sebagai seorang pertapa.

Pedang itu menunjukkan bahwa orang ini tidak pantang mempergunakan kekerasan dan dia tentu seorang yang sakti mandraguna.

Biarpun tidak mengenal dua orang itu, Ki Mundingloyo lalu bangkit dari tempat duduknya dan mewakili kakaknya untuk menyambut dua orang tamu itu.

Dua orang tamu yang sudah cukup tua memiliki penampilan yang berwibawa, maka wakil ketua Sardulo Cemeng ini pun menyambutnya dengan hormat.

"Selamat datang di perkampungan kami yang sederhana. Ingin sekali kami mengetahui siapakah Andika berdua yang terhormat ini?"

Kata Ki Mundingloyo dengan sikap hormat.

"Heh-heh-ha-ha-ha!"

Bhagawan Dewokaton tertawa tergelak. Matanya memandang ke arah para anggauta Sardulo Cemeng yang berkumpul di situ.

"Bagus, bagus! Para jagoan dan orang gagah Kadipaten Blambangan telah berkumpul di sini. Siapakah yang menjadi ketua perkumpulan Sardulo Cemeng ini?"

Biarpun sikap pertapa Gunung Bromo ini angkuh, Ki Mundingloyo masih sabar.

"Ketua Sardulo Cemeng adalah Ki Mundingsosro ini, dan aku adalah Adiknya, juga wakil ketua, bernama Ki Mundingloyo. Andika berdua siapakah, Ki sanak?"

"Sungguh keterlaluan sekali kalau kalian tidak mengenal kami."

Kata Resi Sang Adipati Santa Guna Alit dari Blambangan.

Orang-orang Blambangan yang menjadi anggauta Sardulo Cemeng, tentu mengenal kami.

Aku adalah Resi Sapujagad pertapa Gunung Merapi dan ini adalah Adi Bhagawan Dewokaton pertapa Gunung Bromo."

Bukan main kagetnya hati dua orang pimpinan Sardulo Cemeng itu mendengar nama dua orang pertapa itu.

Mereka memang belum mengenal dua orang pertapa itu, akan tetapi sudah lama mendengar nama mereka sebagai orang-orang yang sakti mandraguna.

Ki Mundingsosro yang usianya sudah hampir tujuh puluh tahun itu kini bangkit berdiri dan merangkap kedua tangan di depan dada sebagai sembah penghormatan.

"Ah, kiranya Adi Sapujagad dan Adi Bhagawan Dewokaton yang terkenal itu yang datang berkunjung. Kami mendapat penghormatan besar sekali dengan kunjungan Andika berdua. Silakan, silakan duduk dan kami mengucapkan selamat datang kepada Andika berdua."

Melihat sambutan yang hormat dari ketua Sardulo Cemeng itu, dua orang utusan Kasipaten Blambangan tersenyum senang dan Bhagawan Dewokaton tertawa-tawa lalu bersama Resi Sapujagad mengambil tempat duduk di panggung kehormatan.

"Ha-ha-ha, terima kasih, Ki Mundingsosro. Biarlah kami menyampaikan salam dari Sang Adipati Blambangan untuk Andika berdua yang memimpin Sardulo Cemeng, karena bagaimanapun juga, para anggauta Sardulo Cemeng sebagian besar adalah kawulo Blambangan."

"Terima kasih, Adi Bhagawan Dewokaton. Kalau Andika berdua nanti kembali ke Blambangan, sampaikan salam hormat kami kepada Sang Adipati."

Ki Mundingsosro dan Ki Mundingloyo mempersilahkan kedua orang tamu itu duduk lalu memerintahkan anak buah mereka untuk mengeluarkan hidangan.

Setelah dua orang tamu itu minum, Ki Mundingsosoro bertanya dengan lembut.

"Sekarang kami ingin sekali mengetahui kepentingan apakah yang Andika berdua bawa dari Blambangan? Andika mengaku sebagai utusan Sang Adipati Blambangan, lalu tugas apakah yang Andika berdua bawa ke sini?"

Bhagawan Dewokaton tertawa.

"Heh-heh-heh-heh, Sang Adipati merasa girang mendengar bahwa Andika berdua menghimpun orang-orang gagah Sardulo Cemeng. Nah, kini ada tugas mulia di Blambangan, tentu Sardulo Cemeng siap membantu Blambangan, bukan?"

"Kami tidak menjadi kawula mana pun, dan pendirian kami adalah membantu siapa saja yang membutuhkan bantuan asalkan yang kami bantu itu berada di pihak yang benar. Nah, bantuan macam apakah yang dikehendaki Sang Adipati Blambangan dari kami?"

Kini Ki Mundingloyo yang mewakili kakaknya bertanya.

"Tentu saja Kadipaten Blambangan berada di pihak yang benar. Kami sedang bersiap-siap untuk menyerbu daerah Mataram, menghentikan keangkara-murkaan Mataram. Maka, Sang Adipati Blambangan mengajak Sardulo Cemeng untuk bergabung, memperkuat barisan dan menghancurkan Mataram. Mari kalian semua berkemaslah dan bersama kami sekarang juga berangkat ke Blambangan. Di sana telah dipersiapkan tempat penampungan yang enak dan menyenangkan untuk (Lanjut ke

Jilid 06) Kemelut Blambangan (Seri ke 05 -Serial Pecut Sakti Bajrakirana) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 06 kalian."

Ki Mundingsosro mengerutkan alisnya dan dia menjawab, suaranya tegas.

"Maaf, Adi Resi dan Adi Bhagawan! Kalau itu bantuan yang Andika maksudkan, kami tidak dapat membantu. Kami tidak ingin terlibat dalam perang yang tidak kami mengerti siapa yang salah dan siapa yang benar."

"Ki Mundingsosro!"

Resi Sapujagad suaranya mulai keras dan ketus.

"Andika tidak mengerti ataukah pura-pura tidak mengerti? Menentang Mataram merupakan perjuangan semua kawula Blambangan dan hal itu merupakan kewajiban bagi setiap orang gagah yang menjadi kawula Blambangan!"

"Maaf Adi Resi, akan tetapi gerakan Kadipaten Blambangan itu dapat juga dikatakan sebagai pemberontakan dan tentu saja hal ini tidak benar karena perang antara bangsa sendiri senusantara akan mendatangkan malapetaka dan berakibat jatuhnya banyak kosban. Kalau Kadipaten Blambangan, seperti kerajaan Mataram, berperang melawan Belanda, tentu kami siap sedia membantu dengan taruhan nyawa, untuk mempertahankan tanah air dan melindungi bangsa kita dari cengkeraman bangsa Belanda itu."

"Ki Mundingsosro!"

Kini Resi Sapujagad membentak sambil bangkit berdiri dari kursinya.

"Musuh utama Blambangan bukan Kumpeni Belanda, melainkan Mataram! Kalau andika tidak mau membantu Blambangan menentang Mataram, berarti Andika hendak membela Mataram!"

Ki Mundingsosro dan Ki Mundingloyo juga bangkit berdiri ketika melihat betapa Bhagawan Dewokaton juga berdiri seperti Resi Sapujagad dengan sikap marah dan menantang.

"Resi Sapujagad,"

Kata Ki Mundingsosro dengan sikap tenang dan suara tegas.

"kalaupun kami membela Mataram, hal itu sudah semestinya. Kami termasuk kawula Mataram, bukan kawula Blambangan."

"Babo-babo! Jadi kalian ini membujuk para kawula Blambangan untuk berkhianat terhadap Blambangan dan menjadi antek Mataram? Heii, Saudara-saudara dari Blambangan. Apakah kalian sudi mengekor Mundingsosro dan Mundingloyo untuk mengkhianati Blambangan dan membantu musuh, yaitu Mataram yang angkara murka?"

Para anggauta Sardula Cemeng itu memandang dua orang tamu yang marah itu dengan mata bersinar dan alis berkerut.

Mereka kebanyakan adalah orang dari Blambangan yang memang melarikan diri dari Blambangan karena merasa ditekan oleh para pejabat Kadipaten Blambangan dan sebagai anggauta Sardulo Cemeng mereka merasa memperoleh kehidupan yang lebih tenteram dan baik.

Seorang di antara mereka yang usianya sudah lima puluh tahun dan merupakan anggauta yang sudah belasan tahun dan mengenal siapa adanya dua orang utusan Kadipaten Blambangan itu tiba-tiba berkata lantang.

"Resi Sapujagad dan Bhagawan Dewokaton, kami mengenal siapa adanya Andika berdua yang sama sekali bukan kawula Blambangan melainkan pertapa dari Gunung Merapi dan Gunung Bromo. Mengapa kini membantu Blambangan dan menentang Mataram? Andika berdua inilah yang mengkhianati Mataram. Kami memang kawula Blambangan, namun kami tidak sudi diperalat Adipati Blambangan yang lalim, dibantu orang-orang jahat pula. Andika berdua jangan coba-coba membujuk kami...."

Tiba-tiba Resi Sapujagad menggerakkan tangan kanannya dan sinar merah meluncur ke arah orang yang bicara itu.

Cepat sekali sinar merah itu menyambar dengan bunyi berkeritikan dan tahu-tahu untaian tasbeh merah itu sudah menghantam leher anggauta Sardulo Cemeng ini tanpa yang diserang sempat mengelak atau menangkis sama sekali.

Hebatnya, begitu menghantam leher orang itu, seuntai tasbeh warna merah itu sudah melayang kembali ke arah Resi Sapujagad dan diterima dengan tangan kirinya!

Anggauta Sardulo Cemeng yang berani mengeluarkan kata-kata bernada keras tadi roboh, menggelepar sebentar lalu tewas dengan leher penuh tanda menghitam seperti dibakar!

Tentu saja keadaan mejadi gempar.

Para anggauta Sardulo Cemeng mencabut senjata masing-masing dan bersiap siaga untuk mengeroyok dua orang pengacau itu, menanti aba-aba dari kedua orang pimpinan mereka.

Melihat keadaan ini, yang cukup berbahaya bagi mereka kalau dikeroyok demikian banyaknya orang, dua orang pertapa utusan Blambangan itu lalu berlompatan keluar mencari ruangan yang luas, mereka berdua siap menghadapi pengeroyokan.

Semua anggauta Sardulo Cemeng kini sudah membuat lingkaran lebar untuk mengepung dua orang itu.

Akan tetapi tetap saja mereka tidak berani bergerak menyerang sebelum mendapat perintah dua orang ketua mereka.

Akan tetapi Ki Mundingsosro dan Ki Mundingloyo bukan orang-orang yang berjiwa pengecut.

Mereka tidak akan mengandalkan pengeroyokan anak buah mereka kalau mereka belum menghadapinya sendiri.

Kalau keadaan terpaksa dan untuk membela diri barulah mereka akan mengerahkan anak buah mereka.

Mereka tahu bahwa dua orang pertapa itu sakti mandraguna, akan tetapi kalau belum melawannya sndiri, satu lawan satu, mereka tidak merasa puas.

Mereka pun sama sekali tidak merasa jerih.

Dua orang ketua itu dengan langkah tenang lalu menyusul keluar.

Para anak buah mereka memberi jalan sehingga mereka berdua dapat memasuki lingkaran dan berhadapan dengan Resi Sapujagad dan Bhagawan Dewokaton.

Dengan sikap tenang namun wajahnya keras dan suaranya penuh wibawa Ki Mundingsosro lalu berkata.

"Resi Sapujagad dan Bhagawan Dewokaton, Andika berdua sudah mendengar jawaban kami. Kalau Andika berdua datang mengajak kami untuk membantu Blambangan menentang Mataram, Perkumpulan Sardulo Cemeng sama sekali tidak menerima ajakan itu. Kami tidak ingin terlibat pemberontakan. karena itu harap Andika berdua pulang dan laporkan kepada Adipati Blambangan bahwa kami tidak bersedia membantu."

"Ki Mundingsosro! Kami adalah utusan sang Adipati Blambangan dengan kekuasaan sepenuhnya untuk bertindak apabila perintah Sang Adipati itu kalian tolak!"

Ki Mundingsosro tersenyum.

"Hemm, sikapmu itu jelas menyombongkan kedudukan dan sikap sewenang-wenang seorang yang diberi kekuasaan oleh junjungannya. Karena kami jelas menolak perintah itu, lalu Andika berdua hendak bertindak bagaimanakah terhadap kami?"

Resi Sapujagad memandang rendah kepada dua orang ketua Sardulo Cemeng itu, akan tetapi dia melihat para anggauta perkumpulan itu yang sudah mengepung dalam bentuk lingkaran luas, dia menjadi ragu-ragu juga.

Tidak akan mudah menghadapi pengeroyokan demikian banyaknya orang, apalagi mereka itu sebagian besar adalah orang-orang Blambangan, berarti kawula sendiri.

Maka dia lalu menoleh ke arah Bhagawan Dewokaton dan berkata dengan suara bernada mengejek seperti orang main-main.

"Eh, Adi Bhagawan dewokaton, bagaimana pendapatmu? Apa yang akan kita lakukan terhadap para pembangkang ini?"

"Ha-ha-heh-heh-heh, melakukan apalagi kalau tidak memberi jeweran kepada mereka? He, Ki Mundingsosro, apakah penolakanmu itu berarti bahwa Andika berdua menantang kami untuk mengadu kesaktian?"

"Kami tidak pernah mencari musuh, tidak menentang siapa-siapa, akan tetapi kalau ada orang hendak memaksakan kehendaknya kepada kami, tentu kami melawannya!"

"Ha-ha-ha, itu sama saja dengan menantang kami! Sekarang begini saja. Andika berdua boleh bertanding mengadu kesaktian dengan kami berdua. Kalau kami yang kalah dan masih hidup, kami akan kembali ke Blambangan, kalau kami mati, sudahlah. Akan tetapi kalau Andika berdua kalah, hidup atau mati, semua anggauta Sardulo Cemeng harus berangkat sekarang juga ke Blambangan dan memperkuat pasukan Blambangan untuk menghadapi Mataram. Heh-heh, bagaimana pendapat kalian? Suadah adil, bukan?"

"Resi Sapujagad dan Bhagawan Dewokaton, Andika berdua sungguh orang-orang sombong yang mau enaknya sendiri. Tanpa diundang kalian datang berkunjung, hendak memaksakan kehendak kalian kepada kami, bahkan telah membunuh seorang anggauta kami. Dan sekarang kalian masih hendak mengadakan syarat dan peraturan sendiri! Kami berdua tidak dapat memaksa para anggauta kami. Kalau mereka hendak membantu Blambangan, silakan pergi. Kami tidak mau tahu akan usul kalian tadi. Sekarang kami yang menentukan. Kalian pergilah dan kami masih mau melupakan kematian anggauta kami. Kalau kalian memaksa, kami terpaksa menggunakan kekerasan mengusir kalian!"

"Ha-ha-ha! Kiranya dua orang ketua Sardulo Cemeng hanya pengecut, beraninya main keroyokan mengandalkan banyaknya anggauta untuk mengeroyok kami yang hanya berdua. Huh, licik dan curang!"

Bhagawan Dewokaton tertawa mengejek.

Pantang bagi laki-laki gagah untuk menerima sebutan pengecut curang.

Ki Mundingsosro dan Ki Mundingloyo marah sekali.

Mereka sudah mencabut senjata masing-masing.

Ki Mundingsosro mencabut sebatang golok mengkilat dan Ki Mundingloyo mengeluarkan sebatang tombak trisula yang menjadi senjata andalannya.

"Minggatlah kalian! Kalau tidak, kami akan menyerang!"

Bentak Ki Mundingloyo sambil melintangkan tombak trisulanya di depan dada.

Dua orang utusan Blambangan itu merasa girang bahwa mereka berhasil memancing kemarahan dua orang ketua Sardulo Cemeng itu sehingga mereka ingin bertanding satu lawan satu karena tidak ingin disebut pengecut curang.

Melihat dua orang itu sudah siap menyerang, Resi Sapujagad memutar tasbeh merahnya dengan tangan kanan sedangkan Bhagawan Dewokaton mencabut pedangnya yang mengeluarkan sinar hitam.

"majulah, hendak kami lihat sampai di mana kehebatan dua orang ketua Sardulo Cemeng yang usianya sudah hampir tujuh puluh tahun ini menerjang. Setua itu, tokoh yang bertubuh tinggi besar bermuka merah itu ternyata masih gesit. sambaran goloknya mengeluarkan suara mengaung dan goloknya berubah menjadi sinar berkelebat menyilaukan mata. Gerakannya masih cepat dan kuat sehingga merupakan serangan yang cukup dahsyat.

"Bagus!"

Resi Sapujagad memutar tasbehnya dengan cepat sehingga senjata istimewa itu berubah menjadi gulungan sinar merah. Sinar golok yang menyambar itu bertemu dengan sinar merah yang berputaran.

"Cring-cring, tranggg....!"

Tampak bunga api berhampuran ketika dua senjata itu saling bertemu beberapa kali, menunjukkan bahwa dua senjata itu selain ampuh, juga didorong tenaga yang kuat.

Dua kakek sakti itu segera terlibat dalam sebuah perkelahian yang seru.

Maklum bahwa lawan memiliki kepandaian tinggi, mereka mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan jurus-jurus terampuh mereka dalam usaha mereka untuk mencapai kemenangan.

Pertandingan itu menjadi perkelahian mati-matian, bukan sekedar mengadu kesaktian untuk melihat siapa yang lebih unggul.

Serangan-serangan mereka, baik yang menggunakan pedang maupun yang menggunakan tasbeh merupakan sambaran tangan maut yang kalau mengenai sasaran dengan tepat pasti mendatangkan kematian.

Melihat rekannya sudah bertanding melawan Ki Mundingsosro dan dia yakin bahwa rekannya pasti menang, Bhagawan Dewokaton menghampiri ki Mundingloyo dan tertawa bergela mengejeknya.

"Ha-ha-ha-ha-heh-heh, apakah engkau tidak berani melawan aku dan hanya menjadi penonton saja, Ki Mundingloyo?"

Ki Mundingloyo mengerutkan alis, memandang Bhagawan Dewokaton dengan marah lalu membentak.

"Babi sombong, makan trisulaku!"

Dia lalu menyerang dengan tombak trisulanya yang bergerak cepat seperti kilat menyambar.

"Singggg.... trang-trang-tranggg....!"

Trisula bertemu dengan pedang hitam dan bunga api berpijar.

Mereka lalu saling menyerang dengan tidak kalah dahsyatnya dibandingkan pertandingan pertama.

Pelataran rumah yang tadinya meriah dengan pesta yang gembira dan dirayakan seluruh penduduk perkampungan Sardulo Cemeng, kini berubah menjadi arena perkelahian empat orang itu.

Suasana gembira berubah menjadi suasana yang menegangkan.

Anak-anak dan para wanita sudah lari memasuki rumah dan semua anggauta Sardulo Cemeng kini berkumpul dipelataran itu.

mereka kini telah menjadi pasukan yang wajahnya dicoreng moreng dengan arang sehingga tampak menyeramkan.

Memang inilah kebiasaan para anggauta Sardulo Cemeng.

Begitu menghadapi kemungkinan bertempur, beberapa orang datang membawa bubuk arang dan mereka segera melumuri muka mereka dengan coreng moreng.

Peraturan ini memang sejak dulu dikenakan oleh Ki Mundingsosro yang dahulu di waktu muda pernah menjadi kepala suku yang masih liar di pedalaman Borneo (Kalimantan) dan kebiasaan suku liar yang mencoreng moreng muka mereka kalau sedang berperang itu diterapkan kepada para anggauta Sardulo Cemeng dengan maksud untuk menambah semangat mereka dan agar wajah mereka tidak dapat dibedakan atau dikenal.

Akan tetapi setelah lewat sekitar lima puluh jurus, mulailah tampak bahwa tingkat kepandaian dua orang utusan Blambangan itu masih jauh lebih tinggi dibandingkan tingkat dua orang ketua Sardulo Cemeng itu.

Kakak beradik itu mulai terdesak dan terus mundur, sama sekali tidak sempat membalas serangan, hanya mampu mengelak dan menangkis saja.

Kalau saja dua orang utusan Blambangan itu menghendaki, tentu tanpa banyak kesulitan mereka akan dapat membunuh dua orang ketua Sardulo Cemeng itu.

Akan tetapi mereka tidak mau melakukan ini karena merasa khawatir kalau mereka membunuh dua orang pimpinan ini, para anggauta perkumpulan itu menjadi sakit hati dan tidak mau memenuhi permintaan Kadipaten Blambangan untuk membantu.

Mereka hanya ingin merobohkan dua orang pimpinan itu tanpa membunuh, untuk memperlihatkan para anggauta bahwa mereka jauh lebih sakti sehingga mereka mau tunduk dan mengikuti mereka ke Blambangan.

Apalagi melihat betapa kini wajah semua anggauta dicoreng moreng, dua orang pertapa itu menjadi ngeri juga.

Orang-orang seperti itu tentu akan menjadi nekat kalau sudah bertempur.

Maka mereka lalu mengambil keputusan untuk segera mengakhiri pertandingan itu dan memperlihatkan kepada para anggauta Sardulo Cemeng bahwa mereka lebih sakti daripada dua orang ketua mereka.

"Hyaaaahhh....!"

Resi Sapujagad membentak dan tubuh Ki Mundingsosro terjengkang roboh oleh sambaran kaki Sang Resi.

"Haaaittt....!"

Ki Mundingloyo juga terpelanting roboh terkena dorongan tangan kiri Bhagawan Dewokaton yang mengenai pundaknya.

Dua orang ketua Sardulo Cemeng itu bangkit duduk sambil menyeringai menahan rasa nyeri.

Pada saat itu, para anggauta Sardulo Cemeng yang tadi mengepung dan hanya menonton, begitu melihat dua orang pemimpin mereka roboh, serentak lalu menyerang dua orang utusan Blambangan itu dengan senjata mereka sambil berteriak-teriak seperti yang diajarkan oleh Ki Mundingsosro.

Bertempur dengan muka coreng-moreng dan berteriak-teriak seperti itu berpengaruh besar sekali untuk membikin gentar hati lawan.

Dua orang utusan Blambangan itu terkejut sekali.

Mereka segera menangkis serangan keroyokan itu dan membuat beberapa orang terpental.

"Heii!! Semua mundur....!! "

Ki Mundingsosro membentak nyaring dan mendengar bentakan pemimpin mereka ini, para anggauta Sardulo Cemeng segera menghentikan serangan mereka dan mundur.

Kedua orang ketua Sardulo Cemeng itu lalu melangkah maju menghampiri kedua orang lawamnnya.

"Resi Sapujagad dan Bhagawan Dewokaton, kami bukan pengecut yang main keroyokan. Mari kita lanjutkan pertandingan kita!"

Kata Ki Mundingsosro sambil melintangkan goloknya di depan dada.

"Akan tetapi kalian sudah kalah!"

Kata Resi Sapujagad.

"Kami baru mengaku kalah kalau kami sudah tidak mampu melakukan perlawanan lagi!"

Kini Ki Mundingloyo yang berkata dengan suara lantang dan tegas.

"Ha-ha-ha-heh-heh, dua orang keras kepala! Apakah kalian tidak tahu bahwa kami sengaja bersikap lunak kepada kalian? Apakah kalian ingin mampus?"

Kata Bhagawan Dewokaton sambil tertawa-tawa mengejek.

"Untuk membela diri dan mempertahankan kebenaran, kami tidak takut mati! Andika berdua pergilah dan jangan ganggu perkumpulan kami, Atau kalau Andika memaksa, kami akan melawan sampai mati!"

Mendengar ucapan Ki Mundingsosro ini, Resi Sapujagad yang wataknya keras itu menjadi marah.

"Hemm, daripada melihat orang-orang Blambangan membela Mataram dan menentang kadipaten sendiri, lebih baik kalian semua mati di tangan kami!"

Setelah berkata demikian, Resi Sapujagad dan Bhagawan Dewokaton lalu menerjang maju, disambut dengan nekat oleh dua orang ketua Sardulo Cemeng itu.

akan tetapi karena mereka berdua memang kalah kuat dan kini dua orang pertapa itu menyerang dengan sungguh-sungguh, begitu senjata mereka bertemu, kedua orang ketua Sardulo Cemeng ini terdorong ke belakang sampai terhuyung.

Mereka bukan hanya kalah dalam hal ilmu silat, namun juga tenaga mereka tidak mampu mengimbangi dua orang utusan Blambangan yang memperkuat tenaga sakti mereka dengan ilmu sihir yang mereka kuasai.

Para anggauta Sardulo Cemeng yang merasa berhutang budi kepada kedua orang pimpinannya dan sangat menghormati dan menyayang mereka, kembali bergerak hendak mengeroyok.

Mereka tidak rela melihat dua orang pimpinan mereka terancam maut.

"Berhenti dan mundur semua!"

Tiba-tiba terdengar suara melengking nyaring dan begitu berwibawa sehingga semua orang berhenti dan mundur.

Suara itu lembut, namun mengandung wibawa yang memaksa mereka menaruh perhatian.

Bahkan Resi Sapujagad dan Bhagawan Dewokaton sendiri pun terpengaruh dan menghentikan gerakan mereka lalu bersama para anggauta Sardulo Cemeng menoleh dan memandang ke arah datangnya suara tadi.

Juga Ki Mundingsosro dan Ki Mundingloyo memutar tubuh memandang.

Mereka melihat seorang pemuda berusia dua puluh tahun lebih melangkah dengan tenang memasuki pekarangan.

Pemuda itu berpakaian tidak mewah namun pantas dan bersih.

Tubuhnya tinggi tegap tampak kuat dan jantan.

Rambutnya yang hitam agak keriting, dahinya lebar, alisnya hitam tebal.

Sepasang mata yang lebar itu bersinar tajam sekali dan terkadang mencorong, namun lembut.

Hidungnya besar mancung dan bibir yang lebih banyak terkatup itu membentuk sifat gagah bersemangat.

Dagunya dihias lekukan di tengah.

Resi Sapujagad membentak pemuda itu setelah datang dekat dan disambut pandang mata heran oleh semua orang yang sama sekali tidak mengenalnya.

"Hei! Siapakah engkau! Mau apa mencampuri urusan kami?"

Pemuda itu memandang ke sekelilingnya, sinar matanya mencari-cari lalu dia berkata, suara dan nadanya lembut.

"Saya datang ke sini untuk bertemu dengan pimpinan Perkumpulan Sardulo Cemeng."

"Kami pimpinan Sardulo Cemeng!"

Kata Ki Mundingsosro tegas. Pemuda itu memandang kepada ketua Sardulo Cemeng itu dengan sinar mata penuh perhatian dan wajahnya berseri, mulutnya tersenyum.

"Apakah Andika bernama Ki Mundingsosro?"

Ki Mundingsosro mengerutkan alisnya dan menatap wajah pemuda itu penuh perhatian, menduga-duga apakah pemuda ini datang sebagai kawan atau lawan.

"Benar, aku Ki Mundingsosro."

Di luar dugaan semua orang, tiba-tiba pemuda itu menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Ki Mundingsosro dan menyembah.

"Eyang, terimalah sembah sungkem cucunda."

"Eh-eh, siapakah andika, orang muda?"

"Eyang, saya adalah putera Ibu Retno Susilo."

Ki Mundingsosro dan Ki Mundingloyo terbelalak. Ki Mundingsosro lalu memegang kedua pundak pemuda itu dan mengangkatnya agar berdiri, lalu mengamati wajah pemuda itu.

"Ahh, engkau.... engkau.... Bagus Sajiwo yang hilang itu?"

"Benar, Eyang. Saya sudah kembali ke rumah Ayah dan Ibu di gunung kami."

"Aih, bahagia sekali kami dapat kunjungan dari cucu kami, Bagus Sajiwo. Ini adalah Paman Kakekmu, Ki Mundingloyo."

Bagus Sajiwo lalu memberi hormat pula kepada Ki Mundingloyo.

Sementara itu, Resi Sapujagad dan Bhagawan Dewokaton sudah tidak sabar menyaksikan adegan pertemuan yang bahagia dari kakek dan cucunya itu.

"Hei, Ki Mundingsosro dan ki Mundingloyo, tidak ada gunanya kalian mengulur-ulur waktu dan mengalihkan perhatian untuk urusan keluarga kalian! Hayo kita selesaikan urusan di antara kita!"

Bentak Resi Sapujagad."

Ki Mundingsosro berkata kepada cucunya.

"Bagus Sajiwo, engkau masuklah dulu dan menanti dalam rumah, kami harus menghadapi dulu dua orang utusan Blambangan ini."

"Eyang, perkenankanlah saya mewakili Eyang berdua menghadapi mereka."

Kata Bagus Sajiwo dan dia lalu membalikkan tubuhnya dan melangkah maju menghampiri dua orang itu.

Sejenak dia saling berpandangan dengan dua orang utusan Blambangan itu.

Bagus Sajiwo segera mengenal dua orang itu.

Kurang lebih empat tahun yang lalu, dia bersama Maya Dewi pergi ke muara Sungai Lorog dan di pondok itu berkumpul banyak tokoh yang bermaksud mencari Jamur Dwipa Suddhi dan Maya Dewi memberitahu kepadanya, menyebut nama para tokoh itu satu demu satu.

Bagus Sajiwo mempunyai ingatan yang amat kuat dan tajam.

Sekali diperkenalkan, dia tidak mudah lupa wajah dan nama orang.

Maka begitu melihat dua orang itu, dia tahu bahwa mereka adalah Resi Sapujagad dan Bhagawan Dewokaton.

Dia juga ingat bahwa dua orang itu tidak ikut mengeroyok Maya Dewi dan ketika terjadi keributan di pondok Raden Jaka Bintara Pangeran Banten di dekat muara Sungai Lorog itu.

Akan tetapi sebaliknya, dua orang utusan Blambangan itu tidak mengenal Bagus Sajiwo.

Kalau mereka berdua yang sudah tua tidak mengalami perubahan jasmani mereka, sebaliknya keadaan tubuh dan wajah Bagus Sajiwo selama empat tahun ini tentu saja banyak berubah, dari remaja menjadi dewasa.

Ketika mereka melihatnya bersama Maya Dewi, usia Bagus Sajiwo baru enam belas tahun dan sekarang dia sudah berusia dua puluh tahun lebih.

Setelah beberapa saat lamanya saling berpandangan, Bagus Sajiwo lalu berkata dengan suara lembut.

"Andika berdua adalah pendeta, pertapa yang menjauhi urusan duniawi dan membersihkan batin di pegunungan yang sunyi, mengapa andika berdua kini datang ke sini dan saya melihat Andika berdua membuat keributan? Apakah yang Andika kehendaki sebenarnya?"

"Ha-ha-ha, bocah masih ingusan, jangan lancang! Mundurlah dan biarkan Ki Mundingsosro dan Ki Mundingloyo menghadapi kami. Ini urusan orang tua, anak kecil tidak boleh mencampuri!"

"Saya mewakili kedua Eyang Mundingsosro dan Mundingloyo untuk menghadapi Andika berdua. Sang Resi Sapujagad dan Bhagawan Dewokaton, kalau ada urusan dengan kedua Eyang saya, bicarakan dengan saya yang menjadi wakil mereka."

Dua orang utusan Blambangan itu saling pandang dan membelalakkan kedua mata mereka.

"He, bocah! Engkau telah mengenal kami? Siapakah namamu?"

"Nama saya Bagus Sajiwo. Nah, katakan, apakah yang menyebabkan Andika berdua membuat keributan di sini?"

Tiba-tiba Bhagawan Dewokaton tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha-ha!"

Suara tawanya itu mengandung getaran kuat sekali sehingga terasa dan mengejutkan semua anggauta Sardulo Cemeng.

kemudian, Bhagawan Dewokaton yang bertubuh gendut itu mengeluarkan perintah yang amat berwibawa, yang datang bagaikan gelombang menerpa batin Bagus Sajiwo.

"Bagus Sajiwo, Andika berhadapan dengan kami yang sepenuhnya Andika hormati! Hayo berlutut dan menyembahlah, beri hormat kepada kami seperti seorang anak yang baik!"

Ketika tertawa dan mengeluarkan ucapan ini, Bhagawan Dewokaton telah menggunakan ilmu sihir yang dia kerahkan sekuat tenaga, maka tidak mengherankan bahwa suaranya mengandung getaran wibawa yang kuat sekali.

Demikian kuatnya mengaruh perintahnya itu sehingga walaupun yang diperintahnya itu Bagus Sajiwo, namun ada beberapa orang anggauta Sardulo Cemeng yang tidak kuat dan otomatis mereka bertekuk lutut menyembah!

Akan tetapi Bagus Sajiwo sama sekali tidak terpengaruh.

Gelombang yang menyerangnya itu seolah merupakan angin lalu saja yang lewat tanpa meninggalkan bekas.

Melihat ini, Resi Sapujagad menjadi penasaran dan dia segera membantu rekannya, mengerahkan kekuatan sihir dan dia menuding ke arah Bagus Sajiwo sambil berseru.

"Bagus Sajiwo, dengar dan taati perintah Bhagawan Dewokaton tadi. Berlutut dan menyembahlah engkau kepada kami!"

Kini kedua orang kakek itu menyatukan tenaga sakti mereka dan mengerahkan kekuatan sihir untuk mempengaruhi Bagus Sajiwo karena begitu pemuda itu terpengaruh dan menaati perintah mereka, maka selanjutnya mereka akan dapat membuat pemuda itu tunduk dan taat kepada mereka berdua.

Akan tetapi, biarpun kini lebih banyak lagi anggauta Sardulo Cemeng yang berlutut terpengaruh sihir mereka, bahkan kedua orang ketua Sardulo Cemeng berdiri memejamkan mata mengerahkan kekuatan batin agar tidak jatuh berlutut dan menyembah, Bagus Sajiwo tetap berdiri tegak dan tersenyum.

Semula tidak akan berbuat sesuatu dan membiarkan saja serangan ilmu sihir yang tidak mempengaruhinya itu.

Akan tetapi ketika dia menoleh dan melihat banyak anggauta Sardulo Cemeng berlutut menyembah, bahkan kedua orang kakeknya juga bersusah payah bertahan agar tidak terpengaruh, dia lalu memandang ke arah dua orang utusan Blambangan itu dan berkata dengan suara lembut.

"Resi Sapujagad dan Bhagawan Dewokaton, kalian berdua mempunyai kaki sendiri, mengapa menyuruh orang lain berlutut? Kalian berlututlah sendiri!"

Sungguh luar biasa.

Dua orang kakek sakti itu tiba-tiba saja bertekuk lutut karena kekuatan sihir mereka seolah membalik dan memaksa mereka sendiri untuk berlutut!

Akan tetapi begitu bertekuk lutut, mereka sadar akan keadaan yang berlawanan dengan yang mereka kehendaki itu dan mereka cepat mengerahkan tenaga sakti, berseru keras dan melompat berdiri.

"Aaaaghhh....!"

Pada saat itu, para anggauta Sardulo Cemeng yng tadinya terkejut juga sadar dan mereka bangkit berdiri dan dengan penuh perhatian, mereka memandang ke arah Bagus Sajiwo yang menghadapi dua orang kakek sakti itu.

Ki Mundingsosro dan Ki Mundingloyo yang tadinya mengkhawatirkan keselamatan Bagus Sajiwo, kini mengerti bahwa cucu mereka ini cukup tangguh sehingga mampu melawan dan mengalahkan sihir dua orang lawannya.

Maka mereka juga kini memandang dengan kagum dan penuh harapan akan dapat tertolong oleh pemuda itu.

Diam-diam Ki Mundingsosro merasa terharu dalam hatinya yang selama bertahun-tahun telah menjadi keras itu.

Dia baru dua tiga kali melihat cucunya ini, itupun ketika cucunya masih kecil.

Kemudian cucunya ini diculik orang dan hilang sejak berusia enam tahun.

Kini, telah menjadi dewasa dan begitu muncul telah berusaha menyelamatkan dia dan perkumpulannya dari ancaman dua orang utusan Blambangan yang amat sakti itu.

Dia tahu bahwa kalau tidak muncul Bagus Sajiwo, bukan mustahil sekarang dia dan Ki Mundingloyo telah tewas oleh musuh.

Dua orang pertapa itu kini maklum bahwa pemuda yang tadinya mereka pandang remeh itu ternyata mampu membuat serangan mereka membalik sehingga mengenai diri mereka sendiri!

Kini mereka berdua berdiri dan memandang wajah Bagus Sajiwo dengan penuh perhatian.

"Hemm, Bagus Sajiwo, sebenarnya, siapakah Andika? Bagaimana andika dapat mengenal kami?"

Tanya Resi Sapujagad, kini tidak berani memandang rendah.

"Sudah saya katakan bahwa nama saya Bagus Sajiwo dan saya cucu Eyang Mundingsosro. Saya masih ingat kepada Andika berdua karena kita pernah saling bertemu, beberapa tahun yang lalu di dekat Muara Sungai Lorog, di pondok Raden Jaka Bintara."

"Muara Sungai Lorog....?"

Resi Sapujagad mengingat-ingat.

"Aha, aku ingat sekarang! Di pondok Raden Jaka Bintara! Benar, Kakang Resi, dia ini adalah pemuda yang datang bersama Maya Dewi itu!"

"Ohh....!"

Resi Sapujagad teringat sekarang.

Ketika itu, banyak tokoh sakti berdatangan dan berkumpul di Muara Sungai Lorog tepi Laut Kidul untuk mencari dan memperebutkan Jamur Dwipa Suddhi yang kabarnya muncul di tempat itu.

Mereka semua mendapat undangan dari Pangeran Banten yang bernama Raden Jaka Bintara dan paman gurunya, Kyai Gagak Mudra yang mendirikan sebuah pondok di tempat itu.

Kemudian terjadi keributan dan perkelahian ketika Maya Dewi muncul dan tokoh yang mereka semua kenal sebagai Iblis Betina itu membuat kejutan besar dengan tindakannya yang membantu Ki Sumali pendekar Loano yang oleh semua tokoh dituduh sebagai seorang telik sandi Mataram.

Akan tetapi ketika semua orang mengeroyok Maya Dewi yang dibantu seorang pemuda remaja yang amat sakti, mereka berdua tidak mau ikut mengeroyok.

Mereka berdua mengikuti sikap Wiku Menak Jelangger yang meninggalkan pondok dan mereka bersamadhi semalam di tepi Laut Kidul, kemudian mendapatkan wangsit (bisikan gaib) bahwa Jamur Dwipa Suddhi sudah tidak ada di tempat itu, maka mereka lalu pergi meninggalkan Muara Sungai Lorog dan kembali ke tempat tinggal masing-masing.

Sekarang, tanpa disangka-sangkanya mereka bertemu dengan Bagus Sajiwo, pemuda yang dulu masih remaja namun sudah sakti mandraguna itu!

Akan tetapi pemuda itu kini membela Sardulo Cemeng, berarti menentang Blambangan yang mereka bela.

"Kiranya engkau pemuda yang dulu bersama Maya Dewi membuat keributan di Muara Sungai Lorog itu, Bagus Sajiwo!"

Kata Resi Sapujagad.

"Sang Resi dan Sang Bhagawan, dahulu itu saya melihat Andika berdua tidak ikut mengeroyok kami sehingga saya mendapatkan kesan baik terhadap Andika berdua. Akan tetapi mengapa Andika berdua kini membuat keributan di sini?"

"Bagus sajiwo, bukan kami yang membuat keributan. Ketahuilah bahwa kami adalah utusan Sang Adipati Blambangan untuk mengajak Sardulo Cemeng membantu Kadipaten Blambangan dalam perjuangannya melawan Mataram. Akan tetapi Sardulo Cemeng menolaknya. Kami sudah mendapat kekuasaan penuh dari sang adipati Blambangan untuk menindak Sardulo Cemeng yang menolak perintah itu."

"Sang Resi Sapujagad, Kanjeng Eyang bukanlah kawula Blambangan sudah jamak kalau dia menolak ajakan Kadipaten Blambangan itu."

"Akan tetapi hampir semua anggauta Sardulo Cemeng adalah kawula Blambangan sehingga kalau mereka tidak mau membela Blambangan dan membela Mataram merupakan pengkhianatan yang patut dihukum."

Bagus Sajiwo menoleh dan memandang Ki Mundingsosro.

"Eyang, saya sudah mendengar dari Kanjeng Ibu bahwa kebanyakan anggauta Sardulo Cemeng adalah kawula Blambangan. Kini ada panggilan dari Kadipaten Blambangan kepada para kawulanya, bagaimana pendapat Eyang tentang hal ini?"

"bagus sajiwo, aku dan Paman Kakekmu Ki Mundingloyo tidak pernah memaksakan kehendak kami sendiri. Kami menyerahkan kepada para anggauta yang menjadi kawula Blambangan untuk mengambil keputusan. Kalau mereka hendak membela Blambangan, kami sama sekali tidak melarangnya."

"Nah, Andika berdua sudah mendengar sendiri jawaban Eyang. Sekarang biar kita tanyakan saja kepada para anggauta Sardulo cemeng. Siapa di antara kalian yang ingin membela Blambangan dan menaati perintah Sang Adipati Blambangan, silakan angkat tangan!"

Mereka semua menunggu dan melihat, akan tetapi tidak ada seorang pun yang mengangkat tangannya ke atas!

"Sekarang harap Andika semua menjawab dengan jujur, hanya dengan kata ya atau tidak.

Bersediakah Andika sekalian menaati perintah Sang Adipati Blambangan untuk membantu Blambangan menentang Mataram?"

Kini serentak terdengar jawaban dari mulut orang-orang yang mukanya penuh coreng-moreng itu.

"Tidaaakkk....!!"

Bagus Sajiwo tersenyum memandang kepada dua orang pertapa itu.

"Nah, Sang Resi dan Sang Bhagawan, Andika berdua sudah mendengar sendiri. Mereka semua tidak mau menerima permintaan atau anjuran Kadipaten Blambangan, mengapa Andika berdua hendak menggunakan paksaan?"

"Heh-heh, tentu saja karena mereka semua itu sudah makan hasutan kedua orang ketuanya!"

Kata Bhagawan Dewokaton sambil menyeringai.

"Tidak mungkin, Sang Bhagawan Dewokaton. Mereka bukanlah penjahat yang mudah dihasut. Mereka adalah orang-orang gagah yang selalu menentang kejahatan dan membela kebenaran dan keadilan. Kalau kini mereka menolak ajakan Blambangan, tentu mereka melihat bahwa Blambangan berada dipihak yang tidak benar. Saya mendengar tadi bahwa Blambangan hendak menentang Mataram. Jelas bahwa hal ini tidaklah benar karena Mataram dan Blambangan masih sebangsa, senusantara. Musuh kita bersama adalah Kumpeni Belanda. Saya akan mencoba bertanya kepada mereka.

"Hei, Saudara-saudara anggauta Sardula Cemeng, jawablah sejujurnya. Kalau Andika sekalian diajak untuk menentang Kumpeni Belanda, apakah kalian siap?"

Jawabannya juga riuh dan lantang.

"Siap....!!"

Bagus Sajiwo kini berkata dengan suara tegas.

"Andika berdua sudah melihat dan mendengar semua. Sekarang, sebagai wakil Sardulo Cemeng saya minta kepada Andika berdua untuk meninggalkan kami dan menghentikan percobaan memaksa kami."

"Babo-babo, Bagus Sajiwo! seperti kami katakan tadi, kami adalah utusan Sang Adipati Santa Guna Alit di Blambangan dan kami telah diberi kekuasaan dan semua purbawisesa (keputusan tindakan) berada ditangan kami. Kami tidak akan mendahului keputusan Sang Adipati Blambangan. Oleh karena itu, kami terpaksa harus membawa dua orang ketua Sardulo Cemeng menghadap Sang Adipati yang akan memberi keputusan terakhir."

"Eyang Mudingsosro dan Eyang Mundingloyo, bersediakah Eyang berdua diajak kedua orang utusan Blambangan ini untuk pergi menghadap Sang Adipati di Blambangan?"

Bagus Sajiwo menoleh kepada dua orang tua yang berdiri di belakangnya.

"Tidak! Kami tidak ada kesalahan apapun, dan kami bukan kawula Blambangan yang harus patuh kepada perintah Adipati Blambangan!"

Kata Ki Mundingsosro dengan tegas.

"Nah, Sang Resi dan Sang Bhagawan, Andika berdua sudah mendengar sendiri bahwa kedua Eyang saya tidak mau Andika ajak ke Blambangan."

Babo-Babo, keparat!"

Resi Sapujagad membentak.

"Kalau begitu terpaksa kami akan menggunakan kekerasan, menyeret mereka ke Blambangan!"

"Hemm, Andika hendak bertindak sewenang-wenang? Saya juga terpaksa akan menghalangi Andika."

"Bocah sombong, terima ini!"

Resi Sapujagad menggerakkan tangannya dan sinar merah menyambar ke arah Bagus Sajiwo dengan suara berkeritikan nyaring.

Itulah senjata istimewa tasbeh merah yang dapat terbang menyerang lawan lalu kembali ke tangan pemiliknya.

Bagus Sajiwo maklum bahwa kedua orang lawannya ini memiliki kesaktian, melihat sinar merah menyambar itu pun dia tahu bahwa serangan itu berbahaya.

Akan tetapi dengan sikap tenang, tanpa mengubah kedudukan tubuhnya, dia menggerakkan tangan kirinya menyambut dan telapak tangan kirinya menampar ke arah sinar merah yang menyambar ke arah lehernya.

"Wuuuttt.... trakkkkk!!"

Tangan itu menghantam ke arah sinar merah dan sinar itu terpental kembali ke arah Resi Sapujagad.

Pertapa ini menerima kembali tasbeh merahnya dengan tangan kiri.

Akan tetapi dia terkejut dan meloncat ke belakang ketika menerima untaian tasbehnya ternyata telah putus dan beberapa butir biji tasbehnya jatuh berserakan di atas tanah!

Sebagian masih tergenggam olehnya dan dengan marah sekali dia menggunakan sisa biji tasbih yang berada di tangan kirinya itu untuk menyerang Bagus Sajiwo dengan sambitan.

Tujuh buah biji tasbeh menyambar ke arah tubuh Bagus Sajiwo.

Bagus Sajiwo menggerakkan kedua tangannya bergantian, dengan tangan terbuka mendorong ke depan berulang-ulang.

Tujuh butir biji tasbeh itu terpukul runtuh sebelum dapat mendekati tubuh Bagus Sajiwo.

Resi Sapujagad semakin penasaran.

Dia mencabut kerisnya berluk sembilan lalu menyerang ke depan, menusukkan kerisnya ke perut Bagus Sajiwo.

pemuda ini mengelak dengan gerakan ringan ke kiri sehingga tusukan itu luput.

Akan tetapi tiba-tiba ada sinar hitam menyambar dari sebelah kirinya.

Dengan melangkah mundur Bagus Sajiwo menghindarkan diri dari serangan pedang yang dilakukan Bhagawan Dewokaton itu.

"Curang!"

Seru Ki Mundingsosro melihat betapa dua orang utusan Blambangan itu melakukan pengeroyokan terhadap cucunya. Dia sudah siap untuk membantu cucunya.

"Eyang, biar saya sendiri saja yang melayani dua orang ini, harap Eyang jangan membantu saya!"

Mendengar seruan cucunya itu, Ki Mundingloyo memegang lengan kakaknya.

"Kakang, aku yakin Bagus Sajiwo akan mampu mengalahkan mereka. Percayalah!"

Ki Mundingsosro menyarungkan lagi pedangnya.

dia pun kini percaya akan kemampuan cucunya.

Selain itu, andaikata dia maju dan dihadapi seorang di antara dua utusan Blambangan itu, dia pasti akan kalah.

Biarpun demikian, dua orang ketua Sardulo Cemeng itu menonton pertandingan itu dengan hati tegang.

Mereka tahu betul betapa saktinya dua orang utusan Blambangan itu dan kini cucu mereka yang masih muda itu dikeroyok mereka berdua!

Gerakan dua orang pertapa itu memang dahsyat sekali.

Keris di tangan Resi Sapujagad meluncur dan menyambar seperti seekor ular terbang, sedangkan pedang di tangan Bhagawan Dewokaton berubah menjadi sinar hitam bergulung-gulung.

Padahal Bagus Sajiwo sama sekali tidak memegang senjata.

Melihat ini, kedua orang ketua Sardulo Cemeng itu merasa khawatir juga.

"Bagus, pakai pedangku ini!"

"Pakai trisulaku!"

Ki Mundingsosro dan Ki Mundingloyo melemparkan senjatanya. Dengan berbareng dua macam senjata itu melayang ke arah Bagus Sajiwo yang sedang menghadapi pengeroyokan dua orang utusan Blambangan itu.

"Trang-cringg....!"

Dua buah senjata itu terangkis dan melayang kembali kearah pemiliknya masing-masing.

"Kanjeng Eyang, saya tidak memerlukan senjata untuk menghadapi mereka ini!"

Kata Bagus Sajiwo.

Dua orang ketua Sardulo Cemeng itu mengambil senjata masing-masing yang tertangkis oleh senjata dua orang musuh itu.

Biarpun senjata dua orang pengeroyok itu menyambar-nyambar dahsyat, namun tubuh Bagus Sajiwo seolah lenyap dan hanya tampak bayangannya yang berkelebatan di antara gulungan sinar kedua buah senjata dari dua orang pengeroyoknya.

Dua orang pertapa itu mengeluarkan semua kepandaian dan mengerahkan seluruh tenaga sakti mereka, namun tetap saja mereka tidak mampu menyentuh tubuh pemuda itu dengan senjata mereka.

"Andika berdua pergilah dari sini!"

Tiba-tiba terdengar suara Bagus Sajiwo disusul suara mendesis tajam dan tubuh kedua orang pertapa itu terdorong ke belakang.

Mereka terhuyung-huyung dan muka mereka berubah pucat sekali.

Tadi, secara aneh sekali tiba-tiba bayangan yang berkelebatan dan tak pernah tersentuh senjata mereka itu berputar membuat mereka pening dan tiba-tiba mereka merasa lengan kanan mereka yang memegang senjata seolah lumpuh, lalu ada tangan mendorong dada mereka sehingga mereka terdorong dan terhuyung ke belakang.

Mereka menjadi pucat karena maklum betapa sama sekali mereka tidak mampu menyelamatkan nyawa mereka.

Akan tetapi setelah mereka berdiri tegak dan menarik napas panjang, hati mereka menjadi lega karena mereka sama sekali tidak menderita luka sebelah dalam tubuh mereka.

Padahal tadi lengan kanan mereka sejenak lumpuh dan pukulan tangan ke dada mereka itu sama sekali tidak dapat dihindarkan.

Ternyata kini luka sedikit pun tidak!

Ini hanya berarti bahwa pemuda itu memang tidak ingin mencelakakan mereka.

Mereka tahu benar bahwa sekiranya Bagus Sajiwo memukul sungguh-sungguh sambil mengerahkan tenaga saktinya, mereka tentu akan terpukul roboh dan tewas seketika!

"Terima kasih, atas kebijaksanaanmu, Bagus Sajiwo!"

Kata Resi Sapujagad.

"Heh-heh-heh, aku tidak malu mengaku bahwa aku telah kalah!"

Kata pula Bhagawan Dewokaton.

"Selamat tinggal!"

Keduanya berseru lalu membalikkan tubuh dan pergi meninggalkan perkampungan itu.

"Kanjeng Eyang, saya kira tidak perlu mengejar mereka!"

Kata Bagus Sajiwo melihat betapa dua orang kekeknya itu bergerak dan para anggauta Sardulo Cemeng yang sudah siap pula untuk mengejar dan mengeroyok dua orang utusan Blambangan.

Mendengar ucapan Bagus Sajiwo yang lembut namun berwibawa itu para anggauta Sardulo Cemeng menahan langkah mereka.

Juga, kedua orang ketua itu berhenti.

Akan tetapi mereka semua memandang ke depan, ke arah dua orang yang melarikan diri itu karena ternyata ada orang yang menghadang mereka.

Orang ini bukan lain adalah Joko Darmono.

Tadi ketika Joko Darmono yang ikut Bagus Sajiwo melakukan perjalanan tiba di situ dan melihat ada keributan di perkampungan Sardulo Cemeng, Bagus Sajiwo minta kepada kawannya ini untuk berhenti, tidak mencampuri dan menonton saja.

Joko Darmono hanya menonton pertandingan Bagus Sajiwo yang dikeroyok dua, tidak mencampuri karena dia maklum bahwa Bagus Sajiwo tidak akan kalah.

Akan tetapi melihat dua orang itu melarikan diri, ia segera menghadang.

Ia tahu bahwa dua orang pertapa ini adalah di antara mereka yang bersekutu dengan Adipati Blambangan untuk menentang Mataram, karena tadi dia pun mendengarkan percakapan mereka.

Dia tahu bahwa dua orang itu diutus Blambangan untuk memaksa perkumpulan yang dipimpin kakek dari Bagus Sajiwo untuk membantu Blambangan.

Dia pun mendengar dari percakapan tadi bahwa Blambangan hendak memberontak kepada Mataram.

Ketika dia melihat mayat seorang anggauta Sardulo Cemeng menggeletak di situ, dia pun mengerti bahwa tentu dua orang utusan Blambangan itu telah membunuh orang di sini.

Maka, melihat mereka berdua melarikan diri setelah dikalahkan Bagus Sajiwo, dia cepat menghadang mereka.

"Eit-eit, perlahan dulu. Enak saja kalian, sesudah mengacau di tempat orang, membunuh lagi, kini setelah kalah mau kabur begitu saja!"

Kata Joko Darmono sambil tersenyum mengejek.

Resi Sapujagad dan Bhagawan Dewokaton sedang jengkel karena tadi dikalahkan Bagus Sajiwo.

Kekalahan mereka dari seorang pemuda itu bagi mereka merupakan tamparan hebat.

Mereka mengeroyok dan bersenjata, namun pemuda yang bertangan kosong itu mengalahkan mereka.

Sungguh memalukan sekali dan dengan hati jengkel mereka melarikan diri.

Maka, dapat dibayangkan kemarahan hati mereka ketika tiba-tiba muncul seorang pemuda lain yang menghadang dan mengejek mereka.

Akan tetapi karena yakin bahwa tidak mungkin di dunia ini ada pemuda yang baru lewat remaja sesakti Bagus Sajiwo, maka mereka memandang rendah dan hendak menumpahkan kekesalan dan kekecewaan hati mereka kepada pemuda yang cengar-cengir mengejek mereka ini.

Resi Sapujagad yang lebih galak dibandingkan rekannya itu sudah menudingkan telunjuknya ke arah muka Joko Darmono.

"Bocah lancang, siapa kamu berani menghadangku?"

"He-he, mau tahu namaku? Namaku Joko Darmono dan mengapa aku tidak berani menghadang dukun-dukun lepus seperti kalian?"

"Keparat! Kami adalah pendeta-pendeta, pertapa!"

"Hemm, pendeta yang suka bertapa berarti mengasingkan diri dan berlatih untuk menyucikan hatinya, menjauhkan diri dari urusan dunia agar tidak melakukan perbuatan dosa. Akan tetapi kalian ini bertindak sewenang-wenang, bahkan membunuh orang, hal itu hanya pantas dilakukan para dukun lepus!"

"Joko Darmono, kuperintahkan padamu, berlutut dan merangkaklah!"

Resi Sapujagad yang marah sekali itu mengerahkan kekuatan sihir untuk mempermalukan Joko Darmono.

Akan tetapi, sejak tadi Joko Darmono telah mempersiapkan diri karena dia pun tahu bahwa dua orang yang mengaku sebagai pendeta itu memiliki kesaktian dan menguasai ilmu sihir.

Maka, ketika serangan ilmu sihir itu hendak mempengaruhi dan memaksanya untuk berlutut dan merangkak seperti seekor binatang, dia hanya tersenyum saja, bahkan dia lalu bertolak pinggang dengan kedua tangannya dengan sikap menantang!

"Resi Sapujagad, sudah cukupkah engkau melawak?

Hayo keluarkan semua ilmu setanmu!"

Tentu saja Resi Sapujagad menjadi penasaran dan semakin marah.

Tidak mungkin dia harus kalah pula menghadapi pemuda yang tampaknya masih remaja dan lebih muda dari Bagus Sajiwo ini.

Dicabutnya kerisnya dan tanpa banyak cakap dia sudah menerjang maju menusukkan kerisnya ke arah dada Joko Darmono.

Pemuda itu mengelak dengan lincah ke kiri lalu dengan gerakan cepat bukan main tangan kanannya menampar sambil mengerahkan suaranya membentak nyaring.

"Heeeiiittt!"

Tangan itu menyambar.

"Plakk!"

Saking cepatnya, Resi Sapujagad yang memandang ringan tidak sempat menghindarkan diri.

Dia hanya dapat miringkan tubuhnya sehingga tamparan ke arah dadanya itu hanya mengenai pundaknya.

Namun, tubuhnya terhuyung dan hampir terpelanting saking kuatnya tamparan itu.

"Yeaahhh....!"

Melihat rekannya terhuyung, Bhagawan Dewokaton cepat menyerang dengan pedang hitamnya yang menyambar ke arah leher Joko Darmono!

Pemuda ini memang memiliki kepandaian yang lebih tinggi tingkatnya dibandingkan dua orang utusan Blambangan itu dan dia tahu benar akan hal ini maka dia berani mempermainkan dan menghadang mereka.

Dia dapat mengukur tingkat kepandaian dua orang itu ketika mereka mengeroyok Bagus Sajiwo tadi.

"Hyaaattt....!"

Dia mengeluarkan teriakan melengking dan ketika pedang itu menyambar, dia menekuk lutut merendahkan diri sehingga pedang hitam lewat di atas kepalanya dan dari bawah kakinya mencuat dalam sebuah tendangan kilat menghantam perut gendut penyerangnya.

"Blukkkkk....!"

Tubuh Bhagawan Dewokaton terjengkang dan dia cepat menggulingkan tubuhnya ke belakang agar terhindar dari serangan selanjutnya.

Akan tetapi sebelum Joko Darmono melanjutkan hajarannya, Bagus Sajiwo sudah berada di dekatnya.

"Cukup, Joko! Tidak perlu mendesak mereka yang sudah kalah dan biarkan mereka melarikan diri!"

Ki Mundingloyo yang mendekat pula bersama kakaknya berkata.

"Akan tetapi, Angger. Mereka itu telah membunuh seorang anggauta kami...."

"Sudahlah, Eyang. Saya kira tidak perlu memperbesar permusuhan. Memaafkan jauh lebih baik daripada mendendam. Bukankah begitu, Joko?"

Joko Darmono cemberut, masih tak senang karena niatnya menhajar dua orang itu dicegah Bagus Sajiwo sehingga orang itu keburu melarikan diri.

"Begitulah, barangkali!"

Ki Mundingsosro menghampiri dan merangkul Bagus Sajiwo.

"Aduh, Angger, cucuku Bagus Sajiwo. Kedatanganmu menyelamatkan perkumpulan kami dari malapetaka. Dan pemuda ini siapakah, Bagus?"

"Perkenalkan, Eyang. Ini adalah Joko Darmono, seorang sahabat saya."

"Wah, selamat datang, anakmas Joko Darmono dan banyak terima kasih atas bantuan Anakmas tadi yang telah menghajar dua orang utusan Blambangan yang sewenang-wenang itu."

"Ah, tidak perlu berterima kasih, Paman.... eh, boleh kan kalau saya juga menyebut Eyang seperti Bagus?"

"Tentu saja! Kami merasa berbahagia sekali mendapatkan seorang cucu lagi seperti engkau!"

Kata Ki Mundingloyo.

"Mari, Cucuku berdua yang tampan dan gagah! Mari kita masuk dan bicara di dalam."

Dua orang muda itu lalu diajak masuk ke dalam di mana mereka disambut penuh kegembiraan oleh dua orang kakek itu.

Bagus Sajiwo terpaksa harus menceritakan semua pengalamannya sejak dia diculik orang dalam usia enam tahun dan selama empat belas tahun dia berpisah dari orang tuanya sampai dia kembali setelah berusia dua puluh tahun.

Ketika Bagus Sajiwo menceritakan tentang Ki Tejomanik dan Retno Susilo, kedua orang tuanya, telah didatangi dan diserang orang-orang sakti yang juga mengaku sebagai tokoh Blambangan, kemudian juga tentang Ki Cangak Awu yang diganggu pula para warok sesat yang ternyata kemudian bergabung dengan orang-orang Blambangan, Ki Mundingloyo dan Ki Mundingsosro mengangguk-angguk.

"Jelaslah kalau begitu bahwa Blambangan benar-benar hendak melakukan pemberontakan terhadap Mataram. Agaknya aksi mereka yang pertama adalah membujuk perkumpulan-perkunpulan dan aliran-aliran persilatan untuk membantu Blambangan. Juga mereka mengutus orang-orang sakti untuk membasmi para tokoh yang setia kepada Mataram, hal ini tentu dengan tujuan untuk (Lanjut ke

Jilid 07) Kemelut Blambangan (Seri ke 05 -Serial Pecut Sakti Bajrakirana) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 07 melemahkan pertahanan Mataram kalau kelak mereka melakukan penyerbuan ke Mataram."

"Saya kira pendapat Eyang itu benar."

Kata Bagus Sajiwo.

"Sungguh menyedihkan. Blambangan memusuhi Mataram dan kalau terjadi perang akan jatuh banyak korban. Padahal kita semua masih bangsa sendiri, satu tanah air."

"Adipati Blambangan, yaitu Adipati Santa Guna Alit bahkan melakukan hal yang lebih memalukan lagi. Untuk memperkuat pasukannya, dia tidak segan menerima bantuan dari Kerajaan Klungkung di Bali dan lebih gila lagi, dia juga dibantu oleh Kumpeni Belanda."

Kata Joko Darmono.

"Ah, kalau begini Adipati Blambangan benar-benar tersesat! Kumpeni Belanda adalah musuh bangsa kita, mengapa dia malah bersekutu dengan Belanda?"

Seru Ki Mundingloyo.

"Akan tetapi, bagaimana Andika mengetahui itu semua, Joko Darmono?"

"Hal itu mudah saja diketahui, Eyang. Sejak dahulu Blambangan memang berhubungan dengan Nusa Bali, maka kalau Blambangan merencanakan pemberontakan terhadap Mataram, sudah pasti mereka minta bantuan Bali. Mengenai kerjasamanya dengan Belanda, mudah diduga dan sudah terbukti. Ketika para warok sesat itu menyerbu Jatikusumo dan dapat diusir, kemudian Paman Cangak Awu dan Bibi Pusposari mengejar sampai di bukit Srendil, para warok itu dibantu oleh Iblis Betina Candra Dewi dan seorang kakek muka mayat yang mempergunakan senjata api. Pasti orang itu merupakan antek Belanda, maka dia pandai mempergunakan senjata api. Jadi, tidak dapat disangsikan lagi bahwa Blambangan tentu bergabung dengan Bali dan Kumpeni Belanda."

"Pendapat Joko benar,"

Kata Bagus Sajiwo.

"Selain Bali dan Belanda, agaknya Blambangan berhasil membujuk para tokoh sakti seperti dua orang pertapa tadi untuk membantu Blambangan menentang Mataram. Sungguh mengherankan sekali para pendeta dan pertapa seperti mereka mau saja diperalat oleh Adipati Blambangan."

"Apa sih anehnya, Bagus? Para pendeta itu pun hanya manusia biasa dan mereka itu dapat terbujuk tentu karena tertarik oleh imbalan jasa yang dijadikan iming-iming dan data tarik. Mereka itu hanyalah kaum pria yang biasanya mempunyai kelemahan terhadap tiga hal, setidaknya tentu lemah terhadap satu diantara tiga itu."

"Wah, Andika agaknya mengerti akan keadaan hidup yang sebenarnya. Masih begini muda sudah bijaksana. Aku menjadi kagum dan tertarik sekali, Joko. Coba katakan, apakah adanya tiga hal itu?"

"Tiga hal itu adalah harta, wanita, dan kuasa. Sedikitnya satu di antara yang tiga itu pasti menjadi kelemahan kaum pria."

Kata Joko Darmono dengan sikap dan suara agak bangga karena merasa diperhatikan dan dikagumi kepintarannya!

"Ha-ha-ha!

Semuda ini engkau sudah berpemandangan tajam dan waspada, Joko!

Ucapanmu itu memang tepat sekali dan sesungguhnya, tiga hal itulah yang mendatangkan segala macam kekacauan di dalam kehidupan manusia di dunia ini.

Sejarah sudah membuktikan betapa banyaknya raja-raja besar jatuh oleh harta, wanita atau kekuasaan.

Pendapatmu itu tidak dapat dibantah kebenarannya!"

Ki Mundingloyo berseru gembira.

"Kakang Mundingsosro, sayang sekali bahwa diantara kita berdua tidak ada yang mempunyai anak perempuan."

"Hee? Kalau mempunyai bagaimana?"

Tanya Ki Mundingsosro.

"Kalau aku mempunyai anak perempuan, pasti akan kujodohkan dengan Joko Darmono!"

Kata Ki Mundingloyo tanpa ragu-ragu.

"Aih, Eyang!"

Kata Bagus Sajiwo sambil tertawa.

"Puteri Eyang tentu usianya sebaya dengan ibu saya, pantas menjadi Ibu, Bude atau Bulik Joko!"

Semua orang tertawa.

"Wah, benar juga, aku lupa! Maksudku...., kalau saja aku mempunyai seorang cucu perempuan, aku akan merasa berbahagia kalau mempunyai cucu mantu seperti Joko Darmono ini."

Semua orang kembali tertawa dan suasana menjadi gembiara sekali.

Bagus Sajiwo yang tidak pernah membiarkan batinnya hanyut dalam perasaan tertentu, baik itu senang atau pun susah, teringat akan kematian seorang anggauta Sardulo Cemeng dan dengan hati-hati agar tidak menyinggung perasaan kedua orang eyangnya dia berkata.

"Eyang, bukankah tadi ada seorang anggauta Sardulo Cemeng menjadi korban dan tewas? Kasihan sekali keluarganya."

Biarpun ucapan itu dikeluarkan dengan hati-hati sekali, tetap saja kedua orang ketua itu menghentikan kegembiraan mereka dan alis mereka sedikit berkerut.

"Ah, Sartijo itu seorang duda tanpa anak. Dia sebatang kara dan tidak ada sanak keluarga. Para anggauta lainnya telah mengurus jenazahnya."

Kata Ki Mundingloyo.

"Dia seorang gagah perkasa dan jujur, maka berani dia menentang dua orang utusan Blambangan tadi."

"Kami tidak akan pernah melupakan jasanya terhadap perkumpulan kami."

Sambung Ki Mundingsosro. Bagus Sajiwo mengangguk-angguk dan dengan bijaksana dia mengalihkan pembicaraan itu."

O ya, saya ingin memberi tanggapan kepada pendapat Joko tadi tentang tiga hal yang menjadi sebab lemahnya seorang pria, bahkan menjadi sebab terjadinya pertentangan dan permusuhan antara manusia di bumi ini.

Menurut pendapat saya, di antara tiga hal itu, ada satu yang paling utama, paling besar pengaruhnya dalam kehidupan ini dan paling banyak diperebutkan manusia."

"Hemm, kau maksudkan wanita, Bagus?"

Tiba-tiba Joko Darmono memotong dengan pertanyaan itu.

"Bukan, bukan wanita dan juga bukan harta, melainkan kekuasaan. Kekuasaan inilah yang selalu diperebutkan orang, karena kekuasaan saja yang dapat mendatangkan segala yang lain itu. Dengan memiliki kekuasaan, orang bisa mendapatkan harta maupun wanita dengan mudah. Karena itulah, di mana-mana orang saling memperebutkan kedudukan yang berarti kekuasaan. Harta belum tentu dapat membeli kekuasaan, sebaliknya dengan kekuasaannya, orang mudah saja mendapatkan harta atau apa saja yang dikehendakinya."

Bagus Sajiwo dan Joko Darmono tinggal di perkampungan Sardulo Cemeng selama satu minggu.

Kemudian mereka berdua meninggalkan perkampungan Sardulo Cemeng setelah menerima nasihat dan pesan kedua orang ketua perkumpulan itu agar dua orang ketua perkumpulan itu agar dua orang muda itu mempergunakan kesaktian mereka untuk membela kebenaran dan keadilan, dan membela Mataram kalau diserang oleh Blambangan yang bersekutu dengan Kerajaan Klungkung di Bali dan Kumpeni Belanda.

Setelah mereka tiba di luar perkampungan, dua orang pemuda itu berhenti di persimpangan jalan.

"Joko, sekarang engkau hendak pergi ke mana?"

"Dan engkau sendiri, Bagus?"

"Dua pesan orang tuanku sudah kulaksanakan, yaitu singgah di Jatikusumo dan di Sardulo Cemeng, bertemu dengan Paman Cangak Awu sekeluarga dan kedua Eyang Mundingsosro dan Mundigloyo. Sekarang aku bebas, akan melaksanakan pesan mendiang Eyang Guru Ki Ageng Mahendra, juga Ayah Ibuku, yaitu bahwa selain menegakkan kebenaran dan keadilan, menentang kejahatan, aku juga harus membela Mataram di mana perlu. Jadi, aku belum mempunyai perjalanan tertentu. Mungkin aku akan pergi ke kota raja Mataram."

"Hemm, mau apa ke sana? Tidak ada sesuatu yang dapat kau bantu di kota raja Mataram. Disana terdapat banyak pamong praja, para senopati yang sakti mandraguna sehingga tidak ada bahaya mengancam kota raja."

"Habis, ke mana?"

"Bagus, kita sudah mendengar akan gerakan yang dilakukan Blambangan untuk mengadakan pemberontakan dan menentang Mataram. Dan mereka sudah mulai mengadakan kekacauan, berusaha membunuhi para tokoh yang setia kepada Mataram dan menggunakan kekerasan memaksa perkumpulan untuk membantu Blambangan. Jelas tindakan ini tidak benar dan kalau hendak menentang kesewenang-wenangan ini, kita harus pergi ke Blambangan atau ke daerah-daerah yang berdekatan dengan Blambangan di mana tentu mereka pertama-tama mengadakan penyerbuan dan pengacauan."

"Kita....?"

"Ya, tentu saja kita berdua. Kecuali kalau engkau tidak sudi melakukan perjalanan bersamaku, kita boleh saling berpisah di sini!"

Kata Joko Darmono ketus. Bagus Sajiwo tersenyum memandang kepada sahabatnya itu.

"Wah, mengapa marah, Joko? Siapa bilang aku tidak suka melakukan perjalanan bersamamu? Bukankah kita sudah melakukan perjalanan bersama, menghadapi lawan-lawan tangguh bersama pula, selama ini? Aku bahkan girang sekali dapat melakukan perjalanan bersamamu, apalagi mengingat engkau seorang yang sudah mengenal baik daerah Blambangan."

Wajah Joko Darmono berseri kembali.

"Bagus, terus terang saja aku merasa.... eh, merasa aman kalau melakukan perjalanan bersamamu."

Bagus Sajiwo tertawa.

"Ha-ha, engkau ini lucu sekali! Dengan kemampuanmu membela diri, apa sih yang dapat membuatmu tidak merasa aman? Seorang diripun engkau akan dapat melakukan perjalanan ke manapun tanpa merasa khawatir karena tidak banyak orang yang akan mampu menandingi dan mengalahkanmu, Joko!"

Joko Darmono juga tersenyum.

"Benar.... , akan tetapi, kita berdua akan lebih kuat lagi menghadapi lawan, bukan? Ingat, Blambangan mengerahkan banyak tokoh yang amat sakti. Yang pernah kudengar saja, selain dalam persekutuan itu terdapat Resi Sapujagad dan Bhagawan Dewokaton tadi, juga ada pula Arya Bratadewa antek Kumpeni Belanda dan murid-murid Bhagawan Ekabrata dari Gunung Agung di Nusa Bali, yaitu yang bernama Tejakasmala dan dua orang putera Adipati Santa Guna Alit yang bernama Dhirasani dan Dhirasanu yang kembar. Terutama sekali di sana ada Bhagawan Kalasrenggi dan dua orang muridnya yang bernama Kaladhama dan Kalajana yang terkenal dengan julukan Dwikala, dan dua orang senopati dari Kerajaan Klungkung di Bali, yang bernama Cakrasakti dan Cakrabaya. Nah, itu baru yang kuketahui, yang belum masih lebih banyak lagi. Apa tidak mengerikan?"

"Waduh, engaku hebat sekali, Joko. Engkau mengetahui banyak tentang kekuatan Kadipaten Blambangan! Untung ada engkau, kalau tidak, aku akan menjadi binging di daerah Blambangan yang memiliki demikian banyak orang sakti mandraguna. Nah, mari kita lanjutkan perjalanan dan engkau kuangkat menjadi penunjuk jalan!"

"Hemm, biasanya seorang penunjuk jalan mendapat upah. Kalau aku kaujadikan penunjuk jalan, upah apa yang akan kau berikan padaku?"

"Upahnya hebat! Aku akan membujuk Paman Cangak Awu dan Bibi Pusposari untuk menerima engkau sebagai mantu mereka, dijodohkan dengan Nimas Nawangsih yang cantik jelita dan lincah jenaka itu!"

Muka Joko Darmono menjadi kemerahan.

"Hemm, jangan berpura-pura, Bagus! Aku tahu, Nawangsih kagum dan cinta padamu dan orang tuanya tentu lebih condong mengambil engkau sebagai mantu mereka. Dan engkau tentu tertarik kepada gadis manis itu, bukan? Jangan berbohong dan coba menyangkal!"

Bagus Sajiwo tertawa.

"Ha-ha, gadis itu adalah Adikku, Joko!"

"Hemm, bukan adik kandung, hanya Adik misan. Tidak ada salahnya, malah lebih baik untuk mengumpulkan balung pisah (tulang terpisah)!"

"Wah, jangan begitu, Joko. Apakah perjodohan itu hanya cukup didasari pertimbangan tentang mendekatkan kekeluargaan? Hayo jawab yang jujur, apakah engkau mau kalau dijodohkan dengan pertimbangan seperti itu, tanpa mempedulikan perasaan hatimu terhadap gadis yang akan dijodohkan denganmu? Apakah tidak perlu mempertimbangkan perasaan hatimu terhadap calon jodohmu, yaitu apakah engkau cinta kepadanya ataukah tidak?"

"Akan tetapi, Nawangsih itu cantik jelita, lincah gagah, puteri ketua Jatikusumo, keturunan satria, aku tidak percaya engkau tidak tertarik dan jatuh cinta kepadanya!"

Bagus Sajiwo tersenyum.

"Apakah seorang laki-laki harus langsung jatuh cinta kalau melihat seorang perempuan cantik? Kalau itu yang menjadi ukuran, bukanlah cinta namanya dan laki-laki seperti itu akan berulang-ulang jatuh cinta, setiap kali dia bertemu dan melihat perempuan cantik! Tidak, Joko, itu bukan cinta namanya, melainkan nafsu yang membuat laki-laki menjadi mata keranjang!"

Joko Darmono tampak tertarik sekali.

"Kalau begitu, engkau tidak cinta kepada Nawangsih?"

"Tentu saja aku mencintainya, akan tetapi mencintanya sebagai seorang Kakak terhadap Adik misannya, bukan perasaan cinta seorang laki-laki terhadap seorang perempuan yang menjadi pilihan hatinya untuk dijadikan calon isterinya."

Joko Darmono tersenyum.

"Wah, bicaramu seperti seorang kakek pendeta saja, Bagus! Aku jadi heran dan ingin sekali mengetahui apakah engkau sudah mempunyai pilihan hati untuk menjadi isterimu?"

Bagus Sajiwo juga tersenyum dan menggeleng kepalanya.

tanpa terasa oleh mereka, percakapan itu menjadi semakin gayeng dan tahu-tahu mereka sudah berhenti melangkah dan berdiri di bawah sebatang pohon besar, tenggelam ke dalam percakapan tadi.

"Tidak, Joko, aku belum mempunyai pilihan hati."

Tanpa disengaja terbayang wajah Maya Dewi dalam benak Bagus Sajiwo.

Dia harus mengaku bahwa dia mempunyai perasaan cinta, kasih sayang mendalam terhadap Maya Dewi, akan tetapi bukan cinta seorang laki-laki terhadap pilihan hatinya seperti yang dimaksudkan.

Dia tidak pernah menginginkan Maya Dewi menjadi isterinya.

"Eit, kenapa kita enak-enak berhenti di sini? Mari kita lanjutkan perjalanan kita, Bagus!"

Joko Darmono berseru dan mereka berdua melangkah lagi, seolah hendak menebus kelambatan perjalanan tadi karena mereka berhenti di situ untuk mengobrol, kini tanpa kesepakatan lebih dulu keduanya menggunakan aji kesaktian mereka berlari cepat.

Tubuh mereka berkelebat dan meluncur cepat sekali.

Mereka seperti berlomba, atau lebih tepat lagi, Joko Darmono seolah hendak menguji kemampuan Bagus Sajiwo.

Dia yang menjadi penunjuk jalan, maka dia berlari di depan mengerahkan seluruh tenaga sehingga dapat berlari cepat sekali untuk melihat apakah Bagus Sajiwo mampu mengimbangi kecepatan larinya.

Akan tetapi Joko Darmono kecelik.

Setelah mengerahkan seluruh tenaga sehingga dia berlari cepat seperti seekor kijang, ternyata Bagus Sajiwo tidak pernah terpisah darinya, tetap berlari di belakangnya dalam jarak sekitar tiga depa!

Setelah berkeringat, Joko Darmono berhenti berlari.

Mereka sudah berlari cukup jauh.

Dia berhenti dan Bagus Sajiwo juga berhenti.

Joko Darmono memandang temannya itu dan dia kagum bukan main.

Dia sendiri berkeringat dan napasnya agak memburu.

Akan tetapi dia melihat betapa Bagus Sajiwo masih biasa saja, tidak berkeringat dan sama sekali tidak terengah.

Hal ini sudah membuktikan bahwa Bagus Sajiwo memiliki ilmu berlari cepat yang lebih tinggi daripada tingkatnya sendiri dan memiliki daya tahan tubuh kuat, napas lebih panjang!

Mereka kini berjalan biasa, berdampingan.

Melihat kain pengikat rambut Joko Darmono yang dipakai menyeka keringat sudah basah, Bagus Sajiwo memberikan kain pengikat rambutnya yang masih kering.

Joko Darmono menerimanya dan mempergunakannya untuk menghapus kering sisa keringat di lehernya.

Bagus Sajiwo lalu menjulurkan tangan untuk menerima kembali kain pengikat rambutnya, akan tetapi Joko Darmono tidak menyerahkannya.

"Terkena keringatku, Bagus. Biar nanti kucuci dulu."

"Aih, Joko! Apa-apaan sih engkau ini? Masa pinjam kain untuk menyeka keringat saja baru akan dikembalikan setelah dicuci dulu? Apa keringatmu beracun?"

Bagus Sajiwo menggerakkan tangannya dengan cepat merebut kain dari tangan Joko Darmono yang tidak menyangka sehingga kain itu terampas.

"Ih, Bagus, kain itu kotor terkena keringatku!"

"Keringatmu tidak kotor, hanya basah!"

Bagus Sajiwo mengelak ketika Joko Darmono hendak merampas kembali kain itu. Dia sengaja menggoda, bahkan mendekapkan kain itu ke depan hidungnya.

"Hemm, baunya sedap pula, seperti kayu cendana!"

Wajah Joko Darmono berubah kemerahan.

"Uh, engkau mengejek, ya? Mana ada keringat berbau kayu cendana? Semua keringat tentu asam baunya!"

"Kalau engkau sudah tahu begitu, mengapa ribut tentang keringat yang membasahi kain ini? Keringatmu atau keringatku ya sama saja."

Bagus Sajiwo lalu mengikatkan kain itu dikepalanya.

"Bagus, tentang pilihan hati tadi...."

"Perempuan yang dicinta dan diharapkan menjadi isteri, maksudmu?"

"Ya, katakanlah, apakah engkau dapat menceritakan, perempuan macam apa kiranya yang akan menjadi pilihan hatimu? Macam bagaimana kecantikan wajahnya, kemolekan tubuhnya, watak dan sikapnya?"

"Walah-walah! Engkau ini menanyakan yang aneh-aneh. Bagaimana aku bisa tahu kalau aku belum menemukannya? Calon jodoh bukanlah benda yang dapat kupilih karena kebagusan atau sifatnya cocok dengan seleraku. Kalau ada perempuan yang membuat aku merasa ingin hidup bersamanya. membangkitkan rasa kasih, iba, haru, membuat aku percaya, ingin melindungi dan ia lindungi, ah, pendeknya aku tidak tahu yang bagaimana ia itu. Kalau suatu saat aku bertemu dengan jodoh, tentu perasaan hatiku akan mengetahuinya. Nah, sekarang tiba giliranmu, kalau engkau, perempuan seperti apa yang kau inginkan menjadi jodohmu, Joko?"

"Aku?"

Joko Darmono menengadah, memandang ke arah langit di mana terdapat awan bergerombol, putih seperti sekumpulan domba-domba putih bergerak perlahan.

"Hemm, aku akan memilih seorang perempuan yang cantik jelita seperti bidadari kahyangan, anggun dan bersusila, lembut seperti kapas akan tetapi juga gagah perkasa seperti Dewi Woro Srikandi, pendeknya, yang tanpa cacad serambut pun."

Bagus Sajiwo tertawa geli sampai terpingkal-pingkal. Joko Darmono memandang kepadanya dengan alis berkerut dan mulutnya cemberut, marah.

"Hei, Bagus! Engkau menertawakan aku? Hemm, jangan dikira bahwa aku takut padamu dan engkau tidak boleh menghinaku sesuka hatimu! Kalau engkau menantang berkelahi, hayo kulayani, aku tidak gentar melawanmu!"

Bagus Sajiwo yang sedang tertawa geli itu tiba-tiba menghentikan tawanya dan memandang wajah temannya dengan sinar mata penuh keheranan.

"Eh, Joko, engkau mengapakah? Tiba-tiba marah dan menantang? Siapa yang menghinamu?"

"Engkau tertawa-tawa, apanya yang lucu? Engkau mentertawakan aku!"

"Aih, sabarlah, Joko. Aku memang terawa karena mendengar uraianmu tentang permpuan yang menjadi pilihan hatimu itu."

"Mengapa kau mentertawakan? Apanya yang lucu?"

"Penggambaranmu itu lucu, tak masuk akal dan menunjukkan bahwa engkau sombong, Joko!"

"Hei, hati-hati dengan omonganmu, Bagus! Aku sombong? Apa maksudmu?"

"Engkau tadi menggambarkan seorang perempuan khayal. Mana ada seorang perempuan yang demikian sempurna dalam dunia ini? Tanpa cacad sedikitpun? He-he, seorang bidadari pun masih bekum sempurna, Joko. Yang maha sempurna itu hanya Gusti Allah saja. Kalau kau lanjutkan cita-citamu ini, hanya akan berjodoh dengan seorang gadis seperti yang kau gambarkan itu engkau akan menjadi joko selama hidupmu, cocok benar dengan namamu, he-heh!"

Joko Darmono tampak termenung mendengar ucapan ini. Kemarahannya mereda setelah dia tahu bahwa bukan maksud Bagus Sajiwo untuk menghinanya.

"Bagus, jadi menurut pandanganmu yang picik itu, di dunia ini engkau tidak akan menemukan seorang perempuan yang sempurna seperti yang kugambarkan tadi?"

"Mustahil ada perempuan seperti itu! Aku tidak pernah bertemu dengan seorang perempuan sempurna seperti yang kaugambarkan tadi."

"Hemm, karena engkau memang belum bertemu dengannya, Bagus. Engkaulah yang sombong dan aku yakin, sekali engkau bertemu dengan seorang perempuan seperti yang kugambarkan tadi, engkau akan menyembah-nyembahnya, mohon cintanya, dan engkau dengan senang hati akan mencium kakinya! "Walah! Tidak mungkin sama sekali itu!"

Bagus Sajiwo berseru.

Memang, pemuda ini sejak kecil mendapat gemblengan batin dan sedikit pun dia belum mempunyai pengalaman tentang wanita.

Pergaulannya dengan wanita hanyalah dengan Maya Dewi seorang.

Dia sama sekali belum mengenal artinya cinta dan wanita yang sesungguhnya.

"Hemm, kita lihat nanti. Kalau engkau bertemu dengan pilihan hatimu seperti yang kugambarkan tadi dan engkau bertekuk lutut, ingat, akulah yang akan menertawakanmu, Bagus Sajiwo!"

Setelah berkata demikian, Joko Darmono melanjutkan perjalanan itu dengan langkah cepat walaupun tidak berlari lagi.

Dia berjalan cepat dan kaku, tidak bicara apa-apa lagi.

Bagus Sajiwo hanya merasa heran atas sikap temannya yang dianggapnya aneh itu.

Mungkin hati temannya itu sedang jengkel atau merisaukan sesuatu sehingga sikapnya demikian kaku.

Biarpun beberapa usaha yang diatur Bhagawan Kalasrenggi sebagai penasihat sang Adipati Blambangan, untuk membunuh para tokoh yang dianggap setia kepada Mataram dan akan menjadi penghalang gerakan Blambangan telah mengalami kegagalan, namun hal itu tidak mencegah keputusan persekutuan di Blambangan untuk melanjutkan gerakan mereka menentang Mataram.

Pada suatu malam, adipati Santa Guna Alit dari Blambangan mengadakan pertemuan besar dengan para tokoh yang menjadi sekutunya.

Malam itu langit gelap sejak sore dan ketika malam tiba, hujan turun dengan lebatnya selama beberapa jam.

Ketika semua orang sudah berkumpul di ruangan tertutup dalam gedung istana Sang Adipati Blambangan, hujan sudah berhenti.

Hawa malam itu dingin sekali dan seluruh Blambangan basah kuyup.

Langit masih gelap pekat.

Malam itu memang belum waktunya bulan muncul, akan tetapi tidak ada bintang tampak karena tertutup mendung.

Rapat pertemuan pada malam hari ini lengkap sekali, lebih lengkap daripada pertemuan-pertemuan yang sudah.

Malam ini memang hadir tokoh-tokoh penting.

Bhagawan Kalasrenggi yang menjadi penasihat utama dari Adipati Santa Guna Alit, tetap diserahi untuk memimpin pertemuan penting itu.

Adipati Blambangan sendiri hadir bersama kedua orang puteranya yang kembar, tampan dan gagah perkasa, yaitu Dhirasani dan Dhirasanu.

Mereka berempat inilah yang duduk di kepala meja sebagai tuan rumah.

Adapun para sekutu yang hadir adalah Tejakasmala bersama Cakrasakti dan Candrabaya, tiga orang sakti yang menjadi utusan atau wakil Kerajaan Klungkung di Bali dan mereka kini ditemani dua orang senopati dari Bali yang baru datang membawa pasukan sebesar dua laksa orang untuk membantu Blambangan.

Dua orang senopati itu adalah Made Sukasada dan Kyai Ngurah Pacung.

Ternyata Raja Klungkung bergabung dengan para raja lain mengumpulkan pasukan sebanyak itu dipimpin dua orang senopati ini, untuk membantu Blambangan menghadapi Mataram.

Pasukan itu kini telah berkumpul di pantai Blambangan.

Hadir pula Arya Bratadewa yang menjadi telik sandi atau antek Kumpeni Belanda.

Dia hadir ditemani seorang Belanda bernama kapten Pieter Van De Camer yang berusia lima puluh tahun bertubuh raksasa, berambut kuning dan bermata biru.

Kapen Pieter Van De Camer ini juga mendarat di pesisir Blambangan.

Dia menjadi kapten kapal Nieuwicheijt, sebuah kapal Belanda besar yang mempunyai meriam-meriam besar dan persenjataan lengkap.

Kedatangan Kapten Pieter dengan kapal perangnya ini membawa berita yang amat menggembirakan pihak sekutu Blambangan.

Kapten Pieter mengabarkan bahwa kapalnya telah merontokkan dan menghancurkan armada kapal Mataram yang terdiri dari sebelas buah kapal dengan dua ribu lebih anak buahnya.

Dia bercerita bahwa kapalnya telah mengusir mereka, menenggelamkan beberapa buah kapal dan membunuh ratusan orang perajurit Mataram dengan meriam-meriamnya.

Semua orang memandang kagum ketika kapten Belanda itu bercerita.

Tentu saja ceritanya itu, walaupun memang benar terjadi antara kapalnya dengan kapal-kapal Mataram, terlalu ditambah dan dilebihkan.

Selain sekutu dari Bali dan Kumpeni Belanda, masih hadir pula beberapa orang dari Madura yang diam-diam mendendam kepada Mataram dan membantu Blambangan dengan beberapa ribu anak buah mereka.

Para datuk yang hadir adalah Resi Sapujagad, Bhagawan Dewokaton, Candra Dewi yang sudah menjadi rekan Arya Bratadewa, Ki Kaladhama dan Ki Kalajana murid-murid Bhagawan Kalasrenggi dan masih banyak lagi.

"Sauudara-saudara sekalian,"

Kata Bhagawan Kalasrenggi setelah Sang Adipati mengucapkan selamat datang kepada semua tamu.

"Saya mewakili kanjeng Adipati Blambangan untuk merundingkan rencana kita. Melihat keadaannya, saat inilah yang paling tepat untuk mulai dengan penyerbuan kita ke Mataram. Pasukan dari Bali telah datang, demikian pula dari Madura. kami mohon kepada utusan-utusan dari semua pihak untuk melaporkan kekuatan mereka agar semua orang dapat mengetahui dengan jelas dan dapat membesarkan hati."

"Kami dari Kerajaan Klungkung yang bergabung dengan kerajaan lain membawa dua puluh ribu orang perajurit yang telah kami siapkan di pesisir."

Kata Made Sukasada, senopati yang memimpin pasukan dari Bali itu.

"Pasukan kami terdiri dari para perajurit pilihan."

Kata pula Kyai Ngurah Pacung, senopati ke dua dari Bali.

Pemimpin ribuan orang dari Madura yang datang hendak membantu Blambangan melawan Mataram adalah seorang tinggi besar yang mukanya penuh brewok, matanya lebar, sikap dan budi bahasanya kasar.

Dia bernama Randujapang, berusia lima puluh tahun dan dia pernah berguru kepada mendiang Ki Harya Baka Wulung, datuk yang dulu selalu menentang Mataram dan juga tewas dalam perang melawan Mataram.

Randujapang ingin membalas dendam atas kematian guru dan banyak sanak keluarganya dan dia berhasil menghimpun sekitar tiga ribu orang untuk membantu Blambangan.

Mendengar orang-orang dari Bali sudah memperkenalkan diri, dia pun berkata dengan suaranya yang lantang dan kasar.

"Kami Randujapang dari Sumenep telah menghimpun sekitar tiga ribu orang untuk membantu Blambangan melawan Mataram. Sungguhpun jumlah kami hanya sedikit, namun kami terdiri dari orang-orang berani mati yang tidak gentar mengorbankan nyawa untuk menentang musuh besar kami, yaitu Mataram. Bhagawan Kalasrenggi atas nama Sang Adipati Blambangan mengucapkan terima kasih dan memberi pujian kepada pimpinan pasukan dari Bali dan dari Madura. Sang Bhagawan ini adalah orang cerdik. Dia tahu benar bahwa kalau ingin menang menghadapi Mataram, bantuan dari Kumpeni Belanda amat diharapkan. Maka dia lalu memandang kepada Kapten Pieter yang duduk di sebelah Arya Bratadewa, lalu berkata sambil tersenyum.

"Tuan Kapten Pieter, Tuan Adipati dan kami semua ingin sekali mendengar, apa yang dapat diberikan Kumpeni untuk membantu kami melawan Mataram."

Kapten Pieter tidak mampu berbahasa daerah dengan lancar, maka dia bicara dalam bahasa Belanda kepada Arya Bratadewa yang menerjemahkannya dengan suara lantang dan sikap sombong dan bangga bahwa dia paham bahasa Belanda.

"Tuan Adipati tentu maklum akan kedudukan Kumpeni sekarang. Semenjak Mataram menyerbu Batavia, sekarang ada semacam perdamaian, walaupun tidak resmi, namun tidak ada perang permusuhan terbuka. Tentu saja Kumpeni tidak dapat membantu Blambangan dengan pasukan karena hal itu akan menyulut api peperangan baru dengan Mataram. Hal ini tidak dikehendaki Kumpeni. Maka dalam gerakan Blambangan untuk menyerang Mataram ini, Kumpeni hanya dapat membantu dengan pemberian senjata dan kalau ada tenaga yang membantu, maka tenaga itu adalah para telik sandi Kumpeni seperti Arya Bratadewa, Ni Candra Dewi, dan yang lain-lain. Mereka semua memiliki tanda sebagai pembantu Kumpeni, yaitu dinar emas bergambar singa."

Adipati Blambangan dan Bhagawan Kalasrenggi mengangguk-angguk.

Bagi mereka, bantuan senjata api jauh lebih baik daripada pasukan Kumpeni Belanda.

Bhagawan Kalasrenggi atas nama Adipati Blambangan mengucapkan terima kasih kepada mereka semua yang telah mebantu untuk memperkuat pasukan Blambangan yang akan menyerang Mataram.

Kemudian perundingan dimulai untuk mengatur siasat.

Bhagawan Kala srenggi yang memang sudah mengatur siasat sebelumnya bersama Adipati Blambangan, berkata dengan lantang.

"Benteng pertama Mataram yang akan kita hadapi adalah Pasuruan. Pertahanan Mataram di daerah timur ini berpusat di Pasuruan. Karena itu, pertama-tama kita harus dapat merebut Pasuruan. Dengan demikian kedudukan kita akan menjadi kuat untuk melanjutkan penyerbuan ke barat sampai ke kota raja Mataram."

Semua setuju dengan rencana ini, lalu mereka mengatur siasat selanjutnya untuk menyerbu Pasuruan dan membuat persiapan.

Setelah siasat penyerbuan Pasuruan diatur dengan matang dan pertemuan itu dilanjutkan dengan pesta makan minum.

Tiba-tiba perajurit penjaga melapor kepada Bhagawan Kalasrenggi bahwa ada seorang anak buah para penyelidik datang memohon menghadap.

"Bawa dia masuk."

Perintah Bhagawan Kalasrenggi.

Perajurit itu keluar lalu masuk kembali bersama seorang laki-laki setengah tua yang melaporkan bahwa ada sebuah perahu pedagang Cina sedang menuju ke Blambangan lewat Selat Bali dan perahu itu membawa penumpang yang dicurigai adalah seorang telik sandi Mataram yang hendak menyelidiki keadaan di Blambangan.

Mendengar laporan ini, Bhagawan Kalasrenggi lalu memandang penyelidik yang melapor itu dan bertanya.

"Bagaimana Andika dapat tahu dan yakin bahwa laporanmu itu benar? Ingat, banyak sekali perahu pedagang Cina hilir mudik dan biasanya mereka itu hanya berdagang. Bagaimana Andika dapat mengetahui dengan pasti bahwa ada perahu pedagang Cina membawa seorang mata-mata Mataram?"

"Hamba tidak akan berani melapor kalau tidak yakin. Akan tetapi yang memberi kabar kepada hamba itu adalah seorang Cina pula, bahkan masih ada hubungan dengan pemilik perahu itu. Agar Paduka tidak ragu, maka orang itu sekarang hamba ajak ke sini dan menanti di luar."

"Bagus, ajak dia masuk menghadap!"

Mata-mata itu keluar dan kembali bersama seorang Cina yang berusia sekitar tiga puluh tahun, bertubuh tinggi tegap dan wajahnya tampan dan gagah, sinar matanya membayangka n keberanian, namun senyumnya mengandung ejekan seorang yang tinggi hati.

Pakaiannya serba kuning dan ringkas, rambutnya digelung ke atas dan diikat kain putih.

Di punggungnya tergantung sebatang pedang dengan ronce-ronce merah.

Agaknya pemuda Cina ini sudah cukup lama berada di Jawa-dwipa karena tanpa canggung dia memberi hormat dengan membungkuk dan menyembah di depan dada.

Juga suara tidak terdengar kaku ketika dia menujukan kata-katanya kepada Sang Adipati Blambangan dalam bahasa daerah, walaupun masih pelo (cedal).

"Sang Adipati, saya menghaturkan hormat."

Adipati Santa Guna Alit mengangkat tangan sebagai tanda menerima penghormatan itu dan memberi isayarat kepada Bhagawan Kalasrenggi untuk bicara dengan pemuda Cina itu.

"Heh, Kisanak, siapakah namamu?"

Bhagawan Kalasrenggi bertanya dan sepasang matanya mencorong, menatap tajam pemuda Cina itu untuk melihat apakah pemuda asing itu dapat dipercaya ataukah tidak.

"Nama saya Kam Leng."

Jawab pemuda itu sambil membalas pandang mata bhagawan itu dengan berani dan dari sinar matanya yang tajam, Bhagawan Kalasrenggi dapat mengetahui bahwa pemuda asing itu bukan orang sembarangan, melainkan orang yang "berisi"

Atau yang memiliki tenaga dalam yang kuat.

"Kam Leng, engkau berhadapan dengan Bhagawan Kalasrenggi yang mewakili Sang Adipati Blambangan. Jawablah pertanyaan kami ini. Benarkah pemberitahuanmu bahwa ada sebuah perahu pedagang Cina yang ditumpangi seorang mata-mata Mataram?"

"Benar sekali, Sang Bhagawan."

"Hemm, bagaimana engkau bisa yakin bahwa ada seorang mata-mata Mataram di perahu itu?"

"Perahu itu milik seorang pedagang dari Tuban yang saya kenal. Dia membawa barang dagangan hasil bumi dan rempah-rempah, dan sekali ini Tan Beng Ki, pemilik perahu itu, melakukan pelayaran bukan hanya untuk berdagang, akan tetapi juga untuk mengajak puterinya dan calon mantunya berpesiar untuk merayakan pertunangan mereka. Keterangan saya ini tidak mungkin salah, karena saya mengetahui sendiri bahwa mereka sedang berlayar ke sini. Gadis puteri Tan Beng Ki dan tunangannya itu keduanya adalah adik-adik seperguruan saya."

"Hemm, Kam Leng! Kalau mereka itu masih ada hubungan persaudaraan denganmu, mengapa engkau melaporkan kepada kami? Apakah pamrihmu?"

"Saya akan menunjukkan yang mana perahu itu dengan satu syarat."

Bhagawan Kalasrenggi mengerutkan alisnya.

"Syarat? Apa itu?"

Dengan tenang Kam Leng menjawab.

"Saya akan menunjukkan perahu itu kepada Andika sekalian dan bahkan siap membantu menyerbu kalau para penghuni perahu melawan, asalkan Andika berjanji lebih dulu bahwa setelah berhasil, perahu dan gadis yang berada di situ harus diserahkan kepada saya. Yang lain-lain boleh dibunuh atau ditangkap, terserah."

"Heh-heh-heh, jadi itukah pamrihmu? Merampas perahu dan gadis tunangan Adik seperguruanmu sendiri?"

"Ya, kalau Andika mau berjanji, saya akan menunjukkan yang mana perahu yang ditumpangi mata-mata dari Tuban itu. Kalau Andika tidak mau berjanji lebih dulu, saya pun tidak mau menunjukkan."

"Uh-uh, kami tadinya mengira bahwa engkau datang hendak membantu Blambangan melawan Mataram! Tidak tahunya engkau malah mengajukan persyaratan. Siapakah engkau ini yang berani berlagak dan mengajukan persyaratan dengan kami?"

Baca Juga: Mutiara Hitam 1

Baca Juga: Mutiara Hitam 15

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert