Ceritasilat Novel Online

Kemelut Blambangan 1

Eps 1 Kemelut Blambangan - Kho Ping Hoo

Baca online Kemelut Blambangan - Kho Ping Hoo

Cersil Kemelut Blambangan - Kho Ping Hoo.

Kemelut Blambangan (Seri ke 05 -Serial Pecut Sakti Bajrakirana) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 01 Matahari telah naik tinggi dan sinarnya cerah menghangatkan napas kehidupan di permukaan bumi.

Akan tetapi, sinar matahari itu masih tidak mampu menembus daun-daunan lebat yang menjadi perisai sehingga sinar matahari tidak mampu langsung membakar tanah hutan lebat itu, hanya mendatangkan penerangan yang sempit menerobos melalui celah-celah daun-daunan.

Sinar matahari yang menerobos itu menjadi garis-garis putih, membuat garis-garis hitam putih di dalam hutan.

Wanita itu rebah di bawah sebatang pohon besar, rebah miring seperti tidur pulas.

Rambutnya terurai lepas dari sanggulnya.

Pakaiannya juga kusut.

Bagian leher, muka dan kaki yang tampak sampai ke betisnya itu, di bagian yang terkena sentuhan garis sinar putih matahari, tampak putih mulus kekuningan.

Namun wajahnya pucat dan di kedua pipinya masih tampak bekas air mata.

Mulutnya yang berbentuk indah dengan bibir tipis penuh itu tertarik seperti orang yang sedang kesakitan.

Bentuk tubuhnya juga indah, padat dengan lekuk lengkung nyaris sempurna, sesuai dengan wajahnya yang cantik jelita.

Rambut yng terurai itu hitam panjang dan agak berombak.

Wajahnya bulat telur dengan dagu manis meruncing.

Sepasang alisnya juga hitam dan melengkung seperti dilukis.

Matanya tertutup namun bulu mata menjungat ke atas sehingga dalam keadaan terpejam pun sudah tampak indah.

Hidungnya kecil mancung, akan tetapi yang paling menarik adalah mulutnya.

Sepasang bibir itu penuh dan tipis, bentuknya menggairahkan walaupun saat itu agak pucat seperti wajahnya.

Tubuhnya denok agak montok, dengan pinggang kecil sehingga dada dan pinggulnya tampak membusung.

Usianya, melihat kecantikan wajah dan kepadatan tubuhnya, masih muda, sekitar dua puluh tahun lebih.

Kalau diperhatikan dengan seksama, akan ketahuan bahwa ia tidak tidur.

Tidak mungkin seorang wanita cantik seperti itu, yang pakaiannya cukup pantas dan bersih walaupun kusut, tidur di bawah pohon dalam hutan di atas tanah begitu saja!

Wanita itu bukan sedang tidur, melainkan pingsan.

Seekor ular sebesar paha orang dewasa menggeleser di atas tanah, ke arah tubuh wanita yang rebah miring itu.

Lidah ular itu keluar masuk dan setelah tiba dekat dengan tubuh wanita itu dia berhenti dan seolah-olah mencium dan menjilat-jilat kaki wanita dengan ragu.

Kemudian tubuhnya menggeleser lagi, melewati kaki, terus ke pinggang lalu ke dada dan meninggalkan lagi tubuh wanita itu ranpa mengganggunya.

Mungkin dia menganggap tubuh itu terlalu besar untuk dijadikan mangsanya, atau mungkin juga karena tubuh itu sama sekali tidak bergerak, maka kurang merangsang seleranya, tidak seperti korban yang hidup bergerak-gerak meronta ketika digigit dan perlahan-lahan ditarik ke dalam perutnya.

Wanita itu tetap tak bergerak.

Mimpipun tidak ia bahwa tubuhnya telah dilalui seekor ular yang panjangnya ada dua kali panjang tubuhnya.

Andaikata ia dalam keadaan sadar, tentu ia akan menjerit-jerit, karena wanita pada umumnya merasa ngeri dan jijik terhadap ular.

Tak lama kemudian, seekor kelinci yang gemuk dengan bulu putih berloncatan mendekat.

Melihat tubuh manusia, ia berhenti meloncat, bahkan dia tak bergerak, matanya tertuju kepada tubuh itu dan daun telinganya yang panjang itu bergerak-gerak sedikit.

Agaknya ia merasa aman karena wanita itu sedikitpun tidak bergerak, maka ia berloncatan menghampiri.

Setelah dekat, ia mendekatkan moncongnya, hidungnya mencium-cium betis yang putih mulus karena kakinya agak tersingkap.

Tiba-tiba terdengar auman yang menggetarkan seluruh hutan.

Kelinci itu terkejut bukan main.

menoleh dan seolah ia terkena sihir oleh sepasang mata harimau yang muncul dari semak, hanya dalam jarak tiga meter.

Saking kaget dan takutnya, kelinci itu tidak mampu bergerak, apalagi melarikan diri.

sepasang matanya yang lebar bening itu membayangkan ketakutan.

Mungkin karena gerengan yang menggetarkan itu, atau bisa juga karena memang sudah waktunya, tubuh wanita itu bergerak.

Ia telah siuman dari pingsannya dan pada saat itu, kembali harimau tadi menggereng.

Dengan gerakan yang amat cepat, wanita iu sudah bangkit duduk dan ia melihat betapa seekor harimau gembong yang besar bergerak menubruk seekor kelinci gemuk yang berdiri ketakutan di dekatnya.

"Macan jahat!"

Wanita itu berseru dan tubuhnya melompat, menyambut terjangan harimau yang hendak menerkam kelinci. Dengan gerakan indah dan gesit, ia mendoyongkan tubuhnya dan tangan kirinya menampar.

"Desss....!"

Tangan kiri yang terbuka dan miring itu seperti pedang membacok dan mengenai dada harimau. Tubuh yang sebesar gudel (anak kerbau) itu terlempar dan terbanting jatuh ke atas tanah.

"Macan jahat....!"

Wanita itu melompat ke depan dan sebelum harimau itu sempat berdiri, ia sudah menyambar ekor harimau yang panjang, kemudian sekali ia menggerakkan tangannya yang memegang ekor harimau, binatang buas itu terputar-pitar di atas kepalanya.

Tampaknya begitu ringan baginya seolah sedang memutar-mutar sebuah benda yang ringan saja.

Ia menghampiri sebongkah batu besar dan ingin membanting harimau itu ke atas batu, biar hancur berantakan kepalanya!

Akan tetapi pada saat itu, ia mendengar bisikan, seolah keluar dari hatinya.

"Harimau itu tidak jahat! Memang kelinci dan sejenisnya sudah dikodratkan menjadi mangsanya, penyambung hidupnya. Harimau tidak dapat hidup dari makan rumput dan daun-daunan."

Mendengar suara yang amat dikenalnya itu, ia menjadi lemas dan sambil terisak ia melemparkan harimau itu sehingga terlontar jauh dan jatuh berdebuk di atas tanah.

Harimau itu menggereng lalu berlari ketakutan!

Wanita itu terisak dan menjatuhkan diri berlutut di bawah pohon sambil terisak, membuat kelinci tadi lari menyelinap ke dalam semak-semak.

"Bagus.... ahh, Bagus....!"

Ia merintih dan air matanya berderai di sepanjang kedua pipinya yang agak pucat.

Ia mengenal betul suara yang berbisik di hatinya tadi.

Suara Bagus Sajiwo, yang pernah berkata demikian tentang harimau dan binatang lain yang oleh manusia dinamakan "binatang buas".

Bahkan Bagus Sajiwo pernah mengatakan bahwa yang buas itu bukan binatang yang memangsa hewan lain, melainkan manusia!

Binatang-binatang itu membunuh dan makan demi kesenangan mulutnya.

Semua binatang makan menurut kodratnya dan hanya makan kalau tubuhnya membutuhkan, kalau perutnya lapar.

Akan tetapi manusia, didorong untuk makan, selain karena lapar, terutama sekali karena ingin menikmati kesenangan mulut itu, apa saja dimakannya!

"Bagus....!"

Akhirnya wanita itu.

Maya Dewi, dapat menenangkan diri dan sebutan itu seolah mejadi pegangan hatinya sehingga ia kuat menahan kepedihan hatinya.

Maya Dewi kini duduk bersandar batang pohon, menjulurkan kedua kakinya dan membiarkan ingatannya mengembara ke masa lalu, mengingat akan semua pengalaman hidupnya semenjak ia dapat mengingatnya.

seolah terbayang semua pengalaman itu di mata batinnya.

Yang dapat teringat adalah ketika ia berusia kurang lebih lima tahun dan ia hidup berdua dengan ayahnya, yaitu mendiang Resi Koloyitmo.

Menurut ayahnya itu, ibu kandungnya telah meninggal dunia ketika ia berusia setahun dan sejak itu ia dipelihara dan dididik ayah kandungnya itu.

Ia dimanja dan sejak kecil digembleng berbagai ilmu oleh ayahnya yang sakti.

Akan tetapi, ketika ia berusia kurang lebih tiga belas tahun, ayahnya terusir dari daerah Parahyangan dari mana mereka berasal karena ayahnya dianggap sesat dan melakukan banyak kejahatan sehingga dimusuhi para pendekar dan para senopati.

Ayahnya terpaksa meninggalkan Parahyangan dan mengajak ia pergi merantau.

Sekarang ia melihat jelas betapa ayahnya benar-benar seorang sesat.

Jalan hidupnya penuh kejahatan.

Tidak ada perbuatan jahat dia pantang.

Merampok, menculik dan memeperkosa wanita-wanita, membunuh, apa saja asal dapat memuaskan dorongan nafsu, mereguk kenikmatan badan.

Ia dibesarkan dalam didikan ayahnya yang seperti itu, dan dalam lingkungan orang-orang sesat yang menjadi sahabat ayahnya.

Maka, setelah berusia dua puluh tahun, mulailah ia melakukan kejahatan meniru ayahnya.

Lebih-lebih setelah ia hidup sendiri, terpisah dari ayahnya, ia menjadi binal dan liar.

Ia juga melakukan perbuatan apa saja.

Merampok, mencuri, menculik dan mempermainkan pria-pria muda untuk memuaskan nafsunya, lalu membunuh mereka.

Bahkan ia rela menjadi antek Kumpeni Belanda, untuk memusuhi Mataram yang dibencinya, dan untuk mendapatkan kemuliaan duniawi dan kemewahan hidup.

Ia membiarkan diri menjadi budak nafsu-nafsunya sendiri, tidak pandang melakukan apa saja dan menjadi musuh semua pendekar Mataram.

selama sepuluh tahun lebih ia bergelimang dosa sampai akhirnya ia bertemu dengan Bagus Sajiwo, kurang lebih empat tahun yang lalu.

Sejak saat itu terjadilah perubahan hebat dalam dirinya, jasmani dan rohaninya.

Terutama rohaninya.

Ia mulai mengenal Gusti Allah, mulai menyadari betul akan semua dosanya dan dengan bimbingan bagus Sajiwo yang mengatakan bahwa dia bukan membimbing karena yang membimbing itu adalah Kekuasaan Gusti Allah sendiri dan dia hanya menunjukkan dan menyadarkan saja, terjadi perubahan mendasar pada dirinya.

Ia hidup bersama Bagus Sajiwo, saling mencinta tanpa dikotori nafsu berahi, mengalami suka duka sampai mereka menemukan Jamur Dwipa Suddhi dan kitab Sari Bantala.

Mereka berhasil menguasai aji kesaktian itu setelah melatihnya selama tiga tahun dalam ruangan bawah tanah.

Mereka berdua lalu keluar dari ruangan itu dan pergi ke gunung Kawi, ke rumah Ki Tejomanik dan Nyi Retno Susilo, suami isteri pendekar yang menjdi orang tua Bagus Sajiwo.

Bahkan merke berdua sempat menyelamatkan keluarga itu dari serangan Tejakasmala yang sakti mandraguna bersama dua orang anak buahnya.

Kemudian mereka menghadap orang tua Bagus Sajiwo dan....

ia harus mengalai penghinaan, pengusiran, bahkan tamparan dari Nyi Retno Susilo!.

Kedua pipinya yang masih membengkak itu tidak dirasakannya.

Semua penghinaan, makian dan pengusiran itu sama sekali tidak berbekas lagi dalam hatinya.

Ia tidak sakit hati terhadap Nyi Retno Susilo, tidak menyalahkannya karena memang sudah sepantasnya ia diperlakukan demikian mengingat dosa-dosanya di masa lalu.

Akan tetapi, yang membuat sedih sekali dan seolah kehilangan pegangan adalah karena ia harus berpisah dari Bagus Sajiwo.

Ni Maya Dewi menghela napas.

Ia menyadari benar akan semua kesalahannya, akan keadaan dirinya.

Ia memang tidak pantas berdekatan dengan Bagus Sajiwo, tidak pantas sama sekali untuk dicinta pemuda itu.

Bahkan untuk mencinta pemuda itupun ia tidak patut.

Ia adalah seorang wanita yang mempunyai riwayat yang kotor dan busuk yang sudah sepatutnya dijuluki Wanita Iblis Cantik dari Banten, yaitu daerah asal ayahnya sebelum ke Parahyangan kemudian ke daerah Mataram.

Ia dahulu memang iblis.

Iblis betina yang jahat.

Bagaimana mungkin ia dapat disejajarkan dengan para pendekar itu, apalagi dibandingkan dengan Bagus Sajiwo yang keturunan para pendekar sakti, keturunan para pahlawan bangsa, pemuda yang sakti mandraguna dan arif bijaksana?

Untuk menjadi pelayannya saja ia tidak pantas!

Lebih lagi kalau diingat bahwa Bagus Sajiwo adalah seorang perjaka berusia dua puluh satu tahun, sedangkan ia adalah seorang wanita sesat berusia tiga puluh enam tahun!

Bagus Sajiwo pantas menjadi keponakannya, bahkan masih pantas menjadi anaknya!

Ia harus melupakan dia!

"Ya, aku harus melupakan dia...."

Bibirnya gemetar ketika membisikkan kata-kata ini dan hatinya seperti ditusuk mendengar arti bisikannya sendiri.

Air matanya berderai semakin deras, membasahi kedua pipinya yang agak membiru dan bengkak, akibat tamparan Nyi Retno Susilo yang menghinanya, memakinya, dan mengusirnya.

Tidak!

Aku tidak dapat melupakan dia!

Aku mencintainya!

Ya, aku cinta Bagus Sajiwo!

Terdengar olehnya sendiri suara itu berteriak di dalam hatinya.

"Aku mencintainya...."

Bibirnya berbisik, merintih.

"Aku ingin melindungi dan menjaganya seperti seorang ibu, aku ingin mencumbu dan membelainya seperti seorang isteri, aku ingin menghormat dan mentaatinya seperti seorang murid, aku ingin melayaninya seperti seorang abdi, aku ingin .... ah, aku ingin menjadi segala-galanya untuk Bagus Sajiwo...."

Maya Dewi menangis tersedu-sedu di bawah pohon itu. Salahkah aku? Kembali hatinya berbisik.

"Salah dan dosakah aku kalau hamba ini mencinta Bagus Sajiwo? Apakah seorang manusia seperti hamba ini tidak boleh mencinta?"

Lalu muncul jawaban itu, dari pikirannya.

"Tidak, aku tidak salah, tidak berdosa. Aku manusia hidup, berhak untuk bersenang-senang, berhak untuk memilih orang yang kucinta!"

Maya Dewi menggerakkan kedua tangan untuk menutupi kedua telinganya, seolah tidak ingin mendengar lebih lanjut. Akan tetapi suara itu terus berceloteh, kini mengejek dan membujuk.

"Bodoh engkau, Maya Dewi! Bersenang-senang tidak berdosa. Kalau engkau tidak bisa mendapatkan Bagus sajiwo, mengapa susah? Di sana masih ada ribuan pemuda seperti Bagus Sajiwo yang mudah kaudapatkan, dengan kasar maupun halus. Bersenang-senanglah selagi engkau masih hidup!"

Bagaikan datangnya awan mendung yang gelap, datang perlahan-lahan namun pasti, bayangan itu datang, bayangan segala kesenangan dan kenikmatan yang pernah ia geluti selama bertahun-tahun, sebelum ia bertemu dengan Bagus Sajiwo empat tahun yang lalu.

Dalam keadaan gelap yang memabukkan itu, tiba-tiba terdengar suara lembut, berwibawa dan penuh kasih sayang.

"Dewi, waspadalah setiap saat terhadap pikiranmu sendiri. Sedikit saja engkau lengah, iblis akan menggunakan nafsu dalam hati akal pikiranmu sendiri untuk menyeretmu ke lembah dosa, dengan umpan bayangan segala macam kesenangan, kenikmatan dan semua yang serba enak. Engkau pernah mengalaminya. Semua kesenangan duniawi dan badani itu akhirnya membawa engkau ke dalam jurang kenistaan dan kesengsaraan. Sadarlah."

Bagus!

Bagus Sajiwo!

Itu suaranya!

Maya Dewi melompat berdiri, memandang ke kanan kiri, akan tetapi sunyi saya disekelilingnya.

Ia tertunduk lagi ke atas tanah dengan tubuh lemas.

Benar itu suara Bagus Sajiwo, akan tetapi suara seperti yang pernah dikatakan pemuda itu, yang masih bergema dalam sanubarinya.

"Benar,"

Bisiknya.

"Engkau benar, Bagus. Aku telah merasakan neraka dalam hidup ini, sebagai akibat dari penghambaan diriku kepada nafsu-nafsuku sendiri."

Bohong! Tidak benar! Bocah itu tahu apa? Selagi masih hidup adalah hakmu untuk mereguk kesenangan sepuas-puasnya. Kalau sudah mati engkau tidak akan dapat menikmatinya lagi. Suara itu parau mengejek.

"Iblis kau!"

Maya Dewi melompat berdiri, membalik dan kedua tangannya menghantam ke arah pohon yang tadi disandarinya.

"Wuuuttt.... braaakkk....!"

Pohon itu patah dan tumbang!

Maya Dewi lalu melangkah pergi meninggalkan tempat itu, memasuki hutan itu lebih dalam lagi.

Ia marah kepada dirinya sendiri, kepada pikirannya, Mengapa ia begitu bodoh mau mendengarkan bujukan iblis lewat pikirannya?

Ia sudah tahu benar bahwa hati akal pikiran manusia seringkali dipergunakan iblis yang membonceng untuk memancing manusia dengan umpan gairah nafsu daya rendah yang serba menyenangkan badan, Karena itu hati, akal manusia sendiri tidak akan mampu menanggulangi bujukan iblis.

Bahkan hati akal pikirannya sendiri yang sudah dikuasai iblis malah membenarkan perbuatan-perbuatan yang menyimpang dari kebenaran itu dengan bermacam alasan.

Tadi pun ia mengalami sendiri.

Ia teringat akan contoh-contoh yang diberikan Bagus Sajiwo ketika mereka berdua sedang berlatih Aji Sari Bantala yang amat sukar itu.

"Coba ingat, Dewi. Semua orang, tidak terkecuali, sudah tahu benar bahwa perbuatan jahat itu adalah dosa. Adakah pencuri yang tidak tahu bahwa pencuri itu jahat? Adakah penjahat yang tidak tahu bahwa perbuatan jahat itu tidak baik, berdosa dan berlawanan dengan kehendak Gusti Allah agar manusia selalu mangayu hayuning bawono (mengusahakan kesejahteraan dunia)? Akan tetapi pengertian itu dibantah oleh pikirannya sendiri dengan bermacam alasan yang bermaksud meniadakan rasa bersalah itu."

Ucapan Bagus Sajiwo itu dapat ia rasakan kebenarannya karena ia dahulu sudah mengalaminya sendiri.

Dahulu, keika ia masih hidup sebagai hamba nafsu dan menjadi budak iblis, terkadang ia merasakan bahwa perbuatannya itu tidak benar dan jahat, akan tetapi pikirannya sendiri selalu membantah dengan berbagai alasan sehingga perasaan bersalah itu pun cepat menghilang.

"Hanya kekuasaan Gusti Allah yang akan mampu menundukkan gelora nafsu yang digerakkan iblis. Karena itu, hanya dengan penyerahan diri sepenuhnya lahir batin kepada kekuasaan Gusti Allah saja kita akan dapat terhindar dari cengkeraman iblis melalui nafsu daya rendah kita sendiri."

Demikian yang ia dapatkan dalam mempelajari Aji Sari Bantala.

"Duh Gusti Allah, ampunkan hamba...."

Teringat akan semua ini, Maya Dewi berhenti melangkah,dan melihat tempat teduh di bawah pohon, ia lalu berdiri di situ dan sebentar saja ia sudah tenggelam ke dalam keheningan dan kehampaan.

Ia membiarkan dirinya hanyut dalam keheningan itu dan membiarkan dirinya tersentuh kekuasaan Gusti Allah yang menggerakkan dirinya untuk duduk di atas sebuah batu dan ia duduk seperti telah berubah sebagai arca namun merasa betapa seluruh tubuhnya bergetar dan hidup!

Sampai lama getaran itu bekerja secara ajaib dan setelah getaran itu perlahan-lahan tak terasa lagi, ia membuka kedua matanya dan senyum bahagia mengembang di bibirnya yang kini mendapatkan kembali warna aselinya yang merah membasah.

Wajahnya menjadi cerah sekali, sepasang matanya bersinar-sinar.

Ia merasa seolah hidupnya diperbarui dalam waktu yang hanya setengah jam itu!

Hilanglah semua rasa duka, sedih, gembira dan lain perasaan yang mengusik batin.

Adanya hanya ketenangan penuh damai, tenteram, dan itukah yang oleh manusia dinamakan bahagia?

Ia tidak mampu menjawab, hanya mampu merasakan seperti yang biasa ia rasakan setiap kali berlatih diri Aji Sari Bantala.

Sambil tersenyum Maya Dewi melanjutkan perjalanannya tanpa tujuan tertentu, hanya menurutkan saja ke mana kedua kakinya membawanya dan ia merasa seolah ada kekuatan gaib yang membimbingnya!

Dusun Sampangan di Pegunungan Kidul itu menjadi gempar.

Semua penduduk ketakutan sehingga dusun itu tampak sepi.

Kebanyakan penduduknya bahkan tidak berani keluar rumah kalau tidak ada keperluan penting dan mendesak.

Rumah Ki Lurah Ganjar diliputi kedukaan dan terdengar ratap tangis dari dalam rumah Ki Lurah.

Walaupun ratap tangis beberapa wanita itu tidak nyaring karena agaknya ditahan, namun tetap saja terdengar oleh Maya Dewi yang pada sore hari itu tiba di dusun Sampangan.

Karena senja menjelang tiba, ia bermaksud untuk bermalam di dusun itu dan mencari-cari rumah keluarga yang sekiranya dapat dipondoki semalam.

Akan tetapi begitu memasuki dusun itu, ia sudah melihat keanehan.

Dusun itu sunyi dan beberapa orang yang dijumpainya tampak ketakutan dan menghindar, tidak berani bertemu dengannya.

Ketika ia mendengar tangis beberapa orang wanita dari rumah yang paling besar di dusun itu, ia berhenti melangkah, lalu memasuki pekarangan rumah itu.

Mendengar tangis dan rintihan memilukan dan menyedihkan itu, Maya Dewi merasa curiga dan cepat ia menghampiri pintu depan yang tertutup dan mengetuknya beberapa kali.

Suara tangis berhenti dan terdengar bisik-bisik dari dalam, bisikan yang mengandung ketakutan.

"Tok-tok-tok!"

Maya Dewi mengetuk lagi.

"Ki Sanak yang berada di dalam rumah. Jangan takut, aku bukan penjahat. Aku justeru datang untuk menolong kalian? Bukalah pintu dan ceritakan padaku apa yang terjadi."

Setelah mendengar suara wanita, agaknya orang-orang dalam rumah itu tidak begitu takut lagi.

Terdengar langkah kaki ke arah pintu dan daun pintu dibuka dari dalam.

Yang membukanya adalah seorang laki-laki sekitar empat puluh tahun usianya dan di ruangan itu Maya Dewi melihat beberapa orang wanita yang masih ada bekas tangis pada muka mereka.

Laki-laki itu, juga beberapa orang wanita dan laki-laki yang berada di ruangan itu, yang tampak ketakutan, kini memandang heran kepada Maya Dewi.

Agaknya mereka sama sekali tidak mengira bahwa yang mengetuk pintu adalah seorang wanita muda yang demikian cantik jelita.

"Ki Sanak, aku kebetulan lewat di dusun ini dan tadi mendengar suara tangis dari dalam rumah ini. juga rumah-rumah yang lain tertutup daun pintunya, dusun pun sepi dan beberapa orang laki-laki yang keluar pintu seolah ketakutan. Apakah yang terjadi dan kenapa para wanita ini menangis?"

Laki-laki itu tidak menjawab, melainkan melongok keluar pintu, menengok ke kanan kiri dengan wajah takut lalu menutupkan kembali daun pintunya sehingga Maya Dewi kini berada dalam ruangan tertutup yang remang-remang.

"He, mengapa pintu ditutup?"

Tanyanya.

"Kami.... kami takut.... Mas Ayu...."

"Takut? Apa yang kalian takuti?"

Tiba-tiba terdengar suara orang merintih dari dalam sebuah kamar di sebelah kiri ruangan itu.

"Uh-uh-uh ,,,, panas.... panas...."

"Ada yang sakit?"

Tanya Maya Dewi. Laki-laki itu mengangguk.

"Pak Lurah yang sakit. Mas Ayu, sakit parah...."

"Hemm, coba kulihat. Siapa tahu aku akan dapat mengobati dan menyembuhkannya."

Maya Dewi memasuki kamar itu diikuti semua orang.

Ada empat orang laki-laki setengah tua dan tiga orang perempuan.

Kamar itu cukup besar dan di sudut rebah seorang laki-laki berusia sekitar lima puluh tahun.

Tubuhnya tinggi besar dan tampak kuat, akan tetapi dia kini rebah dengan gelisah, mukanya pucat dan matanya terbelalak seperti ketakutan, dan mulutnya mengeluh kesakitan dan kepanasan.

Begitu memasuki kamar, Maya Dewi sudah merasakan ada sesuatu yang tidak wajar dalam kamar itu.

Ada hawa yang menyeramkan dan panas.

Kamar itu pun agak gelap, remang-remang.

"Nyalakan lampu, aku ingin memeriksanya."

Kata Maya Dewi. Tujuh orang itu tampak kaget dan ketakutan. Laki-laki yang membuka pintu tadi menggeleng kepala.

"Tidak.... tidak, kami tidak berani, Mas Ayu."

Maya Dewi mengerutkan alisnya.

"Hemm, apa yang kalian takuti? Nyalakan lampu, aku yang bertanggung jawab kalau terjadi apa-apa. Kalau ada penjahat yang datang mengganggu, aku akan hajar mereka dan kalau ada setan datang, aku akan mengusirnya!"

Melihat orang-orang itu masih ketajutan dan tidak ada yang melakukan permintaannya, Maya Dewi lalu mengambil sendiri lampu di atas meja dalam kamar itu dan menyalakannya sehingga kamar itu menjadi terang.

"Tapi, Mas Ayu...."

Beberapa orang bersuara.

"Diam kalian semua! mengapa begitu penakut? Siapa sih yang akan mengganggu kalian? Biarkan mereka datang, akan kuhajar semua!"

Bentak Maya Dewi yang sudah merasa jengkel melihat sikap semua orang.

Semua orang terdiam dan Maya Dewi menghampiri pembaringan di mana laki-laki tinggi besar itu rebah dengan gelisah.

Begitu duduk di tepi pembaringan dan menyentuh dahi orang itu, Maya Dewi yakin bahwa orang ini bukan terserang penyakit yang wajar!

Penyakit ini datang menyerang melalui perantaraan kuasa iblis!

Penyakit yang didatangkan oleh kekuatan sihir.

"Harap kalian semua keluar dari kamar ini. Aku akan mengobati Ki Lurah."

Kata Maya Dewi.

Semua orang segera keluar dari kamar dan menanti di ruangan dengan harap-harap cemas.

Tentu saja mereka mengharapkan wanita cantik itu benar-benar akan dapat menyembuhkan Ki Lurah, akan tetapi mereka juga merasa takut sekali karena rumah itu kini diterangi lampu, padahal seluruh rumah di dusun itu dalam keadaan gelap dan semua ini untuk mentaati perintah dari Mbah Baureksa (kakek penjaga) Gua Siluman di puncak sebuah di antara perbukitan itu.

Mereka takut kalau-kalau Si Mbah akan marah dan kutukannya akan mencelakai mereka semua.

Setelah semua keluar, Maya Dewi menutupkan daun pintu kamar.

Lalu ia duduk bersila di atas pembaringan, dekat tubuh Ki Lurah yang terlentang gelisah.

Ia lalu mengerahkan Aji Sari Bantala.

Aji ini mengeluarkan getaran kuat yang mampu mengusir semua serangan yang datang dari kuasa kegelapan atau iblis yang dipergunakan orang-orang yang memiliki ilmu hitam.

Tak lama setelah getaran yang amat dahsyat itu menggetarkan segala yang berada di luar tubuh Maya Dewi, terdengar Ki Lurah mengaduh, disusul dengan dimuntahkannya sekepal darah menghitam dari mulutnya.

Akan tetapi begitu dia muntah darah segumpal darah hitam, Ki Lurah lalu membuka matanya.

Napasnya menjadi biasa kembali dan dia segera bangkit duduk ketika melihat ada wanita cantik duduk di pembaringannya.

Melihat ini Maya Dewi lalu turun dari pembaringan dan berkata lembut.

"Jangan kaget dan jangan takut, Ki Lurah. Aku datang untuk membebaskanmu dari gangguan ilmu iblis yang membuatmu sakit tadi."

Lalu Maya Dewi membuka daun pintu dan memanggil masuk semua orang.

Tujuh orang itu segera memasuki kamar dan mereka tercengang, juga heran dan gembira melihat Ki Lurah sudah duduk di tepi pembaringan dengan wajah merah dan pandang mata menunjukkan bahwa dia telah sehat kembali.

Ki Lurah cepat turun dari pembaringan, lalu memberi hormat dengan sembah di depan dada sambil berkata.

"Mas Ayu telah menyelamatkan nyawaku, untuk itu aku Ki Lurah Ganjar mengucapkan banyak terima kasih. Akan tetapi, nuwun sewu (seribu maaf) Mas Ayu, kesembuhanku ini tidak akan menolong seluruh penduduk dusun Sampangan ini, bahkan kami akan terancam bahaya yang lebih hebat lagi."

Maya Dewi tersenyum.

"Kalian semu jangan takut dan khawatir. Semoga Gusti Allah mengirim aku ke sini untuk mengulurkan berkah pertolonganNya kepada kalian. Mari kita bicara di ruangan depan yang lebih luas dan nyalakan lagi beberapa buah lampu agar penerangan menjadi cukup. Jangan takut, aku yang menjamin bahwa tidak akan ada setan yang dapat menggaggu kalian."

Melihat gadis itu mampu menyembuhkan Ki Lurah Ganjar dan mendengar ucapannya yang demikian meyakinkan, timbul keberanian dalam hati orang-orang itu.

Mereka lalu keluar dari kamar dan ternyata Ki Lurah Ganjar sudah dapat berjalan sendiri dengan kuat, dan mereka sibuk, ada yang menyalakan tiga buah lampu besar, dan para wanitanya sibuk mempersiapkan makan malam dan minuman untuk tamu yang mendatangkan harapan bagi mereka itu.

Setelah keadaan di ruangan depan rumah Ki Lurah Ganjar itu menjadi terang benderang dan semua orang mengambil tempat duduk menghadapi Maya Dewi, mereka semua semakin kagum melihat kecantikan Maya Dewi yang luar biasa bagaikan seorang dewi kahyangan itu.

"Nah, sekarang, Ki Lurah, ceritakan kepadaku apa yang telah dan sedang terjadi di sini sehingga semua penduduk dusun ini ketakutan."

"Tapi.... tapi...."

Ki Lurah memandang ke arah pintu yang sudah tertutup, matanya jelas menunjukkan bahwa dia takut sekali.

"Jangan takut, Ki Lurah! Aku tahu bahwa dusun ini tentu diganggu manusia atau makhluk jahat. Baik pengganggu itu manusia atau setan, aku sanggup mengusir mereka dan menyelamatkan kalian semua!"

Sambil berkata demikian, untuk menenangkan hati mereka, Maya Dewi sengaja menuju ke pintu depan dan dibukanya lebar-lebar seolah-olah ia menantang pengganggu itu agar datang!

Semua memandang ke arah lubang pintu dengan mata terbelalak.

"Iblis jahanam mana yang berani mengganggu penduduk dusun ini? Jangan pengecut mengganggu penduduk ang tidak bersalah dan tidak dapat melawan! Kalau memang berani, datanglah dan lawanlah aku! Aku tantang kalian!"

Kini bukan hanya mereka yang berada di rumah Ki Lurah yang mendengar, bahkan para tetangga yang agak dekat juga mendengar seruan wanita itu dan mereka berindap-indap mengintai dari dalam rumah yang gelap.

Mereka melihat wanita cantik itu berdiri di ambang pintu depan kelurahan, disinari penerangan yang cerah dari dalam rumah itu.

Tiba-tiba, seolah menjawab tantangan Maya Dewi dengan suara lantang tadi, dari kejauhan terdengar suara anjing melolong-lolong panjang, suara anjing mbaung (melolong) seperti bagi kepercayaan rakyat merupakan tanda bahwa di sana ada makhluk halusnya, sebangsa hantu.

Maka mendengar suara ini semua orang merasa bulu tengkuk mereka berdiri dan ada rasa dingin merayap di tengkuk mereka.

Mereka menggigil ketakutan.

Tiba-tiba terdengar suara melengking, bercicit-cicit dan tampaklah benda-benda hitam melayang dari luar ke arah pintu.

setibanya di depan rumah Ki Lurah, benda itu berterbangan, berputaran di depan pintu rumah di mana Maya Dewi masih berdiri tegak.

Ada tiga benda hitam yang berterbangan, atau lebih tepat makhluk karena mengeluarkan suara bercicitan nyaring.

"Kalong (kelelawar)....!"

Ki Lurah Banjar berkata dan semua orang menggigil.

Selama ini, hampir setiap senja menjelang malam, setelah cuaca mulai gelap seperti sekarang ini, selalu berterbangan kelelawar yang besar sekali berterbangan di antara rumah-rumah penduduk sambil bercicitan menyeramkan.

semua penduduk percaya bahwa makhluk itu adalah jadi-jadian.

Tiba-tiba tiga ekor kelelawar raksasa itu mengeluarkan suara melengking dan mereka terbang meluncur ke arah Maya Dewi, agaknya menyerang dan hendak menggigit wanita itu!

Semua orang terbelalak ngeri.

Mereka membayangkan bahwa wanita cantik jelita itu pasti akan roboh dan mati dengan darah habis dihisap kelelawar-kelelawar itu seperti yang dialami Ki Sosro, jagabaya di dusun itu, seorang jagoan kuat yang berani mengeluarkan sikap menantang hantu yang mengganggu dusun Sampangan.

Ki Sosro pada suatu malam terdapat menggeletak tanpa nyawa, mayatnya kering karena darahnya habis dan pada malam itu mereka mendengar sura melengking seperti itu.

Dan kini, makhluk jadi-jadian itu meluncur dan menyerang gadis cantik jelita itu!

Akan tetapi dengan sikap tenang Maya Dewi menggerakkan kedua tangannya tiga kali sambil membentak.

"Makhluk busuk, minggatlah!"

Terdengar suara berdebuk tiga kali disusul jerit melengking dari tiga ekor kelelawar itu, jeritan yang tidak mirip jeritan suara wanita kesakitan!

Kemudian terdengar kelepak sayap tiga ekor makhluk itu yang terbang melayang dan lenyap ditelan kegelapan malam yang mulai datang menyelimuti dusun itu.

Semua orang yang tadinya merasa ngeri, kini bernapas lega dan mereka mulai percaya kepada Maya Dewi.

Setelah melihat betapa tiga ekor kelelawar itu terbang pergi, Maya Dewi masuk kembali ke ruangan depan.

ketika seorang laki-laki hendak menutupkan kembali daun pintu depan, Maya Dewi mencegahnya.

"Biarkan pintu itu terbuka. Aku masih menanti serangan selanjutnya."

Semua orang kini duduk menghadapi Maya Dewi dan memandang kagum dengan sinar mata penuh harapan.

"Nah, Ki Lurah, sekarang ceritakanlah segalanya. Jangan takut, kalau ada setan berani datang mengganggu, aku akan menghadapinya!"

Kini Ki Lurah Ganjar percaya sepenuhnya dan dia mulai menceritakan keadaan dusun itu.

"Sejak dahulu, dusun Sampangan kami ini merupakan dusun yang cukup sejahtera. Tanahnya subur dan hasil sawah ladang cukup menghidupi penduduk. Di bukit gamping terdekat terdapat sebuah gua yang sejak dahulu dikenal sebagai Gua Siluman. Akan tetapi kami tidak pernah mengalami gangguan dan kami juga tidak pernah mengganggu gua itu. Akan tetapi kurang lebih sebulan yang lalu...."

"Teruskanlah, jangan takut."

Kata Maya Dewi.

Ki Lurah Ganjar melanjutkan ceritanya, kini dengan suara lirih dan matanya selalu memandang ke arah pintu yang terbuka.

Sebulan yang lalu, seorang anak penggembala kerbau yang membiarkan kerbaunya mendaki bukit, tanpa disadarinya telah tiba didepan Gua Siluman.

Anak berusia dua belas tahun itu melihat seorang laki-laki bertubuh tinggi besar, berpakaian serba hitam, duduk bersila di dalam gua.

Laki-laki iu meghadap ke dalam gua sehingga dia tidak dapat melihat mukanya.

Akan tetapi melihat laki-laki bersila itu, anak penggembala teringat akan larangan para orang tua agar jangan mendaki bukit itu, apalagi sampai di depan gua, karena gua itu berhantu.

Dia mengagnggap bahwa yang duduk bersila itu pasti hantu penjaga gua, maka anak ini lalu berlari turun dan menghalau empat ekor kerbaunya untuk meninggalkan tempat itu.

Tiga ekor kerbaunya menurut, akan tetapi seekor lagi secara aneh berlari menuju gua!

Anak itu terkejut dan berseru untuk memerintahkan kerbaunya pergi, akan tetapi setibanya di depan gua, kerbaunya itu terguling roboh dan tidak dapat bangkit kembali!

Anak itu menjadi ketakutan, melarikan diri bersama ketiga ekor kerbaunya pulang ke dusun Sampangan dan sambil menangis ketakutan menceritakan apa yang terjadi dengan seekor kerbaunya itu.

Tentu saja penduduk dusun itu menjadi gempar.

Mereka menduga bahwa kerbau itu pasti menjadi "korban"

Dan diambil oleh "Mbah Baureksa"

Penjaga Gua Siluman.

Dan yang bersila di sana, berpakaian serba hitam.

pasti Sang Mbah itu!

Keadaan dusun itu menjadi semakin geger ketika seminggu kemudian, seorang gadis cantik di dusun itu, pada suatu senja, setelah mereka semua melihat tiga ekor kelelawar raksasa berterbangan di dusun sambil bercicitan, gadis itu berlari menuju bukit!

Beberapa orang, bersama ayah gadis itu, mengejarnya.

Akan tetapi aneh, mereka tidak dapat menyusul gadis itu yang tiba-tiba dapat berlari cepat sekali.

Juga ketika dipanggil-panggil gadis itu seolah tidak mendengarkan dan berlari terus.

Ketika tiba di Gua Siluman, gadis itu disambut orang tinggi besar dan mereka berdua lenyap ke dalam gua yang sudah gelap sekali.

Orang-orang itu tidak berani mendekati gua, dan ayah si gadis itu hanya memanggil-manggil nama anaknya, akan tetapi gadis itu tidak keluar dan ketika ada tiga ekor kelelawar besar meluncur keluar dari dalam gua dan berterbangan menyambar-nyambar kepala penduduk yang mengejar gadis itu, mereka ketakutan dan melarikan diri turun bukit kembali ke dusun.

"Demikianlah, Mas Ayu. Tiga hari kemudian, gadis itu kembali ke dusun dalam keadaan gila, tertawa dan menangis, tidak menjawab semua pertanyaan, bahkan mengamuk sehingga terpaksa oleh orang tuanya ia dipasung agar tidak dapat mengamuk. Dan setelah itu, sudah ada dua orang gadis lagi yang mengalami nasib seperti itu. Ketika Ki Sosro, seorang yang bertubuh kuat dan dianggap jagoan dusun ini menjadi marah dan berani menantang-nantang iblis yang mengganggu penduduk, pada suatu malam rumahnya didatangi kelelawar dan pada keesokan harinya kami mendapatkan dia sudah mati dengan tubuh kering karena darahnya dihisap habis melalui luka-luka di lehernya. Semenjak itu, kami selalu menjadi ketakutan. Sudah tiga orang gadis dusun kini dipasung karena menjadi gila setelah tiga malam lenyap ke dalam gua itu, dan sampai sekarang sudah beberapa ekor kerbau dan kambing juga menghilang ke gua itu. Maya Dewi mengerutkan alisnya. Ia dapat menduga bahwa pelakunya tentu seorang sesat ahli sihir yang mempergunakan ilmu hitam bantuan iblis untuk menuruti dan memuaskan nafsu-nafsunya dengan perbuatan keji dan jahat.

"Hemm, lalu mengapa Ki Lurah mendapat serangan sehingga sakit parah?"

Lurah Ganjar menghela napas dan isterinya yang berada di dekatnya sudah mulai menangis perlahan. Mereka saling berpegangan tangan, seolah saling memberi dan minta kekuatan.

"Aduh, ketiwasan (celaka), Mas Ayu! Kemarin, giliran anak tunggal kami sebagai anak yang ke empat, berlari ke gua siluman itu. Ketika saya hendak mengumpulkan semua penduduk laki-laki di dusun ini untuk nekat menyerang ke sana dan menolong anak kami, tiba-tiba saja saya diserang penyakit itu. Rasanya sekujur badan panas dan lemas, juga dada rasanya seperti ditusuk-tusuk. Kami semua dapat menduga bahwa ini tentu perbuatan Si Embah, maka kami menjadi semakin ketakutan. kami sama sekali tidak berdaya, Mas Ayu. Sekarang Andika muncul dan harapan kami timbul kembali. Andika yang akan menjadi dewi penolong kami!"

"Mas Ayu, tolonglah anakku.... tolonglah...."

Nyi Lurah meratap dengan air mata bercucuran.

Tiba-tiba terdengar anjing mengonggong dan menyalak, tak jauh didepan pintu.

Semua orang memandang.

Di luar rumah tidak begitu gelap lagi.

Bulan sepotong telah muncul dari balik awan mendung yang tadi menutupinya.

Akan tetapi cuaca yang remang-remang itu bahkan mendatangkan suasana yang semakin menyeramkan.

Lamat-lamat mereka melihat dua ekor anjing menggonggong dan menyalak-nyalak kepada sesuatu yang tidak tampak.

Tiba-tiba dua ekor anjing itu menguik dan roboh, tak berkutik lagi, mati seolah tanpa sebab bagi mereka yang melihatnya.

"Jahanam....!"

Maya Dewi memaki marah.

Akan tetapi pada saat itu, Nyi Lurah menjerit.

Semua orang terkejut dan dengan mata terbelalak dan muka pucat mereka memandang Ki Lurah Ganjar yang tiba-tiba bangkit dari kursinya dan melangkah ke arah pintu.

Langkah dan sikapnya seperti mayat berjalan, kaku dan matanya terpejam!

Seperti orang tidur berjalan!

"Pakne....!

Pakne....!"

Nyi Lurah memanggil-manggil.

Akan tetapi Ki Lurah berjalan terus sampai tiba di ambang pintu.

Tiba-tiba terdengar suara Maya Dewi, lembut namun memiliki wibawa kuat sekali dan suara tiupan mengandung getaran yang terasa oleh semua orang yang berada di ruangan itu.

"Ki Lurah Ganjar! Berhenti melangkah dan sadarlah!"

Mendadak lurah itu berhenti melangkah dan memandang kanan kiri dengan heran seperti orang baru bangun tidur.

"Eh-eh, kenapa ini....?"

Tanyanya heran. Isterinya sudah menghampirinya dan menarik tangannya sehingga lurah itu kembali ke dalam ruangan.

"Ki Lurah, duduklah bersila di sini!"

Tiba-tiba Maya Dewi memerintahkan.

"Yang lain-lain harap mundur dan apa pun yang terjadi jangan sekali-kali bicara atau bertindak. Biarkan aku yang menghadapinya. Kalian semua tenang saja!"

Setelah Ki Lurah Ganjar duduk bersila di atas lantai, Maya Dewi juga duduk bersila di sebelah kirinya.

Suasana menjadi sunyi dan semua orang seolah menahan napas dengan hati tegang karena mereka menduga bahwa tentu akan terjadi hal-hal yang aneh dan menyeramkan.

Mendadak ada benda bersinar meluncur memasuki ruangan itu melalui pintu yang terbuka dan benda itu meluncur ke arah kepala Ki Lurah Ganjar.

Akan tetapi Maya Dewi mendorongkan tangan kirinya ke arah benda hitam bersinar itu.

"Yaaaahhhh!"

Angin dahsyat menyambar keluar dari telapak tangan Maya Dewi, menyambut benda hitam sebesar kepalan tangan itu.

"Wuuuttt.... pyaaarrr....!"

Benda itu pecah dan runtuhlah beberapa buah benda kecil yang ternyata adalah besi-besi runcing yang berkarat!

Kalau saja dulu Maya Dewi menghadapi serangan ilmu hitam seperti itu, pasti ia akan mengirimkan benda-benda itu kepada penyerangnya dan akan menewaskan penyerangnya sendiri.

Akan tetapi sekarang ia tidak mau melakukan hal itu.

Ia teringat akan semua ucapan Bagus Sajiwo kepadanya, ketika pemuda itu memberi penjelasan tentang sikap dan prilaku yang salah dan benar.

Setelah itu hening.

Tidak terdengar suara apa-apa lagi dan semua orang menghela napas lega, juga mereka merasa girang sekali karena agaknya gadis cantik jelita itu benar-benar sakti dan dapat melumpuhkan serangan ilmu hitam yang mereka biasa anggap santet atau tenung itu.

Seorang lai-laki, keponakan Ki Lurah, kini bergerak hendak memungut besi-besi runcing seperti paku itu untuk memeriksanya.

"Jangan sentuh!"

Maya Dewi berseru dan orang itu menarik kembali tangannya dan menjauhkan diri dari benda-benda itu. Maya Dewi bangkit dan mengambil benda-benda itu yang jumlahnya ada tiga buah, lalu berkata.

"Aku harus membuang benda-benda beracun ini jauh-jauh karena dapat membahayakan kalau tersentuh."

Ia membawa tiga batang benda runcing berkarat itu keluar rumah diikuti semua orang dan ia mengerahkan tenaga lalu melemparkan tiga batang paku berkarat itu yang melesat jauh mengeluarkan suara bersiutan.

Setelah mereka semua kembali ke dalam ruangan, orang-orang yang kini mulai percaya akan kemampuan Maya Dewi, mulai berani bercakap-cakap dengan wajah tidak sepucat tadi, ketakutan mereka banyak berkurang.

"Mas Ayu, Andika telah menyelamatkan nyawa saya, dan kami mohon andika juga sudi membebaskan puteri kami dari ancaman bahaya berupa gangguan itu. Kami mohon Andika suka memberitahu, siapakah Andika dan dari mana Andika datang?"

Tanya Ki Lurah dan semua anggauta keluarganya yang berada di situ merasa seolah diwakili suara hati mereka dan semua orang mendengarkan dengan penuh perhatian.

"Aku adalah seoang wanita perantau biasa saja, Ki Lurah, dan namaku tidak begitu penting kalian ketahui."

Jawaban ini bukan timbul dari keangkuhan hati Maya Dewi, melainkan kini ia tidak membanggakan apalagi menyombongkan perbuatannya yang ia anggap sebagai kewajibannya.

Juga ia tidak ingin dikenal dan dikenang sebagai seorang yang melepas budi.

"Ah, Mas Ayu, andika bukan manusia biasa bagi kami. andika bagaikan seorang dewi dari kahyangan. Mungkin Andika memang seorang dewi kahyangan yang sengaja turun ke bumi untuk menolong kami."

Semua orang mengangguk mendengar ucapan Ki Lurah itu. Maya Dewi tersenyum dan semua orang terpesona akan kecantikan wajah itu.

"Kalau begitu panggil saja aku Dewi."

"Sang Dewi, saya pernah mendengar tentang perbuaan jahat yang dikenal sebagai santet atau tenung. Apakah yang menyerang saya tadi santet atau tenung itu?"

"Yah, semacam itulah. Orang jahat telah menggunakan ilmu sihir dan kesaktiannya untuk berbuat jahat kepada Ki Lurah."

"Saya mendengar bahwa serangan santet seperti itu dapat dikembalikan untuk menyerang pemiliknya. Mengapa Andika tadi tidak melakukan itu, melainkan membuang senjata santet itu?"

"Ki Lurah, kalau orang membenci kita lalu kita balas membencinya, lalu apa bedanya kita dengan orang itu? Kalau ada yang menyerang kita dengan ilmu hitam keji, lalu kita mengembalikan dengan serangan yang sama kejinya, apa bedanya antara kita dengan dia? Tidak, Ki Lurah, aku tidak sudi menjadi seorang jahat seperti penyerang itu."

Kata Maya Dewi menirukan ucapan Bagus Sajiwo dahulu. Kini Nyi Lurah sambil menyembah kepada Maya Dewi berkata.

"Ah, Sang Dewi yang mulia, sudilah kiranya Paduka menolong anak saya yang berada di gua itu."

"Jangan kuatir, Bibi. Aku pasti akan menolongnya. Akan tetapi hal itu baru akan kulaksanakan besok pagi. Kalau malam ini, berbahaya sekali, karena orang atau iblis yang melakukannya itu kalau dilakukan malam ini bisa gagal dan akibatnya selain tidak berhasil menyelamatkan puterimu, malah dusun ini pun terancam. Kita harus bersabar sampai besok pagi."

Maya Dewi menyuruh mereka tidur di kamar mereka sedangkan ia sendiri duduk diruangan depan, bersila di atas sebuah bangku dan membiarkan pintu depan tetap terbuka.

Karena sudah terbiasa, maka tanpa merebahkan diri untuk tidur, dalam keadaan bersila itu pun sesungguhnya Maya Dewi sudah mengaso seperti orang tidur, walaupun begitu seluruh urat syarafnya siap siaga sehingga andaikata ada gerakan atau suara yang tidak wajar sedikit saja sudah cukup membuat Maya Dewi sadar sepenuhnya.

Akan tetapi malam itu tidak terjadi sesuatu.

Pagi-pagi sekali sewaktu terdengar ayam jantan berkokok, sebelum fajar menyingsing Maya Dewi sudah mandi dan berganti pakaian.

Fihak tuan rumah juga sudah sibuk menghidangkan sarapan pagi berupa jagung dan singkong rebus dengan minuman air teh.

Setelah sinar matahari mulai mengusir kabut yang menyelimuti dusun Sampangan, Maya Dewi keluar dari rumah besar Ki Lurah Ganjar, diikuti seisi rumah.

ternyata pagi-pagi benar tadi, berita tentang kehadiran Maya Dewi sudah didengar oleh penduduk dusun Sampangan dan dianggap sebagai seorang dewi penolong dari Kahyangan dengan sebutan Sang Dewi, yang hendak menolong puteri Ki Lurah Ganjar dan menentang Si Mbah dari Gua Siluman.

Maka kini, berbondong-bondong semua orang, laki perempuan tua muda, sepagi itu sudah berkumpul di pekarangan kelurahan yang luas.

Ketika Maya Dewi keluar dari pintu depan rumah itu, cantik jelita dan segar berseri, dengan senyumnya yang manis, semua orang memandangnya penuh kagum dan merasa seolah mereka melihat seorang dewi kahyangan yang sesungguhnya.

Belum pernah mereka melihat seorang wanita yang sedemikian cantik jelitanya.

Orang-orang yang berdiri paling depan tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut dan yang belakang otomatis juga meniru dan berlutut.

Mereka semua menyembah dengan penuh penghormatan kepada Maya Dewi!

Melihat ini, Maya Dewi terkejut dan mengerutkan alisnya, lalu ia mengangkat kedua tangannya ke atas.

"Aeh, para paman dan bibi, saudara-saudara sekalian. Aku minta kalian bangkit dan jangan memeberi penghormatan seperti itu kepadaku! Aku ini manusia biasa seperti kalian. Aku malah merasa canggung dan malu kalau dihormati secara berlebihan seperti ini. Bangkitlah kalian semua dan dengar baik-baik pesanku!"

Biarpun ia bicara dengan suara lembut, namun suaranya mengandung getaran yang penuh wibawa sehingga semua orang segera bangkit dan berdiri memandangnya penuh perhatian.

"Kalian semua, tak terkecuali, tinggallah di pekarangan ini, jangan ada yang pergi dari sini sebelum aku datang kembali. Aku akan pergi ke gua di bukit itu dan akan kuhajar Si Jahat yang mengganggu dusun ini sehingga puteri Ki Lurah dapat tertolong dan selanjutnya dusun ini dapat terbebas dari gangguan. Kalian semua dapat membantuku dengan doa kepada Sang Hyang Widhi Wasa atau Gusti Allah, semoga aku berhasil menundukkan dan mengusir kuasa jahat yang berada di sana dan mengganggu kalian."

"Kami akan mentaati perintah andika, Sang Dewi!"

Kata Ki Lurah Ganjar dengan suara lantang dan seperti sekumpulan burung para penduduk itu menirukan ucapan lurah mereka.

Setelah melihat bahwa semua penduduk berkumpul di pekarangan yang luas itu, Maya Dewi meninggalkan dusun itu.

Ia merasa yakin bahwa berkumpulnya semua orang yang begitu banyak akan lebih dari kuat untuk menangkal segala macam serangan yang mengandung ilmu hitam.

Apalagi kalau orang sebanyak itu dalam keadaan tepekur dan dalam hati mereka memanjatkan dia kepada Gusti Allah.

Tidak ada kekuatan setan yang bagaimana besar pun untuk menembus wibawa banyak orang yang bersatu.

Malam tadi ia sudah diberi keterangan cukup jelas tentang letak gua yang disebut Gua Siluman yang berada di bukit kapur tak jauh dari dusun Sampangan, di sebelah selatan.

Ia segera menggunakan ilmu kesaktiannya dan berlari cepat seperti terbang mendaki bukit.

Pagi itu sebetulnya indah sekali.

Matahari muda tersenyum di timur dan memeberi kehangatan, mengusir sisa kabut yang enggan meninggalkan bumi, menggugah dan memberi kehidupan baru kepada semua yang terdapat di permukaan bumi.

Pohon-pohon tampak penuh gairah hidup menjulurkan ranting-rantingnya, membuka daun-daunnya untuk menangkap sinar matahari, bagaikan burung merak merentang dan menggelar bulu-bulu sayap dan ekornya.

Bukit itupun mulai hidup, burung-burung berterbangan meninggalkan sarang.

Akan tetapi tidak seperti bukit-bukit lain, bukit itu sepi dari kegiatan manusia.

Itulah bukit yang tidak boleh didaki orang, dikenal sebagai tempat angker yang "

Jalmo moro jalmo mati " (manusia yang datang akan mati).

Karena sudah mendapat keterangan jelas di mana adanya gua yang disebut Gua Siluman itu, juga karena dari arah itu ia merasakan adanya getaran aneh, Maya Dewi dengan mudah menemukan gua itu dan tak lama kemudian ia sudah berdiri di depan gua, dalam jarak sepuluh meter.

Ia mengamati gua itu dengan saksama.

Gua itu bermulut lebar, sekitar lima meter dan tingginya tiga meter, bentuknya seperti mulut raksasa sedang menyeringai.

batu-batu karang meruncing yang bergantungan dari langit-langit gua itu bagaikan deretan gigi taring yang mengerikan.

Berapa dalamnya gua itu tidak tampak dari tempat Maya Dewi berdiri, karena gua itu menghadap ke selatan sehingga sinar matahari yang masih rendah itu belum dapat masuk dan menerangi bagian dalam gua.

Di atas gua ditumbuhi semak belukar dan di kanan kirinya terdapat pohon-pohon beringin sehingga tempat itu tampak angker menyeramkan dan agaknya pantas dijadikan tempat tinggal sebangsa hantu!

Ketika Maya Dewi berdiri sambil mengamati gua itu dan sekitarnya, tiba-tiba terdengar suara gerengan seperti suara binatang buas.

Suara itu menggetarkan tanah di mana Maya Dewi berdiri dan pohon-pohon di dekat tempat itu bergoyang-goyang seperti tertiup angin kencang.

Kemudian suara menggereng itu terhenti, dan terdengar suara dari dalam gua, suaranya besar dalam dan parau, terdengar bergema penuh wibawa.

"Heeeiii, perempuan muda! Andika berani datang menghadap kami, baureksa (penjaga) Gua Siluman! Berlutut dan sungkem lah (menyembahlah) kepada kami dan katakan apa yang menjadi permintaanmu!!"

Maya Dewi tersenyum.

Dengan kekuatan Aji Sari Bantala, tidak ada kekuatan sihir atau ilmu hitam apapun juga yang dapat mempengaruhinya.

Akan tetapi ia merasakan betapa kuatnya wibawa yang terkandung dalam suara itu.

Ia mengerahkan tenaga saktinya, lembut namun bagaikan sinar menembus kegelapan, suaranya mendengung ke arah gua.

"Wahai, Ki Sanak! Tidak ada gunanya lagi Andika berpura-pura menjadi hantu menakut-nakuti rakyat! Dosamu sudah terlalu besar dan aku datang untuk menghentikan kesesatanmu. Hayo bebaskan puteri Ki Lurah Ganjar!"

Hening sejenak, kemudian terdengar suara bercicitan dan dari dalam gua terbang keluar tiga ekor kelelawar besar.

Kini tampak jelas tiga ekor binatang itu.

besar sekali, sebesar burung gagak dengan sayap terpentang lebar.

Warnanya hitam legam dan mukanya yang mirip tikus itu menyeramkan.

Matanya merah, moncongnya yang terbuka ketika bercicitan itu pun tampak merah dan taringnya berkilau tajam meruncing.

Maya Dewi merasa heran juga.

Biasanya, kelelawar tidak berani keluar di waktu matahari menerangi bumi dan hanya berkeliaran di malam gelap.

Agaknya tiga ekor kelelawar ini merupakan jenis lain yang sudah terlatih atau dikendalikan kekuatan gaib.

Ia teringat akan cerita Ki Lurah bahwa seorang jagoan mati dengan darah habis dihisap oleh tiga ekor kelelawar ini.

Sungguh merupakan makhluk berbahaya bagi keselamatan manusia.

Kalau manusia jahat masih mungkin dapat disadarkan karena manusia mempunyai akal budi.

Akan tetapi binatang?

Sebaiknya dimusnahkan sebelum mendatangkan malapetaka bagi manusia lain.

Tiga ekor kelelawar yang tadinya terbang mengitarinya itu, kini meluncur dengan kelepak sayap nyaring, menyerang ke arah leher Maya Dewi.

Semalam Maya Dewi juga pernah diserang tiga ekor (Lanjut ke

Jilid 02) Kemelut Blambangan (Seri ke 05 -Serial Pecut Sakti Bajrakirana) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 02 kelelawar ini, akan tetapi ia hanya menghalaunya dengan tangkisan tanpa berniat membunuh sehingga tiga ekor binatang itu kesakitan dan terbang pergi.

Akan tetapi kini ia tidak membatasi lagi tenaganya ketika berturut-turut tiga kali ia menampar.

"Prak! Prak! Prak!"

Tubuh tiga ekor kelelawar itu terlempar ke dalam gua dan berjatuhan, tidak mampu bergerak lagi karena kepala mereka remuk terkena tamparan jari-jari tangan mungil Maya Dewi yang terisi tenaga sakti yang dahsyat!

Dari dalam gua kembali terdengar gerengan penuh kemarahan.

Maya Dewi tetap waspada, bahkan ia melangkah lebih dekat dengan siap menghadapi segala serangan.

Tiba-tiba gerengan itu berubah menjadi suara bentakan nyaring.

"Bocah sombong, bersiaplah engkau untuk mampus!"

Terdengar suara ledakan nyaring.

Asap mengepul tebal dan dari asap itu keluar sebuah benda yang bergulingan menuju ke arah Maya Dewi.

Wanita ini memandang dan ia melihat bahwa benda itu sebuah kepala raksasa yang menyeramkan.

Rambutnya gimbal, matanya mencorong dan mulutnya yang lebar dan bertaring itu mengeluarkan nyala api.

Kepala itu besar dan mata yang mencorong itu memandang ke arah Maya Dewi dengan melotot penuh kemarahan!

Maya Dewi yang tidak asing dengan segala macam ajian yang mengandung ilmu hitam, maklum bahwa ia berhadapan dengan makhluk jadi-jadian yang disebut "Banaspati"

Wanita itu tenang saja, memandang ke arah kepala Banaspati yang bergulingan di atas tanah sampai makhluk itu berada di depan kakinya, dalam jarak dua meter.

Diam-diam ia mempersiapkan diri dengan pengerahan tenaga saktinya.

Tiba-tiba Banaspati itu mulai menyerang.

Dia membuka mulutnya dan bergumpal-gumpal nyala api berkobar seperti bola api menyambar dari bawah ke arah tubuh Maya Dewi!

Wanita itu tetap tenang dan setelah bola-bola api itu dekat, ia menggerakkan kaki tangannya.

Tangannya menampar dan kakinya menendang.

Bola-bola api itu terlempar ke sana-sini dan meledak padam!

Banaspati itu menjadi marah dan sambil mengeluarkan api berkobar dari mulutnya, tiba-tiba saja kepala raksasa itu melayang ke arah Maya dewi dengan mulut terbuka lebar!

Maya Dewi mendorongkan tangan kanannya ke arah benda bernyala itu sambil membentak.

"Pergilah!"

"Blaaarrrr....!"

Kepala raksasa itu meledak dihantam tenaga sakti yang amat dahsyat dari tangan Maya Dewi, asap hitam mengepul tebal dan Banaspati itupun lenyap!

Ilmu hitam Banaspati itu telah dihancurkan!

Kembali terdengar gerengan dahsyat tadi dan tiba-tiba terdengar suara gemerosok dan dari dalam gua itu keluar angin yang kencang sekali, seperti topan mengamuk!

Maya Dewi berdiri tegak dengan kedua lengan dilipat di depan dada, mengerahkan Aji Sari Bantala.

Angin itu lewat saja, hanya membuat pakaian dan rambutnya berkibar namun sedikit pun tidak membuat tubuhnya bergerak!

Agaknya penyerang yang menggunakan angin ini maklum bahwa serangannya ini pun tidak ada gunanya dan tidak mempengaruhi wanita cantik yang berdiri di depan gua, maka angin yang tidak wajar itu pun berhenti.

"Dartoko, keluarlah dan hadapi bocah perempuan pengacau itu.!"

Terdengar suara parau itu memerintah.

Maya Dewi melihat seorang laki-laki keluar dari dalam gua yang gelap.

Ia merasa heran karena yang keluar itu bukan seorang yang menyeramkan seperti disangkanya, melainkan seorang pemuda berusia sekitar dua puluh lima tahu.

Pemuda itu berpakaian cukup indah dan rapi.

Tubuhnya jangkung dan tegap, langkahnya halus.

Wajah pemuda itu tampan dan gagah.

Matanya tajam, hidungnya besar mancung, dan mulutnya selalu mengembangkan senyum seperti mengejek.

Pemuda seperti ini pasti akan mudah mengguncang hati wanita sehingga jatuh cinta kepadanya.

Pemuda itu melangkah perlahan menghampiri Maya Dewi dan berhenti melangkah, berdiri di depan Maya Dewi dalam jarak dua meter.

Hidung Maya Dewi mencium bau harum cendana keluar dari tubuh pemuda itu.

Pemuda itu memperlebar senyumnya dan memainkan matanya sehingga wajah dan gayanya penuh daya pikat yang amat kuat.

Segera Maya Dewi merasakan sesuatu yang tidak wajar dan tahulah ia bahwa pemuda itu telah mengerahkan aji pamelet (pemikat) yang ditujukan kepadanya.

Ia tersenyum, karena tentu saja ia sama sekali tidak asing dengan segala aji pamelet seperti itu!

Pemuda itu agaknya salah duga dan mengira aji pameletnya mengenai sasaran.

Dia mengira bahwa Maya Dewi mulai tertarik kepadanya, maka dia menambah gayanya, menggerak-gerakkan alisnya yang hitam tebal dan menggerakkan kedua lengannya, dikembangkan seperti hendak merangkul dan membelai.

Lalu dia bicara, suaranya lembut serak-serak basah, suara pria yang menurut keyakinannya disukai semua wanita.

"Aduhai, Nimas Ayu! Andika cantik jelita bagaikan dewi kahyangan. Selama hidupku, baru sekali ini aku bertemu dengan seorang wanita semuda, secantik dan sesakti Andika! Hatiku kagum bukan main, Yayi (Adinda), Andika membuat aku tergila-gila seperti aku melihatmu. Sudikah Adinda berkenalan dengan aku, wong ayu? Aku bernama Dartoko dan bolehkah aku mengetahui siapa namamu yang indah dan mulia?"

Suara itu merayu-rayu dan Maya Dewi dapat merasakan kekuatan pemikat yang terkandung dalam kata-kata itu.

akan tetapi baginya, aji pamelet yang dipergunakan pemuda bernama Dartoko itu bagaikan permainan kanak-kanak saja.

Ia pun tersenyum.

"Namaku adalah Maya Dewi...."

Sepasang mata pemuda itu terbelalak dan senyumnya melebar, seolah mendengar kejutan yang menyenangkan.

"Eee ladhalah! Kiranya Andika ini Maya Dewi yang tersohor itu? Ah, sudah lama aku mengagumi namamu yang terkenal sebagai seorang wanita secantik bidadari yang sakti mandraguna! Sungguh berbahagia dapat bertemu dan berkenalan dengan tokoh besar yang sealiran!"

"Hmm, dengar baik-baik, Dartoko! Aku bukanlah orang sealiran denganmu. Engkau orang yang jahat dan kejam, menipu penduduk dusun Sampangan dan menculik gadis-gadis dusun. Sekarang aku datang untuk mengakhiri kejahatanmu. Hayo cepat bebaskan puteri Ki Lurah Ganjar dari Sampangan itu!"

"Tentu, tentu akan kami bebaskan dengan segera, Nimas Maya Dewi! Yang membutuhkan gadis itu adalah guruku, Kyai Kasmalapati. Akan tetapi kalau sudah ada Andika yang menemani kami, tentu saja kami tidak membutuhkan lagi wanita yang manapun juga. Mari, marilah, Nimas Ayu, mari masuk ke gua menemui guruku."

"Tidak perlu banyak cakap lagi, Dartoko. bujuk rayu gombalmu tidak akan dapat mempengaruhi aku. Cepat bebaskan gadis itu dan engkau bersama gurumu harus minggat, meninggalkan tempat ini dan jangan sekali-kali berani mengganggu penduduk dusun yang tidak bersalah. Kalau tidak cepat kalian penuhi permintaanku, terpaksa aku akan memberi hajaran keras kepada kalian!"

Wajah Dartoko berubah kemerahan. Dia sejak tadi bersusah payah mengerahkan aji pamelet untuk menjatuhkan hati wanita cantik ini, akan tetapi ternyata dia malah kini diejek! "Maya Dewi!"

Dia membentak marah.

"Jangan berpura-pura alim! Aku sudah mendengar tentang dirimu. Engkau juga disebut Iblis Betina, tidak berpantang melakukan apapun juga dan sudah terkenal pula sebagai seorang perempuan yang gila laki-laki. Kalau sekarang kami menculik gadis, mengapa engkau mencampuri dan ribut-ribut? bukankah engkau sendiri terkenal sebagai penculik pemuda-pemuda?"

Wajah maya Dewi menjadi merah pula, bukan karena marah, melainkan karena malu dan menyesal.

Ucapan itu seolah menyeretnya kepada kenangan masa lalu yang hitam.

Dengan sinar mata mencorong ia menatap tajam Dartoko, lalu ia berkata dengan suara yang dingin.

"Dartoko, aku tidak menyangkal bahwa dahulu aku pernah hidup sesat. Akan tetapi aku telah menyadari bahwa hidup seperti itu hanya akan menyeretku ke dalam lembah kesengsaraan. Karena itu, aku telah bertaubat dan sekarang aku bertekad untuk menentang semua kejahatan, tidak perduli siapa pun yang melakukannya. Karena itu, kunasihatkan agar engkau dan gurumu insyaf dan kembali ke jalan benar. Bebaskan puteri ki Lurah itu dan tinggalkan tempat ini, jangan ganggu lagi penduduk dusun!"

Maklum bahwa menggunakan sihir tidak ada gunanya terhadap Maya Dewi, Dartoko menjadi marah.

"Keparat, engkau tidak mau diajak berbaik, mau mencari kematian sendiri. Sambutlah ini."

Dia mencabut sebatang keris dan langsung menerjang wanita itu dengan dahsyatnya.

Namun dengan mudah Maya Dewi mengelak.

Ketika Dartoko melihat betapa serangannya dapat dielakkan, dia menjadi penasaran dan menyerang lagi dengan bertubi-tubi.

Namun, setelah belasan kali menyerang tanpa hasil, Dartoko menjadi bingung sendiri dan pandang matanya berkunang melihat tubuh wanita itu kini telah berubah menjadi bayangan yang berkelebat cepat sekali, tidak mampu dia megikuti gerakan itu dengan pandang matanya.

Serangannya lalu menjadi ngawur, namun pemuda ini memang memiliki gerakan yang gesit dan serangannya mengandung tenaga sakti yang amat kuat sehingga Maya Dewi harus berhati-hati juga.

Serangan keris itu amat berbahaya dan kalau mengenai sasaran, agaknya tidak akan dapat ia melindungi tubuhnya dengan aji kekebalan.

Besar bahayanya, aji kekebalan tidak cukup kuat untuk menahan serangan itu.

Untuk merubuhkan Dartoko tanpa melukainya merupakan hal yang tidak mudah.

Kalau ia menggunakan tenaga Sari Bantala, tentu Dartoko akan roboh, akan tetapi juga terancam nyawa pemuda itu.

Ia tidak ingin membunuh orang.

Maka, setelah serangan bertubi-tubi yang selalu luput itu membuat pernapasan Dartoko mulai terengah.

Maya Dewi berkelebat ke belakang, lalu ia mendorongkan tangan kirinya ke arah lawan sambil membentak.

"Pergilah!"

Dartoko terkejut dan cepat dia menyambut serangan jarak jauh itu dengan dorongan tangan kirinya sambil mengerahkan tenaga sekuatnya.

"Syuuuutttt.... desssss!!"

Tubuh Dartoko terlempar ke belakang bagaikan daun kering tertiup angin.

Kerisnya terlepas dari tangan kanannya dan dia terbanting jatuh di mulut gua, lalu dia bergulingan dan duduk bersila di depan gua untuk mengatur pernapasannya karena dadanya yang terguncang hebat oleh pukulannya sendiri yang membalik ketika tenaga saktinya bertemu dengan tenaga sakti Maya Dewi.

"Eh-eh-eh, Maya Dewi, engkau bocah kemarin sore berani menentang aku?"

Terdengar suara parau dan dari dalam gua muncul seorang laki-laki tua berusia sekitar enam puluh lima tahun.

Tubuhnya bongkok, rambutnya yang tipis sudah putih semua, bagian ubun-ubunnya botak kelimis, mukanya berbentuk panjang ke depan seperti muka kuda.

Terbongkok-bongkok dia melangkah keluar dari mulut gua, bertopang sebatang tongkat bambu kuning di tangan kanannya dan tangan kirinya memegang seuntai tasbeh.

Kakek ini mirip Bhagawan Durna, tokoh yang menjadi penasehat kaum Kurawa dalam kisah pewayangan Mahabharata.

Maya Dewi memandang dengan mata penuh selidik.

Tadi Dartoko menyebut nama gurunya Kyai Kasmalapati.

Dalam petualangannya beberapa tahun yang lalu, ia tidak pernah mendengar nama Dartoko, akan tetapi ia pernah mendengar nama Kyai Kasmalapati yang merupakan datuk dari Blambangan.

Datuk pertama dari Blambangan adalah Bhagawan Kalasrenggi yang menjadi penasehat Adipati Blambangan, adapun datuk kedua adalah Kyai Kasmalapati yang lebih suka berkeliaran sebagai seorang tokoh dunia hitam yang ditakuti orang.

"Hemm, agaknya Andika yang bernama Kyai Kasmalapati! Sungguh keterlaluan sekali kalau seorang tua seperti Andika bersama murid melakukan kejahatan yang amat keji, merampas hewan ternak, menculik gadis-gadis yang tidak berdosa dan menakut-nakuti penduduk dusun Sampangan! Hayo, Kyai Kasmalapati, cepat Andika bebaskan puteri Ki Lurah Ganjar dan pergilah Andika bersama murid Andika, jangan Andika berani mengganggu penduduk dusun lagi!"

"Babo-babo, keparat! Maya Dewi, kalau tidak ingat bahwa Andika ini puteri mendiang Resi Koloyitmo yang pernah menjadi sahabatku, malam tadi sudah kubunuh kau! Berani Andika anak kecil mencampuri urusanku dan menentangku!"

Maya Dewi menyambut pandang mata Kyai Kasmalapati dengan sinar mata lembut namun penuh wibawa dan bibirnya tersenyum.

"Kyai Kasmalapati, kalau Andika dan muridmu tidak melakukan kejahatan, aku pun tidak akan mencampuri urusanmu. Akan tetapi kalau aku melihat kejahatan dilakukan, biar Andika atau siapapun juga pasti kutentang. Hal itu sudah merupakan kewajiban hidupku!"

"Babo-bao! Tidak malukah Andika kepada arwah ayah Andika? Resi Koloyitmo akan marah melihat kelakuanmu sekarang! Apakah engkau hendak muncul sebagai seorang pendekar dan memusuhi golongan ayahmu sendiri?"

"Kyai Kasmalapati, aku justru mengubah jalan hidupku, meninggalkan kesesatan kami dahulu untuk menebus dosa-dosa mendiang Ayahku dan aku sendiri. Aku juga memperingatkan Andika, Kyai Kasmalapati, mengingat bahwa Andika dahulu pernah menjadi sahabat Ayahku. Sadarlah bahwa jalan kesesatan ini akan membawa Andika terjerumus ke dalam neraka jahanam. Sadar dan bertaubatlah selagi Andika masih mempunyai waktu. Kalau Andika sudah mati, maka Andika akan menyesal namun tidak akan ada gunanya."

Kyai Kasmalapati menggereng seperti seekor serigala marah dan dari mulut dan hidungnya keluar uap putih!

Dia maklum bahwa lawan ini tidak akan dapat dia kalahkan dengan penggunaan sihir ilmu hitam, maka sambil mengerahkan tenaga saktinya, dia menerjang dan menyerang.

Tangan kanannya menggerakkan tongkat dan tangan kiri menggerakkan tasbeh hitam.

Biarpun dia sudah tua dan bongkok, tampaknya sudah ringkih berpenyakitan, namun ternyata serangannya dahsyat sekali!

Maya Dewi maklum akan kehebatan lawan, maka ia bersikap waspada dan hati-hati.

Menggunakan tenaga sakti yang ia dapatkan dari makan Jamur Dwipa Suddhi, tubuhnya sudah berkelebat, lolos di antara gulungan sinar tongkat dan tasbeh!

Kyai Kasmalapati terkejut ketika tiba-tiba wanita itu berkelebatan dan lenyap.

Matanya yang tua tidak mampu mengikuti gerakan yang amat cepat dari lawannya itu, hanya perasaan dan pendengarannya yang masih peka saja yang menunjukkan kepadanya di mana adanya lawan itu.

Dia menyerang terus secara bertubi-tubi, tak pernah berhenti, Maya Dewi terus mengelak dan terkadang ia menangkis tongkat atau tasbeh sambil mengerahkan tenaga saktinya.

Setiap kali kedua senjata itu bertemu dengan tangkisannya, kakek bongkok itu merasa betapa lengannya tergetar hebat.

Namun, dia merasa malu kalau mengaku kalah dan kemarahannya sudah memuncak.

Dia nekat menyerang terus, tidak mau menyadari bahwa lawannya itu tidak pernah balas menyerang.

Memang Maya Dewi tidak membalas dan tidak ingin merobohkan kakek itu mengingat bahwa kakek itu pernah bersahabat dengan ayahnya.

Lima puluh jurus lebih Kyai Kasmalapati menyerang bertubi-tubi tanpa henti sambil mengerahkan seluruh tenanganya.

Juga ketika dia mendapat tangkisan yang mmbuat tenaganya terpental dan tubuhnya terguncang hebat.

Maka lewat lima puluh jurus, tenaganya mulai habis.

serangannya menjadi lemah dan napasnya terengah-engah mengeluarkan suara ngik-ngik menunjukkan bahwa dia menderita penyakit mengi!

Maya Dewi memang sengaja hendak menaklukkan lawan ini tanpa memukulnya, membiarkannya kehabisan tenaga dan napas sendiri.

Ia sengaja mengeluarkan suara ejekan untuk membuat Kyai Kasmalapati semakin marah dan semakin nekat, menyerang terus tanpa mengingat bahwa tenaga dan napasnya mulai habis!

"Kakek tua bangka yang tak tahu diri!"

"Sudah tua tidak mencari jalan terang!"

"Bertaubatlah dan jadilah manusia yang baik agar Gusti Allah mengampuni dosa-dosamu atau setidaknya mengurangi hukuman bagimu!"

Dengan ucapan-ucapan seperti itu, Kyai Kasmalapati mejadi semakin nekat.

"Mampuslah!"

Dengan sisa tenaganya, dia menyerang dengan hantaman tongkat dan tasbeh secara berbareng, mengerahkan seluruh sisa tenaganya. Maya Dewi menggerakkan kedua tangannya menyambut.

"Wuuuttt.... bressss....!!!"

Kyai Kasmalapati mengeluh dan roboh berlutut, kedua senjatanya terlepas dari keua tangannya yang kini dia pergunakan untuk menekan dadanya.

Dia terengah-engah.

tenaganya habis dan napasnya hampir putus, mengeluarkan bunyi ngak-ngik ngak-ngik.

Maya Dewi menoleh ke arah Dartoko yang masih duduk bersila untuk menghilangkan rasa nyeri di dadanya akibat tenaga saktinya membalik menghantam dirinya sendiri tadi.

"Dartoko, bawa pergi gurumu dan kalian bertaubatlah, tinggalkan tempat ini dan jangan berani mengganggu orang-orang lain lagi."

Melihat gurunya juga sudah kalah dan tidak berdaya, Dartoko tanpa bicara bangkit lalu menghampiri Kyai Kasmalapati, membantunya bangkit berdiri, memungut tongkat dan tasbeh kakek itu, juga mengambil kerisnya, lalu memapah gurunya pergi dari situ dengan muka pucat dan napas agak memburu karena dadanya masih terasa sesak.

Kyai Kasmalapati juga berjalan terpincang-pincang, terbongkok-bongkok, membiarkan dirinya dipapah Dartoko menuruni bukit itu.

Maya Dewi menghela napas panjang.

Ia tahu bahwa orang-orang seperti Dartoko dan Kyai Kasmalapati itu pasti tidak dapat menerima kekalahan mereka begitu saja.

Apalagi bertaubat.

Sungguh tidak mudah untuk bertaubat dan mengubah jalan hidupnya karena jalan yang dilalui nafsu itu selalu mendatangkan kenikmatan dan kesenangan bagi jasmani walau meracuni rohani.

Sebaliknya jalan kebenaran itu menyelamatkan dan membersihkan rohani sehingga pantas untuk kembali kepada Gusti Allah walaupun sering tidak enak bagi jasmani.

Mudah-mudahan mereka sekali waktu akan sadar dan bertaubat, pikirnya.

Lalu ia mengusir pikiran tentang guru dan murid itu, dan melangkah memasuki Gua Siluman.

Ternyata gua itu di sebelah dalamnya luas, seperti sebuah rumah saja.

Ada tiga buah ruang terpisah di dalamnya.

Dalam sebuah ruangan, ia menemukan puteri Lurah Ganjar yang terikat di atas sebuah dipan bambu.

Gadis manis itu menangis sesenggukan ketika Maya Dewi membebaskannya dari ikatan.

Kemudian gadis itu memberitahu bahwa di ruangan yang lain masih terdapat dua orang gadis tawanan dari dusun lain.

Mereka berdua memasuki ruangan itu dan benar saja, dua orang gadis saling rangkul di atas dipan sambil menangis.

Wajah mereka pucat, rambut terurai dan pakaian mereka awut-awutan.

Dari keterangan tiga orang gadis yang bicara sambil menangis itu, Maya Dewi mengetahui bahwa dua orang gadis itu diculik dari sebuah dusun yang agak jauh dari situ dan mereka berdua menjadi korban kekejian Kyai Kasmalapati.

Sedangkan puteri Ki Lurah masih belum sempat ternoda karena agaknya Dartoko menginginkan ia menyerahkan diri dengan suka rela.

Akan tetapi gadis itu selalu menolak dan sebelum terjadi paksaan terhadap dirinya, muncul Maya Dewi membebaskannya.

Diam-diam Maya Dewi mengutuk Kyai Kasmalapati, kakek tua renta bongkok itu yang sudah menodai dua orang gadis dusun itu.

Akan tetapi ia teringat akan perbuatannya sendiri di masa lalu dan Maya Dewi menghela napas panjang penuh penyesalan dan tampaklah olehnya betapa jahat dan keji perbuatan memaksa orang lain menjadi permainan nafsu itu!

Ketika ia menggeledah dalam gua itu dan melihat keadaan gua itu seperti sebuah rumah, Maya Dewi merasa suka dengan tempat itu.

Maka, setelah ia mengantar tiga orang gadis itu ke dusun Sampangan dan minta bantuan Ki Lurah Gabjar agar kedua orang gadis itu dikembalikan ke rumah masing-masing di dusun lain itu.

Maya Dewi berpamit dari para penduduk.

Akan tetapi Ku Lurah Ganjar dan para penduduk dusun Sampangan menahannya.

Mereka semua amat berterima kasih kepada Maya Dewi yang telah membebaskan mereka dari ancaman guru dan murid jahat itu.

Terutama sekali Ki Lurah Ganjar sekeluarga yang merasa amat berbahagia karena puteri mereka kembali dalam keadaan selamat dan tidak sampai ternoda seperti dua orang gadis yang lain.

Mengingat bahwa ia mengambil keputusan untuk sementara tinggal di gua yang tadinya disebut Gua Siluman itu, berarti ia akan tinggal dekat dusun itu, maka ia tidak menolak untuk tinggal dulu di rumah Ki Lurah Ganjar selama dua hari dua malam.

Penduduk menyambutnya dengan gembira dan mengadakan pesta untuk menghormati Maya Dewi.

Apalagi mereka mendengar bahwa Maya Dewi untuk sementara akan tinggal di Gua Siluman, mereka menjadi girang sekali.

dengan adanya wanita sakti itu dekat Sampangan, mereka merasa aman dan tenteram.

dengan sukarela, para penduduk lalu bergotong-royong membersihkan gua itu, melengkapinya dengan perabot rumah baru dan membuang perabot rumah bekas milik guru dan murid jahat itu.

Semula Maya dewi menolak, akan tetapi Ki Lurah dan semua mendesak dan memohon dengan sangat agar ia menerimanya sehingga Maya Dewi tidak tega untuk menolak.

Maka lengkaplah prabot rumah dalam goa itu, walaupun hanya sederhana karena apa yang disediakan orang-orang dusun itu tentu saja bukan prabotan yang biasa dipakai orang-orang kota, Akan tetapi di situ sudah ada pembaringan, meja kursi, tempat pakaian prabot dapur dan makan.

Mulai hari yang ditentukan, Maya Dewi tinggal di Gua Siluman di bukit kecil di luar dusun Sampangan itu.

Ia berpesan kepada para penduduk agar jangan mengganggunya karena ia ingin hidup menyendiri, jauh dari keramaian dan urusan dunia, kecuali kalau ada urusan yang teramat penting, yang membutuhkan bantuannya.

Suami isteri itu kini merasa berbahagia.

Kebahagiaan mereka tampak pada wajah mereka.

Ki Tejomanik yang berusia empat puluh enam tahun itu masih tampak gagah perkasa.

Tubuhnya tinggi tegap dan kokoh kuat.

Wajahnya yang tampan gagah itu berseri, matanya lebat mencorong penuh semangat.

Alis, rambut dan kumisnya masih hitam.

Hidungnya besar mancung dan mulutnya membayangkan senyum ramah.

Kalau sebulan yang lalu, wajah tampan gagah itu masih diselimuti mendung dan hatinya menderita tekanan selama belasan tahun karena kehilangan puteranya, kini menjadi cerah dan berseri gembira.

Isterinya, Nyi Retno Susilo, wanita cantik dan gagah berusia empat puluh dua tahun itu pun masih tampak cantik dengan mata jeli dan sinarnya tajam, bentuk mulut yang manis sekali, dan tubuhnya yang masih padat seperti tubuh seorang gadis.

Juga wajah wanita ini yang dulunya selalu muram kini tampak berseri dan bercahaya.

Kebahagiaan suami isteri ini mudah dimengerti.

Selama empat belas tahun mereka kehilangan anak tunggal mereka Bagus Sajiwo yang diculik orang sejak dia berusia enam tahun.

Kini, sebulan yang lalu, Bagus Sajiwo pulang ke Gunung Kawi dan telah menjadi seorang pemuda berusia dua puluh tahun yang tampan dan sakti mandraguna, bahkan melebihi kesaktian Tejomanik sendiri!

Pada pagi hari itu, suami isteri itu duduk di ruangan depan dan keduanya memandang kepada putera mereka yang sudah berkumpul kembali dengan mereka selama satu bulan.

Mereka merasa bangga sekali melihat Bagus Sajiwo kini menjadi seorang pemuda yang tampan, lemah lembut sikapnya dan bijaksana.

Selama satu bulan ini mereka saling bercerita tentang pengalaman mereka selama empat belas tahun berpisah.

Melihat Bagus Sajiwo duduk diam seperti ada yang dipikirkan, Retno susilo menghela napas panjang dan berkata.

"Angger, Bagus Sajiwo, engkau kelihatan melamun, apakah yang kaupikirkan? Kalau engkau memikirkan Maya Dewi, aku sudah mengatakan bahwa aku merasa menyesal sekali telah bersikap dan bertindak tidak adil kepadanya."

Bagus Sajiwo memandang ibunya dengan senyum membesarkan hati, matanya juga sama sekali tidak menunjukkan penyesalan.

"Tidak, ibu. Tidak ada yang perlu disesalkan. Sikap dan tindakan ibu terhadap Dewi itu wajar dan aku yakin Dewi juga dapat menerimanya dengan sabar dan maklum. Juga aku tidak mengkhawatirkan keadaannya karena dengan kesaktiannya sekarang, ditambah dengan kesadarannya, aku yakin Dewi akan dapat hidup benar, berjalan di atas lorong kebenaran dan selalu akan membela kebenaran dan keadilan."

"Engkau benar, bagus. akan tetapi aku pun melihat engkau termenung sejak tadi. tentu ada sesuatu yang kau pikirkan."

Kata Ki Tejomanik sambil memandang wajah puteranya dengan penuh selidik. Bagus tersenyum lagi dan berkata dengan suara lembut.

"Ayah dan Ibu memiliki pandangan tajam sekali dan amat memperhatikan aku, hal ini amat membesarkan hati. Sesungguhnya, Ayah dan Ibu, aku hanya teringat akan pesan mendiang Eyang Guru Ki Ageng Mahendra bahwa aku harus membela kebenaran dan keadilan, melindungi yang lemah tertindas, dan membela Mataram dari musuh-musuhnya, terutama Kumpeni Belanada. Kalau aku hanya berdiam saja di sini bagaimana mungkin aku dapat mentaati pesan mendiang Eyang Guru? Akan tetapi hatiku juga merasa tidak enak kalau harus meninggalkan lagi Ayah dan Ibu padahal baru sebulan aku pulang ke sini."

Suami isteri itu saling pandang.

"Bagus, kami juga menyetujui sepenuhnya pesan Eyang Gurumu itu, bukankah begitu, Diajeng?"

Retno Susilo menghela napas panjang dan memegang kedua tangan puteranya.

"Anakku bocah bagus! Terus terang saja, kalau bicara sejujurnya hati Ibumu ini juga tidak senang kalau harus berpisah darimu lagi. Akan tetapi aku dan Ayahmu mengerti bahwa pesan Eyang Gurumu itu menjadi tugasmu. Bukan hanya Eyang Gurumu yang mengharapkan engkau menjadi satria utama pembela kebenaran dan keadilan, juga membela Mataram, akan tetapi Ayah Ibumu juga. sejak dulu kamipun berusaha untuk selalu memenuhi kewajiban itu, karena itu, kalau engkau harus pergi lagi meninggalkan kami, aku rela karena aku tahu bahwa engkau dalam keadaan selamat dan suatu saat engkau pasti akan kembali ke sini."

"Aduh, Ibu memang bijaksana sekali. Terima kasih, Ibu!"

Kata Bagus Sajiwo lalu dia mencium kedua tangan ibunya dengan hati penuh kasih dan hormat.

"Bagus, pada waktu ini, Mataram tidak berperang langsung melawan Kumpeni Belanda yang mempunyai kedudukan kuat sekali di Batavia. Seperti pernah kami ceritakan kepadamu, aku dan Ibumu juga ikut berjuang membantu pasukan Mataram ketika menyerang benteng Kumpeni Belanda di Batavia akan tetapi dua kali gagal. Sekarang, Mataram menurut kabar yang kami dengar, terancam oleh Kadipaten Blambangan. Penyerangan terhadap kami tempo hari itu mungkin sekali ada hubungannya dengan sikap permusuhan Blambangan terhadap Mataram. Mereka menyerang kami karena kami adalah orang-orang yang membela Mataram. Karena itu, aku kira sebaiknya kalau engkau pergi mengunjungi dulu keluarga kita sambil mencari berita tentang gerakan Blambangan yang akan memberontak terhadap Mataram. Blambangan merupakan kadipaten yang tidak boleh dipandang ringan. Di sana terdapat banyak orang sakti, juga sejak dulu mempunyai hubungan baik dengan Bali yang pasti akan membantunya, Juga fihak Kumpeni pasti berusaha untuk memancing di air keruh, kalau tidak membantu Blambangan setidaknya tentu akan mengadu domba dan memperbesar permusuhan antara Mataram dan Kadipaten Blambangan. Akan tetapi, yang penting, pergilah dulu berkunkung ke keluarga kita agar mereka ikut berbahagia denganmu dan mendengar bahwa engkau telah kembali kepada kami."

"Maksud Ayah aku harus berkunjung ke perguruan Jatikusumo lebih dulu?"

"Benar, Anakku. Keluarga kita hanya bibimu Pusposari adik angkatku yang menjadi isteri Ki Cangak Awu yang kini menjadi ketua Jatikusumo di daerah Pacitan, di tepi laut. Mereka juga ikut merasa gelisah mendengar engkau dulu diculik orang, bahkan mereka ikut pula berusaha mencarimu. Selain itu, mereka adalah pejuang-pejuang yang setia kepada Mataram, maka mungkin engkau dapat mendengarkan keterangan yang lebih jelas tentang keadaan Mataram dari perguruan Jatikusumo. Ketahuilah bahwa suami Bibimu itu, ketua Jatikusumo, masih kakak seperguruan Gusti Puteri Wandansari yang sekarang menjadi isteri Adipati Surabaya."

Ki Tejomanik juga memperkenalkan nama para satria yang setia kepada Mataram dan para tokoh persilatan dan datuk yang memusuhi Mataram.

"Dan juga lupa, Bagus, setelah berkunjung ke Jatikusumo, engkau harus berkunjung pula ke hutan Kebojambe di kaki Gunung Kelud dan mewartakan tentang keadaan kita kepada Eyangmu."

"Ah. Ayah maksudkan Eyang Mundingsosro yang menjadi ketua Perkumpulan Sardula Cemeng?"

"Benar, bagus."

Kata Retno susilo.

"Akan tetapi Eyangmu sudah terlalu tua sekarang. beberapa tahun yang lalu ketika kami berkunjung ke sana, jabatan ketua sudah dipegang oleh Paman Mundingloyo, entah siapa yang menjadi ketuanya. Sudah lama kami tidak mengadakan hubungan dengan keluargaku di sana."

"Baik, Ayah dan Ibu. Aku pasti akan berkunjung ke hutan Kebojambe dan melihat keadaan para eyang dan keluarga lain."

Beberapa hari kemudian, dengan restu ayah-ibunya, Bagus Sajiwo meninggalkan rumah orang tuanya di desa Bayem lereng Gunung Kawi, dan mulailah dia melakukan perjalanan merantau.

Tujuan pertama perjalanannya, seperti dipesan ayahnya, adalah perguruan Jatikusumo yang letaknya di pantai Laut Kidul, daerah Pacitan.

Perguruan Jatikusumo adalah sebuah perguruan silat di mana para murid digembleng aji kanuragan dan kesaktian.

Perguruan ini merupakan sebuah perkampungan khusus di mana para murid mondok, dan nama perguruan Jatikusumo amat terkenal.

Apalagi perguruan ini pernah mendidik Puteri Wandansari dari Kerajaan Mataram, maka para pengasuh dan muridnya juga terkenal sebagai orang-orang gagah yang setia kepada Mataram.

Perguruan ini sudah berusia hampir seabad.

Seorang di antara pendirinya adalah mendiang Resi Limut Manik yang pada masa tuanya bertapa di Puncak Semeru.

Resi ini yang kemudian mejadi guru terakhir dari Sutejo atau Ki Tejomanik dan Puteri Mandansari.

Kemudian, perguruan Jatikusumo dipimpin oleh seorang murid Sang Resi yang bernama Bhagawan Sindusakti yang kini telah meninggal dunia.

Kemudian, kedudukan ketua dipegang oleh murid mendiang Bhagawan Sindusakti, yaitu Ki Cangak Awu, yang menjadi muridnya yang ke empat.

Murid pertama sampai ke tiga sudah meninggal dunia, maka Ki Cangak Awu yang kini menjadi ketua perguruan silat Jatikusumo.

Ki Cangak Awu, ketua Jatikusumo, berusia empat puluh delapan tahun.

Dalam usia yang hampir setengah abad itu, dia masih tampak gagah perkasa.

Tubuhnya tinggi besar berotot, kokoh bagaikan batu karang, wajahnya tidak terlalu tampan namun jantan, pandang matanya terbuka dan membayangkan kejujuran, sikapnya kaku dan agak kasar terbawa kejujuran dan keterbukaannya.

Dia seorang jantan yang gagah lahir batin, tidak suka berpura-pura dan memimpin para murid Jatikusumo yang jumlahnya sekitar lima puluh orang itu dengan keras dan adil.

Di bawah bimbingannya para murid itu menjadi tertib dan mengenal disiplin, maklum bahwa pelanggaran akan mendatangkan hukuman yang berat.

Isteri ketua ini bernama Pusposari, berusia sekitar empat puluh tiga tahun, berkulit hitam manis berwajah ayu lembut.

Akan tetapi dalam kelembutannya itu Pusposari adalah seorang wanita perkasa, bahkan tingkat kepandaian silatnya tidak berada di bawah tingkat suaminya!

Ia adalah adik angkat Tejomanik, atau anak angkat mendiang Ki Harjodento, ayah Ki Tejomanik yang gagah perkasa dan menjadi ketua dari perguruan Nogo Dento di tepi Bengawan Solo daerah Ngawi yang kini tidak ada lagi.

Perguruan ini dibubarkan setelah Ki Harjodento dan isterinya meninggal dunia.

Suami isteri yang kini memimpin perguruan Jatikusumo ini mempunyai seorang anak perempuan yang baru berusia tiga belas tahun, bernama Nawangsih, seorang anak mungil dan lucu, sudah tampak bahwa ia kelak akan menjadi wanita yang cantik jelita dan manis.

Wataknya lincah jenaka dan agak keras seperti watak ayahnya.

Kalau ia merasa benar, apapun juga yang menghalang akan ditentangnya dengan berani!

Sebagai puteri suami isteri yang sakti, tentu saja sejak kecil Nawangsih sudah digembleng aji kanuragan sehingga dalam usia tiga belas tahun tidak sembarang laki-laki dewasa yang akan mampu mengalahkannya!

Suami isteri itu memang agak terlambat dikaruniai anak.

Setelah pernikahan mereka berjalan sekitar sepuluh tahun, barulah Nawangsih terlahir.

Dan ia tidak mempunyai adik sehingga tidak aneh kalau ayah ibunya amat menyayangnya dan hal ini membuat ia agak manja.

Ki Cangak Awu yang bertubuh tinggi besar itu terkenal memiliki tenaga yang amat kuat, apalagi ditambah tenaga saktinya yang cukup hebat.

Dia telah mempelajari banyak ilmu silat, akan tetapi ilmunya yang paling ampuh adalah Aji Gelap Musti dan permainan tongkat yang amat kuat.

Selain itu, sebagai murid Jatikusumo, dia pun memiliki Aji Harina Legawa yang membuat tubuhnya yang tinggi besar itu dapat bergerak lincah dan ringan seperti seekor kijang.

Nyi Pusposari juga memiliki aji pamungkasnya yang ampuh, yaitu ilmu pukulan Aji Nogodento dan ilmu memainkan senjata keris yang disebut Galuh Bajra.

Pada senja hari itu, Ki Cangak Awu dan Nyi Pusposari duduk di atas bangku dalam taman di belakang rumah mereka di perkampungan Jatikusumo.

Mereka berdua memandang dengan wajah berseri kepada Nawangsih yang mereka suruh berlatih silat di senja hari itu, sebelum mandi.

Gadis cilik itu memang mengagumkan sekali.

Pantas kalau ayah ibunya menjadi bangga.

Dalam usianya yang tiga belas tahun ia sudah tampak cantik manis.

Ia bersilat tangan kosong dengan ilmu silat gubahan ayah ibunya yang diberi nama Aji Jatikusumo, yang merupakan penggabungan dari Aji Gelap Musti dan Aji Nogodento!

Gerakan Nawangsih sudah cukup mantap dan cepat, gerakannya juga tidak ada yang salah.

Tentu saja permainan silat anak itu masih belum lengkap karena masih kekurangan tenaga sakti yang kuat.

Untuk membangkitkan tenaga sakti, anak itu masih terlalu muda.

Setelah menyelesaikan permainan ilmu silat tangan kosong Jatikusumo, atas perintah ayahnya, Nawangsih lalu memungut sebatang ranting pohon sebesar dan sepanjang lengannya lalu ia bersilat dengan ilmu tongkat yang diajarkan ayahnya kepadanya.

Ki Cangak Awu adalah seorang ahli ilmu tongkat, maka ilmu tongkat yang diajarkannya kepada Nawangsih juga cukup hebat.

Karena Nawangsih memungut tongkat pendek, maka ia memainkannya seperti sebilah pedang.

gadis cilik inipun pandai memainkan tongkat panjang dengan kedua tangan, dan sudah berlatih pula cara bersilat dengan keris yang diajarkan ibunya.

Suami isteri itu memandang dengan hati bangga.

Anak mereka itu sudah mulai memperlihatkan bentuk tubuh seorang gadis muda, bagaikan setangkai bunga yang mulai mekar.

Rambutnya yang hitam panjang itu diikat ke belakang tubuhnya seperti ekor kuda.

Wajahnya ayu manis seperti ibunya, akan tetapi kulitnya tidak sehitam kulit ibunya, melainkan putih mulus.

Sepasang matanya membayangkan kecerdikan dan ketangkasannya, mata itu bergerak-gerak lincah dan mulutnya selalu tersenyum nakal, senyuman yang seolah mengejek.

Hidungnya mancung agak menjungat ke atas sehingga tampak lucu.

Setelah Nawangsih menghentikan latihannya dengan muka dan leher basah oleh keringat, Pusposari menarik tangan puterinya dan merangkulnya.

"Bagus, Asih, sekarang pergilah mandi dan sebentar lagi kita makan malam."

Nawangsih yang biasa disebut Asih oleh kedua orang tuanya, tertawa genit dan manja.

"Wah, enak! perutku juga sudah klenengan (suara gamelan) sejak tadi!"

Ia lalu lari ke rumah untuk mandi dan bertukar pakaian.

Suami isteri itu pun meninggalkan taman karena cuaca mulai gelap, malam menjelang tiba.

Di rumah, beberapa orang murid yang bertugas melayani guru mereka, tugas yang dikerjakan secara bergilir, mulai menyalakan lampu-lampu penerangan.

Pusposari yang tadi sudah mandi lalu pergi ke dapur untuk mengatur hidangan makan malam yang dibantu oleh dua orang murid perempuan.

Sedangkan Ki Cangak Awu yang juga sudah mandi, duduk di rungan dalam, menerima dua orang murid laki-laki yang datang menghadap untuk memberi laporan tentang pekerjaan para murid hari itu.

Para murid Jatikusumo tinggal dalam perkampungan Jatikusumo.

Mereka semua belum berkeluarga karena di perguruan itu terdapat peraturan bahwa murid yang sudah menikah tidak diperkenankan lagi tinggal di perkampungan Jatikusumo.

Peraturan itu diadakan untuk mencegah terjadinya perkembang-biakan yang selain akan membuat perkampungan padat dan biaya menjadi bertambah besar dan berat, juga untuk mencegah masuknya orang-orang bukan murid dan mencegah terjadinya keretakan antara murid yang disebabkan keluarga mereka.

Di situ terdapat tiga puluh enam murid pria yang terdiri dari bujangan berusia antara dua puluh lima sampai tiga puluh lima tahun dan ada sembilan belas orang murid wanita berusia antara tujuh belas sampai dua puluh tahun.

Sudah terdapat banyak pasangan yang terdiri dari murid pria dan wanita Jatikusumo dan mereka ini setelah menikah lalu meninggalkan Jatikusumo, membentuk keluarga sendiri di tempat lain.

Para murid itu bekerja sebagai petani dan nelayan.

Kalau tidak sedang sibuk di sawah ladang milik Jayikusumo, mereka pergi ke laut dan mencari ikan.

Penghasilan mereka tidak terlalu banyak namun cukup untuk biaya hidup, untuk makanan dan pakaian, juga untuk membetulkan pondok-pondok mereka dan membeli prabot-prabot rumah sederhana.

Selain bekerja setiap hari, Jatikusumo terkenal sebagai perkumpulan para pendekar.

Karena mereka selalu menentang kejahatan dan membasmi gerombolan-gerombolan penjahat yang suka merampok dan melakukan kejahatan di daerah Pacitan, maka Jatikusumo dianggap sebagai pelindung daerah itu.

Mereka disukai dan dihormati rakyat yang secara sukarela suka mengirim bahan makanan, juga barang-barang lain untuk menyatakan rasa hormat dan suka mereka.

Akan tetapi tentu saja para tokoh sesat amat membenci perkumpulan Jatikusumo yang mereka anggap sebagai penghalang "pekerjaan"

Mereka!

Namun, Ki Cangak Awu yang terkenal keras hati dan membenci kejahatan itu tidak peduli akan sikap bermusuhan golongan hitam dan dia selau siap bersama para murid untuk menentang siapa saja yang bertindak jahat dan melakukan penindasan terhadap mereka yang lemah tak berdaya.

Bukan para penjahat saja yang membenci Jatikusumo, akan tetapi bahkan pejabat atau pamong praja yang tidak suka kepada mereka.

Dengan adanya Jatikusumo yang selalu menentang penindasan, para pamongpraja itu tidak lagi leluasa bertindak semena-mena, tidak dapat lagi memeras dan menindas penduduk untuk menggendutkan perut mereka sendiri.

Akan tetapi karena perkumpulan Jatikusumo melakukan hal yang benar, apalagi ketuanya, Ki Cangak Awu adalah seorang yang berjasa terhadap Mataram, bahkan masih terhitung kakak seperguruan Puteri Wandansari dari Mataram, maka para pamongpraja itu hanya menyimpan saja kebencian mereka dalam hati.

Bahkan Bupati Pacitan sendiri menghormati Ki Cangak Awu!

Setelah selesai mengatur hidangan makan malam di atas meja makan, Nyi Pusposari menemani suaminya duduk di ruangan dalam, mereka menanti selesainyaNawangsih yang mandi dan berganti pakaian.

Akan tetapi setelah agak lama Nawangsih tidak muncul, Ki Cangak Awu mengomel.

"Hemm, anak itu! Masa mandi sampai begitu lama? Apa saja yang ia lakukan di kamar andi?"

"Biar kupanggil, tidak biasanya ia mandi begini lamanya."

Kata Nyi Pusposari yang segera melangkah hendak keluar dari ruangan itu menuju ke kamar mandi yang berada di bagian belakang.

Akan tetapi pada saat itu, terdengar teriakan dan bentakan-bentakan seperti orang berkelahi di luar rumah.

Mendengar ini, Ki Cangak Awu melompat keluar dari ruangan itu.

Nyi Pusposari juga mengikuti suaminya.

Setibanya di luar rumah, suami isteri ini terkejut bukan main karena dua buah pondok di kanan kiri rumah mereka telah terbakar!

Api berkobar besar sehingga seluruh pekarangan rumah induk tempat tinggal Ki Cangak Awu menjadi terang sekali.

Dan di sekitar pekarangan itu terjadi perkelahian hebat antara para murid Jatikusumo melawan orang-orang yang mengenakan pakaian hitam-hitam dengan sabuk tali lawe besar berwaran kuning.

Ternyata fihak musuh yang berpakaian serba hitam itu cukup banyak dan melihat di mana-mana terjadi perkelahian satu lawan satu, dapat diduga bahwa jumlah musuh tidak kalah banyak dibandingkan jumlah anggota atau murid Jatikusumo.

Ki Cangak Awu dan Pusposari terkejut bukan main.

Ini merupakan serangan besar-besaran, di waktu malam lagi sehingga tentu saja para murid menjadi panik dan kacau menghadapi serangan yang tidak tersangka-sangka dan musuh membakar dua pondok itu.

Selama bertahun-tahun mereka tidak pernah diserbu musuh dan kini tiba-tiba saja musuh yang banyak jumlahnya datang menyerang di malam gelap.

Di bawah sinar api yang berkobar membakar dua pondok itu, Ki Cangak Awu dan Nyi Pusposari dapat melihat bahwa para murid mereka, anggauta Jatikusumo dapat melakuan perlawanan dengan baik dan kiranya tidak perlu dikhawatirkan akan kalah.

Para murid itu rata-rata telah memiliki kedigdayaan yang lumayan.

Akan tetapi, mereka melihat adanya dua orang laki-laki tinggi besar yang memiliki gerakan dahsyat, mengamuk dan dikeroyok oleh empat orang murid.

Akan tetapi empat orang murid itu terdesak.

Dua orang laki-laki tinggi besar berpakaian serba hitam itu mengamuk dengaan senjata kolor (tali pinggang) lawe yang sebesar lengan dan panjangnya dari pinggang sampai ke tanah.

dengan dua ujung kolor itu mereka mengamuk sehingga empat orang murid Jatikusumo yang bersenjata tongkat menjadi terdesak.

Ki Cangak Awu dan Nyi Pusposari cepat melompat ke dalam rumah untuk mengambil senjata dan beberapa detik kemudian suami isteri ini sudah berlari ke pekarangan.

Dua dari empat orang murid yang mengeroyok dua orang tinggi besar itu sudah roboh, dan yang dua orang lagi hanya dapat mundur-mundur sambil menjaga diri dengan memutar golok.

"Kalian mundur!"

Ki Cangak Awu membentak dan melihat suami isteri pimpinan mereka datang, dua orang murid itu merasa lega dan mereka melompat ke belakang, lalu membantu dua orang kawan yang terluka.

Kini Ki Cangak Awu dan Nyi Pisposari berhadapan dengan dua orang raksasa itu.

"Keparat!"

Ki Cangak Awu memaki marah.

"Melihat senjata dan pakaian kalian, bukankah kalian ini dua orang warok (jagoan) dari Ponorogo? Mengapa kalian membawa anak buah menterbu perkumpulan kami?"

Dua orang tinggi besar itu saling pandang dan mereka tertawa bergelak.

keduanya memiliki wajah yang menyeramkan, dengan kumis melintang dan brewok memenuhi pipi dan dagu.

Yang hidungnya besar mbengol seperti topeng Penthul dan berusia sekitar empat puluh tahun tertawa dan menjawab.

"Ha-ha-ha! Tentu Andika ini yang bernama Ki Cangak Awu dan Nyi Pusposari, ketua Jatikusumo! Ketahuilah, aku bernama Ki Suro Singo dan ini Adikku Ki Suro Badak."

"Hemm, kami pernah mendengar bahwa kalian adalah warok-warok Ponorogo yang terkenal jagoan. Mengapa sekarang tiba-tiba membawa banyak anak buah menyerbu perkumpulan kami? Jatikusumo tidak pernah bermusuhan dengan para warok Ponorogo!"

"Heh, Ki Cangak Awu! Andika masih bertanya mengapa? Jatikusumo terkenal sombong, entah sudah berapa banyak jagoan di daerah Madiun, Ponorogo dan Pacitan kalian robohkan dan kalian usir, kelompok mereka kalian basmi! Dan Andika masih bertanya mengapa kami sekarang menyerbu?"

"Akan tetapi, yang kami basmi adalah gerombolan-gerombolan penjahat yang mengganggu rakyat jelata!"

"Kawan-kawan itu juga hanya mencari nafkah, dengan memungut sumbangan dari penduduk. Apakah kalian sendiri saja yang butuh makan? Kini, kawan-kawan melapor kepada kami dan kami memutuskan untuk membasmi Jatikusumo yang congkak dan ingin hidup sendiri, untuk membalas dendam dan menghentikan kesombongan kalian yang selalu mencampuri urusan orang lain! Hyaaaatttt!"

Ki Suro Singo yang hidungnya besar itu sudah menggerakkan kolornya yang menyambar dan menghantam ke arah dada Ki Cangak Awu.

"Wirrrrr....!"

Kolor itu menyambar dahsyat, namun Ki Cangak Awu yang sama sekali tidak merasa gentar, sudah menggerakkan tongkatnya menangkis.

"Wuuuttt.... plakkk!!"

Tongkat bertemu kolor dan tampak bunga api berpijar saking kuatnya terasa panas.

Hal ini menunjukkan bahwa ketua Jatikusumo itu memiliki tenaga yang amat kuat.

Si Brewok berhidung mbengol itu marah, akan tetapi juga berhati-hati dan segera terjadi serang-menyerang di antara kedua orang pria yang bertubuh sama tinggi besarnya itu.

Merlihat kakaknya sudah saling serang dengan Ki Cangak Awu, Ki Suro Badak lalu menyerang Nyi Pusposari dengan kolornya.

Wanita ini dengan gerakan tangkas mengelak lalu dari samping, kerisnya menusuk ke arah lambung lawan.

Ki Suro Badak terkejut dan cepat mengebutkan kolornya menangkis.

Kedua orang inipun saling serang dengan seru.

Sementara itu, dengan gagah perkasa tiga puluh enam murid pria dan sembilan murid wanita perguruan Jatikusumo melakukan perlawanan dengan gigih dan biarpun jumlah penyerbu itu sedikitnya ada tujuh puluh orang, namun perlahan tapi pasti para murid Jatikusumo dapat mendesak para penyerbu sehingga mereka bertempur sambil mundur.

beberapa orang diantara mereka sudah roboh terpukul tongkat, ada yang patah tulang lengannya atau tulang kakinya, ada yang memar dan bengkak-bengkak muka atau kepalanya.

Perkelahian antara Ki Cangak Awu dan Ki Suro Singo berlangsung seru dan sudah lewat lima puluh jurus.

Ki Suro Singo mulai terdesak hebat, tidak kuat dia menahan serangan ketua jatikusumo yang amat kuat itu.

"Heeehhh!"

Ki Cangak Awu menghantamkan tongkatnya yang menyambar ke arah kepala lawan.

Ki Suro Singo cepat menghindar dengan miringkan tubuh ke samping, lalu ujung kolor yang di tangan kanan menangkis dan melibat tongkat!

Pada saat itu juga, kolor yang kiri menyambar ke arah leher Ki Cangak Awu!

Serangan balasan ini hebat sekali dan untuk sejenak Ki Cangak Awu tidak dapat menggerakkan tongkatnya yang sudah terlibat kolor kanan.

"Wuuttt.... plakkk!"

Kolor yang menyambar ke arah lehernya itu ditangkapnya dengan tangan kanan sedangkan tongkat hanya dia pegang dengan tangan kiri, Keduanya kini saling mengerahkan tenaga karena sudah tidak dapat menggerakkan senjata lagi.

Tiba-tiba saja Ki Cangak Awu melepaskan tangan kirinya mendorong ke arah dada lawan dengan pengerahan Aji Gelap Musti.

"Syuuttt.... dessss!!"

Pukulan dengan tangan terbuka itu tepat mengenai dada Ki Suro Singo yang bidang.

Warok itu mengeluh dan tubuhnya terlempar beberapa meter ke belakang lalu terbanting jatuh dan tidak mampu bangkit kembali.

Pukulan dengan Aji Gelap Musti itu hebat bukan main dan isi dadanya telah remuk terkena hawa pukulan sakti ini, Ki Suro Singo tewas seketika!

Melihat kakaknya roboh, Ki Suro Badak menjadi panik.

Dia belum juga dapat mengalahkan Nyi Pusposari, biarpun wanita perkasa itu juga belum mampu mendesaknya karena senjata wanita itu hanya sebatang keris pendek sedangkan dia menggunakan dua helai ujung kolor yang panjang.

Melihat kakaknya roboh, kolornya menyambar dahsyat sehingga Nyi Pusposari terpaksa melompat ke belakang.

Kesempatan itu dipergunakan oleh Ki Suro Badak untuk melompat jauh ke belakang dan segera dia menghilang ke dalam kegelapan di luar pekarangan.

Dia lalu memberi isarat dengan suara parau seperti burung gagak berkali-kali.

mendengar isarat ini, anak buahnya lalu mundur dan melarikan diri membawa teman-teman yang terluka dan terpaksa meninggalkan mereka yang tewas dalam pertempuran itu.

Karena malam gelap.

Ki Cangak Awu berseru.

"jangan kejar, mari kita padamkan api."

Para anak buah perguruan Jatikusumo segera bekerja keras memadamkan dua buah pondok yang termakan api.

Ki Cangak Awu lalu memeriksa keadaan anak buahnya dan menghitung jatuhnya korban.

Ternyata ada tiga orang anggauta Jatikusumo yang tewas, dan enam orang yang terluka.

Sedangkan di fihak musuh, ada sembilan orang mayat musuh malang melintang di situ.

Ki Cangak Awu memerintahkan para murid untuk mengubur mayat-mayat itu dan merawat yang terluka.

Pada saat itu, tampak seorang murid wanita merangkak keluar dari rmah induk.

Ia menderita luka-luka dan dengan susah payah ia merangkak keluar.

"Makarti, engkau kenapakah?"

Tanya Nyi Pusposari sambil cepat mendekati murid wanita itu.

"Aduh, ketiwasan (celaka), ibu guru....! Adi Nawangsih...."

"Kenapa Nawangsih?"

Nyi Pusposari bertanya, tidak lagi memperhatikan Makarti yang terluka karena seluruh perhatiannya tertuju kepada puterinya, hanya gelisah sekali. Ki Cangak Awu memegang lengan isterinya.

"Biar kutanya dengan tenang. Makarti, apakah keadaanmu baik-baik saja?"

Ki Cangak Awu memeriksa luka di pundak dan paha murid perempuan itu dan hatinya lega melihat bahwa luka-luka itu tidak berbahayam hanya luka kulit dan daging dan tidak mengandung racun.

Lalu, setelah memeriksa dengan teliti dia bertanya.

"Sekarang ceritakanlah, Makarti, apa yang terjadi tadi dengan Nawangsih?"

Makarti lalu bercerita.

Ketika terjadi pertempuran, ia tidak ikut keluar menyambut musuh karena ia mengkhawatirkan keselamatan Nawangsih yang memang menjadi kewajibannya untuk menemani puteri ketua Jatikusumo itu.

Ia dipercaya memiliki watak lembut sehingga akan mampu memberi bimbingan kepada Nawangsih dalam bersikap, bicara, dan bertindak sesuai dengan murid Jatikusumo, apalagi gadis kecil itu adalah puteri tunggal sang ketua.

Tadinya Nawangsih yang penuh semangat itu ingin keluar menyambut musuh, akan tetapi ia dicegah oleh Makarti yang mengkhawatirkan keselamatannya.

Maka ia mengajak Nawangsih untuk tinggal di ruangan dalam saja.

Akan tetapi, ketika pertempuran di luar sedang berlangsung ramai, tiba-tiba seorang pemuda melompat masuk ke dalam ruangan itu.

Tangan kanannya memegang sebatang pedang.

pemuda itu memandang kepada Makarti yang sudah mencabut keris untuk mempertahankan diri, juga kepada Nawangsih, lalu bertanya dengan suara keren.

"Di manakah puteri Ketua jatikusumo?"

Makarti hendak melarang Nawangsih mengaku, akan tetapi terlambat karena gadis remaja itu sudah menjawab lantang.

"Aku Nawangsih, puteri Ketua Jatikusumo! Engkau siapa berani lancang masuk ke sini?"

"Ha-ha-ha, bagus! Engkau ikut denganku!"

Laki-laki itu berkata dan dia sudah menggerakkan tangan kiri untuk menangkap lengan gadis cilik itu.

Akan tetapi Nawangsih yang sejak kecil sudah dilatih ilmu silat oleh orang tuanya, dapat mengelak dengan melangkah mundur.

"Jangan ganggu ia!"

Makarti membentak dan menyerang dengan kerisnya.

Akan tetapi orang itu dengan sigapnya mengelak dan membalas dengan sabetan pedangnya.

Terjadilah perkelahian, akan tetapi pemuda itu jauh lebih tangguh sehingga akhirnya Makarti roboh terkena sabetan pedang, terluka pundak dan pahanya.

Ketika Makarti roboh, orang itu menangkap Nawangsih yang mencoba untuk melawan.

Akan tetapi akhirnya gadis cilik itu dapat diringkus, dipanggul dan dibawa lari.

"Begitulah yang saya alami, Bapa dan Ibu Guru."

"Apa penculik itu tidak mengatakan siapa namanya?"

Tanya Ki Cangak Awu.

"Tidak, dia sama sekali tidak bicara, kecuali ketika bertanya di mana adanya puteri Ketua Jatikusumo."

"Seperti apa dia? Coba gambarkan seperti apa macamnya!"

Kini Pusposari bertanya.

Orangnya masih muda, sekitar dua puluh lima tahun usianya.

Bertubuh jangkung agak kurus.

Wajahnya cukup tampan.

matanya tajam, hidungnya mancung dan mulutnya tersenyum mengejek, membayangkan kesombongan.

Pakaiannya mewah.

Hanya itu yang saya ingat....

o, ya, dia mempunyai sebatang keris yang terselip di pinggangnya dan membawa sebatang pedang."

"Hemm, bagaimana warna kulitnya? Hitam?"

"Tidak, ibu Guru, kulitnya agak putih, rambutnya agak keriting." (Lanjut ke

Jilid 03) Kemelut Blambangan (Seri ke 05 -Serial Pecut Sakti Bajrakirana) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 03 Suami isteri itu saling pandang dan keduanya mengerutkan alis karena tidak dapat mengenal siapa pemuda yang digambarkan Makarti itu.

"Bagaimanapun dan siapa pun dia, sudah pasti penculikan ini ada hubungannya dengan para warok dari Ponorogo itu. Mereka menggunakan gerakan memancing harimau-harimau keluar dari sarang untuk memukul kita dengan penculikan itu!"

Kata Ki Cangak Awu.

"Jahanam yang curang! Menapa menculik anakku yang tidak berdosa? Awas, kalau engkau mengganggu anakku, aku bersumpah untuk membasmi mereka dengan taruhan nyawaku!"

Pusppsari berseru dan kedua matanya menjadi basah oleh tangis yang ditahan-tahan karena kegelisahan hatinya memikirkan anaknya.

"Tidak ada jalan lain. Kita harus melakukan pengejaran ke Ponorogo!"

Kata Cangak Awu.

Suami isteri itu lalu membuat persiapan, menyerahkan pengawasan Jatikusumo kepada murid-murid yang lebih tua, kemudian mereka berdua menunggang kuda meninggalkan perkampungan Jatikusumo untuk melakukan pengejaran terhadap penculik anak mereka yang mereka sangka pastilah ada hubungannya dengan gerombolan yang dipimpin Ki Suro Singo dan Ki Suro Badak.

"Lepaskan aku! Setan kau! Monyet tikus kau! Lepaskan aku!"

Nawangsih meronta-ronta di atas punggung kuda ketika dia diboncengkan seorang pemuda yang menculiknya.

ketika diculik, ia sudah berusaha melawan, akan tetapi tangan kiri orang itu menampar tengkuknya sehingga ia jatuh pingsan dan tidak dapat meronta atau berteriak ketika dilarikan dari rumahnya.

Penculiknya itu melarikan ia keluar perkampungan Jatikusumo dan melanjutkan pelariannya dengan kuda yang memang sudah dipersiapkan di situ.

Dia mendudukkan Nawangsih di depannya dan membalapkan kudanya meninggalkan daerah itu.

Setelah jauh dari Jatikusumo dan mereka tiba di dalam sebuah hutan, Nawangsih siuman dari pingsannya dan gadis cilik ini segera meronta dan memaki-maki.

"Hussh, diam kau! Atau ingin kucekik mampus disini?"

Bentak laki-laki muda itu.

Laki-laki muda itu bukan lain adalah Dartoko, murid Kyai Kasmalapati.

Seperti kita ketahui, guru dan murid ini pernah membikin kacau dusun Sampangan, menakut nakuti dan memeras rakyat, bertindak sewenang-wenang bahkan menculik gadis-gadis dusun yang cantik.

Kemudian muncul Maya Dewi yang mengalahkan mereka sehingga mereka melarikan diri ketakutan dari Gua Siluman yang selanjutnya dipilih Maya Dewi untuk dijadikan tempat ia bertapa mengasingkan diri untuk mengobati perasaan duka karena harus berpisah dari Bagus Sajiwo.

Dartoko dan gurunya Kyai Kasmalapati mengobati luka dalam yang mereka derita dan kembali ke Blambangan dari mana Kyai Kasmalapati berasal.

Segera dia menggabungkan diri dengan Adipati Blambangan yang bermaksud memberontak terhadap Mataram.

Dartoko mendapat tugas istimewa, yaitu dia ditugaskan untuk mengacau dan kalau mungkin membunuh ketua dan para tokoh Perguruan Jatikusumo karena perguruan itu terkenal sebagai perguruan orang-orang yang setia kepada Mataram.

Pada waktu Dartoko tiba di luar perkampungan Jatikusumo, kebetulan sekali gerombolan para warok golongan hitam dari Ponorogo datang menyerbu.

Dartoko mempergunakan kesempatan itu untuk menculik Nawangsih karena dari pengintaiannya dia pun melihat betapa tangguhnya ketua Jatikusumo dan isterinya.

"Iblis jahat, setan alas! Lepaskan aku! Ayah dan ibuku pasti akan meremukkan kepalamu kalau engkau tidak membebaskan aku sekarang!"

Nawangsih meronta-ronta dan memaki-maki karena rontaannya, kuda yang mereka tunggangi menjadi kaget dan mengangkat dua kaki depannya ke atas.

Gerakan kuda ini membuat Dartoko terpaksa membawa gadis cilik itu melompat turun dari punggung kudanya.

Begitu turun dari atas kuda, Nawangwulan meronta dan Dartoko yang meraih kendali kuda untuk menenangkan binatang itu terpaksa melepaskannya.

Dia berhasil menangkap kendali kuda dan selagi dia berusaha membuat kuda itu tenang kembali, tiba-tiba lambung kirinya dihantam Nawangsih.

"Bukk!"

Pukulan anak perempuan berusia tiga belas tahun itu tentu saja tidak ada artinya bagi Dartoko yang memiliki tingkat kepandaian yang tinggi.

Akan tetapi karena anak itu sejak kecil sudah digembleng oleh orang tuanya, maka pukulannya bukan lagi pukulan lemah seorang anak perempuan, melainkan sudah mengandung tenaga dalam yang lumayan.

Maka, biarpun pukulan itu tidak melukai Dartoko, tetap saja dia meringis karena isi perutnya terguncang.

"Anak setan!"

Dia memaki dan melepaskan kendali kuda, lalu menerjang ke arah Nawangsih untuk meringkus anak perempuan yang bandel dan pemberani itu.

Akan tetapi, Nawangsih sudah dapat mengelak ke samping, kemudian dari samping kembali ia memukul sekuatnya ke arah perut Dartoko dengan tangan kananya dan berbareng tangan kirinya mencengkeram ke arah muka laki-laki itu!

"Anak liar!"

Dartoko cepat menyambut dua serangan itu dengan kedua tangannya dan dia sudah dapat menangkap kedua pergelangan gadis cilik itu.

Nawangsih meronta-ronta hendak melepaskan kedua lengannya, namun dia-sia.

Genggaman tangan Dartoko amat kuatnya.

Ia menjadi semakin merah dan kakinya menendang ke arah bawah pusar lawan!

Dartoko menyambut dengan kakinya.

"Dukk!"

Kini Nawangsih yang menggigit bibir kesakitan ketika tulang kering kakinya bertemu dengan kaki Dartoko.

Ia tahu bahwa menendang lagi tidak menguntungkan.

Kalau harus beradu kaki, tulang kakinya kalah tua dan kalah kuat.

"Lepaskan, tikus busuk!"

Ia memaki dan meronta-ronta lagi.

Akan tetapi kini Dartoko menyatukan kedua pergelangan tangan anak itu ke dalam genggaman tangan kanannya.

Jari-jarinya yang panjang membuat dua pergelangan tangan Nawangsih tidak mampu bergerak, seperti terikat.

"Heh-heh-heh, anak perempuan berandalan!"

Dartoko mengejek dan tangan kirinya mencubit pipi Nawangsih, anak yang masih remaja namun sudah tampak mungil dan manis sekali.

"Cuhh!"

Nawangsih berdongak dan meludah ke arah muka Dartoko. Wajah Dartoko menjadi merah sekali ketika pipinya terkena ludah. Kalau tadinya jari-jari tangan kirinya membelai pipi kini bergerak menampar pipi.

"Plakk!"

Untung bagi Nawangsih bahwa Dartoko tidak mengerahkan tenaga sakti ketika menampar, hanya merupakan tamparan biasa saja.

Namun cukup keras membuat pipi anak itu merah dan terasa nyeri, panas dan pedih.

Nawangsih tidak menjadi takut, malah ia marah sekali, lalu timbul akalnya untuk melepaskan kedua tangannya.

Ia menunduk dan menggigit tangan kanan Dartoko yang menggenggam kedua pergelangan tangannya, menggigit dengan sekuatnya.

"Auhhh....!"

Dartoko berteriak dan otomatis melepaskan pegangannya karena punggung tangan kanannya robek berdarah digigit deretan gigi yang kuat itu.

Setelah kedua tangannya terlepas, kembali Nawangsih menyerang dengan pukulan tangan kanan ke arah muka Dartoko yang sedang membungkuk memijati tangan kanannya yang nyeri.

"Plokk!"

Pukulan itu mengenai pipi Dartoko.

Dia menggereng seperti seekor singa marah, lalu menerjang anak itu dengan tamparan tangannya.

Nawangsih berhasil mengelak dua kali, akan tetapi tamparan yang ketiga kalinya tak dapat dihindarkan.

"Plakk!"

Tubuh Nawangsih terpelanting dan ia cepat menggulingkan tubuhnya begitu terbanting ke atas tanah untuk menjauhkan diri dari lawan.

Tamparan itu membuat kepalanya terasa pening dan ada sedikit darah keluar dari ujung bibirnya.

Melihat Dartoko kini mulai merobek ujung bajunya dan membalut luka gigitan pada tangan kanannya, Nawangsih tidak menyia-nyiakan kesempatan itu dan ia cepat melarikan diri ke arah dalam hutan itu.

"Anak setan, hendak lari ke mana kau?"

Dartoko membentak dan melakukan pengejaran.

Akan tetapi Nawangsih dapat berlari cepat sekali, menyusup-nyusup di antara semak-semak belukar dan pohon-pohon besar!

Kewalahan juga Dartoko mengejar.

Karena khawatir kehilangan jejak, dia mencabut pedangnya dan membabati semak-semak yang menghalang jalannya.

dengan tindakan ini, dia dapat melihat dan mengejar Nawangsih.

Kini buruannya sudah hampir tersusul.

Akan tetapi ketika gadis cilik itu melompat ke belakang semak-semak, ia lenyap!

Dartoko mencari-cari, akan tetapi layangan pandang matanya tidak menemukan bayangan anak itu.

Anak itu seolah ditelan bumi!

Dia mengamuk dengan pedangnya, membabati semak dan pohon-pohon kecil.

Tiba-tiba dia mendengar langkah kaki yang ringan.

Cepat dia menoleh dan ternyata Nawangsih bersembunyi di balik sebatang pohon yang besar sekali dan kini anak itu sudah lari lagi.

Dartoko mulai merasa lelah dipermainkan Nawangsih yang menyusup ke sana-sini dengan gesitnya.

dan kembali gadis cilik itu lenyap!

Dartoko berhenti mengejar dan mencari-cari ke depan.

Dia melihat sebatang pohon besar dan dia menyeringai.

Dia melangkah perlahan-lahan agar tidak menimbulkan suara, lalu muncul dari balik pohon besar.

Nawangsih yang bagaikan seekor kelinci dikejar harimau, memang bersembunyi di balik batang pohon itu sambil terengah-engah dan keringatnya bercucuran, matanya yang jeli itu bergerak memandang ke kanan kiri.

Ia merasa aman ketika tidak mendengar suara Dartoko mengamuk.

tentu pengejarnya itu sudah mengejar ke arah lain dan sudah menjauh maka tidak terdengar suaranya seperti tadi.

Tiba-tiba, Dartoko muncul dari balik pohon sambil menyeringai buas!

Hampir Nawangsih menjerit saking kagetnya dan ia melompat untuk lari lagi.

Akan tetapi Dartoko sudah meraih ke depan.

"Mau lari ke mana engkau, setan?"

Dia berhasil menangkap punggung baju Nawangsih, mencengkeram baju itu untuk menahan gadis cilik yang hendak lari itu.

Merasa belakang bajunya ditangkap, Nawangsih mengerahkan tenaganya dan meloncat ke depan.

"Breetttt....!"

Baju itu terobek bagian belakang, dari punggung sampai sebagian pinggulnya tidak tertutup lagi.

Dartoko terbelalak melihat tubuh bagian belakang yang tidak tertutup lagi itu.

Nawangsih sudah lari lagi secepatnya.

Timbul gairah di hati laki-laki yang sudah lama menjadi budak nafsunya sendiri itu.

Tidak ingat bahwa Nawangsih adalah seorang gadis remaja yang belum dewasa, gairah nafsunya berkobar dan dia melakukan pengejaran dengan cepat.

Nawangsih melarikan diri sekuat tenaga.

Namun, tak lama kemudian ia sudah mendengar jejak langkah pengejarnya, dekat di belakangnya.

Bahkan dibelakangnya, laki-laki itu mendengus-dengus seperti seekor kerbau mengamuk.

Tiba-tiba Nawangsih menjerit ketika tubuhnya diterkam dari belakang sehingga ia terguling jatuh.

Dartoko merangkul dan menindih, menggumulinya.

Nawangsih melawan dengan pukulan kedua tangannya, menendang-nendang dengan kedua kakinya, bahkan menggunakan gigi untuk menggigit!

Akan tetapi skhirnya ia ditelikung dan Dartoko menindih tubuhnya sambil tertawa bergelak.

"Lepaskan anak itu!"

Terdengar bentakan nyaring dan Dartoko terkejut.

Ketika menoleh ke belakang dia melihat seorang pemuda berdiri di situ dengan alis berkerut dan pandang mata marah.

Dartoko terpaksa melepaskan Nawangsih dan melompat berdiri menghadapi pemuda itu.

Dia mengamatinya dan merasa tidak mengenalnya.

Pemuda itu masih muda sekali, tentu belum ada dua puluh tahun usianya, wajahnya luar biasa tampannya.

Melihat pemuda yang tampaknya masih remaja dan tubuhnya juga kelihatan lemah, tangan yang tersembul dari lengan baju itu pun kecil, Dartoko memandang rendah.

"Babo-babo, bocah kemarin sore masih ingusan berani mati mengganggu dan mencampuri urusanku! Apa engkau bosan hidup?"

Pemuda itu tersenyum dan wajahnya bertambah tampan ketika dia tersenyum.

"Heh, engkau ini buaya atau manusia? Kalau buaya, mengapa dapat bicara, akan tetapi kalau manusia, mengapa perbuatanmu seperti buaya! Mau kau apakan anak itu?"

Dartoko mendelik saking marahnya.

"Bocah kurang ajar! Anak ini adalah milikku, mau kuapakan sesukaku! Apa urusannya dengan kamu?"

Nawangsih yang melihat ada orang membelanya, lari ke dekat pemuda itu.

"Kisanak, dia iblis jahat, telah menculik aku dari rumah orang tuaku!"

Katanya nyaring. Pemuda itu mengngguk-angguk.

"Adik, berdirilah di sana, di belakangku. Jangan takut, aku yang akan menghajar buaya darat ini!"

Dartoko menjadi semakin marah ketika melihat pemuda yang mengenakan pakaian rangkap banyak itu menanggalkan jubah luarnya dan menyelimutkan ke tubuh Nawangsih.

"Bocah sombong, sebelum engkau mempus di tanganku, katakan dulu siapa namamu agar engkau jangan mati tanpa nama!"

"He, bajul buntung (buata tak berekor)! Kamu tidak patut menanyakan namaku sebelum engkau memperkenalkan dulu namamu yang kotor dan busuk!"

Dartoko menjadi merah mukanya. Alangkah beraninya bocah ini, pikirnya.

"Kurang ajar! Aku adalah Raden Dartoko, murid Kyai Kasmalapati datuk besar Blambangan!"

"Heh-heh, dari mana engkau memungut gelar Raden itu? Aku bernama Joko Darmono, adapun guruku adalah kakek guru dari Kyai Kasmalapati!"

"Keparat! berani engkau menghina guruku?"

"Guru mu itu masih murid keponakanku dan engkau masih cucu muridku. Hayo berlutut beri hormat kepada Eyang Grumu ini!"

Pemuda itu berkata sambil tersenyum lebar.

"Jahanam!"

Dartoko tidak mampu menahan kemarahannya lagi dan dia sudah mencabut pedangnya dan langsung menyerang pemuda itu tanpa memberi peringatan lagi.

Pedangnya berubah menjadi sinar menyambar ke arah leher pemuda itu.

Nawangsih memandang dengan mata terbelalak.

Sebagai puteri Ketua Jatikusumo ia sudah biasa melihat orang bermain pedang dan ia tahu betapa hebatnya serangan penculiknya itu.

Kalau pedang itu mengenai leher pemuda penolongnya, pasti leher itu akan putus dan kepalanya terpisah dari badan!

Akan tetapi dengan gerakan lincah pemuda itu sudah menekuk lutut merendahkan tubuhnya sehingga sabetan pedang lewat di atas kepalanya dan dari bawah tangan kanannya yang sudah mencabut keris ditusukkan ke arah perut lawan!

Dartoko terkejut sekali dan cepat dia melompat ke belakang.

kesempatan itu dipergunakan oleh pemuda yang bernama Joko Darmono itu untuk meloloskan sehelai sabuk yang diikatkan di pinggangnya, Sabuk itu panjangnya ada setombak, terbuat dari benang sutera yang dipilin menjadi semacam pecut sebesar lengan dengan ujung mengecil.

"Tar-tar-tarrr....!"

Sabuk atau pecut itu meledak-ledak ketika tangan kiri Joko Darmono menggerakkannya.

Kini tangan kiri memegang pecut dan tangan kanan memegang keris, dengan tenang dia berdiri menanti serangan lawan.

Kini mengertilah Dartoko mengapa pemuda remaja yang tampak ringkih (lemah) itu berani menentangnya.

Kiranya pemuda itu bukan orang sembarangan!

Dia pun bersikap hati-hati dan diam-diam dia mengerahkan sihirnya, mulutnya berkemak-kemik dan pandang matanya seolah menembus dahi Joko Darmono untuk menguasai pikirannya.

"Joko Darmono, engkau berhadapan dengan orang yang lebih tua dan lebih kuat daripada engkau! Kedua kakimu lemas, pikiranmu hanya untuk mentaati perintahku. Kuperintahkan engkau berlutut dan menyembah padaku!"

Suara Dartoko yang mengandung daya sihir itu amat berwibawa.

Akan tetapi pemuda tampan yang hendak dipengaruhi dengan sihirnya itu masih berdiri tenang-teang saja, sama sekali tidak menjatuhkan diri berlutut dan menyembah seperti diperintahkan Dartoko.

"Heh-heh, bajul buntung ini malah sudah edan (gila) pula!!"

Pemuda tampan itu malah mengejek.

Dartoko merasa penasaran sekali.

Dari gurunya, Kyai Kasmalapati, dia bukan hanya mempelajari ilmu silat akan tetapi juga ilmu sihir dan dia telah memiliki kekuatan sihir yang kuat.

Bagaimana mungkin pemuda remaja ini sama sekali tidak terpengaruh daya sihirnya yang kuat?

Karena merasa penasaran, mulutnya berkemak-kemik lebih cepat lagi dan kedua tangannya dia sodorkan ke depan dengan telapak tangan menghadap pemuda itu.

"Berlutut dan menyembahlah, Joko Darmono!"

Bentaknya dan suaranya mengandung getaran hebat. Akan tetapi Joko Darmono tetap saja berdiri tegak sambil tersenyum, bagaikan batu karang yang kokoh kuat diterpa angin, sedikitpun tidak terguncang.

"Kakang Joko, orang jahat ini sudah gila! Hiih, menakutkan sekali!"

Joko Darmono menoleh dan memandang Nawangsih yang kini tersenyum jenaka. Jelas bahwa anak perempuan itu mengejek Dartoko. Dia tertawa, lalu berkata.

"Orang yang jahat itu memang tidak ada bedanya dengan orang gila, Adik.... eh, siapa namamu?"

"Namaku Nawangsih.... he, awas, Kakang!"

Dengan curang, selagi Joko Darmono menoleh dan bicara dengan Nawangsih, Dartoko dengan tiba-tiba sudah melancarkan serangan dengan pedangnya, melakukan gerakan menusuk punggung pemuda itu.

Joko Darmono tidak sempat membalikkan tubuhnya, akan tetapi tangan kirinya bergerak dan sabuk di tangan kirinya itu menyambar dari atas mengeluarkan bunyi ledakan dan ujung sabuk sudah mengancam kepala Dartoko!

Dartoko maklum betapa dahsyatnya ujung sabuk yang seperti pecut itu mengancam ubun-ubun kepalanya, maka terpaksa dia mengelak ke samping sehingga tusukan pedangnya juga tertunda.

"Trang-cring-traaangggg....!"

Bunga api berpijar ketika keris beremu keris dan pedang bertemu ujung cambuk atau sabuk itu.

Mereka lalu saling menyerang dengan hebat.

Kedua fihak baru menyadari sepenuhnya bahwa fihak lawan benar-benar tangguh sehingga mereka mencurahkan segala kemampuan mereka untuk menjatuhkan lawan.

Namun Dartoko sekali ini kecelik.

Tadi dia memandang rendah pemuda remaja yang kelihatannya lemah itu, akan tetapi ternyata setelah perkelahian berlangsung lebih dari tiga puluh jurus, dia mulai kewalahan!

Semua serangannya seperti bertemu perisai baja yang amat kuat, sebaliknya, serangan pemuda itu amat cepatnya sehingga beberapa kali dia nyaris menjadi korban sabuk atau keris pemuda itu.

Nawangsih dapat mengerti bahwa penolongnya berada di atas angin.

Maka mulailah gadis cilik yang lincah dan bengal itu memberi komentar untuk membakar semangat penolongnya dan untuk mengejek penculiknya.

"Bagus, desak terus, Kakang Joko! Jangan kasih ampun bajul buntung itu! Tusuk saja perutnya, pecahkan dadanya dan remukkan kepalanya!"

Seolah mendapat tambahan semangat oleh kata-kata gadis cilik itu, Joko Darmono mempercepat gerakannya sehingga Dartoko menjadi semakin terdesak dan main mundur.

"Bagus, Kakang Joko! Lihat, muka bajul buntung itu sudah mulai pucat! Sebentar lagi dia akan mati!"

Tiba-tiba Dartoko membuat gerakan ke samping, melompat dan dia tiba dekat Nawangsih lalu menggunakan pedangnya menyerang anak perempuan itu.

"Tranggg....!"

Joko Darmono mengejar dan menangkis serangan itu, lalu dia melindungi Nawangsih agar tidak sampai diserang lagi.

Akan tetapi kiranya serangan Dartoko terhadap Nawangsih tadi hanya untuk mengalihkan perhatian Joko Darmono karena kini tiba-tiba dia melompat jauh dan melarikan diri lintang pukang seperti dikejar setan.

Nawangsih tertawa dan bersorak hembiara.

Dengan hati kagum dan heran Joko Darmono menyimpan sabuk dan kerisnya sambil memandang wajah gadis cilik itu.

Biarpun baru berusia tiga belas tahun, Nawangsih sudah tampak manis sekali dan tubuhnya yang masih kekanak-kanakan itu padat, juga sikapnya penuh semangat dan agaknya anak itu sama sekali tidak merasa ketakutan walaupun tadi ia berada dalam cengkeraman orang yang kejam dan jahat!

Ini jelas bukan gadis desa sembarangan, pikir Joko Darmono.

"Kakang Joko, mengapa engkau tidak mengejar bajul buntung itu?"

Nawangsih menegur penolongnya. Joko Darmono tersenyum.

"Ada dua hal yang membuat aku tidak mengejarnya, Nawangsih."

"Hemm, apa itu?"

"Pertama, mengejar penjahat seperti itu dalam hutan ini berbahaya karena aku tidak mengenal hutan ini dan dia dapat memasang jebakan. Ke dua, aku tidak tahu urusan antara engkau dan dia. Siapa tahu fihakmu yang bersalah Nawangsih cemberut.

"Hemm, kalau engkau ragu dan tidak percaya kepadaku, mengira bahwa mungkin aku yang bersalah, mengapa engkau tadi menolongku?"

Joko Darmono tersenyum. Anak ini selain manis, tabah tak kenal takut, juga galak dan pandai bicara! "Aku tadi menolongmu karena engkau anak yang manis!"

Katanya menggoda. Nawangsih tetap cemberut dan sepasang matanya yang bening itu menatap tajam wajah Joko Darmono.

"Apa engkau mempunyai anggapan bahwa bajul buntung tadi bukan orang jahat?"

"Ah, aku yakin dia itu orang jahat dan kejam."

"Kalau begitu, mengapa masih sangsi bahwa aku berada di fihak benar? Bukankah orang jahat itu selalu mengganggu orang yang benar? Yang jahat biasanya tidak mengganggu yang jahat, malah berkomplot. Sudah kukatakan tadi bahwa dia menculik aku dari rumah orang tuaku."

"Nawangsih, siapakah orang tuamu? Ingin sekali aku mengetahuinya. anak seperti engkau ini pasti bukan puteri orang sembarangan."

Nawangsih tidak cemberut lagi, malah kini tersenyum dan ia membusungkan dadanya yang masih rata.

"Ayahku adalah Ki Cangak Awu, ibuku Nyi Pusposari. mereka adalah pemimpin perguruan Jatikusumo."

"Wah, kiranya engkau puteri Ketua Perguruan Jatikusumo? Akan tetapi mengapa engkau sampai dapat dilarikan orang tadi? Mengapa Ayah Ibumu tidak mencegah engkau diculik?"

"Ketika itu, perkampungan kami diserbu gerombolan musuh. Kalau tidak salah para penyerbu itu adalah gerombolan para warok sesat dari Ponorogo. Ayah dan ibu sedang memimpin para murid bertempur dengan para penyerbu. Tiba-tiba bajul buntung tadi masuk, melukai Mbakayu Makarti yang melindungi aku dan menangkapku dan membawa lari sampai ke sini. Hemm, kalau ada Ayah Ibuku, tidak mungkin Si Kadal itu mampu menculik aku!"

Joko Darmono tertawa geli mendengar Nawangsih menyebut Dartoko kadal.

"Nawangsih, mengapa engkau menebut penculikmu yang bernama Dartoko itu kadal?"

Nawangsih memandang pemuda itu dengan sinar mata menantang.

"Dan mengapa engkau menyebut dia bajul buntung?"

Kembali Joko Darmono tertawa. Gadis cilik ini mempunyai watak tabah, berani menentang, juga bengal dan ugal-ugalan.

"Bajul atau buaya adalah sebutan bagi orang jahat, kutambah buntung karena kalau buaya mempunyai ekor akan tetapi manusia tentu saja tidak mempunyai ekor alias buntung!"

"Aku menyebutnya kadal karena dia licik dan curang. Buktinya tidak berani terang-terangan di depan Ayah Ibuku ketika menculik aku, dan tadipun dia melarikan diri karena kalah bertanding melawanmu. Kadal itu sifatnya pengecut, tidak berani berhadapan dengan musuh terang-terangan, menyusup-nyusup ke bawah semak-semak atau sampah."

Joko Darmono tertawa dan merangkul pundak Nawangsih.

"Engkau anak nakal! Engkau manis sekali."

"Plakk!"

Tangan Nawangsih menampar tangan Joko Darmono yang merangkul pundaknya.

"Eh? Mengapa engkau menampar tanganku?"

Joko Darmono memandang heran. Nawangsih cemberut dan menatap wajah pemuda itu dengan alis berkerut dan penuh curiga.

"Ibuku bilang bahwa aku harus waspada terhadap laki-laki yang memuji-mujiku karena itu hanya rayuan gombal belaka. Ayahku juga berkata bahwa kalau ada laki-laki memegang-megang atau merangkulku, dia itu orang kurang ajar dan aku harus melawan dan memukulnya! Dan engkau tadi memujiku dan merangkul pundakku!"

Joko Darmono terbelalak lau tertawa terkekeh-kekeh.

"Ha-ha-heh-heh-heh! Engkau bocah lucu, bengal, dan pandai bicara. Aku tidak berniat buruk, untuk apa aku menolongmu dari tangan kadal tadi? Mari kuantar engkau pulang ke rumah orang tuamu."

Nawangsih mengangguk lalu menuding ke arah kuda yang tadi ditunggangi Dartoko. Orang itu melarikan diri dan tidak sempat menggunakan kudanya.

"Itu ada kuda. Dengan naik kuda perjalanan pulang dapat lebih cepat dan tidak melelahkan."

Joko Darmono juga memandang ke arah kuda itu dan tersenyum, katanya.

"Akan tetapi hanya ada seekor kuda."

"Kuda itu cukup kuat ditunggangi berdua. Tadi pun ditunggangi penculik itu dan aku diboncengnya."

Joko Darmono menghampiri kuda, memegang tali kendalinya dan menuntun kuda itu mendekati Nawangsih, lalu dia memamndang gadis cilik itu dan bertanya.

"Kita menunggang bersama?"

"Ya, kita berboncengan."

"Hemm, engkau akan duduk di mana? Depan atau belakang?"

"Aku di depan dan engkau di belakang, mengendalikan kuda."

"Wah, aku takut ah!"

Joko Darmono menggoda.

"Takut? Takut apa?"

Nawangsih bertanya heran, sepasang mata jeli itu terbelalak memandang wajah pemuda itu.

Pemuda yang gagah perkasa dan sakti mandraguna itu takut?

"Kita akan duduk berhimpitan dan itu berari aku akan menyentuhmu.

Aku takut kau tampar lagi!"

Kedua pipi gadis tanggung itu menjadi merah. Ia tahu bahwa pemuda itu menyindirnya.

"Kalau berboncengan, tentu saja kita saling bersentuhan. Akan tetapi hal itu terjadi bukan kau sengaja. Kalau engkau sengaja bertindak kurang ajar di atas kuda, pasti aku akan memukulmu!"

Pemuda itu tertawa lagi.

"Nah, naiklah lebih dulu. Nanti aku duduk di belakangmu!"

Nawangsih melompat dengan cekatan dan ringan ke atas punggung kuda setelah ia menyingsingkan kainnya sampai ke atas lutut.

Joko Darmono tersenyum dan dia pun melompat ke atas punggung kuda dan duduk berhimpitan dengan Nawangsih, dia berkata.

"Sekarang tunjukkan jalan ke arah mana tempat tinggal orang tuamu."

Nawangsih menjadi penunjuk jalan dan Joko Darmono menjalankan kuda itu dengan santai, tidak terlalu cepat sehingga tubuh mereka tidak terlalu terguncang.

Ki Cangak Awu dan Nyi Pusposari membedal kuda mereka keluar dari perkampungan Jatikusumo, dengan niat menuju Ponorogo.

Ketika tiba di jalan pertigaan, mereka berhenti dan meragu.

Mereka tidak tahu kemana anak mereka dibawa penculik.

Terus ke utara ataukah membelok ke barat?

Selagi mereka bingung dan ragu, tiba-tiba datang seorang penunggang kuda.

Suami isteri itu memandang penuh perhatian dan melihat bahwa penunggang kuda itu seorang pemuda berusia sekitar dua puluh tahun dengan pakaian sederhana.

Pemuda itu lewat dan dia juga memandang ke arah suami isteri itu penuh perhatian, walaupun hanya selewat.

Ki Cangak Awu dan Nyi Pusposari tidak mengenal pemuda itu, maka mereka tidak memperhatikannya lagi.

Akan tetapi, selagi mereka melanjutkan perjalanan ke utara, menuju ke Ponorogo karena jalan itulah yang mereka putuskan, tiba-tiba mereka mendengar derap kaki kuda di belakang.

Mereka menengok dan ternyata penunggang kuda tadi yang kini kembali.

Setelah tiba di dekat mereka, penunggang kuda itu menghentikan kudanya dan memandang kepada suami isteri itu penuh perhatian.

Ki Cangak Awu dan Nyi Pusposari juga menangkap wajah pemuda itu dengan heran.

Pemuda itu merangkap kedua tangannya di depan dada sebagai sembah penghormatan lalu bertanya dengan suara lembut.

"Mohon maaf atas kelancangan saya, Paman dan Bibi. Saya ingin bertanya, apakah Paman ini Ki Cangak Awu ketua perguruan Jatikusumo dan Bibi Pusposari isteri Paman?"

Suami isteri itu memandang heran. Mereka merasa tidak pernah mengenal pemuda ini.

"Benar sekali, orang muda."

Jawab Ki Cangak Awu.

"Akan tetapi, siapakah Andika dan bagaimana Andika tahu bahwa kami adalah Ki Cangak Awu dan Nyi Pusposari?"

Pemuda itu cepat melompat turun dari punggung kudanya, lalu kembali menyembah dengan sikap hormat.

"Paman dan Bibi, saya adalah Bagus Sajiwo, putera Ayah Tejomanik dan Ibu Retno Susilo."

"Ahh....!"

Suami isteri itu melompat turun dari atas kuda.

"Kiranya engkau putera Kakangmas Sutejo?"

Kata Ki Cangak Awu yang menyebut kakangmas kepada Tejomanik atau Sutejo walaupun dia lebih tua karena dia menikah dengan Pusposari, adik angkat Tejomanik.

"Bagus Sajiwo, bukankah engkau hilang diculik orang? Aduh, mengapa anakku juga mengalami hal yang sama....?"

Pusposari teringat akan Nawangsih yang diculik orang dan tiba-tiba ia menangis.

"Kanjeng Bibi, tentang diri saya kita bicarakan nanti saja. Sekarang harap Bibi ceritakan, apa arti ucapan bibi tadi? Anak Bibi diculik orang?"

Cangak Awu yang menjawab karena isterinya masih sesenggukan.

"Ah, malapetaka menimpa kami, Bagus Sajiwo. Jatikusumo diserbu gerombolan warok Ponorogo dan dalam keributan itu, kami dapat mengusir musuh, akan tetapi anak kami, Nawangsih yang berusia tiga belas tahun, dilarikan seorang pemuda. Kami berdua sekarang hendak melakukan pengejaran ke Ponorogo, akan tetapi di sini kami ragu karena jalan bercabang. Kami memutuskan untuk melakukan pengejaran ke utara menuju ke Ponorogo."

"Kalau begitu, biarlah saya yang akan mengejar ke barat. Bagaimana ciri penculik itu, Paman?"

"Yang melihat adalah seorang murid Jatikusumo yang dilukainya. Dia seorang pemuda yang berwajah tampan."

"Baik, saya mohon pamit, Paman dan Bibi. Saya akan melakukan pengejaran!"

Kata Bagus Sajiwo sambil melompat ke atas kudanya dan membalapkan kuda itu ke arah barat.

Ki Cangak Awu dan Nyi Pusposari juga segera melanjutkan pengejaran mereka ke utara.

Seperti kita ketahui, Bagus Sajiwo meninggalkan rumah orang tuanya di lereng Gunung Kawi untuk merantau dan ayahnya berpesan agar dia singgah diperguruan Jatikusumo, menjenguk Bibinya, Pusposari yang menjadi isteri Ki Cangak Awu ketua Jatikusumo.

Dia sudah mendengar keterangan Ayah Ibunya tentang ciri-ciri Ki Cangak Awu dan Nyi Pusposari, maka ketika tadi berpapasan, dia mengenal mereka.

Mendengar puteri mereka yang bernama Nawangsih diculik orang, tentu saja dia segera ingin membantu melakukan pengejaran.

Nawangsih adalah puteri bibinya, berarti adik misannya!

Ketika kudanya tiba di jalan yang memasuki hutan, dia berhenti dan meneliti tanah, Tanah di situ agak lembab maka jelas tampak olehnya jejak kaki kuda yang cukup dalam seolah kuda itu membawa beban berat.

Inilah kuda penculik itu, pikirnya.

Penculik itu membawa Nawangsih, tentu saja bebannya yang dua orang itu menjadi berat dan meninggalkan jejak yang jelas di atas tanah.

dia lalu menjalankan kudanya, mengikuti jejak kaki kuda itu yang memasuki hutan.

Matahari mulai condong ke barat.

Walaupun sinar matahari masih panas menyengat, namun di dalam hutan itu tampak teduh karena banyaknya pohon rindang yang daun-daunnya merupakan perisai terhadap sinar matahari.

Bagus Sajiwo masih terus mengikuti jejak kaki kuda.

Mudah saja jejak itu diikuti karena tidak terdapat jejak kaki kuda lain yang sejelas jejak yang diikutinya itu.

Dia harus mengikuti terus, kemanapun jejak kaki kuda itu menuju.

Kalau sebentar lagi malam tiba dan cuaca menjadi gelap sehingga tidak mungkin lagi melihat jejak kaki kuda itu, baru dia akan berhenti untuk dilanjutkan besok kalau sudah terang tanah.

Dia merasa bahwa dia telah menemukan jejak penculik itu.

Dia harus dapat menemukan adik misannya!

Tiba-tiba dia menahan kudanya.

Pendengarannya yang tajam dapat menangkap suara yang datang dari depan.

Suara orang bicara!

Cepat dia turun dari atas punggung kudanya, membawa kudanya agak menjauh lalu melepaskan kendali dan membiarkan kuda itu makan rumput.

Dia sendiri cepat kembali ke jalan tadi, bersembunyi di balik sebatang pohon besar.

Suara orang bicara itu semakin mendekat dan Bagus Sajiwo menanti dengan hati tegang dan penuh harap bahwa yang datang itu adalah penculik yang dikejarnya, walaupun dia merasa sangsi karena kalau orang itu benar si penculik, mengapa dia kembali?

Joko Darmono yang mengendalikan kuda dengan Nawangsih di depannya, menjalankan kudanya dengan santai saja.

"begini, kapan sampainya?"

"Cepatkan dong kudanya!"

Nawangsih menegur.

"Kalau merangkak seperti siput Mendengar omelan gadis remaja itu, Joko Darmono tersenyum.

"Kalau kubalapkan, aku takut engkau pukul karena kita akan terguncang-guncang sehingga tubuh kita berhimpitan. Engkau akan menganggap aku kurang ajar lalu memukul, kan repot!"

"Jangan goda aku. Cepatlah, lihat, hari sudah menjelang sore. Kita akan kemalaman di hutan!"

"Kemalaman juga tidak mengapa. Kita membuat api unggun pengusir nyamuk dan dingin, tidur di bawah pohon dan besok kita lanjutkan perjalanan."

"Tidak! Aku tidak sudi tidur denganmu! Lebih baik aku mati daripada harus tidur denganmu. Ternyata engkau laki-laki kurang ajar, brengsek!"

Bagus Sajiwo mendengar kata-kata yang diteriakkan dengan marah oleh Nawangsih itu, maka cepat dia melompat dan menghadang di depan kuda Joko Darmono.

Pemuda ini terkejut dan menahan kudanya, memandang kepada Bagus Sajiwo yang tiba-tiba muncul menghadang itu.

Bagus Sajiwo tadi mendengar percakapan mereka dan tahu bahwa pemuda itu jelas bukan orang baik-baik karena telah menculik gadis remaja itu.

Akan tetapi dia masih belum yakin benar apakah benar gadis itu puteri Ki Cangak Awu.

"Adik manis, apakah Andika yang bernama Nawangsih?"

Tanya Bagus Sajiwo.

Nawangsih memandang pemuda yang menghadang di depannya itu dengan sinar mata penuh selidik dan alis berkerut, sudah merasa tidak senang dipanggil adik manis yang merupakan pujian kepadanya.

Pujian laki-laki berarti rayuan gombal!

"Hemm, aku memang Nawangsih dan engkau mau apa?"

Bagus Sajiwo tidak menjawab akan tetapi tiba-tiba tubuhnya meloncat dan berkelebat cepat sekali.

Bagaikan seekor burung garuda terbang, dari atas dia sudah menyerang Joko Darmono dengan tamparan ke arah kepala pemuda itu.

Joko Darmono terkejut sekali melihat serangan mendadak yang tdak disangka-sangkanya itu.

Cepat dia melompat turun dari atas punggung kudanya untuk menghindarkan diri dan pada saat itu, Bagus Sajiwo sudah memondong tubuh Nawangsih dan membawanya turun dari atas kuda.

Ternyata serangannya tadi hanya merupakan gertakan saja agar Joko Darmono melepaskan gadis remaja itu.

Nawangsih yang dirangkul dan dipondong Bagus Sajiwo turun dari kuda, meronta-ronta.

"Lepaskan aku! Lepaskan, setan kurang ajar! Jangan sentuh aku!"

"Adik Nawangsih, aku hendak menolongmu."

Kata Bagus Sajiwo. akan tetapi pada saat itu Nawangsih yang dirangkul segera menggunakan giginya yang kuat menggigit tangan yang merangkulnya.

"Aduh....!"

Bagus Sajiwo berseru, lebih kaget daripada nyeri karena sama sekali tidak disangkanya bahwa anak perempuan yang hendak ditolongnya itu malah menggigit tangannya.

Dan lebih heran lagi hatinya melihat Nawangsih yang terpaksa dia lepaskan itu kini lari ke arah pemuda yang memboncengkannya tadi.

Lari kepada si Penculik!

Nawangsih memilih berdekatan dengan Joko Darmono karena ia sudah yakin bahwa Joko Darmono membebaskannya dari tangan Dartoko yang jahat.

Sedangkan pemuda yang baru muncul ini sama sekali tidak dikenalnya.

Tentu saja ia merasa curiga kepada Bagus Sajiwo dan merasa lebih aman minta perlindungan Joko Darmono.

Panas juga perut Bagus Sajiwo melihat betapa pemuda tampan itu terkekeh-kekeh, menertawakan dia yang digigit gadis remaja itu, tertawa terpingkal-pingkal sambil menekan perutnya karena dia merasa betapa lucunya kejadian tadi.

Anak perempuan itu sungguh liar, siapa saja digigitnya!

Dia sendiri sudah merasakan gigitan yang menyakitkan itu dan kini dia tertawa-tawa melihat orang lain juga menjadi korban gigitan.

"Heh-heh-heh, baru tahu rasa kau sekarang! Manusia lancang, dengan curang menyerangku dan hendak membawa Nawangsih dengan paksa!"

Bagus Sajiwo merasa heran sekali melihat Nawangsih malah berfihak kepada penculiknya dan kini gadis itu berdiri di belakang pemuda tampan seolah berlindung.

"Ki sanak, aku tidak ingin bermusuhan denganmu. Aku memang bertugas mencari Nawangsih dan membawanya pulang ke rumahnya. Serahkan anak itu kepadaku dengan baik dan kita tidak perlu bermusuhan."

"Enak saja kau bicara! Menyerahkan Nawangsih begitu saja kepadamu, orang yang sama sekali tidak kami kenal? Tidak mungkin."

Jawab Joko Darmono.

"Aku medapatkan gadis ini dengan susah payah, dengan jalan merebut. Nah, kalau engkau hendak mendapatkannya, engkau juga dapat merebutnya dari tanganku!"

"Hemm, engkau tidak mau menyerahkan Nawangsih dan bahkan menantang aku?"

Tanya Bagus Sajiwo penasaran.

"Aku tidak menantang siapa-siapa, akan tetapi kalau ada yang hendak merebut anak ini dari tanganku, siapapun juga orangnya, harus menghadapi dan mengalahkan aku!"

"Bagus, kalau begitu, mari kita lihat siapa yang lebih unggul dan berhak membawa anak ini."

"Huh, engkau tentu kawan bajul buntung tadi!"

Bentak Joko Darmono.

"Majulah!"

Dia memasang kuda-kuda dengan gagah sekali, kaki kiri berdiri tegak, lutut kaki kanan diangkat dan kaki kanan menempel pada lutut kiri, kedua tangan dikembangkan dan jari-jari tangan membentuk paruh seperti seekor burung garuda hendak terbang.

Bagus Sajiwo memang tidak mempunyai niat untuk membunuh atau melukai pemuda tampan itu karena dia pun belum tahu mengapa pemuda itu menculik Nawangsih.

Akan tetapi dia harus dapat mengalahkan pemuda itu agar dia dapat membawa pulang puteri Ki Cangak Awu.

"Andika yang mengajak bertanding. Majulah!"

Katanya sambil berdiri santai, tidak memasang kuda-kuda seperti lawannya. Joko Darmono melihat pemuda itu tidak memasang kuda-kuda, lalu menurunkan kedua tangan yang tadi dikembangkan.

"Sudahlah! Kalau engkau tidak pandai bersilat, aku pun tidak mau menyerang orang yang tidak berkepandaian. Tadi gerakanmu begitu cepat maka kukira engkau pandai olah kanuragan. Akan tetapi sekarang engkau agaknya tidak pandai bersilat."

"Hemm, penculik sombong. Kalau engkau tidak berani, bebaskan gadis itu biar kubawa pulang."

"Siapa yang tidak berani? Jangan sembarangan kamu! Siapa takut kepada orang lemah macam kamu?"

Bagus Sajiwo tersenyum.

"Kalau tidak takut, mengapa tidak segera menyerang?"

"Engkau bersiaplah!"

"Sudah sejak tadi aku bersiap!"

"Baik, awas seranganku. Haaaiiittt!"

Joko Darmono menerjang ganas memukul ke arah dada Bagus Sajiwo.

Melihat serangan yang mantap dengan cepat, juga mengandung tenaga dalam yang kuat, diam-diam Bagus Sajiwo kagum juga.

Ternyata pemuda penculik ini bukan lawan lemah.

Serangannya itu dahsyat sekali.

Maka Bagus Sajiwo cepat mengelak ke samping dan langsung membalas dengan tamparan tangannya ke arah pundak lawan.

Namun, Joko Darmono juga dapat mengelak dengan cepat lalu kakinya menendang ke arah perut Bagus Sajiwo.

Cepat sekali gerakannya itu dan begitu Bagus Sajiwo kembali mengelak, tubuh Joko Darmono sudah condong ke depan dan tangannya kini mencengkeram ke arah muka lawan.

Bagus Sajiwo berdecak kagum.

Hebat juga pemuda ini, pikirnya.

Sayang sekali pemuda yang luar biasa tampannya dan ternyata memiliki kesaktian sesat, menculik seorang gadis dengan niat rendah.

Dia pun melayani perkelahian tangan kosong itu dan timbullah kegembiraannya setelah mendapat kenyataan bahwa pemuda itu memang tangguh sekali.

Dia ingin mengukur sampai di mana kehebatan lawannya yang masih amat muda, lebih muda tampaknya daripada dia sendiri.

Dan makin lama mereka bertanding, semakin kagumlah hati Bagus Sajiwo.

Pemuda itu memang hebat, cekatan, gerakannya cepat bukan main dan tenaga saktinya juga kuat.

Tiba-tiba Joko Darmono yang kaget sekali melihat kesaktian lawannya, mengeluarkan teriakan nyaring dan kedua tangannya membuat gerakan silat, lalu mendorongkan kedua telapak tangan.

Tampak uap kemerahan menerpa ke arah Bagus Sajiwo.

"Aji Nirada Jingga!"

Joko Darmono membentak.

Bagus Sajiwo maklum bahwa serangan itu mengandung tenaga sakti yang amat ampuh maka dia pun tidak mau menyambut karena serangan seperti itu kalau disambut dengan tenaga sakti pula, akibatnya dapat mendatangkan luka di sebelah dalam tubuh, entah dia atau lawannya yang akan terluka, tergantung siapa yang lebih kuat.

Maka untuk menghindari pukulan itu, tubuhnya mencelat ke atas dan berjungkir balik sebelum kembali ke atas tanah.

"Kakang Joko, pukul mampus dia! Dia tentu teman bajul buntung yang menculik aku!"

Teriak Nawangsih. mendengar teriakan ini, Bagus Sajiwo terkejut.

"Ki sanak, tahan dulu!"

Dia berseru.

"Hemm, engkau tidak berani menghadapi ajiku Nirada Jingga?"

Joko Darmono mengejek, sungguhpun diam-diam dia heran dan terkejut juga melihat betapa lawannya dengan mudah menghindarkan diri dari aji pukulan yang dahsyat tadi.

"Aji pukulanmu yang tadi memang dahsyat, Ki sanak. Akan tetapi bukan karena takut aku menghentikan pertandingan. Aku tadi mendengar ucapan Nawangsih. Bukankah Andika yang telah menculik Nawangsih dari rumah Paman Cangak Awu?"

"Huh, maling teriak maling!"

Joko Darmono membentak.

"Engkaulah yang agaknya menggantikan si bajul buntung Dartoko si penculik jahat yang sudah kukalahkan!"

"Maaf, kalau begitu, Andika malah menjadi penolong Nawangsih, membebaskannya dari tangan penculiknya?"

"Benar sekali! Dan mengapa engkau tadi menyerangku dan merampas anak itu?"

"Aduh, kita sudah salah sangka. Tapi.... tadi aku mendengar engkau mengajak Nawangsih tidur di bawah pohon dan ia membantah, tidak sudi tidur denganmu dan lebih baik mati. Karena mendengar ucapan itu maka aku segera menyerangmu untuk dapat membebaskan Nawangsih."

Joko Darmono tertawa.

"Eh-eh, Nawangsih masih kecil sehingga ia tidak mampu mengartikan kata-kataku. Akan tetapi engkau bukan anak kecil lagi. Apakah engkau juga berprasangka buruk terhadap kata-kataku tadi? Nawangsih takut kemalaman dan aku mengatakan bahwa kami dapat bermalam di bawah pohon, membuat api unggun dan tidur di sana melewatkan malam. Apanya yang salah dengan ucapan itu? Anak ini memang bengal dan bodoh."

"Maafkan aku, Kakang Joko, aku tadi memang bodoh, menyangka engkau tiada bedanya dengan Si Bajul Buntung."

Kata Nawangsih, lalu gadis remaja ini memandang Bagus Sajiwo dengan sinar mata penuh selidik.

"Engkau siapakah? engkau tadi menyebut Paman kepada Ayahku."

Bagus Sajiwo tersenyum.

"Kiranya kita bertiga berprasangka buruk sehingga terjadi salah paham. Nawangsih, pernahkah engkau mendengar nama Ki Tejomanik dan Nyi Retno Susilo yang tinggal di Gunung Kawi?"

"Tentu saja! Ibuku adalah adik Paman Tejomanik. Aku pernah berjumpa dengan mereka dua kali. mengapa engkau tanyakan hal itu kepadaku?"

"Karena aku adalah anak mereka."

Sepasang mata jeli itu terbelalak "Yang namanya Bagus Sajiwo?"

Bagus Sajiwo mengangguk.

"Benar, akulah Bagus Sajiwo."

"Akan tetapi tidak mungkin! Kakang Bagus Sajiwo hilang diculik orang empat belas tahun yang lalu, sebelum aku lahir. Begitu cerita ayah Ibuku."

"Benar, akan tetapi aku sudah pulang, Nawangsih adikku. Dan aku berkunjung ke Jatikusumo, mendengar dari Ayah Ibumu bahwa engkau diculik orang. Mereka melakukan pengejaran ke Ponorogo dan aku sendiri membantu mereka, mencari ke jurusan barat ini. Engkau adik misanku, Nawangsih."

"Dan engkau kakak misanku, Kakang Bagus Sajiwo."

"Hemm, kiranya engkau ini putera Ki Tejomanik, Si pecut sakti Bajrakirana. Pantas engkau demikian tangguh!"

Kata Joko Darmono.

"Ah, Andikalah yang tangguh dan sakti, membuat aku kagum, Kisanak, maafkan kesalahanku yang menyangka Andika penculik, tidak tahunya Andika malah menjadi penolong adikku Nawangsih. Bolehkah aku mengetahui siapa namamu, Ki sanak? Seperti Andika telah mendengar tadi, namaku Bagus Sajiwo."

Joko Darmono tersenyum, matanya berkilat dan wajahnya berseri melihat sikap dan mendengar ucapan Bagus Sajiwo yang lembut dan sopan itu.

Hemm, pemuda ini hebat bukan main, pikirnya.

Bukan saja ilmu kanuragan yang dimilikinya amat dahsyat, juga sikap dan tutur bahasanya yang lembut menawan hati.

"Aku seorang perantau biasa saja, tidak terkenal seperti engkau yang memiliki orang tua pendekar sakti. Namaku Joko Darmono."

"Wah, harap jangan merendahkan diri, Joko Darmono. Katakan, siapa orang tuamu dan siapa pula gurumu sehingga Andika memiliki ilmu yang demikian tinggi?"

Joko Darmono kembali tertawa lebar.

"Bagus Sajiwo, harap jangan tertawakan aku. Sesungguhnya, ayah dan ibuku telah tiada...."

"Aduh, kasihan Andika, Joko Darmono."

"Hemm, jangan bilang begitu, aku bisa menangis!"

Kata Joko Darmono sambil tersenyum pahit.

"Aku hanya mendengar kata orang saja bahwa Ayah Ibuku telah meninggal dunia. aku tinggal berdua dengan Adikku ketika aku berusia lima tahun dan Adikku berusia tiga tahun. Akan tetapi Adikku meninggal dunia juga sehingga aku hidup sebatang kara."

"Aih, kasihan sekali, engkau Kakang Joko!"

Kini Nawangsih yang berseru sambil menghampiri pemuda itu dan memegang tangannya. Joko Darmono mengelus kepala Nawangsih.

"Tidak perlu dikasihani lagi, karena bagaimanapun juga aku tidak dapat bertemu lagi dengan mereka sampai aku mati kelak."

Hening sejenak. Cuaca mulai gelap karena perlahan-lahan matahari mulai terbenam di barat.

"Mari kita membuat api unggun."

Kata Bagus Sajiwo yang mulai mencari dan mengumpulkan kayu-kayu kering.

Joko Darmono tanpa bicara membantunya.

mereka membuat api unggun di bawah pohon besar.

mereka duduk di atas rumput tebal mengelilingi api unggun.

"Heh-heh, apa kataku tadi? Kita membuat api unggun dan tidur di sini, Nawangsih."

Kata Joko Darmono sambil memandang gadis cilik itu dengan senyum menggoda. Nawangsih menundukkan muka, merasa malu karena tadi ia keliru mengartikan ucapan pemuda itu. (Lanjut ke

Jilid 04) Kemelut Blambangan (Seri ke 05 -Serial Pecut Sakti Bajrakirana) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 04

"Engkau tampak lelah, Adik Nawangsih. Itu sudah kupersiapkan tempat tidur untukmu. Rebah dan tidurlah. Aku akan mengurus kudaku."

"Aku juga. Kudaku itu adalah milik penculik yang kurampas. Perlu ditambatkan di pohon dekat sini agar jangan diambil orang atau melarikan diri."

Dua orang pemuda itu lalu mengurus kuda masing-masing dan Nawangsih segera merebahkan diri di atas tumpukan daun kering yang dipersiapkan Bagus Sajiwo.

Karena ia memang lelah sekali, apalagi baru saja mengalami ketegangan, sebentar saja ia telah pulas.

Ia tidur dengan miring, membelakangi api unggun.

Bagus Sajiwo dan Joko Darmono kembali duduk dekat api unggun dan mereka tersenyum melihat gadis cilik itu sudah tidur.

Pendengaran mereka yang tajam terlatih dapat mengetahui dari pernapasannya bahwa gadis remaja itu telah pulas.

"Joko, tadi belum engkau ceritakan siapa gurumu. Aku yakin gurumu pasti seorang tokoh sakti yang terkenal."

"Ah, Bagus, maafkan aku. Guruku melarang aku menceritakan kepada siapa pun juga tentang beliau."

"Ya, sudahlah, Joko, memang seorang murid harus mentaati semua perintah gurunya. Dari sikap dan jawabanmu ini saja aku sudah dapat mengenalimu sebagai seorang murid yang baik."

"Wah, jangan terlalu memuji, Bagus. Kalau ia yang kaupuji,"

Joko menuding ke arah Nawangsih.

"pasti ia mengatakan bahwa engkau mengucapkan rayuan gombal!"

Joko Darmono tertawa terkekeh dan Bagus Sajiwo juga tertawa.

Dia merasa cocok dan suka sekali dengan pemuda yang tampan ini.

Seorang pemuda tampan, sakti, dan melihat gerak-gerik dan ucapannya, dia seorang yang lincah gembira.

"Ya, ia seorang gadis remaja yang hebat, pemberani dan jujur. Pantas menjadi puteri Paman Cangak Awu yang terkenal keras dan jujur. Aku bangga melihat adik misan yang baru sekali ini kujumpai."

"Ceritakan tentang dirimu, Bagus. Bagaimana engkau baru sekali ini melihat Adik misanmu ini? Ke mana saja engkau selama ini? Aku mendengar kata-kata Nawangsih tadi bahwa engkau diculik orang."

Bagus Sajiwo menghela napas panjang.

"Memang benar aku diculik orang ketika aku berusia enam tahun. Aku diculik dari tempat tinggal orang tuaku di Gunung Kawi dan dilarikan sampai jauh."

"Hemm, aneh, Kalau engkau putera Ki Tejomanik dan Nyi Retno Susilo yang terkenal sakti mandraguna, bagaimana mungkin engkau diculik dan dilarikan orang? Pasti orang tuamu akan mencarimu sampai berhasil menemukan engkau. Siapa orangnya yang berani mengusik sepasang suami isteri pendekar sakti itu?"

"Tentu saja selama belasan tahun itu Ayah dan Ibuku berusaha mencari aku. Yang menculikku adalah seorang datuk sakti dari Blambangan bernama Wiku Menak Koncar...."

"Ahh!"

Joko Darmono terkejut.

"Engkau mengenalnya, Joko?"

"Mengenal sih tidak, akan tetapi tentu saja aku sudah mendengar nama datuk itu. Kalau tidak salah, dia tewas di tangan puteri Kanjeng Sultan Agung, yaitu Puteri Wandansari."

"Benar, Joko. Aku juga mendengar begitu. Nah, ketika aku dilarikan Sang Wiku Menak Koncar, aku dibebaskan dari tangan penculik itu oleh guruku."

"Ah? Jadi yang menggemblengmu bukan Ayah Ibumu sendiri? Siapa gurumu itu, Bagus?"

"Guruku adalah mendiang Eyang Guru Ki Ageng Mahendra di Pegunungan Ijen."

"Ohh...., aku sudah mendengar pula akan kakek yang dikabarkan sebagai manusia setengah dewa itu! Pantas ilmu kepandaianmu demikian hebat!"

"Hemm, sekarang engkau yang memuji-muji. Awas kuberitahukan nanti kepada Nawangsih agar dikatakan engkau merayu gombal!"

Joko Darmono tertawa.

"Lalu mengapa engkau sampai dewasa begini baru pulang ke rumah orang tuamu? Kata Nawangsih tadi engkau hilang selama empat belas tahun."

"Hal itu adalah seperti juga engkau, aku harus tunduk dan taat kepada guruku. Mendiang guruku meninggalkan pesan agar aku tidak menjumpai orang tuaku, atau pulang ke Gunung Kawi sebelum aku berusia dua puluh tahun. Nah, setelah aku berusia dua puluh tahun, beberapa bulan yang lalu, aku pulang ke Gunung Kawi bertemu dengan Ayah Ibuku."

Joko Darmono mengerutkan alisnya dan di bawah sinar api unggun Bagus Sajiwo melihat betapa wajah tampan itu menjadi muram. Joko Darmono menghela napas beberapa kali lalu suaranya terdengar gemetar.

"Bagus, tentu engkau merasa berbahagia sekali bertemu dengan Ayah Ibumu...."

Diam-diam Bagus Sajiwo merasa kasihan kepada pemuda itu.

"Tentu saja, Joko. Akan tetapi aku tidak lama tinggal di rumah, aku ingin merantau dan demikianlah, aku lalu pergi hendak berkunjung ke rumah Paman Cangak Awu dan Bibi Pusposari yang menjadi pimpinan perguruan Jatikusumo. Bibi Pusposari adalah Adik ayahku. Aku bertemu dengan mereka dan mendengar tentang Nawangsih yang diculik orang, maka aku melakukan pengejaran sampai di sini."

Sejenak hening.

keduanya tidak bicara lagi.

Bagus Sajiwo maklum apa yang menjadi gejolak hati Joko Darmono pada saat itu.

Pemuda itu merasa duka mengingat akan ayah ibunya yang telah tiada.

Dia merasa kasihan, akan tetapi tidak tahu harus bicara apa yang dapat menghibur hati kenalan barunya itu.

Maka diapun lalu menambah kayu bakar pada api unggun.

Nawangsih masih tidur pulas.

Agaknya merasa nyaman karena api unggun itu mengusir dingin dan nyamuk.

Setelah berdiam diri cukup lama, Joko Darmono yang sejak tadi duduk diam memandang api unggun, seperti orang melamun, memandang kepada Bagus Sajiwo, lalu menghela napas lagi.

"Bagus, aku merasa iri hati sekali padamu!"

"Eh? Mengapa, Joko Darmono?"

"Engkau mempunyai ayah ibu, juga paman dan bibi, bahkan gadis manis inipun adik misanmu. Engkau mempunyai banyak keluarga, sedangkan aku .... ah, aku hidup sebatang kara, tidak mempunyai keluarga seorang pun...."

"Akan tetapi kau masih mempunyai gurumu sebagai pengganti orang tuamu, Joko."

"Ah, tidak, Bagus. Aku tidak bisa menganggap guruku sebagai orang tuaku karena ia.... ahh, lebih baik tidak kubicarakan tentang guruku. Pendeknya, aku tidak punya siapa-siapa."

"Engkau keliru, Joko. Mendiang Eyang Guru pernah berkata bahwa seluruh manusia di dunia ini sebetulnya adalah saudara kita. Bukankah sekarang ini, Nawangsih itu dan aku dapat pula kau anggap sebagai saudaramu?"

"Mana mungkin semua orang menjadi saudaraku! Banyak orang yang jahat, aku tidak sudi menjadi saudara seorang penjahat!"

"Aku pernah mebantah Eyang Guru seperti engkau sekarang ini, Joko. Dan apa kata eyang? Betapa jahat pun seseorang, dia menjadi kewajiban kita untuk berusaha menolongnya dengan cara menyadarkannya, kalau perlu dengan kekerasan agar dia dapat mengubah jalan hidupnya. Pendeknya, kita harus bersikap baik dan berguna bagi orang lain, tanpa pandang bulu. Yang hidup sengsara patut kita tolong sedapat kita, yang bahagia patut kita syukuri, yang baik kita contoh, yang jahat kita coba menyadarkannya, karena mereka semua itu adalah saudara kita, Joko."

Joko Darmono memandang wajah Bagus Sajiwo yang disinari api unggun. Pandang matanya menyorotkan keheranan dan kekaguman.

"Amboi! Bagus, berapa sih usiamu? Kalau tidak salah, engkau berusia dua puluh tahun, bukan?"

Bagus Sajiwo tersenyum.

"Benar, Joko. Mengapa? Kita sebaya, mungkin aku lebih tua satu dua tahun."

"Aku sembilan belas tahun. Akan tetapi engkau .... bicaramu itu seperti seorang pendeta yang sudah tua renta saja."

"Ha-ha, memang aku sudah tua, setidaknya lebih tua daripada engkau, kan?"

Joko Darmono ikut tertawa dan wajah yang tadi muram itu kini berseri kembali.

"Aku senang sekali dapat bertemu dan berkenalan denganmu, Bagus."

"Aku pun suka kepadamu, Joko. Sekarang engkau tidurlah, biar aku yang menjaga agar api unggun tidak padam. Juga, siapa tahu akan datang binatang buas ke sini."

"Aku lebih takut menghadapi manusia buas daripada binatang buas."

"Hemm, melihat kesaktianmu, bukan engkau yang takut kepada manusia-manusia buas, sebaliknya merekalah yang takut kepadamu. Sekarang tidurlah, Joko."

Joko Darmono memandang Naswangsih yang masih pulas, rebah miring membelakangi mereka dan tertawa.

"Ha-ha, kalau aku tidur di dekatnya, setelah bangun bocah galak itu tentu akan marah-marah dan mengira aku berbuat yang bukan-bukan!"

Bagus Sajiwo juga tertawa.

"Itu hanya menunjukkan bahwa Nawangsih itu seorang gadis remaja yang masih polos, jujur dan pikirannya bersih. Ia kelak pasti akan menjadi seorang gadis yang cantik jelita dan gagah perkasa."

"Engkau sajalah yang tidur, Bagus. Engkau adalah kakak misannya, pasti ia tidak akan marah melihat engkau tidur di dekatnya. Aku, dalam keadaan begini, tidak mudah tidur dan lebih suka duduk bersamadhi."

Karena Joko Darmono berkukuh tidak mau tidur, Bagus Sajiwo juga tidak mau tidur.

Bagi orang-orang muda seperti mereka, yang sudah mendapat gemblengan dari guru-guru mereka, mengganti tidur dengan duduk diam bersamadhi merupakan hal biasa dan tidak akan menyiksa badan mereka yang terlatih.

Dengan duduk bersila dalam samadhi, mereka seperti orang tidur.

Pikiran dan seluruh syaraf di seluruh tubuh mereka mengaso sepenuhnya, namun mereka masih sadar dan kewaspadaan mereka tetap bekerja.

Sungguh sayang bahwa selagi hidup dan sehat, terutama mereka yang hidup di kota-kota besar, tidak pernah dapat menikmati keindahan alam di pagi hari saat matahari mulai muncul.

Keindahan dan kesegaran yang dapat dinikmati oleh mata, telinga, hidung, dan perasaan itu hanya dapat dinikmati mereka yang tinggal di pegunungan, di hutan-hutan dan dusun-dusun yang tidak padat penduduk, oleh mereka yang bangun pagi-pagi sekali pada saat ayam jantan mulai berkeruyuk.

Orang kota terlalu sibuk dengan persoalan-persoalan mereka yang bergerak di sekitar uang dan kebanyakan dari mereka terlalu mencinta pembaringan dan bantal sehingga enggan meninggalkan tempat tidur, lebih suka bermalas-malasan dan pada saat turun dari tempat tidur seolah-olah terpaksa.

Mereka ini kehilangan saat yang teramat baik bagi kesegaran jasmani dan rohani.

Tak dapat disangkal, bangun pada pagi-pagi sekali lalu keluar rumah berjalan ke tempat-tempat terbuka, terutama di pegunungan yang tidak padat penduduk, terasa amat menyehatkan jasmani dan membahagiakan rohani.

Kita dapat dengan leluasa mengagumi dan menikmati kebesaran alam, keagungan Gusti Allah yang melimpahkan berkah yang berlimpah kepada kita.

Walau tanpa terucapkan mulut, jiwa ini memuja dan memuji Gusti Yang Maha Murah, bersyukur dan berterima kasih yang keluar dari lubuk hati yang menyadari sepenuhnya betapa besar kasih Gusti Allah kepada kita.

Alangkah baiknya kalau mereka yang tidak pernah bangun pagi-pagi pada saat ayam jantan berkeruyuk, sekali-kali melakukannya agar dapat mengalami dan merasakan kebahagiaan ini!

Bagus Sajiwo, Joko Darmono, dan Nawangsih keluar dari dalam hutan yang masih diselimuti kabut tebal.

Matahari masih muda, sinarnya yang kemerahan belum mampu menerobos daun-daun yang lebat sehingga dalam hutan tampak remang-remang, menjadi gelap dan lembab oleh kabut.

Akan tetapi begitu keluar dari hutan dan berada di daerah yang merupakan perbukitan kecil, mereka bertiga berhenti melangkah, terpesona memandang ke depan, ke arah bawah bukit.

Mereka berjalan kaki, dua orang pemuda itu menuntun kuda masing-masing.

Sebelumnya, ketika mereka terbangun pagi tadi dan hendak berangkat meneruskan perjalanan mengantar Nawangsih pulang, dua orang pemuda itu menawarkan agar Nawangsih membonceng di atas kuda seorang dari mereka.

Akan tetapi gadis cilik itu tidak mau.

"Kalian naiklah kuda, aku jalan kaki saja."

"Eh? mengapa?"

Dua orang pemuda itu bertanya, heran.

"Aku tidak suka naik kuda berboncengan dengan seorang pemuda."

Dua orang pemuda itu saling pandang dan keduanya tersenyum geli.

"Tapi, bukankah kemarin kita juga berboncengan?"

Tanya Joko Darmono sambil tersenyum.

"Hemm, kemarin itu terpaksa."

"Lho, siapa yang memaksamu?"

Joko Darmono mengejar.

"Terpaksa keadaan. Sekarang ada dua orang yang berkuda, aku tidak dapat memilih seorang di antara kalian, maka lebih baik aku jalan kaki saja."

Dua orang pemuda itu kembali saling pandang dan keduanya sama sekali tidak mengerti akan sikap Nawangsih.

Baca Juga: Kisah Pendekar Bongkok 15

Baca Juga: Si Bangau Merah 10

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert