Ceritasilat Novel Online

Kemelut Blambangan 3

Eps 3 Kemelut Blambangan - Kho Ping Hoo

Baca online Kemelut Blambangan - Kho Ping Hoo

Cersil Kemelut Blambangan - Kho Ping Hoo.

"Saya adalah seorang pendekar, murid perguruan Siauw-lim-pai di Cina. Saya tidak mempunyai kepentingan dengan Blambangan atau Mataram dan saya tidak peduli akan permusuhan antara kedua kerajaan itu. Saya mengajukan persyaratan karena saya seorang pedagang, mengajak kerja-sama yang saling menguntungkan. Andika dapat menangkap seorang mata-mata Mataram yang Andika musuhi dan saya dapat memperoleh perahu dan gadis yang saya inginkan. Sudah adil, bukan?"

"Ha-ha-ha, enak saja engkau hendak bekerja sama dengan kami. Kami tidak mau bekerja sama dengan orang sembarangan. Akan tetapi engkau mengaku sebagai murid perguruan Siauw-lim-pai di Cina dan nama perguruan itu sudah sering kami mendengarnya. Untuk melihat apakah engkau cukup berharga untuk bekerja sama dengan kami, kami harus menguji dulu sampai di mana kepandaianmu. Bersediakah engkau untuk diuji?"

Kam Leng tersenyum lebar sehingga tampak semakin mengejek lagi.

"Andika sudah terlalu tua untuk menguji ilmu silatku, Sang Bhagawan!"

"Ho-ho, selain terlalu tua, aku juga terlalu kuat bagimu, Kam Leng! Karena itu, biar kusuruh muridku saja untuk mengujimu. Selain dia lebih muda, juga lebih ringan.

"Kalajana, kau wakili aku menguji kepandaian Kam Leng ini agar kita semua melihat apakah dia pantas untuk bekerja sama dengan kita."

Kalajana mengangguk dan dia pun berdiri dan menghampiri pemuda Cina itu.

Mereka berdiri berhadapan dan saling pandang seolah hendak mengukur sampai di mana kekuatan lawan melalui pandang mata itu.

Kalajana adalah murid Bhagawan Kalasrenggi.

Usianya sekitar empat puluh dua tahun, tubuhnya tinggi besar seperti raksasa, mukanya kasar, burik (bopeng) dan tubuhnya berbulu.

Seperti para murid Bhagawan Kalasrenggi lainnya, Kalanjana ini pun seorang ahli silat yang tangguh, juga ahli racun dan pandai pula menggunakan ilmu sihir.

Kalajana mengamati calon lawannya.

Seorang laki-laki bermata sipit, usianya sekitar tiga puluh tahun, tubuhnya sejangkung dia akan tetapi tubuhnya yang tegap tidaklah sebesar tubuhnya, dan melihat punggung pemuda Cina itu tergantung sebatang pedang beronce merah, Kalajana berkata dengan suara yang besar dan lantang.

"Kam Leng, aku Kalajana mewakili Bapa Guru Bhagawan Kalasrenggi ingin menguji kedigdayaanmu. Aku melihat engkau mempunyai sebatang pedang. Katakan, engkau ingin diuji pertandingan tangan kosong atau bersenjata?"

"Sesukamu, Ki Kalajana. Aku sudah siap untuk kedua-duanya."

"Kalajana, engkau cobalah kemampuannya bersilat tangan kosong!"

Tiba-tiba Bhagawan Kalasrenggi berseru.

"Nah, engkau sudah mendengar perintah guruku, Kam Leng? Bersiaplah engkau!"

Kalajana mengembangkan kedua lengannya yang besar panjang berbulu, sikapnya mengancam dan menyeramkan, seperti seekor biruang yang berdiri dan siap menerkam.

"Aku sudah siap!"

"Sambutlah ini!"

Tiba-tiba Kalajana menggerakkan kedua tangannya.

Dari kanan kiri kedua tangan yang lebar dengan jari-jarinya yang besar itu mencengkeram ke arah kedua pundak Kam Leng.

Akan tetapi dia hanya menangkap angin karena dengan gerakan yang ringan dan gesit sekali Kam Leng sudah mengelak dari terkaman itu dengan menggeser kaki ke kiri, lalu smbil membalikkan tubuhnya dia membalas dengan pukulan lurus ke arah lambung kanan lawan.

"Hyaaahhh....!"

"Plakk!"

Kalajana menangkis dengan lengannya yang besar, Dua lengan bertemu dan keduanya terdorong dua langkah ke belakang.

Pertemuan dua tenaga kasar ini menunjukkan bahwa mereka memiliki tenaga otot yang sama kuatnya.

Dengan hati penasaran, Kalajana menyerang lagi, namun serangannya yang bertubi-tubi itu selalu dapat dihindarkan oleh Kam Leng dengan elakan maupun tangkisan.

Terjadilah perkelahian yang seru dan seimbang.

Semua orang melihat betapa Kam Leng memiliki gerakan yang ringan dan gesit sekali, terutama kedudukan kedua kakinya amat kokoh sehingga dengan sedikit geseran atau putaran saja selain dapat mengelak, dia dapat pula membalas dengan serangan yang tidak kalah kuatnya.

Melihat betapa Kam Leng dapat menandingi muridnya sampai belasan jurus, Bhagawan Kalasrenggi mengangguk-angguk.

Pemuda Cina ini boleh juga untuk memperkuat pasukannya!

Akan tetapi setelah lewat dua puluh jurus, Kalajana mulai terdesak hebat.

Ternyata, kelebihan Kam Leng dalam hal keringanan tubuh dan kecepatan gerakan, membuat dia lebih unggul.

Saking cepatnya dia bergerak dengan serangan bertubi-tubi dengan kedua tangan dan kedua kakinya, Kalajana hanya mampu menangkis.

Dia menjadi sibuk dan terdesak, tidak mampu membalas karena tidak mendapat kesempatan sama sekali.

Biarpun dia sudah menggerakkan kedua tangan secepatnya untuk menangkis semua serangan, tetap saja sebuah tendangan mengenai perutnya.

"Bukk....!"

Untung bahwa Ki Kalajana telah mengerahkan tenaga saktinya untuk melindungi perutnya sehingga menjadi kebal.

Tendangan itu tidak melukainya, hanya membuat ia terhuyung ke belakang sampai dua tombak.

Dia merasa penasaran dan cepat dia mengerahkan tenaga saktinya dan ketika dia menggerakkan kedua tangannya lalu saling menggosok telapak tangan, tampaklah kedua tangannya itu seperti membara.

"Sambut Aji Tatit Geni!"

Bentaknya dan ia mendorongkan kedua telapak tangannya ke arah Kam Leng. Ada kilatan api menyambar dari kedua tangan itu ke arah lawan.

"Auuughhh....!"

Kam Leng tidak mengenal aji seperti itu, namun dia dapat menduga bahwa itu adalah pukulan sakti yang mengandung tenaga sakti yang amat berbahaya.

Kalau dia mengelak, tentu lawan mengira dia takut dan akan menyerang terus dengan pukulan yang mengandung kilatan api itu.

Maka dia lalu memasang kuda-kuda, mengerahkan seluruh tenaga dalamnya lalu menyalurkannya lewat kedua tangannya lalu mendorong ke depan menyambut pukulan itu.

"Syuuuttt.... desss ,,,, !"

Dua tenaga sakti yang kuat bertemu di udara dan akibatnya, dua orang itu terdorong ke belakang dan terhuyung-huyung!

Mereka menderita guncangan hebat karena tenaga sendiri yang membalik, namun tidak sampai terluka.

Dalam adu tenaga sakti ini, keduanya ternyata seimbang, Ki Kalajana masih merasa penasaran dan meraba gagang goloknya, akan tetapi Bhagawan Kalasrenggi berkata.

"Sudah cukup, Kalajana, mundurlah! Kam Leng, setelah diuji, kepandaianmu lumayan dan engkau cukup berharga untuk bekerja sama dengan kami. Nah, sekarang jadilah engkau penunjuk jalan. Beberapa orang akan mengikutimu untuk menangkap mata-mata mataram itu."

"Akan tetapi, Sang Bhagawan. Saya harap Andika mengirim orang-orang yang berkepandaian tinggi karena mata-mata Mataram itu adalah orang yang sakti. Bahkan saya sendiri pernah bertanding melawan dia dan saya kalah."

"Hemm, begitukah? Nah, kami harap Andika berdua suka membantu Kaladhama dan Kalajana menemani Kam Leng menangkap atau membunuh mata-mata Mataram itu, Arya Bratadewa dan Candra Dewi. Kalau mata-mata itu memang sakti seperti yang diceritakan Kam Leng, tentu Andika mudah untuk membunuhnya dengan senjata api Andika. Para perajurit masih sedang belajar menembak dengan senjata api pemberian Kumpeni dan belum mahir. Harap Andika berdua suka membantu."

"Tentu! Tenu saja, Paman Bhagawan Kalasrenggi! Kami berdua akan membereskan mata-mata Mataram itu, jangan khawatir."

Jawab Arya Bratadewa sambil tersenyum dan sikapnya memandang ringan kepada mata-mata Mataram seperti yang diceritakan Kam Leng.

Kaladhama, Kalajana, Arya Bratadewa dan Candra Dewi menuju ke tempat di mana perahu yang dimaksudkan berlabuh.

Jauh sebelum jaman itu, bahkan sebelum jaman Mojopahit, sudah terdapat bangsa Cina yang merantau sampai ke Nusa Jawa, Kalau jaman dahulu mereka datang dengan perahu-perahu jung mereka sebagai pedagang, setelah Kumpeni Belanda menjejakkan kaki mereka ke Pulau Jawa dan pulau-pulau lainnya, semakin banyak bangsa Cina berdatangan karena Kumpeni mendatangkan banyak bangsa Cina sebagai tenaga kerja, terutama yang ahli pertukangan.

Ada waktu itu, sudah banyak bangsa Cina yang tinggal di daerah pasisiran, di kota-kota pantai utara.

Pada umumnya mereka adalah pedagang-pedagang yang ulet, nelayan-nelayan, atau pengrajin-pengrajin kayu dan rotan yang mahir.

Setelah mendengar betapa sanak keluarga dan rekan-rekan mereka berhasil mencari nafkah di negara selatan atau daerah selatan ini, dapat hidup berkecukupan, maka makin banyaklah orang Cina berlayar untuk mencari nafkah di Nusa Jawa.

Pada waktu itu, bangsa Mancu mulai menyerbu Cina dan makin mendesak ke selatan.

Keadaan ini, terancam oleh penjajahan dan keadaan hidup yang serba kekurangan, juga takut akan datangnya bahaya peperangan dari utara, berbondong-bondong bangsa Cina mempergunakan segala kesempatan menempu bahaya pelayaran dengan peahu sederhana, menyeberang ke selatan.

Ada yang mendarat dan menetap di pulau-pulau lain seperti Malaysia dan Philipina, akan tetapi sebagian besar mereka menuju ke Pulau Jawa.

Tan Beng Ki adalah seorang di antara banyak perantau Cina yang datang dan menetap di Pulau Jawa.

Tadinya dia datang seorang diri dalam usia empat puluh tahun, meninggalkan isteri dan seorang anak perempuan Cina.

Lima tahun kemudian dia telah berhasil maju, bahkan telah mampu memiliki sebuah perahu yang cukup besar untuk berdagang.

Dia teringat akan isteri dan anaknya lalu dia pulang ke Cina untuk menjemput mereka.

Akan tetapi setelah tiba di Cina, ternyata isterinya telah meninggal dunia setahun yang lalu, meninggalkan anak perempuan mereka yang berusia tiga belas tahun.

Tan beng Ki lalu membawa Tan Swi Hong, anak perempuannya itu ke Pulau Jawa, di mana dia tinggal di Tuban dan telah memiliki sebuah rumah yang lumayan besarnya.

Karena pada jaman itu, semua perjalanan, baik yang melalui air mapun darat, tidak aman, apalagi yang membawa barang dagangan berharga, maka Tan Beng Ki membutuhkan bantuan piauw-su (pengawal keamanan).

Dia sendiri bukan seorang lemah karena dia pernah belajar ilmu silat ketika masih tinggal di Cina.

Akan tetapi untuk menjaga keamanan dari serangan dan gangguan para bajak laut dan perampok, Tan Beng Ki membutuhkan bantuan piauw-su.

Setelah mencari-cari, akhirnya pada suatu hari dia mendapatkan seorang pemuda yang memiliki ilmu silat tinggi, murid Siauw-lim-pai yang sudah tiga tahun berada di Pulau Jawa.

Pemuda itu bernama Kam Leng yang pada waktu itu diterima bekerja sebagai pengawal oleh Tan Beng Ki berusia sekitar dua puluh enam tahun.

Kemudian ternyata bahwa keberadaan Kam Leng yang tinggi ilmu silatnya itu dapat menjamin keamanan barang kiriman yang dikawalnya, baik dengan perahu maupun dengan kereta melalui darat.

Tentu saja hal ini menyenagkan hati Tan Beng Ki dan Kam Leng dianggap sebagai saudara sendiri, diberi pembagian keuntungan sehingga pemuda ini dapat menabung agar kelak dia dapat memiliki modal sendiri untuk berdagang.Selain bekerja sebagai pengawal, Kam Leng juga mengajarkan ilmu silat kepada Tan Swi Hong yang berusia empat belas tahun ketika dia mulai bekerja di situ.

Swi Hong pernah belajar ilmu silat ketika berda di Cina, dan kini dilatih Kam Leng, tentu saja kepandaiannya meningkat.

empat tahun kemudian, setelah Swi Hong berusia delapan belas tahun, ia telah memiliki ilmu silat yang lebih tinggi daripada tingkat kepandaian ayahnya!

Setahun yang lalu, ketika Swi Hong berusia tujuh belas tahun, datang seorang pemuda lain bernama Sie Tiong yang ketika itu berusia dua puluh satu tahun.

Sie Tiong ini memang diundang oleh Kam Leng untuk bekerja di Tuban membantu Tan Beng Ki karena Sue Tiong adalah sute (adik seperguruan) Kam Leng.

Tidak seperti Kam Leng yang sudah hampir sepuluh tahun tinggal di Pulau Jawa, Sie Tiong baru datang tiga tahun yang lalu, mengikuti pamannya dan tinggal di daerah Semarang.

Mendapat panggilan suheng (kakak seperguruan) itu, Sie Tiong datang dan mulailah dia bekerja pada Tan Beng Ki, selain sebagai pengawal juga mengerjakan pembukuan karena tidak seperti Kam Leng yang hanya pandai ilmu silat, Sie Tiong ini merupakan seorang bun-bun-coan-jai (ahli silat dan sastra).

Berbeda dengan watak Kam Leng yang agak kaku dan tinggi hati, sebaliknya Sie Tiong seorang pemuda yang bersikap lembut dan bijaksana, mungkin karena dia terpelajar dan sudah membaca kitab-kitab Su-si Ngo-keng yang mengandung pelajaran tentang prikemanusiaan dan kesusilaan dari Khong Cu (Confucius) dan kitab-kitab Agama Buddha.

Selain itu juga Sie Tiong seorang pemuda yang tampan dengan sepasang mata lebar dan mulutnya selalu menyungging senyum ramah.

Maka terjadilah hal yang tidak dapat dihindarkan lagi.

Tan Swi Hong yang cantik manis itu saling jatuh cinta dengan Sie Tiong!

Sebagai seorang ayah yang penuh perhatian dan amat menyadari puterinya, Tan Beng Ki segera memaklumi akan hubungan batin antara puterinya dan Sie Tiong ini.

Dia tidak merasa keberatan karena hati saudagar ini pun merasa suka kepada pemuda yang selain lihai ilmu silatnya, juga pandai mengatur pembukuan dan sikapnya sopan dan lembut menyenangkan hati.

Akan tetapi, ada orang yang tidak senang melihat keakraban hubungan antara Sie Tiong dan Swi Hong ini.

Biarpun keduanya dalam bergaul tetap sopan dan menjaga kesusilaan, namun dalam pandang mata dan suara kedua orang itu, dengan mudah Kam Leng mengetahui bahwa antara sute-nya dan Swi Hong terdapat hubungan kasih sayang.

Dia diam-diam menjadi khawatir dan marah sekali.

Dia sendiri, diam-diam sejak Swi Hong mulai berkembang dewasa, menaruh hati kepada gadis itu..

Dia yang melatih gadis itu dalam ilmu silat, melihat gadis itu dari remaja tumbuh menjadi dewasa, seolah melihat mekarnya setangkai bunga yang diidamkan, dan kini setelah mekar semerbak harum akan dipetik orang lain!

Tentu saja dia tidak rela dan dia pun mengambil keputusan untuk mendahului sebelum kedua orang itu terikat secara resmi.

Pada suatu sore, Kam Leng yang mengetahui kebiasaan Swi Hong yang suka duduk seorang diri dalam taman di belakang rumahnya, memasuki taman itu.

"Eh, engkau, Leng-ko (Kakak Leng)?"

Tegur Swi Hong ketika melihat Kam Leng.

"Hong-moi (Adik Hong), aku.... aku ingin bicara denganmu."

"Bicaralah, Leng-ko. Eh, duduklah dan katakan apa yang ingin kau bicarakan."

Kam Leng duduk di bangku depan gadis itu.

Dia adalah seorang gagah yang tidak mengenal takut, dan tidak muda lagi karena usianya sudah tiga puluh tahun.

Akan tetapi dia belum pernah bergaul rapat dengan wanita.

Kini, berhadapan dengan Swi Hong yang dikenalnya sejak empat tahun yang lalu, yang hampir setiap hari dia latih ilmu silat, dia menjadi gugup dan sulit untuk bicara.

Sukar baginya untuk bicara menyatakan cintanya kepada gadis itu.

"Hong-moi, aku.... anu.... aku mau bicara...."

"Hei, Leng-ko, engkau ini mengapakah? Kalau mau bicara, ya bicaralah, mengapa ragu-ragu dan gagap begini? Ada apakah, Leng-ko?" (Lanjut ke

Jilid 08) Kemelut Blambangan (Seri ke 05 -Serial Pecut Sakti Bajrakirana) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 08 Kam Leng mengerahkan kekuatan batinnya dan memberanikan diri, berkata tegas sambil membusungkan dada untuk menekan rasa gugupnya.

"Begini, Hong-moi. Aku ingin agar engkau menjadi isteriku!"

"Ahhh.... Leng-ko!"

Swi Hong terbelalak dan mukanya berubah merah, sama sekali tidak menyangka pembantu ayahnya yang juga menjadi gurunya dalam ilmu silat ini akan bicara seperti itu.

"Hong-moi."

Kam Leng menjadi berani sekarang setelah ucapan pertama tadi dikeluarkan.

"Aku mencintaimu, tidak tahukah engkau, Hong-moi bahwa sejak engkau remaja dulu aku sudah mencintamu? Kini engkau telah dewasa dan aku ingin engkau menjadi isteriku."

"Leng-ko, singkirkan jauh-jauh pikiran itu. Aku sudah menganggap engkau sebagai Kakakku sendiri, juga Guruku. Tidak, aku tidak bisa menjadi isterimu, Leng-ko."

"Akan tetapi aku mencintamu, Hong-moi. Apakah engkau tidak cinta padaku? Aku sudah berjasa besar terhadap Ayahmu dan aku sudah bersusah payah mengajarimu ilmu silat, menyayangmu sejak dulu...."

"Tidak.... tidak!"

Swi Hong bangkit berdiri.

"Leng-ko, hentikan itu, jangan merusak hubungan antara kita yang sudah baik!"

Swi Hong lalu berlari meninggalkan Kam Leng yang duduk tertegun di atas bangku dalam taman itu.

Hatinya terpukul.

Kecewa dan penasaran.

Jelas bahwa Swi Hong telah menolaknya!

Akan tetapi hal ini tidak membuat dia putus asa.

Di sana masih ada Tan Beng Ki, ayah gadis itu.

Dialah yang akan memutuskan, Kalau dia melamar kepada ayah gadis itu, besar kemungkinan lamarannya diterima dan kalau si Ayah sudah menyetujui, tentu Swi Hong tidak dapat menolak pula!

Karena khawatir terlambat, malam itu juga, setelah makan malam, Kam Leng menghadap Tan Beng Ki di ruangan dalam.

Mereka duduk berhadapan.

"Kam Leng, ada apakah? Engkau tampaknya mempunyai urusan penting untuk kau sampaikan kepadaku."

Kata Tan Beng Ki sambil menatap tajam wajah orang muda yang sudah hampir lima tahun membantunya itu.

Berhadapan dengan Tan Beng Ki, hati Kam Leng lebih tabah dibandingkan ketika dia berhadapan dengan Swi Hong sore tadi.

"Paman, bagaimana pendapat Paman tentang bantuan tenaga saya selama empat tahun lebih ini? Apakah Paman anggap saya cukup berguna dan berjasa?"

"Ah, tentu saja, Kam Leng! Bantuanmu besar sekali dan engkau amat berjasa ikut memajukan usahaku!"

"Saya berterima kasih kepada Paman karena saya merasa betapa Paman memperlakukan saya sebagai keluarga sendiri, bukan sebagai karyawan."

"Memang, engkau sudah kuanggap sebagai keluarga sendiri, Kam Leng."

"Nah, karena itulah, Paman. Saya mempunyai keinginan untuk memperkuat hubungan dan ikatan kekeluargaan antara Paman dan saya."

"Maksudmu....?"

Tan Beng Ki memandang dengan sinar mata heran dan tidak mengerti.

"Begini, Paman. Terus terang saja, maksud saya menghadap Paman ini adalah untuk melamar Adik Tan Swi Hong untuk menjadi jodoh saya."

Agak terkejut hati Tan Beng Ki mendengar pinangan ini walaupun hal ini tidak terlalu mengherankan.

Kam Leng, biarpun sudah berusia tiga puluh tahun, belum menikah dan dia tahu bahwa pemuda ini bukan laki-laki yang suka pelesir dengan wanita.

Dan Swi Hong adalah seorang gadis berusia delapan belas tahun yang cantik manis.

Sudah wajar kalau Kam Leng mengajukan pinangan.

Sebenarnya dia agaknya tidak akan ragu menerima Kam Leng sebagai mantunya akan tetapi dia sudah tahu akan adanya hubungan cinta walaupun secara diam-diam antara anaknya dengan Sie Tiong!

"Kam Leng, aku mengerti apa yang kau maksudkan.

Engkau melamar Swi Hong untuk menjadi isterimu.

Hal itu sudah sewajarnya.

Akan tetapi untuk memberi jawaban atas pinanganmu ini, aku harus bertanya kepada Swi Hong lebih dulu dan merundingkan urusan ini."

Kam Leng mengerutkan alisnya. Memang dia sudah khawatir akan mendapat jawaban seperti itu.

"Akan tetapi, Paman. Sebagai seorang wanita tentu Hong-moi merasa malu untuk memutuskan urusan perjodohannya. Saya kira hal ini cukup berada di tangan Paman untuk memutuskan, dan Hong-moi hanya akan menurut saja keputusan Paman."

"Tidak begitu, Kam Leng. Aku tidak ingin memaksakan kehendakku dalam urusan perjodohan Swi Hong kepadanya. Aku tidak akan memaksanya menerima kalau ia tidak setuju dan tidak akan memaksanya menolak kalau ia memang sudah setuju. Swi Hong, kesinilah!"

Tan Beng Ki berteriak memanggil puterinya, tanpa mempedulikan pandang mata Kam Leng yang tak senang.

"Ayah memanggilku? Ada apakah, Ayah?"

Swi Hong memasuki ruangan itu dan bertanya sambil melirik ke arah Kam Leng.

"Duduklah, Swi Hong."

Setelah puterinya mengambil tempat duduk, dia melanjutkan.

"Begini, Anakku. Kam Leng datang untuk melamarmu, aku tidak dapat mengambil keputusan sebelum menanyakan pendapatmu tentang lamaran ini."

Swi Hong menoleh dan memandang kepada Kam Leng dengan sinar mata mencorong karena marah.

"Leng-ko, aku sudah bilang tidak, mengapa engkau masih juga mengajukan lamaran kepada Ayahku? Sekali lagi aku bilang tidak, aku tidak mau menjadi isterimu!"

Setelah berkata demikian, Swi Hong bangkit berdiri dan dengan marah meninggalkan ruangan itu, kembali ke kamarnya.

Wajah Kam Leng agak pucat, lalu berubah merah sekali.

Tan Beng Ki menghela napas dan berkata dengan nada menghibur.

"Maafkan Anakku, Kam Leng. Mungkin karena terlalu kumanjakan ia bersikap seperti itu. Engkau mendengar sendiri penolakannya, Kam Leng, maka tidak mungkin aku dapat menerima lamaranmu."

Kam Leng dengan muka kemerahan menundukkan mukanya.

Ruangan itu hanya diterangi lampu gantung yang berada di bagian belakang tubuh Kam Leng sehingga Tan Beng Ki tidak dapat melihat betapa sepasang mata itu berkilat.

"Saya mengerti, Paman. Lamaran saya telah ditolak."

"Jangan kecil hati, Kam Leng. Anggap saja Swi Hong bukan jodohmu. Sekarang banyak gadis Cina dalam keluarga Cina di Tuban maupun di kota-kota pesisir. Engkau pilih saja yang mana, aku pasti akan menjadi walimu untuk mengajukan pinangan."

"Terima kasih, Paman dan permisi."

Setelah Kam Leng meninggalkan ruangan itu untuk pergi ke kamarnya sendiri yang berada di bangunan belakang rumah induk itu, Tan Beng Ki segera mencari puterinya. setelah bertemu dia berkata.

"Swi Hong, Kam Leng sudah menerima kenyataan, bahwa dia bukan jodohmu. Coba katakan Swi Hong, mengapa engkau menolak lamaran Kam Leng? Bukankah dia seorang yang sudah berjasa terhadap kita dan dia pasti dapat menjadi seorang suami yang baik?"

"Ayah, aku tidak.... tidak mencintanya. Aku hanya menganggap dia sebagai Kakakku dan Guruku. Aku tidak ingin menjadi isterinya."

"Hemm, kalau begitu, siapakah yang menjadi pilihan hatimu? Katakan saja kepadaku, aku akan mengurus perjodohanmu. Engkau sudah cukup dewasa untuk berumah tangga, Swi Hong."

"Ihh, Ayah....!"

Swi Hong menundukkan mukanya, yang berubah merah. Ia tersenyum-senyum malu.

"Swi Hong, aku melihat pergaulanmu dengan Sie Tiong...."

"Ah, Ayah! Pergaulanku dengan Tiong-ko (Kakak Tiong) biasa-biasa saja!"

Dengan cepat Swi Hong memotong.

"Aku tahu. Kalian bergaul dengan sopan dan menjaga kesusilaan. Akan tetapi, tanpa kalian mengaku, dari sikap kalian aku yakin bahwa Sie Tiong menaruh hati padamu dan engkau.... hemm, agaknya engkau tidak keberatan."

"Ihh, Ayah....!"

"Swi hong, katakan terus terang. Engkau mencinta Sie Tiong?"

Swi Hong menundukkan muka, lalu menggeleng kepala dan menjawab lirih.

"Aku.... aku tidak tahu, Ayah...."

Tan Beng Ki maklum bahwa anaknya bicara terus terang.

Seorang gadis muda seperti anaknya ini, mana ia dapat menentukan apakah ia jatuh cinta ataukah tidak?

Ia belum pernah mengenal cinta!

"Engkau suka padanya?"

Sekali ini Swi Hong mengangguk! "Andaikata Sie Tiong melamarmu untuk menjadi isterinya, apakah engkau juga akan menolaknya seperti tolakanmu terhadap Kam Leng?"

Sampai lama Swi Hong tidak menjawab, lalu sambil tetap menundukkan muka, dengan malu-malu ia berbisik "Aih, Ayah.... bagaimana Ayah sajalah...."

Tan Beng Ki tertawa bergelak. Tidak ada yang lebih jelas lagi daripada jawaban itu! Bagaimana ayah saja itu berarti mau! "Begini, anakku."

Tan Beng Ki bicara dengan suara serius sehingga Swi Hong mendengarkan penuh perhatian. Mereka duduk berhadapan dalam kamar gadis itu.

"Aku merasa tidak enak hati atas penolakan kita terhadap Kam Leng. Aku tahu bahwa dia kecewa, penasaran dan terpukul. Mungkin sekali merasa malu dan bahkan mendendam. Oleh karena itu, sebaiknya diatur secepatnya agar engkau terikat dengan pria lain. Dan pria itu menurut pandanganku, adalah Sie Tiong. Bagaimana, engkau suka bukan berjodoh dengan Sie Tiong?"

"Ayah, aku.... aku belum ingin menikah sekarang...."

"Tidak perlu menikah sekarang. Kita menanti sampai engkau siap dan bersedia. Akan tetapi sementara ini, sebaiknya engkau terikat dan kalau engkau setuju, kita dapat merayakan pertunanganmu dengan Sie Tiong. Walaupun belum menikah, kalau engkau sudah terikat dengan pria lain dan menjadi calon isterinya. Dengan begitu maka tidak akan ada pemuda lain yang mengharapkanmu menjadi jodohnya, termasuk Kam Leng. Nah, sekarang jawab sejujurnya. Engkau mau kalau kita resmikan pertunanganmu dengan Sie Tiong?"

".... terserah Ayah sajalah...."

Ini berarti mau lagi!

Tan beng Ki tertawa-tawa gembira dan dia segera menemui Sie Tiong malam itu juga!

Sie Tiong adalah seorang pemuda berusia dua puluh dua tahun, baru setahun bekerja kepada Tan Beng Ki.

Tubuhnya sedang, wajahnya tampan dan lembut.

Sikapnya juga sederhana dan dia rendah hati, ramah.

Ketika Tan Beng Ki memanggilnya dan terang-terangan menyatakan keinginan hatinya untuk menjodohkan Swi Hong dengannya, pemuda ini tentu saja merasa berbahagia sekali.

Dia tidak berpura-pura lagi dan segera menerimanya karena memang sudah ada hubungan kasih antara dia dan Swi Hong.

Hal ini mereka berdua juga sudah mengetahui, apa lebih tepat lagi merasakan melalui sinar mata dan suara masing-masing.

Dia merasa terharu dan berterima kasih sekali atas kebaikan Tan Beng Ki.

Tan Beng Ki lalu merayakan hari pertunangan puterinya dengan Sie Tion.

sbuah perta diadakan dan di mengundang para relasi dahanh, juga orang-orang penting di Tuban, termasuk para pamong prajanya.

Kam Leng tidak tampak dalam pesta itu.

semenjak lamarannya ditolak, dia memang jarang tampak di rumah keluarga pedagang itu.

Bahkan stelah ada rencana pesta pertunangan antara Tan swi Hong dan Sie Tiong, tiga hari sebelum pesta dirayakan, Kam Leng sudah tidak tampak lagi.

Tidak ada yang mengetahui ke mana dia pergi.

Sebelum dia pergi, pada sore hari kemarinnya, dia berhasil menemui Sie Tiong dan bicara berdua saja.

"Sute, engkau sungguh seorang yang tidak mengenal budi. Engkau seperti seekor harimau jahat, setelah dipelihara, diberi makan sejak kecil, setelah besar malah menerkam pemeliharanya sendiri."

Sie Tiong menatap wajah suhengnya dengan tajam dan heran.

"Eh, Suheng, mengapa engkau berkata demikian? Apa kesalahanku?"

"Sute, jangan pura-pura tidak tahu! Coba jawab, siapakah yang menolongmu, mengajakmu datang ke sini dan memintakan pekerjaan kepada Paman Tan Beng Ki? Siapa yang menanggungmu sehingga engkau dipercaya dan dapat diterima?"

"Aku masih ingat benar, Suheng. Suhenglah yang menolongku dan untuk itu aku berterima kasih sekali padamu."

"huh, mulutnya saja berkata begitu. Akan tetapi buktinya? Engkau mencaplok apa yang kuidam-idamkan sejak bertahun-yahun. akulah yang mendidik Swi Hong, kalau ia dahulu kuncup bunga, akulah yang menyirami dan menjaga setiap hari dengan harapan kalau sudah mekar dewasa, aku yang akan memetiknya. Akan tetapi engkau begitu datang makah mengganggu dan bunga yang kudambakan setelah mekar engkau yang memetik. Engkau menghancurkan harapanku, engkau merusak hidupku."

Sie Tiong terkejut bukan main mendengar ucapan suhengnya ini, karena sungguh dia sama sekali tidak menyangka bahwa suhengnya ini agaknya diam-diam mencinta Swi Hong.

"Aduh, Suheng. Mengapa tidak suheng katakan sejak dulu? Aku memang mencinta Hong-moi, tetapi kalau aku tahu bahwa Suheng juga mencintainya tentu aku rela mengalah. Sungguh, Suheng, aku tidak merampas Hong-moi darimu. Aku hanya menurut saja kehendak Paman Tan Beng Ki untuk menjodohkan Hong-moi dengan aku. Suheng, kalau Suheng mencinta Hong-moi, mengapa tidak sejak dulu Suheng melamarnya? Sekarang, apa yang Suheng ingin kulakukan? Apakah aku harus menghadap Paman Tan Beng Kid an terus terang memberitahu padanya bahwa Suheng mencinta Hong-moi dan aku rela untuk membatalkan perunangan itu agar Suheng dapat berjodoh dengan Hong-moi?"

Kam Leng mengerutkan alisnya. Hatinya semakin panas mengenang betapa lamarannya telah ditolak oleh Swi Hong.

"Sudahlah!"

Dia mendengus.

"Tidak ada gunanya lagi! Akan tetapi ingatlah bahwa engkau telah menyakitkan hatiku, maka berhati-hatilah engkau!"

Setelah berkata demikian, Kam Leng meninggalkan sutenya dan sejak saat itu, dia menghilang.

Semua pakaian juga lenyap dari dalam kamarnya.

Tahulah keluarga itu bahwa Kam Leng pergi tanpa pamit, Sie Tiong merasa menyesal sekali, akan tetapi dia pun tidak dapat berbuat sesuatu.

Da hanya merasa kasihan kepada suhengnya, akan tetapi dia tidak merasa bersalah karena memang perjodohan itu atas prakasa Tan Beng Ki.

Andaikata tidak ada usulan dari pedagang itu, biarpun diam-diam amat mencinta Tan Swi Hong, mana dia ada keberanian untuk melamar puteri majikannya sendiri?

Pesta pertunangan itu cukup meriah.

karena bangsa Cina yang tinggal di Tuban belum banyak, dan terutama karena hubungan Tan Beng Ki dengan para pejabat pamong praja dan penduduk pribumi di situ akrab, maka sebagian besar para tamunya adalah pribumi, tamu Cina hanya sekitar dua puluh orang saja.

Biarpun bukan pesta pernikahan, hanya pertunangan, namun karena puterinya merupakan anak tunggal, Tan Beng Ki merayakannya dengan meriah.

Para tamu makan minum sambil mendengarkan suara merdu waranggana menembang diiringi gamelan dan menonton para penari melenggang-lenggokkan tubuh mereka yang denok dan lentur.

Di antara para tamu itu terdapat Bagus Sajiwo dan Joko Darmono.

Bagaimana kedua orang muda itu dapat menjadi tamu dalam pesta pertunangan itu?

Seperti kita ketahui, Bagus Sajiwo dan Joko Darmono melanjutkan perjalanan dengan niat untuk menuju Blambangan.

Akan tetapi dalam perjalanan mereka itu mereka mendengar bahwa memasuki daerah Blambangan amatlah sulitnya.

Semua daerah perbatasan dijaga ketat dan semua orang yang datang dari luar Blambangan diperiksa dan digeledah dengan teliti.

Bagus Sajiwo lalu mengusulkan untuk mendatangi Blambangan lewat lautan, dengan naik perahu.

Kalau naik perahu, tentu mereka akan dapat mendarat di pantai daerah Blambangan bagian timur dan dapat memasuki kadipaten itu tanpa diketahui orang Blambangan.

Bagus Sajiwo pernah mendengar dari ayahnya bahwa Bupati Tuban merupakan orang yang setia kepada Mataram.

Bahkan ketika Mataram menundukkan Madura, Bupati Tuban merupakan orang yang setia kepada Mataram.

Bahkan ketika Mataram menundukkan Madura, Bupati Tuban banyak membantu.

Maka dia lalu mengajak Joko Darmono pergi ke Tuban dan setelah tiba di situ mereka menghadap sang Bupati Tuban.

Ketika mendengar bahwa Bagus Sajiwo putera Ki Tejomanik yang dulu bernama Sutejo, Bupati Tuban menerima mereka dengan gembira.

Di situ Bagus Sajiwo dan Joko Darmono mendengar lebih banyak tentang gerakan Blambangan yang merencanakan pemberontakan terhadap Mataram.

Ketika Sang Adipati mendengar bahwa dua orang muda itu bermaksud pergi ke Blambangan untuk melihat keadaan dalam usaha mereka membantu Mataram, dia segera berkata dengan nada gembira.

"Kebetulan sekali. Kini ada kesempatan baik sekali bagi Andika berdua untuk menyusup ke Blambangan tanpa dicurigai. Hari ini seorang pedagang Cina bernama Tan Beng Ki sedang merayakan pertunangan anaknya dan kami mendengar bahwa besok pagi, dia hendak mengajak anak dan calon mantunya ikut dengan perahu dagangannya ke Blambangan. Nah, kalau kalian ikut dalam perahu mereka, menyamar sebagai karyawan atau tukang perahu, tentu kalian tidak dicurigai dan dapat memasuki Blambangan dengan mudah."

Bagus Sajiwo dan Joko Darmono merasa girang.

Demikianlah, Bupati Tuban lalu memerintahkan seorang pamong paraja yang mendapat undangan dari Tan Beng Ki untuk mengajak dua orang pemuda itu dan memperkenalkannya kepada Tan Beng Ki sebagai dua orang kepecayaan Sang Bupati yang akan turut dalam perahu pedagang itu besok pagi ke Blambangan.

Pegawai kabupaten yang membawa dua orang pemuda itu sengaja datang lebih dulu sebelum para tamu datang dan dia memperkenalkan Bagus Sajiwo dan Joko Darmono sebagai dua orang kepercayaan Sang Bupati yang diutus pergi menyusup ke Blambangan dan ikut dalam perahu saudagar itu, menyamar sebagai pegawai atau tukang perahu.

Tan Beng Ki tentu saja menerima mereka berdua dengan baik, karena pedagang ini juga mempunyai hubungan baik dengan pamong praja setempat dan dia menghormati Bupati Tuban.

Mereka berdua ikut makan minum dan menikmati tontonan, mendengarkan tembang dan gamelan.

Mulai saat itu, Joko Darmono tidak dapat lagi menjadi penunjuk jalan karena yang dikenalnya hanyalah daerah Blambangan, akan tetapi belum pernah dia melakukan pelayaran dengan perahu besar.

Ketika mereka melihat Tan Swi Hong yang mengenakan pakaian baru, dengan potongan biasa, bukan pakaian pengantin yang menutupi wajahnya yang cantik, duduk bersanding namun agak berjauhan dengan Sie Tiong yang juga mengenakan pakaian baru, Joko Darmono berbisik kepada Bagus Sajiwo.

"Lihat, Bagus. Puteri Pedagang Tan itu cantik sekali, ya?"

Bagus Sajiwo memandang dan dia pun harus mengakui bahwa Tan Swi Hong itu cantik, akan tetapi yang lebih mengherankan dan juga mengagumkan lagi, gadis itu tampak bersemangat dan gagah!

Pandang matanya tidak malu-malu seperti gadis kebanyakan, melainkan bersinar terang dan tajam.

"Memang ia canyik, Joko. Seperti itukah gadis yang kau idam-idankan?"

"Husshh! Ngawur kau! Aku justeru ingin sekali tahu apakah engkau dapat jatuh cinta kepada gadis seperti itu?"

"Engkau juga ngawur! Lihat, ia sudah mempunyai calon suami dan tunangannya itu juga tampan dan gagah!"

Joko Darmono kini memandang ke arah Sie Tiong.

"Memang dia cukup ganteng. Akan tetapi aku seperti melihat mendung menutupi wajahnya. Lihat, senar matanya muram."

"Engkau benar, Joko. Heran, bagaimana mungkin pemuda itu bermuram durja (berwajah sedih) dalam keadaan seperti ini? Kurang bagaimana? bertunangan dengan seorang gadis cantik jelita, mertuanya berkecukupan dan pertunangannya dirayakan begini meriah."

"Jangan-jangan dia tidak cinta kepada calon isterinya."

Kata Joko Darmono.

"Engkau pernah bilang bahwa tanpa adanya perasaan cinta kasih kedua pihak, pasangan hidup tidak akan berbahagia hidupnya?"

"Begitulah. Akan tetapi belum tentu dia tidak mencinta tunangannya itu. Siapa tahu ada persoalan lain yang merisaukan hatinya."

Ucapan Bagus Sajiwo itu memang benar.

Dalam keadaan semeriah dan segembira itu, hati Sie Tiong merasa tertekan.

Bagaimana dia dapat merasakan kegembiraan kalau dia ingat akan Kam Leng, suhengnya yang dia tahu merana, kecewa dan berduka karena patah hati dalam kegagalan cintanya?

Saat itu dia merasa seolah menari-nari di atas hati suhengnya, menginjak-injak hati itu!

Padahal selama ini hubungan batin yang erat antara dia dan suhengnya.

Mereka berdua sama-sama, senasib sependeritaan, akan tetapi sekarang, karena seorang perempuan, hubungan itu retak, bahkan patah.

Suhengnya tentu kecewa dan membencinya.

Inilah yang membuat wajahnya muram dan dia tidak dapat menikmati keberuntungannya.

Dia merasa kasihan kepada Kam Leng, apalgi setelah dia bercakap-cajap dengan Swi Hong dan menceritakan bahwa suhengnya mencintanya, gadis itu memberitahukan bahwa suhengnya memang sudah mengajukan lamaran kepadanya namun ditolaknya karena ia tidak mencinta suhengnya.

Beberapa kali Swi Hong menoleh kepada tunangannya.

Ia tahu apa yang menyebabkan pemuda itu bermuram durja.

Ini tidak baik kalau dibiarkan terus, pikirnya.

Para tamu tentu akan merasa heran melihat pemuda yang sedang dirayakan pertunangannya itu tampak tidak gembira.

Ia lalu mengambil sebiji kedele dari atas meja, lalu tanpa diketahui orang, dengan telunjuk kanannya, dia menyentil kedele itu ke arah tunangannya.

Kedele itu menyambar bagaikan seekor lalat ke arah Sie Tiong dan tepat mengenai lengannya.

Sie Tiong terkejut menengok ke kiri ketika merasa lengan kirinya terkena sesuatu yang kecil namun kuat.

Dia melihat Swi Hong memandang kepadanya dan tersenyum dengan pandang mata menegur.

Dia menyadari bahwa sejak tadi dia termenung dengan perasaan tertekan, maka dia juga membalas dengan senyum dan mengangguk, tanda bahwa dia mengerti dan diapun lalu menghilangkan kerut alisnya dan kemuraman wajahnya.

"Wah, hebat juga gadis itu!"

Joko Darmono berbisik kepada Bagus Sajiwo.

Bagus Sajiwo juga mengerti dan dia pun merasa kagum.

Dia melihat betapa kedele itu dapat disentil sehingga meluncur amat cepat mengenai lengan pemuda yang duduk sejauh kurang lebih tiga tombak lebih darinya.

Kedele itu mengenai lengan yang tertutup baju yang kainnya cukup tebal namun pemuda itu tampak terkejut, tanda bahwa benturan kedele itu kuat sekali dan hal ini menunjukkan bahwa gadis Cina itu memiliki tenaga dalam yang kuat!

Jelas bukan gadis yang tangguh, memiliki ilmu kanuragan yang kuat!

Kedua orang pemuda ini memandang kagum dan heran.

Setelah pesta itu selesai dan para tamu mulai berpamit dan bubaran, Bagus Sajiwo dan Joko Darmono tetap duduk menanti karena tadi sudah ada permufakatan dengan Tan Beng Ki bahwa mereka berdua akan diterima sebagai tamu dan bermalam di rumah itu karena perahu akan berangkat besok pagi-pagi sekali.

Tentu saja Tan Beng Ki menerima dan menghormati kedua orang pemuda itu karena mereka adalah orang-orang kepercayaan Sang Bupati dan melalui pamong paraja tadi telah "dititipkan"

Kepadanya.

Setelah semua tamu pulang, Tan Beng Ki mempersilakan dua orang pemuda itu masuk ke ruangan dalam rumah besar itu dan mereka diperkenalkan kepada Tan Swi Hong dan Sie Tiong.

Mereka saling memberi hormat dengan merangkap kedua tangan depan dada sebagai sembah penghormatan.

"Swi Hong dan Sie Tiong, dua orang pemuda ini adalah orang-orang kepercayaan kanjeng Bupati. Mereka ini bernama.... wah, saya lupa lagi nama yang diperkenalkan pamong tadi...."

"Nama saya Bagus Sajiwo."

"Dan saya Joko Darmono."

"Saya merasa senang berkenalan dengan andika berdua. Nama saya Sie Tiong."

"Saya Tan Swi Hong, puteri dari Ayah Tan Beng Ki ini."

Dua orang pemuda itu harus menanamkan benar-benar tiga nama itu dalam ingatan mereka agar tidak mudah lupa karena bagi mereka nama-nama asing itu agak sukar diingat.

Tan Beng Ki lalu berkata sambil tersenyum kepada dua orang tamunya.

"Maafkan saya. Saya masih mempunyai banyak urusan yang harus saya kerjakan. Silakan kalian berempat bercakap-cakap dan mempererat persahabatan. Kita akan melakukan pelayaran bersama seperahu untuk beberapa hari lamanya, sudah sepatutnya kalau kita dapat mengenal diri masing-masing lebih baik."

"Silakan, Tuan."

Kata Bagus Sajiwo.

Tadi dia sudah minta keterangan kepada pamong yang mengantar dia dan Joko Darmono ke situ bagaimana harus menyebut tuan rumah.

Pamong itu menasihatkan agar dia menyebut babah atau tuan.

Karena sebutan babah masih asing baginya, dia memilih sebutan tuan karena dia pernah mendengar dari ayah ibunya bahwa bangsa asing sebaiknya disebut tuan.

Tan Beng Ki tersenyum lebar.

Dia sudah lama tinggal di Nusa Jawa dan sudah menyerap kebiasaan bangsa peribumi yang rendah hati.

"Wah, harap jangan menyebut Tuan kepadaku, anakmas Bagus Sajiwo. Sebutan Tuan itu hanya untuk bangsa Belanda. Sebut saja aku Paman."

"Terima kasih, Paman Tan Beng Ki."

"Cukup Paman Tan saja agar jangan terlalu panjang dan mudah kau ingat."

Kata pula pedagang itu, lalu dia meninggalkan ruangan menuju je belakang.

Kini tinggal empat orang muda itu di ruangan yang cukup luas itu.

Sejenak mereka saling berpandangan, saling senyum dan Joko Darmono yang lincah dan pandai bicara itu segera membuka percakapan.

"Wah, kalau kita berempat hanya diam saja, saling pandang dan senyum-senyum, orang akan mengira kita berempat ini gagu. Sayang sekali, tiga orang pemuda ganteng dan seorang gadis jelita ternyata gagu!"

Mendengar ucapan yang berupa kelakar ini, mereka berempat tertawa. Swi Hong menutupi mulutnya ketika tertawa matanya bersinar dan wajahnya berseri.

"Mas Joko Pramono...."

"Wah, engkau belum selamatan sudah mengubah namaku, Nona! Namaku Joko Darmono, boleh kau panggil Joko saja."

"Maaf, Mas Joko, akan tetapi jangan sebut aku Nona, sebut saja namaku, Swi Hong."

"Baik, Swi Hong. Akan tetapi engkau panggil saja aku Joko. Begitu lebih akrab, bukan?"

"Baiklah, Joko. engkau sungguh pandai berkelakar. Kami gembira sekali berkenalan dengan kalian berdua."

Kata Swi Hong sambil tersenyum manis.

"He-he, kalian berdua hati-hati, Jangan terlalu akrab, nanti Sie Tiong bisa sangat cemburu!"

Bagus Sajiwo ikut pula berkelakar, menggoda. Sie Tiong orangnya lembut dan sederhana, agak pendiam, akan tetapi tidak kaku.

"Aih, Bagus Sa.... da-apa, aku lupa lagi!"

"Heh-heh, Bagus Sa.... Sapi, begitu!"

Joko Darmono berseru dan kembali semua orang tertawa.

"Sebut saja aku Bagus, Sie Tiong."

"Aih, namanya sesuai dengan orangnya."

Kini Tan Swi Hong makin berani dan akrab ikut bercanda.

"Waduh, sekarang Sie Tiong akan cemburu kepadamu, Bagus. Tunangannya memuji engkau tampan."

"Sama sekali tidak ada cemburu di antara kami, Bagus dan Joko. Hong-moi (Adik Hong) mengatakan yang sebenarnya, bukan untuk merayu dengan pujian."

"Benar apa yang dikatakan oleh Tiong-ko. Cemburu hanya terdapat dalam pikiran orang yang dangkal pandangannya dan palsu cintanya."

Kata Tan Swi Hong.

"Wah, nama kalian sekarang berubah pula! Swi Hong menjadi Hong-moi dan Sie Tiong menjadi Tiong-ko!"

Joko Darmono mencela. Swi Hong tertawa.

"Tidak berubah, Joko. Moi atau moi-moi berarti diajeng, dan ko atau ko-ko berarti kakangmas, begitu!"

"Aduh mesranya!"

Joko Darmono menggoda lagi.

"Nanti dulu, Swi Hong. Engkau tadi mengatakan bahwa cemburu hanya terdapat dalam pikiran orang yang dangkal pandangannya dan palsu cintanya. Aku tertarik sekali. Coba jelaskan!"

Kata Bagus Sajiwo. Tan Swi Hong tersenyum dan mengerling kepada tunangannya, lalu berkatalah "dia yang memberi penjelasan."

Sie Tiong tersenyum.

"Terus terang saja. Akupun pertama tahu akan hal itu dari baca kitab-kitab kuno lalu kurenungkan sehingga dapat melihat kebenaran yang terkandung didalamnya. Begini, Bagus dan Joko. Cemburu merupakan pemikiran yang dangkal karena semua orang juga mengetahui bahwa cemburu mendatangkan kebencian dan kemarahan yang membuat orang dapat melakukan kekejaman. Cemburu muncul dari kemelekatan, ingin memiliki dan menguasai demi kesenangan diri sendiri. Orang yang berpandangan luas tidak akan membiarkan cemburu meracuni hatinya yang akibatnya akan menggelapkan pandangan dan mematahkan pertimbangan akal budi. Cemburu hanya mengotorkan cinta dan kalau ada cemburu, berarti cintanya palsu. Cinta yang sejati mengandung kepercayaan mutlak dan sepenuhnya kepada orang yang dicintanya. Nah, demikianlah yang kuketahui dari kitab-kitab kuno."

Bagus Sajiwo mengangguk-angguk kagum.

"Wah, tidak kusangka kalian ini muda-mudi Cina juga memiliki pandangan yang mendalam tentang kehidupan. Sie Tiong, engkau pandai membaca kitab kuno, tentu engkau seorang yang terpelajar tinggi."

"Ah, Bagus. Semua orang juga pelajar kalau saja dia mau belajar. Hidup ini sesungguhnya mempelajari segalanya melalui pengalaman sendiri maupun pengalaman orang lain, bukan?"

"Heh-heh, percakapan antara dua orang kakek yang sepatutnya menjadi pertapa dan pendeta. kering dan tidak menarik! Swi Hong, lebih baik kita bicara tentang hal lain yang lebih menggembirakan. Aku melihat tadi engkau seorang gadis yang memiliki tenaga hebat. Sentilanmu pada sebiji kedele kepada tunanganmu tadi benar-benar mengagumkan!"

Bukan hanya Swi Hong, juga Sie Tiong tampak terkejut dan keduanya memandang kepada Joko Darmono dengan mata terbelalak.

"Joko! Engkau.... engkau tahu akan hal itu?"

Tanya Swi Hong. Joko Darmono tersenyum.

"Tentu saja aku tahu dan Bagus juga tahu. Aku pernah mendengar bahwa bangsa Cina banyak yang pandai bermain silat. Aku yakin engkau tentu pandai silat, Swi Hong! Betul, kan?"

Swi Hong mengerling ke arah tunangannya sambil tersenyum.

"Ah, aku tidak sepandai dia."

"Hebat! Tentu engkau seorang ahli silat yang pandai, seorang pendekar, Sie Tiong!"

Kata pula Joko Darmono.

"Wah, tidak berani aku mengaku sebagai seorang pendekar yang pandai. Bagiku, seorang pendekar bukan asal dia pandai bersilat dan pandai berkelahi, melainkan seorang yang dengan gigih membela kebenaran dan keadilan dan siap mengorbankan dirinya untuk membela orang-orang tertindas dan menentang orang yang sewenang-wenang dan jahat."

"Kami percaya bahwa engkau tentu seorang pendekar yang pandai silat dan juga seorang ahli sastra, Sie Tiong."

Kata Bagus Sajiwo.

"Jangan memandang terlalu tinggi, Bagus. Terus terang saja, aku suka mempelajari sastra dan tentang ilmu silat, aku tahu sedikit-sedikit. Aku pernah belajar ilmu silat di biara Siauw-lim-si."

"Ah, aku pernah mendengar bahwa perguruan Siauw-lim merupakan perguruan silat yang paling besar dan terkenal di Cina!"

Sie Tiong mengangguk.

"Memang benar, akan tetapi bukan berarti aku memiliki kepandaian tinggi. aku hanya mempelajari sedikit saja, hanya untuk bekal memebela diri."

Bagus Sajiwo teringat akan nasihat mendiang Ki Ageng Mahnedra, bahwa orang yang omongannya besar dan sombong tidak perlu ditakuti karena biasanya seperti gentong kosong yang nyaring buinyinya, akan tetapi harus berhati-hati terhadap orang yang bicaranya merendahkan diri karena orang seperti itu suka menyembunyikan kemampuan yang hebat.

Batang padi yang kosong tegak, akan tetapi yang padat berisi merunduk.

"Sie Tiong dan Swi Hong, bolehkah kami melihat kalian berlatih silat sebentar? Kami ingin sekali melihat ilmu silat kalian!"

Kata Joko Darmono.

"Ah, ilmu silat kami masih rendah...."

"Sie Tiong, aku juga mengharap engkau dan Swi Hong mau memperlihatkan ilmu silat kalian kepada kami. Bukankah kita telah menjadi sahabat baik? Jadi, tidak usah sungkan!"

Bagus Sajiwo juga membujuk.

"Dan engkau sendiri, apakah juga murid Siauw-lim, Swi Hong?"

Tanya Joko Darmono.

"Boleh dibilang begitu, Joko. Aku dilatih oleh Ayahku sendiri, kemudian aku mempelajari ilmu silat Siauw-lim."

"Wah, kalau begitu kalian ini pasamngan hebat!"

"Marilah, Sie Tiong dan Swi Hong, perlihatkan ilmu silat kalian kepada kami. Kami ingin sekali melihatnya."

Bagus Sajiwo membujuk lagi. Sie Tiong tampaknya tak dapat menolak lagi, akan tetapi Swi Hong mendahuluinya.

"Bagus dan Joko, kami tidak keberatan memperlihatkan ilmu silat kami, akan tetapi hanya dengan satu syarat!"

"Wih! Pakai syarat-syaratan segala! Dasar berdarah pedagang, tidak mau kalah dan tidak mau rugi. Nah, katakan apa syaratnya?"Joko Darmono berseru, namun nada suaranya jelas berkelakar sehingga Swi Hong tidak merasa tersinggung. Gadis itu tersenyum memandang Joko Darmono.

"Kalian dapat melihat ketika diam-diam tadi aku menyentil kedele, hal itu menunjukkan bahwa kalian memiliki penglihatan yang tajam. Kami dapat menduga bahwa kalian tentu bukan orang-orang sembarangan, tentu memiliki aji kesaktian. Maka, kami mau memperlihatkan ilmu silat kami kalau kalian juga nanti menunjukkan kepandaian kalian kepada kami. Bagaimana, setuju?"

"Aku setuju! Usul itu bagus sekali!"

Sie Tiong berseru gembiara. Jolo dan Bagus saling berpandangan, lalu keduanya tertawa.

"Wah, terpeleset kita sekarang, Bagus! Gadis ini benar-benar cerdik sekali. Baiklah, Swi Hong dan Sie tiong, kalian berdua perlihatkan dulu ilmu silat kalian, setelah itu nanti giliran kami untuk memperlihatkan kebodohan kami."

"Aih, jangan begitu, Joko. Di antara kita tidak perlu saling merendah. Tidak ada yang pintar atau bodoh. Kita sama-sama memperlihatkan apa yang pernah kita pelajari dan masing-masing memberi saran kalau ada kekurangannya. Nah, mari kita pergi ke lian-bu-thia."

Kata Sie Tiong.

"Apa itu?"

Bagus bertanya heran.

"Lian-bu-thia artinya Ruangan latihan silat. Kami mempunyai ruangan itu, disebelah belakang. Mari kita ke sana."

Mereka berempat lalu menuju ke belakang.

Ruangan yang dimaksudkan itu berada di jajaran gudang-gudang barang, sebuah ruangan tertutup yang luas dan disudut terdapat sebuah rak tempat berbagai macam senjata.

Ada toya, tombak, ruyung, trisula, golok, pedang dan lain-lain.

"Wah, bagus sekali ruangan untuk latihan ini!"

Joko berseru. Mereka lalu duduk di atas bangku yang terdapat di samping dekat dinding.

"Hayo, mulailah kalian!"

Joko mendesak.

Sie Tiong dan Swi Hong saling pandang, kemudian keduanya melangkah ke tengah ruangan, berdiri saling berhadapan.

Pertama mereka memutar tubuh menghadapi Bagus Sajiwo dan Joko Darmono, mengangkat kedua tangan depan dada dan membungkuk sebagai penghormatan kepada mereka yang menonton, kemudian mereka saling memberi hormat.

"Siap!"

Kata Sie Tiong sambil memasang kuda-kuda Ji-ma-she (Menunggang Kuda), kedua kakinya terpentang dan lututnya ditekuk, tubuhnya tegak lurus, seperti orang sedang menunggang kuda, kedua tangan diletakkan di sisi pinggang.

"Siap!"

Kata pula Swi Hong dan gadis ini juga memasang kuda-kuda, kaki kiri di depan, ditekuk lututnya dan kaki kanan di belakang dengan lutut ditekuk sedikit, tubuhnya juga tegak lurus dan kedua tangan disilangkan depan dada.

"Lihat serangan!"

Swi Hong membentak dan tiba-tiba ia menerjang ke depan, menyerang Sie Tiong dengan gerakan yang cepat dan tangan kanannya yang menampar itu mengandung tenaga kuat, hal ini dapat diketahui dari suara angin menyambar bersiut.

Namun dengan cepat Sie Tiong mengelak dan membalas dengan tamparan dari samping ke arah pundak Swi Hong.

Gadis itu pun dapat mengelak dengan gerakan ringan sekali.

Mereka segera terlibat dalam pertandingan yang seru, saling serang.

Bagus Sajiwo dan Joko Darmono memandang kagum.

sebagai ahli-ahli kanuragan mereka berdua maklum bahwa dua orang itu saling serang dengan pukulan-pukulan dan tendangan-tendangan yang benar-benar, cepat dan kuat.

Hanya orang-orang yang sudah ahli dan mahir saja berani berlatih saling serang seperti itu tanpa khawatir saling melukai.

Semua serangan kedua pihak dapat dihindarkan dengan elakan atau tangkisan.

Tubuh kedua orang itu berubah menjadi dua bayangan yang berkelebatan.

Tiba-tiba dua bayangan itu melompat ke belakang dan mereka berdiri saling berhadapan dan saling memberi hormat.

Napas mereka tidak terengah, hanya tampak dahi dan leher Swi Hong agak basah oleh keringat yang segera diusapnya dengan sehelai saputangan.

Bagus Sajiwo dan Joko Darmono bertepuk tangan memuji.

mereka benar-benar kagum, terutama akan kecepatan gerakan dua orang itu.

Pada dasarnya ilmu silat Cina tidak ada bedanya dengan ilmu silat yang mereka pelajari, akan tetapi mereka harus mengakui bahwa gerakan silat sepasang tunangan ini luar biasa cepatnya.

Setelah bertepuk tangan, Joko Darmono berkata.

"Kami melihat banyak senjata di sana, harap kalian suka memperlihatkan ilmu silat yang menggunakan senjata!"

Sie Tiong dan Swi Hong sedang merasa gembira dan hati mereka senang mendapatkan dua orang sahabat baru yang cocok, maka setelah saling pandang mereka segera berlari ke arah rak senjata.

Swi Hong memilih siang-kiam (sepasang pedang dan Sie Tiong mengambil sebatang toya (tongkat).

Seperti tadi, mereka saling berhadapan dan Swi Hong membuka serangan lebih dulu.

Sepasang pedangnya menyambar-nyambar dengan serangan kilat yang bertubi.

Namun Sie Tiong menggerakkan toyanya dan terdengarlah bunyi berdentangan berulang kali diikuti percikan bunga api.

Mereka saling serang dengan seru.

Sepasang pedang itu seolah menjadi sepasang garuda yang menyambar-nyambar dahsyat, sedangkan toya itu seolah seekor naga sakti melayang-layang dengan perkasa.

Kembali Bagus Sajiwo dan Joko Darmono memandang kagum sekali.

Gerakan kedua orang itu bersungguh-sungguh, serangan-serangan tidak berpura-pura namun keduanya sudah demikian mahirnya sehingga dapat melindungi seluruh tubuh.

Mereka tampak seperti pasangan yang menari-nari dengan indahnya.

Setelah bertanding selama dua puluh jurus lebih, keduanya melompat ke belakang menghentikan permainan mereka.

Bagus Sajiwo dan Joko Darmono kembali bertepuk tangan.

"Aih, mengapa kalian memamerkan ilmu silat? Memalukan saja karena ilmu silat bukan untuk pamer-pameran!"

Tiba-tiba Tan Beng Ki yang bertubuh agak gemuk itu muncul di pintu, menegur anak dan calon mantunya, akan tetapi teguran itu dilakukan dengan mulut tersenyum.

"Maafkan saya, Gak-hu (Ayah Mertua)."

Kata Sie Tiong.

"Ayah, kami bukan pamer. Joko dan Bagus ini yang mendesak kami agar memperlihatkan ilmu silat kami dan sekarang tiba giliran mereka untuk memperlihatkan kesaktian mereka."

"Wah, begitukah? Kalau begitu bagus sekali! Silakan, Bagus dan Joko, aku juga ingin sekali menyaksikan kesaktian kalian. Aku tahu bahwa di negeri ini terdapat banyak orang yang skti."

Setelah berkata dmikian, dengan wajah berseri gembira Tan beng Ki duduk di atas bangku bersama anak dan calon mantunya, siap menonton dua orang tamu mereka yang diharapkan akan mempertunjukkan kesaktian mereka.

Joko dan Bagus saling pandang.

Mereka tidak dapat menolak lagi.

Joko bangkit dari duduknya dan berkata.

"Aku paling tidak suka melihat orang yang suka merusak, orang-orang jahat dan aku selalu menantang mereka. Akan tetapi karena di sini tidak ada orang jahat, semua baik-baik, maka aku akan membasmi saja binatang-binatang yang merusak, yang berada dan berkeliaran ke sana-sini!"

Setelah berkata demikian, Joko Darmono menggerakkan tubuhnya berloncatan ke sana-sini, kedua tangannya dia gerakkan mendorong ke berbagai arah.

Tan Beng Ki, Tan Swi Hong, dan Sie Tiong memandang dan mengikuti gerakan Joko Darmono dengan penuh perhatian.

Mata mereka terbelalak ketika mereka melihat uap kemerahan bergulung-gulung menyambar keluar dari kedua telapak tangan pemuda itu, menyambar ke kanan kiri dan....

banyak lalat berjatuhan, juga beberapa ekor cecak, coro (kecoa) dan dua ekor tikus.

Semua binatang mati tanpa terluka!

Setelah melakukan gerakan serangan dengan Aji Nirada Jingga (Awan Merah) seperti itu dan di ruangan itu tidak terdapat lagi seekor lalat pun, Joko Darmono menghentikan gerakannya dan kembali duduk, sambil tersenyum.

"Kebisaanku hanya sebegitu!"

Katanya. Akan tetapi tiga orang itu bangkit meneliti di ruangan itu, melihat banyak lalat dan nyamuk, cecak, kecoa dan dua ekor tikus mati tanpa terluka sedikitpun! "Hoat-sut (ilmu sihir)....!"

Kata Swi Hong sambil memandang kepada Joko Darmono.

"Bukan, bukan hoat-sut, Hong-moi, melainkan sin-kang (tenaga sakti)!"

Kata Sie Tiong kagum.

"Bukan main!"

Seru Tan Beng Ki.

"Ini adalah lwee-kang (tenaga dalam) tingakt tinggi sehingga mejadi tenaga sakti!"

Mereka bertiga lalu bertepuk tangan memuji.

"Aih, Joko. Kiranya engkau seorang pemuda yang sakti sekali!"

Puji Swi Hong.

"Aih, aku tidak bisa apa-apa. Kalau dia itu, barulah bisa disebut sakti!"

Dia menuding ke arah Bagus Sajiwo.

"Hussh, jangan begitu, Joko. Aku tidak akan mampu melakukan seperti apa yang kau lakukan tadi. Eh, Paman Tan, kalau Joko ini berada di sini satu minggu saja, ditanggung rumahmu ini akan bersih dari semua lalat, nyamuk, cecak, kecoa, tikus dan binatang lainnya."

"Sudahlah, Bagus, jangan memperolok aku."

Cepat kauperlihatkan kebisaanmu. Engkau berhutang kepada kami. Kami semua sudah mengeluarkan permainan, engkau tidak boleh enak-enakan saja menjadi penonton gratis!"

Bagus Sajiwo merasa serba salah.

Tidak menuruti permintaan Joko Darmono, dia tentu akan diganggu terus.

Juga dia merasa tidak enak kalau diam saja, tidak enak kepada Tuan rumah.

Akan tetapi kalau memamerkan kepandaian, hal itu sungguh bertentangan dengan wataknya.

Selain itu, dia juga agak terkejut melihat sepak terjang Joko Darmono.

Pemuda itu ternyata dapat bertindak kejam terhadap yang tidak disukainya, seperti ketika membunuh semua binatang kecil tadi.

Akhirnya dia bangkit juga dan tiga orang anggauta keluarga Tuan rumah itu menyambutnya dengan tepuk tangan.

Setelah melangkah ke tengah ruangan, Bagus Sajiwo berkata.

"Aku minta bantun Sie Tiong dan Swi Hong. Harap kalian suka datang ke sini."

Dua orang itu pun bangkit dan menghampiri Bagus Sajiwo, berdiri di depannya sambil memandang heran.

"Tentu saja kami siap membantu, Bagus. Nah, apa yang dapat kami bantu?"

"Aku mau memperlihatkan apa yang aku mampu lakukan, akan tetapi harus kalian bantu."

Dia lalu berdiri dan bersedakap (menyilangkan kedua lengan depan dada) dan menundukkan mukanya.

"Nah, Swi Hong dan Sie Tiong, sekarang kalian serang dan pukullah aku. Jangan ragu-ragu, pukul atau tendang sesuka hati kalian."

Tentu saja dua orang itu tidak mau melakukannya dan memandang ragu, belum juga bergerak dan saling pandang dengan bingung. Akan tetapi Joko Darmono berseru.

"Lakukanlah, Swi Hong dan Sie Tiong! Mengapa kalian diam saja? Dia sudah menyuruh kalian. Kalian tidak akan dipersalahkan. tendang dan pukul dia sepuas hati kalian!"

Mendengar ucapan kedua orang itu, Swi Hong lalu mendahului. Sambil tersenyum ia berkata.

"Bagus, maafkan aku dan sambut pukulanku ini!"

Ia menampar dengan tangan kanannya, tentu saja membatasi tenaganya.

"Wuuuttt.... wesss....!"

Tangan Swi Hong terpental ke belakang seolah pukulannya bertemu dengan hawa yang lembut dan lentur, yang membuat tenaganya membalik sehingga tangannya terpental.

Akan tetapi karena tenaga pukulannya tadi dibatasi, ia tidak sampai terdorong mundur.

Ia terbelalak dan dengan heran ia menoleh kepada tunangannya.

Sie Tiong mengira bahwa tunangannya tidak tega memukul, maka dia maju.

Dia ingin menguji kasaktian Bagus sajiwo dan untuk itu dia harus menyerangnya seperti yang dianjurkan Bagus, juga Joko dan Ayah mertuanya.

Dia tahu bahwa Bagus Sajiwo tentu memiliki tenaga dalam yang amat kuat seperti Joko darmono, maka kini dia menampar ke arah pundak Bagus Sajiwo sambil mengerahkan tenaga saktinya.

"Sambut pukulanku, Bagus!"

Bentaknya dan tangan kanannya menyambar kuat ke arah pundak kiri Bagus Sajiwo.

"Syuuuutttt.... dessss....!!"

Tubuh Sie Tiong terpental ke belakang sampai dua meter.

Untung dia masih dapat pok-sai (salto) sehingga tubuhnya tidak terbanting.

Seperti juga Swi Hong, sebelum tamparannya mengenai tubuh Bagus Sajiwo, dia sudah terdorong oleh tenaganya sendiri yang membalik dan karena pukulannya lebih kuat daripada pukulan Swi Hong tadi, maka tubuhnya terdorong lebih kuat!

Kini keduanya tidak ragu lagi.

Mereka mencoba untuk menampar, dan menendang, Namun semua serangan itu membalik sebelum menyentuh sasaran, seolah seluruh tubuh Bagus Sajiwo terlindung perisai kuat yang tidak tampak!

Itulah Aji Sari Bantala!

Ajian ini hanya dapat ditembus oleh orang yang memiliki tenaga sakti yang amat kuat.

Kekuatan Swi Hong dan Sie Tiong belum cukup untuk dapat menembus perisai hawa sakti itu.

Semakin kuat dua orang itu menyerang, semakin kuat pula mereka terpental, terdorong oleh tenaga pukulan sendiri yang membalik.

Melihat betapa puterinya dan calon mantunya berkali-kali memukul dan menendang dengan akibat terpental sendiri, makin lama semakin kuat terpental, Tan Beng Ki terkejut dan tertarik sekali.

Dia segera bangkit dan menghampiri.

Dia ingin merasakan sendiri.

"Cukup Swi Hong dan Sie Tiong."

Katanya kepada mereka, lalu dia bertanya kepada Bagus Sajiwo.

"Bagus, bolehkah aku mencoba untuk memukulmu?"

"Silakan, Paman?"

Tan Beng Ki memasang kuda-kuda, menggerak-gerakkan kedua lengannya untuk mengumpulkan tenaga dan membangkitkan tenaga dalamnya.

"Sambutlah pukulanku, Bagus!"

Dia memukul ke arah pundak Bagus Sajiwo.

Bagus Sajiwo tentu saja tidak akan membiarkan dirinya terpukul kalau lawan memiliki tenaga sakti yang amat kuat.

Dia dapat merasakan kekuatan lawan sebelum pukulan itu mendekati pundaknya.

Ternyata tenaga Tan Beng Ki masih jauh di bawah tingkat kekuatan Sie Tiong, maka ia menerima pukulan itu.

(Lanjut ke

Jilid 09) Kemelut Blambangan (Seri ke 05 -Serial Pecut Sakti Bajrakirana) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 09

"Wuuuttt.... dessss....!"

Tubuh Tan Beng Ki terpental jauh dan dia tentu akan terbanting jatuh kalau saja Swi Hong dan Sie Tiong tidak cepat menyambar dan memegang kedua lengannya sehingga dia tidak sampai jatuh.

Kini Tan Beng Ki merasa yakin dan dia segera menghampiri Bagus Sajiwo yang sudah kembali ke dekat Joko Darmono.

Diikuti anak dan mantunya, Tan Beng ki menjura kepada dua orang pemuda itu.

"Ah, kiranya kalian berdua adalah orang-orang sakti yang amat tinggi ilmunya. Maafkan kalau kami tidak mengetahui dan tidak menyambut sebagaimana mestinya."

Dua orang pemuda itu tertawa, bangkit berdiri dan balas menjura.

"Eh-eh, kalian bertiga ini apa-apaan, sih?"

Joko Darmono berkata sambil tertawa.

"Masing-masing memiliki ilmu yang pernah dipelajari, apa anehnya itu? Ilmu pedang Swi Hong hebat, juga ilmu tongkat Sie Tiong. gerakan kalian demikian cepat dan gesit sehingga sukar bagi kami untuk dapat menandinginya. Harap janagan berlebihan membuat kami merasa sebagai orang asing dan bukan sahabat-shabat karib lagi!."

Swi Hong tertawa dan berkata.

"Ayah, mereka benar. Kita sudah menjadi sahabat baik, maka tidak perlu sungkan-sungkan lagi. Aku senang sekali telah dapat berkenalan dan menjadi sahabat Joko dan Bagus."

"Aku juga senang sekali, seolah merasa bertemu dengan dua orang saudara."

Kata Sie Tiong. Tan Beng Ki mengangguk-angguk.

"Aku sudah menduga bahwa sebagai orang kepercayaan Kanjeng Bupati Tuban, kalian berdua tentulah bukan orang sembarangan. Kalian hendak menyusup ke Blambangan, padahal menurut pendengaranku, Blambangan sedang bersiap-siap hendak menyerbu Mataram. salahkah dugaanku bahwa kalian berdua ini adalah tokoh-tokoh Mataram, jagoan-jagoan muda yang diutus oleh Kanjeng Sultan Agung dari Mataram untuk menyelidiki Kabupaten Blambangan?"

Bagus sajiwo berkata dengan suara serius.

"Paman Tan, terus terang saja, kami berdua adalah orang-orang yang selalu menegakkan kebenaran dan keadilan, membela yang tertindas dan menentang orang jahat yang suka mengganggu dan mencelakai orang lain. Dan mengenai Mataram, aku memang merasa sebagai seorang kawula Mataram dan akan membela Mataram."

"Aku sendiri tidak mau terlibat dalam perang, Paman."

Kata Joko Darmono.

"Aku juga bukan kawula Mataram maka tentu saja tidak ingin membela Mataram. Aku kawula Blambangan akan tetapi aku tidak akan membela Blambangan kalau bersalah. Aku akan membela Blambangan kalau diserang dari luar tanpa salah. Pendeknya, siapa pun juga tidak benar, biar ia kerabat dekat sekalipun, kalau ia bersalah, sudah pasti tidak akan kubantu!."

"Ah, aku tidak percaya, Joko!"

Kata Swi Hong.

"Bagaimana kalau ia itu orang yang engkau cinta? Misalnya, isterimu?"

"Aneh-aneh kau ini! Aku tidak beristeri!"

"Belum beristeri, bukan tidak beristeri."

Kata Bagus Sajiwo.

"Kalau sudah beristeri kelak, betapapun salahnya sang isteri, pasti akan dia bantu!"

"Tentu saja! Sudah menjadi kewajiban seorang suami untuk membela isterinya, benar ataupun salah, bukan? Kalau tidak mau membantu, untuk apa mempunyai suami?"

Diam-diam Bagus Sajiwo terkejut dan tidak senang mendengar pendapat Joko Darmono itu.

Berbahaya kalau kelak Joko Darmono memperoleh isteri yang wataknya jahat!

"Nah, apa kataku?

Joko tentu akan menjadi seorang suami yang setia dan baik, amat mencinta isterinya."

Kata Swi Hong sambil tersenyum manis kepada Joko Darmono.

Tan Beng Ki sendiri sebagai seorang pria, diam-diam merasa tidak senang melihat sikap Swi Hong.

Andaikata dia sendiri sebagai seorang yang menjunjung tinggi kebenaran, pasti tidak akan membela isterinya kalau sang isteri itu bersalah.

Kewajiban seorang suami yang bijaksana bukan membela isterinya yang bersalah, melainkan berusaha menyadarkan sang isteri dari kesalahannya.

Akan tetapi dia merasa tidak baik kalau membantah pendapat puterinya di depan mereka semua dan dia lalu membelokkan percakapan.

"Kalau begitu tidak terlalu salah dugaanku. Biarpun kalian tidak langsung diutus oleh kanjeng Sultan Agung di Mataram, namun jelas bahwa kalian hendak menyelidiki keadaan Blambangan dan hal itu kalian lakukan sepengetahuan Sang Bupati Tuban. Wah, aku senang sekali membantu. Biarpun aku tidak terlibat secara langsung kalau Mataram berperang melawan Blambangan, namun aku jelas tidak berpihak kepada Blambangan. Mataram gigih menentang Belanda dan aku kagum dan senang melihat itu. Negaraku sendiri, Cina, juga dijajah bangsa asing, yaitu bangsa Mancu. Maka, melihat Mataram menentang bangsa Belanda, aku berpihak kepada Mataram."

"Itulah yang menyebalkan, Paman Tan. Agaknya Blambangan dibantu pula oleh Kumpeni Belanda, maka aku semakin tak suka melihat gerakan Blambangan hendak menyerang Mataram itu."

Kata Joko Darmono.

"Kalian berdua jangan khawatir. Kalian dapat mengaku sebagai pembantu-pembantuku dan perahuku akan membawa kalian mendarat di suatu pantai terpencil dan sunyi di daerah Blambangan."

Demikianlah, Bagus Sajiwo dan Joko Darmono bercakap-cakap dengan keluarga pedagang itu.

Kemudian mereka mengaso dan tidur di dalam kamar yang telah disediakan oleh tuan tumah untuk mereka.

Malam itu gelap dan dingin.

Hujan yang baru turun sejak sore baru reda menjelang tengah malam.

Udara yang amat dingin membuat orang enak tidur dan enggan bergadang.

Kota Tuban sunyi sekali, tidak ada seorang pun di jalan atau di luar rumah.

Juga di rumah besar Tan Beng Ki semua penghuni rumah sudah tidur.

Kamar Tan Beng Ki berada di ruangan tengah, berjajar dengan kamar Tan Swi Hong.

Kamar Sie Tiong masih berada di belakang, di mana terdapat kamar-kamar yang khusus untuk para karyawan yang mondok di rumah besar itu.

Selain Sie Tiong, terdapat empat karyawan lain yang tinggal di dua kamar sebelah Sie Tiong, Bagus Sajiwo dan Joko Darmono juga mendaparkan dua buah kamar tak jauh dari kamar tuan rumah.

Semua orang sudah tidur, kecuali Bagus Sajiwo yang masih duduk bersila di atas pembaringan dalam keadaan bersamadhi.

Dalam kesunyian malam gelap itu, tiba-tiba tampak bayangan beberapa orang bergerak di dekat rumah besar milik Tan Beng Ki.

Setelah tiba di bawah lampu gantung yang berada di samping rumah besar itu, tampaklah dalam keremangan bahwa mereka itu adalah Kam Leng dan empat orang lain.

Dua orang Cina dan dua orang Jawa, keempatnya bertubuh tinggi berkumpul dan berbisik-bisik di bawah lampu gantung itu.

"Nah, sekali lagi kujelaskan seperti yang sudah kita rencanakan. Kalian, A Siong, A Tong dan Wira masuk ke ruangan dalam seperti sudah kugambarkan. Ingat, yang kiri itu kamar Tan Beng Ki. A Siong sendiri cukup kuat untuk membunuhnya. Dan kamar yang kanan itu kamar Nona Tan Swi Hong. Bagian A Tong dan Wira untuk membongkar pintu memasuki kamar itu. Ingat, kalian berdua tidak boleh melukainya, apalagi membunuhnya. gadis itu adalah calon isteriku!"

A Siong, A Tong dan Wira mengangguk.

"Dan engkau, Jalu, engkau ikut aku, membantuku untuk membunuh Sie Tiong di kamar belakang. Sekali lagi ingatlah, Tan Beng Ki dan Sie Tiong harus dibunuh dan Nona Tan Swi Hong harus diculik tanpa melukainya. Mengerti kalian semua?"

Kembali empat orang itu mengangguk.

Kemudian, dengan Kam Leng yang sudah hafal akan keadaan jalan, mereka berlima memasuki lewat pagar tembok di belakang, lalu berindap-indap menghampiri rumah besar.

Biarpun A Tong dan Wira sudah diberitahu oleh Kam Leng bagaimana caranya untuk membuka daun pintu kamar itu dengan paksa, tetap saja mereka menimbulkan suara yang menggugah Swi Hong dari tidurnya.

Gadis ini mendengar suara di pintu dan melihat daun pintu itu bergoyang-goyang, ia cepat turun dari tempat tidur, mengenakan baju luar dan sepatunya, kemudian menghampiri dinding di mana tergantung siang-kiam (sepasang pedang) yang menjadi senjata andalannya.

Pada saat itu mencabut sepasang pedang itu, daun pintu terbuka dan masuklah dua orang laki-laki bertubuh tinggi besar itu.

Karena lampu penerangan dalam kamar itu hanya redup, Swi Hong tidak dapat melihat wajah mereka dengan jelas.

"Siapa kalian!"

Bentaknya dan ia sudah maju menyerang dengan sepasang pedangnya, yakin bahwa mereka pasti orang-orang jahat yang mempunyai niat tidak baik.

A Tong dan Wira terkejut sekali, akan tetapi karena mereka sudah diberitahu Kam Leng bahwa gadis itu bukan orang lemah, maka mereka cepat melompat keluar kamar sambil mencabut pedang dan Wira mencabut sebatang golok.

Ruangan di luar kamar itu mendapat penerangan yang lebih besar sehingga Swi Hong yang mengejar keluar dapat melihat wajah mereka.

Akan tetapi ia tidak mengenal mereka dan tanpa banyak cakap lagi ia lalu menyerang mereka dengan sepasang pedangnya.

Dua orang yang sudah dipesan agar tidak melukai gadis itu, melainkan menangkap dan menculiknya, menggerakkan senjata menangkis.

"Trang! Cringg!"

Swi Hong merasa betapa kedua tangannya tergetar, menandakan bahwa dua orang lawannya ini bukan orang-orang lemah.

Akan tetapi ia tidak merasa gentar dan sambil membentak nyaring ia menyerang bertubi-tubi.

Namun kedua orang lawannya dapat menghindarkan diri dengan elakan dan tangkisan sambil berusaha meraih dengan tangan kiri untuk menangkap gadis itu.

Kegaduhan di luar kamar itu membuat Tan Beng Ki terbangun dari tidurnya pula.

Dia menggosok-gosok kedua matanya dan mendekati pintu untuk meneliti dan mendengarkan labih jelas.

Ketika mendengar beradunya senjata tajam dan bentakan-bentakan suara puterinya, Tan Beng Ki cepat menyambar sebatang tombak yang berada di sudut kamarnya.

Dia lalu membuka daun pintu.

Pada saat itu, sebatang pedang menyambar ketika dia melangkah keluar.

Tan beng Ki terkejut dan cepat menangkis sinar pedang yang enyambar ke arah lehernya itu.

"Trangggg....!"

Tombaknya terpental dan hampir terlepas dari genggamannya sehingga Tan Beng Ki terkejut bukan main.

Dia melompat keluar dan segera melawan mati-matian ketika laki-laki Cina tinggi besar itu menyerangnya dengan pedang.

serangan orang itu ganas dan kuat sekali sehingga Tan Beng Ki harus memutar tombaknya dengan cepat untuk melindungi dirinya.

Dia bingung dan khawatir sekali melihat puterinya juga sedang berkelahi, bahkan dikeroyok dua orang.

Pada saat Ayah dan Anak ini terdesak dan Tan Beng Ki sudah menderita luka-luka di lengan dan pahanya, tiba-tiba berkelebat dua sosok bayangan yang bukan lain adalah Bagus Sajiwo dan Joko Darmono.

Mereka tadi terbangun oleh suara gaduh perkelahian di ruangan dalam itu dan hampir berbareng mereka keluar dari kamar masing-masing, lalu berlari cepat ke tempat perkelahian.

Selagi mereka hendak membantu ayah dan anak itu, tiba-tiba terdengar teriakan-teriakan mengaduh dari arah belakang.

Joko Darmono sepintas pandangan saja sudah dapat mengukur tingkat kepandaian tiga orang yang menyerang Tan Beng Ki dan Tan Swi Hong itu.

"Bagus, cepat engkau lihat di belakang. Siapa tahu bantuanmu dibutuhkan Sie Tiong di sana. Biar yang di sini kubereskan!"

Bagus Sajiwo juga merasa yakin bahwa sahabatnya itu akan mampu menundukkan tiga orang penjahat itu, maka dia lalu melompat dan lari ke arah bangunan belakang di mana Sie Tiong tinggal bersama beberapa orang karyawan lain.

Ketika tiba di belakang, Bagus Sajiwo melihat Sie Tiong sedang berkelahi melawan seorang pemuda Cina yang bertubuh tinggi tegap.

Sie Tiong bersenjatakan sebatang toya yang merupakan senjata andalannya dan lawannya menggunakan sebatang pedang.

Mereka bertanding dengan seru dan mati-matian.

Akan tetapi sekali pandang saja Bagus Sajiwo maklum bahwa lawan Sie Tiong masih kalah kuat.

Pemuda itu mulai mundur-mudur dan lebih banyak menangkis daripada menyerang.

Tak jauh dari situ, Bagus Sajiwo melihat seorang laki-laki lain mengamuk dengan goloknya.

Dia bukan Cina dan agaknya goloknya telah merobohkan tiga orang, sedangkan yang seorang lagi masih melawan mati-matian, menggunakan sebuah parang, akan tetapi orang ini pun sudah menderita luka-luka di badannya.

Melihat ini, Bagus Sajiwo cepat melompat dan menyambar ke arah orang yang mengamuk dengan goloknya itu.

"Wuuuttt.... plakkk! Aduhhh....!"

Orang bermuka hitam tinggi besar yang bukan lain adalah Jalu teman Kam Leng itu terjengkang jatuh dan lawannya yang sudah luka-luka cepat menubruk dan membacokkan parangnya ke arah leher penjahat itu.

"Crakkk!! Darah muncrat dan Jalu tewas seketika. Akan tetapi karyawan yang sudah menderita luka-luka parah itupun terguling roboh. Perkelahian antara Sie Tiong dan Kam Leng terjadi dengan seru. Ilmu silat mereka satu aliran. Keduanya menguasai ilmu silat aliran Siauw Lim. Akan tetapi Sie Tiong adalah Sute (Adik seperguruan) Kam Leng, maka tentu saja ilmu silatnya masih kalah tangguh, apalagi karena sejak berusia belasan tahun Kam Leng adalah seorang tukang berkelahi, maka gerakan Sie Tiong kalah matang dan juga tenaganya kalah kuat. Namun, tentu saja dia melawan mati-matian, membela diri dengan gigih.

"Mampus kau, manusia tidak mengenal budi!"

Kam Leng membentak, pedangnya meluncur dengan gerakan memutar, menusuk ke arah dada Sie Tiong. Sie Tiong yang memang sudah terdesak itu cepat menangkis dengan toyanya.

"Tranggg....!"

Kedua tangan Sie Tiong yang memegang toya tergetar hebat dan toyanya terlepas! Pada saat itu ujung pedang meluncur lagi ke dadanya. Dia miringkan tubuh ke kanan.

"Srattt....!"

Pundak Sie Tiong disambar pedang.

Baju, kulit dan sedikit daging di pangkal lengan kirinya robek dan berlepotan darah.

Tubuh Sie Tiong terhuyung dan Kam Leng cepat mengejar, pedangnya dibacokkan ke arah leher Sie Tiong yang amat dibencinya.

Dalam keadaan terhuyung itu Sie Tiong sama sekali tidak mampu menghindarkan diri dari sambaran pedang ke arah lehernya.

"Singgggg.... plakkkk !!"

Kam Leng terbelalak, terkejut bukan main karena tangan orang yang menangkis pedangnya itu membuat pedangnya patah dan terlepas dari pegangan tangannya yang terasa panas dan pedas sekali.

Maklumlah dia bahwa dia berhadapan dengan seorang sakti, yang dengan tangan kosong dapat mematahkan pedangnya.

Apalagi melihat Jalu telah roboh dan agaknya tewas, Kam Leng menjadi panik dan ketakutan.

Dia lalu melompat dan menghilang dalam kegelapan.

Bagus yang tadi menangkis pedang Kam Leng dan menyelamatkan nyawa Sie Tiong, tidak mengejar.

Dia lalu menghampiri Sie Tiong setelah melihat pemuda itu terluka.

Akan tetapi Sie Tiong berkata.

"Bagus, aku tidak apa-apa. Tolong selamatkan Hong-moi dan Ayahnya...."

Bagus yang kembali ke ruangan dalam dan Sie Tiong mengikuti dari belakang.

"Tiong-ko....!"

Swi Hong menjerit ketika melihat Sie Tiong muncul dengan baju berlepotan darah, lalu ia berlari menghampiri.

"Engkau.... terluka....?"

"Tidak mengapa, Hong Moi, hanya terluka sedikit di bahuku. Bagus telah menyelamatkan nyawaku."

Mereka saling berpegangan tangan.

Sementara itu, Bagus Sajiwo berdiri tertegun memandang ke arah mayat tiga orang yang menggeletak mandi darah dan agaknya sudah tewas semua.

Joko Darmono berdiri sambil tersenyum mengejek, sebatang pedang yang berlepotan darah berada di atas lantai depan kakinya.

Tan Beng Ki duduk di atas sebuah bangku sambil mengeluh dan pakaiannya juga berlepotan darah yang mengucur dari luka di paha dan lengannya.

Ternyata ketika Joko Darmono muncul, dia lalu mengamuk.

Dengan gerakannya yang amat cepat dia telah berhasil merampas sebatang pedang dari tangan seorang penyerbu.

Kemudian dengan pedang rampasannya itu telah menyambar-nyambar dan tiga orang yang bukan lain adalah A Siong, A Tong dan Wira, para pembantu Kam Leng itu, berpelantingan roboh dan tewas dengan luka di leher atau dada mereka.

Tan Beng Ki juga sudah luka-luka sebelum Joko Darmono muncul, lalu menjatuhkan diri di atas bangku.

Biarpun dia sendiri sudah terluka, melihat calon mertuanya terluka parah, Sie Tiong segera berlari menghampiri.

Akan tetapi, Tan Beng Ki yang duduk di bangku ternyata pingsan karena luka-lukanya.

Sie Tiong segera dibantu oleh Bagus Sajiwo untuk menggotong Tan Beng Ki ke dalam kamarnya.

Bagus Sajiwo yang banyak mempelajari ilmu pengobatan dari mendiang Ki Ageng Mahendra memeriksa luka-luka di tubuh kedua orang itu.

Luka-luka mereka cukup dalam dan parah walaupun hanya merupakan luka pada daging, tidak merusak otot besar atau tulang.

Dia lalu cepat menyuruh para pembantu yang siap melaksanakan semua perintahnya untuk mengobati dua orang yang terluka itu untuk mencari .

Akar pohon Trengguli, madu murni, getah pohon Gondang, getah pohon papaya, akarnya dihaluskan lalu dicampurkan dan dipanaskan di atas api kecil.

Sesudah itu, Bagus Sajiwo mencuci bagian tubuh yang luka dengan air matang, lalu mengoleskan obat sampai semua permukaan luka tertutup obat, setelah itu bagian yang terluka dibalut dengan kain putih bersih.

"Ah, terima kasih, Bagus. Rasanya sejuk sekarang."

Kata Tan Beng Ki.

Akan tetapi dia masih merasa lemah.

demikian pula Sie Tiong.

Biarpun obat itu telah melenyapkan rasa panas dan nyeri pada tubuh mereka yang terluka, terganti rasa sejuk, namun mereka merasa lemah.

Hal ini adalah karena mereka kehilangan banyak darah.

Akan tetapi untuk mengatasi hal ini, Tan Beng Ki mempunyai resep obat yang manjur, yang merupakan cara pengobatan dari Cina Kuno.

Dia menyuruh orang merebus ayam muda jantan dengan ji-som (akar obat) dalam arak merah yang dicampur air.

Ayam itu direbus sampai matang dan lunak, lalu Tan Beng Ki dan Sie Tiong makan masakan itu dan minum airnya.

Hal ini dilakukan setiap hari selama satu minggu dan ternyata kesehatan mereka sudah pulih kembali.

Tubuh mereka menjadi kuat kembali dan luka-luka mereka sudah hampir sembuh, sudah kering dan tidak nyeri.

Setelah dua orang itu sembuh, mereka lalu berkemas dan membuat persiapan untuk berlayar seperti yang telah direncanakan.

Tan Beng Ki membawa barang dagangannya, untuk berdagang ke daerah Jawa Timur melalui selat Madura seperti yang biasa dia lakukan.

Sie Tiong dan Tan Swi Hong, selain merayakan pertunangan mereka dengan berpesiar ikut dengan perahu besar itu, juga untuk menghindarkan diri dari gangguan Kam Leng.

Adapun Bagus Sajiwo dan Joko Darmono ikut dengan perahu untuk pergi ke Blambangan melakukan penyelidikan.

Perahu Tan Beng Ki itu cukup besar, kokoh dan kuat.

Dia memenuhi perahunya dengan muatan tembakau.

Selain Tan Beng Ki, Tan Swi Hong, Sie Tiong, dan dua orang tamu mereka, Bagus Sajiwo dan Joko Darmono, terdapat pula sepuluh orang anak perahu yang mengatur pelayaran itu dan mereka adalah para pembantu Tan Beng Ki.

Pelayaran itu lancer dan perahu hanya mendarat di bandar-bandar tertentu di mana sudah ada langganan Tan Beng Ki yang menyambut untuk membeli daun tembakau.

Ketika perahu melalui selat Bali, keadaan lautan di selat itu tidak tenang.

Ombak besar bergulung-gulung dan hanya pengalaman dan keahlian para anak buah perahu saja yang membuat perahu dapat bertahan dari hempasan ombak dan dapat meluncur menuju selatan.

Pada suatu pagi, perahu itu tiba disuatu tempat yang dituju.

Blambangan sudah tampak dan biarpun ombak di situ masih ganas, namun para anak buah perahu dapat dapat mengarahkan perahu mereka ke arah daratan di barat.

Pagi itu cerah sekali dan sinar matahari pagi membuat jalur keemasan yang panjang di atas permukaan air yang bergelombang.

Joko Darmono yang lebih mengenal keadaan di pesisir daratan Blambangan, menjadi penunjuk jalan.

mereka berlima, berdiri di atas perahu, memandang ke arah daratan yang terdiri dari bukit-bukit karang dengan dinding-dinding karang yang terjal.

"Wah, di bagian ini tidak mungkin melakukan pendaratan."

Kata Bagus Sajiwo.

"Justeru di sinilah merupakan tempat pendaratan yang baik sekali karena daerah ini sepi, tak pernah didatangi orang. Kita dapat mendarat di sini tanpa diketahui orang."

Kata Joko Darmono.

"Akan tetapi, Joko, bagaimana mungkin mendarat di daerah ini? Tebing-tebing karang itu begitu terjal dan lihat, ombak menghantam dinding karang dengan dahsyatnya. Perahu ini akan terancam bahaya dibanting ke dinding karang itu oleh ombak!"

Kata Tan Beng Ki. Joko Darmono tersenyum.

"Jangan khawatir, Paman. Di sana, di sebelah kanan didnding bukit karang yang meonkol itu, terdapat bagian yang landai dan di sanalah kami akan mendarat."

Lalu Joko Darmono memebri peunjuk kepada jurumudi ke arah yang dia maksudkan itu.

"Hei, di sana ada perahu besar!"

Terdengar jurumudi berseru.

"Dan perahu itu melaju menuju ke arah kita!"

Teriak anak nuah yang lain.

Bagus Sajiwo dan Joko Darmono memandang dan mereka melihat sebuah perahu besar hitam meluncur ke arah perahu mereka.

Tan Beng Ki bertiga juga memandang penuh perhatian dan dia berkata sambil mengerutkan alisnya.

"Itu bukan perahu pedagang, juga bukan orang-orang sedang pesiar. Lebih mirip perahu bajak laut! Akan tetapi jangan khawatir, biasanya para bajak laut tidak menggangguku. Mereka hanya minta sumbangan dan aku sudah biasa menyumbang mereka dalam jumlah besar sehingga mereka tidak pernah mengganggu perahuku."

Setelah berkata demikian, Tan Beng Ki lalu maju dan berdiri di kepala perahu dan setelah perahu besar bercat hitam itu datang semakin dekat, dia mengangkat kedua tangan ke atas lalu melambaikan tangannya.

Bagus Sajiwo menghampiri Tan Beng Ki dan tiba-tiba dia berseru.

"Paman. awas....!"

Berbareng dengan teriakannya itu, terdengar ledakan-ledakan dari perahu hitam itu dan tampak kilatan api.

Tiba-tiba Tan Beng Ki terjengkang roboh mandi darah.

Bagus Sajiwo maklum bahwa orang-orang di perahu itu menyerang dengan tembakan api!

"Semua tiarap!"

Bagus Sajiwo memberi peringatan.

"Ayah....!!"

Swi Hong lari dan berlutut dekat tubuh Ayahnya yang mandi darah. Tiga buah peluru telah menembus dadanya dan keadaannya tidak dapat diharapkan lagi.

"Swi Hong.... cepat.... lari....!"

Katanya lemah dan dia terkulai, tewas.

"Ayaahhh....!"

Swi Hong menangis di atas dada Ayahnya.

Sie Tiong marah sekali bahwa Suhengnya, Kam Leng, berada pula di atas perahu hitam itu.

Maka melihat Ayah mertuanya tewas, dia melompat ke arah jurumudi, merebut kemudi perahu dan mengarahkan perahu itu lurus ke arah perahu hitam.

Pemuda yang marah dan nekat karena merasa percuma melawan karena musuh mempergunakan senjata api, dengan kemarahan meluap lalu menabrakkan perahunya kepada perahu hitam itu.

"Braaakkk....!!"

Kedua perahu itu bertabrakan keras dan keduanya pecah bagian depannya.

Akan tetapi kerusakan pada perahu milik Tan Beng Ki lebih parah, bahkan menjadi miring dan semua penumpangnya berpelantingan.

Terdengar ledakan-ledakan senjata api.

Para anak buah perahu terpaksa menyelamatkan diri dengan melompat keluar dari perahu yang sudah miring itu.

Joko Darmono melompat ke dekat Bagus Sajiwo.

"Bagus! Kita harus tinggalkan perahu!"

Setelah berkata demikan, Joko Darmono menghampiri Tan Swi Hong yang masih berlutut menangisi Ayahnya.

"Swi Hong, perahu akan tenggelam! Mari lari....!"

Kata Joko Darmono sambil memegang lengan gadis itu. Akan tetapi Swi Hong tetap berlutut menangisi Ayahnya.

"Dar-dar-dar-darr....!!"

Tembakan datang dari perahu hitam dengan gencar dan melihat ini, Joko Darmono cepat menarik tangan Swi Hong dan dibawanya gadis itu melompat keluar dari perahu yang miring.

Bagus Sajiwo juga menarik tangan Sie Tiong yang masih mencoba mengemudikan perahunya.

"Hayo kita cepat pergi!"

Dan dia lalu menarik pemuda itu dan membawanya melompat keluar dari perahu.

Gelombang di lautan itu amat besar dan segera para penumpang perahu yang berlompatan ke air itu ditelan ombak dan lenyap.

Perahu hitam itu adalah perahu Kadipaten Blambangan yang membawa mereka yang ditugaskan oleh Begawan Kalasrenggi untuk menangkap mata-mata Mataram yang ikut dengan perahu milik Tan Beng Ki itu, dengan Kam Leng sebagai penunjuk jalan.

Mereka adalah Kaladhama, Kalajana, Arya Bratadewa dan Candra Dewi yang menjadi kaki tangan Kumpeni belanda.

Yang melepas tembakan-tembakan adalah Arya Bratadewa dan anak buahnya yang membawa senapan.

tentu saja mereka terkejut sekali ketika perahu pedagang itu dengan nekat menabrak perahu mereka.

Hal ini sama sekali tidak mereka sangka-sangka.

Ketika perahu dagang itu pecah dan mulai tenggelam, semua anak buah perahu berloncatan ke air dan karena air bergelombang dan perahu hitam mereka juga mengalami kerusakan, maka mereka tidak dapat menangkap atau menyerang lagi dengan tembakan.

Semua orang sibuk berusaha mengarahkan perahu ke pesisir.

Bagus Sajiwo mencoba untuk menguasai dirinya.

Akan tetapi, semua aji kanuragan yang pernah dipelajarinya dan telah dikuasainya dengan baik, seolah-olah tidak ada artinya sama sekali.

Dia menjadi pemainan gelombang ombak seperti sepotong kayu saja, hanya berkat latihan pernapasannya yang membuat dia mampu menahan dan mengatur pernapasan yang agak menolongnya sehingga dia tidak sampai terpaksa menelan air laut karena terkadang dia digulung ke dalam ombak sampai agak lama.

Entah berapa lama dia menjadi permainan gelombang.

Diayun dan diangkat tinggi, lalu dihempaskan oleh kekuatan yang amat dahsyat, yang membuat segala macam tenaga sakti yang dapat diupayakan untuk dikuasai manusia menjadi tidak ada artinya sama sekali, seolah angin tiupan mulut dalam gelora angin taufan.

Dia hanyut dan hanya mampu berusaha semampunya untuk tetap sadar dan tidak sampai tenggelam dan terkubur dalam lautan.

Dia tidak ingat berapa lama dia terayun, terangkat lalu terbanting itu, hanya rasanya lama sekali, terlalu lama sehingga tenaganya untuk tetap tahan di atas air terkuras.

Dia sudah berusaha sejak tadi untuk mencari Joko Darmono, Sie Tiong, dan Tan Swi Hong, juga anak buah perahu, namun tidak berhasil melihat mereka.

"Ayaaaahh....!"

Tiba-tiba telinganya dapat menangkap teriakan lemah ini di sebelah kirinya.

Aneh terasa olehnya karena seolah jeritan itu merupakan kata ajaib karena tiba-tiba saja gelombang yang tadi mengamuk menjadi reda.

Bagus Sajiwo cepat mencari dengan pandang matanya ke arah suara tadi dan dia melihat Tan Swi Hong sedang terapung-apung seperti dia, dan gadis itu juga berusaha menyelamatkan diri, bahkan telah bergantung kepada sepotong kayu yang cukup besar, sebesar tubuh manusia dan panjangnya ada dua tombak.

"Swi Hong....!"

Dia berteriak dan berenang menghampiri.

"Bagus.... oh, Bagus....!"

Swi Hong berseru lemah, terisak.

Akhirnya Bagus Sajiwo dapat meraih kayu itu dan ternyata itu adalah tiang perahu layar mereka yang agaknya patah dan terapung sehingga menyelamatkan nyawa Swi Hong yang tadinya sudah kepayahan dan tidak kuat lagi.

Bagus Sajiwo lalu membantu gadis itu untuk naik dan dapat duduk di atas kayu itu.

Dia tetap berada di air, menahan kayu itu agar tidak berputar sehingga akan membuat tubuh Swi Hong terguling.

Gadis itu terengah-engah lemas.

Setelah tenaganya agak pulih dan hatinya mulai tenang karena melihat Bagus Sajiwo, ia membuka matanya yang tadinya terpejam dan memandang kepada Bagus Sajiwo yang bergantung pada balok kayu itu.

"Bagus.... bagaimana.... Ayahku.... ?"

"Swi Hong, tenangkanlah hatimu, dalam keadaan seperti ini, kita harus berserah diri sepenuhnya kepada Tuhan karena hanya Dia yang akan mampu menyelamatkan kita kalau Dia menghendaki. Setelah itu baru kita akan berusaha sekuat kita untuk dapat mencapai daratan. Jangan pikirkan tentang Ayahmu, tentang Sie Tiong dan Joko Darmono atau yang lain-lain, tidak ada gunanya semua itu. Yang terpenting sekarang, kita harus berupaya agat dapat mencapai daratan."

Swi Hong dapat mengerti ucapan itu.

Ia tahu bahwa kalau membayangkan tentang Ayahnya, tunangannya dan lain-lain, ia akan tertekan rasa khawatir dan sedih yang akan melemahkan semangat dari tenaganya.

Ia lalu melupakan semua itu dan memandang ke sekeliling.

Tidak tampak perahu hitam tadi, juga tidak tampak ada orang terapung dekat situ.

Gelombang tidak mengganas lagi dan di sebelah timur ia melihat daratan yang tampak hijau kehitaman.

"Di sana ada daratan, Bagus."

Bagus Sajiwo memandang.

"Hemm, agaknya kita sudah terbawa menjauh dari darat oleh gelombang. mari, Swi Hong, kita kerahkan tenaga untuk mendorong kayu ini ke arah daratan, pergunakan tangan dan kakimu."

Swi Hong lalu menelungkup di atas kayu itu dan menggunakan kedua tangannya seperti mendayung.

dibantu kakinya.

Bagus Sajiwo juga mendorong sambil berenang.

Untung bagi mereka bahwa ombak yang menuju daratan itu lebih kuat daripada dorongan air yang berlawanan sehingga biarpun tidak dapat cepat, namun mereka dapat bergerak maju, sedikit demi sedikit dan lambat sekali.

Bagus Sajiwo sengaja mengajak gadis itu bicara untuk membesarkan hatinya.

"Swi Hong, percayakah engkau kepada Gusti Allah?"

"Gusti Allah? Tentu saja, dalam bahasa Cina disebut Thian, Yang Maha Kuasa dan Maha Pencipta."

"Ya, Dia Yang Maha Pencipta, yang menciptakan seluruh alam mayapada berikut isinya, juga menciptakan lautan dengan gelombangnya ini. Dan juga Dia Maha Kuasa, sehingga kalau Dia menghendaki, biarpun terancam bahaya yang bagaimanapun juga, manusia dapat terhindar dari malapetaka. Kita dapat Dia selamatkan, juga yang lain-lainnya kalau Dia menghendaki."

Swi Hong mengangguk.

"Semoga Tiong-ko, Joko, dan yang lain-lain diselamatkan Thian. Akan tetapi, Bagus, Ayahku...."

Gadis itu menangis lagi akan tetapi ia tidak berhenti mendorong balok kayu itu dengan kedua tangannya.

"Swi Hong, seperti juga kehidupan, kematian pun terjadi kepada setiap orang atas kehendakNya, tak dapat diubah oleh siapa pun juga. Kita hanya dapat menerima segala keputusan terakhir itu, setelah kita mengerahkan segala kemampuan kita untuk berikhtiar, dengan ikhlas dan pasrah. Hanya inilah yang akan dapat meringankan derita batin kita dan akan memelihara iman dan harapan kita.""Engkau benar, Bagus, engkau benar.... akan tetapi Ayah...."

"Tenangkan hatimu dengan kepasrahan yang sepenuhnya. Bagaimananpun juga, engkau masih mempunyai seorang ibu yang mencintaimu dan menunggumu di rumah, dan masih ada pula Sie Tiong, tunanganmu yang mencintaimu...."

"Tiong-ko....! Ah, bagaimana kalau.... kalau dia.... tidak tertolong....?"

"Apakah tadi engkau tidak melihat dia? Dan Joko Darmono?"

"Tadi Joko yang menarikku dan memebawa aku melompat keluar perahu. Akan tetapi setelah jatuh ke air, kami berpisah. Aku terseret gelombang dan tidak melihat dia lagi. Dan aku juga tidak melihat siapa pun. Ketika aku sudah hampir tidak kuat bertahan lagi, mendadak kayu ini menyentuhku dan aku lalu berpegang kepada kayu ini sampai engkau melihatku."

"Nah, engkau telah membuktikan sendiri, Swi Hong. kekuasaan siapakah yang membuat kayu ini menghampiri dan menyentuhmu pada saat engkau terancam bahaya maut? Kekuasaan siapa pula yang membuat kita dapat saling bertemu sehingga kita dapat saling bantu? Maka, mustahilkah kalau Kekuasaan yang sama itu pula menyelamatkan Sie Tiong dan Joko dari cengkeraman maut seperti yang telah mencengkeram kita?"

"Semoga demikian adanya, Bagus."

"Ya, semoga. Kita tidak boleh kehilangan harapan yang kita gantungkan sepenuhnya kepada perkenan dan kehendakNya."

"Wah, daratan sudah dekat!"

Tiba-tiba Swi Hong berseru sambil menudingkan telunjukknya ke depan.

Bagus Sajiwo memandang dan dia mengucap syukur dan terima kasih kepada Gusti Allah dalam hatinya.

Seperti suatu mujizat, ketika bercakap-cakap tadi mereka tidak lagi memperhatikan daratan dan kini tiba-tiba daratan itu sudah begitu dekat!

Hal ini membangkitkan semangat mereka dan mendapatkan tenaga baru, mereka mendorong kayu sekuat tenaga.

Dibantu oleh dorongan ombak yang kuat dari belakang, akhirnya Bagus Sajiwo dan Swi Hong menyeberangi air yang tinggal setinggi pinggang ke darat.

Daratan itu landai dan berpasir putih.

kering dan bersih.

keduanya baru merasa betapa lemah lunglainya tubuh mereka setelah terhuyung-huyung di atas lantai berpasir dan keduanya lalu menjatuhkan diri di atas pasir.

Bagus Sajiwo lalu duduk bersila mengatur pernapasannya.

Melihat ini, Swi Hong lalu melakukan hal yang sama karena gadis ini juga sudah biasa memeperkuat tubuhnya dengan cara mengatur pernapasan seperti itu.

Ada setengah jam mereka duduk diam, mengatur pernapasan sehingga dalam perut bawah mereka terasa kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuh dan mendatangkan kekuatan yang tadinya seolah terkuras habis.

Bagus Sajiwo lalu membuat api unggun, untuk menambah panasnya sinar matahari agar pakaian basah kuyup yang melekat di badan mereka dapat cepat kering.

Juga hawa panas ini dapat cepat memulihkan tenaga dan mengusir sisa hawa dingin yang menyerang mereka selama mereka terendam air laut dan dipermainkan gelombang besar.

Setelah tubuhnya sehat dan kuat kembali mereka berdua duduk dengan api unggun membiarkannya perlahan-lahan padam karena pakaian mereka sudah kering dan sinar matahari siang itu cukup panas.

Bahkan kemudian terlampau panas bagi mereka dan Bagus Sajiwo mengajak Swi Hong pindah duduk di tempat teduh di mana sinar matahari terhalang tebing karang.

Swi Hong duduk bersandar batu karang setelah diamatinya seluruh pantai itu sambil berdiri tadi.

Ia menghela napas panjang.

"Mereka tidak tampak.... ah, mereka tidak ada.... jangan-jangan mereka semua tewas tenggelam, Bagus...."

Bagus tadi juga mengamati sekitar pantai dan tidak melihat seorang pun di antara para penumpang perahu.

Kini dia duduk berhadapan dengan Swi Hong dan dia melihat betapa gadis itu berada dalam keadaan menyedihkan.

Biarpun ia agaknya dapat menahan diri dan tidak menangis, namun matanya sayu, wajahnya agak pucat.

Pakaiannya yang kusut dan rambutnya yang awut-awutan itu membuat Swi Hong tampak menyedihkan sekali.

Dia sendiri juga mulai merasa khawatir akan keselamatan semua penumpang, terutama sekali keselamatan Joko Darmono.

Bagus Sajiwo mengerutkan alisnya, dalam batin dia menegur diri sendiri.

mengapa demikian banyaknya penumpang yang terancam bahaya dan mungkin tewas semua, yang teringat olehnya dan membuatnya prihatin dan bersedih hanyalah Joko Darmono?

Dia merasa kehilangan dan sedih sekali kalau sampai Joko Darmono tewas tenggelam.

baru dia menyadari dan terasa benar olehnya bahwa dia amat akrab dan suka sekali kepada pemuda yang lincah jenaka, cerdik pemberani dan juga sakti mandraguna itu.

"Semoga saja mereka selamat seperti kita, Swi Hong."

Katanya lirih.

"Bagus, ayahku tewas dan Tong-ko...."

"Aku menyesal sekali, Swi Hong. Aku dan Joko yang menyebabkan malapetaka ini terjadi."

"Tidak, Bagus. Bukan salah kalian. Aku tadi melihat Kam Leng di perahu hitam yang menyerang kita itu. Jahanam itulah yang mengerahkan para penjahat itu untuk menyerang kita sebagai balas dendam."

Bagus Sajiwo menghela napas panjang.

"Mungkin ada benarnya juga pendapatmu bahwa Kam Leng minta bantuan orang-orang jahat untuk membalas dendam. Akan tetapi kukira, bukan hanya itu penyebabnya. Aku yakin bahwa Kim Leng telah bersekutu dengan mereka yang telah bersekongkol dengan Blambangan untuk menentang Mataram. Tadi aku melihat pula Arya Bratadewa di sana, tentu dia yang memimpin anak buahnya untuk menembaki kita dengan senjata api. Agaknya mereka mengetahui bahwa aku dan Joko menumpang di perahu Ayahmu dan bahwa kami berdua adalah orang-orang yang berpihak kepada Mataram, atau mungkin mereka menduga bahwa kami berdua adalah telik sandi Mataram. Karena itu, mereka mau diajak Kam Leng untuk menghadang dan menyerang perahu kita. Kalau hanya diajak untuk membalas dendam urusan pribadi Kam Leng, tidak mungkin mereka mau."

"Hemm, siapakah Arya Bratadewa itu?"

"Dia sekutu Blambangan dan melihat dia selalu mempergunakan senjata api, aku yakin dia pasti antek Kumpeni Belanda yang diam-diam membantu Blambangan. Mungkin Belanda membantu Blambangan untuk menentang Mataram dan agar hal itu merupakan rahasia, mereka tidak mengirim pasukan Belanda, melainkan menggunakan telik sandi bangsa kita sendiri sehingga tidak akan diduga oleh Mataram bahwa Belanda ikut menyerang Mataram."

"Ah, kiranya begitu?"

"Aku hampir yakin demikian keadaannya, Swi Hong. Karena itu, aku minta maaf dan merasa menyesal sekali karena aku dan Joko yang menyebabkan keluargamu tertimpa malapetaka seperti ini."

Mendengar suara Bagus Sajiwo penuh penyesalan itu, Swi Hong menghela napas panjang.

"Sudahlah, Bagus. Andaikata dugaanmu benar, tetap saja Kam Leng yang menjadi biang keladi terjadinya penyerangan ini. Kalau tidak ada dia, bagaimana pihak Blambangan dapat mengetahui bahwa engkau dan Joko ikut dengan perahu kami? Ayah sudah bertahun-tahun mengadakan perdagangan di daerah Blambangan dan selama itu tidak pernah ada gangguan sama sekali. Maka, kau katakan tadi, kita harus menerima dengan ikhlas segala yang terjadi, betapapun pahitnya, karena segala sesuatu itu dapat terjadi karena sudah dikehendaki Tuhan. Jangan engkau sesali diri, yang perlu sekarang, apa yang akan kita lakukan, Bagus?"

"Aku berjanji, untuk menebus rasa bersalah ini, aku akan melindungimu dengan taruhan nyawaku, Swi Hong. Aku akan mencari tunanganmu dan mempertemukanmu dengan dia. Kalau terpaksa kita tidak dapat beremu dengan Sie Tiong, aku akan mengantarmu pulang ke rumah ibumu."

"Terima kasih, Bagus. Aku percaya sepenuhnya padamu dan aku menurut semua petunjukmu."

Bagus sajiwo termenung sejenak, berpikir apa yang harus dilakukan selanjutnya. Kemudian dia berkata.

"Swi Hong, mari kita menyusuri pantai ini untuk mencari kalau-kalau para penumpang lain ada yang selamat dan terdampar di daerah pantai yang landai itu."

Tubuh mereka kini telah menjadi segar kembali dan mereka segera mulai mencari di sepanjang pantai berpasir itu.

Akan tetapi setelah mereka mencari dari ujung sampai ke ujung yang lain dari pantai berpasir itu, mereka tidak menemukan seorang pun.

Bagus Sajiwo lalu mengajak Swi Hong untuk mendaki tebing bukit karang itu, mereka mengamati ke utara dan selatan.

Namun tidak melihat tanda-tanda adanya orang di sepanjang pantai.

Agak jauh ke darat, dari atas tebing karang itu mereka dapat melihat gnteng rumah-rumah, agaknya ada sebuah dusun di sana.

Matahari mulai condong ke barat dan Swi Hong tampak kecewa tidak menemukan tanda-tanda bahwa di antara penumpang perahu mereka ada yang selamat terdampar di darat.

Ia tidak mengeluarkan suara, hanya pandang matanya semakin suram.

"Senja telah menjelang, Swi Hong. Kita lanjutkan pencarian kita besok pagi. Sekarang yang terpenting kita harus mencari makanan. Sejak pagi kita belum makan dan hal ini kalau dilanjutkan akan melemahkan tubuh kita. Kita membutuhkan tenaga kita sepenuhnya utuk menghadapi perjalanan di daerah yang berbahaya ini. Selain makan, kita juga perlu mendapatkan pakaian."

"Pakaian?"

"Ya, pakaian, Swi Hong. Semua bekal pakaian kita hilang. Kita membutuhkan pakaian untuk ganti, dan selain itu, engkau sebaiknya mengubah dirimu menjadi seorang pemuda agar perjalanan kita tidak mengalami banyak gangguan. Mari kita menuruni bukit dan pergi ke dusun yang tampak dari sini itu."

Mereka menuruni bukit karang dan melihat wajah Bagus Sajiwo tampak muram, Swi Hong beranya.

"Bagus, mengapa engkau kelihatan seperti orang susah?"

"Bagus Sajiwo memandang gadis itu dan tersenyum.

"Baru teringat aku bahwa aku sama sekali tidak mempunyai uang. Kalau hanya untuk makanan, tentu penduduk dusun itu dapay memberi kepada kita dengan Cuma-Cuma. Akan tetapi bagaimana aku bisa mendapatkan pakaian kalau tidak membelinya dari mereka?"

"Ah, jangan khawatir, Bagus. Perhiasan-perhiasan ini tadi masih menempel di badanku, dan sekarang kusimpan."

Gadis itu mengeluarkan bungkusan saputangan dan menyerahkan kepada Bagus.

Ketik bungkusan dibuka, ternyata berisi sepasang gelang, seuntai kalung, sepasang anting dan sebuah hiasan rambut.

semua terbuat dari emas terhias batu permata.

"Ah, baik sekali!"

SeruBagus Sajiwo.

"Akan tetapi, sebuah gelang ini pun sudah lebih dari cukup untuk ditukar makanan dan beberapa potong pakaian."

Dia mengambil sebuah gelang dan mengembalikan sisa perhiasan kepada Swi Hong.

"Bawalah saja, bagus, untuk semua pembiayaan perjalanan kita,"

Kata Swi Hong.

"Tidak, kau simpan saja, Swi Hong. nanti kalau kita butuh saja kau keluarkan."

Mereka kini tiba di kaki bukit karang lalu melanjutkan perjalanan menuju ke dusun yang tadi tampak dari atas bukit. Ketika mereka tiba di luar dusun, cuaca sudah mulai remang senja.

"Swi Hong, sebaiknya engkau menanti dulu di sini. Biar aku sendiri yang masuk, mencari makanan dan pakaian. Engkau akan menarik perhatian kalau memasuki dusun itu dalam keadaan seperti ini."

Swi Hong mengangguk dan Bagus Sajiwo lalu memasuki dusun itu.

Dusun itu cukup besar dengan rumah-rumah yang lumayan keadaannya.

Melihat alat-alat penangkap ikan seperti jala dan sebagainya bergantungan di luar rumah-rumah mudah diduga bahwa penduduk dusun itu hidup sebagai petani dan nelayan.

Dengan gelang emasnya itu, tidak sukar bagi Bagus Sajiwo untuk memeperoleh apa yang dibutuhkannya, pepes dan ikan bakar, juga lima stel pakaian pria.

Swi Hong menerima pakaian yang dibawa Bagus Sajiwo dengan girang.

Mereka berdua lalu menemukan sebuah gardu di tengah ladang dan makan nasi dengan pepes dan ikan bakar.

Kemudian Swi Hong menyelinap ke balik gardu dan berganti pakaian.

Kini ia berubah menjadi seorang pemuda yang tampak masih remaja dan tampan sekali.

Akan tetapi Bagus Sajiwo tidak dapat melihat dengan jelas karena malam itu bulan hanya muncul sepotong sehingga sinarnya tidak cukup terang.

Baru pada keesokan harinya, dia melihat keadaan Swi Hong dan dia memandang kagum.

"Wah, engkau menjadi seorang pemuda yang ganteng, Swi Hong. engkau tampak tampan sekali dan lemah lembut seperti Harjuna!"

Swi Hong tersenyum.

"Apanya yang masih kurang pas, Bagus? Jangan sampai ada yang tahu akan penyamaranku."

Bagus Sajiwo mengamati keadaan gadis itu, dari rambut sampai ke kakinya.

"Hemm, rambutmu itu terlalu panjang dan halus bagi seorang pria, sebaiknya dipotong sehingga tidak terlalu panjang. Engkau harus sering membiarkan sinar matahari mengubah kulit muka dan bagian yang tampak lainnya menjadi kecoklatan. Bajumu sebaiknya longgar dan menutupi leher dan lenganmu, dan kakimu telanjang tidak memakai sepatu."

Swi Hong mematuhi petunjuk ini.

Malam itu mereka melewatkan malam dalam gardu.

Swi Hong melepaskan lelah dengan tidur dalam gardu sedangkan Bagus Sajiwo duduk bersila di atas batu besar yang terdapat di dekat gardu.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi mereka membersihkan badan di sebuah anak sungai, kemudian melanjutkan perjalanan.

Mereka menyusuri pantai menuju ke utara dengan harapan akan bertemu dengan para penumpang perahu yang lain, terutama Joko Darmono dan Sie Tiong.

"Bagus, lalu bagaimana dengan namaku? Kalau ada yang bertanya dan terpaksa aku harus menjawabnya, aku harus memakai nama apa?"

"Tentu saja tidak baik kalau engkau enggunakan namamu Tan Swi Hong. Engkau kini menyamar sebagai seorang pemuda Jawa, dan melihat engkau begitu halus dan tampan mirip Raden Janoko maka sebaiknya engkau menggunakan nama Parto."

"Parto?"

"Ya, Parto itu adalah nama alias dari Raden Janoko atau Raden Harjuno."

Mereka lalu melanjutkan perjalanan menyusuri pantai menuju ke utara.

Apakah yang terjadi pada diri Joko Darmono, Sie Tiong dan anak buah perahu yang pecah dan tenggelam itu?

Selain Tan Beng Ki, ada tiga orang anak buah perahu yang terkena tembakan sehingga mereka tewas.

Anak buah yang lain berlompatan ke air keika perahu mulai tenggelam dari mereka dicerai-beraikan gelombang yang dahsyat sehingga saling berpisah.

Di antara permainan gelombang yang menggunung, mereka itu bagaikan semut-semut kecil yang digulung dan ditelan ombak.

Sie Tiong adalah seorang pemuda yang pandai berenang.

akan tetapi dia pun tidak dapat berbuat banyak ketika digulung ombak bergelombang dahsyat itu.

Akan tetapi dengan kepandaian renangnya, dia dapat memepertahankan dirinya sehingga tidak tenggelam.

Bahkan kalau ada gelomang besar menerkam, dia menyelam agar terlepas dari cengkeraman ombak.

Tentu saja seluruh ingatannya terpusat pada Swi Hong, tunangannya yang tercinta.

Dia berenang kesana-sini, mencari-cari Swi Hong namun sia-sia.

Tunangannya itu seperti yang lain-lain, agaknya sudah ditelan lautan yang mengganas itu.

Dia maklum bahwa dia sudah berada jauh dari tempat di mana perahu tadi pecah.

Dia melihat perahu hitam sudah berlayar pergi dan dia dihempaskan, dihanyutkan gelombang ke arah utara.

"Hong-moi....!"

Berkali-kali dia mengeluh memanggil nama tunangannya. Hatinya gelisah bukan main. Apakah dia harus kehilangan kekasihnya itu? Tiba-tiba dia mendengar teriakan melengking, dari arah utara.

"Hong-moi....!"

Dia berseru dan cepat dia berenang menuju ke arah suara teriakan itu.

Kebetulan pada saat itu, gelombang mulai mereda dan lautan menjadi agak tenang.

Akhirnya dia dapat melihat bentuk tubuh seseorang di depan sana.

Alangkah terkejutnya ketika dia melihat sirip ikan meluncur dekat orang itu.

"Ikan hiu....!"

Teriak Sie Tiong.

Orang itu diserang hiu!

Akan tetapi ketika dia mempercepat gerakan renangnya mendekat, dia menjadi kagum.

Orang itu adalah Joko Darmono dan pemuda ini dengan gigih melawan serangan seekor hiu sebesar tubuh manusia, menggunakan sebatang keris!

Agaknya hiu itu sudah terluka oleh tusukan keris, akan tetapi lukanya tidak parah sehingga ikan buas itu masih berusaha menyerang Joko Darmono, berenang mengitari pemuda itu.

Melihat ini, Sie Tiong cepat mencabut pedang yang terselip di punggungnya, kemudian berenang mendekat.

Ketika ikan hiu itu meluncur lewat di dekatnya, Sie Tiong menusukkan pedangnya.

Tusukannya mengenai tubuh ikan dan air menjadi merah.

Ikan hiu itu agaknya kesakitan dan binatang itu melarikan diri dalam keadaan luka berdarah, keadaannya itu membuatnya tidak akan dapat bertahan lama karena tentu darah itu akan memancing datangnya ikan-ikan buas lainnya yang sebentar saja dia akan menjadi rebutan ikan-ikan buas yang menyerang untuk memakannya.

"Joko, cepat! Kita harus meninggalkan tempat ini. Darah ini akan membahayakan kita, ikan-ikan buas lainnya akan berdatangan!"

Sie Tiong berenang mendekat dan dia melihat gerakan Joko Darmono lemah sekali.

Agaknya pemuda itu sudah kehabisan tenaga, terengah-engah hanya dapat mempertahankan diri agar tidak tenggelam dengan susah payah.

"Joko, berpeganglah padaku!"

Katanya sambil mendekat dan Joko Darmono lalu mencengkeram baju Sie Tiong.

keduanya berenang dan Joko Darmono dapat mengaso karena berpegang pada baju Sie Tiong, tubuhnya dapat terapung dan dia hanya membantu dengan gerakan kedua kakinya.

Mereka meluncur ke depan.

"Lihat, Joko. Ada pantai di depan!"

"Sie Tiong.... aku.... aku tidak kuat lagi...."

Sie Tiong terkejut, ini berbahaya, pikirnya. Kalau Joko Darmono sampai pingsan, akan sukarlah baginya menyelamatkan mereka berdua karena dia sendiripun sudah lelah bukan main.

"Joko, bertahanlah! Aku tahu engkau seorang yang sakti dan gagah perkasa, tidak mungkin menyerah begitu saja! Lawanlah ancaman laut yang akan menelanmu! Lawan sekuat tenaga! Hayo kita berdua melawan mati-matian. Lihat, pantai tak jauh lagi, kita harus dapat mencapainya. Kita tidak boleh menyerah, Joko. Pantang menyerah!"

Agaknya ucapan Sie Tiong itu membangkitkan semangat Joko Darmono yang sudah mengendur hampir putus asa.

"Pantang menyerah!"

Teriaknya dan dia seolah mendapatkan tenaga baru, kini berenang di samping Sie Tiong, tidak membonceng dengan memegangi ujung baju lagi.

Setelah menguras semua tenaga selama kurang lebih satu jam lamanya, akhirnya, berkat dorongan ombak dari belakang, mereka dapat tiba di pantai berpasir.

Sie Tiong mendarat lebih dulu dan ketika dia melihat Joko Darmono berjalan terhuyung-huyung menyeberangi air yang selutut tingginya.

Ketika akhirnya tiba di pantai, tubuh pemuda itu terkulai dan roboh telentang!

Sie Tiong cepat menghampiri.

akan tetapi karena tenaganya sendiri sudah habis dan dia merasa tidak kuat untuk memondong tubuh kawannya itu, dia memegang kedua lengan Joko Darmono yang telentang lalu menyeret tubuh itu ke atas agar air tidak mencapainya.

Melihat Joko Darmono terpejam, dan sama sekali tidak bergerak, bahkan tidak tampak dia bernapas, Sie Tiong khawatir sekali.

Dia berjongkok di dekatnya dan meraba dada pemuda itu untuk merasakan detak jantungnya.

Akan tetapi begitu tangannya menyentuh dada, Sie Tiong terkejut dan melompat (Lanjut ke

Jilid 10) Kemelut Blambangan (Seri ke 05 -Serial Pecut Sakti Bajrakirana) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 10 bangun seperti dipagut ular!

Dia berdiri dengan mata terbelalak memandang kepada Joko Darmono.

Rambut Joko Darmono riap-riapan karena kain pengikat kepalanya hilang terbawa air laut.

bajunya di bagian leher lepas kancingnya sehingga tampak seluruh bagian leher yang berkulit putih mulus.

"Dia.... dia.... wanita...."

Sie Tiong berkata dengan perasaan heran, terkejut, dan juga bingung.

Akan tetapi dia segera teringat bahwa Joko Darmono pingsan dan keadaannya lemah sekali.

Maka dia lalu berjongkok kembali dan kini dia memegang pergelangan tangan Joko untuk merasakan denyut nadinya.

Nadinya masih berdenyut, walaupun agak lemah.

Sie Tiong pernah mempelajari ilmu menotok jalan darah untuk melancarkan darah, maka tanpa ragu-ragu dia segera menotok kedua pundak Joko Darmono, lalu mengurut tengkuk dan sepanjang tulang punggungnya.

Joko Darmono mengeluh, membuka matanya lalu bangkit duduk, dan melihat Sie Tiong berjongkok di depannya ia bertanya.

"Kita.... di mana?"

"Tenanglah, Thian Maha Kasih! Kita telah dapat terlepas dari maut dan berhasil mendarat di sini!"

Lalu dia duduk bersila di depan Joko Darmono dan berkata lagi.

"Kita kehabisan tenaga sehingga menjadi lemah. Sebaiknya kita mengaso sebentar dan memulihkan tenaga kita."

Setelah berkata demikian Sie Tiong lalu memejamkan kedua matanya dan berlatih pernapasan.

Dia perlu memulihkan tenaganya dan juga ketenangan hatinya yang sempat terguncang mendapat kenyataan bahwa Joko Darmono adalah seorang wanita!

Kini dia mendapat kenyataan akan kebenaran ucapan gurunya Thian Le Hwesio, pendeta Buddha di kuil Siauw-Lim-si bahwa kalau tiba saatnya kematian menjemput seseorang, apa dan siapa pun tidak akan dapat mencegahnya.

Sebaliknya kalau saatnya belum tiba, ancaman yang bagaimanapun hebatnya akan terlewat.

Dia hanya dapat merasa bersyukur dan berterima kasih kepada Thian Yang Maha Kuasa.

Demikian pula Joko Darmono.

selama melakukan perjalanan bersama Bagus Sajiwo, pemuda itu seringkali memperkenalkan Gusti Allah dengan segala kekuasaanNya yang meliputi segala sesuatu, menciptakan dan menguasai seluruh alam semesta dengan segala isinya.

Maka, kini ia dapat merasakan bukti kebesaran dan kekuasaan Gusti allah.

Hanya kekuasaanNya sajalah yang mampu menyelamatkannya dari cengkeraman maut di antara gelombang lautan yang menggelora itu.

Ia pun duduk bersila dan mengatur pernapasan untuk memulihkan tenaganya yang tadi terkuras habis.

Kurang lebih satu jam mereka berdua duduk diam di atas pantai pasir itu.

Mereka kini merasa segar dan tenaga mereka pulih kembali.

Joko Darmono membuka matanya dan pertama-tama yang ditemukannya adalah kenyataan betapa bajunya yang basah menempel ketat di tubuhnya dan betapa ramnutnya terlepas dan terurai.

Dia menunduk dan terkejut sekali melihat betapa bajunya di bagian dada itu basah kuyup dan menempel ketat pada dadanya sehingga tampak jelas betapa dadanya menonjol.

Dada wanita!

Cepat dia menarik baju yang menempel ketat itu agar longgar dan menyembunyikan ciri kewanitaannya.

Ketika dia mengangkat muka memandang, sinar matanya bertemu pandang mata Sie Tiong.

Pemuda itu membungkuk dan menundukkan mukanya sambil berkata hati-hati.

"Joko, harap engkau suka memaafkan aku. tanpa kusengaja aku mengetahui bahwa engkau adalah seorang wanita."

Hening sejenak.

Joko Darmono menatap wajah yang menunduk itu, alisnya berkerut.

Dia memikirkan bagaimana Sie tiong dapat mengetahui rahasianya itu.

Kemudian dia teringat.

rambutnya yang terurai, leher bajunya yang terkuak lebar, lalu payudaranya yang membayang di balik baju yang basah kuyup dan menempel ketat.

Atau mungkin juga ketika mereka berdua berjuang dan bergulat melawan ombak, tentu tanpa disengaja tubuh mereka dapat bersenggolan atau berhimpitan diombang ambingkan gelombang dahsyat.

Ah, sama sekali tidak aneh kalau Sie Tiong dapat mengetahui bahwa dia seorang wanita!

Dia menghela napas panjang, sebetulnya bukan merupakan hal yang amat penting untuk menyembunyikan kewanitaannya dibalik penyamaran.

Dia menyamar sebagai seorang pria hanya dengan maksud agar perjalanannya lebih leluasa dan mudah, tidak menghadapi halangan dan banyak gangguan.

Pertemuannya dengan Bagus Sajiwo itulah yang membuat dia menyimpan rapat rahasianya itu.

Bagus Sajiwo menganggap dia seorang pemuda dan kini mereka berdua telah menjalin persahabatan yang akrab.

Kalau Bagus Sajiwo mengetahui bahwa dia wanita, belum tentu mereka berdua akan dapat bersahabat demikan akrab.

Dia tahu betapa Bagus Sajiwo bukan seorang pemuda yang mudah tertarik kecantikan seorang wanita.

Kalau kini Sie Tiong mengetahui rahasianya, tidak mengapa.

Tidak ada bedanya baginya.

"Sie Tiong, tidak perlu minta maaf. Bukan salahmu. Dalam keadaan begini tentu saja aku tidak mampu menyamar sebagai pria dengan baik. Tidak mengapa kalau engkau kini mengetahui bahwa aku seorang gadis, akan tetapi aku minta dengan sangat agar engkau tetap menganggap aku seorang pemuda dan memanggil aku Joko. Dan yang lebih penting lagi, aku minta agar engkau tidak membuka rahasiaku ini dan tidak menceritakan kepada siapapun juga!"

Kalimat terakhir ini terdengar mengandung ketegasan. Sie Tiong menangguk-angguk.

"Baik, tentu saja aku akan merahasiakan keadaanmu yang sesungguhnya, Joko. Akan tetapi bolehkah aku mengajukan dua buah pertanyaan mengenai penyamaranmu ini?"

"Boleh. Dua saja dan setelah itu kita tutup semua pembicaraan mengenai hal ini. Setuju?"

"Setuju. Nah, pertanyaanku yang pertama, mengapa engkau menyamar sebagai seorang pemuda, Joko? Akan tetapi kalau engkau merasa keberatan untuk menjawab pertanyaan ini, tidak usah engkau menjawabnya. Aku tidak ingin mengetahui masalah pribadimu, hanya ingin tahu mengapa engkau bersusah payah seperti itu?"

Joko Darmono tersenyum.

"Karena engkau sudah mengetahui bahwa aku seorang gadis, tentu saja engkau boleh mengetahui semuanya, Sie Tiong. Memang tadinya aku tidak mempunyai niat untuk merahasiakan keadaan diriku. Begini, aku bernama Niken Darmini, Guruku adalah Nini Kuntigarbo. Sejak kecil aku ikut Guruku yang bertapa di gunung Betiri mempelajari aji kanuragan dan kesaktian. Setelah mendapat perkenan Guruku, aku melakukan pejalanan merantau, mencari pengalaman dan diberi waktu selama dua tahun oleh guruku. dalam perjalanan itu aku sengaja menyamar sebagai seorang pemuda atas nasihat Guruku agar aku dapat melakukan perjalanan dengan leluasa dan tidak mengalami banyak gangguan dalam perjalanan. Nah, dalam perjalanan itu aku bertemu dengan Bagus Sajiwo dan kami berkenalan, saling cocok dan menjadi sahabat. Aku tidak mempunyai tujuan tertentu dalam perantauanku, maka ketika Bagus Sajiwo mengajak aku untuk melihat-lihat keadaan Blambangan, aku melihat Blambangan bersekutu dengan Bali dan dibantu Belanda untuk memusuhi Mataram."

"Terima kasih, Joko. Keteranganmu yang panjang lebar itu membuat aku mengerti mengapa engkau melakukan penyamaran dan biarpun aku tidak tahu siapa itu Nini Kuntigarba, aku yakin bahwa ia tentu seorang wanita pertapa yang sakti mandraguna. Pertanyaanku kedua adalah, apakah Bagus Sajiwo juga tidak tahu bahwa engkau seorang wanita?"

Joko Darmono tersenyum, dia menggeleng kepala.

"Sama sekali dia tidak tahu bahwa aku wanita, dan karena itulah maka aku minta engkau merahasiakannya kepada siapapun juga agar Bagus tidak sampai mendengar. Kalau dia tahu...., maka sudah tidak lucu lagi. Nah, sekarang kita bicara soal lain. Kita berdua selamat, Sie Tiong, akan tetapi bagaimana dengan yang lain? Bagaimana dengan Bagus Sajiwo dan Swi Hong, juga para anak buah perahu lainnya? Mengapa tidak ada yang terdampar ke sini?"

Sie Tiong yang sejak tadi sudah gelisah sekali memikirkan nasib tunangannya, mengerutkan alisnya dan menghela napas panjang.

"Entahlah, Joko, aku pun khawatir sekali. Dalam keadaan seperti ini, apa yang dapat dilakukan? Ah, aku merasa tidak berdaya sama sekali. Ya Tuhan, bagaimana dengan Hong-moi?"

Mendengar suara yang menggetar penuh kegelisahan dan kesedihan ini, Joko Darmono berkata lembut.

"Jangan putus harapan, Sie Tiong. Selagi masih hidup, harapan harus tetap ada. percayalah, kalau Gusti Allah menghendaki, bukan mustahil Swi Hong akan selamat pula, seperti yang terjadi pada kita."

Tiba-tiba Joko Darmono merasa jantungnya seperti diremas karena dia teringat kepada Bagus Sajiwo. Ucapannya tadi merupakan pengulangan dari ucapan Bagus Sajiwo kepadanya.

"Engkau benar, Joko. Biarlah aku hanya dapat memanjatkan doa dan mohon kepada Thian Yang Maha Pengasih agar Swi Hong dapat diselamatkan...., juga Bagus Sajiwo!"

"Sekarang sebaiknya kita mencoba mencari mereka. Siapa tahu mereka terdampar tak jauh dari pantai ini."

Mereka lalu bangkit dan berjalan menusuri pantai, kalau terhalang bukit karang mereka mendaki, lalu turun di sebelah sana menyusuri pantai yang landai.

Akan tetapi sampai matahari condong ke barat mereka tidak menemukan seorang pun.

Akhirnya malam tiba dan mereka melewatkan malam dalam sebuah gua di bukit karang.

Sie Tiong membuat api unggun dan mereka mengaso dalam gua.

Lewat tengah malam, ketika Joko Darmono masih pulas, tiba-tiba dia terkejut mendengar teriakan-teriakan Sie tiong.

"Hong-moi.... ya Tuhan, Hong-moi....!"

Sie Tiong berteriak-teriak.

Api unggun dalam gua itu hampir padam sehingga keadaan di situ agak gelap.

Joko Darmono cepat mengambil kayu dan menyalakan api unggun lagi sehingga kini keadaannya terang.

Dia melihat Sie Tiong masih tidur, gelisah bergerak ke kanan kiri sambil mulutnya masih memanggil-manggil Swi Hong.

"Hong-moi.... Hong-moi....!"

Joko Darmono menghampiri pemuda yang tengah mimpi dan mengigau itu, lalu mengguncang pundaknya.

"Sie Tiong! Sie Tiong, bangunlah!"

Akan tetapi tiba-tiba Sie Tiong mengayun tangan kanannya memukul ke arah Joko Darmono!

Akan tetapi dengan sigap Joko Darmono mengelak dan meloncat sambil bangkit ke belakang sehingga pukulan itu tidak mengenai sasaran.

"Sie Tiong, sadarlah!"

Kembali dia membentak dan suaranya mengandung getaran yang berwibawa.

Sie Tiong bangkit duduk, menggosok kedua matanya, lalu memandang ke arah api unggun, dan mengangkat muka memandang kepada Joko Darmono.

"Joko.... apa yang terjadi....?"

"Sie Tiong, engkau mengigau dan ketika kubangunkan, engkau menyerang aku."

"Aduh, maaf, Joko. Aku.... aku bermimpi, melihat Hong-moi diculik orang. Aku mengejarnya dan aku menyerang penculiknya. Akan tetapi dia tangguh sekali sehingga aku terpelanting dan terbangun."

"Ah, pantas ketika kubangunkan engkau memukulku."

"Maaf, Joko. sungguh aku menyesal sekali...."

"Hushh, sudahlah. Pukulanmu tidak mengena, dapat kuhindarkan. Andaikata mengenai sasaran sekalipun, karena engkau memukul dalam keadaan mimpi, engkau tidak bersalah Sie Tiong, ingatkah engkau bagaimana wajah penculik itu?"

"Tidak, hanya aku tahu dia seorang laki-laki. Aku khawatir sekali akan nasib Hong-moi, Joko."

Suaranya menggetar sehingga Joko darmono merasa kasihan kepada pemuda itu.

"Itu hanya mimpi, Sie Tiong. Karena engkau selalu mengkhawatirkan keselamatan Swi Hong, maka sampai terbawa mimpi. Sudahlah, jangan dipikirkan dengan bayangan yang bukan-bukan. Percayalah saja bahwa Gusti Allah tentu akan menyelamatkan Swi Hong karena ia seorang yang baik."

"Terima kasih, Joko, dan maaf, aku telah mengganggu tidurmu."

Mereka lalu tidur kembali, akan tetapi Sie Tiong tidak dapat tidur lagi.

Bayangan Swi Hong diculik orang selalu terbayang dan dia duduk bersila dekat api unggun, menjaga agar api unggun tidak sampai padam.

Joko Darmono sudah tertidur pulas membelakanginya dan diam-diam Sie Tiong merasa iba sekali kepadanya.

Kalau saja Joko Darmono itu laki-laki, tentu tidak timbul rasa iba melihat dia tidur tergolek di atas lantai gua itu.

Akan tetapi Joko Darmono adalah seorang wanita, seorang gadis muda!

Joko Darmono tidur dengan pulas.

Dia memang tadinya amat khawatir memikirkan Bagus Sajiwo, akan tetapi karena tahu bahwa mengkhawatirkan saja tidak ada gunanya bahkan merugikan, padahal dia perlu mengaso sampai tenaganya segar, dia dapat mencari Bagus Sajiwo.

Maka dia menghentikan semua pemikiran dan dapat tidur pulas.

"Joko....! Joko....! Bangunlah, Joko....!!"

Teriakan itu mengejutkan Joko Darmono yang segera terbangun dan cepat dia bangkit duduk.

Dia melihat Sie Tiong di depan gua.

Kiranya pagi telah menggantikan malam.

Sinar matahari pagi masih lemah, namun sinarnya cukup terang dan mulai mengusir sisa kegelapan malam.

"Ada apa lagi, Sie Tiong?"

Tanya Joko darmono sambil menghampri pemuda itu.

"Bermimpi lagikah engkau?"

"Tidak, Joko, tidak! Lihat, mereka.... mereka terdampar di sana....!!"

Joko Darmono memandang ke arah pantai berpasir yang berada di bagian bawah bukit karang yang ada guanya itu.

"Ah, benar! Mari kita ke sana!"

Joko Darmono melompat dan berlari cepat, diikuti Sie Tiong.

sebentar saja mereka sudah tiba di pantai berpasir itu.

Ternyata ada empat orang anak buah perahu namun masih hidup, dan terdapat juga jenazah Tan Beng Ki yang dadanya tertembus beberapa butir peluru.

Tentu saja hati Joko Darmono kecewa bukan main karena di antara mereka tidak terdapat Bagus Sajiwo.

Juga Sie Tiong diam-diam menahan kesedihannya karena tidak melihat Swi Hong ikut terdampar di situ.

Sie Tiong dan Joko darmono lalu menolong empat orang anak buah perahu itu.

setelah kesehatan mereka agak membaik, mereka lalu bercerita betapa mereka diombang-ambingkan gelombang dantiba-tiba malam tadi ada gelombang besar dari tengah menyeret mereka sampai ke daratan itu.

Setelah empat orang itu kuat kembali, Sie Tiong lalu mengubur jenazah Tan Beng Ki.

Karena tidak ada alat untuk upacara sembahyang seperti yang pada umumnya dilakukan bangsa Cina pada waktu itu, Sie Tiong lalu memeberi hormat, berlutut, pai-kui (memberi hormat berlutut dan membenturkan dahi ke tanah) tiga kali.

Kemudian dia berdiam diri, masih berlutut dan termenung, seperti lupa akan keadaan sekelilingnya.

Empat orang anak buah itu tadi diutus mencari dusun terdekat dan membeli makanan untuk mereka berenam.

Juga mereka disuruh membeli pakaian kepada penduduk dusun yang berdekatan.

Pakaian sederhana seadanya untuk pakaian pengganti bagi Sie Tiong dan Joko Darmono karena pakaian yang menempel di tubuh mereka setelah kering kembali menjadi kumal dan kotor.

Joko Darmono duduk tak jauh dari Sie Tiong.

Dia tidak ikut bersembahyang seperti Sie Tiong, namun diam-diam dia ikut mendoakan agar arwah Paman Tan Beng Ki yang baik dan damai.

Tiba-tiba dia melihat betapa air mata menetes-netes dari kedua mata Sie Tiong menuruni kedua pipinya, Sie Tiong menangis!

Apakah dia menangisi kematian ayah mertuanya?

Ah, biarpun tentu saja dia berduka atas kematian calon ayah mertuanya itu, namun Joko Darmono merasa pasti bahwa bukan itu yang membuat pemuda gagah itu menangis.

"Sie Tiong, engkau menangisi Swi Hong?"

Tanya Joko lirih, merasa kasihan. Sie Tiong menggunakan kedua tangannya untuk menyusut air matanya, akan tetapi air matanya menetes semaki deras.

"Aku.... aku khawatir sekali, Joko. Aku khawatir dan kasihan kepada Hong-moi.... ah, kalau terjadi malapetaka menimpa dirinya...."

Joko Darmono diam saja, membiarkan pemuda itu melampiaskan rasa khawatir dan sedihnya melalui penumpahan air mata.

Akhirnya Sie Tiong mampu menguasai perasaannya dan dia menghapus kering air matanya, lalu berkata kepada Joko Darmono.

"Joko, maafkan kelemahan dan cengenganku."

"Sie Tiong, engkau cinta sekali kepada Swi Hong, bukan?"

Sie Tiong mengangguk.

"Dengan seluruh jiwa ragaku, Joko."

Kemudian dia menghadapi makam Tan Beng Ki dan dengan kedua tangan menyembah depan dada dia berkata.

"Gak-hu (ayah mertua), disaksikan joko Darmono, saya bersumpah untuk mencari Hong-moi dan tidak akan berhenti mencari sebelum dapat saya temukan."

Joko Darmono merasa terharu.

"Jangan khawatir, Sie Tiong. Kalau memang Swi Hong masih hidup, aku yakin engkau akan dapat bertemu kembali dengannya. Dan aku akan membantumu mencarinya."

"Terima kasih, Joko."

Empat orang anak buah perahu, para karyawan mendiang Tan Beng Ki datang membawa makanan dan pakaian pengganti untuk Joko Darmono dan Sie Tiong.

Biarpun yang mereka dapatkan itu hanya pakaian petani dan nelayan yang sederhana, namun cukup bersih.

Mereka lalu makan.

Setelah itu, Joko Darmono yang dianggap sebagai pemimpin dan penunjuk jalan karena dia lebih mengenal daerah Blambangan, lalu berkata, ditujukan kepada empat orang itu.

"Kalau kita melakukan perjalanan bersama, kita tentu akan menarik perhatian dan kalau bertemu dengan ponggawa Blambangan, akan dicurigai. Sebaiknya kita berpencar, masing-masing dua orang dan mencari jalan keluar dari daerah Blambangan ini. Kalian berempat dipecah menjadi dua kelompok terdiri dari dua orang, carilah jalan keluar masing-masing dan kukira jalan terbaik untuk keluar dari daerah ini dengan aman adalah menuju ke utara, sedapat mungkin menghindari jalan umum dan dusun-dusun. Aku sendiri bersama Sie Tiong akan mengambil jalan lain karena kami masih akan mencari Bagus dan Swi Hong."

Sie Tiong lalu memeberi nasihat agar mereka berhati-hati, dan kalau sudah tiba di Tuban dengan selamat agar jangan mengabarkan kepada isteri Tan Beng Ki akan kematian majikan mereka itu.

"Katakan saja bahwa perahu kita tenggelam dan semua orang mencari keselamatan masing-masing, dan kalian belum tahu di mana adanya yang lain-lain. Biarlah aku sendiri yang kelak menyampaikan berita duka itu."

Empat orang itu lalu berpencar menjadi dua rombongan dan meninggalkan tempat itu.

sejak makan bersama tadi, Joko Darmono tampak pendiam, bahkan ketika bicara kepada empat orang itu, sikapnya berbeda dengan biasanya.

Wajahnya muram dan pandang matanya kehilangan sinarnya.

Biasanya dia selalu licah gembira bahkan malam tadi pun masih tampak menunduk.

Ketika mereka makan bersama, teringatlah dia kepada Bagus Sajiwo.

Lalu dia teringat akan jenazah Tan Beng Ki yang dikubur tadi.

Tiba-tiba saja menyelinap bayangan Bagus Sajiwo juga sudah menjadi jenazah seperti Tan Beng Ki.

Hatinya tertekan hebat.

gelombang lautan itu demikian dahsyatnya.

Dia sendiri mengalaminya.

Betapapun saktinya, seorang manusia tidak mungkin mampu melawan kekuatan alam yang demikian dahsyatnya.

Juga Bagus Sajiwo tidak mungkin kuat bertahan.

Dalam keadaan diombang-ambingkan gelombang seperti itu, hanya kenujijatan yang dapat menyelamatkan keseorang.

Bukan mustahil, bahkan besar sekali kemungkinannya Bagus Sajiwo juga menjadi korban dan tewas oleh keganasan lautan itu!

Bayangan inilah yang meremas-remas hatinya dan dia menyadari sepenuhnya betapa dia kehilangan, betapa dia kesepian, betapa hidup ini kehilangan sinarnya, hanya merupakan derita sengsara, kalau Bagus Sajiwo meninggalkannya!

Baru dia menyadari sepenuhnya bahwa dia sepertinya tidak dapat hidup bahagia tanpa didampingi Bagus Sajiwo!

Menyadari bahwa sesungguhnya dia bukan hanya kagum dan suka kepada Bagus Sajiwo, melainkan juga mencintainya!

"Bagus.....!"

Tanpa disadarinya, dia berbisik menyebut nama pemuda itu dan matanya menjadi basah!

Sejak tadi Sie Tiong memperhatikannya dan pemuda ini maklum apa yang menjadi gejolak hati gadis yang menyamar sebagai pria itu.

Memang dia sudah menduga bahwa gadis luar biasa ini menaruh hati kepada Bagus Sajiwo sehingga ingin selalu berdekatan dan untuk itu dia menyamar sebagai pria dan tidak membuka rahasianya karena khawatir hal itu akan membuat Bagus Sajiwo menjauhkan diri!

"Joko....!"

Sie Tiong memberanikan diri bertanya lirih.

"Engkau mencinta Bagus Sajiwo?"

Ditanya demikian, pertanyaan yang langsung menghunjam perasaannya yang paling dalam, dua butir air mata yang memang sudah memenuhi pelupuk matanya, menetes keluar.

cepat dia menghapus air mata di pipinya itu dan sambil menatap wajah Sie Tiong, dia mengangguk.

"Kuatkan hatimu, Joko. Mari kita berdoa saja semoga Bagus Sajiwo dan Swi Hong diselamatkan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Joko Darmono mengangguk tanpa menjawab, lalu bangkit berdiri dan berkata.

"Mari kita cari mereka."

Kedua orang itu lalu meninggalkan pantai setelah Sie Tiong sekali lagi memberi hormay terakhir kepada makam Tan Beng Ki.

Kini mereka telah berganti pakaian yang didapat dari penduduk dusun sehingga mereka menjadi dua orang pemuda dusun yang pakaiannya sederhana.

Gua di bukit yang berada di luar dusun Sampangan itu merupakan gua yang lebar, dalam dan amat bersih, seperti sebuah rumah yang terawat baik saja.

Akan tetapi namanya aneh.

Orang-orang di dusun sekitarnya menyebutnya Gua Siluman!

Biarpun namanya masih Gua Siluman, namun sejak hampir setahun yang lalu, gua itu bukan merupakan tempat yang ditakuti orang seperti dulu.

Dulu memang gua itu pernah menjadi tempat tinggal seorang datuk sesat yang amat jahat, yaitu Kyai Kasmalapati yang merupakan seorang dari para datuk Blambangan, bersama muridnya yang bernama Dartoko.

Guru dan murid ini sama jahatnya, sombong dan cabul.

Mereka mata keranjang dan suka mengganggu penduduk dusun-dusun sekitarnya.

Akan tetapi, hampir setahun yang lalu, mereka berdua bertemu tanding dan dikalahkan, malah terusir dari gua itu dalam keadaan luka-luka.

yang mengusir mereka adalah Nyi Maya Dewi.

Seperti telah diceritakan di bagian depan, terjadi perubahan yang amat besar pada diri Nyi Maya Dewi.

Dahulu ia terkenal sebagai datuk wanita yang tidak pantang melakukan segala macam kejahatan, bahkan yang terakhir ia menjadi antek Kumpeni Belanda.

Akan tetapi, setelah secara kebetulan ia remaja, kemudian hidup bersama pemuda itu selama kurang lebih empat tahun, mendapatkan dan mempelajari ilmu-ilmu yang amat tinggi, ia seolah dibimbing oleh Bagus Sajiwo dan bukan saja mulai mengenal Gusti Allah, bahkan telah dapat berserah diri sebulatnya dan sepenuhnya, jiwa raganya, kepada kekuasaan Gusti Allah, maka terjadilah perubahan itu.

Kalau dulu ia mendapat julukan Iblis Cantik Banten, sekarang ia disebut Dewi oleh para penduduk dusun.

Bukan hanya menjadi sebutan saja karena memang pada hakekatnya ia benar-benar hidup seperti seorang dewi kahyangan yang serba bajik.

Pikirannya, sikapnya, kata-katanya, perbuatannya, semua itu seolah merupakan buah-buah yang lezat menyegarkan bagi orang lain, penuh dengan kebajikan kasih yang terbimbing kekuasaan Gusti Allah.

seorang Iblis Betina telah menjadi seorang Dewi Kahyangan.

Usia Nyi Maya Dewi sekarang sudah sekitar tiga puluh tujuh tahun.

Akan tetapi kalau ada orang melihat wanita itu duduk bersila di dalam gua yang menjadi tempat tinggalnya itu, dia tidak akan percaya.

Nyi Maya Dewi tampak masih muda sekali, tidak lebih dari dua puluh limatahun!

Rambutnya yang panjang itu digelung sederhana, terkadang dibiarkannya terurai lepas.

Rambut yang panjang agak berombak dan hitam mengkilat karena terawat baik dan bersih.

Beberapa tangkai bunga kembang melati selalu menghias rambutnya, kembang-kembang melati yang masih segar karena setiap hari ia dapat memetiknya dari tanamannya sendiri di depan gua.

Wajahnya yang berbetuk bulat itu selalu memancarkan cahaya dan tampak segar dengan kulit muka yang putih bersih.

Sepasang alisnya tampak segar dengan kulit muka yang putih itu, berbentuk melengkung indah seperti dilukis.

Matanya lebar dan kedua ujung mata di kiri kanan agak menjungat ke atas.

Hidungnya kecil mancung dan mulutnya memiliki bibir yang tipis, penuh, lunak dan selalu merah basah.

Tubuhnya masih denok ramping.

Memang wanita ini secantik dewi.

Perubahan besar itu tampak pula pada sinar matanya.

Kalau dulu sebelum berubah, matanya liar dan penuh gairah nafsu, kini mata itu bersinar tajam dan terang namun lembut penuh pengertian.

Seperti telah diceritakan di bagian depan, perasaan Nyi Maya Dewi hancur dan berduka sekali setelah ia dihina dan ditampar oleh Retno Susilo yang tidak rela melihat puteranya, Bagus Sajiwo, akrab dengan Nyi Maya Dewi yang dikenalnya sebagai wanita sesat.

Ia dihina, ditampar dan diusir tanpa melakukan perlawanan sedikitpun, bahkan tamparan itu ia terima tanpa melindungi wajahnya dengan tenaga dalam sehingga kedua pipinya membengkak dan ujung bibirnya berdarah.

Namun, perlakuan itu sama sekali tidak membuat hatinya hancur.

Ia tidak menyalahkan Retno Susilo.

Ia memang pantas mendapat perlakuan seperti itu.

Yang membuat hatinya hancur dan bersedih adalah karena ia harus berpisah dari Bagus Sajiwo!

Perpisahan ini menghancurkan hatinya, menghancurkan segala-galanya dan membuat hidup ini baginya tidak ada artinya lagi.

Akan tetapi setelah hidup mengasingkan diri dalam Gua Siluman di bukit yang berada di Gunung Kidul ini, ia mulai menyadari bahwa penderitaan batin itu muncul karena salahnya sendiri.

Penderitaan karena perpisahan dari satu-satunya orang di dunia ini yang dikaguminya, dihargainya, dijunjung dan dicintanya, timbul karena kemelekatan hatinya pada orang yang dikasihinya itu.

Si-aku-nya yang masih kuat itu yang merasa kehilangan, merasa sengsara sehingga timbul perasaan iba-diri.

Setelah menyadari semua ini, maka kedukaannya menipis dan akhirnya ia dapat mengatasi perasaannya sendiri.

Mulailah Nyi Maya Dewi, setelah tinggal hampir setahun, menyadari bahwa tidak ada gunanya sama sekali bagi dirinya sendiri maupun dunia kalau ia membenamkan diri ke dalam pengasingan.

Apa gunanya semua ilmu yang telah dipelajarinya selama bertahun-tahun kalau tidak dipergunakan dan dimanfaatkan untuk orang lain yang membutuhkan uluran tangannya?

Ia harus melakukan kebaikan sebanyak mungkin karena seperti yang dikatakan Bagus Sajiwo, melakukan kebaikan itu adalah tugas hidupnya, menjadi penyalur berkat Gusti Allah untuk siapa saja yag membutuhkan.

Bukan dengan pamrih untuk mendapatkan imbalan jasa, melainkan semata-mata melaksanakan tugas hidup.

Juga sebagai bukti petaubatannya.

Kalau dulu ia melakukan kejahatan yang amat banyak, kini ia harus melakukan kebaikan yang lebih banyak lagi!

Kalau ia berdiam saja di gua ini, lalu apa gunanya ia hidup?

Setelah mengambil keputusan, Maya Dewi lalu mengumpulkan pakaiannya dalam sebuah buntalan kain, menggendong buntalan itu lalu melangkah keluar meninggalkan gua tanpa ragu lagi.

Ia berniat pergi ke dusun Sampangan untuk berpamit kepada Ki Lurah Ganjar.

Ketika ia berjalan menuruni bukit, melihat alam terbentang di depannya dan merasakan angin semilir menerpanya, ia merasa seolah seekor burung yang baru keluar dari sangkar.

Selama ini ia tidak pernah keluar dari gua yang menjadi rumahnya itu.

Kebutuhan makan untuknya telah dipersiapkan para penduduk Sampangan yang merasa berhutang budi kepadanya.

Ketika ia tiba di kaki bukit dan berada di luar dusun Sampangan, ia melihat tiga orang keluar dari pintu gapura dusun dan mereka berjalan cepat ke arah dirinya.

Maya Dewi berdiri dengan sikap tenang walaupun ketika mengenal dua diantara tiga orang itu ia sempat tercengang.

Ia segera mengenal orang pertama yang merupakan seorang wanita cantik sekali, usianya tampak masih muda walaupun ia tahu bahwa wanita itu dua tahun lebih tua daripadanya, Pakaian wanita itu serba putih dan dipunggungnya tergantung sebatang pedang.

Tangan kirinya memegang sebatang kebutan berbulu putih.

Siapa lagi kalau bukan Candra Dewi, Kakak tirinya!

Candra Dewi yang berjuluk Iblis Betina Banten.

Ia tahu betapa saktinya Mbakayu tirinya ini yang dulu memiliki tingkat kepandaian lebih tinggi daripada tingkatnya.

Akan tetapi setelah ia menemukan ilmu yang dahsyat bersama Bagus Sajiwo, ia tidak perku takut lagi kepadanya, bahkan pada pertemuan terakhir ia pernah mengalahkan Candra Dewi dan berhasil merampas kembali Pedang Nogo Wilis yang dirampas oleh Candra Dewi dari tangan Sulastri, isteri Lindu Aji.

Orang ke dua juga sudah dikenalnya karena dia adalah seorang pemuda berusia sekitar dua puluh enam tahun yang bertubuh jangkung dan berwajah tampan, bermata tajam, hidung mancung, mulutnya mengembangkan senyum sombong yang seolah mengejek.

Dia adalah Dartoko, murid Kyai Kasmalapati yang dulu pernah dikalahkannya setahun yang lalu.

Ia telah mengalahkan dan mengusir guru dan murid itu dari Gua Siluman.

Guru dan murid itu mengganggu penduduk dusun Sampangan dan sekitarnya, dengan kejam bukan hanya memeras penduduk, juga menggunakan ilmu sihir menculik dan mempermainkan gadis-gadis dusun!

Dan sekarang Dartoko kembali kesini, bersama Candra Dewi dan seorang laki-laki lain, sudah pasti tidak mempunyai niat baik terhadap dirinya!

Maya Dewi memperhatikan orang ketiga.

Dia seorang laki-laki berusia enam puluh tahun lebih, tubuhnya sedang, mukanya pucat seperti mayat.

Rasanya ia sudah pernah melihat orang itu, akan tetapi ia lupa lagi entah di mana dan siapa dia.

Setelah tiga orang itu tiba di depannya dan berhenti, orang ketiga itulah yang bicara lebih dulu sambil tertawa-tawa.

Suara tawanya ngakak seperti ular besar dan serak.

"Hak-hak-hak! Inikah Maya Dewi puteri Kakang Resi Koloyitmo, Adik tirimu itu, Candra Dewi? Walah-walah! Ketika aku melihatmu dulu, engkau masih gadis remaja. Sekarang telah menjadi seorang wanita matang yang cantik jelita! Maya Dewi, senang sekali aku bertemu denganmu. Sudah bertahun-tahun aku mendengar nama besarmu."

Mendengar tawa ngakak seperti itu, Maya Dewi teringat.

Sukar menemukan orang lain yang tawanya ngakak seperti itu.

Ia ingat bahwa dulu, di Banten, Ayahnya memiliki seorang kawan yang namanya Arya Bratadewa.

Inilah agaknya orangnya!

"Andika Paman Arya Bratadewa, bukan?"

"Hak-hak-hak, benar sekali, manis. Bagus kalau engkau masih ingat sahabat Ayahmu!"

"Mbakayu Candra Dewi, Andika datang bersama Paman Arya Bratadewa dan jahanam keju Dartoko ini menemui aku, ada urusan apa?"

Candra Dewi tersenyum dan Maya Dewi memandang heran.

Baru sekali ini ia melihat Mbakayunya itu tersenyum.

Biasanya, wajah wanita itu selalu dingin dan kaku, membayangkan sepenuhnya betapa hatinya keras seperti besi.

"Maya, dahulu kita salah paham dan saling bermusuhan. Sekarang tidak lagi, Maya. Engkau adalah Adikku, kita bersaudara, sudah sepatutnya kalau kita kakak beradik bekerja sama."

"Ya, benar itu! Bekerja sama dengan rukun dan sama-sama mencari kedudukan, harta benda, dan kemuliaan!"

Sambung Arya Bratadewa sambil menyeringai.

"Mbakayu Candra, apa maksudmu dengan ucapanmu itu?"

"Maya, aku mengajakmu untuk bekerja sama bersama Paman Arya Bratadewa dan yang lain-lain dalam membantu usaha Kumpeni Belanda untuk mendukung Kadipaten Blambangan yanghendak menyerbu Mataram."

Maya Dewi terbelalak heran mendengar ucapan Candra Dewi itu, lalu ia tersenyum karena merasa lucu.

"Lucu sekali, Mbakayu Candra. Dahulu engkau mencariku untuk membunuhku karena aku kauanggap melakukan penyelewengan, terutama karena aku membantu Belanda. Sekarang engkau malah yang menjadi antek Belanda dan membujuk aku untuk bekerja sama! Sungguh lucu dan aneh sekali!"

"Ha-ha-hak! Maya Dewi, sama sekali tidak ada yang lucu. Kami membantu Belanda bukan asal membantu akan tetapi dengan berbagai alasan yang kuat. Pertama, tentu saja kami ingin mendapatkan harta dan kedudukan. Kedua, dengan membantu Belanda kita dapat bergabung dengan kadipaten-kadipaten yang menentang Mataram. Ingat, Mataram itu musuh kita! Dan sekarang, kita bergabung dengan Blambangan untuk menghancurkan Mataram. Ah, engkau tentu sudah lebih mengetahui akan hal itu, Maya Dewi. Bukankah dulu engkau menjadi pemimpin para telik sandi Kumpeni Belanda, bahkan engkau telah dipercaya oleh Kumpeni dan mendapatkan tanda kekuasaan telik sandi berupa uang dinar kencana."

"Tidak Mbakayu Candra. aku telah insaf, telah menyadari bahwa menjadi antek Belanda berarti menjadi pengkhianat bangsa karena Kumpeni Belanda bermaksud untuk meluaskan wilayah sengkeramannya, ingin menguasai Nusa Jawa. Kalau engkau membela Banten jika ada prmusuhan antara Banten dan Mataram, hal itu masih dapat kumaklumi. Akan tetapi itu hanya merupakan pertikaian antara suku yang masih sebangsa, sesaudara. Sebaliknya, Belanda adalah bangsa asing, bangsa lain yang hendak menguasai tanah air kita. Seharusnya di antara semua suku bersatu padu menentang Belanda seperti yang diinginkan Kanjeng Sultan Agung di Mataram. Kalau seorang pribumi Nusa Jawa membantu Belanda, berarti dia mengkhianati bangsa dan tanah airnya dan itu merupakan tindakan yang jahat."

"Ha-ha-ha-hak! Siapa tidak mengenal nama Ni Maya Dewi yang dijuluki Iblis Cantik Banten? Kejahatan apa yang tak pernah ia lakukan? Dan sekarang engkau bicara tentang kebajikan seolah engkau ini seorang pendekar wanita! Ha-ha-hak, Harimau Betina itu kini pandai mengembik!"

Maya Dewi tetap tenang, tidak mau dipengaruhi kemarahan.

"Paman Arya Bratadewa, justeru karena aku insaf dan menyadari semua dosa masa lalu yang pernah kulakukan, maka sekarang aku hendak bertaubat dan menentang semua kejahatan, membela kebenaran dan keadilan. Terserah kalian hendak bilang apa dan berbuat apa!"

"Paman Arya dan Nyi Candra Dewi, apa keteranganku tadi kepada Andika berdua? Percuma saja membujuk wanita ini! Maya Dewi kini telah menjadi antek Mataram dan pura-pura menjadi pendekar!"

Kata Dartoko.

"Kalau ia tidak dibunuh sekarang, kelak tentu hanya akan menyusahkan kita saja!"

Arya Bratadewa bertanya kepada Nyi Candra Dewi.

"Bagaimana pendapatmu, Candra Dewi? Kita bunuh saja Adik tirimu yang membangkang ini?"

"Hemm, kalau ia keras kepala, memang sebaiknya dibasmi saja!"

Kata Candra Dewi dengan sikap tak acuh.

Memang pada dasarnya Candra Dewi tidak suka, bahkan membenci Adik tirinya ini.

Pertama, karena dulu Ayah mereka, Resi Koloyitmo, lebih sayang kepada Maya Dewi daripada kepadanya.

Ke dua, ia dahulu menganggap Adik tirinya itu menyeleweng dan membikin malu nama keluarga.

Kemudian ke tiga, ia iri hati melihat Maya Dewi menjadi sakti mandraguna melebihi ia sendiri dan lebih-lebih lagi, Bagus Sajiwo tampak akrab sekali dengan Maya Dewi, padahal ia sudah menganggap Bagus Sajiwo adalah suaminya!

Ditambah lagi sekarang, Maya Dewi memiliki pendirian yang bertentangan dengannya.

Tadinya, Dartoko yang telah bergabung dengan persekutuan di Blambangan bersama Kyai Kasmalapati, minta bantuan ia dan Arya Bratadewa, untuk membalas dendam kepada Maya Dewi.

Candra Dewi memberitahu kedua orang kawannya itu agar ia membujuk dulu Maya Dewi agar mau bekerja sama karena kalau Adik tirinya itu mau bekerja sama, hal ini lebih menguntungkan mereka.

Akan tetapi ternyata sekarang Maya Dewi menolak, maka ia setuju saja kalau Maya Dewi yang dibencinya itu dibunuh.

Setelah mengeluarkan ucapan itu, Candra Dewi yang sudah maklum akan kesaktian Adik tirinya, menggerakkan kedua tangannya dan ia telah meloloskan pedang dengan tangan kanan lalu melintangkan pedang di depan dada sedangkan tangan kirinya mengangkat kebutannya yang berbulu putih ke atas kepalanya.

Dartoko yang juga mendendam kepada Maya Dewi dan ingin membalas dendam, sudah mencabut pedang dan kerisnya, melangkah maju seolah dia yang hendak menghabisi Maya Dewi.

Keberaniannya ini tentu saja karena dia datang bersama Arya Bratadewa dan Candra Dewi.

Arya Bratadewa juga sudah maju dan antek Kumpeni ini telah mencabut sepasang pistol dari ikat pinggangnya dan membidikkan dua buah pistol itu ke arah Maya Dewi.

Maya Dewi tentu saja sudah tahu akan bahaya yang mengancamnya.

Dahulu ia pernah menjadi korban tembakan sebelum ia dan Bagus Sajiwo menemukan Jamur Dwipa Suddhi dan aji kesaktian Sari Bantala.

Maka, melihat Arya Bratadewa telah siap menembakkan kedua pistolnya, ia sudah siap menghadapinya.

"Dar-dar-dar-dar-dar....!"

Ledakan-ledakan terdengar dari kedua buah pistol itu, masing-masing dua kali disusul mengepulnya asap.

Saking cepatnya empat butir peluru itu menyambar, tidak dapat diikuti pandang mata orang biasa.

Akan tetapi Maya Dewi tidak beranjak dari tempat ia berdiri.

Kedua tangannya bergerak ke depan dan ia sudah menangkap dua butir peluru.

Dua butir peluru lain menyambar ke arah dadanya.

Akan tetapi hanya bajunya saja yang ditembusi dua butir peluru itu.

Ketika mengenai kulit dadanya, dua butir peluru itu runtuh tanpa sedikitpun membuat kulit itu lecet.

Tiga orang itu terkejut bukan main dan pada saat itu Maya Dewi menggerakkan kedua tangannya.

Dua butir peluru yang tadi ditangkapnya itu menyambar bagaikan kilat ke arah Dartoko dan Arya Bratadewa!

Arya Bratadewa adalah seorang datuk dari Banten yang telah memiliki ilmu tinggi.

Dia dapat mengelak dengan melempar tubuh ke samping lalu berjungkir balik beberapa kali.

Akan tetapi Dartoko yang sama sekali tidak mengira akan diserang "tembakan"

Peluru yang keluar dari tangan Maya Dewi, mengaduh dan jatuh terduduk, memegangi pahanya yang dimasuki peluru!

Candra Dewi yang sudah pernah dikalahkan Maya Dewi menjadi gentar.

Akan tetapi Arya Bratadewa belum mengetahui sampai di mana kedigdayan Maya dewi.

Dia mengira bahwa tingkat kepandaian Maya Dewi tentu tidak melampaui kepandaian Candra Dewi.

Kekebalan terhadap tembakan pistol itu bukan merupakan hal yang terlalu aneh pada masa itu.

Banyak tokoh yang memiliki kekebalan seperti itu.

Maka, dengan marah Arya Bratadewa lalu menyimpan kedua pistolnya, mencabut goloknya yang mengkilap tajam lalu dengan pekik yang parau dia menerjang maju dan menyerang Maya Dewi.

Dari gerakan golok yang menyambar ke arah kepalanya dari atas, Maya Dewi maklum bahwa Arya Bratadewa merupakan lawan yang tangguh.

Akan tetapi ia merasa yakin dapat mengatasi lawan ini, maka dengan gerakan lembut namun cepat ia mengelak ke kiri, lalu tangan kanannya menyambar mengirim tamparan jarak jauh.

"Wirrr....!"

Arya Bratadewa mengeluarkan teriakan tertahan ketika merasa ada angin dahsyat menyambar dari samping.

Dia cepat menarik tubuh ke belakang untuk mengelak dan goloknya berkelebat lagi, kini membacok dari samping ke arah perut Maya Dewi.

"Singgg.... plakk!"

Tubuh Arya Bratadewa terhuyung ke belakang dan matanya terbelalak.

Gadis itu tadi menangkis goloknya dengan tangan telanjang dan pertemuan anyara golok dan telapan tangan itu telah membuat dia terdorong keras ke belakang.

"Tar-tar-tarr!"

Kebutan berbulu putih di tangan kiri Candra Dewi meledak-ledak dan menyambar-nyambar ke arah kepala Maya Dewi yang dengan tenang melangkah mundur dan menggunakan angin pukulan tangannya untuk menangkis sehingga kebutan itu terpental sebelum menyentuh tubuhnya.

Akan tetapi sinar berkilat ketika pedang di tangan kanan Candra Dewi meluncur ke arah dada adik tirinya.

Maya Dewi mengelak ke kanan.

Akan tetapi pada saat itu, golok di tangan Arya Bratadewa menyambar ke arah lehernya!

Kembali Maya Dewi mengelak dengan lompatan ke belakang.

Maklum bahwa dikeroyok dua orang yang sakti, yang hendak membunuhnya, sedangkan sedikit pun tidak ada niat dihatinya untuk membunuh dua orang ini, maka untuk dapat menjaga diri dengan baik, Maya Dewi melolos sabuk cinde yang dapat menjadi ikat pinggangnya.

Begitu ia menggerakkan sabuk cinde ini, tampak sinar keemasan bergulung-gulung menyelimuti dirinya.

Candra Dewi dan Arya Bratadewa terkejut.

Senjata mereka terpental setiap kali mereka menyerang dan bertemu dengan gulungan sinar keemasan itu.

Sinar itu mengeluarkan tenaga lentur, lunak namun sulit ditembus, bahkan tenaga sakti mereka yang mendorong senjata mereka itu membalik dan tergetar.

Diam-diam Candra Dewi merasa heran dan kagum sekali.

Ia memang pernah dikalahkan Maya Dewi, akan tetapi sama sekali tidakpernah disangkanya adik tirinya itu sehebat ini kesaktiannya.

Arya Bratadewa adalah seorang yang amat tangguh, mungkin setingkat dengan kepandaiannya sendiri.

Akan tetapi, kalau tadinya ia merasa yakin bahwa mereka berdua tentu akan mampu merobohkan Maya Dewi, sekarang kenyataannya, mereka berdua sama sekali tidak dapat menembus pertahanan Maya Dewi berupa gulungan sinar sabuk cindenya itu!

Maya Dewi memang tidak ingin mencelakai apalagi membunuh dua orang itu.

Sudah meresap betul ke dalam sanubarinya nasihat Bagus Sajiwo agar ia tidak melakukan pembunuhan dan menghilangkan segala perasaan dendam dan benci dari lubuk hatinya terhadap siapapun juga.

Karena itu, ketika tadi ia mengembalikan dua butir peluru pistol, ia hanya menujukan sambitannya ke arah kaki sehingga sebutir peluru melukai kaki Dartoko tanpa membahayakan nyawanya.

Dua orang itu menjadi amat penasaran dan mereka berusaha sekuat tenaga untuk menembus pertahanan sinar emas yang melindungi tubuh Maya Dewi.

Bahkan keduanya mulai mengeluarkan kekuatan sihir melalui bentakan-bentakan untuk menyerang batin dan menggetarkan jantung Maya Dewi sehingga petahanannya akan melemah.

Namun Maya Dewi sama sekali tidak terpengaruh, bahkan kini Maya Dewi mulai mengubah gerakannya, bukan hanya bertahan melainkan membalas dengan serangan untuk menyudahi perkelahian itu.

Pada suatu saat yang sudah ia perhitungkan, ketika bulu kebutan putih menyambar dari atas, ia menggerakkan sabuk cindenya yang menangkis langsung membelit sehingga ujung kebutan dan ujung sabuk cinde saling membelit.

Pada saat itu, golok Arya Bratadewa membacok dari atas ke arah kepala Maya Dewi.

Maya Dewi menggunakan tenaga saktinya menarik sehingga kekuatan itu ikut tertarik.

Rentangan bulu kebutan itu kini menangkis golok yang menyambar turun.

"Prattt....!!"

Bulu kebutan itu bertemu golok dan putus, bulunya rontok berhamburan ke bawah.

Pada saat itu, Arya Bratadewa terkejut karena selain goloknya malah merusak kebutan kawan sendiri, juga pertemuan senjata itu membuat tangan yang memegang golok tergetar hebat.

Pada detik itu juga jari tangan kiri Maya Dewi meluncur dan mengetuk pergelangan tangan kanan Arya Bratadewa.

"Tukk....!"

Arya Bratadewa berseru kaget dan goloknya terlepas dari pegangan tangannya yang terasa lumpuh kehilangan tenaga!

Dia melompat ke belakang.

Candra Dewi yang kehilangan bulu kebutannya, dengan marah dan nekat menusukkan pedangnya ke arah dada Maya Dewi dari samping.

Maya Dewi menggerakkan tangan kirinya yang miring dan dipergunakan sebagai pedang membacok ke arah pedang lawan yang meluncur ke dadanya sambil miringkan tubuh.

"Syuuuuttt.... trakkk!"

Pedang itu patah menjadi dua potong.

Dengan muka berubah pucat Candra Dewi juga melompat jauh ke belakang.

Kini Candra Dewi dan Arya Bratadewa berdiri berdampingan dan memandang kepada Maya Dewi dengan sinar mata penuh kebencian dan kemarahan.

Mereka melihat Maya Dewi melibatkan kembali sabuk cinde di pinggangnya yang ramping dengan sikap tenang seolah tidak pernah terjadi perkelahian mati-matian yang mengancam nyawanya tadi.

Karena maklum bahwa mereka tidak akan mampu mengalahkan Maya Dewi, juga tembakan pistol tidak akan dapat merobohkannya, Arya Bratadewa dan Candra Dewi lalu memutar tubuh dan pergi, diikuti oleh Dartako yang terpincang-pincang.

Setelah agak jauh, Candra Dewi berhenti dan menoleh.

"Maya Dewi, engkau yang sudah bergelimang dosa, pernah melakukan segala macam kejahayan sehingga dirimu berlepotan noda, kotor dan dikenal sebagai iblis betina, sekarang pura-pura menjadi orang bersih dan suci! Sungguh tidak tahu malu!"

Arya Bratadewa juga menoleh dan berseru.

"Munafik tidak tahu diri!"

Kemudian mereka bertiga pergi meninggalkan tempat itu.

Maya Dewi sejak tadi hanya berdiri dan mengikuti mereka dengan pandang matanya.

Mendengar caci maki yang amat menghina itu, ia menggigit bibir lalu memejamkan kedua matanya sehingga dua titik air mata yang berada di matanya keluar dan jatuh ke atas pipinya.

"Duh Gusti Allah, ampunilah kiranya semua dosa hamba dan kuatkanlah hati hamba untuk menerima semua penghinaan ini. Hamba patut menerima semua penghinaan ini. Hamba patut menerima hukuman ini...."

Bisiknya.

Maya Dewi merasa lega lagi, terbebas dari himpitan perasaannya yang tertekan mendengar penghinaan tadi.

Mulutnya dapat mengembangkan senyum lagi dan ia melanjutkan perjalanannya memasuki dusun Sampangan.

Semua penduduk yang berpapasan dengannya, memberi salam dengan ramah dan hormat kepada "Dewi"

Yang merupakan penolong dan pelindung mereka seama setahun ini.

Maya Dewi lalu menuju rumah Ki Lurah Ganjar dan disambut dengan penuh kegembiraan oleh Ki Lurah Ganjar dan keluarganya.

Ketika Maya Dewi menyatakan keinginannya untuk pergi merantau meninggalkan Gua Siluman, semua orang merasa terkejut dan kecewa karena wanita ini sudah dianggap sebagai dewi pelindung mereka!

"Ah, Ni Dewi, sungguh kami merasa kecewa, menyesal dan kehilangan sekali mendengar andika akan meninggalkan kami.

Akan tetapi kami tentu saja tidak berhak untuk menghalangi keinginan Andika.

Akan tetapi harap Andika berhati-hati karena tadi ada tiga orang mencurigakan yang masuk ke dusun ini dan seorang di antara mereka adalah penjahat yang dulu mengganggu kami dan telah Andika usir dari Gua Siluman."

"Jangan khawatir, Paman. Mereka tadi sudah bertemu dengan aku dan sudah kuusir pergi."

"Sekarang ini keadaan sedang kacau, Ni Dewi. Kami mendengar bahwa kekacauan terjadi dimana-mana dan ada desas-desus bahwa Blambangan akan menyerbu daerah Mataram."

"Hemm, benarkah itu, Paman?"

"Ya, kami mendengar bahwa daerah yang pertama kali diancam Blambangan adalah Kadipaten Pasuruan yang merupakan benteng pertama dan terdepan dari Kerajaan Mataram. Ah, kalau terjadi perang, yang menderita paling hebat adalah rakyat jelata. Perhubungan dan perdagangan terhenti, sandang pangan menjadi mahal dan terutama sekali, dalam keadaan keruh dan kacau itu orang-orang jahat bermunculan."

"Harap Paman tenangkan hati. Seperti telah berulang kali aku menekankan bahwa untuk menjaga keamanan di dusun ini, harus digalang persatuan di antara seluruh penduduk. Bukan saja bergotong royong untuk mensejahterakan penduduk akan tetapi juga bergotong royong menanggulangi semua kesulitan. Kalau seluruh penduduk bersatu, kukira orang-orang jahat pun akan gentar mengganggu dusun ini. Kalau kalian semua sudah berikhtiar sekuat tenaga dan kemampuan, maka akhirnya kalian hanya tinggal berserah diri kepada Gusti Allah karena hanya Dia saja yang berkuasa melindungi siapa saja yang sejalan dngan kehendakNya."

"Ah, terima kasih, Ni Dewi. Kami akan menaati semua pesan Ni Dewi."

"Sekali lagi sebelum aku pergi ingin kuingatkan Paman agar Paman selalu mendahulukan kepentingan penduduk dusun Sampangan. Masihkah Paman ingat mengapa Paman harus selalu mendahulukan kepentingan dan kesejahteraan penduduk dusun ini?"

"Saya tidak pernah melupakan semua nasihat Andika selama Andika tinggal di gua. Saya harus mendahulukan kepentingan penduduk karena saya menyadari bahwa tanpa penduduk, saya ini bukan apa-apa. penduduk yang memilih saya dan mereka memilih saya tentu dengan harapan agar saya menjadi pemimpin yang baik dan dapat menjadi pelayan yang baik, pengatur yang jujur dan tidak bertindak sewenang-wenang mengandalkan kekuasaan sebagai lurah."

"Bagus sekali, Paman. Dan ingatkah Paman mengapa sebagai orang nomor satu di dusun ini, Paman harus jujur dan bersih?"

"Saya mash ingat, Ni Dewi. Seorang pemimpin merupakan panutan bagi penduduknya. Kalau saya sebagai orang nomor satu di dusun ini bertangan bersih, maka semua pembantu saya, para pamong dusun, juga akan meniru dan tidak berani melakukan kecurangan demi keuntungan diri pribadi. Kalau ada yang bertangan kotor, saya akan tegur dan pecat atau hukum dia! Sebaliknya kalau tangan saya sebagai pemimpin kotor, maka para pembantu saya tidak akan berani menegurnya karena tangan saya sendiri juga kotor. Dan kalau semua pamong desa bertangan bersih, kekayaan dusun tidak akan bocor diselewengkan tangan-tangan kotor para pamong, sehingga kekayaan itu dapat mensejahterakan semua penduduk."

"Baik sekali Paman. Dan kalau semua pamong bersih sehingga kehidupan penduduk makmur, dengan sendirinya penduduk akan mentaati semua perintah pamong karena menyadari bahwa semua peraturan itu demi kebaikan dan kesejahteraan penduduk."

"Saya mengerti sepenuhnya, Ni Dewi. Semoga saja Gusti Allah akan selalu memberi kekuatan kepada kami para pamong dusun ini agar kami dapat melawan semua godaan syaitan."

"Bagus, Paman. memang, melawan godaan syaitan yang selalu mempergunakan segala yang serba enak dan menyenangkan sebagai umpan untuk menyeret kita ke dalam perbuatan dosa, bukanlah pekerjaan yang mudah. Hanya kepada Gusti Allah yang dapat memberi kekuatan kepada kita untuk bertahan terhadap godaan syaitan. Mengandalkan hati akal pikiran saja sukar untuk dapat bertahan karena syaitan selalu menyelinap dan ingin menguasai hati akal pikiran kita sehingga semua pandangan membela dan membenarkan perbuatan sesat kita. Gusti Allah mengasihi manusia yang berserah diri kepadaNya dengan sabar, ikhlas, dan tawakal."

"Aduh, Ni Dewi. berkat bimbingan Andika maka kami dapat sadar dan dapat memiliki iman yang kuat. Andika sunguh bagaikan seorang dewi yang suci dan...."

"Cukup, Paman, janagn memuji aku. Aku juga hanya seorang manusia yang bergelimang dosa, yang selalu mohon pengampunan dari Gusti Allah, yang berusaha untuk bertaubat."

Kini banyak penduduk yang berdatangan.

Agaknya berita bahwa Ni Dewi yang mereka hormati dan cintai itu hendak pergi meninggalkan mereka, tersiar dengan luas dan berbondong-bondong mereka datang ke kelurahan sehingga pekarangan itu penuh dengan manusia.

"Lihat, Ni Dewi. Semua orang memuja dan berterima kasih kepada Andika!"

Kata lurah Ganjar.

Mendengar ini, Maya Dewi lalu bangkit dari kursinya dan diikuti Lurah Ganjar ia keluar dan berdiri di tepi pendopo yang lebih tinggi dari pekarangan di mana semua penduduk dusun Sampangan berkumpul.

Kini semua keluarga Lurah Ganjar juga sudah keluar dari dalam rumah dan berkumpul di pendopo.

Keharuan menyelinap dalam hati Maya Dewi.

Tiba-tiba seperti kilat menyambar, terbayang olehnya pengalamannya dahulu ketika ia masih dijuluki Iblis Betina.

Sekarang kalau mengingat semua itu, ia merasa heran bagaimana mungkin ia dahulu dapat bertindak demikian kejam terhadap orang lain!

Padahal, orang-orang itu demikian baik terhadap dirinya seperti yang diperlihatkan penduduk Sampangan ini.

Teringat ia akan kata-kata Bagus Sajiwo yang sekarang tampak betul kebenarannya.

(Lanjut ke

Jilid 11) Kemelut Blambangan (Seri ke 05 -Serial Pecut Sakti Bajrakirana) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 11 Sikap baik orang lain terhadap kita hanya merupakan pantulan cermin sikap kita terhadap orang itu.

Demikian sebaliknya.

Kalau kita membenci seseorang, pasti orang itu pun akan membenci kita.

Kalau kita baik, dalam arti kata yang sebenarnya, kepada seseorang, pasti orang itu pun akan baik kepada kita.

Bagus Sajiwo pernah berkata kepadanya bahwa kalau kita melakukan sesuatu berarti menanam pohon yang kelak buahnya kita makan sendiri, maka harus memilih bibit pohon yang baik.

Baca Juga: Petualang Asmara 12

Baca Juga: Petualang Asmara 17

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert