Eps 6 Lima Jago Luar Biasa - Sin Liong
Baca online Lima Jago Luar Biasa - Sin Liong
Cersil Lima Jago Luar Biasa - Sin Liong.
457 Sedangkan Coan Cin Cit Su menyadari, jika mereka tidak bertindak tegas, pihak mereka sendiri yang akan menemui bahaya, dimana kalau sampai Coan Cin Cit Cu bisa dirubuhkan oleh para jago-jago yang telah temahak kitab Kiu Im Cin Keng, niscaya kuil mereka akan dirusak, jenazah gurunya tidak akan utuh dan pamor serta nama besar Coan Cin Kauw akan runtuh karenanya.
Dengan didasari pertimbangan-pertimbangan seperti itulah Coan Cin Cit Cu telah membuka pantangan membunuh.
Dan bertempur serintasan lagi, telah limabelas orang lawan mereka yang menggeletak menjadi mayat.
Ciu Pek Thong yang waktu itu tetap berdiam menjaga peti mati suhengnya, telah mendengar ribut-ribut diluar kuil.
Doama akhirnya diapun mendengar suara jerit-jerit kematian .
hati Pek Thong juga tidak tenang.
Walaupun dia sebagai Loo Boan Tong, seorang yang berandalan sekali, si bocah tua nakal dan liar, namun dia masih memikirkan keselamatan dari ketujuh orang keponakan muridnya.
Terlebih lagi disaat tengah diliputi kedukaan karena meninggalnya sang Suheng.
Sama sekali Pek Thong tidak menyangka, disaat Coan Cin Kauw tengah dalam kedukaan yang hebat karena kepergian Coan Cin Kauwcu mereka untuk selama-lamanya, maka jago-jago Kangouw yang temahak akan kitab kiu Im Cin Keng mempergunakan seperti itu menyerbu menyatroni Tiong Yang Kiong untuk melakukan perampasan.
Kitab kiu Im Cin Keng itu telah berada dalam tangan Pek Thong dan disimpannya dalam sebuah tempat yang aman.
Sedangkan Coan Cin Cit Cu sendiri tidak mengetahui dimana kitab Kiu Im Cin Keng itu.
458 Tapi orang-orang Kangouw yang menyerbu Tiong Yang Kiong waktu itu, tentu menduga bahwa kitab pusaka tersebut akan dibawa mati oleh Ong Tiong Yang.
Jika Pek Thong tidak melakukan penjagaan terhadap peti jenazah kakak seperguruannya itu, dan sempat satu atau dua orang jago kangouw yang menerobos masuk kedalam ruangan ini, berarti mereka akan merusak peti jenazah untuk mengambil kitab kiu Im Cin Keng yang mereka duga berada didalamnya.
Mata Pek Thong waktu itu masih merah karena banyak menangis dan dia tengah mengawasi sekitar ruangan, bersikap waspada sekali.
Bola matanya telah mencilak-ciluk kesana kemari.
Tapi ketika Pek Thong tengah mengkorek hidungnya yang gatal, tiba-tiba dia dikejutkan oleh bentakan seseorang yang parau seperti suara kecer pecah, nyaring dan memekakkan telinga.
"Ciu Pek Thong, cepat kau keluar dan serahkan kitab kiu Im Cin Keng padaku! Jika tidak, hahaha, Tiong Yang kiong akan kubakar menjadi rata dengan tanah, tidak sepotong jiwapun dari Tosu-tosu Tiong yang Kiong yang kubiarkan hidup….!"
Ciu Pek Thong terkejut, karena dari suara cempreng seperti suara kecer pecah itu menunjukkan orang tersebut memiliki Iwekang yang sempurna sekali, dimana suara itu mendengung masuk telinga, sangat tajam tapi juga menggetarkan sekitar tempat itu, bagaikan Tiong Yang Kiog tengah dilanda gempa bumi.
Namun Ciu Pek Thong tidak berani meninggalkan ruang jenazah ini, dia tidak mau meninggalkan jauh-jauh peti jenazah Ong Tiong Yang, karena jika dia keluar dri ruangan itu sama 459 saja dia seperti meninggalkan peti jenazah itu untuk dirusak oleh jago-jago lainnya musuh Coan Cin kauw.
Yang dikuatirkan Ciu Pek Thong, musuh menggunakan akal bulus memancing keluar harimau dan kemudian mereka menyerbu kedalam ruangan waktu Ciu Pek Thong tengah dilibat diluar.
Karena dari itu Ciu Pek Thong hanya menghampiri jendela, dia melongok keluar.
Begitu Ciu Pek Thong melongok keluar, segera dia mengeluh dengan muka yang berobah dan mengeluarkan keringat dingin.
Dia melihat sesosok tubuh yang tinggi besar, tengah berdiri diatas uncak sebatang pohon, dan puncak pohon tersebut yang memiliki ranting yang kecil sekali bergoyang-goyang, namun tubuh orang itutidak juga jatuh, dia tetap berdiri diatas puncak pohon tersebut, dengan demikian berarti ginkang orang tersebut benar-benar tinggi sekali.
Dan Ciu Pek Thong juga menyadarinya, bahwa ginkangnya masih terpaut kalah beberapa tingkat dengan orang tersebut.
Yang membuat dia lebih kaget lagi, orang tersebut tidak lain dari See Tok Auwyang hong.
Si Racun dri Barat itu telah mengeluarkan suara tertawa bergelak-gelak ketika Ciu Pek Thong melongok keluar dari jendela.
Dia telah berkata dengan suara yang keras dan cempreng seperti kecer pecah, dia berkata.
"Loo Boan Tong, apakah kau tuli? Atau memang engkau ingin menyaksikan lebih dulu, kuil Tiong Yang Kiong ini terbakar dan musnah menjadi rata dengan bumi baru engkau mau menyerahkan kitab Kiu Im Cin Keng itu kepadaku?"
Ciu Pek Thong berdiam diri sejenak, dia jadi berpikir keras.
Jelas tidak mungkin dia bisa menandingi Auwyang 460 Hong karena memang kepandaiannya waktu itu belumsetaraf dengan kepandaian yang dimiliki si Bisa dari Barat itu.
Auwyang Hong memang lebih muda beberapa tahun dari dia sendiri, namun bicara soal Iweekang atau kepandaiannya, jelas kepandaian berada diatasnya, karena memang Auwyang Hong merupakan salah seorang jago diantara kelima jago luar biasa yang pernah mengadakan pertemuan di Hoa San.
Dalam keadaan trdesak dan tidak mengetahui apa yang harus dilakukan, Ciu Pek Thong melihat Auwyang Hong telah merogoh sakunya, dia mengeluarkan bibit api.
Ketika bibit api itu dinyalakan, dia menyulut ujung obor yang dibawanya.
Maka seketika itu juga ujung obor tersenut menyala dengan terang, bersinar diatas puncak pohon itu.
dengan demikian, keadaan Auwyang hong waktu itu benar-benar bagaikan seorang dewa yang tengah melayang-layang diatas puncak pohon itu, dengan diterangi oleh cahaya berkilauan dari obor ditangannya.
"Loo Boan Tong, kau dengarlah baik-baik!"
Teriak Auwyang Hong lagi.
"Jika memang kau masih berayal menyerahkan kitab kiu Im Cin Keng kepadaku, segera obor ini akan kulemparkan, akan kubakar habis Tiong Yang Kiong ini jadi rata dengan bumi, disamping itu, semua Tosu dari Coan Cin kauw tidak seorangpun yang akan kuberikan kesempatan hidup! Kau boleh memilih, menyerahkan kitb Kiu Im Cin Keng itu kepadaku atau memang engkau hendak menyaksikan kemusnahan Kiong Yang Kiong berikut semua Tosunya?!"
Ciu Pek Thong jadi naik darah.
Walaupun dia menyadari dirinya bukan tandingan Auwyang Hong, namun dia seorang yang berani dan tidak kenal takut.
Karena dari itu, melihat maksud orang yang demikian busuk, yang hendak membakar 461 Tiong Yang Kiong dan nanti juga akan melakukan pembunuhan terhadap para Tosu Cian Cin Kauw, Ciu Pek Thong tidak bisa menahan diri lagi, tubuhnya segera kuga melesat untuk menempur si bisa bangkotan dari barat itu!"
Auwyang Hong tertawa terbahak-bahak waktu menerima serangan Ciu Pek Thong, dia membuang obor kesamping, dia melayani serangan Ciu Pek Thong, mereka bertempur empat puluh jurus lebih.
Waktu itu nafas Ciu Pek Thong telah memburu keras dan cepat sekali, karena dia merasakan betapa kuatnya serangan Auwyang Hong yang mempergunakan Ha Mo kongnya itu.
dengan demikian, membuat Ciu ek Thong selama bertempur memutar otaknya dengan keras untuk mencari daya guna menghadapi See Tok, si Bisa bangkotan dari barat ini.
Auwyang Hong berusia lebih muda dari Ciu Pek Thong, namun dia liehay dan bertangan telengas sekali, walaupun Ciu Pek Thog telah melawannya dengan keras, akhirnya tidak urung pundak Ciu Pek Thong telah kena dihajar sampai dia terjatuh dari atas pohon dan kemudian hampir terbanting, untung saja dia masih sempat menjambret sebatang dahan.
Sehingga luncuran tubuhnya itu berkurang dan dia berpoksay (berjumpalitan) beberapa kali, kemudian kedua kakinya hinggap ditanah dengan tidak kurang suatu apapun juga.
Cuma saja, akibat gempuran yang diterima, Ciu Pek Thong dari tangan telengasnya Auwyang Hong, membuat dia jadi terluka didalam yang hebat sekali.
Ciu Pek Thong telah mengeluh didalam hatinya, bahwa dia tidak mungkin akan menghadapi Auwyang Hong lebih lanjut, karena tadi saja disaat dia belum terluka, dia tidak bisa menandingi See Tok, apalagi sekarang diwaktu dia terluka dalam.
462 Dalam keadaan seperti itu, dimana Ciu Pek Thong merasakan sakitnya sampai ke ulu hati dan tubuhnya gemetaran, dia tidak bisa bergerak, karena dia telah terhajar telak sekali oleh ilmu andalan See Tok, yaitu Ha Mo Kong sehingga Ciu Pek Thong terluka parah sekali.
Namun mengingat keselamatan jenazah Suhengnya, Ciu Pek Thong telah menggigit bibirnya, dia mengeraskan hati dan memaksakan diri untuk menerobos kedalam.
Dia sudah bertekad dalam putusannya, jika memang Auwyang Hong ingin menurunkan tangan busuknya untuk merusak peti jenazah Ong Tiong Yang, Ciu Pek Thong akan mengadu jiwa dengan manusia berbisa dan tangannya yang telengas itu.
Waktu Ciu Pek Thong menerobos kedalam, dia melihat See Tok memang sudah berdiri didepan meja sembahyang peti mati, dimana dia hendak menghantam rusak dan pecah peti mati itu, guna melihat jenazahnya Ong Tiong Yang, sebab diapun menduga, tentunya Kiu Im Cin Keng dibawa ke lobang kubur bersama-sama dengannya.
Ciu Pek Thong panik bukan main.
Waktu itu seluruh murid Coan Cin Kauw tengah berada diluar menghadapi musuh, dan diruang jenazah ini memang hanya Ciu Pek Thong seorang diri.
Sedangkan lawan yang tengah dihadapi begitu tangguh, dimana diapun telah terluka tidak ringan, dan waktu itu Auwyang-pun tengah mengangkat tangannya, sekali saja tangan itu diturunkan, maka akan hancurlah peti jenazah itu, rusak dan kemungkinan besar jenazah dari Ong Tiong Yang akan dirusaknya juga.
Karena dari itu, Ciu Pek Thong telah mengeluarkan jeritan kalap.
Dia telah melompat dan menggerakkan kedua kakinya, dia bermaksud akan menerjang See Tok.
463 Namun waktu itu terdengar tutup peti mati itu meledak, mengeluarkan suara ledakan yang hebat dan bergelombang, hancur kayunya berhamburan.
Ciu Pek Thong mengeluh, semangatnya terbang seperti meninggalkan raganya, karena dia menduga bahwa See Tok lah yang telah sempat menghantam dengan tangan yang beracun itu, merusak peti mati.
Bukan main gusar dan marahnya Ciu Pek Thong, tubuhnya gemetaran sambil melompat kalap menerjang kepada See Tok, suara bentakannya juga bercampur suara isak tangis.
Namun kenyataan yang ada, See Tok sendiripun terkejut dengan suara ledakan pada tutup peti mati itu, karena dia sendiri memang belum mengayunkan tangannya, menghantam tutup peti mati itu.
jika memang tokh dia sempat menghajar tutup peti mati itu, jelas hasilnya tidak akan sehebat itu, dimana tutup peti mati itu telah hancur dan berlobang, dengan hancurnya yang terpental beterbangan kemana-mana.
Belum lagi berkurang rasa kagetnya See Tok, waktu itu dari dalam peti mati telah melompat keluar sesosok tubuh dengan gesit sekali.
Sosok tubuh itu tidak lain dari Ong tiong Yang, Tiong Yang Cin Jin, Coan Cin Kauwcu.
Bahkan sambil melompat dari peti mati, dia juga menotok Auwyang Hong dengan totokan It Yang Cie-nya.
See Tok wktu itu tengah tertegun, dia menduga Ong Tiong Yang karena penasaran Kitab Kiu Im Cin Keng nya hendak direbut, arwahnya telah terbangun kembali, dan dia telah hidup pula.
Dia kaget tidak terkira, terlebih lagi sekarang dia diserang dengan It Yang Cie seperti itu.
464 Sebelumnya memang Auwyang Hong telah mengintai dan melihat jelas Ong Tiong Yang telah menutup mata, sekarang Ong Tiong Yang dapat keluar dari peti mati, maka hal itu membuat dia kaget sampai semangat dan arwahnya sampai kabur meninggalkan raganya, dia memang jeri terhadap Ong Tiong Yang, yang ilmu It Yang Cienya dimaluinya.
Maka dari itu, sekarang dalam keadaan kaget dan terkesima seperti itu, dia tidak sempat untuk mengelak atau membela diri, maka telaklah totokan It Yang Cie Ong Tiong Yang hinggap di alisnya sehingga tertotoklah jalan darah Ciu-tay-hiat nya!
Dan pecahlah ilmunya yang dinamakan Ha Mo Kong itu, atau ilmu kodok.
Sambil mengeluarkan suara jeritan yang nyaring, mengandung kemurkaan, penasaran bercampur takut, Auwyang Hong segera mencelat ke jendela, dia telah melompat keluar dan lenyap dalam kegelapan malam.
Sedangkan Ong Tiong Yang tengah melangkah keluar kamar, dia menuju ketempat pertempuran antara Coan Cin Cit Cu dengan jago-jago yang menginginkan Kiu Im Cin Keng, dan ketika Ong Tiong Yang membentak agar pertempuran dihentikan, semua orang menoleh.
Para jago yang telah menyatroni kuil Tiong Yang Kiong mengawasi dengan mata terbelalak lebar, dengan semangat dan arwah meninggalkan raga masing-masing.
Mereka melihat jelas Ong Tiong Yang 465 berdiri dihadapan mereka masih segar bugar dan tidak kurang suatu apapun juga.
Dengan mengeluarkan jeritan kaget bercampur ketakutan, para jago itu telah memutar tubuh, berlari secepat mungkin untuk meninggalkan Tiong Yang Kiong….!
Ciu Pek Thong sendiri telah mengawasi kakak seperguruannya sejak dari dalam kamar jenazah itu dengan mata terpentang lebar, terbengong-bengong dan dengan kedua tangan tidak henti-hentinya menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal itu, dia telah mengawasi seperti melihat sesuatu yang menakjubkan sekali, bagaikan suatu peristiwa gaib dalam cerita dongeng, dia juga teringat seperti tengah menyaksikan peristiwa dalam cerita dongeng pada kitab San Hay Keng.
Mulut Loo Boan Tong telah terbuka terus, bahkan ketika seekor lalat terbang akan hinggap dimulutnya, dia seperti tidak mengetahui.
Ong Tiong Yang ketika melihat musuh-musuhnya lari serabutan ketakutan setengah mati seperti itu jadi tertawa panjang sekali, kemudian memutar tubuhnya kembali ke kamar mayat.
Dia duduk diatas meja sembahyang, duduk bersemedhi seperti tengah mengatur jalan pernafasannya.
Murid-muridnya, Ma Giok dan yang lainnya, walaupun mereka bingung dan diliputi perasaan heran bercampur girang, melihat guru mereka hidup kembali, bahkan musuh telah dapat dipukul mundur, tidak berani bertanya-tanya dulu melihat keadaan guru mereka bagaikan itu, mereka tahu guru mereka perlu beristirahat untuk memulihkan semangat dan tenaganya.
Ciu Pek Thong sendiri mengetahui, dengan menggunakan It Yang Cie (Telunjuk Matahari) Ong Tiong Yang telah 466 mempergunakan tenaga yang berlebihan dan terlalu banyak, sebab dia hanya memiliki kesempatan satu kali untuk menyerang See Tok dan memunahkan ilmu Ha Mo Kong nya itu.
dan Ciu Pek Thong tidak berani mengganggu semedhinya itu.
Begitulah Ciu Pek Thong dengan ketujuh murid Coan Cin Kauw telah menantikan sampai semedhi gurunya itu selesai.
Namun Ong Tiong Yang selama seharian itu, sepanjang malam dan kemudian esok paginya sampai menjelang sore hari, tidak bangun-bangun tetap dalam keadaan bersila, waktu Ciu Pek Thong memeriksanya, mereka semua jadi kaget sekali, semuanya jadi mengeluh kecele.
Ternyata waktu tubuh Ong tiong Yang telah rubuh miring sedikit, wajahnya juga berobah dari biasanya.
Ketika Ciu Pek Thong meraba tubuhnya, ternyata tubuh itupun telah dingin, sedingin es.
Saat itu barulah Ong tiong Yang benar-benar berpulang ke alam baka.
Ternyata Ong tiong Yang dengan kematiannya yang pertama itu Coan Cin Kauwcu tersebut hanya pura-pura mati saja.
Ong Tiong Yang sebetulnya telah mengetahui bahwa See Tok bersama seorang wanita yang dikenalnya sebagai Lauw Kuihui dan mungkin Lauw Kuihui bekas selirnya ToanHongya, senantiasa setiap hari berkeliaran diluar kuilnya dan Ong Tiong Yang menyadari bahwa Auwyang Hong telah berhasil mempengaruhi Lauw Kuihui dan mungkin Lauw Kuihui akan diperalat oleh See Tok yang licin dan sangat berbisa itu.
Hati Ong Tiong Yang jadi berduka sekali, sedikit banyak dia menyesal, mengapa bekas selir Toan Hongya bisa jatuh kedalam tangan Auwyang Hong dan juga tentunya wanita itu akan melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak baik selama 467 dia diperalat oleh Auwyang Hong.
Niscaya kelak Lauw Kuihui akan menimbulkan kerusuhan.
Malah yang membuat Ong Tiong Yang berkuatir sekali didalam hatinya, dia kuatir kalau-kalau Lauw Kuihuilah yang memperalat Auwyang Hong untuk mencelakai Toan Hongya.
Jika hal itu terjadi, maka terancamlah keselamatan Toan Hongya.
Memang benar Lam Te Toan Hongya, kaisar negeri Tayli itu telah menerima warisan It Yang Cienya dan juga ilmu-ilmu hebat lainnya, disamping itu kepandaian Toan Hongya juga tidak berada disebelah bawah kepandaian Auwyang Hong, dimana mereka memang berimbang.
Denngan demikian, tentu tidak mudah Toan Hongya untuk dicelakai oleh See Tok kalau saja See Tok bersikap jantan.
Namun justru See Tok seorang manusia licik dan beracun, yang memiliki ratusan bahwak ribuan akal busuk dan tipu daya keji.
Sekarang juga memang Lauw Kuihui tampaknya telah dapat dipengaruhinya, entah menjadi murid atau bersahabat, atau juga Auwyang Hong mengambilnya menjadi isterinya, Ong Tiong Yang tidak mengetahuinya, tapi yang diketahuinya dengan pasti, tentunya juga Auwyang hong memiliki rencana dan maksud-maksud tertentu dan hubungan dekat dengan bekas selirnya Toan Hongya.
Sedikitnya Auwyang Hong pasti akan mengorek keterangan prihal keadaan Toan Hongya dari mulut Lauw Kuihui atau Eng Kouw itu.
Juga dengan setiap hari kedua orang itu, Auwyang Hong dan Lauw Kuihui berkeliaran disekitar kuil Tiong Yang Kiong, Ong Tiong Yang pun menyadari, bahwa Auwyang Hong telah menantikan saatnya dia meninggal dunia 468 dan dia hendak merampas kitab Kiu Im Cin Keng.
Soal Eng Kouw, wanita itu tidak perlu dikuatirkan, karena memang dia mempunyai kepandaian yang tidak berarti.
Namun bagaimana jika Auwyang Hong sambil berusaha merampas kitab Kiu Im Cin Keng, dan kesempatan itu juga dipergunakan Eng Kouw memperalat Auwyang Hong untuk mencelakai Ciu Pek Thong yang dianggap oleh Eng Kouw telah mengecewakannya dan menyakiti hatinya?
Dalam hari-hari belakangan itulah Orng Tiong Yang selalu diliputi oleh bermacam-macam pikiran dan pikirannya jadi ruwet bukan main.
Setelah memikirkan berhari-hari, akhirnya Ong Tiong Yang telah memutuskan, dia akan berpura-pura mati, guna menghajar Auwyang Hong, untuk menghantam musnah ilmu andalan Auwyang Hong, yaitu Ha Mo Kong.
Jika dia berhasil memusnahkan ilmu andalan Auwyang Hong, niscaya Auwyang Hong tidak begitu membahayakan lagi buat keselamatan Toan Hongya maupun Ciu Pek Thong, dan juga buat keselamatan seluruh orang-orang gagah dalam rimba persilatan.
Jika dia gagal memusnahkan Ilmu Ha Mo Kongnya Auwyang Hong dan terlebih lagi jika nanti Auwyang Hong berhasil merampas kitab Kiu Im Cin Keng, maka See Tok seperti juga tambah sayap dan dia akan malang melintang tanpa ada yang bisa mengendalikan lagi, bahkan Lam Te, Pak Kay maupun Tong Shia, tentu tidak akan berdaya lagi menghadapinya.
Setelah keputusannya tetap, maka Ong Tiong Yang telah pura-pura mati.
Itulah kematian pertama, dimana dia telah menutup semua jalan darahnya, menutup jalan pernafasannya, sehingga waktu Ciu Pek Thong memeriksanya dia benar-benar seperti telah mati.
Hal itu bisa dilakukan oleh Ong Tiong Yang sebab dia telah memiliki Iwekang yang benar-benar sempurna.
469 Dan dugaan Ong Tiong Yang memang tepat, Auwyang Hong telah kena terkecoh oleh sandiwaranya yang pura-pura mati seperti, dia itu menduga bahwa Ong Tiong Yang benar-benar telah menutup mata.
Demikian sempurnanya rencana Ong Tiong Yang dan juga sempurna Iwekangnya sehingga bisa mengelabui mata See Tok yang lihay itu, dimana dia berhasil menutup seluruh jalan darah dan pernafasannya dengan sempurna sekali, membuat dia seperti benar-benar telah menutup mata.
Waktu See Tok menyatroni, diwaktu itulah dia muncul disaat yang tepat dan telah menghadiahkan satu totokan It Yang Cienya yang paling hebat, mempergunakan seluruh Iwekang yang ada padanya dan kebetulan totokan itu telak sekali mengenai sasaran, sehingga pecahlah tenaga latihan Auwyang Hong, musnahlah ilmu andalah Ha Mo Kongnya!
Setelah melukai dan memusnahkan ilmu andalan Auwyang Hong tersebut, hati Ong Tiong Yang baru puas dan diapun baru tenang, karena selanjutnya ancaman buat Toan hongya maupun Ciu Pek Thong telah disingkirkannya, terutama sekali ancaman buat orang-orang gagah dalam kalangan Kangouw dengan dimusnahkannya Ha Mo Kongnya Auwyang Hong.
See Tok tidak bisa malang melintang leluasa lagi!
Dan diwaktu itulah Ong Tiong Yang benar-benar berpulang dengan hati yang tenang.
Setelah selesai penguburan jenazah Ong Tiong Yang, Ciu Pek Thong menyampaikan keinginannya pada Ma Giok yang waktu itu telah mewarisi kedudukan sebagai Coan Cin Kauwcu, bahwa sang paman guru ini bermaksud untuk pergi ke suatu tempat yaitu ke sebuah gunung terkenal diselatan, namun Ciu Pek Thong tak mengatakan apa maksud perjalanannya itu dan Ma Giok pun tidak berani menanyakannya karena dia 470 anggap, pertama, Ciu Pek Thong mungkin ingin menghibur dirinya jangan sampai terlalu berduka, kedua, Chiu Pek Thong juga ingin melakukan sesuatu hal yang penting yang tentu saja tidak bisa ditanyakannya pada paman gurunya itu.
****
Jilid 13 CIU PEK THONG mempersiapkan perbekalannya.
Setelah lewat tujuh hari sejak pemakaman Coan Cin Kauwcu Ong Tiong Yang, segera Loo Boan Tong turun gunung meninggalkan Ciong Lam San dan kuil Tiong Yang Kong.
Sesungguhnya memang jauh hari se-belumnya Ong Tiong Yang telah berpesan pada Ciu Pek Thong, jika dia menutup mata, maka kitab Ciu Im Cin Keng itu harus dibagi dua yaitu bagian atas dan bagian bawah, menjadi dua bagian.
Jika memang kitab tersebut dicuri, maka yang tercuri itu tidak semuanya, hanya separo saja.
Setelah sang suheng itu menutup mata, maka Ciu Pek Thong memenuhi pesan terakhir sang Suheng itu.
dia telah membagi dua kitab Kiu Im Cin Keng, yang dijadikan dua bagian, bagian atas dan bagian bawah.
Bagian atas telah disimpan oleh Ciu Pek Thong disebuah tempat yang aman, dan kemudian dia membawa bagian bawah itu ke sebuah gunung 471 yang terkenal di selatan, maksudnya hendak me-nyembunyikan kitab Ciu Im Cin Keng bagian bawahnya itu di gunung tersebut.
Itulah sebabnya, Loo Boan Tong, si bocah tua bangkotan yang berandalan telah melakukan perjalanan turun gunung meninggalkan Ciong Lam San berikut Kuil Tiong Yang Kiong dan Coan Cin Cit Cu.
**** SELAMA setengah bulan lebih Ciu Pek Thong melakukan perjalanan menuju ke daerah Selatan.
Selama melakukan perjalanan, Ciu Pek Thong berusaha menindih kegemarannya bermain.
Setiap kali menyeksikan peristiwa-peristiwa yang menarik hatinya, Pek Thong cepat-cepat menyingkir, karena dia kuatir nanti hatinya gatal seperti diklitik dan berkepanjangan ingin ikut bermain.
Dia menyadari, pada dirinya terdapat kitab Kiu Im Cin Keng bagian bawah, berarti dia memiliki tugas yang berat.
Sebelum berhasil dia menyembunyikan kitab Kiu Im Cin Keng itu di gunung terkenal di Selatan, dia tentu tidak berani untuk mengumbar kegemarannya bermain.
Namun biarpun begitu, tokh tidak urung Loo Boan Tong tetap saja Loo Boan Tong, yang gemar menimbulkan kerusuhan.
Tidak jarang jika dia menyaksikan ada penjual silat yang tengah mengadakan pertunjukan di sebuah kota yang disinggahinya, maka Ciu Pek Thong tertarik hatinya untuk menyaksikan sebentar.
Dan jika dia melihat penjual silat itu, yang menjual kepandaian silatnya untuk dipertunjukkan pada orang yang mengerumuni-nya, untuk memperoleh derma dan sumbangan dari para penontonnya, Ciu Pek Thong selalu erasa 472 muak, karena kepandaian yang diperlihatkan pada umumnya merupakan kepandaian yang buruk dan tidak sedap dipandang.
Dan jika memang Ciu Pek Thong tidak bisa mempertahankan keberandalannya, seringkali dia telah mengajak penjual silat itu untuk main-main beberapa jurus dan tidak jarang dia menghantam penjual silat itu tunggang langgang jungkir balik ditanah sampai mukanya bengkak dan babak-belur.
Dan jika telah terjadi begitu, barulah timbul penyesalan dihati Loo boan Tong.
Dia telah memberikan sepuluh atau dua puluh tail dan repot menyuruh si penjual silat untuk pergi berobat pada tabib pandai.
Sampai terkadang Ciu Pek Thong sendiri jengkel dan kesal sekali pada sepasang tangannya itu, dia pernah melakukan perjalanan dengan tangan diikat oleh ikat pinggangnya, agar kedua tangan itu tidak bisa digerakkan.
Dan setiap kali dia menyaksikan urusan yang menarik hati, tentu dia lebih bisa menahan diri.
Namun tidak urung, dengan sepasang kaki yang masih bebas, setiap kali ada sesuatu yang menarik, selalu Ciu Pek Thong tampil kedepan, untuk menggoda dan bergurau dengan orang yang disenanginya, dan kesudahannya benar-benar keadaan Ciu Pek Thong menarik perhatian orang banyak.
Apalagi dia mengikat kedua tangannya yang ditelikung kebelakang atas bantuan pelayan rumah penginapan yang disinggahinya, diikat menjadi satu dengan ikat pinggangnya, namun dengan keadaan seperti itu, dalam satu dua jurus dia selalu bisa menumbangkan penjual-penjual silat atau para penjahat yang tengah ingin melakukan pekerjaan.
473 Dan setiap kali telah terjadi peristiwa, Ciau Pek Thong tentu akan memaki-maki dirinya sendiri, mengomeli dirinya tidak bahisnya.
Tapi ketika tiba di Hopak, dia telah bertemu dengan satu urusan yang membuat dia akhirnya menyesal seumur hidup.
Waktu tiba di Su Liang, hari telah menjelang sore, waktu itu Ciu Pek Thong tengah berlari-lari dengan berjingkrak-jingkrak dan melompat-lompat seperti lagaknya seorang anak kecil, mulutnya juga bernyanyi dengan riang.
Dalam usia seperti itu dan juga dengan lagaknya yang seperti bocah, benar-benar Ciu Pek Thong menarik perhatian orang yang berpapasan dengannya, terlebih lagi dengan kedua tangannya yang terikat dan ditelikung kebelakag, maka semua orang yang melihatnya akan merasa lucu dan menduga dia adalah seorang yang tidak beres pikirannya.
Sedang Ciu Pek Thong bernyanyi-nyanyi sambil melompat-lompat berjingkrakan menghampiri pintu kota, tiba-tiba dia ditegur orang dari tepi jalan.
"Mengapa lagakmu masih seperti bocah saja Loo Boan Tong?! Suara itu perlahan, namun yang berkata-kata itu rupanya memiliki Iwekang yang tinggi sekali. Hati Ciu Pek Thong tercekat, dia segera menoleh dengan berwaspada, menduga dia telah bertemu dengan orang pandai yang akan coba-coba merampas kitab Kiu Im Cin Keng bagian bawah yang berada dalam sakunya. Maka dia telah mementang matanya mengawsi dengan tajam. Tapi begitu dia melihat orang itu, seorang lelaki yang memakai jubah warna hijau dengan kopiah Siauw-yan-kin, segera juga Ciu Pek Thong berjingkrak sambil berseru.
"Oey Loo Shia, kau?" 474 Orang yang menegur Ciu Pek Thong memang tidak lain dari Oey Yok Su. Hanya saja Pek Thong berjingkrak sekejap saja, kemudian dia telah mementang matanya lebar-lebat lagi, dia memonyongkan mulutnya kepada wanita yang berdiri disamping Oey Yok Su, katanya.
"Kau… kau sekarang dikawal, Oey Loo Shia?"
Oey Yok Su tersenyum melihat lagak Ciu Pek Thong, dia menyahut.
"Pek Thong, ini isteriku, kami baru saja menikah beberapa hari yang lalu….. dan A Heng, inilah Ciu Toako, sute dari Ong Cinjin CoanCin Kauwcu…!"
Mendengar bahwa wanita yang berdiri disamping Oey Yok Su adalah isteri dari Tocu tersebut, Ciu Pek Thong telah berjingkrak lagi sambil berseru heran dan girang.
"Eh engkau telah meperoleh Nyonya? Eh, eh, tentu tidak lama lagi engkau akan menggendong bayi kalian!"
Muka Oey Yok Su berobah merah sedikit, demikian juga dengan nyonya Oey itu, A Heng yang berdiri menunduk malu dengan pipi yang berobah merah.
"Pek Thong,"
Kata Oey Yok Su.
"Kau jangan menggoda isteriku. Engkau memang si bocah tua bangkotan, yang berandalan dan nakal, tapi ingat, jangan sekali-sekali engkau berbuat kurang ajar dan tidak sopan terhadap isteriku, karena aku tidak akan segan-segan turun tangan berat padamu……!"
Ciu Pek Thong menjublak sesaat, mukanya celangap dan bola matanya telah bermain tidak hentinya, mengawasi bergantian antara Oey Yok Su dengan isterinya itu.
Kelakuan Ciu Pek Thong membuat A Heng jadi jengah, dia telah menunduk.
"Inilah berat… berat sekali…!"
Kata Ciu Pek Thong kemudian dengan suara menggumam. Oey Yok Su yang memang telah mengenal watak Ciu Pek Thong jadi tersenyum, dia telah berkata.
"Apanya yang berat, Pek Thong?"
"Berat, berat sekali!"
Kata Ciu Pek Thong sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Aku seorang yang bicara apa yang kupikirkan, apa yang kuingat segera kukatakan, segera kulakukan, dan sekarang engkau telah mengancam aku untuk jadi gagu dan tuli dihadapan isterimu, bukankah ini berat sekali?"
Oey Yok Su tersenyum. Siapa yang menyuruh engkau jadi sigagu dan situli…..?"
Kata Oey Yok Su.
Oey Loo Shia, engkau jangan bicara seperti orang polin saja, dengan engkau mengancam agar aku tidak berandalan, tidak nakal dan bersikap sopan santun pada isterimu itu bukankah engkau meminta aku supaya aku jadi sigagu dan situli?
Bukankah aku tidak bisa untuk tidak berandalan?
Bukankan engkau tahu aku tidak bisa tidak nakal?
Bukankan engkaupun tahu akuun tidak bersopan santun pura-pura alim?
Hu, hu, Oey Loo Shia, engkau hanya secara tidak langsung telah menyuruh aku menjadi sigagu dan situli…!"
Oey Yok Su tidak gusar atau mendongkol melihat lagaknya Loo Boan Tong, karena dia memang telah mengenal benar watak dan tabiatnya si bocah tua bangkotan yang nakal ini.
dia mengangguk-angguk beberapa kali, katanya.
"Baiklah Pek Thong, terserah padamu, kukira isteriku juga tidak akan membencimu, karena diapun tentu akan memaklumi memang 476 watak dan perangaimu yang seperti itu..!"
Dan setelah berkata demikian, Oey Yok Su tertawa.
Ciu Pek Thong melihat cahaya muka Oey Yok Su terang sekali tampaknya.
Dia tengah gembira dan bahagia sekali.
Dari sikapnya maupun lirikan matanya, tampaknya Tong Shia memang sangat mencintai isterinya.
Pek Thong bengong lagi beberapa saat, sepasang alisnya tampak berkerut dalam-dalam.
Oey Yok Su melihat lagaknya Loo Boan Tong segera bertanya.
"Apa yang sedang kau pikirkan? Atau memang kau si Loo Boan Tong yang biasa jenaka dan bergembira, kini telah menghadpi kesulitan yang sukar dipecahkan sehingga tampaknya engkau jadi pemurung seperti itu?!"
Pek Thong menggelengkan kepalanya beberapa kali, lalu dia berkata.
"Bukan, bukan…!"
Katanya.
"Aku sedang memikirkan dengan cara apa aku harus menyampaikan ucapan selamat kepada kalian berdua….. atau aku mengundang kalian untuk kujamu saja… kalian setuju tidak?!"
Oey Yok Su waktu itu merupakan pengantin baru bersama isterinya dan dia tengah bergembira.
Maka mau dia menerima undangan sahabat yang jenaka ini.
Begitulah, Oey Yok Su bertiga dengan A Heng dan Pek Thong telah ke kota dan memasuki sebuah rumah makan, dimana Pek Thong telah memesan satu meja penuh bermacam-macam makanan yang lezat-lezat.
Sambil makan minum, Ciu Pek Thong telah menceritakan prihalnya Ong Tiong Yang, sang Suheng yang pura-pura mati, dan kemudian telah berhasil menghajar Auwwyang Hong dengan It Yang Cienya, sehingga ilmu andalan Auwyang Hong 477 yang bernama Ha Mo Kong atau ilmu kodoknya itu telah punah.
Mendengar cerita Ciu Pek Thong, Oey Yok Su tersenyum lebar, dia mengangguk-angguk gembira.
Memang See Tok seorang yang licik sekali, malah Oey Yok Su juga telah mengatakan, tidak selayaknya See Tok menghajar Ciu Pek Thong disaat orang dirundung malang.
Dan diapun tidak pantas dengan perbuatannya yang busuk itu, disaat Coan Cin Kauw tengah dirundung malang hendak merampas kitab Kiu Im Cin Keng….
Hemm, Ong Cinjin memang sangat waspada sekali!
Dia telah mengetahui niatan busuk dari si bisa bangkotan beracun itu…!"
Ciu Pek Thong tampaknya tengah gembira sekali telah setengah bulan dia melakukan perjalanan dan selama itu dia tidak pernah memperoleh kawan yang bisa diajak bercakap-cakap.
Sekarang dia bertemu dengan sahabat lama seperti Oey Yok Su, sahabat karib dari suhengnya juga, dengan demikian banyak yang diceritakannya.
Bahkan dia telah menceritakan prihal kitab Kiu Im Cin Keng yang dipecah menjadi dua bagian, bagian atas dan bagian bawah.
Ciu Pek Thong menceritakan prihalnya kitab Kiu Im Cin Keng karena dia mengetahui dengan jelas, bahwa Oey Yok Su mempunyai tabiat yang aneh, namun tidak nantinya Tong Shia kemaruk kitab Kiu Im Cin Keng seperti halnya See Tok.
Waktu itulah isteri Oey Yok Su telah meminta pad Pek Thong untuk pinjam lihat kitab pusaka yang diperebutkan oleh jago-jago seluruh kalangan Kangouw.
A Heng mengatakan bahwa dia sama sekali tidak mengerti ilmu silat.
"Jika memang Ciu Toako tidak keberatan, maukah kau meminjamkan sebentar saja agar aku dapat melihat kitab 478 pusaka yang diincar oleh semua orang-orang gagah dalam rimba persilatan itu?"
Katanya kemudian. Ciu Pek Thong jadi ragu-ragu, dia cepat-cepat menggelengkan kepalanya.
"Tidak boleh! tidak boleh!"
Katanya kemudian.
Walaupun dia meras tidak enak hati menolak keinginan nyonya Oey tersebut, tapi diapun segera menyadari, tidak bisa dia memperlihatkan sembarangan kitab pusaka itu kepada orang lain.
Dan karena dia memang seorang yang polos, tentu saja apa yang dipikirkannya.
"Kitab itu adalah kitab pusaka, bagaimana aku bisa memperlihatkannya kepadamu Enso…!"
A Heng tersenyum manis, dia berkata.
"Aku sesungguhnya tidak paham ilmu silat, jadi melihat kitab itupun akan percuma saja, karena aku tentu tidak akan mengerti apa isinya! Akan tetapi, aku hanya sekedar tertarik dan didorong oleh perasaan ingin tahu belaka, sesungguhnya kitab itu merupakan kitab bagaimana, sehingga menimbulkan korban-korban berjatuhan yang begitu banyak dikalangan orang-orang gagah dalam rimba persilatan? Hemm, jika memang Ciu Toako keberatan untuk meminjamkan padaku sebentar saja, tentu saja aku tidak berani mendesaknya…!"
Oey Yok Su sangat mencintai isterinya, karena Tong Shia memang tidak pernah menolak setiap keinginan isterinya.
Sekarang mendengar isterinya itu ingin sekali melihat sebentar saja kitab mustika itu namun ditolak oleh Ciu Pek Thong, maka dia telah ikut bicara.
"Pek Thong, isteriku benar-benar tidak mengerti ilmu silat. Dia masih muda sekali, dia gemar melihat apa yang baru, maka kau berikanlah kesempatan untuk sekedar melihat-lihat saja. Ada apakah halangannya? Jika aku sendiri, 479 melirik satu kali saja kitabmu itu, nanti aku akan korek keluar biji mataku untuk diserahkan kepadamu!"
Ciu Pek Thong memang mengetahui Oey Yok Su seorang jago luar biasa, kepandaiannya pun telah sempurna, dia mau mempercayai jiwa jago ini tidak buruk seperti Auwyang Hong yang licin dan licik itu.
Tong Shia walaupun memiliki tabiat dan perangai yang aneh dan luar biasa, namun perkataannya bisa dipegang, dia bilang hitam tentu hitam, dia bilang satu tentu satu.
Tapi kitab Kiu Im Cin Keng merupakan urusan yang sangat penting sekali, dimana dia telah diserahi tugas yang berat itu dari suhengnya yang telah almarhum, dengan demikian Pek Thong tidak berani gegabah dan ceroboh.
Karena dari itu, walaupun dia tekah dibujuk seperti itu oleh Oey Yok Su tetap saja Ciu Pek Thong menggelengkan kepalanya berulang kali.
Melihat ini, Oey Yok Su berubah mukanya, tampangnya jadi tidak senang.
Bahkan dia telah berkata.
"Mustahil aku tidak menyadari dan menginsyafi akan kesulitanmu? Jika memberi kesempatan untuk isteriku untuk melihat satu kali saja kitab Ciu Im Cin Keng itu, nanti akan datang saatnya aku membalas budi pada kalian pihak Coan Cin Kauw! Jika memang kau tetap menampik dan tidak meluluskan keinginan dan permintaan isteriku ini, terserah kepadamu! Siapa yang suruh kita bersahabat? Dengan pihak Coan Cin Kauw, semua anggotanya tidak kukenal sama sekali. Ciu Pek Tong tercekat hatinya, dia mengerti apa maksud perkataan Tong Shia. Tong Shia selalu melakukan apa saja yang dia bilang. Memang buat Tong Shia jelas tidak akan enak baginya mengganggu Ciu Pek Thong, tapi dia dapat saja mencari-cari 480 alasan untuk mengganggu Ma Giok dan murid-murid Ong Tiong Yang lainnya yang dikatakan oleh Tong Shia tidak dikenalnya itu, yang berarti tidak ada hubungan apa-apa dan bisa saja dia mencari benterok dengan mereka. Oey Yok Su liehay sekali, ilmunya juga sangat sempurna, maka berbahaya kalau sampai dia gusar dan mengandung maksud untuk mencari-cari alasan untuk bentrok dengan murid-murid Coan Cin Kauw, yang semuanya menjadi murid keponakan dari Pek Thong. Karena berpikir begitu. Pek Thong segera berkata pada Oey Yok Su.
"Oey Loo Shia, jika kau hendak melampiaskan penasaranmu, hanya disebabkan aku tidak memenuhi dan meluluskan permintaan dan keinginan isterimu untuk pinjam melihat kitab Kiu Im Cin Keng, kau carilah aku Loo Boann Tong. Perlu apa cari segala keponakan muridku itu?!"
Melihat Oey Yok Su dan Ciu Pek Thong sudah seperti mulai bertengkar, wajah mereka berdua juga sudah tidak enak dilihat, dimana suasana perjamuan yang diselenggarakan oleh Pek Thong untuk menyampaikan ucapan selamatnya terhadap pasangan pengantin baru itu, A Heng telah tertawa manis berkata.
"Ciu Toako benar-benar gemar berkelakar!"
Pek Thong menoleh kepada nyonya Oey itu, tanyanya.
"Mengapa aku berkelakar? Aku Loo Boan Tong memang benar-benar dan bersungguh-sungguh, jika Oey Loo Shia penasaran dan bersakit hati, bukankah seharusnya dia mencari aku untuk melampiaskan penasaran dan sakit hatinya itu? sekarang justru mengapa dia malah berpikir jauh untuk mencari gara-gara dengan segala keponakan muridku?"
Bukankan dengan begitu dia tidak menghargai dirinya sendiri? Salahkah perkataanku itu? " 481 A Heng tersenyum lagi, dia menggeleng-gelengkan kepalanya berulang kali.
"Ciu Toako, jika memang aku mengatakan engkau berkelakar, itupun tidak ada salahnya. Julukanmu itu membuat aku seperti diklitik-klitik, jadi tidak bisa menahan tertawaku! Loo Boan Tong? Itulah julukan yang benar-benar lucu sekali, dan sekarang baiklah Ciu Toako janganlah mengotot terus, lebih baik kita pelesiran. Mengenai kitab mustikamu itu, tidak apalah jika memang engkau merasa keberatan dan memiliki kesulitan untuk memperlihatkan kepadaku!"
Setelah berkata begitu, dengan bibirnya yang mungil indah bentuknya itu, A Heng menoleh kepada Oey Yok Su, suaminya, diapun berkata.
"Rupanya kitab Kiu Im Cin Keng itu sudah kena dirampas oleh orang Auwyang itu, maka Ciu Toako tidak sanggup untuk memperlihatkan kitab mustika itu padaku. maka juga apa perlunya kita memaksa Ciu Toako, sehingga nanti jadi bisa hilang muka. Mendengar perkataan isterinya, Oey Yok Su mengangkat kepalanya, dongak sambil tertawa terbahak-bahak dan tangannya beneouk paha berkali-kali, baru kemudian setelah tertawanya merendah, dia berkata.
"Mengapa aku tidak berfikir seperti itu? memang apa yang kau katakan itu benar! Eh Pek Thong, marilah! mari aku bantu kau mencari si tua beracun See Tok, untuk mengadakan perhitungan dengannya!"
Ciu Pek Thong walaupun wataknya edan-edanan dan berandalan serta nakal namun otaknya bukannya bebar-benar tumpul.
Dia tahu bahwa dirinya tengah dikocok pulang pergi oleh pengantin baru ini, dimana pasangan suami isteri itu bermain koprol untuk memancing kemendongkolannya.
482 Waktu itu walaupun Ciu Pek Thong mengetahui bahwa dirinya tengah dipancing untuk mendongkol dan panas, namun diapun tidak mau mengalah, maka dia telah cepat-cepat berkata.
"Kitab Kiu Im Cin Keng itu ada padaku sekarang ini! pula tidak ada halangannya untuk memperlihatkannya kepada Enso! Tapi kau tidak memandang mataku, benar-benar kau meremehkan Loo Boan Tong dengan mengatakan bahwa aku tidak sanggup melindungi kitab itu. inilah yang membuat aku benar-benar tidak mau mengerti! Coba kau jelaskan, apakah syarat-syaratmu?"
Oey Yok Su melihat bahwa Pek Thong telah berhasil dipancing kemendongkolannya dan ke-marahannya, maka ia tertawa terbahak-bahak lagi.
Sengaja dia ingin memancing terus agar kemaarahan orang meluap dan diwaktu itu Pek Thong akan melakukan hal-hal yang tidak terkendalikan lagi, dan tentu akhirnya Pek Thong akan memperlihatkan juga kitab Kiu Im Cin Keng pada A Heng isterinya.
Setelah puas tertawa, Oey Yok Su berkata.
"Jika kita ber-tempur, kita jadi sama saja mencari urusan untuk merenggangkan hubungan kita, dan hal itu membuat aku jadi tidak enak hati! Engkau situa bangka yang nakal, aku pikir apakah tidak lebih baik kita mengadu sesuatu seperti bocah-bocah kecil tengah bermain-main….?!"
Belum lagi Ciu Pek Thong memberikan jawabannya, A Heng telah menepuk-nepuk tangannya dan berkata.
"Bagus, bagus! Baiknya kalian mengadu kepandaian bermain kelereng….!"
Bermain gundu atau kelereng itu adalah kegemaran Ciu Pek Thong dan dia memang pandai sekali mengendalikan kelereng, karena hampir setiap kali memiliki kesempatan, tentu Ciu Pek Thong akan mencari teman bermain.
Tak peduli teman mainnya itu seorang bocah berusia enam atau tujuh tahun, tapi 483 yang pasti Pek Thong memang selalu gembira jika tengah bermain kelereng seperti itu.
Sekarang dia mendengar isteri Oey Yok Su menyarankan antara dia dengan Tong Shia bermain kelereng, segera juga Loo boan Tong menjawab.
"Mengadu ilmu dengan permainan kelereng, ya baik, kita bermain kelereng, mustahil aku takut!"
Mendengar perkataan Ciu Pek Thong, dan terlebih lagi melihat lagaknya yang tengah kesal seperti itu, A Heng tertawa lagi geli bukan main dengan tangan menutupi mulutnya.
Melihat sikap isteri Oey Yok Su, Ciu Pek Thong jadi terbakar hatinya, dan waktu dia ingin berkata lagi, A Heng telah mendahuluinya.
"Ciu Toako, jika kau kalah, kau berikan kesempatan padaku untuk meminjam lihat kitab pusaka Kiu Im Cin Keng itu. jika kau yang menang, nah, nah kau menginginkan apa dari kami?!"
Mendengar pertanyaan isterinya pada Ciu Pek Thong seperti itu, Oey Yok Su segera menyambungi.
"Coan Cin Kau memiliki mustika, mustahil Tho hoa To tidak?!"
Dan diapun segera menurunkan buntalannya. Dia membuka, dari buntalan tersebut, dikeluarkan serupa barang berwarna hitam, semacam baju yang ada durinya.
"Pek Thong!"
Kata Oey Yok Su sambil angkat baju berduri itu, yang dibeber didepan mata Ciu Pek Thong.
"Kau liehay, kau tidak membutuhkan ini untuk melindungi dirimu.
"Hanya kalau dimelakang hari kau menikah dengan sibocah wanita yang nakal, sama berandalannya denganmu, lalu dia melahirkan bocah yang nakal juga, jika bocah itu mengenakan pakaian lapis Joan Wie Kah, faedahnya tentu bukan kepalang! Jika memang engkau bisa memperoleh kemenangan dalam 484 permainan adu kelereng nanti diantara kita berdua, pusaka Tho Hoa To ini akan menjadi milikmu!"
Mendengar perkataan Oey Yok Su, Ciu Pek Thong mengawasi barang itu, Joan Wie Kah, dia telah memperhatikan sekian lama, akhirnya dia menyahuti.
"Si bocah nakal itu akan terlahirkan tapi baju lapismu itu sangat kesohor didalam kalangan Kangouw, jika memang aku yang mengenakannya, pasti aku terlihatnya aksi sekali! Dengan demikian biarlah diketahui oleh seluruh orang rimba persilatan bahwa Tocu dari Tho Hoa To telah roboh ditangan Loo Boan Tong sibocah tua nakal!"
Dan setelah berkata begitu, Ciu Pek Thong tertawa terbahak-bahak, tampaknya dia jadi girang sekali dan tertarik oleh pertaruhan ini. Waktu itu A Heng telah berkata.
"Ayo jangan bicara saja, ayo kalian berdua segera mulai permainan kalian, pertaruhan ini biar kusaksikan, karena akupun ingin melihat diantara kalian berdua siapakah sebetulnya yang memperlihatkan kemahiran bermain kelereng yang sempurna, suamiku atau memang si Loo Boan Tong yang gemar berkelakar itu!"
Ciu Pek Thong tidak tersinggung oleh perkataan nyonya tersebut, malah Loo Boan Tong dasarnya si bocah tua nakal, dia telah tertawa terbahak-bahak, dengan kegembiraan yang meluap-luap karena Oey Yok Su akan menemaninya bermain kelereng, malah merekapun bertaruh dalam permainan kelereng ini, lalu berkata.
"Bagus! Mari kita mulai!"
Sampai disitu, cocoklah sudah segalanya, segala-nya sudah diatur bagaimana syarat dan hasil dari permainan kelereng ini, dan barang-barang apa yang akan jadi hadiah dan apa yang harus dilakukan.
Segera juga Oey Yok Su dan Ciu Pek Thong mulai dengan permainan mereka.
Masing-masing keduanya 485 memegang sembilan butir kelereng, dan mereka telah membuat delapan belas lobang.
Pemenangnya adalah siapa yang kelerengnya masuk lebih dulu.
Memang Ciu Pek Thong selalu membawa-bawa kelerengnya, kemana saja dia pergi setiap saat jika saja dia bertemu dengan seseorang yang bersedia untuk diajak bermain kelereng, berarti kelereng itu telah tersedia.
Dan mereka bertiga telah keluar, ketanah datar dari rumah makan itu.
Waktu keluar dari rumah makan itu, diam-diam dia telah memperhatikan gerak-gerik isterinya Oey Yok Su, dan segera juga dia memperoleh kenyataan bahwa A Heng memang benar-benar tidak mengerti ilmu silat, langkah kakinya berat dan tubuhnya tidak ringan, serta gerak-geriknya memang gerak geriknya bukan seorang ahli silat.
Ciu Pek Thong sengan kegembiraan yang meluap-luap, karena dia yakin akan memperoleh ke-menangan, segera juga membuat lobang-lobang yang diperlukan.
Setelah lobang-lobang itu selesai dibuat, Ciu Pek Thong perintahkan Oey Yok Su yang mulai dulu.
Dalam hal menggunakan senjata rahasia, Oey Yok Su liehay dan istimewa sekali, dia lebih menang dari Ciu Pek Thong.
Tapi dalam hal main kelereng, ada lain cara dan tipunya, dan setiap hari Ciu Pek Thong selalu bermain kelereng, setiap waktu senggangnya digunakan untuk bermain kelereng, maka seperti juga dia mengetahui sifat-sifat kelerengnya dan taktik yang terbaik untuk memperoleh kemenangan bermain kelereng.
Jika bermain kelereng, lobang-lobang yang dibuat oleh Ciu Pek Thong telah dibuat sedemikian rupa dan istimewa.
Jika kelerengnya masuk ke dalam salah satu lobang, maka kelereng 486 itu akan melejit keluar lagi.
Untuk Ciu Pek Thong memang harus pandai mengimbangi menyentik kelereng itu.
dengan demikian, kelereng itu jadi dapat berdiam terus didalam lobang.
Tiga kali Oey Yok Su menyentil, tiga-tiganya kelerengnya masuk tepat, hanya begitu masuk, ketiga-tiganya kelereng tersebut telah melejit keluar lagi.
Oey Yok Su liehay, dia mencoba menyusul tapi selalu gagal, karena Pek Thong telah berulang kali telah berhasil memasukkan kelerengnya kedalam lobang itu.
Ciu Pek Thong girang bukan main, dan dia juga yakin bahwa dia akan memperoleh kemenangan, karena bagaimana sulit buat Oey Yok Su memasukkan kelerengnya itu berdiam didalam lbang tanpa melejir keluar lagi.
Oey Yok su memang berbeda dengan Pek Thong, jika ek Thong hampir setiap kali memiliki kesempatan dia bermain kelereng, dan karena memiliki cara menyentil kelereng yang istimewa.
Sedangkan Oey Yok Su sendiri, barulah pertama kali ini dia bermain kelereng, maka wlaupun dia telah menyentil tepat sekali, kelereng masuk ke lobang namun selalu melejit keluar akibtat tenaga sentilannya itu yang tidak sesuai dengan keadaan lobang yang dibuat Pek Thong.
Oey Yok Su boleh mahir dalam menggunakan senjata rahasia, dan dia mahir pula menggunakan tenaga Iwekangnya yang sempurna itu, namun kenyataannya selalu pula kelerengnya itu melejit keluar, sehingga beberapa kali muka Oey Yok Su berubah dingin dan muram setiap kali menyaksikan kelerengnya yang telah berhasil disentil masuk tepat kedalam lobang, lalu melejit dan keluar pula.
Oey Yok Su jadi memperhatikan dengan seksama.
Dia memang cerdik sekali, maka dia bisa menerkanya apa yang tengah dilakukan oleh Pek Thong.
Dan dia memang dapat menyedari dan menginsyafinya bahwa Pek Thong memang 487 mahir didalam bermain kelereng, cara permainan bocah-bocah kecil, dan dia sendiri barulah pertama ini bermain kelereng, dengan sendirinya membuat Oey Yok Su memutar otak mencari jalan yang sekiranya dapat merebut kemenangan dari Pek Thong.
Dasarnya memang Oey Yok Su cerdas dan cerdik bukan main serta otaknya pun terang sekali, segera dia menemukan sebuah cara untuk mengalahkan permainan kelerengnya Pek Thong.
Oey Yok Su tidak mau mempergunakan akal kasar, dia memdadak telah mengerahkan Iwekangnya dan setiap kali ia me-nyentil, dia menghajar kelerengnya Ciu Pek Thong, dengan demikian kelerengnya Ciu Pek Thong pecah hancur, sedangkan kelerengnya Oey Yok Su telah masuk kedalam lobang.
Itulah karena Iwekang yang mahir, dengan demikian dapat dia mengimbangi tenaga sentilannya Ciu Pek Thong hancur setiap kali terbentur dengan kelereng Oey Yok Su, sedangkan kelerengnya Oey Yok Su tetap utuh tidak gompal sedikitpun juga.
Dan dengan sisa ketiga kelereng Pek Thong telah kena disentil hancur seperti itu maka Pek Thong sudah tidak memiliki kelereng untuk jalan lagi, dia hanya bisa menyaksikan Oey Yok Su bermain sendiri sehingga satu persatu kelerengnya itu masuk ke dalam lobang.
488 Ciu Pek Thong berjingkrak-jingkrak, dia berteriak.
"Oey Loo Shia, kau bermain curang….!"
Tapi Oey Yok Su tidak mempedulikan protes Ciu Pek Thong, dia terus juga menyentil kelerengnya itu, sehingga akhirnya seluruh kelerengnya masuk kedalam lobang.
Karena terlalu seringnya menyentil terus menerus, akhirnya Oey yok Su pun bisa mengetahui dimana kelemahannya dan berapa besar tenaga sentilan yang harus dipergunakannya dan dengan cara bagaimana dia bisa menyentil kelerengnya itu masuk kedalam lobang tanpa perlu kelereng itu melejit keluar lagi.
Sebagai seorang yang cerdas, akhirnya oOey Yok Su berhasil menguasai cara menyentil kelerengnya yang istimewa, sehingga setiap kali kelerengnya telah berhasil disentil masuk kedalam lobang, kelereng itu tidak keluar pula.
Dengan begitu kalahlah Ciu Pek Thong, dan Oey Yok Su sebagai pemenangnya!
"Oey Loo Shia, aku tidak bisa menerima kekalahan ini!
engkau bermain curang, dan cara kau menghajar kelereng-kelerengku tidak masuk dalam hitungan!"
Teriak Ciu Pek Thong ngambul, dia juga tetap berjingkrak seperti bocah kecil yang tengah kalah dalam permainannya.
Oey Yok Su mengangkat kepalanya, dongak menengadahkan kepalanya memandang langit, lalu dia tertawa terbahak-bahak.
"Pek Thong, kukira engkau tidak akan bersikap rendah dan hina! Sudah jelas aku yang menang, bagaimana engkau bisa mengatakan bahwa semua itu tidak masuk dapam hitungan……?!"
Katanya kemudian tawar.
"Tapi engkau telah berbuat curang!"
Teriak Ciu Pek Thong. 489
"Berbuat curang? Curang bagaimana?!"
Tanya Oey Yok Su pura-pura pilon.
"Engkau telah menyentil ketiga kelerengku dan telah hancur karenanya….!"
Kata Ciu Pek Thong lagi. Oey Yok Su tertawa dingin.
"Engkau terlalu mencari-cari alasan saja!"
Kata Oey Yok Su.
"Sudah jelas engkau kalah, sekarang engkau tidak mau menerima kekalahanmu itu dengan mengada-ada! Hemm, baiklah, tadi aku tanpa disengaja telah menyentil kelerengku yang telah menghantam kelerengmu, dan itulah pecah tanpa disengaja! Jika memang ketidak sengajanku itu kau anggap merupakan perbuatan curang, sekarang silakan engkau mengambil tiga butir dan engkau boleh menyentil tiga kali tiga kelereng lainnya. Jika memang kelereng itu bisa hancur seperti yang tadi telah kau alami, maka hitung-hitung kau yang menang!"
Waktu itu Ciu Pek Thong tengah mengambul, dia tidakmenduga sama sekali bahwa sikap mengalah Oey Yok Su sesungguhnya tipu daya untuk menjatuhkannya.
Maka mendengar perkataan Oey Yok Su yang mengijinkannya untuk menyentil tiga kali dengan kelerengnya, Ciu Pek Thong sangat kegirangan.
Segera dia mengambil tiga butir kelereng dan segera dia mulai menyentil untuk menghajar kelereng yang lainnya, kedua kelereng yang saling bentur itu telah pecah berantakan….
Tiga kali Pek Thong mengulanginya, dan tiga kali itu pula setiap kali dia menyentil menghajar kelereng lainnya, kedua kelereng itu sama-sama hancur!
Tidak demikian halnya dengan Oey Yok Su yang menyentil kelerengnya tadi menghajar ketiga kelereng Pek Thong, dan hanya kelereng Pek 490 Thong yang hancur, sedangkan kelerengnya Oey Yok Su tetap utuh, tidak gompal sedikitpun juga….!"
Dengan demikian, Pek thong jadi mengakui kekalahannya itu, dia harus menerima kekalahannya itu walaupun dengan hati yang tidak rela!
Sesungguhnya Ciu Pek Thong telah diingusi oleh Oey Yok Su, karena Iwekang Oey Yok Su telah sempurna sekali, beberapa tingkat berada diatas Iwekang Ciu Pek Thong, karena dari itu, leluasa buat Tocu Tho Hoa To itu untuk menyentil kelerengnya menghajar kelereng Ciu Pek Thong, dia sedemikian rupa mengendalikan tenaga sentilannya sehingga ketika kelerengnya itu telah menghajar kelerengnya Ciu Pek Thong, tenaga sentilannya itu telah terkendali benar dengan tepat, dan jika kelereng Ciu Pek Thong yang hancur berantakan, justru kelerengnya Oey Yok Su yang tetap utuh….
Karena menderita kekalahan itu, akhirnya Ciu Pek Thong telah menoleh kepada isterinya Oey Yok Su, dia berkata.
"Enso Oey, sekarang aku akan berikan kitab mustikaku untuk kau lihat, tapi itu hanya untuk sebentar, dan sebelum menjelang malam kau harus telah mengembalikannya padaku!"
A Heng mengangguh beberapa kali sambil tersenyum girang dan mengucapkan terima kasih. Dan secara iseng-iseng Ciu Pek Thong juga telah menambahkan lagi.
"Bukankah kita tidak menetap-kan waktu mengenai pinjam meminjam kitab mustika ini? dan berapa lamanya kau akan membaca? Maka itu. jika memang kau sudah melihat semua atau belum, begitu menjelang malam, engkau harus mengembalikannya padaku kitab mustika itu!" 491 Ciu Pek Thong berkata begitu, karena dia kuatir nanti Oey Yok Su dan isterinya tidak sudi mengembalikan kitab pusaka Ciu Im Cin Keng padanya, bisa saja terjadi mereka akan meminjamnya selama sepuluh tahun atau seratus tehun lamanya. Karena kata-kata Ciu Pek Thong seperti itu, nyonya Oey telah berkata sambil tertawa.
"Ciu Toako, kau dijuluki Loo Boan Tong si bocah tua nakal, tapi kau tidak tolol! Bukankah kau kuatirkan aku nanti jadi seperti Lauw Pie yang meminjam kota Kengciu untuk selamanya? Baiklah, aku akan duduk disini, segera aku akan mengembalikannya begitu aku selesai membacanya, tidak usah sampai menjelang malam! Kau jangan kuatir, kau boleh duduk menantikannya!"
Apakah engkau bicara sungguh-sungguh, Enso Oey?"
Tanya Pek Thong dengan sorot mata tidak mempercayai.
A Heng mengangguk, dia mengiyakan.
Oey Yok Su melihat sikap Ciu Pek Thong jadi kurang senang, karena tampaknya Ciu Pek Thong tidak mau mempercayai perkataan isterinya, maka dia berkata.
"Pek Thong, apa yang dibilang isteriku putih tentu putih, dan engkau tidak perlu kuatir, karena kami tidak mungkin melanggar janji kami! atau engkau memang tidak memandang muka pada Tong Shia, sehingga engkau kuatir isterinya menipu kau?!"
Ciu Pek Thong menggeleng-gelengkan kepalanya beberapa kali, tapi dia diam saja, hanya tangannya yang merogoh sakunya, dia mengeluarkan kitab Ciu Im Sin Keng yang kemudian diberikan kepada A Heng.
Dengan membawa kitab itu, A Heng telah menuju kebawah sebatang pohon, diatas sebuah batu yang terdapat 492 dibawah pohon tersebut.
A Heng duduk dan mulai membolak-balik lembaran kitab tersebut.
Selama itu Oey Yok Su rupanya memperhatikan gerak-gerik Ciu Pek Thong.
Dia memperoleh kenyataan bahwa Loo Boan Thong tidak tenteram, dia seperti juga tengah digerayangi kutu-kutu dan juga sebentar menatap kepada A Heng, sejenak lagi melirik Oey Yok Su, kedua tangannyapun tidak bisa diam, gelisah sekali tampaknya.
Menyaksikan itu Oey yok Su tertawa sambil katanya.
"Pek Thong, dijaman sekarang ini ada berapa orangkah yang dapat mengalahkan kita berdua?!"
Ditanya seperti itu, Ciu Pek Thong jadi mengawasi dengan sorot mata yang tajam, tampaknya dia ragu-ragu, namun akhirnya Loo Boan Tong menyahuti juga.
"Yang dapat mengalahkan engkau belum tentu ada, tapi yang dapat mengalahkan aku terhitung kau sendiri ada empat aatau lima orang!"
Oey Yok Su tertawa.
"Kau terlalu mengangkat-angkat aku,"
Katanya.
"See Tok, Tong Shia, Lam Te dan Pak Kay, berempat mereka memiliki kepandaiannya sendiri-sendiri, mereka tidak dapat saling mengalahkan untuk memperoleh kemenangan. Jelasnya mereka memang berimbang. Auwyang Hong telah dirusak ilmu Ha Mo Kongnya oleh totokan Jari Telunjuk Matahari, dalam waktu sepuluh tahun tidak dapat ia lakukan sesuatu apapun juga terhadap kita. Di dunia Kangouw sudah tersiar kabar ada Thiat Ciang Sui Siang Piauw Kiu Cian Jin, tapi belum lama yang lalu aku telah merasakan tangan besinya dimana tidak ada artinya apa-apa, aku telah menghajar dia sampai angkat kaki….!"
"Apa?"
Tanya Ciu Pek Thong Kaget dan heran.
"Kau telah menghajar Kiu Cian Jin?" 493 Oey Yok Su tersenyum.
"Tong Shia selalu mengatakan apa yang se-benarnya. Atau memang engkau anggap aku telah mengibuli engkau?!"
Tanyanya.
"Hemm, memang dia coba mengganggu isteriku, waktu itu kami belum menikah, dan aku telah enghajarnya, sehingga dia bersama murid-muridnya telah angkat kali! Isteriku pun menyaksikan peristiwa itu! Loo Boan Tong, mengenai kepandaian ilmu silat yang engkau miliki, aku telah mengetahui dengan baik sekali, selain beberapa orang yang kusebutkan tadi, engkaulah yang nomor satu. Maka itu, jika kita bersatu, siapapun tidak bisa melawan kita berdua!"
Untuk perkataan Oey Yok Su seperti itu, Loo Boan Tong segera mengangguk dan jawbnya.
"Memang!"
"Maka dari itu, mengapa hatimu tidak tenteram? Dengan kita berdua berada disini, siapakan di kolong langit ini yang sanggup merampas kitab ini?!"
Ciu Pek Thong jadi bengong, dia mengawasi Oey Yok Su beberapa saat.
Namun akhirnya dia pikir memang yang dikatakan oleh Tong Shia memang benar, maka hatinya jadi agak lega.
Segera Ciu Pek Thong menoleh mengawasi A Heng, disaat mana sinyonya masih saja membalik-balikkan lembaran kitab.
Jelas dia membaca dari semula.
Mulutnya berkemak-kemik tidak henti-hentinya.
Melihat sikap dari nyonya itu, Ciu Pek Thong jadi merasa lucu sendiri.
Isi Kiu Im Cin Keng merupakan rahasia ilmu silat yang sulit dipahami, walaupun A Heng pandai ilmu surat, dengan dia tidak mengerti ilmu silat, tidak nantinya dia dapat 494 menangkap artinya.
Dia membaca dengan perlahan dan Ciu Pek Thong sendiri jadi tidak sabaran.
Ketika isteri Oey yok Su telah membaca habis halaman terakhir, Ciu Pek Thong beranggapan habislah sudan nyonya itu membacanya.
Siapa tahu, nyonya itu telah mengulanginya lagi dari halaman pertama pula.
Hanya kali ini dia membaca cepat sekali, boleh dikatakan hanya selama sepeminum teh saja, habislah sudah dia membaca kitab tersebut.
Sambil bangkit dan tertawa, Oey Hujin atau nyonya Oey itu telah mengembalikan kitab Kiu Im Cin Keng itu kepada Pek Thong dan dia berkata.
"Ciu Toako, kau telah kena diperdayai oleh See Tok, kitab ini bukannya Kiu Im Cin Keng!"
Perkataan A Heng bagaikan petir yang meledak ditepi telinga Ciu Pek Thong ssampi dia kaget bukan main.
"Kenapa bukan kitab Ciu Im Cin Keng?"
Tanya Pek Thong kemudian sambil mementang matanya lebar-lebar.
"Inilah kitab wrisan kakak seperguruanku, bukupun serupa macam. Nyonya Oey itu berkata sambil menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan.
"Apa gunanya jika memang keadaan yang serupa? Kitabmu ini merupa-kan kitab tenungannya situkang meramalkan!"
Ciu Pek Thong waktu itu jadi pucat, dia berdiri mengawsi Oey Hujin dengan mata yang mencilak-cilak, dia benar-benar diliputi keraguan yang sangat, sampai dia mau berpikir, apa mungkin Auwyang Hong telah menukarnya selama Ong Tiong Yang belum keluar dari peti mati?
Waktu itu Ciu Pek Thong benar-benar tengah diliputi oleh kebingungan dan ketidak-percayaan, namun perkataan nyonya Oey itupun tidak bisa begitu saja dipercaya olehnya.
Terlebih 495 lagi memang Pek Thong juga menyadari bahwa Oey Yok Su sangat licin dan cerdik sekali.
Rupanya A Heng melihat bahwa Ciu Pek Thong bersangsi, maka katanya.
"Ciu Toako, bagaimana bunyinya kitab Kiu Im Cin Keng yang tulen? Tahukah kau?!"
Ditanya seperti itu, Ciu Pek Thong tertegun lagi, akhirnya dia gelengkan kepalanya.
"Semenjak kitab Ciu Im Cin Keng ini berada ditangan suhengku, tidak pernah ada orang yang membacanya. Kakak seperguruankupun pernah memberitahukan, selama tujuh hari tujuh malam dia bergulat untuk mendapatkan kitab itu, maksudnya untuk menyingkirkan suatu akan dan bibit bencana besar bagi kaum rimba persilatan, sama sekali dia tidak pernah memikir untuk memilikinya sendiri. Maka dari itu, Ong Suheng telah berpesan kepada semua murid-murid Coan Cin Kauw, siapapun tidak boleh meyakinkan ilmu didalam kitab Ciu Im Cin Keng ini!"
Oey Hujin mengangguk perlahan, dia telah menghela nafas dan barulah katanya.
"Ong Cinjin demikian jujur, dia mendatangkan hormat siapapun juga. Hanya saja disebabkan kejujurannya itulah, maka ia telah kena diperdayai orang, Ciu Toako, coba kau periksa kitab itu!"
Ciu Pek Thong tambah bimbang dan bersangsi, tapi mengingat pesan kakak seperguruannya, dia tidak jadi berani memeriksan kitab tersebut. Dia menggeleng perlahan.
"Aku tidak boleh melihat kitab ini, karena Ong Suheng telah berpesan kepadaku agar murid-murid Coan Cin Kauw, termasuk aku tidak boleh melihat atau mempelajari kitab Ciu im Cin Keng ini. jika memang aku melihatnya, walaupun 496 hanya sekelebatan saja, jelas aku akan segera mengerti dan selanjutnya sulit pula untuk ingatan terhadap jurus-jurus yang telah kulihat itu untuk dilenyapkan! Karena dari itu aku tidak mau melihatnya….!"
A Heng tidak tersinggung oleh sikap Loo Boan Tong, malah dia tertawa. Kemudian katanya.
"Itulah kitab ramalan yang terdapat dimana-mana di wilayah kanglam,"
Dan nyonya Oey telah menghela nafas.
"Kitab itu harganya tidak setengah peser juga! Lagi pula. Seandainya memang itu adalah kitab Kiu Im Cin Keng yang tulen dan kau tidak ingin mempelajarinya, jika hanya engkau melihat sepintas saja, apakah halangannya?"
Ciu Pek Thong jadi terdesak, terlebih pula dia tengan penasaran A Heng telah mengatakan bahwa kitab Kiu Im Cin Keng itu adalah kitab amalan yang tidak ada harganya setengah peser juga dan banyak ada diwilayah kanglam juga.
Tentu saja urusan ini bukan urusan sembarangan, dan Pek Thong juga mengetahui, walaupun bagaimana dia harus mem-buktikannya, untuk mengetahui apakah perkataan nyonya Oey itu memang hanya bergura belaka atau memang sungguh-sungguh.
Akhirnya Ciu Pek Thong membalik-balik kitab itu, dia melihat sepintas.
Dilihatnya, dikitab terdapat berbagai pelajaran ilmu silat serta rahasiana, sama sekali bukan buku ramalan atau peta-petaan.
Waktu Ciu Pek Thong tengah memeriksa, nyonya Oey telah berkata.
"Kitab itu telah kubaca habis semenjak aku berusia lima tahun, aku telah dapat membacanya diluar kepala dari permulaan sampai diakhirnya, semua anak-anak di kanglam, dalam sepuluh orang, sembilan sudah pernah bersekolah, jika kau tidak percaya, mari aku membacanya diluar kepala untuk kau dengar!" 497 Ciu Pek Thong memandang ragu-ragu pada Oey hujin, namun setelah melirik pada Oey Yok Su yang waktu itu tengah berdiri tersenyum-senyum memandang padanya, Ciu Pek Thong mengangguk.
"Baiklah, aku akan mendengarkannya!"
Kata Ciu Pek Thong.
Sedangkan A Heng benar-benar mulai membaca dari permulaan sampai diakhir dari kitab tersebut, bunyinya tepat dan tidak ada yang salah sepatah katapun juga, diapun telah membacanya dengan lancar.
Ciu Pek Thong selama A Heng menghafal seperti itu telah mengawasi kitab Kiu Im Cin Keng, memperbandingkan bacaan Oey Hujin dengan bunyi-nya kitab Kiu Im Cin Keng, dan waktu dia mendengar Oey Hujin membacakan sepatah demi sepatah tanpa ada huruf-huruf yang salah atau tertinggal, semuanya tepat sekali seperti bunyi huruf-huruf didalam kitab itu, ciu Pek Thong merasakan tubuhnya ringan, mukanya pucat, keringat dingin telah membanjir keluar membasahi tubuhnya.
Selesai membaca kitab Kiu Im Cin Keng itu sampai habis yang menurut Oey Hujin merupakan kitab ramalan, nyonya tersebut tertawa, dia berkata.
"Ciu Toako, halaman yang mana saja kau cabut dan tanyakan asal kau menyebutkan kalimat yang pertama, aku dapat membacanya diluar kepala. Buku itu yang telah dibaca sejak masih kecil, sampai tua juga aku tak pernah melupakannya…!"
Ciu Pek Thong menjadi penasaran bukan main, dia telah mencobanya, karenanya dia telah uji nyonya itu beberapa kali.
Benar-benar mengejutkan dan membuat Pek Thong takjub.
Karena dengan lancar tanpa ada sepatah katapun yang salah, 498 Oey Hujin selalu dapat menghafal diluar kepala setiap halaman dan bagian yang dikehendaki oleh Pek Thong.
Semuanya tepat,dan tubuh Pek Thong semakin dingin dengan muka yang semakin pucat pias.
Waktu itu Oey Yok Su telah tertawa terbahak-bahak.
Bukan main mendongkolnya Ciu Pek Thong.
Dia sampai mengomel panjang pendek sambil merobek-robek kitab itu, terus ia membakarnya sampai hangus dan abynya kertas dari kitab itu telah beterbangan naik keatas udara terbawa siliran angin.
Disaat Ciu Pek Thong tengah uring-uringan seperti itu, Oey Yok Su dan istrinya hanya mengawasi saja tingkah laku Loo Boan Tong, mereka hanya tersenyum-senyum.
Setelah kitab kiu Im Cin Keng itu dibakar oleh Ciu Pek Thong, barulah Oey Yok Su berkata padanya.
"Loo Boan Tong, tidak perlu kau mengambul seperti itu dengan tabiat bocahmu. Nah ini adalah baju lapisku yang berduri, mustika dari Tho Hoa To, aku hadiahkan padamu!"
Ciu Pek Thong sama sekali tidak menginsyafi bahwa dirinya sesungguhnya telah dikibuli oleh pasangan suami isteri itu.
Dia tidak menduga bahwa Aheng telah mendustainya.
Kitab yang dibakar oleh Ciu Pek Thong sesungguhnya memang kitab Kiu Im Cin Keng yang tulen.
Dan apa yang telah dihafal oleh A Heng merupakan bunyinya Kiu Im Cin Keng yang tulen, jadi bukan ilmu pedang atau ilmu meramal seperti yang diutarakan A Heng.
Hanya saja, memang tidak masuk diakal, hanya dalam sekali melihat saja, kemudian juga melihat selintasan lagi Aheng telah dapat menghafal bunyinya kitab Kiu Im Cin Keng 499 tersebut.
Dan memang seperti telah disinggung dibagian depan dari kisah ini bahwa A Heng memiliki otak yang terang sekali, yang tidak dimiliki oleh orang lain, suatu keistimewaan yang sulit dijumpai pada manusia lainnya.
Otaknya demikian encer, waktu dia telah membaca Ciu Im Cin Keng, maka semua bunyinya seperti telah tercetak diotaknya, dan selanjutnya A Heng akan mengingat-nya dengan baik.
Itulah sebabnya mengapa A Heng justeru sekali melihat Kiu Im Cin Keng, dia telah bisa menghafalnya kembali.
Justeru karena telah meng-akali Ciu Pe Thong, untuk selanjutnya yang me-ngetahui prihal Kiu Im Cin Keng hanya dia seorang diri belaka.
Oey Yok Su telah mengangusrkan baju wasiatnya, katanya.
"Sudahlah Loo Boan Tong, kau ambillah baju wasiat ini sebagai hadiah untukmu!"
Akan tetapi Ciu Pek Thong menggeleng, dia menola pemberian Oey Yok Su.
"Tidak! tidak! aku tidak menghendaki barangmu!"
Katanya dengan muka yang masam. Diapun telah menoleh kepada Oey hujin, katanya dengan suara yang masih mengandung kemendongkolan.
"Biarlah kita berpisah disini saja!"
Setelah berkata begitu, tanpa menoleh lagi kepada Oey Yok Su dan tanpa pamitan dia telah memutar tubuhnya dan pergi dari tempat tersebut.
Oey Yok Su tersenyum, A Heng pun tersenyum sambil melirik kepada suaminya.
Sambil bergandengan tangan suami isteri ini telah melangkah perlahan-lahandengan mesra.
**** 500 CIU PEK THONG yang tengah urung-uringan telah berlari cepat sekali bagaikan bayangan belaka, dia tidak menoleh kekiri dan kekanan, hanya melesat kedepan dengan pesat sekali.
Pikiran Loo Boan Tong waktu itu tengah diliputi penasaran mendongkol, karena tidak habis mengerti, kenapa Kiu Im Cin Keng yang diwarisi dari suhengnya , yang dipandang sebagai barang yang sangat keramat dan berharga sekali, ternyata tidak lebih hanya se
Jilid kitab petang-petangan belaka.
Setelah berlari-lari lagi sekian lama, akhirnya Ciu Pek Thong berhenti didekat sebuah tikungan dikaki sebuah bukit, keadaan ditempat itu sepi sekali.
Dengan jengkel Ciu Pek Thong duduk dibawah sebatang pohon dan merenungi dirinya beberapa saat lamanya dan juga menghela nafas tidak hentinya.
Angin yang berhembus dengan silirnya yang sejuk, agak menenangkan hatinya.
Sibocah tua bangka itu telah mengerutkan alisnya, dia mengawasi kelangit.
"Suheng! Suheng!"
Katanya dengan suara menggumam.
"Jika saja kau masih hidup, tentunya kaupun akan penasaran sekali mengetahui kitab Kiu Im Cin Keng yang begitu kau agungkan ternyata tidak lain pula dari se
Jilid kitab petang-petangan belaka! Hai, mengapa bisa terjadi seperti ini?!"
Sedang Ciu Pek Thong mengeluh seperti itu, justeru dia teringat sesuatu. 501 Sambil mengeluarkan seruan tertahan Ciu Pek Thong telah melompat berdiri sambil menepuk-nepuk pahanya.
"Benar, mengapa aku tidak berpikir lebih tenang? Pasti! Pasti! Memang semua ini permainan busuknya …...!"
Mengguman Ciu Pek Thong.
Dan setelah mengguman seperti itu Ciu Pek Thong seperti baru tersadar, dia telah berlari-lari lagi dengan pesat, dia telah berlari-lari lagi dengan pesat, dia kembali dari arah mana tadi mendatangi, ketempat dimana dia bertemu dengan Oey Yok Su dan A Heng.
Akan tetapi waktu Ciu Pek Thong tiba di tempat tersebut, ternyata Oey Yok Su dan A Heng sudah tidak terlihat bayangannya lagi.
Beberapa saat lamanya Ciu Pek Thong telah berlari-lari mengelilingi sekitar tempat tersebut dan tetap sja dia tida berhasil menemui orang yang dicarinya.
Akhirnya dengan lesu Ciu Pek Thong berulangkali mengutuki dirinya.
"Ini merupakan kesalahanku juga! Hai-hai! Jika saja apa yang kuduga itu benar, tentu kelak di akherat Suheng aka memarahiku habis-habisan!"
Rupanya Ciu Pek Thong setelah agak tenang sedikit dapat berpikir lebih jauh.
Dia jadi teringat kemungkinan bahwa A Heng mendustainya dan semua itu atas petunjuk yang diberikan oleh Oey Yok Su kepada isterinya.
Akan tetapi yang membuat dia jadi menyesal mengapa dia keburu nafsu mengumbar adat, dimana dia telah merobek-robek kitab Kui Im Cin Keng dan membakarnya.
Bukankan kterangan Oey hujin belum lagi bisa dipercaya sepenuhnya?
502 Penyesalah yang timbul dihati Ciu Pek Thong membuat dia tambah uring-uringan.
Dia memaki pulang pergi sambil sebentar-sebentar memukul kepalanya.
**** Sambil melangkah perlahan-lahan meninggalkan tempat tersebut, Ciu Pek Thong berulang kali telah mengutuki dirinya sendiri, dan tidak jarang juga dia menekuk kedua kakinya berlutut sambil memanggut-manggutkan kepalanya, ia berseru-seru.
"Suheng, maaf, Sutemu yang ceroboh ini, janganlah kau memarhiku, karena memang aku sangat bodoh, telah diakali begitu mudah oleh Oey Loo Shia si tua bangka itu!"
Sedang Ciu Pek Thong berjalan seorang diri, tiba-tiba pendengarannya yang tajam telah mendengar suara berkesyuran yang aneh, yang bukan merupakan desiran angin biasa.
Sebagai seorang yang memiliki kepandaian yang tinggi, segera Ciu Pek Thong menyadari bahwa kesyuran angin tersebut merupakan seorang tengah mengadakan latihan silat ditempat yang tidak begitu jauh.
Ciu Pek Thong telah menoleh kekiri dan kekanan, dia tidak melihat manusia seorangpun juga.
Dasarnya memang Loo Boan Tong, dia nakal dan selalu penasaran kalau sesuatu belum lagi bisa dipecahkan dan diketahui olehnya, maka dia memasang teling baik-baik, dia memperhatikan darimana datangnya suara kesyuran angin tersebut, yang ternyata dari arah selatan.
Secepat kilat tubuhnya telah melesat kearah selatan, dan sejenak dia melupakan kemendongkolan dan penyesalan hati 503 karena dia tertarik sekali ingin mengetahui entah siapa orang yang tengah berlatih diri itu.
Setelah berlari-lari sekian lama, Ciu Pek Thong tiba didepan sebuah hutan.
Tanpa berpikir panjang, bocah tua bangka yang nakal melesat masuk ke hutan itu.
Karena ginkang yang dimilikinya telah mencapai tingkat yang sangat tinggi, langkah kakinya tidak terdengar dan dia dapat memasuki hutan itu dengan mudah.
Dan diapun telah menempatkan dirinya dicabang sebuah pohon yang tumbuh tinggi.
Dari tempat persembunyiannya itu Ciu Pek Thong dapat melihat sekitarnya.
Ternyata terpisah tidak jauh dari tempatnya berada, diantara gerombolan pohon bunga, tampak seorang wnita berumur sekitar tigapuluh tahun tengah berlatih silat dengan gerakan-gerakan yang sangat lambat sekali.
Akan tetapi yang membuat Ciu Pek Thong tertarik dan heran, tenaga dalam dari wanita tersebut sangat kuat.
Setiap kali dia menggerakkan tangannya, maka berkesyuran angin yang sangat kuat sekali.
Ciu Pek Thong mementang matanya, hatinya berdenyut-denyut tertarik.
Dia tertarik bukan disebabkan wajah wanita itu yang memang cukup cantik dan bentuk tubuhnya menggiurkan, akan tetapi justeru Siu Pek Thong tertarik akan ilmu wanita tersebut yang tengah dilatihnya dengan cara yang luar biasa seperti itu.
Setalah mengawasi sekian lama, akhirnya Ciu Pek Thong tidak bisa menahan diri, sebab dia merasakan hatinya seperti 504 juga diklitik tidak hentinya, tahu-tahu dia nyeletuk.
"Jika memang disertai kekuatan tenaga "Im‟ tentu akan bertambah hebat lagi!"
Wanita yang tengah berlatih itu terperanjat, dia sampai berhenti berlatih dengan segera. Bola matanya yang celi itu mencilap menoleh kepada Ciu Pek Thong, mukanya merah karena gusar.
"Siapa kau, dan apa maksudmu mencuri lihat latihanku?!"
Bentak wanita itu.
Dia rupanya bukan hanya membentak saja, sebab cepat dan sebat sekali, tangan kanannya telah digerakkan menghantam kepada Ciu Pek Thong.
Gerakan yang dilakukannya itu benar sangat luar biasa, karena begitu dia menyerang, seketika menyambar angin serangan yang berkesyuran sangat dahsyat, yang lebih luar biasa lagi justru pohon dimana Ciu Pek Thong tengah bersembunyi telah bergoyang-goyang bagaikan dihantam badai.
Ciu Pek Thong tertawa cekikikan girang, dia melompat ke pohon yang lainnya.
Karena wanita itu menyerangnya, malah Ciu Pek Thong terbangun kegembiraannya.
Hanya saja wanita tersebut jadi tambah penasaran melihat serangannya itu tak memberikan hasil.
Dia membentak nyaring lagi dibarengi dengan gerakan kedua tangannya, maka berkesyuranlah angin yang sangat hebat, sehingga setiap kali Pek Thong melompat ke pohon lainnya, maka serangan wanita itu tiba dengan segera.
505 Terakhir Ciu Pek Thong justeru telah me-ngelakkan serangan wanit itu dengan cara tidak menyingkir ke pohon lainnya, dia justru melompat turun sambil tertawa tidak hentinya.
"Sungguh menggembirakan! Apakah hujin ber-sedia main-main beberapa jurus denganku?"
Tanya Ciu Pek Thong.
Bola mata wanita tersebut mencilak-cilak tidak hentinya, dia telah menperdengarkan suara men-dengus, tahu tahu tanpa menjawab, tangan kanannya telah digerakkan menghantam lagi.
Ciau Pek Tong tidak berkelit, dia telah mengangkat tangan kirinya.
Aneh, tenaga serangan wanita tersebut yang demikian kuat ternyata seperti juga telah ditangkis oleh sesuatu kekuatan yang membuat tenaga itu punah dengan sendirinya.
Wanita tersebut mengeluarkan seruan kaget dan heran waktu merasakan betapa tenaga serangannya seperti punah tidak dapat mengenai sasarannya, diapun sangat penasaran sekali, karenanya dia telah berseru dan menyerang lagi.
Kali ini serangan yang dilakukan lebih hebat, karenanya sekarang dia mengetahui bahwa Ciu Pek Thong bukan orang sembarangan dan memiliki kepandaian yang tinggi.
Akan tetapi Ciu Pek Thong tetapp berdiri tenang-tenang ditempatnya sambil tertawa-tawa.
Ketika angin serangan itu menyambar tiba, justru Ciu Pek Thong mengangkat tangannya lagi, dan kekuatan tenaga serangan dari wanita itu telah lenyap pula.
506 Berulangkali wanita tersebut mencoba menyerang Ciu Pek Thong, akan tetapi Ciu Pek Thong selalu dapat memunahkan tenaga serangannya.
Setelah terakhir kalinya wanita itu tetap gagal dengan serangannya, walaupun dia telah mempergunakan seluruh kekuatan Iwekang yang dimilikinya, wanita tersebut mengeluarkan seruan tertahan, mendadak sekali ia menekuk kedua kakinya berlutut dihadapan Ciu Pek Thong.
"Tentunya Lojinke (kau orang tua) adalah dew yang turun dari kerajaan langit."
Berseru wanita itu.
"Terimalah hormat Siauwlie.!"
Melihat wanita itu berhenti menyerang, bahkan berlutut dihadapannya, membuat Ciu Pek Thong kaget tidak terkira.
"Eh, eh, mengapa begitu? Ayo bangun! ayo bangun! Teriaknya sambil meloncat menyingkir. Akan tetapi wanita tersebut telah merubah kedudukan dirinya, dia tetap berlutut menghadap Ciu Pek Thong. Dan Loo Boan Tong sendiri jadi tambah kelabakan, karena dia gugup bukan main, dan setelah berteriak-teriak agar wanit itu tidak berlutut terus dihadapannya. Sedangkan wanita itu tetap berlutut sambil berkata dengan suara yang terus meneerus seperti minta dikasihani dan minta agar dirinya diterima sebagai murid. Ciu Pek Thong jadi melompat kesana kemari tidak hentinya, dan diapun sambil berseru-seru sambil berteriak.
"Ayo bangun! Aku bukan dewa. Ayo bangun! Aku manusia biasa!" 507
"Dewa yang baik hati, tentu kau turun ke dunia dengan maksud menolongku bukan?"
Tanya wanita itu sambil terus berlutut dan mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Aku bukan dewa…. ayo bangun! ayo bangun! teriak Ciu Pek Thong kelabakan dan melompat kesana kemari tiada hentinya. Akan tetapi wanita tersebut tetap berlutut.
"Jika memang dewa tidak mau menerimaku menjadi muridmu, aku tidak akan bangun selamanya!"
Kata wanita tersebut.
"Siauwlie she Tiang dan bernama Kie Giok!"
"Aku bukan Dewa! aduh, bagaimana aku dapat menjelaskan kepadamu, bahwa aku bukan dewa!"
Teriak Ciu Pek Thong tambah gugup saja. Waktu itulah terlihat betapa wanita itu menangis sambil mengangguk-angguk.
"Sesungguhnya Siauwlie tengah dalam kesulitan, dimana seluruh keluarga Siauwlie telah dibinasakan oleh musuh Siauwlie dan Siauwlie tengah berlatih diri untuk meyakinkan ilmu luar biasa! Akan tetapi justeru sekarang Thian berkasihan kepada Siauwlie dan telah mengirim dewa untuk menemui Siauwli, dan menolong Siauwlie dari kesulitan yang ada!"
Melihat wanita itu menangis, Ciau Pek Thong jadi tambah sibuk dan bingung.
"Jangan menangis, jangan menangis anak manis!"
Teriak Ciu Pek Thong sambil menghampiri dan telah mengulurkan tangannya buat mengangkat tubuh wanita tersebut.
Ciu Pek Thong memang tidak pernah mengikuti adat peradatan, juga istiadat antara pria dan wanita, karena dari itu 508 tidak segan-segan dalam keadaan gugup seperti itu dia telah memegang kedua lengan wanita itu dan mengangkatnya.
Wanita itu, Tiang kie Giok, telah berlutut terus, sambil menangis dalam posisi berlutut, walaupun tubuhnya telah diangkat oleh Ciu Pek Thong.
Melihat sikap wanita tersebut, Ciu Pek Thong tambah gugup.
"Jika memang engkau tidak mau berdiri, bagaimana kita dapat bicara baik-baik?!"
Tanyanya dengan sibuk. Wanita tersebut telah mengangkat kepalanya, tubuhnya masih terapung ditengah udara tergantung oleh cekalan Ciu Pek Thong, lalu dia berkata.
"Dewa yang baik hati, apa saja perintah darimu, tentu akan kupatuhi…. berikanlah petunjuk dan juga tolonglah aku dari penderitaan ini dengan menerima Siauwlie menjadi muridmu….. tolonglah aku dewa….!"
"Ya, kau berdirilah, aku akan menolongmu!"
Kata Ciu Pek Thong yang telah kewalahan.
Coba wanita itu tidak menangis, tentu Ciu Pek Thong akan meninggalkannya dengan ginkangnya yang tinggi.
Jika memang Ciu Pek Thong mempergunakan ginkangnya buat mengelakkan diri dari wanita tersebut, jangan harap wanita tersebut dapat mengejarnya.
Akan tetapi justru wanita itu tengah menangis, membuat Ciu Pek Thong tidak sampai hati meninggalkannya.
Wanita itu masih menangis terus, dia telah berdiri.
"Kau dengarlak baik-baik, aku bukan dewa sperti yang kau katakan tadi, aku Loo Boan Tong!" 509
"Loo Boan Tong?!"
Tanya wanita tersebut sambil mementang matanya lebar-lebar. Tampaknya dia tertegun heran, karena lucu sekali gelaran orang ini, si bocah tua bangka yang nakal. Ciu Pek Thong mengangguk.
"Benar, memang gelaranku Loo Boan Tong, semua orang dalam rimba persilatan memanggilku dengan sebutan seperti itu!"
Menyahut Ciu Pek Thong.
"Apakah …. apakah memang benar Lojinke bukan seorang dewa?!"
Tanya wanita tersebut. Ciu Pek Thong menggeleng.
"Sejak tadi telah kukatakan bahwa kau bukan dewa, aku Loo Boan Tong!"
"Kalau begitu….. kalau begitu…., sia-sia saja harapanku!"
Menangis wanita itu dan tiba-tiba saja telah duduk numprah, tangisnya semakin keras. Melihat wanita itu menangis, Ciu Pek Thong. Ciu Pek Thong tambah sibuk bukan main.
"Ini…… kau jangan menangis, aku akan membantumu jika memang kau mempunyai kesulitan! Aku memang bukan dewa, akan tetapi aku bisa membantumu!"
Dan berulangkali Ciu Pek Thong telah membujuknya.
Namun wanita terus juga menangis tidak mau berhenti membuat Ciu Pek Thong sibuk sekali menghiburnya.
Akan tetapi karena wanita itu masih juga menangis, walaupun telah dibujuk terus menerus oleh Ciu Pek Thong habis sabar, katanya.
"Baiklah, kau menangislah terus, biar 510 yang kau keluarkan adalah air mata darah!"
Dan setelah berkata begitu, Ciu Pek Thong memutar tubuhnya buat berlalu.
"Oh, tunggu dulu Lojinke…. maafkan Siauwlie telah menggusarkan hati dan perasaanmu!"
Teriak Tiang Kie Giok. Ciau Pek Thong menahan langkah kakinya.
"Apakah kau masih mau menangis?"
Tanya Ciu Pek Thong sambil mengawasi wanita itu. Tiang Kie Giok menggeleng.
"Tidak!"
Sahutnya sambil menghapus air matanya.
"Bagus!"
Kata Ciu Pek Thong.
"Memang kau tidak boleh menangis lagi!"
"Tetapi….. tetapi Lojinke….."
"Tetapi kenapa?"
Loo Boan Tong membuka matanya lebar-lebar.
"Aku sedang bersedih…..!"
"Sedih? Ayo menangis lagi!"
"Tadi lojinke perintahkan tidak boleh menangis lagi!"
Kata Tiang Kie Giok.
"Tetapi jika memang menar-benar kau tengah bersedih, ayo menangislah!"
Benar-benar Tiang Kie Giok menangis. Ciu Pek Thong duduk bengong memandangi Tiang Kie Giok yang sedang menangis. **** 511
Jilid 14 (TAMAT) WAKTU ITU terlihat Tiang Kie Giok seringkali melirik dan melihat Ciu Pek Thong tengah mengawasi dirinya dengan sikap bengong dan bloon seperti itu, muka si wanita itu jadi berobah merah karena dia merasa malu.
Tiba-tiba sekali tanpa diduga oleh Ciu Pek Thong, Tiang Kie Giok telah menubruk dan merangkul Ciu Pek Thong, dengan rangkulannya sangat kuat sekali.
"Lojinke….. tolonglah aku…… jika memang kesulita Siauwli dapat diselesaikan, apa saja perintan Lojinke akan Siauwli turuti…… dan juga….. tubuh dan diri Siauwli akan menjadi milik Lojinke!"
Mendengar itu, Ciu Pek Thong kelabakan, lebih-lebih wanita itu telah merangkul kuat-kuat.
"Eh, eh, mana boleh begini, ayo lepasan rangkulanmu, teriak Ciu Pek Thong, bahkan dia juga telah meronta. Akan tetapi dia tidak berhasil melepaskan diri dari rangkulan Tiang Kie Giok, sebab wanita ini telah merangkul terus dengan ketat. Karena kebingungan, Ciu Pek Thong talah mendorong agar si gadis melepaskan rangkulannya. Apa lacur justru tangan Ciu Pek Thong mendorong dada wanita itu, sehingga dia mendorong sesuatu yang lunak. 512 Bagaikan disengat kalajengking Ci Pek Thong menarik pulang tangannya dan berseru kaget. Sedangkan Tiang Kie Giok tetap merangkul dengan ketat, katanya.
"Jika memang Lojinke tidak mau menerima Siauwlie menjadi muridmu, biarlah Siauwlie akan merangkul terus!"
Mendengar ancaman seperti itu, Ciu Pek Thong telah kelabakan dan gugup.
"Ayo lepaskan dulu, nanti kita bicara secara baik-baik!"
Teriak Ciu Pek Thong.
"Tidak!"
"apanya yang tidak?!"
"Siauwlie tidak akan melepaskannya!"
"Ayo lepaskan!"
"Tidak!"
"Oh Thian, bagaimana ini?!"
"Jika memang Lojinke mau menerima Siauwlie menjadi murid Lojinke, barulah Siauwlie akan melepaskan rangkulan ini!"
Kata Tiang Kie Giok.
"Soal pengangkatan guru dengan murid dapat dibicarakan nanti!"
Kata Ciu Pek Thong kelabakan.
"Tidak! sekarang juga Lojinke harus berjanji akan menerima Siauwlie menjadi murid Lojinke!"
"Mana bisa begitu?!"
"Jika Lojinke mau tentu bisa saja!"
Menyahuti Tiang Kie Giok. 513
"Akan tetapi aku tidak bisa menerima murid secara sembarangan seperti ini!"
Teriak Ciu Pek Thong.
"Apakah Lojinke malu mempunyai murid seperti aku?!"
Tanya Tiang Kie Giok.
"Tetapi itu bisa dibicarakan nanti saja!"
"Siauwlie ingin sekarang Lojinke memutuskannya!"
Bersikeras Tiang Kie Giok. Malah wnita ini tidak segan-segan lagi menciumi Ciu Pek Thong, sedangkan rangkulannya semakin keras. Ciu Pek Thong semakin kelabakan.
"Lepaskan! Lepaskan….!"
"Tidak! jika memang Lojinke belum berjanji akan menerima Siaulie menjadi nurid Lojinke, biarlah Siauwlie memeluk terus!"
"Oh…..aku….aku…."
"Lojinke bersedia menerima Siauwlie menjadi murid Lojinke bukan?!"
"Tidak! mana bisa begitu? Kau dengan demikian sama saja memaksaku!"
"Bukan memaksa, hanya meminta kerelaan Lojinke agar au menerima Siauwlie menjadi murid Lojinke!"
"Tidak….jika hanya menurunkan beberapa jurus kepandaian aku bersedia!"
Teriak Ciu Pek Thong. Mendengar perkataan Ciu Pek Thong yang terakhir, Tiang Kie Giok jadi girang.
"Begitu juga boleh!"
Katanya. 514
"Ayo lepaskan!"
Teriak Ciu Pe Thong. Tiang Kie Gie melepaskan rangkulannya. Ciu Pek Thong menghela nafas dalam-dalam sambil menyeka keringat dingin dan juga telah menepuk-nepuk keningnya.
"Celaka! Benar-benar celaka!"
Menggerutu Loo Boan Tong.
"Kenapa Suhu?!"
Tanya Kiang Kie Giok. Ciu Pek Thong tersentak kaget.
"Kau…… memanggilku Suhu?!"
Tanyanya tergagap.
"Ya, bukankah tadi Suhu telah berjanji akan mengajari aku beberapa jurus?!"
"Bukan menjadi gurumu, hanya menurunkan beberapa jurus saja!"
"Begitupun boleh!"
"Akhh, kau nakal!"
Tiang Kie Giok tersenyum.
Diapun telah membungkukkan tubuhnya memberi hormat kepada Ciu Pek Thong.
Akan tetapi Ciu Pek Thong telah menghindarkan diri dari pemberian hormat tersebut.
Tiang Kie Giok memutar tubuhnya kembali, diapun memberi hormat.
"Jangan pakai peradatan, kita bersahabat saja!"
Kata Ciu Pek Thong. 515
"Baik! baik! Lojinke!"
"Kau jangan memanggilku dengan sebutan Lojinke lagi!"
Kata Ciu Pek Thong.
"Kenapa?"
Tanya Tiang Kie Giok.
"Yang terpenting aku tidak mau kau memanggilku dengan sebutan Lojinke!"
"Lalu harus mempergunakan panggilan apa?"
Tanya Tiang Kie Giok heran dan merasa lucu.
"Cukup kau memanggil dengan sebutan Loo Boan Tong saja, menyahuti Ciu Pek Thong. Wanita itu tertawa.
"Kenapa tertawa?"
Tanya Ciu Pek Thong cemberut tidak senang melihat Tiang Kie Giok tertawa seperti itu.
"Lucu!"
Menyahut Tiang Kie Giok.
"Lucu!"
Apanya yang lucu?!"
"Gelaran lojinke!"
"Nah kau memanggil dengan sebutan Lojinke lagi!"
Kata Ciu Pek Thong. Tiang Kie Giok tertawa geli. Mengapa Lojinke takut dipanggil dengan sebutan Lojinke?"
Tanyanya.
"Bukan, bukan! Tetapi semua sahabatku memanggil dengan sebutan Loo Boan Tong dan kau boleh memanggilku begitu juga!"
Kata Ciu Pek Thong.
"Baiklah jika begitu!" 516 Diwaktu itu tampak jelas betapapun Ciu Pek Thong masih memiliki sifat kekanak-kanakannya, dan dalam kejengkelan karena nyonya Oey Yok Su mengatakan kitab Kiu Im Cin Keng itu palsu, maka dia telah menemui seorang kawan buat bermain-main, kegembiraannya jadi terbangun lagi.
"Ayo Loo Boan Tong, kau ajarkan aku ilmu silatmu!"
Kata Tiang Kie Giok tidak sabar.
"Tunggu dulu……kau ceritakan dulu mengapa kau berlatih diri disini seorang diri?!"
Tanya Ciu Pek Thong.
"Keluargaku telah dibinasakan oleh musuhku!"
"Mengapa begitu?"
"Karena semula musuhku itu ingin melamarku untuk mejnadi isterinya, akan tetapi lamarannya ditolak ayah, dan aku telah menikah dengan orang lain. Musuhku itu menaruh dendam dan akhirnya membinasakan seluruh keluargaku dengan main keroyok, sedangkan aku berhasil bisa meloloskan diri dari tangan mereka, sehingga kau berlatih keras ilmu yang pernah diwariskan ayahku!"
"jadi kau mempelajari ilmu silat hanya sekedar buat membalas sakit hati?"
"Ya!"
"Jika begitu, tidak bagus!"
"Apanya yang tidak bagus?"
"Tidak bisa aku mewariskan kepandaianku, karena kelak engkau bisa mempergunakan kepandaian tersebut buat membinasakan orang lain!"
"Kalau begitu, engkau ingkar janji, Loo Boan Tong!"
Teriak Tiang Kie Giok. Ciu Pek Thong jadi agak bingung, dia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Kita atur begini saja….!"
Katanya kemudian.
"Jika memang kau mau berjanji tidak akan mempergunakan kepandaianku itu buat menuntut balas dendam, aku bersedia menurunkan beberapa macam kepandaianku!"
Tiang Kie Giok tertawa.
"Baiklah aku berjanji tidak akan mempergunakan ilmu yang diturunkan Loo Boan Tong buat menuntut balas!"
"Bagus! Jika begitu, aku bersedia menurunkan beberapa kepandaianku!"
Setelah berkata begitu, Ciu Pek Thong memandang sekelilingnya, dan akhirnya dia berkata.
"Tempat ini memang sangat baik buat latihan! Nah sekarang kau bersilatlah, biar aku lihat sampai seberapa tinggi kepandaian yang kau miliki!"
Tiang Kie Giok pun gembira sekali, dengan bersemangat dia telah mulai bersilat. Dari jurus pertama sampai jurus terakhir, Tiang Kie Giok bersilat sangat baik sekali.
"Menurut pengelihatanku, kepandaian yang kau miliki sudah cukup tinggi!"
Kata Ciu Pek Thong.
"Apakah mungkin musuhmu itu memiliki kepandaian yang lebih tinggi lagi?!"
"Ya!"
Menyahuti Tiang Kie Giok.
Ciu Pek Thong mengerutkan alisnya, dia berpikir beberapa saat, kemudian dia menurunkan belasan jurus buat Tiang Kie Giok dan kemudian diperintahkannya Tiang Kie Giok untuk melatihnya.
518 Akan tetapi waktu Tiang Kie Giok akan berlatih terdengar langkah kaki yang perlahan sekali.
Ciu Pek thong memiliki pendengaran yang tajam sekali, dia segera dapat mendengar suara langkah kaki itu.
"Ssttt, ada orang datang!"
Bisik Ciu Pek Thong, dan dia melesat kearah datangnya suara langkah kaki itu.
Tiang Kie Giok kagum sekali melihat kegesitan dan ketajaman pendengaran Ciu Pek Thong.
Waktu itu tampak jelas, betapapun memang Ciu Pek Thong liehay sekali.
Karena belum lagi ia hinggap ditanah, sepasang tangannya telah digerakkan, dia menghantam kedepannya.
"Wuutt!"
Terdengar berkesyuran angin yang kuat sekali.
"Bukk!"
Terdengar suara benturan yang keras, rupanya orang yang didepan itu, yang terlindung oleh gerombolan pohon bunga telah menangkis serangan tersebut, sehingga menimbulkan suara benturan yang sangat keras itu.
Dan yang membuat Ciu Pek Thong terkejut, orang yang menangkis serangan itu tidak terpental.
Jurus yang dipergunakan oleh Ciu Pek Thong sebenarnya merupakan salah satu jurus penyerangan yang mengandung kekuatan tenaga dalam dasyat sekali, dengan demikian biasanya seorang yang memiliki kepandaian tanggung-tanggung tentu akan terpental rubuh olehnya.
Akan tetapi justru orang itu dapat menangkisnya dan tidak terpental.
519 Ciu Pek Thong mementang matanya lebar-lebar.
Dan dia melihat dibalik semak-semak belukar itu sesosok tubuh melangkah mendekati.
Dialah seorang laki-laki dengan tubuh yang kecil dan pendek sekali.
Dilihat sepintas lalu, dia seperti seorang anak kecil berusia sembilan atau sepuluh tahun.
Hanya saja wajah orang bertubuh pendek kecil itu yang memperlihatkan usia sebenarnya, mungkin telah lima puluh tahun lebih.
Matanya juga memancarkan sinarnya yang tajam sekali.
Melihat orang itu, Tiang Kie Giok jadi mengeluarkan suara tertahan.
"Loo Boan Tong, dialah musuhku yang kuceritakan tadi!"
Teriak Tiang Kie Giok jadi gugup. Ciu Pek Thong sendiri setelah bengong sejenak, manggut-manggut beberapa kali , katanya‟ "Bagus! Bagus! Loo Boan Tong justru ingin sekali mencoba kepandaiannya!"
Seperti biasanya Loo Boan Tong memang selalu tergila-gila mempelajari ilmu yang hebat dan tinggi.
Dan karena sekarang melihat orang dihadapannya memiliki kepandaian yang tinggi, hatinya tertarik sekali.
Sedangkan orang bertubuh kecil pendek tersebut telah memperdengarkan suara tertawa dingin, dan katanya.
"Hemm, dilihat dari tampangmu, kau tentunya adik dari Ong Tiong yang!"
Ciu Pek Thong terkejut. 520
"Ihh, bagaimana kau bisa mengetahuinya?!"
Tanyanya dengan suara tersendat. Orang itu tertawa.
"Kau heran?!"
Tanyanya, ! "Hemm, Ong Tiong Yang hanya menghormati seorang dalam rimba persilatan ini. kau tahu siapa yang dihormatinya itu?!"
Cia Pek Thong menggeleng.
"Tidak!"
Sahutnya sambil mementang matanya lebar-lebar, hatinya tertarik sekali.
"Siapa orang itu?"
"Aku!"
"Kentutmu bau!"
Teriak Ciu Pek Thong jadi sengit mendadak.
"Kepandaian apa yang kau punya sehingga Suhengku harus menghormati dirimu?!"
Orang itu tertawa.
"Kau tidak percaya?!"
Tanyanya dengan sikap bersungguh-sungguh.
"Tidak percaya!"
Jawab Ciu Pek Thong.
"Hemm, dengan cara bagaimana kau baru bisa mempercayainya?!"
Tanya orang itu. Ciu Pek Thong tidak segera menyahuti, dia telah mengawasi orang itu dengan sepasang alis yang mengkerut dalam-dalam, seperti juga dia tengah berpikir keras.
"Cepat kau katakan, dengan cara bagaimana kau baru mempercayai akan keteranganku itu?!"
Tanya orang tersebut.
"Siapa namamu?"
"Perlu kujelaskan?" 521 Ciu Pek Thong mendongkol bukan main, sahutnya sengit.
"Ya, beritahukanlah!"
"Hemm, namaku saja kau tidak mengethuinya, dengan cara bagaimana kau dapat mengatakan kau tidak bisa mempercayai keteranganku! Tentunya urusan Suhengmu sama sekali kai tidak mengetahuinya!"
Ciu Pek Thong tambah mendongkol.
"Ayo kau beritahukan siapa namamu?!"
Densak Ciu Pek Thong lagi.
"Aku she Siangkoan bernama Hu!"
"Siangkoan Hu?"
Tanya Ciu Pek Thong sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Kemudian dia seperti berpikir keras lagi, tahu-tahu dia telah menarik satu lembar jenggotnya yang tumbuh panjang, kemudian katanya.
"Tidak! tidak! aku tidak percaya! Namamu saja baru pertama kali ini kudengar, kau bukan orang yang luar biasa didalam dunia persilatan. Tentunya kau hanya bicara besar saja!"
"Aku bisa membuktikannya!"
Kata Siangkoan Hu dengan sikap bersungguh-sungguh.
"Membuktikan dengan cara apa?!"
Tanya Ciu Pek Thong yang jadi tertarik lagi.
"Aku akan memperlihatkan kepadamu sesuatu yang tentunya kau kenali sebagai barang milik Suhengmu!"
Kata Siangkoan hu.
Dan dia telah mengeluarkan secarik kain, dan dibeberkan kain yang tidak begitu besar, dikibas-kibaska dihadapan Ci Pek Thong.
Ciu Pek Thong tercengang, karena segera dia mengenali itulah saputangan milik Suhengnya.
"Darimana kau memperoleh barang itu? tentunya kau memperoleh dengan jalan mencuri!"
Teriak Ciu Pek Thong setelah tersadar dari bengongnya. Siangkoan Hu tertawa.
"Mencuri? Ini justru hadiah dari Ong Tiong yang kepadaku, menandakan bahwa dia sangat menghormati aku!"
Menyahuti Siangkoan Hu dengan sikap yang kocak sekali. Ciu Pek Thong tidak mempercayai keterangan orang she Siangkoan tersebut.
"Jika kau tidak percaya juga, aku tidak bisa mengatakan apa-apa!"
Kata Siangkoan Hu. Sedangkan Ciu Pek Thong sudah tidak bisa menahan diri lagi, karenanya dengan segera dia telah melompat dan menggerakan kedua tangannya.
"Aku akan menguji kepandaianmu, sehingga kau berani mengatakan bahwa Suhengku itu menghormati dirimu, manusia pendek!"
Dan setelah berkata begitu, sepasang tangan Ciu Pek Thong menyerang dengan sebat sekali.
Dari kedua telapak tangan telah mengalir kekuatan tenaga yang menderu-deru hebat sekali.
Siangkoan Hu rupanya menyadari juga bahwa Ciu Pek Thong bukan sebangsa manusia lemah.
Dia memiliki kepandaian yang tinggi, karena dari itu, dia telah mengeluarkan suara bentakan yang sangat bengis dan telah menggerakkan tangan kirinya, dia menangkis lagi.
Anehnya tenaga serangan Ciu Pek Thong yang begitu kuat dan dahsyat telah dapat dihadapinya dengan baik, dimana 523 tenaga serangan Loo Boan Tong seperti lenyap tidak karuan parannya.
Dalam keadaan seperti itu, Ciu Pek Thong tidak tinggal diam.
Begitu serangan tenaga dalamnya telah punah tidak karuan parannya, dia mengerahkan lagi semangat dan tenaganya, dimana dia telah membentak dan menyerang lagi.
Malah tenaga serangannya kali ini jauh ;ebih hebat, sehingga batang-batang pohon disekitar Siangkoan Hu begoyang-goyang karena diterjang oleh kekuatan yang luar biasa dahsyatnya.
Sedangkan Siangkoan Hu sendiri kali ini, melihat cara menyerang Ciu Pek Thong pun tidak berayal lagi.
Dia telah memasukkan carikan kain itu kedalam sakunya dan mengangkat kedua tangannya untuk mebalas menyerang.
Sama sekali tidak bermaksud untuk menghindarkan diri, dan malah menyambuti dengan serangan pula, sehingga kekuatan yang hebat dari Ciu Pek Thong telah saling bentur dengan tenaga yang kuat juga dari Siangkoan Hu.
Yang membuat Ciu Pek Thong sangat penasaran, justru kembali tenaganya lenyap tidak karuan paran, seperti juga Siangkoan Hu dapat menyedap kekuatan dan tenaganya.
Dengan penasaran Ciu Pek thong membuat penyerangan untuk ketiga kalinya, diaman Ciu Pek Thong sekarang telah mempergunakan tenaga lunak dan keras yang digabungkan memjadi satu.
Jika tadi dia menyerang dengan berhenti-henti dan jika serangannya gagal barulah dia membarengi dengan serangan berikutnya.
Sekarang tidk menanti sampai derangannya gagal, Ciu PeK Thong telah menyusuli lagi dengan serangan lainnya.
524 Siangkoan Hu mengeluarkan seruan tertahan, tampaknya dia terkejut juga.
Sejak tadi dia emang telah menduga tentunya kakek dengan jenggot putih yang panjang ini adalah adik seperguruan Ong Tiong Yang.
Akan tetapi yang tidak disangkanya justru kepandaian dari Ciu Pek Thong demikian gebat.
Melihat datangnya serangan yang demikian beruntun kepada dirinya, Siangkoan Hun tidak berani mempergunakan kekerasan lagi, dia tidak menangkis melainkan berkelit mengelakkannya.
Sebat dan gesit sekali gerakannya, karena dengan cepat dia berhasil menghindarka diri dalam tiga jurus.
Ciu Pek Thong yang melihat demikian segera memperhebat tenaga serangannya, sepasang tangannya itu bertubi-tubi telah menyambar kediri lawannya.
Siangkoan Hu memang terdesak, karena akhirnya dia hanya main mundur belaka.
Ciu Pek Thong yang melihat demikian tidak mau membuang-buang waktu lagi, dia telah menyerang lagi dua jurus.
Jalan keluar buat mengkindarkan diri dari serangan yang dilancarkan oleh Ciu Pek Thong sama sekali tidak dapat dilakukan oleh Siangkoan Hu, karenanya jalan satu-satunya hanya menangkis.
"Bukk!"
Kuat sekali dia menangkis.
525 Benturan tenaga Ciu Pek Thongdengan tenag tangkisan yang dilakukan oleh Siangkoan Hu saling bentrok ditengan udara mengeluarkan suara yang menggelegar.
Akan tetapi kesudahannya membuat Ciu Pek Thong tertawa senang karena tubuh Siangkoan Hu bergoyang-goyang seperti akan terjengkang kebelakang.
Cuma saja disebabkan kuda-kuda kedua kakinya memang sangat kuat, orang she Siangkoan tersebut tidak sampai rubuh.
Ciu Pek Thong melihat dia mulai mendapat angin, segera dia membarengi dengan menyerang lagi, tenaga serangannya juga jauh lebih kuat dibandingkan dengan tenaga serangan sebelumnya.
Siangkoan Hu telah menangkis serangan Ciu Pek Thong dengan kekerasan.
"Dukkk!"
Tubuh Siangkoan hu seperti layang-layang putus dari benang, telah terpental ke udara.
Dengan demikian telah membuat Siangkoan Hu kehilangan keseimbangan tubuhnya, dia berusaha berjumpalitan beberapa kali ditengah udara.
Waktu tubuh Siangkoan Hu meluncur turun, diwaktu itulah tampak Ciu Pek Thong tidak membuang-buang waktu telah menyerang lagi dengan cepat.
Siangkoan Hu mengeluh.
Angin serangan yang menyambar kepada dirinya sangat hebat, waktu itu tubuhnya tengah melayang ditengah udara, dan dia tidak dapat menyambut dengan kekerasan.
Tidak ampun lagi dada Siangkoan Hu kena terhajar dan tubuhnya bergulingan.
Itupun masih untung karena serangan Pek Thong tidak berhasil mengenai telak, hanya menyerempet, 526 sebab mati-matian Siangkoan Hu telah berusaha untuk mengelakkan diri dari serangan lawannya.
Setelah terpelanting dan bergulingan ditanah beberapa tombak, Siangkoan Hu berdiri dan memutar tubuhnya, dia bermaksud melarikan diri.
Ciu Pek Thong yang nakal telah berkata.
"Ayo, aku ingin melihat sampai seberapa tinggi kepandaianmu, sehingga Suhengku menurutmu Suhengku telah menghormati dirimu!"
Membarengi dengan perkataan tersebut, tampak Ciu Pek Thong telah menjejakkan kakinya, tubuhnya seperti bayangan telah berkelebat kedekat Siangkoan hu.
Gerakan Ciu Pek Thong yang gesit seperti itu menyebabkan Siangkoan Hu tidak bisa menjauhkan diri lebih jauh lagi, karena disaat itu Ciu Pek Thong telah menyerangnya lagi, sehingga Siangkoan Hong mau tidak mau harus mengerahkan dan mengempos semangatnya untuk menangkis.
Satu kali lagi Siangkoan Hu terjungkal terpelanting bergulingan ditanah.
Ciu Pek Thong sangat nakal, waktu lawannya terguling seperti itu, dia telah melompat mendekati.
Siangkoan Hu tiba-tiba saja menjerit kesakitan, karena pipinya telah dicubit keras sekali oleh Ciu Pek Thong.
"Inilah penghormatan pertama dariku!"
Kata Ciu Pek Thong sambi; tertawa.
Diwaktu itu Siangkoan Hu berusaha untuk melonpat berdiri lagi.
Akan tetapi sebelum dia sempat bertiri tegak, Ciu Pek Thong telah mencubit pahanya.
Sama seperti tadi, Siangkoan Hu telah menjerit kesakitan, karena diwaktu itu Ciu Pek Thong telah mencubit pahanya tersebut dengan keras.
527 Sedangkan Ciu Pek Thong yang nakal ini tertawa gelak-gelak, tanyanya.
"Apakah engkau masih ingin minta dihormati?"
Loo Boan Tong bukan hanya berkata seperti itu saja, sebab dengan cepat sekali dia telah melompat lagi, tangan kanannya digerakkan, dia telah menempeleng dengan keras beberapa kali muka Siangkoan Hu.
Siangkoan Hu kesakitan, diapun perasakan pandangan matanya berkunang-kunang.
Dian-dian Siangkoan Hu mengeluh.
Sama sekali dia tidak bermimpi bahwa Ciu Pek Thong memiliki kepandaian yang demikian tinggi.
Sedangkan Ciu Pek Thong masih belum puas, tahu-tahu tangan kanannya telah diulurkan, dia telah menyambar ikat pinggang orang she Siangkoan tersebut dimana sekali hentak, orang she Siangkoan itu telah terlempar ketengah udara.
Siangkoan Hu mengeluarkan seruan kaget dan ketakutan, karena tubuhnya terpental sangat keras dan cepat sekali.
Dia merusaha mengurangi daya luncuran tubuhnya, karena jika tidak, kepalanya tentu bisa membentur pohon.
Usaha dari Siangkoan Hu berhasil, dia bisa hinggap diatas tanah dengan kedua kakinya.
Ciu Pek Thong yang masih mendongkol padanya, segera menyusulnya dan mendupak dengan kaki kanannya.
Dupakan yang dilakukan Ciu Pek Thong membuat tubuh Siangkoan Hu jadi terjungkal rubuh pula.
528 Sedangkan Ciu Pek Thong berdiri tegk ditempatnya dan dia tidak mengganggunya lagi, ia membiatkan Siangkoan Hu merangkak berdiri.
"Hemm, apakah sekarang engkau berani mengatakan bahwa suhengku sangat menghormati dirimu? Suhengku itu memiliki kepandaian sepuluh kali lipat lebih tinggi dari kepandaianku!"
Siangkoan Hu tidak segera menyahuti dia menyusut darah yang mengalir dari bibirnya. Sedangkan Tiang Kie Giok telah menghampiri Ciu Pek Thong, katanya.
"Loo Boan Tong hajar lagi orang itu, dialah yang telah membinasakan seluruh keluargaku!. Ciu Pek Thong mengangguk.
"Engkau saja yang menghajarnya!"
Katanya menganjurkan kepada wanita she Tiang tersebut.
"Aku…?!"
Tiang Kie Giok jadi heran. Ciu Pek Thong tersenyum, katanya.
"Kau tidak perlu jeri padanya, pergilah kau pukul padanya sesuka hatimu, tidak nanti dia berani membalas. Jika dia berani menangkis dan menyerang padamu, biarlah tangannya akan kukutungkan!"
Mendengar perkataan Ciu Pek Thong seperti itu semangat Tiang Kie Giok terbangun dan keberaniannya jadi kumpul lagi.
Dengan langkah kaki yang lebar dia telah menghampiri Siangkoan Hu, diapun telah mengayunkan tangan kanannya, dimana dia telah meninjunya sekuat tenaganya.
Siangkoan Hu yang melihat wanita itu menyerangnya, dia cepat-cepat mengangkat tangan kanannya, maksudnya ingin menangkis serangan Tiang Kie Giok, justru tangan Ciu Pek 529 Thong telah berkelebat, dia telah menotok tanga dari Siangkoan Hu, sehingga tangan orang she Siangkoan itu turun kembali.
Sedangkan hantaman tangan Tiang Kie Giok telah mengenai telak sekali muka orang she Siangkoan tersebut.
Tidak ampun lagi, darah segar mengucur dari orang she Siangkoan tersebut.
Siangkoan Hu menjerit kesakitan, tubuhnya terhuyung.
Tiang Kie giok yang memperoleh angin dan semakin berani telah menyerang lagi.
Kali ini serangannya tetap pada muka Siangkoan Hu.
Dia menyerang dengan sepenuh tenaganya.
Dalam keadaan seperti itu, Siangkoan Hu tentu saja tidak membiarkan dirinya dihajar lagi, sedangkan perasaan sakit akibat serangan pertama dari Tiang Kie Giok belum lagi berkurang.
Dengan gusar dia berseru sambil menerjang.
Akan tetapi Ciu Pek Thong cepat luar biasa telah menggerakkan kedua tangannya, dia mencengkram kedua lengan Siangkoan Hu.
Dengan demikian Siangkoan Hu tidak bisa bergerak lagi dan juga tidak bisa menggerakkan kedua tangannya.
Sedangkan serangan yang dilakukan oleh Tiang Kie Giok telah meluncur datang, menghantam muka lagi dengan keras dan sangat kuat.
"Bukk!"
Kepalan tangan Tiang Kie Giok telah hinggap dengan telak sekali.
Darah kembali mengucur dengan deras sekali, dan Siangkoan Hu mengeluh kesakitan.
Akan tetapi dia sama sekali 530 tidak bisa memberikan perlawanan dan juga tidak dapat menggerakkan kedua tangannya karena dia telah tercengkram kuat sekali oleh Ciu Pek Thong.
"Ayo serang terus, biar dia kapok!"
Berseru Ciu Pek Thong dengan suara nyaring.
Sedangkan Tiang Kie Giok sendiri semakin bersemangt sekali.
Cepat bukan main dia menggerakkan kedua tangannya silih berganti.
Terdengarlah suara "Plakk, plokk, bukk!"
Berulang kali.
Segera terlihat muka Siangkoan Hu telah berlumuran darah segar.
Disaat itu Ciu Pek Thong baru melepaskan cengkeramannya.
Dia telah mendorong tubuh Siangkoan Hu samoai orang itu terjerunuk kedepan hampir saja terjerembab.
Sedangkan Tiang Kie Giok nampaknya masih juga belum puas, karena dia telah bermaksud untuk menghampiri dan menyerang lagi.
Akan tetapi Siangkoan Hu yang menyadari bahwa bahaya mengancam dirinya, dan juga jika dia tidak cepat-cepat angkat kaki, niscaya dia akan menderita lebih lama lagi, telah buru-buru memutar tubuhnya dia telah mementangkan kakinya lebar-lebar melarikan diri.
Dalam keadaan seperti itu terlihat sekali orang she Siangkoan tersebut sangat ketakutan.
Tiang Kie Giok bermaksud untuk mengejarnya, akan tetapi Ciu Pek Thong telah memanggilnya mencegah dia mengejarnya.
Tiang Kie Giok tidak berani membantah, dia telah kembali kedekat Ciu Pek Thong, kemudian dia berlutut dihadapan Ciu 531 Pek Thong.
"Terima kasih atas bantuan Loo Boan Tong!"
Katanya. Ciu Pek Thong cepat-cepat mengelak, dia telah perintahkan wanita itu untuk bangun berdiri.
"Akan tetapi kau terlalu keras memukul mukanya, kukira tulang hidungnya telah remuk!"
Kata Ciu Pek Thong.
"Itupun aku tidak segera membunuhnya dengan menikamkan pedangku!"
Menyahuti Siang Kie Giok. Sedangkan Ciu Pek Thong menghela nafas.
"Orang itu sebenarnya memiliki Iwekang yang tinggi dan kepandaian yang lumayan, akan tetapi dia mempelajari ilmunya dengan jalan yang tersesat, karena dari itu, walaupun dia memiliki kepandaian yag tinggi namun dia tidak bisa mengambil manfaat yang lebih banyak lagi!"
Tiang Kie Giok mengawasi Ciu Pek Thong beberapa saat, kemudian tanyanya.
"Bagaimanakah caranya membuat Iwekang yang sempurna dan tinggi?!"
"Itu mudah, aku akan mengajarimu, sahut Ciu Pek Thong. Bukan main girangnya Tiang Kie Giok. Dia kemudian mengucapkan terima kasih lagi. Sedangkan Ci Pek Thong telah menghafal beberapa baris pelajaran Iwekang, dia telah memberitahukan inti-inti pelajaran Iwekang yang harus diingat sebaik-baiknya oleh si wanita she Tiang tersebut. Disaat itu Tiang Kie Giok dengan penuh perhatian mendengarkan terus keterangan yang diberikan oleh Ciu Pek Thong, karena dia memang yakin bahwa Ciu Pek Thong tengah mewariskan kepandaian yang sangat tinggi. 532 Akan tetapi selesai menghafal seperti itu, Ciau Pek Thong perintahkan si wanita menghafal sendiri, dan jika ada bagian yang tidak teringat oleh Tiang Kie Giok, dia tidak mau menjelaskan lagi.
"Apa yang kau ingat, kau pelajari, itulah rejekimu, karena aku tidak akan memberitahukan lebih lanjut lagi!"
Kata Ciu Pek Thong.
"Nah, aku telah memberitahukan cara berlatih Iwekang tingkat tinggi, engkau juga telah menerima pelajaran beberapa jurus dariku, maka dari itu tentunya kau tidak akan melibat diriku lagi bukan?!"
Tiang Kie Giok cepat-cepat menyahuti.
"Akan tetapi Loo Boan Tong, aku…."
Namun belum lagi Tiang Kie Giok menyelesaikan perkataannya itu, Ciu Pek Thong telah memutar tuuhnya, dia menjejakkan kakinya dan telah lari dengan cepat sekali.
Ciu Pek Thong memiliki ginkang yang telah sempurna, karena dari itu Tiang Kie Giok tidak akan sanggup buat mengejarnya.
Tiang Kie Giok membanting-manting kakinya karena Ciu Pek Thong telah lenyap dari pandangan matanya, tampaknya Tiang Kie Giok sangat menyesal sekali sebab Ciu Pek Thong berlalu begitu cepat.
"Jika saja dia mau berdiam lebih lama bersamaku, tentu aku akan memperoleh petunjuk yang lebih banyak lagi darinya!"
Begitulah pikiran TiangKie Giok.
Akan tetapi walaupun dia sangat menyesal Ciu Pek Thong berpisah begitu cepat dengannya namun dia tidak berdaya buat menyusulnya.
Sekian lama Tiang Kie Giok berdiri bengong tertegun tanpa bergerak, sampai akhirnya dia membanting-banting 533 kakinya sambil menangis.
Sebelumnya dia membayangkan bahwa Ciu Pek Thong akan menurunkan kepandaian yang jauh lebih tinggi lagi kepadanya, dan setelah memberikan pelajaran ilmu Iwekang, dia telah berlalu.
Tiang Kie Giok menangis sekian lama, sampai pada akhirnya menghibur dirinya sendiri, bahwa Ciu Pek Thong cukup baik hati memberikan pelajaran tenaga dalam tingkat tinggi.
Kelak dikemudian hari Tiang kie Giok memang berlatih diri dengan giat, sehingga dikemudian hari dia menjadi seorang pendekar wanita yang mempunyai kepandaian tinggi sekali.
CIU PEK THONG yang berlari-lari dengan cepat sekali, telah meninggalkan hutan trsebut, dia seperti tengah dikejar setan karena dia kuatir kalau-kalau Tiang Kie Giok mengejarnya.
Setelah berlari sekian puluh lie da menoleh kebelakang, ternyata tidak ada yang mengejarnya dan Tiang Kie Giok tidak terlihat batang hidungnya, Ciu Pek Thong jadi bernafas lega.
Diapun telah berhenti berlari dan mengaso dibawah sebatang pohon.
Lama dia duduk termenung dibawah pohon tersebut, sampai akhirnya dia mengumam.
"Aku mau pergi kemana? Apakah kembali saja ke Ciong Lam San?!"
Setelah menggumam seperti itu tampak Ciu Pek Thong menggeleng-geleng beberapa kali, sampai akhirnya dia menggumam lagi.
"Tidak bisa! Tidak bisa! Mana mungkin aku kembali ke Ciong Lam San, menyebabkan aku menderita malu saja?!"
Setelah menggumam seperti itu, Ciu Pek Thong menghela nafas beberapa kali.
534 Angin silir sangat perlahan sekali, sesungguhnya hawa udara pada saat itu sangat panas sekali.
Akan tetapi Ciu Pek Thong tetap duduk ditempatnya tanpa bergerak, karena pikirannya tengah melayang-layang tidak menentu dalam kebimbangan.
Setelah termenung sejenak lamanya lagi, akhirnya Ciu Pek Thong bangun berdiri dan berjalan semau hatinya, dia membiarkan kedua kakinya itu melangkah kemana kedua kaki itu menghendakinya karena Ciu Pek Thong memang tidak memiliki tujuan….
Sedang dia berjalan seperti itu, disaat itulah terlihat betapa didepannya telah berlari-lari empat sosok tubuh.
gerakan keempat orang itu sangat cepat sekali, dan kegesitannya itu memperlihatkan bahwa keempat orang itu mempunyai ginkang yang cukup tinggi.
Karena dari itu, setelah memperhatikan sejenak lamanya, Ciu Pek Thong tertarik buat menggoda keempat orang tersebut.
Dia berdiri ditempatnya tanpa bergerak ditengah-tengah jalan.
Tidak lama kemudian keempat orang itu telah tiba didekat Ciu Pek Thong.
Ternyata mereka empat orang laki-laki dengan wajah bengis dan matanya memancarkan sinar yang tajam sekali.
Dilihat dari tampangnya, jelas keempat orang ini bukan sebangsa manusia baik-balk.
Karenanya, Ciu Pek Thong semakin keras keinginannya buat mempermainkan keempat orang itu.
dia telah berdiri dengan bertolak pinggang.
Keempat orang itu berhenti berlari, dan salah seorang diantara mereka berusia tiga puluh tahun lebih telah mendekati Ciu Pek Thong.
"Mengapa kau menghadang di tengah jalan seperti itu? cepat menyingkir! Tuan-tuan besarmu ingin lewat!"
Bentaknya. Ciu Pek Thong tertawa jenaka, dia telah menyehuti.
"Jika memang kalian ingin lewat mengapa harus banyak rewel seperti itu, pergi menggelinding! Mengapa kalian harus berdiam disitu? Bukankah jalan ini bukan milik kakek moyangmu dan juga jalan inipun masih lebar?!"
Ditegur seperti itu, keempat orang tersebut berubah wajahnya, nbahkan mereka berempat telah memperlihatkan sikap yang bengis sekali.
"Ohh, engkau memang sengaja menghadang kami? rupanya kau memang belum kenal siapa kami ini bukan?!"
Kata orang yang pertama tadi sengan suara yang bengis sekali. Ciu Pek Thong tertawa dingin.
"Hemm, aku memang tidak kenal siapa kalian, dan akupun tidak tertarik buat berkenalan dengan manusia-manusia seperti kau!"
Katanya. Mendengar jawaban Ciu Pek Thong seperti itu, orang tersebut tambah gusar, dia telah membentak.
"Mulutmu terlalu kurang-ajar, akan kurobek….!"
Sambil membentak orang tersebut melompat menghampiri Ciu Pek Thong, dia mengulurkan tangannya, maksudnya ingin diulurkan guna merobek mulut Ciu Pek Thong.
Ciu Pek Thong tertawa mengejek.
Serangan seperti itu mana dipandang sebelah mata olehnya?
Karenanya, begitu tangan orang tersebut menerjang kepadanya, dia telah mengibaska tangan kanannya.
"Takkk!"
Terdengar benturan keras sekali, karena tangan Ciu Pek Thong telah membentur pergelangan tangan orang tersebut.
Seketika orang tersebut menjerit-jerit kesakitan, karena begitu terbentur dengan tangan Ciu Pek Thong, penyerang itu merasakan pergelangan tangannya seperti hancur atau patah.
Dia telah berjingkrak-jingkrak beberapa kali.
Ciu Pek Thong tertawa dingin, katanya.
"Jika memang begitu, kau mencari penyakit sendiri! Lebih baik kalian secara baik-baik meminta kepada Yaya (engkong/kakek) kalian agar membagi jalan sedikit! Tentunya kalian tidak akan mengalami penderitaan dan kesengsaraan….!"
Akan tetapi keempat orang itu telah gusar dan penasaran, terlebih lagi orang yang pergelangan tangannya tadi terkena tangkisan tangan Ciu Pek Thong.
Sekarang rasa sakitnya mulai berkurang dan dia telah menyerang lagi.
Tadi dia menyerang denga hanya menggunakan dua bagian tenaga dalamnya karena menduga Ciu Pek Thong merupakan penduduk disekitar tempat tersebut dan seorang yang telah berusia lanjut belaka.
Akan tetapi siapa sangka justru Ciu Pek Thong merupakan salah seorang tokoh rimba persilatan yang mempunyai kepandaian sangat luar biasa sekali.
Karena dari itu, orang tersebut telah terkena batunya!
Berbareng mereka berempat telah melompat dan menyerang kepada Ciu Pek Thong empat jurusan.
Akan tetapi Ciu Pek Thong sendiri tetap berdiri tenang ditempatnya.
Sama sekali dia tidak berusaha untuk menyingkirkan diri.
Dengan sorot mata yang tajam dan senyum dikulum, Ciu Pek Thong telah mengawasi datangnya serangan dari empat 537 jurusan itu dan waktu keempat serangan itu hampir mengenai dirinya, LooBoan Tong telah mengibaskan tangannya.
Serangan angin yang luar biasa dahsyatnya telah menerjang kepada keempat orang itu.
hebat kesudahannya!
Karena disertai dengan jerit kesakitan, keempat orang itu telah terpental bergulingan ditanah.
Mereka merangkak bangun dan wajah mereka berlumuran darah.
Ada yang mengucur darah dari hidungnya, ada yang rontok giginya, dan ada juga yang berlumuran mulutnya dengan darah yang memerah.
Disaat itu Ciu Pek Thong telah mengejek.
"Jika memang kalian ingin mencari penyakit, ayo, ayo maju lagi, aku akan memberikan ganjaran yang setimpal seperti yang kau inginkan!"
Sambil berkata begitu, Ciu Pek Thong melambai-lambaikan tangannya dengan sikap lucu.
Sedangkan keempat orang tersebut, yang kesalita dan tertegun, memandang Ciu Pek Thong sesaat lamanya.
Akan tetapi setelah bengong sekian lama dan diantara mereka saling memandang, rupanya mereka masih penasaran.
Dengan berbareng mereka berempat telah menerjang lagi dengan sepasang tangan yang disaluri tenaga dalam yang hebat sekali.
Dengan menimbulkan kesyuran angin yang sangat kuat, tampak keempat orang tersebut telah menerjang seperti sudah tidak memikirkan lagi keselamatan dirinya.
Dan serangan yang dilakukan mereka bagaikan ingin membunuh Ciu Pek Thong, sangat telengas sekali.
Ciu Pek Thong tetap berdiri tenang-tenang ditempatnya, sama sekali tidak bermaksud mengelakkan diri dari terjangan keempat orang lawannya.
538 Hanya saja waktu keempat orang itu telah dekat dengan serangan mereka, Ciu Pek Thong telah bergerak cepat sekali.
Kali ini dia bukan mengibas dengan tangannya, hanya saja tubuhnya mencelat bagaikan bayangan belaka, dalam waktu yang sangat singkat, keempat orang lawannya kehilangan sasarannya dan mereka saling seruduk satu dengan lainnya.
Membarengi dengan itu Ciu Pek Thong telah menggunakan kakinya untuk menyepak pinggul salah seorang lawannya.
Orang itu memang tidak bisa menghindarkan diri dari dupakan kaki Ciu Pek Thong, tubuhnya terjerumus dan dia telah mencium tanah sehingga hidungnya berdarah.
Sedangkan waktu itu Ciu Pek Thong tidak bertindak hanya sampai disitu saja, dimana dia juga telah mendupak seorang lawannya yang lain, sehingga orang itu terjungkal mencium tanah!
Dengan mempergunakan kedua tangannya Ciu Pek Thong mendorong punggung sisa kedua orang lawannya, dan mereka rubuh bergulingan dengan punggung mereka masing-masing berbekas telapak tangan memerah, karena waktu mendorong, Ciu Pek Thong mempergunakan kekuatan Iwekangnya.
Waktu itu tampak Ciu Pek Thong telah berdiri dengan bertolak pinggang sambil tertawa mengejek.
"Memm, manusia-manusia tidak punya guna, dengan memilii kepandian tidak berarti seperti itu kalian telah berani bertingkah dan mengumbar ketelangasan kalian! Jika memang aku mau bertindak kejam, tentu jiw kalian sudah kukirim menghadap Giam Loo Ong!" 539 Setelah berkata begitu Ciu Pek Thong memperdengarkan berulang kali tertawa dingin. Sedangkan keempat orang lawannya merangkak bangun lagi, nyali mereka telah ciut. Baru saja Ciu Pek Thong ingin mengejek dan mem-permainkan keempat orang tersebut pula, tiba-tiba terdengar seorang berkata.
"Jangan menghina anak-anak! Lawanlah diriku!"
Suara itu bergema disekitar tempat tersebut, memang sangat keras, akan tetapi orang yang berkata seperti itu tak terlihat batang hidungnya.
Sedangkan keempat orang lawan Ciu Pek Thong yang telah dihajar babak belur seperti itu tampak berobah menjadi girang.
Malah salah seorang diantara mereka telah berseru.
"Suhu…… cepat tolong kami!"
Ciu Pek Thong segera dapat menduga bahwa orang yang bicara dari tempat yang jauh itu adalah guru dari keempat orang tersebut yang tentunya memiliki kepandaian lumayan karena dari jarak yang masih begitu jauh dimana orang tersebut masih belum lagi terlihat, ternyata dia telah dapat berseru jelas seperti itu, karenannya Ciuu Pek Thong mengawasi datangnya suara seruan tersebut.
Tidak lama kemudian, dari arah mana tadi keempat orang itu datang, terlihat sesosok tubuh yang tengah berlari-lari mendatangi secepat terbang dan sekejap mata saja telah tiba ditempat tersebut.
Ternyata orang itu memiliki potongan tubuh sangat tinggi, kurus dan mukanya empat persegi kasar dengan bola mata yang melotot besar, potongan mata longgar.
540 Dengan sikap yang bengis orang itu telah membentak.
"Siapa kau sehingga begitu lancang telah berani mati menghina keempat muridku?"
Ciu Pek Thong nyengir.
"Kau mau mengetahui siapa adanya aku?!"
Tanyanya.
"Nah, kau beritahukan siapa namamu!"
"Aku she Khu dan bernama Ban Sie!"
Menyahut orang tersebut. Walaupun dia mendongkol sekali oleh sikap Ciu Pek Thong, akhirnya dia mengalah dan menyebut juga namanya. Ciu Pek Thong tertawa.
"Hemm, orang she Khu, kau dengarlah baik-baik, aku she Ciu yang bernama Pek Thong. Muka orang itu tiba-tiba sekali berobah.
"Kau Ciu Pek Thong?"
Tanyanya tegas. Ciu Pek Thong mengangguk.
"Benar!"
Sahutnya tertawa mengejek.
"Jadi…. kau yang disebut sebagai Loo Boan Tong?!"
Tanya orang itu lagi.
"Tidak salah! Kau juga boleh menyebutku dengan panggilan seperti itu,"
Sahut Loo Boan Tong. Orang itu mementang matanya yang besar itu semakin besar sehingga tampaknya matanya itu semakin longgar saja.
"Sesungguhnyakah kau loo Boan Tong?"
"Tidak salah!"
Mengangguk Ciu Pek Thong. 541
"Jadi kau adik seperguruan dari Ong Tiong Yang?"
Tanya Khu Ban Sie lagi.
"Ya,"
Mengangguk Ciu Pek Thong.
"Kalau begitu engkaulah orang yang kucari-cari!"
Kata Khu Bn Sie kemudian.
"Mencariku? Untuk urusan apa?"
Waktu bertanya begitu, Ciu Pek Thong memperlihatkan sikap terheran-heran.
"Untuk meminta kitab Ciu Im Cin Keng!"
Menyahut Khu Ban Sie.
"Meminta kitab Ciu Im Cin Keng?! menegasi Ciu Pek Thong sambil mementang matanya.
"Kukira tidak mudah untuk meminta kitab itu dariku!"
Menyahut Ciu Pek Thog.
"Jika kau tidak mau menyerahkan kitab Ciu Im Cin Keng itu kepadaku, nagianmu adalah kematian!"
Kata Khu Ban Sie dengan suara yang bengis. Ciu Pek Thong tertawa keras, tertawa mengejek orang she Khu tersebut.
"Hebat sekali sikap dan perkataanmu, apakah kau kira kepandaianmu itu melebihi kepandaianku sehingga bicara seenaknya seperti itu?!"
Dan setelah berkata begitu, Ciu Pek Thong mengibaska tangannya, diapun telah bilang lagi.
"Nah jika memang engkau ingin mengukur kepandaian denganku, majulah!"
Ciu Pek Thong juga memperlihatkan sikap bersiap-siap untuk menerima serangan. Khu Ban Sie tidak segera menerjang maju.
"Apakah kau benar-benar mencari kesulitan buat dirimu sendiri dan tidak mau menyerahkan kitab Kiu Im Cin Keng kepadaku?"
Tanyanya. Ciu Pek Thong menggeleng.
"Tidak!‟ sahutnya tegas.
"Walaupun senandainya engkau ini seorang dewa yang turun dari langit sekalipun, kitab Kiu Im Cin Keng itupun tidak akan kuberikan!"
Muka Khu ban Sie berobah hebat, dia murka sekali dan darahnya jadi terasa meluap, katanya.
"Jika demikian, engkau memang mencari kematian!"
Bentaknya.
"Khu Ban Sie tidak akan menyia-nyiakan keinginanmu itu dan tidak akan mengecewakan karenanya. Sambil berkata dengak sikap yang murka seperti itu, tambap Khu Ban Sie telah menjejakkan kedua kakinya, hampir sama sekali sulit diikuti oleh pandangan mata, tubuhnya telah mencelat gesit sekali, dia telah menyerang dengan hebat. Ciu Pek Thong berdiri tegak, dia melihat datangnya serangan, dan kemudian dia merngkapkan sepasang tangannya, dimana sepasang tangannya tersebut telah dikibaskan mendadak sekali. Tubuh Khu Ban Sie yang tengah menerjang itu jadi terpental balik dan terguling ditanah beberapa kali sambil mengeluarkan jeritan kesakitan. Ciu Pek Thong telah melompat dan mengulurkan tangannya, dia telah mencengkram jalan darah Kwie-tong-hiatnya Khu Ban Sie, sehingga Khu Ban Sie meraung kesakitan. Dengan mengerahkan sedikit tenaga dalamnya, dia telah menghentakkan dan melemparkan orang she Khu tersebut, 543 yang melayang ketengah udara lalu ambruk ketanah sengan meringis kesakitan.
"Jika kau tidak mau cepat-cepat menggelinding pergi dari tempat ini, Loo Boan Tong tidak akan segan-segan memusnah-kan seluruh kepandaianmu ini!"
Ancam Ciu Pek Thong.
Khu Ban Sie meraskan seluruh tubuhnya sakit-sakit, dia menyadari betapa hebatnya kepandaian Ciu Pek Thong.
Sambil merangkak bangun dia menoleh kepada keempat muridnya dan memberi isyarat agar mereka segera berlalu.
Begitulah, guru dan keempat orang muridnya telah angkat kaki meninggalkan tempat tersebut.
Ciu Pek Thong sendiri tertaw gelak-gelak.
Dia puas bisa memberikan hajaran keras kepada manusia seperti Khu Ban Sie dan murid-muridnya.
Sambil bernyanyi-nyanyi kecil, Ciu Pek Thong melanjutkan perjalanan tanpa arah dan tujuan……!
TAMAT Surabaya, 25 Desember 2018 Sumber ebook .
Koleksi Gunawan Aj Scan/foto image .
Awie Dermawan Diunggah di .
Kolektor Ebook (
https.//www.facebook.com groups/Kolektorebook/)
https.//www.facebook.com groups/Kolektorebook/ Sumber . Buku Koleksi Gunawan Aj Scan Image. Awie Dermawan
https.//www.facebook.com groups/Kolektorebook/ Sumber . Buku Koleksi Gunawan Aj Scan Image. Awie Dermawan
Baca Juga: Golok Sakti 5
Baca Juga: Suling Pusaka Kumala 4