Ceritasilat Novel Online

Golok Sakti 5

Eps 5 Golok Sakti - Chin Yung

Baca online Golok Sakti - Chin Yung

Cersil Golok Sakti - Chin Yung.

Kembali ia mendengar orang memanggil Suaranya merdu halus, tapi seperti mengandung sedih, tidak heran kalau Ho Tiong Jong menjadi tidak sabaran.

Pikirnya tentu wanita itu dalam keadaan sulit makanya suaranya ada demikian sedih.

Tapi siapakah dia?

Sebab yang mengetahui bahwa dirinya sudah hidup kembali hanya seng Giok Cin dan Li lo-sat Ie Ya.

Ketika untuk kesekian kalinya suara memanggil tadi terdengar, Ho Tiong Jong berteriak "Hei, kau ini siapa dan dimana adanya?

Apakah kau ada encie Ie ?"

"oh, bukan, aku she Kim."

Jawab suara tadi.

Hatinya Ho Tiong Jong terkejut tapi dibarengi oleh rasa girang, sebab orang itu tentu tidak lain daripada Kim Hong Jie adanya.

Saat itu seperti keluar dari tumpukan batu, maka cepat cepat ia menghampiri tempat itu.

Memang benar keluarnya dari sini, orang tidak tahu bahwa disini terdapat sebuah goa karena kealingan oleh tumpukan batu yang tinggi.

Betul saja tampak nona Kim yang elok sedang berdiri mengawasi kepadanya dengan bersenyum, memperlihatkan sepasang sujen-nya yang memikat.

Ho Tiong Jong buru buru menghampiri dan sambil mencekal tangan si nona yang halus ia berkata.

"oh, Tuhan, terima kasih... terima kasih, akhirnya aku dapat menemukan kau juga disini, adik Hong..."

"Engko Jong"

Hanya ini saja yang meluncur dari mulutnya sigadis yang mungil saking terharunya dapat bertemu pula dengan pemuda pujaannya itu.

"Adik Hong, kau..."

Belum usai bicaranya, telah dipotong oleh Kim Hong Jie.

"Engko Jong, barusan kau menyebut namanya encie Ie Ya, apakah sebenarnya memang kau datang kesini hendak mencari padanya ?"

Si nona menanya dengan sungguh, agaknya seperti yang menaruh cemburu. Ho Tiong Jong bingung, tak dapat memberi jawaban lantas.

"Adik Hong, nanti aku akan menceritakan duduknya. Yang penting sebaiknya aku lekas lekas menolong dirimu keluar dan tempat ini, apa memangnya kau betah tinggal terus-terusan disini?"

Kim Hong Jie deliki matanya yang jeli sambil mesem.

"Hmm....siapa kesudian tinggal terus disini. Tapi kau lihat, apa aku bisa pergi begitu saja?"

Kata sinona sambil perlihatkan tangan kirinya yang dirantai dengan rantai halus dan dicancang menembus ke dinding goa. Ho Tiong Jong terkejut melihatnya.

"Ah, adik Hong, bagaimana kau bisa diperlukan begini rupa ? Tapi jangan kuatir, aku nanti putuskan rantai sekecil itu."

Berbareng ia coba gunakan dua tangannya dan mengerahkan tangannya untuk memutuskan rantai kecil ini, tapi tidak berhasil biar bagaimana Ho Tiong Jong berdagingan juga, ia jadi penasaran lalu mencabut goloknya dengan senjata ini ia mencoba membacok putus, tapi hasilnya serupa saja tidak bisa putus.

Masin penasaran, anak muda itu lalu pakai batu sebagai tatakan untuk membacok pitus rantai itu, tapi juga tidak berhasil, Ho Tiong Jong bukan main herannya, entah dengan bahan apa rantai yang demikian halusnya itu dibikin sehingga tidak dapat diputuskan oleh tenaga manusia dan bacokannya golok?

Kim Hong Jie melihat Ho Tiong Jong menjadi kebingungan, lantas berkata.

"Engko Jong, sebaiknya kita bercakap-cakap saja, jangan menghiraukan rantai yang mengikat tanganku ini.."

"Habis apa kau mau terus-terusan dirantai begini saja? "menyelak Ho Tiong Jong. Si nona bersenyum getir.

"Engko Jong, kita sudah lima tahun lamanya berpisah dan tidak bercakap-cakap. selama tempo itu tentu kau ada mengalamkan banyak kejadian dalam perjalanan hidupmu, maka sukalah kau memberitahukan padaku?"

Ho Tiong Jong geleng-geleng kepalanya "Adik Hong,"

Katanya.

"sejak kita btrpisahan aku lantas bekerja dalam perusahaan piauw kiok, Dalam masa ini, kalau aku ceritakan benar benar aku merasa sedih, Tapi, ah, bagaimana dengan adik Hong sendiri?"

Kim Hong Jie bersenyum, sepasang sujen nya memain menarik hati.

"Engko Jong, aku ingin menanyakan kau satu perkara."

"Urusan apa, kau tanyalah,"

Menyelak si pemuda.

"Kau keluar masuk di Seng Kee Po, apakah untuk pertama kalinya kau melihat aku lagi, apakah kau kenali itu gadis cilik yang menangis dipinggir sawah karena bonekanya kecemplung?"

Tanya si gadis sambil tersenyum manis.

Ho Tiong Jong tertegun.

ia tidak pernah menyangka si nona akan majukan pertanyaan ini, setelah saling pandang sejenak dengan penuh kenangan lama si pemuda menjawab.

"Adik Hong, masa aku sampai tak dapat mengenal kau si nakal."

"Engko Jong, kau kau..."

Si gadis nyeletuk sambil menyubit tangannya si pemuda.

"Aduh..."

Teriak Ho Tiong Jong pura-pura kesakitan sambil mengusap-usap tangan yang kena cubitan halus dari si jelita.

"Sakit? Hmmm... sekali lagi kau berani mengatakan si nakal, aku cubit lebih keras lagi dari barusan,"

Sipengancam dengan wajah agak cemberut.

Ho Tiong Jong ketawa, ia mengawasi si cantik dengan sorot mata lain daripada lima tahun berselang, diwaktu Kim Hong Jie masih anak-anak umur dua belas tahun.

Kini pandangannya penuh dengan rasa mesra dari seorang pemuda terhadap seorang gadis pujaannya, dahulu hanya merupakan pandangan kasih sayang dari seorang kakak terhadap adiknya saja.

Si gadis bukannya tidak tahu perobahan ini, maka dari cemberut tadi wajahnya sudah lantas berubah bersenyumsenyum yang bikin orang melamun.

Keduanya saling pandang, keduanya saling untuk menyatakan isi hatinya.

"adik Hong..."

Ho Tiong Jong memecahkan.

"Engko Jong...."

Jawab sigadis pelahan. Kembali sunyi, dan pasang mata saling pandang dengan penuh arti.

"Adik Hong."

Kata si pemuda.

"cubitanmu jauh bedanya dengan dahulu."

"Dulu bagaimana dan sekarang bagaimana."

"Dahulu kasar dan sakit."

"sekarang?"

"Halus seperti yang dielus."

Kim Hong Jie tundukkan kepalanya, wajahnya kemerahmerahan.

Memang ia sendiri tahu, bahwa cubitannya Engko Jong dahulu dan sekarang jauh bedanya.

Dahulu sebagai anak nakal ia mencubit betul-betul, tapi sekarang setelah dewasa dan memandang Ho Tiong Jong sebagai pemuda pujaannya, cubitannya halus seolah-olah bergurau mengenangkan masa yang lampau.

Suatu cubitan yang menimbulkan kenangan lama.

Si pemuda berdiri bengong dengan penuh lamunannya.

Lama mereka terbenam dalam masing-masing lamunannya.

Ho Tiong Jong baru sadar ketika Hong Jie perlihatkan sujennya yang memain dan matanya mengerling kepadanya.

"Engko Jong kau masih belum meneruskan ceritamu mengenai aku."

Si gadis berkata pelahan.

"Adik Hong,"

Jawab sipemuda "ketika pertama kali kau diSeng-Kee Po, aku merasa berat untuk menegur kau karena aku merasa bahwa diriku seorang lantang lantung yang tidak berguna, mana adik Hong mau mengenalinya lagi?"

"Engko Jong...."

Nyeletuk si gadis. Ho Tiong Jong tersenyum getir.

"Adik Hong memang aku keliru, sebab ternyata kau ada seorang nona yang berhati mulia, kau sudah menolong membuka totokan pada jalan darahku dan memberikan sebuah kikir untuk aku mengikir putus rantai, yang membelenggu diriku, oh, sungguh mulia hatimu semoga Tuhan memberkahimu selamanya."

"Engko Jong, jangan berkata begitu."

"Maka, adik Hong."

Kata pula Ho Tiong Jong.

"ketika aku mendengar kau dalam bahaya, dengan melupakan diri sendiri yang berkepandaian rendah, sudah lantas datang kesini dengan penuh pengharapan dapat menolong dirimu."

"oh. kau baik sekali Engko Jong, Tapi kenapa mula-mula kau menyebut enci le?"

"Adik Hong, kaujangan salah mengerti. Aku sebenarnya dianggap sudah mati oleh semua orang di Seng Kee Po, kecuali adik Giok dan enci le yang mengetahui bahwa aku sebelumnya belum mati, Maka selainnya mereka berdua, tentu siapa lagi yang mengenali padaku?"

"oh, begitu? Maaf untuk pertanyaanku yang tidak beralasan, Engko Jong?"

Keduanya bersenyum mesra.

Kim Hong Jie yang sangat kegirangan-Pikirnya, pemuda pujaannya ini benar-benar datang kesini dengan menerjang bahaya adalah untuk menolong dirinya, bukan untuk menolong orang lain, Dasar hatinya saja yang penuh cemburu, membuat barusan berulang kali ia kepingin diterangkan kenapa si pemuda menyebut enci le bukannya adik Hong?

Kini ia sudah dapat penjelasan-cintanya terhadap pemuda pujaannya itu sudah semakin tebal saja.

"Tapi adik Hong, bagaimana sekarang baik nya?"

Tiba-tiba Ho tiong Jong berkata.

"Urusan apa?"

Tanya si nona kaget.

"Dirimu, bagaimana dapat lolos dari rantai yang ulet itu? siapa sebenarnya yang telah merantai kau, adik Hong?"

Kim Hong Jie menghela napas.

"Sudah tentu bukan lain dari tua bangka itu yang merantaiku."

"Tua bangka yang mana?"

"Julukannya si Kakek Aneh dan namanya Siaw Kie Han, suhengnya Kong Yat Sin si Dewa obat, Dia sangat hebat ilmu kepandaiannya, ayahku dengan kawan kawannya tak sanggup menghadapinya . Kini umurnya sudah hampir satu abad, tapi masih kuat dan sehat badannya, ia sangat kejam, siapa yang melanggar daerahnya akan mendapat hukuman dari padanya. Begitulah, aku yang lancang melanggar daerahnya telah mendapat ini perlakuan-"

Si nona yang unjukkan tangannya yang dirantai.

"Adik Hong, dimana adanya dia? Aku ingin menemuinya untuk minta maaf supaya kau dapat dimerdekakan dan kembali dapat berkumpul dengan ayahmu."

Kim Hong Jie terharu mendengar kata-katanya Ho Tiong Jong.

"Engko Jong, dia ada di..."

XX JARUM MAUT. NONA KIM belum lampias bicaranya, tiba tiba berhenti karena mendengar suara orang berdehem dan ia kenali itulah ada suaranya kakek aneh yang tenaga dalamnya sangat hebat.

"Tunggu, aku lihat siapa diluar,"

Kata Hong Tiong Jong, sambil bertindak keluar goa.

Sampai diluar ia celingukan mencari orang yang berdehem tadi.

Tiba-tiba dari balik batu besar tampak muncul seorang tindakannya gesit dan semangatnya bagus, Ho Tiong Jong yang melihat nya lantas sudah dapat menebak siapa oiang tua itumaka ia lantas menjura memberi hormat katanya.

"Cianpwee, bolehkah boanpwee menumpang tanya apakah boanpwee berhadapan dengan cianpwee Sauw Kie Han?"

Orang tua itu tidak menyahut, hanya anggukan kepalanya.

"Bagus,"

Kata pula Ho Tiong Jong.

"tempat disini ada begitu luas, sukar kalau boa npwee sengaja mencari pada cianpwee. Kebetulan boanpwee ketemu cianpwee disini."

"Siapa kau."

Tanya orang tua itu kasar.

"Kan mencari lohu untuk apa? Dan kau masuk golongan mana."

"Maafkan boanpwee berlaku berani, Boenpwee mencari cianpwee maksudnya hendak minta pertolongan supaya nona Kim Hong Jie yang dirantai oleh cianpwee dapat diberi kebebasan, karena dia dengan boanpwee ada hubungan dekat."

"Hmm. Bebaskan dia? Kau harus tahu, lohu disini sudah sepuluh tahun lebih telah mengadakan peraturan, barang siapa yang berani menginjak daerah lohu, bisa masuk tidak bisa keluar lagi, siapakah kau?"

"Boanpwee bernama Ho Tiong Jong, tidak punya suhu. Mohon belas kasihan cianpwee supaya nona Kim dibebaskan."

Orang tua itu ketawa aneh.

"Lohu sudah tidak lantas ambil tindakan untuk kelancanganmu datang kemari sudah kelewat bagus, sekarang kau minta kebebasan tawanan lohu, betul betul lucu..."

Orang tua itu berkata dengan sifat mengejek memandang rendah kepada pemuda dihadapannya, sehingga Ho Tiong Jong yang melihatnya menjadi hilang sabar.

"cianpwee, andai kata gunung ini sudah menjadi cianpwee, seharusnya disuatu tempat yang tertentu diberi pengumuman tidak boleh melanggar wilayah cianpwee, baru orang mengerti. Meskipun begitu kalau sekiranya ada orang yang kesasar masuk. rasanya masih dapat pembebasan dan tidak mendapat hukuman mati, bukan ?"

Souw Kie Han tidak menjawab mendengar perkataannya Ho Tiong Jong yang beralasan, Selainnya itu, juga lidahnya sudah mulai kaku, karena sudah puluhan tahun ia mengasingkan diri dipuncak Si-ban-leng belum pernah ia ketemu orang dan bercakapan-Akhirnya sikakek menjadi uring-uringan-"Bocah."

Kata sikakek.

"lohu tidak perlu dengan peraturanmu, yang lohu tetapkan, barang siapa yang berani masuk kedaerahku ini bisa masuk tak bisa keluar lagi, habis perkara."

Ia bicara dengan satu serangan hebat pada Ho Tiong Jong, Itulah serangan dengan telapakan tangan, Ho Tiong Jong tak takut, ia kerahkan seluruh tenaganya untuk menangkis.

Dua kekuatan tenaga dalam segera saling bentur dengan mengeluarkan tenaga keras.

Si kakek bergoyang-goyang badannya, sedang Ho Tiong Jong terdorong mundur dua tindak.

Ho Tiong Jong kaget bukan main, ia tak pernah menyangka bahwa serangan si kakek ada demikian dahsyat.

Dila in pihak, si kakek juga merasa gegetun menyaksikan kekuatan tenaga dalam Ho Tiong Jong.

Meskipun masih demikian muda, tapi sudah termasuk golongan kelas satu tenaga dalamnya.

Si kakek lantas menyerang lagi, tapi Ho Tiong Jong kali ini tidak mau menyambuti keras lawan keras, karena barusan sudah tahu sampai dimana kekuatannya sikakek.

ia menggunakan tenaga lunak untuk melayaninya dan menyimpan tenaga pada siku lengannya menanti kesempatan baik lantas dapat digunakan-Si kakek tahu maksudnya Ho Tiong Jong maka ia lantas tarik pulang serangan telapakan tangannya dan diganti dengan serangan lengan baju, ia mengebutkan lengan bajunya yang gerombonganpergi datang, tapi Ho Tiong Jong masih dapat mengelakan dirinya dari bahaya.

Tiba-tiba dari kebutan lengan ba Ju Itu, Ho Tiong Jong dapat mengendus bau amis.

Hatinya bercekat, maka ia lantas menghunus goloknya untuk melayani.

Si kakek tawa gelakgelak melihat Ho Tiong Jong menghunus goloknya.

"Hai bocah"

Bentaknya "Kau mengeluarkan golok Lam tian to dari keluarga Seng bisa berbuat apa terhadap lohu? Ha ha ha..."

Terus ia melancarkan serangan dengan lengan bajunya yang ampuh.

Dua lengan baju berseleweran, kelihatannya bagus sekali seperti juga si kakek sedang menari-nari tapi sebenarnya ia sedang mencecar Ho Tiong Jong dengan serangan-serangan yang mengarah jalan darah yang berbahaya sekali.

Satu kali Tiong Jong hampir kena disapu mukanya oleh lengan bajunya Souw Kie Han, tapi ia sudah dapat menyingkirkan diri dengan melompat mundur.

Kemudian dengar tertawa dingin ia berkata.

"Hei, kakek, ada apa itu didalam lengan bajumu? Kau dengan menyembunyikan senjata gelap dalam lengan baju untuk mencelakai musuh, apakah itu terhitung seorang gagah dalam kalangan Kang ouw?"

Souw Kie Han terkejut mendengar tegurannya Ho Tiong Jong.

Diam-diam dalam hatinya berpikir, kenapa penuda ini mendapat tahu bahwa dalam lengan bajunya ada tersembunyi senjata rahasia?

Pertandingan dihentikan sebentar.

"Bocah,"

Kata si kakek.

"sedari dahulu lohu bertempur menggunakan telapakan tangan dan sepasang lengan bajuku yang di namai Lengan Baju Besi dengan dua senjata lohu sudah malang melintang dikalangan Kang ouw. Belakangan lohu dapat melatih ular kecil yang cerdik sebagai senjata rahasia yang disembunyikan didalam lengan baju. Ular ini dapat ditenangkan dan menggigit musuh. Banyak pendekar ulung yang telah mati dibawah senjata rahasia lohu ini. Tiap-tiap orang yang sudah mengetahui senjata lohu, harus menemukan kematiannya, Nah, sekarang lohu mau tanya, dari sebab apakan bisa mengetahui bahwa didalam lengan baju lohu ada menyimpan senjata rahasia?"

Ho Tiong Jong mengetahui rahasia itu, karena dahulu ia ketika diserang oleh Tok-kay (si pengemis beracun) ada mengendus bau amis semacam itu.

Pikirnya, kalau ia berterus terang kepada si kakek, nanti si kakek akan mencari segala daya akan menyingkirkan jiwanya, maka ia sudah menjawab dengan singkat saja.

"Aaaaa,,., hal itu tidak heran, Sebab siapapun tentu akan dapat menebaknya perbuatanmu itu."

Soaw Kie Han marah tidak mendapat jawaban yang semestinya, maka ia mulai segera menyerang lagi dengan lengan bajunya yang mempunyai banyak perubahan serangan, Ho Tiong Jong setelah membentak lalu memainkan goloknya untuk melayaninya.

Pemuda itu telah mainkan ilmu golok keramatnya dengan bagus sekali, hingga serangan sikakek tidak dapat menembusi benteng pembelaannya.

Diam-diam si kakek merasa amat heran bertanding dengan Ho Tiong Jong tak dapat menjatuhkannya .

Souw Kie Han lantas merubah serangannya, ia mendesak lebih rapih dan gencar, sementara itu juga telah memainkan ilmu goloknya sampai dua belas jurus, ia tidak bisa meneruskan jurus ketiga belas dan selanjutnya.

Melihat ilmu goloknya si pemuda hanya sampai dua belas jurus saja, maka Souw Kie Han sudah menggunakan kesempatan si pemuda sedang kebingungan ia menyerang dengan baju besinya dan sebentar lagi sudah dapat menggulung goloknya Ho Tiong Jong yang terus dilontarkannya ketengah udara.

Berbareng saat itu ular kecil yang tersimpan dalam lengan bajunya ditenangkan Ho Tiong Jong takut dengan ular kecil itu, maka ia sudah menjaga-jaga jangan sampai kena gigit, justru karena itu ia jadi lengah, tiba-tiba dirasakan tubuhnya lemas karena jalan darahnya yang penting sudah kena dibacok oleh si kakek tua aneh.

Souw Kie Han tertawa terkekeh-kekeh setelah membuat Ho Tiong Jong tidak berdaya.

"Hei bocah, kau sekarang baru merasakan lihaynya lohu. Bagaimana, apa masih mau melawan lagi?"

Ho Tiong Jong tertawa dingin.

"Ha ha ha... ada lihaynya apa sih? Kau menggigit aku, Kalau aku mengerutkan alis sedikit saja karena takut, kau jangan panggil aku Ho Tiong Jong sebagai satu laki-laki sejati"

Souw Kie Han mengangkat ular kecilnya ditodongkan kemukanya Ho Tiong Jong sambil berkata.

"Hmm kau dengan berkata begitu tentu tidak takut mati, bukan?"

"Selama hidupku, belum pernah mengingkari hukum Tuhan, kenapa aku harus takut mati. Kau boleh suruh ularmu yang beracun itu untuk menggigit aku."

Si kakek sebenarnya menghendaki Ho Tiong Jong, dengan mudah saja ia melontarkan ularnya kemuka si pemuda dan pasti mukanya Ho Tiong Jong akan digigitnya.

Racunnya akan masuk mengikuti peredaran darah dalam tubuh Ho Tiong Jong dan tidak lama kemudian ia bisa mati konyol.

Tapi si kakek rupanya tidak mengingini-jiwanya itu.

Ia seperti merasa sayang atas ketabahan hatinya menghadapi kematian, ia telah menarik pulang ular kecilnya dan dimasukan pula kedalam lengan bajunya kemudian berkata.

"Kau karena itu nona kecil, makanya kau menjadi nekad begini. sekarang begini saja lohu tidak mau melepaskan nona itu, tapi kau lohu beri ampun-Nah lekas kau pergi dari sini. Lekas, jangan sampai lohu berubah pikiran lagi"

Tapi mana Ho Tiong Jong mau mengerti ia pergi dari situ tanpa Kim Hong Jie. Maksud kedatangannya justru hendak menolongi Kim Hong Jie, maka ia lantas berkata pada si kakek.

"Cianpwee, aku tidak bisa berlalu dari sini tanpa ikut sertanya nona Kim. Aku berjanji setelah aku dengan nona Kim lepas dari sini, akan bersumpah tidak berani menginjak pula daerah ini, Cianpwe bisa meliwatkan hidupmu dengan tenang dan tentram."

"Kau tidak dengar lohu barusan bilang ? Kau boleh berlalu dari sini, tapi si nona lohu tahan-"

Kata si kakek dengan muka kurang senang. Ho Tiong Jong terus membandel. ia mengijeng macam anak kecil, minta supaya Kim Hong Jie dibebaskan. Hal mana membuat Souw Kie Han pusing dan menjadi marah.

"Bocah"

Katanya.

"Kalau kau terus-terusan mengganggu lohu, jangan menyesal kalau lohu tidak akan ijinkan pula kau pergi dari sini."

Ho Tiong Jong ketawa getir. pikirnya, jiwanya hanya hidup tinggal semalaman lagi, apanya yang ditakuti, maka ia lantas berkata dengan suara mantap.

"Cianpwee, kau boleh tak usah melepaskan aku, asal nona Kim kau merdekakan."

"Betul?"

"Ya."

"Kau tidak menyesal?"

"Aku Ho Tiong Jong sebagai satu laki-laki sejati, sekali mengucapkan perkataan tidak akan menjadi menyesal?"

"Baik, kau keluarkan tanganmu."

Ho Tiong Jong tidak sampai diminta dua kali, sudah lantas menyodorkan sepasang tangannya, Tampak si kakek telah mengeluarkan jarum perak yang ujungnya sangat tajam dan berwarna hitam, kemudian pegang tangan kirinya si pemuda dan menusukkan jarum peraknya pada bagian jalan darah yang penting.

Setelah melakukan itu lalu berkata.

"Ya, sekarang kau boleh pergi. Kau sudah kena bisa dari jarum pencabut Rokh jiwamu hanya tahan dua belas jam saja, sekarang lohu dapat melepaskan nona itu. Tapi kau harus berjanji, kau tidak boleh membocorkan rahasia lohu ini pada siapa juga, kau paham?"

Ho Tiong Jong dengan tabah anggukkan kepalanya.

Ia terus mengikuti Souw Kie Han ketempatnya Hong Jie.

Si nona ketika melihat pemuda pujaannya berhasil mengudang Souw Kie Han diam-diam dalam hatinya memuji kepandaiannya Ho Tiong Jong.

Bukan main girangnya, tampak ia berseyum-senyum hingga sujennya memain memikat hati.

"Engko Jong, kau..."

Hanya ini yang meluncur dari mulutnya yang mungil, matanya mengerling menusuk hati Ho Tiong Jong.

Hatinya pemuda itu berdebaran ia mengerti si nona, kegirangan dan ia tahu si gadis mencintai dirinya sangat besar, tapi entah kapan ia memikirkan nasib hidupnya hanya tinggal semalaman lagi, tiba-tiba rasa cemas dan sedih mengaduk dalam hatinya dan ia sudah kepingin menangis seketika itu juga.

Ketika si pemuda datang dekat, tangannya si nona yang halus memegang tangannya dengan mesra, Buat sekian kalinya ia mendengar si gadis berkata.

"Engko Jong, kau..."

"Adik Hong, aku beruntung dapat mengundang Souw cianpwee untuk membebaskan kau d rantai dan kau selanjutnya akan bebas."

Kata Ho Tiong Jong dengan paksakan wajahnya ketawa gembira.

"Engko Jong, kau baik sekali."

Jawab si gadis kegirangan sementara itu Souw Kie Hao sudah mendekatinya rantai halus yang tidak mempan senjata golok oleh sikakek hanya dijepit dengan dua jarinya saja sudah putus, seperti juga yang kena digunting.

Hebat ilmu kepandaiannya si kakek.

keduanya yang menyaksikan itu menjadi saling pandang dan diam-diam dalam hati masing-masing pada memuji si kakek.

Tanpa berkata apa-apa si kakek telah berdiri tidak jauh dari mereka berdua.

Kim Hong Jie kini sudah bebas, ia tidak perdulikan si kakek, hanya ia lantas menyekal tangannya Ho Tiong Jong, sambil menatap wajahnya sipemuda yang tampan, Kim Hong Jie telah menanya.

"Engko Jong, cara bagaimana sampai dia mau melepaskan aku?."

Ho Tiong Jong paksa bersenyum.

"Adik Hong, hal ini baik belakangan saja aku ceritakan padamu, sekarang yang paling perlu, lekas-lekas kau menyingkir dari sini."

"Mari kita sama sama pergi.

"mengajak si gadis.

"Kau pergi lebih dahulu, aku masih ada urusan sedikit dengan Soaw Locianpwee."

Kim Hong Jie heran, ia menatap wajahnya sipemuda yang sedang tersenyum kepadanya tapi bagaimana juga senyumannya itu seperti tak sewajarnya, maka Kim Hong Jie lalu menanya.

"Engko Jong, kalau kau tidak mau pergi aku juga tidak akan meninggalkan tempat ini, Dari sebab apa, maka kau tidak mau pergi bersama-sama?"

"Hei, bocah"

Menyelak Souw Kie Hong dengan keras.

"Lekas kau pergi dari sini, aku sudah bagi kau kebebasan apa kau tidak puas?"

Nona Kim ada satu gadis yang cerdik, setelah dia menatap wajahnya si kakek dan Ho Tiong Jong bergantian lantas ia dapat menebak bahwa keadaan tidak sewajarnya maka dengan gemas ia berkata pada Souw Kie Han-"Kakek jahat, sekali nonamu bilang tidak mau pergi tetap tidak akan pergi, aku mau lihat kau bisa berbuat apa...."

Souw Kie Han perdengarkan ketawanya yang aneh, ia tidak meladeni Kim Hong Jie yang nyerocos bicara, ia ngeloyor dan sebentar saja sudah tidak kelihatan mata hidungnya.

Kim Hong Jie hatinya sangat tidak enak, dengan air mata mengembeng, ia berkata pada pemuda pujaan hatinya^ "Engko Jong, kau jangan sanggupi permintaannya, Ayo, mari kita lekas meninggalkan tempat ini."

Tidak menunggu nona Kim meneruskan perkataannya, Ho Tiong Jong telah menyelak, katanya.

"Adik Hong, memang aku tidak omong sejujurnya padamu, Tapi.... ah, untuk apa kau mengambil sikap demikian terhadap si kakek? jiwaku tidak berharga."

Kim Hong Jie kaget.

"Haa... kau tentu telah mengikat janji dengan kakek jahat itu. Baik, aku akan berhitungan dengannya."

Ia tutup katanya itu dan lari memburu si kakek keluar goa. Tapi Ho Tiong Jong dengan cepat mencegah "Adik Hong, kaujangan begini kasar."

Katanya, sambil menyekal lengannya si nona, Si nona menangis dihalangi maksudnya.

"Adik Hong, kau harus berpikir dengan tenang. Kau ada seorang cerdik, mudah sekali kau dapat menarik kesimpulan bahwa kekuatan sendiri bukan tandingannya si kakek. Jangan lagi kau hanya seorang diri meskipun dikerubuti bersama akupun, masih bukan lawannya pula. Tidak apa, biarlah aku yang menanggungnya, asal kau dapat pulang kemerdekaanmu dan kembali kerumah dengan selamat aku sudah merasa puas."

Si nona menangis sesenggukan-"Engko Jong. ... gunaku kau sudah berkorban ini betul betul hatiku tidak mengasih. Kau tidak ada, apa artinya hidupku oh Engko Jong, kau..."

Nona Kim menangis makin sedih, hingga Ho Tiong Jong yang melihatnya menjadi teturutan mengucurkan air mata, ia tidak pernah mengimpi, bahwa sinona begitu tebal cintanya terhadap dirinya.

Tapi, ya, apa hendak dikata, Hidupnya hanya sampai besok malam saja dan sekarang ia sudah dapat menolong jiwanya orang yang pernah melepas budi padanya, hatinya sudah bukan main senangnya, sebelumnya ia menemukan ajalnya dapat menolong nona Kim, kematiannya nanti tidak membuat ia penasaran dan rela menyambut malaikat elmaut.

"Sudahlah adik Hong, kau jangan nangis terus-terusan nanti masuk angin"

Menghibur si pemuda dengan suara parau karena sangat sedih. Dengan air mata berlinang linang Kim Hong Jie mengatakan isi hatinya.

"Engko Jong, sejak kau meninggalkan rumahku pada lima tahun berselang, tidak barang sesaat aku melupakan dirimu. Aku senantiasa menantikan kedatanganmu kembali supaya kau dapat merampungkan ilmu golok keramat yang sama sekali ada delapan belas jurus. Kan hanya dua belas jurus saja, masih belum cukup untuk kau pakai malang melintang didunia Kang ouw yang penuh dengan bahaya. Tapi setelah dinantikan setahun dua tahun, tiga dan sampai lima tahun tidak juga kelihatan muncul. Kau bayangkan sendiri, bagaimana cemas dan risau-nya hatiku memikirkan dirimu, Aku sangat menguatirkan keselamatanmu..."

Sampai disini, Kim Hong Jie tidak tahan dengan rasa sedihnya dan menangis semakin keras, hingga Ho Tiong Jong tanpa disadari telah memeluk si nona dan mengusap-usap dahinya serta membetulkan rambutnya yang riap-riapan dengan penuh kasih sayang.

"Adik Hong, aku berdosa terhadapmu, kau. .... oh kalau aku tahukan ada demikian, betapa merindukan diriku, sudah tentu aku tidak akan membawa adat sendiri yang anginanginan-Nah sekarang kau berhenti menangis."

"Lima tahun berselang,"

Kata pula sigadis.

"Aku dapat membuktikan peribadimu yang luhur ketika kau tolong mengembalikan bonekaku yang kecemplung itu. Waktu itu kau tidak menghiraukan hawa dingin, kau telah menolongku. Kini, kini.... aku mendapat bukti lebih nyata lagi tentang kemuliaan hatimu terhadapku.."

"Adik Hong,"

Menyelak Ho Tiong Jong.

"Betul-betul aku merasa bangga mendapat pujianmu dan perhatianmu yang demikian besar, aku dapat mengerti akan isi hatimu terhadapku. Aku juga merasa, hatiku ada begitu dekat dengan kau, hanya.... hanya sayang ada itu perbedaan-.."

Ho Tiong Jong tak dapat meneruskan kata-katanya, ia berkata sampai disitu juga sudah merasa keterlepasan-Kim Hong Jie hentikan sesenggukkannya dan menatap wajahnya si anak muda.

"Engko, long, kau kata tadi perbedaan perbedaan apa itu?"

Tanyanya.

"Perbedaan tingkatan kita, Kau dari tingkatan atas dan aku dari tingkatan yang paling rendah, seorang gelandangan seperti aku, mana orang tuamu memandang mata dan mengijinkan kau bergaul dengan aku? Ah, adik Hong, sebaiknya kita akhiri sampai disini saja perkenalan kita, karena makin rapat kita bergaul makin membuat hatiku jadi lebih sengsara saja..."

"Ah, Engko Jong... Tidak. tidak.... apa itu tingkatan tidak ada dalam kamusku perihal tingkatan atau derajat, kau adalah orang yang paling mulia."

"Adik Hong, Sudahlah, ucapanmu ini aku kuatir akan membuat kau menyesal dibeakang harinya."

"Tidak mungkin"

Kata si gadis sambil membantingbantingkan kakinya, ia menangis lebih keras dari semula hingga saking sedihnya, ditambah kakinya lemas karena kelamaan ia dirantai oleh si kakek aneh, maka seketika itu juga Kim Hong Jie menjadi pingsan-Ho Tiong Jong yang menyaksikan si nona pingsan dalam pelukannya menjadi sangat gelisah, sebelumnya ia bertindak apa-apa mendadak mincul Souw Kie Han-Tanpa kata apa apa lagi si kakek telah menotok urat tidurnya si nona, sehigga Kim Hong Jie jatuh pulas dengan nyenyaknya.

"Bocah."

Kata si kakek.

"Sekarang kau boleh antar dia keluar dari tempatku, jangan datang-datang lagi kesini. Kau ingat, racun dari jarum Pencabut Rokh yang sudah bersarang dalam tubuhmu itu, hanya akan mengijinkan kau hidup dalam waktu dua belas jam saja. Selainnya sute lohu Kong Jat Sin yang dapat menolong dirimu, sudah jangan harap lain orang dapat menolongnya."

Ho Tiong Jong sangat mendongkol pada si kakek, tapi apa ia bisa bikin?

ia tidak ladeni Souw Kie Han mengoceh, hanya lantas ia pondong si nona untuk dibawa turun dari gunung Sie ban-leng, kemudian dengan melalui Liu soa kok (lembah pasir berjalan) ia terus membawa si nona sampai dlkaki gunung Hui cui san.

Ia memilih suatu tempat dibawah satu pohon untuk meletakkan si nona supaya gampang dilihat oleh orang yang berlalu lintas ditempat itu, ia mengharap si nona lekas diketahui oleh orang dari Seng Kee Po supaya lekas pulang dan berkumpul kembali dengan ayahnya.

Melihat si nona masih tidur dengan nyenyaknya, hatinya Ho Tiong Jong menjadi sangat sedih, ia mengusap-ngusap jidatnya si nona sekian lamanya, Hatinya jadi melamun pikirnya kalau dirinya ada sederajat dengan si nona, Kim Hong Jie memang ada satu pasangan yang tepat bagi dirinya.

Ia menyesalkan dirinya yang bernasib sangat buruk.

terus menerus menemukan halangan saja, Besok malam racunnya Tok kay akan bekerja disusul oleh bisa jarum pencabut Roch dari si kakek, untuknya sudah tak dapat lolos lagi dari kematian, Mau pergi ketempat si Dewa obat Kong Yat Sin, dimana?

ia tidak tahu tempatnya Dewa obat itu.

Kalaupun tahu tentu letak tempatnya ada sangatjauh dan sebelumnya ia menemui Kong Yat Sin jiwanya sudah melayang ditengah perjalanan Mengingat akan nasibnya dan mengingat akan kecintaannya Kim Hong Jie dan Seng Giok cin yang demikian besar atas dirinya, diam-diam dirinya merasa sangat sedih dan tanpa merasa saat itu ia telah mengucurkan air matanya.

Pelahan-lahan tangannya merogoh sakunya dan dikeluarkanlah batu kumala api (Hwe-giok), ia pegang tangannya si nona yang halus dan batu itu dikepalkan dalam telapakan tangannya Kim Hong Jie.

"Adik Hong, baik baiklah kau menjaga diri.."

Ia berkata sendirian sambil mengelus sekilas jidat dan pipinya sinona yang sedang tidur nyenyak.

Nasib telah menentukan kita berpisahan, semoga dilain penitisan saja kita berjumpa kembali, selamat berpi....sah adik Hong."

Ia menutup kata katanya dengan suara terputus-putus dan menyeka air matanya yang berlinang linang, Kemudian ia bangun berdiri, setelah sejenak mengawasi lagi si gadis, perlahan-lahan meninggalkan sinona balik lagi ke Liu soa kok.

XXI.

KAKEK ANEH DIKEPUNG Ketika ia hampir sampai di tepi lembah pasir berjalan itu.

tiba-tiba ia melihat ada kira-kira dua puluh orang sedang berkumpul, kuda-kuda tunggangnya mereka ditambat tidak jauh dari mereka berdiri, Rupanya mereka sedang berunding matanya mengawasi kearah depan, hingga tidak mengetahui kalau Ho Tiong Jong diam diam telah sembunyikan dirinya tidak jauh dari mereka.

Orang-orang itu kiranya ada pentolan-pentolan dari Perserikatan Benteng perkampungan-Diantaranya Ho Tiong Jong kenali ada Seng Eng dengan puterinya seng Giok Cin, Kim Toa Lip ayahnya Kim Hong Jie, Hui Siauw Beng, Hui Seng Kang, nona Lauw Hong In, Kong soe Jin, semuanya terdiri dari dua puluh orang tua muda.

Meskipun dalam kalangan Perserikatan Benteng perkampungan sudah ada keretakan menjadi tiga partai, ternyata diwaktu menghadapi kesulitan mereka bisa bersatu padu untuk mengatasinya.

semuanya bersemangat untuk menolonGi kawan-kawannya yang dalam bahaya.

Yang paling tengik lagaknya Kong Soe Jin yang cengar cengir seperti monyet kena terasi.

jikalau beromong-omong dengan wanita, Nona Seng semua melihatnya, maka ia selalu menjauhkan dirinya.

lain dari itu hatinya memang sedang terbenam oleh rasa sedih, memikirkan akan nasibnya Kim Hong Jie, yang menjadi kawan akrabnya.

Air mukanya bermuram durja, ia tidak banyak omong, seperti yang kehilangan semangatnya.

Ho Tiong Jong yang menyaksikan dari kejauhan merasa...

kasihan kepada nona Seng.

Sebentar lagi kelihatan seng Eng, Kim Toa Lip dan Hui Siauw ceng masing-masing mengangkat sebuah batu sebesar satu kaki persegi, yang sudah diikat tambang.

Mereka pada mengerahkan tenaga dalamnya.

Batu-batu itu kemudian dilemparkan ke seberang persis jatuh ditepi bawah gunung Si ban leng.

Bagus sekali ketika batu-batu itu melayang miring dengan membawa tambang, kemudian pada menancap ditempat tujuannya dengan kokoh sekali.

oleh karenanya orang jadi bisa melewati padang pasir berjalan itu diatas tambang yang melintang itu.

Yang pertama maju, adalah cianpwee Toa-nio yang dikenal paling mahir ilmu meng entenGi tubuhnya.

Nyonya tua itu, benar saja dapat menyebranGi pasir berjalan dengan selamat diatasnya tambang setelah disebrang, si nenek telah membikin kokoh pula batu-batu yang menancap tadi, maka dengan bergiliran telah berjalan diatas tambang itu Kim-Toa Lip.

Hui Siauw ceng dan lain-lainnya.

Justeru diwaktu Ciauw Toa-nio dan Kim Toa Lip sedang memegangi lambang membantu kawan-kawannya menyebrang, tiba-tiba meluncur turun dari atas gunung seorang kakek yang bukan lain ada Souw Kie Han sendiri.

Ia membentak dengan bengis.

"Hei lekas hentikan perbuatan kalian, jangan coba membikin ribut ditempat lohu, Lekas kembali."

Mereka terkejut, tapi hanya sejenak saja.

Mereka tidak takut pada kakek aneh itu, cuma saja karena menyerbu ketempat orang tanpa ijin, mereka menjadi raguragu untuk memberi alasannya.

Tapi Ciauw Toa nio yang mulutnya lancang sudah berteriak keras.

"Kakek jahat!! Kau jangan sok jago-jagoan dan menang sendiri, Lekas kembalikan itu anak muda yang kau sudah tahan, baru nyonya mu dapat mengampuni jiwamu dan dengan hormat akan kembali lagi dari sini."

"Hmm."

Menyelak Souw Kie Han sangat mendongkol "Kau enak saja bicara, kalian jatuhkan dulu lohu, baru bicara tentang pengembalian anak-anak nakal itu yang sudah datang kemari tanpa ijin lohu."

Ciauw Toa nio ketawa cekikikan seram, matanya mendelik mengawasi pada si kakek aneh dari goa Pek cong-tong, tapi sudah tentu saja tidak dibuat jerih oleh yang tersebut belakangan.

Maka ia telah berkata pula.

"Nenek tidak berguna, kau jangan banyak lagak nanti lohu bikin kau tahu rasa untuk kelancanganmu datang disini."

"Baik."

Teriak si nenek "Lihat saja nanti siapa yang akan dikasih tahu rasa aku atau kau sendiri?"

Sementara itu kawan-kawannya Ciauw Toa nio sudah menyebrang semuanya. Sambil urut-urut jenggotnya dan tertawa bergelak gelak Souw Kie Han berkata.

"Kalian tentu dari Perserikatan Benteng Peikampungan, bukan?"

"Ya, kau mau apa, kakek jahat "jawab ciauw Toa nio dengan suara keras. Sebetulnya Seng Eng dan yang lain-lainnya, kepingin bicara dengan baik-baik saja kepada si kakek. tapi apa mau Ciauw Toa-nio sukar di rem mulutnya, Selalu mendahului yang lain lainnya, Mungkin karena ia pikir, bahwa dalam rombongannya itu dialah yang paling mahir dalam ilmu silat maupun dalam hal meng entenGi tubuh.

"Bagus... bagus..."

Kata Souw Kie Han.

"Memang, kalau diingat ada sukar sekali kalian bersembilan dapat berkumpul bersama-sama. Kini, kalian sudah dapat berkumpul, lohu kepingin menjajal barisan kalian yang buat bangga, yalah yang dinamai "Kim-long pat-hong-thian-bee tin" (barisan delapan penjuru angin naga emas dan kuda sakti), mari lohu kepingin menjajal sampai dimana lihay nya barisan yang diagul-agulkan oleh kalian itu."

"Hmm...."

Menggeram Ciauw Toa nio, kembali ia mendahului kawan kawannya.

"Kalau yang dihadapi oleh kami orang ada si Dewa obat Kong Yat Sin, mungkin kami orang akan merasa jerih dan lekas-lekas berlalu dari sini, Tapi kau... kau tua bangka yang tidak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi mau membuka mulut besar? Hi, hi, hi...."

Slouw Kie Han kewalahan menghadapi si nenek ia selainnya tidak pandai tarik urat juga sudah banyak tahun tidak bergaul dengan sesamanya, mulutnya sudah menjadi kaku.

Tidak heran, kalau ia merasa sangat gemas kepada si nenek yang pintar ngomong.

"Sekarang begini saja"

Kata si kakek.

"pertama tidak ada satu diantara kamu orang yang kuperkenankan datang ditempat lohu dipuncak gunung, Kedua, kalian boleh berbaris dahulu disana, untuk menempur lohu sebentar. Kalian keluarkan kepandaian apa saja yang dimiliki untuk menjatuhkan lohu, akan lohu layani dengan baik, Asal kalian tak mau memenuhkan dua syarat ini, h mm... jangan sesalkan lohu mati berbuat telengas "

Kim Toa Lip yang paling gelisah, karena puterinya dikira masih berada dalam kekuasaannya si kakek Maka sebelumnya Ciauw Toa nio membuka mulut sudah lantas berkata.

"Baik, kami akan menerima dua syarat itu, tapi dengan jaminan bahwa lima orang yang ditahan olehmu semuanya berada dalam keadaan selamat."

"Ha ha ha, jangan kuatir, Mereka dalam keadaan segar bugar Asal kalian dapat menjatuhkan lohu pendeknya mudah saja mereka akan lohu bebaskan dengan tidak kurang suatu apa."

Mendengar ini hatinya Kim Toa Lip dan yang lain-lainnya merasa lega.

"Kakek bangkotan"

Teriak Ciauw Toa-nio libatiba ia masih terus tak mau kalah suara dari kawan-kawannya.

"Kau boleh belajar kenal dahulu dengan nyonya mu ini kalau aku kalah, baru menjajal kami punya barisan yang ampuh."

"Kau ini nenek lancang"

Kata Souw Kie Han.

"Kalau belum dikasih rasa memang juga belum kenal kelihayan lohu."

Ciauw Toa nio tertawa terkekeh-kekeh.

Souw Kie Han sudah masuk usia sembilan puluh tahun masih lebih tua dua puluh tahun dari Ciauw Toa nio yang berumur tujuh puluh tahun.

Jarak diantara mereka kira-kira ada empat tumbak.

Untuk melayani si kakek, Ciauw Toanio tidak sungkansungkan mengeluarkan senjatanya yang ampuh, yala h suatu tali yang panjang sepuluh tumbak yang di namai, Tali Terbang Menjerit.

inilah senjata Ciauw Toanio yang sangat diandalkan yang telah mengangkat namanya tersohor dalam kalangan Kang ouw.

"Kakek tua kejemur"

Menggoda Ciauw Toa noi.

"Kau lihat senjata nyonyamu akan membuat tidak ada jalan untuk meloloskan diri. Hi hi hi....."

Berbareng ia telah melontarkan talinya yang panjang itu.

Tapi Souw Kie Han tidak bergerak untuk berkelit atau mengegos hanya lengan bajunya dikibaskan yang mengeluarkan angin dahsyat, hingga senjata tali Ciauw Toanio balik lagi dan hampir saja menghajar pemiliknya sendiri, kalau tidak si nenek cepat-cepat berkelit kesamping untuk menghindarkan serangan talinya sendiri.

"He he he he"

Terdengar sikakek ketawa.

Matanya Ciauw Toa nio melotot, ia menyerang lagi tapi seperti juga tadi si kakek tidak bergerak dari berdirinya dan hanya mengebutkan lengan bajunya saja, cukup membuat si nenek gelagapan-Yang jailnya si kakek seperti bisa mengendalikan angin pukulan lengan bajunya, ia membikin anginnya berkumpul mengarah rambutnya Ciauw Toa nio, hingga dalam tempo pendek saja rambutnya si nenek sudah menjadi riap-riapan seperti setan-Panas hatinya Ciauw Toa nio dikocok demikian, maka ia menyerang lebih hebat lagi, setelah pukulan simpanannya telah dikeluarkan barulah ia bisa membuat perlawanan terhadap si kakek.

Cuma saja tegas sekali, bahwa ia bukan tandingannya Souw Kie Han-Meskipun ia coba mengurung dengan tali wasiatnya, tapi si kakek dengan acuh tak acuh melayani padanya.

Kim Toa Lip nampak Ciauw Toa nio keteter jadi saling pandang dengan kawan kawannya, ia memberi isyarat untuk menyerbu kalau Ciauw Toa nio sebentar menghadapi bahaya serangan si kakek.

Kembali terdengar si kakek tertawa terkekeh-kekeh.

"Budak lancang, aneh sekarang boleh rasai kelihayannya lohu, He he he...."

Sambil berkaca Souw Kie Han telah merubah tipu serangannya. Lengan biju kanannya menggunakan tipu serangan ok hong Pauw-ie, (angin jelek hujan ribut) dan lengan baju yang kiri menyerang dengan gaya.

"Li-hoanBe thian (wanita celaka menutupi udara). Dua-gerak tipu serangan dengan lengan baju yang hebat sekali, hingga Ciauw Toa-nio merasakan gencetannya hampir tak dapat bernapas.

"Benar hebat"

Demikian ia pikir dalam hatinya.

Kehabisan akal.

Ciauw Toa nio berlaku nekad, ia mulai merogoh sakunya dan diam-diam sudah mengayunkan tangannya, segera benda yang berkeredepan hitam tampak diudara, itulah senjata gelapnya yang biasanya tidak suka salah alamat, kini nyeleweng karena angin pukulan lengan bajunya si kakek.

Betul juga bendanya yang ampuh itu tidak dapat menyentuh badannya Souw Kie Han.

"He he he..."

Tertawa sikakek.

"budak lancang, sekarang bagaimana."

Bagaimana gemas juga, bagaimana marahnya juga, Ciauw Toa-nio tidak bisa berdaya sama sekali menghadapi sikakek yang ilmunya ada lebih jauh lebih tinggi dari padanya.

Malah dalam hatinya meragu-ragukan kalau sikakek sebentar dapat dikalahkan oleh barisan yang ampuh.

"Kakek bangkotan."

Ciauw Toa-nio tiba-tiba menjerit, ketika ia terus kena didesak oleh lawannya.

"Kau berhentikan dahulu pertandingan ini, aku mengaku kalah dan pertandingan dengan barisan kini boleh lantas dimulai."

Si nenek berbareng lompat keluar dari kalangan pertempuran dengan napas sengal-sengal. Kini Souw Kie Han tertawa gelak-gelak.

"Bagus, bagus..."

Katanya.

"Nah, cobalah bentuk barisanmu yang sangat dibuat bangga itu. Lohu ingin lihat, apa bisa bikin terhadap lohu. He he..."

Seng Eng, KimToa Lip dan lain-lainnya panas hati mendengar perkataan sombong dari si kakek.

^api memang juga sudah menjadi kenyataan mereka, kalau satu melawan satu bukan tandingannya si kakek.

Buktinya, Ciauw Toa nio yang merupakan benggolan dari mereka tidak bisa tahan meladeni duapuluh jurus saja.

Apa boleh buat, mereka telan semua rasa gusar dan mengharap dengan barisannya yang dinamai "Kim Liong-pat.

liong thian bee tiu"

Atau "Barisan delapan penjuru angin naga emas dan kuda sakti"

Ho Tiong Jong yang mengikuti mereka dan mengumpat ditempat yang tidak jauh dari kalangan pertempuran diamdiam merasa kagum dengan ilmu silatnya si kakek yang tinggi.

Diam-diam ia berpikir "sebab apa si kakek tidak menggunakan ular terbangnya untuk membunuh ciauw Toanio?

Heran, kenapa dia tidak berlaku kejam?"

Kim Toa Lip maju kedepan sebagai pemimpinnya.

Sret...

terdengar suara pedang dihunus keluar dari sarungnya.

itulah ada pedang Kim liong kiam, senjata pusaka dari Kim-liong-po (benteng naga emas).

KimToa Lip yang akan mengepalai barisan (tin).

Dalam perkara memainkan senjata, KimToa Lip ada lebih unggul dari kawan-kawannya, maka juga ia telah diangkat sebagai kepala dalam barisan-Kim Pocu dengan suaranya yang keras saban-saban berseru mengatur orang-orangnya yang menduduki tempattempat penting dalam barisan, seperti Seng Eng, Co Tong Kang, Hui Siauw Ceng dan lain-lainnya mendapat bagian bagiannya untuk menjaga posisinya masing-masing dengan senjata di tangan-Betul-betul angker kelihatannya barisan yang dibentuk oleh Kim Pocu.

Senjata yang digunakan oleh mereka ada bermacammacam seperti yang digunakan oleh Seng Eng dengan cambuk besar, Hui Siauw Ceng dengan pit, ada yang menggunakan giokstay (ikat pinggang), perisai dan lain-lainnya.

Yang menarik perhatian CoTong Kang dengan senjata bendera apinya (Liat -hwekie), ia menjaga posnya dengan angker sekali.

sebentar lagi barisan sudah mulai bergerak, mengurung souw Kie Hong.

Ho Tiong Jong yang menyaksikan kejadian itu menjadi melongo, ia tidak tahu barisan apa yang akan mengepung si kakek, Apakah Souw Kie Han dapat memecahkan barisan yang angker itu?

Souw Kie Han sendiri merasa sangsi, apakah ia akan berhasil dengan perlawanannya nanti.

Melihat Souw Kie Han masih tetap bergerak.

maka Kim Coa Lip telah berkata kepadanya.

"Kie Han, kami sudah siap. kenapa kau tinggal diam saja? Boleh mulai kau membobolkan barisan kami kalau kau ada itu kemampuan."

Nona Ciauw Soe See, anaknya Ciauw Toa-nio nyeletuk.

"Mana si kakek ada itu keberanian untuk membikin pecah barisan"

Si nenek nyengir ketika mendengar anaknya berkata demikian-"Budak lancang, kalau aku tidak ditinggal mati oleh isteriku yang amat cantik dan bersumpah tidak akan membinasakan kaum perempuan, kau siang-siang sudah tidak bernyawa pula ditangan lohu, Hmm..."

Souw Kie Han tutup ucapannya diiringi satu serangan dengan lengan bajunya kepada Ciauw Soe See hingga si nona merasakan sesak napasnya, ia memang tadi sudah melihat, bagaimana si kakek membuat ibunya tidak berdaya dan hampir hampir kena dipecundangi mentah-mentah, kalau tidak buru-buru lompat keluar dari kalangan berkelahi minta pertandingan dihentikan-Ciauw Soe See menjadi ketakutan, untung Kim To Lip datang menyelak.

katanya.

"Kie Han, kaujangan bikin anak kecil ketakutan, kalau ada mempunyai kepandaian boleh keluarkan untuk memecahkan barisan kami."

Souw Kie Han melotot matanya, ia tidak senang dengan perkataannya Kim Pocu yang memandang rendah rasa dirinya. Tapi sebelum ia membuka mulut, Kim Toa Lip sudah berkata pula.

"Kie Han, kami memang sudah mendengar tentang kematian isterimu yang elok itu, tapi sekarang kau bertempur, jangan bercabang hatimu. Kau harus menggunakan kepandaianmu dengan sungguh-sungguh,sebab tidak gampang-gampang kau bisa lolos dari barisan kami ini ada warisan dari nenek moyang kami, yang pada seribu tahun yang lalu pernah mengepung seorang pendekar yang luar biasa kepandaian ilmu silatnya dan membuat dia mati kutu."

"Baiklah aku akan pecahkan barisan kalian"

Pikirannya, paling dahulu ia harus menjatuhkan Kim Toa Lip yang menjadi kepala barisan, Kalau kepalanya sudah jatuh, badan dari buntutnya lantas kalut dengan sendirinya.

Tapi ia tidak mengira, bahwa Kim Toa Lip bukan makanan empuk.

Karena begitu ia menyerang, Kim Toa Lip sudah gunakan Kim liong kiam untuk melayaninya.

Pedang pusakanya amat berat hingga angin yang keluar dari pedang itu juga bukan main beratnya dirasakan oleh si kakek.

Tiga gebrakan lekas sekali telah berlalu, Ternyata Kimpocu dapat memainkan pedangnya dengan enteng dan kokoh sekali pertahanannya, Diam-diam si kakek menjadi kaget pikirannya.

"Ini satu Kim Toa Lip saja sudah sukar dijatuhkan cepat-cepat, bagaimana kalau aku sebentar dikerubuti oleh yang lainlainnya? Kalau kepandaiannya mereka ada jauh dibawahnya Kim Toa Lip tidak apa, tapi kalau rata-rata kepandaiannya berimbang saja, sukar buat aku keluar dari barisan ini.... Tiba tiba ia mendengarkan Khoe Cong berkata.

"Kim toako, kau jangan serakah, kasihlah aku mendapat giliran untuk melayani si kakek. tanganku sudah gatal benar."

Khoe Cong berkata sambil tertawa, hingga Souw Kie Han menjadi mendelu hatinya.

"Jangan kuatir Khoe hiante, segera kau juga mendapat gilirannya, Aku juga tidak serakah mengangkangi sendiri."

Sahut Kim Pocu.

"Tidak. kasih aku yang mendapat giliran dahulu."

Inilah suaranya Coa Tong Kang. Kemudian disusul oleh suaranya Seng Pocu.

"Tidak bisa aku harus mendapat giliran terlebih dahulu, sesudahnya Kim toako."

Demikian orang ramai meminta pada dulu-dulu mendapat giliran melayani si kakek, hingga Souw Kie Han dibuat pusing kepalanya, ia sangat mendelu hati, ia gusar sekali.

Pikirnya orang sangat memandang rendah terhadap kepandaiannya.

Bagaimana juga ia harus memecahkan barisan ini, barulah mereka tahu Souw Kie Han punya kelihayan Sementara itu pedangnya Kim Toa Lip telah mendesak dengan keras sekali, hingga mau tidak mau perhatiannya di tumplek kepada Kim Toa Lip.

Apa mau tidak diduga sama sekali, ketika ia berkelit dari serangan pedang Kim Toa Lip ada angin yang meny amber dari samping, itulah Ciauw Toa-nio yang mengirim serangan dahsyat.

Matanya mendelik bahna gusar, tapi sebelumnya ia dapat membalas serangan orang, kempa li dari lain jurusan, ia diserang, ia dihujani serangan dari segala jurusan, boleh dikatakan dari delapan penjuru angin hingga ia repot sekali menangkis serangan yang dilakukan dengan senjata.

Souw Kie Han dalam marahnya sudah mainkan sepasang lengan baju besinya yang ampuh, hingga angin menderuderu dan pasir batu pada berterbangan karena kesemprot oleh angin pukulannya yang hebat.

Kim Toa Lip masih terus dengan tenang mengendalikan serangannya.

Pada suatu saat ia mengirim tusukan tajam, tapi Souw Kie Han cepat merubah posisinya, hingga Kim Toa Lip kepaksa merubah tusukan pedangnya menjadi membabat, inilah yang ditunggu-tunggu oleh si kakek karena ia melihat Ciauw Toanlo merogoh sakunya hendak menerbangkan pula senjata gelapnya.

Maka diwaktu ia berkelit dari babatannya Kim Toa Lip lengan bajunya lantas menyerang kearahnya Ciauw Toa-nio, hingga senjata rahasia sinenek yang hendak diayun jadi urung dan ia sendiri sempoyongan terkena angin pukulan lengan bajunya si kakek, napasnya dirasakan menyesak dan hampir ia rubuh pingsan-Serangan si kakek tadi ada tipu ilmu silat yang dinamai "Pek in Cat san"

Atau "Awan putih keluar dari gunung"

Yang hebat sekali hingga Ciauw Toa-Nio tidak tahan-Untung Ciauw Toa Lip melihat bahaya, Menampak kawannya kena dihajar oleh angin pukulan musuh, segera ia menerjang si kakek dengan gaya "Iblis bermain mata"

Ia mengirim serentetan tusukan pedang sehingga Souw Kie Han tidak punya kesempatan untuk mengambil jiwanya si nenek yang sangat menyebalkan hatinya.

Dengan begitu Ciauw Toa-Nio dapat ketolongan jiwanya.

Hebat tipu serangan iblis bermain mata dari Kim Toa Lip tadi, sebab dua belas tusukan pedang mengarah pada dua belas tempat jalan darah yang penting pada tubuhnya si kakek aneh dari goa Pekscong-tong itu.

Tapi dasar ilmu silatnya lebih atas, maka serangan yang bertubi-tubi itu dapat dielakan oleh Souw Kie Han dengan baik sekali, malah ia sudah mengulurkan tangan dan membuka lima jarinya untuk menyengkeram Ciauw Toa-nic.

Si nenek saat itu sudah meramkan matanya akan terima nasib, tapi cengkereman si kakek urung setengah jalan, karena satu benda berapi telah membentur tangannya, itulah ada benda yang diluncurkan oleh Coa Tong Kang.

Ketika melihat kawannya dalam bahaya Coa Tong Kang menggunakan ilmu "Thian-bee Keng gong (kuda semberani melayang di angkasa) melesat keangkasa dari udara dengan senjata gelapnya yang mengandung api ia telah menyambit pada lengan si kakek hingga kebakar.

Si kakek terpaksa menarik pulang cengkeremannya karena jarinya dirasakan panas.

Souw Kie Han perdengarkan suara ketawanya yang aneh.

Matanya menyapu sekalian jago-jago itu yang jumlahnya sembilan orang, yang keren-keren kelihatannya, Kecuali Kim Toa Lip yang masih ngotot menyerang dengan pedangnya dan beberapa orang lainnya, masih ada lima orang pula yang masih belum bergerak dan tengah mengawasi kepadanya dengan senyuman dingin Senjata mereka macam-macam, ada yang digunakan untuk jarak jauh ada yang untuk jarak dekat, semuanya telah digerakkan menyerang si kakek, akan tetapi semuanya dapat dielakan oleh Souw Kie Han-Ho Tiong Jong ditempat sembunyinya melihat jalannya pertempuran demikian hatinya sangat heran, Kenapa Souw Kie Han tidak menggunakan senjata gelapnya yang berupa ular kecil untuk membunuh mati musuhnya?

Dilain pihak.

Seng Eng dan kawan kawannya juga karena tidak mau mengambil jiwanya sikakek aneh itu ?

untuk yang tersebut belakangan Ho Tiong dapat menebak sebab sebabnya, mungkin mereka masih menguatirkan anak keponakan mereka yang masih disekap oleh si kakek.

Kalau anak-anak disekap ditempat yang tidak ketahuan dimana letaknya dan si kakek sudah binasa, dimana mereka bisa mencarinya anak-anak itu, Terdengar Kim Toa Lip berkata nyaring.

"Hei, Kie Han, apa kau masih belum mau menyerah? Kau jangan mengimpi dapat melepaskan diri dari kepungan kami orang."

Mendengar kata-kata ini bukan main gusarnya Souw Kie Han-Ia sebenarnya kepingin menggunakan ularnya untuk membunuh musuhnya akan tetapi dipikir lagi, kalau misalnya ia sudah dapat membunuh satu musuhnya tentu senjata rahasia itu diketahui oleh yang lain-lainnya.

Mereka tentu tidak akan mau mengerti dan mengeroyok mati padanya, Lain urusannya kalau ia berhadapan dengan satu dengan satu, mudah saja ia mengeluarkan senjata ularnya untuk membinasakan musuhnya.

senjata gelapnya itu, selainnya Ho Tiong Jong tidak ada yang mengetahuinya pula.

Ia pikir, ada harapan suatu waktu ia ketemu dengan satu pada orang-orang yang kini mengepungnya ia bisa membinasakan dengan ular itu.

Akhirnya ia bisa menjawab ucapan Kim Toa Lip tadi.

"Kau jangan keliru mengira lohu takut mati. Dalam buku kamus hidup lohu tidak ada takut mati."

"Kau sudah merasakan lihaynya barisan kami, bukan? Nah, sekarang kau merdekakan anak dan keponakan kami, supaya kami dapat melepaskan kau dengan selamat dari kepungan kami."

Kim Toa Lip sambil mengasih tanda pada orang orangnya untuk meng gerakan barisannya.

"IHm, kalian dengan perkataanku"

Teriak si kakek.

"Lohu belum mau mengaku kalah dan sejak dahulu malah belum mengaku kalah. Kalian tidak percaya, nah boleh belek, (belah) dada lohu apa dalam hati lohu ada tertulis kata-kata kalah?"

Semua orang hentikan bergeraknya barusan, mereka saling pandang mendengar kata-katanya si kakek barusan, Mereka diam-diam mengagumi sikap si kakek yang kepala batu dan kecekatannya tidak mau mengaku kalah.

"Baik,"

Tiba-tiba Kim Toa Lip berkata.

"sekarang aku mau tanya kau mau lepaskan tidak orang-orang yang telah kau tahan?"

Souw Kie Han pada saat itu memang sudah sangat lelah, karena sudah bertanding ratusan jurus lamanya, ia sungkan mengaku kalah dan terus meladeni mereka mengeroyok dirinya, ia sudah coba menerjang keluar dari barisan sampai dua kali, akan tetapi semuanya gagal, kini ia mengerti, bahwa sukar untuk ia keluar dari kepungan kalau tidak menyerah kalah.

Sebenarnya ia sangat mendongkol dengan kata tadi, tapi apa daya?

Kepaksa ia menjawab dengan suara dingin.

"Hmm....untuk apa aku kasih mereka tinggal hidup dalam daerahku?"

Kim Toa Lip tertawa bergelak gelak mendengar ucapannya si kakek.

"Bagus inilah tanda dari perdamaian, Saudara-saudara, lekas kasih jalan untuk Souw-Locianpwee panggil anak-anak kita keluar ha ha ha..."

Souw Kie Han mendelik melihat lagaknya Kim Toa Lip. tapi ia tidak ungkulan untuk mengajak mereka bertarung lagi, maka ia hanya berkata.

"Hari ini urusan kita sudah berakhir sampai disini. Mulai sekarang dan untuk selanjutnya kalian dari Perserikatan Benteng perkampungan dan anak buah kalian dilarang menginjak daerah kediaman lohu ini. Kalau larangan ini dilanggar, jangan sesalkan kalau lohu tidak memberi ampun lagi pada yang bersangkutan-"

Anak-anak muda yang mendengar ancamannya si kakek rata-rata pada naik darah panas hatinya, akan tetapi sembilan orang tua tidak menunjukkan perubahan apa-apa diwajahnya dan juga tidak mengucapkan janjinya akan mentaati larangan si kakek.

Mereka membungkam terus.

Tiba-tiba ada sesuatu yang terlintas di otaknya si kakek, maka ia telah tertawa bergelak-gelak.

hingga membikin pihak lawannya keheranan-"Kau menertawakan apa?"

Tanya Seng Eng, yang dari setadi tinggal diam--saja.

"Lohu menertawakan pada kalian orang-orang tua yang tak ada gunanya."

"Dalam hal apa, maka kau berani mengatakan demikian?"

Nyeletuk ciauw Toa nio "Lohu menyaksikan ketika kalian hendak menyebrangi Liu soa kok ada begitu bersusah payah, beda dengan seorang muda yang pernah datang kesini, ia dengan secara mudah saja dapat melalui lembah pasir berjalan (Liu soa-kok)."

Perkataan si kakek membuat Kim Toa Lip dengan kawankawan jadi saling pandang.

XXII.

GIOK CIN BUKA RAHASIA HATINYA.

MEKEKA tampak sedang menduga-duga siapa adanya pemuda yang dimaksudkan oleh si kakek aneh itu.

"Aku lihat kalian bersembilan-"

Terdengar Souw Kie Han berkata pula.

"yang sudah dapat nama termashur dikalangan Kangouw, tapi buktinya mengecewakan-Menyebrangi lembah pasir berjalan saja ketakutan setengah mati, beda dengan seorang muda yang datang kesini dia sudah sampai dipuncak Si-ban leng dengan tidak mendapat kesukaran apapun juga, malah dia sudah dapat menolonGi nona yang dicitiunya dan sudah dibawa pergi olehnya."

"Siapa dia?"

Tanya Kim Toa Lip dengan tidak sabaran.

"Ho Tiong Jong..."

Semua orang terperanjat mendengar nama itu disebut.

Mereka hampir tidak percaya dengan pendengarannya karena Ho Tiong Jong itu sudah mati, bagaimana ia bisa datang kepuncak Si ban-leng?

Apakah itu setannya yang datang kesitu?

Seng giok Cin terperanjatnya lain, Mukanya berubah seketika jantungnya dirasakan memukul keras.

"Tiong Jong sudah mendahului kita menolong adik Hong... oh, dia gagah sekali, di mana adanya sekarang?"

Si nona diam-diam menanya pada diri sendiri.

Kim Toa Lip menjublek sekian lamanya.

Ia tidak mengerti Ho Tiong Jong bisa hidup kembali.

Adakah pemeriksaannya kurang teliti?

ia bersama Coa Tong Kang memeriksa bersamasama Ho Tiong Jong dalam penjara air dimana ia sudah melayang jiwanya karena di hajar oleh senjata rahasia Ceng ciauw Nikouw yang beracun, Tok kim chi (pedang emas berbisa).

Setelah memikir lebih dalam, ia jadi geli sendirinya.

ia tidak mengira Ho Tiong Jong pada mempunyai kepandaian yang membuat dirinya itu betul betul telah tewas jiwanya dengan menggunakan tenaga dalamnya ia sudah dapat membuat dirinya dingin dan tidak bernapas, betul-betul macamnya orang sudah mati.

Disamping rasa geli, hatinya bukan main girangnya, karena Kim Hong Jie puterinya, ternyata sudah tidak ada pula pada si kakek dan sudah ditolong oleh itu sianak muda yang gagah dan tampan-Tiba-tiba ia kaget mendengar sikakek berkata.

"Hm hanya sayang sekali lohu sudah memberi tusukan beracun pada Tiong Jong sebagai ganti jiwanya yang luar biasa dalam dunia persilatan dia tidak akan muncul lagi dalam dunia Kangouw. Sayang, sungguh sayang. Ya apa mau dikata, kecuali suteku Kong Jat Sin dapat menolong jiwanya sudah tidak ada pula orang lainnya lagi."

"Berapa lama ia bisa hidup?"

Menyelak Seng giok Cin.

"Dia dapat hidup dalam beberapa jam saja."

Jawab si nenek.

"Aaaaa locianpwee keliru?"

"Mana lohu bisa keliru ?"

"Tiong Jong tidak bisa mati, Aku tidak percaya ia bisa mati ."

"Sebabnya ?"

"Kalau dia memang harus mati, tempo hari saja ketika kena Ceng ciauw Ni Kouw punya Tok-Kim chi. Senjata rahasianya itu amat berbisa, aku tidak percaya jarum maut cianpwee ada lebih berbisa dari Ciauw Nikouwpunya Tok-Kim chi."

"Bisa jarum yang lohu tusukan di tubuhnya itu termasuk diantara "Lima Bisa"

Sedang Ceng Ciauw punya Tok kim chi termasuk juga dalam itu "Lima Bisa", Kalau Tiong Jong tidak mati oleh Tok-kim-chi tentu dia bakalan mati oleh jarum mautku, itulah rupanya, Tiong Jong memang sudah nasibnya akan binasa dengan racun kesian-"

"Sudahlah,"

Menyelak Kim Toa Lip.

"sekarang lekas kau keluarkan itu anak yang kau tahan, Dan kami akan berlalu dari sini?"

Si kakek delikin matanya akan tetapi ia tidak kata apa-apa, ia ngeloyor pergi sekian lamanya, kemudian datang lagi dengan Tan Kie Seng, cu Coan Liang dan Kong soe Tek.

Mereka kegirangan dapat berjumpa kembali dengan paman dan kawan-kawan, terutama Kong soe Tek yang kegarangannya paling besar karena telah dapat berjumpa kembali dengan Kong Soe Jin, engkonya.

Kedua saudara itu, yang mendapat julukan im yang Siang kiam, telah berpelukan kegirangan dengan berlinang-linang air mata.

Kim Toa Lip sendiri tenang-tenang saja, karena puterinya telah diselamatkan oleh Ho Tiong Jong.

Meskipun anak muda itu sudah kena tusukan jarum beracun si kakek, ia percaya Ho Tiong Jong dapat membawa putrinya ketempat yang selamat, Mereka lantas pada meninggalkan tempat itu, karena orang-orang yang hendak ditolong nya sudah beres dan kembali dengan selamat.

Hanya Seng Giok Cin yang tidak turut mereka pulang.

Seng Eng yang percaya puteri-nya bisa membawa dirinya, tidak berkata apa-apa, ketika si nona menolak untuk turut pulang dengan alasan hendak bercakap-cakap sebentar dengan si kakek, ia hanya memesan supaya si nona berlaku hati-hati.

Seng Giok Cin hiburkan sang ayah dengan kata-kata yang menentram bati, maka ayahnya telah meninggalkan ia dengan hati lega.

Meskipun dimulut tidak mengucapkan apa-apa, tapi dihati Seng Eng sudah menebak seratus persen bahwa puterinya tidak turut pulang bersama sama tentu hendak menyelidiki Ho Tiong Jong.

Sebagai orang tua yang menyayang pada putrinya, Seng Eng mengerti bahwa puterinya telah jatuh hati kepada pemuda yang gagah berani itu.

souw Kie Han heran melihat si nona tidak turut pergi, maka ia lalu menanya.

"Hei nona mengapa kau tidak turut kepada mereka?"

Seng Giok Cin tersenyum manis, Pelahan-lahan ia mendekati si kakek dan berkata pelahan "cia npwee, aku tidak turut berlalu dari sini karena aku ada sedikit urusan dengan cianpwee."

"Hei, urusan apa lagi ?"

Menentang si kakek dengan heran-"Soal Tiong Jong."

Jawabnya.

Si kakek buka lebar matanya, Pikirnya, si cantik Kim Hong Jie telah menyintai Ho Tiong Jong begitu rupa, kini kembali satu nona elok menaruh perhatian begitu besar kepada si pemuda, Betul-betul Tiong Jong sangat beruntung, hanya sayang dia pendek umur, sudah kena jarum mautnya dan tidak bisa tertolong jiwanya.

"Tiong Jong kenapa,"

Tanya si kakek.

"Kalau Tiong Jong sudah mati, dimana kuburannya ?"

"Kau mau bersembahyang ?"

"Ya,"

Jawab si nona telengas .Souw Kie Han mengelah napas, ia mengawasi paras muka si nona yang cantik menarik, yang saat itu mengandung kedukaan Hatinya kasihan, akan tetapi apa mau di kata, ibarat beras sudah jadi bubur ia sendiri tak dapat menolonGi Ho Tiong Jong, Tapi ia bisa menghiburi si nona, katanya.

"Nona, Tiong Jong masih belum mati, sebentar malam kirakira jam dua baru dia mati..."

Setelah berkata demikian, kembali si kakek mengawasi wajah yang cantik menarik nona didepannya, pikirannya saat itu melayang kepada istrinya yang telah meninggalkan dunia.

Maka sambil menghela napas ia pelahan lahan angkat kakinya meninggalkan Seng giok cin berdiri sendiri.

Seng Giok Cin tak tahu, ia harus berbuat bagaimana sekarang.

Mau menyusul Ho Tiong Jong, menyusul kemana?

ia tak tahu kemana perginya si pemuda yang membawa Kim Hong Jie.

Ia jadi berdiri menjublek sekian lamanya, pelahan napas terdengar beberapa kali, wajahnya menunjukkan rasa duka.

Ho Tiong Jong barusan mendengar Souw Kie Han memujimuji dirinya, diam-diam ia merasa bangga, Kalau saja pujian itu pada beberapa waktu berselang, tentu ia sudah keluar dari tempat sembunyinya dan mengunjuk diri sambil tepuk-tepuk dada.

Tapi kini Ho Tiong Jong sudah ada pengalaman, ia tidak mau unjukkan dirinya sewaktu dirinya diangkat tinggi-tinggi, meskipun sang hati kepingin menonjolkan mukanya didepan orang banyak.

terutama diiepan gadis jelita seperti nona Seng.

seban saat ia tidak bisa wajahnya yang cantik dan kebaikannya.

Kini tegas ia menyaksikan bagaimana nona Seng begitu memperhatikan dirinya.

ia tidak turut pulang dengan ayah dan pamannya karena ingin mengetahui hal kematian dirinya, pembicaraan yang dilakukan antara nona Seng dan Souw Kie Han tertangkap nyata dalam telinga si pemuda, hingga diamdiam ia berkata kepada dirinya sendiri.

"Dia juga menyintai diriku, bagaimana ini jadinya? Hong Jie dan giok Cin dua nona cantik jelita pada menyintai aku, kenapa ?"

Ia sendiri tak tahu, Apakah lantaran wajahnya cakap cakap?

Atau karena sikap dan pengawakannya gagah?

Aaaa.....

mustahil, sebab tak kurang-kurang pemuda pemuda lain yang lebih tampan dan gagah, malah mereka ada dari tingkatan atas, sedang ia sendiri hanya seorang muda dari kalangan gelandangan saja, IHemn, ia tidak habis mengerti.

Tiba-tiba ia teringat bahwa dirinya hanya tinggal beberapa jam lagi saja, hatinya menjadi cemas.

Diwaktu ia mengelah napas, matanya melihat nona Seng dengan perlahan lahan angkat kakinya menuju lembah.

Cepat cepat ia keluar dari tempat sembunyinya dan dengan tindakan ringan yang tidak menerbitkan suara ia menghampiri si nona.

Dari belakang nya ia berkata perlahan-"Adik Giok, kau jangan berduka, aku ada disini."

Kaget bukan main Seng giok Cin, cepat ia berbalik dari depannya berdiri Ho Tiong Jong dengan muka berseri seri, wajahnya yang tampan menawan yang selalu menjadi buah matanya.

Tapi herannya Seng Giok Cin bukannya mengunjuk wajah girang melihat si pemuda saat itu, sebaliknya air mukanya tampak dingin.

"Ya, bagaimana sekarang setelah kau ada disini?"

Katanya ketus. Ho Tiong Jong jadi berdiri bengong. Sama sekali ia tidak mengira bahwa akan mendapat jawaban begitu ketus dan air muka yang dingin, Aneh, pikirnya.

"Kau kira dirimu seorang gagah perkasa, bukan? Hm.... tidak tahu malu."

Kegirangan dan kemesraan Ho Tiong Jong seketika itu lenyap tak berbekas.

ia seolah-olah diguyur air dingin dengan mendadak saja badannya dirasakan menggigil.

Tadinya ia menduga Seng giok Cin menyambut ia dengan mesra, karena ia menyaksikan sendiri, bagaimana gelisah dan benar perhatian Seng giok Cin terhadap dirinya yang dikatakan sudah kena racun dan akan menemukan ajalnya.

Heran kenapa sikapnya demikian dingin?

Ah, dasar hati wanita sukar diduga.

Ketika Seng giok Cin perlakukan Ho Tiong Jong demikian?

Soalnya adalah karena si nona merasa malu.

Tadi perbuatan dan percakapannya dengan si kakek pikirnya telah diketahui oleh sipemuda, itulah berarti bahwa rahasia hatinya telah diketahui semua oleh Ho Tiong Jong.

Ia merasa malu sendiri, maka juga ketika mataaya kebentrok dengan matanya sipemuda, lantas saja selebar mukanya menjadi merah jengah.

Untuk menebus rasa malunya ia coba unjukkan muka dingin dan ucapan perkataan ketus, tapi ia salah hitung, karena justeru demikian sipemuda yang beradat angkuh lantas mengambil jalannya sendiri.

Ho Tiong Jong bukannya itu pemuda yang gampang menekuk lutut didepannya wanita cantik, boleh diinjak injak kepalanya, asal si nona untuk sikap manis pemuda she Ho itu adatnya angkuh dan dapat menghargai dirinya sendiri.

Mukanya lantas berubah, ia tidak unjuk senyumannya lagi dan menjawab ucapannya si nona.

"Ya, nona Seng harap kau suka maafkan, kalau karena kedatanganku ini ada mengganggu ketentramanmu. Budimu yang telah kuterima, aku tidak akan melupakannya. Nah, selamat tinggal."

Setelah berkata demikian Ho Tiong Jong lantas berlalu dari depan si cantik.

seng Giok Cin jadi kebingungan-Barusan kedengarannya enak sekali ketika Ho Tiong Jong mengucapkan kata kata adik giok, sekarang sudah berubah lantas dengan "Nona Seng,"

Inilah ada tanda bahwa pemuda itu menolak sikapnya yang barusan di unjuk itu. ia tidak menduga sama sekali kalau pemuda itu berkepala batu dan tidak tunduk oleh kecantikan-Maka cepat-cepat ia memburu.

"Eh, Engko Jong, kau tunggu dahulu."

Teriaknya. Ho Tiong Jong hentikan tindakannya.

"Ada urusan apa lagi?"

Tanyanya.

"Kau sekarang hendak pergi kemana?"

Ho Tiong Jong tidak menjawab, ia harus angkat bahunya dan gelengkan kepala.

Pikirnya betul-betul hati wanita sukar di tebak arahnya.

Barusan ia begitu ketus dan dingin, kini ramah tamah dan menanyakan pula tentang dirinya hendak pergi kemana, tak pernah mau tahu urusan orang, mau pergi ke mana itulah ada urusannya sendiri.

Meskipun ia akan menghadapi kematian, tapi untuk di hina seseorang wanita, nanti dahulu, Maka ia segera melangkah lagi hendak meninggalkan si nona, yang kini sudah jinak dan lunak.

Seng Giok Cin gelisah menghadapi kepala batu, maka ia cepat memegang tangannya dan menanya pula dengan suara halus merdu dan tidak lupa mulutnya yang mungil menyungging senyuman "Engko Jong harap jangan marah, barusan aku berlaku kurang sopan, Harap kau suka maafkan, sebenarnya bagaimana rencanamu kau mau pergi kemana?"

"Aku sendiri tidak tahu, tapi aku harus lekas meninggalkan tempat ini."

Ho Tiong Jong menjawab sambil berjalan. Si nona mengintil disampingnya.

"Engko Jong menurut pikiranku sebaiknya kau mengikuti aku, buat aku coba menyembuhkan racun yang ada di tubuhmu."

Ho Tiong Jong ketawa getir.

"Kau baik sekali nona Seng,"

Jawabnya.

"terima kasih kau tak usah repot-repot karena diriku, sebab aku sendiri bisa mengatasinya."

Perih hatinya Seng Giok cin, kembali ia mendengar si pemuda memanggil, nona lagi padanya bukannya adik, itu tandanya masih marah kepadanya.

Seumurnya Seng Giok cin belum pernah begitu merendah pada orang, juga belum pernah mendengar kata-kata yang acuh tak acuh seperti Ho Tiong Jong, maka hatinya sangat perih dan ia kepingin menangis oleh karenanya.

Ia melihat si pemuda meninggalkan kepadanya.

Terpaksa ia memburu pula, sambil menyekal lengannya pula ia berkata.

"Engko Jong kau benci padaku ?"

"Kenapa aku harus membenci kau ?"

"Kau kelihatannya acuh tak acuh terhadapku."

"Ya, diantara kita tidak ada hubungan lain, Kita hanya sebagai kenalan sepintas lalu saja dan itu mudah dilupakan, Budimu yang aku terima, selama aku masih hidup tentu aku tidak akan melupakannya."

Kembali Seng Giok Cin hatinya merasa di tusuk-tusuk.

Perih sekali hatinya ia menyintai sipemuda, tapi ternyata pemuda itu tidak mengerti akan cintanya.

Tapi itu bukan salahnya Tiong Jong, salahnya sendiri barusan membuat sakit hatinya sipemuda yang beradat tinggi.

ia menyesal, bagaimana akalnya supaya ia dapat baik kembali ?

"mari kita bicara."

Mengajak si nona sambil menarik lengannya sipemuda pergi kebawahnya pohon yang rindang.

Kedua-nya buat sejenak lamanya tinggal membisu.

Seng Giok Cin tundukan kepala, sedang Ho Tiong Jong saban saban mendongak melihat kelangit seolah-olah ada apa-apa disitu yang dicari.

Suatu saat ia memandang sinona ^ang menundukkan kepala sambil bakal main ujung bajunya.

"Nona Seng ada urusan apa kau ajak aku kesini?"

Tiba-tiba sipemuda membuka pembicaraan-Seng Giok Cin tidak menjawab, hanya dari sepasang matanya yang jelita tiba-tiba mengeluarkan air mata. Ho Tiong Jong kaget melihat Seng Giok Cin menangis.

"Kau kenapa?"

Tanyanya heran.

"Engko Jong."

Kata si nona sambil terisak-isak "Apa kau masih marah padaku ?"

"Kenapa aku mesti marah padamu ?"

"Engko Jong, kau tak tahu isi hatiku terhadapmu."

Ho Tiong Jong melengak.

Sebelum ia membuka suara menanya, si nona sudah mulai melanjutkan kata-katanya secara blak blakan ia bukan seorang nona pemaluan atau pingitan, ia tidak tedeng aling-aling untuk mengatakan isi hatinya didepan pemuda pujaanya.

"Engko Jong, seumur hidupku selain ayah yang aku amat pikiri, tidak ada lain orang lagi. Tapi sejak hari itu, waktu kau menolong diriku tanpa menghiraukan diri sendiri telah menempur "Sepasang Orang Ganas"

Hatiku terus memikir padamu."

Ho Tiong Jong berdebaran hatinya mendengar pengakuan si nona, ia tidak menyangka bahwa si nona berani secara terang terangan membuka rahasia hatinya, ia terus mendengarkan lanjutannya si nona bicara.

"Malah, aku lebih berat memikiri dirimu dari pada ayahku sendiri, Pikirku. setelah kau mati, aku akan mencukur rambut masuk menjadi nikouw untuk melayani suhu di Ta san-Setiap hari aku akan tetap mengenangkan dirimu, mendoakan supaya arwah mu dialam baka mendapat tempat yang lapang ..."

Seng Giok Cin sampai disini sudah tidak dapat menahan rasa sedihnya lagi, maka ia telah menangis makin sedih danjatuhkan dirinya dalam pelukannya Ho Tiong Jong.

Ia menangis terisak-isak didadanya sipemuda yang lebar dan kuat.

Ho Tiong Jong sementara itu sudah tak dapat berkata-kata saking kagetnya.

Kaget, Karena ia tidak menyangka si nona ada demikian besar cintanya terhadap dirinya, ia menyesal akan perlakuannya tadi, yang membuat si nona merasa tidak enak hatinya, Perlahan-lahan ia memenangkan hatinya.

Sambil mengusap-ngusap rambutnya si nona yang hitam mengkilap dan tumbuh subur ia menghibur.

"Adik Giok. kau jangan berkata demikian-Aku hanya seorang pemuda gelandangan, tidak punya rumah tangga yang tentu, malah orang tua sendiri belum tahu dimana adanya. Masih terlalu banyak pemuda-pemuda pantaranku, yang lebih tampan, gagah dan tinggi kedudukannya maupun ilmu silatnya, maka bagimu masih mudah saja untuk memilihnya bukan? Kau..."

"Engko Jong."

Memotong si nona dengan air mata masih berlinang-linang.

"memang tidak salah ucapanmu barusan, banyak yang lebih cakap dan cerdik dari pada kau. Tapi kau adalah kau, mereka adalah mereka, Mereka bukannya kau. Engko Jong, kau tidak tahu, meski sekarang badanku belum menjadi milikmu, tapi hatiku telah lama menjadi milikmu. Maka kalau kau mati, hatiku juga berarti mati, mengikuti kau dikubur, Selanjutnya aku akan hidup dengan semangat melayang-layang dan mungkin, setelah suhu menutup mata aku juga akan menyusul rokhmu ketempat baka."

"Adik Giok..."

Suara merdu menyelusup ditelinga si nona, sedang mulutnya ditekap oleh sipemuda pujaannya.

"Kau jangan berkata demikian, aku seram mendengarnya, Nah, sekarang coba dongakkan wajahmu yang cantik."

Seng Giok Cin menurut, dengan air mata masih berlinanglinang, ia dongakkan mukanya menatap wajahnya Ho Tiong Jong yang bersenyum kepadanya.

Sejenak lamanya keduanya saling memandang dengan tidak merasa puas.

Tangannya Ho Tiong Jong yang kiri dipakai menunjang dagunya si nona, sedang yang kanan dipakai mengusap-usap jidat, rambut, pipi dan mulutnya sinona yang mungil, Matanya terus menatap seolah olah tidak mau berkedip.

Si nona diperlakukan demikian, tinggal mandah saja malah merasa sangat bahagia.

"Adik Giok."

Kata sipemuda dengan suara pelahan.

"Aku cinta padamu, aku ingin memandang wajahmu sepuas puasnya, supaya kalau aku nanti mati dapatlah aku mengenangkan wajah yang elok jelita dari kekasihku daiamdunia..."

Suara Ho Tiong Jong parau kedengaran-nya, karena menahan rasa sedih yang mencengkeram hatinya.

Tampak pada kedua belah matanya ada meneteskan butiian air mata, sedang sepasang matanya Seng Giok Cin yang barusan baru berhenti menangis, kini mendengar kata kata itu.

kembali mengeluarkan air mata dengan derasnya.

Keduanya jadi saling peluk dengan sangat mesra seakan akan tidak ingin berpisahan pula, keduanya saat itu merasa sangat bahagia, melupakan untuk sesaat itu atas kematiannya sipemuda yang sebentar lagi akan terjadi.

Suaranya Ho Tiong Jong yang memanggil "adik Giok"

Terus berkumandang dalam telinganya si nona, jasanya seperti suara musik yang merdu, ia bersenyum, diam-diam dan balas memeluk erat-erat pada sipemuda yang memeluk kencang tubuhnya seakan-akan sudah tak mau melepaskannya lagi.

Tiba-tiba Ho Tiong Jong mendorong dengan perlahan tubuh sinona yang harum semerbak, pikirannya kalut perasaannya cemas meluap-luap dan ia menyesal bahwa umurnya akan demikian pendek.

Kalau saja ia diberi panjang umur, alangkah bahagianya ia hidup di dampingi seorang wanita elok seperti nona Seng Eng yang mencintai setulus hati.

"Adik Giok,sudah waktunya kita berpisahan-.."

Terdengar sipemuda pelahan sambil mendorong tubuhnya si pemudi pelahanseng Giok Cin berkeras tidak mau dipisahkan dari tubuhnya.

"Engko Jong...."

Ia berbisik.

"Biarkan aku ikut kemana kau pergi temponya ada sangat singkat untuk kita akan berpisahan selama-lamanya, dengan begitu dapatlah nanti aku mengenangkan wajahmu dibawah sinarnya lampu sang Buddha."

Ho Tiong Jong kaget, ia tidak tega untuk mendorong sinona yang memeluk erat-erat tubuhnya.

"Adik Giok. semestinya aku tidak boleh berbuat begini, aku harus bersikap dingin padamu, memancing kebencianmu, supaya kau dapat melupakan aku. Tapi, ya, barusan kau kata hendak mengikuti aku sampai aku..."

"IHussstt..."

Kata Seng Giok Cin, sambil menekap mulutnya sipemuda dengan jari-jari tangannya yang halus mulus.

"jangan teruskan bicaramu, aku seram mendengarnya, sebaiknya kita bicarakan hal hal yang membahagiakan hati saja."

Ho Tiong Jong menatap wajah cantik dari Seng Giok Cin, kerlingkan matanya yang menjalin hati, membuat Ho Tiong Jong lemas karenanya, maka ia bersenyum dan berkata dengan pikiran lega.

"Baiklah, aku menurut saja padamu."

Seng Giok Cin berseri-seri, air matanya yang barusan berlinang linang telah menghilang entah kemana.

Perlahan-lahan ia keluar setangannya, hendak menyeka bekas menangis tadi.

Ho Tiong Jong cepat merebutnya setangan yang harum semerbak ini, ia sendiri yang menyeka pelahan-lahan air yang masih mengeram ditelakupan dan bulu matanya yang halus lentik, oh bagaimana bahagia Seng Giok Cin pada saat itu.

Keduanya saling menatap dengan bersenyum-senyum.

Tangannya nona Seng yang halus memegang tangannya sipemuda, diajaknya untuk berduduk pada sebuah batu besar yang tidak jauh dari situ.

"Engko Jong."

Kata sinona, setelah mereka duduk berendeng.

"semula aku tidak memperdulikan segala kejadian-Kini aku merasakan akan kedatangannya malaikat elmaut. Setelah aku menyaksikan perbuatanmu menolong si lemah memberantas si jahat, hatiku jadi tergerak. Aku berjanji akan membuang perangaiku yang sudah-sudah dan selanjutnya akan menjalankan kebenaran seperti kau?"

"Bagus itu, bagus adik Giok, Setelah aku..."

Dia tidak dapat melanjutkan bicaranya karena mulutnya kembali dibekap oleh tangan yang mungil Seng Giok Cin matanya melotot kepadanya seolah-olah menegur kenapa ia hendak berkata pula yang menyeramkan itu.

Ho Tiong Jong merasa bersalah, maka ia berseri-seri kemudian berkata.

"Adik Giok, maafkan aku barusan aku kelupaan-"

"Aku harap kan jangan timbulkan soal demikian pula, yang membikin hatiku sangat pilu dan kepingin menangis. apakah kau senang melihat aku menangis terus-terusan?"

Demikian si nona menyesalkan-"Iyah dah. aku tidak berani lagi."

Jawab sipemuda bergurau. Seng Giok Cin ketawa, Suasana menjadi gembira lagi, keduanya meneruskan percakapannya. Seng Giok Cin menyatakan pikirannya.

"Engko Jong meski betul katanya kau tak iapal ditolong lagi, tapi apa salahnya sebelumnya waktunya sampai, kita berdaya untuk mencari pemunah racun yang ada ditubuhmu. Siapa tahu Tuhan memberkahkan kita dapat hidup bahagia nanti?"

Ho Tiong Jong diam saja.

Tapi otaknya bekerja, ia pikir, tubuhnya sudah tiga kali kena racun.

Pertama karena goresan kukunya Tok-kay, kemudian Toat-kim chi dari ceng ciauw Nikow yang ia gigit dengan giginya, lantas belakangan diinjeksi oleh jarum mautnya si kakek aneh dari Lembah Pasir Berjalan-Tiga macam racun sudah mengaduk dalam tubuhnya, mana mungkin dirinya ketolongan dari bahaya kematian.

Melihat sipemuda diam saja.

Seng Giok Cin meneruskan bicaranya.

"oo, ya.... sekarang aku baru ingat, Locianpwee Kong Yat Sin sering-sering datang ke gunung Po kay san menyambangi seorang sahabatnya untuk bercakap-cakap. Dari sini gunung itu jaraknya hanya seratus lie saja. Aku kira, dalam waktu dua jam kita sudah bisa sampai, Siapa tahu peruntunganmu panjang umur, dengan Tuhan Yang Maha Esa kau dapat di tolong. Dia ada mempunyai hubungan baik dengan ayahku, maka aku akan minta supaya bagaimana juga ia dapat menolong dirmu. Eh bagaimana kau pikir?"

Ho Tiong Jong terbuka sedikit harapannya, ia menyetujui usulnya si nona untuk pergi kesana. Disaat mereka pada bangun berdiri dari duduknya, tiba tiba muncul Souw Kie Han dihadapan mereka.

"Hei, kalian lagi merundingkan apa lagi bukan lekas pergi?"

Tegurnya kasar.

Ho Tiong Jong beringas, Agaknya ia sangat marah pada si kakek yang menginjeksi dirinya dengan jarum mautnya.

Tapi sebelum pemuda membuka suara, Seng Giok Cin menalangi padanya menjawab.

"Hii, kau ini orang tua bawel benar, sekarang juga kira memang hendak meninggalkan tempatmu"

Souw Kie Han melihat sepasang matanya si nona merah seperti habis menangis, hatinya menjadi lemas.

Tidak tega berlaku keterlaluan, ia hanya menyuruh supaya mereka buru buru meninggalkan tempat itu.

Matanya Ho Tiong Jong mendelik.

"IHm...."

Ia menggeram.

"kalau kepandaianku diatasmu, aku akan membereskan kau kakek serakah ini mengangkangi seluruh gunung."

Souw Kie Han berubah wajahnya, ia tidak senang mendengar perkataan Ho Tiong Jong.

"Bccah, kau jangan banyak omong. Sekali lagi kau berani berkata begitu awas"

Demikian ia mengancam.

Ho Tiong Jong meluap amarahnya.

Ia nekad dan hendak menempur lagi si kakek, meskipun ia sudah dipecundangi dan tahu bahwa kepandaiannya belum nempil untuk melayani si kakek.

Pikirnya, sudah kepalang, tokh dirinya bakalan mati, Takut apa sama si kakek yang kejam itu.

Tapi Seng Giok cia lebih sabar, ia tahu meski ia berdua bersatu juga mengerubuti si kakek masih bukan tandingannya, apa lagi Ho Tiong Jong seorang diri menghadapinya, maka ia sudah kasih isyarat kepada sipemuda dengan kerlingan matanya.

"Sabar Locianpwee, jangan berbuat sekasar itu kepada kami, Tokh kami hanya menginjak Liu soa-kok hanya untuk sekali ini saja, untuk apa kau jadi marah?"

Si kakek mendengar tata bahasanya demikian halus dan merendah, hatinya lemas, Terdengar ia menghela napas, kemudian berkata.

"Ya, kalian tidak tahu kesusahan hati lohu. Sebenarnya, lohU tidak punya maksud memberlakukan kalian kasar."

Ho Tiong Jong mendengar perkataannya si kakek, lantas terlintas dalam ingatannya suatu penemuannya tempo hari.

"Aku tahu kau punya kesusahan hati ,"

Katanya Souw Kie Han berubah wajahnya, ia mengawasi si pemuda sejenak.

"Bagaimana kau tahu kesusahan lohu ?"

"Kau tentu sedang memikirkan benda wasiat yang kau cari tak ketemu, bukan ?"

Si kakek tergetar hatinya, ia heran kepada pemuda ini dapat menebak dengan tepat kesusahan hatinya ? "Apa artinya perkataanmu itu,"

Tanya sikakek.

"Sekarang kau terangkan dahulu kesusahan hatimu, nanti aku akan kasih tahu apa apa yang membuat terhibur kesusahanmu?"

Si kakek terheran heran mendengar bicaranya Ho Tiong Jong.

"Ya. lohu sudah puluhan tahun lamanya-tapi selama itu belum juga dapatkan benda yang lohu maksudkan-"

Ho Tiong Jong ketawa.

"Aku tahu kesusahan ini, kau lentu mencari itu patung yang melukiskan tubuhnya satu wanita elok. benar tidak?"

"Hei bocah"

Teiiak si kakek.

"Kau bohong mana bisa jadi kau dapat menemukan benda itu digunung Sie ban-leng ini, tentu kau menemukannya diluar gunung."

"Aku sudah memegangnya, aku sudah melihatnya, bahkan sudah membaca apa bunyinya tulisan yang diukir pada patung sicantik itu."

Jawab Ho Tiong Jong. souw Kie Han terbelalak matanya, ia mengawasi si pemuda tanpa berkesiap.

"Bocah, kau lekas beritahukan pada lohu, dimana letaknya dan apa patung itu sudah di ambil olehmu. Bicara lekas, kalau sedikit, membohong lohu tidak perkenankan meninggalkan tempat ini. Mungkin lohu akan membuka pantangan membunuh dan hilangkan jiwa kalian."

Seng Giok Cin terkesiap hatinya, ia jerih juga menghadapi si kakek yang sedang kalap mendengar berita tadi dari Tiong Jong. Tapi sebaliknya Ho Tiong Jong tidak takut, ia tertawa bergelak-gelak.

"Kakek kejam, aku Ho Tiong Jong tidak nanti takut dengan ancamanmu sekarang mati dan nanti mati, untukku sama juga bukan?"

Souw Kie Hanjadi melongo.

Memang benar juga katakatanya sipemuda, ia sudah kena jarum injeksi mautnya lagi beberapa jam menemui kematiannya, kalau sekarang ia membunuhnya sama juga, tidak banyak bedanya ada terlebih cepat ia menemui kematiannya.

Ia menyesal sendiri tidak dapat memunahkan racun jarum mautnya, kalau tidak boleh ia memunahkan dahulu racun yang pada ditubuhnya si pemuda untuk mengorek rahasia yang diketahui oleh sipemuda itu dengan jalan menyiksa dirinya.

Kini gertakannya tidak mempan-Maka dengan mendongkol ia sudah tinggalkan pergi sepasang muda mudi itu.

Mereka juga tidak ambil perduli si kakek dan lantas angkat kaki dari situ.

Tapi tidak dinyana si kakek kemudian balik lagi dan menegasi, katanya.

"Hei bocah, apa patung itu kau sudah ambil?"

"Tidak"

Jawab Ho Tiong Jong sambil terus berjalan, hingga si kakek menjadi tidak senang pertanyaan dianggap sepi.

Dalam gemasnya, ia sudah keluarkan kepandaiannya menotok dari jarak jauh, sebentar lagi Ho Tiong Jong dan sinona pada jatuh rubuh.

"He he he,"

Si kakek tertawa aneh, ketika melihat korbannya rubuh, ia datang menghampiri lalu keluarkan rantai wasiatnya, dan merantai muda mudi itu diikatnya pada pohon masing-masing sejarak kira kira satu tumbak.

Mereka diikat berhadap hadapan, Setelah mana ia lalu membuka pula semua totokannya, sehingga saling susul Seng Giok Cin dan Ho Tiong Jong mendusin, Si nona merasa girang, ketika siuman melihat Ho Tiong Jong tak kurang suatu apa hatinya lega, sebaliknya sipemuda, ketika membuka matanya bukan main gusarnya pada Souw Kie Han, ia mencaci maki si kakek.

"Kau ini tua bangka tidak tahu diri, kejam dan tidak punya peri kemanusiaan-Bagaimana tidak hujan tidak angin mau berlaku sewenang-wenang lagi pada kami? Apa belum puas dengan jarum mautmu yang ditusukkan kepadaku."

Tapi Souw Kie Han tidak jadi marah, malah ia ketawa terkekeh kekeh.

"Kau sayang pada dia?"

Tanyanya kemudian sambil menunjuk pada nona Seng.

"Tentu, kan mau berbuat apa?"

Sahut Ho Tiong Jong beringas.

"He he he, kalau kau sayang padanya, lekas cerita terus terang, lohu tidak akan mau mengganggu seujung rambutnya?"

"Tidak. kau jangan kena digertak olehnya, Engko Jong, kalau kau menuruti kemauannya aku akan membenturkan kepalaku mati disini"

Demikian si nona berkata dengan suara gemas dan pasti.

"He he, dia cerita juga boleh kenapa?"

"Tidak. aku tidak suka menyenangkan hatimu, Kau kakek kejam."

"Bocah, kau jangan bikin lohu jadi marah"

Bentak Souw Kie Han pada nona Seng.

"Tidak. aku tidak takut kau marah, Eh, Engko Jong kalau kau memberitahukan kepadanya aku akan menggigit lidahku untuk mati disini."

Souw Kie Han benar benar marah, ia angkat tangannya menampar pipinya si nona hingga bersuara nyaring, Sinona sangat malu di hina demikian rupa seumur hidupnya ia baru mengalamkan kejadian itu.

Dengan air mata bercucuran ia memaki si kakek kalang kabut, tapi tidak diladeni oleh Souw Kie Han.

Di lain pihak Ho Tiong Jong perih hatinya melihat kekasihnya diperhina demikian rupa oleh si kakek.

tapi apa daya?

ia tidak mempunyai tenaga untuk melawannya, ia hanya menyesalkan dirinya yang tidak punya guna.

Tapi Souw Kie Han juga sesudah menampar si gadis harinya merasa sangat menyesal ia terburu napsu bukannya ia punya maksud untuk menghina seorang wanita, ia berbuat demikian karena tidak tahan oleh perasaan gusarnya.

Ia lalu menghadapi Ho Tiong Jong dan berkata.

"Bocah lohu sudah mengambil ketetapan untuk melepaskan kau dan dia. Tapi dengan syarat, yalah ke satu kalau kalian sudah merdeka kau menjamin dia tidak akan membikin pusing lohu, kedua kau harus bersumpah bahwa benda itu masih dipuncak gunung ini tidak dibawa olehmu. Bagaimana kau sanggup?"

Si kakek rupanya merasa kuatir juga si nona kalau sudah dimerdekakan akan ngamuk dan merangsak dirinya, Meskipun ia sendiri tidak takuti Seng Giok Cin tapi biar bagaimana juga ia merasa sungkan melayani seorang anak perempuan yang pantas menjadi buyut-nya.

Ho Tiong Jong pikir-pikir syarat-syaratnya itu dapat diterima sebab kalau ia terus membandel, dikuatirkan si nona akan mendapat tambah penghinaan yang tak ada perlunya dari si kakek.

Maka ia lalu mengawasi pada Seng Giok Cin, seakan-akan yang meminta persetujuaanya .

Seng Giok Cin mengerti, ia pikir memang tidak ada gunanya membandel.

Paling perlu lekas-lekas mereka dapat kemerdekaannya, supaya Ho Tiong Jong cepat-cepat mendapat pertolongan dari Kong Jat Sin.

Maka ia lantas mengasih isyarat dengan matanya, bahwa ia mupakat sipemuda menerima baik syaratnya slkakek.

"Bagaimana? "si kakek mendesak.

"Ya, aku terima syaratmu itu. Kalau aku membawa patung itu, biarlah langit dan bumi menghukum diriku?"

Souw Kie Han tertawa gelak-gelak.

Ia percaya perkataan sipemuda, maka seketika itu ia telah melepaskan mereka lagi.

Seng Giok Cin cepat-cepat mengajak Ho Tiong Jong meninggalkan tempat itu.

Mereka menuju ke gunung Po-kay san-Di sepanjang jalan, mereka bercakap-cakap meskipun di wajah mereka kelihatan gembira, tadi dalam hati masing-masing cuma Tuhan yang tahu, Mereka kuatir akan gagal racun pada tubuh sipemuda tak dapat ditolong karena tidak dapat menemui Dewa obat Kong Yat Sin-Mereka beli seekor kuda naiki berdua, Gunung Pokaysan itu tidak seberapa jauh mereka hanya memerlukan setengah jam saja berkuda sudah sampai ditempat yang dituju.

Ketika mendaki gunung tersebut sampai ditengah-tengahnya Seng Giok Cin telah menangis, karena hatinya sangat sedih memikirkan nasib sendiri dan Ho Tiong Jong, pemuda pujaannya, ia berkata pada sipemuda.

"Ya, Engko Jong hatiku merasa takut sekali."

"Kau takuti apa?"

Tanya sipemuda heran-"Kalau-kalau kita tak dapat menjumpai orang yang akan diminta pertolongannya, bagai mana baiknya, ya? Kau jangan meninggalkan aku..."

Ho Tiong Jong mendengar kata-kata si nona, hatinya sangat pilu.

"Kau jangan takut, jiwa manusia di tangan Tuhan-"

Menghibur Ho Tiong Jong, tapi berbareng ia sudah menotok jalan darah si nona hingga ia ini jatuh lemas.

Ho Tiong Jong cepat menahan tubuhnya si nona yang hendak rubuh, perlahan-lahan si jelita diturunkan dan kuda dan diletakkan diatas rumput dibawah satu pohon siong yang rindang.

Matanya si nona mengawasi sipemuda dengan sayu, seolah-olah mau menanya, kenapa menotok dirinya?

Kemudian memeramkan matanya tidur pulas.

"Adik Giok. jangan kecil hati. Aku terpaksa menotokmu, supaya kau jangan turut aku kesana, Sebab kalau benar tidak menemui orang yang dicari, repotlah nanti aku karena kau putus asa. Kau beristirahatlah sebentar disitu, aku segera akan kembali^"

La boleh dikata telah berkata-kata sendirian, karena Seng Giok Cin saat itu sudah tidak sadarkan dirinya, ia sudah pulas karena totokannya tadi.

Ia menghampiri kudanya dan ditambat pada sebuah pohon-Cepat Ho Tiong Jong gerakan kakinya naik keatas gunung.

Sesampainya dipuncak.

benar saja ia dapatkan rumah yang dimaksud.

Ia tampak mencil sendirian, hingga tidak sukar untuk Ho Tiong Jong mencarinya.

setelah berada didepan rumah, ia lalu mengetuk pintunya.

XXIII.

ANTARA SUKA DAN DUKA.

Ketika ketukannya tidak mendapat jawaban, ia lalu membentak.

"Numpang tanya, apa Kong Jat Sin lo cianpwee ada didalam rumah ?"

"Siapa di luar ?"

Terdengar jawaban dari sebelah dalam.

"Aku Ho Tiong Jong bersama nona Seng Giok Cin ingin berjumpa."

"Sayang sekali terlambat sedikit, Kong Jat Sin sudah pergi dari sini."

Mencelos rasa hatinya mendengar ia terlambat datang tak dapat menjumpai Kong Jat sin.

pikirnya jiwanya sudah tak dapat tertolong lagi, habislah pengharapannya.

Tiba-tiba ia mendengar dari sebelah dalam dari suara tadi, yang menanyakan apa nona Seng itu ada putrinya Seng Eng?

Muridnya dari Kok Lo-lo dari Rumah Es Tay-pek-san?

Pertanyaan mana dijawab oleh Ho Tiong Jong "Ya"

"Hei, untuk apa sebenarnya kamu berdua datang kemari? Apakah sekiranya dapat diwakili olehku?"

Demikian kata-kata orang dari sebelah dalam.

"TERIMA kasih, tapi urusan rasanya sulit untuk diwakili."

Jawab Ho Tiong Jong.

"Mari masuk. kita bicara didalam ada lebih leluasa."

Mengundang orang tadi.

Ho Tiong Jong terus masuk kedalam rumah, Ternyata didalamnya ada lebar dan resik, di tengah-tengah ada kursi dari batu diatas mana ada duduk seorang tua yang sedang bakal main biji-biji catur, sikapnya gagah dan bersemangat.

Ho Tiong Jong lantas menjura sambil berkata.

"Boanpwe Ho Tiong Jong menghadap didepan Lo cianpwe."

Orang tua ini memandang pada sipemuda sejenak lamanya, lantas angguk-anggukan kepalanya.

"Anak muda mukamu tampan dan gagah, tentu kepandaian silatmu ada tinggi, Mari datang dekat sini."

Mengundang si orang tua.

Ho Tiong Jong menurut, Kiranya si orang tua mengundang sipemuda datang lebih dekat hendak menatap lebih leluasa lagi, Dalam hatinya memuji tulang tulang bakat yang sempurna dari Ho Tiong Jong untuk menjadi jago silat ternama.

Melihat sikapnya si orang tua, yang memperkenalkan namanya Kie Hia San, penghuni dari rumah itu, diam-diam si anak muda berpikir bahwa orang tua itu tentu bukan orang sembarangan-ia tentu ada salah satu jago tua yang telah mengasingkan diri, makanya juga ia menjadi sahabat baiknya Kong Jat Sin, si Dewa obat yang suka keluyuran menyambangi sahabat-sahabat karibnya.

Memikir kesitu lantas Ho Tiong Jong menjatuhkan diri berlutut dan berkata.

"Li-cianpwee, kedatangan boanpwe adalah hendak minta pertolongan dari Kong Lo cianpwee, hanya sayang sekali tak dapat menjumpainya, kini boanpwee beruntung dapat berhadapan dengan Lo-cianpwee, mohon pertolongan cianpwee supaya dapat menolong boan pwee yang ditimpa kesulitan-"

Orang tua itu kaget menyaksikan kelakuannya Ho Tiong Jong.

"Anak muda kau jangan pakai banyak peradatan, Lekas bangun dan ambil tempat duduk."

Katanya, sambil mengunjuk pada sebuah kursi dari batu.

Ho Tiong Jong menurut, ketika diminta menuturkan hal pertolongan yang hendak di mintanya, telah dituturkan jelas oleh sipemuda tentang dirinya menghadapi bahaya kematian karena kena racun Tok kay, Tok-kim chi Ceng cianw Nikow dan paling belakang jarum mautnya Souw Kie Han-Orang tua itu geleng-geleng kepala.

"Ya, memang hanya Kong Iaote saja yang dapat menolong kau. Nona Seng baik kepadamu, tapi kau jangan lupa pada nona yang kau sudah tolongi."

Ho Tiong Jong baru ingat lagi tentang Kim Hong Jie. Ia lalu minta supaya orang tua itu sebisanya dapat menolong dirinya. Kie Hia sianjin geleng-geleng kepala.

"Aku bukannya tidak mau menolongi, tapi memang aku tidak punya kemampuan untuk menawarkan racun dari dalam tubuhmu itu."

Habislah pengharapan Ho Tiong Jong.

Maka, setelah minta diri dari tuan rumah, ia lalu keluar lagi dari rumah itu berjalan dengan pikiran kalut menuju ketempatnya Seng Giok Cin yang barusan ia tinggalkan-Ketika ia sampai dan hendak membuka totokan si gadis, tiba tiba ada seorang dibelakangnya berkata.

"Nanti dahulu."

Ho Tiong Jong kaget, cepat ia membalik.

Kiranya orang itu ada Khi Hia Sianjin, yang telah menguntit dirinya, ia memuji kepandaiannya orang tua itu, yang ia tidak dapat dengar sama sekali kedatangannya kesitu.

"Dia tokh harus dibuka totokannya, supaya siuman kembali,"

Kata Ho Tiong Jong.

"Aku tahu, tapi sebelumnya kau telan dahulu ini pil buatanku, Aku membuatnya dalam tempo sepuluh tahun dari embun pohon siong tua. orang biasa kalau memakan bisa tambah umur seratus tahun, sedang untuk orang yang berilmu silat dapat membuat badan segar dan tambah semangat dalam tempo satu jam saja. Meskipun pil ini tak bisa menghilangkan racun, tapi ada sangat berfaedah untukmu."

Setelah berkata Kie Hia Sanjin serahkan pil itu kepada Ho Tiong Jong.

Bermula sipemuda tidak mau menerimanya karena merasa sayang Pil yang sangat berharga itu ditelan olehnya yang tidak lama lagi akan mati, Tapi Kie Hia Sanji mende-sak.

katanya.

"Memang sayang akan pil yang mujarab ini kau telan karena tokh kau bakal mati, akan tetapi kau harus ingat, kalau sebentar nona Seng sudah siuman dan melihat mukamu begitu lesu guram, apa nanti jadinya?"

Ho Tiong Jong terperanjat, ia baru ingat akan kepentingannya nona yang dicintainya maka ia lantas menyambuti pil tadi dan segera ditelannya.

"Nah, sekarang kau sudah menelan pilku, sama saja kau menelan pilnya Kong Laote."

Ho Tiong Jong merasa bekerjanya pil itu, lebih dulu masuk dalam tenggorokannya sangat harum kemudian dirasakan sekujur badannya segar betul, semangatnya berbareng terbangun, ia sangat heran, diam-diam sangat memuji kemujaraban obat itu.

Ia memandang Kie Hia Sianjin dengan penuh terima kasih.

"Cianpwee, kau sangat baik, aku sangat berterima kasih kepadamu."

Katanya.

"Anak kau jangan kata begitu, Aku memberikan pil itu karena terdorong oleh perasaan simpati kepadamu. Orang muda yang seperti kau, hormat dan memandang tinggi pada orang tua, sungguh jarang sekali, Lain dari itu, aku kuatir kedukaannya nona Seng kalau sebentar dia siuman melihat kau dalam keadaan lesu tidak bersemangat karena putus asa, dia tentu akan sangat berduka dan perih hatinya. Maka itu, sekarang kau sudah menelannya, aku lihat obat itu mulai bekerja karena air mukamu sekarang sudah berubah bersemangat."

Ho Tiong Jong hanya menjawab.

"Cianpwee... terima.... kasih..."

Kemudian ia duduk bersemedi disisinya nona Seng.

Ia merasakan bekerjanya obat Kie Hia Sianjin lebih jauh dalam tubuhnya.

perutnya dirasakan panas, kemudian hawa panas itu beredar keseluruh tubuhnya membuka jalan darah yang kurang baik bekerjanya.

tulang tulangnya pun mendapat pengaruh kemujarabannya itu obat tadi.

Dalam sekejapan saja Ho Tiong Jong merasakan sekujur badannya menjadi sangat segar dan tenaganya bertambah kuat, semangatnya juga terbangun.

Bukau kepalang girangnya sipemuda, sayang ketika ia buka matanya yang barusan di pejamkan sekian lama merasakan menyelusupnya hawa panas disekujur badannya, ternyata Kie Hia Sianjin sudah tidak ada dihadapannya pula.

Orang tua itu entah sejak kapan telah meninggalkan padanya.

Matanya lalu memandang pada nona Seng yang masih rebah seperti orang pulas Mukanya elok dan putih seperti salju, bibirnya kecil mungil seolah-olah menantang di cium, Ho Tiong Jong menyaksikan keelokannya si gadis, terpesona sekian lamanya.

Dadanya dirasakan berontak.

pelahan-lahan tangannya di ulur untuk mengusap-usap itu pipi yang halus, jari telunjuknya mengkutik-kutik bibirnya yang merah menantang.

Hatinya semakin bergoyang karena kelakuannya itu.

Pikirnya.

"Aku tokh bakal mati dalam beberapa jam lagi, apa halangannya kalau aku akan mencium dia."

Karena pikiran ini ia merebahkan dirinya disisinya si gadis, muka didekati pada mukanya nona Seng dengan sangsisangsi, tapi...

tapi...

akhirnya perasaan sangsi itu lenyap dan si nona dalam keadaan tidak sadar mendapat ciuman mesra dari pemuda pujaan-nya.

oh...kalau saja itu dilakukan dalam keadaan nona Seng sadar, entah bagaimana besar rasa girang dan bahagianya.

Diiain saat Ho Tiong Jong sudah membuka totokannya nona Seng.

Pelahan-lahan Seng Giok Cin siuman, ia nembuka matanya dan mengawasi pada HoTiong Jong yang sedang duduk disisinya sambil bersenyum-senyum.

"Eh, Engko Jong, kenapa kau tadi menotok aku ?"

Tanyanya. Ho Tiong Jong tertawa.

"Nah, coba kau tebak-dari sebab apa aku barusan menotok padamu ?"

Seng Giok Cin membuka lebar-lebar matanya.

ia dapatkan Ho Tiong Jong begitu bersemangat dan segar sekali.

Hatinya menjadi sangat girang, Pikirnya, apakah Tiong Jong sudah ditolong oleh Kong Yat Sin?

"Aku tahu."

Kata si nona bersenyum.

"Kau tentu sudah ditolong oleh Kong locianpwee betul tidak ?"

Sipemuda geleng-geleng kepala.

"Hei, kau jangan menggoda aku. Keadaan mu begini seger dan bersemangat terang kau tentu sudah dapat ditolong oleh si Dewa obat itu, kenapa kau masih geleng-geleng kepala "

"Adikku, kau keliru menebak."

"Habis bagaimana?"

"Sabar dahulu, jangan tergesa-gesa, nanti engkomu menuturkan duduknya perkara, adikku... au... kenapa kau nyubit?"

Ho Tiong Jong mengusap-usap lengannya sambil bersenyum.

Seng Giok Cin sebenarnya seorang gadis yang bersifat serius dan bertindak tegas, tapi belakangan ini ia galang gulung dengan sipemuda yang selalu gembira.

Jenaka hatinya menjadi lembek dan banyak berubah adanya.

Mendengar kata-katanya sipemuda yang berkelakar, hatinya sangat geli, tidak tahan kalau ia tidak memberikan cubitan mesra.

"Rasakan"

Terdengan si gadis berkata.

"Kalau kau masih mau berbelit-belit lagi bicara, nanti adikmu akan mencubit lebih sakit lagi? mengerti?"

Si nona berkata sambil kerlingkan matanya diiring oleh senyuman memikat, hingga Ho Tiong Jong berdebar keras hatinya. Dia betul-betul cantik... katanya dalam hati sendiri.

"Baiklah, akan kuceritakan-"

Lantas ia berkata pula pada si nona.

"supaya jangan kena dicubit, kenapa adik Giok jadi kaya kepiting bisa..."

Nona Seng tidak sabaran karena Ho Tiong Jong kembali berkelakar bicaranya, maka ia sudah mencubit lagi, hingga sipemuda berjengit pura-pura.

"Ini baru seperti kepiting, nanti cubitan berikutnya seperti kalajengking, kau boleh rasakan-.. hihihi..."

Ho Tiong Jong tertawa gembira sekali. Dua orang muda itu berkelakar penuh bahagia untuk sementara melupakan saat "genting"

Yang tengah menanti.

"Adik Giok. kau masih belum menebak dari sebab apa aku menotok padamu,"

Kata Ho Tiong Jong. si nona berpikir.

"Aku tahu, kau menotok aku supaya aku tidak turut naik gunung, karena disana kalau tidak menjumpai Kong lo-cianpwee pikiranmu tentu aku akan bersusah hati, Kau terlebih dulu melihatnya kesana, begitu bukan?"

Setelah berkata sinona tundukkan kepalanya, mukanya kemerah-merahan-"Adik Giok. tebakanmu tepat sekali. Betul-betul kau pintar tidak percuma menjadi anak masnya pocu dari Seng kee-po."

"Awas, ya"

Sinona mengancing tangannya diulur hendak mencubit lagi, tapi Ho Tiong Jong pegang tangan yang halus dan ketawa gembira.

Tapi kemudian ia lepaskan cekalannya dan sodorkan tangannya untuk di cubit seraya berkata.

"Biarlah, lebih banyak mendapat cubitanmu, lebih banyak aku mengenangkan wajahmu yang elok ditempat baka...."

"Engko Jong,"

Si gadis berseru, sambil menekap mulutnya sipemuda.

"Kau jangan cerita yang begituan, seram aku..."

Ho Tiong Jong ketawa nyengir.

"Habis bagaimana selanjutnya? Kau mendapat pertolongan siapa jadinya?"

Tanya nona seng. Ho Tiong Jong lantas menceritakan pertemuannya dengan Kie Hia Sianjin, oleh ia di beri pil yang mujijat, hingga tubuhnya dirasakan segar bugar dan semangatnya menyala.

"Aku seumur hidupku, belum pernah berlutut d ihalapan orang."

Sipemuda menutup ceritanya.

"Akan tetapi ketika ketemu dengan Kie Hia Sianjin entah bagaimana pikiranku lantas aku menekuk lutut meminta pertolongan-"

Setelah mendengar penuturannya sipemuda, Seng Giok Cin kerutkan alisnya yang lentik, seakan-akan yang berpikir la bengong sejenak.

"Aku mau menemui Kie Hia Sanjin..."

Katanya berbareng ia lompat bangun dan lari mendaki gunung menuju kearah rumahnya si orang pandai. Ho Tiong Jong mengejar dan menghalang halangi perjalanannya si gadis.

"Hei, kenapa kau mencegah aku kesana?"

Teriak Seng Giok Cin. Ho Tiong Jong, Kiranya ia hanya main-main saja, menggoda nona Seng, sebab setelah itu ia lepas lagi sinona untuk meneruskan perjalanannya.

"Awas kau tunggu ya sebentar kau akan mendapat cubitan kalajengking"

Terus si nona sambil lari naik gunung.

Ho Tiong Jong hanya tertawa dan mengawasi bayangan si nona yang semakin lama semakin jauh dan lenyap dari pemandangan-nya.

Kembali kedukaan mengaduk dalam hati-nya setelah nona Seng tidak ada didampingnya.

Dengan lesu ia menghampiri kebawahnya pohon, dimana ia sambil melamun menantikan baliknya Seng Giok Cin.

Tidak lama ia menanti, dari atas gunung meluncur turun Seng Giok Cin laksana bidadari saja.

Dengan berseri Ho Tiong Jong datang menghampirinya.

Tapi heran, wajahnya si nona tidak segembira seperti tadi ketika ia naik gunung.

"Bagaimana?"

Tanya Ho Tiong Jong. Seng Giok Cin hanya gelengkan kepala.

"Mari kita turun gunung saja."

Kata Ho Tiong Jong.

"Kita pergi kemana?"

"Hidupku tinggal beberapa jam lagi saja, pikirku hendak mengadakan perjamuan berduaan dengan kau pikir?"

Seng Giok Cin tertawa tidak wajar.

"Ya sesuka hatimu saja, kau mau ajak kemana aku juga menurut saja."

Ho Tiong Jong bercekat hatinya, ia melihat perubahan sikap Seng Giok Cin, maka lalu ia menanya.

"Hei kenapa kau ini? Apa ada hal-hal yang tidak menyenangkan hati-mu?"

"Mung kin."

Jawab sinona singkat, sambil terus putar tubuhnya jalan pelahan-lahan turun gunung. Ho Tiong Jong menyusul.

"Mari aku antar kau pulang."

Katanya. Tangannya diulur hendak menyekal tangannya Seng Giok Cin, tapi sinona berkelit kemudian berkata dengan suara.

"Bahwa kau akan datang kerumahku, memang aku sudah menduganya. Aku tidak ingin melihat kau membuang-buang tempomu yang berharga..."

Ho Tiong Jong heran mendengar kata katanya Seng Giok Cin yang membingungkan.

Kenapa si nona mendadakan saja jadi berubah sikapnya.

Pikirnya, perempuan itu memang sukar diraba kemauannya, ia seperti menyesal sudah mengikuti padanya, Giok Cin memang anak manja dan dari kalangan atas, tentu saja tidak betah melayani dirinnya yang sudah dekat mati, ia bukan satu tingkatan dengan-nya, bagaimana juga susah diciptakan pergaulan yang akrab.

Selagi Ho Tiong Jong terbenam dalam lamunannya, tidak terasa sudah mendekati kudanya yang dicancang pada sebuah pohon-Mereka datang kesitu dengan naik seekor kuda, tatkala mana disepanjang jalan mereka bercakap-cakap dengan gembira.

Tapi sekarang ketika hendak meninggalkan tempat itu mendadak si nona sikapnya berubah dingin.

Betul betul Ho Tiong Jong tidak habis mengerti.

Si nona loloskan tali kuda yang melihat dipohon kemudian berkata pada Ho Tiong Jong.

"Nah, sekarang begini saja, kalau kau datang kerumahku. tentu tidak begini enak hati, Lebih baik aku sampaikan padanya supaya dia datang menjumpai kau, dengan begitu kau berdua bisa leluasa."

Sampai disini ia tidak bisa melampiaskan bicaranya, disambung oleh mengucurnya air mata, ia menangis sesenggukan, entah karena apa ia sampai demikian sedih dan semua kata-katanya masih belum dapat mengerti oleh Ho Tiong Jong.

"Adik Giok..."

Ho Tiong Jong berkata pelahan.

"apa artinya perkataanmu itu?"

Sambil berkata sipemuda datang lebih dekat dan hendak menyekal lengannya si gadis, tapi Seng Giok Cin mengelakan tangannya, kemudian dengan kegesitannya ia sudah lompat keatas pelana kuda, Dengan satu kali cambukan saja sang kuda sudah lari terbang..

Ho Tiong Jong mengejar, ia tidak puas dengan sikapnya si nona yang aneh.

Kuda dilarikan dengan kencangnya, akan tetapi Ho Tiong Jong dengan menggunakan ilmu lari cepatnya yang istimewa, dengan mudah sudah dapat menyandak.

Kemudian dengan sekali enjot tubuhnya melayang dan sebentar lagi tampak ia sudah duduk nangkring dibelakangnya Seng Giok Cin.

Sambil peluki tubuhnya sijelita, ia berbisik "Adikku, kau kenapa ngambek?

Kau anggap aku ini orang macam apa?

Ada apa-apa urusan sebaiknya kau bicarakan blak-blakan, jangan bikin aku menebak-nebak..."

"Kau... kau..."

Si nona meronta-ronta dari pelukannya si pemuda, akan tetapi berontaknya itu hanya separuh hati saja, sebab biar bagaimana juga ia merasa bahagia di peluk rapatrapat oleh pemuda pujaannya itu.

"Aku kenapa, adik yang baik...."

Ho Tiong Jong berbisik pula dikupingnya.

"Kau senantiasa tidak melupakan dirinya, sehingga kau berani menaruhkan jiwamu untuk dia..."

Si gadis menjawab sambil terisak-isak.

"Demi kau adikku. aku berani mengorbankan jiwaku dengan ikhlas..."

Jawab si pemuda yang masih belum mengerti kemana juntrungannya perkataannya si gadis. Seng Giok Cin menjadi sengit karena Ho Tiong Jong masih belum mengerti akan bicaranya.

"IHm..."

Ia menggeram.

"mungkin aku tidak demikian baik nasibnya. Dengan alasan apa kau dapat berkorban untukku? jiwamu sudah ditukar dengan jiwanya, mana ada jiwamu lagi dan bersedia berkorban untukku."

Kini baru Ho Tiong Jong dapat merabah-rabah kemana arahnya perkataan si nona.

Ia sekarang sudah tidak bingung terhadap perubahan sikapnya si gadis.

Seng Giok cin cemburuan karena Kim Hong Jie, rupanya ketika ia naik ke Po kay-san, menemui Kie Hia Sanjin,disana ia sudah mendapat keterangan tentang Ho Tiong Jong sudah mempertaruhkan jiwanya kepada Souw Kie Han guna menolong nona Kim.

Kie Hia Sanjin tentu menasehati pada Seng Giok cin, untuk ini mempertimbangkan matang-matang sikapnya terhadap si pemuda, karena Ho Tiong Jong sudah punya Kim Hong Jie, yang telah ditolongnya dari tangan si kakek aneh denganpertaruhkan jiwanya ditusuk dengan jarum mautnya si kakek.

Tidak heran, barusan ketika turun gunung Pok-kay-san ketemu lagi dengan Ho Tiong Jong parasnya si nona tampan lesu dan tidak gembira lagi.

"ooh, urusan adik Hong yang bikin kau ngambek?"

Kata sipemuda. Seng Giok Cin tidak menjawab.

"Adik Giok, kau jangan keliru membedakan urusan-Kalau aku berani pertaruhkan jiwa ku untuk menolong adik Hong dari tangan si kakek, itulah karena terdorong oleh perasaan membalas budi, Adik Hong banyak menolong aku bagaimana baik ia ketika pada lima tahun berselang aku berada dirumahnya belajar silat. Pengorbanan untuknya karena disebabkan membalas budi, Tapi, misalnya aku rela mengorbankan diriku untukmu, adik Giok, ini lain lagi sifatnya."

"Lainnya?"

Tanya si nona pelahan.

"Lain, bukan karena budi, tapi karena cintaku besar terhadap dirimu...."

"Engko Jong, kau..."

Hanya ini perkataan yang meluncur dari mulutnya, sementara air matanya berlinang-linang bahna sangat girang dan bangga hatinya.

Seng Giok Cin tidak sempat menyeka air matanya karena kedua tangannya repot memegangi tali kendali kuda^ Pelahan lahan dengan sapu tangannya, Ho Tiong Jong menyeka air mata kegirangan itu dari mata dan pipinya si jelita.

Begitu telaten perlakuan Ho Tiong Jong, hingga si nona merasa sangat berterima kasih dan memuji Tuhan, bahwa pilihannya tidak keliru.

Awan kedukaan dan perasaan cemburu yang meluap-luap tadi telah lenyap entah kemana.

Kini kembali tampak wajahnya yang ramai dengan senyuman Kerlingan matanya yang memikat, senyumannya yang menawan, semua itu tak dapat dilupakan oleh si pemuda, Tidak heran kalau ia, setelah menyeka kering air mata yang berlinang-linang tadi, lantas pererat pelukannya.

"Adik Giok, kau marah aku memeluk tubuhmu?"

Bisiknya pelahan-"Ah, Engko Jong, aku bahagia."

Jawabnya hampir tak kedengaran-Keduanya bersenyum, Dengan begitu perjalanan diteruskan dengan sangat gembira.

Untuk sementara mereka melupakan bayangan malaikat elmaut yang akan mengambil jiwanya Ho Tiong Jong dalam tempo beberapa jam saja saja.

Tahu-tahu mereka sudah sampai di Po-hong, sebuah distrik yang hanya Seng Giok cin yang mengenalnya.

sementara itu perutnya Ho Tiong Jong sudah keroncongan-"Adik Giok.

omong-omong perutku kini sudah minta diisi, bagaimana kalau kita mampir disebuah rumah makan dalam kota?"

"Bagus, akupun lapar."

Jawab si jelita ketawa.

"Tapi..."

"Tapi apa ?"

"Bagaimana, tempomu sangat singkat sekali."

"Ah.... adik Giok, kau jangan mengingatkan itu, biarlah sang tempo lewat, kita anggap saja seperti tak akan ada kejadian apa-apa."

Sesuatu detik yang lewat sebaiknya disia-siakan untuk kita beromong-omong dengan gembira, Aku ingin tempoku yang singkat ini di gunakan untuk hidup berkumpul bersama-sama kau disuatu tempat.

Tapi oh, adik Giok maafkan ucapanku ini ada melanggar batas kesopanan-"

Hati Seng Giok cicperih mendengar perkataan pemuda pujaannya.

"Engko Jong, seumurku aku belum pernah tunduk kepada siapapun juga, Belum pernah aku melayani dengan penuh kesabaran, tapi terhadap kau... entahlah, aku sendiri tidak mengerti, kenapa aku bisa jinak..."

".. itulah cinta, adik Giok.^ bisik sipemuda dengan mesra. Hati Seng Giok cin tertegun, perasaan bahagia yang belum pernah dialamkan sebelumnya telah meliputi dirinya, ketika mendengar kata-katanya sipemuda diiring dengan pelukan yang erat dan ciuman pada pipinya. Seketika itu wajahnya sinona menjadi merah jengah, tangannya bergemetar dan hampir tali kendali kuda terlepas dari cekalannya. Pipinya dirasakan panas dengan tiba-tiba, tangannya kepingin merabah pipi bekas ciuman tadi, tapi tak berani karena malu. Kuda terus berjalan-"Adik Giok. hidupku mungkin hanya tinggal dua jam lagi, Aku ingin serahkan padamu tempo ini untuk kau memilih saatsaat kita bergembira, bagaimana ?"

Kembali Seng Giok cin merasa hatinya seperti disayat pisau, perih rasanya mendengar ucapan sipemuda.

"Engko Jong...."

Suaranya hampir tidak kedengaran karena menahan sedihnya.

"aku tak dapat menetapkannya. aku serahkan padamu dan aku hanya menuruti saja."

Ho Tiong Jong mengelah napas.

Segera mereka sudah masuk kedalam kota pik-hong yang ramah Didepannya satu rumah makan si gadis hentikan kudanya, mereka pada turun dan masuk kedalam rumah makan tersebut.

Waktu itu keadaan sudah melatih Seng Giok Cin memesan makanan yang lezat-lezat guna menjamu pemuda pujaannya untuk penghabisan kali.

Wajahnya dipaksa bergembira, tapi tak dapat mengelabui matanya Ho Tiong Jong, yang mengawasi padanya dengan penuh kasih, bahwa diwajah yang cantik itu ada tersembunyi kesedihan luar biasa.

Meskipun hidangan yang dihadapi semua ada terdiri dan hidangan pilihan dan arak yang paling bagus, ternyata Ho Tiong Jong tidak bernapsu makannya ia hanya terus-terusan menenggak araknya.

Pikirannya sangat kalut, Dan nona yang dikasihi akan ia tinggalkan dalam tempo singkat ini, karena malaikat elmaut rupanya sudah tak mengasih kelonggaran lagi.

Tanpa terasa arak itu sudah banyak setali ditenggaknya, hingga mukanya menjadi merah.

Seng Giok Cin tidak berani mencegahnya ia tahu karena saat itu adalah untuk penghabisan kalinya Ho Tiong Jong menenggak ajak.

Ia terus melayani sipemuda dengan telaten, beberapa kali ia minta Ho Tiong Jong makan, tapi sipemuda hanya ganda ketawa saja.

Sinona sendiri paksakan makan, tapi hidangan yang demikian lezat itu tak mau masuk ke perutnya, seolah-olah mandek ditenggorokannya.

Hatinya sangat pilu, mana dapat makanan masuk dengan mudah.

"Adik Giok...."

Terdengar sipemuda berkata.

"sebaiknya kita mencari rumah penginapan supaya kita bisa bercakap-cakap dengan leluasa, bagaimana apa kau..."

"Baik, mari kita pergi "

Memotong sigadis.

Berbareng ia bangun dari duduknya, lantas panggil pelayan untuk perhitungkan makanan yang masih utuh restannya itu.

Kemudian ia mengajak Ho Tiong Jong, ke satu rumah penginapan yang tidak banyak tetamu-nya.

Ketika mereka sudah berada dalam kamar Ho Tiong Jong lantas rebahan diranjang karena kepalanya dirasakan agak pusing.

Ia minta teh panas pada sinona, Kebetulan teh masih panas betul ketika dituang dicangkir, Sambil meniup teh supaya agak dingin, si nona duduk ditepi pembaringan-Seumurnya Seng Giok Cin baru kali ini melayani lelaki, ia lebih banyak dilayani dari pada melayani orang.

Betul-betul cintanya sinona sangat murni, ia mengasih pelayanan yang menyenangkan sekali hatinya Ho Tiong Jong, selagi sinona meniupi teh yang masih mengebul sipemuda mengawasi mukanya yang cantik tapi dirundung duka.

Hatinya sangat pilu, sebab tidak lama lagi akan meninggalkan nona yang dikasihinya ini.

"Nah, teh ini sudah agak dingin, mari bangun-.."

Terdengar sinona berkata.

Ho Tiong Jong bangun, berduduk menghadapi si nona.

Sambil menyodorkan cawan teh ke bibirnya untuk diminum, air matanya Seng Giok cin tampak bercucuran deras sekali.

Tangannya bergemetaran dan hampir tak kuat memegang cawan yang sedang diirup oleh Ho Tiong Jong.

Teh itu sangat harum ketika masuk dicenggorokannya dirasakan enak sekali dan segar.

Rasa pusingnya pelahan-lahan hilang, kini ia mengawasi si nona yang sedang menangis sesenggukan Ho Tiong Jong dekati duduknya pada si nona, lalu ular tangannya memegang pundaknya si gadis, katanya "Adik Giok, buat apa kau menangis.

Aku seorang yang bernasib celaka, tidak ada harganya ditangisi, Kau sangat cantik, banyak pemuda yang ingin mendekatimu, maka tidak susah untuk kau dapati satu pemuda yang unggul segala-galanya dari..."

Ho Tiong Jong, karena mulutnya di tekap tangannya si gadis yang mungil, Dengan air mata berlinang-linang, si nona berkata "Engko Jong, hatiku sudah menjadi kepunyaanmu...

Meski ada pemuda yang seratus kali lebih unggul darimu juga tidak akan menggerakan hatiku yang sudah dingin, mana kala kau sudah tidak ada lagi didalam...

ah, engko Jong...

kau..."

Seng Giok cin tidak tahan dengan kesedihannya, maka ia sudah menangis keras. Ho Tiong Jong datang memeluk dan membisikannya.

"Adik Giok kau sadar, Di sini tempat apa, jikalau kau nangis keraskeras nanti orang punya dugaan ada keliru tentang kita berdua."

"Tapi Engko Jong, aku tidak ingin berpisah dengan kau,"

Jawabnya terisak-isak.

ia menurut juga pelahan nangisnya.

Ho Tiong Jong dongakan mukanya sigadis yang tengah mendongakan kepalanya menangis, hingga dua pasang mata saling pandang, Air mata berlinang dikedua belah pipinya, membuat Ho Tiong Jong perih hatinya.

Demikian besar kecintaan hati sinona terhadap dirinya yang bernasib celaka.

Setelah sejenak saling pandang, tiba-tiba sipemuda memeluk lebih erat dan mencium bibirnya si cantik.

"Adik Giok.... maafkan aku..."

Berbareng si gadis tubuhnya menjadi lemas, karena kena totokan urat tidurnya.

Si nona jatuh pulas, dengan pelahanlahan direbahkan di atas pembaringan-Ho Tiong Jong memandang wajah nona Seng dengan hari seperti diiris-iris pisau.

Air matanya bercucuran tak tertahan, seumurnya Ho Tiong Jong belum pernah mengalami kesedihan demikian hebat.

Ia sangat kasihan pada si nona, tak mau nona Seng menyaksikan dalam kematian, maka sengaja ia menotok urat tidurnya supaya si nona pulas dan ia sendiri dapat meninggalkannya .

Kalau totokannya nanti terbuka sendirinya si nona mendusin, ia sudah tidak ada pula disitu dan mayatnya berada dilain tempat, Demikian maksudnya sipemuda menotok si gadis.

Setelah sekali lagi ia memandang parasnya si nona yang cantik, ia sudah berjalan keluar dari kamar itu pelahan-lahan dengan saban-saban menyeka air matanya yang lantas mengalir dengan lengan bajunya.

kemudian mengunci pintu dan padamkan penerangan Belum lama ia berjalan keluar, tampak ada satu bayangan berkelebat dan dengan berindap-indap masuk kedalam kamar.

Pintu lantas dirapatkan dan sebentar kemudian peneranganpun telah padam.

Aaaa....siapa dia?

Berani nyelonong masuk kedalam kamar justru si jelita Seng Giok Cin tengah rebah dipembaringan dalam keadaan tertotok?

Kejadian ini akan dituturkan kemudian sekarang marilah kita ikuti jago kita, Ho Tiong Jong yang jalan dengan pikiran kalut.

Kemana ia menuju ia juga tidak tahu, ia hanya menuruti kakinya saja berjalan pikirnya lebih jauh jaraknya dengan rumah penginapan ada lebih baik ia menemui kematian-nya.

Dengan begitu, Nona Seng yang ia kasihi tak usah menyaksikan dimana mayatnya berada.

jalan punya jalan akhirnya sang kaki membawa ia keluar kota dengan masuk kedaerah pegunungan XXIV.

PERTOLONGAN GAIB.

TIBA-tiba ia hentikan kakinya dan berdiri sekian lamanya dan memandang kesekitarnya tempat, keadaan sangat sunyi hanya terdengar suaranya burung hantu dan binatang binatang liar yang menyeramkan-Ia jalan lagi beberapa lamanya, lantas ia menghadapi sebuah gunung, entah gunung apa ini namanya.

Tidak jauh ia nampak ada satu pohon siong tua yang tinggi cepat ia menghampiri dan memanjat pohon itu, ia melihat dari terangnya suasana malam dan berbintang, dijalan untuk mendaki gunung itu ada sangat licin-Dari pohon siong itu, pikirnya ia dapat melompat kejalanan gunung itu, akan kemudian mendaki lebih jauh, jaraknya mungkin tidak seberapa jauh untuk sampai ke puncaknya.

Pikirnya tempat dipuncak gunung itu ada sangat cocok untuk tempat mayatnya, tidak mudah diketahui orang.

Mungkin ada orang yang nanti menemukannya, akan tetapi tentu pada saat itu ia sudah berubah menjadi tulang belulang dan tidak dapat dikenali dirinya siapa.

Ia tidak menghiraukan licinnya jalanan, yang membuat ia terpeleset dan jatuh mati, karena ia pikir, sebentar mati sekarang mati sama saja.

Memikir ini maka ia menggunakan ilmu mengentengi tubuhnya melompat dari pohon siong tadi dan sebentar saja ia sudah berjalan mendaki gunung.

Benar hebat ilmu mengentengi tubuhnya karena jalanan yang demikian licinnya dapat dilalui oleh Ho Tiong Jong dengan selamat sampai dipuncaknya.

Tiba-tiba matanya Ho Tiong Jong dibikin heran, karena ia melihat dipuncak gunung itu ada sebuah rumah kecil mungil bertingkat.

Gentengnya berwarna biru, sedang dindingnya merah, sekitarnya dipagar oleh batu batu putih, didepan rumah ada satu pekarangan yang cukup lebar, jalanan yang menuju kepintu meriah ditanami pohon pohon bambu dikedua sisinya, tampaknya indah sekali dan senang untuk yang mengasingkan diri tinggal disini.

Di pekarangan rumah kelihatan ada dua orang sedang tarik urat, yang satu hweshio dan yang lain ada orang biasa berbaju kuning.

si hweshio pengawakannya kurus kering dan orang tua berbaju kuning sebaliknya ada tinggi besar dan keren sekali kelihatannya.

Dengan menggunakan ilmunya jalan tanpa bersuara, Ho Tiong Jong diam-diam menghampiri dua orang yang sedang tarik urat itu, ia sembunyi dibalik sebuah pohon yang rindang yang cukup aman untuk dirinya tidak sampai diketahui oleh mereka.

Tiba-tiba ia mendengar si baju kuning berkata.

"Hm... dengan tegas kukatakan, aku tak kenal hal kebencian Bagaimana, apa masih belum mau menyerah kalah ?"

Berbareng ia menyerang hingga si hweshio jatuh meloso.

Keduanya kira-kira berumur enam puluh tahun, Entah apa sebabnya mereka bertengkar dan sibaju kuning menyerang hingga si hweshio jatuh meloso ?

Ho Tiong Jong jadi terbengong.

Ternyata si hweshio tidak mau bangun lagi, ia tetap berbaring ditanah.

Tiba-tiba si orang tua baju kuning lompat menghampiri pohon bambu, ia poteskan sebatang pohon bambu panjang, kemudian ia menghampiri lagi si hweshio yang sedang rebah di tanah dan memukuli dengan bambu tadi, hingga si kepala gundul bergulingan menahan sakit, akan tetapi sekalipun ia tak mengeluarkan suara merintih.

Ho Tiong Jong tidak senang menyaksikan keganjilan ini pikirnya orang tua baju kuning benar-benar kejam.

hweshio yang berbadan kurus kering itu dipukuli demikian hebatnya, Mana ada itu aturan orang tidak melawan dihajar pergi datang, Maka dalam tidak teganya, ia sudah hendak melompat dari tempat sembunyinya guna menolong si hweshio tapi mendadak ia mendengar si orang baju kuning berkata pula.

"Hnm... kau bisa berbuat apa sekarang padaku? Lima kali aku berpindah tempat, meskipun sebenarnya hendak menyingkir dari gangguanmu adalah yang penting karena aku tidak merasa cocok ditempat ini. Kini aku sudah berdiam dipuncak Pit seng hong ini merasa betah, tapi mendadak kau datang mengadu biru lagi, Kau selamanya mengganggu aku saja, apakah kau kira aku tidak berani membunuh kau."

Mendengar bicara si orang tua baju kuning membuat Ho Tiong Jong heran, ia tidak jadi lompat keluar untuk bantu menolongi si hweshio karena ia ingin mendengarkan lebih jauh duduknya perkara.

Ia tidak menunggu lama, karena si hweshio terdengar berkata.

"Ya, aku sudah duapuluh tahun menderita siksaannya, apa itu belum cukup untuk menggerakkan hatimu jadi sadar."

Si baju kuning ketawa terbahak-bahak.

"Urusanku adalah urusanku sendiri, untuk apa kau hendak turut campur?"

Katanya.

"Kita ada saudara sekandung, apalagi kita ada saudara kembar, maka tahu kau berbuat kejahatan mana aku bisa tinggal peluk tangan melihatinya?"

Si baju kuning marah besar, Secepat kilat ia menendang tubuhnya si hweshio, sehingga terbang setengah tumbak tingginya dan kemudian jatuh ditanah pula dengan mendapat luka parah.

Napasnya tampak sudah empas-empis.

Melihat keadaannya si hweshio, orang tua batu kuning itu tampak yang sangat menyesal atas perbuatannya tadi, Tatkala ia menghampiri, matanya si hweshio kelihatan dipentang lebar-lebar mengawasi kepadanya, Dengan suara perlahan ia berkata.

"Sebetulnya aku semestinya sudah matj, tapi sukur masih diberi tenaga oleh Tuhan untuk berbicara pula dengan kau. Aku lihat kau agaknya sudah insyaf melihat kedudukanku membuat aku teringat pada 20 tahun berselang, Kau dengan aku ada begitu akur dan bersatu hati, Tapi sejak kau meyakinkan itu ilmu celaka, Diluar kemauan hati sejati dari in Kie Lojin, pikiranmu lantas berubah dan hubungan kita seperti sudah terputus. Mengingat kita ada bersaudara sedarah sedaging, maka atas kelakuanmu yang jahat saban malam aku berdoa didepan sang Budha supaya kau sadar dari perbuatanmu itu dan kembali menjadi orang baik-baik."

"Persetan sama kau punya doa-doa"

Menyelak si orang tua baju kuning.

"Ya, aku hampir saban malam mendoakan supaya kau insaf dan kembali menjadi orang baik-baik."

"Tutup mulutmu"

Memotong si orang tua baju kuning.

"Aku sebal mendengarnya bukan ratusan kali tapi sudah ribuan kali kau mengatakan demikian-Siang-siang sebenarnya aku hendak membunuhmu"

Hweshio itu ketawa getir.

Napasnya sudah sengal-sengal tampaknya seperti yang kecapaian-Melihat dari bajunya yang tambalan disana sini, orang mengira ia ada satu hweshio pengemis yang harus dikasihani.

"Tidak halangan kau membunuh aku, asal kau bisa insaf akan perbuatan yang jahat dan kembali menjadi o ..."

Bicaranya tidak sampai lampias, sebab satu tendangan dahsyat mampir lagi pada tubuhnya, hingga ia melayanglayang diudara, Sesudahnya jumpalitan sebentar ia sudah jatuh kedalam jurang yang curam.

Ho Tiong Jong yang menyaksikan kejadian itu dengan kecepatan kilat sudah melesat dan menjambret si hweshio sebelum tubuhnya nyungsep dijurang yang curam.

Si orang tua baju kuning tidak melihat perbuatannya Ho Tiong Jong karena saat itu ia sedang menundukkan kepalanya dan berpikir akan perbuatannya yang kejam itu.

Semakin dipikir hatinya menjadi pilu, ia bersaudara kembar dengan sihwesio kakaknya, kenapa ia yang menjadi adik demikian kejamnya?

Apalagi mengingat usia mereka yang sudah sama-sama tua.

membikin hatinya sangat menyesal dan mengembang air mata.

Justru ia sedang berdiri menjublek memikirkan perbuatannya yang tidak selayaknya terhadap saudaranya yang hendak bermaksud baik, tiba-tiba dihadapannya muncul Ho Tiong Jong sambil memayang tubuhnya si hweshio yang sudah jadi mayat.

"Locianpwee, aku menyerahkan saudara kandungmu ini."

Kata Ho Tiong Jong dengan sangat hormat.

Matanya si orang tua baju kuning terbelalak dan menatap wajahnya sianak muda yang tampan dan gagah.

Tapi ia tidak sempat untuk menanya siapa anak muda itu karena hatinya yang sangat berduka, ia maju dua tindak menyambut mayatnya sang kakak dari tangannya Ho Tiong Jong, sambil bercucuran air mata.

Ia peluki mayat saudara tuanya itu, dengan suara ditenggorokan ia berkata.

"Engko, adikmu sangat berdosa... oh perbuatanmu sangat baik, tahan sengsara karena perlakuan adikmu yang tidak berbudi, Semua itu kau hendak meng insafkan adikmu supaya kembali kejalan yang benar, Tapi ah... adikmu yang tidak berbudi sebaliknya sadar telah membuat kau menderita dan sekarang oh sekarang kau sudah mati... mati tidak bisa hidup kembali, oh, engko..."

Si orang tua baju kuning telah menangis meng gerunggerung.

Ho Tiong Jong yang menyaksikan telah te-turutan mengucurkan air mata, karena tidak tahan merasa pilu hatinya.

Melihat si baju kuning terus-terusan nangis tidak menghiraukan kehadirannya di situ, maka Ho Tiong Jong sudah meninggaikan tempat itu.

Tapi siorang tua sambil memayang tubuh kakaknya terus mengejar padanya dan minta ia hentikan langkahnya.

Sipemuda hentikan tindakannya dan ketika sudah berhadapan, orang tua tadi menanya.

"Laote, kakak lohu tidak sampai jatuh kejurang, cara bagaimana kau dapat menolongnya, oh, kau baik sekali sudah menolongnya."

"Ah, itu boanpwe hanya keluarkan sedikit kepandaian yang tidak berarti."

"Kenapa kau menolong dia ?"

"Karena boanpwee mendengar pembicaraan kedua cianpwee dan tahu bahwa kakak cian-pwee ada seorang yang berhati mulia, maka dengan melupakan kepandaian boanpwee yang rendah sudah coba menolongnya jangan sampai tubuhnya menjadi hancur lebur jatuh ke-dalam jurang."

Orang tua baju kuning itu memandang wajahnya sipemuda.

"Laote perbuatanmu itu sungguh membuat lohu sangat berterima kasih, sebab kalau tidak kau datang menolong niscaya mayatnya kakak lohu kini sudah menjadi makanannya binatang liar."

"Ah, itu tidak ada artinya, pertolongan boanpwee itu hanya disebabkan merasa simpati kepada kakak cianpwee dan boanpwee beruntung sudah dapat menolong dirinya, hati boanpwee sudah merasa sangat girang, Boanpwee tidak mengharap cianpwee punya ucapan terima kasih, Tapi boanpwee ingin juga tahu sedikit urusannya, kenapa cianpwee berbuat demikian kejam kepada saudara sendiri"

Si orang tua baju kuning unjukkan roman sedih.

"Lohu bernama Ie Boen Hoei,"

Orang tua itu menutup "Pada duapuluh tahun yang lampau lohu sangat akur dengan kakak. tapi setelah lohu mendapatkan ilmu yang dinamai "Diluar kemauan hati sejati"

Tabeat lohu berubah menjadi penjahat besar sangat ditakuti.

Kecuali lima tokoh, dalam rimba persilatan semua jago dikalangan hitam maupun putih jerih terhadap lohu.

Nama lohu dalam dua puluh tahun belakangan ini menjadi sangat busuk.

Kakak lohu yang mendengarnya merasa tidak tega saudaranya melakukan perbuatan-perbuatan kejam dan jahat, maka dia sudah berulang kali datang menasehati pada lohu dan terus-terusan berdoa supaya lohu kembali menjadi orang baik-baik.

Hal mana membuat lohu menjadi jemu dan akhirnya dia mendiamkan kematian ditangan lohu menjadi adiknya yang tidak berbudi."

Ho Tiong Jong diam-diam mengutuk perbuatan si orang tua baju kuning. Lalu terdengar pula Ie Boen IHoei berkata.

"Laote, lohu sangat menyesal atas perbuatan lohu tadi, Kakak lohu sebenarnya ada calon kepala dari gereja Siauw lim sie, tapi dia tidak mau memangku jabatan itu karena terus-terusan dia mengikuti lohu sebagai bayangan, maksudnya yalah hendak mengincarkan perbuatan lohu yang tidak punyaperi kemanusiaan-syukur sebelumnya dia mati, dia tahu bahwa lohu sudah menyesal."

"Ya, tidak apa,"

Menyelak Ho Tiong Jong "cianpwe sekarang sudah menyesal, maka kakak Cianpwee juga abahnya tentu sudah merasa senang dialam baka."

"Lote, perkataanmu tepat betul. Kau sebenarnya hendak kemana? Kalau tidak keberatan marilah mampir dahulu dirumah lohu."

Demikian mengundang Ie Boen IHoei.

Waktu itu keadaan sudah lewat tengah malam, Pikirnya, semestinya jam sembilan tadi jiwanya sudah melayang, tapi kenapa sampai sekarang ia belum mati ?

Ho Tiong Jong terima baik undangannya si orang rua baju kuning.

Sesampainya didalam rumah, tampak mukanya Ho Tiong Jong sangat pucat.

Ia merasakan terus terusan eneg kepingin muntah.

Ie Boen Hoei yang melihat demikian lantas menanya.

"IHei, laote, wajahmu kelihatan pucat sekali, kenapa apa kau kurang enak badan ?"

Ho Tiong Jong hanya anggukkan kepala, ia sudah tidak tahan kepingin muntah tapi tidak berani muntah dalam orang punya rumah, kelakuannya itu membuat Ie Boan Hoei merasa heran, maka ia setelah meletakan mayat kakaknya dipembaringan, lantas menghampiri sianak muda dan dipandangnya dengan teliti, Diam-diam ia merasa kaget, tanpa berkata baa biii bu lagi, lantas saja menyekal baju Ho Tiong Jong dibagian tengkuk dan sebelah bawah pinggangnya, kemudian diangkat ditunggingi, celaka pikir Ho Tiong Jong ia menyaksikan kekejaman si orang tua baju kuning ini, pikirnya, mungkin saat itu ia sudah timbul hati jahatnya dan hendak membunuh dirinya, makanya ia angkat tubuhnya diterbaliki demikian.

oleh karena itu, maka sipemuda itu sudah berontak-rontak, Kakinya menendang tangannya menyerang dengan hebat, Tiba-tiba Ie Boan Hoei membentak.

lantas tubuhnya si pemuda dilempaikan keluar rumah hingga jatuh duduk.

Bukan main sakit pantatnya, matanya dirasakan berkunang-kunang.

Ia merangkak bangun lagi, ketika ia terdiri dihadapannya sudah berdiri Ie Boan Hoei dengan muka bengis.

Kemudian ia merasakan mau muntah tapi ia terus menahannya.

Pikirnya, sebelumnya mati ia hendak menunjukkan kepandaiannya yang istimtwa kepada orang tua dihadapannya.

maka seketika itu ia telah mencabut goloknya "Maen-tian-to".

Dengan senjata mana ia lantas bergerak menyerang pada Ie Boen Hoei.

Ilmu golok keramat yang dua belas jurus telah diperlihatkan oleh si pemuda, akan tetapi ternyata tidak dapat menyentuh meskipun ujung bajunya saja si orang tua.

Ternyata kepandaiannya sangat lihay, semua gerakan goloknya seperti yang sudah diketahui lebih dahulu kemana arahnya.

Ho Tiong Jong menjadi jengkel, makanya rasa "nak"

Semakin menjadi jadi saja, ia lantas keluarkan ilmunya "Tokliong ciang-hoat"

Warisan Tok-kay Kang clong, ilmu ini sangat bagus dimainkan olehnya, akan tetapi sayang sekali ia tidak tahan lama bertempur. Karena rasa "nak"

Semakin tak tertahan dan akhirnya ia muntah-muntah. Menggunakan kesempatan ia sedang muntah, Ie Boen IHoei menghampiri dan menepuk punggungnya dan satu benda segede kepalan keluar dari mulutnya.

"Ha ha ha..."

Demikian terdengar Ie Boen IHoei ketawa.

"Selamat, selamat, kau kini sudah baik dari penyakitnya."

Ho Tiong Jong terbelalak matanya.

ia heran melihat kelakuannya Ie Boen Hoei sebab tadi melek-melek ia melihat orang tua itu demikian beringas dan menyerang kepadanya dengan tanpa sungkan-sungkan dalam pertempuran barusan, tapi kini mendadak saja sudah berubah sikapnya menjadi ramah tamah sebagai seorang sahabat.

Ie Boen Hoei mengerti apa yang dipikirkan oleh sipemuda maka ia lalu berkata.

"Laute, maafkan lohu sengaja seperti yang benar-benar mau mengambil jiwa mu, supaya kau dengan sungguhsungguh menempur lohu. Dengan begitu perasaan "nak"

Kepingin muntah lebih hebat lagi, ini ada maksud lohu supaya oleh karena racun yang mengeram dalam tubuhmu dapat terdorong keluar.

Barusan, ia sudah hendak keluar kau masih mau tahanmesti lohu jadi tidak sabaran dan menepuk punggungmu sehingga ia mencelat juga keluar.

Kau tahu itu benda yang bergumpal dari mulutmu itu ada racun yang sangat berbisa, yang membuat dan jadi merasa hidupmu."

Mendengar keterangan ini, barulah Ho Tiong Jong mengerti sikapnya siorang tua baju kuning yang sebenarnya bermaksud baik untuk dirinya. Berbareng ia rasa "nak"

Hilang, malah seluruh badannya dirasakan sangat segar dan bukan main bersemangat setelah benda yang bergempal sebesar kepalan tadi sudah dikeluarkan dari mulutnya.

"cianpwee, boanpwee tidak tahu dengan apa boanpwee dapat menyatakan terima kasih baonpwee atas pertolongan Cianpwe ini."

Kata Ho Tiong Jong hormat. Ie Boan Hoei tertawa bergelak-gelak.

"Laote."

Katanya.

"seperti barusan kau bilang, pertolongan pada kakak lohu tidak memerlukan terima kasih, maka lohu juga tidak perlu terima kasihmu, Lohu merasa senang telah berbuat suatu untuk kebaikanmu."

Ho Tiong Jong melongo. orang tua ini benar-benar kocak. masih ingat saja perkataannya tadi. Kemudian dengan bersenyum ia menanya.

"cianpwe, cara bagaimana cianpwee tahu bahwa dalam tubuh boanpwee ada mengeram racun?"

"Laote, itu mudah sekali, Lohu yang sudah banyak pengalaman dalam kalangan kangouw sekali lihat saja keadaanmu, lantas sudah dapat menebak seratus persen apa yang diderita olehmu, Tadi, kalau lohu mengatakan terus terang, tentu kau tidak akan percaya, maka juga lohu sudah berpura-pura seperti orang jahat menghendaki jiwamu, hingga kau menempur lohu dengan mati-matian. Ini perlu karena dengan keluarkan banyak tenaga, rasa kepingin muntah semakin menjadi-jadi dan akan mendorong racun lebih lekas keluar. Buktinya kau lihat sendiri barusan-..."

Ho Tiong Jong kembali membuka mulutnya hendak mengucapkan terima kasih, akan tetapi urung, karena si orang baju kuning geleng-gelengkan kepala sambil goyang tangannya.

"cianpwee, boanpwee sudah menerima budimu,"

Demikian Ho Tiong Jong rubah perkataan yang mau diucapkan tadi.

"biar bagaimana boanpwee tidak akan melupakannya. Nah sampai disini kita berpisahan, karena ada mempunyai urusan lain yang meminta perhatian boanpwee."

Orang tua itu tidak bisa menduga karena urusan Ho Tiong Jong itu, hanya ia memesan kalau seandainya Ho Tiong Jong ada urusan apa apa yang memerlukan pertolongan lupa datang kepadanya di gereja Siauw lim-sie di gunung Ko-san.

"Terima kasih."

Jawab Ho Tiong Jong.

"boanpwee akan perhatikan ini."

Kemudian dia angkat kaki berlalu, tapi belum berapa tmdak.

mendadak dipanggil balik oleh Ie Boen Hoei dan kemudian diajak masuk pula kedalam rumah.

Ie Boen IHoei menghampiri mayatnya sang kakak.

dari sakunya ia mengeluarkan sebuah gelang dari batu kumala berwarna hijau, lalu disertakan kepada Ho Tiong Jong sambil berkata.

"Laote, kau terimalah ini barang wasiat sebagai warisan dari kakek lohu yang sudah meninggal dunia. Sejak kakek sebagai murid Siauw lim sie, menerima gelang kumala hijau ini terus-terusan dibawa di badan-nya. Gelang ini merupakan benda kepercayaan dari Siauw lim pay, siapa saja orang-orang dari Siauw lim-pay melihat ini akan tunduk dan menghormat seperti juga ketemu dengan ketuanya."

Benda kepercayaan ini ada berbagai warna, yang termulia adalah warna putih, lalu merah, kemudian hijau, hitam dan lainnya.

Semua ada lima warna untuk membedakan tingkatan, sekarang dikalangan hweshio Siauw lim-pay yang memegang benda kepercayaan itu, kecuali kakak lohu adalah Beng Ti Taysu, seorang yang berilmu silat tinggi dan ilmu Budha-nya juga sangat dalam...."

"Beng Ti Tay-su ada mempunyai gelang warna hitam, dia ada sutit (keponakan murid) dari kakak lohu, Yang memiliki gelang batu kumala tingkatannya paling atas, lainnya gelang demikian terbikin dari emas, perak dan selanjutnya. Semua ada benda benda kepercayaan yang harus di hormati."

Ho Tiong Jong pandang bulak-balik gelang dari batu kumala hijau itu.

"cianpwee, benda ini ada miliknya Taysu yang telah meninggal tidak seharusnya berada pada boanpwee, juga boanpwee tidak memerlukan, maka boanpwee harap cianpwee suka menyimpannya saja,"

"Kau keliru, laote "

Jawab Ie Boen Hoei.

"Dalam kalangan Kang ouw itu, tidak sedikit bahayanya. Soal sedikit bisa ditiuptiup menjadi besar maka dalam perjalananmu sebagai seorang Kang-ouw yang masih belum berpengalaman perlu memiliki benda serupa itu. Bukan saja lohu, tapi kakak lohu yang sudah jadi orang halus tentunya akan merasa senang memberikan itu untuk melindungi dirimu. Misalnya dalam bentrokan karena salah paham, kau tak dapat mengatasinya karena lawan ada jauh lebih kuat, mudah saja kau perlihatkan benda itu kepada Beng Ti Taysu dari gereja Siauw-lim si, bilang padanya kau dapat itu dari kakak lohu, pasti dia akan membuang waktunya untuk mengurus urusanmu. Kalau kau ada dipihak betul, kau akan mendapat perlindungan dari semua orang Siauw limpay."

Sebagai jago muda yang belum berpengalaman menuruti hatinya yang polos, maka tadi Ho Tiong Jong sudah mau mengembalikan barang berharga itu kepada Ie Boen IHoei.

Kini setelah mendengar keterangannya si erang tua baju kuning, bagaimana berharganya benda itu ada dalam badannya, maka hatinya sangat kegirangan Ia tahu Sauw-lim-pay ada satu partai terbesar diantara partai-partai lainnya, orangnya sangat banyak dan ilmu silatnya juga sangat tinggi termashur dalam duni persilatan.

Kalau dalam menjelajah dunia kangouw, berbuat banyak kebenaran, ia tidak usah kuatirkan dirinya, pasti mendapat perlindungan partai besar itu.

Sambil memasukan benda berharga itu ke dalam kantongnya ia berkata pada Ie Boen Hoei.

"cianpwee, terima kasih, Nah, sampai ketemu lagi..."

Setelah berkata Ho Tiong Jong sudah hendak bertindak keluar, akan tetapi kembali telah di cegah oleh Ie Boen Hoei yang menanya kepadanya.

"Eh, laote sudah lama kita bicrp. tapi lohu lupa menanyakan namamu ?"

"ouw, boanpwee bernama Ho Tiong Jong."

"Siapa suhumu yang mulia."

"Boanpwee tidak mempunyai suhu."

"Tapi ilmu silatmu barusan boleh juga, malah kau ada keluarkan itu ilmu golok delapan belas jurus dari Siauw-lim pay. Hanya sayang kau cuma dapat meyakinkan dua belas jurus saja, enam jurus lagi kau tidak yakinkan-"

"Betul, memang boanpwee hanya belajar dua belas jurus saja."

"Dari siapa kau belajar?"

"Maaf, boanpwee tidak bisa kasih tahu namanya siapa?"

Ie Boan Hoei, sebagai murid dari siauw-lim-pay, tentu saja tahu ilmu golok termasyhur itu dari partay ia, maka tadi ketika Ho Tiong Jong mencecar padanya dengan golok Lam thian to, sama sekali tidak dapat menemui sasarannya karena Ie Boan Hoei sudah yakin dengan bagaimana memusnahkannya.

"Sayang."

Kata Ie Boen Hoei setelah sejenak ia terdiam.

"Kalau kau mendapat didikannya seorang pandai seperti In Kie Lojin, kau pasti akan menjadi jago tanpa tandingan dalam kalangan Kangouw, Kau ada mempunyai bakat yang baik sekali, dengan meyakinkan ilmu dari kitab "

Kumpulan ilmu silat sejati."

"Eh, cianpwe,"

Menyelak Ho Tiong Jong.

"Ada apa?"

Tanya siorang tua.

"Itu kitab yang barusan cianpwe sebut ada pada boanpwee."

Sambil mengeluarkan kitab tersebut dari saku babunya. Ie Boen Hoei menyambuti dan periksa.

"lni benar ada kitabnya, kau dapat dari mana?"

Tanyanya.

"Boanpwe dapat dari Tok-kay Kang ciong"

Jawabnya.

Ia menuturkan dengan singkat pertemuannya dengan Tok kay dikuil bobrok dan kitab itu sudah disambit nyangkut diatas pohon dan kemudian diambil olehnya karena merasa sayang kitab itu dipatuki burung.

Sambil mendengarkan Ho Tiong Jong cerita Ie Boen Hoei telah bulak balik lembarannya kitab tersebut.

"Ini memang kitab tulen, hanya sayang bagian kedua yang menceritakan keistimewaannya berbagai ilmu silat, sedang pelajarannya dan bagaimana mempraktikkan ilmu silat yang tersebut didalamnya tidak ada, sebab itu dimuat dalam

Jilid kesatu. Sayang, tapi dalam buku ini juga ada disebut ilmu yang lohu yakinkan yalah "Diluar kemauan hati sejati"

Sayang kau tidak memiliki yang ke satu."

IHo Tiong Jong berpikir sejenak. setelah mendengar bicaranya si orang tua baju kuning.

"cianpwee,"

Katanya.

"kitab itu boleh cianpwee ambil, boanpwee senang kasih, cuma boanpwee mohon bantuan cianpwee suka menurunkan ilmu golok keramat Siauw-lim-sie. semuanya ada delapan belas jurus, boanpwee hanya paham dua belas jurus saja, yang enam jurus lagi ini yang boanpwee mohon cianpwee suka menurunkan pelajarannya untuk mana boanpwee merasa sangat berterima kasih sekali."

Ie Boen Hoei ketawa ngakak mendengar perkataannya si pemuda.

"Ho Laote,"

Katanya gembira sekali.

"permohonanmu aku terima dengan baik, tapi buku ini kau terima kembali saja, sebab ada pada lohu juga tidak ada gunanya. Lohu sudah tua, otaknya sudah macet untuk belajar ilmu kepandaian lebih tinggi lagi, apalagi dalam buku ini semua yang tertulis dari berbagai partai punya ilmu silat rasanya lohu sudah cukup paham. Kau simpan saja, untuk kau ada gunanya, diwaktu ada tempo lowong kau boleh meyakinkannya, lohu percaya otak mu yang encer dapat belajar dengan sempurna."

Ho Tiong Jong tidak menyangka bahwa orang tua itu menolak dikasih kitab "Kumpulan ilmu Silat Sejati."

Ketika ia ulangi lagi maksudnya hendak memberikan kitab dengan setulus hati ditolak. maka ia lalu sisipkan lagi dalam sakunya.

"Mari, kau boleh belajar itu enam jurus lagi dari ilmu golokmu."

Ie Boen Hoei mengajak sipemuda hingga Ho Tiong Jong bukan main girangnya.

Ie Boen Hoei telah menurunkan kepandaiannya dengan sungguh-sungguh, tambahan otaknya Ho Tiong Jong mudah menerima pelajaran yang orang berikan dengan beberapa pengujuknya saja, maka enam jurus kekurangannya itu Ho Tiong Jong sudah dapatkan, Dengan mana ilmu golok keramatnya Ho Tiong Jong sekarang sudah menjadi lengkap delapan belas jurus.

saking tekunnya ia belajar hingga lupa sama sang waktu, tahu-tahu hari sudah menjelang pagi.

Tiba-tiba Ho Tiong Jong hentikan latihannya dan berdiri bengong.

Hal mana membuat Ie Boen Hoei menjadi heran, ia lalu menanya.

"Laote kenapa kau? Apakah ada apa-apa yang tiada beres lagi?"

Ho Tiong Jong bengong berdiri, karena saat itu sudah hampir pagi, tapi kenapa racun dalam tubuhnya belum juga bekerja dan merenggut jiwanya?

inilah yang ia buat pikiran tidak habis mengerti, maka ia sudah berdiri bengong.

"Cianpwee, memang ada yang tidak beres, aku telah kena keracunan..."

Selanjutnya ceritakan tentang kena racun Tok kay, kemudian ceng ciauw Nikouwpunya Tok-kim-chi, lalu paling belakang jarum mautnya sikakek aneh dari Liu soa-kok juga tentang hubungan Seng Glok cin dan Kim Hong Jie, ia telah ceritakan dengan terang kepada Ie Boan Hoei.

Dengan tenang siorang tua baju kuning mendengarkan ceritanya Ho Tiong Jong.

"Boanpwe heran, kenapa racun itu sampai sekarang belum ada reaksinya?"

Tanya Ho Tiong Jong sebagai penutup ceritanya. Terdengar Ie Boan Hoei tertawa terbahak-bahak.

"Ho laote, kau benar-benar ada seorang yang sangat beruntung, Dua jelita sudah berbareng sudah menyintai dirimu, rasanya tak akan sia-sia pengharapannya ... ."

"Cianpwee, boanpwee bakalan mati, bagai mana bisa bilang demikian ?"

"Anak muda,"

Kata pula Ie Boan Hoei dengan ketawa girang.

"kau kini sudah selamat, kesananya kau hanya akan menempuh bahagia saja..."

"Cianpwe, kenapa bisa begitu?"

"Barusan, ketika lohu menepuk punggungmu dan kau memuntahkan benda sebesar kepalan, itulah ada racun yang bergempal dan akan membinasakan dirimu kalau saja tidak bisa dikeluarkan dari perutmu. Kini ia sudah keluar, maka dalam tubuhmu sudah tidak ada racun lagi. Umurmu bisa jadi seratus tahun, percayalah kepada lohu"

Ho Tiong Jong terbengong mendengarkan keterangan si orang tua baju kuning.

"Laote."

Kata pula Ie Boan Hoei.

"Lohu sudah banyak pengalaman dalam dunia Kang ouw, kejadian apa saja sudah tahu, Bahwa dalam dirimu akan mengeram racun lohu juga sudah tahu siang-siang, Melihat air mukamu, lohu tidak perca yakau bisa mati karena racun. Kau mestinya panjang umur, bukan mustahil kau nanti mengangkat namamu termashur dalam rimba persilatan-"

Ho Tiong Jong kegirangan mendengar kata-katanya si orang tua baju kuning.

Tidak dinyana ia bisa sembuh dari keracunan dengan cara kebetulan ketemu Ie Boen IHoei, ia percaya omongannya si orang tua karena ia merasakan sendiri tubuhnya merasa sangat segar dan kuat sekali, pertolongan gaib.

"Laote,"

Ie Boen Hoei berkata pula.

"Racun ketemu racun dalam tubuhmu telah berhantam dan saling bergempal, sukur kau ketemu lohu, kalau tidak rasanya sukar ketolongan jiwamu kalau tidak ada si Dewa obat Kong Jat Sin yang memberikan pertolongan dengan obatnya yang istimewa. Tapi Laote, lohu sudah mendapat keyakinan, bahwa ilmu tenaga dalammu sangat hebat sekarang, jalannya darah sudah ncrmal kembali, semangatmu juga sudah berubah, bagaimana apa kau tidak merasakan itu semua?"

Mau tidak mau Ho Tiong Jong telah anggukan kepalanya, memang benar apa yang di katakan oleh orang tua itu Dengan suara terharu saking berterima kasih dan kegirangan Ho Tiong Jong telah berkata.

"Cianpwee, boanpwee tidak tahu dengan apa boanpwee harus membalas budi cianpwee yang sangat besar ini, hingga jiwa boanpwee terluput dari kematian-"

"Ho laote."

Memotong Ie Boen Hoei.

"pertolongan yang keluar dari hati yang tulus tidak memerlukan terima kasih, bukankah kau ada mengatakan demikian?"

Ho Tiong Jong tidak bisa menjawab, hanya matanya memandang si orang tua dengan mengembang air mata terima kasih.

Dilain saat Ho Tiong Jong sudah riang gembira.

Mereka satu dengan lain cocok pikiran, maka tidak heran mereka telah mengikat tali persahabatan-Ketika sudah terang tanah, Ho Tiong Jong dan Ie Boan Hoei jalan sama-sama sampai sepuluh li jauhnya, kemudian mereka berpisahan, Ie Boan Hoei meneruskan perjalanannya ke barat daya dengan membawa jenazah nya sang kakak.

selang Ho Tiong Jong telah mengambil jurusan lain-Sepanjang jalan Ho Tiong Jong pikirkan, sekarang ia harus menuju kemana?

Menemui Seng Giok cin?

Menyambangi Kim Hong Jie?

Dua nona yang sekaligus menyintai dirinya sungguh ia harus merasa bangga, tapi ia tidak berani untuk mengunjungi salah satu diantara nya.

Pikirnya, sekarang masih belum waktunya, paling baik sekarang ia menuju ke Yang-ce untuk menemui sahabat tuanya co Kang cay.

Siapa tahu orang tua sudah bersiap-siap dengan rencananya untuk menyelidiki gunung-gunungan yang mengandung riwayat istimewa ialah didalamnya ada tersimpan baskom ajaib yang bisa membuat uang yang sedikit ditaruh didalamnya bisa berubah banyak dan satu patung wanita cantik, kalau dapat tidur bsrsama-sama dengannya akan merasakan kehangatan dan semangat segar serta kekuatan tenaga dalam juga dapat bertambah.

Demikianlah setelah mengambil keputusan, ia telah membeli pakaian baru dan seekor kuda untuk perjalanannya.

Dalam pakaian yang baru, tentu saja Ho Tiong Jong punya paras yang tampan semakin menyolok saja.

Roman cakap.

pengawakan gagah, dengan sebilah golok digantung diatas kuda.

Ho Tiong Jong telah menarik banyak orang yang mengagumi dirinya.

Setelah menangsel perutnya, pemuda gagah itu telah melanjutkan perjalanannya.

Disepanjang jalan ia mengenangkan dua jelita, yang saat itu entah bagaimana keadaannya, karena mereka menganggap dirinya akan mati karena racun, sekarang ia tidak sampai mati maka seandainya ketemu dengan mereka, bagaimana girangnya mereka itu, sukar untuk dapat dibayangkan-Rumahnya co Kang cay ada dalam sebuah desa termasuk bilangan kota jang-ce.

Jauh juga perjalanan yang ditempuh oleh Ho Tiong Jong, akhirnya ia sampai juga ke-desanya co Kang cay.

Kebetulan sekali ketika ia sampai, didepan sebuah rumah tampak berdiri seorang tua dan ia bukan lain dari co Kang cay sendiri.

Sambil melambai-lambaikan tangannya orang tua itu agaknya hendak menyongsong kedatangannya belum leluasa dan masih pakai tongkat, maka Ho Tiong Jong agak terkejut.

Ia bedal kudanya dan sebentar saja sudah berada di muka rumahnya co Kang cay.

cepat-cepat ia turun dari kudanya dan menubruk si sahabat tua.

Mereka saling peluk dengan penuh kegirangan.

"co lopek. memang tidak salah dugaanku, kau sedang membangun rumah"

Kata Ho Tiong Jong dengan roman girang.

"Tiong Jong, kita bicara didalam."

Kata co Kang cay, sambil menarik tangannya si pemuda.

"Eh, nanti dahulu, bagaimana dengan kudaku?"

Kata Ho Tiong Jong Jenaka.

"Ah, itu mudah saja, kasihkan saja orangku yang urus."

Co Kang cay berkata demikian sambil panggil orangnya, disuruh merawat kudanya Ho Tiong Jong. Mereka kemudian berjalan masuk kedalam rumah.

"Kan bagaimana tahu aku selang membangun rumah?"

Tanya co Kang cay. ketika mereka sudah pada ambil tempat duduk di-pertengahan rumah.

"Ah, lopek mudah saja. Tadi aku melihat banyak orang yang mengangkuti batu ke rumah lopek."

"Kau pintar menebak, Tiong Jong. Memang tidak hentinya aku berusaha membangun rumah tapi sama sekali tidak menduga kalau penemuan kita kembali ada begini cepat, sungguh menggirangkan sekali hatiku."

Co Kang cay ajak sahabatnya melihat rumah yang sedang dibangun.

Masih tinggal dindingnya saja dalam taraf penyelesaian, lainnya boleh dikatakan rumah co Kang cay sudah beres, Rumah itu besar dan lebar, cuma tidak mewah, hanya seperti rumah biasa saja rumah desa.

"Lopek, kau benar lihay, Rumahmu dibangun dengan sederhana sekali. Meskipun ada besar dan luas. Bagus, karena dengan demikian tidak menyolok dan membangunkan orang punya rasa curiga."

Co Kang cay ketawa nyengir dipuji si anak muda.

orang tua itu memang membangun rumahnya selain sederhana juga ada banyak rahasianya disebelah dalam, inilah untuk menyelamatkan dirinya dari cengkeramannya orangorang dari Perserikatan Benteng Perkampungan yang menghendaki jiwanya.

Setelah diajak melihat-lihat kebeberapa bagian, dimana jalannya berbulak biluk membingungkan, lalu Ho Tiong Jong dibawa ke ruang tetamu yang cukup lebar, tinggi dan menyenangkan hati.

"Lopek benar-benar kau sudah siap sedia menghadapi mereka, sebab bicara terus terang kalau orang tidak diberi pengunjukan, masuk kedalam banyak ruang tadi, bisa masuk orang tidak bisa keluar lagi."

"Ha ha ha..."

Orang tua itu tertawa bergelak-gelak. Mereka lalu pada mengambil tempat duduk.

"Lopek setelah kau mengalami banyak penderitaan memang seharusnya kau hidup dengan tentrem dan bahagia, Bagaimana dengan kakimu yang separuh lumpuh apakah sudah sembuh?"

XXV. SIKAP ANEH DARI IBLIS CANTIK..

"KARENA pertolonganmu Tiong Jong, sehingga aku dapat selamat, Belum tahu budi ini aku dapat balasnya dengan apa?"

"Lopek tidak ada soal budi diantara kita, kita berdua mengalami satu nasib dalam penjara Seng Eng, apa halangannya kalau kita satu sama lain saling tolong, bukan?"

"Ya, tentang kakiku, meskipun tidak sembuh betul, aku masih bisa jalan dengan menggunakan tongkat, Tapi, eh, Tiong Jong bagaimana dengan racun yang mengeram dengan dirimu, apa sudah dapat disembuhkan?""

Ho Tiong Jong ketawa, ia lalu tuturkan dengan ringkas pada sang sahabat tua, tentang pengalamannya sejak mereka berpisahan.

Pertolongan pada Kim Hong Jie, diinjeksi dengan jarum mautnya si kakek aneh, perjalanannya dengan Seng Giok Cin.

Tapi soal mencium bibir orang tentu saja tidak menceritakan.

Pertemuannya dengan Ie Boen Hoei satu penjahat ulung yang sadar dari kejahatannya setelah membunuh kakaknya sendiri.

oleh siapa ia telah disembuhkan keracunan didalam tubuhnya diluar dugaan-Setelah mendengar habis bicaranya si pemuda, co Kang cay tampak kerutkan alis.

"Tiong Jong, aku sangat girang tentang dirimu sudah sembuh dari bahaya kematian karena racun racun yang mengeram dalam tubuhmu, akan tetapi kau sudah berbuat gegabah dengan meninggalkan nona Seng dalam keadaan tertotok dipenginapan-"

Ho Tiong Jong terkejut.

"Tapi totokanku itu hanya untuk sementara waktu saja dan akan terbuka sendirinya."

Katanya pada sahabat.

"Ya, itu betul. Tapi harus curiga juga, dalam keadaan pulas demikian kalau ada orang jahat masuk kedalam kamarnya, bagaimana? Haa, kalau kehormatannya kena dicemarkan orang? Nona Seng tentu tidak mau mengerti terhadapmu dan akan mencari kau untuk mencuci malunya"

"Lopek. ah, masa sampai ada kejadian begitu?"

Menyelak Ho Tiong Jong dalam terkejutnya, mukanya seketika telah berubah pucat dan dadanya berombak keras, karena pikirnya, memang ada kemungkinan ada kejadian demikian "Ya, mudah-mudahan tidak sampai ada kejadian demikian,"

Menghibur si orang tua.

Ho Tiong Jong tidak menjawab, Diam-diam dia memikirkan juga akan dirinya nona yang dicintanya itu.

Kalau benar seperti katanya si orang tua kejadian, celaka sama juga ia mencelakakan dirinya si gadis pujaannya itu.

Tengah ia menjublek.

Co Kang cay sudah berkata pula dengan air muka berseri seri.

"Ah, Tiong Jong, itu hanya dugaan saja. Tapi masa bisa jadi, nona Seng ilmu silatnya tinggi. Tentu dalam sedikit waktu ia sudah bisa mendusin. Lagi pula ia ada puterinya Seng Eng, Pocu dari benteng Seng-keepo yang sangat ditakuti, betul tidak? Nah, mari, kita minum teh."

Co Kang cay suguhkan secangkir teh pada kawan mudanya itu, sambil berkata pula.

"Tiong Jong legakan hatimu, apa yang aku kata barusan hanya dugaan saja dan rasanya tak mungkin kejadian-"

Kembali si orang tua.

Ho Tiong Jong merasakan, tapi kejadian sudah berjalan begitu rupa, ia kobarkan hatinya dengan kata-kata si orang tua tadi.

Hatinya mulai lega dan tak percaya si nona akan mengalamkan malapetaka yang tidak enak atas dirinya.

Dengan begitu, pembicaraan diantara dua sahabat yang senasib tempo hari dalam penjara air, kini dapat berjalan dengan gembira.

"co lopek, bagaimana halnya dengan gunung-gunungan itu, apakah kau sudah dapat menemukan kuncinya untuk masuk kedalamnya?"

Tanya Ho Tiong Jong sewaktu ia ingat akan riwayat menarik dari gunung-gunungan di kota Jang-ce itu.

"Belum."

Jawab Co Kang cay.

"Rumah ku baru saja jadi, mana aku ada tempo untuk pergi kesana? Kebetulan kau sudah datang di sini, maka baiklah kau beristirahat saja dahulu dalam rumahku dua tiga hari, nanti kita bersama-sama kesana, bagaimana kau pikir."

"ow, tentu saja aku dengan senang hati ikut melihatnya."

Jawab Tiong Jong.

"Bagus, bagus ..."

Bicaranya co Kang cay belum lampias, sudah dibuat berhenti dengan muncul satu pelayannya yang mengabarkan bahwa diluar ada seorang nona yang hendak ketemu dengan Ho Tiong Jong.

"Seorang nona?"

Kata co Kang cay.

"Eh Tiong Jong apa kau ada membawa teman perempuan kesini?"

"Tidak." -jawab Ho Tiong Jong.

"Tapi katanya ada satu nona yang ingin ketemu denganmu bagaimana pikiranmu?"

Ho Tiong Jong terdiam sejenak.

"Baik, silahkan dia masuk ketemu aku,"

Akkirnya ia berkata.

co Kang cay tampak berduka romannya, ia kuatirkan bahwa yang datang itu ada orangnya Perserikatan Benteng perkampungan yang hendak mencari onar.

Ho Tiong Jong mengerti akan kedukaan nya si orang tua, maka ia lalu menghibur.

"co Lopek, kau jangan kuatir, Aku bukannya sombong, asal ada orang datang hendak mengganggu ketentramanmu, aku si orang she Ho yang nanti akan mengusirnya. Legakan hatimu, dan percayalah padaku^"

"Ya aku juga tidak takut. cuma saja kalau benar nanti terjadi pertempuran pasti akan mengambil banyak korban jiwa. inilah yang membikin aku tidak tega hati."

Jawab si kakek sambil menghela napas. Sebentar lagi tampak sipelayan muncul mengantarkan si nona tetamu masuk diruangan tamu.

"Hei, enci Ie."

Seru Ho Tiong Jong, ketika melihat tetamunya itu masuk. Memang benar ada Li-lo-sat ie Ya yang datang.

"Ya, aku yang datang."

Jawab si nona sambil kerllingkan matanya yang tajam.

"Enci ie. bagaimana kau tahu perjalananku dan datang kesini, silahkan duduk."

Mengundang Ho Tiong Jong, sambil menyodorkan sebuah kursi. Kemudian sipemuda berkata pada co Kang cay.

"co lopek. apa kau sudah tidak mengenali lagi pada nona ie?"

"Siapa dia, Tiong Jong?"

Siorang tua balik menanya.

"Enci ie masa kau lupa? Dengan pertolongannya pada itu malam, selamatlah kau sampai di kota Yang cie. Kalau bukannya enci Ie yang menolong, niscaya sampai sekarang kau masih nyantel saja di Seng kee-po. Ha ha ha..."

Co Kang cay kini baru sadar, maka ia buru-buru minta maaf.

"Nona ie, maafkan lohu yang sudah kurang terang matanya, tambahan malam itu ada gelap. hingga aku melupakan wajahmu.Maafkan, nona dan terima kasih atas pertolonganmu itu,"

Co Kang cay tutup kata-katanya sambil menjura memberi hormat, tapi ie Ya cepat-cepat mencegah.

"Lopek jangan pakai banyak peradatan didepanku. Aku paling benci sama segala peradatan yang mengikat kemerdekaan bergerak."

Co Kang cay urungkan maksudnya tapi ia dengan sangat hormat sekali telah menyilahkan si nona ambil tempat duduk. Setelah si nona berduduk. Ho Tiong Jong menanya.

"Enci, kau sungguh baik sekali, selamanya aku merasa berhutang budi padamu. cuma, bagaimana tentang kedatanganmu ini, ada urusan apa, enci ie?""

Ie Ya tertawa tawar. Wajahnya dingin, mengawasi pada Ho Tiong Jong dengan sorot mata memandang rendah.

"Tiong Jong kedatanganku ini boleh dianggap teman dan juga boleh diangap akan menjadi lawan, Kejadian antara kita yang sudah tidak perlu diingat-ingat lagi."

Ho Tiong Jong heran mendengar kata-katanya ie Ya.

Ia memandang parasnya si nona yang cantik dan botoh, yang biasanya menawan hati, kini tampak beringas dan wajahnya seperti yang memandang hina padanya.

"Enci ie, aku penasaran menghadapi sikapmu yang tidak biasanya ini, Kau kenapa? Apkah aku si orang she Ho pernah berbuat kesalahan terhadap dirimu?"

"Kesalahan terhadapku tidak. tapi kau sudah berbuat salah terhadap orang lain-"

"Aku sudah berbuat salah apa?"

"Hmm...."

Ie Ya menggeram.

Baca Juga: Pendekar Super Sakti 3

Baca Juga: Sepasang Pedang Iblis 8

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert