Eps 4 Golok Sakti - Chin Yung
Baca online Golok Sakti - Chin Yung
Cersil Golok Sakti - Chin Yung.
Cia Peng San gelisah hatinya melihat semua serangannya luput, ketambahan ia lihat lawannya sudah mulai menggunakan ilmunya "Kuda sembari melayang keangkasa".
Tubuhnya Co Tong Kang tampak melesat tinggi dari atas ia menyerang musuhnya dengan tangan dan kaki berbareng di kerjakan-Sebetulnya ilmu ini hanya untuk menyerang, tidak untuk menjaga diri.
Genanya untuk membikin musuh tak dapat melarikan diri.
Cia Peng San tidak tahu serangan macam ini, maka dengan dua tangannya ia menyerang kedadanya sang lawan yang masih melayang diudara, Co Tong Kang tahu serangan lawan ada hebat maka tidak sembarangan ia menyambut.
Ia meluncur turun dibelakang nya Cia Peng San, kemudian dengan satu gerakan manis sekali ia buat Cia Peng San terpental dan tubuhnya membentur dinding, kemudian rubuh meloso ditanah."
Cia Peng San merangkak bangun, ia maksudnya hendak menyerang lagi musuhnya, tapi diurungkan ketika dalam otak berkelebat pikiran lebih baik lari.
Maka begitu ia sudah dapat menegakkan badannya sudah lantas kabur meninggalkan musuhnya.
co Tong Kang melengak.
Ia tidak mau membiarkan musuhnya melarikan diri, maka lantas menguber.
Pikirnya, kalau Ie Yong bisa mencegat larinya cia Peng San, tentu pecundang ini dapat dibekuknya.
Tapi siapa nyana, setelah ia menguber melewati dua kamar batu ia dapatkan sibotak sedang membentak-bentak dan mundur mundur seolah-olah barusan ia habis dikerjai orang.
"Kau kenapa?"
Tanya co Tong Kang.
"Barusan aku kena dikerjai orang,"
Jawabnya sambil mengusap-usap sikunya.
"cia Peng San yang barusan datang ke-sini?"
"Bukan-"
"Hei, siapa lagi orangnya yang datang ke sini?"
Co Tong Kang berCekat hatinya.
"Dia mengenakan kedok hitam,"
Jawab si botak.
"Menggunakan kedok hitam?"
Co Tong Kang mengulangi, heran.
"Ya. dia berkedok hitam dan pakaiannya juga serba hitam. Aku sedang lengah di kamar batu ke satu telah dipukul olehnya hingga aku mundur kesini. Aku tidak perhatikan pengawakannya, tapi dari gaya pukulannya seperti pukulan Ie su-pit (pit sejarah) dari Han Siauw ceng."
"oo, pantasan kau tidak berdaya, kalau orang ini yang menyelusup kesini. Kalau begitu kecuali dia tentu masih ada lain lain nya yang menyelusup kesini."
Si botak hanya memandang pada co Tong Kang yang sedang meng urut-urut jenggotnya.
"Jadi kau sudah buat terlepas cia Peng San bukan?"
Tanya co Tong Kang.
"Aku bukan sengaja membuat dia terlepas,"
Jawab si botak.
"Aku baru saja mau masuk ke jalanan got untuk mencegah larinya orang she cia itu. mendadak dari belakang aku sudah di serang orang. cepat aku menggosok serangan dan memutar tubuh menangkas susulan serangan orang itu, Tapi dia ada sangat tinggi ilmu silatnya, karena terus menerus aku dicecer dan mundur sampai ke-sini. cia Peng San menggunakan aku kedesak begini, rupanya dia sudah melarikan dirinya."
Co Tong Kang manggutkan kepalanya.
"Ya, si orang tua she Hui sudah muncul, aku tidak dapat mempersalahkan kau. sekarang kau berlaku sebagai mana biasa saja menurut rencana yang telah diatur. Nah, ini aku kasih dua butir pil, satu untuk dimakan dan lainnya untuk-dipakai diluar menyembuhkan lukamu. Tidak lama kesehatanmu pulih kembali."
Co Tong Kang berkata sambil menyerahkan obatnya.
"Terima kasih, Pocu."
Kata si botak dengan perasaan penuh terima kasih.
Tidak lama kemudian telah menghilang dari situ.
Sementara itu Ho Tiong Jong dalam kamar tahanannya tiba tiba melihat munculnya si botak dekat pintu besi, siapa telah berkata.
"Hei, Tiong Jong, kaujangan ngimpi hendak kabur diluar penjagaan sangat rapihnya, kau tahu?"
Ho Tiong Jong mendongkol mendengar kata-katanya si botak ia menjawab.
"HMM...... botak. disini kau jangan menunjukkan botakmu yang buruk itu, apa kau anggap kebagusan? Kalau tuanmu mau melarikan diri, jangan lagi kau, setan sekalipun tak dapat mencegahnya, kau mengerti?"
Ie Yang berteriak gusar, Ia paling tidak suka kalau kepalanya yang botak dipakai bahan omongan-Tapi kegusarannya tak dapat ditumplekkan kepada pemuda itu, karena ia tahu kalau Ho Tiong Jong sampai kenapa-apa nona Seng tentu tidak akan memberi maaf kepadanya.
Malah Seng Pocu kelihatan menghargai pada pemuda ini.
Kalau terhadap lain tahanan ia boleh punya suka.
Tapi ia tidak puas, maka ketika meninggalkan Ho Tiong Jong ia berkata.
"Hmmm Tiong Jong, kau jangan terlalujumawa. Ada satu hari nanti kau tahu bahwa aku Ie Yong bukannya seorang yang gampang-gampang dihina."
Ho Tiong Jong geli dalam hatinya melihat tingkah lakunya si botak.
"Hei, botak kau tidak rela? Aku nanti perlihatkan padamu, bahwa aku tidak sukar lolos dari sini."
Demikian Ho Tiong Jong temberang. si botak mendelik matanya.
"Tiong Jong, kau jangan banyak tingkah. Kalau benar kau bisa meloloskan diri dari sini, aku Ie Yong dengan sukarela akan menghadiahkan kepalanya sebagai tanda penghargaan, ha ha ha^.."
Si botak penuh keyakinan Ho Tiong Jong biar bagaimana juga tak dapat meloloskan diri dari situ.
Selalu ia yang menjaga, juga ada Co Tong Kang.
Kalau ini dapat dilewati, masih ada Pek Boe Taysu dan seng Pocu yang akan datang memberikan bantuan mencegah larinya anak muda itu.
Dari sebab keyakinannya itu.
maka ia dengan temberang telah berkata hendak menghadiahkan kepalanya kalau Ho Tiong Jong benar-benar dapat keluar dari benteng yang kuat itu.
Ho Tiong Jong mendongkol juga mendengar kata-katanya si botak.
"Hei, botak."
Katanya.
"kau dikalangan kangouw bukan sudah punya nama juga?Jangan kau seperti orang penjual obat dijalanan saja boleh mengeluarkan perkataan sesuka hatimu. Kalau aku betul sudah dapat meloloskan diri dari sini. kaujangan mungkir untuk menyerahkan kepalamu yang botak"
Ie Yong tertawa dingin sambil tepok dadanya ia menjawab.
"Tiong Jong aku Ie Yong ada satu laki-laki sejati. Ludah yang sudah dibuang tak akan dapat dijilat kembali, maka perkataanku barusan tidak akan aku tarik kembali. Maka, kalau kau betul-betul dapat meloloskan diri dari sini, nanti kalau kita ketemu muka, aku akan persembahkan kepadamu kepadamu."
Terdengar Ho Tiong Jong tertawa tergelak-gelak.
sibotak tidak mau meladeni lagi, lalu menutup pintu tahanan terus ngeloyor pergi.
Ho Tiong Jong setelah melihat sibotak berlalu, terus memasukkan tangannya meloloskan rantai yang sudah dikikir putus.
Pintu tahanan sebentar kemudian tampak terbuka lagi.
kini muncul nona cong ie berjalan masuk.
Dari atas ia berkata pada Ho Tiong Jong.
"EngKo Ho, aku cong ie datang hendak menolong kau."
Ho Tiong Jong kaget mendengarnya.
ia tidak mengira bahwa nona cong juga datang ke-situ dengan maksud menolongnya, seperti terjadi pada cia Peng San tadi.
Pemuda itu kuatir kalau nona cong mendapat celaka, maka ia berkata.
"Nona cong, terima kasih. Tapi harap kau lekas-lekas meninggalkan tempat ini, ada orang yang mengawasi gerakgerikmu."
"Engko Ho, semata-mata aku berani menerjang masuk kesini aku sudah perhitungkan apa akibatnya, maka legakan hatimu semua urusan aku yang menanggungnya."
"Tapi ah nona cong. lebih baik.kau lekas meninggalkan tempat ini. Kau datang dengan tangan kosong, mana dapat kau mengelakan bahaya yang mengancam dirimu? Harap kau suka turut perkataanku."
Ho Tiong Jong gelisah hatinya. Tapi conGi e dengan tertawa angkuh telah berkata.
"Engko Ho, mana bisa aku berpeluk tangan melihati kau menderita dan mana aku dapat ke gunung Po san dengan tangan kosong?"
Ho Tiong Jong mengerti, bahwa jalanan got untuk keluar dari tempat tahanan itu ada dijaga keras oleh orang-orang yang menjaganya, tentu ada berkepandaian sangat tinggi.
Bahkan rupanya masih ada jalanan untuk orang melaporkan kepada tuan rumah jikalau terjadi apa-apa dalam tempat tahanan itu yang tak dapat diatasi.
Kalau nona Ciong menolong dirinya, lebih-lebih banyak bahayanya daripada selamat.
juga dengan menggrecoknya nona cong berarti telah mengacaukan rencananya untuk kabur dari tempat itu.
Tidak heran kalau hatinya menjadi sangat risau.
Tanpa merasa Ho Tiong Jong mengeluarkan keringat dingin.
"Ya, nona cong harap kau suka menurut perkataanku,"
Katanya lagi.
"Apa yang harus ditakuti?"
Tanya si nona.
"oh, aku harap kau suka memikirkan juga tentang apa katanya orang, kau satu wanita datang kemari menyatroni lelaki. Maka pergilah kau, aku betul-betul tidak berani menerima budimu yang besar ini. Aku takut dengan berita orang perihal kita berdua, maka haraplah kau suka maafkan"
Mendengar kata-katanya si anak muda tampan yang memincak hatinya, lantas saja ia merasa sangat sedih.
Dengan susah payah ia datang kesitu untuk menolong Ho Tiong Jong, akan tetapi melihat yang hendak ditolongnya sedikit pun tidak mempunyai rasa kasih sayang, siapa tidak akan menjadi sedih?
Maka dengan hati cemas dan menolongkol ia telah meninggalkan tempat itu dengan tidak menutup pula pintu besi tempat tahanan itu.
Setelah si nona pergi, hatinya si pemuda jadi berduka telah menolak orang punya maksud baik.
Beberapa kali ia menghela napas.
Tidak lama tiba-tiba terdengar suara timpukan batu kecil ialah biasa digunakan dalam kalangan kangouw untuk mencari tahu ada orang atau tidak ditempat yang ditimpuknya.
Tampak muncul ceng ciauw Nikouw yang berpakaian abu abu warnanya.
pipinya menonjol, alisnya halus dan hidungnya lancip.
Seram kelihatannya.
Ho Tiong Jong yang melihatnya merasa jemu.
ceng ciauw Nikouw melihat Ho Tiong Jong separuh dadanya terendam air, ia berkata pada anak muda itu.
"Hei bocah, aku datang kesini hendak menolong kau."
"Terima kasih,"
Jawab Ho Tiong Jong.
"tapi jangan lupa. kau bisa masuk sukar keluar lagi.Jalanan keluar sangat berbahaya, mungkin kita akan menemui kematian."
"Maka sebelumnya kita berlalu, harap kau suka memeriksa dahulu jalanan keluar yang selamat, agar kita aman keluar."
Ceng ciauw Nikouw anggukkan kepalanya. Setelah berdiam sebentar, lantas ia hendak meninggalkan tempat itu. Tiba-tiba terdengar suara yang berkata.
"Ya. betul seperti dikatakan Tiong Jong. orang masuk kemari, bisa masuk tapi tidak bisa keluar lagi. Dari itu, nikouw kalau kau hendak keluar dari sini perlihatkan dahulu kepandaianmu didepanku."
Itulah suara co Tong Kang. yang ceng ciauw Nikouw kenali.
"Ya, betul aku."
Jawabnya sambil unjukan diri.
"Seng Pocu mengadakan pertandingan luitay, tapi aku sendiri tak ingin bertanding di luitay, lebih baik aku mengukur kepandaian orang disini saja."
Ceng ciauw Nikouw perdengarkan tertawa dingin.
"Ya. aku sudah terjebak olehmu."
Katanya "Kalau tidak mengeluarkan sedikit kepandaian memang tidak pantas."
Co Tong Kang tertawa bergelak-gelak.
"Bagus, bagus,"
Katanya.
"memang begitu halnya, aku tahu ilmu senjata rahasiamu yang lihay yang diramai Tok-kim-chi (uang emas beracun) dan senjata kebutanmu yang terkenal, maka sekarang aku ingin menyaksikan dengan mata kepala sendiri."
Ho Tiong Jong mendengar tentang tanya jawab dua lawan itu, diam-diam dalam hatinya berpikir, bahwa dalam "Perserikatan Benteng Perkampungan"
Banyak jago jago pilihan yang ilmu silatnya istimewa.
Ini Tio Pocu juga tentu ada lihay, sedang si nikouw juga pasti bukannya orang Sembarangan, sebab Tic Pocu tidat berani unjuk kelakuan yang memandang rendah.
Sedang memikirkan hal itu, tiba-tiba ia dengar ceng ciauw Nikouw berkata.
"Baiklah, kau boleh bersedia."
Berbareng ia gerakkan kebutannya menyerang pada co Tong Kang.
Kebutan itu ketika digerakkan lantas perlihatkan sinar ke kuning-kuningan, mengurun pada dirinya co Tong Kang.
Tapi orang she co itu juga sudah siap sedia untuk menangkisnya.
ia menggunakan senjatanya yang dinamai "
Liat-h we kie"
Atau "Panji Api".
Gerakan mereka cepat sekali.
Kebutan dan Panji Api menari-nari dengan indahnya, masing-masing mengarah jalan darah lawannya.
Pertandingan berjalan seru, tapi setelah sepuluh jurus lantas dapat diketahui bahwa nikow itu berada dibawah angin-Serang-serangannya yang gencar tadi mulai kendor kena tekan oleh serangan hebat co Tong Kang.
Tiba-tiba ceng ciauw Nikow keluarkan bentakan keras, kebutannya digetarkan dan dimainkah lebih cepat lagi.
hingga dirinya seperti terbungkus oleh sinar kuning yang keluar dari kebutannya.
Dengan merubah permainan pukulannya ceng ciauw Nikouw dapat memperhatikan diri dari desakannya co Tong Kang yang dahsyat.
ceng ciauw Nikouw mengerti, bahwa senjata Liat hwe kie, lawan adalah senjata khusus untuk memunahkan senjata gelap yang kecil-kecil, maka juga ia tidak berani sembarangan menggunakan senjata rahasianya Tok-kim chi.
Ia kebingungan juga melihat ilmu silatnya kalah dari lawan, mau mengeluarkan senjata gelapnya merasa ragu ragu, habis bagaimana baiknya menyudahi pertempuran ini?
Ho Tiong Jong melihat si nikouw keteter, lalu berteriak "Hei, cong ciauw Nikouw cepat-cepat kau melarikan diri"
"Tiong Jong, kau jangan bikin gelisah hatinya,"
Kata Tong Kang sambil ketawa terkekeh-kekeh.
"kau lihat aku bikin dia terputar-putar, ha ha ha..."
Ceng ciauw Nikouw mendelu hatinya mendengar kata-katanya co Tong Kang.
Ia ada satu wanita yang biasa jalan hitam (Jahat).
tabeatnya telengas dan kejam, bukan nya sedikit orang yang binasa dibawah tangannya.
Kini ia harus menempur lawan berat, ia sukar mengalahkannya, kalau kesudahannya ia pecundang bagaimana ia ada muka menemui kawankawannya?"
Co Tong Kang sangat cerdik dalam tiap pertempuran, Ia selalu menempur musuh dengan didahului perang urat syaraf, membikin musuhnya menjadi meluap amarahnya dengan beberapa perkataannya yang menusuk hati.
Kini siasat perang urat syaraf menang dari ceng ciauw Nikouw, maka tinggal ia mendesak musuhnya lebih hebat lagi sehingga ia tidak berdaya, akan kemudian dapat dibunuhnya.
NIKOUW itu timbul keganasannya ketika terus menerus kena desakan oleh lawannya.
sekejap saja ia sudah ambil over penyerangan, kebutannya berkelebatan mengeluarkan sinar kuning yang berkeredepan.
Tapi coTong Kang melayani padanya dengan tenang malah ia tidak mau membuka serangan membalas, hanya menutup dirinya dengan senjatanya yang ampuh Liat hwe kie.
Sebentar lagi kelihatan ceng ciauw Nikouw mengayun tangannya, segera tiga sinar keemas-emasan melayang mengarah dirinya co Tong Kang dan satu sinar melayang ke arahnya Ho Tiong Jong.
Itulah senjatanya ceng ciauw Nikouw yang sangat diandalkan, yalah Tok kim-chi atau Uang emas beracun, yang berupa uang dengan pinggirannya tajam bergigi direndam dalam racun.
Maka, siapa yang terkena senjata rahasianya ini pasti akan melayang jiwanya menemui Giam lo ong.
ci Tong Kang melihat si nikow telah melepaskan senjata rahasianya, menjadi gelisah karena selainnya ia harus menjaga dirinya sendiri dari serangan musuh, juga ia harus melindungi dirinya Ho Tiong Jong.
Senjata rahasia tiga biji yang mengarah dirinya dengan mudah ia gulung dengan Panji Apinya, tapi Ho Tiong Jong bagaimana?
Pemuda itu menjadi kaget ketika senjata rahasia nikow jahat itu mengarah dirinya, ia bingung karena rantai yang merintangi dirinya masih belum dapat putus semua, hingga ia tidak dapat bergerak dengan leluasa.
Dengan apa boleh buat, ketiga senjata rahasia itu menyamber kemukanya ia telah membuka mulutnya dan menggigit dengan tepat sekali.
Kejadian ini tak dilihat oleh co Tong Kang ia ini hanya melihat Ho Tiong Jong sudah terkena senjata rahasianya si nikow jahat, ia menduga Ho Tiong Jong tentu binasa oleh karenanya.
Ho Tiong Jong pura-pura terkena oleh senjatanya si nikow, ia telah tundukkan kepalanya dengan teklok seolah-olah ia telah binasa co Tong Kang yang melihatnya sudah tidak mengambil perduli lagi.
Kenapa ceng ciaw Nikouw menyerang Ho Tiong Jong ?
Itulah karena dalam anggapan nikow jahat itu Ho Tiong Jong ada orangnya Seng Eng dan ditahan dalam tempat tahanan itu hanya merupakan umpan untuk menjebak orang saja.
ia tidak tahu pemuda itu tidak mau diperalat Seng Pocu.
cong Tong Kang pikir Ho Tiong Jong tak termasuk partainya, maka kematiannya untuk apa diambil pusing, lebih baik ia mengerahkan tenaganya meneruskan pertempuran dengan ceng ciauw Nikouw.
Ia terus mendesak lawannya.
Meski kebutannya si Nikouw berkelebatan mengurung dirinya, tidak dapat mendekati tubuhnya yang dilindungi oleh Panji api.
ceng ciauw Nikouw menjadi jengkel.
Kembali ia merogoh sakunya dan mengeluarkan dua buah senjata rahasianya disambitkan kepada musuhnya.
Lagi-lagi senjata rahasianya tidak berdaya menghadapi senjata Panji Api co Tong Kang dan telah kena digulung mentah-mentah.
ceng ciauw Nikouw semakin jengkel.
Ia jadi nekad.
kebutannya dimainkan lebih hebat lagi menyerang musuhnya.
Tapi co Tong Kang juga tidak tinggal diam.
Ia mengerti nikouw jahat itu hendak angkat kaki melihat serangan-serangannya yang bertubi-tubi seperti mencari kesempatan untuk melompat keluar dari kalangan perkelahian-Ia lalu mengerahkan tenaganya ke telapak tangannya, dengan ilmunya Thiat-cian kang (telapakan tangan besi), sambil menggulung senjata rahasia sang lawan, ia telah mengirimkan serangannya yang maha dasyat itu.
Kebetulan ceng ciauw Nikow menjadi tertahan kena angin serangan tadi.
Tapi hanya sebentar saja, sebab di lain saat kebutan itu bergerak lagi dan dapat memukul jalan darah pada sikunya co Tong Kang.
Keadaan orang she co itu menjadi berbalik burukia terdesak musuhnya co Tong Kang juga jadi nekad.
Ia lalu bersiul nyaring, tampak tubuhnya melesat tinggi dan dari atas menyerang musuhnya dengan tipu pukulan "Kuda Pemberani melayang diudara", tapi Nikow jahat itu juga cerdik dan sudah bisa menghindarkan serangan lawan, kemudian ia cepat melarikan diri diuber oleh co Tong Kang.
Tiba tiba ia mendengar suara orang membentak disebelah depan-Hatinya Nikow jahat itu kebingungan, didepan ada musuh dan dibelakang dikejar musuh, ia jadi tergencet ditengahtengah.
celaka, pikirnya, bagaimana ia bisa meloloskan diri?
orang yang menghadang didepannya itu berbadan gemuk, laki-laki setengah tua dengan muka merah.
orang itu kelihatan mendorong dua tangannya, dari mana meluncur keluar angin yang dahsyat sekali.
ceng ciauw Nikow menjadi nekad, dengan kebutannya ia coba menangkis serangan orang.
Tapi tidak tahan dan tubuhnya telah terdorong mundur hingga dua tindak.
Hatinya tambah gelisah.
Siapakah gerangan orang yang demikian kuat tenaga dalamnya?
ceng ciauw Nikouw sudah lemas, tinggal dibekuk saja.
Dalam keadaan demikian, nikouw jahat itu sudah mandah terima nasib akan tertawan oleh musuhnya.
Tapi ketika si muka merah datang menghampiri, tiba-tiba ada berkelebat bayangan kecil langsing dan turun menyelak di antara mereka.
Si muka merah menjadi kaget.
"oh. ciauw Toa-nio juga datang kemari?"
Serunya.
Kiranya yang menyelak itu ada seorang nenek yang dikenal dengan nama ciauw Toa-nio dalam kalangan kang ouw.
Ia disegani oleh kawan dan lawan, maka juga kedatangannya telah membikin kaget si gemuk muka merah tadi.
setelah tertawa terkekeh-kekeh.
ciauw Toa-nio berkata.
"Maafkan aku. Melihat kalian sudah turun tangan bertempur, maka tidak enak kalau aku si nenek tinggal enakenakan berpeluk tangan, bukan?"
Menggunakan kesempatan si muka merah pasang omong dengan ciauw Toa-nio, si nikow yang sudah kepepet, telah gerakan kakinya meninggalkan tempat itu.
ciauw Toa-nio juga sudah gerakan tubuhnya mencelat hilang dari situ.
co Tong Kang melihat itu, lantas berteriak.
"Hei, Kim toako, kaujangan kasih lolos nikow itu"
Berbareng tubuhnya melesat hendak mengejarpada ceng ciauw Njkouw, akan tetapi orang berbadan gemuk muka merah tadi sudah mencegahnya.
Sementara itu ceng ciauw yang sudah dapat meloloskan diri, terdengar suara ketawanya yang bergelak-gelakjauh disebelah luar.
Terdengar Ang-bin Lojin (orang tua muka merah) berkata.
"co hiante, kaujangan berlaku sembarangan. Kini belum waktunya untuk kita membuka kartu. Kau harus banyak bersabar."
"Oo, kau hanya menggertak saja."
Jawabnya sambil ketawa nyengir. Tapi begitu mengetahui nikouw itu sudah jauh, ia menambahkan.
"Sayang, nikouw itu lolos. Akn sebenarnya ingin membunuhnya."
Ang bin Lojin ketawa gelak-gelak.
"co hiante, buat apa kau mencari urusan Nikouw itu sudah sepuluh tahun lamanya ada bertinggal digunung Siauw-tong Kit-sin san dalam goa ceng ciauw teng. Tenaga dalamnya cukup mahir. Aku bicara terus terang. ceng ciauw Nikow memang ada musuh kita yang terhitung kuat. Kalau suhu nya yang bernama Ya Sin Bo nanti muncul bersamanya, benar benar urusan akan jadi runyam, terpaksa kita harus mencari bantuan."
"Ya, co hiante rupanya masih ragu-ragu yang Ya Sih Bo itu sudah mati. Memang juga ada kemungkinan dia belum mati. coba pikirkan, orang yang melatih silat tubuhnya ada banyak lebih sehat dari orang biasa, seperti kau tahu dalam golongan kita masih ada tiga orang yang masih sehat-sehat saja keadaannya dan tiga orang itu umurnya hampir bersamaan dengan Ya Sin Bo. Sepuluh tahun yang lalu Ya Sin Bo ada tinggal di Siauw tong Kit sin-san. Setelah ini ia telah pindah ketempat yang lebih kesebelah timur dari tempatnya yang ditinggali semula. Aku sangsikan bahwa dia kini sudah mati, sebab siapapun belum pernah ada yang pergi kesana."
"Ya. Kim toako, barusan aku menyatakan ingin membunuh ceng ciauw karena mengingat ketelengasannya. Dengan senjata rahasianya yang beracun, bukan saja dia serang aku, tapi Ho Tiong Jong yang dalam keadaan tidak berdaya juga diserang hingga binasa."
"oo, itu orang yang terendam dalam air yang kau maksudkan?"
"Ya, betul dianya."
"Aku lihat dia seperti masih hidup dan badannya bergerak"
Berdua lalu pergi memeriksa keadaan Ho Tiong Jong.
Keadaan Ho Tiong Jong memang seperti sudah mati, kepalanya teklok dan hidungnya hampir kerendam air.
Mereka berpendapat bahwa Ho Tiong Jong sudah binasa, karena kalau masih hidup dan bernapas, air didekat hidungnya itu tentu bergerak gerak kena tiupan hidungnya.
Kini toh diam diam merasa heran-"Ya, aku heran sekali, dia betul betul mati.
Apakah dia mati karena serangan ganas si nikow tadi?"
"Ya, sudah tentu karena serangan nikow itu. Dia menyerang dengan kejam kearahku dan kearah Tiong Jong dengan berbareng. Aku tidak bisa melindunginya dari sebab aku sendiri juga repot untuk menghindari serangan si nikouw."
"Ha ha ha..."
Kim Toa Lip tertawa.
"Dalam hal ini, mana dapat orang menyalahkan padamu. Kau tak usah kuatir orang akan mencelamu?"
Setelah berkata. Kim Toa Lip lalu turun mendekati Ho Tiong Jong yang ketika itu dapatan masih dirantai pada sebuah tiang batu. Ia meneliti sejenak. tiba-tiba ia menghela napas.
"Sungguh sayang orang ini mati konyol. Tulang-tulang bakatnya untuk menjadi satu akhii silat bagus sekali. Dalam seratus tahun belum tentu ada muncul satu orang yang mempunyai bakat seperti dia bagusnya."
Sampai disini tiba-tiba ia seperti ingat sesuatu setelah menatap wajahnya Ho Tiong Jong, lalu berkata lagi kepada co Tong Kang.
"Hei, co Hiante, kau tentu tahu. orang ini pada lima tahun yang lalu pernah datang ke-rumah ku, dia telah mendapat hadiah pelajaran delapan belas jurus ilmu golok keramat dari Siauw-lim pay. cuma sayang, baru dua belas jurus, ia sudah meninggalkan rumah kami"
"Bagaimana dia dapat hadiah begitu mudah, apakah dia sudah berbuat jasa?"
"Duduknya perkara sederhana saja. Gara-gara boneka anakku Hong Jie kecemplung ke-dalam sawah, dia yang telah menolong ambilkan. Hong Jie sudah merasa sangat berterima kas ih kepadanya dan merasa kalau dia dalam keadaan kedinginan-Maka atas desakan Hong Jie pada ayahku, maka ia diberi hadiah ilmu golok terkenal itu."
"Tapi kenapa dia baru belajar dua belas jurus sudah meninggalkan rumah toako?"
"Kau tentu kenal tabeat ayahku, yang paling suka dengan kebersihan. Waktu itu Tiong Jong masih merupakan anak gelandangan, Ayahku meskipun benar memberi pelajaran dengan sungguh sungguh, tapi beliau sikapnya agak dingin terhadapnya. Sedang Tiong Jong bertabeat angkuh, tidak bisa terima perlakuan ayahku itu. Keduanya tidak cocok. maka ketika Tiong Jong disuruh pulang dahulu setahun untuk melatih dalam peraktek apa yang diajarkan dan diminta kembali setelah tempo setahun itu, ternyata dia tidak balik kembali Jadi masih ada enam jurus ilmu yang lihay itu belum diturunkan kepadanya. Sungguh sayang sekali."
Co Tong Kang menganggukkan kepalanya.
"Memang harus dibuat sayang "
Ia menggrendeng.
"Ayahku sebenarnya tahu bahwa bakat Tiong Jong sangat bagus, sukar didapatkan yang keduanya, akan tetapi karena tabeatnya pun ada luar biasa, maka ketika Tiong Jong tidak kembali lagi beliau sudah tidak mau ambil pusing lagi."
"Sayang."
Kata co Tong Kang.
"Aku tidak nyana, setelah lima tahun berselang Tiong Jong berubah demikian rupa. Kalau waktu itu dia sudah begini gagah, tentu ia sudah diangkat menjadi wakil dari Kim pocu."
Co Tong Kang hanya anggukkan kepala dan mengikuti Kim Toa Lip naik tangga lagi dan keluar dari kamar tahanan itu. sebelum melangkah pintu, Kim Toa Lip berkata co Tong Kang.
"Eh, hal kematian Tiong Jong sebaiknya ditutup pada rapatrapat, jangan sampai tersiar keluar, sebab darinya kita bisa gunakan sebagai umpan untuk membasmi musuh kita."
"Mana bisa,"
Jawab co Tong Kihg.
"Kita bisa menutup rahasia ini, tapi ceng ciauw Nikouw bagaimana? Dia tentu tak dapat merahasiakan, apalagi senjata rahasianya yang mengambil jiwanya Tiong Jong tentu dia akan suruh orang minta kembali bersama dengan yang aku sudah punahkan dengan senjataku."
Kim Toa Lip jadi melongo. Pikirnya, betul juga soal kematiannya Ho Tiong Jong itu sukar dirahasiakan berhubung cong ciauw Nikow sudah mengetahuinya.
"Ya, apa mau dikata."
Akhirnya ia berkata.
"Tapi baiknya kau tidak sampai membunuh ceng ciauw Nikow, kalau sampai kejadian demikian, wah, bisa runyam kita meladeni suhunya yang tentu tidak mau mengerti. Harap saja dia pulang ke kiauw teng Kit-sin-san tidak berurusan lagi dengan kita."
Sambil berjalan mereka bercakap-cakap. dengan tidak terasa sudah sampai ke pintu gerbang dari tempat tahannan itu.
"Nah, sampai disini saja kita berpisah."
Kata co Tong Kang.
"Aku-harus bertugas, harap toako saja yang menyampaikan apa yang telah terjadi disini kepada Seng Pocu."
Kim Toa Lip anggukkan kepalanya.
Setelah Pocu dari Kim-Liong-po itu berlalu, co Tong Kang lalu balik lagi ketempatnya dengan mengambil jalan dari pintu rahasia.
Kim Toa Lip juga melalui jalanan rahasia sampai kerumahnya Seng Pocu, yang saat itu sedang duduk dikursi kebesaran berunding dengan empat anak muda, dua yalah laki laki, dan dua anak perempuan-Munculnya Kim Toa Lip telah membikin satu antaranya dua pemudi tadi berjingkrak kegirangan dan lari menubruk pada Kim Toa Lip.
dengan roman yang aleman telah menyenderkan kepalanya didadanya Kim Pocu.
"Ayah, kau baru datang? kemana saja kau pergi?"
Pemudi itu bukan lain Kim Hong Jie adanya. Sebagai anak yang di manjakan, kelihatannya Kim Hong Jie tidak malu malu lagi di-depan orang menggelendot terus dan nyerocos bicara pada ayahnya.
"Hai, kau ini budak kecil memang paling aleman, apakah kau tidak malu dilihat oleh orang orang yang ada disini? Kau toch sudah bukan gadis cilik lagi?"
Demikian sang ayah menegur, tapi dengan suara menyayang dan Ia antapkan anaknya menggelendot didadanya yang lebar.
Tangannya juga tidak tinggal diam, telah mengusap usap rambutnya si nona yang hitam sangat halus.
Seng Eng yang melihatnya telah tertawa gelak-gelak.
"Hong Jie anak tunggal, tentu saja dia kolokan-Asal tahan saja yang menjadi ayah."
Katanya. Nona Kim cemberut dikatakan anak kolokan matanya mengerling penasaran kepada Seng Pocu yang ganda tertawa saja kelakuannya, hingga nona Kim kewalahan dan ia juga turut ketawa gembira.
"Ayah."
Katanya.
"kau baru datang, disini banyak urusan-.."
"Aku tahu semua."
Memotong sang ayah ketawa. Kim Hong Jie deliki matanya.
"Ayah memang begitu, orang ngomong belum habis sudah main potong saja"
Kata sinona agak cemberut.
"Habis, apa yang mau kau katakan lagi, semua aku sudah tahu."
Jawab ayahnya.
"Ayah..."
Si nona urung melanjutkan bicaranya karena dipotong oleh Seng Eng yang berkata.
"Sudah, sudah Hong jie kau suka mau menang sendiri saja. Sedikit-sedikit mau debat dengan ayah sendiri, sebaiknya kita beritahukan kepada ayahmu kabar yang hangat menyangkut pada dirimu. Ha ha ha..."
"Hei. ada urusan apa dengan Hong jie?"
Tanya Kim Toa Lip. Kim Hong Jie tundukkan kepalanya sambil buat main ujung bajunya.
"Hei, Hong jie, kau ini macam anak kecil saja. Ada apa urusan lekas cerita, kenapa malu-malu, apa memangnya rahasia?"
Kim Toa Lip tegur anaknya sambil ketawa.
Tapi Kim Hong Jie tidak menjawab, ia masih terus tundukkan kepalanya.
Kim Toa Lip jadi heran, lalu berpaling pada Seng Eng, matanya dikedipkan seakan-akan menanyakan ada urusan apa, tapi Seng Eng hanya ketawa saja juga Seng Giok cin kelihatan bersenyum-senyum mengawasi si nakal yang seperti kemalu-maluan-"Baiklah,"
Kata Kim Toa Lip tiba-tiba.
"Kalian ada kabar penting belum mau menceritakan kepadaku. Sekarang aku juga ada punya kabar penting yang tidak mau diceritakan pada kalian sebelum kalian bercerita terlebih dahulu."
Kim Hong Jie yang dari tadi tundukan kepalanya, kini mendengar ayahnya ada kabar penting lantas dong akan mukanya yang cantik menarik.
Dua sujennya memain memikat ketika ia bersenyum-senyum dan berkata pada ayahnya.
"Ayah, tidak bisa. Ayah yang harus cerita lebih dahulu."
"Mana bisa, kalian mau tutup rahasia, ayahmu juga mau tutup mulut. Ha ha ha..."
Kim Hong Jie sudah timbul lagi adatnya yang kolokan. Ia memeluk ayahnya dan mendesak.
"Ayah yang baik, kau tentu tidak bikin kecewa anakmu yang hanya satu-satunya maka lekas ceritakanlah, ayah bawa kabar penting apa ?"
Kim coa Lip bohwat (kewalahan) melihat kelakuan anak tunggalnya ini.
"Betul adik Hong, kita dengar dahulu ayahmu cerita kabar pentingnya, baru sebentar kita beritahukan urusan itu."
Demikian co Goen Tiong menimbrung, tapi ia tak dapat melampiaskan bicaranya, karena Kim Hong Jie sudah pelototkan matanya.
Kim Toa Lip menyaksikan itu semua, kembali perdengarkan tertawanya yang terbahak-bahak.
hingga nona Kim jadi tidak sabaran-"Ayah, kau memangnya mau terus tutup mulut saja?
Hmmm^ ayah jangan bikin Hong jie ngambek.."
"Huaha."
Menyela k Seng Eng sambil ketawa.
"Ayah sih..."
Kim Hong Jie mengerlingkan matanya dengan senyum urung pada ayahnya yang ketawa terbahak-bahak.
"Sudah, sudah."
Seng Pocu berkata lagi.
"ayoh, kau Goen Tiong yang menerangkan pada-Kim pekhu."
Co Goen Tiong tidak berlaku ayal.
ia lalu ceritakan pada Kim Toa Lip tentang perlombaan yang dilakukan oleh tiga pemuda Khoe cong, In Kie seng dan Kong soe Tek, pergi ke tempatnya orang aneh dipuncak Si-ban-lenggoa Pek se ong-tong untuk mengambil Hwe giok guna dihadiahkan kepada Kim Hong Jie.
Kim Toa Lip terkejut setelah mendengar co Goen Tiong cerita.
Mukanya berubah.
"Sungguh berbahaya...."
Ia menggrendeng, matanya melirik pada Seng Eng dan berkata.
"Itu ada perbuatan yang sangat berbahaya."
"Aku juga sedang memikirkan hal itu, tapi yang penting orang tua kukway itu harus disingkirkan jiwanya, karena dengan adanya dia kita tak leluasa bergerak."
Demikian Seng Pocu menyatakan pikirannya .
"Masih bagus dia belum muncul,"
Jawab Kim Pocu.
"Kalau dia muncul rasanya runyam juga urusan kita. Tapi tidak apa, lihat saja nanti bagaimana perkembangannya, kita akan berusaha untuk mengatasinya. Tadi, ada nikouw tua dalam penjara air sudah bercakap-cakap dengan Tiong Jong."
"Hei, pekhu."
Menyelak Seng Giok cin yang dari setadian berdiam saja.
"ada kabar penting yang hendak disampaikan oleh pekhu itu mengenai dirinya Tiong Jong."
"Bukan-"
Jawab Kim Toa Lip sambil geleng-gelengkan kepala ketawa nyengir.
"Apa Tiong Jong ikut pada nikow tua itu?"
Menimbrung Kim Hong Jie. Besar perhatian dua gadis jelita itu yang terpikat hatinya oleh Ho Tiong Jong yang gagah dan tampan parasnya. Tampak Kim Toa Lip menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ayah, hayo lekas cerita..."
Kim Hong Jie tidak sabaran kelihatannya.
"Betul, adik Hong betul ..."
Kata Seng giok Cin. Kim Toa Lip mengerti bahwa dua gadis ini menaruh perhatian besar atas dirinya Ho Tiong Jong, maka ia sengaja perlambat meneruskan bicaranya.
"Ayah,"
Kim Hong Jie tidak meneruskan bicaranya, karena Kim Toa Lip sudah menggoyang-goyangkan tangannya dan berkata.
"Kalian berdua kelihatan begitu bernapsu hendak mendengar berita Tiong Jong, kenapa sih?"
Dua gadis jelita itu bungkam.
Nona Seng melirikan matanya pada si paman yang nakal, parasnya merah seketika.
Sedang nona Kim mendeliki matanya cemberut tapi tidak mengurangi parasnya yang cantik menarik.
malah kelihatannya lebih-lebih manis.
Dua saudara co bengong, sedang Seng Eng tertawa geli.
Kim Toa Lip sendiri bersenyum-senyum melihat nona Seng tundukkan kepalanya, sedang puterinya ngambek cemberut.
Tapi akhirnya ia tidak ingin menggoda lebih-jauh pada dua gadis jelita itu, maka ia lalu cerita lagi.
"ceng ciauw mau menolong Tiong Jong keluar dari penjara air, tapi dia tidak mau. hingga ceng ciauw jadi marah. Aku telah menyerang ceng Ciauw, apa mau nikow tua itu amat kejam. Tahu bahwa dia tidak bisa membawa keluar Tiong Jong, maka dengan senjata gelapnya Tok kim-chi dia menyerang Tiong Jong... kalian tahu sendiri senjata gelapnya nikouw tua itu sangat berbisa."
"Ayah, apa Tiong Jong binasa?"
Menyelak sang puteri.
Sen giok Cin jaga saat itu berbareng hendak membuka mulutnya menanya, akan tetapi sudah didahului oleh adik Hongnya.
Mereka kelihatan gelisah.
Hatinya berdebaran menguatirkan akan keselamatan pemuda pujaannya.
"Kau dengar dahulu aku cerita habis"
Kata Kim Toa Lip pada puterinya, sambil urut-urut jenggotnya.
"Aku lihat dengan mata kepala sendiri, senjatanya Ceng Ciau amblas dalam mulutnya Tiong Jong rupanya dia punya gigi ada beberapa buah yang rontok karena terkena serangan Ceng Ciauw..."
"Celaka"
Seng Giok Cin dan Kim Hong Sio mengeluh dalam hatinya masing-masing. Tapi tidak ada yang menyelak dalam lanjutan kata-katanya Kim Pocu yang jail itu, mereka mendengarkan terus dengan hati berdebaran.
"Ya.... Tiong Jong sudah mati karena senjata gelapnya ceng ciauw. Senjata nikow tua itu sangat berbisa, rasanya si.
"Dewi obat, Kong Yat Sin meski datang menolong juga tidak dapat mencegah melayang jiwa Tiong Jong."
Dua gadis jelita itu rasakan hatinya seperti mencelos.
Tiong Jong sudah mati, apa betul?
Mereka masih belum mau percaya, mereka memang tidak mau percaya, kalau tidak dengan kepala sendiri menyaksikan pemuda pujaannya itu binasa.
"Apa kabar penting yang dimaksudkan pekhu itu tentang binasanya Tiong Jong?"
"Ya, betul"
Jawab Kim Toa Lip sambi anggukan kepalanya.
Dua gadis jelita itu rupanya tahan hatinya menerima kabar buruk itu, karena masing-masing masih dalam ragu-ragu untuk mempercayai kebenarannya kalau tidak dengan mata sendiri melihatnya kematian Tiong Jong.
Wajahnya mereka hanya sebentaran saja berubah, kemudian tampak tenang kembali hingga membuat batinya Kim Toa Lip menjadi lega, karena sebermula ia menduga kabar buruk tentang Tiong Jong yang disampaikannya itu akan membuat mereka mengalami yang tidak diingini.
"Tempo hari aku pernah meramalkan anak muda itu panjang umur, bahkan ia akan menjadi seorang ternama dikemudian hari. Tapi tidak dinyana ia ternyata telah menemukan kematiannya secara demikian, untuk selanjutnya aku tidak mau meramalkan lagi orang punya umur."
Demikian Kim Toa Lip berkata, seolah-olah berkelakar sambil melirik pada puterinya.
Tapi nona Kim kelihatan tidak segembira seperti semula sebelumnya ia mendengar kabar tentang kematiannya Ho Tiong Jong, malah tampak lesu.
Perkataannya sang ayah ia sambut dengan adem saja.
"Ya, serangan yang diterima Tiong Jong itu. memang hebat sekali,"
Kata pula Kim Toa Iip.
"sayang sebelumnya nikouw itu kena kita bekuk, ada menyelak sinenek Ciauw dengan tibatiba hingga ia bisa lolos dari kepungan kita."
"Hmm."
Terdengar Seng Eng menggeram.
"semua jago-jago sudah pada bergerak. Tapi tidak ada satujago boleh menghina kita".
"Tapi laote,"
Kata Kim Toa Lip.
"urusan mereka itu memang tidak menjadi soal apa-apa, hanya dikuatirkan gurunya si nikow itu Ya Sin Bo yang amat jahat. Kalau dia turun tangan membela muridnya kita boleh runyam. Semua urusan yang kita kerjakan dapat di kacaukan olehnya. Apa tidak lebih baik kita pancing keluar itu kakek dari goa Pek-cong-tong supaya dia berhantam dengan sinenek yang memang ada musuh buyutnya."
Mereka lalu berunding mencari akal bagaimana baiknya supaya dapat memancing pada kakek aneh itu kemudian biar kita bertempur dengan Ya Sin Bo.
Biarkan salah satu ada yang mati, berarti hilangnya satu rintangan untuk komplotannya.
Tiba-tiba Co Goan Liang majukan diri, menyatakan ingin mencoba-coba untuk memancing keluar kakek dari goa-Pek cong tong.
Hal mana membikin Kim Pocu merasa girang, sebab co Goan Liang ada putranya co Tong Kang, kalau anaknya kenapa-napa tentu co Tong Kang iuga tidak tinggal diam.
co Tong Kang tentu akan bertempur mati-matian dengan si kakek Souw Kie Han-kesudahannya siapa yang mati masa bodo, kalau co Tong Kang berani, hilang lagi satu lawan dalam usaha mereka mengatasi rimba persilatan-Dalam "Perserikatan Benteng-perkampungan-meskipun sudah retak.
tapi masing-masing belum mengunjukkan terangterangan, satu sama lain dengan diam-diam mengatur akalnya sendiri-sendiri untuk menjatuhkan saingannya.
Jadi co Tong Kang mati, berarti hilang satu Pocu saingan"
"Kalau engko Liang pergi, aku juga mau turut "
Tiba-tiba nona Kim nyeletuk. Kim Toa Lip. Seng Pocu menjadi kaget.
"Kau mau apa kesana?"
Tegur Seng Pocu.
"Akan membantu engko Liang mengerubuti si kakek."
Jawab nona Kim. -ooo0w0ooo-XVI. LEMBAH PASIR BERJALAN .
"TIDAK, nanti aku pikir lagi. Urusan ini tak perlu tergesagesa dilakukan, tak begitu penting"
Kata pula pocu dari Seng Kee Po.
Seng Eng rupanya tidak senang Kim Hong Jie menempuh bahaya ikut-ikutan dengan co Goan Liang.
Pikiran Pocu dari Seng Kee Po ini sama dengan mulutnya sudah didahului oleh kawannya.
Kim Hong Jin dan co Goen Liang membungkam.
Mereka tidak membantah putusannya Seng Pocu.
Kim Hong Jie makanya berlaku nekad hendak pergi bersama-sama dengan co Goen Lian, lantaran pikirannya menjadiputus asa dengan kematian Ho Tiong Jong pemuda pujaannya.
Ia pikir, tanpa Ho Tiong Jong, untuk apa ia hidup lamalama dalam dunia, maka lebih baik ia mati sekali ditangannya si kakek aneh supaya rokhnya dapat menyusul Ho Tiong Jong yang sudah pergi lebih dahulu..
Kita kembali menuturkan tiga pemuda yang mengadakan perlombaan-Kong Soe Jin dan Kong soe Tek tampak sudah berada dipuncak gunung Hui cui-san yang menjulang tinggi.
Berdua telah meneliti sekitar tempat itu, melihat kebawah umpak serentetan gunung-gunung kecil sama sekali tidak kedapatan ada sawah dan ladang.
Dari puncak Hui-cui-san tampak lembah Liusoa kok (lembah pasir berjalan) yang dikelilingi oleh gunung-gunung kecil, yalah daerah yang akan dikunjungi oleh tiga pemuda yang berlomba hendak mengambil batu kumala hangat untuk dihadiahkan kepada nona Kim Hong Jie.
Di lembah itu ada terbentang padang pasir yang angker.
Yalah orang yang datang ke situ dansalah menginjak kakinya niscaya akan amblas kedalam pasir itu dan tidak dapat ketolongan lagi jiwanya.
Bukan saja manusia, juga binatang liar yang salah menginjakkan kakinya akan ambles dikubur oleh pasir.
Siapapun yang datang ketempat itu belum tentu dapat pulang dengan selamat.
Dua saudara Kong itu memandang dengan hati berdebaran ketempat yang bakal dilaluinya oleh Keng soe Tek.
Terdengar Kong Soe Jin menghela napas dan sambil menunjuk dengan jarinya berkata pada adiknya.
"Sute, itulah yang dinamai lembah Liu-soa-kok, yang kau akan lalui. Kakek aneh itu tinggal menyepi dalam goa Pek cong tong dipuncak Sin ban leng. Kau harus waspada betul betul. Kalau kiranya tidak ungkulan lebih baik kau balik dengan tangan hampa saja daripada binasa ditempat itu yang tidak ada artinya sama sekali,"
"Kau keliru toako"
Sang adik menjawab.
"Satu laki-laki tidak gentar menempuh bahaya, itulah baru satu jantan tulen. Kenapa kita harus takuti mati? Kalau kita sudah di takdirkan mati, dimanapun kita harus mati. Kau legakan hatimu, aku tidak membuat kecewa namanya suhu."
Jawaban ini berada diluar dugaannya sang engko, Kong Soe Jin menjadi merasa jengah sendirinya, mendengar katakatanya sang adik yang demikian mantap Meskipun begitu tetap Kong Soe Jin tak tega melepas adiknya.
Dalam perjalanan turun gunung, kembali Kong Soe Jin berkata.
"Sute, kau dengan aku ada saudara sekandung, maka tidak perlu kita malu-malu bicara. Terus terang saja aku merasa tak tega melepaskan kau mengunjungi tempat yang berbahaya itu. Usulku, lebih baik kau batalkan saja perlombaan ini dan marilah kita cari tempat sembunyi. Besok pagi-pagi baru kita pulang. Tentu tidak seorang pun yang mengetahui perbuatanmu..."
"Hei, toako."
Memotong Kong soe Tek.
"perbuatan ini membuat malu suhu kita, yang waktu ini namanya sedang harumnya dalam kalangan kangouw. Dengan berbuat begitu juga berarti aku tidak memperhatikan pada Kim Hong Jie."
Wajahnya Kong Soe Jin berubah mendengar disebutnya Kim Hong Jie. Ia bersenyum pada adiknya.
"Sute, kalau hatimu naksir pada nona Kim, aku juga tidak bisa kata apa apa atas niatanmu."
Katanya dengan nada suara menyayang.
"Hanya aku pesan, harap Ialah kau berlaku hati-hati dan dapat kembali dengan selamat. Aku akan menunggu kau disana, digunung yang tinggi itu."
Sambil menunjuk kesebuah gunung.
"orang tidak akan melihat pada kita."
Kong soe Tek anggukkan kepalanya.
Dua saudara yang terkenal dengan julukannya im-yang Siang-kiam itu, memang ada besar cintanya satu dengan yang lain, tidak heran kalau perpisahannya itu membuat keduanya merasa berat.
Setelah mereka berjalan melewati beberapa gunung kecil, sampailah mereka diperbatasan lembah Liu-soa kok, dimana ada terbentang padang pasir.
"Aaaa, aku ingin juga mencoba menginjak pasir yang dikatakan berbahaya dan dapat menelan manusia..."
Tiba tiba Kong Soe Jin berkata, berbareng ia jalan menghampir dan lompat kepasir.
Tiba-tiba mukanya berubah, seperti juga ia mendapat kesulitan-Adiknya yang melihat engkonya dalam keadaan demikian cepat-cepat mengulurkan tangannya menolong sang engko.
Tapi ternyata engkonya tak apa apa.
Pasir diinjak oleh Kong Soe Jin tadi bukannya bagian yang berbahaya maka ia berkata pada adiknya.
"Aku tidak apa apa. hanya barusan aku gugup lantaran kaget."
Berbareng ia genjot tubuhnya lompat lagi ketempatnya tadi.
"Ya sute, aku hanya dapat mengantar sampai disini saja. Selanjutnya, kau harus menempuh perjalanan sendiri. Aku akan menantimu digunung yang barusan aku katakan padamu, disana aku akan mengawasi perjalananmu sebegitu jauh dapat dilihat oleh mataku."
"Ya, toako, legakan hatimu. Kau boleh kembali, aku akan menjaga diriku dengan hati-hati."
Jawab Kong Soe Tek.
matanya mengawasi pada engkonya dengan perasaan berat.
juga demikian halnya dengan sang engko.
Setelah menghela napas panjang, Kong Soe Jin telah berpisahan dengan adiknya dan ia terus naik lagi kegunung Hui-ci-san-Koen cong diantar oleh nona Lauw Hong In dan dua adiknya si nona bernama Lauw cian dan Lauw Seng, malah Hui seng Kang juga turut mengantarnya.
Mereka berpisahan diperbatasan lembah Liu-soa kok.
mereka ini tidak berpapasan dengan dua saudara Kong yang mengambil jalan dari jurusan lain-In Kle Seng diantar oleh Gong Ci dan cong Yong, dalam mana turut serta juga nona yang lincah, ialah ciauw Soe soe.
Merekapun mengantar hanya sampai diperbatasan lembah Lusoa-kok dan kembali lagi ke gunung Hu-cui san Goa Pek oong tong dipuncak Si ban-leng itu berdinding batu buatan alam yang licin sekali.
Untuk sampai pada kamar yang tinggi, orang harus melalui tiga kamar batu dan beberapa undakan dari batu yang diatur sangat kokoh dan rapat.
Dalam kamar batu yang tertinggi, di empat penjurunya berjendela satu kaki persegi.
Dari jendela kamar ini orang dapat melihat semua keadaan lembah Liu-soa kok, Keadaan dalam goa Pek-cong-long tidak begitu luas.
Pertama masuk orang menemui kamar yang pertama keadaannya sederhana saja.
Dinding batunya kasar dan tidak rata.
Kamar yang kedua diperaboti lengkap juga, seperti kursi meja dan tempat tidur yang semuanya terbikin dari pada batu.
Suasana dalam kamar ini amat sunyi dan tentram, walaupun luasnya hanya tiga tumbak saja.
Diatasnya jalanan ke kamar ketiga ada sebuah papan batu licin mengkilat yang dapat menutup jalanan-Kamar yang ketiga ini lebar dan luas.
inilah ada kamar batu terbesar diantara kamar-kamar batu lainnya.
Didalamnya terang, dindingnya dibuat dari pada batu kamala putih yang amat halus.
Penerangan disini dipancarkan dari sebutir mutiara sebesar buah leci yang digantung ditengah-tengahnya kamar.
Perabotannya tampak lengkap.
seperti meja kursi, ranjang, lemari buku besar dan lain-lainnya perabotan rumah tangga.
Mejanya diberi taplak yang disulam indah, kursinya dikasih bantalan empuk dan pakai sarung yang disulam juga.
Kelambu pembaringan dipajang indah.
Dipinggir lemari buku ada sebuah meja panjang, diatas mana ada ditaruh buku-buku dan anglo dari batu giok.
Api dalam anglo itu terus menyala.
Pada dinding dihiasi dengan gambar gambar kunodimana juga ada tergantung sebilah pedang pusaka.
Keadaan dalam kamar itn pendeknya serba resik menarik siapa yang memasukinya.
Barang barang yang serba indah dalam kamar itu membuat orang terpesona melihatnya.
Kamar yang diperaboti serba indah ini adalah kamarnya kakek Souw Kie IHan-seorang kakek aneh yang sudah lama mengasingkan diri dari dunia kang-ouw, dimana dahulunya ia sangat terkenal namanya.
Saat itu ia sedang berdiri di jendela memandang keadaan disebelah luar goa nya.
Tiba-tiba ia berseru.
"Eh"
Kiranya olehnya telah dilihat ada tiga bayangan manusia yang sedang mendatangi kearah goa nya, mereka sudah dapat melewati padang pasir yang berbahaya.
Jauh ia mengasingkan diri dalam goa nya tidak ada satu manusia yang berani menginjak tempatnya, tapi kini ada tiga orang yang berbareng menyatroni.
Apakah maksudnya mereka?
Apakah mereka itu ada orangorang kuat yang akan mengganggu ketentramannya dalam tempat pengasingannya?
Matanya terus mengawasi gerakgeriknya tiga orang itu.
Ia rupanya merasa kaget, karena sampai begitu jauh tampak mereka sudah memasuki daerah puncak si-ban-leng.
Keistimewaan disekitar puncak gunung Si-ban leng adalah gundul (tidak berpohon), hanya batu batu besar saja yang tampak malang melintang, Goa-goa yang terdapat di situ, entah berapa banyaknya menurut katanya orang ada seribu buah goa lebih.
Setiap goa entah berapa dalamnya, tidak terawat dan dari dalamnya menyiarkan bau yang tidak enak untuk hidung.
Buruk seperti baunya jamur beracun yang basah.
Diceritakan Khoe Tiong setelah naik jauh keatas gunung, tiba-tiba memalingkan mukanya kebelakang, dilihatnya padang pasir yang berwarna putih, padang pasir yang dikatakan orang sangat angker dan dapat menelan manusia.
Kini ia sudah dapat melewatinya dengan selamat, Tapi kemana dua orang kawannya?
Ia celingukan mencarinya, akan tetapi tidak melihat mereka berdua, hingga diam-diam dalam hatinya yang jahat jelas merasa kegirangan, ia menduga bahwa dua kawannya itu tentu telah ditelan oleh padang pasir yang angker itu.
Ia melanjutkan perjalanannya, tampak di-sekitarrya sudah tidak ada pepohonan yang tumbuh.
Hanya batu-batu besar saja yang pada malang melintang seolah-olah yang menghadang perjalanan orang yang berkunjung kesitu.
Hatinya diam-diam merasa girang.
Goa Pek-cong-tong sudah berada didepan matanya.
Apakah benar disekitarnya hanya kedapatan binatangbinatang berbisa saja?
ia menanya pada dirinya sendiri.
Tapi bagaimana juga ia harus dapat membawa Hwe-giok untuk dihadiahkan kepada Kim Hong Jiu, gadis yang memikat hatinya.
Siapa tahu, karena hadiah itu nona Kim akan jatuh hati kepadanya dan ia berjodoh dengan-nya.
Ia gerakkan pula langkahnya sampai pada jarak dua tumbak dari ia berdiri ia melihat ada sebuah goa.
cepat-cepat ia menghampiri untuk menyelidikinya.
Gua disitu amat banyak, dimana ia dapat mencari si kakek aneh itu?
Pikirnya, terpaksa ia harus menyelidiki satu persatu goa.
Tapi sampai berapa lama?
Ya.
apa boleh buat, sudah kelanjur datang kesitu bagaimanapun ia harus berdaya mencarinya di goa mana kakek aneh itu bertempat tinggal.
Satu demi satu goa diperiksanya, Ia menggunakan batu besar dilemparkan kedalam goa untuk mengetahui didalamnya ada penghuninya atau tidak.
Sudah ada beberapa goa yang diuji dengan batu lemparannya, semua batu seperti amblas kedalam lumpur.
Tidak ada reaksi apa-apa yang menandakan bahwa didalamaya ada penghuninya.
Pada salah satu goa Koe cong hampir kena digigit oleh ular-ular kecil berbisa yang datang berbaris kearahnya dan hendak mencantol kakinya.
Untung masih dapat kelihatan, ia melompat tinggi, kemudian menggempur dengan angin telapakan tangannya, hingga barisan ular ular kecil itu terbang berikut batu batu dan pasir.
Dilain goa ia coba lagi dengan pancingannya melemparkan batu ked alamnya.
Kali ini batu yang dilemparkannya itu seperti terjatuh ketanah, bukannya kedalam lumpur.
ia coba menyelidiki lebih seksama.
Kiranya dalam goa itu sangat gelap.
Ia lalu membikin api, dengan obor api ia coba masuk kedalamnya.
Tidak dikira, dalam goa itu ada sarangnya belalang.
Begitu melihat api, kawaran belalang itu pada menyerbu, hingga Khoe cong ketakutan dan lekas-lekas mundur hendak keluar lagi.
Tapi kawanan belalang yang jumlahnya puluhan ribu, tidak memberi ketika ia meloloskan diri dan menyerbu demikian rupa sehingga Khoe cong pikir jiwanya kali ini akan mati dikerubuti kawanan belalang.
Meskipun ia menggunakan tenaga angin pukulannnya untuk mengusir kawanan belalang itu, hasilnya sia-sia saja.
Entah berapa banyak binatang itu yang telah mati oleh gempurannya yang dahsyat, akan tetapi yang menyerbu jumlahnya ada berlipat ganda dari yang mati.
Tidak heran kalau Khoe cong telah menjadi kewalahan oleh karenanya.
Sementara itu Kong soe Tek di lain bagian telah mencari goa kakek souw Kie Han juga menggunakan lemparan batu sebagai penanya jalan-Ia juga kena diserbu kawanan semut merah yang galak.
hingga keadaannya repot sekali.
Sedang In Kie Seng dilain pihak bekerja cepat ia gunakan kakinya menendang batu-batu yang ada dimulut goa, sebagai alat untuk mencari tahu apa didalamnya goa goa itu ada penghuninya ?
Ia sudah lewati sepuluh goa, akan tetapi belum juga berhasil menemui goa yang diingininya.
Kakek souw Kie Han melihat tegas semua yang diperbuat oleh tiga anak muda itu.
Ia kenali orang-orang itu tentu ada dari "Perserikatan Benteng Perkampungan,"
Hanya ia tidak mengerti, dari sebab apa mereka menerjang bahaya datang kesitu?
Ia pikirkan, tindakan apa yang harus diambil terhadap tiga anak muda yang mengacau tempatnya itu?
Tiba tiba ia melihat In Kie seng dengan menggunakan perisai dari gading telah menerjang masuk kedalam sebuah goa.
Terdengar suara tertawa dingin kakek Souw Kie Han.
In Kie Seng dengan perisainya menggempur dinding disana sini, hingga banyak bagian yang semplak.
Ia masuk terus kesebelah dalam.
tampak keadaan disitu ada terang.
Hatinya berdebaran.
Pikirnya, inilah gua yang dicarinya tentu.
Sebelum ia dapat bertindak maju, tiba-tiba ada sebuah batu menghadang didepannya.
Bukan main kagetnya.
Dibelakang batu itu sudah tidak ada jalan lagi, hanya ia melihat ada sarang laba-laba dengan penghuninya seekor laba-laba hijau yang luar biasa besar, tampak matanya mencorong seperti yang sedang mengawasi pada In Kie Seng.
LABA-LABA besar itu tiba-tiba perdengarkan suara aneh, lalu bergerak menghampiri In Kie Seng, Kaki-kakinya yang runcing hendak mencengkeram tenggorokan orang, In Kie Seng kaget dan lompat mundur, tangannya berbareng digerakan menyerang, hingga laba-laba itu nyeleweng cengkeramannya, Batu yang telah menjadi pengganti sasarannya kaki-kakinya yang runcing tampak berbekas.
orang she In itu ketakutan dan cepat-cepat lari, apa lacur dimulut goa sudah penuh dengan jaring laba-laba yang berkilat dan sangat lengket, kiranya laba-laba itu bukannya sendirian saja, ada kawan-kawannya lagi yang sama sekali berjumlah sepuluh, hingga membikin In Kie Seng matanya dibuka lebar dan ketakutan setengah mati.
Hampir rata-rata-laba-Iaba itu sebesar kerbau, yang paling kecil ada sebesar baskorn cuci muka.
Bukan main sikapnya menakutkan, mereka merayap dengan keluarkan sinar matanya ya bengis, hendak menerkam korbannya.
Dalam gugup In Kie seng lompat keatas batu kemudian menendang batu-batu didekatnya ke arah laba-laba yang kecilan, jitu tendangannya, karena batu yang diiendangnya tadi mengenakan persis pada tubuhnya si labalaba yang sial, hingga seketika ita juga setelah mengeluarkan suara "cet"
Telah melayanglah jiwanya.
Laba-laba kawannya dalang memakan bangkainya laba laba apes tadi.
Lalu lainnya menyerbu lagi kepada In Kie Seng hingga anak muda itu terpaksa keluarkan kepandaian nya lompat sana dan lompat sini menghindarkan bahaya.
Kadang kala ia menyerang dengan batu yang ditendang kakinya atau dengan angin pukulan telapakan tangannya.
Lantas itu, maka untuk sementara In Kie Seng masih dapat menyelamatkan dirinya dari terkamannya kawanan laba laba berbisa itu.
Kita melihat Khoe cong yang dikerubuti ribuan belalang.
Meskipun ia berusaha keras menyapu mundur binatangbinatang yang mengerubuti dirinya, tidak juga kelihatan hasilnya, karena kawanan belalang itu makin lama jumlahnya telah makin banyak saja..
pikirnya ia akan mati konyol kalau tidak dapat lekas-lekas meloloskan diri.
Matanya celingukan, tidak jauh dari situ ia lihat ada goa lain, Tanpa memikirkan lagi apa isinya goa itu, ia sudah lantas lari masuk kedalam gua diuber oleh kawanan belalang, yang seolah-olah tidak mau kasih korbannya lolos.
Tapi heran, ketika Khoe cong sudah masuk kedalam goa lain ini, kawanan belalang itu tidak turut nyerbu kedalam.
Tampak mereka bergulung-gulung saja diluar goa, tidak ada satupun yang berani menerjang masuk-Khoe cong pikir, tentu dalam goa itu ada binatang musuhnya kawanan belalang itu yang ditakuti, maka nya kawanan belalang itu tidak berani menyerbu masuk.
orang dengki hati itu tampak lega hati-nya, ia melihat kesekitar tempat, disitu tanahnya demak.
banyak rumput basah dan keadaannya kotor sekali.
Ia menjadi bengong memikirkan nasibnya nanti bagaimana?
Keluar lagi takut diserbu belalang, tidak keluar lagi disitu keadaannya sangat tidak menyenangkan-Tengah ia berada dalam kebingungan tiba-tiba ia mendengar suara aneh.
Ketika ia menoleh kebelakang nya, kiranya disitu sejarak dua tumbak daripada-nya ada seekor binatang tokek yang besar sekali dan bentuknya menakutkan.
Binatang itu tengah merayap mendekati kepadanya, celaka ia menghela dalam hatinya.
Kita balik menengok Kong Soe Tek.
Barisan semut merah tidak kurang-kurang menyeramkannya, karena bukan ribuan lagi tapi sudar tidak dapat dihitung banyaknya, Kemana Kong soe Tek lari telah dikejarnya hingga orang she Kong itu menjadi mengeluh, ia tidak menyangka, bahwa kepergiannya ke tempat itu akan mendapat banyak halangan yang menyeramkan.
Dengan susah payah ia bisa juga menyingkirkan diri ketempat yang ada lumpurnya.
dimana kawannya semut merah itu tidak berani datang dekat, Ada beberapa puluh yang sudah nempel dibajunya dapat dibunuh mati oleh Kong soe Tek.
Matanya celingukan-Tiba-tiba ia dapat lihat tidak jauh dari padanya seperti ada jalanan untuk keluar, melalui jalan kebawah tanah.
Hatinya girang karena pikirnya ia bisa meloloskan diri dari serbuannya semut merah yang galakgalak itu.
Ia beristirahat tidak lama, karena begitu ia dapat menenangkan pula pikirannya, lantas enjot tubuh menancap kakinya dimulut jalanan keluar tadi.
Untuk sementara Kong soe Tek kelihatan terhindar dari serbuan semut merah yang tak kehitung jumlahnya itu.
In Kie Seng dilain pihak terus dikeroyok oleh laba laba besar dan beracun.
Laba laba yang sebesar besar kerbau itu, sangat menakutkan Matanya memancarkan sinar buas, untung In Kie Seng dapat menabahkan hatinya, dengan kepandaian yang ia miliki ia sudah terputar-putar menghindarkan diri dari serangan kawanan laba laba yang sangat bernapsu menyengkeram dirinya.
Disamping senjata batu yang dihidangkan pada kawanan laba-laba itu, In Kie Seng tidak kasih perisainya tinggal nganggur.
Dengan kegesitan dan kepandaiannya, beruntun ia sudah dapat membunuh enam sampai tujuh, laba-laba betina yang paling besar, menjadi marah.
Satu yang meluncur di tendang In Kie Seng kearahnya, dengan mata beringas ia sudah tangkis dengan kaki depannya.
Batu itu mental balik dan hampir kena menghantam pada In Kie Seng, kalau ia tidak keburu berkelit kesamping menghindarkannya.
"Sungguh berbahaya"
Diam-diam In Kie Seng mengeluh, Tapi disamping itu, bagaimana juga ia sudah dapat membunuh banyak juga kawanan laba-laba itu, hingga mengurangi bahaya kena dicengkeram oleh kaki-kakinya yang runcing.
Untungnya laba-laba itu tidak mengejar terus-terusan, karena jika melihat ada kawannya mati, dengan sendirinya laba-laba itu berhenti mengejar In Kie Seng ditunda makan bangkai kawannya dahulu, Air hijau yang keluar dari mulutnya laba-laba yang mati menyiarkan hawa busuk.
yang hampir hampir membuat In Kie Seng tidak tahan sampai muntahmuntah .
Akhirnya ketinggalan hanya dua laba-laba lagi, dengan begitu In Khie Seng setelah main petak beberapa lama lantas menyingkirkan dirinya kemulut goa dan lari keluar.
Laba-laba betina rupanya penasaran dan menguber tapi terlambat, karena In Kie Seng sudah nerobos masuk kedalam goa lain-Rupanya laba laba itu pikir, tidak ada gunanya ributribut disarang orang lain, maka ia sudah kembali masuk dalam goanya sendirinya.
Dalam sarang laba-laba itu In Kie Seng kehilangan perisainya, yang nyangkut pada jaring laba-laba yang lengket, ia menduga tentu sudah beracun, maka ia sudah tak menghiraukan pula perisai gadingnya yang ia sangat andalkan dalam perjalanan mengambil batu kumala hangat itu.
Dalam goa yang ia masuki itu, ia merasa aman-Tapi perasaan aman itu hanya sebentara n saja, karena ketika ia mengingat kepada perisainya, lantas merasa dirinya tidak aman tanpa perisai ditangannya, perisai itu ada benda pusaka, benda turunan dari leluhurnya maka dengan hilangnya benda itu, apakah ia ada muka nanti ketemu kawan kawannya dalam dunia persilatan?
Memikir kesitu hatinya jadi nekad akan mengambil kembali perisainya yang nyangkut pada jaring laba laba didekat mulut goa.
kalau perlu, pikirnya ia harus adu jiwa dengan laba-laba betina yang luar biasa besarnya itu.
Setelah mengambil putusan tetap.
lantas ia keluar dari goa menghampiri lagi goa laba-laba tadi, sebelumnya masuk ia telah kumpulkan seikat rumput kering dan membikin api untuk menyalakannya.
Dengan api ini, ia menerjang masuk dan membakar jaring laba-laba yang menahan perisainya.
Laba-laba betina menjadi kaget ia tidak berdaya melihat api berkobar, rupanya ia takut.
Ia hanya tinggal mengawasi dengan mata bersinar buas kepada In Kie Seng yang sedang berusaha untuk mengambil pulang perisainya.
Setelah mendapat kembali perisainya.
dengan segera In Kie Seng meninggalkan goa laba-laba itu dan masuk kedalam goa yang lainnya tadi.
Khoe cong dilain pihak.
yang dihampiri binatang tokek yang luar biasa besarnya, lantas mencelat tinggi menyingkirkan diri, ia rapatkan tubuhnya pada dinding didekat mulut goa sebentar lagi ia dibikin kaget melihat sang tokek telah mengulurkan lidah nya yang panjang, ia mengira lidah itu akan ditujukan kearahnya, tapi ternyata diarahkan kelain jurusan ialah keluar apa dimana ada kawannya belalang yang sedang bergulung-gulung seolah-olah sedang menanti Khoe cong keluar lagi.
Kawanan belalang itu seolah-olah sayapnya pada patah sebelah, tidak bisa melarikan diri didekati oleh lidahnya sang tokek, sebentar saja ribuan belalang sudah kena dicaploki oleh binatang raksasa itu.
Seperti juga pada lidahnya itu ada getahnya, kawanan belalang ketika nempel pada lidah sang tokeh ia lantas saja tidak bisa terbang lagi.
Entah berapa ribu banyaknya belalang yang sudah jadi mangsanya sang tokek, hingga binatang itu tampak kekenyangan dan baringkan dirinya disatu sudut.
Matanya merem melek, tidurlah ia dengan nyenyaknya.
Pantasan kawanan belalang tadi ketika lihat Khoe cong masuk kedalam goa itu tidak berani menerjang masuk kedalamnya kalau begitu didalam goa itu ada musuhnya yang sakti dan tak dapat dilawan-Khoe cong untung besar, coba kalau tidak ada belalang yang menalangi menjadi korbannya binatang tokek itu, pasti ialah yang dijadikan mangsanya.
Diam-diam Khoe cong telah menarik napas panjang, merasa lega oleh karenanya kemudian ia keluar dari goa itu.
Kong Soe Tek dan In Kie Seng pun sudah pada keluar dari dalam goa berbahaya mereka berkumpul lagi dan berdamai hendak kembali.saja dengan tangan kosong.
Mereka sekarang tidak berani menonjolkan kesombongannya, karena dengan mata kepala sendiri mereka menyaksikan bagaimana berbahayanya keadaan ditempat itu.
Dari pada jiwa melayang tanpa kepentingannya yang menguntungkan, mereka lebih baik kembali saja dengan tangan hampa, biarpun untuk itu mereka akan menjadi buah tertawaannya orang banyak.
Meskipun demikian, masing-masing dalam hatinya sangat menyesal tidak memperoleh batu Hwe giok.
untuk dihadiahkan kepada sijelita Kim Hong Jie.
Kakek Souw Kie Han yang telah menyaksikan semua kejadian yang dialamkan oleh tiga pemuda itu, diam-diam merasa tidak puas.
Pikirnya.
"Tempatku disini orang sudah tahu tidak boleh dibuat sembarangan tapi tiga pemuda brengsek ini apa-apaan datang mengacau kesini membuat ketenangan menjadi terganggu oleh karenanya? Banyak binatang-binatang berbisa penunggu tempat ini kena dibinasakan oleh mereka, maka kalau mereka tidak dikasih rasa, mana bisa? Bagaimana nanti katanya orang luar, Kalau mereka dapat kembali pulang dengan selamat. Tidak-aku mesti kasih contoh untuk yang lain-lainnya, supaya mereka tahu keangkeran tempatku. orang dapat datang tapi tak dapat kembali pulang dengan selamat. Ha ha ha..."
Seram juga kalau tiga pemuda itu mendengar tertawanya si kakek.
Souw Kie Han mengawasi perjalanan tigapemuda itu, yang hendak kembali pulang ke-rumah nya Seng Eng.
saat itu matahari sudah mulai naik tinggi.
Keadaan dipadang pasir tampaknya menyilaukan, Khoe cong dan dua kawannya melalui lagi padang pasir yang dikatakan angker itu, mereka kelihatan tenang-tenang saja dan menganggap akan selamat kembali menemui kawankawannya di Seng-kee po.
Melihat tiga pemuda itu sudah mulai menginjak padang pasir, Sou Kie Han yang mengawasi dari jendela kamar nya, lantas mengulurkan tangannya memencet alat rahasia, sebentar lagi terdengar teriakannya Khoe coe, yang mendadakan dapatkan dirinya ambas ditelan pasir.
In Kie Seng kaget, tapi sebelumnya ia engah, bahaya apa yang akan menimpali pada dirinya, ia juga tubuhnya amblas ditelan pasir, hingga ia berteriak-teriak minta tolong juga tidak ada gunanya.
Kong soe Tek melihat kejadian itu mukanya pucat seketika, ia coba gerakkan kakinya untuk lari, tapi sang kaki tidak mau menurut perintah hatinya, ia jatuh lemas dan ia juga kemudian telah mengalami nasib serupa seperti dengan dua kawannya kena dicaplok oleh pasir.
Meskipun mereka berontak keras, berusaha untuk keluar dari pasir itu, ternyata tidak menolong balik, makin lama mereka terbenam makin dalam, sehingga sebatas hidungnya.
Bukan main ketakutannya mereka, maka satu demi satu sudah menjadi pingsan oleh karenanya.
Souw Kie Han yang menyaksikan itu semua lantas perdengarkan suara ketawanya yang aneh lagi, kemudian ia mengambil lima utas rantai kecil halus dan keluar dari kamar batunya.
Lebih dahulu ia menghampiri sebuah goa dalam mana kelihatan sudah ada dua sosok tubuh orang menggeletak dalam keadaan pingsan-Siapa mereka itu?
Kiranya mereka itu bukan lain dari pada Kim Hong Jie dan Co Goen Liang.
Mereka tidak tahu keadaannya si kakek yang terus merantai tangannya masingmasing sambil menggerendeng sendiri.
"Ya, bukainya aku kejam, Tapi karena kalian datang mengganggu ketenanganku, maka kalian boleh terima hukuman ini untuk kelancangan kalian-..."
Setelah menyelesaikan tugasnya merantai dua orang itu dan yakin mereka tidak akan bisa lolos dari dalam goa itu, karena rantai itu diganduli sebuah gandulan yang luar biasa beratnya, ia telah meninggalkan mereka menghampiri pada tiga pemuda yang sedang pingsan, mereka pun dirantai seperti dua yang lainnya tadi.
Rantai itu meski halus bentuknya, kuatnya bukan main, terbuat dari baja murni tak mempan diputuskan dengan pedang yang tajam bagaimanapun.
Sampai disini kita ajak pembaca menengok keadaan dirumahnya Seng Pocu diwaktu malam.
Bulan sabit nampak sebentar muncul dan sebentar lagi seperti selulup dibalik awan tebal, hingga keadaan menjadi gelap.
Malam itu tampak nona Seng sedang berada ditaman bunga yang terdapat dipekarangan belakang rumahnya.
Seng Giok Cin seperti tengah memikirkan banyak soal, karena kelihatannya sebentar duduk termenung-menung, sebentar berdiri jalan mundar mandir dan saban-saban terdengar helaan napasnya.
Memang malam itu Seng Giok Cin dirundung banyak pikiran, Urusan ayahnya yang mengadakan pertemuan mengadu silat dengan maksud tertentu, halnya Kim Hong Jie menempuh bahaya bersama co Goen Liang pergi ketempatnya si kakek aneh Souw Kie Han diluar tahunya Kim Pocu dan Seng Pocu berdua, Bagaimana nasibnya dengan mereka masih belum tahu.
Halnya tiga pemuda, yaitu berlomba hendak mendapatkan sepotong batu kumala berapi untuk dihadiahkan kepada Kim Hong Jie, masih belum ketahuan nasibnya mereka itu, apakah mereka akan pulang dengan selamat atau salah satu diantaranya menemukan halangan yang tidak diingini?
Yang paling membikin hatinya berdebar kalau ia ingat akan penuturannya Kim Pocu tentang kematiannya Ho Tiong Jong terkena senjata rahasianya ceng ciauw Nikow yang beracun-Meski pada saat ia mendengar kabar itu tidak mengunjukkan reaksi yang menyolok tapi diam-diam dalam hatinya hanya tuhan saja yang tahu.
Ho Tiong Jong meski bukannya satu anak hartawan, satu kongcu tapi tingkah lakunya yang polos dan jujur, serta wajahnya yang cakap menarik membuat nona Seng tidak bisa melupakannya, ia ingin menarik pemuda ini kedalam komplotannya mau menggunakan tenaganya dalam usahanya sang ayah yang hendak menjagoi dalam kalangan persilatan-Akan tetapi ternyata pemuda itu ada keras hati dan menolak keras ketika ia hubungi dan membujuknya.
Anak muda itu sekarang sudah mati, Apakah benar dia sudah mati?
Nona Seng masih menyaksikan anak muda itu pendek umur, apalagi kalau ia ingat ketika bertemu dengannya, ia kelihatan segar bugar.
Banyak pemuda-pemuda cakap dari tingkatannya, tidak ada satu yang dapat merebut hatinya Seng Giok Cin.
Tapi terhadap Ho Tiong Jong sekali ia pernah ketemu dibawah terang bulan ketika ia menyamar sebagai pemuda pelajar, lantas hatinya sudah jatuh dan tak dapat melupakannya.
"Dia mati..."
Demikian ia berkata sendirian, ia terbengong sesaat lamanya, kemudian terdengar pelahan napasnya . Matanya yang jeli tiba-tiba melihat ada bayangan dibalik pohon. Diam-diam dalam hatinya berpikir.
"Malam-malam begini ada orang yang cari mampus."
Ia pura-pura tidak mengetahui ada orang di balik pohon itu dengan maksud hendak mencekuk orang tadi.
Ketika si nona sudah datang dekat, orang itu berkelebat dan sembunyikan diri lagi di balik pohon lain.
Diam-diam Seng Giok Cin merasa kaget juga, karena kegesitannya orang itu ada diluar dugaannya, ia ragu-ragu apakah ia sebentar berhasil mencekuk batang lehernya?
Ia masih tetap berpura-pura tidak mengetahui dan menghampiri pohon dibalik mana orang itu mengumpat.
Kirakira dua tumbak jaraknya dari pohon itu, tiba-tiba Seng Giok Cin membentak.
"Penjahat bernyali besar, jangan lari, nonamu akan bekuk batang lehermu"
Berbareng ia melancarkan serangan kepada orang itu, yang saat mana rapanya hendak melarikan diri lagi.
orang tahu dirinya diserang, orang itu berbalik dan menyambuti serangan Seng Giok cin bukan enteng, sebab ia mengerahkan tenaganya hampir delapan bagian, tapi heran, orang ini menyambuti serangannya dengan seenaknya saja, sedikitpun tidak bergeming dari tempat berdirinya.
"Penjahat, kau siapa?"
Tanya nona Seng, ketika melihat serangan dahsyatnya tidak membawa pengaruh apa-apa. Tapi orang itu tidak menyahut hanya lalu gerakkan kakinya hendak lari lagi, Seng giok cin jadi sengit "
Orang jahat lihat nonamu akan mengambil jiwa anjingmu"
Ia membentak. berbareng melancarkan serangannya yang kedua kali dengan tipu Pek-pok ciang-it atau Bangau putih mengibaskan sayapnya."
Serangan ini ada berat, karena tenaga yang dikerahkan oleh si nona hampir sepuluh bagian, tapi herannya, lagi-lagi orang itu dapat menyambuti serangannya dengan seenaknya saja.
Malah kali ini ia membalas menyerang dengan mengibaskan lengan bajunya yang mengeluarkan angin keras, hingga si nona terpotong mundur.
Kesempatan ini digunakan oleh orang itu untuk enjot tubuhnya melesat melarikan diri.
Tapi si nona tidak tinggal diam, ia mengejar dengan gesit sekali.
"Nona Seng, kaujangan salah paham. Kedatanganku bukannya bermaksud jahat."
Demikian sinona mendengar orang itu berkata, yang membikin seketika itu ia hentikan mengejarnya dan orang itu pun lantas lenyap dari pemandangannya. Nona Seng berdiri menjublek sekian lamanya.
"dia, apa benar dia....?"
Akhirnya ia menanya pada diri sendiri seketika itu lantas terbayang pemuda tampan dan polos didepan matanya.
"kalau begitu dia tidak mati, oh, benar barusan ada suaranya dia..."
Seng Giok Cin berkata-kata sendirian, ia seperti mengenangkan seseorang dan orang itu pun bukan lain Ho Tiong Jong adanya.
Memang orang tadi ada Ho Tiong Jong.
Karena gelap dan jaraknya pun ada sedikit jauh, maka Seng Giok Cin tak dapat mengenali dengan tegas, Hanya dari suaranya ia kenali betul, itu adalah suaranya Ho Tiong Jong, pemuda yang memikat hatinya.
Dalam bengong memikir hatinya si pemuda tampan itu.
Seng Giok Cin kalang-kadang tampak menyungging senyuman-"Aku tidak sangsikan, benar dia...
dia tidak mati..."
Kembali terdengar si nona berkata kata sendiri.
"Tapi, dia sudah datang mengapa sudah lari lagi? Apa maksud kedatangannya kesini."
Si nona jadi meragukan kelakuannya Ho Tiong Jong.
Tapi biar bagaimana, hatinya sudah merasa lega karena kini seolah-olah ada angin mujijad yang menyapu kedukaannya tadi, ia mengenakan akan kematiannya si anak muda.
Perlahan lahan ia berjalan masuk kerumah dan didalam kamarnya ia duduk termenung-menung.
Tidak lama, ia memeriksa keadaan kamarnya.
Ia menduga jangan-jangan Ho Tiong Jong sudah masuk kekamarnya, karena kedatangannya anak muda itu kesitu tentu mencari dirinya.
Ketika matanya menyapu pada dinding tembok^ hatinya berdebaran, karena disitu sudah tidak kelihatan lagi golok pusakanya, sebagai gantinya ada secarik kertas menempel disitu ia lalu menghampiri dinding itu dan jumput secarik kertas tadi, yang ia baca bunyinya.
"Nona Seng, aku harap kau rela meminjamkan golokmu padaku, karena seperti kau tahu, aku paling suka menggunakan senjata golok. Tapi ada suatu hari, aku nanti akan kembalikan padamu dengan tidak kurang suatu apa"
Meskipun secarik kertas itu tidak ada tanda tangannya, Seng Giok Cin tahu bahwa itu ada tulisannya Ho Tiong Jong.
Kembali Seng Giok Cin bengong, secarik kertas ditangannya tanpa dirasa telah diremas-remas, sejenak romannya tampak seperti yang geregetan, Memang ia gemas pada pemuda pujaannya itu, karena itu, karena dia datang dengan cara sembunyi-sembunyi, tidak mau terang-terangan menemui ia, yang sebenarnya ada kesempatan yang baik malam itu mereka berjumpa dalam taman bunganya yang indah.
---ooo0dw0ooo---XVII.
LOLOS DARI TAHANAN.
MENGAPA Ho Tiong Jong tidak mau menemui Seng Giok Cin?
Mari kita tuturkan keadaan pemuda itu, setelah ia diperiksa oleh Kim Toa Lip dan co Tong Kang yang dianggapnya sudah mati.
Dengan kecerdikannya Ho Tiong Jong tatkala itu telah dapat melebihi dua tokoh kawakan dalam Perserikatan Benteng Perkampungan-Ia sebenarnya tidak mati, Tok kim-chi dari ceng ciauw Nikow sudah kena ia gigit, kemudian dibuang kedalam air yang merendam dirinya, tanpa dilihat oleh co Tong Kang yang terus menganggap bahwa senjatanya si nikow mengenakan dengan telak pada mulutnya Ho Tiong Jong, ia telah menggunakan kepandaiannya istimewa untuk membikin dirinya tidak bernapas seperti orang mati, kepalanya teklok dan tubuhnya lemas.
Kalau saja ia tidak dirantai pada tiang batu, terang ia bisa rubuh dan tenggelam dalam air.
Kepandaian istimewa itu telah membuat Kim Toa Lip dan co Tong Kang kena dikibuli mentah-mentah .
Tatkala ia melihat dua orang itu berlalu meninggalkan dirinya, lantas ia menyelesaikan pekerjaannya mengikir rantai dan tidak lama kemudian ia sudah merdeka.
Kebetulan sekali waktu ia bekerja itu tidak ada orangnya Seng Eng yang melongok dirinya.
Bukan main girangnya Ho Tiong Jong setelah merdeka, ia lalu berdamai dengan co Kang cay bagaimana mereka bisa keluar dari "neraka"
Itu.
Si orang tua she co, yang mengetahui betul selak-beluknya bangunan penjara air itu lantas menunjukkan jalan keluar, yalah melalui got yang menyalurkan keluar air dalam penjara itu kalau sudah tak diperlukan lagi.
Dengan mengikuti petunjuk co Kang cay tidak sukar Ho Tiong Jong sudah dapat keluar dan penjara air itu dengan melalui got tersebut.
Sampai diluar, ia girang dapat menyedot lagi hawa udara yang segar.
Pikirnya, ia hendak menemui nona Seng, minta penjelasan sebenarnya untuk apa ia di tahan dalam penjara air itu?
Keadaan waktu itu sudah malam.
Bulan sabit tampak selulup timbul saja di balik awan yang tebal.
Dengan menggunakan kepandaiannya dalam sekejapan saja ia sudah sampai di rumahnya Seng Eng, saat itu sudah malam, tentu Seng Giok Cin berada dlkamarnya, ia mau pergi kesana, tapi ia tidak tahu dimana letaknya.
Tiba-tiba sedang ia kebingungan dapat melihat ada pelayan perempuan mendatangi kearahnya, ia cepat mengumpat ditempat yang gelap.
ketika pelayan itu datang dekat ia sudah sergap dengan tiba-tiba.
Pelayan itu hendak berteriak.
tapi keburu diancam oleh Ho Tiong Jong akan dibunuh kalau berani beterlak.
maka ia jadi ketakutan setengah mati dan minta ampun Dari mulutnya pelayan itu Ho Tiong Jong dapat tahu dimana letak kamarnya nona Seng, maka setelah menotok si pelayan itu jangan dapat bergerak.
Ia lantas pergi ke kamar Seng Giok Cin-Dari jendela yang terbuka ia mengintip.
ternyata di dalam tidak ada nona Seng.
Kemana dia?
Demikian tanyanya dalam hati.
Matanya tiba-tiba memandang pada golok pusaka yang tergantung didinding dekat tempat tidurnya sinona.
Hatinya sangat ketarik, maka tanpa dirasa ia sudah manjat dan masuk kedalam melalui jendela tadi.
Dalam kamar keadaannya sangat mewah perabotannya, bau harum menusuk kehidung-nya, hingga Ho Tiong Jong menghela napas, kapan mengingat nasibnya yang buruk.
Ia ambil golok yang menarik hatinya itu lalu dihunusnya dan ia dapat kenyataan itulah ada golok pusaka yang luar biasa tajam.
Mengingat dalam perjalanannya ia memerlukan golok.
maka ia menulis di sepotong kertas dan ditempelkan sebagai gantinya dimana golok tadi tergantung, ia percaya Seng Giok Cin tidak akan marah goloknya itu dipinjam, mengingat tempo hari si nona dengan suka rela telah menghadiahkan kepadanya golok berikut kudanya sekali untuk ia pesiar dipegunungan Hui cui-san.
Ia keluar lagi dengan pikiran masgul tidak menemui si jelita.
Tiba tiba ia lewat di taman bunga ia nampak ada bayangan orang yang sebentar duduk dan sebentar berdiri, jalan mundar-mandir dengan saban-saban menarik napas seakanakan ada yang dipikirkan dalam-dalam oleh orang itu.
Kapan ia datang lebih dekat, kiranya orang itu ada Seng Giok Cin sendiri, yang justeru ia sedang cari.
Apa itu yang sedang dipikirkan oleh si nona ia tidak tahu, ia hendak menghampiri dan menegur, tapi tiba-tiba dalam otaknya berkelebat suatu pikiran yang mencegah ia berbuat sebagaimana dimaksud semula.
Ia jadi menghela napas dengan diam-diam, Kenapa Ho Tiong Jong tidak berani menemui nona Seng.
Itulah karena pemuda itu pikir, percuma saja, ia banyak bicara, karena tokh jiwanya bakal binasa dalam satu dua malam ini karena pengaruh racun Tok-kay.
Ia tahu si nona ada menaruh hati padanya, ia tahu si nona sangat memperhatikan diri-nya, akan tetapi ia takut bicara terus terang pada nona Seng tentang dirinya terkena racunnya Tok-kay, karena ia tidak mau membikin orang berduka hatinya.
oleh sebab itu, ia jadi mengumpet dibalik pohon mengawasi gerak-geriknya nona Seng, sehingga perbuatannya itu dipergoki dan terjadilah saling serang seperti dituturkan di sebelah atas.
Ho Tiong Jong setelah meninggalkan Seng Giok Cin, lantas masuk pula kedalam penjara air melalui saluran dari mana ia semula keluar.
Mukanya berseri-seri, tampaknya ia seperti kegirangan-Ho Tiong Jong girang?
Memang benar, anak muda itu kegirangan, karena ia sekarang sudah mempunyai golok pusaka miliknya keluarga Seng.
Dengan golok ini, pikirnya ia dapat menggempur kamar tahanan Co Kang Cay dan menolong keluar orang tua itu untuk diajak ke kota Yangclo melihat bangunan gununggunungan yang aneh yang riwayatnya sangat menarik hatinya.
Pikirnya, kalau saja ia ada jodoh bisa mendapatkan dua benda ajaib itu yang berupa baskom gaib dan patung kumala hangat si cantik, ia selainnya menjadi seorang wangwee (hartawan) yang dermawan, juga ilmu silatnya akan mendapat kemajuan dan mungkin sukar mendapatkan tandingannya.
Demikianlah, dengan penuh pengarapan ia telah mulai menggempur batu kokoh yang mengurung Co Kang cay didalamnya, Perlahan tapi tentu ia sudah bisa membobok tembok batu yang konon yang kuat itu berkat bantuan golok pusaka, akan tidak lama kemudian Ia sudah dapat membikin sebuah lubang dan masuk kedalamnya.
Disitu ia dapatkan siorang tua sedang rebah, parasnya mengunjukkan ketakutan-"Aaaa, lopek"
Kata Ho Tiong Jong.
"akhir nya aku dapat masuk juga kekamarmu."
"Tapi, ah, kau..."
Orang tua itu terputus bicaranya.
"Kau kenapa lopek?"
Tanya Ho Tiong Jong.
"Tapi, kau sebenarnya tidak seharusnya membongkar kamar tahananku, nanti kalau Seng Pocu tahu, celakalah diriku."
"Dari sebab itu, kita harus lekas-lekas dapat keluar dari sini"
Jawab Ho Tiong Jong "mari, kita lekas keluar."
"Tiong Jong, mana dapat kau berbuat begitu, aku sudah tua, tak ada gunanya sekalipun kau dapat menolongnya keluar. Umurku juga sudah tidak seberapa lagi, Paling celaka, manakala aku nanti kena ditangkap lagi diriku akan disiksa, Seng Eng tentu tidak akan membiarkan aku pergi, ia akan mencarinya sampai dapat."
"Lopek, kau jangan banyak berpikir kesitu. Bukankah kau pernah berkata bahwa satu waktu kau ingin melihat lagi sinarnya matahari?"
Orang tua itu terdiam.
"Lopek. disana diluar kamar tahanan ada menantikan matahari yang akan menyinari dirimu lagi. Dua puluh tahun kau dikeram disini tanpa dapat melihat lagi sinar matahari pagi dan sore, tidak heran kalau kau sangat merindukannya, bukan?"
Kembali co Kang Kay tidak memberikan jawabannya.
"Kau tidak mau ikut aku menyingkir dari neraka dunia ini?"
Tanya Ho Tiong Jong. co Kang cay geleng geleng kepala.
"Aku takut, betul-betul aku takut..."
Katanya.
"Baiklah, kalau begitu peryakinanmu yang sudah dua puluh itu akan percuma saja. Pengharapanmu selama duapuluh tahun itu akan sia-sia..."
"Hai, urusan apa yang kau maksudkan ?"
Menyelak si orang tua.
"Ha ha ha, lopek, apa kau sudah lupa tempo hari ada berkata padaku, bahwa kau ingin melihat itu bangunan gunung-guuungan yang mengandung rahasia ajaib? Apa bukannya kau yang tadi berkata, bahwa kau sudah yakin akan dapat memecahkan jalanan rahasia di-sana menurut theorimu yang sudah kau yakinkan banyak tahun itu ?"
"Kau maksudkan guuung-gunungan dikota Jang co ?"
"Bagus kalau kau masih ingat."
Co tiang cay tergerak batin ya, Memang ia berpengharapan ada satu waktu ia bisa keluar dari tempat tahanan itu dan mengunjungi bangunan aneh itu untuk membuktikan apakah theorinya betul akan mendapatkan jalanan rahasia masuk kedalamnya gunung-gunungan itu yang membawa riwayat aneh luar biasa, ia ingin pergi kesana, hatinya gembira, tapi lantas padam lagi kegembiraannya itu bila mengingat keadaan dirinya waktu itu.
Ia jadi menghela napas dengan paras lesu.
"Lopek, kau kenapa berduka?"
Tanya Ho Tiong Jong.
"Kau tidak tahu, Tiong Jong meskipun aku dapat keluar dari sini, cuma membikin kau berabe saja, sebab aku sekarang sudah tidak bisa bergerak leluasa seperti dahulu, Lengan tangan dan kakiku rasanya susah digerakan, ah...,..nasib."
Orang tua itu sangat berduka, ia seperti kepingin nangis, tapi air matanya sudah kering. Maka hanya terdengar beberapa kali ia menghela napas.
"Lopek. kau jangan kesal."
Menghibur Ho Tiong Jong.
"aku sanggup membawa kau keluar dari sini."
"Tiong Jong, kau sangat berbudi. Semoga Allah selalu melindungimu....."
Kata co Kang cay dengan penuh rasa terima kasih.
Perlahan-lahan ia bangkit dari rebahannya dan coba berdiri, sebelum ia mencoba kakinya untuk berjalan, Ho Tiong Jong sudah menyamber tubuhnya dan dibawa keluar dari kamar "
Neraka"
Itu.
Sambil menggendong co Kang cay, pemuda yang berbudi luhur itu, jalan sepanjang got untuk membuang air, yang cukup luas untuk mereka lewat tanpa mendapat halangan apa-apa.
Tiba-tiba mereka mendengar dari arah depan ada kaki orang berjalan masuk.
Mereka jadi kaget, siapakah orang itu?
ia bukan lain dari Seng pocu yang gedang muncul sendiri.
Seng Eng ketika mendapat laporan dari co Tong Kang, bahwa mayatnya Ho Tiong Jong dilarikan orang dalam hati sangat cemas, Maka lantas pergi kekamar bukunya dan dari tempat yang rahasia ia mengambil keluar segulung peta dari bangunan penjara air.
ia meneliti dengan seksama jalanannya saluran air itu sampai dimana ternyata sampai dibelakang rumahnya di kebun bunga.
Lalu dari ini ada lagi jalan melalui satu tutupan dari besi yang dapat terbuka dan tertutup sendiri, yalah jikalau air dalam kamar tahanan meluap dapat mendorong itu tutupan menjadi terbuka, jikalau sedang air surut tutup itu tertutup sendirinya.
Dilihat dari keadaan dua jalan membuang air, itu yang tersebut duluan adalah jalanan yang paling gampang ditempuh untuk orang melarikan diri dari penjara air.
Meskipun demikian menurut pikirannya Seng pocu adalah tidak gampang diketahui oleh orang orang tawanan, jikalau tidak mengetahui dengan betul jalanan itu, yang memang ada dirahasiakan-Pembangunan jalanan air itu Seng Eng telah borongkan pada satu pemborong she le, tapi orang ini bersama-sama anak buahnya setelah selesai membikin saluran rahasia itu telah dibunuh mati semuanya, inilah tindakan kejam, tapi Seng Eng anggap itu ada satu keharusan ia lakukan untuk menutup rahasia jalanan itu jangan sampai diketahui oleh orang luar.
Orang shw ie itu sudah mati, tapi sekarang bagai mana orang dapat mengetahui jalanan rahasia saluran air itu?
Seng Eng jadi bingung.
orang-orang penting dari "Perserikatan Benteng Perkampungan"
Memang mengetahui hal itu, akan tetapi mereka semua sudah bersumpah untuk tidak membocorkannya.
Seng Eng mengingat akan kawan-kawannya yang mengetahui hal itu, hatinya timbul ragu-ragu, apakah diantaranya ada yang mengingkari sumpahnya?
Maka pada malam itu, setelah ia memeriksa peta tersebut, lalu mengambil senjatanya ci Jit pian (cambukjari matahari), suatu senjata cambuk pusaka dari keluarga Seng, panjangnya satu tumbak, besarnya sebesar jari kelingking, bersinar berkilauan-Pada ujung pegangannya diperlengkapi dengan dua puluh dua butir mutiara merah sebesar senjata rahasianya.
Dengan membekal senjata pusaka ini, Seng Eng telah bikin pemeriksaan dan masuk juga kedalam lobang got, dimana secara kebetulan ia sudah berpapasan dengan Ho Tiong Jong yang sedang hendak keluar melalui jalanan itu.
Ho Tiong Jong telah turunkan co Kang cay dari gendongannya, lalu menghunus goloknya untuk siaga menghadapi kemungkinan.
Berdua telah mencoba untuk sebisa-bisa menahan napasnya, jangan sampai terdengar oleh orang disebelah depan, tapi apa mau telinganya Seng Eng sangat tajam, suara tarikan napas mereka tidak terlolos sebagaimana yang diharap oleh merek berdua.
Dengan pelahan-lahan Seng Eng jalan menghampiri mereka.
Ho Tiong Jong cepat menggendong co Kang cay balik masuk.
kemudian mengumpat dibalik kamar tahanan-Sebentar lagi tampak Seng Eng sudah lewat didepannya.
siapa lantas melakukan pemeriksaan didalam situ, justeru kesempatan ini digunakan oleh Ho Tiong Jong untuk lari nerobos melalui got tadi lagi.
Gerakannya tidak terluput dari perhatian nya Seng Eng, sebab ia lantas balikkan tubuhnya dan menguber.
Ho Tiong Jong sudah berada diluar, Seng Eng juga cepat sudah menyusulnya .
"co lopek, kau tunggu sebentar, aku akan tempur padanya,."
Kata Ho Tiong Jong, sambil turunkan orang tua dari gendongannya dibawah sebuah pohon-Sebentar lagi Seng Eng sudah berada didepannya, membentak dengan suara keras "Hei, siapa kau, berani mati masuk bikin onar ditempatku ?"
Matanya berbareng melirik pada co Kang cay, hatinya sangat mendelu, sebab pemuda didepannya ini rupanya hendak membawa lari pada orang she co yang ia sudah kurung selama dua puluh tahun lamanya Seng Eng tidak mengenali Ho Tiong Jong yang mukanya kotor hitam.
Memang sengaja Ho Tiong Jong bikin mukanya yang tampan dilapis dengan lumpur, supaya orang tidak mengenali dirinya, yang dianggapnya sudah mati Bentakan Seng Eng tak mendapat jawaban Tentu Seng Eng Pocu menjadi marah, ia belum pernah mendapat sambutan acuh tak acuh dari seseorang yang ditegurnya.
Maka ia lalu menyerang dengan angin kepalannya, tapi pemuda itu dengan seenaknya saja telah mengegos dan serangan Seng Eng telah mengenai sasaran kosong.
Kembali Seng Eng melancarkan serangan hebat, tapi juga seperti yang pertama tidak mendapatkan maksudnya.
Hal mana membikin jago benteng Seng kee-po itu menjadi heran lawannya hanya mengandalkan kegesitannya sudah dapat mengegoskan dua serangannya ya tidak sembarangan orang dapat meloloskan diri dari pukulannya itu Mengetahui lawanan berat, maka Seng Eng keluarkan cambuknya yang dibuat andalan dalam hidupnya malang melintang di rimba persilatan Lawannya telah mengeluarkan goloknya yang berkilauan kena kesoroti rembulan.
Hatinya Seng Eng terkejut, karena ia seperti mengenali golok itu ada golok miliknya yang tergantung dalam kamarputerinya.
"orang liar, lekas katakan, kau dapat curi darimana golok itu?"
Ia membentak.
Tapi lawannya tidak menjawab, hanya menyerang dengan senjatanya, hingga Seng Eng sangat mendongkol, ia pun lantas gerakkan senjata cambuknya, hingga lawan itu dalam sekejapan saja sudah bertarung ramai sekali.
Co Kang cay menonton dibawah pohon dengan hati kuatir, diam-diam ia berdoa supaya Tiong Jong diberi kekuatan dapat mengalahkan Seng Pocu yang kejam.
Ho Tiong Jong membikin bingung lawannya, sebentar ia mainkan tipu-tipu serangan keluaran Hoa-sanpay, lalu Siauwlim-pay, kemudian Bu tong-pay.
Terutama permainan golokkeramatnya yang membikin Seng Eng sangat kagum.
Dari mana datangnya anak liar ini?
Demikian diam-diam Seng Eng menanya pada diri sendiri, sementara itu serangan yang gencar dari pihak lawan yang menggunakan tenaga im (lemas) dan yang (keras) membuat Seng Eng tak tetap menyerang dengan senjata cambuk pasakanya.
Sebagai sat ujago kawakan, yang sudah mempunyai nama dalam kalangan kangouw, terang Seng Pocu tidak mau mengalah terhadap lawannya yang masih sangat muda.
Tapi bagaimana juga ia ngotot, kenyataannya ia bukan tandingan sang lawan-Beberapa kali goloknya lawan hendak mampir ditubuhnya, akan tetapi tidak jadi, rupanya sang lawan seolah-olah menaruh belas kasihan-Perbuatan mana bukannya tidak diketahui oleh Seng Eng, maka juga diam-diam hatinya mulai gentar menghadapi lawannya yang lihay.
Sebenarnya, baru kali ini ia menghadapi lawan berat.
Satu kali cambuknya sudah dapat mendekati tubuh lawan, tapi goloknya musuh ada sangat cepat dengan satu sontekan yang oleh ujung golok, senjatanya Seng Eng telah dibikin terbang melayang-layang.
Seng Eng kaget, cepat ia melesat menyambuti cambuknya, kemudian ia hadapi lagi pemuda lihay itu.
ia sebenarnya keder, tapi sebagai satu jago kenamaan ia tidak mau menyerah kalah mentah-mentah.
Apalagi hatinya sangat panas bila melihat co Kong cay pikirnya, kalau bisa ia akan membunuh dua orang itu.
Kembali pertempuran telah berlangsung dengan ramai sekali.
Cambuknya Seng Eng menari dan mengurung Ho Tiong Jong, akan tetapi anak muda itu dengan tenang putar goloknya yang tajam.
Sungguh indah sekali kelihatannya dua senjata itu dimainkan oleh dua orang yang mahir menggunakannya.
Dua-dua mengeluarkan ilmu serangannya yang hebat, maka tidak heran kalau kejadian itu telah membikin co Kang cay melongo, sekalipun ia sebenarnya tidak tahu apa-apa dalam hal ilmu silat, Hatinya merasa lega, karena melihat "jagonya"
Seperti berada diatas angin.
Meskipun cambuknya Seng Eng mengulung, tidak dapat berbuat banyak.
Tubuhnya Ho Tiong Jong sangat gesit, ia pergi datang menyingkir dari sabetan pecut yang lihay, sementara goloknya berkelebatan seolah-olah malaikat elmaut hendak meminta korban, Berbagai tipu silat simpanan sudah dikeluarkan oleh seng Eng, tapi tetap lawannya yang masih sangat muda dapat melayaninya dengan bagus sekali.
"Celaka?"
Demikian ia menghela dalam hatinya.
Ia kerahkan seluruh tenaganya untuk mendesak mundur lawannya, kemudian merogoh sakunya mengeluarkan senjata rahasianya sebuah mutira merah sebesar buah lengkeng, dengan mana ia menyambit.
Mutiara merah ini mengenakan dengan jitu pada dadanya si anak muda, akan tetapi heran, lawannya tidak rubuh.
Malah, sekali ia bersiul nyaring lantas menyambar tubuhnya co Kang cay dibawah lari terbang.
Seng Eng kaget betul-betul, ia jadi bengong sejenak.
Hatinya mulai jerih dangan tiba-tiba itulah tidak heran, karena Seng-Eng selama menjagoi dalam kalangan rimba persilatan senjata gelapnya itu belum pernah meleset kalau ia gunakan, korbannya akan rubuh dengan luka berat paling sedikit kalau tidak binasa seketika itu juga.
Tapi kali ini korbannya yang terkena jitu senjata rahasianya itu tidak apa apa, malah dapat melarikan diri demikian gesitnya, siapa yang tidak jadi kaget oleh karenanya?
Tapi ketika Ho Tiong Jong sudah berada tiga tumbak jauhnya, ia baru sadar dan paksakan menguber, cuma saja mengubernya tidak sungguh karena direm oleh perasaan takut kalau-kalau pemuda itu balik lagi dan menempur dirinya dengan kesudahan ia menjadi pecundangnya .
Setelah mengejar melewati beberapa tikungan, Seng Eng hentikan kakinya, ia tidak mau spekulasi dengan jiwanya, apa lagi kalau ingat tempat rahasia dari mana ia mengeluarkan peta saluran air d ipenjara air itu masih belum ia tutup rapih.
Oleh karenanya, ia balikkan tubuhnya dan kembali ke kamar bacanya, dimana ia menutup rapih-rapih tempat rahasia itu.
Setelah ia mengasoh sebentaran, lalu pergi keruan-gan tempat berkumpul.
Ia menyuruh orangnya untuk panggil beberapa kaki tangannya dan sebentar lagi dalam ruangan itu sudah berkumpul PekBoe Taysu, Kim Toa Lip.
co Tong Kang, Ban Slong Tojin, song Boe Kie, dua saudara oet-ti dan co Goen Tiong.
Rapat kilat ini membikin mereka heran, tapi mengerti Seng Kee Po sudah kedatangan musuh kuat, makanya Seng Pocu demikian repot kelihatannya.
Apa yang mereka duga memang tak salah, ketika sebentar lagi Seng Eng menerangkan adanya seorang pemuda yang lihay telah melarikan orang tawanan yang sudah dua puluh tahun lamanya ditahan dalam penjara air.
Ia bicara sengit dan minta supaya mereka dengan sungguh bikin penjagaan dan menangkap orang yang mengacau itu.
"Dia sangat lihay, meski orangnya masih sangat muda. Maka, kalau orang begini memusuhi kita dan tidak dapat dibekuk siang-siang niscaya kedudukan kita akan ambruk oleh karenanya, Maka itu, aku minta sekali lagi, haraplah sekalian saudara dengan sepenuh hati menjaga benteng kita dan menangkap padanya."
Demikian Seng Eng tutup bicaranya, ia tidak menceritakan yang ia barusan sudah bertanding dengan pemuda itu dan hampir menjadi pecundangnya.
Diantara mereka tidak ada yang majukan pertanyaan apaapa, hanya menerima perintah dan melakukan penjagaan terpencar.
Setelah mereka berlalu, Seng Eng tinggal termenungmenung sendirian-Terdengar beberapa kali ia menghela napas.
"Ayah."
Tiba-tiba ia mendengar suara halus menyelusup dalam telinga. Itulah suara puterinya, yang masuk keruangan menghampiri padanya. Seng Eng hanya mengawasi puterinya tidak mengucapkan apa-apa.
"Ayah, kau sudah mengadakan sidang kilat malam-malam begini apa sebenarnya yang telah terjadi ?"
Si nona menanya dengan laku yang sangat manja. Sang ayah tinggal membisu, seolah-olah ingatannya masih belum kumpul.
"Ayah, mengapa kau sampai begitu terpengaruh ?"
"Giok-jie. kau ... kau ..."
"Kau apa? Ada apa dengan giokjie ?"
"Kau tidak tahu, benteng kita sudah kemasukan satu pemuda yang lihay ilmu silatnya. Dia sudah menculik co Kang cay, tawanan kita yang sudah dua puluh tahun lamanya sungguh celaka sekali, kalau co Kang cay dapat meloloskan diri dari sini. ia tahu banyak tentang keadaan benteng kita, kalau ia membocorkan pada musuh kita dengan mudah mereka dapat membuat bentengan kita ambruk pertahanannya dan ludeslah sekali angan-angan kita untuk menjadi jago dalam rimba persilatan-"
"Ayah, bagai mana kau tahu pemuda itu sangat lihay?"
Si nona memotong.
"giok-jie, benar-benar dia sangat lihay, cambuk ayahmu yang telah mengangkat namaku dalam rimba persilatan tidak ada gunanya dihadapkan kepadanya, malah.... malah senjata rahasia ayahmu mutiara merah yang ampuh luar biasa tidak mempan menembusi dadanya yang terkena telak betul, Ah, dia.... dia memang lihay..."
Seng giok cin bingung juga melihat kelakuan ayahnya.
Adatnya sang ayah sangat angkuh, tidak gampanggampang memuji kepandaian orang.
Kalau kini ia sampai memiiji-muji demikian rupa, sudah tentu pemuda itu bukan main lihaynya.
"Apa pemuda itu bukannya dia?"
Ia tanya dirinya sendiri. Sedang pikirannya melayang layang, tiba-tiba dibikin kaget oleh pertanyaan ayahnya.
"Giok-Jie, aku ada mencurigakan senjatanya."
"Senjata apa dia gunakan?"
"Golok pusaka .... kita..."
"Ayah..."
Hanya ini yang keluar dari mulutnya yang mungil, dadanya berdebaran seketika itu, parasnya yang pucat agak kemerah-merahan-Sang ayah menatap parasnya sang putri sekian lama, hingga Seng Giok cin tundukan kepalanya.
"Betulkah itu golok pusaka kita?"
Tegurnya.
" ... mungkin..."
Jawabnya perlahan.
Puterinya yang biasa lancar bicara dan sangat tangkas mengatur sesuatu urusan, kini kelihatan agak gugup seolaholah yang mempunyai kesulitan, membuat Seng Pocu menjadi heran dan mau mendesak puterinya tapi urung ketika satu pikiran berkelebat dalam otaknya.
Kalau melihat kelakuan pemuda lihay itu dan anaknya sekarang, seperti ada mempunyai hubungan apa-apa yang ia tidak tahu.
Tadi ketika ia bertempur, beberapa kali goloknya si pemuda hampir berhasil melukai dirinya, tapi heran tidak diteruskan, seolah-olah sengaja tidak ingin melukainya.
Kalau benar-benar pemuda itu bertempur dengan maksud membunuh, tadi rasanya tidak sukar mengambil jiwanya, Mungkin pemuda itu ada memandang pada dirinya, maka telah mengasih kelonggaran yang tidak diduga-duga.
Seng giok cin ada puteri tunggalnya, ia sangat sayang pada si nona yang otaknya sangat cerdik dan banyak akalnya, Maka melihat anaknya seperti mempunyai kesukaran untuk menuturkan kepadanya soal golok pusaka itu, ia tidak mau mendesak lebih jauh, hanya simpangkan pembicaraan kelain jurusan.
"Sudahlah Giok-jie mari ikut aku membantu mereka menangkap pemuda itu."
Kita Seng Eng, sambil berbangkit dari duduk nya dan berjalan keluar diikuti oleh seng Giok Cin dengan tundukkan kepala.
Selama mengikuti ayahnya, pikirannya terkenang pada pemuda pujaannya.
Ia tidak mengira sama sekail, kalau Ho Tiong Jong ada mempunyai kepandaian yang tinggi, dapat mengalahkan ayahnya yang tersohor mempunyai kepandaian jarang tandingannya.
Barusan, ketika bertempur dengan Ho Tiong dengan acuh tak acuh memberikan perlawanannya.
Sebab kecuali anak muda itu memang tidak bermaksud jahat padanya, juga menang benar-benar kepandaiannya telah meningkat diluar dugaannya.
Tapi kenapa Ho Tiong Jong tidak mau menemuinya.
Pertanyaan ini adalah yang mengaduk dalam otaknya.
Ia paham Ho Tiong Jong tentu mengerti bahwa ia ada mencintai padanya, tapi kenapa pemuda itu tidak terangterangan menemui padanya?
Malah ia sudah menculik Co Kang Cay hendak dibawa keluar benteng, apakah maksudnya itu?
Rupa-rupa pertanyaan mengaduk dalam otaknya akan tetapi sulit ia dapat memecahkannya, Tindakkannya pemuda she Ho itu seolah-olah merupakan teka-teki yang sukar ditebaknya.
Kini ia dihadang oleh jago-jago kenamaan, apakah Ho Tiong Jong dapat meloloskan diri sambil membawa beban yang berupa dirinya Co Kang Cay.
Seng giok cin baru tersadar dari lamunan nya ketika mendengar ayahnya berkata.
"giok Jie, kau menjaga disini. Awas jangan kasih dia lolos, Kalau mereka lolos berarti membahayakan pada kedudukan kita, kau mengerti?"
"Aku mengerti ayah"
Jawab si nona seperti yang masih linglung.
Dengan cepat Seng Eng sudah melesat ke lain jurusan dan menghilang ditempat gelap.
Tempat yang ditugaskan untuk Seng giok cin juga adalah jalanan penting untuk orang dapat keluar dari Seng Kee Po.
Meskipun ia mencurigai anaknya, tapi Seng Eng percaya puterinya tak akan menghianati ayahnya sendiri.
Kita kembali melihat Ho TioagJong, Pemuda itu setelah lari meninggalkan Seng Eng atas petunjuk co Kang cay telah mengumpat dalam satu bangunan di bawah tanah Sebelumnya masuk ia turunkan co Kang cay dari gendongannya dibawah suatu pohon yang rindang, Ia memeriksa goloknya, diam diam ia merasa terkejut ketika melihat goloknya gompal karena tadi dipakai menahan senjata rahasianya Seng Eng.
Ia mengerti hebatnya senjata rahasia mutiara merah itu, kalau saja tidak golokrya barusan yang menalangi merangkis nya, jiwanya tentu bisa melayang saat itu.
"Lihay ...."
Ia menggerendeng sambil menghela napas.
Pikirnya mengalami bahaya maut tadi tidak sampai mati, apakah nasibnya tidak jadi mati karena racunnya Tok kay didalam tubuhnya?
Setelah sekali lagi ia menghela napas lalu pondong tubuh co Kang cay masuk kedalam bangunan rahasia tadi, dimana mereka sembunyi untuk sementara waktu dari kejarannya Seng Eng, setelah mengasoh beberapa lama, Ho Tiong Jong ajak Co Kang Cay ke luar lagi, supaya malam itu juga mereka bisa meloloskan diri dari kekuasaannya Seng Eng dan kawankawannya.
Tapi ia tidak jadi keluar mengambil jalanan masuk tadi, karena ketika ia mengintip keluar mendapat lihat ada si muka merah Kim Toa Lip yang sedang menjaga.
"Lopek, bagaimana sekarang kita bertindak? Semua tempat rupanya sudah dijaga oleh orang orang kuat dari Seng Kee Po, apakah lopek tidak punya jalanan lain untuk kita keluar dari sini dengan selamat?"
Tanya Ho Tiong Jong Co Kang Cay.
"Tiong Jong, kau jangan kuatir. Masih banyak jalanan untuk kita bisa keluar dari sini dengan selamat,"
Jawab sikakek lumpuh. Hatinya Ho liongJong lega mendengar perkataannya sang kawan tua.
"Bagus,"
Katanya,"kita berusaha, kita mencoba, bagaimana juga harus kita berhasil meninggalkan tempat terkutuk ini."
Mereka lalu pergi ke lain bagian keluar, disini baru saja Ho Tiong Jong menongolkan kepalanya lantas melihat ada dijaga oleh seorang yang bersenjatakan bendera segi tiga.
Sipemuda kenali ia ada Co Tong Kang, salah satu orang lihay dalam Perserikatan Benteng perkampungan yang ia saksikan sendiri kepandaiannya ketika Co Tong Kang bertempur dengan Ceng Ciauw Nikow.
IA kembali pada Co Kang cay dan berkata padanya.
"Lopek jalanan ini juga tidak aman-Diluar ada dijaga oleh Co Tong Kang, sulit kita melewatkan dia tanpa ada pertempuran yang hebat."
Co Kang cay berpikir sejenak. kemudian ia berkata.
"Masih ada jalanan lain, entah disana dijaga oleh siapa, mari kita kesana ?"
Ho Tiong Jong lalu pondong lagi si kakek jalan mengikuti jalanan yang berbiluk-biluk, kemudian ia letakkan si kakek dan ia sendiri menghampiri tutup lubang yang merupakan pintu jala n keluar untuk mengintip siapa yang jaga disitu.
Hatinya tiba-tiba berdebar, karena ia melihat satu bayangan kecil langsing yang sedang menjaga dibagian itu.
ia bukan lain tentu nona Seng, pikirnya.
Harapan dapat lolos dengan mendadak muncul dalam otaknya, ia paham akan besarnya cinta Seng giok cin atas dirinya, maka ia percaya si nona tidak ingin melihat ia mengalamkan kesulitan dan tentu akan memberi jalan kepadanya untuk keluar dari tempat itu.
^ Maka tanpa ragu-ragu ia telah gendong co Kang cay diajak keluar dari bangunan dibawah tanah itu, Ketika ia hendak menghampiri sinona telah dibikin merandek melihat ada bayangan seseorang yang mendatangi menghampiri si nona, cepat-cepat Ho Tiong Jong menyelingkar dibalik pohon besar.
Terdengar orang tadi berkata.
"giok-jie, apakah kau tidak melihat apa-apa?"
"Ah, dia Seng Pocu"
Pikir Ho Tiong Jong dibalik pohon-"Tidak. ayah."
Jawab si nona ringkas.
"Hati-hatilah kau menjaga, jangan sampai bocah itu lolos membawa co Kang cay. Aku banyak urusan mengontrol tidak lama-lama menemani kau. Nah, perhatikan apa yang ayahmu kata barusan-.."
Omongannya belum habis, orangnya sudah lompat melesat menghilang dari pemandangan-Diam-diam Ho Tiong Jong bersyukur dirinya tidak sampai dipergoki oleh kepala benteng yang kejam telengas itu.
Setelah keadaan sudah aman untuk ia menghampiri si nona, maka dengan perlahan-lahan sambil menggendong Co Kang Cay ia datang pada Seng Giok Cin-Nona Seng terkejut melihat seseorang dengan menggendong orang datang menghampiri padanya tapi lekas hatinya menjadi tenang lagi ketika mengetahui bahwa orang itu bukan lain ada Ho Tiong Jong.
Ia menanti serangan Ho Tiong Jong, tapi heran pemuda itu tidak menyerang, sebaliknya malah mendekati padanya dan berkata.
"Nona Seng, aku mohon kemuliaan hatimu supaya memberi jalan lolos kepada kami, untuk pertolongan mana kami seumur hidup tidak akan melupakannya ."
Seng Giok Cin hatinya berdebaran mendengar suara itu yang ia kenali betul.
"Hai, kau ini siapa?"
Si nona pura-pura menanya.
"Aku Ho Tiong Jong,"
Jawabnya.
"Hai, bukan Ho Tiong Jong sudah mati?"
"Giam-lo ong masih belum mau menerima aku."
Si nona menekap mulutnya yang mungil menahan ketawanya mendengar jawaban Ho Tiong Jong yang lucu.
"Nona Seng, aku harap sekali pertolonganmu itu,"
Kata pula si pemuda, yang jadi mesem melihat kelakuannya si nona terasa geli sambil menekap mulutnya. Tiba-tiba ia rasakan tangannya dicekal si nona.
"Tiong Jong.
"kata si nona.
"kau ini bukankah sudah mati dibawah senjata rahasianya ceug ciauw Nikow yang dinamai Tok kim-chi? cara bagaimana kau bisa hidup. Selain dari itu, apa maksudmu kau hendak pergi dari sini dengan membawabawa orang tua ini?"
Sambil menunjuk pada co Kang cay yang digendong.
"Tidak. malam ini juga kau harus datang dikamarku."
Ho Tiong Jong terkejut, Dalam hatinya berpikir kalau ia tidak menurut permintaannya si nona, sudah pasti ia tidak bisa keluar dari situ, Untuk dirinya sendiri tidak menjadi soal, hanya kasian kepada co Kang cay yang sudah dua puluh tahun lamanya belum pernah melihat matahari lagi, Ia cepat mengambil putusan, jawab nya.
"Ya, baiklah nona Seng, sebentar jam tiga aku akan datang ketempatmu."
Seng giok ceng girang mendengar janjinya si anak muda, maka ia lalu berkata.
"Nah, sekarang cepat-cepat kau melarikan diri "
Ho Tiong Jong mengucapkan terima kasih, kemudian meninggalkan tempat itu menuju kekuil bokbrok yang tempo hari ia dengan Tok-kay pernah meneduh dan telah membunuh pengemis beracun itu.
Ia lalu menurunkan co Kang cay dari gendongannya.
Berdua duduk diatas lantai, berCakap cakap akan bertindak selanjutnya.
Selama itu pikirannya si pemuda kalut, karena memikirkan nasibnya yang hanya sampai besok malam temponya jam tiga, jiwanya pasti melayang karena racun jahatnya Tok kay.
Pikirnya, orang telah mengetahui dirinya telah binasa dibawah Tok-kim-chi ceng ciauw Nikow, sekarang hidupnya dalam rahasia sudah bocor diketahui orang juga.
Untuk apa sebenarnya hidupnya yang sesingkat waktu itu?
Sambil menghela napas ia berkata pada Co Kang Cay "Co Lopek.
baru sekarang aku ingat bahwa pekerjaanku menolong kau akan terlantar setengah jalan-.."
"Hei, kenapa kau bilang begitu?"
Memotong Co Kang Cay kaget. kembali Ho Tiong Jong menghela napas.
"Lopek."
Katanya lesu", sebenarnya badanku sudah terkena racunnya Tok kay.
Besok jam tiga malam racun itu akan bekerja dalam tubuhku.
Kecualinya sebelum jam tiga itu aku ketemu dengan si Dewa obat Kong Jat Sin yang dapat menolongku, jiwaku tidak melayang karenanya, Aku menyesal tidak bisa melanjutkan tugasku menolong dirimu sampai ditempat yang aman-"
Co Kang Cay kaget bukan main mendengar bicaranya Tiong Jong. Mukanya menjadi pucat seketika.
"Hai, bagaimana baiknya ini?"
Katanya gugup.
"Kakiku sudah tak dapat berjalan, kalau nanti dapat diketemukan oleh Seng Eng tentu dia akan menyiksa diriku dengan lebih kejam lagi daripada yang sudah."
Ho Tiong Jong yang berhati budiman, merasa terharu dan kasihan pada si kakek yang jadi gelabakan ketakutan-Perkataannya Co Kang Cay memang beralasan-Ditempat itu, malah disekitarnya sejauh ratusan li masih dibawah kekuasaannya Seng Eng, mana mereka dapat bersembunyi disitu, apalagi kalau Co Kang Cay ditinggal sendirian, terang ia akan ditemukan lagi oleh Seng Eng.
"Tiong Jong, kalau begitu baik kau bawa lagi aku ke tempatnya Seng Eng,"
Kata co Kang cay dengan tiba-tiba. Ho Tiong Jong kaget dan mengawasi si kakek dengan perasaan tidak mengerti.
"Tiong Jong, kau jangan kaget,"
Kata si kakek nyengir.
"kau tidak tahu, kita sembunyi ditempatnya Seng Eng ada lebih aman, karena disaaa ada banyak tempat yang rahasia dan aku sendiri yang mengetahuinya, jikalau kita masuk dalam salah sebuah kamar yang kiranya tidak akan menjadi perhatian mereka, tentu kita sembunyi dengan selamat kau pikir bagaimana?"
Ho Tiong Jong pikir jalan itu memang ada berbahaya, tapi karena sudah tidak ada jalan lain, pikirnya jalan itu baik ditempuh-nya.
"Tapi, bagaimana kita balik kesana, apa tidak akan dipergoki oleh mereka?"
Tanyanya sangsi.
"Kaujangan kuatir, turut saja petunjukku kau jalan akan selamat"
Jawab si kakek yang sudah tahu betul selak seluknya tempat di benteng Seng-kee Po itu.
---ooo0dw0oo---XVIII.
TOTOKAN SI CANTIK IE YA DEMIKIAN setelah mereka mengasoh sebentar lantas Ho Tiong Jong menggendong si kakek dan dia akan sendiri, Maka nya semuanya ada tujuh koper penuh dengan isi nya emas semua, Betul-betul dalam seumur hidupnya Ho Tiong Jong baru mengalami melihat harta dunia yang demikian hebatnya, Mustahil maka berapa harganya emas itu dapat dibayangkan bawa kembali ke tempatnya Seng Eng.
Betul saja, dengan melalui jalanan yang jarang dilalui orang atas pengunjukan co Kang cay, akhirnya Ho Tiong Jong dapat membawa si kakek kembali ke-tempatnya Seng Eng dengan tidak menemui rintangan apa-apa.
Dengan mengikuti petunjuk Co Kang cay ia menggendong masuk keluar kamar-kamar batu rahasianya?
Akhirnya mereka memasuki sebuah kamar batu yang lebarnya dua tombak dan tingginya enam kaki, pintunya dapat didorong dan menutup sendiri.
Inilah ada kamar yang merupakan pusatnya dari sekalian kamar batu lainnya, di atasnya kamar ini ada kamar tempat tidurnya Seng Eng, penerangan disini terpancar dari dua buah batu mustika.
Co Kang Cay memilih kamar ini dianggapnya tempat yang aman, karena jarang di datangi oleh Seng Eng.
Kamar-kamar batu rahasia disitu, merupakan gudang hartanya Seng Eng.
Atas pengunjukan Co Kang cay supaya si pemuda dapat menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana besar hartanya Seng Eng.
Ho Tiong Jong pergi ke kamar sebelahnya dimana benar saja terdapat harta benda yang tak ternilai harganya.
Di atas meja panjang ia lihat ada tersebut barang mustika, mutiara dan sebagainya yang sangat berharga.
Lebih jauh ia lihat ada tujuh buah koper besi, ia membukanya koper itu isinya ada barang barang yang terbikin dari bahan emas.
Ditaksir timbangan koper itu ada puluhan ribu.
Setelah puas melihat-lihat dalam kamar harta itu, Ho Tiong Jong balik lagi kekamar dimana Co Kang cay ada menantikan padanya.
"Bagaimana ?"
Tanya Co Kang cay ketika melihat si pemuda menghampiri padanya. Sambil ambil tempat duduk. l Ho Tiong Jong menjawab.
"Ya, betul-betul aku seumur hidupku baru melihat harta yang demikian besarnya, Tujuh buah koper penuh dengan emas sedang diatas meja ada berserakan benda-benda mustika, berlian, batu kumala, mutiara dan sebagainya. Betul-betul Seng Pocu ada satu hartawan besar..."
Ia berkata sambil menghela napas.
"Hei, kenapa kau menghela napas?"
Tanya co Kang cay.
"Ya."
Katanya lesu.
"kalausaja aku tidak merasa hutang budipada nona seng, aku pasti akan mencari akal untuk mengambil harta benda itu dan kemudian dibagi-bagikan kepada orang yang melarat supaya mereka dapat bernapas legahan dalam penghidupannya yang serra sempit."
"Bagus, Tiong Jong,"
Kata sikakek sambil mengelus-elus jenggotnya, kau yang begini muda mempunyai pikiran begitu dermawan, kelak di kemudian hari kau akan mendapat pembalasannya.
Memang benar, kalau harta kekayaan itu kita bagi-bagikan kepada orang miskin, tentu mereka merasa sangat berterima kasih dan akan membalas budi pada kita..."
"Tidak. lopek"
Memotong Ho Tiong Jong.
"bukan maksudku untuk menerima pembalasan budi, Aku kalau sampai dapat membagi harta kepada pihak si miskin, aku sudah merasa puas dan tidak mengharap akan pembalasan budinya mereka."
Demikian mereka melamun, jikalau menguasai harta akan dibagi bagikan kepada rakyat miskin-Selagi si kakek tersenyum-senyum sambil mengurut-urut jenggotnya, tiba tiba ia seperti kaget dan berkata pada Ho Tiong Jong.
"Tiong Jong, bukankah kau sudah berjanji dengan nona Seng? Kini sudah dekat jam tiga, kau harus pergi kesana, Harap kau lekas pergi dan cepat kembali, aku disini kesepian di tinggal sendirian."
"Tidak apa,"
Jawab Ho Tiong Jong bersenyum.
"Lambatlambatan sedikit tidak menjadi soal, asal aku pergi menemuinya. Kau jangan kuatir, aku pergi dan tidak lama akan balik kembali."
Ia lalu meninggalkan Co Kang Cay, tapi di luar ia merandek dan memikirkan halnya Sikakek yang sudah dua puluh tahun ditahan sungguh tersia sia kepintarannya selama dua puluh tahun itu tak dapat digunakan-Pikirnya, baik sekali kalau ia masuk pula ke gua harta tadi dan mengambil beberapa potong emas dan mutiara untuk diberikan kepada Co Kang Cay, ia sudah tua dan tak dapat bekerja berat lagi maka emas dan mutiara itu ada untuk ongkos hidup selanjutnya.
Setelah mengambil putusan, ia lalu mampir lagi keg udang harta tadi, dimana ia mengambil potong emas dua, dua puluh butir matiara.
Ketika ia hendak kembali kekamar Co Kang Cay, ia melihat disitu ada patung tembaga yang besar, yang bermula ia datang kesitu tidak diperhatikan-Kini ia perhatikan patung tembaga yang besar itu.
Pikirnya, patung beginian apa gunanya ditaruh dalam gudang harta ini?
ia lalu menghampiri dan merabah patung tembaga itu dari kepala sampai kebawah.
Dilihatnya dibawahnya ada satu bantalan, ia iseng dan menggosok-gosok bantalan ini tiba-tiba bantalan itu mengeluarkan cahaya dan terbuka.
Didalamnya pun ada sebuah perisai gading lebarnya tiga jari dan panjangnya tiga dim, pada gading itu ada benang merah, mulai dari sudut atas bagian kiri terus berputar-putar ketengahnya dan sampai ditengah-tengah sebelah kanan benang itu Sudah-putus, ia tidak mengerti apa rahasianya benda itu, kemudian ia benahi lagi seperti sedia kala, ia balik lagi ketempatnya Co Kang Cay.
orang tua itu heran sianak muda balik kembali.
"Kau balik kembali, kenapa, apa tidak jadi menemui nona Seng ?"
Tegurnya.
"Aku balik kembali membawa ini.
"jawab si pemuda sambil menunjukkan emas dan mutiara yang dibawanya dari kamar harta.
"Untuk apa kau bawa bawa yang demikian?"
Tanya si kakek.
"Kau sudah ditahan disini sudah dua puluh tahun lebih, maka lebih dari pantas kalau kau dapat bagian ini. Maka harap lopek terima ini."
Sambil diberikan pada si kakek. Co Kang Cay tertawa bergelak-gelak pelahan sambil menerima barang tersebut.
"Hmm.... Tiong Jong memang betul katamu tadi, Aku harus mendapat kerugian untuk tempoku yang ditahan disini. Tapi aku tidak mau harta ini, aku mau tempoku itu, Nah, karena sudah ketelanjur kau membawanya, maka kita bagi seorang separuh saja. Kau perlu gunakan untuk diperjalananmu kelak, untukku separph sudah cukup,"
Ho Tiong Jong menolak. tapi setelah dipaksa ia hanya menerima lima butir saja, yang ia anggap itu ada pemberian Co Kang Cay bukannya harta haram.
"Nah, sekarang sudah saatnya aku pergi menemui nona Seng, Aku sudah paham dengan jalanan rahasia disini, maka aku tidak sampai salah jalan-Harap kau baik-baik menantikan disini."
Ho Tiong Jong segera meninggalkan tempat itu sebentar saja ia sudah sampai dikamarnya nona Seng.
ia lalu mengetuk jendelanya sampai dua kali, tapi tak kedengaran reaksi apaapa dari dalam.
Ia sudah hendak meninggalkan tempat itu, tapi di pikirannya tak baik ia mengingkari janji, maka ia lalu mengetok pula sekali.
Tapi tak juga mendapat jawaban, Ketika ia hendak pasang kupingnya meneliti, ia mendengar suara mengorok disebelah dalam.
Kapan ia menyelidiki dari renggangannya jendela, ia dapat kenyataan yang tidur ngorok itu ada satu pelayan perempuan.
Ia sudah putar tubuhnya hendak kembali, tiba-tiba ia melihat ada berkelebat bayangan orang menuju kepinggir rumah, dimana ia menghilang.
Ho Tiong Jong bercekat hatinya, Apa ia Seng Eng?
Badannya kurus dan ilmu mengentenGi tubuhnya bagus sekali.
Tertarik oleh penglihatannya, maka ia lantas mengejar, tidak jadi kembali kekamar rahasianya, ia melihat bayangan orang itu lompat melewati tembok pekarangan, maka ia juga menyusul lompati tembok tadi.
Diluar tembok pekarangan itu ternyata ada lapangan, dan sawah, sedang orang tadi entah kemana perginya tidak kelihatan bayangan-nya.
Tapi ia terus mengejar pula beberapa li, tiba-tiba ia hentikan tindakannya karena mendengar seperti ada orang yang sedang bertempur.
Dari suara bentakan-bentakan, ia kenali suaranya Li-lo sat Ie Ya.
"Apakah Ie Ya terjebak disini?"
Tanyanya dalam hati sendiri.
cepat-cepat ia pergi ketempat pertempuran disana, dibelakangnya kebun buah, ia melihat ada tiga orang sedang bertempur.
Dua lelaki melawan satu perempuan-Perempuan yang dikerubuti itu ia kenali betul ada Li lo-sat Ie Ya, sedang yang mengeroyoknya juga ia kenali ada oet-ti Kang dan oet-ti Koen.
Dilihat jalannya pertandingan kelihatan tak menguntungkan untuk le Ya.
ia ini menggunakan selendang sutra sebagai senjata, sebenarnya ada meminta banyak tenaga karena orang yang menggunakannya harus menyalurkan tenaga dalamnya ke selendang sutra itu, barulah selendang itu dapat digunakan dengan sesuka hatinya.
Maka Ho Tiong Jong pikir, lama lama le Ya akan kewalahan dan kalah melawan dua musuhnya yang bukan lemah kepandaiannya.
Mengingat le Ya pernah menolong dirinya tempo hari maka perasaan hendak membalas kebaikan orang timbul seketika dalam hatinya.
Tambahan ia merasa gemas, seorang perempuan dikeroyok oleh dua lelaki pantes.
Tidak ayal lagi ia lantas menyerbu dalam pertempuran membantu Li-Iosat le Ya.
Co Tong Kang yang juga ada disitu telah keluarkan bentakan nyaring.
"Hei, kau manusia liar dari mana berani mengacau ditempatnya Seng Pocu"
Tapi Ho Tiong Jong tidak menjawab, ia hanya putar goloknya menyerang kepada dua saudara oet-ti yang mengerubuti le Ya.
Oet-ti Kang sambil berkelit dari sambaran goloknya Ho Tiong Jong, telah meneruskan serangan pedangnya kepala Lilo-sat le Ya.
Oet-ti Koen telah menangkis serangan hebat Ho Tiong Jong pedangnya membentur golok sampai lelatu api.
Ketika dilihatnya, oet-ti Koen merasa sangat terlihat berduka, karena pedang cit seng-kiamnya telah menjadi gompal karenanya.
le Ya dilain pihak ketika pedang cit-Seng kiam Oet-ti Kang mengarah dirinya lantas gunakan selendang suteranya dengan tipu Sin liong cut hay (Naga sakti keluar dari laut), ia menggulung senjatanya lawan.
Oetti Kang kerahkan tangannya menarik pulang pedangnya, tapi selendang suteranya Ie Ya terus menyerang kearah jalan dari seorang yang penting, Untung co Tong Kang itu waktu keburu menyelak.
menggunakan senjata benderanya menahan serangan selendang suteranya Ya, hingga oet-ti Kang terhindar bahaya kena ketotok.
Ho Tiong Jong tidak tinggal diam, dengan gaya co imSuyang (tiba-tiba lunak berubah keras) yang telah menangkis benderanya co Tong Kang, Golok dengan Panji Api telah beradu, serangan im (lunak) dari Ho Tiong Jong telah berubah menjadi yang (keras) membikin co Tong Kang sangat terkejut, sampai ia mundur dua tindak.
oet-ti Kan mengenali golok yang digunakan Ho Tiong Jong ada golok pusaka, maka ia berteriak.
"Hei, kau jangan berlaku pengecut Kau ini pendekar dari mana, lekas katakan, aku tidak ingin bertempur dengan segala orang yang tidak punya nama."
Ho Tiong Jong tidak menjawab, ia hanya tertawa dingin.
Ie Ya sekarang sudah mundur, menonton penolongnya bertempur dengan co Tong Kang, Diam diam ia heran sebab apa pemuda tidak dikenal ini telah turun tangan membantunya.
Ho Tiong Jong sebenarnya menyerbupada saat mereka bertempur, maksudnya supaya Ie Ya lekas-lekas melarikan diri, tapi kenyataannya tidak demikian, Ie Ya daripada angkat kaki malah diam menonton dipinggiran, Hatinya jadi gelisah.
Ho Tiong Jong dikeroyok co Tong Kang dan oet-ti Koen, tapi pemuda itu dengan tenang telah memberikan perlawanannya.
Tipu-tipu golok seperti "Bulan keluar bintang lenyap dan Dimana hati melewati perbatasan gunung telah dimainkan oleh si anak muda dengan bagus sekali.
Tenaganya besar, hingga tekanan golok dirasakan oleh co Tong Kang sangat berat, Maka ia tidak berani menangkis goloknya Ho Tiong Jong dengan keras lawan keras, hanya ia mengandalkan kegesitannya untuk menyingkir dari serangan sang lawan Dengan gaya Thian lie San-hoa, (Bidadari menyebar bunga) Ho Tiong Jong, menyalakan api membakar langit.
oet-ti Koen yang melihat saudara tuanya tertindih, kuatir pedangnya akaa mengalami nasib seperti pedangnya sendiri gompal, maka ia lalu menyerbu memberikan bantuannya Kini-Ho Tiong Jong jadi dikerubuti bertiga.
Li lo-sat Ie Ya terbengong menyaksikannya pemuda itu sangat gagah dikerubuti bertiga masih tidak kelihatan merasa keder, justru ia sedang bengong, mendadak lihat pemuda itu mendorongkan tangannya kearahnya, angin keras telah menyampok dirinya hingga ia terpental beberapa tumbak jauhnya.
Ie Ya bermula heran, tapi kemudian ia mengerti maksudnya pemuda itu, yalah supaya ia lekas lekas menyingkir dari tempat itu, Maka seketika itu ia telah menyembunyikan diri dibaliknya rimba pepohonan yang jauhnya beberapa tumbak dari tempat pertempuranoet-ti Koen yang biasa suka sekali membentak ia telah menyerang dengan pedang gompalnya, Apa mau tangkisan golok bukan main beratnya, hingga tangannya tergetar dan ia sendiri telah sempoyongan mundur beberapa tindak.
Lihay Demikian pikirnya, nyalinya seketika itu telah menjadi ciut.
oet-ti Kang jugapelan pelan telah menarik serangannya, karena ia tahu betul ia bukan tandingannya musuh.
Kalau ia memaksa meneruskan pertandingan niscaya kerugian akan dialamkan olehnya.
Tinggal sekarang co Tong Kang, si bayangan kurus yang dikejar oleh Ho Tiong Jong tadi, masih ngotot melayani Ho Tiong Jong, meskipun sudah tahu bahwa ia juga bukan tandingannya si anak muda yang lihay.
Ho Tiong Jong mengerti dua saudara oet-ti itu sudah ciut nyalinya dan tidak berani mengeroyok lagi, maka untuk membikin keder satu lawannya yang masih ngotot ini, pemuda itu telah mengeluarkan tipu tipu serangan bergabung antara partay-partay Siao lim, Bu-tong dan Kun-lun-Memang dengan tekanan ilmu gabungan itu co Tong Kang kelihatan kewalahan-Diam-diam ia merasa keder akan lawannya yang tangguh itu.
Goloknya berkelebatan menakutkan, hingga dua saudara oet tilang menonton dipinggiran menjadi terkejut dan menguatirkan jiwanya co Tong Kang.
Di waktu sudah keteter, co Tong Kang telah keluarkan ilmunya Thian-bee Heng-gong atau Kuda semberani melayang diangkasa, suatu tipu serangannya yang paling ampuh dan sedikit sekali orang yang dapat meloloskan diri dari serangannya itu.
Badannya co Tong Kang tiba-tiba melesat ke angkasa, dari atas ia menukik, menyerang dengan kaki dan tangannya kepada bahu orang.
co Tong Kang sudah kegirangan, musuhnya tentu bakal kena dikalahkan, bahkan kena ditangkap hidup hidup juga dua saudara oet ti sudah bersiap-siap untuk bantu menangkapnya .
Siapa tahu kenyataannya ada di luar dugaan, Tiba-tiba Ho Tiong Jong bersiul nyaring, badannya mendadak kemudianjumpalitan kebelakang, akan selanjutnya mencelat keatas dan melayang turun dalam gerombolan pohon, hingga sekejapan saja ia sudah menghilang dari pemandangan mereka.
oet-ti Kang dan oet ti Koen menjadi melongo karenanya.
Sedang co Tong Kang yang mendapat sasaran kosong, juga tidak kurang kurang kagetnya menyaksikan kepandaian yang luar biasa dari pemuda lawannya itu.
"Hei, bagaimana orang itu bisa meloloskan dirinya? "
Oet-ti Koen nyeletuk setelah rasa kagetnya hilang. co Tong Kang geleng-geleng kepalanya.
"Aku juga sangat heran,"
Katanya.
"orang itu gerakannya sukar dibade, Tadi dia belum habis menjalankan ilmu goloknya, ketika dia melihat aku melesat dan hendak menyerang dengan gaya oei liong (Naga kuning) tidak diduga gayanya itu telah memunahkan serangan tendanganku. sungguh lihay orang itu, entah dia dari golongan mana karena ilmu silatnya yang campur aduk itu dari beberapa partay, Tapi biar bagaimana juga dia adalah musuh yang sangat berat bagi kita dan perlu kita waspada untuk kedatangannya yang kedua kali."
Dua saudara oet ti diam-diam bergidik mendengar katakatanya co Tong Kang bahwa orang itu akan datang kedua kalinya, ia tidak sanggup menandinginya.
Mereka telah menarik kesimpulan, orang muda tadi adalah seorang gagu, karena berka lokali ditanya tak memberikan penyahutan-Sementara itu, Ho Tiong Jong yang masuk dalam gerombolan pepohonan, terus lari hendak balik ke tempat rahasianya.
Belum lama ia tari, tiba-tiba mendengar suara bentakan merdu."
Berhenti "
Dari bilik sebuah pohon besar lompat keluar seorang wanita yang cantik.
Ho Tiong Jong kaget juga mendengar bentakan itu, maka ia hentikan larinya dan mengawasi kepada wanita cantik yang keluar dari balik pohon Kiranya dia ada Li lo sat Ie Ya.
Dengan wajah berseri-seri menggiurkan Ie Ya menghampiri Ho Tiong Jong yang sedang kemekmek.
Ie Ya tidak kenali anak muda itu, karena ia masih tetap melebur menjadi hitam dan kumel pakaiannya juga tidak karuan-persis seperti juga seorang pengemis yang sudah beberapa bulan tidak menemukan air untuk mandi.
"Anak muda, kau baik sekali sudah membantu aku barusan"
Kata ie Ya, seraya menghampiri sianak muda lebih dekat.
"Kau siapa?"
Dengan kecepatan bagai kilat ie Ya telah menotok jalan darahnya Ho Tiong Jong yang membuat si anak muda jatuh lemas.
Anak muda itu tidak menyangka ie Ya akan membokong dengan totokannya, maka ia tak berjaga-jaga.
Apa maksudnya ia menotok Ho Tiong Jong, bukankah tadi ia dibantu si anak oleh muda itu?
Kalau saja barusan tidak cepat Ho Tiong Jong turun tangan membantu, pasti Ie Ya sudah kena ditangkap oleh musuh musuhnya.
Tapi mengapa ia bukannya mengucapkan terima kasih malah sebaliknya telah menotok orang sehingga lemas mendeplok ditanah.
"Hi hi hi..."
Terdengar ie Ya ketawa agak menyeramkan tapi air mukanya tetap ramai dengan senyuman-"Anak muda kau terlalu pandang rendah diriku, begitu lancang turun tangan membantu aku.
Meskipun maksudmu baik, tapi aku Li lo-sat Ie Ya dalam setiap pertempuran belum pernah dibantu orang.
Dengan turun tangannya kau tadi, tidakkah kau membuat namaku menjadi gurem?
Hm...
anak liar dari mana begitu lancang campur urusanku?
siapa kau?"
Ho Tiong Jong diam saja, cuma matanya kedap kedip menatap wanita cantik didepan-nya.
Hatinya merasa sangat heran atas kelakuannya ie Ya.
Anak muda itu tidak menjawab untuk sekian lamanya, hingga Ie Ya marah dan mau mengayun tangannya menabok Ho Tiong Jong, akan tetapi tiba-tiba pikiran sehat berkelebat diotaknya.
Ia urungkan telapakannya jalan-jalan dimuka Ho Tiong Jong.
"Ah, aku yang salah."
Demikian ia menggerendeng sendirian, ia bersenyum manis, jarinya yang halus kembali menotok si anak muda dua kali, satu totokan membuat yang korban tidak bisa bergerak.
yang satu lagi membuka totokan pada urat gagunya sehingga anak muda itu kini dapat membuka mulutnya menjawab.
Kiranya barusan makanya Ho Tiong Jong membisu saja karena urat gagunya yang tertotok belum dibuka, Makanya Ie Ya cepat menarik pulang tangannya yang hendak mampir dipipinya sianak muda, karena ia ingat bahwa ia keliru, mana anak muda itu dapat menjawab pertanyaannya sedang totokan pada urat gagunya belum dibuka?
"Nah, sekarang jawablah pertanyaanku barusan."
Kata pula Ie Ya.
"Enci le aku... aku..."
"Hei, kau... kau..."
Ie Ya memotong karena ia kenali itu ada suaranya Ho Tiong Jong, Tersipu-sipu ia mengulur jari tangannya membuka totokan pada jalan darahnya si pemuda yang tadi tertotok.
"Enci ie, kau bikin semangatku menjadi terbang"
Ho Tiong Jong bergurau.
"Siapa suruh kau diam saja,"
Sahut si nona ketawa manis.
"Siapa suruh kau menotok urat gaguku."
Jawab Ho Tiong Jong menatap wajahnya yang ayu. Keduanya jadi ketawa geli.
"Adik Jong,"
Kata nona ie.
"Kabarnya kau sudah mati kena dihajar senjata Tok kim chi ceng ciauw Nikouw tapi kenyataannya kau masih segar bugar begini."
"Memang benar senjata rahasianya nikouw mampir dimulutku, tapi tidak terus masuk ketenggorokan."
"Sebabnya?"
"Mana dapat senjatanya lewati giginya^"
"Ah, adik Jong, apa benar?"
"Kalau tidak percaya mana dapat aku sekarang berdiri di hadapanmu?"
Li lo-sat ie Ya geleng-geleng kepalanya.
"Adik Jong, betulbetul aku tidak nyana kau dalam beberapa hari saja tak ketemu kepandaianmu sudah begitu tinggi, seperti dapat mengalahkan co Tong Kang, salah satu tokoh terkuat dalam "Perserikatan Benteng Perkampungan"
Kalau saja itu tersiar diluar, namamu akan naik tinggi dengan mendadak dalam dunia Kang ouw. Aku seharusnya mengaturkan selamat kepadamu, adik Jong"
"Enci le, kau berkelebihan,"
Sahut Ho Tiong Jong rendah.
"kepandaianku masih cetek dan masih memerlukan didikan orang pandai lebih jauh, orang bagaimana aku sekarang dapat pujian begitu muluk dari enci."
"Tapi sebenarnya kau dapat pelajaran dari mana sih?"
Tanya si nona penasaran-"Ah, itu hanya dengan cara kebetalan saja. Tapi biarlah lain kali aku nanti menuturkan padamu, sekarang enci mau pergi kemana?"
"Aku mau pergi dari sini."
"Apa kau tak kuatir nanti dicegat dijalanan?"
"Mereka tidak berani lagi, Barusan kalau mereka dapat menangkap aku, mungkin susah akan aku dapat meloloskan diri."
Ho Tiong Jong merasa heran, ia menanyakan dari sebab apa si nona kena dikeroyok oleh dua saudara oet ti.
Dari roman mereka kelihatannya begitu gemas dan seperti mau menelan si nona.
Ie Ya bersenyum-senyum.
"Kau tidak tahu meskipun kelihatannya akur dalam "Perserikatan Benteng perkampungan-sebenarnya telah retak. Sudah terpecah menjadi tiga partai, masing-masing berusaha memperkuat partainya sendiri untuk kelak dapat menjagoi dikalangan rimba persilatan-Dua saudara oet-ti itu tidak termasuk dalam komplotanku, mereka telah menerima perintah dari atasannya, sekarang setelah mereka gagal, buat sementara aku dapat berlalu dari tempat ini dengan--selamat. Lain urusannya kalau dikemudian hari kita berjumpa pula."
"Ooh begitu,"
Nyeletuk Ho Tiong Jong. Kembali Ie Ya memperlihatkan ketawa nyayang manis menarik.
"Adik Jong, kau kenapa sampai sekarang masih belum juga berlalu dari sini?"
"Enci Ie, kau mau suruh aku pergi ke-mana? kau tahu kekuasaannya Seng Pocu ada sangat luas dalam daerahnya ini, kalau tidak dengan pelahan-lahan menggunakan akal mana aku dapat lolos dari kejarannya, Lain dari itu, juga aku masih ada urusan-..."
"Hm urusan-.."
Menggerenden Gie Ya. Mukanya yang tadi ramai dengan senyuman mendadak menjadi dingin-"Aku, tahu tentu urusannya..."
"Urusan apa ? Bagaimana kau tahu ?"
"Urusan nona Seng tentu, Kau sudah kejiret keelokannya, maka kau tidak maupergi dari sini, dia sedang keluar."
"Keluar kemana?"
Ho Tiong Jong memotong.
Ie Ya mendelu hatinya, ia sebenarnya ada cemburuan dan merasa tidak puas melihat sikapnya Ho Tiong Jong seperti yang lebih memperhatikan dirinya Seng giok cin daripada dirinya.
Maka ia tidak lantas menjawab atas pertanyaan si pemuda, kalau tidak Ho Tiong Jong ulangi lagi pertanyaannya tadi.
"Dia sudah pergi menyusul Kim Hong Jie yang pergi ke lembah Lui soa-kok."
"Hei, ada itu perkara ? Apa maksud Kim Hong Jie pergi kesana ?"
"Ya, Kim Hong Jie pergi kesana dengan cu coan Liang, menyusul tiga orang gila yang bertaruhan mengambil batu Hwe-giok disana?"
"Ada pertaruhan apa encie Ie? sukalah kau menceritakan padaku? Dan siapa mereka yang barusan encie katakan tiga orang gila?"
Ie Ya sebenarnya mendelu hatinya, ia tidak mau orang banyak tanya lagi dan sudah hendak meninggalkan tempat icn, kalau tidak Ho Tiong Jong dengan separuh menatap minta diceritakan halnya Seng giok cin, Kim-Hong Jie dan lainlainnya.
"Soalnya sederhana saja,"
Kata Ie Ya "lantaran saling kepingin disebut jagoan, maka Khoe Tiong, Tie Kie Song dan Kong soe Tek bertiga telah pergi ke lembah Lui soa kok untuk mengambil batu Hwe-giok di goa Pek cong tong..."
"Untuk apa itu Hwe-giok?"
Sipemuda menyelak.
"Untuk si nona manis Kim Hong Jie?-"
Jawab ie Ya separuh menjebi bibirnya.
"Kenapa jadi untuk Kim Hong Jie?"
"Kau tidak tahu, itu Hoan Sian Jie dan Kong Soe Jin setelah menang bertanding di atas luitay, hadiah peblokan sutera yang diterimanya, telah diserahkan pada nona Seng. Rupanya nona Seng tidak enak kalau hanya ia sendiri saja yang peroleh hadiah itu maka telah mengusulkan pemudapemuda lainnya bertanding dan mendapatkan hadiah untuk diserahkan kepada Kim Hong Jie."
"Ada apa hubungan batu Hwe-giok dengan goblogan sutera itu?"
Kembali Ho Tiong Jong menyelak Li lo sat Ie Ya pelototkan matanya.
"Kau dengar dahulu orang ngomong, jangan saban-saban memotong, Mana kau mengerti kalau belum aku habis menutur."
Kata Ie Ya. Ho Tiong Jong ketawa nyengir, ia berasa salah, maka ia lalu berkata.
"lya, iya dah, aku salah. Teruskan ceritamu enci Ie Ya yang baik."
Kembali ie Ya pelototkan matanya, hanya kali ini matanya melotot tapi mulutnya yang mungil menyungging senyuman geli.
"Makanya, kau dengar dulu aku cerita."
Katanya.
"tiga pemuda itu sebenarnya hendak mengadu kepandaian diatas luitay, tapi tiba-tiba itu si Goen menyelak dan mengatakan bahwa pertandingan adu silat sudah bosan mendapat hadiah sutera sudah bukan model baru, paling baik, katanya, bertaruh pergi kegoa Pek-cong-tong mengambil Hwe-giok untuk dihadiahkan pada nona Kim Hong Jie. Barulah itu ada harganya."
Katanya.
"Mereka yang mau main jago-jagoan, lantas saja bersedia untuk melakukan pertaruhan itu, meskipun mereka tau bahwa orang yang pergi kesana bukannya tidak berbahaya."
Sampai disini nona ie berhenti sebentar. Matanya yang bagus menatap mesra pemuda didepannya.
"Kenapa kau tidak menyelak?"
Tanyanya. Ho Tiong Jong melengak.
"Bukankah enci bilang aku dengan menyelak?"
Tanyanya. Ie Ya menekap mulutnya, menahan ketawa nya melihat kelakuan Ho Tiong Jong.
"Betul-betul kau bisa pegang janji,"
Si nona kata sambil tersenyum. Ho Tiong Jong juga tersenyum. suatu senyuman yang membuat hatinya ie Ya berduka sebaiknya dari bergembira, Kenapa? itulah karena diam-diam ia berpikir.
"Pemuda ini dicintai oleh Giok Cin dan Hong Jie sepasang jelita yang sukar mendapat tandingan kecantikannya maupun ilmu silatnya, Aku yang dikenal sebagai Kepala iblis Wanita, apakah ada harapan menempati hatinya pemuda ini? oh, kejadian itu mungkin hanya bisa terjadi dalam impian belaka."
Berpikir demikian maka wajahnya yang barusan ramai dengan senyuman lantas berubah duka dan dingin.
"Hei, kau kenapa, enci Ie?"
Tanya Ho Tiong Jong heran melihat perubahan itu. Si nona menghela napas.
"Tidak."
Jawabnya.
"Nah, Dengarlah aku cerita terus."
Ie Ya lantas menceritakan ceritanya tentang tiga pemuda yang pergi ketempat berbahaya itu telah menimbulkan rasa kuatir di-kalangan jago-jago tua dan muda, Mereka kuatirkan keselamatan tiga pemuda itu terhadap si kakek aneh souw Kie Han yang ganas, penghuni dari goa Pek-cong tong.
Kim Hong Jie yang turut memikirkan halnya tiga pemuda itu, yang telah pergi kesana karena gara-gara dia juga, merasa tidak enak hati diluar tahunya jago jago tua dalam Seng kee-po itu, dengan mengajak co Goan Liang telah menyusul kesana.
Sebagai penutup ceritanya, ie Ya berkata "Seng Giok cin dan Kim Hong Jie ada satu komplotan, tidak heran kalau Giok Cin hatinya merasa tidak enak mendengar kepergiannya Hong Jie dan iapun telah menyusul kesana.
Karena itu, kedatanganmu untuk menemui Giok cin jadi kecele...
hi hi hi..."
Ho Tiong Jong jadi melongo mendengar keterangannya ie Ya.
"Habis, apa kepergian mereka itu dibiarkan saja."
Tanyanya, ketika tersadar dari melongonya "Sudah tentu tidak-tolol.
Kawanan-kawanan tiga orang gila itu, yang mahir ilmu silatnya sudah pada menyusul pertandingan adu kepandaian diatas luitay dengan sendirinya dihentikan, karena Seng Pocu dan kambratnya pada menyusul juga."
Ho Tiong Jong menjublek.
pikirnya melayang kepada Seng giok cin dan Kim Hong Jie, pikirnya orang tua aneh dari goa Pek cong-tong memang sangat kejam dan telengas kabarnya tapi disamping itu juga disana pun dipelihara banyak kutu, ular, dan lainnya binatang berbisa, kalau tak sampai terbinasa ditangannya kakek aneh Souw Kie Han, mereka disana pasti akan menemui kematiannya karena diantuk oleh binatangbinatang beracun.
Belum kembali ingatannya mendadak ia mendengar Ie Ya berkata.
"Adik Jong aku mengucapkan banyak terima kasih atas pertolonganmu barusan, memang harus aku akui kalau kau tidak datang, entah bagaimana dengan diriku kena dikeroyok oleh mereka itu. Aku masih ada urusan, maka sampai disini saja kita berpisahan-"
Ho Tiong Jong melihat si gadis sehabis-nya mengucapkan kata-katanya dengan segera mengangkat kakinya hendak berlalu cepat-cepat ia mencegah.
"Eh, encie le tunggu dulu"
Si nona merandek dan menoleh pada Ho Tiong Jong.
"Ada apa lagi?"
Tanyanya.
"Boleh kah aku minta pertolongan encie?"
"Dalam hal apa?"
"Aku ada mempunyai sahabat seorang tua, yang belum lama aku tolong keluarkan dari rumah penjara berair, Dia sudah dua puluh tahun disiksa dalam penjara, aku kasihan, ia merindukan melihat matahari lagi dalam usia tuanya."
"Siapa orang tua itu, sampai tahan disekap begitu lama ?"
Ho Tiong Jong lalu menuturkan dengan ringkas halnya co Kang cay dan ie Ya yang mendengarnya telah anggukkan kepalanya, Setelah ia kerutkan alisnya yang lentik halus, seperti ia sedang menimbang-nimbang lalu berkata.
"Aku harus menbiwa ia kemana?"
"Bagaimana kalau ke Yang-co apa tidak kejauhan?"
Tanya Ho Tiong Jong bersenyum.
"Jauh atau dekat, kalau memang mau menolong tidak menjadi soaL"
Jawab si nona sambil melirikan matanya yang jeli dan bersenyum menggiurkan.
"Terima kasih, kau baik sekali enci, Aku sebenarnya tidak ingin membuat berabe encie. kalau saja aku ungkulan untuk menerjang keluar dari tempat ini. Barusan aku ketemu encie, lantas mendapat pikiran untuk menyelamatkan orang tua itu, tidak ada jalan lain yang lebih sempurna dari pada minta pertolongan encie, Dengan dimasukkan dalam kereta encie, orang tua itu akan selamat dari tempat mereka disini, Nah, encie tunggu sebentar, aku akan ambil orang tua itu kemari."
Ie Ya angguk kan kepalanya.
Ho Tiong Jong lantas berlalu, Dengan kepandaiannya mengelilingi tubuh dalam tempo sebentaran saja ia sudah kembali dalam kamar rahasianya, di mana co Kang cay sedang menanti-nantinya .
"Tiong Jong, kau sudah balik? sungguh kesepian ditinggalkan olehmu."
Kata co Kang cay dengan muka berseri seri.
"co Lopek sungguh kebetulan sekali aku ketemu dengan encie ie. Dengan pertolongannya, kau dapat pulang ketempatmu di Yang-co."
Kata Ho Tiong Jong dengan muka berseri-seri girang.
co Kang cay masih belum mengerti duduk -nya, tapi setelah ia diberi keterangan tentang Ie Ya hendak menyelamatkan dirinya sampai ditempatnya di Yang co, orang toa itu kegirangan-Sambil mengurut-urut jenggotnya ia berkata.
"Tiong Jong, aku betul-betul merasa girang mempunyai sahabat seorang muda seperti kau ini. Aku harap-setelah kau disini membereskan kewajibanmu, kau lekas-lekas menyusulku kesana."
Ho Tiong Jong ketawa sambil anggukan kepala.
"co lopek. asal saja aku masih bernyawa pasti aku akan menyusul kau kesana dan...."
"Tiong Jong."
Menyelak si kakek.
"kau jangan berkata begitu di lihat dari air muka-mu, kau ini bukan macam orang yang pendek umur. Rejekimu besar meskipun kau mengalamkan banyak bayangan dalam perjalanan hidupnya akhirnya kau akan menjadi seorang yang ternama. percayalah pada aku si orang tua."
Sebelum orang tua itu berkata habis, Ho Tiong Jong sudah tidak memberi ketika lagi, dengan cepat ia meny amber tubuhnya dan di gendong keluar dari tempat rahasia itu.
sebentar saja mereka sudah berada ditempat, dimana Li lo sat Ie Ya sudah menanti dengan keretanya.
Kusirnya berbadan tegap.
tinggi besar.
umurnya kirakiranya tiga puluh tahun-Roda-roda kereta telah dibungkus, rupanya supaya jangan menerbitkan suara berisik keluar dari tempat itu.
Ie Ya membantu Ho Tiong Jong memasukkan co Kang cay kedalam kereta, setelah selesai Ho Tiong Jong berkata pada Ie Ya.
"Enci ie, kau sudah bermusuhan dengan-.."
"Aku dapat pergi"
Jawab Ie Ya bersenyum manis.
"Aku kuatirkan-..."
Ho Tiong Jong belum lampias bicara sudah dipotong oleh Ie Ya katanya.
"Kau kuatirkan aku mendapat celaka dari pihaknya Seng Pocu? IHm... mereka tidak membuat susah padaku, asal saja aku tidak tertangkap malam ini. Kita akan berhadapan sebagai sahabat meskipun dalam hati masing-masing ada mempunyai rencana sendiri. Kau jangan kuatir, Tiong Jong, kita berpisah sampai disini, tidak lupa aku mengucapkan sekali lagi terima kasih atas bantuanmu barusan-."
Ie Ya tutup bicaranya dengan mengerlingkan matanya yang memikat.
Tiong Jong hatinja berdebar sejenak.
Tapi lekas ia dapat menetapkan ketenangannya kembali "Encie ie, selamat berpisah.
Semoga kau selamat dan dilain ketika dapat berjumpa kembali, tapi..."
Ho Tiong Jong mengelah napas dengan tiba-tiba hingaa ie Ya jadi terperanjat.
"Kau kenapa. Tiong Jong?"
Tanyanya.
"oh. tidak apa apa, selamat tinggal.... harap saja encie dapat mengantar co lopek sampai ditempatnya dengan tidak kurang apa2, Dan co lopek kini kita berpisah."
Ia meneruskan kata-katanya pada co Kang cay "Harap saja kau baik baik dapat menjaga diri.."
Ie Ya sudah membuka mulutnya hendak berkata, akan tetapi badannya si pemuda sudah melesat sejauh beberapa tumbak, akan kemudian menghilang dari pemandangan Ho Tiong Jong tidak menceritakan terus terang bahwa dirinya bakal mati gara-gara racun Tok kay, maka bicaranya sampai, tapi..."
Telah terputus.
Ie Ya memandang bayangan si pemuda sampai hilang, lalu menghela napas, terus naik keretanya dan perintah kusirnya untuk segera menjalankan keretanya.
---ooo0dw0oooo---XIX.
CUBITAN YANG MENIMBULKAN KENANGAN.
KITA ikuti Ho Tiong Jong.
setelah berpisah dengan ie Ya lantas ia lari kegunung Hul-cui-san-dari tempat mana ia memandang ia bisa memandang lembah Liu soa kok dipagi hari.
Dibawahnya sinar mata hari pagi tampak padang pasir yang putih mengasih pemandangan yang indah.
Dalam hatinya merasa gelisah memikirkan Kim Hong Jie yang ada kesana, di goa Pek cong-tong tempatnya si kakek aneh yang terkenal ganas dan kejam.
Tiba-tiba ia melihat dua bayangan orang yang naik kuda dikaki gunung sedang menuju ketempat Seng Eng.
Lantas saja Ho Tiong Jong mengenali satu diantaranya ada Seng Giok cin, Dalam hati berpikir, apakah Giok Cin sudah kembali dari sana?
Mungkin Hong Jie sudah menemukan ajalnya disana, maka Giok Cin sudah kembali dengan tangan kosong?
pikirnya tentu tidak ada gunanya ia lama lama dalam goa kakek aneh itu, karena Kim Hong Jie tokh sudah mati.
Rupa-rupa pikiran saat itu telah mengaduk dalam otaknya si anak muda.
Bayangap nona Kim yang cantik menarik dengan dua sujennya dikedua belah pipinya yang halus botoh memikat hati, membuat Ho Tiong Jong melamun kennasa yang lampau, dimana ia telah menerima banyak budi dari gadis cilik (Hong Jie) itu, selama ia belajar silat dua belas jurus ilmu golok keramat-dari engkong nya.
Tanpa disadari dengan pelahan-lahan ia bertindak.
Belum lama ia berjalan, ia mendengar disebelah depan ada orang bicara, cepat-cepat ia menghampiri lalu menyelingkar di balik pohon ketika ia sudah datang dekat kepada orang orang yang bicara tadi, yang bicara tadi, yang ternyata bukan lain daripada Hui Siauw ceng yang mukanya kasar dan kakaknya si Hui Sang Kang bersama-sama dengan nona Lauw Hong In-Pada saat itu tampak nona Lauw air mukanya muram, yang dikesalkan, apa mungkin ia memikirkan perginya Kim Hong Jie ke-tempatnya si kakek aneh, yang belum diketahui bagaimana nasibnya si nona disana?
Terdengar Hui Song Kang berkata.
"Itu putrinya Seng Pocu, Seng Giok cin semalaman suntuk gentayangan tidak berani meneruskan perjalanannya, betulbetul dia bikin kita celaka"
Hui Siauw ceng mengerutkat alisnya "Ya, memang ditempat ini ada sangat berbahaya"
Katanya.
"pasir berjalan (Liu soa) yang harus dilewati sangat angker setiap orang yang berjalan diatas pasti menemukan bahaya yang tidak diingini."
"semua-mua ada gara garanya co Goan Tiong,"
Nyeletuk Lauw Hong in.
"orang she co itu telah membunuh musuh dengan meminjam tangannya lain orang, Betul-betul terkutuk perbuatannya itu..."
Hui Siauw ceng tidak berkata apa-apa. Matanya tampak mengawasi disekitarnya. Tiba-tiba ia berkata.
"Seng Kang, coba keluarkan tambang panjang yang digemblok di punggungmu aku hendak mencoba-coba pasir berjalan ini."
Hui Seng Kang terbelalak matanya mengawasi ayahnya.
"Ayah ..."
Katanya gugup.
"Kau kenapa,"
Tanya sang ayah.
"Jangan kita coba-coba menempuh bahaya sendiri Ayah, coba lihat itu gerombolan Seng Pocu, semuanya juga ada membawa tambang, akan tetapi mereka masih belum berani turun tangan"
"Terserah sama mereka,"
Memotong sang ayah dengan mata melotot.
"Mereka mana dapat menandingi ayahmu, Lekas keluarkan jangan banyak rewel ?"
Hong Tiong Jong kini tahu kalau Hui Siauw ceng itu kiranya ada cungcu dari keluarga Hui, pantasan ia ada demikian sombong dan angkuh, pikirnya Hui Seng Kang melihat ayahnya berkeras, ia tidak dapat membantah, dangan apa boleh buat menurunkan tambangnya kira kira tiga puluh tumbak.
Nona Lauw juga menurunkan tambangnya, diberikan pada Hui Seng Kang untuk disambung menjadi lebih panjang, kemudian diberikan pada Hui Siauw ceng.
Lalu diatur gulungan tambang supaya beres untuk dibawa terbang oleh sijago tua.
Tampak Hui Siauw ceng, sambil memegangi ujung lambang yang dibelitkan pada pergelangannya, telah mengerahkan tenaga dalamnya, ia menarik napas dalam-dalam seketika lamanya, tiba-tiba ia enjot tubuhnya melesat seperti-juga anak panah cepatnya meluncur kira-kira dua puluh tumbak jauhnya.
"Adik In"
Ia berkata "sukalah kau bantu menolong ayahku jangan sampai dia mengalamkan kecelakaan-.."
Belum habis bicaranya, hatinya kaget bukan main ketika mendengar ayahnya berteriak.
"Celaka..."
Hai Suuw ceng tampak bergulat dengan pasir, yang hendak menarik masuk ia kedalam.
Tampak ia sudah amblas sehingga pinggangnya.
Bukan main gelisahnya Hui Seng Kang, sambil berteriak supaya nona Lauw bantu turun tangan, ia memegangi kencang-kencang tambang dan coba menarik ayahnya keluar dari dalam pasir yang sudah menelan ia sehingga pinggang.
Nona Lauw juga kelihatan kaget, Ia membantu sungguh sungguh pada Hui Seng Kang dan sebentar lagi tampak tambang tercetar.
Kiranya Hui Siauw ceng dengan menggunakan ilmu mengentengi tubuhnya dibantu dengan lambang, ia beruntung dapat lolos dari cengkeraman malaikat elmaut.
Hui Seng Kang menarik napas lega melihat ayahnya kini sudah berdiri ditempat yang aman-Rupanya diatas pasir berjalan itu ada bagian-bagian yang berbahaya dan yang tidak, yang berbahaya ialah yang telah dipasangi alat rahasia oleh si kakek aneh souw Kie Han yang dikendalikan dari dalam goanya, Kini Hui Siauw ceng berdiri dibagian yang tidak berbahaya.
Tidak lama ia sudah enjot tubuhnya dan balik lagi berkumpul dengan anaknya dan nona Lauw.
Dengan air muka masih pucat Hui Siauw ceng berkata.
"Aiyaa... betul-betul berbahaya, Baiknya aku yang mencoba, sehingga dapat menghindarkan diri dari cengkramannya pasir ajaib itu. Kita sekarang sudah tahu berbahayanya, maka tidak usah kita tergesah-gesah menyeberangi pasir berjalan ini."
"Tapi, Hui sickhu, bagaimana baiknya dengan toako Khoe cong yang sudah dua hari lamanya disana?"
Nyeletuk nona Lauw.
"Adik Lauw."
Hui Seng Kang menalangi ayahnya menjawab.
"apa kau tidak lihat bagaimana berbahayanya ayah barusan? Maka kita tidak boleh tergesa-gesa harus kita berunding dulu bagaimana baiknya untuk menolong mereka yang ada disana."
Lauw Hong In bungkam, tapi diam-diam hatinya merasa kurang puas.
"Ya, kau tak perlu gelisah."
Kata Hui Siauw ceng.
"Giok cin yang cerdik tidak berani sembarangan menempuh bahaya, Yang perlu sekarang, sebaiknya kita kesampingkan dahulu kepentingan sendiri harus kita bersatu dalam tujuan hendak menolonGi orang. Dengan demikian barulah bisa diharap kita dapat mengatasi kesulitan dan usaha kita dapat berjalan dengan aman-"
Kemudian, mereka bertiga sambil pasang omong, telah meninggalkan tempat itu.
Ho Tiong Jong yang menyaksikan Hui Siauw ceng punyai ilmu mengentengi tubuh demikian mahir, sehingga dapat meloloskan diri dari terkamannya pasir ajaib diam-diam mengagumi pada orang tua itu.
Kini melihat mereka sudah meningalkan tempat itu diamdiam mereka berpikir, tapi tidak tahu siapa-siapa diantaranya pentolan-pentolan dari Perserikatan Benteng perkampungan itu yang berani menempuh bahaya terlebih dahulu?
"Ya, sebaiknya aku mencari tempat sembunyi, supaya mereka tidak mengetahui aku ada disini."
Ia lalu meneliti disekitarnya tempat itu. Tidak jauh dari tempat ia berdiri kelihatan ada satu batu besar ia menghampiri dan ternyata dibawahnya ada sebuah goa.
"Aaaa... ini ada tempat yang aman-"
Pikirnya, maka ia sudah lantas masuk kedalamnya dan disitu ia duduk bersemedi, ia sudah beberapa malam tidak tidur, tidak heran kalau ia sudah kepulasan dan tidur nyenyak.
Tahu-tahu, ketika sinar matahari merah menyoroti tempat itu, membuat ia kaget dan cepat cepat lompat bangun dan keluar dari goa, gunakan ilmu lari cepatnya masuk kedalam rimba yang banyak pepohonannya.
Ia putar otaknya untuk mencari jalan bagaimana ia bisa menyeberangi lembah pasir berjalan itu dengan selamat?
Mendadak ia mendapat suatu cara, Lekas ia gunakan goloknya menebang dua cabang pohon yang kokoh, ia bikin dua batang cabang itu macam tongkat ia gunakan sepasang tongkat itu sebagai gantinya pengunjuk jalan untuk mencari bagian-bagian jalanan yang tidak berbahaya.
Perlahan-lahan ia sudah berjalan diatas pasir ternyata ia tidak mendapat halangan apa apa, Hatinya ia semakin besar, maka ia percepat jalannya dan tidak lama kemudian benar saja ia sudah berada disebrang dibawahnya puncak gunuug Si-ban-leng.
Diam-diam ia bersenyum ewa mengingat percobaan yang dilakukan oleh Hui Siauw ceng yang tidak berhasil.
Pikirnya, ia ada lebih pandai menggunakan akal dan sudah bisa sampai dengan selamat ditempat tujuan-Tapi Ho Tiong Jong tidak tahu, bahwa ia bisa selamat menyebrangi lembah pasir berjalan karena alat rahasianya tidak dikerjakan oleh Souw Kie Han-Kakek aneh itu pada saat Ho Tiong Jong menyebrangi padang pasir yang angker itu, sedang nyenyaknya tidur, karena terus-terusan dua hari dua malam tidak tidur karena mendapat gangguan dari orang-orangnya Seng Kee Po.
coba kalau sikakek dalam sadar, tentu tidak begitu mudah Ho Tiong Jong dapat melalui padang pasir berjalan itu, kalau tidak sampai ia mengalami celaka karena ditelan oleh pasir seperti kejadian dengan Khoe cong dan kawan-kawannya.
Ho Tiong Jong setelah berdiri sejenak.
mengawasi padang pasir yang ia telah lewati barusan, lantas membuang sepasang tongkat kayunya.
Anak muda itu bukannya takut mati ditelan pasir, ia makanya ingin selamat sampai disebrang, karena hatinya ingin menolongi Kim Hong Jie.
Untuknya, kematian tidak memjadi soal, karena ia tahu ia tokh bakalan mati karena racunnya Tokskay.
ia ingin sebelumnya mati ia dapat menolong dahulu orang yang ia hargakan tinggi kebaikannya.
Dilain saat Ho Tiong Jong sudah naik ke puncak gunung, ia lihat banyak sekali terdapat goa-goa, entah betapa banyaknya ia tidak dapat menghitungnya.
BELUM berapa tombak ia jalan, tiba-tiba ia berhenti disebuah batu besar.
Ketika matanya memeriksa keadaan disitu, ia melihat dibatu besar itu ternyata ada sebuah goa.
orang tidak mudah melihatnya karena kealingan oleh batu besar tadi, Selainnya ini, Ho Tiong Jong dapatkan disana-sini diatas batu-batu ada liurnya dari binatang berbisa yang sudah menjadi kering karena kesorotan matahari.
Hatinya berdebar mengingat kemungkinan Kim Hong Jie sudah binasa menjadi mangsanya binatang berbisa.
Ia lalu berjalan masuk kedalam goa, Ternyata dalam goa itu amat bersih, diatas jalannya hanya kedapatan pasir putih, tidak kedapatan sebutir batupun, Mulut goa besar dan tinggi, dinding sekelilingnya ada dari batu kumala putih, begitupun lantainya hingga tampaknya terang dan resik.
Dilihat keadaannya goa ini seperti juga tempatnya orang yang mengasingkan diri, memang membuat orang merasa betah menempati goa ini, keadaannya tentram dan sunyi, jauh sekali bedanya kalau dibandingkan dengan goa yang barusan Ho Tiong Jong masuki dan bersemadi kepulasan, dalam goa yang terdahulu itu selain tempatnya kecil sempit, juga banyak kutu-kutu dan lain-lain binatang berbisa.
Selagi ia terpesona menyaksikan keadaan dalam goa itu, tiba-tiba hidungnya mengendus bau harum.
Hatinya heran, karena ditempat itu dimana ada tanaman bunga karena tidak ada sebatang rumputpun yang hidup disitu.
Terdorong oleh perasaan kepingin tahu.Ho Tiong Jong telah memasuki goa itu lebih dalam lagi.
Berjalan tidak lama ia menemui sebuah kamar batu yang terang, Keadaannya kosong tidak ada perabotan apa-apa, ia hanya melihat ada satu pot bunga besar yang digantung setinggi lima kaki pada dinding kamar.
Ketika diperiksa dalampot itu ada ditanami bunga degan pasir sebagai tanahnya, Tampak bunga itu hidup subur dan menyiarkan bau harum sebagaimana yang dapat diendus olehnya tadi Pot itu berbentuk patkwa delapan persegi makin didekati harumnya bunga makin keras hingga Ho Tiong Jong tidak tahan dan keluar dari kamar itu.
Tidak jauh dari kamar tersebut ada kamar pula, Kamarkamar batu itu dibangun dengan indahnya dan seperti ada mengandung rahasia.
Ho Tiong Jong penasaran lalu keluar goa lagi, dimulut goa ada pintu bikinan alam yang kokoh kuat, Depan mulut goa tanahnya berpasir halus dan empuk ketika ia coba coba berjalan diatasnya, pikirannya didalam goa itu pasti ada penghuninya yang tinggi ilmunya.
Apakah ia ada kakek Souw Kie Han yang dimaksudnya.
Dengan menemui kakek itu, pikirnya, ia akan dapat tahu perihal keadaannya Kim Hong Jie apakah si nona masih dalam selamat atau sudah binasa diantuk binatang beracun yang banyak berkeliaran disitu?
Memikir kesitu, lantas Ho Tiong Jong putar lagi badannya memasuki pula goa tadi, Dengan goloknya ia ketok ketok disekitar dinding, seolah-olah ia ada mencari alat rahasianya.
Tapi ia tidak mendapatkan apa apa selamanya suara membalik dari ketokan goloknya itu berbunyi mengaung.
Ia masih panasaran, lalu masuk kedalam kamar tadi yang ada pot bunganya.
Setelah memeriksa disekitar kamar tidak ada apa apa yang mencurigakan tangannya iseng sadah mendorong dorong pot berbentuk patkwa itu kekiri, sedikitpun tidak bergerak akan tetapi ketika didorong kekanan mendadak ia mendengar suara berkelelek danpot itu menggeser tiga dim.
"Aaaa.... ini tentu kuncinya untuk masuk kekamar rahasia"
Pikirnya.
Ia lalu yang menggoyang goyangkan pot itu, segera terdengar seperti suara terbukanya pintu.
Benar saja Ho Tiong Jong lihat pada dinding kamar batu itu ada terbuka sebuah pintu.
Ho Tiong Jong menjadi girang lalu ia memasuki pintu tadi, kiranya disitu juga ada sebuah kamar.
Tapi kamar disitu beda dari yang sudah sudah karena terlihatlah diperlengkapi dengan perabotan yang indah-indah seperti meja kursi dan tempat tidur.
Batu kumala putih yang melapis dinding dan lantai tampak berkilat terang, hingga keadaan disini ada lebih terang dari kamar lainnya.
Diatas pembaring Ho Tiong Jong lihat ada satu kakek kurus kering sedang bersemedi.
cepat-cepat Ho Tiong Jong mendekati dan menjura memberi hormat, katanya.
"Harap cianpwee suka memaafkan Boan-pwee yang sudah lancang masuk kedalam tempat istirahat cianpwee disini karena tidak mengetahui kalau dalam kamar ini ada penghuninya."
Ho Tiong Jong beberapa saat menanti jawaban, tapi tidak juga ia mendengar suara si kakek yang bersender didinding batu.
"Harap cianpwee suka memberi maaf, supaya boanpwee meninggalkan ruangan ini dengan lega."
Demikian Ho Tiong Jong berkata pula.
Tapi lama ditunggu, jaga tidak mendengar orang tua itu membawa suara.
Diam-diam anak muda itu mendongkol dalam hatinya, kenapa pikirnya sombong benar orang tua itu, ia sudah merendah sampai begitu rupa, akan tetapi dianggap sepi saja seolah-olah suaranya itu tak dapat didengar.
Kini Ho Tiong Jong membuka matanya lebih lebar mengawasi kepada orang tua itu, hatinya tiba-tiba bercekat, Dengan pelahan-lahan ia menghampiri lebih dekat dan ketika diteliti, kiranya orang tua itu sudah menjadi mayat, pantasan tidak menjawab omongannya tadi.
Entah sudah beberapa lama kakek ini sudah menjadi mayat, keadaannya masih tetap seperti orang hidup yang sedang bersemedi Tangannya tampak sedang memegangi patung kecil ditempelkan pada dadanya, agaknya seperti yang sangat menyayangi benda itu.
Ho Tiong Jong iseng tangannya lalu mengambil patung itu dan dilihatnya.
Astaga...
patung itu bagus sekali, di buat dari bahan batu kumala putih.
Patung itu merupakan bentuk badan wanita yang sempurna, kecantikannya yang luar biasa, hingga Ho Tiong Jong terpesona dan tangannya menggetar memegangnya.
Saat itu lantas berbayang air muka cantik jelita dari dua nona didepan matanya, Mereka itu bukan lain dari Seng Giok Cin dan Kim Hong Jie, Ho Tiong Jong seperti juga sedang membanding-bandingkan keelokannya dua nona itu dengan patung yang ada ditangannya.
Lama dia dalam keadaan demikian, tiba tiba terdengar ia menghela napas dan berkata pada diri nya sendiri.
"Ya masing-masing ada membawa kecantikkannya sendiri, siapa lebih unggul sukar ditentukan, Giok Cin dan Hong Jie kelihatannya ada menaruh hati padaku, tapi... ah sayang aku seorang miskin, mana pantas aku menjadi pasangannya."
Ho Tiong Jong jadi ngelamun.
Dewi asmara agaknya mulai mengadu biru dalam hatinya yang masih kosong.
Tapi sang Dewi tak berhasil mendobrak hatinya, karena adanya pikiran rendah diri, bahwa ia bukan pasangannya dari nona-nona tingkatan atas itu.
Dekat pembaringan itu terdapat satu meja kecil, diatasnya Ho Tiong Jong lihat ada batu kumala yang warnanya kemerahmerahan, hatinya tertarik dan lalu memegangnya, tiba tiba ia rasakan hawa hangat nyelusup masuk keseluruh badannya keluar dari batu tadi.
Hatinya sangat heran, ia tidak tahu itulah ada batu kumala api(Hwee-giok) yang menjadi benda buruan dari tiga pemuda Khoe-cong, Kong Soe Tek dan in Kie seng datang ketempatnya si kakek Souw Kie IHan yalah benda yang akan dihadiahkan kepada Kim Hong Jie.
Ketarik oleh keajaibannya batu kumala api itu, tanpa merasa, ia sudah bakal main ditelapakan tangannya, kemudian dimasukkan kedalam sakunya.
Kemudian ia memandang lagi patung wanita cantik tadi, ketika diteliti kiranya pada patung itu ada ukiran tulisan yang berbunyi.
"cay in sudah pulang kealam baka, tak dapat hidup kembali. Hatiku menjadi kosong oleh karenanya, dunia yang luas bagaikan menjadi sempit. Tidak ada kebahagiaan lagi dalam dunia, maka aku menyusul dia ketempat baka. catatan CIE KENG. Ho Tiong Jong berdiri bengong setelah membaca ukiran tulisan tersebut. Pikirnya, orang tua itu bernama cie Keng yang membuat patung wanita cantik bernama cay in. ia membuat itu sebagai kenangan akan istrinya yang sangat dicintainya itu yang mendahului ia pulang kealam baka. Kebahagiaan hidup karenanya menjadi musnah dan hidupnya cie Keng selanjutnya menjadi tidak ada artinya, Akhirnya ia mengambil putusan untuk menyusul sang istri ketempat baka. Kesian.
"Ya cie lopek ..."
Terdengar Ho Tiong Jong berkata sendirian.
"kau masih beruntung boleh dikata, karena kau sudah mengalami masa kebahagiaan hidup dan mengenangkan orang yang dicintai, tapi seperti aku... aku bernasib buruk. Hanya bahaya kematian saja yang dihadapi olehku sepanjang hidupku. Terlunta-lunta hidupku, dimana dan siapa orang tuaku, aku juga tidak tahu."
Setelah berkata kata demikian tampak wajahnya muram ia sangat berduka.
Dengan sangat hati-hati ia telah taruh-lagi patung batu kumala tadi ditempat asalnya itulah benda miliknya si kakek, tak dapat dibawa dari situ.
Kemudian setelah mereda dari dukanya, Ho Tiong Jong keluar dari goa itu setelah terlebih dahulu menutup kembali kamar batu rahasia itu sebagaimana asalnya.
Ia berjalan dengan tundukan kepala.
Belum lama kakinya bertindak.
tiba-tiba ia mendengar suara seorang wanita memanggil namanya, ia menjadi celingukan mencari dari mana datangnya suara itu.
"Tiong Jong"
Baca Juga: Pedang Ular Merah 5
Baca Juga: Gelang Kemala 6