Eps 4 Legenda Pendekar Ulat Sutera - Huang Ying
Baca online Legenda Pendekar Ulat Sutera - Huang Ying
Cersil Legenda Pendekar Ulat Sutera - Huang Ying.
"Baginda hari ini sangat gembira, aku belum pernah melihat baginda seperti ini!"
Thio Gong bertanya dengan hati-hati.
"Mana mungkin aku tidak senang?"
Jawab kaisar.
"Hamba tidak mengerti!"
"Semua akan terjadi besok. Aku masih belum yakin apakah akan berubah, tapi lebih baik bisa jelas! Sekarang aku berada di sini tapi hatiku tidak!"
Kata kaisar.
"Hamba bisa melihatnya. Darimana baginda tahu akan terjadi perubahan esok hari?"
"Beberapa hari sebelumnya, orang yang di kirim Liu Kun untuk mengawasiku tidak mencapai 30 orang, karena dia sangat percaya diri dan sama sekali tidak menaruh aku di hatinya. Tapi malam ini tiba-tiba dia menambah penjaga 10 kali lipat, berarti rencana yang dia susun tidak berjalan dengan lancar di luar dan pasti ada perubahan besar, maka harus memperketat penjagaan!"
"Apakah An-lek-hou sudah bertindak?"
"Tidak diragukan lagi!"
"Baginda bisa menghitung hal ini! Baginda pasti akan selamat dan tidak akan terjadi sesuatu!"
Thio Gong berlutut.
Kaisar hanya bisa tertawa.
Perang akhirnya meletus di pagi hari.
Perang sangat keras, apalagi ini adalah perang di dalam gang.
Orang yang setia kepada Liu Kun sangat banyak, maka Liu Kun berani bertarung.
Tapi karena kebenaran tidak berpihak kepadanya,Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 87 maka walau pun orang yang mendukung dia lebih banyak dari Su Yan-hong, tapi mereka tidak bisa mengeluarkan semua kemampuannya.
Pada waktu itu, prajurit Ling-ong dipimpin oleh Siau Sam Kongcu dan Su-ki-sat-jiu keluar dari dalam kota dan bergabung dengan pasukan di luar.
Hal ini membuat Liu Kun kalang kabut.
Dari dulu Ling-ong selalu mengatakan dia berada di pihak Liu Kun, tapi sekarang tiba-tiba dia bertindak sebaliknya.
Itu adalah pukulan yang berat bagi Liu Kun.
Sebentar-sebentar ada orang yang datang melapor, tapi Liu Kun selalu tidak mempedulikan.
Begitu mendapat kabar bahwa Ling-ong membantu Su Yan-hong, Liu Kun marah besar.
"Baik! Semua sudah seperti ini, aku terpaksa memakai cara terakhir.. 105-105-105 Liu Kun membawa Hongpo bersaudara masuk ke kamar kaisar. Kaisar sudah tahu dan merasa senang, tapi dia menahan agar perasaannya tidak terlihat. Liu Kun langsung melemparkan satu stel baju biasa dan membentak.
"Cepat ganti baju!"
Kaisar terpaku. Dia melemparkan baju.
"Mengapa aku harus memakai baju seperti ini?"
"Karena aku menyuruhmu memakainya!"
"Berani sekali kau!"
"Hongpo bersaudara, bantu kaisar ganti baju!"
Di tangan mereka berdua, kaisar tidak bisa menolak.
Liu Kun dengan cepat menculik kaisar dan pergi melalui jalan rahasia.
Waktu mereka datang ke kamar kaisar, Pak-to mengetahuinya.
Tapi mereka tidak berpesan dulu saat pergi, maka Pak-to mengira mereka masih berada di kamar.
Begitu Su Yan-hong dan lain-lainLegenda Pendekar Ulat Sutra -2 88 hendak masuk ke kamar kaisar, Pak-to masih melawan.
Walaupun dia mempunyai ilmu silat yang tinggi, tapi Lam-touw juga tidak kalah.
Su Yan-hong dan lain-lain mengira kaisar masih berada di kamar.
Setelah membereskan Pak-to dan lain-lain, mereka baru mengetahui kaisar sudah dipaksa Liu Kun memakai baju rakyat biasa dan dibawa pergi.
Mereka segera berpencar untuk mencari.
Lu Tan dan Siau Cu mencari dalam satu kelompok.
Mereka berdualah yang mendapat kabar bahwa Liu Kun sudah naik kereta pergi ke arah barat.
Mereka terus mengejar ke arah dan barat dan terus bertanya.
Setelah keluar kota sejauh 10 li, terlihat dua ekor kuda ditinggalkan di sisi jalan.
Kuda sudah mati karena kelelahan menarik kereta.
Mereka mengejar lagi.
Sampai di tepi sungai, akhirnya mereka melihat Hongpo bersaudara sedang melindungi Liu Kun.
Kaisar berada di dalam penguasaan mereka.
Mereka sedang siap-siap naik ke atas perahu kecil.
Kalau bukan karena beberapa kotak perhiasa-an, Liu Kun sudah naik ke atas perahu dan pergi jauh mengikuti arus air.
Beberapa kotak perhiasaan itu membuat Hong po bersaudara harus bolak-balik, sehingga keberang-katan mereka tertunda.
Siau Cu sangat pintar, dia masuk ke dalam air dan melubangi dasar perahu agar Liu Kun tidak bisa pergi.
Hongpo bersaudara tidak sempat menghadang.
Sampai sekarang mereka siap melawan.
Mereka berharap dapat membunuh Siau Cu dan Lu Tan, baru kemudian mencari jalan keluar.
Melihat Liu Kun, kemarahan Lu Tan terbakar.
Dia ingin segera membunuh Liu Kun, maka dengan sekuat tenaga dia menyerang.
Siau Cu tidak seperti Lu Tan, sifatnya memang baik dan licin, dia selalu mencari kesempatan baik.
Bila Hongpo bersaudara hanya menghadapi Lu Tan satu lawan satu, sepertinya tidak menjadi masalah bagi mereka.
Tapi ditambahLegenda Pendekar Ulat Sutra -2 89 dengan seorang Siau Cu yang memukul ke sana kemari, membuat mereka kalang kabut.
Bukan hal yang mudah bagi Siau Cu dan Lu Tan untuk membunuh Hongpo bersaudara.
Tapi jika sudah merobohkan salah satu dari Hongpo bersaudara, baru kemudian bergabung menyerang yang satunya lagi, itu akan lebih ringan bagi mereka.
Liu Kun yang melihat mereka terlihat semakin takut, tapi dia tetap tidak mau menyerah.
Sebuah pisau belati di tangannya dia taruh di leher kaisar, dia membentak dengan ancaman.
"Siapa yang berani bergerak, aku akan bunuh kaisar!"
Siau Cu dan Lu Tan terpaku. Liu Kun melihat Lu Tan, dia membentak.
"Ayahmu berkali-kali melawanku. Kau putranya juga sama seperti dia. Apakah kau ingin mati?"
"Kau benar-benar tidak tahu diri! Kematian mu sudah di depan mata, masih begitu tidak tahu diri!"
"Kaisar berada di tanganku. Jika dia terluka, apakah kalian mau bertanggung jawab?"
Liu Kun marah. Lu Tan marah, dia ingin menyerang, tapi baru mengangkat kakinya, dia menurunkannya kembali. Siau Cu tidak punya cara lain lagi, tapi mulut tetap harus berbicara.
"Baik, aku mau lihat kau bisa bertahan berapa lama. Kita berdua bisa datang kemari, orang lain juga akan bisa kemari. Tapi selain Hongpo bersaudara, kau sudah tidak punya anak buah lagi."
Lu Tan menyambung.
"In Thian-houw dan Tiang-seng sudah mati oleh pedang Siau Sam Kongcu! Apakah orang-orang Pek-lian-kau bisa datang menyelamatkanmu?"
Liu Kun coba-coba bertanya.
"Bagaimana dengan Thian-te-siang-kun?"Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 90
"Mereka kalah oleh Tiong Toa-sianseng dan An-lek-hou, dan hanya bisa menyelamatkan nyawa sendiri. Apalagi 5 utusan lampion, mana berani mereka banyak bicara!"
Kata Siau Cu sambil tertawa.
Walaupun Liu Kun sudah memperkirakan keadaan seperti itu, tapi setelah mendengar sendiri kenyataannya dia benar-benar putus asa.
Dalam ketegangan, keringat dingin terus menetes.
"Lebih baik kau menyerahkan diri! Mungkin kalau kaisar senang, dia akan menghapus kesalahanmu yang besar ini!"
Liu Kun melihat kaisar tapi wajah kaisar tanpa ekspresi, dia seperti tidak mendengar.
"Tapi walaupun hukuman mati bisa dibebaskan, hukuman hidup tetap harus dilaksanakan!"
Kata Siau Cu.
"Diam!"
Liu Kun membentak.
"Kalau kau berkata omong kosong lagi.. Siau Cu menggelengkan kepala.
"Coba lihat dirimu, keringat memenuhi kepala, kaki dan tanganmu bergetar, sampai pisau belati juga terlihat seperti akan lepas!"
Siau Cu melempar-lempar pisau, gerakannya begitu ringan dan lincah.
"Lemparkan pisaumu!"
Bentak Liu Kun.
"Apakah aku harus melemparkan pisau ini?"
Tanya Siau Cu tertawa.
"Cepat!"
Liu Kun mengencangkan dua tangan. Kaisar mengeluarkan suara. Dia juga tergopoh-gopoh. Siau Cu segera melemparkan pisau ke kejauhan. Dengan dingin Liu Kun berkata.
"Hitung-hitung kau tahu diri!"
Dia lalu membentak pada Lu Tan.
"Pedangmu!"
Lu Tan melihat Siau Cu.
Dia juga melemparkan pedang ke tempat jauh.
Liu Kun merasa lega.
Dengan tangan yang memegangLegenda Pendekar Ulat Sutra -2 91 pisau belati dia mem bersihkan keringat di dahi.
Dalam hatinya berpikir, Lu Tan dan Siau Cu tidak bersenjata, maka mereka tidak akan berbahaya dan tidak bisa meng-ancam dia.
Pada waktu itu sebuah senjata terbang keluar dari lengan baju Siau Cu dan dengan cepat senjata memukul pergelangan tangan Liu Kun.
Terdengar suara tulang remuk.
Lengan kanan Liu Kun memang tidak patah, tapi pisau belati di tangannya terlepas dan terbang jauh.
Lu Tan dan Siau Cu bekerja sama dengan baik.
Lu Tan segera meloncat ke depan Liu Kun, menceng-kram pergelangan kirinya dan menarik Liu Kun jauh-jauh dari kaisar.
Kemudian dia juga memukul dan menendang Liu Kun.
Siau Cu melihatnya, segera menarik Lu Tan.
"Jika kau memukul dia sampai mati, itu justru akan memudahkan dia!"
Akhirnya Lu Tan bisa tenang.
Melihat Liu Kun roboh, kaki yang baru diangkat Lu Tan di-turun-kan lagi.
106-106-106 Terdengar suara kuda berlari.
Kaisar ketakutan dan bersembunyi di belakang Siau Cu dan Lu Tan.
Mata Siau Cu lebih tajam, dia segera berteriak senang.
"Hou-ya datang!" 107-107-107 Selain Su Yan-hong, Tiong Toa-sianseng dan Siau Sam Kongcu, masih ada Ling-ong, Su-ki-sat-jiu dan pasukan-pasukannya. Terlihat senyum di wajah kaisar, dia melihat kepada Liu Kun.
"Kau juga bisa seperti ini!"
Tiba-tiba Liu Kun merangkak bangun. Sambil menangis dan menyembah.
"Hamba pantas mati! Harap baginda me maafkan hamba!"
"Kau juga tahu pantas mati!"
Kaisar tertawa.Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 92
"Hamba pantas mati. Semua ini disuruh Ling-ong. Hamba hanya mengikuti perintah dia!"
Tiba-tiba Liu Kun berteriak.
"Oh?"
Kaisar melihat Ling-ong.
"Maafkan kami baginda, kami telat datang!"
Ling-ong berlutut.
"kekuatan Liu Kun sangat kuat di ibukota. Beberapa kali aku dicegat olehnya ketika mau membawa pasukan datang ke utara. Demi kelan caran datang ke ibukota untuk menemui baginda, terpaksa aku pura-pura mendekati dia..."
"Baik, aku mengerti!"
Kaisar tertawa kepada Liu Kun.
"sekarang sudah telat untuk menggunakan cara licik itu!"
Liu Kun melihat Ling-ong dengan sorot mata membenci.
Ling-ong hanya tersenyum.
Kaisar juga tersenyum, tapi tidak ada yang melihat sebelum tertawa, tampak sedikit keraguan di matanya.
108-108-108 Kekalahan Liu Kun membuat pejabat-pejabat terus memberikan surat kepada kaisar, menyatakan 30 kesalahan Liu Kun.
Kaisar tidak mempunyai waktu untuk memeriksa siapa yang salah dan siapa yang benar.
Dia menyuruh pengawalnya untuk menyerahkan Liu Kun ke pengadilan istana.
Perkara digelar pada siang hari.
Hakim adalah pejabat tinggi.
Liu Kun tertawa.
"Sesuai perkiraanku!"
Liu Kun tahu dia tidak akan bisa lolos dari kematian, maka semua masalah dipaparkannya. Semua orang yang mendengar perkataannya merasa heran dan bingung.
"Ternyata adalah kalian!"
Liu Kun melihat mereka.
"kalian bisa mencapai jabatan yang begitu tinggi, siapa yang mendukung kalian?"
Semua orang terpaku.
"Baiklah, aku berada di sini, sekarang siapa yang menghakimi aku? Kau atau kau?"
Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 93 Semua orang yang ditunjuknya menundukkan kepala. Liu Kun bertambah galak dan tertawa.
"Semua pejabat di kerajaan diangkat olehku, siapa yang berhak menghakimi aku?"
"Aku yang bertanya kepadamu!"
Su Yan-hong masuk. Kali ini Liu Kun yang bingung. Tanya Su Yan-hong.
"Aku tidak ada hubungan apa-apa denganmu, aku punya hak untuk menghakimimu!"
Liu Kun diam. Kata Su Yan-hong lagi.
"Sebenarnya tidak perlu banyak bertanya!"
Dia membuka sebuah kain.
"Lihatlah apa maksud baginda."
Sorot mata Liu Kun melihat kepada kain itu.
Wajahnya pucat, dia terjatuh pingsan.
Tuduhan kesalahan dia ada 30.
Jika setiap kesalahan harus ditanyakan, maka menghabiskan banyak waktu.
Kaisar tidak sabar, dia hanya menulis enam buah huruf dan memberikannya kepada Su Yan-hong.
"Bo-hu-couw, Leng-ce-ci!" (Tidak ada ampun, segera hukum mati) Tidak perlu banyak bicara dan perintah hukuman sudah diturunkan. Maka ddak perlu diadili. Setelah membaca kain perintah yang diturunkan, Liu Kun benar-benar gemetar. 109-109-109 Ada beberapa jenis hukuman mati, dari yang ringan sampai dengan yang berat. Yang paling ringan adalah dihukum gantung di dalam penjara. Yang ke dua adalah hukuman penggal kepala. Ketiga adalah Siau-souw. Hukuman penggal kepala dan Siau-souw sama-sama dilakukan dengan cara me-menggal kepala. Perbedaannya pada hukuman penggal kepala, keluarga diijinkan untuk mengambil mayatnya, kemudian kepala akan dijahit kembali oleh tukang kulit. Jadi boleh dikatakan mayatnya masih utuh.Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 94 Yang paling berat adalah Leng-ce-ci. Biasanya orang-orang menyebutnya dicincang atau dipotong. Pada hukuman Ling-ce-ci ini, daging pada tubuh akan dipotong selembar demi selembar. Bila algojonya disuap sebelum menjalankan eksekusi, nadi penting akan ditusuk dulu, maka yang dikelupas sudah menjadi mayat dan tidak akan merasa sakit. Liu Kun melakukan pelanggaran pidana yang berat. Algojo di bagian hukum tidak berani disuap juga tidak berani macam-macam. Apalagi waktu pelaksanaan Ling-ce-ci, semua orang pasti keluar untuk melihat. Disaksikan oleh begitu banyak pasang mata, mana mungkin algojo berani berbuat macam-macam. Liu Kun suka menangis. Sekarang dia ketakutan dan sama sekali tidak berani menangis lagi. Setengah ditarik setengah dipapah, dia diantar ke lapangan eksekusi. Rambutnya diikat di sebuah ring yang dipasang pada sebuah tiang. Algojo membuka sebuah jala yang terbuat dari tali. Dia menjala tubuh Liu Kun di mana tubuh atas dibuka bersama tiang. Tali ditarik dengan kencang, maka daging Liu Kun menekan keluar dari lubang-lubang jala. Waktu eksekusi menurut aturan adalah jam 1, tidak boleh lebih awal juga tidak boleh lambat. Tidak boleh lebih awal karena surat kaisar yang membatalkan hukuman bisa datang tiba-tiba. Kalau dipenggal lebih awal, orang mati tidak bisa hidup kembali. Bila terjadi begitu, pejabat yang bertanggung jawab melaksanakan tugas eksekusi akan dihukum berat. Maka saat petasan siang berbunyi, eksekusi dimulai. Selain Liu Kun, keluarganya yang berjumlah 15 orang semuanya harus dipenggal. Semua yang dieksekusi di lapangan harus berlutut menghadap ke utara. Ada yang masih berharap ada orang naik kuda datang mengantarkan surat kaisar untuk membebaskan hukuman mati, dan hukuman diganti dengan dikirim ke perbatasan menjadi prajurit penjaga perbatasan.Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 95 Hal seperti ini bukan tidak pernah terjadi. Tapi bagi orang-orang yang membenci Liu Kun, mereka benar-benar merasa was-was, khawatir tiba-tiba ada perubahan. Waktu eksekusi sudah dekat. Tiba-tiba dari dinding istana benar ada seekor kuda berlari cepat men-datangi. Hal ini membuat semua orang terpaku. Sampai pejabat yang bertanggung jawab mengeksekusi juga menunggu. Begitu pengawal istana datang dan turun dari kuda, dia mengeluarkan sepucuk surat. Semua orang baru tenang. Surat yang diantar bukan surat pembatalan eksekusi, melainkan suart untuk menjalankan eksekusi, semua orang bersorak. Perintah diturunkan. Keluarga Liu Kun dipenggal dulu. 15 kepala tergeletak di tanah. Hal ini dimaksudkan agar Liu Kun melihat kemadan keluarganya, membuat hati dia sakit. Terakhir Hbalah giliran Liu Kun. Pertama, algojo mengelupas kelopak mata, kemudian dua tangan. Menyelesaikan itu membutuhkan waktu setengah jam. Terakhir memenggal kepala Liu Kun. Semua ditaruh di dalam baskom dan diantar ke pejabat yang bertanggung jawab untuk mengeksekusi. Kemudian dilanjutkan dengan acara jual algojo. Tiga tail untuk selembar daging Liu Kun segera laris. Walaupun orang-orang yang dulu per-nah disiksa Liu Kun ribut akan memakan dagingnya, tapi setelah daging dibeli, mereka memberikannya untuk dimakan anjing atau diinjak-injak sebagai pelampiasan. Orang yang benar-benar memakan daging nya sangat sedikit. 110-110-110 Thian-te-siang-kun kembali ke tempat Liu Kun. Mereka tidak muncul di lapagan eksekusi. Bagi mereka Liu Kun sudah tidak berharga. Gagal membunuh Kang Pin dan kalah oleh pedang Su Yan-hong dan Tiong Toa-siansengn, mereka malu kembali ke Liu Kun untuk melapor. Mereka juga sekalian memanggil kembali 5 utusan lampion untuk melihat situasi dan membuat rencana lain.Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 96 Setelah berita kegagalan Liu Kun tersebar, mereka siap keluar dari ibukota. Ini adalah hari terakhir mereka berada di ibukota. Jin-kun tiba-tiba datang. Ini membuat Thian-te-siang-kun terkejut. Jika ada pemberitahuan, mereka bisa berunding dulu. Setidaknya hati masih ada persiapan. Tapi sekarang ini mereka hanya bisa terkejut. Jin-kun memakai baju berwarna perak yang menjadi tanda seragam Sam-kun. Hanya saja kepalanya ditutup oleh kantong perak dan hanya tampak sepasang mata. Thian-te-siang-kun sama sekali tidak mencurigai Jin-kun. Sebenarnya dengan berpenampilan seperti itu Jin-kun baru bisa datang mencari.
"Sam-kun akhirnya berkumpul kembali!"
Kata Thian-kun sambil melihat ekspresi Jin-kun.
"Masih Sam-kun?"
Jin-kun balik bertanya.
"Waktu itu Kaucu mengadakan rapat akbar. Seharusnya kau hadir!"
Kata Te-kun.
"Apakah kalian adalah ketua Pek-lian-kau sekarang?"
Tanya Jin-kun.
"Apakah ada yang menolak? Apakah kau menolak?"
Tanya Te-kun tertawa.
"Aku? Mana mungkin aku ddak setuju!"
"Kalau begitu kali ini kau datang..."
"Hanya ingin tahu rencana kalian selanjutnya."
"Berarti apa yang kita lakukan dulu, kau mengetahuinya?"
"Tidak semua!"
Nada suara Jin-kun berubah menjadi tua dan penuh wibawa. Thian-te-siang-kun merasa terkejut dan kele-pasan berkata.
"Ternyata adalah kau..."
Mereka melihat kantong berwarna perak yang membungkus kepala Jin-kun.Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 97
"Tahu atau tidak tahu sebenarnya tidak ada bedanya bagi kalian!"
"Kami kira siapa yang tahu begitu jelas tentang Pek-lian-kau, ternyata adalah kau yang selalu mengganggu dari dalam!"
"Kalian berdua selalu ingin mengetahui dunia persilatan, bukankah keterlaluan?"
"Apakah kau bisa?"
"Bisa atau tidak, sekarang ini terlalu awal untuk kita bicarakan!"
"Walaupun kau memiliki niat ingin menguasai dunia persilatan, kau tidak perlu membocorkan rahasia Pek-kut-mo-kang kepada orang lain."
"Dari mana aku tahu rahasia Pek-kut-mo-kang?"
Jin-kun balik bertanya. Thian-te-siang-kun terpaku. Kemudian Jin-kun bertanya.
"Pek-kut-mo-kang bukan apa-apa. Di atas langit masih ada langit, di luar orang masih ada orang..."
"Kita dua bersaudara pasti bisa menguasai dunia persilatan!"
Kata Thian-kun.
"Benar!"
"Kalau kau mau bersama kami..."
Te-kun menyela.
"Dia tidak akan mau! Lebih baik kita melihat kemampuan diri masing-masing. Kita coba lihat nanti!"
Kata Thian-kun.
"Aku pergi dulu!"
Jin-kun membalikkan tubuh.
Thian-te-siang-kun tidak menghadang.
Wajah mereka sangat serius, pikiran juga menjadi berat.
111-111-111 Tadinya Siau Cu sangat santai, tapi begitu masuk ke Ci-cu-wan, hatinya langsung merasa berat.
Ci-cu-wan sangat sepi, tidak ada orang.
Sampai di ruangan dalam pun tidak ada orang.
Ruangan sangat rapi dan bersih, semua barang ditutup dengan kain.Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 98 Pintu diketuk tapi tidak ada orang yang membuka.
Siau Cu merasa aneh, tapi dia tetap mencari alasan untuk menjelaskan kepada dirinya.
Sekarang dia mulai tidak tahan dan mulai tidak tenang.
Di ruangan tamu tidak ada orang, dia segera ke kamar Lamkiong Bing-cu.
Pintu ditutup tapi tidak dikunci.
Beberapa kali Siau Cu memanggil Bing-cu, tapi tidak ada reaksi, maka Siau Cu membuka pintu dan masuk.
Bing-cu tidak ada di kamar, tapi ada sepucuk surat.
Terlihat dia sangat mengenal sifat Siau Cu dan tahu Siau Cu akan datang kemari.
Surat memberitahu bahwa Lo-taikun ingin kembali ke Kanglam.
Dia tidak bisa tinggal sendiri di sini dan berharap bisa bertemu di lain waktu.
Setelah Siau Cu membaca surat ini, dia terpaku, hatinya menjadi bimbang tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.
112-112-112 Lamkiong Po dari keluarga Lamkiong muncul di An-lek-hu.
Dia mengantar undangan ke tangan Tiong Toa-sianseng, setelah berbicara beberapa kata, dia tergesa-gesa pergi.
Melihat dia pergi, Tiong Toa-sianseng menarik nafas.
"30 tahun cepat berlalu!"
"Cianpwee, kenapa?"
Tanya Fu Hiong-kun aneh.
"apakah keluarga Lamkiong mengundangmu ke Pek-hoa-couw untuk bertanding ilmu pedang?"
Lam-touw menyela.
"Di dalam benak Kai-heng masih ada bayangan akan hal ini?"
Kata Tiong Toa-sianseng.
"30 tahun yang lalu, keluarga Lamkiong ingin mengenal semua pendekar di dunia persilatan maka mereka membuat pesta besar di Pek-hoa-couw. Di pesta itu semua pendekar dan ksatria harus mengeluarkan jurus-jurus andalannya dan saling bertarung secara persahabatan. Mereka saling memuji dan berhenti di batas tertentu. Lo-taikun melihat semua orang dengan senang dan tertarik, makaLegenda Pendekar Ulat Sutra -2 99 dia menentu kan rapat seperti itu akan diselenggarakan setiap 10 tahun. Setiap 10 tahun, bulan 8 tanggal 8, mengundang semua pesilat pedang ke Pek-hoa-couw. Aku sudah tiga kali berturut-turut mengikuti pesta, maka aku selalu ingat!"
"Kalau tujuan semua orang hanya saling belajar, itu bukan hai yang bagus!"
"Apakah Cianpwee juga ingin pergi ke Kang-lam?"
Tanya Fu Hiong-kun.
"Di sini hidup selalu tegang, jalan-jalan ke Kanglam adalah hal yang menyenangkan!"
Tiong Toa-sianseng tersenyum.
"Kalau menyenangkan, untuk apa menunggu lagi? Aku Lam-touw pergi dulu!"
Lam-touw segera pergi.
"Cianpwee!"
Fu Hiong-kun ingin mengejar tapi Tiong Toa-sianseng menghadang.
"Dari awal dia sudah mengambil keputusan, hanya baru sekarang pamitan kepada kita!"
"Bagaimana dengan Siau Cu?"
"Dia tidak akan meninggalkan Siau Cu, Sekarang di mana Siau Cu?"
"Keluarga Lamkiong!"
Fu Hiong-kun tertawa. Tiong Toa-sianseng seperti tahu mengapa Siau Cu pergi ke keluarga Lamkiong, dia tersenyum.
"Anak muda memang berani. Aku hanya berharap dia sempat bertemu, kalau tidak sempat dia jangan terlalu kecewa!"
"Mungkin dia tidak akan!" ^ "Menurutku memang seperti itu. Dia tidak seperti Lu Tan!"
"Lu Tan juga baik!"
Su Yan-hong menyela.
"dia hanya ingin kaisar mengembalikan nama baik ayahnya, dia tidak mau menerima pemberian kaisar!"
Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 100
"Aku juga mengagumi ini!"
Kata Tiong Toa-sianseng.
"tapi selain tidak mau tanda jasa dan kekayaan, dia juga sangat kecewa dan ingin pergi ke Bu-tong-san untuk menjadi pendeta. Itu keterlaluan!"
"Mungkin bukan kecewa..."
Kata Fu Hiong-kun.
"Anak muda harus hidup dengan semangat, tidak cocok menjadi hweesio atau pendeta!"
Kata Tiong Toa-sianseng sambil menggelengkan kepala.
"Apakah dia sudah pulang?"
Tanya Su Yan-hong.
"Dia pergi ke Ling-ong-hu untuk berpamitan pada Tiang-Iek Kuncu!"
Kata Fu Hiong-kun.
"Aku mengira dia akan tinggal 2-3 hari di sini!"
Su Yan-hong menarik nafas.
"kelihatannya gara-gara Liu Kun baru ada kesempatan berkumpul!"
Dia melihat Fu Hiong-kun.
Hatinya bertambah berat, dia ingin mengatakan sesuatu tapi kata-kata tidak keluar.
Fu Hiong-kun memang belum pamit kepadanya, tapi Su Yan-hong memperkirakan dia juga tidak akan berlama-lama di sini.
113-113-113 Waktu Siau Cu pulang, malam sudah larut.
Begitu mengetahui Lam-touw sudah pergi, dia terus berjalan bolak-balik.
Sampai dia membaca surat yang ditinggalkan Lam-touw baru dia kembali bergembira.
Surat Lam-touw ditinggal di meja kamar.
Hanya beberapa kalimat, mengatakan gurunya ada perlu tergesa-gesa pergi ke Kanglam.
Dia ingin Siau Cu mengikuti tanda yang dia tingggalkan dan akan berkumpul bersama nanti.
Siau Cu tahu Bing-cu kembali ke Kanglam, dia sudah berniat ke Kanglam.
Sekarang adalah kesempatan baik, mana mungkin dia tidak senang.
Setelah berpamitan kepada Su Yan-hong, malam itu juga pergi ke Kanglam.
Di hari kedua Tiong Toa-sianseng baru mendengar hal ini dari mulut Su Yan-hong.
Dia menggelengkan kepala dan tertawa kecut.Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 101
"Guru dan murid sama-sama bersifat terburu-buru, sekali berkata pergi langsung pergi. Orang yang tidak mengenal mereka akan mengira sudah terjadi sesuatu!"
"Kao-cianpwee memang terlihat tidak serius, tapi dia begitu tiba-tiba pergi ke Kanglam seperti ada masalah yang dia ingin segera bereskan!"
Kata Tiong Toa-sianseng.
"Apakah guru juga ingin segera meninggalkan ibukota?"
"Ibukota bukan tempat kita bisa merasa nyaman!"
"Kalau begitu kapan guru pergi?' "Semakin cepat semakin bagus!"
"Murid berharap bisa ikut juga!"
"Kau sudah menjadi pejabat penting di kerajaan, mana bisa..."
"Besok pagi aku akan bertemu dengan kaisar dan mengembalikan kekuasaan pasukan kepadanya. Aku berharap kaisar bisa mengerti hatiku dan tidak menghalangi aku!"
"Kau sudah berpikir matang..."
"Seperti kata guru, ibukota bukan tempat bagi orang seperti kita untuk bisa merasa nyaman."
"Apakah kau kira kaisar akan mengijinkan kau pergi?"
"Semua sudah beres, murid menyerahkan kembali kekuasaan pasukan. Kaisar pasti menunggu-nunggu!"
"Kau benar-benar bisa menunda?"
"Kalau bisa lebih baik kita tunda!"
"Baiklah! Sebelum pergi ke Pek-hoa-couw, guru akan pergi ke Lu-san bertemu Ih (tabib), Tok (racun), Yok (obat), Say-gwa-sam-sian (3 dewa dari luar dunia).
"Teman sudah berpuluh-puluh tahun pergi ke Lu-san, sudah lama berjanji untuk mengunjungi mereka!"
"Sam-wi Cianpwee sudah lama terkenal. Kalau Tecu bisa bertemu, ini adalah hal yang menggembirakan dalam hidupku!"
"Kalau begitu, bila kaisar melepaskanmu, kita segera berangkat!"
Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 102 Su Yan-hong setuju. 114-114-114 Kaisar ingin mencari Su Yan-hong, kebetulan Su Yan-hong datang. Dia benar-benar senang dan menarik nafas.
"Satu gelombang baru diratakan, gelombang lain sudah datang lagi!"
"Apakah sisa kekuatan Liu Kun masih belum bersih dan mereka bergerak lagi?"
"Bukan, masalahnya adalah Ling-ong!"
"Ling-ong setia kepada kaisar dan negara, mengapa baginda mengkhawatirkan dia?"
"Apakah kau lupa, ketika Liu Kun tertangkap, dia menuduh Ling-ong yang menyuruh dia..."
"Waktu itu bukankah Ling-ong sudah menjelaskannya? Kalau memang benar, dia tidak akan datang membantu. Mungkin sampai sekarang juga kita belum selesai!"
"Tapi aku selalu merasa Ling-ong memang ingin memberontak! Mungkin kau tidak tahu setelah Liu Kun ditumpas, dia pernah datang mencariku. Dia meminta ijin untuk menambah pasukan dan memungut pajak-pajak, dia juga tidak mau berada di bawah kekuasaan kerajaan!"
"Kata-katanya ini bukankah syarat yang bagin da setujui sebelum menumpas Liu Kun?"
Kaisar terpaku.
"Waktu itu aku terpaksa. Jika membiarkan dia seperti itu, bukankah seperti memelihara seekor harimau?"
Su Yan-hong tidak mengeluarkan suara. Kaisar berkata lagi.
"Nenek moyang Ling-ong adalah putra ke-17 yang bernama Cu Koan. Cu Koan pernah memberontak kemudian kedudukan pangeran dihapus menjadi rakyat biasa. Sekarang mungkin Ling-ong akan mengikuti jejak nenek moyangnya!"
Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 103
"Maksud kaisar adalah..."
"Aku ingin menahan dia di kota agar dia tidak bisa memberontak! Sedangkan di bagian Kang-lam, biar kau yang mengurusnya!"
"Hamba?"
Su Yan-hong merasa aneh. ''Tidak ada orang yang lebih cocok darimu. Apakah kau tidak setuju?"
"Hamba selalu terbiasa hidup bebas dan tenang. Sekarang hamba datang untuk menyerahkan kembali kekuasaan pasukan yang pernah baginda berikan, hamba ingin mengikuti guru berkelana di dunia persilatan!"
"Apa?"
Kaisar seakan tidak mempercayai pendengarannya.
"Kali ini Ling-ong sudah membuat jasa yang besar. Terhadap ini baginda tidak perlu khawatir!"
"Tapi tetap harus berjaga-jaga!"
Kaisar baru selesai berkata, Thio Gong masuk tergesa-gesa dan berteriak.
"Baginda! Baginda!"
"Ada apa?"
Walaupun kaisar tidak tahu apa yang terjadi, tapi melihat Thio Gong, hatinya tidak tenang. Thio Gong melihat Su Yan-hong. Kata kaisar.
"An-lek-hou bukan orang luar, katakanlah ada apa!"
"Tentang Ling-ong..."
"Ada apa dengan dia?"
"Dia sudah pergi malam-malam!"
"Aku benar-benar ceroboh. Aku tidak menyangka dia akan melakukan ini!"
"Menurut hamba, dia pasti kembali ke Kang-lam!"
"Kemana pun sama saja!"
Lengan baju kaisar melayang.
"sudahlah!"Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 104
"Apakah harus dikejar?"
Tanya Thio Gong.
"Kejar? Siapa yang menyuruh untuk mengejar? Kau kira dia tidak membuat pengaturan di sepanjang jalan?"
Kaisar menggelengkan kepala.
"sekarang ini tidak ada hal yang bisa beijalan lancar!"
Kemudian dia melihat Su Yan-hong.
"betulkah kau ingin menyerahkan kembali kekuatan pasukan?"
"Betul!"
Su Yan-hong berkata dengan serius.
"Di kerajaan semua orang ingin menjadi komandan pasukan, tapi kau malah tidak peduli!"
"Aku bukan seorang komandan pasukan, kemarin ini hanya terpaksa!"
"Tidak ada kau di sisiku, aku merasa tidak tenang. Apalagi sekarang Ling-ong..."
"Hamba punya ide..."
"Katakan!"
Kaisar melihat Su Yan-hong.
"Tarik kembali Ong-souw-jin ke Lam-kiang. Biar dia yang mengawasi Ling-ong. Itu seharusnya bisa dia lakukan!"
"Betul!"
Kata kaisar.
"Hamba sudah mengambil keputusan ingin pergi, harap baginda memberi ijin!"
"Kapan rencanamu pergi?"
"Setelah beres, langsung berangkat!" < jaia "Berarti kita tidak akan bertemu selama beberapa lama!"
Lalu Kaisar berpesan kepada Thio Gong.
"cepat siap-siap!"
Thio Gong keluar, tiba-tiba mata kaisar berputar dan bertanya.
"Bagaimana dengan Fu Hiong-kun?"
"Aku belum bertanya kepada dia..."
"Bagaimana dengan gadis ini?"
"Baik sekali!"
Ini adalah kata-kata yang keluar dari dalam hati.
"Apakah kau siap menikah lagi?"Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 105
"Baginda benar-benar bisa bercanda. Aku sudah terbiasa hidup tidak terkekang!"
Yang pasti itu bukan kata-kata dari dalam hati Su Yan-hong.
"Oh?"
Tiba-tiba kaisar tertawa aneh.
"kalau kau tidak punya maksud terhadapnya, aku sudah tenang!"
"Maksud baginda..."
"Di dalam istana memang banyak perempuan cantik, tapi tidak ada bedanya. Seperti jika setiap hari makan enak, lama-lama juga bosan. Fu Hiong-kun adalah gadis cantik dari dunia persilatan, mempunyai daya tarik yang berbeda. Apakah dia masih di rumah mu?"
Hati Su Yan-hong merasa berat. Dia ingin mengatakan Fu Hiong-kun tidak ada, tapi kaisar sudah berpesan kepada Thio Gong.
"Turunkan perintah ke An-lek-hu, suruh Fu Hiong-kun masuk istana!"
Su Yan-hong ingin menghadang tapi tidak sempat lagi.
Sebenarnya dia juga tidak tahu bagaimana cara menghadang perintah ini.
Yang pasti minum arak juga terasa tidak nyaman, terpaksa Su Yan-hong pura-pura tidak bisa minum banyak.
Entah karena kaisar rindu Fu Hiong-kun, dia membiarkan Su Yan-hong pulang.
Di sepanjang jalan hati Su Yan-hong berdebar-debar.
Dia sangat berharap Fu Hiong-kun tidak bertemu Thio Gong.
Dia juga berharap bisa bertemu mereka di jalan, agar bisa menyuruh Thio Gong pergi dan membawa Fu Hiong-kun pergi.
Fu Hiong-kun gadis seperti apa, Su Yan-hong sangat tahu.
Di hadapan kaisar dia tidak akan tunduk.
Akibatnya tidak terbayangkan.
Ide kaisar atas Fu Hiong-kun benar-benar di luar dugaan Su Yan-hong.
Ide ini juga membuat dia ingin tertawa.
Dia mengira setelah melewati peristiwa Liu Kun, kaisar akan berubah.
Tapi ternyata baru selesai masalah Liu Kun, sifat kaisar sudah kambuh lagi.Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 106 Maka terhadap pilihannya untuk mengundurkan diri, dia sama sekali tidak menyesal, dan malah merasa beruntung.
Sampai di An-lek-hu, dia tidak bertemu Thio Gong maupun Fu Hiong-kun.
Dia tidak tenang, dia takut Thio Gong sudah menjemput Fu Hiong-kun dan pergi melalui jalan lain.
Sampai melihat Thio Gong masih menunggu di dalam ruangan tamu, dia baru tenang.
Setelah bertanya, dia baru tahu Fu Hiong-kun membawa Ih-lan keluar bermain.
Su Yan-hong baru menarik nafas lega.
Dia cepat-cepat mencari alasan untuk ke belakang rumah, ketika bertemu dengan Tiong Toa-sianseng, dia menjelaskan hal ini.
Mendengar kaisar menginginkan Fu Hiong-kun masuk ke kamar cinta, Tiong Toa-sianseng terkejut dan marah.
Dia segera pergi melalui pintu belakang untuk mencegat Fu Hiong-kun.
Kesabaran Thio Gong memang luar biasa.
Tapi yang membawa Ih-lan pulang adalah Tiong Toa-sianseng.
Thio Gong dengan tergesa-gesa menyambut.
"Mengapa Nona Fu tidak kelihatan?"
"Nona Fu ada perlu, dia sudah keluar kota!"
"Katanya dia tidak akan pergi!"
Kata Ih-lan.
"Tapi mengapa sekarang dia pergi?"
Ih-lan menggelengkan kepala. Thio Gong men coba bertanya.
"Dia pergi dari arah mana?"
"Pintu An-teng!"
Thio Gong segera berpesan kepada 8 kasim yang menyertai kedatangannya ke An-lek-hu.
"Cepat kita kejar!"
Dia juga berpamitan pada Su Yan-hong.Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 107 Setelah mereka pergi jauh, Ih-lan tertawa. Su Yan-hong segera membentak.
"Lan-lan!"
Tiong Toa-sianseng ikut tertawa dan menyela.
"Lan-lan benar-benar pintar dan lincah. Dia juga pintar berpura-pura. Hanya dia yang bisa membuat Thio Gong percaya!"
"Mana Hiong-kun..."
Tanya Su Yan-hong cemas.
"Ada di sini..."
Fu Hiong-kun keluar dari sekat.
"Hou-ya, aku sudah membuatmu khawatir!"
Hati Su Yan-hong benar-benar tenang.
115-115-115 Thio Gong mengejar dari jalan keluar An-teng-bun sejauh tiga li, tetapi mereka tidak melihat Fu Hiong-kun.
Dia juga tidak mendapat kabar Fu Hiong-kun.
akhirnya terpaksa kembali ke kaisar untuk melapor.
Setelah kaisar mendengar laporan Thio Gong, dia hanya tertawa.
"Ayah adalah harimau, anak juga bukan anak anjing. Ih-lan benar-benar pintar dan lincah!"
Thio Gong segera mengerti.
"Hamba segera pergi ke An-lek-hu untuk melihat lagi!"
"Tidak perlu! An-lek-hu begitu tegang. Kelihatannya dia memang menyukai Fu Hiong-kun. Aku tidak mau karena seorang perempuan, membuat dia tidak suka kepadaku!"
"Oh?"
Thio Gong pura-pura tidak mengerti.
"Karena aku masih punya banyak hal yang memerlukan bantuannya. Sulit mendapatkan orang yang berbakat seperti dia. Mana mungkin semba-rangan dilepaskan dan diperalat?"
Tawa kaisar bertambah besar.
Thio Gong diam-diam melihat kaisar.
Dia merasa bergetar dingin.
116-116-116Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 108 Setelah Ih-lan sudah tertidur, Fu Hiong-kun baru keluar dari kamarnya.
Su Yan-hong masih berdiri di kebun.
Ketika melihat Fu Hiong-kun keluar, dia baru berbicara.
"Besok kita akan pergi ke Kanglam!"
"Aku mau pulang ke Heng-san!"
"Apakah kau tidak suka bersama dengan kami?"
Fu Hiong-kun menggelengkan kepala.
"Aku masih ada urusan penting yang harus kulakukan!"
Su Yan-hong mengeluh.
"Apapun yang terjadi, kau harus mengingat kami adalah teman!"
Fu Hiong-kun mengangguk.
"Kemana pun sama saja, hanya harus ingat memperhatikan Lan-lan. Jangan biarkan dia terkejut lagi!"
"Aku akan berhati-hati! Tapi kalau kau pergi, aku benar-benar tidak tahu apa yang harus kusampaikan pada dia!"
"Kau belum tahu, dia adalah anak yang kuat!"
Su Yan-hong terpaku. Kata Fu Hiong-kun kemudian.
"Aku akan kembali ke kamar untuk bersiap-siap dulu!"
Su Yan-hong masih terpaku di sana.
Ih-lan sebenarnya berada di balik pintu.
Melihat Fu Hiong-kun akan pergi, dia meneteskan air mata.
117-117-117 Sebemarnya kepergian Lam-touw ke Kanglam adalah untuk mengikuti Kiang Hong-sim.
Dia mempunyai kecurigaaan terhadap perempuan ini.
Meminta maaf kepada Lo-taikun adalah cara Lam-touw agar Kiang Hong-sim bisa mengurangi kewaspadaan, sehingga Lam-touw bisa mencari celah-celahnya.
Keluarga Lamkiong tinggal di penginapan In-lay.
Dia segera datang ke sana.
Walaupun beberapa hari ini tidak mendapatkan hasil, tapi tidak merasa kecewa.
Begitu melihat ada kesempatan, dia terlihat sangat senang.Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 109 Cia Soh-ciu dan Kiang Hong-sim berada di garis yang sama.
Hal ini benar-benar di luar dugaan Lam-touw.
Dia melihat Kiang Hong-sim keluar dari kamar.
Tidak disangka Kiang Hong-sim bertemu dengan Cia Soh-ciu di kebun.
Sebatang pipa kecil dan panjang tampak di tangannya, makin ditarik makin panjang, panjangnya melebihi daun dan ranting, mengulur ke arah berdirinya Cia Soh-ciu dan Kiang Hong-sim.
Waktu Lam-touw mencuri dengar, ada juga orang lain yang melakukannya.
Siapa yang mengikuti siapa, hanya mereka berdua yang tahu.
Cia Soh-ciu dan Kiang Hong-sim sepertinya tidak mengetahui Lam-touw sedang mencuri dengar pembicaraan mereka.
"Apakah orang itu sudah dihubungi?"
Yang sedang berbicara adalah Cia Soh-ciu. Itu adalah kalimat pertama yang Lam-touw dengar. Kiang Hong-sim menjawab dengan sangat jelas.
"Sudah! Satu jam kemudian kita akan bertemu di hutan dekat penginapan!"
"Apakah membutuhkanku untuk turut ke sana?"
"Tidak perlu. Hanya hal ini jangan beritahu orang lain!"
Setelah itu Kiang Hong-sim segera pergi.
Sebenarnya ada masalah apa?
karena ingin tahu, Lam-touw harus mengikuti Kiang Hong-sim.
118-118-118 Hutan itu dipenuhi pohon-pohon besar.
Kiang Hong-sim baru saja sampai di depan hutan, seorang yang berbaju hitam dan bertutup wajah muncul seperti hantu gentayangan.
Lam-touw membuntuti Kiang Hong-sim sampai ke sini.
Dia bersembunyi di balik semak-semak.
Waktu ingin memasang pipa panjang, orang berbaju hitam berbisik kepada Kiang Hong-sim.
Kiang Hong-sim terus mengangguk, kemudian dia berlari kembali melalui jalan ketika dia datang tadi.Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 110 Orang berbaju hitam setelah melihat Kiang Hong-sim sudah pergi jauh, baru membalikkan tubuh berjalan pergi.
Jalannya tidak cepat.
Ini sangat cocok dengan keinginan Lam-touw, dia terus mengikuti orang itu.
Sesampainya di tengah hutan, orang berbaju hitam pelan-pelan membalikkan tubuh dan berkata.
"Kau benar-benar berani!"
Sebelum dia membalikkan tubuh, Lam-touw sudah berputar ke balik sebuah pohon. Dia terkejut.
"Cepat keluar!"
Orang berbaju hitam menunjuk tempat persembunyian Lam-touw di balik pohon. Lam-touw terpaksa keluar karena keberadaannya sudah diketahui oleh lawan.
"Apakah kau tahu siapa aku?"
Tanya orang berbaju hitam.
"Suaramu seperti pemah aku dengar!"
Lam-touw tertawa.
Orang berbaju hitam melayangkan tangan, menyalakan api unggun.
Melihat api unggun itu Lam-touw baru sadar lawan sudah mempunyai persiapan, sekarang dia tahu dia sudah masuk perangkap.
Tapi dia tetap tertawa.
"Lo-heng adalah..."
Orang berbaju hitam segera membuka penutup wajah. Ternyata dia adalah Lo-taikun dari leluarga Lamkiong.
"Kau?"
Bermimpi pun Lam-touw juga tidak akan menyangkanya. Kata Lo-taikun dengan dingin.
"Kau terus menerus mengikuti orang-orang keluarga Lamkiong, mencari tahu tentang keluarga Lamkiong, apa tujuanmu?"
"Lo-taikun sudah salah paham!"
Lam-touw tetap tertawa.
"Pencuri hanya tidak sengaja lewat dan kebetulan bertemu dengan anda!"
Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 111
"Sampai sekarang kau masih ingin membela diri?"
Lo-taikun melayangkan lengan baju. Cia Soh-ciu dan Tong Goat-go meloncat turun dari pohon besar. Kiang Hong-sim juga muncul dari semak-semak tidak jauh di belakang Lam-touw.
"Kalian bertiga juga ikut meramaikan?"
Kata Lam-touw. Wajah mereka bertiga tidak menunjukkan ekspresi apapun. Wajah Lo-taikun ditekuk, dia tertawa dingin.
"Kita tidak ingin bermusuhan dengan teman dunia persilatan, tapi teman tidak mau melepaskan kami dan selalu berseberangan dengan kami!"
"Aduh...Lo-taikun salah, aku...."
"Kau hanya mencari tahu, keluarga Lamkiong sudah ada lima orang janda, apakah kau masih belum puas?"
Hati Lam-touw bergetar.
"Sepertinya kita ada kesalahpahaman..."
"Bukankah sudah sangat jelas?"
Lo-taikun mengambil tongkat kepala naga yang menancap di belakang pohon.
"Laki-laki yang baik tidak mau bertarung dengan perempuan!"
Kata Lam-touw pada dirinya.
"Kau benar-benar meremehkan perempuan!"
Tongkat kepala naga sudah berada di tangan Lo-taikun, dia menarik nafas.
"Pantas mati, aku salah bicara lagi!"
Lam-touw menggampar wajah sendiri.
"mengapa tidak berkata laki-laki yang baik tidak mau dirugikan?"
"Kau mau pergi?"
"Seharusnya aku tidak mengatakan apa yang kupikirkan, benar-benar pantas mati!"
Dia menggampar dirinya sendiri lalu bersalto ke belakang.
Kiang Hong-sim tidak mau kehilangan kesempatan ini.
Sepasang pedang sudah dia keluarkan, kemudian menendang.
Di ujungLegenda Pendekar Ulat Sutra -2 112 sepatunya terpasang sebuah pisau tajam.
Jika tertendang olehnya, pasti akan terluka parah.
Pedang lemas Tong Goat-go turut datang menyerang.
Cia Soh-riu menyerang dengan lengan ke arah kepala Lam-touw.
Dengan tenang Lam-touw menghindar, tapi dia terpaksa harus turun.
Tiga perempuan ini segera datang menyerang.
Jurus-jurus mereka sangat ganas dan berbahaya, mereka seperti mempunyai dendam besar dengan Lam-touw.
Lam-touw sangat berpengalaman.
Hanya beberapa jurus dia sudah bisa merasakannya.
Dia juga merasa aneh.
Dia mengira ada sesuatu yang sudah membuat mereka salah paham, tapi sulit baginya untuk menjelaskan sulit dan tidak terlihat ada kesempatan.
Dengan ilmu silatnya, menghadapi tiga perem puan ini sebenarnya bukan hal yang sulit, hanya dia tidak tega membunuh.
Maka bertarung dengan mereka menjadi sangat sulit.
Dia juga tahu untuk jangan bertarung lama-lama, bila ada kesempatan harus kabur.
Lo-taikun selalu melihat dari pinggir.
Begitu melihat Lam-touw meloncat ke sebuah pohon besar, Lo-taikun segera datang menghantam dengan tongkat kepala naga.
Yang dia hantam bukan tubuh Lam-touw, melainkan ranting kayu.
Pukulan ini di luar dugaan Lam-touw.
Tubuhnya turun tergetar oleh pukulan pada ranting itu.
Reaksi Lam-touw sangat cepat dan lincah, dia segera meloncat ke atas.
Lo-taikun meminjam tenaga pohon jatuh untuk meloncat ke atas.
Dia kembali menghantam dengan tongkatnya, saat itu Lam-touw sedang berada di atas.
Arah pukulan tongkat sangat aneh.
Lo-taikun memukul kaki kiri Lam-touw.
Terdengar suara tulang patah.
Lutut kanan Lam-touw hancur.
Dia menahan untuk tidak berteriak kesakitan.
Tongkat Lo-taikun belum berubah.
Ekor tongkat menusuk ke lutut kiri Lam-touw.
Terdengar lagi suara tulang patah.
Akhirnya Lam-touw terpelanting ke bawah.Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 113
"Ilmu yang bagus!"
Dia berusaha merangkak bangun. Tongkat Lo-taikun sudah berada di depannya.
"Ilmu yang bagus!"
Tubuhnya segera bersalto ke belakang.
Tapi tongkat lebih cepat datang menyapu ke dadanya, membuat tubuh Lam-touw sekali lagi terlempar sejauh beberapa depa, menabrak pohon dan terjatuh lagi.
Lam-touw muntah darah.
Tangan kiri menarik kantong kulit yang di pinggang.
Tangan kanan segera masuk.
"Hati-hati senjata rahasia!"
Teriak Tong Goat-go.
dia benar-benar adalah anggota keluarga Tong-bun.
Yang pertama dia ingat adalah senjata rahasia.
Tapi yang Lam-touw keluarkan adalah seekor merpati abu-abu.
Burung itu segera terbang.
Lo-taikun berempat terpaku.
Waktu mereka ingin mencegat, merpati itu sudah menghilang dalam kegelapan.
"Aku ingin tahu siapa yang bisa datang menyelamatkanmu!"
Kata Lo-taikun. Lam-touw muntah darah lagi, dia tertawa.
"Aku hanya ingin mengabarkan, tidak berani berharap ada yang datang menyelamatkan!"
"Mengabarkan kepada siapa?"
"Bila kau bisa mengejar ke sana, kau akan tahu!"
"Sampai mati juga mulutmu masih tidak mau kalah!"
Tongkat Lo-taikun mengantar ke depan dada Lam-touw.
Dada Lam-touw segera cekung ke dalam, dia mengalami pendarahan yang parah, akhirnya dia tewas.
Seumur hidup Lam-touw sangat hati-hati dan berpengalaman, tapi kali ini dia tidak melihat adanya perangkap sehingga nyawa pun melayang.
Tong Goat-go dan Cia Soh-ciu tidak tega melihatnya.
Lo-taikun menarik kembali tongkat kepala naga dan menarik nafas.Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 114
"Dia sampai tidak melepas kita janda-janda. Jika kita tidak kejam, nyawa kita akan melayang!"
"Memangnya keluarga Lamkiong masih ada berapa nyawa lagi?"
"Maka kita harus membunuh terlebih dulu agar mereka tidak menganggap remeh keluarga Lamkiong!"
Kata Kiang Hong-sim dengan marah.
"Belum waktunya!"
Lo-taikun menggelengkan kepala.
Kapan baru tiba waktunya?
Sebenarnya apa yang terjadi?
119-119-119 Ketika Siau Cu muncul di penginapan In-lai, hari sudah larut.
Tubuhnya tidak lelah, yang lelah adalah hatinya.
Baru memasuki penginapan, dia segera dicegat pelayan.
"Ada apa kau masuk?"
"Apakah ini bukan penginapan?"
Pelayan melihat Siau Cu.
"Apakah kau datang untuk mengemis?"
Siau Cu baru melihat dirinya, tubuhnya terlihat kumal. Dia mengeluarkan satu tail perak.
"Apakah ini belum cukup untuk aku tinggal satu malam?"
Mata pelayan langsung menjadi terang, tapi kemudian dia menggelengkan kepala.
"Kau bisa membayar berapa pun percuma, karena penginapan ini sudah diborong dan tidak boleh ada tamu lain!"
"Kau sengaja mempersulit aku?"
Karena emosi, Siau Cu segera marah dan mencengkram dada baju pelayan.
"Memang begitu kenyataannya!"
Kata pelayan.
"Ada masalah apa?"
Lamkiong Po keluar. Melihat Siau Cu, dia terpaku dan berteriak.
"ternyata adalah kau!"
Siau Cu juga merasa aneh. Baru mau bertanya, pelayan itu ribut lagi.Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 115
"Lamkiong Kongcu, anda datang tepat waktu! Orang ini tidak percaya bahwa penginapan Im-lai sudah dipesan semua. Dia tetap ingin menginap di sini..."
"Tuan ini adalah teman keluarga Lamkiong!"
Kata Lamkiong Po. Dia tertawa pada Siau Cu.
"mari kita masuk dan mengobrol di dalam..."
Pelayan masih bengong.
Siau Cu juga tidak mempersulitnya.
Siau Cu segera mengikuti Lamkiong Po masuk.
120-120-120 Cia Soh-ciu, Tong Goat-go, Bwe Au-siang, Tiong Bok-lan, Bing-cu berada di ruangan tamu penginapan.
Melihat Siau Cu, semua orang terkejut.
Dari Siau Cu mereka tahu Lam-touw terbunuh, hal ini terlebih membuat mereka terkejut.
Cia Soh-ciu dan Tong Goat-go yang sudah tahu masalah ini pura-pura tidak tahu.
Bing-cu yang pertama berbicara.
"Lam-touw Cianpwee berilmu tinggi dan berpengalaman, orang yang membunuh dia pasti adalah seorang pesilat tangguh!"
"Siapapun dia, kecuali kalau aku tidak bertemu, kalau tidak aku akan bertarung mati-matian dengan dia!"
Siau Cu marah.
"Di dalam hatimu apakah ada orang yang kau curigai?"
Tanya Cia Soh-ciu.
"Tidak ada!"
"Apakah ada tanda-tanda yang ditinggal?"
Tanya Lamkiong Po. Siau Cu menggelengkan kepala. Dari kantong kulit pinggang mengeluarkan burung merpati.
"Hanya merpati ini yang menuntun aku mencari. Aku percaya hanya dia yang tahu wajah asli pembunuh!"
Cia Soh-ciu dan Tong Goat-go melihat burung merpati itu.
Mendengar lagi kata Siau Cu, hati mereka bergetar dan mereka saling pandang.Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 116 Burung merpati itu entah benar mengenal Tong Goat-go dan Cia Soh-ciu, matanya terus berputar-putar dan terus mengeluarkan suara.
"Ku...ku..."
Cia Soh-ciu dan Tong Goat-go merasa seperti dilihat terus oleh burung merpati itu tapi mereka masih bisa berpura-pura seperti tidak terjadi sesuatu.
Tong Goat-go membalikkan kepala, tidak berani melihat burung merpati itu.
Reaksi Cia Soh-ciu sangat cepat.
Dia sengaja maju dua langkah untuk menutupi Tong Goat-go dan berkata.
"Tapi sayang burung merpati tidak bisa berbicara bahasa manusia dan manusia juga tidak mengerti bahasa burung!"
Siau Cu menarik nafas.
"Guruku paling sayang merpati ini. Aku membawanya juga tidak ada guna, aku akan melepas kan burung ini. Biarlah dia bebas terbang ke mana pun. Ada waktu dia bisa terbang ke depan kuburan guru untuk menemani guru!"
"Ide bagus!"
Kata Cia Soh-ciu, karena melihat burung merpati ini membuat dia merasa tidak nyaman.
Tangan Siau Cu diangkat melepaskan burung merpati, burung merpati segera terbang keluar melewati Cia Soh-ciu dan Tong Goat-go.
Cia Soh-ciu baru tenang dan bertanya.
"Apa rencanamu sekarang?"
"Waktu di ibukota, guru dan Tiong Toa-sianseng sangat akrab, mungkin aku bisa mencari tahu tentang guru dari Tiong Toa-sianseng. Informasi ini mungkin bisa sedikit membantu dalam mencari pembunuh guru!"
Mata Siau Cu memancarkan sorotan berharap.
"Kapan kau berangkat?"
Tanya Bing-cu.
"Semakin cepat semakin bagus!"
Siau Cu berdiri,"hanya ada satu penginarpan di daerah sini..."Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 117
"Hari sudah larut, lebih baik kau bermalam di sini! Besok baru pergi!"
Kata Bing-cu. Siau Cu belum menjawab, Bing-cu segera bertanya.
"Bagaimana pendapat paman ke empat?"
Lamkiong Po seperti sedang memikirkan sesuatu. Dia tidak berbicara dari tadi. Setelah mendengar pertanyaan Bing-cu, dia seperti tersadar dan baru menjawab.
"Baiklah!"
"Aku takut menganggu kalian!"
Kata Siau Cu. Lamkiong Po mencegat.
"Aku kira kau tidak perlu sungkan! Kita adalah orang dunia persilatan, tidak perlu sungkan. Bila kita mendapatkan informasi, kita akan mem-beritahu kepadamu!" 121-121-121 Memang Lamkiong Po berkata begitu, tapi dia tidak melakukannya. Setelah bertemu Siau Cu, dia segera menemui Lo-taikun. Cia Soh-ciu sedang berada di sana. Melihat Lamkiong Po masuk, dia seperti tahu Lamkiong Po ingin berbicara dengan Lo-taikun, maka dia mencari alasan untuk pergi. Lo-taikun melihat Lamkiong Po.
"Katanya kau menyetujui Siau Cu tinggal di penginapan ini?"
"Hanya satu malam!"
"Katanya gurunya terbunuh?"
"Betul, aku berjanji akan membantu dia mencari pembunuhnya!"
"Oh?"
Lo-taikun tertawa.
"beberapa hari ini melakukan hal demi keluarga Lamkiong, kau pasti lelah. Ibumu sudah tua, setelah rapat Pek-hoa-couw selesai, aku harus pensiun dan urusan keluarga Lamkiong akan kuserahkan kepadamu!"
Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 118
"Ananda tidak berpengalaman, mempunyai niat dalam banyak hal tapi tidak sanggup melakukan!"
Lamkiong Po mengeluh.
"Apa yang kau katakan?"
"Beberapa tahun ini, Ananda tetap tidak berhasil mencari musuh keluarga Lamkiong!"
"Pasti akan ditemukan!"
"Ananda tidak berguna, harus membuat ibu terus membunuh orang yang tidak bersalah!"
Lamkiong Po terlihat sedikit emosi.
"Maksud..."
Lo-taikun terpaku.
"Lam-touw!"
Kata Lamkiong Po.
"Kau kira Lam-touw dibunuh olehku?"
"Ananda hanya menebak!"
Lo-taikun tertawa.
"Mempunyai putra yang cerdik dan tajam otaknya, seharusnya aku senang!"
Lamkiong Po bengong melihat Lo-taikun.
"Betul! Akulah yang membunuh Lam-touw. Walaupun aku sedikit emosi, tapi orang ini sudah beberapa kali masuk ke keluarga Lamkiong. Terlihat dia mempunyai maksud lain. Sebenarnya dia pantas mati!"
"Tapi.."
"Kau terlalu baik! dunia persilatan sangat ^ kejam, kadang-kadang kita tidak berbuat kesalahan tapi orang lain akan mencari kesempatan!"
Lamkiong Po menundukkan kepala.
"Sudahlah! Ibu berjanji kepadamu tidak akan banyak membunuh lagi!"
"Ananda juga demi keluarga Lamkiong..."
"Aku mengerti! Apakah kau yang menyuruh Siau Cu tinggal di sini?"
Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 119 Hati Lamkiong Po bergetar. Dia berkata.
"Ibu..."
Tangan Lo-taikun memukul, Cia Soh-ciu segera masuk.
"Turunkan perintahku, tidak ada yang boleh membuat Siau Cu repot!"
Setelah Cia Soh-ciu pergi, Lo-taikun baru bertanya kepada Lamkiong Po.
"Apakah kau merasa puas?"
"Terima kasih ibu!"
Hati Lamkiong Po menjadi tenang.
122-122-122 Siau Cu tidak berada di kamar.
Begitu masuk, dia sudah dipanggil Bing-cu diam-diam.
Setelah berpisah di ibukota, dia mengira akan lama baru bisa bertemu Bing-cu, tapi siapa tahu mereka begitu cepat sudah bertemu lagi.
Kalau bukan karena kematian Lam-touw, tidak diragukan lagi dia akan sangat senang.
Bing-cu sangat mengerti pikiran Siau Cu, tapi dia tetap bertanya.
"Bila bertemu dengan orang yang membunuh gurumu, apa yang akan kau lakukan?"
"Membunuh dia, membalas dendam guru!"
"Setelah itu apa yang akan kau lakukan?"
"Berkelana di dunia persilatan dan menjadikan dunia persilatan sebagai rumahku!"
"Apakah tidak ada hal yang lain?"
"Berlatih ilmu silat yang baik agar bisa berhasil di dunia persilatan!"
"Tidak ada yang lain lagi?"
Siau Cu tidak memperhatikan, dia menggelengkan kepala.
Dia masih ingin mengatakan sesuatu tapi Bing-cu sudah membalikkan tubuh.
Dia adalah orang yang cerdik, dia segera mengerti dan berkata.Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 120
"Bila ada waktu, aku pasti datang menengokmu!"
Bing-cu membalikkan tubuh lagi dan melihat Siau Cu, sambil mengeluh.
"Apakah kau tidak berpikir tidak baik kita terus bertemu seperti ini?"
"Kalau begitu harus bagaimana?"
"Lebih baik kau menjadi murid ibuku, bukankah kau bisa terus tinggal di keluarga Lamkiong? Ibu selalu menyayangi aku, dia pasti akan setuju!"
"Tentang ini, sementara aku masih belum bisa..."
"Mengapa? Apakah kau tidak suka bersama denganku?"
"Sejujurnya, aku masih punya satu masalah yang belum diselesaikan!"
"Tentang apa?"
"Aku belum bisa menjelaskan sekarang!"
"Kalau kau mau bohong, kau harus bisa mencari alasan yang lebih baik!"
Bing-cu membalikkan tubuh.
"Sebenarnya ini adalah ketika guru menggantungkan Bi-giok-leng dari Pek-lian-kau ke leher burung merpati untuk diberikan kepadaku. Ini pasti ada sebabnya!"
Siau Cu mengeluarkan Bi-giok-leng.
"coba kau lihat!"
Begitu melihat Bi-giok-leng, Bing-cu segera merasa barang ini bukan barang sembarangan.
Dia tidak tahu itu adalah Bi-giok-leng dari Pek-lian-kau.
Dia juga tidak melihat ada kegunaan apa, tapi dia percaya apa yang dikatakan Siau Cu.
"Kalau kau benar-benar ada penting, selesaikanlah dulu!"
Bing-cu adalah orang yang pengertian.
Siau Cu menarik nafas lega.
Dia menaruh kembali Bi-giok-leng di dada.
Karena terus memperhatikan Bing-cu, dia tidak melihat Kiang Hong-sim bersembunyi di balik semak-semak untuk melihat dan mencuri dengar.Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 121 Melihat lempengan Bi-giok-leng, mata Kiang Hong-sim menjadi besar.
Terlihat dia ingin keluar untuk merebutnya, tapi akhirnya tidak dia lakukan.
123-123-123 Selain Kiang Hong-sim, masih ada Tiong Bok-lan yang tahu Siau Cu dan Bing-cu bertemu.
Setelah kembali ke kamar, Tiong Bok-lan duduk di ranjang menunggu Bing-cu datang.
"Bibi ke lima, Bing-cu merasa aneh!"
"Tutup pintu dahulu baru berbicara!"
Bing-cu menutup pintu dan berjalan ke depan Tiong Bok-lan. Baru Tiong Bok-lan bertanya.
"Tadi kau ke mana?"
"Hanya keluar untuk jalan-jalan!"
Bing-cu menjawab dengan malu-malu.
"Bing-cu, apa aku juga tidak kau per-cayai?"
"Aku mencari Siau Cu!"
Akhirnya Bing-cu berkata jujur.
"Kita hanya..."
"Tidak perlu menjelaskan pada bibi ke lima, aku juga pernah muda, mana mungkin tidak mengerti hatimu! Tapi harap kau jangan mengulangi lagi kesalahan yang sudah dibuat!"
Tiba-tiba Bing-cu berkata.
"Siau Cu adalah orang baik!"
"Tapi keluarga kalian tidak setara, boleh dikatakan terlalu jauh. Aku kira Lo-taikun akan menentang!"
"Apakah bertemu dengan berbicara dengannya juga tidak boleh?"
"Sebagai perempuan, akan selalu mendapat rugi!"
"Kalau begitu apa yang harus aku lakukan?"
"Kalau bisa kau menghindar, kalau terpaksa, harus melihat takdir Thian!"
Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 122
"Waktu kau mencari Siau Cu tadi, apakah ada yang melihat?"
"Seharusnya tidak ada!"
"Kelak harus lebih berhati-hati lagi. Kalau aku tahu tidak menjadi masalah, tapi bila dia tahu..."
"Dia itu siapa?"
Tiong Bok-lan tidak memberitahu siapa, hanya berkata.
"Yang penting kau ingat, di keluarga keluarga Lamkiong ada begitu banyak orang, belum tentu semuanya orang baik!"
Bing-cu tidak menjawab.
Mungkin karena dia mengira Tiong Bok-lan adalah orang yang keras kepala, mungkin juga karena dia sudah tahu.
Malam ini adalah malam yang paling sulit dilewati oleh Bing-cu.
Dengan susah melewati malam, hari baru terang.
Pagi-pagi Siau Cu sudah pamitan dengan Lamkiong Po.
Walaupun Bing-cu sempat mengantar Siau Cu, tapi karena ada Lamkiong Po maka dia tidak berkata apa-apa.
Tapi dari pancaran matanya sudah terlihat dia berat hati ditinggal Siau Cu.
Lamkiong Po tidak menahan dia.
Terhadap Siau Cu dia merasa bersalah.
Walaupun dia sudah tahu siapa yang membunuh Lam-touw, tapi dia tidak bisa mengatakan.
Apakah kelak Siau Cu akan mengetahui pembunuh gurunya adalah keluarga Lamkiong?
Apakah pada waktu itu akan ada perubahan?
Itu bukan sesuatu yang bisa dia hadang.
Siau Cu tidak tahu setelah berpisah dengan Bing-cu semalam, dia banyak mengalami peristiwa aneh.
Dia terus membalikkan kepala melihat Bing-cu.
Walaupun merasa bingung tapi hatinya tetap terasa manis.
124-124-124 Karena tidak enak hati, maka Siau Cu berjalan tidak cepat.
Sampai siang hari dia sudah jauh dari penginapan In-lai.
Dia mulai merasa aneh, waktu mau beristirahat, dia mendengar suara aneh di pinggir jalan.Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 123 Dia bisa tahu suara apa itu dan ketika melihat, ada seseorang yang sedang mengipas-ngipas di bawah pohon.
Orang itu adalah utusan lampion biru, Lan Ting-ji.
Itu benar-benar di luar dugaannya.
Dia segera meloncat berdiri.
Di belakang segera ada yang membaca.
"O-mi-to-hud!"
Dia melihat ke belakang.
Utusan lampion kuning Bu-sim sedang berdiri di belakangnya.
Kemu dian ada suara orang tertawa dari atas pohon.
Waktu Siau Cu melihat ke atas, utusan lampion merah duduk di atas pohon.
Sorot mata Siau Cu terus mencari.
Lan Ting-ji melihat dia dan berkata.
"Tenanglah, yang datang hanya kami bertiga, apakah belum cukup?"
"Apakah kalian ingin membalaskan dendam Liu Kun?"
Lan Ting-ji menggelengkan kepala.
"Liu Kun sudah mati. Orang mati tidak bisa hidup kembali, untuk apa kita melakukan hal yang tidak berguna?"
"Kami masing-masing demi atasan baru membuat permusuhan. Sekarang keadaan sudah tenang maka dendam sudah ikut menghilang!"
"Bukankah tadi kalian ingin memberitahu kepadaku bahwa kalian hanya kebetulan lewat di jalan dan bukan sengaja menunggu aku di sini?"
"Sebenarnya tidak begitu! Di sini tidak ada meja atau kursi. Sekarang kau ada di sini maka kita bereskan di sini!"
"Kita tidak ada dendam, hanya ingin meminjam sesuatu darimu!"
Kata Bu-sim.
"Barang apa?"
Siau Cu tidak terpikir.Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 124
"Bi-giok-leng! Barang ini tidak ada gunanya untukmu. Kita sudah saling mengenal, lebih baik kau berikan kepada kami!"
"Bi-giok-leng?"
Tangan Siau Cu tidak sengaja memegang kantong kulit di pinggang.
"siapa yang memberitahu kalian Bi-giok-leng ada di tanganku?"
"Asal kau mengaku Bi-giok-leng di tanganmu, siapa yang memberitahu itu sama saja!"
Utusan lampion merah tertawa.
"Kalian yang membunuh guruku?"
"Pek-lian-kau berani melakukan pasti berani mengakui! Tapi sayang itu bukan kami!"
Kata Bu-sim.
"Kalian pasti tahu sedikit banyak!"
"Tapi sayang kami tidak tahu. Bi-giok-leng di tanganmu tidak ada gunanya, mengapa tidak berikan kepada kami?"
Kata Lan Ting-ji.
"Bila kalian mau bertarung, sekarang boleh dimulai!"
"Suseng, apakah..,"
Utusan lampion merah tertawa.
"Arak yang terhormat biasanya tidak ada orang yang suka meminumnya!"
Lan Ting-ji menggelengkan kepala.
"Ini persetujuan dari hweesio!"
Tiba-tiba Bu-sim mengangkat tongkat dan menyapunya ke pinggang Siau Cu.
Suara baru terdengar, tongkat dan orang sudah sampai.
Siau Cu lebih cepat.
Tongkat belum sampai, tubuhnya sudah seperti panah melesat keluar.
Tongkat mengenai pohon tempat Siau Cu berdiri tadi, pohon pun patah.
Pohon patah mencegat Lan Ting-ji yang ingin mengejar Siau Cu.
Utusan lampion merah yang ingin meloncat dan mengejar juga terhadang oleh pohon patah.
Siau Cu dan Lu Tan adalah orang yang sifatnya bertolak belakang.
Kalau Lu Tan jelas-jelas sudah tahu akan kalah, dia tetapLegenda Pendekar Ulat Sutra -2 125 bertarung sampai akhir.
Sedangkan Siau Cu kalau tahu akan kalah dia akan kabur, kecuali terpaksa.
Tidak hanya Bu-sim yang merasa di luar dugaan.
Lan Ting-ji dan utusan lampion juga sama merasa di luar dugaan mereka.
Waktu mereka melewati pohon patah, Siau Cu sudah berada 13 tombak jauhnya.
"Kejar!"
Teriak Bu-sim.
Lan Ting-ji dan utusan lampion merah segera mengejar.
Kalau lawan hanya satu orang, Siau Cu pasti tanpa pikir panjang bersembunyi di semak-semak hutan.
Tapi lawan ada tiga orang dan masing-masing adalah pesilat tangguh.
Bukan hal yang mudah untuk menipu mata mereka, maka Siau Cu terpaksa berlari ke depan.
Ilmu meringankan tubuh Lan Ting-ji dan utusan lampion merah sangat bagus.
Bu-sim yang membawa tongkat berat juga tidak tertinggal jauh.
Tapi untuk mengejar Siau Cu, mereka harus berusaha keras.
Yang merugikan Siau Cu adalah setelah berlari jauh, di depan malah terbentang tanah datar.
Mereka sudah semakin mendekat.
Dahi empat orang ini sudah berkeringat, kekuatan mereka terus berkurang dan tidak ada kesempatan untuk memulihkan tenaga.
Setelah melewati hutan, ada dinding gunung yang menghadang.
Siau Cu menarik nafas.
'Mungkin Thian ingin aku mati!' Waktu dia membalikkan tubuh siap bertarung, tiba-tiba dia melihat di sebelah kiri tidak jauh pada dinding gunung ada sebuah celah retakan yang panjang.
Dia berpikir.
'Thian memang tidak menghentikan usahaku!' Dia segera berlari ke celah itu.
Lebar celah retak itu sekitar 3 depa, dengan kedalamannya sekitar 3 tombak.
Di sana ada sebuah patung kera.
Dua tanganLegenda Pendekar Ulat Sutra -2 126 patung kera memegang piring yang terbuat dari batu.
Dia sedang menghidangkan buah persik yang juga terukir dari batu.
Siau Cu tidak melihat patung kera lebih lama lagi, dia meloncat melewati kepala kera dan terus berlari.
Lan Ting-ji, utusan lampion merah, dan Bu-sim sudah sampai.
Melihat patung kera, mereka berhenti.
"Apakah ini adalah Sian-tho-kok?" (Lembah dewa persik). Lan Ting-jin berpikir sambil melihat patung kera itu.
"Tidak peduli apa itu, yang penting bisa mendapatkan Bi-giok-leng!"
Utusan lampion merah segera berlari ke sisi patung kera itu.
Tapi kemudian muncul siulan aneh.
Ribuan , batu segera dilempar.
Untung utusan lampion merah bergerak cepat, dia menjemput beberapa batu dan segera berlari mundur.
Batu-batu jatuh seperti hujan.
Setelah itu S berhenti.
Waktu mereka melihat ke atas, terlihat di 'i kiri dan kanan dinding gunung kera yang besar dan j kecil, entah ada berapa ribu ekor kera.
Tangan kera masing-masing memegang batu, mata kera terus me-lototi mereka.
Lan Ting-ji tertawa kecut.
"Aku kira tempat ini hanya mitos, ternyata benar ada tempat seperti ini!"
"Apakah kita takut kepada kera-kera ini?"
Utusan lampion merah bertanya.
"Kera-kera itu tidak perlu ditakuti. Tuan mereka lah yang akan membuat kita repot!"
Kata Bu-sim.
"Mitos dunia persilatan berkata di Sian-tho-kok tinggal seorang Cianpwee bernama Wan. Dia sulit dihadapi. Tidak ada yang tahu ilmu silatnya setinggi apa!"
"Itu karena pengetahuanmu sempit dan dangkal!"
Kata Bu-sim tertawa.
"Hweesio tahu seberapa banyak tentang Wan-tianglo?"Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 127
"Yang lain tidak kita bicarakan. Katanya guru Siauw-lim-pai Sim-tan, begitu mengangkat bicara tentang orang ini juga menggelengkan kepala. Tapi saying, selihai apa orang ini, selain menggelengkan kepala dia tidak menjelaskan lebih jauh! Sepenge-tahuanku, Sim-tan-cianpwee bukan orang yang takut kerepotan, dia adalah orang yang sangat sabar!"
Lan Ting-jin melipat kipasnya.
"Maksudku lebih baik kita pulang dan meminta petunjuk dulu?"
"Lebih baik, salah satu dari kita bertiga masuk untuk melihat agar tahu kelihaiannya seperti apa. Tapi aku percaya dari kita bertiga, tidak ada yang mau melakukan ini!"
"Tadinya aku mau. Tapi setelah mendengar cerita ini lebih baik aku melepaskan niat ini!"
Kata utusan lampion merah.
"Sayang!"
Kata Bu-sim.
"Entah Siau Cu yang kita kejar ada hubungan ada dengan Wan-tianglo?"
"Sedikit banyak pasti ada kaitan. Kalau tidak, untuk apa dia berlari kemari?"
Kata Lan Ting-ji.
"Yang lain tidak perlu kira urus. Asal tahu dia berada di sini, kita ada alasan melapor kepada Ji-wi Kaucu. Itu sudah cukup!"
Kata Bu-sim.
Dia segera membalikkan tubuh dan pergi.
Lan Ting-ji dan utusan lampion merah ikut berjalan.
Kera-kera itu tidak melemparkan batu lagi.
Patung kera seperti lambang batas kera-kera.
Asal tidak melewati batas patung kera, mereka tidak akan bertindak.
125-125-125 Jalan dari celah retakan ke dalam adalah suatu lembah.
Di sini terdapat banyak pohon persik.
Mungkin ada beberapa puluh ribu pohon.
Pohon sangat tinggi dan penuh dengan buah persik.
Di sana juga ada banyak kera.
Ada kera yang memanjat di pohon rotan dan berayun-ayun.
Siau Cu belum pernah melihat tempat seperti ini maka dia merasa aneh.
Sesuatu melayang datang menuju dirinya.Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 128 Gerakannya seperti kera.
Begitu melihat jelas, ternyata adalah seorang tua.
Siau Cu dicengkram oleh orang tua itu dan dibawa ke tempat pohon-pohon tumbuh lebat.
Orang tua ini bertubuh pendek dan kecil tapi kedua tangannya sangat panjang, panjang tangannya mencapai lutut.
Dia bermulut lancip dan pipinya cekung ke dalam.
Orang tua ini terlihat sangat aneh, membuat orang ingin tertawa.
Tapi dia tidak terlihat jahat.
Gerakannya sangat cepat.
Walaupun Siau Cu melihat orang tua ini tidak mempunyai niat jahat, tapi dia juga tidak mau ditangkap seperti anak ayam.
Dia mau melawan tapi sudah terlanjur dicengkram.
Orang tua hanya menangkapnya dengan lima jari, tapi dua jarinya begitu tepat menekan di jalan darah Siau Cu, membuatnya merasa pegal dan linu juga merasa nyaman, sedikitpun tidak merasa sakit.
Maka dia meregangkan tubuh.
Setelah melewati hutan persik, di depan tampak dataran tinggi.
Terlihat sebuah rumah berbentuk aneh yang terbuat dari batang pohon.
Pak tua melempar Siau Cu di depan rumah itu.
Siau Cu merangkak bangun.
"Terima kasih Cianpwee sudah menyelamatkan Siau Cu!"
"Orang dunia persilatan memanggilku Wan-tiangli!"
Siau Cu tidak tahu. Dia tertawa lepas.
"Teman dunia persilatan memanggilku Siau Cu."
"Siau Cu, dasar ilmu silatmu bagus, kau termasuk dalam perkumpulan mana?"
"Tidak ada perkumpulan. Aku hanya menjual teknik sulap di jalan!"
"Betulkah?"
"Kalau anda tidak percaya, aku bisa mempera gakan untukmu!"
"Tidak perlu!"
Lalu dia tertawa.
"siapapun kau, Thian telah mengantarkanmu kemari, berarti kau milikku!"
Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 129
"Aku tidak mengerti!"
"Kalau begitu dengar baik-baik. Ilmu yang kulatih adalah 'Tai-seng-sin-kang' (Ilmu sakti Sun Ngo-kong). Seharusnya langkah-langkah perubahan terdiri dari 64 jurus. Setelah diteliti dan diubah, sekarang perubahan mencapai 284 macam. Asal kau sanggup, kau bisa menahan seranganku lama!"
"Aku semakin tidak mengerti!"
Siau Cu meng gelengkan kepala.
"apa maksud anda memberitahu tentang ini kepadaku?"
"Maksudku adalah aku berharap kau bisa bertahan lebih lama, kalau sekali bertarung kau sudah jatuh, itu membosankan!"
"Maksudmu kau ingin bertarung denganku?"
"Dunia begitu besar, tidak ada tempat yang lebih indah daripada tempat ini. Aku sudah tua, aku malas keluar mencari orang yang mau bertarung denganku. Sedangkan kau, kau sendiri yang datang kemari!"
Maka Wan-tianglo tertawa sendiri. Dia terlihat sangat senang. Siau Cu melihat Wan-tianglo dan menggeleng kan kepala.
"Kau sudah tua dan pernah menyelamatkanku, aku tidak tega melukaimu. Apalagi aku masih punya hal penting yang harus kulakukan. Siau Cu pamit pergi!"
Dia benar mau pergi dan baru melangkah, dua tangan Wan-tianglo bergerak.
Rotan yang selalu berada di tangannya segera terbang ke arah Siau Cu.
Rotan yan panjangnya puluhan depa terlihat akan melilit dua kaki Siau Cu.
Tapi waktu Siau Cu meloncat ke atas, rotan dari bawah meloncat ke atas, melilit leher Siau Cu.
Siau Cu ingin membuka lilitan kaki, tapi dia sudah ditarik ke depan Wan-tianglo.
Memang leher tidak patah tapi tidak nyaman rasanya.
"Kau sudah tahu kaki dan tanganku gatal ingin bertarung tapi kau tidak menolongku, malah ingin kabur!"
Wan-tianglo marah.
"kalau kau tidak mau bertarung denganku, aku akan mencabut nyawa mu!"
Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 130 Kemudian dengan cepat dia melilit Siau Cu dengan rotan itu.
"Lepaskan aku dulu!"
Siau-cu tertawa.
"Berarti kau ingin bertarung denganku!"
"Bagaimana jika aku bisa mengalahkan-mu?"
"Apa yang kau suka akan kuberikan!"
Wan-tianglo tertawa.
"Bagaimana kalau aku kalah?"
"Yang pasti harus tinggal di sini, setiap hari bertarung denganku sampai kau bisa mengalahkan aku!"
Sambil berkata, dia melepaskan Siau Cu. Siau Cu tertawa kecut.
"Berarti aku tidak bisa membiarkanmu!"
"Bocah, sombong sekali kau!"
Siau Cu mengambil nafas.
Dengan beberapa gerakan dia membuat otot-ototnya rileks.
Dia segera menyerang.
Dia tahu Wan-tianglo bukan orang yang mudah dikalahkan, maka sekali menyerang dia langsung menggunakan jurus andalan dari perguruannya.
Dia berharap dengan beberapa kali serangan tiba-tiba bisa membuat Wan-tianglo roboh dan dia bisa meninggalkan tempat ini.
Dia juga tahu seperti gurunya Lam-touw, Kao Siau-thian, orang aneh di dunia persilatan ini memang memiliki sifat yang aneh, tapi mereka sangat menepati janji.
Maka dengan cara apapun dia akan merobohkan orang tua ini.
Yang dia pikirkan adalah perhitungan dia sendiri, tapi begitu dia menyerang, Wan-tianglo seperti bisa berubah.
Dari depan, belakang, kiri, dan kanan berputar-putar, kemudian menyerang kaki, tangan, kepala, dari semua arah menyerangnya.
Siau Cu tahu itu adalah ilusi.
Dia tahu ilusi ini terjadi karena perubahan yang cepat di tubuh Wan-tianglo, ditambah dengan sudut-sudut tertentu maka mengganggu pandangannya.Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 131 Kata-kata Wan-tianglo tidak dilupakan, tapi sekarang dia sudah tidak tahu yang mana yang benar dan yang tidak.
Im atau Yang, sampai-sampai keberadaan Wan-tianglo juga tidak bisa dia pastikan.
Kalau begini, mana bisa bertarung?
Dia tertawa kecut, akhirnya dia bisa melihat sedikit.
Karena pendengarannya sangat tajam, dia menyerang dengan kepalan.
Tapi perubahan Wan-tianglo benar-benar cepat, gerakan dia sama sekali tidak terkejar.
Baru sebentar, Siau Cu sudah ditendang dan dipukul beberapa kali.
Tendangan dan pukulannya tidak ringan, membuat tubuhnya bergoyang ke sana-sini.
Dengan susah payah bisa berdiri tegak tapi serangan yang lain sudah datang lagi.
Hal ini membuat dia terguling ke bawah.
Dia terbaring di bawah.
Wan-tianglo segera berhenti menyerang.
Dia berjongkok di depan Siau Cu dan melayangkan tangan.
"Terus! Teruskan..."
Siau Cu menggelengkan kepala dan sudah bernafas terengah-engah.
"Aku mengaku bukan lawanmu!"
"Tapi tetap harus terus bertarung!"
"Aku tidak ada dendam denganmu, bagaimana kalau aku terluka? Apakah kau tega melihatnya?"
"Tenanglah! Kalau kau terluka, aku akan mengobatimu. Bangun! Bangun!"
Wan-tianglo tidak peduli.
Dia memaksa Siau Cu bangun.
Siau Cu mengambil kesempatan menyerang dengan kepalan tapi kepalan belum sampai, tangan Wan-tianglo sudah terlepas.
Siau Cu mengejarnya.
Tidak lama tubuh Wan-tianglo berubah seperti tadi lagi, kemudian dengan tendangan dan kepalan memukul Siau Cu sampai terguling lagi.
Siau Cu mulai marah.
Dia meloncat bangun.
Semua ilmu yang diajarkan Lam-touw dikeluarkan.Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 132
"Ini baru benar!"
Wan-tianglo sangat senang.
Setelah bertarung ratusan jurus, Siau Cu tetap di pukul sampai roboh.
Kali ini tangan dan kaki Siau Cu terbuka lebar.
Dia memejamkan mata dan tidak merangkak bangun lagi, Wan-tianglo berhenti.
Dia meraba wajah Siau Cu yang terlihat tidak berekspresi lagi.
Dia menggelengkan kepala.
"Begitu cepat sudah selesai!"
Dia segera berjalan mendekati gentong di sisi rumah.
Terlihat dia belum mau berhenti dan ingin menyiram Siau Cu dengan air supaya dia sadar.
Ketika dia membalikkan tubuh, Siau Cu segera membuka sebelah mata dan meloncat bangun.
Dia berlari ke arah hutan buah persik.
Wan-tianglo segera menge tahuinya.
Tangannya bergetar, rotan yang di bawah segera terbang keluar dan mengikat Siau Cu dengan kencang.
Walaupun di tangan Wan-tianglo tidak ada rotan, tapi tubuhnya berguling dan kemudian mengulurkan tangan, dia segera mencengkram rotan dan menarik.
Siau Cu langsung ditarik kembali dan terguling di bawah.
Belum sempat menarik nafas, kepalan Wan-tianglo sudah memukulnya.
Dia terpaksa menahan dan menyerang lagi.
Siau Cu sudah lelah, semua ilmu silat sudah dikeluarkan.
Wan-tianglo merasa bosan, tapi dia tetap memukul Siau Cu sampai roboh.
Siau Cu berusaha bangun tapi roboh lagi.
Wan-tianglo melihat dia memang tidak bisa bertarung lagi, maka menariknya bangun dan berkata.
"Baiklah, hari ini sampai di sini saja!"
Siau Cu sudah tidak ada reaksi lagi karena dia sudah pingsan. Wan-tianglo menggendong dia dan berjalan ke rumah pohon sambil mengomel.
"Siau Cu memang kalah dengan yang itu tapi lumayan juga. Kelak kalian berdua harus bergiliran melayaniku, itu baru namanya kesenangan."
Baru menyelesaikan kata-katanya, dia melempar Siau Cu masuk ke rumah pohon melalui jendela.Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 133 Di dalam rumah pohon tergantung sebuah ranjang besar yang dianyam dengan rotan.
Seorang laki-laki berambut panjang dan acak-acakan sedang berbaring di sana.
Siau Cu terlempar di sisinya tapi dia sama sekali tidak menunjukkan reaksi apa-apa.
Siau Cu cepat berusaha untuk sadar.
Walau pun setengah sadar dia masih tahu apa yang terjadi.
' Melihat orang di sisi, dia segera mendorongnya.
Orang itu tetap tidak ada reaksi, walaupun digoyang I dengan kuat juga sama saja.
"Tidak diragukan lagi, dia pasti disiksa oleh , orang aneh itu sampai seperti ini. Kelihatannya aku ! juga akan seperti ini!"
Karena terlalu lelah, Siau Cu pingsan lagi.
Waktu dia sadar kembali, malam sudah larut.
Di sisinya ada sebuah piring kayu dan beberapa buah persik yang besar, juga ada setengah ekor ayam bakar yang masih panas.
Dia tidak sungkan, langsung makan sampai kenyang.
Siau Cu melihat orang itu l tetap terbaring di sana.
Dia mencoba memeriksa pernafasan dari hidung, nafasnya sangat lemah.
Siau Cu sulit menjaga diri, bila terpikir gurunya Lam-touw terbunuh, dia benar-benar ingin kabur.
Melihat di rumah pohon tidak ada orang lain, dia merangkak dari ranjang rotan ke depan jendela.
Di luar jendela sangat sepi, hanya ada seekor kera kecil sedang berjongkok di sana.
Setelah mendengar sebentar, dia meloncat keluar dari jendela.
Kera kecil itu segera melotot.
Siau Cu memberi isyarat agar jangan ribut dan diam-diam berjalan terus.
Kera kecil itu seperti merasa aneh melihatnya, kemudian berteriak.
Begitu kera kecil berteriak, kera-kera di sekeliling segera berteriak.
Siau Cu baru melihat di sekeli-lingnya banyak kera yang sedang tidur.
Wan-tianglo keluar dari rumah pohon, dia sedangLegenda Pendekar Ulat Sutra -2 134 meng-gendong seekor kera kecil.
Siau Cu ingin bersem-bunyi tapi tidak sempat lagi.
"Baiklah! Apakah kau sudah beristirahat dan ingin bertarung denganku di bawah sinar bulan?"
Begitu melihat adalah Siau Cu, Wan-tianglo segera berkata dengan senang.
"Kau sudah salah paham, aku keluar karena ingin melihat bulan!"
Siau Cu segera bersalto kembali ke rumah pohon dan berbaring lagi di ranjang rotan itu. Suara tawa Wan-tianglo terdengar.
"Kau tidak perlu berpura-pura, kau tidak akan bisa kabur, lebih baik kau tidur dengan baik dan besok baru bertarung lagi denganku!"
Siau Cu tidak menjawab.
Wan-tianglo juga tidak bicara lagi.
Kera-kera yang berteriak juga berhenti.
Tapi ada suara keluar dari orang yang berbaring itu.
Awalnya dia menarik nafas pelan-pelan kemu dian nafasnya semakin kencang.
Nafasnya bukan seperti manusia sedang terengah-engah, tapi seperti seekor binatang.
"Ada apa denganmu?"
Tanya Siau Cu terkejut.
Orang ini hanya bisa bernafas terengah-engah.
Dia seperti sangat kesakitan.
Siau Cu tidak bisa apa-apa, dia segera teringat Wan-tianglo.
Pintu kamar tiba-tiba terbuka, yang masuk adalah Wan-tianglo.
"Orang ini..."
Siau Cu baru ingin memberi tahu, Wan-tianglo sudah meloncat ke atas ranjang dan turun di sisi orang itu.
Dia segera menotok puluh an nadi di punggung orang itu kemudian membalikkan tubuh orang itu.
Menotok puluhan nadi di tubuh bagian depan dan menghembuskan nafas.
"Tidak akan terjadi apa-apa!"
Dia segera keluar kamar dan menutup kembali pintu. Orang itu merangkak bangun. Siau Cu memapah dia.Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 135
"Bagaimana keadaanmu sekarang?"
"Tidak apa-apa lagi!"
Orang itu mengangkat kepala.
Sinar bulan menyinari wajahnya.
Dia bukan orang lain, dia adalah Wan Fei-yang.
Hanya saja Siau Cu tidak mengenal Wan Fei-yang.
Dia hanya merasa orang ini tidak mirip orang jahat.
Wan Fei-yang juga tidak banyak berbicara.
Dia duduk bersila untuk mengatur nafas.
Siau Cu bisa melihat dan tidak mengganggunya.
Mungkin dia teringat besok masih harus bertarung lagi dengan Wan-tianglo.
Dia berbaring lagi dan siap tidur dengan nyenyak.
126-126-126 Akhirnya hari terang juga.
Waktu Siau Cu bangun, Wan Fei-yang sudah selesai mengatur nafas dan membuka mata.
"Apakah kau sudah tidak apa-apa?"
Tanya Siau Cu.
"Terima kasih atas perhatianmu!"
Wan Fei-yang tersenyum.
"apakah kau juga tertangkap oleh Wan-tianglo?"
"Orang aneh itu benar-benar aneh. Umurnya sudah tua tapi masih suka bercanda!"
"Siapa namamu?"
Tanya Wan Fei-yang.
"Aku adalah bayi yang dibuang, tanpa marga dan nama. Guru memanggilku Siau Cu. Orang lain juga memanggilku begitu."
Teringat akan guru, Siau Cu merasa sedih lagi.
"Oh?"
Wan Fei-yang sedikit terharu melihat Siau Cu.
"Namaku Wan Fei-yang!"
"Wan Fei-yang?"
Siau Cu terpaku kemudian tertawa.
"sayang hanya nama dan marga yang sama. Jika kau adalah Wan Fei-yang dari Bu-tong-pai yang aku kenal, kau tidak akan takut dengan orang aneh itu!"
"Di mana kita pemah mengenal?"
Siau Cu terpaku.
"Apakah kau adalah Wan Fei-yang dari Bu-tong-pai? Kau sudah menguasai Thian-can-kang. Di Tai-san kau mengalahkan Tokko Bu-Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 136 ti. Di Siong-san mengalahkan Put-lo-sin-sian. Apakah kau adalah Wan Fei-yang itu?"
"Semua sudah menjadi masa lalu..."
Wan Fei-yang menarik nafas.
"Benar-benar ada mata yang tidak mengenal ksatria ini!"
Siau Cu tertawa.
"Sebenarnya aku tidak mengenalmu, tapi dua temanku mengenalimu. Dari mulut mereka, aku tahu kau adalah seorang ksatria. Maka bisa mengenalmu aku sangat beruntung!"
"Dua temanmu itu adalah?"
"Yang satu adalah Lu Tan!"
"Lu Tan?"
Kata Wan Fei-yang, dia segera teringat.
"orang ini sangat berbakat tapi sayang tidak berada di Bu-tong-san untuk belajar ilmu silat!"
"Yang satu lagi seharusnya kau lebih mengenalnya. Dia adalah Fu Hiong-kun.. Tubuh Wan Fei-yang bergetar.
"Bagaimana keadaan mereka sekarang?"
"Karena membunuh Liu Kun, Lu Tan diberi jasa maka bisa membersihkan nama ayahnya yang disebut pemberontak, tapi dia tidak tertarik untuk menjadi seorang pejabat. Dia memilih kembali ke Bu-tong-san dan katanya ingin menjadi seorang pendeta, dia juga ingin berlatih ilmu silat untuk mengabdi pada Bu-tong."
"Benar-benar bagus! Bagaimana dengan Fu Hiong-kun?"
"Baik!' "Apakah dia sudah mempunyai kekasih?"
Tanya Wan Fei-yang. Siau Cu tidak terpikir apa maksud Wan Fei-yang bertanya akan hal ini dan dia sama sekali tidak merasa aneh. Dia menjawab.
"Tidak begitu jelas tapi An-lek-hou sepertinya suka kepadanya!"
"An-lek-hou Su Yan-hong?"
"Apakah kalian saling mengenal?"
Wan Fei-yang mengangguk.Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 137
"Apakah dia baik kepada An-lek-hou?"
"Lumayan!"
Wan Fei-yang tertawa kecut tapi merasa terhibur dan berkata sendiri.
"Kalau Fu Hiong-kun bisa melupakan masa lalu, dia baru bisa gembira!"
Tapi Siau Cu tidak mendengar.
"Betul, Wan-toako kau mempunyai ilmu silat yang hebat dan membuat dunia persilatan bergetar. Semua orang berharap kau bisa menjaga keadilan, mengapa kau kemari?"
Wan Fei-yang melihat Siau Cu.
"Sebenarnya bukan rahasia apa-apa. Waktu bertarung di Tai-san, walaupun aku mengalahkan Tokko Bu-ti, tapi aku terluka oleh ilmu 'Thian-mo-kay-te-tay-hoat'. Waktu itu An-lek-hou memberikan 'Cian-iian-ciap-su' kemudian Guru Bu-go dari Siauw-j lim dengan ilmu tusuk jarum menyambung nadiku , yang putus. Maka aku bisa pulih sekitar 70%-80%. ' Waktu bertarung lagi dengan getaran kecapi yang bernama Jit-sat dari Pek-lian-kau, Put-lo-sin-sian, aku > terpaksa melawannya dengan sekuat tenaga. Nadi-nadiku tergetar dan putus. Jika bukan Guru Bu-wie yang memberitahukan cara menggunakan 'Ih-kin-keng' dan melakukan pengobatan sendiri, mungkin aku sudah mati!"
Walaupun baru bertemu tapi entah mengapa . terhadap Siau Cu, Wan Fei-yang merasa suka, pembicaraan mereka pun menjadi banyak.
"Maka kau bersembunyi di sini?"
"Apakah Ih-kin-keng ada gunanya, Guru Bu-wie juga tidak yakin. Jika benar akan mati, aku diam-! diam tinggal sendiri, itu sudah cukup, untuk apa mengejutkan teman dan membuat mereka sedih?"
Kata Wan Fei-yang sambil tertawa.
"tadinya aku ingin mencari suatu tempat di mana tidak ada orang datang menganggu, tapi sebelum mendapatkan tempat itu, Wan-tianglo sudah datang mencari!"
Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 138
"Untuk apa orang aneh itu mencarimu?"
"Orang ini berlatih ilmu silat sampai menjadi gila, setiap hari selalu mencari pesilat tangguh untuk bertarung. Orang-orang dunia persilatan takut dan menghindari dia agar tidak menjadi repot. Dia tahu aku adalah pesilat tangguh, mana mungkin dia melepaskan kesempatan ini!"
"Kau kalah bertarung dengannya?"
"Luka dalamku belum sembuh. Belum sampai tiga jurus aku sudah muntah darah dan roboh. Tapi dia tidak melepaskanku dan mengantarku kemari. Setiap malam dengan ilmu Tay-seng-sin-kang membantuku melancarkan jalan darah. Ditambah aku menggunkan Ih-kin-keng untuk mengobati diri sendiri maka bisa bertahan hidup sampai sekarang!"
"Tujuan dia hanya ingin bertarung denganmu?"
"Sekarang satu hari satu kali!"
"Dia tetap menang?"
"Ilmu silat orang ini tidak berada di bawah Tokko Bu-ti dan Put-lo-sin-sian."
"Aku lihat jika belum membuat kita sampai benar-benar lelah, dia tidak akan berhenti. Luka dalammu belum sembuh, setiap hari pasti sangat sakit bagimu."
"Tapi banyak kebaikan yang bisa kita dapatkan!"
"Tapi dengan begitu kau tidak ada waktu untuk beristirahat, kapan luka dalammu akan sembuh?"
Terdengar ada suara, pintu sudah terbuka. Wan-tianglo datang sambil tertawa.
"Sekarang aku akan mencari orang untuk bertarung, di antara kalian berdua siapa yang maju duluan?"
"Aku!"
Siau Cu langsung menjawab.
Wan Fei-yang ingin menarik dia tapi Siau Cu sudah meloncat keluar.
Setelah di depan pintu, tiga kepalan sudah menyerang.
Wan-Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 139 tianglo terus mundur, sampai di lapangan luar rumah dia baru membalas.
Setelah itu serangan Siau Cu semakin gencar.
Semangat Wan-tianglo terlihat semakin bertambah.
Wan-tianglo berteriak.
"Baik!"
Dia meloncat juga berguling-guling seperti seekor kera.
Dia santai juga senang, tapi bersifat tidak sabar.
Ilmu Tay-seng-sin-kang sudah dikeluarkan dan posisinya terus berganti-ganti, membuat mata Siau Cu kacau.
Kemudian Siau Cu terkena pukulan dan terjatuh.
Dia meloncat bangun.
Kaki dan tangan bergerak menyerang lagi.
Di dalam tawanya, Wan-tianglo berputar lagi.
Siau Cu tertawa kecut, waktu dia siap dipukuli, tiba-tiba suara Wan Fei-yang terdengar.
"Cong-kang, Cou-hong-bun, Tan-hong-cau-yang, Beng-houw-sin-yo!" (semua adalah nama-nama jurus). Reaksi Siau Cu sangat lincah. Dia segera bergerak. Ilusi yang di depan mata menghilang. Waktu memperagakan Beng-houw-sin-yo, sepasang kepalan menyerang ke dada Wan-tianglo. Wan-tianglo bertahan ke kiri dan kanan, kemudian berbalik ke bela kang Siau Cu. Siau Cu menendang tapi tidak mengenai sasaran dan melihat ilusi terjadi lagi. Wan Fei-yang membentak lagi.
"Lan-lo-ta-kun (keledai malas berguling), Yu-tai-wie-yau (tali ikat pinggang), Ouw-liong-pak-bwe (naga hitam menggoyangkan ekor)."
Dua jurus di depan menutupi serangan Wan-tianglo. Jurus terakhir menyapu dengan kaki, memak sa Wan-tianglo berbalik kembali.
"Baik! Ada pesilat tangguh yang memberitahu memang berbeda!"
Wan-tianglo tertawa.
Tubuhnya terus berubah semakin cepat.Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 140 Mata Wan Fei-yang melihat dengan cepat, mulut juga berbicara cepat, tapi Siau Cu tidak bisa mengikuti dengan cepat.
Setelah beberapa jurus, lagi-lagi dia roboh dipukul.
Wan-tianglo menendang Siau Cu dengan kepalan.
Untung Wan Fei-yang cepat datang, dia menyambut dua pukulan Wan-tianglo.
Wan-tianglo tertawa lepas.
Tubuh dia berubah dengan cepat.
Wan Fei-yang tidak kalah cepat dari dia.
Siau Cu melihat dengan mata terbelalak dan terus melihat, sampai dia sudah tidak bisa melihat lagi perubahan tubuh Wan-tianglo dan Wan Fei-yang terlalu cepat.
Siau Cu kembali bisa melihat perubahan mereka bukan karena matanya yang bisa mengejar, melainkan perubahan tubuh mereka menjadi semakin pelan.
Keringat besar menetes dari dahi Wan Fei-yang.
Dia mulai terengah-engah, gerakannya mulai pelan, Wan-tianglo ikut pelan, tawanya dari tawa besar menjadi biasa, akhirnya menghilang.
Dia menarik nafas dan pergi.
Wan Fei-yang roboh.
Siau Cu berteriak.
"Wan-toako!"
Dan segera memapah Wan Fei-yang.
"Tidak apa-apa!"
Wan Fei-yang tertawa kecut. Wan-tianglo menggelengkan kepala.
"Puas ya puas tapi sayang belum puas benar! Hari ini sampai di sini, besok aku akan datang lagi. Harap kalian paling sedikit seperti hari ini, jangan membuat aku kecewa!"
Siau Cu marah.
"Pada suatu hari aku akan membeset kulit dan tulangmu, dan aku ingin kau berlutut dan meminta ampun!"
Wan-tianglo malah tertawa.
"Kalau benar hari itu datang, aku benar-benar senang dan kehidupanku akan lebih sempurna!"
Setelah tertawa, dia bersalto beberapa kali dan menghilang.Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 141 Wan Fei-yang hanya bisa tertawa kecut.
Wan Fei-yang sudah duduk bersila untuk mengatur nafas.
Keringat di tubuh segera berubah menjadi uap melayang.
Tidak lama kemudian Wan Fei-yang sudah selesai mengatur nafas.
Dia segar kembali dan berdiri dengan tenang.
"Bagaimana keadaanmu sekarang?"
"Keadaan sama dengan sebelum bertarung dengan Wan-tianglo."
Wan Fei-yang tertawa.
"Ih-kin-keng yang bisa mengobati diri sendiri harus diakui sangat aneh!"
"Untung kau menguasai cara pengobatan sendiri, kalau tidak kau akan dipukul sampai cacat oleh orang aneh itu!"
Wan Fei-yang menggelengkan kepala.
"Walaupun dia suka ilmu silat seperti orang gila tapi dia bukan orang jahat, maka kau boleh tenang!"
"Atau dia takut kau menjadi cacat dan tidak ada orang yang bisa menemani dia berlatih?"
Terlihat Siau Cu memang tidak menyukai Wan-tianglo.
"Mungkin!"
Wan Fei-yang mengerti hati Siau Cu dan tidak membela.
"Sekarang cukup repot, entah kapan baru bisa meninggalkan tempat ini. Dendam guru dan Bing-cu!"
Siau Cu marah. Dia memukul ke bawah.
"Marah bukan cara memecahkan masalah!"
Mata Siau Cu berputar. Dia segera berkata.
"Wan-toako, Thian-can-sin-kang milikmu, Tokko Bu-ti, dan Put-lo Sin-sian juga tidak sanggup melawanmu. Apakah Wan-tianglo lebih lihai dari pada mereka?"
"Thian-can-kang berada di atas Tay-seng-sin-kang. Hanya saja luka dalamku tidak pernah sembuh, tenagaku putus-sambung maka tidak bisa mengeluarkan semua kekuatannya!"
"Berarti Ih-kin-keng juga tidak ada gunanya!"Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 142
"Hvkin-keng berjumlah 38 jurus. Sampai sekarang aku hanya bisa mengerti 36 jurus, masih ada 2 jurus lagi yang belum aku kuasai. Mungkin sesudah dikuasai, akan ada perubahan!"
"Kau pasti bisa!"
Siau Cu berkata penuh keper cayaan kepada Wan Fei-yang. Wan Fei-yang melihat Siau Cu.
"Tadi aku melihat kau bertarung dengan Wan-tianglo, tidak diragukan lagi kau adalah orang berbakat di dunia persilatan. Asal kau rajin, pasti ada hasil yang bagus!"
Siau Cu dengan malu mencakar rambutnya yang acak-acakan. Dia tidak biasa dipuji. Kata Wan Fei-yang.
"Mulai sekarang setiap hari aku akan berunding tentang ilmu silat denganmu. Kita bisa bertukar pola pikir kita!"
Sebenarnya maksud Wan Fei-yang adalah ingin mengajar. Siau Cu benar-benar senang.
"Aku tidak mempunyai apa-apa..."
"Setiap perkumpulan pasti ada keistimewaannya..."
"Terima kasih Wan-toako!"
Siau Cu ingin berlutut. Wan Fei-yang segera memapah.
"Kau juga memperhatikan ilmu Tay-seng dari Wan-tianglo, perubahan tubuhnya begitu lincah. Aku kira tidak ada orang bisa menandinginya!"
Siau Cu mengangguk.
"Kalau begitu aku harus berterima kasih pada orang aneh itu!"
"Seharusnya dia menghabiskan waktu untuk muridnya, tapi tidak ada orang yang mau menjadi muridnya!"
"Aku benar-benar tidak pernah bertemu deng an orang seperti dia!"
Belum menyelesaikan kata-katanya, Wan-tianglo sudah muncul dari hutan buah persik.
Dua tangan membawa sepiring buah persik,Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 143 mengantarkannya ke depan Wan Fei-yang dan Siau Cu, kemu dian segera bersalto keluar dan menghilang.
Wan Fei-yang dan Siau Cu hanya bisa tertawa kecut.
Kita tidak jelas dengan keadaan di Lu-san karena sedang berada di gunung ini.
Ini adalah puisi karya Soh Tong-po, seorang penyair Tiongkok kuno yang sangat terkenal.
Ada yang berkata bahwa sebenarnya puisi ini bukan sedang menceritakan Lu-san, mereka mengartikannya sebagai berikut, orang yang bersangkutan di dalam suatu permasalahan akan merasa bingung, sedangkan orang lain yang melihat permasalahan itu akan melihat dengan jelas.
Apakah mungkin interpretasi itu disebabkan karena Soh Tong-po memang belum pernah melihat keadaan Lu-san dengan jelas?
Lalu aslinya Lu-san sebenarnya seperti apa?
Ada yang menganggap itu adalah air terjun.
Itu masuk akal juga.
Dari semua gunung terkenal, air terjun di Lu-san benar-benar seperti beribu-ribu orang mabuk yang gilanya tidak terlukiskan.
Apalagi di Ceng-yu-sia, air terjun benar-benar jarang kita temukan.
Air terjun turun dengan cepat di antara dua gunung, terkadang air turun dengan lurus.
Suara gemuruh terdengar di antara batu-batu yang aneh bentuknnya, dan turun ke jurang yang berpuluh ribu depa dalamnya.
Benar-benar membuat orang terkejut.
Di sisi jurang ada sebuah tempat datar seperti panggung.
Entah kapan dan entah dewa mana yang tiba-tiba menepis gunung ini dengan kapak besar.
Dia menepis gunung bagian atas dan menyisakan gunung bagian bawah, maka jadilah tempat datar seperti panggung yang luas.
Sebuah rumah batu dibangun di sisi tempat ini.
Di depannya ada sebuah pohon cemara yang besar.
Di sisi sebuah meja batu duduk bersila tiga orang tua yang kurus.Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 144 Tiga dewa ini adalah Ih-sian (tabib), Yok-sian (obat), dan Tok-sian (racun).
Ih-sian memiliki ilmu pertabiban yang tinggi.
Yok-sian mengenal beribu-ribu macam obat dan ahli dalam mencampur obat.
Tok-sian seorang peneliti racun, seringkah dia sengaja menggunakan suatu ramuan racun untuk menyerang jenis racun yang lain untuk mendapatkan hasil yang aneh.
Tiga orang ini dulu saling bermusuhan, tapi karena sering mengadu ilmu maka dalam 15 tahun terakhir ini mereka sudah menjadi teman baik.
Tapi mereka sudah terbiasa setiap tiga tahun sekali harus beradu ilmu satu dengan yang lainnya, mereka harus menemukan pemenang baru berhenti beradu ilmu.
Setiap tiga tahun ketika mereka bertemu, mereka masing-masing mendapatkan hasil penelitian baru.
Kali ini pun tidak terkecuali.
Tapi Ih-sian terlihat sedikit lelah.
Baru saja duduk, dia sudah berkomentar.
"Kita sudah bertanding setiap tiga tahun sebanyak lima kali berturut-turut, tapi selama itu tidak pernah ada pemenang."
Yok-sian tertawa.
"Maka dari itu kita harus tetap bersaing. Apakah kau mau mundur?"
"Kalau mundur di hari pertandingan tahun ke-15, mati juga tidak akan bisa memejamkan mata!"
Kata Tok-sian. Ih-sian mengangguk.
"Karena itulah, hari ini tiga orang tua bertemu lagi!"
"Seharusnya kali ini bisa menentukan siapa yang menang dan siapa yang kalah!"
Kata Yok-sian.
"Setiap kali Lo-heng selalu percaya diri!!"
Kata Ih-sian.
"tapi sudah 15 tahun, tetap saja tidak ada yang menang!"
"Lebih baik kita lihat apa yang dihasilkan dia dalam tiga tahun ini!"
Kata Tok-sian.Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 145 Yok-sian tertawa.
"Kita jarang bertemu, biarlah aku bersulang dulu dengan Ji-wi Lo-heng!"
Dari kantong dia menge luarkan dua cangkir giok, masing-masing cangkir giok ditaruh di depan Tok-sian dan Ih-sian.
Kemudian dia mengeluarkan sebotol kecil arak.
Dia men-cabut tutup botol arak dan menuangkan arak ke masing-masing cangkir.
Wangi arak yang berwarna hijau itu langsung tercium.
Begitu Ih-sian mencium bau arak langsung tertawa.
"Mainan yang sama seperti dulu!"
"Tiga tahun yang lalu, kau sudah berkomentar seperti ini!"
Kata Ih-sian santai.
"Karena kau masih mengeluarkan barang yang sama seperti tiga tahun yang lalu, maka terpaksa aku mengulangi komentarku tiga tahun lalu!"
Yok-sian malah tertawa.
"Kalian jelas-jelas sudah tahu ini bukan barang yang sama seperti tiga tahun yang lalu. Kalian sengaja berkomentar seperti itu untuk membuatku marah. Aku tidak akan tertipu. Silahkan! Kalian berdua silahkan minum!"
Ih-sian mengangkat cangkir dan menghabiskan arak, lalu berkata.
"Barang bagus. Di dalamnya sudah kau tambahkan campuran dua macam obat lagi!"
Yok-sian tersenyum.
"Betul aku sudah menambah dua macam obat dalamnya. Setelah ditambah dengan dua macam obat baru, khasiat racun paling sedikit bertambah satu kali lipat. Untung aku sudah membuat obat penawarnya. Kalau kau mengaku kalah, aku akan segera memberikan obat penawarnya kepadamu!"
Sewaktu berbicara, wajah Yok-sian sudah I, berubah warna menjadi berwarna hijau ungu.
Dia tetap tenang, dia mengeluarkan sebuah kotak dan mengambil jarum-jarum kecil, kemudianLegenda Pendekar Ulat Sutra -2 146 menancapkan jarum kecil pada titik-titik nadi di bagian tenggorokan sampai dada, semua berjumlah 17 titik nadi.
Sampai dia mencabut jarum kecil dan menaruh kembali ke dalam kotak, 17 titik nadi dan daging Yok-sian sudah bergerak teratur seperti biasa.
Tidak lama kemudian, muncul cairan berwarna hijau ungu dari lubang jarum yang ditancapkan tadi.
Cairan keluar dengan cepat sampai habis lalu mengalir darah merah.
Ih-sian segera membersih karinya dengan sehelai kain putih, lalu dia tertawa.
"Hanya sebegitu saja!"
"Baik!"
Yok-sian benar-benar memuji.
"kau menggunakan tenaga dalam menutup jalan darah, menghadang racun untuk menyebar, kemudian memancing racun keluar dengan jarum. Benar-benar teknik yang bagus, aku kagum!"
Tok-sian berkata.
"Bila sedikit meleset, jarum kecil itu akan membuat dia mengaku kalah. Sekarang giliranku!"
Dia sekaligus menghabiskan arak itu sekali gus, kemudian pelan-pelan meniup.
Seekor ular kecil berwarna belang emas dan perak keluar dari lengan bajunya, lalu menggigit pergelangan tangannya.
Yok-sian yang melihat itu menarik nafas.
"Menggunakan racun untuk menyerang racun, hanya kau yang bisa terpikir akan cara ini. Kalau tidak mengenal baik jenis racun, mana mungkin kau memakai cara ini?"
Ih-sian juga menarik nafas.
"Menurutku, Lo-heng benar-benar sesat. Awal nya kau meneliti penyakit manusia, sekarang kau meneliti racun. Bukan menolong orang, malah mencelakakan orang!"
Tok-sian tertawa kering.
"Tadinya aku selalu menggunakan racun untuk meraih kemenangan, tapi aku memecahkan racun dengan ular ini..."
"Bagaimana Lo-heng?"
Balik Ih-sian bertanya.Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 147
"Sekarang aku ingin melihat ilmumu!"
Kata Yok-sian.
"Bukankah sudah melihatnya?"
Tawa Tok-sian. Yok-sian mengerutkan hidung.
"Apakah racun yang tidak terlihat sudah tersebar di udara?"
Tok-sian tertawa.
"Kalau kau yang berpengalaman juga tidak merasakannya, bukankah aku sudah pasti menang?"
"Yang ingin kau pamerkan sebenarnya adalah ular beracun itu?"
Tanya Ih-sian.
"Tetap saja Ih-sian yang hatinya lebih bersih!"
Tok-sian tertawa.
"kelihatannya kau sudah punya penemuan yang bisa menjadi tiket kemenangan untukmu, maka kau terlihat begitu tenang dan tidak bingung sama sekali!"
Ih-sian hanya tertawa. Yok-sian segera mengerti, dia melihat Tok-sian.
"Pantas kau tidak pamer lagi. Arak racunku dan ular beracunmu itu saling mengendalikan. Kau akan membuat ular beracun itu menggigitku. Asalkan aku meminum arak beracun ini, aku akan bisa menawarkan racun. Kemudian dia bisa menggunakan jarum kecil untuk memancing arak beracun dariku. Sedangkan ular beracunmu pasti tidak mengalami perubahan, maka itu berlebihan!"
Tok-sian mengangguk.
"Memang sederhana. Hanya saja Lo-heng ingin menang dengan cepat dan tidak memperhatikan ular beracun itu. Kau mengira aku pasti masih punya jurus-jurus hebat lagi."
Yok-sian melihat wajah Ih-sian.
"Sekarang aku sedikit cemas dan ingin melihat kepandaian Lo-heng!"
"Bukan hanya kau!"
Tok-sian bertanya pada Ih-sian.
"Lo-heng, kau masih menunggu apalagi?"Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 148
"Ikutlah denganku!"
Dengan tenang Ih-sian berdiri dan berjalan menuju rumah batu itu.
127-127-127 Di tengah-tengah rumah batu ada sebuah peti mati.
Ih-sian membuka tutup peti.
Tok-sian dan Yok-sian melihat jelas di dalam peti terbaring seorang tua berambut dan berkumis putih yang hampir meninggal.
Tok-sian dan Yok-sian saling melihat dan bertanya kepada Ih-sian.
"Apa maksudmu?"
"Kalian lihat dengan jelas dan beritahu pada ku apakah orang ini masih bisa hidup?"
"Kalau bisa, memang kenapa?"
Tanya Yok-sian.
"Bila bisa membuat dia hidup kembali, berarti aku menang!"
Ekspresi Ih-sian seperti sudah menang.
"Bagaimana kalau kami tidak bisa dan kau juga tidak bisa?"
Tanya Tok-sian.
"Aku yang akan kalah!"
"Ini adil juga!"
Yok-sian berjongkok dan Tok-sian segera ikut berjongkok.
Inilah kali pertama mereka bekerja sama, masing-masing mereka melakukan apa yang mereka bisa.
Setelah memeriksa dengan teliti selama sekitar setengah jam, akhirnya mereka mundur.
Yok-sian menggelengkan kepala.
"Separuh dari nadi-nadi orang ini sudah pecah, hampir semua nadi-nadinya juga sudah tersumbat. Tidak diragukan lagi disebabkan karena dia sudah tua tapi tetap bernafsu birahi. Sekalipun dewa yang datang mengobati, dia tetap tidak bisa tertolong!"
"Bagaimana pendapatmu?"
Ih-sian bertanya kepada Tok-sian.Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 149
"Sudah tidak ada harapan hidup. Walaupun Hoa-to (tabib yang paling terkenal di Tiongkok kuno) hidup kembali, dia tetap tidak bisa menyelamatkannya!"
Tok-sian berkata sambil melihat Ih-sian.
"Pada tahun ke-15 ini akhirnya aku bisa merasakan kemenangan!"
Ih-sian tertawa keras. Tok-sian menggelengkan kepala.
"Kalau kau bisa menyelamatkan orang ini, aku mengakui kekalahan dengan tulus!"
"Demikian juga dengan aku!"
Kata Yok-sian.
Dengan sangat tenang Ih-sian mengeluarkan sebotol obat dan sebutir obat berwarna merah emas.
Obat dimasukkan ke mulut orang tua yang berbaring di peti mati.
Dia menekan tenggorokan dan memegang sudut mulut orang tua itu, memaksa orang tua menelan obat itu.
Tangan dan kaki orang tua itu sudah kaku.
Walaupun masih bernafas, nafasnya terlihat bersisa sedikit lagi.
Tapi setelah menelan obat itu, dadanya mulai bergerak naik turun.
Suara nafasnya mulai terdengar.
Tok-sian dan Yok-sian terkejut.
Melihat kaki dan tangan orang tua bergetar, Tok-sian tidak tahan lagi untuk bertanya.
"Obat apa itu?"
Hvsian tersenyum.
"Sementara ini diberi nama Su-beng-kim-tan!" (Butiran emas menyambung nyawa).
"Benar-benar tidak terbayangkan!"
Kata Yok-sian sambil menggelengkan kepala.
"mana mungkin orang ini bisa bereaksi seperti itu!"
"Kita Say-gwa-sam-sian, kau yang nomor satu. Siaute benar-benar kagum kepadamu!"
Kata Tok-sian.
"Lo-heng adalah orang yang berbakat. Walau pun Siaute kalah, tapi aku kalah dengan tulus hati!"
Kata Yok-sian.Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 150
"Kalau hal ini diumumkan, dunia akan bergetar. Pada waktu itu semua orang akan menganggap kau adalah dewa hidup. Kami dua saudaramu juga akan mendapatkan kebaikan."
Yok-sian berpikir lebih jauh.
"Kalau memberikan obat kepada kaisar, pasti akan diberi hadiah yang besar dan akan membuat nenek moyang kita bangga! Semakin berbicara, mereka semakin gembira. Mereka tidak melihat tawa Ih-sian yang semakin menghilang. Dia duduk dengan tidak bersemangat.
"Selama tiga tahun ini kau sama sekali tidak memberi kabar kepada kami. Ternyata kau bersembunyi untuk membuat obat yang bernama Su-beng-kim-tan!"
Kata Tok-sian.
"Aku lihat sepertinya harus dibuat dalam jum lah yang banyak untuk menyelamatkan orang. Itu akan mendapat pahala besar.
"Aku tidak akan membuatnya lagi!"
Kata Ih-sian tiba-tiba.
"Apa?"
Tok-sian tidak mempercayai pendengarannya sendiri.
"Apakah setelah memakan obat ini, ada efek yang tidak baik?"
Tanya Yok-sian.
"Sungguh menakutkan!"
Kata Ih-sian "Kami tidak mengerti!"
"Sebelum diberikan kepada manusia, aku pernah memberinya kepada unggas dan binatang yang hampir mati untuk percobaan. Memang betul nyawa mereka tertolong dan kembali hidup dengan baik, tapi pikiran mereka menjadi kacau. Sebagian binatang bahkan menyiksa diri tapi sedikitpun tidak merasa sakit!"
"Oh?"
Tok-sian dan Yok-sian merasa aneh.
"Bila Su-beng-kim-tan jatuh ke tangan orang jahat, coba kalian pikir apa akibat yang akan terjadi?"
Baru selesai berkata, orang tua yang terbaring di peti mati meloncat bangun, orang tua ini seperti anjing gila menyerang Ih-sian.
Suara yang keluar dari tenggorokannya terdengar seperti raungan binatang.Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 151 Ih-sian seperti sudah tahu.
Dia memukul dada orang tua itu sampai masuk kembali ke dalam peti mati.
"Sekarang kalian sudah lihat!"
Ih-sian memukul lagi orang tua yang baru bangun dari peti mati.
Sekarang Tok-sian dan Yok-sian baru memper hatikan sorot mata orang tua ini.
Sorot mata orang tua tidak hanya kembali bercahaya dan terang, malah membuat orang merasa takut.
Sama sekali bukan sorot mata manusia, melainkan seperti binatang.
Dia roboh, tapi segera merangkak bangun lagi.
"Dia seperti tidak merasa sakit!"
Tanya Tok-sian aneh.
"Itu adalah paling menakutkan!"
Ih-sian ber-getar.
"Untuk apa dia tergesa-gesa bangun?"
Tanya Yok-sian.
"Kau jangan bergerak, kemudian dia akan memukul kita, lalu kau akan tahu!"
Ih-sian tertawa kecut.
"Ingin bertarung?"
"Ingin membunuh orang!"
Ih-sian cepat menu tup peti mati dan segera duduk di atasnya. Dari dalam peti mati keluar suara meraung seperti orang gila. Ih-sian menarik nafas.
"Orang tua ini belum pernah belajar ilmu silat. Kalau tidak, mungkin kita akan cukup repot!"
Yok-sian mengangguk.
"Aku setuju! Su-beng-kim-tan jangan dibuat lagi!"
"Bagaimana dengan orang tua ini?"
Tok-sian bertanya sambil tertawa kecut. Lh-sian juga tertawa kecut.
"Selain membunuh dia, aku tidak mempunyai cara lain yang lebih baik lagi!"
"Membunuh dia?"
Tok-sian bertanya.
"Di dunia ini tidak ada hal yang lebih lucu lagi!"
Ih-sian hanya bisa tertawa kecut.Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 152 128-128-128 Tiong Toa-sianseng dan Su Yan-hong datang ke rumah batu tiga jam setelah kejadian ini.
Mereka berjalan tergesa-gesa sepanjang jalan karena tidak mau melewatkan pertarungan Say-gwa-sam-sian.
Melihat ada dua cangkir giok di dataran yang seperti panggung itu, Tiong Toa-sianseng tahu mereka sudah tidak sempat, tapi dia sama sekali tidak menyangka akan terjadi hal di luar dugaannya.
Dia mengira dalam pertarungan Say-gwa-sam-sian kali ini, pasti tidak ada hasilnya seperti tahun-tahun sebelumnya.
Walaupun ada hasil, tidak akan terjadi musibah apa-apa.
Tapi tidak disangka, begitu mendekati rumah batu, dia sudah mencium bau darah.
Ketika membuka pintu, dia terkejut melihat rumah yang acak-acakan.
Barang-barang berhamburan, ada yang hancur, ada yang pecah.
Tiong Toa-sianseng melihat tubuh Yok-sian dan Tok-sian yang penuh dengan darah.
Mereka sudah mati.
Tiong Toa-sianseng segera memeriksa pernafasan Tok-sian, dia semakin terkejut.
Su Yan-hong juga dengan cepat memeriksa Yok-sian, kemudian dia melihat Tiong Toa-sianseng sambil menggelengkan kepala dan menarik nafas.
Tidak perlu berkata apa-apa, Tiong Toa-sianseng sudah tahu Yok-sian sama seperti Tok-sian, keduanya sudah meninggal.
"Siapa yang membunuh mereka?"
Tiong Toa-sianseng tidak bisa melihat.
"Apakah setelah bertarung mereka menjadi seperti ini!"
Su Yan-hong melihat sekeliling. Dia mera sa semakin aneh. Tiong Toa-sianseng menggelengkan kepala.
"Mereka bertiga sudah seperti saudara kandung, apalagi pertarungan di antara mereka bukan yang pertama kali. 15 tahun sudah mereka lewati dan selama itu tidak terjadi apa-apa, mengapa sekarang bisa ada yang meninggal?"
Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 153
"Tecu juga berpikir seperti itu. Tapi aneh, mengapa tidak ada Ih-sian, hanya ada Tok-sian dan Yok-sian?"
"Kita buka peti mati itu!"
Kata Tiong Toa-sianseng.
Peti mati tetap masih tertutup.
Begitu dibuka terlihat ada seorang tua berbaring di sana.
Pada tengah wajahnya di antara kedua alis tertancap sebatang jarum perak yang berkilau!
Su Yan-hong segera berkata.
"Dia bukan Ih-sian!"
"Siapa dia sebenarnya?"
Tanya Tiong Toa-sianseng.
"Dia masih bernafas!"
"Tidak mungkin! Jarum ini ditancap di jalan darah yang penting. Apakah dia masih bisa hidup?"
Saat Tiong Toa-sianseng merasa aneh, orang tua sudah merangkak keluar dari peti mati.
"Tanyakan padanya!"
Su Yan-hong menceng-kram pundak orang itu.
"mungkin dia tahu apa yang sudah terjadi!"
Su Yan-hong belum selesai berkata, orang tua sudah menyerang dan mencengkram tenggorokannya. Su Yan-hong mengayunkan tangan dan membentak.
"Siapa kau?"
Tangan orang tua datang mencengkram lagi. Sekali lagi Su Yan-hong mengayunkan tangan, tiba-tiba orang tua itu menggigit tangan Su Yan-hong. Tiong Toa-sianseng melihat, dia segera berkata.
"Dia tidak sadar!"
"Kelihatannya memang seperti itu!"
Su Yan-hong menjawab sambil menghindari gigitan orang tua itu, lalu mencengkram kedua tangan orang tua yang datang menyerang.
Orang tua itu tidak bereaksi apapun, dia sudah mati rasa.
Dia memberontak, sikapnya tidak berbeda dengan orang yang sudah gila.Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 154 Tiong Toa-sianseng segera meloncat ke atas.
Dengan menurunkan tendangan kaki dari atas, dia menepuk kedua telinganya.
Orang tua itu seperti tersambar petir, tubuhnya bergetar, semua gerakan segera berhenti.
Tiong Toa-sianseng mengambil nafas.
Dia tidak menurunkan tubuhnya, malah naik ke atas.
Dia menekan kepala orang tua dengan telapak kanan, kemudian mengalirkan tenaga dalam masuk ke kepala orang tua.
Orang tua itu berteriak, sikapnya seperti orang gila, teriakannya kemudian berubah menjadi rintihan.
Sorot matanya mengambang.
Dia berkata sendiri.
"Perempuan berbaju merah muda, Hun-lo-sat (Pembunuh merah muda)."
Setelah itu dia tidak bernafas lagi.
"Obat yang benar-benar gila!"
Kata Tiong Toa-sianseng.
"Obat?"
Su Yan-hong merasa heran. Tiong Toa-sianseng mengangguk.
"Aku kira hanya obat yang bisa mengubah orang tua seperti itu. Menemukan orang tua seperti ini di tempat pertemuan Say-gwa-sam-sian, bukankah ini hal yang aneh?"
"Keadaan Tok-sian dan Yok-sian seperti ini, apakah karena obat atau hal lain..."
Tanya Su Yan-hong.
"Apakah kau tidak tahu gurumu tidak paham dengan obat-obatan?"
Su Yan-hong melihat jarum perak yang masih menancap di antara kedua alis orang tua itu.
"Apakah guru tahu jarum perak adalah senjata rahasia dari perguruan mana?"
"Walaupun guru tahu banyak tentang senjata rahasia, tapi aku belum pernah melihat yang seperti ini. Tapi bukan hal yang sulit untuk mencari tahu."
Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 155
"Maksud guru..."
"Semua senjata dan senjata rahasia pernah dibagi jenis dan macamnya oleh keluarga Lamkiong. Mereka meneliti jenis dan macam senjata dan senjata rahasia dengan serius. Bila kita pergi ke keluarga Lamkiong untuk meminta tolong, bukankah masalah akan beres?"
Kata Tiong Toa-sianseng sambil menarik nafas.
"Say-gwa-sam-sian jarang membuat keributan dengan dunia luar. Hanya dengan mendapatkan orang yang membunuh mereka, baru bisa mengetahui apa tujuannya."
Su Yan-hong melihat wajah Tiong Toa-sianseng.
"Apa yang guru khawatirkan?"
"Aku merasa tidak nyaman! Setiap kali muncul perasaan ini, selalu ada musibah yang terjadi."
"Kali ini, kira-kira apa yang terjadi?"
"Kalau aku bisa tahu, aku bisa berusaha meng hindar, musibah tidak akan menjadi musibah lagi!"
"Karena Say-gwa-sam-sian berbeda dengan orang lain, maka guru berpikir terlalu jauh!"
"Tidak mungkin Tok-sian dan Yok-sian tidak meninggalkan jejak sedikitpun tentang musibah ini. Mungkin kau tidak mengerti kata-kataku!"
"Aku mengerti. Waktu terjadi sesuatu dengan Ih-lan, aku juga merasakan perasaan seperti ini!"
"Bagi kita yang menekuni agama To, itu nama nya Tong-leng (Hubungan batin)."
Setelah membawa mayat turun dari Lu-san, Tiong Toa-sianseng dan Su Yan-hong segera membeli tiga peti mati.
Mereka menyewa sebuah kereta kuda, malam itu juga berangkat ke keluarga Lamkiong.
Walaupun tidak sejaya dulu, tapi dari luar terlihat keluarga Lamkiong tidak ada perubahan yang besar.
Rumah tetap indah danLegenda Pendekar Ulat Sutra -2 156 bersih.
Papan nama 'Kang-lam-te-it-cia' (nomor satu di Kanglam) tetap tergantung di atas pintu utama.
Papan nama itu diberikan dulu waktu Pek-joa-cau bertanding ilmu pedang, semua perkumpulan memberikan papan nama kayu ini kepada keluarga Lamkiong.
Pada papan nama masih terdapat tanda tangan semua ketua perkumpulan.
Boleh dikatakan saat itulah masa kejayaan keluarga Lamkiong.
Melihat papan nama itu, Su Yan-hong berkata.
"Aku sedikit terharu!"
Lamkiong Po segera keluar rmenyambut.
Lo-taikun membawa lima menantu.
Bing-cu juga ikut keluar.
Tiong Toa-sianseng adalah ketua perkumpulan, Su Yan-hong adalah Hou-ya.
Baik dari sudut 'orang dunia persilatan maupun sebagai rakyat biasa, tetap harus menyambut mereka.
Walaupun Su Yan-hong adalah murid Tiong Toa-sianseng dari Kun-lun-san, tapi mereka tetap memanggilnya Hou-ya.
Setelah menjelaskan tujuan mereka, Su Yan-hong dan Tiong Toa-sianseng dipersilahkan masuk ke tempat terlarang keluarga Lamkiong.
Kata Lo-taikun.
"Memang keluarga Lamkiong mempunyai pantangan, tapi tidak ada orang yang akan melarang tiga peti mati itu ditaruh di sana!"
Lo-taikun tidak mengenal orang tua yang di antara alisnya tertancap jarum perak.
Karena orang tua sama sekali tidak ada hubungan dengan dunia persilatan.
Dia hanya dianggap kelinci percobaan oleh Ih-sian dan dipindahkan ke rumah batu di Lu-san.
Lo-taikun juga tidak mengenal dari mana jarum itu berasal.
Tong Goat-go yang menguasai senjata rahasia juga menggelengkan kepala.
Setelah mengamati tiga mayat dengan teliti, Lo-taikun merasa semakin aneh.
Orang tua ini mati oleh jarum perak itu, tapi Tok-sian dan Yok-sian mati terkena racun.Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 157
"Tidak ada orang yang bisa menyamai pengetahuan obat dan teknik pengobatan Say-gwa-sam-sian. Jika ada orang yang sanggup membunuh mereka dengan obat racun, itu benar-benar aneh!"
Kemudian Lo-taikun bertanya.
"Apakah sampai sekarang Ih-sian belum ditemukan?"
Tiong Toa-sianseng bisa menangkap maksud Lo-taikun, dia menjawab.
"Say-gwa-sam-sian dekat seperti saudara kandung, tidak mungkin mereka saling membunuh!"
"Aku tahu tentang ini!"
Lo-taikun segera mengalihkan pembicaraan.
"kalau ingin tahu penyebab kematian mereka, harus meminta bantuan orang tua di Ciu-ci-tong!"
"Bila ada dia yang membantu, masalah akan lebih sederhana!"
Tiong Toa-sianseng merasa bersemangat.
Tujuan dia datang ke keluarga Lamkiong adalah meminta bantuan orang tua di Ciu-ci-tong.
129-129-129 Ciu-ci-tong boleh dikatakan adalah tempat istimewa dan sangat misterius di keluarga Lamkiong.
Di dalam tempat misterius ini, tidak hanya tersimpan semua barang-barang misterius keluarga Lamkiong, di tempat ini juga tersimpan senjata, senjata rahasia dan obat-obatan dari semua perkumpulan di dunia persilatan, termasuk orang-orang yang menggunakan senjata dan obat-obatan ini.
Pesilat-pesilat tangguh juga termasuk orang yang dikumpulkan di sini.
Pekerjaan ini sulit dilakukan.
Tenaga kerja dan biaya yang dikeluarkan untuk melakukan pekerjaan ini sulit terhitung.
Maka orang-orang dunia persilatan menebak keluarga Lamkiong pasti mempunyai tujuan tertentu.
Satu-satunya penjelasan yang diberikan oleh keluarga Keluarga Lamkiong adalah dua huruf 'Ciu-ci' (menuntut ilmu), maka pembicaraan orang-orang dunia persilatan membiarkan soal ini tidak terselesaikan.
Sebenarnya keluarga Lamkiong selalu meleraiLegenda Pendekar Ulat Sutra -2 158 pertikaian dan menyingkirkan kesulitan di dunia persilatan.
Maka dalam beberapa tahun ini jangankan melakukan kejahatan, sedikit kesalahan juga tidak pernah mereka lakukan.
Apa yang harus dikatakan teman-teman dunia persilatan tentang perkumpulan ini?
Mana mungkin mereka tidak kagum dengan sepenuh hati?
Awalnya, penanggung jawab di Ciu-ci-tong adalah seorang orang tua yang bernama Ciu-ci Lojitt.
Tidak ada yang tahu apa hubungan antara orang tua ini dengan keluarga Lamkiong.
Tapi orang-orang keluarga Lamkiong dari tingkatan atas sampai bawah sangat menghormati orang tua ini.
Maka teman-teman dunia persilatan percaya orang tua ini sebenarnya adalah Cianpwee di keluarga Lamkiong.
Tapi mereka juga tidak yakin.
Memang ada yang pernah bertemu dengan Ciu-ci Lojin, tapi tidak pernah menemuinya sampai dua kali.
Setiap orang yang pernah bertemu dengan Ciu-ci Lojin hanya mengatakan dia adalah seorang orang tua yang berambut putih, selain itu tidak dikatakan lagi keistimewaannya yang lain.
Ciu-ci Lojin yang Tiong Toa-sianseng dan Su Yan-hong temui sekarang bukan lagi seperti itu.
Walaupun rambutnya sudah putih, tapi dia juga bungkuk dan bisu.
Bila ingin berbicara dengannya hanya bisa dilakukan dengan cara ditulis.
Ciu-ci-tong sangat luas.
Rak-rak kayu tersusun rapi, di sana tersusun berbagai jenis buku yang dikelompokkan dan disusun dengan sangat rapi.
Hanya dengan melihat begitu banyak buku sudah cukup untuk membuat kepala orang merasa pusing.
Walaupun buku-buku sudah dikelompokkan, namun untuk mencari buku yang dibutuhkan bukanlah hal yang mudah.
Tapi Ciu-ci Lojin sangat hebat.
Tangannya segera menggapai dan mengambil buku yang mereka perlukan.
Terlihat dia sangat mengenal tempat ini.
Tidak perlu bertanya mengenai masa mudanya, pasti dihabiskan di sini.
Su Yan-hong dan Tiong Toa-sian-seng merasa hormat kepada orang ini.Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 159 Ciu-ci Lojin sangat hafal dengan letak buku, juga mengenal dalam tentang bermacam-macam jenis obat dan senjata rahasia.
Apalagi tentang ingatan, ini tidak perlu dikatakan lagi.
Setelah dia melihat mayat orang tua yang ditancap jarum perak, dia segera membolak-balik rak buku kemudian mengeluarkan dua buku.
Buku ditaruh di meja dan kemudian dia menulis kata-kata penjelasan di kertas.
Su Yan-hong melihat tulisan itu.
"Ternyata jarum itu bernama jarum Lan-hoa (Jarum anggrek). Itu adalah senjata rahasia seorang perampok perempuan di kerajaaan Song. Jarum ini terbuat dari besi, bagian tengah jarum dibuat kosong sehingga bisa dimasukkan cairan racun dan pecah di tubuh! Perampok perempuan ini bernama Li Ong-hottg."
Tiong Toa-sianseng bertanya kepada Ciu-ci Lojin.
"Kalau begitu, racun apa yang tersimpan di dalam pipa jarum itu? Apakah orang tua itu mati karena racun ini?"
Melihat kertas tulisan, kata Su Yan-hong.
"Obat racun itu dibuat dari 'Tiang-beng-lan' (Anggrek panjang umur) dari Thian-san bagian utara. Tapi jenis Tiang-beng-lan ini sudah musnah 80 tahun yang lalu dan sudah tidak muncul lagi!"
"Maafkan pengetahuanku yang sempit dan dangkal!"
Kata Tiong Toa-sianseng.
"Di tubuh orang tua ini, selain racun Tiang-beng-lan, masih terdapat satu jenis lagi..."
Kata Su Yan-hong.
"Apakah racun juga?"
"Cianpwee tidak yakin!"
Wajah Su Yan-hong mengeluarkan ekspresi aneh.
"kedua obat ini tidak bisa disatukan!"
"Berarti itu bukan racun!"
"Anehnya di tubuh Tok-sian dan Yok-sian juga terkandung obat ini!"
"Ini benar-benar aneh!"
Kata Tiong Toa-sian-seng.Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 160
"Apakah guru mengetahui tentang Li Ong-hong?"
"Kalau aku tahu Li Ong-hong, mana mungkin aku tidak tahu Lan-hoa-ciam. Apabila senjata rahasia ini sudah ada sejak kerajaan Song, dan terus ada sampai sekarang, seharusnya tidak aneh. Tapi yang aneh, senjata rahasia ini sudah lama tidak muncul, lalu sekarang tiba-tiba muncul!"
"Apakah karena baru didapatkan lagi racunnya?"
Akhirnya Lo-taikun menyela.
"Apapun yang terjadi, pembunuh ini menguasai obat dan senjata rahasia!"
Tiong Toa-sianseng mengangguk.
"Menurut yang kita tahu, Ih-sian memang menguasai ilmu pertabiban. Tapi dia tidak mengenal senjata rahasia dan ilmu silatnya juga biasa-biasa saja."
Lo-taikun tertawa.
"Kelihatannya pembunuh ini sengaja memper sulit kita!"
Tiong Toa-sianseng mengangguk.
"Kita harus mencari tahu dari hilangnya Ih-sian!"
"Apakah guru curiga di Lu-san masih tertinggal jejak yang bisa kita cari tahu? Kita terburu-buru meninggalkan Lu-san dan tidak menemukan apa-apa."
"Tapi sayang sudah dekat harinya dengan rapat Pek-hoa-couw, kita tidak sempat menempuh perjalanan pulang pergi ke Lu-san!"
Kata Tiong Toa-sianseng. Lo-taikun tertawa.
"Kalau begitu kalian berdua bisa tinggal di sini dulu. Setelah rapat Pek-hoa-couw, baru mengambil keputusan."
Tiong Toa-sianseng ingin menjawab tapi Lo-taikun berkata lagi.
"Mungkin pembunuh itu tahu kalian berdua ingin memeriksa hal ini dan dia sudah memperhatikan gerak-gerik kalian berdua. Kapanpun dia bisa datang mencari!"
Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 161 Tiong Toa-sianseng tertawa.
"Kalau begitu, bisa mengurangi banyak kerepotan! Apakah undangan rapat itu sudah Lo-taikun sebarkan?"
"Sebagian besar undangan sudah disebar, hanya punya Siau Sam Kongcu yang belum bisa terantar, beberapa hari yang lalu baru diantar ke Ling-ong-hu!"
Kata Lo-taikun seperti tidak ada apa-apa.
Tiong Toa-sianseng mendengar kata-kata Lo-taikun, hatinya terasa tidak enak.
Terhadap Siau Sam Kongcu, dia tidak punya perasaan baik mau pun perasaan tidak baik.
Namun karena putrinya Bok-lan, dia merasa ada sesuatu yang mengganjal.
Kalau bisa, lebih baik jangan bertemu.
130-130-130 Waktu undangan sampai di tangan Siau Sam Kongcu, dia sedang mengajar Su Ceng-cau berlatih ilmu pedang di Ling-ong-hu.
Setelah pergi ke ibukota, Su Ceng-cau mulai merasakan dunia luar sangat besar.
Dia mulai merasa ilmu silat yang dimilikinya sama sekali tidak cukup untuk bisa beraksi di dunia persilatan, maka dia menjadi rajin belajar ilmu silat.
Siau Sam Kongcu mengantar keluar utusan keluarga Lamkiong yang mengantarkan undangan, kemudian kembali ke belakang.
Su Ceng-cau masih berlatih ilmu silat di sana, dia tidak malas-malasan.
Melihat dia begitu rajin, Siau Sam Kongcu merasa senang.
Kalau dia sedang berlatih ilmu silat dan tidak merasa ada yang mengintip, itu wajar.
Karena sebenarnya memang sulit mengetahui keberadaan orang itu.
Orang itu memakai baju hijau.
Dia bersem-i bunyi di atas pohon, berbaur dengan daun-daunan, diam tidak bergerak.
Jika bukan karena Siau Sam Kongcu yang sangat teliti, sampai daun-daun di atas pohon juga dia perhatikan, keberadaan orang ini tidak akan diketahui.Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 162 Tujuan orang berbaju hijau adalah Su Ceng-cau.
Begitu muncul, dia langsung menyerang Su Ceng-cau.
Ketika orang ini masih berada di tengah-tengah udara, dia sudah mencabut pisau dari sarungnya.
Cahaya pedang berkilau, dia menepis kepala Su Ceng-cau dengan jurus yang sangat keras.
Mendengar ada suara pedang datang menyerang, dia segera menahan serangan dengan pedang.
Tapi pedang dan tubuh Su Ceng-cau tergetar mundur.
Pada waktu bersamaan orang berbaju hijau berguling dan menyerang lagi.
Kali ini serangannya lebih cepat dan ganas.
Su Ceng-cau segera menggunakan ilmu silatnya, tapi dia diserang lagi berturut-turut 17 kali serangan, memaksa Su Ceng-cau untuk terus mundur!
"Guru..."
Su Ceng-cau berteriak.
Pada waktu dia tidak berkonsentrasi, golok orang berbaju hijau sudah menepis pegangan pedang Su Ceng-cau.
Dia berteriak dan melepaskan pedang.
Orang berbaju hijau tertawa terbahak-bahak.
Dengan golok dia memukul pedang ke atas udara, kemudian meloncat ke depan Su Ceng-cau.
Su Ceng-cau terkejut bukan main.
Dia ingin mundur tapi punggungnya sudah mengenai dinding.
Akhirnya Siau Sam Kongcu bergerak, tapi dia hanya menjemput pedang yang terjatuh dari atas.
Orang berbaju hijau tidak melukai Su Ceng-cau.
Sampai di depan Su Ceng-cau, dia kembali tertawa terbahak-bahak.
Su Ceng-cau belum tenang.
Golok orang berbaju hijau menunjuk ke Siau Sam Kongcu.
"Sekarang giliranmu..."
Nada suaranya sangat aneh, membuat orang tidak enak mendengarnya.
"Guru, bunuh dia!"
Su Ceng-cau berteriak. Siau Sam Kongcu dengan santai berkata.
"Aku sudah beberapa kali berpesan, walaupun guru berada di sisimu, kau jangan menganggap ada guru. Kau harus konsentrasiLegenda Pendekar Ulat Sutra -2 163 baru bisa menahan serangan musuh, mengubah keadaan bahaya menjadi selamat!"
Su Ceng-cau belum menjawab, Siau Sam Kongcu sudah melemparkan pedang kepadanya dan berpesan.
"Apakah sudah ingat..."
"Guru!"
Su Ceng-cau berteriak. Pelan-pelan Siau Sam Kongcu membalikkan tubuh dan bertanya.
"Siapa di sana?"
Seorang yang berusia setengah baya, berkepala botak, memakai bakiak, dan berbaju seperti biasa yang mirip baju hweesio keluar dari semak-semak.
Tangan kirinya memegang sebuah golok.
Dia menancapkan golok ke bawah.
"Lian-lui-it-to-cian."
Laki-laki setengah baya berbahasa Han-ie. Walaupun nadanya aneh, tapi masih bisa dimengerti.
"Dari Jepang?"
Suara Siau Sam Kongcu sangat tenang.
"Betui! Anda akan memberi petunjuk apa?"
"Sudah lama mendengar Siau Sam dari Hoa-san mempunyai ilmu andalan Toan-cang-kiam-hoat (Ilmu pedang pemutus hati), maka It-to-cian sengaja datang untuk mencobanya!"
Tiba-tiba Su Ceng-cau menyela.
"Apakah kau tahu orang yang belum mendapat ijin masuk ke Ling-ong-hu akan dipenggal kepalanya!"
It-to-cian seperti tidak mendengar. Dia melihat Siau Sam Kongcu terus dan berkata.
"Cabut pedangmu!"
Dua tangannya segera mencabut golok keluar dari sarung. Cahaya golok berkilau seperti petir. Siau Sam Kongcu memuji.
"Golok yang bagus!"
Suara It-to-cian seperti petir membentak.Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 164
"Cabut pedangmu!"
Kaki kirinya bergerak, dia sudah siap mengayunkan golok untuk membunuh. Akhirnya tangan kanan Siau Sam Kongcu diletakkan pada pegangan pedangnya. Tiba-dba ada suara yang membentak dengan keras.
"Diam!"
Keempat orang ini menoleh ke asal suara. Terlihat Ling-ong ditemani Su-ki-sat-jiu sedang datang tergesa-gesa. Sambil berteriak.
"Kita semua adalah orang sendiri, mengapa harus bertarung? Kalau ada yang terluka, itu sama-sama tidak baik!"
Su Ceng-cau tergesa-gesa berlari dan menunjuk orang berbaju hijau.
"Ayali, orang itu.."
"Apakah kau tidak tahu siapa dia?"
Ling-ong tertawa. Orang berbaju hijau segera menurunkan kain hijau yang menutupi wajahnya. Wajahnya tampak masih muda. Begitu Su Ceng-cau melihatnya, dia segera berteriak.
"Kakak!"
Orang berbaju hijau tertawa terbahak-bahak. Dia adalah anak sulung Ling-ong, Cu Kun-cau.
"Baiklah! Begitu pulang kau sudah menghina adikmu!"
Su Ceng-cau berteriak.
"Ilmu silatmu tidak bagus!"
Cu Kun-cau melihat Siau Sam Kongcu, kemudian tertawa lagi. Siau Sam Kongcu seperti tidak menaruh di dalam hati. Cu Kun-cau tertawa lagi.
"Aku sudah mengatakan, ilmu silat Jepang sangat ringkas, sangat praktis, tidak seperti ilmu silat di Tionggoan yang sangat rumit. Kepalan dan tendangannya tidak praktis!"
Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 165
"Sembarangan bicara!"
Su Ceng-cau berkata, kemudian memanggil Siau Sam Kongcu.
"Guru!"
"Sudahlah, tidak apa-apa!"
Ling-ong segera melihat Cu Kun-cau dan It-to-cian.
"Kalian baru pulang dan sudah menempuh perjalanan jarak jauh, lebih baik istirahat dulu. Nanti malam aku akan mengadakan jamuan makan malam untuk menyambut kalian!"
Cu Kun-cau menggelengkan kepala.
"Kami tidak lelah, tapi jika bukan waktunya, ya sudahlah!"
Dia seperti tidak sengaja melihat Siau Sam Kongcu.
Siau Sam Kongcu merasa aneh mendengar kata-kata Cu Kun-cau, tapi dia tidak bertanya.
Setelah melihat Cu Kun-cau dan It-to-cian pergi, Su Ceng-cau menarik Siau Sam Kongcu ke sisi.
"Guru! Mengapa tidak menyerang mereka dan memberi pelajaran kepada mereka agar tidak berani sombong seperti itu!"
"Bukankah kakakmu berkata belum waktunya?"
Siau Sam Kongcu menjawab malas-malasan seperti tidak tertarik.
131-131-131 Cu Kun-cau memang tidak beristirahat.
Dia berputar masuk ke kamar perpustakaan.
Waktu itu Ling-ong baru duduk di perpustakaan.
Dia sedang melihat golok yang baru diberikan oleh It-to-cian.
"Bagaimana dengan golok ini?"
Melihat ayahnya tertarik pada golok ini. Dia sangat senang.
"Betul! Walaupun golok tidak dihias dengan mewah dan indah, tapi yakin ini adalah golok yang bagus!"
"Di Jepang, yang dipentingkan adalah penggunaannya. Hiasan itu nomor dua. Cara mereka mem buat golok lebih berteknik tinggi. Golok yang bagus bisa kita beli di manapun!"
Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 166
"Betulkah?"
Ling-ong menaruh golok.
"sudah lama mendengar di sana sangat terkenal dengan ilmu samurai. Samurai adalah salah satu ilmu silat yang terkenal. Tiga tahun kau di sana, aku percaya kau pasti sudah menguasai banyak kepandaian!"
"Itu sudah pasti!"
Cu Kun-cau dengan sombong berkata.
"bisa mengundang guruku kemari, itu adalah kepandaiartku!"
Berhenti sebentar, kemudian dia berkata lagi.
"kaisar sekarang sangat berhati-hati dan takut-takutan, dia juga lemah dan sangat suka perempuan. Begitu Liu Kun terbunuh, keadaan semakin kacau. Ayah! Bila anda ingin menjadi kaisar, sekarang adalah kesempatan yang bagusi"
"Lancang kau!"
Ling-ong terpaku, lalu membentak.
"untung di sini adalah tempat kita, kau bisa sembarangan bicara! Kalau tidak, bila terdengar oleh kaisar, sembilan keturunan akan dihukum penggal!"
Cu Kun-cau malah tertawa.
"Ayah takut tidak punya kekuatan yang cukup. Guru sudah berjanji, dia bisa mewakili kita merekrut prajurit dan membeli kuda!"
"Dia bukan sebangsa dengan kita. Memiliki kebangsaan yang berbeda, pikirannya pasti tidak sama. Kun-cau, kau sama sekali tidak boleh mempunyai pikiran seperti ini!"
Ling-ong marah.
"Ayah..."
Cu Kun-cau masih ingin berkata tapi Ling-ong sudah membentak.
"tidak perlu banyak bicara, aku sendiri bisa mengatur!"
Cu Kun-cau tahu sifat ayahnya, dia tidak bera ni lagi banyak bicara, diam-diam dia keluar.
Walau demikian, dia tidak merasa kecewa.
Dia selalu menganggap itu hanyalah sifat luar Ling-ong tapi akhirnya Ling-ong akan bisa menerima usulannya.
Berada di Jepang selama 3 tahun, selain belajar ilmu silat, dia juga terpengaruh dengan sifat bangsa Jepang yang ekstrim.Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 167 132-132-132 Apa yang Ling-ong inginkan, tidak ada orang yang bisa menebak.
Di mulut dia mengatakan orang yang bukan bangsa sendiri pasti mempunyai pikiran yang berbeda, tapi dia sangat menghormati It-to-cian yang datang dari Jepang.
Pada jamuan makan malam, selain mengundang Su-ki-sat-jiu, dia juga mengundang Siau Sam Kongcu untuk menemani para tamu.
Siau Sam Kongcu tetap bersikap tidak peduli, tapi Su-ki-sat-jiu sudah mulai tidak sabar.
Mereka memakai alasan ingin menyuguhkan arak untuk menyatakan hormat, tapi sebenarnya sengaja ingin mempermalukan It-to-cian.
Arak pernyataan hormat diberikan dengan tenaga dalam.
It-to-cian menerima cangkir arak dengan baik, tidak hanya tidak mempermalukan dirinya malah dengan kesempatan ini membuat cangkir arak hancur di tangan Su-ki-sat-jiu.
Su-ki-sat-jiu mundur dengan malu.
Siau Sam Kongcu tidak menuju ke sana untuk menyatakan hormat karena dengan posisinya, dia tidak akan melakukan apa-apa.
It-to-cian juga tidak ke datang kepada Siau Sam Kongcu.
Cu Kun-cau terus memanas-manasi Siau Sam Kongcu.
Siau Sam Kongcu sangat mengerti pikiran Cu Kun-cau, tapi dia tidak terpengaruh.
Su-ki-sat-jiu dan Su Ceng-cau sangat mengharapkan Siau Sam Kongcu marah dan menepis kesombongan It-to-dan.
Dalam hati mereka, satu-satunya harapan mereka adalah Siau Sam Kongcu.
Hanya dia yang bisa mengalahkan It-to-cian.
Sampai akhir jamuan, Siau Sam Kongcu tetap tidak bergerak.
Su-ki-sat-jiu dan Su Ceng-cau merasa kecewa.
Apalagi Cu Kun-cau.
Tadinya dia ingin mengambil kesempatan ini agar It-to-cian bisa menun jukkan kehebatannya.
Pertama, untuk mendirikan rasa ksatria.
Kedua, agar bisa mendapatkan kepercayaan dan kegembiraan Ling-ong.
Melihat Siau Sam Kongcu terus menghindar, diam-diam dia berpikir.Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 168 'Mungkin Siau Sam Kongcu hanya sedemikian saja, dia tidak bisa melawan maka lebih memilih untuk diam.' Siau Sam Kongcu lama berjalan-jalan di belakang kebun, baru kemudian kembali ke kamarnya.
Su Ceng-cau dan Su-ki-sat-jiu sudah menungu di sana.
Melihat dia datang, mereka segera mengelilinginya.
Semua sesuai dugaan Siau Sam Kongcu, sampai apa yang mereka ingin katakan semua didengarkan olehnya.
Tidak salah lagi, mereka berharap dia bisa memberi pelajaran kepada It-to-cian.
Kali ini adalah Su-ki-sat-jiu yang paling bersahabat semenjak Siau Sam Kongcu tinggal di Ling-ong-hu.
Kepandaian Siau Sam Kongcu seperti apa, memang Su-ki-sat-jiu tidak pernah membicarakannya.
Walaupun dari luar mereka terlihat tidak terima, tapi di dalam hati mereka sangat jelas.
Mereka mengikuti Ling-ong sudah lama, keda tangan It-to-cian yang tiba-tiba membuat mereka kehilangan muka.
Pikiran seperti itu sangat dimengerti oleh Siau Sam Kongcu.
"Guru, apakah kau tidak mendengar di meja perjamuan tadi, It-to-cian mengatakan ilmu silat Tionggoan hanya nama saja, dan bahwa ilmu silat Jepang tidak terkalahkan di dunia ini?"
Su Ceng-cau terus mengorek. Sebenarnya dia tidak suka sikap sombong It-to-cian.
"Ilmu silat Jepang berasal dari Tionggoan, tapi karena cuaca dan keadaan yang tidak sama, setelah beberapa ratus tahun ilmu silatnya mengalami perubahan, sehingga ada sedikit perbedaan. Tinggi atau rendahnya suatu ilmu silat adalah turunan setiap orang, tidak bisa dikatakan ilmu silat mana yang tanpa lawan!"
Siau Sam Kongcu tetap berkepala dingin.
"Semua orang sudah mendengar apa yang dikatakan It-to-cian!"
Su Ceng-cau melihat Su-ki-sat-jiu. Waktu Su-ki-sat-jiu ingin berkomentar, Siau Sam Kongcu sudah tertawa.
"Guru bukan tuli, mana mungkin tidak mendengar."Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 169
"Tapi kau sama sekali tidak marah?"
"Bangsa di pulau sana berpandangan kurang luas, apalagi mereka sangat percaya diri dan pandangannya ekstrim. Untuk apa kita bersikap seperti mereka?"
Siau Sam Kongcu tetap malas-malasan berkata lagi.
"lebih baik kita menahan diri untuk sementara. Apalagi dia adalah guru Siau-ongya, yang diundang pulang oleh Siau-ongya. Kalau terjadi sesuatu, apa yang harus kukatakan kepada Ong-ya!"
Su Ceng-cau melihat dia dengan terheran-heran.
"Aku benar-benar tidak mengerti, mengapa guru berubah menjadi penakut?"
"Guru bukan penakut, hanya tidak mau membuat semua orang sulit! Apalagi rapat Pek-hoa-couw sudah dekat. Waktu guru di sini tidak lama lagi!"
"Rapat Pek-hoa-couw?"
Tanya Su Ceng-cau.
"Itu adalah rapat yang diselenggarakan oleh keluarga Lamkiong untuk meneliti ilmu pedang!"
"Kapan guru berangkat?"
"Besok!"
"Aku tidak akan membiarkan guru pergi!"
"Undangan sudah dikirim oleh keluarga Lamkiong, mana mungkin guru tidak pergi?"
"Bagaimana dengan It-to-cian..."
"Kulihat dia tidak akan macam-macam! Waktu sudah malam!"
Siau Sam Kongcu seperti menyuruh mereka keluar.
Su-ki-sat-jiu terpaksa pamit pergi.
Su Ceng-cau berjalan lebih cepat dari mereka, dia pergi sambil marah, Su Ceng-cau berjalan tidak jauh, Su-ki-sat-jiu sudah mengejar dari belakang.
Awalnya dia tidak memperhatikan, tapi tiba-tiba dia membalikkan tubuh dan melotot kepada mereka.
"Kalian jangan membuatku marah!"Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 170 Liu Hui-su tetap tertawa.
"Gurumu orang yang seperti apa, seharusnya kau lebih jelas daripada kami!"
"Apa maksudmu?"
"Tadi katanya dia khawatir akan menyulitkan Ong-ya. Sebenarnya takut kami sulit bergaul dengan It-to-cian..."
"Sekalian kalahkan dia dan usir dia kembali ke negaranya!"
"Siau-ongya pasti akan marah. Lihatlah sikap dia terhadap It-to-cian..."
"Untuk apa mengatakan semua ini padaku?"
"Kalau dugaanku tidak salah, gurumu pasti sudah menemukan cara. Dia punya cara lain untuk mengganjar It-to-cian!"
Su Ceng-cau melihat Su-ki-sat-jiu, lalu melihat kamar Siau Sam Kongcu.
Akhirnya muncul tawa di wajahnya.
133-133-133 It-to-cian merasa tidak nyaman.
Tadinya dia ingin setelah memberi pelajaran kepada Su-ki-sat-jiu, baru memberi pelajaran Siau Sam Kongcu, agar orang orang Ling-ong-hu tahu kelihaiannya, untuk membangun kewibawaan agar kelak mudah bertindak.
Tapi Siau Sam Kongcu tidak terpengaruh.
Selain membuatnya tidak nyaman, dia juga harus menimbang ulang Siau Sam Kongcu.
Dia menganggap Siau Sam Kongcu berpikiran sangat dalam dan dari awal sudah tahu setinggi apa ilmu silatnya dan apa tujuannya.
Dia jelas-jelas tidak bisa mengalahkan dirinya.
Tapi bertahan untuk tidak bertarung, dia malah mencari celah lain.
Walaupun ilmu silat atau kepintarannya lebih tinggi dari pada orang lain, tapi dia baru datang.
Dia tidak seperti Siau Sam Kongcu yang sudah mengenal lingkungan.
Jika tidak hati-hati, akan teijadi masalah yang berat.
Walaupun dia tertidur, tapi perasaan dan reaksi dia lebih tajam dari orang biasa.
Dalam keadaan begitu, semakin terlihat jelas.
Waktu lempengan genting terbang masuk dari luar jendela, dia segera merasakannya, dia mencabut golok di tangan.
Hanya denganLegenda Pendekar Ulat Sutra -2 171 sekali tepisan dia sudah membuat lempengan genteng terbelah menjadi dua bagian.
Tubuhnya berkelebat, dia segera keluar dari jendela.
Tampak olehnya bayangan orang melewati bunga-bunga di kebun dan naik ke dinding yang tinggi kemudian melambaikan tangan.
It-to-cian tertawa dingin.
Tubuh bergerak, dia juga naik ke atas dinding mengejar bayangan orang itu.
Dia mengandalkan teknik ilmu yang tinggi, kepercayaan diri yang tinggi, tubuh yang lincah, dan juga pengalamannya.
Maka jebakan apapun sanggup dia hadapi.
Siapa lawannya, sedikit banyak sudah bisa ditebak.
Memang semua sesuai dugaannya, orang itu adalah Siau Sam Kongcu.
Sampai di sebuah gunung kecil yang berjarak setengah li dengan Ling-ong-hu, Siau Sam Kongcu berhenti dan membalikkan tubuh, dia menunggu kedatangan It-to-cian.
It-to-cian datang, dia segera menancapkan golok ke bawah dan melihat Siau Sam Kongcu.
"Ternyata adalah kau!"
"Tuan begitu pintar, mana mungkin tidak dapat menebak?"
"Kau juga orang yang pintar. Malam ini kau memancingku kemari, apakah ingin mencari mati atau meminta ampun?"
"Tidak kedua-duanya!"
"Kalau begitu kau sudah memasang jebakan dan membawa berapa orang?"
It-to-cian melihat. Dengan pengalamannya, dia tetap tidak melihat ada orang lain di sana. Selain itu, dari Cu Kun-cau dia mengetahui Siau Sam Kongcu bukan orang seperti itu.
"Di sini tidak ada jebakan, yang datang hanya aku sendiri!"
Siau Sam Kongcu melihat ke langit dan berkata.
"Sebelum datang mencarimu, aku sudah menemui Ong-ya!"Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 172
"Kalau begitu kau sudah tahu apa yang telah disampaikan Siau-ongya kepada Ong-ya, artinya aku yang akan menggantikan posisimu menjadi guru pedang!"
"Aku tahu!"
"Maka kau tidak terima, jadi ingin mencariku untuk bertarung?"
"Aku mencari Ong-ya karena ingin mundur dari posisi guru pedang!"
It-to-cian tertawa. Siau Sam Kongcu dengan tenang berkata.
"Orang di dunia persilatan tidak bisa semau-nya sendiri. Aku adalah orang dunia persilatan. Setelah mendapat undangan dari keluarga Lamkiong, besok aku akan berangkat ke Pek-hoa-couw untuk melihat cara menggunakan ilmu pedang yang lebih bagus!"
It-to-cian menggelengkan kepala.
"Aku tahu kau sudah dalam posisi terjepit. Kalau masih berusaha bertarung, akan memalukan diri sendiri di depan banyak orang. Maka sekarang kau datang untuk membicarakan syarat, itu tidak masalah!"
Kemudian dia tertawa dan berkata lagi.
"Asalkan kau mau berlutut dan menyembahku tiga kali, aku akan membiarkanmu pergi dengan terhormat dan nyaman!"
"Maksudku kemari hanya ingin kau mengerti satu hal!"
Kata Siau Sam Kongcu dengan cuek.
"Aku sudah mengerti!"
"Ilmu silat dari Tionggoan bukan seperti yang kau pikirkan, hanya terlihat bagus dan tidak ada gunanya!"
"Siapapun bisa berkata seperti itu!"
Kata It-to-cian,"apakah betul kau mau bertarung denganku untuk menentukan siapa yang menang?"
"Kita bertarung persahabatan!"
"Kita bukan teman, hanya bertarung antara hidup dan mati baru bisa mengeluarkan semua ilmu yang kita miliki!"
Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 173
"Penentuan kalah atau menang tidak harus sampai mati baru bisa ditentukan!"
"Perbedaan yang terlalu jauh seringkah terjadi!"
It-to-cian tertawa lepas.
"Tapi kau tenanglah. Jika kau mau berlutut dan meminta ampun, aku akan melepaskanmu!"
Siau Sam Kongcu melihat It-to-cian.
"Kata-katamu sudah terlalu jauh!"
Tangan It-to-cian sudah berada di pegangan golok, dia segera mencabut golok, mengangkatnya tinggi dan membentak.
"Cabut pedangmu!"
Akhirnya pedang Siau Sam Kongcu keluar dari sarung. Di bawah sinar bulan pedang patah mengeluarkan cahaya yang berkilau. It-to-cian melihat pedang patah Siau Sam Kongcu, dia menggelengkan kepala.
"Ini bukan pedang yang bagus. Pedang yang bagus jarang bisa patah!"
"Memang ini bukan pedang yang bagus!"
Dengan sombong It-to-cian berkata.
"Jika seseorang tidak memiliki pedang yang bagus, maka dia tidak pantas disebut pesilat tangguh. Bukankah kalian sering berkata, bila ingin melakukan hal-hal yang lebih baik sebelumnya harus mempunyai senjata yang lebih tajam!"
"Seharusnya demikian!"
"Apakah sulit mendapatkan pedang yang bagus di Tionggoan?"
Siau Sam Kongcu belum menjawab, dia berkata lagi.
"Di Jepang, golok bagus seperti yang berada di tanganku ada banyak di mana-mana!"
"Betulkah?"
Reaksi Siau Sam Kongcu biasa saja.
"Aku memberimu kesempatan untuk menyerang tiga kali dulu!"Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 174
"Apakah di Jepang ada aturan seperti ini?"
"Tidak ada..."
"Kalau tidak ada, untuk apa berlebihan?"
Kemudian pedang patah Siau Sam Kongcu berbalik menunjuk It-to-cian.
Gerakan ini membuat rumput hijau di sekitar mereka ikut bergerak.
Pada waktu bersamaan, baju Siau Sam Kongcu bergerak tanpa ditiup angin.
It-to-cian mulai merasakan hawa dingin yang keluar dari pedang patah.
Tawa di wajahnya segera membeku.
Katanya, jika orang yang mempunyai ilmu tinggi sekali mengeluarkan tangannya, sudah bisa diketahui apakah dia mempunyai ilmu sungguhan atau tidak.
It-to-cian adalah pesilat tangguh, pasti dia sudah tahu.
Siau Sam Kongcu sengaja memamerkan kekuatannya.
Sebenarnya dia bisa saja mengambil tawaran kesempatan yang diberikan It-to-cian, dia bisa dengan sekuat tenaga menyerang lebih dulu mengalahkan It-to-cian.
Tapi dengan cara begitu, It-to-cian pasti tidak menerima kekalahan dengan tulus hati.
Hanya dalam keadaan adil baru bisa membuat dia menerima kekalahan dengan tulus.
Siau Sam Kongcu mempunyai kepercayaan diri ini, sebab dalam hati dia sudah tahu It-to-cian sekuat apa.
Dua kaki It-to-cian mulai bergeser.
Dia berputar mengelilingi Siau Sam Kongcu.
Golok juga terus berputar.
Dia sedang mencari sudut yang tepat.
Dengan kecepatan tinggi melancarkan serangan pasti akan membuat dia menang.
Kaki Siau Sam Kongcu tidak bergeser.
Pedang patah juga tidak berputar.
Tubuhnya seperti menjadi batu.
Setelah satu kali berputar, It-to-cian masih belum mendapatkan celah yang dia inginkan.
Tapi akhirnya golok keluar juga untuk menyerang.
Dia menepis dari belakang Siau Sam Kongcu, di belakang kepala menepis dengan kecepatan tinggi.
Sekarang Siau Sam Kongcu baru bergerak, pedang menggurat tepat menjemput golok It-to-cian yang datang.
Yang pasti seranganLegenda Pendekar Ulat Sutra -2 175 golok penuh perubahan sebanyak 13 kali, setiap perubahan cukup ganas untuk sanggup mencabut nyawa.
Pedang Siau Sam Kongcu ikut berputar dan berubah.
Setiap serangan golok dijemput dengan baik.
Perubahan golok sudah habis, tapi pedang masih belum habis perubahannya.
Ujung pedang berputar juga menepis.
It-to-cian merasakan tenaga yang keluar dari pedang.
Dua tangan terus memegang pegangan golok, tubuhnya tidak sengaja terus naik.
Dia membentak dan menarik goloknya.
Tapi golok sudah terkekang oleh tenaga dalam Siau Sam Kongcu.
Golok tidak dapat dicabut, tubuh juga ikut terbawa mengikuti perubahan Siau Sam Kongcu.
Ilmu pedang Siau Sam Kongcu mengikuti tubuhnya terus berubah dan terus melilit golok It-to-cian.
Tenaga dalam terus mengalir, melalui golok dan membentur tangan It-to-cian.
It-to-cian mulai merasakan dua tangannya mati rasa.
Golok di tangan tidak sanggup dikuasai, akhirnya terlepas dari tangannya dan terbang ke atas udara.
Karena dia berada di tengah-tengah udara maka dia menekuk tubuhnya, siap menjemput golok yang yang terlepas.
Tapi goloknya sudah dijemput oleh pedang Siau Sam Kongcu, kemudian dia melambaikan pedangnya.
Dengan sangat tepat, golok dia dilemparkan masuk ke sarung golok yang berada di pinggang It-to-cian.
Perhitungan yang sangat tepat.
Pedang Siau Sam Kongcu juga pada saat bersamaan masuk ke sarungnya.
Siau Sam Kongcu turun dengan tenang.
It-to-cian ikut turun juga.
Tadi dia sempat mempunyai perasaan yang salah.
Dia mengira goloknya terbang datang untuk menepis nadi-nadi penting nya.
Sampai dia mengetahui ternyata golok masuk ke dalam sarung, dia baru menarik nafas.
Akhirnya mengerti bila Siau Sam Kongcu ingin membunuh dia, itu mudah baginya seperti membalikkan telapak tangan.Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 176 Dia tetap menaruh tangan pada pegangan golok tapi tidak mencabutnya, hanya melihat Siau Sam Kongcu dengan bengis.
"Ilmu silat Tionggoan tidak mementingkan membunuh orang melainkan bagaimana menghentikan pembunuhan. Malam ini aku memberimu dua kata, 'Jin'(bersabar hati) dan 'Su'(memaafkan)."
Setelah itu Siau Sam Kongcu membalikkan tubuh dan meninggalkan tempat.
Melihat bayangan tubuh Siau Sam Kongcu yang berjalan pergi, It-to-cian mengeluarkan sorot mata sadis.
Kali ini dia kalah total.
Untung kalah di tempat ini, kalau tidak mana mungkin dia bisa kembali lagi ke Ling-ong-hu.
134-134-134 Ling-ong sangat mengenal sifat Siau Sam Kongcu.
Dia tidak memaksa Siau Sam Kongcu untuk tinggal, hanya membuat jamuan makan untuk mengantar dia pergi.
It-to-cian, Su-ki-sat-jiu, dan Cu Kun-cau juga datang, hanya Su Ceng-cau yang tidak terlihat dalam jamuan itu.
Terhadap putri kesayangannya, Ling-ong tidak bisa berbuat apa-apa.
Siau Sam Kongcu tidak memperhatikan.
Dia tahu Su Ceng-cau tidak ingin Siau Sam Kongcu keluar dari Ling-ong-hu, tapi dia tidak sanggup menahan gurunya.
Karena Cu Kun-cau sangat tidak menghormati Siau Sam Kongcu, maka selain harus melihat ayahnya, dia juga harus melihat Siau Sam Kongcu yang kecewa.
Di dalam hatinya mengira, karena Siau Sam Kongcu bukan lawan It-to-cian maka dia tetap tidak berani bertarung dan diam-diam mundur.
Tapi begitu melihat sikap Siau Sam Kongcu yang tenang seperti tidak terjadi sesuatu, dia mulai merasa heran.
Yang paling mengherankan adalah sikap It-to-cian.
Ke-sombongannya tidak terlihat dan jarang berbicara.
Su-ki-sat-jiu terus mengawasi sikap It-to-cian.
Walaupun mereka tidak tahu apa yang terjadi semalam tapi melihat sikap It-to-cian, sedikit banyak mereka bisa menebak.
Setelah tahu tebakan mereka tidak salah, bahwa semalam Siau Sam Kongcu sudahLegenda Pendekar Ulat Sutra -2 177 mencari It-to-cian dan mengalahkan dia, mereka saling memandang dan tersenyum berarti.
It-to-cian melihatnya, dia marah tapi tidak berani menunjukkan kemarahannya, bukan karena dia mengerti kata pemberian Siau Sam Kongcu 'Jin', melainkan karena ilmu silatnya kalah dari orang lain.
Dia tidak menganggap itu adalah tebakan Su-ki-sat-jiu.
Dia mengira Siau Sam Kongcu sudah meng umumkan kekalahannya pada orang lain.
Yang pasti itu sudah mengganggu dia di Ling-ong-hu.
Satu-satunya cara adalah mengajak tarung secara terbuka dan mengalahkan Siau Sam Kongcu.
Tapi bagi dia, opsi ini sama sekali tidak meyakinkan.
Selain makanan enak dan arak bagus, masih ada ratusan uang perak dan emas.
Ling-ong tidak menahan Siau Sam Kongcu, tapi dia terus berpesan.
"Setelah masalah di Pek-hoa-couw selesai, jangan lupa kembali, karena Ling-ong-hu tidak bisa kekurangan dirimu!"
Siau Sam Kongcu terus-menerus menjawab.
"Pasti! Pasti!"
"Ceng-cau memang seperti itu, kau jangan menaruh di hati!"
Kata Ling-ong sambil tertawa.
"putriku ini memang membuatku kewalahan!"
"Apalagi aku yang menjadi gurunya, lebih-lebih tidak bisa mengurusnya!"
Siau Sam Kongcu berjalan ke depan It-to-cian.
"posisi guru pedang aku serahkan kepada tuan!"
It-to-cian tidak tahu harus menjawab apa. Siau Sam Kongcu berkata lagi.
"Di dalam Ling-ong-hu semua orang bisa belajar Thian-cang-kang dari Jepang. Itu karena tuan yang mengajarnya!"
Ini hanyalah kata-kata sungkan.
Siau Sam Kongcu hanya berkata dan tidak ada maksud apa-apa, tapi terdengar oleh It-to-cian sepertiLegenda Pendekar Ulat Sutra -2 178 Siau Sam Kongcu sedang menertawakan dia.
Walaupun tidak marah pada waktu itu, tapi kebenciannya semakin bertambah.
135-135-135 Su-ki-sat-jiu terus mengantar Siau Sam Kongcu keluar Ling-ong-hu.
Semenjak mengenal Siau Sam Kongcu, ini adalah pertama kalinya mereka merasa antusias.
"Kami sudah tahu Siau-heng tidak berpangku tangan!"
Kata Liu Hui-su dengan senang.
"melihat sikap dia tadi, pastinya semalam dia sudah kalah bertarung dengan menyedihkan, maka kesombongannya baru hilang tidak tersisa!"
Kata Cia Ceng-hong.
"Mengapa Siau-heng tidak memberitahukan kepada kami agar kami tidak melewatkan pertarungan yang seru ini?"
"Itu karena Siau-heng terlalu baik. Seharusnya memberi pelajaran kepada dia waktu jamuan makan agar ddak repot!"
Kata Hoa Pie-li. Soat Boan-thian menepuk tangan.
"Benar kata Lo-sam. Orang itu tetap adalah guru Siau-ongya. Setelah pertarungan semalam, dia harus tahu di luar langit masih ada langit yang lebih tinggi. Di luar orang masih ada orang yang lebih hebat. Agar dia tidak berani macam-macam di Tiong-goan!"
Siau Sam Kongcu menarik nafas panjang. Akhirnya dia membuka suara.
"Apapun yang terjadi, Siau-ongya membawa orang ini masuk pasti ada maunya. Harap semua orang berhati-hati!"
Su-ki-sat-jiu segera berhenti tertawa. Siau Sam Kongcu berkata lagi.
"Asal Ong-ya tidak setuju, masalah tidak akan menjadi besari"
Su-ki-sat-jiu sama-sama mengangguk.
Siau Sam Kongcu segera pamit pergi.
136-136-136Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 179 Setelah keluar kota sejauh 10 li, waktu berjalan di gunung Siau Sam Kongcu mulai merasa ada orang membuntutinya.
Awalnya dia hanya merasa curiga, tapi tidak lama kemudian dia mulai yakin.
Siau Sam Kongcu berhenti berjalan.
Orang itu segera bersembunyi di balik sebuah pohon.
"Siapa? Cepat keluar!"
Bentak Siau Sam Kongcu.
Begitu orang ini tahu dia sudah terlihat dan tidak bisa bersembunyi lagi, dia terpaksa keluar.
Ternyata adalah Su Ceng-cau.
Dia memakai baju ketat dan membawa sebuah bungkusan kain.
Begitu melihat Siau Sam Kongcu, dia segera mengeluarkan lidah.
"Kau?"
Siau Sam Kongcu terpaku.
"Guru!"
Su Ceng-cau ketakutan.
"Kau ada di sini, ada apa?"
"Aku mengikutimu dari belakangmu dan sam pai di sini!"
"Untuk apa kau mengikuti aku?"
"Ingin ikut ke Pek-hoa-couw, melihat-lihat untuk menambah pengetahuan!"
Siau Sam Kongcu baru mengerti.
"Ternyata hari ini kau sudah dari awal keluar dari Ling-ong-hu, pantas tidak melihatmu berada di sana!"
Su Ceng-cau ingin tertawa.
"Kau kira murid tidak mempunyai persiapan? Sampai guru mau pergi juga tidak mengantar."
"Kau segera pulang ke Ling-ong-hu!"
Siau Sam Kongcu marah.
"kau diam-diam keluar dari Ling-ong-hu, bila ayahmu tahu, aku tidak sanggup menjelaskan!"
"Aku sudah meninggalkan surat di kamar dan menjelaskan itu adalah ideku sendiri!"
Su Ceng-cau tetap tertawa.
"Kau..."
Siau Sam Kongcu marah. Su Ceng-cau segera datang memohon.Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 180
Baca Juga: Nurseta Satria Karangtirta 4
Baca Juga: Pedang Penakluk Iblis Kho Ping Hoo