Eps 5 Legenda Pendekar Ulat Sutera - Huang Ying
Baca online Legenda Pendekar Ulat Sutera - Huang Ying
Cersil Legenda Pendekar Ulat Sutera - Huang Ying.
"Bila aku tinggal di Ling-ong-hu, aku tidak tahan. Apalagi harus belajar ilmu pedang kepada orang itu!"
"Identitasmu tidak bisa sembarangan berkelana di dunia persilatan."
"Kalau guru tidak memberitahu identitasku, siapa yang bisa tahu?"
Su Ceng-cau menarik lengan bajunya.
"aku akan mendengarkan apa yang guru katakan, dan aku jamin tidak akan membuat masalah!"
"Dunia persilatan penuh bahaya, kau tidak berpengalaman, apalagi sifatmu semau sendiri!"
Siau Sam Kongcu teringat sifat Su Ceng-cau, dia menggelengkan kepala.
"Aku akan mengubah sifatku! Bukankah guru juga mengharapkan aku bisa mengubah sifatku yang buruk? Sekarang aku mau berubah, kau harus memberiku kesempatan!"
Siau Sam Kongcu tertawa kecut.
"Kau tidak mau pulang?"
"Betul! Kalau guru tidak mengijinkan aku ikut, terpaksa aku harus pergi sendiri. Bila terjadi..."
"Berarti kau mau mengancam guru. Baik! Kau yang mengeluarkan kata-kata ini. Kita buat perjanjian dulu, bila di jalan kau tidak mendengar kata-kataku dan semaumu sendiri, aku segera memerintahkanmu pulang!"
"Aku berjanji!"
Su Ceng-cau meloncat-loncat kegirangan.
137-137-137 Sekarang Ling-ong sudah tahu Su Ceng-cau kabur.
Yang pasti dia marah.
Dia tahu putri ini karena terlalu disayang dari kecil maka bisa melakukan hal seperti ini.
Ini memang tidak aneh.
Tapi seharusnya dia memberitahukan ayahnya terlebih dahulu.
"Menurutku, dia pasti disuruh oleh Siau Sam!"
Cu Kun-cau tidak lupa menyerang Siau Sam Kongcu.Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 181
"Siau Sam Kongcu bukan orang seperti itu!"
Ling-ong adalah orang yang mengerti.
"ini karena biasa aku jarang mendidiknya dan terlalu besar..
"Ceng-eau terbiasa hidup enak, bagaimana dia bisa berkelana di dunia persilatan? Aku kira kita harus menyuruh dia pulang sekarang juga, kalau tidak..."
Kata Cu Kun-cau.
"Baik, aku serahkan masalah ini kepadamu, bawalah Ceng-cau pulang. Jangan kurang ajar terhadap Siau Sam!"
Cu Kun-cau setuju, dia segera memberi isyarat agar It-to-cian keluar ruangan. 138-138-138 Setelah keluar dari ruangan, wajah Cu Kun-cau ditekuk. It-to-cian segera bertanya.
"Apakah maksud Siau-ongya menyuruhku keluar untuk mencari?"
"Selain guru, tidak ada orang yang lebih cocok lagi. Kalau La-cai tidak ada hal lain, lebih baik dia ikut pergi juga."
"Tidak sulit membawa Kuncu pulang, tapi bagaimana dengan marga Siau yang berada di sisinya?"
"Bunuh dia!"
Dua alis It-to-cian terlihat melayang.
Aura membunuh segera keluar.
139-139-139 Setelah keluar dari Ling-ong-hu, It-to-cian terus berlari ke timur kota.
Keluar kota sejauh tiga li, dia mendatangi sebuah gubuk.
Melihat tidak ada orang di sekeliling, dia segera meniru suara burung.
Seorang yang berbaju hitam turun dari sebuah pohon besar tanpa menimbulkan suara.
Orang itu berpakaian bukan seperti orang persilatan di Tiong-goan, berbicara juga bukan dalam bahasa Tionggoan.
Terlihat dia sangat menghormati It-to-cian.Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 182 Setelah It-to-cian berpesan beberapa kalimat, orang berbaju hitam mengangguk dan membalikkan tubuh.
Soat Boan-thian melihatnya, dia melihat gerak gerik It-to-cian sangat mencurigakan, maka dia membuntutinya dari Ling-ong-hu sampai ke sini.
Keadaan di sini sangat dikenalnya, maka keberadaannya tidak terlihat atau terasa oleh It-to-cian.
Orang berbaju hitam pergi, Soat Boan-thian juga pergi.
Dia selalu berada di belakang orang berbaju hitam.
Orang berbaju hitam berlari cepat.
Soat Boan-thian juga tidak lambat, tetap membuntuti dengan tanpa suara.
Di bawah hutan penuh dengan daun.
Walau pun orang berbaju hitam melangkah dengan ringan, tapi langkah kaki tetap menimbulkan suara.
Soat Boan-thian tahu keadaannya seperti itu, maka dia melangkah dengan sangat hati-hati.
Tapi akhirnya dia tetap ketahuan oleh orang berbaju hitam.
Orang berbaju hitam segera membalikkan tubuh.
Soat Boan-thian segera berkelebat ke balik sebu-ah pohon, tapi dia sudah terlihat oleh lawan.
Dia membentak, tapi Soat Boan-thian tidak mengerti bahasanya.
Dia keluar membentak.
"Kalian ada berapa orang? Dan apa tujuan kalian datang kemari?"
Orang berbaju hitam juga tidak mengerti bahasa Soat Boan-thian, dia mencabut goloknya.
"Baik! Aku lihat kalian bukan orang baik-baik! Bila bertemu dengan seorang aku akan membunuh seorang, agar ringkas!"
Orang berbaju hitam segera meloncat ke atas, tangan melayang, berturut-turut menembakkan senja ta menyerang ke arah Soat Boan-thian.
Kemu-dian di tengah-tengah udara dia membacok Soat Boan-thian.Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 183 Soat Boan-thian menghindar.
Semua senjata rahasia terpaku di batang pohon.
Terlihat daya membunuh senjata ini sangat kuat.
Sambil menghindar, senjata Soat Boan-thian juga dilepaskan.
Cepat dan kuat!
Orang berbaju hitam mengayunkan golok untuk menahan kemudian meloncat ke batang pohon, tapi begitu berdiri dia kembali turun lagi.
Dari lengan baju Soat Boan-thian ada cahaya berkilau.
Dua buah senjata rahasia sudah dilepaskan ke nadi orang berbaju hitam.
Sepasang golok pendek sudah dikeluarkan dari lengan baju dan berputar di lengannya, lalu dia mendekat untuk menyambut.
Di tengah-tengah udara, orang berbaju hitam menahan dua senjata rahasia dengan golok.
Tubuh berbalik ke tempat asal.
Walaupun bukan batang pohon yang tadi, tapi dia sudah mengaitkan dua kakinya pada batang pohon, posisinya seperti seekor kelelawar bergantung.
Pada saat bersamaan dia juga melepaskan senjata rahasia ke arah Soat Boan-thian.
Soat Boan-thian menahan senjata rahasia deng an sepasang golok pendeknya.
Tubuhnya tetap maju.
Pada waktu itu terdengar suara petir.
Asap tebal sudah meledak di batang pohon itu dan asap terus menyebar.
Orang berbaju hitam menghilang di dalam asap tebal itu.
Soat Boan-thian tidak mengejar masuk ke asap tebal.
Dia tengkurap di bawah tanah.
Kemudian suara terdengar di bawah.
"Orang yang berpengalaman di dunia persilatan memang tidak bisa disamakan!"
Di hutan bagian utara pada jarak sejauh dua li, terlihat sebuah kuil kuno berdiri di sana.
Kuil kuno ini tidak terlalu besar tapi sangat kokoh.
Orang berbaju hitam tidak memasuki kuil dari pintu utama, melainkan meloncat masuk melalui dinding.Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 184 Soat Boan-thian melihat orang berbaju hitam dari jauh, dengan cepat dia berusaha mengejar.
Cat papan nama kuil tua sudah terkelupas, tapi tulisannya masih bisa terbaca 'Kuil Po-ki' tiga huruf.
Pintu kuil terbuka.
Seorang hweesio tua yang pendek dan bertubuh kecil berdiri di ambang pintu.
Di kepala hweesio hanya terdapat beberapa helai rambut putih.
Baju hweesio berwarna abu-abu yang hampir putih, terlihat panjang dan sangat lebar, melambai-lambai ditiup angin.
Wajah hweesio terlihat baik tapi serius, mimik wajahnya seperti tertawa dan seperti tidak.
Dia terlihat seperti seorang hweesio yang berkedudukan tinggi.
Waktu Soat Boan-thian ingin masuk, hweesio menghalanginya berkata.
"O-mi-to-hud, aku adalah Hweesio La-cai."
"Menyingkir!"
Soat Boan-thian membentak. Sepasang golok kecil berputar-putar di tangannya.
"Tempat Budha adalah tempat yang paling bersih dan tenang. Tuan membawa golok kemari, apakah ada murid dari kuil ini yang sudah berbuat kesalahan kepadamu?"
Suara La-cai lembut dan licik.
"Aku sedang mengejar seseorang dan melihat dia kabur masuk ke dalam kuil ini!"
Tadinya Soat Boan-thian ingin mendorong La-cai, tapi melihat La-cai tampak seperti orang yang lemah, maka dia mengurungkan niatnya.
"Betulkah? Kalau begitu, aku akan membawamu mengejarnya!"
La-cai membalikkan tubuh berjalan masuk.
Cara jalan La-cai sedikit lucu tapi tidak pelan.
Soat Boan-thian terus mengikuti La-cai.
La-cai pada waktu yang begitu tepat menunggu di luar pintu, itu sudah membuat Soat Boan-thian curiga.
Tapi sampai sekarang masih tidak terlihat ada yang tidak beres pada hweesio tua ini.Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 185 Setelah melewati sekat yang terukir huruf 'Hud', mereka kemudian masuk ke kebun.
Dinding-dinding di kebun sudah banyak yang roboh, rumput liar juga terlihat tumbuh di mana-mana.
Begitu masuk ke ruangan, debu dan sarang laba-laba juga banyak terlihat di sana.
Ada lubang di atap yang disebabkan oleh sekeping genteng yang sudah pecah dan terjatuh.
Sinar matahari masuk dari lubang itu, membuat ruangan terlihat semakin misterius.
Soat Boan-thian melihat La-cai, dia bertanya.
"Sudah berapa lama tempat ini tidak dibersihkan!"
"Pinceng tidak jelas!"
La-cai menggelengkan kepala.
"Di belakang ini tempat apa?"
"Kamar semedi! Apakah tuan ingin masuk untuk melihatnya?"
Soat Boan-thian mengangguk, tapi tidak berkata, La-cai berkata.
"Menurutku, kau tidak perlu melihatnya lagi!"
"Oh?"
Soat Boan-thian terpaku.
"Bukankah orang yang kau cari berada di sana?"
La-cai menunjuk patung-patung Budha yang sudah tidak sempurna dan yang catnya sudah terkelupas.
Kemudian dia membentak dengan kata-kata yang tidak dimengerti oleh Soat Boan-thian.
Soat Boan-thian terpaku lagi.
Pada saat yang bersamaan, orang berbaju hitam meloncat turun dari sebuah patung Budha.
Kemudian La-cai marah-marah.
Soat Boan-thian bisa melihat dia sedang marah besar.
Di dalam nada yang penuh kemarahan, Soat Boan-thian tidak mengerti apa yang La-cai katakan.
Tapi dia yakin bahwa La-cai, orang berbaju hitam dan It-to-cian adalah satu kelompok.
Setelah cukup memarahi orang berbaju hitam, La-cai baru melihat kepada Soat Boan-thian.
"Apa yang kau katakan?"
Tanya Soat Boan-thian.Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 186
"Aku marah dia tidak berguna, bisa-bisanya membuat kau membuntutinya sampai ke sini!"
Begitu menyelesaikan kata-katanya, La-cai sudah menyerang Soat Boan-thian.
Soat Boan-thian sudah mempunyai persiapan, maka reaksinya tidak lambat.
Sepasang golok pendek segera menyerang.
Tapi ternyata jurus yang La-cai keluarkan adalah jurus tipuan, maka ketika kedua telapaknya baru mencapai setengah kaki, dia sudah menendang lutut kanan Soat Boan-thian.
Soat Boan-thian tidak sempat menghindar, lututnya tertendang hingga remuk, tubuhnya terbang jauh menabrak dinding.
Pada waktu yang bersamaan, La-cai sudah mengeluarkan tangannya, dia mencabut golok katana yang berada di pinggang orang berbaju hitam dan menancapkan golok ke perut Soat Boan-thian.
Soat Boan-thian terpaku.
Dia berteriak kesakitan.
"Siapa kau sebenarnya?"
"La-cai!"
Sambil berkata La-cai sudah berada di depan Soat Boan-thian.
"apakah kau tahu apa yang disebut dengan orang yang bersabar hati?"
Soat Boan-thian belum menjawab, La-cai segera berkata lagi.
"Orang yang telah dilatih dengan ketat, pandai membunuh, dan pandai mendapatkan kabar berita!"
"Kau bukan seorang samurai?"
Sepasang golok pendek Soat Boan-thian dilempar keluar. Dengan tenang La-cai menjemput goloknya.
"Maka membunuh dengan cara apa? Kau harus mati!"
Kemudian dia membalikkan kedua tang annya, sepasang golok yang dia jemput tadi sudah menancap di tempat penting Soat Boan-thian.
Akhirnya Soat Boan-thian menghembuskan nafas terakhir.
Matanya melotot besar.
Dia mati seper ti ini dan mati di sana, mana mungkin dia bisa menutup mata dalam kematiannya?
140-140-140Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 187 Sudah berlalu beberapa hari sejak dia terkurung di tempat ini, Siau Cu tidak ingat.
Wan Fei-yang juga tidak ingat.
Semenjak masuk ke Sian-tho-kok, dia sudah tidak bisa menghitung waktu.
Apalagi ketika baru masuk, seringkah dia pingsan selama 3-4 hari.
Di bawah ajaran Wan Fei-yang, Siau Cu belajar ilmu silat sampai lupa makan dan lupa tidur.
Setiap hari Wan-tianglo tanpa memandang hujan dan angin, datang mencari mereka untuk bertarung.
Sebelum mereka benar-benar lelah, dia tidak mau berhenti.
Siau Cu begitu belajar ilmu silat, dia langsung mempraktekannya.
Siau Cu adalah orang yang berbakat dalam bidang ilmu silat, apalagi yang mengajar dia adalah pesilat-pesilat terkenal.
Wan-tianglo sangat senang.
Wan Fei-yang juga senang melihat kemajuan ilmu silat Siau Cu.
Dia menjadi tidak suka karena orang mengkhawatirkan banyak masalah.
Wan Fei-yang memperdalam Ih-kin-keng, sam bil mengajarkan ilmu silat kepada Siau Cu.
Lama dia memperhatikan sikap Siau Cu, karena Siau Cu tampak tidak tenang.
"Apakah kau punya banyak pikiran?"
Akhirnya Wan Fei-yang bertanya.
"Tidak juga!"
Siau Cu sedikit malu dan berkata lagi.
"aku harus keluar, dengan begitu aku tidak mengganggumu berlatih ilmu silat!"
"Apakah kau ingin meninggalkan Sian-tho-kok?"
"Wan-toako, kita sama-sama pergi dari sini. Bila kita bergabung, kita pasti bisa mengalahkan orang aneh itu!"
"Kalau memang bisa, kita sama sekali sudah tidak berada di sini! Ilmu silat dan ilmu tenaga dalam orang tua ini sangat tinggi. Perubahan jurus-jurusnya sangat cepat. Dengan ilmu silatmu dan aku sekarang, bertarung masing-masing ataupun bergabung tidak akan ada bedanya!"
Siau Cu merasa kecewa.Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 188
"Kalau begitu bila ingin meninggalkan tempat ini, kita harus menunggu Wan-toako pulih kembali agar bisa memperagakan Thian-can-sin-kang?"
"Masih ada dua jurus Ih-kin-keng yang sampai sekarang aku belum mengerti. Jika benar-benar bisa mengerti 2 jurus itu, ilmuku baru bisa pulih. Tapi entah kapan!"
"Butuh waktu sekitar berapa lama?"
Wan Fei-yang tertawa.
"Mungkin seumur hidup pun masih belum bisa mendapatkan apa-apa. Mungkin juga kalau kebe tulan, aku bisa segera menguasainya!"
Siau Cu tertawa kecut.
"Tapi kalau kau mau meninggalkan Sian-tho-kok, tetap ada cara!"
"Cara apa?"
"Pertama pancing dulu Wan-tianglo masuk.."
Memancing Wan-tianglo masuk bukan hal yang sulit.
Wan Fei-yang di waktu malam hari berpura-pura kambuh luka dalamnya.
Setelah merintih kesakitan, ditambah teriakan Siau Cu yang akan mengejutkan Wan-tianglo, dia akan masuk untuk melihat.
Tadinya Siau Cu tidak setuju, tapi seperti kata Wan Fei-yang, tinggal di sana tidak ada gunanya bagi dia.
Siau Cu juga teringat akan Lam-touw yang sangat berbudi kepadanya.
Maka apapun yang terjadi, dia harus menemukan pembunuh itu.
Akhirnya dia setuju dengan cara ini.
"Mengapa penyakitmu tiba-tiba kambuh?"
Wan-tianglo melihat Wan Fei-yang berguling-guling kesakitan di bawah.
Dia merasa aneh.
Menurut perhitungannya, seharusnya Wan Fei-yang sudah tidak merasa kesakitan seperti itu.
Walaupun kambuh, seharusnya terjadi setengah bulan kemudian, dan juga tidak akan sakit seperti itu.
Siau Cu melihat dia terpaku, segera berkata.Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 189
"Masih menunggu apalagi? Bila sesuatu terjadi pada Wan-toako, siapa yang akan menemanimu bertarung?"
Wan-tianglo melihat Siau Cu.
"Yang pasti aku akan menyelamatkan dia. Bila kalian berdua roboh pada waktu yang bersamaan, orang pertama yang akan kutolong adalah dia!"
"Aku kira kau harus menyelamatkan aku dulu karena luka dalamku tidak begitu berdt, sehingga pada hari kedua aku akan sehat kembali dan bisa bertarung denganmu lagi!"
"Kau bukan siapa-siapa, hanya mempunyai ilmu seperti kucing berkaki tiga, mana mungkin bisa bersaing dengan Wan Fei-yang?"
Tapi dia segera melihat Wan Fei-yang dan mengomel. ''Kau benar-benar merepotkan!"
"Mengapa kau tidak menolong dia?"
Kata Siau Cu.
"Aku mempunyai perhitungan sendiri. Kau jangan cerewet! Pergi sana!"
Wan-tianglo membentak.
Siau Cu berjalan ke depan jendela.
Wan-tiang-lo tidak memperhatikannya.
Tenaga dalamnya segera disalurkan pada kedua tangan dan 10 jarinya, dia segera menekan nadi Wan Fei-yang.
waktu itu, tubuh Wan Fei-yang bagian bawah berputar dengan cepat.
Dua tangan Wan Fei-yang dengan cepat menceng-kram pergelangan tangan Wan-tianglo, bentaknya.
"Cepat pergi!"
"Wan-toako, kita bertemu di lain waktu!"
Siau Cu sudah meloncat keluar melalui jendela.
Reaksi Wan-tianglo sangat cepat.
Nadi pada kedua pergelangan tangan yang dicengkram Wan Fei-yang segera digeser.
10 jarinya seperti tidak bertulang, dan dia malah berbalik menepuk nadi di kedua tangan Wan Fei-yang.
Wan Fei-yang melepaskan tangannya, kemudian menyerang sebanyak 28 kali.
Wan-tianglo dipaksa mundur tiga langkah.Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 190 J "Wan Fei-yang, mengapa kau menipuku?"
Wan-tianglo marah besar. Jurus-jurusnya segera dikeluarkannya dengan ganas dan cepat. Wan Fei-yang menyambut jurus-jurusnya dengan serius sambil menjawab.
"Orang lain ingin melakukan hal penting, mengapa kau harus memaksa dia tinggal di sini?"
"Apa yang kau mengerti tentang ini? Nyawa mu hanya tinggal separuh lagi, maka bisa membuatku berlatih dengan puas. Cepat kau kembali ke tempatmu, aku akan menangkap Siau Cu kembali!"
"Aku ingin dia meninggalkan tempat ini, mana mungkin membiarkan kau lewat!"
Wan Fei-yang tertawa.
"Apakah kau mau mati?"
Wan-tianglo semakin marah. Jurusnya semakin cepat, juga bertambah galak.
"Kalau aku mati di tangan Cianpwee, apakah Cianpwee tidak akan merasa kesepian di kemudian hari?"
Wan Fei-yang tetap tersenyum.
"Kalau Siau Cu kabur, dalam sehari kau harus menemaniku bertarung dua kali. Pada waktu itu kau akan tersiksa!"
Nada Wan-tianglo mulai melemah, tapi dia tetap memaksa ingin lewat.
Wan Fei-yang berusaha menghadang.
Rumah pohon agak sempit maka gerakan tubuh terbatas, apalagi mereka bertarung di atas ranjang rotan.
Walaupun Wan-tianglo mempunyai ilmu meringan kan tubuh yang tinggi, dengan ruang gerak yang sempit, ilmu meringankan tubuhnya sulit dikeluarkan.
Dia harus melepaskan libatan Wan Fei-yang, baru bisa keluar dari rumah pohon.
Yang pasti bukan langsung membereskan masalah.
Dia seringkali menggunakan jurus kosong untuk menipu Wan Fei-yang agar bisa lewat.
Tapi dengan pengalaman menghadapi musuh dan kepintarannya, Wan Fei-yang bisa mengetahuinya.Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 191 Maka dia tetap mencegat dengan segala cara dan tidak memberi kesempatan kepada Wan-tianglo untuk lewat.
Setelah ratusan jurus dilewati, Wan-tianglo menarik nafas.
Dia tahu bila semakin cemas dia akan semakin sulit merobohkan Wan Fei-yang.
Dengan ilmu silat Siau Cu, sekarang dia pasti sudah keluar dari Sian-tho-kok.
Bila Siau Cu sudah kabur dari Sian-tho-kok, akan sulit menangkap dia kembali.
Sebenarnya Wan-tianglo memang tidak tertarik dengan ilmu silat Siau Cu.
Setelah berpikir, dia malah menjadi tenang.
Jurus nya berubah dan terus menyerang Wan Fei-yang.
Terhadap perubahan Wan-tianglo, Wan Fei-yang sudah hafal.
Sampai perubahan baru Wan-tianglo pun bisa ditebak Wan Fei-yang.
Hanya saja tenaga dalamnya belum cukup, maka Wan-tianglo selalu bisa merebut kesempatan pada jurus-jurus tertentu.
Akhirnya dia dirobohkan.
Wan-tianglo tidak mengejar keluar.
Dia hanya menunggu Wan Fei-yang berdiri, kemudian merobohkan dia lagi.
Waktu Wan Fei-yang pingsan, di sudut mulut nya masih tersenyum.
Ini benar-benar membuat Wan-tianglo marah.
Kegilaan orang ini terhadap ilmu silat benar-benar keterlaluan dan sudah sampai pada tarap sesat.
Setelah Siau Cu meninggalkan Sian-tho-kok, tadinya dia ingin pergi ke ibukota untuk mencari Tiong Toa-sianseng.
Tapi begitu masuk ke dunia persilatan, dia mendapat kabar tentang rapat Pek-hoa-couw, juga tahu Tiong Toa-sianseng adalah salah seorang yang diundang.
Maka dia segera berubah pikiran dan langsung menuju ke Kanglam.
Dia adalah orang berpengalaman di dunia persilatan, dia bisa mendapatkan banyak kabar dunia persilatan.
Dia segera tahu murid-murid Bu-tong-pai sudah berangkat.
Dan diantara murid ini ada Lu Tan yang dia kenal.Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 192 Bagi Siau Cu mencari Lu Tan adalah hal yang mudah, tapi bagi Lu Tan pertemuan mereka adalah hal yang tidak diduga.
Waktu berada di penginapan ketika mendengar ada yang mengetuk pintu, Lu Tan mengira adalah pelayan.
Ternyata adalah Siau Cu, maka Lu Tan terpaku.
"Mengapa tidak mengenaliku lagi?"
Siau Cu tertawa. Walaupun dalam kesusahan namun kapan-pun bila bertemu teman, Siau Cu tetap bisa tersenyum. Mungkin dia tidak ingin temannya khawatir, dan dia juga tidak mempunyai banyak teman.
"Siau Cu, kau datang dari mana?"
Lu Tan berteriak, dia segera tertawa.
"Kau tahu aku adalah orang berpengalaman di dunia persilatan. Mencarimu adalah hal yang mudah!"
"Betul! Betul!"
Siau Cu melihat Lu Tan. Sampai sekarang dia baru pertama kali melihat Lu Tan memakai baju pendeta dan rambut disanggul seperti pendeta.
"Apa yang terjadi denganmu? Betulkah kau ingin menjadi pendeta?"
Siau Cu sedikit curiga.
"Aku adalah Pendeta Hek-sik (baju hitam)."
"Walaupun kau ingin menjadi seorang tosu, maka namamu harus bagus. Apakah kau tidak merasa Hek-sik itu sangat tidak enak di dengar?"
Lu Tan tertawa kecut.
"Aku tetap memanggilmu Lu Tan!"
"Kalau kau ingin memanggilku Lu Tan, itu tidak apa-apa. Mana gurumu?"
"Dia sudah meninggal!"
"Mana mungkin!"
Lu Tan terkejut.
"Kalau seseorang harus mati, tidak ada yang bisa menghadang!"Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 193
"Apa yang terjadi?"
"Aku tidak tahu. Mungkin dilakukan oleh orang Pek-lian-kau. Karena ada dendam antara kita dengan Pek-lian-kau!"
"Dia sangat berbudi kepadaku. Tentang ini aku juga tidak akan berpangku tangan. Bila ingin membalas dendam, jangan lupa beritahu kepadaku!"
Siau Cu menepuk pundak Lu Tan. Dia tidak berkata apa-apa.
"Sekarang kau mau ke mana?"
Tanya Lu Tan.
"Pergi ke Pek-hoa-couw, berharap bisa bertemu dengan Tiong Toa-sianseng. Sebelum meninggal, dia akrab dengan Tiong Toa-sianseng. Mungkin bisa mencari tahu sesuatu dari dia!"
"Kalau begitu kita pergi sama-sama!"
"Kau mewakili Bu-tong-pai?"
Lu Tan tertawa kecut.
"Bu-tong-pai sudah beberapa kali menghadapi musibah. Orang berbakat sudah tidak muncul di Bu-tong-pai. Sebenarnya aku tidak pantas mewakili Bu-tong-pai!"
Siau Cu ikut menarik nafas. Siau Cu tahu seberapa tinggi ilmu silat Lu Tan. Kalau dibandingkan dengan Tiong Toa-sianseng dan pesilat tangguh lain, ilmu silatnya sangat jauh.
"Kalau ada Wan-toako, Bu-tong-pai tidak akan mengirimku sebagai perwakilan, dan tidak akan dihina orang!"
"Tapi kalau kau ikut rapat Pek-hoa-couw, tidak akan ada orang yang menganggap enteng Bu-tong-pai. Kecuali dalam hatimu ingin orang lain meremehkanmu!"
Lu Tan segera menegakkan dadanya. Kata-kata Siau Cu mudah dimengerti. Bila seseorang ingin orang lain mementingkan dirinya, dia sendiri harus mementingkan dirinya terlebih dulu. Siau Cu berkata lagi.
"Sebelum meninggal, guru selalu mengajar aku seperti itu. Jangan karena kita terlahir di keluarga miskin dan berilmu rendah,Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 194 kita memandang rendah diri sendiri. Terlahir di keluarga miskin karena Thian yang mengaturnya, tidak ada orang yang bisa mengubahnya. Sedangkan bila berilmu rendah, kita bisa berlatih dan akhirnya akan maju!"
Sambil mendengar, Lu Tan mengangguk. Tapi Siau Cu malah menarik nafas.
"Memang kita bercerita seperti ini, tapi terlahir di keluarga miskin tetap menghadapi banyak rintangan. Walaupun kita sendiri tidak peduli, tapi kita harus melihat reaksi lawan!"
"Lawan yang mana?"
"Lamkiong Bing-cu!"
Siau Cu ingin menarik kembali kata-katanya tapi sudah tidak sempat, ingin membantah juga tidak bisa, maka dia menjadi serba salah. Lu Tan tidak ambil pusing, dia mengangguk.
"Kalian berdua benar-benar serasi, apakah dia baik kepadamu?"
"Betul, sangat baik! Kau lebih tua daripadaku, pasti sudah memiliki kekasih!"
"Aku adalah Hek-sik Tojin, tidak akan masuk ke tempat yang ada hubungan antara laki-laki dan perempuan!"
"Aku lelah mendengarnya, dan aku juga tidak nyaman!"
"Pelan-pelan kau akan terbiasa!"
"Aku tidak mengerti apa baiknya menjadi seorang pendeta. Kalau ada gadis yang suka kepadaku, hari ini menjadi pendeta, besok aku akan keluar dari jabatan pendeta! Kau berkata kau tidak punya hubungan dengan gadis, berarti kau pernah mempunyai kekasih!"
"Tidak juga!"
"Jadi?"
"Aku mengakui pernah menyukai seorang gadis, maka aku tergesa-gesa pergi!"
"Sebab kau takut latar belakangnya tidak sama?"Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 195
"Ada sedikit..."
"Kau pasti tahu siapa dia."
"Tiang-lek Kuncu, Su Ceng-cau!"
Lu Tan tidak membantah. Dia tertawa kecut.
"Gadis ini memang sedikit galak dan tidak tahu diri, tapi hatinya baik!"
Kata Siau Cu. Lu Tan hanya bisa tertawa kecut. Sekarang Su Ceng-cau sedang berada di sebuah kuil kuno. Dia sedang memegang sebuah Ciam dan bertanya kepada penjaga kuil.
"Kau jelaskan kepadaku arti Ciam ini!"
"Ciam ini adalah waktu Kiang Tai-kong (seorang tokoh Tiongkok kuno yang bertemu dengan Bun-ong di usianya yang ke 80 tahun. Di usia yang setua itu, dia baru menemukan jodoh dan mendapatkan seorang istri). Berarti Ciam ini adalah Ciam yang 'Sia-sia' (Bawah dan bawah). Itu adalah Kiam yang paling jelek,"
Kata penjaga kuil. Penjaga kuil belum menyelesaikan kata-katanya, Su Ceng-cau segera memakai Ciam yang terbuat dari bambu untuk memukul titik di antara kedua alis penjaga kuil.
"Kau sembarangan bicara! Aku memberimu kesempatan sekali lagi. Kalau kali ini masih membuatku tidak puas, aku akan membuatmu susah!"
"Kiang Tai-kong bertemu dengan Bun-ong adalah hal benar, bukan rekayasa, mana mungkin diubah. Kalau nona merasa tidak puas, boleh minta ke Budha satu Ciam lagi!"
Kata penjaga kuil.
"Kau kira aku tidak tahu meminta Ciam hanya boleh dilakukan satu kali?"
Bentak Su Ceng-cau.
"Lebih baik kau jelaskan Ciam ini dengan baik!"
Penjaga kuil menarik nafas.
"Jodoh ditentukan oleh Thian, mana mungkin dipaksakan!"
Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 196 Sebelum selesai bercerita, Su Ceng-cau sudah mencengkram bajunya, siap melempar penjaga kuil keluar. Saat ini Siau Sam Kongcu datang, membentak.
"Su Ceng-cau jangan tidak sopan!"
"Guru, dia..!"
"Mana ada orang yang sepertimu tidak ada aturan! Cepat turunkan dia!"
Su Ceng-cau menurunkan penjaga kuil ke kursi, dia sampai terguling ke bawah. Siau Sam Kongcu geleng-gelengkan kepala.
"Bukankah sudah kukatakan, sepanjang jalan kau jangan membuat masalah?"
"Dia yang membuat aku marah!"
"Sembarang bicara! Ceng-cau, apa janjimu pada guru?"
"Dari pagi sampai malam terus berjalan, aku bosan. Kebetulan di sini bertemu orang, tapi orang yang tidak becus. Ciam yang baik aku dapatkan, tapi dia sengaja berkata ini Ciam yang jelek. Dia tidak takut aku tidak suka!"
"Kalau kau mau senang dan mau tidak bosan, kau boleh pulang!"
"Aku tidak mau pulang!"
Teriaknya.
"Kau harus pulang! Apa janjimu kepadaku, sepanjang jalan tidak akan buat masalah. Kalau membuat masalah, kau akan pulang sendiri!"
"Maksud guru mengusirku?"
"Karena kita sudah ada perjanjian!"
"Lain kali aku tidak akan melakukan hal seper ti ini lagi!"
"Sudah berapa kali kau ucapkan kalimat ini? Setiap kali ada kedua kalinya, bahkan sampai sekarang juga! Maka lebih baik perjalananmu sampai di sini saja agar tidak repot!"
"Sebenarnya kau tidak suka karena ilmu silat ku tidak bagus, juga tidak bisa membantu!"
Suara Su Ceng-cau semakin keras.
"AkuLegenda Pendekar Ulat Sutra -2 197 tidak membencimu. Semua ini kau sendiri yang membuatnya, jangan salahkan orang lain!"
"Kau serius?"
Suara Su Ceng-cau makin keras.
Siau Sam Kongcu mengangguk.
Su Ceng-cau menghentakkan kaki dan berlari keluar.
Tadinya Siau Sam Kongcu ingin memanggilnya, tapi akhirnya dia mengurungkan niatnya.
Dia melihat Su Ceng-cau menghilang di jalan yang panjang.
Siau Sam Kongcu terpaku, saat mau meninggalkan tempat, Su Ceng-cau kembali lagi.
"Guru!"
Dia berhenti di depan Siau Sam Kong cu, menundukkan kepala, seperti sedih karena disalahkan.
"Untuk apa kau kembali lagi?"
Siau Sam Kongcu tidak mau melihat dia.
"Aku yang salah! Adatku jelek! Sepanjang jalan membuat masalah, membuat guru jadi repot!"
"Kembalilah ke rumah!"
"Tadinya aku ingin diam-diam mengikuti guru, tapi setelah dipikir-pikir jika berlaku seperti itu akan membuat konsentrasi guru terpecah dan mengganggu guru. Maka aku mengambil keputusan untuk lebih baik kembali ke Ling-ong-hu!"
"Oh!"
Siau Sam Kongcu merasa terkejut karena pertama kali dia mendengar Su Ceng-cau berkata seperti itu.
"Tapi guru boleh tenang. Dengan ilmu silatku, bila tidak membuat masalah di sepanjang jalan, aku akan baik-baik saja!"
Siau Sam Kongcu tidak tahu apa yang harus dia katakan. Dia sudah terbiasa dengan sifat Su Ceng-cau yang berteriak-teriak, perubahan Su Ceng-cau sekarang ini malah membuat dia menjadi bingung.
"Guru, jaga dirimu baik-baik, aku pergi!"
Sete lah Su Ceng-cau berpamitan, dia baru pergi.Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 198
"Di jalan harus hati-hati!"
"Aku akan berhati-hati!"
Su Ceng-cau berlari. Siau Sam Kongcu terpaku lagi. Setelah belok dua kali dan melihat Siau Sam Kongcu tidak mengejar, Su Ceng-cau baru benar-benar kecewa. Dia menghentakkan kaki dan marah.
"Aku sudah tahu kau tidak ingin aku ikut ke Pek-hoa-couw. Kau tidak mau aku pergi, aku sengaja ingin ke sana. Aku akan ke sana untuk menunggumu sampai waktunya apa yang ingin kau lakukan!"
Setelah mengambil keputusan, tawa memenuhi wajahnya kembali. (Bersambung
Jilid ke-3)Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 1Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 3 Legenda Pendekar Ulat Sutra Pengarang . Huang Ying
Jilid Ketiga IAU CU dan Lu Tan berada di dalam kerumunan orang.
Lu Tan tidak melihat ke kiri atau kanan, sebaliknya mata Siau Cu sangat sibuk melihat kesana kemari, mulutnya juga tidak bisa diam, Siau Cu tidak henti-hentinya makan dan berbicara.
Dari kecil dia mengikuti Lam-touw berkelana di dunia persilatan.
Mereka menjual sulap di mana-mana dan kebanyakan berada di tempat yang ramai, maka Siau Cu sangat menyukai tempat ramai.
Dia tidak melupakan Lu Tan, baru berjalan sebentar, dia segera menepuk pundak Lu Tan.
"Melihatmu seperti ini, aku sulit mempercayai kau tumbuh besar di ibukota!"
"Apa maksudmu?"
Tanya Lu Tan.
"Tempat ini begitu ramai, mengapa kau sama sekali tidak tertarik?"
"Mungkin karena tumbuh besar di tempat ramai!"
Kata Lu Tan lagi.
"apakah ada tempat yang lebih ramai daripada Sin-sa-hai?"
Begitu mendengar kata Sin-sa-hai, Siau Cu segera teringat Lamkiong Beng-cu, jawabnya.
"Sepertinya tidak ada!"
"Itu sangat sederhana. Mengapa kau tanyakan penyebabnya?"
Kata Lu Tan.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 4
"Tapi kau tidak pernah melihat pada perempuan yang lewat di jalan. Kau juga tidak mau berbicara denganku!"
"Bila memang perlu, aku pasti akan berbicara. Sedangkan masalah perempuan yang lewat di jalan, apa bedanya melihat mereka atau tidak?"
"Apa betul kau ingin menjadi pendeta?"
"Aku sudah menjadi pendeta!"
"Apakah tidak siap kembali ke dunia awam? Betulkah kau mau keluarga Lu tidak berketurunan?"
"Jangan katakan tentang ini!"
Kata Lu Tan.
"Tiga atau empat hari lagi kita akan sampai ke keluarga Lam-kiong, apakah kau kira tidak akan ber temu dengan dia?"
"Siapa?"
Lu Tan merasa aneh.
"Murid Siau Sam Kongcu!"
"Kau selalu suka berbicara seperti ini. Dia sudah kembali ke Ling-ong-hu, mana mungkin muncul di keluarga Lamkiong."
"Siapa yang berani berkata tidak mungkin. Kalau kalian bertemu, apa yang akan terjadi?"
"Tapi kukira kami tidak akan bertemu lagi!"
"Jangan begitu yakin, ada jodoh yang bisa mempertemukan orang!"
Siau Cu teringat Lamkiong Beng-cu lagi.
Lu Tan masih ingin melanjutkan kata-katanya, tapi tiba-tiba seorang laki-laki terjatuh ke arahnya.
Siau Cu bereaksi dengan lebih cepat, dia mencengkeram Lu Tan.
Laki-laki itu terjatuh dan terguling di depan Lu Tan.
Hidung dan wajahnya bengkak.
Setelah berguling beberapa kali dia baru merangkak bangun.
Siau Cu dan Lu Tan melihat ke sekeliling mereka, terlihat oleh mereka rumah makan 'Cung-goan-lou' yang berantakan, dan kembali lagi seorang laki-laki terlempar dari sana.
Lu Tan ingin menjemput laki-laki yang terlempar itu tapi Siau Cu sudah mendahuluinya.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 5
"Dari penampilan mereka sepertinya bukan orang baik-baik, untuk apa kita menjemput dia?"
Kata Siau Cu. Baru saja Siau Cu selesai berkata, seorang gadis muncul di balkon lantai atas rumah makan Cung-goan-lou, sambil marah-marah dia berteriak.
"Kalian bajingan! Jika bertemu lagi, akan aku cabut nyawa kalian!"
Lu Tan dan Siau Cu sontak terkejut mendengar suara ini, segera melihat ke arah gadis yang berteriak. Gadis di balkon adalah Su Ceng-cau.
"Lu Tan!"
Su Ceng-cau meloncat bangun. Dua laki-laki yang terlempar tadi tergesa-gesa kabur. Su Ceng-cau berlari dan menghampiri Siau Cu dan Lu Tan.
"Siau Cu, kau juga di sini!"
"Kukira kau sudah tidak ingat aku lagi."
"Ingatanku tidak sejelek itu! Mengapa bisa kebetulan bertemu kalian di sini?"
"Itu namanya kita berjodoh!"
Siau Cu melihat Lu Tan. Lu Tan merasa malu, belum lagi buka suara. Su Ceng-cau melihatnya.
"Sejak kapan kau menjadi pendeta?"
Siau Cu yang menjawab.
"Dia hanya pura-pura, hanya untuk menutup mata dan telinga orang, kau tidak perlu khawatir. Bila sampai waktunya nanti, dia akan kembali seperti semula."
Lu Tan hanya bisa tertawa kecut.
Setelah tahu Siau Cu dan Lu Tan juga akan pergi ke keluarga Lamkiong, Su Ceng-cau sangat senang.
Dia memang tidak takut berjalan sendiri, tapi dengan mempunyai dua teman, itu akan lebih baik dari pada sendirian, karena Su Ceng-cau orang yang suka keramaian.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 6 Su Ceng-cau diam-diam pergi ke keluarga Lamkiong tanpa memberi tahu Siau Sam Kongcu.
Siau Cu dan Lu Tan tidak merasa terkejut karena mereka sudah tahu sifat Su Ceng-cau, jika Su Ceng-cau yang menyebabkan terjadinya musibah besar, itupun tidak aneh.
Malam itu, mereka memesan dua kamar di suatu penginapan.
Tapi setelah makan malam, Su Ceng-cau terus berada di kamar Siau Cu dan Lu Tan.
Dia tidak habis-habisnya berbicara, sampai Siau Cu merasa terheran-heran dengan kata-katanya yang bisa begitu banyak.
Siau Cu menyandar di sudut dinding agar Lu Tan bisa mendapatkan kesempatan berbicara, tapi Lu Tan yang di depan Su Ceng-cau hanya tampak seperti orang bodoh.
Dia hanya bisa mendengar perkataan Su Ceng-cau, tapi tidak satu patah kata pun yang diucapkannya.
Su Ceng-cau tidak peduli.
Dia terus menceritakan kisah perjalanannya, dari pulang ke Ling-ong-hu sampai diusir oleh Siau Sam Kongcu.
"Kukira perjalanan ikut guru adalah paling membosankan, siapa tahu berjalan sendiri ternyata lebih bosan. Untung bertemu kalian, maka sepanjang jalan nanti akan lebih baik."
"Aku tidak merasa akan lebih baik!"
Kata Siau Cu. Su Ceng-cau tidak memperhatikan Siau Cu. Tapi dia seperti baru sadar Lu Tan dari tadi tidak bicara, tiba-tiba dia bertanya.
"Mengapa kau selalu diam?"
"Aku mendengarkan kau bicara."
"Bagaimana bisa ada orang yang tidak melihat kalau orang lain ingin berbicara!"
Siau Cu mengomel.
"Siau Cu, apa maksudmu?"
Tanya Su Ceng-cau.
"Tidak ada!"
Reaksi Siau Cu sangat cepat.
"Mengapa kau tidak bergabung kemari?"
"Aku takut mengganggu pembicaraan kalian."Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 7
"Kau tidak suka berbicara denganku? Apakah karena kau masih ingat aku pernah memecahkan piring sulapmu di Sin-sa-hai?"
"Siapa yang masih ingat hal-hal kecil seperti itu?"
"Tapi aku mengingatnya, dan kau juga seperti bukan orang yang gampang melupakan!"
Siau Cu cepat-cepat berkata.
"Demi menunjukkan aku benar tidak peduli hal-hal kecil seperti itu, maka terpaksa aku kemari!"
"Menurut kalian, apakah An-lek-hou akan ikut datang meramaikan di Pek-hoa-couw kali ini?"
"Hou-ya adalah murid Tiong Toa-sianseng, seharusnya dia akan datang."
Kata Siau Cu. Su Ceng-cau segera meloncat kegirangan. Begitu merasa sudah kelepasan, dia segera mencoba menutupi.
"Sangat baik! Pada waktu itu teman-teman kita di ibukota bisa berkumpul lagi!"
"Tapi sayang guruku Lam-touw tidak bisa menunggu sampai hari itu!"
Lu Tan dan Su Ceng-cau terdiam. Terhadap kepergian Lam-touw, mereka merasa kehilangan. Diamnya mereka membuat Lu Tan mendengar ada orang yang bergerak di atas genteng, dia berkata.
"Apa yang terjadi dengan gurumu?"
Siau Cu merasa aneh dengan pertanyaan Lu Tan, dia melihat Lu Tan.
Mata Lu Tan memberi isyarat ke atas.
Siau Cu sangat pintar.
Dia segera mengerti apa yang terjadi.
Pada waktu yang ber-samaan dia juga mendengar pergerakan di atas, dia berkata.
"Guruku sudah meninggal!"
Ketika Siau Cu mengucapkan kata-kata ini, Lu Tan sudah mengeluarkan pedang dari sarung.
Dia meloncat dan memecahkanLegenda Pendekar Ulat Sutra -3 8 genteng untuk keluar ke atas genteng.
Siau Cu pun keluar melalui jendela.
Di luar jendela ada kebun penginapan.
Siau Cu kemudian meloncat lagi ke atas genteng.
Ada asap yang muncul dan menyebar di atas genteng.
Siau Cu melindungi nadi-nadi penting dengan dua telapak tangannya.
Dia meloncat ke atap bangunan lain, tapi yang terlihat olehnya hanya asap, tidak ada orang.
Lu Tan dan Su Ceng-cau sudah berada di atas atap.
Pedang Lu Tan dimasukkan ke sarung.
Tidak terlihat ada darah, berarti tidak ada yang terkena serangan.
Walaupun tiba-tiba tapi Lu Tan tidak berhasil melukai orang yang tadi berada di atas genteng.
Su Ceng-cau tidak berpengalaman.
Begitu melihat asap, baru tahu ada orang di atas atap.
"Siapa mereka itu?"
Tanya Su Ceng-cau.
"Di atas atap kita hanya melihat asap putih. Tapi selain orang-orang Pek-lian-kau, siapa lagi yang mencari kita?"
"Betul! Kelak kita harus lebih hati-hati!"
Kata Lu Tan.
"Kita tidak mencari mereka untuk membalas dendam tapi mereka malah mencari kita. Awas bila bertemu lagi!"
Siau Cu marah.
"Lebih baik begitu, perjalanan kita menjadi tidak sepi!"
Begitu teringat kemungkinan terjadi persengketaan di jalan, Su Ceng-cau bersemangat.
Mereka tahu itu bukan orang-orang Pek-lian-kau pada siang di hari kedua.
Matahari bersinar terik.
Dalam keadaan yang panas seperti ini, paling nyaman bila masuk ke dalam hutan.
Maka Lu Tan, Siau Cu dan Su Ceng-cau bertiga begitu masuk ke dalam hutan, langkah mereka menjadi pelan.
Angin sepoi-sepoi bertiup.
Siau Cu berjalan paling depan.
Dia membuka baju dibagian dadanya untuk menyejukkan tubuhnya.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 9 Dalam hembusan angin sepoi-sepoi, Siau Cu mendengar ada suara senjata rahasia yang men datangi mereka.
Siau Cu segera berteriak.
"Hati-hati!"
Dia meloncat ke atas sebuah pohon besar.
Senjata rahasia ada yang berbentuk seperti salib, ada yang seperti kincir air, datang dari semua penjuru menyerang Lu Tan dan Siau Cu.
Lu Tan mencabut pedang untuk menahan senjata rahasia.
Dia juga mundur ke sisi Su Ceng-cau dengan maksud melindungi Su Ceng-cau.
Tapi belum sampai di sisi Su Ceng-cau, serangan senjata rahasia sudah berhenti.
Siau Cu tidak seberuntung dia.
Waktu senjata rahasia terus mengejarnya, dia berguling-guling tiga kali dan sampai di depan sebuah pohon besar.
Seketika itu sebatang pohon terbang menerjang punggung Siau Cu.
Setelah belajar ilmu silat dari Wan Fei-yang, kepandaian Siau Cu maju pesat.
Dengan lincah Siau Cu menghindari terjangan batang pohon.
Tapi berikutnya serangan datang lagi, kali ini serangan golok.
Bagian tengah batang pohon ternyata sudah kosong.
Ada seorang samurai bersembunyi di sana.
Waktu batang pohon menerjang Siau Cu, si samurai mengeluarkan golok katana dari sarung dan menepis seperti kilat.
Saat Siau Cu berhasil menghindari serangan batang pohon, golok katana sudah sampai padanya.
Siau Cu berkelit dari serangan golok katana dengan perubahan langkah-langkah kaki yang asalnya dari Wan-tianglo, kemudian diubah oleh Wan Fei-yang, hingga lebih sempurna lagi.
Samurai itu tidak menyangka tepiannya akan meleset, dia jadi terpaku.
Siau Cu segera menendang perut si samurai yang membuat dirinya terpelanting.
Dari semak-semak muncul lagi seorang samurai, dia berguling ke depan, dengan golok katana menepis kedua kaki Siau Cu.
Siau CuLegenda Pendekar Ulat Sutra -3 10 terus menghindar tepisan golok katana berturut-turut tiga kali, kemudian samurai itu meloncat ke atas dan menepis lagi.
Siau Cu menahan serangan katana dengan golok pendek yang berada di tangannya.
Samurai yang tadi ditendang Siau Cu kembali datang menyerang dari belakang.
Dia mengayunkan golok, sedikit pun tidak takut.
Dia melewati sepasang golok dan berlari ke arah Lu Tan dan Su Ceng-cau.
Lu Tan tidak selincah Siau Cu.
Dia tidak bisa melayani samurai yang tiba-tiba datang menyerang.
Dari semak-semak di dekat jalan, keluar lagi seorang samurai, dia segera mengambil kesempatan ini menepis.
Lu Tan tidak bisa menghindar, pahanya terkena tepisan golok.
Walaupun terluka ringan tapi tetap terganggu.
Seorang samurai turun lagi dari atas.
Serangan golok katana membuat Lu Tan kerepotan.
Su Ceng-cau yang berada di samping tentu saja tidak mau berpangku tangan.
Tapi dua samurai itu bisa berpindah-pindah ke tempat yang tidak terjangkau oleh Su Ceng-cau dan kemudian menyerang Lu Tan.
Begitu melihat penampilan mereka, Su Ceng-cau langsung tahu mereka berasal dari Jepang, dan teringat It-to-cian yang akan menggantikan Siau Sam menjadi guru pedang.
Setelah beberapa kali serangan nya tidak mengenai mereka, Su Ceng-cau segera membentak.
"Siapa yang menyuruh kalian kemari!"
Samurai-samurai itu mungkin tidak mengerti bahasa Su Ceng-cau.
Mereka sama sekali tidak mendengar dan terus menyerang Siau Cu dan Lu Tan.
Siau Cu berlari ke arah Lu Tan, dua samurai juga mengejar Siau Cu datang.
Mereka bergiliran menyerang Siau Cu dan Lu Tan, tidak hanya dengan senjata, mereka juga menggunakan senjata rahasia.
Mereka sangat kompak.
Mereka seperti tidak menganggap Su Ceng-cau, hanya menyerang Siau Cu dan Lu Tan.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 11 Su Ceng-cau juga tidak bisa membantu, dengan tangan memegang pedang, dia sangat cemas.
Cara empat samurai menyerang sangat berbeda dengan cara menyerang orang-orang persilatan Tionggoan.
Siau Cu terus melindungi Lu Tan dan Su Ceng-cau.
Keadaan benar-benar sulit.
Di matanya, empat samurai selalu menyerang Su Ceng-cau dengan golok katana.
Sama sekali berbeda dengan perasaan Su Ceng-cau yang merasa bersalah.
Itu adalah kesengajaan empat samurai yang bertujuan untuk memecah konsentrasi Siau Cu dan Lu Tan.
Selain dengan senjata rahasia, masih ada tali terbang.
Dua tali terbang tiba-tiba keluar dari dua tangan samurai.
Tali melilit tangan dan satu lengan Lu Tan, kemudian mereka menarik tali dengan kencang sehingga membuat gerakan Lu Tan tidak bebas.
Melihat keadaan bahaya, Siau Cu segera ingin menolong tapi dicegat oleh seorang samurai.
Sangat jelas samurai ini sengaja menghadang Siau Cu menolong Lu Tan.
Senjata rahasia datang terus-menerus, membuat Siau Cu terhadang.
Su Ceng-cau juga dihadang oleh samurai yang lain.
Dua samurai yang lain dengan sekuat tenaga menarik tali, juga mengayunkan golok katana membacok Lu Tan.
Terlihat Lu Tan tidak akan bisa menghindari bacokan dua golok katana.
Dia siap membunuh salah satu dari mereka.
Tiba-tiba ada cahaya berkelebat.
Dua tali yang melilit kaki dan tangan Lu Tan sama-sama ditepis putus.
Seorang nikoh tua berbaju abu-abu turun seperti seekor bangau.
Setelah tali putus, dua samurai menjadi kacau.
Mereka berputar, mengarahkan golok menunjuk pada nikoh yang baru datang.
Nikoh itu tertawa dingin.
"Orang Jepang tidak tahu diri, berani sekali kau berbuat kejahatan di sini!"
Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 12 Dua samurai itu seperti tidak mengerti perkataan nikoh.
Mereka membentak, dua samurai yang tadi menghadang Siau Cu dan Su Ceng-cau segera meninggalkan mereka dan berlari datang, dengan golok katana menunjuk kepada nikoh tua itu.
Mereka sudah melihat nikoh itu adalah orang yang paling kuat di antara mereka.
Nikoh itu melihat Lu Tan dan membentak.
"Cepat pergi!"
Lu Tan mundur. Siau Cu segera mendekat.
"Apakah kau mengenal nikoh ini?"
"Tidak!"
Siau Cu jadi terkejut, sebab dia melihat Fu Hiong-kun berdiri di sana.
Fu Hiong-kun dengan tertawa sedang melihat mereka.
Tidak perlu ditanya lagi, nikoh ini pasti ada hubungan dengan Fu Hiong-kun.
Empat samurai membentuk serangan dan mengayunkan golok membacok.
Baru saja cahaya golok katana berkelebat, cahaya pedang sudah sampai menepis golok katana yang dipegang mereka.
Empat golok katana tidak ada yang terkecuali, semua putus ditepis pedang nikoh.
Golok ini bukan terbuat dari besi biasa tapi dengan mudah ditepis putus.
Tentu pedang nikoh ini adalah pedang pusaka yang sangat keras dan kuat, yang bisa menepis besi seperti menepis tahu.
Empat samurai terkejut dan mundur.
Tapi pedang nikoh sudah menepis salah satu samurai yang bergerak paling lambat.
Dia hampir membelah orang itu menjadi dua bagian.
Tiga samurai sudah masuk ke dalam hutan.
Nikoh mengejar tapi tiga samurai itu sudah menghilang.
Kedua alis nikoh terangkat, sambil membawa pedang dia terus berjalan.
Belum berjalan tiga langkah, dua tali tiba-tiba terbang dari semak-semak ke atas kepala nikoh, terlihat tali itu hampir akan terjatuh di atas kepala nikoh.
Tangan kiri nikoh diangkat, tali sudahLegenda Pendekar Ulat Sutra -3 13 berada di tangannya, kemudian ditariknya.
Samurai yang tadi melempar tali ke kepala nikoh yang sedang ber sembunyi di semak-semak tertarik keluar dan dilempar oleh nikoh.
Tubuh samurai baru terlempar, nikoh sudah berlari ke depannya.
Golok katana belum bergerak, pedang sudah menepis tenggorokannya.
Darah muncrat, samurai itu pun roboh.
Pada waktu yang bersamaan, seorang samurai keluar dari semak-semak di bawah nikoh, kemudian dengan golok katana berusaha membacok pinggang nikoh.
Dia mengira bacokan ini pasti akan mengenai sasaran, tapi yang dibacok ternyata pedang pusakanya.
Pedang pusaka berputar, golok katana tertepis patah lagi.
Reaksi samurai benar-benar lincah.
Dia segera lari.
Nikoh tidak mengejarnya, tapi pedang di tangan sudah terbang seperti kilat mengejar samurai itu.
Mendengar ada suara pedang, si samurai segera mundur 7 depa.
Tubuh samurai tidak bergerak, tapi pedang sudah datang menghujam ke jantungnya.
Karena tenaga pedang yang besar datang menerjang, tubuh samurai mundur sejauh tiga meter dan memaku dia di sebuah batang pohon.
Nikoh itu tidak melihat samurai yang terpaku di pohon, tapi dia mengawasi ke sebuah semak-semak.
Samurai yang bersembunyi di semak-semak merasa tidak bisa bersembunyi lagi, maka dia melepaskan senjata rahasia, kemudian keluar dari semak-semak, dan saat itupun ada asap kabut yang meledak di depan.
Nikoh itu seperti seekor bangau abu-abu melewati asap-asap, mengejar di belakang samurai.
Saat si samurai keluar dari hutan.
Dia hampir menabrak seorang hweesio tua.
Dia terkejut, begitu melihat itu adalah La-cai, dia ingin mengatakan sesuatu, tapi tongkat La-cai sudah menghantam kepalanya.
Tongkat itu kelihatan seperti rapuh, kalau dipakai memukul mungkin akan patah.
Tapi begitu memukul, ternyata tongkatnyaLegenda Pendekar Ulat Sutra -3 14 tidak patah, malah kepala samurai yang pecah.
Samurai itu berteriak memilukan, kemudian roboh.
Nikoh melihatnya, dia berhenti dan terpaku.
La-cai menyatukan sepasang telapak tangannya, membaca ayat-ayat suci.
"Budha maha baik, maafkan murid sudah membunuh. Sekelompok samurai dari Jepang ini sembarang melakukan kejahatan, mati juga tidak menyesal!"
Nikoh berbaju abu-abu melihat La-cai dari atas ke bawah, katanya.
"Siapa kau?"
"Seorang hweesio. Apakah Suci tidak melihat baju hweesio yang kupakai, tasbih yang tergantung di leher, dan bacaan Budha yang kubacakan?"
"Seorang hweesio harus berbaik hati, mengapa tiba-tiba membunuh orang?"
"Kita berdua sama!"
"Samurai-samurai Jepang sudah lama mendatangkan musibah di Tionggoan, kalau tidak bertemu tidak bisa melakukan apa-apa. Tapi begitu bertemu harus dibunuh, bertemu satu harus membunuh satu, bertemu dua membunuh sepasang!"
"Maksud Pinceng juga begitu, maka Pinceng membunuhnya agar Suci bisa menghemat tenaga!"
Kata La-cai seperti serius.
"Baik! Harus dibunuh. Suheng berasal dari perkumpulan mana..."
"Pinceng selalu berkelana, sudah lupa berada di perkumpulan mana, Pinceng masih ada perlu, tidak bisa berlama-lama, mohon pamit!"
"Pinni tidak mengantar!"
Nikoh berkata dengan malas. Sambil membaca bacaan Budha, La-cai pergi dengan cepat. Nikoh tidak menghadang.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 15 Baru Lu Tan datang, lalu memberi hormat.
"Bu-tong Lu Tan, berterima kasih atas budi Lo-cianpwee!"
"Tidak perlu sungkan!"
Siau Cu memberanikan diri bertanya.
"Lo-cianpwee adalah..."
"Heng-san Coat!"
"Coat-suthay!"
Siau Cu dan Lu Tan berteriak.
Di Heng-san ada Coat, dan ada Ku.
Nama Coat-suthay selalu berada di atas Ku-suthay, karena perbuatan Coat-suthay sangat bengis dan tidak peduli apa yang dikatakan orang, dia juga tidak menyesal.
Fu Hiong-kun dan Su Ceng-cau mendekat.
Pedang Coat-suthay yang dilemparkan tadi sudah dicabut oleh Fu Hiong-kun.
Dengan dua tangan dia mengantar pedang ke depan Coat-suthay.
Pada pedang tidak terlihat bekas darah.
Membunuh orang dengan pedang tanpa terlihat bekas darah di pedang, itu adalah keistimewaan pedang pusakanya.
"Pedang yang bagus!"
Kata Lu Tan. Coat-suthay menerima kembali pedangnya.
"Pedang bagus bila jatuh ke tangan orang yang tidak punya ilmu silat yang baik, tetap saja tidak berguna. Hanya di tangan seorang pesilat tangguh baru bisa mengeluarkan kewibawaannya!"
Belum lagi Lu Tan menjawab, Siau Cu sudah berkata.
"Melihat Lo-cianpwee membunuh tiga samurai tadi benar-benar puas!"
"Tidak juga!"
Coat-suthay merasa masih ada kekurangan. Lu Tan mengerti. Samurai terakhir tidak mati oleh pedangnya, dia berkata.
"Munculnya hweesio tua itu pantas dicurigai!"Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 16
"Betul! Kalau aku tidak salah lihat, hweesio tua itupun bukan orang Tionggoan. Mungkin dia sekelompok dengan samurai itu. Dia membunuh samurai itu untuk menutup mulutnya!"
"Sepertinya ilmu silatnya sangat tinggi!"
"Bisa membuat samurai itu mati dalam sekali pukul, paling sedikit tenaganya sangat besar!"
"Mengapa Lo-cianpwee tidak menahannya?"
Tanya Siau Cu.
Hanya dia orang yang tidak peduli pada semua hal.
Orang yang bebas baru berani berkata seperti itu kepada Coat-suthay.
Tanpa ragu lagi, Coat-suthay juga adalah orang yang lepas.
Dia menjawab.
"Karena hweesio tua itu penuh dengan aura membunuh. Dia bukan orang sederhana. Pedang tidak ada di tanganku saat itu. Untuk menang darinya dengan tangan kosong belum tentu bisa ku lakukan, maka terpaksa membiarkan dia pergi. Kelak bila bertemu lagi, tidak semudah itu!"
"Tapi nanti Boanpwee belum tentu bisa melihat dengan mata kepala sendiri!"
"Ilmu silatmu lumayan bagus!"
"Hanya begitu saja. Bila dibandingkan dengan Lo-cianpwee masih terlalu jauh!"
Siau Cu bisa berkata sungkan juga.
Pertemuannya dengan Wan-tianglo dan Wan Fei-yang di Sian-tho-kok berpengaruh besar terhadap Siau Cu.
Dia mulai mengerti, di atas orang kuat masih ada orang yang lebih kuat.
Dirinya masih bukan siapa-siapa.
Begitu mendengar kata-kata Siau Cu, Coat-suthay bertambah suka pada Siau Cu.
Dia mengangguk.
"Kalau kau mau rajin, kau juga bisa mempunyai ilmu silat yang bagus!"
Su Ceng-cau meihat samurai yang mati, dia berteriak.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 17
"Untung aku tidak ikut Suhu, kalau tidak mana mungkin bisa mendapatkan kejadian seramai dan menarik seperti ini?"
"Siapa gurumu?"
Tanya Coat-suthay.
"Hoa-san Siau Sam Kongcu!"
"Tingkatan dia masih di bawahku!"
Kata Coat-suthay sambil tertawa. Dia bertanya lagi kepada Siau Cu.
"mengapa samurai itu menyerang kalian?"
"Aku tidak jelas!"
Siau Cu melihat Su Ceng-cau.
Sebenarnya Su Ceng-cau pernah menceritakan tentang It-to-cian.
Apakah samurai itu ada hubungan dengan It-to-cian, Siau Cu belum yakin.
Su Ceng-cau juga terdiam.
Dia tidak menyukai sikap Coat-suthay.
Jika sifat buruknya keluar, sekalipun diancam dengan golok di lehernya, Su Ceng-cau tetap tidak akan bicara.
Siau Cu sangat mengerti sifatnya, maka tidak banyak bertanya.
Coat-suthay juga tidak peduli.
Dia hanya berkata.
"Mungkin samurai-samurai ini mempunyai hati ingin berkuasa di Tionggoan dan bermusuhan dengan orang-orang Tionggoan!"
Di sepanjang jalan tidak lagi muncul samurai, mungkin karena ada Coat-suthay.
Sepanjang jalan jadi sangat aman.
Su Ceng-cau malah tidak suka.
Yang membuat dia tidak suka, Siau Sam Kongcu sudah sampai lebih awal.
Melihat kedatangannya, Siau Sam Kongcu tidak menunjukkan reaksi apa-apa.
Kelihatannya Siau Sam Kongcu juga baru sampai, dia duduk di ruangan tamu.
Teh yang disuguhkan di atas meja masih mengeluarkan uap panas.
Melihat Coat-suthay, dia segera berdiri dan memberi hormat.
Melihat sikap Siau Sam Kongcu begitu hormat kepadanya, wajah Coat-suthay berseri-seri.
"Siau Sam, kau harus berterima kasih padaku. Aku mengawal muridmu ini di sepanjang jalan!"
Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 18
"Merepotkan Lo-cianpwee!"
Siau Sam Kongcu tetap penuh hormat.
"Guru!"
Su Ceng-cau terpaksa menyapa. Siau Sam Kongcu melihat, tidak menyapa. Su Ceng-cau merasa tidak enak, dia lebih memilih Siau Sam Kongcu memarahinya. Coat-suthay bertanya kepada Lamkiong Po.
"Di mana Tai-kun?"
"Di belakang kebun melihat bunga dengan An-lek-hou dan Tiong Toa-sianseng. Tapi Boanpwee sudah menyuruh orang ke sana untuk memberi tahu!"
"Baik!"
Coat-suthay tertawa dingin.
Waktu itu dia seperti teringat sesuatu.
Di kebun belakang, yang menemani An-lek-hou dan Tiong Toa-sianseng selain Lo-taikun juga ada lima menantu leluarga Lamkiong dan Lamkiong Beng-cu.
Mereka bukan sedang melihat bunga, me-lainkan sedang menceritakan masa lalu Pek-hoa-couw.
"Dulu kita yang menjadi Siaupwee begitu angkat bicara tentang Pek-hoa-couw, bertukar pikiran tentang pedang, semua sangat menghormati!"
Kata Tiong Toa-sianseng.
"Semua orang berpendapat bahwa bisa turut serta dalam rapat Pek-hoa-couw adalah hal yang membanggakan!"
"Anak muda sekarang yang masih ingat dengan rapat Pek-hoa-couw tidak banyak!"
Lo-taikun merasa terharu.
"Itu karena ada hubungannya dengan Tokko Bu-ti!' "
Keluarga Lamkiong semakin menurun, satu generasi lebih lemah dari generasi sebelumnya!"
Lo-taikun menarik nafas.
"pada rapat Pek-hoa-couw yang pertama kali, yang paling menonjol adalah keluarga Lamkiong. Sesudah itu, tidak ada lagi pesilat pedang yang menonjol."
"Selain ilmu pedang, banyak ilmu keluarga Lamkiong yang berada di atas masing-masing perkumpulan."
Kata Su Yan-hong.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 19
"Itu hanya sedikit, jangan dibicarakan!"
"Lo-taikun terlalu merendahkan diri!"
Su Yan-hong sangat serius.
"teman-teman dunia persilatan begitu membicarakan keluarga Lamkiong, tidak ada orang yang menganggap remeh. Aku merasa beruntung bisa ikut dalam rapat Pek-hoa-couw kali ini. Benar-benar hidup ini tidak sia-sia!"
"Hou-ya benar-benar pintar bicara!"
Kata Lo-taikun tertawa.
"Yang kusayangkan adalah Wan Fei-yang dari Bu-tong-san. Waktu ilmu silatnya berada di puncak, dia malah mundur dari dunia persilatan dan tidak mengikuti rapat Pek-hoa-couw kali ini!"
Kata Su Yan-hong. Tiong Toa-sianseng mengangguk.
"Anak muda ini mengalahkan Tokko Bu-h, juga mengalahkan Put-lo-sin-sian. Boleh dikatakan dialah seorang yang sangat berbakat dalam bidang ilmu silat. Jika dia ikut rapat kali ini, pasti akan bertambah ramai!"
"Dia mundur dari dunia persilatan, benar-benar merugikan dunia persilatan!"
Lo-taikun tertawa.
"Banyak orang berbakat di dunia persilatan. Kata pepatah, gelombang Tiang-kang selalu mendorong ke depan. Seperti Hou-ya, keberhasilanmu sudah berada di atas Wan Fei-yang!"
"Lo-taikun bicara terlalu melebihkan."
"Yang tidak lebih tidak perlu dikatakan lagi."
"Rapat Pek-hoa-couw belum di mulai."
"Memang belum mulai, tapi menang kalah sudah sangat jelas!"
"Oh?"
Kata Su Yan-hong.
"Pemenang yang muncul pasti Tiong Toa-sianseng atau Coat-suthay!"
Kata Lo-taikun yakin.
"Lo-taikun, masih ada Hoa-san Siau Sam Kongcu, Bu-tong-pai Lu Tan..."
Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 20 Lo-taikun mencegat.
"Umur Lu Tan masih terlalu muda dan tidak berpengalaman. Ilmu silatnya seperti apa, semua orang sudah tahu. Walaupun sudah lama tidak bertemu, kecuali ada mujizat, jika tidak kita jangan menaruh harapan terlalu tinggi!"
Kemudian Lo-taikun melanjutkan.
"tentang Hoa-san Siau Sam Kongcu, Toan-cang-kiam memang bagus. Tapi tetap masih kurang. Bila bertemu Tiong Toa-siansengn dan Coat-suthay yang berpengalaman, dia tidak akan bisa mengambil keuntungan!"
"Lo-taikun memang benar!"
"Kau berkata seperti itu, memutar-mutar untuk memuji Suhu. Apakah kau tidak takut Lo-taikun menertawakanmu?"
Tiong Toa-sianseng meng-gelengkan kepala. Hal ini membuat Lo-taikun dan yang lain tertawa. Kiang Hong-sim segera berkata.
"Sebenarnya Siau Sam Kongcu sudah mewarisi ilmu silat Hoa-san-pai dengan lengkap, tapi karena terlalu banyak pikiran, dia terlibat oleh cinta, itu sangat disayangkan. Adik Bok-lan, apakah betul kata-kataku?"
Tiong Bok-lan terpaku. Dia menjawab dengan kata-kata yang tidak menyambung maksud Kiang Hong-sim.
"Terhadap ilmu pedang aku hanya mengerti sedikit, apalagi perubahan pedang aku lebih-lebih tidak tahu lagi."
"Kata-kataku tidak ada hubungannya dengan pedang! Adik Bok-lan tidak berkonsentrasi mendengar!"
Kata Kiang Hong-sim.
Wajah Tiong Bok-lan berubah.
Mata Kiang Hong-sim masih terus berputar, terlihat dia masih ingin mendesak agar Tiong Bok-lan mengeluarkan kejelekannya.
Tiong Toa-sianseng melihat hal ini, baru saja mau membela putrinya, pelayan sudah datang mela por bahwa Siau Sam Kongcu dan yang lain sudah sampai.
Lo-taikun segera menyambut.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 21 Tiong Toa-sianseng dan Su Yan-hong juga ikut keluar.
Tiong Bok-lan dengan sangat alami mendekat pada Tiong Toa-sianseng.
Kata Su Yan-hong.
"Melihat sikap guru, dia pasti ingin menyampaikan sesuatu kepada putrinya!"
Maka dia mempercepat langkahnya.
"Bok-lan! Hubungan antara kau dan Siau Sam dulu, apakah keluarga Lamkiong sudah tahu?"
"Sebelum menikah dan masuk ke keluarga Lamkiong, hubungan kami sudah putus!"
"Kalau begitu, itu paling bagus. Aku percaya kau juga melihat sikap Kiang Hong-sim tadi. Jika kau berbuat kesalahan, seumur hidup namamu akan rusak!"
"Ayah! Percayalah kepada putrimu!"
"Kata-katamu membuat ayah lebih tenang!"
Tiong Bok-lan menundukkan kepala.
Matanya berkaca-kaca, maksudnya meminta Tiong Toa-sianseng mempercayai dirinya, tapi dia sendiri juga tidak percaya kepada diri sendiri.
Lo-taikun berjalan paling depan.
Diam-diam dia berpesan kepada Cia Soh-ciu.
yoza collection Seruling Haus Darah -Halaman yoza collection Seruling Haus Darah -Halaman "Kau segera ke Ciu-ci-tong.
Dengan merpati kirim surat beritahu Ling-ong bahwa Tiang-lek Kuncu berada di keluarga Lamkiong, dan minta petunjuk apa yang harus kita lakukan."
Cia Soh-ciu segera mundur ke pinggir.
Tidak disangka, keluarga Lamkiong diam-diam berhubungan dengan Ling-ong.
Yang pasti itu adalah suatu hubungan rahasia, di dalamnya pasti ada hal-hal yang penting.
Melihat Lo-taikun, Siau Sam Kongcu, Fu Hiong-kun dan lain-lain selalu sungkan.
Hanya Coat-suthay yang melihat Lo-taikun dengan dingin lalu tertawa.
"Apakah Lo-taikun masih ingat dengan orang lama?"Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 22
"Ilmu pedang Heng-san-pai sangat bagus dan orang berbakat terus muncul dari sana. Rapat Pek-hoa-couw tidak bisa kekurangan mereka!"
Kata Lo-taikun tertawa.
"Aku sudah tua, seharusnya tidak pantas bertarung, Tapi Lo-taikun yang mengundang, mana mungkin aku menolak, hanya saja apakah ada kesempatan mengundang Lo-taikun untuk memberi sedikit ilmu?"
Lo-taikun tertawa.
"Rapat Pek-hoa-couw datang dari keluarga Lamkiong. Kali ini keluarga Lamkiong hanya mengikuti peraturan dulu menjadi tuan rumah. Tentang pedang, nenek tua ini sudah lama menaruhnya maka aku tidak bisa bersaing dengan kalian!"
"Bila Lo-taikun tidak maju, apakah ada orang lain yang mewakili keluarga Lamkiong?"
Wajah Lamkiong Po berubah, maju selangkah.
"Memang Boanpwee tidak berbakat, tapi demi keluarga Lamkiong aku pasti akan berusaha sekuat tenaga!"
"Baik!"
Coat-suthay mengangguk, lalu berkata kepada Lo-taikun.
"betulkah Lo-taikun tidak mau memberi petunjuk? Aku benar-benar merasa kecewa!"
Lo-taikun tertawa.
"Kalau begitu maksud Suthay, orang-orang seperti Tiong Toa-sianseng dan Siau Sam Kongcu tidak pantas bersaing dengan Suthay?"
Coat-suthay terpaku. Tapi dia segera berkata.
"Apakah Lo-taikun sudah melupakan masalah 30 tahun yang lalu?"
Lo-taikun terdiam. Kata Coat-suthay kemudian.
"Waktu kau dan aku bertarung di Tong-teng-ouw, aku kalah oleh pedangmu karena ilmuku tidak bagus. Waktu itu pedangku terlepas dari tangan dan terjatuh ke dalam danau. Sampai sekarang aku merasa kejadian itu seperti baru terjadi kemarin!"
Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 23
"Karena waktu itu Suthay sengaja mengalah. Bukankah Suthay sudah mendapatkan Ceng-hong-kiam dari Heng-san-pai?"
"Apa yang dikatakan Lo-taikun waktu itu? Kau menyuruhku pulang dan menikah kemudian mempunyai anak dan jangan masuk ke dunia persilatan untuk menjadi bahan tertawaan orang lain!"
"Itu!"
Lo-taikun menarik nafas. Coat-suthay berkata lagi.
"Jurusmu yang bernama 'Po-in-kian-jit' (Menyingkap awan melihat matahari) itu benar-benar lihai. Aku berpikir selama 57 hari lamanya baru mendapatkan cara untuk memecahkan jurus ini. Apakah Lo-taikun tertarik untuk mencobanya?"
Lo-taikun menggelengkan kepala.
"Dulu aku masih muda, bisa berkata seperti itu. Tidak disangka 30 tahun kemudian Suthay masih terus mengingatnya!"
"Jurus Giok-lie-kiam ke-44 dari Heng-san-pai itu bagaimana?"
"Giok-lie-kiam-hoat di dunia persilatan sudah punah. Kali ini yang menjadi angkatan muda bisa melihatnya, benar-benar kesempatan yang bagus!"
"Untuk apa kau bicara kanan kiri, akhirnya kau menganggap remeh aku yang pernah kalah denganmu dan tidak mau bertarung untuk kedua kali?"
"Suthay berkata terlalu berat!"
"Orang-orang tua di dunia persilatan pasti tahu dulu Lo-taikun adalah orang yang sangat kejam dan sangat sombong."
"Maka 30 tahun ini aku jarang keluar. Di rumah aku membaca kitab Budha juga sembahyang kepada Budha. Kau adalah orang Budha, seharusnya lebih mengerti!"
"Tujuanku menjadi nikoh adalah untuk membersihkan kesalahan dan kejahatan di dunia reinkarnasi sebelumku. Kau tidak ingin masuk ke dunia persilatan lagi, apakah sudah membuat kesalahan yang fatal?"
Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 24
"Suthay!"
Lo-taikun mulai marah.
"Orang-orang keluarga Lamkiong sekarang sangat sedikit. Apakah ada hubungannya denganmu?"
Tanya Coat-suthay.
"Supek-bo!"
Fu Hiong-kun merasa Coat-suthay sudah bicara keterlaluan.
"Kita semua sulit bisa berkumpul. Aku mengusulkan lebih baik kita ke belakang gunung melihat pemandangan Kang-lam yang indah!"
Kata Tiong Toa-sianseng.
"Aku sudah cukup melihat pemandangan di sepanjang jalan. Aku jauh-jauh datang kemari mengira keluarga Lamkiong sudah beres mengatur tempat untuk tamu-tamu!"
Kata Coat-suthay dingin.
"Memang kamar sudah siap. Bok-lan, bawa jalan untuk Suthay!"
Kata Lo-taikun.
Tiong Bok-lan sedang menghindari sorotan mata Siau Sam Kongcu.
Begitu mendengar pesan Lo-taikun, itu yang benar-benar dia harapkan.
Dari awal sampai akhir Tiong Bok-lan tidak pernah melihat Siau Sam Kongcu.
Setelah dia pergi, Siau Sam Kongcu menarik nafas dan melihat Su Ceng-cau.
Tapi Su Ceng-cau terus melihat Su Yan-hong.
Begitu merasa Siau Sam Kongcu melihatnya, wajahnya segera jadi merah.
"Suhu!"
Dia segera tertawa.
"kalau Suhu mau marah kepadaku pasti sudah mengeluarkan kata-kata. Sampai sekarang guru belum marah, berarti belum memaafkan!"
"Kau benar-benar terlalu menuruti keinginan sendiri, kalau sikapmu tidak berubah, pada suatu hari kau pasti akan tertimpa bencana..
"Di sini ada bencana tidak apa-apa karena ada guru, ada kakak sepupu, masih ada guru sepupu... begitu banyak pesilat tangguh di sini. Mereka tidak akan membiarkan aku celaka!"
"Apakah kau sengaja mau membuat musibah di sini?"
"Tentu saja tidak!"
Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 25 Tapi melihat sikapnya, benar-benar membuat orang tidak yakin apa yang dia katakan. Pada waktu itu Lo-taikun berkata.
"Kalian datang dari tempat jauh, seharusnya beristirahat dulu!"
Tidak ada yang menolak karena kata-kata Coat-suthay tadi membuat semua orang menjadi canggung.
Ada Tiong Bok-lan, Coat-suthay tidak berkata apa-apa lagi.
Yang pasti karena dia adalah putri Tiong Toa-sianseng, tapi setelah Tiong Bok-lan pergi, dia baru mengeluarkan unek-uneknya.
"Mengapa dia bisa berubah seperti itu?"
"Maksud Supek-bo, Lo-taikun?"
Tanya Fu Hiong-kun.
"30 tahun yang lalu, perempuan ini sangat sombong, bukan seperti sekarang ini!"
"30 tahun itu waktu yang lama!"
"Kata pepatah, gunung dan sungai bisa di geser tapi sifat manusia sulit dirubah. Dia tidak akan bisa berubah begitu cepat. Tadi aku sengaja terus berkata menyakitinya, tapi dia bisa menanggapinya dengan biasa-biasa!"
"Lo-taikun yang sekarang adalah penanggung jawab keluarga Lamkiong. Dia harus merubah sikapnya yang jelek itu!"
Coat-suthay berpikir dan berkata.
"Tapi sifatku sampai sekarang masih seperti dulu. Apakah aku benar-benar tidak bisa bersaing dengan perempuan ini?"
Fu Ffiong-kun tidak bisa berkata apa-apa.
Dia bukan takut kepada Coat-suthay, melainkan dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara Coat-suthay dan Lo-taikun.
Dia juga tidak tahu seperti apa sifat mereka.
Setelah Lo-taikun kembali ke kamar, dia tetap tidak marah, duduk di pinggir ranjang.
Dia melihat Tong Goat-go, Kiang Hong-sim, lalu Cia Soh-ciu.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 26 Di dalam kamar hanya ada empat orang.
Yang duduk dengan tidak tenang dan tidak konsentrasi adalah Cia Soh-ciu.
"Ada apa?"
Lo-taikun bertanya.
"Beng-cu bersama Siau Cu lagi!"
Kata Cia Soh-ciu.
"Siau Cu benar-benar pintar!"
Kiang Hong-sim tertawa dingin.
"Mengapa dia datang kemari? Apakah untuk mencari tahu penyebab kematian gurunya?"
Tong Goat-go khawatir.
"Bukan. Aku sudah bertanya dengan jelas, dia datang dengan Lu Tan dari Bu-tong-pai!"
Cia Soh-ciu lebih teliti.
"Bagaimana dengan Beng-cu dan Siau Cu?"
Tanya Lo-taikun.
"Menurutku, kita segera cegah hubungan mereka!"
"Beng-cu masih muda, kita jangan bicara terlalu berat!"
Kata Lo-taikun. Cia Soh-ciu mengangguk. Kiang Hong-sim menyela.
"Siau Cu masih tidak menjadi masalah, Coat-suthay yang lihai."
"Dia keterlaluan!"
Kata Tong Goat-go.
"Aku adalah tuan rumah, dia adalah tamu. Di depan banyak orang harus membiarkan dia. Kita tunggu kesempatan sampai matang waktunya nanti. Hei, hei!"
Kata Lo-taikun.
Dia tidak berkata apa-apa.
Cia Soh-ciu dan lain-lain juga tidak bertanya kapan baru matang waktunya.
Mereka seperti sudah tahu!
Masih ada tujuh hari menjelang rapat Pek-hoa-couw, tapi demi menghargai rapat ini dan juga untuk mengambil waktu mengenal lingkungan, maka setiap anggota yang mengikuti rapat Pek-hoa-couw datang lebih awal.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 27 Mereka bukan ingin mendapat nama, tapi karena mewakili masing-masing perkumpulan maka mereka harus berusaha dengan sekuat tenaga.
Karena itu, begitu ada waktu mereka selalu bersemedi.
Mereka berharap tubuh dan pikiran mereka bisa berada dalam kondisi yang paling baik.
Terkecuali Coat-suthay, yang dilakukannya hanya mengamati lingkungan keluarga Lamkiong.
Dari awal ketika tiba di keluarga Lamkiong, dia sudah mengawasi Lo-taikun.
Hal ini sungguh di luar dugaan Lo-taikun tapi dia tidak peduli.
Dengan ilmu Coat-suthay, benar-benar sulit mengetahui dia sedang mengejar.
Yang melayani Lo-taikun hanya Cia Soh-ciu.
Lingkungan keluarga Lamkiong sangat luas, hanya dengan melihat bentuk bangunannya, tidak sulit membayangkan keluarga Lamkiong ketika berjaya.
Sekarang di keluarga Lamkiong masih terdapat banyak tempat kosong.
See Ynn Tjin Djin 598 Setelah sampai di belakang gunung, keadaan bertambah sepi.
Lo-taikun dan Cia Soh-ciu segera berpisah, yang satu ke kiri dan satunya lagi ke kanan.
Tentu saja Coat-suthay mengikuti Lo-taikun.
Di matanya, Cia Soh-ciu tidak berharga untuk diikuti.
Tapi kenyataannya bukan seperti itu.
Sebenarnya tempat yang dituju Cia Soh-ciu adalah tempat yang paling misterius di keluarga Lamkiong.
Tapi dia bukan mencari orang tua untuk menanyakan sesuatu.
Dia mendorong sebuah rak kayu di ruangan sebelah kanan, di sana ada sebuah pintu jalan rahasia yang menuju ke penjara bawah tanah.
Jalan rahasianya tidak panjang tapi penjara bawah tanah sangat luas.
Di sekelilingnya tergantung tirai yang berhiaskan mutiara.
Masuk ke dalam, kalau tidak hati-hati akan tersesat.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 28 Di tengah-tengah penjara bawah tanah terdapat empat peti mati, masing-masing menghadap ke empat arah yang berbeda.
Cia Soh-ciu mendorong masing-masing tutup peti.
Setelah melihat dengan teliti, baru dengan hati-hati menutup kembali petinya.
Kemudian dia masuk lagi melewati tirai berhiaskan mutiara.
Di sana ada satu peti mati yang lain.
Dari luar peti ini terlihat tidak ada bedanya dengan empat peti tadi, tapi waktu Cia Soh-ciu menggeser tutup peti ini, dia lebih berhati-hati.
Melihat ke dalam juga dengan lebih teliti.
Di dalam peti mati terbaring seorang gadis berbaju merah muda.
Dia sangat cantik, sampai kulitnya juga berwarna merah muda.
Dilihat dari sudut manapun gadis ini tidak mirip orang mati, tapi dia memejamkan mata berbaring di dalam peti mati.
Kalau Fu Hiong-kun atau Wan Fei-yang yang melihat gadis ini, mereka pasti akan terkejut.
Dia adalah adik atau kakak angkat Fu Hiong-kun, dan adik perempuan Wan Fei-yang dari ayah yang sama tapi ibu yang berbeda.
Dia bukan orang lain, dia adalah Tokko Hong.
Waktu itu Fu Giok-su ingin menangkap dia hidup-hidup dan mengancam Wan Fei-yang untuk membocorkan rumus ilmu ulat sutra, tapi dia memilih mati dengan meloncat ke jurang yang dalamnya ratusan tombak.
Fu Giok-su mengira dia sudah mati, tapi sebenarnya dia masih hidup dan tinggal di keluarga Lamkiong.
Dari tutup peti dibuka sampai ditutup kembali Tokko Hong tidak menunjukkan reaksi apapun, tapi Cia Soh-ciu malah terlihat puas.
Apakah yang terjadi?
Hanya orang keluarga Lamkiong yang baru mengerti.
Di keluarga Lamkiong, tempat ini disebut Siau-hun-lo (Penjara mencairkan jiwa).
Lo-taikun melalui jalan yang semakin sepi tapi tidak misterius, setelah berputar di sebuah dataran tinggi, dia sampai di depan sebuah kolam.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 29 Di atas kolam ada jembatan yang berliku-liku.
Lo-taikun berjalan ke jembatan di atas kolam, setelah berbelok empat kali, dia berhenti dan pelan-pelan membalikkan tubuh.
"Siapa itu?"
"Aku!"
Coat-suthay tidak bisa bersembunyi lagi, dia keluar dari belakang sebuah pohon.
"Suthay terus mengikuti aku kemari, ada urus an apa?"
"Caraku membuntutimu memang kurang terang-terangan, tapi kalau tidak dengan cara ini mana mungkin bisa mendapatkan kesempatan yang begitu cocok untuk bertarung beberapa jurus."
"Kau tetap bermaksud bertarung?"
"Kekalahan dulu masih terasa sampai sekarang, itu harus ada penjelasan. Kalau tidak, mati juga tidak akan bisa menutup mata!"
Coat-suthay ikut terbang ke atas jembatan.
"deharusnya kau mengerti sifatku!"
Lo-taikun menarik nafas.
"Kau berubah menjadi seperti ini, benar-benar di luar dugaanku. Tapi apapun yang terjadi, pertarungan antara aku dan kau tidak akan bisa dihindari!"
"Aku tidak akan bertarung denganmu!"
"Kau tidak bisa memilih."
Coat-suthay sudah mulai menyerang dengan telapaknya.
Lo-taikun menghindar, di atas udara, Coat-suthay sudah merubah jurusnya tujuh kali.
Dia terus menyerang, Lo-taikun tetap menghindar, kemudian dia meloncat keluar sejauh 3 depa lebih.
Coat-suthay terus mengejar.
Pedang sudah dikeluarkan.
Seperti terbang di dalam kegelapan.
Lo-taikun harus tiga kali merobah gerakan, baru bisa menghindar, Coat-suthay berteriak.
"Gunakan jurus Po-in-kian-jit yang kau pakai dulu untuk mengalahkan aku."
Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 30 Memang dia sudah mendapatkan cara mencairkan jurus ini.
Demi bisa lebih yakin terhadap cara mencairkan jurus yang dia temukan, dia harus menyuruh lawan menggemakan jurus ini.
Kalau tidak, dia tidak merasa puas.
Lo-taikun tetap menghindar.
Walaupun sedikit memalukan, tapi dia tetap menghindar.
Hal ini membuat Coat-suthay bertambah marah.
Pedangnya terus mengejar untuk menutup ruang mundurnya.
Akhirnya Lo-taikun membalas serangan juga.
Tongkat kepala naga yang tadinya hanya untuk mem bela diri, diubah Lo-taikun untuk memecahkan jurus Coat-suthay, lalu dia meloncat ke genteng rumah.
Coat-suthay terpaku, waktu dia mau bertanya, Lo-taikun menggelengkan kepala.
"Giok-lie-kiam-hoat Suthay sudah dilatih sede mikian rupa. Malam ini aku terima kekalahan dari dalam hati!"
"Apa maksudmu?"
"Kali ini Suthay pasti akan bisa mengalahkan semua pendekar-pendekar di sini!"
"Apa maksudmu?"
"Hari sudah malam, aku harus pergi!"
Lo-taikun sudah berlari pergi dari atas genteng.
"Berhenti! Kau sama sekali belum kalah.. Tapi Lo-taikun sudah pergi jauh. Coat-suthay tidak mengejarnya juga tidak berteriak, otaknya penuh dengan perasaan aneh, dan dia tenggelam dalam pikirannya. Pertarungan antara Coat-suthay dan Lo-taikun tampaknya tidak diketahui oleh siapa pun. Hari kedua di keluarga Lamkiong tetap begitu tenang seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Maka pada hari kedua waktu Fu Hiong-kun disuruh Coat-suthay untuk mengundang Lamkiong Po, Lamkiong Po merasa tidak terkejut dan tidak ada reaksi apapun.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 31 Dia tidak bertanya kepada Fu Hiong-kun. Fu Hiong-kun juga tidak tahu mengapa Coat-suthay mencari Lamkiong Po, Coat-suthay sendiri yang ingin berbicara dengan Lamkiong Po. Dengan sikap Coat-suthay seperti itu, orang-orang Lamkiong Po pasti tidak suka kepadanya. Lamkiong Po juga mempunyai perasaan seperti itu, tapi dia tidak menolak ketika dipanggil. Sampai di depan pintu kamar Coat-suthay, dia mengetuk pintu, dengan hormat berkata.
"Boanpwee Lamkiong Po mohon bertemu dengan Suthay!"
"Masuk!"
Suthay menjawab dari dalam.
Lamkiong Po mendorong pintu dan masuk, tapi Coat-suthay tidak terlihat berada di dalam.
Saat dia merasa heran, Coat-suthay tiba-tiba berkelebat keluar dari balik pintu.
Dengan dua telapaknya Coat-suthay menyerang nadi penting Lamkiong Po.
Lamkiong Po bereaksi sangat lincah.
Walaupun tergesa-gesa dia bisa menyambut serangan Coat-suthay.
Melihat Coat-suthay seperti itu, dia merasa aneh.
Namun dia tidak sempat bertanya.
Coat-suthay mulai melancarkan serangan telapak yang bertubi-tubi, sehingga sama sekali tidak ada waktu untuk ber bicara dengannya.
Terpaksa Lamkiong Po harus menghadapinya dengan segala cara.
Setelah Coat-suthay menyerang sebanyak 18 jurus, dia mengeluarkan jurus terakhirnya yang mem buat Lamkiong Po mundur 10 langkah dan terduduk di sebuah kursi.
Kaki dan tangan Lamkiong Po tidak bisa bergerak lagi.
Dia memanggil.
"Suthay, ada apa?"
Sebelum dia berbicara, Coat-suthay sudah mundur dan membalikkan tangan menutup pintu. Dia duduk berhadapan dengan Lamkiong Po.
"Kau tidak perlu takut atau terkejut. Aku tidak mempunyai niat jahat! Aku hanya ingin melihat langkah-langkah gerakan kakiLegenda Pendekar Ulat Sutra -3 32 keluarga Lamkiong. Dengan ilmu silatmu, kau sudah termasuk pesilat tangguh!"
"Oh, tidak, tidak! Boanpwee hanya ingin tahu mengapa Suthay ingin melihat gerakan tubuh dan langkah ilmu silat keluarga Lamkiong. Apa tujuan Suthay?"
Coat-suthay tidak menjawab. Dia malah bertanya.
"Siapa yang mengajarimu ilmu silat?"
"Almarhum ayahku!"
"Siapa lagi?"
"Di keluarga Lamkiong ada peraturan, mulai dari usia 6 tahun laki-laki harus belajar ilmu silat dari nenek moyang. Pada usia 10 tahun harus belajar ilmu pedang, kebanyakan belajar sendiri!"
"Kalau tidak mengerti, apakah boleh bertanya kepada yang lebih tua?"
"Boleh!"
Lamkiong Po menjawab dengan sungguh-sungguh dan tidak seperti sedang berbohong.
"Siapa yang kau tanyai?"
"Pertama, bertanya kepada almarhum ayah. Jika tidak ada ayah, aku bertanya kepada kakak ipar yang paling tua!"
"Tidak pernah bertanya kepada Tai-kun?"
"Bertanya kepada kakak ipar tertua adalah ide Tai-kun!"
"Apakah Lo-taikun pernah mengajarkan ilmu silat kepadamu?"
"Tidak pernah! Dia juga tidak pernah bertanya ilmu silatku sudah sampai tahap mana."
"Oh?"
Coat-suthay diam. Akhirnya Lamkiong Po bertanya.
"Apakah Suthay menemukan sesuatu?"
"Mengapa kau bertanya seperti itu?"
Coat-suthay malah balik bertanya.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 33 Lamkiong Po terpaku, dia ingin mengatakan sesuatu, tapi diurungkan. Coat-suthay tertawa.
"Kau tidak perlu menjawab. Sekarang aku pun tidak bisa memberitahukan apa-apa kepadamu. Bila sampai waktunya, aku pasti akan memberitahu kepadamu!"
"Terima kasih Suthay!"
Lamkiong Po memberi hormat.
"Aku tidak salah mencari orang!"
Coat-suthay melihat Lamkiong Po dan bertanya.
"Ke mana Hiong-kun pergi?"
"Sewaktu dia meninggalkan tempatku tadi, dia bertemu dengan An-lek-hou!"
"Baik!"
Coat-suthay menarik nafas.
Nikoh tua ini memang bersifat tergesa-gesa, tapi kadang-kadang dia teliti juga, dia seperti tahu tentang semua hal.
Fu Hiong-kun mengatakan pada Su Yan-hong bahwa Coat-suthay mencari Lamkiong Po, karena dia merasa Su Yan-hong adalah orang yang bisa dipercaya.
Su Yan-hong tidak bertanya mengapa Coat-suthay mencari Lamkiong Po.
Dia hanya berkata.
"Coat-suthay sudah cukup berumur, seharusnya bisa menguasai diri!"
"Aku curiga Coat-suthay bersikap seperti itu karena punya tujuan tertentu terhadap Lo-taikun!"
Kata Fu Hiong-kun.
"Lamkiong Po orangnya jujur dan rendah hati. Suthay tidak salah mencari orang!"
"Apakah kau tahu apa yang terjadi?"
"Aku tidak tahu, tapi aku percaya itu bukan masalah pribadi!"
Kata Su Yan-hong.
"Tampaknya kau sudah lama mengenal bibi guru!"
"Aku percaya seseorang yang percaya kepada Budha tidak akan sembarangan melakukan sesuatu, seperti guruku!"
Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 34
"Di mana Tiong-sianseng berada?"
"Sedang berlatih pedang di belakang gunung! Kelihatannya dia sangat serius dengan rapat Pek-hoa-couw ini!"
"Dengan ilmu silat Tiong-sianseng, kali ini dia pasti akan menang!"
"Bukankah Giok-lie-kiam-hoat milik Coat-suthay belum pernah terkalahkan?"
"Siapapun yang menang sama saja, aku hanya khawatir akan merusak keakraban!"
Fu Hiong-kun sedikit khawatir.
"bagaimana dengan Lan-lan?"
"Aku meninggalkan Lan-lan di ibukota. Memang tidak leluasa membawa dia berkelana di dunia persilatan. Kalau ibunya masih ada, aku bisa lebih tenang!"
"Ternyata kalian berada di sini!"
Tiba-tiba terdengar teriakan memanggil mereka. Begitu mendengar teriakan ini, Su Yan-hong langsung mengenali suara Su Ceng-cau, dia segera melihat ke arah Su Ceng-cau yang sedang berlari datang.
"Mengapa kau tidak datang mencariku? Kau tahu aku kabur dari Ong-hu karena aku tahu kau pasti datang ke Pek-hoa-couw ini!"
Su Yan-hong dengan sedikit malu berkata.
"Kita semua adalah tamu keluarga Lamkiong, kita tidak boleh sembarangan berjalan kesana kemari!"
Su Ceng-cau menunjuk Fu Hiong-kun.
"Bagaimana dengan dia? Apakah boleh datang menemuimu?"
"Kita kebetulan bertemu!"
"Begitu kebetulan?"
Fu Hiong-kun tertawa kecut.
"Supek-bo pasti sudah mencariku. Aku pergi dulu!"
Tadinya Su Yan-hong ingin menahan, tapi Su Ceng-cau malah berkata.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 35
"Baik! Untung kau tahu diri!"
Dia segera menarik Su Yan-hong ke pondok yang ada di pinggir dan berkata.
"apakah kau tahu saat aku kemari, aku hampir saja terbunuh oleh samurai..."
Su Yan-hong terpaksa tertawa kecut.
Fu Hiong-kun sampai di kamar Coat-suthay.
Lamkiong Po sudah pergi, hanya tinggal Coat-suthay sendiri terpaku di sana.
Melihat Fu Hiong-kun datang, dia segera berkata.
"Apakah kau tahu mengapa aku memanggil Lamkiong Po kemari?"
Fu Hiong-kun menggelengkan kepala.
"Aku ingin membuktikan satu hal melalui diri nya!"
"Hal apa?"
"Ilmu silat Lo-taikun! Semalam aku memaksa Lo-taikun bertarung.."
Fu Hiong-kun terpaku, Coat-suthay melanjutkan.
"Dia menolak bertarung denganku. Aku harus memaksa dia baru mau melayani aku beberapa jurus, kulihat ilmu silatnya semalam dan 30 tahun yang lalu berbeda sekali. Jurus-jurus yang dipakainya juga bukan ilmu silat keluarga Lamkiong."
Fu Hiong-kun merasa aneh, namun dia mempercayai pandangan Coat-suthay.
"Bukti sudah ada. Ilmu silat atau langkah-langkah Lamkiong Po berbeda jauh dengan dia. Apalagi jurus terakhir yang dia gunakan untuk melarikan diri, jurusnya sangat aneh, aku belum pernah melihat nya. Masih ada lagi, sifatnya yang dulu sombong tapi semalam dia mau mengaku kalah dan pergi dengan tergesa-gesa..."
"Supek-bo siap..."
"Sebelum mendapatkan bukti yang nyata, aku tidak akan bertindak!"
Sikap Coat-suthay tampak sangat serius.
"Jangan kau bicarakan hal ini dengan orang lain. Kau mengerti?"
Fu Hiong-kun mengangguk, hatinya mulai terasa berat.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 36 141-141-141 Ketika menerima surat yang tertulis bahwa Su Ceng-cau berada di keluarga Lamkiong, Ling-ong tidak merasa terkejut.
Sebab ini sudah sesuai dengan dugaannya.
Dia juga tidak marah malah karena tahu Su Ceng-cau sudah sampai dengan selamat, dia jadi lebih tenang.
"Anak ini!"
Dia menaruh surat sambil menggelengkan kepala dan tertawa kecut.
"Adik memang pemberani, ayah tidak perlu khawatir dan marah!"
Kata Cu Kun-cau yang berada di samping Ling-ong.
"Seharusnya dia membicarakannya denganku. Untung kita selalu mempunyai hubungan dengan keluarga Lamkiong, maka kita bisa tahu keberadaan nya sekarang!"
"Apakah kita perlu segera menangkapnya kembali?"
"Dia berada di keluarga Lamkiong dan ada Siau Sam Kongcu di sana melindunginya, seharusnya tidak akan ada masalah."
"Siau Sam Kongcu?"
Cu Kun-cau marah di dalam hati, dia menoleh dan melihat It-to-cian.
It-to-cian terlihat terkejut, dia menduga sebelum Siau Sam Kongcu sampai di keluarga Lamkiong, La-cai sudah bertindak.
Dengan ilmu silat La-cai, sudah pasti tidak akan gagal.
Ling-ong tidak memperhatikan ekspresi mereka, dia berkata.
"Tiong Toa-sianseng dari Kun-lun-pai dan Su Yan-hong juga berada di sana, tidak perlu khawatir dia tidak ada teman. Keluarga Lamkiong begitu cepat memberitahukan kabar ini, tujuan mereka bukan kese lamatan Ceng-cau!"
"Mereka menginginkan barang itu?"
Cu Kun-cau baru mengerti. Ling-ong mengangguk.
"Apakah kita berikan pada mereka?"
"Pasti kita berikan, walaupun belum ada ke untungan tapi kita selalu bekerja sama dengan baik. Lebih baik kau pergi ke keluargaLegenda Pendekar Ulat Sutra -3 37 Lamkiong untuk melihat-lihat jalannya rapat Pek-hoa-cauw. Hitung-hitung untuk mencari pengalaman, sekalian membawa barang ini pada mereka."
"Baik!"
Cu Kun-cau setuju, memang dia juga ingin melihat apa yang dilakukan La-cai. Ling-ong segera berpesan kepada Liu Hui-su dan Cia Ceng-hong.
"Kalian berdua layani Siau-ongya. Sepanjang jalan harus berhati-hati, jangan seperti Soat Boan-thian yang mati tanpa sebab!"
Mayat Soat Boan-thian dimasukkan ke dalam peti mati untuk diantar kembali ke Ling-ong-hu.
Tentu saja hal itu membuat Ling-ong-hu geger.
La-cai melakukan tindakan seperti itu karena disuruh oleh Cu Kun-cau dan It-to-cian.
Tujuannya agar orang lain bisa tahu kelihaiannya.
Liu Hui-su melihat Cia Ceng-hong dan Hoa Pie-li, dia tertawa.
"Melakukan perjalanan bersama dengan Siau-ongya, dengan rejeki Siau-ongya yang besar, pasti tidak akan terjadi apa-apa."
Mereka adalah orang-orang yang pintar. Ling-ong melihat mereka dan mengangguk, dia berkata kepada It-to-cian dan Hoa Pie-li.
"Kalian berdua tinggal di sini, bertanggung jawab terhadap keselamatan Ling-ong-hu."
It-to-cian tidak berkata apa-apa. Hoa Pie-li juga demikian.
"Kapan berangkat?"
Tanya Cu Kun-cau.
"Semakin cepat semakin baik. Kalau tidak, mana mungkin bisa datang tepat waktu pada rapat Pek-hoa-couw,"
Kata Ling-ong.
"sekarang kau ikut denganku mengambil barang itu!"
Barang itu disimpan di dalam ruangan rahasia pada sebuah kotak yang terbuat dari kayu wangi.
"Apakah kita memberikan semua kepada mereka?"
Cu Kun-cau tidak sengaja bertanya.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 38 Ling-ong membuka kotak itu dan mengeluarkan satu botol giok.
"Yang ini ditinggal dulu!"
Cu Kun-cau merasa terkejut.
"Kukira ayah akan meninggalkan sebagian barang ini."
"Barang itu dan barang-barang yang disimpan di botol ini lebih mahal dari botol ini!"
"Melihat jumlah barang yang mereka butuhkan, untuk apa mereka butuh begitu banyak barang ini? Apakah ada orang yang sudah kecanduan?"
"Mungkin!"
Ling-ong tertawa.
"kalau orang yang kecanduan ini adalah Lo-taikun, itu lebih baik dan mudah!"
Menguasai Lo-taikun berarti sudah menguasai keluarga Lamkiong.
Yang mereka maksudkan dengan barang itu sebenarnya adalah 'madat'.
Waktu itu namanya 'Hu-souw-kao' (Panjang umur dan jeli).
Sebelum Cu Kun-cau sampai di keluarga Lam kiong, di sana telah terjadi sesuatu.
Tapi itu ada-lah hal yang baik.
Tiong Toa-sianseng dan Su Yan-hong telah melihat bahwa Siau Cu menyukai Beng-cu, maka mereka bersama-sama melamar pada keluarga Lamkiong.
Siau Cu sedang lesu karena tidak ada kesempatan untuk bertemu dengan Beng-cu.
Ini dikarenakan Cia Soh-ciu yang melarang Beng-cu bertemu dengannya.
Siau Cu tidak tahu gurunya Lam-touw mati di tangan keluarga Lamkiong.
Karena itu Cia Soh-ciu selalu menghalangi Siau Cu berhubungan dengan Beng-cu.
Dia memberi penjelasan kepada Beng-cu sehingga Beng-cu mengira yang membuat mereka tidak setuju adalah karena latar belakang Siau Cu.
Siau Cu juga berpikir demikian.
Su Yan-hong pun tidak mengetahui ada sebab yang lain.
Maka mereka berencana untuk menjadikan Siau Cu sebagai murid Tiong Toa-sianseng, kemudianLegenda Pendekar Ulat Sutra -3 39 mengangkat Siau Cu menjadi anak angkatnya.
Setelah itu, dengan identitas kakak seperguruan baru melamar Lamkiong Beng-cu.
Cia Soh-ciu yang pertama menolak lamaran itu, satu-satunya sebab yang dia sampaikan adalah bahwa Beng-cu masih kecil.
Tanpa diduga, Lo-taikun menyetujui lamaran ini.
Walaupun Cia Soh-ciu adalah ibu kandung Beng-cu, tapi di keluarga Lamkiong semua keputusan ditentukan oleh Lo-taikun.
Kalau Lo-taikun sudah setuju, dia tidak bisa berbuat apa-apa.
Tapi sedikit banyak dia bisa menebak Lo-taikun pasti mempunyai tujuan tertentu.
Dia berharap agar Beng-cu tidak digunakan sebagai umpan.
Tapi pengaturan Lo-taikun membuat dia tidak bisa berbuat apa-apa.
Lo-taikun sudah setuju, Siau Cu tidak bisa menutupi rasa senangnya, maka dia sering menjadi bahan tertawaan semua orang.
Semua orang merayakan keberhasilan lamaran ini, kecuali Su Ceng-cau.
Dengan kata-kata dingin dia bertanya kepada Su Yan-hong, mengapa tidak ada rencana untuk dirinya?
Su Yan-hong mengerti apa maksud Su Ceng-cau, tapi dia pura-pura tidak mengerti.
Hal ini membuat Su Ceng-cau marah dan pergi.
Su Yan-hong pura-pura tidak melihat, orang lain juga tidak melihatnya.
Hanya Lu Tan yang berdiri di sisi melihatnya.
Orang yang berada di sisi mampu melihat dengan lebih jelas, kata pepatah ini tidak salah.
Seka rang Lu Tan sudah melihat Su Ceng-cau sebenarnya menyukai Su Yan-hong, maka dia seperti bingung.
Setelah Su Ceng-cau keluar, dia kembali lagi menemui Siau Sam Kongcu.
Dia memohon kepada Siau Sam Kongcu dan Su Yan-hong agar Cu Kun-cau tidak membawanya pulang ke Ling-ong-hu.
Cu Kun-cau, Liu Hui-su dan Cia Ceng-hong sudah sampai.
Su Yan-hong dan Siau Sam Kongcu juga mengira dia datang karena diperintahkan oleh Ling-ong untuk mencari Su Ceng-cau.
Melihat Su Ceng-cau begitu panik dan berpikir Su Ceng-cau juga sudah terlanjur berada di keluarga Lamkiong, maka mereka sama-samaLegenda Pendekar Ulat Sutra -3 40 meminta agar Su Ceng-cau bisa tinggal sampai selesainya rapat Pek-hoa-couw.
Mungkin Siau Sam Kongcu tidak dipandang, tapi Su Yan-hong pasti bisa.
Apalagi di sana banyak orang-orang tua dunia persilatan.
Di depan mereka, Cu Kun-cau mungkin bisa menyetujui Su Ceng-cau tinggal dulu di keluarga Lamkiong.
Tapi Cu Kun-cau tidak angkat bicara tentang Su Ceng-cau.
Hal ini di luar dugaan mereka.
Cu Kun-cau datang hanya untuk mewakili Ling-ong-hu meng ikuti rapat Pek-hoa-couw.
Itupun di luar dugaan semua orang.
Yang pasti keluarga Lamkiong menyambut baik, mereka mengundang Cu Kun-cau menjadi tamu kehormatan.
Dari luar sebenarnya tidak ada yang salah.
Satu-satunya yang membuat orang-orang merasa risih adalah sorotan mata cabul Cu Kun-cau yang terus melihat Tiong Bok-lan.
Dia benar-benar menyukai Tiong Bok-lan tapi Tiong Bok-lan bukan orang seperti itu.
Dia tidak seperti Kiang Hong-sim.
Melihat Cu Kun-cau seperti itu, Kiang Hong-sim tahu.
Dengan keluwesan dan seorang Siau-ongya mana mungkin dia tidak tertarik?
Yang paling khawatir adalah Siau Sam Kong-cu.
Bukan karena Cu Kun-cau suka kepada Tiong Bok-lan melainkan dia sangat tahu siapa Cu Kun-cau ini.
Malam itu akhirnya Siau Sam Kongcu bisa bertemu dengan Tiong Bok-lan.
Selain memperingatkan dia akan Cu Kun-cau, sekali lagi dia mengungkapkan cintanya.
Dia meminta setelah rapat Pek-hoa-couw nanti Tiong Bok-lan pergi dengannya dan tinggal di gunung atau hutan, keluar dari dunia persi latan.
Tiong Bok-lan sangat mengerti kesetiaan Siau Sam Kongcu.
Pada waktu itu hatinya kacau, akhirnya dia tetap memilih untuk kabur pulang.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 41 Tujuan Siau Sam Kongcu datang ke keluarga Lamkiong adalah untuk melihat Tiong Bok-lan.
Dia sama sekali tidak tertarik dengan rapat Pek-hoa-couw karena tahu dia tidak akan menang.
Cinta membuatnya sampai pedang putus pun tidak mau diganti.
Maka dengan cara apapun dia berlatih, ilmu pedangnya tidak akan sempurna.
Selain itu, bagaimana dia bisa bersaing dengan Tiong Toa-sianseng dan Coat-suthay.
Waktu itu Cu Kun-cau mengantarkan kotak kayu wangi ke kamar Lo-taikun.
Hanya dia sendiri yang datang ke sana.
Dan di kamar hanya ada Lo-taikun sendiri.
Setelah membuka kotak melihat Hu-souw-kao, Lo-taikun segera tertawa.
"Membuat Hu-souw-kao memang sulit. Jika bukan karena Ong-ya mempunyai uang banyak, maka untuk mendapatkan begitu banyak Hu-souw-kao bukan hal yang sulit baginya!"
"Iya!"
Cu Kun-cau menjawab santai. Setelah melihat obat di dalam kota, tawa Lo-taikun segera menghilang, dia bertanya.
"Masih ada obat yang bernama Liong-sian-hiang (Air liur naga), mengapa tidak terlihat di sini?"
"Liong-sian-hiang?"
Cu Kun-cau tidak tahu.
"Liong-sian-hiang lebih bagus daripada Hu-souw-kao, hanya Ong-ya yang memiliki..."
"Tapi ayah tidak berkata apa-apa!"
Lo-taikun berkata dingin.
"Mana mungkin? Apakah sampai sekarang Ong-ya belum percaya kepada Keluarga Lamkiong?"
"Lo-taikun berkata terlalu berat!"
"Bila ingin masalah ini cepat selesai, dalam bekerja sama harus saling jujur!"
Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 42
"Ayahku begitu, tujuannya hanya meminta jaminan yang lebih baik. Liong-sian-hiang akan sampai di keluarga Lamkiong kapanpun!"
"Ong-ya menaruh terlalu banyak kecurigaan!"
Lo-taikun tertawa dingin.
"Sebenarnya ayahku tidak pernah bertanya kepada keluarga Lamkiong untuk apa obat-obatan ini!"
"Karena dari awal kedua pihak sudah bersepakat tidak saling bertanya!"
"Betul! Singkatnya, Liong-sian-hiang pasti akan diantar kemari. Semua orang harus bersatu men capai tujuan. Pada waktu itu keluarga Lamkiong akan menjadi nomor satu di dunia. Kekayaan dan kemakmuran tidak akan habis-habisnya!"
Kata Cu Kun-cau.
Lo-taikun hanya bisa menarik nafas.
Setelah mengantar pulang Cu Kun-cau, Lo-taikun diam-diam meninggalkan kamar.
Dia membawa kotak kayu wangi, berjalan ke Ciu-ci-tong dan memberikannya kepada Ciu-ci Lojin.
Mereka segera masuk ke jalan rahasia.
Masuk ke Siau-hun-lo di pinggir sebuah kamar rahasia.
Di sana penuh dengan obat-obatan dan kompor juga membuat orang merasa malas dan tidak bertenaga.
Memasuki ruangan ini, Lo-taikun merasakan perasaan yang seperti itu.
Sebaliknya, ketika Ciu-ci Lojin masuk ketem-pat ini dia malah bersemangat, tubuhnya terasa bertenaga.
Dengan cepat dia membagi obat-obat di dalam kotak.
Dia mencampur obat yang sudah ada dari tadi, kemudian dengan cepat dan ahli dia membuat obat-obat butiran berwarna putih dan merah.
Kemudian dimasukkan ke dalam sebuah wadah dan dimasak.
Sorot mata Lo-taikun seperti sedikit tegang tapi Ciu-ci Lojin bertindak dengan mudah dan ahli, juga tidak tegang.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 43 Dalam waktu hanya setengah jam, di tangan Ciu-ci Lojin sudah ada dua mangkuk butiran berwarna putih dan merah, masing-masing mangkuk berisi obat merah juga putih.
Lo-taikun mendatangi empat peti mad, kemu dian berhenti di depannya.
Dengan tongkat kepala naga dia membuka tutup peti.
Pada setiap peti mati terbaring seorang gadis.
Wajahnya tidak jelek tapi pucat seperti dipulas oleh debu.
Kedua mata gadis terpenjam, mereka berbaring di sana seperti orang mati.
Ciu-ci Lojin membuka mulut mereka dan memasukkan sebutir obat berwarna merah.
Tidak lama kemudian, wajah empat gadis ini berubah menjadi warna merah muda dan bercahaya.
Ciu-ci Lojin mengangguk kepada Lo-taikun.
Dengan tenang Lo-taikun mengeluarkan sebu ah peluit giok dan meniupnya.
Suara peluit tidak keras tapi tinggi dan jelas, seperti sebatang jarum menusuk ke dalam jantung.
Empat gadis segera membuka mata.
Mata mereka begitu jernih dan bersih, terang dan indah, tapi entah mengapa mata mereka membuat orang merasa itu bukan mata manusia.
Bila Siau Cu, Lu Tan dan Fu Hiong-kun melihat mata ini, mereka pasti akan teringat malam itu ketika mereka kabur dari Ling-ong-hu dan dikepung oleh Pek-lian-kau, yang membantu mereka keluar dari kepungan adalah empat orang yang memakai penutup wajah dan bermata seperti empat gadis.
Begitu membuka mata, empat gadis segera duduk.
Begitu mendengar suara peluit dari peluit giok, mereka segera meloncat keluar dari peti mati dan membentuk barisan berdua dari saling berhadapan kemudian berputar menjadi saling memunggungi.
Mereka mencabut pedang dari sarung kemudian membentuk barisan pedang.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 44 Jurus pedang terus dikeluarkan dengan ganas dan kejam seperti malam itu ketika membacok orang-orang Pek-lian-kau.
Peluit Lo-taikun ditiup lagi dua kali.
Barisan empat gadis berbaju hitam berganti dua kali.
Setiap kali perubahan sangat lincah dan semakin ganas dan kejam.
Lo-taikun terus mengangguk.
Terakhir dia meniup dengan suara yang sangat pendek.
Tubuh empat gadis segera berhenti.
Kemudian Lo-taikun melayangkan tangan.
Mereka segera meloncat kembali ke dalam peti mati dan berbaring terlentang.
Ciu-ci Lojin datang, dari botol yang berwarna putih dia mengeluarkan empat butir obat putih, masing-masing ditaruh di dalam mulut empat gadis itu.
Wajah ke empat gadis berubah setelah obat putih ditelan, wajahnya menjadi pucat tapi bukan seperti dipoles debu.
Di dalam kepucatan ada sedikit cahaya kehidupan.
Lo-taikun menutup peti mati kembali.
Dia melihat ke tempat yang bertirai dan berkata.
"Aku ingin melihat Hen-lo-sat!" (Pembunuh merah muda) Yang dia maksudkan dengan Hen-lo-sat adalah Tokko Hong. Kulit tubuh Tokko Hong sudah ber warna merah muda. Setelah makan obat pemberian Ciu-ci Lojin yang berwarna merah muda, dengan cepat wajah berubah menjadi merah seperti api. Lo-taikun membalikkan peluit itu, meniup dengan suara yang berbeda buat Tokko Hong. Tokko Hong segera keluar dari peti mati. Kecepatannya di atas empat gadis berbaju hitam, dia segera menyerang Lo-taikun. Wan-yo-to dikeluarkan dari sarung dan dia membacok dengan gila. Lo-taikun tergesa-gesa menghindar, dia mundur sejauh tiga depa, baru tongkat kepala naga mendapatkan kesempatan menotok jaan darah di ping gang Tokko Hong. Tapi Tokko Hong seperti tidak sadar, dia masih terus menyerang. Terpaksa Lo-taikun menghindar lagi. Ini terlihat sangat kerepotan dan memalukan.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 45 Akhirnya Ciu-ci Lojin berlari dari belakang. Dia menotok beberapa jalan darah di punggung dan pundak Tokko Hong, sehingga gerakan Tokko Hong menjadi pelan. Lo-taikun segera menahan dua golok dari Tokko Hong. Ciu-ci Lojin segera memasukkan obat berwarna putih ke dalam mulut Tokko Hong. Melihat wajah Tokko Hong sudah berubah, baru Ciu-ci Lojin membuka jalan darah yang sudah ditotok. Lo-taikun sekali lagi meniup peluit dan Tokko Hong kembali berbaring ke dalam peti mati. Akhirnya Lo-taikun berkata.
"Baik!"
Ciu-ci Lojin menggelengkan kepala. Lo-taikun tidak peduli, dia berkata.
"Tanpa Liong-sian-hiang kita tetap bisa sukses membuat obat. Ling-ong kau telah salah mengira!"
"Bagaimana bisa sukses?"
Tiba-tiba Ciu-ci Lojin membuka suara.
Ternyata dia tidak bisu, melainkan hanya pura-pura bisu.
Menjadi bisu dan tuli bukan hal yang mudah.
Jangankan perlu melakukan hal yang lain, memerlukan kesabaran sebesar itupun sudah cukup menakutkan.
"Oh?"
Lo-taikun terpaku.
"Bukankah mereka sangat patuh dengan suara peluit ini?"
"Betul!"
"Tadi kau sudah lihat, setelah makan obat ilmu silat mereka terus bertambah. Apalagi Hen-lo-sat yang membuat aku hampir tidak bisa menahan serangannya."
"Obat ini bernama Kiu-kiu-thian-pa-ong-wan, khasiatnya adalah memaksa orang mengeluarkan ilmu silat yang dia rahasiakan. Melihat keadaan tadi, ilmu silat mereka belum keluar semua. Sedangkan Hen-lo-sat, setelah menotok nadinya kita masih tidak bisa menghentikan dia dan hanya bisa membuat dia lebih lamban. Reaksi yang paling ideal adalah bila dia tidak ada reaksi sama sekali dan bisa melihat yang mana musuh dan yang mana orang sendiri.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 46 Kalau tidak percaya kau bisa mencoba. Walaupun kau meniup peluit, dia tetap akan menyerangmu!"
Lo-taikun diam. Ciu-ci Lojin menarik nafas.
"Masih ada! Setelah selesai, mereka harus mengandalkan makan obat. Walaupun obat ini telah kuubah dan pikiran mereka tidak terlalu kacau, tapi reaksi buruk masih tetap ada."
"Jadi benar-benar tidak bisa kalau tanpa Liong-sian-hiang?"
"Tidak bisa!"
Ciu-ci Lojin menjawab dengan tegas.
"Maka aku harus mengerahkan segala upaya, apapun yang terjadi harus mendapatkan obat ini!"
"Kalau obat berhasil, empat pembunuh perem puan adalah pembunuh nomor satu. Apalagi seorang Hen-lo-sat, cukup untuk menguasai semua dunia persilatan!"
"Baik! Aku ingin lihat Ling-ong yang licik atau aku yang kejam!"
Ciu-ci Lojin tertawa. Lo-taikun melihat Ciu-ci Lojin.
"Waktu rapat Pek-hoa-cauw, dalam keluarga Lamkiong ada banyak pesilat tangguh, kau harus hati-hati!"
"Setiap waktu aku selalu berhati-hati!"
"Untung orang lain tidak seperti Coat-suthay, mengurus masalah yang tidak berhubungan dengannya. Tapi aku sudah menyuruh orang untuk selalu mengawasi dia siang dan malam!"
"Suatu hari nanti, aku akan menunjukan kelihaianku kepada dia!"
Lo-taikun marah.
Mengetahui malam ini Coat-suthay berada di dalam kamar, Lo-taikun lebih tenang.
Selain Coat-suthay, Lo-taikun memperkirakan tidak ada orang lain yang tertarik dengan gerakannya.
Tapi malam ini yang menguntit dia adalah Lamkiong Po.
Semua orang pasti akan merasa terkejut.
Lamkiong Po sangat mengenal lingkungan keluar ga Lamkiong, maka lebih mudah baginya untuk menguntit daripada Coat-suthay.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 47 Setelah melihat Liu-tai-kun meninggalkan Ciu-ci-tong, Lamkiong Po merasa aneh.
Bagi dia, gerakan Lo-taikun sangat misterius tapi dia tidak masuk ke Ciu-ci-tong karena bukan waktu yang tepat.
Lo-taikun kembali ke dalam kamar, pas saat Kiang Hong-sim keluar.
Melihat Lo-taikun, Kiang Hong-sim langsung bersembunyi.
Tapi mana mungkin bisa menipu Lo-taikun, dia membentak.
Terpaksa Kiang Hong-sim keluar dari semak-semak.
Malam begini dia masih berpenampilan seperti itu.
Dari luar sudah kelihatan sangat tidak pantas.
Lo-taikun melihat dia dari atas ke bawah dan menggelengkan kepala.
"Malam sudah larut, kemana kau mau pergi?"
"Hanya jalan-jalan!"
Kiang Hong-sim tahu dia tidak bisa berbohong tapi apa boleh buat.
"Sekarang di keluarga Lamkiong adalah tempat pesilat-pesilat tangguh. Di waktu rapat ini, aku harap kau bisa menahan diri dan lebih berhati-hati!"
Dengan malu Kiang Hong-sim menundukkan kepala.
Lo-taikun segera kembali ke kamar.
Terlihat dia tidak hanya tahu siapa Kiang Hong-sim dan juga bisa menebak ke mana Kiang Hong-sim akan pergi, tapi dia tidak melarangnya.
Maka Kiang Hong-sim pura-pura tidak tahu.
Setelah Lo-taikun masuk ke dalam kamar, dia tetap pergi melakukan apa yang harus dia lakukan.
Dia ingin menggoda Cu Kun-cau.
Dengan sifat Cu Kun-cau yang suka main perempuan, yang pasti tidak akan membuat Kiang Hong-sim kecewa.
Sebenarnya rapat Pek-hoa-couw tidak boleh kurang Bu-tong-pai dan Kong-tong-pai, hanya saja It-im taysu dari Kong-tong-pai sudah mati terbunuh.
Satu-satunya penerus Koan Tiong-liu juga tidak ikut, maka sampai sekarang belum ada murid Kong-tong-pai yang membereskan.
Sementara Kong-tong-pai menghilang.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 48 Setelah Siauw-lim-pai diserang oleh Put-lo-sin-sian maka kekuatannya belum pulih.
Mereka membalas surat mengatakan tidak akan mengikuti rapat ini, maka murid Siauw-lim tidak ada yang datang.
Jadi yang datang hanya Bu-tong, Kun-lun, Hoa-san, Heng-san tapi murid yang datang tidak banyak, maka boleh dikatakan rapat ini tidak ramai.
Yang mewakili keluarga Lamkiong adalah Lamkiong Po.
Dia terlihat sedang banyak pikiran.
Hari kedua dia muncul di Ciu-ci-tong.
Lo-taikun dan Ciu-ci Lojin semalam tiba-tiba menghilang di Ciu-ci-tong, membuat dia terpikir tentu ada kamar rahasia di sana.
Maka dia pura-pura mencari sesuatu, tapi sebenarnya sedang mencari pintu masuknya.
Tapi hanya sebentar, Ciu-ci Lojin sudah muncul di hadapannya.
"Aku hanya datang melihat-lihat!"
Lamkiong Po takut orang tua ini curiga.
Ciu-ci Lojin memberitahu Lamkiong Po ada orang mencari dia.
Setelah beberapa tahun, dia sudah mengerti bahasa isyarat tangan orang tua ini.
Setelah Lamkiong Po keluar dari Ciu-ci-tong, wajah orang tua itu segera ditekuk, terlihat dia sudah melihat apa yang di inginkan Lamkiong Po.
Yang mencari Lamkiong Po adalah Coat-suthay.
Coat-suthay menunggunya di jembatan berliku-liku, tempat dia bertemu dengan Lo-taikun.
"Mengapa Suthay berada di sini?"
Tanya Lamkiong Po aneh.
"Tadinya aku mau ke Ciu-ci-tong."
Coat-suthay terus melihat Lamkiong Po.
"Ciu-ci-tong?"
Lamkiong Po bertambah aneh.
"Ada apa ke Ciu-ci-tong?"
"Ada apa kau pergi ke Ciu-ci-tong?"
Coat-suthay balik bertanya.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 49
"Ingin mengetahui satu hal!"
"Sama halnya dengan aku. Semalam aku berada di daerah Ciu-ci-tong sangat jelas melihat gerakanmu, hanya tidak leluasa menyapa!"
Kata Coat-suthay. Lamkiong Po terpaku. Coat-suthay tertawa.
"Walaupun Lo-taikun sudah memasang orang untuk mengawasi aku dari pagi sampai malam di tempat tinggalku, tapi mereka masih belum biasa menghadangku!"
Coat-suthay bertanya lagi.
"Apakah kau sudah memikirkan kata-kataku sebelumnya?"
Lamkiong Po mengangguk.
"Apa yang Suthay curigai, apakah bisa beri tahu kepadaku?"
Coat-suthay menarik nafas.
"Orang yang percaya pada Budha sulit menga takan ini bila tidak ada bukti karena akan menimbulkan kesalahpahaman!"
"Apakah bukti ini bisa Coat-suthay dapat?"
"Kata pepatah, tidak ada hal yang sulit di dunia ini. Apapun yang terjadi, sebelum meninggalkan keluarga Lamkiong aku akan mencarimu untuk berbicara!"
"Pasti!"
Lamkiong Po menarik nafas.
"besok di rapat Pek-hoa-couw aku hanya mewakili keluarga Lamkiong meramaikan rapat ini!"
"Kau masih muda. Dengan bakatmu, kelak akan jadi yang terbaik! Keluarga Lamkiong menunggumu untuk kau kembangkan!"
Lamkiong Po mendengar itu adalah kata-kata untuk menghiburnya, tapi dadanya tetap tidak terasa dapat ditegakkan.
Darah yang mengalir di tubuhnya tetap adalah darah Keluarga Lamkiong.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 50 Coat-suthay kembali ke kamar.
Fu Hiong-kun sudah menunggu di sana.
Dia tidak berkata apa-apa dan segera duduk memejamkan mata untuk berpikir.
Tidak lama kemudian dia membuka mata dan berkata.
"Hiong-kun, kemarilah!"
"Apakah Supek-bo ada pesan?"
Fu Hiong-kun sudah melihat Coat-suthay mempunyai satu hal penting untuk disampaikan kepada dia. Dengan serius Coat-suthay mengambil Ceng-hong-kiam yang tersimpan di meja.
"Ceng-hong-kiam ini diberikan padaku oleh guru 25 tahun yang lalu. Pedang ini sudah mengikuti aku dalam pertarungan besar atau kecil sebanyak 300 kali. Orang dan pedang sangat beruntung, tidak ada yang celaka. Pedang sangat tajam, sanggup menepis besi seperti tahu. Dalam 25 tahun aku sudah membunuh banyak orang. Ceng-hong-kiam beberapa kali sudah dicuci dengan darah. Terhadap tindakan orang dan pedang, aku tidak merasa malu atau bersalah kepada Thian, tapi tetap akan dibicarakan orang-orang. Bila orang hidup di dunia ini tidak merasa malu atas perbuatan sendiri, untuk apa mempe-dulikan apa yang dikatakan orang lain."
"Tecu mengerti!"
"Beberapa hari ini aku selalu merasa tidak tenang, seperti akan terjadi sesuatu. Apakah hal ini mujur atau malang, sulit ditebak! Ceng-hong-kiam ini akan kuwariskan kepadamu setelah rapat Pek-hoa-couw. Kau harus menjaganya dengan baik!"
"Tecu mana mungkin sanggup menanggung ini?"
Fu Hiong-kun terkejut juga berkata dengan jujur.
"Bila aku menyuruh kau mengambilnya, kau harus menerimanyal!"
"Tecu..."
"Aku menurunkan pedang ini bukan berarti aku sangat suka kepadamu. Aku hanya merasa kau bisa mempertahankan danLegenda Pendekar Ulat Sutra -3 51 membesarkan Heng-san-pai."
Coat-suthay mulai terharu.
"Sejujurnya, aku dan gurumu memang sama-sama masuk ke Heng-san-pai untuk belajar silat, tapi sampai sekarang aku tidak suka kepadanya dan membenci sifatnya yang ragu-ragu. Walaupun kau tidak seperti dia tapi sifatmu tetap lemah!"
Fu Hiong-kun tidak bersuara. Coat-suthay berkata lagi.
"Kali ini aku membawamu ke keluarga Lam-kiong untuk mengikuti rapat Pek-hoa-couw adalah ingin mengatakan kepadamu tentang ini. Orang dunia persilatan semakin lemah semakin gagal. Kau harus membela Heng-san-pai, maka sebelumnya kau sendiri harus belajar kuat!"
"Tecu bisa kuat menjadi orang, tapi Ceng-hong-kiam ini tidak bisa..."
"Apakah kau kira Ceng-hong-kiam ini sangat luar biasa? Pedang hanyalah semacam alat, yang penting adalah orang yang menggunakannya. Di dalam perguruan, kaulah yang paling berbakat, maka aku menurunkan pedang kepadamu. Apakah kau mau meninggalkan Heng-san-pai?"
"Tecu tidak berani!"
Fu Hiong-kun terkejut.
"Kalau begitu jangan bicara lagi!"
Kelopak mata Coat-suthay terus bergetar.
"dalam beberapa hari ini aku mempunyai firasat yang tidak baik!"
"Apakah ada jebakan pada rapat Pek-hoa-couw kali ini?"
Setelah Fu Hiong-kun berkata, dia menggelengkan kepala.
"seharusnya tidak!"
"Aku juga berpikir begitu. Mungkin golok pedang tidak bermata, walaupun ada aturan, . tapi sampai titik tertentu akan melukai hubungan antara dua orang. Mungkin juga gurumu merasa kesepian dan ingin aku ke sana menemaninya!"
"Supek-bo!"
Fu Hiong-kun merasakan firasat yang tidak enak.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 52
"Yang penting kau harus menjaga Ceng-hong-kiam ini dengan baik!"
Coat-suthay menarik nafas, dia seperti berubah menjadi orang lain.
142-142-142 Tiong Toa-sianseng juga melihat pedang dan terpaku.
Pedang yang keluar dari sarung di bawah cahaya lampu tampak seperti air.
Walaupun kalah dengan Ceng-hong-kiam dari Coat-suthay tapi tetap adalah pedang yang bagus.
Su Yan-hong dan Lu Tan melihat dan merasa aneh.
Su Yan-hong menunggu lama dan bertanya.
"Guru, ada apa dengan pedang ini?"
"Kali ini aku menyesal datang ke keluarga Lamkiong!"
Tiong Toa-sianseng tiba-tiba berkata.
"Maksud guru..."
"Entah mengapa aku punya perasaan rapat Pek-hoa-couw kali ini penuh aura membunuh dan suasana kurang nyaman!"
Pedang dimasukkan lagi oleh Tiong Toa-sianseng. Lu Tan menyela.
"Boanpwee kurang pengalaman, tidak mempunyai firasat seperti itu. Kepandaianku tidak seperti orang lain, maka tidak seharusnya datang memperlihatkan kejelekanku!"
Sorot mata Tiong Toa-sianseng jatuh pada wajah Lu Tan.
"Bu-tong-pai mempunyai banyak orang berbakat. Thian-can-sin-kang adalah salah satu ilmu andalan. Walaupun orang mengatakan Wan Fei-yang hanya kebetulan menguasainya, tapi karena dia sanggup menguasainya maka akhirnya menjadi terkenal di dunia persilatan. Kau masih muda, masa depanmu sangat cerah. Kali ini mengikuti rapat Pek-hoa-couw anggaplah mencari pengalaman!"
Lu Tan terus mengangguk. Tiong Toa-sianseng menarik nafas.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 53
"Jago pedang nomor satu di dunia. Nama ini sering membuat manusia melakukan hal-hal yang tidak biasa dilakukan demi mendapat nama ini!"
"Guru seperti tidak ada kepercayaan diri."
"Bukan soal kepercayaan diri tapi aku sudah tua untuk merebut nama kosong ini. Kali ini seharusnya kau yang mewakili Kun-lun-pai!"
"Bukankah guru juga demi Kun-lun..
"Demi Kun-lun juga demi diri sendiri. Berlatih berpuluh-puluh tahun tapi tidak disangka tetap terpancing oleh nama yang tidak ada artinya ini, Mungkin itu namanya Sim-mo (iblis dalam hati)!"
Tiong Toa-sianseng tertawa kecut.
"sampai aku pun tidak bisa membuang pemikiran ini. apalagi anak muda. Sejujurnya, sekarang ini aku masih merasa tegang!"
Dia tertawa. Su Yan-hong dan Lu Tan terpaksa tertawa.
"Ke mana Siau Cu pergi?"
Tanya Tiong Toa-sianseng.
"Mencari kesempatan untuk mendekati Beng-cu!"
Kata Lu Tan. Sepertinya Lu Tan juga menyetujui apa yang dilakukan Siau Cu.
"Ini adalah hal yang baik, bisa lebih dekat itu akan lebih baik. Yang penting tidak ada orang yang menghadang dia lagi!"
Entah mengapa tiba-tiba Tiong Toa-sianseng teringat putrinya Bok-lan.
143-143-143 Tiong Bok-lan sekarang berada di kuil di gunung, sekitar setengah li dari keluarga Lamkiong, Dia berlutut dan sedang bersembahyang di depan patung Budha.
Kuil ini dibangun oleh keluarga Lamkiong.
Setiap tanggal 1 atau 15 bulan pasti ada orang yang membersihkan kuil ini.
Orang ini dikirim oleh keluarga Lamkiong.
Tapi hari ini bukan tanggal 1 atau 15, maka tidak ada orang berada di sana, sehingga Tiong Bok-lan berani mengungkapkan apa yang menjadi isi hatinya.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 54
"Aku bernama Tiong Bok-lan berdoa kepada Budha meminta agar Budha memberi petunjuk!"
Dia menyembah dan berkata.
"aku menikah dengan orang keluarga Lamkiong karena perintah ayah tidak bisa ditolak. Sekarang aku adalah orang keluarga Lamkiong, seharusnya tidak memikirkan hal itu lagi. Tapi dia begitu sayang kepadaku, dan antara Lamkiong Sie dengan aku walaupun adalah suami istri tapi sebenarnya tidak pernah ada hubungan suami istri."
Tiong Bok-lan menarik nafas.
"Apakah aku harus setuju mengikuti dia pergi ke tempat yang jauh?"
Kemudian dia menyembah, dia tahu dia berdoa kepada sebuah patung, pasti tidak ada reaksi apa-apa.
Tapi karena hatinya sedang bimbang, dia ingin mengungkapkan isi hatinya hingga merasa nyaman.
Waktu dia mengangkat kepala, tiba-tiba di depan merasa ada seseorang berdiri.
Dengan ilmu silat yang dia kuasai, ada orang yang datang berdiri di depannya dan dia sama sekali tidak merasakan kehadiran orang itu.
Pikirannya yang kacau pasti adalah salah satu penyebabnya, tapi tidak dipungkiri ilmu samurai Cu Kun-cau juga sudah sampai tahap tinggi.
"Kau!"
Tiong Bok-lan seperti seekor kelinci yang terkejut dan meloncat pergi.
"Benar-benar cantik!"
Cu Kun-cau melihat nya.
"tidak rugi juga aku mengikutimu sampai ke sini!"
Dia segera memeluk Tiong Bok-lan. Tiong Bok-lan menghindar.
"Apa yang kau lakukan?"
"Melakukan apa yang ingin kulakukan!"
Wajah Cu Kun-cau mulai mengeluarkan tawa cabul.
"bulan malam ini begitu indah dan di sini begitu sepi, tidak ada orang yang akan mengganggu. Ini benar-benar Thian yang memberi kesempatan!"
Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 55
"Paling baik Siau-ongya menghormatiku!"
"Satu kali dan dua kali melakukan hubungan apa bedanya. Apa yang kau katakan tadi sudah aku dengar dengan jelas, untuk apa lagi kau berpura-pura di depanku?"
Wajah Tiong Bok-lan berubah. Cu Kun-cau tertawa.
"Apapun yang terjadi, aku adalah Siau-ongya, apakah tidak pantas mendampingimu?"
Dia ingin memeluk lagi, Tiong Bok-lan terus menghindar hingga punggungnya sudah mengenai dinding. Pada waktu itu ada suara baju terbawa angin. Siau Sam Kongcu sudah masuk. Cu Kun-cau membentak.
"Siau Sam, ada apa kau datang kemari?"
Waktu Siau Sam Kongcu ingin menjawab, Cu Kun-cau seperti baru mengerti dan tertawa.
"Orang yang dia maksudkan tadi ternyata adalah dirimu?"
Siau Sam Kongcu terpaku. Cu Kun-cau sudah berkata kepada Tiong Bok-lan.
"Dia hanya seorang guru pedang di Ling-ong-hu. Apakah pantas kau begitu cinta kepadanya sampai tidak mempedulikan semua ini?"
Tiong Bok-lan benar-benar tidak tahu apa yang harus dia katakan. Terpaksa Siau Sam Kongcu membela dia.
"Siau-ongya, orang keluarga Lamkiong selalu mempunyai sopan santun, maka kau bicara harus sopan!"
"Sopan santun?"
Kata Cu Kun-cau tertawa lepas.
"coba kau tanya pada dia apa yang dia katakan tadi!"
Wajah Tiong Bok-lan berubah. Cu Kun-cau masih terus berbicara.
"Dia mengatakan kau sangat cinta kepada dia. Dia dan Lamkiong Sie ada nama suami istri, tapi tidak pernah ada hubungan suamiLegenda Pendekar Ulat Sutra -3 56 istri. Sekarang dia berpikir apakah harus mengikutmu pergi, maka dia meminta Budha memberi petunjuk,"
Daging di wajah Siau Sam Kongcu tergetar. Dia melihat Tiong Bok-lan. Tiong Bok-lan tidak tahan lagi. Dia menutup muka dan berlari keluar. Cu Kun-cau ingin mengejar tapi dihadang oleh Siau Sam Kongcu.
"Pergi kau!"
Cu Kun-cau menyerang dengan telapaknya. Siau Sam Kongcu menahan dengan tangannya. Cu Kun-cau terpental mundur dua langkah. Dia marah.
"Kau berani menghadangku?"
"Siau Sam sudah bukan guru pedang di Ling-ong-hu, tidak ada yang tidak berani!"
Cu Kun-cau terpaku. Dia melotot.
"Kalau begitu kau pasti tahu apa yang bisa aku lakukan nanti!"
Siau Sam Kongcu tertawa.
"Bukankan Siau-ongya dari awal juga tahu dengan cara apa mengganggu Siau Sam?"
Wajah Cu Kun-cau berubah menjadi pucat.
Dia menghentakkan kaki, membalikkan tubuh keluar dari kuil.
Kali ini Siau Sam Kongcu tidak menghadang dia.
Tidak lama kemudian Siau Sam Kongcu baru keluar dari kuil.
Dia melihat langit dan wajahnya tersenyum bahagia.
Dia yakin apa yang dikatakan Cu Kun-cau adalah sebenarnya.
Sampai malam ini, akhirnya dia mengerti seperti apa perasaan Tiong Bok-lan kepada nya.
Walaupun Tiong Bok-lan belum mengambil keputusan tapi asal Tiong Bok-lan mempunyai maksud seperti ini, dia masih ada harapan.
Dulu dia hampir putus asa.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 57 Cu Kun-cau tidak segera kembali ke keluarga Lamkiong.
Dia berjalan ke arah lain.
Setelah berjalan sejauh satu li, dia baru berhenti di depan satu pohon besar.
Di bawah pohon ada sebuah patung batu Budha.
Sekali melihat sudah tahu patung itu diukir dari batu, diukir asal-asalan.
Bukan sembarang orang bisa melakukannya.
Di mata orang biasa, patung ini tidak ada yang istimewa, tapi di mata pesilat tangguh paling sedikit bekas pahatan patung batu itu adalah bekas pahatan seorang pesilat tangguh.
Awalnya Cu Kun-cau mendengar ada suara burung yang aneh kemudian baru memperhatikan patung Budha ini.
Wajah yang marah segera mengeluarkan kegembiraan.
Walaupun dia tahu dengan beijalan ke arah sini, dia pasti akan pasti akan bertemu dengan orang yang dia cari tapi dia tidak menyangka bisa begitu cepat menemuinya.
Dia memutar tubuh, melihat di belakang tidak ada orang yang membuntuti baru dia, kemudian melayangkan dua tangan, menepuk dua kali di sebelah kiri, dua kali menepuk di sebelah kanan, dan dua kali di tengah.
La-cai turun dari atas pohon.
Tubuhnya menempel di batang pohon seperti menyatu dengan batang pohon, begitu turun baru terpisah.
Sebenarnya dia tetap memakai baju hweesio yang berwarna abu-abu putih.
Bila bersama batang pohon akan sulit dibedakan.
Cu Kun-cau juga merasa seperti itu.
Ilmu samurainya sudah terlatih sampai tahap ini, boleh dikatakan sudah berada di puncak.
"Ada apa Siau-ongya tergesa-gesa mencariku?"
Tanya La-cai.
"Mengapa Siau Sam Kongcu bisa sampai di keluarga Lamkiong hidup-hidup?"
La-cai menggelengkan kepala.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 58
"Tujuan orang-orang kami adalah mengejar Tiang-lek Kuncu, tapi tiba-tiba dia berpisah dengan Siau Sam Kongcu dan pergi sendiri, maka ada kesalahan."
"Ceng-cau tidak perlu kalian layani, tapi Siau Sam!"
"Apakah harus dibunuh?"
"Harus dibunuh!"
Cu Kun-cau dengan marah berkata.
"kalau tidak bisa membunuh orang ini, rasa jengkelku tidak habis-habis!"
"Kapan harus dilakukan?"
"Semakin cepat semakin bagus. Dia datang untuk mengikuti rapat Pek-hoa-couw. Pada waktu itu pasti akan terjadi pertarungan besar. Tunggu sampai dia lelah baru dibunuh. Itu akan lebih baik!"
"Ada kemudahan seperti itu, hweesio tidak akan melepaskan kesempatan ini! Hal ini biar hweesio yang melakukan!"
Cu Kun-cau mengangguk.
"Sekarang kau boleh pergi!"
La-cai mengayunkan tangan, asap segera keluar dari tubuh dan dengan cepat membungkus tubuhnya.
Waktu asap menghilang, La-cai sudah menghilang.
Cu Kun-cau tidak menunggu sampai asap hilang, dia sudah kembali ke keluarga Lamkiong.
Wajahnya sinis, dia seperti sudah mendengar teriak an Siau Sam Kongcu yang memilukan kemudian roboh di depannya.
144-144-144 Malam ini di keluarga Lamkiong terlihat sangat tenang.
Beng-cu berada di kamar, tapi hatinya tidak tenang, dia kira karena masalah Siau Cu.
Sebelumnya begitu ada waktu Siau Cu pasti datang menengok dia atau mengetuk-ngetuk jendela di luar, mengajak dia keluar untuk mengobrol.
Tapi malam ini, sampai sekarang Siau Cu belum muncul.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 59 Maka begitu ada yang mengetuk jendela, Beng-cu segera meloncat bangun.
Tapi begitu jendela dibuka, yang berdiri di luar adalah Lamkiong Po.
"Paman keempat ada apa?"
"Aku akan memberitahumu satu hal!"
Lamkiong Po segera meloncat masuk dan menutup jendela.
"Hal ini pasti sangat penting!"
"Itu sudah pasti!"
Lamkiong Po tertawa kecut.
"hal ini menyangkut seumur hidupmu..
"Apakah Siau Cu telah berbuat sesuatu?"
"Tidak!"
Lamkiong Po menarik nafas duduk.
"Apakah aku?"
Lamkiong Po menggelengkan kepala.
"Paman keempat cepat beritahu kepadaku!"
"Apakah kau tahu siapa yang membunuh guru Siau Cu?"
"Paman keempat sudah menelitinya? Aku akan segera memberitahu Siau Cu, karena kematian gurunya membuat hatinya tidak enak!"
"Hal ini jangan diberitahu kepada Siau Cu!"
"Mengapa?"
Lamkiong Po tidak menjawab. Tawa Beng-cu tiba-tiba membeku.
"Apakah hal ini berhubungan dengan keluar-ga Lamkiong..."
Lamkiong Po menundukkan kepala.
"Dia dibunuh orang keluarga Lamkiong!"
"Mengapa bisa seperti itu?"
"Mungkin ada kesalahpahaman. Tapi apapun yang terjadi, orang yang membunuh gurunya adalah orang dari keluarga Lamkiong!"
Beng-cu bengong. Kata Lamkiong Po.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 60
"Aku tidak tahu mengapa Lo-taikun bisa menyetujui pernikahan Siau Cu denganmu. Mungkin karena melihat muka Tiong Toa-sianseng dan An-lek-hou. Tapi apapun yang terjadi, aku harus menjelaskan kepadamu. Kalau terus ditutup-tutupi, setelah kau dan dia menikah dan ketahuan apa yang terjadi, aku tidak tahu apa akibatnya!"
"Mengapa bisa seperti itu? Mengapa guru Siau Cu dibunuh oleh keluarga Lamkiong?"
"Apakah kau tidak percaya dengan kata-kata paman keempat?"
"Paman keempat, apa yang harus aku lakukan?"
"Setelah berpikir dengan jelas, kau akan tahu apa yang harus kau lakukan!"
Lamkiong Po berdiri lalu mendorong jendela dan meloncat keluar.
Beng-cu terpaku.
Akhirnya dia menangis sejadi-jadinya.
Pek-hoa-couw berada di tengah-tengah sebuah danau, tempat itu milik keluarga Lamkiong, setelah beberapa tahun diperbaiki, tempat ini jadi benar-benar bagus.
Katanya generasi pertama keluarga Lam kiong menciptakan ilmu pedang keluarga Lamkiong di sini, maka bila generasi penerus keluarga Lamkiong mengalami kesulitan dalam ilmu pedang asal datang ke Pek-hoa-couw sering kali dapat mujizat.
Memilih tempat ini untuk rapat ilmu pedang, itu adalah ide keluarga Lamkiong yang pertama.
Sebe narnya rapat ini adalah rapat yang besar tapi sampai hari ini dan sekarang ini terlihat sangat sepi.
Itu benar-benar tidak terduga.
Di dunia persilatan sulit ditemukan keadaan yang tenang, dunia persilatan selalu dalam guncangan, kecuali keluarga Lamkiong, perkumpulan lain dari satu generasi ke generasi sebelumnya semakin menurun.
Apalagi munculnya Bu-ti-bun yang terus membuat pertarungan, membuat semua perkum pulan semakin lemah dan memerlukan waktu lama untuk pulih.
Rapat Pek-hoa-couw akhirnya dimulai.
Upacara nya sangat sederhana.
Rapat dibuka oleh Cu Kun-cau, karena daerah ini adalahLegenda Pendekar Ulat Sutra -3 61 wilayah kekuasaan Ling-ong.
Keluarga Lamkiong harus memberi muka kepada Siau-ongya ini.
Hati Cu Kun-cau sedang tidak enak tapi dalam keadaan begitu dia harus bisa menyimpan perasaannya.
Apalagi yang mengikuti rapat ini adalah pesilat-pesilat pedang yang tangguh.
Pengundian pertama adalah Lamkiong Po dari keluarga Lamkiong berhadapan dengan Coat-suthay.
Belum bertarung, semua orang sudah tahu ilmu pedang mana yang mungkin bisa mengalahkan Coat-suthay.
Begitu Ceng-hong-kiam milik Coat-suthay dicabut, hati Lamkiong Po jadi dingin.
Semua orang bisa melihat pedang itu bukan pedang biasa.
Dari luar terlihat dia tidak bereaksi.
Tangan kanan mencabut pedang, tangan kiri menekan ke belakang pedang.
Dengan hormat berkata.
"Lamkiong Po dari keluarga Lamkiong siap menerima jurus-jurus Lo-cianpwee!"
Wajah Coat-suthay tidak menunjukan ekspresi apa-apa.
Dia mengayunkan tangan.
Lamkiong Po juga tidak sungkan.
Pedang sudah menyerang.
Coat-suthay segera membalas.
Jurus demi jurus datang menyerang seperti air laut.
Lamkiong Po tidak berani beradu pedang dengan Coat-suthay.
Apalagi ada jarak yang jauh di antara ilmu silat mereka, maka baru sepuluh jurus dia sudah dipaksa terus mundur.
Su Yan-hong melihatnya.
"Lamkiong Po tidak akan bisa bertahan lebih dari tiga puluh jurus!"
Tiong Toa-sianseng mengangguk.
"Walaupun Coat-suthay tidak memakai Ceng-hong-kiam, Lamkiong Po tetap tidak bisa bertahan tiga puluh jurus!"
Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 62
"Ilmu silat Coat-suthay biasanya sangat bagus, apakah Lamkiong Po belum mengeluarkan semua ilmu silatnya?"
Tiong Toa-sianseng menggelengkan kepala.
"Dia belum mengeluarkan kewibawaan jurus keluarga Lamkiong. Kelihatannya tidak perlu lima jurus Lamkiong Po akan kalah!"
Benar saja, setelah tiga jurus, Lamkiong Po terpaksa harus bertahan atas serangan pedang Coat-suthay.
Setelah bertahan, pedang Lamkiong Po patah menjadi dua.
Dia tidak mundur, malah maju.
Dengan pedang yang patah terus menyerang Coat-suthay.
Coat-suthay tertawa dingin.
Dengan jurus 'Tan-hong-cauw-yang' (Burung Hong melihat matahari), pedangnya diayunkan ke pedang Lamkiong Po kemudian diangkat dan diturunkan.
Pedang sudah menggaris di kaki Lamkiong Po.
Walaupun digaris hanya setengah kaki juga sangat tipis tapi bertarung sampai tahap sekarang, kalah dan menang sudah sangat jelas.
Simbal segera berbunyi.
Coat-suthay segera menurunkan pedang.
Dia tertawa sombong.
"Pada Ceng-hong-kiam sama sekali tidak ada setetes darahpun!"
Bwe Au-siang dan Cia Soh-ciu berdua cepat keluar memapah Lamkiong Po dari kiri dan kanan. Cu Kun-cau segera mengumumkan.
"Pertarungan pertama Coat-suthay menang!"
Pengumuman baru diucapkan, Siau Cu segera berteriak.
"Tidak adil!"
"Apa?"
Dengan sorot mata benci, Cu Kun-cau melihat Siau Cu.
"Pedang yang digunakan Coat-suthay adalah pedang pusaka, sedangkan pedang Lamkiong Po ada lah pedang biasa!"
"Di rapat ini tidak ada aturan harus memakai pedang apa. Sebenarnya Lamkiong Po juga bisa meng gunakan pedang pusaka!"
Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 63
"Tapi aturan rapat sudah ditentukan hanya sampai titik tertentu!"
Kata Siau Cu.
"Betul. Coat-suthay sudah bisa mematahkan pedang, seharusnya sudah menang. Mengapa harus dilanjutkan sampai melukai orang?"
Kata Cia Soh-ciu. Cu Kun-cau masih ingin membela. Coat-suthay sudah mengeluarkan suara.
"Salah Lamkiong Po, mengapa pedang sudah patah dan sudah kalah, masih terus menyerang?"
"Dengan ilmu silat Suthay, apakah harus melukai orang baru bisa mencairkan serangan dari Lamkiong Po?"
Bwe Au-siang berkata. Coat-suthay tertawa dingin.
"Terserah mencairkan serangan dengan cara apa. Kata orang, bertarung dengan cepat dan selesai kan dengan cepat, saat seperti sekarang ini siapa yang 5 tertarik main-main?"
"Yang penting pertarugan ini tidak adil!"
Kata Siau Cu.
"Kalau kau tidak terima, kau boleh maju menyerangku!"
Coat-suthay dengan sorot mata seperti kilat melihat Siau Cu. Dada Siau Cu ditegakkan.
"Baik!"
Dia segera maju. Tapi Lo-taikun segera membentak.
"kembali ke tempat!"
"Lo-taikun!"
Teriak Siau Cu.
"Kata-kata Coat-suthay tidak salah. Yang salah adalah Lamkiong Po yang belajar ilmu silat belum sempurna!"
Kemudian dengan tongkat kepala naga menunjuk kepada Lamkiong Po.
"Cepat mundur!"
Siau Cu menghentakkan kaki. Dia membalikkan tubuh segera pergi. Coat-suthay melihat Lo-taikun, dia tertawa dingin.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 64
"Dulu keluarga Lamkiong dengan ilmu pedangnya terkenal di dunia persilatan. Tidak disangka satu generasi lebih buruk daripada generasi sebelumnya. Sampai generasi sekarang tidak sanggup menerima 20 jurusku!"
Semua orang keluarga Lamkiong terus meli-hat Coat-suthay, tapi Coat-suthay seperti tidak mera-sa apa-apa, dia terus berkata.
"Lo-taikun, mengapa kau tidak bertindak sendiri, malah menyuruh generasi muda yang keluar memalukan keluarga?"
Dua alis Lo-taikun melayang.
"Suthay, kalah menang sudah ada hasilnya, harap kau mundur dulu..."
"Pertarungan tadi bisa tidak dihitung, lebih baik Lo-taikun sendiri yang bertarung agar orang lain tidak berkata aku menghina angkatan muda!"
Coat-suthay terus memaksa."
"Bila Suthay ingin bertarung denganku, bisa memilih waktu yang lain. Lebih baik rapat Pek-hoa-couw tetap mengikuti aturan-aturan yang selalu digunakan!"
"Baik! Kau sudah berjanji!"
Coat-suthay menyarungkan pedang dan mundur.
"Silahkan, Siau-ongya!"
Kata Lo-taikun. Cu Kun-cau segera berteriak.
"Babak kedua adalah Bu-tong-pai, Lu Tan melawan Hoa-san-pai, Siau Sam!"
Tidak ragu lagi ilmu silat Siau Sam Kongcu berada di atas Lu Tan.
Terlihat pertarungan ini sangat jelas mana yang menang dan kalah.
Tapi tidak ter-duga, hasilnya adalah Siau Sam Kongcu dan Lu Tan dengan pedang pada waktu yang bersamaan meme-cahkan baju lawan.
Maka hasil pertarungan adalah sama kuat.
Semua orang bisa melihat Siau Sam Kongcu sengaja mengalah dan Siau Sam Kongcu tidak ingin merebut nama Thian-sia-te-it-kiam.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 65 Pertarungan pedang hari pertama sudah sele-sai, dilanjutkan dengan mengundi urutan hari kedua.
Urutan pertama adalah Tiong Toa-sianseng menghadapi Siau Sam Kongcu.
Coat-suthay menghadapi Lu Tan.
Cu Kun-cau melihatnya, dalam hati tertawa dingin.
Walaupun dia tidak tahu ilmu silat setinggi apa, tapi dia yakin tidak akan di bawah Siau Sam Kongcu.
Kecuali seperti Siau Sam Kongcu berha-dapan dengan Lu Tan dengan hasil sama.
Kalau tidak, menang atau kalah Siau Sam Kongcu pasti terkuras tenaganya.
Asal La-cai bisa memanfaatkan kesem-patan ini, pada waktu Siau Sam Kongcu masih lemah, membunuhnya bukan hal yang sulit.
Luka Lamkiong Po tidak begitu berat.
Setelah dibalut dengan obat dia bisa bergerak seperti biasa lagi.
Hanya saja karena tidak sampai 20 jurus sudah kalah oleh Coat-suthay, hal ini terus terbayang-bayang.
Lo-taikun tidak marah, dia sendiri yang mem balut luka Lamkiong Po.
Setelah menghibur dengan beberapa kata, dia menyuruh Lamkiong Po tidur baru pergi dengan orang lain.
Bwe Au-siang ingin tinggal, tapi Lo-taikun menyuruh dia keluar.
Sesampainya di ruang tamu, Lo-taikun baru berkata.
"Hari ini Po-ji terluka oleh pedang Coat-suthay. Aku yakin semua sudah melihat dengan jelas keadaan ini."
"Heng-san-pai adalah perkumpulan besar dan terkenal. Coat-suthay menghadapi angkatan muda dengan pedang pusakanya. Jurus-jurusnya ganas dan kejam. Semua melanggar peraturan di sini, apakah kalian tidak merasa aneh?"
Kata Lo-taikun menatap semua orang.
"Maksud Lo-taikun, Coat-suthay ingin mencabut nyawa suamiku?"
Tanya Bwe Au-siang. Lo-taikun mengangguk.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 66
"Kalau bukan karena Po-ji sangat lincah, mungkin nyawanya sudah hilang. Paling sedikit kaki kanannya akan tertepis!"
"Coat-suthay benar-benar kejam!"
Bwe Au-siang marah.
"Apalagi ucapannya menusuk hati, kalau di rapat tidak merundingkan ilmu pedang..."
Beng-cu memotong.
"Orang itu harus diberi pelajaran. Jangan biarkan dia menganggap remeh keluarga Lamkiong!"
"Ilmu silatnya tinggi, Ceng-hong-kiam sangat tajam, ingin mengalahkannya bukan hal yang mudah!"
Lo-taikun tertawa.
"Mengapa dia seperti selalu mencari gara-gara dengan keluarga Lamkiong?"
Tanya Beng-cu.
"Karena dulu dia pernah kalah total oleh pedangku. Tidak disangka orang itu berjiwa sempit. Sampai saat ini masih berpikir cara membalas dendam kepadaku!"
Kata Lo-taikun.
"Walaupun begitu, seharusnya dia tidak melampiaskannya kepada generasi di bawah keluarga Lamkiong!"
Seru Cia Soh-ciu.
"Benar! Perkumpulan besar dan terkenal kalau bertarung dan kalah seharusnya menyalahkan diri sendiri tidak cukup tinggi ilmu silatnya. Mana bisa terus dendam!"
Kata Tong Goat-go. Kiang Hong-sim tertawa dingin.
"Apa bedanya perkumpulan terkenal dengan perkumpulan sesat? Bukankah anak laki-laki keluarga Lamkiong satu per satu mati dijebak perkumpulan besar dan terkenal?"
Kalimat ini terucap keluar selain Lamkiong Beng-cu, semua mengeluarkan sikap benci. Tong Goat-go lebih tergesa-gesa, dia segera berteriak.
"Kita ke sana dan bunuh nikoh jahat itu!"
Tentu saja Bwe Au-siang setuju. Dia mendekati Tong Goat-go. Lo-taikun melihat mereka dan menggelengkan kepala.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 67
"Yang salah adalah Coat-suthay. Jika kita pergi mencari Coat-suthay, itu adalah salah keluarga Lamkiong. Masalah kecil tidak ditahan akan menimbulkan masalah besar. Aku hanya mengingatkan kalian seperti apa Coat-suthay dari Heng-san-pai itu menghina keluarga Lamkiong!"
"Bila balas dendam, 3 tahun kemudian pun belum terlambat!"
Kata Lo-taikun.
Lalu dia berpesan kepada semua agar pulang untuk beristirahat.
Hanya tersisa Cia Soh-ciu dan Kiang Hong-sim.
Tadinya Beng-cu ingin terus di sana, tiba-tiba dia merasa ada perasaan aneh.
Orang-orang Keluarga Lamkiong seperti berbeda, tidak seperti dulu.
Dia mulai percaya apa yang dikatakan Lamkiong Po.
Kalau Guru Siau Cu benar dibunuh oleh orang keluarga Lamkiong, bila diketahui oleh Siau Cu, apa yang bakal terjadi?
Dia bingung, dalam sikap bingungnya dia pun meninggalkan tempat.
Setelah semua pergi, Lo-taikim baru bertanya kepada Cia Soh-ciu dan Kiang Hong-sim.
"Pertarungan besok, bagaimana menurut kalian?"
Cia Soh-ciu langsung menjawab.
"Dengan gaya yang dimiliki Coat-suthay, Lu Tan pasti akan terbunuh oleh pedangnya. Kalau dia bicaranya masih seperti itu begitu tajam, kelak Heng-san-pai dan Bu-tong-pai akan menjadi musuhnya!"
"Kedatangan Coat-suthay bisa dikatakan yang diatas lah yang telah membantu keluarga Lamkiong. Asalkan sedikit menghasut, mereka akan saling bunuh, kita bisa menghemat banyak waktu!"
Lo-taikun bertanya.
"apakah pertarungan antara Tiong Toa-sianseng dan Siau Sam Kongcu bisa ditangani dengan mudah?"
"Tetapi karena Tiong Toa-sianseng menikahkan Tiong Bok-lan kepada keluarga Lamkiong menurutku, Bok-lan dan Siau Sam Kongcu seperti ubi bunga teratai, sambung menyambung dan tiada habis nya!"
Jelas Kiang Hong-sim.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 68
"Baik, bila besok Tiong Toa-sianseng dan Siau Sam Kongcu benar-benar bertarung dan ada yang terluka atau bahkan mati, Hoa-san-pai dan Kun-lun akan menjadi musuh bertahun-tahun!"
"Bok-lan bisa diperalat!"
Ide jahat Kiang Hong-sim timbul lagi.
"kita atur Tiong Bok-lan bertemu dengan Siau Sam Kongcu, kemudian terlihat oleh Tiong Toa-sianseng. Itu akan membuat mereka benar-benar bertarung!"
Cia Soh-ciu sedikit ragu, tanpa berpikir Lo-taikun setuju.
Kiang Hong-sim segera mencari Tiong Bok-lan.
Saat itu Tiong Bok-lan baru tiba di kamarnya, dia mengkhawatirkan pertarungan esok hari dan tidak bisa tidur.
Melihat Kiang Hong-sim mencarinya, dia mengira kalau Lo-taikun membawa pesan.
Tidak disangka ucapan Kiang Hong-sim yang pertama adalah.
"Apakah kau mengkhawatirkan mengenai per tandingan ilmu pedang besok?"
Tiong Bok-lan menganggguk.
"Kau berharap siapa yang bakal menang?"
"Apakah hasilnya tetap akan sama,"
Tanya Tiong Bok-lan.
"Lebih baik kita berunding dulu. Bisa bertanding dengan imbang seperti Siau Sam dan Lu Tan, pada akhirnya akan menutup pertandingan dengan baik!"
Angguk Kiang hong-sim. Tiong Bok-lan tertawa kecut. Yang paling ideal adalah seperti itu tapi dia tahu itu tidak mungkin bakal terjadi.
"Aku lihat ini tidak mudah!"
Kiang Hong-sim mengawasi perubahan Tiong Bok-lan.
"menurutku, ayahmu yang berpengalaman di bidang ilmu silat, tapi Siau Sam Kongcu masih muda, dia lebih bisa bertahan. Aku takut ayahmu kurang tenaga dan posisinya akan berada di bawah ilmu pedang Siau Sam Kongcu!"
Bok-lan menggelengkan kepala.
"Bukankah akan sampai di titik tertentu?"Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 69
"Pedang tidak mempunyai mata. Dia dikuasai oleh manusia. Kau juga lihat paman keempat dan Coat-suthay, walaupun tidak ada dendam tetap seperti itu! Apakah kau mau melihat salah satu dari mereka terluka?"
"Menurutmu, apa yang harus kulakukan?"
Tanya Tiong Bok-lan.
"Dari pihak ayahmu, kau sulit bicara, lebih baik kau bicara kepada Siau Sam Kongcu, suruh dia bertahan dulu!"
Tiong Bok-lan terdiam. Kiang Hong-sim tiba-tiba seperti kelepasan bicara.
"Aku tidak sengaja bicara itu, jangan taruh di hati!"
Dia pun keluar, dia sadar betul kata-katanya sampai di sini saja sudah cukup.
Dia juga tahu Tiong Bok-lan akan ingat dengan apa yang dia katakan tadi.
Bersamaan waktu Cia Soh-ciu mencari Siau Sam Kongcu.
Dia tahu kalau Siau Sam Kongcu sedang bersama Siau Cu, dia segera pergi mencari Beng-cu.
Beng-cu ternyata tidak bisa tidur.
Cia Soh-ciu tidak tahu Lamkiong Po sudah memberitahu Beng-cu dan curiga kalau Lam-touw mati di tangan orang-orang keluarga Lamkiong.
Melihat Beng-cu bersikap seperti itu, dia masih mengira kalau Beng-cu sedang merindukan Siau Cu.
Cia Soh-ciu tidak senang tapi karena harus mengikuti Lo-taikun, dia menyuruh pelayan mengundang Siau Cu.
Beng-cu ingin menolak tapi entah harus meng gunakan alasan apa.
Dalam hati saling bertentangan dan kacau.
Siau Cu mencari Siau Sam Kongcu yang tadi bagi Lamkiong Po dengan pedang Coat-suthay.
Dia berharap pertarungan yang akan terjadi besok antara Siau Sam Kongcu dan Tiong Toa-sianseng, bisa seperti saat dia bertarung dengan Lu Tan.
Hasilnya akan seimbang.
Siau Cu juga melihat Tiong Toa-sianseng dan Siau Sam Kongcu bersikap tidak bersahabat.
Dia juga tahu kalau tidak hati-hati bicara akan membuat masalah ini lebih runyam.
Dia bicara berbelit-belit baru sampai pada inti pembicaraan.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 70
"Besok untuk pertarungan dengan Tiong Toa-sianseng, kau mempunyai berapa persen keyakinan untuk menang?"
"Satu persen pun tidak ada!"
Tanpa berpikir Siau Sam Kongcu menjawab seperti itu.
"Sebelum berperang kau sudah takut terlebih dulu, apa pun yang kita kerjakan kita harus mempunyai kepercayaan diri terlebih dulu!"
Hibur Siau Cu.
"Thian-liong-kiam-hoat dari Kun-lun sangat lengkap dan perubahan yang terjadi sangat banyak. Walaupun aku berusaha sekuat tenaga belum tentu bisa mengimbanginya!"
"Tapi kau masih muda.
"Tiong-cianpwee pun kuat walaupun beliau sudah tua."
"Untung hanya sampai pada titik tertentu. Aku tidak berharap di antara kalian ada yang terlukai"
Akhirnya Siau Cu mengatakan isi hatinya. Siau Sam Kongcu tertawa. Dia tidak mengeluarkan pendapatnya. Waktu itu pelayan datang mengundang Siau Cu ke kamar Beng-cu.
"Sekarang? Apakah harus ke sana?"
"Kau tidak mau ke sana?"
Pelayan itu balik bertanya.
"Pasti akan ke sana. Entah ada masalah apa?"
Dia menggaruk-garuk kepalanya. Pelayan itu ingin tertawa.
"Setelah kau ke sana, kau akan tahu!"
"Betul! Betul!"
Siau Cu seperti orang bodoh. Dia melihat Siau Sam Kongcu. Siau Sam Kongcu tertawa.
"Sulit menepati janji dengan perempuan. Aku tidak akan memaksamu terus di sini!"
Setelah Siau Cu dan pelayan itu pergi, tawa Siau Sam Kongcu segera menghilang.
Dia merasa ada perasaan sepi menyerang hatinya.
Dia terpaku, sampai saat Tiong Bok-lan mendorong pintu masuk untuk berkunjung, baru menyadarkan dia dan bertanya.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 71
"Siapa?"
Begitu melihat yang datang Tiong Bok-lan, dia terpaku lagi. Tiong Bok-lan menatapnya, entah harus mulai bicara dari mana.
"Kau mancariku?"
Tiong Bok-lan mengangguk.
"Kau sudah berpikir matang dan ingin ikut aku pergi?"
Siau Sam Kongcu merasa senang. Tiong Bok-lan menggelengkan kepala. Siau Sam Kongcu adalah orang pintar. Dia segera coba-coba bertanya.
"Apakah karena pertarungan besok?"
"Benar! Apakah kau bisa tidak harus melukai ayahku?"
Siau Sam Kongcu balik bertanya.
"Mengapa kau tidak memohon kepada ayahmu, sampai pada waktunya untuk melepaskanku."
"Aku rasa itu tidak perlu!"
"Apakah kau kira dengan ilmu silatku ini bisa melukai ayahmu? Kau salah perkiraan, aku belum mencapai pada tahap setinggi itu!"
"Itu karena kerendahan hatimu!"
Tiong Bok-lan menarik nafas.
"apa pun itu, ayah adalah satu-satunya keluargaku. Dia sudah tua, aku tidak berharap dia akan terluka!"
"Bagaimana kalau aku yang terluka di bawah pedang ayahmu?"
Tiong Bok-lan terdiam.
145-145-145 Lo-taikun sekarang muncul di kamar Tiong Toa-sianseng.
Tiong Toa-sianseng tahu kalau Lo-taikun yang tiba-tiba datang itu pasti karena ada masalah penting.
Dia tetap dengan sabar mendengar hingga Lo-taikun bicara.
Tiong Toa-sianseng mempunyai kesabaran luar biasa.
"Bok-lan menikah dan masuk ke keluarga Lamkiong sudah beberapa tahun."
Akhirnya Lo-taikun membuka suara.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 72
"Betul!"
Begitu mendengar cerita mengenai Bok-lan, hati Tiong Toa-sianseng merasa tidak enak.
"Keluarga Lamkiong benar-benar tidak beruntung. Bok-lan baru masuk ke keluarga Lamkiong, Sie-ji langsung meninggal..."
Lo-taikun menarik nafas dalam.
"Apakah Bok-lan telah melakukan hal yang merusak aturan?"
Tanya Tiong Toa-sianseng. Wajah Lo-taikun tidak berubah. Dia menggelengkan kepala.
"Keluarga Lamkiong mempunyai 5 janda, pasti ada yang mengatakan hal tidak benar. Harap Tiong Toa-sianseng jangan mudah percaya begitu saja!"
"Itu sudah pasti dan aku tidak akan mengijin-kan Bok-lan melakukan hal yang memalukan keluarga Lamkiong!"
"Bok-lan selalu menuruti aturan, Tiong Toa-sianseng bisa tenang! Hanya saja Siau Sam..."
"Apa yang terjadi pada Siau Sam?"
"Katanya dulu Siau Sam Kongcu pernah melamar Bok-lan dan ditolak oleh Sianseng?"
"Benar, pernah terjadi seperti itu. Apakah Siau Sam, dia..."
"Dia tidak apa-apa, aku hanya merasa khawatir!"
"Khawatir?"
"Katanya Tiong Toa-sianseng dan katanya gara-gara ini, Siau Sam Kongcu merasa tidak enak satu sama lain!"
Tiong Toa-sianseng tertawa tapi tidak menjawab.
"Selama ratusan tahun Hoa-san dan Kun-lun tidak bermasalah! Lo-taikun tenanglah, kita bukan anak kecil lagi. Tidak akan hanya karena masalah pribadi jadi merusak hubungan 2 perkumpulan ini."
"Kalau Siau Sam Kongcu mempunyai pikiran seperti itu, akan lebih baik!"
Kata-kata Lo-taikun ini pasti sengaja diucapkan.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 73 Tiong Toa-sianseng hanya tertawa.
Setelah Lo-taikun mengatakan beberapa kalimat, dia segera pergi dari sana.
Dia bisa melihat Tiong Toa-sianseng akan menyimpan kata-katanya tadi di dalam hati dan pasti akan mencari Siau Sam Kongcu.
Tidak jauh di luar dugaannya.
146-146-146
"Pandanglah aku! Berjanjilah padaku!"
Sambil bicara, mata Tiong Bok-lan tampak berkaca-kaca.
"Bertarung ilmu pedang secara persahabatan, seharusnya mengeluarkan apa pun yang kita miliki. Kalau masing-masing mengalah, tidak ada artinya!"
Siau Sam Kongcu tertawa kecut. Dia tidak lupa tadi pagi pertarungan yang terjadi adalah seimbang. Tiong Bok-lan tidak terpikir, hanya berkata.
"Aku hanya takut kalian akan bertarung sung guhan!"
"Tapi mengapa kau hanya bicara kepadaku?"
"Ayahku sudah tua..."
"Kau benar-benar anak berbakti!"
Siau Sam Kongcu tertawa kecut.
"sebenarnya kau harus berpikir untuk dirimu sendiri juga!"
"Kau benar-benar tidak mau mengalah?"
Air mata Tiong Bok-lan menetes lagi.
"Baiklah! Baiklah!"
Siau Sam Kongcu menarik nafas dalam-dalam. Dia menghapus air mata Tiong Bok-lan dengan lengan bajunya. Tiong Bok-lan tertawa.
"Aku tahu kau pasti akan setuju!"
"Coba lihat dirimu!"
Siau Sam Kongcu mengangkat dagu Tiong Bok-lan dan menggelengkan kepala.
Empat mata saling pandang.
Bok-lan merasa malu.
Dia masuk ke dalam pelukan Siau Sam Kongcu.
Siau Sam Kongcu pelan-pelan memeluk Tiong Bok-lan.
"Bok-lan!"
Ada yang berteriak.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 74 Pintu didobrak, Tiong Toa-sianseng masuk.
Siau Sam Kongcu dan Tiong Bok-lan berteriak terkejut dan saling melepaskan diri, tapi sudah tidak sempat.
Tiong Toa-sianseng sudah melihat semuanya.
Janggutnya terlihat bergetar.
"Bok-lan, mengapa kau di sini?"
Tiong Bok-lan belum sempat menjawab. Tiong Toa-sianseng langsung marah kepada Siau Sam Kongcu.
"Marga Siau, berani sekali kau menggoda putriku? Di Hoa-san-pai ternyata ada orang yang tidak tahu malu!"
"Ayah, semua ini tidak ada hubungan dengan nya!"
Tiong Bok-lan cepat-cepat membela.
"Berarti ini semua idemu?"
Tiong Toa-sian-seng semakin marah.
"ayah sudah beberapa kali mengatakan kepadamu, kau tidak pernah mau mendengarnya dan sekarang kau melakukan hal yang merusak citramu sendiri. Kau benar-benar perempuan jalang!"
"Ayah!"
Tiong Bok-lan berteriak sedih.
"Aku tidak punya putri seperti kau! Pergi, pergi kau!"
Tiong Toa-sianseng menunjuk pintu. Tiong Bok-lan menangis, dia berlari keluar. Siau Sam Kongcu ingin mengejarnya tapi dihalangi oleh Tiong Toa-sianseng.
"Tidak disangka biasanya Sianseng sangat bijak dan pintar, sekarang tidak bisa membedakan mana yang hijau dan mana yang putih!"
Kata Siau Sam Kongcu.
"Apa katamu? Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri apa yang terjadi!"
"Kami terang-terangan..."
"Satu laki-laki dan satu perempuan berpelukan di dalam kamar. Kau masih mengatakan kalian bersikap terang-terangan!"
Tiong Toa-sianseng tertawa dingin. Siau Sam Kongcu terpaku.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 75
"Karena Anda tidak tahu..."
"Aku tahu semuanya dengan jelas!"
"Kalau Anda tahu dengan jelas siapa Bok-lan, Bok-lan tidak akan seperti itu sekarang."
"Kalau aku menikahkan Bok-lan denganmu, orang yang tidak tahu malu, akibatnya tidak bisa terbayangkan!"
"Marga Tiong, bicara harus sopan, jangan salahkan aku!"
"Ada apa denganmu? Malam ini kau harus diberi pelajaran!"
"Ingin memberi pelajaran kepadaku, besok adalah kesempatan yang bagus, tidak perlu sekarang!"
Siau Sam Kongcu tertawa dingin.
"Baik! Besok kita lihat!"
Tiong Toa-sianseng tertawa dingin. Su Yan-hong, Fu Hiong-kun, Su Ceng-cau, dan Lu Tan mendengar amarah dan bentakan. Mereka segera keluar.
"Ada apa, Guru?"
Tanya Su Yan-hong.
"Tidak ada apa-apa. Aku hanya datang mencarinya dan berdiskusi tentang ilmu silat tapi dia sangat sombong jadi aku ingin malam ini juga memberinya pelajaran!"
Kepala Tiong Toa-sianseng mendingin dan terpikir kalau keburukan keluarganya tidak boleh sampai tersebar keluar. Tapi Su Ceng-cau berteriak.
"Aku tahu tidak seperti itu, pasti guruku yang mulai dulu!"
Kata-kata berikutnya belum berlanjut, mulutnya sudah disumbat oleh Fu Hiong-kun dan berkata.
"Jika kau tidak tahu jangan sembarangan bicara!"
Setelah itu dia menarik Su Ceng-cau keluar dari sana. Su Yan-hong adalah orang pintar. Dengan cepat berkata.
"Malam sudah larut, besok masih bisa melaku kan perundingan ilmu pedang, lebih baik kita pulang ke kamar masing-masing untuk beristirahat!"
Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 76 Tiong Toa-sianseng tertawa dingin. Setelah berjalan selangkah, dia menoleh dan berkata.
"Marga Siau, besok aku akan mewakili Hoa-san-pai memberimu pelajaran!"
Siau Sam Kongcu hanya tertawa dingin.
147-147-147 Beng-cu dan Siau Cu sama sekali tidak tahu kalau pertemuan ini diperalat.
Sekarang mereka sedang berjalan-jalan di belakang taman bunga.
Sepanjang jalan Beng-cu diam saja.
Akhirnya Siau Cu tidak tahan lagi.
"Mengapa kau diam saja?"
Beng-cu menggelengkan kepala, dia ingin mengatakan sesuatu tapi tidak bisa keluar. Siau Cu tertawa.
"Aku sudah berpikir lama dan jelas, setelah aku bertemu dengan orang yang membunuh guruku dan berhasil membalaskan dendamnya, aku baru bisa menikah denganmu!"
Beng-cu menunduk. Air matanya menetes.
"Bagaimana menurutmu dengan rencanaku?"
Beng-cu terus menggelengkan kepala dia menutup wajahnya dan berlari. Siau Cu mengejarnya dan berteriak.
"Beng-cu!"
Beng-cu terus berlari.
"Apakah itu yang membuatmu tidak bisa menunggu?"
Siau Cu malah berpikir yang lain.
"kau harus lebih mengerti akan diriku!"
Dia percaya Beng-cu bisa mengerti, dia tidak mengejarnya lagi.
Karena tidak enak hati setelah tiba di kamar Siau Cu tidak bersemangat.
Tadinya Lu Tan ingin membicarakan tentang Siau Sam Kongcu dan Tiong Toa-sianseng.
Tapi Lu Tan tidak membicarakannya, malah bertanya.
"Ada apa denganmu?"Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 77
"Anak perempuan sulit dimengerti. Tapi tidak apa-apa, nanti kalau dia sudah tenang, dia akan tahu kalau dia salah dan tidak akan marah lagi!"
Siau Cu mulai tertawa lagi dan bertanya.
"besok kau akan bertarung dengan Coat-suthay, kau harus memperlihatkan kelihaianmu!"
"Ilmu silatku seperti apa, kau sudah tahu sangat jelas! Dan Coat-suthay tidak hanya berilmu tinggi, dia juga mempunyai pedang tajam yang bisa menepis besi seperti tahu!"
"Kau juga bisa mendapatkan pedang seperti itu."
"Aku harus mencarinya ke mana?"
"Kau tidak perlu khawatir mengenai ini. Aku yang akan bertanggung jawab untuk masalah ini!"
Sesuai sifat Siau Cu, dia tidak akan berbohong, dia hanya ingin membuat Lu Tan tenang.
Lu Tan sangat berterima kasih kepada Siau Cu.
Ada atau tidaknya pedang pusaka, pertarungan esok hari dia sama sekali tidak peduli.
Mempunyai teman seperti Siau Cu saja sudah membuatnya merasa puas.
148-148-148 Malam sudah berlalu.
Perundingan ilmu pedang dimulai lagi.
Hari ini langit Pek-hoa-couw terang, tapi suasana perundingan lebih buruk dari kemarin.
Begitu Tiong Toa-sianseng dan Siau Sam Kongcu mendekat walaupun pedang masih berada di sarung masing-masing tapi aura membunuh mereka sudah terasa sampai di sudut mata.
"Lihat mereka, seperti akan melakukan pertarungan hidup dan mati!"
Sampai Su Ceng-cau pun bisa melihatnya.
"Semoga tidak terjadi apa-apa!"
Kata Su Yan-hong.
Pedang akhirnya dikeluarkan dari sarung.
Begitu jurus dikeluarkan langsung jurus ganas.
Siau Sam Kongcu terus menyerang.
Terlihat kalau dia ingin dengan waktu singkat menyelesaikan semuanya dan ingin menepis Tiong Toa-sianseng hingga roboh.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 78 Itu adalah keinginannya.
Begitu Thian-liong-kiam milik Tiong Toa-sianseng diperagakan, ilmunya sangat lengkap.
Begitu melihat Siau Sam Kongcu, dia marah tapi masih bisa menenangkan diri.
Tubuh dan langkah-langkah kakinya tidak kacau.
Siau Sam Kongcu memang masih muda.
Sema kin bertarung dia semakin berani.
Tenaganya seperti air sungai mengalir deras terus menggulung datang.
Tiong Toa-sianseng seperti tiang yang berdiri tegak dalam hempasan aliran sungai, berdiri dengan kokoh dan tidak bergerak.
Berturut-turut jurus Thian-long dikeluarkan.
Dalam setiap serangannya terlihat ada gerakan bertahan, saat bertahan ada saat menyerang.
Setiap kali saat diulang akan menimbulkan kekuatan yang semakin besar juga semakin padat, membuat serangan Siau Sam Kongcu terhalang di luar.
Serangan Siau Sam Kongcu yang tadinya cepat menjadi pelan.
Sewaktu tenaga lamanya akan habis dan tenaga barunya belum menyambung, terlihatlah lowongan.
Pedang Tiong Toa-sianseng segera masuk dan menyerang ke arah tenggorokan Siau Sam Kongcu.
Serangan ini kecepatannya di luar dugaan, Siau Sam Kongcu, ingin menghindar tapi sudah tidak sempat lagi.
Terlihat pedang akan menusuk tenggorokannya tapi tiba-tiba menyenggol dan menepis pundak kiri Siau Sam Kongcu.
Walaupun menusuk masuk hingga ke dalam kulitnya tidak mencapai 1 inchi tapi tenaga dalam yang mengaliri pedang menggetarkan organ dalamnya.
Siau Sam Kongcu mundur 3 kaki.
Darah seperti air muncrat.
Dia tertawa sedih.
"Thian-liong-kiam-hoat dari Kun-lun benar-benar tidak percuma!"
Tiong Toa-sianseng tertawa dingin.
"Sebenarnya jurus tadi bisa mencabut nyawamu, tapi tujuanku hanyalah ingin memberimu pelajaran bukan untuk membunuhmu!"
Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 79
"Aku akan selalu ingat pelajaran yang kau berikan tadi!"
Siau Sam Kongcu segera berbalik dan pergi. Tidak ada seorang pun yang menghalanginya. Tiong Bok-lan menundukkan kepalanya. Lo-taikun sangat senang tapi yang paling senang adalah Cu Kun-cau.
Baca Juga: Dendam Membara Kho Ping Hoo
Baca Juga: Golok Sakti 7