Ceritasilat Novel Online

Legenda Pendekar Ulat Sutera 6

Eps 6 Legenda Pendekar Ulat Sutera - Huang Ying

Baca online Legenda Pendekar Ulat Sutera - Huang Ying

Cersil Legenda Pendekar Ulat Sutera - Huang Ying.

"Babak kedua Coat-suthay dari Heng-san-pai, akan berhadapan dengan Lu Tan dari Bu-tong!"

Cu Kun-cau segera mengumumkan dengan suara senang. Coat-suthay keluar. Cu Kun-cau diam-diam mundur. Dia mengejar dari belakang Siau Sam Kongcu. Siau Cu membawa sebuah pedang ke depan Lu Tan.

"Peganglah pedang ini, kau pasti akan lebih tenang!"

Lu Tan melihatnya.

Pedang itu adalah Liong-im-kiam milik Su Yan-hong.

Saat sorot mata Su Yan-hong menatapnya, dia mengangguk sambil tersenyum.

Walaupun tidak berkata apa-apa tapi perhatian dan pemberian semangat terpancar keluar dari matanya.

Dalam hati terharu.

Dia mencabut pedangnya.

"Murid Bu-tong Lu Tan, berharap Lo-cian-pwee memberi petunjuk!"

Coat-suthay melihat Liong-im-kiam itu. Dia tertawa dingin.

"Pedang yang bagus harus digunakan oleh pesilat baik baru bisa menghasilkan kekuatan dahsyat!"

"Boanpwee pasti akan berusaha!"

Lu Tan tetap bicara dengan hormat.

Coat-suthay tidak membenci Lu Tan.

Tapi sifatnya fanatik begitu terpikir ilmu silat yang dikuasai Lu Tan sama sekali belum pantas menggunakan pedang pusaka itu.

Dalam hati segera merasa tidak enak.

Mulutnya segera berkata.

"Rapat ilmu pedang di Pek-hoa-couw menyangkut nama baik sebuah perkumpulan. Apakah Bu-tong-pai benar-benar tidak adaLegenda Pendekar Ulat Sutra -3 80 penerus lain dan terpaksa mengirimkan orang yang tidak bernama datang kemari untuk mempermalukan perkumpulan mereka sendiri?"

Walaupun Lu Tan tahu seperti apa sifat Coat-suthay, tapi ucapan Coat-suthay tadi membuatnya marah, dia tidak berkata apa-apa lagi.

Dia hanya memegang pedang dan menggeser kakinya ke sekeliling Coat-suthay.

Coat-suthay terlihat seperti tidak peduli.

Dia hanya menatap Lu Tan dengan dingin.

149-149-149 Cu Ceng-cau mengejarnya sampai ke sisi danau dan menemukan Siau Sam Kongcu di sana.

"Untuk apa kau mengejarku sampai ke sini?"

Siau Sam Kongcu menoleh dan menatap Cu Ceng-cau dengan dingin. Di bawah pundak baju kirinya penuh dengan darah.

"Aku akan membalut lukamu!"

"Tidak perlu!"

"Lukamu separah apa?"

"Tidak berat. Seharusnya pedangnya menusuk hingga ke dalam tenggorokanku agar aku tidak perlu hidup di dunia ini lagi untuk menahan kesedihan!"

Su Ceng-cau merasa sedih. Dia ingin menghibur tapi Siau Sam Kongcu sudah mengayunkan tangan.

"Lebih baik kau kembali ke sana!"

"Aku tidak tenang..

"Aku hanya mengalami luka luar, tidak apa-apa!"

Siau Sam Kongcu melompat ke atas sebuah sampan dan mendayung pergi! "Guru, jaga dirimu baik-baik!"

Su Ceng-cau terpaksa melambaikan tangannya.

Siau Sam Kongcu tertawa sedih.

Dia mendayung dengan cepat.

Su Ceng-cau menggelengkan kepala dan membalikkan tubuh, tapiLegenda Pendekar Ulat Sutra -3 81 di sudut matanya dia melihat ada sebuah sampan kecil muncul dari bawah pohon Yang-liu, ada yang mendayung ke arah Siau Sam Kongcu.

Orang yang ada di atas sampan itu adalah La-cai.

Su Ceng-cau tidak lupa pada hweesio itu.

Setelah berpikir, dia segera kembali.

150-150-150 Akhirnya pedang Lu Tan menyerang.

Liong-im-kiam yang ada di tangan dengan tenang diperagakan.

Ilmu pedang Bu-tong-pai sangat bagus.

Walaupun belum sempurna menguasainya tapi begitu digunakan tetap terlihat bagus.

Pedang semakin mendekat.

Pedang Coat-suthay baru dikeluarkan dari sarung.

Sambil mencairkan serangan Lu Tan dia memberitahu celah-celah dari ilmu pedang Lu Tan.

Dari jurus pertama saja sudah membuat Lu Tan tertekan.

Tapi dalam hati Lu Tan sangat mengerti apa 1 yang dikatakan Coat-suthay adalah benar.

Maka begitu selesai bertarung, dia mendapat banyak kebaikan.

Tapi bersamaan waktu dia juga merasa malu di hadapan banyak orang.

Dia ingin Coat-suthay dalam beberapa jurus mengalahkan dia.

Tapi Coat-suthay tidak bermaksud seperti itu dia juga tidak sanggup memaksa Coat-suthay melakukannya.

Ini sangat menyedihkan.

Benarkah Bu-tong-pai menjadi lemah hingga sampai pada tahap seperti itu?

Sewaktu berpamitan dengan ketua perkumpulan Bu-tong dan berangkat menuju Pek-hoa-couw, Lu Tan menyimpan rasa curiga.

Sampai sekarang dia harus mengakui kalau ini adalah kenyataan sebenarnya.

Teringat pada Wan Fei-yang, dia segera bersemangat lagi.

Semua pikiran kacaunya dibuang ke pinggir.

Apa yang pernah dia pelajari dia peragakan sekarang.

Walaupun sampai kalah dia harus sekuat tenaga berusaha dan tidak mempermalukan Bu-tong-pai.

DiaLegenda Pendekar Ulat Sutra -3 82 percaya jika Wan Fei-yang kembali lagi ke dunia persilatan dia pasti akan merasa lega.

Apa yang dia peragakan bagi Coat-suthay tidak ada bedanya.

Dia tetap melayaninya dengan tenang.

Sampai jurus pedang Lu Tan selesai diperagakan, Coat-suthay baru menyerang.

Pedang masuk melalui celah.

Tenaga dalam disalurkan ke pedang.

Coat-suthay segera menggetarkannya, Lu Tan berguling ke bawah.

Sebenarnya tenaga Lu Tan sudah terkuras habis.

Lo-taikun dari Keluarga Lamkiong seperti takut kalau Coat-suthay akan menyerang Lu Tan lagi.

Dia meninggalkan tempatnya dan meloncat ke depan Lu Tan.

Dengan tongkat kepala naganya dia menghadang.

"Siapa yang kalah atau menang sudah terlihat, harap Suthay berhenti sampai di sini saja!"

Memang Coat-suthay sudah memasukkan pedang ke dalam sarungnya. Dia tertawa dingin.

"Menghadapi angkatan muda seperti dia setelah diberi pelajaran, siapa yang tega melukainya?"

Lo-taikun mundur. Lu Tan meloncat berdiri. Dia memegang pedangnya, ingin mengucapkan beberapa kalimat sungkan tapi Coat-suthay sudah tertawa dingin.

"Dulu Pendeta Kouw Bok terkenal karena ilmu pedang ini dan dianggap sebagai salah satu ilmu andalan dari 6 ilmu andalan Bu-tong-pai, ter-1 nyata hanya seperti ini!"

"Itu karena Boanpwee tidak belajar dengan benar..."

"Tetap saja sama! Apakah kalau Kouw Bok . Totiang bisa hidup kembali bisa mengalahkanku?"

"Orang mati tidak bisa hidup kembali..."

"Apakah di Bu-tong-pai masih ada pesilat , tangguh?"

"Jika Wan Fei-yang di sini, pertarungan bisa diulang kembali!"

Lu Tan berkata dengan yakin.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 83

"Wan Fei-yang?"

Kata Coat-suthay tertawa dingin.

"benar-benar payah! Sebentar menjadi pengkhianat Bu-tong-pai, sebentar dianggap murid paling berbakat dari Bu-tong-pai! Kalau menikah itu lebih membuat orang ingin tertawa!"

"Kau tahu apa?"

Lu Tan marah.

"Semua orang dunia persilatan tahu hal ini, apakah itu bukan kenyataan sebenarnya?"

"Di sini kita hanya membahas ilmu silat..."

"Bila pesilat tidak bermoral dalam bidang ilmu silat, untuk apa membicarakan ilmu silat lagi? Bu-tong-pai sudah tenggelam seperti sekarang ini, seharusnya kalian instropeksi diri. Ceng Siong sangat suka perempuan jadi sekarang putra-putrinya seperti ini, mendapat karma."

Kemarahan Lu Tan membuat tubuhnya terus bergetar. Lo-taikun segera menyela.

"Suthay, kita harus bisa memaafkan orang. Kau sudah menang dari Lu Tan, untuk apa lidahmu terus bergerak menggali kehidupan pribadi orang lain?"

"Apakah kau tidak suka dengan apa yang kukatakan?"

Coat-suthay terus melihat Lo-taikun.

"Gosip di dunia persilatan belum tentu bisa dipercaya..."

Ucap Lo-taikun. Dipotong oleh Coat-suthay.

"Ada pepatah, tidak ada angin pasti tidak akan ada gelombang. Keburukan Bu-tong-pai apakah gossip yang dibuatkan orang dunia persilatan? Semua keburukan Bu-tong-pai itu walaupun mereka ada waktu belum tentu berani mengungkapkannya!"

"Apa pun yang terjadi itu adalah masalah Bu-tong-pai, tidak ada hubungannya sedikit pun dengan Heng-san-pai!"

Lu Tan menyela.

"Maksudmu, aku terlalu mengurusi masalah orang lain?"

Kata Coat-suthay menggelengkan kepa la.

"aku hanya sedih melihat Kouw Bok Totiang, sampai pada generasi Bu-tong-pai sekarang ini,Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 84 orang yang berbakat tidak ada. Murid yang dikirim kemari pun tidak berguna!"

"Apa katamu?"

Dengan pedangnya Lu Tan menunjuk Coat-suthay.

"Kau harus sopan!"

Lo-taikun menekan pedang Lu Tan dengan tongkatnya.

Lu Tan tidak bisa menarik pedangnya dari tekanan tongkat Lo-taikun.

Dia membalikkan tubuh dan meninggalkan tempat.

Lo-taikun tidak menghalanginya, dia hanya menggelengkan kepala.

151-151-151 Sampan sudah mendarat tapi Siau Sam Kongcu tetap duduk di atas sampan.

Sampan La-cai juga sudah mendarat.

Dia juga masih duduk di dalam sampan, tidak bergerak.

"Apakah Tuan orang Keluarga Lamkiong?"

Tanya Siau Sam Kongcu.

"Bukan!"

Jawab La-cai dengan santai. Siau Sam Kongcu menolehkan kepalanya dan melihat. Dia merasa aneh dan bertanya.

"Apakah Siau-ongya yang menyuruhmu kemari?"

La-cai tertawa.

"Walaupun aku sudah sangat berhati-hati, tapi kau tetap bisa melihatku datang dari Jepang!"

"Siau-ongya menyuruh membunuhku?"

"Kau harus dibunuh!"

La-cai membawa tongkatnya dan berdiri dengan pelan. Siau Sam Kongcu mengangguk.

"Aku mengerti..."

"Kau mengerti atau tidak, sama saja!"

Tangan La-cai melayang, ada asap dan kabut meledak di udara, menyebar hingga ke wajah Siau Sam Kongcu.

Siau Sam Kongcu segera mengambil keputusan, dia meloncat ke darat.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 85 Asap dan kabut dengan cepat menyebar ke mana-mana.

La-cai tiba-tiba keluar dari sampan.

Tongkatnya menusuk tenggorokan Siau Sam Kongcu.

, Pedang patah Siau Sam Kongcu tetap dipegang.

Dia mengayunkan tangan menahannya.

La-cai membalikkan tubuhnya dan masuk ke dalam kabut lalu menghilang.

Tapi hanya sebentar La-cai sudah keluar lagi dari arah lain.

Tongkatnya memukul punggung Siau Sam Kongcu.

Walaupun Siau Sam Kongcu tidak menduganya tapi dia masih bisa mengayunkan pedangnya untuk menyambut.

Saat dia akan membalas, La-cai sudah menghilang lagi di dalam kabut dan asap.

Kali ini dia mendengar dengan benar, tapi suara baju yang terbawa angin terus terdengar dari dalam kabut suara baju terus terdengar dari segala penjuru.

Kemudian suara tongkat memukul udara terdengar.

Yang pasti dua suara itu keluar tidak secara bersamaan.

Dia tidak tahu dengan cara apa La-cai membuat banyak suara, tapi dia tahu bahwa La-cai ingin memecahkan konsentrasinya agar mudah menyerang nya.

Sekarang di mana La-cai berada?

Siau Sam Kongcu tidak bisa membedakannya lagi.

Sepasang telinganya sudah tidak bisa berfungsi.

Mata hanya bisa melihat asap dan kabut yang menggulung.

Itu hanya berlangsung sebentar tapi dia seperti sudah sangat lama merasakannya dan bingung.

Sampai tongkat La-cai memukul tubuhnya membuatnya terkejut dan tersadar.

Tongkat tanpa suara itu tiba-tiba memukul.

Begitu Siau Sam Kongcu merasakan dan ingin menghindar, tongkat itu sudah mengenai punggungnya.

Walaupun dia sudah mengatur nafas untuk melindungi tubuhnya agar bisa mencairkan sebagian tenaga yang berada di tongkat itu, tapi dia tetap merasa kalau organ dalam tubuhnya terus bergolak.

Tubuhnya juga terus condong ke depan dia hampir terjatuh.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 86 Tongkat masih datang untuk memukul sebanyak 3 kali.

Semua ditahan dengan pedang patahnya.

Walaupun terlihat repot tapi masih bisa disambut.

Sekali lagi La-cai muncul dari dalam asap dan kabut.

Tubuhnya penuh dengan asap, dia mengayunkan tongkatnya untuk mengejar.

Sambil menahan Siau Sam Kongcu tenis mundur.

Sampai dia mundur dan keluar dari kungkungan asap, sudah 3 kali tubuhnya terkena pukulan tongkat.

Tubuh, langkah kakinya, dan jurus-jurus pedangnya mulai kacau.

Tepisan Tiong Toa-sianseng memang tidak mengenai nadi penting tapi tetap saja mengganggu.

Lalu bertemu dengan pembunuh seperti La-cai, baru pertama kali dialaminya, dia sangat sulit menghadapinya.

La-cai memang ingin membunuh Siau Sam Kongcu.

Mulutnya dibuka, asap dan kabut tiba-tiba keluar dari dalam mulutnya dan menyembur ke wajah Siau Sam Kongcu.

Awalnya Siau Sam Kongcu terpaku kemudian dengan cepat membalikkan tubuh dan menyerang keluar dengan telapaknya agar asap dan kabut itu bisa berpencar.

Tapi tongkat La-cai sudah memukul nadi di pergelangan tangan kanannya yang sedang memegang pedang.

Terpaksa dia melepaskan pedangnya.

La-cai tertawa.

Tongkatnya menyapu pedang patah itu dan menyerang lagi.

Tiba-tiba ujung tongkatnya mengeluarkan sebuah golok tajam.

Ini benar-benar di luar dugaan, baru saja telapak Siau Sam Kongcu ingin menyambut serangan tongkat yang datang.

Begitu melihat kalau di tongkat itu tersimpan golok tajam, dia segera menghindar.

Membuat tangan kanannya tergores dan mengeluarkan darah.

La-cai masih terus menyerang.

Setelah 36 kali menyerang, di tubuh Siau Sam Kongcu sudah ada 4 goresan kemudian menyapu dan membuat Siau Sam Kongcu terjatuh, lalu menusuk dadanya.

Siau Sam Kongcu tidak bisa menghindar lagi.

Dengan telapak tangan kirinya dia menyambut, telapak tangan kanan siapLegenda Pendekar Ulat Sutra -3 87 menyerang.

Dia siap mengorbankan tangan kirinya untuk melawan La-cai.

La-cai melihat keinginan Siau Sam Kongcu.

Tongkatnya tidak berhenti menyerang.

Dia percaya dengan membacok putus tangan kiri Siau Sam Kongcu, baru mencabut nyawanya.

Waktu itu ada sebuah batu terbang menghampirinya dan memukul golok yang ada di ujung tongkat.

La-cai mendengar suara angin, dia bisa mengira-ngira kecepatan batu itu dan tenaganya.

Tongkat tergetar ke samping.

La-cai segera menendang tenggorokan Siau Sam Kongcu.

Dengan kedua telapaknya Siau Sam Kongcu menahan dan membalikkan tubuh lalu meloncat berdiri, tongkat La-cai masih datang untuk menusuknya.

Tapi pedang Su Yan-hong sudah datang.

Pedang menahan tongkat La-cai.

Su Ceng-cau bergerak dengan cepat.

Dia meloncat mengambil pedang patah Siau Sam Kongcu, menahannya di depan Siau Sam Kongcu, karena pedang sudah diambil oleh Su Yan-hong.

Walaupun pedang itu tidak sebagus pedang biasa, tapi tongkat La-cai juga bukan Ceng-hong-kiam yang biasa dipakai Coat-suthay.

Begitu ilmu silat Thian-liong-kiam-hoat digunakan, La-cai sulit maju selangkah pun.

Kalau tidak ada Su Ceng-cau yang datang menahan dengan pedang patah, ingin menyerang Siau Sam Kongcu sudah tidak ada kesempatan lagi.

Siau Sam Kongcu bisa melihat semuanya.

Dia mengambil pedang patahnya dari tangan Su Ceng-cau dan siap mencegat La-cai.

Setelah menyerang dengan tongkat dan golok, La-cai tetap tidak bisa memaksa Su Yan-hong mundur.

Dia sadar telah bertemu dengan lawan kuat.

Tempat ini masih merupakan wilayah keluarga Lam-kiong, bila dia masih terus bertarung, bagi keluarga Lamkiong tidak akan ada kebaikannya, dia segera mundur.

Ada asap dan kabut meledak lagi di bawah kakinya.

Su Yan-hong melihat La-cai tidak berhasil, dia tidak mengejarnya.

Dia diam menunggu hingga asap dan kabut menyebar.

Benar saja La-cai sudah tidak terlihat lagi.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 88

"Mengapa tidak menangkap orang tua itu?"

Tanya Su Ceng-cau.

"Bila dia ingin meninggalkan tempat ini, dia mempunyai banyak cara jadi bukan hal yang mudah menangkapnya!"

"Siau-heng..."

"Tidak apa-apa! Thian-liong-kiam-hoat dari Kun-lun-pai tidak sia-sia dipelajari. Tadi kalah dari gurumu membuatku kagum dari dalam hati!"

"Kita kembali dulu ke keluarga Lamkiong!"

"Mengapa Hou-ya masih bicara seperti ini?"

Su Yan-hong tertawa. Su Ceng-cau menyela.

"Guru, lukamu..."

"Tidak apa-apa! Guru adalah orang berpengalaman di dunia persilatan masa tidak sanggup meng urus diri sendiri?"

Su Ceng-cau tahu seperti apa sifat Siau Sam Kongcu. Dia tidak banyak berkata lagi.

"Kalau begitu, apa rencana Guru di kemudian hari?"

"Thian sudah menentukan jalan, seumur hidup aku harus menyendiri dan tinggal di mana saja!"

Siau Sam Kongcu menarik nafas.

"Bisa berkelana di dunia persilatan bukan hal buruk. Kalau ada kesempatan aku pun..."

Siau Sam Kongcu memotong kata-katanya sambil tertawa.

"Hou-ya adalah pejabat kerajaan, mana boleh hidup seperti rakyat biasa."

"Guru, benarkah kau akan pergi?"

"Bila harus pergi aku tetap harus pergi!"

Siau Sam Kongcu tertawa. Su Yan-hong menatap Su Ceng-cau.

"Masing-masing mempunyai cita-cita, hanya gurumu ini masih terluka dan berjalan pun tidak leluasa..."

Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 89 Siau Sam Kongcu tertawa.

"Hidup atau mati adalah nasib. Hari ini aku tidak mati, ke depannya pasti akan hidup lebih baik. Hanya saja orang-orang Jepang itu sudah masuk Tionggoan, pasti mereka mempunyai maksud tertentu. Kelak Hou-ya harus lebih berhati-hati!"

Su Yan-hong terdiam.

Walaupun Siau Sam Kongcu tidak menjelaskannya, tapi dari ucapannya tadi dia sudah tahu.

Hari kedua, perundingan ilmu pedang di Pek-hoa-couw lebih buruk dari hari pertama.

Tiong Toa-sianseng melukai Siau Sam Kongcu.

Coat-suthay menghina Lu Tan dan perkumpulan Bu-tong-pai.

Kun-lun dan Hoa-san-pai mungkin tidak akan saling dendam tapi Bu-tong dan Heng-san-pai pasti akan ada permusuhan.

Coat-suthay seperti tidak peduli.

Fu Hiong-kun merasa tidak enak hati.

Dia berhubungan baik dengan Bu-tong-pai.

Bu-tong dan Heng-san adalah perkumpulan lurus dan terkenal, kalau harus saling bunuh, itu bukan hal yang baik.

Tapi semua sudah terjadi seperti ini, dia sudah tidak bisa menghalanginya lagi.

Sikap Coat-suthay terhadap Lu Tan benar-benar di luar dugaannya.

Fu Hiong-kun berpikir seperti ini, yang pasti tidak bisa membohongi Coat-suthay.

Setelah selesai makan malam, dia baru bertanya.

"Apakah kau tidak suka dengan sikapku pada Lu Tan?"

"Tecu tidak berani!"

Fu Hiong-kun hanya bisa menjawab seperti itu.

"Apakah kau anggap aku sudah keterlaluan?"

Fu Hiong-kun memberanikan diri menjawab.

"Apakah Supek-bo tidak merasa keterlaluan?"

"Kalau tidak melakukan dengan sikap seperti itu kapan murid Bu-tong bisa giat dan bersemangat? Hatimu terlalu lemah!"

Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 90

"Tecu..."

"Semua sudah berlalu, kau datang kemari untuk apa? Sekarang ada hal yang harus kau lakukan!"

"Katakan, Supek-bo!"

"Kau cari Lamkiong Po, Tanyakan kepada dia hal yang akan dia lakukan seperti apa."

"Hal apa?"

"Aku hanya ingin dia melakukan satu hal. Kesempatan hari ini jarang terjadi, seharusnya dia sudah melakukannya!"

Fu Hiong-kun juga berharap seperti itu.

152-152-152 Lamkiong Po duduk dengan termangu di kamarnya.

Dia tidak terkejut dengan kedatangan Fu Hiong-kun.

Setelah tahu maksud kedatangannya, dia berpikir sejenak baru menjawab.

"Semua hal mulai terbentuk tapi belum bisa dipastikan!"

"Apakah setelah pasti baru bisa kau ceritakan?"

"Tentu saja akan lebih baik seperti itu. Sampai kan kepada Sutliay, malam ini pukul 3 dini hari bertemu denganku di belakang kebun."

Fu Hiong-kun melihat Lamkiong Po dengan aneh.

"Sekarang aku tidak tahu apa yang harus kukatakan!" 153-153-153 Saat waktu yang bersamaan Lo-taikun sedang marah kepada Kiang Hong-sim.

"Aku sudah berpesan, kau harus berhati-hati! Ada yang menguntitmu ke Siau-hun-lo (Penjara melebur roh), kau masih tidak tahu?"

"Mengapa ada orang yang menguntitku? Bukankah semua peserta sudah pergi ke Pek-hoa-couw, tidak ada yang berada di keluarga Lamkiong?"

Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 91

"Kau lupa pada seseorang!"

"Lamkiong Po!"

Kata Kiang Hong-sim segera terngat.

"tapi kakinya kan sudah terluka oleh pedang Coat-suthay, gerakannya tidak leluasa!"

"Kau orang berpengalaman di dunia persilatan, apakah kau tidak melihat lukanya tidak berat?"

Lo-taikun menarik nafas. Sebenarnya Lo-taikun sendiri sebelum mendapat kabar ini, dia pun tidak bisa melihatnya. Kalau tidak, dia pasti sudah berpesan harus berhati-hati.

"Maksud Tai-kun, dia dan Coat-suthay bersekongkol..."

"Mungkin saja! Untung sewaktu dia meninggalkan tempat, diketahui oleh si tua Ciu-ci Lojin, kalau tidak, rahasia akan tersebar kita akan gagal total!"

"Apa yang harus kita lakukan sekarang?"

"Bunuh sekalian Coat-suthay juga jangan dilepas!"

Jawab Lo-taikun dengan wajah dipenuhi aura membunuh.

Terlihat Kiang Hong-sim mengalami kesulitan.

Ilmu silat Coat-suthay seperti apa dia sangat tahu.

Lo-taikun pintar membaca pikiran.

Dia tertawa dingin.

"Hari ini Coat-suthay di depan banyak orang menyingkap keburukan Bu-tong-pai dan Lu Tan ingin membunuhnya. Kau bisa memperaiatnya!"

"Lu Tan?"

Kang Hong-sim tertawa kecut.

Dalam pikiran Kiang Hong-sim, pengalaman dan ilmu silat Lu Tan tidak cukup memadai.

Walaupun bisa diperalat tidak akan ada gunanya bagi Coat-suthay.

Lo-taikun seperti tahu apa yang dipikirkan.

Dia tertawa dingin.

"Walaupun orang itu ilmu silatnya terbatas, asalkan kita bisa memperalatnya, dia akan menjadi satu-satunya orang yang bisa membunuh Coat-suthay!"

"Apakah Lo-taikun sudah..Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 92 Lo-taikun mengangguk, dia menyuruh Kiang Hong-sim mendekat dan membisikkan rencana yang dia sudah atur. Di dalam hanya ada mereka berdua tapi dia tetap berbisik. Terlihat Lo-taikun memang orang yang sangat berhati-hati. Kiang Hong-sim segera mencari Lu Tan. Lu Tan mengurung diri di kamarnya. Coat-suthay menghina Bu-tong-pai, mana mungkin dalam waktu singkat dia bisa melupakannya. Semua orang mengerti isi hatinya, tapi entah harus mengatakan apa kepadanya. Setelah menghibur dia dengan beberapa kata, mereka membubarkan diri. Lu Tan sangat berharap dia bisa tenang, tapi sampai saat ini masih belum bisa. Kedatangan Kiang Hong-sim tentu saja membuatnya terkejut. Dia tidak senang dengan orang ini. Tapi kedatangannya membuat dia terpaksa harus melayani. Apalagi kalimat pertama adalah.

"Lo-taikun menyuruhku kemari untuk menengokmu!"

"Lo-taikun benar-benar perhatian padaku!"

"Dengan posisi Coat-suthay, dia benar-benar keterlaluan!"

"Semua sudah berlalu, tidak perlu berkata apa-apa lagi!"

"Baik, kita tidak perlu mengungkit-ungkitnya lagi, tapi mengapa Ceng-hong-kiam yang tajam itu di tanganmu tidak ada gunanya?"

"Karena aku memakai pedang Hou-ya. Pedang itu adalah pemberian baginda kepada Hou-ya, namanya Liong-im-kiam. Pedang itu dipinjamkan Hou-ya kepadaku!"

"Ternyata itu pedang pemberian Hou-ya, pasti bukan barang biasa. Apakah aku bisa melihatnya?"

Lu Tan tidak menaruh curiga.

Pedang segera dicabut.

Di bawah terpaan cahaya lampu, ujung pedang terlihat seperti air.

Sekali melihat saja sudah tahu kalau itu adalah pedang pusaka.

Sambil melihat pedang, Kiang Hong-sim memuji.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 93

"Pedang yang bagus!"

Ibu jari tangan kirinya segera memegang punggung pedang dan jarinya meraba pedang hingga ke ujung pedang dan menyentil sekali.

Ujung pedang mengeluarkan suara TING!

Kiang Hong-sim mendengarnya dengan seksama baru memuji.

"Pedang bagus!"

Lalu mengembalikan pada Lu Tan.

Punggung pedang sampai ke ujung pedang tempat di mana Kiang Hong-sim memegang sudah terbersit warna hijau yang sangat tipis, tapi Lu Tan tidak melihatnya, memang sulit terlihat jelas.

Lu Tan mengembalikan pedang itu ke dalam sarungnya dan bertanya.

"Apakah ada hal lainnya?"

"Tidak! Menang atau kalah adalah hal yang biasa!"

Jawab Kiang Hong-sim tertawa.

"Aku mengerti!"

Lu Tan acuh.

Akhirnya Kiang Hong-sim meninggalkan tempat.

Begitu membuka pintu dan keluar dari kamar dia bertemu dengan Siau Cu.

Kiang Hong-sim tertawa, Siau Cu terpaksa balas tertawa.

Setelah Kiang Hong-sim sudah berjalan cukup jauh, Siau Cu segera masuk ke kamar Lu Tan.

"Untuk apa perempuan itu ke sini?"

Tanya Siau Cu sambil melihat Lu Tan dari atas hingga ke bawah. Sepertinya dia takut kalau Lu Tan diapa-apakan oleh Kiang Hong-sim.

"Lo-taikun menyuruhnya datang dan menanyakan keadaanku!"

Siau Cu menghembuskan nafas.

"Sedang apa kau? Apakah masih ingat masalah yang terjadi tadi pagi?"

"Apakah aku bisa melupakan begitu cepat?"

"Kalau terjadi padaku, aku pun tidak bisa melupakannya. Bila ada kesempatan, aku harus memberi pelajaran kepada dia!"

Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 94

"Tapi sayang, teknik dan ilmu silat kita tidak bisa menandingia!"

"Kita lihat besok!"

"Maksudmu, Tiong-cianpwee!"

"Menurutku, Tiong-cianpwee pasti sanggup mengalahkannya. Begitu berhasil mengalahkannya, dengan sifat Coat-suthay, cukup membuatnya sedih!"

Siau Cu melihat Liong-im-kiam.

"pedang ini harus dikembalikan pada Hou-ya. Besok saat bertarung Tiong-cianpwee pasti akan menggunakan pedang ini!"

"Kau masih memanggilnya Tiong-cianpwee?"

"Aku harus memanggilnya guru. Oh tidak! Harus memanggilnya ayah angkat!"

Setelah itu Siau Cu bersalto keluar, hanya sekejap sudah menghilang.

Lu Tan menarik nafas.

Dia merasa nasib Siau Cu lebih baik darinya.

Datang ke keluarga Lamkiong tidak hanya mendapatkan guru yang baik masih mendapatkan seorang kekasih yang cantik.

Saat dia akan menutup pintu, seseorang muncul di hadapannya.

"Kau?"

Dia sama sekali tidak menyangka kalau orang itu adalah Su Ceng-cau.

"Hal yang terjadi tadi pagi, aku sudah mengetahuinya. Apa pun yang dikatakan oleh Coat-suthay, jangan dianggap serius, akan membuatmu sakit hati. Jaga dirimu baik-baik!"

Walaupun Lu Tan tidak setuju dengan ucapan Su Ceng-cau, tapi melihat dia begitu memperhatikannya, hatinya merasa hangat. Su Ceng-cau menggelengkan kepala.

"Penandingan ilmu pedang seperti ini tidak akan ada kebaikannya, malah keburukan terlihat di mana-mana!"

"Bagaimana dengan gurumu?"

"Aku rasa dia tidak akan muncul lagi!"

Su Ceng-cau merasa sedih.

"Apakah dia..."

Lu Tan terkejut.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 95

"Lukanya tidak apa-apa, hanya saja dia akan terus berkelana! Guru pergi jauh, kau mau menjadi pendeta, ke depannya kalian tidak akan bisa menemaniku lagi!"

Lu Tan terdiam, dalam hatinya terjadi pertentangan, entah apa yang harus dia katakan sekarang.

Su Ceng-cau tidak bucara apa-apa lagi, dia segera membalikkan tubuh dan meninggalkan kamar.

Lu Tan ingin mengejarnya tapi pada akhirnya tidak jadi.

Tiong Toa-sianseng tidak enak hati.

Su Yan-hong di sisinya tidak tahu harus berkata apa.

Saat Siau Cu mengembalikan Liong-im-kiam, dia melihat Tiong Toa-sianseng seperti itu, dia tidak berani banyak bicara dan diam-diam keluar.

Entah sudah berapa lama Tiong Toa-sianseng baru menarik nafas dan berkata pada dirinya sendiri.

"Dalam hatinya Bok-lan pasti membenciku. Mungkin aku sudah keterlaluan tapi aku adalah ayahnya. Aku percaya mereka bersih, tapi apa gunanya? Orang lain tidak akan berpikir seperti itu!"

Su Yan-hong terharu.

"Tecu tidak bisa melihatnya tapi merasa kalau Siau Sam Kongcu bukan orang seperti itu. Apalagi dia sudah pergi, Guru harus menunda masalah ini dan bersiap untuk pertarungan esok."

Tiong Toa-sianseng menggelengkan kepala.

"Selama dua hari ini hati semua orang tidak enak, besok pun tidak terkecuali!"

Su Yan-hong berkata dengan khawatir.

"Ucapan Coat-suthay terkadang terlalu berat, harap Guru jangan menyimpannya di dalam hati!"

"Kalau yang dia katakan adalah kenyataan, biarkan dia bicara seperti itu. Orang yang percaya kepada Budha tidak akan sembarangan bicara!"

Kata Tiong Toa-sianseng.

Su Yan-hong mengangguk.

Sorot mata Tiong Toa-sianseng menerawang ke depan.

Dia teringat pada Tiong Bok-lan lagi.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 96 Pastinya pikiran Tiong Bok-lan sedang tidak enak.

Dia sama sekali tidak punya tempat untuk berbagi perasaan.

Kebetulan Su Ceng-cau datang.

Dia merasa senang, apalagi dia bisa men-dapatkan berita mengenai Siau Sam Kongcu dari mulut Su Ceng-cau.

Su Ceng-cau menutup pintu lalu melihat Tiong Bok-lan.

Sikapnya terlihat aneh tapi dia tidak berkata apa-apa.

Tiong Bok-lan menunggu.

Akhirnya bertanya.

"Bagaimana dengan keadaan gurumu?"

"Untuk apa kau bertanya tentang guruku? Dia hidup atau mati pun ada hubungan apa denganmu?"

"Apakah terjadi musibah padanya?"

"Bukan hal besar. Dia terluka oleh pedang ayahmu dan hampir dibunuh oleh hweesio Jepang!"

"Bagaimana keadaannya sekarang?"

"Lukanya bertambah berat, tapi tidak akan membuatnya mati. Untung aku dan kakak sepupu datang tepat pada waktunya!"

"Aku yang bersalah!"

Air mata Tiong Bok-lan menetes lagi.

"Kau yang mencelakainya? Semalam ada apa kau mencarinya?"' "Tidak ada apa-apa..."

"Pasti ada! Katakan sejujurnya, kalau tidak, aku tidak akan melepaskanmu!"

Akhirnya Tiong Bok-lan menjawab.

"Aku hanya memintanya jangan melukai ayahku!"

"Sepertinya ayahmu sudah salah paham pada kalian!"

"Yang sudah berlalu biarlah berlalu. Beritahu aku di mana gurumu sekarang? Aku ingin bertemu dengannya sekali lagi..."

"Menurutku, dia belum tentu mau bertemu denganmu!"

"Apa pun yang terjadi, aku harus bertemu dengannya!"

"Baiklah! Aku' akan beritahu padamu!"Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 97

"Di mana dia?"

"Dia sudah mengambil keputusan untuk berkelana terus, mungkin kita tidak akan pernah menjumpainya lagi!"

Su Ceng-cau segera berlari keluar.

Tiong Bok-lan duduk dengan sedih.

Air matanya mengalir.

Tidak lama kemudian dia berdiri dan berjalan mendekati meja kemudian mengambil kertas dan koas.

Air matanya sudah mengering.

Dia bertekad harus pergi dan mengambil keputusan meninggalkan surat, meninggalkan keluarga Lamkiong untuk mencari Siau Sam Kongcu sekalipun berada di ujung langit dan di penjuru laut!

*** Surat diantar oleh pelayan dan sampai di tang an Tiong Toa-sianseng.

Tiong Toa-sianseng belum tidur.

Sewaktu dia membaca surat itu, wajahnya segera berubah dan menggebrak meja.

Surat dirobek, meja hancur berantakan.

Pelayan ketakutan hingga gemetar, hampir terjatuh.

"Perempuan jalang!"

Kata Tiong Toa-sianseng marah.

Su Yan-hong berada di kamar sebelah.

Dia terkejut dan segera datang ke sana untuk melihat keadaan yang terjadi.

Dia segera berpesan kepada pelayan agar keluar dan kembali ke tempatnya.

Setelah pelayan itu pergi, Su Yan-hong menarik nafas.

"Maafkan Tecu..."

"Di antara kita tidak ada yang perlu dibicarakan, Bok-lan sudah pergi!"

"Pergi?"

Su Yan-hong terkejut.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 98

"Siau Sam! Siau Sam!"

Kata Tiong Toa-sianseng.

"di antara kita tidak ada dendam, mengapa kau harus mencelakaiku?"

"Apakah Bok-lan mencari Siau Sam? Orang yang saling cinta pada akhirnya akan menikah..."

"Apa yang kau katakan barusan?"

Tiong Toa-sianseng melotot.

"Maafkan Tecu..."

"Apakah kau anggap mereka tidak bersalah?"

"Jika Suhu bertanya, Tecu harus terus terang!"

"Baiklah, aku ingin dengar pendapatmu!"

"Keluarga Lamkiong kaya raya, wibawa Lo-taikun sangat terkenal di dunia persilatan, yang melayani Sumoi sangat banyak, dia masih begitu muda. Puluhan tahun kemudian bagaimana cara dia melewatinya?"

"Memang seperti itu. Aku selalu sedih melihat Bok-lan tapi itu namanya nasib..."

"Nasib bisa menguasai manusia tapi manusia bisa memutar balikkan nasib itu. Sumoi mempunyai keberanian, suhu harus memberinya kesempatan!"

"Orang lain akan bicara apa?"

"Siapa yang tidak pernah dijelekkan orang lain? Untuk apa Suhu menyimpannya dalam hati?"

"Apa pun yang terjadi, seharusnya dia berunding dulu denganku!"

Tiong Toa-sianseng masih marah.

"Mana mungkin Sumoi berani melakukannya? Jika dia berani bicara kepada Suhu, apakah Suhu akan menyetujuinya?"

Tiong Toa-sianseng terdiam. Kata Su Yan-hong lagi.

"Lo-taikun pasti akan cepat mendapatkan kabar, Bok-lan pasti memberitahu mereka!"

"Dia datang!"

Kata Tiong Toa-sianseng.

Suara orang berjalan terdengar.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 99 Tiong Toa-sianseng tidak salah duga.

L'o-taikun pun menerima surat yang diantar pelayan.

Dia membawa Cia Soh-ciu, menemui Tiong Toa-sianseng.

Setelah menyapa Lo-taikun segera bertanya.

"Hou-ya belum istirahat?"

Maksudnya adalah menyuruh Su Yan-hong keluar dari kamar. Setelah Su Yan-hong keluar, tanya Lo-taikun.

"Apakah Tiong Toa-sianseng sudah tahu?"

Tiong Toa-sianseng mengangguk tanpa bicara sepatah kata pun. Kata Lo-taikun.

"Hal ini terjadi sangat tiba-tiba, ingin menghalangi pun tidak sempat. Harap Tiong Toa-sianseng memaafkan kami!"

"Bok-lan yang bersalah!"

"Jangan berkata seperti itu. Aturan keluarga Lamkiong tidak ketat, kami harus bertanggung jawab! Sebenarnya Bok-lan masih muda, menyuruhnya tinggal di keluarga Lamkiong pun tidak baik. Tapi tidak bisa membiarkan dia meninggalkan keluarga Lamkiong dan menikah!"

"Maksud Lo-taikun..."

"Aku tidak apa-apa, hal ini sudah terjadi asalkan jangan sampai tersebar keluar..."

"Tapi lambat laun..."

"Benar, kita berusaha saja, bisa berapa lama ya berapa lama!"

Lo-taikun seperti sudah pasrah.

"Untung Lo-taikun pengertian. Kami ayah dan anak sangat berterima kasih karenanya!"

Ucapan ini keluar dengan nada pasrah.

154-154-154 Su Yan-hong tidak kembali ke kamarnya.

Dia bertemu dengan Liu Hui-su dan Cia Ceng-hong.

Itu bukan kebetulan, mereka diperintah Cu Kun-cau untuk mengundang Su Yan-hong.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 100 Su Yan-hong tahu Cu Kun-cau pasti mempunyai tujuan tapi dia tidak bisa menebaknya jadi dia mengambil keputusan berjalan ke sana.

Disuguhkan arak oleh pelayan termasuk Cia Ceng-hong dan Liu Hui-su.

Su Yan-hong bertanya.

"Ke mana Ceng-cau?"

Cu Kun-cau tertawa.

"Masalah orang dewasa, anak kecil tidak akan mengerti. Malam ini kita berdua berkumpul, tidak ter masuk dia, silakan!"

Dia mengangkat cangkirnya. Setelah minum 3 cangkir arak, Cu Kun-cau baru buka suara.

"Dengan nama, ilmu silat dan sastramu, seharusnya kau bisa terus naik jabatan!"

"Aku tidak berniat mencari nama dan jasa. Setelah jadi An-lek-hou, aku sudah merasa sangat puas!"

Ini adalah ucapan yang sungguh-sungguh.

"Pertentangan dengan Liu Kun, kau yang paling banyak mengeluarkan tenaga. Jika membahas soal jasa, kau menjadi nomor satu. Tapi baginda sama sekali tidak melakukan tindakan apa pun!"

"Itu ideku, sampai posisi komandan pasukan pun kuserahkan kembali!"

"Hanya jabatan sebagai komandan, kau tidak akan menaruhnya di hati, bagaimana jika menjadi perdana menteri?"

Cu Kun-cau menggelengkan kepala lagi.

"apakah posisi sebagai perdana menteri masih rendah juga?"

"Apakah bisa tinggi lagi jabatannya?"

"Mengapa tidak? Apakah kau benar-benar tidak mengerti?"

Cu Kun-cau tertawa. Su Yan-hong segera marah.

"Kau sendiri yang ingin mengungkapkannya atau menyinggung paman?"

Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 101 Cu Kun-cau segera berhenti dan menutupi wajahnya.

"Coba lihat aku, setelah mabuk langsung sem-barangan bicara!"

"Untung kau bicara padaku, kalau tidak, bisa minum lebih baik jangan minum!"

Su Yan-hong berdiri dan keluar.

Setelah Su Yan-hong pergi, mata Cu Kun-cau memancarkan sorot benci, dia benar-benar menyesal mengundang Su Yan-hong.

Siapa itu Su Yan-hong?

Seharusnya dia tahu dan tidak perlu mencari tahu.

Kepergiannya Tiong Bok-lan sudah diketahui orang-orang keluarga Lamkiong.

Selain Beng-cu, yang paling merasa terharu adalah Bwe Au-siang.

Yang datang memberitahu adalah Kiang Hong-sim, ditambah komentar tentang hal ini.

"Lihat dia, biasa terlihat lugu, siapa yang tahu dia orang seperti itu. Jika tersebar luas, maka nama keluarga Lamkiong..."

Lamkiong Po yang berdiri di sisi mendengar itu. Akhirnya dia memotong.

"Orangnya sudah pergi, tidak perlu dibicarakan lagi!"

"Apakah Lo-taikun sudah tahu tentang hal ini?"

Tanya Bwe Au-siang.

"Aku mendengar darinya!"

"Apakah sudah menyuruh orang mengejar nya?"

"Tidak, hanya bertemu dengan Tiong Toa-sianseng. Semua sepakat jangan sampai tersebar keluar!"

Jelas Kiang Hong-sim.

"Aku melihat hati Tiong Toa-sianseng bergejolak. Dia tidak kembali ke kamar untuk beristirahat malah pergi seorang diri ke Ciu-ci-tong."

Hati Lamkiong Po bergerak tapi pura-pura seperti tidak terjadi apa-apa. Kiang Hong-sim melihat nya dan berkata.

"Aku pamit dulu!"

Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 102 Dari tadi Lamkiong Po berharap dia cepat pergi dari sana.

Bwe Au-siang tidak bermaksud menyuruhnya terus di sana.

Sesampainya di depan pintu, Kiang Hong-sim membalikkan tubuh.

"Ingat, jangan katakan kepada siapa pun!"

Setelah dia menjauh, Lamkiong Po baru tertawa dingin.

"Selain dia siapa lagi yang akan sembarangan bicara?"

Bwe Au-siang menarik nafas.

"Sebenarnya Bok-lan sangat senang membaca dan tahu aturan, mengapa melakukan semua ini?"

"Aku malah merasa kasihan padanya!"

Kata Lamkiong Po. Bwe Au-siang menatap dengan aneh.

"Sewaktu dia menikah dengan adik kelima, sebenarnya dia sudah mempunyai kekasih. Hanya saja ini perintah dari ayahnya, dia tidak berani membantahnya!"

"Tapi pada akhirnya dia mau menikah. Sekarang dia menjadi janda dari keluarga Lamkiong..."

"Janda pun manusia. Sebagai orang tua seharusnya memikirkan kebahagiaan putra-putrinya. Apa lagi orang yang menikah masuk keluarga Lamkiong kebanyakan menjadi janda..."

Bwe Au-siang menutup mulut Lamkiong Po.

"Kau tidak boleh berkata seperti itu!"

Lamkiong Po dengan hati yang bergejolak menyingkirkan tangan Bwe Au-siang.

"Ini bukti nyata, generasi atas pun seperti itu sampai generasi kami pun begitu."

Bwe Au-siang menarik nafas.

"Apakah dalam waktu dekat ini mengalami hal yang tidak enak hati? Mengapa setiap kali hatimu selalu bergejolak?"

Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 103 Lamkiong Po mengangguk. Akhirnya dia bisa tenang. Bwe Au-siang terus bertanya.

"Apa yang terjadi?"

"Belum bisa dipastikan tapi dalam waktu dekat ini pasti akan ada jawabannya. Nanti aku akan memberitahumu. Berharap nasib keluarga Lamkiong akan berubah dan ada penerusnya!"

"Aku lihat sekarang sudah mulai berubah!"

Bwe Au-siang berkata dengan sikap malu. Lamkiong Po merasa aneh. Bwe Au-siang berkata lagi.

"Aku sudah punya..."

"Punya? Punya apa?"

Lamkiong Po merasa aneh, dia terus bertanya. Tiba-tiba dia teringat sesuatu dan berteriak.

"Benarkah kau hamil?"

"Jangan ribut!"

Bwe Au-siang menutup mulut Lamkiong Po lagi. Lamkiong Po memeluknya dengan senang dengan tegang berkata.

"Ini sangat baik! Kau harus berhati-hati, jangan berlatih silat lagi!"

"Jangan terlalu tegang!"

"Aku benar-benar tegang!"

Lamkiong Po memeluk Bwe Au-siang semakin erat. Baru saja Lama Bwe Au-siang bisa terlepas dari pelukan Lamkiong Po. Sambil terengah-engah berkata.

"Aku sudah buatkan sup ginseng untukmu!"

"Kau saja yang minum!"

"Kau menyuruhku menjaga diri, kau sendiri pun harus menjaga diri. Aku akan ke dapur dulu, jika sudah matang aku akan membawanya kemari."

"Kau boleh menyuruh pembantu mengerjakannya. Jangan terlalu lelah!"

Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 104 Bwe Au-siang mengangguk, dia keluar dari kamar.

Tawa Lamkiong Po segera membeku, dengan cepat dia berjalan ke depan meja, buru-buru menulis sepucuk surat lalu melipatnya dan menyimpannya di bawah bantal.

Dia mengambil pedang, membuka jendela dan melihat ke sekeliling tidak ada siapa pun dan dia meloncat pergi!

Lamkiong Po meninggalkan kamar.

Kiang Hong-sim pun sama.

Tapi dia ingin mencari surat yang ditulis Lamkiong Po, itu bukan hal yang sulit karena dia selalu berada di luar kamar mengawasi gerak-gerik Lamkiong Po.

Lamkiong Po tidak tahu akan hal ini.

Jika tidak, beban hatinya pasti akan lebih berat lagi.

Setelah ada pengalaman, ingin masuk Siau-hun-lo (penjara) di bawah Ciu-ci-tong bagi Lamkiong Po bukan hal yang sulit.

Siang hari dia melihat Kiang Hong-sim masuk dan keluar dari sana, gara-gara ada Ciu-ci Lojin dan waktunya sempit, dia tidak bisa masuk.

Sekarang Ciu-ci Lojin sudah kembali ke kamar yang letaknya di samping untuk tidur.

Di Ciu-ci-tong tidak ada orang lain.

Lamkiong Po melihat dengan teliti keadaan kemudian membuka pintu rahasia, masuk melalui jalan rahasia itu.

Jalan rahasia yang ada di bawah tanah itu sangat terang benderang tapi di Siau-hun-lo gelap.

Lamkiong Po mendengar dengan seksama tidak ada yang bisa dia temukan.

Apakah Lo-taikun sudah pergi?

Dia menunggu sebentar, akhirnya baru masuk.

Di dalam kegelapan, dia mencari jalan dengan meraba, mengenai tirai mutiara.

Diam-diam dia menyibakkan ke sisi dan maju.

Waktu itu pintu batu Siau-hun-lo tertutup.

Lamkiong Po terkejut, dia menoleh, dia lihat hanya kegelapan, sampai arah pun tidak terlihat lagi.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 105 Tapi itu hanya berlangsung sebentar, tiba-tiba lampu yang ada di penjara menyala.

Lamkiong Po melihat ke arah lampu, tirai mutiara berlapis-lapis.

Mutiara-mutiaranya tembus pandang dan berkilau.

Terdengar suara Lo-taikun.

"Akhirnya kau datang juga!"

Hati Lamkiong Po bergetar. Kata Lo-taikun lagi.

"Kalau tidak bisa bersembunyi lagi, lebih baik kemari!"

Terpaksa Lamkiong Po berjalan ke sana melalui tirai mutiara.

Lo-taikun duduk di kursi di antara 4 peti mati.

Sikapnya terlihat sangat tenang.

4 tutup peti itu sudah dibuka.

Tampak 4 orang gadis sedang memejamkan mata, masing-masing terbaring di dalam peti mati.

Wajah mereka mengeluarkan warna merah muda.

Di bawah cahaya lampu terlihat sangat menarik.

Lo-taikun melihat Lamkiong Po dengan teliti.

"Tadi pagi kau tidak mempunyai kesempatan untuk masuk diam-diam, sekarang kau boleh melihat semuanya dengan jelas dan teliti!"

Lamkiong Po mengelilingi 4 peti mati itu. Dia menggelengkan kepala.

"Putramu tidak mengerti!"

"Tujuanmu kemari adalah mencari tahu satu hal!"

"Bukan satu hal saja tapi beberapa hal!"

"Tidak ada bedanya!"

Lamkiong Po baru mengerti.

"Ucapan ibu benar. Asal satu hal kau tahu jelas, yang lainnya juga akan menjadi jelas!"

"Sekarang bukankah sudah jelas semuanya?"

"Hanya sedikit!"Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 106

"Bagaimana kalau sampai di sini saja?"

"Putramu ingin kalau perkara ini tuntas sam pai pada a kilirnya!"

Lo-taikun menggelengkan kepala.

"Lebih baik kau lepas tangan. Hidupmu hanya beberapa puluh tahun saja untuk apa harus begitu serius menjalaninya?"

"Yang menginginkannya adalah ananda sampai kan juga kepada ibu kata-kata ini!"

"Kita mempunyai perbedaan!"

"Ibu dan anak hatinya sama, seharusnya tidak ada perbedaan yang mencolok!"

"Apa yang kulakukan semua itu demi menjaga nama baik dan kedudukan keluarga Lam-kiong di dunia persilatan!"

Suara Lo-taikun tetap terdengar begitu baik dan tenang.

"Itu memang berbeda. Tujuan putramu hanya ingin mengembalikan nama dan kedudukan nenek moyang keluarga Lamkiong yang susah payah diperoleh."

"Aku tidak akan melepaskan begitu saja, bagaimana denganmu sendiri?"

"Putramu seperti Ibu!"

"Aku pasti akan berhasil!"

Kata Lo-taikun dengan penuh rasa percaya diri. Lamkiong Po terpaksa berkata.

"Aku juga!"

"Ada kemenangan pasti akan ada kegagalan. Kembalilah ke tempatmu, kau masih memiliki jalan hidup!"

Kata Lo-taikun.

"Orang-orang keluarga Lamkiong tidak akan berjalan baik!"

"Baik, kau patut disebut orang keluarga Lamkiong. Aku akan membantumu mencapai tujuanmu!"

Lo-taikun mengeluarkan peluit dan meniupnya. Empat gadis yang berbaring di dalam peti mati segera membuka mata mereka. Sama-sama berdiri.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 107

"Kalahkan dulu Bwe (Mawar), Lan (Anggrek), Ju (krisan), dan Tiok (bambu). Ada kesempatan melihat karya terbaikku Hen-lo-sat!"

Lo-taikun meniup peluit lagi.

Empat orang gadis itu segera menyerang Lamkiong Po.

Setiap kali menyerang mereka selalu menyerang ke tempat-tempat penting.

Lamkiong Po melihat empat gadis itu bukan orang sederhana deng an cepat dia memegang pedang dengan tangan kanan nya.

Kakinya juga mulai menendang.

Dia berharap bisa dengan cepat menyelesaikan pertarungan ini.

Tapi begitu bertarung, dia terkejut dan semakin bertarung semakin membuat hatinya dingin.

Karena saat kepalan, pedang, dan kaki memukul dan mengenai keempat gadis ini, mereka sama sekali tidak bereaksi apa-apa.

Sampai-sampai alis mereka pun tidak dikerutkan.

Bila terkena tendangan mereka akan roboh tapi segera meloncat berdiri lagi.

Tenaga mereka tiada habisnya malah semakin kuat.

Dari posisi di atas angin akhirnya Lamkiong Po jadi berada di bawah angin, dari menyerang hanya bisa bertahan.

"Po-ji, apakah cukup sampai di sini saja?"

"Tidak!"

Jawab Lamkiong Po.

Dia menyerang lagi.

Tapi serangannya selalu digagalkan oleh ke empat gadis itu.

Empat gadis itu menyerang gila-gilaan.

Akhirnya menepis dia hingga terjatuh.

Suara peluit terdengar lagi, empat gadis itu mundur sambil menyimpan pedang mereka.

Tubuh Lamkiong Po sudah penuh dengan darah.

Dia merangkak bangun.

Tongkat Lo-taikun sudah berada di depan mata.

Sewaktu dia mengangkat kepala, yang dia lihat adalah sepasang mata yang tidak dikenalnya dan sangat kejam.

Hatinya bergetar lagi.

"Empat pembunuh itu saja kau tidak sanggup melayani, masih ingin mengatakan apa lagi?"

Nada bicara Lo-taikun mulai terdengar kejam.

"Mereka benar-benar bukan manusia..."Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 108

"Betul. Bisa dikatakan mereka jenis antara manusia dan setan, seperti kau sekarang ini!"

Lo-taikun menarik nafas.

"Sayang, sayang sekali, keluarga Lamkiong sampai sekarang ini harus tidak punya keturunan!"

Hati Lamkiong Po bergerak.

"Siapa kau sebenarnya?"

Lo-taikun tertawa.

"Akhirnya kau menaruh curiga juga!"

"Harimau ganas tapi tidak akan memakan anaknya! Siapa kau sebenarnya?"

"Bagimu siapa aku, tetap tidak ada bedanya!"

Lamkiong Po tidak bertanya lagi, dia meloncat tinggi dan mengayunkan pedang menepis Lo-taikun.

Dia sadar kalau dia tidak akan bisa lolos dari Lo-taikun, hanya ingin mencoba melawan untuk terakhir kalinya.

Tongkat kepala naga Lo-taikun melayang.

Menyapu Lamkiong Po beserta pedangnya kemudian memukul punggung Lamkiong Po.

Lamkiong Po menjerit memilukan.

Kemudian dari 7 indra Lamkiong Po keluar darah.

Dia roboh dan langsung tewas, tapi sepasang matanya membuka dengan lebar.

Dia mati tidak menutup mata.

Lo-taikun hanya tertawa.

Harimau galak tapi tidak akan memakan anak nya.

Dia bukan Lo-taikun asli, siapakah dia sebenarnya?

Kiang Hong-sim sudah menunggu di pintu rahasia.

Tanya Lo-taikun.

"Ada masalah apalagi?"

"Sepertinya dia tidak bicara dulu kepada Au-siang, kalau tidak, dia tidak akan meninggalkan surat itu!"

Kiang Hong-sim berkata dengan senang.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 109

"Apa Au-siang sudah membaca suratnya?"

"Surat itu kuambil dulu!"

Lo-taikun membaca surat itu dan tertawa.

"Kau memang pintar dan lincah. Aku tidak salah memilih orang!"

Dipuji Lo-taikun, Kiang Hong-sim senang.

"Untung Au-siang belum membacanya, kalau tidak, akan bertambah repot!"

"Berarti kau sudah menolong nyawanya!"

Kata Lo-taikun sambil tertawa.

"Apakah kita bisa mengambil kesempatan ini menuliskan sepucuk surat palsu untuk memindahkan musibah kepada orang lain?"

"Pasti bisa!"

"Tapi tulisannya harus mirip, kalau tidak, semuanya malah akan jadi berantakan. Akan merepot kan Anda lagi!"

"Hanya masalah kecil, tidak apa-apa!"

Lo-taikun tertawa sombong.

Bakat dan kemampuan orang ini benar-benar banyak.

Pukul 3 dini hari sudah lewat.

Coat-suthay terus berjalan mondar-mandir menunggu.

Dia memang bukan orang yang sabar, apalagi malam ini entah mengapa hatinya merasa gundah!

"Apakah sudah terjadi sesuatu?"

Begitu terpikir akan hal itu, Coat-suthay segera berlari keluar menuju tempat perjanjian.

Bwe Au-siang yang ada di dalam kamar duduk dan berdiri tidak tenang.

Sewaktu dia membawa sup ginseng, Lamkiong Po sudah tidak ada di sana.

Dia mengira Lamkiong Po berjalan-jalan di luar dan akan segera kembali tapi setelah ditunggu sampai sekarang ini, tetap tidak terlihat jejaknya.

Hatinya tidak enak, saat dia sedang bingung, dari luar terdengar suara Coat-suthay memanggil.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 110

"Tuan Lamkiong!"

"Siapa?"

Bwe Au-siang membuka pintu. Begitu melihat Coat-suthay, wajahnya berubah marah.

"Di mana Lamkiong Po?"

Tanya Coat-suthay.

"Ada apa kau mencari dia?"

Bwe Au-siang balik bertanya.

"Dia mengajakku bertemu pukul 3 subuh ada masalah yang ingin dia sampaikan kepadaku. Tapi sampai sekarang dia belum datang, jadi aku kemari!"

"Ada masalah apa yang ingin disampaikan dia kepadamu?"

"Aku adalah nikoh dan tidak akan berbohong!"

"Tadinya dia ada, tapi saat aku mengambil sup ginseng untuknya dan kembali ke sini dia sudah tidak ada..."

"Kapan itu terjadinya?"

"Sebelum pukul 3 subuh..."

"Sudah 1 jam lebih, ke mana dia? Jangan sampai musibah muncul!"

"Musibah?"

"Aku benar-benar khawatir jadinya!"

"Terima kasih dengan pedang kau telah melukainya, aku tidak akan percaya pada kata-katamu!"

Bwe Au-siang segera menutup pintu.

Coat-suthay ingin mendobrak pintu hingga hancur, tangannya sudah diangkat tapi diturunkan kembali, dia menghentakkan kaki dan lari keluar.

Bwe Au-siang membuka pintu kamar lagi.

Sebenarnya dia sedang marah tapi dia tidak percaya kepada Coat-suthay dan tidak mau bertanya kepadanya.

Dia keluar mencari Lo-taikun.

Tentu saja dia sama sekali tidak terpikir Lo-taikun yang ini bukan yang asli dan orang yang telah membunuh suaminya.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 111 Lo-taikun kembali ke kamarnya.

Melihat Bwe Au-siang datang dia sudah tahu maksudnya, dia bersikap seperti tidak terjadi sesuatu.

"Tadi pukul 2 dini hari, Po-ji mencariku ke sini, katanya dia melihat ada orang berpakaian malam datang ke keluarga Lamkiong. Seperti mempunyai maksud tertentu. Dia bertanya apakah harus mengejarnya."

Lo-taikun bisa bicara seperti itu.

"Apakah Anda membiarkannya mengejar?"

"Saat kita mengadakan perundingan ilmu pedang, keluarga Lamkiong menjadi tuan rumah yang baik dan jangan mengganggu tamu."

"Tapi sekarang sudah pukul 3 dini hari..."

"Tenanglah! Yang bisa mengalahkan ilmu silat Po-ji, paling-paling Coat-suthay, Tiong Toa-sianseng, dan beberapa pesilat tangguh. Mungkin dia terus mengejar orang itu dan tidak bisa cepat-cepat pulang!"

Nada bicara Lo-taikun sangat tenang.

"Tapi Coat-suthay..."

"Nikoh tidak akan berbohong?"

Lo-taikun ter tawa.

"apakah kau lupa apa yang dia katakan mengenai keluarga Lamkiong dan Bu-tong-pai? Dan melukai Po-ji?" 155-155-155 Bwe Au-siang tertawa. Coat-suthay tidak bisa tertawa. Wajahnya seperti tertutup oleh lapisan salju. Sampai Fu Hiong-kun pun merasa takut. Dia duduk, mencabut pedang dan memasukkannya kembali ke dalam sarung. Fu Hiong-kun men coba mencari tahu.

"Siapa yang telah membuat Supekbo marah?"

"Aku sedang mencari tahu rencana busuk!"

"Apakah sudah ada hasilnya?"

"Kalau ada aku tidak akan seperti ini! Apakah Lamkiong Po berhasil mendapatkan buktinya? Seharusnya dia bicara duluLegenda Pendekar Ulat Sutra -3 112 denganku baru mengejar orang yang masuk ke keluarga Lamkiong!"

"Dia tidak pergi ke tempat yang perjanjian?"

"Tidak! Dia juga tidak berada di kamarnya. Aku takut musibah menimpanya!"

"Tidak akan! Di sini keluarga Lam-kiong..."

"Justru karena keluarga Lamkiong maka mudah terjadi musibah. Lo-taikun itu semakin dilihat semakin tidak nyaman!"

"Apakah Supek-bo terus mengingat hal yang terjadi di masa lalu?"

"Sembarangan bicara! Kau harus mengerti jika di keluarga Lamkiong tidak terjadi masalah, mana mungkin Lamkiong Po mau bekerja sama denganku mencari bukti?"

Fu Hiong-kun setuju. Coat-suthay terpaksa berkata.

"Sudahlah! Kita lihat besok saat bertanding ilmu pedang!"

Sebenarnya semua itu sudah terlambat!

Hari ketiga adalah hari terakhir bertanding ilmu pedang.

Semua orang datang ke Pek-hoa-couw lebih awal karena takut melewatkan pertarungan antara Tiong Toa-sianseng dan Coat-suthay.

Kedua orang itu adalah pesilat pedang paling tangguh sekarang ini.

sudah pasti pertarungannya akan sangat seru.

Lu Tan pun tidak terkecuali.

Walaupun dia tidak suka dengan sikap Coat-suthay tapi dia tetap kagum dengan ilmu silat Coat-suthay.

Dia berharap bisa menyadari kekurangannya apa saja.

Kebetulan dia belum pergi dari keluarga Lam-kiong bertemu dengan Coat-suthay.

Walaupun tidak menyukainya, tapi masih berusaha menyapa.

"Kau masih di keluarga Lamkiong?"

Coat-suthay menatapnya dengan dingin, nada bicaranya pun sama.

"Hari ini adalah hari terakhir!"

"Apakah di sini masih ada hal yang bisa kau lakukan?"Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 113

"Bisa, dari pertarungan antar 2 Lo-cianpwee nanti bisa mendapatkan pelajaran ilmu pedang. Itu adalah keberuntunganku!"

Lu Tan berkata dengan sungkan.

"Dengan kemampuan ilmu silatmu sekarang ini, kau bisa sadar dan mengerti?"

Fu Hiong-kun sama sekali tidak menyangka kalau Coat-suthay akan berkata seperti itu.

Dia ingin melarang tapi sudah tidak sempat.

Lu Tan segera membalikkan tubuh dan pergi dari sana.

Waktu itu juga Coat-suthay merasa dirinya kelewatan.

Ingin memanggil Lu Tan kembali tapi tidak jadi keluar suara.

Fu Hiong-kun tidak memperhatikan sikap Coat-suthay.

Dia menarik nafas.

"Supek-bo!"

"Apa pun yang terjadi, hari ini jangan membuatku marah!"

Coat-suthay berkata dengan dingin dan berjalan ke depan.

Hari ini dia benar-benar tidak enak hati.

Mengapa Lamkiong Po belum muncul juga?

Sudah terjadi apa padanya?

Mana mungkin Coat-suthay bisa tenang.

Tiong Toa-sianseng pun demikian.

Tapi begitu pedang sudah di tangan, hatinya segera menjadi tenang, dia bisa menjadi pesilat pedang yang kuat semua karena pedang yang ada di tangannya.

Hatinya bisa masuk.

Pedang adalah nyawa keduanya.

Dia menghormati pedang yang ada di tangannya juga menghormati pedang di tangan musuh.

Bukan karena musuhnya adalah Coat-suthay, karena pedang yang dipakai adalah Ceng-hong-kiam.

Dia sangat tahu sepak terjang menjadi seorang pesilat tangguh bukan hal yang mudah dilakukan.

Yang pasti terhadap pesilat tangguh seperti Coat-suthay, membuatnya merasa senang.

Ilmu mere ka hampir setara.

Reaksi seperti ini tidak sulit dimengerti.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 114 Coat-suthay juga senang.

Apalagi melihat pedang yang dicabut Tiong Toa-sianseng adalah Liong-im-kiam.

"Suthay, apakah kau akan memberi maaf untukku!"

"Aku akan mmpertimbangkan. Putrimu pergi yang pasti hati sedang tidak enak, jadi keahlianmu pun tidak bisa dikeluarkan dengan sempurna!"

Bok-lan pergi ternyata Coat-suthay juga tahu. Walaupun ini bukan hal aneh, tapi kata-kata ini membuat Tiong Toa-sianseng sedikit terkejut.' dia dengan tidak senang segera berkata.

"Jika harus memberi maaf, berilah maaf!"

"Apakah kata-kata tadi bukan sejujurnya?"

"Kalau kau ingin dengan cara seperti itu memancingku, membuatku tidak bisa berkonsentrasi, aku tidak bisa berbuat apa-apa!"

"Mulai sekarang aku tidak akan bicara lagi. Seharusnya pembicaraanku ini tidak akan mengganggu jalan pikiranmu!"

"Kita bertanding ilmu pedang bukan perang mulut!"

"Awas! Pedang!"

Coat-suthay sudah mencabut pedangnya.

Sejurus demi sejurus, datang seperti gunung runtuh dan seperti air laut yang tumpah.

Tiong Toa-sianseng mengerutkan alisnya.

Dengan posisi bertahan lalu menyerang.

Jala pedang dengan cepat dianyam membungkus tubuhnya.

Tidak hanya Tiong Toa-sianseng, orang yang ada di dalam arena merasa tertekan oleh tenaganya yang kuat.

Mereka juga tahu apakah ilmu silat Tiong Toa-sianseng bisa memecahkan tembok pedang.

Mere ka sangat berharap Tiong Toa-sianseng dengan cepat mengeluarkan jurusnya.

Tapi reaksi Tiong Toa-sianseng membuat mereka kecewa.

Dia tidak membalas, malah terus mundur.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 115 Ingin mendobrak dinding pertahanan pedang bukan hal yang mudah.

Coat-suthay memang terus maju tapi dia bergeser dengan sangat lambat, Tiong Toa-sianseng juga mundur tidak cepat.

Yang pasti semua ini tidak mudah.

Kalau dia mundur terlalu pelan membutuhkan tenaga dalam sangat besar untuk melawan dinding pertahanan pedang.

Tapi jika mundur terlalu cepat, dinding pertahanan pedang bisa cepat roboh.

Tenaga begitu besar dan dasyat tidak bisa ditahan.

Cepat dan lambat saat mundur benar-benar tidak mudah memilihnya.

Siau Cu tidak sabar.

Dia berkata kepada Su Van-hong.

"Suheng, mengapa sampai sekarang Suhu belum menyerang?"

Su Yan-hong tertawa.

"Tenaga Coat-suthay bisa dikeluarkan tapi tidak bisa ditarik kembali. Jika sekarang guru mulai membalas, kedua-duanya akan terluka."

"Guru tidak ingin terjadi hal seperti itu tapi hanya dengan mundur saja juga bukan cara yang bagus!"

"Serangan Coat-suthay pasti akan melemah!"

Ujar Su Yan-hong sambil terus melihat.

"jika guru bisa bertahan sampai waktu itu balik dari bertahan jadi menyerang. Kalah menang pasti akan segera terlihat!"

Siau Cu seperti mengerti. Dia terus mengangguk.

"Sulit mencari kesempatan melihat 2 pesilat tangguh bertarung. Lu Tan harus segera kemari menyaksikan pertarungan ini!"

Su Yan-hong mengangguk.

"Kalau aku seusianya mungkin aku pun akan seperti itu!"

"Coat-suthay selalu bicara seperti itu, dia tidak peduli kalau orang lain akan sulit menerimanya!"

Ucap Siau Cu.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 116 Su Yan-hong hanya bisa menarik nafas.

Orang yang mengerti tata krama tidak akan bicara seperti Coat-suthay karena bicara seperti itu adalah salah.

Lu Tan sedang berjalan mondar mandir di koridor.

Di sekeliling sana sangat sepi tapi dalam hati nya terus bergejolak.

Dia ingin ke Pek-hoa-couw menyaksikan pertarungan.

Pertarungan antara Coat-suthay dan Tiong Toa-sianseng pasti akan seru.

Mungkin bisa melihat tudak sedikit jurus untuk digunakan seumur hidup.

Dia merasa sedikit menyesal dengan tindakan nya.

Waktu itu dia mendengar suara peluit.

Dia menoleh melihat di belakangnya di belokan pelan-pelan keluar seorang perempuan berbaju merah muda.

Kepala perempuan itu ditutup kantung merah muda, memperlihatkan sepasang mata jernih.

"Siapa?"

Lu Tan membentak dengan aneh.

Jika bisa melihat wajahnya, dia bisa mengenali kalau orang itu adalah Tokko Hong.

Sekarang Lu Tan tidak tahu kalau dia adalah Hen-lo-sat, pembunuh paling lihai dan rahasia dari keluarga Lamkiong..

Suara peluit terdengar semakin cepat.

Hen-lo-sat segera datang.

Sepasang golok keluar dari sarungnya.

Pedang Lu Tan juga dikeluarkan dari sarungnya dan menyerang, sepasang golok Hen-lo-sat sudah berada di atas pedang.

Golok dan pedang saling beradu mengeluarkan dentingan yang dasyat.

Bunga-bunga api terus terpercik keluar.

Lu Tan merasa tenaga dalam lawan sangat besar mengalir melalui pedang, menggetarkan tangan kanannya hingga jadi mati rasa.

Sewaktu dia ingin menarik pedangnya, sepasang golok Hen-lo-sat berputar dan menarik, membuat pedangnya terlepas dan melayang terbang menjauh.

Dengan pegangan goloknya dia menukul dada Lu Tan membuat tubuhnya terbang melayang.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 117 Saat itu Ciu-ci Lojin keluar dari balik semak-semak menyambut pedang yang terbang mela yang kemudian berputar ke belakang menyambut tubuh Lu Tan yang terbang datang.

Dia menotok 13 jalan darah di punggungnya.

156-156-156 Tiong Toa-sianseng mulai menyerang.

Tenaga dalam Coat-suthay semakin melemah.

Dinding pertahanan pedang mulai terlihat celah.

Ingin terus bertahan bukan hal yang mudah.

Tapi Tiong Toa-sianseng bisa melihat celah-celah itu dan segera mengambil kesempatan ini.

17 jurus sekaligus dikeluarkan.

Setiap jurus menyerang celah ini.

Celahnya semakin membesar, akhirnya hancur.

Tiong Toa-sianseng masuk dan membentak.

"Lepaskan pedang!"

Dia menggores perge-langan tangan kanan Coat-suthay.

Tangan kanan Coat-suthay tidak melepaskan pedangnya, malah membalikkan pergelangan untuk menahan pedang yang datang.

Jika dia melepaskan pedang, dia bisa menghindari pedang, tapi karena dia tidak melepaskan pedang jadi tidak bisa menghindari pedang yang datang.

Pedang menggores pergelangan tangannya sepanjang 3 inchi, hawa pedang masuk.

5 jari Coat-suthay terpaksa jadi longgar dan pedang akhirnya terjatuh.

Wajah Coat-suthay berubah.

Dia tidak bergerak.

Tiong Toa-sianseng tidak menyerang, dia mundur 2 meter dan memasukkan pedang ke dalam sarungnya.

Coat-suthay melotot kepadanya.

Sewaktu dia ingin mengatakan sesuatu, Cu Kun-cau sudah berteriak.

"Yang menang adalah Tiong Toa-sianseng!"

Fu Hiong-kun lari ke sisi Coat-suthay dan bertanya dengan cemas;

"Supek-bo!"Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 118

"Luka luar hanya sedikit, tidak apa-apa!"

Coat-suthay mengacuhkan tangan Fu Hiong-kun yang ingin memapahnya. Lo-taikun datang ke sisi Tiong Toa-sianseng.

"Selamat Tiong-sianseng, nama Bu-lim-te-it-kiam (Pesilat pedang nomor 1) dari sekarang sampai 10 tahun kemudian akan menjadi milik Tiong Toa-sianseng!"

"Lo-taikun bicara terlalu sungkan!"

Tiong Toa-sianseng berkata dengan tidak semangat.

"Menurut aturan keluarga Lamkiong, kami sudah menyiapkan sebilah pedang emas. Harap Tiong Toa-sianseng menerimanya!"

Kata Lo-taikun.

4 pelayan segera membuka kain sutra yang menutup di atas meja.

Di bawahnya ada sebuah kotak mewah.

Di dalam sana ada sebuah pedang kecil terbuat dari emas.

Di atas pedang ada ukiran huruf 'Thian-sia-te-it-kiam' 5 huruf Han-ji.

Selain Coat-suthay dan Fu Hiong-kun, semua orang tepuk tangan.

Dalam suara tepuk tangan yang meriah, Cia Soh-ciu membawa kotak itu ke depan Lo-taikun.

"Harap Lo-taikun menyerahkan pedang kepada Bu-lim-te-it-kiam!"

Lo-taikun belum menerima, Tiong Toa-sianseng segera menggelengkan kepala.

"Marga Tiong seumur hidup tidak suka dengan nama dan keuntungan. Kali ini datang kemari pun hanya ingin berunding ilmu pedang. Bu-lim-te-it-kiam atau apa pun, aku tidak tertarik. Lebih baik pedang emas ini tetap ada di keluarga Lamkiong untuk pemenang rapat ilmu pedang berikutnya!"

"Tiong Toa-sianseng terlalu sungkan!"

Waktu itu terdengar tawa.

"Dia tidak mau menerimanya, berikan saja kepadaku!"

Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 119 Lo-taikun dan Tiong Toa-sianseng melihat ke sumber suara.

Terlihat bayangan seseorang terbang.

Dia terbang ke arah Cia Soh-ciu.

Tiong Toa-siansengn dan Lo-taikun masing-masing menyerangnya.

Orang ini berambut dan berjanggut putih, tubuhnya kecil, tapi kedua tangannya sangat panjang, mulutnya lancip, pipi tirus.

Benar-benar seperti seekor kera.

Dialah Wan-tianglo.

Di tengah-tengah udara tapi sekali bersalto sudah berada di bawah.

Kedua tangannya sama-sama keluar untuk menyambut serangan Lo-taikun dan Tiong Toa-sianseng.

4 telapak beradu, tidak ada suara yang keluar.

Lo-taikun dan Tiong Toa-sianseng tergetar mundur selangkah.

Wan-tianglo tidak peduli pada mereka.

Tubuhnya berputar, tangan kiri mengambil pedang emas kecil itu.

Walaupun Cia Soh-ciu melihat semua itu tapi dia sama sekali tidak bisa menghindar.

Su Yan-hong segera berkata.

"Siapa yang mempunyai ilmu silat begitu lihai?"

"Dia adalah Wan-tianglo!"

Siau Cu tertawa kecut. Bersamaan waktu Tiong Toa-sianseng berkata.

"Ternyata kau!"

Wan-tianglo menatapnya.

"Apakah kau pantas menjadi Bu-lim-te-it-kiam?"

Kemudian dia bertanya kepada Lo-tai-kun.

"nenek tua ini dengan alasan apa harus memberi dia Bu-lim-te-it-kiam?"

"Di luar gunung masih ada gunung yang lebih tinggi lagi. Di luar manusia masih ada manusia yang lebih tinggi ilmu silatnya. Aku hanya mempunyai ilmu silat sedemikian rupa, mana berani disebut sebagai Thian-sia-te-it-kiam?"

"Ucapanmu lumayan!"

Dia bertanya kepada Lo-taikun.

"bagaimana denganmu?"

Dengan santai Lo-taikun menjawab.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 120

"Pertansingan ilmu pedang di Pek-hoa-couw bukan pertama kalinya!"

"Ternyata rapat Pek-hoa-couw!"

Tiba-tiba Wan-tianglo merasa senang.

"kalian berunding ilmu pedang dengan cara apa? Menggunakan tangan atau mulut?"

"Yang pasti dengan pedang!"

"Itu lebih baik!"

Kata Wan-tianglo dengan sangat senang.

"sudah beberapa hari aku tidak bertarung. Sekarang kesempatan yang bagus, aku ingin bertarung dengan Bu-lim-te-it-kiam!"

Dia segera menunjuk Tiong Toa-sianseng dengan pedang emas kecil itu.

"Maaf, lebih baik setelah 10 tahun..."

"Mengapa harus menunggu 10 tahun lagi?"

Wan-tianglo menggelengkan kepala.

"walaupun aku bisa hidup sampai 10 tahun lagi, tapi aku tidak sabar menunggunya!"

"Tapi pertandingan ilmu pedang kali ini sudah berakhir!"

Kata Lo-taikun.

"Aku belum bertarung tapi sudah berakhir, jelas-jelas kalian tidak memberiku kesempatan!"

Dia memutar pedang kecil itu dan bertanya lagi kepada Lo-taikun.

"kau benar-benar tidak menganggap keberadaanku?"

"Aku tidak berani!"

Jawab Lo-taikun.

"Kalau begitu, jangan di sana. Mari kita bermain-main beberapa jurus!"

Kata Wan-tianglo pada Tiong Toa-sianseng. Tiong Toa-sianseng menggelengkan kepala belum menjawab, Lo-taikun sudah menyela.

"Wan-tianglo, bila Tiong Toa-sianseng sudah menolaknya untuk apa kau masih terus memaksa?"

"Kau banyak omong, apakah karena tertarik bertarung denganku?"

Tanya Wan-tianglo.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 121 Lo-taikun tertawa kecut dan menggelengkan kepala. Sifat Wan-tianglo seperti apa, dia sudah tahu sangat jelas.

"Kau adalah Bu-lim-te-it-kiam, pasti tidak ingin bertarung denganku!"

Kata Wan-tianglo sambil melotot kepada Tiong Toa-sianseng. Tiong Toa-sianseng hanya tertawa. Wan-tianglo marah.

"Aku ingin bertarung, kau tidak bisa menolaknya!"

Setelah itu pedang segera melayang menepis pada Tiong Toa-sianseng.

Serangan ini sangat cepat.

Walaupun Tiong Toa-sianseng bergerak cepat dan lincah, tapi sudut baju tetap tertepis oleh pedang kecil itu.

"Apa maksudmu!"

Seru Tiong Toa-sianseng.

"Kau boleh tidak membalasnya!"

Wan-tianglo tertawa.

"kalau begitu, aku akan membeset bajumu selembar demi selembar dan aku ingin lihat kau yang menjadi Thian-sia-te-it-kiam dengan cara apa menghadapi semua pesilat di dunia ini!"

Sambil bicara pedang emas di tangannya terus menyerang Tiong Toa-sianseng.

Dari pelan sampai cepat, sampai selesai bicara 12 jurus sudah dikeluarkan, sekali lagi baju Tiong Toa-sianseng tertepis.

Akhirnya pedang Tiong Toa-sianseng dikeluarkan dari sarungnya.

"Wan-tianglo, jangan terlalu melecehkan!"

"Kalau aku ingin menghinamu, apa yang akan kau lakukan?"

Wan-tianglo terus tertawa.

"Terpaksa aku akan membuatmu marah!"

Tiong Toa-sianseng mulai mengeluarkan pedang untuk menahan serangan pedang emas dari Wan-tianglo.

Wan-tianglo malah terlihat senang.

Dengan tubuh yang berguling-guling dia menyerang Tiong Toa-sianseng dari semua penjuru.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 122 Pedang Tiong Toa-sianseng terus bergerak untuk melilit cahaya emas yang datang menyerangnya.

Caranya berbeda dengan cara dia saat menghadapi Coat-suthay.

Coat-suthay tertawa.

"Nasib Tiong Toa-sianseng tidak begitu baik, baru mendapat kehormatan menjadi Thian-sia-te-it-kiam sudah bertemu dengan Wan-tianglo!"

"Apakah Supek-bo kenal dengan Wan-tianglo?"

Tanya Fu Hiong-kun terkejut.

"Orang aneh itu 10-20 tahun yang lalu sudah malang melintang di dunia persilatan. Dia sudah kecanduan berlatih ilmu silat, paling senang mengajak orang bertarung. Dia sangat terkenal sebagai orang yang membuat repot. Dia sudah mundur dari dunia persilatan tapi tidak disangka hari ini dia muncul di sini!"

"Melihat jurusnya seharusnya punya ilmu silat yang lumayan tapi dia menyerang terus menerus. Untung Tiong-cianpwee bisa dengan menyerang untuk bertahan, kalau tidak, dia akan kalah!"

"Tiong Toa-sianseng melakukan cara seperti itu karena terpaksa!"

Jelas Coat-suthay.

"Pertarungan antara aku dan Tiong Toa-sianseng sudah menghabiskan banyak tenaga dalam. Jika dengan posisi bertahan untuk menyerang, dia tidak akan kuat. Sekarang dia berharap bisa dengan cepat menyelesaikan pertarungan ini, bisa dengan cepat mengalahkan Wan-tianglo!"

"Maksud Supek-bo, dalam pertarungan ini Tiong-cianpwee pasti akan kalah?"

Coat-suthay mengangguk.

"Kalau aku salah menilai, waktu yang sudah kulewati setengah abad akan sia-sia!"

Su Yan-hong mulai melihat ada yang tidak beres. Dia segera bertanya kepada Siau Cu.

"Tenaga dalam Wan-tianglo seperti apa sebenarnya?"Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 123

"Tenaga dalam orang itu sepertinya tidak ada habis-habisnya! Walaupun bertarung selama 3 hari 3 malam, dia masih bisa melayaninya!"

"Benar-benar repot!"

Kata Su Yan-hong.

"Bukankah tenaga dalam Guru juga kuat?"

"Masalahnya adalah dia baru saja selesai bertarung dengan Coat-suthay. Tenaga dalam yang dia habiskan, belum pulih kembali. Sekarang dengan jurus menyerang untuk berjaga."

"Ini tidak adil!"

Siau Cu tertawa kecut.

"tapi sayang dalam hati orang aneh itu sama sekali tidak ada yang namanya perlakuan tidak adil!"

Su Yan-hong menarik nafas.

Lo-taikun mengerutkan alisnya.

Dalam hati sangat berharap Wan-tianglo bisa membunuh Tiong Toa-sianseng agar di kemudian hari tidak perlu membuatnya repot lagi.

Pikiran seperti itu baru muncul, di antara Tiong Toa-sianseng dan Wan-tianglo sudah bisa terlihat siapa yang menang dan kalah.

Terdengar suara baju robek, 2 sosok segera terpisah.

Tangan Wan-tianglo memegang rambut putih yang baru saja dia tepis dari kepala Tiong Toa-sianseng.

Dia tertawa.

"Baik! Ilmu silat yang bagus, kau benar-benar pantas menjadi ketua Kun-lun!"

Tiong Toa-sianseng menggelengkan kepala.

"Tidak perlu berkata seperti itu. Aku mengaku ilmu silatku tidak sebaik dirimu!"

Wan-tianglo juga menggelengkan kepala.

"Kaulah orang pertama yang bisa memotong rambutku!"

"Tidak perlu dengan kata-kata ini untuk menutupi rasa malu yang kurasakan!"

Tiong Toa-sianseng membereskan bajunya.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 124

"Tadi jika kau menyerangku lebih kuat, pundak kiri dan kanan akan berlubang karena ditepis pedang emas itu, seumur hidup tidak akan bisa meng gunakan pedang lagi!"

Baju bagian pundak kiri dan kanannya memang terlihat 2 lubang besar. Wan-tianglo segera mengacungkan jempolnya.

"Dengan posisimu sekarang ini, di depan banyak orang kau tidak ragu mengaku kalah. Kau sungguh seorang pesilat sejati. Aku kalah darimu untuk sikap gagahnu. Aku kagum dari lubuk hatiku!"

Dia menyerahkan kembali pedang emas itu.

"Pedang emas ini kukembalikan. Bu-lim-te-it-kiam tetap menjadi milikmu!"

"Untuk apa Wan-tianglo bicara seperti itu?"

Tiong Toa-sianseng membawa Liong-im-kiam kembali ke sisi Su Yan-hong. Lo-taikun segera datang.

"Wan-tianglo benar-benar mempunyai ilmu silat bagus. Pedang emas ini milik Wan-tianglo!"

"Omong kosong! Kau kira aku belum pernah melihat emas dan peduli pada pedang emas ini? Tiong Toa-sianseng tidak mau, aku juga tidak tertarik, lebih baik kukembalikan kepadamu agar lain kali kau bisa menipu orang lagi!"

Wan-tianglo melempar pedang emas itu kepada Lo-taikun. Lo-taikun terpaksa menyambutnya. Mata Wan-tianglo berputar. Dia membentak.

"Keluar!"

Siau Cu ingin bersembunyi tapi sudah tidak sempat lagi. Wan-tianglo tertawa aneh.

"Begitu sampai aku sudah melihatmu. Di sekeliling Pek-hoa-couw sini adalah air, apakah kau bisa kabur begitu saja?"

"Lo-cianpwee!"

Siau Cu terpaksa menyapa.

"Mengapa kau cemberut? Ada kesempatan melayaniku itu sudah menjadi nasibmu yang bagus!"

Kata Wan-tianglo. Siau Cu tertawa.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 125

"Dari pagi sampai malam tidak pernah berhenti, ditendang, dipukul hingga membuat wajahku bengkak, tangan sakit, pinggang sakit. Aku tidak sanggup menerima nasib baik ini!" ' "Bisa tahan banting baru bisa mempunyai masa depan yang cerah' Apakah kau tidak mengerti pepatah ini?"

Wan-tianglo mulai marah.

"Lebih baik aku menjadi Siau Cu seperti sekarang ini!"

"Kau benar-benar tidak mempunyai cita-cita tinggi!"

Wan-tianglo berjalan ke arahnya. Sambil mundur Siau Cu berkata.

"Apa pun yang teijadi, aku menolak mela-yanimu!"

"Nanti jika berlatih aku tidak akan memukulmu keras-keras!"

Wan-tianglo tertawa.

"Tidak mau!"

"Kalau begitu, serahkan Wan Fei-yang!"

Tiba-tiba Wan-tianglo berkata seperti itu. Semua terpaku. Apalagi Fu Hiong-kun. Dia hampir berteriak, langsung bertanya kepada Wan-tianglo mengenai keberadaan Wan Fei-yang. Siau Cu merasa aneh.

"Apakah Wan-toako tidak ada di tempatmu?"

"Kalau ada untuk apa aku mencarinya ke sana kemari?"

Wan-tianglo terlihat marah.

"Benarkah Wan-toako sudah pergi?"

Tanya Siau Cu.

"Kapan aku pernah berbohong? Dilihat dari luar kalau Wan Fei-yang sangat lugu dan jujur, ternyata dia licik juga. Dia mendapatkan cara untuk mengobati dirinya sendiri, gerakannya lincah tapi dia tidak memberitahuku. Saat aku keluar, dia kabur!"

Siau Cu senang. Dia berkata.

"Thian mempunyai mata. Budha memang baik, akhirnya Wan-toako bisa lolos dari maut!"

Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 126

"Apa?"

Wan-tianglo marah besar.

"dia tinggal di tempatku tidak perlu mengkhawatirkan makan dan tempat. Masih ada aku yang setiap hari berlatih silat dengannya. Orang lain ingin pun tidak akan mempunyai kesempatan seperti itu. Sebenarnya dia berbahagia, bagaimana di sana ada bahaya."

Melihat dia benar-benar marah, Siau Cu cepat-cepat berkata.

"Aku salah bicara, Wan-toako berilmu tinggi. Dia adalah teman baikmu, cepatlah cari dia kembali."

Wan-tianglo tidak sebodoh yang Siau Cu kira. Setelah mendengar kata-kata Siau Cu tadi, dia segera tertawa.

"Berarti kau sama sekali tidak tahu keberadaannya. Tampaknya ingin mencari dia bukan hal mudah. Sementara ini lebih baik kau yang melayani aku!"

Siau Cu terkejut.

"Ilmu silatku tidak bagus..."

"Tidak bagus bisa berlatih sampai bagus!"

"Kalau berlatih seperti itu, sekalipun tidak mati akan menjadi cacat, harap Anda melepaskan-ku..."

"Benar-benar tidak tahu diri, tapi bukan kau yang bisa menentukan semuanya!"

Dia segera menangkap Siau Cu. Siau Cu ingin melawan tapi telapak Su Yan-hong sudah dijulurkan untuk menghadang serangan Wan-tianglo. Laju tubuh Wan-tianglo berhenti. Dia melotot kepada Su Yan-hong.

"Siapa kau?"

"Murid Kun-lun, Su Yan-hong!" *** "

Su Yan-hong? Tidak pernah kudengar nama ini!' ucap Wan-tianglo sambil mengerutkan alis.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 127

"Boanpwee orang tidak terkenal di dunia persilatan, Cianpwee pasti tidak pernah mendengarnya!"

"Kau sangat sopan terhadap orang tua, masa depanmu cerah. Apakah kau ingin membela Siau Cu?"

"Hanya mewakili Siau Cu memikirkan perasaan. Sampai di sini saja, Cianpwee jangan membuatnya susah!"

"Apakah semua ini ada kebaikan untukmu?"

"Tidak ada, kami..."

"Kalau tidak ada, atas dasar apa kau bicara seperti itu kepadaku? Kau murid Kun-lun, Tiong Toa-sianseng siapamu? Gurumu?"

"Benar!"

Su Yan-hong tetap bersikap sangat sopan.

"Tidakkah kau melihat aku memukul gurumu hingga babak belur?"

"Aku hanya melihat adanya ketidak adilan. Cianpwee menang tapi tidak secara sempurna?"

"Apa? Kami satu lawan satu, mengapa tidak adil? Mengapa aku menang tidak sempurna?"

"Karena guruku sebelumnya sudah bertarung dengan Coat-suthay, tenaga dalamnya sudah terkuras habis dan tidak ada kesempatan memulihkan diri..."

"Karena ilmu silatnya terbatas, aku bisa menang, tidak perlu waktu untuk pulih..."

"Benarkah?"

Tanya Su Yan-hong.

"Tadi aku sudah bertarung habis-habisan dengan gurumu. Jika kau sanggup, kau bisa mengambil kesempatan ini!"

"Aku memang ingin menerima jurus-jurusmu!"

Su Yan-hong maju. Siau Cu ingin menghalangi pun sudah tidak sempat. Su Yan-hong tertawa.

"Kalau Tetua menganggap remeh musuh, mungkin akan ada banyak hal yang tidak terduga bakal terjadi!"

Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 128

"Kalau begitu, aku ingin lihat apa yang akan terjadi!"

Wan-tianglo tertawa.

Dengan sikap malas-malasan dia mengeluarkan kepalan tangannya untuk memukul.

Setelah melihat kepalan datang, Su Yan-hong menyerang dengan 2 telapaknya.

Semua itu ilmu andalan Kun-lun.

walaupun kepalan tangan Wan-tianglo dijulurkan dengan malas-malasan juga seakan tidak bertenaga dan tidak terjadi perubahan aneh, benar-benar di luar dugaannya.

Tidak disangka sekali menyerang langsung berhasil.

Dia segera memperagakan Thian-liong-pat-sut.

Kepalan tangan dan telapak tangannya walau pun tidak setajam pedang tapi tetap bisa menghasilkan tenaga besar yang bisa membunuh siapa pun.

Wan-tianglo dengan tenang menghadapi.

"Ilmu pedang memang bisa dipakai dalam ilmu telapak dan ilmu kepalan tangan, tapi tetap saja harus melihat panjang dan kerasnya pedang. Jadi menyerang dan bertahan tetap tidak akan sama!"

Hati Su Yan-hong tergerak. Dia orang berbakat jadi dia segera mengerti. Serangan berikutnya juga berbeda.

"Anak pintar!"

Wan-tianglo sangat senang. Pembicaraan di antara mereka pun semakin banyak. Fu Hiong-kun melihatnya.

"Mengapa dia seperti sedang mengajar muridnya?"

Coat-suthay diam, dia hanya menatap Wan-tianglo tapi keringat mulai muncul di dahinya.

Fu Hiong-kun tidak memperhatikan karena dia tertarik pada pertarungan antara Wan-tianglo dan Su Yan-hong.

Terlihat Su Yan-hong bertarung sambil memikirkan ucapan Wan-tianglo.

Gerakannya semakin aneh, dari lambat menjadi cepat, dari mudah menjadi rumit.

Wan-tianglo merasakannya.

Dia mulai merasa senang maka bicara pun semakin banyak.

Tapi dari setiap kata dia melihat titik penting, tidak hanya Su Yan-hong, Tiong Toa-sianseng sampai gemetar dan hatinya bergetar.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 129 Ilmu silat Kun-lun terlihat begitu banyak celah.

Pertama kalinya Tiong Toa-sianseng mendengar hal ini.

Walaupun dia kalah oleh Wan-tianglo, tapi sampai saat ini dia menerima dalam hati.

Setelah menerima Thian-liong-pat-sut, tiba-tiba Wan-tianglo mempercepat gerakannya.

Tiga jurus perubahan berada di balik serangan Su Yan-hong.

Sepasang telapak tangannya tiba-tiba dijatuhkan ke kepala.

Tenaga dalam mengalir.

Su Yan-hong merasa tubuhnya dibentur, dia berjongkok lalu berlutut.

Tiong Toa-sianseng berteriak terkejut.

"Taruhlah belas kasih!"

Wan-tianglo tertawa aneh.

"Itu keberuntungan bukan bencana. Kalau bencana tidak akan bisa menghindar. Kepintaran seumur hidup tidak akan habis dipakai, yang bodoh tidak akan mendapat apa-apa!"

Tiong Toa-sianseng segera mengerti dan tertawa.

Su Ceng-cau tidak mengerti.

Dia yang paling mengkhawatirkan keselamatan Su Yan-hong.

Dia meloncat ke depan tapi dicegat oleh Tiong Toa-sian-seng.

Walaupun tidak bisa menebaknya, dia tetap ber diri di sana untuk melihat perubahan yang terjadi.

Siapa pun tidak akan percaya tapi dia percaya kepada Tiong Toa-sianseng.

Coat-suthay menarik nafas.

"Orang itu memang aneh. Dia rela mengorban kan tenaga dalamnya untuk menembus jalan darah Jin dan Tok untuk murid orang lain!"

Bila jalan darah Jin dan Tok sudah tembus, tenaga dalam pun akan terus mengalir dan tidak akan ada habis-habisnya.

Pesilat tangguh yang sudah berlatih selama puluhan tahun bila tidak tahu jalannya, sampai mati pun belum tentu bisa membuka jalan darah dan Tok.

Walaupun sudah tahu jalannya, butuh waktu selamaLegenda Pendekar Ulat Sutra -3 130 beberapa puluh tahun baru bisa memindahkan tenaga untuk mendobrak kedua jalan darah ini.

Meminjam tenaga dalam orang lain adalah jalan pintas.

Tapi ingin mencari orang seperti itu bukan hal mudah.

Orang itu selain tenaga dalamnya harus tinggi, dia harus mengetahui aliran tenaga dalam lawan, diberitahu baru bisa mencapai tujuan.

Kalau tidak berhati-hati, masuk ke jalan darah yang salah, akibatnya sulit disuga.

Ilmu pedang Tiong Toa-sianseng sudah tinggi tapi tenaga dalamnya belum mencapai tahap seperti itu.

Jalan darah Jin danTok-nya pun belum tembus, lebih-lebih tidak mungkin bisa menembus Jin dan Tok milik Su Yan-hong.

Melihat Wan-tianglo melakukan tindakan ini, dia terkejut sekaligus senang.

Diam-diam dia menjaga mereka, agar tidak ada seorang pun yang mengangggu hingga akhirnya akan gagal.

Su Yan-hong benar-benar mujur.

Dia membiarkan semuanya berjalan dengan alami dengan tenaga dalam Wan-tianglo terkumpul dan menyatu, naik ke tingkat 12 dan berputar sekeliling.

Akhirnya mengalir dengan deras membuka jalan darah Jin dan Tok.

Wan-tianglo menarik kembali tenaga dalamnya dan mundur 3 langkah.

Dadanya naik dan turun.

Setelah beberapa kali mengatur nafas, baru tenang.

Tenaga dalam Su Yan-hong berputar.

Dia bersiul panjang, berdiri tegak, bajunya bergerak-gerak serasa ada angin walau sebenarnya tanpa angin, baru berhenti.

Dia bersemangat tinggi seperti baru menjadi sosok lain.

Tiong Toa-sianseng sangat senang.

Dia segera membentak.

"Yan-hongng, cepat berterima kasih pada Wan-tianglo!"

Sewaktu Su Yan-hong akan berlutut, lengan baju Wan-tianglo terangkat. Dia melotot kepada Tiong Toa-sianseng.

"Aku bermain dengan milikku, jangan ikut campur!"

Tiong Toa-sianseng terpaku. Kata Wan-tianglo.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 131

"Muridmu ini dari sananya berbakat berlatih silat. Kelak kau harus mengajarkan apa yang kau miliki. Jangan sia-siakan bakatnya!"

Tiong Toa-sianseng mengangguk.

"Itu sudah pasti!"

Wan-tianglo menatap Siau Cu.

"Hari ini kita bermain sampai di sini. Ayo, pergi!"

"Kita?"

Siau Cu bertanya dengan lemas.

"Kau sendiri jalan atau aku harus seperti anak elang menangkap ayam. Pilih sendiri!"

"Apakah tidak ada pilihan lain?"

"Ada! Dipukul baru digotong pergi dari sini!"

Siau Cu diam-diam melihat Beng-cu. Beng-cu seperti sengaja menoleh ke tempat lain. Siau Cu mena rik nafas.

"Ayo, kita pergi!"

Ajak Wan-tianglo.

"Tunggu!"

Tiba-tiba Su Yan-hong menyela."Apa maumu?"

Wan-tianglo bertanya dengan aneh. Su Yan-hong memberi hormat.

"Siau Cu tidak mau dan Boanpwee sudah mendapatkan budi dari Cianpwee. Biar Boanpwee yang melayani Cianpwee!"

Wan-tianglo terpaku. Siau Cu segera berteriak.

"Apakah kau tahu kalau orang aneh ini biasanya selalu menyiksa orang?"

"Aku percaya aku akan kuat bertahan!"

Ucap Su Yan-hong. Siau Cu menggelengkan kepala.

"Aku tahu kau setia kawan..."

"Aku melihat banyak hal yang sudah menung gumu membereskannya!"

Siau Cu mengangguk. Wan-tianglo seperti mengerti. Dia tertawa.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 132

"Tidak disangka orang seperti kau bisa mempunyai teman seperti dia!"

Siau Cu ingin mengatakan sesuatu. Wan-tianglo bertanya lagi.

"Benarkah masih banyak hal yang harus kau kerjakan?"

"Tentu saja. Kalau tidak aku tidak akan kabur dari tempatmu!"

"Kau kabur bukan sekarang saja, apakah masalah-masalahmu belum selesai?"

"Mana mungkin secepat itu bisa dibereskan?"

"Kau hanya mempunyai ilmu silat kucing kaki tiga, pasti masalahmu tidak akan mudah diberes kan!"

Wan-tianglo tertawa aneh. Siau Cu terpaku. Kata Su Yan-hong.

"Cianpwee!"

"Tidak perlu banyak bicara. Aku tidak akan melepaskan Siau Cu, aku paling tidak senang dengan murid orang lain!"

"Aku sudah menjadi muridnya!"

Tanggap Siau Cu.

"Apa?"

Wan-tianglo segera menampar Siau Cu hingga Siau Cu terpelanting jauh. Sebenarnya gerakan Siau Cu tidak lambat dan dia bisa menahannya tapi gerakan Wan-tianglo terlalu kuat.

"Kapan kau meminta ijin kepadaku?"

Siau Cu tertawa kecut. Wan-tianglo marah kepada Tiong Toa-sianseng.

"Kau sudah mempunyai murid baik seperti Su Yan-hong, mengapa masih merebut Siau Cu dari ku?"

Tiong-sianseng hanya bisa tertawa kecut. Wan-tianglo berkata kepada Su Yan-hong.

"Walaupun kau baik, tapi kau tidak sesuai dengan seleraku. Dilihat dari sudut mana pun Siau Cu lebih nyaman dibandingkan denganmu. Dia bisa bertahan saat dipukul, selalu banyak bicara, ada dia di sisiku, aku tidak akan merasa kesepian!"

Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 133

"Siapa bilang aku banyak bicara?"

"Hari ini aku bicara sampai di sini saja. Ayo kita pergi!"

Wan-tianglo mencengkeram pundak Siau Cu. Semua berlangsung dengan tiba-tiba dan cepat. Siau Cu sama sekali tidak mempunyai kesempatan untuk menghindar. Su Yan-hong melihat semua itu dan berkata.

"Maaf, aku tidak bisa membantu!"

Siau Cu menggelengkan kepala.

"Ucapan sudah keluar, berkelahi pun sudah tapi kayu bakar tua ini tetap tidak mau kau layani. Aku tidak bisa berbuat apa-apa!"

"Apa kayu bakar tua?"

Wan-tianglo melotot kepada Siau Cu.

"Apakah kau tidak merasa tua?"

Siau Cu balik bertanya.

"Aku tidak pernah mengaku sudah tua!"

"Kalau begitu, apakah kau akan mengaku kurus seperti kayu bakar? Kalau disambung bukan kah akan disebut kayu bakar yang sudah tua?"

Tanya Siau Cu.

"Sembarangan bicara!"

Wan-tianglo mendorong Siau Cu keluar. Akhirnya Beng-cu meloncat keluar.

"Kau, Wan-tianglo, mengapa tidak tahu aturan? Orang tidak mau pergi, kau memaksanya!"

Siau Cu merasa senang. Wan-tianglo melotot.

"Gadis ingusan, kau tahu apa?"

Sewaktu Beng-cu siap berdebat, Lo-taikun menghadang di depannya.

"Dia masih anak-anak, tidak mengerti apa-apa. Harap Cianpwee jangan marah!"

"Siapa yang marah?"

Wan-tianglo segera men cengkeram Siau Cu dan lari seperti terbang pergi dari sana.

Semua masih terpaku melihat kepergian mereka tiba-tiba mereka terkejut karena suara tawa Coat-suthay menggema.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 134 Coat-suthay tertawa dan berteriak.

"Sangat memuaskan!"

Dia segera roboh. Keringat dengan butiran besar menetes. Wajahnya segera berubah menjadi abu dan gelap.

"Supek-bo, ada apa denganmu?"

Coat-suthay berusaha berdiri. Dia tertawa lagi. Tiong Toa-sianseng dan Su Yan-hong segera menghampirinya. Kata Tiong Toa-sianseng.

"Ada apa sehinnga Suthay merasa ingin tertawa?"

"Pertama, aku menertawakanmu yang baru mendapat julukan Thian-sia-te-it-kiam langsung dikalahkan oleh Wan-tianglo!"

Suara Coat-suthay berubah serak. Tiong Toa-sianseng dengan santai menjawab.

"Bertarung pedang atau ilmu silat pasti ada yang kalah dan menang. Itu adalah hal biasa, aku tidak akan menyimpannya di dalam hati!"

Coat-suthay tertawa.

"Kalau kau tidak menyimpannya di dalam hati, mengapa kau mengoleskan racun di pedang! Apa yang lebih mudah lagi dibandingkan mengoleskan racun!"

"Mengoleskan racun?"

"Racun yang sangat ganas. Kalau bukan karena tenaga dalamku sudah dipecahkan oleh hawa pedang, hingga tidak bisa terkumpul lagi, memaksa keluar racun bukan hal sulit!"

Coat-suthay mengangkat tangan kanannya.

Luka gores karena pedang Tiong Toa-sianseng terlihat sepanjang 3 inchi dan kondisinya sudah berubah menjadi ungu kehitaman.

Coat-suthay tertawa lagi.

Dari 7 indranya mengeluarkan darah.

Tawanya berhenti.

Dan dia menghembuskan nafas terakhirnya.

"Mengapa bisa seperti ini!"

Tiong Toa-sian-seng terkejut.

Dia segera merasa semua sorot mata orang melihatnya.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 135 Tidak terkecuali Fu Hiong-kun.

Dia mencoba nadi Coat-suthay, melihat pedang Liong-im-kiam yang ada di tangan Tiong Toa-sianseng.

"Nona Fu sangat mengenal obat-obatan, coba lihat pedangku!"

Suaranya terputus-putus.

Dia melayangkan tangannya.

Di bawah sinar matahari, terlihat ujung pedang hingga punggung pedang memancarkan warna hijau muda.

Orang seperti dia yang pemah mempunyai pengalaman melihat banyak hal, tahu kalau itu adalah bekas noda racun.

"Racun! Mengapa di pedang bisa ada racun?"

Fu Hiong-kun melihat di bawah sinar matahari. Kiang Hong-sim tertawa dingin.

"Harus ditanya kepada Tiong-cianpwee apa yang telah terjadi?"

"Marga Tiong seumur hidup belum pernah menggunakan racun untuk mencelakakan orang!"

Bela Tiong Toa-sianseng.

"Semua hal pasti akan ada pertama kalinya!"

Jawab Cu Kun-cau. Tiong Toa-sianseng masih akan bicara, Fu Hiong-kun bertanya dengan aneh.

"Mengapa bisa racun ini?"

"Racun apa?"

Tanya Su Yan-hong.

"Pi-Iu-cun!"

"Itu nama daun teh!"

"Bentuk racun ini dengan daun teh hampir sama karena itu diberi nama sama seperti itu!"

"Aku tidak pernah mendengarnya, maafkan aku yang tidak tahu apa-apa!"

"Sebenarnya racun ini hampir menghilang dari peredaran. Aku hanya pernah melihatnya di kolam bernama Han-tan yang ada di belakang Bu-tong-san!"

"Bu-tong-san?"

Hati Su Yan-hong segera bergerak.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 136

"Kemarin bukankah Hou-ya yang memberikan Liong-im-kiam kepada Lu Tan?"

Tanya Lo-taikun. 'Maksud Lo-taikun... Su Yan-hong mengerutkan alisnya. Lo-taikun tidak menjawab. Dia malah bertanya lagi.

"Selain Siau Cu, apakah Hou-ya pernah meminjamkan pedang ini kepada orang lain?"

"Tidak pernah!"

"Tidak perlu dibahas lagi, pasti Lu Tan yang mengoleskan racun itu!"

Ucap Cu Kun-cau. Su Yan-hong malah membela Lu Tan.

"Lu Tan bukan orang seperti itu!"

"Kemarin sikap Coat-suthay kepada Lu Tan begitu buruk, pasti dia dendam dan meminjam tangan Tiong Toa-sianseng untuk membalas dendam, apa anehnya?"

Cu Kun-cau marah.

"Sebelum memperoleh bukti, harap semua tenang!"

Kata Lo-taikun.

"Sekarang di mana Lu Tan?"

Tanya Cu Kun-cau.

"Menurut Siau Cu, dia ada di kamarnya!"

Jelas Su Yan-hong. Cu Kun-cau tertawa dingin.

"Pertarungan antara Tiong Toa-sianseng dan Coat-suthay sangat seru, orang yang belajar ilmu pedang tidak akan melewatkan kesempatan ini."

Fu Hiong-kun menyela.

"Sebelum kemari dia bertemu dengan Supek-bo. Mereka bertengkar mulut lagi..."

"Kebencian yang baru dan dendam lama. Kalau dia tidak mengoleskan racun pada pedang malah terlihat aneh!"

Kata Cu Kun-cau.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 137 Fu Hiong-kun dan Su Yan-hong masih ingin membela Lu Tan. Lo-taikun sudah berkata.

"Kalau Lu Tan masih berada di keluarga Lamkiong, kita bisa mencarinya untuk ditanya langsung padanya."

"Semoga dia masih berada di keluarga Lamkiong. Tapi menurutku, dia tidak sebodoh itu!"

Kata Cu Kun-cau dengan dingin.

Lu Tan tidak berada di kamarnya, sampai barang bawaannya pun tidak ada.

Ini semua sesuai rencana busuk, Ciu-ci Lojin sudah terpikirkan akan hal ini.

Apalagi Lo-taikun tahu apa yang harus dia lakukan, dia berpesan kepada orang-orang keluarga Lamkiong untuk mencari tahu keberadaan Lu Tan.

Tiong Toa-sianseng dan Su Yan-hong tidak berpangku tangan begitu saja.

Mereka berpisah mencari dan saling berjanji bila bertemu dengan Lu Tan akan dibawa kembali.

Fu Fliong-kun tidak percaya kalau Lu Tan adalah orang kerdil dan keji, tapi semua sudah terjadi.

Dia sendiri pun tidak bisa menjelaskan hal ini.

Melihat semua sudah bubar, dia segera melihat peti mati yang berisi jenazah Coat-suthay yang meninggalkan keluarga Lamkiong kembali ke Heng-san.

Akhirnya perundingan ilmu pedang di Pek-hoa-couw berakhir seperti ini, semua menyayangkannya.

Hanya beberapa orang keluarga Lamkiong tidak terkecuali apalagi Lo-taikun.

Selain Kiang Hong-sim, siapa sebenarnya Lo-taikun, orang-orang keluarga Lamkiong tidak tahu.

Hingga sore, orang-orang yang dikirim untuk mencari Lu Tan sudah kembali tapi keberadaan Lu Tan tidak ditemukan.

Sedangkan mayat Lamkiong Po berhasil ditemukan.

Sebenarnya maksud Lo-taikun ingin mereka menemukan mayat dan dibawa kembali.

Mayat di atur diletakkan di sebuah kuil tua.

Selain orang baru dari keluarga Lamkiong, tidak semua tahu kuil ini.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 138 Melihat mayat Lamkiong Po, Lo-taikun pura-pura terpukul.

Pastinya yang terlihat paling sedih adalah Bwe Au-siang.

Dia berlari ke depan mayat, ingin menangis.

Tapi belum sempat menangis dia sudah pingsan.

Beng-cu dan Tong Goat-go cepat-cepat memapahnya.

Lo-taikun segera mendekat.

Dengan telapak tangannya dia menekan punggung Bwe Au-siang.

Tenaga dalamnya mengalir masuk.

Bwe Au-siang bergetar, dia tersadar.

Melihat mayat Lamkiong Po, melihat Lo-taikun, bibirnya terus bergetar, tidak bisa bicara.

"Menantu keluarga Lamkiong kapan berubah menjadi begitu lemah?"

Kata-kata Lo-taikun terucap keluar, air matanya juga menetes.

Akhirnya Bwe Au-siang tidak tahan lagi dan menangis sejadi-jadinya.

Lama, hati semua baru tenang.

Lo-taikun menghapus air matanya dan berpesan.

"Buka baju Po-ji, aku ingin lihat dengan jelas bajunya!"

Luka terlihat berada di jantung. Masih ada sepotong ujung pedang yang tersisa. Dengan ujung tongkatnya Lo-taikun mengeluarkan ujung pedang.

"Apakah dia?"

"Siapa?"

"Ini adalah pedang yang dipakai murid Bu-tong-pai. yang datang kemari hanya murid Bu-tong, bernama Lu Tan!"

"Mengapa dia?"

Bwe Au-siang merasa aneh.

"Mengapa tidak boleh dia?"

Lo-taikun balik bertanya.

"Bu-tong-pai adalah perkumpulan besar dan terkenal!"

Jelas Bwe Au-siang. Lo-taikun belum sempat menjawab, Kiang Hong-sim sudah berteriak.

"Di dalam bajunya terselip sepucuk surat!"

"Bawa kemari!"

Perintah Lo-taikun.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 139 Melihat huruf yang ada di surat, Bwe Au-siang segera berkata.

"Itu tulisan suamiku..."

"Coba kau baca!"

Lo-taikun memberikan surat itu kepada Bwe Au-siang. Dengan kedua tangannya yang gemetar Bwe Au-siang menerima surat itu.

"Aku tidak kenal orang ini, dia sangat licik dan kelihatannya dia sudah siap. Aku harus terus mencarinya. Bila terjadi sesuatu bisa bertanya kepada Lu Tan!"

Setelah Bwe Au-siang selesai membaca,, dia benar-benar marah.

"Ternyata benar dia!"

"Pantas dia tidak datang dalam perundingan ilmu pedang dan pergi tergesa-gesa."

Kiang Hong-sim sedang menghasut.

"Lu Tan, aku pasti akan mencarimu sampai menemukamnu. Hutang darah harus dibayar dengan darah!"

Bwe Au-siang marah.

"Bukan hanya mencari Lu Tan, kalian ingin keluarga Lamkiong tidak mempunyai keturunan, tidak akan ada anak cucu. Walaupun keluarga Lamkiong mati semua, tetap akan meminta keadilan kepada kalian!"

Lo-taikun marah.

"Lo-taikun, apa yang telah terjadi?"

"Aku tidak perlu menutupi lagi kepada kalian lagi! Pek-hoa-couw diadakan untuk berunding ilmu pedang, berawal dari keluarga Lamkiong. keluarga Lamkiong bisa mengalahkan semua orang dan berdiri di baris paling depan. Tapi karena itu pula malah membuat semua perkumpulan iri. Walau pun di luar terlihat sungkan tapi sebenarnya mereka mulai menentang keluarga Lamkiong!"

Dengan aneh Beng-cu bertanya.

"Mengapa aku belum pernah mendengar semua itu?"

"Itulah kelicikan mereka. Tapi orang-orang keluarga Lamkiong tidak pernah memperhatikan semua ini, sampai-sampaiLegenda Pendekar Ulat Sutra -3 140 menganggap mereka teman baik. Setiap kali bertarung secara persahabatan selalu terjadi musibah, sampai hari ini!" 'Aku tidak mengerti!' Ini ucapan dari dalam hati Beng-cu, Tong Goat-go, Bwe Au-siang pun berkata seperti itu "Kau tahu kalau sampai saat ini tidak ada yang membantah terhadap ilmu silat semua perkumpulan. Ayahmu menguasainya dan bisa menggunakannya, bisa dikatakan tidak pernah ada yang bisa seperti dia!"

"Semua berkata seperti itu, belakangan ayali ke mana?"

Tanya Beng-cu.

"Kalian ikut aku!"

Lo-taikun membawa tongkat kepala naga.

"Kemana?"

Beng-cu bertanya.

"Kuburan keluarga Lamkiong!"

Lo-taikun tiba-tiba menjadi tua.

Kuburan keluarga Lamkiong sangat luas dan megah.

Lo-taikun dan yang lain tiba di sebuah kuburan paling besar.

Ciu-ci Lojin menunggu di sana.

Dia sangat tahu seperti apa pekerjaannya dan tahu kapan dan di mana harus muncul.

Dia segera membuka pintu rahasia di kuburan itu.

Terlihat anak tangga muncul di hadapan semua orang.

Lo-taikun membawa semua orang berlutut, baru berpesan kepada Beng-cu.

"Kau ke sana dan buka kotak batu yang tersimpan di depan kuburan kakekmu!"

Beng-cu membuka kotak batu itu. Di sana terlihat sehelai kain putih tapi sudah menguning. Di atas kain terlihat huruf-huruf yang ditulis dengan darah. Hurufnya sudah berubah wama karena sudah lama.

"Ini adalah surat yang ditulis dengan darah sewaktu kakekmu menghembuskan nafas terakhirnya. Bacakanlah untuk semua orang!"

Kata Lo-taikun dengan nada bergejolak.

"6 ketua perkumpulan melalui 6 jenis ilmu pedang. Semua mengurung kakek di gunung Coat-liong-leng. Dia terluka parah danLegenda Pendekar Ulat Sutra -3 141 sadar kalau nyawanya tidak akan selamat, dengan darah dia menulis surat ini. Berharap orang-orang keluarga Lamkiong mencari tahu dan menyingkap rencana busuk 6 perkumpulan ini!"

Sau per satu dibacakan oleh Beng-cu, membuat hati orang yang mendengar bergejolak. Lo-taikun benar-benar sedih.

"Mengapa kakek bisa lari ke gunung Coat-liong-leng?"

Tanya Beng-cu.

"Setelah dia menguasai 6 ilmu pedang dari 6 perkumpulan, dia sangat senang dan berkunjung pada 6 ketua perkumpulan, siap memberitahukan apa yang sudah dia pelajari kepada 6 perkumpulan ini. Tidak disangka setelah dia pergi tidak pernah kembali lagi! Karena sudah lama tidak terdengar kabarnya dan aku merasa tidak tenang, baru menyuruh Ciu-ci mencarinya. Setelah bersusah payah baru mendapatkan jejaknya di gunung Coat-liong-leng dan surat darah itu..

"Seharusnya waktu itu juga kita meminta keadilan kepada 6 perkumpulan!"

Ucap Beng-cu. Lo-taikun menggelengkan kepala.

"Hanya dengan kata-kata, kita sulit membuat orang percaya. Apalagi 6 perkumpulan ini orang-orangnya sangat banyak, keluarga Lamkiong tidak akan bisa menghadapi mereka. Jadi aku diam-diam mengirim kelima putraku mencari bukti. Bila bukti sudah cukup baru bisa mengumumkan ke dunia persilatan untuk hal ini. Tidak disangka putraku satu per satu meninggal. Po-ji sudah mempunyai sedikit bukti, tapi dia pun segera dibunuh oleh Lu Tan. Aku selalu melarang Po-ji terlalu menonjol di luar, tidak disangka diam di keluarga Lamkiong tetap saja tidak bisa lolos dari motif pembunuhan!"

Beng-cu menundukkan kepalanya. Lo-taikun melihatnya.

"Ibumu tahu masalah ini dengan jelas. Hanya kau, bibi keempat, dan bibi kelima yang tidak tahu!"

"Seharusnya aku diberi tahu!"Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 142

"Semua belum ada bukti, aku tidak berharap di dalam hatimu dipenuhi dendam!"

Beng-cu terdiam. Kata Lo-taikun lagi.

"Kau tidak diberi tahu karena Po-ji tidak mau kau menjadi khawatir."

Air mata Bwe Au-siang menetes lagi.

"Bok-lan adalah putri Tiong Toa-sianseng dari Kun-lun yang terkenal."

Kiang Hong-sim tertawa dingin.

"Putri seorang ketua perkumpulan terkenal tetap saja melakukan hal memalukan!"

Lo-taikun melayangkan tangan.

"Kepergiannya belum tentu bukan hal bagus. Kita bisa memperhitungkan hutang-hutang ini. Kita akan menjadi lebih leluasa!"

"Apakah hanya mengandalkan kita-kita..."

Bwe Au-siang sangat khawatir.

"Untuk ini kau tidak perlu merasa khawatir. Demi membalas dendam, keluarga Lamkiong sudah melatih pembunuh secara rahasia!"

"Pembunuh?"

Bwe Au-siang dan Beng-cu terpaku.

"Pembunuh perempuan yang tidak pernah merasa takut!"

Dengan penuh semangat Cia Soh-ciu menambahkannya.

"Mengapa tidak takut mati?"

Tanya Beng-cu.

"Karena kita berhasil mendapatkan sejenis obat yang bisa membuat mereka kehilangan sifat asli dan rasa takut..."

"Bukankah itu kurang baik?"

"Tidak ada yang tidak baik. Awalnya mereka terluka dan kita yang menyelamatkan mereka. Sekarang mereka menjual nyawa mereka untuk kita. Kita tidak akan saling berhutang budi!"

Terlihat Cia Soh-ciu menganggap semua ini sangat masuk akal. Beng-cu tetap tidak suka. Tanya Bwe Au-siang.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 143

"Apakah kau tidak mau membalas dendam demi kakek dan ayahmu?"

"Bukan tidak mau, hanya saja belum mendapatkan bukti dari 6 perkumpulan ini..."

"Diam!"

Cia Soh-ciu membentak.

"berarti kau curiga dengan tulisan kakekmu?"

Beng-cu menundukkan kepalanya dan terdiam. Kata Lo-taikun.

"Beng-cu masih kecil. Selain melatih 4 pembunuh ini, kita masih melatih seorang pembunuh yang kemampuannya di atas 4 pembunuh ini. Tapi sayang, Ling-ong tidak mau bekerja sama dengan kita jadi belum berhasil!"

"Ling-ong?"

Bwe Au-siang merasa aneh. Kare na ayahnya adalah pejabat terhadap masalah kerajaan dia tahu banyak dan tahu siapa Ling-ong. Jawab Lo-taikun.

"Agar dengan cepat bisa tercapai tujuan kita, terpaksa menurut kepada Ling-ong. Sebenarnya bisa dikatakan saling memperalat agar masing-masing mendapat kebaikan!"

"Pantas Siau-ongya tiba-tiba datang kemari!"

Kata Bwe Au-siang.

"Kali ini pada rapat Pek-hoa-couw dengan kesempatan ini sebenarnya ingin melihat kekuatan dari 6 perkumpulan. Siapa tahu karena sikap lengah Po-ji dia malah mendapat musibah. Keluarga Lam-kiong benar-benar tidak mendapatkan keberuntungan malah mendapatkan musibah. Tapi dari sini dapat diketahui kalau 6 perkumpulan masih terus menunggu kesempatan mencelakai keluarga Lamkiong."

"Ide apa yang Lu Tan ambil?"

Tanya Bwe Au-siang.

"Itu akan lebih baik. Hari ini Lu Tan tidak pergi ke Pek-hoa-couw dan tinggal di sini. Dia pasti merencanakan sesuatu, semua orang harus berhati-hati!"

"Kapan kita bisa mulai bertindak?"Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 144

"Secepat mungkin! Dalam rapat Pek-hoa-couw, Heng-san-pai dan Hoa-san-pai sudah saling dendam. Coat-suthay mati karena pedang beracun jadi Bu-tong-pai dan Heng-san-pai akan seperti air dan api. Asalkan mereka tidak bekerja sama, kita bisa menyerang mereka satu per satu membuat tujuan tercapai."

Memang sudah seperti yang Lo-taikun rencanakan, kapan pun siap bertindak.

Tujuannya adalah Tiong Toa-sianseng.

Dia memperhatikan Tiong Toa-sianseng dan tahu kalau Tiong Toa-sianseng sendiri tertipu oleh orang-orang yang dia kirim, Lo-taikun sangat senang.

Kali ini dia ingin mencoba kekuatan Hen-lo-sat.

Tiong Toa-sianseng berputar ke sekeliling lalu dia kembali lagi ke wilayah keluarga Lamkiong.

Dia sama sekali tidak tahu akan hal ini.

Sepanjang perjalanan mengejar dan mencari Lu Tan.

Akhirnya dia bisa menemukan orang berbaju sama dan wajahnya mirip Lu Tan.

Tapi dia tidak tahu orang yang dia kejar itu adalah suruhan Lo-taikun.

Orang itu membuatnya mengikuti menuju jalan buntu.

Tiong Toa-sianseng tidak mengenal daerah sana, semua ini sudah diatur dengan teliti oleh Lo-taikun, membuat Tiong Toa-sianseng tidak merasa berputar-putar di wilayah sana.

Lo-taikun melakukan ini dengan tujuan menghabiskan tenaganya.

Pertama dia bertarung dengan Coat-suthay kemudian bertarung dengan Wan-tianglo.

Tenaga dalam Tiong Toa-sianseng sudah terkuras banyak.

Tapi dia masih berniat ingin mencari Lu Tan untuk menanyakan jelas tentang racun di pedangnya.

Dia tidak terpikir harus beristirahat dulu.

Setelah melihat Lu Tan di depan, yang pasti dia ingin mengejarnya.

Dia merasa aneh mengapa Lu Tan bisa ke tempat seperti ini.

Malam sudah larut, dia sampai di jalan buntu.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 145 Di depan terbentang jurang yang curam.

Dinding jurang tegak lurus seperti dipahat.

Bagian kiri dan kanan dinding seperti itu.

Di ujung jalan adalah tempat yang dikelilingi oleh jurang.

Dia berjalan ke sana sama sekali tidak merasa tertipu, di depan selalu ada cahaya terang.

Sekarang dia melihat jelas, cahaya terang itu adalah api unggun, juga melihat jelas di bawah adalah jurang.

Api unggun dinyalakan di bawah dinding gunung.

Di dinding terukir 8 huruf dengan ukuran besar "Tiong Toa-sianseng Toat-beng-yu-ci" (Tiong Toa-sianseng mati di tempat ini).

Akhirnya Tiong Toa-sianseng merasa dia sudah tertipu.

Tapi tetap mengira semua itu adalah rencana busuk Lu Tan.

"Lu Tan, keluarlah!"

Dia berteriak, suaranya yang keras menggema dengan kuat.

Lu Tan tidak muncul.

Yang terdengar suara peluit.

4 orang gadis berbaju hitam keluar dari arah kiri dan kanan.

Mereka adalah 4 pembunuh bernama Bwe, Lan, Ju, dan Tiok.

Mereka melayang-layang seperti 4 ekor kupu-kupu hitam besar.

Tiong Toa-sianseng mengerutkan alisnya.

"Sejak kapan Bu-tong-pai mempunyai murid perempuan?"

Dia tidak bisa melihat 4 orang pembunuh perempuan itu dari perkumpulan mana. Setelah mereka berdiri di depannya, Tiong Toa-sianseng baru bertanya.

"Siapa kalian sebenarnya?" 4 orang gadis berbaju hitam itu tidak bereaksi sedikit pun. Mata mereka yang jernih terus menatap Tiong Toa-sianseng. Hawa membunuh mulai muncul. Melihat 4 pasang mata itu, Tiong Toa-sianseng merasa dingin. Entah mengapa tiba-tiba dia merasa kalau keempat orang gadis itu bukan manusia melain kan 4 ekor binatang. Tidak ada yang menjawab. Tiong Toa-sianseng bertanya lagi.

"Apa mau kalian sebenarnya?"

Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 146 Suara peluit terdengar lagi. 4 orang gadis itu sama-sama mencabut pedang. Mereka mulai menyerang Tiong Toa-sianseng.

"Kalau kalian tidak bicara, jangan salahkan aku sebagai orang yang tidak mempunyai perasaan!"

Pedang Tiong Toa-sianseng sudah dicabut keluar.

Dia menunjuk 4 orang gadis berbaju hitam itu.

Tidak ada yang menjawab.

Mereka sudah menyerang tempat-tempat penting Tiong Toa-sianseng.

Tiong Toa-sianseng mulai marah.

Begitu pedang dicabut keluar, setiap jurus yang dipakai bertujuan membunuh.

Niat Tiong Toa-sianseng adalah memukul pedang mereka hingga jatuh kemudian menotok nadi mereka baru bertanya lebih jelas.

Setelah beberapa kali beradu pedang, Tiong Toa-sianseng mulai merasa kalau ilmu silat keempat gadis itu tidak biasa dan merasa aneh.

Usia mereka masih muda tapi mempunyai tenaga dalam yang kuat.

Tapi dia tetap percaya kalau dia bisa menggetarkan pedang mereka hingga terlepas dari genggaman tangan.

Tenaga dalamnya ditambah, dialirkan ke batang pedang.

Perkiraan Tiong Toa-sianseng adalah keempat gadis itu tidak akan kuat menahan pedangnya.

5 pedang saling beradu.

Di dalam suara dentingan pedang, 4 tangan gadis itu tergetar hingga sobek dan mengeluarkan darah.

Tapi pedang tetap dipegang dengan erat, terus menyerang Tiong Toa-sianseng.

4 pedang seperti 4 gunting, mengunci pedang panjang Tiong Toa-sianseng.

Ini benar-benar di luar dugaan Tiong Toa-sianseng.

Sekali pukul tidak membuat pedang mereka terlepas, itu di luar dugaan.

Hal ini membuat pedangnya tidak bisa ditarik keluar, membuatnya terbunuh.

Hen-lo-sat muncul di luar dugaaan.

Diiringi suara peluit, dia bergerak secepat kilat, meloncat datang.

Sepasang Wan-yo-to menyerang tempat penting Tiong Toa-sianseng.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 147 Mendengar ada yang datang, Tiong Toa-sian-seng tahu bila ingin menarik pedang yang terkunci walaupun sempat tapi tubuhnya akan bergeser ke belakang.

Akibatnya tidak terbayangkan.

Dalam keadaan bahaya ini, dia tidak mundur malah maju dan berputar, dia juga mulai terhuyung-huyung.

Tiong Toa-sianseng bisa melindungi tempat penting, tapi punggungnya terbacok 2 kali.

Itu di luar dugaan.

Sudah lama dia tidak pernah terluka parah seperti ini.

Akhirnya dia sanggup mencabut pedangnya dari penguncian 4 pembunuh itu dan balik menyerang 3 kali, tapi selalu tertahan oleh Hen-lo-sat.

Tangan kanan dari pergelangan tangannya tergetar hingga terbelah.

"Kau siapa?"

Saat kata-kata ini terucap keluar, 4 pedang dari belakang sudah menyerangnya.

Hen-lo-sat tidak bersuara.

2 Wan-yo-to sudah membacok lagi Tiong Toa-sianseng, dia benar-benar menyesal dengan kata-katanya tadi.

Kalau dia tidak bertanya dia bisa lolos dari serangan 4 golok, paling sedikit dia bisa menahannya.

Dalam jeda waktu sesaat dia berhenti dan bertanya, 2 golok dari 4 golok sudah membacok punggungnya.

Walaupun 2 kali bacokan tidak mengenai tempat penting, yang mengenai jalan darah penting adalah 2 golok Hen-lo-sat.

Karena dia melayangkan pedang dan ingin memutar tubuh tapi tubuhnya terkunci oleh golok yang menancap di belakangnnya.

Golok panjang Hen-lo-sat sudah menepis jantungnya.

"Kalian siapa? Mengapa membunuhku?"

Pertanyaan Tiong Toa-sianseng belum selesai, nafasnya sudah putus.

Tentu sajaa Hen-lo-sat dan 4 pembunuh itu tidak menjawab.

Saat Su Yan-hong mencari sampai ke jalan buntu itu, itu sudah hari kedua di siang hari.

Sepanjang perjalanan Tiong Toa-sianseng selalu meninggalkan tanda.

Ditambah orang keluarga Lamkiong yang membawa jalan jadi Su Yan-hong bisa tiba di tempat itu.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 148 Sebenarnya Lo-taikun ingin membunuh Su Yan-hong tapi terpikir kalau Su Yan-hong adalah Hou-ya juga terpikir mungkin dia masih bisa diperalat.

Melihat mayat Tiong Toa-sianseng, Su Yan-hong terkejut.

Melihat 4 huruf yang ada di tanah dekat jari Tiong Toa-sianseng, dia bertambah bingung.

"Lu Tan membunuhku!"

Itu adalah 4 huruf yang ditulis Tiong Toa-sianseng di tanah.

Sampai huruf terakhir, jarinya pecah dan mengeluarkan darah.

Su Yan-hong sulit percaya semua ini, tapi sebelumnya dia sudah mendapat kabar dari keluarga Lamkiong bahwa karena mengejar Lu Tan dia terbunuh.

Mengapa Lu Tan bisa seperti ini?

Su Yan-hong terus berpikir, tapi tetap saja tidak ada jawabannya.

Terpaksa dia membawa mayat Tiong Toa-sianseng dari sana.

Fu Hiong-kun tidak menyangka bisa begitu cepat bertemu dengan Su Yan-hong.

Dia juga melihat Su Yan-hong seperti membawa sebuah kereta kuda berisi peti mati.

Apalagi setelah tahu kalau Tiong Toa-sianseng sudah meninggal dan pembunuhnya adalah Lu Tan.

"Mengapa Lu Tan bisa melakukan semua ini?"

Fu Hiong-kun merasa aneh.

"Racun yang ada di Liong-im-kiam, Lamkiong Po terbunuh, guruku dibunuh, semua menunjukkan hal ini dengan jelas kepadanya!"

Fu Hiong-kun tertawa kecut.

"Apakah dia mempunyai ilmu setinggi itu hingga bisa melakukannya seorang diri?"

"Itu bukan masalah, mungkin dia dibantu seseorang!"

"Kau mulai percaya pada hal ini?"Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 149

"Aku hanya percaya pada keadaan yang terjadi. Sebenarnya seperti apa kejadiannya, pasti suatu hari akan terungkap dengan lebar!"

"Aku berharap agar kita jangan terlambat mengerti!"

Fu Hiong-kun mengelus-elus peti mati Coat-suthay.

"Kali ini kita datang ke rapat Pek-hoa-couw, diam-diam guru sudah menghitung dan hasilnya adalah cahaya sangat tidak mujur. Dia terus berpesan kepada bibi guru harus berhati-hati. Tapi bibi guru tidak mengingatnya!"

"Mengingat pun percuma. Bukankah guruku selalu berhati-hati juga?"

Su Yan-hong menarik nafas.

"Bibi guruku tidak akur dengan guru. Itu karena sifat bibi guru sangat keras. Pastinya tidak bisa menjaga mulut, membuat semua orang merasa muak karenanya!"

"Tapi kadang-kadang dia tidak salah menilai orang. Dia tidak berkata Lu Tan seperti apa, hanya berkata seharusnya Bu-tong-pai tidak mengirim wakil seperti dia!"

"Orang bersifat keras tidak bisa menjaga mulut!"

"Selain Lu Tan, Bu-tong-pai masih mengirim siapa lagi?"

Fu Hiong-kun terdiam, dia tahu keadaan Bu-tong-pai dengan jelas. Beberapa kali mengalami musi bah, tidak ada pesilat tangguh yang tersisa.

"Rapat di Pek-hoa-couw memang tidak peduli siapa yang menang atau kalah. Kali ini aku datang bersama guru tujuannya adalah melihat-lihat. Ini semua ide guru!"

Su Yan-hong berpikir jauh.

"dulu kalau bukan karena guru menganggapku berbakat dalam berlatih ilmu silat dan membawaku ke Kun-lun, mungkin sekarang aku hanya seorang pejabat."

"Supek-bo kali ini membawaku kemari agar bisa melihat-lihat. Tidak disangka terjadi begitu banyak hal. Aku benar-benar sulit menerimanya. Setelah pulang nanti entah apa yang harus kujelaskan!"

Kata Fu Hiong-kun.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 150

"Gurumu selalu masa bodoh dalam menghadapi semua masalah. Memberitahunya tidak akan sulit. Keadaanku malah lebih sulit darimu. Bila Toan Hong-cu Susiok tahu hal ini, aku tidak tahu apa yang akan terjadi!"

"Toan Hong-cu? Sifatnya seperti api? It-nu-ciam-thian-hong (Asal marah pelangi di langit pun akan dibacok), Toan Hong-cu?"

Fu Hiong-kun terkejut.

"bukankah dia sedang menutup diri..."

"Sudah 18 tahun. Dihitung-hitung sepertinya sudah sampai waktunya dia keluar."

"Hubungan Kun-lun dengan Bu-tong-pai pasti akan memburuk!"

Fu Hiong-kun khawatir.

"Lain kali kalau kita bertemu mungkin di Bu-tong-san!"

"Bu-tong-san?"

Sorot mata Fu Fliong-kun seperti sedih.

"setiap kali pergi ke Bu-tong-san perasaannya selalu berbeda. Tapi yang jelek selalu lebih banyak, kali ini pasti seperti itu juga."

"Tapi semua masalah harus ada akhirnya dan menjadi jelas semua. Walaupun sifat Susioknya seper ti api, rapi aku percaya dia bukan orang yang tidak pengertian. Aku tidak mengerti mengapa Lu Tan melakukan semua ini. Mungkin di baliknya ada hal lain tapi dia benar-benar bukan orang seperti itu!"

"Kalau dia tidak keluar, waktu itu entah apa yang akan terjadi padanya."

Tarikan nafasnya terdengar, Fu Hiong-kun mengayunkan tangan menyuruh kusir terus berjalan.

Su Yan-hong ingin mengejar tapi jalan yang ditempuh tidak sama.

Begitu cepat bisa bertemu dengan Fu Hiong-kun, baginya sudah cukup memuas kan.

Tidak hanya Su Yan-hong, Fu Hiong-kun dan Su Ceng-cau pun tidak percaya kalau Lu Tan adalah orang seperti itu.

Di depan Cu Kun-cau dia terus membela Lu Tan.

Tapi Cu Kun-cau tetap menuduh Lu Tan pembunuh.

Dia tidak mengenal Lu Tan juga tidak menyimpan dendam, tapi dia tidak suka kepadanya.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 151 Su Ceng-cau tidak membela Lu Tan.

Melihat orang lain tidak melihatnya, diam-diam dia kabur ke Bu-tong-san untuk menanyakan dengan jelas pada Lu Tan.

Apakah Lu Tan berada di Bu-tong-san, dia sen diri tidak tahu, dia juga tidak terpikir hal lain.

Sifatnya memang seperti itu, ingin melakukan apa langsung dikerjakan tanpa berpikir panjang.

Saat Cu Kun-cau mengetahui adiknya menghilang, dia tidak sempat menghadang, mengejar pun tidak sempat.

Dia tidak menyangka kalau Su Ceng-cau akan mencari Lu Tan.

Su Ceng-cau menyukai Su Yan-hong, Cu Kun cau mengetahuinya.

Su Ceng-cau tidak pernah menutupinya.

*** Malam itu juga Su Yan-hong tinggal di penginapan In-lai.

Dia sulit tidur.

Saai mendengar suara seruling, segera keluar untuk melihat.

Alunan suara seruling itu terdengar sangat sedih.

Seperti mendengar ada sesuatu walaupun Su Yan-hong tidak ingat di mana tempat itu tiba-tiba dia teringat pada Siau Sam Kongcu.

Yang meniup suling di pekarangan itu memang Siau Sam Kongcu.

Wajahnya pucat seperti baru sembuh dari sakit berat.

Su Yan-hong mendekatinya.

Siau Sam Kongcu baru tersadar dan memanggil.

"Su-heng..."

"Ternyata benar Siau-heng, apa kabar?"

Siau Sam Kongcu tertawa sedih.

"Lumayan! Seharusnya Su-heng berada di Pek-hoa-couw, mengapa bisa berada di sini?"

"Tampaknya Sisu-heng tidak tahu apa yang telah terjadi."Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 152

"Apa yang terjadi?"

"Rapat di Pek-hoa-couw..."

"Jika aku tidak salah tebak, seharusnya gurumu yang mendapat kemenangan pada saat terakhir."

"Apakah benar, tidak seorang pun yang merasa yakin."

"Mengapa bisa seperti itu? Apakah terjadi sesuatu?"

"Aku tidak tahu harus menceritakannya dari mana, di mana Sumoi sekarang?"

"Kau menanyakan keadaan Bok-lan?"

Siau Sam Kongcu bertambah aneh.

"Bukankah dia bersamamu?"

"Mengapa dia bisa bersamaku?"

"Ini tambah aneh, ke mana dia?"

Tiba-tiba Siau Sam Kongcu mencengkeram pundak Su Yan-hong.

"Cepat beritahu padaku apa yang terjadi!"

Tidak sulit menjelaskan hal ini.

Su Yan-hong menceritakan apa yang sudah terjadi selama beberapa hari ini.

Mengetahui Bok-lan sudah meninggalkan keluarga Lamkiong, Siau Sam Kongcu terlihat tegang sekaligus terharu.

Setelah tahu Lamkiong Po, Tiong Toa-siansengn, dan Coat-suthay meninggal, dia terkejut.

"Tidak disangka dalam waktu sehari 2 pesilat pedang terkuat meninggal!"

Siau Sam Kongcu menarik nafas.

"walaupun gurumu tidak suka padaku, tapi melihat ilmu silatnya aku benar-benar kagum dari dalam hatiku!"

"Suhu dan Siau-heng sebenarnya hanya salah paham..."

"Sekarang kalau mengatakan kalau itu bukan salah paham, kepergian Bok-lan dari keluarga Lam-kiong sedikit banyak aku yang bertanggung jawab."

Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 153

"Sebenarnya sebelum Bok-lan menikah dengan orang keluarga Lamkiong, kalau kau punya keberanian seperti ini sekarang pun tidak akan seperti ini!"

Siau Sam Kongcu mengangguk. Kata Su Yan-hong lagi.

"Kurasa dia belum tahu setelah rapat Pek-hoa-couw, banyak hal yang sudah terjadi!"

"Sekarang ke mana Bok-lan?"

Kata Siau Sam Kongcu, dia terlihat sangat khawatir, dia bertanya lagi.

"apakah kalian percaya Lu Tan yang membunuh?"

"Dari luar terlihat seperti itu!"

"Aku hanya beberapa kali bertemu dengannya, tapi aku melihat dia bukan tipe orang seperti itu!"

"Rapat Bu-tong-san pasti memiliki cara untuk membereskannya. Bagaimana lukamu?"

"Lumayan!"

Siau Sam Kongcu tertawa kecut..

"terlihat kalau nasibku tidak jelek. Mungkin mati pun tidak jadi karena memiliki keberuntungan yang terus mengikutiku!"

"Oh ya?"

Su Yan-hong tahu kalau Siau Sam Kongcu akan menghadiri pertemuan lain.

"Waktu itu kalian meninggalkanku, aku baru tahu kalau kantong uangku tertepis hingga jatuh. Aku hanya membawa uang kecil di saku, apalagi aku sudah terluka dan merasa lelah. Aku benar-benar merasa kewalahan, untung aku masuk penginapan ini!"

"Apakah di penginapan ini ada temanmu?"

"Tidak ada. Bos penginapan ini adalah Paman Ho dia orang yang sangat baik. Dia menyuruhku tinggal di kamar nyaman juga membawa tabib yang baik untukku. Apalagi makan juga obat-obatan diurus olehnya. Dia menahanku terus di sini sampai sembuh baru membolehkan aku meninggalkan penginapan ini!"

"Dia benar-benar orang yang baik!"

"Setelah sembuh entah harus dengan cara apa aku membalas budinya."Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 154

"Keuangan tidak menjadi masalah. Hanya hutang budi ini aku tidak bisa membantu Siau-heng untuk membalasnya."

"Su-heng..."

"Kalau kau menganggapku teman, jangan terus bicara dengan sungkan!"

Tiba-tiba Siau Sam Kongcu menarik nafas.

"Entah di mana Bok-lan sekarang?"

"Dia berani meninggalkan keluarga Lamkiong dia pasti mencarimu!"

Kata-kata ini terucap keluar, hatinya bergerak.

Setelah berpamitan dengan Siau Sam Kongcu, Su Yan-hong tidak segera kembali ke kamarnya.

Dia langsung mencari bos penginapan.

Orang yang dipanggil paman Ho oleh Siau Sam Kongcu pasti sudah ada umur.

Paman Ho berambut dan berjanggut putih.

Tapi tetap terlihat bersemangat.

Sewaktu Su Yan-hong mencarinya, dia sedang berada di kantor sedang menghitung pembukuan.

Dia sangat berpengalaman, begitu melihat baju dan penampilan Su Yan-hong, dia tahu kalau tamunya ini orang kaya.

Begitu tahu dia adalah teman Siau Sam Kongcu, kelihatan kalau dia sangat senang.

"Tuan muda itu mengenal banyak orang. Kelihatannya kalau dia bukan orang kaya pasti orang terhormat dan Tuan ada perlu apa?"

"Aku ingin menyewa sebuah kereta!"

"Asalkan Tuan berani mengeluarkan uang, itu adalah hal yang mudah! Sekarang sudah malam, untuk apa Tuan menyewa kereta kuda? Aku takut kalau keretanya tidak ada..."

"Aku ingin membawa Siau Sam Kongcu pulang supaya bisa diobati,"

Jawab Su Yan-hong. Paman Ho terpaku, kemudian berteriak.

"Tidak bisa!"

"Tidak bisa?"

Su Yan-hong sengaja menatapnya.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 155 Dengan gugup Paman Ho berkata lagi.

"Tuan itu sedang sakit, kalau melakukan perjalanan jauh, itu tidak baik!"

"Aku akan berhati-hati. Dia teman baikku, meninggalkan dia di sini membuatku tidak tenang."

"Aku akan mengurusnya..."

"Dia sudah berhutang berapa kepadamu, biar aku yang melunasinya!"

"Uang tidak menjadi masalah. Sudah malam begini, mana mungkin ada kereta kuda?"

"Bukankah tadi kau mengatakan asalkan mau mengeluarkan uang, tidak akan menjadi masalah?"

Su Yan-hong segera mengeluarkan satu tail perak. Dia memberikannya kepada Paman Ho.

"Aku akan segera beres-beres, carikan kereta kuda!"

Setelah itu dia segera membalikkan tubuh pergi.

Paman Ho ingin memanggilnya tapi tidak dilayani.

Dia seperti semut di dalam kuali terus berputar-putar.

Begitu melihat di luar tidak ada seorang pun, akhirnya dia keluar.

Sesampainya di belakang penginapan, ada sebuah kamar di tempat sepi.

Paman Ho melihat ke kiri dan kanan, tidak ada siapa pun, dia segera menge tuk pintu kamar itu 3 kali.

Dari dalam terdengar suara perempuan yang bertanya.

"Siapa?"

"Aku!"

Paman Ho tetap melihat ke kiri dan kanan. Pintu kamar dibuka, seorang perempuan men julurkan kepalanya. Dia adalah Tiong Bok-lan.

"Bukankah aku sudah berpesan bila tidak ada hal penting jangan mencariku!"

"Tuan yang Nona minta aku yang urus, hari ini bertemu dengan temannya dan temannya ini akan membawa tuan itu pulang!"

Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 156 Tiong Bok-lan terpaku.

"Kau tertipu!"

Dia segera menutup pintu dan membalikkan tubuh, lalu keluar melalui jendela. Di luar jendela terbentang halaman. Su Yan-hong sedang berdiri di sana. Dia melihat Bok-lan dan menggelengkan kepala.

"Mengapa harus seperti itu?"

Bok-lan segera memanggil.

"Hou-ya!"

"Seharusnya kau memanggilku Suheng. Kau berada di dunia persilatan!"

"Mengapa Suheng di sini?"

"Hanya lewat, tidak disangka Siau Sam Kong-cu juga ada di sini."

Begitu menyebut Siau Sam Kongcu, Tiong Bok-lan segera melihat ke sekeliling.

"Aku sendirian mencarimu!"

Jelas Su Yan-hong. Bok-lan menghembuskan nafas. Kata Su Yan-hong.

"Kalau Paman Ho orang baik, tidak mungkin dia menjual arak yang dicampur dengan air."

"Karena Suheng minum arak yang sudah dicampur air maka jadi curiga?"

"Hanya untuk lebih meyakinkan penginapan ini seperti apa dan bos penginapannya adalah orang seperti apa. Begitu masuk aku harus langsung tahu. Aku merasa tidak enak hati, juga bisa melihat tapi Siau Sam Kongcu adalah orang berpengalaman, dia tidak melihatnya."

"Bukankah Suheng..."

Tibatiba dia teringat pada ayahnya. Su Yan-hong segera menghentikan pembicaraan.

"Di sini bukan tempat untuk bicara..."

"Apakah terjadi sesuatu pada ayah?"

Bok-lan terus bertanya.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 157 Su Yan-hong tidak menjawab, dia membawa Bok-lan ke tempat di mana peti mati diletakkan.

Melihat peti mati Tiong Toa-sianseng, Tiong Bok-lan terus menangis.

Sambil berjalan, Su Yan-hong menceritakan apa saja yang terjadi selama beberapa hari ini.

Dia memang percaya Su Yan-hong tidak akan membohonginya.

Tapi karena semua hal terjadi terlalu tiba-tiba membuat dia sulit untuk menerima semuanya.

"Aku benar-benar anak tidak berbakti!"

Bok-lan menangis.

"Masalah datang sangat tiba-tiba!"

Kata Su Yan-hong. Bok-lan bicara sendiri.

"Tidak mendengar ucapan ayah adalah hal tidak berbakti. Meninggalkan keluarga Lamkiong dianggap tidak setia, apakah ada tempat yang bisa menampungku lagi?"

"Menurutku, Lo-taikun adalah orang yang pengertian..."

Kata Su Yan-hong.

"Tidak ada gunanya. Orang keluarga Lamkiong yang lainnya tidak akan berpikir seperti itu. Tapi apa pun yang terjadi aku akan kembali setelah masalahku selesai!"

"Maksudmu, Siau Sam Kongcu?"

Bok-lan hanya diam. Tanya Su Yan-hong.

"Apakah sepanjang jalan kau selalu mengurusnya?"

"Aku tidak akan membiarkan dia mengetahuinya."

"Untuk apa kau berbuat seperti itu?"

"Kau tahu aku tidak mungkin bersama dengannya tapi aku tidak tega melihat dia patah hati dan sakit, sedangkan aku hanya berpangku tangan saja!"

"Apakah kau tidak terpikir setelah kau meninggalkan keluarga Lamkiong, apa pun yang kau lakukan, orang lain tetap akan mengganggap kalau kau pergi bersama-sama Siau Sam Kongcu?"

"Mana boleh..."Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 158

"Mereka hanya menebak sembarangan. Dari pada seperti itu, mengapa kau tidak mau terus terang kepada orang-orang bahwa kalian saling mencintai."

"Aku ..."

"Siau Sam Kongcu terlihat tidak bersemangat karena dirimu. Jika kalian berpisah begitu dia sakit, mengapa kau tidak melepaskan diri darinya. Bukalah lapang dadamu..."

"Maksud Suheng?"

"Aku hanya terpikir ini dan langsung menyampaikannya padamu. Mengenai apa yang harus kau lakukan, lebih baik kau sendiri yang mengambil keputusan!"

Tiong Bok-lan terdiam. Tiba-tiba Su Yan-hong menoleh.

"Mengapa Siau-heng tidak masuk?"

"Apa?"

Bok-lan terkejut. Pintu terbuka. Siau Sam Kongcu sambil menarik nafas, dia menatap Su Yan-hong.

"Sebenarnya aku tidak terlalu bodoh!"

"Kau melihat aku menaruh curiga kepada bos penginapan bukan?"

Siau Sam Kongcu mengangguk.

Dia melihat Bok-lan seperti orang bodoh.

Bok-lan sengaja menghindari sorot matanya dan menundukkan kepala.

Su Yan-hong melihat mereka berdua.

Diam-diam keluar dan menutup pintu.

Lama Siau Sam Kongcu baru membuka suara.

"Aku harus bagaimana berterima kasih padamu?"

Bok-lan menggelengkan kepala. Siau Sam Kongcu jalan ke depan dan ingin memeluk tapi Bok-lan malah mundur hingga ke sudut dinding. Siau Sam Kongcu berhenti melangkah.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 159

"Kau sudah meninggalkan keluarga Lam-kiong jadi jangan kembali ke sana. Aku pasti akan mengurusmu. Kita jangan sampai berpisah lagi..."

"Kau tahu itu tidak mungkin bukan?"

"Tapi sepanjang jalan kau selalu mengurusku bukan?"

"Aku tidak tega..."

"Apakah kau tega melihat kita berdua seumur hidup hanya sedih dan susah terus-menerus?"

"Kalau hal ini tidak dianggap menyedihkan dan susah, mana mungkin akan tumbul perasaan sedih dan susah?"

Siau Sam Kongcu terpaku. Kata Tiong Bok-lan lagi.

"Selama beberapa hari ini banyak hal sudah terjadi padaku, aku pun banyak berpikir. Walaupun belum bisa mengerti akan semuanya tapi ada sedikit yang sudah kutangkap. Aku tidak peduli apa pun yang orang lain katakan karena aku tidak melakukan apa-apa.'' "

Kalau begitu, di antara kita..."

"Walaupun tidak bisa menjadi suami istri, tapi kita bisa menjadi teman baik!"

"Teman baik?"

Siau Sam Kongcu terdiam.

"Coba kau pikir dulu, kalau kau menganggap itu tidak mungkin, aku tidak akan memaksamu!"

Sikap Bok-lan terlihat sangat serius.

Siau Sam Kongcu dengan tatapan bingung melihatnya, lama baru mengangguk.

Hari kedua pagi.

Siau Sam Kongcu, Su Yan-hong, dan Tiong Bok-lan bersama-sama meninggalkan penginapan In-lai.

Bok-lan berjalan di sisi peti mati Tiong Toa-sianseng.

Terkadang menarik nafas.

"Suheng, menurutmu, apakah aku tidak pantas pergi ke Kun-lun?"

"Pertama, Siau-heng butuh orang yang mengurusnya. Kedua, sekarang ini kau tidak cocok muncul di dunia persilatan. SuhuLegenda Pendekar Ulat Sutra -3 160 adalah orang yang pengertian. Di dunia sana, beliau tidak akan marah padamu. Kau sudah bisa berpikir dengan jernih, untuk apa masih harus memikirkan peraturan dan kebiasaan orang-orang?"

Bok-lan mengangguk.

"Bila ingin berbakti kepada orang tua, seharus nya ketika orang tua kita masih hidup. Bila sudah meninggal, tidak bisa berbuat apa-apa lagi!"

"Sewaktu guru masih hidup, bukankah kau sudah melakukan semuanya dengan baik?"

Tanya Su Yan-hong.

"untuk masalah kematian guru, aku pasti akan mencari tahu dengan jelas siapa pelakunya. Sampai masalah ini akhirnya menjadi terang!"

"Di belakang Hoa-san ada sebuah gubuk. Bila ada kabar, kirimkanlah ke sana!"

"Lebih bersemangat, Siau-heng!"

Setelah bicara ini, Su Yan-hong segera berlalu.

Melihat kereta kuda menjauh, Siau Sam Kong-cu dan Tiong Bok-lan baru membalikkan tubuh berjalan ke arah yang berbeda.

Kaburnya Su Ceng-cau bukan pertama kalinya.

Untuk sifatnya yang satu ini, Ling-ong tidak suka tapi juga sudah terbiasa.

Apalagi ada masalah yang lebih berat.

Itu karena kedatangan pasukan Ong-souw-jin secara tiba-tiba.

Bersamaan kedatangan Ong-souw-jin masih ada sebuah perintah dari kaisar.

Dengan alasan ada pemberontakan di bagian selatan dan memerintahkan Ong-souw-jin membawa pasukannya meredam pem berontakan dan agar lebih mudah mengatur pasukan, kaisar memerintahkan Ling-ong untuk sementara mengembalikan kekuatan pasukan di 3 propinsi ini.

Dalam hati Ling-ong sangat marah tapi di luar terlihat seperti tidak terjadi apa-apa.

Dari luar dia melihat Ong-souw-jin, sepertinya dia juga tidak mengetahui pikiran Ling-ong.

Setelah membacakan perintah kaaisar, dia berkata.

"Ini adalah perintah Kaisar!"Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 161

"Aku tahu!"

Ling-ong pura-pura tidak terjadi apa-apa.

"Negara bagian selatan sudah beberapa kali menyerang kita, melewati perbatasan, jadi keputusan ini diambil oleh Baginda karena terpaksa. Harap Ling-ong mengerti."

"Aku mengerti! Jika Kaisar sudah mengambil keputusan seperti ini, aku pasti akan mendukung beliau!"

"Apakah Ong-ya setuju?"

"Orang-orang kerajaan harus mementingkan negara, aku pasti akan mendukungnya!"

"Terima kasih Ong-ya sudah mengerti masalah ini. Ini benar-benar suatu keberuntungan bagi semua rakyat!"

"Sekarang kita harus melihat kepandaianmu."

"Ong-ya terlalu sungkan!"

Ong-souw-jin segera berdiri.

"kalau begitu, kami pamit dulu!"

"Aku tidak akan mengantar. Aku akan menye rahkan kekuatan pasukan di 3 propinsi kepada Baginda!"

Ling-ong masih bisa tertawa.

Setelah Ong-souw-jin menjauh, tawa Ling-ong baru berhenti.

Cu Kun-cau yang sedari tadi diam-diam mendengar semuanya di balik sekat, sekarang baru keluar.

Ling-ong tertawa dingin.

"Aku sudah menghindar hal ini sampai di Kang-lam, kau tetap saja masih mencari kerepotan dan memaksa. Kau benar-benar keterlaluan!"

"Jelas-jelas dia berniat mengikis kekuatan ayah!"

Ucap Cu Kun-cau.

"Itu sudah sangat jelas! Ketiga propinsi ini adalah tempat di mana kekuasaanku juga tempat di mana pasukannya paling banyak. Jika kekuatan ini diambil alih oleh Ong-souw-jin, berarti sama dengan kedua tanganku akan patah."

Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 162

"Kaisar benar-benar keterlaluan! Seharusnya Ayah mendengar kata-kataku dari awal, bawalah pasukan menyerang ke daerah utara!"

"Kau tahu tindakan seperti itu dicap memberontak!"

"Tapi kita melakukannya karena terpaksa. Ayah selalu setia kepada kerajaan tapi di sana hanya ada kaisar yang hanya tahu main dan minum. Demi kepentingan rakyat, semua terpaksa harus dilakukan!"

Ling-ong menggelengkan kepala.

"Sudah terlambat!"

"Belum terlambat! Sekarang kita mulai atur strategi, masih sempat!"

"Benarkah?"

Terlihat hati Ling-ong mulai tergerak.

"Tapi ada satu titik yang Ayah harus tahu. Demi keamanan kita harus membunuh An-lek-hou terlebih dulu!"

"Membunuh Yan-hong?"

Ling-ong terkejut.

"Dulu karena Liu Kun salah tafsir kekuatan An-lek-hou sampai di mana, dia gagal total!"

"Bila ingin membunuhnya, itu bukan hal mudah!"

"Apakah Ayah lupa pada keluarga Lam-kiong?"

"Benar, keluarga Lamkiong!"

Ling-ong segera tertawa.

"bunuh dulu An-lek-hou, singkirkan orang yang menghadang, baru menguasai negara ini!"

Cu Kun-cau segera tahu kalau ayahnya bermaksud seperti ini, dia merasa sangat senang.

157-157-157 Peti mati Tiong Toa-sianseng sudah berada di Kun-lun.

Di Kun-lun ada murid yang membawa pulang kabar dari dunia persilatan, tapi semua masih belum percaya.

Sampai peti mati Tiong Toa-sianseng tiba, mereka baru percaya dan terkejut.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 163 Di satu pihak karena belum ada bukti.

Kedua, mereka takut kepada Toan Hong-cu jadi kabar ini belum mereka sampaikan kepada Toan Hong-cu, otomatis Su Yan-hong harus yang harus menyampaikannya.

Ini semua sudah berada dalam perkiraan Su Yan-hong.

Menurut sifat Toan Hong-cu, bila dia tahu kalau Tiong Toa-sianseng sudah terbunuh mana mungkin dia masih akan terus berada di Kun-lun-san, mungkin saja dia sudah turun gunung untuk membunuh.

Akan menimbulkan musibah yang lebih besar lagi.

Kecuali kalau dia sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Gosip yang beredar di dunia persilatan belum tentu benar.

Sewaktu mereka siap turun gunung uintuk mencari tahu, Su Yan-hong sudah tiba.

Su Yan-hong tahu dengan jelas.

Terhadap Su Yan-hong, Toan Hong-cu selalu berhubungan baik.

Berarti Su Yan-hong adalah orang yang paling tepat menyampaikan kabar ini kepada Toan Hong-cu.

Sewaktu Su Yan-hong siap-siap, murid Kun-lun membawa 2 pengawal istana yang datang membawakan perintah Kaisar.

Terhadap pengawal istana yang membawa berita cepat itu, Su Yan-hong tidak merasa aneh.

Yang aneh adalah ada masalah apa sehingga Kaisar mencarinya.

Dalam perintah Kaisar, tidak dicantumkan penjelasan, hanya menyuruh Su Yan-hong segera kembali ke ibukota, ada hal yang harus dirundingkan.

Su Yan-hong tidak menanyakan hal apa hingga mencarinya, karena dia tahu seperti apa sifat Kaisar.

Kalau di dalam kain perintah tidak tertulis dengan jelas, pasti tidak akan diberitahu apa penyebabnya kepada kedua pengawal itu.

Yang pasti itu adalah hal penting.

Begitu bertanya, ternyata pengawal yang di kirim Kaisar mencarinya tidak hanya mereka berdua saja.

Kaisar mencarinya begitu buru-buru pasti ada hal penting.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 164 Dia segera menyelesaikan masalah di Kun-lun-san langsung kembali ke ibukota.

Sebelumnya kedua pengawal itu sudah kembali terlebih dulu.

Tapi kedua pengawal itu berkukuh ingin pulang bersama dengannya.

Su Yan-hong tahu kalau ini pesan dari Kaisar jadi dia berpesan kepada murid Kun-lun untuk menyiapkan tempat tinggal mereka.

Dia segera bertemu dengan Toan Hong-cu.

Toan Hong-cu bertapa di sebuah gua di puncak gunung.

Terlihat tidak ada yang istimewa.

Sebenarnya bertapa atau tidak bagi Toan Hong-cu tidak ada bedanya.

Dalam kurun waktu bertapa itu, dia tetap menerima murid-murid Kun-lun, untuk mencari tahu bagaimana mengatasi ilmu silat yang mereka rasa sulit.

Hanya saja semua orang tahu kalau sifatnya keras dan tidak sabaran maka seringkali tidak mau mengganggunya.

Sewaktu Su Yan-hong tiba di depan gua, dia mendengar dari dalam gua keluar suara.

"Apakah Yan-hong sudah kembali?"

"Pendengaran Susiok benar-benar hebat!"

Su Yan-hong berjalan masuk. Toan Hong-cu tertawa.

"Dari langkah seseorang, berat atau ringannya bisa membedakan ilmu silat yang dimilikinya. Murid Kun-lun yang mempunyai ilmu seperti ini hanya kau saja"

Su Yan-hong sudah berdiri di depan Toan Hong-cu.

Toan Hong-cu duduk di tengah gua kuno itu.

Rambut dan janggutnya semua putih, panjang sampai ke mata kaki.

Dia terlihat seperti seekor binatang aneh.

Sinar matanya terpancar keluar.

Orang yang mengerti akan tahu kalau dia adalah seorang pesilat yang mempunyai tenaga dalam kuat.

Melihat Su Yan-hong, dia segera tertawa.

"Bocah, 3 Hari tidak bertemu kau sudah berubah total!"

"Apa kabar, Du Yan-hong?"

Su Yan-hong berlutut.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 165

"Tidak sebaik dirimu. Umurmu masih muda tapi nadi Jin dan Tok-mu sudah terbuka!"

Melihat bagian luar Su Yan-hong dia sudah tahu tentang ini, hal ini benar-benar membuat Su Yan-hong kagum. Kata Toan Hong-cu.

"Aku tidak salah menilai. Di antara murid-murid Kun-lun, kau yang paling berhasil!"

"Ucapan Paman Guru terlalu berat!"

Su Yan-hong terpana, dia tampak sedang memikirkan bagaimana menyampaikan kabar ini. tapi Toan Hong-cu sudah bertanya.

"Cepat katakan, apakah telah terjadi sesuatu?"

Sifatnya benar-benar terburu-buru. Begitu melihat ekspresi di wajah Su Yan-hong, dia segera bertanya.

"Apakah telah terjadi sesuatu?"

"Setelah rapat di Pek-hoa-couw, guru meninggal!"

"Apa?!"

Toan Hong-cu menggebrak meja dan berdiri. Meja terbuat dari batu itu berderak dan pecah berantakan. Su Yan-hong terkejut, baru akan mengatakan sesuatu, Toan Hong-cu segera bertanya.

"Cepat beritahu padaku, siapa yang membunuh gurumu?"

Su Yan-hong belum menjawab, Toan Hong-cu segera berkata lagi.

"Rapat pedang di Pek-hoa-couw mencapai titik tertentu. Dengan kemampuan ilmu silat gurumu, kalau bukan karena ada yang mempunyai rencana busuk, dia tidak akan sampai terbunuh. Cepat ceritakan!"

Su Yan-hong menceritakan semuanya dari awal sampai akhir. Toan Hong-cu menunggu hingga cerita habis baru membuka suara.

"Melihat sifat gurumu, dia tidak akan membubuhkan racun pada pedang. Dengan kemampuan ilmu silat Coat-suthay, dia lawanLegenda Pendekar Ulat Sutra -3 166 gurumu. Kemenangan itu sudah pasti. Untuk apa menggunakan cara keji seperti ini?"

"Semua orang mengatakan seperti itu!"

"Gurumu terbunuh, berarti hal ini tidak ada hubungannya dengan dia. Yang patut dicurigai adalah Lu Tan dari Bu-tong-pai!"

"Semua orang mengatakan seperti itu!"

"Menurut pendapatmu, Lu Tan bukan orang seperti itu. Orang penampilan biasa tahu wajah tidak tahu isi hatinya, siapa yang bisa menjaminnya?"

Su Yan-hong terdiam.

Dengan aneh dia melihat Toan Hong-cu.

Menurutnya, sifat Toan Hong-cu sudah banyak berubah, dia lebih tenang.

Bertapa di tempat ini sedikit banyak pasti mempengaruhi sifat seseorang.

Kata Toan Hong-cu.

"Coat-suthay menghina Bu-tong-pai, men-bubuhkan racun di atas pedang gurumu untuk membalas dendam, itu sangat masuk akal. Tapi sam pai gurumu tidak tahu mengenai itu, sulit membuat orang percaya."

"Aku yakin ini bukan idenya. Mungkin rencana busuk. Semua menyangkut Bu-tong-pai dan dunia persilatan."

Su Yan-hong mengerutkan alis. Dia tidak tahu harus bagaimana membela Bu-tong-pai. Toan Hong-cu berkata lagi.

"Bu-tong dan Kun-lun selalu mempunyai hubungan seperti kakak beradik. Kali ini menggunakan cara seperti itu, terpaksa aku harus mendatangi Bu-tong-san dan menanyakan dengan jelas kepada Lu Tan. Kita harus menuntut Bu-tong-pai dan meminta keadilan!"

Su Yan-hong mengerutkan alis.

"Masalah ini menyangkut pihak sangat luas. Sampai putra yang tersisa di keluarga Lamkiong pun terbunuh. Semua sudah berjanjiLegenda Pendekar Ulat Sutra -3 167 sebulan kemudian bersama-sama pergi ke Bu-tong-pai untuk membereskannya."

"Baik, biar marga Lu itu hidup 1 bulan lagi!"

Su Yan-hong menarik nafas, Semua sudah terlihat sangat jelas, kecuali bisa menyerahkan Lu Tan dan dia mempunyai pesan sehingga bisa membuat semua orang merasa puas.

Kalau tidak, entah bagaimana nasib Bu-tong-pai sulit dibayangkan!

Su Yan-hong baru turun dari Kun-lun-san sudah diawasi oleh orang keluarga Lamkiong.

Kabar nya langsung disampaikan kepada Cia Soh-ciu dan Kiang Hong-sim.

Mereka adalah orang yang bertanggung jawab atas tindakan mereka kali ini.

Kelihatan sangat mudah, menggunakan merpati menyampaikan surat, menggunakan kuda memberi kabar.

Di antara dua hal ini sudah bisa melewati tangan 20 orang lebih.

Sampai di tangan Kiang Hong-sim dan Cia Soh-ciu sudah 5 hari berlalu.

Kiang Hong-sim sangat senang.

Cia Soh-ciu tampak sedikit ragu.

"An-lek-hou tidak masuk ibukota. Kalau tidak, dia akan melewati jalan ini. Kita tunggu di sini agar jangan cepat lelah kemudian secara tiba-tiba mencabut nyawanya!"

Di wajah Kiang Hong-sim mulai muncul kemerahan, dia semakin senang.

"Mengapa Lo-taikun harus membunuh An-lek-hou? Kalau diketahui oleh orang lain nama keluarga Lamkiong akan terjadi pengaruh besar."

"Kekhawatiran Cia Soh-ciu bukan tidak ada alasannya, karena Su Yan-hong adalah Hou-ya.

"Demi mendapatkan obat-obatan dari Ling-ong, dia menyuruh kita melakukan semua ini, kita harus lakukan!"

"Betul juga!"

Cia Soh-ciu terpaksa menanggapi seperti itu.

"Sebenarnya marga Su tidak perlu mati, itu malah disayangkan!"

"Mengapa?"

"Kau lupa dia dari Kun-lun. Semua murid dari perkumpulan terkenal dan lurus, apakah mereka ikut membunuh orang-orangLegenda Pendekar Ulat Sutra -3 168 keluarga Lamkiong, hanya dia sendiri yang tahu. Apalagi dia berada di atas. Kerajaan pasti sudah membuat banyak hal yang merugikan orang lain!"

"Tapi dia bukan orang seperti itu!"

"Pejabat tidak ada yang baik!"

Cia Soh-ciu terdiam. Kata Kiang Hong-sim lagi.

"Kerajaan membiarkannya masuk Kun-lun begitu lama. Jika mengatakan dia tidak ikut membunuh keluarga Lamkiong, itu tidak mungkin!"

"Betul!"

Cia Soh-ciu akhirnya mengeluarkan aura membunuh.

Perkiraan Kiang Hong-sim tidak salah.

Su Yan-hong dan 2 pengawal melewati jalan itu.

Saat mereka berniat mengejar, tiba-tiba terdengar suara ribut dari belakang.

Ternyata sekelompok orang sedang berjalan menghampiri dan terdengar beberapa kali tawa aneh.

Mereka berdua dengan cepat segera bersembunyi.

Tawa Wan-tianglo mudah dibedakan.

Asalkan pernah mendengar satu kali saja akan selalu teringat padanya.

Orang seperti Wan-tianglo sangat sedikit.

Tempat yang dia lewati selalu dikerumuni orang-orang, tapi dia sama sekali tidak peduli.

Apa yang dia pikirkan tidak ada seorang pun yang tahu.

Mungkin karena itulah dia tinggal di Sian-tho-kok dan berteman dengan kera.

Dia berjalan tidak cepat.

Tangannya menarik sebuah kereta terbuat dari kayu.

Di atas kereta tersimpan kurungan dari kayu dan sekelilingnya ditutup dengan tikar.

Entah apa yang ada di dalam kurungan itu.

Cia Soh-ciu dan Kiang Hong-sim bersembunyi di sudut.

Setelah Wan-tianglo lewat, mereka baru berani keluar.

Kiang Hong-sim dengan aneh berkata.

"Orang aneh itu kemari mau apa ya?"

Cia Soh-ciu belum menjawab, Kiang Hong-sim sudah berkata lagi.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 169

"Di dalam kurungan itu pasti ada benda penting. Kalau tidak, dia tidak akan menarik dan membawanya berjalan. Menurutmu, apakah itu?"

"Aku hanya tahu orang aneh itu sangat merepotkan, ilmu silatnya tinggi, lebih baik jangan mendekatinya!"

Jawab Cia Soh-ciu.

"Betul!"

Ujar Kiang Hong-sim, dia juga tidak mau mencari masalah dengan Wan-tianglo.

Wan-tianglo terus menarik kereta kayu itu, sesampainya di sebuah kuil tua yang ada di sisi kota, baru berhenti dan menyibakkan tikar.

Dia juga tertawa.

"Apakah kau tahu sekarang kau berada dimana?"

Di dalam kurungan kayu itu terbaring seseorang.

Dialah Siau Cu yang dibawanya dari Pek-hoa-couw.

Entah ide dari mana dia menggunakan cara seperti ini membawa Siau Cu.

Siau Cu tidak bersemangat.

Dia tidak menjawab, hanya melihat Wan-tianglo dengan sepasang matanya.

Melihat Siau Cu tidak bereaksi apa-apa, Wan-tianglo berteriak lagi.

"Apakah benar kau tidak tahu di mana ini?"

Siau Cu menjawab tanpa nafsu.

"Tempat apa pun sama saja bagiku."

"Tidak sama!"

Wan-tianglo menggelengkan kepala,"kuil pun ada bermacam-macam. Setiap kuil memiliki keistimewaan!"

"Aku hanya tahu kemana pun aku pergi tetap akan dikurung di dalam kurangan ini!"

Cetus Siau Cu dengan dingin. Wan-tianglo sangat senang.

"Aku tidak bisa berbuat apa-apa, karena di dalam perutmu penuh dengan air jahat. Kau terlalu licik kalau tidak menggunakan cara ini, bagaimana bisa membawamu kembali ke Sian-tho-kok!"

"Apa pun yang aku katakan sama saja. Bentuk mu tidak mirip manusia jadi tidak memiliki sifat manusia!"

Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 170

"Kau mulai membahas sifat manusia lagi!"

Wan-tianglo tertawa.

"kalau aku tidak mempunyai sifat manusia, mana mungkin aku akan menutup kurungan ini dengan tikar. Maksudku adalah timbul kekhawatiran bila kau sampai dilihat orang, mereka akan merasa sedih!"

"Aku rasa kau khawatir bila ada orang yang melihatku dikurung, dan akan ada yang mengadu-kanmu ke kantor polisi!"

"Apakah orang seperti diriku bisa takut polisi?"

Rambut Wan-tianglo terus melayang beterbangan.

"Dari dulu polisi yang takut padaku!"

"Memang seperti itu. Tapi orang-orang dari kantor polisi itu tetap merepotkan. Kau adalah orang yang takut dibuat repot!"

"Sembarangan bicara! Aku paling suka mencari kerepotan!"

"Sehalusnya kau mengatakan kalau kau suka membuat orang lain repot!"

Tiba-tiba Wan-tianglo tertawa.

"Dipikir-pikir memang seperti itu!"

"Aku mengenalmu tidak hanya sebentar, aku mengetahui bagaimana sifatmu!"

"Tapi orang lain tidak bisa melihatnya. Dari sini bisa diketahui kalau kita bisa akur dan dengan cepat menjadi teman baik!"

Siau Cu melotot, dia seperti baru melihat Wan-tianglo dan bertanya.

"Siapa yang mengajarimu berkata-kata seperti ini?"

"Apa?"

Wan-tianglo seperti tidak mengerti.

"Kita akan menjadi teman akrab?"

Siau Cu menatap Wan-tianglo. Tiba-tiba dia tertawa terbahak-bahak, tawanya terdengar seperti disengaja.

"Apakah tidak akan bisa?"

Tanya Wan-tianglo.

"Tidak! Karena kau tidak tahu apa yang disebut sebagai teman!"Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 171

"Siapa yang bilang?' "

Aku yang bilang. Kalau kau menganggap aku adalah teman, mana mungkin memperlakukanku seperti ini?"

"Apakah kau lapar? Aku akan mencari makan an untukmu!"

"Aku tidak mau bicara lagi!"

Siau Cu membalikkan tubuhnya. Wan-tianglo segera bergeser mencari wajah Siau Cu.

"Aku mengerti maksudmu, kau dikurung di dalam sini jangan salahkan aku. Kalau kau tidak kabur tadi dan mau mengikutiku kembali ke Sian-tho-kok, mana mungkin aku akan mengurungmu seperti ini."

"Apa baiknya tinggal di Sian-tho-kok? Setiap hari hanya bengong di lembah. Membosankan!"

"Banyak kera yang menemanimu, mengapa kau merasa bosan?"

"Aku bukan kera. Aku hanya tahu bahasa manusia, aku tidak seperti dirimu!"

Siau Cu sedang berputar-putar lalu marah kepada Wan-tianglo. Tapi Wan-tianglo tidak menangkap maksudnya, malah berkata.

"Pelan-pelan kau akan mengerti, tidak sulit kok!"

Siau Cu tutup mulut dan tidak mau bicara lagi. Tiba-tiba Wan-tianglo bertanya.

"Di mana Wan Fei-yang? Kau pasti tahu. Setelah dia meninggalkan Sian-tho-kok, dia pasti mencarimu!"

"Bicara denganmu yang tidak tahu aturan, semua juga jadi tidak ada aturan!"

Tidak lama kemudian Wan-tianglo baru berkata.

"Jika marga Wan itu tertangkap lagi akan kuberitahu kelihaianku juga akan menyuruhnya mencicipi seperti apa rasanya dikurung di kurungan kayu ini!"

"Betulkan! kau sendiri mengaku kalau dikurung di sini rasanya tidak enak!"

"Aku tidak pernah mengatakan ada banyak orang lalu aku baru membungkus kurungan ini!"

Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 172 Siau Cu terdiam. Kata Wan-tianglo.

"Kau benar-benar tidak tahu niat hati yang baik seperti apa!"

"Orang baik! Ha ha ha!"

"Apakah kau ingin aku melepaskanmu?"

"Tidak!"

"Temani aku bermain beberapa jurus, apakah kau mau?"

"Tidak!"

Wan-tianglo malah tertawa. Melihat dia tertawa, Siau Cu menarik nafas. Tidak jauh di luar dugaannya, Wan-tianglo segera berkata.

"Dengan baik-baik, kau tidak mau mendengar ku, apakah harus menggunakan kekerasan!"

Kemudian dia membuka pintu kurungan dengan sepotong kayu tua dia ingin mengorek kurungan itu. Siau Cu segera berteriak.

"Aku akan keluar!"

Sambil membungkukkan tubuhnya Siau Cu merangkak keluar dan dengan malas-malasan berkata.

"Harap memberi petunjuk!"

Wan-tianglo tertawa.

"Siau Cu, jangan kira aku lupa kalau aku telah menotok beberapa nadimu, kalau tidak dibuka kau tidak akan bisa mengeluarkan tenagamu!"

"Tidak perlu memakai tenaga dalam masih bisa bertarung!"

"Itu namanya bukan bertarung melainkan hanya bermain-main!"

"Kalau bukan main-main, namanya apa?"

Wan-tianglo tidak mengatakan apa-apa. Dia segera membuka totokannya, langsung melambaikan tangan.

"Cepat, cepat ke sini!"Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 173

"Jalan darahku baru saja dibuka, tenaga dalam juga belum berputar dengan lancar. Untuk apa kau buru-buru?"

"Kau banyak alasan!"

Kedua tangan Wan-tianglo sudah terjulur keluar untuk menyerang.

Siau Cu cepat-cepat menahannya.

Dia tahu bagaimana sifat Wan-tianglo, sekali menyerang pasti sungguhan.

Kalau tidak ditahan, yang rugi adalah dia sendiri.

Kaki dan tangan Wan-tianglo mulai bergerak.

Perubahan yang terjadi sangat cepat dan rumit.

Di dunia persilatan mungkin tidak ada orang yang bisa menahannya.

Satu per satu jurus Siau Cu dicairkan.

Dia tidak sulit melayani karena sudah terbiasa dan dia memegang perubahan jurus lama Wan-tianglo.

Dia tahu bagaimana mengatasi serangan Wan-tianglo.

Perubahan Wan-tianglo semakin rumit juga semakin cepat.

Gerakan kedua tangan Siau Cu terpaksa menjadi semakin cepat.

Ini pun berdasarkan pengalaman yang sudah-sudah.

Kalau tidak bisa melayani harus dipukul beberapa kali baru bisa lolos.

Setiap kali bertarung dengan Wan-tianglo, dia sangat berhati-hati dalam melihat perubahan-peru-bahannya, baru bisa mencari cara memecahkan jurus Wan-tianglo.

Dia hanya berharap bisa menahan dan tidak dipukul, itu saja!

Awalnya dia mengira perubahan jurus-jurus Wan-tianglo akan ada habisnya, tapi sampai sekarang dia sadar hari ini akan terjadi hal lain.

Setiap kali pasti ada jurus yang baru malah semakin aneh dan rumit.

Yang paling sulit seperti asal-asalan dan tidak terlihat jejak.

Kecuali kalau kau mengikuti perubahan ini dengan cepat dan lincah seperti dia, mungkin bisa menghindari pukulan.

Kalau tidak, sulit untuk ditahan.

Kali ini pun tidak terkecuali.

Setelah menyerang Siau Cu dengan cepat, jurus baru segera keluar lagi.

Siau Cu berusaha menahannya tapi pada akhirnya dia terpukul hingga jatuh terguling di bawah.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 174 Wan-tianglo sedang senang-senangnya.

Melihat Siau Cu terjatuh, dia berteriak.

"Bangun, bangun! Main lagi, main lagi!"

"Tidak, aku sudah tidak kuat!"

"Usia masih begitu muda, mengapa begitu cepat tidak bisa bertahan lagi?"

"Cepat...? Apakah kau tahu sudah berapa jurus kita lalui?"

"Apa hubungan semua ini dengan berapa jurus yang telah dilalui?"

Siau Cu tahu sulit bicara dengan orang ini, dia segera mengganti topik pembicaraan.

"Kau lupa kalau aku seharian terkurung di dalam sana. Kaki dan tanganku tidak bisa bergerak bebas, peredaran darahku juga tidak lancar. Bisa bertahan sampai sekarang itu adalah suatu mujizat!"

"Benarkah itu berpengaruh?"

"Kalau tidak percaya, coba kau masuk ke sana!"

Wan-tianglo tertawa.

"Siau Cu, kau ingin dengan cara ini menipuku supaya aku masuk ke dalam kurungan itu, kau kira aku bodoh?"

Siau Cu mengangkat bahunya. Kata Wan-tianglo lagi.

"Aku akan mempunyai cara untuk membereskan hal ini tapi sampai sekarang masih belum terpikirkan!"

"Kalau sudah terpikir, beritahu padaku. Aku ingin istirahat dulu!"

"Baik, hari ini kita sampai di sini saja dulu, kembali lagi ke kurunganmu!"

Siau Cu berjalan kembali ke kurungan, baru membalikkan tubuh. Wan-tianglo segera menotok beberapa nadinya.

"Kapan kau berubah jadi begitu hati-hati?"

"Lebih baik aku selalu berhati-hati!"

Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 175 Setelah Siau Cu masuk ke dalam kurungan kayu, Wan-tianglo segera menutup kurungan dengan tikar. Siau Cu menarik nafas.

"Aku ingin menghirup udara segar, melihat langit pun tidak sanggup!"

Wan-tianglo menggelengkan kepala.

Baca Juga: Bangau Sakti 15

Baca Juga: Kim Hoa Piauw Kho Ping Hoo

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert