Eps 7 Legenda Pendekar Ulat Sutera - Huang Ying
Baca online Legenda Pendekar Ulat Sutera - Huang Ying
Cersil Legenda Pendekar Ulat Sutera - Huang Ying.
"Tempat ini memang terpencil, tetap saja bisa ada orang yang lewat. Jika melihatmu berada di dalam kurungan, entah apa yang akan terjadi."
"Ada kau yang menjagaku, siapa yang bisa mengeluarkanku dari kurungan ini?"
"Kalau aku terus menjagamu di sini pasti tidak perlu merasa khawatir, tapi aku ingin keluar dulu mencari makan!"
Tiba-tiba Wan-tianglo menjulurkan tangannya, menotok jalan darah bisu Siau Cu.
Siau Cu sama sekali tidak menyangka terjadi hal ini, dia tidak bisa menghindar lagi.
Wan-tianglo menepuk tangannya dan tertawa.
"Bila ada orang yang lewat, kau tidak akan bisa berteriak minta tolong!"
Siau Cu terpaku.
Wan-tianglo tidak bicara apa-apa.
Dia bersiul aneh, bersalto keluar dari kuil.
Hanya sebentar sudah menghilang.
Siau Cu yang ada di dalam kurungan hanya bisa tertawa kecut.
Terkurung di dalam ini bukan hal yang menyenangkan, Siau Cu merasa kesal.
Di dalam kurungan dia terus berpikir.
Memikirkan kematian gurunya Lam-touw sampai sekarang tidak mencapai titik terang.
Dia juga teringat pada Beng-cu, entah kapan baru bisa bertemu lagi dengannya.
Waktu itu sikap Beng-cu kepadanya berubah, hal ini membuatnya kesal.
Di dalam kurungan itu, dia berdiri karena merasa tidak nyaman, duduk pun tidak nyaman, sampai terdengar ada yang berjalan.
DiaLegenda Pendekar Ulat Sutra -3 176 membuka sedikit tikar yang menyelubungi kurungan untuk melihat keluar.
Kurungan ditaruh di depan jendela.
Dia melihat di luar jendela ada 3 perempuan yang sedang berjalan ke arah kuil.
Yang kiri dan kanan mengenakan baju ketat, perempuan yang di tengah mengenakan baju berwarna merah muda.
Wajahnya ditutup kain berwarna muda, hanya terlihat sepasang mata jemih.
Perempuan yang ada di kiri dan kanan juga menutupi wajah mereka, hanya terlihat 2 mata.
Siau Cu tidak mengenali mereka.
Mereka adalah Cia Soh-ciu dan Kiang Hong-sim.
Merasa kalau ketiga perempuan itu tidak wajar, apalagi Hen-lo-sat yang berada di tengah.
Begitu melihat sorot matanya, Siau Cu merasa ada hawa dingin muncul dari dalam hatinya yang terdalam.
Dia tidak pernah melihat ada sorot mata begitu dingin dan kejam.
Cia Soh-ciu dan Kiang Hong-sim membawa Hen-lo-sat berhenti di depan kuil, kemudian mereka berpisah ke kiri dan ke kanan lalu naik ke atas pohon, hanya tinggal Hen-lo-sat sendiri di bawah.
Hen-lo-sat memegang sepasang golok.
Siau Cu ikut melihat ke arah mereka berjalan.
Tidak lama kemudian dia melihat ada 3 orang berjalan mendatangi.
Dari kiri dan kanan adalah 2 pengawal yang mengenakan baju istana.
Setelah melihat mereka, jantung Siau Cu hampir meloncat keluar.
Orang itu adalah Su Yan-hong!
Siau Cu pintar, dia terus berpikir.
Dan mulai bisa menebak apa rencana ketiga perempuan tadi.
Terlihat Su Yan-hong semakin mendekat.
Dia ingin keluar untuk memberitahu padanya tapi tidak ada tenaga untuk menghancurkan kurungan.
Ingin berteriak, jalan darah bisunya sudah ditotok.
Su Yan-hong mulai merasakan perbedaan Hen-lo-sat dengan orang lain.
Dia juga tahu kalau Hen-lo-sat menghadang di tengah jalan adalah untuk menghadapi dia.
Tapi sampai di depan Hen-lo-Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 177 sat, Hen-lo-sat tidak bereaksi apa-apa.
Terpaksa dia pura-pura tidak tahu dan lewat di sisi Hen-lo-sat.
Su Yan-hong tidak melihat Cia Soh-ciu dan Kiang Hong-sim yang bersembunyi di atas pohon.
Tapi Siau Cu melihat kepala Cia Soh-ciu, dia bersiap-siap meniup sebuah pipa berwarna hijau.
Siau Cu tidak tahu itu peluit yang menguasai Hen-lo-sat.
Dia mengira kalau itu adalah senjata rahasia yang siap ditembakkan ke arah Su Yan-hong.
Karena cemas, dia menjulurkan tangannya menggoyang-goyang jendela yang tua kuil.
Karena digoyang-goyang, jendela menjadi rusak.
Su Yan-hong mendengarnya, bersamaan waktu peluit berbunyi.
Hen-lo-sat segera membawa goloknya, membacok punggung Su Yan-hong.
Su Yan-hong berbalik menoleh karena mendengar suara jendela hancur dan tepat melihat ada 2 buah golok yang akan membacoknya dengan cepat dia menghindar.
Reaksi Su Yan-hong sangat cepat.
Jika bukan karena Siau Cu yang mengeluarkan suara sehingga membuatnya menoleh, ingin menghindar golok yang menyerangnya tetap saja akan sulit.
Kedua pengawal dengan cepat kembali dan melihat yang terjadi.
Mereka membentak.
"Berhenti!"
Golok sudah dikeluarkan. Salah satu dari mereka membentak.
"Kau berani.."
Kata-katanya belum selesai, sepasang golok Hen-lo-sat sudah menepis lago. Dengan cepat mereka melayangkan golok untuk menahan. Su Yan-hong segera membentak.
"Mundur!"
Dengan ilmu silat yang dimiliki dan pengalamannya, dia melihat kedua pengawal itu bukan lawan Hen-lo-sat.
Tepisan sepasang golok Hen-lo-sat itu apakah mereka bisa menerimanya?
Harus dipikirkan dulu.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 178 Su Yan-hong mencabut pedangnya.
Kedua pengawal itu tidak tahu kelihaiannya.
Saat Su Yan-hong menyuruh mereka mundur, itu pun sudah terlambat.
Dua golok Hen-lo-sat berputar.
Satu golok menepis.
Dua pengawal tadi dibacok, benar-benar gerakannya ringkas dan bersih.
Walaupun Su Yan-hong sudah melihat kelihaian Hen-lo-sat, dia tetap saja merasa terkejut.
Saat ingin menyelamatkan mereka sudah tidak sempat lagi.
Setelah golok Hen-lo-sat ditarik dan dia membalikkan tubuh, dia melihat Su Yan-hong.
Matanya terlihat sangat indah, Su Yan-hong mengakui itu.
Tapi dia pun merasa kalau mata itu bukan mata seorang manusia.
Perasaan ini pernah ada saat dia memperhatikan Hen-lo-sat, sekarang dia bertambah yakin.
Dia tidak menyerang dengan pedang.
Hen-lo-sat pun tidak menyerangnya dengan golok.
Secara berturut-turut membunuh 2 orang, aura membunuh Hen-lo-sat sepertinya sudah mendingin.
"Siapa kau?"
Tanya Su Yan-hong. Suara peluit terdengar lagi. Hen-lo-sat segera melayangkan golok. Su Yan-hong menahan dengan pedangnya dan bertanya.
"Siapa yang menyuruhmu melakukan semua ini?"
Hen-lo-sat tidak menjawab, sepasang golok terus menyerangnya.
Setelah menerima serangan golok beberapa kali, ilmu 'Thian-liong-pat-sut' segera dikeluarkan.
Karena jalan darah Jin dan Tok-nya sudah tembus.
Tenaga dalamnya terus mengalir keluar.
Thian-liong-pat-sut pun keluar dengan baik dan bagus.
Jurus golok Hen-lo-sat sangat mudah dan berguna.
Kalau tidak disambut akan mati.
Dia juga siap mempertaruhkan nyawa.
Su Yan-hong pertama kalinya bertemu dengan lawan seperti itu.
Thian-liong-pat-sut belum selesai berhasil dicairkan oleh dua golok Hen-lo-sat.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 179 Hen-lo-sat terus maju menyerang.
Serangan sepasang goloknya, arahnya selalu berada di luar dugaan Su Yan-hong.
Hingga terpaksa mundur.
Ilmu meringankan tubuhnya yang hebat pun tidak ada waktu digunakan.
Mundur dan mundur, sampai di belakangnya dinding kuil.
Su Yan-hong sadar kalau mundur ke sini akan menjadi jalan kematiannya, tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
Dua golok Hen-lo-sat berputar.
Su Yan-hong merasa ada tenaga kuat yang datang.
Tangan kanannya bergetar, kelima jarinya sudah tergetar.
Pedang tidak bisa dipegang lagi dan terlepas hingga terbang ke langit.
Sewaktu meloncat ke atas ingin mengejar pedangnya, golok Hen-lo-sat sedang membacoknya.
Terlihat kalau Su Yan-hong akan terluka karena sepasang golok ini.
Tiba-tiba puluhan buah pir datang.
Dua buah pir memukul golok Hen-lo-sat, yang lainnya memukul tubuh Hen-lo-sat.
Sepasang golok Hen-lo-sat terbentur keping-gir tapi segera berputar kembali.
Golok terus menepis, puluhan pir yang memukul tubuhnya ditepis hingga terbang.
Dan bersamaan waktu terdengar tawa yaneh terdengar.
Wan-tianglo seperti turun dari langit, sambil menggigit pir, dia menyuruh Su Yan-hong pergi.
"Lo-cianpwee!"
Su Yan-hong merasa aneh dengan kemunculan Wan-tianglo di sini.
"Gadis kecil ini milikku!"
Wan-tianglo melempar pir yang ada di tangannya.
"di sini tidak ada hal yang harus kau bantu lagi kan!"
"Dia!"
Kata-kata Su Yan-hong belum selesai, Wan-tianglo sudah melayangkan tangan.
"Siapa dia, tidak menjadi masalah, yang penting ilmu silatnya bagus!"
Su Yan-hong tertawa kecut. Wan-tianglo segera berkata kepada Hen-lo-sat.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 180
"Gadis kecil, ilmu silatmu sangat bagus!"
Hen-lo-sat tidak bersuara. Dia melihat Wan-tianglo, matanya memancarkan aura membunuh. Begitu Wan-tianglo melihat matanya, dia segera mengerutkan alis.
"Aura membunuh yang sangat kuat!"
Dia berkata lagi.
"bila kau ingin membunuh An-lek-hou, kau harus membunuh Wan-tianglo dulu!"
Sepasang golok Hen-lo-sat segera membacok.
Wan-tianglo tertawa terbahak-bahak, dia bersalto di antara sepasang golok itu.
Terlihat sangat merendahkan, tapi hanya sebentar karena jurus golok Hen-lo-sat sema-kin padat.
Itu di luar dugaannya.
Ingin mengayunkan sepasang golok dengan begitu kencang harus mempunyai tenaga dalam yang cukup.
Hen-lo-sat tidak hanya mempunyai tenaga dalam yang cukup malah seperti tidak ada habis-habisnya.
Setelah beberapa kali bertarung, Wan-tianglo terpaksa mundur.
Setelah beberapa kali mundur, kedua tangan Wan-tianglo sudah tidak bisa berahan lagi.
Dia dengan cepat mengambil dahan pohon yang ada di sisi untuk menahan golok.
Potongan kayu itu hanya sebentar saja sudah ditepis menjadi beberapa bagian.
Kedua tangan Wan-tianglo masing-masing memegang sepotong dahan untuk bertahan sambil menghindar.
Terlihat kerepotan tapi dia terus berteriak.
"Seru! Seru!"
Sudah lama dia tidak pernah dipaksa oleh seseorang hingga kerepotan, dia merasa dipermalukan. Cia Soh-ciu melihat semua itu. Diam-diam dia berteriak.
"Celaka!"
Dia tahu kalau Wan-tianglo mempunyai tenaga dalam yang kuat dan Hen-lo-sat hanya mengandalkan obat-obatan.
Bila reaksi obatnya hilang, akibatnya tidak akan terbayangkan.
Dia segera meniup peluit menyuruh Hen-lo-sat meninggalkan tempat.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 181 Hen-lo-sat berlari keluar.
"Kau mau ke mana?"
Teriak Wan-tianglo.
"aku belum puas!"
Hen-lo-sat seperti tidak mendengar teriakannya. Dia terus berlari, Wan-tianglo terus mengejarnya dan tertawa.
"Sulit mendapatkan lawan seperti dirimu. Aku akan menangkapmu dan kubawa pulang ke Sian-tho-kok. Kalau tidak, aku tidak akan memaafkan diriku sendiri!"
Mereka berlari sejauh 20 depa.
Su Yan-hong baru tersadar, sewaktu dia mengejar terdengar dari arah kuil suara lagi.
Dia merasa aneh langsung mengambil pedang yang tergeletak di bawah dan berjalan ke dalam kuil.
Suara itu terdengar karena Siau Cu melihat Su Yan-hong akan pergi dari sana.
Dengan cepat dia mengambil sebuah kayu memukul kurungan.
Su Yan-hong masuk ke dalam kuil.
Melihat ada kurungan kayu, dia merasa aneh.
Setelah mem buka tutup tikarnya, dia melihat yang terkurung di dalam sana adalah Siau Cu, dia bertambah terkejut.
"Siau Cu? Mengapa kau bisa berada di sini? Siapa yang mengurungmu di dalam kurungan ini?"
Siau Cu menunjuk jalan darah bisunya. Su Yan-hong segera mengerti dan membuka totok nadi bicaranya.
"Hou-ya! Oh, tidak, Suheng!"
Siau Cu menghembuskan nafas lega.
"Ada apa denganmu?"
"Selain orang aneh itu, siapa yang bisa melakukan hal seperti ini?"
Siau Cu berteriak.
"nanti kita baru bicara, sekarang lebih baik kita tinggalkan tempat ini secepat mungkin. Bila orang aneh itu kembali, kita akan repot!"
Su Yan-hong dengan cepat membuka rantai yang mengunci kurungan kayu. Siau Cu segera keluar dari sana, tapi dia terhuyung-huyung hanpir terjatuh.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 182
"Ada apa denganmu?"
Su Yan-hong memapahnya.
"Orang aneh itu menotokku jadi tenagaku tidak bisa dikerahkan. Kalau tidak, mana mungkin kurungan kayu seperti ini bisa mengurungku dengan mudah?"
"Tempat-tempat mana yang ditotok Wan-tianglo?"
Siau Cu menunjuk tempatnya.
Setelah nadi dibuka, Siau Cu segera menarik Su Yan-hong mening galkan kuil.
*** Hen-lo-sat berlari sekuat tenaga, Wan-tianglo sekuat tenaga mengejar tapi tidak bisa mengurangi jarak.
Wan-tianglo malah semakin senang mengejar dia.
Dia percaya kalau terus mengejarnya bisa membuatnya terkejut dan bisa menangkapnya untuk dibawa ke Sian-tho-kok agar setiap hari bisa berlatih ilmu silat dengannya.
Orang ini haus akan ilmu silat bahkan seperti gila.
Hen-lo-sat terus berlari sampai tiba satu sisi jurang baru berhenti.
Jurang ini tegak lurus seperti ditepis.
Melihat ke bawah tidak terlihat dasarnya dan juga dipenuhi kabut.
Wan-tianglo mengejar hingga ke sini, dia ikut berhenti dan melihat ke bawah.
Dia tertawa.
"Di depan sudah tidak ada jalan lagi, apakah kau masih bisa kabur?"
Hen-lo-sat hanya melihat ke dasar jurang.
"Tidak perlu melihat lagi, aku sendiri juga tidak sanggup turun ke sana. Apakah kau sanggup turun? Dengarkan aku, ikutlah denganku kembali ke Sian-tho-kok. Tapi kalau kau ingin bertarung denganku, sampai mengakui kalau kau kalah, baru mau ikut denganku pergi pun tidak apa!"
Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 183 Sambil tertawa dia terus maju.
Baru satu langkah, Hen-lo-sat sudah meloncat ke atas lalu terjun ke dasar jurang.
Wan-tianglo tidak bisa menghalanginya bahkan memanggilnya, tidak ada tanggapan.
Ingin ikut terjun tapi saat melihat ke bawah dia segera kembali.
Dia terus meloncat-loncat di sana karena tidak ada cara lain.
"Orang yang belajar ilmu silat sulit mendapatkan kesempatan ini. aku akan memberitahu kekurang annya, mengapa kau begitu takut padaku?"
Kalau dia mengerti dia tidak akan terus memaksa orang lain bertarung dengannya, sampai dikurung siang dan malam.
Dengan kemampuan ilmu silatnya sekarang, ingin mencari seorang pesilat yang bisa menemaninya hingga membuatnya puas memang tidak mudah.
Yang tua dia tidak tertarik, sedikit banyak dia masih ada pengaruh mendidik generasi muda, Untuk generasi muda dia tertarik pada Wan Fei-yang, kemudian berikutnya Siau Cu.
Pada Su Yan-hong tidak tertarik, dia merasa Su Yan-hong lebih tua sedikit tapi tidak cocok dengan nya yang bersifat semaunya.
Setelah berputar-putar melihat ke dasar jurang, akhirnya dia menggelengkan kepala.
"Benar-benar tidak tahu diri. Sudahlah, untung aku masih memiliki Siau Cu!"
Terpikir pada Siau Cu tiba-tiba dia bengong.
"Wah! Kalau Siau Cu yang kukurung ditemukan Su Yan-hong, dia pasti akan menyelamatkannya. Apakah Su Yan-hong berani melakukan itu? Aku rasa dia tidak berani? Kalau berani, awas nanti!"
Karena itu dia berteriak dengan aneh dan bersalto, dia segera kembali ke kuil.
158-158-158Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 184 Tempatnya begitu tinggi meloncat turun benar-benar sangat berbahaya.
Tapi asalkan mempunyai ilmu tinggi, bereaksi cepat, belum tentu akan mati.
Yang penting harus mempunyai keberanian.
Pastinya Hen-lo-sat tidak pernah merasa takut.
Karena pengaruh obat, keadaan dalam bahaya kemampuan tubuhnya bisa dikeluarkan semua.
Dari ketinggian ribuan meter meloncat turun ke dasar jurang, tidak membuatnya terluka.
Hanya baju dan tubuhnya tergores di beberapa tempat.
Sekarang dia berada di dasar jurang.
Cia Soh-ciu, Kiang Hong-sim lama baru menemukannya.
Melihat keadaan dia, Kiang Hong-sim terkejut.
"Benar-benar sulit dipercaya bisa seperti ini!"
"Siapa yang bisa percaya, seseorang berani meloncat dari ketinggian seperti ini!"
Seru Cia Soh-ciu.
"Pantas Wan-tianglo tidak berani meloncat turun!"
"Orang aneh itu memang aneh, kelakuannya tidak masuk akal tapi dia masih punya rasa peri kemanusiaa. Hen-lo-sat sama sekali tidak ada rasa itu!"
Entah apa yang dipikirkan Cia Soh-ciu, dia menarik nafas panjang.
"Kali ini Su Yan-hong sangat beruntung, lain kali tidak akan seberuntung seperti sekarang ini!"
Ucap Kiang Hong-sim dengan dingin.
Cia Soh-ciu hanya tersenyum.
Mengenai hal membunuh Su Yan-hong, dia merasa tidak tenang, setelah terjadi hal ini dia malah merasa tenang.
159-159-159 Sekarang Wan-tianglo marah besar.
Kurungan kayu dipukulnya sampai hancur.
"Bocah itu kabur lagi? Tidak ada orang yang bisa kabur dariku sampai 2 kali. Kalau tertangkap lagi, awas kau!"
Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 185 Setelah ribut sendiri, terpaksa dia meninggalkan tempat itu.
160-160-160 Pikiran Siau Cu sebenarnya tidak tenang.
Setelah mendengar Tiong Toa-sianseng terbunuh, orang yang dicurigai membunuh Tiong Toa-sianseng adalah teman baiknya Lu Tan.
Walaupun bisa kabur dari Wan-tianglo tapi pikirannya kacau.
Dia menjadikan Tiong Toa-sianseng sebagai guru dan ayah angkat semua karena Beng-cu, dia mempunyai perasaan lebih dalam kepada Lam-touw.
Tapi terhadap Tiong Toa-sianseng, dia sangat menghormatinya.
Dia tidak percaya kalau pelakunya adalah Lu Tan.
Walaupun berteman dengan Lu Tan belum begitu lama tapi melihat kelakuan seorang Lu Tan, dia sangat tahu dengan jelas.
Sedangkan pada orang-orang Bu-tong-pai, dia tidak menaruh perasaan tidak suka, yang pasti semua karena Wan Fei-yang.
Su Yan-hong mengerti perasaannya, hanya saja tidak tahu harus bagaimana menjelaskan semuanya.
Sebenarnya Su Yan-hong pun sedang tidak enak hati.
Siau Cu tidak tahu sekarang dia akan dibawa ke mana jadi dia menurut apa yang dikatakan Su Yan-hong, mengikutinya kembali ke An-lek-hou.
Teringat pada rumah, Su Yan-hong pasti ingat pada putri kesayangannya!
161-161-161 Ih-lan adalah anak yang sangat pengertian, tapi dia masih kecil.
Bila rindu pada ayahnya, dia selalu rewel.
Pelayan Siau-cui dengan segala daya upaya berusaha membuat Lan-lan senang.
Kali ini Siau-cui berpura-pura mengeluarkan suara mirip Su Yan-hong.
"Lan-lan, puisi Hoa Bok-lan yang kemarin Ayali ajarkan, apakah telah kau mengerti?"
Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 186 Lan-lan tidak menoleh lagi dan langsung menjawab;
"Aku tidak mengerti!"
"Tidak mengerti tidak apa-apa. Ilmu silat yang Ayah ajarkan kemarin, apakah perlu Ayah peragakan sekali lagi?"
"Tidak mau!"
Jawab Lan-lan makin dingin. Siau-cui membenarkan suaranya baru berkata lagi.
"Lan-lan..."
Akhirnya Lan-lan menoleh.
"Suaramu sama sekali tidak mirip dengan suara ayah, begitu mendengarnya aku sudah tahu!"
"Kalau begitu, apa yang bisa membuatmu senang?"
Tanya Siau-cui dengan tertawa kecut.
"Aku menginginkan Ayah di sini!"
"Hou-ya belum pulang, mungkin beliau akan cepat pulang!"
"Kau berbohong! Cepat cari ayali, suruh dia pulang!' Siau-cui menggelengkan kepala.
"Apa pun bisa aku lakukan, tapi yang ini tidak bisa!"
"Kalau begitu, beritahu padaku, ayah ada di mana?"
"Aku pun tidak tahu!"
Ih-lan menangis. Siau-cui serba salah dan me-nasehatinya.
"Lan-lan yang baik, Lan-lan, dengar..."
"Tidak mau! Ayali tidak sayang pada Lan-lan, sudah pergi lama tidak kembali untuk menengok Lan-lan!"
Ih-lan menangis dan bersedih kembali.
Sewaktu Siau-cui tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan, dari sudut matanya dia melihat Su Yan-hong membawa Siau Cu masuk.
Saat dia mau memanggil Lan-lan, Su Yan-hong sudah memberi isyarat agar dia diam dulu.
Siau-cui segera mengerti dan dia pun ke pinggir.
Su Yan-hong berhenti di belakang Lan-lan lalu mengelus-elus rambutnya.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 187 Ih-lan malah mendorong tangan ayahnya, sambil memangis.
"Pergilah..."
"Sampai ayahmu pun diusir, baiklah Ayah akan pergi saja!"
Ih-Ian terpaku sejentik dan menoleh, berteriak.
"Ayah..."
Dia masuk ke dalam pelukan Su Yan-hong.
"Lan-lan..."
Su Yan-hong memeluknya erat-erat. Setelah selesai menangis, Ih-lan baru mengomel.
"Ayah pergi lama baru kembali. Ayah sudah tidak peduli lagi pada Lan-lan..."
"Ayah membawa seorang teman baik dan menengokmu, coba tebak siapakah dia?"
Karena pendangan Lan-lan terhalang oleh Su Yan-hong dia tidak bisa melihat Siau Cu. Lan-lan menggelengkan kepala.
"Aku tidak bisa menebaknya!"
"Benarkah kau tidak bisa?"
Siau Cu bersalto keluar dan berdiri dengan kaki di atas di depan Lan-ian.
"Siau Cu koko..."
Ih-lan senang dan menghampiri Siau Cu. Siau Cu masih terus bersalto, kadang-kadang berada di atas meja atau kursi. Ih-lan tidak bisa menangkapnya dia berteriak.
"Ayah! Lihat dia nakal, meloncat ke sana sini!"
Siau Cu sudah berada di belakangnya dan menggendongnya. Ih-lan segera menangkapnya.
"Kau pernah berjanji akan membawaku ke Sin-sa-hai!"
"Hal itu sudah lama tapi kau masih mengingatnya?"
"Aku pasti akan terus mengingatnya!"
"Baik, nanti aku akan membawamu jalan-jalan!"
Tiba-tiba Lan-lan teringat sesuatu, bertanya.
"Ayah, mana Bibi Hiong?"
Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 188 Su Yan-hong terpaku. Lan-lan bertanya lagi.
"Mengapa Bibi Hiong tidak datang menengok ku? Ayah, Lan-lan ingin bertemu Bibi Hiong! Ingin bertemu Bibi Hiong!"
Su Yan-hong tidak bisa menjawab. Siau Cu dengan cepat menjawab.
"Apakah Lan-lan tidak mau melihat Siau Cu lagi?"
"Siau Cu juga mau!"
"Bibi Hiong ada keperluan, dia tidak bisa datang bersama kami. Siau Cu dulu yang datang baru nanti Bibi Hiong!"
"Boleh..."
Lan-lan melihat Su Yan-hong, tiba-tiba bertanya.
"apakah Ayah sudah membuat Bibi Hiong tidak senang jadi dia tidak mau datang menengok Lan-lan?"
"Tidak seperti itu!"
"Hou-ya, Oh, Suheng, aku akan membawa Lan-lan jalan-jalan!"
Ujar Siau Cu.
"Baik... aku pun akan ke istana!"
Kaisar berada di kamar cinta. Su Yan-hong tahu kalau Kaisar berada di sana. Dia menarik nafas panjang.
"Gunung dan sungai bisa berubah arah, tapi tidak dengan sifat manusia. Dulu Kaisar senang menghabiskan hari-harinya dengan perempuan, seka rang pun sama."
Thio Gong berada di luar kamar. Melihat Su Yan-hong datang, dia segera menyapa.
"Apa kabar, Thio-kongkong?"
Sapa Su Yan-hong.
"semenjak aku meninggalkan istana, apakah teijadi hal yang sangat istimewa?"
"Tidak ada yang istimewa, hanya saja..."
Dia tidak melanjutkan.
"Apakah ini mengenai Baginda?"
"Baginda dalam keadaan baik!"
Thio Gong ingin mengatakan sesuatu tapi tidak jadi.
Dia membawa Su Yan-hong berjalan ke depan.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 189 Su Yan-hong tidak bertanya lagi.
Dia juga mengerti maksud Thio Gong yaitu aku tidak perlu memberitahumu setelah kau melihatnya kau akan tahu sendiri.
Sesampainya di depan Ceng-in-tian, Su Yan-hong melihat 2 hweesio Tibet sedang berjaga di kiri dan kanan pintu.
Kedua hweesio itu tidak tahu siapa Su Yan-hong, mereka tidak menghentikannya, hanya memberi isyarat tangan menyuruhnya masuk.
Su Yan-hong merasa aneh.
Tapi langkahnya tidak berhenti sampai di dalam kamar.
Dia semakin merasa aneh.
Ceng-en-tian didekorasi ulang, di mana-mana terdapat patung Budha yang sedang tertawa.
Di atas sebuah panggung yang terbuat dari kayu wangi, tampak Kaisar sedang duduk bersila.
Sikapnya terlihat aneh.
Kedua matanya dipejamkan, seperti sedang ber latih ilmu tenaga dalam.
Su Yan-hong bersujud, 3 kali berteriak Ban-sui (panjang umur).
Kaisar baru membuka matanya.
Setelah melihat Su Yan-hong yang datang, beliau melayangkan tangan menyuruhnya duduk di sisi dan dia kembali memejamkan mata untuk bersemedi.
Su Yan-hong terpaksa menunggu.
Tidak lama kemudian Kaisar baru menghembuskan nafas panjang.
Dia berdiri dan turun dari panggung kecil itu, sambil berkata.
"Mengapa begitu lama baru tiba? Apakah kau tahu kalau aku selalu khawatir?"
"Baginda..."
Kalimat berikutnya segera dipotong.
"Kalau sudah kembali, tidak perlu mengatakan apa-apa lagi!"
"Aliran rahasia Koksu (Penasehat negara) benar-benar luar biasa, sekarang tubuhku terasa sangat nyaman!"
"Koksu?"
Mata Su Yan-hong mencari-cari.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 190
"Dia adalah Thian-ho Sangjin, aku mengundangnya dari Tibet. Ceng-in-tian ini dia yang mendekorasinya, apakah kau merasa semua ini sangat istimewa?"
"Memang berbeda dengan yang dulu!"
"Thian-ho Sangjin adalah pesilat nomor 1 dari aliran rahasia. Orang-orang sana menganggapnya Budha hidup!"
"Benarkah seperti itu?"
Dalam bayangan Su Yan-hong tidak ada orang seperti itu. Kaisar segera berpesan kepada Thio Gong.
"Persilahkan Thian-ho Sangjin kemari untuk bertemu dengan An-lek-hou yang sudah kuanggap tangan kiri dan kananku."
Thio Gong pergi. Kaisar berkata lagi.
"Thian-ho Sangjin tidak hanya berilmu tinggi, apalagi dia pandai meracik obat. Aku sangat menyukainya karena dia mempunyai teknik ini aku mengundangnya datang!" 162-162-162 Tidak lama kemudian, Thian-ho Sangjin tiba. Dia digotong oleh 4 perempuan suku Tibet. 4 perempuan suku Tibet, bentuk tubuh dan wajahnya sangat bagus. Apalagi daya tariknya sangat tidak biasa. Kaisar melihat semua itu dengan senang. Setelah keempat perempuan itu menurukan Thian-ho Sangjin, mereka segera menghampiri ke sisi Kaisar. Walaupun ada Su Yan-hong di sisi Kaisar, tapi dia tetap memeluk mereka. Empat orang gadis Tibet itu seakan tidak melihat ada orang di sana, dengan genit mereka memeluk Kaisar. Thio Gong melihat mereka, lalu melihat Su Yan-hong, mengangkat bahunya. Thian-ho Sangjin berpenampilan seperti seorang Hweesio Tibet, wajahnya tenang dan terlihat baik, usianya sekitar 50-60 tahun. Dia duduk bersila sambil memejamkan mata juga memegang tasbih. Begitu diturunkan oleh 4 gadis Tibet itu, dia baru membukaLegenda Pendekar Ulat Sutra -3 191 matanya, dia melihat ke seluruh kamar, sorot matanya seperti kilat seakan ingin menusuk ke hati setiap orang di sana. Sewaktu pandangan Su Yan-hong bentrok dengan sorot mata ini, hatinya juga bergetar. Setelah memberi hormat kepada Kaisar, dia baru mengawasi Su Yan-hong. Kaisar belum bicara, dia sudah tertawa.
"Ini pasti An-lek-hou yang sering Baginda ceritakan. Apa kabar, Hou-ya..."
"Koksu, apa kabar?"
"Obat dan vitamin yang kau buat sudah mencapai tahap mana?"
Tanya Kaisar.
"Sudah selesai, tinggal Baginda meminumnya di Bok-in-tian!"
"Baik, aku akan mencoba vitamin yang dibuat oleh aliran rahasia. Apakah benar itu memang misterius seperti yang dikatakan orang-orang?"
Ucap Kaisar dengan senang.
"Vitamin apa yang Koksu buat?"
"Itu vitamin komplit. Bahan utamanya adalah Ci-ho-ce, ditambah dengan..."
"Benarkah Ci-ho-ce itu adalah **?"
"Benar! Bahan ini tidak sulit didapat tapi harus dicampur dengan 72 macam organ dalam burung dan unggas, baru ada khasiatnya. Setelah memakannya bisa menguatkan tubuh. Tubuh dari kondisi lemah bisa menjadi kuat, masih ada khasiat lain juga,"
Thian-ho Sangjin sangat senang. Wajah Su Yan-hong terlihat tidak suka.
"Koksu, orang-orang menyebut Anda Budha hidup, terhadap kitab suci pasti Anda menguasainya dengan baik."
"Benar!"
"Aku ingin tanya, larangan pertama apa?"
"Dilarang membunuh makhluk hidup!"Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 192
"Mengambil Ci-ho-ce dan mengambil organ dalam burung serta unggas untuk membuat vitamin, apakah Koksu tidak melanggar larangan pertama?"
Thian-ho Sangjin terpaku lalu tertawa.
"Baginda adalah anak Tliian. Jika beliau sehat dan panjang umur, itu adalah kebahagiaan semua rakyat. Aku mengabdi pada Baginda, semua menjadi pembicaraan lain."
"Karena Baginda adalah orang terhormat dan menyangkut keselamatan negara serta rakyat, jangan mencoba-coba obat-obatan yang belum diketahui dengan pasti khasiatnya!"
"Maksud Hou-ya, obat yang kubuat itu jelek dan tidak ada kebaikannya?"
"Kaisar dari dinasti terdahulu selalu celaka karena obat-obatan. Pengalaman ini harus kita jadikan yang utama!"
Nada bicara Su Yan-hong bertambah berat. Akhirnya Thian-ho Sangjin tersenyum, tapi Kaisar malah tertawa terbahak-bahak.
"Ada 2 orang yang begitu memperhatikanku, benar-benar keberuntunganku!"
Lalu dia berkata pada Su Yan-hong.
"mengenai memakan obat, aku tahu batas kelayakannya. Kau tidak perlu merasa khawatir!"
Su Yan-hong menggelengkan kepala.
"Maafkan hamba, terus terang saja di istana ada 300 orang tabib, semua menguasai ilmu per-tabiban yang bagus. Bila Baginda ingin vitamin, bisa memesan kepada mereka untuk membuatkannya!"
"Maksud Hou-ya, teknik ketabiban mereka lebih tinggi dariku?"
"Ilmu tabib di Tionggoan dari setiap generasinya selalu ada yang paling berbakat!"
"Sayang Hou-ya tidak menguasai ilmu perta-biban, kalau tidak, kita bisa bersaing dalam ilmu ini!"
"Memang disayangkan!"Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 193
"Tapi ilmu silat Hou-ya nomor 1 di ibu kota!"
Su Yan-hong masih ingin mengatakan sesuatu, Kaisar sudah menyela.
"An-lek-hou adalah pesilat tangguh Kun-lun. Di dunia persilatan dia sangat terkenal!"
"Kalau begitu, aku harus mencobanya. Harap Baginda menurunkan perintah!"
"Kalau Koksu bermaksud seperti ini, aku pasti akan menemanimu!"
Tiba-tiba Kaisar melayangkan tangan.
"Kalian berdua adalah orang yang kupercaya, untuk apa karena sedikit masalah membuatku sulit!"
"Kami tidak berani..."
Su Yan-hong dan Thian-ho Sangjin bersama-sama menjawab.
"Kalau begitu, kita bersama-sama pergi ke Bok-in-tian!"
Dengan satu tangannya Kaisar menarik satu perempuan lalu berjalan keluar.
163-163-163 Vitamin tetap dimakan Kaisar.
Empat orang perempuan cantik dari Tibet itu segera memijat Kaisar.
Sambil menikmati obat penambah stamina itu, Kaisar bertanya kepada Su Yan-hong.
"Apakah kau tahu mengapa aku menyuruhmu pulang?"
"Belakangan ini di sekitar pesisir pantai datang orang Jepang..."
"Itu hanya masalah kecil!"
Akhirnya Kaisar berkata.
"ada surat rahasia dari Ong-souw-jin. Katanya sewaktu dia di Lam-khia, Ling-ong tidak mau bekerja sama dengannya, malah selalu menciptakan kesulitan baginya!"
Su Yan-hong terdiam. Kemudian Kaisar berkata lagi.
"Masih ada 2 berita lagi. Putra Ling-ong kembali dari Jepang, dia membawa sekelompok orang Jepang dan orang-orang ini berilmu tinggi!"
Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 194
"Tentang hal ini aku sudah tahu!"
"Di Tionggoan banyak pesilat tangguh, tapi Cu Kun-cau pergi ke Jepang belajar ilmu silat di sana, bukankah ini sangat aneh?"
"Mungkin ilmu silat dari Jepang memiliki keistimewaan."
"Menurutku, tidak sesederhana itu. Menurutku Ling-ong bersekongkol dengan orang Jepang!"
Su Yan-hong terpaku, dia teringat pada kata-kata Siau Sam Kongcu saat mau pergi. Kaisar berkata lagi.
"Kali ini aku menyuruhmu kembali karena aku ingin kau menemaniku pergi ke Kang-lam!"
"Baginda ingin ke Kang-lam?"
Su Yan-hong terpaku.
"Aku ingin menikmati pemandangan Kang-lam untuk mencari tahu tindakan Ling-ong seperti apa."
"Kang-lam adalah daerah kekuasaan Ling-ong, jika Baginda ke sana itu terlalu berbahaya!"
"Menurutmu aku harus bagaimana?"
"Lebih baik Baginda diam dulu, biar dia merenggangkan penjagaannya. Sambil menyuruh Ong-souw-jin mengawasinya dengan ketat. Begitu kesempatan tiba kita baru menjala semuanya."
Kaisar tampak berpikir sebentar, lalu mengangguk. Kata Su Yan-hong lagi.
"Baginda benar-benar sangat teliti!"
"Kau bicara seperti itu lagi. Semenjak kau meninggalkan ibu kota, hidupku tidak bersemangat. Sekarang kau sudah kembali kau bisa setiap hari datang ke istana, bisa melatih ilmu silatku agar tulang dan otot-ototku bisa bergerak lagi!"
"Untuk ini..."
"Ada apa? Katakan saja, tidak usah sungkan!"
"Masih ada satu hal yang belum selesai, aku harus meninggalkan ibukota lagi!"
Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 195
"Apakah ini menyangkut masalah dunia persilatan?"
"Benar! Kalau tidak dibereskan dengan baik, aku takut akan terjadi musibah besar di kemudian hari."
Kaisar menarik nafas.
"Aku benar-benar tidak mengerti. Menjadi kaya dan mulia tidak kau pedulikan, tapi mengurusi masalah dunia persilatan kau sangat bertanggung jawab."
"Kebaikan Baginda kepada hamba, hamba sangat berterima kasih karenanya, hamba tidak berani meminta apa-apa lagi."
Kaisar menggelengkan kepala.
"Masing-masing manusia memiliki cita-cita, aku tidak berani memaksa. Begitu selesai masalah dunia persilatan, cepatlah kembali ke ibu kota."
Pastinya Su Yan-hong setuju.
164-164-164 Su Yan-hong meninggalkan Bok-ji-tian.
Dua Hweesio Tibet menyusulnya.
Dengan sikap hormat mereka menyerahkan sepucuk surat kepadanya.
Surat itu ditulis oleh Thian-ho Sangjin.
Kalimatnya pun sangat sungkan, tapi mengundang Yan-hong pergi ke bagian timur kota untuk bertemu dan berharap Su Yan-hong bisa memberikan beberapa petunjuk kepadanya.
Su Yan-hong tidak menolak.
Dia menyuruh 2 hweesio itu menyampaikan balasannya kepada Thian-ho Sangjin, dia pasti akan datang tepat waktu.
Dalam hati dia ingin mengalahkan Thian-ho Sangjin agar dia tahu kalau dunia persilatan Tionggoan tidak sesederhana yang dia pikirkan.
Dia pun mengerti Thian-ho Sangjin juga bermaksud seperti itu.
Orang-orang menyebutnya Budha hidup, dia juga diundang ke istana, itu karena dia bukan pesilat biasa.
Tapi dia percaya bisa mengalahkan Thian-ho Sangjin.Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 196 165-165-165 Setelah meninggalkan istana, sengaja dia datang ke Sin-sa-hai dan berharap bisa bertemu dengan Ih-lan dan Siau Cu.
Harapannya terkabul, dia bertemu dengan Siau Cu dan Ih-lan.
Terlihat Siau Cu menggendong Ih-lan dan berlari dengan cepat.
Tiba-tiba dicegat oleh Su Yan-hong, Siau Cu hampir berteriak karena terkejut.
dia membalikkan tubuh siap berlari.
"Apa yang terjadi?"
"Kata Siau Cu Koko, dia melihat ada binatang aneh. Aku juga melihatnya, tapi aku tidak merasa kalau itu menakutkan!"
"Wan-tianglo?"
Su Yan-hong coba-coba bertanya.
"Orang aneh itu bisa lari ke mana dia mau!"
Siau Cu menarik nafas.
"untung aku melihat dia jadi aku bisa lari. Kalau tidak, akan repot!"
"Mungkin dia datang karena mengejarmu. Menurutku, apakah lebih baik sementara ini kau tinggal di Hou-hu."
"Satu-satunya harapanku adalah dia bosan tinggal di ibu kota dan dengan cepat meninggalkan ibu kota!" 166-166-166 Sesampainya di An-lek-hou dan tahu kalau Su Yan-hong akan bertarung dengan Thian-ho Sangjin, Siau Cu sama sekali tidak merasa khawatir dengan ilmu silat Su Yan-hong. Di istana, Thian-ho Sangjin telah melaporkan hal ini kepada Kaisar. Kaisar mendukung tindakannya. Beliau hanya berkata.
"Bila membandingkan, ilmu silat Tionggoan dengan ilmu silat aliran rahasia, bagaimana menurutmu?"
"Ilmu silat Tionggoan sudah lama dan sudah diwariskan turun temurun, luas, dan sangat dalam. Hanya sayangnya hubungan antar perkumpulan tidak erat dan masing-masing sangat egois. Boleh dikatakan sekarang lebih buruk dibandingkan dulu. Sedangkan aliran rahasia ini, walaupun hanya ada satu Tai-jiu-im (Telapak tangan besar) yang sangat terkenal, tapi terus berubah dan berubah,Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 197 sekarang sudah berada di puncaknya. Boleh dikatakan sanggup menguasai dunia!"
Waktu Thian-ho Sangjin mengatakan kalau ilmu silat Tionggoan bagus, tapi sewaktu mengatakan aliran rahasia, kesombongannya muncul dan di dunia ini sepertinya hanya aliran rahasia nomor 1.
"Pertarungan yang terjadi malam ini berarti kemenangan sudah ada di tanganmu?"
Tanya Kaisar.
"Hamba yakin pasti bisa menang!"
"Bagaimana jika kalah?"
"Hamba segera meninggalkan Tionggoan!"
"Jika kau menang?"
"Apakah harus An-lek-hou yang mengakui ilmu silat Tionggoan tidak sebagus aliran rahasia? Atau ada maksud lain dari Baginda..."
"Ikuti kemauanmu!"
Kaisar tertawa.
"aku ingin mengambil kesempatan ini mengikis kelebihan An-lek-hou!"
"Hamba pasti tidak akan lupa pada titipan Baginda!"
"Hanya ada satu yang harus kau ingat!"
"Silakan katakan, Baginda."
"Malam ini kau menang atau kalah, An-lek-hou tidak boleh terluka sedikit pun!"
"Baginda..."
Wajah Thian-ho Sangjin terlihat seperti sulit menyanggupi.
"Ini perintahku, apakah kau tidak sanggup melakukannya?"
"Keinginan Baginda pasti akan kuturuti!"
"Dunia ini belum tenang, An-lek-hou masih dibutuhkan!"
Kalimat ini tidak diucapkan oleh Kaisar.
Setelah melewati masa pemberontakan Liu Kun, Kaisar mulai mengerti pembicaraan-pembicaraan yang tidak selalu harus diucapkan semua di depan orang-orang, walaupun lawannya adalah orang setia.
Pastinya Thian-ho Sangjin tidak bisa mengerti maksud Kaisar.
167-167-167Legenda Pendekar Ulat Sutra -3 198 Malam itu, Su Yan-hong tepat waktu tiba di bagian timur kota.
Di sekeliling sana sangat sepi suara kuda berlari terdengar dengan jelas.
Dia tidak terpikir ada yang datang dan lebih tidak terpikir lagi orang yang datang adalah Wan-tianglo, Wan-tianglo berbaring di atas sebuah pohon besar.
Dia dikejutkan oleh suara kuda berlari.
Hal ini membuatnya marah.
Beberapa hari dia mencari Siau Cu tapi tidak berhasil menemukannya, hatinya jadi tidak enak.
Saat dia melihat ke bawah, di bawah dengan bantuan sinar bulan, dia melihat dengan jelas yang datang adalah Su Yan-hong.
Dari marah berubah dia menjadi senang.
Saat Su Yan-hong melewati pohom itu, Wan-tianglo segera turun dari pohon.
Dia tertawa.
"Bertemu denganmu pasti akan bertemu dengan Siau Cu!"
Dia mengejarnya ke sana.
Menurut kemampuan ilmu meringankan tubuhnya, bila ingin mengejar Su Yan-hong, bukan hal yang sulit.
Tapi karena dia berniat menguntitnya maka dia harus menjaga jarak.
(Bersambung
Jilid ke-4)Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 1Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 3 Legenda Pendekar Ulat Sutra Pengarang . Huang Ying
Jilid Ke Empat HIAN-HO SANGJIN dan 4 orang hweesio Tibet menunggu di lapangan. Melihat Su Yan-hong datang, dia segera turun dari kudanya untuk menyambut kedatangan Su Yan-hong.
"Hou-ya benar-benar orang yang menepati janji!"
"Koksu pun demikian."
"Melihat Hou-ya, hatiku baru tenang!"
"Koksu takut aku tidak menepati janji?"
"Orang yang menepati janji denganku tidak banyak!"
"Sebelumnya tidak ada seorang pun yang tidak berani menepati janji denganku! Koksu bertarung denganku seorang diri atau berlima sekali gus?"
Thian-ho Sangjin melayangkan tangan. Empat hweesio itu segera mundur dengan cepat. Dia merangkapkan kedua telapaknya dan berkata.
"Silakan, Hou-ya!"
"Silakan, Koksu..."
Su Yan-hong siap bertarung.
"Kun-lun terkenal dengan ilmu pedangnya, aku ingin belajar ilmu pedang Hou-ya!"
"Dengan hormat aku akan menuruti perintah!"
"Pedang yang bagus!"
Thian-ho Sangjin memuji.Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 4
"Mana senjata Koksu?"
"Di sini!' Thian-ho Sangjin melayangkan kedua telapaknya. Tenaga dalamnya sudah dikerahkan keluar. Baju Su Yan-hong berkibar, dia sadar lawan sedang memamerkan kekuatannya, memang tenaga dalamnya sangat besar. Thian-ho Sangjin membentak. Dia segera men dekat. Sepasang telapaknya mulai menyerang Su Yan-hong. Jurusnya sangat sederhana tapi sangat efektif. Pedang panjang Su Yan-hong sudah dikeluarkan. Di saat menyerang ada bertahan, di saat bertahan ada serangan balik. Hanya sebentar ratusan jurus sudah berlalu. Tiba-tiba Thian-ho Sangjin mundur sejauh 3 tombak. Su Yan-hong tidak mengejarnya. Saat ingin mengucapkan sesuatu, baju Thian-ho Sangjin bergerak tanpa ada hembusan angin. Kedua telapaknya berubah warna menjadi kuning keemasan muda lalu membesar. Su Yan-hong segera berkata.
"Tai-jiu-im..."
"Benar, ini adalah Tai-jiu-im!"
Thian-ho Sangjin mendekat, sepasang telapaknya saling beradu dan mengeluarkan suara mirip dengan dentingan besi.
Dia mulai menyerang Su Yan-hong.
Liong-im-kiam milik Su Yan-hong sangat keras dan kuat.
Thian-ho Sangjin berusaha agar sepasang telapak tangannya tidak bentrok dengan Liong-im-kiam.
Setelah beberapa saat diserang, Su Yan-hong terpaksa mundur sejauh 3 depa.
Thian-liong-pat-sut segera diperagakan oleh Su Yan-hong.
Dia bersalto di tengah-tengah udara ini merupakan sebuah ilmu andalan.
Thian-ho.Sangjin dalam kurun waktu sangat pendek tidak bisa melihat perubahan yang terjadi.
Dia juga terganggu oleh Liong-im-kiam terpaksa dia mundur.
Tai-jiu-im milik aliran rahasia mempunyai kekuatan besar.
Beberapa kali serangan Su Yan-hong tertahan.
Kesempatan iniLegenda Pendekar Ulat Sutra -4 5 digunakan oleh Thian-ho Sangjin, dia mengambil celah yang ada pada Thian-liong-pat-sut dan menyerang kembali.
Thian-ho Sangjin terus maju.
Karena Su Yan-hong kehilangan kesempatan dia hanya bisa mundur.
Dia sadar seperti apa tajamnya Liong-im-kiam kalau tidak, akan mempermalukan dirinya sendiri.
Ilmu silat Thian-ho Sangjin benar-benar berada di atasnya.
Tapi dia percaya bisa bertahan hingga 700 jurus.
Bila tenaga dalam Thian-ho Sangjin mulai melemah, dia masih memiliki kesempatan menyerang balik.
Yang pasti bila ingin bertahan sampai 700 jurus, itu akan sangat melelahkan.
Thian-ho Sangjin seperti bisa membaca pikir-Oan Su Yan-hong.
Jurusnya berubah dari cepat menjadi pelan.
Dia hanya menunggu celah yang timbul untuk merobohkan lawan.
Ilmu silatnya tidak hanya begitu saja.
Tai-jiu-im hanya dikeluarkan sebesar 80%.
Dia takut bila mengeluarkan hingga 100% akan lepas kendali dan melukai Su Yan-hong.
Waktu itu dia tidak tahu harus mengatakan apa kepada Kaisar.
Akhirnya Su Yan-hong tahu kalau tenaga Thian-ho Sangjin belum keluar secara maksimal.
Walaupun tidak tahu apa sebabnya tapi dia tetap kagum dengan ilmu silat Thian-ho Sangjin.
Mundur dan mundur, semakin merasa lelah tiba-tiba ada 2 pir terbang datang menghampirinya.
Dia tahu Wan-tianglo datang untuk ikut campur.
Dia tetap menghembuskan nafas lega.
Dua buah pir itu terbang ke belakang kepala Thian-ho Sangjin.
Tapi kepala bagian belakang Thian-ho Sangjin seperti memiliki mata, tangan kirinya dibalik, 2 buah pir itu sudah hancur ditepisnya.
Dia membentak.
"Siapa?"
Wan-tianglo turun dengan bersalto seperti datang dari langit.
4 orang hweesio Tibet itu ingin menghadangnya tapi hanya dengan beberapa pukulan, mereka sudah terguling.Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 6 Su Yan-hong mengambil kesempatan ini berhenti.
Thian-ho Sangjin tidak mengejar.
Matanya berputar lalu melihat Su Yan-hong.
"Kau membawa orang untuk membantu?"
"Tidak! Tapi kedatangan orang ini akan membuatmu repot!"
"Siapakah dia?"
"Wan-tianglo..."
Thian-ho Sangjin terpaku. Sedikit banyak dia tahu orang ini.
"Apakah benar dia Wan-tianglo?"
"Asli! Bukan palsu!"
Wan-tianglo mencengkeram Su Yan-hong.
"kau pilih bertarung dengan orang lain tapi tidak mau denganku. Benar-benar tidak tahu balas budi!"
Su Yan-hong tertawa kecut. Dia tidak membela diri. Wan-tianglo bertanya lagi.
"Apakah kau yang menyelamatkan Siau Cu? Sekarang di mana kau sembunyikan dia?"
Su Yan-hong belum menjawab, Wan-tianglo sudah melihat Thian-ho Sangjin.
"Hweesio, kau kelihatannya mempunyai ilmu tinggi, aku sulit menemukan orang seperti dirimu, bagaimana jika kita bermain-main dulu beberapa jurus?"
Dia melepas tangan dan mendorong Su Yan-hong ke samping, langsung melambaikan tangan kepada Thian-ho Sangjin. Thian-ho Sangjin menggelengkan kepala.
"Pertarungan ini adalah antara aku dan An-lek-hou dan sangat penting. Setelah di antara kami ada yang menang, baru bisa bertarung denganmu!"
Wan-tianglo menggelengkan kepalanya. Deng an sikap berharap belas kasihan dia berkata.
"Lo-seng, kau harus tahu, begitu melihat pesilat tangguh, kepalanku langsung gatal. Gatal hingga masuk ke sumsum tulang.Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 7 Aku merasa sangat tersiksa, lebih baik kita bertarung dulu. Bila aku puas, dua kepalanku tidak akan gatal lagi, baru bertarung dengan An-lek-hou!"
"Di mana aturan seperti ini?"
"Jangan bicarakan peraturan!"
Tiba-tiba Wan-tianglo berpikir aneh.
"kalau kau tidak suka bertarung di sini, kau bisa ikut denganku kembali ke Sian-tho-kok. Di sana tempat yang bagus, aku jamin kau pasti suka!"
Thian-ho Sangjin belum menjawab, dia sudah berkata lagi.
"Kalau ada beberapa pesilat tangguh berada di sana, aku akan sangat senang!"
"Lebih baik cepat tinggalkan tempat ini!"
Bentak Thian-ho Sangjin.
"Mengapa seorang hweesio begitu cepat marah?"
Wan-tianglo tertawa.
"Walaupun kau marah tapi pertarungan antara kita akan tetap terjadi!"
"Omong kosong..."
Thian-ho Sangjin membentak.
"Kau benar-benar tidak mempunyai alasan!"
Thian-ho Sangjin terpaksa menyerang.
Wan-tianglo menatapnya dengan sangat senang.
Kaki dan tangannya segera bergerak dengan cepat.
Su Yan-hong menonton mereka, dengan cepat dia mundur.
Thian-ho Sangjin melihatnya mundur, dia terlihat cemas.
Tai-jiu-im segera diperagakan.
Semakin lama semakin cepat, tenaga dalamnya semakin kuat.
Kadang-kadang berkelebat, terkadang bersembunyi lalu melilit, sama sekali tidak memiliki kesempatan.
Thian-ho Sangjin semakin cemas.
Wan-tianglo semakin senang.
Sambil tertawa, dia menyerang, jurus-jurusnya terus berubah-ubah.
Melihat Su Yan-hong naik ke atas kuda dan siap pergi, dia benar-benar cemas.
Dia segera memerintahkan 4 orang hweesio yang bersama-sama datang dengannya untuk bertarung.Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 8 Empat orang hweesio Tibet itu sedari awal dipukul hingga roboh.
Mereka masih marah.
Begitu diperintahkan membantu, mereka segera datang.
Wan-tianglo harus bertarung dengan 4 orang hweesio Tibet, juga harus menghadapi Thian-ho Sang jin, dia sangat kerepotan, tidak seringan tadi.
Tapi dengan gerakan yang lincah dan reaksi yang cepat, dia tetap bisa melibat Thian-ho Sangjin.
Melihat Su Yan-hong sudah pergi jauh dari sana dan menghilang di dalam kegelapan, Thian-ho Sangjin marah.
Dia membentak.
"Bunuh dia..."
Empat orang hweesio itu membentak bersama sama.
Semua tenaga dalam mereka sudah terkumpul di kedua telapak.
Bersama-sama bergeser dan siap bekerja sama dengan Thian-ho Sangjin.
Tapi waktu itu tiba-tiba Wan-tianglo meloncat lewat di atas kepala keempat hweesio Tibet dan turun di belakang mereka.
Thian-ho Sangjin membentak.
"Mau kabur ke mana?"
Wan-tianglo tidak segera pergi. Tiba-tiba menghantam jatuh 4 orang hweesio Tibet itu. Dia menunjuk Thian-ho Sangjin dan menggelengkan kepala.
"Kau benar-benar mempunyai ilmu silat tinggi tapi kau tidak mempunyai etika ilmu silat. Dari awal mengepung dan memukul. Kau benar-benar tidak beretika sebagai seorang pesilat tangguh. Benar-benar membuatku kecewa!"
"Sembarangan bicara!"
"Tidak apa-apa, aku sudah tidak tertarik lagi denganmu, lebih baik cari marga Su untuk bermain-main!"
Dia bersalto 3 kali sudah pergi dari sana.
Empat orang hweesio Tibet itu ingin mengejar tapi dibentak oleh Thian-ho Sangjin.
Melihat keper-gian Wan-tianglo, dia tahu kalau keempat hweesio ini tidak mungkin bisa mengejar Wan-tianglo.
Dia sendiri pun tidak percaya diri.
Walaupun bisa terkejar belum tentuLegenda Pendekar Ulat Sutra -4 9 dia bisa memukul jatuh Wan-tianglo.
Jika tidak berhati-hati dia akan dijatuhkan oleh Wan-tianglo akibatnya tidak akan terpikirkan.
Melihat wajah Thian-ho Sangjin yang serius, keempat hweesio itu segera kembali seperti semula.
Pikiran Thian-ho Sangjin benar-benar tidak baik.
Tai-jiu-im sudah dilatihnya sampai pada tingkat 9.
Di dunia ini jarang ada orang yang sanggup melawannya.
Siapa yang tahu menghadapi seorang Su Yan-hong pun tidak mudah, lalu kemunculan Wan-tianglo.
Benar-benar membuat rasa percaya dirinya turun.
Di dunia persilatan Tionggoan banyak naga dan harimau yang bersembunyi.
Mengenai ini dia pernah mendengarnya, dia bertambah percaya lagi.
168-168-168 Siau Cu belum tidur.
Walaupun dia percaya Su Yan-hong akan menang, tapi entah mengapa dia selalu khawatir dan tidak bisa tidur.
Melihat sikap Su Yan-hong ketika pulang, Siau Cu bisa sedikit menebak tapi dia tetap bertanya.
"Apa yang terjadi sebenarnya?"
"Aku bukan lawannya Thian-ho Sangjin!"
"Kau kalah di tangannya?"
"Memang belum ada yang kalah atau menang, tapi sebenarnya ilmu silatnya lebih tinggi dariku!"
"Kalau belum ada yang menang atau kalah, apakah dia mau berhenti?"
"Karena saat penentuan menang dan kalah, Wan-tianglo datang!"
"Dia sudah datang...untung aku tidak ikut ke sana..."
"Kalaupun kau berada di sana juga tidak apa-apa. Melihat Thian-ho Sangjin, dia melupakan semuanya. Dia hanya memperhatikan pertarunganku dengan Thian-ho Sangjin!"
Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 10
"Kalau begitu mana mungkin aku bisa melepaskan?"
Kata Siau Cu.
"bertemu orang aneh itu sudah cukup membuat Thian-ho Sangjin repot. Orang aneh itu pintar juga, di mana ada pesilat tangguh, dia pergi mencarinya!"
"Aku lihat dia mengejar sampai ke sini, tujuan nya adalah mencarimu!"
"Untung ada Thian-ho Sangjin!"
Kata Siau Cu.
"Aku lihat dia tidak tertarik dengan Thian-ho Sangjin. Akhirnya dia tetap akan mencarimu!"
"Aku harus bagaimana?"
"Kita memang akan pergi ke Bu-tong-san. Karena takut ada perubahan, maka sekarang kita langsung pergi!"
"Apakah tidak ada hal yang harus kau urus di istana?"
"Seharusnya tidak ada!"
"Hanya Lan-lan..."
Siau Cu membaca pikiran Su Yan-hong.
"kau baru pulang, sekarang ingin pergi lagi, dia pasti tidak suka!"
Su Yan-hong tertawa kecut.
"Kau beres-beres dulu, aku akan menengok Lan-lan, dia adalah anak yang pengertian!"
Walaupun Su Yan-hong berkata begitu tapi hatinya merasa tidak enak. Siau Cu tertawa kecut.
"Ih-lan berada di belakangmu!"
Su Yan-hong terpaku. Dia melihat Ih-lan berdiri tidak jauh di belakang. Matanya yang besar seperti akan menangis.
"Lan-lan...dengarkan ayah..."
"Siau Cu Koko sudah memberitaliu Lan-lan bahwa kakek guru terbunuh dan ayah harus pergi mencari tahu!"
Ih-lan seperti sangat pengertian.
"Kalau begitu kau tidak akan marah kepada ayah?"
Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 11 Su Yan-hong menggendong Ih-lan.
"Tapi ayah harus berjanji setelah masalah beres, ayah segera pulang!"
Air mata Ih-lan tetap menetes.
Su Yan-hong menarik nafas.
169-169-169 Sebelum hari terang, Su Yan-hong dan Siau Cu sudah berangkat.
Sepanjang jalan kuda terus berlari kencang, sampai siang hari, kuda dan orangnya sudah lelah, mereka baru berhenti untuk beristirahat.
Kuda diikat di bawah pohon.
Su Yan-hong dan Siau Cu duduk di batu kali tidak jauh dari sana, sambil memakan makanan kering, mereka minum air sungai, mereka merasa senang.
Setelah makan, Siau Cu merendam kepala ke dalam sungai, lama baru diangkat, dia tertawa.
"Untung pagi-pagi kita sudah berangkat, kalau tidak, akan bertemu orang aneh itu. Entah apa yang akan terjadi pada kita."
"Aku tidak berharap apa-apa, hanya berharap bisa lancar sampai Bu-tong-san dan bisa membereskan masalah dengan lancar."
"Masalah yang awalnya lancar akan terus lancar! Tidak ada orang aneh mengganggu, tidak akan tidak lancar."
Saat mereka tertawa, di sana terdengar suara kuda meringkik.
Mereka menoleh, terlihat oleh mereka kedua kuda entah sejak kapan sudah terlepas.
Kuda meringkik dan berlari.
Mereka berdua sama-sama bangun dan mengejar.
Ketika mereka sampai di bawah pohon, kuda sudah pergi jauh dan tidak bisa terkejar lagi.
"Mengapa ikatan kuda bisa terlepas?"
Siau Cu merasa aneh.
"Menurutku itu perbuatan manuisa..."
"Siapa yang berani?"
Tanya Siau Cu.
"Tentu saja aku!"
Kata Wan-tianglo. Begitu mendengar suara ini, wajah Siau Cu langsung berubah. Melihat Wan-tianglo, dia segera mundur tiga langkah.Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 12 Wan-tianglo tertawa.
"Ilmu meringankan tubuhmu tidak sebaik punyaku. Kudamu sudah dilepas, sekarang kau mau lari ke mana?"
Siau Cu terpaku. Wan-tianglo tertawa sambil marah kepada Su Yan-hong.
"Kau juga bukan orang baik-baik. Semalam aku sudah membantumu tapi kau pergi tanpa pamit. Untung aku mempunyai ilmu silat yang lumayan, maka aku tidak digulingkan oleh hweesio jahat itu!"
"Boanpwee masih ada keperluan maka berlaku terpaksa seperti itu!"
Su Yan-hong memberi hormat.
"Kami akan pergi ke Bu-tong-san, harap Lo-cianpwee bisa mengijinkan kita pergi!"
"Begitu masalah sudah beres, kami akan pergi ke Sian-tho-kok untuk melayani Cianpwee..."
Kata Siau Cu.
"Bukan orang aneh?"
"Sama saja, aku kira Cianpwee tidak akan menaruhnya di hati. Kami berjanji, sekarang kami akan pergi ke Bu-tong-san!"
"Aku tidak berjanji apa-apa pada kalian. Sulit menemukan kalian, mana mungkin aku melepaskan kalian?"
Wan-tianglo sudah membuka dua tangan lebar-lebar untuk menghadang jalan mereka. Dengan serius Su Yan-hong berkata.
"Lo-cianpwee juga orang dunia persilatan. Bu-tong-pai sekarang sedang menghadapi musibah besar, mana mungkin kita melihat tapi tidak menyelamatkannya?"
"Apa hubunganku dengan Bu-tong-pai? Kalian berdua cepat ikut aku pergi!"
"Lo-cianpwee memaksakan kehendak, maaf Boanpwee akan tidak hormat!"
Su Yan-hong menarik nafas dan memasang kuda-kuda. Siau Cu juga memasang kuda-kuda, sambil berkata.Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 13
"Hari ini tidak sama. Dengan gabungan tenaga kami berdua pasti bisa mengalahkan dia!"
Wan-tianglo tertawa.
"Ingin bertarung. Baik, baik sekali!"
Dia mulai menyerang.
Su Yan-hong dan Siau Cu sama-sama menyerang.
Mereka tahu kelihaian Wan-tianglo, maka tidak sungkan-sungkan.
Dari awal mereka sudah menggunakan seluruh kekuatan dan masing-masing ilmu silatnya.
Ilmu silat Siau Cu sudah maju pesat, Su Yan-hong juga, semenjak dua jalan darah Jin dan Tok sudah tembus, tenaga dalamnya mengalir tidak putus putusnya.
Tapi perubahan ilmu silat mereka semua masih dalam perhitungan Wan-tianglo.
Jurus Wan-tianglo tetap berubah-rubah, tenaga dalamnya masih berada di atas mereka.
Walaupun mereka berusaha tapi karena di antara mereka tidak ada dendam, maka tidak bisa sampai titik tertinggi.
Gabungan mereka hanya bisa bertahan sebentar, belakangan tetap dipukul jatuh oleh Wan-tianglo.
Wan-tianglo segera menotok mereka.
Siau Cu marah, akhirnya jalan darah bisu Siau Cu juga ditotok.
Melihat keadaan begitu, Su Yan-hong hanya bisa menarik nafas.
Mereka dibawa ke Sian-tho-kok.
Di sepanjang jalan bila Wan-tianglo senang, jalan darah mereka akan dib.uka untuk bertarung dengannya.
Perjanjian ke Bu-tong-san sudah makin dekat.
Kata-kata baik juga sudah mereka katakan demi bisa melepaskan diri pergi ke Bu-tong-san, tapi Wan-tianglo tetap tidak peduli.
Tidak hanya Siau Cu, Su Yan-hong juga merasa tidak bersemangat bertarung dengan Wan-tianglo.
Wan-tianglo pasti tidak enak tapi dia percaya Su Yan-hong dan Siau Cu akan bersemangat lagi, maka dia tidak cemas.
Tapi Su Yan-hong dan Siau Cu sangat gelisah.Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 14 170-170-170 Sian-tho-kok adalah tempat yang bagus.
Su Yan-hong pun mengakuinya.
Tapi karena sedang tidak enak hati maka dia tidak bersemangat untuk menikmati pemandangan di Sian-tho-kok.
Setiap hari dia terus tinggal di rumah bersama Siau Cu.
Tiga hari sudah berlalu.
Bila dihitung-hitung, waktu rapat perjanjian Bu-tong-san hanya tinggal tujuh hari lagi termasuk waktu perjalanan.
Su Yan-hong menarik nafas.
"Bila sekarang tidak pergi, sudah tidak sempat lagi. Apakah Bu-tong-san akan terkena musibah besar lagi?"
"Gara-gara orang aneh itu! Aku akan keluar bertarung mati-matian dengan dia!"
Siau Cu meloncat. Su Yan-hong menghadang.
"Jangan emosi. Ilmu silat dia begitu tinggi, dengan segala upaya kita tetap akan kalah!"
"Apakah kita harus duduk diam?"
Su Yan-hong menarik nafas panjang.
"Sekarang aku juga sama-sama sedih, tapi apa yang bisa kita lakukan?"
Akhirnya Siau Cu duduk kembali. Su Yan-hong mengeluh.
"Dari kecil ayah mengajariku, jadi orang harus setia kawan dan cinta negara. Almarhum guru menerimaku menjadi murid, mengajari ilmu silat Kun-lun, berharap setelah menguasai ilmu silat bisa melakukan kebaikan untuk dunia persilatan!"
"Ini tidak ada salahnya!"
"Sekarang Bu-tong-pai akan tertimpa musibah tapi aku tidak bisa membantu. Kaisar akan dikuasai Thian-ho Sangjin tapi aku tidak punya cara. Aku benar-benar telah mengabaikan harapan ayah dan guru!"
Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 15
"Itu bukan salahmu. Ilmu silat Thian-ho Sang-jin berada di atasmu. Tentang Bu-tong-san, bukan kau tidak mau pergi tapi dihadang oleh orang aneh yang tidak tahu aturan!"
"Aku benar-benar aku tidak mengerti orang ini!"
"Tidak ada cara lain, terpaksa harus begitu!"
Kata Siau Cu.
"Cara bagaimana?"
"Sebentar lagi bila dia datang, kita setuju bertarung dengan dia. Sampai dia membuka totokan kita, aku akan berusaha keras menghadang dia, lalu kau kabur keluar dari Sian-tho-kok!"
"Kalau begitu, dia pasti akan marah besar!"
"Paling-paling dia memukuliku untuk melampiaskan kemarahan. Orang aneh ini tidak akan membunuhku!"
"Tapi entah kapan aku baru bisa menyelamatkanmu?"
"Tidak keluar juga tidak apa-apa, asal kau bisa membantuku membereskan dua hal!"
Siau Cu tertawa.
"Katakan!"
"Mencari tahu siapa yang membunuh guruku!"
"Aku pasti akan berusaha. Satu lagi?"
Lama kemudian Siau Cu baru berkata.
"Bantu aku menengok Beng-cu. Beritahu pada nya bahwa sementara ini aku tidak bisa mencari dia!"
Su Yan-hong mengangguk. Siau Cu berpesan lagi.
"Tapi jangan beritahu dia keadaanku seka-rang!" 'Tenanglah...setelah masalah Bu-tong-pai beres, aku akan datang menyelamatkanmu!"
Siau Cu tertawa kecut, karena dia sedikitpun tidak percaya diri.
Su Yan-hong masih ingin mengatakan sesuatu, di luar sudah terdengar tawa aneh.
Di waktu yang bersamaan muncul seorang yang bergantung di jendela, dialah Wan-tianglo.Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 16
"Aku perintahkan kepada kalian untuk tidur yang baik supaya mempunyai semangat bertarung denganku. Tapi kalian malah terus berbicara. Dari jauh aku merasa aneh, maka aku mendekat untuk mendengarkan pembicaraan kalian. Ternyata benar, kalian sedang membuat rencana busuk untuk meng-hadapiku!"
Su Yan-hong dan Siau Cu terpaku. Mereka sama sekali tidak mengira Wan-tianglo akan datang tepat pada waktu ini untuk mendengar pembicaraan mereka. Wan-tianglo bersalto sambil tertawa.
"Apakah kau tidak merasa malu mendengar pembicaraan orang?"
Siau Cu marah.
"Membuat rencana busuk di belakang orang untuk diam-diam menyerang, apakah itu tidak keji?"
"Kalau kau tidak mengurung kami, kami tidak akan seperti ini!"
Kata Sinu Cu.
"Maka kalian harus berterima kasih kepadaku, pikiran kalian menjadi lincah!"
Siau Cu marah. Su Yan-hong berkata.
"Lo-cianpwee, kami seperti itu karena Bu-tong-pai..."
"Orang seperti kalian sangat pintar, pasti akan menemukan cara kedua. Coba pikirkan dulu!"
Kemudian dia bersalto tiga kali, langsung pergi dan menghilang di kegelapan. Su Yan-hong ingin memanggil dia tapi dicegat oleh Siau Cu.
"Memohon kepadanya tidak akan ada gunanya. Orang aneh ini sulit dimengerti!"
"Kalau begitu, kita benar-benar harus mencari cara kedua!"
Siau Cu mengelus-elus rambutnya yang acak-acakan.
"Apakah di dunia ini tidak ada satu pun ilmu silat yang bisa menaklukan ilmu Tai-seng (ilmu kera) Wan-tianglo?"
Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 17
"Aku pernah bertanya kepada guru. Katanya, yang bisa bersaing dengan Tai-seng-kang hanya Thian-can-kang dari Bu-tong-pai dan Thian-liong-kiu-sut dari Kun-lun!"
"Apakah kau belum pernah berlatih Thian-liong-kiu-sut? Tiong-cianpwee, oh tidak, guru tahu begitu, mengapa tidak mengajarkan jurus ini kepadamu agar bisa menghadapi Wan-tianglo yang aneh ini?"
"Thian-liong-kiu-sut sudah lama hilang. Aku hanya belajar sampai Thian-liong-pat-sut. Tapi kata guru Thian-liong-kiu-sut adalah perubahan dari 8 jurus awal. Tapi sayang, sampai sekarang aku belum tahu apa-apa!"
"Mengapa bisa seperti ini?"
"Aku tidak mempunyai cukup waktu. Hal-hal yang terjadi di kerajaan menyita banyak pikiranku..."
"Bukankah sekarang adalah satu kesempatan? Kau ambil kesempatan ini untuk mempelajarinya. Jika benar kau bisa mengerti, kita bisa mengalahkan orang aneh itu. Bisa mengalahkan orang aneh itu kita bisa mendapatkan kepuasan!"
Kata Siau Cu semangat.
"Baiklah! Kita tidak ada pekerjaan di sini. Mari ambil kesempatan untuk berpikir!"
Su Yan-hong tertawa bersemangat.
"Kau berpikir, orang aneh itu biar aku yang hadapi! Asal bisa menggulingkan dia, selelah apapun aku akan kuat!"
"Aku lihat dia tidak mudah melepaskan aku!"
"Kau bisa pura-pura sakit. Orang aneh ini, asal-kan ada orang menemaninya bertarung, dia tidak akan berpikir panjang!" 171-171-171 Berpura-pura sakit di depan VVan-tianglo bukan hal yang mudah. Tapi Siaii Cu beberapa tahun mengikuti Lam-touw berkelana di dunia persilatan, sedikit banyak mengerti ketrampilan menghias wajah Dia mampu menghias Su Yan-hong sehingga terlihat benar-benar seperti orang sakit.Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 18 Tapi bukan sakit berat, hanya sakit bagian pen cernaan. Kemudian Siau Cu terus menyalahkan Wan-tianglo yang hanya memberi makan buah-buahan. Akhirnya bisa menipu Wan-tianglo. Agar Wan-tianglo tidak mengganggu Su Yan-hong, Siau Cu berusaha melayani Wan-tianglo dengan baik. Dengan pengalaman dan ilmu silatnya, Siau Cu berusaha sekuat tenaga melayaninya. Sebenarnya itu bukan hal yang sulit. Siau Cu mengikuti kemauannya, sambil mena nyakan perubahan jurus-jurusnya. Tujuannya adalah mengulur waktu. Itu sangat cocok dengan keinginan Wan-tianglo. Hal ini membuat Siau Cu memperoleh lebih banyak kepandaian lagi. Tiga hari berturut-turut seperti itu, Siau Cu benar-benar tersiksa. Di sisi lain, Su Yan-hong sama sekali tidak mendapatkan hasil. Tapi dia tidak kecewa. Siau Cu juga tidak mengomel, dia malah memberi semangat. Dari perkataan Su Yan-hong, sepertinya tidak ada harapan. Kecuali muncul mujizat, kalau tidak, keinginan untuk sampai ke Bu-tong-san sudah tidak mungkin tercapai. Mujizat benar-benar muncul. Pada hari keempat pagi, ketika Su Yan-hong bangun, dia mendengar suara Siau Cu dan Wan-tianglo sedang bertarung. Kemudian dia melihat banyak bekas telapak kaki di lantai. Terlihat sangat kacau balau, horisontal dan vertikal saling bertum-pangan, tapi semua mengikuti susunan Pat-kwa. Hatinya bergerak, dia melangkah mengikuti telapak kaki dengan berurutan dan bergerak dengan alami. Thian-liong-pat-sut bisa diperagakan di sana. Setelah selesai Thian-liong-pat-sut berubah menjadi jurus yang lain. Tapi jurus ini adalah perubahan dari Thian-liong-pat-sut, dicampur dengan intinya Thian-liong-pat-sut kemudian menyatu lagi. Terlihat kekuatan jurus ini di atas Thian-liong-pat-sut. Bekas telapak kaki bisa membuat Su Yan-hong mengerti perubahan Thian-liong-kiu-sut, itu di luar dugaan Su Yan-hong.Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 19 Saat itu dia benar-benar terkejut juga senang. Dia bolak-balik berlatih Thian-liong-kiu-sut, dia hampir tertawa lepas. Siau Cu tidak melihat bekas telapak kaki di lantai. Setelah bertarung dengan Wan-tianglo, dia kelelahan dan tergopoh-gopoh, hampir terguling di bawah. Su Yan-hong memapahnya, melihat tawa Su Yan-hong, Siau Cu merasa heran.
"Coba kau lihat bekas telapak kaki di lantai ini!"
"Kau yang membuatnya?"
Su Yan-hong menggelengkan kepala. Siau Cu tertawa kecut.
"Aku tidak melihat ada keistimewaan pada bekas telapak kaki itu. Apakah kau mau memberi tahu kepadaku bahwa Thian-liong-kiu-sut sudah kau kuasai?"
"Aku hanya memberitahu kabar ini kepadamu!"
Siau Cu meloncat.
"Betulkah kau sudah menguasainya?"
"Bukan hasil yang aku pikirkan, melainkan tadi pagi begitu bangun, aku melihat telapak-telapak kaki ini dan aku mengikutinya, dan jadilah Thian-liong-kiu-sut!"
"Siapa yang membuatnya?"
"Tadinya aku mengira adalah kau, tapi kalau dipikir-pikir tidak mungkin. Di tempat ini selain Wan-tianglo, masih ada siapa lagi?"
"Tidak mungkin dia yang melakukan!"
Siau Cu menggelengkan kepala.
"Apakah dia tidak takut setelah kau menguasai Thian-liong-kiu-sut, kau akan mengalahkannya? Apalagi sifat dia yang aneh. Dia akan langsung memberitahu kepadamu. Kalau tahu kau pura-pura sakit, dia akan memukulmu, tidak mungin diam-diam masuk dan meninggalkan bekas telapak ini."
"Betul, tapi siapa? Dan apa maksudnya?"
Tanya Su Yan-hong.Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 20
"Hanya pesilat tangguh baru bisa melihat tuju anku berlatih Thian-liong-pat-sut, dan hanya teman baru bisa membantuku mengikuti perubahan Thian-liong-pat-sut."
"Siapapun yang melakukannya, kau sudah berlatih Thian-liong-kiu-sut, masih menunggu apalagi. Kita keluar mencari orang aneh itu dan menghajarnya."
Su Yan-hong mengangguk. Kata Siau Cu.
"Jangan sekarang, lebih baik kau beristirahat dulu, aku juga mengambil kesempatan ini untuk mengatur nafas dan beristirahat. Bila dibutuhkan aku bisa membantumu!"
"Baik!"
Kata Su Yan-hong mulai duduk bersila.
"kalau sekarang tidak bisa mengeluarkan kekuatan Thian-liong-kiu-sut dan tidak bisa mengalahkan dia, kita harus mengakui nasib buruk kita!"
Siau Cu tertawa.
"Saat kau menggunakan Thian-liong-pat-sut, dengan sekuat tenaga dia baru bisa memecahkan. Kalau Thian-liong-kiu-sut, apakah dia bisa tahan?"
Walaupun begitu, hatinya tetap curiga.
Su Yan-hong melihat pikiran Siau Cu.
Walaupun tidak mengucapkan kata-kata terima kasih, tapi dia bertekad untuk berjuang mati-matian.
Wan-tianglo tidak tahu tentang Thian-liong-kiu-sut dan bekas telapak kaki.
Tapi begitu melihat kegembiraan ini, dia sudah tahu.
"Apakah perutmu sudah sembuh? Seharusnya dari awal kau sudah sembuh. Dengan ilmu silat mu, mana mungkin tidak bisa menyembuhkan sakit perutmu!"
Su Yan-hong ingin mengatakan sesuatu, tapi Wan-tianglo berkata lagi.
"Hitung-hitung kau tahu diri segera datang melayani aku. Beberapa hari ini hanya satu Siau Cu, aku tidak puas!"
Siau Cu tertawa dingin.Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 21
"Kau benar-benar tidak mempunyai hati nurani. Aku melayanimu, kau masih berkata tidak tertarik, tidak puas, kemarin kau berkata apa?"
"Hari ini adalah hari ini, untuk apa membicarakan kemarin lagi!"
Kata Wan-tianglo. Dia segera melambaikan tangan.
"lebih baik kalian berdua datang bersamaan!"
Siau Cu melihat Su Yan-hong.
"Aku kuras dulu sebagian tenaga dalamnya!"
Wan-tianglo tertawa.
"Bocah, kau bisa menghabiskan berapa banyak tenaga dalamku?"
Siau Cu tidak menjawab.
Dia menyerang dengan sekuat tenaga.
Wan-tianglo adalah orang yang gila berlatih ilmu silat, asal ada orang ingin bertarung keras dengannya, dia semakin senang.
Setelah beberapa hari berlatih, Siau Cu sudah ada kemajuan besar.
Sebenarnya tidak mudah bagi Wan-tianglo untuk merobohkan dia, benar-benar harus menghabiskan banyak tenaga.
Su Yan-hong tidak bisa membiarkan Siau Cu dipukul roboh.
Dia ikut menyerang.
Sekali menyerang, Thian-liong-pat-sut sudah dikeluarkan.
Tenaganya kuat dan ganas.
Hal ini membuat Wan-tianglo semakin senang.
Dengan serius dia melawan.
Setelah Thian-liong-pat-sut selesai, Su Yan-hong sudah mundur 1 tombak.
Tapi Thian-liong-kiu-sut segera dikeluarkan, langkah-langkah Su Yan-hong sangat lincah dan berilusi.
Dengan jari menjadi pedang, mengeluarkan suara-suara tajam.
Mata Wan-tianglo menjadi terang.
Dia bertanya.
"Ilmu silat apa ini?"
Ketika mengucapkan kata-kata ini, dia sudah dipaksa mundur tujuh langkah oleh Su Yan-hong. Su Yan-hong belum menjawab, dia bertanya lagi.Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 22
"Kau belajar dari mana? Lihai, lihai! Hebat, hebat...."
Kata-katanya belum selesai, dia sudah terkena tiga pukulan.
Kalau orang lain pasti sudah roboh, tapi Wan-tianglo sangat lincah.
Reaksinya cepat.
Tiga kali pukulan seperti menggaruk-garuk tubuhnya.
Thian-liong-kiu-sut baru selesai dilatih, tenaga dalamnya belum bisa dikeluarkan sepenuhnya, maka bisa memukul Wan-tianglo juga tidak banyak gunanya, tapi bisa mengenai Wan-tianglo sudah membuat dia senang!
Siau Cu dengan senang menepuk, berteriak.
"Gulingkan dia! Robohkan dia!"
"Mana bisa semudah itu!"
Wan-tianglo masih bisa tertawa.
Kata-katanya belum selesai, dia terkena pukul an lagi.
Tubuh meloncat ke atas.
Saat tubuhnya turun dia menyerang Su Yan-hong lagi.
Siau Cu melihatnya, dia tidak sabar lagi, dia ikut menyerang Wan-tianglo dari samping.
Serangan dia tidak meleset.
Tapi saat kepalan tangan Siau Cu ingin memukul tubuh Wan-tianglo, pergelangan tangannya sudah dicengkram dan ditarik oleh Wan-tianglo.
Tubuhnya akan menabrak Su Yan-hong.
Terlihat tindakannya sudah dalam perhitungan Wan-tianglo, baru bisa dimanfaatkan dengan tepat.
Su Yan-hong cepat menarik kembali jurus-jurusnya.
Wan-tianglo mengambil kesempatan ini masuk, menendang Su Yan-hong sampai terguling.
Siau Cu juga terguling di samping Su Yan-hong.
Dia tahu dia sudah membuat kesalahan dan ingin segera meloncat bangun.
Tapi jalan darah di tubuhnya sudah ditotok.
Su Yan-hong terkena tendangan, jalan darah juga tertendang.
Dia melihat Siau Cu, dengan lemas berkata.
"Kita terlalu tergesa-gesa!"
"Aku yang salah!"
Kata Siau Cu. Su Yan-hong menggelengkan kepala.Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 23
"Tenaga dalamku belum bisa bersatu dengan jurus yang aku gunakan, percuma saja terus bertarung!"
"Jurus apa yang kau gunakan tadi?"
Tanya Wan-tianglo.
"Tidak ada hubungannya denganmu!"
Wan-tianglo tertawa licik.
"Kalian tidak mau memberitahu tidak apa-apa. Nanti setelah beberapa kali bertarung, aku akan bisa tahu rahasia apa yang terkandung di dalamnya."
"Kalau kami tidak mau bertarung denganmu, apa kau bisa cari tahu?"
"Tidak mau betarung denganku juga tidak apa-apa!"
Siau Cu menutup mulutya. Wan-tianglo melihat Su Yan-hong.
"Kau sangat licik. Mengurung diri beberapa hari, tujuannya adalah berlatih jurus baru. Sebenarnya kau bisa jujur memberitahuku, aku tidak akan menghadangmu, mungkin aku akan membantumu!"
Siau Cu berteriak lagi.
"Kami tidak butuh bantuan orang sepertimu!"
"Aku seperti apa?"
"Kau sendiri juga tidak tahu dirimu seperti apa?"
Su Yan-hong tertawa dingin.
"Katakan! Katakan!"
"Egois!"
Su Yan-hong tertawa dingin.
"Katamu akan membantu kami, tapi kau tetap memikirkan diri sendiri!"
"Aku bisa membantumu berlatih ilmu silat agar lebih baik!"
"Apa tujuannya?"
Tanya Su Yan-hong.
"Ingin kalian berkelahi denganku."
"Ternyata kau hanya teori saja!"
"Yang aku tahu sekarang, kami harus pergi ke Bu-tong-san. Melayanimu berkelahi sekarang tidak ada artinya!"
Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 24
"Tapi aku tidak mempunyai perasaan seperti itu."
"Itu namanya egois."
Su Yan-hong ingin berkata lagi tapi meihat wajah Wan-tianglo berseri-seri, dia tahu apa yang akan dikatakan percuma saja, maka dia memutar kepala.
Wan-tianglo seperti tidak merasa bersalah.
Dia bertanya lagi.
"Kau belum memberitahu ilmu silat apa itu."
"Aku beritahu kepadamu..."
Siau Cu tertawa.
"Aku siap mendengar!"
Wan-tianglo tertawa.
"Kalau kali ini terjadi sesuatu pada Bu-tong-san, kecuali kau membunuhku, kalau tidak, aku akan membunuh kera-kera di sini!"
Siau Cu melayangkan dua kepalannya. Su Yan-hong menekan dia.
"Jangan terlalu bersemangat. Mungkin adalah kehendak Thian bila Bu-tong-pai harus terkena musibah. Kalau benar, kita ke sana pun tetap akan sama."
"Kehendak Thian..."
Siau Cu tertawa kecut. Su Yan-hong tertawa kecut.
"Yang pasti kita harus menyumbangkan sedikit tenaga!"
Siau Cu dengan marah melihat Wan-tianglo.
"Hanya kau yang tidak punya hati nurani!"
"Aku tidak mengerti apa yang kau katakan. Bagi orang yang berlatih silat, yang paling penting adalah terus berlatih."
"Aku tidak mau bicara lagi dengan orang ini!"
Kata Siau Cu.
"Tidak perlu bicara dengannya lagi. Tapi sayang ketika Bu-tong-pai mengalami bencana besar kita tidak bisa menyumbangkan sedikit tenaga."
Ada suara datang pada waktu itu.
"Di Bu-tong-pai terjadi masalah apa?"
Tidak hanya Su Yan-hong, Siau Cu, Wan-tianglo juga merasa terkejut, mereka menoleh bersamaan. Mereka bertiga berteriak.Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 25
"Wan Fei-yang..."
Wan Fei-yang keluar dari semak-semak. Dia terlihat segar bugar. Tapi di antara alisnya tetap terlihat kecemasan dan rasa prihatin. Siau Cu dan Su Yan-hong menyambut.
"Wan-toako..."
Suara Siau Cu terharu. Wan Fei-yang memegang pundak Siau Cu. Su Yan-hong bertanya.
"Lote, mengapa kau berada di sini?"
"Bukankah kau sudah lama meninggalkan Sian-tho-kok?"
Tanya Siau Cu.
"Aku sama sekali belum pernah meninggalkan Sian-tho-kok!"
Kata Wan Fei-yang tertawa.
"Orang aneh itu mengira kau sudah kabur dari sini, maka dia mencarimu di luar!"
"Kalian anak muda tidak ada yang baik. Semua adalah siluman rubah!"
Wan Fei-yang tidak melayaninya. Dia bertanya kepada Siau Cu.
"Di Bu-tong-pai terjadi keributan apa?"
Su Yan-hong menarik nafas.
"Pada rapat pedang di Pek-hoa-couw, Coat-suthay mati karena pedang beracun. Lu Tan yang dicurigai. Satu-satunya putra keluarga Lamkiong, Lamkiong Po mati terbunuh dan orang yang dicurigai adalah Lu Tan juga."
"Lu Tan bukan orang seperti itu. Sekarang di mana dia berada?"
"Tidak ada jejaknya, maka semua orang berjanji akan pergi ke Bu-tong-san untuk bertanya dan meminta Bu-tong-pai menyerahkan Lu Tan. Mereka juga mencurigai itu adalah rencana busuk Bu-tong-pai!"
Wan Fei-yang tertawa kecut. Siau Cu berkata.
"Kita harus segera pergi ke Bu-tong-san, kalau terlambat tidak sempat lagi!"
Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 26 Wan Fei-yang mengangguk. Tapi Wan-tianglo sudah menggelengkan kepala dan tertawa.
"Tidak semudah itu kalian ingin pergi!"
Wan Fei-yang tidak mempedulikan dia. Dia melihat Siau Cu dan Su Yan-hong.
"Kalian berdua demi Bu-tong-pai..."
"Lote jangan berkata begitu. Yang memberi petunjuk kepadaku agar aku bisa berlatih Thian-liong-kiu-sut adalah..."
"Telapak kaki itu adalah peninggalan Wan-toako!"
Teriak Siau Cu.
"Aku berpikir sudah lama tapi tidak mendapatkan hasil. Kata orang, Lote adalah orang nomor satu di dunia ini, benar-benar tidak salah!"
"Hou-ya jangan berkata begitu. Aku hanya menonton di samping sehingga dapat melihat dengan lebih jelas."
"Apakah Wan-toako sudah sehat?"
Siau Cu bertanya penuh perhatian.
"Masih sedikit lagi!"
Wan Fei-yang menghembuskan nafas.
"Berarti belum bisa memukul mati orang aneh ini!"
Siau Cu merasa kecewa tapi alisnya segera melayang.
"kita bertiga, apalagi Thian-liong-kiu-sut sudah dikuasai Hou-ya!"
Dia segera berteriak senang. Wan Fei-yang melihat dia kemudian melihat Wan-tianglo.
"Tadinya rencanaku setelah beres semua hal, baru benar-benar berunding dengan dia."
"Tapi aku tidak sabar menunggunya! Sekarang ada kalian bertiga giliran melayaniku, aku tidak akan merasa kesepian lagi!"
"Cianpwee terus-menerus memaksakan keinginan sendiri, terpaksa kami harus melakukan tindakan yang tidak sopan!"
"Apa yang disebut tidak sopan itu yang aku minta, mari..."
Mata Wan Fei-yang berputar.Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 27
"Bagaimana kalau kita ganti cara bertarung?"
"Terserah! Mana mungkin aku takut pada mu!"
Tubuh Wan Fei-yang bergerak. Dia bergeser ke pinggir sejauh 3 tombak, lalu mengambil tiang bambu yang tingginya sekitar 2 tombak. Kemudian dia menancapkan bambu ke tanah.
"Kita bertarung di atas bambu?"
Tanya Wan-tianglo.
"Siapa yang meninggalkan bambu ini, dia kalah. Yang kalah harus menurut pada yang menang!"
Kata Wan Fei-yang.
"Kau pasti akan kalah!"
"Kalau aku kalah, kita bertiga tinggal di sini. Setiap pagi, siang, malam bertarung denganmu satu kali!"
"Kalau aku yang kalah, aku akan mengijinkan kalian pergi!"
"Kita berjanji..."
"Aku selalu menepati janji. Kata-kataku sudah diucapkan, empat kuda pun sulit mengejarnya!"
Kata Wan-tianglo. Kemudian dia melihat Wan Fei-yang;
"Kulihat kau sudah sembuh dari sakit maka kau begitu sombong!"
"Silakan..."
Tangan Wan Fei-yang melayang. Wan-tianglo tertawa. Dia meloncat lalu bersalto ke atas tiang bambu, dia melakukan gerakan dan gaya yang berbahaya. Wan Fei-yang melihat Siau Cu dan Su Yan-hong.
"Meninggalkan tiang bambu berarti kalah!"
Su Yan-hong dan Siau Cu segera mengingat kata-kata ini. Wan Fei-yang meloncat naik ke atas tiang bambu dan berteriak.
"Harap Cianpwee memberi petunjuk..."
Wan-tianglo berkata.
"Aku biarkan kau mengeluarkan tiga jurus dulu!"
"Betulkah? Kau yang berjanji!"
Wan Fei-yang tertawa.
Wan-tianglo menjadi tegang, dia mengerti keadaan ini sangat merugikan.
Wan Fei-yang sudah tahu sifat Wan-tianglo.Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 28 Su Yan-hong dan Siau Cu saling pandang, mereka segera mendapatkan ide.
Kata Siau Cu.
"Orang aneh itu memberi tiga jurus kepada Wan-toako, kalau dia balas menyerang sebelum 3 jurus, itu juga termasuk kalah. Lebih baik kita ambil kesempatan ini untuk kabur?"
Su Yan-hong pura-pura ragu.
"Memang baik, tapi..."
"Jangan tapi-tapi an lagi, masalah Bu-tong-pai lebih penting!"
Siau Cu segera membalikkan tubuh pergi. Wan-tianglo di atas tiang bambu mendengar dengan jelas.
"Apa yang kalian lakukan, cepat berhenti!"
"Sulit mendapatkan kesempatan bagus, kalau tidak dipergunakan adalah orang bodoh."
Su Yan-hong tertawa.
"Wan Fei-yang sudah berjanji..."
Su Yan-hong tertawa.
"Kita tidak pernah berkata tidak akan kembali kalau dia kalah. Kalau masalah Bu-tong-pai sudah selesai, kita pasti kembali untuk melayanimu!"
Dia juga membalikkan tubuh berjalan. Wan-tianglo cemas. Dia membentak Wan Fei-yang.
"Cepat mulai!"
"Aku sedang berpikir jurus apa yang harus kukeluarkan."
Kata Wan Fei-yang santai.
"Untuk apa berpikir, cepat keluarkan jurusmu!"
Wan-tianglo terus berteriak.
"Baik, jurus pertama adalah 'Pek-coa-tok-sim'." (Ular putih menjulurkan lidah).
"Baik, baik sekali! Cepat, cepat!"
Wan-tianglo sangat cemas.
"Tidak! Tidak! Lebih baik jurus 'Tok-pi-hoa-san'..."
Tapi Wan Fei-yang menggelengkan kepala lagi.
(Sebelah tangan menghantam Hoa-san).Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 29 Wan-tianglo dan Wan Fei-yang masih dalam pembicaraannya, Su Yan-hong dan Siau Cu sudah berada di pinggir hutan.
Wan-tianglo cemas, dia kelepasan berkata.
"Kau pikirkan dulu jurus apa yang akan di keluarkan jurus apa, aku akan menangkap dua bocah yang kabur itu, baru kembali lagi bertarung denganmu."
Selesai berkata, dia sudah turun. Wan Fei-yang segera berteriak.
"Pek-coa-tok-sim..."
Telapaknya sudah keluar. Tapi Wan-tianglo sudah meloncat turun. Tiga kali bersalto, dia sudah berada di depan Su Yan-hong dan Siau Cu. Dia membentak.
"Kalian mau ke mana..."
Su Yan-hong tertawa.
"Ke mana saja sama..."
"Mau ke mana harus bertanya dulu kepadaku!"
Wan-tianglo tertawa.
"Kau sudah turun dari tiang bambu, berarti kau sudah kalah. Kemanapun kita mau pergi tidak ada hubungannya denganmu!"
"Siapa bilang aku kalah? Aku dan Wan Fei-yang belum mulai bertarung, darimana bisa ada yang kalah atau menang?"
"Apakah kau tidak mendengar teriakan Wan-toako 'Pek-coa-tok-sim'?"
Potong Siau Cu.
"Dia berteriak, itu urusan dia..."
"Apakah kau tidak melihat jurus Pek-coa-tok-sim sudah dikeluarkan? Jurus Pek-coa-tok-sim memang bagus, sampai kau tidak berani menerimanya dan kabur tergesa-gesa dari tiang bambu!"
Siau Cu tertawa.
"Wan-toako benar-benar adalah pesilat nomor satu di dunia ini! Benar-benar bukan hanya nama kosong saja!"
"Apa yang kau katakan?"
Wan-tianglo berteriak. Wan Fei-yang yang di atas tiang bambu segera berkata.
"Terima kasih sudah mengalah..."
Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 30 Wan-tianglo baru sadar apa yang terjadi. Dia berteriak.
"Kalian bersekongkol merencanakan siasat busuk untuk mencelakakanku..."
"Jangan berkata begitu!"
Kata Siau Cu dengan senang.
"kata-katamu sudah diucapkan, empat kuda pun sulit mengejar kembali, kau adalah orang terkenal di dunia persilatan, Cianpwee di dunia persilatan, yang pasti tidak akan berkata kau telah salah bicara!"
"Aku..."
Wan-tianglo marah.
"Hanya satu jurus Wan-toako sudah, mengalahkan Wan-tianglo, berita ini akan tersebar luas di dalam dunia persilatan!"
Kata Siau Cu senang.
"Sembarangan bicara kau..."
"Bukankah tadi sudah berjanji siapa yang turun dari tiang bambu, dia kalah?"
Siau Cu bertanya lagi.
"bukankah satu jurus belum kau keluarkan, sudah meninggalkan tiang bambu dan turun ke bawah?"
"Karena kalian berdua..."
Wan-tianglo menim juk Siau Cu dan Su Yan-hong.
"Tapi dari awal tidak ada perjanjian bahwa kita tidak boleh berbicara! Hahaha! Wan-toako cepat turun, kita berangkat ke Bu-tong-san sekarang juga!"
Wan Fei-yang meloncat turun. Wan-tianglo segera berlari ke sisinya.
"Marga Wan, kulihat kau bukan orang kerdil yang licik!"
"Cianpwee juga bukan orang kerdil yang sudah mengeluarkan kata-kata tapi tidak bisa dipercaya?"
Wan-tianglo terpaku, lama kemudian baru tertawa.
"Baik! Baik! Hitung-hitung kalian bertiga pintar bisa menipuku hanya satu kali. Lain kali aku tidak akan mudah tertipu lagi!"
"Kami terpaksa!"
Wan Fei-yang memberi hormat. Dengan dingin Wan-tianglo berkata kepada Wan Fei-yang.Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 31
"Aku akan mencarimu lagi!"
"Setelah selesai masalah Bu-tong!"
Kata Wan Fei-yang.
"Dengan tenaga kita bertiga, belum tentu akan kalah di tanganmu. Bila kau datang, kami akan memukulmu untuk melampiaskan kemarahan karena kau telah menyiksa kami!"
Wan-tianglo menghentakkan kaki sambil marah.
"Bocah tengik, kau sekarang mulai bisa bicara. Kalau berani, keluar untuk bertarung!"
"Aku tidak ada waktu, sampai bertemu nanti!"
Siau Cu melayangkan tangan, dia orang pertama yang mulai pergi.
Wan Fei-yang dan Su Yan-hong ikut pergi.
Wan-tianglo melihat mereka tapi tidak menghadang.
Dia berdiri terpaku, sampai mereka bertiga menghilang di dalam hutan, dia baru berjalan berputar-putar di tanah kosong.
Tidak lama kemudian dia seperti setan terus berteriak sambil bersalto.
Kera-kera di sana ikut berteriak.
Sian-tho-kok yang tadinya sepi sekarang menjadi kacau.
172-172-172 Keluar dari Sian-tho-kok, Siau Cu memberi ide lebih baik naik kuda ke Bu-tong-san.
Wan Fei-yang yang pasti mendukung.
Dia menarik nafas.
"Orang dunia persilatan yang lurus sudah tidak banyak, tapi masih saling membunuh. Kalau terus begitu, apa ada harapan?"
Su Yan-hong juga menarik nafas.
"Kalau tidak ada bukti menyatakan Bu-tong-pai tidak bersalah, kelihatannya pertempuran sulit dihindari."
Wan Fei-yang mengangguk.
"Maka aku kira lebih baik mengundang Bu-wie Taysu dari Siauw-lim-pai untuk memimpin keadilan."
"Baik..."
Kata Su Yan-hong.
"Bu-tong-san tidak bisa tidak ada Lote, serahkan hal ini kepadaku!"
Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 32 Tidak menungggu Wan Fei-yang menjawab, dia sudah berlari pergi.
Memang waktu sudah sangat sempit.
*** Siang malam terus berjalan.
Ketika mereka sampai di Bu-tong-san, murid-murid Kun-lun, Heng-san-pai sudah di bawah pimpinan Toan Hong-cu dan Keng-suthay.
Orang keluarga Lamkiong tidak hadir di sana, hanya ada sepucuk surat yang memberitahu Toan Hong-cu dan Keng-suthay bahwa setelah Lamkiong Po meninggal, keluarga Lamkiong hanya tinggal janda-janda dan anak perempuan.
Maka masalah Bu-tong-san diserahkan kepada mereka, biar mereka yang mengambil keputusan.
Sebenarnya orang-orang keluarga Lamkiong sudah datang.
Mereka bersembunyi menonton keramaian.
Toan Hong-cu dan Keng-suthay mana mungkin bisa mengetahuinya.
Maka hati yang berpihak kepada keluarga Lamkiong semakin banyak, juga semakin membuat mereka marah kepada Bu-tong-pai.
Lu Tan tidak ada di Bu-tong-san, jadi tidak mungkin Bu-tong-pai bisa menyerahkan Lu Tan untuk menyelesaikan pertentangan ini.
Maka Toan Hong-cu dan Keng-suthay segera menggeledah Bu-tong-pai.
Kemarahan ini tidak bisa dibendung.
Ketua Bu-tong-pai segera menyuruh murid-murid mema sang Jit-seng-tin dan berjanji kepada Toan Hong-cu dan Keng-suthay, asal mereka bisa memecahkan jit-seng-tin maka akan membiarkan mereka menggeledah Bu-tong-pai.
Selain Jit-seng-tin, Bu-tong-pai sekarang tidak mempunyai apa-apa lagi yang bisa mereka keluarkan.Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 33 Ji-t-seng-tin dari Bu-tong-pai sangat terkenal di dunia persilatan, tapi untuk mengeluarkan kehebatan Jit-seng-tin, murid-murid harus mempunyai ilmu silat yang hebat, sekarang orang-orang berbakat di Bu-tong-pai sudah tidak ada, dari mana mereka mencari tujuh orang murid yang berilmu bagus.
Tapi mereka tidak punya pilihan, selain Jit-seng-tin sudah tidak ada yang lain lagi.
Murid-murid yang paham barisan adalah murid yang terbaik sekarang tapi mereka belum menguasai perubahan-perubahan barisan.
Maka begitu Toan Hong-cu masuk ke dalam barisan ini, tidak perlu 10 jurus barisan tersebut sudah berantakan.
Pedang 7 orang murid Bu-tong terlepas dan mereka terguling di bawah.
"Apakah ini Jit-seng-tin?"
Toan Hong-cu terlihat sangat kecewa. Giok-sik hanya bisa tertawa kecut. Toan Hong-cu melihatnya.
"Jit-seng-tin sudah pecah, apa lagi yang mau kau katakan?"
Giok-sik belum menjawab. Toan Hong-cu langsung berkata lagi.
"Kalau tidak ada, kami akan mulai menggeledah gunung!"
"Tunggu..."
Giok-sik menghadang dengan pedang.
"Apakah kau mau mengingkari janji?"
Toan Hong-cu tertawa dingin.
"Aku sudah mengeluarkan kata-kataku, tidak akan mengingkari janji!"
Giok-sik menarik nafas panjang.
"aku adalah Ketua Bu-tong-pai tapi tidak bisa menjaga kehormatan Bu-tong-pai, maka aku hanya bisa dengan mata hati berterima kasih kepada nenek moyang Bu-tong-pai!"
"Itu adalah masalahmu dengan Bu-tong-pai!"
"Bila kalian ingin menggeledah Bu-tong-san, bunuhlah aku dulu, aku tidak akan membalas!"
"Kau mau mengancam dengan kematian? Ketuanya seperti itu, pantas Bu-tong-pai bisa hidup terlunta-lunta seperti ini!"
Kata Toan Hong-cu.Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 34
"Bila ingin membunuh, bunuhlah! Untuk apa cianpwee berkata seperti itu!"
Kata Giok-sik.
"Apakah kau kira aku tidak berani membunuhmu?"
Toan Hong-cu membentak.
Pedang sudah diayunkan.
Giok-sik melotot kepada Toan Hong-cu.
Di wajahnya tidak ada rasa ketakutan sedikitpun.
Toan Hong-cu marah, dia segera menepis pedang.
Saat itu Wan Fei-yang melesat datang dan membentak.
"Berhenti..."
Murid-murid Bu-tong-pni begitu melihat Wan Fei-yang, langsung bersorak dan mendekat padanya.
Hati Giok-sik bergejolak, tapi dia tidak bergeser.
Dia tetap menghadang Toan Hong-cu dan Keng-suthay.
Hati yang paling bergejolak adalah Fu Hiong-kun yang berdiri di samping Keng-suthay.
Dia tidak mendekat, tapi matanya terus mengawasi.
Toan Hong-cu bertanya kepada Keng-suthay.
"Siapa yang datang itu?"
Keng-suthay menggelengkan kepala. Wan Fei-yang mendekat, dia memberi hormat kepada Giok-sik.
"Ciang-bun-jin, Suheng..."
"Tidak perlu sungkan. Akhirnya kau pulang juga!"
Wan Fei-yang berkata kepada Toan Hong-cu dan Keng-suthay.
"Boanpwee Wan Fei-yang menemui jiwi Lo-cianpwee!"
"Wan Fei-yang?"
Toan Hong-cu dan Keng-suthay terpaku.
Wan Fei-yang mengangguk kepada Fu Hiong-kun.
Fu Hiong-kun seperti ingin mengatakan sesuatu tapi kata-katanya tidak keluar.
Toan Hong-cu melihat Wan Fei-yang dari atas ke bawah.
"Kau adalah Wan Fei-yang yang disebut-sebut sebagai orang pendekar nomor satu di dunia ini?"
Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 35
"Lo-cianpwee terlalu memuji!"
"Tampaknya masalah Bu-tong-pai tetap harus diputuskan olehmu!"
Kata Toan Hong-cu, lalu bertanya lagi.
"dengan syarat apa kau baru mau menyerahkan Lu Tan?"
Wan Fei-yang melihat Giok-sik.
"Suheng, apakah Lu Tan ada di sini?"
"Tidak ada..."
Giok-sik menghela nafas.
"aku menyuruh dia pergi ke Pek-hoa-couw, dan sampai sekarang dia belum pulang, Jiwi Lo-cianpwee menuduhnya sebagai pembunuh. Dengan ilmu silat Lu Tan, mana mungkin bisa membunuh Tiong Toa-sianseng dan Coat-suthay?"
"Kalau kau tidak percaya dia pembunuh, mengapa tidak menyerahkan dia?"
"Tapi dia benar-benar tidak ada!"
Giok-sik menarik nafas panjang.
"Sebenarnya dia bukan pembunuh!"
Kata Siau Cu menyela.
"Aku dan dia adalah teman baik, aku sangat mengenal siapa dia!"
"Kau siapa?"
Toan Hong-cu dengan tidak sudi melihat dia.
"apa hubunganmu dengan Bu-tong-pai?"
Siau Cu ingin marah, Wan Fei-yang menahan nya.
"Jiwi Lo-cianpvvee, Boanpwee dengan nyawa menjamin Ln Tan bukan orang yang seperti itu!"
"Apakah kau mengira hanya dengan beberapa kata-katamu, kita sudah bisa mempercayaimu? Kau kirasiapa dirimu?"
"Aku percaya jiwi Lo-cianpwee adalah orang yang menjaga keadilan, Terhadap masalah ini akan membereskan dengan adil!"
Kata Wan Fei-yang.
"Maksudmu sekarang ini kami tidak ada aturan?"
Toan Hong-cu melotot.Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 36
"Kami tidak berani!"
Wan Fei-yang menarik nafas. Dari Su Yan-hong dia tahu sifat Toan Hong-cu seperti apa. Ternyata benar-benar tidak salah. Kata Keng-suthay.
"Kalau kau tahu Lu Tan adalah orang yang seperti apa, mengapa kau tidak menyerahkan dia?"
Sebenarnya ini adalah pengulangan kata-kata Toan Hong-cu. Keng-suthay juga tidak mempunyai akal sehat. Wan Fei-yang benar-benar merasa terkejut, tapi dia tetap dengan sabar berkata.
"Memang Boanpwee baru pulang, tapi ketua sudah mengatakan dengan jelas bahwa Lu Tan belum pulang!"
"Kalau begitu mengapa tidak membiarkan kita menggeledah gunung?"
Toan Hong-cu mengulang kembali kata-kata ini.
"Sebuah perkumpulan punya kehormatan sen diri!"
Wan Fei-yang tetap bersikap sangat tenang.
"Omong kosong!"
Kata Toan Hong-cu. Siau Cu berteriak.
"Kalian adalah orang yang keras kepala, yang tidak mempunyai hati nurani!"
Wajah Toan Hong-cu dan Keng-suthay berubah. Wan Fei-yang segera menahan Siau Cu.
"Ini adalah masalah Bu-tong-pai!"
Siau Cu mengangguk, kemudian dia menunjuk Toan Hong-cu dan Keng-suthay.
"Kalau kalian sembarangan menuduh Lu Tan lagi, begitu turun gunung aku akan bertarung sampai kalian mengerti."
"Kau benar-benar bocah yang tidak tahu diri dan suka mengeluarkan kata-kata sombong!"
Siau Cu masih mau berdebat. Wan Fei-yang segera mencegat, dia memberi hormat kepada Toan Hong-cu dan Keng-suthay, katanya.
"Harap Jiwi Lo-cianpwee bisa sedikit bersabar. Kalau kita sudah menemukan Lu Tan, pasti ada keadilan!"
Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 37
"Untuk apa sengaja mengulur waktu?"
Bentak Toan Hong-cu.
"Kita bukan sengaja mengulur waktu. Di jalan aku sudah berpesan kepada An-lek-hou Su Yan-hong untuk pergi ke Siong-san mengundang Bu-wie Taysu dari Siauw-lim untuk menegakan keadilan!"
"Kau mengenal Su Yan-hong?"
Toan Hong-cu terpaku.
"Aku sudah beberapa tahun mengenal dia."
"Betulkah Bu-vvie Taysu akan datang?"
Tanya Toan Hong-cu.
"Kalau tidak ada halangan, tiga hari kemudian dia pasti akan tiba!"
Setelah mengucapkan kata-kata ini Wan Fei-yang segera merasa menyesal.
"sekarang ini bila terjadi hal yang tidak terduga, itu bukan hal yang aneh!"
Toan Hong-cu segera berkata.
"Baik! Tiga hari dari sekarang kita akan datang lagi!"
"Bagaimana kalau Bu-vvie Taysu tidak datang?"
Tanya Keng-suthay.
"Boanpwee terpaksa harus menerima jurus kalian berdua!"
Wan Fei-yang menarik nafas.
"Orang dunia persilatan menyebut Thian-can-kang adalah nomor satu di dunia ini, aku ingin mencoba juga!"
Kata Toan Hong-cu.
Wan Fei-yang menghela nafas.
Fu Hiong-kun melihatnya, juga menghela nafas.
Di sepanjang jalan Fu Hiong-kun selalu memikirkan cara bagaimana membantu Bu-tong-pai.
Tapi dia tidak menemukan cara yang baik.
Kemunculan Wan Fei-yang di satu sisi membuat hatinya tenang, tapi me-munculkan kekhawatiran di sisi lain.
Kalau Bu-wie Taysu tidak datang tepat waktu, apa yang akan terjadi?
Tidak ada yang mengharapkan terjadinya korban dari pihak manapun.
173-173-173Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 38 Bu-wie Taysu dan Su Yan-hong terus berjalan menuju Bu-tong-san.
Keluarga Lamkiong sudah mendapat kabar ini, wajah Lo-taikun berubah seram.
"Tiga hari lagi mereka akan sampai!"
Kiang Hong-sim melapor kepada Lo-taikun.
"Wan Fei-yang menunggu Bu-wie Taysu datang untuk mem-bela kebenaran!"
"Bu-wie Taysu tidak boleh sampai ke Bu-tong-san!"
Perintah Lo-taikun.
"Maksud Lo-taikun?"
"Serahkan tugas ini kepada pembunuh Bwe, Lan, Ju, Tiok, 4 pembunuh. Bagaimana pendapat-mu?"
Lo-taikun coba bertanya.
"Dengan ilmu silat mereka menghadapi Su Yan-hong, pasti bisa!"
Kata Kiang Hong-sim. Lo-taikun mengangguk. Dia melihat Cia Soh-ciu.
"Kau yang melatih ilmu silat mereka, kalian pasti tahu dengan sangat jelas!"
"Tentang ini Lo-taikun tenanglah!"
Jawab Cia Soh-ciu.
"Kulihat dia bukan lawan 4 pembunuh!"
Kata Kiang Hong-sim.
"Hal ini aku serahkan kepada kalian!"
Lo-taikun duduk kembali di kursi. Kiang Hong-sim meniup peluit. 4 pembunuh segera keluar seperti setan gentayangan.
"Apakah perlu menguji mereka lagi?"
Tanya Kiang Hong-sim.
"Tidak perlu..."
Lo-taikun menggelengkan kepala.
"jangan mengganggu mereka! Bu-wie adalah pesilat tinggi yang bisa dihitung jari, ditambah lagi Su Yan-hong. Ingin membereskan mereka bukan hal yang mudah!"
"Kami akan berhati-hati!"
Jawab Kiang Hong-sim.
"Sebelum berangkat, beri obat sekali lagi untuk beijaga-jaga!"
Pesan Lo-taikun.
174-174-174Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 39 Su Yan-hong dan Bu-wie Taysu tidak tahu bahaya sedang mendekat.
Sepanjang jalan mereka merasa aman.
Kuda sudah lelah.
Karena di gunung tidak ada orang, maka tidak memungkinkan bila ingin mengganti kuda.
Su Yan-hong dan Bu-wie Taysu turun dari kuda, berjalan kaki sambil menuntun kuda.
"Apakah Taysu lelah?"
"Seorang hweesio harus bekerja tidak kenal lelah. Pinceng naik kuda sudah cukup berdosa."
Bu-wie tersenyum.
"tapi kalau berjalan kaki akan telat sampai ke Bu-tong-san. Bila terjadi musibah, kita akan lebih berdosa lagi!"
"Taysu seorang yang pengasih dan penyayang, Tecu benar-benar kagum!"
"Pinceng seringkali ditertawai sebagai orang kuno, bekerja keras, tapi sebenarnya kita bisa melihat situasi. Kadang-kadang hal yang kita tahu berdosa tetap kita lakukan!"
Tiba-tiba Bu-wie Taysu berhenti. Dia membaca bacaan Budha. Su Yan-hong merasa aneh dan berhenti.
"Taysu..."
"Jika aku tidak masuk ke neraka, siapa yang masuk neraka?"
Bu-wie Taysu membaca lagi bacaan Budha. Sekarang Su Yan-hong mulai merasakan sesuatu. Dia meletakkan tangannya pada pegangan pedang. Sorot mata Bu-wie Taysu berputar.
"Aura membunuh yang begitu kuat!"
"Akhirnya Tecu merasakan juga!"
"Lawan datang sengaja untuk membunuh kita maka ada aura membunuh begitu kuat!"
"Guru sudah lama tidak berada di dunia persi latan, maka orang yang datang pasti ingin membunuh Tecu!"
Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 40
"Tujuannya adalah menghadang kedatangan kita ke Bu-tong-san. Bukankah Hou-ya pernah berkata Bu-tong-san mungkin dituduh dan dicelakakan?"
"Betul!"
Tiba-tiba terdengar suara peluit. Bwe, Lan, Ju, Tiok sudah muncul dari semak-semak. Bu-wie Taysu melihat mereka. Dia membaca bacaan Budha dan bertanya.
"Apakah kau mengenal mereka?"
"Suara peluit ini pernah kudengar, apakah mereka adalah satu kelompok?"
Tiba-tiba dia teringat Hen-lo-sat. Kalau 4 perempuan ini seperti Hen-lo-sat, akan sulit menghadapi mereka.
"Taysu hati-hati..."
Dia mengingatkan Bu-wie Taysu.
"Empat orang ini bukan orang biasa, Hou-ya juga hati-hati!"
Empat pembunuh perempuan sudah semakin mendekat. Dengan sungkan Su Yan-hong bertanya.
"Siapa kalian berempat?"
Yang pasti tidak ada orang yang menjawab. Dia bertanya lagi.
"Apakah kalian ingin menghadang kita pergi ke Bu-tong-san!"
Jawabannya adalah serangan empat buah pedang.
Pedang sama-sama menyerang.
Su Yan-hong segera mencabut pedang.
Bu-wie Taysu juga memutar tongkatnya, tapi dihadang oleh empat pedang.
Hanya bertarung satu jurus, Bu-wie Taysu dan Su Yan-hong sudah tahu mereka bertemu musuh yang kuat.
Tongkat dan Liong-im-kiam segera diayun kan untuk melayani serangan 4 pembunuh ini.
Cara 4 pembunuh menyerang seperti tidak mempedulikan nyawa, sikap mereka boleh dikatakan seperti orang gila.
Semakin bertarung Su Yan-hong semakin terkejut.
Walaupun 4 perempuan ini tidak selihai Hen-lo-sat, tapi terlihat mereka satu kelompok dengan Hen-lo-sat, tidak pernah takut mati.Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 41 Bu-wie Taysu sudah melihat 4 perempuan mempunyai masalah pada otak mereka.
Begitu ada celah, dia segera masuk.
Dengan tongkat memukul ke pundak kirinya tapi perempuan ini seperti tidak merasakan, dia malah balik menyerang.
Hal ini membuat Bu-wie Taysu bertambah yakin.
Dia cepat menghindar dan berteriak.
"Mereka bukan orang normal, jangan bertarung keras dengan mereka!"
Sambil berbicara dia terpaksa harus melawan dengan keras, dua perempuan ini baru tergetar mundur, sekarang maju menyerang lagi.
Pada waktu yang bersamaan Su Yan-hong dipaksa mundur oleh 2 pembunuh yang lain.
Walaupun dia sudah menguasai Thian-liong-kiu-sut, tapi lawan menyerang begi tu gila-gilaan, membuat dia tidak berkesempatan mengeluarkan Thian-liong-kiu-sut.
Su Yan-hong dan Bu-wie Taysu mulai merasa kesulitan menghadapi mereka.
Kekuatan barisan pedang mereka benar-benar seperti gunung yang runtuh dan air yang tumpah.
Suara peluit terdengar lagi.
Tenaga dalam 4 perempuan sama-sama dikeluarkan.
Jurus pedang mereka semakin ganas.
Su Yan-hong dan Bu-wie Taysu mulai merasa sesak nafas.
Bu-wie Taysu terus berpikir.
Tiba-tiba dia membentak.
"Usahakan mendesak mereka mundur dulu.."
Segera tenaga dalam memenuhi kedua tangan nya.
Dengan tongkat dia menyapu.
Su Yan-hong juga menepis dengan pedang.
Diiringi suara seperti petir, 4 perempuan masing-masing terdorong mundur sejauh 7 kaki.
Suara peluit berbunyi lagi, mereka segera menyerang lagi.
Bu-wie Taysu menancapkan tongkat hweesionya ke tanah.
Dua tangannya melakukan gerakan untuk mengangkat tenaga dalam.
Baju kasanya terus bergerak tanpa tertiup angin.
Tiba-tiba bajunya membesar seperti tersimpan banyak udara.
"Hou-ya tutup telinga..."
Begitu mengucapkan ini, Bu-wie Taysu membuka besar mulutnya, raungan keras segera keluar.Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 42 Raungan ini benar-benar keras, melewati awan melampaui suara peluit, benar-benar membuat bumi dan langit seperti tergetar.
Daun-daun di sekeliling hutan terus tergetar rontok dan menari-nari kencang di antara bumi dan langit.
Empat perempuan ini seperti tersambar petir.
Tubuh mereka bergetar.
Tubuh mereka terlempar di udara dan terjatuh menabrak tanah.
Bu-wie Taysu masih terus meraung.
Walau pun Su Yan-hong sudah menutup telinga dengan dua telapaknya, dia tetap merasa telinganya tergetar dan kepalanya seperti mau pecah.
Wajah 4 perempuan ini menunjukkan ekspresi sakit, sorot mata mereka buyar.
Mereka terjatuh, berguling dan merintih.
Peluit yang dipegang Kiang Hong-sim tergetar jatuh karena suara auman singa.
Sedangkan Cia Soh-ciu masih memegang peluitnya.
Dia mencoba meniup lagi, tapi peluit pecah karena auman singa.
Hal ini membuat mereka terkejut.
Auman singa berhenti sejenak tapi segera ada auman kedua.
Kali ini auman lebih dasyat lagi!
Cia Soh-ciu dan Kiang Hong-sim berteriak seperti terkena petir, kemudian tergetar jatuh dari pohon.
Pada saat suara auman pertama kali berhenti 4 perempuan masih bisa merangkak bangun, tapi pada auman kedua mereka terjatuh lagi.
Bu-wie Taysu meraung lagi.
Tubuh Cia Soh-ciu dan Kiang Hong-sim tergetar, darah menyembur dari mulut mereka.
Mereka cepat-cepat berlari pergi, 4 perempuan juga muntah darah dan lari tergopoh-gopoh.
Mengeluarkan tiga kali auman singa, wajah Bu-wie Taysu berubah dari merah menjadi pucat.
Dia mencengkram tongkat hweesio yang ditancapkan ke tanah baru bisa mementapkan tubuhnya.
Keringat terus menetes dan nafasnya terengah-engah.
Su Yan-hong dengan susah payah membuka mata.
Melihat daun yang rontok, kemudian melihat Bu-wie Taysu, dia segera berteriak.Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 43
"Taysu..."
Pelan-pelan Bu-wie Taysu bisa pulih kembali, dia berkata.
"Aku sudah membuat Hou-ya terkejut!"
Su Yan-hong baru tenang.
"Apakah ilmu yang guru peragakan tadi adalah Say-cu-houw (Ilmu auman singa) dari agama Budha?"
"Aku malu di hadapan Hou-ya. Aku sudah berlatih hampir 20 tahun lebih, tapi hanya mencapai 60%. Untung lawan tidak berilmu tinggi!"
"Taysu benar-benar lelah..."
"Empat orang ini sudah tidak punya akal sehat manusia. Mereka seperti orang gila. Kecuali meng gunakan auman singa, Pinceng sudah tidak punya cara lain lagi!"
"Kelihatannya mereka dikendalikan oleh suara peluit!"
"Dan mereka seperti sudah makan suatu jenis obat, sehingga otaknya sudah tidak bisa berpikir, dapat dikuasai peluit dan tidak takut mati, juga mengeluarkan jurus-jurus yang berbahaya!"
Su Yan-hong melihat bekas darah mereka di tanah.
"Mereka sudah terluka oleh auman singa. Kita kejar dan tangkap mereka. Tidak sulit menangkap orang yang berada di belakang mereka!"
"Semua ini pasti ada kaitan dengan Bu-tong-pai. Jika bisa menangkap mereka, masalah Bu-tong-pai akan bisa diselesaikan!"
Bu-wie Taysu memapah tongkat, pelan-pelan berdiri. Su Yan-hong melihat dan terkejut.
"Bagaimana dengan Taysu?"
"Auman singa telah menguras banyak tenaga dalamku. Hou-ya tidak perlu melayaniku, lebih baik kau tangkap mereka!"
Bu-wie Taysu menghembuskan nafas. Su Yan-hong menggelengkan kepala.Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 44
"Musuh di tempat gelap, kita di tempat terang, mana mungkin Tecu membiarkan Taysu sendiri."
Bu-wie tertawa kecut.
"Pinceng hanya takut perjalanan kita terganggu dan tidak sempat ke Bu-tong-san!"
Setelah berbicara, Bu-wie Taysu jatuh terduduk di bawah.
Dia bernafas dengan terengah-engah.
Auman singa telah menguras sangat banyak tenaga dalamnya.
175-175-175 Cia Soh-ciu dan Kiang Hong-sim mengira Su Yan-hong dan Bu-wie Taysu pasti akan mengejar mereka.
Setelah berlari lama, mereka menoleh.
Ketika melihat hanya ada 4 pembunuh di belakang mereka, mereka manerik nafas lega.
Melihat pohon besar di sisi, mereka segera naik ke atas pohon dan melihat dengan jelas hanya ada 4 pembunuh.
Sebelum sampai pohon ini, 4 pembunuh sudah roboh.
Ke tujuh indera mereka mengeluarkan darah, wajah mereka terlihat merah.
Cia Soh-ciu terkejut, dia turun memeriksa pernafasan mereka.
4 pembunuh sudah berhenti bernafas.
"Bagaimana dengan mereka?"
Kiang Hong-sim turun dari pohon.
"Semua sudah mati!"
"Si botak yang lihai! Ilmu apa itu?"
Tanya Kiang Hong-sim.
"Kalau tidak salah tebak, itulah ilmu auman singa dari kalangan Budha!"
Kata Cia Soh-ciu.
"Auman singa? Apa yang harus kita lakukan sekarang?"
Tanya Kiang Hong-sim.
"Kembali melapor kepada Lo-taikun, melihat apakah ada petunjuk dari Lo-taikun."
Cia Soh-ciu tertawa kecut, dia membalikkan tubuh berlari pergi.
Kiang Hong-sim juga ikut berlari.Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 45 176-176-176 Hari kedua, jam tiga subuh.
Wan Fei-yang belum tidur.
Fu Hiong-kun datang mengunjungi.
Begitu membuka pintu dan melihat Fu Hiong-kun, Wan Fei-yang merasa terkejut.
Tapi sikapnya segera tenang kembali.
"Mengapa sudah malam begini kau belum tidur?"
Nada Wan Fei-yang bisa tenang.
"Aku tidak bisa tidur! Perpisahan di Siong-san..."
"Kau masih menyalahkan aku?"
Fu Hiong-kun melihat dia.
"Yang sudah lewat jangan diceritakan lagi. Beberapa lama ini aku selalu memohon kepada Thian agar luka dalammu cepat sembuh supaya bisa memulihkan nama Bu-tong-pai!"
"Hiong-kun..."
Dengan terharu Wan Fei-yang berkata.
"Apa yang harus kukatakan, singkatnya..."
"Aku mengerti semua, tapi sayang aku tidak bisa membantumu, seperti masalah Lu Tan..."
"Apa yang kau perkirakan?"
"Aku sangat mengenal dia. Hanya saja dalam setiap hal dia selalu tidak beruntung, dan sampai sekarang dia masih menghilang."
Wan Fei-yang menarik nafas.
"Karena itulah hal ini menjadi repot. Jika waktu yang dijanjikan sudah sampai dan Bu-wie Taysu tidak sempat datang, pertarungan akan terjadi!"
"Menghadapi Thian-can-kang yang kau miliki, ketua Pek-lian-kau pun kalah. Susiok-bo dan Toan Hong-cu Cianpwee pasti tidak terkecuali."
"Kau khawatir aku akan melukai mereka?"
Fu Hiong-kun menundukkan kepala. Wan Fei-yang melihat dia dan menarik nafas.Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 46
"Aku mengerti keadaanmu, tapi nama Bu-tong-pai berdiri beberapa ratus tahun, semua terikat dalam pertarungan kali ini!"
"Wan-toako...aku harap kau bisa berbelas kasihan, jangan melukai mereka!"
"Kau tidak perlu khawatir, aku tahu batas!"
Kata Wan Fei-yang.
"Aku tidak muda lagi, tidak emosi seperti dahulu!"
Fu Hiong-kun merasa sedih.
Di matanya, Wan Fei-yang masih begitu muda tapi pemikirannya sudah berubah dewasa.
Apa yang membuat dia berubah?
Fu Hiong-kun tahu tapi tidak tahu bagaimana harus menasehati nya, dan dia sendiri juga berubah seperti sudah tua.
177-177-177 Lo-taikun marah besar.
Cia Soh-ciu dan Kiang Hong-sim melapor bahwa Bu-wie Taysu menggunakan ilmu auman singa.
Awalnya Lo-taikun terkejut, tapi mendengar mereka kabur dengan tergesa-gesa, dia marah.
Lalu mendengar 4 pembunuh mati semua, dia semakin marah.
"Auman singa dari kalangan Budha menghabiskan tenaga dalam sangat besar. Biasanya, jika belum sampai di ujung kematian, mereka tidak akan menggunakan auman singa. Semua tenaga Bu-wie terkumpul dalam tiga auman itu. Setelah itu, dia akan seperti orang biasa yang harus beristirahat 8-10 hari baru bisa pulih. Seharusnya kalian mengambil kesem patan ini untuk menyerang dan mencabut nyawanya."
Tongkat kepala naga dipukulkan tiga kali ke bawah.
"Menantu tidak tahu, kesempatan ini sudah hilang!"
Kata Cia Soh-ciu.
"Si botak itu tampak belum pergi jauh, bagaimana kalau kita mengejarnya..."
Kata Kiang Hong-stm.
"Sudahlah..."
Kata Lo-taikun melayangkan tangan.
"dengan ilmu silat kalian, belum tentu bisa mengalahkan An-lek-hou. Yang penting mereka belum tentu bisa sampai ke Bu-tong-san tepatLegenda Pendekar Ulat Sutra -4 47 waktu. Bu-tong-san tetap akan terjadi pertempuran berdarah. Hanya 4 pembunuh sudah mati oleh auman singa, Hen-lo-sat baru bisa pulih sebentar lagi maka tidak bisa mendapat keuntungan apa-apa!"
Dia sama sekali tidak mempedulikan nyawa 4 pembunuh, hanya peduli apakah dalam pertarungan Bu-tong dia bisa mendapatkan beberapa keuntungan.
Terlihat dia memang adalah orang kejam dan tidak berperasaan.
178-178-178 Akhirnya tiga hari batas waktu yang ditentukan sudah tiba.
Toan Hong-cu dan Keng-suthay sudah membawa murid-murid mereka menunggu di lapangan.
Toan Hong-cu melihat Wan Fei-yang.
"Sekarang apa yang akan kau katakan!"
"Silahkan kalian berdua menyerang!"
Wan Fei-yang menarik nafas. Toan Hong-cu menggelengkan kepala.
"Apakah kau membuat kami menjadi tidak adil? Walaupun Thian-can-kang tidak ada tandingan nya, tapi kita tetap harus satu lawan satu dan kita harus meminta keadilan dari Bu-tong-pai!"
"Biar Pinni yang duluan bertarung!"
Kata Keng-suthay.
"Bagaimana kalau Boanpwee kebetulan menang..."
"Kita segera turun gunung, tidak merusak satu pohon atau satu rumput Bu-tong-pai!"
Terlihat Keng-suthay dan Toan Hong-cu sudah bersepakat maka berkata seperti itu.
"Bagaimana jika kau kalah? Jangan ada alasan lain menghadang kami untuk menggeledah!"
Kata Toan Hong-cu.
"Itu sudah pasti..."
Toan Hong-cu melihat Ketua Bu-tong-pai.
"Termasuk ketua Bu-tong-pai, jangan ada gerakan menghadang orang."
Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 48 Giok-sik menarik nafas. Wan Fei-yang sangat mengerti, maka menepuk-nepuk pundaknya. Keng-suthay maju tiga langkah, dia mencabut pedang.
"Sekarang bisa mulai!"
"Maaf!"
Wan Fei-yang segera berlari keluar kemudian menyerang dengan telapak.
Walaupun tidak menggunakan tenaga dalam tapi Keng-suthay tetap bisa melihat pada gerakan Wan Fei-yang, tidak ada celah bisa diserang.
Gerakan yang benar-benar sempurna maka dia tidak berani ceroboh.
Setelah menyambut satu jurus, jurus-jurus Giok-lie-kiam-hoat dari Heng-san-pai sudah dikeluarkan.
Dengan tangan kosong Wan Fei-yang menyambut, dengan cepat dia sudah menemukan jurus-jurus perubahan Giok-lie-kiam-hoat.
Wan Fei-yang sama sekali tidak mengerti Giok-lie-kiam-hoat dari Heng-san-pai.
Dia mempelajari cara mencari tahu jurus-jurus pedang lain dari Wan-tianglo.
Ketika berada di Sian-tho-kok, Wan-tianglo tidak henti-hentinya memaksa dia bertarung, maka sedikit banyak dia belajar dari sana.
Wan-tianglo menguasai ilmu silat semua perkumpulan.
Setelah dicerna, dia mengubahnya menjadi jurus yang lain.
Walaupun tidak begitu sama tapi tetap ada kemiripan.
Semua ini adalah intinya, juga sumber perubahan.
Setelah menguasai sumber perubahan, pasti bisa mencari perubahan yang lain!
Kelihatannya mudah, tapi tidak semudah yang kita perkirakan.
Dengan perubahan jurus Wan-tianglo yang cepat, untung Wan Fei-yang mempunyai sorot mata yang tajam dan pengalaman dalam menghadapi musuh, kalau tidak mana mungkin dia bisa mengerti.
Keng-suthay adalah orang yang sangat berpengalaman di dunia persilatan.
Dia melihat ilmu pedang Giok-lie-kiam-hoat sama sekali tidak berguna, maka dia segera mengubah jurus, mencampur dua jenis ilmu pedang sambil terus menyerang gila-gilaan.Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 49 Wan Fei-yang menyambut sampai 30 jurus.
Lalu tubuhnya maju, telapaknya berubah tujuh kali.
Terakhir, perubahannya menekan pergelangan tangan kanan Keng-suthay.
Dia tidak ingin Keng-suthay mendapat malu tapi Keng-suthay malah tidak terima.
Dia memaksa Wan Fei-yang dengan menyerang jalan darah penting nya.
Diam-diam Wan Fei-yang menarik nafas.
Setelah perubahan Keng-suthay habis, sekali lagi dia menekan pergelangan kanan Keng-suthay.
Kali ini memakai tenaga lebih kuat.
Keng-suthay merasa pergelangan tangan kanannya mati rasa, pedang tidak bisa dicengkram lagi.
Akhirnya pedang terlepas dan terjatuh.
Reaksi Keng-suthay sangat cepat, segera kaki kanannya diangkat, sudah mengait pedang dan mencengkramnya kembali.
Wan Fei-yang sudah mundur 3 tombak, dia memberi hormat dan berkata.
"Terima kasih, anda telah mengalah..."
Keng-suthay ingin mengejar tapi tidak bisa. Dia menghentakkan kaki dan memasukkan pedang ke sarung.
"Wan Fei-yang, kau benar-benar mempunyai ilmu silat yang hebat!"
"Boanpwee masih kurang belajar ilmu silat. Aku sudah sekuat tenaga baru beruntung menang satu jurus!"
Kata-kata sungkan ini membuat wajah Keng-suthay berubah warna.
"Memang ilmu silat Pinni tidak bagus, mengapa kau tidak berkata terus terang?"
Wan Fei-yang tertawa kecut. Dia tidak bicara. Keng-suthay berkata kepada Toan Hong-cu.
"Lo-totiang, sekarang harapan ada padamu!"
Toan Hong-cu maju tiga langkah.Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 50
"Baik! Wan Fei-yang kita mulai!"
"Harap memberi petunjuk..."
Kata Wan Fei-yang dengan tenang.
Toan Hong-cu mengeluarkan pedang.
Pedang yang panjangnya tiga kaki itu terus bergetar.
Tenaga dalamnya tampak kuat.
Maka begitu keluar langsung melancarkan jurus Thian-liong-pat-sut dari Kun-lun-pai.
Tapi dia tidak tahu bahwa demi membantu Su Yan-hong ketika di Sian-tho-kok, Wan Fei-yang sudah paham terhadap Thian-liong-pat-sut.
Sampai Thian-liong-kiu-sut juga dia sudah paham.
Maka Thian-liong-pat-sut sama sekali tidak bisa mengancamnya.
Toan Hong-cu tidak tahu.
Dia masih mengira Wan Fei-yang adalah orang berbakat di bidang ilmu silat.
Thian-liong-pat-sut sudah habis dikeluarkan tapi tidak bisa mengancam Wan Fei-yang.
Maka dia mundur dan berkata.
"Kita bertarung tenaga dalam saja..."
Kata-katanya baru selesai, pedang di tangannya sudah mengeluarkan cahaya berkilauan.
Tubuhnya pelan-pelan seperti mengeluarkan asap, membuat orang menjadi bingung.
Wan Fei-yang tahu itulah ilmu andalan Kun-lun 'Giok-sik-ku-pan' (Batu giok membakar semua).
Semua tenaga dalam dikarahkan pada pukulan kali ini.
Tapi dia sadar jurus ini bukan jurus yang mudah dihadapi.
Thian-can-kang segera terkerahkan.
Rambutnya jadi acak-acakan, walau tidak ada angin tapi terus bergerak, bajunya juga seperti gelombang terus bergerak.
Tidak ada yang tahu pukulan ini akan menang atau kalah, tapi bisa terbayang kekuatannya yang dashyat.
Fu Hiong-kun menarik nafas.
Dia membalikkan tubuh, tapi wajahnya segera terlihat berseri.
Dari arah kejauhan terdengar ada yang membaca bacaan Budha.
"Kita semua adalah orang yang punya satu jalan, mengapa harus saling melukai?"
Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 51 Semua orang melihat.
Terlihat Su Yan-hong sedang mendorong sebuah kereta kayu, datang dari jauh.
Bu-wie Taysu sedang duduk di atas kereta.
Wajahnya pucat, sambil berkata dia menghembuskan nafas.
Wan Fei-yang cepat menyambut.
Toan Hong-cu dan Keng-suthay juga ikut menyambut.
Jika bicara generasi, Bu-wie Taysu berada di atas mereka.
Kereta kayu berhenti.
Bu-vvie Taysu kembali membaca bacaan Budha.
"Pinceng telah terlambat setengah langkah, tapi sangat beruntung masih sempat, tidak membuat kesalahan yang besar!"
Toan Hong-cu dan Keng-suthay memberi hormat..
"Apa kabar Taysu?"
"Tidak perlu sungkan!"
Bu-wie Taysu melihat Wan Fei-yang dan tersenyum.
"apakah Sicu baik-baik saja?"
Wan Fei-yang memberi hormat.
"Kalau bukan karena Taysu, Boanpwee tidak akan hidup sampai saat ini. Sekarang masalah Bu-tong-pai harus Taysu sendiri yang datang lagi, Boanpwee benar-benar merasa tidak enak!"
"Tuan berhati jujur. Seorang hweesio harus mengasihi dan menyayangi, mana mungkin Pinceng berpangku tangan?"
Bu-wie Taysu tertawa penuh kebaikan. Su Yan-hong memberi hormat kepada Toan Hong-cu.
"Susiok..."
Toan Hong-cu seperti ingin mengatakan sesuatu tapi tidak dikatakan.
"Masalah hari ini Pinceng sudah melihat dengan jelas. Aku takut kalian dijebak oleh orang lain!"
"Bu-tong-pai dan Wan Fei-yang menyembunyikan Lu Tan, mereka tidak mengijinkan kita memeriksa. Taysy harus mengambil keputusan yang adil!"
Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 52
"Coat-suthay dan Tiong Toa-sianseng sudah meninggal. Ini berkaitan dengan nama dua perkumpulan. Kita tidak bisa melepaskan pembunuh dan membiarkan mereka bebas di luar sana!"
Kata Keng-suthay. Bu-wie Taysu melihat wajah Keng-suthay.
"Pinceng sangat tahu siapa Wan Fei-yang. Hilangnya Lu Tan memang kenyataan. Tapi gosip tetap gosip, hanya dengan menemukan Lu Tan perkara baru bisa menjadi terang!"
Kemudian dia bertanya kepada Wan Fei-yang.
"kau butuh berapa lama baru bisa temukan Lu Tan?"
Wan Fei-yang belum menjawab, Toan Hong-cu sudah mencegat.
"Taysu hanya mendengar kata-kata sepihak dari Wan Fei-yang..."
Bu-wie Taysu tertawa.
"An-lek-ya dan Pinceng diserang di tengah perjalanan. Kami hampir-hampir tidak bisa datang ke Bu-tong-pai. Ini adalah bukti yang kuat!"
Toan Hong-cu dan Keng-suthay melihat Bu-wie Taysu, mereka terpaku. Dari awal mereka sudah melihat Bu-wie Taysu tidak sehat, lebih-lebih tidak terpikir karena hal ini dia terluka.
"Fei-yang, kau belum menjawab."
"Dalam tiga bulan. Walaupun kita tidak bisa menemukan Lu Tan dan menyuruh dia keluar, tapi kita pasti akan mencari penjelasan agar semua orang tahu apa yang telah terjadi."
"Baik! Pinceng akan menjamin dengan nama Siauw-lim-pai. Bagaimana pendapat kalian?"
"Tiga bulan terlalu lama. Kun-lun tidak punya kesabaran sebesar ini!"
Bu-wie Taysu menarik nafas.
"Mengapa gurumu mengharuskan kau bertapa?"
Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 53 Toan Hong-cu terpaku.
Dia tidak lupa, itu karena sifatnya terlalu keras dan tidak sabaran maka terus-menerus membuat bencana.
Keng-suthay melihatnya, dia tertawa kecut.
"Bu-wie Taysu mau mengambil keputusan yang adil, lebih baik kita menunggu tiga bulan lagi!"
Terpaksa Toan Hong-cu setuju.
Sebenarnya dia juga tidak yakin bisa mengalahkan Wan Fei-yang.
Setelah kepala mereka dingin, mereka akhirnya mengaku penyerangan terhadap Bu-wie Taysu dan Su Yan-hong adalah bukti.
Mereka juga mencurigai tidak munculnya keluarga Lamkiong.
Mungkin ada kesulitan lain.
179-179-179 Setelah tahu Bu-wie Taysu dan Su Yan-hong tiba tepat waktu di Bu-tong-san, Lo-taikun sangat marah.
Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.
Yang membuat dia paling menyesal adalah kematian 4 pembunuh.
Melatih 4 pembunuh itu tidak mudah.
Selain membutuhkan waktu, orang yang dipilih juga merupakan suatu masalah.
Waktu itu, surat rahasia dari Ling-ong telah diantar.
Dala surat itu menyuruh mereka agar cepat kembali ke Kang-lam.
180-180-180 Setelah mengantar Toan Hong-cu, Keng-suthay, murid-murid Kun-lun dan Heng-san-pai, Bu-wie Taysu segera turun gunung.
Su Yan-hong melindungi dia sampai sebagian besar perjalanan, baru kembali ke ibukota.
Siau Cu dan Fu Hiong-kun sama-sama pergi ke keluarga Lamkiong.
Siau Cu beralasan ingin melamar dan ingin mencari tahu apakah masih ada orang jahat yang bersembunyi di ' keluarga Lamkiong.
Juga mencari tahu kesulitan apa yang menyebabkan keluarga Lamkiong tidak pergi ke Bu-tong-san.
Murid-murid Bu-tong-pai juga turun gunung untuk mencari tahu keberadaan Lu Tan, tapi Wan Fei-yang tetap tinggal di Bu-tong-san.Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 54 Mencari orang tanpa tujuan, semua orang tahu itu dikarenakan keadaan terpaksa.
Itu adalah cara paling baik dalam keadaan seperti itu.
Jika Wan Fei-yang juga ikut masuk dalam barisan pencari Lu Tan, itu adalah kesia-siaan.
Maka semua orang ingin Wan Fei-yang pada saat ini bisa mencari Hwe-yang-ko (sejenis buah-buahan) untuk memulihkan ilmu silatnya.
Selain melatih Ie-kin-keng, dia harus makan Hwe-yang-ko baru bisa sembuh total..
Menurut perkiraan Fu Hiong-kun, Hwe-yang-ko tumbuh di tempat dingin.
Dulu pernah tumbuh di Bu-tong-san, di sisi kolam Bu-tong-san.
Awalnya Hwe-yang-ko ditemukan di sisi Han-tan (nama kolam), tapi karena Hwe-yang-ko mengandung kadar racun yang tinggi maka dianggap buah beracun dan dimusnahkan.
Tidak ada yang menyangka bahwa buah yang berwarna hijau ini beberapa tahun kemudian diketahui mempunyai manfaat yang besar.
Seperti sakitnya Wan Fei-yang, tidak pernah ada orang yang pernah mendapatkan sakit ini.
Satu-satunya harapan Fu Hiong-kun adalah Hwe-yang-ko masih ada di hulu Han-tan.
Tapi sampai sekarang murid Bu-tong-pai belum menemukannya, apakah Han-tan berada di sana?
Seharusnya hulu Han-tan berada di Bu-tong-san, tapi tidak ada yang tahu di bagian mana Hwe-yang-ko tumbuh.
Apakah bisa menemukan Hwe-yang-ko, itu tergantung pada kemujuran nasib Wan Fei-yang.
Semua orang berharap nasib Wan Fei-yang terus membaik.
Mereka memang butuh seorang yang berilmu tinggi untuk menghadapi musuh.
Orang yang mempunyai ilmu ini sekarang hanyalah Wan Fei-yang.
Bila luka dalam tidak sembuh, tenaga dalam Wan Fei-yang tidak bisa terus bertahan.
Wan Fei-yang tidak pernah menutupi rahasia ini.
Tapi murid-murid yang tinggal di Bu-tong-san tidak ragu,Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 55 mereka sangat setia dan tidak membocorkan rahasia ini.
Mereka juga percaya, asal mereka berusaha keras Bu-tong-pai pasti akan bangkit dan kuat kembali.
Semenjak Bu-tong-pai tidak punya murid yang lebih terkenal daripada Wan Fei-yang, maka tidak bisa menyalahkan mereka menaruh harapan pada Wan Fei-yang.
181-181-181 Fu Hiong-kun ingin sekali menemani Wan Fei-yang di Bu-tong-san.
Dengan ilmu pengobatan Fu Hiong-kun, dia pasti bisa banyak membantu.
Tapi Wan Fei-yang tidak membuka mulut.
Siau Cu ingin melamar tapi tidak berpengalaman, maka terlihat kerepotan dan tidak tahu apa yang harus dia lakukan.
Maka harus ada orang yang agak teliti membantunya.
Melihat orang di sekeliling hanya ada Fu Hiong-kun sendiri.
Fu Hiong-kun sangat berharap Wan Fei-yang bisa pulih kembali, tapi sampai dia turun gunung bersama Siau Cu, Wan Fei-yang tetap tidak mengucapkan sepatah katapun untuk meminta dia tinggal.
Maka Fu Hiong-kun sedikit kecewa.
Entah mengapa dia merasa di antara dia dan Wan Fei-yang sudah ada jarak dan sedikit asing, Siau Cu tidak bisa membaca pikiran Fu Hiong-kun.
Pertama, dia tidak tahu banyak.
Kedua, dia selalu merindukan Beng-cu.
Memang melamar Beng-cu hanyalah satu alasan, tapi dia tetap berharap bisa menjadi kenyataan.
Mereka datang ke keluarga Lamkiong dengan alasan ini.
Yang pasti orang-orang keluarga Lamkiong merasa terkejut.
Orang yang pertama mereka temui adalah Cia Soh-ciu.
Yang pasti Cia Soh-ciu menolak dengan halus tapi tidak terlalu terlihat, karena tetap harus bertanya dulu kepada Lo-taikun.
Tapi Lo-taikun malah langsung setuju.
Cia Soh-ciu mengingatkan Lo-taikun tentang masalah Pek-hoa-couw yang belum selesai dan masih banyak yang harus dilakukan, sehingga lebih baik ditunda dulu.
Tapi Lo-taikun tidak menganggap.
AlasanLegenda Pendekar Ulat Sutra -4 56 dia karena keluarga Lamkiong sedang membutuhkan orang.
Walaupun ilmu Siau Cu tidak seberapa tapi tetap bisa dipergunakan.
Maka dia setuju Siau Cu menikah masuk ke keluarga Lamkiong dan berpesan kepada Cia Soh-ciu untuk menyuruh Siau Cu tinggal.
Satu bulan kemudian baru menikah dengan Beng-cu.
Siau Cu benar-benar senang, dia berterima kasih kepada Cia Soh-ciu, kemudian terus bersalto gembira.
Fu Hiong-kun juga senang dan lupa tujuannya datang.
Melihat Siau Cu tidak berhenti bersalto, dia berkata.
"Orang yang sudah akan menikah masih juga seperti ini!"
"Kalau sekarang tidak begitu, setelah menikah tidak ada kesempatan lagi!"
Saat itu ada yang mengetuk pintu. Siau Cu membuka pintu, ternyata yang berdiri di luar adalah Beng-cu.
"Ternyata kau..."
Siau Cu terkejut, tapi juga senang. Beng-cu diam, dia bertanya dengan dingin.
"Untuk apa kau datang kemari?"
Fu Hiong-kun ingin menyela tapi Beng-cu sudah berkata.
"Aku tahu, semua aku tahu. Aku datang mem beritahu kepadamu bahwa aku tidak ingin menikah denganmu!"
Setelah itu Beng-cu segera membalikkan tubuh pergi. Siau Cu terpaku. Fu Hiong-kun ikut terpaku. Siau Cu pelan-pelan berkata.
"Mengapa bisa seperti ini?"
"Apakah kau telah membuat dia marah?"
"Sebelumnya kita belum bertemu, bagaimana aku bisa membuat dia marah?"
"Mungkin dia marah karena sebelumnya kau tidak berunding dengan dia dan juga tidak menemui dia?"
Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 57
"Masuk akal. Perempuan memang bisa lebih mengerti perempuan!"
"Apa yang harus aku lakukan agar dia tidak marah?"
"Kalau disebabkan hal tadi lebih baik jangan berbicara dengan dia dulu. Setelah marahnya reda, tidak akan terjadi apa-apa."
Yang pasti Siau Cu setuju.
Dia juga setuju dengan perkiraan Fu Hiong-kun.
Fu Hiong-kun adalah perempuan, dia lebih mengerti perempuan dan memang dia tidak pernah membuat Beng-cu marah.
Fu Hiong-kun juga mengira begitu.
Tapi sebenarnya Beng-cu sudah tahu guru Siau Cu, Lam-touw mati dibunuh oleh orang keluarga Lamkiong.
182-182-182 Beng-cu segera lari ke tempat Lo-taikun.
Lo-taikun, Cia Soh-ciu, Kiang Hong-sim, Tong Goat-go dan Bwe Au-siang sedang berada di sana.
Karena Kiang Hong-sim melihat Beng-cu men-cari Siau Cu maka dia memberitaku Lo-taikun.
Baru saja Lo-taikun ingin menjelaskan pada Beng-cu agar bersiap-siap menjadi istri Siau Cu setelah satu bulan.
Ada apa Beng-cu berkata begitu kepada Siau Cu?
Yang pasti Lo-taikun curiga, tapi mereka mengira Beng-cu marah karena Siau Cu tidak memberitahu dia terlebih dulu.
Melihat wajah Beng-cu cemberut, Lo-taikun baru memikirkan lagi maksud Beng-cu datang.
Beng-cu melihat Lo-taikun, seperti ingin mengatakan sesuatu tapi kata-katanya tidak keluar.
"Beng-cu, apa yang terjadi?"
Tanya Lo-taikun.
"Aku tidak mau menikah dengan Siau Cu!"
Akhirnya Beng-cu mengeluarkan kata-kata ini.
"Kau bukan anak kecil lagi, jangan berbuat seperti ini!"
Lo-taikun tertawa.Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 58
"Aku tidak mau melukai dia!"
Kata Beng-cu.
"Apa maksudmu?"
"Aku tidak mau menikah dengan orang ini!"
Beng-cu menggelengkan kepala.
"Bukankah dulu kau berkata suka kepadanya?"
Nada Lo-taikun tetap begitu lembut.
"Beng-cu..."
Cia Soh-ciu yang menjadi ibunya menyela.
"kau semakin berani membantah. Di depan orang tua mengapa berkata dengan sikap seperti ini, apakah sudah lupa aturan keluarga Lamkiong?"
Beng-cu berteriak menangis.
"Aku tidak lupa, hanya ingin bertanya satu hal..."
Dia tidak segera bertanya tapi dia melihat Lo-taikun.
"Kau tahu apa?"
Kata Lo-taikun tetap tenang.
"Antara saudara saling membunuh orang untuk tutup mulut, apakah adalah aturan keluarga Lamkiong?"
Beng-cu berteriak. Semua orang terpaku dan melihat Lo-taikun. Lo-taikun dengan aneh melihat Beng-cu.
"Apa yang kau katakan?"
"Ada masalah apa katakan saja, jangan di simpan di dalam hati."
Air mata Beng-cu menetes.
"Sebelum paman keempat meninggal, dia memberitahu kepadaku bahwa Guru Siau Cu, Lam-touw dibunuh oleh kalian!"
Semua orang merasa terkejut. Lo-taikun menggelengkan kepala dan menarik nafas.
"Betul, kita yang membunuhnya! Apakah kau tahu sebabnya?"
"Apa sebabnya?"
"Karena dia ingin selalu mencari tahu rahasia keluarga Lamkiong. Kita membunuh dia demi keluar ga Lamkiong!"
"Ada rahasia apa di keluarga Lamkiong?"Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 59
"Laki-laki di keluarga Lamkiong sudah terbunuh. Semua ada kaitan dengan perkumpulan. Kita terus mencari tahu sebabnya dengan segala cara. Lam-touw sedang mencari tahu rahasia kita!"
"Kalau paman keempat terbunuh..."
"Boleh dikatakan akulah yang mencelakakan dia!"
Lo-taikun menundukkan kepala. Tidak hanya Beng-cu, Bwe Au-siang juga terus melihat Lo-taikun.
"Kalau bukan aku yang memerintahkan dia mengejar Lu Tan, tidak akan terjadi musibah ini!"
Lo-taikun menarik nafas.
"seharusnya aku tidak mem-beritahu dia apa yang terjadi. Kalau tidak, dia selalu curiga Lam-touw dibunuh oleh kita, sehingga selalu mengikuti kami dan terkena musibah."
Air mata Lo-taikun terus menetes. Hal ini membuat semua orang terkejut dan mendekat. Ketika ingin menghibur, Beng-cu bertanya lagi.
"Apakah paman keempat sudah tahu apa yang terjadi?"
Cia Soh-ciu marah.
"Apakah kau sudah gila? Apa hubungannya antara Lo-taikun dan kematian paman keempat? Kau mencurigai Lo-taikun yang membunuh paman ke empat untuk tutup mulut?"
"Putrimu bukan bermaksud seperti ini!"
Kata Beng-cu. Lo-taikun melayangkan tangan mencegat Cia Soh-ciu.
"Harimau galak pun tidak makan anaknya. Di dalam hati Beng-cu, apakah aku lebih kejam dan sadis daripada harimau?"
Beng-cu berlutut. Ketika mau menyembah untuk mengaku salah, Lo-taikun sudah menghadang.
"Beng-cu, apakah kau mau menikah dengan Siau Cu? Aku tidak memaksa. Kematian Lam-touw lambat laun akan memberi keadilan kepada Siau Cu!"
Apa yang harus dikatakan Beng-cu?Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 60 Cia Soh-ciu segera mencari alasan untuk mene mui Siau Cu dan bertanya kepadanya mengapa membuat Beng-cu marah, sampai dia harus terus mena-sehatinya.
Cia Soh-ciu baru bisa tenang dan diam-diam memberi isyarat bahwa Beng-cu masih bersifat kekanak-kanakan.
Terhadap pernikahan ini, dia tidak pernah menolak.
Fu Hiong-kun yang pertama berkata begitu, sekarang Cia Soh-ciu juga berkata seperti ini, maka Siau Cu mengira semua gadis selalu seperti ini.
Begitu Cia Soh-ciu berkata begitu, Siau Cu tertawa sambil bersalto.
Waktu itu Fu Hiong-kun masuk, melihat Cia Soh-ciu keluar dan Siau Cu begitu senang, sedikit banyak dia sudah bisa menebak.
Dia tetap bertanya.
"Apakah Beng-cu seperti kataku?"
Siau Cu bersalto ke depan Fu Hiong-kun.
"Betul, aku kira dia benar-benar tidak mau menikah denganku!"
Kemudian dia tertawa lagi. Kali ini Fu Hiong-kun tidak tertawa. Dia bengong melihat Siau Cu dan sedang memikirkan sesuatu. Tiba-tiba Siau Cu melihatnya, dia berhenti.
"Nona Fu, mengapa kau jadi tidak suka?"
"Aku khawatir kau melupakan satu hal!"
"Tentang apa?"
"Di Bu-tong-san, apa yang kau janjikan pada Wan-toako?"
Siau Cu seperti terbangun dari mimpi, dia menepuk-nepuk kepalanya.
"Aku benar-benar tidak berguna, hanya memi kirkan hubungan cinta, sampai hal yang begitu penting pun dilupakan. Sekarang apa yang harus kulakukan?"
Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 61
"Kau bisa mencari Beng-cu untuk bertanya. Aku melihat waktu dia menolakmu, dia seperti punya hal yang sulit dia katakan. Kau bisa berusaha dari pinggir bertanya-tanya apa yang terjadi."
Siau Cu segera teringat sikap Beng-cu waktu itu, dia sedikit curiga.
"Aku takut Beng-cu tidak mau berbicara. Selain itu, ingin bertemu dengan dia bukan hal yang mudah!"
Sebenarnya setelah hari itu, Beng-cu selalu tidak mau bertemu dengan mereka. Maka Fu Hiong-kun tidak percaya apa yang dikatakan Cia Soh-ciu.
"Di dunia ini tidak ada hal yang sulit asalkan kita mau melakukannya!"
Tiba-tiba Fu Hiong-kun ber kata seperti ini.
183-183-183 Su Yan-hong sedang pergi ke Kang-lam.
Setelah tenaga dalam Bu-wie Taysu pulih 50-60%, dia segera pergi sendiri tanpa dikawal Su Yan-hong.
Karena Bu-wie Taysu berpikir, sekarang waktu nya membutuhkan orang.
Bila Su Yan-hong selalu berada di sisinya, tidak baik untuk keadaan sekarang.
Setelah berpamitan dengan Bu-wie Taysu, tadi nya Su Yan-hong ingin langsung pergi ke ibukota.
Tapi belum sampai di ibukota, dia sudah dicegat oleh pengawal yang memberitnhu bahwa kaisar sudah pergi ke Kang-lam dan ingin dia menyusul dan berkumpul di sana.
Orang yang mengikuti kaisar, selain Thian-ho Sangjin, masih ada Thio Gong, Kao Sen, Han Tau dan sekelompok pengawal.
Mengetahui tindakan kaisar, Su Yan-hong sudah bisa menebak bahwa tujuan kaisar adalah Ling-ong, maka dia segera menyusul ke Kang-lam.
Kaisar memang punya maksud ini.
Demi menutupi rasa curiga orang, sesampainya di Yang-ciu dia tinggal di sebuah rumah bordil yang bernama Li-cun-wan.Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 62 Yang pasti seluruh Li-cun-wan dipesan dan kaisar menikmati sepuasnya.
Pihak Ling-ong juga mendapat kabar bahwa kaisar sudah turun ke selatan dan tinggal di rumah bordil.
Dia benar-benar tertipu dan mengira kaisar datang ke Kang-lam karena ingin bermain.
Cu Kun-cau yang berada di sisi terus mempengaruhi Ling-ong agar mengambil kesempatan ini untuk memberontak.
Kesempatan jangan dilewatkan, dia ingin membawa Liu Hui-su, Cia Ceng-hong dan Hoa Pie-li menemui kaisar di Li-cun-wan.
Kata Cu Kun-cau, akal ini namanya suara di timur tapi menyerang di barat.
Dia ingin membuat kaisar curiga, sehingga menarik orang-orang penting di Lam-khia untuk melindunginya.
Dengan demikian pesilat-pesilat dari keluarga Lamkiong akan mencari kesempatan untuk membunuh Ong-souw-jin.
Bila Ong-souw-jin mati, semua masalah akan beres.
Walaupun mereka berada di tempat kaisar, kaisar tidak akan berani membantah mereka.
Ingin pulang ke ibukota juga sudah tidak mungkin.
Akhirnya kaisar akan tunduk kepada mereka.
Melihat kedatangan Cu Kun-cau, kaisar terkejut dan benar dia menyuruh Cu Kun-cau dan 3 pembunuh untuk tinggal.
Semua reaksi kaisar sesuai dengan perkiraan Cu Kun-cau.
Tujuannya agar kaisar mengira mereka menahan dia di sana, kemudian akan bertindak pada Ong-souw-jin.
Tapi kaisar sudah berjanji dengan Ong-souw-jin agar siap bersama-sama turun ke Lam-khia untuk menangkap Ling-ong hidup-hidup.
Pada waktu yang bersamaan, Su Yan-hong sudah sampai di Kang-lam.
Begitu tahu Cu Kun-cau bersama-sama dengan 3 pembunuh, dia juga mengira Ling-ong hanya ingin mencari tahu tujuan kaisar ke Kang-lam.
Cu Kun-cau mengatur dirinya tinggal di peng inapan Tai-hong yang tidak jauh dari Li-cun-wan.
Kaisar diam-diam berpesan kepada Han Tou untuk membawa pengawal mengawasi mereka.
Semua pengawal adalah pesilat tangguh yang terpilih dan sudahLegenda Pendekar Ulat Sutra -4 63 lama terlatih.
Semua tindakan Cu Kun-cau berada dalam pengawasan mereka, termasuk surat-surat rahasia yang diantar keluar juga jatuh ke tangan mereka.
Surat rahasia itu diberikan lewat tangan pelayan penginapan dan pedagang kecil yang sudah diatur.
Sebenarnya boleh dikatakan sangat aman, tapi karena pengawal-pengawal siang malam mengawasi mereka, pengalaman mereka juga sudah sangat banyak, maka tetap mengetahui tindakan Cu Kun-cau.
Walaupun kata-kata di surat sudah diperiksa dengan teliti, surat hanya berisi Cu Kun-cau' melapor kepada Ling-ong bahwa semua baik-baik saja.
Dan dia juga memberitahu tempat tinggal kaisar dan orang-orang yang mengikuti kaisar datang.
Tapi begitu sudah dilihat oleh kaisar dan Su Yan-hong, wajah mereka segera berubah.
Tidak diragukan lagi Ling-ong sudah mengetahui kekuatan mereka.
Apakah Cu Kun-cau masih mengirim surat-surat seperti ini?
Tidak ada yang tahu.
Setelah berunding dengan Kaisar, Su Yan-hong dan Thio Gong segera mengirim orang naik kuda untuk memberi tahu Ong-souw-jin agar menyuruh pasukan elit untuk datang melindungi.
Dengan begitu mereka akan terkena pancingan Cu Kun-cau, karena surat rahasia juga dimaksudkan untuk sengaja memberitahu kepada kaisar.
Bila semua pasukan elit keluar, orang-orang keluarga Lamkiong akan menangkap Ong-souw-jin dengan mudah seperti membalikkan telapak tangan.
Bila Ong-souw-jin mati, pasukan akan menjadi kacau balau.
Semua akan menjadi sederhana.
184-184-184 Orang-orang keluarga Lamkiong sangat cocok dengan mereka.
Alasan mereka pergi karena ingin membeli barang-barang untuk persiapan pernikahan Beng-cu dan Siau Cu.
Siau Cu tidak curiga, tapi Fu Hiong-kun merasa ada yang tidak beres.
Karena beberapa kali dia keluar berjalan-jalan pada malamLegenda Pendekar Ulat Sutra -4 64 hari, dia selalu dicegat oleh orang keluarga Lamkiong.
Walaupun tidak melihat ada apa-apa, tapi dia mencium ada bau yang aneh.
Sebenarnya itu adalah bau obat beracun, keluarga Lamkiong sedang membuat jarum beracun yang bernama Lan-hoa untuk digunakan membunuh Ong-souw-jin.
Ketika semua orang sudah pergi, Fu Hiong-kun kembali mengamati, dia semakin curiga karena mereka semua membawa senjata.
Mereka akan merayakan hari pernikahan, tapi mengapa seperti akan menghadapi musuh yang kuat.
Setelah Siau Cu diingatkan oleh Fu Hiong-kun, Siau Cu mulai curiga.
Dia mengambil keputusan malam ini juga akan datang ke tempat Fu Hiong-kun mencium bau aneh untuk masuk melihat-lihat.
185-185-185 Sebenarnya itu adalah Ciu-ci-tong.
Siau Cu dan Fu Hiong-kun melihat tidak ada orang di sekeliling.
Waktu hendak masuk, mereka mendengar suara peluit yang membuat mereka segera terkejut dan tiarap, Fu Hiong-kun sudah pernah mendengar cerita Siau Cu tentang bunyi peluit ini, maka dia juga bersembunyi.
Mereka melihat Hen-lo-sat mengikuti Kiang Hong-sim keluar, kemudian dengan cepat menghilang dalam kegelapan.
Melihat Hen-lo-sat, hati Siau Cu terasa dingin.
Dia sudah tahu kelihaian pembunuh perempuan ini.
Fu Hiong-kun juga tahu Su Yan-hong tidak sanggup melawan pembunuh perempuan ini.
Dari sini diketahui pembunuh ini sangat lihai.
Siau Cu ingin mengejar tapi ditahan oleh Fu Hiong-kun, karena dia takut akan mengejutkan mereka, dan juga tidak ada gunanya.
Fu Hiong-kun hanya berpikir orang-orang keluarga Lamkiong sampai keluar semua pasti ada tujuan tertentu.
Tiba-tiba dia teringat Su Yan-hong pernah memberitahu dia bahwa kaisar ingin datang ke Kang-lam dan menyuruh Su Yan-hong menemaninya.Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 65 Apakah sasaran pembunuh ini apakah kaisar?
Atau Su Yan-hong?
Karena itu, dia ingin Siau Cu bersama dengan nya meninggalkan keluarga Lamkiong.
Tapi Siau Cu menyuruh Fu Hiong-kun yang pergi, sementara dia tinggal di keluarga Lamkiong.
Pertama, untuk mengurus Beng-cu.
Kedua, mencari tahu apakah ada pengkhianat di dalam, mungkin orang-orang keluarga Lamkiong tidak tahu rahasia ini.
Setelah dipikir-pikir oleh Fu Hiong-kun, ini cukup masuk akal, dia terus berpesan kepada Siau Cu agar berhati-hati.
Malam itu juga dia meninggalkan keluarga Lamkiong.
186-186-186 Setelah mengantar Fu Hiong-kun pergi, semalaman Siau Cu tidak bisa tidur.
Sampai hari kedua, dia mengambil kesempatan memberitahukan rahasia ini kepada Lo-taikun, karena dia takut Lo-taikun sudah tua dan tidak kuat menerima pukulan ini.
Tapi dia sama sekali tidak menyangka Lo-taikun sangat tahu semua ini, karena dialah orang yang merancang semua ini.
Lo-taikun benar-benar licik dan licin.
Sambil mendengar dia pura-pura terkejut kemudian marah besar.
Dia marah kepada Kiang Hong-sim dan merasa sedih karena di keluarga Lamkiong muncul sampah keluarga.
Terakhir dia ingin Siau Cu membantunya untuk menjaga agar aib keluarga keluarga Lamkiong tidak tersebar.
Siau Cu adalah orang keluarga Lamkiong, tidak apa-apa bila dia mengetahuinya tapi jangan memberitahukan kepada orang lain.
Beng-cu juga masih muda dan tidak mengerti apa-apa, maka jangan diberitahukan kepada dia.
Jangan biarkan dia khawatir.
Siau Cu memang pintar dan lincah tapi dia masih muda, mana bisa dia menghadapi Lo-taikun.
Untung Fu Hiong-kun sudah pergi, kalau tidak karena Siau Cu, dia akan mati.
187-187-187Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 66 Sekembalinya Siau Cu ke kamar, tidak diduga Beng-cu berada di dalam.
Sebenarnya Beng-cu ingin memberitahukan Siau Cu bahwa kematian Lam-touw ada hubungannya dengan keluarga Lamkiong.
Melihat reaksi Siau Cu dan begitu melihatnya, satu patah kata pun tidak bisa dikeluarkan.
Siau Cu pun seperti itu.
Sepasang kekasih ini saling berharap pasangannya bisa senang dan nyaman.
Kemudian mereka berjalan-jalan ke pertokoan.
Semua gerak-gerik mereka di dalam pengawasan Lo-taikun.
Dia segera pergi ke Siau-hun-lo (penjara) di bawah Ciu-ci-tong, Ciu-ci Lojin membuka sebuah peti mati.
Yang terbaring di dalam adalah Lu Tan.
Di bawah pengaruh obat, Lu Tan menjadi sama seperti 4 pembunuh perempuan, tidak sadarkan diri dan kehilangan akal sehat.
Tapi dia masih belum sampai pada tahap seperti 4 pembunuh perempuan.
Awalnya Lo-taikun melihat Lu Tan sangat berbakat dan ingin melatih dia menjadi pembunuh seperti 4 pembunuh itu.
Tapi dalam keadaan begitu terpaksa Lu Tan harus diperalat untuk membunuh Siau Cu di jalan.
Bila Siau Cu dibunuh Lu Tan di jalan, mati atau hidup, begitu kabar tersebar, kejahatan Lu Tan akan semakin sulit dihapus.
188-188-188 Lu Tan diatur untuk keluar dari belakang rumah dan melewati jalan pintas, maka dia akan sampai sebelum Siau Cu dan Beng-cu.
Di jalan raya Lu Tan tiba-tiba muncul seperti orang gila dan bengong.
Dia berada di tengah-tengah jalan tidak bergerak sehingga membuat orang merasa aneh dan mengelilinginya.
Siau Cu dan Beng-cu maju ke kerumunan orang.
Mereka mengira ada orang yang sedang berjualan, tapi begitu mendekat mereka terkejut juga senang.Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 67
"Lu-heng... mengapa kau berada di sini!"
Siau Cu mendekat.
"Sebenarnya apa yang terjadi, apakah kau tahu kami mencarimu dengan susah?'' Tapi Lu Tan tidak bereaksi, dia hanya melotot. Sampai Siau Cu berada di depannya, menggoyangkan tangan di depannya, Lu Tan masih bengong. Beng-cu melihat dan merasa aneh. Waktu itu ada suara peluit berbunyi. Siau Cu terkejut dan mencari. Dia tidak tahu kali ini orang yang dikuasai peluit itu bukan orang lain melainkan Lu Tan. Lu Tan mencabut golok di belakang tubuh Siau Cu dan langsung menepis. Siau Cu tidak bisa menghindar. Untung Beng-cu menepuk telapak tangan Lu Tan, membuat golok meleset. Lu Tan membalikkan tubuh, menepis ke arah Beng-cu. Tepisan golok cepat dan berbahaya, Beng-cu tidak bis.a menghindar. Golok membacok tangannya, memang tidak berat tapi darah sudah muncrat, Siau Cu terkejut, dia membentak.
"Kau sudah gila..."
Siau Cu menendang.
Lu Tan seperti tidak melihat juga tidak mendengar.
Goloknya terus berputar-putar.
Melihat keadaan begitu, orang yang di sekeliling segera bubar.
Ciu-ci Lojin berada di dalam keru munan orang, dia masuk ke dalam gang.
Gerakan dia sangat cepat.
Karena cepat, malah menarik perhatian dan kecurigaan Beng-cu.
Sekali melihat, dia sudah mengenal.
Tubuh Ciu-ci Lojin berbeda dengan orang lain, maka tidak sulit mengenalinya.
Waktu dia kabur, dia meniup peluit lagi.
Lu Tan segera menyimpan golok dan lari, dia juga dengan cepat masuk ke kerumunan orang.
Yang pasti kerumunan orang menjadi kacau.
Siau Cu ingin mengejar, tapi dihadang oleh orang-orang.
Melihat tangan Beng-cu terluka dan terus berdarah, dia kembali dan memapah Beng-cu.Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 68 Air mata Beng-cu terus menetes.
Siau Cu tidak bisa melihat kesedihan Beng-cu.
Dia mengira Beng-cu adalah orang yang cengeng karena tidak tahan sakit.
Dia juga berpikir, karena dialah Beng-cu terluka, maka dalam hati dia merasa menyesal.
Beng-cu tidak menceritakan apa yang dipikirkan.
Setelah pulang, dia mengantar Siau Cu.
Setelah dipikir-pikir kemudian, akhirnya dia tidak tahan, dia sendirian mencari Lo-taikun, meminta penjelasan.
189-189-189
"Apa tujuanmu melakukan ini?"
Beng-cu lang sung bertanya.
"Apa yang kau katakan?"
Lo-taikun balik ber tanya, dia seperti tidak tahu apa-apa.
"Tadi di jalan Lu Tan ingin membunuh Siau Cu, jelas-jelas orang bisu di Ciu-ci-tong yang meniup peluit untuk mengaturnya. Kalau bukan kau yang memerintahkan, mana mungkin orang bisu itu berani melakukannya!"
Lo-taikun diam. Beng-cu berteriak lagi.
"Apapun yang kau katakan, aku tidak akan percaya lagi. Bila terjadi sesuatu pada Siau Cu, aku pasti...pasti tidak akan memaafkanmu!"
Lo-taikun pelan-pelan berdiri, dari kedipan mata, terlintas cahaya kejam dan keluar aura mem bunuh. Tapi dengan cepat menghilang, dia menepuk-nepuk pundak Beng-cu.
"Dengarkan aku..."
"Aku tidak akan mendengar kata-katamu! Kau kira aku tidak tahu Lam-touw, Coat-suthay, Tiong Toa-sianseng semua dibunuh oleh kalian. Dan Lu Tan tidak bisa menguasai diri!"
Beng-cu semakin bicara semakin keras. Wajah Lo-taikun juga semakin tidak enak dipandang. Kemudian dengan tongkat kepala naga dia memukul kursi sampai hancur dan berkata.
"Betul! Semua adalah perbuatanku, ibumu dan keluarga Lamkiong!"
Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 69 Awalnya Beng-cu terkejut dan terpaku. Lo-taikun menangis dan berkata.
"Kalau bukan untuk menjaga nama baik keluarga Lamkiong, kalau bukan karena pihak laki-laki keluarga Lamkiong terus terbunuh dan hanya tinggal janda, untuk apa kita melakukan ini?"
Kemudian Lo-taikun membentak.
"apakah kau orang keluarga Lamkiong?"
Beng-cu tidak tahu apa yang harus dia jawab.
"Tentang hal ini kita tunggu ibumu pulang, pasti akan ada jawaban! Kau tanyakan saja kepada dia!"
Lo-taikun segera membalikkan tubuh pergi.
"Aku hanya memohon kepada kalian agar tidak melukai Siau Cu!"
Beng-cu segera lari.
Lo-taikun tidak memanggilnya.
Dia pelan-pelan membalikkan tubuh, sorot matanya tidak menentu.
Entah apa yang dia pikirkan.
190-190-190 Berselang waktu minum setengah cangkir teh, Lo-taikun sudah muncul di Siau-hun-lo (penjara) bawah tanah Ciu-ci-tong.
Sepanjang jalan dia sangat berhati-hati.
Setelah masuk Ciu-ci-tong, dia tidak lupa berpesan agar Ciu-ci Lojin berhati-hati.
Dia tidak marah kepada Ciu-ci Lojin, karena dia tahu masalah sudah terjadi percuma saja di marahi.
Ciu-ci Lojin tidak banyak berbicara.
Walau pun dia tidak tahu apa yang terjadi tapi dia bisa melihat Lo-taikun sedang ada masalah.
Di dalam Siau-hun-lo, ada dua orang sedang menunggu.
Ternyata mereka adalah orang Pek-lian-kau Thian-te-siang-kun yang sudah lama menghilang.
Lo-taikun duduk di depan Thian-te-siang-kun, matanya berputar.
"Kalian bersembunyi untuk berlatih Pek-kut-mo-kang, apa sudah ada hasilnya?"
Thian-kun melihat Te-kun, lalu menggelengkan kepala.Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 70
"Tetap seperti dulu! Dibandingkan dengan Bok Jin-kun, kami masih jauh!"
Lo-taikun tertawa.
"Aku malas berlatih silat, maka bukan lawan kalian!"
Thian-kun melayangkan tangan melarang Lo-taikun terus berbicara.
"Ilmu silat adalah nomor dua. Jika obat-obatanmu sudah berhasil, hanya satu Hen-lo-sat saja sudah cukup di dunia ini!"
"Maka terakhir tetap kami dua bersaudara yang mengaku kalah!"
Kata Thian-kun.
Dulu waktu mereka berpisah dengan Jin-kun, mereka masih mempunyai cita-cita yang tinggi.
Tapi setelah berkelana di dunia persilatan, tidak hanya tidak berhasil, ilmu silat pun tidak ada kemajuan.
Sebenarnya ketika bekerja kepada Liu Kun, mereka sudah tahu pentingnya kekuasaan.
Maka mereka tidak tertarik lagi berkelana di dunia persilatan.
Selain menyandarkan diri kepada Lo-taikun, sementara ini mereka tidak punya jalan lain yang bisa memasukkan mereka ke pemerintahan.
Lo-taikun sangat senang.
Dia mengangguk.
"Kita Sam-cun harus bersatu..."
Thian-te-siang-kun segera berkata.
"Di dunia ini tidak ada lawan..."
"Betul, di dunia ini tidak ada lawan. Semua rencana akan sukses. Semua bisa kita dapatkan!"
Lo-taikun menarik nafas.
"Sepertinya ada hal yang tidak bisa kau bereskan?"
Tanya Thian-kun.
"Aku lihat rahasiaku sudah tidak bisa dipertahankan lagi! Tentang Hen-lo-sat, Beng-cu saja sudah tahu!"
Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 71
"Dia dan kau tidak ada hubungan darah, bunuh saja sekalian!"
Kata Thian-kun.
"Sekarang waktunya belum tepat. Keluarga Lamkiong tetap masih berharga untuk diperalat. Apakah membunuh dia tidak akan membuat orang lain curiga?"
Te-kun mengeluarkan pertanyaan.
"Siapa yang akan mencurigai seorang nenek membunuh cucunya?"
Lo-taikun balik bertanya. Thian-te-siang-kun tertawa, kata Lo-taikun.
"Dalam beberapa tahun ini aku telah membunuh delapan orang anggota keluarga Lamkiong, kapan aku pemain dicurigai orang dan membuat ke salahan?"
Thian-kun menarik nafas.
"Aku benar-benar kagum dari dalam hati. Kau menyamar menjadi Lo-taikun beberapa tahun, tapi tidak pernah ada mencurigai!"
"Memang tidak mudah! Demi menyamar men jadi dia, aku sudah banyak berkorban. Awalnya menjadi pembantu pribadinya selama dua tahun. Setelah mengetahui kebiasaan sehari-harinya dan juga gerak-geriknya, aku membunuh dia dan mengelupas kulit wajahnya untuk membuat topeng kulit manusia. Begitu dipakai sampai bertahun-tahun. Jika orang lain, akan mati karena bosan!"
Lo-taikun segera membuka topeng kulit manusia. Di balik topeng tampak wajah yang sangat cantik dan genit, terlihat baru berusia 27-28 tahun. Thian-te-siang-kun melihat dengan terpaku.
"Tidak disangka pada umurmu yang begitu, kau masih cantik! Cara merawat wajahmu hingga awet muda benar-benar aneh!"
Kata Thian-kun menarik nafas.
Jin-kun mengangguk.
Perempuan ini asalnya adalah salah satu Sam-cun dari Pek-lian-kau.
Dia menghilang selama beberapa tahun, ternyata bersembunyi di keluarga Lamkiong.
Setelah mengelupasLegenda Pendekar Ulat Sutra -4 72 kulit wajah Lo-taikun, dia memakai topeng wajah manusia dan dipakai untuk menyamar menjadi Lo-taikun sampai sekarang.
Te-kun melihat Jin-kun.
Dia menarik nafas.
"Memang sangat aneh, tapi kami tidak punya kesabaran sebesar itu untuk menyamar!"
Thian-kun tertawa.
"Untung kita ini laki-laki, tua sedikit tidak menjadi masalah."
Jin-kun tertawa dan melihat Thian-te-siang-kun.
"Wajah yang cantik terus bersembunyi di balik wajah Lo-taikun yang sudah tua dan jelek memang suatu kesia-siaan. Tapi kalau bukan dengan menyamar di posisi Lo-taikun, mana mungkin aku bisa mendapat begitu banyak pesilat tangguh dan harta kekayaan. Dan mana mungkin bisa melatih pembunuh seperti Hen-lo-sat!"
"Jin-kun adalah Jin-kun, kita benar-benar harus mengaku kalah!"
Kata Thian-kun.
"Liu Kun bukan orang berbakat, kalian bersandar kepadanya tapi tidak menguasainya, itu pasti akan gagal!"
Kata Jin-kun.
"Bagaimana dengan Ling-ong?"
Tanya Thian-kun.
"Dia juga bukan orang berbakat maka aku selalu memperalat dia. Jika bisa menguasai dunia ini, baru merasa pekerjaanku tidak sia-sia!"
Kata Jin-kun.
"Jin-kun mempunyai pikiran yang jauh ke depan, semua akan sukses. Tapi kami tidak tahu apa yang harus kami lakukan."
Jin-kun berpikir sebentar.
"Kalian kumpulkan semua murid Pek-lian-kau di daerah sini, memasang jala bumi dan jaring langit, menjala semua orang yang berseberangan dengan kita!"
Kata Jin-kun.
Thian-te-siang-kun merasa tertarik dengan rencana ini.
191-191-191 Bukan hal yang mudah bagi Fu Hiong-kun untuk mencari Su Yan-hong.
Li-cun-wan adalah sebuah rumah bordil danLegenda Pendekar Ulat Sutra -4 73 penjagaannya sangat ketat.
Untung nasib sedang baik, Su Yan-hong sedang keluar rumah.
Melihat Fu Hiong-kun, Su Yan-hong merasa heran.
Dari Fu Hiong-kun dia tahu Hen-lo-sat adalah pembunuh keluarga Lamkiong.
Berita ini membuat dia terkejut.
Keluarga Lamkiong sedang pergi ke kota Lam-khia, ini segera membuat Su Yan-hong terpikir akan keselamatan Ong-souw-jin.
Berarti kedatangan Cu Kun-cau adalah akal-akalan, suara di timur tapi dia menyerang di barat.
Semua pasukan elit sudah ditarik ke Yang-ciu maka keluarga Lamkiong bisa mengambil kesempatan ini masuk.
Jika terjadi sesuatu pada Ong-souw-jin, akibatnya sulit dibayangkan.
Setelah memikirkan hal ini, akhirnya Su Yan-hong mengambil keputusan untuk pergi ke Lam-khia.
Setelah kaisar mendapat berita ini, dia pasti setuju dan mencari cara untuk menghadapi Cu Kun-cau.
Tapi Cu Kun-cau tidak tahu semua ini.
Dia hanya mencari waktu untuk melepaskan diri.
Dia sudah mengatur alasan untuk bisa pergi, yaitu berburu.
Hal ini malah membuat kaisar tertarik.
Sesampainya di pinggir kota, orang-orang kaisar sengaja melepaskan harimau putih dari kandang.
Kaisar sangat senang karena harimau putih sangat jarang terlihat.
Dia ingin memburu harimau ini agar bisa menunjukkan kewibawaannya.
Cu Kun-cau juga sampai lupa diri, dia terus mengejar harimau putih.
Han Tau dan Kao Sen takut terjadi sesuatu pada kaisar maka membawa barisan pengawal istana terus mengejar.
Sampai kaisar menembak mati harimau, dia baru teringat Cu Kun-cau.
Tapi jejak Cu Kun-cau sudah tidak ada.
Kaisar marah, dia segera menurunkan perintah membawa pasukannya menyerang Ling-ong.
192-192-192Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 74 Siang malam Su Yan-hong berjalan.
Akhirnya sempat memberitahu Ong-souw-jin agar siap siaga.
Walaupun tidak tahu kapan orang keluarga Lam-kiong akan datang menyerang, tapi mereka sudah bersiap menghadapi segala kemungkinan.
Malam itupun orang-orang keluarga Lam-kiong menyerang.
Hen-lo-sat masuk ke tempat yang tidak ada orang.
Dia langsung masuk ke ruangan besar, membunuh Ong-souw-jin yang berbaju pejabat yang sedang duduk.
Sebenarnya orang yang terbunuh itu adalah pidana yang akan dihukum mati.
Orang-orang keluarga Lamkiong belum pernah melihat wajah asli Ong-souw-jin, apalagi Hen-lo-sat hanya mendengar perintah untuk melaksanakan tugas, maka mereka mengira semua sudah sukses dan segera mundur.
Baca Juga: Rahasia Si Badju Perak Gkh
Baca Juga: Sejengkal Tanah Sepercik Darah 9