Eps 8 Legenda Pendekar Ulat Sutera - Huang Ying
Baca online Legenda Pendekar Ulat Sutera - Huang Ying
Cersil Legenda Pendekar Ulat Sutera - Huang Ying.
Su Yan-hong sudah memikirkan semua ini, maka barisan senjata api juga sudah dipersiapkan.
Sekarang sedang berjaga-jaga di tempat keluar masuk ruangan.
Walaupun tidak sanggup menghadang mereka masuk, tapi bisa menghadang mereka meninggalkan tempat.
Tong Goat-go yang pertama maju.
Dia mati tertembak senjata api.
Walaupun dia lahir di Tong-bun dan menguasai senjata rahasia tapi kecepatan senjata rahasianya tetap kalah.
Hen-lo-sat tertembak beberapa kali, tapi dia sama sekali tidak merasakan apapun.
Dia tetap menyerang.
Begitu Hen-lo-sat masuk ke barisan senjata api, penembak tidak bisa berbuat apa-apa, maka orang-orang keluarga Lamkiong bisa lolos.
Su Yan-hong dan Fu Hiong-kun ikut bertarung dengan Hen-lo-sat tapi tetap kalah.
Cia Soh-ciu dan Kiang Hong-sim mengira Ong-souw-jin sudah mati, maka di bawah perlindungan Hen-lo-sat di depan, mereka mengikuti di belakang, kabur tergesa-gesa.
Siapa yang menghadang pasti akan dibunuh oleh Hen-lo-sat, maka akhirnya hanya bisa melihat Hen-lo-sat meninggalkan tempat itu.Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 75 Setelah Hen-lo-sat keluar dari lapangan, tidak ada orang yang bisa mengejarnya.
Dalam keadaan terluka berat Hen-lo-sat masih begitu lihai, apalagi dalam keadaan normal.
Mayat-mayat berjatuhan memenuhi lapangan.
Darah mengalir seperti sungai.
Melihat keadaan itu, hati pasukan-pasukan merasa dingin.
Su Yan-hong dan Fu Hiong-kun ingat Siau Cu.
Fu Hiong-kun yang pertama kali wajahnya berubah.
Keluarga Lamkiong kalah bertarung, Siau Cu masih ada di keluarga Lamkiong, apa yang akan terjadi?
Fu Hiong-kun segera menuju ke keluarga Lamkiong.
Yang pasti Su Yan-hong tidak akan membiarkan dia pergi sendiri.
Ong-souw-jin tidak melarang.
Perintah kaisar sampai padanya, dia segera mengumpulkan pasukan dan langsung pergi ke Lam-tiang.
193-193-193 Ketika kaisar sampai di Lam-tiang, pasukan Ong-souw-jin juga sampai di sana.
Tadinya kaisar siap menyerang kota Lam-tiang, tapi dilarang oleh Ong-souw-jin.
Jika melakukan serangan besar-besaran, yang mati dan terluka akan banyak.
Maka dia mengusulkan untuk membakar persediaan makanan pasukan Ling-ong.
Kao Sen dan Han Tau diperintahkan untuk membawa pasukan elit masuk ke dalam kota.
Mereka berhasil membakar persediaan makanan pasukan Ling-ong.
Setelah Ling-ong mendapat kabar bahwa persediaan makanan pasukannya sudah habis terbakar, terpaksa dia mengambil makanan rakyat.
Ini membuat orang-orang di kota Lam-tiang gelisah dan takut.
Sebelum berperang Ling-ong sudah kalah.
Cu Kun-cau bara datang kemudian.
Melihat Lam-tiang terkepung, dia masuk melalui jalan air.
Setelah mengetahui Ong-souw-jin belum mati, dia baru tahu rencananya gagal total.Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 76 Ling-ong tidak mempunyai ide lagi.
Cu Kun-cau juga.
Mereka hanya bisa menunggu apa kehendak kaisar.
194-194-194 Rencana gagal.
Lo-taikun marah.
Setelah tahu Fu Hiong-kun dan Su Yan-hong bersama.
Melihat kepintaran Fu Hiong-kun, maka dia sadar Fu Hiong-kun sudah melihat sesuatu sebelumnya, maka diam-diam meninggalkan keluarga Lamkiong untuk mem-beritahu Su Yan-hong agar bersiap.
Apa yang Fu Hiong-kun tahu, Siau Cu pasti tahu.
Maka dari itu, Siau Cu tetap tinggal di keluarga Lamkiong.
Itu karena dia ingin mencari tahu rahasia keluarga Lamkiong.
Kemudian dia menyusun rencana untuk mem bunuh Siau Cu.
Kiang Hong-sim sangat setuju.
Untuk rencana ini, Jin-kun hanya berunding dengan dia.
Dalam keluarga Lamkiong, memang hanya Kiang Hong-sim yang terkecuali.
Dia tahu lebih banyak daripada orang lain di keluarga Lamkiong.
Dia juga sangat dipercaya oleh Jin-kun.
Mereka segera merasakan ada orang yang mencuri dengar pembicaraan mereka, tapi begitu pintu didorong mereka hanya melihat Cia Soh-ciu yang sedang berjalan datang, tapi masih jauh.
Sebenarnya Cia Soh-ciu tahu ada yang mendengar.
Dia cepat mundur kembali, baru kemudian berjalan mendatangi.
Dia datang mencari Lo-taikun karena Beng-cu terus bertanya, dan dia tidak tahu harus menjawab apa, juga tidak tahu berapa banyak yang Beng-cu ketahui.
Dia berharap Lo-taikun bisa memberi petunjuk.
Tidak disangka dia tanpa sengaja mendengar Lo-taikun dan Kiang Hong-sim sedang berencana membunuh Siau Cu.
Hatinya bergumul.
Siau Cu sangat suka pada Beng-cu.
Bila mati di keluarga Lamkiong, Beng-cu tidak akan memaafkan orang keluarga Lamkiong, termasuk dia yang menjadi ibunya.Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 77 Jin-kun sudah melihat bahwa Cia Soh-eiu telah mendengarnya, hanya dia tidak berkata apa-apa.
Dia hanya meminta Cia Soh-ciu untuk mencari obat keluar.
Lo-taikun tidak langsung berkata.
Dia berkata dengan sangat tepat agar Cia Soh-ciu rela pergi mencari obat, kemudian menyuruh Kiang Hong-sim membantu Cia Soh-ciu menyiapkan semua.
Sebenarnya bermaksud menyuruh Kiang Hong-sim mengawasi Cia Soh-ciu agar tidak bertemu dengan Beng-cu dan membocorkan kabar bahwa Siau Cu mau dibunuh.
Cia Soh-ciu tidak bodoh, dia sudah melihat.
Diam-diam dia menulis sepucuk surat, dan akhirnya surat sampai di tangan Beng-cu.
Beng-cu awalnya ingin bertanya ke mana Cia Soh-ciu pergi, dia juga mengira ibunya menulis surat hanya memberitahu dia tentang ini.
Begitu merasa bukan, Cia Soh-ciu sudah pergi.
Dia cepat-cepat mencari Siau Cu dan menyuruh Siau Cu meninggalkan keluarga Lamkiong.
Siau Cu merasa aneh.
Dia terus menanyakan penyebabnya pada Beng-cu, tapi Beng-cu tidak tahu apa yang harus dia jawab.
Dia hanya ingin Siau Cu segera pergi.
Tapi Siau Cu berkeras ingin Beng-cu pergi dengannya.
Sampai-sampai Siau Cu curiga Beng-cu berbohong, bahwa sebenarnya Beng-cu tidak suka kepadanya maka ingin dia segera meninggalkan keluarga Lamkiong.
Akhirnya Beng-cu terpaksa pergi dengan dia.
Maksudnya adalah mengantar Siau Cu ke tempat aman, baru kembali ke keluarga Lamkiong.
Baru saja beranjak, mereka segera diketahui oleh murid-murid Pek-lian-kau yang sedang mengawasi.
Hong Teng, Lan Teng dan Pek Teng, segera menyerang.
Siau Cu dan Beng-cu kalah.
Mereka siap menembus kepungan ini, maka sambil bertarung terus mundur.
Siau Cu segera menyuruh Beng-cu kembali ke keluarga Lamkiong.
Kali ini giliran Beng-cu yang tidak mau meninggalkan Siau Cu.Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 78 Tiga utusan diperintahkan untuk membunuh semua, termasuk Beng-cu.
Ketika Beng-cu terpisah dengan Siau Cu, Siau Cu segera diserang oleh utusan lampu putih dan biru juga oleh murid-murid Pek-lian-kau.
Ingin melindungi Beng-cu menjadi masalah bagi Siau Cu.
Walaupun Beng-cu berilmu tinggi, tapi dia tetap tidak sanggup melawan utusan lampu merah.
Jika bukan karena Fu Hiong-kun dan Su Yan-hong yang datang tepat waktu, mungkin dia akan mati di tangan utusan lampu merah.
Kedua nadi Jin dan Tok Su Yan-hong sudah terbuka.
Tenaga dalamnya seperti tidak ada habisnya.
Sekarang Thian-liong-kiu-sut sudah dikeluarkan.
Tiga utusan melihat posisi Su Yan-hong.
Mere ka berpikir, selain Su Yan-hong pasti ada orang yang akan datang lagi maka mereka segera mundur.
Su Yan-hong tidak mengejar.
Siau Cu juga, begitu melihat Beng-cu selamat, dia baru tenang.
Beng-cu sangat sedih dan sama sekali tidak ter pikir keluarga Lamkiong bersekongkol dengan Pek-lian-kau.
Su Yan-hong juga tidak menyangka.
Tapi tempat ini masih merupakan daerah kekuasaan keluarga Lamkiong, maka mereka cepat-cepat pergi dari sana.
Beng-cu sedikit ragu-ragu tapi dengan paksaan Fu Hiong-kun, mereka sama-sama pergi dari sana.
Malam itu mereka tinggal di penginapan.
Semua orang tidak mengerti, jika Pek-Iian-kau bekerja sama dengan keluarga Lamkiong dan Beng-cu adalah orang keluarga Lamkiong, mengapa dia mau dibunuh?
Entah mengapa Siau Cu tiba-tiba mencurigai kematian Lam-touw mungkin berhubungan dengan keluarga Lamkiong dan Pek-Iian-kau.
Dia ingin minta keadilan ke keluarga Lamkiong.
Walaupun tidak yakin tapi Beng-cu tahu.
Maka setelah mendengar Siau Cu berkata begitu, hatinya menjadi kacau.
Duduk tidak tenang, berdiri pun tidak enak.
Maka dengan alasan lelah, dia kembali ke kamarnya.Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 79 Siau Cu ingin mengejar, tapi Fu Hiong-kun memanggil dia dan mengingatkan dia bahwa Beng-cu adalah orang keluarga Lamkiong.
Siau Cu baru sadar.
Jika dua pihak bertarung, Beng-cu tidak tahu herus berdiri di pihak mana?
Akhirnya semua orang tertawa kecut dan berkata biarlah Thian yang mengaturnya.
Hari kedua.
Mereka siap-siap berangkat tapi Beng-cu tidak terlihat.
Begitu mencari ke kamarnya, hanya ada sepucuk surat di sana.
Pada surat itu Beng-cu hanya menulis dia ingin pergi dan berharap Siau Cu jangan mencarinya.
Siau Cu juga tahu kata-katanya kemarin membuat Beng-cu merasa sedih.
Tapi sampai sekarang dia tidak punya akal yang lain.
Satu-satunya cara adalah berpisah, Fu Hiong-kun mencari Beng-cu dan Su Yan-hong harus pergi ke Lam-tiang.
195-195-195 Keadaan Lam-tiang semakin tegang karena kekurangan makanan, semua orang menjadi takut dan cemas.
Tadinya Ling-ong ingin melawan kaisar mati-matian, tapi karena gagal membunuh Ong-souw-jin dan semua pasukan sedang kacau, ditambah lagi dengan rangsum untuk pasukan sudah terbakar, maka semangat pasukan turun drastis.
Dia mengerti jika menyerang dalam keadaan begitu pasti akan kalah total, ingin bertahan juga agak sulit.
Yang membuat dia pusing adalah Su Ceng-cau yang kembali ke Ling-ong-hu sudah jatuh ke tangan Ong-souw-jin.
Kabar ini diantar oleh Kao Sen, buktinya adalah sepasang anting giok hijau.
Utusan Kao Sen juga membawa perintah kaisar, agar Ling-ong segera mem buka pintu kota untuk menyerahkan diri.
Ling-ong tidak setuju tapi dia bersikap sangat baik terhadap Kao Sen dan tidak membuat Kao Sen repot.
Dia menjemput Cu Kun-cau untuk bertemu dan berunding dengan kaisar.
Tapi Cu Kun-cau ini bukan Cu Kun-cau yang asli, melainkan La-cai yang sedang menyamar.Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 80 Ilmu merias wajah sangat dikuasai La-cai.
Wajahnya terlihat tidak berbeda dengan Cu Kun-cau.
Tidak ada yang bisa melihat penyamarannya, bahkan pesilat tangguh juga tidak bisa melihatnya.
Kaisar tahu Cu Kun-cau mempunyai ilmu silat yang tinggi, tapi dalam keadaan dan di tempat ini dia tidak mungkin berani bertindak.
Dalam suasana hati yang senang, kaisar mendekat pada mereka.
Untung Su Yan-hong kebetulan pulang.
Memang benar orang yang di sisi bisa melihat dengan lebih jelas.
Sekali melihat, Su Yan-hong sudah merasa ada yang tidak beres dari Cu Kun-cau.
Hanya Su Yan-hong sendiri yang sering bertemu dengan kaisar dan Cu Kun-cau.
Begitu mereka berdekatan, dia bisa melihat dengan jelas perbedaan tinggi tubuh mereka yang tidak seperti biasanya.
Maka sambil melihat, dengan hati-hati Su Yan-hong mendekat.
Begitu sorot mata La-cai beradu dengan Su Yan-hong, dia sudah tahu Su Yan-hong mulai mencurigainya.
Hatinya kacau.
Sorot mata menjadi lebih licik.
Kaisar sudah mendekat.
La-cai tahu bila Su Yan-hong semakin mendekat, dia akan semakin sulit mendapat kesempatan.
Maka dia segera mengambil keputusan, dia bergerak, lari ke kaisar, mengulurkan tangan mencekik leher kaisar.
Thian-ho Sangjin yang selalu melindungi kaisar sudah tidak sempat menghadang.
Jika Su Yan-hong belum berlatih Thian-Iiong-kiu-sut, dia juga tidak akan sempat.
Tubuh La-cai bergerak.
Su Yan-hong ikut bergerak.
Pose tubuh membantu tubuh bergerak cepat, Su Yan-hong mengulurkan telapak, dia dengan tepat bisa menghadang tangan La-cai yang berusaha men-cengkram leher kaisar.
La-cai segera menendang, tapi sebelah tangan Su Yan-hong sudah mendorong kaisar sejauh 1 depa.
Terdengar kaisar terlempar mengenai meja, membuat meja hancur berantakan.
Kaisar melihatnya, wajahnya segera berubah.Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 81 Thian-ho Sangjin segera menghadang di depan kaisar.
La-cai melihat tidak ada harapan maka dia segera mundur.
Kaisar berteriak.
"Pengawal, tangkap Cu Kun-cau!"
Su Yan-hong mencegat La-cni.
"Dia bukan Cu Kun-cau!"
"Betul, aku bukan..."
Dia membuka topeng wajah Cu Kun-cau, tubuhnya menciut, dia keluar dari baju.
Ternyata adalah La-cai yang memakai baju samurai.
Telapak Thian-ho Sangjin segera datang menepis.
Telapaknya saat ini berubah membesar.
Itu adalah ilmu asli dari aliran rahasia 'Tai-jiu-im'.
La-cai tidak berani menyambut serangannya.
Baju di tangannya segera dilempar dan dia mundur.
Terdengar suara petir, kabut asap sudah meledak di sana.
Dua telapak Thian-ho Sangjin terus berputar.
Sebelum menyebar, asap sudah digulung oleh tenaga dalamnya.
Tadinya La-cai ingin menggunakan asap untuk kabur.
Setelah melihat keadaan seperti ini, dia terpaksa harus keluar dengan paksa.
Su Yan-hong maju mencegat tapi La-cai berputar.
Dia berlari ke arah pengawal-pengawal istana.
Pengawal mengepung dia tapi La-cai sudah merebut sebilah pedang.
Dia berlari sambil terus membacok orang.
La-cai sama sekali tidak menyangka di dalam kerumunan pengawal muncul Siau Sam Kongcu yang berilmu tinggi.
Dia melihat sudah tidak sempat meng hindar.
Dengan sekuat tenaga Siau Sam Kongcu mene pis.
Hal ini sulit dihindari oleh La-cai sekalipun.
"Tidak disangka pesilat Tionggoan juga meng gunakan cara keji!"
La-cai tengkurap di bawah. Dia melotot kepada Siau Sam Kongcu.Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 82
"Ini namanya membalas dengan caranya sendiri!"
Kata Siau Sam Kongcu. La-cai tertawa sedih. Pengawal yang tadi mengurung, sekarang terpencar lagi. Kaisar dilindungi oleh Su Yan-hong dan Thian-ho Sangjin sedang berjalan mendekat.
"Orang Jepang yang terlalu berani! Kau bersekongkol dengan Ling-ong datang untuk membunuhku!"
Kaisar berbicara dengan lantang.
"Hitung-hitung kau mempunyai nyawa yang panjang..."
La-cai bernafas terengah-tengah. Dengan dua tangan La-cai menutupi dada dan perutnya, karena ususnya sudah terputus.
"Kaisar bernasib mujur, pasti akan aman-aman saja!"
Thian-ho Sangjin tidak lupa memuji dan menjilat.
Kaisar senang, dia tertawa, waktu itu La-cai membuka mulut, sebuah jarum beracun menyembur keluar, melesat ke tenggorokan kaisar.
Su Yan-hong dan Thian-ho Sangjin sama sekali tidak menyangka akan terjadi seperti itu.
Mereka ingin menghadang tapi sudah tidak sempat.
Untung Toan-cang-kiam dari Siau Sam Kongcu tepat bisa menghadang di depan kaisar dan menghadang jarum beracun itu.
La-cai marah, dia meloncat ke atas.
Ilmu Tai-jiu-im dari Thian-ho Sangjin sudah menekan di atas kepalanya berturut-turut tiga kali.
Sekalipun La-cai mempunyai tiga nyawa, dia tetap akan mati.
Kaisar baru sadar dan tenang.
Dia segera menepuk pundak Siau Sam Kongcu dan tertawa.
"Kau membunuh orang yang ingin membunuhku, jasamu besar. Tadi menahan senjata rahasia yang menyerangku, jasamu bertambah besar. Kau menginginkan jabatan apa, cepat katakan! Aku ridak akan membuatmu kecewa!"
Siau Sam Kongcu berlutut.
"Rakyat kecil Siau Sam hanya meminta satu hal kepada baginda!"Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 83
"Jangankan satu hal, seratus juga aku akan setuju!"
Setelah mengeluarkan kata-kata ini, kaisar sendiri juga terpaku, dia terlalu cepat membuka mulut dan tidak memikirkan akibat perkataannya.
Bila kaisar mengeluarkan kata-kata, perkataan nya bukan main-main.
Kalau Siau Sam Kongcu benar-benar meminta yang aneh-aneh, itu akan membuat kaisar sakit kepala.
"Kalau begitu Siau-heng terus terang saja!"
Hati Su Yan-hong tergerak, dia sudah tahu apa yang akan di minta Siau Sam Kongcu.
"Rakyat kecil Siau Sam hanya minta untuk menyerahkan muridku, Su Ceng-cau dan mengampuni dia dari hukuman mati!"
"Su Ceng-cau!"
Kaisar terpaku. Dalam hati dia menarik nafas. Tadinya dia tidak peduli siapapun. Begitu masalah Lam-tiang sudah selesai, kaisar akan membawa Su Ceng-cau ke dalam istana. Su Yan-hong segera menjawab.
"Ceng-cau hanya seorang gadis, melepaskan dia tidak akan menyebabkan akar bencana di kemudian hari. Rakyat di dunia akan memuji baginda mempunyai hati pemaaf. Baginda bisa berpikir dulu!"
"Kalau kau juga sudah berkata begitu dan aku sudah berjanji akan melakukan apa saja untuk Siau Sam, tidak perlu berpikir lagi, jalankan apa yang kalian mau!"
Siau Sam Kongcu segera berlutut untuk berterima kasih. Kata kaisar.
"Tadinya aku ingin menggunakan Su Ceng-cau untuk mengancam Ling-ong agar menyerah. Sekarang aku harus menggunakan cara lain!"
"Kaisar mempunyai budi penyayang dan tidak mau dengan perang membuat rakyat..."
Siau Sam Kongcu segera menyambung.
"Rakyat Siau Sam juga bermaksud begitu, maka harap baginda segera mengirim pengawal elit mengikuti aku ke barat kota Lam-tiang, ke bendungan air sebentar!"
Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 84
"Apa ada gunanya?"
Kaisar merasa aneh.
"Aku tahu! Jika Ling-ong sudah tidak punya cara melawan, dia akan merusak bendungan air. Pada waktu itu air sungai akan banjir. Di Lam-tiang akan terjadi banjir bandang. Akan melanda sekeliling sekitar seribu li tanpa terkecuali. Pasukan dari kedua pihak tidak akan bisa lolos. Rakyat yang dua sisi sungai akan terkena bencana besar!"
Kaisar segera tertegun. Dia sama sekali tidak terpikir tentang ini.
"Apakah kau mempunyai cara untuk mengatasinya?"
"Satu-satunya cara adalah mengambil alih dulu bendungan air ini. Jika hati pasukan Ling-ong sudah tergoncang, kota Lam-tiang tidak perlu di serang, akan pecah sendiri!"
"Baik..."
Kaisar sangat senang, kemudian bertanya.
"Kau adalah guru pedang di Ling-ong-hu, mengapa bisa mengkhianati Ling-ong?"
"Sebenarnya Ling-ong tidak punya rencana macam-macam, tapi Siau-ongya berteman dengan orang Jepang yang berhati serakah. Maka terjadilah peristiwa hari ini. Aku tidak ada rencana apa-apa, hanya tidak tega melihat rakyat yang begitu banyak terkena musibah besar."
"Baik, baik! Mengapa kau tidak mau menjadi seorang pejabat? Kalau tidak, kau pasti adalah seorang pejabat yang baik!"
Kata kaisar.
Kaisar seakan berkata sungguh-sungguh, sebe narnya hatinya tidak seperti itu.
Hanya karena Siau Sam Kongcu telah membantunya kali ini, maka dia berkata seperti itu.
Siau Sam Kongcu tidak terpengaruh.
Dia sudah mengambil keputusan akan mundur dari dunia persilatan.
Su Yan-hong sangat memahami kaisar.
Terhadap Siau Sam Kongcu dia juga sangat memahami, maka dia tidak berkata apa-apa.
196-196-196Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 85 Memang Ling-ong tidak mempunyai keinginan untuk memberontak, hanya Cu Kun-cau seperti sudah terpengaruh oleh sifat orang Jepang.
Dia sama sekali tidak peduli rakyat hidup atau mati.
Demi mencapai tujuan, segala cara dipergunakan.
Setelah La-cai gagal melalukan pembunuhan terhadap kaisar, dia segera memerintahkan Liu Hui-su, Cia Ceng-hong dan Hoa Pie-li untuk membawa orang ke bendungan air, dia siap merusak bendungan air ini.
Su Yan-hong dan Siau Sam Kongcu sudah membawa orang ke sana, maka Liu Hui-su dan lain-lain tidak sanggup melakukan apa-apa.
Cu Kun-cau mengira sudah sampai waktunya tapi tidak ada gerakan apa-apa.
Dia baru tahu kemudian bahwa rencana sudah mengalami perubahan lagi.
Pada waktu itu Ong-souw-jin sudah membawa pasukan untuk menyerang kota.
Pasukan yang menjaga kota sudah ketakutan sebelum berperang.
Pasukan berhasil merebut Ling-ong-hu, tapi mereka baru tahu Ling-ong dan Siau-ongya sudah kabur.
Ular tanpa kepala tidak akan bisa berjalan.
Kota Lam-tiang tidak perlu diserang sudah pecah dengan sendirinya.
Setelah Ong-souw-jin mendapat kabar ini, dia segera melukis gambar dua orang ini, untuk menangkap Ling-ong dan Cu Kun-cau.
Perkiraannya tidak salah.
Ling-ong dan Siau-ongya benar-benar berbaur dengan rakyat.
Mereka ingin memanfaatkan kekacauan kota untuk keluar dari kota Lam-tiang.
Mereka berpenampilan seperti rakyat kecil.
Itu di luar dugaaan Ong-souw-jin.
Di sepanjang jalan, Ling-ong dan putranya aman-aman saja.
Ketika bertemu pasukan yang meme riksa, pasukan hanya melihat-lihat dan segera melepaskan mereka.
Tapi bila ada orang yang mirip dengan sketsa gambar, tetap akan membuat pasukan memperhatikan.
Sampai pemeriksaan ke-8 kali, akhirnya mereka ditahan oleh penjaga.Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 86 Dalam ketergesa-gesaan ini, muncul ide Cu Kun-cau, dia memberitahu kepada pasukan bahwa itulah Ling-ong yang menyamar seperti rakyat kecil.
Ling-ong sama sekali tidak menyangka putranya akan mengkhianati.
Di dalam situasi itu, dia segera kabur.
Pasukan segera mengejarnya dan meninggalkan Cu Kun-cau.
Kesempatan ini tidak disia-sia-kan.
Bersama It-to-cian, dia berbaur dengan orang-orang yang berjalan.
Ling-ong melihatnya.
Dia tidak berteriak.
Memang benar harimau galak tidak akan memakan anaknya sendiri.
Apalagi dia bukan seekor harimau galak, dia memilih untuk hancur sendiri.
Waktu dia dibawa ke hadapan kaisar, dia tidak mempunyai semangat lagi dan membiarkan kaisar memutuskan apa yang harus dia terima.
Kaisar sudah mengambil keputusan akan memenggal kepala Ling-ong, untuk memberi pelajaran kepada semua orang.
Seperti kata pepatah, memukul anjing untuk mengajar kera.
Itu akibatnya jika memberontak.
Sampai Su Ceng-cau juga tidak dilepaskan, kaisar bermaksud mengingkari janji.
Tapi Su Yan-hong sudah ada persiapan.
Setelah peristiwa ben-dungan, dia segera menyuruh Siau Sam Kongcu mem bawa Su Ceng-cau pergi untuk mencegah ada peru-bahan lain.
Setelah peristiwa ini, Su Ceng-cau berubah sifatnya seakan seperti orang yang berbeda..Dia menjadi pengertian dan tidak egois.
Ini adalah hal yang paling menghibur bagi Su Yan-hong.
*** Kota Lam-tiang diserang dan berantakan, hal ini sangat membantu Cia Soh-ciu.
Dia masuk Ling-ong-hu untuk mencuri obat.
Awainya tidak semudah ini, tapi karena Ling-ong dan Cu Kun-cau sudah pergi, orang-orang Ling-ong-hu kabur karena takut berada di Ling-ong-hu.Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 87 Di saat seperti sekarang ini ingin mencari tempat rahasia dan mencuri obat sangat mudah.
Dalam situasi kacau ini meninggalkan kota Lam-tiang mudah, apalagi ada Ciu-ci Lojin yang membantu.
Sebenarnya Ciu-ci Lojin diperintahkan untuk mengawasi Cia Soh-ciu.
Mereka tidak tahu isi hati Cia Soh-ciu yang selalu berada di keluarga Lamkiong.
Apa pun yang terjadi harus mengantarkan obat ini kembali.
Sampai sekarang ini dia masih belum menemukan hal-hal mencurigakan pada Lo-taikun.
Obat sudah ada di tangan.
Lo-taikun benar-benar tertawa.
Obat dicampur dengan Hwe-yang-ko.
Kekuatan Hen-lo-sat bertambah sekali lipat lagi, dia akan bertambah ganas dan bengis.
Hwe-yang-ko datang dari hulu Han-tan di Bu-tong-san.
Wan Fei-yang muncul dan sedang mencari Hwe-yang-ko.
Lo-taikun mendapat kabar dia ingin Hen-lo-sat datang untuk menghadapi Wan Fei-yang.
Mencoba kekuatan Hen-lo-sat sudah mencapai tahap mana.
Jika Wan Fei-yang pun kalah, berarti Hen-lo-sat benar-benar akan menguasai dunia persilatan tanpa ada yang bisa melawannya.
197-197-197 Hulu sungai Han-tan berada di lembah di dalam hutan.
Jalan menuju lembah ini sangat sempit.
Bila menatap langit, hanya akan terlihat satu garis.
Tapi Hwe-yang-ko tumbuh memenuhi tempat ini.
Setelah Wan Fei-yang makan secukupnya, dia mengatur nafas untuk menyebarkan obat ini ke seluruh tubuhnya lalu mengikuti tulisan yang ada di dalam Ie-kin-keng.
Sekali demi sekali, sehari demi sehari dia atur.
Akhirnya luka dalamnya sembuh total.
Tenaga dalam dan ilmu silatnya naik setingkat lagi, dia bisa merasakannya.
Sewaktu dia merasa senang dan siap meninggalkan tempat, Hen-lo-sat muncul.Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 88 Wan Fei-yang sadar akan kemunculan pembunuh ini tapi dia sama sekali tidak tahu kalau Hen-lo-sat ini adalah adik perempuannya, Tokko Hong.
Juga sangat beruntung dia tidak tahu.
Kalau tidak, dia akan mendekatinya untuk menyapa dan Hen-lo-sat akan segera membunuhnya secara tiba-tiba.
Akibatnya sulit ditebak.
Dia mulai merasakan aura membunuh yang sangat kuat.
Dia tahu kalau Hen-lo-sat pasti sangat lihai!
dia tidak berani bertindak ceroboh.
Setiap saat selalu waspada.
Hen-lo-sat tidak bereaksi.
Karena pengaruh obat-obatan, dia kehilangan akal sehatnya.
Dia hanya tahu harus membunuh orang yang bermusuhan dengannya.
Dia juga merasa kalau lawan mempunyai menyimpan rasa permusuhan.
Tapi dia tidak bisa membedakan siapa lawan, pastinya dia mendengar suara peluit baru bertindak.
Hal itu sudah lama dilatih dan sudah biasa terjadi.
Akhirnya suara peluit terdengar.
Dia segera berlari.
Sepasang golok sudah dikeluarkan.
Waktu itu sepasang goloknya berubah menjadi 2 roda golok dan menggulung ke arah Wan Fei-yang.
Roda golok tampak berkilau, seperti dua buah bola terang.
Belum tiba di depan orang aura membunuhnya sudah terasa.
Wan Fei-yang melihatnya dan tahu dengan 2 tangan kosongnya dia tidak akan bisa menyambut serangan golok.
Dia segera mundur dan mengambil batu yang tergeletak di bawah.
Hen-lo-sat sudah tiba.
Batu yang dilempar oleh Wan Fei-yang di bawah serangan roda golok menjadi bubuk dan tersebar ke sekeliling.
Kerikil mengenai pundak Wan Fei-yang.
Dia merasa sakit.
Tiba-tiba dia merasa terkejut, bertanya.
"Siapa kau?"
Tapi sepasang golok Hen-lo-sat sudah menepisnya. Wan Fei-yang meloncat ke atas dan bertanya lagi.
"Siapa yang menyuruhmu membunuhku?"
Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 89 Yang menjawab tetap sapuan sepasang golok.
Suara pecah di angkasa begitu tajam dan menusuk telinga membuat siapa pun akan merasa terkejut.
Masuk ke telinga pun tidak nyaman.
Yang membuatnya terkejut adalah dengan ilmu meringankan tubuhnya tetap tidak bisa terlepas dari kejaran Hen-lo-sat.
Hal ini belum pernah terjadi semenjak dia menguasai Thian-can-kang.
Hen-lo-sat benar-benar seperti ulat yang menempel, lalu melilit Wan Fei-yang.
Jika luka dalam Wan Fei-yang belum sembuh, mungkin dia sudah terkejar oleh Hen-lo-sat dan harus terluka lagi oleh sepasang golok itu.
Tenaga dalam Wan Fei-yang terus dikerahkan.
Dia dengan cepat meloncat ke atas dan tidak berhenti di tengah-tengah angkasa.
Dinding jurang tidak begitu terjal tapi tetap sulit berdiri.
Orang yang bisa melakukannya boleh dikatakan tidak banyak.
Tapi Hen-lo-sat bisa.
Walaupun sepasang goloknya terus berputar, dia masih bisa melakukannya.
Bila Wan Fei-yang tidak perlu menghindar tepisan sepasang golok, dia bisa dengan cepat naik.
Kalau Wan-tianglo, sulit bertemu dengan lawan begitu kuat jadi dia akan melawan habis-habisan..
Sekarang Wan Fei-yang hanya ingin terlepas dari kejaran ini.
Dia ingin mencari tahu apa yang menyebabkan semua ini terjadi.
Puncak jurang teratas adalah tempat datar.
Wan Fei-yang belum tahu situasi sekeliling di sana, dia dikejar oleh Hen-lo-sat hingga ke sudut ujung sebelah sana.
Dia baru tahu kalau di belakang tempat datar di sana adalah sebuah jurang yang dalam.
Di bawah sana tertutup oleh kabut tebal.
Entah berapa dalam jurang itu dan jurang tampak lurus seperti habis ditepis, lebih terlihat berbahaya.
Dia ingin menghindar ke sana tapi sudah tidak sempat lagi.
Kekuatan Hen-lo-sat di sana lebih dahsyat.
Tiba-tiba sepasang goloknya berubah menjadi dinding golok dan datang menepisnya.
Wan Fei-yang membentak.
Thian-can-kang ter kumpul di kedua telapak tangannya.
Di depan kedua telapak ini seperti menghasilkanLegenda Pendekar Ulat Sutra -4 90 sejenis sutera, muncul gumpalan putih.
Lapisan sutera ini menyebar di roda golok Hen-lo-sat dan Wan Fei-yang terpaksa terus mundur.
Suara benda sobek terus terdengar, dia tergetar dan terbang melayang, terbanting masuk ke dalam jurang yang dalam, Hen-lo-sat tidak ada ekspresi apa-apa.
Pelan-pelan dia memasukkan sepasang goloknya ke dalam sarung.
Matanya terlihat kosong, tidak terlihat perasaan apa pun.
198-198-198 Bukan pertama kalinya bagi Wan Fei-yang menghadapi ambang kematian, tapi terbanting dari tempat setinggi ini adalah untuk pertama kalinya.
Waktu itu pikirannya hampir kosong tapi hanya sebentar berlangsung dan dia sudah kembali normal.
Thian-can-kang terus digunakan.
Kedua tangannya seperti sayap terus bergerak.
Kadang-kadang memukul batu yang ada di sisi dinding jurang.
Dengan begitu kecepatannya bisa berkurang saat melayang turun.
Setelah puluhan kali memukul, tubuhnya yangjatuh bisa dia kuasai.
Untung sekarang siang hari.
Matahari sedang terang dan bersinar terik.
Walaupun di dasar jurang banyak kabut tapi Wan Fei-yang masih bisa-melihat keadaan sekeliling sana.
Entah sudah terjun seberapa dalam Wan Fei-yang tidak bisa menghitung dan memperkirakannya, hanya merasa hal ini berlangsung sangat lama.
Se waktu dia melihat, akhirnya dia bisa melihat dasar jurang.
Sebenarnya itu sebuah batu yang mencuat di atas sebuah kolam.
Kolam tidak begitu dalam tapi jernih, bisa melihat dasar kolam.
Sambil mengeluarkan telapaknya untuk terus memukul.
Angin telapak terus bergerak, membuat tubuh Wan Fei-yang pelan-pelan turun dan turun ke atas batu aneh itu.
Dia sama sekali tidak terluka.
Tapi dia melihat seseorang di sana.
Orang itu duduk di atas batu aneh itu.
Wajahnya penuh dengan cambang, rambutnya berantakan.
Dia mengenakan baju yang sudahLegenda Pendekar Ulat Sutra -4 91 usang.
Walaupun begitu, dia tetap terlihat sangat bersemangat.
Sekali melihatnya sudah tahu kalau dia bukan orang biasa.
Dia terpaku melihat Wan Fei-yang yang baru jatuh dari atas tapi tidak mengeluarkan suara.
Setelah Wan Fei-yang agak tenang, dia baru bertanya.
"Tempat apa ini?"
Orang aneh itu seperti tidak mendengar pertanyaannya. Kata Wan Fei-yang lagi.
"Aku Wan Fei-yang, diserang oleh seseorang hingga terjatuh kemari. Siapa nama Tuan?"
Orang itu hanya mendengar tapi tidak menjawab.
Wan Fei-yang tidak bertanya lagi.
Begitu menengadah ke atas, dinding jurang tampak lurus seperti habis ditepis dan tidak bisa melihat ujung atas jurang.
Dia menarik nafas.
"Ini tempat kematian!"
Orang itu akhirnya membuka suara.
"kalau ada jalan, bisa keluar dari sini, aku sudah keluar dari sini!"
"Kalau begitu, terpaksa harus mencoba apakah bisa merangkak naik,"
Usul Wan Fei-yang .
"Kau yang harus mencobanya!"
Ucap orang itu.
"terjatuh dari tempat begitu tinggi, sama sekali tidak terluka berarti ilmu silatmu sangat bagus!"
"Mengapa Tuan tidak mencobanya?"
Orang itu menjawab dengan sedih.
"Aku tidak bisa bersilat seperti kau. Sewaktu terjatuh ke dalam sini, untung aku masih bisa hidup. Tapi kedua kakiku sudah tidak ada!"
Dengan tangan kanannya dia menyibakkan bajunya, terlihat kalau kedua kakinya sudah patah dari lutut.
"Apakah Tuan juga diserang oleh orang lain hingga terjatuh?"Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 92
"Benar!"
Orang itu menarik nafas.
"keadaan di sini masih lumayan, sangat banyak ikan dan tidak habis-habis untuk dimakan!"
"Tapi Tuan tetap harus naik kembali ke atas!"
"Kalau bisa naik, itu akan sangat bagus!"
"Tapi sayangnya aku harus cepat-cepat ke Pek-hoa-couw. Begitu masalah di Pek-hoa-couw selesai, aku akan segera kembali membawa tali untuk menyelamatkanmu!"
Kata-kata Wan Fei-yang terdengar sangat serius. Dia tidak sembarangan bicara. Tiba-tiba orang itu bengong, dia bertanya.
"Apa yang terjadi di Pek-hoa-couw? keluarga Lamkiong melakukan kejahatan apalagi?"
Wan Fei-yang balik bertanya.
"Apa hubungan Tuan dengan keluarga Lamkiong?"
Orang itu tidak menjawab, dia hanya buru-buru menyuruh Wan Fei-yang menjawab pertanyaannya.
"Cepat beritahu aku bagaimana keadaan keluarga Lamkiong sekarang ini?"
Hati Wan Fei-yang tergerak.
Dengan teliti dia menceritakan semuanya, orang itu mendengar ceritanya hatinya semakin bergejolak.
Akhirnya dia tertawa sedih sambil menatap langit!
"Siluman tua, kau harus membunuh berapa orang baru akan berhenti!"
Tawanya berhenti, orang itu berteriak. Hal ini membuat Wan Fei-yang semakin merasa aneh.
"Siluman tua yang mana yang kau maksud?"
"Lo-taikun yang ada di depan mata kalian!"
Orang itu marah besar. Hati Wan Fei-yang bergerak.
"Apakah dia sebenarnya bukan Lo-taikun yang asli?"
"Tapi sayang aku rasa semuanya sudah terlambat. Kau dipukul hingga masuk ke tempat kema-tian ini!"
Orang itu tiba-tibaLegenda Pendekar Ulat Sutra -4 93 mencengkeram Wan Fei-yang "Lote, dengan cara apa pun kau harus membawaku kembali ke atas agar aku bisa tepat waktu membuka kedok siapa dia sebenarnya!"
"Tuan adalah..."
"Lamkiong Ho..."
Orang itu tertawa dengan sedih.
"kalau dia Lo-taikun asli, mana mungkin dia akan begitu kejam membunuh anak sulungnya?"
Wan Fei-yang menggigil.
"Siapa dia sebenarnya?"
"Pek-lian-kau, Jin-kun dari Thian -te!"
"Gosip di dunia persilatan mengatakan kalau Jin-kun pandai menghias wajah dengan ketrampilan tangan. Dia sangat hebat. Begitu banyak orang di keluarga Lamkiong tidak ada seorang pun yang bisa membedakannya!"
"Sampai aku yang menjadi anak kandungnya pun tidak bisa membedakannya, apalagi orang lain!"
Lamkiong Ho tertawa sedih.
"tapi jejak yang bisa dilacak sedikit banyak pasti ada yang menimbulkan rasa curiga. Satu per satu dibunuh olehnya!"
"Maksudnya laki-laki di keluarga Lamkiong bukan mati oleh perkumpulan besar?"
"Keluarga Lamkiong tidak berambisi ingin menguasai dunia persilatan. Jika tidak, semua perkumpulan sedari awal sudah mengepung dan menyerang, tidak perlu menunggu hingga hari ini dan sekarang ini!"
"Benarkah gosip dunia persilatan yang menga takan demikian?"
Tanya Lamkiong Ho.
"Tidak banyak juga, tapi semua adalah dugaan orang-orang!"
Lamkiong Ho menarik nafas.
"Itu rencana busuk siluman tua itu. Dia tidak hanya menggunakan orang keluarga Lamkiong juga memperalat kekuatan keluarga Lamkiong."
Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 94 Wan Fei-yang menatap ke atas.
"Lebih baik kita tinggalkan tempat ini terlebih dulu!"
Jurang terjal seperti ditepis golok, ingin kembali ke atas apakah itu mungkin?
199-199-199 Jin-kun yang menyamar menjadi Lo-taikun, dulu dia mencari Hwe-yang-ko hingga datang ke tempat ini.
Karena lupa diri membuat Lamkiong Ho curiga.
Setelah Jin-kun sadar akan hal ini, dia segera memancing Lamkiong Ho ke sisi jurang.
Secara tiba-tiba memukulnya hingga terluka dan jatuh ke dasar jurang.
Jurang sangat dalam dan terjal, Jin-kun sangat hafal dengan keadaan di sana dia meminta Ciu-ci Lojin membawa Hen-lo-sat ke sana untuk menghadapi Wan Fei-yang.
Dia tahu bila Wan Fei-yang jatuh ke sana pasti tidak akan bisa selamat.
Setelah mendapat laporan terakhir, dia tertawa manis.
Bila Wan Fei-yang tidak ada lagi di dunia ini, baginya pasti akan sangat banyak kebaikan.
Dan yang paling membuatnya senang adalah sudah membuktikan seperti apa kelihaian Hen-lo-sat.
Bila ada seorang pembunuh lihai berada di sisinya, ada masalah apa yang tidak akan bisa diberes kan olehnya?
Karena terpikir hal yang menyenangkan ini, Jin-kun tertawa lepas.
Saat itu dia berada di kamarnya.
Hanya saat berada di kamarnya sendiri baru bisa membuatnya lupa diri.
Keluarga Lamkiong hanya untuk diperalat saja.
Walaupun dia sedang merasa senang sampai lupa diri tapi dia tetap bersikap waspada.
Dia segera merasa di kamarnya ini ada aura membunuh.
Dia melihat ada samurai keluar dari balik pintu, dia juga merasa kalau tujuan samurai ini datang ke kamarnya bukan untuk membunuhnya, dia tidak menghindar.
Samurai itu benar-benar berhenti di sisi leher nya.
It-to-cian memegang samurai dengan kedua tangan.
Dia memelototi Jin-kun.Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 95
"Biln aku ingin membunuhmu, sangat mudah seperti membalikkan telapak tangan!"
"Membunuhku pun tidak ada kebaikannya untuk kalian!"
Kata Jin-kun memutar sorot matanya.
"Siau-ongya sudah kemari, mengapa tidak keluar untuk bertemu denganku?"
Cu Kun-cau keluar dari balik sekat.
"Mata dan telinga Lo-taikun benar-benar hebat tapi reaksimu tidak secepat golok guruku!"
"Ternyata benar Ong-ya. Kami belum melayani Anda!"
"Untuk apa bicara seperti itu?"
"Kalau begitu, apakah Siau-ongya ada perintah?"
"Kota Lam-tiang sudah dikuasai mereka, tapi orang-orang keluarga Lamkiong hanya berpangku tangan, mana mungkin aku berani menurunkan perintah?"
"Kalau begitu, kali ini tujuan kedatangan Anda..."
"Hanya ingin meminta keluarga Lamkiong membantu kami!"
"Keluarga Lamkiong siap menunggu perintah Anda."
"Aku tidak berani merepotkan orang keluarga Lamkiong."
"Apakah Siau-ongya menginginkan uang?"
"Keluarga Lamkiong adalah keluarga terkaya di Kang-lam. 100 tail emas hanya angka kecil. Aku yakin Lo-taikun tidak akan keberatan memberikan!"
Jin-kun mengeruttkan alisnya.
"Aku ingin bertanya lagi, Siau-ongya menginginkan uang begitu banyak, semua itu untuk apa?"
"Dibawa ke Jepang untuk mencari orang yang bisa melatih pasukan lagi!"
Mata Cu Kun-cau terlihat cerah. Jin-kun tertawa terbahak-bahak. Cu Kun-cau merasa tidak enak dan membentak.
"Kau menertawakan apa?"Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 96 Jawab Jin-kun sambil tertawa.
"Di dunia persilatan Tionggoan banyak orang berbakat yang bisa membantumu menguasai dunia, untuk apa kau harus jauh-jauh pergi ke Jepang, lalu menyuruh orang Jepang membantumu?"
Wajah It-to-cian terlihat marah.
"Apa yang kau katakan barusan?"
"Mengatakan bahwa kalian melakukan semua hal yang tidak ada gunanya dan selalu kalah, kalian tidak tahu diri!"
"Jangan lupa, nyawamu masih ada di tangan ku!"
Bentak It-to-cian.
"Kau kira kau bisa membunuhku?"
Sorot matanya melihat golok samurai.
Tiba-tiba tangannya diangkat, jari tengah menyentil, terdengar CRING!
Dia menyentil punggung golok.
Golok samurai segera tersentil tapi reaksi It-to-cian sangat cepat.
Dia berputar.
Golok diayunkan dan menepis, tapi Jin-kun sudah menendang dari balik gaunnya.
Dia menendang ke atas tongkat kepala naga.
Tongkat ditendang ke atas seperti ular beracun terus melata dan menyerang perut It-to-cian.
It;to-cian hanya memperhatikan sepasang tangan Jin-kun.
Sama sekali tidak ada persiapan meng hadapi jurus ini, dia terlempar ke luar.
Tongkat kepala naga memukul.
Walaupun It-to-cian berubah terus menerus tetap tidak bisa menghindar.
Dada terbuka dan 3 kali terkena pukulan.
Dia memuntahkan darah dan roboh.
Cu Kun-cau melihat semuanya.
Walaupun dia mempunyai ilmu tinggi, tapi dalam keadaan seperti itu dia tidak berani membalas.
Jin-kun menarik kembali tongkat naganya.
Pelan-pelan dia membalikkan tubuh.
Menatap Cu Kun-cau.
"Siau-ongya, kau sudah melihat ilmu silat Tionggoan selalu bisa mengalahkan orang Jepang!"
Cu Kun-cau tertawa kecut, Jin-kun datang menghampiri sambil membawa tongkat.
Dia tertawa.Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 97 Tawa ini membuat Cu Kun-cau menggigil.
Dia mundur beberapa langkah lalu jatuh terjengkang ke kursi.
"Lo-taikun, maafkan aku!"
Nada bicara Cu Kun-cau berubah.
"Tenang saja! Aku tidak akan membunuhmu!"
"Lo-taikun..."
"Hari ini kau terlihat sengsara, tapi kau tetap Siau-ongya. Asalkan kau mau mendengar ucapanku, menurut padaku, kau akan berhasil. Mungkin suatu hari nanti negara ini akan menjadi milikmu!"
"Aku tidak mengerti!"
"Nanti kau akan mengerti dengan sendirinya!"
"Kau ingin memperalatku untuk menciptakan pasukan lalu merebut kekuasaan kerajaan Beng?"
Cu Kun-cau bukan orang bodoh, Jin-kun tertawa memang seperti itu maksudnya.
Akhirnya waktu untuk rapat Pek-hoa-couw tiba.
Keluarga Lamkiong sudah ditata ulang, tidak kalah bagus dengan rapat-rapat ilmu pedang dulu.
Bu-tong-pai, Heng-san-pai, dan Kun-lun-pai datang lebih awal.
Banyak teman-teman dunia persilatan datang untuk menonton keramaian ini.
Di antaranya ada 4 orang yang sedari awal selalu menutupi wajah mereka.
Sebenarnya keempat orang ini adalah Siau Sam Kongcu, Tiong Bok-lan, Lamkiong Beng-cu, dan Su Ceng-cau.
Setelah Siau Sam Kongcu menyelamatkan Su Ceng-cau, dia bertemu dengan Beng-cu tahu di mana tempat tinggal Tiong Bok-lan.
Beng-cu ikut ke Hoa-san.
Sebenarnya saat itu dia sedang kabur dan tidak tahu harus pergi ke mana.
Setelah mendengar hal-hal yang sudah terjadi di keluarga Lamkiong, hati Tiong Bok-lan tidak tenang berada di Hoa-san terus.
Pastinya Siau Sam Kongcu menemaninya.
Sifat Su Ceng-cau memang sudah berubah total tapi terhadap hal-hal yang terjadi di dunia persilatan, dia tetap tertarik.Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 98 Mereka tidak tinggal di keluarga Lamkiong melainkan langsung pergi menuju Pek-hoa-couw.
VVa laupun wajah mereka ditutup dan hanya terlihat sorot matanya tetap tidak ada yang bertanya pada mereka, sebab orang dunia persilatan ada bermacam macam jenis, penutup wajah bukan hal yang aneh.
Pastinya mereka tidak akan menyapa orang lain.
Mereka duduk dengan diam di pinggir melihat perubahan.
Lo-taikun yang merupakan penyamaran dari Jin-kun diapit oleh Bwe Au-siang dan Cia Soh-ciu.
Benar-benar membuat orang lain merasa keluarga Lamkiong sedang turun statusnya.
Yang pasti Jin-kun tidak mempunyai perasaan seperti itu.
Sepanjang perjalanan dia menyapa tamu-tamu.
Sikapnya tampak tenang seperti tidak terjadi apa-apa.
Yang bertanggung jawab menerima tamu adalah Kiang Hong-sim.
Dia menghampiri dan menyambut Lo-taikun.
"Apakah semua sudah datang?"
Lo-taikun segera bertanya.
"Wan Fei-yang dan Bu-wie Taysu belum terlihat tapi sudah datang 4 orang memakai penutup wajah!"
Jin-kun melihat ke arah yang dimaksud.
Dia berjalan ke sana.
Siau Sam Kongcu melihat mereka yang di-hampiri.
Dia menekan Tiong Bok-lan dan Beng-cu dengan tangannya karena takut mereka yang terlihat tegang akan dicurigai oleh Jin-kun.
Mereka berempat mengenakan baju panjang, berpenampilan seperti laki-laki.
Jin-kun berhenti di depan mereka.
"Kalian berempat adalah..."
"Orang dunia persilatan!"
Dengan suara serak Siau Sam Kongcu menjawab pertanyaan itu.
"Orang dunia persilatan pasti sangat tertarik dengan masalah dunia persilatan!"
Ucap Jin-kun.Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 99
"Hanya saja tidak tahu apakah Lo-taikun menyambut kami berempat dengan baik yang merupakan tamu tidak diundang?"
"Rapat Pek-hoa-couw adalah masalah dunia persilatan jadi keluarga Lamkiong tidak akan menolak kedatangan orang dunia persilatan!"
"Terima kasih, Lo-taikun!"
"Kalian berempat tidak perlu memakai penutup wajah!"
Lo-taikun terus mengawasi mereka berempat.
"Kami berempat adalah orang tidak penting, tidak memperlihatkan wajah, tidak apa-apa bukan!"
Siau Sam Kongcu seperti sudah menyiapkan ucapannya.
"Kalau begitu, memang tidak bisa dipaksa!"
Jin-kun bergeser. Berjalan kembali menuju tempat Toan Hong-cu dan Keng-suthay. Mereka berdua menyambutnya. Tanya Jin-kun.
"Waktunya sudah tiba dan orang-orangnya sudah lengkap. Bu-wie Taysu dan Wan Fei-yang menjadi titik permasalahan ini, mengapa mereka belum tiba?"
Sebenarnya mereka sedang membakar emosi orang-orang. Toan Hong-cu dan Keng-suthay mulai tidak bisa bersabar. Begitu mendengar kalimat tadi langsung terpancing.
"Apakah mereka sedang berusaha mengulur waktu?"
Tanya Keng-suthay.
"Paling-paling kita akan memberikan waktu setengah jam lagi. Kalau tidak melihat mereka datang, berarti mereka mengaku kalau Lu Tan adalah pembunuh sebenarnya!"
Ujar Toan Hong-cu.
"Benar! Sampai waktunya tiba mereka tidak datang, Pinni yang akan bertindak!"
Kata Keng-suthay sambil melihat Giok-sik.
"Supaya teman-teman dunia persilatan menge tahui Siauw-Iim-pai memang tidak bertanggung jawab!"
Kata Toan Hong-cu. Giok-sik tidak tahan lagi.Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 100
"Lu Tan adalah orang Bu-tong-pai, kalau dia bersalah harus menyalahkan Bu-tong-pai, tidak ada hubungannya dengan Siauw-lim-pai. Jika kalian mau membuat perhitungan, seharusnya dengan Bu-tong-pai!"
"Kalau begitu mengapa Bu-tong-pai mencari Siauw-lim-pai untuk membantu mereka?"
Tanya Keng-suthay. Giok-sik tidak menyangka Keng-suthay akan berkata seperti itu. Dia hanya bisa terpaku. Toan Hong-cu memelototinya.
"Giok-sik, kalau kau punya harga diri, segera serahkan Lu Tan. Di depan begitu banyak orang jelaskan semua permasalahan ini!"
"Pinto sudah berkali-kali menjelaskan kalau Lu Tan sudah lama menghilang dan tidak' tahu di mana dia!"
Kata Giok-sik menarik nafas. Toan Hong-cu tertawa dingin.
"Mengapa tidak membiarkan kami mencari hingga ke Bu-tong-san?"
"Kalau kau masih berkata seperti itu, kita terpaksa harus menunggu Bu-wie Taysu!"
Giok-sik tertawa.
"Bila dalam waktu setengah jam lagi Bu-wie Taysu tidak hadir, apa yang harus kau katakan?"
Toan Hong-cu tertawa terbahak-bahak.
Ucapannya baru selesai, ada yang melantunkan ayat-ayat dari kitab suci Budha.
Semua orang melihatnya.
Terlihat Bu-wie Taysu diapit oleh 18 orang hweesio Siauw-lim memasuki tempat, masih ada Su Yan-hong.
Semangat Giok-sik bertambah.
Tapi Keng-suthay dan Toan Hong-cu malah menekuk wajahnya.
Bu-wie Taysu sudah tiba, mereka tidak bisa bertindak seenaknya lagi.
Su Yan-hong segera ke depan Toan Hong-cu dan memberi hormat.
"Paman Guru..."
Toan Hong-cu hanya menjawab.Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 101
"He!"
Karena melihat Su Yan-hong berjalan bersama dengan Bu-wie Taysu, dia bertambah marah, tapi tidak bisa dikeluarkan seenaknya.
Bukan karena Su Yan-hong adalah Hou-ya sekaligus dia murid paling berbakat dan bermasa depan cerah, melainkan karena dia tidak melakukan kesalahan dalam masalah ini.
Sekalipun dia bersifat jelek tapi dia adalah orang yang tahu tata karma.
Hanya saja bila sedang marah, dia sendiri pun tidak bisa mengatasinya.
Bu-wie Taysu terus menyapa orang di sana.
Melihat Wan Fei-yang belum datang, dia ingin menunggu sebentar tapi Keng-suthay dan Toan Hong-cu sudah tidak sabar mereka terus mendesak.
Dia terpaksa duduk dan menyuruh Su Yan-hong yang bicara.
Semua merasa aneh tapi Jin-kun sudah bisa menebaknya.
Benar saja Su Yan-hong tidak angkat bicara mengenai masalah Lu Tan, hanya menceritakan tentang keluarga Lamkiong yang bersekongkol dengan Ling-ong, diam-diam melatih pembunuh kemudian mengirim Hen-lo-sat membunuh Ong-souw-jin.
Dia pun mengatakan kemarin ini sewaktu pergi ke Bu-tong-pai, dia dan Bu-wie Taysu dihadang oleh Bwe, Lan, Ju, Tiok, 4 orang pembunuh.
Semua merasa terkejut.
Jin-kun melihat semua orang merasa terkejut.
Dia tidak merasa takut sedikit pun.
Karena sedari awal dia sudah siap bertindak.
Dia tidak melarang Su Yan-hong berbicara.
Begitu Su Yan-hong selesai bicara, setelah itu baru' dengan tenang bertanya.
"Hou-ya sudah banyak bicara, apakah mempunyai bukti?"
Semua sudah berada dalam perkiraan Su Yan-hong.
"Kemarin ini karena gagal dibunuh oleh keluarga Lamkiong bertemu dengan barisan bersenjata api jadi Tong Goat-go yang menjadi menantu ketiga keluarga Lamkiong meninggal dan ada mayat untuk dijadikan saksi."
Jin-kun menggelengkan kepala.Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 102
"Tong Goat-go memang menantu keluarga Lamkiong, apa yang dia lakukan di luar sana belum tentu ada hubungannya dengan keluarga Lamkiong. Semua orang membahas Lu Tan, mengapa Hou-ya harus membicarakan masalah ini dengan orang lain?"
"Benar! Bu-tong-pai harus menyerahkan Lu Tan!"
Seru Keng-suthay. Dia kalah oleh Wan Fei-yang jadi terhadap Bu-tong-pai dia tidak senang. Dia terus melihat Toan Hong-cu. Toan Hong-cu mengangguk.
"Lu Tan tidak mau keluar untuk menjelaskan, semuanya itu hanya omong kosong!"
"Benar..."
Dari angkasa terdengar ada yang datang.
"kalau omong kosong, tidak perlu banyak bicara lagi. Kita bisa mulai bertarung!"
Mendengar suara ini, alis Su Yan-hong segera terangkat.
Orang yang bicara tadi turun naik, melewati kepala semua orang dan mendarat di depan Su Yan-hong.
Dia adalah Wan-tianglo yang hanya ingin berkelahi dan bertarung serta orang yang takut kalau dunia ini terlalu aman!
Fu Hiong-kun dan Siau Cu pun datang secara bersamaan.
Mereka mencari Beng-cu, kebetulan bertemu dengan Wan-tianglo.
Untung Fu Hiong-kun pintar dan lincah jadi Siau Cu tidak ditangkap dan dibawa pulang ke Sian-tho-kok oleh Wan-tianglo.
Mereka bisa memancing Wan-tianglo kemari karena bila situasi dibutuhkan, mereka ingin meminjam ilmu silat Wan-tianglo untuk membereskan masalah.
Setelah tahu di Pek-hoa-couw ada rapat akbar ilmu silat, Wan-tianglo sangat senang.
Tapi dia tetap ingin Siau Cu membuat kesepatakan dengannya setelah Pek-hoa-couw selesai Siau Cu dia tetap harus kembali menemaninya selama setengah atau setahun.
Siau Cu setuju karena dia tahu kalau dia tidak setuju dia tidak akan bisa lolos.
Mereka datang di waktu yang sangat tepat.Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 103
"Wan-tianglo..."
Su Yan-hong menyapa dengan sangat hormat. Wan-tianglo menatapnya dari atas ke bawah, dari bawah ke atas, dengan bersemangat dia bertanya.
"Kapan kita bisa bertarung lagi?"
"Nanti bila ada waktu. Sekarang kami sedang mempunyai masalah!"
Jawan Su Yan-hong. ..
"Aku bertemu dengan Lu Tan!"
Kata Siau Cu.
"Kau bertemu di mana?"
Tanya Su Yan-hong buru-buru. Siau Cu segera menceritakannya, sewaktu dia berjalan dan diserang, lalu berkata.
"Reaksi dia dengan Hen-lo-sat tidak berbeda!"
"Kalau tebakanku tidak salah, dia sudah memakan semacam obat sampai akal sehatnya hilang!"
Su Yan-hong mengangguk.
"Benar! Kalau tidak hilang akal sehatnya, dengan sifat Lu Tan sebenarnya dia tidak akan bersembunyi!"
Timbul perasaan aneh di hati Toan Hong-cu dan Keng-suthay tapi Jin-kun Lo-taikun sudah tertawa.
"Siau Cu, sifatmu tetap seperti dulu!"
Kata Jin-kun sambil menggelengkan kepala.
"dulu demi bisa menikah dengan Beng-cu, semua kau lakukan agar bisa mendapatkan cucuku. Sekarang demi menyelamatkan seorang teman, kau mengarang cerita. Kau selalu seperti itu. Terhadap orang lain atau untuk diri sendiri tidak ada gunanya."
"Maksudmu, aku berbohong?"
Siau Cu berteriak.
"Teman tertimpa masalah, yang pasti kita tidak bisa berpangku tangan begitu saja tapi kau harus bisa membedakan, mana yang salah dan mana yang benar!"
Jelas Jin-kun.
"Waktu itu Beng-cu juga berada di sana!"
Bela Siau Cu. Jin-kun terpaku.Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 104
"Kalau begitu, di mana Beng-cu sekarang? Mengapa dia tidak datang bersama denganmu?"
"Tadinya Beng-cu bersamaku, terakhir dia pergi entah ke mana!"
Siau Cu menarik nafas.
"Karena kau tahu Beng-cu tidak ada di keluarga Lamkiong jadi kau beralasan kalau Beng-cu juga mengetahui hal ini!"
Siau Cu terpaku. Wan-tianglo tidak sabar lagi. Dia berteriak.
"Hei, Tua Bangka! Siau Cu bicara jujur, kau tidak percaya?"
"Benarkah dia jujur?"
Jin-kun tertawa dan balik bertanya. Wan-tianglo berteriak.
"Aku mengatakan kalau dia jujur ya pasti jujur. Tua Bangka masih mau membantah ucapanku! Kau benar-benar sengaja mencari masalah denganku! Apakah karena ingin bertarung denganku?"
"Bila ada kesempatan pasti akan kutemani!"
"Bukankah sekarang adalah kesempatan yang baik?"
Wan-tianglo mulai mengeluarkan kaki dan kepalannya. Jin-kun menggelengkan kepalanya.
"Masalah di sini belum selesai! Kau tidak tahu asal usul permasalahannya lebih baik kau jangan ikut campur masalah ini!"
Dia tidak peduli dengan reaksi Wan-tianglo. Jin-kun langsung berkata kepada Siau Cu.
"Hanya mendengar ucapanmu tidak akan bisa dijadikan bukti, lebih baik keluarkan bukti-bukti lainnya agar orang-orang percaya!"
Siau Cu marah.
"Waktu itu aku dan Beng-cu melihat Lu Tan. Sekarang Beng-cu tidak ada, siapa yang bisa membuktikan hal ini?"
"Apakah kita harus menunggu Beng-cu muncul di sini?"
Tanya Jin-kun dengan santai.Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 105
"Siapa yang mempunyai waktu menunggu? Apa pun yang terjadi, masalah ini harus diselesaikan hari ini juga!"
Tuntut Toan Hong-cu.
"Benar..."
Jin-kun tertawa. Siau Cu marah.
"Jika kalian tidak percaya pada ucapanku, kalian akan menyesal nantinya!"
"Siapa yang bisa membuktikan ucapanmu benar?"
Tanya Toan Hong-cu.
"Aku bisa..."
Terdengar suara seseorang.
Semua melihat ke arah suara itu.
Salah satu dari 4 orang yang mengenakan penutup wajah berdiri.
Pelan-pelan dia membuka penutup wajahnya.
Dia adalah Beng-cu.
Siau Cu terlihat sangat senang.
Cia Soh-ciu berteriak.
"Beng-cu..."
Saat dia akan mendekati putrinya, Jin-kun membentak.
"Kembali..."
Dengan wibawa Lo-taikun, Cia Soh-ciu tidak berani bicara apa-apa. Dengan sikap ketakutan dia kembali. Jin-kun tertawa melihat Beng-cu.
"Apakah kau tidak tahu kalau Nenek meng-khawatirkanmu?"
"Terima kasih atas perhatianmu. Cucumu ini sangat beruntung nyawanya masih tetap ada!"
"Kau harus mengerti kalau aku sangat memperhatikanmu!"
"Tapi aku tidak mengerti mengapa kau berubah menjadi seperti ini?"
Dengan hati bergejolak Beng-cu menatap Jin-kun.
"Aku lihat kau terlalu lelah jadi kau semba-rangan bicara!"
Ujar Jin-kun sambil menggelengkan kepala.
"lebih baik kau beristirahat dulu!"
"Aku tidak sembarangan bicara. Apa tujuan-mu melakukan semua ini?"
Air mata Beng-cu menetes.Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 106
"Apa yang kulakukan?"
Seperti tidak terjadi apa-apa.
"Beng-cu kemarilah..."
Cia Soh-ciu memanggil "Maafkan putrimu tidak berbakti, tapi apa pun yang terjadi aku harus menceritakan semuanya agar jangan banyak orang menjadi korban berikutnya!"
"Kita satu keluarga!"
Cia Solvciu menarik nafas.
"Benarkah demikian? Mengapa dia menyuruh orang membunuhku?"
Perasaan Beng-cu semakin ber gejolak. Cia Soh-ciu terpaku. Kata Bwe Au-siang.
"Mengapa bisa terjadi seperti itu?"
Beng-cu berteriak.
"Sebenarnya seperti itu! Yang membunuh Lam-touw adalah dia, paman keempat yang memberi tahukannya padaku! Setelah itu paman keempat pun menghilang..."
Bwe Au-siang menatap Jin-kun. Dia merasa aneh. Beng-cu berteriak lagi.
"Jelas-jelas Lu Tan disembunyikan olehnya. Waktu itu dia ingin membunuhku serta Siau Cu. Ciu-ci Lojin diam-diam menggunakan peluit mengatur dia!"
Su Yan-hong melihat Jin-kun.
"Aku rasa Beng-cu tidak berbohong. Kau menyembunyikan Lu Tan, apa tujuanmu? Apakah kau ingin kami saling bunuh dan kau tinggal duduk diam, kemudian dari belakang mengambil keuntungan dari semua ini?"
Tapi Jin-kun masih bisa tertawa.
"Beng-cu masih kecil, dia dipengaruhi orang lain jadi dia bisa bicara seperti itu. Tapi semua malah percaya!"
Su Yan-hong tertawa dingin.
"Mana mungkin bisa seperti itu!"
"Hou-ya terbuka dan jujur, pasti tidak akan melakukan hal ini, tapi ledua orang ini belum tentu seperti itu!"
Jin-kun menunjukLegenda Pendekar Ulat Sutra -4 107 orang yang memakai penutup wajah.
"apa kabar, Siau Sam Kongcu?"
Siau Sam Kongcu dan Tiong Bok-lan tidak bisa bersembunyi lagi. Mereka langsung membuka penutup wajah. Jin-kun melihat mereka sambil menggelengkan kepala, menarik nafas.
"Kalian berdua pergi dan tidur bersama tidak apa-apa, mengapa harus menghasut Beng-cu untuk melawan Keluarga Lamkiong?"
Dengan tenang Siau Sam Kongcu berkata.
"Benar, kami sama-sama tinggal di Hoa-san dan kami saling menghormati seperti kakak beradik. Kami tidak merasa ada yang salah di sini. Apa yang dibicarakan orang lain, kami tidak peduli!"
"Apa yang dikatakannya tadi adalah kenyataan sebenarnya, aku tidak dihasut oleh siapa pun!"
"Kalau kalian terbuka dan jujur, mengapa harus memakai penutup wajah seperti tadi?"
Toan Hong-cu dan Keng-suthay mulai goyah. Waktu itu terdengar suara yang berkata.
"Siluman Tua, kau masih bisa berceloteh!"
Yang bicara adalah Lamkiong Ho.
Dia duduk di kursi roda, didorong oleh Wan Fei-yang yang sedang berlari datang ke tempat itu.
Melihat orang itu, Jin-kun segera tahu saatnya memperalat keluarga Lamkiong sudah usai sampai di sini dan tidak bisa diperalat lagi.
Cia Soh-ciu melihat, dia terkejut dan senang dan datang menyambut.
Beng-cu berteriak.
"Ayah..."
Sorot mata Siau Sam Kongcu dan yang lain menatap wajah Wan Fei-yang dan Lamkiong Ho. Wan Fei-yang melihat ke sekeliling, dia berkata dengan suara keras.Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 108
"Demi mencari Hvve-yang-ko, aku mengejarnya sampai di Han-tan lalu aku diserang Hen-lo-sat, dipukul hingga jatuh ke dasar jurang yang sangat dalam. Sangat beruntung aku tidak mati dan bertemu dengan Lamkiong Ho yang dulunya pun dipukul hingga jatuh!"
"Kalau kalian tidak percaya siapa pun tapi apa yang Lamkiong Ho ceritakan harap kalian percaya!"
Kata Lamkiong Ho.
"Apa yang telah terjadi?"
Tanya Cia Soh-ciu. Lamkiong Ho menunjuk Jin-kun.
"Orang ini sebenarnya adalah Thian Te, bernama Jin-kun dari Pek-lian-kau!"
Begitu kalimat ini masuk ke telinga semua orang, membuat semua terkejut dan sorot mata mereka melihat wajah Jin-kun.
"Di dunia ini memang tidak ada rahasia abadi!"
Ujar Jin-kun seperti tidak merasakan apa-apa.
"sebenarnya setelah rapat Pek-hoa-couw ini selesai, aku akan kembali ke wajah asliku. Sekarang terjadi lebih awal tapi masalah sudah terjadi, aku tidak bisa berbuat apa-apa!"
Dia berhenti pelan-pelan mengelupas topeng kulitnya.
Semua tahu apa yang terjadi.
Tapi begitu melihat apa yang dilakukannya tetap saja merasa terkejut.
Lo-taikun dari keluarga Lamkiong mempunyai kedudukan tertentu di dunia persilatan juga berpengaruh.
Ternyata dia adalah Jin-kun dari Pek-lian-kau yang pandai menyamar dengan kemampuan keterampilan tangan.
Wan Fei-yang bisa dikatakan orang yang paling tenang.
Dia segera bertanya.
"Kau mengelabui keluarga Lamkiong, apakah tujuanmu adalah memecahbelah perkumpulan besar agar mereka saling bermusuhan dan kau tinggal duduk diam menerima keuntungannya?"
Jin-kun tertawa.Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 109
"Ini hanya salah satunya. Yang terpenting ada lah uang dan harta keluarga Lamkiong. Kalau tidak, ingin menghasilkan Bwe, Lan, Ju, Tiok, dan Hen-lo-sat, tidak mungkin bisa terjadi."
"Akhirnya kau mengakui semuanya!"
Wan Fei-yang menarik nafas.
"begitu banyak orang mati di tanganmu tapi tidak ada satu pun yang mencurigai-mu bukan?"
"Hanya Lamkiong Po!"
Jin-kun baru akan berkata seperti itu, Bvve Au-siang marah besar. Dia ingin menyerang tapi Cia Soh-ciu menahannya.
"Jangan sampai membuat hatimu bergejolak! Hati-hati bayi yang ada di dalam kandunganmu!"
Jin-kun terpaku. Lamkiong Ho tertawa lepas.
"Thian benar-benar menyayangi keluarga Lamkiong!"
"Baik atau tidak baik jangan bicara terlalu awal!"
Jin-kun tertawa.
Tongkat kepala naga tiba-tiba keluar, dia melemparkannya ke arah Lamkiong Ho.
Lemparan ini dilakukan sekuat tenaga dan secara tiba-tiba.
Wan Fei-yang yang menyambutnya pun tidak sempat menahan, jadi tongkat kepala naga itu terus melaju menembus dada Lamkiong Ho dan membunuhnya.
Cia Soh-ciu sangat sedih.
Dia meloncat ke atas.
Dengan kedua telapaknya menyerang Jin-kun.
Dia menyuruh Bwe Au-siang jangan emosi tapi melihat Lamkiong Ho terbunuh, dia tidak bisa menahan emosinya lagi.
Jin-kun sepertinya tidak memiliki masalah apa pun.
Dia menyambut dengan kedua telapaknya.
Ter dengar suara seperti petir, Cia Soh-ciu terlempar keluar sejauh 3 tombak.
Dia muntah darah dan terguling.
Beng-cu berteriak.
Tubuh Siau Cu bergerak.
Beng-cu memapah Cia Soh-ciu.Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 110
"Ibu sudah melakukan banyak kesalahan..."
Cia Soh-ciu seperti banyak hal yang ingin dibicarakan tapi hanya satu kata yang dia keluarkan.
Darah menyembur keluar, dia berhenti bernafas.
Beng-cu sangat sedih.
Dia melihat Jin-kun dan ingin menyerangnya tapi dihalangi oleh Wan Fei-yang, Toan Hong-cu, Keng-su thay, Su Yan-hong, dan Bu-wie Taysu.
Terdengar suara peluit.
Diiringi suara peluit datang Lu Tan dengan keadaan terbang dan menyerang semua orang.
Keng-suthay menyambut 1 jurus.
Dia tergetar hingga mundur selangkah.
Giok-sik menatapnya segera berteriak.
"Lu Tan..."
Tapi Lu Tan tidak bereaksi apa-apa.
Sorot matanya terlihat sangat kejam.
Dia mencabut pedang dan menyerang Toan Hong-cu.
Toan Hong-cu menyambut secara berturut-turut sebanyak 13 jurus.
Dia mundur 3 langkah.
2 murid Bu-tong datang dengan cepat mencegat Lu Tan mereka malah tergetar hingga ke pinggir.
Lu Tan menyerang lagi, menepis murid Bu-tong yang terlambat menghindar, ingin membelahnya menjadi 2 bagian.
Sewaktu Lu Tan masih mengejar seorang yang melarikan diri, Wan Fei-yang sudah tiba.
Dengan ilmu Thian-can-kang dia menekan pedang Lu Tan sebelah tangannya menyambut serangan telapak tangan Lu Tan.
Lu Tan tidak bisa menarik pedangnya, menarik tangannya pun tidak bisa karena menempel oleh Thian-can-kang.
Bu-wie Taysu segera datang menghampiri.
Dia menotok di 7 titik nadi bagian punggung Lu Tan.
Wan Fei-yang tidak lamban, dia juga menotok di 7 nadi bagian dada Lu Tan.
Mereka bekerja sama dengan sangat tepat.Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 111 Toan Hong-cu segera membentak.
"Bunuh pembunuh ini!"
Bu-wie Taysu mencegatnya dengan mengangkat tangan.
"Bila ingin membunuh, bunuh Jin-kun dari Pek-Iian-kau yang pantas untuk mati!"
Kata-katanya baru selesai, terdengar suara peluit lagi.
Semua orang melihat ke arah itu, terlihat Hen-lo-sat datang seperti terbang!
Keng-suthay langsung mencegat.
Dengan pedang dia menepis tapi Hen-lo-sat dengan kedua telapaknya mendorong dengan tenaga dalam yang kuat.
Dia bisa memaksa pedang Keng-suthay bergeser ke samping dengan telapak tangannya memasuki celah.
Wan Fei-yang dan Bu-wie Taysu dari kiri dan kanan berusaha ingin menyelamatkan tapi tidak sempat lagi.
Telapak kiri Keng-suthay tidak sempat menahan, dadanya terkena pukulan telapak.
Terdengar teriakan memilukan.
Dia terlempar sejauh 3 depa dan muntah darah.
Di sana dia menghembuskan nafas terakhirnya.
Keng-suthay seorang pesilat tangguh tapi tidak sanggup menahan serangan Hen-lo-sat satu jurus pun.
Wan Fei-yang dan Bu-wie Taysu sangat terkejut.
Wan Fei-yang segera berteriak.
"Semua orang hati-hati!"
Hen-lo-sat sudah datang.
Wan Fei-yang dengan kedua tangannya segera menyerang, bersamaan waktu kedua telapak Bu-wie Taysu keluar menyerang.
Dengan tenaga dalamnya, mereka berdua bergabung untuk bertarung.
Orang yang sanggup menahan serangan sepertinya tidak ada terlihat Hen-lo-sat satu-satunya yang bisa.
Dia tidak hanya bisa menyambut dan bisa menggetarkan mereka hingga mundur setengah langkah.
Wajah Bu-wie Taysu berubah.
Walaupun Wan Fei-yang di Han-tan pernah menerima serangan Hen-lo-sat tapi sekarang iniLegenda Pendekar Ulat Sutra -4 112 menerima serangannya lagi merasa kalau Hen-lo-sat bertambah lihai.
Wajahnya terus berubah.
Hen-lo-sat terus menyerang.
Wan Fei-yang dan Bu-wie Taysu menerima serangannya.
Mereka tergetar hingga mundur selangkah lagi.
Hen-lo-sat terus maju tanpa berhenti.
Dia seperti sebuah anak panah yang mengarah ke dalam kerumunan orang-orang, kedua telapaknya terus menepis.
Ada murid Kun-lun-san yang menyambut.
Satu per satu ditepis mati oleh Hen-lo-sat.
Su Yan-hong dan Wan-tianglo dengan cepat menolong.
Wan Fei-yang dan Bu-wie Taysu pun tidak bergerak lambat, sepasang golok Hen-lo-sat sudah keluar dari sarungnya.
Cahaya terang seperti kilat melesat ke arah semua orang.
Liong-im-kiam milik Su Yan-hong berusaha menahan tapi hanya bisa bertahan 3 jurus.
Wan Fei-yang mengambil pedang yang tergelertak di bawah untuk menyambut serangan itu dan tongkat hweesio milik Bu-wie Taysu sudah dikeluarkan.
Wan-tianglo tidak mau kalah, dia mengambil sebilah pedang dan mengejar Hen-lo-sat.
4 orang pesilat ini adalah pesilat yang bisa dihitung keberadaannya dengan jari tapi mengepung seorang Hen-lo-sat tetap bisa tergetar hingga ke samping.
Jin-kun tertawa dingin.
Dia segera mengayunkan tangan.
Thian-te-siang-kun dan utusan lampu hijau serta murid-murid Pek-lian-kau sudah muncul di sana dan mereka datang mengepung.
Melihat keadaan seperti itu, Wan Fei-yang tahu kalau Jin-kun sudah melakukan persiapan.
Dia bermaksud dalam rapat Pek-hoa-couvv ini menjala habis semua pesilat tangguh.
Dia segera mengambil keputusan dan membentak.
"Semua tinggalkan tempat ini! Hou-ya, Siau Cu, Siau Sam Kongcu, Toan Hong-cu Cianpwee bertugas melindungi. Aku dan VVan-tianglo serta Bu-wieTaysu yang berada paling belakang..."
"Jarang ada kesempatan bisa bertarung begitu senang. Kalian mundur, aku tidak akan mundur!"
Kata Wan-tiangio.
Dia begituLegenda Pendekar Ulat Sutra -4 113 bersemangat mengeluarkan ilmu silat yang dia pclajari seumur hidupnya untuk melilit Hen-lo-sat.
Wan Fei-yang baru ada waktu untuk bicara.
Dia masih menahan serangan yang baru saja datang dari Thian-te-siang-kun.
Melihat lawan sudah melakukan persiapan, Su Yan-hong tidak tahu pembunuh seperti Hen-lo-sat entah ada berapa orang.
Kalau masih tinggal di Pek-hoa-couw, hanya akan bertambah korban dan akan mengganggu Wan Fei-yang.
Setelah menyapa Siau Sam Kongcu, dia segera memimpin semua orang mundur.
Orang-orang persilatan yang datang menonton keramaian ada beberapa yang mati dan terluka.
Melihat keadaan ini, secara naluri mereka bergabung sambil bertarung mundur.
Siau Cu dan Su Ceng-cau melindungi Bwe Au-siang dan Beng-cu untuk terus mundur.
Beng-cu melihat ayah dan ibunya meninggal membuatnya benar-benar bersedih.
Setelah dinasehati oleh Bwe Au-siang, Siau Cu, dan Su Ceng-cau kesedihannya bisa disimpan dulu.
Sambil bertarung mundur.
18 orang hweesio Siauw-lim yang ikut segera memasang barisan Lo-han untuk menahan murid-murid Pek-lian-kau yang datang menyerang.
Barisan Siauw-lim, Cap-pwe-lo-han sangat ter kenal di dunia persilatan.
Kekuatannya memang sangat besar tapi sayang murid-murid Pek-lian-kau pun sangat banyak.
Diserang dari luar dan dalam ditambah diserang oleh Jin-kun secara tiba-tiba, barisan ini jadi berantakan.
Mereka berusaha tetap melawan dengan gagah berani.
Siau Sam Kongcu, Su Yan-hong, dan Toan Hong-cu melayani 5 orang utusan lampu.
Itu sangat mudah.
Giok-sik dan Toan Hong-cu bahu membahu dalam bertarung.
Dilindungi oleh mereka, Siau Cu dan kelompok berhasil keluar kemudian disusul kelompok Su Yan-hong dan Siau Sam Kongcu.
Mereka mundur dengan susah payah, Jin-kun tiba-tiba menyerang.
Giok-sik tidak berhati-hati dia terkena pukulan hinggaLegenda Pendekar Ulat Sutra -4 114 tewas olehnya.
Toan Hong-cu yang tadinya marah semakin emosi, pedang diayunkan ke arah Jin-kun, memaksa Jin-kun terus mundur.
Su Yan-hong dan Siau Sam Kongcu tidak sempat menghadang, 5 utusan lampu sudah datang.
Wan Fei-yang membentak, sambil mundur terus melawan.
Dengan begitu mereka baru bisa menjaga stamina.
Musuh lebih banyak dan kekuatan mereka berjarak.
Bila terus di sana akan banyak korban.
Saat mereka mundur ke tempat yang lebih aman, Toan Hong-cu terluka karena terkena pukulan Jin-kun.
Dia tetap berusaha melawan dan juga menghadang 5 utusan lampu.
Tapi itu hanya berlangsung beberapa jurus saja dan dia pun tewas.
Wan-tianglo meloncat ke sana sini untuk melilit Hen-lo-sat.
Bu-wie Taysu ingin membantu pun sulit.
Wan Fei-yang dihadang oleh Thian-te-siang-kun.
Walaupun Thian-can-kang sudah dikeluarkan dan Pek-kut-mo-kang dari Thian-te-siang-kun tidak bisa menahan tapi gabungan mereka, ditambah dengan Wan Fei-yang tidak mau terus bertarung maka mereka masih bisa ditahan.
Wan-tianglo melawan dengan keras.
Dia terus menyambut serangan Hen-lo-sat hingga lelah dan kehabisan tenaga.
Akhirnya dipukul hingga roboh oleh Hen-lo-sat, 7 inderanya mengeluarkan darah.
Dia masih sempat menahan 3 kali hantaman, masih bisa berteriak.
"Puas..."
Dia berteriak 3 kali, sudah terpukul hingga hancur. Bu-wie Taysu dengan tongkat hweesionya menghadang Hen-lo-sat dan berteriak.
"Fei-yang, cepat pergi dari sini..."
Wan Fei-yang malah berbalik ke sisi Bu-wie Taysu.
"Taysu yang pergi dulu..."
Bu-wie Taysu menggelengkan kepala.
"Kalau kau tidak pergi dan mati di sini, apa gunanya semua ini?"
"Semua tidak akan bisa pergi..."
Jin-kun sudah datang bersama dengan Thian-te-siang-kun dan utusan 5 lampu.Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 115 18 hweesio Siauvv-Iim sudah tiada.
Utusan lampu ingin mengejar tapi dibentak Jin-kun supaya kembali.
Asalkan bisa membunuh Wan Fei-yang, yang lain kabur pun tidak apa-apa.
Ciu-ci Lojin dan Kiang Hong-sim juga datang.
Jin-kun memberi isyarat agar peluit jangan ditiup supaya Hen-lo-sat berhenti menyerang.
Sambil tertawa berkata kepada Wan Fei-yang.
"Nasibmu selalu bagus tapi hanya sampai di sini saja. Walaupun ada jurang yang terjal di depanmu tapi aku ingin kau mati di depanku!"
Wan Fei-yang tertawa dingin.
"Bila aku roboh, aku tidak akan roboh dengan sendirinya!"
"Bila seorang Hen-lo-sat mati, aku masih bisa membuat satu lagi yang lain. Murid Bu-tong yang bisa Thian-can-kang selain kau apakah masih ada lagi?"
Hati Wan Fei-yang menjadi dingin.
Orang seperti dia mempunyai kesempatan tidak perlu ber-susah payah dan kebetulan bisa menguasai Thian-can-kang, sepertinya memang tidak pernah ada.
Jin-kun seperti bisa membaca pikiran Wan Fei-yang.
"Walaupun tidak ada Hen-lo-sat, bila Sam-cun bersatu, siapa yang bisa melawan mereka?"
Wan Fei-yang masih ingin mengatakan sesuatu. tapi Bu-wie Taysu sudah berbisik.
"Ambil kesempatan ini, cepat pergi..."
Jin-kun melihatnya, dia segera melayangkan tangan.
Ciu-si Lojin dan Kiang Hong-sim segera meniup peluit.
Bu-wie Taysu segera mengeluarkan 'Say-cu-houw'.
Auman ini sungguh membuat langit dan bumi bergoyang.
Tubuh Hen-lo-sat bergetar terpaku.Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 116 Thian, Te, Jin-kun, 5 utusan lampu, Kiang Hong-sim, dan Ciu-ci Lojin merasa lebih-lebih bergetar.
Wan Fei-yang pun tidak terkecuali, mengambil kesempatan dia segera lari.
Sam-cun pertama bereaksi dan ingin mengejar.
Bu-wie Taysu bersiap meraung kembali.
Sam-cun segera mengerahkan tenaga dalam untuk menahan auman singa itu.
Mereka khawatir Wan Fei-yang mengambil kesempatan ini menyerang mereka dari belakang, tapi auman singa milik Bu-wie Taysu tidak jadi keluar.
Karena auman tadi sudah menghabiskan semua tenaga dalamnya.
Tenggorokannya pecah dan darah keluar dari sudut mulutnya.
Jin-kun segera ingat kalau Bu-wie Taysu harus 3 kali mengeluarkan Say-cu-houw baru bisa menggetarkan Bwe, Lan, Ju, Tiok sampai mati.
Dengan Hen-lo-sat dan Sam-cun, Bu-wie Taysu pasti sudah mengeluarkan semua tenaga dalamnya.
Tidak perlu dia memerintah, Hen-lo-sat sudah tiba.
3 kali menghantam Bu-wie Taysu langsung roboh.
Tapi Wan Fei-yang sudah pergi entah ke mana.
Thian-te-siang-kun ingin mengejar tapi Jin-kun melarang mereka.
"Jangan dikejar lagi! Dengan kemampuan ilmu silatnya walaupun bisa terkejar bila tidak berhati-hati tidak akan ada kebaikannya!"
Kata Thian-kun.
"Kalau begitu, suruh Hen-lo-sat mengejarnya!"
Jin-kun menggelengkan kepala.
"Hen-lo-sat memang sangat lihai tapi dia tidak bisa lepas dari suara peluit dan jarak. Jika hilang kendali, dia akan sembnrangan membunuh paling takut dia akan pergi lalu tidak kembali!"
Te-kun mengangguk.
"Kalau begitu, jangan dicoba lagi. Kalau Hen-lo-sat menghilang ingin melatih orang baru bukan hal mudah!"
Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 117
"Itu tidak mungkin sama sekali, karena obat yang ditinggalkan Ling-ong tidak banyak!"
"Kalau begitu, kita harus menggunakannya dengan baik-baik!"
Jin-kun mengawasi sekeliling.
"Hari ini memang banyak yang lolos kita juga mendapat hasilnya. Setelah melalui pertarungan ini, orang dunia persilatan tidak akan meremehkan Pek-lian-kau lagi. Kun-lun, Hoa-san, dan Bu-tong-pai tidak perlu ditakuti. Siauw-lim sudah kehilangan Bu-wie kita tidak perlu takut kepada Siauw-lim lagi!"
"Bukankah hari-hari di mana kita akan mengu asai dunia persilatan sudah ada di tangan?"
Thian-kun tertawa. Jin-kun melihat Thian-kun kemudian melihat Te-kunn.
"Menurutmu, apakah kita akan segera melakukan ini?"
Te-kun berkata dengan senang.
"Bisa segera pergi, itu lebih baik..."
Jin-kun menggelengkan kepala dan menarik nafas. Thian-te-siang-kun saling lihat. Thian-kun segera bertanya.
"Apakah ada yang salah?"
Te-kun juga bertanya.
"Apakah dengan kekuatan kita sekarang ini tidak cukup menyelesaikan masalah sulit ini?"
Jin-kun menggelengkan kepala.
"Kalian benar-benar tidak punya cita-cita tinggi, untuk apa hanya menguasai dunia persilatan saja?"
"Bukankah ini memang tujuan Pek-lian-kau dari dulu?"
Thian-te-siang-kun menatap Jin-kun.
"Itu tujuan Pek-lian-kau bukan tujuanku!"
Jin-kun balik bertanya.
"benarkah kalian tidak bisa merasakan keinginanku?"
"Di luar dunia persilatan... apakah kau ingin menguasai dunia?"
Tanya Thian-kun.Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 118 Jin-kun tertawa. Te-kun melihatnya.
"Pantas kau bersandar pada Ling-ong tapi pemberontakan Ling-ong ternyata gagal!"
"Hal ini memang di luar dugaan tapi tidak membuatku kecewa. Jika bukan karena dia yang membantu, Hen-lo-sat tidak akan berhasil!"
Jin-kun menggelengkan kepala dan berkata lagi.
"Tapi sebenarnya dia tidak terlalu bisa bekerja sama. Jika tidak, selain Bvve, Lan, Ju, Tiok masih bisa menambali banyak pembunuh lainnya. Hari ini di Pek-hoa-couw kita bisa menjala mereka semua."
"Kalau tujuan kalian bukan dunia persilatan.."
"Kalangan dunia persilatan seperti mereka kalau tidak dibasmi akan selalu menjadi musibah!"
Jin-kun tertawa.
"apalagi ada seperti Su Yan-hong!"
"Ling-ong sudah dibunuh, kau ingin membawa mereka bersandar pada pihak mana?"
Tanya Thian-kun. Jin-kun balik bertanya.
"Selain Ling-ong, di dunia ini selain bersaing dengan Kaisar itu, memangnya siapa lagi?"
"Dulu ada Liu Kun, seharusnya saat ini tidak ada siapa pun!"
Ucap Thian-kun. Te-kun menyambung.
"Kami dua bersaudara tidak banyak tahu soal ini, menurutmu..."
"Aku pun tidak bisa melihat siapa lagi!"
Thian-te-siang-kun bicara dengan jujur.
"Benarkah kalian tidak mengerti?"
Tanya Jin-kun. Tiba-tiba Thian-te-siang-kun seperti tersadar dan berteriak.
"Apakah Kaisar sekarang ini?"
Jin-kun tertawa. Setelah selesai tertawa, Tekun baru dengan penuh curiga bertanya.Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 119
"Itu bukan hal mudah!"
"Aku sudah menempatkan semuanya. Setelah rapat Pek-hoa-couw ini selesai segera bawa Cu Kun-cau ke ibukota!"
"Cu Kun-cau?"
"Orang itu adalah putra Ling-ong. Dia rela menjadi boneka kita asalkan bisa hidup enak!"
Jin-kun tertawa.
"dia yang mengantarkan dirinya sendiri kepadaku jadi aku bisa berinspirasi seperti sekarang ini!"
"Tapi aku lihat orang itu tidak berguna dan tidak berarti!"
"Ditambah satu orang lagi lumayan!"
"Ditambah dengan siapa?"
Tanya Thian-te-siang-kun.
"Thian-ho Sangjin..."
Pelan-pelan tapi kuat Jin-kun menjawab.
"Apakah dia orang aneh berilmu dari perkum pulan rahasia?"
Thian-te-siang-kun berteriak. Terhadap Thian-ho Sangjin mereka tidak asing. Jin-kun mengangguk sambil tertawa.
"Sekarang dia sangat dipercaya oleh Kaisar dan diangkat menjadi Koksu. Dia yang menjadi jembatan dan jika ingin kontak dengan Kaisar bukan hal yang sulit!"
Thian-te-siang-kun sangat setuju. Jin-kun berkata lagi.
"Asalkan kita bisa kontak dengan Kaisar, hal lainnya akan menjadi sangat sederhana!"
"Kapan kita akan berangkat?"
"Pastinya sekarang. Kalian mengira keluarga Lamkiorig masih berguna bagi kita?"
Jin-kun tertawa terbahak-bahak.
Thian-te-siang-kun juga tertawa.
Sampai saat ini mereka mengagumi Jin-kun.
Jangankan cara berpikir, dari sudut mana pun terlihat Jin-kun berada di atas mereka.
Mereka tidak akan ragu bila kaisar jatuh di tangan mereka dan akan mendengar perintah darinya.
Jika dunia bisa digenggam oleh mereka, bukankah itu adalah hal yang membanggakan?
Mereka tertawa dengan senang.Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 120 Kiang Hong-sim juga tertawa.
Sebenarnya dia adalah utusan lampu merah dari Pek-lian-kau.
Pastinya dia sudah tidak peduli pada posisi utusan.
Mengikuti Jin-kun sejak lama membuatnya menjadi serakah.
Cu Kun-cau diatur oleh Jin-kun untuk menggantikan kedudukan Kaisar.
Walaupun dia boneka tapi jika bisa menjadi raja boneka itu merupakan hal yang bisa dibanggakan.
Jin-kun sepertinya sudah melihat itu, tiba-tiba dia bertanya.
"Apakah kau masih tertarik menjadi utusan lampu merah?"
Kiang Hong-sim tertawa.
"Utusan lampu merah sudah lama diberikan pada orang lain, untuk apa membuat orang itu sulit?"
"Akhirnya kau pun bisa memikirkan orang lain!"
Jin-kun tertawa.
"Tenanglah, aku tidak akan merebut Cu Kun-cau darimu!"
Kiang Hong-sim hanya bisa tertawa.
Pandangan Jin-kun tajam dan teliti.
Di sisi Jin-kun dia tidak mempunyai niat serakah.
Tapi Jin-kun memang berhati serakah, apalagi ada Thian-ho Sangjin yang menjadi orang dalam.
Ingin menjalankan rencana itu tidak terlalu sulit.
Apalagi sampai saat ini dari Su Yan-hong tidak ada kabar.
200-200-200.
Saat ini Su Yan-hong masih mengira ini hanyalah musibah dunia persilatan.
Setelah meninggalkan Pek-hoa-couw dan mundur beberapa li, Su Yan-hong dan yang lain baru berhenti.
Mereka tiba di sebuah kuil kuno yang sudah tidak digunakan lagi.
Sepanjang jalan mereka meninggalkan tanda tapi setelah menunggu, Wan Fei-yang belum datang juga.
Mereka mulai merasa khawatir.
Pertama Siau Cu yang tidak sabar ingin kembali melihat keadaan.
Su Yan-hong tidak melarangnya.Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 121 Baru saja Siau Cu bersiap akan pergi, Wan Fei-yang sudah tiba di sana.
Melihat yang datang hanya Wan Fei-yang dan terlihat sedih.
Semua orang tahu telah terjadi sesuatu pada Bu-wie Taysu dan Wan-tianglo.
"Wan-toako,..."
Siau Cu dan Fu Hiong-kun datang menyambutnya.
"bagaimana dengan Wan-tianglo?"
"Kalian sangat mengenal sifatnya!"
Wan Fei-yang menarik nafas.
"bertemu lawan yang belum jelas siapa yang menang atau kalah mana mungkin dia mau berhenti!"
Siau Cu mengomel.
"Orang itu selalu begitu, sekarang keinginannya bisa terlaksana!"
"Dia memang sambil tertawa roboh dan mati. Kalau bukan karena dia, bagaimana mungkin kita bisa menahan serangan Hen-lo-sat?"
"Ini hal yang baik, kita tidak perlu melayaninya lagi dan tidak perlu ke Sian-tho-kok!"
Walaupun mengomel tapi air mata Siau Cu terus mengalir.
"Kamilah yang memancingnya ke Pek-hoa-couw!"
Fu Hiong-kun menangis.
"Bagaimana dengan Bu-wie Taysu?"
Tanya Su Yan-hong.
"Satu kali sekuat tenaga dia mengeluarkan Say-cu-houw nya membantuku kabur!"
Wan Fei-yang duduk dengan sedih.
"Apakah Hen-lo-sat sanggup menahannya?"
Su Yan-hong tidak lupa kekuatan auman singa.
"Sebenarnya kau bisa mengambil kesempatan menyingkirkan dia!"
Wan Fei-yang menggelengkan kepala.
"Hen-lo-sat hanya terganggu sebentar. Aku melihat reaksinya. Dia kembali pulih. Thian-te-siang-kun pun seperti itu. Kulihat Bu-wie Taysu tahu hal ini jadi menyuruhku mengambil kesempatan meninggalkan tempat."
Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 122 Su Yan-hong menarik nafas. Fu Hiong-kun segera bertanya.
"Mengapa mereka tidak mengejar hingga ke sini?"
Wan Fei-yang tampak berpikir sebentar.
"Kurasa masalah yang terpenting adalah jarak nya terlalu jauh untuk menguasai Hen-lo-sat!"
Fu Hiong-kun mengangguk.
"Memang dia harus memakai peluit untuk menguasai jalan pikirannya dan menggunakan obat pun ada batas waktunya!"
"Aku rasa mereka pasti mempunyai rencana penting yang akan mereka lakukan!"
Kata Wan Fei-yang.
"Hasil pertarungan seperti sekarang ini seharusnya membuat mereka merasa puas!"
Kata Fu Hiong-kun.
"Kalau mereka mengejar, kita harus melawan mereka habis-habisan!"
Ucap Siau Cu.
"Itu sudah pasti!"
Balas Wan Fei-yang.
"Menurutmu ilmu silat Hen-lo-sat sudah men capai tahap mana?"
Tanya Fu Hiong-kun.
"Seharusnya dengan kekuatan Bu-wie Taysu dan aku, bisa mengalahkan dia!"
Kata Wan Fei-yang.
"Aku dan Siau Sam Kongcu bisa menghadang Thian-te-siang-kun, sedangkan yang lainnya meng hadapi Jin-kun dan 5 utusan lampu!"
"Semua orang bekerja sama tapi begitu Wan-tianglo turun, aku, dan Bu-wie Taysu sama sekali tidak memiliki kesempatan bekerja sama!"
Kata Wan Fei-yang. Fu Hiong-kun mengeluh.
"Seperti itulah sifatnya. Dia menganggap Hen-lo-sat miliknya jadi orang lain tidak boleh ikut campur dan Bu-wie Taysu terlalu baik hati. Dia pengikut agama Budha, tidak mau orang lain yang berada dalam bahaya dan dibunuh. Akhirnya memberi kesempatan pada Hen-lo-sat membunuh satu per satu!"
Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 123
"Apakah selain Hen-lo-sat masih ada pembunuh seperti itu? Kita harus memikirkannya dulu!"
Su Yan-hong tertawa kecut.
"Jin-kun adalah orang yang berpikir panjang, dia tidak akan menonjolkan semua kekuatannya. Kecuali kalau dia mempunyai kesempatan menjala kita semua!"
Wan Fei-yang mengangguk.
"Caranya memang seperti itu!"
"Apa yang harus kita lakukan sekarang?"
Tanya Siau Sam Kongcu. Tanpa berpikir Su Yan-hong segera menjawab.
"Menurutku, lebih baik kita ke ibukota untuk bersembunyi, dan melihat perubahan yang terjadi sambil memberitahu semua perkumpulan agar berhati-hati dan waspada!"
Wan Fei-yang mengeluh.
"Bu-tong, Kun-lun, Heng-san, dan keluarga Lamkiong terluka dan yang meninggal sangat banyak..."
"Di Hoa-san-pai sudah tidak ada orang lagi!"
Kata Siau Sam Kongcu.
"Pondasi Siauw-lim lebih kuat dan murid-muridnya lebih banyak. Jika Pek-lian-kau ingin memusnahkan Siauw-iim-pai, dia akan ke Siong-san Siauw-Iim-si!"
Su Yan-hong mengerutkan kedua alisnya.
"Kalau begitu di mana dia berada?"
"Sebenarnya dengan kekuatan mereka sekarang ini, cukup untuk menguasai dunia persilatan!"
Wan Fei-yang menatap Su Yan-hong.
"karena itu memberitahu semua perkumpulan sudah tidak diperlukan lagi. Tujuan mereka adalah menguasai dunia persilatan, dalam waktu 1-2 hari ini pasti ada kabar dari mereka!"
Dia berkata lagi,"semua orang masuk ibukota untuk bersembunyi itu adalah ide yang bagus!"
Wajah Su Yan-hong tampak berubah.Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 124
"Kau khawatir mereka akan pergi ke kerajaan membuat masalah?"
"Sebenarnya kau pun mengkhawatirkan itu bukan!"
Kata Wan Fei-yang. Su Yan-hong tertawa kecut.
"Ada sedikit perasaan khawatir, tidak sengaja mengeluarkan berpendapat ingin semua orang masuk ibukota!"
"Sebenarnya Thian-te-siang-kun bersekongkol dengan Liu Kun. Jin-kun bersandar pada Ling-ong. Kalau kita menyebut tujuan mereka hanya dunia persilatan benar-benar membuat orang sulit percaya!"
Pendapat Wan Fei-yang.
"di kerajaan masih ada siapa yang mau bersekongkol dengan mereka?"
Su Yan-hong tampak berpikir sebentar dan menggelengkan kepala.
"Aku rasa tidak ada!"
"Apapun yang terjadi, semua orang harus ikut Hou-ya masuk ke ibukota!"
Wan Fei-yang melihat Bwe Au-siang, Beng-cu, dan Siau Cu. Beng-cu dan Siau Cu belum membuka mulut. Tiong Bok-lan sudah berkata.
"Demi mempertahankan keturunan keluarga Lamkiong, kami pasti akan berjuang mati-matian!"
Beng-cu mengangguk. Kata Siau Cu.
"Wan-toako tidak perlu merasa khawatir!"
Dia bicara seakan dia menantu keluarga Lamkiong.
Beng-cu mengerti maksudnya, dia tidak mengatakan apa-apa.
Bwe Au-siang melihat mereka.
Air matanya terus menetes.
Beng-cu dan Tiong Bok-lan memapah mereka, 3 orang perempuan ini menangis tersedu-sedu.
Wan Fei-yang melihat Su Yan-hong.
"Hou-ya, semua kuserahkan padamu mengurus mereka!"Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 125
"Lote mau ke mana?"
Tanya Su Yan-hong.
"Aku ingin kembali ke keluarga Lamkiong dan mencari tahu apa tujuan mereka? Jika ada kesempatan aku akan membunuh mereka!"
"Ide bagus..."
Su Yan-hong menepuk pundak Wan Fei-yang.
"harus dengan cara mereka beraksi membalas mereka. Jangan berbaik hati seperti perempuan!"
"Aku tahu harus melakukan apa!"
Tanggap Wan Fei-yang.
201-201-201 Malam hari, diam-diam Wan Fei-yang masuk ke keluarga Lamkiong.
Dia tidak bisa menyamar.
Walaupun dia bisa melakukannya dengan menyamar menjadi orang-orang utusan 5 lampu.
Jika tidak ingin masuk ke tempat rahasia keluarga Lamkiong tidak mungkin bisa melakukannya.
Dengan ilmu silat yang dia kuasai, malam-malam masuk ke keluarga Lamkiong adalah hal mudah.
Tapi begitu masuk, dia mulai merasa tidak semudah perkiraannya.
Sorot matanya sangat tajam.
Pendengarannya lebih kuat dibanding orang biasa.
Memang belum mencapai tahap bisa melihat langit dan mendengar bumi, tapi dalam jarak 10 tombak kecuali lawan mempunyai ilmu silat sekuatnya, dia bisa tahu.
Kalau tidak ketika dia sedang berkonsentrasi dan berhati-hati mencari, tetap tidak akan ada hasilnya.
Sepertinya tidak mungkin.
Sepanjang jalan masuk ke sini dia seperti masuk ke tempat yang tidak ada orangnya, membuatnya menaruh curiga.
Apakah ini merupakan suatu jebakan?
Dia berputar di daerah Ciu-ci-tong, baru pelan-pelan masuk.
Kediaman keluarga Lamkiong seperti kota setan, tidak ada lampu.
Termasuk Ciu-ci-tong.
Wan Fei-yang dengan berhati-hati masuk ke sana.
Setelah yakin di dalam tidak ada seorang pun, dia baru pelan-pelan masuk ke tempat rahasia.
Baginya itu bukan hal sulit.Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 126 Di dalam Siau-hun-lo (penjara) tidak ada lampu yang bersinar, tapi menurut perasaan Wan Fei-yang ada seseorang di sana.
Dia tidak bergerak dengan berkonsentrasi melihat apakah ada orang di sana atau tidak.
Dia merasa ada orang dan orang itu terluka sulit bergeser dari tempatnya.
Dia tetap tidak tahu orang itu ada di mana.
Terpaksa Wan Fei-yang menyalakan korek api, menyalakan lampu penjara.
Dia melihat ada beberapa peti mati kosong.
Seorang orang tua sepasang tangan nya memegang pedang.
Dia bersandar di sisi peti mati dan terduduk di bawah.
Tubuhnya terus gemetar.
Yang Wan Fei-yang lihat hanya orang ini.
Pedang ditusuk dari dada depan dan menem bus hingga punggung dan.
Darah yang mengalir sudah membeku, tapi sangat aneh dan suatu mujizat dia masih hidup.
Wan Fei-yang mendekatinya.
Orang itu masih memiliki perasaan.
Tiba-tiba dia membuka matanya dan melihat Wan Fei-yang.
"Siapa Tuan?"
Wan Fei-yang bertanya.
"Sai-gwa-sam-sian..."
"Kau adalah It-sian"
Dari Su Yan-hong, Wan Fei-yang tahu kalau Yauw-sian dan Tok-sian sudah meninggal.
"Baik, kau sudah tahu aku It-sian. Dari sini bisa tahu kalau kau orang baik. Akhirnya aku berhasil menunggu!"
It-sian tersenyum.
Wan Fei-yang melihat pegangan pedang.
Dia ingin mencabut pedang itu tapi setelah dipikir-pikir akhirnya dia tidak melakukannya.
It-sian melihat gerak geriknya.
Wajahnya terlihat tegang lalu melihat Wan Fei-yang tidak mencabut pedangnya.
Dia bernafas lega.
Dengan terengah-engah berkata.
"Baik sekali kau tidak mencabut pedang. Kalau tidak, aku akan mati seketika!"
Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 127
"Aku bisa melihatnya!"
Tanggap Wan Fei-yang.
"Dalam situasi seperti ini kau masih bisa terlihat tenang, benar-benar sulit dipercaya!"
Kata It-sian.
"apakah kau berniat mencari Jin-kun dan yang lain?"
"Apakah mereka sudah melarikan diri dari sini?"
"Orang yang berguna bagi mereka sudah di bawa kabur oleh mereka. Orang yang tidak ada gunanya seperti aku, sulit menghindari kematian!"
It-sian terus batuk.
"Aku akan membantumu dengan tenaga dalamku!"
Tawar Wan Fei-yang.
"Tidak perlu, aku sudah minum 3 kali su-beng-kin-tan, itu sudah cukup!"
It-sian menggelengkan kepala.
"Su-beng-kin-tan?"
"Jin-kun menculikku dan di bawa kemari karena ingin aku membuatkan obat sejenis itu. Aku tahu dengan obat ini mereka berniat melatih sekelompok pembunuh, tapi nadi 3 Sim ditotok mereka, aku hidup tidak bisa mati pun tidak bisa. Terpaksa aku membuatkan obat untuk mereka."
"Apa gunanya obat itu?"
"Jin-kun menemukan sejenis obat di mana dia bisa menguasai akal sehat manusia dan bisa membuat kekuatan orang tersebut yang belum keluar bisa keluar. Obat ini terlalu hebat, bila tenaga sudah keluar tidak bisa dihentikan. Orang itu akan kelelahan dan bisa mati!"
Wan Fei-yang segera teringat.
"Hen-lo-sat..."
"Karena memakan obat itu Hen-lo-sat berubah lihai tapi kalau tidak dibantu Su-beng-kin-tan tidak hanya tenaga yang tersimpan tidak bisa keluar, dia akan..."
"Karena ingin mendapatkan Su-beng-kin-tan jadi Jin-kun menculikmu dibawa kemari. Hen-lo-sat sekarang begitu lihai, pasti berhasil dan sukses!"
Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 128 It-sian menggelengkan kepala.
"Memang Jin-kun sangat hafal dengan obat-obatan, tapi dia belum mencapai tahap seperti diriku. Dia sangat pintar, tidak perlu waktu 3 bulan dia sudah bisa menyatukan Su-beng-kin-tan dengan obat nya. Saat itu Hen-lo-sat akan lebih lihai lagi!"
"Apakah sekarang belum mencapai puncak kelihaiannya?"
"Belum..."
It-sian menarik nafas.
"bila sudah tiba saat itu, tidak ada seorang pun yang bisa menghentikannya. Waktu itu dunia persilatan entah akan menjadi apa!"
"Sekarang ingin menghentikan dia, sudah tidak mudah!"
"Tidak seperti itu juga..."
Suara It-sian semakin melemah.
"Apakah Lo-cianpwee ada caranya?"
Wan Fei-yang bertanya dengan cemas.
"Obat dari Jin-kun adalah milik Pek-lian-kau..."
Suara It-sian bertambah lemah.
"Cara mengatasinya?"
Dengan tenaga dalamnya Wan Fei-yang memasukkannya ke pernafasan It-sian.
"Orang yang menurunkan lonceng harus orang yang mengikatnya..."
Nafas It-sian sudah berhenti karena khasiat obat sudah habis.
Sekali lagi Wan Fei-yang memasukkan tenaga dalam ke pernafasan tapi sudah tidak ada reaksi apa-apa.
Dia mencoba nadi It-sian dan menarik nafas panjang.
"Orang yang menurunkan lonceng harus orang yang mengikal lonceng!"
Tapi Wan Fei-yang benar-benar tidak mengerti.
Dia hanya ingat saat di Siauw-lim-si untuk beristirahat menyembuhkan lukanya, dia pernah mendengar ucapan Bu-wie Taysu bahwa kakek guru murid Pek-lian-kau adalah Pheng-hweesio.
Pheng-hweesio lahir di Siauw-lim.
Jika obat Jin-kun didapatkan dari Pek-lian-kau, apakah ada hubungannya dengan Siauw-lim-pai?
Ingin mengetahui Pheng-hweesio terpaksa harus pergi ke Siauw-lim-si.Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 129 Wan Fei-yang bersiap pergi ke Siauw-lim-si.
Tapi setelah meninggalkan Siau-hun-lo dan melihat sekeliling, dia berubah pikiran.
Di keluarga Lamkiong tidak ada seorang pun yang hidup.
Wan Fei-yang melihat semua hanya ada mayat.
Tidak diragukan lagi mereka adalah orang-orang keluarga Lamkiong.
Setelah Jin-kun meninggalkan tempat ini, dia ingin membasmi sampai ke akar-akarnya, satu pun tidak ada yang tersisa.
Murid-murid Pek-lian-kau pergi begitu cepat tidak ada yang tersisa di sana.
Pastinya sudah ada rencana tersendiri.
Apakah mereka akan pergi ke ibukota?
Karena menaruh curiga seperti itu, Wan Fei-yang pun jadi ingin pergi ke ibukota dan berkumpul dengan Su Yan-hong, lalu membuat rencana baru.
202-202-202 Saat Su Yan-hong dan yang lainnya tiba di ibukota, bisa dikatakan berlangsung cepat, tapi tetap lebih lambat dari Jin-kun.
Saat mereka mendekati ibukota, Jin-kun bisa kontak dengan Thian-ho Sangjin dan menyusun rencana serta menjalankan langkah pertama.
Pertama dengan ilmu sesat mereka membuat Kaisar bingung dan menurunkan perintah menggeledah rumah Su Yan-hong.
Kesalahan Su Yan-hong adalah bersekongkol dengan Ling-ong menyusun rencana memberontak.
Membuat seorang Kaisar menjadi sesat pasti akan menimbulkan kecurigaan orang-orang.
Demi menghindari kecurigaan orang-orang, mereka melakukannya dengan tidak menyolok tapi Kaisar memang bermaksud menyingkirkan Su Yan-hong jadi dia pun terpikir cara ini.
Tidak perlu Thian-ho Sangjin banyak bercerita, Kaisar segera menurunkan perintah untuk menggeledah rumah Su Yan-hong.
Sebenarnya setelah Liu Kun dibunuh, kekuatan Ling-ong sudah hancur.
Bagi Kaisar Su Yan-hong sudah tidak ada harganya lagi.Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 130 Untung begitu Kao Sen dan Kang Pin mendapat kabar, diam-diam segera memberitahu keluarga Su Yan-hong agar keluar dari sana dan juga membawa Ih-lan pergi.
Kabar didapat dari Han Tau.
Han Tau sudah dibeli oleh Thian-ho Sangjin dan rela diperalat.
Untung Kao Sen dan Kang Pin cekatan dan tidak terlihat celah oleh Han Tau.
Su Yan-hong terkejut.
Tapi begitu tahu putrinya tidak apa-apa, baru menarik nafas lega.
Pek-lian-kau akan memperalat kerajaan, itu sudah berada dalam perkiraannya, tapi Jin-kun bersekongkol dengan Thian-ho Sangjin, itu di luar dugaannya.
Semua sudah terjadi seperti ini, Su Yan-hong tidak mempunyai akal lagi, terpaksa menyerahkan Ih-lan kepada Su Ceng-cau yang memang bertugas mengurusnya.
Kemudian bersama dengan yang lain tinggal di sebuah rumah.
Rumah itu adalah rumah Su Yan-hong, jarang dipakai tapi selalu diurus dan dirawat oleh 2 orang pembantu tua dan setia.
Su Yan-hong dan Siau Cu malam-malam masuk ke istana.
Karena telah hafal dengan lingkungan kerajaan dengan mudah mereka bisa menemukan tempat tinggal Kaisar.
Mereka melihat Kaisar seperti tidak sadar, hanya tahu makan obat .dan main perempuan.
Melihat sorot matanya, mirip dengan Hen-lo-sat, mereka tahu Kaisar sudah terkena ilmu sesat Jin-kun dan ilmu ini mereka tidak sanggup mencairkannya.
Maka mereka mundur diam-diam.
Saat mereka masuk, tidak diketahui oleh siapa pun tapi saat mundur ketahuan oleh Thian-ho Sangjin.
Dia membawa sekelompok Lhama mengejar mereka.
Mereka berdua bertarung sambil mundur, ber sembunyi ke sana-kemari tapi tetap saja tidak bisa terlepas dari kejaran hweesio-hweesio Tibet itu.
Thian-ho Sangjin mendapat kabar dan dia segera berlari ke tempat itu.
Memang dengan tenaga mereka berdua, mereka tidak takut tapi ingin lari dari sana rasanya tidak mungkinLegenda Pendekar Ulat Sutra -4 131 lagi.
Apalagi bila Sam-cun dan murid-murid Pek-lian-kau mendapatkan kabar ini, mereka pasti akan segera datang.
Akibatnya sulit dipikirkan lagi.
Siau Cu melihat situasi sudah tidak benar lagi, dia sudah siap mati agar Su Yan-hong mempunyai kesempatan keluar dari sana dengan jalan melewati dinding dan kabur dari sana.
Waktu itu Wan Fei-yang tiba-tiba muncul di sana.
Dia melewati dinding.
Thian-can-kang mulai dikeluarkan, seperti ada benang tidak terlihat keluar dari tubuhnya, membuatnya dan dinding menyambung menjadi satu.
Dia berjalan seperti di dataran rendah.
Turun dari dinding tinggi, seperti berjalan turun.
Kedua tangannya segera memegang Siau Cu dan Su Yan-hong kemudian meloncat ke atas dinding.
Hweesio-hweesio Tibet itu terpaku.
Karena dengan ilmu silat yang mereka miliki tidak ada satu pun yang bisa naik ke dinding yang begitu tinggi.
Terkecuali Thian-ho Sangjin, sewaktu dia naik ke atas dinding, Wan Fei-yang sudah menaruh Su Yan-hong dan Siau Cu, lalu mengeluarkan kedua telapaknya dan menyerang.
Dia ingin membunuh Thian-ho Sangjin tapi ilmu Tai-jiu-im sudah dikeluarkan.
Dia menyambut sepasang telapak tangan Wan Fei-yang.
Tadinya Wan Fei-yang ingin dengan Thian-can-kang melilit sepasang telapaknya kemudian dengan semua tenaga dalamnya dia ingin menggetarkan organ dalamnya.
Tapi baru saja kedua telapaknya akan menyambut, malah bersalto keluar dari sana.
Thian-ho Sangjin sangat berpengalaman.
Begitu terkena serangan, tahu kalau dia bukan lawan Wan Fei-yang karena itu dia segera mengambil keputusan menghindar.
Walaupun begitu, dia tetap tergetar sampai organ dalamnya seperti meloncat.
Dia terhuyung-huyung mundur 3 langkah baru bisa berdiri tenang.
Su Yan-hong melihat dengan jelas dari sisi.
Dia menarik nafas.Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 132
"Sayang..."
Dia menyayangkan tidak ada kesempatan membunuh Thian-ho Sangjin.
Maka segera pergi bersama dengan Wan Fei-yang dan Siau Cu.
203-203-203 Yang pasti Sam-cun dengan cepat mendapat kabar.
Thian-te-siang-kun ingin segera ke sana, tapi dicegat oleh Jin-kun.
Alasan Jin-kun sangat sederhana.
Jika Thian-ho Sangjin bisa menangkap mereka, tidak perlu mereka yang ke sana.
Jika tidak bisa menangkap, walaupun ke sana lawan pasti sudah pergi saat ini.
Hal yang sebenarnya terjadi memang seperti itu.
Thian-ho Sangjin sudah kembali Thian-te-siang-kun semakin kagum kepada Jin-kun mereka rela men-dengar perintah dari Jin-kun.
' Mengetahui Wan Fei-yang sudah datang, Jin-kun sama sekali tidak terlihat takut.
Dia hanya tertawa.
"Orang itu sangat terkenal, benar-benar bukan orang biasa!"
Thian-ho Sangjin biasanya jarang memuji. Jin-kun menjawab dengan santai.
"Thian-can-kang adalah ilmu silat nomor satu di dunia ini. Kalau satu lawan satu, kita bukan lawannya!"
"Apakah Hen-lo-sat juga seperti itu?"
Tanya Thian-ho Sangjin penuh dengan kekhawatiran. Jin-kun tertawa.
"Kalau Wan Fei-yang benar-benar berperang, Hen-lo-sat tidak sanggup melawannya. Bila khasiat obatnyanya habis, dia menjadi orang tidak berguna, seperti orang cacat. Kita harus mengatur Hen-lo-sat dengan baik. Pada akhirnya nanti Wan Fei-yang yang akan mati olehnya!"
Thian-ho Sangjin menggelengkan kepala.
"Aku tidak mengerti!"
"Karena kau tidak mengetahui keadaan Hen-lo-sat, keadaan dunia persilatan pun kau tidak tahu banyak!"
Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 133
"Apakah bisa menjelaskannya dengan lebih detil?"
Tanya Thian-ho Sangjin.
"Apakah kau tahu siapa sebenarnya Hen-Io-sat?"
"Tidak tahu! Apakah ada hubungannya dengan Wan Fei-yang?"
"Hubungan mereka sangat erat. Nama Hen-lo-sat aslinya adalah Tokko Hong. Dia adalah putri Tokko Bu-ti,"
Jelas Jin-kun.
"Aku tahu siapa Tokko Bu-ti, dia dari perkum pulan Bu-ti-bun!"
"Ilmu silat yan Tokko Bu-ti latih bernama Pit-coat-mo-kang (ilmu sesat). Dia berlatih ilmu Pit-coat-mo-kang, dia adalah Ciat-ci-coat-sun (tidak punya keturunan) jadi Tokko Hong sebenarnya adalah anak haram dari istri Tokko Bu-ti. Sen Man-cing yang berselingkuh dengan ketua Bu-tong-pai yang bernama Ceng-siong Tojin!"
"Wan Fei-yang adalah orang Bu-tong-pai..."
"Dia juga anak haram dari Ceng-siong."
"Berarti Tokko Hong dan Wan Fei-yang adalah saudara kandung?"
"Benar, tapi Wan Fei-yang mengira kalau Tokko Hong sudah meninggal. Dia tidak tahu Tokko Hong jatuh ke dalam jurang tapi tidak mati karena diselamatkan olehku!"
Jelas Jin-kun. D.ia tertawa lagi dan bertanya.
"Bila tiba-tiba Tokko Hong muncul di depannya, apa reaksi Wan Fei-yang?"
Thian-ho Sangjin mengangguk.
"Pasti tidak menyangka, semua ini di luar dugaannya. Karena Tokko Hong masih kau kuasai. Bila dia tiba-tiba muncul, Wan Fei-yang tidak akan bisa menghindar lagi!"
"Betul! Sebenarnya kali ini Wan Fei-yang datang hanya mencari kematiannya sendiri!"
Ucap Jin-kun.
Saat Thian-ho Sangjin melihat sorot matanya, dia gemetar hatinya merasa dingin.
Thian-te-siang-kun juga seperti itu.
MerekaLegenda Pendekar Ulat Sutra -4 134 selalu merasa diri mereka sendiri galak dan kejam tapi bila dibandingkan dengan Jin-kun, mereka merasa masih di bawah Jin-kun.
Jin-kun menatap mereka.
Dia tertawa lepas.
*** Mimpi sekalipun Wan Fei-yang tidak mengira kalau Hen-lo-sat adalah Tokko Hong.
Dia juga tidak membayangkan Jin-kun akan menggunakan cara yang begitu keji dan licik.
Berturut-turut dua kali bertarung dengan Hen-lo-sat, Wan Fei-yang selalu punya perasaan aneh tapi dengan cepat perasaan ini hilang.
Kesadisan Hen-lo-sat membuat Wan Fei-yang merasa dia adalah lawan paling menakutkan seumur hidupnya.
Tapi dia belum pernah berpikir siapa Hen-lo-sat itu.
Su Yan-hong dan lain-lain juga seperti itu.
Dalam bayangan mereka, Hen-lo-sat adalah seorang pembunuh yang Jin-kun latih dengan obat-obatan.
Yang pasti Hen-lo-sat adalah orang yang sangat kejam dari dunia gelap.
Bahkan Fu Hiong-kun juga tidak merasakan keberadaan Tokko Hong di dunia ini, apalagi orang lain.
Dari Wan Fei-yang mengetahui keadaan It-sian, Su Yan-hong baru ingat dulu dia dan Tiong Toa-sianseng pernah berkumpul di tempat Sam-sian dan menemukan beberapa jejak-jejak tertinggal yang menunjukkan bahwa dalam waktu yang singkat ini Jin-kun sangat mungkin bisa mencampurkan dua jenis obat menjadi satu.
Maka pada waktu itu Hen-lo-sat akan menjadi lebih kuat dan lebih lihai dari seka rang.
Hal ini membuat semua orang terkejut dan bergetar.
Setelah berunding, Wan Fei-yang mengambil keputusan untuk tetap tinggal di sini membantu Su Yan-hong, biar Siau Cu yang pergi ke Siauw-Iim-si untuk mencari tahu rahasia orang yangLegenda Pendekar Ulat Sutra -4 135 menurunkan lonceng,.yaitu dengan mencari orang yang mengikat lonceng seperti yang dikatakan It-sian.
Siau Cu dalam situasi yang sangat berbahaya ini mendapat tugas, apalagi Bi-giok-leng berada di tangannya.
Tidak diragukan lagi sekarang dia sebenarnya adalah ketua Pek-lian-kau.
Tugas ini benar-benar sangat pantas diberikan padanya.
Setelah Siau Cu pergi, Wan Fei-yang dan lain-lain tidak punya pekerjaan lain.
Melihat Lu Tan yang seperti orang bodoh, mereka benar-benar terkejut.
Dengan ilmu 'Bi-hun-tay-hoat' (Menyesatkan roh) semua orang berharap bisa mendapat mengembalikan Lu Tan kembali ke normal.
Kalau cara ini berguna untuk Lu Tan, pasti ada cara juga untuk kaisar.
Bila kaisar kembali normal, setidaknya bisa mengusir Pek-lian-kau dari ibukota.
Jika bisa membuat Hen-lo-sat sadar, itu lebih bagus lagi.
Walaupun tidak bisa memusnahkan semua ilmu silat Hen-lo-sat, sedikit juga lumayan.
Dengan demikian dia akan lebih mudah dihadapi.
Pertama-tama, Fu Hiong-kun menggunakan cara tusuk jarum.
Dia menguasai ilmu tusuk jarum dengan baik, maka tidak akan sembarangan menusuk nadi Lu Tan.
Dia pasti akan mencari nadi dengan tepat.
Tapi Lu Tan sama sekali tidak ada reaksi apapun.
Puluhan cara sudah digunakan, tapi tetap tidak berkhasiat.
Fu Hiong-kun terpaksa harus menga ku gagal.
Ada satu cara lagi, yaitu dengan mengerahkan semua tenaga dalam untuk melancarkan jalan darah Lu Tan dan kemudian memaksa obat keluar dari tubuhnya.
Dari semua orang ini, yang mempunyai tenaga dalam paling kuat adalah Wan Fei-yang.
Wan Fei-yang bermaksud melakukannya tapi begitu tenaga dalam dimasukkan Lu Tan langsung bereaksi.
Dia seperti orang gila, tubuhnya tiba-tiba meloncat ke atas, dia menabrak dan memecahkan atap rumah lalu lari keluar.
Tidak ada orang yang sempat menghadangnya.
Mereka berusaha mengejar tapi Lu Tan sudah menghilang di dalam kegelapan, makaLegenda Pendekar Ulat Sutra -4 136 semua orang berpencar untuk mencarinya.
Mereka berjanji untuk berkumpul kembali di sini besok pagi.
Ketika mereka meninggalkan tempat, Thian-ho Sangjin mengirim orang untuk menggeladah kediaman keluarga Su.
Karena belum tahu di mana Su Yan-hong berada dan takut mereka kabur, maka Thian-ho Sangjin hanya membawa beberapa pesilat tangguh, satu baris pasukan bersenjata dan Hen-lo-sat.
Setelah masuk ke dalam kebun, mereka tidak menemukan seorangpun di sana, tapi ada jejak yang menunjukkan ada orang pernah berada di sana.
Thian-ho Sangjin mengira Su Yan-hong dan lain-lain sudah pergi maka mereka meninggalkan tempat.
Tapi baru setengah jalan, dia berubah pikiran.
Dia meninggalkan Hen-lo-sat di sana semalam.
Bila tidak ada yang bisa mereka temukan, mereka baru akan membawa Hen-lo-sat pulang.
Sebenarnya ini adalah ide Kiang Hong-sim.
Dia ingin menonjolkan diri maka tidak melepaskan sedikit kesempatan pun.
Dia dan Hen-lo-sat tinggal di sana.
Yang pasti Thian-ho Sangjin menyetujuinya.
Tadinya Kiang Hong-sim tidak terlalu berharap akan berhasil, hanya saja dia juga sedang tidak ada kerjaan, siapa tahu dia benar-benar bertemu dengan mereka.
Subuh hari, orang-orang yang pergi mencari Lu Tan mulai kembali.
Yang pertama kembali adalah Siau Sam Kongcu, Tiong Bok-lan dan Beng-cu bertiga.
Melihat Tiong Bok-lan dan Beng-cu, Kiang Hong-sim sangat marah.
Waktu di keluarga Lam-kiong dia tidak pernah akrab dengan dua orang ini.
Bila bisa membunuh dua orang ini dan Siau Sam Kongcu, dia akan bisa mendapatkan jasa besar.
Kesempatan ini, mana mungkin dia lepaskan?
Karena ilmu silat Beng-cu dan Tiong Bok-lan agak rendah maka mereka tidak merasakan apa-apa.
Tapi begitu Siau Sam Kongcu mendekati Hen-lo-sat, dia mulai merasakan aura pembunuh, maka dia segera mencegat merekaLegenda Pendekar Ulat Sutra -4 137 berdua.
"Ada apa?"
Tiong Bok-lan bertanya, tapi dia siap menggunakan kecapi besi. Beng-cu melihat, dia segera mencabut pedang. Tapi pada waktu yang bersamaan Siau Sam Kongcu sudah membentak.
"Cepat pergi dari sini..."
Karena dia sudah merasakan datangnya aura membunuh yang begitu tinggi.
Belum selesai Siau Sam Kongcu berucap, dari balik sekat rumah Hen-lo-sat sudah muncul seperti angin ribut.
Siau Sam Kongcu sudah mencabut Toan-cang-kiam, dia menghadang di depan Tiong Bok-lan dan Beng-cu.
Begitu jurus keluar segera Toan-cang-kiam muncul.
Dia tidak berharap bisa membunuh Hen-lo-sat, hanya berharap bisa menghadangnya agar Tiong Bok-lan dan Beng-cu punya kesempatan kabur.
"Cepat pergi..."
Dia membentak lagi. Tiong Bok-lan membentak kepada Beng-cu.
"Cepat kau pergi dari sini..."
Yang pasti Beng-cu tidak mau pergi. Waktu kecapi besi dikeluarkan, bersamaan pedang Beng-cu juga dicabut. Siau Sam Kongcu membentak lagi.
"Hen-Io-sat ada di sini, kita tidak akan selamat. Cepat kalian pergi berilahu Hou-ya dan lain-lain atau semua akan mati di sini, cepat pergi..."
Beng-cu mengerti maksud Tiong Bok-lan, dia cepat mundur.
Waktu mereka baru meloncat keluar melewati dinding tinggi, Siau Sam Kongcu sudah didesak Hen-Io-sat.
Toan-cang-kiam di bawah paksaan tenaga dalam Hen-lo-sat, akhirnya terlepas dari tangan Siau Sam Kongcu dan terbang ke atas.
Di tengah-tengah udara Toan-cang-kiam terputus menjadi dua bagian.
Sepasang telapak Hen-lo-sat segera datang menyerang.
Siau Sam Kongcu tidak ada jalan untuk mundur lagi.
Dia juga tidak adaLegenda Pendekar Ulat Sutra -4 138 tempat untuk menghindar.
Terpaksa menyambut serangan dengan dua telapak tangannya.
Seperti suara petir beradu tubuh Siau Sam Kongcu terpental ke dinding, membuat lubang di dinding yang berbentuk tubuh.
Dia berteriak memilukan, kemudian tubuhnya jatuh melewati lubang dinding yang berbentuk tubuh itu.
Dinding itu segera hancur dan roboh.
Hen-lo-sat melangkah melalui dinding yang roboh dan mengejar Beng-cu dan Tiong Bok-lan.
Siau Sam Kongcu jatuh terlentang, dari ke tujuh inderanya darah terus mengalir.
Sepasang mata nya membelalak.
Organ tubuhnya sudah hancur oleh tenaga dalam Hen-lo-sat, dia langsung meninggal di tempat.
Tiong Bok-lan dan Beng-cu mendengar suara teriakan Siau Sam Kongcu.
Air mata Tiong Bok-lan terus menetes.
Dia ingin mati bersama Siau Sam Kongcu, tapi demi semua orang dia tetap berlari.
Hati Beng-cu juga sedih.
Melihat Tiong Bok-lan berlari cepat, dia ikut berlari cepat juga.
Kemudian mereka merasakan aura membunuh yang datang dari belakang.
Begitu menoleh ke belakang, Hen-lo-sat sudah sangat dekat.
"Beng-cu, kau cepat lari..."
Dua tangan Tiong Bok-lan mencengkram kecapi besi. Dia menyambut Hen-lo-sat dan siap melawan dengan nyawanya.
"Bibi kelima, kita tidak bisa menghindar!"
Ini adalah perkataan jujur Beng-cu.
Siau Sam Kongcu yang sudah dengan sekuat tenaga juga tidak sanggup melawan Hen-lo-sat, apalagi Tiong Bok-lan.
Waktu mereka berbicara, Hen-lo-sat sudah mendekat, sepasang telapaknya mengeluarkan serang an untuk mencabut nyawa.
Tenaga dalam terus keluar bergulung-gulung.
Pukulan belum sampai, Tiong Bok-lan dan Beng-cu sudah merasa sesak.Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 139 Belum sempat kedua belah pihak beradu.
Wan Fei-yang sudah tiba.
Dengan sepasang, telapak, Wan Fei-yang menyambut serangan Hen-lo-sat dengan sekuat tenaga.
Saat itu Wan Fei-yang kebetulan pulang.
Dari jauh dia mendengar suara teriakan Siau Sam Kongcu dan tahu sudah terjadi sesuatu, maka dengan cepat dia datang.
Hen-lo-sat hanya tahu membunuh.
Wan Fei-yang atau siapapun akan dilawan sekuat tenaga.
Pada waktu itu Su Yan-hong seperti datang dari langit.
Dia menyerang punggung Hen-lo-sat.
Reaksi Hen-lo-sat sangat lincah.
Dengan sebelah tangan dia menyambut serangan Su Yan-hong.
Hen-lo-sat menghadapi dua pesilat tangguh seorang diri, tapi dia terlihat tenang.
Waktu itu terdengar bunyi peluit, Hen-lo-sat segera mundur dan menghilang dalam kegelapan.
Ketika Kiang Hong-sim melihat Wan Fei-yang, dia sudah terkejut.
Lalu melihat Su Yan-hong juga datang, dia bertambah takut.
Karena takut Hen-lo-sat akan membuat kesalahan maka dia segera menyuruh Hen-lo-sat kembali dan meninggalkan tempat.
Bisa membunuh seorang Siau Sam Kongcu, dia sudah merasa puas.
Melihat Hen-lo-sat pergi, Tiong Bok-lan dan Beng-cu tahu di dalam ramah sudah tidak ada orang.
Walaupun tadi mereka tinggal bersama dengan Siau Sam Kongcu untuk melawan Hen-lo-sat, tetap tidak ada gunanya.
Menghadapi ilmu silat Hen-lo-sat, Siau Sam Kongcu ditambah mereka berdua tidak akan memberi hasil yang berarti.
Su Yan-hong dan Wan Fei-yang tidak tahu mengapa Hen-lo-sat bisa tiba-tiba muncul di sini, padahal mereka sudah yakin rumah ini tidak bisa ditinggali lagi.Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 140 Fu Hiong-kun kembali.
Dia membawa Lu Tan dengan kereta kayu, menimpa barang-barang di atas tubuh Lu Tan.
Kereta ditarik oleh dua orang murid Bu-tong.
Lu Tan seperti orang bodoh.
Semua orang merasa sedih.
Jika bukan pergi mencari dia dan semua orang tinggal di dalam rumah ini, entah apa yang akan terjadi.
Mereka segera pergi sambil membawa mayat Siau Sam Kongcu ke tempat yang aman.
Di tengah jalan, karena sedang sedih, tidak ada yang memperhatikan Tiong Bok-lan dan Beng-cu yang diam-diam meninggalkan mereka.
Begitu mereka ingat dan mencari, Tiong Bok-lan dan Beng-cu sudah menghilang.
Yang mau berpisah dengan mereka sebenarnya adalah Tiong Bok-lan.
Karena ketahuan oleh Beng-cu dan dia ingin ikut, terpaksa Tiong Bok-lan membawanya.
Setelah keadaan bahaya berlalu, Tiong Bok-lan mulai terpikir ingin membalas dendam Siau Sam Kongcu.
Dia tahu bila diungkapkan, semua orang pasti akan menghadang.
Maka sepatah katapun tidak dia katakan, lalu diam-diam meninggalkan mereka.
Sebelumnya dia sudah mendapat kabar bahwa istana sedang mencari koki yang bisa memasak masakan Kang-lam.
Waktu itu dia sudah terpikir itu pasti ide Jin-kun.
Jin-kun aslinya adalah orang Kang-lam.
Dia merias wajah dengan terampil untuk menyamar menjadi Lo-taikun selama beberapa tahun, dia jarang meninggalkan Kang-lam, Biasanya dia sangat mengikuti kebiasaan orang sana, tapi terhadap masakan dia sangat cerewet, bila ada sedikit ketidakcocokan dia langsung minta diganti.
Inilah sifat Jin-kun yang paling mirip dengan Lo-taikun.
Masakan Kang-lam harus benar-benar di masak oleh orang Kang-lam baru enak.
Yang pasti harus berjodoh.Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 141 Dalam hal masak-memasak Tiong Bok-lan boleh dikatakan sangat mahir.
Waktu Jin-kun menyamar menjadi Lo-taikun, masakan selalu disiapkan Tiong Bok-lan.
Setiap kali masakannya selalu mendapat pujian Jin-kun.
Beberapa tahun ini, Tiong Bok-lan sangat memahami selera Jin-kun.
Bila Tiong Bok-lan melamar menjadi koki, saat mencoba masakan Tiong Bok-lan, Jin-kun pasti akan menerimanya.
Sebagai koki, bila dia memberi sesuatu di lauk atau nasi Jin-kun, seharusnya bukan hal yang sulit.
Tapi untuk masuk menjadi koki bukan hal yang mudah.
Tiong Bok-lan bertekad akan mati bersama Jin-kun.
Maka ketika Beng-cu tidak tahu, diam-diam dia menelan arak merah untuk merusak pita suara, kemudian dengan obat merusak kulit wajah dan tangannya.
Tiong Bok-lan berpenampilan menjadi seorang laki-laki.
Waktu Beng-cu bangun dan melihat Tiong Bok-lan sudah seperti itu, dia sangat sedih.
Tapi itu sudah menjadi kenyataan terpaksa, Beng-cu menerimanya.
Kemudian mereka mengaku sebagai ayah dan anak untuk melamar kerja.
Mereka berdua mengerti harus menyuap penanggung jawab dengan uang besar karena orang yang melamar menjadi koki terlalu banyak.
204-204-204 Siau Cu sampai di Siauw-Iim-si.
Karena membawa barang tanda Su Yan-hong dan Wan Fei-yang, ditambah dengan mempunyai musuh yang sama, maka semua hweesio-hweesio di Siauw-lim-si turut membantu dia mencari data-data Pheng-hweesio.
Di perpustakaan Siauw-lim-si tersimpan banyak buku, tapi karena begitu banyak orang yang membantu mencari, maka tidak sulit.
Semua buku sudah dibaca tapi tidak mendapatkan hasil.
Waktu semua orang merasa bingung, seorang tua di Siauw-lim tiba-tiba ingat.
Dia membawa Siau Cu ke bagian Tui-si-tong di Siauw-lim-si.Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 142 Ruangan Tui-si adalah ruangan tempat hwee-sio Siauw-lim merenungkan kesalahan yang sudah mereka lakukan.
Di sana tersimpan surat-surat penye salan yang ditulis hweesio Siauw-lim turun-temurun.
Pheng-hweesio bernama lengkap Pheng Seng-giok.
Dia adalah guru dari kaisar Tai-cu.
Dulu dia adalah murid Siauw-lim, kemudian dia merasa terlalu banyak aturan di dalam Siauw-lim-si, maka dia meninggalkan Siauw-lim-si, lalu dia mendirikan Pek-lian-kau untuk membantu kaisar Tai-cu menguasai negara.
Ketika kaisar Tai-cu memimpin negara dengan kekerasan, dia sadar menggunakan kekerasan untuk mengatasi kekerasan bukanlah cara yang benar.
Maka dia kembali lagi ke Siauw-lim-si.
Tapi waktu itu dia sudah berumur 79 tahun.
Di depan Budha dia berlutut tujuh hari tujuh malam.
Di sana dia mencatat tentang asal mula pendirian Pek-lian-kau juga semua tentang Pek-lian-kau.
Dalam surat penyesalan ini dia mencatat semua ilmu silat Pek-lian-kau.
Suara kecapi Jit-sat dan Bi-hun-tay-hoat juga tercatat pada surat ini.
Yang paling di luar dugaan orang adalah ternyata ada cara untuk memecahkan dan menghancurkan Bi-hun-tay-hoat dan Jit-sat-kim-im.
Sepertinya It-sian sudah mengetahui ini, maka sebelum meninggal dia berpesan kepada Wan Fei-yang, untuk menurunkan lonceng harus mencari orang yang mengikat lonceng!
Setelah mengetahui rahasia ini, semua hwee-sio segera membacanya sampai bisa dihafal.
Kemudian mereka menggali kuburan Put-lo-sin-sian untuk mengambil kecapi maut yang bernama Jit-sat yang dikubur bersama Put-lo-sin-sian.
Senar-senar kecapi memang sudah putus tapi memasang senar kembali bukan hal yang sulit.
Setelah itu, Siau Cu segera membawa buku musik dan kecapi.
Malam itu juga dia kembali ke ibukota.
205-205-205 Kaisar di bawah pengaruh Thian-ho Sangjin dan Jin-kun selalu dalam keadaan setengah sadar.
Dia tidak hilang akal sehat secaraLegenda Pendekar Ulat Sutra -4 143 total.
Bila kaisar ingin mengemukakan kewibawaan seorang kaisar, Jin-kun dan Thian-ho Sangjin pasti membiarkan dia melaku-kannya.
Mereka tahu posisi kaisar tidak bisa digantikan oleh orang lain.
Yang penting harus berusaha memperbesar kekuatan diri dan pada waktu yang tepat bisa mengangkat Cu Kun-cau, lalu memerintahkan kaisar untuk menurunkan kekaisaran kepada Cu Kun-cau.
Dalam keadaan setengah sadar, kaisar hanya tahu menikmati hidupnya.
Dengan segala upaya Jin-kun berusaha memberi obat perangsang kepada kaisar, agar kaisar bermain gila-gilaan sampai tujuh hari tujuh malam.
Bagi kaisar kehidupan seperti ini belum pernah dia lakukan.
Walaupun sudah tujuh hari tuuh malam bermain perempuan, tapi dia tetap tidak merasa lelah, tetap kuat seperti naga hidup dan harimau hidup.
Dia sangat senang, maka menu runkan perintah agar semua orang untuk memanggil Jin-kun dengan panggilan Seng-bo (bunda suci) dan membangun vihara Seng-bo.
Sekarang Su Yan-hong dan lain-lain sudah bisa menghubungi Tliio Gong.
Mereka siap berhubungan dari luar dan dalam, mengambil kesempatan ketika Sam-cun pergi ke kuil Seng-bo untuk menerima persembahan rakyat, kemudian mereka diam-diam masuk ke istana untuk menyelamatkan kaisar.
Mereka tidak tahu Thio Gong sudah dibeli Jin-kun.
Dalam situasi seperti itu, dia harus mengabdi kepada Jin-kun.
Semua ini adalah ide Jin-kun.
Dia sudah mengatur barisan senjata api, hanya menunggu Su Yan-hong dan lain-lain masuk perangkap.
Pada waktu yang bersamaan, lauk dan nasi yang dimasak oleh Tiong Bok-lan sudah dicoba oleh Jin-kun.
Begitu mencicipi, Jin-kun terus memuji.
Dia merasa masakan koki ini begitu pas dengan seleranya.
Selain merasa aneh, dia juga memerintahkan untuk dimasak lagi.
Kali ini harus diantar oleh koki ini sendiri.
Dia ingin tahu siapa koki ini sebenarnya.Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 144 Jin-kun tahu yang memasak lauk ini adalah seorang laki-laki, tapi dia harus melihat sendiri dengan jelas, baru bisa membuat hatinnya tenang.
Dia adalah seorang perempuan yang penuh curiga.
Begitu merasa curiga, dia akan bertanya sampai jelas.
Inilah kesempatan yang ditunggu Tiong Bok-lan.
Dengan wajah dan perawakan dia sekarang ini, Jin-kun pasti tidak bisa mengenalinya.
Maka dia memasukkan racun ke dalam nasi dan lauk yang dimasaknya.
Asal Jin-kun tidak mengenali Tiong Bok-lan, dia pasti akan memakan semua lauk dan nasi.
Itulah kebiasaan Jin-kun.
Racun dibuat dengan sangat tepat.
Bila Jin-kun makan sedikit demi sedikit, akan sulit mengetahui kalau masakan mengandung racun.
Bila sudah memakan semua dan merasa tubuh tidak nyaman, pada waktu itu racun sudah tidak bisa dikeluarkan lagi.
Walaupun hanya makan separuh dan dia sudah merasakan, untuk mengeluarkan racun juga bukan hal yang mudah.
Jika Jin-kun tidak mati, dia pasti cacat.
Membuat racun sedemikian rupa tidak mudah.
Tiong Bok-lan belajar dari Fu Hiong-kun di sepanjang jalan.
Waktu itu Fu Hiong-kun merasa tidak ada pekerjaan dan dia ingin semua orang tahu cara mencampur obat racun, mungkin sewaktu-waktu bisa digunakan.
Waktu itu Tiong Bok-lan sama sekali tidak terpikir akan ada kesempatan baginya untuk mencampur obat racun.
Apa yang Fu Hiong-kun katakan sudah dia ingat semua.
Mungkin orang yang pandai memasak selalu mempunyai kelebihan ini.
Begitu Jin-kun mengeluarkan perintah untuk mencari koki, Tiong Bok-lan sudah merencanakan ini.
Tapi karena teringat Jin-kun pasti mengenalinya, dia tidak memberitahu Fu Hiong-kun dan Su Yan-hong.
Dia juga tidak menyangka akan menghancurkan wajahnya dan menelan arak.Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 145 Benar Jin-kun tidak mengenali dia.
Saat itu Tiong Bok-lan mendengar pembicaraan mungkin Su Yan-hong tidak harus mati dan terjebak di barisan senjata api yang dibuat Thian-te-siang-kun.
Begitu mendengar kabar ini, Tiong Bok-lan terkejut.
Melihat Jin-kun tidak memperhatikan dia, diam-diam Tiong Bok-lan kabur.
Setelah Jin-kun bercanda dengan Thian-te-siang-kun, dia baru ingat untuk berbicara dengan koki.
Begitu bertanya, baru tahu koki sudah pergi.
Yang pasti Jin-kun merasa curiga.
Maka makanan diperiksa dengan jarum perak dengan teliti.
Akhirnya dia menemukan lauk dan nasi mengandung racun.
Dia segera menurunkan perintah untuk menangkap koki.
206-206-206 Su Yan-hong berdiri di sana, melihat tiga tandu digotong dan dijaga ketat oleh pengawal sudah keluar dari istana menuju kuil Seng-bo.
Awalnya Su Yan-hong tidak yakin, sampai orang kepercayaan Thio Gong datang memberitahu bahwa Sam-cun sudah meninggalkan istana, Su Yan-hong baru tenang.
Dia dan Wan Fei-yang, Fu Hiong-kun, Kao Sen dan sekelompok pengawal istana yang setia dan berilmu silat tinggi langsung masuk istana.
Untung Beng-cu dan Tiong Bok-lan datang tepat waktu.
Saat Su Yan-hong dan lain-lain hampir masuk ke dalam jebakan, mereka muncul menghadang.
Begitu barisan senjata api melihat ada orang yang memberitahukan rahasia, mereka segera menem bak.
Tiong Bok-lan keluar sambil berteriak, dia menghadang di depan Su Yan-hong.
sehingga dia mati tertembak.
Dengan penampilan seorang laki-laki.
Su Yan-hong, Wan Fei-yang dan Fu Hiong-kun sama sekali tidak mengenalinya.
Diiringi rasa terkejut, mereka merasa aneh.
Sampai Beng-cu muncul dan memanggil bibi kelima, mereka baru mengerti apa yang telah terjadi.
Mereka juga sadar mereka sudah dikhianati Thio Gong, maka segera mundur.
Tapi Thian-ho Sangjin dan sekelompok hweesioLegenda Pendekar Ulat Sutra -4 146 Tibet sudah datang.
Wan Fei-yang segera maju menghadang mereka.
Wan Fei-yang segera menyuruh Su Yan-hong dan lain-lain meninggalkan tempat.
Su Yan-hong dan Fu Hiong-kun tahu tinggal di tempat tidak ada guna, malah akan menjadi beban Wan Fei-yang.
Mereka juga tahu, dengan ilmu silat Wan Fei-yang ingin melepaskan diri dari Thian-ho Sangjin sangat mudah seperti membalikkan telapak tangan.
Maka mereka segera mundur.
Begitu Thian-ho Sangjin melihat ternyata Wan Fei-yang yang datang, segera menyuruh anak buah nya mengepung Wan Fei-yang, sambil memerintahkan untuk melapor pada Sam-cun untuk datang.
Mungkin Su Yan-hong dan lain-lain tidak harus mati karena Jin-kun sama sekali tidak meng-ganggap Thio Gong, dan tidak percaya Su Yan-hong akan mudah terpancing.
Karena belum sampai waktu nya untuk pergi ke kuil Seng-bo maka dia sedang bersantai di dalam istana.
Setelah mendapat kabar bahwa Su Yan-hong memang sudah tertipu, dia segera keluar untuk melihat.
Pada waktu itu dia pasti mendapat kabar dari Thian-ho Sangjin maka dia cepat meniup peluit untuk mendatangkan Hen-lo-sat.
Wan Fei-yang tidak tahu bahaya sudah mendekat.
Setelah membunuh 8 Hweesio Tibet, dia siap mundur dan pergi, tapi dicegat oleh Thian-ho Sangjin.
Thian-ho Sangjin tahu Wan Fei-yang sangat lihai, tapi mereka belum pernah bertarung.
Dia ingin mencoba, baru rela menerima kalah.
Dia tidak berani meremehkan musuh.
Begitu bertarung, sepasang telapaknya segera menggunakan Tai-jiu-im, dua tangannya menjadi besar.
Setelah menerima beberapa serangan, Wan Fei-yang terus mundur.
Dari dinding dia meloncat ke atap istana.
Thian-ho Sangjin terus mengejar, berusaha membuat Wan Fei-yang lengah lalu membunuhnya.Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 147 Wan Fei-yang melihat keinginan Thian-ho Sangjin, dalam hati diapun mempunyai ide.
Dia mulai mengeluarkan Thian-can-kang.
Tenaga dalam yang tidak berwujud seperti berubah menjadi berwujud.
Seikat demi seikat benang terus terjatuh di dua telapak Thian-ho Sangjin, kemudian mengikat dua telapak Thian-ho Sangjin.
Saat Thian-ho Sangjin merasa ada yang tidak beres, kedua tangannya sudah tidak sempat ditarik.
Sekali tidak ditarik maka tidak bisa ditarik lagi.
Telapak kanan Wan Fei-yang sudah menghantam kepalanya.
Thian-ho Sangjin tidak merasa sesak nafas, dia hanya merasa kepalanya seakan mau meledak.
Inilah perasaannya yang terakhir.
Wan Fei-yang menurunkan telapak kanannya.
Tubuh Thian-ho Sangjin seperti disambar petir, tubuh nya bergetar dan terlempar jauh.
Dia terlempar sejauh 3 tombak, ketujuh inderanya mengeluarkan darah, kemudian dia roboh di atas genteng.
Wan Fei-yang menghembuskan nafas.
Waktu dia siap meninggalkan tempat, dia merasakan aura membunuh yang kuat datang.
Perasaan ini bukan pertama kali dia rasakan.
Dia ingat Hen-lo-sat.
Saat dia membalikkan tubuh, Hen-lo-sat sudah berdiri di belakangnya dengan aura membunuh yang kuat.
"Kau lagi..."
Wan Fei-yang tahu Hen-lo-sat sudah kehilangan akal sehat, tapi dia tetap berkata begitu.
Yang pasti Hen-lo-sat tidak menunjukkan reaksi apapun.
Begitu mendengar suara peluit, dia segera maju dengan tubuh penuh kekuatan.
Wan Fei-yang ingin menghadapi dia dengan menggunakan cara yang sama ketika menghadapi Thian-ho Sangjin.
Thian-can-kang mulai digunakan, dia segera mengikat dua telapak Hen-lo-sat.
Ilmu silat Hen-lo-sat berada di atas Thian-ho Sangjin.
Setelah tangannya terikat, dia segera menarik keluar tangannya.Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 148 Thian-can-kang terus dikeluarkan.
Tenaga dalam Hen-lo-sat juga terus keluar.
Gerakan mereka berdua memang sangat pelan tapi tenaga dalam terus keluar bergelombang.
Bila orang yang berilmu silat rendah mendekat, mereka akan tergetar mati oleh tenaga dalam mereka berdua.
Orang yang berilmu tinggi juga akan tergetar sampai terluka.
Genting-genting di sekeliling satu persatu terbang seperti daun beterbangan dalam angin besar.
Thian-can-kang milik Wan Fei-yang tetap lebih unggul.
Telapak kirinya walaupun seperti direkat, tapi tangan kanannya pelan-pelan ditarik keluar dan pelan-pelan diangkat, dan turun di atas kepala Hen-lo-sat.
Jika telapak Wan Fei-yang turun, maka kepala Hen-lo-sat akan hancur.
Mata Hen-lo-sat tetap dingin dan kejam.
Dia sama sekali tidak takut.
Sebenarnya dia sama sekali tidak berperasaan.
Pada waktu itu Jin-kun muncul.
Dia tertawa dan berkata kepada Wan Fei-yang.
"Jika telapakmu dipukulkan ke kepala Hen-lo-sat, kau pasti akan menyesal!"
"Mengapa?"
Tanya Wan Fei-yang. Jin-kun malah balik bertanya.
"Mengapa kau tidak membuka penutup wajahnya dulu dan melihat siapa dia sebenarnya?"
"Siapa dia?"
Sambil bertanya, telapak Wan Fei-yang tetap memukul, dan tenaganya membuka penutup wajah Hen-lo-sat.
Hen-lo-sat adalah adik perempuan Wan Fei-yang, Tokko Hong.
Ini bukan rahasia bagi Jin-kun dan lain-lain, tapi Wan Fei-yang baru mengetahuinya sekarang.
Mimpipun Wan Fei-yang tidak menyangka.
Begitu Wan Fei-yang melihat, dia terpaku, berteriak.
"Hong..."
Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 149 Tapi Tokko Hong tidak menunjukkan reaksi apapun. Dia hanya berusaha lepas dari ikatan Thian-can-kang. Wan Fei-yang melihat Jin-kun.
"Apakah kalian tidak merasa keji melakukan hal ini?"
Jin-kun tertawa.
Yang keluar bukan suara tawa, tapi suara peluit.
Mendengar suara peluit, mulut Tokko Hong membuka.
Sebuah jarum beracun sudah melesat keluar, masuk ke tenggorokan Wan Fei-yang.
Wan Fei-yang melihat, dia segera mengatur nafas, mengalirkan tenaga dalam ke tempat jarum beracun berada.
Tapi jarum beracun ini adalah jarum khusus untuk memecahkan tenaga dalam.
Jarum beracun segera diikat tenaga dalam agar tidak bisa menyebar.
Wan Fei-yang terus mengatur agar jarum beracun itu bisa keluar, tapi pada waktu itu Jin-kun sudah datang seperti angin.
Wan Fei-yang segera mengambil keputusan.
Telapak kanan di majukan ke depan, telapak kiri menggurat.
Tadinya dia ingin memotong tenaga dalam yang mengikat dua tangan Tokko Hong dan pada waktu bersamaan meloncat ke atas.
Tenaga dalamnya kebanyakan dialirkan untuk menghadapi Tokko Hong tapi karena tenggorokannya terkena jarum beracun maka mengganggu garakannya.
Yang membuat dia terganggu tentu saja kenyataan bahwa Hen-lo-sat ternyata adalah adiknya, Tokko Hong.
Dia terkejut juga senang.
Perasaannya seperti gelombang terus bergejolak.
Kemudian jarum beracun itu menerobos masuk ke jantungnya.
Waktu dia sadar bahwa Tokko Hong sama sekali sudah kehilangan akal sehat, dia sudah tidak sempat menghindari jarum beracun yang dilepaskan Tokko Hong.
Karena bertindak sedikit lambat, maka dia terkena.
Itulah luka yang membuat dia tewas.Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 150 Jin-kun sudah datang.
Thian-te-siang-kun juga datang pada waktu bersamaan.
Ketika Wan Fei-yang sedang tidak berkonsentrasi, Te-kun sudah berlari di bawah genting tempat Wan Fei-yang berdiri.
Waktu Jin-kun mulai menyerang, dua tangan Te-kun menembus genting dan mencengkram dua kaki Wan Fei-yang.
Thian-kun datang seperti seekor burung besar, dua tangan segera menyerang kepala Wan Fei-yang.
Karena pergelangan kakinya dicengkram, gerakan Wan Fei-yang terganggu.
Dua telapak Jin-kun datang mencengkram dua tangan Wan Fei-yang juga.
Dua telapak Thian-kun yang datang tanpa hambatan langsung memukul kepala Wan Fei-yang.
Wan Fei-yang berteriak memilukan.
Tubuhnya terus naik ke atas memecahkan genting.
Tubuh Te-kun terbawa melewati pecahan genting dan terlempar.
Jin-kun, Te-kun dan Hen-lo-sat ikut terlempar setinggi 2 tombak dan baru turun.
"Hong..."
Dengan sedih Wan Fei-yang melihat Tokko Hong dan memanggilnya.
Ini adalah suara panggilan dia yang'terakhir.
Pukulan di kepalanya membuat tenaga Wan Fei-yang habis.
Tenaga dalam Sam-cun sudah kembali datang menyerang, menggetarkan organ dalam Wan Fei-yang sampai hancur.
Sekalipun Hoa-to hidup kembali, sudah tidak bisa menyelamatkan dia lagi.
Tapi Wan Fei-yang tetap berdiri di atas genteng.
Dia tidak roboh.
Tokko Hong tetap tidak ada reaksi apa-apa.
Sebenarnya dia seorang yang masih hidup tapi sudah mati rasa.
Sam-cun sama-sama melepaskan tangannya.
Mereka'tertawa terbahak-bahak.
207-207-207 Su Yan-hong dan lain-lain sudah kembali ke tempat persembunyian mereka.
Siau Cu sudah datang.
Mengetahui Siau CuLegenda Pendekar Ulat Sutra -4 151 sudah mendapatkan cara untuk mengatasi Bi-hun-tay-hoat, apalagi Jit-sat-kim sudah berada di tangan, mereka sangat senang.
Lama menunggu Wan Fei-yang tidak datang, mereka mulai khawatir.
Tapi semua orang berpikir dengan ilmu silat Wan Fei-yang, dia pasti bisa meninggalkan tempat itu.
Sampai hari terang Wan Fei-yang belum muncul.
Semua orang mulai merasa ada yang tidak beres.
Su Ceng-cau membawa Ih-lan datang.
Tadinya dia ingin membawa Ih-lan pergi ke Hoa-san untuk bersembunyi sementara.
Karena tidak tenang maka di tengah jalan dia kembali mengikuti tanda, akhirnya dia juga datang.
Sebenarnya Ih-lan tidak menyukai dia, tapi setelah melihat sifatnya berubah, dia malah menjadi akrab dengannya.
Yang pasti Ih-lan sangat setuju dengan ide Su Ceng-cau untuk mencari mereka.
Setelah mengalami perubahan besar, sikap Su Ceng-cau sudah berubah.
Dia mengambil keputusan dengan lebih hati-hati, maka di sepanjang jalan tidak terjadi apa-apa juga tidak membuat keributan.
Melihat dia membawa Ih-lan kembali, hati Su Yan-hong yang tadinya tenang menjadi marah, tapi kemarahan tidak bisa keluar.
Su Ceng-cau sudah menangis sendiri.
"Aku belum marah kepadamu, mengapa kau menangis?"
Tanya Su Yan-hong.
"Wan-toako..."
Su Ceng-cau sudah tidak sang gup berkata lagi. Kata-kata ini begitu terucapkan, semua orang merasa terkejut. Fu Hiong-kun mencengkram pundak Su Ceng-cau dan bertanya.
"Apa yang terjadi pada Wan-toako?"
"Wan-toako malam-malam masuk ke dalam istana ingin membunuh kaisar, kemudian tertangkap dan terbunuh. Mayatnya diikat di kereta kayu untuk diarak di jalan..."
Kata-kata Su Ceng-cau baru keluar, semua orang terkejut, air mata Su Yan-hong menetes.Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 152 Siau Cu segera lari keluar.
Untung tangan Su Yan-hong dengan cepat menariknya, dan satu tangan lagi menarik Fu Hiong-kun yang juga ingin berlari keluar.
Mereka bertiga saling pandang tanpa satu katapun yang keluar.
Mata Siau Cu dan Su Yan-hong berlinang air mata.
Akhirnya Su Yan-hong membuka mulut.
"Kita pasti pergi melihat ke sana, tapi harap semua orang jangan emosi lagi. Tidak diragukan lagi ini adalah jebakan Sam-cun. Kalau kita muncul dan diketahui oleh mereka, aku percaya kita juga akan mati di sana!"
Siau Cu seperti sangat mengerti, angguknya.
"Kita hanya tersisa sejumlah ini, kita jangan emosi untuk menghindari korban jatuh lagi!"
Su Yan-hong menarik nafas lega.
Dia menepuk pundak Siau Cu.
208-208-208 Mereka bersembunyi di sebuah kamar di sebuah hotel, di mana mayat Wan Fei-yang akan lewat.
Dengan begitu mereka bisa melihat dengan jelas.
Melihat mayat Wan Fei-yang, Fu Fdiong-kun terus menangis.
Tubuh Siau Cu terus gemetaran.
Su Yan-hong mencengkram tubuh mereka berdua, tubuh nya juga gemetar.
Setelah kereta kayu lewat, Fu Hiong-kun menangis sejadi-jadinya di pelukan Su Yan-hong.
Siau Cu berlutut dengan dua tangan memeluk kepala.
Sebelumnya mereka tidak percaya Wan Fei-yang sudah mati.
Kembali ke tempat persembunyian, mereka duduk bengong.
Setelah itu, mereka baru membereskan barang-barang peninggalan Wan Fei-yang.
Yang hanya terdiri dari sebuah bungkusan kain.
Di sana terdapat catatan Ie-kin-keng yang Bu-wie Taysu berikan kepadanya untuk bisa mengobati luka dalamnya.
Masih ada catatan yang diperoleh dari hasil berlatih silat.
Selain itu, ada sepucuk surat rahasia yang seperti pesan terakhir.Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 153 Tidak ada orang yang tahu mengapa dia menulis surat ini dan kapan dia menulisnya.
Mungkin seseorang bila hidupnya akan berakhir, dia akan punya perasaan yang berbeda dan tidak sengaja melakukan hal ini.
Dalam surat dia mengeluh tentang perkumpulan-perkumpulan di dunia persilatan yang saling tidak kompak, sehingga satu perkumpulan tidak bisa mengambil kelebihan perkumpulan lain.
Masing-masing perkumpulan menyimpan ilmu perkumpulan sendiri dan tidak pernah saling berunding dengan perkumpulan lain.
Kadang-kadang murid perkumpulan sendiri juga tidak bisa mempelajari ilmu perkumpulannya, maka ilmu silatnya semakin menghilang dan generasi berikutnya semakin menurun.
Maka dalam surat ini dia membuat catatan ketika dia bertarung atau melihat ilmu silat perkum pulan lain.
Dia berharap bisa menyatukan kelebihannya untuk membuat satu ilmu silat yang lebih tinggi.
Munculnya Wan-tianglo membuat kepercayaannya terus bertambah.
Untuk menyatukan ilmu silat semua perkumpulan, Wan-tianglo paling banyak membantunya.
Kemudian dia menemukan Thian-Iiong-pat-sut yang dilatih Su Yan-hong.
Tidak diragukan lagi itulah suatu awal yang bagus, yang bisa menyatukan ilmu silat dari semua perkumpulan.
Thian-liong-kiu-sut sebenarnya bukan jurus terakhir, hanya sayang karena waktunya terbatas dia belum benar-benar mengerti, hanya bisa mengajari Su Yan-hong sampai Thian-liong-kiu-sut.
Sekarang setelah Thian-liong-pat-sut, berikutnya sudah bisa diubah-ubah, maka diberi nama 'Thian-liong-kun' (Jurus irama Thian-liong).
Harap Su Yan-hong dan Siau Cu bisa menguasainya dan terus dikembangkan.
Terakhir, surat Wan Fei-yang mengangkat satu hal yang belum sempat dia lakukan.
Dia hidup dengan nasib tidak mujur, seringkah hal yang baik jarang mendekatinya.
Maka dia tidak mempunyai harapan yang tinggi-tinggi.
Dari samping, dia melihat Su Yan-hongLegenda Pendekar Ulat Sutra -4 154 adalah naganya manusia, bila bisa berpasangan dengan Fu Hiong-kun adalah jodoh yang paling bagus.
Tapi sangat menyesal dia belum sempat menjodohkan mereka.
Itu adalah penyesalan paling besar seumur hidupnya.
Setelah selesai membaca surat, semua orang bengong.
Lapang dada Wan Fei-yang, cita-cita dia yang tinggi, benar-benar bukan mereka yang bisa melakukannya.
Su Yan-hong melihat Fu Hiong-kun, dia terharu.
Setelah semua orang tenang kembali, Su Yan-hong seperti sudah menyusun langkah-langkah selan jutnya.
Sambil menghubungi Ong-souw-jin, dia dan Siau Cu juga berlatih Thian-liong-kun.
Mereka berharap bisa membunuh Hen-lo-sat dengan Jit-sat-kim.
Menurunkan lonceng harus dilakukan oleh orang yang mengikat lonceng.
Begitu suara Jit-sat-kim bisa memecahkan Bi-hun-tay-hoat, menghancurkan ancaman Hen-lo-sat, masalah lain akan mudah dihadapi.
Teringat Jit-sat-kim, mereka langsung teringat Lu Tan.
Apakah Jit-sat-kim bisa memecahkan Bi-hun-tay-hoat?
Lu Tan bisa membuktikannya.
Beng-cu sangat paham musik.
Dia bisa mengatur senar-senar kecapi mengikuti buku musik.
Tapi begitu dipetik, tenaga dalamnya tidak bisa terkumpul di sepuluh jarinya.
Semakin dipetik tenaga dalam di tubuh semakin kacau dan tidak menentu.
Nada di buku musik bisa mengganggu jalannya tenaga dalam nya, membuat tenaga dalamnya buyar.
Yang pasti tidak bisa dipetik lagi.
Dia mengutarakan perasaannya.
Semua orang merasa aneh.
Kemudian Fu Hiong-kun, Su Ceng-cau dan Su Yan-hong mencoba, hasilnya sama.
Yang terakhir mencoba adalah Siau Cu.
Siau Cu tidak mengerti musik sama sekali.
Setelah diberi tahu tentang not-not musik, dia baru bisa memetik mengikuti buku musik.
Yang pasti suara petikan Siau Cu tidak sama dengan orang lain, semakin dipetik semakin bersuara keras dan jernih.
Tapi dia hanya bisa memetik tiga alineaLegenda Pendekar Ulat Sutra -4 155 kemudian melemah lagi.
Begitu bertanya pada Siau Cu, ternyata tenaga dalamnya bukan menjadi buyar, malah semakin bergairah, tenaga dalam semakin bertambah.
Kadang-kadang tidak sanggup diteruskan.
Sekarang semua orang baru mengerti, buku musik harus menggunakan tenaga dalam aliran Pek-lian-kau baru bisa mengeluarkan kewibawaannya.
Lam-touw dan ketua Pek-lian-kau yang dulu, Put-lo-sin-sian bersaudara kandung.
Asalnya mereka adalah murid Pek-lian-kau.
Maka yang mengajarkan atau yang mempelajari pasti adalah tenaga dalam aliran Pek-lian-kau.
Walaupun hanya memainkan tiga alinea, tapi wajah Lu Tan yang tadinya bengong mulai menunjukkan perubahan.
Begitu semua orang melihat perubahan itu, suara kecapi sudah melemah, maka perubahan wajah Lu Tan kembali menghilang.
Menambah tenaga dalam dengan waktu yang singkat bukan hal yang mudah.
Dalam surat terakhir nya, Wan Fei-yang menuliskan satu lagi cara untuk meminjam tenaga dalam Ie-kin-keng, dan digabung dengan tenaga dalam perkumpulan sendiri.
Semua cara bergabung ada dalam Siauw-lim-pai.
Apalagi Pek-lian-kau berasal dari Siauw-lim-si, ilmu tenaga dalam mereka masih banyak kesamaan.
Ie-kin-keng adalah pemberian Bu-wie Taysu, Wan Fei-yang sudah berjanji bila luka dalamnya sembuh, dia akan mengembalikan Ie-kin-keng ke Siauw-lim-si.
Itu sangat masuk akal.
Bila ingin membaca lagi, harus mendapatkan ijin dari Siauw-lim-pai, baru bisa membacanya.
Tapi karena keadaan sudah mendesak, maka mereka sudah tidak berpikir panjang lagi.
209-209-209 Waktu Siau Cu dan Su Yan-hong berlatih Ie-kin-keng dan Thian-liong-kun dengan giat, Ji.n-kun mulai menjalankan rencana busuknya.
Jin-kun menye satkan kaisar dan mengembalikan kedudukan Cu Kun-cau.
Kemudian mengumumkan karena kaisar sedang sakit, maka kedudukan akan diberikan pada Cu Kun-cau.Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 156 Pejabat-pejabat dalam kerajaan merasa aneh dan terkejut, ingin menentang sudah tidak sempat.
Kemudian kaisar menurunkan perintah agar memilih waktu yang baik untuk Cu Kun-cau naik tahta dan mendirikan panggung berdoa.
Yang pasti ini adalah ide Jin-kun.
Tujuannya mendirikan panggung berdoa adalah menjala semua dengan satu tempat.
Kecurangannya direncanakan di dalam Sam Seng (tiga jenis binatang untuk sembahyang.
ayam, babi, ikan) untuk sembahyang kepada Thian.
Biasanya Sam.Seng yang digunakan kaisar adalah babi dan kambing, ditambah dengan rusa atau ayam atau bebek.
Sekarang San Seng yang akan dipakai adalah babi, kambing, dan sapi.
Jin-kun mengambil kesempatan untuk melakukan rencana busuknya pada sapi itu.
Dia berencana mengganti darah sapi itu dengan darah sapi beracun.
Pada hari sembahyang, dia akan menyembelih sapi itu di depan umum.
Asalkan sapi itu masih hidup, tidak akan ada yang mencurigai dia, maka darah sapi beracun tidak akan ragu diminum oleh mereka.
Setelah minum darah beracun, obat penawar sudah berada di tangannya.
Mereka terpaksa harus menuruti apa yang akan dia perintahkan.
Demi berjaga-jaga bila terjadi sesuatu, satu barisan pengawal yang beranggotakan murid Pek-lian-kau akan mengawasi di lapangan.
Termasuk Sam-cun ditambah dengan Hen-lo-sat, itu sudah cukup aman.
Semua rencana dijalankan secara rahasia.
Walaupun Su Yan-hong tahu bahwa mendirikan panggung berdoa adalah ide Jin-kun tapi dia tidak tahu di mana ada yang tidak beres.
Dia ingin melarang pejabat-pejabat untuk pergi ke sana, tapi sekali pun ada maksud dia tidak berdaya.
Tujuan mendirikan panggung berdoa adalah agar Thian melindungi kaisar untuk cepat pulih dan kembali sehat.
Kecuali orang yang berani terang-terangan menentang kaisar, jika tidak semua orang pasti akan pergi.
Ong-souw-jin juga terpaksa harusLegenda Pendekar Ulat Sutra -4 157 pergi ke sana.
Dia memberikan pelakat perintah pasukan kepada Su Yan-hong agar bisa melihat situasi untuk bertindak.
Kang Pin dan Kao Sen sudah mendapat kabar bahwa murid-murid Pek-lian-kau sudah bergerak, maka Su Yan-hong semakin yakin bahwa mendirikan panggung adalah suatu jebakan.
Maka dia mencari bukti agar bisa mencegahnya pada waktu tepat.
210-210-210 Hari pelaksanaan panggung berdoa sudah sampai.
Sebelum tiba waktunya, semua pejabat sudah berkumpul di depan panggung.
Su Yan-hong berangkat dengan baju lengkap.
Fu Hiong-kun mengikuti.
Mereka berkumpul dengan Kang Pin dan Kao Sen, lalu berangkat di daerah sana.
Siau Cu dilindungi oleh Beng-cu dan Su Ceng-cau masuk ke istana.
Rencananya dengan Jit-sat-kim akan menggetarkan kaisar untuk menyadarkan kaisar, baru berangkat ke panggung berdoa.
Asalkan kaisar bisa sadar dalam waktu yang tepat, keadaan bisa diputar kembali.
Siau Cu mempunyai tanggung jawab yang berat.
Dia tidak seperti biasanya sering bercanda.
Dengan catatan le-kin-keng, dia memancing tenaga dalamnya untuk keluar.
Akhir nya bisa menembus dua jalan darah, Jin dan Tok.
waktu itu tenaga dalamnya seperti sumber air terus mengalir tidak henti-hentinya.
Setelah tenaga dalamnya berputar tiga kali dan Siau Cu yakin tidak ada kesalahan, jalan darah Jin dan Tok benar-benar sudah lancar dan bukan ilusi.
Kegembiraannya sulit dibendung, dia gembira sambil meloncat-loncat.
Dengan le-kin-keng dia seperti sudah ganti otot cuci sumsum.
Tenaga dalam penuh di tubuhnya maka sekaligus bisa meloncat ke atas kayu atap.
Di atas dia seperti kera terus bersalto beberapa kali, berputar-putar seperti kincir angin, sampai Bi-giok-leng yang tersimpan di dadanya terbang keluar.
Beng-cu dan Su Ceng-cau terkejut melihat tindakan Siau Cu seperti ini.
Tapi setelah tahu, mereka jadi senang.Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 158 Mereka melihat lempengan Bi-giok-leng yang terjatuh itu, mengulurkan tangan untuk menjemput, tapi Siau Cu dengan cepat sudah menjemputnya terlebih dahulu, sambil berteriak.
"Coba kalian lihat, aku sudah berhasil menguasainya!"
"Bagaimana dengan tenaga dalammu?"
Tanya Su Ceng-cau.
"Ingin berapa banyak? Ada berapa banyak?"
Su Ceng-cau tertawa.
"Kalau begitu, bisa memetik Jit-sat-kim sampai tuntas?"
"Seharusnya bisa!"
Siau Cu dengan penuh percaya diri berjalan ke depan meja.
Menaruh Bi-giok-leng di sisi kecapi, kemudian dua tangan menekan senar kecapi.
Dia tidak mempunyai sepasang tangan yang lincah dan bakat musik seperti Beng-cu, tapi beberapa lama ini dia selalu rajin belajar dan karena hanya memetik satu lagu, maka lama-kelamaan dia sudah bisa menghafalnya.
Bila dipetik sangat lancar juga enak didengar, juga terasa misterius.
Semakin memetik, tenaga dalam yang dibutuhkan semakin banyak.
Tenaga dalam Siau Cu mengalir semakin deras.
Suara kecapi bisa dipetiknya sampai selesai.
Wajah Lu Tan yang tadinya bengong, mulai menunjukkan perubahan.
Kadang-kadang tertawa, kadang-kadang marah.
Su Ceng-cau melihatdan men dekati Lu Tan.
"Ada apa denganmu?"
Tanya Su Ceng-cau.
Lu Tan tidak menjawab tapi perubahan ekspresi wajahnya semakin rumit.
Su Ceng-cau dan Beng-cu, juga Siau Cu mengira itu adalah proses menjadi sadar.
Tapi waktu mereka merasa ada yang tidak beres, itu sudah terlambat.
Beng-cu dan Su Ceng-cau merasa suara kecapi ini aneh juga sesat.
Suara datang dari semua penjuru, membuat otak dipenuhi oleh suara kecapi.
Selain suara kecapi, tidak ada suara lain yang bisa didengar.
Tidak disangka, beberapa jalan darah mulai membesar.
Yang mereka lihat adalah warna merah seperti darah.Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 159 Maka mereka segera konsentrasi.
Waktu itu ada seekor tikus terjatuh, tubuh tikus itu penuh darah.
Siau Cu segera sadar.
Melihat keadaan Beng-cu dan Su Ceng-cau, dua tangannya segera berhenti.
Pada saat bersamaan Lu Tan berteriak, kemudian dia muntah darah dan terjatuh.
Darah masih terus mengalir dari ke tujuh indera Lu Tan, tapi bola matanya masih berputar.
Dia melihat Su Ceng-cau, tiba-tiba memanggil.
"Ceng-cau..."
Su Ceng-cau terkejut juga senang. Dia ingin mengatakan sesuatu, Lu Tan sudah melihat Siau Cu dan memanggil.
"Siau Cu..."
"Aku...."
Siau Cu senang juga terkejut.
Waktu dia menyebutkan kata 'Aku', darah yang keluar dari ke tujuh inderanya semakin banyak, kemudian tubuhnya menjadi lurus.
Dia menghembus kan nafas terakhir.
Air mata Su Ceng-cau terus mengalir.
Beng-cu melihat Su Ceng-cau dan Lu Tan, dia berjalan ke depan Siau Cu.
"Apakah kau salah memetik..."
"Mana mungkin?"
Siau Cu terus menggelengkan kepala.
"kecuali buku musik ini, yang lain aku tidak bisa. Apalagi aku sudah berlatih lama, mana mungkin salah?"
"Tapi suara yang kau petik membuat orang merasa tidak nyaman."
"Tapi aku tidak merasa tidak nyaman!"
"Kalau begitu pasti ada yang tidak beres..."
Beng-cu sangat cemas.
"Sekarang apa yang harus kita lakukan? Bila kita masuk ke istana menemui kaisar, tapi suara kecapi membuat kaisar mati, bukankah akan menjadi kacau?"
Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 160
"Barang yang tidak berguna!"
Siau Cu marah.
Dia ingin menghancurkan kecapi ini.
Untung Beng-cu lebih cepat.
Dia sudah mengambil kecapinya.
Siau Cu mencengkram Bi-giok-leng dan melemparnya karena marah.
Dia sama sekali tidak memikirkan kepentingan Bi-giok-leng.' Beng-cu yang ingin menjemputnya sudah tidak sempat.
Bi-giok-leng terjatuh ke bawah dan pecah menjadi dua bagian.
Di dalamnya terbang keluar selempengan tipis giok hijau dan mengenai tubuh Beng-cu.
Beng-cu menjemputnya dan melihat.
Dia berteriak.
"Coba kau lihat..."
Dengan aneh Siau Cu menjemput dan melihat. Terlihat di atas giok hijau tertulis 16 kata.
"To-coan-im-yang (Im-yang dibalik) Co-yu-it-wie (Kiri dan kanan bertukar tempat)"
"Ceng-ce-toan-hun (Lurus akan memutuskan roh)."
"Hoan-ce-seng-hun (Arah sebaliknya akan membuat roh sadar). Apa artinya?"
"Berarti kecapi yang kau petik tadi adalah nada Toan-hun, harus dibalikkan baru bisa jadi nada Seng-hun!"
Kata Beng-cu. Dia segera memutar kecapi, kiri dan kanan dibalik, lalu menaruhnya di meja Siau Cu. Dengan penuh curiga Siau Cu berkata.
"Dulu aku juga pernah mencoba posisi begitu, katamu aku sama sekali tidak bisa bermain kecapi, cara menaruh kecapi juga tidak tahu."
"Tapi menurut petunjuk Bi-giok-leng, harus dengan cara begitu baru bisa memainkan Li-hun!"
"Apakah betul ini adalah petunjuk Bi-giok-leng?"
"Selain ini, masih ada apa lagi? Cepatlah kau petik kecapi ini!"
Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 161 Terpaksa Siau Cu memetik kecapi itu.
Dalam bayangan Beng-cu suara kecapi yang keluar akan lebih aneh dan misterius, tapi siapa sangka yang terjadi malah sebaliknya.
Suara yang keluar tidak aneh dan misterius, malah terdengar lembut dan enak di dengar.
Kadang-kadang membuat dia seperti mendengar musik dewi dan terasa melayang-layang.
Semakin didengar Beng-cu merasa nyaman.
Dia berteriak.
"Seharusnya lagu yang ini!"
Siau Cu berhenti.
"Kalau betul untuk apa? Lu Tan sudah tidak ada reaksi apapun!"
"Orang yang sudah mati pasti tidak bisa hidup kembali!"
Yang menjawab adalah Su Ceng-cau.
"kalau sudah mendapat cara memecahkan, mengapa kita masih bengong di sini?"
"Kau..."
Siau Cu terpaku.
"Kalau Lu Tan tidak mati maka kita sama sekali tidak tahu kesalahan kita. Maka dia mati bukan tidak ada artinya!"
Su Ceng-cau menghapus air mata dan berdiri.
"kalau kita tidak cepat-cepat ke sana, lebih banyak orang lagi yang akan mati!"
Beng-cu mengangguk. Dia mengambil kembali Bi-giok-leng yang telah pecah menjadi dua bagian dan menyambungnya kembali. Dia mengembalikannya kepada Siau Cu.
"Ayo, kita pergi..."
"Nenek moyang Pek-lian-kau yang pantas mati, untuk apa bermain dengan cara-cara seperti ini!"
Siau Cu sambil marah menyimpan kembali Bi-giok-leng.
Dia juga membawa Jit-sat-kim pergi bersama Beng-cu dan Su Ceng-cau.
211-211-211 Siau Cu, Beng-cu dan Su Ceng-cau pernah masuk ke dalam istana, ditambah anak buah setia Kao Sen yang menjemput mereka, maka tidak sulit untuk datang ke kamar kaisar.
Sam-cun sudah keluar.
Dari 5 utusan lampion hanya tersisa utusan lampion merah dan anak buahnya yang sekelompokLegenda Pendekar Ulat Sutra -4 162 pembunuh perempuan.
Mereka sudah berganti baju menjadi pelayan istana.
Kiang Hong-sim mengawasi kaisar.
Jin-kun bukan tidak terpikir mungkin ada orang diam-diam akan masuk.
Dia hanya mengira walaupun masuk mereka tidak akan bisa berbuat apa-apa, dan tahu walaupun kaisar diselamatkan, dia juga akan mati.
Dia tidak percaya Su Yan-hong akan melakukan hal bodoh ini!
Semua orang tahu panggung berdoa adalah sebuah jebakan dan Su Yan-hong pasti akan mencari tahu jebakan ini dengan sepenuh hati untuk mencegahnya.
Maka Jin-kun dengan sepenuh hati berada di sekitar panggung.
Dia juga siap untuk menjala lawan sekali gus.
Seng-hun muncul di luar dugaan dia.
Utusan lampion merah bukan lawan Siau Cu.
Siau Cu tahu waktu tidak banyak maka dia masuk dengan penuh aura membunuh.
Setelah diberi petunjuk-petunjuk ilmu silat oleh Wan Fei-yang, ditambah Su Yan-hong yang mengajarkan perubahan-perubahan jurus Thian-liong-kun, sekarang Siau Cu mempunyai ilmu silat yang tinggi.
Ilmu silat dia tidak di bawah Su Yan-hong.
Tiga kali dia ditepis oleh utusan lampion merah, tapi tidak mengenainya.
Siau Cu sudah melihat celah utusan lampion merah, dia masuk dan menendang tubuh utusan lampion merah tiga kali berturut-turut.
Siau Cu menendang utusan lampion merah sejauh 3 depa, dan muntah darah lalu mati.
Golok direbut, berturut-turut dia menepis tujuh pembunuh perempuan dan meloncat ke depan Kiang Hong-sim.
Kiang Hong-sim segera mengambil golok pendek dan menaruhnya di leher kaisar.
Dia tertawa genit.
"Kalau kau mendekat, aku akan membunuh kaisar!"
Pembunuh yang tersisa mendekati Kiang Hong-sim. Beng-cu dan Su Ceng-cau juga anak buah Kao Sen terpaksa berhenti. Mata Siau Cu berputar. Dia tertawa dingin.
"Aku bukan orang kerajaan, jika kau membunuh kaisar, apa hubungannya denganku?"
Legenda Pendekar Ulat Sutra -4 163 Setelah itu Siau Cu maju lagi. Kiang Hong-sim mendengar kata-kata Siau Cu, dia membentak.
"Kalau begitu aku bunuh dia!"
Tangannya mengencang. Wajah Beng-cu dan Su Ceng-cau segera berubah. Siau Cu malah terlihat masa bodoh.
"Di depan banyak orang kau membunuh kaisar, kau akan tahu apa akibatnya!"
Saat Kiang Hong-sim terpaku.
Lima jari Siau Cu sudah memetik kecapi.
Suara kecapi seperti petir, membuat hati orang bergetar.
Baca Juga: Pecut Sakti Bajrakirana 7
Baca Juga: Bangau Sakti 11