Ceritasilat Novel Online

Pecut Sakti Bajrakirana 7

Eps 7 Pecut Sakti Bajrakirana - Kho Ping Hoo

Baca online Pecut Sakti Bajrakirana - Kho Ping Hoo

Cersil Pecut Sakti Bajrakirana - Kho Ping Hoo.

"Ah, bagus sekali akal itu, kakangmas! Aku tahu! peronda-peronda itu. Mereka setiap kali mengitari perkampungan dengan berempat. Kalau malam telah tiba dan mereka berempat melakukan perondaan, kita dapat menyergap mereka dan menangkap seorang di antaranya. Begitu, bukan?"

"Tepat! Engkau cerdik, diajeng Nah, mari kita siap untuk melakukan penyergapan itu begitu malam tiba dan cuaca menjadi gelap."

"Akan tetapi malam ini terang bulan. Kalau tidak salah, malam ini bahkan bulan purnama akan muncul."

"Kita jangan menanti sampai bulan menjadi terang betul. Lewat senja nanti keadaan tentu masih gelap dan kita bergerak...... ssstt..... itu ada orang!"

Tiba-tiba Sutejo menarik tangan Retno Susilo dan rnengajak gadis itu melompat dan bersembunyi di balik sebuah batu besar yang berada di atas pantai berpasir itu.

Mereka lalu mengintai dari balik batu itu.

Dua orang sedang berjalan menuju ke tempat itu.

Mereka berjalan menyusuri pantai sambil bercakap-cakap.

"Itu dia......Priyadi bersama Ki Wisangkolo......!"

Seru Retno Susilo lirih sambil memegang lengan Sutejo dongan tegang.

Sutejo juga sudah melihat dan mengenal mereka.

Hatinya juga merasa tegang dan berdebar.

Inilah Kesempatan baik sekali.

Mereka itu hanya berdua, tidak sempat untuk melakukan pengeroyokan.

Apa lagi, seorang yang telah berani mengangkat diri menjadi ketua Jatikusumo seperti Priyadi, tentu memiliki keangkuhan dan akan menerima kalau dia tantang untuk bertanding satu lawan satu.

Setelah mengambil keputusan tetap, dia lalu mengajak Retno Susilo untuk keluar dari persembunyian mereka dan melompat ke depan dua orang yang sedang berjalan seenaknya di tepi laut itu Priyadi dan Ki Klabangkolo juga terkejut sekali setelah mengenal siapa orangnya yang melompat dan menghadang di depan mereka.

Akan tetapi begitu melihat Retno Susilo, Priyadi merasa lega dan tersenyum.

Dalam pandangannya, gadis itu tampak semakin ayu saja sehingga jantungnya berdebar penuh kerinduan dan gairah.

Dia tidak memperdulikan Sutejo dan melangkah maju menghampiri Retno Susilo.

"Nimas Retno Susilo.....! Ah, betapa sudah lama sekali aku mengharapkan pertemuan ini be tapa setengah mati aku merindukanmu nimas! Engkau tentu datang untuk mengunjungi aku, bukan? Engkau tentu belum melupakan aku yang pernah menolong dan membantumu, bukan?"

Kata pemuda itu dan dia menatap wajah Retno Susilo dengan sinar mata penuh kasih sayang dan kerinduan!

Akan tetapi gadis itu melangkah mundur dua tindak menjauhi pemuda itu dan matanya mencorong marah.

Melihat ini, Priyadi menjadi kecewa dan heran.

"Nimas Retno Susilo, apakah engkau lupa kepadaku? Aku Priyadi yang dulu membantumu dan menolongmu ketika engkau ditawan Ki Klabangkolo! Inilah dia orangnya yang dulu menawanmu, nimas. Lupakah engkau? Sekarang Ki Klabangkolo telah menjadi seorang pembantuku. Ingatkah engkau ketika dahulu aku membantumu lari menyelamatkan diri dari perkampungan Nogo Dento? Aku Priyadi!"

"Aku tahu siapa engkau! Seorang manusia berhati iblis yang telah membunuh guru sendiri dan saudara-saudara seperguruan sendiri. Aku tidak sudi menjadi sahabatmu!"

"Akan tetapi, nimas Retno Susilo......! Aku... aku cinta padamu.......!"

Priyadi melangkah maju. Akan tetapi Sutejo sudah, maju ke depan dan menghadapinya.

"Priyadi!"

Bentak Sutejo.

"Aku sengaja menghadang di sini dan aku ingin bicara denganmu!"

Kini seolah baru sekarang Priyadi melihat Sutejo dan dia memandang kerada pemuda itu dengan alis berkerut dan mata mencorong marah.

"Engkaukan Sutejo, murid Paman Bhagawan Sidik Paningal itu? Mau apa engkau? Minggirlah dan jangan mengganggu aku bicara dengan nimas Retno Susilo, Engkau anak kecil tahu apa!"

"Priyadi! Dahulu engkau memang terhitung kakak seperguruanku. Akan tetapi sekarang aku tidak sudi mengakui engkau sebagai saudara seperguruan lagi. Engkau murid murtad, manusia jahanam yang berkhianat, telah membunuh guru dan saudara seperguruan sendiri. Aku tantang engkau untuk bertanding satu lawan satu kalau memang engkau seorang laki-laki!"

Marahlah Priyadi.

"Babo-babo keparat Sutejo! aetelah memiliki sedikit kepandaian, engkau menjadi sombong! Kau kira aku takut kepadamu? Agaknya engkau sudah bosan hidup. Kalau engkau hendak menyusul Bhagawan Sindusakti dan para muridnya yang telah tewas, biar aku mengantarmu!"

"Kakangmas Sutejo, jangan takut dikeroyok! Kalau celeng (babi hutan) brewok tua bangka itu hendak maju mengeroyok, biar aku yang membunuhnya!"

Bentak Retno Susilo yang masih merasa marah sekali kepada Ki Klabangkolo yang pernah menawannya dengan niat keji terhadap dirinya.

"Keparat Sutejo! Hari ini engkau akan mampus di tanganku dan engkau nimas Retaa Susilo, mau tidak mau engkau harus ikut aku dan hidup mulia bersamaku di perkampungan Jatikusumo!"

"Sudahlah, Priyadi! Seorang jantan tidak perlu banyak bicara. Kalau memang engkau berani, mari kita tentukan siapa di antara kita yang akan mendapatkan perlindungan Sang Hyang Widhi Wasa!"

Tantang Sutejo. Mendengar tantangan ini. Priyadi marah sekali.

"Paman Klabangkolo, jangan ikut-ikut Andika menjadi saksi saja dan lihat bagaimana aku akan menghukum bocah banyak tingkah ini!"

Setelah berkata demikian, tubuhnya menggeliat dan kedua lengannya terulur ke atas lalu melengkung ke depan dan dari mulutnya terdengar suara yang amat dahsyat.

Suara itu menggeram dan membuat keadaan di pantai itu seperti tergetar.

"Aauuurrrgghhh........!"

Itulah Aji Jerit Nogo yang amat dahsyat.

Aji yang mengeluarkan suara yang mengandung tenaga sakti sepenuhnya ini bukan saja dapat menangkis semua kekuatan sihir, namun juga memiliki daya serang membuat lawan terguncang jantungnya dan dapat membuat lawan lumpuh.

Sutejo sudah waspada dan diapun tahu akan kedahsyatan aji yang dikeluarkan oleh Priyadi.

Maka diapun segera mengerahkan tenaga saktinya yang dia dapatkan dari mendiang Resi Limut Manik sebingga aji kekebalan Kawoco yang melindungi seluruh tubuhnya menjadi berlipat ganda kuatnya.

Gelombang pekik sakti yang dikeluarkan Priyadi itu bagaikan gelombang lautan yang menerpa batu karang yang kokoh kuat sehingga gelombang itu terpecah dan batu karang itu tidak bergeming sedikitpun!

Melihat ini, Priyadi menjadi terkejut dan juga penasaran yang membuatnya menjadi semakin marah.

Dia menyilangkan kedua lengannya, membuat gerakan aneh lalu mendorongkan kedua tangannya ke arah Sutejo sambil mengeluarkan bentakan nyaring.

"Aji Margopati....!!"

"Aji Bromokendali .......!"

Sutejo juga mendorongkan kedua telapak tangannya seolah membuat gerakan menyembah ke atas.

"Wuuuuttt.......! blaarrrr.........!!"

Dua tenaga sakti yang amat dahsyat bertemu di udara dan kedua orang muda yang sakti mandraguna itu terpental ke belakang dan napas mereka agak memburu saking kuatnya tenaga mereka sendiri yang terpental dan membalik.

Keduanya maklum bahwa mereka memiliki tenaga sakti yang sama kuatnya dan menghamburkan tenaga sakti ini sungguh membahayakan diri sendiri kalau tidak berhasil merobohkan lawan.

Maka Priyadi lalu melompat dan menerkam, mengirim pukulan dengan kedua tangannya bertubi-tubi ke arah bagian tubuh Sutejo yang berbahaya.

Namun Sutejo telah siap dan diapun mengelak dan menangkis lalu membalas sehingga dua orang jagoan muda itu sudah saling serang dengan hebatnya.

Mereka saling pukul, saling tangkis, saling tendang, dorong mendorong bagaikan dua ekor singa muda bergumul dan berkelahi mati-matian.

Keadaan di sekeliling mereka tergetar, pasir berhamburan dan angin menyambar-nyambar dari pukulan mereka.

Ki Klabangkolo dan Retno Susilo yang menjadi penonton, memandang dengan mata terbelalak.

Hampir gadis itu tidak pernah berkedip.

Berbagai macam perasaan mengaduk hatinya.

Kagum, tegang dan juga khawatir.

Belum pernah selama hidupnya dia menyaksikan pertandingan yang demikian hebatnya.

Dia semakin kagum kepada Sutejo.

Baru sekarang dia menyaksikan kesaktian Sutejo yang dikeluarkan semua.

Akan tetapi yang membuat dia khawatir adalah ketika dia melihat betapa Priyadi juga tangkas sekali, dan juga kebal Mereka itu saling memukul dan kadang-kadang pukulan mereka mengenai sasaran, akan tetapi tubuh lawan yang terpukul seperti terbuat dari karet dan pukulan itu terpental!

Mereka itu hanya saling mengelak kalau pukulan mengarah bagian tubuh yang lemah dan berbahaya, atau menangkis.

Suara lengan mereka yang beradu berulang kali itu mengeluarkan suara dak-duk dak-duk yang menggetarkan, seolah bukan tulang daging kulit yang diadu, melainkan dua baja yang amat kuat.

"Keparat, ambrol dadamu!"

Priyadi membentak dan tubuhnya melayang dengan kedua kaki terlebih dulu.

Dua batang kaki itu mengandung tenaga dahsyat menghantam ke arah dada Sutejo.

Serangan itu demikian cepatnya sehingga Sutejo tidak sempat mengelak atau menangkis, terpaksa menyambut dengan dadanya sambil mengerahkan aji kekebalan Kawoco.

"Wuuuuttt.....desss .... !"

Sutejo tidak terluka karena dadanya dilindungi aji kekebalan, akan tetapi saking kuatnya tendangan terbang itu, tubuhnya terjengkang dan terguling-guling sampai beberapa meter! "Ha-ha-ha!"

Priyadi yang sudah hinggap di atas tanah menertawakannya, akan tetapi tiba-tiba tubuh Sutejo yang tadinya bergulingan, sudah melompat dan meluncur ke depan, kedua tangannya menerkam ke arah tubuh Priyadi!

Priyadi terkejut, akan tetapi pinggangnya sudah dapat dicengkeram, tubuhnya diangkat oleh Sutejo lalu dibanting.

"Desss......!"

Tubuh Priyadi terbanting dan dia terguling-guling sampai beberapa meter, akan tetapi diapun sudah melompat berdiri lagi dengan mata bersinar penuh kemarahan.

Tak disangkanya bahwa Sutejo dapat bergerak secepat dan sekuat itu.

Pertandingan itu sudah berlangsung hampir satu jam dan mereka baru satu kali saling menjatuhkan, akan tetapi tidak dapat saling melukai.

"Srattt.....!"

Tampak sinar berkilat ketika Priyadi mencabut sebatang keris dari pinggangnya.

Itulah keris pusaka liat Nogo.

pemberian Adipati Wirosobo sebagai tanda bahwa Priyadi telah menjadi seorang senopati Wirosobo!

Keris pusaka yang ampuh karena liat Nogo berarti Lidah Naga.

Tentu saja ujung keris itu mengandung racun yang panas dan dapat membuat kulit lawan melepuh kalau sampai tergores sedikit saja!

"Hemm, Priyadi.

Belum lecet kulitmu, belum patah tulangmu, engkau sudah mengeluarkan pusaka!"

Kata Sutejo mencela.

"Pusaka liat Nogo ini yang akan mengantarmu ke alam baka!"

Bentak Priyadi sambil mengacungkan kerisnya yang berluk sembilan berbentuk lidah naga yang rupanya kemerahan.

Sutejo melolos kain pengikat rambut kepalanya dan menggerakkan kain itu.

dengan tangan kanan, kain itu yang tadinya lemas berubah menjadi kaku seperti terbuat dari logam yang kuat.

"Majulah kau dengan kerismu itu, Priyadi. Aku sama sekali tidak gentar menghadapinya!"

Sahut Sutejo dengan sikap tenang namun penuh kewaspadaan, berbeda dengan sikap Priyadi yang dipenuhi kemarahan.

"Mampus kau.......!!"

Priyadi mulai menyerang dengan kerisnya.

Gerakannya amat cepat dan juga mengandung tenaga yang amat kuat.

Sutejo maklum akan bahayanya serangan itu.

Selain cepat dan mengandung tenaga sakti yang amat kuat.

juga keris itu sendiri merupakan senjata yang amat ampuh.

Dia tidak berani mengandalkan aji kekebalannya untuk menerima tikaman keris pusaka itu.

Dengan gerakan ringan dia melompat ke samping sebingga tusukan keris itu luput dan dan samping kain ikat kepalanya menyambar ke arah pelipis kiri Priyadi.

Priyadi juga tidak berani memandang rendah serangan dengan keris itu karena dia tahu bahwa lawannya mempergunakan Aji Sihung Nila, dan agaknya aji-aji dari perguruan Jatikusumo yang dikuasai Sutejo sudah sampai ke tingkat paling atas.

Dari sambaran angin serangan itu saja maklumlah dia bahwa dia tidak boleh mengandalkan aji kekebalan untuk menghadapi sambaran kain itu.

Diapun cepat menundukkan kepala mengelak, lalu melangkah satu tindak ke belakang dan kembali kerisnya menghunjam ke arah perut Sutejo.

Sutejo menangkis dengan sabetan tangan kirinya ke arah lengan Priyadi.

"Plakk........!"

Tangan Priyadi yang memegang keris terpental dan saat itu, Sutejo melecutkan ujung kain kepalanya ke arah muka Priyadi, mengancam mata! "Plakk!"

Priyadi membalas dengan tangkisan tangan kirinya sehingga kain itu terpental.

Keduanya melangkah mundur untuk mengambil pasangan kuda-kuda lalu saling menyerang lagi dengan cepat dan ganasnya.

Retno Susilo hampir tak pernah berkedip.

Pertandingan itu hebat bukan main.

Gerakan kedua orang itu sangat cepatnya sehingga sukar diikuti pandangan mata dan ia tidak tahu pihak manakah yang unggul atau pihak mana yang terdesak.

Agaknya mereka saling serang bergantian, kadang dari jarak dekat sekali dan terkadang dari jarak agak jauh.

Lebih setengah jam mereka bertanding mempergunakan keris dan ikat kepala dan tanpa terasa cuaca menjadi semakin gelap sehingga kedua orang yang bertanding itu lebih banyak mengandalkan ketajaman pendengaran mereka dari pada ketajaman penglihatan mereka.

Dari sambaran angin serangan, mereka dapat mengetahui dari arah mana serangan datang menyambar.

Sementara itu, Retno Susilo yang menonton menjadi semakin tegang dan gelisah, mengkhawatirkan keselamatan kekasihnya.

"Anakmas Priyadi, kenapa tidak mempergunakan Pecut Sakti Bajrakirana?"

Tiba-tiba Ki Klabangkolo berseru nyaring.

Agaknya Priyadi baru teringat akan senjata pusaka keramat ini.

Dia melompat ke belakang, menyarungkan kerisnya dan melolos pecut sakti itu yang tadinya dilibatkan di pinggangnya.

Pecut yang panjang itu digerakkan ke atas dan terdengar bunyi meledak-ledak seperti halilintar menyambar-nyambar.

Sutejo terkejut sekali.

Hatinya menjadi terguncang dan dia merasa agak gentar karena dia tahu benar keampuhan pecut sakti itu.

"Sutejo! Kau melihat pusaka ini? Berlututlah karena setiap orang murid Jatikusumo harus menaati pemegang pecut pusaka ini"

Bentak Priyadi.

"Hemm, Priyadi. Pecut pusaka itu sesungguhnya telah menjadi milikku, diberikan oleh mendiang Resi Limut Manik. Bhagawan Jaladara secara licik telah mencuri kemudian merebut pecut pusaka itu dari tanganku, kemudian dia memberikannya kepadamu. Pecut itu adalah milikku. Penghormatan bukan dilakukan terhadap pecut pusaka, melainkan terhadap pemegangnya. Dan engkau adalah seorang durjana yang tidak patut untuk dihormati. Kembalikan pecut Bajrakirana itu kepadaku?"

"Mampuslah engkau!"

Priyadi membentak dan menggerakkan cambuk itu yang melecut-lecut ke arah kepala Sutejo.

"Tar-tar-tar-tarrrr.......!"

Sutejo terpaksa harus berloncatan ke sana sini untuk menghindarkan diri.

Lecutan Pecut Bajrakirana itu berbahaya sekali dan kalau mengenai kepalanya, mungkin dia akan roboh tewas.

Dia lalu menggerakkan kain pengikat kepalanya, memainkannya dengan Aji Bajrakirana.

Akan tetapi karena yang dimainkan hanya sehelai kain sedangkan aji itu harus dimainkan dengan sebatang pecut dan pecut itupun harus Pecut Bajrakirana, maka permainannya tidaklah begitu hebat.

Sedangkan penyerangan Priyadi bertubi-tubi, pecut menyambar-nyambar.

Terpaksa Sutejo harus mengerahkan seluruh ilmunya untuk meringankan tubuhnya yaitu Aji Harina Legawa.

Tubuhnya bergerak seperti seekor burung srikatan, dan sudah cepat menghindar sebelum ujuug cambuk menyentuh tubuhnya.

Dua kali dia mencoba untuk menangkis dengan kain pengikat kepalanya, akan tetapi setiap kali bertemu ujung pecut, kain pengikat kepalanya itu terobek ujungnya!

Setelah dua kali senjatanya yang istimewa itu hancur ujungnya bertemu dengan Pecut Sakti Bajrakirana, Sutejo tidak berani menangkis lagi dan hanya mengandalkan kecepatan gerakannya untuk menghindarkan diri.

Dia berusaha membalas serangan-serangan lawan yang bertubi-tubi datangnya itu dengan kain itu yang sudah remuk pinggirnya dan memang ilmu silat pecut Bajrakirana yang dimainkannya sempat membuat Priyadi terkejut dan memutar pecutnya melindungi diri.

Akan tetapi kain pengikat kepala itu bukan pecut.

Kurang panjang dan tidak ada gagangnya.

Tentu saja gerakan Sutejo menjadi terbatas dan ilmu yang hebat itu tidak dapat dimainkan sepenuhnya.

Malam telah tiba.

Cuaca amat gelapnya.

Tiba-tiba Priyadi yaag tadinya sempat dikejutkan oleh permainan silat Sutejo yang aneh, melompat ke belakang.

"Tahan dulu!"

Serunya lantang.

"Sutejo! Malam telah tiba. Cuaca terlalu gelap bagi kita untuk melanjutkan pertandingan. Kalau engkau memang jantan, aku menantangmu untuk melanjutkan pertandingan besok pagi setelah matahari muncul, tempatnya di sini juga. Kalau engkau tidak datang, maka itu berarti bahwa engkau adalah seorang pengecut dan penakut yang hina dan rendah!"

"Priyadi!"

Bentak Sutejo.

"Siapa takut kepadamu? Sekarang ataupun besok pagi, aku selalu siap menghadapimu! Besok pagi aku akan datang ke sini memenuhi tantanganmu karena sudah menjadi kewajibanku untuk membasmi seorang manusia berhati iblis seperti kamu!"

"Hati-hati, kakangmas Sutejo. Manusia iblis macam dia tentu tidak segan bertindak curang!"

Kata Retno Susilo.

"Nimas Retno Susilo, ingatlah bahwa hatiku masih tetap terbuka untukmu. Nah, sampai besok pagi kita berjumpa lagi. Mari, paman klabangkolo!"

Priyadi lalu meninggalkan tempat itu bersama Ki Klabangkolo, meninggalkan Sutejo dan Retno Susilo.

"Bagaimana, kakangmas? Apakah kiranya engkau mampu menandinginya? Aku tadi bingung, tidak tahu siapa yang lebih unggul antara kalian berdua,"

Kata Retno Susilo sambil menghampiri Sutejo. Sutejo menghela napas panjang dan mengikatkan kembali kain yang tadi dipergunakan sebagai senjata di kepalanya.

"Wah, dia memang hebat sekali. Akan tetapi aku masih dapat mengimbanginya. Hanya setelah dia mempergunakan Pecut Bajrakirana, aku merasa kewalahan. Pusaka itu ampuh sekali sebingga kain pengikat kepalaku menjadi remuk ujungnya. Ah. kalau saja pecut itu dapat kurampas dan berada di tanganku, aku yakin akan mampu mengalahkan dan merobohkannya!"

Sutejo merasa yakin sekali karena kalau pecut itu berada di tangannya dan dia memainkannya dengan Aji Bajrakirana, agaknya Priyadi tidak akan mampu menandinginya.

"Akan tetapi, bagaimana jadinya besok pagi kalau dia mempergunakan pecut itu? Apakah....... tidak berbahaya bagimu, kakangmas?"

Tanya Retno Susilo dengan suara mengandung kekhawatiran.

"Jangan khawatir, diajeng. Dia tidak akan mudah untuk mengalahkan aku! Aku akan menggunakan segala daya untuk menandinginya."

"Kakangmas, aku merasa khawatir sekali. Apakah tidak sebaiknya kalau kita pergi saja dari sini? Kelak, kalau kita sudah siap dan melakukan penyerbuan ke sini, baru engkau hadapi lagi dia."

"Ah, bagaimana mungkin aku dapat melakukan hal itu, diajeng? Tentu Priyadi akan menganggap aku pengecut dan penakut. Tidak, aku harus menyambut tantangannya. Kurasa aku masih sanggup untuk menandinginya, walaupun dia mempergunakan Pecut Bajrakirana. Nah, sekarang kita harus mencari tempat untuk beristirahat dan melewatkan malam ini, diajeng. Aku harus menghimpun tenaga untuk menghadapi Priyadi besok pagi."

Retno Susilo tidak mau membantah lagi dan mereka lalu menyusuri pantai itu.

Akhirnya mereka menemukan sebuah guha di antara batu-batu karang di pantai itu dan mereka lalu memasuki guha dengan mempergunakan seikat kayu yang dibakar sebagai penerangan.

Guha itu cukup lebar dan lantainyapun rata.

Sutejo lalu membuat api unggun di mulut guha dan merekapun beristirahat.

"Engkau tidurlah, kakangmas. Engkau perlu beristirahat untuk memulihkan tenagamu agar besok pagi engkau dapat menghadapi musuh dalam keadaan segar. Biar aku yang melakukan penjagaan agar api unggun tidak sampai padam."

Sutejopun tidak sungkan-sungkan lagi.

"Baiklah, diajeng, dan terima kasih."

Dia lalu memasuki guha dan merebahkan dirinya di sudut guha, tidur telentang dan mengendurkan seluruh urat syarafnya untuk beristirahat.

Bulan purnama muncul dengan cahayanya yang lembut dan terang menciptakan pemandangan yang amat indah penuh rahasia di sepanjang pantai Laut Selatan yang luas itu.

Deru dan desis air yang menipis di pantai pasir, debur ombak yang menggelegar menghantam dinding karang, menambah aneh suasana di malam hari itu.

Tiba-tiba Retno Susilo memandang ke arah pantai berpasir dengan mata terbelalak.

"Kakangmas Sutejo.... !"

Ia memanggil dengan suara tertahan. Sutejo yang belum pulas karena baru saja merebahkan diri, bangkit duduk.

"Ada apakah, diajeng ?"

"Ada orang di sana, kakangmas. Mencurigakan sekali!"

Sutejo menghampiri Retno Susilo di mulut guha dan diapun kini melihat ada sosok tubuh seseorang terbungkuk bungkuk menuju ke air.

"Celaka, agaknya orang itu hendak membunuh diri kata Sutejo dan diapun melompat bangun lalu berlari, diikuti Retno susilo, Mereka menghampiri orang yang kini sudah masuk ke dalam air dan sudah berada di bagian yang sepinggang dalamnya! Agaknya ia hendak terus ke tengah! Sutejo cepat berloncatan dalam air dan akhirnya ia dapat meraih pinggang orang itu dan menariknya ke daratan kembali. Dia merasa heran sekali mendapatkan kenyataan bahwa yang hendak membunuh diri itu adalah seorang wanita. Seorang wanita muda yang cantik manis walaupun rambutnya awut-awutan. Dan di bawah sinar bulan purnama, dia dapat melihat wajah itu dengan jelas. Sutejo tertegun ketika dia mengenal wajah gadis itu.

"Sumarni......! Kau.....kau........Sumarni?"

Retno Susilo sudah berada pula di sampingnya dan gadis ini tentu saja juga terheran mendengar betapa Sutejo agaknya telah mengenal gadis yang hendak membunuh diri.

Gadis itu memang Sumarni.

Tadinya ia meronta dalam rangkulan Sutejo, akan tetapi ketika ia mendengar Sutejo menyebut namanya, iapun segera mengenal pemuda itu dan iapun menjatuhkan dirinya berlutut di atas pasir dan menangis tersedu-sedu dengan sedih sekali.

"Kakangmas Sutejo, siapakah gadis ini?"

Retno Susilo bertanya dengan alis berkerut.

"Ia Sumarni. Pernah aku menolongnya dari tangan orang-orang jahat. Sumarni, mengapa engkau berada di sini dan apa yang hendak kaulakukan tadi?"

Ditanya begini, Sumarni menangis semakin sedih.

"Sumarni, lupakah engkau kepadaku? Tidak percayakah engkau kepadaku?"

Tanya Sutejo. Di antara isak tangisnya, Sumarni berkata.

"Saya mengenal andika, denmas Sutejo. Akan tetapi mengapa denmas menolong saya? Biarkan saya tenggelam dan mati saja........" (Lanjut ke

Jilid 21) Pecut Sakti Bajrakirana (Seri ke 01 -Serial Pecut Sakti Bajrakirana) Karya". Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 21

"Akan tetapi kenapa? Apa yang terjadi?"

Tanya Sutejo.

"Denmas ingat cerita saya dahulu tentang pemuda bernama Permadi itu?"

"Hemm, yang meninggalkanmu begitu saja?"

"Benar, denmas, Akhirnya dia datang dan dengan paksa dia membawa saya ke sini. Ternyata dia bukan dewa penjaga sungai, melainkan seorang ketua perkumpulan yang bernama Priyadi. Tadinya saya rela mengikutinya, saya cinta padanya, akan tetapi......ahhhh......."

Retno Susilo tertarik ketika mendengar bahwa yang diceritakan gadis itu adalah mengenai Priyadi "Akan tetapi apakah? Apa yang dia lakukan terhadap dirimu?"

Retno Susilo membantu Sumarni untuk bangkit. Gadis dusun Jaten itu mengusap pipinya dengan kedua tangan.

"Ternyata dia seorang yang kejam dan jahat sekali, denmas Sutejo. Dia hanya menganggap aku sebagai barang permainan belaka dan yang lebih menghancurkan hatiku, dia......dia.......menyuguhkan dan menyerahkan aku kepada Ki Klabangkolo......."

"Keparat jahanam!"

Sutejo mengepal tangannya dengan marah Dia dapat membayangkan bagaimana hancur dan sengsara rasa hati gadis itu yang dipaksa untuk melayani Ki Kiabangkolo, disuguhkan sendiri oleh Priyadi yang dicintanya!

"Aku cinta padanya, denmas.

akan tetapi aku juga benci padanya.....kalau saja aku dapat, aku ingin membunuhnya......akan tetapi tidak mungkin, dia berkuasa dan sakti.

Lebih baik aku mati tenggelam saja......."

Gadis itu menangis lagi. Sutejo tidak dapat berkata apa-apa. Dia menjadi bingung, harus menghibur bagaimana kepada gadis dusun yang bernasib malang itu.

"Kakangmas Sutejo, engkau kembalilah ke dalam guha dan beristirahatlah. Biarkan aku yang bicara dengan mbakayu ini"

Aku tahu bagaimana harus manghiburnya."

Kata Retno Susilo.

Sutejo memandang kepadanya lalu kepada Sumarni yang masih menangis.

Kemudian dia mengangguk.

Biarlah Retno Susilo yang menghiburnya.

Dia sendiri tidak dapat berbuat apa-apa.

Dia mengangguk lalu meninggalkan dua orang wanita itu, kembali ke dalam guha, menambahkan kayu pada api unggun, lalu tertidur.

"Mbakayu Sumarni, aku Retno Susilo, aku kasihan kepadamu dan aku ingin memberi jalan kepadamu untuk melampiaskan dendam sakit hatimu. Bukankah engkau amat membenci Priyadi yang telah menyuguhkan dirimu kepada Ki Klabangkolo?"

"Aku......aku tadinya amat cinta kepadanya, den roro, akan tetapi sekarang aku amat benci kepadanya. Perbuatan itu amat menyakitkan hatiku."

"Engkau ingin membalas dendam dan melihat dia mati?"

"Akan tetapi bagaimana mungkin saya dapat membunuhnya? Dia digdaya sekali dan berkuasa di perkampungan Jatikusumo, mempunyai banyak pembantu pula."

"Mbakayu Sumarni Sebelum aku memberi jalan kepadamu untuk membalas dendam, lebih dulu ceritakanlah kepadaku tentang keadaan di Jatikusumo Kami memerlukan keterangan itu. Jawab saja pertanyaanku. Berapa banyak kira-kira Jumlah anak buah Jatikusumo?"

"Banyak sekali, den roro. Tidak kurang dari seratus Lima puluh orang dan setiap hari mereka berlatih kanuragan dan perang-perangan."

"Selain Ki Klabangkolo, ada siapa lagi yang membantu Priyadi di sana?"

"Banyak, den roro. Ada Resi Wisangkolo yang menyeramkan itu dan ada pula perempuan yang agaknya menjadi kekasih pula dari Priyadi. Wanita itu bernama Sekarsih, cantik dan genit sekali. Dan pernah pula datang empat orang tamu dari Wirosobo, akan tetapi mereka sekarang telah pergi."

"Bagus, keteranganmu ini amat berguna bagi kami. Ketahuilah, mbakayu Sumarni, kami berdua juga merupakan musuh besar Priyadi. Kami berusaha untuk membunuhnya karena dia adalah seorang jahat sekali. Dan kalau engkau mendendam kepadanya dan ingin Priyadi mati, engkau dapat membantu kami, malam ini juga."

"Den roro, saya adalah seorang gadis dusun yang bodoh dan lemah. Bagaimana saya dapat membantu andika berdua? Tentu saja saya bersedia membantu denmas Sutejo karena saya berhutang budi kepada ksatria yang budiman itu."

"Bagus sekali. Engkau memang harus menolong kakangmas Sutejo, karena kalau tidak kau tolong, mungkin besok pagi dia akan tewas di tangan si jahanam Priyadi."

"Ahh...!"

Sumarni terkejut.

"Saya akan bantu, akan tetapi bagaimana?"

"Begini, mbakayu Sumarni. Besok pagi setelah matahari terbit, Priyadi akan datang ke sini dan akan bertanding melawan kakangmas Sutejo. Sebetulnya kakangmas Sutejo dapat menandingi dan mengalahkan Priyadi. Akan tetapi Priyadi mempunyai sebatang pecut yang sebetulnya milik kakangmas Sutejo. Priyadi mendapatkan pecut itu secara curang. Nah, pecut itulah yang kalau dipergunakan Priyadi mungkin akan mengalahkan kakangmas Sutejo dan bisa jadi akan membunuhnya. Maka, kalau engkau benar-benar hendak membalas kejahatan Priyadi terhadap dirimu dan hendak membalas budi kebaikan kakangmas Sutejo kepadamu usahakanlah agar engkau dapat mencuri Pecut Bajrakirana itu dan membawanya ke sini malam ini juga Hanya dengan begitulah maka Priyadi akan dapat dihukum, bahkan juga Ki Klabangkolo yang membantunya. Kalau engkau tidak bersedia melakukannya, sakit hatimu tidak akan terbalas, engkau tetap menjadi barang permainan Priyadi dan Ki Klabangkolo yang terhina dan engkau tidak akan dapat membalas budi kebaikan kakangmas Sutejo kepadamu. Bahkan mungkin kakangmas Sutejo akan tewas di tangan Priyadi. Nah, sekarang terserah kepadamu untuk memilih dan bertindak."

Sumarni sudah tidak menangis lagi. Ia termenung.

"Hemm...... begitukah? Baik sekali, saya mendapat kesempatan untuk membalas terhadap jahanam-jahanam itu dan membalas budi kepada denmas Sutejo. Akan kulakukan itu, den roro. Akan kuusahakan. Saya tahu apa yang harus saya lakukan! Akan saya rayu dia malam ini sampai dia terlena dan kalau dia sudah tertidur pulas, akan saya curi pecut itu dan saya bawa ke sini."

Retno Susilo menjadi girang sekali. Melihat Sumarni hendak beranjak dari situ, ia berkata.

"Tunggu dulu, Sumarni. Kalau engkau sudah berhasil membawa pecut ke sini dan menyerahkannya kepadaku, engkau harus segera meninggalkan tempat ini dan jangan sampai tertangkap oleh mereka. Sebaiknya engkau jangan pulang ke dusunmu karena mungkin mereka akan mencarimu ke sana. Lebih baik engkau pergi ke daerah Ngawi, di tepi bengawan sana terdapat perkampungan Nogo Dento, yaitu tempat tinggal kami. Engkau pergilah ke sana dan engkau akan terlindung di sana. Tak seorangpun akan dapat mengganggumu lagi."

"Baik, den roro. Nah, saya pergi. Doakan saja usaha saya akan berhasil. Kalau saya berhasil, malam ini juga saya akan mengantarkan pusaka itu kesini, akan tetapi kalau saya tidak datang, berarti saya tidak berhasil dan mungkin sudah terbunuh."

"Selamat jalan dan selamat berjuang, mbakayu Sumarni. Sampai pagi aku akan menunggumu di sini,"

Kata Retno Susilo dengan hati girang dan penuh harapan.

Mereka duduk di sekeliling meja besar di ruangan belakang rumah induk Jatikusumo itu Sebuah ruangan yang luas dan tiga buah lampu gantung menerangi ruangan itu sehingga menjadi terang.

Priyadi duduk di kepala meja dan di hadapannya, mengelilingi meja duduk Ki Klabangkolo Resi Wisangkolo.

Sekarsih, dan tiga orang pembantu utamanya, yaitu yang merupakan perwira-perwira dari pasukan sebanyak seratus orang yang dikirim oleh Bhagawan Jaladara dari Wirosobo.

"Aku yakin akan dapat menang melawan Sutejo. Besok pagi. Pecut Bajrakirana tentu akan memecahkan kepalanya. Tadipun, kalau tidak keburu gelap, tentu aku sudah merobohkannya karena dia sudah terdesak."

Kata Priyadi.

"Memang andika tidak kalah"

Kata Ki Klabangkolo "akan tetapi menurut penglihatanku andika juga tidak akan mudah merobohkannya, Anak mas Priyadi.

Si Sutejo itu benar-benar tangguh sekali, gerakannya luar biasa cepatnya sehingga ia mampu menghindar dari setiap sambaran pecut pusaka andika."

"Kurasa, lebih baik jangan main-main menghadapi orang berbahaya seperti dia,"

Kata Sekarsih.

"Untuk apa menunda-nunda lagi? Sebaiknya besok pagi, secara sembunyi kita semua mendatangi tempat itu. mengepung lalu menangkapnya."

"Hem. aku sendiri sudah merasakan ketangguhan Sutejo. Lebih baik memang begitu. Kita sergap dan kita bunuh dia agar lain waktu tidak akan mengganggu kita lagi,"

Kata Resi Wisangkolo.

"Jangan kalian bergerak lebih dulu."

Kata Priyadi.

"Kalian boleh datang mengepung tempat itu dan biarkan aku lebih dulu menandinginya. Hal ini menyangkut nama dan kehormatan, menyangkut harga diriku. Kalau ternyata memang sukar bagiku untuk mengalahkannya, barulah kalian boleh menyergap Akan tetapi hati-hati, jangan sampai melukai atau membunuh Retno Susilo. Aku sudah mengambil keputusan antuk menjadikan gadis itu sebagai isteriku, mendampingiku dalam memimpin Jatikusumo!"

"Aku akan menjaga agar ia tidak sampai terluka atau terbunuh, akan tetapi kuharap, setelah ada yang baru, yang lama agar Jangan dilupakan!"

Kata Sekarsih dengan sikap genit dan tanpa malu-malu lagi. Priyadi tersenyum lalu bangkit berdiri.

"Jangan khawatir, aku tidak akan melupakan kawan-kawan semua yang telah membuat jasa. Sekarang aku harus mengaso dan tidur untuk menghadapi pertandingan besok, Kalau tidak ada hal yang teramat penting, jangan ada yang mengganggu tidurku."

Setelah berkata demikian, Priyadi meninggalkan ruangan besar itu dan menuju ke kamarnya yang berada di sebelah dalam.

Baru saja dia tiba di depan kamarnya, Sumarni sudah menyongsongnya.

Gadis itu mendekat dan Priyadi melihat betapa gadis itu tampak segar kedua pipinya kemerahan, matanya redup dan senyumnya manis sekali, juga keharuman bunga menerpa hidungnya.

"Kakangmas Priyadi...!"

Ucap gadis itu dengan suara merdu merayu.

Priyadi tertegun.

Sejak kemarin Sumarni tampak lesu dan seperti marah kepadanya setelah kemarin dulu dia menyerahkan gadis itu ke dalam pelukan Ki Klabangkolo dan memaksanya melayani Ki Klabangkolo semalam suntuk.

Hal ini dilakukannya untuk menyenangkan hati pembantu itu yang tampaknya tergila-gila kepada Sumarni.

"Engkau, Sumarni? Mau apa engkau menemuiku?"

"Kakangmas....... saya......saya rindu kepadamu, kalau boleh...... malam ini saya ingin menemani dan melayanimu. Bukanlah kakangmas habis bertanding seperti yang kudengar dari para anggauta? Biarlah saya memijiti tubuh kakangmas agar hilang semua kelelahan......"

Priyadi tersenyum. Perempuan ini masih belum membuatnya bosan, masih memiliki daya tarik yang kuat untuk menggairahkannya.

"Engkau tidak marah lagi setelah kusuruh melayani Ki Klabangkolo tempo hari?"

"Bagaimana saya dapat marah kepadamu, kakangmas? Saya amat mencintamu, apa lagi baru diperintahkan seperti itu, biar kakangmas memerintahkan saya terjun ke lautan api sekalipun, akan saya lakukan dengan senang hati."

Tergerak hati Priyadi dan dia lalu merangkul leher Sumarni dan diciumuya bibir yang menantang itu.

Sumarni membalas dengan gairah yang sama.

Priyadi lalu menggandengnya masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu kamar dari dalam.

Orang yang sedang dibuai nafsu berahi kehilangan kewaspadaannya.

Priyadi menjadi terlena dan lengah.

Padahal kalau saja dia tidak mabok oleh nafsunya sendiri, dia akan melihat perubahan yang luar biasa pada sikap Sumarni.

Belum pernah Sumarni memperlihatkan gairah yang demikian besar dan berlebihan, memperlihatkan kemesraan yang membuat dia mabok.

Kalau dia waspada, tentu saja hal ini akan mendatangkan kecurigaan.

Namun, Priyadi tenggelam ke dalam gelombang nafsu dan lupa segala.

Akhirnya Priyadi tertidur karena kepuasan dan kelelahan.

Sumarni pura-pura tertidur sambil merangkulnya, akan tetapi diam-diam sepasang mata wanita ini melirik ke arah Pecut Bajrakirana yang diletakkan di tepi bantal, di dekat dinding oleh Priyadi.

Lewat tengah malam, setelah merasa yakin bahwa Priyadi telah benar-benar pulas, tertandai oleh dengkurnya yang dalam.

Sumarni lalu bergerak perlahan dan hati-hati.

Tangannya dijulurkan meraih pecut sakti itu.

Dilibatkan ujung pecut yang panjang itu kepada batang pecut dan Ia lalu turun perlahan-lahan.

Dibetulkan letak pakaiannya dan tanpa memperdulikan lagi akan pakaiannya yang kusut dan rambutnya yang terlepas dan terurai panjang, iapun berjingkat ke arah pintu kamar, membuka pintu kamar lalu melangkah menuju ke pintu belakang.

Keadaan rumah itu telah sunyi, semua orang agaknya telah tertidur pulas, merasa aman karena perkampungan itu terjaga ketat.

Sumarni telah mempelajari keadaan perkampungan itu.

Ia tahu bagian dinding mana yang dapat diterobosnya untuk keluar tanpa diketahui para penjaga.

Untuk itu ia harus memanjat pagar kayu yang tinggi.

Ia membelit dan mengikatkan pecut itu di pinggangnya, mengikatkan ujung kain di pinggang dan memanjat pagar itu.

Akhirnya, dengan susah payah dan hati hati ia berhasil meninggalkan perkampungan Jatikusumo tanpa terlihat oleh penjaga, Larilah wanita ini menuju ke pantai.

Untung baginya bahwa bulan purnama cukup terang sehingga dia dapat melihat jalan.

Ia berlari menuju ke pantai berpasir di mana tadi ia hendak membunuh diri dan bertemu dengan Sutejo dan Retno Susilo.

Retno susilo sudah kembali ke mulut guha dan menjaga api unggun supaya tidak sampai padam.

Ia duduk di depan api unggun asan tetapi matanya selalu dilayangkan ke arah pantai pasir penuh harap, menanti kemunculan orang yang ditunggu-tunggu, yaitu Sumarni.

Maka, begitu melihat bayangan Sumarni berian ke pantai pasir itu.

Retno Susilo cepat bangkit berdiri, melompat dan berlari cepat sekali menghampiri Sumarni yang sudah berhenti di pantai dan memandang ke sekeliling.

"Mbakayu Sumarni......!"

Retno Susilo memanggil dau dengan cepat ia telah berhadapan dengan wanita itu.

"Ahh, engkau sudah datang, den roro!"

Kata Sumarni dengan lega.

Napasnya masih terengah-engah karena ia tadi berlari terus, pakaiannya kusut dan rambutnya terurai.

Tanpa bicara lagi ia melepaskan libatan Pecut Bajrakirana dan menyerahkannya kepada Retno Susilo.

Retno Susilo menerima pecut itu.

mengamatinya sejenak dan ia mengenal pecut pusaka yang pernah dimilikinya untuk beberapa hari dahulu.

Dengan hati girang sekali ia memeluk Sumarni dan mencium kedua pipi wanita itu.

"Mbakayu Sumarni! Terima kasih, mbakayu, engkau telah menyelamatkan nyawa kakangmas Sutejo. Terima kasih, engkau baik sekali!"

Sumarni sesenggukan dalam rangkulan Retno Susilo.

Wanita ini merasa nelangsa sekali.

Ia telah mengorbankan perasaannya, menahan rasa benci dan muaknya terhadap Priyadi yang telah menghancurkan hatinya, dengan bersikap mesra dan penuh cinta kasih.

Akan tetapi ia juga merasa bersedih karena ia harus mengkhianati orang yang sesungguhnya ia cinta.

Tak disangkanya cintanya yang demikian tulus dan murni terhadap Priyadi telah dihancurkan pemuda itu dengan perbuatan keji, menyerahkan ia untuk diperkosa oleh Ki Klabangkolo!

"Den roro, semoga engkau hidup berbahagia dengan denmas Sutejo........"

Katanya lirih. Retno Susilo melepaskan rangkaiannya dan ia mengeluarkan sekantung uang yang tadi telah dipersiapkannya.

"Terimalah ini, mbakayu, untuk bekalmu dalam perjalanan. Sekarang, cepat pergilah dari sini dan lakukan perjalanan, terus saja menuju ke utara dan pergilah ke daerah Ngawi, tanayakan perkampungan Nogo Dento yang berada di tepi bengawan. Pergilah engkau ke sana. katakan kepada Ki Harjodento yang menjadi ketua di sana bahwa engkau datang karena aku yang menyuruhmu dan ceritakan semua kepada mereka. Engkau akan diterima dengan baik dan engkau akan aman di sana. Cepat pergilah!"

Sumarni menoleh ke arah utara, lalu mengangguk.

"Selamat tinggal, den roro!"

Katanya terisak.

"Selamat jalan, mbakayu!"

Sumarni lalu melangkah pergi, menuju ke utara dan lenyap di balik batu-batu karang.

Dengan gembira sekali Retno Susilo memainkan pecut itu lalu berlari kembali ke dalam guha ia melihat Sutejo masih tidur pulas.

Hatinya merasa khawatir.

Bagaimana kalau Priyadi sudah tahu bahwa Pecut Bajrakirana telah dicuri oleh Sumarni?

Tentu dia akan datang mencari ke sini dengan membawa para pembantunya.

Gawat kalau begitu!

Malam telah larut dan Sutejo telah tidur cukup.

Dia harus dibangunkan untuk diberitahu akan kenyataan yang menggembirakan itu dan untuk berjaga-jaga kalau Priyadi dan kawan-kawannya datang mencari pecutnya.

"Kakangmas Sutejo.....!"

Ia mengguncang pundak pemuda itu. Sutejo tidur dalam keadaan siap, maka begitu terguncang pundaknya, dia segera bangkit duduk dan memandang Retno Susilo.

"Diajeng Retno! Ada apakah, sudah pagi?"

"Belum, kakangmas. Akan tetapi sudah lewat lengah malam. Bangunlah, kakangmas, ada suatu kabar gembira untukmu!"

Sutejo tersenyum. Gadis aneh, membangunkannya hanya untuk memberi kabar gembira. Mana ada kabar gembira di situ? "Kabar apakah, diajeng?"

Katanya sambil bangkit berdiri dan mengambil tempat duduk di depan api unggun, dekat Retno Susilo.

"Lihat ini.......!"

Kata Retno Susilo sambil mengambil pecut yang tadi disembunyikan di belakang tubuhnya dan dia mengangkat pecut itu tinggi-tinggi sehingga terkena cahaya api unggun, Sutejo terbelalak, mengejap-ngejapkan matanya seolah tidak percaya akan apa yang dilihatnya.

"Bajrakirana.......???"

Dia berseru, kaget dan heran, juga penuh keraguan.

"Yang aseli dan murni!"

Kata Retno Susilo gembira sambil menyerahkan pecut itu.

"Kalau tidak percaya, periksalah sendiri, kakangmas."

Sutejo mengambil pecut itu dari tangan Retno Susilo dan mengamati pecut itu.

Matanya terbelalak, wajahnya berseri dan jantungnya berdebar penuh rasa gembira luar biasa.

Dia tidak ragu lagi.

Ini memang Pecut Sakti Bajrakirana yang asali.

Dia mencium pecut itu dan menjunjung tinggi di atas kepalanya, lalu memandang kepada Retno Susilo.

"Diajeng, mujijat apakah yang telah kau lakukan ini? Bagaimana mungkin pecut pusaka yang kemarin sore masih dipergunakan oleh Priyadi, kini dapat berada di tanganmu? Apakah yang telah kau lakukan? Apa yang telah terjadi?"

"Kecerdikan, kakangmas. Kalau kekuatan sudah tidak berdaya, maka kecerdikan dapat menolong. Dengan menggunakan akal aku dapat memperoleh Pecut Bajrakirana dari tangan si jahanam Priyadi."

"Bagaimana caranya, Diajeng?"

Tanya Sutejo kagum.

"Apakah engkau tadi berkunjung kesana? berbahaya sekali!"

"Kalau aku sendiri berkunjung ke sana dan. menggunakan kekerasan, itu berarti perbuatan nekat dan bodoh. Tidak, aku tetap ada di sini, hanya menanti, kakangmas. Yang melakukan bukan aku, melainkan Sumarni."

"Sumarni?"

Sutejo terbelalak.

"Akan tetapi bagaimana.....?"

"Engkau tentu tahu bahwa Sumarni mengandung dendam sakit hati yang besar sekali terhadap Priyadi, kakangmas. Ia demikian bersedih sehingga hampir saja ia membunuh diri kalau tidak tertolong olehmu. Nah, aku menggunakan dendamnya itu, memberi jalan kepadanya untuk membalas dendam dengan mencuri pecut pusaka ini untukku dan untukmu. Ia hendak membalas dendamnya kepada Priyadi dan membalas budimu dengan mencuri pecut pusaka ini untukmu, dan ia berhasil."

"Ahh.....! Itu berbahaya sekali! Dan di mana Sumarni sekarang?"

"Aku telah memberinya bekal cukup dan menyuruh ia pergi ke perkampungan Nogo Dento. Ia akan aman di sana. Baru saja ia telah pergi sehingga tidak mungkin akan tertangkap oleh Priyadi yang tentu tidak tahu ke mana ia melarikan diri."

"Bagus, mudah-mudahan ia dapat tiba di sana dengan selamat. Akan tetapi, diajeng, perbuatan ini...... mencuri Pecut Bajrakirana...... merupakan perbuatan yang curang......!"

Retno Susilo mengerutkan alisnya dan menatap wajah pemuda itu dengan marah.

"Kakangmas Sutejo! Menghadapi seorang jahanam busuk seperti Priyadi itu, engkau masih hendak menggunakan kejujuran? Ingat, engkau sendiri yang bercerita tentang Pecut Sakti Bajrakirana, Bukankah pecut itu tadinya dicuri oleh Bhagawan Jaladara dari padepokan Resi Limut Manik? Kemudian engkau berhasil merampasnya. Kemudian Bhagawan Jaladara menggunakan kecurangan lagi, memaksamu mengembalikan pecut itu kepadanya dengan mengancam akan membunuh gurumu. Dua kali Bhagawan Jaladara menguasai pecut itu dengan kecurangan dan kejahatan, dan dia menyerahkan pecut kepada Priyadi. Kalau sekarang aku menggunakan akal, ingat aku dan bukan engkau yang menggunakan akal mencuri pecut itu dari tangan Priyadi, bukankah hal itu sudah sewajarnya? Aku yang mencuri, kakangmas, bukan engkau. Dan aku memberikan pecut itu kepadamu, seperti Bhagawan Jaladara memberikannya kepada Priyadi!"

Melihat gadis itu marah-marah dan mendengar ucapannya yang mengandung kebenaran, Sutejo tersenyum dan mengangguk-angguk.

"Terima kasih, diajeng. Aku menerima pemberianmu dan sekarang aku melihat bahwa memang sudah sewajarnya dan sepantasnya kalau Pecut Bajrakirana ini kembali ke tanganku karena memang aku yang berhak."

Setelah berkata demikian.

Sutejo lalu berlatih silat, memainkan pecut itu dengan ilmu pecut Aji Bajrakirana.

Semenjak dia menguasai aji itu, baru sekali ini dia berlatih menggunakan pecut aslinya.

Terasa cocok dan enak sekali bersilat dengan aji itu menggunakan Pecut Bajrakirana, sudah pas dan tepat sekali.

Pecut meledak-ledak dan tampak bunga api berpilar ketika ujung pecut mematuk udara.

Ledakan diselingi sinar bunga api sehingga cocok benar dengan nama pecut itu Bajrakirana (Sinar Kilat).

Retno Susilo menonton dengan takjub dan kagum sekali.

Sungguh luar biasa sekali ilmu silat yang dimainkan kekasihnya itu dan ia merasa yakin bahwa Sutejo pasti akan mampu mengalahkan Priyadi kalau dia menggunakan Pecut Bajrakirana.

Akan tetapi padu saat itu terdengar suara nyaring.

"Sutejo, pencuri hina. manusia curang. Kembalikan Bajrakirana kepadaku!"

Itu adalah teriakan Priyadi yang dilakukan dari jarak jauh dan tampaklah banyak obor dibawa banyak orang yang berlari-larian menuju ke guha itu.

Melihat ini, Sutejo juga mengerahkan tenaga saktinya dan berteriak lantang.

"Priyadi, ini adalah pecut pusaka milikku! Engkaulah yang mencurinya dariku melalui tangan Bhagawan Jaladara!"

Akan tetapi Retno Susilo sudah menyambar tangan kiri Sutejo dan ditariknya pemuda itu, diajaknya lari dari situ.

"Kakangmas Sutejo, mari kita lari!"

"Tidak. aku hendak menghajar Priyadi!"

"Kakangmas! Aku sudah mendengar dari mbakayu Sumarni bahwa Priyadi dibantu baayak orang. Ada Resi Wisangkolo, Ki Klabangkolo, Sekarsih dan tiga orang perwira Wirosobo. Belum lagi diperhitungkan anak buahnya yang seratus lima puluh lebih banyaknya. Bagaimana kita mampu melawan mereka? Belum waktunya sekarang untuk membasmi mereka. Marilah kita lari!"

Retno Susilo menarik lagi tangan Sutejo untuk diajak melarikan diri.

Kini Sutejo juga tidak membantah lagi karena dia menyadari bahwa seorang diri, bahkan dibantu oleh Retno Susilo sekalipun, melawan demikian banyaknya orang, sama saja dengan membunuh diri.

Perbuatan nekat yang tidak dapat perhitungkan dan bodoh.

"Mari!"

Katanya dan kedua orang itu lalu melompat keluar dari guha dan melarikan diri.

Para pengejar dapat melihat bayangan dua orang yang melarikan diri ini.

Mereka berteriak-teriak dan dipimpin oleh Priyadi dan Resi Wisangkolo, mereka melakukan pengejaran.

Akan tetapi Sutejo menggunakan Aji Harina Legawa yang sudah mencapai tingkat tertinggi sehingga tubuhnya meluncur Seperti terbang cepatnya.

Retno Susilo juga tidak mau kalah.

Dengan Aji Kluwung Sakti, tubuhnya juga berlari cepat bukan main.

Sebentar saja bayangan dua orang ini sudah lenyap dan para pengejar kehilangan jejak.

"Jahanam keparat!"

Priyadi membanting-banting kaki dengan marah, kemudian dia teringat akan Sumarni.

Bangkit kemarahannya karena dia menyadari bahwa tentu Sumarni yang telah melakukan pencurian terhadap pecut pusaka itu dan entah bagaimana wanita itu agaknya telah menyerahkan pecut pusaka itu kepada Sutejo.

"Cari Sumarni!"

Teriaknya sehingga terdengar oleh semua anak buahnya.

"Cari perempuan khianat itu sampai ketemu, hidup atau mati!!"

Karena sudah tidak mungkin mengejar kedua orang muda yang telah lenyap dan tidak diketahui lari ke arah mana itu, anak buah Priyadi kini melaksanakan perintah pimpinan mereka.

Mereka mengira bahwa mencari Sumarni tentu lebih mudah karena Sumarni adalah seorang wanita lemah dan tentu belum lari jauh.

"Cari ia! Kalau perlu susul dan cari sampai ke desanya, di Jaten!"

Teriak pula Priyadi.

Dia sendiri lalu ikut mencari dengan dada yang rasanya seperti mau meledak saking marahnya.

Namun, semua pencari itu salah arah.

Tidak ada yang mengira bahwa Sumarni sejak malam tadi sudah melarikan diri dan arahnya ke utara.

Pemuda gagah perkasa tinggi besar itu melangkah tanpa ragu menuju pintu gerbang keputren.

yang berada di bagian belakang istana kerajaan Mataram.

Dia memanggul sebatang tongkat dan sikapnya santai saja ketika dia menghampiri belasan orang perajurit yang bertugas menjaga pintu gerbang keputren itu.

Daerah keputren ini merupakan daerah terlarang bagi orang luar, terutama pria untuk memasukinya dan kalau ada yang mempunyai keperluan penting dengan keputren, dia harus mempunyai surat ijin dari pejabat pengawas keamanan istana.

Pemuda itu adalah Cangak Awu.

Seperti kita ketahui, dia datang ke kota raja untuk menemui adik seperguruannya, yaitu Puteri Wandansari untuk melaporkan tentang keadaan Jatikusumo yang telah dibasmi oleh Priyadi.

"Berhenti!!"

Bentak kepala jaga ketika melihat Cangak Awu menghampiri pintu gerbang dengan sikap santai dan melangkah seenaknya Cangak Awu berhenti melangkah dan menghadapi belasan orang penjaga yang menghadangnya dengan pandang mata galak penuh curiga.

"Heii, siapa engkau dan mau apa engkau berani mendekati pintu gerbang keputren?"

Menghadapi teguran yang galak itu Cangak Awu bersikap tenang saja.

Dia memang belum pernah berkunjung ke tempat tinggal Puteri Wandansari dan tidak tahu tentang peraturan di tempat itu.

Berbeda dengan mendiang Maheso Seto dan Rahmini yang tempo hari datang berkunjung.

Mereka tidak mau repot-repot dan memasuki keputren dengan cara menyelundup, mempergunakan kepandaian mereka untuk melompati pagar tembok yang mengelilingi keputren dan langsung menemui Puteri Wandansari di dalam.

Cangak Awu adalah seorang yang kasar dan jujur, dia tidak mempunyai akal untuk melakukan bal seperti itu, melainkan langsung saja hendak masuk melalui pintu gerbang seperti memasuki perkampungan sendiri saja.

"Namaku Cangak Awu dan aku ingin memasuki pintu gerbang ini untuk bertemu dan bicara dengan Diajeng Wandansari"

Kata Cangak Awu dengan nada suara biasa saja. Belasan orang perajurit itu saling pandang dengan kaget dan heran. Kepala jaga menjadi marah sekali.

"Manusia kurang ajar! Berani engkau menyebut Gusti Puteri Wandansari dengan diajeng"

"Sudah gilakah engkau? Hayo cepat minggat dari sini atau kami akan menangkapmu dengan tuduhan mempunyai niat buruk yang mencurigakan!"

"Saudara-saudara, aku bicara sebenarnya. Diajeng Wandansari adalah adik seperguruanku dan ingin bertemu dan bicara kepadanya karena, ada urusan penting sekali. Biarkanlah aku masuk dan mencarinya!"

Setelah berkata demikian, Cangak Awu sudah menggerakkan kakinya lagi untuk melangkah maju hendak memasuki pintu gerbang.

Akan tetapi empat batang tombak dipalangkan menghadang di depan dadanya.

Kepala para perajurit pengawal itu menjadi marah sekali.

"Orang gila! Tangkap dia!"

Belasan orang perajurit pengawal yang berjaga di situ segera mengepung Cangak Awu dan empat orang yang berada paling depan sudah menubruk dan meringkus kaki tangan Cangak Awu.

Diperlakukan demikian, Cangak Awu menjadi marah.

"Haaaaiiittt......!"

Dia mengeluarkan teriakkan nyaring dan tubuhnya bergerak mengguncang.

Empat orang yang meringkusnya itu terpental berpelantingan dan roboh terbanting!

Melihat ini, para perajurit menjadi marah dan mereka segera mempergunakan tombak dan golok untuk menyerang Cangak Awu yang mereka, kira mengamuk.

Cangak Awu menggerakkan tongkatnya melakukan perlawanan.

Gerakannya hebat sekali.

Tombak dan golok yang bertemu tongkatnya tentu terpental dan pemegangnya terhuyung.

Diam-diam seorang di antara para perajurit itu lari memasuki keputren untuk melaporkan amukan pemuda itu kepada Sang Puteri Wandansari.

Perkelahian yang terjadi di depan pintu gerbang keputren itu menarik perhatian banyak orang.

Banyak orang datang menonton Cangak Awu mengamuk dengan tongkatnya.

Perajurit yang berani menyerang dan mendekatinya tentu akan terpental dan terlempar.

Akan tetapi pemuda ini tidak berwatak kejam.

Dia tahu bahwa para perajurit itu adalah pengawal-pengawal Puteri Wandansari, bukan musuh.

Maka diapun membatasi tenaganya dan hanya membuat mereka berpelantingan tanpa melukai mereka dengan parah.

Para penjaga yang mengandalkan banyak kawan, masih terus mengeroyok.

Yang roboh bangkit lagi dan hujan senjata menyerang tubuh Cangak Awu.

Akan tetapi pemuda itu memutar tongkatnya.

Terdengar suara berdentangan dan banyak senjata golok dan tombak beterbangan, terlepas dari pemegangnya.

"Berhenti semua!"

Pada saat itu terdengar bentakan nyaring dan mendengar suara bentakan ini, para perajurit segera berlompatan ke belakang, menghentikan pengeroyokan mereka.

Cangak Awu memanggul tongkatnya dan memutar tubuh menghadapi orang yang mengeluarkan suara bentakan tadi.

Wajahnya berseri ketika melihat bahwa yang datang adalah Puteri Wandansari sendiri.

Sang Puteri mendengar pelaporan perajurit dan segera ia berlari keluar karena ia tahu bahwa kakak seperguruannya, Cangak Awu, adalah seorang yang berwatak kasar dan jujur sehingga mungkin akan terjadi keributan dengan para penjaga.

Benar saja, ketika ia tiba di pintu gerbang, ia melihat kakak seperguruannya itu mengamuk dengan tongkatnya.

Akan tetapi iapun dapat melihat betapa Cangak Awu tidak bermaksud mencederai para pengeroyok, maka ia membentak para perajurit itu untuk mundur.

"Diajeng Wandansari......!"

Cangak Awu berseru dengan girang.

"Kiranya engkau, Kakang Cangak Awu!"

Kata Sang Puteri dan para perajurit pengawal saling pandang dan tertegun.

Kiranya pengakuan pemuda kasar itu benar.

Gusti Puteri mereka mengenal baik dan menyebut kakang kepada pemuda itu!

"Maafkan kalau kedatanganku ini membuat kekacauan.

Habis, mereka tidak memperkenankan aku masuk menemuimu, diajeng."

Kata Cangak Awu sambil memandang kepada belasan orang perajurit yang berkumpul di depan gardu penjagaan.

"Maafkan mereka, Kakang Cangak Awu. Mereka hanya melaksanakan tugas menjaga keamanan dan keselamatan keputren. Mari, masuklah. Tentu ada keperluan penting sekali maka engkau datang menemuiku."

"Memang aku membawa berita yang teramat penting, diajeng."

Kata Cangak Awu yang melangkah masuk dan keduanya segera melangkah memasuki taman keputren yang luas.

Sang Puteri Wandansari mengajak Cangak Awu untuk pergi ke tengah taman di mana terdapat sebuah anjungan, ruangan terbuka yang terlindung atap yang biasanya dipergunakan untuk duduk bersantai menikmati keindahan dalam taman.

"Duduklah, Kakang Cangak Awu dan ceritakan apa urusan penting yang hendak kau sampaikan kepadaku."

Kata Puteri Wandansari dengan sikap ramah Cangak Awu lalu duduk di atas bangku, beihadapan dengan puteri itu.

Dia sudah biasa berhubungan dengan dara bangsawan yang cantik jelita itu sebagai saudara seperguruan, maka dia tidak merasa canggung dan, menganggap sang puteri itu seperti adiknya sendiri.

"Diajeng Wandansari. Berita yang kubawa ini teramat penting, akan tetapi juga amat menyedihkan. Hatiku masih seperti diremas-remas rasanya kalau teringat akan semua peristiwa itu."

Wandansari mengerutkan alisnya.

Ia mengenal baik pemuda tinggi besar yang gagah perkasa ini.

Cangak Awu adalah seorang pemuda yang keras, kasar dan jujur, tabah dan tidak cengeng.

Maka kalau sekarang demikian bersedih dan merasa hatinya seperti diremas-remas, tentu telah terjadi sesuatu yang hebat sekali.

"Kakang Cangak Awu, berita apakah itu, cepat katakan kepadaku!"

Wandansari mendesak, ingin sekali mendengar apa yang telah terjadi.

"Dunia terasa kiamat, geger teluh terjadi malapetaka hebat menimpa Jatikusumo, diajeng. Hampir semua murid Jatikusumo terbantai, Kakang Maheso Seto, Mbakayu Rahmini, bahkan Bapa Sindusakti teiah tewas"

Cangak Awu tidak dapat melanjutkan ceritanya karena lehernya seperti tercekik kesedihan dan keharuan.

Sepasang mata yang tajam indah itu terbelalak, wajah itu menjadi pucat dan Puteri Wandansari bangkit berdiri, mengepal kedua tangan.

"Ya Tuhan......! Siapa yang melakukan semua pembunuhan itu?"

Tanyanya setengah berteriak.

"Kakang Priyadi manusia murtad yang durhaka itu!"

"Kakang Priyadi? Akan tetapi bagaimana mungkin! Kakang Priyadi adalah seorang murid yang baik dan berbakti, bahkan kita semua tahu bahwa dia adalah murid terkasih dari Bapa Guru!"

"Akan tetapi dia telah berubah, diajeng. Entah iblis mana yang telah memasuki dirinya. Dia merampas kedudukan ketua Jatikusumo dan dia tega membunuh Bapa Guru,"

"Maaf, kakang Cangak Awu. Bagaimana aku dapat mempercayai berita itu? Sepandai-pandainya Kakang Priyadi, tidak mungkin dia dapat mengalahkan Bapa Guru, apa lagi membunuhnya!"

"Entah apa yang telah terjadi dengan dirinya. Dia telah berubah seperti iblis sendiri, selain jahat kejam juga amat sakti mandraguna."

"Akan tetapi, bagaimana mungkin dia mengalahkan semua murid Jatikusumo? Bukankah di samping Bapa Guru ada pula Kakang Mahesa Seto, Mbakayu Rahmini dan engkau sendiri, kakang? Tak mungkin dia dapat mengalahkan pengeroyokan kalian semua!"

"Dia tidak datang sendiri, diajeng Dia dibantu oleh Paman Bhagawan Jaladara dan kawan kawannya, para jagoan dari Wirosobo, bahkan di antara mereka terdapat Ki Klabangkolo dan Resi Wisangkolo! Kami semua melawan mati-matian, akan tetapi pihak musuh lebih kuat sehingga akhirnya Bapa Guru. Kakang Maheso Seto, Mbakayu Rahmini dan banyak murid Jatikusumo tewas...."

Tiba-tiba Puteri Wandansari menatap wajah Cangak Awu penuh selidik dan ia bertanya.

"Akan tetapi mengapa engkau masih dapat terhindar dari maut. Kakang Cangak Awu?"

"Itulah yang menyedihkan hatiku, diajeng. Seharusnya akupun melakukan pembelaan sampai titik darah terakhir. Akan tetapi ketika aku melihat betapa Bapa Guru dan kedua orang kakak seperguruan kita itu roboh, aku tahu bahwa kalau aku nekat, akupun akan mati. Pada saat itu kupikir, kalau aku juga mati, lalu siapa yang akan membalaskan semua sakit hati itu? Itulah sebabnya mengapa aku melarikan diri membawa luka tendangan yang amat parah."

"Hemm, kiranya Priyadi itu bersekutu dengan Bhagawan Jaladara yang menjadi kaki tangan kadipaten Wirosobo! Lalu bagaimane kakang? Lanjutkan ceritamu."

"Agaknya Priyadi hendak membawa Jatikusumo membantu gerakan kadipaten Wirosobo, diajeng. Aku telah terluka parah dan aku melarikan diri sekuat tenaga dan akhirnya aku jatuh pingsan di tepi sungai Aku ditolong oleh nimas Pusposari puteri Paman Harjodento ketua perkumpulan Nogo Dento. Kiranya Paman Harjodento itu adalah ayah kandung Adi Sutejo, diajeng."

Wajah sang puteri itu berseri.

"Ah, benarkah? Jadi Kakangmas sutejo telah menemukan orang tuanya? Sukurlah, kabar ini cukup menggembirakan walaupun tidak mengurangi kedukaan mendengar Jatikusumo terbasmi."

"Paman Harjodento lalu menjodohkan aku dengan diajeng Pusposari"

"Begitukah, Kakang Cangak Awu? Aku ikut bergembira dan mengucapkan selamat kepadamu."

"Terima kasih, diajeng. Juga Adi Sutejo dijodohkan dengan Retno Susilo yang menjadi sahabat baik Sutejo dan yang telah banyak membantunya"

"Kakang Sutejo adalah seorang pemuda yang baik dan gagah perkasa, yang telah dipercaya mendiang Eyang Resi Limut Manik untuk mewarisi Aji Bajrakirana, sudah sepantasnya dia memperoleh jodoh yang sepadan dan pantas. Aku percaya bahwa gadis yang bernama Retno Susilo itu tentu seorang gadis yang amat baik, bijaksana dan juga sakti mandraguna."

"Dara itu adalah puteri Ki Mundingsosro ketua Sardula Cemeng dan ia memang memiliki kesaktian cocok sekali kalau menjadi jodoh Adi Sutejo,"

Kata Cawak Awu dengan sejujurnya.

"Kakang Cangak Awu, berita yang kau bawa ini penting sekali karena menyangkut keamanan di Mataram, Kalau Jatikusumo kini dipimpin Priyadi yang bersekutu dengan Wirosobo, maka hal ini tidak boleh kami diamkan saja, karena berarti daerah Mataram telah kemasukan pengaruh Wirosobo. Mari, mari ikut aku menghadap Kanjeng Rama, karena hal ini perlu beliau ketahui dan aku akan minta ijin Kanjeng Rama untuk memimpin pasukan menggempur Priyadi dan antek-anteknya."

Cangak Awu berasa gentar untuk menghadap Sang Prabu, akan tetapi karena di situ ada Puteri Wandansari yang mengajaknya, maka biarpun jantungnya berdebar tegang, dia mengikuti sang puteri memasuki istana.

Para pengawal tentu saja membiarkan sang puteri masuk, bahkan memberi hormat dan pengawal bagian dalam lalu melapor kepada Sultan Agung bahwa Puteri Wandansari mohon menghadap.

Pada waktu itu, Sultan Agung sedang berbincang-bincang dengan para senopatinya.

Di antaranya yang nadir adalah Ki Mertoloyo yang melaporkan tentang penyelidikannya terhadap para kadipaten di sebelah timur.

Juga hadir Ki Suroantani, Kyai Sujonopuro dan Kyai Juru Kiting, keduanya merupakan senopati-senopati yang terkenal dari Mataram.

Mendengar pelaporan pengawal dalam bahwa puterinya.

Puteri Wandansari dan seorang pemuda mohon menghadap, Sultan Agung segera memerintahkan pengawal untuk mempersilakan kedua orang muda itu masuk dan menghadap.

Ketika Puteri Wandansari dan Cangak Awu menghadap, dan menghaturkan sembah, Sultan Agung dan para senopati memandang kepada Cangak Awu dengan hati kagum.

Cangak Awu memang merupakan seorang pemuda yang tinggi besar dan gagah perkasa seperti Sang Bimasena.

"Nini Wandansari. Siapakah pemuda yang gagah perkasa ini?"

Tanya Sang Prabu kepada puterinya sambil memandang dan mengamati wajah Cangak Awu yang membayangkan keterbukaan dan kejujuran.

"Kakang Cangak Awu, Kanjeng Rama hendak mengetahui keadaanmu Perkenalkanlah dirimu sendiri kepada Kanjeng Rama."

Cangak Awu lalu menghaturkan sembah dengan sikap hormat.

Biarpun dia seorang yang jujur dan kasar, akan tetapi di bawah bimbingan mendiang Bhagawan Sindusakti, diapun tahu akan sopan santun atau tata-krama di depan Sang Prabu.

"Mohon paduka sudi mengampuni hamba yang berani menghadap tanpa dipanggil, Gusti Sinuwun, Hamba bernama Cangak Awu. murid perguruan Jatikusumo. Kedatangan hamba adalah untuk memberi laporan kepada Gusti Puteri Wandansari. dan oleh beliau hamba diajak menghadap paduka"

"Murid Jatikusumo? Kalau begitu masih saudara seperguruanmu nini Wandansari?"

"Memang demikianlah, Kanjeng Rama. Kakang Cangak Awu ini masih terhitung kakak seperguruan hamba, dia adalah murid kepala ke empat sedangkan hamba murid kepala ke lima."

"Lalu apa maksudmu mengajak Cangak Awu untuk menghadap kami?"

Tanya Sang Prabu dengan ramah.

Dia merasa bangga dan sayang kepada puterinya ini karena biarpun seorang wanita, namun amat berbakat dan tekun mempelajari ilmu kanuragan sehingga menjadi seorang gadis yang sakti mandraguna dan berwatak gagah perkasa.

"Ampun, Kanjeng Rama, kalau hamba berdua telah lancang dan mengganggu kesibukan paduka. Akan tetapi karena kakang Cangak Awu datang membawa berita tentang malapetaka yang menimpa perguruan Jatikusumo dan juga tentang ancaman yang membahayakan keamanan di Mataram, maka hamba pikir berita ini penting sekali untuk paduka ketahui."

Sang Prabu memandang Candak Awu dan bertanya.

"Cangak Awu, berita apakah yang kau bawa? Malapetaka apakah yang telah menimpa perguruan Jatikusumo?"

"Kanjeng Gusti, perguruan Jatikusumo telah dihancur binasakan oleh seorang murid kepala yang murtad bernama Priyadi. Dalam kerusuhan itu, Bapa Guru Bhagawan Sindusakti, Kakang Maheso Seto dan Mbakayu Rahmini, juga para murid Jatikusumo, telah terbunuh."

"Jagad Dewi Bathara......!"

Sang Prabu berseru.

"Paman Bhagawan Sindusakti terbunuh, dan oleh muridnya sendiri? Jahat sekali murid durhaka yang bernama Priyadi itu! Akan tetapi, Wandansari, apa hubungannya ini dengan terancamnya keamanan di Mataram?"

"Kanjeng Rama, Priyadi yang murtad dan durhaka itu menguasai Jatikusumo untuk menjadi ketua di sana dan dia menyerbu Jatikusumo dengan bantuan para tokoh dari Kabupaten Wirosobo. Kini dia menyusun kekuatan di Jatikusumo untuk membantu Wirosobo yang berniat memberontak terhadap Mataram. Oleh karena itu. Kanjeng Rama, kalau paduka mengijinkan, hamba ingin memimpin pasukan untuk membantu Kakang Cangak Awu dan Kakang Sutejo yang dibantu oleh keluarga perkumpulan Nogo Dento untuk, menyerang dan menghancurkan persekutuan gerombolan pemberontak itu, dan untuk membalikan kematian Bapa Guru Bhagawan Sindusakti dan para saudara seperguruan hamba yang terbunuh oleh jahanam Priyadi itu."

"Ampunkan hamba, Kanjeng Sinuwun. Kalau hanya menumpas gerombolan pemberontak, perkenankan hamba yang memimpin pasukan untuk menumpas mereka, tidak perlu menyusahkan Gusti Puteri,"

Kata Tumenggung Wiroguno, seorang senopati.

"Tidak, Paman Tumenggung Wiroguno. Penumpasan ini harus saya lakukan sendiri karena ini menyangkut kehancuran perguruanku. Kanjeng Rama, hamba mohon perkenan paduka."

Sang Prabu mengangguk-angguk, tersenyum.

"Nini Wandansari, kami percaya akan kemampuanmu untuk melakukan penumpasan terhadap gerombolan itu. Akan tetapi, engkau tadi mengatakan bahwa murid yaog murtad dari Jatikusumo itu dibautu oleh tokoh tokoh Wirosobo. Siapakah mereka itu?"

"Kakang Cangak Awu lebih mengetahui akan hal itu, Kanjeng Rama."

"Siapakah mereka, Cangak Awu?"

Tanya Sang Prabu kepada pemuda itu.

"Selain Priyadi sendiri yang rupanya telah memiliki kesaktian luar biasa yang entah d dapatkannya dari mana, juga dia dibantu oleh Paman Bhagawan Jaladara yang menjadi antek Kadipaten Wirosobo bersama dua orang pembantunya, Ki Warok Petak dan Ki Baka Kroda. Selain itu, dia dibantu pula oleh dua orang kakek sakti mandraguna dan jahat, yaitu Ki Klabangkolo dan Resi Wisangkolo, juga seorang wanita iblis bernama Sekarsih. Karena para murid Jatikusumo melawan sampai tewas, tentu sekarang Priyadi membentuk pasukan baru di Jatikusumo yang terdiri dari orang-orang Wirosobo."

"Ahhhh! Kami pernah mendengar akan nama Resi Wisangkolo dan kabarnya dia sakti mandraguna. Dan yang membantu demikian banyak, terdiri dari jagoan-jagoan Wirosobo, bahkan tentu masih adi senopati Wirosobo yang membantu. Bukankah begitu, Cangak Awu?"

"Sepanjang pengetahuan hamba, senopati yang membantu adalah Tumenggung Janurmendo, Kanjeng Sinuwun."

Jawab Cangak Awu.

"Ampun, Kanjeng Sinuwun!"

Tiba-tiba Senopati Ki Suroantani menyembah.

"Apa yang hendak kau katakan, Suroantani?"

Tanya Sang Prabu.

"Tumenggung Janurmendo adalah seorang digdaya. Karena itu perkenankanlah hamba yang memimpin pasukan menghadapi dia!"

"Bagaimana. Nini Wandansari? Keadaan pihak musuh demikian kuat. apakah engkau seorang diri akan mampu menandingi dan mengalahkan mereka?"

Tanya Sang Prabu kepada puterinya.

"Terutama sekali Resi Wisangkolo, aku khawatir kalau engkau tidak mampu menandinginya."

"Harap paduka jangan khawatir. Kanjeng Rama. Di pihak hambapun banyak terdapat pembantu yang memiliki kesaktian. Terutama sekali Kakang Sutejo seperti pernah hamba ceritakan kepada paduka. Kakang Sutejo dan hamba merupakan dua orang yang menerima warisan aji kesaktian dari mendiang Eyang Resi Limut Manik. Biarlah hamba berdua Kakang Sutejo yang mewakili mendiang Eyang Resi Limut Manik untuk menyelamatkan Jatikusumo dari tangan pengkhianat. Selain hamba berdua, di pihak hamba masih ada Kakang Cangak Awu ini. Ada pula seorang gadis yang memiliki kesaktian bernama Retno Susilo dan juga pihak hamba dibantu oleh perkumpulan Nogo Dento dan ketuanya yang menurut Kakang Cangak Awu juga merupakan seorang pendekar yang gagah perkasa bernama Harjodento dan isterinya, Padmosari."

"Harjodento? Hemm, kami pernah mendengar nama besar pendekar itu!"

Kata Sang Prabu sambil mengangguk-angguk.

"Juga menurut keterangan Kakang Cangak Awu, Retno Susilo akan minta bantuan perkumpulan Sardula Cemeng yang dipimpin ayahnya yang bernama Ki Mnndingsosro dan pamannya Ki Mundingloyo Hamba pikir kedudukan kami cukup kuat Kanjeng Rama, sehingga belum perlu para paman senopati turun tangan sendiri. Karena urusan ini menyangkut Jatikusumo dan belum menyangkut kerajaan, maka biarlah hamba yang turun tangan sendiri bersama Kakang Sutejo dan Kakang Cangak Awu."

Tiba-tiba Ki Mertoloyo menyembah.

"Ampun, Kanjeng Sinumun, Hamba juga mempunyai keterangan tentang diri pendekar muda bernama Sutejo itu."

"Apa yang kau ketahui tentang Sutejo, Mertoloyo?"

"Ketika hamba dan anak perempuan hamba mengadakan penyelidikan ke daerah Wirosobo, anak hamba tertawan oleh Bhagawan Jaladara dan para pembantunya, di antara mereka terdapat pula Tumenggung Janurmendo. Untuk menghadapi mereka dan menolong anak hamba, muncul Sutejo dan hamba menyaksikan sendiri betapa saktinya pendekar muda itu. Dia mampu mengalahkan Bhagawan Jaladara dan Tumenggung Janurmendo yang mengeroyoknya. Karena itu, hamba tidak khawatir akan keselamatan Gusti Puteri Wandansari kalau Sutejo membantu beliau."

Sang Prabu mengangguk-angguk.

"Kami telah mendengar dari puteri kami tentang pemuda itu. Dia dan puteri kami telah menerima warisan dua aji simpanan mendiang Resi Limut Manik dan kami sendiri telah menguji keampuhan aji yang dikuasai Nini Wandansari. Baiklah, Nini Wandansari. Kami memberi ijin kepadamu untuk memimpin seratus orang perajurit. Akan tetapi, Mertoloyo, agar engkau persiapkan pasukan pilihan yang kuat untuk dipimpin Nini Wandansari."

"Sendiko, Gusti."

Kata Ki Mertoloyo.

Persidangan dibubarkan dan Wandansari lalu membuat persiapan.

Sepasukan perajurit gemblengan yang dikenal dengan pasukan, Pasopati yang merupakan pasukan pengawal Sang Prabu yang rata-rata memiliki kedigdayaan, dipersiapkan dan pada keesokan harinya, berangkatlah Puteri Wandansari memimpin pasukan Pasopati itu.

Pasukan itu berkuda dan melakukan perjalanan cepat.

Cangak Awu juga ikut dalam pasukan ini.

Pakaiannya compang camping, telapak kakinya yang halus itu pecah-pecah rambutnya kusut, namun semua itu tidak mengurangi kecantikan perempuan muda yang berjalan seorang, diri di atas jalan di tepi hutan itu Ia adalah Sumarni, gadis berusia delapan belas tahun yang telah melarikan diri dari Jatikusumo, setelah berhasil mencuri Pecut Bajrakirana dan menyerahkan pecut pusaka itu kepada Retno Susilo.

Sumarni menangis di sepanjang jalan, meratapi nasibnya.

Kalau ia mengenangkan semua pengalaman yang menimpa dirinya, hatinya penuh penyesalan dan kesedihan.

Baru sekarang ia menyesal bukan (Lanjut ke

Jilid 22) Pecut Sakti Bajrakirana (Seri ke 01 -Serial Pecut Sakti Bajrakirana) Karya". Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 22 main mengapa ia demikian mudah terkecoh, terbujuk cumbu rayu pemuda yang mengaku sebagai Dewa Sungai bernama Permadi itu.

Demikian mudahnya ia menyerahkan dirinya kepada pemuda itu.

Kemudian pemuda itu muncul dan baru ia ketahui bahwa Permadi itu sebenarnya bernama Priyadi dan monjadi ketua Jatikusumo Pada mulanya, ia merasa gembira karena bagaimanapun juga, harus ia akui bahwa ia telah tergila-gila kepada pemuda yang tampan, halus dan sakti itu.

Akan tetapi kemudian terjadilah hal yang menghaturkan hatinya, menghancurkan kehidupannya.

Priyadi menyuguhkan dirinya kepada Ki Klabangkolo.

Malam itu, ketika Ki Klabangkolo mempermainkan dirinya, ia benar-benar hancur.

Ingin rasanya mati saja.

Kenyataan bahwa dirinya ternoda oleh Ki Klabangkolo sudah merupakan hal yang menghancurkan hatinya.

Akan tetapi yang lebih parah lagi yang membuat ia ingin mengakhiri hidupnya adalah kenyataan betapa Priyadi telah tega menyuguhkan dirinya kepada Ki Klabangkolo.

Berarti Priyadi tidak mencintainya dan menganggapnya sebagai barang permainan dan hiburan saja yang mudah dipinjamkan kepada laki-laki lain!

Teringat akan itu semua, air mata bercucuran dari kedua mata Sumarni.

Akan tetapi ketika ia teringat betapa ia telah mencuri pecut pusaka itu, menyerahkan kepada musuh Priyadi, hatinya agak terhibur seperti sebatang lilin dinyalakan di tengah kegelapan yang menyelimuti hatinya.

Setidaknya ia telah dapat membalas dendam!

Cintanya terhadap Priyadi yang tadinya menjulang setinggi langit penuh harapan dan cita cita, kini berubah menjadi kebencian yang sedalam lautan!

Tanpa kita sadari, cinta yang begitu kita agung-agungkan, kita anggap sebagai perasaan yang murni, yang suci, ternyata bergelimang nafsu untuk menyenangkan diri-sendiri.

Sesungguhnya bukan si dia yang kita cinta, melainkan diri kita sendiri, kita menginginkan kemenangan diri sendiri melalui orang yang katanya kita cinta!

Oleh karena itu, kala orang yang kita cinta itu, yang kita inginkan agar selalu menyenangkan hati kita, melakukan sesuatu yang tidak menyenangkan, maka cinta kita terbalik menjadi benci!

Cinta yang kita dengung-dengungkan sebagai cinta suci itu, ternyata dasarnya demikian.

Kita mencinta dia karena dia baik kepada kita dan menyenangkan hati kita dan kalau dia tidak lagi baik kepada kita dan menyusahkan hati kita, kita lalu membencinya!

Dapatkah perasaan yang dapat berubah ini, yang berdasarkan kepentingan dan kesenangan diri sendiri ini, kita sebut cinta?

Apalagi cinta murni dan suci?

Bukankah cinta seperti itu tiada lain adalah cinta nafsu belaka?

Kalau kita mau membuka mata dan mengamati "cinta"

Yang berada dalam hati kita, maka akan terbukalah mata batin kita dan melihat betapa hal yang kita agungkan dan sucikan itu ternyata amatlah kotornya.

Jelaslah bahwa yang kita sebut cinta itu tiada lain adalah merupakan jual-beli belaka.

Kita beli dengan cinta kita dengan pamrih memperoleh imbalan atau balasan yang berlipat ganda.

Mendapatkan cinta, perhatian, pelayanan, kesetiaan, pendeknya segala hal yang menyenangkan hati kita.

Cinta yang kita tujukan kepada seseorang saja, Sudah pasti mengandung pamrih dan yang begitu jelaslah bukan cinta, melainkan nafsu ingin menyenangkan diri sendiri.

Patut kita telusuri dan amati, adakah cinta yang lain?

Cinta yang tidak ditujukan kepada seseorang tertentu saja, cinta yang tidak berpamrih, cinta yang benar-benar perasaan kasih sayang terhadap sesamanya?

Adakah api itu masih bernyala dalam hati sanubari kita, walaupun hanya kecil?

Ataukah api itu sudah padam sama sekali?

Kalau demikian halnya, maka amat perlulah bagi kita untuk mohon kepada Tuhan Yang Maha Kasih, agar api cinta itu dapat dihidupkan kembali dalam hati sanubari kita.

Kalau api kasih sayang itu sudah benar-benar bernyala dalam hati sanubari kita, maka cinta asmara antara pria dan wanita tidak merupakan persoalan lagi!

Nafsu hanya sebagai peserta dan hamba, bukan lagi menjadi pemimpin dan majikan!

Sumarni yang tenggelam ke dalam lamunannya, tidak tahu bahwa ada lima pasang mata mengikuti gerak geriknya, bahkan pemilik lima pasang mata itu lalu mengikutinya, membayanginya.

Lima pasang mata yang liar dan yang memandang kepadanya penuh nafsu berahi, pakaian yang compang camping dari Sumarni itu tidak tampak oleh lima pasang mata itu.

Yang tampak adalah kulit putih kuning mulus yang tampak di sana sini, di antara pakaian yang compang camping itu.

Sumarni memang seorang gadis muda yang ayu dan memiliki kulit dan tubuh yang mudah membangkitkan gairah nafsu para pria.

Sumarni baru terkejut setengah mati ketika tiba-tiba lima orang laki-laki tinggi besar dan kasar berlompatan menghadang di depannya.

Muka mereka yang kasar dan bengis itu menyeringai bagaikan lima ekor srigala melihat seekor domba.

Sumarni menoleh ke kanan kiri seperti hendak minta pertolongan, akan tetapi ia berada di atas jalan di tengah hutan.

Sepi sekali di tempat itu, yang ada hanya ia dan lima orang laki-laki yang usianya antara Tiga puluh sampai empat puluh tahun itu.

Seorang di antara lima orang laki-laki itu, yang berambut hitam bermata lebar dan kumisnya sekepal sebelah, agaknya merupakan pemimpin mereka melangkah maju dan sinar matanya seakan-akan hendak menelan bulat-bulat tubuh Sumarni.

"Heh-heh heh, wong ayu, wong manis denok merak ati! Siapakah engkau dan mengapa engkau seorang diri di sini, hendak pergi ke manakah, Sayang?"

Baru melihat sikap dan mendengar ucapan orang itu saja, seluruh bulu di tubuh Sumarni sudah bangkit meremang karena ia merasa ngeri dan takut.

Jantungnya berdebar tegang sampai terdengar berdegup di dalam telinganya.

Ia memandang laki-laki itu seperti mata seekor kelinci memandang harimau dan suaranya lirih gemetar ketika ia menjawab.

"Saya........saya bernama Sumarni.......saya hendak pergi.......ke Ngawi."

Hampir Sumarni tidak dapat mengeluarkan kata-kata saking takutnya, Orang di depannya itu mengingatkan ia kepada Ki Klabangkolo dan hatinya menjadi ngeri dan takut sekali.

"Ha-ha ha, jangan takut, wong ayu! Aku Wiro Gembong tidak pernah galak terhadap wanita cantik seperti engkau! Engkau hendak pergi ke Ngawi? Mari kuantar, Sumarni cah ayu!"

Berkata begini, laki laki bermuka hitam bermata lebar dan berkumis sekepal sebelah itu menjulurkan tangannya yang besar dan berbulu untuk memegang lengan tangan Sumarni.

Sumarni terkejut, menarik lengannya dan mundur ketakutan.

"Tidak......!"

Katanya gemetar.

"Saya.....saya hendak berjalan sendiri, tidak ingin menyusahkan andika sekalian. Biarlah saya lewat.........!"

"Ha-ha ha, tentu saja, bahkan aku akan mengantarmu sampai ka Ngawi. Akan tetapi engkau harus menjadi isteriku lebih dulu. Kebetulan sekali aku masih belum beristeri. Sumarni, engkau akan hidup terhormat sebagai isteri Wiro Gembong!"

Kata laki-laki itu dan kembali dia bergerak ke depan, Sekali ini Sumarni tidak dapat mengelak dan dia sudah dirangkul Wira Gembong.

Sumarni meronta-ronta, akan tetapi ia seperti seekor tikus dalam cengkeraman kucing.

Empat orang kawan atau anak buah Wiro Gembong tertawa bergelak melihat ini.

Karena Sumarni meronta-ronta, mencakar menggigit.

Wiro Gembong lalu mengangkat tubuh wanita muda itu dan memanggulnya!

"Lepaskan aku.......!

Lepaskan.......!

Ahh, toloonggg.....!"

Sumarni meronta dan menjerit-jerit.

Pada saat itu terdengar derap kaki kuda dan seekor kuda datang dengan cepat sekali.

Ketika tiba di tempat itu, penunggangnya, seorang laki-laki gagah berusia sekitar empat puluh tahun melompat dari atas punggung kuda dan menghadapi Wiro Gembong dan empat orang kawannya.

Orang itu bertubuh sedang, akan tetapi sikap dan pandang matanya penuh wibawa dan kegagahan.

"Lepaskan gadis itu keparat!"

Bentaknya kepada Wiro Gembong, suaranya memerintah dan tegas.

Wiro Gembong memandang dengan alis berkerut dan mata penuh selidik.

Dia melihat laki-laki itu bertubuh sedang saja, pakaiannya seperti seorang pejabat dan di pinggangnya terselip sebatang keris.

Melihat sikap orang itu, dia menjadi marah dan menoleh kepada empat orang anak buahnya.

"Bunuh dia, rampas bawaannya dan kudanya!"

Empat orang anak buah itu adalah orang-orang yang sudah biasa mempergunakan kekerasan dan memaksakan kehendak sendiri.

Mereka sudah biasa membunuh orang.

Entah sudah berapa banyaknya orang yang mereka bunuh.

Kini mendengar perintah pimpinan mereka, empat orang itu sudah mencabut golok dari pinggang mereka dan sambil mengeluarkan bentakan-bentakan nyaring, mereka seolah berlomba untuk membunuh orang yang berani menentang mereka.

Akan tetapi ternyata orang itu cekatan bukan main menghadapi terjangan empat orang yang memegang golok itu sama sekali dia tidak gentar atau gugup.

Dengan lincahnya tubuhnya bergerak cepat mengelak, kaki tangannya bergerak dan dua orang penyerang terkena tamparan tangan kirinya dan tendangan kaki kanannya.

Dua orang itu terputar dan terpelanting, tak dapat bangun lagi!

Dua orang yang lain menjadi terkejut akan tetapi kemarahan membuat mereka seperti buta, tidak menyadari bahwa mereka berhadapan dengan orang yang digdaya.

Dua orang itu menyerang dari, kanan kiri, golok mereka membacok ke arah kepala dan perut.

Laki-laki itu menghindar kan diri dengan melangkah ke belakang Ketika dua batang golok itu menyambar dan lewat, kakinya bergerak mencuat ke kiri dan menghantam dada lawan yang berdiri di kiri.

"Dessss.....!!"

Orang itu terjengkang dan terbanting keras.

Orang yang berada di kanan kembali membacokkan goloknya ke arah kepala.

Akan tetapi sekali ini, orang yang diserang itu tidak menjatuhkan diri, bahkan melangkah maju ke kanan, mendahului gerakan orang itu dan menangkap tangan yang membacokkan golok dari bawah.

Sekali dia memutar dan memuntir lengan yang dipegangnya, penyerang itu berteriak dan tubuhnya terputar lalu terbanting ke bawah.

Laki-laki yang gagah perkasa itu menyusulkan tendangan.

"Desss......!"

Orang terakhir dari empat anggauta gerombolan itu terpental dan tubuhnya terguling-guling, selelah berhenti tubuh itu terkapar tidak dapat bangun lagi!

Wiro Gembong terbelalak dan dia marah sekali.

Dia menurunkan tubuh Sumarni dari pondongannya, mendorong wanita itu sehingga terhuyung dan roboh ke atas tanah, kemudian dia melompat ke depan laki-laki yang telah merobohkan empat orang anak buahnya.

"Babo babo, keparat jahanam! Siapakah engkau yang berani menjual lagak di depan Warok Wiro Gembong? Apakah engkau sudah bosan hidup?"

Laki-laki itu memandang dengan sinar mata tajam, setelah dia melirik ke arah Sumarni dan melihat bahwa gadis itu tidak terluka dan kini sudah bangkit berdiri dan memandang dengan sepasang mata ketakutan seperti mata seekor kelinci yang tersudut.

"Kiranya engkau yang bernama Warok Wiro Gembong! Kebetulan sekali karena sudah menjadi tugasku untuk membasmi gerombolan dan penjahat seperti engkau ini. Aku adalah Senopati Suroantani yang siap untuk menumpas dan mengakhiri kejahatanmu!"

Warok Wiro Gembong terkejut juga mendengar bahwa dia berhadapan,dengan seorang senopati dari Mataram.

Akan tetapi karena dia sudah tidak dapat menyingkir lagi, timbul kenekatannya.

Dia mengeluarkan suara gerengan seperti seekor biruang.

Kemudian tanpa mengeluarkan kata-kata dia sudah menubruk ke depan, kedua lengannya dikembangkan dan kedua tangan menerkam ke arah leher senopati itu.

Ki Suroantani bergerak cepat.

Dia menghindarkan diri ke kanan sehingga tubrukan itu luput dan selagi tubuh Wiro Gembong condong ke depan, kakinya bergerak menendang lutut warok itu.

"Dukkk......!"

Tak dapat dicegah lagi tubuh warok itu roboh terlungkup!

Akan tetapi dia sudah melompat bangun lagi dan kini mengamuk, menyerang bertubi-tubi ke arah tubuh Suroantani.

Senopati itu mengandalkan kelincahan tubuhnya mengelak ke sana sini.

Saking bernafsunya Wiro Gembong menyerang, dia menggunakan seluruh tenaganya dan sebentar saja, karena semua serangannya luput, napasnya terengah-engah.

Akhirnya dia berhenti menyerang dan sambil terengah-engah dia berkata mengejek.

"Engkau bukan laki-laki! Bisanya hanya mengelak dan melarikan diri. Kalau memang engkau senopati Mataram yang gagah dan jantan, mari kita mengadu tebalnya kulit kerasnya tulang seperti yang biasa kami para warok lakukan!"

"Hemm, apa yang kau maksudkan, Wiro Gembong?"

"Kita saling serang tanpa dielakkan, menerima pukulan dengan kekebalan kulit. Beranikah engkau?"

"Mengapa tidak berani? Bagaimana aturannya?"

Tanya Suroantani.

"Aku akan memukulmu menggunakan kolor (ikat pinggang) yang kupakai ini sebanyak tiga kali dan engkau harus menerimanya tanpa mengelak. Setelah itu engkau boleh membalas dengan tiga kali pukulan atau serangan, boleh menggunakan senjata apapun dan akan kuterima dengan kekebalanku!"

"Bagus! Aku setuju, akan tetapi dengan syarat, tidak boleh memukul kepala, hanya dari batas pinggang sampai ke leher!"

Kata Suroantani.

"Baik. Nah, bersiaplah menerima hantaman kolor pusakaku!"

Kata Wiro Gembong sambil memutar-mutar kolornya yang panjang. Suroantani memasang kuda-kuda yang kokoh kuat.

"Aku sudah siap. Lakukanlah pukulanmu, Wiro Gembong!"

"Awas, terimalah pukulanku yang pertama. Pecah dadamu!"

Kolor itu menyambar dengan amat cepat dan kuatnya, menimpa dada Suroantani yang sudah membuka bajunya sehingga menerima pukulan itu dengan dada telanjang.

"Dessss......!!"

Hebat sekali pukulan itu dan Suroantani mundur selangkah, akan tetapi tidak menderita luka. Dia bahkan tersenyum.

"Pukulanmu kurang kuat, Wiro Gembong!"

Katanya dan sudah memasang kuda-kuda lagi, membusungkan dadanya yang penuh Aji kekebalan.

"Ini pukulan kedua! Ambrol wadukmu!!!"

Kolor melecut lebih dahsyat lagi.

"Darr......!!"

Begitu hebatnya hantaman kolor itu mengenai perut sehingga tampak uap atau asap mengepul ketika kolor bertemu kulit perut.

Suroantani terdorong mundur dua langkah, akan tetapi dia tetap tersenyum dan tidak terluka.

"Hanya sebegitukah kekuatanmu, Wiro Gembong?"

Dia mengejek.

Wiro Gembong terbelalak.

Mukanya merah dan dia merasa penasaran sekali.

Dia sudah mengerahkan seluruh tenaga dan ajinya.

Batu karang sekalipun akan pecah berantakan terkena pukulan kolornya tadi.

Akan tetapi senopati ini sama sekali tidak roboh, terlukapun tidak!

"Masih ada sekali lagi!"

Katanya dan dia memutar kolornya, mulutnya berkemak kemik membaca mantera.

"Sambutlah!"

Teriaknya dan ujung kolor menyambar dahsyat mengarah ulu hati Suroantani, Senopati ini mengerahkan aji kekebalannya ke tempat yang dihantam.

"Blarrr........!"

Ujung kolor itu membalik dan Suroantani terdorong mundur dua langkah lagi, akan tetapi bibirnya masih tersenyum. Wiro Gembong terkejut, akan tetapi tentu saja dia merasa malu untuk mundur.

"Bagus, engkau memang digdaya, Suroantani. Sekarang giliranmu, keluarkan senjatamu dan inilah dadaku, boleh kau serang sampai tiga kali!"

"Aku tidak akan menggunakan senjata, Wiro Gembong. Cukup tanganku ini yang akan merobohkanmu dengan pukulanku "

Hati Wiro Gembong menjadi senang dan besar.

Dia memilki aji kekebalan cukup kuat untuk menyambut bacokan golok dan tusukan keris.

Apa lagi kalau hanya kepalan tangan yang menyerangnya!

"Baik, lakukanlah dan boleh engkau memilih bagian yang paling lunak!"

Sumbarnya.

"Wiro Gembong, dosamu sudah terlampau banyak. Kalau pukulanku menewaskanmu, itu merupakan hukuman yang setimpal bagimu dan jangan menjadi penasaran."

"Pukullah, jangan banyak cerewet lagi!"

Bentak Wiro Gembong.

Suroantani mengerahkan tenaga saktinya, dikumpulkan di telapak tangan kanannya, kemudian dia menerjang ke depan, memukulkan tangan kanannya dengan miring ke arah dada yang bidang dan berotot itu.

"Haaiiiiitt......blarrrr.....!!"

Tubuh yang tinggi besar itu terjengkang dan terbanting keras lalu rebah telentang, tidak bergerak lagi.

Matanya terbelalak dan nyawanya putus karena isi dadanya terguncang dan remuk.

Suroantani memeriksa keadaan lima orang itu.

Yang tiga orang tewas dan dua orang masih hidup walaupun terluka.

"Urus dan kuburkan tiga orang kawan kalian yang tewas ini. Aku mengampuni kalian dan tidak akan membunuh kalian. Akan tetapi kalau lain kali aku masih mendengar kalian melakukan kejahatan, maka tidak ada ampun lagi bagi kalian. Mulai sekarang bertaubatlah dan hiduplah sebagai orang baik-baik!"

Demikian katanya kepada dua orang anak buah gerombolan itu. Setelah itu dia lalu menghampiri Sumarni yang masih berdiri ketakutan.

"Nimas, mari kita pergi dari sini. Jangan takut, aku akan mengawalmu."

Sumarni yang masih ketakutan hanya dapat mengangguk.

Bagaimanapun juga, sikap pria ini menimbulkan kepercayaan dalam hatinya dan tidak dapat disangkal lagi bahwa pria ini telah menyelamatkannya dari ancaman yang akan menghancurkan diri dan kehormatannya.

Ia masih bergidik ngeri kalau teringat akan perbuatan si muka hitam bernama Warok Wiro Gembong tadi kepadanya.

Ketika pria itu menuntun kudanya, iapun mengikuti dari belakang meninggalkan tempat yang menyeramkan itu.

Mereka melangkah terus sampai keluar dari daerah berhutan itu.

Setelah mereka keluar dari dalam hutan.

Suroantani berhenti melangkah dau otomatis Sumarni juga menghentikan langkahnya dan memandang kepada pria itu.

Suroantani juga menoleh kepadanya dan keduanya saling bertemu pandang.

Barulah teringat oleh Sumarni bahwa ia sama sekali belum mengucapkan terima kasih pada pria itu, pada hal pria itu baru saja membebaskannya dari cengkeraman bahaya yang lebih mengerikan dari pada maut.

Iapun teringat bahwa pria ini tadi mengaku kepada Wiro Gembong se bagai seorang senopati Mataram yang bernama Suroantani.

Seorang senopati!

Seorang panglima!

Teringat ini, Sumarni lalu menjatuhkan diri bersimpuh dan menyembah.

"Kanjeng Senopati, Saya menghaturkan terima kasih atas pertolongan paduka kepada saya."

Ia menyembah lagi.

Suroantani tersenyum.

Begitu berjumpa dan melihat Sumarni, senopati yang biarpun usianya sudah empat puluh tahun namun belum beristeri itu merasa tertarik dan iba sekali.

Ada daya tarik luar biasa dalam diri wanita ini yang membuat hatinya bergetar.

"Nimas, bangkitlah dan tidak perlu mengucapkan terima kasih. Kalau hendak berterima kasih, berterima kasihlah kepada Gusti Allah yang telah menuntun kudaku sehingga aku lewat di tempat ini pada saat engkau diganggu para gerombolan itu. Aku sendiri hanya melaksanakan kewajibanku untuk memberantas semua kejahatan yang dilaku"kan orang dan menolong mereka yang terancam bahaya."

Sumarni memandang kagum dan iapun bangkit berdiri ketika Suroantani menyentuh pundaknya dan menyuruhnya berdiri.

"Kanjeng Senopati, paduka sungguh seorang yang luhur budi."

Suroantani tersenyum. Dia sendiri merasa heran mengapa hatinya merasa demikian senangnya mendengar pujian yang keluar dari mulut wanita ini.

"Sudahlah, tidak perlu memuji, nimas. Sebenarnya, siapakah andika dan mengapa andika seorang wanita muda berada seorang diri di dalam hutan?"

"Nama saya Sumarni dan saya......saya........"

Sumarni tidak dapat melanjutkan.

Ia teringat akan keadaan dirinya dan kesedihan membuat ia menangis.

Ia menangis terisak-isak sambil menutupkan kedua tangannya ke depan mukanya.

Air matanya mengalir melalui celah-celah jari tangannya.

Suroantani membiarkan wanita itu menangis karena dia tahu bahwa bagi seorang wanita, tangis merupakan penyaluran rasa duka yang menekan batin.

Setelah tangis itu agak mereda, barulah dia berkata dengan suaranya yang tenang penuh kesabaran.

"Sudahlah, nimas Sumarni. Hentikan tangismu dan ceritakanlah kepadaku apa yang membuatmu bersedih. Siapa tahu, barangkali aku akan dapat menolongmu."

Setelah menyusut air matanya dan menghentikan isak tangisnya, Sumarni lalu bercerita.

Ia telah demikian percaya kepada pria ini sehingga ia menumpahkan semua isi hatinya "Saya adalah seorang yang bernasib malang sekali.

Kanjeng Senopati."

"Namaku Suroantani, Sumarni. Rasanya tidak enak engkau menyebutku seperti itu. Sebut saja aku....... eh, paman."

Kata senopati itu walaupun di dalam hatinya dia ingin disebut kakangmas, bukan paman! "Terima kasih, Paman Suroantani. Akan tetapi saya hanya seorang gadis dusun..."

"Akupun berasal dari desa, Sumarni Nah, ceritakan pengalamanmu sampai engkau terlunta-lunta seorang diri di sini."

Mereka duduk di bawah sebatang pohon asem dan Suroantani membiarkan kudanya makan rumput yang tumbuh subur di tepi jalan. Setelah menghela napas beberapa kali, Sumarni melanjutkan ceritanya.

"Ketika saya masih tinggal di dusun Jaten, saya dirayu dan ditipu seorang pemuda yang mengaku sebagai dewa sungai bernama Permadi. Kemudian dia datang dan membawa saya pergi. Baru kemudian saya ketahui bahwa dia bukanlah dewa sungai dan namanya bukan Permadi melainkan Priyadi ketua Jatikusumo........"

"Ahhh! Priyadi ketua Jatikusumo?"

Seru Suroantani.

Dia sendiri melaksanakan perintah Sultan Agung untuk mengamati gerakan Puteri Wandansari yang memimpin pasukan membantu perkumpulan Nogo Dento untuk menumpas persekutuan pemberontak yang dipimpin oleh Priyadi ketua Jatikusumo!

"Kenalkah paduka dengan dia, paman?"

"Tidak mengenal, akan tetapi aku tahu siapa jahanam itu!"

Lega rasa hati Sumarni mendengar Suroantani menyebut jahanam kepada Priyadi.

Hal ini membuktikan bahwa senopati ini bukan sahabat Priyadi, melainkan musuhnya!

"Memang dia itu manusia berwatak iblis paman.

Saya dijadikan barang mainannya, bahkan dia begitu keji telah tega menyuguhkan saya kepada seorang pembantunya yang menyeramkan, bernama Ki Klabangkolo!

Hati saya hancur, paman dan malam itu saya mengambil keputusan untuk membunuh diri di Laut Kidul."

"Keparat jahanam, kejam benar manusia iblis itu!"

Kata Suroantani dengan geram.

"Lalu bagaimana, nimas Sumarni?"

"Rupanya Gusti Yang Maha Kuasa belum menghendaki saya mati, paman. Saya ditolong oleh Denmas Sutejo dan Den Roro Retno Susilo. dua orang gagah perkasa yang memusuhi Priyadi."

Suroantani mengangguk-angguk. Dua nama itupun tidak, asing baginya karena dia sudah mendengar ketika Cangak Awu dan Puteri Wandansari melapor kepada Sang Prabu.

"Untung mereka dapat mencegahmu membunuh diri, Sumarni."

"Sebetulnya saya tidak mau dihalangi niat saya membunuh diri. Akan tetapi Den Roro Retno Susilo memberi jalan kepada saya untuk dapat membalas dendam kepada Priyadi."

"Bagaimana jalan itu? Bagaimana caranya engkau dapat membalas dendam kepada Priyadi? Aku mendengar kabar bahwa dia seorang yang sakti mandraguna."

"Memang benar, paman. Den Roro Retno Susilo minta bantuanku agar saya dapat mencuri pecut pusaka yung bernama Bajrakirana karena hanya kalau kehilangan pecut saktinya itu Priyadi dapat dikalahkan dan dibinasakan."

"Ah, begitukah? Lalu engkau sudah melakukan itu?"

Sumarni mengangguk.

"Saya sudah melakukannya, paman. Malam tadi kucuri pecut itu dan sudah kuserahkan kepada Den Roro Retno Susilo. Ia menasihati saya agar saya segera melarikan diri ke perkampungan Nogo Dento yang berada di daerah Ngawi, di tepi Bengawan Solo untuk berlindung kepada perkumpulan itu yang dipimpin ketuanya bernama Ki Harjodento. Karena saya merasa yakin bahwa Priyadi dan kaki tangannya tentu akan mencari saya, maka saya segera melarikan diri secepatnya, Sejak malam tadi, saya berjalan setengah berlari tanpa berhenti sampai pakaian saya compang camping dan telapak kaki saya luka-luka, sampai akhirnya saya tiba di sini dan dihadang oleh gerombolan tadi, paman. Untung bagi saya, paman datang dan menyelamatkan diri saya."

Suroantani menghela napas panjang.

Selama Sumarni bercerita, pandang matanya bergantung kepada sepasang bibir yang bergerak-gerak indah itu.

Betapa ayu dan manisnya wanita yang bernasib malang ini!

"Kasihan engkau, nimas Sumarni.

Jadi sekarang engkau hendak pergi keperkampungan Nogo Dento?

Kebetulan sekali akupun sedang menuju ke sana sehingga aku dapat mengantarmu ke sana."

"Terima kasih, paman. Akan tetapi hati saya gelisah sekali. Saya khawatir kalau Priyadi dan kaki tangannya mencari saya, ke dusun Jaten dan karena tidak menemukan sayu di Sana, mereka lalu mencelakai orang tua saya.

"Hemm, kekhawatiranmu beralasan juga, Sumarni. Kalau begitu, mati kuantar engkau pulang dan ke dusun Jaten yang tidak berapa jauhnya dari sini. Kita perlu mengajak orang tuamu untuk meninggalkan dusun itu sementara waktu agar terbebas dari ancaman Priyadi dan anak buahnya."

Bukan main girangnya hati Sumarni mendengar ini. Ia memandang wajah senopati itu dengan perasaan girang dan bersyukur.

"Ah, paman Suroantani, budimu bertumpuk-tumpuk kepadaku. Bagaimana saya akan mampu membalasnya?"

Suroantani tersenyum.

"Aku tidak mengharapkan bantuan apapun, nimas. Sudah kukatakan, aku membantumu karena hal itu merupakan kewajibanku, tidak mengandung pamrih apapun. Akan tetapi, aku hanya memiliki seekor kuda, dan akan amat melelahkanmu kalau kita melakukan perjalanan dengan jalan kaki. Bagaimana kalau engkau kubocengkan di atas kuda? Maukah engkau, Sumarni? Kalau engkau merasa rikuh, akupun tidak memaksa. Engkau boleh duduk di atas kudaku dan aku akan menuntun kuda itu."

"Ah, tidak, paman. Saya percaya dan tidak rikuh kepadamu. Paman sudah begitu baik kepada saya. bagaimana saya dapat membiarkan paman berjalan kaki dan menuntun kuda, sedangkan saya menunggang kuda? Biarlah saya membonceng paman,"

Kata Sumarni, akan tetapi wajahnya berubah kemerahan karena sesungguhnya, dalam hatinya ia merasa rikuh duduk berhimpitan di atas punggung seekor kuda bersama seorang pria yang baru saja dikenalnya.

Akan tatapi, ia merasa kagum, suka dan percaya kepada Suroantani dan ia percaya sepenuhnya bahwa pria yang berwatak satria ini tidak akan, mempunyai pikiran yang tidak sopan terhadap dirinya.

Setelah Sumarni menyatakan persetujuannya, karena wanita itu belum pernah menunggang kuda.

Suroantani lalu membantunya naik ke atas punggung kuda, kemudian dia sendiri duduk di belakang Sumarni.

Dengan cara berboncengan seperti itu, kuda lalu dibalapkan dan mereka menuju ke dusun Jaten.

Biarpun mereka duduk berhimpitan, Suroantani selalu bersikap sopan sehingga Sumarni merasa semakin suka dan kagum kepada pria itu, Dasun Jaten merupakan sebuah dusun yang tanahnya subur sehingga para penduduk dusun itu hidup dalam keadaan cukup makmur dan tenang tenteram.

Peristiwa perginya Sumarni yang dibawa "Dewa penjaga sungai!"

Merupakan cerita yang tersebar luas di dusun itu dan semua orang mempercaya cerita yang keluar dari mulut Ki Karyotomo dan isterinya, orang tua Sumarni itu, Sumarni telah diperisteri oleh dewa penjaga sungai, demikianlah anggapan mereka.

Para penduduk dusun itu masih amat terbelakang dan amat sederhana sehingga mereka percaya akan ketahyulan.

Pula, bagaimana mereka tidak akan percaya kalau buktinya Ki Karyotomo kini menjadi kaya, dapat memperbaiki rumah dan membeli sawah, memiliki banyak uang yang didapatnya dari pemberian mantunya yang dewa itu?

Ki Karyotomo sendiri dan isterinya juga tidak pernah meragukan bahwa anak perempuan mereka telah menjadi isteri dewa penjaga sungai.

Demikian besar kepercayaan hati mereka sehingga setiap malam Jumat Kliwon, selapan (tiga puluh lima hari) sekali, mereka pasti mengirim sesaji dan membakar kemenyan di tepi sungai dan menghanyutkan sesaji itu!

Rupanya Agama Islam belum memasuki dusun itu sehingga penduduknya masih dipengaruhi tahyul.

Pada suatu senja, ketika Ki Karyotomo dan isterinya sedang duduk di beranda depan rumah mereka, menghadapi singkong rebus dan wedang kopi sambil bercakap-cakap membicarakan Sumarni, anak perempuan yang mereka rindukan, tiba-tiba muncul dua orang laki laki.

Mereka itu adalah dua orang yang usianya sudah lima puluh tahun lebih.

Yang seorang bertubuh tinggi besar berkumis tebal dan seorang lagi bertubuh pendek kecil.

Akan tetapi wajah mereka berdua tampak seram dan bengis.

Mereka memasuki pekarangan rumah itu dan menghampiri suami isteri yang sedang duduk bercakap-cakap itu.

Tadinya Ki Karyotomo dan isterinya mengira bahwa yang datang adalah tetangga atau teman sedusun, akan tetapi setelah dua orang itu datang dekat dan suami isteri itu tidak mengenalnya mereka segera bangkit berdiri untuk menyambut dua orang tamu yang tidak mereka kenal itu.

Seperti yang menjadi kebiasaan bagi para penduduk dusun, mereka selalu menerima datangnya tamu dengan hati dan tangan terbuka dan penuh rasa keluargaan.

Demikian pula Ki Karyotomo dan isterinya.

Dengan senyum di mulut mereka menuruni anak tangga menyambut dua orang tamu mereka.

"Selamat datang. Ki Sanak!"

Sambut Ki Karyotomo dengan ramah.

"Silakan masuk ke dalam gubuk kami yang tua daa buruk."

Akan tetapi dua orang pendatang itu sama sekali tidak memperlihatkan sikap sebagai tamu-tamu yang baik.

"Apakah ini rumah Sumarni?"

Tanya orang yang berkumis tebal, suaranya menghardik. Ki Karyotomo masih bersikap ramah dan lunak. Dia mengangguk-angguk dan tersenyum.

"Benar sekali, ini adalah rumah Sumarni dan kami berdua adalah ayah dan ibu Sumarni."

Diam-diam dia menduga apakah dua orang tamu aneh ini merupakan utusan dewa sungai, mantu mereka? Tiba-tiba orang yang bertubuh pendek kecil melangkah maju dau membentak dengan suara kasar.

"Panggil ia keluar sekarang juga!"

Mulai terkejutlah hati Ki Karyotomo dan isterinya.

Mereka memandang kepada dua orang itu dengan heran dan bingung.

Mereka sama sekali tidak tahu bahwa dua orang itu adalah jagoan yang terkenal dari Wirosobo, orang-orang yang sudah biasa memaksakan kehendak dengan menggunakan kekuasaan dan kekerasan.

Mereka adalah Ki Warok Petak yang tinggi besar berkumis tebal dan Ki Baka Kroda yang bertubuh pendek kecil.

"Memanggilnya keluar? Akan tetapi ia.... ia tidak berada di sini......"

Kata Ki Karyotomo dengan alis berkerut.

Mulai tidak senang hatinya melihat sikap kedua orang tamunya yang kasar itu, sikap yang tidak biasa mereka lihat di dusun itu.

Ki Warok Petak dan Ki Baka Kroda memang melaksanakan perintah Priyadi untuk mencari Sumarni di dusun tempat tinggal orang tuanya, yaitu di Jaten.

Ki Warok Petak menjadi marah mendengar jawaban Ki Karyotomo Tiba-tiba dia menggerakkan tangan kanannya mencengkeram baju di dada tuan rumah itu, mengguncangnya dengan kuat sehingga tubuh Ki Karyotomo terguncang-guncang, lalu mendorong sehingga tubuh tuan rumah itu jatuh terjengkang.

"Jangan main gila kamu! Hayo katakan di mana Sumarni berada, di mana ia bersembunyi! Kalau tidak mau mengaku, akan kuhancurkan kepalamu !"

Bentak Ki Warok Petak.

"Dan engkau perempuan dusun! Katakan di mana anakmu Sumarni itu atau kupatahkan lehermu!"

Bentak Ki Baka Kroda sambil mendorong Mbok Karyotomo sehingga wanita itu terpelanting dan jatuh di dekat suaminya.

Kedua orang suami isteri itu merangkak bangkit dan Ki Karyotomo masih mencoba untuk bersikap ramah dan sabar.

"Ki Sanak, harap andika berdua bersabar hati dan silakan duduk. Mari kita bicara dengan baik-baik dan kami akan menceritakan di mana anak kami Sumarni berada."

"Nah. begitu lebih baik!"

Kata Ki Warok Petak sambil melangkah dan mendaki anak tangga menuju ke beranda, didahului oleh Karyotomo dan Isterinya, lalu bersama Ki Baka Kroda dia duduk di atas kursi menghadapi meja.

Suami isteri itu tetap berdiri di depan mereka.

"Hayo cepat katakan di mana Sumarni berada!"

"Sumarni ikut dengan suaminya. Ki Sanak."

Dua orang jagoan itu terbelalak dan saling pandang.

"Ikut suaminya? Di mana?"

Bentak Ki Baka Kroda tidak percaya.

"Kami sendiri tidak tahu. Mungkin dibawa ke sungai"

"Ke sungai? Mengapa ke sungai?"

Tanya Ki Warok Petak.

"Kami sungguh tidak tahu. Hanya karena suaminya adalah Dewa Penjaga Sungai yang bernama permadi, tentu saja ia dibawa ke sungai......"

Kata Ki Karyotomo lalu segera menerangkan.

"sudah hampir tiga bulan ini Sumarni dibawa suaminya pergi dari sini....."

Dua orang jagoan itu bangkit berdiri, muka mereka marah dan mata mereka melotot saking marahnya karena mereka merasa dipermainkan.

"Braakkk!!"

Meja itu pecah berantakan dihantam tangan kiri Ki Warok Petak.

"Kau lihat ini? Kepalamu akan pecah seperti ini kalau engkau berani mempermainkan kami!"

"Bressss......!"

Sebuah kursi ditendang Ki Baka Kroda dan kursi itu melayang dan menghantam tubuh suami isteri itu sehingga mereka roboh terjengkang.

"Nyawa kalian berada di tangan kami dan kalian masih berani mempermainkan kami"

"Aduh ki Sanak..... kami tidak main-main.... suamiku tidak main-main! memang benar anak kami Sumarni dibawa pergi suaminya Dewa Penjaga Sungai!"

Mbok Karyotomo berkata dengan ketakutan.

"Jahanam! Kalian berani membohongi kami? Kalian kira kami begitu bodoh untuk mempercayai omongan kalian? Hayo sekali lagi, katakan di mana Sumarni, atau kami akan menyembelih kalian!"

Hardik Ki Warok Petak sambil mencabut goloknya yang besar dan mengkilap tajam.

Pada saat itu, terdengar derap kaki kuda me"masuki pekarangan.

Suroantani membantu Sumarni turun dari atas punggung kuda dan gadis itu segera menjerit ketika melihat ayah ibunya rebah di tanah diancam oleh Ki Warok Petak dan Ki Baka Kroda yang ia kenal sebagai anak buah Priyadi.

"Bapak...! Simbok.......!"

Sumarni lari menghampiri ayah ibunya dan berlutut, merangkul ibunya sambil menangis. Melihat kemunculan Sumarni Ki Warok Petak dan Ki Baka Kroda tertawa senang.

"Ha-ha-ha, ternyata engkau muncul juga, Sumarni! Hampir saja ayah ibumu kami bunuh karena kebandelan mereka!"

"Sumarni, hayo engkau cepat ikut bersama kami. Denmas Priyadi sudah menunggu-nunggumu!"

Kata Ki Baka Kroda.

"Tentu engkau akan diberi hadiah, ha-ha-ha"

Kata Ki Warok Petak.

"Tidak! Aku tidak sudi ikut kalian!"

Sumarni berteriak lantang dan berani.

"Begitukah? Ha ha ha, mau atau tidak mau engkau harus ikut dengan kami! Aku akan senang memondongmu dan membawamu pulang!"

Kata pula Ki Warok Petak. Pada saat itu, Suroantani sudah memasuki beranda.

"Nimas Sumarni, ajaklah ayah ibumu masuk, biar aku yang menghadapi dua orang berandal ini!"

Katanya dengan sikap tenang.

Ki Warok Petak dan Ki Buka Kroda terbelalak memandang kepada Suroantani.

Tentu saja mereka berdua marah bukan main melihat ada orang berani melindungi Sumarni dan menghadapi mereka dengan sikap yang demikian menantang.

Sumarni membangunkan ayah ibunya dan mengajak mereka masuk, setelah lebih dulu menoleh kepada Suroantani dan berkata.

"Paman, mereka ini adalah Ki Warok Petak dan Ki Baka Kroda, dua orang anak buah Priyadi. Harap paman berhati-hati menghadapi mereka ini yang kejam dan jahat."

Seteluh berkata demikian, ia menggandeng ayah ibunya memasuki rumah, akan tetapi mereka mengintai dari dalam dengan hati tegang walaupun Sumarni sudah tahu bahwa penolongnya adalah seorang senopati yang digdaya dan gagah perkasa.

"Babo babo. keparat! Siapakah engkau yang berani mencampuri urusan kami?"

Bentak Ki Warok Petak.

"Kakang Warok Petak, agaknya orang ini sudah bosan hidup!"

Kata Ki Baka Kroda.

"Hemm, kiranya andika berdua inilah yang bernama Ki Warok Petak dan Ki Baka Kroda, dua orang benggolan dari Wirosobo itu? Bagus! Hari ini andika berdua bertemu denganku, pasti tidak akan kuberi ampun, apa lagi karena kalian telah menjadi antek pemberontak. Ketahuilah, aku adalah Suroantani, senopati Mataram yang siap untuk menumpas gerombolan pemberontak macam kalian!"

Terkejut Juga dua orang jagoan itu mendengar bahwa mereka berhadapan dengan Senopati Suroantani yang nama besarnya sejajar dengan Senopati Mertoloyo dan lain-lain senopati di Mataram yang terkenal digdaya.

Akan tetapi karena mereka sudah berhadapan dengan Suroantani, mereka memberanikan diri dan menjadi nekat.

Apa lagi mereka berdua, sedangkan senopati itu hanya seorang diri.

"Bagus! Kiranya Senopati Suroantani yang berhadapan dengan kami. Sekaranglah saatnya engkau mampus di tangan kami!"

Kata Ki Warok Petak dan langsung saja dia menggunakan golok yang sudah berada di tangan kanannya untuk menyerang dengan bacokan cepat dan kuat ke arah leher sang senopati.

Suroantani maklum bahwa kedua orang lawannya ini adalah orang-orang yang digdaya, tidak dapat disamakan dengan mendiang Wiro gembong, maka diapun tidak berani sembarangan menerima serangan golok itu.

melainkan menggunakan kelincahan tubuhnya untuk mengelak dengan merendahkan tubuh dan bergeser ke kiri.

Golok itu meluncur lewat di atas kepalanya, lalu dengan cepat tangan kanannya menampar ke atas untuk menyerang siku kanan lawan yang memegang golok.

Akan tetapi Ki Warok Petak sudah menarik lengannya sehingga sambaran itu luput.

Pada saat itu, terdengar suara bersiutan dan tampak tiga pucuk sinar berkilat menyambar ke arah tubuh Suroantani.

Senopati yang sudah banyak pengalaman bertanding ini dapat menduga bahwa dia diserang dengan senjata rahasia.

Memang benar dugaannya.

Tiga sinar itu adalah tiga batang cundrik terbang yang meluncur ke arah leher, dada dan perutnya, dilepas oleh Ki Baka Kroda.

Senopati Suroantani cepat melempar tubuh ke samping, terus bergulingan di atas lantai sehingga tiga batang cundrik itu luput.

Ketika dia melompat bangun, Ki Baka Kroda yang merasa penasaran melihat serangan cundriknya tidak berhasil, telah menerkam maju sambil menusukkan kerisnya ke arah lambung Suroantani.

"Tranggg....... !!". Tampak bunga api berpijar ketika dua batang keris itu beradu. Ternyata Sambil bergulingan tadi, Suroantani telah mencabut kerisnya karena dia maklum bahwa menghadapi dua orang lawan tangguh itu dia harus menggunakan kerisnya. Maka ketika Ki Baka Kroda menyerangnya dengan tusukan keris ke arah lambungnya, dia menangkis dengan kerisnya. Tangkisan itu membuat lengan tangan kanan Ki Baka Kroda tergetar hebat dan jagoan ini melompat ke belakang dengan terkejut. Tahulah dia bahwa senopati Mataram itu memang tangguh sekali, memiliki tenaga sakti yang bukan main besarnya. Terjadilah pertandingan yang amat seru di pendopo yang cukup luas itu. Suara keris Ki Baka Kroda dan golok Ki Warok Petak bertemu dengan keris Suroantani berdennngan, bunga api berpijar-pijar menerangi cuaca yang mulai gelap. Tiga sosok tubuh yang bertanding itu berkelebatan sehingga orang tidak dapat melihat dengan jelas jalannya pertandingan. Di pekarangan rumah Ki Karyotomo penuh dengan penduduk dusun yang berdatangan mendengar soal ribut-ribut, apalagi ketika ada yang melihat Sumarni. Segera tersiar berita bahwa Sumarni yang dipercaya telah menjadi isteri dewa penjaga sungai telan pulang, maka berbondong-bondong orang berdatangan untuk melihat Sumarni. Akan tetapi mereka tertahan di pekarangan dan tidak berani mendekat ketika melihat ada perkelahian yang amat dahsyat terjadi di pendopo rumah itu. Lurah dusun itupun hadir di pekarangan itu. Ki lurah yang tidak tahu mengapa dan siapa yang berkelahi, segera menyuruh orang-orang untuk menyalakan obor agar tempat itu menjadi terang. Akan tetapi lurah inipun seorang yang mengerti bahwa yang bertanding adalah orang-orang yang memiliki kedigdayaan, maka dia tidak berani mendekat dan hanya menonton dari pekarangan. Ki Warok Petak dan Ki Baka Kroda yang tadinya merasa yakin bahwa mereka berdua pasti akan mampu mengalahkan lawannya yang hanya seorang, kini mulai terkejut dan khawatir. Lawannya itu ternyata tangguh bukan main. Mereka sama sekali tidak dapat menekan lawan, bahkan mereka berdua yang terdesak oleh ancaman keris di tangan Senopati Suroantani yang bergerak cepat bagaikan kilat yang menyambar nyambar. Apa lagi melihat berkumpulnya banyak sekali orang di pekarangan itu. Mereka berdua merasa berada di pihak penyerang, pihak yang bersalah sehingga mungkin saja para penduduk dusun akan mengeroyok mereka. Dugaan ini membuat mereka mulai merasa ketakutan dan permainan silat mereka menjadi kacau. Suroantani mempergunakan kesempatan ini untuk mendesak mereka dengan permainan kerisnya. Ketika golok Ki Warok Petak menyambar dan raksasa itu mengerahkan seluruh tenaganya dalam bacokan, Suroantani mengelak dan Ki Warok Petak terbawa oleh tenaga bacokannya sendiri sehingga tubuhnya terhuyung ke depan. Kesempatan iui dipergunakan Suroanuni untuk mengirim sebuah tendangan yang mengenai pinggang Ki Warok Petak sehingga raksasa itu terhuyung-huyung ke depan.

"Mampuslah!"

Ki Baka Kroda membentak dan kerisnya meluncur ke arah perut lawan dari arah kanan.

Ki Suroantani mundur selangkah, ketika keris meluncur lewat, dia cepat menangkap pergelangan tangan lawan yang memegang keris dengan tangan kirinya, memutar lengan itu sehingga tubuh Ki Baka Kroda terputar.

Pada saat itu, dada Ki Baka Kroda yang sebelah kanan terbuka dan Suroantani menusukkan kerisnya.

"Cappp......!"

Cepat dia mencabut kembali keris yang sudah menancap sampai ke gagangnya itu dan mendorong tubuh Ki Baka Kroda dengan tangan kiri.

Ki Baka Kroda mengeluh, keris di tangan kanannya terlepas, kedua tangan mendekap luka di dada kanan dan diapun terkulai roboh dau tak mampu bergerak lagi, Keris milik Suroantani adalah sebatang ketis pusaka yang ampuh, maka sekali keris itu memasuki dada sampai ke gagangnya, tewaslah ki Baka Kroda seketika.

Melihat kawannya roboh.

Ki Warok Petak menjadi marah, dan juga gentar.

Akan tetapi karena tidak melihat jalan keluar, tidak mampu melarikan diri, dia menjadi nekat.

Sambil mengeluarkan gerengan seperti seekor harimau terluka dia menyerbu lagi dan menyerang dengan golok nya secara membabi buta.

Akan tetapi dengan tenang dan penuh kewaspadaan, Suroantani yang melihat golok itu menyambar dan membabat ke arah lehernya, segera dia merendahkan tubuhnya dan golok itu lewat di atas kepalanya.

Pada saat itu, kerisnya kembali menusuk ke depan, tepat memasuki ulu hati Ki Warok Petak.

Dia mencabut lagi kerisnya dan menendang perut lawan yang sudah terluka.

Ki Warok Petak terlempar dan terbanting ke belakang dan tewas seketika karena lukanya bahkan lebih parah dibandingkan kawannya.

Sumarni dan ayah ibunya yang mengintai dari dalam, merasa girang sekali melihat dua orang jahat itu roboh dan tewas.

Sumarni lalu melangkah keluar, diikuti ayah ibunya dan dengan terharu saking gembira dan terima kasihnya, ia lari menghampiri Suroantani yang masih berdiri seperti sang Gatutkaca yang baru saja mengalahkan musuh-musuhnya.

"Paman.... terima kasih...... alangkah gagahnya paman.......!"

Ia memegang tangan senopati itu dan membawa tangan itu ke depan hidung dan mulutnya untuk dicium.

Suroantani terbelalak dan jantungnya berdebar kencang.

Pada saat itu yakinlah dia bahwa dia telah jatuh cinta kepada wanita yang bernasib malang ini!

Karyotomo dan isterinya tergopoh-gopoh menghampiri Suroantani.

Mereka tadi sudah mendengar dari Sumarni siapa adanya pria yang gagah perkasa itu.

Pria itu telah menolong anak mereka dari tangan gerombolan Wiro Gembong, dan sekarang malah menyelamatkan mereka semua dari tangan dua orang jahat itu.

"Kanjeng Senopati, kami sekeluarga menghaturkan terima kasih atas pertolongan paduka."

Kata Karyotomo sambil menyembah.

"Sudahlah, paman. Jangan banyak sungkan. Semua ini sudah menjadi kewajibanku. Yang penting sekarang membicarakan bahaya yang mengancam keluarga paman."

Sementara itu, melihat perkelahian sudah usai. Ki Lurah datang bersama para pemuda dusun yang membawa obor sehingga pendopo itu menjadi terang benderang.

"Ki Lurah, silakan masuk."

Karyotomo menyalami lurahnya.

"Ah, inikah Ki Lurah Jaten?"

Suroantani menghadapi lurah itu, lalu memperkenalkan diri.

"Ki Lurah, ketahuilah bahwa aku adalah Senopati Mataram bernama Suroantani,"

"Ah, Kanjeng Senopati.......!"

Ki Lurah cepat memberi salam.

"Cukup, Ki Lurah. Sekarang aku minta kepadamu agar suka mengurus dan mengubur jenasah kedua orang ini secara baik-baik biarpun mereka ini adalah penjahat-penjahat dan antek pemberontak Wirosobo. Aku harus menyingkirkan keluarga Nimas Sumarni dari dusun ini karena aku khawatir kalau-kalau para kawan kedua orang itu hendak mencari ke sini untuk menangkap Nimas Sumarni. Tanpa pengawalan yang kuat, keselamatan mereka bertiga terancam bahaya maut. Karena itu, aku harus mengungsikan mereka ke tempat yang aman dan terjaga."

"Kalau demikian yang paduka kehendaki, kami akan melaksanakan dengan baik."

"Dan tolong sediakan seekor kuda yang baik untuk memboyong orang tua Nimas Sumarni dari dusun ini. Besok pagi-pagi kami berangkat."

"Baik, sendiko dawuh, kanjeng!"

Ki Lurah lalu memerintahkan para pemuda untuk menyingkirkan dua mayat itu dari pendopo rumah Karyotomo.

Kemudian semua orang bubaran untuk memberi kebebasan kepada keluarga itu dan memberi kesempatan kepada mereka untuk membuat persiapan pergi besok dan untuk beristirahat.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Ki Lurah sudah mengirimkan seekor kuda yang cukup besar dan kuat.

Karena Ki Karyotomo dan isterinya tidak pernah menunggang kuda, maka disuruh berboncengan di atas punggung kuda pembelian Ki Lurah, sedangkan Suroantani dan Sumarni berboncengan di atas punggung kuda milik senopati itu.

Banyak penduduk dusun mengantar keberangkatan mereka sampai ke pintu dusun.

Kuda yang ditunggangi Suroantani dan Sumarni berjalan di depan karena senopati itu menjadi petunjuk jalan, sedangkan orang tua Sumarni mengikuti dari belakang.

Karena kedua ekor kuda itu terpisah beberapa meter jauhnya, Suroantani dan Sumarni dapat bercakap-cakap tanpa terdengar oleh dua orang suami isteri itu.

Sumarni merasa semakin akrab dan dekat dengan Suroantani yang bukan saja telah menyelamatkan dirinya akan tetapi bahkan sudah menyelamatkan ia sekeluarga.

"Paman Suroantani......."

Katanya lirih karena yang diajak bicara berada dekat sekali di belakang nya sehingga ia merasa seolah bersandar di dada pria itu terutama kalau kuda itu membuat gerakan ke dspan sehingga tubuhnya agak tertarik ke belakang Merasa betapa dada yang bidang itu kokoh kuat menjadi sandaran kepala dan punggungnya.

"Hemmm......? Ada apakah, nimas?"

"Paman, tanpa adanya paman, kami sekeluarga tentu telah mengalami kecelakaan, dan mungkin sudah binasa. Sekarangpun, kami bertiga menyerahkan nasib kami sepenuhnya ke tangan paman, karena kami Juga tidak tahu harus pergi bersembunyi ke mana."

"Jangan khawatir, nimas. Aku telah mempunyai rencana. Kalian akan kubawa ke perkumpulan Nogo Dento dan sementara kutitipkan di sana agar terbebas dari ancaman para penjahat itu "Paman terlalu baik, budimu terlalu besar bagi kami, paman. Akan tetapi aku sungguh merupakan orang yang hanya membikin susah orang lain saja. Aku sudah menyeret kedua orang tuaku ke dalam bahaya maut bahkan hampir saja mereka tewas karena aku, dan aku sudah pula menyusahkan paman sehingga (Lanjut ke

Jilid 23) Pecut Sakti Bajrakirana (Seri ke 01 -Serial Pecut Sakti Bajrakirana) Karya". Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 23 paman harus menentang bahaya dan menjadi repot sekali. Nasibku yang begini buruk agaknya membuat setiap orang yang dekat denganku menjadi susah pula......"

"Hemm, jangan berkata demikian, nimas. Engkau adulah seorang gadis yang baik dan aku siap untuk membelamu dan orang tuamu dengan segenap kekuatanku. Di perkampungan Nogo Demo engkau akan aman dan terlindung. Setelah nanti gerombolan yang menguasai Jatikusumo dapat dihancurkan, engkau dan orang tuamu dapat kembali ke dusun Jaten "

"Akan tetapi, kami akan selalu merasa ketakutan dan merasa terancam, paman. Hidup kami tidak akan tenteram lagi. Siapa tahu di antara gerombolan itu ada yang dapat lolos lalu mencariku di Jaten......"

"Kalau begitu, aku usulkan agar engkau dan orang tuamu pindah saja ke kota raja. Mataram agar aku dapat selalu melindungi kalian."

"Akan tetapi, di mana kami akan tinggal paman?"

"Di rumahku tentu saja. Rumahku cukup luas untuk menampung kalian bertiga."

"Ah, kami tentu akan merepotkan dan menyusahkan keluarga paman saja"

"Tidak ada yang direpotkan, nimas. Aku tidak mempunyai keluarga, aku hidup seorang diri di rumahku."

"Apa? Paman belum......belum...... beristeri?"

Tanya Sumarni heran.

Bagaimana mungkin seorang laki-laki berusia empat puluhan, sudah memiliki kedudukan tinggi pula, masih membujang?

"Belum, nimas.

Karena itu, aku sarankan agar kalian bertiga tinggal di rumahku sehingga aku, dapat melindungi kalian."

"Ahh, paman begitu baik! Kenapa paman begini baik terhadap diriku? Kenapa, paman Suroantani?"

"Entah mengapa...... akan tetapi aku...... aku kasihan sekali kepadamu dan aku...... aku suka sekali padamu. Kalau engkau sudi, aku ingin melindungi dirimu selamanya, aku ingin engkau hidup bersamaku, menjadi isteriku....."

Kuda melompat ke depan dan punggung Sumarni menempel di dada Suroantani.

Gadis itu dapat merasakan dengan punggungnya, betapa dada yang bidang itu berdenyut keras, sama kerasnya dengan debar jantungnya sendiri mendengar pengakuan dan lamaran itu.

Pinangan yang aneh dilakukan di atas kuda selagi mereka berboncengan!

"Aku.......

sudi menjadi.....

isterimu paman?

Ah, bukankah pertanyaan itu terbalik?

sepantasnya aku yang bertanya apakah paman sudi kepadaku?

Aku adalah seorang yang sudah kotor ternoda paman, menjadi permainan manusia iblis seperti Priyadi bahkan dinodai oleh jahanam Ki Klabangkolo.

Aku sama sekali tidak patut sama sekali tidak berharga untuk menjadi pelayan paman sekalipun......."

Sumarni tidak dapat menahan kesedihan hatinya lagi dan terisak menangis. Lengan kiri Suroantani merangkul pinggang yang ramping itu.

"Nimas, sudahlah lupakan semua pengalaman pahit itu. Aku tahu bahwa batinmu masih bersih tak ternoda. Aku cinta padamu, aku kasihan padamu, aku ingin engkau menjadi isteriku. Maaf, kalau aku membicarakan soal ini diatas kuda, karena kita tidak akan memiliki kesempatan bicara berdua saja seperti sekarang. Jawablah, Sumarni maukah engkau menjadi isteriku?"

"Aduh, paman! Setelah Gusti Allah sendiri yang mengulurkan tangan kepadaku. Tentu saja aku suka. Aku terima dengan sepenuh hatiku. Aku serahkan jiwa ragaku kepadamu, paman......."

"Bagus, Kalau begitu aku tinggal meminangmu kepada ayah ibumu. Akan tetapi, haruslah engkau menyebut paman seterusnya kepadaku, nimas?"

Kini Sumarni benar-benar menyandarkan kepalanya di dada yang bidang itu dan kedua tangannya menangkap lengan kiri yang merangkul pinggangnya. Ia merasa demikian berbahagia, demikian aman dan damai.

"Kakangmas Suroantani.... aku merasa...."

Ia berhenti, lehernya seperti tercekik rasanya karena keharuan.

"Ya? Merasa bagaimana, nimas?"

"Aku merasa..... seolah-olah baru terlepas dari cengkeraman cakar iblis dan terjatuh ke dalam tangan yang lembut penuh kasih seorang dewa.. Terima kasih, Gusti Allah... terima kasih......"

Dan ia terisak lagi.

Lengan kiri Suroantani merangkul semakin ketat dan dia merasa berbahagia sekali, Dia yakin benar bahwa dia menemukan seorang wanita yang luhur budinya dan dia tidak akan salah pilih.

Ketika di tengah perjalanan mereka berhenti beristirahat, Suroantani menyampaikan pinangannya kepada Ki Karyotomo dan isterinya.

Suami isteri itu terkejut dan heran mendengar seorang senopati meminang anaknya!

Akan tetapi setelah mereka mendengar bahwa anaknya telah menyetujui dan menerima pinangan itu, suami isteri itupun menerimanya dengan hati penuh sukur dan kegembiraan.

Siapa yang tidak akan merasa gembira?

Anak perempuan mereka bukan perawan lagi, sudah ternoda oleh orang jahat dan kini diambil Isteri secara terhormat oleh seorang senopati yang masih membujang!

Mereka hanyalah orang-orang dusun sederhana dan tiba-tiba menjadi mertua seorang senopati Mataram!

Tanpa halangan sesuatu mereka akhirnya tiba di perkampungan Nogo Dento, Setelah tiba di perkampungan itu, Suroantani disambut oleh tiga puluh orang murid Nogo Dento yang berjaga da perkampungan mereka.

Dia memperkenalkan diri dan disambut dengan hormat oleh para murid kepala.

Suroantani mendengar bahwa pasukan yang dipimpin Puteri Wandansari telah tiba di situ dua hari yang lalu dan sekarang mereka semua telah berangkat menuju ke Jatikusumo.

Pasukan dari Mataram sebanyak seratus orang perajurit pasukan Pasopati yang gagah perkasa itu diperkuat oleh para murid Nogo Dento sebanyak tiga puluh orang karena sebagian ditinggalkan untuk menjaga keamanan di Nogo Dento, ditambah lagi lima puluh orang anak buah perkumpulan Sardula Cemeng yang dipimpin oleh Ki Mundingsosro dan Ki Mundingloyo.

Juga Sang Puteri itu dibantu oleh Sutejo, Retno Susilo, Harjodento, Padmosari, Pusposari dan Csngak Awu.

Mereka telah berangkat pagi tadi dengan jumlah pasukan hampir dua ratus orang dan dibantu pula oleh orang-orang yang memiliki kedigdayaan.

Suroantani lalu menitipkan Sumarni dan ayah ibunya kepada para murid Nogo Dento.

Dia berpamit dari mereka karena dia harus pergi menyusul pasukan yang dipimpin oleh Puteri Wandansari itu untuk mengamati dan kalau perlu membantu seperti yang diperintahkan Sultan Agung kepadanya.

"Anakmas Priyadi, kukira sudah tiba saatnya bagi engkau dan seluruh anak buahmu untuk pindah ke Wirosobo, memperkuat pasukan Wirosobo. Ketahuilah bahwa Kadipaten Wirosobo sekarang sudah biap untuk melakukan penyerbuan kepada Mataram."

Kata Bhagawan Jaladara kepada Privadi.

Mereka sedang mengadakan perbincangan.

Yang hadir adalah Bhagawan Jaladara, Priyadi, Ki Klabangkolo, Resi Wisangkolo, Sekarsih, Maheso Kroda yang juga sudah bergabung dengan Priyadi dan Tumenggung Janurmendo yang datang bersama Bhagawan Jaladara sebagai utusan Kadipaten Wirosobo (Mojoagung).

"Paman Bhagawan Jaladara, sudah cukup kuat benarkah Wirosobo maka berani menyerbu Mataram?"

Tanya Priyadi dengan suara mengandung keraguan.

"Biarpun Wirosobo telah memperkuat diri dengan bantuan banyak pihak, terutama dari pihakmu, anakmas Priyadi, namun untuk menyerbu Mataram sendiri saja tentu masih kurang kuat, Akan tetapi kami bekerja sama dengan banyak kadipaten dan kabupaten seperti Lasem, Tuban, Jepan, Pasuruan, juga dari Arisbaya dan Sumenep di Madura. Kami semua dipimpin pula oleh Adipati Surabaya dengan juru nasihat Sunan Giri. Dengan kerja sama banyak kabupaten itu, mustahil, Mataram tidak akan dapat kita jatuhkan "

"Kalau begitu halnya, memang sudah tiba saatnya kami harus pindah ke Wirosobo untuk mengadakan persiapan membantu Wirosobo menyerbu ke Mataram, paman."

"Akan tetapi sayang sekali engkau belum dapat merebut kembali Pecut Bajrakirana dari tangan setan Sutejo itu, anakmas. Bagaimana kabarnya dengan para utusanmu yang melakukan pengejaran terhadap si pengkhianat Sumarni? Apakah sudah dapat ditangkap?"

Wajah Priyadi muram dan alisnya berkerut, matanya menyinarkan api kemarahan dan ia mengepal tinju kanannya.

"Kalau wanita itu dapat kutangkap, tentu akan kusiksa ia sampai mampus! Dan kalau sekali lagi aku berhadapan dengan jahanam Sutejo, tentu akan kulumatkan kepalanya!"

"Kalau begitu engkau belum berhasil menangkap gadis itu, anakmas Priyadi?"

Priyadi menghela napas panjang.

"Aku sudah mengutus dua orang kepercayaan paman, yaitu Ki Warok Petak dan Ki Baka Kroda untuk melakukan pengejaran terhadap Sumarni di dusun Jaten. Akan tetapi mereka itu tidak pernah kembali dan tidak ada beritanya. Maka aku lalu mengirim utusan untuk menyusul mereka di dusun Jaten. Utusan itu mencari keterangan di Jaten dan mendapat kabar bahwa kedua orang kepercayaan paman itu telah tewas!"

"Apa?"

Bhagawan Jaladara terbelalak mendengar bahwa dua orang pembantunya yang amat dipercaya itu telah tewas.

"Bagaimana mereka dapat tewas dan siapa pembunuh mereka?"

"Menurut berita yang didapat, Sumarni dan orang tuanya dibela oleh Suroantani dan dua orang utusan itu dibunuh olehnya."

Kata Priyadi.

"Suroantani, senopati Mataram itu Keparat!"

Seru Bhagawan Jaladara marah. Tumenggung Janurmendo segera berkata.

"Wah, kalau senopati Suroantani dan Mataram yang menolong Sumarni dan orang tuanya, tentu dia mendengar pula dari Sumarni tentang keadaan kita di sini! Senopati itu pasti tidak akan tinggal diam dan melaporkan keadaan di Jatikusumo ini kepada Sultan Agung!"

"Benar juga pendapat itu!"

Kata Bhagawan Jaladara khawatir.

"Anakmas Priyadi kita harus cepat mengungsi ke Wirosobo sebelum pasukan Mataram menyerbu ke sini!"

Priyadi mengerutkan alisnya.

"Mereka tidak akan menyerbu ke sini, paman. Andaikata mereka berani menyerbu sekalipun, aku tidak takut. Bukankah kedudukan kita kuat sekali? Anak buah kita ada dua ratusan orang, dan di sini ada aku dan paman sendiri, dibantu pula oleh Paman Resi Wisangkolo Paman Klabangkolo, Paman Tumenggung Janurmendo, Sekarsih dan Paman Maheso Kroda. Apa lagi yang kita takuti? Kalau mereka datang, kita akan menghancurkan mereka!"

Pada saat itu dari luar ruangan itu tampak dua orang anak buah memasuki ruangan sambil mendorong-dorong seorang laki-laki berusia sekitar empat puluh tahun dan dua orang gadis berusia kurang lebih delapan belas tahun dan enam belas tahun.

Biarpun pakaian dua orang gadis itu seperti pakaian wanita petani, namun harus diakui bahwa keduanya memiliki tubuh yang denok dan wajah yang manis dengan kulit yang bersih.

Adapun pria itu juga mengenakan pakaian seorang petani biasa.

Tiga orang ini didorong oleh dua orang anak buah Jatikusumo, jatuh berlutut di depan sekumpulan pemimpin yang sedang bersidang itu.

Priyadi yang merasa terganggu, mengerutkan alisnya dan memandang marah kepada dua orang anak buah itu.

"Ada apa ini? Kenapa kalian berani mengganggu kami, menghadap tanpa dipanggil?"

Bentaknya.

"Ampunkan kami denmas. Kami melihat tiga orang ini berindap-indap mendekati pagar yang mengelilingi perkampungan kami. Sikap mereka mencurigakan, maka mereka kami tangkap dan kami bawa menghadap denmas!"

Anak buah itu melapor.

Mendengar laporan itu.

Priyadi mengamati tiga orang tawanan itu.

Pria itu tampak seperti petani biasa, sederhana dan sama sekali tidak mencurigakan.

Lalu dia mengamati dua orang gadis itu.

Dua orang perawan dusun yang cantik manis kesederhanaan pakaian mereka tidak menyembunyikan lekuk lengkung tubuh yang sempurna dan kulit yang halus bersih.

Kecantikan alami dua orang gadis yang sedang mekar itu sungguh menimbulkan gairah dalam hati Priyadi yang baru saja ditinggalkan Sumarni, gadis dusun yang pernah membuatnya tergila gila, Kini yang dekat dengannya hanya Sekarsih.

seorang wanita yang memiliki kecantikan yang tidak alami, kecantikan buatan, tiruan, usianya juga sndah mulai tua.

Maka tidak mengherankan kalau dua orang gadis dusun itu membangkitkan berahi dalam hati Priyadi yang sudah menjadi hamba nafsunya sendiri.

Dia lalu bertanya kepada orang dusun itu dengan suara keren.

"Apa maksudmu berkeliaran di luar perkampungan, kami?"

Orang dusun yang sudah ketakutan itu menjawab dengan suara lirih.

"Ampunkan saya dan dua orang anak saya. denmas. Saya datang ke perkampungan Jatikusumo untuk minta perlindungan."

Ucapan ini tidak mengherankan hati Priyadi.

Dia tahu bahwa sejak dahulu perguruan Jatikusumo memang menjadi semacam pelarian bagi para penduduk dusun di sekitar daerah itu yang mengharapkan pertolongan dari perguruan Itu yang dianggap sebagai perguruan para pendekar.

Mendiang gurunya.

Bhagawan Sindusakti memang selalu mengulurkan tangan memberi pertolongan kepada para penduduk dusun kalau mereka terancam malapetaka.

Anak buahnya yang sekarang tentu saja tidak tahu akan kebiasaan ini maka mereka mencurigai ayah dan dua orang anaknya ini lalu menangkapnya.

Tidak ada seorangpun murid lama yang masih tinggal di situ.

Semua anak buah adalah orang-orang baru.

"Mengapa kalian datang minta perlindungan?"

Tanya Priyadi.

"Anakmas, beberapa hari yang lalu kami kedatangan dua orang laki-laki yang mengaku menjadi anggauta Jatikusumo dan mereka hendak memaksa dua orang anak perempuan saya ini untuk menjadi isteri mereka. Mereka memberi waktu sampai hari ini. Kalau kami tidak memenuhi permintaan mereka, kami serumah akan dibunuh. Karena itu, kami mohon perlindungan dan pertolongan denmas agar kami terbebas dari ancaman dua orang itu."

Priyadi dapat memaklumi peristiwa itu.

Dua orang perawan dusun ini memang menarik hati sekali, maka tidaklah mengherankan kalau ada dua orang anak buahnya yang jatuh hati dan ingin mengambil mereka sebagai istri dengan paksa dan ancaman.

Dia tahu bahwa anak buahnya yang baru adalah orang-orang yang biasa mempergunakan kekerssan untuk memaksakan kehendak mereka.

Akan tetapi dua orang gads itu telah menghadapnya dan melihat mereka, dia sendiri tertarik dan merasa sayang kalau mereka terjatuh ketangan dua orang anggauta perkumpulannya.

Dia lalu memberi isarat kepada dua orang anak buah yang melapor itu.

"Bawa pengacau ini keluar dan bereskan dia!"

Kemudian kepada Sekarsih dia berkata.

"Sekarsih, bawa dua orang gadis ini ke dalam kamarku. Aku sendiri yang akan memeriksa dan memberi keputusan terhadap mereka."

Dua orang anak buah itu lalu memegang kedua lengan petani itu dan menyeretnya keluar.

Dua orang gadis itu berseru memanggil ayah mereka sambil menangis, akan tetapi Sekarsih lalu memegang pergelangan tangan mereka dan menarik mereka masuk ke dalam ruangan sebelah dalam.

Wanita ini tersenyum dan maklum akan apa yang dikehendaki Priyadi.

Ia tidak merasa cemburu karena hubungannya dengan Priyadi adalah bebas tanpa ikatan apapun.

Ia sendiri boleh memilih pria manapun yang disukainya dan Priyadi juga boleh memilih gadis mana yang dikehendakinya.

Dua perawan dusun itu menangis ketakutan, terutama sekali melihat ayah mereka diseret keluar dengan kasar oleh dua orang yang menangkap mereka tadi.

Mereka tidak tahu apa yang akan terjadi dengan diri mereka dan ayah mereka.

Mereka masih terkejut, heran dan juga takut melihat sikap pimpinan Jatikusumo dan keadaan di situ yang jauh berbeda dengan yang mereka bayangkan.

Kiranya dalam bayangan mereka Jatikusumo merupakan tempat orang-orang gagah perkasa dan budiman yang siap setiap saat menolong mereka Akan tetapi kenyataannya sungguh berbeda dengan apa yang mereka pernah dengar dan bayangkan.

Seperti tidak pernah terjadi gangguan sesuatu, Priyadi melanjutkan perbincangannya dengan rekan dan sekutunya.

Setelah mereka semua pada umumnya membujuk Priyadi untuk segera mengungsi ke Wirosobo dan membantu kadipaten itu untuk menyerbu ke Mataram, akhirnya Priyadi mengambil keputusan.

"Baiklah, Paman Bhagawan Jaladara, aku mau pergi mengungsi ke Wirosobo, akan tetapi setelah dua pekan lagi Selama dua pekan ini aku hendak menyebar orang-orang kita untuk mencari tahu di mana adanya Sutejo karena akn masih, belum puas dan merasa penasaran kalau belum dapat merampas kembali Pecut Sakti Bajrakirana"

"Kalau sudah demikian keputusanmu, kamipun hanya menurut, anakmas. Kami dari Wirosobo akan menanti di sini sampai dua pekan lagi. Mudah-mudahan dalam waktu itu engkau sudah akan dapat merampas kembali Pecut Sakti Bajrakirana kata Bhagawan Jaladara. Mereka lalu bubaran. Pada malam hari itu, sesosok mayat terapung di sungai. Mayat petani tadi, ayah dari dua orang perawan dusun. Tak lama kemudian, beberapa ekor buaya berenang mendekati dan binatang-binatang buas itu lalu menyerang dan merobek-robek daging dan kulit mayat petani itu yang menjadi mangsa mereka. Di dalam rumah induk perguruan Jatikusumo, di dalam kamar Priyadi, terdengar rintih tangis dua orang perawan dusun itu. Mereka hanya mampu merintih dan menangis, tidak berdaya melepaskan diri dari kebuasan Priyadi yang bagaikan telah berubah menjadi binatang buas karena dikuasai nafsunya. Dua orang perawan itn seperti dua ekor kelenci yang tidak berdaya dalam cengkeraman seekor harimau buas yang merobek-robek mereka. Nafsu telah membuat Priyadi menjadi seekor binatang buas yang haus darah! Fajar menyingsing. Sesekali terdengar ayam jantan berkokok. Pagi itu masih terlalu gelap. Burung burung masih sepi. Orang-orangpun masih malas meninggalkan tempat tidur. Lapat-lapat masih terdengar isak tangis perlahan dari dalam kamar Priyadi. Laki-laki itu masih pulas kelelahan, Akan tetapi dua orang gadis dusun itu tidak berani melakukan hal yang bukan-bukan. Mereka ketakutan setengah mati Takut dan berduka. Mereka hanya dapat saling rangkul sambil menangis perlahan. Si adik telah dalam rangkulan mbakayunya yang mencoba menghibur akan tetapi ia sendiripun mencucurkan air mata. Tiba tiba terdengar sorak sorai yang mengejutkan semua orang dalam perkampungan Jatikusumo. Semua orang terbangun dari tidurnya dengan kaget. Terutama sekali para anak buah yang melakukan penjagaan di gardu penjagaan dekat pintu gerbang perkampungan, belasan orang anak buah yang pagi hari itu berjaga dengan terkantuk-kantuk, menjadi kaget setengah mati ketika tiba-tiba terdengar sorak sorai dan mereka melihat bayangan ratusan orang muncul di kegelapan pagi membawa tombak, golok atau pedang di tangan! Ratusan orang itu sambil berteriak-teriak membuat gerakan mengepung sehingga perkampungan Jatikusumo itu telah terkepung rapat! Dengan panik para penjaga itu lalu memukul kentongan yang tergantung di gardu penjagaan itu. Seluruh penghuni perkampungan menjadi semakin terkejut ketika mereka mendengar kentongan dipukul bertalu-talu menyambung sorak-sorai yang membangunkan mereka dari tidur tadi. Semua anak buah Jatikusumo cepat mengenakan pakaian dan berlari keluar membawa senjata. Priyadi juga terbangun dengan kaget. Mendengar kentongan yang dipukul gencar itu, tahulah dia bahwa ada bahaya mengancam. Teringatlah dia akan ucapan Tumenggung Janurmendo kemarin tentang kemungkinan penyerangan dan pa"sukan Mataram. Dia segera mengenakan pakaian, memandang kepada dua orang gadis kakak beradik yang masih saling berangkulan di sudut pembaringan. Setelah semua gairah nafsunya terpuaskan, kini dua orang dara dusun itu tidak tampak begitu menarik lagi! Beginilah sifatnya nafsu yang selalu berupaya untuk menguasai manusia. Kalau belum terdapat sesuatu yang diinginkan, maka sesuatu itu tampak indah dan menarik sekali, Akan tetapi sekali yang diinginkan itu terdapat, maka kebosanan segera menyusul dan nafsu menginginkan yang lain lagi yang dianggapnya lebih menarik. Setelah mengenakan pakaian dan menyelipkan keris pusaka Liat Nogo di pinggangnya, tanpa memperdulikan lagi kepada dua orang gadis dusun itu, Priyadi segera melompat keluar dari kamarnya. Di ruangan tengah dia bertemu dengan semua rekannya yang sudah berkumpul di situ. Mereka semua tampaknya juga sudah siap siaga mambawa senjata masing-masing. Wajah mereka juga tegang dan ketika melihat Priyadi muncul, Bhagawan Jaladara segera menyambutnya.

"Apa yang terjadi, paman?"

Tanya Priyadi.

"Seperti yang kami khawatirkan, anak mas. Pasukan Mataram telah datang menyerbu kita"

Jawab Bhagawan Jaladara.

"Kenapa tidak mengerahkan anak buah untuk menyerang mereka?"

"Mereka berjumlah lebih dari dua ratus orang dan mereka belum bergerak menyerang kita, anak mas. Mereka hanya baru mengepung saja dan agaknya pimpinan pasukan itu hendak bicara dulu dengan kita."

"Hemm, siapa yang memimpin pasukan itu, Siapa senopatinya?"

"Agaknya yang memimpin di depan sendiri adalah Sang Puteri Wandansari!"

"Hemm, diajeng Wandansari?"

"Benar, anakmas. Dan melibat bahwa pasukan itu tidak dipimpin seorang senopati Mataram, melainkan oleh sang putri, maka agaknya gerakan mereka itu adalah merupakan balas dendam sang puteri atas terbasminya perguruan Jatikusumo."

Kata Bhagawan Jaladara.

"Hemm, kalau hanya diajeng Wandarsari, jangan khawatir, paman. Aku dapat menundukkannya dengan mudah!"

Kata Priyadi dengan sikap tenang dan penuh kepercayaan kepada diriya sendiri.

Bagaimanapun, Wandansari adalah, adik seperguruannya, murid ke lima, sedangkan dia adalah murid ketiga.

Biarpun kabarnya Wandansari telah mendapatkan pedang Kartika Sakti dan ilmunya, dia sama sekali tidak merasa gentar.

Yang ditakuti hanyalah Sutejo yang kini telah berhasil mendapatkan dan memiliki Pecut Sakti Bajrakirana.

"Akan tetapi kita harus berhati-hati, anakmas. Siapa tahu ada orang-orang lain yang membantunya."

Kata Bhagawan Jaladara.

"Ha-ha-ha, biarpun ada yang membantunya, kita tidak perlu takut, Bhagawan Jaladara. Kita telah berkumpul di sini menghimpun tenaga. Siapa yang akan mampu mengalahkan kita semua?"

Resi Wisangkolo tertawa dan membesarkan hati rekan-rekannya dengan ucapan yang sombong itu.

"Mari Kita segera keluar dan menghadapi mereka bersama!"

Kata Priyadi dan pada saat itu terdengar teriakan lantang yang datangnya dari luar pintu gerbang perkumpulan Jatikusumo.

"Priyadi Pengkhianat murtad yang jahat! Keluarlah untuk menebus dosa-dosamu!"

Suara itu melengking nyaring dan Priyadi segera mengenal suara itu sebagai suara Wandansari, adik seperguruannya.

Akan tetapi betapa nyaring melengking suara itu, didorong oleh tenaga sakti yang amat kuat.

Diapun dapat menduga bahwa puteri istana itu telan berhasil menghimpun tenaga sakti amat kuat.

Diapun segera melangkah keluar diikuti rekan-rekannya.

Udara sudah tidak segelap tadi.

Sinar matahari mulai menyapu kegelapan dan mengusir sisa embun pagi yang bermalas-malasan meninggalkan bumi.

Setelah tiba di luar pintu gerbang perkampungan Jatikusumo, Priyadi melihat Puteri Wandansari dengan pakaian yang ringkas berdiri di depan pasukan yang dipimpinnya.

Dara bangsawan itu tampak demikian gagah perkasa dan jelita.

Dulu, ketika masih tinggal di perguruan Jatikusumo, Priyadi selalu memandang sang puteri itu sebagai seorang adik seperguruan, dengan perasaan sayang seorang kakak terhadap adiknya.

Akan tetapi sekarang, ketika dia memandang gadis itu, penglihatannya sudah sama sekali berubah.

Dia melihat Puteri Wandansari demikian cantik jelita menggairahkan, seolah baru sekarang dia melihat kecantikan itu dan hatinya dipenuhi rasa kagum dan berahi.

Priyadi sengaja bersikap tenang dan memandang rendah walaupun dia sudah melihat bahwa sang puteri itu ditemani oleh banyak orang muda yang gagah, di antaranya dia melihat Sutejo dan Cangak Awu.

"Ah. kiranya diajeng Wandansari yang datang Diajeng, kenapa andika datang dengan sikap marah dan menantang-nantang? Lebih baik kalau andika menemani aku, hidup bahagia sebegai teman hidupku selamanya di sini!"

Wajah sang puteri menjadi merah padam dan sepasang matanya yang jeli dan indah itu mengeluarkan sinar berapi api "Jahanam busuk, tutup mulutmu yang kotor!

Entah iblis mana yang telah memasuki jiwamu sehingga kini engkau berubah menjadi seorang yang hina dan biadab!

Engkau telah membunuh Bapa Guru.

Sindusakti, Kakang Maheso Seto.

Mbakayu Rahmini dan banyak murid Jatikusumo!

Engkau telah membasmi Jatikusumo, tempat di mana engkau dibesarkan dan dididik.

Engkau bahkan telah bersekutu dan menjadi antek Kadipaten Wirosobo.

Aku datang untuk membasmi persekutuanmu yang busuk itu!"

"Wandansari!"

Kata Priyadi dengan suara berwibawa.

"Apa yang kau andalkan untuk mengalahkan aku? Lihat, selain anak buahku cukup banyak dan kuat, aku juga dibantu oleh banyak orang gagah. Dan apakah engkau berani melawan dan menghadapi aku?"

Sutejo melangkah maju.

"Keparat Priyadi! Kalau andika memang jantan dan. berani bertanding satu lawan satu, akulah lawanmu!"

Melihat Sutejo.

Priyadi marah sekali, teringat akan pecut yang telah dicuri oleh Sumarni dan diberikan kepada pemuda ini "Babo-babo.

jahanam Sutejo!

Kau kira aku takut kepadamu?

Kebetulan sekali engkau ikut datang karena kalau tidak, akulah yang akan mencarimu untuk merampas kembali Pecut Bajrakirana yang secara licik telah engkau curi dariku!"

Sutejo melangkah maju mendekat dan berkata dengan lantang sehingga suaranya terdengar oleh semua orang.

"Priyadi, tidak malukah engkau mengeluarkan kata-kata seperti itu? Aku adalah pemilik yang sah dari Pecut Sakti Bajrakirana. Mendiang Eyang Guru Resi Limut Manik telah memberikannya kepadaku. Akan tetapi dengan curang sekali Bhagawan Jaladara telah merampasnya dari tanganku, kemudian dia memberikan pecut itu kepadamu untuk menarikmu menjadi antek Wirosobo! Sekarang engkau masih bermuka tebal untuk mengatakan bahwa aku yang mencuri pecut milikku sendiri ini dari tanganmu?"

Tiba-tiba terdengar suara tawa lantang dari rombongan Priyadi.

Resi Wisangkolo melangkah maju di samping Priyadi sambil mengamangkan tongkat ularnya yang berwarna hitam sambil barseru dengan nada mengejek.

"Ha-ha-ha-ha! Setelah Sutejo maju bertanding dengan anakmas Priyadi, lalu siapa lagi yang akan mampu menandingiku? Hayo, orang-orang Mataram, kalau ada yang berani, boleh maju melawan aku Resi Wisangkolo!"

Wandansari yang dalam perjalanan tadi sudah berbincang-bincang dengan Sutejo dan telah mendengar keterangan pemuda itu tentang tingkat kepandaian semua orang yang membantunya melakukan penyerbuan ke perguruan Jatikusumo, maklum bahwa diantara para pembantu itu tidak ada yang akan mampu menandinggi kedigdayaan Resi Wisangkolo.

Maka sebelum ada yang menjawab tantangan kakek resi yang sombong itu, Puteri Wandansari melangkah maju dan suaranya terdengar lantang.

"Resi Wisangkolo, sudah lama aku mendengar akan kesesatanmu! Sebagai seorang resi engkau telah menyeleweng dari pada kebenaran, mengandalkan kedigdayaan untuk bertindak sewenang-wenang. Jangan mengira bahwa tidak ada yang akan berani menandingimu. Akulah lawanmu!"

Semua orang terkejut, Mereka sudah tahu bahwa resi itu memiliki kesaktian yang hebat.

Bagaimana puteri istana yang masih muda ini akan mampu menandinginya?

Juga Cangak Awu merasa khawatir sekali.

Akan tetapi Sutejo hanya tersenyum.

Dialah yang cukup maklum bahwa sang puteri yang cantik jelita dan halus itu sebetulnya telah memiliki kesaktian yang tidak berapa jauh selisihnya dibandingkan dengan dia sendiri.

Sang puteri itu telah menerima gemblengan dari mendiang Resi Limut Manik, bahkan telah menerima pedang pusaka ampuh Kartika Sakti berikut kitab ilmu pedang itu yang merupakan ilmu pamungkas dari Resi Limut Manik di samping ilmu Bajrakirana!

Karena itu Sutejo tidak merasa khawatir melihat sang puteri itu maju hendak menandingi Resi Wisangkolo.

Ki Klabangkolo tidak mau kalah.

Diapun melangkah maju dan menantang sambil memandang ke arah rombongan Puteri Wandansari.

"Dan siapa di antara kalian yang berani menandingiku?"

Teriaknya dengan suara parau.

Biarpun dia tidak memegang senjata apapun karena datuk ini memang tidak pernah mempergunakan senjata, namun dia tampak menakutkan Tubuhnya tinggi besar dan mukanya yang brewok itu mirip muka singa.

Retno Susilo yang tahu akan kedigdayaan kakek ini hendak maju, akan tetapi ia didahului, ayah Sutejo.

Ki Harjodento yang lebih dulu maju menghadapi Ki Klabangkolo.

"Akulah yang akan menandingimu!"

Katanya dengan tegas.

"Hua ha ha, manusia lancang dan bosan hidup. Siapa engkau, berani melawan Ki Klabangkolo baburekso Pegunungan Ijon?"

Bentak Ki Klabangkolo sambil tertawa mengejek.

"Ki Klabangkolo, perkenalkanlah calon lawanmu ini. Aku bersama Harjodento, ketua perguruan Nogo Dento dan aku tidak akan mundur selangkahpun untuk melawanmu!"

Diam-diam Ki Klabangkolo terkejut, tentu saja dia pernah mendengar nama besar ketua Nogo Dento ini. Bhagawan Jaladara juga maju dan menantang.

"Siapa berani melawan aku?"

Terdengar jawabnya nyaring.

"Akulah lawanmu, manusia iblis. Aku akan membalaskan kematian orang-orang tak berdosa yang telah menjadi korban kejahatanmu!"

Yang berseru ini bukan lain adalah Retno Susilo yang telah mencabut pedang pusaka Nogo Wilis karena kakek itu juga sudah memegang tongkat hitamnya.

Sekarsih yang melangkah maju segera dihadapi oleh Padmosari, isteri Ki Harjodento yang masih tampak cantik itu.

Ibu kandung Sutejo ini adalah seorang wanita yang memiliki kesaktian yang cukup tinggi, dan suaminya yang cukup mengenal kedigdayaan isterinya, tidak merasa khawatir ketika Padmosari menyambut tantangan Sekarsih.

Ketika Tumenggung Janurmendo maju, dia segera disambut oleh Cangak Awu yang dibantu oleh Pusposari yang mendampingi tunangannya itu.

Sedangkan Maheso Kroda sudah dihadapi oleh ayah dan paman Retno Susilo, yaitu Mundingsosro dan Mundingloyo, dua orang pimpinan perkumpulan Sardulo Cemeng.

Biarpun tidak ada yang memberi komando, kedua pihak sudah mulai bergerak dan saling terjang sehingga terjadilah pertempuran yang amat seru dan mati-matian.

Seorang perwira pembantu Puteri Wandansari telah memanggil pasukan yang tadinya mengepung perkampungan itu dan kini mereka berkumpul di depan pintu gerbang.

Akan tetapi perwira itu tidak memberi aba-aba untuk menyerang karena pihak anak buah lawan juga belum bergerak dan dia masih menanti komando dari Puteri Wandansari yang telah mulai bertanding dengan lawasnya.

Perwira itu bersama pasukannya hanya menonton dengan, penuh kewaspadaan.

Mereka tahu bahwa para pimpinan mereka sedang bertanding, melawan pimpinan lawan yang tangguh.

Mereka hanya mengharapkan para pimpinan mereka akan keluar sebagai pemenang, karena kemenangan pimpinan akan memperbesar semangat bertempur mereka untuk menggempur musuh.

Pertempuran itu sungguh dahsyat.

Terutama sekali pertandingan, yang terjadi antara Sutejo melawan Priyadi.

Priyadi memegang kerisnya yang mengeluarkan sinar berkilat, yaitu keris pusaka liat Nogo yang berhawa panas.

Adapun Sutejo yang telah tahu betapa saktinya orang yang dilawannya, juga sudah melolos Pecut Bajrakirana dan memegang gagang pecut itu dengan tangan kanannya, siap menghadapi terjangan lawan.

Sejenak mereka memasang kuda-kuda tanpa bergerak, hanya mata mereka saja saling tatap dengan tajam, seperti dua ekor ayam jantan hendak berlaga mengukur kekuatan lawan melalui tatapan mata.

Diam-diam Priyadi mengerahkan Aji Penyirepan Begonondo untuk membuat lawan lemah dan mengantuk agar mudah dia serang dan robohkan.

Sutejo dapat merasakan ini karena tiba-tiba saja sepasang matanya merasa pedas dan mengantuk.

Hampir saja dia menguap, akan tetapi karena menyadari bahwa ini merupakan pengaruh ilmu lawan, cepat dia mengerahkan tenaga sakti untuk melawannya.

Kesadarannya kembali sepenuhnya dan rasa lelah dan mengantuk itupun lenyap.

Maklum bahwa lawannya tidak mempan diserang dengan Aji Penyirepan Begonondo, Priyadi menjadi penasaran dan marah.

Tiba-tiba dia mengeluarkan pekik dahsyat yang menggetarkan keadaan sekelilingnya, membuat semua orang terkejut.

Terutama sekali Sutejo yang diserang langsung dengan Aji Jerit Nogo ini merasa seperti ada halilintar menyambarnya!

Akan tetapi pemuda ini segera mengerahkan tenaga sakti untuk menolak dan diapun tidak terguncang oleh serangan melalui pekik melengking Itu, Melihat ini.

Priyadi lalu menerjang dengan kerisnya.

Keris liat Nogo yang berhawa panas itu menyambar dengan tusukan kilat ke arah dada Sutejo.

Serangan itu amat dahsyatnya dan seandainya mengenai dada Sutejo, kiranya aji kekebalan yang dikuasai Sutejo tidak akan kuat menahannya.

Namun, dengan gerakan yang indah dan cepat sekali Sutejo telah menghindarkan diri dengan lompatan ke belakang, kemudian dia menggerakkan pergelangan tangan kanannya.

"Tar-tarr......syuuuuuttt......!"

Ujung pecut menyambar ke arah kepala Priyadi.

Priyadi juga maklum akan ampuhnya, pecut pusaka yang menjadi benda keramat bagi Jatikusumo itu, maka dia tidak berani menerimanya dengan mengandalkan aji kekebalannya.

Dia mengelak dengan merendahkan diri lalu menubruk lagi ke depan, kerisnya menusuk ke arah leher lawan!

Sutejo menyambut serangan itu dengan membalikkan pecutnya sehingga ujung pecut menangkis keris.

"Crinnggg......!"

Tampak bunga api berpijar ketika keris bertemu ujung perut dan keduanya tergetar ke belakang.

Mereka lalu saling menyerang dengan dahsyatnya.

Ujung pecut menyambar-nyambar dengan lecutan maut, dibela tusukan-tusukan keris yang kalau mengenai sasaran tentu akan merenggut nyawa.

Bahkan kadang-kadang tangan kiri mereka melakukan serangan pala dan serangan tangan kiri sebagai selingan ini tidak kalah hebatnya dari serangan senjata mereka karena Priyadi menggunakan tangan kirinya untuk memukul dengan Api Pamungkas Margopati sedangkan Sutejo juga mempergunakan Aji Pamungkas Bromokendali.

Pertandingan antara Wandansari melawan Resi Wisangkolo juga hebat sekali.

Ketika mereka mulai bertanding, Resi Wisangkolo memandang rendah lawannya.

Hanya seorang dara jelita yang masih amat muda!

Bagaimana akan mampu menandinginya?

Sang resi yang tidak mudah lagi terpikat wajah cantik, tidak seperti watak Ki Klabangkolo yang masih mata keranjang, sekali ini terpesona oleh kecantikan Puteri Wandansari dan timbul niat buruknya untuk mempermainkan dara bangsawan itu.

Dia menggerakkan tongkat ular hitamnya dengan cepat dan kuatnya.

Serangan pertama dia tujukan ke arah dada tang puteri, dengan maksud untuk mencolok dada mempergunakan tongkatnya secara kurang ajar sekali, sambil terkekeh.

"Singggg.........trangggg ......!"

Bunga api berpijar-pijar dan kakek itu terkejut bukan main karena tangkisan pedang pada tongkatnya itu membuat tongkatnya terpental keras dan telapak tangannya tergetar hebat!

Sungguh bukan tenaga sembarangan yang mampu menggerakkan pedang sekuat itu!

Senyumnya mulai berubah masam, akan tetapi tetap saja dia masih memandang ringan.

Lengan kirinya yang panjang itu terjulur ke depan, cepat sekali menuju ke pundak Puteri Wandansari untuk menotok jalan darah.

"Haiiiittt.......!"

Sang puteri membentak nyaring diikuti gerakan pedangnya yang mendesing dan dengan amat kaget Resi Wisangkolo terpaksa harus menarik kembali tangannya kalau tidak ingin pergelangan tangannya terbacok pedang!

Bukan main aneh dan cepatnya gerakan pedang di tangan puteri itu!

Kini mulai lenyaplah keheranannya tadi mengapa seorang puteri muda berani menentangnya.

Kiranya puteri dari Sultan Agung ini memang sakti mandraguna.

Teringatlah Resi Wisangkolo akan kesaktian Sultan Agung, maka diapun tidak berani lagi memandang rendah .

"Bagus! Engkau ingin melihat kesaktian Resi Wisangkolo?"

Teriaknya dan kini tongkat ular hitamnya bergerak cepat sekali, berubah menjadi segulungan sinar hitam yang bergelombang datang menerjang ke arah Puteri Wandansari.

Akan tetapi, puteri itu tidak percuma menjadi puteri Sultan Agung, apa lagi ia telah menerima gemblengan khusus dari Resi Limut manik.

Iapun segera mainkan ilmu pedang Kartika Sakti dan pedangnya lenyap berubah menjadi segulungan sinar yang berkeredepan menyilaukau mata.

Pedang itu adalah pusaka yang dikeramatkan oleh perguruan Jatikusumo, sebatang pedang langka yang kabarnya terbuat dari logam yang berasal dari bintang jatuh.

Kuatnya melebihi baja dan ampuh bukan main!

Apa lagi dimainkan dengan ilmu pedang Kartika Sakti yang memang khusus dirangkai untuk pedang pusaka itu.

Kini tubuh sang puteri seperti dilindungi oleh gulungan sinar yang teramat kuat.

Ke arah manapun tongkat ular hitam menyambar, selalu membalik dan terpental ketika bertemu dengan gulungan sinar itu.

Bukan dalam pertahanan saja ilmu pedang Kartika Sakti itu amat kuat, melainkan juga dalam penyerangan.

Sambil bertahan dengan kokoh kuat, kadang dari gulungan sinar putih berkeredepan itu mencuat sinar kilat, yaitu ketika pedang itu membuat gerakan membalas dengan serangan yang amat cepat dan kuat.

Dan setiap kali pedang itu menyerang, baik menusuk ataupun membacok, selalu yang dituju adalah bagian-bagian yang lemah dan berbahaya dari tubuh lawan!

Beberapa kali Resi Wisangkolo mengeluarkan seruan kaget dan heran.

Makin lama malin lenyaplah sikapnya yang sombong memandang rendah tadi.

Kini mulailah dia mengerahkan semua tenaga dan ilmunya untuk menandingi puteri itu.

Bahkan dia venyelingi serangan tongkatnya dengan pukulan tangan kirinya yang ampuh dengan pengerahan Aji Guntur Bumi, bahkan juga mengeluarkan Aji Pamungkasnya Guntur Geni.

Namun, aji-aji pukulan yang amat ampuh dan kuat itu tertahan oleh gulungan sinar putih pedang Kartika Sakti dan hanya dapat membuat sang puteri terpental mundur dua tiga langkah saja?

Biarpun demikian, diam-diam Puteri Wandansari harus mengakui bahwa lawannya amat tangguh, memiliki kedigdayaan yang luar biasa.

Kalau saja ia tidak menguasai ilmu pedang Kartika Sakti dan tidak memegang pedang pusaka itu, tentu ia sudah, kalah dan dapat dirobohkan lawan yang sakti mandraguna itu.

Akan tetapi untung baginya, pedangnya amat ampuh dan ilmu pedangnya juga, merupakan ilmu pedang tingkat tinggi yang dapat membendung serangan lawan sehingga ia masih mampu bertahan dan bahkan balas menyerang.

Biarpun ia lebih banyak bertahan dari pada menyerang, namun kiranya tidak akan mudah dan akan berlangsung lama sebelum kakek itu mampu mengalahkannya.

Perkelahian antara Ki Klabangkolo yang ditandingi Ki Harjodento juga berlangsung sero dan hebat sekali.

Ki Klabangkolo yang tidak biasa.

mempergunakan senjata itu sekali ini juga hanya mengandalkan kaki tangannya yang besar dan panjang.

Akan tetapi karena kakek ini memiliki sepasang lengan yang kebal, maka sepasang tangannya, itu sudah merupakan senjata yang ampuh dan berbahaya sekali.

Dengan mempergunakan Aji Singarodra gerakan dan ulahnya tiada bedanya seperti gerakan seekor singa yang mengamuk!

Serangan-serangan berupa tubrukan dan cakaran kedua tangannya, kadang diseling tendangan kedua kakinya yang panjang, diperkuat dengan gerengan yang menggetarkan kalbu.

Gerengan itu bukan sembarang teriakan, melainkan Aji Pekik Singanada yang mempunyai wibawa seperti gerengan seekor singa yang dapat melumpuhkan lawan.

Akan tetapi yang dilawan Ki Klabangkolo sekarang bukanlah orang sembarangan.

Ki Harjodento adalah seorang pendekar yang sudah banyak makan asam garam dunia persilatan, sudah banyak pengalamannya bertanding dengan orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi.

Dengan pengalamannya yang banyak dan pengetahuannya yang luas, Ki Harjodento dapat menahan serangan Pekik Singanada dari lawannya itu.

Getaran-getaran yang diakibatkan pekik itu dapat ditahannya dengan pengerahan tenaga saktinya.

Dia mainkan tombaknya dengan gerakan yang mantap dan kuat sekali.

Bukan hanya pertahanannya yang kokoh, melainkan serang baliknya juga amat berbahaya.

Ketua perkumpulan Nogo Dento ini maklum bahwa lawannya memiliki aji kekebalan yang amat, kuat, maka ujung tombaknya selalu menyerang bagian-bagian yang lemah seperti mata, tenggorokan, bawah pusar sehingga serangan-serangannya cukup membuat Ki Klabangkolo kerepotan karena harus melindungi bagian-bagian lemah yang terancam itu dengan tangkisan tangan atau elakan.

Serang menyerang terjadi antara dua orang jago tua ini dan sukar diramalkan siapa di antara mereka yang akan keluar sebagai pemenang.

Memang cepat sekali pilihan lawan pihak Puteri Wandansari.

Semua ini atas petunjuk Sutejo yang pernah menghadapi semua lawan itu.

Sutejo dapat mempertimbangkan siapa di antara anggauta rombongan Puteri Wandansari yang akan mampu menandingi anggauta pihak lawan.

Karena itulah, ketika tadi pihak lawan memunculkan jago-jagonya, pihak Puteri Wandansari sudah siap seseorang untuk menandinginya, seperti telah diatur dan ditentukan sebelumnya.

Mungkin yang paling hebat dan sengit di antara mereka yang bertanding itu adalah pertandingan antara Bhagawan Jaladara yang melawan Retno Susilo.

Mula mula Bhagawan Jaladara memandang rendah lawannya.

Akan tetapi, setelah menerima gemblengan lagi dari gurunya.

Nyi Rukmo Petak atau Ken Lasai, tingkat kepandaian Retno Susilo telah meningkat dengan hebat Bukan saja ia telah menguasai Aji Gelap Sewu, pukulan yang amat hebat, dan juga Aji Wiso Sarpo yang mengandung racun ular-ular berbisa yang amat berbahaya, ia juga mempunyai sebatang pedang pusaka, yaitu Pedang Nogo Wilis yang mengeluarkan sinar kehijauan.

Apa lagi Retno Susilo yang berwatak keras itu sudah mendengar akan kejahatan-kejahatan yang dilakukan Bhagawan Jaladara terhadap pria yang dikasihinya hal ini membuat ia merasa benci sekali dan ia berkelebat dengan ganas bukan main.

Pedang Nogo Wilis di tangannya bergerak amat cepat sehingga tidak tampak bentuknya, berubah menjadi sinar kehijauan yarg bergulung-gulung.

Bhagawan Jalalara menjadi terkejut bukan main.

Setelah dia memainkan tongkat hitamnya dan ke manapun dia menyerang, selalu tongkat hitamnya terpental ketika bertemu sinar hijau, mereka tahulah dia bahwa gadis muda yang menjadi lawannya itu seorang yang memiliki kesaktian.

Bahkan setiap kali tongkatnya bertemu dengan pedang hijau itu dengan keras sekali, dia merasa betapa telapak tangannya menjadi panas dan tergetar.

Hampir dia tidak dapat percaya akan kenyataan ini.

Bahwa dia seorang datuk persilatan yang tangguh, tokoh ke tiga dari perguruan Jatikusumo, kini tidak mampu mengalahkan seorang gadis muda yang belum tentu ada dua puluh tahun usianya!

Saking penasaran, beberapa kali dia menggunakan tangan kirinya untuk mengirim pukulan tenaga sakti dalam Aji Gelap Musti.

Pukulannya itu hebat sekali, mendatangkan angin yang dahsyat menyambar ke arah Retno Susilo.

Akan tetapi gadis itu sama sekali tidak merasa gentar, bahkan berani menyambut pukulan itu dengan Aji Gelap Sewu yang tidak kalah dahsyatnya, setiap kali dua tenaga sakti itu bertemu, Bhagawan Jaladara terdorong ke belakang sampai tiga langkah!

Dengan marah dan nekat Bhagawan Jaladara lalu mengerahkan seluruh tenaganya, mengeluarkan seluruh ilmunya untuk menyerang.

Retno Susilo menyambut dengan semangat bernyala-nyala dan merekapun saling serang dengan sengitnya.

Sekarsih yang cantik genit dan juga tangguh itu, sebagai murid tersayang Ki Klabangkolo, memiliki kepandaian yang tinggi Akan tetapi sekali ini ia bertemu tanding yang dapat mengimbanginya, yaitu Padmosari, isteri Ki Harjodento.

Sebagai isteri ketua Nogo Dento yang sakti Padmosari juga menguasai aji kanuragan yang tinggi dan ketika ia memainkan kerisnya, ia bagaikan sekor singa betina yang tangkas dan berbahaya.

Sekarsih menggunakan pedangnya, namun semua serangan pedangnya dapat dihindarkan oleh Padmosari dengan elakan atau tangkisan kerisnya Dua orang wanita yang sama cantiknya ini bertanding mati matian, saling serang dan saling desak dalam keadaan yang seimbang.

Tumenggung Janurmendo mengamuk dengan hebat, menggunakan keris pusakanya yang disebut Jalu Sarpo.

Akan tetapi dia dikeroyok oleh Cangak Awu dan tunangannya, Pusposari.

Cangak Awu adalah murid ke empat dari mendiang Bhagawan Sindusakti ketua Jatikusumo dan dia seorang pemuda gagah perkasa, tinggi besar yang memiliki tenaga raksasa sehingga permainan tongkatnya amat menggiriskan.

Baca Juga: Mutiara Hitam 16

Baca Juga: Istana Pulau Es 20

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert