Eps 3 Legenda Pendekar Ulat Sutera - Huang Ying
Baca online Legenda Pendekar Ulat Sutera - Huang Ying
Cersil Legenda Pendekar Ulat Sutera - Huang Ying.
"Kalian sedang menertawakan apa?"
"Tertawa?"
Lam-touw bertanya aneh.
"tidak disangka kau bisa menanyakan hal ini."
"Setelah lama tinggal di sini pasti bisa melihat orang. Bukankah guru biasanya selalu cepat mengatakan sesuatu di dalam hati?"
"Aku kira kau adalah anak pintar, tapi ternyata tidak. Kalau tidak, mengapa kau tidak mengerti?"
"Mengerti apa?"
Su Yan-hong menarik nafas.
"Cianpwee mentertawakan aku, kemarin besar mulut mengatakan aku sudah mempunyai cara yang baik, tapi sebenarnya tidak ada!"
"Tapi sekarang sudah ada!"
Kata Lam-touw.
Fu Hiong-kun juga berkomentar.
_ "Liu Kun membuat perjamuan di rumah Su-ci.
Mengundang Ling-ong dan Hou-ya, tidak terkecuali Tiang-lek Kuncu.
Pastinya Siau Sam Kongcu juga ikut.
Bila kita ingin masuk ke Ling-ong-hu untuk menyelamatkan orang, itu adalah waktu yang paling tepat!"
Siau Cu mengangguk.
"Bila tidak ada Siau Sam Kongcu, masalah akan lebih mudah. Hanya saja Ling-ong-hu begitu besar, bagaimana kita bisa tahu di mana Lu Tan di sembunyikan. Mungkin mencari sampai hari terang pun belum bisa ditemukan!"
"Ternyata kau pintar juga!"
Kata Lam-touw. Siau Cu bertanya kepada Su Yan-hong.
"Hou-ya biasa keluar masuk Ling-ong-hu, pasti lebih hafal tempat daripada kita!"
"Aku tidak lebih banyak tahu!"
Su Yan-hong menggelengkan kepala.
"satu-satunya cara adalah aku harus ke sana untuk mencari tahu di mana Lu Tan berada!"
Legenda Pendekar Ulat Sutra -1 191
"Baik!"
Lam-touw setuju.
"tapi jangan sampai diketahui oleh Tiang-lek Kuncu. Kalau tidak, dia akan bersiap siaga!"
"Selain itu, juga harus berhati-hati terhadap mata-mata Liu Kun!"
Kata Su Yan-hong.
"Aku sudah mempunyai cara yang aman!"
Kata Su Yan-hong.
"Kali ini kau tidak mengatakan cara yang jitu!"
Kata Siau Cu.
"Cara yang jitu bukan cara yang baik, sedang kan bukan cara yang baik kadang-kadang akan menjadi cara yang baik! Kami di sini menunggu kabar baik darimu!"
Kata Lam-touw tertawa.
"Aku harap Lu Tan tidak dilukai sampai cacat oleh Tiang-lek Kuncu!"
Siau Cu sedih.
"Dia bukan orang jahat seperti itu!"
Fu Hiong-kun membela Tiang-lek Kuncu.
"Setelah melihat keadaan Lu Tan, kita akan tahu!"
Kata Siau Cu.
"Mengapa kau tidak percaya kepada Tiang-lek Kuncu?"
Tanya Su Yan-hong.
"Entah mengapa aku merasa Tiang-lek Kuncu sangat merepotkan orang, Apapun berani dilakukannya!"
"Tapi menurutku sifat dia tidak jahat!"
"Menurutku orang yang mempunyai sifat seperti dia, bila tidak suka, dia akan melampiaskan kepada orang lain..."
Lam-touw tertawa lagi.
"Kalau menurutku, gadis yang bersifat seperti dia, hanya dia satu-satunya yang pernah kutemui!"
Siau Cu terpaku.
Lam-touw tertawa terbahak-bahak.
72-72-72 Sebenarnya Su Ceng-cau tidak melampiaskan kemarahan kepada Lu Tan.
Dia hanya khawatir sebelum Su Yan-hong menyetujui syaratnya, Lu Tan sudah sembuh dan ingin meninggalkan Ling-ong-hu.
Sebenarnya Lu Tan sudah pernah berkata begitu.Legenda Pendekar Ulat Sutra -1 192 Dia tahu, menahan Lu Tan untuk terus tinggal di Ling-ong-hu bukan hal yang mudah.
Dia tidak mempunyai alasan yang cukup baik untuk menahannya.
Setelah berpikir lama, dia terpikir akan satu cara yang dianggapnya cara yang baik.
Caranya adalah dengan sebungkus obat.
Dia membelinya dari toko obat.
Setelah dimasak, dia sendiri yang mengantarkannya kepada Lu Tan.
Lu Tan tidak bisa tidak jadi minum.
Obat sangat pahit, juga aneh rasanya.
Setelah Lu Tan minum seteguk, kedua alisnya segera berkerut.
Dia mencoba bertanya.
"Bolehkah aku tidak meminum obat ini?"
"Mengapa tidak mau diminum?"
"Sangat pahit!"
Jawab Lu Tan hanya begitu.
"Kata pepatah, obat yang pahit pasti adalah obat yang manjur. Seorang laki-laki masa takut dengan rasa pahit?"
Terpaksa Lu Tan minum seteguk lagi, tapi dia mengerutkan alis lagi.
"Setelah minum, aku menjadi tidak nyaman!"
"Berarti lukamu , belum sembuh sehingga minum obat juga terasa tidak nyaman!"
Lu Tan bukan orang tidak berpengalaman. Tapi entah mengapa dia selalu merasa apa yang dikatakan Su Ceng-cau sangat masuk akal. Su Ceng-cau berkata lagi.
"Obat ini aku sendiri yang memasaknya. Kalau kau tidak habiskan, aku pasti akan marah!"
Setelah mendengar kata-kata ini, Lu Tan tidak berani membantah dan minum obat sampai habis. 73-73-73 Hiang-bwe menunggu di luar. Melihat Su Ceng-cau membawa mangkuk keluar, dia terkejut.
"Betulkah dia minum sampai habis?"Legenda Pendekar Ulat Sutra -1 193
"Kalau aku yang buka mulut, dia mana berani menolak?"
Su Ceng-cau berkata dengan senang.
"Kata tabib di toko obat, bila obat ini diminum, tulang dan syaraf akan merasa pegal dan tidak bertenaga. Anjing yang galak juga akan menjadi penurut! Kongcu ini sudah minum semangkuk besar..."
Kata Hiang-bwe.
"Tidak peduli dia akan menjadi apa! Aku akan membuat dia mengira dirinya belum sembuh dan tidak ada tenaga untuk meninggalkan tempat ini!"
Hiang-bwe menggelengkan kepala dan menerima mangkuk kosong. Tiba-tiba dia teringat sesuatu.
"Hou-ya datang!"
"Dia ada di mana?"
Su Ceng-eau bertanya.
"Sedang di perpustakaan dengan Ong-ya..."
"Mungkin dia...dia datang melamarku?"
Su Ceng-cau segera berlari ke sana.
74-74-74 Memang Su Yan-hong datang karena mempunyai tujuan tertentu.
Selam mencari tahu tempat persembunyian Lu Tan, dia juga ingin mendengar ide-ide Ling-ong.
Ling-ong sudah bertemu dengan kaisar, itu sudah bukan rahasia lagi.
Tapi ada pesan rahasia apa dari kaisar, tidak hanya dia, Liu Kun pun ingin cepat mendapat kabar ini.
Su Yan-hong datang ke Ling-ong-hu dengan alasan yang tepat.
Mendengar kaisar sudah mengatur semua rencana.
Dia merasa terkejut mendengarnya, maka masalah Lu Tan untuk sementara ditunda, dengan tenang dia mendengarkan apa yang dikatakan Ling-ong.
"Kalau rencana bisa berjalan lancar, hari kiamat bagi Liu Kun akan segera datang!"
Ini adalah pendapatnya.
"Aku hanya khawatir apakah Ong-souw-jin bisa dengan lancar sampai ke San-se-ta-tong?"
Ling-ong sedikit khawatir.
"Aku kira tidak ada masalah!"Legenda Pendekar Ulat Sutra -1 194
"Setelah sampai di San-se-ta-tong, apakah dia bisa mengambil alih kekuatan pasukan..."
"Tuan In-beng banyak akal dan cara. Asalkan dia bisa sampai di San-se-ta-tong, yang lain akan berjalan dengan lebih mudah!"
Su Yan-hong sangat percaya kepada Ong-souw-jin. Ling-ong mengangguk dan bertanya.
"Katanya rumahmu juga sudah diawasi oleh anak buah Liu Kun dan keluar masuk dari rumah juga bermasalah?"
Su Yan-hong tertawa.
"Apakah Ie-cang (paman) sudah lupa kalau keponakanmu juga bisa sedikit ilmu silat, dan belum tentu anak buah Liu Kun bisa menjaganya dengan ketat?"
"Betul! Kau adalah murid dari Kun-lun-pai, murid Tiong Toa-sianseng!"
Akhirnya Ling-ong terpikir juga.
"Apalagi aku yang menjadi keponakan datang mengunjungi Ie-cang, itu adalah hal biasa!"
"Aku takut Liu Kun tidak berpikir begitu..."
"Maka dari itu aku datang diam-diam. Tidak disangka kaisar sudah mengatur semuanya!"
"Hal ini sangat penting, maka kau harus tahu apa yang harus kau lakukan!"
Su Yan-hong mengangguk. Dia baru mau menjawab ketika terdengar suara teriakan Su Ceng-cau di luar.
"Aku mau masuk, siapa yang berani menghadang?"
Begitu mendengar suara Su Ceng-cau, alis Su Yan-hong segera berkerut. Sorot mata Ling-ong berputar, dia segera tertawa.
"Tiang-lek Kuncu memang beradat semaunya, tapi sifatnya tidak jahat, dia juga baik hati!"
"Ini adalah perintah Ong-ya!"
Terdengar suara Cia Ceng-hong. Tapi segera dipotong oleh Su Ceng-cau.
"Apakah kau berani menghadangku masuk?"Legenda Pendekar Ulat Sutra -1 195
"Biarlah dia masuk!"
Kata Ling-ong. Begitu masuk dan melihat Su Yan-hong, dia segera tertawa.
"Akhirnya kau datang juga!"
"Tidak sopan!"
Ling-ong membentak. Tapi Su Ceng-cau tidak peduli. Dia bertanya.
"Kalian sedang menceritakan apa?"
Mengucapkan kata-kata ini, wajahnya bersemu merah karena malu. Ling-ong membentak.
"Orang dewasa sedang berbicara, anak kecil jangan banyak bertanya!"
"Aku bukan anak kecil lagi!"
"Mengapa tidak tahu sopan santun berlari kesana kemari?"
Su Ceng-cau tidak peduli. Dia bertanya pada Su Yan-hong.
"Apa yang kalian ceritakan tadi?"
"Masalah negara!"
Jawab Su Yan-hong. Terlihat Su Ceng-cau sangat kecewa. Dia masih tidak percaya dan berkata.
"Benarkah hanya masalah negara?"
"Sekarang sudah selesai!"
"Kalau begitu..."
Su Yan-hong segera berkata lagi.
"kalau begitu beban yang terasa seperti sebuah batu besar di hatiku sudah diturunkan untuk sementara waktu!"
Ling-ong tahu sifat Su Ceng-cau. Yang penting pembicaraan mereka sudah selesai, supaya Su Yan-hong bisa menemani Su Ceng-cau, maka dia berkata.
"Su Yan-hong jarang datang, kau bawalah dia jalan-jalan di dalam Ling-ong-hu!"
"Tapi apakah Ceng-cau ada waktu?"
"Ada!"
Ling-ong seperti teringat sesuatu dan berkata.
"Oh ya betul, beberapa hari yang lalu Tong im memberikan aku 10 lukisanLegenda Pendekar Ulat Sutra -1 196 cantik. Ceng-cau menyukainya, maka aku tinggalkan untuk dia. Kau ke sanalah untuk melihat-lihat!"
"Di tempatku?"
Su Ceng-cau segera teringat Lu Tan, dia segera berkata.
"tidak!"
"Yan-hong bukan orang lain, mengapa tidak boleh?"
Ling-ong tertawa.
"Lukisan Tong Im sangat terkenal, sulit mendapatkan kesempatan untuk melihatnya!"
Kata Su Yan-hong.
"Cepatlah bawa Su Yan-hong ke sana!"
"Betulkah harus membawa dia ke sana untuk melihat lukisan?"
"Kalau kau tidak ada waktu, biar ayah yang membawa dia ke sana!"
Kata Ling-ong. Su Ceng-cau cepat-cepat berkata.
"Aku ada waktu!"
Setelah itu dengan tergesa-gesa dia berlari keluar.
Dia khawatir kalau tinggal lebih lama di sana, Ling-ong yang akan membawa Su Yan-hong ke sana.
Kalau begitu kejadiannya, dia akan sulit menolak Ling-ong membawa Su Yan-hong ke dalam kamarnya.
Lu Tan sedang bersembunyi di dalam kamarnya.
Kalau Ling-ong dan Su Yan-hong melihat Lu Tan, Ling-ong akan marah besar dan Su Yan-hong akan mencari alasan memindahkan Lu Tan keluar.
Kalau hanya Su Yan-hong, dia lebih mudah menghadapinya.
Apalagi Su Yan-hong sama sekali tidak tahu Lu Tan bersembunyi di kamarnya.
Asal dia bisa menolak, Su Yan-hong tidak akan bisa masuk!
Yang pasti dia tidak tahu maksud Su Yan-hong berkunjung ke sini adalah untuk mencari tahu keberadaan Lu Tan.
Melihat ekspresi wajah Su Ceng-cau, Su Yan-hong sudah tahu Lu Tan bersembunyi di kamarnya, hanya dia sengaja tidak berkata apa-apa dan berpura-pura seakan tidak ada kejadian ini.
75-75-75Legenda Pendekar Ulat Sutra -1 197 Di sepanjang jalan Su Ceng-cau terus menipu Su Yan-hong menuju ke tempat yang salah.
Dia tidak tahu Su Yan-hong sangat hafal kediaman Ling-ong.
Walaupun mereka sudah berputar-putar, tetap sama sampai di depan kamar Su Ceng-cau.
"Di sini bunga sedang mekar, bagaimana kalau kita pergi melihat bunga?"
Su Ceng-cau masih berontak.
"bunga adalah makhluk hidup, sedangkan lukisan adalah benda mati. Bunga hidup lebih bagus daripada si cantik yang ada di lukisan. Lebih baik jangan melihat 10 lukisan si cantik!"
Diam-diam Su Yan-hong ingin tertawa, tapi dia tetap tidak menghiraukan.
"Lukisan si cantik sangat bagus dan sangat hidup, jarang ada kesempatan untuk bisa melihatnya. Mana mungkin aku membuang kesempatan ini?"
"Kau juga mempercayai kata-kata ini?"
"Bila hanya satu orang yang berkata lukisan bagus, itu belum tentu. Tapi kalau sudah banyak orang berkata bagus, itu pasti benar-benar lukisan bagus!"
"Berarti kau yakin si cantik lebih baik dari pada bunga hidup?"
Su Yan-hong tertawa;
"Bunga hidup dan si cantik yang benda mati adalah dua hal yang berbeda, mana bisa kau samakan? Apalagi bunga ada di mana-mana. Walaupun tahun ini tidak bisa melihatnya, tahun depan masih tumbuh lagi, tetap ada kesempatan. Tapi 10 lukisan si cantik bila tidak dilihat, mungkin tidak ada kesempatan lagi..."
"Apa maksudmu?"
Su Ceng-cau berkata deng an galak. Su Yan-hong menggelengkan kepala.
"Kemana jalan pikiranmu? Aku hanya khawatir Ie-cang akan memberikan 10 lukisan ini kepada orang lain!"
"Aku tidak akan mengijinkan ayah memberikannya kepada orang lain!"Legenda Pendekar Ulat Sutra -1 198
"Lebih baik dilihat dulu sekarang. Mengapa kau menolak aku melihatnya?"
Tanya Su Yan-hong. Mata Su Ceng-cau berputar. Dengan cepat dia mendapatkan akal.
"Aku bukan bermaksud menolak, melainkan ingin kau mengajarkan aku ilmu pedang dulu, baru kemudian melihat lukisan!"
"Mengajarimu ilmu pedang? Kau kan murid Hoa-san-pai!"
Su Ceng-cau menarik tangan Su Yan-hong.
"Tidak peduli! Aku ingin belajar ilmu pedang Kun-lun-pai."
Setelah itu dia berlari ke pekarangan.
"Itu harus ditanyakan dulu kepada gurumu!"
Karena tidak bisa lepas dari tarikan Su Ceng-cau, dia terpaksa ikut berlari sambil berteriak.
"Aku bisa menuruti kemauanmu untuk hal yang lain, tapi untuk hal ini harus mendapat persetujuan gurumu!"
Su Ceng-cau segera berkata.
"Maksudmu, kau mau memperistri diriku?"
"Itu hal yang berbeda!"
"Tapi waktu yang dijanjikan sudah sampai!"
"Hari ini masih belum berakhir!"
"Malam ini Liu Kun akan menjamu di Su-ci-lou, pasti tidak tertinggal kau dan aku. Pada waktu itu aku akan membuktikan apa katamu!"
Su Yan-hong menarik nafas. Mata Su Ceng-cau berputar lagi.
"Sampai sekarang kau belum memikirkannya?"
"Apakah kau sudah berpikir?"
"Apa maksudmu? Apakah kau mengira rasa sukaku kepadamu adalah palsu?"
"Aku kira banyak hal harus kau pikirkan dulu!"Legenda Pendekar Ulat Sutra -1 199
"Katakan! Hal apa tidak kupikirkan? Mulutmu seperti nenek-nenek, masih mengaku adalah seorang laki-laki sejati?"
Su Yan-hong menutup mulut, saat itu Hiang-bwe datang. Su Ceng-cau segera memanggil dia.
"Kau ke kamarku, gantung 10 lukisan si cantik. Sebentar lagi Hou-ya akan ke sana melihat."
"Lukisan 10 si cantik?"
Hiang-bwe terpaku.
"Betul, harus digantung dengan baik agar An-lek-hou bisa melihat dengan nyaman. Kalau tidak, awas kau!"
Ketika berkata, Su Ceng-cau melihat Su Yan-hong sedang memandang ke arah lain, dia mengedipkan mata kepada Hiang-bwe.
Hiang-bwe baru sadar dan mengerti, dengan cepat dia meninggalkan tempat itu.
Su Ceng-cau mendorong Su Yan-hong.
"Jangan terus berbicara, ke sanalah, ajarkan aku ilmu pedang Kun-lun-pai!"
"Tanya dulu kepada gurumu, kalau dia tidak •setuju..."
"Kau benar-benar merepotkan! Sudahlah, aku tidak jadi belajar ilmu silat Kun-lun-pai. Aku hanya akan memperagakan ilmu pedang Hoa-san-pai untuk mu dan kau beritahu mana yang salah!"
Su Ceng-cau berlari ke depan.
"Apakah kau tidak takut aku diam-diam mem pelajari ilmu pedangmu?"
Su Yan-hong mengejar dari belakang.
"Ilmu pedang Hoa-san-pai sangat luas dan dalam, apakah kau bisa diam-diam mempelajarinya?"
Su Ceng-cau seperti kupu-kupu menari dan turun di lapangan pekarangan.
Kemudian dengan dua tangan mulai menggurat, itulah permulaan ilmu pedang Hoa-san-pai.
Mata Su Yan-hong melihat gerakan ilmu pedang, tapi hatinya terbang ke kamar Su Ceng-cau.
Dia sangat yakin Lu Tan disembunyikan di kamar Su Ceng-cau.
Sebaliknya dia malahLegenda Pendekar Ulat Sutra -1 200 mengkhawatirkan rahasianya terbongkar dan membuat Su Ceng-cau curiga hingga memindahkan Lu Tan ke tempat lain.
Otaknya terus berputar.
Diam-diam dia melihat kamar itu sambil melihat perubahan jurus Su Ceng-cau.
Melihat Hiang-bwe masuk ke kamar Su Ceng-cau.
Setelah itu Hiang-bwe tidak keluar dari sana, ini membuat hatinya agak tenang.
Setelah Su Ceng-cau selesai memperagakan ilmu pedang Hoa-san-pai, dia segera mendekat.
Jurus tadi dia peragakan lagi.
Dengan pengalaman Su Yan-hong, mencari celah-celah ilmu pedang sangat sederhana baginya.
Apalagi hati Su Ceng-cau tidak ditaruh di sana, ilmu pedang yang seharusnya tidak bercelah malah terlihat banyak celah.
Hanya saja Su Ceng-cau tidak memperhatikan hal ini.
Setelah diberitahu, dia segera mengerti, maka dia tidak curiga kepada Su Yan-hong.
(Bersambung
Jilid ke-2)Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 1Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 3 Legenda Pendekar Ulat Sutra Pengarang . Huang Ying
Jilid Kedua ESAMPAINYA mereka di depan kamar Su Ceng-cau, Hiang-bwe sudah menunggu di sana. Begitu bertemu mereka, dia segera bertanya.
"Lukisan si cantik sudah digantung, apakah Ong-ya ingin melihatnya?"
Dari nada suaranya bertambah berat ketika dia menyebutkan kata "Ong-ya"
Su Ceng-cau langsung mengerti bahwa Hiang-bwe pasti mengira Ling-ong akan datang, dan menjadikannya sebagai alasan agar Lu Tan setuju untuk bersembunyi.
Memang benar alasan ini yang dikatakan Hiang-bwe kepada Lu Tan.
Su Ceng-cau hampir membaka mulut hendak memuji Hiang-bwe.
Dia tertawa.
"Di mana lukisan si cantik digantung?"
Su Yan-hong segera berjalan menuju ke tempat lukisan digantung, dan mengamati lukisan dengan teliti seakan benar-benar tertarik dengan 10 lukisan si cantik itu.
Memang lukisan itu sangat bagus dan seperti hidup, jarang ada lukisan seperti itu.
Karena khawatir Su Ceng-cau curiga, maka sambil melihat lukisan Su Yan-hong terus memuji lukisan tersebut.
Waktu meninggalkan kamar, dia bersikap seperti masih ingin melihat lukisan lagi.Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 4 Su Ceng-cau tidak curiga, dia tidak tahu sebenarnya tidak hanya gerak-gerik Su Yan-hong, bahkan cara bicara pun sudah terlihat ada celah.
Dia masih mencium bau obat di kamar.
76-76-76 Setelah mengantarkan Su Yan-hong keluar dan kembali ke kamar, hal pertama yang Su Ceng-cau lakukan adalah melepas lukisan dan berpesan kepada Hiang-bwe untuk mengembalikan lukisan kepada ayahnya.
"Bukankah nona sangat suka terhadap lukisan lukisan ini, dan Ong-ya sudah setuju lukisan ini diletakkan di kamar nona!"
"Sekarang aku ingin menyobek lukisan ini. Tadi aku hampir mendapat masalah besar karena lukisan ini!"
Dengan marah Su Ceng-cau berkata, lagi.
"entah apa bagusnya lukisan ini. Su Yan-hong melihatnya sampai tidak berkedip, dia tidak pernah melihatku seperti itu!"
Hiang-bwe segera mengalihkan topik pembicaraan.
"Untung aku bertindak cepat, maka Hou-ya tidak melihat rahasia besar ini!"
"Betul! Di mana kau sembunyikan Lu Tan?"
"Di lemari sana!" 77-77-77 Lu Tan berjongkok di dalam lemari. Melihat Su Ceng-cau, dia masih bisa tertawa dan bertanya.
"Apakah Ong-ya sudah pergi?"
"Sudah!"
Jawab Su Ceng-cau.
"kau harus berterima kasih kepada Hiang-bwe, kalau bukan dia yang menyembunyikanmu dengan cepat, sekarang kau pasti sudah ketahuan dan kepalamu pasti sudah dipenggal!"
"Terima kasih Nona Hiang-bwe!"
Lu Tan berusaha ingin berdiri. Su Ceng-cau sudah menekan pundak Lu Tan dan berkata.Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 5
"Kali ini ayah membawa banyak pesilat tangguh kemari, maka lebih baik kau jangan pergi ke mana-mana. Begitu lukamu sembuh, aku akan berusaha mengantarmu keluar dari sini!"
Lu Tan mengangguk.
"Lukaku sekarang sudah tidak sakit, hanya aneh, tulang dan jalan darah terasa tidak bertenaga!"
Hiang-bwe hampir tertawa, tapi begitu melihat wajah Su Ceng-cau dia segera membalikkan tubuh. Lu Tan tidak melihat ekspresi Hiang-bwe tadi.
"Karena itu, tenaga dalamku seperti sulit dikeluarkan..."
Su Ceng-cau tertawa dingin.
"Maksudmu kau mencurigai ada masalah pada obat yang kuberikan, curiga aku sedang ingin membunuhmu?"
"Kuncu jangan salah paham! Aku tidak bermaksud seperti itu!"
"Lalu apa maksudmu?"
"Adakah kemungkingan racun belum bersih dan kambuh lagi?"
"Apakah kau meragukan ilmu pengobatan guruku?"
Lu Tan tertawa kecut. Su Ceng-cau berkata.
"Kau boleh curiga hal ini, aku tidak menya-lahkanmu. Memang guru bukan tabib, dia hanya mengerti ilmu pengobatan, tapi dia tidak akan men-celakakanmu!"
"Aku mengerti..."
"Jika kau bisa mengerti, itu sangat baik. Beberapa hari ini dia selalu sibuk. Nanti bila dia ada waktu, aku akan menyuruhnya datang memeriksamu!"
"Kulihat, lebih baik jangan merepotkan gurumu!"
Lu Tan merasa malu. Su Ceng-cau tahu, dia tetap berkata.
"Aku benar-benar tidak tahu apa yang sedang kau pikirkan?Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 6
"Sebenarnya..."
Lu-tan menarik nafas, tidak meneruskan kata-katanya. Terlihat dia seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Seorang laki-laki harus terus terang agar lebih enak dilihat orang!"
"Aku hanya khawatir ilmu silatku tidak bisa pulih kembali, dan tidak bisa membunuh musuhku!"
Inilah isi hati Lu Tan.
"Kau tenanglah! Terhadap apa yang telah Liu Kun lakukan, Thian juga marah, dan rakyat juga tidak suka. Maka banyak orang yang ingin membunuhnya!"
Kata-kata ini entah Su Ceng-cau ambil dari mana, tapi bagus juga.
"pasti ada orang yang ingin membunuh dia, tidak harus membunuh dia dengan tangan sendiri!"
Lu Tan terdiam, dia merasa apa yang dikatakan Su Ceng-cau memang benar.
Hanya saja sampai sekarang, selain Siau Cu dan dia, belum ada orang lain yang terang-terangan melawan Liu Kun.
78-78-78 Tiba waktunya perjamuan, tandu sudah disiapkan tapi Su Ceng-cau tidak terlihat keluar.
Ling-ong menyuruh orang memanggil Su Ceng-cau.
Dia juga berpesan kepada Su-ki-sat-jiu keluar melihat-lihat.
Terakhir, dia melihat wajah Siau Sam Kongcu.
"Liu-kongkong mengadakan perjamuan makan di Su-ci-lou, undangan juga menyebutkan nama tuan. Dengan posisi dia di ibukota boleh dikatakan dia sudah hormat kepada kita. Pandanglah wajahku, harap Siau-sianseng jangan marah!"
Mendengar kata-kata Ling-ong, sudah bisa diketahui bahwa Ling-ong sangat menaruh hormat terhadap Siau Sam Kongcu dibandingkan dengan Su-ki-sat-jiu.
"Pesan Ong-ya pasti akan aku turuti!"
Kata Siau Sam Kongcu sambil tertawa. Beberapa hari ini pikirannya sudah sedikit pulih.
"Apa yang dilakukan Ceng-cau? Sudah beberapa kali dipanggil, kenapa sampai sekarang dia belum muncul!"
Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 7
"Melihat sifatnya, aku kira dia tidak akan pergi!"
Kata Siau Sam Kongcu.
"kalau dia tidak mau pergi juga tidak apa-apa!"
Ling-ong sedang berpikir dan tidak menjawab. Dari sana terdengar suara teriakan Su Ceng-cau.
"Kalau aku tidak mau pergi ya tidak mau pergi! Siapa yang menggangguku lagi, kubuat dia jadi makanan beruang hitam!"
Setelah itu dia meloncat masuk ke dalam ruangan. Ling-ong melihat dia dan tertawa.
"Apakah ayah juga tidak terkecuali?"
"Aku tidak mau pergi!"
"Liu-kongkong adalah orang penting di kera-jaan. Dia mengundang kita, mengapa tidak mau pergi?"
"Aku tidak suka orang aneh itu. Tidak suka dia tidak seperti laki-laki juga tidak seperti perempuan. Dia adalah orang Im-yang!"
"Kurang ajar!"
Kata Ling-ong marah.
"untung masih ada di rumah. Kalau tidak, kata-katamu tadi sudah jadi alasan yang cukup untuk membunuhmu!"
"Kau adalah Ong-ya, aku adalah putrimu. Dia masih meminta dukunganmu, mana mungkin dia berani macam-macam terhadapku! Aku harus berkata, kalau aku tetap harus pergi dan bila di jamuan makan aku salah bicara, aku tidak akan bertanggung jawab!"
Ling-ong terpaku. Siau Sam Kongcu tertawa.
"Bila Ceng-cau tidak pergi, Liu-kongkong tidak akan marah!"
Ling-ong menggelengkan kepala. Dia mengayunkan tangan. Su Ceng-cau tidak berkata apa-apa. Dia segera berlari sambil berteriak.
"Aku tidak akan pergi ke Su-ci-lou. Aku ingin tahu apa yang bisa dilakukan oleh Su Yan-hong."
Dia khawatir bila harus melaksanakan ancaman dia untuk menyerahkan Lu Tan kepada Liu Kun, karena sebenarnya dia berniat seperti itu.
Kalau niat ini diketahui oleh Su Yan-hong, semuaLegenda Pendekar Ulat Sutra -2 8 rencananya akan sia-sia.
Daripada begitu, lebih baik Su Yan-hong tidak tahu apa rencananya dan biarlah dia cemas menunggu di Su-ci-lou.
Sebenarnya dia baik kepada Lu Tan, dia tidak akan tega menyerahkan Lu Tan kepada Liu Kun.
Walaupun sifatnya semaunya sendiri, tapi dia tetap adalah gadis yang tahu kebenaran, tahu yang jahat dan yang baik, juga tahu arti setia dan berkhianat.
79-79-79 Melihat Ling-ong datang bersama Su-ki-sat-jiu dan Siau Sam Kongcu, Liu Kun sangat senang.
Tapi sebaliknya Su Yan-hong merasa berat hati karena dia adalah orang pintar dan dia sudah tahu Liu Kun pasti mempunyai tujuan lain dalam mengadakan pesta per jamuan ini.
Saat ini semua pengawal Ling-ong sudah keluar.
Yang pasti hal ini mendatangkan kebaikan untuk Siau Cu yang ingin menyelamatkan Lu Tan, tapi sama halnya juga bagi Liu Kun.
"Mengapa Tiang-lek Kuncu tidak terlihat?"
Liu Kun tidak lupa bertanya.
"Putriku tidak enak badan maka tidak datang. Harap Liu-kongkong jangan menyalahkan!"
Ling-ong sangat sungkan.
"Ong-ya berkata terlalu berat!"
Tawa Liu Kun bertambah senang.
"kalau tidak enak badan harus beristirahat. Bila Ong-ya pulang nanti jangan lupa kirimkan salamku untuknya!"
"Benar-benar membuat Liu-kongkong khawatir, aku bersulang dulu kepada Liu-kongkong, harap semua rencana Liu-kongkong berjalan sesuai dengan apa yang diinginkan!"
Kata Ling-ong.
Setelah minum beberapa cangkir, topik pembicaraan yang mengalir juga menjadi banyak.
Ling-ong sangat bebas dan tidak ada pikiran.
Karena Liu Kun ingin Ling-ong tinggal lebih lama, maka dia terus membujuk.
Su Yan-hong yang melihat melihat hal ini, dalam hati bertambah yakin ada sesuatu yang tidak beres.
Kalau terlalu banyak berbicara pasti akan membosankan maka Liu Kun segera menampilkan penyanyi dan penari untuk para tamu.Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 9 Ling-ong ditemani Liu Kun jalan-jalan, melihat orang menyanyi dan menari, tidak merasakan waktu sulit dilewati, tapi berbeda dengan Su Yan-hong yang seperti semut dalam kuali panas.
Akhirnya dia bertemu Siau Sam Kongcu dan mengobrol.
Sekilas dilihat dari luar mereka sedang melihat pertunjukkan.
Tapi Siau Sam Kongcu segera mengerti.
Begitu tidak ada orang lain, dia segera bertanya.
"Ada apa Hou-ya?"
"Siau-heng, kita adalah orang dunia persilatan. Kita tidak akan melihat orang yang diancam kema-tian, tapi tidak berusaha menyelamatkan nyawanya!"
"Hou-ya langsung saja ke inti pembicaraan!"
"Harap Siau-heng segera kembali ke Ling-ong-hu!"
"Oh?"
Siau Sam Kongcu merasa aneh.
"Malam ini beberapa orang temanku akan masuk Ling-ong-hu untuk menyelamatkan orang!"
"Lu Tan?"
"Siau-heng juga tahu hal ini?"
"Muridku memang keterlaluan, tapi niatnya baik. Jika bukan karena dia, Lu Tan sudah jatuh di tangan Liu Kun. Sebenarnya Hou-ya bisa tenang!"
"Siau-heng belum tahu!"
Su Yan-hong menarik nafas.
"Sedikit banyak aku tahu. Kadang-kadang ada hal yang tidak bisa dipaksa, maka bila Hou-ya ingin menyelamatkan orang, aku tidak masalah!"
"Siau-heng..
"Mengapa Hou-ya tiba-tiba berubah pikiran, ingin aku menghadang hal ini?"
Su Yan-hong menggelengkan kepala. Kata Siau Sam Kongcu lagi.
"Walaupun Ceng-cau berada di Ling-ong-hu, tapi ilmu silatnya terbatas. Bukan hal mudah baginya untuk menghadang teman Hou-Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 10 ya yang datang menyelamatkan orang. Apa yang masih Hou-ya khawatirkan?"
"Yang aku khawatirkan adalah Liu Kun juga tahu keberadaan Lu Tan. Perjamuan di Si-cu-lou hanyalah akal-akalan dia!"
Wajah Siau Sam Kongcu berubah. Dia mengangguk.
"Itu sangat mungkin!"
"Aku tidak bisa pergi dari sini..."
Kata Su Yan-hong. Siau Sam Kongcu mengayunkan tangan.
"Serahkan hal ini kepadaku. Orang-orang Liu Kun tidak begitu memperhatikan gerak-gerikku!"
"Tentang Lu Tan..."
"Tidak ada kebaikan bila dia tinggal di Ling-ong-hu!"
Setelah itu Siau Sam Kongcu tertawa dan segera pergi.
Hati Su Yan-hong baru terasa lega.
80-80-80 Dinding tinggi di Ling-ong-hu tidak bisa menghadang Lam-touw, Siau Cu, dan Fu Hiong-kun.
Bagi mereka, menghindari peronda di Ling-ong-hu adalah hal yang mudah.
Sebelum ini Siau Cu pernah masuk diam-diam, dan ditambah peta yang digambarkan oleh Su Yan-hong, maka mencari kamar Su Ceng-cau bukan yang sulit.
Fu Hiong-kun berjaga-jaga di pekarangan.
Lam-touw dan Siau Cu langsung ke kamar Su Ceng-cau.
Melihat ada cahaya lampu di kamar, Siau Cu merasa aneh.
"Bukankah katanya Tiang-lek Kuncu juga akan pergi ke Si-cu-lou? Mengapa masih ada cahaya lampu di kamarnya?"
Lam-touw tertawa.
"Walaupun Tiang-lek Kuncu tidak ada di kamar, bisa saja lampu tetap dipasang. Apakah kediaman Ling-ong-hu perlu menghemat minyak?"
Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 11 Siau Cu merasa penjelasan ini masuk akal, tapi begitu mendekat dia mendengar ada suara tawa Su Ceng-cau. Lam-touw menjadi bengong.
"Kalau tidak salah dengar, suara ini adalah suara Kuncu yang sering mempersulit orang."
Siau Cu segera terbang ke atas genteng kemudian bergantung untuk melihat.
Pada waktu itu juga Latn-touw muncul di sisinya.
Mereka melihat ke dalam jendela.
Lu Tan dan Su Ceng-cau berada di dalam.
Mereka sedang bermain catur dan tawa Su Ceng-cau sangat lepas.
"Bocah ini benar-benar sedang bersenang-senang, kita malah mengkhawatirkan dia!"
Siau Cu marah.
"Kelihatannya bila ingin dia meninggalkan tempat ini bukan hal yang sulit, tapi tidak hanya tidak mau pergi dari sini, dia juga tidak memberi kabar kepada kita. Betulkah dia karena senang di sini jadi tidak mau pulang?"
Lam-touw benar-benar ddak mengerti.
"Kurang ajar..."
Tiba-tiba dia memberi isyarat kepada Siau Cu untuk jangan berbicara dan dia segera tengkurap di atas genteng.
Reaksi Siau Cu sangat lincah, dia juga segera tengkurap.
Terlihat ada bayangan seseorang sedang meloncat masuk dan berlari ke sini.
"Siapa mereka?"
Tanya Siau Cu.
"Yang pasti bukan orang kita!"
Kata Lam-touw.
"Apakah tujuan mereka juga untuk mencari Lu Tan? Apakah mereka adalah orang-orang Liu Kun?"
"Perjamuan Si-cu-lou adalah akal-akalan Liu Kun. Hou-ya bisa terpikir dengan kesempatan ini menyelamatkan orang, tidak ada alasan bagi Liu Kun untuk tidak memikirkan hal yang sama."
Kata Lam-touw.
"Kalau begitu apa yang harus kita lakukan?"
"Yang pasti kita harus menangkap ikan di air keruh!"
Lam-touw segera mencengkram sekeping gen teng dan melemparkannya ke dalam kamar.Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 12 Su Ceng-cau dan Lu Tan yang sedang bermain catur menjadi sangat terkejut karena kepingan genteng ini terbang datang dan pecah.
Reaksi Su Ceng-cau sangat cepat.
Dia meloncat bangun dan segera mengambil pedang yang tergantung di dinding.
Lu Tan ikut bangun dan ingin bertindak.
Su Ceng-cau segera berteriak.
"Tidak perlu kau yang bertindak!"
"Sebenarnya ada apa?"
Tanya Lu Tan aneh.
"Aku melihat ada orang yang ingin menangkapmu! Kau bersembunyi di balik sekat. Kecuali aku memanggilmu, kalau tidak, kau jangan keluar. Jangan mengeluarkan suara!"
"Aku..."
Lu Tan baru membuka suara. Su Ceng-cau sudah membentak.
"Apa yang aku suruh, kau ikuti! Jangan membantah kata-kataku!"
Su Ceng-cau membawa pedang berlari ke arah pintu dan marah.
"Ingin membawa pergi orang tidak semudah itu. Kalian harus bertanya apakah pedangku setuju!"
Lu Tan tertawa kecut dan tidak berkata apa-apa, dia kembali ke belakang sekat.
Di depan Su Ceng-cau, dia berubah menjadi seperti bukan Lu Tan.
Pada waktu itu Su Ceng-cau menjadi kacau dan terharu.
Entah mengapa orang yang pertama dia tuding adalah Su Yan-hong.
Dia teringat Su Yan-hong pagi hari ini sudah masuk ke kamar ini untuk melihat 10 lukisan si cantik.
Lukisan si cantik sebenarnya tidak terlalu bagus.
Sebenarnya tujuan dia adalah mencari tahu tempat persembunyian Lu Tan.
Ingatan kejadian tadi pagi dengan Su Yan-hong terbayang di kepala Su Ceng-cau.
Tadinya dia tidak merasa curiga.
SekarangLegenda Pendekar Ulat Sutra -2 13 semakin dipikir, semakin banyak yang dicurigai.
Akhirnya dia mendapatkan kesimpulan.
Di dalam pikirannya, Su Yan-hong bukan orang yang licik.
Semakin dipikir dia semakin marah.
Pintu dibuka.
Ada dua laki-laki setengah baya kebetulan keluar dari semak.
Dia berhadapan dengan mereka.
Yang satu berpenampilan seperti seorang sastrawan yang membawa kipas lipat.
Satunya lagi berpenampilan seperti orang yang orang tuanya baru meninggal, tangannya membawa sebuah pentungan kematian.
Mereka adalah utusan lampion putih Cui Beng.
Karena Su Ceng-cau tiba-tiba membuka pintu, mereka ingin menghindar sudah tidak sempat lagi.
Sekalian mereka berdiri di atas tangga.
Selain mereka, masih ada pembunuh lampion biru dan pembunuh lampion putih.
Melihat ketua mereka menampakkan diri, mereka juga ikut keluar.
Su Ceng-cau melihat mereka, dengan dingin berkata.
"Kalian anggap tempat ini tempat apa?"
Lan Ting-ji mengipas-ngipas dirinya, tertawa berkata.
"Bukankah ini Ling-ong-hu?"
Su Ceng-cau tidak terkejut.
"Su Yan-hong yang menyuruh kalian ke mari?"
Lan Ting-ji malah bengong. Su Ceng-cau berkata lagi.
"Walaupun dia seorang Hou-ya, bukan berarti dia bisa seenaknya melakukan sesuatu!"
Lan Ting-ji dan Cui Beng saling memandang. Mereka ingin mengatakan sesuatu tapi Su Ceng-cau sudah berteriak.
"Kembalilah beritahu dia, kecuali dia menyetujui syarat yang aku beri. Kalau tidak, malam ini orang tetap ditahan di sini. Besok pagi akan kuantar ke tempat Liu Kun!"
Lan Ting-ji dan Cui Beng bertambah bingung. Tanya Cui Beng.Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 14
"Apakah kau tahu apa maksud dia?"
"Aku rasa ini adalah kesalahpahaman!"
"Kalau begitu apa yang harus kita lakukan?"
"Yang pasti lakukan sesuai rencana!"
Lan Ting-ji kembali melihat Su Ceng-cau.
"betulkah apa yang dia katakan?"
"Apa rencana kalian semula?"
Tanya Su Ceng-cau.
"Dengan cara apapun harus membawa orang keluar dari sini!"
Kata Lan Ting-ji dengan seram.
"Apakah ini adalah ide Su Yan-hong?"
"Aku lihat ada kesalahpahaman di antara kita!"
Kipas lipat Lan Ting-ji dibuka.
"tujuan kita adalah Lu Tan, tapi kita bukan orang Su Yan-hong!"
Cui Beng juga berkata.
"Kita tidak mengerti ada apa antara kau dan Su Yan-hong? Tapi Lu Tan adalah orang yang kita inginkan!"
Dia segera menyerang.
Kerja sama mereka sangat kompak.
Kipas sudah menotok di tengah-tengah alis Su Ceng-cau.
Cepat dan tepat!
Su Ceng-cau segera mengeluarkan jurus-jurus pedangnya.
Dia seperti kupu-kupu di kebun bunga.
Gayanya indah juga berguna.
Dia sanggup menerima jurus-jurus dari Lan Ting-ji dan Cui Beng.
Lan Ting-ji tertawa.
"Ilmu pedang Hoa-san-pai memang bagus!"
"Murid Siau Sam lumayan bagus!"
Cui Beng menyambung.
Apakah mereka memuji atau menyindir, Su Ceng-cau tidak peduli.
Ilmu pedang terus menyerang Lan Ting-ji dan Cui Beng.
Berturut-turut serangan 7 kali membuat Lan Ting-ji dan Cui Beng mundur dua langkah.
Bukan karena mereka kalah, melainkan sudah diperintahkan untuk tidak boleh melukai orang-orang Ling-ong-hu, maka mereka tidak mengeluarkan ilmu silat mereka sepenuhnya.
Mereka ingin mencari celah-celah, kemudian menotok Su Ceng-cau.
Tapi Su Ceng-cau sudah menu tup dengan ilmu pedangnyaLegenda Pendekar Ulat Sutra -2 15 dulu, baru menyerang mereka.
Itu adalah jurus-jurus yang dibuat Siau Sam Kongcu khusus untuk Su Ceng-cau yang ceroboh.
Su Ceng-cau tidak tahu, juga tidak berpengalaman menghadapi musuh.
Ilmu pedang diperagakan persis seperti apa yang diajarkan gurunya.
Lan Ting-ji dan Cui Beng melihat Su Ceng-cau tidak berpengalaman, tapi terhadap ilmu silat yang seperti itu entah harus dengan cara apa melawannya.
Yang penting tidak boleh melukai Su Ceng-cau.
Yang pasti mereka tidak lupa memberi isyarat pada pembunuh-pembunuh yang lain untuk masuk ke kamar menangkap orang.
81-81-81 Lu Tan terus mengkhawatirkan bahaya yang dihadapi Su Ceng-cau, mana mungkin dia bisa tinggal diam di balik sekat.
Melihat Su Ceng-cau bertarung, dia siap keluar.
Tapi Lam-touw dan Siau Cu sudah masuk dari jendela dan turun di depannya.
"Kalian?"
Bisa bertemu mereka seperti ini di luar dugaan Lu Tan. Lam-touw dan Siau Cu mencengkram pundak Lu Tan dan membentak.
"Cepat pergi dari sini!"
"Orang di luar bukan orang kalian?"
Lu Tan tidak lupa bertanya.
"Kalau kita bisa mempunyai orang begitu banyak, untuk apa mengendap-endap masuk merebut orang!"
Kata Siau Cu.
"Siapa mereka?"
Tanya Lu Tan.
"Orang-orang Pek-lian-kau!"
Kata Lam-touw.
"Aku harus menyelamatkan dia!"
Kata Lu Tan.
"Kau! Aku lihat kau berdiri saja susah, bagaimana bisa menyelamatkan orang?"
"Kalau begitu, kalian berdua..."
Kata-kata berikutnya belum dikatakan, Lam-touw sudah mencegat.Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 16
"Walaupun gadis ini selalu membuat kita repot, tapi dia bukan orang jahat. Siau Cu, Kuncu aku serahkan kepadamu. Aku menggendong Lu Tan keluar untuk berkumpul dengan Hiong-kun!"
"Lebih baik aku yang menggendong Lu Tan meninggalkan tempat ini!"
"Guru sudah tua, mana mungkin bisa bertarung dengan begitu banyak orang?"
Tanpa menung gu Siau Cu menjawab, dia sudah menggendong Lu Tan.
"Gadis ini benar-benar merepotkan! Walaupun aku menyelamatkan dia, belum tentu dia berterima kasih. Mungkin malah akan balik menyerangku dengan pedang!"
"Kau sudah mengerti, itu bagus!"
Kata Lam-touw.
Dia segera menggendong Lu Tan lari.
3-4 pembunuh Pek-lian-kau sudah masuk.
Karena mereka tidak mengenal Lu Tan, maka mereka mengira Siau Cu adalah Lu Tan dan segera menyerangnya.
Siau Cu seperti seekor macan tutul, menendang, menepis, bersalto beberapa kali, dia sudah turun di bawah jendela.
Pembunuh Pek-lian-kau ingin masuk dari jendela.
Siau Cu lebih dulu menendang dan melempar mereka keluar dari jendela.
Berturut-turut pembunuh Pek-lian-kau sudah masuk.
Siau Cu meloncat keluar jendela dan melewati pagar, kemudian masuk ke dalam semak-semak.
Seorang pembunuh segera berteriak.
"Lu Tan berada di sini..."
Semua orang mengepung.
Siau Cu di semak-semak berlari mendekat ke arah Su Ceng-cau.
Tadinya dia ingin membantu Su Ceng-cau tapi baru mau berlari dia berhenti lagi, malah berlari ke arah yang berlawanan.
Pada waktu itu ada bayangan seseorang yang seperti kuda langit berlari melewati pagar dinding yang tinggi dan berlari ke arah sini.Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 17 Dua orang Pek-lian-kau menyambutnya.
Tapi sebelum menyerang, mereka sudah terkena pukulan orang yang datang, dan terlempar jauh.
Orang itu tidak mempedulikan pembunuh-pembunuh yang lain.
Dia terbang melewati bunga-bunga dan pohon-pohon, dan turun di sisi Su Ceng-cau.
Pedang segera dikeluarkan untuk menahan kipas lipat Lan Ting-ji.
Pedang yang dikeluarkan adalah pedang yang sudah patah.
Setelah Lan Ting-ji melihatnya, dia segera berkata.
"Siau Sam Kongcu..."
Dan segera meloncat mundur.
Cui Beng yang tadinya sedang mengejar Siau Cu, segera berlari kembali dan mengambil posisi di sisi Lan Ting-ji.
Dengan pentungan dia menahan serangan pedang patah Siau Sam Kongcu.
Siau Sam Kongcu membentak.
"Siapa yang berani buat keributan di Ling-ong-hu?"
Lalu menarik pedang. Cui Beng tertawa sinis.
"Ternyata adalah Siau Sam Kongcu. Sangat beruntung bisa bertemu tapi sayang malam ini kami ada perlu. Kelak bila berjodoh, kami baru datang meminta petunjuk!"
Tidak menunggu jawaban Siau Sam Kongcu, dia sudah mundur, Su Ceng-cau ingin mengejar, Siau Sam Kongcu segera mencegat.
"Jangan dikejar!"
Lan Ting-ji melipat kipas, dia juga mundur.
Pengawal dan penjaga Ling-ong-hu baru datang dari semua penjuru.
Tapi dengan ilmu silat mereka, yang pasti tidak bisa menghadang Pek-lian-kau.
Orang yang ingin mengejar segera dicegat oleh Siau Sam Kongcu.
Su Ceng-cau terus berteriak.
"Lu Tan..."
Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 18 Tentu saja Lu Tan tidak akan menjawab.
Orang-orang Pek-lian-kau mengira Lu Tan (Siau Cu yang menyamar) sudah kabur dari kekacauan tadi.
Semua sudah berjalan sesuai rencana.
Lam-touw segera berkumpul dengan Fu Hiong-kun.
Tidak lama kemudian Siau Cu juga datang.
Lu Tan sangat khawatir.
Begitu melihat Siau Cu, dia segera bertanya.
"Bagaimana keadaan Kuncu?"
"Siau Sam Kongcu sudah kembali. Pengawal Ling-ong-hu juga datang dari semua penjuru. Katakan apa yang bisa terjadi dengan dia?"
Lu Tan menghembuskan nafas lega. Siau Cu melihat dia dengan dingin.
"Kami kira ketika kau jatuh di tangannya pasti disiksa habis-habisan, tapi tidak disangka kau begitu senang. Kalau tahu, aku lebih memilih untuk tidur di Pek-in-koan daripada menyelamatkanmu. Itu akan lebih nyaman!"
"Kuncu adalah orang baik..."
Siau Cu tertawa dingin.
"Kau kira dia menahanmu di sini karena baik hati dan tidak ada tujuan lain?"
"Dia masih ada tujuan apa?"
"Kau tidak akan percaya dengan apa yang aku katakan sekarang. Sejujurnya, apakah kau mau kita mengantarmu kembali ke Ling-ong-hu?"
Lu Tan tertawa kecut.
"Murid-murid Pek-lian-kau sudah tahu aku bersembunyi di dalam Ling-ong-hu. Aku lihat lebih baik aku meninggalkan tempat itu. Kalau tidak, akan lebih mereportkan mereka. Karena keributan ini pasti diketahui oleh Ong-ya, aku tidak enak tinggal di sana lagi!"
Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 19
"Kedengarannya kau masih ingin terus tinggal di Ling-ong-hu! Apakah karena Tiang-lek Kuncu?"
Lu Tan mau membela. Lam-touw sudah mencegat.
"Apa yang masih terus kalian debatkan?"
Siau Cu seperti melihat ada sebuah lampion besar berwarna kuning keluar dari hutan.
Di belakang lampion tampak seorang hweesio setengah baya berbaju kuning.
Dia berjalan dengan tidak seimbang, seakan bisa terjatuh kapan saja.
Tapi sampai dia di depan keempat orang ini, dia tetap tidak terjatuh.
"Utusan lampu biru?"
Tanya Lam-touw dingin.
"O-mi-to-hud..."
Hweesio berbaju kuning tertawa.
"aku tidak sengaja..."
Tawanya tidak seperti seorang hweesio, ketika tawanya terlihat dia tidak baik hati, malah terlihat seperti licik dan jahat! "Semua orang sudah tahu hatimu sudah diambil untuk memberi makan anjing."
Lam-touw melayangkan tangan kepada Siau Cu. Siau Cu segera mengerti.
"Pertama kali guru melakukan hal yang paling terbuka!"
"Kau adalah sampah dari kalangan Budha, kau kira aku masih bisa membuka pintu maaf untukmu? Sudahlah, jangan banyak bicara, kita bereskan saja dia!"
"O-mi-to-hud..."
Bu-sim (Tidak berhati) mem bacakan bacaan Budha, sepasang telapak tangannya disatukan.
Lampion yang dipegangnya lalu terbang ke atas dan meledak.
Sorot mata keempat orang melihat ke atas.
Ketika melihat ledakan lampion, sorot mata mereka menjadi silau, terlihat oleh mereka sederetan lampion kuning keluar dari hutan.
Mereka masih mengira lampion-lampion itu adalah hasil ledakan dari lampion besar.Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 20 Sederetan lampion kuning tergantung di atas pohon.
Di bawah lampion kuning berdiri hweesio muda berbaju kuning.
Mereka membawa golok bergerak mengurung Lam-touw berempat.
Begitu melihatnya, Lu Tan segera berteriak.
"Kalian bertiga harap tinggalkan aku!"
"Sejak kapan kau belajar berbicara seperti itu?"
Siau Cu marah.
"Betul! Sejak kapan?"
Lam-touw berkata. Dia membentak.
"Hajar!"
Dia segera menggendong Lu Tan berlari ke arah Bu-sim.
"Budha yang baik hati, ijinkan muridmu mem buka pantangan membunuh!"
Bisa-bisanya Bu-sim berkata seperti itu. Tangannya mengulur ke belakang. Dua hweesio muda sudah menggotong sebuah tongkat hweesio yang berat dan menyerahkan ke tangannya.
"Sapu bersih!"
Dia membentak, tongkatnya segera menyapu, timbul aangin sangat keras, mengejutkan orang.
Lam-touw cepat mundur.
Tongkat Bu-sim terus menyapu dan mengejar dari belakang.
Tongkat yang begitu berat sampai di tangannya terlihat ringan.
Dia terus menyerang Lam-touw.
Pada waktu itu juga angin keras bertiup, semua pasir dan debu tergulung ke atas, sinar lampu berubah menjadi buram.
Siau Cu dan Fu Hiong-kun ingin menolong, tapi begitu bergerak, mereka sudah terkurung oleh banyak golok.
Pedang Fu Hiong-kun harus menahan tujuh orang musuh.
Walaupun santai tapi ingin keluar dari kepungan bukan hal yang mudah.
Tiba-tiba Siau Cu berhasil membunuh satu pembunuh lampion kuning dan merebut goloknya.
Tapi ingin keluar dari kepung an juga bukan hal yang mudah baginya karena semakin banyak pembunuh lampion kuning yang mendatangi.
Ilmu meringankan tubuh Lam-touw benar-benar tinggi.
Walaupun sedang menggendong orang, dia tetap bisa bolak-balik menghindar di bawah tongkat hweesio Bu-sim dan tidak terluka.
Setelah menghindar, dia segera bersembunyi di hutan.Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 21 Bu-sim terus-menerus menumbangkan tiga pohon besar yang menghadang jalannya.
Pohon roboh itu malah menghadang tubuh untuk bergerak maju, terpaksa dia berputar ke belakang pohon untuk sampai di belakang Lam-touw.
Lam-touw lebih santai menghadapinya, maka lebih banyak berbicara.
Sepanjang jalan dia terus menghina dan bercanda dengan Bu-sim.
Dia berharap Bu-sim bisa marah sehingga dia bisa mendapatkan kesempatan untuk membalas dan merobohkan Bu-sim.
Tapi emosi Bu-sim tidak terpancing, dia malah tertawa dan tawanya semakin keras.
Sepertinya sulit mendapat kesempatan untuk bermain kejar-kejaran.
Tapi Lam-touw tidak berpikiran begitu.
Dari awal dia tahu hweesio ini sangat licik dan berbahaya.
Ketika dia semakin marah, dia malah pura-pura memperlihatkan diri seperti tidak marah.
Maka Lam-touw sama sekali tidak khawatir.
Tiba-tiba suara Bu-sim berhenti, tawanya juga menghilang.
Lam-touw tahu saat hweesio ini tidak tertawa malah adalah waktu yang paling senang.
Dia menoleh ke belakang, benar saja puluhan lampion berwarna putih dan biru sudah datang mengepung.
Sebelum lampion-lampion itu sampai, dia sudah keluar dari hutan.
Baru bergerak mundur, Lan Ting-ji dan Cui Beng sudah datang ke tempat dia tadi.
Kalau tadi dia tidak mundur, sekarang dia akan dikepung oleh tiga utusan lampion.
Dengan keadaan sekarang, bila satu lawan tiga, akibatnya tidak ter-bayangkan.
Lan Ting-ji, Cui Beng dan Bu-sim terus menge jar.
Sebelum mereka sampai, Lam-touw sudah menerobos masuk ke pembunuh-pembunuh lampion kuning.
Dia menabrak ke sana kemari.
Menghadapi Fu Hiong-kun dan Siau Cu sebenarnya sudah berat bagi pembunuh-pembunuh lampion kuning.
Sekarang Lam-touw datang menyerang kesana kemari, membuat mereka segeraLegenda Pendekar Ulat Sutra -2 22 menjadi kacau.
Tujuan Lam-touw memang sedang membuat kekacauan.
Bu-sim bertiga sudah mengetahui maksud Lam-touw.
Bu-sim berpesan kepada pembunuh biru dan putih untuk memasang barisan dan memberi isyarat kepada pembunuh kuning untuk mundur.
Maksud Lam-touw adalah terus membuat keributan, tapi Siau Cu dan Fu Hiong-kun malah datang ke sisinya.
Mereka bermaksud melindungi dia dan Lu Tan, tapi malah membuat Lam-touw sulit bergerak.
Akhirnya dia berhenti.
"Baik! Sekarang kita menunggu mati!"
Tiga utusan kuning, putih dan biru sudah menyusun barisan untuk mengepung Lam-touw berempat.
"Kalian bertiga..."
Kata Lu Tan cepat. Baru menyebutkan dua kata, Siau Cu sudah mencegat.
"Apa yang mau kau katakan lagi?"
"Mereka hanya ingin menangkapku, untuk apa kalian bertiga demi aku..."
"Sampai sekarang kau masih berkata seperti ini, apakah kau mau menghancurkan semangat kita agar kita bisa dibunuh?"
"Apakah Liu Kun menyuruhmu melakukan ini?"
Tanya Siau Cu. Terpaksa Lu Tan menutup mulut. Siau Cu baru bertanya.
"Guru, kali ini berapa besar kesempatan kita untuk bisa kabur?"
"Tidak banyak, sekitar 90%!"
Lam-touw seper ti tidak menaruh musuh di matanya.
"Seorang hweesio jarang berbohong. Menurutku kesempatan kalian berempat bisa kabur tidak sampai 1%!"
Baru menyelesaikan kata-katanya, pembunuh-pembunuh yang mengelilingi Lam-touw dan lain-lain terlihat kacau-balau, dan ada lowongan!Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 23 Lowongan di sana adalah menghadap ke arah hutan.
Empat pembunuh yang tadi berdiri di sana sekarang roboh bersimbah darah.
Mereka roboh, empat orang berbaju hitam dan bertutup wajah muncul seperti hantu gentayangan.
Mereka masing-masing memegang pedang, menampakkan mata yang sangat jernih, terang dan indah.
Tapi entah mengapa membuat orang merasa itu bukan mata manusia.
Kalau dilihat lagi, membuat orang merinding.
Bu-sim melihat mereka, dia segera bertanya.
"Barisan pedang apa itu?"
Empat orang berbaju hitam dan bertutup wajah berdiri dengan barisan punggung mereka saling berhadapan. Tangan kanan memegang pedang. Gerakan mereka sama.
"Aku tidak bisa melihat barisan apa, tapi sedikit mirip dengan Su-hiong-kiam-hoat (Barisan 4 gajah)!"
Jawab Lan Ting-ji.
"Hanya sedikit mirip!"
Kata Bu-sim.
"Kalian berdua mengerti mainan seperti ini, tapi aku tidak. Aku bukan di bidang ini!"
Kata Cui Beng. Lan Ting-ji mengerutkan alis.
"Kita coba lagi!"
Dengan kipas lipat dia menunjuk empat pembunuh lampion biru, kemudian menunjuk empat orang berbaju hitam yang bertutup wajah.
Empat pembunuh segera menyerang dengan pedang.
Empat orang berbaju hitam seakan tidak melihat serangan mereka, sampai empat pembunuh lampion biru sudah mendekat, mereka baru bergerak.
Yang satu mundur, yang satu maju.
Yang mundur menghindar dari serangan pedang yang datang, yang maju menutupi pedang panjang empat pembunuh lampion biru.
Tiba-tiba mereka berputar, keempat pedang mereka langsung menyerang jalan darah penting empat pembunuh lampion biru.
Empat pembimuh lampion biru ingin menahan serangan sudah tidak sempat, mereka segera mundur.
Empat orang berbaju hitamLegenda Pendekar Ulat Sutra -2 24 yang bertutup wajah baru mengejar, tapi bentuk penyerangan mereka tetap bersilang.
Waktu itu mata masih tidak bisa melihat dengan jelas.
Begitu melihat jelas, pedang sudah sampai pada empat pembunuh lampion biru.
Salah satu dari empat pembunuh lampion biru dengan lincah menghindar, tapi tenggorokannya sudah tergores pedang.
Walaupun nyawanya selamat, tapi keringat terus menetes.
Sisa tiga pembunuh lampion biru yang lain langsung roboh dan mati.
Lan Ting-ji, Bu-sim dan Cui Beng benar-benar terkejut.
Tadi mereka tidak melihat.
Sekarang baru melihat jelas dan tahu kelihaian empat orang berbaju hitam.
Dengan kipas lipat menunjuk kepada empat orang berbaju hitam, bertanya.
"Siapa kalian? Mengapa bertentangan dengan Pek-lian-kau?"
Empat orang berbaju hitam seperti tidak mendengar juga tidak melihat. Lan Ting-ji menunggu sebentar, dia tertawa dingin.
"Kalian berempat meremehkan aku, tapi aku marga Lan tetap masih ingin mencoba!"
Dia mulai menyerang, Cui Beng sudah terbiasa bekerja sama dengan dia, maka dia juga ikut bergerak, menyerang dari arah yang berbeda.
Empat orang berbaju hitam bergerak pada waktu bersamaan.
Mereka saling bersilang, sangat lincah, sinar pedang dan gerakan tubuh sama-sama berkelebat.
Lan Ting-ji dan Cui Beng belum sampai pada mereka, matanya sudah dikacaukan oleh pedang.
Empat orang berbaju hitam terlihat menjadi 16 orang.
Mereka berteriak.
"Celaka..."
Kipas lipat dan pentungan diarahkan untuk melindungi diri sendiri.
Walaupun reaksinya cepat, tangan kanan tetap tergores oleh ujung pedang.
Mereka berdua jadi ketakutan dan berlari kembali ke sisi Bu-sim.
Melihat luka di tangannya, mereka benar-benar terkejut.
Bu-sim melihat mereka, dia mengeluh.
"Tempat ini jalan lama ditinggal..."
Kemudian membentak.
"Mundur!"
Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 25 Pembunuh-pembunuh segera mundur. Bu-sim membaca bacaan Budha.
"Kita bertemu lagi di lain waktu..."
Lan Ting-ji dan Cui Beng sama-sama mundur.
Tidak ada reaksi yang ditunjukkan oleh empat orang berbaju hitam.
Setelah semua orang Pek-lian-kau pergi, pedang baru dimasukkan ke dalam sarung.
Siau Cu segera maju ke depan.
"Terima kasih kepada kalian berempat! Apakah kalian bisa menemui kami dengan wajah asli atau memberitahukan marga dan nama kalian agar kelak kami bisa ke sana untuk berterima kasih?"
Empat orang berbaju hitam sama-sama menggelengkan kepala. Mereka kembali ke hutan. Siau Cu ingin mengejar, tapi dibentak oleh Lam-touw.
"Jangan melakukan hal yang tidak berguna!"
"Apakah guru sudah mengetahui identitas mereka?"
Siau Cu balik bertanya. Lam-touw menggelengkan kepala. Dia seperti sedang berpikir. Kata Siau Cu.
"Aneh, mengapa bisa muncul tepat waktu dan membuat orang-orang Pek-lian-kau mundur."
"Seharusnya teman..."
Fu Hiong-kun tetap melihat ke arah sana.
"Mereka muncul pasti ada tujuan lain!"
Lam-touw tertawa.
"Terhadap apa yang terjadi tadi, kita pantas berterima kasih kepada mereka. Kalau mereka tidak muncul, tiga utusan lampion dan pembunuh-pam-bunuh sulit kita hadapi."
Siau Cu melihat Lu Tan.
"Sepertinya nasibmu memang tidak jelek, di mana-mana ada Kui-jin (dewa penolong) yang selalu membantumu!"
Lu Tan hanya bisa tertawa kecut.
Dia benar-benar tidak bisa menjawab.
82-82-82Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 26 Lam-touw dan Fu Hiong-kun berpikir lebih baik kembali ke Pek-in-koan untuk menutup mata telinga Liu Kun.
Liu Kun pasti sudah memasang mata-mata di daerah Ling-ong-hu.
Dalam keadaan seperti itu, kemana pun mereka pergi akan sama saja.
Mereka juga terpikir mungkin Pek-in-koan sekarang sudah bukan lagi tempat yang tepat untuk dituju.
Kembali ke Pek-in-koan.
Yang mereka lakukan pertama kali adalah mengeluarkan semua murid Bu-tong.
Malam itu juga mereka meninggalkan ibu kota untuk pergi ke tempat lain.
Pada waktu yang bersamaan Lam-touw berempat juga kembali ke dalam kota.
Melalui jalan rahasia mereka kembali ke rumah An-lek-hou.
Liu Kun benar-benar memasang banyak mata-mata di daerah Ling-ong-hu.
Sebagian pasukan dikerahkan untuk mengejar murid-murid Bu-tong-pai, sebagian lagi mengejar Lam-touw dan lain-lain.
Bagi Lam-touw, ingin menghindar dari mereka adalah hal yang mudah.
Setelah masuk An-lek-hu dan bertemu dengan Tiong Toa-sianseng, Tiong Toa-sian-seng membawa mereka ke belakang di sebuah kamar rahasia bawah tanah.
Tidak lama kemudian Su Yan-hong pulang.
Dia segera masuk ke ruang rahasia itu.
Dia tidak merasa heran bila keempat orang ini datang kemari.
Yang membuat dia merasa aneh adalah empat orang berbaju hitam dan bertutup wajah yang diceritakan mereka.
Fu Hiong-kun sekarang sudah menemukan penyebab penyakit Lu Tan.
"Goan-kut-san?" (Bubuk pelemas tulang). Lu Tan benar-benar tidak percaya, bahkan yang lain juga merasa hal ini di luar dugaan.
"Orang ini...."
Su Yan-hong menggeleng-gelengkan kepala.
"Dari awal aku sudah berkata gadis ini bisa melakukan apa saja! Bila ada waktu, aku akan menghajar dia agar dia tahu rasa dan tidak sembarangan melakukan sesuatu!"
Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 27
"Sudahlah..."
Lu Tan masih membela Su Ceng-cau.
"mungkin dia sendiri juga tidak tahu kalau itu adalah Goan-kut-san!"
"Aku lihat selain Goan-kut-san, masih ada obat-obat lain yang mengikatmu sampai-sampai hatimu tertutup, sampai-sampai dalam situasi seperti ini kau masih membela dia!"
Lu Tan tertawa kecut. Siau Cu masih berteriak.
"Tapi aku tidak melihat gadis ini mempunyai ide yang jahat lagi!"
"Tidak...tidak akan..."
"Katakan dia menolongmu atau mencelaka-kanmu?"
Lu Tan tidak sanggup menjawab. Kata Siau Cu lagi.
"Kau tahu apa akibatnya jika terus minum obat Goan-kut-san?"
Lu Tan terdiam. Siau Cu berkata kepada Su Yan-hong.
"Pandangan Hou-ya tetap lebih jernih. Jelas-jelas tahu orang seperti dia sulit dilayani, apapun yang terjadi juga tidak setuju..."
Lam-touw mendorong Siau Cu dan memberi-tahu dia untuk tidak meneruskan kata-katanya. Siau Cu tetap masih mengomel.
"Hati perempuan seperti jarum di dasar laut. Pepatah ini benar-benar tidak salah. Untung aku tidak tertarik pada perempuan..."
"Betulkah?"
Lam-touw bertanya. Siau Cu segera teringat Lamkiong Bing-cu. Diam-diam berkata.
"Yang pasti bukan semua perempuan seperti itu, seperti Nona Fu cantik dan baik hati. Fu Hiong-kun tertawa.
"Mengapa menyambung kepadaku?"
Lam-touw tertawa dingin.
"Untung perempuan itu tidak ada di sini!"
Siau Cu cepat mengganti topik pembicaraan.
"Empat orang berbaju hitam dan bertutup wajah itu benar-benar lihai, siapakah mereka?"
"Apakah Cianpwee mempunyai pandangan lain?"
Tanya Su Yan-hong. Dengan serius Lam-touw berkata.Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 28
"Mungkin mereka orang-orang keluarga Lam-kiong?"
"Apakah ilmu silat yang mereka pakai adalah ilmu silat keluarga Lamkiong?"
Tanya Su Yan-hong.
"Barisan seperti tadi tidak pernah kulihat. Dari ilmu silat, tidak bisa terlihat mereka datang dari mana. Hanya terlihat dari bentuk tubuh mereka bukan laki-laki. Ilmu silat perempuan yang bagus dari daerah sini hanya sekeluarga keluarga Lamkiong. Maka aku berpikir seperti itu!"
"Mengapa keluarga Lamkiong menyelamatkan kita?"
Tanya Siau Cu aneh.
"Mungkin mereka adalah orang-orang yang menjaga keadilan dan kebenaran, mungkin juga karena kau!"
"Suhu bercanda lagi!"
Siau Cu dengan malu menghindar.
83-83-83 Su Ceng-cau tidak bisa tertawa lagi, kehilangan Lu Tan adalah salah satu alasannya.
Selain itu wajah Ling-ong yang seram, itu juga alasannya.
Dia tetap berkata dengan cerewet.
"Mengenai masalah ini ayah harus mengambil keputusan yang tepat. Tempat ini adalah rumah Ong-ya, mana bisa kita mengijinkan orang-orang membuat masalah di rumah kita?"
Ling-ong terdiam.
Siau Sam Kongcu melihat wajah Ling-ong dan tahu kalau diteruskan, akan tidak beres.
Dia mengedipkan mata kepada Su Ceng-cau agar tidak banyak bicara.
Tapi Su Ceng-cau tidak peduli, dia berkata.
"Orang itu benar-benar menganggap Ling-ong-hu adalah jalan umum. Tadinya aku ingin menghajar mereka, tidak disangka ilmu silat mereka begitu tinggi. Untung guru cepat pulang, Guru benar-benar pintar berhitung, bukankah begitu?"
Dia bertanya Siau Sam Kongcu, karena dia ingin menarik Siau Sam Kongcu ke dalam air keruh ini.
Tapi Siau Sam Kongcu malah diam.
Terpaksa dia berkata kepada Ling-ong.Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 29 ''Ayah adalah Ong-ya, apakah masalah ini kita harus diamkan?
Kita harus mencari tahu siapa mereka dan menghukum mereka dengan berat..
Akhirnya Ling-ong buka suara tapi wajahnya sangat seram.
"Apakah kau belum selesai bicara dan apakah belum cukup?"
Akhirnya Su Ceng-cau bisa melihat ada yang tidak beres. Tapi dia tetap tidak takut dan dengan manja berkata.
"Ayah, apakah aku salah bicara?"
"Kurang ajar sekali..."
Ling-ong memukul meja.
"Ceng-cau, ayah terlalu sayang kepadamu, sehingga membuatmu semakin berani dan membuat masalah Kau benar-benar semakin tidak terkendali!"
"Kapan aku membuat masalah di luar? Aku diam di rumah. Entah mengapa sekelompok orang itu masuk ke daiam rumah kita!"
Su Ceng-cau masih mau membela diri.
"kalau ayah tidak percaya, ayah bisa bertanya..."
"Diam!!"
Ling-ong membentak.
"kau benar-benar tidak tahu diri! Apa yang telah kau lakukan, kau kira ayah tidak tahu!"
"Aku sudah melakukan apa?"
"Kau adalah seorang putri tapi kau menyembunyikan buronan kerajaan dan menentang Liu-kongkong?"
Wajah Su Ceng-cau segera berubah.
"Tidak ada hal seperti itu."
"Kau masih mau membantah? Gerak gerikmu dan apa yang kau lakukan, aku tahu semua seperti jari tanganku! Mengapa aku tidak membukanya, karena aku hanya berharap kau hanya mencari kesenangan sejenak dan akan cepat mengantar orang itu pergi. Tapi siapa tahu kau..."
Ling-ong berhenti dan menarik nafas.
"apakah kau tahu kau hampir membuat sebuah tragedi yang besar?"
Su Ceng-cau menundukkan kepala. Ling-ong berkata lagi.
"Di sini bukan Lam-kiang. Kalau orang-orang Liu Kun dengan terang-terangan mendapatkan buron an kerajaan di sini..."
Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 30
"Karena dia tidak yakin maka dia menggunakan cara seperti itu..."
Su Ceng-cau berkata dengan suara kecil.
"Untung dia belum yakin..."
Ling-ong menarik nafas. Siau Sam Kongcu menyela.
"Pandanganku adalah orang yang datang bukan anak buah Liu Kun, tapi adalah murid-murid Pek-lian-kau!"
"Apakah mungkin Pek-lian-kau bersekongkol dengan Liu Kun?"
Ling-ong mengerutkan alis.
"Sangat mungkin!"
Kata Siau Sam Kongcu.
"Jamuan di Si-cu-lou benar-benar adalah akal-akalan Liu Kun untuk memancing harimau keluar dari gunung. Tapi untung Liu Kun masih memberiku sedikit muka!"
"Orang dia yang melabrak masuk..."
Su Ceng-cau berteriak lagi.
"Tidak ada yang meninggal atau mati dalam Ling-ong-hu, apakah kau belum mengerti?"
Ling-ong menggelengkan kepala. Mata Su Ceng-cau berputar-putar.
"Berarti Liu Kun juga takut kepada ayah..."
"Kau mengerti apa? Cepat masuk untuk merenungkan kesalahanmu! Mulai sekarang tanpa ijin dariku kau tidak boleh keluar satu langkahpun dari rumah!"
Awalnya Su Ceng-cau bengong, kemudian menghentakkan kaki dan berlari masuk. Ling-ong melihat putrinya masuk, baru berkata kepada Siau Sam Kongcu.
"Siau-sianseng, sudah merepotkanmu!" ''Setelah masalah ini lewat, aku kira Ceng-cau akan bisa mengurangi adatnya, itu bukan hal yang jelek!"
"Aku berharap akari seperti itu!"
Ling-ong tertawa kecut.
"Salahku sendiri, dari kecil terlalu memanjakan dia maka membuat masalah seperti ini."
Kemudian dia bertanya.
"apakah Lu Tan sudah diselamatkan oleh orang-orang Su Yan-hong?"
"Seharusnya begitu!"Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 31
"Mungkin Liu Kun akan marah besar!"
Ling-ong tersenyum.
"sebenarnya hanya seorang Lu Tan, tidak perlu begitu tegang!"
Siau Sam Kongcu diam, karena dia telah melihat Ling-ong sudah mempunyai rencana lain, tapi dia tidak mengerti.
Dia hanyalah seorang dunia persilatan, bukan politikus.
84-84-84 Memang Liu Kun sangat marah tapi dia sedang menahan diri.
Sampai nada bicara juga bisa dijaga agar terdengar tenang.
"Tan Koan, katakan..."
Orang kepercayaannya Tan Koan adalah seorang kasim. Dengan ketakutan dia berkata.
"Orang-orang itu benar-benar masuk ke Pek-in-koan, tapi begitu kita mengepung dan siap menyerang, Pek-in-koan sudah kosong, sama sekali tidak ada orang di sana!"
Dengan santai Liu Kun berkata.
"Turunkan perintahku. Semua orang yang bertanggung jawab dalam hal ini diturunkan pangkat tiga tingkat, dan kirim orang untuk membakar Pek-in-koan!"
Tan Koan pergi dengan tergesa-gesa. Sekarang Liu Kun baru bertanya kepada Bu-sim, Cui Beng dan Lan Ting-ji.
"Apakah kalian bertiga apakah terpikir siapa empat orang berbaju hitam bertutup wajah itu?"
Bu-sim menarik nafas.
"Harap Kiu-cian-swe bisa memaafkan kegagalan kami!"
"Sudahlah, seharusnya aku jangan begitu keras kepala, Lu Tan bukan orang penting!"
"Kiu-cian-swe....
"Kapan dua Kaucu selesai berlatih?"
Wajah ketiga orang itu segera berubah, sebab mereka menangkap dari nada bicara Liu Kun bahwa mereka tidak berguna.Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 32 Hanya menunggu Thian-te-siang-kun selesai berlatih, baru bisa menyelesaikan semua masalah.
"Mungkin tidak lama lagi!"
Terpaksa Bu-sim berkata begitu.
"Baiklah!"
Liu Kun berbaring lagi. Tiba-tiba Tan Koan masuk dan berkata.
"Kiu-cian-swe..."
"Apa lagi yang terjadi?"
Hati Liu Kun tegang tapi dia tetap berusaha tenang.
"Kepala pasukan Lam-khia, Ong-souw-jin ti dak tahu diri. Dia memberikan surat yang menyatakan kesalahan baginda!"
Tan Koan dengan bersemangat melapor.
"Oh? Mana bukunya?"
Tanya Liu Kun. Tan Koan cepat-cepat memberikan buku pada Liu Kun. Liu Kun membaca, kemudian berkata.
"Orang ini memang mempunyai sifat seorang sastrawan. Kali ini dia pasti kena batunya!"
Liu Kun segera menyuruh Tan Koan memper-silahkan kaisar ke Bu-eng-tian.
Tapi kaisar sedang berleha-leha di kamar, mana mungkin Tan Koan memanggil kaisar, dia juga tidak berani melawan perintah kaisar.
Maka dia segera kembali dan memper-silahkan Liu Kun ke kamar kaisar.
Semua sesuai dugaan Liu Kun.
Dia segera membawa buku yang ditulis Ong-souw-jin menemui kaisar.
Dia memikirkan apa yang harus dia katakan saat Tan Koan berjalan ke kamar kaisar dan kembali.
Dia pikir tidak perlu banyak bicara.
Begitu melihat buku yang ditulis Ong-souw-jin, kaisar pasti sudah marah besar.
Ong-souw-jinLegenda Pendekar Ulat Sutra -2 33 berkata bahwa setiap hari kaisar selalu tenggelam di pelukan perempuan, maka tidak benar-benar mengurus negara.
Liu Kun sudah lama melayani kaisar, dia tahu kaisar paling benci orang yang menyinggung kehidupan pribadinya.
Reaksi kaisar sesuai perkiraan Liu Kun.
Kaisar malah menyiram minyak ke dalam api.
Dia terbakar emosi.
Dia menyetujui apa yang Liu Kun katakan dan menyerahkan semua penanganan masalah ini kepada Liu Kun.
Dia segera memanggil Ong-souw-jin dan langsung memecatnya dari jabatan komandan Kota Lam-khia.
_ Tadinya Liu Kun ingin mengambil kesempatan ini untuk membunuh Ong-souw-jin, tapi kaisar merasa Ong-souw-jin biasanya sangat bertanggung jawab juga sering kali berjasa, maka Ong-souw-jin dibebaskan dari hukuman mati.
Ini adalah hal paling tidak disukai Liu Kun.
Tapi begitu melihat Ong-souw-jin dihajar sampai terluka, dia sangat senang.
Kemudian kaisar menurunkan perintah untuk mengusir Ong-souw-jin dari ibukota dan menempatkan dia ke San-se-ta-tong untuk menjadi seorang pejabat yang rendah.
Liu Kun tidak berpikir panjang.
Asalkan Ong-souw-jin tidak berada di ibukota dan tidak melawan nya, maka dia setuju dengan perintah kaisar.
Dia bersukaria kembali ke tempat tinggalnya.
85-85-85 In Thian-houw, Tiang-seng, dan Hongpo bersaudara sangat senang mendapatkan kabar ini, lalu berkata.
"Setelah mencabut paku ini, kelak mereka akan bisa tidur nyenyak tanpa mengkhawatirkan apapun!"
Liu Kun sangat senang.
Dia tertawa terbahak-bahak.
Dia sudah mencoba menggulingkan Ong-souw-jin bukan satu atau dua kali, tapi hari ini akhir-nya keinginannya tercapai juga, dan kejadian kali ini benar-benar lancar.
"Aku ingin lihat apakah pejabat rendah di San-se-ta-tong masih bisa melawanku?"
Tapi begitu mengucapakan kata-kata ini, tawa Liu Kun membeku.
"San-se..,"
Dia berkata sendiri.
"bulan depanLegenda Pendekar Ulat Sutra -2 34 kaisar akan mengadakan inspeksi ke Tai-goan, San-se...Tai-goan...Ini adalah siasat yang akan mendatangkan petaka!"
Dia berteriak tiba-tiba karena baru mengerti. Hongpo Ih merasa aneh.
"Siasat petaka seperti apa?"
"Betul..."
Tanya In Thian-houw juga.
"Kaisar menurunkan pangkat Ong-souw-jin ke San-se-ta-tong, seharusnya mendatangkan untung bagi kita, bukan petaka!"
Kata In Thian-houw lagi.
"Benar-benar jahat..."
Liu Kun berkata sendiri.
"mengapa aku tidak bisa memperhatikan untung ruginya?"
"Ada untung rugi apa?"
Hongpo Ih bertanya lagi.
"Kalian tidak tahu bahwa kaisar bulan depan akan melakukan inspeksi ke Tai-goan. Bila dia bisa meninggalkan ibukota, kita tidak akan bisa mengancam keselamatannya."
"Apa hubungannya dengan Ong-souw-jin?"
"San-se-ta-tong dan Tai-goan tidak jauh. Bila kaisar ke Tai-goan, tidak sulit baginya untuk bertemu dengan Ong-souw-jin. Saat Ong-souw-jin berada di San-se-ta-tong, dia akan mengambil kekuatan pasukan di sana, dan bila ditambah dengan anak buahnya yang dulu, jumlah pasukan sekitar 200 ribu orang. Dia akan menyerang ibukota. Aku Kiu-cian-swe bagaimana menghadapinya?"
"Kiu-cian-swe bisa meminta bantuan dari Ling-ong..."
"Mungkin pada saat itu Ling-ong akan berlaku seperd rumput di atas dinding yang selalu meng ikuti arah angin, mungkin dia sebaliknya akan memihak kepada kaisar. Jangan lupa, dia tetap bermarga Cu!"
Liu Kun menarik nafas.
"Sebelum ini, dia dan kaisar pernah bertemu. Saat itu kaisar sengaja menyuruh Siau-te-lu pergi ke tempat lain. Mungkin mereka sudah sepakat, tapi sampai sekarang kita belum tahu!"
Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 35
"Kalau begitu apa yang harus kita lakukan sekarang?"
"Siasat sekarang adalah segera mencegat Ong-souw-jin pergi. In Thian-houw, Tiang-seng!"
"Ada pesan apa, Kiu-cian-swe?"
Reaksi In Thian-houw dan Tiang-seng selalu cepat.
"Kejar dia dan bunuh!"
Liu Kun menunjukkan gerakan memenggal.
86-86-86 In Thian-houw dan Tiang-seng pergi.
Mereka membawa 20 orang lebih pesilat tangguh dalam istana, menunggangi kuda yang paling kuat.
Di sepan jang jalan mereka terus mengejar.
Setelah keluar kota sejauh 18 Li, akhirnya mereka bisa mengejar barisan Ong-souw-jin.
Dari kabar yang mereka dapat, Ong-souw-jin pergi dengan tergesa-gesa dari ibukota.
Barang dan kereta yang dibawa sangat sederhana, dan hanya membawa orang sekitar 30 orang.
In Thian-houw dan Tiang-seng merasa ilmu silat mereka sangat tinggi.
Dan bila ditambah dengan pesilat 20 orang yang berilmu tinggi, seharusnya bisa mengatasi barisan Ong-souw-jin.
Tapi begitu mendekati barisan Ong-souw-jin, 22 kuda naik ke dataran tinggi.
Tadinya mereka mem punyai rencana untuk melewati jalan pintas agar bisa menyerang di depan.
Namun begitu memandang dari atas, In Thian-houw dan Tiang-seng terpaku.
Barisan Ong-souw-jin bukan berjumlah 30 orang, tapi mungkin ada sepuluh kali lipatnya.
Di sisi kiri dan kanan masih ada pasukan kuda yang melindungi.
Orang yang memimpin pasukan adalah Han Tau dan Kao Sen.
Han Tau dan Kao Sen saja sudah sudah sulit dihadapi.
Apalagi ditambah dengan dua barisan pasukan kuda dan ratusan pengawal yang terlihat sudah terlatih.
Kalau 22 orang ini menyerang, akan seperti telur membentur batu.
Tiang-seng melihat In Thian-houw.
Dia menarik nafas.Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 36
"Kali ini perkiraan Kiu-cian-swe salah lagi!"
"Mungkin sekarang dia sudah terpikir kaisar pasti sudah campur tangan dalam hal ini!"
Kata In Thian-houw.
"Sekarang apa yang harus kita lakukan?"
In Thian-houw menjawab dengan tindakan.
Dia membalikkan kepala kuda, dan melarikan kuda kembali dari jalan yang sama ketika mereka datang tadi.
87-87-87 Benar !
Sekarang Liu Kun sudah terpikir bahwa kaisar pasti terlibat dalam hal ini, tapi dia tidak mengirim orang untuk membantu Tiang-seng dan In Thian-houw.
Dia juga tidak tahu sebenarnya kaisar sudah mengirim berapa banyak orang untuk mengantar Ong-souw-jin.
Dia juga tidak tertarik untuk berperang tanpa persiapan.
Hanya menunggu In Thian-houw dan Tiang-seng pulang untuk membuktikan dugaannya.
Begitu mendengar yang mengantar pasukan Ong-souw-jin adalah Kao Sen dan Han Tau, dia terkejut.
"Bila Kao Sen dan Han Tau tidak berada di sisi kaisar, bukankah akan lebih mudah bagi kita untuk menghadapi kaisar?"
In Thian-houw segera bertanya. Karena tidak berhasil mengejar dan membunuh Ong-souw-jin, dia berharap bisa menunjukkan kemampuannya pada tugas yang lain. Liu Kun tertawa.
"Walaupun Kao Sen dan Han Tau berada di sisi kaisar, untuk menghadapi kaisar juga sama leluasanya!"
In Thian-houw tertawa kecut. Liu Kun tertawa.
"Mereka mengantar Ong-souw-jin pasti tidak akan sampai San-se-ta-tong. Tapi walaupun mereka mengantarkannya sampai setengah perjalanan, dengan kelicikan Ong-souw-jin, dia pasti sudah siap dan sudah mengatur hal ini dengan baik. Pasti ada bantuan dari pihak lain. Sudahlah, kita terpaksa harus lepas tangan untuk masalah ini!"
Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 37
"Maksud Kiu-cian-swe..."
Tiang-seng lemas. Liu Kun melayangkan tangan.
"Maksudku kita lepas tangan hanya terhadap masalah Ong-souw-jin. Sedangkan terhadap pihak kaisar. Hei, hei!..."
Setelah tertawa dingin, dia baru melanjutkan.
"aku mempunyai pertimbangan, kedudukan kaisar tidak akan lama lagi!"
Walaupun Tiang-seng tidak tahu tindakan apa yang dipikirkan Liu Kun, tapi mendengar dia begitu yakin, dia tahu Liu Kun sudah mempunyai rencana dan diapun merasa tenang.
88-88-88 Liu Kun tidak mengambil tindakan apa-apa.
Dia juga tidak memberitahukan apa-apa kepada orang kepercayaan atau anak buahnya.
Kaisar juga tidak ada kabar.
Su Yan-hong dan lain-lain juga tidak terkecuali, hanya merasa orang-orang yang dikirim Liu Kun untuk mengawasi An-lek-hu sudah semakin tidak ketat.
Itu sama sekali mengherankan, karena mereka selalu keluar masuk melalui tempat rahasia.
Anak buah Liu Kun yang sudah lama menunggu dan tidak mendapatkan hasil, akhirnya terlihat lemas.
Adanya tambahan Fu Hiong-kun, Siau Cu dan Lam-touw di An-lek-hu, yang paling senang adalah Ih-lan.
Setiap hari selalu meminta Lam-touw dan Siau Cu bermain sulap.
Lam-touw dasarnya adalah bocah tua nakal dan Siau Cu sebenarnya juga adalah anak yang baru besar.
Ih-lan begitu lucu, maka mereka selalu senang bermain dengan Ih-lan.
Dulu Ih-lan selalu ribut ingin ke Sin-sa-hai, yang penting baginya adalah melihat pertunjukan Siau Cu dan Lam-touw.
Dia tidak bosan-bosan melihat pertunjukkan mereka dulunya.
Tapi sekarang setelah melihat beberapa kali, dia sudah tidak tertarik.
Walaupun dia tidak berbicara tentang ini, Siau Cu dan Lam-touw bisa melihatnya.
Bukan karena pertun jukan tidak bagus, melainkan suasananya yang berbeda.
Di Sin-sa-hai sangat ramai, sedangkan di sini sangat sepi, maka Ih-lan tidak dapat merasakan suasana kemeriahannya.Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 38 Terhadap ini mereka tidak bisa berbuat banyak, maka waktu Ih-lan meminta keluar untuk melihat keramaian, mereka tidak menolak.
Bukan hanya karena Ih-lan ingin keluar jalan-jalan untuk menghilangkan stress, mereka sendiri juga ingin keluar.
Tapi karena di luar sangat kacau, banyak hal yang selalu Lam-touw khawatirkan.
Walau pun punya keinginan keluar, dalam waktu dekat mereka tampak tidak bersemangat untuk melakukannya.
Ih-lan seperti mengetahui jalan pikiran mereka.
Dia tidak bertanya kepada mereka, hanya meminta kepada Fu Hiong-kun.
Yang pasti sebelumnya dia meminta ijin kepada ayahnya, Su Yan-hong.
Biasanya bila ada waktu Su Yan-hong akan membawa Ih-lan keluar untuk melihat-lihat.
Bagi dia, ini bukan hal yang mengherankan.
Hanya saja, beberapa hari ini dia terlihat seperti Lam-touw, di mana hal yang harus dia pikirkan terlalu banyak.
Walau fisiknya ada waktu, tapi hati terasa sibuk.
Untuk menyerahkan Ih-lan kepada Su Hu, Su Yan-hong tidak tenang.
Sekarang Fu Hiong-kun yang ingin membawa Ih-lan keluar, mana mungkin dia menolak?
Sebenarnya Su Yan-hong tahu Ih-lan tidak akan mengalami bahaya.
Hanya karena hubungan ayah dan anak ini dekat maka dia tidak tenang jika Su Hu yang membawanya.
Pertama, karena Su Hu sudah tua.
Kedua, dia juga selalu ceroboh.
Perselisihan antara dia dan Liu Kun adalah masalah orang dewasa, sama sekali tidak ada hubung an dengan anak.
Ada Fu Hiong-kun yang begitu teliti dan berilmu tinggi menjaga Lan-lan, apa yang harus dia khawatirkan?
Ternyata Liu Kun menjalankan segala upaya, sampai anak kecil juga tidak dilepaskannya.
Benar-benar di luar dugaan Su Yan-hong, dan juga Fu Hiong-kun.
Karena tidak terpikir oleh Fu Hiong-kun bahwa Liu Kun akan bertindak terhadap Ih-lan, maka rencana busuk Liu Kun berjalan dengan sangat lancar.Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 39 89-89-89 Dengan tidak adanya Siau Cu dan Lam-touw, bukan berarti Sin-sa-hai menjadi sepi, orang yang ber main ke sana tetap begitu banyak.
Di sepanjang jalan Ih-lan selalu melangkah dengan senang.
Dia selalu tertawa.
Sepasang tangannya membawa makanan dan minuman.
Walaupun Su Yan-hong sangat sayang kepada Ih-lan, namun bagaimana pun juga dia adalah seorang laki-laki.
Apalagi Fu Hiong-kun masih memiliki pikiran anak-anak, tahu apa yang diinginkan Ih-lan, maka Ih-lan sangat senang berjalan-jalan dengannya.
Fu Hiong-kun di sepanjang jalan terus menun juk ini dan itu.
Penjelasan tentang barang yang sama dari Su Yan-hong berbeda dengan yang keluar dari mulutnya.
Ih-lan lebih mengerti mendengarkannya, juga sangat senang.
Su Hu mengikuti mereka dari belakang.
Melihat mereka, pikiran anak-anak dalam dirinya juga tertarik keluar, sehingga dia juga ikut berbicara.
Kalau bukan telinga dan mata Fu Hiong-kun yang sangat peka, dalam keadaan begitu dia tidak akan memperhatikan apa yang terjadi di dalam gang, dan rencana Liu Kun tidak akan bisa tercapai.
Walau pun tidak semua rencananya bisa terlaksana, dia akan mengatur lagi rencana baru untuk mencapai tujuannya.
Gang itu sepi, tiba-tiba terdengar suara teriakan yang sangat kencang, karena teriakan ini menarik perhatian Fu Hiong-kun, dia segera melihat kepada seorang laki-laki yang berpenampilan seperti pemburu, sedang menuntun seekor anjing besar berbulu putih.
Laki-laki itu masuk dan keluar gang, kemudian pergi tergesa-gesa.
Anjing terlihat berwarna putih keperakan.
Walaupun tidak ada sinar matahari yang menyinari gang itu, tapi kemunculan laki-laki dengan anjingnya tetap sangat menarik perhatian orang.
Begitu Fu Hiong-kun melihat laki-laki itu, langsung terpikir dia adalah seorang pemburu yang membawa anjing.
Tiba-tiba dia merasa pemburu membawa serigala.Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 40 ...Gin-long.
Dia segera teringat perkara Gin-long yang sampai sekarang belum tuntas.
Dia juga teringat anak-anak perempuan maupun laki-laki yang menghilang secara misterius.
Dia masih berpikir ketika pemburu itu menuntun anjing putih masuk ke gang di ujung sana.
Seorang perempuan setengah baya keluar dari gang dan berteriak dengan keras.
"Siau-an! Siau-an..."
Fu Hiong-kun berpikir sebentar, lalu berpesan kepada Su Hu.
"Kau jaga Lan-lan baik-baik! Aku ke sana untuk melihat apa yang terjadi?"
Fu Hiong-kun berlari masuk ke dalam gang dan mencegat perempuan setengah baya itu.
"Apa yang terjadi..."
Perempuan setengah baya ketakutan. Dengan suara gugup berkata.
"Tadi Siau-an sedang bermain dengan senang, hanya dalam sekejap waktu Siau-an sudah menghilang. Nona, apakah kau melihat ada seorang anak lewat?"
Fu Hiong-kun tidak menjawab. Dia berlari ke ujung gang. Dia khawatir akan kehilangan jejak pembunuh yang membawa anjing itu. Perempuan itu sambil mengejar juga berteriak.
"Nona...nona..."
Ih-lan dan Su Hu berada di luar gang. Dia merasa aneh dan bertanya kepada Su Hu.
"Apa yang terjadi dengan Kakak Fu?"
"Aku juga tidak mengerti, bagaimana kalau kita ke sana melihatnya?"
Yang pasti Ih-lan setuju.
Maka satu orang dan satu anak masuk ke dalam gang itu.
Dengan kecepatan Fu Hiong-kun, mereka memang sulit mengejarnya.Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 41 Seharusnya Fu Hiong-kun mengikuti perempuan itu berjalan ke ujung gang, tapi mereka tidak melihat perempuan setengah baya itu ketika memasuki gang itu.
"Cici..."
Ih-lan berteriak dan memaksa Su Hu ikut mengejar.
Tapi Fu Hiong-kun seperti tidak mendengar.
Sampai Su Hu dan Ih-lan mendekat, dia baru berhenti dan pelan-pelan membalikkan tubuh.
Tapi ternyata bukan Fu Hiong-kun!
Melainkan seorang perempuan yang berbaju sama dengan Fu Hiong-kun.
Su Hu tidak mengenal orang ini.
Sebenarnya dia adalah utusan lampion hijau dari Pek-lian-kau.
Begitu melihat sorot mata utusan lampion hijau, Su Hu merasa takut.
Ini perasaan terakhir yang dia rasakan.
90-90-90 Fu Hiong-kun merasa ilmu silatnya tidak rendah, tapi setelah masuk ke gang dan belok beberapa kali, dia tetap tidak bisa mengejar pembunuh yang membawa anjing putih.
Firasat tidak enak menyerang hatinya, dia berlari kembali ke tempat semula.
Perempuan setengah baya yang tadinya sambil menangis berada di belakangnya sudah tidak ditemui Fu Hiong-kun waktu dia berlari kembali ke tempat semula.
Fu Hiong-kun awalnya merasa dia tidak salah jalan dan tidak ada jalan lain untuk kembali.
Sekarang dia mulai ada perasaan jangan-jangan dia sudah salah jalan.
Sampai dia melihat Su Hu yang sedang menyandar di dinding, dia baru tenang.
Tapi sekejap kemudian dia segera terkejut.
Karena dia tidak melihat Ih-lan di sisi Su Hu.
Mengapa Ih-lan tidak ada di sisi Su Hu?
"Ada apa dengan Ih-lan?"
Tanya Fu Hiong-kun.
Tapi Su Hu tidak menjawab.
Waktu dia mendekati Su Hu, Fu Hiong-kun baru melihat tenggorokan Su Hu sudah putus ditepis.
Tidak diragukan lagi ituLegenda Pendekar Ulat Sutra -2 42 adalah pisau yang tipis dan tajam maka tidak mengeluarkan banyak darah.
Dua tangan Su Hu masing-masing memegang sesuatu.
Tangan kanan memegang sebuah lampion hijau, di kiri ada sepucuk surat.
Begitu melihat lampion hijau, wajah Fu Hiong-kun langsung berubah.
91-91-91 Surat ditulis 5 utusan lampion kepada Su Yan-hong.
Isinya sangat sungkan.
Ih-lan berada di tangan 5 utusan lampion.
Bila Su Yan-hong ingin bertemu dengan Ih-lan, dia harus datang tiga hari kemudian, kentongan malam ke utara kota, di hutan Ya-cu (Hutan babi liar).
5 utusan lampion akan bertemu dengan dia di Ya-cu-lim.
Mereka sangat ingin menyaksikan ilmu silat Su Yan-hong dan ingin meminta beberapa petunjuk.
Bila Su Yan-hong bisa mengalahkan mereka, maka mereka akan mengantarkan Ih-lan ke An-lek-hu.
Tadinya Su Yan-hong merasa tegang.
Setelah membaca surat, dia malah terlihat tenang.
Kemudian dia memberikan surat kepada Fu Hiong-kun, Tiong Toa-sianseng, Lam-touw, dan Siau Cu.
"Menurut perkiraanku, itu suatu jebakan!"
Kata Fu Hiong-kun, terlihat ada penyesalan padanya. Su Yan-hong mengerti hati Fu Hiong-kun.
"Kalau aku adalah kau, aku juga akan tertipu!'' "Betul..,"
Kata Tiong Toa-sianseng menyela.
"siapa sangka mereka begitu keji, bisa-bisanya mempunyai ide untuk memanfaatkan Ih-lan!"
Fu Hiong-kun menarik nafas.
"Aku mengira mengejar orang akan berbahaya, maka aku meninggalkan Ih-lan dengan Su Hu."
Su Yan-hong mencegat.
"Ih-lan tidak akan terancam bahaya. Bila mere ka ingin melukai Ih-lan, mereka tidak akan membawa Ih-lan pergi!"
Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 43
"Apa tujuan mereka? Betulkah hanya meminta petunjuk beberapa jurus?"
Tanya Tiong Toa-sianseng.
"Guru tahu hal ini tidak sesederhana itu!"
Su Yan-hong tertawa kecut.
"Pasti! Mereka bukan orang yang menyukai ilmu silat, mana mungkin akan melakukan hal yang tidak ada gunanya?"
"Mungkin itu adalah ide Liu Kun!"
Kata Su Yan-hong.
"Betul!"
Kata Lam-touw.
"Liu Kun bersekongkol dengan Pek-lian-kau, itu tidak diragukan lagi. Beberapa kali rencana busuk dia dirusak Hou-ya, maka dia dendam dan mencari kesempatan untuk membalas dendam!"
Su Yan-hong mengangguk.
"Itu sudah terduga dan aku selalu hati-hati!"
"Hou-ya..."
Kata Fu Hiong-kun, tapi Su Yan-hong sudah mencegat, ''bila mereka mempunyai niat menculik Ih-lan, mereka pasti akan melakukannya dengan segala cara. Sekarang lebih baik kita pikirkan..."
"Apa yang harus kita pikirkan?"
Cegat Lam-touw.
"tiga hari kemudian Hou-ya harus ke Ya-cu-lim!"
"Tidak bisa tidak pergi!"
Su Yan-hong setuju.
"Pada waktu itu, 5 utusan lampion akan menjelaskan kepada Hou-ya kalau itu adalah ide Liu Kun. Liu Kun pasti akan menentukan syarat dengan Hou-ya!"
Lam-touw kebetulan sangat sadar. Dia seperti berbeda dengan hari-hari biasa. Su Yan-hong melihatnya.
"Maksud Cianpwee..."
"Kalaupun Hou-ya tidak mau bekerja sama dengan Liu Kun, tapi sebelumnya harus menyelamatkan Ih-lan dulu!"
Su Yan-hong mengangguk.
"Tapi di manakah mereka menyembunyikan Ih-lan?"Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 44
"Yang pasti di tempat yang mereka anggap tempat paling rahasia!"
Kedua alis Lam-touw melayang.
"Di tempat Liu Kun banyak tempat rahasia..."
"Itu sudah pasti..."
Kata Su Yan-hong tertawa kecut.
"tapi ingin mencarinya bukan hal yang mudah, apalagi tempat Liu Kun dijaga dengan ketat!"
"Apakah kau pernah ke rumah Liu Kun? Dan melihat ada tempat yang pantas dicurigai?"
"Tidak ada!"
Kedua alis Lam-touw segera turun.
"Aku juga tidak jelas dengan lingkungan di tempat Liu Kurt, bagaimana kita bisa mencari tahu rahasia ini?"
"Liu Kun pasti akan terpikir kita akan bertindak..."
Fu Hiong-kun menarik nafas.
"Ini yang ingin aku katakan, maka lebih baik kita melihat dulu apa yang terjadi nanti di Ya-cu-lim. Setelah itu baru kita bertindak."
"Mungkin Ya-cu-lim sudah diawasi murid-murid Pek-lian-kau!"
Kata Siau Cu.
"Dengan ilmu dan pengalaman kita, guru dan murid, apakah tidak bisa menghindar dari telinga dan mata Pek-lian-kau?"
Kata Lam-touw tertawa. Siau Cu menegakkan dada. Kemudian Lam-touw berkata lagi.
"Kalau hanya 5 utusan lampion, seharusnya tidak sulit dihadapi!"
Su Yan-hong melihat surat lagi.
"Yang tanda tangan hanya 5 utusan lampion, seharusnya hanya mereka berlima!"
"Sampai sekarang, selain 5 utusan lampion dan pembunuh-pembunuh, memang tidak terlihat ada yang lain!"
Kata Fu Hiong-kun.
"Maksudmu Thian-te-siang-kun?"Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 45
"Lebih baik dua orang ini jangan muncul! Bila muncul, mereka akan campur tangan dalam masalah ini..."
Kata Lam-touw.
"Kepandaian Thian-te-siang-kun berada di atas 5 utusan lampion!"
Kata Fu Hiong-kun.
"Itu sudah pasti..."
Lam-touw seperti ingin mengatakan sesuatu tapi begitu bibirnya bergerak, segera ditutup kembali. Fu Hiong-kun tidak melihatnya, dia berkata.
"Sebelum Put-lo-sin-sian pergi ke Kong-tong-pai pernah mengadakan rapat besar dan mengatakan di dalam perkumpulan mereka ada yang mengancam dan memaksa orang-orang kampung yang tidak tahu apa-apa untuk menyerahkan anak laki-laki atau perempuan untuk membantu latihan Pek-kut-mo-kang..."
Su Yan-hong tidak lupa hal itu, dia berkata.
"Perkara Gin-long juga orang yang kehilangan anak laki-laki dan perempuan. Kalau benar ada kaitannya dengan Pek-lian-kau dan sampai sekarang Thian-te-siang-kun belum muncul, berarti mereka sedang berlatih Pek-kut-mo-kang!"
"Kalau begitu, harap mereka jangan muncul dulu!"
Kata Lam-touw.
"Sebenarnya Pek-kut-mo-kang itu seperti apa?"
Tanya Su Yan-hong.
"Ilmu silat yang bisa menarik perhatian Put-lo-sin-sian, berarti adalah ilmu yang menakutkan!"
Kata Lam-touw tertawa.
"Apakah Cianpwee juga tidak tahu?"
Tanya Fu Hiong-kun.
"Mana aku bisa tahu?"
Lam-touw tertawa.
Fu Hiong-kun dan Su Yan-hong tidak melihat tawa Lam-touw sedikit berbeda, waktu itu Tiong Toa-sianseng tiba-tiba berkata.
''Dalam beberapa kali pertarungan, 5 utusan lampion berada di bawah angin.
Kali ini mereka berani terang-terangan menantang, selain Ih-lan berada di tangan mereka, kita harus berpikir mungkin Thian-te-siang-kun sudah muncul!
"Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 46 Lam-touw dan Tiong Toa-sianseng saling pandang.
Mereka mengangguk.
Terlihat sudah ada perjanjian di antara mereka berdua tapi Su Yan-hong dan Fu Hiong-kun tidak melihatnya.
Siau Cu juga tidak melihatnya, dia memang tidak tahu banyak tentang gurunya.
92-92-92 Akhirnya dua mata Thian-te-siang-kun terbuka.
Ketika mulai berlatih ilmu, mata mereka dipejamkan, saat memejamkan matanya semakin lama.
Sampai saat ini, dari mata dipejam sampai dibuka sudah 3 hari 3 malam.
Bagian bola mata yang putih tetap lebih banyak daripada yang hitam.
Hanya orang yang sangat teliti baru bisa melihat perubahan-perubahan di dalam.
Biasa orang-orang tidak berani melihat mereka.
Walaupun 5 utusan lampion, bila mereka mem perhatikan mata Thian-te-siang-kun pasti akan tahu ada yang tidak sama.
Sekarang mata Thian-te-siang-kun benar-benar terlihat seperti siluman.
Semua orang yang melihat akan merasa takut.
Bagian mata yang hitam tetap hitam.
Dulu mata itu membuat orang merasa seperti tidak bernyawa, tidak berperasaan, tapi setiap saat akan bersinar.
Sekarang dua bola mata seperti dua kolam yang dalam.
Dalam sekejap mengait roh lawan masuk ke dalam kolam yang dalamnya tidak terukur.
Lingkaran darah di luar bola mata berubah menjadi lebih terang lebih merah, seakan akan menyembur keluar.
0-0-0 Pembaca yang terhormat, maaf cerita ini terpotong karena naskah aslinya juga terpotong.
Perkiraan cerita yang terpotong sbb.
Su Yan-hong, Tiong Toa-sianseng dan Fu Hong-kun mendatangi Ya-cu-lim dan bertemu dengan Thian-te-siang-kun, mereka dipaksa minum Ngo-tok-li-hun-ciu (Arak roh lima racun) dengan ancaman nyawa Ih-lan.Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 47 Sementara Siau Cu dan Lam-touw menyelinap ke tempat Ih-lan dikurung dan menyelamatkan Ih-lan dari sarang Pek-lian-kau, pada saat Su Yan-hong dan Tiong Toa-sianseng akan minum Ngo-tok-li-hun-ciu, Siau Cu dan Lam-touw membawa berita penyelamatan Ih-lan, maka terjadi pertarungan sengit.
Su Yan-hong dan kawan-kawannya di keroyok orang-orang Pek-lian-kau, tapi akhirnya berhasil melarikan diri.
Su Yan-hong, Tiong Toa-sianseng, Fu Hiong-kun bertiga kembali ke An-lek-hu.
Lam-touw dan Siau Cu membawa Ih-lan pulang.
Setelah bertemu dengan Ih-lan, mereka bertiga baru tenang.
Lam-touw melihat baju Tiong Toa-sianseng dan bertanya.
"Apakah Tiong Toa-sianseng terluka?"
"Hampir terluka, kepandaian Pek-lian-kau benar-benar misterius dan sulit ditebak!"
Kata Tiong Toa-sianseng.
"Apakah Ih-lan baik-baik saja?"
Tanya Su Yan-hong. Siau Cu menaruh Ih-lan di atas ranjang.
"Sampai sekarang dia belum bangun, sepertinya sedikit berbahaya!"
Su Yan-hong tergesa-gesa menuju ke sisi ranjang.
Terlihat wajah Ih-lan pucat, sepasang matanya dipejamkan dan kelihatan seperti bengong terus.
Fu Hiong-kun mendekat, pelan-pelan membalikkan kelopak mata Ih-lan dan memeriksanya dengan teliti.
Dia juga memeriksa nadi di tangan Ih-lan.
Lam-touw berkata.
"Kulihat sepertinya mereka sudah ada persiap an, maka sebelumnya sudah memberi Ih-lan makan sesuatu!"
Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 48
"Betul! Itu adalah racun!"
Kata Fu Hiong-kun.
"Racun apa?"
Tanya Su Yan-hong terkejut.
"Aku belum pernah mengetahui racun ini. Sepertinya bukan hanya satu jenis racun karena denyut nadinya sangat tidak teratur dan kacau. Aneh, beberapa macam racun dicampur menjadi satu tapi khasiat di antara racunnya tidak saling menghilangkan!"
Su Yan-hong dan Tiong Toa-sianseng segera teringat Thian-te-siang-kun memaksa mereka minum Ngo-tok-li-hun-ciu (arak Ngo-tok-li-hun).
"Itu pasti Ngo-tok-li-hun..."
Teriak Lam-touw. Semua orang melihat dia. Kecuali Tiong Toa-sianseng, yang lain merasa terkejut, apalagi Su Yan-hong.
"Racun ini sangat keras. Walau pun orang yang minum racun ini mempunyai tenaga dalam yang kuat, setelah minum racun ini dia akan seperti orang hidup tapi juga seperti orang mati. Tidak ada obat penawar maka akan sulit melewati masa tiga bulan!"
Kata Lam-touw.
"Pantas dua orang aneh itu memaksa kita minum arak itu!"
Kata Tiong Toa-sianseng.
"Apakah kalian meminumnya?"
Lam-touw terkejut. Tiong Toa-sianseng menggelengkan kepala.
"Mereka mengancam dengan nyawa Ih-lan tapi Ih-lan sudah diselamatkan oleh kalian berdua, mana mungkin kita mau minum arak itu!"
Lam-touw menghembuskan nafas lega. Dia melihat wajah Ih-lan.
"Tidak disangka mereka begitu kejam, sampai-sampai seorang anak juga tidak dilepaskan!"
Dia juga melihat Fu Hiong-kun.
"apakah Nona Fu punya cara untuk menyelamatkannya?"
"Kecuali aku tahu jenis kelima racun itu!"
Kata Fu Hiong-kun.
"Itu tidak jadi masalah!"
Kata Lam-touw.Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 49 Selain Tiong Toa-sianseng, yang lain melihat Lam-touw dengan keheranan. Apalagi Siau Cu, dia bertanya.
"Dari mana guru bisa tahu banyak tentang hal ini..."
"Kau kira menjadi guru itu mudah?"
Lam-touw tertawa dingin. Walaupun Su Yan-hong curiga tapi dalam keadaan seperti ini dia tidak leluasa untuk bertanya, dia hanya berkata.
"Harus Cianpwee yang mengerahkan banyak perhatian, juga merepotkan Nona Fu!"
Fu Hiong-kun ingin mengatakan sesuatu, Lam-touw sudah tertawa dan berkata.
"Kalau kau berkata begitu, berarti kau tidak menganggap kita adalah teman!"
Su Yan-hong tertawa kecut. Pada waktu itu ada seorang pelayan kepercayaan datang melapor.
"Kaisar telah menurunkan perintah. Katanya Hou-ya berusaha memberontak, rumah Hou-ya harus diperiksa!"
"Apa?"
Wajah Su Yan-hong segera berubah.
"mana pelayan istana?"
"Di ruangan tamu. Yang datang bersama masih ada In Thian-houw, Tiang-seng dan prajurit-prajurit istana. Harap Hou-ya pergi melalui jalan rahasia!"
Su Yan-hong marah.
"Itu pasti adalah rencana busuk Liu Kun! Kaisar sudah jatuh di tangannya, terpaksa harus mendengar apa yang dikatakan!"
Hati dia bergolak dan segera membalikkan tubuh ingin keluar, tapi dicegat oleh Tiong Toa-sianseng.
"Sekarang bukan waktunya untuk memamerkan keberanianmu!"
"Guru..."
"Liu Kun pasti sudah mengatur hal ini. Kalau kau keluar, berarti mengantar kambing ke mulut harimau. Racun Ih-lan belumLegenda Pendekar Ulat Sutra -2 50 dikeluarkan, lebih baik kita tinggalkan tempat ini dulu. Setelah melihat ke adaan nanti, baru kita menyusun rencana lagi!"
Kata Tiong Toa-sianseng dengan dingin.
"Baik..."
Su Yan-hong segera menjawab.
"di mana Lu Tan?"
Pelayan setia itu menjawab.
"Di dalam rumah ini ada mata-mata yang ingin membawa orang-orang Liu Kun ke arah ruangan rahasia, yang sudah dibunuh oleh Lu-kongcu. Sekarang Lu-kongcu sedang memancing orang-orang Liu Kun untuk pergi dari sini!"
"Baik.."
Siau Cu menepuk meja.
"aku tidak salah menilai bocah ini!"
Dia meloncat bangun. Tapi Lam-touw men-cengkramnya.
"Bila kau keluar sekarang, berarti kau ingin memberitahu orang-orang Liu Kun bahwa kita berada di sini!"
"Tapi Lu Tan..."
Siau Cu terpaku.
"Kalau dia akan mati, dari awal sudah mati. Orang ini punya keberuntungan besar, nasibnya juga baik, tidak perlu dikhawatirkan!"
Memang Lam-touw menyuruh Siau Cu jangan khawatir, tapi sebenarnya dia sangat khawatir.
Hanya saja sekarang sudah tidak ada waktu untuk khawatir.
Memang Liu Kun sudah mengatur juga menyiapkan rencana yang terburuk.
Begitu mendengar kabar bahwa Thian-te-siang-kun gagal dan Su Yan-hong sudah menyelamatkan Ih-lan melarikan diri, rencana kedua sudah disusun.
Dia menurunkan perin tah kepada In Thian-houw untuk membawa 100 prajurit kerajaan pergi ke San-se-ta-tong untuk membunuh Ong Souw-ie.
"Orang-orang Ong Souw-ie sangat banyak..."
Terlihat kesulitan di wajah In Thian-houw.
"Dia belum mempunyai kekuasaan dan prajurit, kau khawatir apa?"
Liu Kun sangat tenang.
"Hamba belum mengerti!"Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 51
"Dulu Meng-te (nama orang) menculik kaisar untuk mengancam semua prajurit agar mendengarkan apa yang dia katakan. Sekarang kaisar sudah di tangan kita, apakah kita tidak bisa mengikuti cara ini?"
"Tapi Ong Souw-ie adalah orang penting dan dia tidak pernah berbuat salah. Sekarang ingin menga takan kesalahannya..."
"Kesalahan yang kita tuduhkan kepada dia bisa kita cari-cari. Aku ingin memberi dia kesalahan bersekongkol dengan An-lek-hou untuk memberontak, kemudian menjaring semuanya agar di kemudian hari tidak ada bencana lagi."
"Kiu-cian-swe benar-benar pintar. Sekarang bawahan segera mengurus pasukan!"
"Tunggu..."
Liu Kun tertawa dingin.
"Ong Souw-ie masih tidak mempunyai pasukan atau kekuasaan. Kau cukup mengirim beberapa orang keper cayaan untuk membereskan dia, tidak perlu pergi sendiri. Aku masih ada hal penting yang ingin kau bereskan!"
"Tentang apa?"
Tanya In Thian-houw.
"Sebentar lagi aku akan ke istana memaksa kaisar menurunkan permtali untuk memeriksa rumah An-lek-hou. Kau dan Tiang-seng segera mengumpulkan pasukan dan siap berangkat kapanpun!"
Liu Kun berpesan lagi.
"Hongpo Tiong, Ih..."
Hongpo bersaudara segera mendekat.
"Pada waktu yang bersamaan aku juga akan memaksa kaisar menghentikan komandan pasukan Kang Pin dan menyerahkan kekuasaan kepada kalian dua bersaudara!"
Hongpo bersaudara sangat gembira. Mereka berlutut.
"Hidup Kiu-cian-swe!"
Liu Kun tidak ragu-ragu lagi.
Dia segera siap berangkat ke ibukota.
93-93-93Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 52 Sebenarnya kaisar terlalu memaksa untuk menjatuhkan Liu Kun.
Keberhasilan demi keberhasilan membuat kaisar mengira telah berhasil mengikis kekuatan Liu Kun.
Bila Liu Kun tidak sanggup mela wan hanya bisa duduk menunggu dibunuh.
Tapi dia lupa Liu Kun masih mempunyai kekuatan yang besar di dalam istana.
Dengan kekuatan ini Liu Kun mengu asai istana dan langsung mengancam kaisar.
Di dalam keadaan seperti itu, terpaksa kaisar harus menuruti apa yang dikatakan Liu Kun.
94-94-94 Kamar rahasia di An-lek-hu memang sangat rahasia, tapi lama kelamaan tetap diketahui oleh mata-mata Liu Kun.
Begitu tahu, In Thian-houw dan Tiang-seng datang membawa prajurit untuk memeriksa.
Mereka segera muncul dan bergabung.
Mungkin Su Yan-hong dan lain-lain tidak boleh mati.
Lu Tan menunggu mereka lama tidak kembali.
Dia keluar dari kamar rahasia agar dia bisa bergabung bila diperlukan.
Tapi dia melihat ada mata-mata dan segera membunuhnya.
Walaupun ilmu silatnya belum pulih tapi membunuh mata-mata itu bukan hal yang sulit.
Tapi jika ingin menghindari kejaran In Thian-houw dan Tiang-seng, tidak semu dah membunuh mata-mata tadi.
Dia juga terpikir Su Yan-hong dan lain-lain sudah kembali melalui jalan rahasia dan berada di kamar rahasia, maka dia memancing In Thian-houw dan Tiang-seng untuk pergi dari sana.
Setelah membunuh mata-mata itu, dia segera meninggalkan tempat.
Dia agak mengenal daerah sana, dengan berputar ke kanan ke kiri dia bisa keluar di belakang taman bunga, lalu keluar melewati pagar dinding yang tinggi.
In Thian-houw dan Tiang-seng yang melihat Lu Tan, mereka bertekad untuk menangkapnya agar berjasa di hadapan Liu Kun, maka mereka terus mengejar Lu Tan.
Mereka meninggalkan prajurit istana yang mereka bawa.Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 53 Setelah Lu Tan keluar dari rumah, dia segera lari di gang.
In Thian-houw dan Tiang-seng masih mengejarnya.
Yang satu mengejar dari bawah, satunya lagi mengejar di atas genteng.
Setelah melewati dua gang, akhirnya mereka bisa mencegat Lu Tan.
Tiang-seng turun dari atas genteng dan meng hadang di depan Lu Tan.
Lu Tan segera meloncat ke atas genteng.
Dengan gerakan kaki dan tangan yang pastinya tidak secepat In Thian-houw dan Tiang-seng baru berdiri sudah naik ke atas genteng lagi.
"Marga Lu, kalau kali ini membiarkanmu kabur, berarti sia-sia aku melatih sepasang telapakku!"
In Thian-houw tertawa terbahak-bahak kemudian menyerang dengan sepasang telapak tangannya.
Suara yang keluar terdengar seperti petir.
Tiang-seng juga tidak lambat, dengan kelincahan tubuhnya menutup jalan mundur Lu Tan.
Tidak sampai 10 jurus, Lu Tan sudah kerepotan.
Dia berpikir bila dia jatuh di tangan Liu Kun, dia pasti mati, lebih baik melawan sampai titik darah penghabisan.
Mati juga bisa menutup mata.
Tiang-seng dan In Thian-houw melihat tekad Lu Tan.
Mereka juga melihat ilmu silat Lu Tan tidak sekuat dulu dan mereka akan menang.
Maka mereka pun menyerang dengan gencar.
Karena tidak hati-hati, Lu Tan terkana pukulan Tiang-seng dan terpelanting di atas genteng.
Tiang-seng segera mendekat.
In Thian-houw juga tidak lambat.
Lu Tan berguling-guling di atas genteng untuk menghindari 16 serangan telapak.
Terlihat dia tidak akan bisa menghindar lagi.
Tiba-tiba dari tempat gelap keluar seorang perempuan bertutup wajah.
Dengan pedang perempuan itu menghadang serangan In Thian-houw dan Tiang-seng.
Setelah bertarung tiga jurus, In Thian-houw dan Tiang-seng sudah melihat aliran ilmu pedang ini.
Tiang-seng tertawa dingin.
"Ternyata pesilat pedang dari Hoa-san-pai..."
"Orang Ling-ong-hu, Kuncu sungguh hebat!"
Kata In Thian-houw.Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 54 Perempuan ini terpaku, dia membuka penutup wajah. Ternyata memang adalah Su Ceng-cau. Dia berkata.
"Kalau memang aku, kalian mau apa?"
In Thian-houw tertawa.
"Tadinya kita tidak yakin kalau kau yang membawa Lu Tan pergi. Walaupun curiga dan ber tanya kepada Ling-ong, kau bisa saja tidak mengaku. Kami juga tidak bisa apa-apa!"
"Sekarang lebih baik Kiu-cian-swe ke Ling-ong-hu meminta orang. Pada waktu itu, entah apa yang harus dijelaskan oleh ayahmu?"
"Ini adalah masalahku!"
Memang Su Ceng-cau sedikit terkejut.
"bila Liu Kun menginginkan orang, carilah aku!"
In Thian-houw menggelengkan kepala.
"Lebih baik mencari ayahmu!"
Tiang-seng tertawa.
"Kiu-cian-swe menganggap ayahmu adalah orang yang dapat dipercaya. Sekarang terjadi hal ini. Kau harus ada pesan yang baik untuk Kiu-cian-swe!"
"Silahkan Kuncu..."
Kata In Thian-houw.
"Silahkan Lu Kongcu..."
Kata Tiang-seng. Su Ceng-cau terpaku. Lu Tan bertanya.
"Mengapa dipersilahkan pergi, kau tidak pergi?"
"Gara-gara kau belum pulih dan bertarung dengan mereka, jika aku tidak datang tepat waktu.."
"Ilmu silatku sampai sekarang belum pulih karena diberi racun Goan-kut-san oleh Kuncu. Aku belum berterima kasih kepadamu!"
Wajah Su Ceng-cau terlihat malu, tapi dia tetap berkata.
"Aku sendiri diam di rumah. Hari demi hari dilewati dengan tidak enak. Aku hanya berharap kau bisa tinggal untuk menemaniku sementara waktu. Siapa tahu kau ribut ingin pergi. Karena cemas, aku memikirkan cara-cara ini!"
Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 55 Lu Tan belum tahu Su Ceng-cau memperalat dia untuk memaksa Su Yan-hong menikahi dia.
Setelah mendengar kata-kata itu, Lu Tan luluh lagi.
Su Ceng-cau bisa melihat raut wajah.
Dia segera berkata.
"Aku juga tahu itu tidak baik tapi aku tidak punya cara lain lagi, yang pasti aku yang salah!"
Lu Tan merasa tidak enak.
"Sudahlah tidak apa-apa!"
"Betulkah kau tidak marah?"
"Kalau Kuncu mempunyai niat tidak baik, hari ini tidak akan datang menyelamatkan aku! Sekarang aku berharap Kuncu pulang agar tidak terjadi sesuatu!"
"Apakah aku orang yang tidak mau menolong orang yang dalam bahaya?"
Su Ceng-cau marah.
"Yang pasti tidak!"
Ada suara yang menjawab.
"Hanya saja In Thian-houw dan Tiang-seng adalah dua pejabat yang sangat baik, kita jangan tidak menghormati mereka!"
Semua orang menelusuri asal suara ini. Ternyata berasal dari Siau Sam Kongcu yang berdiri di atas atap. Di belakangnya bersinar bulan yang terang.
"Guru..."
Su Ceng-cau berteriak. Siau Sam Kongcu seperti terang turun di sisi Su Ceng-cau.
"Mengapa kalian masih belum pergi?"
Su Ceng-cau ingin berkata sesuatu. Siau Sam Kongcu segera membentak.
"Cepat pergi..."
Su Ceng-cau sudah lama mengikuti Siau Sam Kongcu, dia mengenal sifatnya dan tahu dia pasti sudah punya rencana, maka dia mendorong Lu Tan.
"Ayo, kita pergi!"
Tidak ada reaksi dari Lu Tan, Su Ceng-cau sudah menarik bajunya pergi.Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 56 Tiang-seng dan In Thian-houw yang melihat itu seperti mau bertindak, tapi akhirnya mereka tetap tinggal di tempat.
In Thian-houw melihat Siau Sam Kongcu.
"Apakah Siau-heng tahu apa akibatnya?"
"Kalau kalian tidak memberitahu Liu Kun, mana mungkin Liu Kun tahu?"
"Apakah Siau-heng tahu kami adalah orang kepercayaan Kiu-cian-swe?"
Kata In Thian-houw sam-bil tertawa.
"Apakah Siau-heng punya cara agar kita tidak melapor kepada Liu Kun?"
Kata Tiang-seng.
"Caranya sangat sederhana!"
Jawab Siau Sam Kongcu dingin.
"apa kalian berdua tahu ada semacam orang tidak bisa berbicara?"
"Siapa dia?"
"Orang mati...."
Begitu Siau Sam Kongcu mengeluarkan kata-kata ini, Tiang-seng juga berteriak.
"Hati-hati..."
Pada waktu bersamaan, pedang Siau Sam Kongcu sudah keluar dari sarung, pedangnya tetap adalah pedang yang sudah terputus 3 inchi.
Pedang Toan-cang-kiam segera menyerang ke tenggorokan In Thian-houw.
Reaksi In Thian-houw sangat lincah.
Dia menjepit pedang dengan kedua telapak tangannya.
Walau pun reaksi dia terlihat lebih lamban daripada Tiang-seng, tapi sebenarnya tidak.
Dia melihat jelas jurus Siau Sam Kongcu bisa ditahan dengan menjepit dua telapak.
Tiang-seng sangat mengenal sifat In Thian-houw, sebenarnya kata hati-hati itu ditujukan untuk Siau Sam Kongcu, karena mereka sudah terbiasa bekerja sama, dia segera menyerang dengan gencar.
Yang dia serang adalah nadi-nadi penting Siau Sam Kongcu.
Kalau sepasang telapak In Thian-houw bisa menguasai jurus pedang Siau Sam Kongcu, sepasang telapak Tiang-seng bisa sangat tepat.
Tapi sayang In Thian-houw melihat dengan sangat tepat, danLegenda Pendekar Ulat Sutra -2 57 walau sepasang telapaknya juga begitu cepat, tapi Siau Sam Kongcu lebih tepat.
Jurus pedang Siau Sam Kongcu terlihat tidak akan bisa berubah lagi, tapi tiba-tiba muncul perubahan pada gerakan pedangnya, ujung pedangnya tiba-tiba memutar.
Jika sepasang telapak In Thian-houw terus menepuk akan tertepuk ke ujung pedang.
Walaupun dia selalu berkata telapaknya keras seperti besi dan batu, tapi telapak tetap bukan besi.
Bila diteruskan, tangannya akan patah.
Dia sudah bisa menghitung perubahan ini maka langsung membalikan sepasang telapak, dengan tetap menepuk pungggung pedang.
PAK!
sepasang telapak tangannya menepuk seperti dua batu atau besi saling beradu.
Tapi bukan menepak di punggung pedang, melainkan sepasang telapak saling menepuk.
Pada waktu itu pedang Siau Sam Kongcu sudah berkelebat keluar dari sepasang telapak In Thian-houw dan mengarah ke arah sepasang telapaknya.
Semua perubahan ini di luar dugaan In Thian-houw.
Begitu merasa ada perubahan, Tiang-seng sudah terjatuh, sepasang telapak tangannya sudah patah.
Tubuh Siau Sam Kongcu terus bergerak.
Pedang menepis dari atas ke bawah ke tenggorokan Tiang-seng.
Tubuh Tiang-seng terbang keluar, terpelanting di atas genteng, dan mati seketika.
Pedang patah Siau Sam Kongcu berputar.
Dia menahan serangan telapak In Thian-houw.
Serangkaian gerakan ini dia lakukan dengan tepat juga berbahaya.
Di dalam bahaya terdapat kemenangan.
Bila ada sedikit kesalahan, bukannya akan menang melainkan akan kalah.
Serangan telapak In Thian-houw ditutup.
Di dalam keterkejutan, dia masih bisa memuji.
"Baik..."
Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 58 Kata 'baik' baru terucap dari mulutnya, tubuh nya segera dikurung oleh jala pedang.
Siau Sam Kongcu ingin menyelesaikan pertarungan ini dengan cepat, dia bertarung dengan tenaga penuh.
In Thian-houw terkurung di dalam jala pedang, empat bagian tubuhnya sudah terluka.
Walaupun bukan nadi penting, tapi keringat dingin sudah keluar.
Dia berpikir kalau terus-menerus seper ti ini, dia pasti akan mati, maka dia membentak dan memberontak.
Tapi begitu sepasang telapak baru menyerang, jala pedang sudah terpencar.
Siau Sam Kongcu tiba-tiba mundur 3 kaki, tapi dia segera maju lagi.
Cahaya pedang berkilauan, pedang sudah keluar dengan kekuatan yang sangat besar.
Ini benar-benar di luar dugaan In Thian-houw.
Dia ingin menghindar dari serangan pedang Siau Sam Kongcu tapi tidak sempat lagi.
Maka dia ingin mengorbankan telapak kirinya untuk menyambut serangan ini.
Dia merasa kekuatan telapaknya sangat kuat sehingga sanggup memecahkan batu.
Tapi serangan Siau Sam Kongcu dilakukan dengan tenaga penuh.
Telapak tangan terdiri dari darah dan daging, diguna kan untuk menyambut serangan pedang yang datang, pasti putus dan putus dengan cepat.
In Thian-houw sama sekali tidak merasakan sakit sama sekali.
Tadinya dia ingin membalas dengan tangan kanan dan memukul tubuh Siau Sam Kongcu.
Tapi pedang Siau Sam Kongcu dengan sangat kuat sudah menepis wajahnya.
Masuk ke daging tidak lebih dari satu inchi, tapi pedang ditepiskan dengan tenaga penuh.
In Thian-houw terbang jauh.
Wajahnya hampir terbelah dua, dia mati di atas genteng.
Pedang dimasukkan ke sarung.
Siau Sam Kongcu menarik nafas dan lari menghilang.
95-95-95 Setelah berjalan, Su Ceng-cau bertanya kepada Lu Tan.
"Mengapa hanya kau sendiri yang berada di An-lek-hu?"Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 59
"Hou-ya dan lain-lain sudah pergi ke Ya-cu-lim menemuiS utusan lampion dari Pek-lian-kau..."
"Ada apa?"
"Lan-lan diculik oleh Pek-lian-kau, Hou-ya terpaksa pergi!"
"Katanya Liu Kun bersekongkol dengan Pek-lian-kau, berarti itu adalah ide Liu Kun. Mengapa Liu Kun memaksa kaisar menurunkan perintah untuk memeriksa rumah An-lek-hu?"
"Kelihatannya Hou-ya dan lain-lain sudah menyelamatkan Lan-lan. Hal ini membuat Liu Kun marah. Anjing yang masuk ke gang buntu sekarang balik menggigit!"
Kata Lu Tan.
"Hou-ya sekarang pasti kembali melalui jalan rahasia. Jika diketahui oleh mata-mata yang diatur Liu Kun, dia akan membawa In Thian-houw dan Tiang-seng masuk ke jalan rahasia itu. Akibatnya tidak terbayangkan!"
"Di dalam An-lek-hu ada jalan rahasia?"
Lu Tan mengangguk.
"Sekarang sepertinya Hou-ya dan lain-lain sudah tahu ada mata-mata dan meninggalkan tempat melalui jalan rahasia!"
"Pintu keluar jalan rahasia berada di mana?"
"Bila kita ke sana mungkin masih sempat berkumpul dengan mereka!"
Kata-katanya belum selesai, Siau Sam Kongcu datang seperti terbang. Su Ceng-cau melayangkan tangan dan menyambut.
"Guru! Bagaimana dengan dua orang itu?"
"Mereka tidak akan mengejar lagi!"
"Guru memang hebat, apa mereka terluka?"
"Kalau hanya terluka, mereka akan pulang dan melapor pada Liu Kun, bukankah tetap repot?"
Su Ceng-cau terpaku tapi kemudian bersorak.
"Kalau tahu lebih awal, kita tidak perlu lari tergesa-gesa!"
Kemudian dia berkata lagi.
"tetap harus buru-buru!"Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 60
"Kalian mau ke mana?"
"Berkumpul dengan Hou-ya dan Tiong Toa-sianseng!"
Kata Lu Tan.
"Baik! Hati-hati di jalan!"
Dia berpesan kepada Su Ceng-cau.
"Guru tidak pergi ke sana?"
"Tidak!"
Siau Sam Kongcu membalikkan tubuh, segera berlari ke dalam kegelapan.
Su Ceng-cau tahu hubungan Siau Sam Kongcu dengan Tiong Toa-sianseng tidak begitu cocok.
Asalkan Siau Sam Kongcu tidak melarang dia bertemu dengan Su Yan-hong, dia sudah merasa cukup puas.
Maka dia tidak banyak bicara dan pergi tergesa-gesa.
96-96-96 Belum sampai di tempat keluar jalan rahasia An-lek-hu, Su Ceng-cau dan Lu Tan sudah dicegat oleh Siau Cu.
Tempat keluar rahasia ini bukan tempat yang aman.
Su Yan-hong dan lain-lain sudah pergi, hanya tinggal Siau Cu berada di sana.
Siau Cu mengkhawatirkan keselamatan Lu Tan.
Waktu dia kembali lagi ke An-lek-hu untuk mencari tahu keberadaan Lu Tan, dia melihat Lu Tan sedang berjalan mendatangi.
Yang pasti dia sangat senang.
Terhadap Su Ceng-cau, dia memang tidak terlalu suka.
Tapi setelah mengetahui Lu Tan telah diselamatkan olehnya, Siau Cu hanya diam.
97-97-97 Su Yan-hong dan lain-lain karena terpikir di dalam kota banyak mata-mata Liu Kun dan memang mereka tidak ada tempat aman untuk bersembunyi, maka mereka bersembunyi di Pek-in-koan di luar kota.
Sebenarnya itu adalah tempat Bu-tong-pai, tapi karena Lu Tan dan Fu Hiong-kun pemah tinggal di sana dan ketika diketahui oleh Liu Kun, tempat itu sudah ditutup.
Untung murid-murid Bu-tong-Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 61 pai bisa cepat meninggalkan Pek-in-koan maka mereka bisa menghindari pembunuhan besar-besaran.
Orang Liu Kun tidak tinggal di sana, hanya ada tempelan kertas di pintu bahwa tempatnya ditutup.
Bagi Su Yan-hong dan lain-lain, itu malah suatu jaminan.
Dinding tinggi Pek-in-koan bukan kesulitan bagi mereka.
Fu Hiong-kun segera memeriksa Ih-lan, dia harus tahu racun apa baru bisa memberi obat penawar.
Sebenarnya itu bukan hal yang mudah, tapi tidak disangka Lam-touw sangat mengenal racun itu, maka sangat membantu Fu Hiong-kun.
"Sifat kakakku selalu melindungi yang salah dan terlalu bebas. Jelas-jelas sudah tahu mereka bukan orang baik-baik, tapi tetap membiarkan mereka hidup. Kalau tidak, maka tidak akan terjadi masalah-masalah yang begitu rumit!"
Kata Lam-touw tanpa sengaja. Semua orang merasa aneh dengan kata-kata ini. Waktu ingin bertanya, Ih-lan sudah sadarkan diri. Dia membuka mata dan bengong melihat mereka.
"Lan-lan..."
Su Yan-hong mendekat. Ih-lan terus melihat Su Yan-hong dan tidak ada reaksi apa-apa. Su Yan-hong terkejut. Dia menggoyang-goyangkan pundak Ih-lan.
"Ih-lan, ini ayah, apakah kau tidak mengenal ayah?"
Lalu bertanya kepada Fu Hiong-kun.
"Nona Fu, mengapa bisa seperti ini?"
Fu Hiong-kun belum menjawab, Ih-lan sudah menangis dan masuk ke pelukan Su Yan-hong.
Lu Tan dan Su Ceng-cau datang, tapi tidak ada Siau Cu bersama dengan mereka.
Ternyata dia tetap tinggal di kota untuk mencari kabar.
98-98-98 Saat Siau Cu kembali ke Pek-in-koan, hari sudah siang.
Semua orang tahu pada saat yang bersamaan Liu Kun sudah memaksaLegenda Pendekar Ulat Sutra -2 62 kaisar menurunkan perintah agar Kang Pin menyerahkan posisi komandan pasukan.
Kang Pin tahu itu adalah akal busuk Liu Kun, maka dia segera mengambil kepu-tusan menolak menyerahkan posisi komandan pasukan.
Orang yang dikirim ke sana oleh Liu Kun selain Hongpo bersaudara, masih ada orang-orang Pek-lian-kau.
Karena tidak ada kesepakatan, mereka mulai bertarung.
Untung semua orang-orang Keluarga Lamkiong keluar bertarung, maka baru bisa memu kul mundur mereka.
Mengapa Keluarga Lamkiong ikut campur tangan dalam hal ini?
Tidak ada orang yang bisa menebak.
Siau Cu yakin keluarga Lamkiong adalah perkumpulan besar dan lurus.
Kecuali mereka tidak tahu, jika tahu mereka tidak akan berpangku tangan.
Apalagi Siau Cu sangat suka pada Lamkiong Bing-cu.
Satu-satunya orang di keluarga Lamkiong yang tidak disukai Siau Cu hanya Kiang Hong-sim.
"Liu Kun seperti anjing masuk ke jalan buntu, dia akan menggigit siapapun yang menyerang. Kelihatannya Kang Pin tidak mudah dilepaskan!"
Kata Su Yan-hong.
"Ada orang-orang keluarga Lamkiong di sisi Jenderal Kang, apakah tidak cukup aman?"
Dengan tenang Siau Cu berkata.
"Yang aku khawatirkan adalah Thian-te-siang-kun!"
Lu Tan dan Su Ceng-cau tidak tahu kelihaian Thian-te-siang-kun maka mereka tidak berkomentar tentang hal ini. Tapi Siau Cu terpaku di sana. Kata Tiong Toa-sianseng.
"Dengan tenaga kita semua memang, tidak bisa mengalahkan Thian-te-siang-kun, tapi setidaknya bisa mencegat mereka."
Lam-touw menggelengkan kepala.
"Walaupun kita mempunyai ilmu silat yang tinggi, tapi kita tidak bisa bergabung. Sedangkan mereka berdua kapanpun bisa menyatukan tenaga untuk bersama-sama memukul. PukulanLegenda Pendekar Ulat Sutra -2 63 mereka yang secara bergabung ini, tidak ada dari kita yang bisa menahannya!"
"Aku tahu Pek-kut-mo-kang adalah ilmu andalan dan rahasia dari Pek-lian-kau. Kekuatannya sangat besar!"
Kata Tiong Toa-sianseng.
"Tapi bukan berarti tidak ada cara untuk mengatasi ilmu mereka ini!"
Kata Lam-touw.
"Bagaimana caranya?"
Tiong Toa-sianseng bertanya.
"Sepengetahuanku, Pek-lian-kau mempunyai selempengan giok bernama Bi-giok-leng (perintah giok hijau). Itu adalah barang turun-menurun untuk Kau-cu. Katanya cara untuk memecahkan Pek-kut-mo-kang tertulis di sana!"
Kata Lam-touw.
"Bi-giok-leng?"
Tiong Toa-sianseng melihat Su Yan-hong.
"Yan-hong, di mana kau simpan?"
"Tadinya murid selalu menyimpannya di dalam rumah. Setelah dipikir-pikir itu adalah barang titipan orang lain, apalagi adalah barang tanda Kau-cu. Karena takut jatuh di tangan Liu Kun, maka beberapa hari ini aku selalu membawanya!"
Kata Su Yan-hong sambil mengeluarkan Bi-giok-leng dari dada. Lam-touw melihatnya dan berkata.
"Betul! Inilah Bi-giok-leng! Mengapa bisa berada di tanganmu?"
"Dalam pertarungan di Siong-san, Put-lo-sin-sian kalah di tangan Wan Fei-yang. Waktu dia terluka dan akan menghembuskan nafas terakhir, dia memberikan Bi-giok-leng kepada Boanpwee untuk disimpan. Dia takut Bi-giok-leng terjatuh di tangan Thian-te-siang-kun dan akan terjadi hal yang tidak dia inginkan!"
Kata Su Yan-hong.
"Mungkin ini kehendak Thian. Kejahatan Thian-te-siang-kun sudah berlebihan, mereka pasti tidak bisa lolos dari hukuman ini!"
"Tapi Boanpwee tidak melihat ada ke-istime-waan di dalam Bi-giok-leng!"
Kata Su Yan-hong.Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 64 Lam-touw menerima Bi-giok-leng dari Su Yan-hong lalu mendekati jendela dan mengarahkan ke matahari.
Matahari bersinar ke atas jendela.
Lam-touw duduk di atas jendela.
"Apakah kau melihatnya?"
Su Yan-hong melihat. Di bawah sinar matahari giok berubah menjadi jernih dan tembus pandang, muncullah huruf-huruf besar dan kecil sebesar kepala lalat.
"Dengan konsentrasi penuh, tenaga untuk mengisi seluruh tubuh. Dengan nafas mengisi seluruh tubuh. Dengan tenaga keras tapi bukan tenaga lembut. Orang tidak bisa meninggalkan nafas dan nafas tidak bisa meninggalkan konsentrasi penuh!"
Itulah tulisan di dalam lempengan giok. Su Yan-hong menggelengkan kepala.
"Apa maksudnya?"
Lam-touw tidak ada reaksi, tapi Tiong Toa-sianseng sudah berteriak.
"Betul! Memang begitu!"
"Pek-kut-mo-kang menyedot sari pati anak-anak laki-laki dan perempuan. Jiwa, nafas, tenaga bisa menembus. Tiga menjadi satu. Orang tidak bisa meninggalkan nafas, nafas tidak bisa meninggalkan jiwa. Walaupun adalah ilmu sesat, tapi tetap adalah ilmu biasa!"
Kata Lam-touw.
"Kalau dengan aliran menjadi gaya, menggunakan jiwa dan nafas itulah kualitas Budha dan dewa. Dengan kualitas Budha dan dewa, walaupun lawan memakai ilmu sesat tapi tidak akan sulit dibersihkan!"
Kata Tiong Toa-sianseng. Su Yan-hong sedikit mengerti.
"Maksud guru, semua orang harus mempelajari kualitas Budha atau dewa?"
Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 65
"Kualitas ilmu Budha atau dewa tidak bisa dipelajari dan dikuasai oleh orang biasa, apalagi sekarang sudah tidak cukup waktu untuk belajar!"
"Apa yang harus kita lakukan?"
"Memecahkan pusat perhatian mereka!"
Kata Tiong Toa-sianseng.
"Berarti yang biasa kita sebut dengan istilah Si-bun (Pintu mati)!"
Kata Lam-touw. Kata Tiong Toa-sianseng.
"Masalahnya nadi manusia begitu banyak. Nadi yang mana Si-bun itu?"
"Masih ada satu lagi masalah, pada orang yang sudah berhasil menguasai Pek-kut-mo-kang, Si-bun bisa bergerak semaunya walaupun hanya ada satu!"
Kata Lam-touw.
"Apa?"
Tiong Toa-sianseng terkejut.
"Tapi tidak perlu khawatir!"
Kata Lam-touw lagi.
"walaupun bisa bergerak, tapi tidak akan keluar dari Leng-tai, Tai-yang, Tiong-hu, tiga nadi ini!"
"Berarti Si-bun ada di tiga tempat ini?"
"Kalau bernasib baik, sekali pukul langsung kena, itu akan lebih mudah!"
Lam-touw menarik nafas.
"sampai sekarang bukankah nasib kita juga lumayan bagus?"
Tidak ada yang membuka suara.
Sebenarnya bukankah nasib mereka lumayan bagus?
Perkiraan Su Yan-hong tidak salah.
Tindakan Liu Kun berikutnya adalah membunuh Kang Pin.
Orang yang dia kirim adalah Thian-te-siang-kun.
Lo-taikun sudah terpikir ini akan terjadi.
Dia menjelaskan kepada Kang Pin dan merundingkan cara untuk menghadapinya.Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 66 Apa yang mereka pikir, juga terpikirkan oleh Thian-te-siang-kun.
Tapi mereka tidak merubah renca na awal dan terus menjalaninya.
Dengan ilmu silat mereka sekarang, Thian-te-siang-kun tidak takut kepada apapun juga tidak perlu menghindar dari siapapun.
Rencana mereka sangat sederhana, yaitu waktu orang Kang Pin sedang tidak hati-hati, mereka akan masuk dan membunuh Kang Pin.
Tadinya mereka ingin menyerang dari pintu utama karena mereka tidak mau repot, maka mereka merubahnya menjadi penyerangan tiba-tiba.
Mereka sudah mencari tahu di mana kamar Kang Pin.
Dengan ilmu silat mereka, menghindari prajurit yang berpatroli sangat mudah.
Mereka berada di tempat yang tinggi.
Mereka sudah melihat jelas ada seseorang sedang membaca buku di meja.
Itulah Kang Pin.
Mereka tidak tertarik untuk menunggu kesem patan, mereka langsung keluar dari tempat persem-y bunyian, melewati genteng-genteng dan langsung mendekati jendela dan menyerang Kang Pin yang sedang membaca.
Kecepatan membuat mereka sendiri merasa | puas.
Tapi Kang Pin yang di dalam tidak menujukkan reaksi apapun.
Mereka mengetahui pasti ada yang tidak beres.
Tapi mereka sudah berada di kamar, serangan tetap dilancarkan.
Kang Pin terkena telapak dan terbang menabrak ke dinding.
Tubuhnya hancur beberapa bagian.
Tapi itu hanyalah orang-orangan yang terbuat dari rumput.
Kepala orang-orangan diikat tali maka bisa bergoyang-goyang.
"Kita tertipu..."
Kata Thian-kun tertawa.
"Sekarang apa yang harus kita lakukan?"
Jawab Te-kun.
"Yang pasti pergi dari sini!"
Walaupun begitu, gerakan Thian-kun berat dan malas.
Te-kun juga seperti itu.
Karena sudah berhasil menguasai Pek-kut-mo-kang maka semua jebakan tidak ditaruh di mata.Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 67 Di luar kamar lampu-lampu sudah terang.
Selain Kang Pin, masih ada Han Tau dan prajurit-prajurit, lima menantu dari keluarga Lamkiong juga ada di sana.
Thian-te-siang-kun membuka pintu seperti tidak terjadi apa-apa.
Mereka tidak menduga hal ini.
Thian-kun tertawa, menggelengkan kepala.
"Kita tertarik oleh anak-anak!"
"Yang mana Kang Pin?"
Tanya Te-kun. Kang Pin keluar.
"Pembunuh yang berani, cepatlah serahkan diri!"
Thian-te-siang-kun seperti mendengar sebuah lelucon, Mereka tertawa lepas dan berjalan mendekati Kang Pin.
Tong Goat-go yang pertama-tama melepaskan senjata rahasia kepada Thian-te-siang-kun.
Thian-te-siang-kun sengaja memamerkan ilmunya.
Mereka menggunakan Pek-kut-mo-kang, sepasang tangan yang seperti hanya tinggal tulang putih dengan asal-asalan mencengkram.
Mereka sudah mencengkram semua senjata rahasia yang ditembakkan ke arah mereka dan dikepal menjadi setumpuk rongsokan besi.
Cia Soh-ciu, Kiang Hong-sim, Bwe Au-siang, Tiong Bok-lan berturut-turut keluar.
Senjata bergerak, mereka sudah mencegat Thian-te-siang-kun.
Mereka tahu bukan hal yang mudah untuk mengalahkan Thian-te-siang-kun, tapi mereka tetap berusaha melakukannya.
Hanya beberapa jurus, Thian-te-siang-kun sudah memaksa lima menantu keluarga Lamkiong mundur.
Mereka terus mengejar Kang Pin.
Prajurit-prajurit mencoba menghadang.
Lam-kiong Bing-cu dan Lamkiong Po datang menghadang di depan Thian-te-siang-kun.
Thian-kun tertawa.
"Ternyata Lo-taikun juga datang kemari!"
Lo-taikun menaruh tongkat kepala naga, ! dengan dingin berkata.Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 68
"Thian-te-siang-kun berada di Pek-lian-kau, mengapa harus membuat kekacauan di sini?"
Thian-kun malah balik bertanya.
"Keluarga Lamkiong sangat terkenal, untuk apa kalian campur tangan dalam masalah ini?"
"Liu Kun mendatangkan malapetaka bagi negara dan rakyat..."
"Masing-masing orang mempunyai keinginan dan masing-masing menjalankan keinginannya, un-tuk apa kau terus omong kosong?"
Kata Thian-kun.
"tujuan kita adalah Kang Pin, kalau ada orang menghadang kita melakukan hal ini, mereka akan mendatangkan kesulitan untuk diri sendiri dan akan mencari mati sendiri!"
"Memang kita tidak perlu banyak bicara!"
Lo-taikun menghentakkan tongkat ke bawah dengan kuat, tanah bergetar. Lamkiong Po keluar.
"Biarlah masalah ini diselesaikan oleh putramu!"
Lo-taikun belum berkata, Thian-kun sudah berkata.
"Katanya generasi keluarga Lamkiong, dari lima saudara sudah mati empat, apakah yang tersisa adalah dirimu?"
"Apakah kau ini Lamkiong Po?"
Tanya Thian-kun. Lamkiong Po belum menjawab, Thian-kun bertanya lagi kepada Lo-taikun.
"Keluarga Lamkiong sudah punya empat janda, apakah belum cukup?"
Wajah Lo-taikun jadi muram.
"Omong kosong!"
Pedang Lamkiong Po sudah keluar dari sarung. Lamkiong Bing-cu juga tidak lambat. Dia berlari ke samping Lamkiong Po dan berkata.
"Paman keempat, aku bersama denganmu membunuh dua siluman ini!"Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 69
"Baik..."
Tapi tongkat berkepala naga sudah mencegat mereka.
"kalian mundur!"
Lamkiong Po dan Bing-cu sangat paham sifat Lo-taikun, terpaksa mereka mundur. Lo-taikun langsung berkata kepada Thian-te-siang-kun.
"Kalau kalian berdua tidak mau berhenti, aku tidak bisa berkata apa-apa!"
"Seharusnya dari tadi sudah bertarung!"
Thian-te-siang-kun menyerang.
Tongkat Lo-taikun berputar.
Ujung tongkat menyerang telapak Thian-kun.
Sebelum mengenai telapak, arah serangan langsung berubah, kepala tongkat menyerang wajah Te-kun.
Dua telapak Te-kun menyerang kepala tongkat.
Thian-kun menyerang dari arah yang lain.
Dengan jurus 'Sin-liong-pek-bwe' (Naga sakti menggoyang ekor) Lo-taikun meloncat ke atas, kepala tongkat menyapu kepala Thian-te-siang-kun.
Thian-te-siang-kun ikut meloncat.
Empat telapak sama-sama menyerang, menyambut serangan tongkat kepala naga dari Lo-taikun.
Walaupun umur Lo-taikun sudah tua dan tongkat begitu berat, tapi waktu tongkat berada di tangannya, dia bisa menggunakan seperti ringan, seperti berubah menjadi naga hidup terbang di udara dan tubuhnya sedikitpun tidak terganggu.
Berturut-turut tujuh jurus sudah dikeluarkan.
Serangan Thian-te-siang-kun sudah ditahan dengan baik.
Thian-te-siang-kun saling melihat.
Tubuhnya bersalto ke belakang, lalu masing-masing mengeluarkan telapak kiri dan kanan, saling menopang, mereka segera akan membunuh.
Tiba-tiba Tiong Toa-sian-seng, Su Yan-hong, Lam-touw, dan Siau Cu meloncat turun dari genteng dan menahan di depan Kang Pin.
Kang Pin terlihat senang.
Tapi wajah Thian-te-siang-kun sudah cemberut.Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 70
"Kalian lagi?"
Tiong Toa-sianseng tersenyum.
"Waktu di Ya-cu-lim kami tergesa-gesa, belum melihat Pek-kut-mo-kang dari kalian berdua, maka hari ini kami terpaksa datang kemari!"
"Di Ya-cu-lim kalian beruntung bisa kabur. Aku kira kalian bisa tahu diri dan meninggalkan ibukota malam itu juga!"
Kata Thian-kun.
"Mereka siap mengantar kematian, kita harus membantu mereka untuk sampai pada tujuan!"
Kata Te-kun.
"Kalian ada berapa orang, bertarunglah bersamaan!"
Kata Thian-kun. Tiong Toa-sianseng maju selangkah dan ingin berbicara dengan Lo-taikun, tapi Lo-taikun sudah mengeluarkan suara.
"Antara aku dan mereka masih belum tahu siapa yang menang atau kalah!"
"Kami tidak berani merepotkan Lo-taikun. Malam itu di Ya-cu-lim harus ada yang menang atau kalah!"
Kata Su Yan-hong.
"Betul, kalian guru dan murid pasti kalah!"
Kata Thian-kun.
"Salah!"
Tiong Toa-sianseng menggelengkan kepala.
"pada malam itu kami ingin menyelamatkan orang. Apalagi lima utusan lampion dan pembunuh-pembunuh sedang mengepung kami. Kata orang, laki-laki baik tidak akan merugikan dirinya, maka kami terpaksa pergi!"
"Ternyata seperti itu!"
Kata Thian-kun.
"Berarti sekarang kalian guru dan murid \ lagi?"
Tanya Te-kun.
"Itu sudah cukup!"
Tiong Toa-sianseng mencabut pedang.
"Bagaimana kalau kalah? Apakah siap keluar dari dunia persilatan?"
Tanya Te-kun.
"Tidak apa-apa!"
Tiong Toa-sianseng tertawa.
"kalau kalian kalah, apakah juga sama?"
Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 71 Thian-te-siang-kun mendengar Tiong Toa-sianseng berkata dengan serius, mereka merasa aneh dan saling melihat. Thian-kun tertawa dingin.
"Sekarang apa yang dikatakan semua orang adalah omong kosong, setelah ada yang menang dan kalah baru kita bicarakan!"
Tiong Toa-sianseng menggelengkan kepala.
"Tetap adalah siluman dan bukan orang lurus, tidak seperti orang dunia persilatan bisa mengeluarkan kata-kata tidak pernah menyesal. Mereka terang-terangan dan jelas!"
"Sembarangan bicara!"
Ilmu Pek-kut-mo-kang segera digunakan.
Tekun tidak lambat.
Dengan Thian-kun bersama-sama maju dan sama-sama membentak dan menyerang Tiong Toa-sianseng dan Su Yan-hong.
Tiong Toa-sianseng segera membentak.
"Jurus pertama Thian-liong..."
Su Yan-hong segera mendekat kepada Tiong Toa-sianseng.
Tubuh mereka sama-sama bergerak.
Dua pedang bersama-sama menyambut telapak yang datang.
Pedang belum mengenai telapak, tubuh Tiong Toa-sianseng dan Su Yan-hong sudah berubah lagi.
Mereka melepaskan Te-kun, hanya menyerang Thian-kun.
Pedang Tiong Toa-sianseng menyerang jurus-jurus telapak Thian-kun.
Pedang Su Yan-hong menyerang Tiong-hu-hiat milik Thian-kun.
Wajah Thian-kun berubah.
Dia sedikit mundur lalu dengan sepasang telapak mencegat pedang Su Yan-hong.
Perubahan sangat cepat.
Pedang Tiong Toa-sianseng ingin mencegat juga sudah tidak sempat, tapi Tiong Toa-sianseng tidak mencegat atau mengejar.
Tubuh bergerak, Tiong Toa-sianseng berputar melewati Su Yan-hong.
Kemudian pedang panjangnya bergerak.
Dia menyerang Tiong-hu-hiat milik Thian-kun.
Gerakan Te-kun tidak kurang cepat, tapi jurus Tiong Toa-sianseng berputar dan melewati Su Yan-hong, benar-benar di luar dugaan Te-kun.Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 72 Thian-kun juga merasa terkejut.
Tapi kali ini dia tidak mundur juga tidak melayani Tiong Toa-sianseng, sepasang telapaknya masih menyerang Su Yan-hong.
Tiong Toa-sianseng segera sadar, Si-bun (Pintu mati) Thian-kun sudah bergeser dari Tiong-hu-jiat.
Maka jurus pedang segera berubah.
Sekarang dia menyerang Tai-yang-hiat (di dekat sisi telinga) milik Thian-kun.
Dia sedang berpikir Thian-kun sudah ' mengeser Si-bun ke Tai-yang-hiat, hanya Tiong Toa-i sianseng belum yakin.
"Kenapa...."
Tubuh Thian-kun berhenti.
Dua !
telapak tidak menyerang Su Yan-hong lagi, tapi dia menghindari serangan ke Tai-yang-hiat nya.
Tiong Toa-sianseng tidak berhenti, pedangnya terus menyerang ke Tai-yang-hiat milik Thian-kun.
Thian-kun terus menjambut 12 kali serangan pedang dari Tiong Toa-sianseng kemudian dia berubah dari bertahan menjadi menyerang Tiong Toa-sianseng.
Setelah Su Yan-hong dicegat Te-kun, jurus pedang sudah digunakan.
Dalam posisi bertahan dia tetap mencari kesempatan menyerang.
Jika ada kesempatan, dia segera menyerang Tiong-hu-hiat, Leng-tai-hiat dan Tai-yang-hiat.
Tapi kesempatan yang dia dapatkan tidak banyak.
Begitu mendapat kesempatan, dia segera menyerang dan mengancam nyawa Te-kun.
Terlihat Te-kun tidak terbiasa.
Kadang-kadang dia terlihat kerepotan.
Thian-kun juga seperti itu.
Pek-kut-mo-kang sudah mereka kuasai.
Mereka juga tahu di mana Si-bun nya berada, tapi mereka sama sekali tidak menyangka lawan juga tahu.
Walaupun umur Tiong Toa-sianseng sudah tua, tapi tenaga dalamnya sangat kuat dan jarang yang bisa menandingi.
Thian-liong-pat-sut di tangannya terlihat lincah dan cepat.
Tidak kalah dari Su Yan-hong.
Perubahan Thian-liong-pat-sut bisa menjaga arah dari mana saja.
Dia meloncat tinggi.
Melihat dari atas ke bawah.
Pedang bisa terus menyerang Leng-tai-hiat milik Thian-kun.
Thian-kun yang diLegenda Pendekar Ulat Sutra -2 73 bawah terlihat sangat tidak terbiasa, tapi dia meloncat ke atas untuk menyerang.
Kesempatan tidak banyak.
Tiong Toa-sianseng belum selesai menyerang, Si-bun dari Thian-kun sudah digeser lagi.
Tiong Toa-sianseng tidak terus berada di atas.
Kali ini dia turun di belakang Thian-kun dan bisa memunggungi Su Yan-hong.
Dua pedang bersatu.
Thian-kun dan Tekun dipisahkan oleh mereka.
Jika Siang-kun bergabung, Pek-kut-mo-kang baru bisa dikeluarkan dengan sempurna, Thian-liong-pat-sut juga harus menyatukan dua pedang, baru mempunyai tenaga yang lebih dasyat.
Sekarang tidak hanya dua pedang bisa bersatu, mereka juga bisa berhasil memisahkan Thian-te-siang-kun, sepasang pedang bisa saling mengisi kekurangan dan kelebihan, dan sama-sama menyerang Si-bun mereka.
Yang pasti Thian-te-siang-kun merasa sangat kesulitan.
Mereka berusaha menyatu lagi, tapi mereka tidak bisa melewati hadangan dua pedang dari Tiong Toa-siansengn dan Su Yan-hong.
Awalnya mereka hanya curiga, sampai sekarang baru mereka yakin Tiong Toa-sianseng dan Su Yan-hong sudah tahu rahasia Pek-kut-mo-kang.
"Siapa yang memberitahu rahasia Pek-kut-mo-kang..."
Thian-kun kelepasan berkata.
"Di dunia ini tidak ada ilmu silat yang tidak ada kelemahan. Mengingat tidak mudah kalian berlatih ilmu silat ini, maka malam ini kita bertarung sampai di sini saja!"
"Tidak semudah itu!"
Te-kun menggelengkan kepala.
"Kalau kalian tidak pergi, terpaksa kami guru dan murid akan melakukan pembunuhan!"
Tiong Toa-sianseng terus mengatur nafas.
Bajunya terus mengeluarkan suara.
Pedang yang di tangannya terlihat bertambah terang.
Baju Su Yan-hong juga bergerak walaupun tidak ada angin bertiup.
Dia dan Tiong Toa-sianseng langsung menggunakan jurus kelima dari Thian-liong-pat-sut!Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 74 Mereka mendengar Tiong Toa-sianseng berkata dengan serius, hati mereka jadi berdebar-debar.
Keluarga Lamkiong, Lam-touw dan Siau Cu melihat Tiong Toa-sianseng dan Su Yan-hong berada di atas angin, mereka siap bertindak.
Thian-kun meli hatnya, dia cepat berkata.
"Lo-ji, mari kita pergi!"
Te-kun merasa tidak beruntung maka dia cepat mengangguk. Kata Thian-kun dengan dingin.
"Biarlah kami berdua pergi, harap kalian berdua bisa selamat. Biar kami dua saudara bisa membuat perhitungan lagi dengan kalian!"
Mereka berdua meloncat ke atas genteng dan berkumpul menjadi satu, kemudian tubuh bergerak pergi, mereka sudah menghilang dalam kegelapan. Kang Pin cepat datang.
"Hou-ya, mengapa kalian tidak sekalian membereskan mereka agar tidak ada kerepotan di kemudian hari?"
"Kita masuk dulu baru dibicarakan!"
Kata Su Yan-hong. 99-99-99 Di dalam ruangan tamu, Kang Pin segera berkata.
"Tindakan Thian-te-siang-kun pasti ide Liu Kun!"
"Tidak diragukan lagi!"
Sahut Su Yan-hong.
"maka aku khawatir..."
"Hou-ya mengkhawatirkan apa..."
Kaisar..Su Yan-hong menarik nafas. Kang Pin menggelengkan kepala. Dia ingin mengatakan sesuatu tapi Lo-taikun sudah bertanya dengan aneh.
"Tadi melihat Tiong Toa-sianseng dan Hou-ya bergabung, Thian-te-siang-kun sudah tidak berdaya. Mengapa tidak mengambil kesempatan untuk membunuh mereka agar jadi bersih dan selesai?"
Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 75 Su Yan-hong melihat Tiong Toa-sianseng dan menarik nafas.
"Sejujurnya, kami tidak yakin bisa membunuh mereka!"
"Oh?"
Lo-taikun merasa curiga. Su Yan-hong menjelaskan.
"Rahasia memecahkan Pek-kut-mo-kang kita dapatkan dari Bi-giok-Ieng, tidak diragukan lagi pasti akan berhasil. Tapi karena tergesa-gesa, kita tidak mempunyai waktu untuk berlatih. Walaupun tadi kita bisa memisahkan mereka, tapi kita tidak bisa mengalahkan mereka pada kesempatan tadi!"
"Ternyata begitu..."
Kata Lo-taikun mengangguk.
"Nenek tua ini mengira kalian memaafkan mereka!"
Tiong Toa-sianseng tertawa.
"Apa yang dilakukan oleh Thian-te-siang-kun sudah melewati batas kemanusiaan, sulit mendapatkan kesempatan untuk membunuh mereka. Kita akan melaksanakannya demi Tuhan!"
Lam-touw menyela.
"Untung kalian tidak memberitahu rahasia ada di Bi-giok-leng. Kalau tidak, dua siluman mana mungkin bisa cepat pergi?"
"Berturut-turut gagal, apa yang harus mereka laporkan kepada Liu Kun?"
Kata Tiong Toa-sianseng.
"Hahaha! Menurutku mereka tidak akan kembali ke Liu Kun lagi!"
"Apapun yang terjadi, pertarungan kita dengan Liu Kun pasti akan terjadi!"
Kata Su Yan-hong.
"Baginda..."
Kang Pin ragu.
"Sampai sekarang, hanya dengan membunuh Liu Kun baru bisa menyelamatkan baginda. Sekarang langsung pergi sebelum hari terang agar Liu Kun tidak ada persiapan!"
"Hou-ya memang benar!"
Kang Pin tidak berkomentar.
"Pasukan Liu Kun sangat kuat!"
Kata Kao Seng.
"Kita tidak perlu banyak berpikir lagi!"
Kata Su Yan-hong.Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 76 Tiba-tiba dia teringat Lan-lan.
Dia tidak tahu Liu Kun sekuat apa.
Apakah semua orang sangat setia kepada Liu Kun?
Dia juga tidak tahu apakah mereka bisa selamat?
Atau bisa menang?
Pertarungan di medan pertempuran tidak sama seperti pertarungan di dunia persilatan.
Hanya orang yang pernah ke medan pertempuran baru tahu bahaya seperti apa yang harus dihadapi!
Ih-lan dilindungi Fu Hiong-kun dan Lu Tan masuk ke rumah komandan panglima penjaga kota.
Dia masih anak-anak, mana bisa melihat suasana di sana sangat tegang.
Karena beberapa hari yang lalu dia mengalami musibah maka sampai sekarang dia masih ketakutan, seringkali bermimpi buruk dan sulit untuk tidur.
Begitu bangun dia langsung terkejut dan berteriak.
"Ayah! Ayah!"
Su Yan-hong baru mengatur semua. Begitu mendengar teriakan Ih-lan, dia langsung masuk ke kamarnya. Melihat ayahnya, Ih-Lan-langsung masuk ke dalam pelukannya.
"Ayah, dua siluman datang lagi!"
Ih-lan menangis. Su Yan-hong tahu apa yang terjadi, dia segera menghibur.
"Ada ayah di sini, kau tidak perlu takut."
Ih-lan melihat sekeliling.
"Aku ingin pulang!"
Su Yan-hong terpaku.
"Hari ini sudah terlalu malam, tinggallah di sini dulu!"
"Aku ingin pulang sekarang, aku tidak suka tempat ini!"Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 77
"Tidak mau juga harus mau, sementara ini kita belum bisa pulang."
Su Yan-hong menarik nafas.
"Ayah harus berada di sini untuk mengurus beberapa hal. Bila sudah selesai, baru kita pulang!"
"Aku ingin pulang sekarang!"
Ih-lan berteriak. Su Yan-hong yang sedang mempunyai banyak masalah, dia membentak.
"Diam!"
Dibentak Su Yan-hong, Ih-lan segera menangis. Hati Su Yan-hong tidak enak, dia segera berkata pelan-pelan.
"Lan-lan, dengarkan kata-kata ayah!"
Ih-lan marah dan terus menangis. Su Yan-hong tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Fu Hiong-kun masuk. Dia kebetulan lewat, mendengar tangisan Ih-lan dan mengira sesuatu telah terjadi.
"Lan-lan!"
Dia memanggil di luar pintu kamar. Ih-lan segera menyahut.
"Cici, aku ingin pulang!"
Fu Hiong-kun segera mengerti apa yang terjadi, dia melihat Su Yan-hong.
"Nona Fu!"
Su Yan-hong menarik nafas.
"Lan-lan, Cici di sini untuk menemanimu!"
Fu Hiong-kun menggendong Ih-lan dan meng hapus air matanya. Melihatnya, Su Yan-hong menggelengkan kepala.
"Nona Fu, aku sedang punya banyak masalah, maka aku sudah mengejutkan dia!"
"Serahkan Lan-lan kepadaku!"
Kata Fu Hiong-kun.
Hati Su Yan-hong tersentuh, dia melihat Fu FJiong-kun dengan bengong.
Tapi Fu Hiong-kun sama sekali tidak memperhatikan, dia menggendong Ih-lan ke tempat tidur.
Su Yan-hong tertawa kecut dan keluar dari kamar.Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 78
"Tidur di sini akan bermimpi buruk, aku ingin pulang!"
Kata Ih-lan.
"Lan-lan, apakah kau tidak sayang kepada ayahmu?"
Ih-lan menggelengkan kepala. Fu Hiong-kun bertanya lagi.
"Ayahmu sedang mempunyai banyak masalah, apakah kau akan membantu dia membereskan masalah ini?"
"Tapi aku tidak punya tenaga yang besar!"
"Tidak perlu tenaga, hanya mengikuti apa yang dia katakan, itu berarti kau sudah membantu ayah!" 'Hanya begitu?' Ih-lan adalah anak yang pengertian. Ih-lan berhenti menangis, dia sudah tahu dia salah. Fu Hiong-kun melihat Ih-lan. Dia mulai tenang. 100-100-100 Su Yan-hong terus berdiri di luar. Setelah beberapa lama, Fu Hiong-kun baru keluar. Dia segera bertanya.
"Bagaimana dengan Ih-lan? Apakah dia sudah tidur? Kami ayah dan anak selalu merepotkanmu!"
"Hou-ya berkata terlalu berat!"
"Hiong-kun!"
Fu Hiong-kun terpaku. Su Yan-hong segera berkata.
"Aku memanggilmu seperti itu karena tidak ingin kau terus memanggiku Hou-ya!"
"Ini..."
Fu Hiong-kun diam.
"Kita adalah orang dunia persilatan, tidak perlu begitu sungkan!"
"Kapan Hou-ya kembali lagi ke dunia persilatan?"
"Aku kira kau akan mengerti aku!"
Su Yan-hong tertawa kecut.
"Aku mengerti!"
Su Yan-hong segera merasa senang. Dia men-cengkram tangan Fu Hiong-kun.
"Hiong-kun, apakah kau setuju?"Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 79
"Aku setuju apa?"
Fu Hiong-kun tidak mengerti, dia ingin menarik tangannya yang dicengkram Su Yan-hong, tapi akhirnya tidak jadi.
Ada yang ingin Su Yan-hong katakan, tapi dia menelan kembali kata-katanya, lalu dia berkata.
"Lebih baik kau jangan ikut dalam perang besok!"
Fu Hiong-kun merasa aneh. Su Yan-hong segera menjelaskan.
"Medan pertempuran tidak seperti bertarung di dunia persilatan. Itu terlalu berbahaya!"
Fu Hiong-kun menggelengkan kepala.
"Aku kira kau bisa mengerti aku, tapi ternyata tidak!"
"Oh?"
Su Yan-hong tidak mengerti.
"Kalau aku memaksa pergi, apakah kau akan melarang?"
Su Yan-hong terpaku, lalu menjawab.
"Tidak akan!"
"Bukankah ini sudah beres?"
Su Yan-hong tertawa kecut.
"Kalau aku bisa seperti guru tanpa ada beban, itu akan lebih baik!"
"Kau adalah pejabat penting di kerajaan, mana mungkin kau melepaskan tanggung jawab dan tidak mengkhawatirkan kaisar?"
"Setelah masalah ini beres, aku benar-benar ingin membawa Lan-lan meninggalkan ibukota, kembali lagi ke dunia persilatan dan tidak lagi mengurus masalah-masalah di kerajaan!"
Dia melihat Fu Hiong-kun.
"Saat itu, apa kau mau ikut dengan kami?"
Pernyataan Su Yan-hong ini benar-benar sangat jelas. Fu Hiong-kun tidak bisa berpura-pura tidak mengerti lagi. Dia menggelengkan kepala.Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 80
"Sekarang ini semua masalah lain harus menunggu. Setelah masalah besok sudah selesai, baru kita bicarakan!"
"Masalah besok selesai? Kalau terjadi sesuatu denganku, Lan-lan akan menjadi yatim piatu."
"Yatim piatu?"
Fu Hiong-kun berkata sendiri.
"Aku mengenal seorang yatim piatu, bukankah terakhir dia menjadi seorang pendekar dan sangat terkenal di dunia ini?"
"Apa yang kau katakan?"
"Tidak ada! Aku harus kembali ke kamar untuk melihat apakah Lan-lan bisa tertidur dengan nyenyak."
"Baiklah!"
Setelah Fu Hiong-kun pergi, Su Yan-hong hanya bisa menarik nafas.
— Dia tidak bisa ikut Fu Hiong-kun masuk melihat Ih-lan.
Dia lalu masuk ke dalam kamar Lam-touw.
Lam-touw belum tidur.
Dia sedang mengobrol dengan Tiong Toa-sianseng.
Melihat Su Yan-hong masuk, dia segera berkata.
"Semua kata-kata sungkan sudah disampaikan gurumu, maka kau jangan mengulanginya lagi!"
Su Yan-hong tertawa.
"Kalau bukan karena Cianpwee yang mem-beritahu rahasia memecahkan Pek-kut-mo-kang berada di dalam Bi-giok-leng, kami benar-benar tidak tahu apa yang akan terjadi!"
"Ini lagi yang dibicarakan, berikutnya apakah kau akan bertanya siapa aku sebenarnya?"
Su Yan-hong ingin mengatakan sesuatu, tapi Lam-touw sudah berkata.
"Ketua Pek-lian-kau, Put-lo Sin-sian bermarga Kao dan bernama Siang-thian. Aku bernama Kao Siau-thian. Dia adalah kakak dan aku adalah adik!"
Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 81 Su Yan-hong bemar-benar terkejut, tapi Tiong Toa-sianseng biasa-biasa saja. Kelihatannya dia sudah tahu rahasia ini.
"Apakah Cianpwee juga orang Pek-lian-kau?"
Tanya Su Yan-hong.
"Sekarangpun masih orang Pek-lian-kau!"
"Hanya saja Cianpwee tidak suka dengan hidup dan gaya orang-orang Pek-lian-kau?"
"Sedikit banyak seperti itu!"
Lam-touw tertawa.
"Tapi bukan hanya sekarang, sudah beberapa puluh tahun aku tidak berada di Pek-Iian-kau!"
"Karena berbeda pendapat dengan Put-lo-sin-sian?"
"Aku telah berbicara dengan dia, juga kalah ilmu silat darinya, maka terpaksa aku bersembunyi!"
"Sekaranglah waktunya Cianpwee membersih kan perkumpulan!"
"Aku sudah tua, harus melihat taraf prestasi Siau Cu!"
"Waktu Put-lo Sin-sian hampir mati, dia mera sa menyesal, maka menyerahkan Bi-giok-leng kepada Boanpwee. Dia ingin Boanpwee mencari penerus Pek-lian-kau, sekarang sudah terlaksana!"
Dari dada baju, Su Yan-hong mengeluarkan Bi-giok-leng dengan kedua tangan menyerahkannya kepada Lam-touw. Lam-touw tidak segera menerima. Dia hanya bertanya.
"Apakah kau juga merasa Siau Cu adalah orang yang tepat?"
Tanpa perlu berpikir panjang, Su Yan-hong segera menjawab.
"Betul, hanya sekarang dia masih belum dewasa. Itu bukan hal penting. Nanti setelah lewat beberapa lama, dia bisa menjadi orang penting!"
Lam-touw baru menerima Bi-giok-leng itu dengan hati-hati menyimpannya di dada! "Di mana Siau Cu sekarang?" .anya Su Yan-hong.Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 82
"Kalau aku tidak salah tebak, dia sedang bersama Lamkiong Bing-cu!"
Lam-touw tertawa.
"Bing-cu adalah gadis yang baik!"
Tiba-tiba Lam-touw seperti teringat sesuatu, dia berdiri.
"Aku harus minta maaf pada Lo-taikun!"
"Pergi atau tidak sebenarnya tidak apa-apa, tapi sebaiknya kau pergi!"
Kata Tiong Toa-sianseng.
Terhadap keluarga Lamkiong, Tiong Toa-sianseng punya perasaan lain.
Dia mengeluh terhadap pengalaman pahit putrinya, juga merasakan ketidakberuntungan keluarga Lamkiong.
101-101-101 Siau Cu memang sedang bersama Bing-cu.
Di depan Lamkiong Bing-cu, Siau Cu berubah menjadi bodoh.
Satu kalimat yang sama bolak-balik dia katakan, tapi Bing-cu tidak merasa apa-apa.
Topik pembicaraan terakhir mereka adalah tentang perang esok hari.
"Apakah kau harus pergi besok?"
Tanya Bing-cu.
"Mana mungkin aku tidak pergi?"
Siau Cu menegakkan dada.
"Liu Kun mendatangkan mala petaka bagi negara dan rakyat. Ada kesempatan ini, kita harus melawannya!"
Bing-cu menundukkan kepala.
"Aku tidak bisa pergi! Lo-taikun berkata aku tidak berpengalaman dan tidak bisa membantu apa-apa!"
"Kalau begitu aku lebih tenang!"
Siau Cu malah senang.
"Apa? Kau juga tidak ingin aku pergi? Betulkah ilmu silatku begitu jelek?"
Tanya Bing-cu dingin. Siau Cu menggelengkan kepala. Dalam hatinya dia terus berpikir, akhirnya muncul alasan yang dia anggap masuk akal.
"Di keluarga Lamkiong harus ada orang yang menjaga rumah!"
"Tapi aku tidak berpengalaman menunggu rumah."Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 83
"Pengalaman lebih dibutuhkan di medan pertempuran. Walaupun punya ilmu silat, tapi jika tidak berpengalaman tidak akan bisa dikeluarkan!"
"Apakah kau pernah membunuh orang?"
Tanya Siau Cu.
"Tidak pernah! Apakah di medan pertempuran harus membunuh orang?"
"Harus membunuh walaupun lawan bukan orang jahat!"
Bing-cu mengangguk, dia tidak lupa ketika menyelamatkan Kang Pin, Semua orang keluarga Lamkiong terpaksa membunuh orang, hanya dia yang bersembunyi di belakang Lo-taikun.
"Akhirnya kau mengerti!"
Dari pinggang Siau Cu mengeluarkan sebuah barang yang diikat dengan rantai.
"Ini aku berikan kepadamu!"
"Apa itu?"
Bing-cu merasa heran.
"Barang ini bisa menyelamatkan nyawa, mudah dipakai untuk melindungi diri sendiri. Mungkin bisa membantumu!"
Siau Cu berkata dengan sungguh-sungguh.
"Kau begitu memperhatikan aku!"
Wajah Lamkiong Bing-cu memerah.
"Setelah esok, entah kapan baru bisa bertemu denganmu lagi."
"Aku akan menunggumu di Ci-cu-wan!"
"Asal aku masih hidup, aku pasti akan mencarimu ke Ci-cu-wan!"
Bing-cu mengangguk.
Dia merasa sedih dan hampir meneteskan air mata.
102-102-102 Waktu Lam-touw meminta maaf, yang pasti wajahnya menjadi serius.
Lo-taikun, Lamkiong Po, Cia Cu-ciu, Tong Goat-go, Bwe Au-siang dan Tiong Bok-lan selalu sungkan, hanya Kiang Hong-sim yang masih dendam.
Lam-touw berkata.Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 84
"Aku benar-benar pikun, bisa-bisanya mencurigai Keluarga Lamkiong, benar-benar harus di hukum!"
Kiang Hong-sim segera berkata.
"Kalau begitu, hukuman apa yang kau ingin terima?"
"Mengapa kau tidak sopan terhadap Cian-pwee?"
Kata Lo-taikun marah. Kiang Hong-sim terpaku. Lo-taikun membentak lagi.
"Cepat berlutut!"
Tongkat kepala naga diketuk ke bawah. Kiang Hong-sim terpaksa berlutut. Lo-taikun menggelengkan kepala.
"Aturan keluarga Lamkiong benar-benar kurang ketat. Aku meminta maaf!"
Tongkat kepala naga diketuk lagi ke bawah, dia membentak.
"Cepat minta maaf!"
Kiang Hong-sim tidak berani membantah. Dia menyembah Lam-touw. Lam-touw tidak sempat mela rang, terpaksa dia menghindar dan mengganti topik.
"Masalah kecil, semua orang jangan terus diingat di dalam hati. Kita harus berkonsentrasi terhadap pertempuran esok!"
"Keluarga Lamkiong akan bertempur dengan ). sekuat tenaga. Liu Kun mendatangkan petaka untuk . rakyat dan negara, semua orang wajar membunuhnya!" 103-103-103 Liu Kun tahu bahaya sudah mendekat. Dia lama menunggu Thian-te-siang-kun tidak kembali, juga tidak mendapat kabar dari 5 utusan lampion. Dia tidak tenang. Akhirnya dia memanggil Hongpo bersaudara dan Pak-to (Perampok utara). Dia berpesan kepada Pak-to untuk menempatkan orang menjaga ketat kamar kaisar, dan jangan membiarkan orang keluar masuk. Setelah Pak-to pergi, dia baru berpesan kepada Hongpo bersaudara.Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 85 Hongpo bersaudara sudah lama mengikuti Liu Kun, Melihat Liu Kun, mereka langsung tahu ada masalah yang tidak bisa dibereskan, tapi mereka juga tidak . berani banyak bertanya. Tanpa perlu ditanyakan mereka, Liu Kun sudah menarik nafas berkata.
"Aku benar-benar khawatir!"
"Kiu-cian-swe mengkhawatirkan apa?"
Tanya Hongpo Tiong.
"Thian-te-siang-kun sudah lama pergi tapi belum kembali. 5 utusan lampion juga tidak ada jejak kabarnya, pasti sudah terjadi perubahan!"
"Kiu-cian-swe tenanglah! Pek-kut-mo-kang milik Ji-wi Kaucu tidak tertandingi. Mana mungkin seorang Kang Pin tidak bisa diatasi?"
Uu Kun menggelengkan kepala.
"Mudah-mudahan tidak ada masaiah. Kalau benar-benar ada perubahan, kita harus hati-hati!"
"Kiu-cian-swe benar-benar mempunyai pandangan yang jauh!"
"Aku mempunyai firasat bahwa semua masalah akan berakhir!"
Kata Liu Kun.
"Berarti Kiu-cian-swe akan menjadi Ban-swe dan akan memimpin negara ini!"
"Aku harap begitu!"
Kata Liu Kun.
"menurut kalian, kalau kita berperang terang-terangan, apakah kita bisa menang?"
"Kiu-cian-swe pasti akan menang!"
"Belum tentu, dalam melakukan sesuatu, aku selalu ingin mempunyai alternatif jalan yang lain. Kita harus berjaga-jaga!"
"Maksud Kiu-cian-swe..."
"Kalian segera memilih sekelompok orang yang bisa dipercaya, memindahkan barang-barang berharga dari sini ke kereta yang sudah kusiapkan. Bila terjadi sesuatu, kalian segera lindungi aku untuk meninggalkan ibukota, kita pergi ke tempat lain."
Hongpo bersaudara saling pandang.Legenda Pendekar Ulat Sutra -2 86
"Betulkah Kiu-cian-swe menganggap di pihak Kang Pin..."
"Kang Pin tidak perlu ditakuti. Yang kupikirkan adalah Su Yan-hong!"
Liu Kun memukul meja. 104-104-104 Malam ini kaisar bersantai di kamarnya. Pelayan-pelayan yang melayani dia merasa heran. Kasim yang dia percaya, Thio Gong juga merasa heran.
Baca Juga: Kisah Si Naga Langit Kho Ping Hoo
Baca Juga: Badik Buntung 11