Ceritasilat Novel Online

Bangau Sakti 21

Eps 21 Bangau Sakti - Chin Tung

Baca online Bangau Sakti - Chin Tung

Cersil Bangau Sakti - Chin Tung.

Hati Pek Yun Hui juga berduka sekali, Ketika menyaksikan air muka Sie Bun Yun, ia tahu kalau Sie Bun Yun tidak membalas dendam Ling Hung, hatinya pasti akan menderita seumur hidup.

Walau Pek Yun Hui tidak pernah mencurahkan isi hatinya pada Sie Bun Yun, namun cintanya terhadap pemuda itu telah mendalam sekali, Maka ia ingin me menuhi harapannya.

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Setelah agak dekat, Sie Bun Yun menghentikan langkahnya lalu memandang Pek Yun Hui dengan penuh dendam, Pek Yun Hui juga memandangnya, tapi penuh mengandung cinta kasih.

Kelihatannya Pek Yun Hui rela mati di tangan Sie Bun Yun, bahkan akan merasa bahagia sekali apabila bisa mati di tangannya.

keadaannya persis seperti ketika Ling Hung terjun ke bawah jurang, penuh cinta kasih dan sama sekali tidak membenci maupun mendendam pada Pek Yun Hui Bukan main, itulah kekuatan cinta!

"Saudara Bun Yun!"

Ujar Pek Yun Hui dengan suara rendah.

"Tahukah engkau, bahwa selama ini engkau telah salah paham padaku?"

"Ha ha!"

Sie Bun Yun tertawa, Tidak salah! Selama ini aku memang salah paham terhadapmu!"

"Saudara Bun Yun, kalau begitu,.,."

Pek Yun Hui tampak gembira sekali, Akan tetapi Sie Bun Yun justru tertawa gelak lagi, dan tawanya agak aneh.

"Ketika aku bertemu denganmu, aku menganggapmu pemuda baik! Kemudian kukira engkau pun punya cinta kasih, Bahkan aku pun mengira engkau tidak berani membunuh orang, tapi, ha ha! Aku telah salah melihat mu!"

Sie Bun Yun berkertak gigi dan sekujur badannya gemetar Mendadak ia melancarkan pukulan yang penuh mengandung Lweekang, Dapat dibayangkan betapa dahsyatnya pukulannya itu.

Akan tetapi, pukulannya itu bukan diarahkan pada Pek Yun Hui, melainkan menghantam ke atas.

"Bummm!"

Badan Sie Bun Yun bergoyang-goyang, akhirnya jatuh ke bawah.

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Pek Yun Hui terkejut bukan main, ia langsung meloncat ke arah Sie Bun Yun, lalu membungkukkan badannya sambil menjulurkan tangannya menangkap lengan Sie Bun Yun.

Saat ini nyawa Sie Bun Yun memang berada di ujung tanduk, sebab ia bergantung di pinggir jurang, Ketika melihat Pek Yun Hui menjulurkan tangannya, ia pun menjulurkan tangannya menangkap tangan Pek Yun Hui.

Kedua tangan mereka saling berpegangan erat-erat, tapi badan Sie Bun Yun telah merosot ke bawah, maka cuma mengandalkan tangan Pek Yun Hui.

karena badannya merosot, otomatis badan Pek Yun Hui pun tertarik sehingga jatuh di pinggir jurang itu.

Pek Yun Hui terperanjat bukan main, namun sebelah tangannya masih sempat meraih batu yang menonjol di tempat itu, maka masih bisa menahan Sie Bun Yun agar tidak jatuh ke dalam jurang.

Kemudian ditariknya Sie Bun Yun ke atas, Dengan tenaga tarikan itu, Sie Bun Yun langsung meloncat ke atas.

Setelah berada di atas, mendadak ia mendorong Pek Yun Hui sehingga merosot ke bawah, Namun sebelah tangan Pek Yun Hui masih memegang batu yang menonjol itu, maka tidak sampai jatuh ke bawah.

Pek Yun Hui tertegun, ia tahu saat ini Sie Bun Yun ingin membalas dendam kematian Ling Hung.

"Saudara Bun Yun, aku mati tidak jadi masalah, Namun engkau pun akan ikut masuk ke dalam jurang,"

Ujar Pek Yun Hui cemas, Ternyata sebelah tangan Pek Yun Hui masih memegang lengan Sie Bun Yun.

"He he he!"

Sie Bun Yun tertawa terkekeh-kekeh seperti orang gila.

"Bukankah itu kehendakmu?"

"Saudara Bun Yun...."

Air mata Pek Yun Hui mulai meleleh.

"Tahukah engkau? Di dunia ini ada seseorang yang amat mencintaimu yakni aku."

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

"Apa?"

Sie Bun Yun tertegun "Engkau bilang apa?"

"Aku sudah pernah memberitahukan kepadamu, bahwa aku seorang gadis, Hanya saja selama ini rambutku digunting pendek, dan menyamar sebagai lelaki, Engkau tidak tahu dan tidak mempereayaiku,"

Sahut Pek Yun Hui memberitahukan "Engkau... engkau...."

Bibir Sie Bun Yun gemetar, tidak mampu melanjutkan sebab air matanya sudah ber-derai-derai, Saat ini barulah Pek Yun Hui mencurahkan isi hatinya.

"Saudara Bun Yun, ketika pertama kali bertemu denganmu, aku sudah jatuh cinta, Tapi engkau malah memanggilku saudara kecil, sehingga aku tidak bisa bilang apa-apa, dan selalu kusimpan dalam hati,"

"Kalau begitu...."

Kening Sie Bun Yun berkerut-kerut "Kenapa engkau tidak memberitahukan pada adik Hung?"

"Semula aku tidak menyangka Ling Hung akan mencintaiku,.,."

Pek Yun Hui menarik nafas panjang.

"Kemudian di saat Paman Ling mau menarik nafas penghabisan beliau berpesan padaku agar baik-baik menjaganya. Paman Ling pun mengira aku lelaki, Pada waktu itu sudah tiada kesempatan bagiku menjelaskan dan kalau aku tidak mengabulkan permintaan Paman Ling, beliau pasti mati penasaran sekali, Aku... aku...."

Pek Yun Hui terisak-isak, air matanya terus mengucur deras, kemudian melanjutkan ucapannya.

"Saudara Bun Yun, apakah dalam hatimu masih membenciku? Masih membenciku?"

"Benci!"

Sahut Sie Bun Yun tanpa berpikir lagi.

"Saudara Bun Yun...."

Pek Yun Hui menarik nafas panjang.

"Kalau begitu, lepaskanlah tanganmu agar aku jatuh ke bawah! Aku rela mati di tangan orang yang kucintai."

"Engkau tahu aku membencimu, tapi kenapa tadi engkau mau menolongku?"

Tanya Sie Bun Yun.

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

"Saudara Bun Yun!"

Pek Yun Hui tersenyum.

"Engkau orang yang amat kucintai, bagaimana mungkin aku tidak menolongmu?"

"Engkau...."

Kening Sie Bun Yun berkerut Mendadak Pek Yun Hui melepaskan tangannya yang memegang batu menonjol itu, kemudian meronta agar terlepas dari tangan Sie Bun Yun, Akan tetapi, Sie Bun Yun justru memegang tangannya erat-erat.

Hati Pek Yun Hui tersentak, Apakah ingin mati di tangan Sie Bun Yun juga tidak boleh?

Tanyanya dalam hati, Tiba-tiba Sie Bun Yun menariknya sekuat tenaga, sehingga Pek Yun Hui tertarik ke atas, lalu bangkit berdiri "Saudara Bun Yun, engkau amat membenciku, kenapa malah menolongku?"

Tanyanya heran.

"Saudara kecil... eh! Nona Pek!"

Sie Bun Yun berdiri di hadapannya, namun kemudian menarik nafas panjang, lalu melesat pergi.

"Saudara Bun Yun! Saudara Bun Yun.J"

Teriak Pek Yun Hui memanggilnya.

Akan tetapi, Sie Bun Yun terus berlari tanpa menoleh lagi, dan tak lama dia pun lenyap dari pandangan Pek Yun Hui.

Hening seketika, Pek Yun Hui mulai menangis sedih dengan air mata berlinang-linang....

itulah kejadian masa lalu Pek Yun Hui yang diceritakan pada Bee Kun Bu dan Giok Siauw Sian Cu.

Usai menceritakan, air mata Pek Yun Hui pun meleleh.

Bagian ke tiga puluh delapan Muncul Co Hiong dan Souw Peng Hai Setelah mendengar cerita yang amat menyedihkan itu, Bee Kun Bu dan Giok Siauw Sian Cu pun mengucurkan air mata, Kemudian Bee Kun Bu memandang Pek Yun Hui seraya bertanya.

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

"Kakak Pek, kemudian bagaimana?"

"Kemudian...."

Pek Yun Hui menengadahkan kepalanya memandang langit sambil menarik nafas panjang.

"Aku tidak bertemu mereka lagi, sedangkan aku kembali ke gua Thian Kie. Selama itu aku tidak pernah ke mana-mana, akhirnya aku dengar Cong Cin To itu jatuh ketangan murid partai Kun Lun. Barulah aku teringat pada Sie Bun Yun yang tidak ketahuan jejaknya, karena itu aku menerjunkan diri ke dalam rimba persilatan lagi."

"Aku tahu.,."

Sela Giok Siauw Sian Cu dengan suara rendah.

"Di tempat ini, engkau menemukan jejaknya,"

Bee Kun Bu segera memandang Giok Siauw Sian Cu, kelihatannya sama sekali tidak mengerti Giok Siauw Sian Cu cuma tersenyum.

"Adik, engkau bilang Kakak Pek hilang mendadak, dipikirkan pasti tahu!"

Ujarnya.

"Kakak Pek! Betulkah begitu?"

Tanya Bee Kun Bu.

"Ya."

Pek Yun Hui mengangguk "Setelah berpisah denganmu dan saudara Kim, aku mulai memeriksa gunung ini bersama Hian Giok, Mendadak aku melihat seseorang berdiri mematung di puncak gunung, Pakaian orang itu sudah usang dan sobek sana sini.

Tangannya menggenggam sepotong kain yang telah usang pula, Aku tertegun melihat orang itu, dan segera menyuruh Hian Giok turun ke bawah.

Aku melihat rambut orang itu panjang terurai sampai ke bahu, dan mukanya penuh bewok, Tapi aku tetap mengenalinya bahwa orang itu Sie Bun Yun.

Aku melangkah maju sambil memanggilnya, Dia mengenali suaraku dan langsung kabur, aku segera mengejar nya."

"Lalu bagaimana?"

Tanya Bee Kun Bu.

"Aku khawatir engkau dan saudara Kim akan cemas tidak mengetahui jejakku, maka aku melepaskan baju luarku,

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

sekaligus menggantungnya di dahan pohon, agar kalian mengetahui nya."

"Oooh!"

Bee Kun Bu manggut-manggut "Kakak Pek, setelah melihat baju luarmu itu, aku mengira... engkau telah celaka di tangan Lam Kiong Siu."

"Oh?"

Pek Yun Hui tertegun "Pada waktu itu hatiku sedang kacau, tidak memikirkan akibat itu."

"Kakak Pek...."

Bee Kun Bu menatapnya dalam-dalam.

"Kalau begitu, engkau belum dapat mengejarnya?"

"Ya."

Pek Yun Hui mengangguk "Setelah kukejar sampai di sini, dia pun hilang entah ke mana, Aku terus berteriak memanggilnya, tapi tiada sahutan sama sekali."

Pek Yun Hui bangkit berdiri, kemudian berjalan mondarmandir dengan kepala tertunduk.

Bee Kun Bu dan Giok Siauw Sian Cu saling me-mandang, lalu menarik nafas panjang sambil mengge!eng-gelengkan kepala.

Takdir mempermainkan nasib Pek Yun Hui, ataukah nasib yang mempermainkan dirinya?

Siapa akan me-nyangka, Pek Yun Hui yang begitu cantik jelita dan anggun itu, justru mengalami kejadian yang amat menyedihkan orang yang amat dicintainya, malah sangat membenci dan mendendam padanya.

"Kakak Pek, dalam dua tahun ini walau engkau tidak menemukan saudara Sie tapi engkau masih bisa melewati hari-hari itu, kenapa sekarang malah berduka?"

Tanya Bee Kun Bu tidak mengerti "Dalam dua tahun itu...."

Pek Yun Hui tertawa getir "Tiada sehari pun aku melupakannya, hanya saja terus kusimpan dalam hati, tidak pernah mencurahkan Namun sekarang... aaakh...."

Pek Yun Hui menggeleng-gelengkan kepala, ia tidak melanjutkan lagi, dan air mata pun mulai meleleh.

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Bee Kun Bu menarik nafas dalam-dalam lalu bangkit berdiri, tapi sepasang kakinya terasa ngilu seakan tidak merasa apa-apa, bahkan tiada tenaga.

ia sudah tahu ada yang tidak beres, namun agar tidak membuat Pek Yun Hui cemas, maka ia tidak memberitahukannya.

"Kakak Pek!"

"Ng!"

Pek Yun Hui memandangnya.

"Ada apa?"

"Kakak Pek, sejak kita berkenalan, aku menganggapmu bagaikan dewi dari kahyangan, dan amat memujamu. Namun sungguh di luar dugaan, dalam hatimu menyimpan suatu kejadian yang sangat menyedihkan."

Bee Kun Bu berhenti sejenak, setelah itu barulah melanjutkan "Engkau sangat cerdas, padahal tidak perlu aku banyak bicara, Kini Kim Hun Tokouw-Lam Kiong Siu yang di istana Pit Sia Kiong, akan menimbulkan bencana di rimba persilatan Apakah karena hati kakak berduka, sehingga tidak mau mempedulikannya?"

"Kun Bu!"

Ujar Pek Yun Hui setelah tertegun beberapa saat lamanya.

"Apa yang engkau katakan memang benar Aku tidak boleh karena ini sehingga menelantarkan urusan besar Kun Bu, apabila kelak engkau juga mengalami hal yang serupa denganku, janganlah melupakan apa yang engkau ucapkan sekarang ini."

Bee Kun Bu tersentak ia yakin tidak mungkin Pek Yun Hui akan berpesan begitu tanpa ada sebab mu-sababnya.

Seketika timbullah beberapa bayangan anak gadis dalam benaknya, Lie Ceng Loan dan Na Siao Tiap yang misterius itu....

Itu merupakan lautan asmara, kelak harus bagaimana menenangkannya?

Berpikir sampai di sini, Bee Kun Bu menarik nafas panjang.

Saat ini, Giok Siauw Sian Cu juga tampak termenung, ia malang melintang di rimba persilatan sekian tahun, sehingga

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

kaum Bu Lim menyebut "Wanita Iblis", ia tidak pernah jatuh cinta pada lelaki yang mana pun Ketua partai Khong Tong Sin Goan Tong mati-matian me-ngejarnya, namun Giok Siauw Sian Cu sama sekali tidak menghiraukannya, sebaliknya benang cinta kasihnya malah ditujukan pada Bee Kun Bu.

Kini ia tahu jelas, biar bagaimanapun Bee Kun Bu tidak mungkin akan mencintainya.

Oleh karena itu, hatinya jadi hampa.

Tiga orang saling berhadapan Tiada seorang pun yang membuka mulut, mereka bertiga tampak seperti bisu.

"Eeei!"

Giok Siauw Sian Cu tertawa terpaksa.

"Kita terus begitu bukan cara yang baik. Kita harus kembali ke istana Pit Sia Kiong untuk menolong orang!"

Wajah Pek Yun Hui yang tampak murung itu ber-angsurangsur hilang, ternyata hatinya tergerak oleh perkataan Bee Kun Bu tadi.

Memang, kejadian masa lalu itu harus dilupakan, karena tiada gunanya terus disimpan dalam hati.

"Kalian berdua sudah bisa bergerak?"

Tanya Pek Yun Hui.

"Heran!"

Giok Siauw Sian Cu mengerutkan kening.

"Kenapa sepasang kakiku tidak bisa bergerak?"

"Oh?"

Pek Yun Hui terkejut "Kun Bu, bagaimana sepasang kakimu? Apakah bisa bergerak?"

"Sama juga,"

Jawab Bee Kun Bu.

"Sama sekali tidak bisa bergerak, sepertinya telah lumpuh."

"Sungguh mengherankan, sudah lewat sekian jam kok kalian belum pulih?"

Pek Yun Hui tereengang Mereka bertiga mendongakkan kepala melihat ke langit, ternyata hari sudah sore.

Pek Yun Hui bersiul panjang, tak lama terdengarlah suara pekikan Hian Giok, Si Bangau Sakti, Hian Giok itu terbang laksana kilat ke arah Pek Yun Hui.

Dalam waktu sekejap, Bangau Sakti sudah melayang turun di sisi majikannya.

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

"Kalian berdua dan Hian Giok beristirahat di sini, aku akan.ke istana Pit Sia Kiong untuk menyelidikinya."

"Kakak Pek, engkau pergi seorang diri, apakah tidak khawatir akan terjadi sesuatu?"

Tanya Bee Kun Bu penuh perhatian "Kun Bu!"

Pek Yun Hui tersenyum.

"Sejak kapan engkau berubah menjadi nenek-nenek cerewet?"

Wajah Bee Kun Bu agak memerah. ia tidak banyak bicara lagi, hanya memandang Pek Yun Hui yang melesat pergi sambil menghela nafas, kemudian menoleh.

"Kakak, dia pergi ke Pit Sia Kiong seorang diri, aku sungguh tidak bisa berlega hati,"

Ujar Bee Kun Bu pada Giok Siauw Sian Cu.

"ltu apa boleh buat!"

Giok Siauw Sian Cu tertawa gctir.

"Kita sama sekali tidak bisa membantunya."

Bee Kun Bu mendongakkan kepala memandang Hian Giok.

Bulu burung itu gemerlapan tertimpa sinar matahari senja.

Tiba-tiba hati Bee Kun Bu tergerak "Kakak!

Kita memang tidak bisa membantu Kakak Pek, tapi Hian Giok bisa membantunya."

"Adik!"

Giok Siauw Sian Cu menggeleng-gelengkan kepala.

"Engkau jangan banyak urusan! Bagaimana sifat Nona Pek, tentunya engkau telah mengetahuinya, Dia sengaja menyuruh Hian Giok beristirahat di sini, sebetulnya untuk menjaga kita, Kalau engkau menyuruh Hian Giok pergi membantunya, sudah pasti dia akan menyalahkanmu."

"Kakak!"

Bee Kun Bu berkeras.

"Aku lebih mau disalahkan daripada akan terjadi sesuatu atas dirinya."

"Adik,.,."

"Hian Giok! Hian Giok!"

Ujar Bee Kun Bu dengan suara lantang.

"Majikanmu Lan Tay Kong Cu pergi ke istana Pit Sia

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Kiong seorang diri, mungkin akan terjadi sesuatu, kenapa engkau tidak pergi membantunya?"

Hian Giok adalah Bangau Sakti, Usianya sudah ratusan tahun dan sudah mengerti bahasa manusia, Ke-tika mendengar apa yang dikatakan Bee Kun Bu, ia pun mengeluarkan suara seperti keluhan.

"Hian Giok!"

Ujar Bee Kun Bu Iagi.

"Engkau tidak usah khawatir Majikanmu tidak akan menyalahkanmu Paling juga menyalahkan diriku, Lebih baik engkau segera pergi membantunya!"

"Uaaakh!"

Hian Giok manggut-manggut, kemudian mengembangkan sepasang sayapnya dan langsung terbang ke atas. Kjan lama kian cepat Bangau Sakti terbang, akhirnya lenyap dari pandangan Bee Kun Bu.

"Adik!"

Giok Siauw Sian Cu menggeleng-gelengkan kepala.

"Apakah engkau sama sekali tidak menghiraukan diri sendiri?"

"Kakak!"

Bee Kun Bu tertawa.

"Kita berdua, sedangkan dia seorang diri, tentunya kita yang lebih baik dari pada dia!"

Setelah mendengar ucapan itu, wajah Giok Siauw Sian Cu berseri manis tampak gembira sekali Wajah Bee Kun Bu pun tampak memerah, ia tidak menyangka akan salah ucap.

"Kakak, maksudku kita..."

Ujar Bee Kun Bu membetulkan ucapannya.

"Adik!"

Potong Giok Siauw Sian Cu dengan mimik sendu.

"Engkau tidak perlu menjelaskan, kakak sudah tahu itu."

Diam-diam Bee Kun Bu menarik nafas, Saat ini hari sudah mulai geiap. Tak seberapa lama kemudian, segala apa pun sudah tidak kelihatan lagi.

"Adik!"

Ujar Giok Siauw Sian Cu.

"Di dalam gelap gulita, kalaupun tiada musuh ke mari, mungkin akan muncul binatang

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

berbisa, maka kita harus duduk ber dekatan untuk berjagajaga."

Usai berkata, Giok Siauw Sian Cu langsung menggesekan badannya merapat pada badan Bee Kun Bu.

Bee Kun Bu ingin menghindar, tapi sudah tidak keburu, Lagi pula kalau ia menghindar, tentu akan me lukai hati Giok Siauw Sian Cu.

Oleh karena itu ia membiarkan badan Giok Siauw Sian Cu merapat pada badan nya.

Berselang beberapa saat kemudian, rembulan mulai bersinar remang-remang, Namun tampak jelas wajah Giok Siauw Sian Cu yang kemerah-merahan.

itu membuat hati Bee Kun Bu jadi kacau dan berdebar-debar.

"Adik!"

Tanya Giok Siauw Sian Cu lembut "Engkau sedang memikirkan apa?"

Pertanyaan itu membuat hatinya tergerak ia segera menjawab dengan nada mantap.

"Aku sedang memikirkan adik Ceng Loan."

Air muka Giok Siauw Sian Cu langsung berubah, kemudian ia pun menghela nafas panjang.

"Aku tahu, saat ini adik Ceng Loan pun sedang memikirkanmu."

Bee Kun Bu tersenyum getir Tepat pada saat bersamaan terdengarlah suara tawa tak jauh dari situ.

"Ha ha!"

Betapa terkejutnya Bee Kun Bu dan Giok Siauw Sian Cu, sebab terdengar pula suara orang.

"Saudara Bee, sungguh beruntung engkau ada wanita cantik dalam pelukanmu! Di tempat jauh pun masih ada gadis cantik merindukanmu! Ha ha! Engkau sungguh beruntung!"

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Di malam yang begitu hening, suara orang itu terdengar jelas sekali, itu sungguh mengejutkan Bee Kun Bu dan Giok Siauw Sian Cu.

"Siapa? Kenapa menyindir orang?"

Bentak Bee Kun Bu.

"Ha ha!"

Terdengar suara tawa lagi.

Tak lama kemudian muncullah seseorang dari belakang sebuah batu besar.

Orang itu berwajah tampan, rambutnya dihiasi dengan sebuah gelang emas, Lengannya juga memakai tiga buah gelang emas yang berkilau-kilau, sepasang matanya bersinar tajam, hidung mancung dan bibirnya tipis, Ke-tampanannya hampir menyerupai anak gadis, dan ter-senyum-senyum manis pu!a.

Siapa dia?

Tidak lain adalah Kim Hoan Ji Long-Co Hiong.

Setahu Bee Kun Bu dan Giok Siauw Sian Cu, Souw Peng Hai dan Co Hiong masih berada di istana Pit Sia Kiong, Mereka sama sekali tidak menyangka kalau Co Hiong akan muncul di lembah ini.

Bee Kun Bu tahu jelas bagaimana watak Co Hiong, maka secara diam-diam ia menyikut Giok Siauw Sian Cu, agar bersiap-siap.

Walau Bee Kun Bu menyikut Giok Siauw Sian Cu secara diam-diam, namun itu pun tidak terlepas dari mata Co Hiong.

"Apakah saudara Bee menganggap diriku ular ber-bisa?"

Tanya Co Hiong sambil tertawa.

"Hm!"

Dengus Bee Kun Bu dingin.

"Engkau lebih berbisa dari pada ular berbisa yang manapun!"

Bentak Giok Siauw Sian Cu.

"Oh?"

Co Hiong tertawa.

"Giok Siauw Sian Cu cukup ternama dalam rimba persilatan, namun tidak bernama baik."

Co Hiong tersenyum-senyum seusai berkata begitu, Kelihatannya ia tidak tersinggung oleh ucapan Giok Siauw Sian Cu tadi

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Tapi Bee Kun Bu tahu jelas sifatnya, Kalau dia tersenyum dan kelihatan lemah Iembut, itu pertanda dalam hatinya telah timbul nafsu membunuh.

"Saudara Co, engkau mau apa sekarang?"

Tanya Bee Kun Bu membentak "Ha ha!"

Co Hiong tertawa gelak, Tidak seharusnya aku merusak urusan baik kalian barusan."

Sahut Co Hiong menyindir seketika juga wajah Bee Kun Bu berubah memerah, sedangkan Giok Siauw Sian Cu gusar bukan main, ia membentak sambil menggerakkan suling Gioknya, menyerang Co Hiong dengan jurus Heng Toan Mu San (Melintang Membelah Gunung Mu San).

itu merupakan jurus andalan Giok Siauw Sian Cu, yang amat dahsyat dan lihay.

Akan tetapi, saat ini sepasang kakinya tidak bisa bergerak, maka ia menyerang Co Hiong dalam keadaan duduk.

Co Hiong bersiul panjang, lalu berkelit sambil meloncat mundur dan memandang Giok Siauw Sian Cu seraya berkata.

"Giok Siauw Sian Cu! Kalaupun aku telah merusak urusan baik kalian itu, namun tidak akan memberitahukan pada siapa pun! Juga tidak akan memberitahukan pada Lie Ceng Loan, Sumoy Bee Kun Bu itu! Kenapa engkau jadi marah-marah tidak karuan?"

Hati Bee Kun Bu tersentak mendengar itu, ia dan Giok Siauw Sian Cu duduk berdampingan di lembah ini, sama sekali tidak punya pikiran yang bukan-bukan.

Tapi seandainya Co Hiong menambah bumbu sedikit, dan tersiar sampai ke telinga Lie Ceng Loan, mungkin akan timbul suatu badai."

"Co Hiong!"

Ujar Bee Kun Bu dengan wajah memerah.

"Engkau jangan omong sembarangan!"

"Saudara Bee!"

Co Hiong tersenyum.

"Kalau tidak menghendaki orang tahu, janganlah berbuat!"

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Co Hiong bicara semakin tidak karuan, itu membuat kegusaran Bee Kun Bu memuncak.

"Tutup mulutmu!"

Bentak Bee Kun Bu.

"Kalau cuma aku seorang yang menutup mulut...."

Co Hiong tersenyum licik.

"ltu pereuma, sebab masih ada mulut lain yang akan menyebarkannya!"

Saking gusarnya, Bee Kun Bu tidak mampu mengucapkan apa pun. sedangkan Giok Siauw Sian Cu juga telah gusar bukan main, wajahnya tampak merah padam.

"Kalian berdua tidak perlu khawatir...."

Co Hiong tertawa lagi "Apa yang harus kalian khawatirkan?"

"Kenapa?"

Tanya Giok Siauw Sian Cu.

"Cring! Cring! Cring!"

Co Hiong menggerakkan ke tiga buah gelang emasnya, lalu memandang mereka sambil tersenyum manis.

"Kalian berdua amat cerdas, tentunya tahu kan?"

"Aku tidak tahu maksudmu!"

Sahut Bee Kun Bu.

"Ha ha!"

Co Hiong tertawa terbahak-bahak.

"Saudara Bee, bagaimana mungkin engkau tidak tahu?"

"JadL.,"

Bee Kun Bu mengernyitkan kening.

"Cring! Cring! Cring!"

Co Hiong menggerakkan ke tiga buah gelang emasnya lagi, lalu ujarnya sambil tersenyum lebar "Kalau ke tiga buah gelang emasku melayang ke arah kalian, bukankah kalian berdua akan beres?

Nah, apa yang perlu kalian khawatirkan lagi?"

Kini Bee Kun Bu baru tahu akan maksud Co Hiong, Ternyata Co Hiong ingin membunuh mereka berdua.

"Co Hiong!"

Bee Kun Bu tertawa dingin.

"Engkau kira begitu gampang membunuh kami berdua?"

"Oh, ya?"

Co Hiong maju selangkah, kemudian menghunus pedangnya, dan sekaligus menyerang dada Bee Kun Bu dengan jurus Siauw Cih Thian Lam (Menunjuk Thian Lam Sambil Tertawa), jurus itu bergerak laksana kilat mengarah dada Bee Kun Bu.

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Tangan Bee Kun Bu tidak memegang senjata apa pun, maka ia terpaksa berguling untuk mengelak serangan itu sambil sekaligus melancarkan sebuah pukulan.

itu adalah jurus Ciak Ciu Poh Liong (Tangan Kosong Menangkap Naga), salah satu jurus dari Thian Kang Ciang Hoat (llmu Pukulan Thian Kang), jurus tersebut khususnya melawan senjata.

Co Hiong malah tertawa gelak dan mendadak mundur beberapa langkah, lalu menggerakkan lengannya.

"Cring! Cring! Cring!"

Tiga buah gelang emas yang di lengannya langsung meluncur ke arah Bee Kun Bu.

Di saat bersamaan, Co Hiong pun melancarkan serangan dengan pedangnya, ia mengeluarkan tiga jurus beruntun mengarah pada Giok Siauw Sian Cu.

Bee Kun Bu juga melihat serangan-serangan itu mengarah pada Giok Siauw Sian Cu, namun tidak bisa menolongnya, sebab ia pun harus menghadapi luncuran tiga buah gelang emas itu.

Segeralah ia melancarkan sebuah pukulan ke arah ke tiga buah gelang emas yang sedang meluncur laksana kilat itu.

"Trang! Trang! Trang!"

Ketiga gelang emas itu terpukul jatuh menghantam sebuah batu sampai hancur Setelah memukul jatuh ke tiga gelang emas itu, Bee Kun Bu berpaling ke arah Giok Siauw Sian Cu, dan seketika juga ia terkejut bukan main.

Ternyata Giok Siauw Sian Cu telah terkurung oleh pedang Co Hiong, Sungguh berbahaya keadaan Giok Siauw Sian Cu.

"Jangan begitu kejam!"

Bentak Bee Kun Bu.

Setelah membentak, Bee Kun Bu langsung menekankan tangan kirinya ke tanah dan seketika juga badannya meluncur ke arah Co Hiong.

tangan kanannya melancarkan pukulan dengan jurus Yun Ciong Phun Uh (Naga Menyemburkan Kabut), Pukulan tersebut mengarah pada kepala Co Hiong, Kalau Co Hiong berkelip Giok Siauw Sian Cu akan tertolong.

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Akan tetapi, pada waktu bersamaan terdengar suara tawa di belakang Bee Kun Bu.

Begitu mendengar suara tawa itu, Bee Kun Bu sudah tahu bahwa yang tertawa itu Souw Peng Hai.

itu membuat Bee Kun Bu tertegun, sehingga pukulan yang diIancar-kannya itu jadi lamban, Namun ia tahu jelas, kalau Giok Siauw Sian Cu dalam bahaya, maka tidak menghiraukan diri sendiri ia tetap melanjutkan serangannya, Di saat itu pula terdengar suara Souw Peng Hai mengguntur.

"Jangan khawatir anak Hiong!"

Souw Peng Hai juga melancarkan sebuah pukulan ke punggung Bee Kun Bu.

Pukulan itu penuh mengandung Lweekang yang amat dahsyat, sehingga menimbulkan suara menderu-deru.

Bee Kun Bu pun tahu, itu adalah Kan Goan Cih Sin Kang (Tenaga Sakti Kan Goan), Tapi ia sama sekali tidak mempedu!ikan pukulan itu, tetap melanjutkan pukulannya ke arah Co Hiong.

"PIaaak!"

Bahu Co Hiong terpukul Padahal di saat itu, pedang Co Hiong sudah hampir melukai Giok Siauw Sian Cu, namun karena bahunya terpukul sehingga membuat dirinya sempoyongan maka Giok Siauw Sian Cu terluput dari pedang Co Hiong.

Bee Kun Bu pun terpukul oleh Kan Goan Cih Sin Kang.

Namun ia kuat bertahan, karena terlindung oleh kulit ular pusaka yang dipakainya Begitu terluput dari pedang Co Hiong, Giok Siauw Sian Cu segera menyerang Co Hiong dengan su!ing peraknya, ia mengeluarkan jurus Ap San Ciauw Hai (Menekan Gunung Mengaduk Laut) dan jurus Thian Gwa lai Yun (Awan Datang Dari Luar Langit).

Kedua serangan itu membuat Co Hiong terdesak mundur Giok Siauw Sian Cu tidak berhenti sampai di situ, ia masih menyerangnya dengan jurus Kong Ciak Kay Peng (Merak Mengembangkan Sayap), ujung suling giok mengarah Poh Tiauw Hiat di paha Co Hiong.

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Co Hiong tidak gugup, dan langsung meloncat mundur beberapa langkah, sementara Souw Peng Hai memandang Bee Kun Bu dengan mata terbelalak "Bocah!

Sudah beberapa kali engkau dapat menahan Kan Goan Cih Sin Kangku, coba engkau sambut toyaku!"

Souw Peng Hai memutar toya kepala naga, lalu mendadak menyerang Bee Kun Bu mengarah pada kepalanya, itu jurus Hun Lang liak liu (Memisahkan Ombak Dan Arus).

Betapa dalamnya Lweekang Souw Peng Hai, Kalau sepasang kaki Bee Kun Bu tidak lumpuh dan ada senjata di tangan untuk menangkis serangan toya itu, memang tidak masalah.

Akan tetapi, kini Bee Kun Bu cuma dengan tangan kosong, lagi pula sepasang kakinya tidak bisa bergerak, Harus bagaimana menghindari serangan toya itu?

Tiada cara lain kecuali harus bergulingan di tanah.

Ketika melihat Bee Kun Bu bergulingan Souw Peng Hai segera merubah jurus dengan jurus Heng Sau Cian Kun (Menyapu Ribuan Prajurit).

Bee Kun Bu merasa ada tenaga yang amat dahsyat mengarah pada dirinya, Namun tiada kesempatan baginya untuk berkelit Iagi.

Maka di saat berguiingan, ia pun menghimpun Lweekangnya, kemudian membentak sambil melancarkan sebuah pukulan ke arah toya Souw Peng Hai.

Menyaksikan itu, Souw Peng Hai juga mengerahkan lweekangnya pada toyanya.

"Bummm!"

Pukulan Bee Kun Bu tepat mengena toya Souw Peng Hai.

Tapi tangannya merasa sakit sekali, ternyata ada tenaga yang amat dahsyat menerjang ke arahnya melalu toya.

Bee Kun Bu terpental beberapa depa, sedangkar Souw Peng Hai terhuyung-huyurfg ke belakang.

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Dengan tangan kosong Bee Kun Bu dapat menangkis toya itu, betul-betul membuat Souw Peng Hai terkejut bukan main, jangankan Souw Peng Hai, Bee Kun Bu sendiri pun merasa heran karena tidak menyangka ia sanggup menangkis serangan toya itu dengan tangan kosong.

Souw Peng Hai tertegun lama sekali, lalu membatin sepasang kakinya tidak bisa bergerak, tapi masih begitu hebat seandainya sepasang kakinya bisa bergerak, mung kin aku bukan tandingannya, Kalau saat ini tidak meng habiskannya, mau tunggu kapan lagi?

Berpikir sampai di sini, Souw Peng Hai mengambil keputusan untuk membunuh Bee Kun Bu, ia melangkah maju mendekati Bee Kun Bu yang duduk di atas tanah.

kelihatannya sudah siap menyerangnya.

sementara Giok Siauw Sian Cu masih mati-matian bertarung dengan Co Hiong, apa yang terjadi barusan tidak terlepas dari matanya.

"Souw Peng Hai!"bentaknya.

"Engkau juga tergoIong ketua dari salah satu partai, tapi kenapa begitu tidak tahu malu menyerang orang yang tak berdaya?"

"Guru!"

Seru Co Hiong.

"Jangan menghiraukan wa nita iblis ini!"

"Hm!"

Dengus Souw Peng Hai, lalu mendadak meng angkat tangan kirinya, dan sekaligus menyentilkan jari telunjuknya.

"Kakak cepat berkelit!"

Teriak Bee Kun Bu. Bagaimana mungkin Giok Siauw Sian Cu bisa ber kelit, sebab Co Hiong sedang menyerangnya dengan dahsyat sekali "Aaaakh!"

Jerit Giok Siauw Sian Cu. Ternyata dadanya telah terserang Kan Goan Cih yang dilancarkan Souw Peng Hai, seketika dari mulutnya mengalir darah segar, pertanda Giok Siauw Sian Cu telah terluka dalam.

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

"Ha ha ha!"

Co Hiong tertawa gembira ketika melihat gurunya berhasil melukai Giok Siauw Sian Cu.

ia maju selangkah memandangnya sambil tersenyum manis.

Saat ini Giok Siauw Sian Cu sudah tidak memiliki tenaga untuk melawan, namun ia masih memandang Bee Kun Bu sambil tersenyum getir "Kakak akan berpisah selamanya denganmu,"

Ujar-nya.

"Co Hiong!"

Seru Bee Kun Bu.

"Engkau jangan turun tangan jahat terhadap Giok Siauw Sian Cu!"

Co Hiong tidak menyahut, melainkan tersenyum sambil menusuk dada Giok Siauw Sian Cu dengan pe-dangnya, dan seketika darah pun mengucur deras.

Bee Kun Bu tahu akan kesadisan Co Hiong, Ke-lihatannya Co Hiong tidak ingin membunuh Giok Siauw Sian Cu dengan segera, melainkan akan menyiksanya perlahan-Iahan.

Saking gusarnya ia langsung melesat ke arah Co Hiong.

Akan tetapi, Souw Peng Hai menyerangnya laksana kilat dengan jurus Hun Lang Liak Liu (Memisahkan Ombak Dan Arus), Pada waktu bersamaan, Giok Siauw Sian Cu pun berseru.

"Adik! jangan kau hiraukan aku!"

"Ha ha ha!"

Co Hiong tertawa gelak sambil menekan pedangnya yang masih menancap di dada Giok Siauw Sian Cu.

Namun pada waktu bersamaan, terdengar suara desiran lirih dan tampak dua titik sinar putih meluncur ke arah Co Hiong.

Betapa terkejutnya Co Hiong, sebab dua titik sinar putih merupakan dua buah senjata rahasia mengarah pada Thian Tu Hiat di tenggorokannya dan Yang Suk Hiat di lengannya Co Hiong sama sekali tidak menyangka, kalau di saat ini mendadak ada senjata rahasia meluncur ke arahnya laksana

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

kilat cepatnya, ia segeralah menundukkan ke-palanya, dan senjata rahasia itu pun lewat di atas ram-butnya, ia masih sempat melihat senjata itu, ternyata cuma berupa sepotong bambu kering.

pada waktu bersamaan, ia pun merasa lengannya sakit dan ngilu, sehingga pedangnya terlepas, Ketika Co Hiong menekan pedangnya, Giok Siauw Sian Cu memejamkan matanya menunggu mati.

Setelah mendengar suara pedang jatuh, ia pun membuka matanya dan melihat Co Hiong mencak-mencak.

"Siapa yang berani melakukan serangan gelap? kenapa masih bersembunyi?"

Teriak Co Hiong.

Mendadak muncul seseorang Bee Kun-Bu, Giok Siauw Sian Cu, Souw Peng Hai dan Co Hiong terbelalak melihatnya.

Ternyata orang itu berambut panjang awut-awutan, mukanya penuh bewok, pakaiannya usang sobek di sana-sini, dan tangannya memegang sebatang bambu kering, ia berjalan seperti orang yang sudah tua, justru tidak sesuai dengan usianya.

Giok Siauw Sian Cu dan Bee Kun Bu saling me-mandang, Setelah tertegun sejenak, mereka tahu siapa orang itu.

Akan tetapi, Souw Peng Hai dan Co Hiong sama sekali tidak mengenalnya.

Tiba-tiba Souw Peng Hai menatap bambu kering itu, lalu berkata.

"Apakah Anda murid Ku Ciok Sianjin dari Pulau Thao Khong To di luar utara? Kalau benar, berarti kita bukan orang luar."

Walau Bee Kun Bu dan Giok Siauw Sian Cu telah mendengar tentang Sie Bun Yun, namun mereka berdua tidak tahu Sie Bun Yun berasal dari perguruan mana.

Kini Souw Peng Hai mengatakan begitu, membuat Bee Kun Bu teringat akan apa yang diceritakan Gin Tie Suseng-Kim Eng Hauw

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

tentang iblis di seberang laut, yakni Ku Ciok Sianjin majikan Pulau Thao Khong To yang di laut utara, Sungguh di luar dugaan, ternyata Sie Bun Yun adalah murid Ku Ciok Sianjin yang berkepandaian amat tinggi itu.

sementara orang itu tampak seakan tersentak, kemudian mendongakkan kepala sambil tertawa serak serta mengibaskan tangannya agar Souw Peng Hai dan Co Hiong menyingkir Bagaimana mungkin Souw Peng,Hai dan Co Hiong mau menyingkir?

Karena saat ini merupakan kesempatan baik untuk membunuh Bee Kun Bu dan Giok Siauw Sian Cu.

Co Hiong memungut pedangnya, kemudian tertawa dingin.

"Anda kira kami akan menurut?"

Ujarnya ketus.

Orang itu melototi Co Hiong, lalu mendadak menggerakkan bambu keringnya, seketika berkelebat bayangan bambu kering itu mengarah pada tiga jalan darah di badan Co Hiong.

Melihat serangan orang itu, Co Hiong mundur selangkah sekaligus menangkisnya.

"Bagus!"

Bentaknya.

Akan tetapi, begitu pedang Co Hiong bergerak, bambu kering itu pun ikut bergerak dengan aneh sekalL Co Hiong terkej ut.

ia ingin menarik pedangnya tapi sudah tidak keburu.

Ternyata ujung bambu kering itu telah berhasil menotok jalan darah di lengannya, sehingga pedang yang dipegangnya terlepas, jatuh.

Orang itu mundur selangkah sekaligus menggerakkan bambu keringnya ke arah pedang Co Hiong yang jatuh itu, lalu diayunkan ke arah Co Hiong seraya membentak "Pergi!"

Pedang itu melayang ke arahnya, namun Co Hiong tidak menyambutnya, melainkan menundukkan kepala dan mendadak balas menyerang dengan tangan kosong., itu

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

mengeluarkan jurus yang dipelajarinya dari buku catatan Sam Im Sin Ni.

"Hati-hati!"

Seru Bee Kun Bu.

Akan tetapi, orang itu membentak gusar, lalu berkelit secepat kilat dengan gerakan yang amat aneh.

Co Hiong menyerang tempat kosong, itu membuatnya tereengang karena tidak menyangka kalau orang itu mampu mengelak serangannya, Kegusarannya memuncak dan kembali menyerang dengan jurus San Ngai Peng Te (Gunung Curam Tanah Longsor).

"Hati-hati Anak Hiong!"

Pesan Souw Peng Hai.

"Jangan meremehkan lawan!"

Tiba-tiba orang itu memutar bambu keringnya membentuk lingkaran Sungguh di luar dugaan, gerakan ini justru mampu mematahkan serangan Co Hiong, Ke-mudian orang itu kembali menyerang Co Hiong segera meloncat mundur Kini ia tidak berani meremehkan orang itu lagi, sebab orang itu memiliki ilmu silat yang amat tinggi dan aneh, Ketika Co Hiong meloncat mundur, bambu kering orang itu berkelebatan mengarah sekujur badannya.

itu membuat Co Hiong terkejut sekali dan gugup, namun masih sempat mengayunkan kakinya menendang, lalu secepat kilat meloncat ke samping.

"Hei!"

Seru Souw Peng Hai.

"Kawan! sambutlah seranganku!"

Souw Peng Hai langsung menyerang orang itu mengarah pada kepalanya, namun orang itu mengayunkan bambu keringnya untuk menangkis.

"Plaak!"

Terdengar suara benturan toya dengan bambu kering.

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Setelah terjadi benturan, Souw Peng Hai terkejut karena bambu kering itu mengeluarkan tenaga lunak yang mampu membuyarkan tenaganya.

Mereka berdua berdiri diam, Tiba-tiba Souw Peng Hai membentak keras, ternyata ia mengerahkan lweekangnya lagi, Orang itu juga mengerahkan Lweekangnya, sehingga mereka mengadu Lweekang dan akibatnya ma-sing-masing mundur selangkah Souw Peng Hai berlega hati, sebab ia yakin bahwa lawannya itu bukan Ku Ciok Sianjin.

Maka mendadak ia mengangkat tangan kirinya menyerang orang itu dengan Kan, Goan Cih.

itu perbuatan curang yang tak terpuji Sebab mereka sedang mengadu Lweekang, namun Souw Peng Hai menyerang orang itu dengan Kan Goan Cih.

Bagaimana mungkin orang itu menjaga serangan ter-sebut?

Orang itu berteriak aneh, ternyata dadanya telah terserang Kan Goan Cih itu, Namun orang itu masih bisa melesat pergi dengan membawa luka di dada, Souw Peng Hai pun tertegun Orang itu telah terluka oleh Kan Goan Cih, tapi masih mampu kabur.

Souw Peng Hai tidak mengejarnya, melainkan membalikkan badannya, Saat ini, Giok Siauw Sian Cu sudah terluka parah.

ia sedang merangkak mendekati Bee Kun Bu, lalu menggenggam tangannya erat-erat sambil tersenyum.

Bee Kun Bu tahu bagaimana perasaannya saat ini, dan tahu pula banyak perkataan yang akan diucapkan Giok Siauw Sian Cu, tapi tersumbat di tenggorokan tidak bisa mengeluarkannya.

Giok Siauw Sian Cu memang bernama busuk di rimba persilatan Namun terhadap Bee Kun Bu baik sekali, bahkan mencintainya tanpa berubah dalam keadaan apa pun.

Giok Siauw Sian Cu pun tahu, cintanya cuma sepihak, tapi ia merasa puas sebab Bee Kun Bu cukup baik terhadapnya, ia pun merasa bahagia sekali bisa mati bersama Bee Kun Bu.

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Bee Kun Bu memandangnya, tak terasa air matanya meleleh. Di saat mereka saling memandangi Co Hiong tertawa gelak.

"Ha ha! Apakah kalian berdua sudah puas mengucurkan air mata? Aku sudah mau turun tangan menghabiskan kalian!"

Bee Kun Bu mendongakkan kepala, Tampak Co Hiong berdiri di hadapan mereka, sedangkan Souw Peng Hai berdiri di belakang muridnya itu.

Kalau ingin melawan, tentunya sudah bukan lawan mereka.

Tapi Bee Kun Bu justru merasa penasaran mati di tangan mereka, Saat ini ia cuma berharap kemunculan Pek Yun Hui.

"Ha ha!"

Co Hiong tertawa lagi.

"Saudara Bee, sejak kita berkenalan, aku cukup baik terhadapmu! Hanya saja engkau tidak memandang sebelah mata padaku hingga kini, maka jangan menyalahkan kalau aku turun tangan jahat terhadapmu!"

"Phui! Engkau adalah orang yang paling tak tahu malu di dunia, jahat dan amat licik pula! jangan memanggilku saudara!"

Sahut Bee Kun Bu.

"Hm!"

Dengus Co Hiong dan langsung menyerangnya dengan pedang.

Bee Kun Bu terpaksa berguling lalu balas menyerang dengan jurus Ciak Ciu Poh Uong (Tangan Kosong Menangkap Naga).

Co Hiong memiringkan pedangnya ke arah bahu Giok Siauw Sian Cu.

Bahu Giok Siauw Sian Cu tergores, namun wanita itu sama sekali tidak menjerit, cuma menghela nafas panjang.

"Co Hiong, kekejamanmu tidak akan bertahan lama!"

"Oh, ya?"

Co Hiong tertawa. ia tidak ingin segera membunuh Giok Siauw Sian Cu, melainkan ingin me-

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

nyiksanya perlahan-lahan, setelah itu barulah mem-bunuhnya.

"Kenapa kekejamanku tidak bisa berlaku lama?"

"Tahukah engkau Pek Yun Hui sudah berada di sini?"

Sahut Giok Siauw Sian Cu sambil tersenyum Ketika Giok Siauw Sian Cu mengatakan demikian, Co Hiong memang tampak terkejut Namun kemudian malah tertawa terbahak-bahak, begitu pula Souw Peng Hai.

"Kalian berharap Pek Yun Hui ke mari menolong kalian?"

Tanya Co Hiong.

"Asal dia ke mari, kalian berdua pasti kabur terbirit-birit!"

Sahut Giok Siauw Sian Cu.

"Hah! Hah! Sungguh sayang sekali, sebab dia tidak akan ke mari!"

Ujar Co Hiong sambil tertawa.

"Dia dan bangau sialan itu, begitu memasuki istana Pit Sia Kiong, sudah ditangkap Kim HunTokouw! Dia terkurung dalam formasi Ngo Heng Tin di ruang api, dan mungkin kini dia telah terbakar hangus!"

Bukan main cemasnya Bee Kun Bu. ia yakin Co Hiong tidak berbohong, karena Co Hiong tampak begitu tenang, begitu pula Souw Peng Hai.

"Kalian berdua mau meninggalkan pesan terakhir?"

Tanya Co Hiong sambil tertawa lebar "Hm!"

Dengus Giok Siauw Sian Cu dingin "Lie Ceng Loan dan Na Siao Tiap pasti ke mari, dan istana Pit Sia Kiong pasti musnah!"

"Oh?"

Co Hiong tersenyum "Kapan mereka akan ke mari?"

"Sudah berangkat ke mari, mungkin tidak lama lagi akan tiba di sini!"

Sahut Giok Siauw Sian Cu.

"Bagus! Bagus sekali!"

Co Hiong tertawa gelak.

"Aku akan menyambut kedatangan mereka, dan memberitahukan pada Nona Lie bahwa Bee Kun Bu bermesra-mesraan di sini dengan Giok Siauw Sian Cu! Nah, engkau harus berterima

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

kasih padaku, sebab aku akan memberitahukan pada Nona Lie yang cantik manis itu!"

"Binatang engkau!"

Bentak Bee Kun Bu gusar, sekaligus melancarkan pukulan ke arah Co Hiong.

Dalam keadaan gusar, Bee Kun Bu mengeluarkan jurus Ciak Ciu Poh Liong (Tangan Kosong Menangkap Naga) dan jurus Hui Pok Liu Sui (Air Terjun Arus Mengalir).

Kedua pukulan itu menimbulkan angin yang men-deruderu, dahsyat sekali karena Bee Kun Bu melancarkannya dalam keadaan gusar, Co Hiong ingin menangkis serangan itu dengan pedangnya, tapi angin pukulan itu telah menyambarnya membuat badannya bergoyang sehingga nyaris jatuh.

Co Hiong terkejut sekali dan cepat-cepat meloncat mundur Bee Kun Bu tidak bisa menyerang lagi, lantaran sepasang kakinya tidak bisa bergerak, tapi ia masih melancarkan sebuah pukulan jarak jauh ke arah Co Hiong.

Pada waktu bersamaan, Souw Peng Hai pun mengayunkan toya kepala naga ke arah Bee Kun Bu dengan jurus Sin Liong Kian Souh (Naga Sakti Memperlihatkan Kepala), Saat ini Bee Kun Bu sedang melancarkan pukulan jarak jauh, sama sekali tidak menyangka kalau Souw Peng Hai akan melakukan serangan gelap terhadap dirinya.

Betapa cemasnya Giok Siauw Sian Cu menyaksikan itu, sebab nyawa Bee Kun Bu berada di ujung tanduk.

Karena itu, ia lalu berbuat nekad, Tangannya menekan tanah, maksudnya ingin melesat ke arah Bee Kun Bu untuk menangkis toya itu, ia pun tahu, tangkisannya itu akan merenggut nyawanya, Namun ia sama sekali tidak menghiraukan itu, yang penting harus menyelamatkan nyawa Bee Kun Bu mati pun rela rasanya, Ketika tangannya baru menekan tanah, tiba-tiba terdengar suara bentakan "Berhenti, Souw Peng Hai!"

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Di saat bersamaan, meluncur bayangan berbentuk panjang kehijau-hijauan, ternyata sehelai selendang hijau.

"Serrrt!"

Ujung selendang itu melilit ujung toya Souw Peng Hai.

Bukan main gusarnya Souw Peng Hai.

ia langsung mengerahkan Lweekangnya agar toya itu dapat menghantam kepala Bee Kun Bu.

Akan tetapi, selendang itu mengeluarkan tenaga lunak, terus menahan ujung toya Souw Peng Hai.

"Guru! Kim Hun Tokouw yang datangiM seru Co Hiong memberitahukan Souw Peng Hai segera menoleh. Tidak salah, memang Kim Hun Tokouw-Lam Kiong Siu yang datang, sepasang mata perempuan itu menatap Souw Peng Hai dan memancarkan sinar dingin "Hm!"

Dengus Souw Peng Hai tidak senang.

"Apa artinya ini?"

"Muridmu yang bilang, kalau membunuh Bee Kun Bu berarti akan kehilangan kitab Kui Goan Pit Cek! Kenapa engkau begitu bernafsu ingin membunuhnya?"

Ucapan Kim Hun Tokouw sungguh menggusarkan Souw Peng Hai, ia mantan ketua partai Thian Liong, namun kini justru harus tunduk pada majikan istana Pit Sia Kiong, itu membuat hatinya mulai berontak.

"Guru!"

Co Hiong yang licik itu memberi isyarat padanya.

"Apa yang dikatakan Kim Hun Tokouw memang benar, sementara ini tidak perlu membunuh Bee Kun Bu! Bukankah masih ada kesempatan lain?"

Souw Peng Hai terpaksa menekan hawa kegusaran-nya. Kini ia bernaung di bawah istana Pit Sia Kiong, tentu harus bersabar. Oleh karena itu ia pun segera mundur beberapa Iangkah.

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Kim Hun Tokouw-Lam Kiong Siu menarik kembali selendangnya, lalu bertepuk tangan tiga kail Tak lama muncullah empat gadis dari tempat gelap.

"Bawa mereka ke dalam istana!"

Kim Hun Tokouw memberi perintah Keempat gadis itu segera mendekati mereka berdua Bee Kun Bu sudah siap melancarkan pukulan, namun Giok Siauw Sian Cu cepat-cepat berbisik "Jangan, Adik!"

"Kakak, apakah harus membiarkan diri kita ditang kap?"

Tanya Bee Kun Bu dengan suara rendah.

"Selagi gunung masih menghijau, jangan khawatir tiada kayu bakar!"

Sahut Giok Siauw Sian Cu dan me nambahkan.

"Apa gunanya melawan sekarang?"

Bee Kun Bu manggut-manggut sedangkan ke empat gadis itu telah menotok jalan darah mereka, kemudian membawa mereka pergi.

"Souw Peng Hai!"

Ujar Kim Hun Tokouw dingin.

"Dengan tenaga istana Pit Sia Kiong, melawan sembilan partai besar Tionggoan sungguh tidak gampang, maka jangan bertindak ceroboh tanpa suatu perhitungan matang!"

Souw Peng Hai tidak menyahut, melainkan cuma tertawa gelak, kemudian bersama Co Hiong melesat ke istana Pit Sia Kiong, Kim Hun Tokouw memandang punggung mereka sambil tertawa dingin.

Bagian ke tiga puluh sembilan Menyusun Suatu Rencana Busuk Souw Peng Hai dan Co Hiong sudah berada di dalam kamar istana Pit Sia Kiong, Souw Peng Hai berjalan mondarmandir di dalam kamar itu dengan wajah penuh kegusaran "Guru!"

Co Hiong malah tersenyum menyengir seraya berkata.

"Kita memang sangat tertekan oleh rahib wanita

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

sialan itu, namun cuma untuk sementara waktu saja, Lagi pula kini Pek Yun Hui telah terkurung dalam formasi Ngo Heng Tin di ruang api, dia pasti mati hangus.H "Tapi wanita bedebah itu sungguh licik, sama sekali tidak mau memberitahukan di mana ruang api itu,"

Sahut Souw Peng Hai.

"Guru, ketika kita ke mari, bukankah dia sudah bilang pada kita, bahwa banyak jebakan di dalam istana ini? Yang paling lihay adalah formasi Ngo Heng di ruang api, Cuma dia seorang yang tahu itu, termasuk kelihayan formasi tersebut."

"Ng!"

Souw Peng Hai manggut-manggut.

"Guru!"

Co Hiong tertawa.

"Sembilan partai besar di Tionggoan tidak akan begitu cepat kemari, aku ingin menggunakan kesempatan ini untuk pergi setengah bulan!"

"Engkau mau ke mana?"

Tanya Souw Peng Hai heran.

"Aku mau ke Gunung Kwat Cong San."

Co Hiong memberitahukan.

"Alangkah baiknya kalau bisa bertemu Lie Ceng Loan dan Na Siao Tiap di tengah jalan."

"Eh?"

Air muka Souw Peng Hai berubah.

"Anak Hiong, Na Siao Tiap itu...."

"Guru tidak usah khawatir!"

Co Hiong tersenyum "Kepandaian Na Siao Tiap memang di atasku, tapi kecerdasannya tidak bisa menyamaiku, Aku punya akal agair mereka berdua tidak bisa tiba di istana PitSia Kiong."

"Oh?"

Souw Peng Hai tertawa. ia memang tahu akan kecerdasan murid kesayangannya itu.

"Anak Hiong, itu amat membahayakan dirimu, lebih baik engkau jangan pergi!"

"Guru!"

Co Hiong merendahkan suaranya.

"Kalau tidak memasuki sarang macan, bagaimana bisa menangkap anak macan?"

"Itu...."

Souw Peng Hai tampak ragu.

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

"Guru!"

Co Hiong menambahkan "Mereka berdua melakukan perjalanan jauh, sudah pasti membawa serta Kui Goan Pit Cek.

Kalau kita bisa memperoleh Kui Goan Pit Cek itu, tentu tidak perlu minta bantuan Kim Hun Tokouw lagi untuk menghadapi sembilan partai besar, Lewat dua tahun, siapa bisa melawan kita?"

"Ngmm!"

Souw Peng Hai manggut-manggut dan tergerak pula hatinya "Kalau begitu, engkau harus berhati hati!"

"Aku akan melakukan perjalanan siang malam, namun Guru harus ingat! jangan ribut dengan Kim Hun Tokouw, itu akan membahayakan posisi Guru!"

Pesan Co Hiong sungguhsungguh.

"Benar."

Souw Peng Hai mengangguk ia senang sekali mempunyai murid yang begitu menaruh perhatian padanya.

Kenapa Co Hiong berani berangkat ke Gunung Kwat Cong San padahal ia tahu jelas kepandaian Na Siao Tiap jauh di atas kepandaiannya?

Memang tidak salah ia mengemukakan alasan itu pada Souw Peng Hai, Namun di samping itu, ia punya urusan pribadi, maka ingin menggunakan kesempatan ini untuk merayu Lie Ceng Loan.

Ternyata Co Hiong sangat tertarik akan kecantikan gadis itu, Siang maliwi wajah gadis yang cantik jelita itu terus muncul di pelupuk matanya, Karena itu, ia mau menempuh bahaya pergi ke Gunung Kwat Cong San demi merayu gadis tersebut Ketika Co Hiong meninggalkan kamarnya, mendadak muncul seorang gadis berbaju hijau yang cukup cantik, Begitu melihat gadis itu, wajah Co Hiong berseri dan tersenyum manis.

Co Hiong memang tergo!ong pemuda tampan, maka senyumannya dapat membetot sukma gadis yang mana pun.

Karena senyuman itu, maka Liong Giok Pin, kakak seperguruan Bee Kun Bu menyerahkan keperawanannya pada Co Hiong.

"Kakak!"

Panggil Co Hiong lembut

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

"Engkau tidak perlu begitu banyak peradaban!"

Sahut gadis berbaju hijau itu sambil tertawa merdu dan menatapnya dengan mata berbinar-binar.

"Kakak,..."

Co Hiong mengembangkan senyum memikat.

"Ada apa?"

Tanya gadis berbaju hijau yang memang sudah lama terpikat oleh Co Hiong.

"Bolehkah aku tahu, Bee Kun Bu dikurung di mana?"

"Engkau tidak usah bertanya, sebab Kiong Cu melarang kami menyinggung masalah itu!"

"Kakak tidak sudi beritahukan padaku?"

"Engkau menghendaki aku melakukan apa pun aku bersedia, kecuali urusan ini. Aku tidak bisa apa-apa."

"Kakak!"

Co Hiong menggenggam tangan gadis itu eraterat. Wajah gadis berbaju hijau itu langsung tampak kemerahmerahan.

"Aku memang ingin mohon bantuan-mu."

"Katakanlah!"

Sahut gadis berbaju hijau itu dengan suara rendah.

"Engkau tidak memberitahukan di mana Bee Kun Bu dikurung, itu tidak apa-apa. Asal engkau mau ke sana seorang diri dengan membawa kertas dan pit (Potlot), bilang padanya bahwa ada seorang nona bernama Lei Ceng Loan sudah tiba di luar istana Pit Sia Kiong, kebetulan bertemu denganmu, Dia tidak pereaya Bee Kun Bu berada di dalam istana Pit Sia Kiong, maka menghendaki Bee Kun Bu menulis sepucuk surat untuk dia yang isinya berbunyi minta bantuan."

"ltu gampang,"

Sahut gadis berbaju hijau.

"Tapi setelah aku berhasil harus bagaimana engkau berterima-kasih padaku?"

"Aku...."

Co Hiong pura-pura memandangnya dengan penuh cinta kasih.

"Tidak akan melupakanmu selamalamanya!"

"Siapa tahu kelak engkau akan mengingkar janji,"

Ujar gadis berbaju hijau itu sambil tertawa cekikikan "Kakak!"

Co Hiong tampak bersungguh-sungguh.

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

"Kalau engkau menganggapku sebagai orang semacam itu, engkau pun tidak usah melakukan itu."

"Tuh! Engkau kok cepat tersinggung?"

Gadis berbaju hijau itu cepat-cepat memegang lengan Co Hiong sambil tersenyum lembut.

"Kakak! Aku tunggu di sini,"

Ujar Co Hiong dan berpesan.

"Jangan lupa bunyi isi surat itu!"

"Ya."

Gadis berbaju hijau itu mengangguk, lalu melangkah pergi dengan wajah berseri-seri.

Setelah gadis berbaju hijau itu melangkah pergi, Co Hiong berjalan mondar-mandir di situ dengan perasaan tegang, sebab surat itu merupakan langkah awal dari rencana nya.

Dengan adanya surat itu, ditambah rayuannya, ia yakin Lie Ceng Loan pasti dapat ditipunya secara gampang Kira-kira setengah jam kemudian, ia melihat gadis berbaju hijau itu menghampirinya dengan wajah cerah ceria.

"Kakak!"

Co Hiong segera mendekatinya.

"Bagai-mana?"

"Tidak berhasil,"

Sahut gadis berbaju hijau itu sambil menggelengkan kepala.

"Dia tidak mau tulis."

"Aaakh..."

Keluh Co Hiong.

"Apakah engkau menuruti petunjukku memberitahukannya...."

"Hi hi!"

Mendadak gadis berbaju hijau itu tertawa geli.

"Kakak!"

Co Hiong merangkulnya.

"Jangan membuat aku tegang!"

"Nih!"

Gadis berbaju hijau itu memperlihatkan sepucuk surat di tangannya.

"Aku telah berhasil."

"Terimakasih!"

Ucap Co Hiong sambil menyambar surat itu, lalu mendadak melesat pergi.

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Gadis berbaju hijau itu terus memanggilnya, tapi Co Hiong sama sekali tidak menghiraukannya, Tak lama ia sudah berada di luar istana Pit Sia Kiong.

Di bawah sinar rembulan, mulailah ia membaca surat tersebut Adik Ceng Loan.

Aku berada di istana Pit Sia Kiong.

Siapa pun yang membawa suratku ini, harap engkau ikut dia ke mari!

Bee Kun Bu "Ha ha ha!"

Co Hiong tertawa terbahak-bahak setelah membaca surat itu.

ia yakin rencananya pasti akan berhasil, maka tidak heran kalau ia begitu gembira.

Pek Yun Hui yang berangkat ke istana Pit Sia Kiong merasa lega hati, sebab kepandaian Bee Kun Bu dan Giok Siauw Sian Cu tidak punah, cuma sepasang kaki mereka saja yang tidak bisa bergerak, lagi pula ada Hian Giok menjaga mereka.

Ketika ia tiba di depan istana Pit Sia Kiong, tiba-tiba terdengar suara pekikan Hian Giok.

Pek Yun Hui tertegun ia segera bersiul dan Hian Giok pun melayang turun.

"Hian Giok!"

Tanya Pek Yun Hui cemas.

"Apakah mereka telah terjadi sesuatu?"

Hian Giok mengeluarkan suara panjang, Mendengar suara itu Pek Yun Hui berlega hati.

"Bagus juga engkau datang, Kita akan memasuki istana ini melalui atas,"

Ujar Pek Yun Hui dan langsung meloncat ke punggung Bangau Sakti.

Hian Giok segera mengembangkan sayapnya terbang ke atas, Sebelum Hian Giok turun di halaman istana Pit Sia Kiong, para penjaga di situ telah melihatnya, dan langsung berlari ke dalam untuk melapor Setelah menerima laporan itu, Kim Hun Tokouw suruh mereka mundur semua, ia seorang diri lalu memasuki sebuah ruang rahasia yang merupakan tempat

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

pusat pengontrol semua jebakan yang ada di dalam istana tersebut sementara Hian Giok sudah turun, Pek Yun Hui merasa heran karena tidak melihat seorang pun di situ, ia dapat menduga bahwa, Kim Hun Tokouw pasti sudah mengatur suatu jebakan untuk dirinya.

"Lam Kiong Siu!"

Seru Pek Yun Hui.

"Bee Kun Bu dan Giok Siauw Sian Cu sebetulnya mengidap racun apa? cepatlah engkau serahkan obat pemunahnya!"

"Pek Yun Hui!"

Terdengar suara sahutan Kim Hun Tokouw, namun tidak tampak orangnya.

"Silakan masuk untuk mengambilnya tidak perlu berteriak-teriakdi luar!"

Pek Yun Hui tertawa dingin, Walau tahu banyak jebakan, tapi ia tetap melangkah ke dalam, Hian Giok mengikutinya dari belakang, Tak lama ia sudah sampai di depan pintu.

"Blam!"

Pek Yun Hui menghantam pintu itu dengan sebuah pukulan, dan seketika juga pintu itu berlubang Pek Yun Hui memandang ke dalam, di sana tampak sebuah ruang besar, Kim Hun Tokouw duduk di kursi dekat dinding.

Begitu melihat Kim Hun Tokouw duduk di situ, Pek Yun Hui berlega hati dan melangkah ke dalam.

"Hai mana obat pemunah racun itu?"

Tanya Pek Yun Hui.

Kim Hun Tokouw duduk diam dengan wajah dingin, sama sekali tidak menyahut pertanyaan Pek Yun Hui.

Air muka Pek Yun Hui berubah, matanya menatap KJm Hun Tokouw tak kalah dingin seraya berkata.

"Engkau berani menantang sembilan partai besar di Tionggoan, bagaimana kalau kita bertarung mempertaruhkan obat pemunah racun itu?"

Tantang Pek Yun Hui. Kim Hun Tokouw tetap duduk diam, sama sekali tidak bergerak sedikit pun, Menyaksikan itu, Pek Yun Hui tahu ada sesuatu yang tak beres. ia segeralah mundur dua langkah

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

sambil memperhatikan Kim Hun Tokouw, Ternyata itu cuma sebuah boneka yang mirip Kim Hun Tokouw.

Ketika mengetahui itu cuma sebuah boneka, Pek Yun Hui menyadari dirinya telah terjebak ia ingin mundur tapi sudah terlambat, karena mendadak ruangan itu berubah gelap, bahkan tempat ia berdiri pun berputar cepat sekali.

Pek Yun Hui terkejut, lalu cepat-cepat melesat ke atas, Akan tetapi akhirnya jatuh ke bawah juga dan masih mendengar suara pekikan Hian Giok, Setelah itu, sama sekali tidak mendengar suara apa-apa lagi, Setelah sepasang kakinya telah menginjak lantai, Pek Yun Hui menengok ke sekitar tempat itu, kemudian tertawa seraya berkata.

"Menjebak diriku di ruang bawah tanah ini, apakah tidak merasa malu?"

Pek Yun Hui menghunus pedangnya, ia melihat ke depan dipasang beberapa buah lampu minyak yang bersinar remang-remang.

Di atas setiap lampu bertuliskan Kim (Emas), Muk (Pohon), Sui (Air), Hwee (Api) dan Tou (Tanah).

Setelah membaca ke lima huruf itu, hati Pek Yun Hui terkejut, sebab ke lima buah lampu itu menandakan formasi lima unsur, Dengan penuh perhatian Pek Yun Hui mengamati ke depan, di sana hening tiada suara apa pun.

"Krek! Krek,.,."

Mendadak di bawah masing-masing lampu minyak itu muncul lubang berbentuk bulat Pek Yun Hui memandang ke dalam lubang-lubang itu, di sana gelap gulita tidak tampak apa-apa dan berapa dalamnya pun tidak dapat diketahui "Hmm!"

Dengus Pek Yun Hui dingin.

"Lam Kiong Siu! Di tempat ini telah disiapkan Ngo Heng Tin (Barisan Lima Unsur), kenapa belum digerakkan?"

"Pek Yun Hui!"

Terdengar suara Lam Kiong Siu bergema.

"Kalau engkau mampu memecahkan Ngo Heng Tinku ini, aku bersedia mengaku kalah padamu!"

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

"Engkau tidak akan ingkar janji?"

"Tentu tidak!"

"Baik!"

Pek Yun Hui melintangkan pedangnya, lalu selangkah demi selangkah mendekati ke lima buah lubang itu.

Akan tetapi, Ngo Heng Tin itu masih belum ber-gerak, sedangkan di dalam lubang-lubang itu pun tidak terdengar suara apa-apa.

Pek Yun Hui berdiri tertegun di hadapan lubang-lubang itu, lalu berpikir keras, Ngo Heng Tin merupakan suatu formasi aneh, maka harus berhati-hati, Sebelum memasuki istana Pit Sia Kiong, ia membawa beberapa buah batu kerikil Dikeluarkannya batu kerikil itu, lalu disambitkan nya ke dalam lima buah lubang itu.

"Serrrt! Serrrt...."

Batu-batu kerikil itu meluncur ke dalam lubang, lama sekali barulah mendengar suara jatuhnya batu kerikil itu.

Pek Yun Hui tampak terkejut, ia tidak menyangka kalau ke lima buah lubang itu begitu daiam.

keningnya berkerut, kemudian dengan pedang di tangan ia menerobos ke dalam salah sebuah lubang itu.

Badannya terus meluncur di dalam lubang itu, berselang sesaat ia sudah berada di sebuah ruangan.

Begitu badannya berada di ruangan itu, mendadak lubang itu tertutup kembali Pek Yun Hui memperhatian ruangan tersebut, luasnya cuma beberapa depa saja.

Namun sungguh aneh ruangan itu, ternyata semua dinding dilukis dengan pepohonan warna hijau, dan di lantainya tampak lima buah balok menancap.

Setelah menyaksikn semua itu, Pek Yun Hui segera menghimpun Hud Men Hian Thian Khi Kang (Tenaga Sakti Pelindung Badan) untuk melindungi diri, lalu me-nyabet salah sebuah balok itu dengan pedangnya.

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Akan tetapi, tiba-tiba balok itu bergerak dan kemudian terus berputar cepat tak henti-hentinya, Tak lama ke empat balok lainnya ikut berputar, bahkan pepohon yang dilukis di dinding juga mulai bergerak, dan seketika timbullah suara hiruk pikuk yang amat membisingkan telinga.

Pek Yun Hui berdiri tenang di tempat sekonyong-konyong salah sebuah balok itu menghantam dirinya.

"Bagus!"

Seru Pek Yun Hui sambil melancarkan sebuah pukuIan.

"BIaaam!"

Balok itu hancur berkeping-keping, dan ke empat balok lainnya langsung berhenti berputar.

Pek Yun Hui tampak gembira, ia terus melancarkan pukulan-pukulannya ke arah ke empat balok itu Akan tetapi, mendadak ke empat balok itu bergerak cepat menghantam dirinya, Pek Yun Hui cepat-cepat berkelit ia merasa heran, kenapa ke empat balok itu tidak hancur?

Ternyata ke empat balok itu dibikin dari baja, Balok yang pertama memang dibikin dari kayu, itu untuk memancing agar Pek Yun Hui melancarkan pukulan.

Walau Pek Yun Hui berkelit, tapi tetap terkurung di dalam balok baja itu.

Betapa terkejutnya Pek Yun Hui.

Namun dalam keadaan gugup ia masih sempat mengerahkan ginkangnya meloncat ke atas.

Begitu badannya melesat, ke atas ke empat balok baja itu saling bertabrakan.

"Bum! Bum! Bum...."

Keempat balok baja itu roboh semua.

Pada waktu bersamaan, Pek Yun Hui sudah melayang turun.

Menyaksikan kejadian itu, ia pun ter-.

belalak sambil menarik nafas lega, seandainya badannya terhantam balok baja itu, tentunya akan terluka parah.

Pek Yun Hui telah kehilangan pandangan Ruangan itu seperti musnah dari pandangannya, Begitu kakinya

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

melangkah maju, tahu-tahu dirinya telah melewati rintangan itu.

"Kreeek!"

Tiba-tiba dinding batu itu terbuka, Tanpa banyak pikir lagi Pek Yun Hui langsung menerobos ke dalam.

Begitu masuk, matanya berkunang-kunang seketika, maka cepat-cepat ia berdiri diam, lalu memperhatikan ruangan itu, Ternyata pada dinding ruangan itu dipasang puluhan lampu minyak, sedangkan di lantai juga dipasang lima buah obor yang menyala terang.

Menyaksikan keadaan itu, Pek Yun Hui pun tidak berani bertindak sembarangan ia khawatir, kalau salah bertindak dirinya pasti hangus di dalam ruangan tersebut Untuk sementara ia cuma berusaha mencari jalan keluarnya, tidak berani sembarangan melancarkan pukulan.

Oleh karena itu, ia tetap terkurung di dalam ruang api itu.

Beberapa hari kemudian, Co Hiong sudah tiba di Gunung Kwat Cong San, ia menunggang kuda memasuki gunung itu, tiba-tiba terdengar suara tawa yang amat merdu.

"Hi hi! Adik, kenapa wajahmu selalu tampak tegang?"

"Kakak Siao Tiap, bagaimana aku tidak tegang?"

Terdengar suara sahutan.

"Aku ingin cepat-cepat dengannya!"

"Adik! jangan khawatir, dia sudah menjadi milikmu, siapa akan merebutnya?"

Terdengar suara tawa lagi.

"Kakak Siao Tiap! Kenapa engkau selalu menggoda-ku?"

Begitu mendengar pereakapan itu, Co Hiong merasa girang, ia memandang ke atas, tampak dua orang gadis sedang berjalan santai di atas batu besar ia mengenali ke dua gadis itu, tidak lain adalah Na Siao Tiap dan Lie Ceng Loan.

"Hei!"

Serunya.

"Nona kecil! Hati-hati, jangan main di situ! Kalau jatuh badan kalian pasti remuk!"

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Mendengar suara teriakan tersebut ke dua gadis itu lalu meloncat turun ke hadapan Co Hiong.

"Eh?"

Co Hiong pura-pura terkejut "Ternyata kalian berdua!"

"Engkau?"

Lie Ceng Loan masih mengenalinya.

"Bukankah engkau teman Kakak Bu yang jahat itu?"

"Aaaakh!"

Co Hiong menepuk keningnya sendiri "Syukurlah! Akhirnya aku bertemu kalian berdua juga!"

"Kakak Siao Tiap!"

Lie Ceng Loan menarik tangan Na Siao Tiap.

"Orang itu jahat sekali Entah sudah berapa kali dia menyebabkan Kakak Bu nyaris terbunuh, Ayo, mari kita cepat pergi!"

"Hm!"

Dengus Na Siao Tiap sambil menatap Co Hiong.

"Cepatlah engkau enyah dari sini!"

"Kalian..."

"Aku menyuruhmu enyah!"

Bentak Na Siao Tiap sambil menggerakkan tangan nya.

"Plak! Plak!"

Pipi Co Hiong sudah kena tampar dua kail Co Hiong tidak merasa sakit, cuma terkejut, sebab begitu cepat gerakan Na Siao Tiap.

"Bagus! Bagus!"

Lie Ceng Loan tertawa gembira sambil bertepuk-tepuk tangan.

Setelah Na Siao Tiap mundur, barulah Co Hiong mengangkat sebelah tangannya mengusap pipinya, Be-tapa gusarnya Co Hiong, tapi ia justru malah tersenyum-senyum.

"Baiklah! Aku akan pergi!"

Ujarnya lalu meloncat ke punggung kuda, dan kuda itu pun langsung berlari pergi.

Na Siao Tiap memandang punggung Co Hiong sambil tersenyum dingin, namun kemudian menarik nafas panjang "Adik, beberapa hari ini hatiku terasa kacau, maka aku jadi marah-marah."

Na Siao Tiap memberitahukan.

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

"Kakak Siao Tiap! Aku pun begitu, Mungkin aku terlampau merindukan Kakak Bu. Tentunya Kakak Siao Tiap juga merindukannya, maka hati Kakak jadi kacau,"

Ujar Lie Ceng Loan.

Na Siao Tiap tertegun mendengar ucapan Lie Ceng Loan, sebetulnya Lie Ceng Loan mengucapkan begitu tiada maksud apa-apa, tapi yang mendengarnya justru merasa ada apaapanya.

Pada waktu yang bersamaan tiba-tiba terdengar suara gumaman Co Hiong.

Ternyata ia kembali ke tempat itu lagi.

"Saudara Bee! Saudara Bee! Setengah mati aku mencari mereka, tapi mereka malah mengusirku! Yaaah! Apa boleh buat! Aku tidak bisa membantumu dalam tugas ini!"

"Hei!"

Bentak Lie Ceng Loan.

"Engkau bilang apa?"

Co Hiong tidak meladeninya, malah melarikan kudanya ke depan, sedangkan mata Lie Ceng Loan sudah bersimbah air.

"Kakak Siao Tiap, orang itu demi Kakak Bu ke mari cari kita, Kakak Bu pasti menitip pesan padanya."

Ujar Lie Ceng Loan.

"Berhenti!"

Na Siao Tiap langsung membentak.

Ketika mendengar suara bentakan itu, giranglah hati Co Hiong dan membattn.

Walau kalian berkepandaian tinggi, tapi otak kalian berada di dengkul, Co Hiong segera menghentikan kudanya.

"Cepat ke mari!"

Bentak Na Siao Tiap lagi. Co Hiong memutarkan kudanya, kemudian kuda itu pun berjalan ke hadapan ke dua gadis itu, Sebelum kuda itu mendekat, Lie Ceng Loan sudah melesat ke sana.

"Barusan... barusan engkau bilang apa?"

Tanya gadis itu.

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

"Tadi Nona Na menamparku dua kali dan menyuruhku pergi, Kini engkau memanggilku sebetulnya ada apa?"

Sahut Co Hiong.

"Tadi engkau bilang apa? Kakak Bu kenapa?"

Tanya Lie Ceng Loan cemas.

"Adik!"

Sela Na Siao Tiap.

"Jangan terjebak, bagaimana mungkin Kakak Kun Bu akan menitip pesan pada orang yang begini macam?"

Lie Ceng Loan tertegun, dan wajahnya mulai tidak begitu tegang lagi, Kemudian ia menundukkan kepala seraya bergumam.

"Kakak Siao Tiap benar, orang itu jahat sekali, tak mungkin kakak Bu akan menitip pesan padanya."

Sedangkan Co Hiong terus memandang Lie Ceng Loan.

Tampaknya hatinya semakin tertarik pada gadis itu.

Hm!

Dengusnya dalam hati.

Gadis itu begitu mencintai Bee Kun Bu, dan Bee Kun Bu pun amat men-cintainya.

Bagus!

Kalau aku berhasil menodai gadis itu, Bee Kun Bu pasti akan mati muntah darah!

"Saudara Bee,.,"

Gumamnya sambil menarik nafas panjang.

"Aku sudah bilang, mereka tidak akan pereaya."

Lie Ceng Loan tertegun ketika mendengar gumaman itu. ia segera memandang Na Siao Tiap, Padahal se-sungguhnya, Hati Na Siao Tiap pun sudah kacau.

"Apakah benar Kun Bu ada menitip pesan padamu?"

Tanyanya kemudian pada Co Hiong. Co Hiong segera mengeluarkan surat yang dibawa-nya, lalu memandang mereka berdua seraya menyahut "Kalau Nona Na masih tidak pereaya, silakan baca surat ini!"

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Mendadak Na Siao Tiap menjulurkan tangannya, seketika juga Co Hiong merasa ada tenaga yang amat kuat menghisap surat yang di tangannya.

"Serrr!"

Surat itu sudah berpindah Ke tangan Na Siao Tiap.

Bukan main terkejutnya Co Hiong, sungguh hebat Lweekang gadis itu!

Lagi pula gadis itu sulit ditipu, karena itu harus berhati-hati.

Ternyata Na Siao Tiap mengeluarkan ilmu Toa Pan4 Yok Hian Kang.

Setelah surat itu berada di tangannya, ia pun segera membukanya.

"Haah!"

Seru Lie Ceng Loan.

"Tidak salah, itu memang tulisan Kakak Bu!"

"Kakak Kun Bu yang menulis surat ini padamu, Dia dalam bahaya dan hanya teringat padamu seorang diri,"

Ujar Na Siao Tiap, wajahnya pun sudah berubah.

Nada dan mimik wajah Na Siao Tiap tidak terlepas dari mata Co Hiong, itu membuatnya tertegun dan menyadari bahwa gadis itu pun mencintai Bee Kun Bu.

Kalau begitu, aku harus memperalatnya juga!

pikir Co Hiong sambil tertawa dalam hati.

"Wuaaakh!"

Lie Ceng Loan sudah menangis.

"Kakak Siao Tiap, Kakak Bu telah ditangkap orang, dia menghendaki kita pergi menolongnya."

"Heran?"

Na Siao Tiap mengerutkan kening.

"Dia bersama Kakak Pek, siapa yang mampu melawan me reka?"

"Kakak Siao Tiap, ini memang benar tulisan Kakak Bu,"

Ujar Lie Ceng Loan dengan air mata bereucuran "Saudara Bee dan Nona Pek tertangkap di dalam istana Pit Sia Kiong,"

Sela Co Hiong memberitahukan Na Siao Tiap menatapnya tajam dan dingin. Hati Co Hiong tersentak sebab sorotan mata Na Siao Tiap yang begitu tajam

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

dan dingin itu seakan menembus ke dalam hatinya, sehingga membuat hati Co Hiong berdebar debar tegang.

"Bukankah engkau bersekongkol dengan Kim Hun Tokouw, namun kenapa engkau bersedia membawa surat Kun Bu ke mari?"

Tanya Na Siao Tiap.

"Nona Na...."

Co Hiong tertawa getir "Panjang sekali kalau dituturkan Agar tidak membuang waktu, harap Nona Lie segera ikut aku ke sana!"

"Adik Loan!"

Ujar Na Siao Tiap.

"Aku akan pergi bersamamu."

"Kuda cuma seekor,"

Sahut Co Hiong cepat.

"Nona Lie, cepatlah naik ke punggung kuda!"

Lie Ceng Loan tahu jelas bahwa Co Hiong bukan orang baik, tapi Bee Kun Bu sedang menunggu ke-datangannya, maka gadis itu ingin segera ke sana tanpa memikirkan resiko.

Oleh karena itu, begitu Co Hiong mengatakan begitu, ia pun langsung melesat ke atas punggung kuda, sedangkan pada waktu itu, Co Hiong sudah berada di atas punggung kuda itu.

"Kakak Siao Tiap, ayo naik!"

Seru Lie Ceng Loan.

"Baik,"

Sahut Na Siao Tiap.

Akan tetapi, pada waktu bersamaan Co Hiong menepuk badan kuda itu sehingga kuda itu langsung berlari kencang.

Di saat itu, Na Siao Tiap melesat, tapi kuda itu telah berlari pergi, Na Siao Tiap bersiul sambil mengerahkan ginkangnya melesat ke depan Lie Ceng Loan segera menjulurkan tangannya.

"Kakak Siao Tiap!"

Serunya.

"Cepat sambar tanganku!"

Na Siao Tiap langsung menjulurkan tangannya ingin menyambar tangan Lie Ceng Loan, namun kuda itu melesat cepat. Perlu diketahui, kuda Co Hiong itu kuda jempolan

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

larinya laksana kilat, Karena itu, Na Siao Tiap menyambar angin Menyaksikan itu, Na Siao Tiap menarik nafas dalamdalam, dan sekaligus mengerahkan ginkangnya, Tapi kuda itu bertambah kencang larinya, maka Na Siao Tiap tetap ketinggalan di belakang walau sudah mengerahkan ginkangnya.

"Hei!"

Bentak Lie Ceng Loan.

"Kenapa engkau tidak mau menunggu Kakak Siao Tiap?"

"Saudara Bee sedang menunggumu, maka aku harus memburu waktu,"

Sahut Co Hiong. Lie Ceng Loan menoleh ke belakang, melihat Na Siao Tiap tertinggal belasan depa.

"Kakak Siao Tiap!"

Teriak Lie Ceng Loan.

"Ayoh, cepat!"

Saat itii, Na Siao Tiap telah mengerahkan ginkangnya semaksimalnya, Akan tetapi, ia tetap tertinggal belasan depa di belakang kuda itu.

"Kalau engkau tidak berhenti, lain kali jangan bertemu denganku!"

Teriak Na Siao Tiap gusar "Cepat tunggu dia!"

Ujar Lie Ceng Loan pada Co Hiong. Co Hiong menoleh ke belakang, Ketika melihat Na Siao Tiap tertinggal agak jauh, legalah, hatinya dan tertawa panjang.

"Saudara Bee sedang menunggu, kita mana boleh membuang waktu, lagi pula dia cuma menghendaki engkau pergi seorang diri,"

Ujarnya dan sekaligus menepuk badan kuda, sehingga larinya bertambah kencang.

Lie Ceng Loan adalah gadis polos, sama sekali tidak tahu akan kelicikan Co Hiong.

LagipuIa Co Hiong pandai berakting, mengambil hati orang, merayu dan lain se bagainya.

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

****** Bab ke 40 -Terjebak Dalam Rencana Busuk sementara Na Siao Tiap masih terus mengerahkan ginkangnya untuk mengejar kuda itu.

ia yakin Co Hiong berniat tidak baik dalam hati.

Biar bagaimanapun Bee Kun Bu dalam bahaya, tidak mungkin tiada waktu sesaat bagi Co Hiong untuk menghentikan kudanya.

Apakah lantaran waktu yang sesaat itu, akan menyebabkan diri Bee Kun Bu mengalami suatu bahaya besar?

itu pasti tidak mungkin, Oleh karena itu Na Siao Tiap berkesimpulan bahwa Co Hiong cuma mencari alasan untuk memisahkannya dengan Lie Ceng Loan.

Setelah berkesimpulan demikian, kegusaran Na Siao Tiap memuncak, dan seketika teringat pula akan kata-kata ibunya, bahwa tiada seorang pun lelaki yang baik di kolong langit ini.

Teringat akan kata-kata itu, ia langsung mengerahkan ilmu Toa Pan Yok Hiang Kang, dan mendadak badannya melesat bagaikan terbang.

Dalam waktu sekejap, Na Siao Tiap telah berhasil menyusul kuda itu, dan langsung menyambar ekornya.

Betapa terkejutnya Co Hiong, ia segera menoleh dan kebetulan melihat tangan Na Siao Tiap sedang menyambar ekor kudanya, Kalau ekor kudanya itu tersambar itu berarti semua rencananya akan berantakan Di saat bersamaan, Co Hiong menggerakkan lengan-nya, Tiga buah gelang emas yang di lengannya langsung meluncur ke arah Na Siao Tiap laksana kilat Badan Na Siao Tiap masih melayang di udara, maka tidak bisa berkelit maupun meloncat menghindar sedangkan ke tiga buah gelang emas itu telah meluncur ke arahnya.

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Mendadak Na Siao Tiap membuka mulutnya menggigit salah satu gelang emas itu, lalu mengerahkan Lwee-kangnya menyemburkan gelang emas yang di mulutnya ke arah gelang emas lain yang meluncur datang itu.

Cring!

Cring....

Gelang emas itu menghantam ke dua gelang emas yang meluncur datang.

Akibatnya ke tiga gelang emas itu berjatuhan.

pada saat bersamaan, Na Siao Tiap melancarkan sebuah pukulan jarak jauh ke arah Co Hiong, sekaligus menyambar ekor kuda itu.

Sungguh terkejut Co Hiong, tapi ia masih berhasil mengelak pukulan jarak jauh itu.

Namun Na Siao Tiap telah berhasil menyambar ekor kuda itu.

Cepat-cepat Co Hiong mencabut pedangnya, dan secepat kilat menyabet ke arah ekor kuda itu.

Srrrt!

Ekor kuda itu tersabet putus.

Untung Na Siao Tiap berkepandaian tinggi, kalau tidak, ia pasti terluka, Gadis itu cepat-cepat bangkit berdiri, tapi kuda itu telah lari belasan depa.

"Adik Loan! Engkau harus berhati-hati, jangan mempereayai omongannya!"

Ujar Na Siao Tiap dengan ilmu penyampai suara.

"Aku tahu, Kakak Siao Tiap,"

Sahut Lie Ceng Loan yang juga menggunakan ilmu penyampai suara.

Setelah Lie Ceng Loan menyahut demikian, kuda itu sudah tidak kelihatan lagi, Bukan main gusarnya Na Siao Tiap, namun tidak bisa berbuat apa-apa hanya berdiri tertegun di tempat Tiba-tiba Na Siao Tiap teringat sesuatu, bahwa Bee Kun Bu cuma menghendaki Lie Ceng Loan pergi seorang diri, sama sekali tidak menyuruhnya ikut, itu membuat hati Na Siao Tiap berduka dan air matanya pun meleleh tanpa disadarinya

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Lama sekali barulah ia kembali ke gua Thian Kie.

Setelah tiba di gua itu, ia mengambil piepie (Alat musik kuno Cina mirip gitar), lalu ke luar dan kemudian duduk di atas sebuah batu.

Mulailah ia memainkan alat musik itu, Tak seberapa lama kemudian, air matanya berderai-derai.

"lbu! Oooh, ibu!"

Gumamnya sambil terisak-isak.

"Aku telah mencintainya, aku... aku harus bagaimana? Ibu, beritahukanlah padaku!"

Walau ibunya sudah meninggal, namun Na Siao Tiap masih tetap ingat pada almarhumah, terutama kata-katanya.

"Kaum lelaki di kolong langit, tiada satu pun yang baik, Di saat engkau jatuh cinta pada seseorang lelaki, haruslah engkau membunuhnya."

Teringat akan kata-kata itu, Na Siao Tiap mulai menangis sedih, Gadis itu memang telah jatuh cinta pada Bee Kun Bu, lalu haruskah ia membunuhnya sesuai amanat almarhumahnya?

Ternyata inilah yang mencekam hatinya.

sementara kuda yang ditunggangi Co Hiong dan Lie Ceng Loan terus berlari, Walau mungkin Na Siao Tiap telah memperingatkannya, Lie Ceng Loan tetap pereaya Bee Kun Bu dalam bahaya, sehingga membuatnya ingin cepat-cepat sampai di tempat Bee Kun Bu dikurung.

"Sebetulnya Kakak Bu dikurung di mana?"

Tanya Lie Ceng Loan. Co Hiong diam saja. Lie Ceng Loan penasaran dan bertanya berulang kali, tapi Co Hiong tetap diam.

"Trang!"

Pedang Co Hiong jatuh ke bawah, sedangkan badannya bergoyang-goyang.

"Eh? Kenapa engkau?"

Tanya Lie Ceng Loan heran. Co Hiong tetap tidak menyahut, hanya mengeluarkan suara rintihan. Lie Ceng Loan bertambah heran dan segera

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

memandangnya Terbelalaklah gadis itu, ternyata mulut Co Hiong mengeluarkan darah segan Lie Ceng Loan merasa tidak tega menyaksikan keadaan Co Hiong.

ia segera menarik tali kendali kuda, dan kuda itu pun berhenti Lie Ceng Loan meloncat turun, kemudian menurunkan Co Hiong dari punggung kuda sekaligus menaruhnya ke bawah.

Co Hiong masih merintih Lie Ceng Loan memandang wajahnya namun saat ini wajah yang tampan itu tampak pucat pias, dan keningnya mengucurkan keringat "Engkau terluka dalam, kenapa tidak bilang dari tadi?"

Tanya Lie Ceng Loan sambil mengerutkan kening.

"Kalau aku... aku bilang, akan menghambat perjalanan kita,"

Sahut Co Hiong dengan mata terpejam.

Ke-lihatannya ia amat menderita karena luka dalamnya itu.

Kali ini Co Hiong memang tidak berpura-pura.

Siapa yang melihatnya pasti tahu bahwa ia mengalami luka dalam yang cukup parah.

Ternyata engkau begitu baik terhadapku"

Co Hiong tidak menyahut, cuma mengge!eng-ge-lengkan kepala sambil menghela nafas panjang, Setelah itu, tubuhnya pun bergemetan "Kenapa engkau?"

Tanya Lie Ceng Loan bernada cemas.

Gadis itu memang terharu, tapi tidak disertai perasaan apa pun terhadap Co Hiong.

Karena itu, Lie Ceng Loan membungkukkan badan nya, maksudnya ingin melihat jelas di mana luka itu.

Mata Co Hiongyang terpejam itu mendadak terbuka, ternyata ia mencium keharuman badan Lie Ceng Loan.

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Setelah membuka matanya, ia terbelalak karena melihat Lie Ceng Loan yang cantik jelita itu berada dihadapannya.

Co Hiong tidak mengeluarkan suara apa pun, cuma memandangnya dengan mata terbelalak Ketika mengetahui Co Hiong memandangnya dengan cara begitu, wajah Lie Ceng Loan berubah kemerah-merahan.

"Kenapa engkau...."

Lie Ceng Loan mendorongnya, Kebetulan tangan gadis itu tepat mengenai dada Co Hiong yang terluka.

"Aaakh...."

Jerit Co Hiong kesakitan lalu pingsan.

Kenapa Co Hiong bisa terluka?

Ternyata ketika ia menyabet ekor kuda dengan pedang nya, mendadak Na Siao Tiap juga melancarkan sebuah pukulan jarak jauh ke arah dadanya.

Dada Co Hiong terpukul, namun ia berkertak gigi bertahan, dan tetap menyabet ekor kuda itu dengan pedangnya.

ia berhasil menyabet putus ekor kuda itu, dan Na Siao Tiap terhempas jatuh ke bawah.

sedangkan kuda itu terus berlari, maka Co Hiong tetap bertahan tapi akhirnya mulutnya menyemburkan darah segar Memang sudah lama Co Hiong jatuh hati pada Lie Ceng Loan, maka ketika gadis itu mendekatinya dan membungkukkan badan, iapun membuka matanya lantaran mencium keharuman badan gadis itu.

otomatis ia memandang gadis itu dengan mata terbelalak Lie Ceng Loan tersentak karena tatapan Co Hiong sehingga langsung mendorongnya dan tanpa sengaja justru telah mendorong bagian dada Co Hiong yang terluka, Saking sakitnya Co Hiong pingsan.

Gadis itu menyesal karena telah mendorongnya, Namun tak lama kemudian, Co Hiong sudah sadar Ketika melihat Lie Ceng Loan memandangnya dengan penuh perhatian, Co Hiong girang bukan main, ia yakin bahwa gadis itu mulai

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

menaruh perhatian padanya, Oleh karena itu wajahnya tampak memerah saking girangnya.

sebaliknya Lie Ceng Loan malah terperanjat ia pernah mendengar dari Ngo Kong Taysu, bahwa apabila seseorang terluka dalam, wajahnya pucat pias tidak jadi masalah, asal jangan berubah memerah, itu pertanda sulit ditolong lagi.

Kini ia menyaksikan wajah Co Hiong memerah, tentu membuatnya terperanjat sekali, Gadis itu tidak tahu, kalau wajah Co Hiong memerah lantaran saking girangnya karena rencananya berjalan lancar "Bagaimana rasamu?"

Tanya Lie Ceng Loan sambil memegang tangannya. Begitu Lie Ceng Loan memegang tangannya, seketika juga pikiran Co Hiong seakan melayang ke sorga.

"Nona Lie, lukaku... lukaku sudah parah sekali,"

Sahut Co Hiong lemah.

"Mungkin,., mungkin aku sudah tidak kuat lagi menemanimu melanjutkan perjalanan."

"Co Hiong...."

Hati Lie Ceng Loan pilu.

"Beritahu-kanlah, Kakak Bu berada di mana?"

Co Hiong menarik nafas panjang, matanya memandang Lie Ceng Loan seraya berkata.

"Nona Lie, kita harus memburu waktu, mari kita berangkat saja!"

Co Hiong memang licik. ia memang terluka, namun berpura-pura terluka parah sekali, bahkan mengelak pertanyaan Lie Ceng Loan.

"Engkau telah terluka sedemikian parah, bagaimana mungkin melanjutkan perjalanan?"

Lie Ceng Loan iba kasihan padanya.

"Nona Lie.-."

Co Hiong menghela nafas dengan wajah murung.

"Saudara Bee telah menganggapku sebagai teman baiknya, maka mempereayaiku membawamu ke sana, jangan karena lukaku ini sehingga menter-lantarkan urusan besarnya!"

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Ucapan Co Hiong membuat Lie Ceng Loan semakin terharu, ia memandangnya seraya berkata lembut "Co Hiong, ternyata engkau orang baik.

Dulu aku sering mencaci maki dirimu, aku harap engkau sudi memaafkanku!"

Giranglah hati Co Hiong mendengar itu, tapi wajahnya justru bertambah murung dan tak henti-hentinya menarik nafas.

"Nona Lie, urusan yang telah berlalu jangan diungkit kembali! Setelah aku bertemu denganmu, terjadilah suatu perubahan."

"Lho?"

Lie Ceng Loan heran.

"Kenapa begitu?"

"Nona Lie!"

Co Hiong menatapnya dalam-dalam.

"Hatimu amat terang dan bersih, siapa yang melihatmu, pasti akan berubah seperti diriku."

"Oh?"

Lie Ceng Loan tersenyum.

"Aku tak me-nyangka, engkau pandai berbicara."

Co Hiong tersentak Oleh karena itu tidak berani terlampau cepat merayu nya, harus membuat gadis itu perlahan-lahan masuk ke dalam rencananya, Co Hiong diam, kemudian mulai merintih lagi.

"Co Hiong!"

Lie Ceng Loan mengerutkan kening.

"Sebetumya bagaimana keadaan lukamu?"

"Nona Lie,.,."

Co Hiong menarik nafas yang panjang sekali.

"Kalau engkau sudi membantuku, aku pereaya setengah hari lukaku pasti sembuh!"

"Aku pasti sudi membantumu,"

Sahut Lie Ceng Loan cepat "Sobeklah sedikit baju atasku!"

Ujar Co Hiong melanjutkan "Ambillah beberapa butir obat di dalam bajuku, kemudian hancurkan dan poleskan di dadaku!"

"Tadi aku mendorongmu tanpa sengaja, engkau sudah pingsan. Apakah sekarang engkau tidak takut sakit lagi?"

Tanya Lie Ceng Loan.

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

"Tentu sakit!"

Co Hiong menarik nafas.

"Tapi ada Nona Lie berada di sisiku, itu akan membuatku merasa baik."

"Eh?"

Wajah Lie Ceng Loan kemerah-merahan.

"Jangan omong sembarangan!"

Co Hiong tertawa lalu diam, sedangkan Lie Ceng Loan mulai melaksanakan permintaan Co Hiong barusan.

"Berikan aku dua butir obat itu!"

Ujar Co Hiong.

"Nih!"

Lie Ceng Loan segera memberikan nya.

"Aduh!"

Jerit Co Hiong ketika menjulurkan tangan mengambil obat tersebut "Kenapa?"

Tanya Lie Ceng Loan.

"Tanganmu sakit ya?"

"Ng!"

Co Hiong mengangguk "Nona Lie, tolong masukkan ke dua butir itu ke dalam mu!utku!"

Lie Ceng Loan mengerutkan kening, tapi akhirnya melakukannya juga, dan seketika juga hati Co Hiong berbunga-bunga.

"Terimakasih!"

Ucapnya dan menambahkan "Seka-rang tolong buka bajuku, hancurkan beberapa butir obat itu, lalu gosokkan di dadaku!"

"Itu...."

Lie Ceng Loan ragu melakukannya tapi ia masih ingat harus segera berangkat menolong Bee Kun Bu, maka ia pun melakukannya.

Ketika Lie Ceng Loan mulai menggosok-gosok dada Co Hiong dengan obat yang telah dihancurkan itu, mata Co Hiong langsung merem melek menikmati gosokan yang amat lembut "Nona Lie...."

Mendadak Co Hiong memegang lengan gadis itu seraya berkata.

"Engkau sedemikian baik terhadapku, pokoknya aku tidak akan lupakan!"

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

"Jangan banyak bicara!"

Sahut Lie Ceng Loan yang teiah usai menggosok dadanya.

"Lebih baik engkau beristirahat sejenak!"

Tiba-tiba Co Hiong menjulurkan lehernya, Lie Ceng Loan tertegun dan di saat itu pula Co Hiong mengecup keningnya.

itu sungguh di luar dugaan Lie Ceng Loan.

Gadis itu dan Bee Kun Bu memang saling mencinta, namun mereka berdua selalu saling menjaga, tidak pernah Bee Kun Bu mengecup keningnya.

Akan tetapi, saat ini Co Hiong berani mengecup keningnya, itu menyebabkan nya jatuh duduk, tidak tahu harus marah atau....

Yang jelas hatinya terus berdebar-debar seakan meloncat ke luar.

"Engkau... engkau...."

Akhirnya Lie Ceng Loan menudingnya.

"Apa maksudmu berbuat demikian?"

"Nona Lie...."

Co Hiong tahu gadis itu pasti bertanya begitu, maka ia sudah siap menjawabnya,"... aku sendiripun tidak tahu kenapa berbuat begitu, hanya saja... mungkin luapan cinta kasih."

Wajah Lie Ceng Loan bertambah merah, Gadis itu segera memalingkan mukanya seraya menegur Co Hiong.

"Kalau engkau masih begini, aku akan marah."

Ucapan Lie Ceng Loan tersebut justru membuat Co Hiong semakin girang, karena kalau seorang gadis bilang akan marah, itu pasti tidak akan marah.

"Nona Lie, aku tidak berani begitu lagi, Aku mohon maaf... aduuh!"

Jerit Co Hiong mendadak "Engkau memang...."

Lie Ceng Loan memandangnya sambil melotot Sikap Lie Ceng Loan membuat Co Hiong bertambah girang, karena yakin gadis itu mulai tertarik padanya, berarti mulai melangkah ke dalam perangkap rencana-nya.

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

"Nona Lie, bersediakah engkau jadi temanku?"

Tanya Co Hiong mendadak.

"Engkau teman Kakak Bu, tentunya kita juga teman, Kenapa engkau harus bertanya begitu?"

Sahut Lie Ceng Loan sambil tersenyum.

Ketika Lie Ceng Loan menyebut nama Bee Kun Bu, timbullah rasa gusar dalam hati Co Hiong.

Akan tetapi, wajahnya justru tidak memperlihatkan kegusaran, kemudian ia memejamkan matanya, sementara hari sudah mulai senja, berselang beberapa saat, Co Hiong membuka matanya dan berkata.

"Nona Lie, mari kita melanjutkan perjalanan! Tolong papah aku ke atas punggung kuda!"

Lie Ceng Loan memang ingin segera berangkat, maka tanpa banyak berpikir lagi langsung memapah Co Hiong ke atas kuda.

Sesungguhnya, Co Hiong sudah bisa naik sendiri ke atas punggung kuda itu, sebab ia pernah mempelajari cara pengobatan dengan Lweekang dari buku catatan Sam Im Sin Ni, ditambah obat itu amat manjur, membuat luka dalamnya agak membaik.

Namun ia memang ingin menyentuh badan Lie Ceng Loan, karena itu ia menyuruh gadis itu memapahnya ke atas punggung kuda.

Setelah Co Hiong duduk, Lie Ceng Loan segera meloncat ke atas punggung kuda itu, di depannya Co Hiong, Co Hiong memegang tali kendali kuda.

Begitu melihat Lie Ceng Loan sudah duduk, ia menepuk badan kuda, dan kuda itu langsung berlari kencang.

Kuda itu bernama Cui Hong Sin Kou (Kuda Sakti pengejar Angin), dapat dibayangkan betapa cepat larinya.

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Mereka menuju arah utara, yakni ke arah Kota Si Shia.

sepanjang jalan Lie Ceng Loan terus bertanya di mana Bee Kun Bu, tapi Co Hiong tetap tidak menyahut Karena kuda itu menuju ke arah Si Shia, maka Lie Ceng Loan tidak banyak bertanya lagi, Sebab sebelum muncul Co Hiong, Lie Ceng Loan dan Na Siao Tiap memang sudah punya rencana mau berangkat ke Si Shia untuk mencari Bee Kun Bu.

Gadis itu girang sekali karena kuda itu dapat berlari begitu cepat Namun kalau ia menunggang Hian Giok, mungkin akan lebih cepat lagi, Ternyata mendadak Lie Ceng Loan teringat pada Bangau Sakti, Tentunya ia teringat pula pada Pek Yun Hui.

Pek Yun Hui dan Bee Kun Bu berangkat bersama ke Si Shia sekian lama.

Hati Lie Ceng Loan tersiksa sekali karena terus memikirkan dan merindukan Bee Kun Bu.

seandainya Bee Kun Bu dalam bahaya, bukankah dia bersama Pek Yun Hui?

Kenapa Pek Yun Hui tidak menolongnya?

Pikir Lie Ceng Loan dan langsung bertanya pada Co Hiong.

"Eh! Aku mau tanya, di mana Kakak Pek?"

"Dia sudah tertangkap, kenapa engkau menanyakan nya ?"

Co Hiong tampak tidak senang, namun Lie Ceng Loan tidak mengetahuinya.

"Bagaimana sih engkau? Kakak Pek telah menganggapku sebagai adiknya, kenapa aku tidak boleh me-nanyakannya?"

"Hm!"

Dengus Co Hiong dingin.

"Dia menganggapmu sebagai adiknya? Mungkin engkau saja yang menganggapnya sebagai kakak."

"Benar,"

Sahut Lie Ceng Loan.

"Aku memang menganggapnya sebagai kakak."

"Nona Lie...."

Co Hiong menarik nafas panjang.

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

"Engkau terlampau po!os, sama sekali tidak tahu kelicikan orang,"

"Eh?"

Wajah Lie Ceng Loan berubah.

"Engkau menimbulkan suatu masalah di antara aku dengan Kakak Pek?"

Co Hiong terkejut ia mengira gampang menghasut-nya, namun ternyata tidak, Karena itu, cepat-cepat ia berkata.

"Nona Lie, engkau jangan begitu cepat menuduhku, aku sama sekali tidak berniat menghasutmu."

"Kalau begitu, aku yang bersalah,"

Ujar Lie Ceng Loan.

Setelah itu Lie Ceng Loan diam, Gadis itu tidak habis berpikir, Pek Yun Hui berkepandaian tinggi, kenapa bisa ditangkap orang?

Karena tidak habis berpikir, ia bertanya pada Co Hiong.

"Kakak Pek berkepandaian amat tinggi, cara bagaimana dia ditangkap?"

Lie Ceng Loan menambahkan "Benarkah Kim Hun Tokouw begitu lihay?"

"Nona Lie!"

Co Hiong tertawa.

"Pereuma aku menjawab."

"Kenapa?"

Tanya Lie Ceng Loan.

"Kalau aku jawab...."

Co Hiong menggeleng-gelengkan kepala.

"Engkau pasti akan mengatakan aku memecah belahkan hubungan kalian."

"Oh?"

Lie Ceng Loan tertawa.

"Engkau masih ingat akan ucapanku tadi!"

"Aku selalu berlaku setulus hati terhadapmu, sebaliknya engkau menuduhku begitu, tentu aku selalu ingat,"

Sahut Co Hiong.

"Kalau begitu, aku minta maafl"

Ucap Lie Ceng Loan yang amat polos itu.

"Beritahukanlah kepadaku cara bagaimana Kakak Pek ditangkap!"

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

"Aku tidak bisa memberitahukan."

"Aku sudah minta maaf, kenapa engkau masih tidak mau memberitahukan?"

Co Hiong tetap menggeleng-gelengkan kepala, itu membuat Lie Ceng Loan penasaran dan bereuriga.

"Tadi engkau bilang berlaku tulus hati terhadapku, namun kenapa engkau tidak mau menutur kejadian itu padaku? Jangan-jangan engkau ingin membohongiku!"

MHa ha!"

Co Hiong tertawa.

"Nona Lie, aku tidak mau memberitahukan itu demi kebaikanmu."

"Kalau engkau tidak mau memberitahukan aku tidak akan menghiraukanmu lagi, sungguh!"

"Nona Lie, aku ingin bertanya, benarkah engkau begitu mencintai Bee Kun Bu?"

Tanya Co Hiong mendadak "Ya,"

Jawab Lie Ceng Loan dengan wajah agak kemerahmerahan.

"Kalau begitu, aku malah tidak mengerti akan satu hal,"

Ujar Co Hiong seakan tampak bingung.

"Mengenai hal apa?"

Tanya Lie Ceng Loan. Saat ini Co Hiong memang sengaja mengada-ada, untuk menarik perhatian gadis itu, dan agar gadis itu mempereayainya.

"Hal yang tidak kumengerti yakni engkau mencintai Bee Kun Bu, tapi justru membiarkannya bersama Pek Yun Hui melakukan perjalanan yang begitu jauh,"

Tanya Co Hiong.

"ltu disebabkan apa?"

"Paman Na yang menyuruh mereka berangkat ber-sama, apa sebabnya aku tidak tahu,"

Sahut Lie Ceng Loan.

"Engkau bisa berlega hati?"

"Kenapa tidak?"

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

"Maksudku...."

Co Hiong mulai menimbulkan suatu kekeruhan untuk mengacaukan hati Lie Ceng Loan.

"Apakah engkau tidak khawatir Bee Kun Bu akan mencintai Pek Yun Hui, atau Pek Yun Hui akan mencintai Bee Kun Bu?"

"Aku tahu itu tidak akan terjadi,"

Sahut Lie Ceng Loan sambil tersenyum jawaban itu membuat Co Hiong tertegun lama sekali, kenapa hasutannya yang begitu panas sama sekali tidak membakar hati gadis itu?

Kemudian ia menarik nafas panjang seraya berkata.

"Begitu mereka berdua memasuki istana Pit Sia Kiong, tak lama mereka berdua pun ditangkap...."

Co Hiong mulai mengarang cerita bohong.

"Setelah Bee Kun Bu ditangkap dan dikurung di dalam sebuah gua, kebetulan aku melihat dia, maka secara diam-diam aku pergi menengoknya, Nah, dia yang menyerahkan suratnya padaku untuk disampaikan padamu."

"Kalau begitu, kita sekarang menuju ke gua itu?"

"Ya,"

Co Hiong mengangguk "Di mana gua itu?"

"Di dalam sebuah lembah,"

Sahut Co Hiong, Hatinya mulai girang, karena Lie Ceng Loan mulai mempereayainya.

Oleh karena itu, Lie Ceng Loan berada dalam ba-haya, sebab sudah mendekati mulut srigaia.

sementara kuda itu terus berlari kencang tak hentihentinya, dan tak lama hari sudah malam, Tiba-tiba Co Hiong menyentak tali kendali kuda, dan seketika juga kuda itu berlari lamban.

"Sudah hampir sampai di lembah itu?"

Tanya Lie Ceng Loan.

"Belum,"

Sahut Co Hiong memberitahukan

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

"Masih jauh lembah itu?"

Tidak begitu jauh, mungkin larut malam baru bisa sampai."

"Aaakh...."

Lie Ceng Loan menarik nafas.

"Entah bagaimana cemasnya hati Kakak Bu!"

"Nona Lie, sungguh beruntung Saudara Bee punya kekasih seperti engkau!"

Ujar Co Hiong sambil tertawa, tapi hatinya justru sangat panas sekali.

Lie Ceng Loan diam, hanya wajahnya yang tampak kemerah-merahan.

Gadis itu sama sekali tidak berfirasat buruk, padahal dirinya sudah berada dalam bahaya.

Setelah larut malam, kuda itu mulai memasuki sebuah lembah yang banyak tebing curam Memang tidak salah, istana Pit Sia Kiong berada di dalam lembah tersebut Akan tetapi, Co Hiong tidak menuju ke arah istana itu, melainkan menuju ke arah yang berlawanan Sudah lama Co Hiong tinggal di dalam istana Pit Sia Kiong, tentunya ia punya banyak kesempatan menjelajahi Gu-nung Taysan, maka ia tahu di dalam lembah ini terdapat sebuah gua yang sangat bersih mirip rumah batu, Entah siapa yang pernah menghuni gua itu.

Co Hiong membawa Lie Ceng Loan ke dalam gua tersebut Gadis itu tidak pernah ke istana Pit Sia Kiong, lagipula tidak menduga kalau Co Hiong punya suatu rencana busuk terhadap dirinya.

Oleh karena itu, Co Hiong membawanya ke mana, ia cuma menurut dan berharap akan segera bertemu Bee Kun Bu.

Malam ini, kebetulan bulan bersinar terang, sehingga mempermudah kuda itu mengayunkan kakinya, Men-dadak kuda itu melompat, ternyata melewati sebuah batu yang cukup besar dan tinggi.

"Hah?"

Lie Ceng Loan terkejut dan amat kagum pada kuda itu.

"Kudamu ini hebat sekali!"

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

"Kalau engkau suka, aku pasti menghadiahkan pada-mu,"

Sahut Co Hiong sambil tertawa.

"Aku tidak mau."

Lie Ceng Loan menggelengkan kepala.

"Aku pernah mendengar dari Kakak Bu, bahwa engkau ingin menghadiahkan kuda ini pada Kakak Hui Hong. Karena itu, janganlah engkau sembarangan menghadiahkan pada orang lain!"

Co Hiong sama sekali tidak tahu, kalau gadis itu mengetahui hal tersebut maka seketika juga wajahnya jadi memerah.

"Hui Hong Sumoy sudah menjadi rahib wanita, dia sudah tidak menginginkan kuda ini."

Co Hiong memberitahukan "Mungkin dikemudian hari dia mau kuda ini, engkau harus simpan kuda ini untuk dia,"

Ujar Lie Ceng Loan sungguhsungguh.

"Benar."

Co Hiong manggut-manggut Tak seberapa lama kemudian, kuda itu mulai memasuki sebuah rimba, Tampak kabut tebal meneyelimuti rimba itu, Akan tetapi, kuda itu masih terus berjalan ke depan Berselang beberapa saat, mendadak kuda itu berhenti Lie Ceng Loan menengok ke sana ke mari, ternyata tempat itu dikelilingi tebing curam "Di sini?"

Tanya Lie Ceng Loan "Ssst!"

Co Hiong memberi isyarat, agar Lie Ceng Loan bertambah mempereayainya.

"Jangan berisik, mungkin tempat ini telah dijaga orang berkepandaian tinggi."

Lie Ceng Loan langsung diam, tapi kemudian berpikir Barusan ia sudah bersuara, kalau terdengar orang, bukankah pereuma ia diam sekarang? Maka ia tertawa seraya bertanya.

"Kakak Bu berada di sini?"

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Co Hiong memandang ke arah sebuah gua, lalu menunjuk gua itu dan berbisik dengan serius.

"Dia dikurung di dalam gua itu."

"Oh?"

Lie Ceng Loan memandang ke arah gua itu.

Mereka berdua turun dari punggung kuda.

Co Hiong tidak tampak lelah, ternyata lukanya sudah membaik.

Setelah sepasang kakinya menginjak tanah, Lie Ceng Loan langsung menghunus pedangnya, lalu mengikuti Co Hiong menuju gua tersebut Sampai di depan gua, Co Hiong yang sudah tahu tiada seorang pun di dalam gua itu, justru pura-pura bersikap hatihati, bahkan bersembunyi dulu, Lie Ceng Loan terus mengikuti dengan waspada.

Co Hiong mengayunkan tangannya ke arah gua, ternyata ia menyambitkan dua buah senjata rahasia ke dalam gua itu.

ia melakukan itu cuma untuk menyakinkan Lie Ceng Loan, Ketika ia baru mau mengucapkan "Eh.

kok tidak ada orang di dalam?"

Justru tidak terdengar suara Iun-curan serta jatuhnya senjata rahasia itu.

itu membuat Co Hiong tidak habis berpikir dan tertegun, kenapa bisa begitu?

Ketika ia baru melongok ke dalam gua, tiba-tiba terdengar lagi suara senjata rahasia yang disambitkannya tadi.

Ser!

Ser!

Namun kali ini ke dua buah senjata rahasia itu malah meluncur ke luar Co Hiong baru mau melongok ke dalam, Namun begitu mendengar suara itu ia lalu cepat-cepat menyingkir.

Setelah Co Hiong menyingkir ke dua buah senjata rahasia itu menghantam sebuah batu yang ada di depan gua, sehingga mengeluarkan pereikan bunga api.

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Co Hiong terkejut Melihat bunga api yang terpereik dari batu itu dapat diketahui orang yang menyambitkan senjata rahasia itu memiliki Lweekang yang sangat tinggi, Co Hiong juga terheran-heran, sebab setahunya, gua itu tak ada penghuninya, namun tidak tahunya....

"Siapa di dalam gua?"

Bentaknya.

"Kenapa tidak memperlihatkan diri?"

"Kakak Bu! Kakak Bu!"

Seru Lie Ceng Loan.

"Aku sudah datang, engkau tidak usah takuti"

Padahal sesungguhnya, kepandaian Bee Kun Bu masih jauh di atas Lie Ceng Loan, namun gadis itu berseru begitu.

Bukankah amat menggelikan?

Akan tetapi, Lie Ceng Loan sama sekali tidak menyadari hal itu, sebab ia sedang mencemaskan keadaaan Bee Kun Bu yang amat dicintainya itu.

Suara mereka mendengung ke dalam gua, namun tidak terdengar suara sahutan.

itu sungguh mencengangkan Co Hiong, kemudian ia memberi isyarat agar Lie Ceng Loan mendekatinya, dan gadis itu pun menurut "Nona Lie!"

Bisik Co Hiong setelah Lie Ceng Loan berada di sampingnya.

"Engkau jaga di sini, aku akan menerjang ke dalam gua!"

"Engkau menerjang ke dalam dengan cara demikian, apakah tidak akan membahayakan dirimu?"

Tanya Lie Ceng Loan.

"Nona Lie!"

Co Hiong tertawa.

"Karena engkau ingin cepatcepat bertemu saudara Bee, maka aku harus menempuh bahaya demi dirimu."

"Oh?"

Lie Ceng Loan tertegun.

"Cukup baik engkau, tapi lukamu belum sembuh benar, labih baik aku yang menerjang ke dalam."

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

"Begini saja,"

Usul Co Hiong.

"Kita menerjang ke dalam bersama."

"Baiklah."

Lie Ceng Loan mengangguk Co Hiong menghunus pedangnya lalu berteriak.

"Siapa di dalam?"

"Cepat lepaskan Kakak Bu!"

Sambung Lie Ceng Loan.

"Kalau tidak, kami akan menerjang ke dalam!"

Walau mereka berdua berteriak, namun tetap tiada sahutan dari dalam gua.

"Nona Lie, cepat buatkan sebuah obor!"

Bisik Co Hiong.

"Ya."

Lie Ceng Loan segera membuat sebuah obor Sedang Co Hiong memandang ke dalam gua, gelap gulita tidak tampak apa pun.

Tak lama Lie Ceng Loan sudah membawa sebuah obor yang menyala, Co Hiong segera mengambil obor itu, lalu bersama Lie Ceng Loan melangkah ke dalam gua.

Beberapa depa kemudian, Co Hiong merasa me-rinding, ia pernah memasuki gua ini, namun pada waktu itu ia tidak punya perasaan demikian Co Hiong menyesal, kenapa ia membawa gadis itu ke mari?

Di dalam gua itu terdapat orang lain, apa alasannya nanti?

Co Hiong sangat licik dan banyak akal, tapi kali ini justru kehabisan akal, ia melangklah ke dalam sambil mengerutkan kening.

Akan tetapi, di dalam gua itu tetap sunyi senyap, tiada suara apa pun, Kalau tadi senjata rahasianya tidak disambitkan ke luar, tentunya ia tidak akan menyangka ada orang di dalam gua itu.

"Kelihatannya agak tidak beres."

Bisik Lie Ceng Loan. Co Hiong berhenti, kemudian tanyanya heran.

"Apa yang tidak beres?"

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

"Apa yang tidak beres?"

"Tiada suara orang di dalam gua ini, Tadi aku berteriak dan Kakak Bu pasti dengar suaraku, Tapi.,.,"

Mata Lie Ceng Loan mulai bersimbah air,"... kenapa dia tidak menyahut?"

"Entahlah!"

Co Hiong menggelengkan kepala.

"Lebih baik kita berhati-hati!"

"Kakak Bu...."

Ketika Lie Ceng Loan ingin mengatakan sesuatu, tiba-tiba ia melihat sosok bayangan berkelebat di tikungan gua itu.

"Ada orang! Ketika Lie Ceng Loan berseru begitu, Co Hiong langsung memandang ke depan, dan masih sempat melihat bayangan itu berkelebat Co Hiong tertegun, Pada waktu bersamaan terdengarlah suara hiruk pikuk. Ternyata dua buah batu besar meluncur ke arah mereka dari dalam, Lie Ceng Loan cepat-cepat berkelit "Hei!"

Serunya.

"Hati-hati, Saudara Co!"

Co Hiong ingin berkelit, namun sudah tidak keburu lagi, sebab luncuran batu itu sangat cepat Apa boleh buat ia terpaksa menangkis batu itu dengan pedangnya.

Trang!

Tampak bunga api berpijar.

Co Hiong memang berhasil menangkis batu itu dengan pedangnya, namun bahu kirinya tetap tersenggol batu itu.

ia kesakitan sehingga obor di tangannya terlepas dan padam, gua itu menjadi gelap gulita.

Sebelum obor itu padam, Lie Ceng Loan sudah meloncat ke luar, Ketika gua itu berubah gelap, Lie Ceng Loan berseru.

"Saudara Co, engkau tidak apa-apa?"

Bahu Co Hiong masih terasa sakit ia pun tahu bahwa di dalam gua terdapat orang yang berkepandaian tinggi, namun orang itu musuh atau kawan tidak diketahuinya, maka bagaimana mungkin ia berani bersuara?

Lagjpula gua itu telah berubah gelap gulita.

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Disaat bersamaan, Lie Ceng Loan merasa ada suara desiran di sampingnya, Ternyata bertambah seseorang disitu.

Lie Ceng Loan mengira bahwa orang itu Co Hiong, maka ia segera berkata bernada girang.

Ternyata engkau tidak apa-apa!

Kenapa tidak ber-suara?"

Co Hiong tereengang, kenapa Lie Ceng Loan tahu dirinya tidak apa-apa? Ketika ia baru mau membuka mulut, terdengar lagi gadis itu berkata.

"Saudara Co, kalau engkau masih begini, aku akan marah!"

Co Hiong mendengar itu tertegun ia masih ingat akan ucapan demikian, berarti ada orang lain berada di s isi nya. Betapa terkejutnya Co Hiong, sebab orang itu bisa keluar tanpa suara sedikit pun.

"Nona Lie! Hati-hati, itu bukan aku!"

Seru Co Hiong memperingatkan Lie Ceng Loan. Lie Ceng Loan mengira bahwa orang yang di sisinya adalah Co Hiong, maka setelah mendengar suara seruan itu, ia pun tersentak kaget.

"Siapa engkau?"

Tanyanya sambil cepat-cepat munduk Ketika mundur, Lie Ceng Loan merasa ada angin yang amat kuat menerjang ke arahnya, bahkan terasa amat dingin pula.

Kalau Lie Ceng Loan tidak terus-menerus melatih diri di gua Thian Kie Cinjin bersama Na Siao Tiap, mungkin telah terluka oleh angin pukulan itu.

Begitu merasa ada angin pukulan, Lie Ceng Loan segera meloncat mundur selangkah, lalu memandang ke depan.

Tampak sosok bayangan hitam tinggi kurus menerjang ke arahnya, bahkan juga melancarkan pukulan yang

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

menimbulkan angin dingin. Begitu cepat serangan-nya, sehingga Lie Ceng Loan tidak sempat berkelit "Aaaakh...."

Gadis itu merasa ada hawa yang amat dingin menerobos ke dalam tubuhnya, dan tubuhnya pun langsung menggigil.

Lie Ceng Loan masih sempat meloncat ke samping, namun bayangan tinggi kurus itu pun menerjang ke arahnya lagi.

Tanpa banyak berpikir, Lie Ceng Loan segera menggerakkan tangannya mengeluarkan jurus Pat Hong Hong Ih (Hujan Angin Delapan Penjuru).

jurus tersebut sangat lihay dan cepat, maka tampak pedang Lie Ceng Loan berkelebatan mengarah pada bayangan itu.

Akan tetapi sungguh di luar dugaan, pedangnya tidak menyentuh apa pun di hadapannya, sebaliknya ia malah merasa ada angin dingin menerjang dirinya dari belakang.

Guguplah Lie Ceng Loan, justru di saat bersamaan mendadak ia teringat akan ilmu yang diajarkan Bee Kun Bu, yaitu ilmu Ngo Heng Mie Cong Pu.

Dikerahkannya ilmu itu, dan kemudian ia pun berhasil menghindari.

Lie Ceng Loan sempat melihat bayangan itu seakan tertegun, ia terus mengerahkan ilmu itu sambil balas menyerang dengan jurus Chun Yun Cak Can (Awan Musim Semi MuIai Mengembang).

jurus pedang itu sungguh cepat, apalagi ditambah dengan ilmu Ngo Heng Mte Cong Pu, maka pedang itu bergerak laksana kilat Casss!

Pedang Lie Ceng Loan berhasil menusuk punggung orang itu.

Gadis itu tidak bermaksud membunuh, maka setelah berhasil menusuk punggung orang itu, ia pun segera mencabut pedangnya seraya membentak "Siapa engkau?"

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Di saat Lie Ceng Loan membentak mendadak orang itu menggerakkan tangannya mengarah pada pedang itu.

"Eh?"

Lie Ceng Loan terperanjat "Engkau mau cari mati ya?"

Lie Ceng Loan tahu betapa tajamnya pedang itu.

Kalau orang tersebut berhasil mencengkeram pedangnya, jari tangan orang itu pasti putus.

Orang itu sama sekali tidak menghiraukan itu, jari tangannya telah berhasil mencengkeram pedang Lie Ceng Loan, Lie Ceng Loan gusar sekali, Tadi ia bermaksud baik, tapi orang itu sama sekali tidak meng-hiraukannya.

Oleh karena itu, ia segera menggetarkan pedangnya, dan sekaligus mengeluarkan jurus Sin Liong Cip Hian (Naga Sakti Muncul Mendadak).

Akan tetapi, jurus itu tidak membuat orang tersebut melepaskan pedang Lie Ceng Loan, bahkan kemudian mendadak ia mengayunkan tangan kirinya melancarkan sebuah pukulan ke arah gadis itu.

Lie Ceng Loan tertegun ia meloncat mundur sambil menarik pedangnya, tapi pedangnya tak bergerak dari tangan orang itu.

otomatis membuat badannya tidak bisa mundur Betapa terkejutnya Lie Ceng Loan, karena angin pukulan yang amat dingin itu telah menghajar lengannya.

seketika juga Lie Ceng Loan merasa ada hawa dingin menerobos ke dalam tubuhnya, sehingga membuatnya menggigil dan pedang itu pun terlepas dari tangannya.

Kini orang itu pula yang memegang ujung pedang Lie Ceng Loan, Kemudian mendadak ia meluruskan pedang itu ke arah dada Lie Ceng Loan.

Gerakan yang mendadak itu membuat Lie Ceng Loan tidak bisa berkelit lagi pula saat ini ia sedang merasa dingin sekali sekujur badannya.

Ujung gagang pedang itu berhasil menotok Khi Hu Hiat di dada Lie Ceng Loan, dan seketika juga gadis itu merasa hawa murninya tersumbat

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

"Saudara Co...."

Lie Ceng Loan ingin memanggil Co Hiong, namun tubuhnya sudah terkulai dan tak mampu mengeluarkan suara lagi, Orang itu segera memapah Lie Ceng Loan, lalu melesat ke depan.

Walau sudah bertarung beberapa jurus dengan Lie Ceng Loan, tapi orang itu sama sekali tidak mengeluarkan suara, bahkan seakan tidak pernah mengeluarkan nafas-nya, mirip arwah gentayangan Co Hiong sudah tahu Lie Ceng Loan bertempur dengan orang itu, ia ingin turun tangan membantu, namun dibatalkannya karena tahu orang aneh dalam gua itu berkepandaian tinggi.

Setelah Lie Ceng Loan memanggil "Saudara Co", lalu tiada suara lagi, Co Hiong yakin gadis itu telah ditangkap orang aneh dalam gua.

itu membuatnya tertegun dan tidak tahu harus berbuat apa.

Haruskah menerjang ke dalam gua atau segera meninggalkan gua itu?

Karena orang aneh itu membawa Lie Ceng Loan melesat ke dalam gua.

Co Hiong belum tahu siapa orang aneh dalam gua, sehingga membuatnya ragu mengambil suatu keputusan Akhirnya ia mengambil keputusan untuk meninggalkan gua itu, dan tidak mau melakukan sesuatu yang membahayakan dirinya.

Tapi ia tahu Lie Ceng Loan berada di tangan orang aneh itu, otomatis ia tidak bisa berlega hati.

Setahun yang lalu, Co Hiong sudah bertemu Lie Ceng Loan, Pada waktu itu ia merasa dirinya seakan telah menemukan sesuatu yang amat berharga, maka berniat untuk memilikinya.

Sifat Co Hiong selain licik, jahat dan banyak akal busuk, juga sangat egois, Jadi di dalam hatinya sama sekali tiada perasaan maupun cinta kasih, Yang dianggapnya cinta, tidak lain cuma memuaskan hawa nafsu birahi belaka, Karena itu, ia

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

membawa Lie Ceng Loan ke gua itu, hanya ingin menodai nya.

Kini Lie Ceng Loan jatuh datangan orang aneh itu, Co Hiong merasa gusar sekali Gusar bukan karena orang aneh menangkap Lie Ceng Loan, melainkan sebab miliknya telah direbut orang.

Co Hiong terus berpikir, akhirnya ia mengambil keputusan untuk meninggalkan gua itu kembali ke istana Pit Sia Kiong, ia ingin bertanya pada Kim Hun Tokouw tentang orang aneh dalam gua itu, Setelah mengambil keputusan tersebut, ia pun berendap-endap meninggalkan gua itu.

Co Hiong sudah sampai di istana Pit Sia Kiong, Ketika berjalan menuju kamarnya, ia melihat Souw Peng Hai, gurunya sedang duduk menghimpun hawa murni "Guru!"

Panggilnya. Souw Peng Hai membuka matanya, Begitu melihat Co Hiong, wajahnya tampak berseri "Oh, Co Hiong! Engkau sudah pulang, bagaimana hasil perjalananmu itu?"

Tanya Souw Peng Hai.

"Aku sudah bertemu Na Siao Tiap dan Lie Ceng Loan,"

Jawab Co Hiong memberitahukan "Mereka berdua sedang menuju ke mari."

"Oh?"

"Guru! Bagaimana keadaan di sini selama aku berpergian?"

"Biasa saja, Sejak engkau pergi, aku pun tidak pernah bertemu Kim Hun Tokouw."

Souw Peng Hai sudah menyaksikan air muka Co Hiong agak gugup, Biasanya Co Hiong menghadapi sesuatu dengan tenang, tapi kali ini kenapa tampak gugup? "Anak Hiong!"

Souw Peng Hai menatapnya "Engkau telah mengalami kejadian apa?"

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

"Aku telah bertemu Na Siao Tiap dan Lie Ceng Loan,"

Jawab Co Hiong merendahkan suaranya.

"Apakah engkau telah terluka di tangan mereka?"

Tanya Souw Peng Hai dengan air muka berubah.

"Aku memang telah terluka, tapi berhasil membawa Lie Ceng Loan ke mari, hanya...."

"Kenapa?"

Souw Peng Hai tampak tegang.

"Setelah memasuki sebuah lembah di GunungTaysan ini, Lie Ceng Loan justru ditangkap orang."

Co Hiong memberitahukan "Apa?"

Souw Peng Hai terperangah.

"Mungkinkah perbuatan Kim Hun Tokouw?"

"Maka aku ingin pergi bertanya padanya."

"Kalau begitu, mari kita pergi menemuinya!"

"Baik."

Mereka berdua segera meninggalkan kamar itu.

Ketika sampai di koridor, terdengarlah suara tawa cekikikan Mereka berdua tahu, itu suara tawa para pelayan istana Pit Sia Kiong, Mendadak terdengar pula suara teguran.

"Kalian jangan terus tertawa, beberapa hari ini Kiong Cu tampak kesal dan sering marah-marah tidak karuan! Hatihatilah kalian!"

Suara tawa itu langsung berhenti, berselang sesaat terdengar lagi suara pembicaraan "Coba kalian pikir, aneh apa tidak urusan itu?"

Mendengar itu, Co Hiong segera berhenti sambil memberi isyarat pada gurunya.

Souw Peng Hai mengangguk, lalu melesat ke pojok koridor, begitu pula Co Hiong, Ternyata mereka berdua ingin mencuri dengar pembicaraan para pelayan itu, sesungguhnya

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

tindakan itu tidak pantas bagi Souw Peng Hai, namun ia sangat licik, maka tidak mempedutikannya.

Memang cocok guru dan murid itu, sama-sama licik, jahat dan sama-sama banyak akal busuk.

Oleh karena itu, mereka berdua dapat bekerja sama secara baik.

"Maksudmu urusan apa?"

"Biasanya Kiong Cu amat dingin dan jarang marah-marah. Tapi kini sering marah-marah, bukankah aneh sekali?"

"Tentu karena Pek Yun Hui! Walau telah terkurung dalam ruang api, namun dia masih selamat Mungkin karena itu, maka majikan kita sering marah-marah!"

"Hm!"

Terdengar suara dengusan "Justru bukan karena Pek Yun Hui."

"Kalau begitu karena apa?"

"ltu.,.,"

Pelayan yang menjawab itu merendahkan suaranya,"... karena Bee Kun Bu."

Begitu mendengar itu, Souw Peng Hai dan Co Hiong tampak tertegun Mereka berdua saling memandang sejenak dan terus mendengarkan dengan penuh perhatian "Engkau jangan omong sembarangan!

Kalau omongan-mu sampai ke telinga majikan, engkau pasti celaka."

"Aku berkata sesungguhnya, penjara di istana ini telah mengurung begitu banyak orang. Namun pernahkah kita melihat Kiong Cu pergi menengok para tahanan? Kali ini justru luarbiasa, satu hari entah berapa kali Kiong Cu pergi menengok Bee Kun Bu."

"Guru!"

Ujar Co Hiong dengan suara rendah.

"Pantas wanita jalang itu melarang kita membunuh Bee Kun Bu, ternyata ada maksud tertentu dibalik itu."

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

"Betul."

Souw Peng Hai mengangguk sambil tersenyum "ltu ada baiknya."

"Kenapa?"

Tanya Co Hiong.

"Seandainya jatuh hati pada Bee Kun Bu, Lam Kiong Siu pasti menyingkirkan saingannya, Kebetulan ke dua wanita Kwat Cong San itu musuh besar kita, Nah, bukankah kita cuma tinggal duduk menonton mereka ber-tempur?"

Jawab Souw Peng Hai menjelaskan "Tidak salah."

Co Hiong manggut-mangguL Seusai mereka berdua berbicara, tampak pula beberapa gadis muncul di koridor itu, Segeralah Co Hiong melesat ke luar ke hadapan sambil tersenyum-senyum "Kakak-kakaksekalian!"

Ujarnya lembut "Kami ingin bertemu Kiong Cu kalian, ada urusan penting yang harus kami rundingkan dengannya, harap kakak-kakak sudi melapor padanya!"

"Kalau kalian berdua tiada urusan yang penting sekali, lebih baik jangan menemui Kiong Cu!"

Sahut salah seorang pelayan jawaban itu amat menggusarkan Souw Peng Hai. Namun ketika ia baru mau melampiaskan kegusarannya, Co Hiong sudah berkata lagi.

"Kakak, kami memang punya urusan penting, tolong beritahukan pada Kiong Cu kalian, bahwa kami telah bertemu Na Siao Tiap, Kiong Cu kalian pasti mau menemui kami."

"Kalau begitu... baiklah! Kami akan memberitahukan pada Kiong Cu,"

Ujar pelayan itu.

"Kalian berdua boleh ikut kami."

Beberapa pelayan itu melangkah ke dalam, Souw Peng Hai dan Co Hiong mengikuti mereka dari belakang.

Tak seberapa lama kemudian, mereka sudah sampai di depan sebuah pintu, Souw Peng Hai dan Co Hiong tahu, bahwa di balik pintu itu terdapat sebuah ruangan yang

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

dindingnya dilapisi kaca, itu boleh dikatakan ruang rapat, sebab sudah beberapa kali mereka berdua memasuki ruangan itu untuk merundingkan sesuatu dengan Kim Hun TokouwLam Kiong Siu.

Salah seorang pelayan mendekati pintu itu, lalu mengetuk perlahan dua kali, Dari dalam langsung terdengar suara bentakan "Kalian cepat enyah!

siapapun tidak boleh masuk!"

Itu adalah suara Kim Hun Tokouw.

"Kiong Cu!"

Pelayan itu memberitahukan "Souw Peng Hai dan muridnya ingin bertemu, karena ada urusan penting."

"Aku tidak ingin bertemu siapa pun lain hari saja!"

Sahut Kim Hun Tokouw dari dalam ruang itu.

pelayan itu menoleh memandang Souw Peng Hai dan Co Hiong lalu menggeleng-geleng kepala, pertanda Kiong Cu tidak mau menemui mereka.

Souw Peng Hai tampak gusar sekali, dan mendadak memukul lantai dengan tongkatnya.

Bummm!

"Kim Hun Tokouw!"

Serunya lantang.

"Na Siao Tiap sudah menuju ke mari, Dia adalah salah seorang wanita Kwat Cong San. Anak Hiong bertemu dia di tengah jalan Wanita itu berkepandaian tinggi, maka kita harus berunding tentang itu."

"Kalau begitu, kalian berdua boleh masuk,"

Sahut Kim Hun Tokouw.

Co Hiong membuka pintu itu.

Tampak Kim Hun Tokouw duduk di kursi dengan kening berkerut-kerut, sepertinya sedang memikirkan suatu masalah.

Ketika melihat Co Hiong dan Souw Peng Hai melangkah masuk, ia masih tampak malas-malasan, cuma manggut-manggut ke arah mereka.

"Kalian duduklah!"

Ucapnya setelah Souw Peng Hai dan Co Hiong berada di hadapannya.

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Souw Peng Hai dan Co Hiong mengangguk, lalu duduk di hadapan Kim Hun Tokouw.

"Kapan Na Siao Tiap itu akan sampai di sini?"

Tanya Kim Hun Tokouw.

"Mungkin dalam satu dua hari ini,"

Jawab Co Hiong dan menambahkan "Walau dia sampai di Gunung Taysan ini, belum tentu dia dapat menemukan istana Pit Sia Kiong."

"Kalau pun menemukan juga tidak apa-apa,"

Ujar Kim Hun Tokouw.

"Bukankah Pek Yun Hui yang amat terkenal itu telah terkurung di sini?"

Ucapan Kim Hun Tokouw bernada menyindir Souw Peng Hai yang tampak ketakutan itu membuat wajah Souw Peng Hai langsung memerah, sedangkan Co Hiong cuma tersenyum-senyum "Tidak salah apa yang Tokouw katakan."

Ujar Co Hiong.

"Tunggu dia ke mari baru kita bicarakan,"

Sahut Kim Hun Tokouw sambil tertawa hambar.

itu berarti Kim Hun Tokouw mengusir mereka ber-dua.

Mendengar itu Co Hiong tertawa, sekaligus memberitahukan "Di tengah jalan, selain bertemu Na Siao Tiap, aku pun bertemu Lie Ceng Loan...."

"Lie Ceng Loan? Siapa gadis itu?"

Tanya Kim Hun Tokouw.

"Dia Sumoy Bee Kun Bu,"

Jawab Co Hiong sambil memperhatikan air muka Kim Hun Tokouw.

"Oh!"

Air muka Kim Hun Tokouw tampak berubah.

"Gadis yang amat mencintai Bee Kun Bu itu?"

"Betul."

Co Hiong mengangguk "Aku telah menangkap gadis itu, dan sekaligus membawanya ke mari."

"Cepat bawa dia ke mari, aku ingin lihat macam apa gadis itu, kenapa Bee Kun Bu begitu mencintainya?"

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Co Hiong tertawa dingin dalam hati, kemudian memberitahukan "Ketika sampai di gunung Taysan ini, ia justru diculik orang."

"Apa?"

Kening Kim Hun Tokouw berkerut "Siapa yang begitu berani berbuat semaunya di gunung Taysan ini?"

"Aku justru ingin bertanya pada Tokouw, siapa orang itu?"

Co Hiong tersenyum getir "Apakah bukan orang istana Pit Sia Kiong?"

Tanya Kim Hun Tokouw.

"Bukan."

Co Hiong memberitahukan "Tapi aku tidak melihat jelas raut wajahnya."

"Di mana orang itu?"

"Di dalam gua."

Semula Kim Hun Tokouw tampak malas-malasan dan duduk bersandar, namun ketika Co Hiong memberitahukan bahwa orang itu ada di dalam gua, ia langsung duduk tegak seraya bertanya.

"Gua mana?"

Begitu menyaksikan Kim Hun Tokouw yang tampak serius, tereenganglah Co Hiong.

Sebab selama ia tinggal di istana Pit Sia Kiong, belum pernah menyaksikan Kim Hun Tokouw begitu serius, Karena itu, Co Hiong jadi tertegun sehingga tidak menjawabnya.

"Gua yang mana?"

Tanya Kim Hun Tokouw lagi.

"Di dalam sebuah lembah yang banyak tebing curam, juga terdapat kabut yang sangat tebal."

Co Hiong memberitahukan Setelah mendengar itu, wajah Kim Hun Tokouw langsung berubah, dan mendadak ia bangkit berdiri sambil mengibaskan tangannya, Terdengarlah suara hiruk pikuk,

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

sebab semua cangkir dan teko yang ada di atas meja jatuh pecah berantakan "Ketika kalian berdua ke mari, aku pun menegaskan janganlah kalian berkeliaran sembarangan di gunung Taysan ini, Kenapa kalian masih ke lembah itu?

Dan cara bagaimana kalian memasuki gua itu?"

Bentak Kim Hun Tokouw gusar, wajahnya pun berubah merah padam "Omong kosong!"

Sahut Souw Peng Hai.

"Kenapa kami tidak boleh jalan-jalan di gunung Taysan ini? kalaupun terjadi sesuatu, itu tanggung jawab kami berdua!"

"He he!"

Kim Hun Tokouw tertawa dingin "Tang-gung jawab kalian berdua? Kalau kalian memang bertanggung jawab, kenapa harus bersembunyi di istana Pit Sia Kiongku ini?"

"Dasar perempuan jalang!"

Bentak Souw Peng Hai.

"Engkau berani memandang rendah diriku?"

Memang sudah lama Souw Peng Hai menyimpan kekesalan di dalam hati, namun saat ini justru meledak, bahkan langsung menyerang Kim Hun Tokouw dengan toyanya, ia mengeluarkan jurus Huan Thian To Hai (Membalikkan Langit Menggali Laut).

"Hei!"

Bentak Kim Hun Tokouw.

"Souw tua, engkau ingin cari mampus ya?"

Kim Hun Tokouw menggerakkan lengannya, dan seketika juga melayang sehelai selendang melilit ujung toya Souw Peng Hai.

Yang paling kalut adalah Co Hiong.

Begitu melihat ke dua orang itu bertempur, ia cepat-cepat menyingkir seraya berteriak-teriak.

"Kim Hun Tokouw, Guru! Urusan berada di depan mata, kenapa kalian berdua malah bertempur?"

Kim Hun Tokouw dan Souw Peng Hai sama sekali tidak mendengarkan suara teriakan Co Hiong, dan masih terus

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

bertarung, Beberapa jurus kemudian, selendang Kim Hun Tokouw berhasil melilit ujung toya Souw Peng Hai.

Terjadilah adu tarik-menarik yang disertai Lwee-kang.

Souw Peng Hai mengerahkan tenaga keras, sedangkan Kim Hun Tokouw mengerahkan tenaga lunak.

"Hiyaaaat!"

Teriak Souw Peng Hai.

"Eiiit!"

Teriak Kim Hun Tokouw.

Mereka mengerahkan Lweekang masing-masing, sehingga lilitan selendang di ujung toya itu terlepas, dan menyebabkan Souw Peng Hai dan Kim Hun Tokouw mundur beberapa langkah.

Melihat mereka berdua telah terpisah beberapa langkah, Co Hiong segera maju dan berdiri di tengah-tengah mereka.

"Kim Hun Tokouw, adat guruku memang begitu, mohon Kim Hun Tokouw sudi memaafkannya!"

Ucap Co Hiong sambil memberi isyarat pada gurunya agar segera pergi meninggalkan tempat itu.

"He he!"

Souw Peng Hai tertawa dingin.

"Anak Hiong, mari kita pergi!"

"Mau pergi?"

Ujar Kim Hun Tokouw dingin.

"Tidak begitu gampang!"

"Engkau boleh coba!"

Tantang Souw Peng Hai.

Co Hiong melihat mereka berdua mau bertempur lagi, kacaulah hatinya, ia memang membenci Kim Hun Tokouw, namun ia pun tahu akan keadaan, Kalau saat ini terjadi lagi pertempuran, itu berarti mencari penyakit.

"Guru!"

Ujarnya dengan suara dalam.

"Sudahlah, jangan ribut lagi! Kalau guru dan Kim Hun Tokouw bermusuhan, pihak lainlah yang akan beruntung."

"Co Hiong, engkau telah menimbulkan bencana! Kenapa masih mau meleraikan pertempuran ini?"

Ujar Kim Hun Tokouw dingin.

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

"Apa?"

Tertegun Co Hiong.

"Aku telah menimbulkan bencana?"

"Hmm!"

Dengus Kim Hun Tokouw dingin.

"Nanti engkau akan mengetahuinya, bahkan aku pun terbawa-bawa pula!"

Co Hiong mengerutkan kening, ia tahu yang Kim Hun Tokouw maksudkan adalah orang aneh dalam gua itu.

"Apakah berkaitan dengan gua itu? Tapi aku justru telah membuat suatu jasa untukmu,"

Sahut Co Hiong.

"Jasa?"

Kim Hun Tokouw melotot "Engkau telah menimbulkan bencana, kok masih bilang membuat suatu jasa?"

Co Hiong tertawa panjang, lalu menjawabnya.

"Aku menculik Lie Ceng Loan ke mari, namun akhirnya jatuh ke tangan orang aneh dalam gua, Nah, Kim Hun Tokouw, cobalah berpikir! Aku telah menimbulkan bencana atau telah berbuat suatu jasa?"

Kim Hun Tokouw tampak tertegun, ia melangkah mundur kemudian duduk di kursinya, Kelihatannya ia terus berpikir "Benar, Apa yang engkau katakan memang masuk akal,"

Ujarnya sambil tertawa.

"Ha ha!"

Co Hiong juga tertawa.

"Kim Hun Tokouw, bagaimana mungkin aku akan menimbulkan suatu bencana untukmu?"

"Sekarang kalian boleh pergi, kalau ada urusan pen-ting, aku pasti memanggil kalian,"

Ujar Kim Hun Tokouw sambil mengibaskan tangannya, agar mereka berdua segera meninggalkan ruang itu. Co Hiong memandang gurunya sambil memberi isyarat lalu ujarnya dengan suara rendah.

"Guru, mari kita pergi!"

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

"Apakah kita masih bisa tinggal di istana Pit Sia Kiong ini?"

Sahut Souw Peng Hai dengan suara keras.

"Guru!"

Co Hiong tertawa.

"lni cuma salah penger-tian, kenapa harus disimpan dalam hati? Kini Kim Hun Tokouw sudah paham, pasti berlaku baik pada kita, Tentunya guru juga mengerti kan?"

"Hm!"

Dengus Souw Peng Hai, lalu meninggalkan ruang itu bersama Co Hiong, Setelah berada di luar, Souw Peng Hai berbisik "Anak Hiong, ucapanmu tadi mengandung arti apa sehingga dapat meredakan kegusaran wanita jalang itu?"

"Guru!"

Co Hiong tertawa.

"Wanita jalang itu menaruh minat pada Bee Kun Bu, sedangkan aku secara tidak langsung telah membantunya menghabiskan Lie Ceng Loan, itu sangat menyenangkan hatinya."

"Oooh!"

Souw Peng Hai manggut-manggut.

"Oh ya, sebetulnya siapa orang aneh di dalam gua itu?"

"Aku justru tidak tahu sama sekali, Guru, Bagaimana kalau kita pergi menyelidikinya?"

Usul Co Hiong.

"Anak Hiong, rasanya tidak baik kita menimbulkan masalah lain lagi,"

Sahut Souw Peng Hai tidak setuju.

"Guru! Kita sudah ribut dengan Kim Hun Tokouw, kalau ingin melawannya, kita harus ke gua itu."

"Maksudmu orang aneh di dalam gua itu akan membantu kita melawan Kim Hun Tokouw?"

"Benar."

"Kalau begitu, kita harus ke gua itu?"

"Lebih cepat lebih baik, Kita berangkat sekarang saja."

"Ngmm!"

Souw Peng Hai manggut-manggut "Baik-tah. Mari kita ke sana sekarang agar tidak membuang waktu!"

Bagian ke empat puluh dua Menyelidiki Gua

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Souw Peng Hai dan Co Hiong meninggalkan istana Pit Sia Kiong, menuju gua di lembah kabut Lima enam mil kemudian, Souw Peng Hai dan Co Hiong tampak mengerutkan kening, ternyata mendadak mereka mendengar suara orang di belakang mereka.

"Ayoh cepat! Kiong Cu sudah pesan, kita harus segera sampai di sana! Kenapa kalian berjalan begitu lamban?"

Suara gadis.

Souw Peng Hai dan Co Hiong tertegun, Mereka segera menoleh ke belakang, tampak empat gadis berbaju hijau menggotong sebuah keranjang besar Tampak pula seorang wanita berjalan di belakang mereka, wanita itu mirip Cap Kouw.

"Kita bersembunyi du!u!"

Bisik Souw Peng Hai.

Mereka berdua langsung melesat ke belakang sebuah pohon.

sedangkan ke empat gadis dan wanita itu berjalan tergesa-gesa, sama sekali tidak tahu ada dua orang bersembunyi di belakang pohon.

Setelah mereka berjalan belasan depa, barulah Souw Peng Hai dan Co Hiong muncul "Guru, mari kita ikuti mereka!"

Ajak Co Hiong.

"Ng!"

Souw Peng Hai mengangguk Mereka berdua lalu menguntit gadis-gadis itu dengan ilmu peringan tubuh, agar tidak menimbulkan suara, Tak seberapa lama kemudian, wajah Co Hiong tampak terheran-heran.

"Guru, kelihatannya mereka menuju gua itu,"

Bisik Co Hiong.

"Kelihatannya memang begitu."

Souw Peng Hai mengangguk Mereka berbicara dengan suara rendah, namun Cap Kouw itu tampak seakan mendengar suara mereka, dan langsung berhenti

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Souw Peng Hai dan Co Hiong tentunya tidak takut terhadap Cap Kouw itu, apa lagi dalam keadaan begini Namun mereka berdua ingin tahu apa yang akan dilakukan orangorang istana Pit Sia Kiong itu, maka tidak mau menimbulkan urusan.

Ketika Cap Kouw berhenti Souw Peng Hai dan Co Hiong cepat-cepat melesat ke belakang pohon untuk bersembunyi "Siapa kalian?"

Bentak Cap Kouw.

Co Hiong meleletkan lidahnya ia tidak menyangka wanita itu begitu lihay pendengarannya.

Seusai membentak, Cap Kouw maju beberapa depa sambil menengok ke sana ke mari Karena tidak melihat apaapa ia lalu bergumam "Eh?

Apakah aku salah dengar?"

Cap Kouw mengerutkan kening, berselang sesaat barulah melangkah pergi dengan wajah penuh keheranan Setelah Cap Kouw pergi jauh, Souw Peng Hai dan Co Hiong keluar, lalu menguntit mereka lagi Kali ini mereka berdua lebih berhati-hati, agar Cap Kouw tidak mendengar suara langkah mereka.

Tak seberapa lama kemudian, mereka sudah sampai di tempat yang penuh kabut tebal Gadis-gadis itu dan Cap Kouw terus berjalan menerobos kabut tebal itu, sedangkan Souw Peng Hai dan Co Hiong terus menguntit mereka.

Cap Kouw dan ke empat gadis itu berhenti di samping gua.

Air muka mereka tampak tegang sekali Begitu Cap Kouw memberi isyarat, ke empat gadis segera menaruh keranjang yang mereka pikul itu ke bawah, lalu mundur belasan depa.

"Lo Sian Ong (Dewa Tua), kami membawa makanan ke mari!"

Seru Cap Kouw.

"Kali ini kami membawa makanan istimewa, harap Lo Sian Ong sudi menerima-nya!"

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Seusai Cap Kouw berseru begitu, terdengarlah suara "Bum! Bum! Bum!"

Tiga kali di dalam gua.

Ketika mendengar suara itu, air muka Cap Kouw tampak berubah, dan tanpa sadar ia mundur beberapa langkah.

Souw Peng hai dan Co Hiong tahu bahwa kepandaian Cap Kouw melebihi kepandaian Kim Hun Tokouw, Namun saat ini Cap Kouw tampak agak ketakutan, itu membuat Souw Peng Hai dan Co Hiong terheran-heran.

"Guru, Cap Kouw memanggil Lo Sian Ong pada orang aneh di dalam gua, apakah guru tahu siapa Lo Sian Ong itu?"

Tanya Co Hiong dengan suara rendah.

"Guru tidak tahu,"

Sahut Souw Peng Hai sambil menggelengkan kepala.

Co Hiong masih ingat Ketika ia terluka di dekat Kuil Toa Ciok Sie.

Dirinya justru terhisap oleh tenaga orang aneh di dalam gua, namun kemudian memperoleh ilmu silat Sam Im Sin Ni dari buku catatan peninggalan Sam Im Sin Ni tersebut Siapa orang aneh di dalam gua itu, tiada seorang pun yang tahu, maka ketika gurunya bilang tidak kenal siapa Lo Sian Ong itu, Co Hiong pun tidak merasa heran lagi.

"Lo Sian Ong!"

Terdengar suara seruan Cap Kouw.

"Kiong Cu kami tahu engkau sangat gusar, maka ia berjanji akan menangkap bocah itu untuk dibawa ke mari, agar Lo Sian Ong menghisap darahnya! Kini Kiong Cu masih membiarkannya hidup, namun beberapa hari...."

Mendengar sampai di situ, Co Hiong terkejut bukan main, ia tahu bocah yang dimaksudkan Cap Kouw itu adalah dirinya, Tentunya Cap Kouw tidak bicara main-main.

Sungguh licik Kim Hun Tokouw itu, kelicikannya melebihi Co Hiong!

pikir pemuda itu dan bersyukur telah mendengar ucapan Cap Kouw.

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Yang paling mengejutkan Co Hiong, yakni orang aneh dalam gua punya kebiasaan menghisap darah orang, Apakah orang aneh dalam gua itu iblis penghisap darah?

Tiba-tiba hatinya tersentak Lie Ceng Loan telah jatuh ke tangan orang aneh itu, mungkinkah darah gadis itu telah dihisap oleh orang aneh tersebut?

Berpikir sampai di situ, Co Hiong pun merinding.

"Anak Hiong!"

Bisik Souw Peng Hai mendadak "Orang aneh yang ada di dalam gua itu, pasti mengidap semacam racun yang bersifat dingin, Racun itu belum punah dari tubuhnya, maka ia harus menghisap darah orang untuk menghangatkan badannya, Tapi mungkin juga dia sedang melatih semacam ilmu, karena itu, dia membutuhkan darah segar."

"Guru! Kalau begitu Lie Ceng Loan...."

"Lie Ceng Loan telah jatuh di tangannya, tentunya sulit hidup lagi,"

Sahut Souw Peng Hai.

Co Hiong diam saja, ia tidak berani memperlihatkan reaksi apa pun di hadapan gurunya.

sementara Cap Kouw mengibaskan tangannya, ke empat gadis itu segera mendekati keranjang itu, kemudian membuka tutupnya.

seketika juga tampak dua ekor ular yang amat besar merayap ke Iuar.

Mendadak dua gadis berbaju hijau mencengkeram kepala ke dua ekor ular itu, Kedua ekor ular itu meronta, sehingga ke dua gadis itu harus mengerahkan tenaganya untuk memegang ular-ular tersebut Akan tetapi, ke dua gadis itu tampak kewalahan Ternyata ke dua ekor ular tersebut memiliki tenaga besar Dua gadis berbaju hijau lain langsung maju, maksud mereka ingin membantu.

Namun ketika mereka baru mendekati, salah seekor ular itu telah mengibaskan ekornya menghantam bahu salah

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

seorang gadis tersebut Gadis itu tidak sempat berkelit, bahunya terhajar oleh ekor ular itu sehingga badannya terpental beberapa depa.

Buuuk!

Gadis itu jatuh duduk.

Gadis yang satu lagi ingin mundur, tapi Cap Kouw sudah membentak sambil melesat ke arah keranjang.

"Jangan mundur!"

Cap Kouw menjulurkan tangannya menangkap ekor ular itu.

Mereka membawa ular itu ke depan gua, lalu dilemparkan ke dalam, Begitu pula ular yang satu lagi, juga dilemparkan ke dalam gua tersebut Setelah itu, mereka mundur sambil menarik nafas lega.

Sesss!

Sessss!

Terdengar suara seperti orang menghisap sesuatu.

Berselang beberapa saat kemudian, tampak melayang ke luar sesuatu dari dalam gua.

Souw Peng Hai dan Co Hiong yang bersembunyi di belakang pohon segera menegaskan, ternyata ular besar yang dilempar ke dalam tadi.

Kini ular besar itu tampak lemah sekali, nafas nya pun sudah empas-empis seakan sudah hampir mati.

Di leher ular itu terdapat bekas gigitan, berarti orang aneh di dalam gua telah menggigit leher ular itu untuk menghisap darah nya.

Souw Peng Hai dan Co Hiong terkejut sekali menyaksikan itu, sebab tenaga ular itu amat besar, namun orang aneh di dalam gua mampu menggigit lehernya, sekaligus menghisap darahnya pula, itu membuktikan bahwa orang aneh di dalam gua memiliki kepandaian yang amat tinggi.

Co Hiong memandang gurunya sambil tertawa, ia menunjuk Cap Kouw lalu menggerakkan tangannya memberi kode pada gurunya.

"Memang begitu."

Souw Peng Hai manggut-manggut

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Tak lama kemudian, ular itu mati.

Cap Kouw dan beberapa gadis itu segera meninggalkan tempat tersebut Sebelum Cap Kouw menerobos ke luar kabut tebal itu, mendadak ia merasa ada tenaga yang amat dahsyat menerjang ke arahnya, ia ingin berkelit tapi sudah tidak keburu.

Ternyata Souw Peng Hai menyerangnya dengan ilmu Kan Goan Cih, dan seketika juga Cap Kouw merasa dadanya sakit sekali, Matanya pun berkunang-kunang dengan badan sempoyongan dan akhirnya terkulai Kejadiannya begitu cepat, sehingga beberapa gadis itu terheran-heran tidak tahu apa yang telah terjadi Pada saat bersamaan, Souw Peng Hai meloncat ke luar dari balik batu, dan langsung menyerang gadis-gadis itu dengan jurus Liong Bun Sam Cok (Pintu Naga Buka Tiga Kali).

Gadis-gadis itu memang berkepandaian cukup tinggi, namun tetap tidak mampu melawan Souw Peng Hai.

jurus itu telah menotok jalan darah gadis-gadis itu, sehingga mereka tidak bisa bergerak sama sekali.

Co Hiong memunculkan diri, lalu membawa salah satu gadis itu ke depan gua.

"Lo Sian Ong, kami pun membawa makanan yang lebih lezat dari pada makanan tadi!"

Serunya. Usai berseru, Co Hiong lalu membuka jalan darah gadis itu, Gadis itu memandang Co Hiong seraya berkata.

"Co Hiong, engkau masih ingat padaku?"

Co Hiong menundukkan kepala memandang gadis itu, Co Hiong tertegun, karena gadis itu pernah membantunya menyuruh Bee Kun Bu menulis sepucuk surat untuk Lie Ceng Loan.

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

"Oooh!"

Co Hiong tertawa manis.

"Ternyata engkau! Tentu aku masih ingat, kalau tidak, bagaimana mungkin aku akan mengantarmu ke dalam gua duluan?"

"Engkau binatang!"

Caci gadis itu dan menyumpah "Aku mati pasti jadi arwah penasaran untuk menuntut balas padamu!"

"Oh, ya?"

Co Hiong tersenyum lebih manis lagi, bahkan tangannya menowel pipi gadis itu, kemudian mendadak melempar gadis itu ke dalam gua.

"Lo Sian Ong, nikmatilah perlahan-Iahan! Masih ada tiga lagi!"

Betapa kejam dan sadisnya hati Co Hiong.

ia me nunggu orang aneh di dalam gua melempar keluar mayat gadis itu, setelah itu ia pun akan melempar gadis lain ke dalam gua tersebut sementara Souw Peng Hai juga tersenyum-senyum.

Guru dan murid itu memang sama berhati kejam serta sadis, Kemudian Souw Peng Hai memandang Cap Kouw yang masih tergeletak di tanah, Wanita itu telah terluka parah, dan sudah pasrah menunggu mati.

Souw Peng Hai tahu bahwa Cap Kouw sudah tidak mampu kabur, maka tidak begitu mem pe rhat ikan nya, malah melesat ke sisi Co Hiong.

"Anak Hiong, bagaimana keadaan?"

Tanyanya berbisik "Orang aneh dalam gua memang penghisap darah, maka kalau kita melempar ke dalam beberapa anak gadis, tentunya dia akan terkesan baik pada kita,"

Sahut Co Hiong sambil tersenyum.

"Menurut pandangan guru, orang aneh itu bisa begitu cepat menghisap darah ular itu, pertanda tidak mengidap semacam racun, melainkan sedang melatih semacam ilmu,"

Ujar Souw Peng Hai dan menambahkan "Kalau dia bersedia membantu kita, sudah pasti sangat menguntungkan kita."

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Co Hiong tertawa gembira, Akan tetapi, di dalam gua masih tidak terdengar suara apa pun.

itu membuat Souw Peng Hai dan Co Hiong terheran heran, sebab tadi ular yang dilemparkan Cap Kouw, begitu cepat dilempar keluar lagi, Namun kenapa kali ini begitu lama?

Di saat mereka termangu, mendadak terdengar suara yang amat keras di dalam gua, menyusul melayang ke luar sebuah batu yang amat besar mengarah pada mereka berdua, Co Hiong langsung berkelit Buuuk!

Batu itu jatuh di hadapan mereka.

Souw Peng Hai dan Co Hiong saling memandang, Mereka berdua sama sekali tidak tahu apa maksudnya.

Setelah itu, mereka memandang ke arah batu tersebut Ternyata di batu itu terukir beberapa huruf.

Mereka berdua segera melesat ke arah batu itu, lalu membaca huruf-huruf tersebut "Masih mau", begitu bunyi huruf yang terukir pada batu itu.

Souw Peng Hai tampak terkejut Yang mengejutkannya bukan huruf-huruf itu, melainkan ukirannya yang cuma menggunakan jari tangan, Souw Peng Hai memiliki ilmu Kan Goan Cih yang amat luar biasa, tapi ilmu jari telunjuknya orang aneh di dalam gua itu juga amat luar biasa, melebihi ilmu Kan Goan Cih tersebut "Guru!"

Wajah Co Hiong tampak berseri "Dia masih mau!"

"Lemparkan saja gadis-gadis itu ke dalam!"

Sahut Souw Peng Hai. Co Hiong segera membawa gadis lain yang tertotok, lalu dilemparkannya ke dalam gua itu. Tak seberapa lama, terdengarlah suara di dalam gua.

"Diantara kalian, siapa yang bernama Bee Kun Bu?"

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Souw Peng Hai dan Co Hiong tampak tertegun, bahkan merasa heran, karena orang aneh dalam gua mengetahui nama tersebut "Aku!"

Sahut Co Hiong setelah berpikir sejenak "Anak Hiong!"

Souw Peng Hai terperanjat "Kenapa engkau mengaku Bee Kun Bu?"

"Saat ini aku tidak bisa mengemukakan alasan apapun, tapi menurut aku, pasti ada sebab musababnya orang aneh itu bertanya begitu,"

Sahut Co Hiong.

"Engkau boleh masuk, aku tidak akan membunuh-mu,"

Ujar orang aneh di dalam gua. Co Hiong tertegun ia tidak tahu harus masuk ke dalam atau tidak? Souw Peng Hai tahu akan keraguan muridnya, maka segera berbisik "Anak Hiong, jangan menempuh bahaya!"

Co Hiong justru malah tersenyum, kelihatannya ia telah mengambil suatu keputusan "Guru, tanpa memasuki gua macan, bagaimana mungkin mendapat anaknya?"

Sahut Co Hiong serius.

"Kalau aku mati di dalam gua, harap Guru baik-baik menjaga diri, dan berhatihati terhadap Kim Hun Tokouw!"

"Anak Hiong...."

Souw Peng Hai terharu mendengar ucapan muridnya itu.

"Guru sudah tua, suatu hari nanti pasti mati, Engkau masih muda, kelak harus memimpin partai Thian Liong, oleh karena itu, engkau harus berhati-hati!"

"Ya, Guru."

Co Hiong mengangguk, namun tertawa dingin dalam hati.

seandainya partai Thian Liong bisa bangun lagi, ia pun akan mencari jalan untuk membunuh Souw Peng Hai, agar dirinya bisa jadi pemimpin "Anak Hiong, ingat ya!

Engkau harus berhati-hati!"

Pesan Souw Peng Hai lagi, ia sama sekali tidak tahu apa yang direncanakan muridnya itu.

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Co Hiong mengangguk lagi, lalu melangkah me masuki gua itu seraya berseru.

"Lo Sian Ong, aku Bee Kun Bu masuk ke dalam!"

Sedangkan Souw Peng Hai menunggu di luar dengan hati kebat-kebit, Rasanya ingin sekali menerjang ke dalam gua untuk melindungi murid kesayangannya itu.

Namun ia tetap bersabar Walau sudah cukup lama Co Hiong masuk ke dalam gua, tapi tidak mengeluarkan suara sedikitpun "Haaaah...?"

Tiba-tiba ada suara anak gadis di belakang Souw Peng Hai.

"Cepat pergi lapor pada Kiong Cu, bahwa di sini telah terjadi sesuatu!"

Tampak dua gadis melesat pergi, Souw Peng Hai tahu bahwa ke dua gadis itu diutus Kim Hun Tokouw ke tempat tersebut, maka bagaimana mungkin ia membiarkan mereka meninggalkan tempat itu?

Souw Peng Hai membentak keras, kemudian mendadak mengayunkan toyanya, seketika juga toyanya meluncur cepat ke arah ke dua gadis itu.

Kedua gadis itu sudah mendengar suara desiran toya tersebut, maka cepat-cepat mereka berkelit Akan tetapi, salah satu gadis itu terlambat, toya itu meluncur ke punggungnya.

Cesss!

Toya itu menancap di punggung gadis tersebut, bahkan tembus ke dadanya.

HAaaakh...."

Jerit gadis itu lalu terkulai, dan nyawanya pun melayang seketika.

sedangkan gadis yang satu lagi sudah berhasil menerobos ke dalam kabut tebal.

pada waktu bersamaan, Souw Peng Hai pun melesat ke tempat itu laksana kilat cepatnya, dan

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

sekaligus menyambar toyanya yang menancap di badan gadis itu.

Souw Peng Hai yakin bahwa gadis yang satu itu belum kabur jauh, maka segeralah ia memutarkan toyanya dengan jurus Heng Sau Cian Kun (Menyapu Ribuafn Prajurit).

Toya Souw Peng Hai mengeluarkan suara menderu-deru, membuyarkan kabut tebal itu.

Kalau gadis itu berada dalam jarak beberapa depa, pasti sudah tersambar angin pukulan toya itu.

Akan tetapi, Souw Peng Hai tidak mendengar suara apa pun.

ia penasaran sekali, dan langsung menerjang ke depan, Walau sudah melewati kabut tebal itu, tapi matanya tidak melihat siapa pun berada di situ.

Souw Peng Hai tertegun, sesungguhnya ia tidak takut pada Kim Hun Tokouw, namun kalau Kim Hun Tokouw tahu bahwa itu adalah perbuatan mereka guru dan murid, tentunya Kim Hun Tokouw tidak akan menyudahi urusan itu begitu saja.

Apabila ia berhasil membunuh para gadis yang diluluskan itu, paling juga Kim Hun Tokouw cuma bereuriga, sebaliknya kalau gadis yang satu itu berhasil kabur dan melapor pada Kim Hun Tokouw, tentunya urusan akan jadi lain.

seandainya satu lawan satu, Souw Peng Hai sama sekali tidak akan merasa gentar sedikit pun.

Akan tetapi, di dalam istana Pit Sia Kiong masih terdapat banyak gadis lain yang berkepandaian tinggi.

seandainya mereka mengeroyok Souw Peng Hai pasti kewalahan Karena tidak melihat gadis yang kabur itu, Souw Peng Hai tampak gusar sekali, ia menghimpun Lweekangnya, lalu memukul ke sana ke mari agar gadis itu muncul dari tempat persembunyian nya.

Gadis yang kabur itu memang cerdik, setelah tahu temannya mati tertembus toya Souw Peng Hai, ia yakin Souw Peng Hai pasti mengejarnya, Karena itu, ia tidak lari ke depan, melainkan memutarkan badannya bersembunyi di belakang

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

sebuah batu besar, sedangkan Souw Peng Hai mengiranya kabur ke depan, maka terus mengejar ke depan.

sementara Souw Peng Hai masih terus memukul ke sana ke mari, tapi tidak memperoleh hasil apa pun.

Sebab tetap tidak tampak, gadis yang dicari nya.

Tiba-tiba ia teringat akan murid kesayangannya yang memasuki gua, ia harus segera kembali ke sana, Ketika ia baru memutarkan badannya, terdengarlah suara bentakan yang amat dingin.

"Souw tua, sungguh bagus perbuatanmu!"

Ternyata suara Kim Hun Tokouw.

Souw Peng Hai terkejut ia tidak menyangka Kim Hun Tokouw akan muncul di situ, pertarungan pasti tidak dapat dielakkan lagi, maka Souw Peng Hai langsung menyerang ke belakang dengan jurus Sing Goat Kiauw Hui (Bintang Dan Bulan Memancarkan Cahaya).

Toyanya mengarah pada Kim Hun Tokouw, tapi mendadak jurus itu telah berubah dengan jurus Thian Peng Te Liak (Langit Runtuh Bumi Terbelah).

Tampak toya Souw Peng Hai berkelebatan ke arah Kim Hun Tokouw, Bukan main cepat dan dahsyatnya serangan itu.

Kim Hun Tokouw sama sekali tidak menyangka Souw Peng Hai akan menyerangnya begitu mendadak, namun ia masih sempat meloncat ke belakang, Delapan gadis yang berdiri di belakang Kim Hun Tokouw, kelihatannya sudah tahu Kim Hun Tokouw akan meloncat ke belakang, maka mereka pun meloncat ke belakang dengan serentak Bukan main gusarnya Souw Peng Hai, sebab barusan ia telah menyerang Kim Hun Tokouw dengan Lweekang sepenuhnya, namun wanita itu masih mampu menghindar dengan cara meloncat ke belakang.

Sebelum kaki Kim Hun Tokouw menginjak tanah, Souw Peng Hai menggerakkan toyanya, menyerang lagi dengan jurus Cang Hong Kin Thian (Pelangi Melintang Di Ujung Langit), lalu menyusul lagi dengan jurus Liong Cuah Phun Cu

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

(Naga Menyembur Mutiara), Kedua jurus itu jauh lebih lihay dan dahsyat dari pada jurus-jurus tadi, Bahkan tangan kiri Souw Peng Hai pun sudah siap melancarkan serangan dengan ilmu Kan Goan Cih.

Mendadak Souw Peng Hai membentak keras, lalu mengangkat tangan kirinya, ternyata ia telah menyerang dengan ilmu tersebut sementara Kim Hun Tokouw pun sudah menggerakkan selendangnya menangkis toya itu.

Ketika Souw Peng Hai membentak keras, Kim Hun Tokouw tertawa dingin sambil menyentakkan selendangnya.

sedangkan Souw Peng Hai telah melancarkan ilmu Kan Goan Cih, Kim Hun Tokouw terkejut dan cepat-cepat meloncat mundur Akan tetapi, angin pukulan Kan Goan Cih itu lebih cepat lagi menerjang ke arahnya, Meskipun kedahsyatan pukulan Kan Goan Cih itu sudah agak berkurang, namun dada Kim Hun Tokouw tidak terluput dari pukulan tersebut Wanita itu segera menghimpun Lweekangnya untuk melindungi dadanya, namun tetap terpental sehingga nyaris roboh.

Kim Hun Tokouw adalah majikan istana Pit Sia Kiong yang selama ini sama sekali tidak pernah di pecundang orang.

Namun kali ini justru dipecundang oleh Souw Peng Hai.

Dapat dibayangkan, betapa gusarnya wanita itu.

Setelah berhasil dengan ilmu Kan Goan Cih itu, Souw Peng Hai tertawa gelak, sedangkan Kim Hun Tokouw tertawa dingin sambil mengerahkan Lweekangnya.

justru di saat bersamaan, Souw Peng Hai menyerang lagi dengan jurus Siang Liong Cioh Cu (Sepasang Naga Merebut Mutiara), tangan kirinya pun melancarkan ilmu Kan Goan Cih.

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

sebetulnya ilmu tersebut sangat menguras tenaga, Maka kalau tidak perlu sekali ia tidak akan mengeluarkan ilmu itu.

Namun kali ini yang dihadapinya adalah Kim Hun Tokouw, ia mengeluarkan ilmu tersebut untuk melukai Kim Hun Tokouw, lalu memaksanya memberitahukan semua rahasia yang berkaitan dengan istana Pit Sia Kiong.

Ternyata Souw Peng Hai ingin menguasai istana itu.

Saat ini, Kim Hun Tokouw memang telah terluka oleh pukulan Kan Goan Cih.

Untung ia memiliki Lwee-kang yang amat dalam, kalau tidak, mungkin ia sudah tak dapat bertahan.

Ketika melihat Souw Peng Hai menyerangnya dengan ilmu itu lagi, Kim Hun Tokouw bersiul, seketika juga delapan gadis yang berdiri di belakangnya maju serentak.

Souw Peng Hai tertawa aneh, lalu membagi angin pukulan itu ke arah delapan gadis tersebut Terdengarlah suara jeritan, ternyata gadis-gadis itu telah terkena angin pukulan tersebut Kesempatan itu tidak disia-siakan Souw Peng Hai.

ia segera maju sambil mengayunkan toyanya, maksudnya ingin menghabiskan mereka, kemudian baru membunuh Kim Hun Tokouw.

Akan tetapi, tiba-tiba delapan gadis itu mengeluarkan suatu benda yang bergemerlapan mirip pipa tembaga.

Souw Peng Hai terkejut ia cepat-cepat memutarkan toyanya untuk melindungi dirinya.

"Phuh! Phuh...."

Tampak semacam kabut warna keemas-emasan tersembur ke luar dari pipa tembaga itu, mengarah pada Souw Peng Hai.

sementara Souw Peng Hai terus memutar-mutarkan toyanya untuk melindungi dirinya, sekaligus membuyarkan asap itu.

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Akan tetapi, asap itu sama sekali tidak buyar, sebaliknya malah terus meliuk-liuk mengarah pada dirinya.

Menyaksikan itu, terkejutlah Souw Peng Hai.

Sudah sekian lama ia tinggal di istana Pit Sia Kiong, namun selama itu tidak pernah melihat Kim Hun Tokouw menggunakan asap beracun itu.

Seuw Peng Hai segera meloncat mundur, tapi mendadak Kim Hun Tokouw menggerakkan selendangnya yang membuat asap tersebut langsung mengurungnya.

Apa boleh buat, Souw Peng Hai terpaksa memutarmutarkan toyanya lagi, namun ia masih sempat mendengar suara tawa yang amat dingin.

Ternyata Kim Hun Tokouw juga menggerakkan selendangnya, sehingga asap itu terus mengurung Souw Peng Hai.

"Souw tua!"

Ujar Kim Hun Tokouw dingin.

"Engkau akan terkubur di sini!"

"Hm!"

Dengus Souw Peng Hai.

"Siapa yang akan terkubur di sini, itu masih belum tahu."

"Engkau telah menyedot racun Cui Meng Kim Hun (Racun Bubuk Emas pengejar Nyawa)! Dalam waktu dua jam, tubuhmu pasti mencair!"

Souw Peng Hai terkejut, tapi masih tidak begitu pereaya akan kelihayan racun bubuk emas itu.

"Engkau tidak usah khawatir!"

Kim Hun Tokouw tertawa terkekeh.

"Walau engkau terkubur di sini, setiap tahun aku pasti kemari menyembayangimu!"

Mendengar itu, Souw Peng Hai langsung menutup pernafasannya, Akan tetapi, itu justru membuat dadanya terasa sakit sekali, bahkan amat panas pula seperti terbakar "Pokoknya aku tidak pereaya racun itu begitu lihay!"

Ujar Souw Peng Hai. Kemudian ia mengeluarkan sebilah pisau, lalu membabat lengan kirinya sampai putus, Kenapa Souw Peng Hai melakukan itu? Tidak lain agar racun itu mengalir ke

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

luar bersama darahnya.

"Ha ha, apakah kini aku masih akan mati?"

Kim Hun Tokouw tertegun, ia tidak menyangka Souw Peng Hai akan memunahkan racun itu dengan cara demikian "Souw tua!"

Sahutnya kemudian sambil tertawa dingin "Biar bagaimanapun, hari ini engkau pasti mati!"

"Belum tentu!"

Seru Souw Peng Hai lalu mendadak menyerang Kim Hun Tokouw dengan pisaunya, ia mengeluarkan jurus Can Liong Jip Hai (Naga Masuk Ke-dalam Laut).

Kim Hun Tokouw tidak berani meremehkan serangan itu, dan cepat-cepat menangkis dengan selendangnya, Terjadi lagi pertarungan yang amat seru, namun tak seberapa lama kemudian, Souw Peng Hai merasa matanya mulai gelap, ia mengeluh dalam hati, tidak menyangka dirinya akan menemui ajal di Gunung Taysan ini.

Di saat Souw Peng Hai sedang menunggu mati, mendadak terdengar bunyi lonceng di tempat yang amat jauh, Begitu mendengar suara lonceng itu, Kim Hun Tokouw pun langsung melesat pergi tanpa menghiraukan Souw Peng Hai lagi.

Souw Peng Hai menarik nafas lega, Sungguh di luar dugaan, nyawanya telah diselamatkan oleh suara lonceng itu, ia tahu bahwa telah terjadi sesuatu di istana Pit Sia Kiong, Kalau tidak, bagaimana mungkin Kim Hun Tokouw langsung melesat pergi meninggalkannya?

Memang harus diakui, bahwa Souw Peng Hai sangat tegar dan keras hati, Walau lengan kirinya telah putus dan banyak mengucurkan darah, namun ia masih kuat bertahan.

Keadaannya sudah begini, tapi ia masih teringat akan murid kesayangannya yang memasuki gua.

Cepat-cepat-lah ia kembali karena menguatirkan keselamatan Co Hiong.

Setelah mendekati gua itu, ia melihat Co Hiong menerobos ke luar dari dalam gua, legalah hati Souw Peng Hai.

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

"Anak Hiong!"

Panggilnya girang. Co Hiong berhenti, dan begitu menyaksikan keadaan gurunya, ia tertegun.

"Guru.,, kok jadi begini?"

Souw Peng Hai menarik nafas panjang, kemudian tersenyum getir sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Guru telah bertarung dengan Kim Hun Tokouw, Karena menyedot racun bubuk emas, maka guru terpaksa menebas putus lengan kiri, itu agar racun bisa ke luar."

"Haah?"

Co Hiong terperanjat "Kalau begitu, kini kita sudah tiada tempat untuk berteduh lagi."

"Anak Hiong...."

Souw Peng Hai menarik nafas.

"Masih luas di kolong langit, tentunya ada tempat untuk kita berteduh."

"Guru telah terluka hingga sedemikian macam, kenapa Kim Hun Tokouw mau melepaskan Guru?"

Tanya Co Hiong heran.

"Dia memang sudah mau turun tangan membunuh guru, namun mendadak lonceng di istana Pit Sia Kiong berbunyi, maka dia segera kembali ke sana."

Souw Peng Hai memberitahukan.

"Mungkinkah.... Na Siao Tiap sudah datang?"

Co Hiong tampak tersentak "Hm!"

Dengus Souw Peng Hai dingin.

"Biar dia musnahkan istana itu!"

Co Hiong mengerutkan kening, kelihatannya ia sedang memikirkan sesuatu, sedangkan Souw Peng Hai menarik nafas dalam-dalam, lalu duduk dan menghimpun hawa murninya, Tak lama ia sudah tampak agak bersemangat

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

"Anak Hiong! sebetulnya siapa orang aneh di dalam gua itu?"

Tanyanya sambil memandang muridnya itu.

"Panjang kalau dituturkan,"

Sahut Co Hiong.

"Apa yang engkau alami di dalam gua, tuturkanlah pada guru!"

Ujar Souw Peng Hai.

Co Hiong mengangguk, lalu mulai menutur.

Co Hiong mengaku dirinya Bee Kun Bu, melangkah ke dalam gua dengan hati kebat-kebit dan merasa takut sekali.

Akan tetapi, ia tetap memberanikan diri untuk terus melangkah ke dalam, Setelah melangkah masuk beberapa depa, ia berhenti seraya berkata.

"Cianpwee, aku sudah memasuki gua ini!"

Tiba-tiba berkelebat sosok bayangan ke hadapannya, Bayangan itu tinggi kurus dan begitu cepat tanpa mengeluarkan sedikit suara pun, bagaikan arwah penasaran Co Hiong terkejut Ketika ia baru mau membuka mulut, mendadak merasa bahunya sakit sekali, ternyata bahunya telah dicengkeram orang.

"Cianpwee...."

Baru mengucapkan kata tersebut, badannya telah terangkat dan melayang, Betapa terkejutnya Co Hiong, sebab ia sama sekali tidak mampu melawan atau mengerahkan Lweekangnya.

Tak lama ia sudah sampai di ruang batu yang suasananya remang-remang.

Di ruang batu itu terdapat meja dan tempat duduk yang dibikin dari batu pula, Bahkan tampak sebuah lampu minyak menyala remang-remang di atas meja batu itu.

Tiba-tiba Co Hiong terbelalak, ternyata matanya melihat dua orang berdiri di situ, yakni dua anak gadis yang dilemparkannya tadi Kedua gadis itu masih hidup, Sungguh di luar dugaan karena orang aneh di dalam gua tidak menghisap darah mereka.

Hanya saja mereka berdua berdiri seperti

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

patung, Begitu melihat Co Hiong, salah satu gadis itu langsung memperlihatkan wajah sinis.

Co Hiong menoleh melihat orang aneh itu, bukan main kagetnya setelah melihat orang aneh tersebut.

Rambut orang aneh itu putih dan panjang hampir menyentuh tanah, Separuh wajahnya tertutup oleh rambutnya yang panjang itu, cuma tampak sepasang matanya yang menyorot tajam.

"Cianpwee menyuruhku masuk ada urusan apa?"

Tanya Co Hiong.

Orang aneh itu menatap Co Hiong, tapi tidak ber-suara, Tatapan yang begitu tajam membuat sekujur badan Co Hiong langsung merinding, Orang aneh itu mendorong sebuah pintu batu.

Setelah pintu batu itu terbuka, terdengarlah suara rintihan anak gadis.

"Kakak Bu! Kakak Bu, engkau di mana?"

Co Hiong mengenali suara itu, tidak lain adalah suara Lie Ceng Loan.

Semula ia mengira gadis itu telah mati di tangan orang aneh, tapi ternyata tidak, itu membuatnya tertegun dan tidak habis berpikir Orang aneh memandang ke dalam ruang itu, kemudian menarik nafas panjang, lalu membalikkan badannya sambil menggerakkan tangannya memanggil Co Hiong, Sungguh menyeramkan, sebab kuku jari tangan orang aneh itu panjangpanjang semua.

Co Hiong menarik nafas dalam-dalam menenangkan hati, lalu menghampiri orang aneh dan tampak terheran-heran pula, Karena merasa dingin sekali ketika mendekati orang aneh itu, maka Co Hiong teringat akan kata-kata Souw Peng Hai, bahwa orang aneh itu melatih semacam ilmu yang mengandung hawa dingin.

Co Hiong memasuki ruang batu itu, ia melihat Lie Ceng Loan duduk di atas sebuah batu.

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Hati Co Hiong langsung tersentak saking terpesona akan kecantikan Lie Ceng Loan, bahkan terpukau pula, Kalau di dalam gua itu tidak ada orang aneh, mungkin gadis itu telah menjadi miliknya.

"Nona Lie! Nona Lie!"

Panggil Co Hiong sambil mendekatinya. Wajah Lie Ceng Loan berseri dan tersenyum manis, sehingga sepasang matanya berbinar-binar indah.

"Kakak Bu, engkau sudah selamat?"

"Ceng Loan!"

Co Hiong menggenggam tangannya seraya bertanya lembut.

"Kenapa engkau?"

"Kaka Bu, hatiku merasa lega karena engkau sela mat,"

Ujar Lie Ceng Loan sambil menarik nafas dalam-dalam.

"Cianpwee!"

Co Hiong berpaling memandang orang aneh itu.

"Nona Lie kenapa? Apakah dia terluka?"

Orang aneh itu cuma menarik nafas, ia tidak menyahut dan bahkan membalikkan badannya.

Co Hiong diam, ia tidak berani banyak bertanya, khawatir akan menimbulkan kegusaran orang aneh itu.

ia memandang Lie Ceng Loan dengan penuh perhatian ternyata di kening gadis itu terdapat luka bekas goresan, itu membuatnya terkejut dan tertegun.

Bagian ke empat puluh tiga Menutur kejadian Masa Lalu sementara Lie Ceng Loan terus memandang ke depan, Mulutnya terus bergumam dengan suara rendah.

"Kakak Bu, Co Hiong bilang engkau ditangkap di istana Pit Sia Kiong, Aku... aku cemas sekali, Kakak Bu. Setelah engkau meninggalkan Gunung Kwat Cong San, tahukah engkau, aku sangat merindukanmu!"

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Hati Co Hiong terasa panas sekali begitu mendengar gumaman Lie Ceng Loan. Sebab gumaman itu merupakan curahan hati gadis itu kepada Bee Kun Bu.

"Kakak Bu!"

Lie Ceng Loan tersenyum.

"Akhirnya engkau kembali di sisiku."

Usai berkata, gadis itu menggenggam tangan Co Hiong erat-erat, sehingga membuat pikiran Co Hiong menerawang.

Co Hiong tidak menyia-nyiakan kesempatan ini dan langsung mencium pipi Lie Ceng Loan, Gadis itu tersenyum manis, namun mendadak terbelalak "Siapa engkau?

Siapa engkau?

Engkau bukan Kakak Bu!

Aku mau Kakak Bu!"

Teriaknya. Co Hiong terkejut sedangkan orang aneh itu men-dengus, Mendadak Co Hiong merasa bahunya sakit sekali, ternyata orang aneh itu telah mencengkeramnya "Engkau siapa?"

Bentak orang aneh itu.

"Aku,., aku...."

Co Hiong tergagap.

"Ayoh jawab!"

Bentak orang aneh itu lagi.

"Engkau siapa?"

"Cianpwee, harap... harap dengar dulu!"

Co Hiong bersikap setenang mungkin, padahal ia amat ketakutan Dasar Co Hiong berhati licik. Seketika timbul pula suatu akal dalam benaknya.

"Dengarkan dulu penjelasanku...."

"Hmm!"

Dengus orang aneh itu dingin, lalu mengeraskan cengkeramannya.

"Aduuuh! Aduuuuh!"

Jerit Co Hiong kesakitan "Co Hiong!"

Bentak Lie Ceng Loan "Di mana Kakak Bu? Di mana dia?"

"Cianpwee, aku... aku mengaku diriku Bee Kun Bu, itu demi kebaikan Nona Lie,"

Ujar Co Hiong sambil menahan sakit.

"Engkau siapa?"

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

"Aku... aku teman baik Nona Lie."

Co Hiong menjawab demikian, karena melihat sikap orang aneh itu menyayangi Lie Ceng Loan "Di mana Bee Kun Bu?"

"Bee Kun Bu ditangkap Kim Hun Tokouw, lalu dikurung di dalam istana Pit Sia Kiong."

Co Hiong memberitahukan Orang aneh itu tampak tertegun, lalu memandang Lie Ceng Loan yang kebetulan juga sedang memandang-nya. Maka tersiratlah rasa ketakutan di wajah gadis itu.

"Nona Lie.,.,"

Orang aneh itu menarik nafas panjang.

"Jangan begitu takut padaku!"

"Engkau cepat pergi! jangan mendekatiku, aku takuti"

Seru Lie Ceng Loan "Engkau bukan manusia! Bagaimana mungkin manusia menghisap darah manusia"/"

"Nona Lie...."

Orang aneh itu menarik nafas panjang lagi.

"Sudah puluhan tahun aku melatih ilmu Kiu Tok Im Han Kang (llmu Hawa Dingin Sembilan Racun), Sudah amat dalam ilmu yang kulatih itu, maka di dalam tubuhku penuh mengandung hawa dingin Ketika engkau memasuki gua, kebetulan hawa dingin di dalam tubuhku sedang bergejolak, Karena tiada lain obatnya kecuali darah hangat, sehingga secara tidak langsung aku telah melakukan suatu kesalahan terhadapmu."

"Phui! Siapa pereaya omonganmu? Ayoh, cepat enyah dari sini!"

Hardik Lie Ceng Loan "Nona Lie, aku cuma menghisap sebagian darahmu, tapi tadi aku telah menggantinya dengan darah ular, Walau engkau akan mengalami rasa panas yang luar biasa, namun justru sangat bermanfaat bagi tubuhmu."

Orang aneh itu memberitahukan "Omong kosong! Aku tidak pereaya omonganmu, lebih baik engkau cepat enyah dari sini!"

Bentak Lie Ceng Loan. Orang aneh itu menggeleng-gelengkan kepala, kemudian berjalan mondar-mandir di ruang batu itu.

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Semula Co Hiong amat mengkhawatirkan Lie Ceng Loan yang membentak-bentak orang aneh itu.

Namun ketika melihat orang aneh itu cuma menarik nafas panjang dan menggeleng-gelengkan kepala, hatinya merasa lega.

Akan tetapi, Co Hiong merasa heran, kenapa orang aneh itu cuma menghisap sebagian darah Lie Ceng Loan?

Dan kenapa kemudian menolongnya lagi dengan darah ular?

Co Hiong betul-betul tidak habis berpikir "Nona Lie, kini engkau telah sadar, Maka aku ingin menanyakan seseorang padamu,"

Ujar orang aneh itu.

"Apakah engkau sudi memberitahukan?"

"Engkau mau menanyakan siapa?"

Tanya Lie Ceng Loan.

"Dua puluh tahun lampau, di daerah Kang Lam muncul seorang pendekar bermarga Lie,"

Jawab orang aneh itu melanjutkan "Julukannya adalah Gin Kiam Kim Pian (Pedang Perak Cambuk Emas)...."

Mendengar itu, Lie Ceng Loan langsung duduk tegak, sepasang matanya terbelalak dan mulutnya ternganga lebar.

"Engkau menanyakan Gin Kiam Kim Pian?"

Lie Ceng Loan menatapnya.

"Tidak salah."

Orang aneh itu mengangguk "Aku memang ingin menanyakan Gin Kiam Kim Pian-Lie Kwi Cee!"

"Gin Kiam Kim Pian-Lie Kwi Cee.,."

Gumam Lie Ceng Loan dengan wajah menyiratkan keterkejutan "Kenapa engkau menanyakan orang itu?"

"Aaakh...."

Orang aneh itu menarik nafas panjang.

"Aku berhutang budi padanya, hingga kini masih tiada kesempatan untuk membalasnya, maka aku menanyakan nya."

"Dia... dia...."

Air mata Lie Ceng Loan mulai bereucuran "... dia sudah mati."

Mendengar jawaban Lie Ceng Loan, orang aneh itu tampak terkejut, lalu menyingkapkan ke atas rambutnya yang

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

menutupi wajahnya itu.

Ternyata wajah orang aneh itu masih tampak tampan.

Namun yang menyeramkan wajahnya, adalah codet di keningnya, Siapa yang menyaksikan bekas luka itu, pasti terkesan takut Lie Ceng Loan terbelalak, kenapa wajah yang cukup tampan itu terdapat bekas luka?

Di saat gadis itu sedang berpikir, orang aneh itu meraba-raba codet di keningnya.

Ternyata dia sudah mati, tidak tahu mati di tangan siapa?"

Gumam orang aneh itu.

"Dia mati di tangan Kiok Goan Hoat, Aku.,, aku telah membalas dendamnya itu."

Lie Ceng Loan memberitahukan "Kalau begitu, engkau putrinya?"

Orang aneh itu menatapnya dalam-dalam.

"Ya."

Lie Ceng Loan mengangguk "Lie Kwi Cee adalah ayahku, tapi.,, bagaimana raut wajahnya, aku tidak begitu jelas, sebab ketika dia mati, aku masih kecil."

"Lie Kwi Cee adalah pendekar besar yang gagah dan tampan Tangan kanannya pedang perak dan tangan kirinya cambuk emas, Walau usianya masih muda, kepandaiannya sangat tinggi Kiok Goan Hoat itu apa? Sama sekali bukan lawannya, Aaakh...."

Orang aneh itu menarik nafas sambil mengusap-usap codet di keningnya dan melanjutkan.

"Nona Lie, bekas luka di keningku ini adalah pemberian ayahmu."

Sete!ah orang aneh itu mengatakan begitu, terkejut-lah Lie Ceng Loan dan Co Hiong.

Semula Co Hiong mengira orang aneh itu teman baik ayah Lie Ceng Loan, karena itu ia bergirang dalam hati, sedangkan Lie Ceng Loan telah terkesan baik padanya, maka ia yakin orang aneh itu pasti membantunya menundukkan Kim Hun Tokouw.

Tapi setelah mendengar orang aneh itu mengatakan begitu, merindinglah sekujur badannya, sebab ayah Lie Ceng

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Loan telah mati, tentunya orang aneh itu akan menuntut balas terhadap gadis tersebut "Cianpwee!"

Seru Co Hiong.

"Nona Lie tidak tahu apa-apa, Cianpwee tidak boleh...."

Co Hiong belum menyelesaikan ucapannya, orang aneh itu telah mengibaskan tangannya ke arah Co Hiong, menimbulkan hawa yang amat dingin menerjang ke arah-nya.

Ketika Co Hiong baru ingin melawan hawa dingin itu telah menerjang dirinya, sehingga membuatnya ter-mundur dan menggigil kedinginan ia sama sekali tidak mampu mengerahkan Lweekangnya, akhirnya jatuh duduk.

"Hati-hati Nona Lie!"

Co Hiong memperingatkannya. Terimakasih, Saudara Co!"

Sahut Lie Ceng Loan sambil tersenyum getir.

"Walau dia musuh almarhum ayahku, aku tidak takut!"

Setelah menjatuhkan Co Hiong, orang aneh itu justru tidak turun tangan terhadap Lie Ceng Loan, bahkan kemudian malah bergumam.

"Kening kananku tergores pedang peraknya dan kening kiriku tersabet cambuk emasnya, Aaakh! Sungguh hebat kepandaian pendekar Lie. Dia sudah mati, tentunya kepandaiannya yang sangat hebat itu tidak diwariskan pada siapa pun. Sungguh sayang sekali!"

Orang aneh itu menarik nafas panjang, sedangkan Lie Ceng Loan dan Co Hiong cuma mendengarkan dengan penuh perhatian "Kepandaiannya lebih tinggi dariku.,."

Lanjut orang aneh itu.

"Walau aku sudah terluka, tapi masih sempat membalasnya dengan sebuah pukulan, setelah itu barulah aku kabur Aku tidak tahu dia terpukul atau tidak, tapi dia justru mati di tangan Ciok Goan Hoat, Kalau begitu berarti dia telah terpukul oleh pukulanku yang mengandung hawa dingin, sehingga memunahkan separuh ke-pandaiannya, Ha ha ha,.,!"

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Ternyata kematian ayahku disebabkan pukulanmu itu!"

Ujar Lie Ceng Loan.

"Mungkin begitu,"

Sahut orang aneh itu.

Lie Ceng Loan membentak nyaring, tangannya menekan batu yang didudukinya, sehingga badannya melayang turun.

Gadis itu masuk ke gua bersama Co Hiong, Setelah obor padam, ia merasa sekujur badannya tidak bisa bergerak, dan tiba-tiba lehernya terasa sakit sekali ia lalu menoleh dan melihat orang aneh itu sedang menghisap darahnya melalui gigitan di lehernya.

Betapa takutnya Lie Ceng Loan, namun tidak punya tenaga untuk meronta, akhirnya ia pun pingsan.

Entah berapa lama kemudian, barulah ia siuman dan merasa sekujur badannya panas sekali, sepertinya dirinya sedang dibakar, itu membuatnya mengoceh tidak karuan.

Di saat Co Hiong memasuki gua itu, Lie Ceng Loan baru mulai sadar Kini tangannya menekan batu itu, justru membuatnya terkejut dan tertegun Ternyata tadi ia menekan batu itu, maksudnya cuma ingin turun, Namun malah membuat tubuhnya melambung ke atas, sehingga nyaris membentur langit-langit gua itu.

Setelah itu, barulah melayang turun.

Lie Ceng Loan tahu jelas, ginkangnya masih belum begitu tinggi, tapi kenapa mendadak ia memiliki ginkang yang begitu tinggi?

Gadis itu tidak habis berpikir Namun tidak punya waktu untuk memikirkan itu, sebab ia sudah membentak "Ayahku mati karena pukulanmu!

Terimalah pukulanku!"

Lie Ceng Loan menyerang orang aneh itu dengan jurus Yun Liong Phun Uh (Naga Menyemburkan Kabut).

Co Hiong terkejut sekali ketika melihat Lie Ceng Loan menyerang orang aneh itu, sedangkan dirinya masih bukan tandingannya, apalagi gadis itu?

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

"Nona Lie, cepat berhenti!"

Serunya cepat "Ada masalah apa pun, bicarakan dengan baik-baik saja!"

Akan tetapi sudah terlambat, Lie Ceng Loan telah melancarkan pukulannya.

Plaaak!

Bahu orang aneh itu terpukul Badan orang aneh itu tampak bergoyang-goyang, kemudian jatuh duduk.

Kejadian itu, sungguh di luar dugaan Lie Ceng Loan sendiri maupun Co Hiong, Mereka berdua tahu, orang aneh itu sama sekali tidak menangkis, bahkan juga tidak mengerahkan Lweekangnya, maka ia terpukul sampai jatuh duduk.

"Eh?"

Lie Ceng Loan bingung.

"Kenapa engkau tidak membalas?"

Orang aneh itu bangkit berdiri perlahan-lahan, kemudian tersenyum seraya berkata.

"Nona Lie, jangan kata membalas, kalau aku mengerahkan Kiu Tok Im Han Kang, saat ini engkau pasti sudah terluka."

"Kalau begitu, kenapa engkau tidak mau mengerahkan Lweekang itu untuk melukai diriku?"

Tanya Lie Ceng Loan sambil mengerutkan kening.

"Engkau harus dengar penuturan ku sampai habis,"

Sahut orang aneh itu lalu melanjutkan penuturannya.

"Pada waktu itu, aku kabur dengan wajah berlumuran darah, tentunya aku amat mendendam pada Lie Kwi Cee. Akan tetapi, setibanya di rumah, aku justru sangat berterima kasih padanya."

"Lho?"

Lie Ceng Loan heran.

"Kenapa begitu?"

"Setibaku di rumah, barulah aku tahu dia telah menolong seluruh keluargaku Aku punya seorang musuh besar, yaitu Ngo Tok Siu (Manusia Lima Racun) Mo Lun...."

Ketika orang aneh itu menutur sampai di sini, Co Hiong dan Lie Ceng Loan pun berteriak kaget "Haaah...?"

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

"Nona Lie, engkau kenal Ngo Tok Siu-Mo Lun?"

Tanya orang aneh itu.

"Ya."

Lie Ceng Loan mengangguk "Dia terpukul oleh Kakak Siao Tiap sehingga menjadi gila, kini entah di mana dia?"

"Oh?"

Orang aneh itu tampak kurang pereaya.

"Nona Lie, Mo Lun berkepandaian sangat tinggi, mungkin... engkau salah dengar"

"Aku menyaksikannya dengan mata kepala sendiri, bagaimana mungkin salah?"

Sahut Lie Ceng Loan.

"Dia bergabung dengan partai Thian Liong, di Toan Hun Ya, lalu terpukul oleh kakak Siao Tiap!"

"Nona Siao Tiap itu siapa?"

"Kepandaian Kakak Siao Tiap amat tinggi,"

Ujar Lie Ceng Loan sambil tersenyum.

"Tiada seorang pun yang mampu melawannya."

"Oh?"

Orang aneh itu menarik nafas panjang.

"Sudah dua puluh tahun aku tidak pernah keluar dari gua ini, maka agak asing terhadap kaum Bu Lim."

"Selama itu Cianpwee tidak pernah meninggalkan tempat ini?"

Tanya Co Hiong mendadak Co Hiong pernah datang di gua tersebut Pada waktu itu, ia sama sekali tidak melihat seorang pun di dalam gua ini, maka ia berani membawa Lie Ceng Loan ke dalam gua tersebut Karena orang aneh itu mengatakan, tidak pernah meninggalkan gua, otomatis membuat Co Hiong tereengang dan mengajukan pertanyaan itu.

Ketika Co Hiong bertanya begitu, air muka orang aneh itu mendadak berubah, kelihatannya seperti rahasianya terbongkar Setelah itu, ia menatap Co Hiong dengan sorotan tajam dan dingin, lalu membentak keras.

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

"Memang begitu!"

"Ya. Ya, aku... aku cuma sekedar bertanya saja."

Ujar Co Hiong cepat dengan perasaan takut "Ngo Tok Siu-Mo Lun datang di rumahku selagi aku tidak berada di rumah, Ternyata dia ingin membunuh anak isteriku yang tidak mengerti ilmu silat Kebetulan pendekar Lie lewat Padahal pada waktu itu pendekar Lie dengan aku sudah bermusuhan Namun dia justru menolong anak isteriku Aaaakh!

Setelah itu, aku bertemu dengannya, Kalau dia mengungkat tentang itu, bagaimana mungkin aku akan bertempur dengan dia?

Tapi dia bukan orang yang suka berbangga diri karena telah menoiong.

Oleh karena itu, dia diam saja sehingga kami bertarung, wajahku terfuka, dia pun terkena pukulanku "Engkau memang jahat sekali!"

Ujar Lie Ceng Loan. Tidak salah,"

Sahut orang aneh itu mengaku.

"Aku memang jahat, aku memang binatang!"

Karena orang aneh itu mengaku begitu, maka Lie Ceng Loan merasa tidak tega terus mempersalahkannya.

"Sudahlah! jangan mempersalahkan diri sendiri!"

Ujar Lie Ceng Loan.

"Nona Lie!"

Orang aneh itu menatapnya.

"Engkau memang mirip pendekar Lie, bahkan berjiwa besar dan berhati lapang."

"Kalau begitu, kenapa engkau bisa tinggal di dalam gua ini?"

Tanya Lie Ceng Loan mendadak "Pada waktu itu, aku menyesal sekali Aku tidak tahu kalau pukulanku akan melukainya atau tidak?

Kalaupun aku pergi mencarinya juga pereuma, sebab aku belum mampu mengobatinya,"

Jawab orang aneh itu memberi-tahukan.

"Oleh karena itu, aku bersumpah dalam hati, harus memperdalam ilmuku itu. Setelah aku berhasil memperdalam ilmuku, barulah aku pergi untuk mengobatinya!"

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

"Cianpwee!"

Sela Co Hiong.

"Kalau tidak salah, Cianpwee adalah Kiu Tok Sian Ong (Dewa Sembilan Racun) Bun Thian Pah."

"Kok engkau tahu?"

Tanya orang aneh itu.

"Cianpwee menitip anak isteri pada orang, lalu seorang diri berangkat ke seberang laut untuk belajar ilmu silat tinggi, semua kaum Bu Lim tahu itu,"

Jawab Co Hiong, ia pun merasa terkejut karena orang aneh itu ternyata Kiu Tok Sian Ong-Bun Thian Pah.

Yang lebih mengejutkan yakni orang aneh itu masih kalah di tangan Lie Kwi Cee.

Padahal Kiu Tok Sian Ong sangat terkenal, lagi pula kakak seperguruan Ngo Tok Siu-Mo Lun.

"Aku tidak berangkat ke seberang laut, melainkan berangkat ke luar perbatasan,"

Ujar Kiu Tok Sian Ong.

"Karena aku memperoleh berita, bahwa di dalam sebuah gua di Gunung Taysan (Altai), terdapat sebuah Han Giok (Giok Dingin) yang sangat bermanfaat bagi ilmu Kiu Tok Im Hang Kangku, Karena itu, aku berangkat ke mari Lantaran terburuburu memperdalam ilmuku itu, akhirnya diriku menjadi rusak. Beberapa tahun yang lalu, barulah aku berhasil menembus urat nadiku. Tak di-sangka, sudah dua puluh tahun dan putri pendekar Lie pun sudah sedemikian besar!"

"Guruku bilang, ayahku terjebak oleh rencana busuk Kiok Goan Hoat, akhirnya mati di tangan mereka,"

Ujar Lie Ceng Loan menjelaskan "Sepertinya tiada hubungannya dengan pukulan Cianpwee!"

"Oh?"

Kiu Tok Sian Ong tertegun "Biar bagaimana-pun, aku tetap merasa bersalah terhadap almarhum ayah-mu."

Co Hiong dan Lie Ceng Loan diam saja, Berselang sesaat Kiu Tok Sian Ong berkata lagi "Nona Lie, sebetulnya siapa Bee Kun Bu?"

"Dia...."

Wajah Lie Ceng Loan kemerah-merahan.

"... dia kakak seperguruanku!"

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

"Oooh, aku mengerti"

Kiu Tok Sian Ong manggut-manggut, kemudian memandang Co Hiong seraya berkata, Tadi engkau begitu berani mengaku sebagai Bee Kun Bu.

sesungguhnya aku harus membunuhmu, tapi mengingat engkau teman Nona Lie, maka aku mengampunimu, cepatlah engkau pergi melapor pada Lam Kiong Siu, suruh dia bawa Bee Kun Bu ke mari menemui ku!"

"Lo Siang Ong!"

Lie Ceng Loan girang bukan main.

"Apakah Lam Kiong Siu akan menuruti perkataan Cianpwee?"

"Nona Lie, engkau boleh berlega hati,"

Sahut Kiu Tok Sian Ong.

"Kalau Lam Kiong Siu tidak mau mendengar kataku, aku pasti menerjang ke istana Pit Sia Kiong untuk menolong kakak seperguruanmu."

Saat ini, Co Hiong tidak tahu bahwa Souw Peng Hai dan Lam Kiong Siu sudah berada di lembah, bahkan mereka telah bertarung mati-matian.

Maka begitu mendengar Kiu Tok Sian Ong menyuruhnya pergi melapor pada Lam Kiong Siu, Co Hiong terkejut Sebab ia masih ingat, ketika ia menyinggung orang aneh itu, wajah Lam Kiong Siu langsung berubah.

Kelihatannya, Lam Kiong Siu pernah mengalami sesuatu di tangan Kiu Tok Sian Ong, Kalau tidak, bagaimana mungkin Lam Kiong Siu tampak agak segan terhadapnya ?

Setelah berpikir sejenak, Co Hiong memandang Kiu Tok Sian Ong, lalu memberi isyarat dengan tangannya.

"Kalau mau bicara, bicaralah!"

Bentak Kiu Tok Sian Ong.

"Jangan seperti orang gagu, kelihatannya engkau bukan orang baik-baik!"

"Lo Siang Ong, Co Hiong bukan orang jahat."

Lie Ceng Loan membelanya.

"Hm!"

Dengus Kiu Tok Sian Ong.

"Nona Lie, engkau berhati bajik, bagaimana mungkin tahu kelicikan hati orang?"

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Co Hiong gusar sekali dalam hati, namun wajahnya justru malah tersenyum-senyum.

"Cianpwee benar, Hanya saja tadi ada sedikit pembicaraan yang tidak boleh didengar Nona Lie, maka aku memberi isyarat dengan tangan, tapi Cianpwee malah salah paham,"

Ujar Co Hiong sungguh-sungguh.

"Pembicaraan apa yang tidak boleh kudengar?"

Tanya Lie Ceng Loan. Co Hiong tidak menyahut, melainkan bersikap serba salah.

"Katakanlah,"

Desak Lie Ceng Loan.

"Apakah berkaitan dengan Kakak Bu?"

Co Hiong diam saja, itu membuat Lie Ceng Loan makin penasaran "Katakan saja!"

Desak Lie Ceng Loan lagi.

"Kalau Kakak Bu sudah celaka, paling juga aku akan menemaninya mati."

"Nona Lie...."

Co Hiong menarik nafas panjang.

"Terus terang, Saudara Bee...."

"Kakak Bu kenapa?"

Tanya Lie Ceng Loan dengan wajah berubah.

"Dia,., dia telah...."

"Dia sudah mati?"

Air mata Lie Ceng Loan langsung mele!eh.

Co Hiong tidak menyahut, hanya manggut-manggut Lie Ceng Loan tertegun, air matanya terus berderai dan berdiri seperti patung, kemudian mendadak tersenyum seraya bergumam.

"Kakak Bu, kita hidup selalu berpisah, Kini kita sudah mati, jadi bisa berkumpul selama-lamanya."

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

"Eh?"

Kiu Tok Sian Ong tertegun.

"Nona Lie, engkau masih segar bugar, kenapa malah bilang sudah mati?"

"Kakak Bu sudah mati, dia akan kesepian seorang diri di sana, maka aku harus menyertainya."

Sahut Lie Ceng Loan sambil tersenyum sedih.

"Nona Lie!"

Ujar Kiu Tok Sian Ong.

"Jangan cari mati, di dunia ini masih banyak pemuda lain."

"Memang masih banyak pemuda !ain, namun aku cuma mencintai Kakak Bu seorang saja,"

Ujar Lie Ceng Loan dengan air mata bereucuran wajahnya mulai berubah pucat, kemudian berubah merah, setelah itu mulai berubah kelabu.

Menyaksikan itu, Kiu Tok Sian Ong langsung membentak lalu mendekatinya.

Dicengkeramnya urat nadi gadis itu, agar hawa murninya tidak buyar "Bagaimana engkau bisa tahu itu?"

Tanya Kiu Tok . Sian Ong pada Co Hiong.

"Aku berada di luar istana, kebetulan mencuri dengar pembicaraan para peiayan."

"Phui! itu mungkin cuma isu saja!"

Ujar Kiu Tok Sian Ong.

"Nona Lie, engkau jangan begitu bodoh!"

"Lo Sian 0ng....H Timbullah harapan dalam hati Lie Ceng Loan.

"Aku mau ke istana Pit Sia Kiong!"

"Nona Lie, aku telah menerima budi dari almarhum ayahmu, hingga kini masih belum terbalas, Kalau engkau mau ke istana Pit Sia Kiong, aku pasti mendampingimu Tapi hai)us menunggu malam dulu."

"Harus menunggu malam ?"

Tanya Lie Ceng Loan.

"Kenapa?"

"Engkau jangan bertanya, pokoknya kalau hari sudah malam, kita berangkat ke sana,"

Sahut Kiu Tok Sian Ong.

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

"Baiklah."

Lie Ceng Loan mengangguk "Sekarang engkau boleh pergi,"

Ujar Kiu Tok Sian Ong pada Co Hiong.

"Selidiki jejak Bee Kun Bu, apakah benar dia sudah celaka?"

Padahal Co Hiong ingin mengajak Lie Ceng Loan pergi bersama, tapi ia tidak mampu melawan Kiu Tok Sian Ong, maka terpaksa menurut dan langsung meninggalkan gua itu, Begitu keluar dari gua itu, ia bertemu Souw Peng Hai.

"Ternyata orang aneh itu Kiu Tok Sian Ong-Bun Thian Pah,"

Ujar Souw Peng Hai seusai mendengar penuturan Co Hiong.

"Kepandaiannya jauh lebih tinggi dari Mo Lun, maka Mo Lun merasa iri padanya, akhirnya mereka berdua bermusuhan."

"Guru!"

Co Hiong tertawa.

"Nanti malam kita akan menyaksikan tontonan yang sangat menarik."

"Ng!"

Souw Peng Hai manggut-manggut "Tadi lonceng di istana Pit Sia Kiong berbunyi, bagaimana kalau kita ke sana melihat-lihat?"

"Apakah Guru masih kuat bertahan?"

"Bagaimana mungkin guru tidak kuat bertahan?"

Souw Peng Hai tertawa gelak.

"Ayolah, mari kita kesana!"

Bagian ke empat puluh empat Kehilangan Kitab Pusaka Ketika Souw Peng Hai dan Co Hiong tiba di depan istana Pit Sia Kiong, hari sudah senja, Mereka berdua bersembunyi di belakang sebuah pohon, lalu memandang ke arah istana.

Tampak seorang gadis cantik jelita berdiri dekat pintu istana Pit Sia Kiong, Gadis itu Na Siao Tiap, tangannya membawa sebuah Piepa (Alat Musik Kuno Cina yang mirip gitar).

"Hah?"

Co Hiong terkejut "Guru, ternyata benar Na Siao Tiap yang datang!"

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

"Anak Hiong!"

Souw Peng Hai juga terkejut "Kita jangan memperlihatkan diri."

Tampak Na Siao Tiap mulai tidak sabaran berdiri di situ.

"Hci! Kalau kalian tidak membuka pintu, aku tidak akan bertindak sungkan-sungkan lagi!"

Bentaknya keras. Akan tetapi, pintu istana itu tetap tertutup rapat, bahkan tiada sahutan di dalam.

"Kim Hun Tokouw!"

Seru Na Siao Tiap nyaring.

"Pintu ini tidak dapat menghadangku!"

"Anak Hiong!"

Ujar Souw Peng Hai pada Co Hiong.

"Lam Kiong Siu telah terluka oleh Kan Goan Cihku, mungkin dia tidak berani ke luar menyambut musuhnya itu."

"Dia tidak berani ke luar, tapi Na Siao Tiap pasti menerjang ke dalam,"

Sahut Co Hiong sambil tertawa dingin.

"Menurutmu, seandainya dia menerjang ke dalam, apakah mampu memusnahkan istana Pit Sia Kiong?"

"Pek Yun Hui masih tidak mampu memusnahkan istana itu, apa lagi Na Siao Tiap,"

Ketika mereka berdua sedang bereakap-cakap di belakang pohon, Na Siao Tiap yang berdiri di depan pintu istana Pit Sia Kiong mundur beberapa langkah, kemudian mendorongkan sepasang tangannya ke arah pintu itu.

Bum!

Pintu itu terbuka.

Na Siao Tiap melangkah ke dalam, Tentunya akan terjadi pertarungan hebat di dalam istana Pit Sia Kiong.

Bagaimana cara dan kenapa Na Siao Tiap pergi ke istana Pit Sia Kiong?

Ketika Lie Ceng Loan dibawa pergi oleh Co Hiong, bukankah Na Siao Tiap kembali ke gua Thian Kie cinjin?

Kok sekarang malah berada di istana Pit Sia Kiong?

Ternyata ketika Na Siao Tiap duduk di depan gua Thian Kie Cinjin dengan pikiran kacau, mendadak muncul seekor

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

kuda berlari kencang menuju ke tempat tersebut Akan tetapi, Na Siao Tiap sama sekali tidak mendengar suara derap kaki kuda itu, sebab pikirannya sedang kacau.

Kuda itu berhenti tampak jelas dua orang duduk di punggung kuda, Salah seorang berdandan seperti pelajar berusia empat puluhan, sedangkan yang seorang lagi sudah tua, hanya punya sebelah tangan dan kaki.

Siapa mereka?

Ternyata Wang Han Siang dan Mo Lun yang kini telah sembuh dari penyakit gilanya.

"Haah?"

Mo Lun terkejut sekali ketika melihat Na Siao Tiap.

"Saudara Wang, kita harus cepat pergi,"

"Tenang!"

Sahut Wang Hang Siang.

"Kelihatannya dia tidak mengetahui keberadaan kita di sini."

"Kalau dia tahu, bukankah kita akan celaka?"

Ujar Mo Lun.

ia memang sangat takut pada Na Siao Tiap, sebab ia pernah terpukul oleh gadis itu, sehingga membuat urat syarafnya terganggu semua hampir setengah tahun lebih, Maka ketika melihat Na Siao Tiap, ia langsung ketakutan setengah mati "Saudara Mo!"

Wajah Wang Han Siang menyiratkan hawa membunuh "Gadis itu kelihatan tereekam suatu masalah, Bagaimana kalau kita melakukan serangan gelap kepadanya? Siapa tahu Kui Goan Pit Cek berada padanya."

Wang Han Siang berkata sampai di situ, mendadak Na Siao Tiap mendongakkan kepala nya, kebetulan mengarah pada ke dua orang itu.

Akan tetapi, Na Siao Tiap diam saja, hanya kemudian menghela nafas panjang dan menundukkan kepalanya lagi.

Wang Han Siang dan Mo Lun saling memandang, lalu turun dari punggung kuda.

Mereka berdua berendap-endap mendekati Na Siao Tiap, lalu secepat kilat bersembunyi di belakang sebuah pohon.

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

"Ibu..."

Gumam Na Siao Tiap.

"lbu melarangku mencintai lelaki yang mana pun, tapi kenapa mengajarku ilmu silat? Apakah aku harus membunuh lelaki yang kucintai?"

Usai bergumam, Na Siao Tiap mengeluarkan sebuah kitab Kui Goan Pit Cek.

Begitu melihat kitab pusaka itu, hati Wang Han Siang dan Mo Lun langsung berdebar-debar tidak karuan Kitab pusaka itu peninggalan Thian Kie Cinjin ratusan tahun lampau, yang telah menimbulkan banjir darah dalam rimba persilatan Ketika Na Siao Tiap mengeluarkan kitab pusaka itu, Wang Han Siang dan Mo Lun terkejut dan berdebar-debar.

Tampak Na Siao Tiap seperti ingin memusnahkan kitab pusaka tersebut Menyaksikan itu, jantung Wang Han Siang dan Mo Lun hampir meloncat ke luar seketika, Na Siao Tiap menarik nafas dan bergumam lagi.

"Kui Goan Pit Cek! Kalau aku tidak mempelajari semua ilmu silat yang tereantum di dalamnya, tentu aku boleh mencintai.... Bergumam sampai di situ, mendadak wajah gadis itu tampak kemerah-merahan, kemudian melanjutkan ucapannya.

"Apa gunanya aku menghendaki engkau ke mari?"

Na Siao Tiap menaruh kitab Kui Goan Pit Cek itu di atas tanah, lalu sekuat tenaga menginjak kitab pusaka itu.

Padahal kitab pusaka itu amat diidamkam setiap kaum Bu Lim, tapi saat ini Na Siao Tiap malah menganggapnya sebagai kitab rongsokan sementara Wang Han Siang dan Mo Lun terus menatap kitab pusaka itu, Tiba-tiba Wang Han Siang menulis beberapa huruf di permukaan tanah.

"Saudara Mo, engkau

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

memancingnya pergi, aku akan mengambil kitab Kui Goan Piteekau,"

Ngo Tok Siu-Mo Lun tertegun, kemudian menulis.

"Kita bertemu di mana?"

Ternyata ia khawatir Wang Han Siang akan kabur bersama kitab Kui Goan Pit Cek.

Wang Han Siang berhati licik, ketika melihat Ngo Tok SiuMo Lun menulis begitu, timbullah rasa tidak senang dalam hatinya, Kalau aku tidak berupaya mengobatimu, mungkin kini engkau telah mati, ujarnya dalam hati, Kini malah tidak mempereayai dirinya, Walau ia sangat mendongkol dalam hati, namun tidak diperlihatkan pada wajahnya.

Setelah itu ia pun menulis Setelah mendapatkan kitab pusaka itu, kita bertemu di menara tua di sebelah barat, kira-kira lima enam mil dari sini Ngo Tok Siu-Mo Lun tampak serba salah, tapi menulis juga.

"Aku sudah cacat begini, kurang leluasa bergerak! Bagaimana kalau Saudara Wang saja yang memancingnya pergi, lalu aku yang ambil kitab pusaka itu T sebetulnya Wang Han Siang berniat jahat Apabila telah mendapatkan kitab itu ia akan kabur jauh-jauh, dan tidak akan ke menara itu menemui Mo Lun. Ketika melihat Mo Lun menulis begitu, ia tertegun, sementara Na Siao Tiap menengadahkan kepalanya memandang langit, kitab Kui Goan Pit Cek masih menggeletak di atas tanah. Wang Han Siang tahu jelas, seandainya Na Siao Tiap memungut kitab pusaka itu, sulitlah merebutnya, Walau mereka berdua melawan Na Siao Tiap seorang diri, tapi tetap bukan tandingannya. Oleh karena itu, Wang Han Siang segera menulis lagi, Apakah Saudara Mo tidak mempereayaiku?

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Mo Lun tersenyum licik dan menulis, Kakiku tinggal sebelah, berjalan pun susah, sungguh sulit bagiku memenuhi keinginanmu Wang Han Siang berpikir sejenak ia sudah punya suatu rencana di dalam benaknya, maka ia pun mengangguk seraya berbisik "Baiklah."

Betapa girangnya Ngo Tok Siu-Mo Lun, sehingga membuatnya lupa daratan.

Tiba-tiba Wang Han Siang bergerak aneh, kelihatannya menancapkan sesuatu di tanah, lalu melesat pergi.

Ngo Tok Siu-Mo Lun terus menatap kitab Kui Goan Pit Cek yang masih tergeletak di atas tanah itu dengan mata tak berkedip.

Apabila Wang Han Siang muncul memancing Na Siao Tiap pergi, ia akan segera mengambilnya lalu kabur sementara Wang Han Siang terus mendekati Na Siao Tiap tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.

sedangkan Mo Lun sudah siap melesat ke luar untuk mengambil kitab itu, Akan tetapi mendadak....

Bummm!

Terdengar suara ledakan di sisi Ngo Tok Siu-Mo Lun.

Begitu cepat kejadian itu, membuat Mo Lun terkejut bukan main, Sesaat ia sudah tahu, dan langsung mencaci.

"Dasar binatang.,.,"

"Siapa?"

Bentak Na Siao Tiap, dan sekaligus melesat ke arah Mo Lun.

Betapa takutnya Mo Lun, ia tidak menyangka kalau Wang Han Siang begitu licik.

Na Siao Tiap melesat ke arahnya, berarti kesempatan bagi Wang Han Siang untuk mengambil kitab pusaka itu, dan sebaliknya dirinya malah akan mati di

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

tangan Na Siao Tiap, seketika juga timbul niat jahatnya terhadap Wang Han Siang, maka ia cepat-cepat berseru.

"Nona Na, cepat lihat itu.,,."

Ternyata engkau!"

Sahut Na Siao Tiap sambil mengayunkan tangannya.

Plaak!

Ploook!

Muka Mo Lun sudah tertampar dua kali, sehingga membuat matanya berkunang-kunang dan nyaris jatuh.

Namun ia masih sempat melirik ke arah kitab Kui Goan Pit Cek Ternyata Wang Han Siang telah mengambilnya dan langsung melesat pergi.

"Lihat itu!"

Seru Mo Lun sambil menunjuk ke depan.

Setelah menampar Mo Lun, Na Siao Tiap merasa ada desiran angin di belakangnya Begitu Mo Lun berseru, Na Siao Tiap langsung melesat ke arah yang ditunjuk Mo Lun.

Akan tetapi, Wang Han Siang telah melesat pergi beberapa depa, Na Siao Tiap mendengus dingin, kemudian mendadak menyentilkan jari tengahnya, Tampak cahaya putih meluncur laksana kilat ke arah Wang Han Siang.

Wang Han Siang sudah tahu akan serangan itu, maka segeralah ia mengerahkan Lweekangnya melindungi punggungnya.

Taaak!

Cahaya itu telah menghantam Hong Bun Hiat di bahu Wang Han Siang.

Ternyata Na Siao Tiap menyerangnya dengan sebutir mutiara putih, dan seketika juga Wang Han Siang jatuh duduk tak bergerak lagi.

"Di mana Kui Goan Pit Cek itu?"

Bentak Na Siao Tiap sambil melesat ke hadapan Wang Han Siang. Wang Han Siang diam saja, Na Siao Tiap berpaling memandang Ngo Tok Siu-Mo Lun seraya membentak.

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

"Engkau jangan kabur!"

Ngo Tok Siu-Mo Lun sudah tahu akan kelihayan Na Siao Tiap, maka ia tidak berani kabur Lagi pula yang mengambil Kui Goan Pit Cek itu Wang Han Siang. Duuuk! Na Siao Tiap menendang Wang Han Siang.

"Aaakh.,."

Keluh Wang Han Siang.

"Kui Goan Pit Cek? Apa Kui Goan Pit Cek itu?"

"Kitab yang ingin kuhancurkan itu!"

Sahut Na Siao Tiap dingin.

"Aku tidak melihat kitab itu."

Ujar Wang Han Siang.

Na Siao Tiap tertegun, ia menatap Wang Han Siang tajam seraya berkata sungguh-sungguh.

Terus terang, kitab Kui Goan Pit Cek itu merupakan barang pembawa bencana!

Maka aku ingin menghancurkannya!

cepatlah kembalikan kitab itu!"

"Nona Na, aku tahu engkau berkepandaian tinggi! Bagaimana mungkin aku berani bermain-main dengan-mu? Aku... aku sungguh tidak melihat kitab itu!"

"Oh?"

Na Siao Tiap mengerutkan kening, lalu melambaikan tangannya seraya membentak "Mo Lun, ke marilah engkau!"

Ngo Tok Siu-Mo Lun tidak berani membantah ia cepatcepat mendekati Na Siao Tiap dengan sikap takut-takut.

"Hei!"

Na Siao Tiap menudingnya.

"Apakah engkau melihat dia mengambil kitab Kui Goan Pit Cek itu?"

Sebetulnya Ngo Tok Siu-Mo Lun dan Wang Han Siang punya iiulmugan yang akiau, kalau tidak, bagaimana mungkin Wang Han Siang mau berupaya mengobati Mo Lun ketika urat syarafnya terganggu?

Akan tetapi, kitab Kui Goan Pit Cek itu telah membuat mereka berdua melupakan hubungan yang akrab itu.

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

"Saudara Wang!"

Ujar Ngo Tok Siu-Mo Lun sambil tertawa dingin.

"Nona Na sudah tahu, kenapa engkau masih berbohong? cepatlah engkau kembalikan pada Nona Na, itu baru benar!"

"Ha ha!"

Wang Han Siang tertawa.

"Nona Na, kalau aku mati di tanganmu, itu berarti kepandaianku masih rendah! Tapi engkau menuduh ku telah mengambil kitab Kui Goan Pit Cek, mati pun aku masih penasaran!"

"Kalau begitu...."

Kening Na Siao Tiap berkerut "Di mana kitab pusakaku itu?"

"Tadi aku memang telah melesat ke arah kitab pusaka itu, namun aku belum sempat mengambilnya, mendadak meluncur sebuah batu ke arah kitab pusaka itu, sehingga membuat kitab pusaka itu meluncur beberapa depa, Aku tahu diriku telah dijadikan kambing hitam, maka aku berusaha kabur, tapi tertangkap Nona Na!"

"Hm!"

Dengus Na Siao Tiap dingin.

"Engkau anggap aku baru berusia tiga tahun? Gampang dibohongi?"

"Nona Na!"

Ujar Wang Han Siang.

"Aku masih berada di sini, silakan menggeledah badanku!"

Na Siao Tiap memang membenci kitab Kui Goan Pit Cek, namun ia tahu jelas, apabila kitab pusaka itu beredar di Kang Ouw, pasti akan menimbulkan bencana lagi, dan darah pun pasti mengalir Kalau Wang Han Siang menyuruhnya menggeledah, itu bagaimana mungkin?

Sebab ia seorang gadis, Oleh karena itu, ia memandang Ngo Tok Siu-Mo Lun seraya berkata.

"Geledahlah badannya!"

Apa yang dikatakan Wang Han Siang tadi, Mo Lun tidak begitu pereaya, Bagaimana mungkin ada orang lain mengambil kitab pusaka itu?

Wang Han Siang sangat licik, dia mengatakan begitu tentunya punya alasan, Kebetu!an Na Siao

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Tiap menyuruhnya menggeledah Wang Han Siang, memang itu yang diinginkannya.

Mo Lun mendekati Wang Han Siang, namun secara diamdiam ia telah menyiapkan sebatang jarum beracun di tangannya.

Setelah berada di hadapan Wang Han Siang, mendadak Mo Lun menusuk Hwa Kai Hiat di dadanya dengan jarum beracun itu.

"Haah?"

Wang Han Siang terkejut bukan main.

"Sau-dara Mo, bagus sekali kelakuanmu!"

"He he!"

Ngo Tok Siu-Mo Lun tertawa.

"Saudara Wang, panah pemberi isyaratmu itu juga bagus sekali!"

"Aku mati pasti jadi arwah penasaran menuntut balas padamu!"

Wang Han Siang menyumpah "Jangan khawatir!"

Ngo Tok Siu-Mo Lun tertawa dingin.

"Dalam waktu tiga atau lima tahun, engkau tidak akan menghadap Giam Lo Ong (Raja Akhirat)!"

Begitu mendengar ucapan Mo Lun, sekujur badan Wang Han Siang menggigil Karena ia tahu Ngo Tok Siu-Mo Lun telah menggunakan racun yang bereaksi lamban, Siapa terkena racun itu, tidak mati namun akan mengalami penderitaan yang amat hebat "Bagus!

Bagus!"

Wang Han Siang tertawa sedih. Yang tidak sabaran adalah Na Siao Tiap, ia menatap Ngo Tok Siu-Mo Lun seraya membentak "Cepat geledah dia!"

Ngo Tok Siu-Mo Lun segera menggeledah Wang Hang Siang, tapi sama sekali tidak menemukan kitab Kui Goan Pit Cele

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Saat ini, Ngo Tok Siu-Mo Lun juga tereengang, Sebab kitab pusaka itu tidak berukuran kecil yang dapat ditelan ke dalam mulut Yang jelas Wang Han Siang telah mendapat kitab pusaka itu, tapi kenapa tidak berada padanya?

Perlahan-lahan ia membalikkan badannya, sekaligus memandang Na Siao Tiap.

"Nona Na, kitab Kui Goan Pit Cek tidak berada padanya,"

Katanya.

"Aku tidak peduli!"

Sahut Na Siao Tiap.

"Pokoknya aku harus mendapat kembali kitab pusaka itu dari kalian!"

Na Siao Tiap memainkan tali senar piepa beberapa kali, itu adalah irama Mi Hun Li Cin (Menyesatkan pikiran Mengusir Roh), ilmu yang terdapat di dalam kitab Kui Goan Pit Cek.

Walau Na Siao Tiap cuma memainkan sejenak, Ngo Tok Siu-Mo Lun dan Wang Han Siang sudah merasa sukma mereka terbetot ke luar, Betapa terkejutnya Mo Lun.

"Nona Na, itu bukan urusanku! Saudara Wang, engkau harus berkata sejujurnya!"

"Tadi aku sudah berkata sejujurnya!"

Sahut Wang Han Siang sambil berkertak gigi.

"Kalau kalian tidak menyerahkan kitab Kui Goan Pit Cek, maka aku akan memperdengarkan irama piepa ini!"

Ujar Na Siao Tiap mengancam.

"Nona Na, itu tiada kaitannya dengan diriku!"

Wajah Ngo Tok Siu-Mo Lun sudah pucat pias.

"Hm!"

Dengus Na Siao Tiap dingin.

"Engkau bersama dia, tentunya juga berniat jahat! Kalian kaum lelaki memang jahat semua!"

"Nona Na!"

Sahut Wang Han Siang mendadak "Kalaupun kami berdua mati, kitab Kui Goan Pit Cek tetap berada di tangan orang lain! Kenapa Nona Na tidak pergi mengejar orang ilu?"

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

Na Siao Tiap tertegun, Di saat menghadapi kematian, Wang Han Siang masih mengatakan begitu, mungkinkah dia berkata sesungguhnya?

Na Siao Tiap tampak bimbang, Pada waktu bersamaan tampak tiga sosok bayangan melesat ke tempat itu.

Tak lama ke tiga sosok bayangan itu sudah berada di hadapan Na Siao Tiap, Sungguh di luar dugaan, bayangan itu ternyata Kun Lun Sam Cu yang terkenal itu, Tong Leng Tojin, Giok Cin Cu dan Hian Ceng Totiang.

"Oh, Nona Na!"

Giok Cin Cu menatapnya Ternyata engkau berada di sini!"

"Kun Lun Sam Cu!"

Na Siao Tiap segera memberi hormat "Aku dan adik Ceng Loan mau berangkat ke istana Pit Sia Kiong,"

"Oh?"

Giok Cin Cu mengerutkan kening.

"Di mana Ceng Loan?"

Wajah Na Siao Tiap langsung berubah merah, sebab Lie Ceng Loan telah dibawa pergi oleh Co Hiong dengan menunggang kuda. ia merasa malu menuturkannya, maka diam saja.

"Engkau....f"

Giok Cin Cu menudingnya, Ternyata rahib wanita itu telah menduga yang bukan-bukan atas diri Na Siao Tiap. Tenang Sumoy!"

Ujar Tong Leng Tojin yang sudah menerka apa yang dipikirkan adik seperguruannya itu.

"Kalau ada masalah bicaralah baik-baik!"

Na Siao Tiap seorang gadis cerdik, maka ketika menyaksikan sikap Giok Cin Cu begitu, ia dapat menduga bahwa rahib wanita itu telah mengira dirinya melakukan sesuatu terhadap Lie Ceng Loan, untuk merebut cinta Bee Kun Bu.

KANG ZUSI

http.//cerita-silat.co.ce/

"Adik Ceng Loan yang mau ikut Co Hiong pergi, apakah aku bisa disalahkan?"

Ujar Na Siao Tiap dengan nada tidak senang.

"Co Hiong?"

Air muka Kun Lun Sam Cu langsung berubah.

"Ya."

Na Siao Tiap mengangguk.

"Kenapa Ceng Loan ikut Co Hiong pergi?"

Tanya Giok Cin Cu.

"Panjang sekali kalau dituturkan."

Na Siao Tiap menarik nafas dan menambahkan.

"Kui Goan Pit Cekku telah hilang, aku harus mencarinya dulu."

"Apa?"

Kun Lun Sam Cu bertambah terkejut "Ba-gaimana kitab Kui Goan Pit Cek hilang?"

"Berada di tangan mereka."

Jawab Na Siao Tiap sambil menunjuk Wang Han Siang dan Ngo Tok Siu-Mo Lun.

Baca Juga: Kemelut Blambangan 5

Baca Juga: Pendekar Sakti Kho Ping Hoo

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert