Eps 1 Kembalinya Ilmu Ulat Sutera - Huang Ying
Baca online Kembalinya Ilmu Ulat Sutera - Huang Ying
Cersil Kembalinya Ilmu Ulat Sutera - Huang Ying.
12 Judul . KEMBALINYA ILMU ULAT SUTRA Karangan . Huang Ying Terjemahan . Liang Y L Di edit/ sadur . Adhi H Penerbit . Tunas Mandiri Jaya Edisi Pertama . Juli 2010 I S B N / K D T . 978-979-1489-50-8
Jilid KE SATU Di larang mengutip, tokopi, memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku tanpa izin tertulis dari Penerbit HAK CIPTA DI LINDUNGI UNDANG-UNDANG3 KEMBALINYA ILMU ULAT SUTRA PERSEMBAHAN .
SEE YAN TJIN DJI4 SEPATAH KATA .
Beberapa tahun yang lalu aku pernah menulis sebuah buku berjudul 'Tian-can pian' (Pendekar Ulat Sutra) sebenarnya strukturnya sangat padat.
Tapi ketika ingin menyusun kembali menjadi sebuah film, setelah mengurangi dan menambahkan masukan dari beberapa orang maka penyusunannya menjadi kurang bersemangat.
Sebab kadang-kadang aku masih terasa ketinggalan jaman, kadang-kadang juga karena ada alasan lain, maka aku mengubah dan mengubah lagi, terkadang dengan cerita awalnya menjadi lain.
Sebenarnya Tian-can-sin-kang (Ilmu lwee-kang Ulat Sutra) ini ilmu silat apa?
Dan dari perkumpulan mana ilmu ini datangnya?
Aku punya pikiran aneh, maka aku merangkainya menjadi sebuah cerita dan kuberi nama 'Pian-si-liong' (Naga Berubah Warna), tapi karena ada bermacam-macam alasan di antaranya ada perasaan kecewa dengan sifat manusia, maka aku lama tidak meneruskan penulisannya.
Suatu kali secara tidak sengaja aku menyampaikan keinginanku kepada pemimpin sebuah perusahaan film, bahwa aku bermaksud menyusun cerita ini menjadi sebuah film, ternyata hal ini membuat semangat menulisku jadi berkobar kembali.
Setelah beberapa kali mengoreksi jadilah serangkaian cerita padat.
Mungkin ini bukan cerita yang sangat bagus,5 tapi aku percaya masih berharga untuk dibaca, sebab ini adalah karya dari seorang penulis buku silat yang telah menulis selama 10 tahun lebih.
Aku yakin aku tepat memilih topik kali ini.
Sebuah cerita silat yang belum pernah dibaca oleh pembaca.
Tokoh yang sangat dikenal pembaca hanya satu...
Wan Fei Yang.6 KEMBALINYA ILMU ULAT SUTRA
Jilid KE SATU BAB I Pagi hari, di luar gua kabut tampak masih tebal, tapi matahari sudah masuk melalui sela-sela, seperti tiang cahaya yang keluar dari kabut tebal.
Suasana terasa misterius.
Di dalam gua penuh dengan bebatuan berbentuk aneh, bebatuan itu adalah batuan stalaktit.
Cahaya matahari yang menyinari batuan stalaktit, menimbulkan pantulan sinar berwarna-warni.
Semakin masuk ke dalam, sinar matahari semakin sulit masuk dan suasana pun semakin gelap, batu pun semakin kehilangan warna cerahnya, memang masih ada sedikit cahaya yang masuk tapi cahaya itu membuat orang teringat pada pedang, golok, dan tombak yang tajam juga dingin.
Gua itu besar, banyak jalan lorong-lorongnya, cahaya matahari membantu orang melihat arah, tapi tetap saja membuat orang merasa gua ini sangat dalam dan jauh.7 Di tengah-tengah gua terdapat sebuah kolam besar, di kolam terdapat banyak batu stalaktit yang muncul dari air, terlihat tajam dan lancip, membuat kolam itu terlihat jadi sangat berbahaya.
Di tengah-tengah kolam terdapat batu besar sebesar 3-4 meter muncul ke permukaan kolam.
Itu hanya satu per tiga dari tiang batu yang menyambung ke atas gua, entah mengapa tiang itu patah sekitar 3-4 meter.
Seorang yang berpenampilan aneh sedang duduk bersila di atas batu itu.
Orang itu memang aneh, sekujur tubuhnya di bungkus benda seperti benang tenun, maka tidak bisa terlihat jelas bagaimana wajahnya.
Benda seperti benang tenun itu berwarna abu keputihan, memancarkan sinar aneh, banyak benang yang melewati kolam secara horisontal dan menyambung ke batu-batu stalaktit yang berada di sekeliling kolam.
Melihat keadaan itu, akan membuat siapa pun berkesan, dia seperti sebuah patung yang ada di kuil yang sudah lama tidak dibersihkan.
Sampai-sampai seluruh tubuhnya tertutup oleh sarang laba-laba dan debu.
Benang-benang itu memang seperti sarang laba-laba, melihat benang itu terkumpul begitu banyak, entah berapa lama laba-laba harus menganyam sarangnya?
Di tubuh seseorang melilit begitu banyak jaring sarang laba-laba, butuh berapa lama waktu untuk menjalinnya?
Tapi di sekeliling tidak terlihat ada laba-laba, selain orang itu tidak ada makhluk hidup lainnya.8 Mungkin orang itu pun belum tentu masih hidup karena dia hanya duduk bersila, tidak pernah bergerak sedikit pun.
Tidak ada angin, air kolam terlihat seperti mati, tidak ada riak air.
Batu stalaktit yang ada di dalam gua pun tidak meneteskan air.
Di dalam gua tidak terdengar suara sedikit pun, begitu hening seperti mati.
Tapi keheningan ini tiba-tiba dikejutkan oleh suara gemuruh, kerasnya benar-benar seperti suara guntur, entah datang dari mana suara itu, hanya terdengar gemanya sekali-sekali, seperti datang dari semua penjuru.
Gua pun tergetar dan bergoyang air kolam mulai terlihat ada riak, ada air muncrat.
Batu stalaktit yang ada di dalam gua seperti akan hancur, terputus lalu terjatuh.
Suara gemuruh itu tidak besar juga tidak kecil, tapi datang secara berturut-turut, setiap kali suara itu keluar sepertinya sama besar, tapi karena itu adalah gema maka terdengar semakin keras.
Orang yang duduk bersila di atas batu itu seperti tidak terpengaruh oleh suara itu.
Kalau bukan karena dia tuli pasti dia sudah terbiasa dengan suara itu, atau dia memang sudah mati, sehingga tidak ada perasaan apa pun.
Suara gemuruh berbunyi terus kemudian bertambah dengan suara lain.
Suara itu seperti suara orang mengutuk.
Munculnya suara itu membuat gua ini terasa diliputi hawa jahat.
Kemudian suara ke tiga muncul seperti ada9 sekelompok ulat sutra yang sedang merebut daun arben sebagai makanan, seperti juga banyak serangga sedang merayap.
Bersamaan itu dari batu stalaktit yang berada di tengah kolam bermunculan banyak titik hitam, semakin lama semakin banyak, titik-titik hitam itu terus bergerak.
Setelah dilihat dengan teliti ternyata titik-titik itu adalah laba-laba hitam sebesar kepalan tangan.
Laba-laba hitam itu warnanya hitam mengkilap beroman seperti manusia.
Seperti cerita yang ada di dalam mitos.
Laba-laba beroman manusia itu tidak disangsikan lagi.
Wajah laba-laba hitam itu berbeda-beda, ada yang marah ada yang senang, ada yang mengejek, hanya dengan melihat romannya cukup membuat siapa pun yang melihat akan terkejut dan merinding.
Mereka semua seperti diatur oleh suara rutukan dan merayap ke benda seperti benang dan serat dari sarang laba-laba, juga merayap ke arah orang yang sedang duduk di atas batu di tengah kolam itu.
Cara merayap mereka terlihat lebih jelek tapi tidak seekor pun ada yang terjatuh ke dalam kolam.
Dengan selamat mereka berhasil melewati benda seperti benang dan sarang laba-laba, lalu merayap ke tubuh orang ilu.
Setiap laba-laba beroman manusia itu membawa benang laba-laba yang bersinat terang, tapi setelah teijatuh di tubuh orang itu segera berubah menjadi gelap dan tidak bersinar lagi, dan menempel seperti benang katun sarang laba-laba.10 Tidak diragukan lagi benang itu adalah benang sutra dari laba-laba beroman manusia.
Di dalam mitos diceritakan bahwa benang sutra dari laba-laba beroman manusia adalah benda paling beracun.
Jangankan mulut manusia, kulit pun akan pecah jika terkena benang itu.
Orang itu jelas sudah lama dililit dan dirayapi oleh laba-laba beroman manusia, seharusnya kulitnya borok bahkan dia bisa mati, kalau dia bisa hidup, rasanya sukar dipercaya.
Memang masalah di dunia ini sering terjadi di luar dugaan semua orang, banyak hal yang tidak mungkin, akan mungkin terjadi.
Dan orang itu pun masih hidup.
Laba-laba beroman manusia itu dengan cepat merayap memenuhi tubuhnya.
Membuatnya menjadi benda aneh yang terbungkus oleh kulit hitam berkilau, dan terus bergetar.
Suara gemuruh, suara mengutuk, suara gema terus berbunyi semakin keras, membuat gua itu seperti akan longsor.
Diiringi suara itu terlihat benda aneh itu tiba-tiba meledak.
Banyak benang laba-laba yang menempel di tubuh orang itu yang hancur dan tertiup angin lalu beterbangan.
Orang itu berdiri dalam kepulan asap dan ditempel berhelai-helai benang laba-laba, tapi kulit orang itu tidak borok, malah terlihat sangat mulus, warna kulitnya abu keputihan dan aneh, membuat wajahnya yang tampan terlihat jahat dan kejam.11 Rambut dan alisnya berwarna abu keputihan terkesan licik, matanya pun tidak terkecuali.
Mengikuti gerakannya, air kolam yang ada di sekeliling batu tiba-tiba naik dan meloncat-loncat, kemudian di tengah-tengah udara berpencar seperti air hujan.
Kemudian terdengar siulan panjang, suara gemuruh dan suara mengutuknya semakin lama semakin mengecil, tapi sampai suara terakhir masih terdengar.
Terdengar suara lonceng dari kejauhan sekejap datang mendekat, saat dia menoleh ada seorang tua muncul di tepi kolam.
Orang tua berambut putih itu telinga, leher, pergelangan tangan dan kakinya diikat oleh lonceng-lonceng besar serta kecil berwarna abu-abu.
Warna kulitnya seperti ikan mati, bola matanya seperti mutiara, seperti sosok pemuda yang duduk di atas batu, wajah mereka terlihat pucat karena kurang mendapat cahaya matahari.
Di pinggir kolam orang tua itu berlutut dan terus memberi hormat.
"Selamat, selamat..."
"Apakah aku berhasil?"
Tanya pemuda itu.
"Berhasil, tapi tenaga dalammu masih belum cukup jika ingin mengeluarkan kekuatan yang dahsyat, untuk naik lagi ke tingkat yang lebih tinggi dan mencapai puncaknya, butuh lweekang yang kuat!"
"Kalau aku berlatih mati-matian, butuh berapa lama?"12
"Tidak kurang dari 10 tahun, tidak lebih 20 tahun, aku rasa kau tidak akan sabar!"
"Apakah ada cara yang lebih cepat?"
"Ada..."
Orang tua itu mengeluarkan segulung kulit kambing dari balik dadanya.
"ini adalah daftar nama-nama dari 36 pesilat tangguh di Tiong-goan, setiap orang itu mempunyai lweekang yang sangat kuat!"
"Dengan jurus Ih-hoa-ciap-bok?" (Geser bunga sambung kayu) "Itulah cara yang paling gampang!"
Sikap orang tua itu terlihat bertambah jahat juga curang.
"Jika menggunakan Ih-hoa-ciap-bok, butuh berapa lama?"
"Semua harus melihat seperti apa kerajinanmu, semua ada di tanganmu?"
Pemuda itu tertawa terbahak-bahak, rambutnya terus bergetar dan melayang-layang.
Gema suaranya membuat gua itu bergetar, air kolam pun bergejolak, tapi orang tua itu tidak bereaksi sama sekali, tentu saja karena dia mempunyai tenaga dalam yang sangat kuat.
Pemuda itu tidak mempedulikannya, dia meneliti gulungan kulit kambing itu, dia sudah memutuskan akan membuat dunia persilatan Tiong-goan jadi geger dan banjir darah.
0-0-013 Ceng Su, ketua Tiam-jong-pai.
Tiam-jong-pai adalah sebuah perguruan besar dan ketua Tiam-jong-pai dari dulu sampai sekarang selalu bernasib baik, setiap ketuanya selalu meninggal karena tua, maka sebelum meninggal mereka selalu mempunyai waktu yang cukup untuk mengajarkan ilmu silatnya kepada ketua penerusnya.
Cara mewariskan yang dilakukan adalah cara paling rahasia juga paling berbahaya.
Di dunia ini memang tidak ada hal yang sempurna.
Demi menjaga rahasia ini, ketua Tiam-jong-pai berlatih bukan di di dalam kuil, melainkan di balik gunung, di sebuah rumah batu.
Ingin memasuki rumah batu itu harus melewati sebuah lorong, kedua sisi lorong itu sangat tajam, maka disebut 'It-sian-thian' (Jalan kecil menuju langit).
Di mulut lorong ada sebuah rumah batu kecil, di dalam rumah batu itu ada 4 orang murid Tiam-jong-pat tinggal di sana, semua diatur oleh ketuanya.
Biasanya mereka adalah murid langsung dari ketua Tiam-jong-pai, selain bertanggung jawab atas kebutuhan sehari-hari ketua, mereka juga menjaga keselamatan ketuanya, melarang siapa pun mengganggu gurunya yang sedang berlatih di rumah batu itu.14 Pekerjaan ini bisa dianggap sebagai pekerjaan paling ringan, bisa dikatakan yang dimaksud dengan ringan itu adalah membosankan.
Buktinya sampai sekarang tempat itu selalu tenang, tidak pernah ada berani menerobos masuk.
Jadi kalau ada berani menerobos, 4 murid Tiam-jong-pai yang berjaga pasti tidak akan keburu menahan.
Dan pemuda itu masuk tidak dengan cara berteriak-teriak terlebih dulu.
Pemuda itu muncul di bawah terpaaan sinar matahari terbenam, dia seperti hantu gentayangan.
Saat masih di luar, bayangannya yang panjang sudah masuk ke dalam rumah batu itu.
Empat murid Tiam-jong-pai yang baru selesai membuat makan malam, tidak ada yang melihat, tiba-tiba saja mereka baru sadar kalau ada orang yang sudah masuk.
Orang pertama yang melihat pemuda itu hanya berkata.
"Coba lihat siapa yang datang?"
Karena tempat itu sudah lama berada dalam keadaan tenang, mereka tidak terpikir kalau bahaya sudah datang.
Mereka hanya mengira yang datang adalah murid Tiam-jong-pai yang mengantarkan kebutuhan sehari-hari.
Waktunya memang sangat tidak tepat tapi mereka tidak terpikir akan hal lain, sewaktu mereka sadar semua sudah terlambat.
Pemuda itu seperti hantu gentayangan, tahu-tahu sudah masuk ke dalam.
Kulitnya berwarna abu keputihan tapi15 sangat mulus, sewaktu tangannya terjulur keluar tampak telapaknya licin bercahaya.
Murid paling depan yang ada di rumah itu hanya merasa ada bau tidak sedap menyergap hidungnya.
Belum sadar bau apa yang tercium, nafasnya sudah putus.
Telapak tangan pemuda itu sudah membekas di wajah murid itu lalu berpindah ke tenggorokan murid yang lain.
Saat pemuda itu meninggalkan murid pertama yang telah dibunuhnya, dari mulut dan hidung murid pertama itu terlihat ada benang berwarna abu-abu keputihan seperti benang laba-laba.
Wajah murid itu pun berubah menjadi abu keputihan, dia menabrak murid yang lain setelah itu baru roboh.
Gerakan pemuda itu sangat cepat, begitu telapak tangannya bergerak lagi, tahu-tahu sudah berada di tenggorokan murid yang lain, tanpa sempat berteriak murid itu pun langsung roboh.
Dua orang murid Tiam-jong-pai lainnya segera mengambil pedang mereka yang tergantung di dinding.
Belum lagi murid yang di sebelah kiri maju, dia sudah merasakan ada angin keras menyerangnya.
Teriakan belum selesai tubuhnya sudah melayang terbang, tapi reaksinya lumayan lincah.
Di tengah-tengah udara masih dia bisa bergerak dan berusaha melancarkan serangan.
Tapi ketika dia bersiap akan melancarkan serangan, yang dilihatnya hanya sinar berkelebat, kemudian dia merasa16 nafasnya menjadi sesak, dan itulah saat terakhir yang dirasakannya.
Murid yang di sebelah kanan sudah memegang pedang, saat dia mengawasi pemuda itu, tampak dia sedang menarik telapaknya dan memutar tubuhnya.
Saat itu adik seperguruannya melihat sinar yang berkelebat.
"Dengan senjata rahasia melukai orang bukan tindakan ksatria dan laki-laki jantan!"
Teriak-nya.
Telapak tangan pemuda itu dibalikkan tampak tangannya tidak memegang apa-apa, dari mana bisa ada senjata rahasia?
Murid Tiam-jong-pai yang terakhir itu melintangkan pedangnya di depan dada, dia telah melihat jelas tapi tidak punya reflek seperti itu.
Dari sini dapat diketahui kalau ilmu silatnya cukup lumayan hanya pengalamannya sangat kurang.
Sebenarnya pemuda itu bisa mengambil kesempatan ini melumpuhkannya tapi dia malah tidak melakukannya.
Dia menunggu murid itu tenang baru maju.
Dengan pedang di tangan, murid Tiam-jong-pai segera menyerang lawannya, ilmu pedang Tiam-jong-pai selalu mementingkan posisi menyerang, dia tahu dalam sekejab serangannya bisa mencapai 271 kali.
Pemuda itu hanya bergeser 9 langkah dan tidak pernah membalas.
Sedangkan pedang murid Tiam-jong-pai itu hanya bisa 9 kali mengancam jiwanya, serangan yang lainnya hanya berjarak beberapa inchi dari tubuhnya.17 Perhitungan yang sangat tepat.
Ketenangan pemuda itu benar-benar membuat siapa pun merasa terkejut.
Beberapa kali murid Tiam-jong-pai itu merasakan kalau serangannya mengenai pemuda itu, tapi terakhir dia baru sadar, pemuda itu sama sekali tidak terkena sabetan pedangnya, maka hatinya mulai terasa dingin.
Karena itu gerakan pedangnya dari cepat berubah menjadi lamban dan terakhir jurus pedang nya tampak menjadi kacau.
Saat itu lah pemuda itu mulai melancarkan serangan.
Dia membentak ingin memutar pedangnya tapi telapak tangan kiri pemuda itu sudah menekan ke arah kepalanya, membuat semua jurus pedangnya jadi tertutup.
Dia ingin menarik pedangnya tapi pedangnya seperti dililit sesuatu dan tidak bisa ditarik lepas.
Kemudian dia melihat pemuda itu tertawa licik, tangan kanan pemuda itu diangkat, telapaknya mengeluarkan sinar menyilaukan.
Saat itu pemuda itu seperti menyodorkan sesuatu, dia ingin berteriak, tapi telapak tangan pemuda itu sudah berada di depan matanya, dia berteriak keras dan memutuskan untuk melepaskan pedang lalu kabur dari sana, tapi bersamaan waktu dia melihat tangan kanan yang memegang pedang, kelima jarinya sudah tertempel oleh sesuatu, bukan hanya tangannya tidak bisa terlepas dari pegangan pedang, untuk bergerak pun dia sudah tidak bisa.
Telapak tangan pemuda itu sudah menekan mulut dan hidungnya lalu bertanya.18
"Apakah sekarang kau sudah tahu bahwa itu bukan senjata rahasia?"
Murid Tiam-jong-pai tidak bisa menjawab.
Sewaktu tangan kanan pemuda itu dilepaskan, dia langsung roboh, dari hidung dan mulutnya terlihat ada benang sutra dari sarang laba-laba, di 5 jari tangan kanannya pun ada benda seperti itu, punggung pedang yang tadi ditekannya pun terlihat benang itu.
Pedang berubah jadi tidak bersinar, begitu pula dengan bola matanya, tidak ada tanda-tanda terjadi perubahan perasaan.
Bola mata orang mati memang seperti itu.
Pemuda itu hanya mengatakan kalimat itu kemudian telapak tangannya dikendorkan, kakinya segera melangkah, dia melewati rumah batu menuju lorong sempit.
Semakin ke dalam, lorong semakin gelap dan menyeramkan, cahaya It-sian-thian terlihat menyilau kan.
Pemuda itu berjalan dengan tubuh tegak, dia seperti suka dengan keadaan It-sian-thian.
Sampai di ujung lorong, tampak sorot matanya baru fokus memandang wajah Ceng Su.
Ceng Su berbaju tosu panjang berwarna hijau dan berdiri di depan pintu rumah batu, terlihat wajahnya seperti tertawa, dia melihat pemuda itu berjalan menuju ke arahnya.19 Dia tampak kurus seperti tosu lainnya, memberikan kesan bersih dan tidak terduga apa yang terkandung di balik semua itu.
"Kabar di dunia persilatan ternyata benar!"
Tiba-tiba pemuda itu bicara.
"Maksudmu, tentang ilmu lweekang Tiam-jong-pai?"
"Katanya ilmu itu hanya bisa dijelaskan oleh ketuanya, tidak pernah dicatat di dalam buku mana pun!"
"Itu memang benar!"
"Bagaimana jika ketuanya meninggal secara tiba-tiba, dan waktu itu tidak ada seorang pun yang akan mewarisi ilmunya, bukankah ilmu itu akan musnah?"
"Untung hal seperti itu belum pernah terjadi!"
"Karena itu lweekang Tiam-jong-pai bisa diwariskan sampai generasimu bukan?"
"Akulah Ceng Su..."
Pemuda itu memotong.
"Tampaknya kau bukan tipe orang yang keras kepala dan tidak tahu diri!"
"Tapi sayang, sekarang Tiam-jong-pai harus memikirkan cara lain untuk mengajarkan ilmu lwekangnya kepada generasi penerus. Apakah harus seorang ketua baru yang bisa berlatih?"
"Ini benar-benar disayangkan!"
"Sebenarnya tadi aku sudah menggunakan alat menghitung nasib, dan aku tahu akan terjadi bencana,20 sayang ide tersebut belum diputuskan, aku sudah mendengar ada teriakan yang mengejutkan!"
"Waktu itu jika kau ingin melarikan diri masih ada kesempatan!"
"Di Tiam-jong-pai belum pemah terjadi ada hal yang tidak bisa dibereskan, ketua Tiam-jong-pai pun tidak pernah ada yang takut pada kematian, tidak ada seorang pun yang ketakutan seperti tikus!"
"Siapa namamu?"
Tanya Ceng Su lagi.
"Kau akan tahu pada waktunya nanti!"
"Lucu juga! Apakah 4 murid Tiam-jong-pai di rumah batu itu dalam keadaan baik?"
"Mereka semua sudah mati!"
Pemuda itu tidak menutupi keadaan sebenarnya.
"Apakah Tuan datang kemari untuk membalas dendam?"
Wajah Ceng Su mulai terlihat tidak senang, karena ke empat muridnya itu adalah murid kesayangannya.
"Bukan, aku membunuh mereka karena tidak ada cara yang lebih baik!"
"Baiklah!"
Ceng Su menarik nafas panjang.
"Apa yang ingin kau jelaskan?"
Tanya Ceng Su.
"Tidak ada, sebenarnya tidak perlu banyak bicara!"
Ceng Su tertawa dingin, kedua telapaknya berputar, bajunya bergerak tapi tidak ada angin yang berhembus di sana.
Setelah dua telapak tangannya didorong ke kanan dan ke kiri, baru terdengar deru angin topan dan guntur.21 Pemuda itu malah tertawa, semua terlihat oleh Ceng Su.
Dia tertawa dingin.
"Apakah kau berani beradu tenaga dalam denganku?"
Pemuda itu menjawab dengan gerakan, ke dua telapaknya bersiaga di depan dada, telapak tangan saling berhadapan, dia berjalan ke arah Ceng Su.
Melihat usianya masih muda, tenaga dalamnya pasti tidak terlalu tinggi, Ceng Su pun berpikir demikian.
Tapi begitu melihat dari dekat, hatinya bergetar, tapi dia tetap ingin mencoba dulu setelah merasa puas baru tenaga dalamnya dikerahkan, ke dua telapaknya menepuk keluar.
Dia tidak terpikir sama sekali kalau pencobaannya akan membuatnya masuk dalam musibah.
Pemuda itu tidak mundur, ke dua telapaknya menyambut dua telapak Ceng Su.
Di balik telapaknya tampak cahaya berkedip-kedip.
Ceng Su melihat jelas tapi belum sempat memikirkan masalah ini, kedua telapaknya sudah beradu dengan telapak pemuda itu.
Ke dua telapaknya terlihat seperti tidak ada yang datang lebih dulu atau datang belakangan, tapi sebenarnya memang tidak bersamaan, maka dia bersiap-siap menghadapi segala perubahan, tapi kedua telapak pemuda itu seperti mempunyai daya hisap, hingga telapak kirinya pun tersedot.
Telapaknya menunggu terjadi perubahan, tapi telapak pemuda yang sebelah lagi sudah datang menyambut dan tersedot dengan erat.
Ceng Su membentak ingin menarik22 telapaknya tapi sayang dengan cara apa pun menarik telapak tangannya tetap tidak bisa ditariknya, tenaga dalam segera dikerahkan supaya bisa menggetarkan kedua telapak pemuda ini, tapi tenaga dalamnya seperti air sungai Yang-ce, terus mengalir dengan deras masuk ke samudra luas, bisa pergi tidak bisa kembali.
Dia melihat pemuda itu, terlihat dia tertawa jahat dan licik, seperti memberitahukan bahwa dia telah termakan tipuannya.
Tenaga dalam dikerahkan lagi untuk menarik kedua telapaknya yang terhisap tapi keadaan masih tetap seperti itu.
Yang membuatnya bertambah terkejut adalah begitu mengerahkan tenaga dalam, tenaga dalamnya medali bocor dan keluar terus, tidak bisa dihentikan lagi.
Tawa pemuda itu semakin licik dan culas.
Ceng Su membentak, tenaga dalam dikerahkan lagi untuk menutupi jalan darahnya.
Tenaga dalam yang keluar seperti seekor naga berjalan di kedua tangannya, tapi setelah sampai di kedua pergelangan tangan tiba-tiba kehilangan kontrol, seperti seekor kuda liar yang terlepas dari tali kekang, terus berlari keluar.
Ceng Su benar-benar terkejut, dia membentak lagi untuk menutupi jalan darah-jalan darah di keduatanganya.
Memang tenaga dalam yang dilatihnya sudah mencapai pada tahap bisa dikuasai sesuai keinginan sendiri, tidak banyak orang yang bias sampai tingkat seperti dia.23 Dia menotok jalan darah di kedua tangan seperti memotong ke dua tangannya.
Sebenarnya hal itu sangat berbahaya, tapi kecuali cara ini tidak ada cara lain lagi.
Jika ada yang tiba-tiba menyerang, berarti dia sedang menunggu kematiannya.
Untung saja di sekelilingnya tidak ada orang lain.
Dia percaya jika pemuda itu melepaskan kedua telapaknya, jalan darah di kedua tangannya bisa segera terbuka, dan tenaga dalamnya tetap bisa mengalir masuk ke dalam kedua tangannya.
Tapi pemuda itu tidak melepaskan kedua telapaknya.
Saat Ceng Su melihat telapak tangannya dia baru melihat kalau telapaknya dan telapak pemuda itu sudah penuh dengan benda seperti sarang sarang laba-laba, berwarna abu keputihan dan tampak berkilau.
"Kau..."
Ceng Su benar-benar terkejut, akhirnya dia sadar mengapa kedua telapaknya sulit ditarik kembali.
Kata 'kau' baru keluar, tiba-tiba dia merasa 2 tenaga besar masuk melalui telapaknya menuju ke dua tangannya.
Jalan darah yang telah ditotoknya bisa mencegah agar tenaga dalamnya tidak keluar, yang pasti bisa menolak tenaga dalam dari luar masuk ke dalam aliran tenaga dalamnya, tapi tenaga dalam yang ingin masuk itu terlalu kuat.
Seperti saat kita membelah bambu membuat jalan darah yang telah lertotok jadi terbuka kembali.
Tenaga dalamnya tidak bisa dihentikan lagi, terus mengalir keluar, tenaga tolakan setelah beradu, tenaga yang24 masuk secara tiba-tiba mundur dengan cepat, dengan tenaga dalam yang mengalir seperti sungai mengalir ke samudra di tubuh pemuda itu.
Ceng Su sadar dia telah tertipu dan masuk ke dalam perangkap pemuda itu tapi dia sudah tidak bisa menguasai tenaga dalam yang keluar seperti kuda liar yang terlepas dari pingitan.
Tawa pemuda itu makin terlihat senang, wajah Ceng Su terlihat semakin terkejut dan ketakutan, keringat terus keluar dari dahinya, semua tempat di mana bisa keluar keringat tampak sudah basah kuyup.
Bajunya basah dan dia sudah setengah pingsan.
Otot di wajahnya mulai terasa keram, tidak bersemangat seperti biasanya, dia persis seperti seorang tua yang tulangnya sudah keropos.
"Kau ini.... Wan Fei-yang!"
Tiba-tiba dia berkata dengan suara lemah.
Pemuda itu seperti terkejut, tapi dia tidak menjawab karena dia sedang mengatur tenaga dalam nya, baju dan rambutnya tampak berkibar-kibar.
Akhirnya tenaga dalam Ceng Su telah habis dan mengering, kulitnya pun ikut mengering.
Waktu itu dia merasa ada 2 tenaga kuat masuk melalui telapak tangan pemuda itu dengan cepat masuk ke dalam tubuhnya, dia mulai merasa bersemangat dan merasa nyaman.
"Apa yang kau lakukan?"
Suaranya mulai membesar.25 Pemuda itu hanya tertawa, begitu masuk ke pendengaran Ceng Su dia sadar kalau pemuda itu berniat tidak baik lagi, tapi dia tidak bisa memilih jalan lain.
Dengan cepat perasaan nyaman tadi sudah menghilang, digantikan dengan rasa sakit yang sulit ditahan.
Seperti ada jarum yang berpuluh-puluh tiba-tiba meledak di dalam tubuhnya, Ceng Su berteriak memilukan, tubuhnya terpelanting ke belakang, tapi kedua telapaknya jadi terlepas dari telapak pemuda itu.
Dia menubruk dinding gunung yang ada di belakang hingga batu terbelah.
Dia terus masuk melesak ke dalam dinding batu, dia berteriak lagi.
"Wan Fei-yang, ada dendam apa antara dirimu dengan Tiam-jong-pai?"
Dia berteriak, mulutnya terbuka, tapi langsung tertutup oleh benda seperti benang sarang laba-laba, membuat kata-katanya tidak bisa lagi terucap keluar.
"Margaku Beng bernama Beng To!"
Ucap pemuda itu.
"Kau adalah Wan Fei-yang, hanya Thian…"
Ceng Su sudah tidak kuat bicara, dia sudah tidak bernyawa lagi.
"Sekarang kalian menganggap aku adalah seseorang yang tidak ada apa-apa, suatu hari kalian akan mengenalku sebagai Beng To, bukan Wan Fei-yang!"
Beng To membalikkan tubuh keluar lorong.
Sarang laba-laba di wajah Ceng Su semakin banyak, wajahnya pun berubah menjadi abu-abu, seperti sudah lama tidak diketahui keberadaannya sampai laba-laba pun membuat sarang di tubuhnya.26 Memang benda itu seperti benang sutra tapi tidak teranyam menjadi sebuah lukisan yang indah.
Sewaktu Beng To mengeluarkan gulungan kulit kambing, hari sudah larut, dia sudah berada sejauh 10 Li dari Tiam-jong-pai.
Di depannya berkobar api unggun, dia sedang membakar seekor ayam hutan dan ayam itu belum matang, darah ayam di atas batu belum membeku.
Dengan tenang dia mengambil darah ayam hutan itu dan mencoret nama Ceng Su di atas gulungan kulit kambing.
Di depan nama Ceng Su ada 7 warna, semua nama di sana sudah dicoret.
Sorot mata Beng To jatuh ke nama belakang Ceng Su.
Tong Pek-coan, juga bernama Tong Bu-tek, adalah ketua Tong-bun yang terletak di daerah Su-coan timur.
Melihat nama Tong Pek-coan, orang dunia persilatan pasti akan ingat pada banyak hal tentang Tong Pek-coan.
Beng To hanya membutuhkan nama Tong Butek sebagai ketua Tong-bun, itu sudah cukup.
Tong Pek-coan adalah seorang tua sudah 10 tahun lebih tidak pernah meninggalkan Tong-bun, tapi namanya masih sangat terkenal di dunia persilatan, dia bukan hanya mempunyai nama besar, dia juga orang berbakat selama ratusan tahun ini, satu-satunya orang yang bisa menggubah senjata rahasia Tong-bun jadi bertambah sempurna.27 Tong-bun terkenal di dunia persilatan karena senjata rahasia beracunnya, semua orang dimia persilatan mengetahuinya.
Sekarang senjata rahasia Tong-bun jarang dibubuhi racun, pesilat yang berasal dari Tong-bun tidak perlu memberi racun pada senjata rahasianya.
Sebab jika senjata rahasianya dibubuhi racun, Tong-bun akan menganggap itu adalah cara kurang jujur.
Murid-murid Tong-bun selalu berusaha terlepas dari nama buruk walaupun senjata rahasia mereka masih beracun, itu hanya untuk persiapan saja, mungkin dipakai jika situasi memaksa.
Katanya cara melemparkan senjata rahasia Tong Pek-coan sudah berada pada taraf seratus persen tepat dan tidak pernah meleset.
Melemparkan senjata rahasia adalah ilmu yang mengandalkan kecekatan, tapi jika ingin berlatih hingga mahir dan mencapai tingkat tinggi, harus menggunakan ilmu lweekang yang sangat tinggi.
Katanya ilmu lweekang Tong-bun berasal dari India dan hanya Tong Pek-coan yang bisa menguasai hingga tingkat ke-9.
Kabar di dunia persilatan mengatakan bahwa Tong Pek-coan tiba-tiba keluar dari persembunyiannya karena ingin berlatih tenaga dalamnya hingga tingkat ke 10, setelah mencapai tingkat ke 10, dia akan panjang umur, mungkin dia malah bisa hidup abadi.28 Tapi itu hanyalah gosip, kenyataan sebenarnya adalah putra tunggalnya meninggal karena sakit, hal ini membuatnya kecewa berat.
Putranya pun hanya memiliki seorang anak perempuan bernama Tong Ling, hal ini membuat Tong Pek-coan merasa menyesal, untung cucu perempuannya tidak hanya cantik tapi juga pintar.
Sudah dididik olehnya selama 10 tahun lebih, kecuali tenaga dalamnya yang masih kurang, ilmu senjata rahasia dan ilmu silat lainnya sudah berada pada sangat tinggi, orang-orang Tong-bun yang lain selalu kalah di tangannya.
Hal itu semakin membuat Tong Pek-coan khawatir, dia sangat tahu sifat Tong Ling yang selalu ingin menang dan fanatik.
Setiap hari selalu ribut ingin berkelana di dunia persilatan.
Di depan kakeknya dia tidak berani berbuat macam-macam, tapi dia sudah tua, bisa hidup beberapa tahun lagi?
Jika dia meninggal, siapa yang bisa membendung Tong Ling?
Orang yang pernah berkelana di dunia persilatan akan mengetahui bahwa dunia persilatan sangat berbahaya, juga penuh dengan kekejaman.
Tinggi gunung masih ada gunung yang lebih tinggi apa lagi Tong Ling adalah seorang gadis, rasanva lebih baik dia tinggal di rumah.
Usia Tong Ling juga membuatnya khawatir sebab di Tong-bun tidak ada yang seorang pun yang disukai Tong Ling.
Kadang-kadang dia berharap Tong Ling adalah seorang29 laki-laki, paling sedikit tidak akan membuatnya pusing 7 keliling.
Tapi walau bagaimanapun Tong Ling adalah anak yang taat dan berbakti kepada orang tua, jika ada waktu dia selalu berada di sisinya untuk menemaninya menghabiskan waktu.
Murid Tong-bun yang lain, entah karena Tong Ling atau karena mempunyai sikap menghormati gurunya, mereka juga terbiasa berada di sisinya.
Dia bukan orang tua yang sulit bergaul dengan orang lain, apa lagi selama beberapa tahun ini dia senang dengan keramaian, mungkin ini adalah sifat seorang tua.
Malam ini pun tidak terkecuali.
Murid-murid Tong-bun masih berada di ruang tamu, terdengar sedang bercengkrama dengan Tong Pek-coan, lama baru bubar.
Tong Pek-coan selalu menekankan bahwa anak muda jangan tidur terlalu larut dan harus bangun pagi, sekalipun hari besar, tetap tidak terkecuali.
Itu sudah menjadi sebuah kebiasaan, tapi sekarang ini dia merasa kesepian yang belum pernah dia rasakan.
Dia melihat ruang tamu itu dan menarik nafas.
"Aku sudah tua..."
Seperti ingin berdiri tapi duduk kembali, punggungnya bersandar pada kursi dan menarik nafas lagi.
"Benar-benar sudah tua! Kalau orang sudah tua, telinga dan mata akan melamban reaksinya, kalau tidak, mengapa30 baru sekarang aku tahu kalau ada seseorang yang diam-diam menyelinap masuk ke mari?"
Sorot matanya melihat ke arah sebuah tiang yang ada di sebelah kanan.
"Ada yang diam-diam menyelinap masuk ke tempat terlarang milik Tong-bun, hal ini belum pernah terjadi, semua ini di luar dugaanku."
Seseorang berbaju hitam dan dengan wajah ditutup secarik kain keluar dari balik tiang. Tong Pek-coan melihat wajahnya dan dia menggelengkan kepala.
"Aku sudah lama tidak berkelana di dunia persilatan, sudah tidak ingat pada nama Enghiong-Enghiong!"
Jawab orang yang wajahnya ditutup.
"Aku baru berkelana di dunia persilatan, kau tidak mungkin pernah melihatku!"
Nada bicaranya sangat istimewa.
Siapa pun yang pernah mendengar dia bicara, akan segera terpikir bahwa orang itu adalah Beng To.
Tong Pek-coan memang tidak pernah mendengarnya bicara, tapi dia tetap bisa mendengar nada bicaranya sangat berbeda, maka dia pun menyahut "Apakah kau dari dunia persilatan Tiong-goan...?"
"Bukan."
"Kalau tidak salah duga, kau tentu seorang pemuda, jadi tidak mungkin aku mengenalmu!"31
"Murid Tong-bun sangat banyak, sekali aku menyerang, kena atau tidak, jika wajahku ketahuan, akan sangat merepotkan bukan?"
"Kalau begitu, untuk sementara kau tidak mau wajah aslimu dikenali?"
"Hanya untuk sementara!"
Nada bicara Beng To penuh dengan rasa percaya diri.
"dengan cepat aku akan keluar dari sini dan mengakui perbuatan ku dan menerima tantangan dari siapa pun!"
Tong Pek-coan tersenyum.
"Apakah kau sedang berlatih sebuah ilmu silat aneh dan ingin cepat-cepat sukses untuk menghadapi semua pesilat-pesilat?"
"Boleh dikatakan seperti itu!"
"Ilmu silat apa yang bisa mengalahkan semua orang?"
Tong Pek-coan tertawa.
"maafkan aku yang sudah tua, aku pun jarang mendengar berita tentang hal ini!"
"Apa pun yang terjadi, kau tidak akan bisa melihatnya!"
"Berarti kalau malam ini kau tidak mati, akulah yang harus mati?"
Tong Pek-coan sepertinya sangat senang, dia terus tertawa.
"Mungkin kita berdua tidak akan mati, tapi hal ini sangat jarang terjadi!"
Beng To maju ke depan. Sorot mata Tong Pek-coan menatap Beng To dengan aneh lalu dia bertanya.
"Ilmu silat apakah itu?" 32 Kulit tangan Beng To terlihat abu keputihan, tapi lebih licin dibandingkan sewaktu dia membunuh Ceng Su, dia mengangkat kedua tangannya.
"Ilmu silat yang bisa membunuhmu!"
Tong Pek-coan tertawa lagi.
"Itu sudah pasti, kalau kau tidak mempunyai rasa percaya diri kau tidak akan datang kemari!"
Kaki Beng To terus melangkah ke depan, memang tidak cepat tapi Tong Pek-coan mulai merasa tidak nyaman, tiba-tiba dia membentak.
"Berhenti!"
Beng To berhenti melangkah, Tong Pek-coan menarik nafas panjang.
"Aku sudah lama tidak membunuh!"
"Jika malam ini kau tidak membunuhku, kelak kau tidak akan punya kesempatan lagi!"
Kaki Beng To bergerak lagi.
"Jarang ada yang berani berkata seperti itu padaku, apa lagi seorang anak muda!"
Kata Tong Pek-coan menggelengkan kepala.
"kau membuat diriku merasa ragu, apakah aku masih bisa menggunakan senjata rahasia?"
"Apakah Anda ingin membuktikannya?"
Kaki Beng To bergeser secara mendatar, sorot matanya terlihat berkobar terus.
"Baiklah, aku akan membuatmu roboh baru menanyakan dengan jelas dan hati-hatilah terhadap senjata rahasiaku!" 33 Kata-katanya baru selesai, tampak ada sinar berkelebat terbang ke luar dari tubuhnya dan melesat ke arah Beng To. Senjata rahasia itu berbentuk seperti torak, entah dari mana torak ini keluar dan dengan cara apa dilemparkan, tampak dia tetap seorang pesilat senjata rahasia yang tangguh. Beng To pun tidak melihat dari mana datangnya senjata rahasia itu, tapi dia bisa melihat senjata rahasia itu berubah arah di udara, maka tangannya di buka dan diayunkan untuk mencengkeramnya. Tong Pek-coan tertawa dingin. Tapi tawanya segera membeku. Sebab ternyata Beng To sanggup menerima senjata rahasia itu, benar-benar di luar dugaan Tong Pek-coan, dia melemparkan senjata rahasia memakai 3 perubahan dengan cara khusus, setelah senjata rahasianya mengenai sasaran, masih akan melakukan 2 kali perubahan. Walaupun lawan sanggup menyambut serangan pertama tapi dua perubahan lainnya susah untuk di hindari. Waktu itu dia melihat jelas telapak tangan Beng To tampak berkilau dan sorot matanya terlihat licik, tapi dia tidak melihat benda apa di telapak tangannya, Beng To meloncat tinggi, dia menyerang Tong Pek-coan seperti seekor macan liar. Ke dua tangan Tong Pek-coan terus melambai dan sinar terus berkelebat, semua senjata rahasia datang dari segala penjuru menuju ke arah Beng To, tapi kecepatan senjata34 rahasia itu tidak ada yang sama, suara yang keluar pun beraneka ragam, semua bercampur menjadi satu, siapa pun yang mendengar raungan senjata itu jadi terkejut. Beng To terus berguling-guling di udara. Ke dua tangannya terus bergerak mencengkeram senjata rahasia yang datang menyerang. Cahaya keluar lagi di tengah-tengah telapak nya, semua senjata rahasia itu tersedot oleh kedua telapaknya, seperti semut yang menempel. Tiap senjata itu seperti diikat oleh seutas benang bercahaya, sehelai ditumpuk dengan helai lain. Hanya sekejap kedua tangannya sudah penuh dengan senjata rahasia. Tangannya jadi seperti sepasang palu yang penuh dengan bintang atau sepasang bola bercahaya. Tong Pek-coan benar-benar terkejut, seumur hidupnya baru pertama kali dia bertemu lawan seperti ini. Pertama kalinya melihat cara menyambut senjata rahasia seperti ini. Ini benar-benar seperti sihir, seperti tidak nyata, kalau bukan sihir lalu apa? Tapi senjata rahasia yang dilemparkan tidak berhenti. Dia tidak memberi kesempatan pada Beng To untuk mendekat, maka kursi pun beterbangan. Kedua tangan Beng To terus melayang, tubuhnya berputar di udara, dia tetap mengejar Tong Pek-coan dari belakang.35 Tong Pek-coan bersiul panjang, tubuhnya meninggalkan kursi dan kursinya melayang terus menabrak dinding yang ada di belakangnya hingga hancur lebur. Tong Pek-coan seperti seekor kelelawar terbang ke angkasa, tiba-tiba tubuhnya seperti mengeluarkan cahaya, orang melihatnya seperti berubah jadi sebuah bola bercahaya. Sebenarnya banyak senjata rahasia yang di keluar dari tubuhnya, kecepatannya berbeda, arahnya pun berbeda. Ada yang lurus ada yang berputar, ada yang berputar ke belakang Beng To, suara senjata itu pun terus berubah-rubah. Senjata rahasia yang dilatih hingga mencapai taraf seperti Tong Pek-coan rasanya dalam puluhan tahun yang ini belum ada yang bisa melakukannya, maka dia jadi terkenal dan berjaya di dunia persilatan. Sekarang kalau dia muncul lagi di dunia persilatan, siapa yang bisa melawannya? Dia sendiri pun berpikir demikian maka di dalam hatinya dia merasa puas, karena itu dia pernah meninggalkan Tong-bun untuk melakukan kegiatan yang lain. Jurus ini adalah jurus terhebat dari Tong-bun yang dinamakan 'Boan-thian-hoa-ie' (Hujan bunga memenuhi langit). Jurus ini terdapat di dalam buku senjata rahasia Tong-bun. 180 tahun yang lalu ketua Tong-bun generasi ke-3 yang bernama Tong Jian-jiu menulisnya, tapi tidak ada seorang pun yang berhasil mencapai taraf ini. Ada yang menganggap jurus ini diciptakan hanya berdasarkan36 khayalannya saja, siapa pun tidak mungkin bisa mencapai taraf ini, tapi ketika sampai pada generasi Tong Pek-coan, dia mendapatkan rumus untuk mempelajari perubahan jurus ini, maka dia pun bisa menguasai jurus ini. Tidak hanya orang Tong-bun yang merasa bangga. Tong Pek-coan sendiri pun merasa tidak sia-sia hidup dalam generasinya, tapi yang pasti jurus ini jarang digunakan. Sebab orang yang berani datang ke Tong-bun untuk mencari gara-gara tidak banyak. Apa lagi di Tong-bun banyak pesilat tangguh. Jika pun ada musuh datang, dia sendiri tidak usah turun tangan, sudah berhasil mengatasinya. Semua murid Tong-bun memakai jurus ini untuk dijadikan sebagai dasar berlatih, tapi tidak ada orang yang sanggup berlatih hingga mencapai taraf ini. Untuk mempelajari jurus ini di perlukan bakat ditambah tenaga dalam, dan pengalaman yang banyak, tidak ada satu pun yang bisa dikurangi. Tadinya Tong Pek-coan mengira jurus ini tidak dibutuhkan lagi olehnya, tapi ternyata malam ini dia mendapat kesempatan untuk menggunakannya. Dia tidak bisa melihat perubahan ilmu silat Beng To dan dia tidak pernah menggunakan begitu banyak senjata rahasia untuk menghadapi seorang musuh. Dia mengundurkan diri dari dunia persilatan dan bersembunyi di Tong-bun, senjata rahasia yang dia gunakan jarang dipakai hingga mencapai 10 jenis.37 Beng To berani masuk Tong-bun, bisa dikatakan dia sangat berani, dia pun masih berani mengajak bertarung. Jika senjata rahasia yang pertama meleset, itu sudah wajar, tapi senjata rahasia berikutnya yang dilemparkan secara bertubi-tubi, ternyata tetap tidak bisa membuatnya roboh. Sebenarnya Tong Pek-coan sudah berpikir bolak-balik hingga jurus ini dikeluarkannya, dia berharap dengan jurus ini bisa merobohkan Beng To. Dia tahu kalau jurus ini dikeluarkan, sulit membuat lawan tetap hidup. Tapi nama baik Tong-bun lebih penting daripada mencari tahu identitas orang yang bernama Beng To. Jika Tong Pek-coan ingin tahu siapa sebenarnya Beng To, tinggal membuka kain penutup wajahnya maka semua akan terlihat jelas. Sepuluh tahun lebih dia tidak pernah membunuh. Sebelum dia pensiun dari dunia persilatan, dia tidak pernah terlihat begitu tegang, sebenarnya jurus yang dikeluarkan sudah jauh lebih sempurna, sampai dia sendiri merasa heran, kemajuan ilmu silatnya juga tidak diduga. Tapi cara Beng To mengatasi serangan semakin membuatnya merasa aneh. Dia melihat 2 kepalan Beng To diayunkan ke depan, kemudian tubuhnya dengan cepat maju ke depan. Itulah satu-satunya kelemahan jurus 'Boan-thian-hoa-ie'! tapi bisa dikatakan ini juga bukan kelemahan, hanya luncuran senjata rahasianya jadi tertahan.38 Senjata rahasia yang dilemparkan menggunakan jurus 'Boan-thian-hoa-ie' seperti sebuah jala besar terus menutupi benda yang diburunya. Hanya terlihat sedikit celah saat Tong Pek-coan sedang melemparkan senjata rahasianya, tapi celah ini segera di tutup dengan lemparan senjata berikutnya. Maka 18 buah senjata rahasia dilemparkan dari belakang celah ini, setiap senjata yang melesat cukup mengancam jiwa. Tapi ilmu meringankan tubuh Beng To sangat aneh, dia bisa dengan tenang melesat ke mana saja yang dia inginkan. Senjata rahasia yang menempel di kedua telapaknya sangat membantu, membuat tangannya seperti 2 palu berkilau yang beterbangan keluar. 18 senjata rahasia itu tidak mengganggunya, karena kedua tangannya seperti 2 magnet besar, 18 senjata rahasia itu di sambut hingga terbagi menjadi 2 bagian, menempel di kedua telapaknya. Ben To sudah keluar dari lingkupan serangan senjata rahasia, sekarang dia berbalik menyerang. Yaitu dengan senjata rahasia yang menempel di kedua tangannya. Begitu keluar dari lingkupan senjata rahasia dia langsung menyerang Tong Pek-coan, dia tidak tahu apakah senjata rahasia itu mengalami perubahan atau tidak? Hanya mengira-ngira dia pun semakin mendekati empunya senjata rahasia itu, sudah pasti keadaannya akan lebih aman.39 Kecuali empunya senjata rahasia siap mati bersama dengan musuhnya. Yang pasti Tong Pek-coan tidak mau melakukan semua itu, dia melihat Beng To bisa lolos dan lingkupan senjata rahasianya. Dia terkejut, tetapi reaksinya sangat cepat, kedua tangannya digoyangkan, dia meloncat ke atas kemudian bersalto siap melemparkan senjata rahasia lagi. Sewaktu dia akan melemparkan senjata rahasianya, dia melihat senjata rahasia yang menempel di kedua tangan Beng To seperti hujan terus keluar memburu ke arahnya. Setiap senjata rahasia itu seperti membawa benang berkilau, maka kecepatannya jadi berkurang. Dengan pengalaman Tong Pek-coan puluhan tahun, dia bisa memastikan senjata rahasianya tidak mungkin bisa melesat kembali ke arahnya, dia tidak mengerti kenapa begitu jelek cara yang dipakai Beng To melemparkan senjata rahasianya, dia juga mulai mengawasi benang-benang yang tembus pandang. Akhirnya dia mengerti maksud Beng To. Senjata-senjata rahasia itu beterbangan melewati tubuhnya, tapi dia tidak merasa senjata rahasia itu mempunyai kekuatan untuk membunuh, dia hanya merasakan benang-benang di belakang senjata rahasia nya melewatinya dan mengurungnya. Benang sutra tembus pandang itu begitu terjatuh ke atas tubuhnya segera menghilang. Tapi di kepala, wajah, dan40 bagian tubuh yang tidak tertutup lalu terasa ada semacam benda tajam masuk ke dalam kulitnya. Dia tidak bisa melihat bagaimana keadaan wajahnya, tapi kedua tangannya bisa dilihat dan tidak terluka, hanya ada garis berwarna abu muda, tapi hanya sekejap sudah menghilang. Tiba-tiba dia terpikirkan sesuatu, berteriak.
"Thian-can-sin-kang.." (Ilmu sakti Ulat Sutra). Waktu itu pun Beng To sudah datang mencengkram-nya. Senjata rahasia yang ada di tangan Tong Pek-coan sudah tentu akan dilemparkan lagi, tapi sekarang kedua tangannya seperti sudah terikat oleh sesuatu itu dan tidak bisa diangkat. Dia segera mengatur nafas, tenaga dalamnya disalurkan, benang-benang tembus pandang itu pun muncul di permukaan kulit nya, tapi tangan Beng To sudah berada di atas kepala dan siap menekannya. Setelah menyalurkan tenaga dalam ke tangannya, terpaksa dia menyambut tangan lawan yang datang menekan, karena tenaga dalan Tong Pek-coan terkuras oleh racun benang tembus pandang, bentur an yang terjadi membuat jantungnya bergolak keras. Saat itu Beng To bergerak cepat, tangannya cepat menotok 7 jalan darah di tubuh Tong Pek-coan, tubuh Tong Pek-coan menjadi lemas dan terduduk di bawah.
"Maaf, sudah membuatmu susah!"41
"Sudah puluhan tahun aku melempar burung sekarang mataku malah dipatuk burung, aku tidak bisa bicara apa-apa lagi!"
"Orang yang jujur tidak akan menipu. Orang yang menggunakan senjata rahasia belum tentu orang yang tidak jujur, tetua mempunyai ilmu dan siasat yang sangat hebat pada senjata rahasia, tapi jika bermain siasat, tetua masih kalah dariku!"
Tong Pek-coan tertawa dingin.
"Dunia ini seperti gelombang besar Tiang-kang terus mendesak gelombang yang ada di depan, anak muda sekarang memang luar biasa!"
"Tetua terlalu memuji..."
Tangan Beng To diangkat lagi, 3 buah jalan darah di tubuh Tong Pek-coan ditotok lagi.
Tenaga dalam Tong Pek-coan sudah terkuras, dia memang terkejut dan marah, tapi dia tetap mengagumi penglihatan Beng To yang tajam dan reaksinya yang cekatan.
"Walaupun aku boleh saja membiarkan kau mengumpulkan tenaga dalam, tapi belum tentu kau bisa terlepas dari kekuasaanku!"
"Apakah Tong-bun mempunyai perselisihan dengan Bu-tong-pai?"
"Aku tidak tahu!"
"Apakah mencariku kemari adalah idemu... Wan Fei-yang?"
Beng To tidak menjawab, tapi matanya terus berkedip, entah apa yang sedang dia pikirkan.42 Tong Pek-coan tidak melihat perubahan dari pandangan matanya, dia berkata.
"Aku pensiun dari dunia persilatan sudah 10 tahun lebih, kau adalah pesilat yang baru muncul. Musuh Tong-bun di dunia persilatan sangat banyak, tapi tidak ada yang bermarga Wan!"
Tiba-tiba Beng To berkata dingin.
"Kalian lebih baik jangan sembarangan bergerak, jika tanganku terkejut, aku sendiri pun tidak sanggup menguasainya lagi!"
Di ambang pintu terlihat banyak murid-murid Tong-bun, tangan mereka masing-masing memegang senjata rahasia dan siap menyerang.
Tong Ling berdiri di tengah-tengah mereka.
Wajahnya terlihat dingin, dia membentak.
"Lepaskan kakekku, maka aku akan melepaskanmu!"
Suara Tong Ling terdengar dingin dan kejam, tapi suaranya sangat merdu.
Hal ini membuat Beng To melihat ke arahnya, setelah melihat Tong Ling, dia pun terpaku.
Gadis secantik Tong Ling, memang jarang ada, selama ini dalam pandangan Beng To tidak pernah terpikir kata cantik atau buruk, sekarang begitu matanya melihat wajah Tong Ling yang cantik, di otaknya mulai muncul kata 'cantik'.
Tong Ling tidak memperhatikan perubahan sorot matanya, melihat Beng To masih berdiri terpaku di sana, dia membentak.
"Apakah kau tuli?"43
"Suruh orangmu mundur, aku jamin tidak akan melukai kakekmu!"
"Apa katamu!"
Tong Ling pura-pura mau melempar senjata rahasia.
"Senjata rahasia tidak mempunyai mata!"
Kata Beng To sambil tertawa. Ke dua tangan Tong Ling terpaksa diturunkan lagi.
"Aku hanya akan meminjam kakekmu dan segera akan mengantarkannya kembali."
"Berani sekali, kau anggap apa kakekku?"
Tong Ling melotot.
"Ling-ji, dengar... kakek..."
Begitu mendengar nada bicara Tong Pek-coan, dia merasa ada hawa dingin keluar dari hatinya yang terdalam.
"Jika aku mati, kau jadilah ketua Tong-bun, ingat apa yang aku ajarkan padamu!"
Nasihat Tong Pek-coan dengan wajah pucat.
"Kongkong, kau..."
Tong Pek-coan membentak.
"Thian-lo-te-bong (Jaring langit jala bumi), jangan hiraukan aku, jangan biarkan orang ini meninggalkan Tong-bun!"
Murid-murid Tong-bun saling berpandangan, Tong Ling pun terpaku di sana, tidak bisa mengambil keputusan. Tong Pek-coan melihatnya, dia tertawa.
"Baiklah, ternyata di mata kalian, tidak ada ketua perguruan..."44
"Kami tidak berani..."
Sahut murid-murid Tong-bun.
"Kalau tidak berani, cepat bertindak!"
Tong Pek-coan membentak.
"Ketua kalian berada di tanganku, jika kalian melemparkan senjata rahasia, orang yang akan terkena senjata rahasia itu adalah ketua kalian!"
Ancam Beng To.
"Ketua dengan nama Tong-bun, mana yang lebih penting?"
Bentak Tong Pek-coan.
"Thian-lo-te-bong, siapa yang tidak berani melakukannya, hukumannya akan seperti hukuman seorang pengkhianat!"
Bentak Tong Pek-coan lagi. Mata Beng To tampak berputar, berkata.
"Lebih baik kau diam!"
Tangannya menotok jalan darah bisu Tong Pek-coan. Sebuah senjata rahasia dilemparkan ke arah Beng To, tapi dengan gampang disambut oleh Beng To, dia melihat ke arah Tong Ling.
"Ilmu yang bagus, tidak percuma Tong Pek-coan memilih penerusnya!"
Senjata rahasia tadi ternyata dilemparkan oleh Tong Ling, dia sudah mengukur sudutnya dengan tepat kemudian dengan mengatur tenaga dia melemparkan senjata rahasia dan hampir mengenai Beng To, tapi hanya sekejab sudah disambut oleh tangan Beng To.
Beng To mengangkat tangannya, Tong Pek-coan segera mengatur nafas supaya jalan darah bisunya segera terbuka, lalu berteriak.45
"Thian-can-sin-kang milik Wan Fei-yang adalah ilmu yang luar biasa, kecuali Thian-lo-te-bong tidak ada cara lain lagi. Cepat..."
Walaupun dia sudah tua tapi sifatnya tetap keras.
Tong Ling dan murid-murid Tong-bun lainnya seingat tahu hal ini, kalau perintahnya dilaksanakan akibatnya tidak ter-bayangkan.
Mereka bersama-sama menjawab.
"Murid mengaku salah..."
Belum sempat senjata rahasia dilepaskan, Beng To sudah mengempit Tong Pek-coan dan meloncat ke atas, menerobos hancur langit-langit rumah dan masuk ke atap.
Sedetik di sekeliling langit-langit hancur terkena lemparan senjata rahasia.
Tanpa menunggu senjata rahasia habis, murid-murid Tong-bun seperti sudah tahu apa hasilnya.
Mereka berpencar, sebagian menerobos langit-langit mengejar Beng To, sebagian naik ke atas atap, sebagian lagi berlari ke pekarangan, mereka dengan segala cara berusaha mencegat.
Tapi kegesitan Beng To di luar dugaan mereka, begitu masuk langit-langit rumah, dia segera menghancurkan genting, kemudian terbang meninggalkan genting dan meloncat naik ke sebuah pohon.
Dia mengempit orang tapi masih bisa bergerak cepat, sebenarnya itu bukan hal gampang, apa lagi bisa naik ke atas pohon dengan tanpa ragu-ragu.
Rupanya sebelum masuk dia sudah mempelajari keadaan di sana maka gerakannya begitu lancar dan tidak dipikir lagi apakah dia sanggup naik ke atas pohon itu atau tidak.46 Begitu cepat naik ke pohon pasti dia akan terluka, apa lagi sedang mengempit seseorang, sulit untuk menjaga keseimbangan tubuh, setiap saat dia bisa terjatuh ke bawah.
Semua murid Tong-bun berpikir seperti itu, hanya Tong Pek-coan yang berbeda pendapat, sebab dia tahu kedua tangan Beng To bisa mengeluarkan benda seperti benang sutra, cukup untuk membuatnya bisa mengatasi semua kesulitan.
Terlihat dia tidak akan bisa naik pohon itu, mungkin akan menabrak pohon, tapi tiba-tiba telapaknya dijulurkan, dia menepuk ke depan.
Tepukan ini seharusnya membuat mental dan membuat jatuh dari atas, tapi telapaknya malah menempel di pohon, seperti seekor ulat.
Hanya mengandalkan telapaknya membuka dan menutup, mengembang dan menyusut, dengan cepat dia naik ke atas pohon.
Murid-murid Tong-bun yang mengejar merasa takjub dan terpaku, tapi segera mengejar lagi.
Di pekarangan pohon besar yang tumbuh berjumlah 10 batang lebih.
Murid-murid Tong-bun sudah bisa menduga Beng To akan melarikan diri melalui pohon besar, maka mereka dengan cepat berlari menuju pohon-pohon itu, ilmu meringankan tubuh mereka sangat tinggi.
Sepertinya mereka pun bukan untuk pertama kalinya memanjat pohon itu.
Mereka menggunakan kaki dan tangan, bergerak seperti seekor kera dengan senjata rahasia siap dilemparkan, tapi sayang gerakan Beng To lebih cepat dari mereka.
Beng To47 memanfaatkan pohon-pohon itu, sebelum sampai di ujung pohon, dia sudah meloncat ke pohon lain, begitu seterusnya.
Begitu telapak tangannya mengenai batang pohon, tubuhnya segera diam, sekarang dia berada di posisi setinggi itu senjata rahasia tidak mungkin bisa mencapainya.
Orang seperti dia terus terbang dari satu pohon ke pohon lain, baru pertama kali murid-murid Tong-bun bertemu dengan musuh seperti itu, bagaimana mereka bisa mengejarnya?
Sampai di pohon terakhir Beng To berhenti di sana, di depan sana ada tempat di mana murid-murid Tong-bun berkumpul.
Murid-murid Tong-bun banyak yang sudah datang, mereka memegang senjata rahasia dan siap membakar, mereka memasang telinga saat mendengar suara peluit dan tahu ada musuh yang datang, mereka juga sadar harus dengan sekuat tenaga menghadapi musuh tersebut.
Semenjak Tong Pek-coan mundur dari dunia persilatan, murid-murid Tong-bun jarang keluar, karena tidak ada seorang pun yang berani mencari gara-gara pada Tong-bun, maka murid-murid Tong-bun jarang punya kesempatan bertarung.
Sekarang kesempatan itu telah datang, mereka merasa senang dan bersiap-siap mencoba keahliannya.48 BAB 2 Beng To yang berada di atas lalu melihat ke bawah, dia hanya berhenti sebentar lalu turun lagi.
Puluhan senjata rahasia langsung melesat kepadanya, hanya 3 senjata yang bisa mengancam jiwanya, yang lainnya berhasil disambutnya dengan gampang.
Murid-murid Tong-bun berniat menyerang lagi tapi setelah melihat Tong Pek-coan berada di tangannya, mereka jadi ragu-ragu, tadi mereka mendengar suara peluit tanda bahaya, tapi mereka tidak melihat seorang pun musuh yang datang, mereka tidak tahu sudah terjadi masalah begitu besar.
Tentu saja Beng To tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini, dia mengempit Tong Pek-coan lalu berlari ke depan.
Murid-murid Tong-bun tidak berani menyerang mereka hanya berteriak.
"Hati-hati, ketua berada di tangan musuh..."
Tong Pek-coan merasa cemas juga marah, tapi jalan darah bisunya ditotok dan ditekan jari Beng To, dengan memakai cara apa pun tidak bisa dibuka.
Beng To merasa nafas Tong Pek-coan sangat kuat dan tahu bahwa dia tidak salah menangkap orang, sebab tenaga dalam Tong Pek-coan benar-benar sangat kuat.
Dia sudah menotok beberapa jalan darah Tong Pek-coan dengan cara berat, tapi pernafasan Tong Pek-coan tetap bisa mengalir, jika ilmu Iweekang Tong-bun berbeda dari49 perguruan lain berarti ilmu lweekang Tong Pek-coan sudah mencapai taraf sangat tinggi maka sepanjang perjalanan dia selalu memperhatikan reaksi Tong Pek-coan.
Semua atap dengan cepat dilewati, sekarang dia sudah berada di ujung jalan.
Murid-murid Tong-bun berteriak.
"Tenang saja, jalan yang dipilihnya itu adalah jalan buntu..."
Di sana memang jalan buntu, setelah melewati beberapa rumah terlihat sebuah lapangan, kemudian jurang yang dalam.
Jurang terjal itu seperti ditepis pisau, sangat tajam murid-murid Tong-bun tahu jurang itu sangat dalam, jurang yang tadinya sudah gelap sekarang bertambah gelap dan terlihat sangat menakutkan.
Tapi Beng To malah mendekati jurang dalam itu, dengan nada sangat menyeramkan dia mengejek, semua murid-murid Tong-bun mendengar suaranya.
Tentu saja murid-murid Tong-bun tidak tahu apa maksudnya, maka mereka berkumpul ingin melihat bagaimana Beng To menyeberang jurang itu.
Beng To berhenti di sisi jurang dalam itu, kemudian pelan-pelan membalikkan tubuh dan meletakkan Tong Pek-coan di depan tubuhnya.
Terpaksa murid-murid Tong-bun berhenti melangkah.
Tong Ling seperti seekor burung walet datang dan berhenti di depan Beng To.
"Wan Fei-yang, lepaskan Kongkongku!' Sepasang matanya Beng To menatap Tong Ling, dia tidak menjawab, bersamaan waktu Tong Ling merasa sorot mata musuh di depannya sangat aneh. Walaupun tidak mengerti tapi dia merasa bahwa orang ini tidak ingin bermusuhan dengannya, dia jadi curiga apakah lawannya benar-benar tidak berniat jahat kepadanya. Sampai sekarang dia belum menerima laporan ada murid Tong-bun yang terluka atau mati, tapi bagaimanapun dia tidak bisa membiarkan Beng To membawa kakeknya. Lama... Beng To tidak menjawab. Tong Ling membentak lagi.
"Tidak ada jalan lagi untukmu kabur..."
Mata Beng To terlihat ada tawa.
"Kau pikir dulu sebelum mengatakan kalimat tadi!"
Potong Beng To.
"Apakah kau mempunyai sayap?"
"Maksudku, dalam keadaan sulit pun pasti ada jalan keluarnya!"
"Oh ya! Jalan apa?"
"Jalan menuju kematian..."
Setelah berkata begitu, dia mengempit Tong Pek-coan lagi dan terjun ke dalam jurang.
Semua orang terkejut, mereka melihat jelas Beng To sudah berada di pinggir jurang, asal mundur selangkah saja dia akan jatuh ke dalam jurang karena itu mereka tidak berani melangkah maju.
Kalau Beng To benar-benar ingin terjun ke dalam jurang tidak ada seorang pun yang akan bisa mencegatnya.51 Tong Ling berteriak terkejut, tapi Beng To sudah membawa Tong Pek-coan dan menjatuhkan diri ke jurang, mereka segera tertelan oleh kegelapan.
Seorang murid Tong-bim berlari ke depan Tong Ling dan bertanya.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang?"
Tong Ling masih dalam keadaan terkejut, dia menggelengkan kepala.
"Tidak akan terjadi apa-apa!"
Beberapa murid Tong-bun yang berusia separo baya datang menghampiri, mereka adalah pesilat tangguh Tong-bun dan kedudukan mereka lebih tinggi dari yang lain.
Mendengar kata-kata Tong Ling tadi, mereka merasa aneh juga terkejut.
"Jurang ini sangat terjal dan dalam..."
Tong Ling memotong.
"Musuh bisa luput dari pengawasan orang-orang kita dan masuk ke Tong-bun, berarti dia sudah mencari tahu situasi di sini, mana mungkin dia memilih jalan yang bisa membuatnya mati? Mungkin jalan ini adalah jalan satu-satunya dia untuk kabur, mungkin juga dia masuk ke Tong-bun melalui jalan ini."
"Tapi ini adalah jurang yang seingat dalam..."
"Jangan lupa, dia menguasai Thian-can-sin-kang, bukankah tadi di depan kita pun dia hanya memakai satu tangan saja bisa memanjat pohon begitu tinggi?"
"Thian-can-sin-kang adalah ilmu rahasia dari Bu-tong. Selama ratusan tahun ini hanya Yan Cong-thian dan Wan Fei-yang yang berhasil menguasainya!"
"Yan Cong-thian sudah meninggal, berarti yang menguasai Thian-can-sin-kang hanya Wan Fei-yang!"
Tong Ling terus melongok ke jurang yang dalam dan gelap. Sampai sekarang dari dasar jurang tidak terdengar suara apa pun, dia berkata lagi.
"Tidak diragukan lagi dia adalah Wan Fei-yang, tadi Kongkong pun memanggilnya seperti itu, tidak akan salah lagi!"
"Bu-tong adalah perguruan bersih dan lurus, katanya Wan Fei-yang bersifat membela keadilan juga berhati lembut, dia adalah..."
Tiba-tiba Tong Ling tertawa dingin.
"Di dunia persilatan banyak orang yang mencari nama, karena takut orang lain akan melihat wajah aslinya, maka dia menutupi wajahnya dan diam-diam masuk ke mari!"
Dia berhenti sebentar lalu melanjutkan lagi.
"Kongkong tidak akan salah melihat orang!"
Murid-murid Tong-bun harus mengakui bahwa Tong Pek-coan memiliki mata yang seingat jeli dan selalu bersikap waspada.
Kalau bukan karena sudah melihat, beliau tidak akan sembarang-an mengatakan hal yang salah tentang seorang pesilat terkenal.53
"Apakah benar atau tidak, yang penting dia tidak membunuh atau melukai seorang pun dari kita bukan?"
Tanya Tong Ling.
"Belum ada laporan tentang orang kita yang terbunuh atau terluka,"
Salah satu murid menjawab.
"Apakah dia mengalami kesulitan hingga ingin minta bantuan dari ketua? Atau meminta ketua untuk membereskan?"
Murid yang lain bertanya.
"Apa pun yang terjadi, tindakannya ini salah, jika dia datang secara terang-terangan, tidak masuk dengan cara seperti ini, mengapa Kongkong tidak akan setuju, mengapa harus bertarung secara sengit dengannya?"
Kata-kata Tong Ling memang masuk akal.
"Kalau begitu, sekarang kita harus..."
"Segera berangkat dan cari Wan Fei-yang!"
Perintah Tong Ling dengan dingin.
"Kecuali Wan Fei-yang sedang bersembunyi, kalau tidak, mencari seorang pesilat terkenal bukan hal yang sulit!"
Murid-murid Tong-bun setuju, dari sikap mereka bisa terlihat apa yang mereka pikirkan.
Perbuatan Beng To merupakan penghinaan terhadap Tong-bun, mereka akan berkorban untuk mencuci bersih nama baik Tong-bun.
0-0-054
"Aku bukan Wan Fei-yang!"
Sewaktu Beng To mengatakannya, dia sudah jauh dari Tong-bun dan berada di sebuah tempat yang sangat aman.
Walaupun berada dalam kegelapan dia bisa mengatasi jurang itu untuk melarikan diri, jalan itu dianggap sebagai jalan buntu.
Tapi baginya adalah jalan keluar.
Sekarang dia sudah berada di suatu lembah di hutan, jaraknya sekitar 10 Li lebih dari Tong-bun.
Baru saja kata-katanya terucap keluar, dia segera membuka penutup wajahnya yang berwarna hitam.
Hari sudah terang, walaupun jalan darah Tong Pek-coan sudah ditotok tapi sorot matanya tetap bercahaya.
Dia menatap Beng To, dia tidak pernah bertemu dengan Wan Fei-yang, maka dia tidak tahu wajah Wan Fei-yang seperti apa.
Maka dia curiga apa yang Beng To katakan tadi adalah bohong.
Beng To bisa membaca ekpresi wajah Tong Pek-coan, dia segera berkata lagi.
"Inilah kenyataan sebenarnya, walaupun aku tidak mempunyai bukti tapi ini memang kenyataan sebenarnya, suatu hari nanti kau akan menerimanya!"
"Bu-tong-pai benar-benar bernasib baik, selain Wan Fei-yang, masih ada murid kurang ajar seperti kau yang berhasil menguasai Thian-can-sin-kang!' Tong Pek-coan tertawa dingin.55
"Aku bukan murid Bu-tong-pai dan tidak ada hubungan apa pun dengan Bu-tong-pai! Ilmu yang kukuasai bukan Thian-can-sin-kang!"
Dengan serius Beng To menjelaskan.
"Apakah di dunia ini ada ilmu lweekang begitu mirip?"
Tanya Tong Pek-coan dengan dingin.
"Suatu hari kau akan jelas dan mengerti, aku yakin hari itu tidak akan lama lagi! "
Jangan banyak bicara, apa maksudmu membawaku kemari?"
"Untuk meminjam tenaga dalammu!"
"Apa maksudmu?"
"Ilmu lweekang yang kulatih adalah ilmu lweekang aneh, bisa meminjam tenaga dalam dari pesilat berilmu tinggi, dengan tenaga dalam itu aku bisa meningkatkan tenaga dalamku sehingga lebih tinggi lagi!"
"Apakah kau bisa melakukannya?"
"Karena itulah aku menculikmu dan membawa kemari! kata-kata Beng To selalu sungkan.
"Meningkatkan tenaga dalam harus dilatih sendiri..."
"Bagiku berlatih ilmu lweekang terlalu merepotkan dan membutuhkan waktu yang lama, jika ada jalan pintas mengapa tidak kita jalankan saja?"
"Aku ingin melihat bagaimana caramu mencuri tenaga dalamku?"
"Aku hanya meminjam!"
"Jika empunya tenaga dalam itu tidak setuju berarti kau mencurinya,"
Kata Tong Pek-coan sambil tertawa.56
"Kalau kau memaksaku mengatakan aku mencuri, aku tidak bisa berbuat apa-apa!"
Kedua tangan melayang, telapak tangannya jadi berkilau. Tong Pek-coan melihat semua itu tiba-tiba dia menarik nafas.
"Orang persilatan sebenarnya tidak boleh meninggalkan dunia persilatan terlalu lama!"
Beng To mengangguk.
"Kalau tidak, mana mungkin kau bisa salah menduga siapa aku."
"Murid-murid Tong-bun pasti tidak curiga terhadap kesalahan ketuanya dan sekarang mereka akan mengejar Wan Fei-yang untuk membuat perhitungan, jika tidak segera diselesaikan akan membuat Tong-bun dan Bu-tong-pai saling membunuh, akibatnya sulit dibayangkan!"
"Aku memang ingin menguasai dunia persilatan, tapi aku tidak akan menggunakan cara ini dan belum waktunya!"
"Apakah kau berani mengantarkan aku kembali atau menjelaskan semuanya kepada dunia persilatan kalau ini hanya kesalahpahaman!"
"Aku akan melakukannya tapi tidak sekarang, aku berharap tidak terlalu lama, sebelum murid Bu-tong dan Tong-bun mati semua!"
"Kata-katamu tidak enak didengar!"
"Aku bukan berusaha menjelaskan semuanya, karena itu bukan hal penting!"
Kedua telapak Beng To dibalik, kilatannya bertambah terang.57 Tong Pek-coan dengan dingin menatap Beng To yang berjalan mendekat, dia tertawa dingin.
Sikap tenang yang luar biasa ini membuat Beng To merasa aneh.
Orang yang diculiknya sudah tahu apa maksudnya, tapi masih bisa setenang itu, sebelumnya dia tidak pernah menjumpai orang seperti ini!
"Maaf..."
Kedua telapaknya menekan, dari kiri dan kanan menekan nadi di dekat kepala dan telinga, serat benang sutra dari sarang laba-laba tampak berkilau di telapaknya segera menyebar menembus kulit Tong Pek-coan kemudian menghilang!
Tong Pek-coan seperti merasakan juga seperti tidak merasakan, dia hanya tertawa dingin.
Akhirnya Beng To mengeluarkan ekspresi aneh, biasanya setiap kali dia menyalurkan tenaga dalamnya kepada korbannya, tenaga dalam korban akan segera keluar untuk melawan, maka dia segera melancarkan ilmu Ih-hoa-ciap-bok, agar tenaga dalam korbannya bisa dipancing keluar dari tubuh Tong Pek-coan dan masuk ke dalam tubuhnya, racun yang terkandung di dalam tenaga dalam akan tertinggal di tubuh korbannya untuk menusuk tenaga dalamnya.
Sekarang tenaga dalamnya sudah masuk, awalnya tanpa halangan terus mengalir, dia merasa nyaman dan enak, tapi kemudian ada perasaan kosong, seperti orang yang sedang berjalan tiba-tiba menginjak tempat kosong.58 Dia merasakan kekuatan tenaga dalam Tong Pek-coan, tapi tidak bisa dipancing keluar, sehingga dia tidak bisa menggunakan Ih-hoa-ciap-bok Seperti melihat ikan besar dan gemuk berada di dalam kolam, sebuah jala ditebarkan, walaupun tidak bisa menjala semua ikan, tapi pasti ada hasinya.
Tepat, tapi itu adalah kesalahan besar sebab ikan-ikan itu masih kecil walau lubang jalanya tidak besar, tapi ikannya tetap bisa keluar dari jala itu.
Sewaktu jala besar diangkat, jala itu kosong dan tidak memperoleh hasil yang diinginkan.
Lama...
Beng To baru sanggup menenangkan pikirannya, dia menghirup udara kemudian menyalurkan tenaga dalamnya lagi, telapaknya menjadi terang dan serat sutra benang sarang laba-labanya tertebar lagi.
Tidak diragukan lagi jalanya sekarang lebih lebar dari jala tadi, lebih luas dari jala tadi dan lubangnya bertambah kecil.
Tenaga dalamnya menyebar ke semua arah, benang dari sarang laba-laba dipaksa tenaga dalamnya menganyam bertambah rapat.
Tapi Tong Pek-coan masih seperti tadi, tetap tenang, seperti tidak tahu ada tenaga dalam yang memaksa masuk.
Beng To tidak menunggu reaksi Tong Pek-coan, dia segera menghisap dan menelan, berusaha menarik kembali tenaga dalam yang sudah dia keluarkan, tapi dia segera merasa itu adalah tenaga dalamnya sendiri, dia tidak berhasil juga tidak mengalami kerugian!59 Tong Pek-coan tertawa, akhirnya dia membuka mulut.
"Kalau Iweekang Tong-bun tidak istimewa bagaimana bisa menghadapi ilmu Iweekang yang begini ajaib!"
"Baik..."
Kata Beng To terpaku.
"Aku sudah berlatih Iweekang hingga tingkat ke-9, tenaga dalamnya setiap saat stabil seperti ini, kalau kau tidak percaya, kau boleh mencoba lagi!"
Beng To menggelengkan kepala.
"Tidak perlu mencobanya lagi."
Dia melepaskan kedua tangannya tapi tiba-tiba menekan lagi jalan darah yang lain, caranya secara tiba-tiba dan secara tiba-tiba menyerang, dia berharap Tong Pek-coan tidak sadar akan mengerahkan tenaga dalamnya untuk melawan, tapi Tong Pek-coan seperti sudah membaca pikirannya, dia tidak terpengaruh juga tidak bereaksi apa-apa.
Beng To sudah mengeluarkan tenaga dalamnya beberapa kali lipat hingga mencapai titik yang dia kuasai, tapi tetap tidak berhasil.
Tong Pek-coan melihatnya, dia tertawa terbahak-bahak.
"Sepertinya kau orang yang sangat pintar, tapi ternyata sangat bodoh!"
Beng To ikut tertawa.
"Betul, aku tidak terpikir, Tong-bun terkenal karena senjata rahasianya, dan cara menggunakan senjata rahasianya sering dilakukan secara tiba-tiba, menyerang orang yang tidak bersiap siaga.."
"Ini adalah cara yang paling rendah!"60
"Reaksi yang sangat hebat, semua murid Tong-bun pasti mempunyai tenaga ini, apa lagi ketuanya, maka jika aku menyerang seorang ketua tiba-tiba, bukankah berarti aku tidak tahu diri?"
"Kulihat kau memang tidak menyerangku!"
Tong Pek-coan tertawa terbahak-bahak lagi.
"Dengan cara apa aku bisa meminjam tenaga dalammu?"
Tanya Beng To dengan tenang.
"Ada, tapi beritahu apa tujuanmu! Aku tahu kau adalah seorang laki-laki sejati...."
"Jangan banyak bicara omong kosong!"
"Aku hanya bertanya bagaimana kau akan menanganiku? Menurutku cara yang terbaik adalah..."
"Membunuhmu!"
"Ha..ha..ha"
"Aku memang tidak sepintar yang kau sangka, tapi walau bagaimanapun juga aku tidak bodoh hingga membunuh ayam yang bisa bertelur emas!"
"Kalau begitu, harus melihat apakah kau yang lebih sabar atau aku yang lebih sabar!"
Tong Pek-coan tertawa penuh percaya diri.
"Jahe tua tetap lebih pedas, kesabaran orang biasanya yang lebih tua yang lebih kuat!"
Beng To pelan-pelan melonggarkan cengkeraman ke dua tangan, lalu bertanya.
"Apakah kau mengira aku akan terus berdiam diri di sini menunggu kesempatan untuk bertarung?"61
"Tidak akan,"
Jawab Tong Pek-coan.
"lalu apa rencanamu?"
"Aku akan mengantarkanmu ke tempat yang lebih cocok!"
"Dan itu adalah sarangmu, tempat di mana kau berlatih silat, apakah di sana akan menemukan caranya?"
Tong Pek-coan menertawakan.
"Kalau aku tidak menemukan caranya, guruku pasti bisa!"
"Siapa gurumu? tentu kau tidak akan memberitahu!"
"Kalau aku memberitahu aku takut kau akan bersiap siaga, lebih baik ini jadi kejutan!"
Dia segera mengambil sehelai kain hitam dan menutup mata Tong Pek-coan, setelah menghabiskan waktu 1 jam dia selesai menutup 4 nadi lain Tong Pek-coan, dengan begitu nama Tong Pek-coan akan menghilang.
Berdasarkan pengalamannya, Tong Pek-coan pasti tahu apa maksud Beng To, tapi dia sama sekali tidak mampu melawannya.
Mulai saat itu dia tersesat.
0-0-062 Pagi hari di gunung ada kabut, kicauan burung tertutup oleh suara deru air terjun.
Air terjun seperti terjun dari langit masuk ke kolam yang penuh dengan batu, menimbulkan asap air seperti kabut.
Air asap dan kabut menyatu membuat keadaan sekelilingnya menjadi buram.
Pohon masih terlihat walau tidak begitu jelas, tapi air terjun terlihat sangat jelas.
Air terjun jatuh ke sebuah batu besar, karena sudah lama tertimpa oleh air terjun maka batu itu terlihat licin.
Tapi sekarang di atas batu besar itu duduk seseorang, dia menggantikan posisi batu menerima jatuhnya air terjun.
Tenaga air sangat besar dan kuat tapi orang itu sama sekali tidak terganggu olehnya, dia seperti sebuah batu berbentuk manusia dan menyatu dengan batu itu, dan tidak bisa dipisahkan.
Dia duduk di sana sudah begitu lama, seperti seorang pendeta tua yang sedang bertapa.
Anak muda biasanya jarang bisa melakukan hal seperti yang dia lakukan, bersemangat dan begitu teguh, tapi dia benar-benar seorang pemuda.
Pemuda itu pasti bukan pemuda biasa, beberapa tahun yang lalu dia hanya pemuda sangat biasa, dia hanya seorang pekerja Bu-tong bagian mengambil air dan kayu bakar dari hutan, dia juga ditempatkan di bagian dapur.
Karena identitasnya tidak jelas maka dia sering dihina atau diolok-olok oleh murid-murid Bu-tong yang muda lainnya.63 Waktu itu tidak ada seorang pun yang tahu bahwa dia adalah putra ketua Bu-tong-pai.
Ci-siong Tojin adalah ketua Bu-tong, dia juga seorang tosu, dia mempunyai istri dan anak, yang pasti dia mengalami kesulitan yang sulit diutarakan, tapi walau bagaimanapun dia bisa membawa putranya Wan Fei-yang ke Bu-tong-san, dengan identitas misterius diterima menjadi muridnya, dan diam-diam diajarkan inti sari ilmu silat Bu-tong, juga diajarkan dasar silat yang kuat.
Tapi semua itu adalah masa lalu, semua sudah lewat.
Orang yang tidak biasa pengalamannya pun pasti tidak biasa, seperti jodoh dan ada kesempatan dia bisa menguasai Thian-can-sin-kang, walau Bu-ti-bun yang diwakili Tokko Bu-ti ilmu silatnya sudah dilatih hingga tingkat ke-10 dan dia bisa menguasai ilmu Thian-mo-kay-te-tay-hoat (Ilmu merusak tubuh untuk mendapatkan tenaga lebih), tapi dia tetap kalah oleh Wan Fei-yang.
Pada pertarungan itu dia melakukan tidak sedikit pengorbanan hingga membuatnya menjadi orang nomor satu di dunia persilatan dan di hormati oleh semua orang.
Tapi kalau dia meneliti lebih jauh, dia ingin memiliki hidup yang wajar, maka setelah mengalahkan Tokko Bu-ti, dia tinggal di daerah Bu-tong-san, tidak ikut campur dalam urusan dunia persilatan.
Dia hidup tenang, tidak ada hal aneh yang terjadi, murid-murid Bu-tong-pai sangat mengerti keinginannya dan jarang datang dan mengganggunya.
Sebenarnya semenjak64 kemunculan Bu-ti-bun sampai perkumpulan itu musnah, selalu terjadi pertarungan tanpa berhenti.
Orang yang mati dan terluka sudah banyak, hingga kekuatan Bu-tong-pai sudah menurun banyak, tapi semua perkumpulan tidak tertarik untuk membuat masalah lagi.
Orang sesat memang tidak menyukai ketenangan tapi mereka pun sama sekali tidak tertarik ingin mengganggu, apa lagi setelah mengetahui di Bu-tong-pai ada pesilat sangat tangguh, mereka tidak berani datang membuat masalah ke Bu-tong-san.
Hidup Wan Fei-yang sangat tenang tapi setelah melewati hari-hari tenang jika malam tiba dia sering terpikir bahwa di hatinya tetap masih terus bergejolak.
Setiap kali jika hatinya bergejolak, dia akan datang kemari dan duduk di atas batu besar itu membiarkan tubuhnya terkena air terjun.
Air deras membuat hatinya menjadi tenang dan lama-kelamaan menjadi terbiasa.
Kesedihan pada kejadian dulu membuatnya meneteskan air mata, air matanya pun diseka oleh air terjun ini.
Dengan kehebatan tenaga dalamnya seharusnya dia tidak perlu memakai cara seperti ini untuk menenangkan hatinya, hanya saja dia tetap seorang anak muda.
Air mata dan gairah, mana mungkin bisa begitu cepat menghilang?
Air terjun terus mengalir.
Sesaat Wan Fei-yang merasa hatinya menjadi tenang, kedua matanya terbuka, dia berdiri65 dengan tenang di atas batu besar itu, dengan cara apa pun dia menggeser tubuhnya, dia pasti dengan gampang turun dari batu itu.
Dia menginjak batu besar itu lalu masuk ke dasar kolam.
Menuju air dangkal kemudian naik ke darat Walaupun kedalamannya mencapai 2 tombak lebih, tapi dia bisa berjalan dengan tenang, dari sini dapat diketahui bahwa tenaga dalamnya sudah mencapai tingkat terakhir.
Setelah naik ke darat dia segera berjalan, baju basah yang masih menempel di tubuhnya tertiup angin, bajunya dengan cepat sudah mengering.
Angin tidak berhembus begitu besar, tapi dia menggunakan tenaga dalamnya untuk membuat bajunya cepat kering, dia tidak sengaja memamerkannya, hanya ada sedikit pikiran kekanak-kanakan bermain dengan tenaga dalamnya!
Setelah melewati banyak masalah dan kesulitan, dia masih bisa mempertahankan sifat kekanak-kanakannya.
Setengah jam kemudian dia masuk ke sebuah kuil.
Di luar maupun di dalam kuil itu terdapat banyak kertas yang ditempel, semua kertas itu ditulis memuji pada seorang tabib ajaib.
Dialah tabib ajaib itu, dulu dia adalah tabib biasa.
Kemudian Hai-liong Lo-jin mengajarnya membuat obat, walaupun Hai-long Lo jin menganggap itu adalah teknik biasa tapi orang lain tidak sanggup melakukannya, ditambah lagi66 tenaga dalamnya yang kuat, maka penyakit berat apa pun masih bisa diatasinya.
Awalnya semua tanpa sengaja, kemudian dia merasa dia bisa menyembuhkan pasien, membuat orang sakit terlepas dari sakitnya semua itu hal yang menyenangkan baginya.
Kuil seperti itu ada 4 buah, semua terpencar di 4 arah yang berbeda di wilayah Bu-tong-san, dia datang mengunjungi kuil itu secara bergiliran, di tempat yang didatangi selalu ada pasien yang sedang menunggu atau orang yang sudah sembuh datang kembali untuk mengucapkan terima kasih kepadanya.
Pasiennya datang dari desa di sekitarnya, ada juga yang datang dari jauh karena kagum pada kemampuannya.
Kadang-kadang orang kaya memintanya datang ke rumah mereka, tapi dia selalu tidak tertarik pada undangan semacam ini.
Awalnya ada yang mengundang dengan cara paksa, tentu saja tidak berhasil, setelah mendengar tabib ajaib ini adalah orang yang sangat terkenal...
Wan Fei-yang, mereka pun terkejut.
Terhadap orang seperti itu, Wan Fei-yang tidak berbuat apa-apa, karena dia adalah orang yang ramah, tapi sekarang dia bisa mengatasi dengan caranya sendiri.
Orang akan bertumbuh dewasa.
Hari masih pagi, tapi di kuil itu terlihat sudah ada pasien yang menunggu, seorang perempuan dengan wajah ditutup secarik kain hitam.67 Melihat perempuan itu hati Wan Fei-yang merasa tidak enak.
Penampilan perempuan itu sudah memberitahunya kalau perempuan itu adalah orang persilatan, dari penampilannya sudah terlihat, jika dia menyerang pasti sangat cepat dan lincah.
Itu pun tidak penting, yang terpenting seluruh tubuhnya memancarkan aura membunuh.
Tidak perlu melihat sorot matanya, Wan Fei-yang sudah bisa merasakan ada hawa membunuh.
Setelah melihat dengan jelas sorot matanya, malah membuat Wan Fei-yang bingung.
Itulah sepasang mata yang sangat asing.
Tapi Wan Fei-yang tetap mendekatinya, semakin dekat hawa membunuhnya semakin terasa.
Walau begitu dia berpura-pura tidak tahu.
Perempuan itu melihatnya duduk di sebuah meja, baru membuka suara.
"Apakah kau adalah tabib Wan Fei-yang?"
"Anda sepertinya tidak sakit!"
Ucap Wan Fei-yang.
"Aku memang tidak sakit, aku datang kemari menyelidiki kuil milikmu!"
Nada bicaranya seingat ringan.
"Oh ya, lalu kau melihat apakah aku mempunyai penyakit?"
Wan Fei-yang tertawa.
"Apakah kau tahu siapa aku?"
Perempuan itu membuka kain penutup wajahnya, terlihat seraut wajah cantik di depan Wan Fei-yang.68 Wan Fei-yang mengakui perempuan itu sangat cantik, tapi setelah mengging-ingat dia tetap merasa tidak ingat pernah bertemu dengan gadis ini di mana.
"Aku tidak tahu siapa kau!"
Dia menggelengkan kepala.
"Ingat namaku Tong Ling, aku dari Tong-bun!"
"Tong Ling, orang Tong-bun, sepertinya kita tidak pernah bertemu sebelumnya!"
Kata Wan Fei-yang.
"Kau benar-benar sakit!"
"Sakit apa? otak Wan Fei-yang sedang berputar tetap tidak mengerti.
"Hilang ingatan.."
Tong Ling tertawa dingin.
Dengan termangu Wan Fei-yang menatap Tong Ling, matanya terlihat bening, sewaktu sorot mata Tong Ling beradu pandang dengan sorot mata Wan Fei-yang, dia pun merasa aneh, mengapa orang yang berbohong sorot matanya bisa seperti itu?
Tong Ling malah mempunyai perasaan asing, dia seperti belum pernah melihat mata itu.
Wan Fei-yang melihat Tong Ling, bertanya.
"Maksudmu, kita pernah bertemu sebelumnya?"
"Kau sangat pandai berpura-pura tapi sayang tidak pintar, selalu menganggap orang lain bodoh!' "
Aku memang bukan orang pintar!"
"Kalau tidak, kau tidak akan muncul di sini!"
Suara Tong Ling terdengar semakin dingin.
"Baiklah, mana orangnya?"69
"Orang?"
Wan Fei-yang terpaku lagi.
"Kongkongku, ketua Tong-bun! Kau serahkan dulu orangnya baru membuat perhitungan atau setelah membuat perhitungan baru menyerahkan orang, kedua-duanya akan ku setujui!"
"Tampaknya di antara kita telah terjadi salahpaham!"
Kata Wan Fei-yang.
Tong Ling tertawa dingin, tiba-tiba melayang ke belakang ke tiang rumah.
Pada saat yang sama puluhan senjata rahasia sudah dilemparkan keluar ke arah Wan Fei-yang.
Jarak mereka begitu dekat dan semua itu begitu tiba-tiba, senjata rahasia yang dilemparkan sudah diseleksi, dilemparkan oleh seorang ahli senjata rahasia, benar-benar sulit diatasi.
Tapi walau Wan Fei-yang terdesak dia mempunyai cara mengatasinya.
Dia tidak meninggalkan bangkunya hanya mengangkat kedua tangannya, di tengah telapaknya terlihat ada cahaya, gerakannya sangat sederhana.
Tapi semua senjata rahasia itu berhasil disambut oleh kedua tangannya.
Tong Ling yang berada di atas melihat dengan jelas, tadi dia masih merasa curiga tapi sekarang kecurigaannya sudah tersapu bersih.
Sikap Beng To saat menyambut senjata rahasia tidak seindah Wan Fei-yang, tapi gerakan mereka tidak berbeda jauh.
Itu karena mereka menggunakan benda yang keluar dari bagian tengah telapak untuk menyambut senjata rahasianya.70 Benda yang keluar dari tangan Wan Fei-yang berupa serat sutra seperti benang, tapi enak dilihat tidak seperti milik Beng To, membuat orang merasakan hawa jahat dan sesat.
Tapi di mata Tong Ling semua sama, tidak ada bedanya, maka dia segera berteriak.
"Orang she Wan, kau masih ingin membela diri dengan cara licik?"
Wan Fei-yang melihat senjata yang ada di tangan Tong Ling, dia menggelengkan kepala.
"Aku tidak mengerti!"
"Apakah ilmu silatmu memakai Thian-can-sin-kang?"
Wan Fei-yang mengangguk.
"Kalau tidak mengunakan Thian-can-sin-kang, aku tidak akan bisa menyambut senjata rahasiamu!"
"Selain kau, siapa lagi yang menguasai ilmu Thian-can-sin-kang?"
"Sepertinya tidak ada!"
"Kalau kau sudah mengakuinya, untuk apa membantah begini licik?"
Tubuh Tong Ling bergeser, puluhan senjata rahasia dilemparkan lagi.
Senjata rahasia yang tadi disambut Wan Fei-yang masih berada di tangannya, bersamaan waktu itu pun dilemparkan keluar, gerakannya memang tidak selincah Tong Ling, tapi semua tidak ada yang meleset, semua dilemparkan tepat ke arah senjata rahasia yang datang!71 Dua senjata dari dua arah saling beradu di udara, tanpa menimbulkan suara sedikit pun, semua terjatuh ke bawah.
Yang pasti karena benda yang keluar dari telapak Wan Fei-yang adalah sisa senjata rahasia, maka senjata rahasia yang keluar dari tangannya menjadi lembut juga ringan.
Senjata rahasia Tong Ling yang dilemparkan kedua kali kekuatannya melebihi dari lemparan yang pertama, jumlahnya lebih 2 butir, dan 2 butir senjata rahasia itu tetap bisa lewat dan tetap mengarah pada Wan Fei-yang, tapi Wan Fei-yang hanya mengangkat tangannya, berhasil menyambut senjata rahasia itu.
"Mengapa kau tidak duduk dulu dan menjelaskan semuanya, baru bertindak!"
"Menghadapi orang keji seperti dirimu, tidak perlu banyak cerita!"
Wan Fei-yang tertawa, ini bukan untuk pertama kedinya dia dituduh tidak adil oleh orang lain, tapi perkara itu akhirnya menjadi jelas, dan terbukti dia memang tidak bersalah.
Tapi perasaan menerima perlakuan tidak adil itu benar-benar tidak enak, dari peristiwa itu yang terluka atau terbunuh seharusnya tidak perlu terjadi, maka dia berharap semuanya bisa dijelaskan sebelum bertindak.
Tong Ling tidak memberi kesempatan untuk menjelaskan semuanya.
Walaupun Wan Fei-yang tertawa dan tidak berniat jahat.
Tapi bagi Tong Ling semua itu adalah penghinaan, maka dia bergeser, dan senjata rahasianya keluar lagi dengan jumlah puluhan.
Tong Ling tahu walau72 pun senjata rahasia yang keluar semakin banyak tapi bagi Wan Fei-yang semua itu tidak berguna.
Tujuan Tong Ling hanya ingin mencegah Wan Fei-yang mendekatinya.
Wan Fei-yang tidak mendekatinya, maka setelah melemparkan 2 kali senjata rahasianya Tong Ling segera keluar melalui jendela.
Ratusan murid Tong-bun bersamaan waktu muncul di luar jendela, tangan mereka memegang senjata rahasia, bersiap-siap menyerang.
Masih ada murid-murid Tong-bun yang tampak melayang-layang di udara.
Di atas genting mereka sedang menebarkan jala besar yang terbuat dari tali urat sapi, dengan tepat dipasang di atas genting kuil itu.
Karena Beng To mendobrak pecah genting di Tong-bun dan melarikan diri, maka kali ini murid-murid Tong-bun mengambil pengalaman dari kegagalan mereka dan menyiapkan jala besar itu.
Setelah keluar melalui jendela, Tong Ling membentak.
"Siapkan senjata rahasia!"
Semua murid Tong-bun sudah mengambil posisi mereka dengan tepat.
Dengan tenang tangan Wan Fei-yang menyedot senjata rahasia yang datang pertama, kemudian dengan senjata rahasia yang menyerangnya dia melemparkan senjata rahasia itu menghadang serangan lawan yang kedua kalinya.
Sorot matanya melihat Tong Ling yang pergi.
Tapi dia tidak bergerak, jala dari urat sapi sudah terpasang di atas genting, dia merasa semakin aneh.
Terlihat orang-orang Tong-bun73 datang dengan penuh persiapan.
Dia tahu pasti telah terjadi kesalahpahaman, tapi dia tidak tahu harus bagaimana menjelaskannya.
Buat dia ini bukan untuk pertama kalinya mendapat kesalahpahaman seperti ini, tapi hingga saat ini dia tidak mempunyai cara yang lebih baik, biasanya dia selalu menunggu terjadinya perubahan dan percaya pada akhirnya semua masalah akan menjadi jelas.
Sekarang dia mempunyai perasaan seperti itu kesalahpahaman ini tidak bisa dia jelaskan sekarang ini, maka dia hanya bisa menunggu terjadinya perubahan, yang pasti dia harus berpikir bagaimana cara mengatasi serangan senjata rahasia itu.
Dengan cepat Tong Ling muncul di luar kuil.
"Wan Fei-yang, apa keputusanmu?"
"Aku sudah menjelaskan semuanya kalau ini hanya kesalahpahaman, kakekmu tidak ada di sini!"
"Kau kira kau kebal dengan senjata rahasia kami?"
"Senjata rahasia kalian adalah nomor 1 di dunia persilatan dan aku sudah berada dalam kurungan kalian, mana mungkin aku bisa membunuh kalian!"
"Maksudmu, kau menganggap kami dengan jumlah banyak menghina kau yang sendiri!"
"Aku hanya ingin kalian mencari tahu dulu, baru berkomentar, jangan terhasut oleh omongan orang lain!"
"Selain kau, siapa lagi yang menguasai Thian-can-sin-kang?"74
"Tidak ada..."
"Apakah orang itu menggunakan Thian-can-sin-kang?"
"Apakah kakekmu telah salah lihat?"
"Serahkan Kongkongku!"
Wan Fei-yang tertawa kecut.
"Thian-lo-te-bong!"
Bentak Tong Ling.
Murid-murid Tong-bun bersiap siaga dan segera melemparkan senjata rahasia, suara mereka memecahkan suasana di sana.
Tidak diragukan lagi mereka sudah tahu keadaan di sini sebelumnya dan posisi mereka sangat menguntungkan.
Mereka sanggup menutup semua celah.
Kemana pun Wan Fei-yang bergeser tetap terserang oleh senjata rahasia mereka.
Senjata rahasia itu di udara menganyam menjadi sebuah jala berkilau dan menutupi Wan Fei-yang, sebagian malah datang dari arah bawah.
"Thian-lo-te-bong (Jala langit jaring bumi) yang hebat..."
Wan Fei-yang tampak terkejut.
Dia segera mengangkat meja yang terbuat dari batu dan memutarnya di udara, kemudian dia bersembunyi di bawah meja.
Semua senjata rahasia jadi tertuju ke atas meja, kebanyakan terbang ke tempat lain, setelah menyentuh meja batu yang kuat, ada pula yang menancap di atas meja.
Wan Fei-yang tahu dari arah mana senjata itu datang, dia keluar dari kolong meja dan naik ke atas meja.75 Meja kembali ke posisi semula, dia hanya berhenti sebentar di atasnya, lalu berlari ke pintu kuil.
Terlihat Tong Ling berdiri di sana.
Reaksi murid Tong-bun pun tidak lamban, senjata rahasia tetap dilemparkan keluar untuk mengejar Wan Fei-yang.
Dengan cepat Wan Fei-yang berlari di atas terjangan senjata rahasia.
Senjata yang datang dari depan disambut dengan kedua tangannya, tetapi begitu sampai di pintu kuil serangan senjata rahasia itu segera berhenti sebab khawatir akan terkena orang sendiri.
Tong Ling yang ada di depan terpaksa mundur sebab kurang efektif jika melemparkan senjata rahasia dalam jarak terlalu dekat.
Dengan tenang Wan Fei-yang menyambut senjata rahasia itu, setelah mundur dari kuil dia segera naik ke atas genting.
Beberapa murid yang berjaga di atas genting melihat kedatangan Wan Fei-yang, maka senjata rahasianya di berondong keluar, bayangan seseorang berkelebat, mereka sudah berada di atas Wan Fei-yang.
Tidak perlu dipesan oleh Tong Ling, murid-murid Tong-bun sudah berpencar.
Ada yang berada di atas pohon dan melihat Wan Fei-yang tidak bergerak, senjata rahasia mereka pun di pegang tangannya dengan erat.
Setelah Tong Ling naik ke sebuah pohon besar, dia tertawa dingin.76
"Wan Fei-yang, kau bisa berlari hari ini tapi besok kau tidak akan bisa lari!"
Wajah Wan Fei-yang tiba-tiba terlihat terkejut sebab matanya melihat asap dari kembang api berwarna merah dan sedang meletus.
Murid-murid Tong-bun yang satu arah dengan Wan Fei-yang juga dengan sorot mata aneh melihat ke arah sana.
Tong Ling pun ikut menoleh, tapi dia segera berkata.
"Bukan dari pihak kita..."
Salah satu murid Tong-bun berkata.
"Itu dari Sam-goan-kong."
"Betul!"
Jawab Wan Fei-yang.
"Walaupun murid-murid Bu-tong datang kemari, kami tidak akan mundur!"
Wan Fei-yang menggelengkan kepala.
"Mereka tidak akan kemari!"
Tong Ling adalah gadis yang sangat pintar, dia segera bertanya.
"Apakah di Sam-goan-kong terjadi sesuatu dan meminta tolong?"
"Benar, sudah terjadi sesuatu, tanda tadi menyuruhku agar cepat ke sana!"
"Masalah yang kau buat benar-benar banyak!"
"Yang membuat masalah belum tentu aku, seperti sekarang ini..."
"Kau masih ingin membela diri dengan licik?" 77 Wan Fei-yang menggelengkan kepala dan tertawa dengan kecut.
"Masalah Tong-bun..."
"Asal kau melepaskan Kongkongku, perhitungan bisa dilakukan setelah masalah Bu-tong selesai!"
Wan Fei-yang ingin menyampaikan sesuatu tapi suara lonceng berdentang panjang sudah terdengar lagi.
Wajahnya dengan cepat berubah.
Itulah suara lonceng yang menandakan ada hal yang penting, tidak diragukan lagi di Bu-tong-pai telah terjadi sesuatu.
Suara lonceng menyuruh semua murid Bu-tong yang ada di daerah segera kembali dengan cepat.
Tong Ling terus melihat perubahan di wajah Wan Fei-yang din dia melambaikan tangan memberi isyarat kepada murid-murid Tong-bun agar mencegat Wan Fei-yang.
Wan Fei-yang melihatnva, dia menarik nafas.
"Orang-orang yang hidup di dunia persilatan benar-benar tidak bisa hidup tenang!"
"Ada orang seperti kau yang mencari nama, mana mungkin dunia persilatan bisa tenang!"
Wan Fei-yang tertawa, dia tahu dalam keadaan seperti ini banyak berkata-kata tidak akan ada gunanya. Suara lonceng berdentang untuk ke dua kalinya.
"Maafkan..."
Begitu kata-kata ini terucap keluar, Wan Fei-yang sudah berlari di atas udara.78 Senjata rahasia Tong Ling sudah dilemparkan lagi, murid-murid Tong-bun tidak mau kalah, mereka pun melemparkan senjata mereka sambil mengejar Wan Fei-yang.
Arah lari Wan Fei-yang menuju Tong Ling maka senjata rahasia yang tadi disambut dan dibuang keluar.
Senjata rahasia yang pertama datang dari Tong Ling.
Lemparan ke dua belum dilepaskan tampak senjata rahasia Wan Fei-yang sudah tiba.
Tapi reaksi Tong Ling sangat lincah, dia meloncat kesana-kemari, semua senjata rahasia disambutnya.
Melalui lowongan ini Wan Fei-yang berlari melewati Tong Ling.
Murid-murid Tong-bun terus mengejarnya karena mereka khawatir Tong Ling terluka maka mereka tidak berani melemparkan senjata rahasianya.
Tong Ling pun demikian, karena jaraknya dengan Wan Fei-yang terlalu dekat tidak sampai 1 kaki maka dia tidak bisa melemparkan senjata rahasianya.
Tapi perubahan gerak Tong Ling sangat cepat, senjata rahasia yang ada di tangannya segera dipakai sebagai senjata biasa, dia menusuk ke arah perut dan dada Wan Fei-yang.
Tangan kanan Wan Fei-yang melayang, ujung jarinya pelan-pelan menarik ke dua pergelangan tangan Tong Ling.
Waktu itu Tong Ling merasa dia seperti terkena petir.
Tangannya melonggar, semua senjata rahasianya terjatuh, saat itu kedua kaki Wan Fei-yang sudah memanjat naik ke atas pohon, kemudian menyentak, dia sudah berlari ke arah di mana petasan tadi meledak.79 Murid-murid Tong-bun khawatir Tong Ling terluka, maka mereka tidak berani melemparkan senjata rahasia.
Begitu mereka sadar Tong Ling dalam keadaan baik-baik saja semua sudah terlambat, Wan Fei-yang sudah menghilang.
Wan Fei-yang turun dan naik dari pohon satu ke pohon lain, dia berlari dengan cepat.
Tong Ling dan murid-murid Tong-bun terus mengejar, bayangannya terlihat dengan jelas karena jarak mereka semakin dekat.
Suara lonceng masih terus berdentang dan semakin cepat.
Setelah suara lonceng sudah terdengar 9 kali, Wan Fei-yang sudah berada di atas batu Kie-kiam-gan (Batu tempat melepas pedang).
8 murid Bu-tong dengan wajah terkejut menunggu di sana, melihat Wan Fei-yang datang, mereka segera menyambut kedatangannya.
"Siapa yang datang?"
Dia melihat 8 murid Bu-tong tidak terluka sama sekali dia agak tenang, walaupun tidak tahu siapa yang datang tapi pedang-pedang yang ditinggalkan di Kiam-ti-yan memberi tahukan bahwa yang datang bukan orang persilatan biasa.
Bu-tong-pai sudah beberapa kali dirampok, keadaan mereka sudah lemah, kalau sekarang terjadi pertempuran akibatnya tidak bisa di bayangkan akan seperti apa.
Delapan murid Bu-tong dipimpin oleh Tong Coan menjawab.80
"Dari Hoa-san-pai, Tiam-jong-pai, Tong-teng-kun-san, Tai-ouw-sui-cai, Bu-tai-san, Ceng-sia-pai, Siauw-lim-pai, semua datang..."
"Apa tujuan mereka?"
Tanya Wan Fei-yang.
"Mencari Susiok... Anda, meminta keadilan!"
Jawab Tong Coan.
"Mencariku?"
Walaupun Wan Fei-yang sudah memperkirakan semua ini ada hubungan dengannya, tapi dia tetap merasa terkejut.
"Mereka masing-masing menggotong sebuah peti mati, di dalam peti berisi ketua atau tetua mereka, katanya mereka semua mati karena Susiok!"
Wan Fei-yang tertawa kecut, Tong Coan berkata lagi.
"Kami curiga semua ini adalah rencana busuk, Susiok selalu mengobati orang di sekitar ini, mana mungkin pergi begitu jauh hanya untuk membunuh?"
Dia bicara dengan jujur dan sebenarnya, Wan Fei-yang merasa sangat berterima kasih, walau pun bagaimana murid-murid Bu-tong sangat percaya kepadanya, jadi dia tidak usah bersusah payah menjelaskan semuanya, baginya itu hal yang baik, dengan begitu dia bisa dengan tenang menghadapi orang-orang yang datang untuk meminta keadilan kepadanya.
"Tapi mereka sangat yakin dan mempunyai bukti kuat!"
Jelas Tong Coan.
"Oh ya! Apa buktinya?"81
"Mayat-mayat yang berada di dalam peti mati itu, dari luar terlihat bahwa mereka mati karena Thian-can-sin-kang!"
Jawab Tong Coan.
"Apakah menurutmu memang mirip?"
Tanya Wan Fei-yang.
"Aku tidak pernah melihat seperti apa orang mati oleh Thian-can-sin-kang, tapi sepertinya mereka tidak bicara sembarangan dan di luar mayat pun...."
"Yang pasti di luar mayat ada tanda-tandanya maka hal itu membuat kalian sangsi!"
"Ciri kematian semua mayat sama, kecuali mereka ada rencana busuk dan bersekongkol..."
"Tidak, kalau mayatnya adalah tetua atau ketua mereka, tidak mungkin mereka akan membunuhnya lalu menuduhkan semua petaka ini padaku?"
Dia tertawa dan menyambung lagi.
"aku tidak ingin berkelana di dunia persilatan, aku juga bukan siapa-siapa di dunia persilatan ini!"
"Dengan kemampuan Susiok sebenarnya Anda bisa menjadi nomor satu... tapi Susiok bukan orang seperti itu!"
Wan Fei-yang melihat di jalanan sudah banyak murid-murid Tong-bun yang bermunculan. Tong Coan dan lain-lain juga melihatnya, mereka merasa terkejut. Wan Fei-yang berkata lagi.
"Murid-murid Tong-bun pun datang kemari untuk mencariku untuk membuat perhitungan, mereka menuduh aku menangkap ketua mereka." 82 Tong Coan terpaku melihatnya, Wan Fei-yang menarik nafas panjang.
"Suatu hari nanti semuanya akan menjadi terang dan jelas, apakah benar?"
Tong Coan terdiam, dia tahu Susioknya mi pernah merasa kesal karena disalahkan.
"Aku berharap kali ini tidak akan mengalami kesulitan besar"
Kata Wan Fei-yang sambil menarik nafas.
Tong Ling sudah datang, masih berada di tengah-tengah udara, 12 senjata rahasianya sudah dilemparkan ke arah Wan Fei-yang.
Tong Coan dan lain-lain segera mencabut pedang.
Wan Fei-yang mencengkeram sebuah batu besar, menahan batu itu di depan tubuhnya.
Senjata rahasia yang melesat membuat batu besar itu meledak, hancur dan jatuh berserakan ke bawah.
Tong Ling sadar kekuatannya tidak akan sedahsyat itu.
Dia juga sadar apa yang telah terjadi, walaupun bermusuhan, dia harus mengakui bahwa Iweekang Wan Fei-yang memang sangat tinggi.
Tong Ling segera mendarat.
Senjata rahasia lainnya tidak dilemparkan keluar, dia hanya melihat Wan Fei-yang dengan sorot dingin.
Murid-murid Tong-bun sudah tiba, melihat Tong Ling berlaku seperti itu mereka pun berdiam, senjata rahasia berada di tangan masing-masing.83
"Apakah hanya dengan ilmu silat ini, kau ingin membuat kami meninggalkan tempat ini?"
Tanya Tong Ling.
"Aku tidak ingin ada yang terbunuh ataupun terluka, karena kesalahpahaman yang sudah terjadi akan bertambah menjadi lebih dalam lagi!"
Jelas Wan Fei-yang.
"Kalau begitu, serahkan Kongkongku dan jelaskan yang keadaan sebenarnya!"
"Aku akan menjelaskan tapi tidak sekarang!"
Wan Fei-yang tertawa kecut.
"Di ulur panjang pun tidak akan berguna!"
Bentak Tong Ling.
"Apa yang terjadi di Bu-tong-san sekarang ini, katanya ada hubungannya dengan Thian-can-sin-kang milikku..."
Kata Wan Fei-yang.
"Aku tahu, sebenarnya kami datang bersamaan kemudian aku melihat keadaan yang terjadi pada kami tidak sama, karena orang-orang mereka sudah menjadi mayat!"
Wan Fei-yang terdiam. Kata Tong Ling lagi.
"Tapi Kongkongku telah dibawa kabur, apa tujuanmu?"
"Kalian tidak percaya bukan aku pelakunya, tapi aku tidak memaksa kalian harus percaya, kalau masalahnya sama, lebih baik kita bersama-sama ke atas gunung untuk membereskan semuanya."
Tong Ling melihat 2 laki-laki separo baya, kedua orang itu mengangguk, kemudian salah satu berkata.84
"Ketua, dia tidak akan bisa melarikan diri, kita dengar seperti apa penjelasannya!"
Tong Ling mengangguk, dia berkata kepada Wan Fei-yang.
"Jika mereka menyerangmu, orang-orang Tong-bun tidak akan ikut campur, kau bisa tenang!"
"Terima kasih!"
Kata Wan Fei-yang memberi hormat "Semua karena Kongkong berada di tangan mu, hidup atau matinya masih belum jelas!"
Tong Ling tertawa dingin. Wan Fei-yang terdiam lagi. Tong Ling berkata lagi.
"Sekarang kau pasti tidak akan bisa bicara, tapi hari ini jika Tong-bun tidak datang, kau pun cukup repot menghadapi mereka!"
Wan Fei-yang membalikkan tubuh dan berjalan, dia mengerti pikiran Tong Ling, tapi dia juga tidak peduli apa yang diperkirakan Tong Ling.
Kalau dia orang yang licik, hal yang terjadi pasti seperti ini dan hal seperti ini sudah sering kali terjadi, walaupun sekarang dia sudah tidak seperti dulu lagi, tapi perasaannya tetap sama.
Dulu di kehidupannya ada peristiwa sedih juga ada yang menggembirakan.
Dari Siauw-Iim-pai datang Pek-jin Taysu, Ceng-sia-pai, Giok-koan Tojin, Bu-tai-san, Bok Touvv-toh, Tai-ouw-sui-cai, Liu Sian-ciu, Tong-teng-kun-san, Ci-liong-ong, Tiam-jong-pai, Thi Gan, Hoa-san-pai, Kiam-sianseng.
Mereka menunggu Wan Fei-yang di Sam-goan-kong.
Mereka adalah para pesilat85 tangguh dunia persilatan.
Murid-murid mereka pun datang, maka barisan yang datang sangat besar dan komplit.
Walaupun liang-bu-jin Bu-tong-pai, Pek-ciok Tojin sangat luas pergaulannya di dunia persilatan, tapi menghadapi begitu banyak pesilat tangguh, dia cukup kalang kabut juga.
Jika dibandingkan dengan Pek-jin Taysu, Giok-koan Tojin, Bok Touw-toh, Kiam-sianseng, Ci-liong-ong, dia masih termasuk angkatan muda.
Ilmu silatnya pun tidak begitu tinggi, sejak Bu-tong-pai diserang, banyak pesilat tangguh mereka yang meninggal, ditambah dia orang yang sangat jujur, maka posisi ketua Bu-tong-pai jatuh ke pundaknya, maka dia dengan baik hati mengurus Bu-tong-pai.
Sekarang dalam menghadapi banyak pesilat tangguh, dia tetap melayani mereka dengan sangat baik, yang paling penting adalah dia sangat tahu jelas siapa Wan Fei-yang.
Sewaktu pesilat-pesilat mengatakan Wan Fei-yang telah membunuh semua orang-orang itu tapi dia yang sering bertemu dengan Wan Fei-yang sangat tahu jelas Wan Fei-yang berada di daerah mana di Bu-tong-san.
Dia juga tahu kalau pesilat-pesilat itu pasti tidak akan percaya, dia adalah orang Bu-tong-pai, maka dia pasti akan membela Wan Fei-yang.
Bagaimana Wan Fei-yang bisa melepaskan diri dari tuduhan ini, dia sendiri tidak tahu, tapi satu-satunya yang membuatnya merasa agak tenang adalah karena Wan Fei-yang sudah beberapa kali dituduh tapi dengan kesabaran dia86 bisa mengatasi.
Dalam kesulitan bisa bertahan hidup maka kepahitanpun akan pergi dan yang datang adalah rasa manis, nasibnya memang tidak jelek.
Hal yang membuatnya merasa aneh adalah mayat-mayat itu dari luar terlihat seperti mati oleh Thian-can-sin-kang, dia sendiri tidak tahu apakah ada tenaga dalam yang mirip dengan Thian-can-sin-kang, dia juga tidak tahu apakah Thian-can-sin-kang pernah jatuh ke tempat lain?
Banyak orang yang datang mencari Wan Fei-yang maka dia terburu-buru menyuruh Wan Fei-yang naik gunung dan berharap Wan Fei-yang bisa membereskan semua masalah ini.
Melihat Wan Fei-yang masuk, baru dia merasa tenang.
Giok-koan Tojin, Pek-jin Taysu, Bok Touw-toh, Kiam-sianseng, dan Thi Gan, pernah melihat Wan Fei-yang.
Mereka mendapat kesan Wan Fei-yang adalah pemuda yang baik!
Setelah berunding mereka ingin memberi kesempatan pada Wan Fei-yang memberi penjelasan kepada mereka, karena itu dari awal Tong Ling tidak campur tangan dengan mereka.
Sekarang dia tetap ikut masuk ke dalam Sam-goan-kong.
Dipimpin oleh Kiam-sianseng, mereka mengatakan kepada Wan Fei-yang bagaimana orang-orang itu mati oleh Thian-can-sin-kang.
Setelah melihat dengan jelas orang yang menjadi mayat, hati Wan Fei-yang menjadi dingin, sebab mereka adalah para87 pesilat tangguh yang mempunyai nama terkenal dan juga tetua-tetua dunia persilatan, mereka sangat berpengaruh di dunia persilatan, siapa pun mereka, jika mati akan membuat dunia persilatan berguncang, dalam waktu yang begitu singkat mereka telah tewas, apa yang terjadi?
Munurut perkiraan Kiam-sianseng, musibah dunia persilatan mulai terjadi.
Begitu melihat mayat-mayat itu hati Wan Fei-yang mencelos dan bertambah sesak, mulut dan hidung para pesilat itu tersumbat oleh benda seperti benang sutra.
Dia mempunyai perasaan itu bukan benang sutra, tapi dari telapaknya pun keluar benda seperti bukan benang sutra.
Ulat sutra hanya simbol, yang pasti ulat sutra bisa membuat kepompong untuk mengurung diri mereka, bisa mengorbankan diri untuk semua orang, sebenarnya benda ini tidak ada hubungannya dengan ulat sutra.
Pesilat-pesilat itu jika dikatakan mati karena Thian-can-sin-kang pasti akan banyak orang yang percaya, di dunia ini ada ilmu begitu mirip, benar-benar di luar dugaannya.
Waktu itu tiba-tiba dia teringat akan banyak hal, Thian-can-sin-kang miliknya bukan diwariskan dari Bu-tong, Thian-can-sin-kang milik Bu-tong boleh dikatakan hanya diajarkan melalui mulut ketuanya dan tidak dicatat di dalam buku, tapi bukan berarti hanya ketua baru yang boleh menerima pelajaran ini.88 Sebelumnya apakah ketua Bu-tong-pai lainnya pernah mengajarkan kepada orang luar dan berhasil melatihnya?
Wan Fei-yang merasa tidak yakin.
Setelah melihat mayat-mayat itu pikirannya menjadi kacau.
Kiam sianseng bertanya.
"Sekarang kau mengerti mengapa kami mencarimu kemari?"
"Mereka benar-benar seperti mati karena Thian-can-sm-kang!"
Wan Fei-yang mengangguk.
"Dulu ketika Tokko Bu-ti roboh di depanmu, keadaan mayatnya seperti mayat mereka ini!"
Thi Gan menyela.
"Thian-can-sin-kang dari Bu-tong-pai katanya diajarkan langsung dari mulut ketua Bu-tong-pai dan ilmu ini tidak dicatat di dalam buku, selain Yan Cong-thian Lo-cianpwee yang menguasainya, hanya kau yang mengerti Thian-can-sin-kang."
Kiam-sianseng menarik nafas.
"Yan-heng begitu muda sudah meninggal, bukan hanya Bu-tong-pai yang merasa kehilangan dirinya, juga kerugian bagi golongan yang menjaga keadilan!"
Wan Fei-yang sangat mengerti, katanya dengan ringan.
"Benar, di Bu-tong-pai hanya aku yang berhasil menguasai Thian-can-sin-kang, tapi kematian mereka tidak ada kaitannya denganku!"
"Apakah hilangnya Kongkongku juga tidak ada kaitannya denganmu?"
Tong Ling menyela. Kiam-sianseng dengan dingin melihat Tong Ling, dia bertanya lagi kepada Wan Fei-yang.
"Ketua Anda yaitu Pek-ciok Tojin mengatakan Anda selalu berada di Bu-tong-san, tapi sayang dia tidak mempunyai saksi."
"Apa rencana kalian..."
Tanya Wan Fei-yang. Tong Ling memotong lagi.
"Lepaskan Kongkongku dulu!"
Wan Fei-yang ingin mengatakan sesuatu tapi Liu Sian-ciu dari Tai-ouw berkata.
"Masalah Kongkongmu kita bicarakan saja nanti!"
"Orang yang pertama kali menemukan Wan Fei-yang adalah kami!"
Kata Tong Ling. Liu Sian-ciu tertawa.
"Tapi sayang, kalian tidak bisa menangkapnya, malah harus ke Sam-goan-kong."
"Di Sam-goan-kong ini kami dipimpin oleh Kiam-sianseng, lebih baik kau jangan banyak bicara!"
Kata Tong-teng-kun-san, Ci-liong-ong.
"Tapi Tong-bun tidak membutuhkan keputusan dari Kiam-sianseng!"
Kata Tong Ling.
"Aku juga tidak berani mengambil keputusan untuk Tong-bun!"
Kata Kiam-sianseng.
"Kalau begitu, cepat suruh orang-orang kalian jangan banyak bicara!"
Kata Tong Ling, setelah keluar kata-kata ini.90 Tong Ling sadar dia telah kelewatan, tapi kata-kata itu sudah terlanjur keluar seperti ludah sudah terciprat tidak bisa ditelan kembali.
Giok-koan Tojin tidak tahan lagi.
"Gadis ini benar-benar tidak tahu diri walau pun kakekmu di sini, beliau pun tidak akan berani berkata seperti itu!"
Sifat keras Tong Ling muncul, dia tertawa dingin, aku tidak pernah menceritakan orang-orang ini! "Apakah beliau pernah menanyakan tentang Giok-koan Tojin dari Ceng-sia-pai?"
"Siapa Giok-koan Tojin?"
Tong Ling tidak peduli murid-murid Tong-bun memberi isyarat untuk mundur, dia melihat Giok-koan Tojin.
"Aku terkena semprotan!"
Bok Touw-toh melantunkan bacaan Budha.
"Kembalilah ke tempat yang benar, sekarang belum terlambat!"
Kiam-sianseng kembali melihat Tong Ling, dengan tenang berkata.
"Kalau Tong-bun ingin membuat perhitungan dengan Bu-tong-pai, kami tidak akan melarangmu, silakan saja!"
Dia mundur selangkah supaya Tong Ling bisa menghadapi Wan Fei-yang.91 BAB 3 Tong Ling terpaku di sana.
Kalau dia tadi bisa menaklukkan Wan Fei-yang, untuk apa mengikutinya dari kuil itu ke mari, walaupun di ruangan ini tidak banyak murid Bu-tong-pai, mereka tidak akan berpangku tangan begitu saja, maka pertarungan tidak bisa dijadikan pegangan, jika kalah di depan mereka dan kabar ini tersebar luas ke dunia persilatan, tentu akan memalukan Tong-bun, wibawa mereka akan tercoreng.
Walaupun Tong Ling bersifat keras, tapi dia bukan gadis yang tidak ada perhitungan, dia teringat bahwa dia baru menjadi ketua, jangan sampai membuat nama Tong-bun tercoreng.
Karena itu dia memutar otak dan dengan dingin berkata.
"Tong-bun ingin membuat perhitungan, tapi kami bukan orang-orang yang menjual ilmu silat untuk mencari nafkah, kalian tidak pantas berada di sini untuk menonton keramaian."
Kata-kata ini membuat wajah Kiam-sianseng berubah, Thi Gan dari Tiam-jong-pai membentak.
"Hati-hati kalau bicara, orang she Tong!"
Tong Ling melihat Thi Gan.
"Bukankah tadi kalian mengatakan kalau semua keputusan diwakili oleh Kiam-sianseng, siapa kau, berani-beraninya kau mewakili Kiam-sianseng berkomentar!" 92 Thi Gan terpaku, kemudian Kiam-sianseng menarik nafas dan berkata.
"Seumur hidupnya Tong Pek-coan sangat berhati-hati, mengapa generasi penerusnya malah seperti ini..."
"Siapkan senjata rahasia!"
Bentak Tong Ling. Murid-murid Tong-bun bersiap siaga, senjata rahasia sudah berada di tangan.
"Siapa yang menghina Tong-bun dan mencari kesalahan Tong-bun, kami akan bertarung mati-matian menjaga nama baik Tong-bun!"
Ci-liong-ong tertawa.
"Setelah kami pulang, kami akan memberi tahu murid-murid kami supaya jangan mengucapkan kata Tong-bun agar tidak mendapat musibah."
"O-mi-to-hud..."
Dari Siauw-lim-pai, Pek-jin Taysu sekarang baru keluar suara. Tong Ling tidak peduli, dia melihat Wan Fei-yang.
"Tadi aku sudah mengemukakan apa yang kuinginkan, Tong-bun siap melayani!"
Dia segera membalikkan tubuh dan keluar dari sana.
Melihat Tong Ling, Wan Fei-yang teringat pada Tokko Hong.
Pertama kali saat bertemu Tokko Hong, dia juga seperti sebongkah api besar, bersifat keras dan meledak-ledak.
Tapi Wan Fei-yang percaya setelah Tong Ling mendapatkan pelajaran beberapa kali pasti akan berubah,93 dia hanya berharap Tong Ling saat diberi pelajaran jangan terlalu keras.
Memang Tong Ling sama sekali tidak memberi kesempatan padanya untuk menjelaskan, tapi Wan Fei-yang tetap tidak merasa membencinya Paling sedikit Tong Ling bicara terus terang, membuatnya tahu apa yang Tong Ling inginkan, harus dengan cara apa mengatasi sifat keras Tong Ling.
Tapi Kiam-sianseng memberikan kesan bahwa jahe semakin tua semakin pedas.
Dia harus berhati-hati menghadapinya.
Melihat Tong Ling dan sekelompok murid-murid Tong-bun menghilang, Kiam-sianseng baru berkata.
"Sekarang kita bisa membicarakan dengan tenang!"
"Apakah masih akan membicarakan topik tadi?"
Tanya Wan Fei-yang.
"Mungkin masalah ini tidak ada hubungannya denganmu, tapi tidak bisa kau sangkal bahwa orang-orang ini mati karena Thian-can-sin-kang,"
Jelas Kiam-sianseng.
"Paling sedikit ini sejenis ilmu silat yang mirip Thian-can-sin-kang. Sebenarnya aku bisa membuktikan perbedaannya dengan Thian-can-sin-kang tidak jauh, maka aku tidak percaya diri untuk menjelaskannya kepada kalian!"
Kata Wan Fei-yang-"Kalau kau bisa membuat kami percaya itu bukan Thian-can-sin-kang, kami bisa terima, tapi kau tidak menyangkal mempunyai hubungan dengan Bu-tong-pai."
"Sebenarnya sampai sekarang ini pertama kalinya kami melihat ada ilmu lweekang seperti itu!"
"Kalau dikatakan ilmu itu keluar dari Bu-tong-pai, itu juga bisa!"
"Mungkin kalian akan curiga bahwa aku yang mengajarkannya bukan?"
Wan Fei-yang tertawa kecut.
"singkat kata, aku tidak bisa terlepas dari kecurigaan kalian!"
Kiam-sianseng tersenyum.
"Kami percaya pada seorang Wan Fei-yang, kami bertemu dengan keadaan seperti ini."
"Tapi kalian..."
"Mungkin itu rencana busuk dunia persilatan, mereka berusaha membuat orang dunia persilatan yang lurus saling membunuh, lebih baik kita berhati-hati dan mencari tahu apakah ini ada hubungan dengan Bu-tong-pai, apakah ada hubungan dengan Thian-can-sin-kang."
"Yang pasti harus oleh orang yang mengerti Thian-can-sin-kang baru bisa jelas,"
Kata Wan Fei-yang.
"Betul, hanya kau yang bisa menjelaskan semuanya kepada kami!"
Kata Kiam-sianseng.
"Berikan waktu kepadaku!"
"Apakah 3 bulan cukup?"
"Baiklah, 3 bulan lagi harap kalian datang ke mari lagi, yang pasti jika 3 bulan belum tiba dan aku sudah selesai menyelidikinya, aku akan memberi tahui kalian."
"Kami berjanji..."
Kiam-sianseng sangat jujur dan terus terang.95 Dari tadi Pek-ciok Tojin selalu berkata sungkan, setelah Kiam-sianseng dan lain-lainnya pergi, dia baru berkata dengan serius.
"Sute, apakah kali ini kau tertipu!"
"Apa boleh buat!"
Pek-ciok Tojin mengangguk.
"Terus terang saja, luka mereka sama dengan luka karena Thian-can-sin-kang! Aku tidak melihat ada perbedaan sedikit pun!"
"Ilmu lweekang yang sangat jarang ada, tapi setelah menelitinya akan terlihat perbedaannya!"
"Maksudmu, benda seperti benang sutra itu?"
"Betul, walaupun disebut Thian-can-sin-kang, sebenarnya tidak ada hubungan dengan ulat sutra!"
"Dulu Tokko Bu-ti kalah di tangan Sute, keadaannya dengan mayat yang datang hari ini tidak berbeda!"
"Perbedaannya sulit dijelaskan, juga sulit membuat orang yang belum pernah berlatih Thian-can-sin-kang akan percaya di mana perbedaannya."
"Apakah karena benangnya?"
Tanya Pek-ciok Tojin.
"Benang itu berwarna abu keputihan, tampak benang itu beracun, dan benang Thian-can-sin-kang berwarna putih keperakan hampir transparan, kalau tidak diteliti secara jelas, tidak akan bisa membedakannya, apakah itu beracun atau tidak, sulit dibuktikan!" 96 Dengan aneh Pek-ciok Tojin melihat Wan Fei-yang. Sebenarnya dia tidak memperhatikan keistimewaan benang sutra itu. Wan Fei-yang menghela nafas lagi.
"Orang dunia persilatan hanya tahu Thian-can-sin-kang, hanya tahu Thian-can-sin-kang bisa mengeluarkan benang sutra, bisa dan menembus masuk ke kulit, bisa menutup jalan darah manusia juga bisa melilit jalan darah lawan dan mencegah tenaga dalam lawan sampai ke jantung."
"Jika kau bisa tahu sebegitu banyak memang tidak gampang,"
Kata Pek-ciok Tojin.
"Semua ini keistimewaan juga kedahsyatan Thian-can-sin-kang, semua orang memperhatikan hal pertama."
Pek-ciok Tojin mengangguk.
"Malah yang paling mudah dilihat tidak mereka perhatikan seperti warna sutra dan kualitasnya..."
"Mungkin karena tidak ada gunanya!"
"Tapi apa yang telah terjadi ke dua tenaga dalam itu memang ada kemiripan!"
Kata Wan Fei-yang.
"Kulihat sama persis dengan Thian-can-sin-kang!"
Kata Pek-ciok Tojin.
"Aku duga jika kedua macam lweekang ini digunakan pasti ada perbedaannya!"
Wan Fei-yang tertawa kecut.
"Tapi kau tidak melihat dengan mata kepala sendiri mana mungkin bisa menyatakan hal seperti itu, mungkin ke dua lweekang ini saat digunakan bisa sama!"
"Apakah Suheng curiga bahwa ilmu itu adalah Thian-can-sin-kang?"97
"Ilmu lweekang berbeda-beda tapi fungsinya sama, seperti Iweekang ini, mana mungkin bisa disebut sama,"
Ucap Pek-ciok Tojin.
"Aku bisa menguasai Thian-can-sin-kang karena orang Bu-tong membantunya, aku curiga apakah Thian-can-sin-kang.."
Wan Fei-yang tidak meneruskan kata-katanya tapi Pek-ciok Tojin menyambung.
"Apakah gurumu pernah mengajarkan Thian-can-sin-kang kepada orang lain?"
"Tidak ada!"
Wan Fei-yang menggelengkan kepala.
"Yan-supek selalu berada di Bu-tong-san!"
Pek-ciok Tojin terus berpikir. Wan Fei-yang terdiam, Pek-ciok Tojin berkata lagi.
"Apakah selain mereka berdua, masih ada yang lain..."
"Apakah ada orang yang bisa menjawab pertanyaan ini?"
Tannya Wan Fei-yang. Tiba-tiba Pek-ciok Tojin teringat sesuatu dan berkata.
"Ada satu orang, tapi apakah dia masih hidup atau meninggal aku tidak tahu."
"Siapa? "Kouw-bok..."
Di Bu-tong-pai generasi Bok berada di atas generasi 'Siong'.
Kouw-bok adalah Susioknya Ci-siong dan Yan Cong-thian, katanya ilmu silatnya berada di atas generasi Bok.
Liang-bok Cinjin yang mengasingkan diri juga orang yang eksentrik, karena Kouw-bok tidak disukai oleh gurunya yang98 juga ketua Bu-tong-pai saat itu, maka posisi ketua diberikan kepada Liang-bok Cinjin, karena marah maka Kouw-bok bersembunyi di Gunung Sam-cong, lama dia tidak pernah muncul.
Kebanyakan murid Bu-tong-pai tidak tahu menahu soal orang ini.
Pek-ciok Tojin bisa tahu karena sewaktu dia membereskan barang-barang ketua Bu-tong-pai setelah beliau meninggal dia menemukan buku itu.
Dalam buku catatan Liang-bok Cinjin, beliau selalu memuji Kouw-bok adalah orang yang pintar dan berbakat, serta mempunyai ingatan yang kuat, dalam beberapa generasi murid Bu-tong yang pernah ada dia adalah orang yang paling berbakat dan berhasil.
Ilmu silatnya telah mencapai pada tahap mana?
Apakah beliau mengusai Thian-can-sin-kang atau tidak hal itu tidak tercatat di dalam buku itu.
Pek-ciok Tojin dan Wan Fei-yang merasa aneh.
Sewaktu Yan Cong-thian masih muda dulu mengapa tidak pernah mencari orang itu dan minta petunjuk?
Ci-siong Tojin dan Yan Cong-thian tidak pemah menceritakan orang ini.
Apakah orang itu masih hidup atau sudah meninggal, mereka tidak tahu, tapi jika ingin tahu harus mencari dan bertanya-tanya.
Ini satu-satunya harapan mereka.
Berjalan ke Sam-cong-hong semakin berjalan semakin menanjak, juga semakin berbahaya, tapi semua ini tidak membuat Pek-ciok Tojin dan Wan Fei-yang gentar, sampai di gunung terakhir Pek-ciok Tojin benar-benar merasa kecewa99 karena jurangnya terjal seperti ditepis oleh pedang.
Dia melihat ke bawah, tampak penuh dengan kabut, entah berapa ketinggian gunung ini, yang membuatnya mengeluh adalah karena di jurang itu tidak tumbuh sebatang pohon maupun rumput, maka tidak benda untuk pegangan saat meluncur turun.
"Kalau mengatakan di dasar jurang ini ada yang tinggal, benar-benar sulit dipercaya!"
Pek-ciok Tojin menarik nafas.
"Aku juga merasa curiga tapi kita sudah datang kemari kita harus turun untuk melihat keadaan sebenarnya, Ciang-bun Suheng..."
Pek-ciok Tojin memotong.
"Aku merasa tidak sanggup!"
Dia berkata jujur dan apa adanya, itu adalah alasan mengapa dia disukai oleh angkatan yang lebih tua. Wan Fei-yang juga orang seperti itu, maka mereka bisa mengobrol dengan akrab.
"Tempat ini memang berbahaya, Ciang-bun Suheng masih mempunyai banyak tanggung jawab, jangan menghadapi bahaya seperti ini."
"Sute sudah menguasai Thian-can-sin-kang, jika ingin turun, tidak masalah, hanya saja kau tetap harus berhati-hati!"
"Aku akan berhati-hati, hanya saja di tempat seperti ini mencari seseorang membutuhkan waktu lama, jadi Suheng tidak perlu menunggu di sini!"
"Betul juga, setelah Kiam-sianseng dan lain-lain membuat keributan, murid-murid Bu-tong akan merasa was-was, aku memang tidak bisa berlama-lama meninggalkan Bu-tong-san."
Dia terus menasihati Wan Fei-yang agar berhati-hati setelah itu baru meninggalkan tepi jurang itu.
Setelah Suhengnya jauh, Wan Fei-yang baru menelungkup untuk melihat dengan teliti dasar jurang itu, juga memilih tempat yang cocok untuk meluncur turun ke dasar, dia memang orang yang sangat berhati-hati, bukan karena sudah terkenal dan penting dia menjadi sok, semua itu dilakukannya karena nyawanya seringkali terancam akibat tidak berhati-hati.
Karena tidak berhati-hati dia hampir mati, walaupun tidak sampai mati tapi cukup membuatnya merasa menyesal seumur hidup.
Setelah berpikir selama 15 menit, dia baru mencopot sepatunya, kaki dan tangan digunakan untuk merambat turun.
Tempat yang cocok di-tambah dengan berhati-hati dan berilmu tinggi membuatnya berhasil dengan selamat sampai di dasar jurang.
Dia tidak terus merambat turun, dengan pandangan matanya yang jeli, dia bisa tahu di sana ada yang bersembunyi atau ada tempat untuk bersembunyi.
Dia tidak akan melepaskan hal itu tapi selama dia meluncur turun dari atas tidak ada seorang pun yang dilihatnya.
Semakin turun kabut semakin tebal, pandangan pun semakin pendek, tapi kakinya semakin bisa digeser.101 Setelah turun sejauh 20 tombak, tidak ada orang yang dicarinya, tapi kabut semakin tipis di sana, membuatnya merasa semakin tenang, di dinding jurang terlihat tumbuhan, kemudian dia mencium wewangian.
Wewangian masuk ke hidungnya, dia hampir menaruh curiga dengan penciumannya, kemudian dia merasa gembira, kaki dan tangan semakin cepat bergerak dan meluncur ke bawah.
Tidak lama kemudian dia berhasil melewati kabut dan apa yang muncul di depannya dia tidak hanya melihat dasar jurang, dia juga melihat cahaya yang menancar dari langit.
Di dasar jurang ada sebuah kolam besar, ke dua sisi kolam adalah dinding jurang, di sebelah air terjun adalah dinding jurang, dari sini air kolam mengalir turun.
Air terjun ini sangat unik, air memancar keluar dari sela-sela batu, kemudian masuk ke dalam kolam.
Walaupun terdengar suara air tapi suara itu seperti suara musik, membuat orang merasa nyaman saat mendengarnya.
Di tengah-tengah kolam ada beberapa batu-batuan besar, di atas batu-batuan itu ada sebuah rumah kecil.
Seorang orang tua kurus sedang duduk di depan rumah kecil itu, di atas sebuah batu sedang memanggang ikan.
Wewangian itu ternyata berasal dari ikan panggang yang sedang dipanggang.
Tempat ini benar-benar seperti tempat dewa-dewi.102 Setelah Wan Fei-yang meluncur turun ke bawah dia merasa lebih nyaman lagi.
Setelah melihat sekeliling, dia baru melangkah menuju orang tua itu.
Orang tua itu seperti tidak merasa ada yang datang, dia masih terus membakar ikan.
Sederetan batu yang bermunculan dari dasar kolam menyambung ke batu besar yang ada di rumah kecil itu.
Wan Fei-yang berjalan ke rumah itu dengan meloncati bebatuan.
Orang tua itu tidak bereaksi tapi setelah Wan Fei-yang tiba di depan rumah, dia baru bertanya.
"Apakah kau murid Bu-tong?"
Nada bicaranya tidak begitu tinggi tapi sangat jelas.
"Boanpwee murid Bu-tong-pai!"
Wan Fei-yang men-jawab dengan sikap hormat.
Orang tua itu menoleh, kepalanya hampir botak, hanya tersisa beberapa helai rambut berwarna abu keputihan, wajahnya penuh dengan keriput, tapi tidak memberikan kesan bahwa dia sudah tua, hanya terlihat dia seperti malas-malasan.
Saat Wan Fei-yang melihat ke arahnya, dia jadi benar-benar ingin berbaring di atas batu itu, melempar semua kepusingannya lalu dengan nyaman tidur dulu di sana.
"Kau masih muda!"
Kata orang tua itu sambil tertawa.
"dengan usiamu yang masih begitu muda bisa berlatih hingga mencapai tahap seperti ini benar-benar jarang ada!"
Setelah itu tiba-tiba saja dia tertawa.103
"Aku masih saja bicara seperti itu!"
"Boanpwee tidak mengerti!"
Wan Fei-yang terpaku. Orang tua itu seperti teringat sesuatu yang membuatnya gembira, lalu dengan riang berkata.
"Aku tinggal di sini selama puluhan tahun dan terisolasi dengan dunia luar, tapi pola pikirku dengan saat baru pindah ke mari tidak ada bedanya, sampai sekarang aku baru mengerti apa yang disebut dengan istilah mendarah daging, jika ingin berubah, tidak gampang."
"Maksud Lo-cianpwee tinggal di sini adalah untuk menghindar dari keramaian dan hidup sendiri, hidup dengan banyak orang sebenarnya sama!"
"Awalnya memang terasa berbeda!"
Kata orang tua itu lantas tertawa.
"Awalnya karena sifatku yang keras, aku benci dengan sifat manusia yang egois, maka aku ke mari, terakhir Yan Cong-thian meluncur turun kemari, aku baru sadar kalau aku juga mempunyai banyak kekurangan dan membuat orang jadi benci kepadaku, kemudian aku melihat semua orang sama. Asalkan kebaikannya lebih banyak dari sifat buruk-nya, itu sudah cukup!"
"Kapan Yan-supek ke mari?"
Tanya Wan Fei-yang.
"Kau memanggilnya Supek? Kalau begitu kau harus memanggilku Susiok-kong!"
Sewaktu Wan Fei-yang ingin mengatakan sesuatu, tiba-tiba orang tua itu bertanya.
"Sekarang kau pasti tahu siapa aku?..." 104 Wan Fei-yang mengangguk, orang tua itu menggelengkan kepala.
"Kayu yang sudah lapuk, tidak bisa diukir, Kouw-bok (kayu yang lapuk) juga seperti itu."
Tidak diragukan lagi maksud Kouw-bok adalah dirinya, dia berkata lagi.
"Jika dihitung-hitung saat Yan Cong-thian datang kemari sudah ada 30 tahun yang lalu, apakah hatinya masih dipenuhi dengan kebencian?"
"Dia tidak pernah membicarakan tempat ini, aku baru tahu tempat ini tadi pagi!"
"Dia memberitahumu tapi mengapa dia sendiri tidak turun bersamamu?"
"Bukan dia yang memberitahu!"
Wan Fei-yang akhirnya menjawab.
"setahun yang lalu Yan-supek sudah..."
"Meninggal?"
Potong Kouw-bok. Wan Fei-yang hanya mengangguk. Kouw-bok terpaku, lama baru bicara.
"Yang pantas mati tidak mati, yang tidak pantas mati malah meninggal terlebih dulu!"
"Siapa yang pantas mati? "Tentu saja aku!"
Kouw-bok menatap Wan Fei-yang.
"otakmu seperti tidak berputar, bisa dikata kan kau bodoh, tapi itu pun belum tentu tidak baik, manusia kalau terlalu sempurna malah akan cepat meninggal!"
Kouw-bok bertanya lagi.105
"Saat aku masih muda dulu, aku benci pada masyarakat dan adat istiadat, aku juga orang yang fanatik, jiwaku sempit, banyak hal yang tidak aku setujui, bahasaku pun tidak sopan. Setelah turun ke mari dan hidup beberapa puluh tahun di sini, aku baru bisa menjadi seperti ini, tulang dan ototku menjadi malas, aku tidak tertarik untuk meninggalkan tempat ini, katakan saja orang seperti diriku ini apa ada gunanya, lebih baik aku cepat mati!"
Kouw-bok melanjutkan lagi.
"Tapi aku jarang sakit, mungkin aku bisa hidup sampai seratus tahun lebih!"
"Di Bu-tong-pai banyak murid berbakat, setelah kau dekat denganku, aku baru tahu?"
"Tecu sudah bersalah!"
"Apa kesalahanmu?"
Tanya Kouw-bok, dia tertawa lagi.
"dulu sewaktu Yan Cong-thian ke mari masih di dinding jurang saja aku sudah merasakan kehadirannya."
"Sekarang kalau bukan karena ilmu silatku yang sudah mundur pasti karena ilmu silatmu lebih tinggi dari Yan Cong-thian!"
"Yan-supek..."
"Kau bukan orang yang senang bicara sungkan, jika ada yang ingin kau sampaikan, katakan saja!"
"Tecu datang demi Thian-can-sin-kang!"
"Aku sudah menduganya, dulu Yan Cong-thian turun ke mari pun karena hal itu, sekarang kau turun kemari pun dengan keinginan sama, sudah berapa tahun berlalu tapi106 mengenai Thian-can-sin-kang kalian masih tidak bisa melupakannya. Apakah kalau tidak ada Thian-can-sin-kang, di dunia persilatan Bu-tong-pai tidak bisa berdiri dengan kepala tegak?"
"Kali ini Tecu mengalami kesulitan tersendiri maka dengan terpaksa datang ke mari!"
"Kalau begitu, kau turun ke mari bukan karena ingin bertanya kepadaku bagaimana cara berlatih Thian-can-sin-kang?"
"Tecu sudah menguasainya!"
"Apa? Kau sudah menguasai ilmu itu? Kau sudah tahu rahasia yang ada di dalamnya?"
"Tecu..."
Kata-kata Wan Fei-yang belum selesai, Kouw-bok sudah menyambung.
"Pantas gerakan tubuhmu begitu ringan, bagaimana dengan Yan Cong-thian?"
"Yan-supek juga sudah berhasil!"
"Dengan cara apa kalian bisa berhasil?"
"Karena terluka parah ilmu silat Yan-supek musnah, dalam keadaan mati suri lalu dimasukkan ke dalam peti mati dan dikubur, akhirnya dia bisa hidup kembali..."
"Itulah jurus ulat sutra membuat kepompong untuk mengikat diri, dan berubah membentuk nyawa baru, ini pun cara berlatih Thian-can-sin-kang!"
Kata Kouw-bok lagi.
"apakah kau juga seperti itu?"107
"Tecu berhasil menguasai Thian-can-sin-kang karena ada seseorang yang gagal berlatih ilmu ini lantas dia mengalirkan tenaga dalamnya kepadaku, tidak sengaja malah berhasil."
"Mengupas kepompong mengambil sutranya untuk kebaikan dan bekerja keras tapi sama sekali tidak ada hasilnya, melihat orang lain baru melihat ada hasil. Perasaan setelah menang malah tidak enak, kau bisa bertemu dengan orang seperti itu, itulah nasib baikmu!"
Wan Fei-yang mengangguk, Kouw-bok berkata lagi.
"Bermacam-macam cara bisa dilakukan akhir nya bisa mendapat hasil yang sama, dua cara ini adalah cara lurus dan bisa berhasil, pantas untuk diberi selamat!"
"Apakah ada cara lain?"Wan Fei-yang bertanya kepada Kouw-bok dengan penuh rasa curiga.
"Setahuku paling sedikit masih ada satu cara lagi, tapi semua cara itu sulit untuk berhasil."
Dia balik bertanya.
"apakah kalian hanya tahu dua cara ini?"
Wan Fei-yang mengangguk, tiba-tiba Kouw-bok berkata sambil tertawa sendiri.
"Kedua cara ini terlihat seperti cara lurus, gurumu benar-benar bersusah payah!"
Tiba-tiba dia seperti tersadar dan bertanya.
"Setelah berhasil menguasai Thian-can-sin-kang, apakah ada hal-hal aneh yang muncul?"
"Pada bagian mana?"
Tanya Wan Fei-yang.
"Apakah ada orang yang memaksa ingin tahu mengenai Thian-can sin-kang?"108
"Apakah Thian-can-sin-kang aslinya bukan milik Bu-tong?"
Kouw-bok tertawa, tawanya mengandung nada misterius dan sedih.
"Kalau Thian-can-sin-kang milik Bu-tong, aku tidak akan bersembunyi di sini."
Wan Fei-yang melihat Kouw-bok, dia tahu apa yang Kouw-bok katakan adalah kenyataan, sewaktu dia ingin bertanya lagi, Kouw-bok sudah menyela.
"Apakah ada masalah yang muncul dan ada hubungannya dengan Thian-can-sin-kang?"
"Sebenarnya itu adalah masalah pribadi, tapi karena Tecu murid Bu-tong dan Thian-can-sin-kang adalah milik Bu-tong..
"Katakan lebih jelas!"
Kouw-bok menyela lagi.
Wan Fei-yang menceritakan semua kejadian nya dengan teliti dan detail, Kouw-bok juga mendengar dengan hati-hati dan seksama.
Tawa di sudut mulutnya semakin terlihat kecut.
Setelah selesai bercerita, dia menarik nafas panjang.
"Inilah kehendak Langit.. Wan Fei-yang masih menunggu kata-kata berikutnya, tapi dia masih terus terdiam. Lama... baru menarik nafas lagi.
"Rahasia dunia tidak bisa ditutupi selamanya!"
"Rahasia apa?"109
"Rahasia Thian-can-sin-kang! Rahasia ini sudah lama tertutup akhirnya tetap harus dibongkar, sekarang kau terpaksa harus mencari tahu sendiri, kalau tidak, kau tidak akan bisa memberikan penjelasan yang pantas kepada mereka. Tapi yang pasti ada cara lain, kalau kau mau lepas tangan pada persoalan ini kau harus mencari tempat seperti ini untuk bersembunyi."
"Tapi Tecu adalah murid Bu-tong, aku sudah berhutang banyak pada Bu-tong..."
"Tidak perlu berkata seperti itu, aku telah melihat sendiri kau orang seperti apa,"
Kouw-bok melayangkan tangan, dia menarik nafas lagi.
"Rencana Langit terus bergulir, kalau Thian-can-sin-kang memang bisa membuat Bu-tong-pai berjaya di dunia persilatan, Thian-can-sin-kang akan tenggelam dari dunia persilatan, aku rasa itu sangat wajar!"
"Kalau Thian-can-sin-kang milik perguruan lain, mengapa..."
"Sekarang bukan hanya sudah muncul, dari ceritamu tadi keinginan lawan sangat besar. Kalau kau tidak mencari tahu, aku percaya lawan akan berhasil melakukan kejahatannya di dunia persilatan, waktu itu apa yang menimpa dirimu akan jadi jelas dan ilmu lweekang yang dicuri Bu-tong-pai dari aliran lain, juga akan terbongkar!"
Kouw-bok menggelengkan kepala dan tertawa kecut.110
"Dulu aku kabur dan bersembunyi di sini karena aku tidak ingin menghadapi masalah ini, aku lari dari kenyataan, tidak disangka sampai sekarang tetap saja harus…"
"Tecu yang salah..."
Wan Fei-yang dengan jujur dan takut-takut berkata.
"Ini adalah kehendak Langit, kita tidak bisa menghindarinya, aku adalah murid Bu-tong, yang pasti aku akan memberikan apa yang terbaik untuk Bu-tong!"
"Sekarang apa yang harus Tecu lakukan?"
Dengan hormat Wan Fei-yang pun bertanya.
"Kau harus tahu duduk permasalahannya maka kau akan tahu bagaimana cara menghadapinya, apakah bisa diselesaikan atau tidak, tergantung jodohmu dengan Bu-tong-pai!"
"Tecu mengerti!"
Wan Fei-yang mulai tahu bahwa Bu-tong-pai telah melakukan kesalahan. Lama... Kouw-bok mulai bercerita lagi.
"Asal Thian-can-sin-kang sebenarnya adalah ilmu lweekang dari Mo-kauw ditambah dengan ilmu dukun dari suku Biauw!"
Wan Fei-yang terpaku, Kouw-bok seperti bicara sendiri.
"Apa yang telah terjadi sepertinya guruku baru mengerti, aliran gaib ini masuk ke Tionggoan, ketika dunia persilatan Tionggoan sedang lesu, kacau, dan lemah, banyak pesilat-pesilat melarikan diri ke tempat terpencil. Salah satunya ada yang lari ke perbatasan suku Biauw, di sana orang itu menemukan rahasia ilmu gaib dan dia menggabungkan ilmu111 gaib itu dengan ilmu lweekang Mo-kauw, menjadikannya sebuah ilmu lweekang yang aneh, tapi waktu itu dia sudah terlalu tua dan umurnya sudah di ujung tanduk, terpaksa dia mengukir ilmu itu di sebuah dinding batu dengan bahasa India. Orang-orang suku Biauw melihat ilmu lweekang ini sangat tinggi mereka jadi menganggap dirinya dewa, tapi karena keterbatasan bakatnya, dia hanya menguasai ilmu ini saja. Saat dia mengukir ilmunya, dia sedang dalam kecewa berat, dia berharap kelak akan ada orang menemukan rahasia ini dan bisa mengembangkan ilmu ini"
"Waktu itu orang-orang Biauw belum bisa menerima kebudayaan Tionggoan, apa lagi bahasa India! Maksudnya adalah.."
Kata Wan Fei-yang.
"Pengetahuan orang itu akan kebudayaan Tionggoan pun terbatas, ilmu lweekangnya begitu hebat, kalau dia tidak mengukir menggunakan bahasa yang paling dia kuasai, mana mungkin bisa mengungkapkannya? Maka setelah dia mati selama beberapa tahun, suku Biauw masih tidak tahu apa arti tulisan yang terukir di dinding. Sampai guru-ku..."
"Apakah dia orang Biauw?"
"Mana mungkin!"
Kouw-bok tertawa.
"kau harus tahu dalam memilih murid, Bu-tong-pai sangat ketat!"
Tentu saja Wan Fei-yang pun tahu hal ini, kalau tidak ketat, dulu dia tidak perlu belajar secara bersembunyi di malam yang larut. Kouw-bok berkata lagi.112
"Kebetulan Suhu menolong seorang ketua dari suku Biauw, maka di suku Biauw, Suhu dianggap sebagai tamu terhormat, suatu kali tidak sengaja dia menemukan dinding batu itu, walaupun dia seorang tosu dan ketua Bu-tong-pai yang terhormat, tapi dia tetap seorang manusia. Dia juga seorang pesilat, hati seorang pesilat jika menemukan sebuah ilmu silat hebat, dia pasti tidak akan bisa menguasai diri lagi."
"Apakah diam-diam Sucouw belajar ilmu itu?"
Tanya Wan Fei-yang.
"Awalnya dia diam-diam belajar ilmu silat ini, belakangan dia mengetahui bahwa orang-orang Biauw tidak tahu pentingnya huruf yang terukir di dinding, berarti tidak ada seorang pun yang mengenal bahasa India. Dia baru merasa tenang, tapi demi menghindari orang-orang Biauw menaruh curiga kepadanya, diam-diam dia menuliskan kembali apa yang ada di dinding itu kemudian mencari alasan meninggalkan perbatasan Biauw."
"Tidak bertanya dulu langsung mengambil ilmu itu, apa bedanya dengan perampok? Seumur hidup Suhu bersifat jujur, setia, dan lurus, hanya karena masalah ini...."
Dia tidak meneruskan kata-katanya tapi Wan Fei-yang mengerti pikiran Kouw-bok, dia bertanya.
"Susiok-kong menganggap apa yang dilakukannya benar?"
"Seharusnya dia memberitahu suku Biauw, paling sedikit kepada ketua sukunya tapi dipikir-pikir, lebih baik dia tidak113 memberitahukannya, kalau tidak, di antara orang-orang Biauw akan ada yang menguasai ilmu itu..."
Tiba-tiba dia menarik nafas dan merundukkan kepalanya.
"Sebenarnya ini pola berpikir yang sangat egois!"
Wan Fei-yang melihat Kouw-bok.
Akhirnya dia melihat walaupun sudah lama dan tinggal bersembunyi di tempat begini sepi dan terpencil tapi hati Kouw-bok masih belum bisa merasa tenang, tetap terlihat begitu bergejolak!
Kouw-bok pelan-pelan berkata sendiri.
"Suhu setiap hari hidupnya tidak tenang karena merasa telah mencuri barang milik orang lain. Suatu hari, karena mabuk dia membocorkan rahasia ini dan diketahui olehku, karena itu aku benar-benar merasa kecewa atas perilaku Suhu, aku juga menasihatinya dan membuang diriku sendiri ke mari selama beberapa puluh tahun!"
"Ternyata seperti itu!"
Wan Fei-yang kelepasan bicara.
"Aku lahir dari keluarga miskin, aku sudah kenyang merasakan kehidupan dingin dan hangat, Suhu adalah dewa dalam hatiku, coba kau bayangkan setelah mendengar rahasia ini apakah aku tidak merasa kecewa dan kehilangan jati diri!"
Wan Fei-yang mengangguk tanpa suara. Kouw-bok berkata lagi.
"Kita kesampingkan mengenai permasalahan pencurian, terhadap ilmu lweekang itu, Suhu sudah mencurahkan banyak jerih payahnya, cara berlatih ilmu ini adalah dengan cara sesat dan gaib, setelah diubah oleh Suhu, ilmu ini114 hampir mendekati ilmu ortodok, paling sedikit aliran Mo-kauw dan gaibnya, jadi tidak terlihat ada cara gaib dan dukun di perbatasan Biauw, juga tidak ditemukan di dalamnya ada ilmu gaib."
Wan Fei-yang mengangguk.
"Sebenarnya sampai sekarang pun tidak ada yang tahu!"
"Tapi tetap merupakan ilmu hasil curian!"
Kata Kouw-bok.
"Rahasia ini..."
Baca Juga: Walet Besi Cu Yi
Baca Juga: Walet Besi 4