Eps 2 Kembalinya Ilmu Ulat Sutera - Huang Ying
Baca online Kembalinya Ilmu Ulat Sutera - Huang Ying
Cersil Kembalinya Ilmu Ulat Sutera - Huang Ying.
"Yang tahu hanya Suhu dan aku, hari kedua setelah Suhu mabuk, dia segera tersadar, aku menuntut penjelasan kepadanya, Suhu baru tahu saat dia mabuk rahasianya telah bocor, tapi dengan begitu dia malah mendapatkan orang yang bisa membuatnya melampiaskan kerisauan hatinya. Paling sedikit dia mempunyai 10 alasan untuk menjelaskan mengapa dia mencurinya. Singkat kata, dia tidak rela melepaskan ilmu lweekang ini, aku percaya Suhu pun tidak akan menggunakan ilmu ini secara sembarangan, dia juga akan berhati-hati dalam memilih orang untuk diwariskan ilmu lweekang ini, tapi aku selalu menganggap Suhu tetap harus memberikan penjelasan."
"Bagaimana dengan murid-murid Bu-tong?"
"Masih ada tetua Biauw yang tinggal di perbatasan Biauw, tentang teman dunia persilatan,"
Kouw-bok menggelengkan kepala.
"sebenarnya aku sedikit keras kepala juga terlalu emosi, aku harus memikirkan akibat dari rahasia ini jika sampai bocor. Bukan hanya nama Suhu dan115 perguruan Bu-tong yang tercemar, juga akan mengakibatkan terjadinya musibah besar. Selama beberapa tahun ini aku berpikir sangat banyak, ilmu gaib dan ilmu Mo-kauw bukan ilmu lurus, tapi kalau bisa dibawa ke jalan lurus dan digunakan dengan benar, mengapa kita tidak melakukannya?"
"Maksud Tecu juga seperti itu,"
Kata Wan Fei-yang.
"Mungkin Mo-kauw tidak berniat baik, ilmu lweekang dari Mo-kauw dan ilmu gaib adalah ilmu miring, jika dicampur menjadi satu akan menjadi sangat jahat. Kalau diketahui oleh orang sesat dan mereka ikut berlatih, akibatnya sulit dibayangkan! Kouw-bok tertawa kecut.
"Kadang-kadang aku berpikir seharusnya Suhu menghancurkan dinding batu berukir ilmu lweekang itu!"
Wan Fei-yang mengangguk, tapi Kouw-bok tertawa kecut.
"Tapi kalau Suhu bisa melakukan hal seperti itu, dia tidak akan belajar secara diam-diam ilmu lweekang itu, dan tidak akan merasa itu menjadi sesuatu yang menjadi pikiran di dalam hatinya!"
Wan Fei-yang menyela.
"Ilmu lweekang Mo-kauw itu dengan cara apa dipelajarinya?"
"Katanya Suhu harus mengumpulkan 5 jenis serangga yang paling beracun, kemudian membiarkan mereka saling membunuh, yang tersisa dan hidup dan yang paling beracun116 disimpan untuk melatih ilmu itu, sebenarnya seperti apa aku tidak tahu jelas!"
"Sepertinya ada yang berhasil berlatih ilmu ini di perbatasan Biauw!"
"Kalau berhasil dia tidak akan bersembunyi, dia membunuh pesilat-pesilat tangguh dan menculik ketua Tong-bun, mungkin semua itu untuk melatih ilmu sesat ini!"
"Dia sanggup membunuh pesilat-pesilat tang guh, berarti dia sudah menguasai ilmu silatnya lumayan tinggi..."
Kata Wan Fei-yang.
"Kalau dia masih belum merasa puas, berarti dia adalah orang yang sangat berambisi, kalau dia tidak muncul, mungkin kita bisa tenang kalau tidak, akan menjadi sebuah musibah besar! "
Dibandingkan rahasia Thian-can-sin-kang, nama baik Bu-tong lebih penting!"
Kata Wan Fei-yang.
"ada kemungkinan dia mempunyai tujuan lain, mungkin untuk mengetahui rahasia Thian-can-sin-kang."
"Ini satu-satunya yang bisa kita jelaskan!"
"Mungkin dia tidak tahu bahwa Susiok-kong mengetahui rahasia ini!"
"Seperti apa cara melatih Thian-can-sin-kang?"
"Pada bagian akhir biasanya dituturkan dari mulut ketua dan tidak tercatat di dalam buku!"
"Ini adalah cara yang baik!"
"Tapi Sucouw diserang diam-diam oleh musuh sebelum beliau sempat menjelaskan, beliau sudah menghembuskan117 nafas terakhirnya, maka Thian-can-sin-kang bisa dikatakan sudah tidak ada pewarisnya lagi!"
"Pantas Yan Cong-thian datang kemari dan meminta aku mengajarkan rumus Thian-can-sin-kang kepadanya! Seharusnya aku memberikan kesempatan kepadanya dan menjelaskan, tapi waktu itu, begitu mendengar kata-kata Thian-can-sin-kang aku jadi marah, tanpa basa-basi aku mengusirnya!"
"Karena rumus terakhir sudah hilang, maka setelah Sucouw tidak ada yang menguasai Thian-can-sin-kang, Yan-supek menabrak kesana kemari akhirnya berjodoh dan memiliki kesempatan, dia berhasil menguasainya."
"Mungkin ini kehendak Langit, dia tahu musibah akan datang, dan mengutuk Bu-tong-pai bertangung jawab untuk menolong!"
"Kehendak Langit sulit diduga!"
Kata Wan Fei-yang.
"Betul, aku begitu kukuh bukan untuk hari ini saja,"
Kouw-bok menarik nafas panjang.
"Kalau bukan karena bertemu secara tidak sengaja dengan Susiok-kong, Tecu tidak akan tahu banyak tentang hal ini dan sulit mengambil keputusan!"
"Apakah kau akan berangkat ke perbatasan suku Biauw?"
"Sebelum lawan muncul, inilah satu-satunya cara, bagaimana pendapat Susiok-kong..."
"Hanya ada jalan ini! Bagaimana keadaan Bu-tong-pai sekarang ini?"118
"Butuh waktu panjang untuk memulihkan keadaan Bu-tong-pai!"
"Pohon besar mengundang angin besar, punya nama besar di dunia persilatan menarik banyak perhatian sehingga menimbulkan keruwetan, ini bukan hal yang baik!"
Kata Kouw-bok.
"Salah satu alasannya adalah Thian-can-sin-kang!"
"Inilah kenyataan sebenarnya, kalau bukan karena Thian-can-sin-kang, Bu-tong-pai dan Bu-ti-bun tidak akan bermusuhan. Siau-yau-kok dan Bu-tong-pai juga tidak akan terjadi permusuhan. Tapi mengapa Bu-tong-pai bisa menjadi perguruan pertama yang diserang oleh Mo-kauw?"
Tanya Wan Fei-yang.
"Itu benar-benar kehendak Langit!"
"Tecu berharap masalah kali ini langsung ditujukan kepadaku dan tidak ada hubungannya dengan Bu-tong!"
Kata Wan Fei-yang.
"Yang mati dan yang menghilang adalah orang-orang dari perkumpulan lurus, kalau tidak, kau sulit untuk menjelaskannya, mungkin Bu-tong-pai akan menghadapi masalah lagi!"
"Dari sini kita bisa menduga, musuh adalah orang dari Mo-kauw, tapi Tecu curiga dia sudah tahu rahasia Thian-can-sin-kang!"
Kata Wan Fei-yang.
"Kau curiga kalau dia akan memancingmu datang ke perbatasan suku Biauw?"119
"Mungkin hanya ingin membuat Tecu meninggalkan Bu-tong-san!"
Jawab Wan Fei-yang.
"Tapi kau harus pergi ke perbatasan Biauw! Apakah di Bu-tong-pai tidak ada yang bisa diandalkan?"
"Masih ada satu orang lagi!"
Wan Fei-yang segera berlutut di depan Kouw-bok.
"Apakah tulang lapuk ini masih bisa digunakan?"
Tanya Kouw-bok sambil tertawa.
"Tecu tidak akan salah lihat, ilmu lweekang Susiok-kong sudah berada di puncaknya!"
"Ilmu lweekang perguruan sendiri tidak sulit untuk dikuasai, kalau tidak menguasai dengan benar, hidup ini percuma saja!"
Wan Fei-yang tahu kekerasan kepalanya, dia tetap tidak mengakui Thian-can-sin-kang adalah ilmu lweekang Bu-tong-pai, tapi dia pun tahu kalau ini bukan hal jelek, maka dia hanya berkata.
"Murid-murid Bu-tong butuh petunjuk dari Susiok-kong!"
Kouw-bok melihat rumah kecilnya.
"Aku juga murid Bu-tong, juga pernah menerima kebaikan Bu-tong. Tadinya aku tidak tahu keadaan Bu-tong, sekarang aku sudah jelas, mana mungkin aku akan berpangku tangan hanya melihat saja?"
Wan Fei-yang berlutut lagi, Kouw-bok segera memapahnya berdiri.
"Aku paling tidak suka dengan aturan ini!" 120 Wan Fei-yang bisa menangkap sinyal dari Kouw-bok. Dia berdiri, Kouw-bok melihat rumah batu kecilnya. Kemudian dia bersiul, seperti seekor burung terbang keluar dan turun di atas rumah kecil itu. Rumah kecil itu segera roboh. Kouw-bok lalu terbang kembali ke depan Wan Fei-yang.
"Susiok-kong..."
Wan Fei-yang merasa aneh.
"Apakah kau menyangka kalau aku akan kembali lagi ke mari?"
Wan Fei-yang ingin mengatakan sesuatu tapi Kouw-bok sudah menggelengkan kepala.
"Begitu masuk dunia persilatan, kita sudah tidak bisa menguasai diri kita lagi!"
"Tecu..."
Wan Fci-yang terkejut. Kata-kata berikutnya belum terucap, Kouw-bok sudah memotong.
"Manusia harus menghadapi kenyataan, aku sudah terlalu lama lari dari kenyataan, apa lagi sekarang aku sudah tua, tidak ada hal yang membuatku merasa menyesal!"
Dia mengambil ikan panggang lalu mengigit-nya dan dia pun tertawa.
"Di dunia ini tidak ada ikan bakar seenak disini!"
Wan Fei-yang mengambil ikan bakar lainnya.
"Hanya mencium aromanya saja tecu sudah tahu!"
"Tidak penting juga,"
Kouw-bok berkata sendiri.
Katanya kalau orang tua perasaannya makin bertambah, barang yang membuatnya rindu juga makin banyak!121 Sepanjang jalan Kouw-bok terus menghela nafas, dia turun ke dasar jurang sudah puluhan tahun, maka menghadapi permasalahan pun pasti sudah tidak sama.
Setelah terjadi kebakaran besar-besaran Sam-goan-kong sekarang sudah dibangun kembali, yang pasti tidak bisa kembali ke wajah semula.
Murid-murid Bu-tong-pai yang ditemuinya semua terasa asing.
Sorot mata murid-murid Bu-tong-pai saat melihat Kouw-bok terlihat asing dan heran, hanya sorot Pek-ciok Tojin yang berbeda.
Pek-ciok Tojin terkejut sekaligus senang, dia benar-benar tidak menyangka Kouw-bok masih hidup dan terlihat sehat, juga bisa datang karena diundang Wan Fei-yang.
"Menjadi ketua perguruan harus mempunyai ilmu silat yang bagus!"
Ini kata-kata Kouw-bok kepada Pek-ciok Tojin.
Dia sudah melihat ilmu silat Pek-ciok Tojin tidak begitu bagus.
Murid-murid Bu-tong yang lain malah lebih bagus dari Pek-ciok Tojin, tapi tidak berbeda jauh, hanya Wan Fei-yang yang bisa dikatakan bagus.
Dia mulai mengerti ucapan Wan Fei-yang dan merasa lega, tidak salah mengambil keputusan ikut dengan Wan Fei-yang.
Hal pertama yang dia lakukan adalah mengatur kembali latihan-latihan murid-murid Bu-tong, setelah puluhan tahun memperdalam ilmu silat Bu-tong, murid Bu-tong mana yang bisa dibandingkan dengannya.122 Maka dengan tenang Wan Fei-yang pergi ke perbatasan Biauw.
Masuk gunung masuk kepegunungan.
keluar hutan, masuk kota Setelah hari ke-3, sekarang Wan Fei-yang berada di sebuah jembatan yang terbuat dari tali besi yang menghubungkan 2 jurang.
Jurang terjal seperti ditepis, di dasar jurang ada air yang mengalir dengan deras, begitu menginjak jembatan tali itu terasa getarannya.
Wan Fei-yang mempunyai perasaan lain, setiap kali berada dalam bahaya perasaan seperti ini akan muncul.
Kali ini perasaan yang memperingatkannya datang terlambat, sesudah berada di dalam tengah-tengah jembatan tali besi itu.
Di depan dan belakangnya, jarak dengan jurang terjal satunya lagi adalah 14 tombak lagi.
Dia berhenti melangkah, melihat ke depan dan belakang, seseorang sudah muncul, mereka seperti murid-murid Tong-bun.
Muncul pula Tong Ling berbaju merah dan ditambah dengan jubah merah seperti api.
"Wan Fei-yang, kau kira diam-diam bisa meninggalkan tempat ini dan akan menyelesaikan masalah?"
Nada bicara Tong Ling keras seperti api. Wan Fei-yang menggelengkan kepala.123
"Nona Tong, aku meninggalkan tempat ini untuk mencari kebenaran mengenai masalah ini!"
"Kalau kau mau menghadapi masalah ini dan mengaku telah membunuh serta mau melepaskan Kongkongku, semua kuanggap beres!"
"Kukira Tong-bun akan memberi kesempatan kepadaku?"
"Memberi kesempatan padamu untuk kabur, apakah kau kira kami bodoh seperti perkumpulan-perkumpulan yang katanya perkumpulan lurus?"
Wan Fei-yang tertawa, Tong Ling menatapnya, dan terlihat marah.
"Apa yang kau tertawakan?"
"Aku sudah pernah bertemu dengan orang yang lebih keras kepala dari Nona, tidak disangka aku tetap saja merasa aneh!"
"Dalam keadaan seperti ini kau masih bisa tertawa, aku benar-benar kagum padamu!"
"Dengan cara apa Nona akan menghadapi-ku?"
Wan Fei-yang balik bertanya.
"Kami akan memotong tali jembatan ini kemudian akan memanahmu, membiarkan kau di tengah udara dan tidak bisa menghindar, dengan cara apa kau akan mengatasi serangan kami?"
"Dengan jarak sejauh ini jika dipanah pun panahnya tidak akan bertenaga, apa lagi jembatan ini akan jatuh, apa gunanya dipanah?"
"Jika kau jatuh ke jurang di dasar jurang terdapat air yang mengalir deras. Tapi jika tali besi dan jembatan ini jatuh, jembatan tidak akan tenggelam, berarti aku sudah tepat memilih tempat!"
Wan Fei-yang tertawa.
"Jika tempat ini cocok bagi kalian supaya bisa membunuhku pun apa gunanya?"
"Aku tidak percaya orang seperti dirimu menganggap kematian hanya masalah kecil, jadi menjelang mati lebih baik kau bicara jujur!"
"Sepertinya apa yang kau katakan tidak akan ada gunanya, terserah apa yang ingin Nona lakukan!"
Tong Ling tidak banyak bicara lagi, tangannya melambai, murid-murid Tong-bun sudah mendekat.
Wan Fei-yang berputar tapi tidak bergeser, sebab dia melihat di atas jembatan ini kemana pun bergeser tidak ada bedanya, lebih baik melihat dulu situasi yang berlangsung baru mengambil keputusan!
Dia juga bersiap jika ada murid Tong-bun yang akan memotong jembatan hingga putus.
Tong Ling sekali lagi melayangkan tangan, Wan Fei-yang melihat dengan jelas, dia segera mengumpulkan tenaga dalamnya dan bersamaan waktu panah melesat dari ke dua sisi jembatan.
Dengan kekuatan penuh panah tiba di depan Wan Fei-yang, dan masih mengandung tenaga besar, jika dia tidak bergerak mungkin dia akan menjadi seekor landak.125 Wan Fei-yang bergerak seperti kelinci, lalu berputar ke bawah jembatan, mengambil semua papan dan meloncat lagi ke tengah udara.
Panah terus berdatangan tapi sama sekali tidak menjadi ancaman bagi Wan Fei-yang.
Tong Ling tidak menyangka sama sekali Wan Fei-yang bisa menggunakan cara seperti itu mengatasi serangan panah.
Waktu itu Tong Ling tidak tahu harus berbuat apa, tapi panah sudah dipersiapkan lagi, panah serangan pertama sudah dilepaskan, panah kedua langsung bersiap.
Melihat Wan Fei-yang tidak ada di atas jembatan, tidak perlu diperintah lagi, mereka bersiap-siap menyerang.
Wan Fei-yang tidak kembali ke atas, dia membawa papan-papan jembatan itu dengan kedua tangannya, berjalan ke arah Tong Ling.
Semua murid Tong-bun melihatnya dan mereka menjadi panik.
Murid-murid Tong-bun yang ada di sebelah Tong Ling terus melihat Tong Ling.
Tong Ling segera mengambil keputusan, sekali lagi tangannya diayunkan, lalu dia berlari seperti burung walet ke atas jembatan.
Murid-murid Tong-bun segera mengikutinya dari belakang, mereka tetap membawa panah, saat tiba di tengah jembatan, mereka segera mencengkeram tali besi jembatan untuk melihat ke bawah.
Gerakan Wan Fei-yang memang cepat, tapi belum separuh jalan dia sudah dicegat, panah seperti, hujan126 dilepaskan ke arahnya, dia menggantung di bawah jembatan, keadaannya tambah berbahaya.
Tapi reaksinya sangat cepat, dia seperti kincir angin naik kembali ke atas jembatan, karena kembali ke atas membuat tali jembatan terus bergoyang-goyang.
Sebelah tangan murid-murid Tong-bun memegang tali besi dan sebelah lagi membawa anak panah, goyangan tali besi tidak mengganggu gerakan mereka.
Tong Ling tidak sama dengan mereka, dia seperti bisa memperhitungkan semuanya, Saat Wan Fei-yang akan kembali ke atas jembatan, ke dua tangannya sudah menggenggam banyak senjata rahasia dan siap dilemparkan.
Saat Wan Fei-yang kembali dari bawah jembatan, senjata rahasianya segera dilemparkan, tubuhnya mengikuti arah lemparan terus bergerak seperti seekor kupu-kupu yang sedang menari.
Wan Fei-yang dari awal sudah melakukan persiapan, ke dua tangannya terus mencakar sebenarnya tepat menyambut semua senjata rahasia yang menyerangnya.
Yang tidak bisa disambut, dikelitnya.
Setelah senjata rahasia Tong Ling habis baru dia turun, dia sudah memperhitungkan akan mendarat di atas papan jembatan, tapi karena jembatan terus bergoyang-goyang perhitungannya meleset.
Setelah kakinya menginjak tali besi, tubuhnya tidak seimbang dan langsung terjatuh.127 Di bawah jembatan adalah jurang yang sangat dalam, jika jatuh akan masuk ke dalam arus air sungai yang deras.
Sebenarnya Tong Ling tidak salah memilih tempat, tapi tidak menyangka yang jatuh bukan Wan Fei-yang melainkan dirinya.
Tali besi masih terus bergoyang-goyang, kakinya menginjak tempat kosong.
Tangannya ingin mencengkeram sesuatu tapi tidak kena, sudut matanya terus melihat kalau di bawah adalah air sungai yang sangat deras, dia segera berteriak, waktu itu dia merasa tangannya dicengkeram seseorang.
Pikirannya kosong, begitu merasa ada yang mencengkeram, otomatis dia balas mencengkeram tangan itu.
Dia baru melihat ternyata yang mencengkeram adalah Wan Fei-yang.
Wan Fei-yang hanya menggunakan sebelah kaki mengait ke tali besi itu, tapi dia bisa pada waktu yang tepat mencengkeram tangan Tong Ling, dia menghembuskan nafas lega.
"Kau..."
Hanya kata itu yang keluar dan dia sudah diangkat ke atas jembatan. Murid-murid Tong-bun melihat semua itu dan terpaku. Tong Ling pun terpaku dan bertanya.
"Mengapa kau melakukan semua ini?"
"Nona bisa jatuh ke dasar jurang karena aku, mana bisa aku akan berpangku tangan melihat semua ini!"
"Kita adalah lawan!"
"Kita hanya salah paham saja, kalau di antara dua pihak terjadi luka atau mati hanya akan menambah kesalahpahaman!"
"Kau mengira kalau kau melakukan semua ini maka kami akan percaya kepadamu begitu saja?"
"Aku tidak pernah berharap orang akan percaya kepadaku, aku hanya percaya kalau kesalah pahaman ini suatu hari akan terjawab dengan jelas!"
Mungkin ini pertama kali Tong Ling mendengar dengan hatinya, akhirnya dia bisa menangkap nada bicara Wan Fei-yang, dan tidak ada pilihan lain.
Di benak Tong Ling, Wan Fei-yang adalah orang terkenal, walaupun tidak tinggi hati atau sulit dijangkau, tapi pasti memiliki pembawaan orang terkenal tapi begitu bertemu dengan Wan Fei-yang, kecuali ilmu silatnya yang tinggi, tidak ada bedanya dengan orang biasa.
Kalau orang tidak mengenalnya sulit percaya dia adalah orang terkenal di dunia persilatan, bahkan nomor satu di dunia persilatan.
Dia melihat Wan Fei-yang lagi, Tong Ling tidak merasa Wan Fei-yang sedang berbohong, dia bisa melihat kejujuran yang keluar dari lubuk hati-nya.
Dulu dia selalu bertindak kelewatan, anehnya mengapa sekarang dia mempunyai pikiran seperti itu.
Tapi sikapnya tetap keras dan kaku.
"Kau bilang ini hanya salah paham, apa buktinya?"129
"Kalau ada bukti, masalah ini pasti sudah beres dan aku tidak perlu meninggalkan..."
"Kau ingin bersembunyi di mana?"
"Bukan bersembunyi melainkan mencari bukti!"
"Bukti apa?"
"Bukan aku yang membunuh mereka dan bukan dengan Thian-can-sin-kang!"
"Apakah memang bukan dengan Thian-can-sin-kang?"
Walaupun mata Tong Ling penuh dengan rasa curiga, tapi paling sedikit dia sudah terlihat lebih lemah dibandingkan saat di awal.
"Itu memang benar tapi tidak ada bukti orang maupun barang, tetap saja sulit untuk membuat orang percaya!"
"Kalau kau tidak memberitahu, ke mana kita harus mencari orang itu? Kalau sudah bertemu dengannya, bukankah semuanya bisa menjadi jelas dan bisa dimengerti!"
"Kalau orang itu berniat muncul, dia tidak akan memindahkan malapetaka ini ke tangan orang lain, kalau bukan karena ilmu silatnya belum berhasil, pasti masih ada alasan lain yang harus dia pikirkan!"
"Siapakah dia?"
"Aku tidak tahu!"
"Tapi kau tahu di mana bisa mencarinya bukan?"
Tong Ling mulai menaruh curiga lagi.
"Belum tentu aku bisa bertemu dengannya di sana, aku hanya ingin mengadu nasib, kalau aku bernasib baik130 semuanya akan cepat selesai, kalau tidak, dunia persilatan akan mengalami malapetaka besar!"
Tong Ling mengangguk.
"Dia mencari masalah dengan orang-orang perkumpulan lurus, berarti dia bukan orang baik-baik!"
"Kami juga berpendapat seperti itu!"
"Kau mau ke mana?"
"Biar aku yang membereskan masalah ini!"
"Mengapa seperti itu, kau bicara ragu-ragu dan tidak terus terang!"
"Kalau orang itu bermaksud memindahkan malapetaka ke tanganku, dia pasti akan berpikir aku akan mencarinya ke sana, dan dia akan memasang perangkap!"
"Untuk apa kau berkata seperti itu, kau kira aku takut?"
Tong Ling membereskan rambutnya.
"walaupun harus pergi ke liang naga atau gua harimau, aku tidak takut!"
"Apakah kau benar-benar ingin pergi bersamaku? "
Tanya Wan Fei-yang.
"Keberadaan kakekku belum diketahui apakah dia masih hidup atau sudah mati, sekarang kau sudah tahu di mana tempatnya, mana mungkin aku tidak ikut?"
"Kalau kakekmu benar berada di sana, aku pasti akan berusaha menolong beliau!"
"Kalau kau tidak bisa menolongnya, bagaimana?"
Baru saja kata-katanya keluar, tiba-tiba saja Tong Ling teringat sesuatu, dia menggelengkan kepala.
"kalau kau saja tidak131 sanggup, apa lagi aku, tapi jika aku di sisimu, mungkin aku bisa sedikit membantumu!"
"Memang senjata rahasiamu sangat hebat..."
"Mungkin tidak ada gunanya bagimu, paling sedikit aku bisa menjaga diriku sendiri dan tidak akan membuatmu..."
"Aku tidak bermaksud seperti itu, hanya saja..."
Dia menarik nafas lagi.
"Hanya saja apa?"
Tanya Tong Ling.
"Hal ini berhubungan erat dengan Bu-tong-pai sebisa-bisanya dibereskan oleh murid Bu-tong sendiri!"
"Apakah kau bisa menjelaskannya?"
"Ini menyangkut nama baik Bu-tong! Aku hanya bisa mengatakan itu saja."
Wan Fei-yang pelan-pelan membalikkan tubuh dan mulai melangkah, mata Tong Ling berkedip, dia segera berteriak.
"Apakah kau tidak bisa melihat aku orang seperti apa?"
"Aku tahu Nona pasti bisa menjaga rahasia ini demi diriku..."
"Kalau begitu, apa yang masih kau khawatirkan?"
"Hal ini dimulai dari Bu-tong-pai maka harus murid Bu-tong yang bertanggung jawab, jangan melibatkan orang lain dalam perkara ini!"
"Kalau terjadi hal yang tidak diinginkan..."
Dia berhenti bicara dengan nada penuh penyesalan dia berkata.
"aku tidak sengaja..."
Wan Fei-yang tertawa.132
"Jika waktu yang ditentukan telah tiba dan aku tidak pulang, ketua kami akan mengemukakan masalah ini ke khalayak ramai agar kalangan persilatan bisa waspada. Waktu itu aku percaya orang itu akan muncul ke permukaan!"
"Sebenarnya kau tidak percaya diri kalau kau bisa menang bukan!"
"Kalau tidak untuk apa dengan menempuh bahaya ke sana?"
"Lalu aku bagaimana!"
"Itu bukan masalah percaya tidak percaya!"
Langkah Wan Fei-yang tidak berhenti.133 BAB 4 Tong Ling mengikuti Wan Fei-yang murid-murid Tong-bun menghindar ke kiri dan ke kanan.
Wan Fei-yang menolong Tong Ling saja sudah cukup membuat mereka terkejut, perubahan sikap Tong Ling dianggap wajar-wajar saja.
Karena kesabaran Wn Fei-yang lah membuat sikap mereka kepada Wan Fei-yang tidak ada perasaan benci.
Sebagian malah curiga kalau masalah ini tidak ada hubungan dengannya.
Tong Ling curiga masalah sudah membesar dan dia tidak punya alasan yang tepat dan dia tidak bisa menurunkan gengsinya.
"Aku tidak mau tahu masalah apa pun, ke mana kau pergi aku pasti akan ikut!"
"Apakah kau masih menaruh curiga kepadaku?"
Tong Ling menggelengkan kepala.
"Kongkongku sudah hilang selama beberapa hari, sulit mendapatkan petunjuk, mana mungkin aku berhenti mencarinya?"
"Tapi kali ini kita ke sana..."
"Aku tahu keadaan sangat berbahaya, tapi aku tidak takut, dan kau tidak perlu menanggung tanggung jawab apa pun kepadaku!"
Wan Fei-yang ingin mengatakan sesuatu tapi ditelannya kembali.134
"Apa pun mengenai Bu-tong-pai, aku tidak akan sembarangan membocorkan rahasia kalian, kau bisa tenang!"
"Aku tahu kau pasti bisa menjaga rahasia!"
"Kalau begitu, tunggu apa lagi?"
"Kadang-kadang aku juga seperti itu, walau pun masalahnya tidak penting tapi aku tetap akan menjaga rahasia!"
Tong Ling ke lepasan bicara.
"Kalau kau mati...."
Setelah kata-katanya terucap keluar, dia baru sadar bahwa itu tidak pantas, dengan perasaan menyesal dia berkata lagi.
"maafkan aku, sebenarnya aku tidak bermaksud seperti itu!"
"Semua rahasia tidak bisa selamanya menjadi rahasia, mungkin belum sempat tiba di sana, tapi aku sudah..."
"Lebih baik kau katakan saja."
"Kalau ada yang mencari tahu rahasia Tong-bun, apa yang akan kau lakukan?"
"Pastinya aku tidak akan membicarakannya!"
Tong Ling adalah gadis yang tidak banyak berpikir, setelah menjawab itu dia baru sadar tapi kata-katanya tidak bisa ditarik kembali.
"Ya, seperti itulah!"
Wan Fei-yang sudah melesat seperti anak panah.
"Wan Fei-yang..."
Tong Ling berusaha mencengkeram, tapi hanya mencengkeram tempat kosong, saat dia akan mengejar, Wan Fei-yang sudah berlari sejauh 15 tombak.135 Mata Tong Ling tampak berputar, dia ingin melarang murid-murid Tong-bun mengejar Wan Fei-yang, tapi kata-katanya yang sudah ada di depan mulutnya segera ditelan kembali.
Melihat Tong Ling terdiam, mereka membiar kan Wan Fei-yang meninggalkan mereka.
Wan Fei-yang dengan cepat sudah berada di atas sebuah batu, setelah menoleh dia kembali berlari.
Tong Ling tidak bergerak, 2 orang murid Tong-bun yang berusia separo baya segera mendekat.
"Ketua, mereka menunggu petunjuk Anda."
"Apakah murid-murid Tong-bun yang mengawasi Wan Fei-yang sudah ditarik?"
Dia malah balik bertanya.
"Mereka mengirim kabar melalui burung merpati."
"Pengawasan terhadap Wan Fei-yang dilanjutkan, tapi jangan sampai mengganggunya, lihat dia akan pergi kemana! Ingat itu!"
Perintah Tong Ling.
Murid Tong-bun tidak ingin mengecewakan Tong Ling, mereka bergiliran mengawasi Wan Fei-yang.
Walaupun Wan Fei-yang berilmu sangat tinggi, tapi dia bukan orang berpikiran negatif, dia pun tidak bisa menghindar.
Dia hanya pura-pura tidak tahu tapi diam-diam berusaha menghindari mereka.
Dengan kehebatan ilmu silatnya dia berusaha melepaskan diri dari murid-murid Tong-bun yang mengawasinya.
i136 Sampai terakhir hanya tinggal satu orang yang sanggup membuntutinya, dia adalah murid Tong-bun generasi muda juga mempunyai ilmu meringankan tubuh terbaik, ketua Tong-bun termuda...
Tong Ling!
7 hari sudah berlalu.
Siang hari itu!
Sinar matahari bersinar menembus sela-sela daun di hutan tapi tetap membuat orang merasa dingin.
Pohon besar tumbuh di mana-mana, sebuah jalan kecil berada di sana, katanya itu adalah satu-satunya jalan untuk melewati hutan itu, tapi Tong Ling tidak menyukai jalan ini juga tidak menyukai suasana di sana, tapi dia tidak ada pilihan.
Wan Fei-yang pasti akan berjalan melalui jalan kecil itu, dia harus terus mengawasi Wan Fei-yang, dia harus berada di depannya.
Selama dua hari ini keadaan Tong Ling seperti itu, berada di depan Wan Fei-yang untuk mengawasinya.
Jika Wan Fei-yang menanyakan jalan kepada pejalan kaki lainnya, dia akan segera bertanya kepada orang yang sama, kemudian melalui jalan pintas menunggu Wan Fei-yang di depan.
Dia berusaha untuk berhati-hati, dia juga berusaha agar tidak putus kontak dengan murid-murid Tong-bun lainnya semua mengandalkan kerja kerasnya seorang diri.
Di bawah ada air, saat menginjak air itu, dia seperti masuk ke dalam perangkap, kakinya seperti tidak menginjak bumi.
Tong Ling tidak senang dengan perasaan seperti ini.137 Di depan sedikit genangan air, di atasnya ada sepotong pohon yang sudah layu.
Tong Ling melihat pohon itu dia segera dia berlari ke sana.
Dia ingin mendarat di atas pohon itu, kemudian dengan bantuan batang pohon yang layu, dia bisa melewati genangan air yang banyak itu, tapi baru saja mendarat di atas batang pohon layu itu, pohonnya malah tenggelam.
Ternyata genangan air itu adalah rawa-rawa, Tong Ling segera terjerumus ke dalam rawa-rawa itu, semakin dia berteriak dan memberontak tubuhnya semakin terhisap ke dalam genangan lumpur.
Dia sadar kalau terus memberontak dan meronta, lumpur akan menutupi hingga ke kepalanya, maka dia pun melemaskan tubuhnya walaupun merasa masih terus tenggelam dia pasrah tapi semua itu agak terlambat.
Waktu itu ada seekor ular sanca keluar dari balik semak-semak, dan berenang ke arahnya.
Anehnya ular itu bisa merayap di atas lumpur itu, ular itu tidak tenggelam malah dengan cepat berusaha mendekatinya.
Tong Ling terkejut, ular besar itu sudah membuka mulutnya yang besar, semakin mendekatinya, tiba-tiba terdengar suara dari atas.
Sebuah ranting sepanjang 6-7 kaki sudah melesat dan masuk ke dalam mulut ular besar itu, membuat ular itu terbang ke atas permukaan air dan terpaku di atas pohon.138 Ular itu memuntahkan darah, dan terus memberontak, membuat siapa pun terkejut.
Tong Ling pun terkejut sorot matanya segera mencari-cari lalu dengan senang berteriak.
"Wan Fei-yang!"
Wan Fei-yang sedang berdiri di sana, dia berteriak.
"Sambut..."
Kemudian dia melempar rotan ke arah Tong Ling.
Setelah rotan berada di tangannya dia ditarik oleh Wan Fei-yang, dia bisa terbang ke arah Wan Fei-yang.
Wan Fei-yang mengulurkan tangannya untuk memegang pundak Tong Ling.
Begitu Tong Ling bisa berdiri tegak, dia segera jatuh ke dalam pelukan Wan Fei-yang dan menangis sejadi-jadinya.
Dia memang bersifat keras, tapi baru pertama kalinya dia berkelana di dunia persilatan.
Di Tong-bun dia seperti seorang putri, belum pernah mendapat peristiwa mengejutkan seperti ini, apa lagi dia hanya seorang gadis, dia pasti sangat takut kepada ular besar!
Wan Fei-yang mengerti apa yang ada dalam pikiran Tong Ling, Tong Ling tiba-tiba menjatuhkan diri ke dalam pelukannya dan menangis, Wan Fei-yang ikut terkejut, dengan terpaksa dia memeluknya supaya Tong Ling bisa tenang.
Lama...
Tong Ling baru berhenti menangis, dia menatap Wan Fei-yang.
"Mengapa kau bisa berada di sini?"139
"Aku harus melewati jalan ini!"
"Aku tahu..."Tong Ling seperti baru tersadar.
"Aku malah baru tahu kau sudah mengejarku sampai ke mari!"
"Aku berjalan di depanmu!"
"Sebelumnya aku mengira bisa terlepas dari pengawasan kalian!"
"Mana mungkin akan segampang itu?"
"Apakah kalian masih mencurigaiku?"
"Aku yakin kau bukan orang itu, kalau tidak, kau tidak akan terus menolongku!"
Kata-katanya baru terucap, Tong Ling sadar dia sudah salah bicara lagi. Tapi Wan Fei-yang seperti tidak mendengar ucapannya, dia hanya menjawab.
"Memang seperti itu!"
"Seharusnya aku tidak mencurigaimu lagi, sewaktu orang itu menculik Kongkong, dia memang tidak melukai orang-orang Tong-bun dan hanya mengatakan akan meminjam Kongkong tapi tampak nya tidak sama perlakuannya kepada perkumpulan lain, sudah pasti dia yang melakukannya tetapi kau tidak mirip dengan orang yang kejam dan jahat!"
"Sebelum mencariku, seharusnya kalian mencari tahu dulu di daerah Bu-tong-san!"
"Kami sudah mencari tahu bahwa kau tidak pernah meninggalkan Bu-tong-san, kau mengobati orang-orang miskin, tapi kami juga berpikir mungkin kau sudah tahu kalau140 kami akan datang mencarimu maka kau bersekongkol dengan orang-orang miskin itu..."
"Kalian benar-benar penuh rasa curiga."
"Bukankah sekarang kami sudah mempercayaimu!"
"Kalau begitu, aku bisa tenang!"
"Tapi aku masih khawatir."
"Karena kakekmu.."
"Jika tidak terjadi sesuatu padanya aku baru merasa tenang, jadi.."
"Jika terjadi sesuatu percuma kau merasa khawatir juga, jika tidak terjadi apa-apa, dia akan mengembalikan kakekmu dengan selamat, bukankah orang itu mengatakan hanya meminjam, jika sudah selesai, dia akan mengantarkan kakekmu pulang dengan selamat."
"Maksudmu, aku harus menunggu di-rumah?"
"Dunia persilatan sangat berbahaya..."
Kata Wan Fei-yang.
"Apa lagi di perbatasan suku Biauw lebih berbahaya lagi, apa benar?"
"Apakah kau tahu kalau aku akan pergi ke perbatasan suku Biauw?"
Wan Fei-yang tertawa.
"Sudah pasti, karena ini adalah satu-satunya jalan menuju ke perbatasan suku Biauw."
"Aku tidak mengerti mengapa semua ini berhubungan dengan perbatasan suku Biauw, apakah Thian-can-sin-kemg dari Bu-tong-pai berasal dari perbatasan suku Biauw?"
Wan Fei-yang tidak menjawab.141 Tong Ling berkata lagi.
"Kalau benar, semua benar-benar di luar dugaan!"
Dia bicara sendiri.
"ini benar-benar rahasia besar, pantas kau tidak mau menceritakannya, tapi tenanglah, aku tidak akan membocorkan rahasia ini!"
Wan Fei-yang tertawa kecut.
"Aku tahu di perbatasan suku Biauw tidak ada pesilat tangguh!"
Kata Tong Ling.
"Aku juga berpikir demikian!"
"Thian-can-sin-kang milik Bu-tong-pai sudah ada selama puluhan tahun, aku tidak mengerti! Apakah tidak boleh memberitahu kepada siapa pun?"
"Jika sudah tiba waktunya aku akan memberi tahu padamu!"
"Kau setuju untuk tidak membocorkan rahasia bukan?"
Tanya Wan Fei-yang. Tong Ling mengangguk.
"Seharusnya memang begitu, rahasia Tong-bun sudah pasti tidak akan kubocorkan!"
"Kalau kau sudah mengerti itu paling bagus."
"Sekarang aku percaya kepadamu!"
Kata Tong Ling.
"aku tidak akan memaksamu menceritakan rahasia ini!"
"Kalau begitu, kau setuju untuk kembali ke Tong-bun?"
"Kembali ke Tong-bun?"
Tong Ling berteriak.
"apa pun yang terjadi, ke mana pun kau pergi aku harus ikut denganmu!"
"Perbatasan suku Biauw..."142
"Aku tahu di sana berbahaya, tapi jika bersamamu, aku tidak akan merasa takut, aku mempunyai kemampuan mengurus diriku sendiri."
Dia melihat rawa-rawa tadi.
"tadi bisa terjadi seperti itu karena aku tidak mempunyai pengalaman, nanti tidak akan terjadi hal seperti itu lagi."
Wan Fei-yang tertawa kecut.
"Apa pun yang terjadi nanti, masalah Bu-tong-pai tidak akan kubocorkan, jika aku sudah berjanji, aku akan berusaha untuk menepatinya, apakah kau percaya?..."
"Aku tahu kau bukan orang seperti itu..."
"Kalau begitu, kau setuju aku ikut denganmu!"
Tong Ling berteriak senang sambil tertawa.
Wan Fei-yang merasa kepalanya hampir terbelah menjadi dua.
Gadis yang ada di depan matanya tidak berbedanya dengan dia saat baru berkelana di dunia persilatan.
Mungkin gadis ini lebih emosi.
Pergi ke perbatasan Biauw pasti sangat berbahaya, mengurus dirinya saja sudah sulit, jika Tong Ling berada di sisinya, benar-benar tidak terbayangkan.
"Lebih baik kau..."
"Aku tidak mau kau tiggalkan!"
Dia segera merapat ke Wan Fei-yang, tapi begitu sadar dia masih berada dalam pelukan Wan Fei-yang, dia segera beringsut mundur.
"Ada apa?"
Tanya Wan Fei-yang terkejut.143 Wajah Tong Ling menjadi merah, setelah Wan Fei-yang melihat ke arahnya dia baru mengerti, dia mengalihkan topik pembicaraan.
"Aku lupa kalau tubuhmu penuh dengan lumpur, pasti terasa tidak nyaman..."
Tong Ling menatap Wan Fei-yang, wajahnya semakin merah, Wan Fei-yang baru melihatnya sebab Tong Ling tadi berada dalam pelukannya sehingga bajunya pun penuh dengan lumpur.
Tapi dia pura-pura tidak tahu dan berkata.
"Di sana ada sebuah sungai kecil..."
"Kau belum menjawab pertanyaanku..."
"Aku sedang berpikir jika sudah selesai, aku akan menjawab pertanyaanmu'' Dengan tenang Tong Ling berendam di dalam air. Dia sangat percaya Wan Fei-yang bukan orang yang teori dan praktiknya tidak sama, dia juga percaya walaupun Wan Fei-yang tidak setuju tapi jika dia terus merengek, pada akhirnya dia akan membawanya ke perbatasan. Wan Fei-yang memang ingin menepati janji, setelah berpikir dia pun menuliskan jawabannya di tanah setelah itu dia pun pergi! Jawabannya berada di atas permukaan tanah, semua ini di luar dugaan Tong Ling, sewaktu dia melihat huruf-huruf yang tertulis di tanah, Wan Fei-yang sudah tidak ada di sana. Tong Ling terpaku, tapi dia tetap berusaha mengejar ke dalam hutan, itu pun di luar dugaan Wan Fei-yang.144 Sebab dia melihat setelah Tong Ling bersih dari lumpur, dia akan ketakutan dan menangis, dia menduga setelah mengalami kegagalan tidak akan mencoba rintangan berikutnya, dia tidak tabu Tong Ling menangis karena dirinya, hanya ada dirinya dan tidak ada orang yang pantas buat dia mengadu, air matanya belum tentu akan menetes. Kalau Tong Ling tidak begitu keras kepala, dia tidak akan mengejar Wan Fei-yang sampai kemari. Jika sudah di sini, mana mungkin setelah mengalami kegagalan akan mundur begitu saja! Setelah masuk hutan, suasana begitu menyeramkan dan gelap, Tong Ling sangat berhati-hati dalam melangkah. Setelah mengalami kegagalan dia mulai mengerti bahwa dia harus berhati-hati dan berwaspada. Setelah melewati hutan dan masuk gunung, terlihat pemandangannya sangat indah, tidak ada yang membuatnya takut. Sepanjang jalan tidak dia bertemu dengan seorang pun. Selama 10 hari lebih Wan Fei-yang selalu berburu ayam hutan dan kelinci untuk mengisi perut. Selama perjalanan keadaan yang lebih buruk pun sudah pernah dia alami, dia tidak mempunyai perasaan takut pada kesulitan. Wan Fei-yang hanya merasa aneh, mengapa di sini tidak ada seorang pun yang tinggal, karena dia tidak tahu bahwa dia sudah memasuki tempat di mana suku Biauw tinggal. Tempat itu adalah tempat terlarang bagi suku Biauw, hutan itu adalah hutan pelindung alam.145 Pesilat tangguh seperti Tong Ling pun hampir terjebak ke dalam lumpur, orang biasa mana mungkin bisa melewati hutan ini? Wan Fei-yang lupa kalau dia adalah seorang pesilat tangguh. Tapi dia tetap berhenti di sebuah danau! Danau itu sangat luas, dari ujung ini tidak bisa melihat ke ujung sana, hanya bisa melihat gunung-gunung yang berderet. Hari hampir sore, Wan Fei-yang sedang membuat rakit dari batang rotan. Paginya Wan Fei-yang telah mendayung rakit untuk menyeberangi danau, sampai ke seberang. Air danau tampak jernih, tenang, dan bersih. Rakit meluncur melewat riak danau, sampai-sampai saat mendayung pun terdengar merdu. Semakin mendekati seberang, keadaan di sana semakin aneh. Di depan terdapat jurang, dinding batu menghalangi di tengah-tengah air, seperti sebuah sekat. Di antara sekat itu terdapat sebuah celah, melihat ke dalam celah selain ada air juga terlihat cahaya dari langit, Wan Fei-yang tidak sengaja mendayung rakit hingga masuk ke dalam celah. Celah ini sangat besar, dari luar terlihat tidak begitu dalam, tapi setelah masuk baru terasa. Setelah rakit melewati celah itu pemandangan di depan berbeda sekali dengan di luar.146 Tempat di sana seperti sebuah gayung, gagang gayung berupa air terjun. Air bercipratan kecuali itu ada sebuah kolam, airnya tampak bening hingga bisa melihat ke dasar. Sewaktu Wan Fei-yang berlatih ilmu silat di Bu-tong-san, keadaan di sana hampir sama dengan di sini, hanya saja tempat ini lebih tenang, sampai air terjun pun tidak mengalir sederas di Bu-tong-san. Walaupun begitu, dia tetap merasa tempat itu ramah. Kegembiraan hatinya sulit dilukiskan, saat tertawa atau senyumnya baru terlihat dari mulutnya, rakit yang didayungnya tiba-tiba terguling. Ini benar-benar di luar dugaannya, walaupun ilmu silatnya tinggi dan refleknya cepat, dia tetap terguling dan masuk ke dalam air. Dalam cipratan air, dia seperti melihat seorang gadis telanjang, dia berenang cepat seperti seekor ikan datang ke arahnya, dia juga merasa telah dipeluk oleh gadis itu. Dia seperti terbius, dia mendorong tangannya keluar, tempat di mana dia mendorong terasa empuk dan lembut. Dia sadar benda apa itu maka jantungnya segera berdebar-debar kencang, dengan cepat tangannya ditarik kembali, itulah perasaan yang mendera sebelum dia pingsan. Kemudian jalan darah di beberapa tempat sudah ditotok. Sewaktu Wan Fei-yang tersadar kembali, dia sudah berada di dalam sebuah gua.147 Tanpa diragukan lagi gua itu sudah ditata oleh tangan manusia, sangat indah, juga terlihat sedikit bersifat kekanak-kanakan. Seorang gadis duduk di pinggir ranjang. Suasana yang terasa begitu kekanak-kanakan membuat semuanya bertambah lucu. Gadis itu sudah mengenakan baju, tapi Wan Fei-yang masih merasa dia melihat tubuh telanjangnya sebab sebelum pingsan pikirannya berhenti saat dia masih berada di dalam air, sekarang setelah dia tersadar kembali, baru merasa kalau dia sedang berbaring di atas sebuah ranjang batu, kaki dan tangannya diikat dengan tali. Tubuhnya digerakkan, dia ingin berdiri, tapi melihat tali yang menyambung dengan ranjang batu itu menempel ke dalam tanah. Walaupun tenaganya besar, sulit untuk menggesernya. Karena tidak bisa bangun, maka Wan Fei-yang melihat keadaan di sekelilingnya, kemudian dia menarik nafas panjang.
"Kau sudah sadar?"
Tanya gadis itu. Dia berbaju suku Biauw tapi berbahasa Han dengan sangat lancar, hal ini membuat Wan Fei-yang merasa aneh dan bertanya.
"Apakah kau suku Han?"
Gadis itu menggelengkan kepala, dia balik bertanya.
"Apakah aku mirip orang suku Han?"
"Kau menguasai bahasa Han dengan baik!"148 Gadis itu terlihat benar-benar senang.
"Untung kau menguasai bahasa Han, kalau tidak, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan sekarang?"
Kata Wan Fei-yang.
"Aku tidak akan melukaimu!"
"Tapi kau..."
"Namaku Pei-pei, namaku tidak begitu indah tapi aku menyukainya!"
"Aku juga suka!"
Wan Fei-yang memang merasa nama itu bagus. Pei-pei tertawa.
"Aku tahu kau pasti menyukainya, kalau tidak, kau tidak akan datang kemari, ini yang disebut 'jodoh' yang sering dikatakan kalian suku Han."
"Oh!"
"Siapa namamu?"
Tanya Pei-pei.
"Wan Fei-yang!"
"Waktu Wan (Awan) sedang Fei-yang, bukan kah udara yang bagus!" (artinya waktu awan sedang terbang). Kata-kata seperti ini baru pertama kali Wan Fei-yang mendengar, tapi mengingat pengalamannya yang menyedihkan, dia hanya tertawa kecut. Pei-pei merasa aneh.
"Apakah aku sudah salah bicara hingga membuatmu marah?"
Wan Fei-yang menggelengkan kepala.
"Tempat apa ini?"149
"Tempat di mana aku tinggal!"
"Oooo."
"Apakah kau tahu mengapa aku membawamu kemari?"
"Mengapa?"
Wan Fei-yang balik bertanya.
"Apakah kau tidak tahu adat istiadat suku Biauw?"
"Aku baru pertama kali datang ke wilayah suku Biauw, aku tidak tahu dengan jelas, apakah aku sudah berbuat kesalahan?..."
"Apakah kau sama sekali tidak tahu?"
"Jika Nona ingin menyampaikan sesuatu, katakan saja!"
"Menurut aturan suku Biauw bila seorang gadis telanjang sudah dilihat oleh lelaki dan dia menyukai orang itu maka orang itu harus menikah dengannya!"
Wan Fei-yang terpaku, Pei-pei menatapnya dan berkata lagi.
"Aku memang tidak pernah melihatmu, tapi hingga saat ini aku tidak membencimu, berarti aku menyukaimu!"
Wan Fei-yang ingin membela diri, tapi tidak tahu harus bagaimana membela diri.
"Kau juga pasti menyukaiku bukan?"
Tanya Pei-pei. Wan Fei-yang tertawa kecut.
"Itu sudah pasti, kita baru bertemu untuk pertama kalinya, walaupun kau menyukaiku belum tentu sudah mencapai pada tahap ingin memperistriku!"
Kata Pei-pei.
"Nona adalah gadis yang sangat pengertian!"
Kata Wan Fei-yang.150
"Kalau kau tidak ingin menikahi denganku, dipaksa pun tidak akan ada artinya tapi kalau kau tidak mau menikahiku, aku akan mati!"
"Apakah ini aturan suku Biauw?"
Pei-pei mengangguk.
"Seorang gadis jika tubuhnya sudah dilihat oleh orang yang dia sukai, tapi dia tidak bisa menikah dengan orang yang dia sukai, selain mati apa yang bisa dia lakukan?"
Wan Fei-yang tidak bisa menjawab.
Dia mengerti saat rakit memasuki kolam itu, dia memang tidak melihat Pei-pei, tapi Pei-pei sudah melihat-nya, dia mengira Wan Fei-yang juga sudah melihat-nya, maka terjadilah kesalahpahaman seperti ini.
Tapi walau bagaimanapun dia sudah melihat tubuh Pei-pei dan kalau hanya dengan alasan ini akan membuat gadis itu mati, mana dia tega melakukannya.
Dia jadi bingung, sebelumnya dia mengira Tong Ling saja sudah cukup sulit, sekarang ditambah yang satu ini, tampaknya dia lebih sulit diurus lagi.
Tong Ling hanya berbelit-belit dan sukar dinasihati, sedangkan Pei-pei menyangkut masalah hidup dan mati.
Apakah semua gadis di dunia ini sulit diatur?
Wan Fei-yang hanya bisa tertawa kecut.
Pei-pei menatapnya dan berkata.
Aku mengerti kalau perasaan harus dibina, aku bisa menunggu!"151 Wan Fei-yang menghembuskan nafas.
"Kalau kau sadar dan langsung marah-marah kepadaku, berarti kau tidak menyukaiku, tapi kau tidak melakukannya, berarti kau tidak membenciku, setelah lewat beberapa hari kau pasti akan menyukai ku dan akan menikahiku!"
"Setelah lewat beberapa hari..."
Tiba-tiba Pei-pei berteriak.
"Masih ada satu cara lagi!"
"Oh ya?"
Wan Fei-yang melihat Pei-pei, dia tidak merasa Pei-pei memmpunyai cara yang lebih baik.
Pei-pei segera berjalan mendekati meja batu dan mengambil benda seperti kulit kerang, setelah itu dia kembali ke sisi ranjang segera meniup benda itu.
Suara yang keluar sangat indah tapi juga aneh.
Setelah Wan Fei-yang mendengarnya, hatinya merasa nyaman.
Apa pun yang dilihatnya sepertinya berubah menjadi indah, apa lagi perasaannya kepada Pei-pei, tidak perlu diucapkan lagi.
Pei-pei menatap Wan Fei-yang, dia meniup kulit kerang itu dengan penuh konsentrasi, di mata Wan Fei-yang, Pei-pei pelan-pelan berubah menjadi seperti dewi khayangan.
Tentu saja Wan Fei-yang belum pernah melihat dewi, tapi di matanya, Pei-pei seperti sedang menari di atas langit, seperti seorang dewi.
Tidak lama kemudian tiba-tiba ada suatu perasaan merayap ke tangannya, begitu dilihat dia menghembuskan nafas dingin, sebab di tangannya banyak ulat-ulat yang berkilauan sedang merayap ke bagian atas tubuhnya.152 Seekor demi seekor menempel menjadi satu, menjadi benda aneh yang berkilau, seperti benda cair yang sedang bergerak, Wan Fei-yang melihat lagi.
Benda-benda itu sedang datang dari segala penjuru dengan cepat menutupi bagian bawah tubuhnya.
"Apa ini?"
Wan Fei-yang berteriak.
Pei-pei seperti mabuk terus meniup benda seperti kulit kerang itu, teriakan Wan Fei-yang telah membuatnya tersadar kembali dan pelan-pelan meletakkan kulit kerang itu ke atas meja.
Benda-benda yang merayap itu adalah ulat sutra emas.
Bersamaan waktu ulat sutra emas itu pun berhenti merayap.
"Ulat sutra emas?"
Wan Fei-yang segera ingat pada Thian-can-sin-kang. Pei-pei menjelaskan bahwa itu adalah salah satu 'Ku'.
"Ku..hati Wan Fei-yang terasa dingin.
"Kau bisa memakai Ku?" (ilmu guna-guna). Pei-pei seperti tidak merasa bersalah dan menjawab.
"Suhu mengajariku banyak hal, tapi kali ini untuk pertama kalinya aku menggunakan Ku, aku yakin tidak salah menggunakannya."
"Mengapa kau menggunakan Ku kepadaku?"
"Ketika Suhu mengajariku menggunakan ulat sutra emas beliau pernah mengatakan Kim-can-ku bisa membuat laki-laki yang kusukai akan setia selamanya dan terus berada di sisiku, dia tidak akan berpaling kepada orang lain!"
Kata Pei-153 pei berkata dengan jujur, sikapnya terlihat manja, sepertinya tidak ada perasaan jahat sedikit pun. Wan Fei-yang menarik nafas.
"Memelihara guna-guna, berlatih ilmu guna-guna, itu pendapat masing-masing, aku tidak berani mengatakan kalau itu salah, tapi tujuan menggunakan guna-guna sudah sangat jelas!"
"Maksudmu, aku bersalah?"
"Gurumu tidak pantas mengajari hal seperti itu kepadamu!"
Jawab Wan Fei-yang sambil menarik nafas.
"seorang laki-laki karena takut kepada Ku akan menyukaimu, hanya karena dia takut racun, maka pikiran, dan gerakan mereka akan dikuasai oleh Kim-can-ku (Guna-guna ulat sutra emas). Dengan terpaksa mereka akan tunduk kepada kehendakmu, dia akan menjadi seperti mayat hidup, rasa suka dan sayangnya bukan berasal dari lubuk hatinya."
"Kim-can-ku yang kau maksud tadi terlalu menakutkan!"
Kata Pei-pei menggelengkan kepala.
"Apakah orang yang telah terkena guna-guna jika meninggalkan tempat ini akan sering kambuh dan keadaannya sangat teisiksa?"
"Tapi dia tidak akan mati!"
"Perasaan itu pasti akan membuat siapa pun dengan cepat mengubah keputusan awalnya!"
Kata Wan Fei-yang. Pei-pei tidak mengaku juga tidak membantah, dia hanya menjawab.154
"Sebenarnya aku juga tidak tahu jelas, tapi Suhu mengatakan seperti itu!"
"Kalau orang yang sudah terkena guna-guna menyukaimu hanya karena pengaruh guna-guna, aku yakin nilainya akan berkurang!"
"Aku tidak pernah mendengar orang berkata seperti itu!"
"Mungkin orang yang terkena guna-guna tidak berani bicara terus terang supaya dia tidak akan mendapat kesulitan yang tidak diharapkan,"
Kata Wan Fei-yang.
"Apa yang harus kulakukan sekarang?"
Tanya Pei-pei.
"Semua berjalan secara alami, jangan dipaksa, jika berjodoh tentunya mereka akan bersatu!"
"Apakah jodoh ditentukan oleh Langit?"
Tanya Pei-pei. Wan Fei-yang segera teringat pada masa lalunya, dengan terpaksa dia menjawab.
"Manusia tidak bisa melawan kehendak Langit, kalau Langit sudah menentukan mereka tidak bisa bersatu, pada akhirnya mereka pun akan terpisah!"
Sambil mendengar perkataan Wan Fei-yang, terlihat Pei-pei mengangguk, tiba-tiba dia bertanya.
"Menurutmu, akhirnya kita akan seperti apa?"
Wan Fei-yang tertawa kecut. ''Kalau bisa tahu tentu akan baik, jika aku mempunyai kepandaian seperti ini, walaupun hidup ku sangat hambar, aku bisa menghindari banyak masalah yang memusingkan kepala!"
Masa lalu yang terpikir oleh Wan Fei-yang terlalu banyak, sebenarnya rasa pusingnya lebih banyak dari pada kesenangan, walaupun dia tidak peduli terhadap hidup dengan senang tapi banyak kesedihan yang menyakitkan yang tidak ingin dia temui lagi!
Tentu saja Pei-pei tidak merasakan apa yang Wan Fei-yang rasakan, dia juga tidak bisa membaca pikiran dan hati Wan Fei-yang.
Melihat sikap Pei-pei yang tidak menentu, bisa terlihat akibat yang bisa dia bayangkan adalah hari indah dan baik!
Wan Fei-yang tiba-tiba memperhatikan Pei-pei, dia terpaku di sana, walaupun penglihatannya bukan penglihatan sangat khusus, begitu melihatnya dia sudah tahu diaa jenis orang seperti apa.
Tapi sampai sekarang kesan yang diberikan Pei-pei adalah dia begitu naif dan bersih!
Dia tidak ingin menipu Pei-pei, memang dari awal dia tidak berniat menipu Pei-pei.
Yang membuatnya bingung adalah hubungan ini sudah dimulai tentu saja harus diakhiri dengan cara yang baik pula.
Lama Pei-pei baru membuka suara.
"Kata-katamu memang masuk akal, perasaan harus dibina, mulai sekarang aku akan selalu berada di sampingmu dan tidak akan meninggalkanmu!"
Wan Fei-yang tertawa kecut, kata-kata seperti ini belum lama didengar dari mulut Tong Ling.
Waktu itu dia merasa,156 Tong Ling saja sulit dilayani tapi jika dibandingkan sekarang dengan Pei-pei, Tong Ling lebih mudah dilayani.
Karena Tong Ling hanya berniat ikut ke perbatasan suku Biauw, sedangkan Pei-pei ingin menjadi istrinya.
Setelah berhasil menolong Tong Pek-coan, masalah Tong Ling tentu saja akan ikut beres, tapi masalahnya dengan Pei-pei entah kapan bisa selesai!
Gadis suku Biauw mudah jatuh cinta, dia sudah sering mendengar tentang hal itu.
Gadis seperti Pei-pei harus ada yang bertanggung jawab.
Pei-pei mengambil cangkang kulit kerang dan mulai meniup lagi, suara yang keluar kali ini tidak ada bedanya bagi Wan Fei-yang dengan suara tadi, perasaan nyaman muncul lagi, tapi Kim-can (ulat sutra emas) malah pelan-pelan mundur dan menghilang karena suara itu.
Wan Fei-yang melihat semua itu, tidak ada perasaan enteng di hatinya berubah semuanya terasa lebih berat.
Akhirnya Pei-pei meletakkan benda seperti cangkang kerang itu dan membuka tali yang mengikat Wan Fei-yang.
Tali itu disimpul hidup maka dengan mudah Pei-pei membuka talinya tapi Wan Fei-yang malah merasa kepalanya pusing.
Pei-pei memapah Wan Fei-yang duduk dan bertanya.
"Apakah perasaanmu tidak nyaman?"
"Tidak, aku baik-baik saja..."
Wan Fei-yang memang baik-baik saja, hanya perasaannya waktu itu sangat aneh, dia seperti tidak bertenaga.157
"Apakah kau mau makan?"
Tawar Pei-pei.
"Aku tidak lapar!"
Wan Fei-yang melihat sekelilingnya.
"apakah kau hanya tinggal sendiri di sini?"
"Orang lain tidak boleh masuk!"
Angguk Pei-pei.
"Oh...?"
Wan Fei-yang merasa aneh.
"Ini adalah tempat terlarang bagi suku kami!"
Wan Fei-yang berpikir sebentar dan bertanya lagi.
"Kedudukan Nona di suku kalian pasti tidak biasa!"' Dengan manja Pei-pei berkata.
"Coba kau tebak!"
"Apakah Nona seorang putri?"
Wan Fei-yang sembarangan menebak.
"Dari mana kau bisa tahu?"
Pei-pei berteriak.
"Sebelum masuk ke mari aku pernah bertanya dan tahu di sini adalah tempat tinggal raja suku Biauw..."
Pei-pei menggelengkan kepala.
"Ayahku tidak tinggal di sini, dia sibuk dan banyak masalah yang harus dibereskan, dia harus terus bersama dengan orang-orangnya."
"Lalu tempat terlarang ini..."
"Tempat ini adalah tempat di mana kakekku dan gurunya berlatih silat, aku senang berlatih silat, maka aku tinggal di sini."
Wan Fei-yang membereskan bajunya.
"Kau bisa menotok..."
"Kau masih ingat?"
Pei-pei merasa bersalah.
"selain hal ini aku tidak tahu harus dengan cara apa menahanmu!"158
"Aku hanya berpikir gurumu tentu bukan berasal dari suku yang sama denganmu!"
Kata Wan Fei-yang.
"Dia bukan dari suku Biauw juga bukan dari suku Han."
Tiba-tiba Pei-pei bertanya.
"Apakah Seng-cu-hai berada di Tionggoan?"
"Mungkin tidak ada di Tionggoan, aku tidak pernah mendengar di Tionggoan ada tempat seperti ini, apakah gurumu dari Seng-cu-hai?"
"Benar, beliau bernama Sat Kao..."
Itu bukan nama orang Han. Wan Fei-yang tertawa.
"Caranya mengajar menotok, aku lihat itu bukan cara dari perkumpulan di Tionggoan!"
"Apakah di Tionggoan banyak perkumpulan silat?"
"Memang banyak, di setiap gunung, di setiap propinsi selalu ada perkumpulan!"
"Menarik sekali, di perbatasan suku Biauw tidak ada yang seperti itu! Apa tujuanmu ke perbatasan suku Biauw, apa untuk melancong?"
"Untuk mencari seseorang!"
"Itu hal yang mudah, kalau orang itu berada di sini sangat mudah untuk ditemukan."
Wan Fei-yang tidak meragukan kata-kata Pei-pei, karena ayahnya adalah raja di sini, di bawah perintah ayahnya semua orang suku Biauw akan mencari dan menemukan orang itu.
"Siapa yang kau cari?"
Tanya Pei-pei.159
"Aku sendiri tidak tahu siapa sebenarnya dia, hanya tahu kalau dari sepasang tangannya bisa keluar sesuatu mirip serat sutra dari ulat sutra!"
Dari gendongannya dikeluarkan sebuah bungkusan dan dibukanya, di dalam bungkusan berisi segumpal serat dari ulat sutra.
Benda itu diambil dari mayat-mayat orang dunia persilatan yang dibawa ke Bu-tong-pai.
Begitu Pei-pei melihat gumplana itu, sikap-nya terlihat aneh.
Dia melihat ke sana-kemari, akhir-nya dia pun bertanya.
"Kau datang untuk mencari kakakku?"
Wan Fei-yang terpaku, dia benar-benar merasa aneh, bisa tepat dan kebetulan.
"Selain kakakmu apakah ada orang yang menguasai ilmu ini?"
Kemudian dia balik bertanya.
"Ada apa kau mencarinya?"
"Pertama, aku harus yakin apakah dia adalah orang yang sedang kucari, kalau bukan, tidak ada masalah apa pun!"
"Dia berada di sini!"
"Apakah kau bisa membawaku menemuinya?"
"Mengapa tidak?"
Tangan Pei-pei masuk ke dalam genggaman tangan Wan Fei-yang.
"setelah bertemu dengan kakakku lalu bertemu dengan ayahku, masalah kita ini harus diberitahukan kepada mereka!" 160 Wan Fei-yang selain ingin tertawa dia juga merasa bersalah, karena dia sedang memperalat Pei-pei. Akhirnya dia mengambil keputusan, setelah yakin orang itu adalah orang yang dicarinya, dia akan menjelaskan semuanya kepada Pei-pei. Tempat di mana Beng To tinggal di daerah ini juga, tidak banyak barang tapi kulit binatang banyak tergantung di dinding gua. Gua ini memberi kesan kasar dan terbuka, sampai dia melihat ada laba-laba. Semua laba-laba itu bersembunyi di bawah kulit-kulit binatang itu, setiap ekor besarnya sebesar kepalan tangan manusia. Wan Fei-yang tidak sengaja melihat ke bawah kulit binatang itu, hatinya terus bergetar. Dia menyibak kulit binatang itu dan di bawahnya ternyata banyak laba-laba. Dia tidak memegang labah-labah itu maka tidak ada reaksi apa pun, tapi hatinya terasa dingin. Pei-pei seperti sudah tahu ada laba-laba di sana dan tidak terlihat heran. Pei-pei malah merasa aneh dengan reaksi Wan Fei-yang.
"Apa ini?"
Tentu saja Wan Fei-yang bukan tidak pernah melihat laba-laba tapi dia tetap bertanya.
"Apakah di Tionggoan tidak ada laba-laba?"
Wan Fei-yang terpaku.
"Bukan tidak ada hanya saja tidak sebesar ini, apakah memang ada laba-laba sebesar ini?"
Pei-pei menggelengkan kepala.161
"Mereka sengaja dipilih sebagai bibit Ku, diberi makan Kim-can (ulat sutra emas) dan kaki seribu, maka mereka tumbuh menjadi besar seperti ini! "
Bibit Ku?"
Wan Fei-yang teringat apa yang dikatakan Kouw-bok.
"Apakah kau tahu apa itu bibit Ku?"
"Aku pernah mendengarnya, apakah kakakmu memelihara guna-guna dan bisa menaruh guna-guna juga?"
"Dia tidak begitu mengerti. Laba-laba ini dipelihara oleh Suhu, ini benda yang harus dipakai saat sedang berlatih ilmu!"
Pei-pei seperti tidak tahu ada bahaya.
Wan Fei-yang tidak merasa aneh, dia percaya pada Pei-pei karena dia masih polos dan tidak berniat jahat, dia juga mengerti Pei-pei tumbuh di lingkungan seperti ini maka memelihara guna-guna atau membubuhkan guna-guna adalah hal wajar bukan sesuatu yang jahat, maka dia tidak menyangka bahwa bibit guna-guna itu menakutkan.
Wan Fei-yang melihat sekeliling, di dalam gua itu tidak ada seorang pun.
Mata Pei-pei berputar, dia segera berkata.
"Dia tidak ada di sini pasti ada di sana!"
"Di mana?"
Tanya Wan Fei-yang.
"Tempat di mana dia berlatih silat! Tapi lebih baik kita tunggu di sini sampai dia pulang!"
"Apakah tempat itu sangat jauh?"
"Tidak, hanya saja Suhu melarang siapa pun masuk ke sana, aku pun dilarang ke sana, apa lagi kau!"
"Apakah kau bisa mempersilahkan kakakmu keluar untuk bertemu denganku!"
"Mungkin saja bisa, tidak disangka kau juga orang yang tergesa-gesa!"
"Masalah kalau bisa lebih cepat dibereskan itu akan lebih baik!"
"Kau belum memberitahuku apa permasalahannya."
"Sampai waktunya nanti kau akan tahu!"
Setelah kata-katanya terucap keluar, Wan Fei-yang merasa bersalah dan berdosa.
Pei-pei tidak memperhatikan sikap Wan Fei-yang, dia juga tidak bertanya lebih jauh, dia hanya terus mendekati Wan Fei-yang.
Di dalam hatinya dia sudah menganggap Wan Fei-yang adalah suaminya.
Setelah keluar dari gua di mana Beng To tinggal, Pei-pei segera menuntun Wan Fei-yang naik gunung.
Di luar gunung ada gunung, gunung-gunung di sana berbentuk aneh, disebut indah bisa,disebut misterius pun tidak salah.
Setelah melewati dua gunung, terlihat ada sebuah danau di antara dua gunung, di depan danau ada sebuah gunung yang tampak ditumpuk oleh papan dari batu.
Papan batu itu ada yang panjang ada yang pendek, ada yang tebal ada yang tipis, dengan posisi tidak teratur ditumpuk menjadi satu, memberi kesan berbahaya dan misterius, di tengah-tengahnya terdapat pintu.
"Apakah kakakmu berada di sana?" 163 Pei-pei mengangguk, dia meloncat ke atas sebuah sampan yang berlabuh di sisi danau. 0-0-0 Beng To sedang duduk bersila di dalam gua di atas sebuah batu, tubuhnya penuh dengan benda seperti benang tenun seperti serat sutra laba-laba, dia duduk dengan posisi seperti dalam sebuah kepompong. Kali ini bukan benang berwarna abu keputih-an tapi hitam keunguan. Di depan Beng To, duduklah Tong Pek-coan seperti sebuah patung batu, kedua matanya terpejam dan dia tidak bergerak. Sikapnya tetap terlihat keras, kesedihan dan rasa sakit terlihat dari kerutan di antara kedua alisnya, kulit di seluruh tubuhnya sudah berubah menjadi putih, sepertinya dalam waktu dekat ini, dia sudah banyak menelan rasa sakit. Suara gemuruh masih berbunyi di dalam gua, sekali demi sekali bercampur dengan kejahatan. Suara itu seperti suara orang melafalkan mantera. Laba-laba beroman manusia karena suara itu melalui benangnya merayap ke tubuh Beng To. Setiap benang sutra itu dimulai dari Tong Pek-coan. Setiap helai benang sutra itu seperti ditarik keluar dari tubuh Tong Pek-coan. Setelah dilihat dengan teliti, dari telinga dan hidung Tong Pek-coan terlihat ada laba-laba164 beroman manusia berbentuk kecil, mereka keluar masuk dari sana. Laba-laba beroman manusia itu benar-benar sangat kecil, dengan laba-laba yang merayap ke tubuh Beng To berbeda 2%, Tentu saja dengan keluar masuknya laba-laba itu membuat Tong Pek-coan merasa tidak nyaman, terlihat dari otot wajahnya terus gemetar untuk menahan rasa sakit. Dalam desisan suara seperti melafalkan mantra tiba-tiba terdengar dentang lonceng, suara lafalan mantera semakin mengecil. Dentang lonceng semakin mendekat, terlihat ada seorang orang tua berambut putih dan panjangnya hingga mencapai tanah memasuki gua. Telinganya lebar, di pahanya tergantung penuh lonceng besar dan kecil berwarna besi, ternyata suara mantera itu keluar dari mulutnya. Dia berhenti di sisi kolam, suara lafalan mantera pun berhenti, sambil tertawa dia berkata kepada Tong Pek-coan.
"Hei marga Tong, kau masih bisa bertahan berapa lama?"
Akhirnya Tong Pek-coan membuka matanya, matanya terlihat penuh dengan syaraf merah, dia berteriak.
"Sat Kao, dengan ilmu guna-guna melukai orang, itu bukan perbuatan seorang laki-laki sejati bukan tindakan seorang pahlawan!"
"Kalau kau dengan baik-baik memberikan tenaga dalammu kepada muridku ini, kau tidak perlu merasa tersiksa seperti ini!"
Kata Sat kao tertawa.
"Kalian juga sama-sama dari kalangan persilatan, kalian bisa-bisanya menggunakan cara seperti ini?"
Tong Pek-coan marah. Sat Kao menggelengkan kepala.
"Ilmu lweekang muridku harus meminjam tenaga dalam dari para pesilat tangguh baru ilmunya bisa mencapai puncak, menjadi pesilat nomor satu di dunia ini, hal yang begitu berarti harus kau dukung dengan sepenuh hati!"
"Ilmu sesat..."
Dari dahi Tong Pek-coan terlihat keluar keringat besar-besar.
"Kau masih bisa bertahan berapa lama?"
Tong Pek-coan terdiam, dia tahu dia tidak akan bisa bertahan lama.
Laba-laba yang keluar masuk membuat tenaga dalamnya berkumpul tanpa sadar.
Jika tenaga dalamnya bisa terkumpul, Beng To dengan gampang akan memancing tenaga dalamnya keluar dari tubuhnya.
Tong Pek-coan tahu laba-laba itu adalah salah satu bentuk guna-guna, keluar masuknya laba-laba kecil itu memang membuatnya sulit untuk bertahan, kalau ingin merasa lebih nyaman dia harus menggunakan tenaga dalamnya untuk menahan rasa sakit, jika tenaga dalamnya sudah digunakan sulit ditarik kembali, dia akan dikait dan dikumpulkan seperti benang laba-laba.166 Laba-laba itu sepertinya hanya bertanggung jawab memancing keluar tenaga dalamnya.
Setelah itu pekerjaan selanjutnya akan di ambil alihkan pada laba-laba besar.
Tong Pek-coan punya perasaan seperti itu.
Sampai-sampai dia berperasaan serat sutra dari laba-laba besar itu sebenarnya bertujuan memancing tenaga dalamnya keluar ke arah Beng To, dia tahu sebagaimana berbahayanya tapi dia tidak bisa mencegat.
Sat Kao tidak berkata apa-apa, dia mundur seperti setan gentayangan, sewaktu dia mundur suara lafal mantera keluar lagi.
Keringat Tong Pek-coan keluar lebih banyak lagi.
Laba-laba kecil yang keluar dari mulut, karena lantunan mantera itu bertambah aktif dan gerakan laba-laba besar pun bertambah cepat.
Suara seperti guntur mulai terdengar di dalam gua itu.
Akhirnya mereka berhenti di luar gua, sikap Pei-pei terlihat selalu santai, tapi begitu mendengar suara seperti guntur itu dia terlihat sangat tegang.
Suara itu terdengar dari luar gua tidak terlalu besar tapi tetap saja membuat orang merasa geger.
Wan Fei-yang mulai memperhatikan.
"Suara apa itu?"
"Suhu sedang menaruh serangga!"
Wan Fei-yang bergetar.
"Apakah serangga itu lebih lihai dari Kim-can-cong?"
"Itu sudah pasti! Dari suaranya saja bisa kita bayangkan!"167
"Apakah dia tahu kalau ada orang mau masuk?"
Wan Fei-yang menaruh curiga.
"Kau kira beliau meletakkan guna-guna untuk menghadapimu? Antara kau dan dia tidak ada perselisihan, dia tidak akan melakukannya!"
"Katanya orang yang sangat pandai menaruh guna-guna jika ada yang mencarinya, dia sudah tahu sebelumnya..."
"Kecuali kalau di tubuh orang yang akan datang sudah ada guna-guna yang pernah dia taruh maka dia akan tahu! Apakah ini pertama kalinya kau datang kemari?"
"Betul, ini pertama kalinya aku ke mari, sampai sekarang aku tidak tahu seperti apa wujud gurumu?"
Pei-pei melihat ke dalam gua.
"Hari ini kau tidak akan bisa bertemu dengan mereka!"
"Apakah kakakmu juga tidak bisa kutemui?"
"Dia sedang berlatih ilmu silat dan tidak bisa dialihkan perhatiannya, Suhu tidak suka di saat seperti sekarang ini ada yang mengganggunya!"
"Apakah berlatih ilmu silat ada hubungannya dengan menaruh guna-guna?"
Pei-pei mengangguk.
"Suhu menaruh guna-guna untuk membantu Kokoku berlatih ilmu silat, seperti apa detailnya aku juga tidak tahu dengan jelas!"
"Sekali berlatih ilmu silat butuh berapa lama."168
"Tidak tentu, 3-4 bulan sudah biasa!"
Pei-pei memegang tangan Wan Fei-yang.
"lebih baik kita cari ayah dulu, di sana lebih ramai dan sehari-hari bisa berlalu dengan cepat!"
"Kau senang dengan keramaian?"
"Tidak terlalu senang, tapi mungkin karena tinggal di sini terlalu lama maka aku merasa pergi ke tempat ramai tidak akan merasa tidak suka!"
"Kadang-kadang aku pun seperti itu!"
Angguk Wan Fei-yang.
"Dari awal aku sudah tahu sifat kita memang mirip, kita adalah sepasang kekasih ideal."
Perkataan ini keluar dari mulutnya tapi seperti tidak keterlaluan, karena perasaan ini keluar dari hatinya yang terdalam!
Bagaimana menangani perasaan seperti ini?
Wan Fei-yang termangu melihat Pei-pei, sulit untuk memberi komentar.169 BAB 5
"Kami adalah..."
Pei-pei segera memutar tubuhnya, waktu itu terdengar suara jeritan memilukan keluar dari dalam gua.
Wan Fei-yang dan Pei-pei tampak terkejut.
Jeritan itu terus terdengar, semakin lama terdengar semakin menyedihkan.
Wan Fei-yang melihat Pei-pei.
"Siapa yang berteriak itu?"
"Bukan mereka!"
Dengan yakin Pei-pei menjawab.
"aku tidak akan salah dengar!"
"Apakah sebelumnya pernah terjadi seperti ini?"
"Tidak... siapa yang berteriak?"
"Aku akan coba masuk untuk melihat apa yang terjadi!"
Kata Wan Fei-yang di segera berlari ke arah gua.
"di dalam gua mungkin terjadi bahaya kau tunggu di sini!"
Pei-pei tertawa kecut.
"Di dalam gua pasti ada bahaya yang berada di sini seharusnya kau bukan aku!"
Dia juga berteriak.
"hati-hati dengan laba-laba beroman manusia."
Wan Fei-yang sudah melihat laba-laba itu sedang merayap ke arah mereka!
Di bawah batu-batu stalaktit terdapat banyak sarang laba-laba besar dan kecil, yang kecil pun ternyata lebih besar dibandingkan dengan laba-laba yang biasa terlihat, bagaimana dengan yang besar, tidak bisa dibayangkan.
Walaupun laba-laba itu tidak bergerak dan berada di sarangnya, tapi tetap saja membuat bulu kuduk merinding.170 Sewaktu Wan Fei-yang melewati sarang laba-laba dengan sorot mata tajam dan keputusan yang tepat, dia sama sekali tidak mau menyentuh sarang-sarang itu.
Ada 2 ekor laba-laba hampir jatuh ke atas tubuhnya, tapi sebelum laba-laba itu jatuh, dia sudah tahu dan dengan tenaga dalamnya, dia mengantarkan laba-laba itu kembali ke sarangnya.
Jalan yang benar-benar sulit dilewati, berlapis-lapis batu stalaktit harus dilewatinya, akhirnya dia tiba di depan sebuah kolam, keadaan di sana aneh, membuat hatinya dingin dan langkahnya berhenti.
Yang berteriak memilukan tadi bukan Beng To atau Sat Kao.
Melainkan orang ketiga yang berada di sana...
Tong Pek-coan.
Dia tetap duduk di depan Beng To, di antara mereka tersambung oleh benang-benang sarang laba-laba yang tampak berkilauan, di atas benang laba-laba itu ada sesuatu yang terus merayap.
Laba-laba kecil terus keluar dari mulut dan hidung Tong Pek-coan, kali ini hanya keluar tidak ada yang masuk.
Rambut putihnya setiap helai berdiri satu persatu, tidak ada angin tapi rambut itu bergoyang sendiri, hanya seperti itu saja sudah membuat orang merasa dingin.
Keringat sudah berhenti mengalir, otot-otot di wajahnya mulai keriput dan menciut, kulitnya sedang mengalami perubahan dan warnanya menjadi seputih lilin.171 Tapi Beng To yang ada di belakangnya tidak mengalami perubahan, dia tetap bersembunyi di dalam kepompongnya.
Melihat kepompong itu Wan Fei-yang terlihat lebih terkejut lagi dari pada saat melihat keadaan Tong Pek-coan.
"Thian-can-sin-kang..."
Wan Fei-yang berteriak.
Sebenarnya dia tahu bahwa itu bukan Thian-can-sin-kang, tapi tiba-tiba saja dia merasa memang seperti itu.
Tong Pek-coan masih terus berteriak memilukan, setelah mendengar teriakan Wan Fei-yang tadi teriakannya pun berhenti dan dia berkata.
"Ilmunya bukan Thian-can-sin-kang, orang ini pun bukan Wan Fei-yang!"
"Lo-pek..."
Wan Fei-yang ingin mengatakan sesuatu tapi dia segera terdiam karena dia tidak tahu apa yang harus diucapkan.
Mata Tong Pek-coan terlihat seperti akan pecah, dari sudut matanya sudah keluar darah, dia memelototi Wan Fei-yang.
"Aku rasa kau pasti bukan orang jahat, kalau kau orang dunia persilatan yang menjaga keadilan, aku lihat kau mempunyai ilmu tinggi, jadi cepatlah tinggalkan tempat ini, tempat ini bukan tempat yang bagus, dan kau bukan lawan orang ini!"
"Orang ini..."
"Ilmunya juga bukan Thian-can-sin-kang tapi tidak seperti ilmu silat biasa, kita sama-sama orang dunia persilatan, tinggalkan tempat ini segera, memberitahu172 kepada teman-teman dunia persilatan, jangan menaruh prasangka kepada Wan Fei-yang..."
"Lo-cianpwee adalah..."
"Tong-bun, Tong Pek-coan!"
Suara Tong Pek-coan semakin melemah, suaranya baru selesai kemudian dia berteriak memilukan lagi.
Hati Wan Fei-yang bergetar, dia berlari mendekati Tong Pek-coan, dia melihatnya terlihat cemas juga marah, dia berteriak dengan histeris.
"Cepat pergi..."
Suara orang mengutuk semakin mendekat. Sat Kao muncul dari antara batu-batuan stalaktit, dia menggelengkan kepala.
"Kemana kau menyuruhnya pergi?"
Mata Tong Pek-coan tampak berputar, lalu melihat Wan Fei-yang, dia menarik nafas dengan sedih.
"Anak ini..."
Wan Fei-yang ingin mengatakan sesuatu tapi Sat Kao sudah tertawa.
"Kau benar-benar berani datang kemari!"
"Apakah kau Sat Kao?"
Wan Fei-yang mencoba mencari tahu. Sat Kao terpaku.
"Kau tahu namaku? Tampaknya kau bukan orang biasa,"
"Orang yang ada di dalam kepompong apakah Beng To?"
"Siapa kau?"
Sat Kao balik bertanya.
"Wan Fei-yang..."
Sat Kao terpaku, dia berteriak.173
"Kau Wan Fei-yang, orang yang menguasai Thian-can-sin-kang... Wan Fei-yang itu?"
Beng To yang berada di dalam kepompong hitam seperti mendengar percakapan mereka, sebab terlihat tubuhnya bergetar.
Apa lagi Tong Pek-coan, terlihat dia terpaku, rasa sakitnya pun seperti sudah terlupakan, dengan termangu dia menatap Wan Fei-yang, mulutnya menganga tapi tidak ada suara yang keluar dari mulutnya.
"Kalian memindahkan petaka kepada orang lain dan aku adalah orang lain itu!"
"Awalnya kami tidak tahu di mana keberadaanmu, maka kami tidak berniat untuk memindahkan petaka ini kepadamu, orang lain sudah salah sangka, itu tidak ada hubungannya dengan kami!"
"Apakah benar?"
Wan Fei-yang setengah percaya.
"Kalau kau sudah menguasai Thian-can-sin-kang, kau pasti terkenal di dunia persilatan, tapi 5 tahun yang lalu kau tidak begitu terkenal!"
"Apakah 5 tahun yang lalu, Tuan sudah mundur dari dunia persilatan?"
Wan Fei-yang balik bertanya.
"Saat itu aku sedang mengajarkan ilmu silat kepada Beng To, dia adalah orang yang berbakat, dia tidak mengecewakanku dia cocok dengan apa yang kuharapkan!"
"Sederetan pembunuhan terjadi di dunia persilatan, apakah pelakunya Beng To?"
Tong Pek-coan menyela.174 Dengan ilmu Ih-hoa-ciap-bok (Geser bunga sambung kayu) dia mengambil tenaga dalam orang lain untuk dijadikan miliknya dan berlatih ilmu sesat ini!
"Apakah ini cara ketiga untuk berlatih Thian-can-sin-kang?"
Tanya Wan Fei-yang.
"Apakah karena kau tidak tahu maka bisa berkata seperti itu?"
Tanya Sat Kao dengan dingin. Ini bukan Thian-can-sin-kang!, Wan Fei-yang terpaku dan menarik nafas.
"Apakah kau tahu apa sebenarnya Thian-can-sin-kang itu?"
Wan Fei-yang mengangguk. Sat Kao dengan dingin berkata lagi.
"Tidak bertanya lebih dulu langsung mengambil, dan menjadikannya milik sendiri, apakah ini adalah gaya dunia persilatan Tionggoan yang biasa kalian sebut perkumpulan lurus? "
Tapi walau bagaimana Bu-tong-pai belum pernah berbuat sewenang-wenang dengan Thian-can-sin-kang!"
"Maling tetap maling, Bu-tong-pai tidak berani mengungkapkan rahasia ini, berarti takut ketahuan, Sat Kao tertawa dingin.
"Benar atau salah, aku adalah angkatan muda Bu-tong-pai, aku tidak bisa memastikannya, tapi Thian-can-kang, Thian-can-sin-kang dengan alasan apapun tidak perlu sampai mengambil nyawa orang lain!"
"Kalau begitu, mengapa kau langsung berteriak Thian-can-sin-kang!"
"Tuan jangan memakai alasan yang tidak masuk akal, aku tidak bisa mengatakan apa-apa!"
Kata Wan Fei-yang.
"Kalau begitu, tinggalkan Thian-can-sin-kang mu, aku akan melepaskan dan membiarkan kau hidup!"
Kata Sat Kao. Wan Fei-yang belum menjawab, Tong Pek-coan sudah berteriak histeris.
"Di dunia ini mana ada orang bodoh seperti itu, Wan Fei-yang... jangan begong lagi, cepat maju dan bunuh 2 iblis ini!"
"Lo-cianpwee..."
Kata-kata ini baru terucap keluar segera dipotong.
"Bunuh mereka..."
Walaupun Tong Pek-coan sudah tersiksa berat tapi sifatnya tetap keras. Wan Fei-yang melihat Sat Kao.
"Anak muda, kau menginginkan apa?"
Kata Sat Kao sambil tertawa. Wan Fei-yang menunjuk Tong Pek-coan.
"Aku harus membawa dia pergi, tentang kebajikan dan dendam di antara kita baru kita buat perhitungan di lain waktu!"
"Apakah kau sanggup membawanya pergi?"
"Maaf...."
Wan Fei-yang berjalan ke arah Tong Pek-coan tapi tangan Sat Kao sudah melayang, asap dan kabut muncul dan menghampiri Wan Fei-yang.176 Asap itu berwarna-warni dan sedap dipandang mata.
Tong Pek-coan berteriak.
"Hati-hati itu racun!"
Tangan Wan Fei-yang segera dikebutkan keluar, tenaga dalam yang kuat menyambut asap berwarna-warni itu.
Asap dan kabut tidak bisa maju, dan menggulung kembali, tapi Sat Kao tidak menghindar dia membiarkan asap itu menutupi tubuhnya.
Kemudian kedua tangannya tampak melayang, dua cahaya berwarna emas keluar dari lengan baju dan melesat ke arah Wan Fei-yang.
Tampaknya itu adalah 2 buah senjata rahasia, sebenarnya adalah 2 ekor ular emas.
Mata Wan Fei-yang melihat sangat cepat, awalnya dia berniat menyambut tapi tiba-tiba berubah menjadi 2 kekuatan yang menggulung ke depan.
Dua ekor ular emas itu seperti menabrak sebuah dinding yang tidak terlihat.
Di tengah-tengah udara 2 ekor ular itu terus meloncat dan bersalto kemudian jatuh ke bawah.
Sebelum sampai di tanah, mereka sudah digulung lagi oleh tenaga dalam Wan Fei-yang dan dilempar ke sebuah batu.
Sat Kao melihatnya, dia segera bersiul, tapi dua ekor ular itu tidak bereaksi.
Setelah menabrak batu ular itu hancur lebur.
"Kau berani membunuh Kim-li (Budak emas) milikku?"
Wajah Sat Kao benar-benar terlihat marah, suaranya pun menjadi tajam.177
"Maaf!"
Baru saja Wan Fei-yang berkata itu tampak beberapa ekor laba-laba beroman manusia sebesar kepalan tangan sudah datang dari udara, dia sangat mengerti laba-laba itu sangat beracun, dia pun menyentil dengan jarinya, tenaga besar datang mengenai laba-laba itu.
Laba-laba itu satu per satu disentil ke atas udara kemudian terjatuh, setelah meronta sesaat mereka segera mati.
Sat Kao melihat jelas semua itu, wajahnya terus berubah, dari mulutnya keluar suara aneh dan laba-laba semakin banyak yang muncul, mereka menyerang dari semua penjuru.
Dua telapak tangan Wan Fei-yang berputar, baju dan rambut tampak berkibar, membuat laba-laba itu kembali kepada Sat Kao.
Sat Kao tampak marah, dia seperti kelelahan, Wan Fei-yang sekali lagi menyerang, setelah berhasil menghindar Sat Kao menggunakan batu stalaktit sebagai tameng.
Sewaktu dia ingin menyerang lagi, terdengar Tong Pek-coan berteriak lagi, suaranya terdengar sangat menyedihkan membuat suaranya bergema di dalam gua, bulu kuduk pun berdiri.
Terlihat tubuh Tong Pek-coan terus menciut, kedua matanya pun sepertinya akan meloncat keluar karena daging di wajahnya terus menciut.
Melihat reaksinya bisa dibayangkan bagaimana rasa sakit yang dialaminya sangat hebat, bibirnya pun tampak bergetar, dia seperti ingin mengatakan sesuatu tapi tidak ada kata-kata yang bisa keluar.178 Mata Wan Fei-yang tampak berputar, dia segera menyerang Beng To.
Bersamaan waktu kabut berwarna-warni menggulung datang ke arahnya, asap berkilau mengandung racun sangat kental.
Suara Sat Kao melantunkan mantera seperti ujung jarum terus menusuk telinga Wan Fei-yang.
Wan Fei-yang segera mengatur nafas, kedua telapak tangannya menepis.
Dalam lantunan mantera yang keras tampak kabut datang kembali, Sat Kao keluar dari dalam kabut, kedua tangannya terlihat bersinar terang ternyata dia sudah mengeluarkan senjatanya, lalu tangannya direntangkan lebar-lebar dan diayunkan kepada Wan Fei-yang.
Pisau beroda terus melesat, tempat di mana senjata itu lewat tampak batu stalaktit terpotong seperti tahu, terlihat bagaimana tajamnya pisau beroda itu.
Wan Fei-yang terus berkelebat ke sana-ke mari menghindari pisau beroda dan berusaha mendekati kolam, kemudian dia menepuk Beng To.
Tiba-tiba terdengar suara perempuan.
"Jangan lukai Kokoku..."
Telapak tangan Wan Fei-yang berhenti di tengah-tengah udara.
Dia bersalto turun di bawah Tong Pek-coan lalu telapak tangannya terayun, benang-benang sutra dari sarang laba-laba segera terputus.
Sat Kao mengambil kesempatan ini untuk menepis.
Pei-pei berteriak.
"Suhu, semua hanya salah paham, jangan bertarung lagi!"179
"Salah paham apa?"
Sat Kao terpaku.
"Dia hanya mendengar ada teriakan memilukan, maka dia masuk untuk melihatnya!"
"Apakah kau yang membawanya masuk?"
Pei-pei mengangguk, wajahnya memerah.
"Dia... dia.."
Kata-kata berikutnya tidak di teruskan.
Sat Kao segera mengerti apa yang terjadi, kedua alisnya berkerut, tangan yang sedang meme-gang pisau beroda tampak berdiri tidak bergerak.
Wan Fei-yang mengangkat Tong Pek-coan berjalan melewati kolam dan turun di sisi Pei-pei.
Sat Kao hanya melihat, dari sudut mulutnya terlihat tawa sinis, dia sudah melihat ilmu lweekang Tong Pek-coan tersedot hingga kering, dia sudah menjadi orang tidak berguna.
Tampaknya Pei-pei baru pertama kali tahu hal ini, dia melihat Tong Pek-coan, dengan aneh bertanya.
"Lo-pek ini ada keperluan apa di sini?"
"Orang ini adalah musuh kita, mereka datang dan membuat repot, maka dia kami tangkap!"
Tampaknya Pei-pei tidak curiga dengan ucapan Sat Kao, dia bertanya.
"Suhu memberi guna-guna apa hingga membuatnya menjadi seperti ini?"
"Ini bukan guna-guna!"
"Lalu apa?"180
"Anak perempuan jangan banyak bertanya, bukankah aku sudah berpesan tidak boleh ada yang kemari?"
"Tapi..."
"Cepat keluar!"
Sat Kao membentak. Pei-pei melihat Wan Fei-yang, dia ingin mengatakan sesuatu tapi Beng To yang berada dalam kepompong sudah membuka suara.
"Biarkan mereka berada di sini!"
Alis Sat Kao yang berkerut segera terlihat rata, alis Wan Fei-yang malah yang pelan-pelan berkerut.
Kata-katanya baru selesai serat benang laba-laba yang ada di tubuh Beng To mengelupas, Laba-laba yang di atas tubuhnya satu per satu terjatuh.
Tadinya berwarna hitam sekarang menjadi warna gelap tidak terlihat bercahaya.
Begitu serat sutra laba-laba itu terkelupas, wajah Beng To sekarang terlihat jelas, kulit yang tadinya berwarna abu keputihan sekarang berubah menjadi putih keperakan dan tampak licin seperti sutra.
Pei-pei melihatnya dia berteriak terkejut.
"Koko, bagaimana keadaanmu?"
"Baik...."
Jawab Beng To.
"Apakah benar kau baik-baik saja?"
Tanya Sat Kao.
"Aku baik-baik!"
"Kau sungguh tidak menyia-nyiakan usaha gurumu!"
Sat Kao tertawa aneh.
"Kalian sedang membicarakan apa?"
Tanya Pei-pei.181
"Koko berlatih dari dulu sekarang baru bisa berhasil, di dunia yang begitu luas ini tidak ada seorang pun yang bisa melawanku."
Kata Beng To.
"Selamat, Koko!"
Beng To tertawa.
"Aku harus berterima kasih kepadamu, Dik! Kalau bukan karena kau yang mencegah pukulan Wan Fei-yang, mungkin aku akan gagal total."
Pei-pei melihat Wan Fei-yang.
"Dia tidak akan melukaimu, di antara kalian terjadi kesalahpahaman!"
"Tidak..."
Beng To tertawa kepada Wan Fei-yang "Apakah benar, Lo-te?"
"Banyak pesilat-pesilat tangguh di Tionggoan yang mati, apakah kau yang telah membunuh mereka?"
"Sekarang sudah seperti itu, aku tidak perlu membohongimu lagi!"
Sat Kao menyela.
"Dia bisa mencarimu sampai kemari, banyak hal yang sudah dia tahu dengan jelas!"
"Tentang apa?"
Tanya Pei-pei lagi. Sat Kao menatap Beng To, Beng To tertawa.
"Biar saja dia tahu, itu akan lebih baik dari pada mencari-cari alasan untuk menjelaskannya!"
"Masuk akal!"
Jawab Sat Kao. Beng To berkata kepada Pei-pei.182
"Tenaga dalam yang kulatih jika hanya mengandalkan usaha sendiri membutuhkan waktu 20-30 tahun, tapi kalau melalui jalan pintas dengan ilmu Ih-hoa-ciap-bok aku bisa menyedot tenaga dalam orang lain, lalu memakainya seperti tenaga dalam sendiri, bukan hanya bisa mempersingkat waktu, kekuatan-nya pun bisa lebih dahsyat!"
Sat Kao menyela.
"Inilah perbedaan orang tua dan anak muda, anak muda terlihat penuh semangat, mudah dikembangkan, maka walau pun Suhu mendapatkan jalan menuju ke sana, tapi Suhu tidak memaksamu harus berlatih."
"Apa yang disebut dengan meminjam tenaga dalam orang lain?"
Tanya Pei-pei.
"Dengan guna-guna langsung atau tidak langsung dan memancing tenaga dalam lawan keluar, kemudian tenaga itu disedot dan diubah menjadi tenaga dalam sendiri!"
Jelas Beng To.
"Setelah dipakai apakah kemudian dikembali kan kepada lawan?"
"Setelah habis dipakai mana mungkin masih ada sisa tenaga untuk dikembalikan? Apa lagi setelah tenaga dalam orang itu disedot hingga habis paling sedikit keadaan lawan sudah seperti orang cacat, walaupun kau mengembalikan tenaga dalam-nya kembali kepadanya, dia tidak akan bisa menerimanya kembali!"
"Apakah berubah seperti orang tua ini?"
Tanya Pei-pei sambil melihat ke arah Tong Pek-coan.183
"Sebenarnya dia bisa saja merasa nyaman tapi dia menolak mengeluarkan ilmu lweekangnya, aku tidak bisa berbuat apa-apa, terpaksa menyuruh Suhu menggunakan guna-guna memancing tenaga dalamnya keluar."
"Kalau dia menolak kita bisa mencari orang lain!"
Kata Pei-pei.
"Orang yang kubutuhkan bukan orang biasa, dia harus seorang pesilat tangguh yang mempunyai ilmu lweekang tinggi. Pesilat tangguh seperti dia, mencari satu pun harus dengan susah payah!"
"Kalau dia menolak..."
"Terpaksa dipaksa!"
Kata Beng To sambil tertawa.
"sebenarnya siapa yang rela menyerahkan tenaga dalamnya yang sudah susah payah di latih selama puluhan tahun kepada orang lain!"
Pei-pei terus menatap Beng To dengan pandangan aneh, walaupun dia mempunyai ilmu tinggi tapi pengalamannya kurang juga karena dia adalah seorang putri, tidak pernah meninggalkan perbatasan Biauw, mengenai masalah baik dan jahat, dia tidak terlalu dalam mengetahuinya.
Di depan mata tampak yang satu gurunya sedang yang satu lagi adalah kakaknya.
Sepanjang hidupnya dia tidak merasa kalau mereka berbuat kesalahan, sekarang setelah mendengar semua penjelasan guru dan kakaknya, dia merasa semua itu masuk akal, hal inilah yang membuatnya merasa aneh!184 Wan Fei-yang melihatnya, diam-diam menarik nafas, akhirnya dia tidak tahan dan berkata.
"Itu sifat seorang perampok!"
"Bisa dikatakan seperti itu!"
Kata Beng To.
"Tapi kalau kau berdiri di pihak seorang pesilat, dia harus melakukan hal seperti ini, untuk membaktikan kalau ilmu silat jenis ini benar-benar ada, dia harus melebarkan ilmunya."
"Apakah tetua tidak merasa semua ini terlalu egois?"
Wan Fei-yang melihat Sat Kao dengan serius.
"Kalau aku egois, aku tidak akan menerima murid kemudian mengajarkan ilmu ini kepadanya!"
Jawab Sat Kao. Wan Fei-yang tidak bisa berkata lagi dia hanya tertawa kecut.
"Pengalamanmu di dunia persilatan sangat sedikit karena itu kau tidak bisa menerimanya, tapi aturan itu berada di hati setiap orang..."
Kata Wan Fei-yang. Sat Kao menggelengkan kepala.
"Mempunyai hak adalah aturan umum, seperti Bu-tong-pai yang telah mengambil Thian-can-sin-kang dan menjadikan ilmu itu menjadi miliknya."
"Ini mungkin kesalahan perguruan kami, tapi kami sudah menggubah rumus Thian-can-sin-kang sehingga tidak perlu mengorbankan orang lain lagi.,."
"Maksudmu, kalau kami pergi ke Bu-tong-pai, mereka akan memberi tahu cara berlatih Thian-can-sin-kang?185 Apakah betul Bu-tong-pai bisa mempunyai jiwa yang begitu besar?"
Tanya Sat Kao.
"Asal tujuan kalian benar, aku percaya..."
Sat Kao tertawa dan memotong.
"Apakah tujuannya benar atau tidak, itu hanya kata-kata dari satu pihak, kau hanya bisa percaya saja!"
Wan Fei-yang terdiam lagi, dia teringat dulu di Bu-tong-pai dia pernah menjadi seorang kuli dan dihina! Sat Kao menatapnya dan berkata.
"Ilmu silat tidak bisa diduakan, di Bu-tong-pai orang yang seperti kau sepertinya tidak ada!"
"Memang tidak banyak, tapi tetap ada!"
Kata Wan Fei-yang. Kouw-bok dan Pek-ciok Tojin adalah orang seperti itu, tapi murid Bu-tong yang lain apakah ada yang seperti mereka? Sat Kao tertawa lagi, lalu mengganti topik pembicaraan.
"Orang yang mati di tangan Beng To seperti mati karena Thian-can-sin-kang. Maka perkumpulan dan teman dari orang-orang yang mati itu mencari Bu-tong-pai, dan mereka memaksamu harus mencari tahu bukan?"
"Benar..."
Jawab Wan Fei-yang, dia berkata kepada Beng To.
"sebenarnya Tuan tidak perlu sampai membunuh!"
"Awalnya aku tidak bisa menguasai diri dan tidak mempunyai cara lain, kalau kau mengira aku sengaja memindahkan malapetaka ini ke bahumu, kau salah!"
"Thian-can-sin-kang dari Bu-tong-pai belum lama muncul, setelah Beng To dicurigai sebagai Wan Fei-yang, kami baru menaruh perhatian."
"Kami sudah terpikir kalau kau akan datang kemari, hanya saja tidak menyangka, kau akan datang begitu cepat, ini di luar dugaan kami!"
"Aku sudah datang maka aku harap hal ini bisa dibereskan!"
"Dengan cara apa kau bisa membereskan semua ini?"
Tanya Beng To.
"Mengaku kalau semua ini adalah hasil perbuatanmu kepada khalayak dunia persilatan, kau harus jujur!"
"Aku memang berniat seperti itu!"
Kata Beng To.
"Kapan?"
"Sekarang..."
Jawab Beng To. Wan Fei-yang terpaku. Pei-pei merasa terkejut juga senang melihat Beng To.
"Kami sudah menyalahkanmu!"
"Aku tinggal di sini pun tidak ada artinya lagi!"
Kata Beng To.
"Apakah karena kau sudah menguasai ilmu seperti Thian-can-sin-kang itu?"
Tanya Wan Fei-yang secara tiba-tiba.
"Kau datang pada saat yang tidak tepat, kalau tidak, kau pasti bisa mencegatku!"
"Kau kira Thian-can-sin-kang yang kau miliki ini tidak terkalahkan oleh siapa pun dan tidak perlu mengkhawatirkan sesuatu?"
"Itu sudah terbukti!"
Jawab Beng To begitu yakin.
"Walau bagaimana aku tidak perlu menjelaskan lebih detail lagi. Teman-teman dunia persilatan pasti akan tahu bahwa pembunuhnya bukan aku!"
"Aku tidak ingin memalsukan identitasmu, orang curiga kepadamu tidak ada hubungannya denganku!"
Kata Beng To.
"Sebelum berhasil kau tidak ingin orang lain tahu identitasmu yang sebenarnya supaya tidak muncul kesulitan di kemudian hari!"
"Aku memang tidak takut direpotkan, tapi aku tetap tidak mau semua itu mengganggu laju karirku!"
"Takutnya setelah diumumkan kau akan menemui banyak rintangan, apakah kau sudah siap menghadapinya?"
"Harus melihat bagaimana reaksi mereka, kalau tahu mereka bukan lawanku, tapi tetap tidak mau tunduk terpaksa aku membuka puasa untuk tidak membunuh!"
"Lalu apa tujuanmu?"
"Dulu apa cita-cita Tokko Bu-ti dari Bu-ti-bun?"
"Tidak terkalahkan dan menjadi pemimpin dunia persilatan."
"Apakah itu juga cita-citamu?"
Tanya Wan Fei-yang lagi sambil menarik nafas.
"Tidak ada hal yang lebih berarti dari pada tujuan itu, orang Han selalu menganggap remeh suku Biauw dan mengira suku Biauw adalah suku terbelakang..."
"Mungkin hanya sebagian suku Han saja..."188
"Kau bukan orang suku Biauw jadi kau tidak merasakannya, aku lihat kau pertama kali datang kemari dan kau sama sekali tidak tahu bagaimana orang suku Han bergaul dengan orang suku Biauw, orang Han selalu menjebak gadis Biauw, menipu mereka."
"Dan kau berhasil, sampai-sampai adikku..."
Kata Beng To sambil tertawa "Koko..."
Pei-pei berteriak. Pei-pei menghentakkan kaki tapi dia terlihat tersenyum, Beng To tertawa.
"Adik, nasibmu sungguh baik, tidak salah mencari orang. Walaupun dia tidak segagah dan seperkasa seperti kakakmu ini tapi dia adalah pesilat nomor satu di dunia persilatan Tionggoan."
"Tapi mengapa kau galak kepadanya!"
Tanya Pei-pei pelan. Mata Beng To berputar.
"Tenanglah, apakah aku yang menjadi kakakmu tidak bisa melihat bahwa kau benar-benar menyukai Wan Fei-yang?"
"Pantas orang Han selalu mengatakan bahwa perempuan selalu mementingkan keluarga suami, belum menikah pun kau sudah..."
"Koko..."
"Marga Wan, apa pendapatmu?"
"Kau bertanya kepadaku..."189
"Aku lihat kau bukan orang bodoh, kau seharusnya mengerti maksudku!"
"Kita sudah menjadi satu keluarga, apakah harus saling membunuh?"
Wan Fei-yang terpaku di sana, Beng To berkata lagi.
"Aku berpikir, kau mempunyai Thian-can-sin-kang dan itu tidak mudah diperoleh, asal kau tidak membuatku repot, aku tidak akan membuatmu sulit!"
Wan Fei-yang ingin mengatakan sesuatu tapi Beng To sudah berkata lagi.
"Yang pasti lebih baik kita bekerja sama!"
Sat Kao mendengar semua percakapan itu, dia segera menyela.
"Kalau kalian bekerja sama tidak ada yang bisa mengalahkan kalian di dunia ini."
"Wan-toako, setuju lah!"
Bujuk Pei-pei. Wan Fei-yang tertawa dengan kecut, bertanya.
"Kalau orang Tionggoan tidak bisa menerimanya, bagaimana caramu menghadapinya?"
Beng To bersikap meremehkan.
"Aku akan membunuh mereka satu per satu, sampai mereka semua tunduk kepadaku!"
Wan Fei-yang menggelengkan kepala, Sat Kao berkata.
"Aku tidak pernah melihat ada orang yang tidak takut mati!"
"Kau salah, Sat Lo-cianpwee!"
Wan Fei-yang menatap Tong Pek-coan.190 Wajah Sat Kao terlihat marah. Sewaktu dia akan mengatakan sesuatu, Beng To sudah menyela.
"Marga Tong ini sudah tua, mungkin dia sudah bosan hidup..."
Dia tidak meneruskan kata-katanya, dia seperti tidak punya cukup alasan dan sepertinya dia tiba-tiba teringat sesuatu.
"Orang seperti ini di antara sepuluh ribu tidak ada satu!"
Kata Sat Kao.
"Tapi di depan mata sudah ada 2 orang Tionggoan dan kedua-duanya sudah..."
Kata Wan Fei-yang.
"Apakah kau juga bosan hidup?"
Tanya Beng To memotong.
"Ini bukan masalah bosan atau bukan."
"Apakah kau berniat berseberangan denganku?"
"Kalau kau menjadikan orang Tionggoan sebagai musuh, aku adalah salah satunya, aku tidak bisa berpangku tangan hanya melihat saja!"
"Apakah kau mendengar ucapannya?"
Beng To melihat Pei-pei.
"Sepertinya dia juga salah!"
"Aku yakin kau akan berpihak kepadaku dan menasihati dia,"
Kata Beng To tertawa dengan dingin.
Pei-pei menggelengkan kepala, dia ingin mengatakan sesuatu.
Beng To sudah mengayunkan telapaknya, tenaga besar menghantam Pei-pei.
Pei-pei merasa nafasnya sesak nafas, dia pun mundur!191 Beng To melayangkan tangan ke arah Wan Fei-yang.
"Ayo...."
"Apakah kau sudah mengambil keputusan?"
Wan Fei-yang tetap bertanya.
"Ucapan seorang laki-laki yang sudah keluar tidak akan ditarik kembali, kau masih menunggu apa lagi?"
Bentak Beng To. Sat Kao tiba-tiba tertawa.
"Aku belum pernah melihat ada orang sebodoh ini, dia harus tahu, dia tidak akan bisa melawanmu!"
"Aku tidak melarang adikku menyukai orang bodoh seperti ini!"
"Dari mana kau tahu kalau dia bodoh?"
Tanya Pei-pei.
"Ilmu silat yang kita latih adalah sejenis, tapi dia masih seperti manusia biasa, coba lihat aku..."
Dari tadi Pei-pei sudah memperhatikan kulit Beng To yang berbeda.
Sekarang setelah dilihat dengan teliti, dia mulai merasakan hatinya menjadi dingin.
Beng To mengatur nafas, otot di tubuhnya terus bergetar, dengan dingin dia berkata.
"Mungkin inilah kehendak Langit, setelah orang Bu-tong-pai mencuri ilmu ini mungkin merasa bersalah sebab tidak seluruh ilmunya berhasil dicuri mereka!"
"Ilmu lweekang Mo-kauw tidak mudah diberhentikan!"
Kata Sat Kao. Wan Fei-yang menggelengkan kepala.192
"Ilmu lweekang Mo-kauw berbeda dengan ilmu lweekang perguruan lurus, ilmu itu terlalu kejam, Couw-su tidak ingin melukai orang yang tidak bersalah maka Thian-can-sin-kang diperbaikinya lagi. Berlatih Thian-can-sin-kang tidak perlu melukai orang karena cara berlatihnya tidak sama maka hasilnya pun berbeda"
"Apakah itu benar?"
Sat Kao setengah percaya.
"Kalau begitu, mungkin perlu dicoba, kalau bertarung di dalam gua aku yang akan beruntung, karena aku sangat hafal dengan tempatnya, jika kau kalah pasti tidak akan menerimanya!"
"Bagaimana kalau bertarung di luar gua? Atau kau mau memilih sendiri tempat dan waktunya?"
Setiap perkataan Beng To terdengar selalu penuh keyakinan bisa menang.
Sat Kao berseri-seri dia juga merasa bangga terhadap muridnya.
Dari menemukan rahasia ilmu lweekang, sampai memilih Beng To menjadi murid yang belajar ilmu ini, telah membuat Sat Kao menghabiskan banyak jerih payah.
Keberhasilan Beng To adalah panen terbesar baginya.
Wan Fei-yang tampak berpikir sebentar baru menjawab.
"Di luar gua."
Kemudian dia meletakkan kedua tangannya di pundak Tong Pek-coan. Beng To tertawa dingin.
"Tenanglah, aku tidak akan membunuh dia, sepertinya kau benar-benar orang yang menjaga keadilan, dirimu pun193 belum tentu bisa dilindungi, masih memperhatikan orang lain!"
Wan Fei-yang mengangguk.
"Kalau aku kalah, aku tidak akan bisa membawanya pergi! "
Kau tidak kemari pun aku akan tetap akan mengantarkan dia kembali ke Tong-bun, tidak perlu mengkhawatirkan orang tua ini!"
Sorot matanya terlihat khusus, walaupun Wan Fei-yang mengawasi, dia tidak tahu apa alasannya.
Kedua tangan Beng To dibuka, seperti seekor kelelawar terbang keluar gua.
Kepompong yang sudah mengering terjatuh dari tubuhnya, setelah terjatuh kepompong itu segera menciut.
Sat Kao berseri-seri, dia terbang ikut di belakang Beng To.
Lonceng bersinar emas terus berdentang, rambut yang panjang terus melayang.
Dilihat dari arah mana pun dia tidak seperti seorang manusia, benar-benar seperti siluman.
Wan Fei-yang belum bergerak.
Pei-pei sudah menarik tangannya.
"Apakah benar kau ingin bertarung dengan Kokoku?"
"Tidak ada cara untuk membereskan masalah ini!"
"Aku harus melakukan apa lagi? Berdiri di pihakmu atau di pihak Kokoku?"
Wan Fei-yang hanya bisa tertawa dengan kecut, dia tidak bisa menjawab.194 Di dasar danau terdapat banyak batu besar yang bermunculan ke permukaan.
Beng To menunggu di salah satu batu besar itu.
Sat Kao duduk bersila di atas sebuah batu lain.
Dia membawa sebuah genderang berbentuk aneh.
Melihat Wan Fei-yang keluar dari gua, dia seperti tidak sengaja memukul dengan pelan genderang itu 3 kali.
Suara genderang terdengar sangat berat, jantung terasa berdebar-debar.
Sorot mata Wan Fei-yang menatap ke arah genderang itu.
Sat Kao segera berkata.
"Tenanglah, aku jamin pertarungan ini pasti dilakukan dengan adil!"
"Karena kau yakin kalau muridmu yang akan menang?' "
Walaupun Mo-kauw dipandang rendah dan keji, tapi dibanding Bu-tong-pai mencuri ilmu Mo-kauw kemudian menampilkannya dengan wajah baru dan menamakannya Thian-can-sin-kang, sekarang menghadapi ilmu Iweekang asli dari Mo-kauw, aku yakin kau pasti yang akan kalah!"
"Kalau kau mau berlutut memohon ampun, mungkin aku akan melepaskanmu!"
Kata Beng To sambil tertawa.
"Koko..."
Mata Beng To berputar.
"Maksudku dengan melepaskan dia adalah pada bagian ilmu silat, biasanya orang Tionggoan selalu kasar dan tidak tahu aturan, kalau dia mempunyai ilmu tinggi dan ingin tinggal di perbatasan Biauw, itu bukan hal gampang, lebih195 baik dia menjadi orang biasa. Dan dia bisa menemanimu seumur hidup!"
"Tapi dia tidak akan hidup senang atau bahagia!"
"Sekarang kakak juga tidak merasa senang atau bahagia!"
Kata Beng To sambil tertawa, dia melambaikan tangan kepada Wan Fei-yang.
Wan Fei-yang melayang di atas air dan turun di atas batu tidak jauh dari Beng To.
Melihat gaya melayang Wan Fei-yang tampak ilmu silatnya memang tidak rendah!
Setelah turun Wan Fei-yang tidak bergerak tapi dilihat-lihat lagi seperti sedang bergerak.
Mata Beng To tampak bercahaya, kemudian dia membentak, batu besar yang diinjaknya segera pecah berantakan seperti dibom!
Beng To terjatuh, tapi dia melayangkan tangannya.
Batu-batu yang hancur itu menyatu kembali dan terbang menerjang ke arah Wan Fei-yang.
Semua terjadi begitu tiba-tiba dan mengguncangkan bumi.
Pei-pei belum pernah melihat keadaan begitu mencengangkan dia terkejut dan berteriak.
Sat Kao pun seperti terkejut, apa yang Beng To lakukan memang di luar dugaannya.
Sikap Wan Fei-yang masih terlihat seperti biasa, kedua tangannya menyambut batu yang menyerangnya.
Gerakannya sangat cepat, batu-batu hancur itu dicengkeram dan dikumpulkannya, walau pun tidak bisa kembali ke196 bentuk semula tapi sudah berkumpul menjadi sebongkah batu, dia melempar batu itu ke dalam air, batu itu hancur.
Tawa Sat Kao berhenti.
Wan Fei-yang seperti tidak pernah terjadi sesuatu, dia tetap melihat wajah Beng To.
Setelah dia melempar batu itu dia pun mundur, sekarang dia duduk di atas sebuah batu besar melihat cara Wan Fei-Yang menangani serangannya.
Permukaan air kembali tenang.
Wajah Wan Fei-yang tetap tidak terjadi perubahan, dia bersiap menyambut serangan Beng To berikutnya.
Tiba-tiba Beng To membentak, dia terbang meninggalkan batu tempat di mana dia duduk dan menerjang ke arah Wan Fei-yang.
Batu besar itu seperti diikat oleh sesuatu, menempel di kedua kaki Beng To, Beng To berputar, batu besar itu pun ikut berputar.
Beng To berputar semakin cepat di tengah udara, batu itu pun ikut berputar dengan cepat, kemudian batu itu terlepas dan terbang ke arah Wan Fei-yang.
Melihat batu besar itu datang-menyerang, kedua tangan Wan Fei-yang seperti gelombang terus bergerak, dan mengeluarkan suara PIUHU!
Batu besar terlepas dari putaran gasing.
Beng To mengikuti arah putaran batu bersalto ke belakang, kedua telapaknya terus menghantam batu besar.
Batu besar itu sudah mendekati kedua telapak tangan Wan Fei-yang.197 Batu datang dengan kuat dan cepat, ditambah kedua telapak tangan Beng To yang menghantam, yang pasti tenaga yang dihasilkan semakin besar.
Ke dua tangan Wan Fei-yang bergantian menyambut, 36 jurus tangan kosongnya sudah dikeluarkan, setiap kali menepuk batu besar yang datang kakinya tenggelam sedalam 1 inchi.
Sampai pukulan terakhir tubuhnya sudah menekuk.
Setiap kali menepuk batu besar disingkirkannya ke samping, sedikit demi sedikit hingga yang terakhir, batu itu terbang keluar dan jatuh ke dalam air.
Karena batu itu berputar-putar baru terjatuh maka tidak terjadi cipratan air.
Sebelum masuk ke dalam air, air tampak berputar-putar, sampai batu-batu itu masuk, air masih terus berputar.
Pusaran air semakin kencang juga mengeluar kan suara aneh.
Sat Kao dan Pei-pei merasa hati mereka bergetar dan mata mereka tidak berkedip, kedua orang yang bertarung tidak seperti bertanding ilmu silat terlihat mirip dengan ilmu sulap iblis.
Beng To masih berputar, akhirnya seperti gurdi menancap ke arah kepala Wan Fei-yang.
Wan Fei-yang ikut berputar tapi dengan arah sebaliknya.Tubuh Beng To bersiap menancap tapi segera berubah menjadi seperti dinding tidak terlihat dan berhenti di tengah-tengah udara, dia bersiul keras.
Di udara dia198 merubah gerakan sampai 7-8 kali, akhirnya dia pun turun.
Sewaktu turun kedua telapak tangannya segera menepuk, putaran air seperti disayat-sayat menjadi ratusan lembar air dan air itu pun saling menabrak.
Air bermuncratan ke atas membuat suatu pemandangan indah.
Sebelah kaki Beng To menginjak air yang bermuncratan itu.
Dia bisa naik pada ketinggian yang sama dengan Wan Fei-yang.
Dia segera mendekat, menghantam Wan Fei-yang dengan telapaknya.
Di tengah-tengah telapaknya terlihat bercahaya.
Kedua telapak tangan Wan Fei-yang pun dibalik, di tengah telapaknya seperti ada cahaya berkedip, dia menyambut kedua telapak tangan Beng To yang datang menyerangnya.
Tampaknya mereka sudah mulai mengerahkan Thian-can-sin-kang, saat kedua telapak tangan mereka bentrok, tidak ada suara yang keluar dan tanpa bersuara tangan mereka berpisah kembali.
Tapi di celah antara kedua telapak tangan mereka terlihat ada serat benang dan benang itu terlihat saling menyambung, cahaya terus berkelebatan.
Sewaktu kedua telapak tangan mereka berpisah, benang sutra dari jaring laba-laba seperti ditarik panjang, memang mirip tapi dari warnanya terdapat perbedaan.
Thian-can-sin-kang dari telapak tangan Beng To berwarna perak keabu-abuan, sedang serat yang menyambung ke arah Wan Fei-Yang hampir transparan.199 Ke dua telapak tangan Beng To terlihat maju dan mundur.
Gerakan Wan Fei-yang pun sama.
Telapak tangan mereka menempel lagi.
Beng To berteriak.
"Thian-can-sin-kang yang bagus..."
Tapi Wan Fei-yang tidak mengeluarkan suara sedikit pun, keadaan seperti ini jika dia tidak mengakui Thian-can-sin-kang berasal dari Bu-tong, melain kan dari ilmu lweekang Mo-kauw, sudah tidak akan bisa lagi.
Di pinggir Sat Kao berdiri marah, berteriak.
"Bunuh bocah dari Bu-tong-pai itu!"
Suaranya baru selesai, Wan Fei-yang dan Beng To bersama-sama membentak, bersama-sama meninggalkan batu besar itu dan mendarat di atas batu lainnya yang berjarak 3 tombak dari tempat tadi.
Baru saja Mereka mendarat, batu besar itu sudah meledak, mereka naik lagi dan berputar di udara seperti kincir angin.
Setelah berputar Sat Kao memang bisa menghitung berapa kali mereka berputar.
Wajahnyapun ikut berputar dia adalah seorang pesilat tangguh, yang pasti dia bisa melihat sebagaimana jauh jarak ilmu silat ke dua orang itu.
Ternyata Beng To bukan tandingan Wan Fei-yang!
Sat Kao merasa yakin, sorot matanya terus berkelebat, seperti sedang mencari-cari jalan lain.
Wan Fei-yang dan Beng To berputar, akhirnya mereka bersama-sama terjatuh ke dalam air, dan telapak tangan200 mereka bisa berpisah, mereka bersama-sama menepuk ke dalam air.
Tubuh mereka sudah separuh tenggelam.
Tepukan itu membuat tubuh mereka naik lagi dan mereka meloncat ke atas sebuah batu.
Suara genderang mulai terdengar saat itu.
Wan Fei-yang melihat Sat Kao memukul terus genderang yang diletakan di pangkuannya, sikapnya pun mulai terlihat aneh.
Wan Fei-yang tidak tahu apa kegunaan genderang itu, tapi dia segera menghubungkannya dengan guna-guna.
Suara genderang itu membuat hatinya jadi tidak tenang.
Sebaliknya Beng To malah terlihat semakin bersemangat.
Dia menginjak permukaan air sekali lagi dan menyerang ke arah Wan Fei-yang.
Sepasang tangannya terus bergoyang-goyang ke atas dan ke bawah.
Wan Fei-yang mengatur nafasnya supaya hatinya kembali tenang, kemudian kedua telapak tangannya menyambut telapak tangan Beng To.
4 buah telapak bentrok lagi, tetap tidak ada suara yang keluar.
Kali ini Wan Fei-yang tergetar hingga terbang, dia terbang ke belakang sebuah batu.
Beng To mengejarnya dan mendarat di atas batu besar itu.
Dia seperti anak panah terus meluncur ke arah Wan Fei-yang.
Dua telapak Wan Fei-yang memukul air, membuat air muncrat dan menjadi tiang air, dia mengikuti arus air itu naik.201 Kedua telapak tangan Beng To sudah tiba di depannya, Wan Fei-yang membalikkan telapaknya menyambut serangan ke dua telapak tangan Beng To, lalu dia naik lagi.
Tubuhnya naik sambil menyerang.
Beng To menyambut serangan Wan Fei-yang dan tubuhnya tenggelam ke dalam air.
Lalu Wan Fei-yang pun meluncur ke dalam kolam, tapi dia melihat di permukaan air banyak terdapat laba-laba beroman manusia, baik yang besar maupun yang kecil tampak sedang merayap.
Laba-laba itu seperti keluar dari dalam air juga seperti sudah ada di sana sebelumnya, hanya saja mereka baru muncul sekarang.
Dengan dingin Sat Kao menatap Wan Fei-yang.
Tidak diragukan lagi laba-laba itu dia yang memanggilnya keluar, tujuannya adalah membantu Beng To.
Memang Wan Fei-yang tidak takut seperti saat masuk ke dalam gua, tapi tetap berusaha menghindar pada laba-laba beroman manusia, keada an seperti itu cukup membuat Beng To jadi berada di atas angin.
Bisa dikatakan Beng To menguasai ilmu lweekang Mo-kauw karena dibantu laba-laba itu.
Walau pun laba-laba menggigit tubuhnya tidak akan terjadi sesuatu padanya, apa lagi tubuhnya bisa mengeluarkan semacam bau yang membuat Laba-laba senang mendekatnya tapi tidak sampai melukainya.202 Sampai-sampai dia bisa menggunakan laba-laba itu menyerang musimnya.
Sat Kao sangat mengerti keadaan ini maka dia terus memukul genderangnya, dia menunggu Wan Fei-yang mendekati air, dia akan mengatur laba-labanya menyerang Wan Fei-yang.
Terlihat Wan Fei-yang akan terjatuh ke dalam air, Sat Kao memukul genderang, Beng To sudah bersiap-siap, memilih posisi tepat untuk menyerang.
Suara yang menyuruh laba-laba menyerang juga sebagai isyarat rahasia, Wan Fei-yang sangat mengerti jelas.
Waktu itu Beng To tampak sedikit ragu-ragu, dia bisa saja tidak menerima semua itu tapi akhirnya dia tetap harus menerimanya.
Dari pertarungan tadi dia sadar masih bukan tandingan Wan Fei-yang, jika dilihat banyak orang mungkin dia akan kabur terlebih dulu.
Kelak baru kembali lagi untuk bertarung dalam menentukan siapa yang menang atau kalah, tapi di sini hanya ada mereka berempat.
Di antara ke empat orang itu hanya Wan Fei-yang yang merupakan orang luar, jika terjadi sesuatu tidak akan sampai tersebar keluar.
Dia masuk ke dalam air, di dalam air dia bergeser sejauh 1 tombak, menunggu Wan Fei-yang diserang oleh laba-laba setelah itu baru dia akan menyerang secara tiba-tiba dari dalam air.203 Akhirnya Wan Fei-yang turun ke dalam air, tapi tubuhnya sudah berputar dan di atas air dan timbullah pusaran air.
Laba-laba terdorong keluar dari pusaran air, kesempatan ini digunakan Wan Fei-yang untuk masuk ke dalam air.
Saat pusaran air mengecil, laba-laba kembali datang dari segala penjuru, dengan cepat mereka berkumpul, mereka membentuk sarang laba-laba yang sangat besar.
Karena setiap laba-laba membawa benang sarang laba-laba, mereka bisa menganyam sarang di atas permukaan air dan tidak tenggelam.
Wajah Sat Kao terlihat cemas, dia sadar kalau semua laba-laba itu tidak akan bisa mendekati Wan Fei-yang, semua tidak ada gunanya.
Tiba-tiba dia melihat sorot mata Pei-pei yang penuh curiga menatapnya.
"Suhu, ini tidak adil bagi Wan Fei-yang!"
"Diam!"
Bentak Sat Kao.
Pei-pei ingin lagi mengatakan sesuatu, dia melihat di permukaan air semua laba-laba itu berhenti merayap, mereka kembali tenang, terlihat Wan Fei-yang dan Beng To sudah bersiap-siap bertarung kembali.
Wan Fei-yang sudah punya perhitungan bahwa Beng To akan menyerangnya kembali, karena itu setelah masuk ke dalam air dia segera beijalan ke tepi, bersamaan waktu dia membuat gelombang air mendorong ke arah Beng To.
Beng To menyerang Wan Fei-yang tapi meleset, sedangkan air sudah datang menimpanya, terpaksa Beng To204 mundur, dia tahu air yang datang menghampirinya tidak akan berbahaya, hanya saja cukup mengganggunya.
Saat dia mundur penglihatannya jadi terganggu, jaraknya dengan Wan Fei-yang semakin menjauh, bahaya yang datang pun sudah pasti berkurang.
Wan Fei-yang tidak mengejar Beng To, dia tetap berada di dalam air, berdasarkan pengalamannya saat menghadapi musuh, dia tahu ilmu silat Beng To masih lebih rendah darinya.
Sat Kao membantu menyerang dengan guna-guna semua itu sudah membuktikan, tapi kalau menginginkan Beng To mengaku kalah, itu bukan hal yang gampang.
Dari sikap Beng To mengijinkan Sat Kao ikut campur, Wan Fei-yang sudah bisa memastikan dia tidak akan mau kalah begitu saja, dan dengan segala cara akan mendapatkan kemenangan.
Dia tidak takut tapi dia harus memikirkan cara-cara untuk mengatasinya.
Air danau yang dingin cukup bisa membuat hati siapa pum merasa tenang.
Wan Fei-yang terlihat sangat tenang, sebaliknya Beng To terlihat cemas.
Sejak dia terpilih menjadi murid Sat Kao, dia selalu giat belajar.
Kalau berhasil dia akan menjadi orang nomor satu di dunia ini, baginya itu adalah hal yang sangat besar.
Setelah dia menghancurkan kepompongnya, ilmu silatnya sudah hebat, sekarang Tong Pek-coan pun ini bukan lawannya.
Seperti kata Sat Kao tadi dengan ilmunya dia205 sudah bisa mendapat kedudukan penting jika dia berkelana di Tionggoan.
Baginya itu adalah hal yang sangat menyenangkan, begitu ilmu lweekang dari pesilat-pesilat tangguh berhasil disedot olehnya dan sekali lagi dia keluar dari kepompongnya bukan hanya Sat Kao saja yang menganggapnya hebat, dia sendiri pun sudah menganggap dia bisa menjadi nomor satu di dunia ini.
Tapi begitu kepompongnya pecah, orang pertama yang ditemuinya sudah sangat tangguh dan ilmu silat orang itu satu aliran dengannya.
Asal dia bisa mengalahkan Wan Fei-yang, dia akan menjadi terkenal, sayangnya ilmu silat Wan Fei-yang masih berada di atasnya.
Untung di sini adalah wilayah suku Biauw dan tempat terlarang bagi suku Biauw, Selain Wan Fei-yang tidak ada orang lain, jadi kalau dia kalah hal ini tidak akan tersebar luas.
Maksudnya adalah asal mereka bisa mengalahkan Wan Fei-yang dengan cara apa pun tidak akan ada yang tahu.
Sekarang Wan Fei-yang masih berada di dalam air.
Air danau itu memang dingin tapi kobaran api kemarahan Beng To masih menyala, akhirnya dia mendekati Wan Fei-yang.
Wan Fei-yang mulai bergeser.
Sat Kao melihat dengan jelas, kedua tangannya masih terus memukul genderang, suara genderang semakin keras.206 Dia tahu kalau suara genderangnya tidak akan bisa masuk ke dalam air.
Tapi di hadapan Beng To bisa memaksa Wan Fei-yang keluar dari dalam air, dengan begitu laba-laba bisa merayap ke tubuh mereka.
Asal saja Wan Fei-yang tergigit, menang atau kalah segera bisa diketahui.
Pei-pei terlihat sangat tegang, dia juga merasa aneh, Wan Fei-yang bisa bertahan lama di dalam air.
Dia tidak tahu bahwa sewaktu Wan Fei-yang berlatih Thian-can-sin-kang semua organ dalam nya hampir tidak berfungsi dan dia dalam keadaan mati suri.
Pei-pei tahu kalau Wan Fei-yang dan Beng To sudah bersiap akan bertarung lagi, dia ingin melarang mereka tapi tidak terpikir caranya.
Akhirnya Wan Fei-yang dan Beng To berhenti melangkah, Di danau mulai berombak.
Sosok Wan Fei-yang dan Beng To di mata Pei-pei dan Sat Kao semakin tidak jelas, dari dalam danau terjadi pusaran air lagi.
Beng To dan Wan Fei-yang yang bertarung di dalam air menghilang di depan mata mereka.
Mereka hanya lihat air danau yang terus bergoyang-goyang.
Sat Kao masih terus memukul genderangnya, matanya tidak berkedlip sekejap pun dia terus melihat ke dalam air.
Dia juga menunggu Wan Fei-yang muncul dari dalam danau.
Pusaran air semakin mengencang tapi tiba-tiba berhenti, suara besar keluar dari sana.
Tiang air yang tinggi dan besar207 melesat keluar, tiang air itu tingginya beberapa depa kemudian meledak dan teijadilah hujan besar.
Suara genderang tertutup oleh suara ledakan, maka semua laba-laba terlepas kontrol dari suara genderang Sat Kao.
Kemudian Wan Fei-yang dan Beng To terapung di atas permukaan air, ke dua telapak tangan mereka masih menempel, belum ketahuan siapa yang dan kalah siapa yang menang.
Karena suara genderang tertutup oleh suara ledakan tadi, Sat Kao terlihat marah, perhitungannya meleset semua, dan terjadi peristiwa di luar dugaannya, dia sadar laba-laba tidak akan bisa membantunya lagi, dia segera mengambil keputusan, melihat Wan Fei-yang muncul ke permukaan air, dengan cepat dia meloncat ke sana, genderang aneh itu dilemparkan, kedua lengan bajunya berkibar.
Binatang beracun berwarna-warni segera menutupi kepala Wan Fei-yang.
"Awas..."
Teriak Pei-pei.
Dengan hati-hati Wan Fei-yang menggunakan kedua telapaknya untuk menekan, dia terbang melayang mengikuti arah permukaan air.
Beng To malah terbang dengan arah terbalik, dia menabrak batu yang berada sejauh 3 tombak darinya.
Serangga beracun milik Sat Kao meleset, dia bersalto di atas dan mengejar Wan Fei-yang, kedua telapaknya ikut menyerang ke arah kepala Wan Fei-yang.208 Wan Fei-yang bersalto, di tengah-tengah udara dia menyambut ke dua telapak tangan Sat Kao dan menginjak permukaan air terus menerjang ke depan.
Mereka beradu telapak tangan sampai 18 kali dan keduanya mendarat di atas sebuah batu besar.
Wan Fei-yang lebih awal mendarat kemudian dia mengumpulkan tenaga dalamnya, dengan Thian-can-sin-kangnya segera menghantam keluar.
Sat Kao segera tergetar dan darah menyembur keluar dari mulutnya.
Di tengah udara dia berteriak.
"Beng To..."
Beng To sudah terjatuh di atas batu besar, dia berusaha berdiri, dari sudut mulut masih terlihat darah menetes.
Melihat Sat Kao terjatuh ke dalam air dia tidak bisa berbuat apa-apa.
Tadinya Sat Kao ingin Beng To membantu supaya saat dia terjatuh ke dalam air tidak dengan cara memalukan seperti itu.
Kalau Beng To tidak terluka parah ini adalah pekerjaan yang mudah dilakukan, tapi begitu melihat Beng To tidak bereaksi, dia sadar Beng To bukan hanya kalah di tangan Wan Fei-yang, dia juga sudah terluka berat.
Bersamaan waktu itu dia jatuh ke dalam air.
* * *209 BAB 6 Air danau terasa dingin, hatinya lebih dingin lagi begitu dia mengumpulkan tenaga dalamnya berturut-turut sebanyak 3 kali, tenaganya baru saja sedikit terkumpul, dia sudah terapung di atas permukaan air.
Pei-pei meloncat mendekatnya.
"Koko!"
Dia ingin melihat keadaan kakaknya dengan teliti. Beng To berteriak.
"Pergi kau..."
Lukanya memang lumayan berat jadi suaranya tidak sekuat tadi.
"Dari awal aku sudah tidak setuju kalau kalian bertarung..."
Sahut Pei-pei.
"Diam..."
Beng To berteriak histeris.
"pergi kau..."
Kemudian dia melayangkan telapaknya untuk menampar.
Otomatis Pei-pei menghindar kemudian dia meloncat ke arah Wan Fei-yang.
Wan Fei-yang masih berdiri di atas batu besar itu dan tidak bergerak sama sekali.
Begitu Pei-pei mendekatinya segera berkata.
"Berjanjilah jangan melukai kokoku lagi!"
"Aku memang tidak berniat untuk melukainya, tapi aku tidak bisa memilih jalan yang lebih baik!"
"Apakah benar? Aku tidak salah lihat, kau orang yang baik!"
Dia berkata lagi.210
"Koko, kau tidak perlu khawatir, Wan-toako tidak akan melukaimu!"
"Pergi kau, jangan sembarangan bicara!"
Beng To membentak dengan marah.
Pei-pei merasa disalahkan, dia melihat Wan Fei-yang lagi.
Sorot mata Wan Fei-yang dan Pei-pei beradu, dia menarik nafas di dalam hati, ini bukan kejadian pertama yang dilihatnya, dia juga merasa aneh mengapa gadis-gadis yang baik, di sisi mereka selalu dikelilingi oleh orang-orang berhati jahat.
Sat Kao turun ke sisi Beng To, dia tampak basah kuyup.
Dalam keadaan seperti itu kewibawaannya masih tidak menghilang dan bertanya.
"Apakah keadaanmu baik-baik saja?"
"Aku tidak tahu mengapa tenaga dalamku tiba-tiba tidak bisa terkumpul!"
Tanya Beng To.
"Mungkin sutra beracun dari Thian-can-sin-kang sudah masuk ke dalam tubuhmu dan mungkin saja sudah menghambat jalan darahmu..."
Wajah Beng To berubah.
"Satu-satunya rencana terbaik adalah meninggalkan tempat ini untuk sementara waktu, jika aku tidak mati kita akan membuat perhitungan dengannya di kemudian hari!"
Jelas Sat Kao lagi.
Sat Kao segera mencengkeram genderang aneh itu, seperti suara hujan lebat dipukulnya genderang itu.211 Laba-laba segera naik merayap ke atas batu di mana Wan Fei-yang dan Pei-pei sedang berdiri, benar-benar menjijikkan.
Wan Fei-yang membentak keras, suaranya menutup suara genderang Sat Kao.
Semua laba-laba itu segera berhenti merayap.
Sat Kao berteriak aneh, genderang dilempar ke atas dan dia mengeluarkan kepalannya menghantam, suara genderang kembali berbunyi dengan dahsyat.
Darah mengalir dari mulutnya, terlihat dia dengan sekuat tenaga menghantam genderang itu dan sudah menghamburkan banyak tenaga dalam, dia sudah terluka dalam.
Semua laba-laba terlihat lebih bergairah lagi, Wan Fei-yang mengambil nafas dalam-dalam.
Sekali lagi membentak sangat keras, suaranya benar-benar menggetarkan langit dan bumi, langit seperti bisa terbelah.
Suara genderang tertutup oleh suara keras itu, laba-laba itu berhenti merayap lagi.
Lalu tempa ragu-ragu lagi dengan kedua lengan bajunya Wan Fei-yang menyapu laba-laba yang sedang merayap naik, laba-laba itu meledak di tengah-tengah udara hancur berkeping-keping.
Sat Kao benar-benar orang keji, genderangnya dilepas dan meledak di tengah-tengah udara.
Asap tebal keluar dari dalam genderang yang pecah itu, dan dengan cepat asap menyebar.
Dia dan Beng To berada dalam kurungan asap itu.212 Kedua telapak Wan Fei-yang kembali dikibaskan, asap semakin cepat menyebar hingga ke permukaan air.
Wan Fei-yang tidak menyerang, dia berdiri di atas batu dan mendengar.
Dalam kepulan asap mereka menghilang tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.
Setelah itu Wan Fei-yang baru menghembuskan nafas lega.
Jika Sat Kao dan Beng To keluar dari balik asap dan menyerangnya, terpaksa dia harus membalas.
Sat Kao sudah terluka, jika lukanya bertambah lagi, mungkin dia akan mati.
Bagaimana dia harus menjelaskannya kepada Pei-pei.
Pastinya Pei-pei sangat khawatir, dengan termangu dia melihat ke arah permukaan air yang penuh asap.
Akhirnya asap pun menghilang tertiup angin gunung.
Beng To dan Sat Kao sudah meninggalkan tempat itu.
Mereka berdua kabur dengan cara memalukan, mereka melewati gunung dengan kelelahan dan kehabisan tenaga.
Keadaan Sat Kao lebih baik dari Beng To, dia masih bisa memapah Beng To berjalan melewati gunung dan lembah.
Tubuh Beng To terlihat sangat lemah, perasaan kecewa terus menyerangnya.
"Suhu, tampaknya aku sudah tidak kuat lagi.."
Beng To berkata demikian.
"Jangan sembarangan bicara, hanya sedikit kegagalan itu wajar!"
Sat Kao sangat mengerti jalan pikiran Beng To.
"Tenagaku benar-benar sudah tidak bisa terkumpul..."213
"Tenanglah! Pernafasanmu tidak teratur aku akan membantumu mengatur nafas dan tenaga!"
"Apakah masih bias?"
Beng To merasa curiga.
"Ilmu lweekang dari Mo-kauw tidak akan begitu gampang putus dan selesai begitu saja!"
Sat Kao berkata dengan penuh percaya diri. Mata Beng To terlihat bercahaya lagi.
"Butuh berapa lama baru bisa pulih kembali?"
"Tidak akan lama!"
Dia sama sekali tidak tahu seperti apa luka Beng To?
Tapi dari nada bicaranya terdengar dia begitu yakin.
Wajah Beng To terlihat sedikit tenang, dia memang punya pikiran yang cepat, tapi dengan pola pikir Sat Kao yang sangat dalam pasti berbeda jauh.
Dia menarik nafas.
"Aku yakin bisa menjadi orang nomor satu di dunia persilatan!"
"Kalah atau menang adalah hal biasa, tidak perlu ditaruh di dalam hati!"
"Mengapa Thian-can-sin-kang bisa mengalahkanku?"
"Karena pengalaman dan waktu untuk berlatih ilmu itu, sebentar lagi mungkin saja kau bisa menang darinya!"
Kata Sat Kao.
"Semua gara-gara Pei-pei, kalau tidak, mana mungkin Wan Fei-yang akan kemari!"
Kata Beng To.
"Mungkin orang itu bernasib baik!"214
"Kalau tidak karena nasibnya memang baik!"
Kata Beng To dengan suara kecil.
"kalau nasibnya buruk, mana mungkin dia bisa sukses menguasai Thian-can-sin-kang dan menjadi pesilat nomor satu di dunia persilatan!"
"Bagaimanapun juga kita harus meninggalkan tempat ini untuk sementara waktu, setelah lukamu sembuh baru kita susun rencana lain."
"Sepertinya kita akan sulit berdiri dalam barisan pesilat di dunia persilatan Tionggoan!"
Terlihat sorot mata Beng To sedikit ragu.
"Tong Pek-coan sudah dibawa pergi, rahasia kita akan terbongkar, kalangan persilatan Tionggoan akan membuat perhitungan dengan kita..."
"Aku rasa kau seperti sangat menyukai Tong Pek-coan!"
Beng To terdiam, Sat Kao tertawa.
"Tidak apa! Apa pun yang kau lakukan aku akan tetap mendukungmu karena aku membutuhkan murid yang berani melakukan tindakan!"
Beng To tertawa, tiba-tiba dia teringat pada Tong Ling, dia tidak tahu mengapa perasaannya kepada gadis itu begitu berkesan.
Hal ini telah dilihat Sat Kao, dia pun hanya bisa terdiam dan menarik nafas panjang.
Sekarang mereka berdiri di sisi sebuah jurang, walaupun jurang itu tidak begitu dalam, tapi tetap sulit untuk turun.
Sat Kao mengatur nafas, organ dalamnya segera terasa sakit, apakah ilmu silatnya telah musnah?
Beng To melihatnya.
"Suhu, apakah lukamu berat!'215
"Kita benar-benar sedang sial hingga bisa seperti ini!"
Sat Kao menarik nafas panjang.
"Hutang ini harus dibayar!"
Beng To marah.
"Sekarang kita harus cepat-cepat meninggalkan tempat ini!"
Dia segera memeluk Beng To, lalu berbaring di bawah dan menggulingkan diri ke bawah gunung.
Ini adalah satu-satunya cara yang bisa dia lakukan untuk meninggalkan tempat itu.
Beng To mengerti tapi tetap saja dia merasa ingin tertawa.
Dulu mereka bisa terbang dan berlari, gunung yang tinggi dianggap sebagai dataran rendah, jurang seperti ini tidak mereka anggap sulit sedikit pun.
Yang paling berpengaruh menggunakan cara ini turun gunung yang terluka tentu saja Sat Kao.
Sedangkan dia tidak akan terluka, Sat Kao sudah dalam keadaan tersiksa, walaupun dia tidak bersuara tapi dari wajahnya yang penuh tanah dan bajunya compang-camping, keadaan itu cukup membuatnya terlihat sangat memalukan.
Sampai di dasar jurang, mereka masih terus berguling dan berhenti, lalu berdiri.
Sat Kao segera memapah Beng To berdiri.
"Kalian sedang apa?"
Terdengar suara dari samping mereka.
Karena suara itu begitu tiba-tiba terdengar, Sat Kao sangat terkejut hingga berteriak, juga mundur 3 langkah.
Suara asing tapi orang yang datang tidak asing bagi Beng To.216 ...
Tong Ling, dia hampir berteriak memanggil namanya.
Orang yang tiba-tiba muncul memang Tong Ling, dia benar-benar hebat bisa mencari hingga kemari.
Melihat orang yang tidak dikenal datang, Sat Kao sudah bersiap-siap untuk bertarung tapi segera dilarang oleh Beng To.
Refleknya sangat cepat, dia tahu kalau Beng To melarang melakukan sesuatu pasti ada alasannya maka hawa membunuhnya pun segera menghilang.
"Nona, tolonglah kami!.."
Akhirnya Beng To keluar suara. Hal ini benar-benar membuat Sat Kao terkejut dan merasa aneh, tapi dia tidak berkata sepatah katapun.
"Apa yang terjadi?"
Tanya Tong Ling. Beng To menunjuk ke atas jurang.
"Kami dirampok penjahat, setelah mereka mengambil uang dan harta kami mereka masih ingin membunuh kami untuk menutup mulut, maka kami menggulingkan diri ke dasar jurang baru bisa terlepas dari mereka."
Setelah itu dia bernafas ngos-ngosan. Semua itu bukan pura-pura nafasnya memang sudah sulit diatur. Mata Tong Ling berputar.
"Tidak disangka di sini ada orang yang jahat dan kejam juga, sekarang aku yang harus mengurus semua masalah ini!"
Tong Ling melempar sebungkus obat luka untuk Beng To.
"Oleskan obat itu di atas luka kalian supaya tidak terjadi infeksi, kalian tunggu aku di sini, aku akan ke atas dulu217 menangkap para penjahat itu supaya harta dan uang kalian bisa diambil kembali!"
Obat itu segera diambil Beng To terus men rus mengucapkan terima kasih.
Tong Ling tidak berkata apa-apa lagi, seperti seekor burung walet terbang ke atas jurang.
Beng To terus melihat Tong Ling sampai sosok Tong Ling tidak tampak lagi.
Baru melihat bungkusan obat itu.
Sat Kao ikut melihat, dia hanya menarik nafas, sekarang dia baru membuka suara.
"Ilmu meringankan tubuh gadis itu benar-benar bagus!"
Beng To seperti terbangun dari mimpi.
"Ilmu senjata rahasianya lebih bagus!"
"Apakah dia orang Tong-bun?"
"Cucu perempuan Tong Pek-coan!"
"Mengapa dia bisa datang kemari?"
"wan fei-yang bisa datang kemari, orang-orang Tionggoan lainnya bisa kemari juga, sepertinya bukan hal aneh!"
"Betul..."
Sat Kao menarik nafas.
"untung dia tidak mengenalimu!"
"Saat masuk Tong-bun, untung aku menutup wajahku!"
Beng To menarik nafas, dia seperti kehilangan sesuatu.
Malam itu dia ingin membuka penutup wajahnya supaya ong Ling bisa melihatnya dengan jelas.
Kalau hal ini terjadi apa yang akan terjadi berikutnya?
Sat Kao bisa menilai ekspresi seseorang, dia pun mulai mengerti, sambil tersenyum berkata.218
"Kita harus cepat-cepat meninggalkan tempat ini!"
"Jika dia bertemu dengan Wan Fei-yang semua rahasia ini akan terbongkar!"
Kata Beng To sambil menatap ke atas jurang.
Suaranya rendah lalu menggeser kakinya, tapi sosok Tong Ling tetap berada di dalam hatinya.
Sewaktu Tong Ling bertemu dengan Wan Fei-yang, dia masih berada di atas batu besar di danau itu, Pei-pei berada di pangkuannya.
Awalnya Tong Ling tidak tahu kalau orang itu adalah Wan Fei-yang, dia berlari ke sana kemudian setelah dekat dia baru melihat dengan jelas kalau orang itu adalah Wan Fei-yang dan Pei-pei yang ada dalam pangkuannya, dia segera berhenti melangkah.
Wan Fei-yang terlihat sedikit terkejut.
"Ternyata kau!"
"Tentu saja aku, kau mengira karena aku tidak dibawa jalan olehmu maka aku akan tersesat?"
Saat Tong Ling bicara dengan Wan Fei-yang tapi matanya terus melihat Pei-pei.
"Siapa dia?"
Tanya Pei-pei kepada Wan Fei-yang.
"Namaku Tong Ling, aku adalah teman baik Wan-toako!"
Jawab Tong Ling. Pada kata 'Wan-toako' dan 'teman baik' nada bicaranya lebih ditekankan. Tapi Pei-pei seperti tidak memperhatikannya, dia menjawab.219
"Aku adalah calon istri Wan-toako..."
"Mengapa bisa terjadi?"
Tanya Tong Ling setengah berteriak.
"Tentu saja setelah masuk ke daerah ini..."
"Cepat sekali...."
Tong Ling menatap Wan Fei-yang.
"kau kemari untuk mencari pembunuh atau mencari istri?"
Wan Fei-yang tidak menyangka kalau nada bicara Tong Ling begitu pedas, dia merasa malu dan tidak bisa menjawab.
"Apakah dari dulu kalian sudah saling kenal?"
"Dia kemari dan bertemu denganku!"
"Berapa lama?"
Tong Ling tertawa. Tong Ling menatap Wan Fei-yang.
"Orang-orang menyebut kau adalah Tay-enghiong, ternyata tidak salah!"
Wan Fei-yang berpikir. perempuan, itu akan bertambah hebat lagi!' Tong Ling menyindir. Wan Fei-yang hanya bisa tertawa kecut. Tong Ling bertanya kepada Pei-pei.
"Kata orang, perempuan suku bangsa Biauw selalu menggunakan guna-guna, dengan guna-guna apa hingga membuat pahlawan hebat ini begitu cepat menyukaimu?"
"Aku tidak menggunakan guna-guna..."
"Kalau begitu, pada pandangan pertama dia langsung jatuh cinta padamu?"
Tanya Tong Ling tertawa dingin.220
"Aku tidak tahu siapa dia, tapi aku semakin cinta padanya!"
Kata Pei-pei.
"aku belum pernah melihat di dunia ini ada orang begitu baik!"
Apa yang Pei-pei pikirkan langsung diutarakan. Dengan aneh Tong Ling berkata.
"Itu artinya kau bertepuk sebelah tangan!"
"Aku tahu, suatu hari nanti dia akan suka kepadaku, aku rela menunggu dia!"
"Kau gadis tidak tahu malu!"
"Apakah aku salah?"
"Masuk ke dalam pelukan seorang laki-laki, itu saja sudah salah!"
"Tapi aku merasa aku tidak bersalah, aku harus menikah dengannya..."
Kata Pei-pei. Tong Ling menjadi marah.
"Berbicara dengan orang dari suku tidak berbudaya memang sulit! Wan Fei-yang, apa yang akan kau lakukan?' "
Aku melakukan hal yang memang pantas aku lakukan!"
"Seperti berpacaran dengan perempuan ini?"
Wan Fei-yang tertawa kecut, dia ingin menga takan sesuatu tapi Tong Ling sudah berkata lagi.
"Mana penjahatnya? Mereka ada di mana?"
"Penjahat apa"
Tanya Wan Fei-yang dengan aneh.
"Kau hanya senang dengan hal pencabulan, ada penjahat yang menodong dan merampok pun kau tidak pedulikan!"
Tong Ling menyindir lagi.221
"Inilah tempat terlarang bagi suku bangsa Biauw, mana mungkin ada perampok di sini, pasti kau salah lihat.."
Sela Pei-pei.
"Apa yang kau tahu?"
"Perintah ayahku tidak boleh dilanggar dan tidak ada yang berani melawan perintah ayahku!"
"Siapa ayahmu?"
Pei-pei masih belum sadar kalau kata-kata Tong Ling menyerangnya.
"Beliau adalah raja di sini!"
Tong Ling terpaku tapi segera membentak.
"Wan Fei-yang, sebentar lagi kau akan menjadi menantu seorang kaisar, selamat ya!"
Wan Fei-yang memotong.
"Siapa yang memberitahu padamu di sini ada perampok?"
"Tentu saja dari orang yang telah dirampok!"
"Seorang pemuda dan seorang orang tua berambut kumis panjang hingga terjulur ke bawah dan di tubuhnya tergantung banyak lonceng?"
"Apakah penjahat itu dirimu?"
Wan Fei-yang mengangguk.
Tong Ling terpaku, dia sudah terpikir jika penjahat itu adalah Wan Fei-yang, dua orang yang mengaku dirampok itu pantas dicurigai.
Akhirnya Tong Ling tersadar bahwa dua orang tadi memang tidak seperti orang kebanyakan.
'Aku memang menaruh curiga pada mereka!"222
"Yang satu adalah dukun di sini juga tetua Mo-kauw di sini!"
"Yang satu lagi siapa?"
"Dia adalah Kokoku!"
"Pangeran di sini!"
Kata Tong Ling tertawa dingin.
"tapi kelihatamnya begitu kewalahan, dia tidak mirip seorang pangeran!"
"Dia terpukul Wan-toako hingga terluka."
"Apa kali karena dia tidak setuju kalau adik perempuannya menikah denganmu, maka kalian bertengkar dan akhirnya dia yang terluka?"
"Tidak begitu.."
Kata Pei-pei.
"Siapa yang berbicara denganmu, aku tidak pernah melihat ada gadis seperti dirimu, kakak sendiri terluka pun dibiarkan begitu saja, malah bermesraan dengan orang yang telah melukai kakaknya!"
"Kau tidak mengerti!"
"Hal yang sudah terjadi tidak akan bisa membohongimu, orang yang membunuh orang-orang dunia persilatan bernama Beng To dan ternyata Beng To adalah Kokonya!"
Jelas Wan Fei-yang. Reaksi Tong Ling sangat cepat, dia segera berkata.
"Karena menyukai gadis ini maka kau mengajarkan ilmu Thian-can-sin-kang kepadanya"
"Aku baru pertama kali ke mari, bagaimana aku mengajarkannya, apa lagi dia berlatih ilmunya bukan ilmu223 Thian-can-sin-kang melainkan semacam ilmu lweekang Mo-kauw!"
Dengan penuh rasa curiga Tong Ling melihatnya kemudian Wan Fei-yang menjelaskan lagi.
"Ilmu lweekang Mo-kauw berbeda sekali dengan ilmu Thian-can-sin-kang, dia mengandalkan guna-guna untuk membantu kemajuan ilmu silatnya kemudian dengan Ih-hoa-ciap-bok, ilmu lweekang dari pesilat tangguh lain disedot ke dalam tubuhnya!"
"Apakah karena itu dia menculik kakekku?"
Wan Fei-yang mengangguk.
"Kakekmu berada di dalam gua itu!"
"Apa?"
Tong Ling tampak terkejut, dia segera berlari masuk ke dalam gua.
"Hati-hati, ada laba-laba beroman manusia!"
Wan Fei-yang dan Pei-pei mengejarnya dari belakang.
Tapi laba-laba itu sudah pergi karena genderang Sat Kao tadi, jadi Tong Ling bisa dengan mudah masuk ke dalam gua.
Tong Pek-coan terlihat masih duduk, walaupun dia sudah disiksa hingga keadaannya tidak keruan tapi Tong Ling masih bisa mengenalinya.
"Kongkong..."
Tong Ling memanggil. Tong Pek-coan mulai tersadar, dia berusaha membuka matanya.
"Apakah Ling-ji?"
"Ling-ji tidak berguna, sampai sekarang baru bisa kemari hingga membuat keadaan Kongkong menjadi seperti ini!" 224 Tong Ling benar-benar tidak tega melihat Kongkongnya.
"Ini bukan salahmu!"
Suara Tong Pek-coan terdengar sangat rendah tapi tetap teratur.
"Malam itu Kongkong sudah salah paham kepada Wan Fei-yang, kalian pasti sudah membuat Wan Fei-yang repot, kau harus memberi tahu mereka kalau orang yang menculikku bukan Wan Fei-yang, melain kan orang Biauw bernama Beng To!"
"Aku akan melakukannya!"
Jawab Tong Ling. Dia menatap Wan Fei-yang masuk ke dalam gua.
"Lo-cianpwee..."
Wan Fei-yang jongkok di sisinya, dia langsung menekan jalan darah Tong Pek-coan ingin mengalirkan tenaga dalamnya kepada Tong Pek-coan, tapi Tong Pek-coan menolaknya.
"Jangan sia-siakan tenaga dalammu, tenaga dalamku sudah tersedot semua, nadi-nadiku sudah ditutup oleh benang laba-laba beracun, hidupku tidak akan lama lagi!"
"Kongkong, kau tidak akan mati!"
Tong Ling berteriak.
"Anak bodoh..."
Kata Tong Pek-coan sambil tertawa.
"Kongkong sudah tua dan sudah sepantas-nya mati!"
"Mengapa kau masih bengong di sana!"
Tong Ling membentak Wan Fei-yang.
"Aku selalu mengajarkan kepadamu, jika berbicara dengan orang lain harus sopan!"
"Mengapa dia berpangku tangan hanya melihat saja?"
"Tidakkah kau dengar, tadi aku sudah berpesan agar jangan menyia-menyiakan tenaga dalamnya?"
Tong Pek-225 coan tertawa kepada Wan Fei-yang.
"cucuku dari kecil sudah terlalu disayang olehku maka kelakuannya seperti ini, jangan salahkan dia!"
Wan Fei-yang menggelengkan kepala.
"Aku mengerti, dia hanya mengatakan apa adanya, sebenarnya tidak berniat jaliat!"
Baca Juga: Kemelut Di Majapahit 6
Baca Juga: Suling Pusaka Kumala 1