Eps 5 Kelelawar Tanpa Sayap - Huang Ying
Baca online Kelelawar Tanpa Sayap - Huang Ying
Cersil Kelelawar Tanpa Sayap - Huang Ying.
Sudah jelas pembangunan dalam kuil Thian-liong-ku-s at telah melalui sebuah perencanaan yang masak, manusia sepintar Kelelawar seharusnya tak akan mengulang sebuah pekerjaan yang sama Setelah menghela napas tambahnya.
Padahal sejak awal kita seharusnya sudah berpikir sampai ke situ, tapi kita tidak melakukannya Karena selama ini kita selalu menempatkan si Kelelawar sebagai orang idiot hingga hampir saja lupa kalau dia sesungguhnya adalah orang buta Betul, betul!
305 Sekalipun kita sudah pastikan kalau harta karun itu tersimpan dalam kuil Thian-liong-ku-sat pun tak ada gunanya, bukankah nyaris kita sudah bongkar seluruh bangunan kuil itu tanpa hasil?
Setelah menghela napas panjang, kembali Suma Tang-shia melanjutkan.
Bila harta karun itu betul betul tersimpan dalam kuil Thian-liong-ku-sat, seharusnya benda mustika itu telah berhasil kita temukan Jika harta itu bisa ditemukan segampang itu, si Kelelawar tak usah menggunakan banyak waktu, pikiran dan tenaga untuk menciptakan ke tiga belas bilah golok Kelelawar itu Mau tak mau Suma Tang-shia harus sependapat dengan perkataan itu.
Setelah tertawa getir, ujar si Kelelawar.
Tampaknya, walaupun kita tak usah mendapat semua dari ke tiga belas bilah golok Kelelawar itu, paling tidak berapa bilah yang terakhir harus kita dapatkan, dengan begitu harta karun baru bisa kita peroleh Suma Tang-shia hanya tertawa hambar, tidak menjawab.
Maka si Kelelawar berkata lebih lanjut.
Walau begitu, asal kita sudah bisa memastikan kalau tempat yang dimaksud adalah kuil Thian-liong-ku-sat, seharusnya persoalan ini bisa diselesaikan jauh lebih mudah Kalau soal itu mah tergantung bagaimana nasib dan rejeki kita Bukankah nasib kita selama ini baik sekali?
Hingga detik ini memang masih terhitung sangat bagus Seandainya Siau Jit sekalian pergi mencari Hek Botan dan Pek Hu-yung, ini berarti dalam tiga sampai lima bulan mereka tak akan kembali kemari, cukup waktu bagi kita untuk bertindak Tiba-tiba sinar mata tajam yang menggidikkan memancar keluar dari mata kanannya, ia melanjutkan.
Siapa tahu pada malam ini juga kita sudah berhasil mendapatkan harta karun itu Malam ini?
Dalam melaksanakan pekerjaan semacam ini, terkadang sedetik pun tak boleh terlambat 306 Kalau toh Siau Jit baru bakal kembali berapa bulan lagi, rasanya kita pun tak usah kelewat terburu-buru Jerih payah selama sepuluh tahun, Tang-shia, masa sampai sekarang pun kau belum bisa merasakan perasaan hati ayahmu?
Ternyata kepada Suma Tang-shia, si Kelelawar menyebut diri sebagai ayah, kalau dia bukan Suma Tionggoan, lalu siapa lagi?
Suma Tang-shia menghela napas panjang.
Aaai, aku tahu, kau sudah tak kuasa menahan diri Si Kelelawar tertawa, lanjutnya.
Sekarang, aku bahkan mempunyai satu firasat, kali ini si Kelelawar pasti akan membantu kita untuk menemukan tempat penyimpanan harta karun itu Kelelawar?
Kali ini kita harus menggunakan segenap kemampuan untuk memaksa semua ingatan dan kesadarannya pulih kembali Mungkinkah?
Aku mempunyai berapa cara yang selama ini tak pernah kugunakan, karena kuatir jika tak tahan dia bakal tewas seketika, tapi sekarang aku tak ambil peduli lagi, cara cara itu harus dicoba Jika si Kelelawar benar benar mampus ......
Sejak dulu orang ini sudah pantas mati, masih beruntung dia bisa mendapat tambahan hidup selama belasan tahun Suma Tang-shia terbungkam.
Sambil menyeringai seram kembali Kelelawar berkata.
Sekalipun harta karun itu tidak tersimpan dalam kuil Thian-liong-ku-sat, kitapun tak usah kuatir, sampai waktu kita masih bisa mencari ke sepuluh orang gadis yang lain dan mengumpulkan golok golok Kelelawar milik mereka Suma Tang-shia tertawa getir.
307 Jika Kelelawar mati, sekalipun berhasil menemukan Hek Botan dan Pek Hu-yang, paling banter juga hanya menambah dua bilah golok Kelelawar, sisanya yang delapan bilah akan dicari kemana?
Kelelawar tidak menaruh perhatian atas perubahan wajah Suma Tang-shia, katanya lebih jauh.
Bawalah golok golok itu dan ikut aku menuju kuil Thian-liong-ku-sat Tidak, lebih baik aku tetap tinggal disini tampik Suma Tang-shia sambil menggeleng.
Kalau tidak mau yaa sudah, toh perjalanan kali ini belum tentu akan memperoleh hasil Dengan sedih Suma Tang-shia membalikkan badan, bergeser dari tempat duduknya dan menggeser kembali meja rias itu ke tempat semula.
Kemudian dia mengambil lagi buku yang tergeletak dimeja dan membacanya kembali.
Menyaksikan tingkah laku gadis itu, si Kelelawar hanya menggeleng sambil menghela napas, setelah memungut kembali ke tiga bilah golok Kelelawar, dia melompat keluar lewat jendela.
Bagai hembusan segulung angin, sekejap mata bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan.
Dengan cepat cahaya lentera yang bergoyang pun menjadi tenang kembali.
Walaupun Suma Tang-shia memegang buku, tatapan matanya tak pernah dialihkan keatas buku tersebut.
Lama sekali ia duduk termangu, kemudian sambil menghela napas tiba-tiba katanya.
Kenapa kau belum turun juga?
Baru selesai ia berkata, terdengar suara lirih diatas genting lalu terlihat sesosok bayangan manusia menerobos masuk lewat jendela.
Seorang gadis muda.
Ciu Kiok!
Dia melayang turun dihadapan Suma Tang-shia, dengan sepasang matanya yang sayu dia awasi perempuan itu tak berkedip.
308 Dari balik pupil matanya, terpancar perasaan ngeri, seram, disamping perasaan heran dan ragu yang besar.
Paras mukanya pucat pias bagai kertas, tubuhnya yang lemah bagai rumput dimainkan angin musim gugur, seakan tenaga untuk berdiri pun tak ada.
Kenapa kau datang kemari?
tegur Suma Tang-shia sambil meletakkan kembali bukunya.
Inilah hari pertama aku tinggal dalam perkampungan Suma-san-ceng ......
nada suara Ciu Kiok kedengaran gemetar.
Karena itu kau tak bisa tidur bukan?
tukas Suma Tang-shia.
Semula aku ingin jalan jalan ditengah halaman, siapa tahu ketika membuka pintu, kusaksikan ada sesosok bayangan manusia meluncur melewati pagar langsung menuju kemari Dari bentuk tubuhnya yang mirip Kelelawar, kau sangka Kelelawar datang menyerang, maka cepat kau menyusul kemari, maksudnya ingin memperingatkan aku Ciu Kiok gigit kencang bibirnya tanpa menjawab.
Sambil menghela napas ujar Suma Tang-shia.
Tentu saja kau tahu bahwa ilmu silatmu cetek dan bukan tandingan Kelelawar, bila sampai ketahuan maka nyawamu pasti akan melayang Ciu Kiok masih membungkam.
Suma Tang-shia berkata lebih jauh.
Kau tentu tahu juga bahwa nasib baik seseorang tidak selalu berulang, bila sampai bertemu Kelelawar lagi, besar kemungkinan nyawa mu bakal dicabut!
Ciu Kiok makin kencang menggigit bibir.
Tapi kau tetap nekad datang kemari, kenapa?
tanya perempuan itu.
Bibir Ciu Kiok yang digigit mulai terluka, darah mulai meleleh keluar.
Suma Tang-shia segera mewakilinya untuk menjawab.
Karena kau tak bisa berpeluk tangan membiarkan jiwaku terancam, kau berharap bisa menyumbangkan sisa tenaga mu untuk bantu aku Ciu Kiok masih membungkam.
309 Suma Tang-shia menghela napas panjang.
Orang dari golongan pendekar memang tetap berjiwa pendekar, sekarang kau sudah tahu kalau aku satu komplotan dengan Kelelawar, menyesalkah kau dengan apa yang telah kau lakukan?
Tidak!
teriak Ciu Kiok, walaupun aku salah menilai orang, tapi tak pernah menyesal dengan apa yang telah kulakukan!
Bagus, anak baik!
Aku tahu, hidupku tak bakal lama lagi, tapi ada berapa hal tolong jawablah sejujurnya, agar aku bisa mati dengan mata terpejam!
Tanyalahl Kelelawar tadi apakah bukan Kelelawar tanpa sayap yang sesungguhnya?
Benar Siapa sebenarnya orang itu?
Ayahku!
Suma Tionggoan?
Bukankah dia sudah mati?
Aku yang mengatakan kalau dia sudah mati, sedang kalian percaya kalau dia sudah mati karena kalian percaya dengan perkataanku Jadi selama ini kau selalu berbohong!
Benar Apa tujuanmu?
Harta karun milik Kelelawar!
Jadi apa yang kalian bicarakan tadi memang kenyataan?
Betul, semuanya!
Suma Tang-shia mengangguk, apalagi yang ingin kau ketahui?
Dendam sakit hati apa yang sudah terjalin antara siocia kami dengan kalian?
Sama sekali tak ada Lantas mengapa kalian berbuat begitu?
310 Ketika awal kejadian, aku sama sekali tak tahu, kalau tidak, aku pasti akan mencegahnya Bohong, kau bohong!
jerit Ciu Kiok seperti orang kalap.
Suma Tang-shia tidak menyangkal, ia membungkam.
Sambil menggigit bibir kembali Ciu Kiok bertanya.
Kau telah membohongi siau kongcu, apakah kau tidak menyesal?
Tidak malu?
Suma Tang-shia tertawa hambar.
Apa pun yang kulakukan sekarang, tak ada satu pun yang dapat kurasakan lagi, sebab sejak sepuluh tahun berselang, perasaanku telah kaku, membeku, telah hilang lenyap Ciu Kiok menatap tajam wajah Suma Tang-shia, sesaat kemudian teriaknya lagi.
Kau sedang berbohong lagi, aku dapat melihatnya Hanya masalah ini saja yang ingin kau ketahui?
tukas Suma Tang-shia tiba-tiba.
Sekarang kau boleh turun tangan membunuhku Tidak Suma Tang-shia menggeleng, bila aku ingin membunuhmu, sudah kulakukan sewaktu kau terjatuh diatas atap rumah tadi Setelah menghela napas panjang, lanjutnya.
Bahkan asal aku buka suara, biar kau mempunyai sepuluh lembar nyawa pun bakal mati semua Ciu Kiok tertegun, berdiri terperangah.
Sekarang kau boleh tinggalkan tempat ini kata Suma Tang-shia lagi sambil mengebaskan bajunya.
Tinggalkan tempat ini?
untuk kesekian kalinya Ciu Kiok tertegun.
Kau adalah anak baik, karena itu nasibmu akan selalu baik, andaikata kedatanganmu bukan bersamaan dengan suara mesin rahasiaku berbunyi, tak nanti kehadiranmu bisa mengelabuhi dia, tak mungkin kau bisa hidup sampai sekarang Dengan ragu dan tak habis mengerti Ciu Kiok mengawasi Suma Tang-shia.
Perempuan itu berkata lebih lanjut.
Menurut kau, bagaimana aku bisa mengetahui kehadiranmu?
Karena aku telah melihat bayangan tubuhmu!
311 Bayangan?
Sewaktu kau melompat naik ke atap rumah tadi, sinar rembulan membiaskan bayangan tubuhmu diatas tiang yang berada diluar jendela Lagi lagi Ciu Kiok tertegun.
Ilmu meringankan tubuh yang kau miliki cukup bagus kata Suma Tang-shia lagi, hanya sayang pengalamanmu dalam dunia persilatan tidak cukup, mencuri angin tidak mencuri rembulan, mencuri hujan tidak mencuri salju, kau pasti pernah mendengar kata kata ini bukan?
Ciu Kiok tetap membungkam.
Sekarang kau boleh pergi dari sini sekali lagi Suma Tang-shia mengebaskan ujung bajunya.
Apakah kau tidak kuatir aku bocorkan rahasia ini kepada Siau kongcu?
Suma Tang-shia tidak menjawab.
Tiba-tiba Ciu Kiok berseru lagi.
Pasti hal ini merupakan satu perangkap, kau pasti sedang mempersiapkan satu perangkap busuk lagi?
Suma Tang-shia tertawa hambar.
Kalau sudah tahu begitu, kau seharusnya cepat cepat pergi mencari Siau Jit dan memberitahukan rahasia ini kepadanya, agar dia tahu diri dan menghindar dari bencana itu Dengan termangu Ciu Kiok mengawasi Suma Tang-shia, sesaat kemudian kembali ia bertanya.
Kau benar benar membiarkan aku pergi dari sini?
Tentu saja buku itu.
Kau jangan menyesal nantinya seru Ciu Kiok.
Suma Tang-shia kembali menghela napas, untuk kesekian kalinya dia memungut Suma Tang-shia tidak ambil peduli lagi, tatapan matanya kembali dialihkan keatas buku.
Ciu Kiok segera membalikkan tubuh dan membuka pintu, tapi hampir pada saat bersamaan ia menjerit keras!
312 Seseorang berdiri didepan pintu bagaikan mayat hidup, tiga bilah golok Kelelawar tergantung dipinggangnya, orang itu tak lain adalah Kelelawar tanpa sayap gadungan yang belum lama tinggalkan tempat itu.
Kelihatannya ia sudah cukup lama berdiri disana, ketika pintu terbuka, ia segera membuka mulutnya sambil tertawa menyeringai.
Selama hidup belum pernah Ciu Kiok saksikan senyuman sedemikian seram dan menakutkannya, dia pun belum pernah merasakan ketakut an yang luar biasa seperti saat ini.
Setelah lama tertegun, ia berpaling kearah Suma Tang-shia dan tiba-tiba serunya.
Ternyata kau sudah mempersiapkan segalanya, suruh aku tinggalkan tempat ini sebenarnya suruh aku cepat cepat masuk kubur!
Untuk sesaat Suma Tang-shia tampak terkejut, tapi akhirnya dia hanya bisa menghela napas.
Belum selesai suara helaan napasnya, tenggorokan Ciu Kiok telah digorok hingga putus, tubuhnya terjerembab ke lantai.
Begitu cepat Kelelawar mencabut goloknya, begitu cepat melancarkan serangan dan begitu cepat menyarungkan kembali senjata pembunuhnya.
Ketika golok itu disarungkan, tak setetes darah pun yang melekat, ia segera bungkukkan badan untuk membangunkan mayat Ciu Kiok, lalu didudukkan diatas bangku.
Suma Tang-shia duduk kaku, sama sekali tak bergerak.
Setelah mendudukkan mayat Ciu Kiok, Kelelawar baru menegur.
Mengapa kau tidak menghalangi?
Jika aku mampu menghalangi, pasti sudah kuhalangi jawab perempuan itu hambar.
Kali ini, kujamin dia tak bakalan bisa hidup terus Nasib seseorang memang tak selamanya baik terus Kalau sudah memahami teori tersebut, kenapa kau masih tetap membebaskan dia?
313 Kalau memang Siau Jit baru balik setelah tiga sampai lima bulan lagi, biar kubebaskan dirinya pun tak akan berpengaruh apa apa bagi kita bukan?
ujar Suma Tang-shia hambar.
Tapi harta karun dalam kuil Thian-liong-ku-sat...........
Bukankah sudah pasti?
Paling tidak, mungkin dia bisa merusak rencana kita untuk mengambil harta karun Aku tidak pernah mempertimbangkan sampai ke situ Benar benar tak pernah?
Bohong!
sikap Suma Tang-shia masih begitu santai.
Saat ini bukan saat untuk berbelas kasihan ujar Kelelawar sambil menghela napas, belas kasihan terhadap musuh sama artinya bersikap kejam terhadap diri sendiri Suma Tang-shia tidak bicara lagi, ia terbungkam.
Sudah begitu banyak orang yang terbunuh, kenapa musti sedih karena membunuh seorang lebih banyak?
ujar Kelelawar lagi.
Tanpa bicara Suma Tang-shia mengangguk.
Sebenarnya kenapa kau?
tegur Kelelawar lagi sambil menatap tajam wajah putrinya, urusan telah berkembang jadi begini, masa kau masih belum dapat bersikap lebih tegas dan kejam?
Kembali Suma Tang-shia hanya tertawa hambar tanpa menjawab.
Cepat kau singkirkan jenasah itu dari ruanganmu, jangan membuat masalah lagi perintah Kelelawar.
Begitu selesai bicara kembali ia berkelebat keluar dari pintu kemudian merapatkannya kembali.
Suma Tang-shia masih duduk tak bergerak ditempat semula, entah berapa lama sudah lewat, ia baru bangkit berdiri dan berjalan menuju ke bawah dinding sebelah kanan.
Sebilah pedang tergantung diatas dinding, pedang mustika penuh bertaburkan permata.
314 Perlahan dia menurunkan pedang itu kemudian berjalan balik ke tempat semula, duduk kembali, setelah itu baru mencabut keluar pedang miliknya.
Pedang itu panjangnya satu meter dan bening bagai air danau, dibawah timpaan cahaya lentera, tampak sinar bening membias ke mana mana.
Setelah mencabut pedangnya, ia letakkan kembali sarung pedang itu lalu mengambil pedang lain dan disarungkan ke sarung pedangnya semula.
Kemudian sekali lagi dia mengambil kitab itu, kali ini sinar matanya benar benar tertuju diatas buku.
Dia tampak membaca dengan serius, membaca dengan penuh perhatian.
Suasana dalam ruangan pun pulih dalam keheningan yang luar biasa, tentu saja Ciu Kiok sudah tak bisa merecoki atau mengganggu ketenangan Suma Tang-shia lagi.
Darah segar masih meleleh keluar dari luka di leher Ciu Kiok, meleleh ke bawah, membasahi seluruh pakaiannya.
Apakah pemandangan semacam ini pun terhitung aneh?
ooOOoo Satu li dari situ, tiga ekor kuda sedang berlarian kencang, Siau Jit berada dibarisan paling depan.
Hembusan angin telah mengacaukan rambutnya, membuat pikiran dan perasaannya ikut kalut.
Jalan raya membentang menembusi pepohonan, rembulan yang pucat masih tergantung jauh di angkasa.
Dibawah cahaya rembulan, tidak sulit bagi mereka untuk mengenali jalanan disitu.
Lui Sin dan Han Seng mengikuti dari belakang, setelah berlarian berapa saat, Lui Sin tak kuasa menahan diri lagi, tanyanya.
Kenapa jalanan ini seperti sebuah jalanan yang tak ada habisnya?
Karena kau sedang risau dan gelisah jawab Han Seng.
Apakah masih jauh?
315 Setelah keluar dari hutan dan berjalan setengah li lagi, seharusnya kita sudah tiba di perkampungan Suma-san-ceng Tiba-tiba Lui Sin seperti teringat sesuatu, kembali ujarnya.
Ciu Kiok masih tertinggal dalam perkampungan Suma-san-ceng, mungkinkah keselamatannya terancam?
Seharusnya tidak, sebelum rahasia ini terbongkar, seharusnya dia aman disana Lui Sin menghela napas panjang.
Aaai, bocah yang patut dikasihani, aku benar-benar menguatirkan keselamatan jiwanya Hingga kini, semua peristiwa yang berlangsung masih merupakan sebuah teka teki, mau kuatir pun tak ada gunanya ujar Han Seng.
Aaai, aku hanya berharap apa yang mengganjal dihati kita hanya kecurigaan tanpa dasar, aku berharap dalam kenyataan bukanlah seperti apa yang kita duga Aku pun berharap begitu akhirnya Siau Jit ikut buka suara.
Sementara pembicaraan berlangsung, ke tiga ekor kuda tunggangan itu sudah menerjang keluar dari hutan.
ALAM YANG PANJANG belum mencapai diujungnya, langit gelap gulita bagai tinta bak, rembulan yang condong ke langit barat, seolah setiap saat bakal tanggal dari langit dan jatuh ke bawah.
Suasana didalam ruangan terasa begitu hening, sepi, cahaya lentera begitu redup, bayangan manusia pun begitu sendu.
Sinar mata Suma Tang-shia masih tertuju diatas bukunya, masih tetap dengan gayanya, sama sekali tak bergoyang maupun berubah.
Dia sama sekali tak tahu sekarang waktu sudah menunjukkan pukul berapa, dia pun tak tahu apa yang tertulis pada buku yang dibaca.
Sinar matanya membeku diatas buku, meski memandang dengan begitu serius, dalam kenyataan tak sepatah kata pun yang masuk ke dalam benaknya.
316 Benak perempuan itu tidak kosong melompong, justru pikirannya sedang bergolak, menggelora tiada habisnya.
Tatapan kosong hanya pada sepasang matanya, tentu saja dia bukan orang buta, tapi keadaannya saat ini tak jauh berbeda dengan orang buta.
Daun jendela masih terbuka, angin malam berhembus masuk membawa bau harum bunga Kui (Osmanthus), membawa pula nyanyian pedih dari serangga.
Dia seakan tidak ambil peduli, tidak menaruh perhatian, hingga mendengar suara derap kaki kuda yang bergema terbawa angin, tubuhnya baru gemetar, gemetar keras sekali.
Dia seakan baru merasakan dinginnya hawa malam dimusim gugur, merasakan mengigilnya tubuh.
Derap kaki kuda bergema makin dekat, lalu diiringi ringkikan panjang berhenti tak jauh dari situ, setelah itu suasana kembali terjerumus dalam keheningan yang luar biasa.
Keheningan yang mencekam, sedemikian hening sampai serangga pun tak berani melanjutkan lantunan lagunya yang sendu.
Dan pada saat itulah Suma Tang-shia menghela napas panjang.
Belum selesai suara helaan napasnya, suara ujung baju tersampok angin telah bergema tiba.
Akhirnya Suma Tang-shia mengalihkan tatapan matanya, dari atas buku bergeser kearah pintu, suara ujung baju yang tersampok angin berhenti dipintu luar.
Menyusul kemudian tiga kali suara ketukan pintu bergema.
Siapa?
sapa Suma Tang-shia sambil membenahi rambutnya yang kusut.
Siau Jit!
Kau, Siau kecil?
Didampingi Lui Sin dan Han Seng Jadi mereka semua telah datang?
Kenapa toaci belum tidur?
317 Mungkin sedang menanti kedatangan kalian Oh?
nada suara Siau Jit kedengaran sangat aneh.
Pintu tidak terkunci, dorong saja dan silahkan masuk ke dalam lanjut Suma Tang-shia.
Maaf kalau mengganggu!
Siau Jit menyahut sambil mendorong daun pintu.
Cahaya lentera segera memancar diwajah Siau Jit, tampak rambutnya sudah kusut terhembus angin, namun ia sama sekali tak letih, dibalik matanya seolah memancarkan perasaan apa boleh buat, semacam perasaan pedih yang tak terlukis dengan perkataan.
Disaat melihat Suma Tang-shia, dia pun melihat mayat Ciu Kiok yang terduduk di bangku.
Paras mukanya sama sekali tak berubah, dia hanya menghela napas sambil melangkah masuk ke dalam.
Lui Sin dan Han Seng pun telah melihat jenasah Ciu Kick, tanpa sadar serentak mereka memburu masuk dan menghampirinya.
Darah yang meleleh dari mulut luka Ciu Kiok dibagian leher telah berhenti, cepat Lui Sin periksa dengus napas dayang itu, tapi paras mukanya kontan berubah jadi hijau membesi.
Berbicara dari pengalaman yang dimiliki, tentu saja diapun sudah melihat kalau Ciu Kiok telah tewas, namun tak urung dia tetap memeriksa dengus napasnya.
Dalam keadaan seperti ini, dia sama sekali tidak merasa kalau tingkah lakunya sama sekali tak berguna dan sangat menggelikan.
Tanpa terasa Han Seng ikut memegang pergelangan tangan kanan Ciu Kick.
Tapi ia segera menyentuh tangan yang dingin kaku, akhirnya sambil gelengkan kepala dan menghela napas, gumamnya.
Tidak tertolong lagi!
Dengan wajah hijau membesi Lui Sin maju selangkah, tapi ia segera dicegah Siau Jit.
Duduk!
kata Suma Tang-shia.
Siau Jit ambil tempat duduk lebih dulu, melihat itu Lui Sin dan Han Seng duduk disamping kiri kanannya.
318 Suma Tang-shia menyapu sekejap para tamunya, lalu berkata.
Kalian bertiga datang ditengah malam buta begini, maaf kalau dayangku sudah istirahat sehingga tak ada yang sediakan minuman, mohon maaf yang sebesarnya Tidak masalah...........
sahut Siau Jit.
Perlahan Suma Tang-shia alihkan pandangan matanya ke wajah Siau Jit, sapanya sambil menghela napas.
Siau kecil............
Toacil Siau Jit seperti ingin mengucapkan sesuatu, tapi akhirnya niat itu diurungkan.
Siapa yang telah membunuh Ciu Kiok?
sela Lui Sin tiba-tiba.
Akul Paras muka Lui Sin berubah hebat, belum sempat ia mengucapkan sesuatu, Siau Jit telah menukas.
Toaci menggunakan pedang, sedang bekas luka di leher Ciu Kiok adalah luka golok Mendengar itu kembali Suma Tang-shia menghela napas.
Siau kecil, terkadang kau kelewat sembrono, tapi terkadang kau pun sangat teliti Untung saat dia sembrono tidak terlalu banyak sindir Lui Sin sambil tertawa dingin.
Bagiku, hal itu sudah merupakan satu ketidak beruntungan, suatu keadaan yang tidak baik bagiku Jadi sebetulnya siapakah pembunuhnya?
desak Lui Sin lagi.
Belum sempat Suma Tang-shia menjawab, Lui Sin telah bertanya kembali.
Apakah si Kelelawar?
Akhirnya Suma Tang-shia mengangguk.
Siapa pula si Kelelawar itu?
desak Lui Sin lebih jauh.
Kelelawar adalah Kelelawar Yang kutanyakan adalah Kelelawar tanpa sayap gadungan itu?
teriak Lui Sin lagi tertawa dingin.
Menurut apa yang kuketahui, Kelelawar tanpa sayap h anya ada satu orang 319 Sampai saat seperti inipun kau masih ingin membohongi kami?
Apakah kau tidak tahu kalau Ong Bu-shia belum mati, dia telah memberitahukan semua rahasia itu kepada kami?
Sungguh tak disangka Lui lo-enghiong pandai pula berbohong ujar Suma Tang-shia sambil tertawa hambar.
Lui Sin tertegun.
Setelah tertawa lanjut Suma Tang-shia.
Sayangnya Lui lo-enghiong tidak terbiasa bicara bohong, karena itu walaupun saat bicara tampak serius dan bersungguh sungguh, sayang tidak terlalu mirip Lui Sin mendengus dingin.
Suma Tang-shia berkata lebih jauh.
Sang pembunuh adalah seorang jago kawakan yang amat teliti dan hati hati, sekalipun Ong Bu-shia belum mati, aku percaya dia sudah tak sanggup banyak bicara, selain itu sesungguhnya Ong Bu-shia sama sekali tidak tahu apa apa Lui Sin hanya mendengus tanpa bicara, Siau Jit segera mewakilinya.
Sewaktu menemukan Ong Bu-shia, dia memang sudah kritis dan hampir mati Ong Bu-shia adalah seorang jago kawakan dengan tenaga dalam amat sempurna, selama ia masih bernapas, hal itu sudah lebih dari cukup Dia hanya mengucapkan kata palsu sebanyak tiga kali Walau hanya sepatah kata palsu pun sudah lebih dari cukup, tentunya kalian tak susah untuk mengartikan Ehml Suma Tang-shia menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya.
Siau kecil, selama ini aku selalu mengaku bahwa kau adalah seorang yang sangat pintar Sayang masih kalah jauh bila dibandingkan toaci Suma Tang-shia tertawa lebar.
Jika aku adalah orang pintar, tak nanti akan bersahabat begitu akrab dengan dirimu Sambil menarik kembali senyumannya, ia menambahkan.
Sekarang persoalan ini telah berkembang jadi begini, aku rasa kita pun tak usah bicara yang tak berguna lagi 320 Tanpa bicara Siau Jit manggut manggut.
Kembali Suma Tang-shia melanjutkan.
Jaring hukum langit memang susah ditembus oleh mereka yang bersalah, kalau dibilang kejadian ini bukan kemauan takdir, rasanya susah untuk dijelaskan, tapi kalau dibilang kemauan langit, jika diteliti kembali, rasanya hal ini seperti mencari kematian untuk diri sendiri Lagi lagi omong kosong tukas Lui Sin.
Betul, tapi omong kosong itupun hanya segitu saja Kalau begitu jawab lah berapa pertanyaanku secara terus terang bentak Lui Sin.
Siapa sebenarnya Kelelawar?
Mengapa dia membunuh Lui Hong?
Bagaimana duduk perkara sesungguhnya?
Kau jawab dulu ke tiga pertanyaan itu Malam ini kalian bisa muncul lagi ditempat ini, aku percaya dalam hati kalian pasti sudah ada perhitungan, sementara apa yang harus kujawab rasanya telah kujawab semua Omong kosong, omong kosong teriak Lui Sin makin sewot.
Siau Jit menghela napas, tiba-tiba tanyanya.
Mengapa toaci harus membunuh Ciu Kiok?
Ia menjumpai Kelelawar masuk ke dalam bangunan loteng ini Kalau begitu dia pasti menyusul kemari karena ingin menolong toaci, siapa sangka kejadian sesungguhnya sama sekali diluar dugaannya.....
Suma Tang-shia mengangguk.
Dia memang seorang gadis yang baik, sayang orang baik biasanya berumur pendek katanya.
Yang lebih disayangkan lagi adalah walau toaci tak ingin dia mati, pada akhirnya kau tetap tak berdaya mencegahnya Kau anggap hatiku begitu baik, begitu mulia?
321 Jika toaci kejam dan jahat, bisa saja kau tipu kami agar masuk ke dalam hutan bambu, dengan bahan peledak yang terpasang dalam hutan bambu itu, sudah cukup membuat kami mati berulang kali Tergerak hati Lui Sin dan Han Seng, mau tak mau mereka harus mengakui bahwa apa yang dikatakan Siau Jit memang satu kenyataan.
Suma Tang-shia terbungkam.
Aku tahu sesungguhnya toaci adalah orang yang baik sekali hatinya kembali Siau Jit berkata, atas musibah yang menimpa toaci ......
Tak usah dilanjutkan lagi tukas Suma Tang-shia sambil mengebaskan ujung bajunya.
Kalau begitu siaute hanya ingin menanyakan satu hal kepada toaci, mau dijawab atau tidak, kami segera akan pergi tinggalkan tempat ini Saudara...........
Lui Sin tampak gelisah.
Bila ingin mengetahui duduk perkara yang sebenarnya, kita bisa tanyakan hal ini kepada Kelelawar tanpa sayap gadungan, dan sepantasnya hanya bertanya kepada dia tukas Siau Jit.
Lui Sin mengerutkan alis matanya yang tebal, namun akhirnya mengangguk.
Maka Siau Jit bertanya lebih lanjut.
Toaci, sekarang ke mana perginya Kelelawar tanpa sayap gadungan itu?
Apa rencana kalian?
Puluhan lembar nyawa anggota Tin-wan piaukiok, Lau Ci-he berempat...........
Kau ingin menuntut keadilan dari si Kelelawar?
Betul!
jawaban Siau Jit sangat tegas.
Kau anggap aku bakal memberitahukan hal ini kepada kalian?
kembali Suma Tang-shia bertanya.
Siau Jit menghela napas, belum sempat mengucapkan sesuatu, Suma Tang-shia telah berkata lagi.
Semua yang hendak kusampaikan telah selesai kuucapkan, tinggal satu yang belum kukatakan!
322 siaute siap mendengarkan Mulai malam ini, hubungan kita berdua putus sampai disini!
Siau Jit tertegun.
Dengan gerakan cepat Suma Tang-shia telah meloloskan pedang miliknya.
Pedang yang telah keluar dari sarungnya bergetar di angkasa, dibawah pantulan cahaya lentera tampak sekilas cahaya yang menyilaukan mata.
Serentak Lui Sin dan Han Seng ikut meloloskan senjata, mereka siap siaga menghadapi segala kemungkinan.
Siau Jit tidak meloloskan pedangnya, ia berkata.
Toaci, walaupun kita sudah bukan teman lagi, aku tak bakal menganggap kau sebagai musuhku, pertemuan malam ini kita sudahi sampai disini saja, siaute mohon diri Saudara Siau, ini...........
Lui Sin berteriak cemas.
Siau Jit ulapkan tangannya sambil menukas.
Jangan kuatir cianpwee, cayhe sudah mempunyai perhitungan Lui Sin berkerut kening, tapi akhirnya dia menurut.
Baik, aku turuti perkataanmu Bicara sampai disitu, ia segera berjalan mendekati mayat Ciu Kiok dan siap membopongnya.
Saat itulah Suma Tang-shia telah menyentil pedangnya, Nguuung!
dengungan nyaring b ergema memekikkan telinga, dengan gerakan refleks Lui Sin melompat mundur.
Untuk memasuki bangunan loteng ini memang gampang, tapi bukan urusan gampang lagi bila ingin tinggalkan tempat ini!
seru perempuan itu.
Maksud toaci...........
Terobos dulu pedangku ini!
Selain cara itu............
Tak ada pilihan lain!
jawaban Suma Tang-shia amat serius.
Kembalu Lui Sin mendengus.
323 Hmm, sudah lama aku orang she-Lui ingin menjajal sampai dimana kehebatan ilmu pedang Tui-mia-kiam dari keluarga Suma Makanya inilah kesempatan baik untukmu, jangan kau lepaskan dengan begitu saja............
Kau tak usah kuatir!
Kembali Suma Tang-shia mengalihkan pandangan matanya ke wajah Siau Jit, serunya.
Cabut keluar pedang pemutus usus mu!
Dengan cepat Siau Jit menggeleng.
Toaci, diantara kita berdua seharusnya masih tersedia jalan lain Sebenarnya ada, hanya sayang kalian menerjang masuk kemari, jadi tak mungkin bisa dibicarakan jalan lain, aku percaya kau pasti paham bukan Siau Jit terbungkam.
Han Seng yang selama ini hanya berdiam diri, tiba-tiba ikut menimbrung.
Nona pun seorang yang tahu urusan dan mengerti keadaan, kalau memang tidak tersangkut dalam urusan ini............
Siapa bilang aku tidak tersangkut dalam peristiwa ini?
tukas perempuan itu cepat.
Aku yakin kematian yang menimpa rombongan pengawal barang dari Tin-wan-piaukiok sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan nona Itu memang kenyataan Yang mencincang tubuh Hong-ji dan menggorok leher Ciu Kick pun bukan nona Inipun kenyataan Tapi dengan nada dingin perempuan itu menambahkan.
Walaupun semua kejadian tak ada kaitannya dengan aku, namun aku bersikeras tetap ingin mencampurinya.
Meski hal tersebut sukar dipahami, tapi aku percaya kalian tentu bisa memahaminya bukan?
Kontan Han Seng terbungkam.
Sambil menyilangkan pedangnya didepan dada, kembali Suma Tang-shia berkata.
Seharusnya saat ini aku sudah tidak berada disini, aku tetap disini karena memang sengaja hendak menunggu kedatangan kalian 324 Aaai, ternyata toaci pun seorang yang cerdas Siau Jit menghela napas panjang.
Begitu juga dengan kau kata Suma Tang-shia dengan suara berat, bisa sampai disini sebelum fajar menyingsing, membuktikan bahwa aku tidak salah melihat Ucapan terakhir Ong Bu-shia menjelang ajalnya sangat membantu kami Sejak awal, peristiwa ini memang mengandung banyak titik kelemahan, sekalipun tak ada petunjuk dari Ong Bu-shia, cepat atau lambat kalian toh tetap akan datang kemari Mungkin saja Siau Jit seperti ingin mengucapkan sesuatu, tapi kemudian diurungkan.
Perlahan-lahan Suma Tang-shia mengalihkan pandangannya ke ujung pedang, ujarnya lagi dingin.
Pedang adalah benda yang tak kenal belas kasihan, aku harap kau lebih berhati hati Bahkan nama panggilan pun kini telah dirubah.
Siau Jit menghela napas, ujarnya.
Biarpun pedang tak kenal belas kasihan, namun manusia punya perasaan, kalau tidak, tak nanti toaci akan peringatkan aku agar berhati hati Aku tak lebih hanya suruh kau hati hati Begitu selesai bicara, ia sudah bangkit berdiri, udara seputar sana pun seketika diselimuti hawa pembunuhan yang kental.
Mimik muka Siau Jit ikut berubah jadi serius dan berat.
Berkilat sinar mata Lui Sin, serunya.
Saudara Siau, apa yang harus kami lakukan?
Belum lagi Siau Jit menjawab, Suma Tang-shia telah berkata lebih dulu.
Bukan dia yang akan memutuskan apa yang harus kalian lakukan!
Lalu siapa?
Aku!
Pedang dalam genggamanku!
Tiba-tiba ia membentak keras.
Lihat pedang!
Mendadak tubuhnya melambung sambil menerjang ke depan.
325 Belum lagi serangannya tiba, hawa pedang yang kuat telah menyelimuti seluruh ruangan, seketika cahaya lentera ikut padam.
Serangan itu terdiri dari tiga gerakan, masing masing menusuk Siau Jit, Lui Sin dan Han Seng.
Hampir setiap tusukan yang dilakukan cepat lagi telengas, yang diancampun tempat mematikan ditubuh ke tiga orang itu.
Tusukan untuk Siau Jit terarah ke jantungnya, tusukan untuk Lui Sin diarahkan ke tenggorokan, sementara tusukan untuk Han Seng tertuju ke ujung antara kedua alis matanya.
Semula pedang Siau Jit masih berada dalam sarung, namun dengan gerakan cepat tahu tahu sudah dicabut keluar dan menangkis tusukan yang terarah ke jantung itu.
Triiiing!
percikan bunga api memancar ke empat penjuru disaat kedua bilah pedang itu saling membentur, andaikata Siau Jit tidak menghindar atau menangkis, niscaya tusukan itu akan menembusi jantungnya.
Pada saat yang bersamaan, Lui Sin dan Han Seng telah menangkis pula ancaman yang tertuju ke arahnya.
Sambil merangsek maju, teriakan Han Seng.
Dengan tiga melawan satu, biar kami berhasil merobohkan diri pun tidak dianggap sebagai kemenangan yang sah, bahkan orang persilatan pasti akan menuduh kami sebagai orang dewasa tak tahu diri yang pandainya menganiaya anak perempuan ......
Suma Tang-shia tertawa dingin, tukasnya.
Pertarungan pada malam ini hanya diketahui kita berempat, buat apa kau ngaco belo omong kosong!
Kalau begitu biar aku orang pertama yang akan menghadapi dirimu!
bentak Han Seng nyaring.
Pedangnya segera dikembangkan, diantara kilauan cahaya perak, secara beruntun dia lancarkan belasan tusukan ke tubuh perempuan itu.
Dengan cekatan Suma Tang-shia bergerak kian kemari, sambil berkelit ejeknya.
Bagaimana kalau kau kalah?
Biar harus gadaikan nyawa pun aku tetap akan turun tangan!
Baikl seru Suma Tang-shia.
326 Ia bergerak cepat, Triiing, triiing, triiiing!
secara beruntun dia sambut tiga buah serangan dari Han Seng sembari melancarkan satu serangan balasan, arah yang diserangpun posisi titik kelemahan dari sistim pertahanan Han Seng, yang mau tak mau harus dilindungi.
Han Seng terkesiap, buru buru dia melompat mundur.
Menggunakan kesempatan itu Suma Tang-shia merangsek maju, secara beruntun dia lancarkan tiga tusukan yang semuanya tertuju ke satu sasaran yang sama.
Untuk kesekian kalinya Han Seng mundur.
Suma Tang-shia sama sekali tidak mengendorkan serangannya, kembali dia lancarkan tiga belas tusukan, dalam waktu singkat seluruh tubuh Han Seng sudah terbungkus dalam lapisan cahaya lawan, serangan itu diakhiri dengan sebuah tusukan kilat yang langsung menusuk ujung alis matanya.
Han Seng segera mencongkel pedangnya keatas menyongsong datangnya ancaman itu, siapa tahu serangan maut dari Suma Tang-shia itu hanya serangan kosong.
Ketika Han Seng mencongkel pedangnya ke atas, mendadak ia berganti gerakan, tahu tahu ia tusuk ketiak kiri Han Seng, dimana pedangnya tak mungkin bisa dipakai untuk menangkis.
Triiing!
ternyata ujung pedang itu menusuk diatas mata golok lawan.
Rupanya Lui Sin yang menyaksikan datangnya bahaya segera melancarkan satu bacokan yang persis menerima datangnya tusukan ke arah tubuh Han Seng itu.
Berubah hebat paras muka Han Seng, sambil menghentakkan kakinya dia langsung mundur.
Lui Sin segera menggantikan posisinya maju menyerang, golok emasnya menciptakan segulung angin serangan menyapu kaki Suma Tang-shia dari bawah.
Serangan golok belum tiba, Suma Tang-shia sudah melambung ke udara dan melompat naik keatas bangku.
Dibawah berkelebatnya sinar golok, bangku itu seketika hancur berantakan, tapi disaat cahaya serangan itu menggulung tiba, tubuh Suma Tang-shia telah melambung 327 kembali ke udara, lalu sambil berputar bagai roda kereta, ia menyelinap ke belakang Lui Sin dan turun dipunggung bangku yang lain.
Tanpa mengubah gerak serangan goloknya, Lui Sin bergerak cepat dengan ikut menggelinding ke arah sana.
Walaupun posisinya saat itu membelakangi Suma Tang-shia, namun dari desingan angin, ia sudah tahu ke arah mana perempuan itu bergerak.
Tapi baru saja tubuh berikut goloknya menggelinding kearah bangku itu, tiba-tiba saja ia menghentikan semua gerakannya.
Rupanya jenasah Ciu Kiok berada dibangku itu, andaikata ia melanjutkan serangan, niscaya bacokan goloknya akan menghajar jenasah tersebut.
Begitu ia berhenti sejenak, Suma Tang-shia berikut pedangnya telah meluncur balik.
Selisih jarak kedua orang itu sangat dekat , bagaimana pun reaksi yang bakal dilakukan Lui Sin, tampaknya sudah berada dalam perhitungan dan target perempuan itu, tusukan pedang yang dilancarkan persis mengarah titik kelemahan itu.
Cahaya pedang berkilat cepat, buru buru Lui Sin menangkis dengan goloknya, sementara langkah tubuhnya mundur sejauh setengah tombak.
Bacokan golok itu gagal membendung seluruh serangan pedang lawan, kendatipun dia mundur tepat waktu, tak urung pakaian dibagian dadanya tersambar juga hingga robek panjang.
Suma Tang-shia sama sekali tidak melakukan pengejaran, dengan pedang disilangkan didepan dada, ia tatap Siau Jit dengan pandangan dingin.
Dipihak lain, Lui Sin sudah siap menerjang maju lagi setelah mundur dan memutar goloknya, tapi pada saat bersamaan Suma Tang-shia telah berpaling, tegurnya sambil menatap tajam wajah lawan.
Kau sudah kalah, mau apa sekarang?
Hmm, mencari kemenangan dengan menggunakan akal licik, tidak terhitung kepandaian sesungguhnya dengus Lui Sin.
Suma Tang-shia tertawa dingin.
328 Hmm, mencari kemenangan dengan menggunakan akal licik, tidak terhitung kepandaian sesungguhnya dengus Lui Sin.
Suma Tang-shia tertawa dingin.
Ilmu silat, tenaga dalam serta kecerdasan otak merupakan berapa syarat yang tak boleh kurang bagi seorang jagoan katanya.
Walaupun pedangmu berhasil merobek baju dibagian dadaku, toh aku belum mati!
kata Lui Sin lagi sambil tertawa dingin.
Suma Tang-shia menatap tajam wajah Lui Sin, tiba-tiba pergelangan tangan kanannya diputar, sreeet, sreeet, sreeet!
ia lancarkan tiga tusukan ke udara kosong, lalu katanya.
Bagaimana kalau kutambahi dengan tiga tusukan ini?
Menyaksikan hal itu, berubah hebat paras muka Lui Sin.
Terdengar Suma Tang-shia berkata lebih lanjut.
Bila kulancarkan ke tiga tusukan ini, Siau Jit pasti akan ikut campur, karena menusuk sama seperti tidak melakukannya, maka aku urungkan niatku itu!
Sekarang sudah tiba giliranku kata Siau Jit tiba-tiba sambil melangkah maju.
Kita tak boleh.............
Belum selesai Lui Sin berseru, Suma Tang-shia telah berpaling kearah Han Seng sambil berkata.
Apakah perkataan kau orang she-Han masih masuk hitungan?
Sebelum Han Seng menjawab, Siau Jit telah menyela.
Sebagai orang persilatan, setiap patah kata yang telah diucapkan, tak akan bisa ditarik lagi Perkataan saudara Siau benar sekali mau tak mau Han Seng menyahut.
Kemudian kepada Suma Tang-shia ujarnya.
Kepandaian silat maupun kecerdasan nona masih jauh diatas kemampuan kami, aku orang she-Han harus menerima kekalahan ini tanpa membantah lagi Ilmu pedang yang kau pelajari adalah ilmu pedang adu nyawa, tapi dalam pertarungan tadi kau sama sekali tak berniat untuk adu jiwa, otomatis semua titik kelemahan pun terlihat jelas, dalam hal ini aku yakin kau pasti lebih tahu Il Sungguh tajam penglihatanmu Han Seng menghela napas, aku rasa biar musti beradu nyawa pun, aku masih bukan tandingan nona 329 Suma Tang-shia tertawa dingin.
Paling tidak kau dapat menguras tenagaku sehingga disaat bertarung melawan golok emas, aku tak dapat meraih kemenangan semudah itu Setelah berhenti sejenak, tambahnya.
Oleh karena itu aku tetap harus berterima kasih kepadamu katanya.
Han Seng menghela napas panjang, walaupun kekalahannya disebabkan ia tak tega, namun dalam kenyataan dia benar benar tak sanggup untuk melancarkan serangan adu jiwa.
Kepada Lui Sin kembali Suma Tang-shia berkata.
Perasaan anda pun kurang ganas dan telengas.
Aku tak habis mengerti dengan cara apa kalian berkelana dalam dunia persilatan dimasa lalu, tapi untuk jagoan macam kalian, aku rasa lebih baik tetap tinggal dirumah saja, karena berkelana dengan pikiran semacam ini hanya bikin orang kuatir saja Lui Sin mendengus tapi ia tidak menjawab.
Maka sambil tertawa Suma Tang-shia berkata lebih jauh.
Manusia kasar yang semberono dan berangasan macam kau, bila tak ada pedang perak yang selama ini memperhatikan dirimu, aku yakin sejak lama nyawamu sudah melayang Lebih baik kau tak usah banyak bicara seru Lui Sin gusar.
Aku tahu, apa yang kuucapkan memang sampah dan omong kosong, karena kau bukan saja sudah ternama dalam dunia persilatan, bahkan dapat hidup hingga sekarang Kepada Siau Jit katanya kemudian.
Ilmu pedangmu cukup telengas, perasaan hatimu juga cukup keras dan tegas, semestinya aku tak perlu banyak omong kosong lagi denganmu Toaci...........
Rubah panggilanmu!
tukas Suma Tang-shia.
Siau Jit menghela napas tanpa menjawab.
Kembali Suma Tang-shia berkata.
Bagaimana kalau kita bertaruh?
330 Bertaruh apa?
Lui Sin mewakili Siau Jit bertanya.
Jika Siau Jit menang, aku tak akan bicara apa apa lagi, sebaliknya kalau kalah, kalian harus sudahi sampai disini saja!
Ini tidak adil Kalau aku sudah jadi orang mati, apa lagi yang bisa kukatakan?
Lui Sin tertegun.
Sambil tertawa dingin seru Suma Tang-shia.
Aku sangka kau bukan orang yang goblok, tak disangka kau tidak memahami maksudku Lui Sin terbungkam tidak bicara.
Kembali Suma Tang-shia berpaling kearah Siau Jit sambil bertanya.
Kau mau bertaruh tidak?
Apakah aku bisa tidak bertaruh?
Tidakl sahut perempuan itu tertawa.
Senyumannya lebih dingin dan beku daripada salju, begitu juga nada ucapannya, begitu selesai bicara, pedangnya telah bergerak melancarkan serangan.
Cahaya pedang berkilauan dibawah sinar lentera, bagai sambaran petir langsung menusuk tenggorokan lawan.
Siau Jit segera menangkis dengan pedangnya, jurus dan gerakan yang dia lakukan tidak lebih lambat dari Suma Tang-shia, begitu pedangnya menyambar, perubahan jurus pun dilakukan silih berganti, Triiing, triiing, triiing dalam waktu singkat ia sudah menyambut sembilan belas jurus serangan lawan.
Sungguh hebat gerak serangan dari Suma Tang-shia, jurus yang satu lebih cepat daripada jurus yang lain, begitu kuat dan hebatnya kekuatan tubuh perempuan ini, bukan saja membuat Lui Sin dan Han Seng terperanjat, Siau Jit sendiripun sempat dibuat tercengang.
Pemuda itu tak berani gegabah, namun ia hanya bertahan tanpa melakukan serangan balik.
331 Triing, triiing dentingan nyaring berkumandang tiada hentinya, serangan yang dilancarkan Suma Tang-shia telah mencapai puncak kehebatannya, dalam sekejap mata ia sudah melancarkan seratus tujuh puluh dua tusukan.
Setiap tusukan mengandung kekuatan yang mampu mencabut nyawa Siau Jit.
Dengan cepat lawan cepat Siau Jit hadapi setiap serangan yang tiba, ketika mencapai jurus ke seratus tujuh puluh satu, dia sudah tak mampu mempertahankan diri lagi.
Satu tusukan kilat dari Suma Tang-shia langsung tertuju ke ulu hati anak muda itu.
Tak disangkal lagi gerak serangan yang dia lakukan jauh lebih cepat daripada Siau Jit, walaupun selisih tidak banyak, namun sudah lebih dari cukup.
Siau Jit sadar kalau dia tak akan mampu mempertahankan diri, tangkisan pedangnya juga tak bakal berhasil, cepat dia melompat mundur.
Suma Tang-shia tidak berhenti sampai disitu, dengan gerak serangan tak berubah, ia menyusul dari belakang.
Bicara tentang ilmu meringankan tubuh, sudah jelas kemampuannya masih diatas Siau Jit, akibatnya walaupun pemuda itu sudah mengubah gerakan tubuhnya dengan belasan ilmu, ia masih gagal melepaskan diri dari kejaran lawan.
Namun pemuda itu tidak putus asa, kembali ia berganti dengan tiga gerakan badan dan akhirnya berhasil juga meloloskan diri.
Toaci serunya kemudian, kepandaian ilmu pedangmu sangat hebat, jauh melebihi kemampuanmu dimasa lampau, siaute benar benar merasa kagum!
Suma Tang-shia tertawa dingin.
Jika kau tetap tidak membalas, tak usah tiga ratus gebrakan pun kau pasti akan terluka diujung pedangku!
katanya.
Aku percaya!
Sementara pembicaraan masih berlangsung, kedua orang itu kembali bertarung ratusan gebrakan.
Bila kau mampu menyambut Tui-mia-samrkiam dari keluarga Suma, aku tak akan banyak bicara lagi!
seru perempuan itu.
332 Tubuhnya yang dilapisi cahaya pedang segera melambung ke udara, pedang yang berada dalam genggaman pun tiba-tiba berubah jadi ratusan bilah pedang yang secara bersama menusuk tubuh Siau Jit.
Berkilat mata Siau Jit melihat hal itu, pedangnya cepat berubah, secara beruntun dia mengubah diri sebanyak tujuh kali.
Dengan gerakan pertama dari tujuh jurus Toan-ciong-jit-si, dia patahkan serangan jurus pertama dari Tui-mia-kiam yang dilakukan Suma Tang-shia.
Kembali Suma Tang-shia melambung ke udara, dari s ana ia mengubah gerakan tubuhnya tiga kali dan berganti jurus tiga kali.
Selapis jaring pedang yang rapat segera tersebar keluar dari tubuhnya, mengurung sekujur badan Siau Jit.
Bersamaan waktu Siau Jit ikut berganti jurus serangan, selain menyerang diapun bertahan, tiga gerakan dari ilmu pedang Toan-ciang-jit-si dilancarkan dengan gencar untuk membuyarkan kurungan jaring pedang lawan.
Suma Tang-shia membentak nyaring, bayangan pedangnya ditarik lalu secepat kilat menusuk keluar.
Kali ini dia hanya melancarkan sebuah tusukan, namun dibalik tusukan itu justru terkandung perubahan yang amat rumit, luar biasa hebatnya!
Lui Sin dan Han Seng yang mengikuti jalannya pertarungan dari sisi arena pun tak dapat melihat arah mana yang menjadi sasaran.
Begitu juga dengan Siau Jit, ia tak bisa meraba bagian mana yang bakal diserang perempuan itu, empat jurus pertahanan segera dilancarkan.
Dalam empat jurus tadi tersimpan dua puluh delapan jenis perubahan, namun tetap gagal membendung tusukan maut dari Suma Tang-shia.
Tusukan itu bagai air raksa yang tersebar di lantai, dengan kecepatan tinggi menyusup masuk melalui posisi yang sama sekali tak terduga.
Cepat Siau Jit melancarkan lagi dua gerakan serangan, satu gerakan dengan tujuh perubahan, dua gerakan dengan empat belas kemungkinan, hingga perubahan ke empat belas ia baru mendengar suara Triiingl , hampir pada saat bersamaan ia dapat melihat dengan jelas kalau tusukan dari Suma Tang-shia sedang diarahkan ke tenggorokannya.
333 Tusukan pedang itu pada akhirnya terhadang oleh perubahan terakhir dari enam jurus serangannya, sekalipun gagal menghadangnya namun arah sasaran terlihat jelas.
Dengan gerakan spontan Siau Jit menggetarkan pedangnya, jurus terakhir dari Toan-ciang-jit-si pun dengan cepat dilancarkan.
Jurus serangan ini tetap mengandung tujuh jenis perubahan.
Perubahan pertama, pedang telah mengunci datangnya serangan, perubahan kedua menempel diatas mata pedang lawan, perubahan ketiga, sebuah tangkisan yang membuat senjata Suma Tang-shia terkunci diluar, perubahan ke empat membabat ke bawah, perubahan ke lima berputar kencang lalu pedang itu pun menusuk ke dalam perut perempuan itu.
Semua perubahan berlangsung dengan kecepatan luar biasa, sebab bila Siau Jit tidak menggunakan gerakan ke tujuh dari ilmu pedang pemutus ususnya, dia pasti akan tewas tertembus tusukan pedang Suma Tang-shia yang mengarah tenggorokannya.
Dan begitu serangan dilancarkan, maka tiada peluang lagi baginya untuk membatalkan.
Bahkan dia sendiripun tak sanggup mengendalikan perubahan dari gerak serangannya.
Triiiingl pedang dalam genggaman Suma Tang-shia terjatuh ke tanah, kemudian sepasang tangannya digunakan untuk memegangi perut sendiri.
Serangan telah berhenti, pedang pemutus usus telah dicabut keluar dari perut Suma Tang-shia, semburan darah segar pun berhamburan dari balik mulut luka.
Ketika tetesan darah pertama belum jatuh ke tanah, Siau Jit telah menancapkan pedangnya ditanah, dia gunakan sepasang tangannya untuk merangkul tubuh Suma Tang-shia sambil jeritnya.
Toaci...........
Ubah panggilanmu!
Tak mungkin bisa dirubah!
dengan cepat Siau Jit menotok berapa buah jalan darah penting ditubuh perempuan itu.
Suma Tang-shia tertawa sedih, ujarnya.
Tahukah kau, semuanya itu tak berguna, orang pintar macam kau, kenapa harus melakukan perbuatan sebodoh ini?
Siau Jit tak sanggup berkata kata lagi.
334 Setelah menghela napas ujar Suma Tang-shia.
Aku tahu, tujuh jurus ilmu pedang pemutus usus mu pasti dapat mematahkan tiga jurus ilmu pedang pengejar nyawa dari keluarga Suma, sungguh tak kusangka perubahan pedangmu ternyata begitu banyak dan tak terhingga Nada suaranya telah berubah sedikit parau.
Siau Jit menghela napas panjang, bisiknya.
Toaci............
Sudah berulang kali kusaksikan ilmu pedang pemutus usus mu, dalam perkiraanku semula, aku telah berhasil menguasahi semua perubahan yang kau lakukan, ternyata.....
kau memang jagoan masa depan, aku tak mampu menandingimu!
Kepandaian toaci pun tak kalah hebatnya Suma Tang-shia menggeleng, ujarnya.
Kalau bukan aku pernah melihat jurus pedangmu, ilmu pedang pengejar nyawa dari keluarga Suma paling banter hanya mampu menyambut lima jurus seranganmu Setelah tertawa lanjutnya.
Nama besar ilmu pedang pemutus usus ternyata memang bukan nama kosong, Siau kecil, kepandaianmu luar biasa Senyumannya kelihatan begitu sendu dan pedih, membuat Siau Jit merasakan hatinya hancur lebur, keluhnya.
Toaci, sejujurnya aku tak ingin membunuhmu Sayang kau sama sekali tak mampu mengendalikan perubahan dari gerak seranganmu, dan sungguh beruntung kau tak mampu mengendalikan, kalau tidak bukan aku yang mati, melainkan kau!
Setelah tertawa merdu, tambahnya.
Sejak awal aku sudah pengen mati diujung pedangmu, sekarang harapanku sudah terkabulkan, apa lagi yang harus kukatakan Senyuman itu kelihatan begitu manja dan menawan, namun dalam pandangan Siau Jit justru terasa begitu memedihkan, begitu memilukan hati.
Sambil tertawa bisik Suma Tang-shia.
Siau kecil, kau harus baik baik jaga diri..............
Belum selesai berkata, kepalanya sudah roboh ke samping, dengan senyuman masih dibibir ia menghembuskan napas terakhir dalam pelukan Siau Jit.
Ketika matanya terpejam, tiba-tiba air mata meleleh keluar membasahi pipinya.
335 Siau Jit tidak bergerak, diapun tak bersuara, hanya berdiam diri disitu bagai patung.
Menyaksikan hal itu, Han Seng dan Lui Sin merasa ikut bersedih hati, untuk berapa saat mereka ikut berdiri termangu.
Angin berhembus masuk lewat jendela, cuaca diluar kamar tampak semakin hitam pekat, biarpun malam belum mencapai ujungnya namun jaraknya dengan fajar masih amat jauh.
Entah berapa lama sudah lewat, akhirnya Siau Jit menghembuskan napas dan menggunakan tangannya untuk mengusap air mata di wayah Suma Tang-shia.
Air mata belum mengering, tapi sudah berubah jadi dingin karena tiupan angin malam.
Kulit badan Suma Tang-shia mulai berubah jadi dingin dan kaku, tanpa mengucapkan sepatah kata pun Siau Jit membopong jenasah Suma Tang-shia, bergeser ke depan pembaringan dan membaringkannya disana.
Dia menarik selimut yang ada dipembaringan dan ditutupkan ke tubuh Suma Tang-shia, sesudah menurunkan kelambu baru mundur dari situ.
Kini pakaian berwarna putih yang dia kenakan telah berpelepotan darah, itulah pakaian yang dijahit Suma Tang-shia untuk dirinya, bahkan perempuan itu pula yang membantunya untuk kenakan, tapi sekarang telah dinodai oleh darah dari Suma Tang-shia.
Kalau dibilang inilah kehendak takdir, rasanya kelewat ironis, kelewat memedihkan hati.
Siau Jit berjalan menghampiri pedangnya, mencabut keluar pedang pemutus usus itu dari tanah, tiada noda darah barang setetespun yang membasahi senjatanya.
Setelah menghela napas panjang, katanya.
Mari kita pergi!
Pergi ke mana?
tanya Lui Sin seolah baru mendusin dari impian buruk.
Thian-liong-ku-sat!
Kembali Lui Sin tertegun.
Mau apa pergi ke kuil Thian-liong-ku-sat?
Mencari Kelelawar 336 Kelelawar gadungan?
Mungkin saja yang asli pun berada disana Mana mungkin mereka akan pergi ke kuil Thian-liong-ku-sat?
tanya Han Seng keheranan.
Tentu saja, karena mereka sedang mencari harta karun milik Kelelawar Ia berbicara dengan nada yakin, membuat Han Seng dan Lui Sin yang mendengar jadi tercengang, belum sempat bertanya, Siau Jit telah berkata lagi.
Ciu Kick bukan tewas ditangan Suma Tang-shia Tadi, Suma Tang-shia sudah mengakui sahut Han Seng.
Tak diragukan lagi, sang pembunuh adalah si Kelelawar ......
Kelelawar tanpa sayap gadungan Seharusnya begitu Setelah membunuh Lau Ci-he dan merampas golok Kelelawar milik gadis itu, seharusnya dia mendahului kita dengan pergi mencari Hek Botan dan Pek Hu-yung, tapi nyatanya dia malah terburu buru balik kemari, hal ini hanya menjelaskan akan satu hal Tergerak hati Han Seng.
Apakah dengan mendapat tambahan golok Kelelawar milik Lau Ci-he, ia telah menemukan rahasia yang berada dalam golok golok tersebut?
Siau Jit mengangguk.
Padahal sarang Kelelawar yang terdekat adalah kuil Thian-liong-ku-sat Rasanya apa yang kau katakan sangat beralasan Kalau dilihat sepintas seakan tak ada apa apanya disana, karena Kelelawar gadungan pasti tak akan melepaskan setiap jengkal tempat yang berada dalam kuil Thian-liong-ku-sat Rasanya begitu 337 Tapi manusia sepintar Kelelawar, bila dia ingin menyimpan sebuah rahasia, sudah pasti akan dicarikan sebuah cara yang sama sekali diluar dugaan dan amat susah ditemukan Sebenarnya rahasia apa yang ada disana?
Mungkin saja harta karun milik Kelelawar yang tak terhitung jumlahnya, mungkin juga kitab pusaka ilmu silatnya yang menakutkan, tapi yang pasti barang barang itu sudah tentu bukan patung pahatan yang kita temukan Patung pahatan itu...........
Han Seng tertegun.
Itulah karya seni yang dibuat dan dikumpulkan si Kelelawar sepanjang hidupnya, mungkin dalam pandangan orang lain, barang barang itu hanya sampah, sama sekali tak ada harganya, tapi bagi Kelelawar pribadi, mungkin tiada benda lain yang bisa ditandingkan dengan karya karya seninya itu Bila dalam kenyataan harta karun yang dimaksud hanyalah karya seni itu, setelah tahu duduk perkara yang sebenarnya, mungkin Kelelawar gadungan bisa mati saking jengkelnya Kemungkinan seperti itu kecil sekali, kalau hanya barang seni, kenapa Kelelawar musti menyimpan rahasianya dalam tiga belas bilah golok Kelelawar?
Padahal tidak susah untuk menemukan ruang rahasia dalam kuil Thian-liong-ku-sat Han Seng termenung sebentar, katanya kemudian.
Kelelawar meninggalkan pula rahasia itu untuk orang awam, padahal dimata orang awam, tiada benda lain yang lebih menarik daripada harta karun dalam jumlah banyak Konon Kelelawar memiliki kekayaan melebihi sebuah negeri, disaat dia lenyap, setahuku banyak orang persilatan yang mulai melacak dan mencari jejak harta peninggalannya, oleh karena itu rahasia yang dimaksud sudah pasti rahasia harta karun Menurut dugaan kalian, siapakah Kelelawar gadungan itu?
tiba-tiba Han Seng bertanya.
Suma Tionggoan, dan hanya Suma Tionggoan yang bisa memaksa Suma Tang-shia untuk bersikap begitu 338 Siau Jit menghela napas panjang, katanya.
Tadi, walaupun toaci tidak menjelaskan, namun dari nada pembicaraannya, dia sudah mengakui akan hal itu Betul Tapi persoalannya sekarang adalah Suma Tionggoan pun seseorang yang kaya raya, buat apa lagi dia mencari uang sebanyak itu?
Mendadak Lui Sin mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak bahak.
Han Seng tidak habis mengerti, diamatinya saudara tuanya itu dengan tertegun.
Setelah tertawa keras, ujar Lui Sin.
Itulah sebabnya saudaraku, kau tak pernah berhasil menjadi seorang pedagang sukses, masa persoalan sekecil inipun tidak kau pahami?
Silahkan toako jelaskan Kapan kau pernah mendengar ada orang menampik punya uang banyak?
Benar juga sahut Han Seng setelah termenung.
Semakin kaya seseorang semakin suka dia dengan uang, kalau dia tak suka uang, tak mungkin dia akan jadi orang berduit, semakin suka uang tentu saja makin banyak dia semakin senang Aaai, aku rasa inilah alasannya mengapa ia berbuat begitu Han Seng menghela napas.
Lui Sin berpaling dan memandang jenasah Suma Tang-shia sekejap, katanya kemudian.
Aku rasa nona Suma benar benar kelewat bodoh Siau Jit ikut menghela napas, ujarnya.
Selama ini aku selalu tak habis mengerti kenapa ia hidup uring uringan dan tak pernah gembira, lelaki macam apa pun tak pernah dipandang sebelah mata olehnya, tapi sekarang, akhirnya aku tahu juga jawabannya Kelelawar terkutuk, entah berapa banyak anak gadis yang dicelakai olehnya sumpah Lui Sin.
Suma Tionggoan pun pantas mampus kata Han Seng pula, sudah tahu anak gadisnya jadi korban kebrutalan Kelelawar, kenapa ia justru menyaru jadi Kelelawar dengan mencelakai anak gadis lain 339 Mungkin dia sudah mendekati edan Harta karun memang gampang membuat orang jadi edan, demi mendapatkan rahasia dari Kelelawar, mungkin dia telah menggunakan segala cara, oleh karena tidak berhasil maka pada akhirnya dia menempuh cara ini, menyamar jadi Kelelawar tanpa sayap Aku tetap masih belum mengerti ujar Lui Sin.
Kelelawar telah menjadi orang idiot kata Siau Jit, bila ingin dia mengungkap rahasianya, aku percaya hanya ada satu cara.....
yakni memulihkan kembali daya ingatannya!
Ooh?
Untuk bisa mencapai tujuan tersebut, dia harus memberikan rangsangan yang besar kepada Kelelawar, tentu saja aku tak bisa menjelaskan apa alasannya, tapi yang pasti ketika seorang yang kehilangan ingatan melihat seseorang yang hampir mirip dengan dirinya dan menyaksikan dia melakukan pelbagai perbuatan yang pernah dia lakukan dimasa lalu, aku percaya perlahan lahan daya ingatnya pasti akan pulih kembali Seharusnya begitu teriak Han Seng sambil bertepuk tangan, kenapa selama ini kita tak pernah memikirkannya?
Hal ini dikarenakan selama ini kita tak tahu kalau terdapat dua orang Kelelawar tanpa sayap Yaa, siapa yang menduga?
gumam Lui Sin sambil tertawa getir.
Mengenai apakah Kelelawar tanpa sayap gadungan benar Suma Tionggoan atau bukan, meski sampai sekarang belum dapat dipastikan, tapi untuk membuktikan kebenarannya, kita masih harus mendapatkan bukti Jika dugaanmu tak salah, seharusnya masalah ini segera akan jadi terang benderang Siau Jit mengangguk, tanpa bicara lagi ia berjalan meninggalkan ruang kamar itu.
Kegelapan malam masih mencekam seluruh jagad, meski fajar sudah hampir tiba, namun masih selisih jangka waktu yang cukup lama.
340 ALAM semakin kelam, angin berhembus makin kencang.
Rerumputan ilalang bergoyang menimbulkan suara gemerisik, seakan ada begitu banyak sukma penasaran yang bergerak kian kemari, bergerak tiada hentinya.
Cahaya rembulan terasa begitu redup, bayangan hitam dibalik bangunan yang bobrok tampak bagai setan gentayangan yang sedang bersembunyi disana.
Sesungguhnya kuil kuno Thian-liong-ku-sat memang sebuah tempat yang menyeramkan, khususnya ditengah malam buta seperti ini, pada hakekatnya tidak mirip dengan bangunan di dunia.
Namun pada saat itulah terlihat ada dua orang manusia sedang berjalan ditengah semak, dibalik kuil.
Kedua orang itu memiliki perawakan tubuh yang hampir sama, dengan dandanan yang sama, bahkan raut muka mereka pun sama satu dengan lainnya.
Baju berwarna hitam pekat dengan raut muka pucat pasi, warna semacam itu boleh dibilang merupakan warna dari kematian, warna mendekati maut.
Rambut mereka yang terurai panjang berkibar terhembus angin malam, suasana mengerikan yang tak terlukis dengan kata, menyelimuti sekeliling tempat itu, dengan munculnya kedua orang tadi, suasana disitu pun terasa makin dingin menggidikkan.
Semak belukar yang semula tak berkabut, tiba-tiba kini diselimuti kabut tebal.
Kabut malam yang dingin seakan terbawa oleh hembusan angin, seolah pula memancar keluar dari tubuh kedua orang itu.
Bila hal ini merupakan kenyataan, maka asap putih itu bukanlah kabut malam, melainkan hawa setan.
Meskipun kedua orang itu mirip dengan setan gentayangan, namun bila dilihat lebih cermat, rasanya sama sekali tak mirip.
Menurut cerita, setan tak punya bayangan, tapi kedua orang itu punya.
341 Dibawah sinar rembulan, bayangan mereka bergeser mengikuti langkah kaki, melayang ditengah semak, melambung diatas dinding bangunan.
Hembusan angin menggoyangkan rerumputan membuat semak belukar seakan dibelah dengan golok, membuat bayangan mereka terbelah jadi ribuan keping, namun tatkala bayangan mereka bergeser keatas dinding, bayangan itu menyatu dan utuh kembali.
Ada banyak orang mempunyai pengalaman seperti itu, tapi jarang ada bayangan seaneh bayangan mereka.
Gerak gerik orang yang berada didepan jauh tampak normal, tapi orang yang berada dibelakang pada hakekatnya seperti patung, gerak geriknya begitu kaku, seolah setiap organ badannya dibelenggu dengan tali yang kuat.
Tali yang kuat itu seakan dipegang dan dikendalikan orang yang berjalan dimuka, sehingga setiap gerakan yang dilakukan orang dibelakang pada hakekatnya hanya menirukan setiap gerakan orang didepannya.
Cahaya rembulan menyinari pula wajah mereka, siapa pun yang kebetulan menyaksikan mereka berdua saat itu, dapat dipastikan bakal terperanjat, terkesiap.
Walaupun raut muka mereka tidak begitu buruk, namun memancarkan sinar menyeramkan yang tak terlukis dengan perkataan.
Yang lebih aneh lagi adalah raut muka kedua orang itu sama satu dengan lainnya, ibarat pinang dibelah dua.
Orang yang berjalan didepan adalah si Kelelawar, sedang orang yang mengikuti dibelakangnya juga si Kelelawar.
Kelelawar tanpa sayap!
Rumput ilalang gemetar ditengah hembusan angin malam, lalu patah terinjak kaki ke dua Kelelawar.
Setelah menembusi halaman belakang, mereka tiba diserambi panjang, didepan lamu batu.
Kelelawar yang berada didepan menghentikan langkahnya, memperhatikan sekejap lampu itu kemudian membungkukkan badan dan menggeser lampu batu itu ke samping.
342 Sebuah lorong rahasia pun muncul didepan mata.
Turun!
Kelelawar itu berkata.
Kelelawar yang berada dibelakang selalu menirukan gerak gerik Kelelawar didepannya, dia ikut menjerit.
Turun............
Gerak geriknya yang semula kaku pun berubah lebih lincah dan hidup, diiringi suara tertawa yang aneh, selangkah demi selangkah dia berjalan masuk ke dalam lorong, menuruni undak undakan batu.
Kelelawar yang menggeser lampu batu itu ikut masuk ke dalam lorong, kemudian menggeser balik lampu batu itu ke posisi semula.
Ke dua orang Kelelawar itupun lenyap dengan begitu saja dibawah permukaan tanah.
Meski mereka sudah lenyap, suasana menyeramkan yang mencekam tempat itu tidak berubah karenanya.
Tempat itu sesungguhnya memang sebuah tempat yang menyeramkan.
ooOOoo Angin malam berhembus kencang di jalan raya.
Dahan dan ranting yang bergoyang karena hembusan, menimbulkan suara yang riuh, riuh bagai tangisan setan gentayangan.
Malam ini, suasana di jalan raya itupun terasa ikut mengerikan, menggidikkan hati.
Dalam suasana seperti inilah tiga ekor kuda tampak berlarian kencang ditengah jalan raya.
Siau Jit berada dipaling depan, wajahnya sama sekali tak nampak letih, dibalik tampangnya yang ganteng justru terselip perasaan sedih dan murung yang sangat dalam.
Lui Sin dan Han Seng mengikuti dibelakangnya, walaupun mereka tak dapat menyaksikan paras Siau Jit, namun tahu bagaimana perasaan hati anak muda itu sekarang.
Karenanya mereka pun tidak bersuara.
Setelah berbelok satu tikungan, tibalah mereka didepan warung teh.
343 Warung yang roboh masih berserakan ditepi jalan, sekalipun mayat disana telah diangkut semua, noda darah masih berceceran diseluruh lantai, kendatipun waktu itu sudah mengering.
Ditengah udara, tiada terendus lagi bau anyirnya darah.
Tapi Lui Sin seolah mengendus lagi anyirnya darah, tanpa terasa ia teringat kembali dengan saudara saudaranya yang telah tewas, cairan darah yang mengalir dalam tubuh tiba-tiba saja mendidih, bergelora.
Kalau boleh, dia ingin sekali berteriak keras.
Sekarang juga aku berangkat untuk balaskan dendam kematian kalian!
Han Seng sendiripun merasakan gejolak itu.
Belum sempat mereka berteriak, kuda tunggangan mereka justru berteriak lebih dulu, berteriak secara mendadak bahkan sangat mengerikan.
Tidak terkecuali kuda yang ditunggangi Siau Jit.
Ditengah ringkikan panjang, ke tiga ekor kuda itu mengangkat kaki depannya tinggi tinggi dan tak mau bergerak maju lagi, mereka seakan merasakan rasa kaget dan takut yang luar biasa.
Tak ada bayangan manusia didepan sana, lalu mengapa kawanan kuda itu gugup dan ketakutan?
Sambil berusaha mengendalikan kuda tunggangannya, Han Seng dan Lui Sin saling bertukar pandangan, saling memandang dengan perasaan kaget bercamur tercengang.
Hati hati!
tiba-tiba terdengar Siau Jit membentak nyaring.
Baru selesai dia membentak, buuuk, buukkk.....
suara gaduh berkumandang dari emat penjuru, disusul munculnya sekelompok Kelelawar dari balik hutan, terbang cepat di angkasa langsung menyerang ke tiga kuda tunggangan itu.
Ringkikan kuda makin kencang, rontaan mereka makin kuat, hampir saja ke tiga orang itu tak sanggup mengendalikan diri.
Golok emas pedang perak serentak dicabut keluar dari sarungnya, pedang pemutus usus pun sudah tergenggam ditangan, ketiga orang itu dengan tatapan tajam mengawasi bangunan warung teh itu tanpa berkedip.
344 Dalam waktu singkat kawanan Kelelawar itu mulai menyerang, mulai menerkam dengan ganasnya.
Golok emas berkelebat lewat, diantara kilatan cahaya tajam kawanan Kelelawar itu satu demi satu terbabat kutung dan berguguran ke tanah.
Han Seng tak berani mengayal, cahaya pedang berkilat, kawanan Kelelawar itu kembali tersambar hingga hancur berkeping.
Hanya Siau Jit yang tidak bergerak, sementara kawanan Kelelawar itu pun tak ada yang langsung menerjang tubuhnya, begitu tiba disekelilingnya langsung buyar ke arah lain.
Rupanya meski pedang tidak dicabut keluar, namun hawa pedang telah memancar diseputar sana.
Sekalipun hawa pedang itu tak dapat melukai orang, namun cukup membuat rontoknya nyali.
Begitu pula keadaannya ketika digunakan untuk menghadapi serangan Kelelawar, apakah kawanan Kelelawar itupun dapat merasakan pekatnya hawa pedang?
Lui Sin dengan golok emasnya tidak berhenti menyerang, secara beruntun dia sudah menusuk belasan ekor Kelelawar yang datang menyergap, begitu melihat pedang Siau Jit masih dalam sarung dan kawanan Kelelawar itu seakan hendak menerjang kearahnya, tanpa sadar ia berteriak keras.
Saudara Siau, hati hati!
Gara gara sedikit berayal, seekor Kelelawar terbang masuk menembusi jaring goloknya, nyaris menubruk pipinya.
Dengan kaget Lui Sin mengebaskan ujung bajunya, Plaaak!
Kelelawar itu mencelat ke samping, ditengah kilatan cahaya golok, lagi lagi dia membabat binatang itu hingga terpotong jadi dua bagian.
Kawanan Kelelawar itu hanya menakut nakuti kita, tak bisa membunuh orang!
terdengar Siau Jit menyahut.
Sementara pembicaraan berlangsung, tatapan matanya masih terarah ke sebelah depan, ucapan itu seolah tertuju untuk Lui Sin, tapi seakan bukan.
Ooh!
Lui Sin segera menarik kembali senjatanya, dia amat mempercayai Siau Jit, seperti dia amat mempercayai goloknya.
345 Pada saat bersamaan Han Seng menarik pula senjatanya.
Dikedua sisi kuda tunggangan mereka telah berserakan puluhan ekor Kelelawar, bau anyir darah segera merambah seluruh udara.
Kawanan Kelelawar itu masih saja datang menerkam, bahkan ada berapa ekor yang menempel ditubuh kedua orang itu.
Selama hidup belum pernah Han Seng dan Lui Sin mengalami kejadian seperti malam ini, tanpa terasa timbul perasaan ngeri dan seram dihati kecilnya, namun kedua orang itu tidak sampai menjerit.
Hanya berapa saat berapa ekor Kelelawar itu menempel ditubuh mereka berdua, kemudian kawanan binatang itu kembali terbang melayang ke udara.
Lalu mereka pun terbang menari disekeliling tubuh ke tiga orang tersebut.
Kuda kuda tunggangan mereka meringkik ketakutan sambil berusaha meronta, untung ketiga orang jagoan itu berhasil mengendalikan, kawanan kuda yang lambat laun mulai terbiasa menghadapi kawanan Kelelawar yang beterbangan pun mulai bisa menenangkan diri dan berhenti meringkik dan meronta.
Tatapan mata Siau Jit sama sekali tidak berubah, saat itulah dia baru berseru lagi.
Sudah saatnya anda menampakkan diri!
Suara tertawa dingin segera bergema dari arah depan sana, diikuti munculnya seseorang dari balik pepohonan.
Orang itu berbaju hitam, berwajah pucat dan berambut kusut tak rapi.
Kelelawar tanpa sayap!
Kelelawar tanpa sayap ke tiga!
Tentu saja Siau Jit bertiga tidak tahu kalau dalam kuil Thian-liong-ku-sat telah muncul dua orang Kelelawar tanpa sayap, disaat kemunculan Kelelawar itu, mereka bertiga hanya terpikirkan satu hal.
Kelelawar yang menampakkan diri ini gadungan atau yang asli?
Disekeliling Kelelawar itupun tampak kawanan Kelelawar yang terbang mengiringi, mereka tidak menukik, pun tidak menempel, seakan kawanan dayang, kawanan menteri yang sedang mengiringi raja nya.
346 Langkah kaki Kelelawar itu sangat lambat, ia berhenti kurang lebih satu meter diluar hutan, membiarkan seluruh tubuhnya terbungkus dibalik bayang bayang kegelapan.
Siau Jit masih menatap Kelelawar itu tanpa berkedip, ia belum menegur maupun melakukan sesuatu tindakan, Lui Sin dan Han Seng yang berada disamingnya tak kuasa menahan diri lagi, tiba-tiba mereka berteriak keras.
Sebetulnya kau si Kelelawar asli atau gadungan?
Si Kelelawar tidak menjawab, sepasang lengannya digetarkan sambil berpekik nyaring, kawanan Kelelawar yang sedang beterbangan di angkasa pun seketika menukik ke bawah dan menyerang secara membabi buta.
Bersamaan itu, tubuhnya yang ceking turut melambung ke tengah udara.
Cahaya berkilauan ditengah udara, ditangan kanan si Kelelawar tahu tahu sudah bertambah dengan sebilah pedang.
Pedang sepanjang satu meter itu secepat kilat menusuk ke arah kuda tunggangan dari Siau Jit.
Serbuan kawanan Kelelawar itu telah mengalutkan pikiran Siau Jit, seharusnya dapat mengalutkan pula pandangan matanya.
Kecepatan maupun sudut serangan yang dilancarkan pedang itu lebih lebih diluar dugaan siapa pun.
Sejak awal Lui Sin dan Han Seng sudah berjaga jaga bila Kelelawar melancarkan serangan secara tiba-tiba, begitu melihat pihak lawan bergerak, serentak mereka tinggalkan kuda masing masing dan menyongsong kedatangannya dari kiri dan kanan.
Sekalipun begitu, ternyata mereka gagal mengejar kecepatan dari serangan tersebut, belum lagi bacokan golok dan pedang mereka mendekati sasaran, tusukan pedang si Kelelawar telah tiba duluan didepan dada Siau Jit.
Triiing!
suara dentingan nyaring segera berkumandang.
Pada detik terakhir sebelum serangan musuh tiba, Siau Jit telah mencabut pedangnya dan menangkis serangan itu hingga terpental ke saming.
Dengan satu lompatan cepat ia tinggalkan kuda tunggangannya, meminjam tenaga getaran yang terjadi ia bersalto berulang kali di udara lalu melayang turun di belakang Kelelawar.
347 Gagal dengan tusukan mautnya si Kelelawar segera merendahkan badan sambil memutar separuh badan, kembali tiga tusukan berantai dilancarkan.
Pada tusukan yang pertama, dia masih selisih setengah meter dari posisi Siau Jit, tapi pada tusukan kedua dan ketiga, ujung pedangnya sudah cukup jarak untuk menghabisi nyawa lawan.
Kesempurnaan ilmu pedang yang dimiliki orang ini jelas masih berada diatas kemampuan Suma Tang-shia.
Ternyata jurus pedang yang dia pergunakan adalah ilmu pedang Tui-mia-kiam-hoat dari keluarga Suma.
Jangan jangan dia adalah Suma Tionggoan?
Belum habis ingatan itu melintas lewat, tiga serangan maut dari si Kelelawar telah dilancarkan, tiga jurus menyatu jadi satu, cepat, kilat dan amat lincah.
Hanya dalam satu malaman, untuk kedua kalinya Siau Jit harus berhadapan dengan Tui-mia-sam-kiam, bahkan kali yang satu lebih dahsyat daripada kali berikutnya.
Cahaya pedang bergerak bagai sambaran petir, ditengah malam seperti ini, kilatan tersebut masih terasa amat menyilaukan mata.
Serangan ini sedikit pun tidak lebih jelek daripada serangan dari Suma Tang-shia.
Tak diragukan lagi, hal ini sama sekali tak ada hubungannya dengan bentuk pedang, hanya saja ilmu pedang serta tenaga dalam yang dimiliki orang ini masih jauh melebihi kemampuan Suma Tang-shia.
Dalam pada itu Lui Sin dan Han Seng telah menyusul tiba, namun sulit bagi mereka untuk menembusi jala pedang yang terbentuk.
Tujuh jurus ilmu pedang pemutus usus dari Siau Jit telah dilancarkan serentak.
Dua bilah pedang segera saling beradu ditengah udara, Criiing, criiing, ......
percikan bunga api pun berhamburan ke empat penjuru.
Tubuh kedua orang itu bergerak cepat, bayangan mereka seolah telah menyatu jadi satu bayangan, dua bilah pedang yang saling menyerang pun seolah menyatu jadi sebilah pedang saja.
348 Bayangan pedang memenuhi angkasa, selapis jala pedang yang rapat dan kuat pun terbentang di tengah udara, dihiasi kilauan cahaya yang memancar ke empat penjuru.
Lui Sin serta Han Seng hanya bisa berdiri tertegun, walaupun mereka dapat menyaksikan butiran keringat sebesar kacang kedele telah membasahi wajah mereka berdua, namun kedua orang itu hanya bisa menonton dengan perasaan panik bercampur gundah.
Sesungguhnya mereka ingin sekali membantu Siau Jit, namun sayang kekuatan mereka tak mampu untuk turut campur, tentu mereka pun sadar, membantu tanpa mengetahui keadaan yang sebenarnya bukan saja tak akan membantu, bahkan bisa jadi malah akan mencelakakan Siau Jit.
Mereka cukup mengerti akan kelihayan ke tiga jurus ilmu pedang pengejar nyawa dari keluarga Suma.
Dengan kemampuan yang dimiliki sekarang, merekapun tahu kalau belum mampu menghadapi ke tiga jurus serangan dari Suma Tang-shia, sedang Siau Jit pasti dapat melayaninya, namun dia pun terdesak dalam posisi yang amat berbahaya.
Dan sekarang mereka pun dapat melihat bahwa kepandaian silat yang dimiliki si Kelelawar masih jauh diatas kemampuan Suma Tang-shia.
Walaupun sadar akan kelihayan lawan dan posisi berbahaya dari Siau Jit, apa mau dikata mereka pun tak tahu bagaimana harus terjunkan diri ikut dalam pertarungan itu.
Perubahan maupun gerak serangan pedang Siau Jit dan Kelelawar kelewat cepat, kelewat rapat hingga sama sekali tak meninggalkan peluang bagi mereka untuk masuk.
Tujuh jurus ilmu pedang pemutus usus cepat, tepat, telengas, begitu pula dengan tiga jurus ilmu pedang keluarga Suma, tak diragukan lagi mati hidup mereka segera akan ditentukan dalam sekejap mata.
Tangan Lui Sin dan Han Seng yang menggenggam senjata telah meradang, otot hijau pada menonjol keluar, bila dalam penentuan mati hidup nanti Siau Jit lah yang roboh, maka tanpa ragu mereka segera akan menerkam maju dan menyerang habis habisan.
Biarpun golok emas pedang perak masih belum mampu mengungguli kemamuan Siau Jit, namun serangan total yang dilancarkan dengan sepenuh tenaga seharusnya masih mampu untuk menghabisi nyawa si Kelelawar.
349 Sebab menurut perkiraan mereka, sekalipun Siau Jit roboh, namun kondisi si Kelelawar pun pasti tak jauh berbeda, biar tidak sampai mati pun tentu menderita luka parah.
Terhadap ilmu pedang pemutus usus milik Siau Jit, mereka menaruh kepercayaan yang sangat tinggi.
Golok dan pedang sudah siap melancarkan serangan, ketegangan mereka pun ibarat anak panah yang sudah ditarik diatas gendawa.
Peluh dingin makin deras membasahi badan.
Criiing, criiiing!
tiba-tiba terdengar suara dentingan nyaring, bayangan pedang lenyap, dua sosok bayangan manusia saling melintas lewat.
Siau Jit meluncur kearah kanan sejauh satu tombak setengah, pedangnya menghadap ke bawah, tetesan darah mengalir dari ujung pedang, peluh sebesar kacang membasahi pula wajahnya.
Hanya tetesan keringat!
Sebaliknya si Kelelawar meluncur kearah kiri, tangan kirinya meraih dan berpelukan disisi sebatang pohon, pedangnya menancap ke atas tanah.
Darah segar menyembur keluar dari perutnya, membasahi seluruh permukaan tanah, akhirnya dia buka suara.
Ternyata pedang pemutus usus memang bukan bernama kosong!
Ternyata suara seorang wanita.
Siau Jit tertegun, begitu pula Lui Sin dan Han Seng, untuk sesaat mereka berdiri mematung.
Dengan sorot mata yang sayu dan mulai redup, si Kelelawar memandang sekejap kegelapan langit, lalu gumamnya lagi.
Kau jangan salahkan aku, sesungguhnya aku telah berusaha dengan sepenuh tenaga...........
Belum selesai ia berkata, badannya yang memeluk batang pohon sudah roboh, Braaaam!
ia roboh ke tanah, pedang yang menancap ditanah pun ikut patah jadi dua bagian.
Kulit wajahnya yang tergesek kulit pohon seketika mengelupas, ternyata dibalik kulit wajahnya masih tersisip kulit wajah lain, wajah seorang wanita.
350 Wajah perempuan itu tidak terlampau asing bagi pandangan Siau Jit bertiga.
Sim Ngo-nio!
teriak Lui Sin kaget.
Ternyata perempuan itu tak lain adalah adik seperguruan Suma Tionggoan yang rela jadi budak, Sim Ngo-nio yang selama ini melayani kebutuhan Suma Tang-shia.
Kenapa bisa dia?
seru Han Seng sambil maju dua langkah.
Aku tahu, nenek ini pasti sedang berusaha untuk menghalangi kepergian kita ke kuil Thian-liong-ku-sat ujar Lui Sin dengan kening berkerut.
Ini berarti Suma Tionggoan pasti berada dalam kuil Thian-liong-ku-sat Han Seng menambahkan.
Pasti!
jawab Lui Sin yakin, saat itulah ia baru teringat akan Siau Jit, buru buru dihampirinya sambil menegur.
Saudara Siau...........
Aku tidak apa-apa jawab Siau Jit sambil menggeleng.
Sembari membesut keringat yang membasahi jidat, Lui Sin tertawa keras.
Hahaha, sudah kuduga, ilmu pedang pemutus usus mu memang tiada tandingan dikolong langit Siau Jit tertawa getir.
Andaikata aku tidak bertarung lebih dulu melawan toaci sehingga mengetahui perubahannya, yang roboh terkapar saat ini meski bukan aku, paling tidak separuh nyawa ku sudah lenyap Begitu lihaykah si nenek itu?
Toaci sama sekali tidak membohongi kita, tak diragukan dia memang adik seperguruan Suma Tionggoan Kenapa......
Sebetulnya gampang untuk dijelaskan tukas Han Seng, toako, masa tidak dapat kau duga?
Lui Sin tertegun, serunya kemudian.
Maksudmu, secara diam diam ia mencintai Suma Tionggoan?
351 Kalau bukan begitu, dengan kepandaian silat yang dimilikinya, kenapa dia rela jadi seorang pembantu dalam keluarga Suma?
Ehmm, rasanya memang ada kemungkinan begitu kata Lui Sin kemudian setelah berpikir sebentar, andaikata begitulah kenyataannya, aku rasa Suma Tionggoan sedikit kelewat kejam Urusan cinta dan perasaan adalah suatu hal yang tidak bisa dipaksakan, bila Suma Tionggoan menyukai dia, tak nanti akan biarkan dia menunggu sampai sekarang Aaai, betul juga Lui Sin menghela napas panjang, ia pun berpaling kearah Siau Jit, lalu ujarnya.
Saudara Siau, sekarang tampaknya kita harus segera berangkat menuju kuil Thian-liong-ku-sat Aaai, betul juga Lui Sin menghela napas panjang, ia pun berpaling kearah Siau Jit, lalu ujarnya.
Saudara Siau, sekarang tampaknya kita harus segera berangkat menuju kuil Thian-liong-ku-sat Aku percaya tak secepat itu Suma Tionggoan tinggalkan tempat ini Siau Jit mengangguk, tapi untuk berjaga terhadap segala kemungkinan, memang lebih baik kita segera berangkat Selesai berkata, dia segera melompat naik keatas kuda tunggangannya.
Buru buru Han Seng dan Lui Sin melompat naik ke kuda masing masing, ditengah bentakan nyaring, berangkatlah mereka bertiga meninggalkan tempat itu.
Jarak dari tempat itu menuju ke kuil Thian-liong-ku-sat sudah tidak terlampau jauh.
ooOOoo Dari balik kegelapan tiba-tiba muncul segumal cahaya.
Cahaya itu berwarna hijau dan berasal dari sebuah lampu kristal, lampu yang tergantung diatas langit langit ruangan.
Biarpun sinar yang terpancar tidak terlampau terang, namun sudah lebih dari cukup.
Kegelapan hilang lenyap ditengah pancaran cahaya, patung patung kepala, payudara, kaki, pinggul, pantat dari ukiran wanita pun segera muncul didepan mata.
Setiap pahatan tamak begitu rapi dan sempurna, hanya sebagian patung payudara yang tampak rusak dan hancur.
352 Itulah hasil bacokan golok Lui Sin ketika Siau Jit sekalian hendak meninggalkan tempat itu.
Dibalik dinding penuh pahatan payudara itulah terletak pintu keluar lorong rahasia.
Kini pintu rahasia sudah terbuka, Kelelawar sedang berdiri diluar pintu tersebut.
Cahaya lentera menerangi wajahnya, waj ah itu dihiasi senyuman, senyuman dari seorang idiot.
Tak diragukan lagi si Kelelawar itu adalah Kelelawar yang berjalan dibelakang ketika melewati semak belukar, tapi masuk terlebih dulu ketika menembusi lorong bawah tanah.
Biarpun tingkah lakunya sudah tidak sekaku tadi, namun tetap memancarkan keanehan yang sukar dilukiskan dengan kata, ia berjalan masuk ke dalam ruang rahasia sambil tertawa bodoh.
Kemudian ia merapatkan kembali pintu rahasia itu.
Gerakan semacam ini sudah dilakukan dan diulang banyak kali sehingga ia dapat melakukannya dengan hapal, kemudian tangannya mulai meraba payudara payudara itu.
Yang terpegang saat ini adalah payudara yang tinggal sebelah, karena sebelah yang lain telah terpapas hilang.
Tampaknya si Kelelawar baru menyadari setelah tangannya menyentuh payudara itu, untuk sesaat tampak jelas kalau ia tertegun.
Dengan cepat sepasang tangannya mulai meraba payudara lainnya, disana ia temukan ada payudara yang masih utuh, tapi ada pula yang sudah terpapas hancur.
Segera terjadi perubahan besar pada mimik wajahnya, setiap inci setiap bagian kulit mukanya mulai gemetar, mulai berkerut seram.
Itulah penampilan rasa sedih bercampur gusar yang telah mencapai puncaknya, tapi merupakan juga satu penampilan orang normal, orang yang waras otak, sebab seorang idiot tak mungkin akan memperlihatkan mimik muka semacam ini.
Kini sepasang tangannya mulai gemetar, mulai menggigil keras, tapi dia masih meraba, masih menggerayang terus.
353 Sejak awal hingga akhir dia hanya meraba dan menggerayang menggunakan sepasang tangannya, hal ini semakin memperjelas bahwa dia memang orang buta.
Ini berarti dialah Kelelawar tanpa sayap sesungguhnya, Kelelawar tulen.
Akhirnya rabaan tangannya menyentuh dinding yang jebol, menyentuh lubang besar, kemudian diapun menjerit keras.
Apa yang dia teriakkan pun sangat aneh, mendadak serunya.
Keliru, keliru besar, bukan disebelah sana, tak usah kau hancurkan mereka!
Suara lain segera menimpali.
Kalau bukan disebelah sana, lantas apa yang harus dilakukan?
Suara itu muncul dari balik dinding berlubang itu.
Diluar dinding yang jebol berdiri Kelelawar kedua, sepasang tangannya telah menekan diatas gagang goloknya.
Golok Kelelawar!
Dipinggang Kelelawar itu semuanya tergantung tiga bilah golok Kelelawar, tak diragukan, dialah Kelelawar yang telah membunuh Ong Bu-shia, menggorok Ciu Kiok.
Kelelawar tanpa sayap gadungan.
Perasaan gugup dan panik melintas diwajah Kelelawar asli, serunya berulang kali.
Harus.....
harus............
Mendadak dia membalikkan tubuh dan lari menuju ke dinding dimana patung berbentuk kepala wanita berada.
Ternyata ruang rahasia yang aneh ini tempat ia menyimpan seluruh hasil karyanya, semua ukiran dan pahatan yang tersimpan disana, tak satu pun yang dibuat secara sembarangan.
Oleh sebab itulah ruang rahasia yang aneh ini seharusnya meninggalkan kesan yang sangat mendalam dihati kecilnya.
Pertarungan sengit di lembah Hui-jin-gan telah membuatnya terluka parah, bahkan kehilangan ingatan dan menjadi orang idiot, namun setelah beristirahat selama sepuluh tahun, ditambah lagi mendapat bimbingan dari Suma Tionggoan, lambat laun daya 354 ingatannya mulai pulih kembali, banyak kejadian penting pun sedikit demi sedikit dapat diingatnya kembali.
Itulah sebabnya disaat sedang memahat tubuh bugil Lui Hong, dia sanggup menyebutkan nama Hek Botan, Pek Hu-yung serta Lau Ci-he.
Karena itu pula dikala sepasang tangannya menyentuh pahatan payudara nya yang hancur berantakan, suatu perasaan pedih yang tak terlukiskan dengan kata menyusup keluar dari dasar sanubarinya yang paling dalam.
Dalam waktu sekejap, ia mulai teringat kembali akan banyak urusan.
Aku tahu apa tujuan kalian menghancurkan semua barang kesayanganku, tapi barang yang kalian kehendaki tidak berada dibalik dinding payudara itu, jangan dirusak, jangan dihancurkan, biar aku beritahu kepada kalian!
Ketika ingatan tersebut melintas dalam benaknya, ia mulai menjerit keras, berteriak lantang.
Ia lebih suka mempersembahkan semua harta karunnya yang tak ternilai daripada membiarkan hasil karya seninya dihancur orang.
Reaksi yang aneh dan sama sekali diluar dugaan ini sama sekali diluar dugaan si Kelelawar gadungan sekalipun, dia tidak menyangka kalau kerusakan yang timbul pada hasil karyanya justru malah merangsang kembalinya kesadaran si Kelelawar.
Harta karun milik si Kelelawar yang tak terhitung jumlahnya, ternyata benar benar tersimpan dalam ruang rahasia ini, kenyataan tersebut pun sama sekali diluar dugaan.
Tujuh tahun berselang ia sudah pernah membongkar ruang rahasia ini, selama tujuh tahun dia telah memeriksa dan meneliti setiap jengkal tanah yang berada disana.
Akan tetapi ia tak pernah menemukan sesuatu apapun.
Saat ini dia sama sekali tidak merasakan gembira atau puas karena hal ini, sebaliknya justru merasakan rasa pedih yang aneh, diikuti meledaknya perasaan gusar.
Kelelawar sialan, sebenarnya kau sembunyikan dimana harta karun itu?
Si Kelelawar langsung berlarian menuju ke depan dinding ruang yang dipenuhi batok kepala manusia, disaat tangannya menyentuh salah satu kepala itu, dia segera menghentikan langkahnya, kemudian dengan sepasang tangannya dia pegang kepala peremuan itu lalu mengelus dan membelainya dengan penuh kasih sayang.
355 Setelah itu dia mulai menggoyang kepala itu ke kiri, memutar ke kanan dan.....
Kraaakl diiringi suara aneh, batok kepala perempuan itu sudah dicabutnya dari atas dinding.
Kembali dia putar batok kepala itu kian kemari, sekali lagi Kraaak!
batok kepala itu terbelah jadi dua dan seuntai benda yang berkilauan terjatuh dari dalam.
Ternyata dibalik batok kepala itu terdapat ruang kosong.
Dengan santainya si Kelelawar mengayunkan tangannya, dan ia sambar untaian benda yang berkilauan itu.
Noh serunya sambil tertawa, semuanya berada didalam batok kepala itu!
Baru selesai ia berkata, Kelelawar gadungan itu sudah tiba dihadapannya, sementara sepasang tangannya menggenggam golok Kelelawar.
Mungkinkah semua ingatan dan kesadaran si Kelelawar telah pulih kembali?
Mungkinkah dia bakal melancarkan serangan secara tiba-tiba?
Bahkan dia sendiripun tak yakin.
Namun bila si Kelelawar melakukan suatu gerakan yang mencurigakan, maka tak ragu dia akan menghujamkan golok Kelelawar yang berada dalam genggaman ke tubuh orang itu, dia yakin dan percaya kalau kemampuannya masih sanggup membantai Kelelawar dalam waktu singkat.
Dia memang seseorang yang sangat hati hati, itulah sebabnya dia bisa hidup hingga kini.
Si Kelelawar sama sekali bergeming terhadap semua gerak gerik yang dilakukan si Kelelawar gadungan, dia masih tertawa bodoh, tertawa seperti orang idiot.
Dia perlihatkan untaian benda yang berkilauan itu sambil serunya lagi.
Inilah untaian mutiara............
Benda yang dipegang memang untaian mutiara, setiap butir besarnya melebihi buah kelengkeng, dua puluh empat butir mutiara yang acak rata dijadikan satu menjadi seuntai kalung yang indah.
Biarpun cahaya lentera sangat redup, namun untaian kalung mutiara itu tetap memantulkan cahaya yang lembut tapi mempersona.
356 Bisa diduga untaian kalung mutiara semacam ini nilainya pasti tak terhingga.
Berkilat mata kanan Kelelawar gadungan setelah menyaksikan kalung itu, bentaknya tiba-tiba.
Bawa kemari!
Dengan sepasang tangannya si Kelelawar mempersembahkan untaian kalung mutiara itu.
Dua kilatan cahaya golok seketika muncul di depan mata, tahu tahu Kelelawar gadungan telah mencabut keluar sepasang goloknya sambil diayunkan ke depan.
Seakan sadar akan datangnya mara bahaya, cepat si Kelelawar menarik kembali tangannya, sayang gerakan tersebut tidak terlalu cepat untuk berkelit, dibawah babatan maut Kelelawar gadungan, sulit rasanya bagi dia untuk menyelamatkan diri.
Diantara kilauan cahaya tajam, semburan darah segar memancar ke empat penjuru, sepasang tangan Kelelawar terbabat kutung dan mencelat ke udara berikut kalung mutiara itu.
Ia menjerit kesakitan sambil melompat mundur, punggungnya segera menumbuk diatas dinding membuat ia jatuh terjungkal dan roboh terguling di tanah.
Kembali Kelelawar gadungan memutar sambil memilin goloknya, bagaikan sebuah gunting, ia gunting batok kepala si Kelelawar yang masih berguling.
Jeritan ngeri kembali berkumandang, batok kepala si Kelelawar segera terpisah dari tubuhnya dan mencelat ke tengah udara.
Sementara itu tubuhnya yang tanpa kepala tampak merenggang nyawa sebelum akhirnya roboh tak bergerak lagi.
Dengan satu gerakan cepat Kelelawar gadungan menancapkan sepasang goloknya ke tanah, lalu tangannya bergerak ke atas menyambar untaian kalung mutiara yang sedang meluncur ke bawah.
Makin bersinar mata kanan Kelelawar gadungan itu, pujinya sambil menghela napas.
Indah nian untaian kalung mutiara ini!
Setelah dilihat dan diperiksa berulang kali, ia baru masukkan kalung mutiara itu ke dalam sakunya, kemudian ia memperhatikan kembali kutungan tangan yang tergeletak di lantai.
357 Itu mah bukan sayap, tapi sepasang cakar katanya sambil tertawa, setelah memandang batok kepala si Kelelawar yang menggelinding, kembali tambahnya, mau cakar, mau sayap, peduli amat.
Tanpa sayap masih membuatmu tetap hidup, apa yang bisa kau lakukan bila tanpa kepala?
Hahaha ......
Tentu saja si Kelelawar tak dapat menjawab.
Kelelawar gadungan tidak banyak bicara lagi, dia ambil kepala kedua lalu seperti yang dilakukan Kelelawar tadi, ia putar kepala itu kekiri dan ke kanan.
Kraaakl benar saja, batok kepala itu segera terbelah jadi dua, dari dalam batok kepala itu segera memancar sekilas cahaya hijau yang amat menyilaukan mata.
Ternyata benda yang berada dalam kepala itu adalah sebuah ukiran naga terbuat dari batu kumala yang sedang menyemburkan sebutir mutiara.
Bukan saja ukiran naga itu indah bahkan sangat detil, setiap sisik naga tertera jelas sekali, sedangkan mutiara yang berada dimulut ukiran naga itu tak lain adalah sebutir mutiara Ya-beng-cu.
Karena mutiara ya-beng-cu itu terjepit diantara dua misai naga yang memanjang, hal ini menyebabkan cahaya hijau yang memancar ke empat penjuru membuat seluruh tubuh ukiran naga itu bersinar terang.
Sebuah batu kemala yang tembus pandang pun sudah terhitung barang langka, apalagi ditambah mutiara ya-beng-cu, pada hakekatnya nilai benda seni ini sangat mengerikan.
Padahal kepala perempuan yang bergantungkan disepanjang dinding itu mencapai ratusan biji, andaikata didalam setiap kepala itu tersimpan semacam benda mustika, tak bisa dibayangkan berapa nilai dari seluruh harta karun itu.
Menurut cerita yang beredar, Kelelawar memiliki kekayaan melebihi sebuah negeri, kalau dilihat sekarang, rasanya cerita itu merupakan kenyataan.
Dengan hati hati sekali Kelelawar gadungan meletakkan ukiran naga kumala itu keatas lantai, kemudian baru bangkit berdiri.
Kini sinar matanya telah dialihkan kembali ke arah batok kepala wanita yang berada diatas dinding, untuk sesaat ia jadi bingung, tak tahu harus dimulai dari mana.
358 Setelah menengok ke kiri memandang ke kanan, akhirnya dia menghela napas sambil menyumah.
Sialan si Kelelawar, maknya bener, darimana ia dapatkan harta karun sebanyak ini?
Kemudian ia berdiri tertegun disana, terperangah.
Dalam hati ia sedang mempertimbangkan, bagaimana harus mengambil dan menyimpan kembali seluruh harta karun itu.
Walaupun tidak ditindak lanjuti dengan suatu perbuatan, namun terlihat jelas sorot mata tunggalnya yang berkilauan, mendadak ia mendongakkan kepala dan tertawa keras.
Ia tertawa dengan sangat gembira, tertawa puas.
Hanya sejenak ia tertawa nyaring, mendadak ia tutup mulut sambil membalikkan badan, memutar tubuhnya ke arah dinding yang dipenuhi pahatan payudara.
Pintu rahasia disebelah sana telah hancur berserakan, pintu yang semula kecil pun sudah terbelah jadi berapa ratus lembar kepingan.
Dari balik pintu yang ternganga lebar itulah tamak tiga sosok bayangan manusia berjalan masuk ke dalam ruangan.
Siau Jit berjalan ditengah dengan diapit Lui Sin disisi kiri dan Han Seng disebelah kanan.
Paras muka Siau Jit dingin bagai salju, sementara paras muka Lui Sin dan Han Seng hijau membesi, pancaran sinar mata yang berapi api seolah hendak membakar seluruh bangunan ruangan itu.
Tatkala sorot mata mereka saling bertemu, seluruh ruang rahasia itu seketika berubah jadi tegang, hawa pembunuhan yang tak terlukiskan dengan kata menyelimuti seluruh sudut ruangan.
Akhirnya Kelelawar gadungan buka suara lebih dulu, sapanya.
Siau Jit!
Sebelum Siau Jit sempat menjawab, Lui Sin telah berebut membentak lebih dulu.
Suma Tionggoan!
Memangnya kau tahu kalau aku adalah Suma Tionggoan?
ejek Kelelawar gadungan sambil tertawa dingin.
359 Tak ada lagi orang kedua jawab Lui Sin cepat, jelek jelek kaupun terhitung seorang jago kenamaan, buat apa hingga sekarang masih kau kenakan topeng Kelelawar untuk mengelabuhi kami?
Kembali Kelelawar gadungan tertawa dingin, tiba-tiba ia merobek kulit topeng manusia yang dikenakan.
Dibalik topeng itu tampil sebuah raut muka yang tua tapi tampak gagah, bila ditinjau dari penampilannya, mungkin jarang ada orang yang percaya kalau dia bukan seorang baik baik.
Karena kakek itu tampil gagah dan saleh, mimik mukanya menampilkan welas kasih, hanya warna kulitnya sedikit rada pucat.
Siau Jit sama sekali tak kenal dengan kakek itu, begitu pula Han Seng dan Lui Sin, mereka merasa sangat asing.
Namun secara lamat lamat mereka dapat merasakan kalau wajah orang tua ini agak mirip dengan wajah Suma Tang-shia.
Betul, akulah Suma Tionggoan!
kembali kakek itu berkata.
Sebetulnya kau adalah seorang pendekar kenamaan kata Lui Sin kemudian.
Pendekar kenamaan pun tetap manusia!
Hanya dikarenakan ingin mendapatkan harta karun dari Kelelawar, kau tega menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan!
Aku rasa banyak orang akan berbuat yang sama!
Dalam pertarungan di lembah Hui-jin-gan, apakah cianpwee bertempur lantaran toaci?
sela Siau Jit tiba-tiba.
Kau masih tetap memanggil Tong-shia sebagai toaci?
Sebutan itu tak mungkin bisa berubah Betul Suma Tionggoan manggut manggut, aku memang bertempur demi Tong-shia, Kelelawar telah mendatangkan rasa malu dan hina bagi Tang-shia, membuat ia hidup dalam penyesalan, kalau tidak membunuh Kelelawar, aku memang tak mungkin bisa menerima semua kenyataan ini!
Begitu pula dengan yang lain?
360 Betul.
Sebenarnya kami berniat membunuh si Kelelawar saat itu juga, tapi setelah ia jadi manusia idiot, kami pun berubah pikiran Apakah mereka yang hidup sependapat denganmu?
Benar, mereka sependapat!
Dimana mereka sekarang?
Sudah mati semua, mati ditanganku, harta karun yang tak ternilai jumlahnya itu lebih nikmat dicicipi seorang diri daripada harus dibagi rata dengan orang lain, bukan begitu?
Bagimu, tentu saja benar seru Siau Jit.
Tang-shia pun tidak keberatan, menurut rencana bila harta karun itu sudah kami dapatkan, maka dia akan melakukan satu pekerjaan maha besar, aku percaya kau pasti mengerti bukan dengan perasaan hatinya itu?
Tanpa bicara Siau Jit mengangguk.
Ketika Kelelawar memperlakukan putrimu dengan tak senonoh, aku rasa kau pasti mengerti bukan bagaimana perasaan dan keadaan putrimu setelah itu kata Lui Sin, kenapa kaupun menggunakan cara yang sama untuk menyiksa perempuan lain?
Kau maksudkan putrimu, Lui Hong?
Betul sahut Lui Sin sambil menggigit bibir menahan diri.
Selama hampir sepuluh tahun lamanya, aku selalu berusaha untuk memulihkan kembali daya ingatan Kelelawar, aku berharap dia mau menunjukkan tempat harta karunnya disimpan, paling tidak bisa memberikan sedikit petunjuk yang berharga.
Akhirnya semua usahaku sia sia, karena itu pada akhirnya aku pun menggunakan cara yang sama ketika dia menculik Tang-shia untuk menculik gadis lain, aku berharap hal tersebut bisa merangsang otaknya untuk memulihkan kembali semua ingatannya.
Aku mengakui, cara ini memang merupakan cara yang terpaksa, rencana tersebut sebetulnya sudah muncul sejak banyak tahun berselang, sampai pada akhirnya, karena terpaksa aku baru melakukan hal tersebut Hmm, terpaksa??
Lui Sin tertawa dingin.
Apa yang kau katakan hanya sebuah alasan sambung Han Seng pula, alasan apa pun yang kau kemukakan, tak berarti kau bisa melepaskan diri dari tanggung jawab 361 Betul sekali!
seru Lui Sin lagi.
Bukan aku yang membunuh Lui Hong!
tegas Suma Tionggoan.
Apakah kau ingin melimpahkan semua tanggung jawab ini kepada orang lain, kepada Kelelawar?
teriak Lui Sin gusar.
Memang perbuatan dari si Kelelawar!
Orang mati tak bisa jadi saksi, enak benar kau ingin cuci tangan dari peristiwa ini Jadi kau anggap ada kepentingan bagi ku untuk berbuat demikian?
Lui Sin tertegun.
Siau Jit segera bertanya.
Lantas apa yang sebenarnya telah terjadi?
Ketika Kelelawar selesai memahat patung tubuh Lui Hong, ia teringat kembali akan Lau Ci-he, Hek Botan dan Pek Hu-yung, mendengar itu aku jadi panik dan segera menggertaknya dengan segala pancingan pertanyaan, maksudku agar dia bisa teringat kembali dengan masa lalunya Siau Jit tidak mengerti dengan apa yang diucapkan orang tua itu.
Tampaknya Suma Tionggoan tahu akan hal ini, segera dia menjelaskan.
Saat itu aku tampil sebagai roh nya Kelelawar, dia percaya kalau dirinya sudah tak bisa mengingat kembali kejadian lalu karena roh nya sudah tinggalkan raganya, karena panik, dia semakin mirip orang gila!
Setelah berhenti sebentar lanjutnya.
Saat itulah Lui Hong meronta bangun, jangan dilihat Kelelawar sedang gila dan seperti orang kehilangan sukma, ketajaman pendengarannya tetap luar biasa, begitu Lui Hong bergerak, diapun mengayunkan goloknya secara kalap, mencincang tubuhnya jadi berapa bagian.
Baginya, mencincang bagian tubuh adalah satu pekerjaan yang sangat dikuasahi.
Terus terang, aku sendiripun tidak menyangka kalau dia akan bertindak sinting, ketika ingin memberi pertolongan, keadaan sudah terlambat Jadi begitu kejadiannya?
seru Lui Sin penuh dendam.
Sejujurnya, aku merasa menyesal sekali dengan kejadian itu, nurani ku pun tak bisa menerima hal tersebut Kau masih punya nurani?
dengus Lui Sin sambil tertawa dingin.
362 Terlepas mau percaya atau tidak, aku tak ambil peduli.
Tapi bagaimana pun, peristiwa ini terjadi lantaran ulahku, tentu saja aku harus bertanggung jawab Kalau memang begitu, seharusnya kau tak perlu membohongi kami ucap Siau Jit.
Ketika masalah sudah berkembang jadi begini, mau bicara jujur atau bohong, hasilnya sama saja, jadi buat apa musti banyak pikir Kembali Siau Jit bertanya.
Kalau memang begitu, seharusnya kau tak perlu membohongi kami ucap Siau Jit.
Ketika masalah sudah berkembang jadi begini, mau bicara jujur atau bohong, hasilnya sama saja, jadi buat apa musti banyak pikir Kembali Siau Jit bertanya.
Kematian rombongan Tin-wan piaukiok, keluarga Lau Ci-he dan Ciu Kiok tentu merupakan ulahmu semua bukan?
Kau yang telah melakukan pembantaian itu?
Suma Tionggoan mengangguk berulang kali.
Betul, rahasiaku tak boleh bocor keluar, jadi terpaksa aku harus menghilangkan saksi hidup.
Sedang mengenai Lau Ci-he, tentu saja dia harus mati, karena dia sudah tahu kalau aku gadungan Dengan tangan kirinya dia tekan kelopak mata kiri hingga biji matanya melompat keluar, sambil dijepit dengan ibu jari dan jari telunjuk, ujarnya.
Mata kiriku ini hancur ditangan Kelelawar, tapi mata kananku masih tetap normal, Lau Ci-he telah mengetahui rahasiaku ini, sebab ketika aku paksa dia untuk mengaku dimana golok Kelelawar miliknya disimpan, wajahku berada kelewat dekat dengan wajahnya Siau Jit menghela napas panjang.
Dia merupakan salah satu korban kebiadaban Kelelawar, tentu saja kesannya terhadap iblis itu sangat mendalam Tiba-tiba Suma Tionggoan bertanya.
Kau sudah tahu kalau Ciu Kiok telah tewas, berarti kau telah berkunjung ke perkampungan Suma-san-ceng?
Kami memang pergi mencari toaci untuk menanyakan hal ini Kenapa kalian bisa mempunyai ingatan semacam itu?
Karena tiga patah kata palsu yang diucapkan Ong Bu-shia menjelang ajalnya!
363 Sialan!
Tahu begitu, seharusnya kugorok lehernya sampai putus!
sumpah Suma Tionggoan.
Selama hidup Ong Bu-shia sudah kelewat banyak berbuat kejahatan, tapi akhirnya dia melakukan juga sebuah kebajikan Kemauan takdir!
gumam Suma Tionggoan sambil mendepak kakinya dan menghela napas.
Jaring hukum langit memang tak akan membiarkan orang berdosa berbuat semena mena Mungkin saja begitu kembali Suma Tionggoan bertanya, bagaimana dengan Tang-shia?
Dia sudah tewas oleh pedang pemutus ususku!
jawab Siau Jit sedih.
Berubah paras muka Suma Tionggoan.
Siau Jit, bedebah kau!
Kejam betul hatimu!
Kembali Siau Jit menghela napas panjang.
Diantara mati dan hidup, aku tak punya pilihan lain!
sahutnya.
Setelah berhenti sejenak, ia menambahkan.
Selain itu masih ada Sim Ngo-nio, dia berada dijalan raya, mungkin niatnya untuk menghalangi kami datang kemari Suma Tionggoan membungkam.
Ujar Siau Jit lebih lanjut.
Menjelang ajalnya dia sempat mengucapkan sesuatu ......
katanya jangan salahkan dia, karena ia sudah berusaha dengan segala kemampuan yang dimiliki!
Suma Tionggoan semakin terbungkam, paras mukanya berubah makin tak sedap dipandang.
Kesemua ini adalah kenyataan!
imbuh Siau Jit.
Dengan sorot mata tajam Suma Tionggoan awasi wajah Siau Jit berapa saat, kemudian katanya.
Selama ini Tang-shia selalu mengatakan kalau kau sangat cerdas, kenyataan membuktikan bahwa apa yang dia duga tak keliru, sebaliknya justru akulah yang telah salah menilai tentang dirimu.
Semua usahaku akhirnya rusak ditanganmu seorang, jadi kalau terpaksa aku bertindak kejam, jangan kau salahkan orang lain!
364 Aaai, toaci pun seorang yang cerdas Siau Jit ikut menghela napas, seandainya bukan dia berbelas kasihan, mungkin kami semua sudah tewas ditengah hutan bambu Itulah kelemahan paling utama Tang-shia, hatinya kelewat lembek, tak tega, bukan saja akibatnya urusan besar tak mampu dia lakukan bahkan malah merusak segala rencana Setelah berhenti sejenak, berkilat mata tunggalnya.
Aku dengar tujuh jurus ilmu pedang pemutus usus mu telah berhasil mencapai sepuluh bagian kesempurnaan Bu Cing-cu?
Dibandingkan suhu, ilmu silatku masih ketinggalan jauh, mungkin delapan puluh persen pun tak samai Kau tak perlu merendahkan diri lagi dihadapanku, apa pun yang terjadi, dalam pertarungan nanti kalau bukan kau yang mati, aku lah yang tewas!
Jangan lupa masih ada kami berdua............
teriak Lui Sin lantang.
Hahaha, terhitung manusia macam apa kalian itu?
tukas Suma Tionggoan sinis.
Saat itu Lui Sin sudah meloloskan goloknya, begitu mendengar ejekan tersebut, kontan senjatanya digetarkan berulang kali hingga bunyi kencang, sementara Han Seng telah menyiapkan pula pedang peraknya, siap menyerang Suma Tionggoan.
Kedua orang ini benar benar sudah habis kesabarannya, mereka siap berduel untuk menentukan mati hidup.
Sambil tertawa kembali Suma Tionggoan berkata.
Tapi kalau kalian memang ingin cepat cepat mampus, aku pun tak masalah, pasti akan kupenuhi keinginan kalian itu!
Tak usah banyak cincong!
bentak Lui Sin meradang.
Masih ada sepatah kata Cepat katakan!
Kalian bermaksud main kerubut atau maju satu per satu?
Untuk menghadapi manusia biadab macam kau, buat apa musti membicarakan soal peraturan persilatan!
Hahaha, bagus!
seru Suma Tionggoan sambil tertawa tergelak.
365 Belum habis ia tertawa, Lui Sin telah mengayun goloknya sambil menyerbu maju, secara beruntun dia lancarkan delapan belas bacokan berantai.
Han Seng tak mau kalah, pedang peraknya bagai selapis bianglala langsung menerkam Suma Tionggoan.
Siau Jit pun ikut bertindak, biarpun ia menyerang belakangan namun serangannya tiba duluan, pedang pemutus ususnya langsung menusuk ke dada lawan.
Bagusl seru Suma Tionggoan, ia cabut sepasang goloknya lalu menyambut datangnya serangan dua pedang satu golok itu sekaligus.
Triiing, traang, triiing, traaang!
suara benturan logam bergema tiada hentinya, dengan satu langkah lebar Suma Tionggoan menghindari posisi tengah bergeser ke samping, dengan golok kanan dia tangkis pedang pemutus usus, golok kiri menyambut datangnya golok emas dan pedang perak.
Traaang!
ternyata bacokan goloknya berhasil dicongkel pedang perak milik Han Seng hingga mencelat ke samping.
Keberhasilan ini kontan membuat Han Seng tertegun, dia sendiri sama sekali tak menyangka kalau congkelan pedangnya menghasilkan kekuatan sebesar itu.
Hati hati!
saat itulah Siau Jit membentak nyaring.
Belum habis teriakan itu, Suma Tionggoan sudah menyodokkan tangan kirinya melalui pertahanan yang terbuka, langsung menghantam dada Han Seng.
Duuukkl Han Seng berteriak kesakitan, tubuhnya terpental ke belakang, darah segar menyembur keluar dari mulutnya membentuk selapis bianglala terbang.
Pakaian yang dikenakan tiba-tiba saja hancur dan robek tak karuan, sebuah bekas cap telapak tangan muncul diatas dadanya.
Haah, ilmu pukulan Mi-tiong tay-jiu-eng!
teriak Siau Jit terkesiap.
Dalam waktu singkat dia telah melancarkan tujuh kali tujuh, empat puluh sembilan tusukan, tapi semua serangannya itu berhasil dibendung golok Kelelawar milik Suma Tionggoan.
Begitu menarik kembali telapak kirinya, dengan cepat Suma Tionggoan mencabut keluar golok Kelelawar yang ke tiga, kemudian mengayunkan kembali sepasang senjatanya untuk menyerang.
366 Han Seng mencelat sejauh hampir dua tombak dari posisi semula dan roboh terkapar ditanah, ketika berusaha bangkit, wajahnya berubah jadi merah membara, lagi lagi dia muntahkan darah segar.
Meskipun dia masih bisa bernapas, namun lantaran sudah menderita luka parah, Han Seng sudah tak mampu lagi untuk bertempur.
Menyaksikan hal itu, Lui Sin gusar bercampur panik, serangan goloknya semakin gencar dilancarkan, bacokan bertubi tubi ditujukan ke tubuh lawan.
Siau Jit tak mau kalah, dia pun ikut menyerang dengan pedang pemutus usus andalannya.
Sambil melayani serangan gencar lawannya, ejek Suma Tionggoan sambil tertawa.
Bertarung melawan dua orang jauh lebih gamang daripada bertempur menghadapi tiga orang!
Hmm, melukai orang dengan akal busuk, kau bukan terhitung seorang hohan!
umpat Lui Sin gusar.
Suma Tionggoan tertawa tergelak.
Hahahaha, dalam peperangan tak tabu menggunakan siasat, masa kau tak mengerti maksud ini!
Sambil meraung penuh amarah Lui Sin mengobat abitkan goloknya melepaskan seratus empat belas buah bacokan, kekuatan yang ditimbulkan ibarat ambruknya gunung yang menguruk samudra.
Dengan gesit dan cekatan Suma Tionggoan menggerakkan goloknya menangkis kiri kanan, seratus gebrakan kemudian ia telah berhasil meloloskan diri dari kepungan pedang pemutus usus, sekarang sepasang goloknya bersama sama digunakan untuk menghajar Lui Sin.
Walaupun menghadapi serangan brutal, Lui Sin enggan mundur, goloknya sekuat tenaga diayunkan menghadapi ancaman lawan.
Dalam waktu singkat Siau Jit kembali telah menyusul tiba.
Dengan cepat Suma Tionggoan menarik kembali salah satu dari sepasang goloknya yang dipakai untuk melawan Lui Sin.
Lalu tangannya digetarkan, tahu tahu mata golok 367 terlepas dari gagangnya dan bagai anak panah yang terlepas dari busur, langsung menyambar ke tubuh orang she-Lui itu.
Apa yang dia lakukan sungguh diluar dugaan, apalagi dalam jarak yang begitu dekat, sulit bagi Lui Sin untuk menghindarkan diri, belum selesai jeritan kagetnya, ujung golok telah menghujam di dada.
Sungguh dahsyat kekuatan daya timpuknya, mata golok langsung menembusi dada hingga jebol di punggung, tubuh Lui Sin terlempar mundur sejauh setengah tombak lalu roboh terkapar ke tanah, tewas sambil masih memeluk goloknya.
Sambil tertawa Suma Tionggoan berkata.
Entah sudah berapa kali golok Kelelawar itu rusak gagangnya hingga mata golok sering terlepas, tak disangka ketika kugunakan sebagai senjata rahasia, malah mampu mencabut selembar nyawa!
Gagal selamatkan nyawa rekannya, merah membara sepasang mata Siau Jit, ilmu pedang pemutut usus segera dilancarkan jurus demi jurus.
Dengan santai Suma Tionggoan menyambut datangnya serangan itu, kembali ujarnya.
Untuk menghadapi satu orang, tentu jauh lebih gampang daripada menghadapi dua orang!
Sambil bicara dia melancarkan serangkaian bacokan, dengan golok memainkan jurus pedang, semua gerakan dapat ia lakukan dengan lincah dan cekatan.
Siau Jit menghadapi dengan serius.
Bicara soal tenaga dalam, kemampuan Suma Tionggoan masih jauh diatas Siau Jit, kecepatannya berganti jurus pun melebihi anak muda itu, kini dengan melancarkan serangan kilat, selangkah demi selangkah dia mendesak terus.
Untungnya dalam kelincahan dan kegesitan, Siau Jit masih jauh mengungguli Suma Tionggoan.
Dalam deretan ilmu pedang kenamaan pun, tujuh jurus ilmu pedang pemutus usus dari Bu-cing-cu berada pada urutan pertama, sedang tiga jurus pengejar nyawa dari keluarga Suma hanya menempati urutan ke tiga.
Namun usia Siau Jit masih muda, kurang pengalaman, jauh ketinggalan bila dibandingkan Suma Tionggoan yang merupakan jago kawanan dan sangat berpengalaman.
368 Setelah bertarung berapa gebrakan, Suma Tionggoan segera dapat meraba situasi yang sedang dihadapi, sekuat tenaga dia berusaha memanfaatkan kelebihannya dengan memeras habis tenaga dalam yang dimiliki Siau Jit.
Bagi Siau Jit sendiri, diapun dapat melihat maksud tujuan Suma Tionggoan yang sebenarnya, enggan terjebak dalam perangkap musuh, beruntun dia mundur sejauh satu tombak lebih, kini punggungnya sudah menempel diatas dinding.
Dinding dimana ia berdiri sekarang merupakan dinding dengan tumpukan pahatan pantat.
Kini punggungnya sudah bersandar diatas pantat, sayang pantat itu terbuat dari kayu yang keras hingga terasa tidak nyaman.
Suma Tionggoan sama sekali tidak mengendorkan serangannya, walau musuh sudah terdesak, ia tetap melancarkan serangkaian bacokan dan tusukan maut.
Secara beruntun Siau Jit menerima lima belas bacokan lawan, mendadak ia membentak nyaring.
Putus l Jurus ke dua dari tujuh jurus ilmu pedang pemutus ususnya segera dilancarkan.
Gerakan pertama ia gunakan untuk menangkis golok Kelelawar dari Suma Tionggoan, disusul gerakan kedua balas menusuk lambung musuh.
Tak bakalan putus!
sahut Suma Tionggoan sambil menangkis serangan musuh dan melepaskan tiga jurus ilmu pedang pengejar nyawa.
Segumpal cahaya dingin memancar keluar dari tubuhnya, ia beserta golok melambung ke udara lalu membacok ke bawah.
Malam ini merupakan kali ke tiga Siau Jit menghadapi serangan ilmu pedang pengejar nyawa dari keluarga Suma, seperti yang dikatakan orang, makin sering mengemudi semakin hapal, walaupun tusukan maut dari Suma Tionggoan amat ganas, namun lantaran dia gunakan golok sebagai pengganti pedang, daya kemam puan yang terpancar pun jauh berkurang kehebatannya.
Siau Jit masih tetap menggunakan jurus pertama dari ilmu pedang pemutus ususnya untuk mematahkan jurus pertama dari ilmu pedang pengejar nyawa Suma Tionggoan.
369 Jaring golok kembali berlanjut mengurung angkasa, inilah jurus ke dua dari Tui-mia-kiam.
Siau Jit dengan tiga gebrakan, mematahkan satu gerakan musuh.
Ketika jurus serangan ke tiga menyambar datang, Siau Jit yang sudah punya pengalaman sebelumnya buru buru mendongkel pedangnya keatas, melindungi bagian mematikan di tenggorokannya.
Triiing , betul saja, golok itu langsung membabat tenggorokannya, tapi segera terbendung oleh tangkisan pedangnya, memanfaatkan kesempatan ini Siau Jit segera melancarkan serangan dengan jurus terakhir dari ilmu pedang pemutus usus.
Siapa tahu pada saat itulah gerakan golok Suma Tionggoan yang semula terhenti tahu tahu kembali berubah.
Kali ini goloknya berubah jadi tujuh tusukan yang membabat tiba dari tujuh arah yang berbeda, jurus ketiga dari Siau Jit hanya berhasil mematahkan enam bacokan pertama, tersisa satu bacokan yang langsung masuk ke lubang pertahanannya.
Breeet!
satu bacokan memanjang membuat dada Siau Jit hingga ke arah tenggorokannya terluka hingga berdarah, walaupun lukanya tidak terlalu dalam, namun bila sampai mengenai lehernya, niscaya tenggorokan Siau Jit bakal bersayat putus.
Sungguh hebat Siau Jit, dalam keadaan kritis cepat ia keluarkan jurus jembatan baja untuk menghindarkan diri dari ancaman kearah tenggorokan.
Tidak berhenti sampai disitu, secara beruntun kembali Suma Tionggoan melancarkan tiga bacokan.
Padahal saat itu tubuh Siau Jit sudah terlanjur membuang ke belakang dalam posisi jembatan gantung, sulit baginya untuk meloloskan diri, tak ampun bahu serta pinggangnya kembali terbacok hingga berdarah.
Kontan Suma Tionggoan tertawa tergelak, serunya.
Hahaha, pada sepuluh tahun berselang, ilmu pedang Tui-mia-kiam dari keluarga Suma memang hanya terdiri dari tiga jurus, tapi sekarang telah kutambah dua jurus lagi hingga genap lima jurus.
Tang-shia belum kuajari dua jurus tambahan itu, ini dikarenakan aku tak ada waktu untuk melakukannya, tak disangka hal ini justru malah mendatangkan kebaikan untukku Sementara pembicaraan berlangsung, dia sama sekali tidak mendesak lagi.
370 Namun Siau Jit tetap mundur selangkah.
Tadi adalah jurus ke empat ujar Suma Tionggoan lebih jauh, kalau tak berhasil mencabut nyawamu, itu dikarenakan kau memang berilmu, jika dalam jurus ke lima nanti aku tetap gagal membunuhmu, saat itulah aku orang she-Suma benar benar akan merasa takluk!
Bicara sampai disitu, dia angkat golok Kelelawar dan menuding tenggorokan Siau Jit dengan ujung golok.
Dalam pada itu ujung pedang Siau Jit menunjuk ke permukaan tanah, jurus terakhir dari ilmu pedang pemutus usus siap dilancarkan.
Senyuman yang semula menghiasi wajah Suma Tionggoan, kini hilang lenyap tak berbekas, ditengah bentakan nyaring, goloknya langsung dibacokkan ke depan.
Sewaktu melancarkan bacokan, dia hanya melakukannya satu kali, tapi ketika tiba ditengah jalan, satu bacokan telah berubah jadi empat belas bacokan.
Siau Jit tak dapat menebak arah mana ditubuhnya yang menjadi incaran, namun sekarang ia sudah terpojok dan tak mungkin bisa mundur lagi, mau tak mau terpaksa dia harus sambut datangnya ancaman itu.
Dengan pedang dilintangkan, ia songsong datangnya serangan itu.
Deruan angin golok yang kencang memaksa dia susah bernapas, pandangan matanya ikut kalut karena silau oleh cahaya golok.
Namun serangan pedangnya hanya ada jalan keluar, tak ada jalan balik.
Ditengah suasana yang kritis dan lapisan golok yang kental itulah, tiba-tiba semuanya rontok dan longsor, lalu terdengar Suma Tionggoan menjerit kaget.
Dalam pandangan matanya hanya ada Siau Jit, semua pikiran dan konsentrasinya hanya tertuju ingin membantai pemuda itu, mimpi pun dia tidak menyangka kalau Han Seng yang terkapar ditanah tiba-tiba menggelinding ke samping tubuhnya, lalu memeluk sepasang kakinya kuat kuat.
Waktu itu Suma Tionggoan sedang melancarkan serangan dengan sepenuh tenaga, tenaga dalam yang disertakan pun sudah mencapai puncaknya, akibat dari pelukan itu, kontan tulang belulang disekujur badan Han Seng hancur berantakan, selembar jiwanya pun ikut melayang.
371 Tapi dengan adanya kejadian ini, serangan maut dari Suma Tionggoan pun ikut hancur berantakan, menggunakan kesempatan itu Siau Jit segera melepaskan satu tusukan maut.
Suma Tionggoan hanya melihat datangnya cahaya pedang, ingin sekali dia menghindar, sayang tubuhnya enggan turuti perintah, tahu tahu perutnya terasa sakit sekali.
Ia tundukkan kepala, melihat darah segar menyembur keluar dari perutnya.
Walaupun tak nampak jelas, dia tahu usus dalam perutnya sudah hancur dan putus.
Dalam waktu singkat sisa tenaga yang dimiliki pun hilang lenyap tak berbekas.
Bagusl Pedang pemutus usus!
bisiknya dengan suara parau.
Darah masih menetes diujung pedang Siau Jit, katanya.
Walaupun aku berhasil menyarangkan tusukan pedang ini ke perutmu, namun mau tak mau harus kuakui bahwa aku tak mampu menerima jurus ke lima dari ilmu pedang pengejar nyawa mu!
Tentu saja jawab Suma Tionggoan tetap angkuh.
Siau Jit menghela napas panjang, katanya.
Padahal kau adalah seorang pendekar kenamaan, seorang jagoan luar biasa didalam dunia persilatan............
Hahaha....
apa gunanya membicarakan segala omong kosong pada saat sekarang!
tukas Suma Tionggoan sambil tertawa keras.
Ditengah gelak tertawa, darah segar meleleh keluar membasahi ujung bibirnya, dia mulai gontai, tubuhnya mulai semoyongan, namun lanjutnya.
Untung sebelum mati, aku telah mencari dua orang teman, hitung hitung tidak terlalu rugi Siau Jit tidak bicara.
Kembali Suma Tionggoan melanjutkan.
Yang menjengkelkan justru tempat penyimpanan harta karun itu, sudah tujuh tahun aku menggeledah ruang iblis ini namun gagal menemukan rahasia tersebut, tak tahunya jauh diujung langit, dekat di depan mata Lalu sumpahnya.
Dasar Kelelawar laknat, sialan, kalau bertemu di neraka nanti, aku pasti akan membuat perhitungan lagi denganmu!
372 Siau Jit hanya menghela napas sambil menggeleng, dia tak menyangka orang itu begitu kemaruk harta, kalau dilihat dari keserakahannya, jelas dia sudah berada dalam tahap tak bisa diobati lagi.
Terdengar Suma Tionggoan berkata lagi.
Kenapa kalian tidak datang sedikit lebih lambat?
Paling tidak berilah kesempatan kepadaku untuk menyaksikan seluruh harta karun yang dimiliki Kelelawar!
Nada suaranya makin lama semakin bertambah lemah dan parau, keluhnya.
Inilah satu satunya kejadian yang paling kusesalkan............
Kata terakhir sudah tidak kedengaran lagi, karena diiringi suara keras, tubuhnya roboh terjungkal ke atas tanah.
Darah segar masih mengucur deras.
Noda darah diujung pedang Siau Jit telah mengering, tiba-tiba saja ia menghela napas panjang.
Walaupun pada akhirnya ia berhasil membongkar rahasia Kelelawar tanpa sayap, tapi sahabatnya satu per satu tewas dihadapannya.
Bagaimana pun juga inilah penyelesaian yang sangat tragis.
Dia benar benar tak ingin menjumpai lagi peristiwa tragis semacam ini, karena satu kejadian pun sudah lebih dari cukup.
Pedang telah disarungkan, akhirnya dia merasa amat penat.
Semacam kepenatan yang tumbuh dari hati kecilnya, yang menjalar dan menyebar cepat seperti terkena obat beracun.
Tanpa bicara ia duduk bersila, dia hanya ingin memikirkan satu persoalan.
Fajar akhirnya menyingsing.
Tak nampak cahaya dalam ruang itu, karena disana tak ada bedanya antara siang dan malam.
Diluar gedung, meski kabut sangat tebal namun secerca sinar fajar mulai muncul di ufuk timur.
Akhirnya malam yang panjang telah berlalu.
373 Sampai disini pula cerita Kelelawar tanpa sayap.
Kelelawar Tanpa Sayap -Halaman yoza collection Kelelawar Tanpa Sayap -Halaman yoza collection
Baca Juga: Siluman Gua Tengkorak Kho Ping Hoo
Baca Juga: Perawan Lembah Wilis 13