Ceritasilat Novel Online

Kelelawar Tanpa Sayap 4

Eps 4 Kelelawar Tanpa Sayap - Huang Ying

Baca online Kelelawar Tanpa Sayap - Huang Ying

Cersil Kelelawar Tanpa Sayap - Huang Ying.

Sebaliknya bila kita tidak temukan lorong tersebut, sepeninggal kita dari sini, dia pun masih bisa keluar lewat lorong rahasia lalu menyergap kita secara tiba-tiba dan balas dendam, aku rasa dengan kepandaian silat yang dia miliki, tidak sulit bila ingin menghabis nyawa kita semua Benar juga perkataanmu itu sambil mendengarkan, Lui Sin mengangguk berulang kali.

NGIN BARAT berhembus kencang, suasana musim gugur dalam hutan bambu tidak terlalu kental, warna musim gugur pun mulai tawar dan menipis.

227 Tapi perasaan hati semua orang justru makin dingin dan membeku, perasaan dingin itu bukan dikarenakan saat itu sudah berada dipenghujung musim gugur, bukan pula karena hawa yang membeku.

Tentu saja mereka tahu kenapa hati mereka jadi dingin, jadi membeku.

Suma Tang-shia merasakan sekujur badannya menggigil, dia sandarkan tubuhnya makin rapat dibahu Siau Jit.

Sementara Siau Jit pun sangat memahami perasaan hatinya saat itu.

Walaupun secara resmi si Kelelawar masih tersekap dalam ruang loteng, namun secara diam diam ia telah menggali lorong bawah tanah dan mendapatkan kembali kebebasannya, dalam hal ini ternyata perempuan itu sama sekali tak tahu.

Itu berarti andaikata si Kelelawar hendak berbuat sesuatu terhadap dirinya, ia sama sekali tak bisa menghindarkan diri.

Memang benar kesadaran Kelelawar belum seratus persen pulih, namun hal ini bisa diartikan suatu ketika ia normal juga, kalau bukan begitu, darimana bisa tahu untuk bisa lolos dari kepungan hutan bambu, dia harus menggali lorong bawah tanah?

Disaat pikirannya menjadi normal kembali, mungkinkah dia akan teringat dengan dendam kesumat nya?

Mungkinkah dia akan teringat dengan dendamnya terhadap Suma Tionggoan?

Mungkinkah di a teringat akan balas dendam?

Dapat dipastikan si Kelelawar akan berpikir ke situ, hanya saja kenapa hingga sekarang belum dia lakukan?

Mungkin hanya dia pribadi yang bisa menjawab pertanyaan ini.

Bisa jadi ia telah menyiapkan sebuah rencana besar untuk balas dendam, dan rencana tersebut akan dia laksakan dalam waktu singkat.

Bagaimana pun, masih untung rahasia ini segera terbongkar, untung mereka datang tepat waktu.

Karena itu selain kaget dan ngeri, diam diam dia pun bersyukur.

Dalam waktu singkat Suma Tang-shia berhasil mengendalikan diri, lambat laun paras muka pun menjadi tenang kembali.

228 Apa yang dibicarakan Han Seng dan Lui Sin pun dapat ia dengar dengan jelas, maka setelah termenung sesaat sahutnya.

Mungkin kalian berdua masih belum tahu dengan jelas tabiat dari manusia yang bernama Kelelawar ini Bagaimana pula dengan wataknya?

tanya Lui Sin.

Terlalu percaya diri, sebelum pertarungan maut di lembah Hui-jin-gan, dia selalu berkata sesumbar kalau tak seorang jagopun dalam dunia persilatan yang merupakan tandingannya, dalam kenyataan, dia pun tidak pernah membokong orang dari belakang Tapi bagaimana penjelasanmu tentang diculiknya putriku?

Lui Sin tertawa dingin, bagaimana pula penjelasanmu tentang anak buahku yang mati keracunan dalam warung teh?

Diracuninya anak buahmu dalam warung teh, menurut aku hal ini disebabkan Kelelawar sama sekali tak menganggap mereka sebagai musuhnya Maksudmu dia menganggap mereka tidak pantas menjadi musuhnya?

Mungkin saja hal ini ada sangkut pautnya dengan rencana dia untuk menjebak putrimu, dia tidak berharap putrimu mengalami luka atau cedera karena itu Lui Sin berkerut kening, ia tidak berbicara lagi.

Kembali Suma Tang-shia berkata.

Orang ini masih mempunyai sebuah watak aneh, yakni suka bergurau Suka bergurau?

Siau Jit tertegun.

Suma Tang-shia manggut-manggut.

Hanya saja gurauannya itu kecuali dia sendiri, mungkin orang lain tak akan tertarik Siau Jit tertawa getir, baru saja dia hendak mengucapkan sesuatu, tiba-tiba gelak tertawa yang sangat menakutkan berkumandang membelah keheningan.

Bersamaan itu pula berhembus angin yang sangat kencang, lalu tampak dahan bambu bergoyang kencang.

Tampaknya hembusan angin kencang itu timbul karena getaran suara tertawa yang amat keras itu, ditengah goncangan dahan bambu, suara tertawa itu kedengaran makin menakutkan.

Begitu suara tertawa bergema, nyaris paras muka semua orang berubah hebat.

229 Suara tertawa semacam ini tidak terlalu asing bagi me reka, khususnya bagi Suma Tang-shia, Sim Ngo-nio serta kedua orang dayangnya.

Inilah suara tertawa dari Kelelawar tanpa sayap!

Suara tertawa itu bergema dari arah timur, begitu semua orang berpaling, bayangan Kelelawar pun kembali terlihat.

Si Kelelawar masih berada diluar hutan bambu, diluar dinding tembok tinggi.

Ternyata ia berdiri tegak diatas panggung batu sebelah timur, berdiri sambil tertawa terbahak-bahak, tertawa dengan bangganya.

Sekali lagi paras muka Suma Tang-shia berubah, katanya.

Pintu keluar lorong rahasia itu kalau berada diluar dinding tinggi, sekalipun berada diluar barisan bunga, letaknya pasti tak jauh dari barisan tersebut, kalau tidak, mustahil dia bisa mencapai panggung batu itu sedemikian cepatnya Moga moga saja masih berada diantara barisan bunga dengan dinding tinggi kata Siau Jit.

Suma Tang-shia manggut-manggut.

Kalau tidak.....

Kelelawar pasti akan menembusi barisan bunga itu sebelum tiba diatas panggung batu, bila dia sanggup melewati barisan bunga, ini berarti dia bukan saja tidak idiot bahkan kepintarannya sangat menakutkan Mungkin saja dia pun mempunyai kemampuan dalam ilmu barisan, tapi bagaimana pun juga, untuk bisa menembusi barisan bunga, paling tidak otaknya harus berada dalam keadaan jernih Berarti dia pun sudah tahu bagaimana cara untuk menghadapi kita semua Tiba-tiba Siau Jit menarik napas panjang, katanya.

Toaci, adakah jalan ke dua yang bisa meninggalkan hutan bambu ini dalam waktu singkat?

Tidak ada, bila harus melewati hutan bambu, berarti harus lewat jalanan yang pernah kita tempuh Itu berarti butuh waktu banyak, lagipula sulit untuk meloloskan diri dari pengawasan si Kelelawar 230 Sama seperti kita awasi gerak geriknya tadi, sekarang dia berada ditempat yang tinggi, semua gerak gerik kita pasti tak akan mampu lolos dari pengamatannya Kalau begitu terpaksa kita harus menunggu sampai dia bertindak lebih dulu, dari apa yang dia lakukan, kita baru bisa pastikan bagaimana harus bersikap Kecuali dia tak mempunyai niat jahat, kalau tidak, aku berani memastikan, jangan harap kita bisa mundur dari sini melalui jalanan semula Mau tak mau Siau Jit harus mengangguk.

Saat itu, suara gelak tertawa masih bergema tiada habisnya.

Angin berhembus makin kencang, gemerisik daun bambu tambah ramai, seluruh langit dan bumi seakan tambah gelap, suara tertawa pun kedengaran makin menyeramkan.

Berkilat mata Siau Jit, katanya.

Setelah mendengar gelak tertawanya itu, bila orang masih bilang dia bukan edan, benar benar sebuah pernyataan yang tak bisa dipercaya Sekarang, kita justru berharap dia benar benar edan, benar benar idiot, sebab bagaimana pun, orang idiot jauh lebih gampang dihadapi daripada orang normal Betul Tampaknya kalian berdua kuatir kalau sampai bangsat itu menggunakan alat perangkap yang ada dalam hutan bambu untuk menghadapi kita?

sela Han Seng.

Tepatl Biarpun dia tahu akan kelihayan alat jebakan ditempat ini, toh belum tahu bagaimana cara menggunakannya ujar Lui Sin.

Suma Tang-shia tertawa getir.

Bukankah sudah kukatakan sedari tadi, semua alat perangkap itu telah dijalankan sejak awal katanya.

Kalau bukan begitu, kenapa kita musti masuk dengan sangat hati hati Siau Jit menambahkan.

Han Seng menghela napas panjang.

231 Aaai, kelihatannya sekarang kita hanya berharap, semoga bangsat itu benar benar sinting, benar benar idiot dan kehilangan akal sehat Dengan cepat Lui Sin memegang gagang goloknya sambil berteriak nyaring.

Daripada disini menunggu mati, lebih baik kita terjang saja hutan bambu itu!

Sementara Han Seng menarik tangan saudaranya, sambil melangkah maju kata Siau Jit.

Aku rasa jauh lebih aman bila kita tetap tinggal didalam loteng itu, bukankah alat perangkap yang terpasang dalam hutan bambu bertujuan untuk mencegah si Kelelawar meninggalkan tempat ini Keliru!

sahut Suma Tang-shia.

Baru saja ia selesai bicara, suara tertawa si Kelelawar yang menyeramkan ikut berhenti pula.

Semacam perasaan ngeri yang sukar dilukiskan dengan kata segera timbul dalam hati semua orang, disamping muncul pula perasaan bimbang dan ragu.

Perasaan itu seperti orang yang sedang berjalan tiba-tiba menginjak tempat kosong dan terperosok ke bawah.

Selama Kelelawar masih tertawa, mungkin keadaan masih aman, tapi begitu berhenti tertawa, bisa diartikan dia segera akan turun tangan.

Sinar mata dan perhatian semua orang pun serentak dialihkan ke arah Kelelawar.

Mendadak tubuh jangkung Kelelawar tampak melambung ke udara dan bersalto berapa kali, tahu tahu dalam genggaman tangan kanannya telah bertambah dengan sebilah golok, golok lengkung.

Golok lengkung itu mirip bulan sabit, gagang pedangnya berupa seekor Kelelawar yang sedang mementang sayap, amat menyilaukan mata.

Ciu Kiok yang melihat senjata itu kontan menjerit keras.

Golok Kelelawar!

Darimana dia dapatkan golok Kelelawar yang pernah digunakan dulu?

rintih Suma Tang-shia pula.

Konon dia memiliki tiga belas bilah golok semacam ini kata Ciu Kiok, dua belas bilah diantaranya telah diberikan kepada orang lain 232 Dihadiahkan untuk dua belas orang perempuan yang paling dia sukai!

Suma Tang-shia menambahkan.

Lantas ke mana perginya sebilah yang lain?

tanya Siau Jit.

Ada dirumahku jawab Suma Tang-shia, tapi segera terangnya, setelah Kelelawar berhasil dirobohkan, manusia berikut goloknya dihantar kemari, golok tersebut disimpan ayahku dalam sebuah ruang rahasia di ruang bacanya Itu berarti kalau golok yang berada dalam genggamannya bukan golok tersebut, nyawa salah satu dari ke dua belas perempuan tersebut jadi masalah besar Tapi dia menyukai ke dua belas orang perempuan itu Mungkin saja dia menyukai mereka, tapi apakah ke dua belas orang perempuan itu menyukai dirinya pula?

kata Siau Jit, selain itu, benarkah Kelelawar yang kita jumpai hari ini adalah Kelelawar dimasa lampau?

Suma Tang-shia termenung sambil berpikir sejenak, kemudian katanya.

Memang harus diakui, Kelelawar yang dulu belum pernah membunuh perempuan mana pun Berita yang tersiar dalam dunia persilatan memang begitu Tapi yang kita ketahui sekarang adalah dia telah membunuh nona Lui, bahkan mencincang tubuhnya Setelah tertawa getir, terusnya.

Terlepas dari mana dia peroleh golok Kelelawar itu, lebih baik sekarang kita bikin persiapan terlebih dahulu untuk menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan Siaute telah berhati hati Padahal bukan hanya dia, sorot mata semua orang pun tak ada yang bergeser dari tubuh si Kelelawar.

Waktu itu si Kelelawar telah mengangkat goloknya keatas dan meletakkan diatas ubun ubunnya.

Dipandang dari kejauhan, cahaya terang yang memancar dari golok lengkung itu pada hakekatnya tidak mirip sebilah golok, tapi seolah dari atas kepala si Kelelawar muncul sekilas bianglala berwarna perak.

233 Tiba-tiba bianglala itu berputar, dari melintang berubah jadi tegak lurus, lurus dibawah alis mata si Kelelawar, tiba-tiba saja suasana jadi hening.

Mata golok menghadap keluar, gagang golok menindih diatas ujung hidung hingga ke ujung alis mata Kelelawar, cahaya golok pun berubah jadi satu garis, semakin mencolok mata.

Dalam pandangan mata Siau Jit, disaat golok lengkung itu berhenti diatas wajah Kelelawar, tiba-tiba saja wajah itu seakan terbelah jadi dua bagian.

Mata golok seolah menghujam ke dalam wajah Kelelawar dan membelahnya jadi dua.

Apa yang sebenarnya hendak dilakukan Kelelawar itu?

Tanpa sadar ingatan tersebut melintas dalam benak semua orang, dan saat itu pula cahaya golok kembali terjadi perubahan.

Cahaya golok yang membentuk satu garis itu secepat petir meluncur keluar dari wajah sang Kelelawar, berputar, membalik lalu mencongkel, pagar kayu diseputar panggung batu pun terbabat kutung jadi berapa bagian, kutungan yang kena congkelan langsung beterbangan di angkasa.

Para jago yang berada dalam loteng dapat menyaksikan semua kejadian itu dengan jelas, Lui Sin segera berseru.

Apa gerangan yang sedang dilakukan bangsat itu?

Siau Jit seperti ingin mengucapkan sesuatu namun kembali diurungkan, paras mukanya serius, dari perubahan mimik mukanya, dia seolah tahu kalau si Kelelawar sedang mempersiapkan diri untuk melakukan sesuatu gerakan.

Paras muka Suma Tang-shia jauh lebih serius daripada Siau Jit, tampaknya dia pun telah berpikir sampai ke situ.

Belum lagi kutungan pagar kayu berjatuhan, golok Kelelawar telah disarungkan kembali.

Tampak ia memutar sepasang tangannya, menyambut kutungan batok kayu pagar lalu kembali tertawa.

Suara tertawanya kedengaran begitu bangga dan puas.

Tiba-tiba ia berseru.

Kalian semua adalah orang orang pintar!

234 Tentu saja perkataan itu mengandung banyak arti, Siau Jit dan Suma Tang-shia saling bertukar pandangan sekejap, baru akan menjawab, Lui Sin dengan suara bagaikan geledek telah membentak nyaring.

Kelelawar Hahaha, aku berada disini jawab Kelelawar sambil tertawa aneh, boleh tahu Lui toaya ada urusan apa?

Saat ini Lui Sin sudah merasa sangat yakin kalau Kelelawar yang berada di panggung batu tak lain adalah Kelelawar yang mereka jumpai pagi tadi, ia cabut keluar golok emasnya, kemudian sambil menuding Kelelawar itu bentaknya.

Jadi kau benar benar adalah si Kelelawar?

Kelelawar memang hanya ada satu!

tiba-tiba tubuhnya berputar kencang.

Disaat wajahnya berpaling lagi, ternyata dia telah merubah tampangnya menjadi orang kedua, tanyanya kemudian.

Tahukah kalian apa sebabnya bisa begini?

Ilmu merubah wajah!

teriak Suma Tang-shia tanpa sadar.

Biarpun teriakan itu tidak begitu keras, ternyata si Kelelawar dapat mendengar dengan jelas sekali, kembali ia tertawa tergelak.

Hahaha, bagaimana pun orang pintar tetap orang pintar Setelah berhenti sejenak, lanjutnya.

Orang pintar macam kalian seharusnya tahu bukan tindakan apa yang hendak kulakukan, tentu tahu juga bagaimana harus menghadapinya Begitu selesai bicara, mendadak potongan pagar yang berada dalam genggamannya telah dilempar ke luar, meluncur ke tengah hutan bambu.

Berubah paras muka Suma Tang-shia ketika melihat hal itu, jeritnya tertahan.

Aduh celaka!

Potongan pagar itu tidak dilempar kearah kita............

kata Ciu Kiok.

Apa bedanya dengan seseorang yang menerjang masuk ke dalam hutan bambu?

tanya Suma Tang-shia sambil tertawa getir.

Sementara pembicaraan berlangsung, Blaaam!

dari tengah hutan bambu telah terdengar suara ledakan keras diikuti bergetarnya seluruh permukaan tanah.

235 Dapat dibuktikan betapa kuat dan dahsyatnya tenaga timpukan yang dilakukan si Kelelawar.

Serentetan suara aneh kembali berkumandang dari balik hutan bambu, suara yang memekakkan telinga itu membuat paras muka Suma Tang-shia berubah jadi makin tak sedap dipandang.

Pada saat itulah paras muka Ciu Kiok ikut berubah.

Suara tertawa aneh dari si Kelelawar kembali berkumandang, ditengah gelak tertawa, tubuhnya yang jangkung ceking lagi lagi melambung ke tengah udara, kedua belah ujung bajunya dikembangkan, seluruh tubuh pun berubah seakan seekor Kelelawar hitam raksasa yang terbang ke angkasa.

Setelah berjumpalitan berapa kali, badannya meluncur ke bawah dengan kecepatan tinggi.

Kali ini dia tidak melayang turun diatas panggung batu, dalam sekejap mata bayangan tubuhnya hilang lenyap.

Sementara suara aneh dari balik hutan bambu berkumandang makin nyaring.

Paras muka Suma Tang-shia berubah semakin tak sedap dilihat, gumamnya.

Semua alat rahasia dalam hutan bambu mulai bekerja!

Lantas kita sekarang............

tanya Siau Jit.

Kalau ingin menerjang keluar dalam keadaan begini, sama artinya mencari mati Berkilat sepasang mata Siau Jit, ia termenung dan tidak bicara lagi.

Masa kita harus berdiam dalam bangunan loteng itu?

tanya Han Seng.

Ayahku telah memperhitungkan dengan pasti, setelah alat jebakan mulai bekerja, bisa jadi si Kelelawar akan mundur balik ke dalam bangunan loteng ini Han Seng makin tercekat.

Jadi maksudmu bersamaan dengan hancurnya hutan bambu, loteng ini pun.....

Betul, loteng inipun akan ikut hancur nada suara Suma Tang-shia terdengar berat, aah sekarang alat jebakan ke lima dan ke enam sudah mulai bekerja 236 Sekali lagi berkilat sinar mata Siau Jit, tiba-tiba ujarnya.

Memangnya kita tak boleh menggunakan lorong bawah tanah yang digali si Kelelawar untuk meninggalkan tempat ini?

Agaknya Suma Tang-shia pun telah mempertimbangkan hal tersebut, segera jawabnya.

Rasanya hanya itu satu satunya jalan hidup kita, moga moga saja si Kelelawar tidak memasang alat perangkap atau jebakan dalam lorong bawah tanahnya Setelah berhenti sejenak, lanjutnya.

Tapi setelah berada dalam keadaan begini, rasanya kita tak perlu banyak berpikir lagi!

Sorot matanya segera dialihkan ke wajah Sim Ngo-nio, tapi belum sampai ia buka suara, Sim Ngo-nio sudah berkata duluan.

Kalau begitu biar aku berjalan duluan!

Habis berkata, ia segera meloncat turun ke dalam lorong bawah tanah.

Tentu saja semua orang tahu bahwa persoalannya bukan karena dia takut mati atau tidak, andaikata didalam lorong rahasia terdapat jebakan, maka dialah orang pertama yang bakal celaka.

Begitu bayangan tubuh Sim Ngo-nio lenyap dibalik lorong, Suma Tang-shia segera menitahkan kedua orang dayangnya.

Cepat kalian berdua membimbing Ciu Kiok dan masuk duluan!

Kedua orang dayang itu tak berani berayal, cepat mereka memayang tubuh Ciu Kiok dan menerobos masuk ke dalam lorong rahasia.

Saat itulah Suma Tang-shia baru berpaling sambil berkata.

Lui, Han lo-enghiong...........

Silahkan nona masuk duluan sahut Lui Sin cepat, biar kami berdua berada dibarisan paling belakang!

Sekarang bukan saatnya untuk bersungkan-sungkan tukas Suma Tang-shia sambil menggeleng, aku jauh lebih jelas mengetahui keadaan disini daripada kalian berdua!

Belum habis ia berkata, gelombang dahsyat telah terjadi ditengah hutan bambu, batang pohon bambu tampak beterbangan dan meluncur ke tengah udara.

Alat perangkap ke sembilan telah mulai bekerja!

seru Suma Tang-shia kemudian, kepada Lui Sin dan Han Seng katanya pula, apa lagi yang hendak kalian berdua nantikan?

237 Bagaimana pun Lui Sin dan Han Seng adalah orang yang berjiwa terbuka, mereka tidak banyak bicara lagi dan tergopoh gopoh masuk ke lorong rahasia.

Siau kecil, pedangmu!

kembali Suma Tang-shia berbisik.

Cepat Siau Jit meloloskan pedangnya.

Sreeet, sreeet, sreeet suara desingan tajam seketika bergema dari empat penjuru, beratus batang senjata rahasia memancar keluar dari balik hutan bambu dan menerjang bangunan loteng itu dari empat arah delapan penjuru.

Tak diragukan semua senjata rahasia itu jelas terlepas dari alat jebakan yang terpasang dalam hutan bambu, kecepatan dan kehebatannya luar biasa.

Cepat Suma Tang-shia mengebaskan bajunya menggulung ranjang batu yang kemudian dipakai untuk menahan sebagian serangan senjata rahasia, sedang tangan kanannya digetar keras, sebuah pedang lembek telah diloloskan untuk menyongsong datangnya ancaman.

Bersamaan waktu Siau Jit menggerakkan pula pedang pemutus ususnya untuk merontokkan datangnya ancaman.

Seolah sudah ada kontak batin diantara kedua orang itu, pada saat yang bersamaan mereka membalik badan dengan punggung menempel punggung, sepasang pedang diputar berbareng melindungi diri dari serangan senjata rahasia, lalu perlahan-lahan bergeser masuk ke dalam Seolah sudah ada kontak batin diantara kedua orang itu, pada saat yang bersamaan mereka membalik badan dengan punggung menempel punggung, sepasang pedang diputar berbareng melindungi diri dari serangan senjata rahasia, lalu perlahan-lahan bergeser masuk ke dalam lorong rahasia.

Triiing, triiing hampir sebagian besar senjata rahasia yang berhasil dirontokkan kedua orang itu berupa panah panah tanpa bulu.

Ada diantara anak panah itu yang menembusi permukaan tanah, ada pula yang menembusi batang tiang penyangga bangunan, tapi rata rata tembus hingga satu inci lebih.

Coba kalau menghujam dibadan, coba kalau menembusi bagian yang mematikan, hanya cukup sebatang anak panah sudah mampu menghant ar kau pulang kampung!

238 Sungguh beruntung mereka berada dalam ruang loteng yang lebih cocok menggunakan pedang, dengan kungfu yang dimiliki Siau Jit berdua, mereka masih sanggup menghadapi serangan yang datang.

Coba kalau berada ditengah hutan bambu, pada hekekatnya sulit untuk menggunakan pedang ditengah malang melintangnya bambu, otomatis semakin sulit bagi mereka untuk mengatasi keadaan.

Tampaknya Siau Jit memahami akan hal itu, tanpa terasa serunya.

Untung sekali kita tidak berada dalam hutan bambu Ehm Baru saja Suma Tang-shia akan mengucapkan sesuatu, tiba-tiba terdengar ledakan dahsyat bergema memecahkan keheningan diikuti menyemburnya cahaya api dari balik hutan bambu.

Obat peledak!

teriak Siau Jit kaget.

Jadi kau sangka toaci sedang bohong?

tanya Suma Tang-shia sambil tertawa.

Siau Jit hanya tertawa getir.

Saat itulah ledakan dahsyat kembali menggelegar membelah angkasa, dengan wajah makin berubah teriak Suma Tang-shia.

Cepat kabur!

Lebih baik toaci duluan!

sahut Siau Jit sambil merangkul bahu Suma Tang-shia dan mendorongnya masuk ke dalam lorong rahasia.

Kali ini Suma Tang-shia tidak menampik, cepat dia lari turun ke dalam lorong bawah tanah diikuti Siau Jit.

Sementara dia berlarian menuruni anak tangga, ledaka n dahsyat kembali menggelegar dari ke e mpat tiang pancang yang ada dalam ruang loteng dan menghancurkan ruangan itu menjadi berk eping.

Tampaknya didalam tiang bangunan pun telah tertanam obat peledak dalam jumlah banyak.

Begitu bahan musiu meledak, tiang penyangga bangunan pun hancur berantakan, tak ampun seluruh bangunan loteng ikut ambruk ke tanah.

239 Suara robohnya bangunan ini jauh lebih nyaring daripada suara ledakan, begitu keras hingga memekikkan telinga.

Biarpun Siau Jit sudah berada dalam lorong bawah tanah, tak urung telinganya sakit juga karena kerasnya getaran.

Tanpa pedulikan debu dan pasir yang mengotori badannya, cepat pemuda itu bergerak maju ke depan.

Kini suasana dalam lorong gelap gulita, berapa kali badannya menumbuk diatas dinding, dalam perasaannya, lorong bawah tanah itu sama sekali tak berbentuk lurus.

Cepat dia merogoh ke dalam saku ambil keluar obor, baru akan disulut, tiba-tiba badannya menumbuk ditubuh seseorang.

Tubuh yang lembut, halus dan menyiarkan bau harum semerbak, bentuk tubuh yang sudah amat dikenalnya.

Biarpun tidak melihat, Siau Jit tahu kalau dia adalah Suma Tang-shia.

Toaci, aku!

cepat Siau Jit berseru sambil menyulur obor.

Siau kecil?

Cahaya api mengusir kegelapan, sinar terang menerangi lorong bawah tanah, menyinari pula wajah kedua orang itu.

Dengan wajah penuh rasa kuatir, Suma Tang-shia menarik lengan Siau Jit sambil serunya.

Coba bukan kau, bertemu dengan siapa pun, mungkin saat ini aku sudah jatuh pingsan Bukankah nyali toaci selama ini besar sekali?

Kontan Suma Tang-shia tertawa cekikikan.

Untung saja hanya kau seorang yang membuntut dibelakangku, andaikata ada orang kedua, sudah pasti dia bukan manusia tapi setan Untuk tempat semacam ini, biar ada setan yang muncul pun tidak aneh kata Siau Jit tertawa.

Mendengar perkataan itu Suma Tang-shia bergidik dan tak sanggup tertawa lagi.

240 Saat itulah Siau Jit baru dapat melihat jelas bentuk lorong rahasia itu, ternyata permukaannya tidak rata dan dindingnya penuh dengan bagian yang cekung maupun cembung.

Pernah menjumpai lorong semacam ini?

tanya Suma Tang-shia.

Aku rasa lorong ini dibuat secara tergesa gesa Tidak mungkin Suma Tang-shia menggeleng, coba kau periksa undak undakan didepan sana, bukankah dibuat sangat rapi?

Bila Kelelawar sanggup membuat undak undakan sebagus itu, tiada alasan ia tak bisa meratakan permukaan lorong ini Tadi, justru gara gara undakan batu itu rata dan rapi, kusangka permukaan lorong bawah tanah pun pasti datar dan rata, akibatnya berulang kali aku musti menumbuk dinding hingga nyaris jatuh terjerembab Jangan jangan si Kelelawar memang sengaja membuat permukaan lorong seperti ini?

Kuatirnya memang begitu setelah termenung, lanjut perempuan itu, terlepas bentuk apapun yang mau dibuat, padahal tak banyak pengaruh baginya Benar, karena dia memang buta Tapi kalau lorong bawah tanah ini digali untuk persiapan diri sendiri, semestinya dibuat lebih baik, dari sini bisa disimpulkan kalau ia sudah menduga bakal terjadi peristiwa seperti hari ini Siau Jit termenung sambil berpikir sejenak, kemudian katanya.

Sekalipun Kelelawar lebih banyak berada dalam keadaan tak waras, disaat ia sedang waras, aku yakin kemampuannya tak beda jauh dengan kemampuannya dimasa lalu.

Toaci, sekarang siaute mulai mandi keringat dingin Suma Tang-shia sendiripun bergidik, terasa bulu roma pada bangun berdiri.

Sementara pembicaraan berlangsung, mereka melanjutkan perjalanan ke depan.

Terdengar suara gemuruh yang memekakkan telinga masih bergema dari mulut lorong, begitu nyaring dan kencang ibarat binatang aneh yang sedang meraung.

241 Begitu kalut dan kacaunya suara gemuruh itu hingga susah untuk membedakan mana suara bangunan yang ambruk dan mana suara ledakan mesiu.

Permukaan lorong dimana mereka berjalan lewat terasa mulai bergetar dan berguguran, seakan seluruh bumi bergoncang, seolah setiap saat tempat itu bakal ikut roboh.

Suma Tang-shia berlarian cepat, paras mukanya makin lama berubah makin pucat.

Air muka Siau Jit pun berubah sangat tak sedap, tiba-tiba teriaknya keras.

Cepat lari, kemungkinan besar lorong bawah tanah ini bakal ambruk!

Belum habis ia menjerit, lorong bagian belakang meledak lalu longsor ke bawah.

Suma Tang-shia menjerit kaget, cepat dia bersembunyi dalam pelukan Siau Jit.

Cepat kita lari!

teriak Siau Jit sambil merangkul tubuh perempuan itu dan berlari kencang.

Siau kecil, kau mulai takut?

tiba-tiba Suma Tang-shia bertanya.

Memangnya toaci tidak takut?

Suma Tang-shia menggeleng.

Mungkin karena berada disisimu sahutnya.

Sayang aku pun hanya seorang manusia, bila lorong ini longsor, kita semua bakal mati Suma Tang-shia menghela napas sedih.

Aaai, bisa mati dalam pelukanmu, apa lagi yang musti kusesalkan?

bisiknya.

Siau Jit tidak menjawab, dia hanya tertawa getir.

Kembali Suma Tang-shia berkata.

Walaupun aku sudah bosan hidup, tapi kau masih muda, sayang kalau harus mati dalam kondisi seperti ini, maka dari itu terlepas nasib kita baik atau buruk, yang penting kita harus lari dengan sekuat tenaga!

Sejak kapan toaci jadi begitu melankolis?

tanya Siau Jit sambil menghela napas.

Mungkin inila h sifat asli toaci, hingga disaat menghadapi ancaman ji wa, watak aslinya muncul Siau Jit termenung tanpa menjawab.

242 Blaaam ......!

lagi-lagi terjadi ledakan dahsyat, selapis lorong sebelah belakang longsor dengan hebatnya, bahkan merembet lorong disekelilingnya.

Berubah hebat paras muka Siau Jit, jeritnya.

Toaci, cepat lari!

sambil berkata ia langsung mendorong tubuh perempuan itu.

Sadar akan bahaya yang mengancam, Suma Tang-shia kabur ke depan sambil berteriak.

Hati hati saudaraku!

Tentu saja dia pun tahu, bila harus begitu terus, disamping harus menjaga keselamatannya, Siau Jit harus menghadapi longsoran lorong akibatnya mereka berdua bakal mati bersama.

Belum sempat Siau Jit menjawab, tanah liat diatas kepalanya kembali sudah longsor jatuh.

Sambil membentak, tubuhnya lari ke depan, sementara pedangnya menusuk ke atas.

Tusukan itu disertai desingan angin tajam, seketika bongkahan tanah yang longsor tertahan oleh tusukan pedangnya.

Ketika bongkahan tanah itu gugur ke bawah, tubuh Siau Jit sudah melesat maju sejauh satu tombak.

Ternyata dugaan mereka tak salah, lorong bawah tanah mulai longsor dengan hebatnya diiringi suara ledakan yang memekikkan telinga.

Siau Jit melancarkan tusukan berulang kali, menggunakan saat pedangnya menahan bongkahan tanah yang longsor, dia melompat ke depan sambil menyelamatkan diri.

Tubuhnya ibarat anak panah yang dibidikkan, pakaian serta kulit luar tubuhnya mulai tersayat dan mengucurkan darah.

Tentu saja pemuda ini tak ambil peduli dengan luka luar yang dideritanya.

Saat itu obor telah padam, tapi dengan longsornya lorong, cahaya matahari pun ikut menyorot masuk ke dalam, ditengah debu dan pasir yang beter bangan, mengandalkan ketajaman matan ya Siau Jit kabur terus ke depan.

Siau Jit tak bisa membayangkan bagaimana bentuk lorong rahasia itu, dia pun tak bisa membayangkan bagaimana bentuk permukaan tanah waktu itu.

243 Tiga belas jebakan maut betul betul sangat menakutkan, sekalipun tidak ia saksikan satu per satu, namun dari kenyataan yang terpampang didepan mata, bisa dibayangkan apa jadinya jika mereka terjebak dalam hutan bambu itu.

Tiga belas lapis alat perangkap yang membuang begitu banyak pikiran, tenaga dan uang, ternyata tujuannya hanya untuk mengurung seorang manusia idiot.

Berhargakah kesemuanya itu?

Sekarang Siau Jit mulai sangsi, mulai curiga, apakah otak Suma Tionggoan sekalian yang ada masalah.

Ledakan dan longsoran akhirnya berhenti, tapi Siau Jit sama sekali tidak menghentikan langkahnya, dia masih kabur terus ke arah depan.

Setelah kabur lagi sejauh tujuh tombak, sinar matahari terlihat mulai memancar masuk ke dalam lorong, kemudian tampak undak undakan batu menuju ke atas permukaan.

Suma Tang-shia sedang menanti dibawah undak undakan dengan wajah tegang, begitu melihat kemunculan Siau Jit, ia baru menghembuskan napas lega.

Sambil menghembuskan napas panjang, Siau Jit menyarungkan kembali pedangnya, kemudian dalam dua tiga langkah sudah tiba dihadapan Suma Tang-shia.

Dengan penuh kehangatan Suma Tang-shia menggenggam tangan Siau Jit, sekujur badannya gemetar keras, sampai lama kemudian ia baru berbisik.

Mari kita naik ke atas Bagaimana keadaan mereka?

Kami tidak apa apa suara dari Lui Sin menyahut, lalu sambil melongok tanyanya pula, bagaimana dengan kalian berdua?

Aku sangat baik, tapi Siau kecil terluka Hahaha, hanya luka lecet sambung Siau Jit sambil tert awa.

Hahaha, melihat kau masih bisa tertawa, kami pun merasa sangat lega ucap Lui Sin sambil tertawa tergelak.

Ditengah gelak tertawa, Suma Tang-shia dan Siau Jit sudah naik keatas permukaan tanah.

244 Ternyata mulut keluar dari lorong bawah tanah itu terletak ditengah barisan bunga, padahal sesungguhnya sudah berada ditepi barisan, karena tak perlu berjalan sejauh dua tombak, mereka sudah keluar dari kepungan barisan tersebut.

Jarak sejauh dua tombak tanpa persimpangan jalan, hal ini menunjukkan kalau tempat itu berada diluar barisan.

Begitu keluar dari lorong bawah tanah dan periksa sekejap sekeliling tempat itu, tiba-tiba Suma Tang-shia menghela napas, katanya.

Sekarang, kalau ada orang bilang Kelelawar adalah manusia idiot, akulah orang pertama yang tidak percaya Akupun tidak percaya kalau bilang dia adalah manusia buta Siau Jit menambahkan sambil menghela napas.

Tapi semuanya ini adalah kenyataan Apakah toaci benar benar yakin?

Padahal sudah menjadi rahasia umum, banyak cianpwee yang tahu hal ini dengan jelas Tapi letak lorong bawah tanah ini benar benar sudah diperhitungkan secara teliti kata Siau Jit setelah tertegun sejenak.

Siapa bilang tidak sambung Lui Sin, seorang buta ternyata sanggup menggali sebuah lorong bawah tanah secanggih ini, kejadian inipun sudah aneh dan tidak masuk akal Semua hasil karyanya sepanjang hidup memang membuat orang lain sukar percaya, hanya aku rasa pintu keluar lorong itu kelewat kebetulan bila berada disini Hal ini bukannya tidak mungkin, tapi memang rasanya kelewat kebetulan gumam Han Seng.

Anehnya Lui Sin menambahkan, kenapa dia tidak menyerang kita di pintu keluar lorong bawah tanah ini?

Dengan kepandaian silat yang kita miliki rasanya...........

Dia tidak melanjutkan perkataannya, tapi dengan ilmu silat yang dimiliki si Kelelawar, siapa pun bisa membayangkan bagaimana akibatnya bila dia melancarkan serangan bokongan di mulut lorong rahasia itu.

Siau Jit menghela napas panjang.

245 Sepak terjang orang ini memang jauh diluar dugaan siapa pun, tapi rasanya mustahil kalau dia kehilangan kewarasannya lagi gara gara dibuat kaget oleh suara ledakan yang maha dahsyat tadi, sehingga lupa berjaga jaga di pintu keluar lorong rahasia kata Suma Tang-shia, tapi bagaimana pun Mungkin saja apa yang kau duga memang benar ceritanya, yang penting kita semua telah berhasil lolos dari bencana besar ini, dan kejadian ini patut kita rayakan Selanjutnya apa yang harus kita lakukan?

tanya Lui Sin, kemana kita harus mencari jejak si Kelelawar?

Bila terkaanku tak salah, mungkin saat ini dia sudah jauh meninggalkan tempat ini kata Suma Tang-shia.

Kemudian setelah berhenti sejenak, tambahnya.

Biarpun perkampungan Suma-san-ceng luas, namun tidak banyak tempat yang bisa digunakan untuk bersembunyi, kecuali otaknya kembali tak waras, kalau tidak seharusnya diapun dapat menduga kalau kita bakal mencari jejaknya Mungkinkah seputar hutan bambu dipakai untuk bersembunyi?

Aku kuatir daerah seputar hutan bambu sudah rata dengan tanah Sembari bicara, perempuan itu melompat naik keatas sebatang pohon bunga dan menengok ke arah hutan bambu.

Siau Jit ikut melompat naik pula keatas sebatang pohon.

Tapi begitu melihat, paras muka Siau Jit berubah hebat, sementara Suma Tang-shia sendiri, meski sudah mempersiapkan diri secara baik, tak urung wajahnya berubah juga dengan hebatnya.

Ternyata pepohonan yang berada tiga tombak dihadapan mereka, kini sudah hancur berantakan dan rata dengan tanah, dinding pagar tinggi diluar barisan telah roboh, asap dan hancuran dinding berserakan dimana mana, sementara kobaran api masih menyala dengan hebatnya didalam hutan bambu.

Kendatipun jarak mereka dengan tempat itu cukup jauh, namun hawa panas yang menyengat terasa sampai disitu.

246 Tak tahan lagi Siau Jit menghembuskan napas dingin, ujarnya.

Toaci, aku rasa kobaran api yang sedang membara saat ini tak mungkin bisa dipadamkan dengan kekuatan manusia Tanpa bicara Suma Tang-shia mengangguk.

Kembali Siau Jit melanjutkan.

Untung saja ada selapis dinding pagar tinggi yang menghadang sehingga jilatan api tak akan merambat sampai disini Suma Tang-shia mengangguk.

Menurut dugaanku, memang inilah tujuan ayahku mendirikan pagar dinding tinggi Tapi siaute benar benar tak habis mengerti ujar Siau Jit sambil menggeleng.

Tidak mengerti kenapa harus membuang begitu banyak uang dan tenaga hanya untuk menyekap seorang manusia idiot?

Siau Jit tertawa getir.

Benarkah para jago dan para cianpwee itu begitu kolot dan keras kepala?

Suma Tang-shia tidak menjawab.

Dalam pada itu secara beruntun Lui Sin dan Han Seng telah melompat naik keatas pohon, setelah menyaksikan perubahan yang terpampang didepan mata, paras muka mereka ikut berubah.

Hari ini, boleh dibilang kita baru lolos dari kematian kata Siau Jit kemudian sambil berpaling kearah kedua orang itu.

Mula-mula Lui Sin tertegun, kemudian sahutnya.

Selamat dari bencana besar, dikemudian hari pasti banyak rejeki, seharusnya kejadian ini merupakan sesuatu yang patut digembirakan Hahaha, betul juga perkataanmu!

kata Suma Tang-shi a sambil tertawa, kemudian ia melayang t urun dari atas pohon.

Toaci, apa rencanamu selanjutnya?

tanya Siau Jit sambil ikut melompat turun dari atas pohon.

Kau takut si Kelelawar masih berada diseputar sini hingga jiwaku terancam?

Apa boleh buat, mau tak mau aku harus kuatir 247 Suma Tang-shia tertawa.

Seandainya dia mengincarku, sejak tadi dia pasti sudah bertindak sesuatu katanya.

Tapi sekarang keadaan sudah berubah, rahasianya sudah terbongkar, jadi dia bisa saja menyerang secara terbuka Jadi menurut pendapatmu?

Belum sempat Siau Jit menjawab, kembali Suma Tang-shia bertanya.

Menurut pendapatmu, tempat mana yang kau anggap paling aman?

Siau Jit hanya termenung, tidak menjawab.

Gagal menemukannya?

desak Suma Tang-shia lagi.

Siau Jit tertawa getir.

Maka Suma Tang-shia melanjutkan kembali perkataann ya.

Sesungguhnya sama sekali tak ada, justru dalam perkampungan Suma-san-ceng seharusnya masih terdapat sebuah tempat yang aman sekali Siau Jit tertegun.

Sambil tertawa tanya perempuan itu.

Ayahku bisa merancang sebuah tempat sempurna untuk mengurung orang, menurut pendapatmu, mungkinkah dia membangun pula sebuah tempat perlindungan lain yang jauh lebih kokoh?

Tentu saja bisa Pada umumnya, setiap perkampungan pasti memiliki sebidang bangunan yang dibuat secara kokoh dan kuat untuk persiapan bilamana diperlukan, tidak terkecuali perkampungan Suma-san-ceng Ehm Sekalipun tak ada tempat yang seratus persen aman, paling tidak, bukan satu pekerjaan yang mudah bagi si Kelelawar bila ingin menyerbu ke dalam tempat tersebut Dia tak akan memiliki begitu banyak waktu, lagipula sejak hari ini, kita pasti akan mengerahkan segenap kekuatan yang dimiliki untuk melacak dan menemukan jejaknya sepantasnya aku pergi bersama kalian, tapi, tentunya kaupun tahu dengan jelas bukan, manusia macam apakah diri toaci 248 Siau Toaci tak pernah suka berkelana ke mana mana, dalam hal ini aku tahu dengan jelas Jit mengangguk.

Walaupun aku tidak ikut serta, namun setiap saat kalian harus tetap menjalin kontak denganku, agar setiap saat aku bisa menyusul dan bergabung dengan kalian dalam menghadapi si Kelelawar Toaci tak usah kuatir Suma Tang-shia mengangguk, katanya lagi.

Biarpun ilmu pedangmu tangguh, tapi hati hati, sebab selain harus menghadapi si Kelelawar, kau pun harus berhati hati menghadapi Ong Bu-shia, aaai, bayangkan saja, mana mungkin toaci tidak kuatir?

Mati hidup sudah kemauan takdir, siaute janji akan berusaha untuk lebih berhati-hati Perlahan Suma Tang-shia berpaling kearah Lui Sin dan Han Seng, lalu katanya pula.

Bila kalian berdua tidak keberatan, aku ingin menahan Ciu Kiok bersamaku Lui Sin segera mengangguk.

Kami harus menjelajahi banyak tempat untuk melacak jejak si Kelelawar, memang kurang leluasa bila Ciu Kiok bersama kami katanya, bagaimana pun, perkampungan Suma-san-ceng jauh lebih aman daripada perusahaan piaukiok kami.

Bila nona bersedia merawatnya, kami pun semakin tenang Siaute pun tidak punya pendapat lain kata Han Seng.

Bagi Ciu Kiok sendiri, tentu saja dia terlebih tak punya pendapat lain.

----------------------------------------------------------------------------???

----------------------------------------------------------------------------IBAWAH cahaya api yang terang benderang, kecuali Lui Sin dan Han Seng tidak ambil peduli, kalau tidak, tak sulit untuk membaca berapa huruf yang terukir diatas panggung.

Sekalipun tulisan itu tidak jelas, lagipula guratannya cetek, namun secara dipaksakan masih bisa dikenali.

249 Hek Botan, Pek Huyong, Lau Ci ......

kontan Lui Sin berkerut kening, apa pula maksud tulisan itu?

Hanya delapan huruf yang tertera, sementara dibawah huruf Ci baru muncul satu guratan dan diatas guratan itu masih tersisa kuku yang berdarah.

Mungkin ke delapan huruf itu mewakili nama dari tiga orang ujar Siau Jit kemudian, Hek Botan.......

Tiba-tiba Han Seng menukas.

Hek Botan dari Shantung, Pek Huyung dari Hopak!

Bukankah kedua orang bocah perempuan itu sudah lama mengundurkan diri dari dunia persilatan?

tanya Lui Sin dengan sinar mata berkilat.

Siapakah mereka itu?

tanya Siau Jit.

Mereka adalah dua orang perempuan tersohor dari dunia persilatan banyak tahun berselang, konon ilmu silat mereka bagus, berwajah cantik rupawan, ada suatu masa, nama besar mereka berkibar dimana-mana, tapi kemudian mengundurkan diri dari keramaian dunia, konon dinikahi orang Kapan peristiwa itu terjadinya?

tanya Siau Jit lagi.

Mungkin sudah belasan tahun sahut Lui Sin, setelah termenung sejenak, lanjutnya, aku pernah bertemu Hek Botan, betul, dia memang cantik jelita, tapi kurang jelas sampai dimana kehebatan ilmu silatnya Kembali Siau Jit termenung tanpa bicara.

Tiba-tiba Han Seng berseru.

Jangan jangan yang dimaksud Lau Ci..............

mungkinkah Lau Ci-he dari See-hoa-kiam-pay?

Mungkin saja orang itu Lui Sin mengangguk berulang kali, mereka memang tokoh tokoh terkenal dari masa yang hampir bersamaan Siau Jit segera mencabut keluar potongan kuku yang tertancap diatas panggung, lalu ujarnya.

Tidak diragukan lagi berapa huruf ini digurat oleh si pemilik kuku, bukankah kuku ibu jari tangan kanan nona Hong terlepas dan hilang?

Betul sahut Lui Sin dengan wajah berubah, dia sambut potongan kuku itu dari tangan Siau Jit, setelah diamati sejenak, katanya lagi.

Seharusnya kuku ini berasal dari ibu jari, karena kita sudah yakin Hong-ji menemui ajalnya ditempat ini, aku rasa hal ini tak perlu diragukan lagi............

250 Mungkin nona Hong tahu kalau nyawanya bakal melayang, maka dia sengaja mengukir berapa huruf itu dengan harapan kita bisa menemukannya ujar Siau Jit, sayang ketika akan mengukir huruf He, tiba-tiba si Kelelawar turun tangan membunuhnya, lantaran dia orang buta, tentu saja tidak tahu kalau nona Hong telah meninggalkan petunjuk diatas lantai panggung...........

Petunjuk?

Lui Sin berkerut kening.

Il Apakah saudara Siau curiga kalau Hek Botan, Pek Huyung sekalian merupakan komplotan dari si Kelelawar?

tanya Han Seng.

Kalian jangan lupa, sewaktu berada diwarung teh, bukankah si Kelelawar pernah beritahu kepada Ciu Kiok sekalian bahwa dia semuanya memiliki tiga belas bilah golok Kelelawar, dimana dua belas bilah diantaranya telah diserahkan kepada dua belas orang wanita yang paling disukainya?

Tentu saja Lui Sin maupun Han Seng tidak melupakan akan hal ini.

Kembali Siau Jit berkata lebih jauh.

Kemungkinan besar Hek Botan, Pek Huyung, Lau Ci-he merupakan tiga diantara dua belas orang wanita itu Setelah menyapu seluruh ruangan itu sekejap, lanjutnya.

Ditinjau dari hasil pahatan yang ada disekeliling ruangan ini, bisa disimpulkan bahwa semua pahatan yang ada telah melalui seleksi dan pemilihan yang ketat dari si Kelelawar, bahkan hanya meninggalkan bagian yang terbaik dan tercantik ditempat ini Lui Sin maupun Han Seng mengangguk berulang kali.

Kembali Siau Jit berkata.

Kelelawar adalah orang buta, walaupun dia memiliki sepasang tangan yang cekatan, toh mustahil bisa meraba setiap wanita yang dijumpai untuk memilih sasaran yang paling cocok untuk dijadikan contoh pahatan Itu berarti dia mengandalkan...........

Telinga!

sela Siau Jit cepat, setelah termenung ujarnya, bila analisaku tak salah, dia pasti memilih sasarannya berdasarkan pembicaraan orang banyak, sama seperti ketika dia memilih Hek Botan, Pek Huyong.....

Dan Lau Ci-he ......

sela Han Seng.

251 Nama besar bocah perempuan ini jauh diatas nama Hek Botan maupun Pek Huyung ujar Lui Sin, bila beritaku tidak keliru, seharusnya perempuan ini masih berkeliaran dalam dunia persilatan Dalam sepuluh tahun terakhir, dalam dunia persilatan telah muncul seorang wanita pembunuh tanpa nama kata Han Seng, dia membunuh bukan lantaran uang, dia pun tak bisa diundang oleh siapa pun Dia membunuh bila ada orang menyalahi dirinya Lui Sin menyambung, barangsiapa menyalahi dirinya, biar kau kabur sejauh ribuan bahkan puluhan ribu li pun, dia tetap akan mengejar, mengejar untuk memenggal batok kepalanya Siau Jit tidak bicara, dia hanya mendengarkan dengan seksama.

Terdengar Lui Sin berkata lebih jauh.

Ada orang bilang, dia adalah jago pedang wanita dari See-hoa-pay yang bernama Lau Ci-he, menurut apa yang kutahu, banyak orang telah membuktikan kenyataan itu Aku kenal dengan orang ini ujar Siau Jit.

Dengan pandangan keheranan Lui Sin menatap wajah Siau Jit.

Dia adalah seorang wanita yang sepanjang tahun mengenakan baju berwarna putih, berambut panjang sebahu dan membawa sebilah pedang dengan gagang penuh batu permata Siau Jit menerangkan.

Aah, rupanya dia, darimana kau bisa mengenalnya?

Kalau dibicarakan kembali, sesungguhnya peristiwa itu merupakan peristiwa lama yang sudah terjadi dua tahun berselang, waktu itu dia terkena jebakan yang disiapkan Tui-hun-cap-ji-sat di mulut lembah Sat-hau-ko hingga terluka parah, disaat dia masih bertempur habis habisan, kebetulan aku lewat disana Dan kau telah selamatkan jiwanya?

Manusia macam apakah Tui-hun-cap-ji-sat, semestinya locianpwee tahu juga bukan?

Hahaha, aku pun tahu dengan jelas kalau kau adalah seorang pendekar sejati Setelah kejadian itu, dia jatuh pingsan karena lukanya yang parah, sebelum jatuh tak sadarkan diri ia sempat memberitahukan alamat rumahnya ......

252 Dan kau menghantarnya pulang ke rumah Tempat itu adalah sebuah perkampungan kecil, selain dia, hanya ada seorang nenek ditambah dua orang dayang kecil.

Konon nenek itu adalah inang pengasuhnya Setelah termenung sebentar, tambahnya.

Hanya itu saja yang kuketahui, dia termasuk orang yang tidak begitu suka bicara dengan orang lain, diapun tak pernah menyinggung masa lalu.

Secara beruntun aku berdiam selama tiga hari disana, ketika melihat kondisi lukanya telah membaik, aku pun berpamitan Apa pula yang kemudian ia katakan?

tanya Han Seng.

Dia bilang, suatu saat pasti akan membalas budi ini, sebab dia paling tak suka berhutang budi kepada orang lain, bila aku membutuhkan, asal sepatah kata saja, terlepas persoalan apa pun, dia bersama pedangnya pasti akan segera datang Bisa membedakan mana budi mana dendam, perempuan ini sesungguhnya bukan orang jahat puji Han Seng.

Aku rasa, dimasa lampau mungkin ia pernah mengalami pukulan batin yang amat besar, sehingga sifatnya berubah dan sangat membenci orang lain Seharusnya perempuan semacam ini tak mungkin akan jalan bersama si Kelelawar Bila permasalahan ini tak ada sangkut paut dengan dirinya, aku rasa persoalan jadi semakin rumit Han Seng manggut manggut.

-n Mustahil Hong-ji kenal dengan perempuan ini katanya, bisa jadi dia tinggalkan nama tersebut diatas panggung karena pernah mendengar si Kelelawar menyinggungnya Jangan jangan setelah peristiwa ini, rencana berikut si Kelelawar adalah pergi mencari mereka dan membunuhnya?

tanya Lui Sin.

Aku rasa kemungkinan ini besar sekali seru Siau Jit dengan wajah berubah.

Lau Ci-he tinggal dimana?

tanya Lui Sin.

Diseputar sini, paling setengah hari perjalanan Ooh!

253 Karena itu gampang sekali bila kita ingin bertanya kepadanya ujar Siau Jit, setelah berhenti sejenak, dengan wajah berubah tambahnya, bila Kelelawar ingin membunuhnya, tentu saja hal ini mudah sekali untuk dia lakukan Kalau begitu kita harus secepatnya meninggalkan tempat ini sambil berkata Lui Sin mulai mengawasi tabung logam darimana mereka terperosok tadi.

Han Seng ikut memandangnya sekejap, kemudian ujarnya.

Aku rasa tidak gampang untuk tinggalkan tempat ini melalui tabung logam itu Setelah memandang sekejap sekeliling ruangan, ia menambahkan.

Aku yakin didalam ruang rahasia ini pasti terdapat jalan keluar kedua Waktu itu api yang berada ditangan mereka bertiga, ada dua telah padam, obor ditangan Lui Sin pun sudah mulai redup.

Cepat Siau Jit merogoh ke dalam sakunya, ambil keluar sebuah obor lagi, yakni obor terakhir yang dibawa.

Ia dekatkan cahaya api dengan permukaan lantai, lalu ikut pula berjongkok.

Saudara cilik...........

seru Lui Sin keheranan.

Diatas lantai terdapat bekas kaki, asal mengikuti arah bekas kaki itu, siapa tahu kita bisa temukan pintu keluar Siau Jit menerangkan.

Seperti menyadari akan sesuatu, Lui Sin berseru.

Aaah betul, tidak mungkin si Kelelawar ikut terperosok dari atas sana Bekas kaki dilantai sangat kalut, namun secara lamat masih terlihat dengan nyata kalau menuju ke arah dinding dimana bertumpuk aneka jenis payudara.

Siau Jit bergerak cepat, ia melompat ke arah sana.

Dipandang dari jauh masih tidak terasa apa apa, tapi begitu mendekat, kontan Siau Jit merasa kepalanya pusing matanya berkunang kunang, perasaan itu seratus persen dapat dipastikan karena pengaruh dari aneka jenis payudara itu.

Walaupun semua payudara itu terbuat dari kayu, namun warnanya hampir tak berbeda dengan warna kulit pada umumnya, bukan saja akurat pahatannya, bahkan tak jauh berbeda dengan bentuk aslinya.

254 Dipandang sekilas, pada hakekatnya seperti ada ratusan orang gadis yang sama-sama menanggalkan bajunya dan maju menyongsong kehadiran mereka.

Saat itu kendatipun gerakan tubuh Siau Jit tidak terlalu cepat, namun ia merasa pandangan matanya kabur.

Lui Sin serta Han Seng memunyai perasaan yang sama, ketika bergerak mengintil dibelakang Siau Jit, nyaris Han Seng menumbuk diatas dinding ruangan.

Menyaksikan kenyataan itu, sambil menghela napas gumamnya.

Kelelawar betul betul bukan manusia Jika ada yang mengatakan dia bukan orang sinting, akulah orang pertama yang protes gumam Lui Sin pula.

Siau Jit tertawa getir.

Andaikata tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri, dipukul sampai mampus pun aku tak akan percaya kalau dikolong langit ternyata terdapat tempat semacam ini Rasanya bukan hanya kau yang berpendapat begitu kata Han Seng sambil menyulut obor kedua.

Pada saat yang bersamaan Lui Sin menyulut pula sebuah obor.

Pandangan mata mereka mulai bergerak diantara tumpukan payudara itu.

Dibawah cahaya api, bayangan bergerak mengikuti pergeseran tubuh mereka, gerakan semacam ini membuat setiap pahatan payudara itu berubah semakin nyata.

Lui Sin dan Han Seng adalah jago jago kawakan, semasa muda dulu mereka pun pernah menjalani kehidupan mogor, tapi sejujurnya, kedua orang itu belum pernah menyaksikan payudara dalam jumlah sebanyak itu.

Jangan lagi Siau Jit, pemuda kemarin sore.

Setiap payudara yang ada disana tampak begitu indah, begitu memukau, membetot sukma, sulit bagi Siau Jit untuk tidak melotot berapa kejap lebih lama.

Bagaimanapun juga dia tetap seorang manusia biasa, begitu pula dengan Lui Sin serta Han Seng, oleh sebab itu pandangan mata mereka bergerak tidak terlampau cepat.

Tiba-tiba sinar mata Siau Jit membeku, serunya.

Disini terdapat sebuah rongga!

sambil berkata, ia mendekatkan obornya diatas dinding.

255 Dibawah cahaya api, mereka bertiga dapat melihat dengan nyata bahwa rongga itu memanjang lurus ke atas.

Makin dekat api obor itu dengan rongga didinding, makin keras goncangan lidah api karena terhembus angin.

Pada saat bersamaan, Siau Jit pun merasakan datangnya hembusan angin dari balik rongga itu, serunya kemudian.

Pintu rahasia berada disini!

Ia pun mulai mengetuk sepasang payudara yang tertempel diatas dinding itu.

Betul saja, terdengar suara pantulan yang membuktikan dugaannya tak salah, dia mencoba mendorong sepenuh tenaga, namun dinding itu sama sekali tak bergerak.

Aku yakin pintu rahasia ini tak mungkin bisa dibuka secara gampang kata Lui Sin.

Mungkin sudah disantek dari luar kata Han Seng, bagaimana sekarang loko?

Hancurkanl perintah Lui Sin tegas, sambil berkata dia loloskan golok emasnya dan langsung dibacok ke depan.

Dimana cahaya golok berkelebat, berapa buah payudara terbabat hingga terbelah jadi berapa bagian.

Lui Sin segera membuang obornya ke tanah, lalu dengan sepasang tangan menggenggam golok, dia mulai membacok kian kemari.

Siau Jit maupun Han Seng tidak tinggal diam, mereka cabut pedang dan membantu Lui Sin membabat bagian disekelilingnya.

Diantara ayunan golok dan pedang, payudara berguguran ke tanah menjadi hancuran serbuk kayu, permukaan dinding pun mulai merekah dan muncul sebuah lubang besar, dari sana terasa angin dingin berhembus masuk ke dalam.

Lui Sin membentak nyaring, ayunan goloknya semakin cepat.

Ditengah bentakan, lubang diatas dinding semakin membesar, dalam waktu singkat lebarnya sudah mencukupi seseorang untuk berjalan lewat.

Sudah cukup!

seru Siau Jit.

Lui Sin menyahut sambil menarik kembali goloknya, sedang Siau Jit langsung melangkah maju menerobos masuk ke balik lubang.

256 Suasana diluar lubang gua itu gelap gulita, dibawah cahaya api, lamat lamat terlihat ada sebuah lorong bawah tanah yang membe ntang jauh ke depan, disana tak nampak seorang man usia pun.

Menyusul kemudian Lui Sin dan Han Seng ikut menerobos masuk, tanya Han Seng.

Apakah ada orang disana?

Tidak ada Tempat apakah itu?

Naik saja keatas, semua akan jelas dengan sendirinya Didepan pemuda itu terdapat sebuah undak undakan batu, dia pun melangkah naik ke atas.

Buru buru Lui Sin dan Han Seng mengintil dibelakangnya.

Undak undakan batu itu tidak terlalu panjang, diujungnya terdapat sebuah lapisan batu.

Siau Jit berhenti didepan lapisan batu itu, membuang obor lalu sambil membentak nyaring dia lancarkan sebuah pukulan ke depan.

Blaaaam!

lapisan batu itu mencelat ke depan, sedang Siau Jit berikut pedangnya meluncur keluar.

Disaat bersamaan, pedangnya sudah dilintangkan didepan dada untuk melindungi seluruh bagian tubuhnya.

Tubuhnya melambung setinggi satu tombak lebih, ketika meluncur ke luar, Siau Jit dapat melihat dengan jelas bahwa pintu keluar dari ruang rahasia itu terletak disisi serambi ruangan, menjadi satu dengan sebuah lampu batu, sekeliling sana pun tak nampak manusia.

Lui Sin menyusul ikut melompat keluar, setelah menyapu sekejap tempat itu, serunya.

Pintu rahasia ini dibuat amat sempurna Betul sambung Han Seng yang baru melompat keluar, sekalipun kita sudah berulang kali melewati serambi ini, ternyata tak pernah menaruh curiga dengan lamu batu itu 257 Tentu saja kita tak menaruh perhatian, karena memang tak ada kebutuhan untuk menggeser lampu itu Sembari menggeser kembali lampu batu itu ke posisi semula, ujar Siau Jit.

Lebih baik kita tutup kembali pintu keluar ini, siapa tahu suatu hari kita masih membutuhkannya Lui Sin mengangguk.

Si Kelelawar telah membuang banyak waktu, tenaga, pikiran dan beaya untuk membangun ruang bawah tanah, memang tidak mungkin dia tinggalkan dengan begitu saja, setelah periksa keadaan Lau Ci-he, lebih baik kita balik lagi kemari untuk memeriksa lebih seksama, bila beruntung, siapa tahu bisa bertemu dengan si Kelelawar!

Siau Jit mengiakan dan segera tinggalkan tempat itu.

Lui Sin dan Han Seng mengintil dibelakangnya dengan ketat.

Ketika mereka bertiga balik kembali ke ruang utama kuil Thian-liong-ku-sat, apa yang terlihat didepan mata membuat paras muka mereka sekali lagi berubah.

Tadi, mereka tinggalkan kuda tunggangan ditengah semak dalam halaman luar bangunan kuil, kini, walaupun binatang tunggangan itu tidak pergi jauh, namun semuanya sudah roboh terkapar.

Ke tiga ekor kuda itu tidak terkecuali, semuanya muntah darah, tergeletak ditengah semak dan sama sekali tak bergerak.

Dengan sekali lompatan Siau Jit menghampiri kuda tunggangannya, ketika diperiksa, ia jumpai sebuah bekas telapak tangan berwarna ungu kehitam hitaman tertera diatas tengkuk kuda.

Keadaan dari kuda tunggangan Lui Sin maupun Han Seng tidak jauh berbeda.

Setelah memeriksa sejenak, sambil menarik napas dingin gumam Siau Jit.

Sebuah pukulan yang amat jahat dan keji!

Aku lihat mirip sekali dengan ilmu pukulan Tay-jiu-eng-kang dari aliran Mit-oong?

kata Lui Sin dengan kening berkerut.

Yaa, memang mirip sekali 258 Mungkinkah si Kelelawar yang melancarkan serangan mematikan ini?

Bila perbuatan Kelelawar, tak diragukan lagi tujuannya adalah untuk memperlambat kedatangan kita di kediaman Lau Ci-he Jangan jangan selama ini dia bersembunyi terus disekitar sini dan mendengar pembicaraan kita dalam ruang rahasia tadi?

Bila begitu, orang ini amat berbahaya, bukan saja teliti dalam bertindak bahkan amat licik Maksud saudara Siau, dia bahkan sudah mempertimbangkan petunjuk apa yang mungkin bisa kita temukan dalam ruangan itu, dan menduga mungkin kita akan mencari Lau Ci-he untuk mengorek keterangan?

Tapi orang ini pernah jadi orang idiot seru Lui Sin.

Siapa pula yang dapat memastikan sekarang dia telah berubah jadi bagaimana?

Lantas kita...........

Segera berangkat tukas Siau Jit, sepanjang perjalanan nanti, bila bertemu kuda, mau pinjam, mau beli bahkan bila perlu dirampas pun, kita harus dapatkan kuda tunggangan dengan segera, bila tak menemukan, terpaksa ia lanjutkan perjalanan dengan berlari Lui Sin periksa sejenak keadaan cuaca, kemudian serunya.

Dengan menunggang kuda tercepat pun, tengah malam nanti kita baru akan tiba ditempat tujuan, moga moga saja kedatangan kita belum terlambat!

Belum selesai ia bicara, Siau Jit telah melesat ke muka dengan kecepatan tinggi, Lui Sin dan Han Seng segera menyusul dari belakang.

Mereka bertiga bagaikan tiga panah yang terlepas dari busur, melesat ke depan dengan cepatnya.

ooOOoo Malam tidak terlalu kelam.

Angin musim gugur berhembus kencang, rembulan yang redup tergantung jauh diatas awan.

259 Suasana ditengah perkampungan sangat hening, dari empat orang yang ada, tiga diantaranya sudah terlelap tidur, terkecuali Lau Ci-he.

Perkampungan itu terletak ditengah lembah, walaupun jarak dari kota terdekat tidak terlampau jauh, namun tempat tersebut merupakan sebuah tempat yang sepi, terpencil dan hening.

Ayah Lau Ci-he adalah seorang pertapa, dialah yang membangun perkampungan ini, namun ia tak pernah punya niatan untuk membiarkan putrinya berdiam terus disana.

Dia hanya memiliki seorang putri yakni Lau Ci-he, tak heran kalau sejak kecil sudah memanjakan dirinya, kuatir putrinya diusik orang, maka sejak masih usia muda telah dilatih kepandaian silat yang tangguh.

Dulunya dia adalah seorang jago pedang kenamaan dari perguruan See-hoa-kiam-pay, meski tak suka mencari nama, namun lantaran hatinya yang luhur dan kungfunya yang lihay, dalam deretan perguruan See-hoa-kiam-pay, ia termasuk tiga besar.

Lau Ci-he pun merupakan seorang peremuan berbakat bagus, ketika menginjak usia delapan belas, dia telah mewarisi tujuh puluh persen ilmu silat ayahnya.

Karena itulah sang ayah dengan perasaan lega membiarkan dia berkelana dalam dunia persilatan seorang diri.

Apa mau dikata, kelananya dalam dunia persilatan bukan saja menghasilkan nama besar, bahkan mendatangkan pula sebuah musibah yang amat besar.

Kalau dia tidak terlalu kesohor, tak mungkin si Kelelawar akan datang mencarinya.

Kalau sang Kelelawar tidak penuju kepadanya, ayahnya yang lihay pun tak bakal mati ditangan Kelelawar.

Akhirnya si Kelelawar memahat sebuah patung kayu yang persis dengan tubuhnya, tapi meninggalkan sebilah golok Kelelawar untuk kenangan.

Dia merupakan satu diantara dua belas orang wanita yang paling disayang dan paling menarik perhatian si Kelelawar.

Mungkin ada sementara orang menganggap hal ini merupakan sebuah kebanggaan.

Tapi baginya, peristiwa ini merupakan satu aib yang sangat besar, satu penghinaan yang sangat memalukan.

260 Maka wataknya berubah jadi keji, tidak manusiawi, tindak tanduk dan sepak terjangnya keji, telengas, tak kenal ampun.

Dan karena itu pula dia tak pernah lagi menggunakan Lau Ci-he sebagai namanya.

Hingga kini, dia tak pernah melupakan aib serta penghinaan ini, selama hampir sepuluh tahun, meski banyak orang merasa keheranan dan tak bisa menebak siapa gerangan dirinya, namun ia tak pernah bisa membohongi diri sendiri.

Lau Ci-he tak lebih hanya sebuah nama, sekalipun tidak digunakan, sesungguhnya bagi dia sendiri tak jauh berbeda.

Manusia tetap manusia yang dulu, bukan karena tidak menggunakan lagi nama tersebut maka semua aib dan penghinaan itu bisa tercuci bersih dan lenyap tak berbekas.

Mengingat serta mengenang suatu kejadian adalah sesuatu yang mudah, namun untuk melupakan satu peristiwa, jelas bukan suatu hal yang gampang, kecuali dia berubah menjadi seorang idiot.

Tentu saja Lau Ci-he bukan orang idiot.

ooOOoo Malam musim gugur yang sama, cahaya rembulan yang tak berbeda.

Ditengah malam seperti inilah, dulu ia bertemu Kelelawar, selama belasan tahun, setiap bertemu musim gugur yang diterangi cahaya rembulan, perasaan ngeri, perasaan seram bercampur gusar selalu muncul dan menyelimuti perasaan hatinya.

Dalam keadaan seperti ini, Lau Ci-he akan bersembunyi didalam kamarnya, menutup rapat pintu dan jendela dan berusaha mengen dalikan perasaan ngeri, seram dan takutnya yang telah mengakar.

Tidak terkecuali pada malam ini.

Cahaya lentera yang menerangi ruangan, lembut bagai kedele, Lau Ci-he meski sudah berbaring diatas ranjang namun belum terlelap tidur.

Dia mementang lebar matanya sambil memandang ujung kelambu, pikirannya kosong, dibawah redupnya cahaya, ia tampak masih cantik bak bidadari, meski diantara jidatnya telah muncul berapa kerutan.

261 Dia tamak jauh lebih tua daripada usia sesungguhnya.

Perasaan takut atau gusar memang sangat gamang menggeroti usia, membuat seseorang lebih cepat tumbuh tua.

Begitu pula perasaan murung dan kesal.

Tapi ada berapa banyak manusia yang dapat melepaskan diri dari kesemuanya itu?

ooOOoo Kertas diatas daun jendela tampak putih pucat tertimpa cahaya rembulan, Brrruk!

tiba-tiba muncul bayangan seekor Kelelawar diatas kertas yang pucat.

Spontan Lau Ci-he melompat bangun dari atas ranjang, menggerakkan tangan kirinya, menyingkap kelambu didepan pembaringan.

Dalam waktu singkat diatas kertas jendela telah bertambah dengan begitu banyak bayangan Kelelawar, Brukk, bruuk....!

bunyi benturan bergema silih berganti.

Pucat pias wajah Lau Ci-he setelah menyaksikan kejadian itu, serta merta tangannya meraih pedang yang selalu diletakkan disamping bantal.

Sarung pedang penuh bertaburkan batu permata, dari sarungnya saja sudah diketahui kalau pedang andalannya adalah sebilah pedang kenamaan.

Bersamaan waktu tangan kanannya telah menggenggam diatas gagang pedangnya.

Bruuk, brukkk....!

suara benturan masih bergema tiada hentinya, kemudian ......

Kraaak!

tiba-tiba saja daun jendela terbuka lebar, angin dingin segera berhembus masuk ke dalam ruangan.

Berapa ekor Kelelawar berbadan besar ikut terbang masuk melalui jendela yang terbuka.

Lau Ci-he mulai bergidik, mulai merinding, bulu kuduknya bangun berdiri, sreeeet!

dengan cepat ia cabut keluar pedangnya.

Mata pedang bening bagai air telaga, membiaskan cahaya tajam dibawah sinar lentera.

Dalam waktu singkat berapa ekor Kelelawar telah menerkam ke hadapannya.

262 Cepat perempuan itu menggerakkan pedang, melepaskan serangkaian babatan, cahaya pedang yang berlapis membias diangkasa, dalam waktu singkat berapa ekor Kelelawar terbabat hingga terbelah jadi dua bagian.

Kembali berapa ekor Kelelawar menerjang masuk lewat jendela yang terbuka, suara pekikan aneh menggema dari empat penjuru, menggidikkan perasaan siapa pun yang mendengar.

Lau Ci-he membentak nyaring, tubuhnya melambung ke tengah udara, Braaaaakl ia terjang atap rumah hingga jebol, tubuhnya langsung meluncur keluar dari ruangan.

Bagai anak panah yang terlepas dari busur dia melesat keluar, cahaya pedang berputar melindungi badan, setelah bersalto di udara dan bergulingan diatas atap, dengan cepat ia melejit sambil melompat bangun.

Suara tertawa yang menakutkan segera berkumandang dari samping tubuhnya.

Dengan cekatan Lau Ci-he berpaling, dan dia pun melihat si Kelelawar!

Kelelawar tanpa sayap!

Saat itu sang Kelelawar berada dipuncak bangunan, bajunya yang berwarna putih berkibar terhembus angin, rambutnya yang beruban ikut berkibar dimainkan angin malam.

Rembulan tepat bersinar dari belakang tubuhnya, dipandang sekilas, dia seolah hendak terbang ke udara, meluncur ke dalam rembulan.

Dengan geram Lau Ci-he menatap Kelelawar, sambil menuding orang tua itu jeritnya.

Kau, ternyata benar-benar kau!

Kelelawar tertawa terkekeh.

Lama tak bersua, apakah tubuhmu tetap langsing padat berisi seperti dahulu?

Lau Ci-he tidak menjawab, namun tubuhnya yang terhembus angin tampak gemetar keras.

Kembali si Kelelawar berkata sambil tertawa.

Kau tak usah takut, kedatanganku malam ini bukan untuk melucuti lagi pakaianmu..............

Tutup mulut!

hardik Lau Ci-he.

263 Suaranya yang merdu kini berubah seakan bukan suaranya lagi, suara itu berubah karena terkejut bercampur marah yang membara, dia bahkan seolah telah berubah menjadi orang kedua.

Dari balik pupil matanya terpancar amarah yang membara, namun terselip pula perasaan takut, ngeri yang luar biasa.

Sudah begitu lama kita tak bersua, tentunya harus berbicara secara baik baik bukan?

ucap Kelelawar.

Apakah kau belum cukup mencelakai aku?

Mau apa lagi kau datang mencari aku?

teriak Lau Ci-he keras.

Si Kelelawar menggeleng.

Kau keliru besar katanya, bukan saja aku tidak mencelakaimu, bahkan telah kubuatkan sebuah patung yang indah sebagai kenangan, kau seharusnya berterima kasih kepadaku!

Saking gusarnya Lau Ci-he tertawa keras.

Terima kasih, aku memang amat berterima kasih, sayang selama ini aku tak punya kesempatan untuk menyampaikan rasa terima kasihku padamu, karenanya aku selalu merasa menyesal Dengan cara apa kau hendak berterima kasih padaku?

tanya Kelelawar sambil tertawa, apakah hendak membacok batok kepalaku dengan pedangmu itu?

Kalau hanya membacok batok kepalamu, bagaimana mungkin bisa menyatakan rasa terima kasihku?

Lau Ci-he tertawa dingin.

Lantas apa yang hendak kau lakukan?

Akan kucincang tubuhmu hingga hancur berkeping, kemudian membakar tulangmu hingga hancur menjadi abu!

sumpah Lau Ci-he sambil menggigit bibir.

Kelelawar segera menghela napas panjang.

Aaai, ternyata kau begitu membenciku, untung selama ini aku mempunyai tempat yang aman untuk bersembunyi Perkamungan Suma-san-ceng?

Hahaha, ternyata tidak sedikit urusan yang kau ketahui 264 Bukankah kau telah menjadi orang idiot?

tanya Lau Ci-he sambil menatap tajam wajahnya.

Justru karena itulah aku dapat hidup hin gga sekarang, jago berhati pendekar macam suma Tionggoan tak bakal turun tangan keji terhadap seorang manusia idiot Padahal kau sama sekali tidak idiot Kelelawar tertawa seram.

Mereka adalah orang orang lihay, kalau tidak berlagak idiot, mana mungkin bisa mengelabuhi orang orang itu?

Maksudmu, dalam keadaan terluka parah, kau hanya sementara waktu berubah jadi manusia idiot, ketika lukamu telah sembuh, dengan cepat pikiranmu pulih kembali jadi normal?

Padahal proses berjalan tidak terlalu cepat!

Lau Ci-he tertawa dingin.

Sejak awal aku sudah berkata, Suma Tionggoan hatinya kelewat lembut, persis seperti pikiran wanita Sayangnya mereka para cianpwee enghiong hohan selalu menganggap tinggi pendapat dan pandangannya, tak bakal akan menaruh perhatian atas pandangan kaum muda Sayang dia mati kelewat cepat, kalau tidak biar tahu apa akibatnya bila punya pikiran kelewat lembek seperti pikiran wanita Yaa, memang patut disayangkan Sayangnya lagi, aku sama sekali tak tahu kalau pikiranmu telah normal kembali lanjut Lau Ci-he, kalau tidak, akulah orang pertama yang akan menyerbu masuk ke dalam perkampungan Suma-san-ceng dan menghabisi nyawamu Betul, betul sekali si Kelelawar mengangguk, memang hal ini patut disayangkan Manusia laknat berhati iblis macam kau ternyata mempunyai nasib sebagus itu, bila Thian punya mata, aku benar benar tak percaya dengan kenyataan ini keluh Lau Ci-he pedih.

Kontan saja si Kelelawar tertawa tergelak.

265 Hahaha, bila Thian punya mata, Dia tak nanti akan membiarkan manusia macam aku lahir di dunia ini Thian memang tak punya mata, masih dibilang jaring langit tersebar diseantero jagad, manusia dosa tak akan luput dari hukuman.....

makin bicara, Lau Ci-he merasa makin geram.

Kau tak usah mengutuk langit, bila tiada manusia jahat macam diriku, darimana kalian bisa tahu betapa menarik dan indahnya manusia manusia baik?

Lau Ci-he terbungkam.

Kembali Kelelawar berkata.

Karena ada jahat, kebaikan baru terlihat keindahannya, sekalipun kemauan takdir memang tak adil, sesungguhnya mengandung arti, makna dan tujuan yang mendalam Lau Ci-he semakin tak mampu bicara.

Kembali si Kelelawar berkata.

Aku sadar, bila kau tahu kalau aku berada dalam perkampungan Suma-san-ceng, sudah pasti timbul keinginanmu untuk datang membunuhku Sayang aku tak bisa masuk ke sana Ilmu barisan yang dimiliki Suma Tionggoan memang sangat hebat, dia patut diacungi jemol Dalam kenyataan kau berhasil melarikan diri, aku percaya dalam alam baka pun dia tak bisa beristirahat dengan mata meram Sudah seharusnya dia tahu kalau manusia semacam aku tak gampang untuk diselesaikan dengan begitu saja Lau Ci-he menghela napas panjang.

Menurut aku, Suma Tionggoan lah manusia idiot sesungguhnya!

Mendengar itu, si Kelelawar tertawa tergelak.

Sambil menarik muka, sepatah demi sepatah ujar Lau Ci-he.

Sejak awal aku sudah berniat untuk membuat perhitungan denganmu, kebetulan sekali kau datang hari ini, dengan begitu keinginanku dapat terkabulkan Kau masih bukan tandinganku ejek Kelelawar sambil tertawa.

266 Bukan tandingan atau tidak, hingga sekarang masih merupakan sebuah tanda tanya besar Wah, kelihatannya selama banyak tahun terakhir, kau telah membuang banyak pikiran dan tenaga untuk memperdalam ilmu silatmu Dan malam ini, aku pun tidak meneguk arak iblis Kelelawar mu Sekalipun begitu, kau tetap masih bukan tandinganku Lau Ci-he tertawa dingin.

Kelelawar termenung berapa saat, katanya kemudian.

Aku sama sekali tak berniat membunuhmu, kalau tidak, pada pertemuan pertama aku telah menghabisi nyawamu Mau tak mau Lau Ci-he harus mengakui bahwa apa yang ia katakan memang merupakan satu kenyataan.

Kau pun seharusnya tahu bahwa aku termasuk seoran g lelaki yang mengerti bagaimana mengasihi dan menyayangi wanita cantik si Kelelawar menambahkan.

Lantas mau apa malam ini kau datang kemari?

hardik Lau Ci-he.

Datang untuk minta kembali semacam benda Golok Kelelawar?

seru Lau Ci-he tanpa sadar.

Betul, golok Kelelawar, golok Kelelawar yang pernah kuhadiahkan kepadamu waktu itu Lau Ci-he keheranan, ia sampai terperangah.

Tedengar si Kelelawar berkata lebih jauh.

Golok itu telah kuhadiahkan kepadamu, sesungguhnya tidak pantas bila kuminta kembali Lau Ci-he hanya tertawa dingin, sama sekali tidak menanggapi.

Kembali si Kelelawar berkata.

Tapi sekarang, mau tak mau aku harus minta kembali golok Kelelawar itu Kenapa?

tanya Lau Ci-he tanpa sadar.

Aku tak bisa menjawab, itu rahasiaku Kontan Lau Ci-he tertawa dingin.

267 Bukankah kau amat membenciku?

Muak padaku?

Dendam padaku?

Seharusnya kau tak ambil peduli dengan golok Kelelawar itu bukan?

lanjut si Kelelawar sambil tertawa.

Apa maksudmu?

Seharusnya kau tak peduli bila menyerahkan kembali golok itu kepadaku Kau seakan sudah melupakan semua perkataan yang pernah diucapkan waktu itu jengek Lau Ci-he sambil tertawa dingin.

Tidak, aku pernah berkata, golok Kelelawar itu terkait dengan sejumlah harta karun yang tak ternilai jumlahnya, aku menghadiahkan golok itu untuk perempuan yang paling kucintai karena aku ingin menggunakan benda itu untuk membayar semua kerugian yang telah mereka derita Kau memang mengatakan begitu waktu itu Aku bahkan pernah berkata, hanya perempuan pintar yang bisa mengetahui rahasia dibalik kesemuanya itu, dan bila ia masih mendendam maka ia bisa menggunakan harta karun tersebut untuk menciptakan sebuah bencana besar yang amat menakutkan Aku percaya inilah tujuan utama mu!

Si Kelelawar menghela napas.

Aaai, tapi sepuluh tahun sudah lewat dan kalian tak ada yang berhasil mengetahui rahasia itu, maka pada akhirnya aku putuskan untuk menarik kembali semua golok Kelelawar yang ada Nada suaranya berat dan serius, bahkan terselip perasaan terpaksa dan apa boleh buat.

Hanya disebabkan alasan itu?

tanya Lau Ci-he sambil menatap dingin wajah Kelelawar.

Waktu selama sepuluh tahun sudah lebih dari cukup, tapi terbukti kalian tak pernah berhasil menemukan rahasia yang terkandung, hal ini kalau bukan disebabkan kalian kelewat bodoh, berarti kalian memang tak punya rejeki untuk menikmati harta karun yang telah kutinggalkan Lau Ci-he kembali tertawa dingin.

268 Kau yang membuat golok itu, kenapa pula harus menarik kembali golok tersebut?

Memangnya kau sudah lupa dimana harta karun itu kau pendam?

Mana mungkin aku lupa si Kelelawar menggeleng, golok tersebut harus kuminta kembali karena benda itulah merupakan anak kunci untuk membuka pintu gerbang ruang harta Ooh.....

Ada orang berkata, perempuan yang pintar jarang berparas cantik, perempuan yang berparas cantik jarang berotak encer, kalau dipikirkan kembali sekarang, rasanya ucapan itu memang sangat masuk diakal Lelaki pun sama saja balas Lau Ci-he tertawa dingin, contohnya makhluk tua jelek busuk macam kau, kalau sudah bertampang sejelek inipun masih tak berotak, hahaha, benar benar kelewat tragis dan menyedihkan Ternyata si Kelelawar tidak naik darah, emosi pun tidak.

Kembali Lau Ci-he berkata.

Kejadian ini sudah lewat sepuluh tahun, aneh dan luar biasa bila kau si mata buta masih mampu menarik kembali semua golok yang pernah dihadiahkan kepada orang lain Si Kelelawar tertawa seram.

Ketika akan menghadiahkan golok itu kepada orang lainpun, aku telah menghabiskan banyak waktu dan pikiran, tidak gampang untuk menemukan seorang wanita cantik, apalagi berjumlah dua belas orang, toh pada akhirnya tujuanku tercapai juga.

Jadi sekarang, meski agak sulit untuk menarik kembali golok golok itu, pada akhirnya aku yakin tetap akan berhasil Dia berbicara dengan nada yang begitu yakin, memang tidak gampang bagi seorang buta untuk memiliki keyakinan sedemian besar.

Kembali Lau Ci-he tertawa dingin.

Aneh jika malam ini kau masih bisa tinggalkan tempat ini dalam keadaan bernyawa ejeknya.

Sepuluh tahun tak bersua, seharusnya ilmu silat yang kau miliki sudah bertambah maju?

269 Tidak sulit bila kau ingin tahu dengus Lau Ci-he sambil memutar pedangnya.

Betul, memang gamang sekali setelah bertepuk tangan dan tertawa, lanjut si Kelelawar, tapi sayangnya, sepuluh tahun berselang kau sudah bukan tandinganku, percaya saat inipun sama saja Kau seperti lupa, dengan cara apa kau membekukku pada sepuluh tahun berselang seru Lau Ci-he sambil mendengus.

Hahaha, karena kuatir merusak dan melukai tubuhmu yang cantik dan menawan, aku memang telah menggunakan arak Kelelawar Atau dengan perkataan lain, sejak waktu itu kau sudah tak yakin mampu menaklukkan aku dengan ilmu silat Oleh karena dibatasi oleh rasa takut rusak dan terluka, tentu saja aku tak bisa bertarung seenaknya, tapi keadaan sekarang jauh berbeda, apa pun yang bakal menimpa dirimu, itu bukan urusanku lagi, aku tak ambil peduli Bila terpaksa kau ingin membunuhku?

Oleh sebab itu lebih baik kau serahkan kembali golok itu, akupun dengan senang hati akan mengampuni selembar jiwamu Golok itu sudah kubuang!

Tidak mungkin si Kelelawar menggeleng, tak seorang manusia pun yang bisa tahan menghadapi godaan harta karun dalam jumlah besar, paling tidak hingga sekarang aku belum pernah bertemu dengan seorang manusia macam ini Sekarang kau telah bertemu seorang diantaranya Si Kelelawar hanya tertawa, tiba-tiba ia menggetarkan tangannya, seekor Kelelawar segera terbang keluar dari balik sakunya dan langsung menerkam Lau Ci-he.

Cahaya tajam berkelebat, Lau Ci-he telah membabat tubuh Kelelawar itu hingga terbelah jadi dua bagian.

Si Kelelawar mendengarkan dengan seksama, kemudian pujinya sambil tertawa.

Ilmu pedang bagus, sayang kalau dibandingkan aku, kepandaian mu masih ketinggalan jauh Lau Ci-he hanya tertawa dingin tanpa menjawab.

270 Saat itulaah dari tengah halaman dibawah atap rumah telah muncul tiga sosok tubuh manusia, seorang nenek berwajah penuh keriput dengan rambut berubah serta dua orang dayang kecil.

Mereka semua sudah lama mengikuti Lau Ci-he, kepandaian silat yang dimiliki pun terhitung hebat, sementara si nenek adalah inang pengasuh dari Lau Ci-he, dia terhitung seorang cianpwee dalam partai See-hoa-kiam-pay dan merupakan seorang jago pedang.

Mengapa seorang cianpwee berilmu tinggi rela menjadi orang bawahan?

Mungkin hanya dia sendiri yang dapat menjawab pertanyaan itu.

Ketika Lau Ci-he menjebol atap rumah untuk keluar dari ruangan tadi, ke tiga orang itu segera terbangun dari tidurnya karena kaget dan tergopoh gopoh menyusul ke situ.

Kini pedang telah diloloskan dari sarung, setiap saat satu pertarungan sengit segera akan berkobar.

Terlebih si nenek itu, dia ibarat anak panah yang terpasang di gendawa, setiap saat bakal melesat ke luar.

Tampaknya si Kelelawar sama sekali tak ambil peduli dengan kehadiran ketiga orang itu, bukan saja tidak menggubris, bahkan masih mengajak bicara Lau Ci-he dengan santainya.

Tampak ia menghela napas dan berkata lagi.

Golok itu sejak semula adalah barang milikku, lebih baik kembalikan saja, buat apa kau musti menyerempet bahaya?

Lau Ci-he tertawa dingin.

Kalau dilihat tamangmu, rasanya kau tak mirip orang idiot, kenapa caramu berbicara justru lebih mirip orang idiot Aku memahami maksud hatimu Saat seperti ini sudah lama kunantikan kata Lau Ci-he sambil menyentil pedangnya.

Aku rasa persoalan ini adalah persoalan pribadimu Tentu saja Kalau begitu lebih baik kau suruh ke tiga orang yang berada ditengah halaman itu untuk menyingkir dari sini 271 Tanpa perintahku, mereka tak akan berani turun tangan sahut Lau Ci-he dengan perasaan tercekat.

Benarkah begitu?

tanya si Kelelawar sambil tertawa.

Apa maksudmu?

Masa kau tidak merasakan hawa pembunuhan yang terpancar dari tubuh mereka?

kemudian sambil berpaling ke arah si nenek yang sedang berdiri dengan mata berapi api, lanjutnya, aku percaya ilmu silat yang dimiliki orang ini sama sekali tidak berada dibawah kemampuanmu Berkilat sepasang mata Lau Ci-he, segera bentaknya.

Lolo, kau dan mereka segera mundur dari sini!

Siocia, terhadap manusia semacam ini, buat apa kau musti mentaati peraturan dunia persilatan teriak nenek itu.

Dia hanya tak ingin menyaksikan kalian menghantar nyawa dengan percuma tukas si Kelelawar.

Beruntung sekali, aku memang sudah bosan hidup jengek si nenek sambil tertawa dingin.

Kalau memang sudah bosan hidup, itu mah kebenaran, kemari, biar kubantu kau untuk memenuhi keinginan itu!

Si nenek tertawa dingin, tubuhnya melesat keatas genting dengan kecepatan tinggi, sebuah tusukan maut langsung dilontarkan ke tubuh si Kelelawar.

Tampak cahaya pedang berkelebat bagai halilintas, jangan lihat usia nenek itu sudah lanjut, ternyata gerak geriknya masih lincah dan cekatan.

Begitu mendengar suara desingan tajam, sang Kelelawar segera mementangkan sepasang bajunya, bagai seekor Kelelawar yang sedang pentang sayap, dia terbang ke tengah udara.

Merasa kehilangan jejak, nenek itu segera menjejakkan kembali kakinya diatas wuwungan rumah, Sreeet, sreeet, sreeeet............

secara beruntun dia lancarkan sebelas buah tusukan.

Tusukan yang dilancarkan makin lama semakin cepat, hampir semuanya ditujukan untuk merenggut nyawa lawan.

272 Si Kelelawar mengebaskan ujung bajunya berulang kali, tubuhnya yang berada ditengah udara berapa kali berganti posisi, ternyata secara mudah sekali dia berhasil menghindarkan diri dari ke sebelas tusukan maut itu.

Hebat kamu hei si buta!

teriak nenek itu, badannya berputar bagai gangsingan, tubuhnya yang menyatu dengan pedang melancarkan satu tusukan bagai bianglala terbang.

Tusukan itu melesat lewat persis dari atas kepala si Kelelawar, namun kembali ancaman itu berhasil dihindari.

Siapa kau?

hardik si Kelelawar sambil melayang turun.

Bukan urusanmu!

selama mengucapkan perkataan itu, kembali si nenek melancarkan tiga puluh enam buah tusukan.

Si Kelelawar berputar kencang menghindarkan diri, serunya.

Lagi lagi ilmu pedang See-hoa-kiam-hoat!

Kalau benar lantas kenapa?

serangan yang dilancarkan nenek itu semakin gencar.

Sambil tertawa Kelelawar itu melanjutkan.

Ilmu pedang See-hoa-kiam-hoat memang bagus dan hebat, tapi sayang bukannya tanpa titik kelemahan!

Begitu meluncur ke bawah, tubuhnya berputar kencang, ibu jari tangan kanannya menyentil ke depan, Traaangl dengan telak dia sentil punggung pedang lawan, membuat gerak serangan nenek itu segera melenceng ke samping.

Berubah hebat paras muka nenek itu.

Aku tak percaya kalau kau benar benar buta teriaknya.

Semua orang tahu kalau aku buta, buat apa kau musti menanyakan lagi hal tersebut?

Sambut lagi ke tiga buah seranganku ini!

bentak si nenek gusar.

Pedangnya ditarik sejajar dada, begitu serangan pertama dilancarkan, ia miringkan badan sambil melancarkan serangan kedua dengan jurus Lei-hi-to-ceng-po (ikan lei menembus ombak), setelah itu pergelangan tangannya ditarik ke bawah, dari sisi ketiak dia lepaskan tusukan ke tiga.

273 Tusukan yang satu lebih hebat dari tusukan sebelumnya, sudut dan posisi yang digunakan pun merapat satu dengan lainnya, kecepatan dan kelincahannya sama sekali tak seimbang dengan usianya.

Si Kelelawar kontan tertawa tergelak.

Hahaha....

rupanya inti sari dari ilmu pedang See-hoa-kiam-hoat terhimpun didalam ke tiga buah serangan itu Ditengah gelak tertawa, ia mengguling ke samping sambil berputar bagai roda kereta, dengan cekatan lagi lagi ia berhasil menghindarkan diri dari ke tiga serangan itu.

Tampaknya dia sangat memahami akan seluk beluk ilmu pedang See-hoa-kiam-hoat, bukan saja dapat bergerak santai bahkan cara berkelit pun tepat sasaran.

Paras muka si nenek berubah makin hebat, begitu pula dengan Lau Ci-he yang mengikuti jalannya pertarungan, dengan wajah berubah memucat, tanpa ragu lagi dia membentak nyaring, satu serangan segera dilancarkan.

Gerak serangan yang ia pergunakan jauh lebih ganas, kejam dan telengas daripada serangan nenek itu.

Kalau si nenek dalam serangan mengandung pertahanan, dibalik pertahanan terselip serangan, maka serangan yang dilancarkan Lau Ci-he sangat mematikan, pada hakekatnya dia hanya tahu membunuh musuh tanpa pedulikan keselamatan sendiri.

Dengan begitu pertahanan seluruh tubuhnya jadi terbuka, bila orang lain berniat menusuknya, mungkin sulit baginya untuk meloloskan diri dari serangan itu.

Dalam sepuluh tahun terakhir, dengan sistim pertarungan semacam inilah ia berhasil merebut sebutan sebagai pembunuh wanita, tapi ketika digunakan untuk menghadapi si Kelelawar, ilmu pedang adu nyawa semacam ini pada hakekatnya sama sekali tak berguna.

Ditengah kepungan cahaya pedang, ia mencelat ke tengah udara, sekilas cahaya setengah lingkaran pun muncul secara tiba-tiba membelah angkasa.

Akhirnya dia mencabut keluar golok Kelelawar miliknya.

Serentak kedua orang dayang cilik itu maju meluruk, melihat itu buru buru Lau Ci-he menghardik.

Mundur kalian!

274 Belum selesai dia membentak, si Kelelawar sudah melayang turun diantara kedua orang dayang tadi.

Diiringi bentakan nyaring, kedua orang dayang itu memutar pedangnya melancarkan tusukan.

Tiba-tiba si Kelelawar menghela napas panjang.

Baru saja suara helaan napas itu bergema, cahaya lengkung tampak berkelebat, pedang yang berada ditangan seorang dayang terpapas kutung jadi dua, diikuti tenggorokan gadis itu tersayat sabetan golok, darah segar pun menyembur keluar membasahi permukaan tanah.

Buru buru Lau Ci-he dan nenek itu maju menolong, belum lagi serangan mereka berdua tiba disasaran, pedang milik dayang kedua itu sudah terpapas kutung, satu sabetan golok yang persis membelah alis matanya membuat dayang cilik itu menjerit kesakitan lalu roboh terkapar.

Kembali golok Kelelawar ditarik balik untuk menyongsong datangnya serangan pedang dari Lau Ci-he, dengan langkah tujuh bintang ia mengigos dari ancaman ke tiga belas tusukan maut si nenek, tiba-tiba badannya berputar satu lingkaran, Wessss!

ditengah kilauan cahaya golok, hancuran baju beterbangan di angkasa.

Si Kelelawar kembali melambung sambil memutar pinggang, Cring!

ia hindari tusukan pedang lawan, sementara tangan kirinya menyodok masuk, tahu tahu dia sudah cengkeram urat nadi pada pergelangan tangan kanan si nenek yang menggenggam pedang.

Tak ampun pedang itu terlepas dari cekalan, belum sempat si nenek menjerit kaget, golok Kelelawar sudah ditemelkan diatas tengkuknya.

Berhenti!

hardik si Kelelawar sambil membalik tubuh.

Tidak sempat memberikan pertolongan, terpaksa Lau Ci-he menghentikan serangannya.

Serahkan golok itu, aku tukar dengan nyawa orang ini!

ujar si Kelelawar cepat.

Belum sempat Lau Ci-he menjawab, mendadak nenek itu berteriak keras.

Jangan mimpi!

275 Tengkuknya disodokkan kearah mata golok, percikan darah segera menyembur ke empat penjuru, ternyata ia telah bunuh diri diujung golok Kelelawar.

Untuk sesaat si Kelelawar berdiri tertegun, memanfaatkan kesempatan itu Lau Ci-he melancarkan sebuah tusukan kilat ke dep an.

Tampaknya sulit bagi si Kelelawar untuk menghindari tusukan itu, siapa sangka disaat yang kritis, tiba-tiba ia betot tubuh nenek itu dan dihadangkan dihadapannya.

Creett!

ujung pedang langsung menghujam diatas dada nenek itu hingga tembus ke punggungnya.

Lau Ci-he menjerit kaget sambil mencabut pedangnya, sayang si Kelelawar bertindak lebih cepat, ia telah menjepit ujung pedang itu kuat kuat.

Perubahan yang terjadi berlangsung dalam kecepatan yang sukar dilukiskan dengan kata, namun didalam kenyataan, si Kelelawar telah melakukannya.

Seorang lelaki buta ternyata mampu melakukan hal yang mustahil, benar benar sebuah kejadian yang sukar diterima dengan akal sehat.

Gerakan tubuh si Kelelawar tidak berhenti sampai disitu, kembali ia membetot sambil berputar, tak tahan tubuh Lau Ci-he ikut berputar bersama mayat nenek itu.

Kembali si Kelelawar menyentilkan jari tangannya, langsung menyentil diatas urat nadi ditangan kanan gadis itu.

Mau tak mau Lau Ci-he harus lepas tangan, cakar burung si Kelelawar pun segera berputar cepat, mencengkeram tengkuk si nona.

Lima jari tangannya yang dingin kaku, bagaikan lima ekor ular berbisa, tahu tahu mencengkeram lehernya.

Lau Ci-he betul betul terkesiap, ia merinding, bergidik, bulu kuduknya pada berdiri.

Dimana kau sembunyikan golok itu?

tanya si Kelelawar sambil tertawa.

Ucapan yang dingin, senyuman yang menyeramkan, jarak diantara mereka berdua pun begitu dekat, tanpa sadar perasaan ngeri yang mencekam hati Lau Ci-he makin membara.

Untuk sesaat ia berdiri tertegun, membelalakkan sepasang matanya tanpa menjawab.

276 Jawab!

hardik Kelelawar.

Kerutan wajahnya yang dalam bagai parutan, dalam waktu singkat mengejang keras.

Kalau memang dia pandang begitu penting golok Kelelawar, mengapa waktu itu dia hadiahkan kepada orang lain?

Hanya terpaut sepuluh tahun, tapi semua keputusan telah berubah, semua pandangan telah berganti arah, bagi seseorang yang pernah menjadi orang idiot, perubahan watak bukanlah suatu kejadian yang aneh dan patut diherankan.

Dengan termangu Lau Ci-he mengawasi Kelelawar, ia tidak menjawab tapi sorot matanya mendadak memancarkan sinar yang sangat aneh.

Terdengar si Kelelawar kembali berkata.

Kalau tidak segera kau jawab, jangan salahkan bila aku bertindak keji!

Baru selesai ia berkata, sekonyong-konyong Lau Ci-he menjerit keras.

Sebenarnya siapa kau?

Sebuah pertanyaan yang sangat aneh.

Kelelawar tanpa sayap!

jawab sang Kelelawar setelah tertegun sejenak.

Bukan, kau bukan, aku tahu kau bukan!

jerit Lau Ci-he semakin keras.

Si Kelelawar tidak menjawab, dia hanya tertawa dingin tiada hentinya.

Terdengar Lau Ci-he berkata lagi.

Kau berhasil menirukan suaranya, kaupun berhasil menirukan semua tingkah laku dan gerak geriknya, tapi ada satu hal yang tak mungkin bisa kau pelajari, meniru dengan cara apa pun kau tak akan mampu menirukannya Apa itu?

Mata, matamu masih bernyawa, sedang si Kelelawar adalah orang buta!

Kau keliru besar!

tangan kanan si Kelelawar bagaikan sebuah gagang golok segera menekan disisi mata kirinya, sebiji bola mata segera meloncat keluar dari balik kelopak.

277 Dengan ibu jari dan jari telunjuk tangan kanannya dia jepit bola mata itu, kemudian didekatkan ke wajah Lau Ci-he.

Kelopak mata bekas bola mata disebelah kiri kini muncul sebuah lubang hitam yang besar, dari balik lubang tadi terbesit cahaya fosfor yang aneh, seakan ada seakan tak ada, khususnya biji mata yang terjepit dijari tangannya, benda itu nampak menggidikkan hati.

Tampaknya biji mata itu dipenuhi dengan tenaga kehidupan, cahaya hijau yang menyeramkan memancar kian kemari, seolah sedang menatap Lau Ci-he, seolah hendak menerobos ke dasar tubuh gadis itu.

Lau Ci-he merasakan bulu kuduknya bangun berdiri, kalau bisa dia ingin sekali melengos kearah lain, tapi sayang ke lima jari tangan si Kelelawar yang mencengkeram tengkuknya seolah telah berakar, dia sama sekali tak sanggup menggerakkan kepalanya,.

Walaupun perasaan ngeri dan takut telah mencekam perasaan hatinya, hal itu tidak membuat cahaya keheranan yang terpancar jadi pupus, tiba-tiba teriaknya keras.

Bagaimana dengan mata kananmu?

Apakah dapat dilepas juga sekehendak hati?

Kontan si Kelelawar menarik muka.

Tidak mampu bukan?

ejek Lau Ci-he, kau tidak seharusnya berada begitu dekat dengan diriku!

Si Kelelawar tidak bersuara.

Kembali Lau Ci-he berkata.

Daya ingatku tidak sejelek apa yang kau bayangkan, biar si Kelelawar sudah berubah jadi abu pun, aku tetap dapat mengenalinya Omong kosong bentak si Kelelawar sambil tertawa dingin.

Tak disangkal, apa yang diucapkan Lau Ci-he memang omong kosong, bila seseorang telah berubah jadi abu, bagaimana mungkin dapat dikenali lagi?

Tapi Lau Ci-he berkata lagi sambil tertawa dingin.

Aku hanya ingin tegaskan kepadamu, tak mungkin aku tak dapat mengenali si Kelelawar!

Kau benar benar amat membencinya?

Lau Ci-he tertawa, suara tertawanya tak berbeda seperti seorang sinting, tak waras otaknya.

278 Kelelawar mulai mengernyitkan alis matanya, untuk sesaat dia tak tahu harus berbuat bagaimana.

Kau betul betul sedang omong kosong ejek Lau Ci-he lagi.

Setelah berhenti sejenak, dengan napas tersengkal tanyanya.

Katakan kepadaku, bagaimana keadaan si Kelelawar sekarang?

Kalau aku merasa puas, golok itu akan kuserahkan, kalau tidak, biar apa pun yang hendak kau lakukan terhadap diriku, jangan harap golok itu bisa kau temukan!

Oya?

Keliru besar jika kau menganggap aku kemaruk dengan harta karun itu, aku sengaja menyimpan golok itu karena suatu hari nanti, aku siap mengembalikan kepadanya, langsung disodokkan keatas tenggorokannya!

Kau bicara jujur?

Seharusnya kau sudah mendengar Kau benar benar tidak takut mati?

si Kelelawar semakin mengencangkan ke lima jari tangannya.

Sejak dulu, nyawaku sudah mati separuh, aku hidup tak lebih seperti sesosok mayat berjalan!

jerit Lau Ci-he.

Kau benar benar ingin barter denganku?

desak si Kelelawar sambil berkerut kening.

Hmm, inilah satu satunya kesempatan yang kau miliki ujar Lau Ci-he sambil tertawa dingin.

Akhirnya si Kelelawar mengaku.

Walaupun dia belum mati, namun kehidupannya tak berbeda seperti mati Tetap seorang idiot?

Rasanya dia sudah tak punya harapan lagi Bagus, bagus sekali!

Lau Ci-he segera tertawa tergelak, tertawa nyaring.

Sekarang tiba giliranmu, katakan, dimana kau simpan golok itu?

tanya si Kelelawar.

279 Masih tertawa nyaring, tanya Lau Ci-he.

Sebenarnya siapa kau?

Mengapa menyaru jadi Kelelawar?

Kenapa kau menginginkan golok Kelelawar itu?

Si Kelelawar mendengus gusar, sambil menarik wajahnya kembali ia menghardik.

Kau sembunyikan golok itu dimana?

Hahaha, walaupun kau cerdas, sayang tetap tertipu!

ejek perempuan itu sambil tertawa tiada hentinya.

Apa?

Kelelawar segera memperkencang cengkeramannya.

Kontan gelak tertawa Lau Ci-he terputus ditengah jalan, dengan susah payah ia terengah engah, katanya.

Golok itu tergantung diatas dinding kamarku, sebetulnya kau tak usah bersusah payah!

Oya?

Kelelawar menghembuskan napas lega.

Dengan mata melotot Lau Ci-he mengawasi wajah si Kelelawar, ujarnya lagi.

Sekarang kau boleh bunuh aku!

Ternyata kau memang seorang wanita yang amat cerdas Justru karena cerdas, aku tahu kalau kau tak akan membiarkan aku tetap hidup Sayang perasaan dendam yang berkecamuk dalam pikiran dan hatimu kelewat kental, kalau tidak, mungkin kau sudah menemukan rahasia diatas golok itu Mungkin saja benar Kelelawar tidak bicara lagi, diapun tidak melakukan gerakan apa pun.

Sambil tertawa kata Lau Ci-he.

Kau tak usah banyak pikir, cara apa yang kau anggap bisa membuat kematianku terasa nikmat, lakukan saja dengan cara tersebut Hahaha, menganggap mati bagai pulang ke rumah, kagum, sungguh kagum!

puji Kelelawar sambil tertawa.

Jika kau tidak segera turun tangan, jangan salahkan kalau aku akan mulai memaki Kalau aku membunuhmu, perasaan hatiku tentu akan merasa amat sedih, namun kalau tidak membunuhmu pun hatiku akan bertambah pedih!

Hahaha, Kelelawar yang tulen tak akan bersikap ragu macam perempuan!

ejek Lau Ci-he tertawa keras.

280 Tiba-tiba Kelelawar mengebaskan tangannya, seluruh tubuh Lau Ci-he pun mencelat ke belakang.

Saat itulah sekilas cahaya bianglala berkelebat membelah bumi, cahaya golok!

Tubuh Lau Ci-he yang terpental seketika berubah jadi kaku, kemudian terbanting keras keras diatas genting rumah.

Sekilas bianglala berwarna darah segar memancar ke empat penjuru!

Golok Kelelawar telah disarungkan kembali, diujung mata golok tak ternoda setetes darah pun.

Golok itu memang sebilah golok mestika!

Menyusul kemudian, tubuhnya yang ceking berjumpalitan di udara dan meluncur masuk melalui lubang diatas genting.

Cahaya lentera dalam ruangan belum padam, dengan cepat si Kelelawar memandang sekejap sekeliling tempat itu, akhirnya ia berhenti menatap diatas dinding sebelah kanan.

Sebilah golok tergantung disana, panjang lagi sempit, berbentuk setengah busur, pada gagang pedang terukir seeekor Kelelawar besar yang sedang mementangkan sayap.

Golok Kelelawar!

Dengan langkah cepat si Kelelawar maju menghamiri.

Golok tergantung disana, sama sekali tidak menimbulkan suara, bila dia benar benar Kelelawar tanpa sayap, sekalipun memiliki pendengaran yang tajam pun jangan harap bisa mendengar kalau golok tersebut tergantung disitu.

Lalu siapakah dia?

Dengan langkah cepat si Kelelawar berjalan menuju ke bawah dinding, menurunkan golok Kelelawar yang tergantung dan mencabut dari sarungnya.

Dibawah sinar lentera, golok mustika itu memancarkan cahaya yang menggidikkan, ketika matanya tertuju keatas golok, sekilas cahaya seakan memancar pula dari balik matanya.

Kemudian dia pun memperdengarkan suara tertawa, tertawa penuh kebanggaan.

281 Ditengah gelak tertawa, Triiingl dia sarungkan kembali goloknya, bila ia tidak buta, sudah pasti dapat dilihat kalau golok itu bukan golok Kelelawar palsu.

Setelah golok disarungkan, dia pun melangkah keluar dari pintu ruangan.

Terdengar suara benturan aneh, tahu tahu dinding ruangan merekah dan muncul sebuah lubang besar berbentuk manusia, dari lubang itulah si Kelelawar melangkah keluar.

Suasana diseputar ruangan amat hening, tak ada orang lagi yang datang menghadang.

Dalam perkampungan itu hanya ada empat orang, dan sekarang mereka telah berubah jadi orang mati.

Rembulan sudah tinggi di angkasa, cahaya rembulan terasa lebih pucat, lebih dingin menggidikkan.

ooOOoo I KELELAWAR berjalan dibawah cahaya rembulan, wajahnya tampak semakin pucat, pada hakekatnya seperti dilabur dengan bubuk putih.

Ia berjalan menembusi pintu kamar, menuruni anak tangga, menelusuri jalan setapak menuju ke luar halaman.

Ia berjalan dengan begitu santai, setiap langkahnya selalu berpijak pada bebatuan, sama sekali tak berbeda dengan langkah manusia normal.

Biarpun mata sebelah kirinya adalah mata palsu, namun mata kanannya sudah jelas tak ada masalah.

Kalau dibilang dia adalah orang buta, maka lebih tepat kalau dikatakan dia hanya setengah buta.

Tapi rahasia ini sudah terkubur bersama jenasah Lau Ci-he, siapa lagi yang bakal tahu?

Kalau dia bukan Kelelawar tanpa sayap, lalu siapakah dia?

282 Bebatuan memantulkan cahaya yang redup saat tertimpa sinar rembulan, sekilas memandang, bebatuan itu mirip batu permata yang bertaburan.

Langkah kaki Kelelawar amat ringan, dia seakan kuatir kalau pijakan kakinya merusak dan menghancurkan batu permata itu.

Berjalan sejauh setengah tombak, ia telah tiba ditengah kebun bunga, tiba-tiba langkah si Kelelawar berubah jadi sangat berat.

Bebatuan yang terpijak seketika hancur jadi bubuk, bersamaan waktu diapun menghentikan langkahnya.

Ia berhenti secara tiba-tiba.

Ia mendongakkan kepala memandang sekejap keadaan cuaca, tiba-tiba ujarnya.

Walaupun aku tidak buta sungguhan, bukan Kelelawar tanpa sayap yang asli, namun ketajaman pendengaranku amat luar biasa Dibawah cahaya rembulan dan taburan bintang, walaupun dia seolah sedang bergumam seorang diri, namun tak diragukan, perkataan itu tertuju untuk orang lain, diucapkan karena ada tujuan.

Suasana disekeliling tempat itu amat hening, hanya suara dedaunan yang bergoyang terhembus angin, tiada suara manusia, tiada jawaban.

Kembali si Kelelawar menanti berapa saat, kemudian ujarnya lagi sambil tertawa dingin.

Kau masih tak ingin menampakkan diri?

Apakah aku harus memaksamu untuk keluar?

Baru selesai ia berkata, dari balik semak disisi kiri muncul tubuh seseorang.

Seorang tua berbaju hitam, wajahnya penuh keriput, kulit mukanya bagai disayat dengan pisau, rambutnya yang telah beruban tampak berkibar dimainkan hembusan angin malam.

Kau?

seru si Kelelawar kemudian agak tertegun.

Kau kenal aku?

balas kakek berbaju hitam itu tertegun.

Ong Bu-shia!

Ternyata kakek berbaju hitam itu tak lain adalah Ong Bu-shia, si Bu-shia beracun!

283 Ditatapnya si Kelelawar berapa saat, kemudian katanya.

Kalau kau dikatakan buta, mungkin demikian pula dengan diriku Si Kelelawar tertawa dingin.

Jangan beritahu kepadaku kalau kau tidak mendengar semua pembicaraan dari Lau Ci-he Ong Bu-shia tertawa.

Kalau begitu aku perlu beritahu kepadamu bahwa sejak setengah jam berselang aku telah bersembunyi dibalik pepohonan, semua pembicara an yang kalian langsungkan telah kudengar dengan sangat jelas Tidak bagus!

seru Kelelawar.

Sebelum menemukan jejak persembunyianku, kau memang tidak bagus, tapi sekarang akulah yang tidak bagus Ucapan tidak bagus yang kuutarakan tadi memang khusus tertuju untuk dirimu Terima kasih!

Kembali si Kelelawar tertawa seram.

Sejak kapan kau belajar sopan dan tahu adat Kalau tahu adat, watak jadi tak aneh, bukan begitu?

Si Kelelawar mengangguk, katanya sambil tertawa seram.

Apakah kau ingin bermusuhan dengan aku?

Hubungan kita ibarat air sungai tidak melanggar air sumur, kenapa harus beradu jiwa Seharusnya memang begitu suara tertawa si Kelelawar kedengaran makin menyeramkan, sayang kedatanganmu kelewat awal, tadi, kau memang tidak seharusnya mendengarkan pembicaraan itu Tapi daya ingatku selama ini memang kurang begitu bagus ujar Ong Bu-shia sambil tertawa serak.

Justru aku kebalikannya!

Sekali lagi Ong Bu-shia tertawa parau, tidak menjawab.

284 Si Kelelawar berkata lebih jauh.

Daya ingat yang terlalu baik bukanlah suatu kejadian yang patut dibanggakan Itu tergantung terhadap siapa kita berhadapan Bagaimana kalau terhadap diriku?

Tidak Apa hubunganmu dengan keluarga Lau?

tiba-tiba si Kelelawar bertanya.

Musuh besar!

sahut Ong Bu-shia dengan suara berat.

Musuh besar?

Apa pula yang terjadi?

kembali si Kelelawar tertegun.

Kau pernah mendengar tentang Tui-hun-cap-ji-sat di mulut lembah Sat-hau-ko?

setahuku, nama besar Cap-ji-sat memang luar biasa si Kelelawar manggut manggut.

Tentunya kau pun tahu kalau Siau Jit dan Lau Ci-he bekerja sama membantai mereka semua?

Soal ini aku kurang tahu Kelelawar menggeleng, apakah terjadi baru baru ini?

Pada dua tahun berselang Hahaha, kelihatannya kabar berita ku kurang tajam Ini disebabkan masalah semacam ini bagimu hanya masalah kecil, lagipula tak ada hubungannya dengan dirimu Memang ada hubungannya dengan kau?

Lotoa dari cap-ji-sat adalah murid putraku Ooh, kalau itu mah ada kaitan hubungan yang dekat............

Didalam kenyataan, putraku memang telah mewariskan berapa jurus ilmu kepadanya Berarti urusan jadi serius Karena itulah putraku tak bisa berpangku tangan saja atas terbunuhnya mereka 285 Si Kelelawar termenung dan berpikir sejenak, kemudian ujarnya.

Aku tak tahu sampai dimana kemampuan ilmu silat yang dimiliki putramu, setahuku, ilmu pedang pemutus usus milik Siau Jit luar biasa hebatnya Kalau bukan karena menggampangkan masalah, semisal mereka bertarung hingga sama sama mampus pun, kejadian ini tak akan menjadi masalah Oh, jadi Siau Jit tidak mati tapi putramu justru tewas diujung pedangnya Kenyataan memang begitu!

sahut Ong Bu-shia sambil menarik muka.

Konon kau hanya berputra satu?

Itupun kenyataan Karena itu kau pergi mencari Siau Jit untuk membuat perhitungan, tentu saja Lau Ci-he pun tak bisa dilepaskan dengan begitu saja Itulah sebabnya malam ini aku datang kemari Kau bukan termasuk orang yang memandang enteng segala persoalan, bukan orang yang suka bekerja tanpa perencanaan bukan?

Tidak menunggu Ong Bu-shia menjawab, kembali si Kelelawar melanjutkan.

Tentunya kau pun tak akan berkelit dari yang berat mencari yang enteng dengan memilih milih patner tandingan bukan?

Ong Bu-shia hanya tertawa dingin tanpa menjawab.

Maka si Kelelawar berkata lebih lanjut.

Oleh karena itu orang pertama yang harus kau cari ad alah Siau Jit, bukan Lau Ci-he Aku telah mencari Siau Jit jawab Ong Bu-shia dingin.

Apakah pertarunganmu di rumah makan Thay-pek-lo?

tanya si Kelelawar sambil tertawa.

Ong Bu-shia menatap tajam wajah si Kelelawar, namun ia tidak menjawab.

Si Kelelawar berkata lebih lanjut.

Pertarunganmu di rumah makan Thay-pek-lo telah menggetarkan seluruh jagad, tapi pada akhirnya kau termakan satu tusukan Siau Jit hingga terpaksa harus menjebol tembok untuk melarikan diri, bukan begitu?

Tajam juga kabar beritamu dengus Ong Bu-shia.

286 Padahal kemenangan yang diperoleh Siau Jit pun nyaris, pedang miliknya memiliki ukuran satu meter lebih tiga inci, kau terluka diujung pedangnya karena sudah bertindak kelewat ceroboh, kau telah mengabaikan ukuran pedangnya yang tiga inci itu!

Dengan pandangan keheranan Ong Bu-shia menatap wajah si Kelelawar, dia merasa heran, darimana si orang buta ini bisa mengetahui begitu banyak tentang kejadiannya.

Terdengar si Kelelawar berkata lagi.

Ukuran yang tiga inci itu tak cukup untuk merenggut nyawa, pikiran dan perasaanmu jadi kalut lantaran kau jarang terluka, jarang melihat ada begitu banyak darah yang bercucuran, kau sangka lukamu sangat parah maka segera ambil keputusan untuk melarikan diri, kau tak ingin mengambil resiko, karena itu kau berharap menyembuhkan dulu lukamu sebelum mengambil tindakan lain Hmm, tampaknya kau tahu amat jelas Ong Bu-shia mendengus dingin.

Tiba-tiba si Kelelawar menggeleng, katanya.

Padahal andaikata kau lanjutkan pertarungan waktu itu, belum tentu kau tak mampu membunuh Siau Jit, paling tidak, untuk beradu nyawa pasti bukan masalah Setelah berhenti sejenak, lanjutnya.

Biarpun ilmu pedang pemutus usus milik Siau Jit luar biasa, namun berbicara tentang tenaga dalam, kau masih satu tingkat mengungguli dirinya Ong Bu-shia termenung tanpa menjawab.

Tapi dengan pergi dari situ, kekalahan sudah pasti berada dipihakmu kata si Kelelawar lagi.

Aku tinggalkan medan pertarungan bukan berarti aku kalah, dalam satu pertarungan mati hidup, sebelum ditentukan siapa hidup siapa mati, darimana bisa ditetapkan siapa unggul siapa asor?

Aku bilang kau kalah karena kematian mu sudah pasti!

Bukankah sampai sekarang aku masih hidup segar bugar?

jengek Ong Bu-shia sambil tertawa dingin.

Tidakl si Kelelawar tertawa seram, kau tidak seharusnya melepaskan pukulan itu, tapi memang tak bisa disalahkan, disaat seseorang berniat melarikan diri, tentu saja 287 dia akan mengutamakan kecepatan gerak, sedang apa akibatnya, mana mungkin bisa ia pertimbangan dengan lebih seksama?

Aku tidak mengerti apa yang sedang kau bicarakan sela Ong Bu-shia.

Kau seharusnya mengerti sekali lagi si Kelelawar menggeleng, kadangkala memiliki ilmu silat terlalu baik bukanlah satu kejadian yang menyenangkan, karena bukan setiap masalah dapat diselesaikan dengan ilmu silat, seringkali otak diperlukan, namun biasanya makin licik seseorang, ilmu silatnya pasti makin cetek, karena dia selalu akan menggunakan kelicikannya untuk menambal kelemahannya dalam ilmu silat, tentu saja diluar itu pasti ada, hanya jumlahnya tidak banyak Ong Bu-shia hanya mendengarkan, tidak menimbrung.

Si Kelelawar berkata lebih lanjut.

Ilmu silat yang kau miliki seharusnya masih berada diatasku, maka dari itu selama berada dihadapanku, lebih baik tak usah bermain akal akalan Bisa kulihat kalau kau memang seorang yang licik Kelelawar tidak menanggapi, ia balik kembali ke pokok pembicaraan, katanya.

Ketika ujung pedang sepanjang tiga inci menembusi perutmu, luka tersebut sesungguhnya sangat ringan, namun setelah melepaskan pukulan diatas dinding, dapat kupastikan luka mu bertambah parah Ong Bu-shia tidak menjawab, dia hanya tertawa dingin.

Kembali si Kelelawar berkata.

Dibawah ujung pedang pemutus usus milik Siau Jit, tak pernah ada korban yang lolos dalam keadaan hidup, hal ini dikarenakan arah yang ditusuk selalu bagian yang mematikan, ketika pedangnya menusuk bagian yang mematikan, sekalipun tidak sampai menyebabkan kematian, luka tersebut pasti tidak ringan.

Jika pengalamannya cukup dan waktu itu dia melakukan pengejaran, tak mungkin kau masih bisa hidup sampai hari ini Begitukah kenyataannya ......

dengus Ong Bu-shia sambil tertawa dingin.

Jago kawakan macam kau ternyata melakukan kesalahan yang begitu besar, aku ikut sedih untuk dirimu tukas Kelelawar, malam ini kau sengaja datang kemari, bukankah tujuanmu adalah membunuh Lau Ci-he lebih dulu kemudian baru mengajak Siau Jit untuk berduel?

288 Kembali Ong Bu-shia membungkam, tidak menjawab.

Si Kelelawar meneruskan kata-katanya.

Setelah terperosok dalam kondisi semacam ini, kau memang seharusnya bertindak demikian, tapi sayang waktu yang kau pilih sangat tidak tepat, saat ini adalah saatmu yang paling apes!

Sudah selesai semua omong kosongmu?

kembali Ong Bu-shia tertawa dingin.

Aku tidak omong kosong, masa aku tidak jelas manusia macam apakah dirimu itu?

Kau............

Kembali si Kelelawar menukas.

Jika lukamu tidak terlampau parah, tak nanti untuk menghadapi seorang Lau Ci-he pun harus menunggu kesempatan dengan bersembunyi dibalik semak belukar, kaupun tak mungkin baru munculkan diri setelah kugertak, terlebih tak mungkin mau bicara omong kosong dengan diriku Paras muka Ong Bu-shia berubah makin tak sedap dipandang.

Andaikata aku bertemu kau didepan pintu sana, mungkin masih ada peluang untuk dirundingkan kata si Kelelawar lagi, tapi sekarang, mau tak mau aku harus mencabut nyawamu!

Kemudian dengan sepatah demi sepatah kata dia menambahkan.

Karena terlalu banyak yang telah kau ketahui!

Apa yang kuketahui?

Paling tidak kau sudah tahu kalau aku bukan orang buta beneran, kaupun tahu kalau aku bukan Kelelawar tanpa sayap yang sesungguhnya Soal ini...........

Tahukah kau cara apa yang paling manjur untuk membuat seseorang tetap tutup rahasia?

tanya Kelelawar sambil tertawa seram, setelah berhenti sejenak sambungnya, membunuhnya agar dia tetap membungkam terus!

Ong Bu-shia tutup mulutnya rapat rapat.

Kelelawar mendongak memandang cuaca, katanya kembali.

Waktu sudah bertambah larut!

289 Baru bicara sampai disitu, tampak pepohonan bergoyang, dengan sekali lompatan Ong Bu-shia telah munculkan diri, katanya.

Baiklah, mari kita selesaikan urusan ini dengan mengandalkan kepandaian masing masing Biarpun ilmu pukulan dan tendanganku terhitung cukup baik, namun ilmu golokku jauh lebih bagus!

Hmm, sudah kuduga, kau memang tak becus!

Kelelawar tertawa tergelak.

Hahaha, percuma kau gunakan taktik semacam itu untuk membangkitkan amarahku, bila aku becus, tak nanti akan menyamar menjadi orang lain!

Siapa kau sebenarnya?

Sebutkan namamu!

bentak Ong Bu-shia gusar.

Bukankah kau mengatakan aku tak becus?

Katakan!

Ong Bu-shia makin naik pitam.

Sebentar lagi kau bakal mampus, apa gunanya menanyakan persoalan ini?

sembari berkata si Kelelawar meloloskan sepasang goloknya dan diayunkan ke kiri kanan membentuk cahaya tajam.

Cahaya golok yang berkilauan terasa menusuk pandangan mata, menyaksikan hal itu, kembali berubah paras muka Ong Bu-shia.

Sambil menuding lawannya dengan senjata, seru si Kelelawar.

Sudah lama kudengar orang berkata bahwa Bu-shia beracun pandai mencabut nyawa orang, konon setiap jago akan berubah wajah bila mendengar namamu, hahaha...

bagus, hari ini aku ingin menjajal sampai dimana kehebatanmu itu Manusia pengecut yang beraninya hanya sembunyikan kepala bagai kura kura, kau tak pantas menjadi lawan tandingku Sayang mau tak mau kau harus turun tangan juga saat ini, lihat senjata............

Diiringi bentakan keras, sepasang goloknya diayun ke depan menciptakan dua gulungan cahaya tajam yang segera mengurung Ong Bu-shia ditengah kepungan.

Tergopoh gopoh Ong Bu-shia melompat mundur.

290 Dalam waktu sekejap saja, tempat dimana ia berdiri telah berubah bentuk, semua ranting dan dahan pohon yang berada disitu telah terpapas gundul oleh babatan sepasang golok lawan.

Tidak sampai disitu saja, si Kelelawar berikut sepasang golok Kelelawar nya merangsek lebih kedepan, bagaikan kebasan sayap, sepasang golok itu kembali membabat dan menyambar ke bawah.

Golok kiri dengan tujuh belas gerakan, golok kanan delapan belas gerakan, semasa masih ditengah udara, dia telah melancarkan tiga puluh lima bacokan maut, semuanya tertuju ke bagian tubuh yang mematikan.

Begitu cekatan tangan kanannya melancarkan serangan, sementara kelincahan tangan kirinya sedikitpun tidak kalah dengan kemampuan tangan kanannya.

Dalam keadaan begini Ong Bu-shia hanya bisa menghindar, gerakan tubuhnya jelas terlihat tidak selincah dan segesit waktu bertarung melawan Siau Jit.

Bila dibandingkan si Kelelawar, jelas terlihat kalau ia ketinggalan jauh.

Kelelawar pun melihat akan hal ini, sepasang goloknya diputar makin kencang, ia semakin mendesak Ong Bu-shia dengan serangkaian serangan maut.

Dimana goloknya menyambar lewat, kraaakl batang pohon sebesar mulut cawan langsung tertebas kutung, dari sini dapat dibayangkan betapa tajamnya mata golok Kelelawar itu.

Menghadapi ratusan bacokan maut itu terpaksa Ong Bu-shia harus berkelit kian kemari, tak lama kemudian wilayah seluas tiga tombak telah berubah menjadi sebidang tanah kosong, semua ranting dan dahan pohon yang tumbuh disana nyaris sudah terbabat kutung dan berserakan diatas permukaan tanah.

Sekalipun tidak sampai terluka, bukan pekerjaan yang gampang untuk menghindari serangan dari sepasang golok yang ganas dan tajam itu, kini ia sudah terperosok dalam posisi terdesak hebat, yang bisa dilakukan hanya menghindar dan berkelit, sama sekali tak ada kemampuan untuk menangkis.

Berapa ratus gebrakan kemudian, Ong Bu-shia sudah bermandikan peluh, dia semakin keteter.

291 Si Kelelawar melanjutkan serangan gencarnya, tiba-tiba ia berseru.

Ke mana kau simpan ilmu pukulanmu yang pernah menggetarkan seantero jagad?

Ong Bu-shia sama sekali tidak menjawab, dengan langkah kiu-kiong, ia menghindar berulang kali dari ancaman bacokan.

Paling banter juga sama sama satu bacokan, buat apa kau harus membuang waktuku?

kata si Kelelawar lagi.

Ong Bu-shia masih tidak menjawab, menggunakan kesempatan disaat lawannya sedang bicara, dia menggerakkan kepalannya melancarkan satu serangan balasan.

Bagaimana pun juga dia adalah jago dari kawanan jago lihay, begitu melihat datangnya kesempatan, peluang itu segera dimanfaatkan.

Kelelawar tertawa dingin, sepasang goloknya disilang didepan dada melindungi badan, begitu serangan balasan dari Ong Bu-shia gagal menembusi pertahanannya, kembali dia putar senjatanya, golok kiri membacok menyilang sementara golok kanan membacok masuk lewat celah celah gempuran Ong Bu-shia.

Sesungguhnya kepandaian silat yang dimiliki Ong Bu-shia sangat tangguh, tapi menghadapi gencaran lawan, mulut lukanya yang baru merapat kembali merekah, rasa sakit hingga merasuk tulang membuat gerak serangannya jadi melambat, otomatis terbuka celah dalam sistim pertahanannya.

Merasakan gelagat yang tidak menguntungkan, buru buru dia melompat mundur, secara tepat ia berhasil menghindari ancaman tersebut.

Kepalan serta tendangan kakinya tersohor karena keras melebihi baja, sayang senjata yang dihadapi adalah golok Kelelawar yang luar biasa tajamnya, lagipula jurus golok yang Kepalan serta tendangan kakinya tersohor karena keras melebihi baja, sayang senjata yang dihadapi adalah golok Kelelawar yang luar biasa tajamnya, lagipula jurus golok yang dihadapi pun sangat aneh dan canggih.

Setiap bacokan yang dilepaskan mengubah senjata tersebut seakan sebuah mata bor, mata bor yang dengan cepat menembusi semua pertahanannya.

Andaikata Ong Bu-shia nekad menggunakan kepalannya untuk menangkis, setiap saat kemungkinan besar dia akan saling membentur dengan mata golok.

292 Tak bisa diragukan, si Kelelawar bukan lantaran ingin menghadapi kepalannya maka ia menggunakan ilmu golok semacam itu, tapi ilmu golok mana dalam dunia persilatan yang memiliki kehebatan seperti ini?

Sementara pelbagai ingatan melintas dalam benaknya, kembali ia mundur sejauh tiga langkah, mendadak satu ingatan melintas lewat, segera teriaknya.

Ilmu yang kau gunakan bukan ilmu golok, melainkan ilmu pedang!

Sinar mata si Kelelawar semakin menggidikkan, permainan golok pun makin gencar dan cepat.

Sambil mengigos kian kemari, kembali seru Ong Bu-shia.

Mampu menggunakan ilmu pedang sebagai ilmu golok, bahkan bergerak begitu cepat dan lincah, dapat dipastikan kau adalah seorang jago silat kelas satu Kelelawar tidak menjawab, sepasang goloknya berputar sambil membabat.

Sambil menghembuskan napas panjang, ujar Ong Bu-shia lagi.

setahuku, dalam dunia persilatan hanya ada seorang yang menggunakan ilmu pedang semacam ini!

Segulung angin berhembus lewat, mengibarkan rambutnya yang telah beruban, membawa pula suara ringkikan dan derap kuda dari kejauhan.

Sinar mata Kelelawar makin menggidikkan, gerak serangan goloknya makin lambat, gerakan yang melambat itu entah karena mendengar suara derap kaki kuda atau karena terpeng aruh oleh ucapan terakhir Ong Bu-shia.

Coba kau dengar suara derap kaki kuda itu kembali Ong Bu-shia berkata sambil melambatkan pula gerak serangannya, ada orang sedang menyusul kemari, bisa jadi dia adalah Siau Jit!

Kalau benar dia, lantas kenapa?

Bicara dari ilmu silat yang kau miliki, mustahil dapat membunuh aku sebelum kedatangan mereka, begitu orang orang itu muncul, meski mungkin aku tak bisa lolos dari sini, kau sendiripun belum tentu bisa lolos, bagaimana kalau kita barter saja?

Katakan!

Kita mengambil jalan masing masing dan anggap tak pernah terjadi peristiwa ini, aku pun tak akan membongkar rahasiamu itu!

Jadi kau sudah tahu siapakah aku?

293 Kecuali...........

baru sepatah kata itu diucapkan, cahaya golok telah berkembang didepan mata, gerak serangan si Kelelawar yang terhenti tadi tiba-tiba berkembang makin ganas.

Tubuhnya berikut golok telah menyatu jadi satu dan meluncur maju, segumpal bola cahaya tahu tahu sudah menerkam tubuh Ong Bu-shia.

Gerakan ini sama sekali diluar dugaan siapa pun, sebab dari gerakan yang melambat nyaris berhenti, tahu tahu berubah secepat anak panah yang terlepas dari busur.

Setiap jengkal pori pori tubuhnya seolah ikut bergerak, setiap inci kekuatan yang dimiliki seakan sudah dipergunakan hingga maksimal.

Bila Ong Bu-shia memperhatikan wajahnya, dia pasti akan melihat kalau musuhnya sedang bersiap melancarkan gempuran dengan sepenuh tenaga.

Sayang yang dia saksikan hanya wajah si Kelelawar, perubahan mimik muka yang tersembunyi dibalik wajah itu sama sekali tak terlihat olehnya.

Disaat dia merasakan gelagat tidak beres, musuh sudah mulai bergerak!

Tak tahan lagi Ong Bu-shia menjerit kaget, cepat tubuhnya mundur dari situ, sekali lompat ia sudah mundur sejauh dua tombak, sayang kini punggungnya sudah menempel diatas dinding rumah.

Sambil tetap menempel diatas dinding, dia melambung dan bergerak naik ke atas.

Tapi gerakan tubuh si Kelelawar jauh lebih cepat lagi.

Begitu tubuhnya sampai, bacokan golok pun mengikuti, Sreeet, sreeet!

dalam waktu singkat dia telah melepaskan seratus dua puluh tujuh bacokan berantai, tak satu pun dari bacokan itu memiliki sudut yang sama, semua serangan seolah sudah terbentuk sebuah jaring golok yang sangat rapat.

Bagaimana pun Ong Bu-shia berusaha menghindarkan diri, ia tetap gagal melepaskan diri dari kepungan jaring golok yang begitu rapat.

Dalam keadaan begini, dia hanya bisa sembunyikan kepala, menarik dada, menggunakan sepasang lengannya melindungi diri, dengan gerakan tubuh Yau-cu-huan-si (belibis membalik badan), Lei-hi-to-ceng-po (ikan leihi meletik diatas ombak) 294 dalam waktu sekejap ia telah berganti dengan dua puluh tujuh macam gerakan untuk meloloskan diri, pada hakekatnya ia harus berjumpalitan terus ditengah udara.

Luka pada lambungnya makin merekah, darah segar mulai mengucur keluar membasahi seluruh pakaiannya.

Kini seluruh tubuhnya telah berubah jadi merah membara, merah karena kucuran darah yang makin deras.

Darah itu bukan hanya mengucur dari luka lamanya, bahkan berasal dari puluhan mulut luka baru, dari seratus dua puluh tujuh bacokan yang dilancarkan Kelelawar, paling tidak ada sepertiga nya bersarang telak ditubuh orang itu.

Ong Bu-shia menjerit kaget, meraung gusar, mendadak suaranya terputus ditengah jalan, lalu tubuhnya jatuh terjerembab, roboh terkapar diatas tanah.

Tusukan telak yang bersarang diperutnya mendatangkan luka yang amat serius, bukan hanya darah yang menyembur keluar, bahkan usus dan isi perutnya ikut berhamburan.

Sambil tertawa dingin ejek si Kelelawar.

Kalau Siau Jit memiliki pedang pemutus usus, maka aku mempunyai golok pemutus usus!

Berbareng dengan teriakan itu, dia bergerak mundur.

Kini ia sudah mundur sejauh tiga tombak, tiada setetes noda darah pun yang melekat diatas sepasang goloknya.

Tak diragukan lagi setiap golok Kelelawar merupakan benda mustika yang tiada taranya, walau digunakan untuk membunuh namun tidak akan menodainya.

Dengan cepat ia sarungkan kembali sepasang goloknya, lalu mementangkan kedua belah ujung bajunya, dengan satu lompatan ia sudah melambung ke udara dan melewati wuwungan rumah.

Pada saat itulah Siau Jit, Lui Sin dan Han Seng telah melompati pagar tembok, melayang masuk ke tengah halaman.

Mereka semua sempat terkejut oleh suara teriakan kaget dan raungan gusar Ong Bu-shia, walaupun tidak tahu kalau berasal dari Ong Bu-shia, mereka pun tidak punya bayangan kalau suara itu berasal dari Kelelawar.

295 Siau Jit hanya ingin menolong orang secepatnya, sepanjang jalan dia larikan kudanya kencang kencang.

Kuda itu mereka beli ditengah jalan tadi, setelah berlarian sekian lama, binatang tunggangan itu sebenarnya sudah keletihan, tapi begitu dijepit kuat kuat, otomatis mereka pun berlari makin cepat.

Bagai anak panah yang terlepas dari busur, kuda itu berlari kencang langsung menerjang dinding pagar, disaat itulah tiba-tiba Siau Jit melejit ke tengah udara.

Lui Sin dan Han Seng yang menyusul dari belakang segera ikut melompat keatas dinding pagar sambil mencabut keluar senjata masing masing.

Siau Jit yang berada diatas dinding pagar ikut meloloskan pedangnya, dengan kecepatan tinggi dia meluncur ke bawah, bergeser menuju ke arah berasalnya suara teriakan tadi.

Kemudian diantara ranting dan dahan pohon yang berserakan, ia temukan tubuh Ong Bu-shia yang tergeletak bersimbah darah.

Siapa disitu?

bentaknya sambil maju mendekat, tapi ia sontak berdiri tertegun setelah melihat wajah orang itu.

Lui Sin dan Han Seng segera menyusul tiba dibelakang Siau Jit, baru akan mengajukan pertanyaan, Siau Jit sudah menjulurkan tangannya sambil berbisik.

Ambilkan obor!

Han Seng menyahut sambil menyulut opor, setelah melihat dengan jelas wajah sang korban, dia pun menjerit.

Ong Bu-shia??

Betul, memang dia!

sahut Siau Jit sambil menerima obor itu.

Kenapa bisa tergeletak disini?

tanya Lui Sin.

Siau Jit hanya termenung tanpa menjawab.

Siapa pula yang memiliki kepandaian silat begitu hebat sehingga berhasil membunuhnya disini?

ujar Han Seng pula.

Kelelawar!

Aaah betul, pasti perbuatan Kelelawar!

Tapi...........

tiba-tiba Lui Sin membungkam.

296 Waktu itu Siau Jit sedang menempelkan tangannya untuk memeriksa dengus napas Ong Bu-shia.

Napasnya sangat lemah, tapi tetap masih hidup, cepat Siau Jit menancapkan pedangnya ke tanah dan menyerahkan obor ke tangan Han Seng.

Setelah itu dia tempelkan sepasang tangannya diatas khi-bun-hiat ditubuh Ong Bu-shia dan menyalurkan hawa murninya.

Mau apa kau?

tak tahan Lui Sin bertanya, buat apa kau menolong orang jahat itu?

Siau Jit tidak menjawab.

Han Seng yang berada disisinya segera menjelaskan.

Siau kongcu pasti berusaha mengorek keterangan dari mulutnya, siapa tahu mendapat petunjuk lain Tiba-tiba terdengar Ong Bu-shia merintih kemudian perlahan lahan membuka matanya.

Sorot matanya sayu tak bercahaya, ia menatap Siau Jit sekejap, akhirnya berbisik.

Palsu.....

palsu ......

palsu .....

Walaupun suaranya parau, namun masih kedengaran dengan jelas.

Apa maksudmu palsu?

desak Siau Jit gelisah, maksudmu si Kelelawar itu palsu?

Ong Bu-shia tidak menjawab, ia pejamkan mata dan menghembuskan napasnya yang terakhir.

Perlahan Siau Jit menarik kembali tangan nya, untuk sesaat ia duduk bersila disana dengan wajah tertegun, sama sekali tak bergerak.

Lui Sin menunggu berapa saat, akhirnya tak tahan ia berseru.

Apa maksud ucapannya itu?

Mana mungkin si Kelelawar itu palsu?

Bagai mendusin dari impian, sahut Siau Jit.

Seandainya palsu pun tak ada yang perlu diherankan Ooh?

Coba bayangkan saja, bukankah Kelelawar itu sama sekali tidak mirip orang buta?

Lui Sin termenung sambil membayangkan, sahutnya kemudian.

Kalau dibicarakan sekarang, rasanya dugaanmu memang benar 297 Fajar itu, ketika kita mengejarnya dijalan raya, dia kabur menembusi hutan dan tiba ditepi sungai, akhirnya ia berhasil melompat naik keatas sampan dan lenyap dibalik ketebalan kabut Betul, memang begitu Ketika berlarian menembusi pepohonan dengan kecepatan tinggi, bahkan kita pun harus berhati hati agar tidak sampai bertumbukan dengan pepohonan, tapi dia seakan serba tahu, bukan saja dapat berlari kencang bahkan sama sekali tidak bertumbukan dengan pepohonan, padahal pohon kan tak mungkin bisa bersuara memberi peringatan, selain itu tak ada orang kedua yang memberi petunjuk, kalau dibilang ia orang buta beneran, siapa pun sulit untuk percaya Ehm, masuk akal juga............

Lui Sin mulai mengelus jenggot, kenapa selama ini aku tak pernah berpikir sampai ke situ?

Orang yang bersangkutan pasti bingung, tapi penonton bisa melihat lebih jelas.

Waktu itu pada hakekatnya aku sudah lupa kalau dia adalah orang buta, yang kupikirkan saat itu hanya bagaimana menghadangnya serta mencari tahu kabar berita tentang nona Lui Betul, memang begitu Mungkinkah ucapan dari Ong Bu-shia tadi bermaksud begitu?

sela Han Seng.

Rasanya memang begitu.

Jagoan ampuh semacam dia, walaupun sudah terluka parah dan nyawanya diambang kematian, namun hingga detik terakhir pikirannya masih tetap terang benderang, lagian kita toh sedang membicarakan masalah si Kelelawar Masalahnya sekarang adalah kenapa dia pun datang kemari?

ujar Han Seng.

Aku rasa dia datang dengan maksud ingin membunuh Lau Ci-he Apakah diantara mereka terkait masalah dendam atau permusuhan?

Secara dipaksakan boleh dibilang begitu Tampaknya saudara Siau amat jelas dengan kejadian ini?

Betul, aku rasa salah satu alasannya adalah ingin membuat perhitungan bagi kematian Tui-hun-cap-ji-sat 298 Lotoa dari Tui-hun-cap-ji-sat tak lain adalah anak murid dari Ong Sip-ciu.

Bukankah Ong Sip-ciu adalah putra Ong Bu-shia?

tanya Han Seng, berarti pertarungan kalian waktu itu..............

Benar, dia sedang membuat perhitungan untuk Tui-hun-cap-ji-sat Kalau begitu kedatangan Ong Bu-shia mencari Lau Ci-he bukannya sama sekali tak ada alasan Benar, tentu saja dia telah menyelidiki dengan jelas tentang sebab musabab kematian Ong Sip-ciu Kalau begitu aneh sekali, seharusnya dia bereskan dirimu terlebih dulu Satu satunya penjelasan dalam hal ini adalah luka yang ia derita dalam pertarungan di rumah makan Thay-pek-lo jauh lebih parah daripada apa yang kita bayangkan Tapi ketika melarikan diri, dia tidak tampak seperti menderita luka parah Berkilat sepasang mata Siau Jit.

Masalahnya justru muncul setelah dia menggempur dinding tembok dengan pukulannya Aaah, pasti begitu!

seru Lui Sin.

Oleh karena dia tahu luka yang dideritanya bertambah berat dan susah disembuhkan dalam waktu dekat, hal ini memaksa ia harus bertindak dengan mencari sasaran yang paling enteng untuk dibereskan terlebih dulu, kemudian baru mencari saudara Siau untuk ditantang berduel Mungkin saja memang begitu Ketika tiba disini, secara kebetulan ia bertemu Kelelawar dan mengetahui rahasia si Kelelawar, itulah alasan mengapa si Kelelawar harus menghabisi nyawanya untuk menghilangkan saksi!

Sangat masuk akalkah analisamu itu?

Aku rasa sangat masuk akal tanpa terasa Han Seng manggut manggut.

299 Biarpun Ong Bu-shia membawa luka, andaikata jago yang dia jumpai bukan jago hebat macam Kelelawar, rasanya dia pun sulit untuk dibunuh Han Seng mengangguk berulang kali.

Betul, andaikata lukanya sangat parah, mana mungkin ia berani datang kemari untuk mencari Lau Ci-he?

Kendatipun ilmu silat yang dimiliki perempuan ini masih belum sebanding dengan Siau-heng, dia pun bukan termasuk jago sembarangan Apa mau dibilang ia justru bertemu Kelelawar, boleh dibilang ia memang sedang sial ujar Lui Sin sambil tertawa.

Siau Jit tidak tertawa, sebaliknya malah menghela napas panjang.

Aaai, begitu pula dengan Lau Ci-he, walaupun malam ini dia bisa lolos dari tangan Ong Bu-shia, pada akhirnya toh susah juga menghindari Kelelawar Lui Sin berhenti tertawa, serunya.

Lalu kita..............

Aku yakin kedatangan kita sudah terlambat, kalau tidak, seharusnya Lau Ci-he sudah munculkan diri saat ini, tak mungkin perkampungan itu begitu tenang Mau tak mau Lui Sin harus setuju dengan pendapat ini.

Kenyataan membuktikan bahwa dugaan Siau Jit tidak keliru, setelah menemukan ke empat jenasah dari Lau Ci-he sekalian, mereka bertiga merasa masgul, murung dan sedih.

Untuk sesaat mereka hanya bisa duduk diatas genting sambil termangu, duduk mematung tanpa bergerak.

Dibawah sinar rembulan yang sendu, tampak paras muka ke tiga orang itu pucat bagai kertas.

Akhirnya Siau Jit yang buka suara lebih dulu, sambil menggeser jenasah Lau Ci-he, ujarnya sambil menghela napas.

Walaupun kedatangan kita sedikit terlambat, namun sesungguhnya telah berusaha semaksimal mungkin Aaai, seandainya si Kelelawar tidak membantai kuda kuda tunggangan kita, sejak tadi kita sudah tiba disini ucap Lui Sin uring uringan.

Siau Jit tertawa getir.

300 Justru karena dia sudah memperhitungkan kalau kita mungkin akan mencari sampai disini, maka kuda kuda tunggangan kita dihabisi dulu nyawanya Aku tak habis mengerti, atas dasar apa dia memperhitungkan sampai ke sini?

Bila dia pun tahu kalau Hong-ji telah meninggalkan catatan, tidak seharusnya dia biarkan kita pun ikut membaca ke tiga nama diatas panggung itu Justru hal semacam inilah yang paling menakutkan dari dirinya, ketika ia tahu kalau kita berhasil menemukan lorong rahasia bawah tanah di kuil Thian-liong-ku-sat, sudah pasti mempertimbangkan pula setiap kemungkinan yang mungkin terjadi, mempertimbangkan petunjuk apa yang mungkin ditinggalkan nona Hong, atau dia telah teledor dengan suatu tempat, suatu masalah.

Oleh sebab itu dia bunuh kuda tunggangan kita lebih dahulu, agar ia bisa berebut satu langkah didepan kita dan menemukan Lau Ci-he lebih dulu!

Tapi mengapa dia harus membunuh Lau Ci-he?

tanya Han Seng keheranan, atau jangan jangan gadis itupun mengetahui suatu rahasia besar dari dirinya?' Bila demikian kejadiannya, tak mungkin Lau Ci-he bisa hidup melewati hari ini Itulah masalahnya, kenapa dia harus menghabisi nyawanya?

Setelah berpikir pulang pergi, aku rasa hanya ada satu kemungkinan!

Apa?

Golok Kelelawar!

Han Seng tidak habis mengerti, begitu pula Lui Sin, maka Siau Jit menjelaskan lebih jauh.

Kelelawar memiliki tiga belas bilah golok Kelelawar, dua belas diantaranya telah dihadiahkan untuk dua belas orang gadis yang paling dia sukai Hal ini kita sudah tahu Mengapa harus membuat tiga belas bilah golok Kelelawar?

Aku yakin tak mungkin masalahnya hanya untuk barang kenangan, dibalik ke tiga belas bilah golok Kelelawar itu pasti tersimpan suatu rahasia besar Setelah berhenti sejenak, lanjutnya.

Mungkin menyangkut sejumlah harta karun, menurut cerita orang persilatan, sesungguhnya Kelelawar adalah keturunan dari suatu keluarga persilatan, keluarga itu kaya raya dan memiliki harta yang mampu menandingi harta sebuah negeri 301 Ehm, aku pernah dengar cerita tentang hal itu Lui Sin manggut manggut.

Mustahil baginya untuk selalu menggembol seluruh harta kekayaannya yang begitu banyak kesana kemari, sebagai orang cerdas dia pasti akan mencari sebuah tempat yang aman dan rahasia untuk menyimpannya, besar kemungkinan ke tiga belas bilah golok Kelelawar itu punya hubungan yang erat dengan harta karun itu Tanpa terasa Lui Sin dan Han Seng menganggukkan kepala.

Kembali Siau Jit melanjutkan.

Aku pernah melihat golok Kelelawar milik Lau Ci-he, selama ini dia selalu menggantungnya diatas dinding dalam kamar tidurnya, tapi sekarang, benda itu sudah lenyap Jika Kelelawar itu adalah Kelelawar tanpa sayap yang sebenarnya, tidak mungkin dia akan minta balik golok golok Kelelawar yang telah diberikan kepada orang lain pada sepuluh tahun berselang kata Lui Sin.

Dan satu hal lagi sambung Han Seng, mana mungkin seseorang yang sudah berubah jadi orang idiot, pada sepuluh tahun kemudian sembuh kembali seperti orang normal.

Kalau dipikirkan, hal ini pun patut dicurigai!

Siau Jit segera tertawa.

Bicara sampai disini, kita semua nyaris yakin kalau si Kelelawar tanpa sayap yang muncul sekarang, seratus persen adalah gadungan katanya.

Tapi siapa pula Kelelawar tanpa sayap gadungan ini?

Siau Jit tidak menjawab bahkan membungkam dalam seribu bahasa, tampaknya ia sudah terjerumus dalam pemikiran yang mendalam.

Apa yang sebenarnya sedang ia pikirkan?

Baru saja Lui Sin ingin bertanya, Han Seng telah menarik tangannya dan memberi tanda agar dia tidak bersuara.

Dari perubahan mimik muka Siau Jit, dapat terlihat dengan jelas bahwa pemuda itu memang sedang memikirkan sesuatu, dan saat seperti ini kurang cocok untuk mengganggunya sehingga memutuskan jalan pemikirannya.

302 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------IGA BILAH golok Kelelawar berjajar menjadi satu, tampak bentuknya persis sama satu dengan lainnya.

Dengan pandangan tajam si Kelelawar menatap ke tiga bilah golok itu tanpa berkedip, tiba-tiba ujarnya.

Tang-shia, coba kau lihat, dimana letak perbedaan dari ke tiga bilah golok itu?

Berbicara dari soal ukuran, bentuk maupun bobot, hampir semuanya sama tanpa perbeda an, satu satunya yang berbeda pada ke tiga golok ini rasanya hanya pada gambar yang terukir dipelindung tangan berbentuk Kelelawar itu Tahukah kau kalau ukiran itu bukan gambar melainkan huruf sansekerta?

Aku hanya tahu kalau huruf yang terukir pada golok Kelelawar milikku adalah huruf Po (mustika) Dari golok yang kuperoleh dari tangan si Kelelawar, huruf sansekerta yang tertera disitu adalah huruf Si (kuil), kita pernah beranalisa bahwa rangkaian huruf tersebut merupakan petunjuk dimana harta karun itu disimpan, bila ke tiga belas tulisan yang tertera pada tiga belas bilah golok Kelelawar disatukan maka akan tercipta sebuah kalimat yang menunjukkan tempat penyimpanan itu Karena itulah kau berupaya dengan segala cara untuk memancing si Kelelawar mau mengaku, kepada siapa saja ke dua belas bilah golok itu diberikan?

sambung Suma Tang-shia.

Padahal hal ini bukanlah satu pekerjaan mudah, hingga sekarang, kita hanya mampu mendapatkan tiga bilah diantaranya Bila ditambahkan golok milik Hek Botan dan Pek Huyung, paling juga baru lima bilah, sekalipun kita dapat merangkai ke lima huruf itu, belum tentu huruf huruf tadi dapat dirangkai menjadi sebuah kalimat yang dapat kita pahami artinya Aku rasa tiga bilah pun sudah lebih dari cukup tukas si Kelelawar cepat.

303 Oya?

Coba kau periksa, huruf apa yang tertera pada golok Kelelawar milik Lau Ci-he?

Sekarang Suma Tang-shia baru memperhatikan dengan seksama ukiran huruf Sansekerta yang terukir diatas golok tersebut.

Kemudian dengan suara tercengang teriaknya.

Aaah, ternyata huruf Liong (naga) Benar, memang huruf Liong.

Tang-shia, sekarang kau sudah mengerti bukan?

Tanpa berbicara Suma Tang-shia mengangguk.

Kembali si Kelelawar berkata.

Bila dugaan kita tak salah maka bila ke tiga belas huruf yang tertera pada golok Kelelawar itu dirangkai jadi satu, maka semestinya kalimat yang dirangkai adalah ......

mestika disimpan di .....

kuil naga Kelihatannya memang begitu Didalam kenyataan, manusia semacam Kelelawar memang luar biasa senangnya dengan segala macam bangunan kuil, mungkin dia anggap melakukan perbuatan rahasia didalam sebuah kuil jauh lebih leluasa dan sukar ditemukan orang lain.

Tapi bangunan kuil semacam kuil Thian-liong-ku-sat (kuil naga langit) semuanya berjumlah tiga belas buah yang tersebar di utara sebanyak enam buah dan wilayah selatan sebanyak tujuh tempat, bukan satu pekerjaan yang gampang untuk melacak setiap bangunan kuil tersebut Tentu saja sulit Dapat menemukan kuil Thian-liong-ku-sat sesungguhnya merupakan hasil ingatanmu yang luar biasa, setelah dibebaskan oleh si Kelelawar ternyata kau masih dapat berjalan balik ke tempat penyekapanmu, hal ini merupakan sebuah kejutan.

Hanya sayangnya, walaupun kita pernah menaruh curiga kalau harta karun itu kemungkinan besar disimpan dalam kuil Thian-liong-ku-sat, namun setelah digeledah sekian lama, hasilnya tetap nihil.

Gara gara itulah kita jadi kepikiran untuk mengumpulkan kembali ke tiga belas bilah golok Kelelawar Setelah tertawa getir, lanjut si Kelelawar.

Kalau ingin melacak arti kalimat itu dari dua bilah golok saja, sudah jelas hal ini mustahil bisa berhasil 304 Setelah huruf po (mustika) mustinya huruf ciong (disimpan), setelah huruf Si (kuil) semestinya huruf wan (halaman), kini kita peroleh lagi huruf Liong (naga), itu berarti diatasnya adalah huruf Thian (langit)...

Betul, dan sekarang paling tidak kita berani memastikan kalau harta karun itu tersimpan didalam kuil naga langit (thian-liong-si) Tapi huruf Liong bisa dimaksudkan semacam benda mustika, mungkin juga nama sebuah tempat, dibawah huruf itu belum tentu huruf Si (kuil) dan diatasnya belum tentu huruf Thian (langit) Si Kelelawar menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya.

Bukannya tanpa alasan kita merasa begitu yakin Suma Tang-shia tidak bicara, ia termenung.

Si Kelelawar segera menjelaskan.

Aku percaya kaupun tak akan menyangkal kalau si Kelelawar telah mengobarkan banyak pikiran, tenaga serta harta untuk membangun kerajaannya dalam kuil Thian-liong-ku-sat, padahal dia hanya seorang buta, jadi tak mungkin dia membangun kesemuanya itu dengan andalkan tenaganya seorang diri.

Bisa jadi untuk membangun semuanya itu, dia telah melibatkan banyak tukang serta tenaga kerja, namun ketika bangunan itu selesai dibangun, dia pun membantai habis semua pekerja itu untuk menghilangkan saksi.

Tapi pernahkah di kota ini terjadi kehebohan karena lenyapnya sejumlah besar tukang bangunan?

Walaupun mereka mungkin diundang bekerja dengan bayaran tinggi atau ada juga yang datang secara sukarela, masa lenyapnya orang orang itu tak sampai menimbulkan kehebohan?

Baca Juga: Badik Buntung 4

Baca Juga: Bangau Sakti 16

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert