Ceritasilat Novel Online

Pengelana Rimba Persilatan 1

Eps 1 Pengelana Rimba Persilatan - Huang Yi

Baca online Pengelana Rimba Persilatan - Huang Yi

Cersil Pengelana Rimba Persilatan - Huang Yi.

Judul asli .

JIANG HU LIE REN ~Pengelana Rimba Persilatan~ Karya .

Huang Yi Saduran .

Liang YZ Editor .

Adhi H Penerbit .

Tunas Mandiri Jaya Cetakan Kel.

Desember 2007 ISBN/KDT .

978-979-1489-14-0 Sumber DJVU Manise di

http.//dimhad.via.my/ Ebook oleh . Dewi KZ

http.//kangzusi.com / atau

http.//

http.//dewikz.byethost22.com / Nama orang, nama tempat dan istilah-istilah lain yang dipakai, semuanya menggunakan bahasa. PING YIN

Jilid ke Satu.

Bab 1 Fu Ke-wei berdiri diatas bukit, mengangkat kepalanya dan menghirup nafas panjang, setelah menutup sepasang matanya, seluruh tubuhnya seperti membeku, tapi setiap otot di tubuhnya mengendur seperti kehilangan tenaga.

Lama...

dia baru kembali mulai bernafas, tingkahnya tadi seperti orang mati, hanya bedanya dengan orang mati, dia masih bernafas.

Di ufuk timur sudah tampak sinar fajar, sekarang keadaan di sekeliling sudah mulai terlihat.

Sekeliling pegunungan itu penuh dengan rimba yang berwarna hijau, rumput liar hijau segar, bunga-bunga liar terdapat dimana-mana.

Dia menghirup hawa segar musim semi, Cuaca bagus di hari Cing-ming (Ceng-beng) yang sulit didapat, berbeda sekali dengan Cing-ming tahun lalu yang hujan mengesalkan orang.

Disini adalah tempat bagus untuk tidur panjang, di belakang ada perbukitan Yin-yang, di depan tidak sampai sembilan li, ada sungai besar berkilau perak, menghadap air membelakangi gunung, gunungnya terang airnya jernih.

Sebelum matahari fajar muncul, dia sudah selesai berlatih silat yang setiap hari harus dilatihnya.'...

Dia memungut pedang yang ditaruh di lapangan rumput, membereskan baju, wajah yang muda, mulai kembali kewajah yang normal, wajah yang tampak merah berdaging sehat.

Setelah berkelana didunia persilatan selama lima tahun, perjalanan ini tidak meninggalkan kerutan di wajahnya, dia tetap muda, sehat, energik.

Lima tahun, didalam ingatannya cukup panjang sekali, hari-hari yang dilewatinya penuh dengan sabetan pedang dan golok, pengalaman keluar masuk pintu hidup atau mati, sekarang dia malas memikirkannya.

Pada usia delapan belas tahun dia sudah keluar gunung, dia semakin matang, matangnya membuat membuat dia mengerti pahit getirnya kehidupan, kematangan yang membuat dia sadar akan lahir, tua, sakit, mati, lingkaran hidup yang tidak bisa diramalkan.

Setiap tahun pada hari Cing-ming, dia selalu datang kesini, membersihkan dan bersembahyang pada makam ayah dan ibunya yang telah meninggal selama delapan tahun, juga gurunya yang sambil duduk semedi meninggalkan hidupnya, gurunya yang telah mendidik dia hingga tumbuh dewasa.

Maka walau dirinya berada puluhan ribu li ditempat liar sana, dia harus sampai ditempat ini pada hari Cing-ming ini, delapan tahun terasa seperti satu hari, dia tidak pernah absen.

Rumah dia berada di depan di bawah lereng gunung, nama tempatnya adalah kampung Liu Jiang, dia tinggal dengan empat-lima puluh kepala keluarga, separuh lebih adalah petani yang rajin.

Sekarang dia tinggal sendirian, beberapa gunung kecil di atasnya ditanami dengan pohon sejenis cemara, usia pohonnya sudah puluhan tahun, sama sekali tidak perlu diurus oleh dia.

Makanya, dia kerasan di dunia persilatan, tidak ada yang dia khawatirkan.

Setelah sembahyang pada ayah ibu dan gurunya, pikiran dia seperti asap, melayang-layang diatas udara.

Dia berpikir.

'manusia begitu kecil dan tidak menentu!

Hidup, cuma beberapa puluh tahun, mati, menjadi setumpukan tanah kuning.

Tidak perduli orang suci atau bukan, hidup adalah sama, mati pun juga sama, siapa pun tidak bisa lari dari putaran kehidupan.

Matahari sudah naik diatas gunung sebelah timur, angin gunung bertiup dingin.

Dia^membereskan alat-alat sembahyang, dimasukan ke dalam keranjang jinjing, lalu keluar dari mulut pekuburan, sebelum pergi dia menatap lagi pada pekuburan yang sepi.

Dia tahu, dia sudah harus pergi, pergi kejalan yang dia pilih, pergi ke alam yang sulit ditebak.

Cing-ming tahun depan, apakah dia bisa kembali kepekuburan ini untuk membersihkan dan membetulkan kuburannya?

Hanya bisa mengandalkan dugaan saja.

Mungkin, tulang mayat dia sendiri sudah tidak tahu dikubur ditanah kuning mana, dan dimakan oleh belatung.

Akhirnya dia pergi dengan langkah yang mantap, menandakan tekad dia yang akan maju kedepan.

Sampai di bawah bukit, kampung Liu-jiang sudah terlihat.

Dari deretan rumah yang tidak teratur, dia sudah dapat melihat dengan jelas bangunan rumah berderet tiga, didepannya ada pekarangan besar, itulah rumahnya.

Berjarak tiga-empat li, tiba-tiba dia melihat dari bayangan hutan, di depan benteng pekarangannya ada satu bayangan asing berkelebat menghilang.

Dia berdiri, berhenti berjalan.

Pelan-pelan dia menaruh keranjang jinjing nya, berdiri konsentrasi, wajahnya telah berubah, berubah jadi dingin, aneh, sepasang matanya bersinar, seluruh tubuhnya penuh dengan hawa yang menakutkan.

Dia mengambil pedangnya dan diselipkan dipinggang, mengangkat kain mantel panjang disisipkan kepinggangnya, menggulung lengan baju, memeriksa pelindung lengan sebelah kiri dan kanan.

Diluar pelindung tangannya masing-masing ada tiga bilah pisau yang bentuknya tidak aneh tapi bersinar dan melengkung seperti bulan sabit, nama pisaunya adalah Xiu-luo, buatan India.

Karena senjatanya, dia di dunia persilatan dijuluki.

Xie-jian-xiu-luo (Pedang Sesat Pisau Melengkung).

Nama Xie-jian-xiu-luo, didunia persilatan diakui sebagai orang yang paling berani, paling sulit ditebak, paling sulit dihadapi, pesilat muda misterius, tidak perduli pesilat mana baik dari golongan putih atau golongan hitam, semua segan terhadapnya, selain itu perbuatannya tidak pernah bohong dan tidak pernah menyesal.

Walau Xie-jian-xiu-luo menggemparkan dunia persilatan, tapi orang yang tahu nama asli dan wajah aslinya, sangatlah sedikit sekali.

Setelah pagi lewat, didalam kampung hanya tinggal beberapa orang saja.

Semua orang-orang kampung sudah pergi ke gunung membetulkan kuburan atau bersembahyang pada nenek moyang.

Kemudian dia muncul dibawah pohon besar di mulut kampung, di depan satu jembatan kecil dari kayu yang melintang diatas sungai, dia berdiri cliatas jembatan, melihat pekarangan rumah dia yang berjarak setengah li.

Dia tidak melihat lagi kearah kampung, mulutnya menyungging tawa dingin, tiba-tiba dengan langkah besar dia melewati jembatan kecil, dia berjalan pergi meninggalkan tempat itu.

Wajahnya sekali pun tidak menengok Tidak lama kemudian, ada delapan orang, tua, muda, laki-laki, wanita menelusuri jalan kecil mengejarnya.

Yang paling depan adalah seorang tua berusia lima puluhan, dengan wajah berbentuk segi tiga, bermulut besar, berkumis tipis carang, matanya seperti elang bersinar dingin.

Dipinggang-nya terselip sebilah pedang antik panjang, dan menggantung segulung tali dengan kail tiga mata y, ing bersinar.

Delapan orang itu, setiap orangnya juga membawa segulung tali aneh ini, tali yang tidak bisa putus di potong golok.

"Dia harus mati!"

Orang tua setengah baya itu sambil berlari sambil memaki.

"Tidak disangka, setelah sembahyang pada nenek moyangnya, dia tidak kembali kerumahnya, m.ilah langsung pergi, sia-sia kita menunggu dia setengah harian, hingga kehilangan kesempatan baik membunuhnya!"

"Orang tua Lu!"

Kata seorang setengah baya kurus dibelakangnya.

"apa mungkin dia telah melihat kita, makanya dia melarikan diri?"

"Tidak mungkin."

Kata orang tua Lu dengan pasti.

"di saat begini, tidak seorang pun akan menduga ada orang bersembunyi di dalam rumah menunggu dia masuk."

"Mungkin sudah tidak bisa dikejar lagi."

"Omong kosong! Dia cuma berjalan dengan langkah biasa, memangnya bisa jalan seberapa jauh? Jika kita mengejar, paling sedikit lebih cepat dari dia lima kalinya."

"Tuan Lu, bisa mengejar dia juga sudah tidak ada kesempatan untuk mengatur jebakan lagi."

"Asal kita sudah melihat dia, maka kita coba melewati dia dari samping dan di depannnya kita cari tempat mengatur jebakan, itulah sebabnya aku menyuruh marga Li bersaudara mendahului dia."

"Pak Lu, aku selalu merasa ini tidak baik, terlalu berbahaya."

"Kau jangan banyak omong kosong, tidak bagus? Jika takut, kau tidak usah ikut."

Kata tuan Lu dengan tidak senang.

Jalan kecil ini melewati perbukitan yang berliku-liku ke arah selatan, menuju ke kota An qing, disepanjang jalan jarang ada perkampungan, tidak ada manusia, burung dan binatang liar berkeliaran dimana-mana, tidak usah takut bertemu dengan orang.

Setelah beberapa saat mengejar, jalan kecil itu membelok, hutan sudah habis, didepan tampak lapangan rumput, jalan kecil itu melewati bukit barat, di sebelah barat jalan kecil ada satu parit yangjernih.

"Aduh!"

Tuan Lu yang didepan tiba-tiba berteriak terkejut dan mendadak menghentikan langkahnya.

Tujuh orang lainnya yang dibelakang tidak keburu mengerem, hampir saja bertabrakan.

Di bawah pohon kecil disebelah kanan jalan, terbaring dua orang setengah baya berbaju ringkas.

Posisi pedang dan kantung serba gunanya masih tetap ditempatnya, bisa dipastikan mereka tidak pernah mengalami pertarungan.

Wajahnya putih pucat seperti kertas, bibirnya membiru, sepasang matanya melotot besar, titik mata hitamnya sudah buyar.

Siapa pun bisa melihatnya, dua orang ini sudah mati.

Matinya belum lama, karena mayatnya masih hangat.

"Marga Li bersaudara sudah mati!"

Kata tuan Lu sambil menarik nafas dingin.

Di depannya tiba-tiba terdengar ada orang yang bernyanyi.

Mendengar nyanyian itu tuan Lu berteriak dengan marah dan sedih!

Nyanyian itu terdengar keluar, sampai di lapangan datar.

Di tengah-tengah lapang, seperti setan bayangan Fu Ke-wei tiba-tiba muncul.

Nyanyian sudah berhenti, orangnya berdiri disana tidak bergerak juga tidak bicara, hawa pembunuhan yang dingin memenuhi sekitar tempat itu, delapan orang yang berada jauh seratus langkah lebih, tetap merasakan tekanan hawa dingin yang tidak terhingga.

Segera tuan Lu mengibaskan tangannya, sambil menggigit gigi berjalan mendekat.

Tujuh orang lainnya membagi diri kekiri dan kekanan, pelan-pelan mengurung, sambil pelan-pelan mendekat, sambil melepaskan gulungan tali dengan tiga mata kail itu.

Fu Ke-wei berdiri seperti gunung, dengan sorot mata bersinar menyambut delapan orang yang datang mengurung.

Delapan orang itu mempercepat langkahnya, dan dua sayapnya semakin melebar, akhirnya berhasil mengurung dari empat penjuru, delapan orang itu membentuk kurungan bulat.

Delapan buah tali dengan tiga mata kailnya mulai diputar, sambil diputar talinya pelan-pelan diulur semakin panjang.

Tapi Fu Ke-wei tetap berdiri tegak, seperti patung batu.

Suara putaran tali semakin lama semakin keras, delapan set mata kailnya semakin diputar semakin kencang bergerak.

Asalkan ada perintah, maka delapan set kail besi itu akan menyatu dari delapan arah, walau kail besi tidak mengenai sasaran, dalam keadaan tertali oleh delapan tali aneh, pasti akan dapat mengikatnya, dan menarik jatuh.

Sulit dapat menghindarnya.

"Anjing kecil, apa kau sudah tahu kami akan datang?"

Tanya tuan Lu menggigit gigi.

"Bukankah kalian sudah datang?"

Katanya dengan tertawa tawar.

"Pasti ada orang yang memberitahukan sebelumnya."

"Jika ada, pasti orang-orang kalian."

"Benar saja ada mata-mata di antara orang-orang kita."

Kata tuan Lu kesal.

"tapi kau tetap telah jatuh di tanganku."

"Kau kira aku tidak sanggup membunuh kalian, bisa sebodoh ini berdiam disini menunggu kalian datang mengepung?"

Wajah Fu Ke-wei semakin dingin.

"sebelum Sepasang Pedang Li mati, mereka telah mengatakan, dipekarangan depan rumahku kalian telah menyiapkan jebakan tali, makanya aku membawa kalian ketempat yang lapang, supaya kalian bisa melakukannya dengan sepenuh kekuatan, supaya mati pun kalian bisa menutup mata. Bukankah kau telah menghabiskan waktu tiga tahun, dan menghabiskan banyak uang untuk memesan tali khusus Penangkap Naga, kalau tidak ada gunanya, disamping itu bagaimana kalian akan puas setelah mati? Sekarang ayo lakukanlah! Aku sudah menunggu kalian!"

Di dalam hatinya, tuan Lu menjadi gentar, jika lawan tidak ada keyakinan, mana mungkin sebodoh itu menunggu musuh datang mengepungnya?

Dia jadi ragu-ragu bertindak, yang lebih penting lagi dia sudah kehilangan kesempatan mengendalikan keadaan, hatinya sudah tidak mantap, begitu kehilangan kepercayaan membuat dia ragu-ragu bertindak.

"Ada satu hal yang harus kuberitahu."

Pemuda itu melanjutkan.

"seumur hidupku, perbuatanku terang-terangan, aku sangat benci terhadap perbuatan yang sembunyi-sembunyi, aku sudah berkelana lima tahun didunia persilatan, teman-teman dunia persilatan bisa menjadi saksi. Sepasang Pedang Li dibunuh olehku secara terang-terangan, aku membiarkan mereka diam-diam menyerang dari belakang, lalu secara berhadapan dengan kedua tangan kubunuh mereka. Kalian dirumahku menyiapkan jebakan diam-diam ingin menyerangku, maka aku punya alasan yang cukup membalas perbuatan kalian, sayang aku tidak ada gairah melakukan serangan secara diam-diam, jika tidak, dijalan ini mayat kalian akan nampak berturut-turut, tidak mungkin ada kesempatan untuk kalian menggunakan strategi tali nyamuk ini."

"Disini kami juga harus menelentangkan mayatmu."

Kata tuan Lu dengan geram.

"Aku bukan seorang kejam yang senang membunuh orang, aku tetap ingin memberimu satu kesempatan."

Kata Pemuda itu dengan damai.

"kau sebagai ketua Benteng Tian-long (Naga langit) dengan julukan Pedang Naga Langit (Tian-long-jian), Lu-zhao seorang tetua dan terhormat, termasuk nomor tiga dari tiga pimpinan aliran hitam, dan juga punya potensi menjadi nomor dua, tapi kau telah melakukan perbuatan jahat yang tidak terhitung banyaknya, tanganmu penuh dengan darah,"

Manusia dan langitpun ingin menghukum-nya.

Tapi, aku dengan kau tidak ada permusuhan dan dendam, juga tidak perbah menyaksikan perbuatan jahatmu, kita tidak saling mengganggu.

Tapi, tidak seharusnya saat aku lewat, kau telah mengutus orang diam-diam ingin membunuhku, setelah gagal lalu melakukan pengeroyokan, belum puas kalau belum menghabisi aku, aku terpaksa membunuh dua saudara tirimu, dan dengan senjataku membunuh empat pengawal bentengmu, dalam pertarungan yang adil aku juga telah membunuh adik iparmu.

Selama tiga tahun kau terus mencoba membalas dendam, mengumpulkan teman-temanmu, mengutus orang kemana-mana menyelidik keberadaanku, setiap saat merencanakan diam-diam membunuhku.

Tapi aku selalu merasa permusuhan ini lebih baik didamaikan dari pada dijalin terus, hari ini, kau mengejar sampai kerumahku, menurut aturan tidak seharusnya aku melepaskan kalian, tapi aku tetap ingin memberi satu kesempatan lagi padamu, bawalah teman-temanmu pergi dari sini!

Orang yang mati sudah cukup banyak, kalian berdelapan ingin membunuh ku, terus terang saja, itu sama sekali tidak mungkin."

"Aku telah menghabiskan waktu tiga tahun, baru dapat menyelidiki jejak dan kebiasaanmu, hari ini kalau bukan kau maka aku "

"Buat apa? Tuan telah kalah setengah, apakah kau masih tidak bisa melihat, keadaannya tidak menguntungkan buatmu?"

"Delapan banding "

"Tuan, kujamin sekali menggerakan pisau Xiu-luo, dalam sekejap aku bisa membunuh setengah dari kalian. Jika kalian menganggap dengan menggunakan beberapa tali aneh bisa membunuhku, aku Xie-jian-xiu-luo bagaimana bisa hidup sampai sekarang? Pergilah, selagi masih sempat."

"Jika hari ini aku tidak membunuhmu, aku "

"Baiklah, hidup dan mati tergantung nasib, siapa yang kuat dialah yang hidup."

Wajahnya kembali menjadi dingin menyeramkan.

"silahkan mulai! Orang yang sial sulit bisa lolos, harap hati-hati terhadap pisau Xiu-luo ini, menghadapi pengeroyokan aku tidak akan menaruh hati kasihan."

Dia menyilangkan sepasang tangannya, kakinya pelan-pelan bergerak memasang kuda-kuda, matanya tambah bersinar, hawa pembunuhan mulai memancar, sepertinya seluruh orang disana ditutupi oleh hawa pembunuhan, setiap tempat yang disorot matanya, terasa membawa hawa pembunuhan yang sangat kuat.

Tidak ada orang yang dapat melihat pisau Xiu-luo nya, tampak sepasang tangannya kosong tidak terdapat apa apa.

Delapan set kail besi semakin diputar semakin kencang, delapan orang laki-laki dan perempuan mulai merubah posisi.

"Inilah kesempatan terakhir kalian."

Katanya dengan suara dalam.

"aku tidak berharap akan jadi orang yang mengubur mayat kalian."

Satu teriakan dengan suara dalam terdengar, kedua belah pihak sudah bersama-sama menyerang.

Delapan set kail besi bermata tiga terbang bersama-sama dari delapan arah, membentuk jaring berkumpul kearah tengah, suaranya memecah udara membuat orang mendengarnya kepalanya jadi mati rasa, suatu kerja sama yang tidak ada celahnya.

Andai kata yang diserang adalah seekor macan ganas, juga akan terikat, ditarik dan digulingkan.

Jika seekor naga terbang, juga tidak akan bisa lolos dari jaring langit ini.

Tapi dia bukanlah macan ganas atau naga terbang, tapi dia adalah pesilat tinggi dunia persilatan yang menakutkan.

Bersamaan dengan delapan kail besi itu menyerang, bayangan Fu Ke-wei seperti kilat terbang keutara, saking cepatnya sampai mata orang menjadi kabur, tampak seperti bayangan samar-samar.

Dan dua sinar kilat yang kecil yang sulit dipandang oleh mata telanjang, dari kiri dan kanan menuju kedepan sekali berkelebat langsung menghilang.

Kail besi masih belum berkumpul ditengah, bayangan hijau sudah menembus kepungan, saking cepatnya sulit dipercaya.

"Mmm "

Suara terbekam terdengar lebih dulu. Delapan tali aneh itu berkumpul dan berbelit ditengah. Suara teriakan terkejut terdengar sekali lalu menghilang, bayangan orang mendadak berhenti.

"Buuk! Buuk!"

Tampak dua orang melepaskan dua talinya, berteriak jatuh dilapangan rumput meregang nyawa.

Wanita berbaju hitam yang berusia empat puluh tahuNan-yang berada diutara, dibelit oleh talinya sendiri sampai lima enam gulungan, sepasang tangannya pun tergulung erat, sedang kailnya ditangkap oleh Fu Ke-wei, tenggorokannya diinjak oleh kaki, sepasang matanya menunjukan rasa ketakutan sekali, wanita itu seperti kehilangan roh, mata yang tadinya terang melotot besar, kini sudah tidak tampak lagi.

Asal Fu Ke-wei menambahkan sedikit tenaganya, pasti tenggorokan wanita itu akan terinjak patah.

"Aku sedang berpikir, bagaimana cara menghukum kalian yang ingin membunuhku."

Dia menatap pada Tian-long-jian, Lu-zhao yang wajahnya jadi pucat pasi, tidak tahu harus berbuat apa.

"mengasihi musuh, berarti kejam terhadap diri sendiri, aku Xie-jian-xiu-luo bukan orang yang biasa mengampuni."

Julukan dia adalah Xie-jian-xiu-luo, kata Xiu-luo bukanlah hanya tertuju pada pisau Xiu-luo nya saja, tapi benar-benar ditunjukkan karena kepandaiannya dan cara memperlakukan musuhnya.

Xiu-luo, nama lengkap sebenarnya adalah A Xiu-luo, adalah nama dewa dari kitab suci Budha, salah satu dari delapan naga langit yang sangat sakti dan sering menantang dewa langit Yi, sampai raja langit pun tidak dapat berbuat apa-apa pada dia.

Seseorang jika disebut Xie-jian-xiu-luo, bagaimana bisa menjadi seorang pengikut Budha yang maha pengasih?

Diwajahnya tergambar kekejaman, jika sebelumnya dia tidak tahu siasat jahatnya Tian-long-jian Lu-zhao, atau ilmu silatnya lemah dan tenaga dalamnya kurang, sekali kena dibelit oleh sebuah tali saja, akibatnya tidak perlu ditanyakan lagi.

Ada salah seorang lawannya melemparkan talinya dan melarikan diri, pertama-tama hanya seorang, lalu dua orang, tiga orang berturut-turut melemparkan talinya kemudian melarikan diri, cepat seperti ikan terlepas dari jaring.

Orang-orang ini bisa membaca situasi, melihat bahaya lalu lari menyelamatkan diri.

Akhirnya hanya tinggal Tian-long-jian Lu-zhao, dan seorang pria brewokan berusia setengah abad.

"Ampuni aku!"

Teriak wanita berbaju hitam yang ada dibawah kakinya ketakutan. Fu Ke-wei menarik kakinya, dengan dingin menatap wanita yang ketakutan dibawah kakinya.

"Aku aku akan mengundurkan diri dari dunia dunia persilatan"

Kata wanita itu dengan gugup, dibawah tatapan dinginnya dia ketakutan sekali.

Fu Ke-wei melemparkan tali dan kail ditangannya, mengibaskan tangan memberi tanda pada wanita itu supaya cepat pergi.

Barulah wanita berbaju hitam itu berani menggulingkan tubuhnya, melepaskan tali yang menjerat tubuhnya, dengan rambut dan baju acak-acakan dia bangkit berdiri, belum sampai bajunya dibereskan, dia langsung berlari ketakutan.

Hati Tian-long-jian Lu-zhao seperti tenggelam, sambil menggigit gigi, dia membuang tali anehnya, selangkah demi selangkah mendekati Fu Ke-wei.

"Jika berani, jangan menggunakan pisau terbangmu, mari bertarung menggunakan pedang denganku."

Tian-long-jian Lu-zhao dengan keras berteriak.

"benteng Tian-long sudah runtuh oleh perbuatanmu, namanya sudah rusak di dunia persilatan, aku benci padamu dan bersumpah jika ada kau tiada aku, diantara kau dan aku, hanya boleh satu orang yang hidup didunia, sekarang kau berani tidak bertarung dengan adil?"

Pisau Xiu-luo Fu Ke-wei jika digunakan malam hari juga tetap akurat, sungguh pisaunya lebih mengerikan dari undangan raja neraka, apa lagi jika digunakan siang hari.

Makanya Tian-long-jian Lu-zhao tidak ingin musuhnya menggunakan pisau Xiu-luo.

"Aku juga punya perasaan yang sama."

Kata Fu Ke-wei dengan tenang.

"jika kau tidak mati hari ini, dikemudian hari tentu akan menggunakan siasat yang lebih hina lagi menyerangku, lebih baik urusan kita diselesaikan pagi ini."

"Jadi Kau setuju tidak menggunakan pisau terbangmu?"

"Tentu, aku tidak akan gunakan pisau terbang, sekali aku berkata pasti dilaksanakan."

"Srreeng!"

Lu-zhao mencabut pedangnya. Laki-laki brewokan cepat melangkah maju, menahan tangannya Tian-long-jian Lu-zhao.

"Kakak Lu!"

Kata laki-laki brewokan dengan tulus.

"empat tahun lalu ketika Empat Binatang Pintar bertarung melawan Rasi Tujuh Bintang di bukit Guan-re. Pedang Dewa Xi Gang-sheng yang menjadi jago pedang di urutan pertama dari sepuluh jago pedang terbesar di dunia, tampil keluar mencoba mendamaikan, tapi dia hampir saja mengantarkan nyawanya, tubuhnya terkena tiga luka pedang, nyawanya tinggal sekejap lagi, tapi tiba-tiba bocah ini muncul, bukan saja dia telah menolong Xi Gang-sheng dari bahaya kematian, juga dalam sekejap dia telah menghancurkan barisan Rasi Tujuh Bintang, dan hanya dalam tiga jurus dia menundukan Empat Binatang Pintar, akhirnya pertarungan besar itu berhenti tanpa ada yang cidera. Kakak Lu, bertarung dengan dia tidak akan ada harapan, lebih baik kita pergi saja! Orang orang yang terluka ini, harus cepat diobati!"

"Tidak!"

Teriak Tian-long-jian Lu-zhao seperti sudah gila.

"Aku ingin bertarung dengannya, dia atau aku yang mati, Saaa. ..V Dalam teriakannya, tiba-tiba Tian-long-jian Lu-zhao maju menerjang, pedangnya diayun seperti geledek, saat lawan tidak bersiap dengan sekuat tenaga dia menyerang.

"Traang!"

Satu suara keras terdengar, tampak satu sinar kilatan memancar, Fu Ke-wei dengan kecepatan yang sulit dibayangkan mencabut pedangnya, dengan tenang menangkis.

Kemudian dengan cara aneh Fu Ke-wei berkelebat dari samping, ujung pedangnya tahu-tahu sudah menempel dibawah pipi kanan Tian-long-jian Lu-zhao, asal didorong sedikit saja, ujung pedang yang tajam akan masuk kedalam tenggorokan.

"Apakah ini yang disebut pertarungan adil?"

Kata Fu Ke-wei dengan suara dingin.

"kau juga seorang pesilat tinggi yang ternama, apakah bisanya hanya belajar menyerang secara mendadak? Aku jadi berpikir, julukan Tian-long-jian mu mungkin didapat olehmu dengan cara ini."

"Aku su sudah mencabut pedang, kau...kau tidak mencabut pedang itu bu...bukan salahku "

"Tidak tahu malu"

Maki Fu Ke-wei keras.

"lepaskan pedangnya!"

"Sebelum mati, pedangku tidak boleh terlepas."

Kata Tian-long-jian Lu-zhao dengan membandel. Satu sinar kilat berkelebat dan "Paak..!"

Pedang Fu Ke-wei sudah diketokan pada pergelangan tangan kanan Tian-long-jian Lu-zhao, tenaga yan g dikeluarkan sangat pas sekali.

Tian-long-jian Lu-zhao tidak bisa lagi menggenggam pedangnya "Trang...!"

Pedang panjangnya terlepas dari tangannya, jatuh ketan ah. Ujung pedang Fu Ke-wei kembali menempel di bawah pipi kanan Tian-long-jian Lu-zhao.

"Aku punja cukup alasan membunuhmu."

Kata Fu Ke-wei dengan dingin.

"menghadapi penjahat dunia persilatan yang menggunakan segala cara seperti mu, membunuh dengan cara ini terlalu menguntungkanmu."

"Kau "

"Memusnahkan kepandaianmu jauh lebih bagus, membunuh kau hanya akan mengotori pedangku, biar orang lain saja yang menagih hutang padamu "

Perkataannya belum habis, dia melemparkan pedangnya, lalu iga kanan Tian-long-jian Lu-zhao telah terkena satu pukulan berat.

Tidak menunggu tubuh Tian-long-jian Lu-zhao stabil, telapak dan tinju seperti hujan badai menerpa, sebuah pukulan terakhir menimpa di tulang belakang.

Tian-long-jian Lu-zhao berteriak sekali, lalu jatuh ke tanah menjerit kesakitan!

Laki-laki brewokan tidak dapat dan tidak berani melibatkan dirinya, dia melonggo menyaksikan Lu-zhao mendapat hajaran lawannya.

Pedang Fu Ke-wei yang dilemparkan, jatuh di bawah kaki pria brewokan itu, badan pedang berkilauan terkena sinar matahari, tapi terasa dingin sekali.

Laki-laki brewokan justru tidak berani mengambil pedang dan menusuk Fu Ke-wei, walau punggungnya menantang dihadapan laki-laki brewokan itu.

Fu Kei Wei berdiri tegak, melirik sekali pada Tian-long-jian Lu-zhao yang kesakitan, perlahan membalikan tubuh berjalan menuju pria brewokan..

"Aku tidak akan tertipu olehmu."

Kata laki-laki brewokan.

"kepandaianku mengambil pedang atau mencabut pedang, pasti tidak akan secepat pisau Xiu-luo mu."

Fu Ke-wei tertawa tawar, lalu berjalan menuju dua orang yang roboh terkena pisau Xiu-luo, mengambil kembali pisau terbangnya, lalu melangkah pergi meninggalkan tempat itu.

Setelah kembali kerumah yang berada dibawah bukit Yin-yang, Fu Ke-wei merasa malas, tidak tahu kenapa rasa kesepian menyelimuti hatinya, rumah yang begitu besar, hanya ada dia seorang diri.

Hari ketiga, dia membawa buntalannya, meninggalkan rumahnya yang penuh debu, kembali terjun ke dunia persilatan.

Di kota Fu Ke-wei menginap tiga hari, dia mendapat kabar bahwa Tian-long-jian Lu-zhao berobat dipenginapan kota, lalu pergi naik perahu, yang ikut bersama dia hanya pria brewokan itu saja.

Di dunia persilatan balas membalas adalah hal yang biasa, sehingga, terhadap masalah ini Fu Ke-wei tidak terlalu disimpan dihati, masalah yang sudah lewat, biarlah berlalu!

Orang yang mengikuti Tian-long-jian Lu-zhao naik perahu, sebenarnya bukan hanya seorang laki-laki brewokan, perahu itu disewa mendadak, tapi setelah berlayar dua jam, perahu itu membelok di satu belokan sungai, dan bergabung dengan satu perahu kecil yang misterius, diatas perahu ada empat orang laki-laki dan perempuan, setelah menyambut Tian-long-jian Lu-zhao yang terluka dan pria brewokan, perahu kecil yang misterius itu segera berlayar lagi.

Hari ketiga saat siang hari, perahu itu sudah ditambatkan didekat kota air di tenggara pelabuhan Da-gu-dang.

Ini adalah pelabuhan ikan yang ternama di mulut danau Jun-yang, tempat ini bukan saja ada pasar tempat lelangnya ikan dan barang barang, juga adalah pelabuhannya hasil bumi, sangat sedikit pelancong disana, yang keluar masuk kebanyakan adalah pedagang dan orang-orang kasar yang mencari makan diatas perairan.

Perahu berlabuh dibawah sebuah gunung kecil di selatan, di daerah ini sangat jarang ada orang, tampak empat pria besar menggotong satu kursi besar, diatas kursi duduk Tian-long-jian Lu-zhao yang tidak bisa meluruskan pinggangnya.

Laki-laki brewokan itu maju sendirian di depan membawa jalan, menelusuri jalan kecil menuju satu perumahan besar yang ada bangunan terbuka di tengah pekarangannya.

Perumahan besar itu sepi, tidak terlihat ada orang.

Tapi hari ini ada tamu yang datang dari jauh, setelah lama mengetuk pintu, gerbang besar itu baru dibuka sambil mengeluarkan bunyi, seorang tua yang tampak lesu sebagai penjaga pintu berdiri ditengah pintu, dengan lemah menyipitkan mata.

"Siapa? Apa ada kepentingan?"

Laki-laki brewokan tertawa tawar, tangan kirinya diangkat kedepan dada, telapaknya dibalikan keluar, menjentikan dua kali telunjuk dan jari tengah, setelah itu menurunkan tangan.

"Kami sudah lelah berjalan, dan ingin beristirahat dirumah anda, sambil minta semangkuk air minum, tidak tahu apakah di ijinkan?"

Orang tua penjaga pintu itu tetap berdiri ditengah pintu, tetap dengan wajah lesu yang hidup tidak mati pun tidak, berkata.

"Tidak apa-apa kalau mau istirahat disini, jika ingin air! Ambil sendiri, dipekarangan ada sumur air, mengenai makanan, kalian sendiri yang siapkan."

"Apakah bapak Guan ada dirumah?"

"Ada atau tidak, tidak lama lagi akan tahu Laki-laki brewokan itu mengeluarkan kartu nama dan memberikannya.

"Tolong laporkan, orang yang tertera di kartu ini sengaja datang berkunjung."

Nama diatas kartu itu adalah ketua benteng Tian-long, Lu-zhao.

Orang tua penjaga pintu tertegun, mengangkat alis tuanya, melirik sekali pada Tian-long-jian Lu-zhao yang duduk tidak jauh diatas kursi, matanya menyorotkan tanda tanya, setelah menyuruh menunggu, dia cepat-cepat masuk kedalam.

Semua orang persilatan tentu pernah mendengar nama ketua benteng Tian-long, Tian-long-jian Lu-zhao, kedudukannya di dunia persilatan sangat tinggi, hari ini dia duduk diatas kursi, berjalan sambil digotong orang, sungguh membuat orang menjadi heran, tidak aneh mata si tua itu mengandung pertanyaan.

Tidak lama, pihak tuan rumah datang bertemu dengan tamunya diruang besar.

Tuan rumahnya adalah seorang tua setengah baya berbaju hijau berusia lima puluh tahun lebih, dengan wajah yahg jujur, pertama-tama dia berbasa-basi dulu, tuan rumah tidak memberitahukan namanya, hanya pria brewokan yang memperkenalkan Tian-long-jian Lu-zhao pada tuan rumah, lalu bersama tuan rumah masuk keruangan dalam, beberapa saat kemudian baru meraka kembali keruangan tamu.

Setelah tuan rumah duduk kembali, dia batuk dua kali, pada Tian-long-jian Lu-zhao sambil tertawa berkata.

"Ketua benteng Lu, saudara Gan sudah menceritakan dengan singkat masalah ketua benteng padaku, aku dengan saudara Gan dulu pernah ada urusan dagang, jadi bisa dikatakan ada hubungan dekat, jika dia mengenalkan anda datang kesini, aku terpaksa akan berusaha sebisanya membantu ketua benteng. Ketua benteng mencari Xie-jian-xiu-luo selama tiga tahun, hal ini sudah bukan satu rahasia lagi, aku sudah lama mendengarnya, tidak diduga akibatnya bisa begini hebat, sangat disesalkan sekali..., aku tidak perlu basa basi lagi, aku ingin bertanya pada ketua benteng apakah tahu hal ini ada seberapa seriusnya?"

"Kenapa anda tidak terus terang saja menjelaskan?"

Kata ketua benteng Thian-long.

"tentu saja, jika tidak ada kesulitan, aku juga tidak akan terima usulnya saudara Gan datang kepada anda. Memang beda usaha seperti beda gunung, aku tidak tahu sampai dimana seriusnya masalah ini, apakah buat anda ada kesulitan atau anda tidak sanggup menerima permintaan aku ini."

"Ini bukan masalah mampu atau tidak."

Tuan rumah seperti tertawa tapi tidak tertawa.

"tapi ini sangat mempengaruhi keadaan ketua benteng dikemudian hari, aku tidak dapat tidak harus memberi ingat terlebih dahulu."

"Maksud anda adalah "

"Bisnis seperti ini, biasanya tidak boleh didengar oleh orang ketiga."

Tuan rumah melirik sekali pada empat orang pria besar.

"walau saudara Gan bisa dikatakan adalah orang yang berkepentingan, tapi sudahlah, jika ada sedikit saja yang bocor, cepat atau lambat pasti ada orang yang mencari ketua benteng, walau teman Xie-jian-xiu-luo tidak banyak, tapi semua pesilat tinggi yang hebat, dan juga yang pengalaman dunia persilatannya sangat banyak, apakah ketua benteng mengerti maksudku?"

"Hal ini anda tidak perlu khawatir, aku sudah jadi orang yang tidak berguna, setelah kembali kebenteng, maka nama benteng Tian-long tidak akan ada lagi, di dunia persilatan tidak akan ada aku lagi, juga teman-temanku ini "

Tian-long-jian Lu-zhao menunjuk pada empat pria yang ada disisinya.

"semua setia, selamanya akan berada dan mengikuti aku, pasti tidak akan ada berita yang bocor, jika benar ada kebocoran juga, pasti bukan bocor dari pihakku."

"Baiklah! Jika ketua benteng sangat percaya diri, aku jadi tidak khawatir lagi."

Kata tuan rumah tawa tawar.

"dipihakku, pasti tidak akan ada berita yang bocor, hal ini dijamin dengan ketenaran nama selama tiga puluh tahun. Kuakui juga selama tiga puluh tahun ini, organisasiku juga pernah ada beberapa kali mengalami kegagalan, tapi walau pun gagal tidak pernah ada catatan yang tidak bagus yang melibatkan pemesan, hal ini mungkin ketua benteng sudah tahu. Makanya jika beritanya bocor, sama sekali bukan tanggung jawab organisasi kami."

"Pendirian diantara kita tidak bertentangan."

"Betul."

Kata Tuan rumah.

"boleh dikatakan kedua belah pihak sudah mendapat saling pengertian."

"Kapan aku bisa bertemu dengan penanggung jawab organisasi anda dan merundingkannya?"

"Tidak perlu."

Tuan rumah langsung menolak.

"aku bisa memutuskannya, penanggung jawab organisasi kami tidak pernah bertemu langsung dengan pelanggan. Asalkan ketua benteng telah mengantarkan tujuh puluh persen uangnya, perjanjian bisnis kita langsung sah."

"Baiklah, dalam waktu setengah bulan aku pasti akan menyuruh orang mengantarkan "

"Masalah ini aku harus bicarakan dulu dengan saudara Gan, menyuruh orang mengantarkan kesini, ketua benteng pasti tidak akan menemukan seorangpun. Organisasi kami melakukan sesuatu sudah ada rencana dan persyaratannya, tidak sembarang melakukannya."

"Kalau begitu, semuanya diserahkan pada saudara Gan saja."

"Mengenai batas waktunya, aku harus pertegas lagi."

Kata Tuan.

"masalah ini sangat besar, tidak boleh terburu-buru, jika terburu-buru bisa gagal, jadi harus direncanakan dengan sebaik-baiknya. Makanya, ketua benteng harus menuruti batasan waktu yang organisasi kami tentukan."

"Tentu saja."

"Baik. Ketua benteng sekarang boleh pergi, tindakan selanjutnya, ketua benteng bisa memperoleh seluruh beritanya dari saudara Gan."

"Apakah aku harus tinggal disini?"

"Jangan bicara seperti orang diluar bisnis."

Tuan rumah tertawa.

"saudara Gan harus bersama ketua benteng, nanti ada orang yang menghubungi saudara Gan."

"Tapi jejakku dengan saudara Lu "

"Mulai dari sekarang, jejak kalian semua dibawah pengawasan kami. Ha ha ha! Jangan lupa orang yang berhubungan dengan kalian, adalah Perkumpulan Qing-lian yang sudah tiga puluh tahun ternama. Saudara Gan, kalian pergilah!"

Perahu berlayar kearah Jiu Jiang, diatas perahu, pria brewokan bermarga Gan berkata pada Tian-long-jian Lu-zhao.

"Kakak Lu, apa kau benar akan menutup benteng Tian-long?"

"Benar."

Kata Tian-long-jian Lu-zhao pasti.

"Apakah harus begitu?"

"Benar. Saudara Gan, apakah kau tidak melihat? Jika aku tidak mengatakannya, empat saudara aku ini mungkin tidak bisa keluar dari rumah setan itu, kata-kataku itu tidak didengar oleh orang ketiga, sedikit pun tidak mengandung bahaya, tapi api pembunuhan membara membuat orang menjadi dingin hatinya. Saudara Gan, sebenarnya siapa dia?"

"Aku pun tidak tahu, dulu waktu aku bertemu dengan dia, hanya tahu dia memperke-nalkan dirinya bermarga Tong, yang lainnya semua rahasia."

"Di perkumpulan Qing-lian kedudukan dia..."

"Tidak tahu, sepertinya pencari langganan kelas tiga, yang bertanggung jawab dibagian luar, mungkin dia sendiri belum pernah bertemu dengan orang penting dari perkumpulan Qing-lian. Kau minta bertemu dengan orang yang bertanggung jawab, itu melanggar pantangan mereka, itu tidak mungkin."

"Kau kira mereka benar-benar bisa mengawasi jejak kita?"

"Aku sangat percaya, mungkin perahu pertama dan berikutnya, paling sedikit ada dua milik mereka. Jangan berkhayal mencoba kekuatan mereka, itu tidak akan ada gunanya, kita tidak percaya pada mereka, mereka juga sama tidak percaya pada kita, siapa yang berani menjamin, jangan sampai mereka curiga kita mencoba menyelidiki mereka? Asal mereka sekali curiga, bukan saja bisnisnya akan batal, kita juga akan mendapat kesulitan yang amat besar!"

Laki-laki brewokan bermarga Gan berkata dengan hati-hati, dia sudah dapat melihat Tian-long-jian Lu-zhao sudah timbul niat mencoba kekuatan perkumpulan Qing-lian.

"Kau pikir apakah mereka bisa berhasil?"

"Pasti berhasil, menurut yang aku tahu, di dunia persilatan sekarang ada perkumpulan Kembang Merah, perkumpulan Teratai Putih, perkumpulan Qing-lian, tiga perkumpulan besar pembunuh bayaran, perkumpulan Qing-lian yang paling misterius, paling menakutkan dan paling tertutup. Selama tiga puluh tahun, tidak pernah mendengar ada orang yang tahu seluk beluknya perkumpulan ini, tidak ada orang yang dapat melihat orang penting perkumpulan ini, lebih-lebih tidak pernah terdengar ada orang yang dapat menangkap pembunuh bayaran perkumpulan itu. Di dunia persilatan ada banyak pesilat tinggi orang-orang ternama yang hilang secara misterius, mungkin ada hubungannya dengan perkumpulan ini."

"Coba kau terka, apakah mereka akan menganga seperti mulut singa?"

"Mungkin, harga anjing kecil itu sungguh terlalu tinggi."

"Kira-kira berapa besar yang mereka minta?"

"Mungkin tidak kurang dari sepuluh ribu liang."

"Oooh! Perlu enam orang untuk mengangkat uang sepuluh ribu liang perak, tapi aku rela mengeluarkannya."

Kata Tian-long-jian Lu-zhao dengan menggigit gigi.

"sepuluh orang yang mengangkat juga aku tidak keberatan, seharusnya sejak dulu aku berhubungan dengan perkumpulan Qing-lian."

"Kakak Lu, jika tidak ada kenalan, kau tidak mungkin bisa mencari mereka."

Orang ber-marga Gan berkata lagi.

"masalah kau bermu-suhan dengan Xie-jian-xiu-luo, kawan-kawan persilatan sudah pada tahu, mereka tidak memer-lukan banyak waktu untuk membuktikan-nya, sehingga, kepastian perjanjian bisnisnya tidak akan lama, waktu untuk kau mengumpulkan uangnya sangat sempit, hati-hati jangan sampai terlambat, kalau tidak perjanjiannya bisa berubah. Sekalian aku ingatkan, mereka hanya mau emas atau perak, tidak mau pusaka yang di nilai dengan uang."

"Tenang saja, tidak akan ada masalah."

Kata Tian-long-jian Lu-zhao dengan pasti, dari matanya yang lesu berkilat sinar kebencian dan kekejaman.

o-o-o Dua bulan kemudian.

Wu-hu berada di selatan Tai-ping, di sebelah selatannnya ada sungai Zhang-jiang, sedang bagian timur lautnya perbukitan, diantara pantai dengan perbukitan banyak terdapat rawa, sungai mengalir melewati kota, dihadapan sepanjang Wu-hu ada sungai Yu, sungai Yu adalah mulutnya sungai buatan.

Sekarang situasi sedang aman sejahtera, sudah tidak terlihat bekas-bekas peperangan.

Kota He-kou yang berada ditepi sungai di sebelah selatan kota, sekarang lebih ramai, lebih hidup dibanding dulu, jalanan panjang sejauh sepuluh li di penuhi pertokoan dan perhotelan, dipinggir sungai berderet rapat perahu besar dan kecil, lebih ramai dibanding dengan pelabuhan Da-jiang yang ada di sebelah barat kota.

Di dalam satu bangunan terbuka di ujung utara pelabuhan Da-jiang, diluar pagar bangunan, Fu Ke-wei berdiri berdampingan dengan seorang laki-laki setengah baya berbaju biru, sambil menikmati pemandangan, sambil berbincang-bincang.

Angin sungai menerpa wajah dan mengibarkan baju, diatas sungai layar perahu berkelompok-kelompok, diatas langit burung-burung beterbangan, gelombang bergulung dengan deras, membentuk satu gambar yang menakjubkan, sangat indah dipandang, enakdihati.

Tapi isi pembicaraan mereka, malah tidak indah dipandang tidak menyenangkan hati.

"Adik Fu."

Orang berbaju biru mengerutkan alis, nadanya tidak stabil.

"lima hari yang lalu pembunuh berdarah dingin itu telah muncul didepan rumah keluarga Yang di gerbang Jin Ma, lalu terjadilah peristiwa berdarah, mendadak keluarga Yang mati di jembatan Tong-ji, kemudian kepala pengurus pelayaran Jiang-han, Dewa Nyamuk Zuo Xian-zhong juga mati terbunuh dengan cara yang sama, tidak ada luka luar tapi semua jeroannya hancur Pelayaran Jiang-han masih bermusuhan dengan Ular Air Qin-ji yang terletak seberang pantai Wu-wei-zhou, permusuhannya masih berlansung terus, makanya si pembunuh pasti tidak akan puas jika belum bisa membunuh Ular Air, sebaliknya lawan juga tidak akan berhenti sebelum membunuh pemilik Pelayaran Jiang-han, sekarang mereka pasti masih bersembunyi di sekitar kabupaten menunggu kesempatan."

"Pemilik Pelayaran Jiang-han telah bersembunyi, tapi pembunuhnya mana bisa lama menunggu kesempatan melakukan pembunuhan?"

Fu Ke-wei mengatakan pendapatnya.

"Wu-feng bukanlah orang bodoh, jika dia muncul didepan rumah Yang di gerbang Jin-ma, pasti tahu orang akan datang mencari dia membalas dendam, setelah mendengar kabar ini, apa dia masih berani tinggal terus disini?"

"Pembunuh itu pandai menyembunyikan diri, dia sudah ahli sekali, dia sama sekali tidak takut orang mencari dia untuk membalas dendam, maka aku menduga dia pasti masih bersembunyi di dalam kota, jika pergi mengejar ke Nan-jing pasti akan melelahkan dan sia-sia."

"Tentu, sebelum mendapat bukti yang pasti, jangan sembarangan mengejar."

Kata Fu Ke-wei menganggukan kepala.

"dan juga, dia belum tentu melarikan diri ke Nan-jing. Walau dia datang dari Wu-chang, siapa pun tidak berani mengatakan dia pasti tidak pulang ke Wu-chang. Begini sajalah! Kau dan aku membagi tugas, menyelidiki gerakan dia, bagaimana?"

"Bagaimana rencanamu?"

"Aku tahu kebiasaan dan hobi orang ini. Jika dia masih berada disini aku akan mendapatkan dia. Kita berpisah sekarang, nanti kita tetap berhubungan."

"Aku menunggu kabar baikmu, pergilah!"

Dua orang itu menelusuri pelabuhan ke arah selatan, tidak lama tampak jalan raya gerbang Shui-xi.

"Apakah adik hafal jalanam di Wu-hu?"

Kata orang berbaju biru sambil jalan sambil bertanya.

"ini adalah pelabuhan besar tempat bercampurnya naga dan ular (Perampok dan penjahat), tempat berburunya berbagai aliran, kota He-kou lebih komplek lagi, kekuasaan ular setempat sangat besar, jika salah menghadapinya, bisa-bisa terjadi seperti perahu terbalik di parit kecil, perlukah aku mengumpulkan teman-teman untuk membantu?"

"Iii...!"

Fu Ke-wei tertegun.

"saudara Pan, jika kau punya teman yang bisa digunakan, buat apa terburu-buru mengutus orang memanggil aku datang kesini?"

"Teman-temanku hanya pantas jadi mata-mata menyebarkan berita."

Orang berbaju biru bermarga Pan tertawa pahit.

"menghadapi pembunuh bayaran seperti Tamu Penggantung Wu-feng yang sulit dilacak, dan ilmu silatnya yang susah diukur, teman-temanku tidak ada gunanya, tidak ada orang yang berani menghadapinya, jadi tidak bisa digunakan untuk itu."

"Kau tahu sifatku selalu bergerak sendirian."

Kata Fu Ke-wei dengan jujur.

"untuk menghindarkan salah-paham, orang-orangmu harus jauh dari aku, jika tidak, akan timbul masalah yang serius. Kau tahu, saat aku dalam kondisi hidup atau mati, akan tidak perdulikan siapa pun orangnya."

"Baik, aku akan berhati hati,"

Kata orang bermarga Pan dengan tenang.

"sebenarnya, teman-teman jika tahu yang akan dihadapi adalah Tamu Penggantung, mungkin tidak ada orangyang berani tampil membantu, tidak menghindar setelah mendapat kabar itu sudah bagus."

"Itu kenyataan."

Fu Ke-wei menganggukkan kepala.

"dari empat penjahat besar di dunia persilatan, Tamu Penggantung menduduki urutan ketiga, sejak lahir dia sudah berdarah dingin, kejam dan jahat, pesilat tinggi kelas satu di dunia persilatan pun kalau mendengar namanya sudah merasa ketakutan, orang yang berani mencari dia bisa dihitung dengan jari. Saudara Pan, aku bukan membesarkan lawan, tapi jika berhadapan dengan penjahat ini, lebih baik kau cepat-cepat menghindar supaya lebih aman, dan juga jangan sampai dia mengetahui bahwa kau mencari aku untuk menghadapi dia, jika tidak, kau akan mendapat mala petaka.... Orang-orang di luar sudah semakin banyak, kita sudah harus berpisah, sampai jumpa."

Di luar gerbang selatan, itulah kota He-kou yang ternama, juga disebut kota He-nan.

Dari tempat He-kou sampai pertemuan sungai Da-jiang yaitu di jembatan Fu-min, benar-benar tempat berkumpulnya semua golongan, pusatnya berbagai usaha, tempat kebutuhan sehari-hari masyarakat Nan-jing.

Jembatan Tong-ji di sebelah timur, adalah jalan raya menuju perkantoran pemerintah Ning-guo, toko-toko di daerah ini pendatang semua, kebanyakan adalah pemilik barang dan pengusaha kecil.

Tamu-tamu penginapan di daerah jembatan Fu-min sebelah barat, kebanyakan adalah pedagang keliling dari aliran sungai Da-jiang, golongannya lebih bermacam-macam.

Mengenai pelabuhan Shui-xi-men, pelancongnya kebanyakan orang-orang yang punyakedudukan.

Makanya di tiga tempat ini, orang yang keluar masuk, secara tidak disengaja terbagi golongan dan kedudukannya, orang yang berpeng alaman dengan mudah bisa membedakan golongan dan kedudukan mereka.

Fu Ke-wei menginap di penginapan Yi-feng yang berada di sebelah timur jembatan Fu-min, dia menyamar sebagai seorang pengusaha kecil yang datang dari Nan-jing dan akan membeli kain sutra merah.

Surat jalan dia dicap oleh kantor pemerintah Jiang-ning, dijamin asli.

Dandanan dia yan g terang tapi tidak berlebihan, cukup menunjukan kantongnya penuh dengan uang, tapi tampangnya tidak terlalu menyerupai seorang pengusaha kecil.

Tentu saja, dia pernah tampil di toko kain Hong-tai di sebelah barat jembatan Tong-ji.

Toko kain Hong-tai di perkantoran Ning-guo punya pabrik kain sendiri, hasil kain sutranya di Nan-jing tidak ada orang yang tidak tahu, pengusaha kecil yang membeli sendiri, mengirim sendiri, semua langsung berhubungan dengan toko kain Hong-tai.

Menurut pemikiran Fu Ke-wei, di Wu-hu hanya ada satu orang yang kenal dirinya, yaitu saudara Pan nya, seorang yang cukup punya nama di dunia persilatan, anggota dari satu organisasi pemburu bayaran yang khusus memburu buronan pemerintah, penjahat yang dosanya tidak bisa diampuni.

Orang-orang yang membicarakan organisasi ini, semua merasa was-was, siapa tahu suatu hari tidak sengaja melakukan pelanggaran hukum, dan ditangkap oleh mereka, karena orang-orang sangat mungkin melakukan pelangaran hukum.

Perkara pembunuhan yang dilakukan oleh Wu-feng, dalam catatan di kantor pemerintah, tidak ada dua puluh tapi pasti lebih dari sepuluh, setiap kabupaten juga ada perintah penangkapan terhadap penjahat kelas kakap ini.

Dipersimpangan jalan antara pesisir pelabuhan Shui-xi-men dengan kota He-nan, di dalam kota disebut jalan belakang, ini adalah tempat kacau, di tempat ini ada gang lampu merah, ada penjual candu yang pintunya setengah terbuka, ada bermacam-macam tempat judi, ada restoran yang menyajikan nyanyian atau tarian, semua adalah tempat membuang uang, di tempat ini banyak terjadi pertengkaran, tempat berkumpulnya dewa, ular setan, sapi, kokok, ayam, anjing, pencuri dan lain lain.

Tidak lama setelah malam hari, Fu Ke-wei muncul di depan bar Jin-lin melalui jalan belakang.

Tidak menunggu dia melangkah masuk ke dalam bar, disebelahnya telah menyerobot keluar seorang brandalan yang menempel padanya, dengan sembunyi-sembunyi berbisik di telinga dia.

"Bos Fu, bisa bicara sebentar?"

"Ooo!"

Fu Ke-wei tersenyum nakal pada lawannya.

"kau malah kenal aku, maaf, maaf."

"Anda menginap di penginapan Yi-feng, pernah ke toko kain Hong-tai membicarakan bisnis selama setengah hari."

Kata pria itu sangat pelan.

"seorang usahawan seperti aku, jika beritanya tidak cepat, mungkin akan minum angin laut saja!"

"Ha ha ha! Sebenarnya kau usaha apa?"

Dia terus berkata.

"penarik tamu? Penyerobot tamu? Atau calo?"

"Sembarangan bicara, aku ini pedagang..."

"Ooo! Pedagang? Kalau begitu sama dengan aku! Maaf maaf. Ha ha ha! Usahamu apa?"

"Bos Fu, bukankah kau mau beli kain sutra?"

"Betul, aku "

"Ada satu partai barang, berkualitas tinggi, ingin cepat-cepat dilepas, harganya lebih murah dari toko kain Hong-tai empat puluh persen, telah diatur dengan baik, dijamin tidak ada masalah."

"Ooo! Aku mengerti sekarang."

Dengan nada seorang ahli dia berkata.

"kau sedang berkelakar, jika ingin membeli barang gelap, aku bisa mencari Naga Setempat Lu-jiu, paling sedikit lebih murah lima puluh persen. Kau sembarangan menawarkan, kau kira aku akan percaya padamu? Bisnis semacam ini aku paling nomor satunya, kau mungkin orang baru, hati-hati Naga Setempat bisa mematahkan kakimu, kau tahu kau sedang merusak bisnisnya, menyerobot mangkuk nasinya, kau tahu tidak? Sudahlah! Saudara...."

Begitu orang itu mendengar, gelagatnya terasa tidak benar, dia langsung melarikan diri seperti seekor tikus.

Fu Ke-wei masuk keruangan makan, lampunya terang benderang, suaranya ribut sekali, teriakan tebakan tangan dengan hukuman minum menggetarkan telinga, tamunya hampir memenuhi isi ruangan, tiga ruangan makan yang besar, hampir ada empat puluh meja, banyaknya tamu yang makan bisa di bayangkan, tentu saja udara-nya penuh dengan asap.

Pokoknya, orang-orang yang minum makan disini, pasti bukan tuan besar yang punya kedudukan.

Dia duduk di meja paling pinggir, memesan pada pelayan beberapa masakan dan tiga teko arak, makan minum sendiri sambil memperhatikan keadaan ruangan.

Disini dia bisa melihat kesegala pelosok ruang makan, bisa mengawas.

orang yang keluar masuk pintu restoran.

Dengan pengalaman dunia persilatan, dia tidak melihat ada yang tidak beres, jika ada orang yang menguntit pun, sekarang sudah tidak akar mendapatkan meja untuk mengawasinya.

Baru saja menghabiskan segelas arak brandalan itu kembali muncul dengan membawE seseorang, seorang pria besar berusia sekitar empal puluh tahunan, dengan alis tebal mata besai bertampang seorang penjahat.

"Orang-orang ini ingin mempermainkar aku."

Didalam hatinya tertawa.

"Naga Setempat Lu jiu tampil sendiri."

Benar saja dua orang itu mendorong oranj mabuk yang menghalangi jalannya, dengan tertawa licik berjalan menuju ke meja Fu Ke-wei.

"Ha ha ha!"

Dia mendahului menyapa.

"Lu jiu, tidak seharusnya kau mengutus orang baru bersandiwara. Kelihatannya kau betul-betul punyj barangnya. Duduklah! Suruh pelayan menambal dua pasang sumpit dan gelas, aku yang traktir."

"Ha ha ha! aku yang harus traktir, aki adalah tuan rumah."

Naga Setempat Lu-jit menarik kursi dan duduk, dengan aba-aba tangar juga menyuruh temannya duduk, dengan wajar berseri-seri dia berkata.

"bos Fu, kau pertama kal muncul ditempatku, aku terpaksa sedikit hati-hati Jujur saja, apakah bos ada minat pada barangku?"

Dia memanggil pelayan, menambah aral masakan sumpit dan gelas.

"Jika sumbernya tidak bau amis, aku tenti berminat. Jika tidak, kau cari saja orang lain."

Dia terus terang berkata lagi.

"jika bau amis, aku tidak bisa mengatasi resikonya. Polisi Lin Wei Yen sangat pintar, tindakannya sangat keras, kau adalal penguasa daerah ini, tahu keadaan dan bisa menghindar, tapi aku jadi kambing hitamnya!"

"Kau tenang saja, barang-barangku selamanya tidak bau amis, jika tidak aku tidak bisa sukses seperti sekarang."

Naga Setempat tidak sungkan menumpahkan arak sendiri.

"Polisi Lin Wei-yen akhir-akhir ini keadaannya tidak baik, beberapa perkara pembunuhan yang tidak bisa dipecahkan membuat dia kewalahan, mana dia ada waktu mengurus hal sekecil ini?"

"Julukan mu Naga Setempat tidak terlalu jelek."

Dia mengangkat gelas memuji.

"dengan ada kata-katamu ini, aku jadi tenang. Begini saja, nanti setelah melihat barangnya, kita baru bicarakan hal detailnya, bagaimana?"

"Satu kata, menurut kau saja."

"Baik, satu kata kita jadi, masalah lain kau yang urus, bagaimana?"

"Baik, satu kata kita jadi, kita sudah sepakat, bos Fu besok malam apakah ada waktu?"

Tanya Naga Setempat dengan gembira.

"Ada."

"Saat menyalakan lampu, kita bertemu di gerbang Jin-ma di ujung jembatan Xiao-lie."

"Baik. Sekarang, aku hormati kau, bersulang untuk bisnis besok malam."

Tiga orang mengangkat gelas.

Orang brandalan yang berwajah licik itu, sejak semula tidak pernah bicara, Naga Setempat juga tidak memperkenalkan kedua belah pihak, sepertinya menganggap dia sebagai pembantunya.

Tapi Fu Ke-wei telah memperhatikannya, dia menyelidiki orang yang berwajah licik ini, pengalaman di dalam hatinya lebih banyak dari pada di wajahnya, sepasang jari tangan yang seperti cakar elang tidak sama dengan orang biasa.

"Dia orang yang sangat berbahaya."

Di dalam hati dia berpikir.

Setelah selesai membicarakan bisnis, kedua belah pihak mengikuti aturan tidak membicarakan lagi, juga seperti biasa tidak menanyakan asal-usul lawan bicaranya, menghindar dari penyelidikan.

Minum sampai setengah mabuk, tiga orang laki laki tidak lama membicarakan soal wanita.

Perihal ini, Naga Setempat punya banyak bahan, sebagai penguasa setempat tentu sangat tahu setiap bintang ditempat masing-masing lampu merah, membicarakannya seperti menghitung pusaka dirumah.

Sedang asyik-asyiknya berbincang, tiba-tiba, suara manusia semakin merendah, tebakan minum arak menghilang.

Semua tamu, membalikan kepalanya pada jendela terang yang berada disebelah kanan ruangan.

Seorang tua yang janggut dan alisnya putih, membawa seorang gadis muda berusia dua puluhan, gadis itu bermata terang bergigi putih, berjalan mengikuti pelayan datang dibawah jendela, pelayan menarik satu kursi panjang, mempersi-lahkan mereka berdua duduk, setelah berpesan beberapa kata, lalu meninggalkannya.

Ternyata penampilan gadis itu telah menyedot semua sorot mata di ruangan itu.

o-o-o Bab 2 Gadis itu memang luar biasa, sepasang mata yang terang seperti air di musim gugur, tampak penuh dengan kepintaran, rambut lembutnya bersinar pink yang sehat, wajahnya berbentuk kwaci dengan alis melengkung, bibir munggil seperti buah cherry merah.

Dia memakai baju indah dengan lengan baju ketat, rok lipatan yang satu warna, mengatakannya cantik memang cantik, semua tamu restoran jadi tertegun melihatnya.

Di bawah lampu melihat wanita cantik, yang kecantikannya mencolok seperti sinar yang mendadak berkilat, telah menyedot perhatian semua tamu restoran.

Sedang si orang tua sudah berusia enam puluhan, sepasang matanya tidak bersinar, gerak geriknya lamban tidak bertenaga, sepertinya masalah apa saja didunia ini tidak berpengaruh pada dia.

Orang tua itu menaruh baki kecil di depan kakinya, dengan pelan mengeluarkan seruling dari kantong kain yang di gantung di pinggangnya.

Perhatian Fu Ke-wei juga tersedot pada wanita itu, hingga menaruh gelas araknya dimeja.

"Mereka adalah pengamen Li Lao-shi kakek dan cucunya yang bulan lalu datang ke tempatku, gadis itu namanya Yan-fang."

Naga Setempat dengan pelan berkata.

"Kecuali mengamen, ada orang juga mengatakan dia bekerja sambilan, hanya saja sifatnya jelek, orang yang tidak cocok dengan seleranya, biar memberikan uangnya lebih banyak pun dia tidak akan tertarik, kepintaran dan keseniannya juga hebat! Maka tidak heran jika sifatnya jelek."

"Aku lihat dia bukan orang baik-baik."

Fu Ke-wei dengan pelan berkata.

"Sepasang matanya terlalu liar, tingkahnya hanya pura-pura saja."

"Ha ha ha! Tidak diduga bos Fu bisa meramal orang juga dapat melihat tingkah seseorang."

Naga Setempat tertawa aneh.

"Jujur saja, jika aku Naga Setempat tidak tahu asal-usulnya, biar kepalaku dipotong pun aku tidak percaya dia wanita nakal."

Suara ribut orang-orang akhirnya berhenti, karena alunan suara seruling sudah mulai ditiup.

Sungguh teknik yang tinggi, tidak ada orang yang berani percaya, suara seruling ini bisa keluar dari mulutnya seorang tua setengah mati, nafasnya yang kuat, jari jarinya yang lancar, pengendalian tenaga keras atau lembut...

Semua sudah sampai taraf tertinggi, sepertinya di dunia ini, kecuali alunan suara seruling yang menggetarkan hati ini, tidak ada satu pun yang bisa mengalahkan.

Itu adalah permulaan dari lagu Yu Lin-ling, suaranya sudah membuat para pendengar menahan nafas menikmatinya.

Akhirnya, suara yang bulat yang menggerakkan hati, mengimbangi suara alunan seruling yang hebat itu.

"Jangkrik kedinginan yang sedih, di malam hari menghadap bangunan terbuka, hujan lebat baru berhenti...tangan ditopang mata berlinang air, tidak berkata tenggorokan tersumbat...sejak dulu kekasih sedih berpisah... malam ini bangun dari mabuk tidak tahu tempat apa? Pesisir pohon Liu, angin malam, bulan sabit..."

Ini adalah kata-kata Yu Lin-ling nya Liu San-bian (Liu-yong) yang cukup berkarakter.

Ketika Liu San-bian yang sarjana, banyak melancong di Shia-xie, dia pandai membuat syair lagu.

Setiap paguyuban seni menciptakan satu lagu baru, pasti meminta dia membuatkan syairnya, baru lagu itu diedarkan keluar, saat itu dia sangat populer.

Ada orang berkata.

"Setiap ada sumur untuk minum, pasti dapat menyanyikan syair Liu-yong."

Di sini bisa dilihat bagaimana populernya dia.

Syair dia sangat romantis, sekarang di nyanyikan oleh seorang pengamen wanita, jadi lebih menggerakan hati.

Suara seruling berhenti, nyanyiannya pun berhenti, seluruh tamu restoran bersorak seperti teriakan ayam, kucing, anjing.

Fu Ke-wei juga tidak terkecuali, dengan tulus dia bertepuk tangan dan bersorak!

"Bos Fu, bagaimana?

Apa ada minat?"

Naga Setempat bertanya dengan tertawa aneh.

"dengan penampilanmu, He he he! Aku berani jamin."

"Tidak usah, orang seperti dia, pasti tamunya banyak sekali, kapan aku bisa mendapat giliran?"

Dia ingin menangkap tapi pura-pura melepas.

"aku tidak ingin kepalaku pecah, orang yang berebut pasti tidak sedikit, aku bukanlah orang kaya yang berkuasa."

"Memang kenyataannya begitu,"

Naga Setempat tertawa aneh.

"beberapa hari lalu, memang ada orang yang dilempar seperti anjing mati, dari dalam pintu dia dilempar keluar pintu dalam keadaan setengah sadar."

"Apa benar ada yang mendekati dia?"

"Benar."

"Orang dari mana?"

"Tidak jelas, orang ini telah menginap tiga hari...bukan, empat hari, asalnya tidak jelas, sepertinya seorang yang berusia empat puluh tahunan, wajahnya pucat putih, tubuhnya tinggi kurus, menangkap orang seperti menangkap anak ayam begitu mudahnya."

"Dimana orang ini sekarang?"

Dengan wajah tidak berubah dia semba-rangan bertanya.

"Dua hari lalu hilang misterius."

"Bagaimana kata nona Yan-fang?"

"Apa pun tidak mengatakan, dia menyangkal ada orang seperti ini datang padanya."

"Kau tidak menyelidikinya? Daerah ini kan termasuk wilayahmu."

"Menyelidiki kentut, orangnya mendadak menghilang, dan nona Yan-fang dengan tegas menyangkal, bagaimana menyelidikinya?"

Naga Setempat mengangkat bahu, melakukan gerakan seperti tidak dapat berbuat apa-apa.

"dan juga, masalahnya tidak menjadi besar, hingga aku pun tidak ada waktu mengurus hubungan antara pengamen dengan tamunya."

"Ha ha ha! Jika aku ada niat pada dia, bukakah akan timbul kejadian kepalaku dipukul pecah?"

Tanya Fu Ke-wei tertawa aneh.

"Ha ha ha! Jika kepalamu dipukul sampai pecah, bisnis kita bukankah jadi gagal?"

Lalu Naga Setempat mengulurkan tangan menepuk-nepuk bahunya.

"Tenang saja! Serahkan segalanya padaku, paling sedikit, aku Lu-jiu masih bisa mengurusnya!"

Saat itu Yan-fang sudah membawa baki, berjalan kesetiap meja mengambil uang sumbangan, dan sedang jalan menuju kemeja mereka.

"Bos Fu, kau beri dia beberapa perak, berilah dengan sedikit royal."

Pesan Naga Setempat dengan pelan.

"dengan demikian akan menarik perhatian dia, masalah selanjutnya biar aku yang atur, kau tidak perlu repot."

"Kau ingin langsung menghubungi dia?"

"Omong kosong! Dia tidak kenal aku."

Naga Setempat berkata.

"biasanya penyambut orang yang datang kedaerah kekuasaan ini, adalah adik tiriku, Hei Fei-ke, terhadap perempuan ini aku tidak begitu gairah, dia tidak cocok dengan seleraku."

"Hi hi hi! Apa seleramu wanita perkasa?"

"Bos Fu suka berkelakar, ha ha ha..."

Yan-fang tampil disisi meja.

Sepasang mata genitnya seperti dapat bicara, dia melirik sekali dengan pelan di wajah Fu Ke-wei saat melihat dia menaruh sepuluh liang perak diatas baki, juga dengan pelan tertawa manis, tidak ada tingkah khusus yang tampak.

"Sepertinya dia tidak terlalu perdulikan uang."

Kata Fu Ke-wei pada Naga Setempat dengan pelan.

"seorang gadis yang sangat percaya diri, logikanya, pendapatan dia banyak, sepertinya tidak ada alasan untuk menerima tamu lagi, nyanyian dia sudah cukup untuk biaya hidupnya."

"Bos Fu, ha ha ha!"

Tawanya Naga Setempat sangat menusuk telinga.

"mencari harta jangan takut kebanyakan, jika bisa mendapatkan, cepat-cepatlah mengambilnya bukankah itu pintar? Menunggu setelah habis masa mudanya, ibarat di depan pintu sudah sepi, kereta jarang yang lewat, ingin mengambilnya pun sudah terlambat. Kecantikan wanita ada batasnya, benar bukan? Ha ha ha! Tidak menolak kalau aku urus dia kan?"

"Hanya idiot yang menolak."

Dia menatap bayangan belakang Yan-fang yang berada di meja sebelah mengumpulkan uang sumbangan.

"tidak salah, dia memang seorang wanita cantik."

"Kalau begitu aku segera mengurusnya, kelihatannya tidak ada masalah, tadi aku melihat dia tersenyum penuh arti padamu, baguslah!"

Habis bicara Naga Setempat habis membalikan kepala, pada orang yang bermata tikus itu membisikan beberapa kata.

Pria bermata tikus tidak henti-hentinya menganggukan kepala, lalu meninggalkan tempat, dengan jalan-pelan menghampiri orang tua itu, di sisi telinga orang tua itu bicara beberapa saat.

Sejak tadi Fu Ke-wei memperhatikan keadaan di sekelilingnya, tapi tidak terlihat ada yang mencurigakan.

Ruang restoran yang amat ribut, tamu makan yang kasar dan rendahan, brandalan yang tidak tahu aturan dan licik, wanita petualang yang suka akan uang...semuanya begitu biasa, semuanya begitu alami.

Keadaan demikian, di seluruh dunia, setiap kota metropolitan dan kota yang agak pantas sedikit, memang seperti itu, sejak zaman dahulu, sungguh tidak tampak ada keadaan yang tidak biasa.

Menurut dia, apa yang dikatakan Naga Setempat, orang misterius yang ada di belakang Yan-fang, barulah hal yang tidak biasa.

Dia berusia empat puluh tahunan, wajahnya putih pucat, tubuhnya tinggi kurus, menangkap orang semudah menangkap anak ayam, ini adalah ciri khas wajah Tamu Penggantung Wu-feng.

Orang yang mau dicarinya, itulah Tamu Penggantung Wu-feng, yang menempati urutan ketiga dari empat penjahat terbesar di dunia persilatan.

Tamu Penggantung adalah pembunuh berdarah dingin, sulit dilacak keberadaannya, ilmu silatnya sangat tinggi, hoby satu-satunya adalah wanita, juga khusus menyukai wanita petualang yang pandai diatas ranjang, terhadap wanita yang kelihatan manja, tidak romantis sedikit pun dia tidak ada selera.

Inilah alasannya, dari Yan-fang dia mendapatkan jejaknya.

Jika Wu-feng belum meninggalkan Wu-hu, pasti akan kembali ketempatnya Yan-fang yang harum itu.

Jika dia bisa tinggal di tempat Yan-fang selama beberapa hari, cepat atau lambat pasti akan bertemu Wu-feng dan melempar dia keluar pintu, dia berharap bisa menunggu tibanya hari itu.

Dia mengira tidak ada orang yang tahu asal-usulnya, lebih-lebih tidak terpikir ada orang yang akan mencelakainya.

Sebab dia sudah mengawasi keadaan sekelilingnya, semua tampak normal, jika mempunyai reflek begini, maka dia akan hidup lebih lama.

Tidak ada hal yang mencolok mata, tidak tercium ada bau yang membahayakan.

Sampai pria yang bermata tikus itu pun, tidak terlihat berlaku aneh.

Orang ini hanya licik, serakah, gesit, pandai menyembunyikan keinginannya sebagai seorang tikus setempat, seekor tikus yang tubuhnya penuh jarum, suka berkeliaran di kegelapan saja, tidak perlu di khawatirkan oleh dia.

Ruang makan kembali ribut dan kacau seperti semula, Yan-fang sudah kembali ke tempatnya, menunggu kesempatan bernyanyi kedua kalinya, bernyanyi berturut-turut akan merusak gairah minum para tamu.

Pria bermata tikus sudah kembali.

Fu Ke-wei melihat Yan-fang dari jauh menatap kearah tempat dia, wajahnya tidak tampak expresi khusus.

"Aku pikir, kau tidak berhasil."

Katanya pada pria mata tikus yang baru saja duduk.

"Hanya berhasil setengah."

Laki-laki bermata tikus pertama kali bicara, logat lokalnya sangat kental.

"pertama, malam ini Yan-fang ada janji dengan orang, harus menunggu dia membatalkan janjinya terlebih dulu baru bisa menerima, bisa tidaknya membatalkan, sekarang sulit mengata-kannya. Kedua, jika telah membatalkan, kau harus datang setelah lewat tengah malam, dia mengamen biasanya selesai sekitar jam sepuluh malam, jika terlalu pagi, dia dengan kakeknya belum ada di rumahnya, pergi kesana juga tidak ada gunanya, dia berharap kau mendengar dia nyanyi disini sampai selesai."

"Aku ini orangyang sabar."

Kata Fu Ke-wei.

"Kalau begitu bagus, dia sudah menyuruh orang untuk mengaturnya."

Perkataan Pria bermata tikus tanpa ada perasaan.

"aku beritahu terlebih dulu, uang bokingan dia semalam sangat tinggi, kau harus siap-siap dulu. Dan ada lagi yaitu apakah dia mau kau menginap atau tidak, dia berhak menentukannya, jika dia mempersilah-kan kau pergi, kau tidak boleh ngotot mau tinggal dan ribut."

"Kau tenang saja, aku akan tahu diri."

Kata Fu Ke-wei, pembicaraannya beralih.

"saudara, siapa marga dan nama anda? Sudah datang begitu lama, arak pun sudah banyak meminumnya, dan juga telah membantu aku, sampai sekarang aku belum berkenalan dengan saudara, sungguh tidak sopan."

"Orang semacam aku nama dan marga tidak terlalu dibutuhkan. Kau panggil saja aku Tikus Setempat."

Kata Pria bermata tikus malah dengan tanpa perasaan mentertawakan dirinya sendiri.

"aku mengikuti abang Lu sudah lima enam tahun, bertemu orang ngomong bahasa orang, bertemu setan ngomong bahasa setan, aku senang bekerja, mau memanggil apapun padaku, aku tidak akan menyalahkan kau."

"Ooo! Saudara Tikus Setempat, kau sungguh sangat penyabar."

Dia berkata lagi.

"kau mengatakan kau bekerja dengan senang, itu belum tentu, paling sedikit tadi diluar restoran, kau berlaku sangat kasar sekali, bukan saja tidak tepat, juga hampir saja terjadi salah-paham yang besar."

"Tapi akhirnya kau berhasil berbisnis dengan abang Lu, betul tidak?"

Kata Tikus Setempat.

"itulah keberhasilan aku, yang gagal seharusnya kau."

"Jangan banyak omong kosong lagi, dengar! Yan-fang akan menyanyi lagi!"

Teriak Naga Setempat dengan keras.

Yan-fang memang mulai menyanyi lagi, suara seruling yang merdu mengikutinya.

Sepasang matanya yang genit melemparkan sorot mata seksi pada tamu lainnya, sambil bernyanyi sambil berdiri memegang sapu tangan, menggoyangkan pinggul, matanya genit seperti sutra penuh pesona, tapi sekali pun tidak pernah melirik pada Fu Ke-wei, sepertinya ada yang dikhawatirkan, dikatakannya tidak tertarik malah tertarik, mungkin dia sudah melupakan akan hal ini.

Ini adalah reaksi yang sangat normal, Fu Ke-wei sungguh kagum akan kematangan wanita pengamen ini, juga kepandaiannya menyembunyikan sesuatu.

Kabupaten He-kou karena berada diluar kota, makanya tidak ada jam malam, juga tidak ada larangan, perahu perahu bisa berlalu lalang siang dan malam, setiap saat ada perahu yang merapat di pelabuhan dan berangkat, bagaimana bisa mencegahnya?

Saat restoran hampir tutup, tamu-tamu mulai bubar, beberapa pemabuk dibopong oleh temannya pergi.

Akhirnya Yan-fang dengan orang tua itu juga pulang, saat mau pergi, dari kejauhan dia memberi senyuman manis pada Fu Ke-wei, sorot matanya membuat hati orang melayang.

Naga Setempat dan Tikus Setempat terus berkomplot mencekok arak pada Fu Ke-wei, tapi, kedua orang itu malah mabuk terlebih dahulu, sampai hampir saja terbaring!

Fu Ke-wei yang minum seratus gelas lebih arak, sepertinya kecuali berkeringat, paling banyak hanya tiga puluh persen mabuk.

Tikus Setempat sedikit lebih sadar dari pada Naga Setempat, begitu Yan-fang pergi, dia segera menaruh gelas dan sumpit, sepasang tangannya bertahan pada meja, dengan lidah yang pendek berbicara tidak lancar pada Fu Ke-wei.

"Bos... Fu,... saatnya... pergi,,. mau... maukah... ku antar kau per...pergi kerumah...Yan-fang?"

"Tikus Setempat, apakah kau bisa jalan?"

Tanya Fu Ke-wei.

"Ten...tentu bisa, bang, kau...kau pergi duluan saja."

Naga Setempat sudah tengkurap diatas meja, sudah tidak bisa jalan! "Uuu...mmm...mmm...ngek..."

Naga Setempat terus tersedak arak, tampaknya akan muntah.

"Dia segera akan merangkak."

Kata Fu Ke-wei berkata.

"Nan...nanti...akan ada yang datang... datang menjemput dia."

Kata Tikus Setempat sambil menahan meja, bergoyang-goyang berdiri.

"bos Fu, per...pergilah! Ja...jauh sekali lho! Ib...iblis kecil itu, mmm...kapan-kapan aku...aku juga pergi...mencari dia bersenang-senang. Jalan, aku...aku antarkan."

"Tidak perlu, aku tahu cara mencari dia."

Fu Ke-wei mengeluarkan dua blok perak diberikan pada pelayan yang melayani di samping.

"dibawah benteng kota di ujung jalan, tidak terlalu jauh."

"Ooo! Ternyata kau...kau sudah menaruh ha...hati pada Yan-fang."

"Orang kabupaten He-kou, siapa yang tidak tahu tempat itu? sia-sia kau mengatakannya."

Fu Ke-wei mendorong kursi bangkit berdiri.

"Yan-fang sepertinya tidak menyuruh orang memberi jawaban, tidak tahu apakah dia membatalkan janjinya?"

"Apa masih perlu menyuruh orang memberi jawaban? Dia sudah dari tadi memberi aba-aba tangan menyatakannya!"

"Ooo! Kenapa aku tidak memperhatikan?"

Sangat diluar perkiraan Fu Ke-wei. Dia terus mengawasi gerak-geriknya Yan-fang, seharusnya dia bisa melihat aba-aba tangan Yan-fang, tapi sungguh dia tidak melihatnya.

"Dia sedang menunggumu."

Kata Tikus Setempat.

"aku...aku sungguh kagum padamu, pergilah! Aku...aku antarkan, siapa tahu di...ditempat dia bi...bisa makan sup...sup penyadar arak...yang dia buat sendiri..."

"Kau tidak bisa berjalan, aku pergi sendiri saja, terima kasih!"

Kata Fu Ke-wei sambil merapihkan baju melangkah.

Naga Setempat mulai muntah, hawa arak memabukan orang.

Kemudian datang dua orang yang berdandan kuli, mengapitnya pergi, para pelayan tidak ada orang yang berani bertanya.

Tikus Setempat sambil sempoyongan berjalan keluar dari restoran, di jalan sudah sedikit orang, lampu di luar toko bersinar merah gelap, beberapa pemabuk seperti roh, berjalan sempoyongan di sudut jalan.

Malam sudah larut, dan di daerah barat jalan di pinggir sungai tetap masih ada perahu yang bergerak, ada orang yang sedang sibuk.

Fu Ke-wei sudah tidak terlihat, dia berjalan menuju keujung jalan!

Didepan di sudut rumah dalam bayangan gelap, terdengar satu siulan pelan!

Tikus Setempat yang dengan sempoyongan berjalan kearah berlawanan, setelah melewati sepuluh toko lebih, tiba-tiba langkahnya menjadi cepat, mabuknya seperti telah hilang, di sudut jalan sekelebat saja dia sudah menghilang, masuk dalam kegelapan di sebuah gang kecil.

Di dekat kaki benteng kota, ada sederetan lima rumah yang tinggi rendahnya berbeda-beda, jalannya menyempit dua kali lipat, hingga bisa disebut gang kecil.

Dari lima buah rumah itu, hanya rumah kedua yang lampunya masih menyala.

Di depan rumah ada pekarangan, di kedua sisinya ada tanah kosong, rumput liar tumbuh dimana-mana.

Fu Ke-wei dengan tenang sampai di depan pekarangan yang lampunya menyala.

Dengan teliti dia memperhatikan keadaan sekelilingnya, ini adalah kebiasaan orang dunia persilatan, selamanya harus memperhatikan tempat di mana dirinya berada.

Rumah tembok itu tampak biasa sekali, begitu melihat langsung tahu keadaannya.

Siang hari tadi dia telah menyelidiknya, saat ini dia hanya perlu berdiri sebentar melihat keadaan sudah cukup.

Jika malam ini Wu-feng sudah datang lebih dulu, di dalam rumah pasti tidak akan begini tenang dan damai.

Dia maju mengetuk pintu tiga kali, sesaat, pintu dibuka oleh seorang tua, dia diam tidak bicara dan menyingkir kesamping, menunggu dia masuk, lalu menutup pintu kembali, dengan diam dia membawa jalan melewati pekarangan menuju ruangan, tampak orang itu tua sekali, seperti roh yang kecil dan kurus.

Ruangan rumah itu kecil sekali, tapi pengaturannya bersih dan segar.

Di kedua sisi tidak ada kamarnya, jalanan ada di sebelah kanan, begitu masuk kedalam tampak ada kamar yang sinarnya redup, lalu ada pekarangan terbuka yang kecil, dibelakangnya lagi barulah ruang dalam, rumah di pinggir jalan seperti ini, sangat sederhana sekali tidak ada yang khusus.

Orang yang menyambutnya, adalah Yan-fang yang telah berganti baju.

Pakaian yang longgar, rok seratus lipatan warna hijau danau, samar-samar bisa terlihat lekukan tubuhnya, menambah tiga puluh persen kecantikannya.

Orang tua itu sudah masuk kedalam lagi, mungkin kamar di belakang ruangan adalah tempat tinggalnya si orang tua.

Yan-fang membesarkan api lampu minyak, dengan santai menyuguhkan segelas teh, di pipinya tampak sedikit malu, dengan lembut tapi tidak dibuat-buat berkata.

"Tuan Fu silahkan minum tehnya, tempat tinggalku sederhana sekali, di rumah masih belum memakai pembantu, jika pelayanannya tidak sempurna, harap bisa dimaklumi."

"Nona Yan-fang tidak usah sungkan."

Dia tidak minum tehnya, gelas teh ditaruh diatas meja.

"jangan perlakukan aku sebagai tamu."

"Tuan Fu silahkan duduk sebentar."

Yan-fang berdiri.

"di dapur aku telah menyiapkan cemilan, tidak memerlukan waktu lama. Atau, silahkan masuk keruang dalam istirahat, jika tidak tuan Fu duduk seorang diri, malah tidak leluasa, silahkan!"

Perkataannya tidak kampungan, juga tidak ada lagak yang dibuat-buat oleh wanita ini, hati Fu Ke-wei jadi lega, paling sedikit tidak akan terjadi keadaan yang kaku.

"Nona, silahkan."

Dia tersenyum.

"bisa tidak persilahkan bapak tua itu keluar berbincang-bincang? kata orang, dia kakeknya nona."

"Kakekku pendengarannya kurang baik, orangnya sudah tua dan malas bicara,"

Yan-fang tertawa.

"beliau sudah istirahat, mari kita masuk ke dalam, silahkan ikut aku."

Yan-fang berkata, sambil membereskan peralatan minum, tapi setelah berpikir-pikir dia kembali menaruhnya, lalu berjalan masuk ke dalam.

Fu Ke-wei mengikuti dari belakang, seutas bau harum tipis yang jernih menerobos masuk ke dalam hidungnya.

Mendadak, dia sepertinya teringat sesuatu, langkahnya jadi melambat, sepasang alisnya mengerut dan menundukkan kepala berpikir.

Berjalan sampai ujung belakang menggantung satu lentera yang sinarnya buram.

Tiba-tiba Yan-fang membalikan tubuhnya, dengan sangat alami mengulurkan tangan menggaet lengan Fu Ke-wei.

"Dipekarangan tidak ada lampu, tuan Fu hati-hatilah melangkah."

Kata. Yan-fang tersenyum menggetarkan hati.

"suatu hari, aku akan beli satu perumahan besar yang pekarangannya enak untuk dihuni."

"Keinginanmu pasti akan terkabul."

Kata Fu Ke-wei, lamunannya jadi terpotong.

"dengan wajahmu, keinginanmu cepat akan terkabul."

"Tuan Fu silahkan duduk."

Yan-fang melepas tangannya sambil tertawa laksana bunga.

"aku akan siapkan seteko teh yang harum."

"Jangan urus teh dulu."

Dia tertawa ringan, sambil menarik Yan-fang dan mendekap pinggang yang munggil itu, Yan-fang tidak bisa mengendalikan dirinya, dia duduk di pangkuannya.

Bantal kapas seperti ini memang untuk laki-laki dan perempuan duduk bertumpuk.

"tempatmu lebih mewah, di bandingkan dengan pelacur ternama di Qin-huai kota Nan-jing."

"Mmm...tuan Fu."

Yan-fang setengah menolak menyandar dipelukannya, mulutnya yang kecil munggil memikat dimonyongkan.

"sudahlah, jangan mengolok orang, kau adalah hartawan kecil dari Nan-jing, pengalamannya banyak, siapa yang bisa menandingi pelacur ternama Qin-huai! Apakah kau tiap hari pergi ke pesisir Qin-huai?"

"Pelayanan dalam berbisnis! Tidak bisa di hindarkan, tapi juga tidak setiap hari pergi, aku ini bukan tuan hartawan yang memiliki gunung mas gunung perak di rumah."

Dia menangkap tangan mulus Yan-fang dinikmatinya.

"dengan bakat seni mu, pasti bisa dijuluki bunga ternama yang berwajah cantik dan pandai, bunga ternama di Qin-huai, dibanding kau masih jauh."

Yan-fang duduk miring diatas pahanya, tangan kanannya dipegang Fu Ke-wei, pinggang munggil juga didekap dengan tangan kiri, ingin berdiri jadi tidak mungkin.

"Kau seperti berpengalaman sekali didalam kelompok bunga."

Yan-fang ingin menarik tangannya, dengan wajah yang genit sangat memikat, jari mulus tangan kirinya perlahan ditunjukkan pada kening Fu Ke-wei.

"aku telah mengatakan ingin membeli rumah, jika kau bisa percaya padaku, pinjamkan pada aku beberapa ratus liang perak, entah kau mau memberikannya atau tidak?"

Pengamen dengan tamu, yang dibicarakan jika bukan uang pasti sex, itu hal yang biasa sekali, Fu Ke-wei sedikit pun tidak ada alasan untuk curiga, walau saat dia masuk ke kamar sudah merasakan ada sesuatu yang tidak beres.

Paling sedikit, seorang wanita pengamen yang setengah membuka pintu, mengatur rumah yang disewa begitu mewah, sedikitnya tidak normal.

"Bukan aku tidak mau, masalahnya ada pada dirimu."

Katanya.

"Aku? Maksudmu adalah, kau ingin di rumah emas menyembunyikan bunga, takut aku tidak mau?"

"Ini..."

"Apa yang membuat kau tidak bisa tenang, yang bergerak?"

Pipi halus Yan-fang ditempelkan di wajahnya, dia tidak bisa melihat perubahan wajah Yan-fang, hanya merasakan pipi mulus yang sangat licin, mengelus-elus pipinya dengan nafas seperti anggrek.

"Maksud ku adalah..."

"Tuan Fu, kau harus mengerti."

Kata Yan-fang sambil mencium wajahnya, dengan romantis.

"di seluruh kabupaten He-kou, tidak ada orang yang setampan dirimu, juga kedudukannya terhormat, uangnya banyak. Aku sudah nekad mengikutimu, itu adalah keberuntunganku, juga harapan ku, kecuali kau tidak ada perasaan tidak ada cinta."

"Kau menggombal lagi..."

"Bukan aku menggombal, tapi aku mengatakan apa yang ada didalam hatiku."

Yan-fang bangkit ingin berdiri.

"kau dan aku baru berkenalan, di pihakku bunga jatuh ada maksud, sekali melihat langsung jatuh hati, di pihakmu aku tidak tahu, walau kau hanya bersandiwara! Aku pun tidak akan menyalahkanmu. Jangan mengusap-usap, sarapanku masih belum siap! Kau duduk dulu sendiri, aku segera menemani mu. Kamar dalam sudah dibereskan, mau tidak berbaring di dalam?"

"Di restoran aku sudah cukup minum arak, perut juga sudah penuh dengan makanan, mana bisa sarapan lagi."

Dia memeluk tidak melepaskan, wajahnya berseri-seri, tangan yang memeluk pinggang munggil tidak jujur, memijat disini mengusap kesana-kemari, membuat Yan-fang yang diusap seluruh tubuhnya membara.

"jangan tergesa gesa, dan juga..."

"Kalian laki-laki!"

Mata genit Yan-fang berair, nafsunya sudah sampai di alis.

"seperti kucing yang rakus, setelah masuk rumah ingin masuk ruangan, setelah masuk ruangan ingin masuk kamar..."

"Setelah masuk kamar ingin naik ranjang."

Dia dengan tertawa aneh melanjutkan.

"tapi aku sedikit tidak sama..."

"Apa yang tidak sama?"

Yan-fang memelas, menarik tangan kanan, merangkul leher dia, seluruh tubuhnya menempel di dadanya, buah dada yang kenyal menekan di utas dadanya yang luas dan kuat.

Fu Ke-wei bukanlah seorang laki-laki kaku yang bisa memeluk tapi tidak kacau, dia juga tidak ingin jadi seorang yang kaku, dia mencium pipi halus Yan-fang, dengan mata seksi tertawa aneh.

"tidak sama, tidak sama, karena aku sekarang masih belum memikirkan ranjang, juga belum memikirkan wanita cantik diatas ranjang. Setelah naik ranjang, gelang giok, walet terbang semua sama saja, Xi-zi, Wu-yen tidak jauh berbeda, yang berbeda adalah situasi dan romantisnya sebelum naik ranjang, bidang ini seharusnya kau lebih tahu dari pada aku, ruang dalammu diatur sedemikian seperti kamar pengantin, bisa di lihat di bidang ini kau pasti adalah pakarnya, siapa pun setelah masuk ruangan ini, ada berapa orang yang bisa menolak-nya? Tapi malam ini situasi hatiku beda, aku ingin berbincang denganmu dibawah sinar lilin."

"Apa! Kau..."

Yan-fang menggeliatkan pinggangnya yang kecil, meronta.

"Jangan bangun, duduk saja di pelukanku sambil ngobrol."

Dia erat memeluk tidak melepaskan.

"aku tidak akan melepaskanmu, karena..."

"Ooo! Bagaimana pun kau harus membiarkan aku melepas baju..."

"Saat harus melepas baju, aku akan melepaskanmu."

Dia memeluknya lebih erat lagi.

"tidak perduli asal usulmu bagaimana, itu pastilah cerita lama yang sejak zaman dahulu sampai sekarang sama saja, aku tidak perlu menceritakan, yang ingin aku katakan adalah kau yang sekarang dan dikemudian hari."

"Sekarang? Apa kau sudah memutuskan menyimpan bunga didalam rumah emas? Kau..."

"Itu adalah hal di kemudian hari, sekarang aku ingin bicarakan keadaanmu. Mendengar kata kata Naga Setempat Lu-jiu, beberapa hari lalu ada orang disini berebut dan berkelahi, ada orang yang dilempar keluar pintu, dipukul sampai mengalirkan darah dan kepala pecah."

"Adakejadian itu."

"Siapa saja mereka itu? Orang yang memukul dan melempar keluar pintu adalah..."

"Aduh! Kau memijat menyakiti pinggang aku,"

Tiba-tiba Yan-fang tertawa sambil berseru.

"lepaskan aku, aku ingin berdiri menarik nafas..."

"Aku kan tidak menggelitikmu."

Akhirnya dia melepaskan tangannya.

"hal cemburu berkelahi walau adalah hal biasa, tapi jika tidak betul mengurusnya, mungkin akan memakan korban..."

"Kau ingin tahu siapa orang itu, betul tidak?"

Yan-fang dengan tangan memainkan godeknya, langsung bertanya.

"Aku ini mengkhawatirkan mu..."

"Khawatirkanlah dirimu sendiri!"

"Maksud mu..."

"Aku ingin kau mati!"

Begitu suara mati keluar, tangan mulus Yan-fang turun kebawah, sinar jarum berkelebat, tiga buah jarum ekor lebah yang telah di sembunyikan di dalam rambut, dengan sangat cepat menusuk kearah dada Fu Ke-wei.

Berdiri bertempelan, yang satu berdiri yang satu duduk, sekali tangan dijulurkan langsung sampai di sasaran, yang satu tidak berniat, yang satu berniat, dewa sakti pun tidak akan lolos dari petaka ini.

Tangan kanan Fu Ke-wei saat ini baru saja diangkat mengusap dagunya, dia yang pertama menyadari dari lengan baju Yan-fang ada gerakan yang tidak biasa, setelah melihat bayangan jarum yang hampir tidak terlihat oleh kasat mata, dia sudah tidak dapat menghindar.

"Aiit..."

Dia berteriak terkejut, langsung jatuh terlentang.

Jarum ekor lebah yang panjangnya dua cun, jika masuk kedalam dada, bagaimana akan tertolong?

Walau tidak langsung mati, tapi sulit bergerak, sekali bergerak sakitnya menusuk paru-paru, sakitnya bisa membuat seluruh tubuhnya lemas, kehilangan semangat gerak dan tenaga.

Yan-fang bergerak mundur setelah melepaskan jarumnya, dengan ringannya terbang mundur satu zhang lebih, turun di pintu kamar dalam, dengan cepat mengangkat gorden masuk kedalam, saat keluar lagi di tangan kirinya ada sebilah pisau belati sepanjang satu chi, berdiri di jalan menuju dapur, dengan dingin menatap Fu Ke-wei yang diatas lantai, meronta kesakitan.

Wajah cantik dia berubah jadi dingin dan kaku, sepasang matanya yang cantik genit berubah bersinar dingin, tidak berkedip menatap Fu Ke-wei, seperti seekor serigala yang telah makan kenyang, dengan tatapan dingin melihat pada buruan kecilnya yang telah mati, di matanya walau ada hawa pembunuhan, tapi sudah tidak ada selera.

Fu Ke-wei menggulung tubuhnya, dengan sekuatnya menahan sakit, satu cun demi satu cun dia meronta duduk, sesaat, dia berhasil, tangan kiri menekan dadanya, tangan kanan bertahan pada bantal kapas, lutut kanannya dibengkokan setengah duduk, akhirnya dia bisa duduk stabil.

Wajah dia pucat putih, setiap otot wajahnya mengencang berubah bentuk, berubah sangat menakutkan, giginya digigitkan dengan kuat, bisa diketahui sakit yang dia derita begitu hebatnya.

Sinar matanya sangat menakutkan, dia mengawasi pada Yan-fang, api kemarahan membara, hitamnya menakutkan orang, dinginnya mengigilkan orang.

Dari kejauhan, terdengar suara kentongan tiga kali tanda jam dua belas malam!

"Jarum...ekor...lebah..."

Seluruh tubuhnya gemetar.

"kau...kau adalah..."

Mata Yan-fang bergerak, terhadap lawan yang masih bisa meronta duduk, itu diluar dugaannya, dia juga terkejut karena dia masih bisa bicara.

Belati sudah keluar dari sarungnya tanpa suara, sinar dingin berkilat, sangat tajam sekali.

"Kau adalah...adalah Ratu Lebah Perempuan...yang su...sulit dilacak..."

Yan-fang melangkah, selangkah demi selangkah mendekat, langkahnya pelan sekali, matanya menyorot sinar yang sangat waspada sekali.

Tubuh Fu Ke-wei bergoyang, hampir saja jatuh, tapi akhirnya bisa ditahan dengan tangannya, dengan gemetar satu cun-satu cun dia menggerakan tubuhnya yang berat itu mundur kebelakang, menggerakan sepasang kakinya dengan susah payah mundur, sekali bergerak, garis kesakitan diwajarinya bertambah selapis.

Tidak jauh di belakang tubuhnya ada pintu ruangan, di luar adalah pekarangan yang gelap pekat.

Kecepatan Yan-fang mendekat, lebih cepat di banding gerakan dia mundur kebelakang.

Dia sudah bisa bicara, gemetar tubuhnya semakin keras.

Sinar kilat datang, bayangan orang datang menekan, Yan-fang sudah tidak tahan lagi, dia menyerang dengan belatinya.

Angin kuat menekan tubuhnya, bau harum menyerang orang, hawa dingin belati menuju kearah dadanya, tubuhnya harus membungkuk dan juga menempel dekat.

Terdengar satu teriakan perlahan, sebelum sesaat ujung belati sampai disasaran, Fu Ke-we merebahkan tubuh kebelakang, sepasang kaki dengan kecepatan kilat menyerang, sakit yang amat sangat membuat dia tidak bisa mengerahkan tenaga seharusnya, tapi serangannya tetap saja dahsyat.

"Aiik..."

Yan-fang berteriak terkejut, kaki kanannya tersapu, dia jatuh miring satu zhang lebih, jatuh dengan satu suara keras, dan menabrak mengenai dinding, membuat jendela bergetar, orangnya telah jatuh di bawah dinding.

Fu Ke-wei mengangkat tubuhnya, tapi di dalam ruangan gelap, sepasang lilin telah dipukul jatuh oleh Yan-fang, gelapnya sampai mengulurkan tangan tidak bisa melihat lima jari.

Jelas, Yan-fang tahu pisau Xiu-luo-nya sangat menakutkan, sangat mungkin dia masih ada tenaga melemparkan pisau terbangnya memadamkan lampu adalah pertahanan yang paling baik.

Dalam kegelapan, terdengar Yan-fan mengeluarkan siulan aneh.

Segera di depan sudah ada gerakan, si orang tua seperti setan keluar dari pekarangan, di tangannya membawa seruling bambu yang berwarna-warni, lebih panjang empat cun dari pada seruling yang dipakai untuk pertunjukan, seruling ini sepanjang dua chi dua cun.

"Dia di bawah pintu."

Teriak Yan-fan dengan gelisah. Di dalam pintu di bawahnya ada benda yang bergerak, dengan sinar bintang di pekarangan samar-samar bisa terlihat.

"Jarumku mengenai dadanya, tapi dia masih bisa bertahan."

Yan-fang berbicara lagi, tapi telah merubah posisi.

"dia telah menendang kaki kananku, dalam waktu singkat ini, dia tidak bisa bergerak leluasa, cepat bunuh dia!"

Orang tua itu mengangkat seruling kebibir-nya, sebuah sinar dingin menembak dari dalam seruling, dengan jitu mengenai benda bergerak di bawah pintu sejauh satu zhang lebih, satu suara aneh terdengar.

"Bukan manusia."

Orang tua dengan perasaan aneh berteriak.

"apa benar dia ada di dalam?"

"Seharusnya masih ada."

"Kau benar telah melukainya?"

"Tiga buah semuanya mengenai dadanya."

"Kau tidak menambah dia satu pisau?"

"Sedikit terlambat..."

"Kacau! Cepat keluar."

"Seharusnya dia sudah tidak akan bisa bertahan..."

"Cepat jalan!"

Orang tua itu berteriak ketakutan.

Seluruh perumahan gelap gulita, sedikit suara pun tidak ada.

Fu Ke-wei bersembunyi di rerumputan pintu belakang, di belakang dia adalah benteng setinggi dua zhang, orang yang bersembunyi di dalam rumput, tidak akan mudah di temukan.

Dia keluar dari pintu belakang, karena sakit dia tidak bisa memukul jatuh lawannya.

Dia tidak bisa berjalan, kata-kata orang tua itu tidak bisa di percaya, jika lawan merencanakan siasat hebat yang tiada cacat untuk membunuhnya, pasti setelah melihat mayat buru-buru meninggalkan tempat.

Didalam hati dia tahu, di sekitar ini paling sedikit musuhnya telah menyembunyikan lima orang kawannya, menunggu dia keluar mengantar nyawanya, atau menunggu dia menghembuskan nafas terakhir baru mencari mayatnya.

"Sungguh aku pantas mati!"

Di dalam hati diam-diam dia memaki dirinya sendiri.

"begitu banyak gejala yang mencurigakan, aku malah begitu bodoh mengabaikan satu persatu. Oh langit! Siapa yang mengatur siasat keji yang tidak ada kelemahannya ini? Dengan Ratu Lebah aku tidak ada permusuhan juga tidak ada dendam, dia tidak ada alasan untuk membunuhku, kenapa? Kenapa?"

Dia pernah mendengar di dunia persilatan ada seorang wanita yang pandai menggunakan jarum untuk membunuh orang, di dunia belum pernah mendengar ada orang yang pernah melihat wajah aslinya Ratu Lebah, dia belum pernah bertemu, dari mana datangnya permusuhan?

Siapa nama Ratu Lebah apa pula marganya?

Cantik atau buruk, siapa pun tidak ada yang tahu.

Jarum Ekor Lebah adakah senjata rahasia jarum yang membuat orang-orang persilatan ketakutan, di tempat yang terbuka kelompok orang ini secara diam-diam bisa membunuh orang, bisa dikatakan dewa tidak akan tahu setan tidak akan merasakannya, sangat mudah melakukannya dan sangat jitu.

Jarum Ekor Lebah sangat tajam, kekuatannya mengejutkan orang, tidak kena sasaran tidak apa-apa, begitu terkena pasti menembus masuk ke dalam tubuh dan mengenai jeroan, jika tidak dibedah dagingnya, sulit bisa mengeluarkan jarumnya, dalam sekejap, jeroannya pasti akan berdarah dan mati, jarum Ekor Lebah walau kecil, tapi di ukir bergerigi, bisa masuk tidak bisa mundur, bisa mengikuti gemetar sakitnya tubuh, sesudah masuk kedalam nadi darah, pembuluh yang dilalui satu persatu akan terluka.

Lebih-lebih karena kecil, lukanya sulit ditemukan, makanya orang yang telah mati, penyebab matinya pun tidak dapat diselidiki.

Orang persilatan kalau membicarakan Jarum Ekor Lebah, seperti membicarakan wajah harimau berubah warna, ketakutan seperti melihat ular atau kala jengking, tidak perduli golongan putih atau hitam, tidak satu pun yang tidak membencinya setengah mati.

Beberapa tahun ini, orang yang mati tidak tahu sebabnya dibawah jarum ini, memang tidak sampai lima puluh tapi ada sekitar tiga sampai empat puluh banyaknya, semua adalah orang persilatan yang punya kedudukan, tanpa alasan yang jelas dibunuh, setelah mati baru di ketemukan penyebab kematian didalam tubuhnya.

Mengenai korban yang tidak ditemukan penyebabnya, ada seberapa banyak?

Sungguh sulit dihitung.

Dia diserang oleh wanita jahat ini dengan tiga jarum, jarum masuk kedalam tubuhnya, dia sudah tahu kehebatan senjata gelap ini.

Dengan hati-hati dia mencabut pisau Xiu-luo dari sarungnya, pelan-pelan membuka baju.

Dia begitu telitinya sedikit pun tidak mengeluarkan suara.

Orang yang berani merencanakan pembunuhan padanya, pasti bukan orang yang tidak ternama, mereka ini bersembunyi disekitar menunggu, ingin membuktikan dia hidup atau mati, suara sekecil apa pun, sulit lolos dari pendengaran tajam para pesilat tinggi ini, di ambang pintu hidup atau mati, sekecil apa pun kesalahan, sudah dapat menentukan jalan hidupnya.

Dia bukanlah orang yang bodoh, tapi kali ini dia telah melakukan kesalahan serius yaitu tahu setelah ada gejala yang mencurigakan.

Pertama, dia terpikir orang berbaju biru Bo Yi-he adalah anggota organisasi pemburu bayaran itu.

Dia dengan Bo Yi-he, pernah bertemu beberapa kali, dia tidak berhubungan erat, tapi dengan ketua organisasi pemburu bayaran Dewa Karma Pu Chao-chen, dia berhubungan erat dan juga sering mengadakan hubungan dagang.

Berbicara ilmu silat, Bo Yi-he dengan Wu-feng tidak berbeda jauh, Wu-feng jarang punya teman.

Asal ditambah satu atau dua orang yang membantu, akan mudah menghadapi Wu-feng.

Bo Yi-he mengutus orang membawa dia dari Di-zhou datang kesini, dia mengira Bo Yi-he pasti kekurangan orang.

Tapi saat berpisah dengan Bo Yi-he, Bo Yi-he malah mengatakan bisa mengumpulkan teman-temannya untuk membantu dirinya, dengan adanya kejadian seperti ini kenapa dia tidak timbul curiga?

Yang lain adalah Naga Setempat Lu-jiu, lama diam di restoran, para berandalannya malah satu pun tidak terlihat, dimana bersembunyinya teman-teman Naga Setempat?

Mana bisa mereka membiarkan bos mereka sendirian berbisnis dengan orang asing?

Jelas Naga Setempat jika bukan satu kelompok, pasti telah dikendalikan oleh si pembunuh.

Satu lagi orang tua peniup seruling, jika adalah orang tua biasa, bagaimana bisa meniup seruling dengan nafas yang kuat sekali?

Yang paling tidak bisa diampuni adalah, dia pernah mencium bau harum tubuhnya Yan-fang dengan kwalitet harum yang tinggi sekali, tapi dia sedikit pun tidak timbul waspada.

Dia sudah berkelana di dunia persilatan sebanyak sepuluh musim semi dan musim gugur, dia pernah berhubungan dengan tidak sedikit teman wanita dan wanita asing.

Mereka orang yang dari keluarga benar dan gadis terhormat, parfum dan kosmetik yang digunakan, kwalitasnya sama sekali berbeda dengan wanita pengamen, seharusnya sekali mencium dia bisa langsung sudah tahu, walau pelacur ternama di Qin-huai, untuk mengangkat diri juga menggunakan kosmetik kelas tinggi, tapi tidak bisa menghindar menggunakan dengan berlebihan, disatu pihak menyatakan harga dirinya tinggi, disatu sisi bisa menawarkan bau tubuh laki laki, apa lagi terhadap bau arak, jika tidak ada bau harum yang kental, bagaimana bisa tahan?

Yan-fang adalah wanita pengelana, dengan apa dia menggunakan parfum yang tipis?

Saat itu dia sungguh sudah curiga, tapi malah jalan pikirannya terputus oleh gerakan Yan-fang menggaet tangannya mengatakan kata romantis, kecurigaan yang timbul mendadak jadi terbuyar-kan.

Semakin dipikir semakin berdiri bulu kuduknya, dia juga diam-diam mengagumi gerakan dan rencana Yan-fang yang sangat teliti.

Kalau saja dia minum teh yang ada di ruangan luar, kalau saja dia tidak menggunakan siasat menempelnya, kalau saja dia tidak mendesak hingga pembicaraannya sampai pada Tamu Penggantung dan masuk kekamar...

Dan juga kalau saja dia bukan sedang duduk mendapat serangan, bukan saja dalam sekejap dapat melihat hawa pembunuhan dimata Yan-fang...

Tidak perduli bagaimana pun mengatakannya, dia telah terkena siasat wanita cantik, seharusnya dia sial, dia salah menganggap harimau betina pembunuh wanita sebagai wanita jalanan, kelakar ini sudah terlalu besar.

Dia sudah mati sekali, dan sekarang bahaya masih belum lewat.

Dia memotong otot dada, menggigit gigi menahan sakit mencabut keluar satu Jarum Ekor Lebah didalam otot dadanya.

Disaat lawan melemparkan jarum terbang nya merentangkan badannya, dan tangan kanannya yang sedang mengusap dagu, dengan reflek menggunakan lengan menangkis jarum, makanya jarumnya masuk dengan miring, tidak masuk kedalam dada, sungguh berbahaya sekali, hidup dan mati hanya berbeda selembar rambut.

Dia memakaikan obat di dalam kantong serba guna mengobati lukanya, lalu memotong bajunya untuk membalut, semuanya dilakukan tanpa bersuara.

Dia begitu tenang, dengan sabar dapat menahan sakit, ini adalah modal dia berkelana di Jiang-hu selama lima tahun dan masih hidup sampai sekarang.

Diatas benteng, di satu tempat yang rusak, pelan-pelan nonggol setengah kepala, dengan sangat perhatian menyapu kebawah.

Dia telah melihatnya, tapi tidak perdulikan.

Diatap genteng rumah paling luar, ada satu bayangan hitam yang bergerak-gerak.

Mungkin orang-orang itu sudah tidak sabar menunggu, bersiap masuk kerumah mencari mayatnya, orang-orang ini semuanya penakut.

Langit terlalu hitam, nama Xie-jian-xiu-luo menggemparkan ke seluruh penjuru persilatan, di dalam kegelapan malam kedahsyatan pisau Xiu-luo bisa bertambah sepuluh kali lipat, siapa yang berani jadi pahlawan?

Dia pelan-pelan menggulung lengan baju kanannya, terima kasih langit!

Tidak, seharusnya terima kasih pada pelindung lengan kantong pisau dirinya sendiri, dua buah jarum Ekor Lebah miring menancap kedalam kantong kulit tempat menyelipkan pisau, tertahan oleh badan pisau terbang arahnya jadi membelok dan tenaganya berkurang lebih dari setengahnya, maka jarum itu masih menancap di kantong kulit.

Melihat posisinya, dua buah jarum ini, satu menuju kearah jantung, dan yang satunya lagi sedikit keatas mengarah kedada kiri, ketepatannya, sungguh membuat hati orang bergetar.

"Wanita hina ini sungguh keji!"

Di dalam hati dia memaki. Di depan terdengar ada suara yang pelan sekali, rupanya ada orang yang naik keatap genteng rumah mengintip.

"Malam ini orang yang datang membantu dari luar, paling sedikit ada delapan orang."

Di dalam hati dia menghitung, sambil menenangkan diri mengawasi keadaan disekitarnya.

Dia tidak bisa keluar, otot dada yang dipotong masih terluka, begitu bergerak akan mengalirkan banyak darah, bagaimana bisa bertarung dengan pesilat tinggi?

Juga, tubuhnya tidak membawa senjata.

Tempat bersembunyiannya bagus sekali, dari belakang rumah sampai ke kaki benteng jaraknya ada tiga puluh langkah lebih, penuh tumbuh rumput liar dan pohon berduri kecil, dia berjongkok tiarap di rerumputan, rumput liar menutupi dirinya, walau sinar lebih terang lagi, dari atas benteng melihat kebawah juga sulit menemukan bayangan tubuhnya.

Yang paling penting, pesilat yang ilmu meringankan tubuhnya sudah sampai tingkat kesempurnaan pun tidak akan dapat dari jarak lebih dari sepuluh langkah seperti kilat mendadak menyerang dirinya.

Jika orang yang datang ke rerumputan mencari jejak, dari jarak dua zhang lebih sudah dapat dirobohkan dengan menggunakan pisau Xiu-luo, keadaan dia sekarang, tenaga yang dapat di gunakan untuk melempar pisau Xiu-luo, hanya dapat mencapai jarak kurang lebih dua zhang.

Jika tidak mendesak sekali, dia tidak akan menggunakan pisau Xiu-luo, untuk menghindarkan lukanya kembali pecah.

Satu-satunya hal yang bisa dia lakukan, adalah bersembunyi dengan baik, berdoa pada langit supaya melindungi jangan sampai di temukan oleh orang-orang ini.

Asalkan hari sudah terang, orang-orang ini pasti akan melarikan diri.

Jika didalam rumah tidak ditemukan mayatnya, pasti akan timbul kekacauan, mungkin pemimpinnya mengira dia sudah melarikan diri, tidak buru-buru melarikan diri dari tempat kejadian itu, adalah hal yang aneh.

Akhirnya, dia mendengar ada suara di dalam rumah, malah dapat melihat sinar lampu yang keluar dari celah dinding, orang-orang ini sudah berani dengan terang-terangan menyalakan lampu mencari dia.

Lalu, ada orang yang mencari di kaki benteng, ada orang yang mencari di pinggir kali, di seberang jalan, ada orang dengan terburu-buru dari sebelah kiri tempat bersembunyinya lari kearah kaki benteng, jaraknya tidak sampai satu zhang, mereka malah tidak memperhatikan daerah rumput pendek tempat sembunyi dia, malah mencari di tempat kaki benteng yang ditumbuhi rumput setinggi manusia dan pohon-pohon.

Orang-orang ini semua memakai pakaian malam, semua memakai cadar hitam, bukan saja tidak bisa melihat wajahnya, juga tidak bisa melihat jelas bentuk tubuhnya, langit terlalu gelap, dan gerakan orang-orang ini juga terlalu cepat.

Lama, dari arah kaki benteng ada orang mencari berbalik arah, mulai dari rumah sebagai pusat berkumpul.

Dua bayangan hitam satu di kiri satu di kanan, dengan hati-hati selangkah-selangkah berjalan memeriksa, tidak henti-hentinya menggunakan pedang membuka rerumputan yang dicurigai.

Melihat arah dan garis jalannya, tempat sembunyinya tepat dari arah orang sebelah kanan, tidak diragukan lagi dia pasti tidak akan lolos dari nasib jika di temukan.

0-0-0 Bab 3 Dia menggigit gigi, sepasang tangannya mencabut sebilah pisau Xiu-luo.

Bayangan hitam semakin mendekat, babak hidup atau mati segera akan ditentukan.

Dia merasa jatungnya berdebar bertambah cepat, telapak tangannya mulai berkeringat.

Dua zhang, satu setengah zhang..sepasang tangan dia tidak berkeringat lagi, kembali seperti dulu tenang dan mantap, tenaga dalamnya diam-diam dipusatkan, akan melakukan satu serangan dahsyat menentukan hidup atau mati.

Ini adalah keistimewaan dia di Dunia persilatan yang berbeda dari orang-orang lain, ketika dia memutuskan akan bertarung, malah dia akan lebih tenang dibandingkan di saat kapan pun, tenangnya sampai dia sendiri juga heran, sebab kalau sudah begitu dia merasa meski langit runtuh pun tidak akan mempengaruhi dirinya, dengan berani dia menghadapi kematian, dibandingkan orang yang mengaku tidak takut mati jangan dikata.

Hampir mendekati jarak satu zhang, sorot mata bayangan hitam itu sedang menyapu dari arah kanan ketempatnya.

Pisau Xiu-luo dia, tenaganya sudah terpusat di ujung pisau.

Mendadak, diatap genteng muncul satu bayangan hitam, sambil mengeluarkan satu siulan tajam yang pendek, lalu sekelebat menghilang.

Bayangan hitam yang akan melangkah mendekat, membalikan kepala pada temannya yang di kiri, lalu bersiul mengangkat tangan mengayun ke belakang, dua orang itu membalikan tubuh lari ke arah kaki benteng, dengan gerakan Bangau Menerjang Langit, orang itu meloncat keatas benteng setinggi dua zhang, sekelebat sudah menghilang.

Jantungnya Fu Ke-wei kembali berdebar, telapaknya pun kembali berkeringat, perasaan mengendur setelah melewati bahaya, membuat dia merasa sangat lelah, dan lukanya kembali terasa sakit.

"Aku pasti bisa mencari kalian."

Dia didalam hati berteriak.

Cuaca akhirnya menjadi terang, dia masuk ke dalam rumah Yan-fang, dengan teliti memeriksa setiap pelosok, dia berharap bisa mendapatkan sedikit jejak.

Tapi harapannya sia-sia, kecuali perabotan rumah, apa pun tidak ada yang ditinggalkan, sampai satu baju pun tidak ditemukan.

Dia jadi tertawa pahit menggelengkan kepala, orang-orang ini sungguh pintar sekali, seperti setan saja, gerakan menghilangkan jejaknya begitu sempurna.

Terakhir, dia sekali lagi melihat kesekeliling rumah.

Tiba tiba, dia menyorotkan matanya pada alat minum yang pernah dia gunakan untuk menjebak orang tua, di barang itu ada satu lubang kecil terkena senjata gelap, tapi senjata gelapnya telah hilang.

Itu adalah lubang sebesar kacang, menembus alat setebal setengah cun, lubangnya ada yang mendadak membesar, di sekeliling lubang ada jejak warna hijau padam yang sulit dilihat.

Dia mencium-cium lubang kecil itu, lalu membuka kantong serba ada, dengan pisau Xiu-luo mengambil bubuk dari satu botol keramik perut besar, di campur dengan air liur lalu dioleskan pada satu sisi lubang kecil itu, dia memperhatikan perubahannya, dia tidak henti-hentinya mencium.

Tidak lama, sisi yang telah dioles bubuk, tampak ada jejak warna pucat keputihan.

Dia kembali menggunakan bubuk di botol lainnya, dioleskan pada sisi lain lubang kecil.

Berturut-turut dicobanya menggunakan empat macam obat bubuk, akhirnya obat terakhir menampakan jejak warna abu-abu hijau, mengeluarkan bau tipis semacam amis ikan.

Dia tertawa puas, lalu membereskan kantong serba ada pelan-pelan berdiri.

"Seruling Pengejar Nyawa, Jarum Kematian, aku sudah tahu siapa kalian!"

Dia berguman, sinar dingin di matanya tiba tiba jadi membara, sudut bibirnya tersenyum keji, sepasang tangan dengan reflek mengepal kuat.

Hari ketiga, Fu Ke-wei muncul di pesisir timur Au-zhou, menyuruh perahu menanti di tempat itu, dia sendirian masuk ke Zhou-xi.

Ini adalah daratan pasir yang melintang di mulut sungai, berhadapan dengan Lao-gu-fan yang berada jauh di seberang sungai, daratannya ditumbuhi oleh rerumputan, beberapa gubuk rumput di bangun untuk istirahat para nelayan, biasanya tidak ada orangyang tinggal.

Saat dia mendadak muncul di salah satu gubuk rumput, dia telah mengejutkan tiga pria besar yang sedang tidur.

"Iii! Kau..."

Seorang laki-laki besar meloncat terkejut sambil berteriak.

"Siapa yang dipanggil Penerobos Ombak Chen-shou?"

Tanya dia sambil menggendong tangan sambil tertawa.

"Kau adalah..."

Tanya Laki-laki lainnya dengan waspada.

"Aku marga Fu, mencari Chen-shou."

"Dia tidak disini, pergi ke Wu-wei-zhou di seberang pantai."

"Saudara adalah..."

"Aku marga Gao, kau cari kakak ketiga Chen..."

"Beri kabar pada bos kalian Naga Setempat Lu-jiu."

"Ini..."

Wajah pria besar berubah.

"Aku berniat baik, tiga hari lalu, bos kalian dengan aku pernah berhubungan di restoran Jin-ling, minum arak seratus gelas lebih."

"Ooo! Kau pedagang kain marga Fu yang datang dari Nan-jing."

Kata laki-laki besar itu dengan ketakutan, wajahnya berubah sekali.

"Benar, pedagang kain datang dari Nan-jing."

Dia tertawa.

"ini menandakan Naga Setempat diam-diam telah mengatur persiapan, kakak ketiga Chen kalian mungkin tahu akan hal ini."

"Apa gunanya tahu?"

Laki-laki besar tertawa pahit.

"bos Lu malam itu juga sudah mati, dia tetap tidak bisa menyelamatkan nyawa."

"Ooo! Naga Setempat sudah mati?"

Dia bertanya, tapi tidak merasa diluar dugaan.

"Benar, kami beberapa saudara, sama sekali tidak mampu mencegah dua orang yang berdandan kuli itu, kami juga mengorbankan nyawa dua orang saudara."

"Makanya kakak ketiga Chen kalian sembunyi di Wu-wei-zhou."

"Kami tidak dapat melawan musuh kuat."

"Aku sengaja datang pada kakak ketiga Chen untuk memberi kabar."

"Ini..."

"Apa kalian tidak berharap membalas dendam?"

"Ini..."

"Kasih tahu aku berita yang kalian ketahui, nanti aku pergi mencari mereka. Misalnya, arah pergi orang-orang itu, wajah asli mereka dan yang lainnya, aku percaya mereka lebih misterius lagi juga, tidak akan bisa lolos dari pengawasan ular setempat, karena Naga Setempat diam-diam telah memberitahu keadaannya pada kalian, seharusnya kalian sudah ada persiapan, makanya aku mencari kakak ketiga Chen."

"Kakak ketiga Chen benar telah pergi ke Wu-wei-zhou, berita yang diinginkanmu, tanpa syarat aku beritahukan, aku berharap ada gunanya buat kedua belah pihak."

"Saudara Gao, aku ucapkan terima kasih terlebih dulu."

"Orang-orang itu, sebulan yang lalu sudah tiba secara diam-diam, mereka berpencar di beberapa penginapan kecil, hingga tidak menimbulkan perhatian saudara-saudara kami. Ketika Yan-fang dan kakeknya datang dari Nan-jing, dia menghubungi saudara tirinya bos Lu, si Ikan Terbang Hitam, baru dapat menyewa rumah dan tinggal, tiga hari sebelum kejadian bos Lu diculik dan diancam orang. Kehebatan mereka sangat menakutkan orang, bos Lu tidak berani tidak bekerja sama dengan mereka."

"Orang yang menyebut dirinya Tikus Setempat itu..."

"Dialah orangnya yang mengancam bos, asal-usulnya sangat misterius."

"Arah pergi mereka..."

"Yan-fang pergi sendirian, menyamar sebagai pelayan kecil, melewati jembatan Fu Min ke pelabuhan Lu, saudara-saudara kami tidak berani menghadangnya. Orang lainnya pergi di bagi beberapa kelompok, ada beberapa yang naik perahu ke bawah, ada beberapa jalan ke atas. Otak utamanya Tikus Setempat, naik satu perahu misterius sangat cepat berlayar ke atas."

Pria besar itu melaporkan semuanya.

"Terima kasih atas kerja sama saudara Gao, sampai jumpa."

Dia mengepal tangan menghormat tanda berterima kasih, lalu menelusuri jalan semula kembali ke tempat penambatan perahu.

Lalu perahunya menyeberang sungai, merapat di Lao-gu-fan.

Sampai di bangunan terbuka kecil, dia melepaskan pedang, menaruhnya di meja di tengah bangunan terbuka, menggendong tangan dengan sorot mata tajam menatap rumah Lin-zhi yang terletak tidak jauh, diam tidak bergerak.

Tidak lama, seorang dao (pendeta) keluar dari pintunya, dengan ragu-ragu berjalan menuju bangunan terbuka, matanya bersorot waspada, kira-kira dari bangunan terbuka tiga empat zhang lagi dia menghentikan langkahnya.

Mata Fu Ke-wei yang dingin dengan keji menyambut dao yang semakin mendekat, sudut mulutnya tersenyum dingin menakutkan.

Dao tua akhirnya memberanikan diri masuk kedalam bangunan terbuka dengan ketakutan memberi hormat.

"Apa kabar dermawan! Aku memberi hormat. Dermawan..."

"Aku tidak mau banyak bicara."

Dengan dingin dia berkata lagi.

"Aku tahu Ular Air Qin-qi, sembunyi di kuil anda. Kau panggil dia keluar, aku ada pertanyaan untuknya. Jika dia tidak keluar, aku Xie-jian-xiu-luo marga Fu tentu akan menjewer kupingnya keluar, seharusnya dia bersembunyi di kota Zhou, disini mana cocok bersembunyi?"

"A...aku akan lakukan."

Dao tua mundur ketakutan, hampir saja dia roboh karena kakinya lemas.

Tidak lama, Ular Air Qin-qi muncul diluar pintu kuil dengan wajah pucat, tangannya memegang senjata Tusuk Pembelah Air, dia berkeringat dingin dan gemetaran mendekat ke bangunan terbuka.

"Kau...kau ini adalah Xie...Xie Jian Xiu...Xiu-luo Fu...pendekar besar Fu?"

Tanya Ular Air Qin-qi diluar bangunan terbuka dengan ketakutan "Ca...cari..aku..ada...ada..keper... keperluan... apa?"

"Siapa yang menghubungi Tamu Penggantung Wu-feng?"

Dengan nada dalam Fu Ke-wei bertanya.

"kau mengeluarkan berapa perak, menyewa Tamu Penggantung membunuh Dewa Nyamuk Xian-zhong?"

"Ini salah paham yang besar!"

Teriak Ular Air dengan gelisah.

"Aku dengan perusahaan pelayaran Jiang Han, dulu memang ada dendam, tapi tidak begitu besar, tidak perlu sampai harus membunuh orang membalasnya, juga tidak pantas menyewa Tamu Penggantung membunuh orang, hanya setan yang tahu Tamu Penggantung Wu-feng seperti dewa atau seperti setan. Begitu Dewa Nyamuk mati, Tangan Dunia polisi Lin sudah menyeberang sungai menyelidik, menuduh aku menyewa orang membunuhnya, untungnya dia tidak punya bukti, hingga tidak bisa menangkap ketika aku menyeberang sungai, tapi itu telah membuat aku ketakutan sekali, hingga terpaksa menyembunyikan diri..."

"Apakah kau kenal orang yang bernama Bo Yi-he?"

"Tidak kenal!"

"Kau sungguh tidak terlibat?"

"Aku bisa bersumpah pada langit, jika aku terlibat, langit akan membuat aku disambar geledek dibakar api tidak ada turunan."

Sumpah Ular Air dengan sangat lancar sekali.

"beberapa hari lalu, perahu perusahaan pelayaran Jiang Han terdampar di Lao-zhou, aku yang mengutus orang menariknya keluar, aku melupakan permusuhan pribadi, jiga menjaga rasa setia kawan Jiang-hu."

"Aku percaya padamu."

Wajah Fu Ke-wei tidak dingin lagi.

"Kau teruskan saja bersembunyinya! Ingat, pertemuan kita hari ini jangan sampai bocor, kalau tidak, akan ada pembunuhan. Katakan kau belum pernah melihat aku, tahu tidak?"

"Tahu, tahu."

Kata Ular Air buru-buru mengangguk.

"Tadinya aku juga tidak kenal kau, jujur saja, apa kau benar Xie-jian-xiu-luo pendekar besar Fu, sekarang aku masih curiga."

"Bagus bagus, kau teruskan rasa curigamu! Sampai jumpa."

Berturut-turut dua hari, dia telah mendatangi tidak sedikit tempat, setiap kali kembali ke penginapan Yi Feng, wajah dia semakin jelek satu duapuluh persen.

Hari ini, tidak lama setelah lewat tengah hari, saat dia masuk keruang penginapan, wajahnya sudah menjadi hijau keabu-abuan, pucat, sepasang matanya tidak bersinar, langkahnya berat, dan juga bau obat dan luka busuk di tubuhnya, semua menjelaskan dia adalah orang yang akan menjalin keluarga dengan raja neraka.

Pedang di pinggangnya, seperti akan membebani dia jatuh!

dibandingkan saat dia muncul pertama di Iao-gu-fan seperti dua orang yang berbeda.

"Tuan, kau...kau kenapa?"

Pelayan yang membopong dia dengan perhatian ber-tanya.

"wajahmu jelek sekali, apakah lukanya kambuh lagi?"

Waktu dia terluka pelayan sudah tahu, setiap hari pelayan yang memanggilkan tabib memeriksanya, mengganti obat dan makan obat, tapi semakin diobati semakin parah.

"Sungguh aku merasa tidak tahan."

Katanya dengan nafas terengah-engah.

"Tuan, kalau tidak tahan harus baik-baik istirahat!"

Pelayan membopong dia masuk kedalam, menuju kekamarnya, sambil berjalan sambil menyalahkan.

"Aku tidak bisa istirahat."

Dengan lemas berkata.

"aku tahu aku akan segera mati, tapi sebelum mati, aku harus tahu orang yang diam-diam ingin membunuhku, tidak dengan tangan sendiri membunuh mereka, mati pun tidak bisa menutup mata."

"Tuan..."

"Aku tidak akan mati di penginapanmu."

Dia terengah-engah kesakitan.

"tolong suruh orang panggilkan tabib Luo, obat jamu dia dingin, lebih cocok untuk luka. Dan juga itu tabib Zhuang, tolong suruh orang panggil dia."

"Baik aku sekarang menyuruh seorang pelayan kecil pergi memanggilnya."

Toko tabib Luo berjarak setengah li dari penginapan, tabib ini cukup ternama di daerah ini, cukup mahir terhadap pengobatan keseleo atau luka terjatuh.

Saat tabib Luo pulang meninggalkan penginapan, sudah sekitar jam empat sore, di belakangnya sudah diikuti oleh seorang setengah baya yang tinggi kurus.

"Apakah tabib Luo?"

Orang setengah baya sekali masuk toko sudah memanggil.

"sibuk sekali tampaknya, apa baru pulang dari penginapan Yi-Teng?"

"Benar."

Tabib Luo membalikan tubuh, kotak obat diberikan pada pelayan toko.

"saudara ada keperluan apa? Silahkan duduk di dalam, silahkan!"

Tuan rumah dengan tamunya sudah duduk, pelayan kecil sudah mundur setelah menyiapkan teh. Tamu itu menyebut dirinya marga Sun, datang dari Nan-jing.

"Tabib Luo, aku mengikutimu sejak dari penginapan."

Orang marga Sun terus terang mengatakan maksudnya.

"pasienmu itu bukan saja usahanya sejenis dengan aku, dan juga tetangga satu jalan. Orang ini sifatnya sombong, suka berkelahi, tidak mudah didekati. Tapi mengingat usahanya sejenis, aku tidak bisa meninggalkan dia tanpa mengurusnya, makanya aku berencana diam-diam menyewa perahu, menyewa beberapa orang memaksa dia pulang ke Nan-jing, jika tidak memaksanya, dia tidak akan mau pulang, niat balas dendamnya terlampau keras, dia tidak akan mendengarkan nasihat siapa pun."

"Benar, dia tidak mau pulang."

Tabib Luo berkata.

"kadang pingsan, tapi tetap saja mulutnya berguman apa itu wanita hina, apakah luka dia ada hubungannya dengan wanita?"

"Tidak tahu."

Marga Sun berkata.

"maksud ku datang kesini, adalah berharap mengetahui keadaan sakitnya, supaya ada persiapan, jika membawa dia pergi, dalam dua hari di dalam perahu, apakah akan berbahaya?"

"Ini...sulit dikatakan."

Tabib Luo berpikir dengan hati-hati berkata.

"dadanya ada tiga luka menganga, dalam sampai ketulang, telah diobati beberapa hari, tapi lukanya tidak merapat juga, kalau sakitnya kambuh dia tidak mau berbaring, setiap hari pergi keluar, katanya mencari jejak, obat yang dimakan tidak cukup untuk dia, panasnya tidak turun-turun seluruh tubuhnya seperti api, yang aneh adalah dia tetap masih bisa bertahan, tapi....jika di perahu dia mau istirahat, kiranya tidak apa-apa."

"Dia tidak akan mati bukan?"

"Mungkin, masalahnya adalah entah dia bisa tenang atau tidak, bisa tidak membatalkan niat gilanya membalas dendam, jika dengan tenang baik-baik diobati, dia tidak akan mati."

"Ooo! Kalau begitu aku jadi lega."

"Saudara Sun, kau harus tahu, obat tidak akan menyembuhkan orang yang tidak ingin hidup, menurut lukanya dua hari lalu mungkin dia sudah harus berbaring, sebabnya dia masih bisa bertahan sampai sekarang, bisa dikatakan karena kuatnya keinginan dia untuk hidup dan niat membalas dendam, dia melebihi orang biasa, dan dapat bertahan tidak jatuh. Di Nan-jing ada tabib yang bagus, bawalah dia pergi! Dia akan hidup."

"Terima kasih atas nasihatmu, sekarang aku pulang, aku akan berusaha membawa dia pulang ke Nan-jing."

Tidak lama, marga Sun pamit meninggalkan toko.

Dua orang awak perahu menyatu dengan orang-orang pejalan kaki, di kejauhan mengikuti marga Sun dari belakang.

Malam sudah tiba, tapi tamu-tamu penginapan Yi-feng masih ada yang keluar masuk, sampai dini hari, baru suara orang semakin reda.

Fu Ke-wei tinggal di kamar pekarangan belakang barisan ketiga, tamunya kebanyakan adalah pedagang.

Sekitar jam dua dini hari, dua pelayan yang bertugas melayani Fu Ke-wei keluar dari kamar, menutup pintu kamar, menelusuri gang kembali ke tempat tinggalnya.

Sinar lentera putih dibawah gang terbatas, para tamu sudah tidur, tidak terlihat ada orang yang bergerak dijalan.

Ada dua bayangan hitam melayang turun kepekarangan dari arah barat, yang satu menempelkan tubuh disudut belokan gang, yang satu diam-diam datang ke kamarnya Fu Ke-wei, tanpa mengeluarkan suara membuka pintu kamar, sekelebat masuk kedalam.

Didalam kamar gelap sekali, pelayan tidak menyalakan lampu.

"Aku...aku ingin minum..."

Dari arah ranjang terdengar panggilan yang lemah, tidak bertenaga seperti merintih. Tamu yang sendirian, tidak ada teman yang membantu, keadaannya pasti menyedihkan.

"Aku bawakan air untuk kau minum."

Kata bayangan hitam itu, berjalan menuju arah suara.

"Buuk..."

Terdengar satu suara, bayangan hitam itu jatuh kebawah, ditangkap oleh satu tangan besar yang kuat sekali, dia tidak dapat bergerak.

Bayangan hitam yang bertugas mengawasi dan membantu, menempel di dinding sudah bersiap-siap, matanya tidak berkedip menatap pintu kamar, setiap saat dapat dengan cepat melabrak ke dalam membantu.

Teman telah masuk beberapa saat, seharusnya, tidak perduli apakah berhasil atau tidak, dia sudah harus keluar, saat berniat meninggalkan tempat persembunyian, tiba-tiba di belakang tubuh terdengar satu suara dalam.

"Apakah anda sedang menunggu orang?"

Bayangan hitam itu terkejut, mendadak dia membalikan tubuh, tangannya sudah memegang belati, tanpa berpikir maju menyerang dengan belati, orang yang menyerang lebih dulu menang, yang belakang menyerang celaka, asal menemukan ada orang, harus dibunuh untuk membungkam mulutnya.

Di sudut belokan gang yang tidak tersorot oleh sinar lampu, bayangan hitam tidak perduli siapa orang yang datang, asal melihat satu bayangan orang, mana ada waktu melihat dulu siapa orangnya?

Tusukan belati cepat laksana kilat, reflek-nya sungguh tidak bisa dibandingkan, seharusnya tidak mungkin bisa gagal, orang yang gerakannya secepat ini, menjadi seorang pembunuh pasti senang melakukannya.

Belati menusuk kearah jantung, arahnya tepat sekali.

Tapi, tusukan mematikan ini malah gagal, di depan mata bayangan hitam berkelebat, belati nya menusuk ke tempat kosong, lalu dibawah perut Biji kejiFnya bergetar, terkena satu tendangan yang kuat sekali, ‘Mmm...’ terdengar suara, ‘Buuk’ satu getaran besar, punggungnya menabrak dinding, segera jatuh ketanah pingsan di injak oleh seseorang.

0-0-0 Gunung Zhu berada di luar gerbang utara, dari kota kira-kira jauhnya lima li, ini adalah tempat rekreasi ternama, disana ada satu bangunan kuil Guang-ji yang cukup ternama.

Perahu yang berlayar di sungai, dari jarak lebih dari sepuluh li sudah dapat melihat pagoda Ling Gui yang berada disisi kuil.

Disisi kuil ada satu balkon Di-chui, ini adalah tempat untuk menyambut para orang orang ternama dari kota yang datang melancong, biasanya kuil ini tidak menerima tamu menginap, maka pintunya sering ditutup rapat tidak tampak ada orang.

Jam tiga pagi itu, di sebuah ruangan mewah di balkon ada sinar lampu, dua orang yang duduk di satu meja, di sampingnya ditempatkan sebuah pembakaran yang di dirikan sementara, api menyala, membuat air didalam teko kecil hampir mendidih.

Tampak di ruangan itu ada seorang laki-laki dan seorang wanita, yang laki-laki usianya sudah lanjut, kepala botak, wajahnya penuh keriput, memakai mantel dao, mantelnya lebar dan besar, tampak suci.

Yang wanita berpenampilan seorang wanita dusun, usianya kurang lebih tiga puluh tahun, rok kain, dandanannya sederhana sekali, wajahnya bersih, walau wajahnya biasa-biasa saja, tapi dia seperti seorang wanita dari keluarga yang rajin mengurus rumah dan bisa mendampingi suami mengajar anak.

Diatas meja ada teko dan gelas teh, sebuah teko keramik ungu dari Yi-xing, empat gelas setelannya ditaruh diatas baki teh.

Kotak teh nya sangat cantik dan mahal, daun teh yang ada di dalamnya pasti bukan kwalitet biasa.

Air sudah mendidih, dao tua mulai menyeduh teh.

"Sudah jam empat."

Nyonya setengah baya berguman.

"jika lancar, mereka seharusnya sudah akan kembali."

"Seorang yang tinggal setengah nyawa, dan di sampingnya tidak ada teman yang menemani, sampai para berandalan setempat pun menghindar jauh dari dia, seharusnya lancar."

Dao tua menumpahkan teh untuk nyonya setengah baya.

"menambahkan satu pisau buat dia, bisa di katakan semudah membalikan tangan. Ooo! Apakah kau merasa tidak tenang?"

"Aku khawatir saat bocah itu meregang nyawa balik menggigit."

Kata nyonya setengah baya.

"harimau mati tidak jatuh keperkasaannya, bocah itu sangat bandel sekali!"

"Kau membesar-besarkan orang lain."

"Kenyataannya memang begitu."

Kata nyonya setengah baya.

"Ratu Lebah membunuh orang, tidak pernah sekaligus menggunakan tiga buah jarum Ekor Lebah, kali ini menggunakan tiga buah jarum, tetap tidak dapat membunuhnya, hingga lima enam hari dia tetap masih bisa berjalan, jika kau kira mudah menghadapinya, kau salah besar."

"Tenang saja! Lu bersaudara kepandaiannya tinggi sekali, selain pintar juga waspada, kali ini pasti berhasil, Ooo! Apa kau sungguh-sungguh ingin pulang membawa satu telinga sebagai bukti?"

"Benar, pelanggan bersikukuh mengeluarkan uang lebih seribu liang perak, ingin mendapat sebuah benda sebagai bukti."

"Besok pagi kau sudah bisa membawa barang bukti pulang melapor."

Dao tua kembali menumpahkan the.

"mungkin mereka segera akan kembali, aku keluar sebentar memanggil saudara Zhen, mungkin membawa dia masuk untuk minum teh meningkatkan semangat...Iii!"

Pintu yang tidak dikunci, entah kapan sudah terbuka lebar, sebuah bayangan hitam yang langsing berdiri di pintu, pedangnya terselip di pinggang, mantelnya melayang-layang seperti roh.

"Saudara Zhen sudah tidak akan bisa masuk lagi."

Kata tamu tidak diundang itu.

"apa tidak persilahkan aku masuk minum teh? Wangi sekali, sepertinya teh Yun-wu yang tersohor mahal."

Laki-laki dan wanita itu terkejut sampai meloncat, hampir saja membalikan meja besar.

"Kau..."

Teriak dao tua terkejut dan ketakutan.

Tamu tidak di undang itu perlahan melangkah masuk, sambil menutup dan mengunci pintu, tangannya diangkat, sssst...

sebuah suara pelan terdengar, satu telinga manusia yang pucat jatuh diatas meja.

"Kau boleh membawa telinga ini pulang melapor."

Tamu tidak diundang ini ternyata adalah Fu Ke-wei, pada nyonya setengah baya berkata dengan ramah.

"kabar matinya Xie-jian-xiu-luo Fu Ke-wei, besok pagi akan tersiar."

Dao tua merapatkan sepasang tangan, akan melakukan satu gerakan.

"Jangan kau gunakan Telapak Pendorong Gunung itu, aku tahu kau adalah pendeta dao dari Wu-yi-qing-xi, sekarang tinggal di Kuil Guang-ji."

Kata Fu Ke-wei berhenti di jarak dua zhang lebih.

"Telapak Pendorong Gunung mu bisa melukai orang dalam jarak delapan chi, di luar delapan chi sudah tidak ada pengaruhnya, menyerang padaku, tidak akan ada gunanya."

"Tampaknya kau tidak terluka."

Teriak pendeta dari Wu-yi terkejut.

"orang-orangku terkena tipumu."

"Jarum Ekor Lebah nya Ratu Lebah tidak gagal, tapi aku dapat bertahan."

"Tapi para tabib itu..."

"Luka sangat mudah di samarkan, menempelkan satu gumpal daging sapi busuk dan tidak mengizinkan tabib memeriksanya dan memberi obat, sangat mudah sekali."

Nyonya setengah baya diam-diam menggeser kearah jendela, gerakannya ringan sekali.

"Nyonya, jangan kau berpikir menerobos jendela melarikan diri, sekali tubuhmu meloncat..."

Fu Ke-wei dengan keras berteriak pada si nyonya.

"ah...! Aku jamin paling sedikit ada tiga bilah pisau Xiu-luo, menembus tubuh seksimu, gerakanmu pasti tidak secepat pisau Xiu-luo ku. Ingat! Aku sudah peringatkan."

"Kau...kau telah membunuh Lu bersaudara?"

Tanya Pendeta Wu-yi menahan nafas.

"Membunuh mereka! bukankah aku harus berhadapan dengan hukum? Tentu, telinga ini adalah kepunyaan mereka."

"Me...mereka te...telah mengaku?"

"Kalau tidak mengaku apa mereka bisa hidup?"

"Oh langit! Bagaimana kau bisa tahu kami sedang mengerjai mu?"

"Mudah sekali, aku tidak mati, bos kalian mana mungkin puas? Orang-orangnya Ratu Lebah yang diam-diam menyerang aku, pasti tidak berani tinggal disini, mungkin sudah berada sejauh ratusan li, mana ada waktu aku menghabiskan satu atau setengah tahun mengejar mereka? Makanya, aku terpaksa menunggu orang-orang kalian yang datang ingin membereskan dan mencari aku. Hari ini, diluar aku berlari kesana-kemari mencari jejaknya Tamu Penggantung, kalian pasti mengira aku telah salah arah, maka dengan tenang dan berani melakukannya! Rencana kalian dan perbuatannya sungguh hebat, sayang bertemu dengan aku yang lebih hebat dari kalian. Sekarang, kalian berdua siapa yang mau beritahukan, orang yang menyuruh kalian."

"Jangan harap."

Kata nyonya setengah baya.

"aku, pendeta Wu-yi dengan kau akan mengadakan satu pertarungan hidup mati, masih belum pasti siapa orang yang bisa hidup sampai melihat matahari terbit, nama Xie-jian-xiu-luo tidak bisa menakutkan orang, jangan terlalu percaya diri."

"Tuan, apa kau berani bertarung terbuka dengan kami?"

Tanya pendeta Wu-yi dengan suara dalam.

"Tidak."

Katanya tegas.

"kalian terus mene-rus ingin membunuhku, tidak ada satu alasan pun untuk bertarung secara adil dengan kalian."

"Kau..."

"Yang paling penting adalah, kalian berdua tidak boleh ada satu pun yang lolos."

Katanya dengan tenang.

"bertarung secara adil, aku tidak bisa mengawasi dua orang."

"Kau di Jiang-hu adalah..."

"Aku apa pun bukan."

Dia tertawa tawar.

"aku hanya seorang yang tidak sudi diam-diam dibunuh tanpa alasan, maka mencari sebabnya. Sekarang, kalian sudah boleh menyerang, hati-hati pisau Xiu-luo ku."

Dia berdiri menurunkan tangan, matanya memandang hidung, hidung memandang hati, seperti patung batu, sepertinya perubahan yang terjadi disekitar, tidak ada sangkut-pautnya dengan dia.

Pendeta Wu-yi mulai merubah posisinya, dari dalam mantel dao dia mengeluarkan belati sepanjang satu chi delapan cun, adalah sebilah pedang pendek tajam yang pas ukurannya.

Nyonya setengah baya bergerak kearah berlawanan, di tangan kanannya ada belati, tangan kiri menyembunyikan tiga buah senjata gelap yang kedua ujungnya tajam.

Pendeta Wu-yi sudah sampai disisi meja, tiba-tiba dengan cepat membalikan meja, dia ingin membalikan meja dan bersembunyi dibelakangnya, bersembunyi di belakang meja jadi tidak takut diserang pisau Xiu-luo.

Tubuhnya bergerak tangan bergerak, cepat sekali.

Tapi, dia tetap terlambat selangkah.

Mejanya dapat ditangkap, juga telah dibalikan, tapi tidak keburu menghalangi tubuhnya, sinar jarum sekelebat sudah sampai, sulit dilihat dengan mata telanjang.

"Ngeek..."

Pendeta Wu-yi berteriak tertahan.

"Buum...!"

Meja telah jatuh.

"Ping ping pang pang!"

Teko dan gelas jatuh pecah, air teh muncrat dimana-mana.

Nyonya setengah baya sudah bergerak satu langkah kekanan, tadinya akan melemparkan senjata gelapnya, menggunakan kesempatan itu mendobrak jendela melarikan diri.

"Tinggal kau seorang."

Kata Fu Ke-wei dingin.

Nyonya setengah baya itu ketakutan, wajahnya berubah.

Pendeta Wu-yi menahan sakit di perutnya, dia meronta di lantai, menggulungkan tubuh, suara rintihannya menggetarkan hati orang, di bawah iga kanannya darah segar membasahi mantel dao nya.

"Pisau tidak membuka luka."

Fu Ke-wei tanpa perasaan berkata.

"dao tua sendiri ingin cepat mati, makanya menggoyangkan pisau yang tertinggal di luar tubuhnya setengah cun, supaya udara masuk kedalam luka, makanya mengalirkan begitu banyak darah."

Bertarung dengan orang, harus memantapkan hati berani maju terus, jika semangat tempurnya hilang, apapun akan habis.

Begitu Pendeta Wu-yi roboh, mental nyonya setengah baya telah hancur oleh tekanan kematiannya, wajahnya pucat, dengan gemetar berkata.

"Jangan paksa aku, dao tua yang bisa beritahukan siapa penyewanya."

"Kau tidak tahu?"

"Aku..aku hanya melakukan perintah."

"Bukankah kau menyuruh Lu bersaudara memotong telinga aku, dan membawanya pulang melapor?"

"Aku..."

"Kau diperintah siapa memotong telinga kembali melapor?"

"Ini...Tamu Penggantung Wu-feng."

Nyonya setengah baya terpaksa berkata jujur.

"Sembarangan bicara!"

"Yang aku katakan benar sekali."

"Nyonya, kau salah melihat aku Xie-jian-xiu-luo,"

Kata Fu Ke-wei dingin.

"Tamu Penggantung mengaku dirinya paling hebat, ilmu silatnya tinggi sekali, kejam dan percaya diri, merajalela di dunia persilatan dua puluh tahun lebih, tidak pernah berteman dengan orang, makanya dia bisa muncul dengan bebas. Dia memang benar pernah tinggal dikota ini, tapi itu karena ditarik oleh orang, orang yang menarik dia itu pasti bukan Ular Air di seberang sungai, tapi orang-orang kalian. Bo Yi-he yang mengejar Tamu Penggantung juga tertipu, Bo Yi-he yang memanggil aku datang kesini adalah Bo Yi-he palsu, mungkin kalian telah mengubur Bo Yi-he yang asli. Jika kau mengira aku ini begitu bodohnya, kejadian malam ini cukup membetulkan kesalahanmu. Katakanlah! Apa benar kau tidak mau mengatakannya?"

"Yang harus di katakan telah aku katakan."

"Sayang aku tidak percaya kata-katamu."

"Kau..."

"Kau mau melemparkan belati itu sendiri? atau menunggu aku menggunakan pisau Xiu-luo melukaimu, menangkap hidup-hidup dan memaksamu? Kau adalah seorang wanita, akibat dipaksa oleh seorang laki-laki, seharusnya kau bisa membayangkan sendiri."

"Kau tidak akan berhasil mendapat pengakuan..."

"Sebenarnya, aku telah mendapatkan pengakuan yang ingin aku ketahui, aku hanya ingin mendapatkan kepastian dari mulutmu saja. Mungkin kau pikir saat terpaksa, lebih baik bunuh diri saja, tapi aku beritahu, kau mati atau tidak semua tidak berarti banyak, aku tetap bisa menarik benang dari kepompongnya, memaksa satu persatu orang-orang penting kalian keluar, ayo lepaskan belatinya!"

Teriakan suara terakhirnya, membuat terkejut nyonya setengah baya, mungkin karena hatinya terlalu tegang, atau terlalu ketakutan, mungkin juga reflek, sekali tubuhnya bergetar, tangan kiri mendadak sekuat tenaga dilayangkan keluar, satu kilatan terbang menembus udara, senjata gelap yang kedua ujungnya tajam ini, dengan kecepatan penuh terbang menuju Fu Ke-wei.

Pikiran Fu Ke-wei bergerak tubuhnya bergerak, dengan tenang melangkah kekanan satu langkah.

Senjata gelap pertama tidak mengena sasaran, senjata gelap kedua melewati lengan kiri luar Fu Ke-wei, senjata gelap ketiga dengan mudah ditangkap tangan kiri dia.

"Sekarang aku sudah tahu siapa kau ini."

Katanya dengan gembira.

"kukira kau adalah seorang nyonya, ternyata adalah gadis usia dua puluh tahun lebih, ilmu merubah wajahmu sungguh hebat, tidak aneh orang yang pernah bertemu dengan Wanita Penenun Fei Yin-yin, masing-masing orang mengatakannya berbeda, masing-masing menggambarkan sendiri, aku telah mendapat penemuan besar pada ketuamu. Kukembalikan senjatamu, terimalah!"

Senjata gelap itu dilemparkan, terbang menuju Wanita Penenun Fei Yin-yin.

Wanita Penenun tidak berpikir lagi, dia mengulurkan tangan menerima, begitu senjata itu ditangkap, terdengar teriakan menggetarkan telinga, seperti kilat senjata itu terbang kembali, dia melemparkan kembali senjata gelap yang diterima, orangnya mengikuti dari belakang senjata gelap, menerjang dengan mengangkat belati, dalam sekejap sudah mendekat, belati dengan dahsyat di tusukkan, inilah saatnya bertaruh nyawa.

Sejata gelap kecil seperti kilat sampai di depan dada Fu Ke-wei, dia mengangkat tangan kanannya, kembali menangkap senjata gelap itu, langsung dilemparkan lagi kedepan.

"Traang!"

Terdengar suara menggetarkan telinga, Wanita Penenun Fei Yin-yin tidak berani tidak menggunakan belati menangkisnya senjata gelap yang terbang kembali, terlalu cepat, itu hanya gerakan reflek.

Senjata gelapnya ditangkis belati, dan tangan yang memegang belati telah ditangkap Fu Ke-wei, ditekannya kebawah.

"Aaw...!"

Dibawah tekanan yang tidak terhingga Wanita Penenun roboh kebawah, lutut kanannya menyentuh tanah, seluruh lengan kanannya sudah tidak bisa dikendalikan, dan juga sakitnya sampai ke hati, tulang tangannya seperti telah hancur semua, belatinya pun jatuh ketanah.

Selanjutnya, tenggorokannya ditangkap oleh tangan besar Fu Ke-wei, seperti menangkap leher angsa, pelan-pelan dia menambah tenaga, ditarik keatas.

Tangan ditekan kebawah, leher ditarik keatas, rasanya sangat tidak enak, ingin menggigit lidah bunuh diri juga sudah tidak ada kesempatan.

"Aku tidak ingin kau mati."

Kata Fu Ke-wei dingin.

"aku ingin memecahkan hawa dua saluran hawa dan darah, mengunci saluran kaki dan tanganmu, lalu diserahkan pada anak buahnya Naga Setempat, bos mereka di bunuh, semuanya marah sekali, coba bayangkan, mereka akan bagaimana membalas dendam padamu?"

"Am...ampuni aku..."

Wanita Penenun dengan takut berkata terbata-bata.

"Apa kau pernah mengampuni aku?"

Tangan Fu Ke-wei yang mengunci leher sedikit mengendur.

"siapa ketuamu itu?"

"Aku...aku tidak tahu, aku hanya ta...tahu yang perintahkan aku adalah bangsawan kecil Zhu Tian-he."

"Aku tidak bisa membebaskanmu, karena kau malam ini sudah kedua kalinya berbohong."

"Aku ti...tidak bohong..."

"Pembicaraan kau dengan Pendeta Wu-yi, telah kudengar sebagian besarnya, sepertinya kau telah mengatakan pelanggan bersikukuh menge-luarkan lebih seribu liang perak, menginginkan satu barang bukti."

"Ini..."

"Jika kau tahu pelanggannya, tentu tahu orang penting lainnya selain bangsawan kecil, Hm... hm...! Aku akan mencabut kalian sampai ke akar-akarnya, mendapat sekali kerepotan tapi selamanya aman."

"Aku..."

"Aku tidak akan banyak bicara lagi padamu..."

"Kau menang, aku...aku akan katakan!"

Wanita Penenun akhirnya menyerah.

"Kau telah menyelamatkan nyawamu sendiri, aku bawa kau ketempat yang aman untuk membicarakannya."

Kata Fu Ke-wei, sambil menotok pingsan Wanita Penenun, setelah membereskan mayat Pendeta Wu-yi, dia mengapit Wanita Penenun pergi keluar dari rumah.

Di hilir kabupaten Huan-chang barat laut aliran sungai tengah, ada sederetan pulau pasir.

Que-zhou adalah salah satu pulau pasir terbesar, dari atas mulai dari Tong-ling, sampai ke bawah San-jiang, berderet sepanjang puluhan li, membagi aliran sungai jadi beberapa cabang aliran.

Diatas pulau pasir ada beberapa dusun, rumput dan pepohonan subur, terdapat banyak bermacam-macam burung air, bukan saja dapat melihat kelompok burung gereja, kadang bisa menangkap angsa yang beratnya sepuluh jin lebih.

Dusun tiga rumah di barat laut pulau pasir semuanya adalah pemburu, hidupnya mengandalkan dari memburu burung air.

Rumah yang paling u lara, didepan pintu ada lapangan luas, sekelilingnya ditanam banyak pohon Liu.

Hari ini saat fajar, orang didalam rumah belum bangun, diluar rumah tiba-tiba terdengar satu siulan panjang, suaranya menerjang kelangit, mengejutkan kelompok besar burung air yang terbang diatas langit.

Pintu papan yang berat dibuka, keluar seorang setengah baya, ditangannya memegang pedang panjang, melihat kesekeliling, matanya terlihat terkejut, dengan matanya memeriksa keadaan sekeliling.

Tidak jauh dari kiri di belakang pohon Liu, melangkah keluar Fu Ke-wei dengan baju biru melambai-lambai, di wajahnya tampak tawa yang sulit ditebak, dia menggendong tangan dengan tenangnya, selangkah demi selakah mendekat kepintu, tingkahnya yang anggun, persis seperti seorang penggede yang berkuasa.

"Siapa?"

Orang setengah baya terkejut bertanya.

"Teman lama."

Fu Ke-wei tertawa.

"aku adalah teman baiknya nona Yan-fang. katakan sedikit kasar, adalah tamu baik atau tamu hidung belang dia. Saudara, merepotkanmu pergi melaporkan, dia tidak akan menolak bertemu denganku."

"Iii! Kau...kau ini..."

"Seharusnya kau tahu asal-usulku dan tujuanku datang kemari."

Dari dalam pintu keluar empat orang, di antaranya ada Yan-fang yang menyamar jadi laki-laki, dan yang menyamar orang tua, tangan-nya memegang seruling palsu sepanjang dua chi dua cun.

Dua orang lainnya sama berusia setengah baya, wajahnya galak sangat tegap, semua orang membawa senjata.

"Ternyata kau!"

Teriak Yan-fang yang menyamar laki-laki terkejut.

"orang-orang kami di Wu-hu semuanya hilang misterius, pasti telah dibunuh olehmu."

"Makanya aku bisa mencari sampai disini."

Dia tertawa semakin mendekat.

"orangnya telah datang, tentu telinganya juga telah datang! Nona Yan-fang, kau sungguh terlalu tidak berperasaan, kau meninggalkan aku begitu saja, membuat aku repot sekali mencarinya!"

"Kau..."

"Begitu kalian berpencar dan sengaja menyamar lari ke segala arah, aku sungguh tidak tahu harus mengejar kearah mana baiknya, hampir saja membatalkan niat tidur bersama kau lagi. Sekarang baguslah, akhirnya dapat bertemu denganmu, apakah kau mau pergi denganku?"

Lima orang itu membagi kedua arah, diam-diam membentuk strategi setengah lingkaran.

Ssst..!

terdengar suara pedang dicabut, Yan-fang yang pertama-tama mencabut pedang.

Seruling orang tua telah diangkat, mata tuanya tidak lamur lagi.

Orang setengah baya yang tampak galak berada paling kiri, kail kepala macan ditangannya berkilat sinar dingin.

Fu Ke-wei berdiri dalam jarak tiga zhang lebih, wajahnya semakin dingin.

Dengan satu suara siulan naga, dia mencabut pedangnya.

"Ratu Lebah, kau keji sekali, sayang terlalu pintar, orang yang terlalu pintar sering melakukan hal bodoh."

Dia mengayunkan tangan kirinya, tiga buah Jarum Ekor Lebah telah dilepaskan.

"kukembalikan padamu, kau masih mau mengatakan apa?"

Ratu Lebah menjawab dengan gerakan, mengangkat pedang maju menyerang.

Lima banding satu, lima orang tidak satu pun orang biasa, senjata gelapnya lebih-lebih dahsyat dan keji.

Begitu dia tertawa panjang, mendadak dia meloncat, bagai ikan meloncat dia balik mundur tiga zhang lebih, dua kali loncatan sudah masuk ke dalam rerumputan ilalang.

Lima orang laki-laki dan perempuan pertama tertegun, lalu meloncat mengejar.

Di tempat semacam ini susah melihat orang, mengejar orang di rumput setinggi satu zhang, bukan saja akan sia-sia, juga setiap saat bisa mendapat serangan mendadak yang sangat berbahaya.

Telah memeriksa kesetiap sudut seluas setengah li, lima orang selalu tidak berani berpencar mencari.

Setelah satu jam, lima orang dengan hati berat dan khawatir berjalan menuju rumah mereka yang tidak jauh itu.

Orang-orang di beberapa rumah lainnya, sudah dari tadi menutup pintu menghindar keributan, hening tidak ada sedikit pun suara, pintu dan jendela tertutup rapat tidak terlihat orang.

Lima orang laki-laki dan perempuan berjalan berbaris, orang tua yang paling depan sambil berjalan sambil berkata.

"Orang itu pasti tidak akan pergi begitu saja, disini dia menunggu, terang-terangan atau diam-diam menyerang, kita pasti sulit menghadapinya, kita harus segera meninggalkan tempat ini."

Pria besar yang memegang sepasang garpu berjalan paling akhir, dia menyatakan tidak setuju katanya.

"Jangan ketakutan oleh namanya, kita lima orang cukup untuk mengubur dia, bertarung di tempat ini dengan dia, bagaimana pun lebih baik, daripada meninggalkan tempat ini mengejar dia."

Orang yang memegang kail kepala macan juga tidak setuju meninggalkan tempat itu, dengan keras berkata.

"Betul, orang itu sudah lama berkelana di Jiang-hu, adalah pakarnya dalam perburuan, kalau kita pergi, kita harus berpencar mencari tempat sembunyi, kalau begitu..."

Tidak jauh dibelakang tubuhnya, tiba-tiba terdengar suara dingin Fu Ke-wei.

"Kalau begitu tidak akan ada teman dalam perjalanan ke neraka!"

"Aduh..."

Orang yang memegang sepasang garpu sambil berteriak roboh kedepan.

"Hmm..."

Orang yang memegang kail kepala macan tubuhnya ditegakan, mencoba menghentikan langkah, membalikan tubuh. Fu Ke-wei muncul di belakangnya kira-kira duazhang, pedangnya tidak dikeluarkan.

"Kau..."

Orang yang memegang kail kepala macan berteriak ketakutan, sekuat tenaga melemparkan kail, lalu tubuhnya roboh kedepan.

Perubahannya cepat sekali.

Ratu Lebah berteriak, tiga buah Jarum Ekor Lebah meluncur ke arah Fu Ke-wei yang datang menerjang dengan cepat, begitu jarum keluar, dia merendahkan tubuh ke samping, berguling masuk ke rerumputan.

Fu Ke-wei menerobos dari bawah kail kepala macan yang dilemparkan itu, tepat menyambut pemilik Kail Kepala Macan yang jatuh ke bawah, lalu tubuhnya membelit kesamping, tiga buah Jarum Ekor Lebah semuanya menusuk masuk ke punggung pemilik Kail Kepala Macan.

Dia mendorong laki-laki besar yang terkena Jarum Ekor Lebah.

"Hemm!"

Dengan dingin, pedangnya dicabut, tampak satu kilatan pedang, orang yang melayangkan pedang menerjang tapi tidak mengenai sasaran, dadanya sendiri malah tersabet oleh pedang lawannya, dia tersayat luka sepanjang satu chi lebih.

Bersamaan dalam sekejap itu, seruling itu meniupkan jarum Pintu Neraka, kebawah perutnya, kecepatannya mengejutkan orang.

Perubahan yang berturut-turut sangat berbahaya, semua hampir terjadi dalam bersamaan waktu, seluruh reaksi terjadi oleh reflek, semua orang seperti lupa akan akibatnya, setiap gerakan menentukan hidup matinya.

Fu Ke-wei yang telah melukai dada orang yang menggunakan pedang, gerakannya tidak berhenti, dia membalikan tubuhnya, dengan ganas pedangnya menerjang orang tua yang baru saja meniupkan jarum Pintu Neraka.

Tapi saat tertahan sekejap, dia tidak dapat menghindar dari serangan jarum itu, beberapa jarum menusuk di pinggul sebelah kiri luar, dia hanya dapat mengeser bawah perutnya agar jarum itu tidak mengenai perutnya.

Sinar pedang datang membelah udara, dahsyat seperti geledek mengelegar.

Orang tua itu tidak ada kesempatan untuk mengisi jarum lagi, begitu seruling meninggalkan bibirnya, tanpa sadar dia berteriak sekali, dengan jurus Menutup Awan Mengunci Embun dia mencoba menyelamatkan diri, dengan serulingnya dia menyambut sabetan pedang yang datang menyerang, tenaga dalamnya disalurkan ke ujung seruling, tenaga dalamnya yang hebat mengejutkan orang.

Bayangan pedang dan seruling bertemu dalam sekejap, tapi tidak terjadi suara benturan logam, seruling itu terbuat dari logam campuran tembaga ungu, setelah di isi tenaga dalam, cukup untuk menangkis golok atau pedang.

Tapi kali ini seruling tidak bisa menahan gerakan pedang, disaat akan bentrok, bayangan sinar pedang tiba-tiba membelok, masuk menusuk di celah sempit dari bayangan seruling, bayangan dua orang itu lalu terpisah.

Sentuhan dalam sekejap, hidup atau mati telah ditentukan.

‘Buuk...’ Fu Ke-wei tiarap ketanah, tubuhnya menjauh dua zhang lebih, begitu tubuhnya berguling, tubuhnya sudah menghilang di rerumputan ilalang.

Orang tua yang menerjang maju delapan chi lebih, mendadak melemparkan seruling dan menghentikan terjangannya, sepasang tangan memeluk dada kiri sebelah bawah, tubuhnya pelan-pelan membungkuk ingin teriak tapi tidak bisa mengeluarkan suara, darah segar dengan jumlah banyak merembes keluar dari tangan yang menutup luka seperti mata air.

Akhirnya dia bergoyang-goyang jatuh ke depan, kaki tangannya mulai meregang.

Jantung telah tertembus pedang, seluruhnya telah tamat.

Semua telah berhenti, sepertinya waktu pun berhenti berputar.

Bau amis darah menyegat hidung, sinar matahari tanpa perasaan menyoroti empat mayat.

Dalam keheningan, terakhir terdengar rintihan kesakitan orang meregang nyawa, lalu kembali hening.

Inilah kehidupan terakhir manusia.

Sungguh manusia tidak mudah hidup, setelah mati apa pun tidak ada bekasnya, memang manusia akhirnya akan mati.

Dalam sekejap empat orang itu sudah menyelesaikan kehidupan terakhirnya.

Ratu Lebah adalah orang yang paling pintar, dia berjalan di tengah pasir dengan waspada, gerakannya pun cepat sekali, setelah melepaskan jarumnya, dia langsung kabur, dia sangat beruntung dapat menyelamatkan nyawanya, dia tidak berani berdiam lagi ditempat itu melihat perkembangan akhirnya.

Pulau pasir panjangnya sepuluh li lebih, tempat di mana siapapun dapat menyembunyikan diri, tapi tidak mudah jika ingin meninggalkan tempat itu, disana tidak ada perahu walau menancapkan sayap pun sulit terbang, kecuali dia bisa berenang melalui air.

Fu Ke-wei harus berhati-hati pada Ratu Lebah, jika tidak, dia tidak akan sampai menyembunyikan dirinya di dalam rerumputan, karena jarum yang menusuk di sisi pinggul luar, begitu racunnya menemui darah segera bercampur, racun dalam darah mengikuti aliran darah mengalir ke jantung, di dalam darah akan terjadi perubahan yang khusus.

Jika dia bergerak, aliran racun jarum akan bergerak bertambah cepat, makanya dia terpaksa memutuskan meninggalkan tempat itu, menyelamatkan dirinya terlebih dulu.

0oo0 Bab 4 Dalam waktu yang singkat ini, hanya meninggalkan tempat tidak sampai dua puluh langkah, Fu Ke-wei sudah merasa tidak tahan lagi, kepalanya pusing, kaki dan tangan mati rasa.

Untungnya dia sudah tahu sifat racunnya, jadi dia sudah menyiapkan obat penawarnya.

Di dalam rerumputan yang tertutup rapat, dengan aman dia menyembunyikan diri, memaksakan tenaganya mengambil obat penawar dari kantong serba ada dan menelannya, setelah sesaat buru dia bertenaga mencabut jarumnya.

Perkiraan dia tepat sekali, Jarum Racun Pintu Neraka adalah jarum yang membuat orang Jiang-hu yang mendengar wajahnya akan berubah, senjata ampuh yang bisa membunuh secara diam-diam.

Panjang jarum itu tiga cun, di belakangnya ada bulu lembut berbentuk corong, jarak ampuh tembakannya, dapat mencapai dua sampai tiga puluh kali panjang seruling.

Nama asli peniup seruling adalah Seruling Pengejar Nyawa Xiao-jing, tenaga dalamnya sangat hebat, dia menggunakan tenaga dalamnya meniup jarum, dengan sangat jitu bisa menembak dari seratus chi lebih.

Orang yang pernah melihat wajah asli Seruling Pengejar Nyawa sangat sedikit sekali, tidak perduli orang aliran hitam atau putih semua membencinya.

Racun diatas Jarum Pintu Neraka, walau bukan racun sekali melihat darah langsung mengunci tengorokan, tapi racunnya sekali masuk ke jantung pasti mati, dan tidak perduli mengenai bagian mana saja, begitu racun mencapai jantung hanya dalam sekejap, walaupun yang terkena di bagian kaki, perbedaan waktu matinya juga sangat terbatas.

Seruling Pengejar Nyawa dengan Seruling Damai, Seruling Racun disebut Tiga Seruling Dunia, dari Tiga Seruling Dunia, Seruling Pengejar Nyawa yang paling keji, dia diam-diam selalu mencelakai orang, kali ini bisa mati di bawah pedang Fu Ke-wei, sungguh langit mempunyai mata.

Walau Fu Ke-wei telah menyiapkan obat penawar, tapi dia merasakan lemas juga tidak bersemangat, kaki tangannya tidak bertenaga, tidak dapat pulih dalam waktu singkat.

Sampai lewat tengah hari, akhirnya dia pulih kembali, tubuhnya terasa haus dan lapar, sekarang dia sudah bisa keluar.

Dia kembali ketempat pertarungan tadi, empat mayat itu sudah jadi kaku, dan juga mendatangkan banyak sekali lalat, membuat orang ingin muntah.

Tanah yang berpasir gampang untuk mengubur orang, dia menggunakan sepasang tangannya menggali liang, setelah mengucurkan banyak keringat, baru dia selesai mengubur empat mayat itu.

Orang persilatan yang suka berkelahi, tempat terakhirnya, jika mati di parit dikubur di parit, jika mati di jalan cukup mendirikan tanda, tidak perlu bompai segala, juga tidak perlu disem-bahyangi keturunannya.

Fu Ke-wei sudah sampai di kampung nelayan lainnya, setelah makan dia kembali memulai pengejaran.

Dia tidak perlu menanyakan lagi pada penduduk kampung, dia telah menduga Ratu Lebah pasti tidak berani menampakan diri atau berhubungan dengan penduduk kampung.

Dia kembali ke tempat pertarungan meneliti jejak Ratu Lebah.

Dia adalah ahlinya pencari jejak, diatas pulau pasir semacam ini, tidak sulit membedakan jejak yang belum lama ditinggalkan oleh manusia atau hewan.

Setelah dua jam, dia melihat di udara yang jauhnya satu li lebih, burung air terkejut dan berterbangan ke segala arah, di bawah kakinya, ada bulu bebek liar, walau telah dikubur dengan teliti, tetap tidak lolos dari matanya yang tajam.

"Kau sudah kenyang makan."

Pada arah burung air terkejut berterbangan dia berguman, disudut mulut tampak tawa dingin yang menakutkan orang.

"kau seorang gadis, siang hari apa berani meloncat kedalam air? Kau terlalu pintar, terlalu pintar sering melakukan kesalahan, melakukan hal bodoh, kau seharusnya merampas sebuah perahu melarikan diri jauh-jauh. Mungkin, kau mengira aku telah mati oleh racun Jarum Pintu Neraka, jadi tidak perlu terburu-buru pergi!"

Sinar matahari tengelam memenuhi langit, malam akan tiba.

Banyaknya burung air diatas pulau air mengejutkan orang, sepertinya langit dipenuhi oleh beraneka ragam burung air yang terbang, mencari sarang untuk istirahat.

Di suatu kampung di pantai barat pulau pasir, di tambatkan dua rakit bambu, itu adalah alat pengangkut hasil buruan pemburu burung, di sisinya masih ditaruh lima enam kurungan burung persegi besar, sangat kokoh, di taruh di dua tempat, di dalam kurungan tidak ada burungnya.

Ratu Lebah seperti roh keluar dari dalam rerumputan, dengan gembira lari ke pantai, menuju kedua rakit bambu.

Dia menarik rakit, dan akan menariknya ke sungai yang berada dua puluh langkah jauhnya, asal dia berhasil di dorong ke air, maka dia tidak akan takut lagi ada orang mengejar.

Di tempat menaruh kurungan burung, tiba-tiba tampak Fu Ke-wei bangkit berdiri.

"Kau baru datang?"

Fu Ke-wei mendekat sambil tertawa.

"apa ingin pergi ke Wu-wei-zhou? Tidak salah, Wu-wei-zhou memang sangat sepi, mudah menghindari pengawasan orang, bagus untuk bersembunyi. Tapi aliran di utara lebih bahaya dari aliran selatan, kau seorang diri apa bisa mengendalikan rakit bambu ini? Maukah ku bantu?"

Wajah Ratu Lebah berubah total, wajahnya yang cantik memikat tiba-tiba seperti kehilangan darah, dari merah berubah menjadi putih pucat.

Baju laki-lakinya di penuhi dengan rumput dan pasir, persis seperti pemburu burung yang hidupnya susah, jika tidak membawa pedang, sungguh tidak seperti pesilat tinggi dunia persilatan.

"Kau kau sembunyi disini?"

Dia dengan terkejut bertanya.

Tidak ada jalan untuk mundur, dia harus menyelamatkan diri melalui jalan air.

Tapi dia tahu itu tidak mungkin, jarak yang dua puluh langkah seperti ribuan li jauhnya, dia pasti tidak akan secepat pisau Xiu-luo yang ternama diseluruh dunia.

"Benar! Aku sedang menunggumu!"

Kata Fu Ke-wei sambil tertawa berdiri satu zhang lebih.

Hati Ratu Lebah tenggelam kebawah, tawa Fu Ke Zwei tadinya sangat ramah, walau membuat orang sulit menebaknya, tapi di lihat di matanya, tawa semacam ini sedikit pun tidak ada perasaan ramahnya, sebaliknya menakutkan sekali, itu adalah tawa kucing pada tikus yang ditaruh di depan cakarnya, tawa serigala pada anak kambing di depan taringnya.

"Ssst..!"

Sebuah suara pedang dicabut, dia mencabut keluar pedangnya, bersiap-siap akan mempertaruhkan nyawa.

"Kau pasti masih punya banyak Jarum Ekor Lebah."

Wajah Fu Ke-wei kelihatannya seperti lebih ramah.

"mungkin kau masih ada harapan membunuhku, aku pikir kau tidak akan menceritakan alasan kenapa mau membunuh aku. betul tidak?"

Pedang dia di sodorkan ke depan, ujung pedang mencapai posisi menyerang, wajah serius, lima jari tangan kiri setengah direntangkan setengah dibengkokan, tampak bergetar.

"Kau tidak bicara, tapi kau akan mengatakannya."

Tangan Fu Ke-wei dengan santai diulurkan kebawah, dia tidak berniat mencabut pedang.

"kau tidak ada niat beradu pedang dengan aku, karena ilmu pedangmu tidak seberapa. Cara kau membunuh orang adalah diam-diam menyerang dan bersiasat, usaha yang kau kerjakan adalah yang paling hina di dunia persilatan. Makanya, aku juga akan menggunakan pisau Xiu-luo membunuhmu."

Dia malas menjawab, sepasang matanya memperhatikan sorot mata Fu Ke-wei.

"Tempat aku berdiri, adalah jarak paling ideal untuk jarum Ekor Lebahmu."

Fu Ke-wei tersenyum.

"kesempatan ini tidak boleh dilewatkan."

Dua zhang, memang jarak paling ampuh jarum Ekor Lebah, juga jarak tepat bagi pisau Xiu-luo mengambil nyawa, pisau Xiu-luo lebih berat dari pada jarum, tenaganya lebih besar beratus kali.

Sehingga, kedua belah pihak sama-sama sangat waspada.

Semangat kedua belah pihak, masing-masing sedang bersiap melakukan pertarungan untuk menjatuhkan semangat lawannya.

Tenaga dan semangat kedua belah pihak sudah sampai pada saatnya, sekecil apa pun perubahannya, bisa menimbulkan serangan gila yang mendadak, yang menakutkan, tiada duanya, tidak menyerang tidak apa-apa, sekali menyerang maka kalau bukan kau yang mati maka aku yang mati.

"Aku telah mendapatkan tidak sedikit jejak penting."

Fu Ke-wei terus bicara, seperti tidak terpikirkan kalau berkata maka kurang konsentrasi.

"tidak perlu lagi pengakuan lebih banyak, menangkap hidup atau mati sudah tidak ada pengaruhnya, Wanita Penenun Fei Yin-yin sudah mengatakan terlalu banyak. Dia tidak bisa tidak bicara, karena mengalami hal yang lebih parah dari pada mati, hingga semangatnya hancur, kalau kau? Apa yang akan kau alami apa pernah kau perhitungkan?"

Sorot mata Ratu Lebah bergerak, pedangnya pelan-pelan mengeluarkan suara siulan naga.

"Tenaga dalammu cukup hebat."

Kata Fu Ke-wei sambil pelan-pelan bergerak ke kiri setengah langkah.

"tidak sulit membunuh orang dalam jarak tiga zhang dengan menggunakan jarum sekecil ini. Lima enam tahun ini, kau tidak pernah gagal, orang yang mati secara diam-diam sudah terlalu banyak. Aku pikir, jika aku melelangmu di muka umum, coba kau tebak, ada berapa banyak orang yang akan datang berlomba membeli? Harganya entah akan setinggi apa? Jika membuat kau bagus! Lihay!"

Saat dia sekejap tidak konsentrasi, sebuah Jarum Ekor Lebah sekilas sudah meluncur tiba, kebetulan dia sedang melangkah ke sisi satu langkah, jarumnya lewat di sisi iga kanan, sungguh berbahaya sekali.

"Kau cukup hebat, sangat paham akan senjata gelap."

Dia tetap berkata dengan tenangnya.

"beberapa ahli senjata gelap sangat percaya diri, merasa dirinya paling hebat, menyerang kepada jalan darah atau khusus membidik titik mematikan, merasa ini adalah jurus hebat. Tapi, orang semacam ini yang gagalnya pun sering sekali, malah mengakibatkan nyawanya melayang. Kau dengan aku bersifat sama, bertemu dengan lawan yang seimbang. Asal bisa melepaskan senjata gelap, dan dapat mengena sasarannya, tidak perduli titik mematikan atau bukan, artinya telah sukses setengah bagian. Maka beberapa tahun ini, kau dan aku bisa hidup dengan baik. Tapi hari ini, diantara kau dan aku harus ada seorang yang dihapus namanya dari dunia persilatan."

Ratu Lebah sudah mulai menggeser posisinya, karena pergeserannya Fu Ke-wei terpaksa dia bergeser juga untuk mendapatkan posisi yang menguntungkan.

"Lebih baik lemparkan saja pedangmu, agar gerakannya lebih lincah."

Fu Ke-wei pelan-pelan bergeser sambil berkata.

"orang yang berkhayal menggunakan pedang menangkis senjata gelap, pasti adalah orang paling idiot, paling ditertawakan, paling kasihan di dunia, kau seharusnya mengerti ini. Aku memberi kesempatan, kau menyimpan pedang, aku jamin tidak mengambil kesempatan memberimu, sebuah pisauku."

Siasat Ratu Lebah mengharapkan Fu Ke-wei bertarung menggunakan pedang telah gagal, terpaksa dia menyimpan kembali pedangnya.

Dia merasa denyut jantungnya tidak dapat dikendalikan, telapak tangannya berkeringat, sungguh gejala yang tidak menguntungkan, membuktikan di dalam hatinya ada gejolak, telapaknya berkeringat pasti akan berpengaruh pada tenaga dan teknik melempar jarum.

Tentu saja, dia bukan ingin bertarung pedang dengan Fu Ke-wei, hanya ingin dalam pertarungan ini mendapat kesempatan bagus melepaskan jarumnya.

Fu Ke-wei disebut Xie-jian (Pedang sesat), jurus pedangnya berbeda dengan perguruan yang ada di dunia, belum pernah terdengar ada orang ternama atau pesilat tinggi mana yang bisa mengalahkannya, dengan orang macam ini bertarung pedang, adalah menggunakan nyawa sendiri untuk berkelakar.

"Jangan paksa aku."

Kata Ratu Lebah sambil menyimpan pedangnya, dengan melemparkan pedang kebawah, dia melihat keadaannya sudah tidak ada kesempatan menggunakan pedang.

"lepaskan aku, dan selanjutnya, pasti tidak akan ada orang yang diam-diam membunuh kau lagi, kecuali musuh besarmu tidak melepaskanmu."

"Kaulah yang memaksa aku."

Kata Fu Ke-wei.

"jika kau di posisi aku, apa kau akan menyelidik sampai tuntas atau tidak? Kita adalah orang yang mempermainkan nyawa, entah penjelasan apa yang bisa membuat tenang? Jika setiap hari kita khawatir ada orang diam-diam akan membunuh, tidak jadi gila juga itu baru aneh."

"Aku tidak bisa memberitahu, kau "

"Aku tidak akan berhenti sebelum sampai di'sungai kuning'."

"Hemm...!"

Ratu Lebah berteriak, sepasang tangan berturut-turut diayunkan, yang digunakan adalah jurus BungaHujan Memenuhi Langit, hujan jarum menguasai daerah sekitar dua zh.nij'., dahsyat laksana angin topan badai hujan.

Bayangan biru melayang mundur, melayang mundur sebelum hujan jarum tiba, tubuh manusi.i yang berat malah ringan seperti bunga jatuh, mundurnya seperti tidak cepat, tapi sebenarny.i lebih cepat sedikit dari pada hujan jarum.

Melayang sejauh tiga zhang, hujan jarum pun habis tenaganya pada jatuh ketanah, walau masih ada beberapa yang terbang maju, tapi sudah tidak dapat melukai orang.

Jarak kedua pihak sudah ada labih dari lima zhang.

Ratu Lebah membalikan tubuh langsung menggunakan langkah seribu, dengan kecepatan penuh loncat kearah sungai.

"Ha ha ha ha "

Suara tawa menggetarkan telinga, semakin mendekat dibelakang.

"Matilah kau!"

Ratu Lebah tiba-tiba membalikan tubuh, dengan marah teriak, kedua kalinya dia melepaskan jarum, jumlahnya lebih banyak dari yang pertama kali, tenaganya lebih mengejutkan orang.

Tapi, saat jarum Ekor Lebah dari sepasang tangannya terbang menembus angin, jantungnya seperti meloncat, wajahnya berubah, dia tahu dia sudah habis, hatinya tenggelam kebawah, seluruh tubuh terasa kaku.

Fu Ke-wei yang mengejar sampai tiga zhang, mendadak menerkam kedepan, disaat sekejap tubuhnya menempel tanah, kilatan sinar dengan kecepatan yang tidak dapat dilihat mata telanjang, sudah tiba didepan dadanya Ratu Lebah.

Ratu Lebah sudah tidak dapat menghindar, hanya dengan reflek menggerakan tubuh, pisau Xiu-luo langsung menusuk masuk kedada kanan bawah, seluruh tubuhnya bergetar, seperti terkena listrik.

Hujan jarum bersiut lewat dari atas punggung Fu Ke-wei, semuanya tidak berhasil mengenai sasaran, ada beberapa lewat hampir menempel di belakang kepala, bahayanya setipis rambut.

Fu Ke-wei menerkam sambil melempar pisau saat lawan telah melemparkan jarum seperti hujan, Pisau Xiu-luo malah lebih cepat sekejap dari hujan jarum, perhitungannya memang tepat dan hebat sekali, meski bergerak belakangan tapi sampai lebih dulu, tidak aneh Ratu Lebah sampai tidak punya kesempatan menghindar, dia hanya sempat bergerak menghindar dari tusukan pisau di tempat yang mematikan.

Dia meloncat berdiri, maju dengan langkah besar.

Sepasang tangannya menahan dadanya, membalikan tubuh sempoyongan lari kesungai.

Fu Ke-wei perlahan mengikuti, dengan keras berkata.

"Jangan harap kau ingin mati di dalam air."

Langkah Ratu Lebah kacau, tapi tetap berlari ke depan, dia sudah hampir sampai di sungai.

"Semua karena berhubungan dengan hidup matinya diriku, aku tidak dapat kasihan padamu."

Nada bicara Fu Ke-wei semakin dalam. Saking sakitnya seluruh tubuh Ratu Lebah sampai gemetar, langkahnya semakin lambat bergoyang-goyang.

Baca Juga: Bara Naga 2

Baca Juga: Warisan Jenderal Gak Hui 3

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert